Download applikasi baca novel online untuk android disini: DOWNLOAD

Thalita 1

THALITA



SATU
THALITA menanggalkan pakaiannya dan berjalan ke bawah shower. Tangannya meraba keran shower, dan membukanya hingga maksimal.
“Adooooowwwwww!!!” jerit Thalita sekuat tenaga begitu air shower mengguyur tubuhnya. Dingin kayak es! Ini pasti diimpor dari Kutub Utara! gerutunya dalam hati.
“Tha? Kamu kenapa?”
Thalita mendengar suara mamanya di balik pintu, tapi dia nggak sanggup menjawab karena masih menggigil kedinginan.
“Oh iyaa… Mama lupa bilang water heater-nya lagi rusak, jadi terpaksa pagi ini kamu mandi air dingin ya! Lumayan, biar seger, kan?”
Walaupun dibatasi pintu, Thalita bisa membayangkan seulas senyum yang mengembang di bibir mamanya.
“Huh! Seger apanya? Bikin aku jadi es lilin sih iya!” Thalita mengomel panjang-pendek. Tangannya cepat-cepat menutup keran shower yang masih memuntahkan air dingin. Ia lalu meraih handuk, dan dengan cepat membungkus tubuhnya. Pilihan untuk meneruskan mandi jelas sama dengan cari mati.
Tapi bayangan bahwa ia harus nggak mandi di hari pertamanya jadi murid SMA membuat Thalita bergidik. Gimana kalau ia nanti bau kecut, dan teman-teman barunya bakal terus mengingatnya sebagai “Miss Bau Badan” sepanjang sisa masa SMA mereka? Tak usah deh ya!
Thalita lalu menguatkan nyali untuk berada kembali di bawah air shower yang dingin itu. Ternyata setelah beberapa saat, tubuhnya terbiasa juga dengan suhu air dari shower yang dingin itu. Ternyata setelah beberapa saat, tubuhnya terbiasa dengan suhu air dari shower. Thalita bahkan berani memutuskan untuk keramas.
Sambil membusakan sampo di rambutnya, Thalita merenung. Ini hari pertamanya jadi murid SMA, tapi ia sama sekali tak bersemangat. Ia malas, dan itu nggak ada hubungannya dengan fakta bahwa ia harus bangun pagi lagi setelah sebulan lebih bisa molor sampai siang karena sedang liburan. Ia teringat kejadian tiga minggu lalu…
* * *



Andra saat minta putus. Setelah itu, Thalita terus-menerus berdoa dan berharap dirinya cukup berharga untuk membuat Andra meninggalkan obat-obatan berbahaya itu. Tapi sampai saat ini pun, kelihatannya Andra nggak berusaha untuk melakukan itu. Cowok itu lebih menyayangi narkotika daripada Thalita…
“Tha? Thalitaaaa?”
Thalita yang sedang membilas busa samponya terlonjak mendengar Mama memanggilnya dari balik pintu kamar mandi. Tangannya bergerak memutar kenop shower, mematikan pancuran airnya agar ia bisa lebih jelas mendengar suara Mama.
“Ya, Ma?”
“Kamu kok mandinya lama banget sih? Ayo cepetan, ini udah mau jam enam! Kamu belum sarapan dan siap-siap, lagi. Nnanti kamu telat!”
“Iya, Ma. Sebentar.”
Thalita menyelesaikan acara mandinya, dan bergegas keluar dari kamar mandi. Saat sudah berpakaian dan menatap dirinya di depan cermin, Thalita kembali tak bersemangat.
Hari ini adalah hari di saat ia benar-benar akan memulai lembaran baru tanpa Andra. Ia akan jadi murid baru di SMA Persada Bangsa, sekolah yang berbeda dengan sekolah yang dimasuki Andra…
* * *
Thalita memandangi papan nama sekolah barunya, SMA Persada Bangsa. Sebenarnya sekolah itu sekolah yang bagus, tapi Thalita benar-benar nggak berselera untuk memulai hari pertamanya di sana.
Dengan perasaan enggan luar biasa, Thalita turun dari mobil. Dia berjalan melintasi lapangan parkir yang masih sepi karena jam masih menunjukkan pukul 06.20. Tapi langkahnya terhenti di tengah lapangan karena sebuah motor yang melaju kencang entah dari mana tiba-tiba nyaris menabraknya. Thalita menahan napas melihat ban sepeda motor itu berhenti hanya beberapa senti dari kakinya.
Takut-takut, Thalita melirik pengendara motor itu. Dia nggak bisa melihat wajah si pengendara motor karena tertutup helm teropong, tapi yang jelas orang itu cowok, karena Thalita bisa melihat celana seragamnya.
Mendadak, pengendara motor itu membuka kaca helm teropongnya dan menatap Thalita tajam, hingga Thalita bisa melihat mata dan sebagian hidung cowok itu. Mata dan hidung yang asing, dan jelas Thalita nggak mengenalinya. Tapi, siapa pun yang ada di atas motor itu cuma menatap Thalita sesaat dan langsung memacu motornya lagi.


“Oh. Nggak papa sih. Thanks.” Cowok itu hampir keluar dari kelas, waktu dia berbalik dan tersenyum pada Thalita. “Lain kali kalo nyeberang lapangan parkir hati-hati, oke?”
Cowok itu berbalik lagi, dan kali ini langsung meninggalkan kelas. Thalita cuma bisa bengong begitu menyadari cowok itulah pengendara motor yang nyaris menabraknya tadi pagi! Thalita masih inget tatapannya!
Nita menghampiri Thalita dengan langkah lemas. “Aduh, Tha, busettt… siapa sih tu cowok? Ganteng banget! Kayak malaikat…,” katanya dalam desahan terpesona.
“Gue juga nggak tau, Nit.” Thalita mengedikkan bahu. “Kita kan sama-sama murid pindahan di sini.”
“Fiuuuhh… nggak menyesal gue masuk sekolah ini!” kata Nita lagi, tapi kali ini dengan berapi-api. “Sayang, dia nggak sekelas sama kita ya…”
“Bukannya untung kalau dia nggak sekelas sama kita? Gue malah khawatir kalau ada makhluk seganteng itu di kelas ini, lo bakal nggak naik kelas gara-gara ngeliatin cowok itu terus dan nggak konsen sama pelajaran!”
Nita meringis. “Haha! Bener juga lo! Biar ganteng, tapi kalo sampai bikin gue nggak naik kelas kan parah juga.”
“Makanya, itu namanya tenang tapi menghanyutkan. Hehehe…”
Mereka berdua tertawa, lalu berjalan bersama menuju kantin.
* * *
Jam pelajaran berikutnya, Thalita sibuk mengorek keterangan dari Uwi, yang duduk di bangku depannya, tentang cowok yang nyaris menabraknya tadi pagi itu.
“Wi… kenal apa nggak?”
Uwi, yang kelihatannya punya semua info dan gosip paling lengkap di sekolah ini, langsung menoleh.
“Tunggu, Tha, gue lagi mikir nih, soalnya di sekolah ini kan banyak yang ganteng! Coba lo kasih ciri-ciri lebih spesifik deh. Atau mungkin… gue nggak kenal karena dia dulunya bukan anak SMP sini…”
SMA Persada Bangsa memang salah satu sekolah yang lengkap dari SD sampai SMA. Kebetulan Uwi dulu SMP-nya di sekolah ini juga, makanya Thalita berusaha mengorek info dari dia.
“Masa sih? Tapi dia nyari Tatyana lho… Tatyana kan dulu anak SMP sini, masa sih dia murid baru tapi udah kenal Tatyana?”



“Terus, besok gue mesti gimana, dong?” Thalita memutuskan untuk minta saran sohibnya sejak SMP itu.
“Hmm… gimana ya… Kalau menurut gue sih sebaiknya lo nggak nolak lagi kalau mau dikenalin sama Darren. Kan lo bilang dia cakep, keren, lagi! Kalau misalnya Tatyana sampai kelepasan soal lo yang ngeliatin Darren terus, ya udah cuek aja! Siapa tau nanti malah Darren jadi care sama lo karena dia tau lo ada perhatian sama dia.”
Thalita melongo. Jennie ini gimana sih? Ngomong sih gampang, tapi prakteknya itu lho! Dan please deh, dia nggak naksir Darren!
“Lagi pula, Tha, siapa tau juga… mungkin Darren bisa gantiin Andra…”
Diam selama beberapa saat.
“Jen, gue nggak mau ngomong soal Andra lagi,” kata Thalita akhirnya.
“Mmm… sori ya, Tha… Gue nggak ada maksud untuk…” Jennie sadar dia barusan salah bicara.
“Nggak papa. Udah dulu ya, gue mau mandi dulu. Bye.”
Thalita menutup telepon dengan perasaan pahit. Ia memang nggak menolak dikenalkan sama Darren. Apalagi Darren kan ganteng. Tapi… kok kayaknya Thalita belum bisa melupakan Andra, sekeras apa pun dia berusaha. Cowok yang satu itu masih tetap saja bercokol dalam hatinya.
* * *
“Tha, udah sembuh sakit perutnya?” tanya Tatyana keesokan harinya begitu Thalita menginjakkan kaki di kelas.
“Oh, eh… udah, Na! Gue udah sehat kok.”
“Wah… jadi gagal deh ya, kemarin? Padahal gue pengin banget ngenalin lo ke Darren. Dia kan lagi jomblo…” Tatyana tersenyum.
“Jomblo? Tapi... tapi kenapa dikenalinnya ke gue? Eh… maksud gue, di sekolah ini kan banyak cewek lain…”
“Habis lo lucu sih!” Tatyana nyengir. “Kalau gue ngobrol sama lo, pasti bawaannya pengin ketawa terus. Dan lo anaknya asyik, enak diajak ngobrol.”
“Eh… gitu, ya?”
“Iya, bener lho! Tapi kesannya gue jadi maksa lo, ya? Sori ya, Tha…”
“Nggak papa kok, nyantai aja. Tapi… kayaknya lo semangat banget nyariin cewek buat Darren. Emangnya kenapa?”
“Oh, itu…” Tatyana mengembuskan napas pelan-pelan. “Gini, gue ceritain something, tapi lo janji ya jangan cerita ke siapa-siapa?”


DUA
“Bu, ada novel baru nggak?”
Bu Any, pustakawati SMA Persada Bangsa, mengangguk. “Ada dua, di rak sebelah sana. Kamu cari aja, baru dateng kemarin kok…”
“Penulis lokal atau luar?”
“Dua-duanya. Tapi karena masih buku baru, kalo mau pinjem cuma boleh dua hari.”
“Oke. Nggak papa,” Jawab Thalita sambil nyengir lebar. Dia sih cinta banget baca novel. Satu novel tebal bisa habis dibacanya dalam satu jam, jadi jangka waktu dua hari jelas bukan masalah.
Sambil menunggu Bu Any mencatat buku pinjamannya, Thalita mengedarkan pandangan ke sekeliling perpus. Kali ini dia bersyukur ortunya memaksanya masuk SMA Persada Bangsa. Gimana nggak? Perpus sekolah ini keren banget! Komplet, koleksi bukunya selalu up to date, bersih, sejuk karena AC yang selalu menyala, dan yang lebih penting, bisa baca buku gratis. Pokoknya benar-benar surga buat penggila buku seperti Thalita deh!
Pandangan Thalita terhenti pada reading corner, salah satu sudut perpus yang sudah disulap menjadi tempat untuk baca-baca, dan dia langsung melongo. Ada Darren di situ!
Thalita teringat janjinya pada Tatyana, dan langsung merasa bersalah. Sudah dua minggu sejak janji itu, tapi Thalita belum melakukan apa pun untuk memenuhinya. Dia bahkan berusaha menghindar setiap ketemu Darren. Tapi sekarang cowok itu ada di pojok sana, cuma beberapa langkah dari tempatnya berdiri, lagi baca koran dengan santainya.
“Thalita?” Bu Any menepuk-nepuk tangan Thalita, yang nggak sadar udah dipanggil sedari tadi.
“Eh… oh iya, Bu. Kenapa?”
“Ini, bukunya sudah selesai dicatat.”
“Oh iya, makasih ya, Bu.”
“Iya.” Bu Any lalu menyibukkan diri lagi dengan pekerjaannya, sementara Thalita melihat jam dinding di perpus dan tahu bel baru akan berbunyi lima belas menit lagi.


“Lo mau nggak jadi cewek gue?”
“Hah? Apa?”
“Lo mau nggak jadi cewek gue?” ulang Darren.
Thalita nyaris cegukan. “Lo bercanda, ya?” tanyanya nggak percaya. Mana mungkin Darren nembak dia, mereka kan kemarin baru pertama kalinya ngobrol!
“Serius lah… Seribu rius, malah!”
“Tapi kan…”
“Kenapa? Lo udah punya cowok?”
Thalita menggeleng. “Kok tiba-tiba lo nembak gue sih?”
“Memangnya kalo mau nembak harus pakai pemberitahuan dulu sebelumnya?”
“Eh, bukan gitu…” kalimat Thalita terpotong. Darren tiba-tiba aja berjalan mendekat, dan semakin dekat. Thalita sampai bisa mencium bau aftershave-nya yang harum. Pelan-pelan Thalita menutup mata. Darren semakin dekat…
Tapi tiba-tiba hujan turun sangat deras, dan sekujur tubuh Thalita basah kuyup, padahal dia ada di teras rumah. Bukan cuma itu, Darren juga menghilang entah ke mana!
“Arrrrrrggggghhhhhh…!!!” jerit Thalita keras-keras. Bersamaan dengan itu matanya terbuka lebar, dan terdengar suara orang cengengesan.
“Makanya, kalau molor jangan kayak kebo! Dibangunin bukannya bangun, malah ngigo! „Lo bercanda, ya? … Tapi kan… Kok tiba-tiba lo nembak gue sih?‟ Mimpi ditembak sama siapa lo?” Acha, adik Thalita satu-satunya, tertawa terbahak-bahak. Di tangannya ada sebuah ember merah besar yang masih meneteskan air ke lantai kamar.
“Gila lo! Lo guyur gue pakai air seember?!” tanya Thalita nggak percaya.
“Huahahaha! Nggak seember penuh kok, cuma setengahnya…” Acha semakin terbahak melihat Thalita mengomel panjang-pendek. “Udah waktunya bangun, tau! Ada yang nyari lo tuh di bawah.”
“Hah? Siapa?”
“Udah, lo lihat aja sendiri sana! Cepetan! Dia udah nunggu dari tadi! Lo sih, molornya nggak tanggung-tanggung!”
Thalita bingung sendiri, memangnya siapa yang datang? Masa… Darren?
* * *
Ya Tuhan… Kenapa dia?
“Aku ganggu, ya?” tanya cowok di depan Thalita itu. Thalita masih melongo dan nggak sanggup ngomong apa-apa saking kagetnya begitu tahu cowok itu masih berani muncul di rumahnya setelah semua yang sudah terjadi.


“Itu yang dia bilang, tapi tolong deh… Sayang? Kalau dia sayang sama gue, dia pasti mau menepati semua janjinya! Tapi nyatanya? Dia lebih sayang sama semua drugs-nya itu! Lebih sayang daripada sama dirinya sendiri! Dia nggak tau kalau dia lagi bunuh diri pelan-pelan, Jen…” Thalita sesenggukan selama beberapa detik. Jennie masih terus memeluknya. “Gue masih sayang sama dia… Sayang banget… Tapi gue tau, gue nggak akan bisa bertahan lagi…” Air mata Thalita jatuh lagi.
“Memang nggak semua yang baik itu menyenangkan ya, Tha? Tapi gue rasa, memang lebih baik lo kehilangan Andra, daripada lo ada dalam lingkup pergaulan yang berbahaya.”
Thalita mengangguk dalam tangisnya.
“Lho, lho, ada apa ini?”
Thalita terlonjak kaget mendengar suara itu. Ia mendongak dan melihat Papa berdiri di ambang pintu kamarnya.
“Kamu kenapa, Tha?” Papa berjalan masuk dengan wajah khawatir. Thalita cepat-cepat menghapus air mata yang mengalir di pipinya, tapi jelas dia tak bisa menyembunyikan juga mata sembap dan hidung merahnya dari Papa.
Karena nggak berhasil mendapatkan jawaban dari anaknya, papa Thalita menanyai Jennie.
“Jen, Thalita kenapa?”
Jennie terlihat ragu, tapi dia nggak bisa menghindar. “Ngg… anu, Oom, tadi Andra ke sini…”
Papa Thalita melotot. “Ngapain dia ke sini? Kamu yang nyuruh dia datang, Tha?”
Thalita menggeleng cepat. “Nggak, Pa… Aku juga nggak tau kenapa dia berani datang ke sini lagi, padahal aku udah ngelarang dia…”
“Anak itu…” Papa duduk di tepi ranjang Thalita, dan menghela napas dalam-dalam. “Dia masih mengganggu kamu?”
“Yah, dia masih suka nelepon, tapi nggak pernah aku angkat. SMS-nya juga nggak pernah aku balas…” Thalita teringat beberapa SMS dan telepon Andra yang diabaikannya sejak mereka putus. Mungkin karena itulah Andra nekat datang ke rumah, karena cara lain yang dilakukannya untuk mengajak Thalita bicara ternyata gagal. Thalita yakin, Andra juga pasti sudah memperhitungkan untuk datang siang hari, ketika Papa nggak ada, agar dia nggak diusir.
“Bagus, apa yang kamu lakukan sudah benar. Kamu harus berani menunjukkan ketegasan bahwa kamu nggak mau berurusan sama dia lagi.”
“Iya, Pa, aku tau… Aku juga tadi udah minta dia untuk nggak datang ke sini lagi.”
Papa mengangguk. “Kamu pasti mengerti kan, kalau apa yang Papa lakukan ini untuk kebaikanmu? Tha, dan kamu juga, Jennie,” Papa Thalita mengalihkan
pandangannya pada Jennie, yang menatap balik dengan ingin tahu, “narkoba itu berbahaya. Sekali kalian menyentuhnya, masa depan kalian akan hancur. Memang, ada segelintir orang yang berhasil melepaskan diri dari jeratan narkoba. Sembuh dan bersih setelah direhabilitasi. Tapi prosesnya sendiri pun bukan proses yang mudah…”
Papa Thalita terdiam sebentar, sebelum akhirnya melanjutkan, “Ada teman Papa, anaknya kena narkoba… Papanya benar-benar kecewa. Anaknya nggak hanya jadi pemakai, tapi diam-diam juga sudah jadi pengedar, dan itu membawa dia melakukan banyak hal jahat lainnya. Dia mulai berani minta uang secara paksa dari ibunya, untuk beli narkoba. Kalau nggak dikasih, dia mencuri. Uang kuliahnya juga dia embat untuk beli narkoba. Kuliahnya jangan ditanya, jelas berantakan. Anaknya jadi pembangkang, dan orangtuanya sudah nggak kuat lagi menangani dia. Akhirnya anak itu dikirim ke salah satu panti rehabilitasi…”
Kening Thalita berkerut. Papa nggak pernah cerita tentang ini sebelumnya.
“Waktu di panti rehab, anak itu demam tinggi. Awalnya para pengurus panti mengira itu demam biasa, tapi setelah darahnya diperiksa, baru diketahui bahwa anak itu menderita HIV positif. Dan HIV-nya sudah berkembang menjadi AIDS… Setelah itu barulah anak itu mengaku, dia suka pakai jarum suntik bergantian dengan teman-teman sesama junkies-nya, dan dia juga menganut seks bebas…”
Thalita bergidik ngeri, sementara ia bisa mendengar Jennie di sebelahnya bersusah payah menelah ludah.
“Anak itu meninggal, hanya beberapa bulan setelahnya. Dan ia meninggal dengan sangat kesakitan. Papa ngeri sekali waktu melihat jenazahnya di rumah duka. Dia hanya tinggal tulang dan kulit. Bahkan saat tubuh itu sudah nggak memiliki jiwa sekalipun, wajahnya masih terlihat menderita. Papa nggak mau kamu sampai mengalami nasib seperti itu, Tha… Papa nggak akan pernah sanggup melihat kamu dalam keadaan seperti itu…”
Thalita mengelus lengan Papa dengan lembut. Pantas Papa begitu keras melarangnya untuk berdekatan dengan Andra selama ini. Ternyata Papa pernah melihat sendiri bagaimana hancurnya orang yang terjerat narkoba, dan Papa hanya nggak mau Thalita sampai bernasib seperti itu…
* * *
“Lit, temen lo yang namanya Thalita itu lucu,” kata Darren sambil lalu waktu dia dan Tatyana nonton TV bareng di ruang keluarga.
“Wah… ada apa nih? Kok tiba-tiba lo care sama temen gue? Naksir?” goda Tatyana.


“Nit, kita sekelompok yuk?” tawar Thalita.
Nita mengangguk riang.
“Nah, Bapak yang akan membagi kelompoknya,” kata Pak Lukas.
Thalita langsung lemas. Kalau Pak Lukas yang membagi kelompoknya, ada kemungkinan dia nggak bisa sekelompok sama Nita dong? Yah, nggak apalah, masih ada kemungkinan bisa sekelompok sama Tatyana atau Verina.
“Oke, kelompok pertama… Andika dengan Verina.”
Verina langsung cengengesan, senang karena bisa sekelompok sama cowoknya sendiri. Thalita menduga kedua orang itu bakal banyakan mojok dan pacaran dibanding mengerjakan tugas.
“Ronny dengan Freddy.” Dua cowok anak X-6 yang nggak Thalita kenal baik.
“Tatyana dengan…” para cowok yang belum dapat pasangan, kecuali Darren, langsung memasang telinga mereka baik-baik, “…Sugeng.”
Para cowok itu langsung merosot lemas di bangku mereka masing-masing. Harapan mereka pupus hanya setelah beberapa detik mekar. Kalau Tatyana sekelompok sama Sugeng yang tampangnya di atas rata-rata itu, mereka jelas nggak punya kesempatan untuk deket-deket sama Tatyana!
“Farrel dengan Nita.”
Nita kontan melotot. Dia sama sekali nggak menyangka bakal dipasangkan dengan Farrell, cowok dingin bak freezer kulkas dari kelas X-6 itu.
“Sioe Liong dengan Alvin.”
“Ya, Pak,” jawab dua orang itu serempak.
“Rudy, kamu sama Gio.”
Rudy langsung merengut, dan itu sangat bisa dimaklumi. Gio adalah jenis cowok yang mmm… berada di “persimpangan”. Di kartu pelajarnya jelas-jelas tertulis dia itu cowok, tapi tingkah lakunya lebih feminin daripada cewek asli! Cowok-cowok lain yang mendengar Rudy harus sekelompok sama Gio langsung ngakak. Gio-nya sendiri malah mengedip-ngedip genit. Rudy langsung pasang tampang seolah dia lebih baik disuruh ngepel dan menyikat seluruh WC sekolah daripada sekelompok dengan Gio.
“Berarti, Thalita…”
Thalita memandang ke sekeliling kelas agamanya, berusaha mencari tau dengan siapa dia bakal sekelompok. Kalau ini kelompok terakhir, berarti cuma satu orang selain dia yang belum dapat kelompok juga, dan pastinya bakal jadi partnernya.
“Dengan Darren, ya?”
Thalita mengerjap dua kali, tepat saat tatapannya berhenti di Darren, yang menoleh ke arahnya dan nyengir. Dia… bakal sekelompok sama cowok itu? Entah kenapa, tapi sepertinya Dewi Fortuna sangat merestui rencana Tatyana.


latihan Darren padat banget, dan sepulang latihan cowok itu pasti dalam kondisi energi terkuras. Kalau Sabtu-Minggu sekolah mereka libur, jadi nggak mungkin ketemu juga. Padahal Pak Lukas udah bilang hari Senin depan beliau mau mengecek draft makalah dari kelompok yang sudah dibentuknya. Gimana Thalita bisa membuat draft-nya kalau Darren baru memberikan bahan hari Senin?
“Gini aja deh,” kata Darren tiba-tiba. “Sabtu pagi gue ke rumah lo, gimana? Ntar gue bawain deh draft-nya. Nanti gue juga sekalian bawa laptop, jadi bisa bantu lo kerja juga.”
Thalita melongo. Apa cowok ini barusan bilang dia mau ke rumah Thalita hari Sabtu?
“Wah, lo bengong lagi, ya?” tanya Darren geli. “Gue nggak tau udah berapa kali lo bengong tiap kali gue ajak ngomong.”
Wajah Thalita langsung merona. Kenapa sih cowok di hadapannya itu nggak menyadari dialah yang salah karena punya potensi untuk membuat separuh cewek penghuni planet Bumi ini bengong setiap ngobrol sama dia?
“Mmhh… gue…”
Darren manggut-manggut, padahal Thalita belum menyelesaikan kalimatnya.
“Ya, ya, gue tau gue ini lancang banget. Kita kan baru kenal, tapi gue udah asal ngomong aja mau ke rumah lo. Yah… walaupun sebenernya tujuan gue adalah untuk ngerjain tugas, gue bisa ngerti kalau lo nggak suka…”
“Aduuhhh, bukan gitu, Ren…”
Thalita memutar otak, membayangkan kemungkinan-kemungkinan apa aja yang bakal terjadi kalau Darren sampai mampir ke rumahnya:
1. Acha, adiknya yang tengil itu, pasti nggak akan membiarkan Thalita dan Darren mengerjakan tugas dalam situasi aman dan tenteram. Thalita jamin, adiknya itu bakal tebar pesona sepanjang waktu di depan Darren. Gimana bisa ngerjain tugas kalau ada makhluk centil berseliweran di depanmu?
2. Tatyana bakal berpikir rencananya menjodohkan Darren dan Thalita sudah berhasil, padahal Thalita belum punya perasaan apa-apa pada cowok itu, selain perasaan bingung sendiri kenapa dia nggak bisa dengan mudah jatuh cinta pada cowok se-perfect Darren.
Di luar kedua alasan itu, Thalita juga agak hmm… takut kalau Darren benar-benar mau ke rumahnya. Gimana kalau nanti dia akhirnya suka beneran sama cowok itu? Dia akan merasa sangat bersalah sama Andra kalau sampai itu terjadi. Dia kan sudah janji akan menerima Andra kembali jika cowok itu sudah “bersih”, tapi bagaimana ketika Andra bersih, Thalita justru sudah jatuh hati pada Darren? Semua usaha Andra akan sia-sia…


yang pengin ditemuinya. Biasanya sih justru cewek-cewek yang pada ngejogrok di depan kelas X-6, menunggu Darren datang. Gosip baru nih! Fresh from the oven!
“Mm… gue ke sini karena mau nanya alamat rumah lo.”
“Heh?” Thalita bengong.
“Soalnya… Lita, mmm… maksud gue Tatyana, mau bolos juga hari Jumat nanti buat nonton pertandingan sepak bola. Jadi gue nggak bisa nitipin flashdisk gue ke dia. Dan sampai sekarang gue juga belum dapat bahan. Jadi mau nggak mau hari Sabtu gue harus ke rumah lo…”
Mata Thalita membola, dan dia langsung mencari-cari sosok Tatyana di dalam kelas. Waktu matanya berhasil menemukan Tatyana, cewek itu malah sengaja nggak mau menatap ke arah Thalita. Thalita yakin, mau bolos dan nonton pertandingan sepak bola itu pasti cuma alasan yang dibuat-buat Tatyana biar Darren bisa ke rumah Thalita. Rupanya cewek itu kekeuh banget sama rencananya.
“Mmm… Tha, kalau lo masih keberatan, gue bisa kok ke rumah lo cuma buat nganter flashdisk aja dan langsung pulang. Yah… biarpun gue masih merasa nggak adil banget kalau gue cuma harus nyari bahan sementara lo yang kerja keras nyusun makalahnya…”
Thalita menghela napas. Dia tau, sekonyol apa pun janji yang dibuatnya ke Tatyana dulu, dia harus berusaha menepatinya. Janji itu kan ibarat utang, harus dibayar. Dan walaupun ia masih merasa ragu kalau teringat Andra, ia tahu kemungkinan Andra bersih dari narkoba masih sangat kecil. Mungkin hal itu masih akan lama terjadi. Mungkin Thalita juga nggak akan dengan mudah suka sama Darren. Lagi pula, ini kan hanya tugas sekolah, bukannya acara kencan. Kenapa harus dibikin ribet sih?
“Nggak papa kok, Ren… Dan lo bener, kayaknya gue memang harus ngasih lo kerjaan lebih banyak lagi. Jadi jangan lupa bawa laptop, ya!” Thalita nyengir, walaupun masih agak kikuk.
Darren tersenyum kecil. “Beres, Bos!”
* * *
Santi berdiri di depan pintu kamar Andra dengan perasaan kacau-balau. Ia ragu antara harus mengetuk pintu kamar kakaknya itu atau nggak. Akhirnya dia memutuskan memilih yang pertama. Suara Andra menjawab dari dalam, menyuruhnya masuk.
“Kak…,” Santi terbata setelah berdiri di depan kakaknya yang lagi tiduran di atas ranjang sambil membaca komik.
“Hmm?”
“Tadi Papa telepon, katanya besok kita makan siang bareng.”



“Wah, ini sih lengkap banget!” gumam Thalita kagum setelah membaca sepintas bahan-bahan yang dikumpulkan Darren. Gila, pikir Thalita, ni cowok kerjanya rapi banget. Mana referensi bahannya bagus-bagus! Nggak biasanya cowok kerja serapi ini!
“Oya? Padahal gue baru nyari tadi pagi, sebelum gue datang ke sini.”
Thalita melirik Darren dengan tatapan nggak percaya. “Lo baru nyari tadi pagi?”
“He-eh. Habisnya kemarin-kemarin konsen ke pertandingan, jadi baru sempat nyari bahannya tadi pagi deh…” Darren menguap, kelihatannya dia memang bangun pagi-pagi untuk mencari bahan makalah ini.
“Gue coba baca dari awal ya, lo makan kue dulu deh.” Thalita menyodorkan stoples-stoples biskuit yang sudah disediakannya pada Darren. Cowok itu langsung mengambil satu chocolate chip biskuit dan mengunyahnya.
Thalita membaca lagi bahan-bahan makalah yang dikumpulkan Darren, dan merasa semakin kagum. Ternyata Darren nggak asal comot bahan dari Internet dan menyimpannya di MS Word, tapi dia bener-bener dapat bahan yang qualified untuk makalah pelajaran Agama ini. Rupaya Darren nggak cuma ganteng, enak diajak ngobrol dan baik, tapi juga smart!
Tapi… (tiba-tiba radar waspada Thalita bereaksi), apa ini bukan bagian dari rencana Tatyana, ya? Maksudnya, Tatyana kan mau mencomblangi dia sama Darren, tapi dia tau Thalita belum ada “rasa”. Mungkinkah… Tatyana yang sebenarnya mencari semua bahan ini, dan menyuruh Darren mengaku-aku, cuma supaya Thalita terkesan dan akhirnya perasaan suka Thalita pada Darren bisa tumbuh?
Ah, nggak mungkin, batin Thalita lagi, mengusit pikiran yang terlintas di benaknya barusan. Masa sih Tatyana segila itu? Kayaknya dia cukup easygoing, nggak maksa-maksa amat, biarpun Thalita jelas udah melewati deadline seandainya perjanjian mereka ada expired date-nya.
“Tha, lo udah punya cowok belum?” tanya Darren tiba-tiba, membuyarkan praduga Thalita tentang Tatyana.
“Hah? Apa?”
“Lo udah punya cowok belum?”
Thalita diam, menatap Darren lurus-lurus. Kenapa cowok ini tiba-tiba nanya begitu? Jangan-jangan… Darren suka sama gue? pikir Thalita panik. Tanpa gue melakukan apa-apa, dia udah suka sama gue dengan sendirinya! Dan sekarang dia pengin tau apa gue udah punya pacar atau belum! Omigod! Nggak, nggak… ini nggak boleh terjadi!
“Mmm… kenapa lo tanya gitu?” Thalita balik nanya. Memang ini salah satu “senjata” kaum cewek kalau dapat pertanyaan yang sulit dijawab: tanya aja balik!
“Yah… nggak papa sih, pengin tau aja. Sori kalau lo tersinggung, gue nggak ada maksud apa-apa kok.” Darren terlihat agak salah tingkah. Untuk menutupi


Thalita mengerjap, seperti baru mendengar Tatyana bakal mencabut serpihan kayu yang masuk dalam jarinya.
“Mm… maksud lo?”
“Gue mau membatalkan kesepakatan kita yang dulu itu. Yang tentang gue minta lo untuk ngedeketin Darren.”
Sekarang kayaknya Tatyana udah benar-benar mencabut serpihan kayu itu.
“Yang bener, Na?” tanya Thalita, nggak percaya problemnya sama Darren bisa selesai segampang ini. Ia nggak akan perlu memaksakan dirinya mendekati Darren. Ia nggak perlu bermain-main dengan kemungkinan untuk mengkhianati Andra…
“Iya. Karena gue lihat, lo agak tertekan sama semua itu. Sori, ya, Tha… Padahal gue sama sekali nggak ada maksud. Lo tau kan, gue minta tolong sama lo karena gue suka banget temenan sama lo, dan gue ngerasa lo bakal cocok sama Darren. Tapi… yah, ternyata feeling gue nggak selalu benar…”
Thalita berjalan mendekati Tatyana, dan mengusap bahu cewek itu. “Harusnya gue yang minta maaf, gue nggak bener-bener berusaha…”
“Nggak, nggak, lo nggak salah. Gue yang bego banget. Bisa-bisanya gue minta hal konyol kayak gitu ke lo dulu. Harusnya kan gue tau cinta nggak bisa dipaksain, ya? Gue sama aja menjajah hak asasi lo dengan nyuruh lo pedekate sama abang gue, cuma karena gue kepengin lihat Darren suka sama cewek lagi. Gue egois… udah mengorbankan lo demi menolong Darren…”
“Nggak sedramatis itu kali, Na.” Thalita nyengir. “Gue kan nggak diikat dan dibakar untuk dikorbankan seperti yang lo bilang itu. Gue cuma… entahlah, gue sndiri nggak tau kenapa gue nggak bisa suka sama Darren. Cuma yah… seperti yang gue bilang tadi, perasaan gue belum „kena‟. Nggak tau deh, mungkin saraf otak gue ada yang rusak gara-gara patah hati sama cowok gue dulu.”
Thalita tercenung setelah mengatakan itu. Jangan-jangan yang dibilangnya benar, bahwa ada saraf di otaknya yang rusak karena disakiti Andra, sehingga membuatnya mati rasa pada cowok, bahkan pada yang se-charming Darren sekalipun. Mungkin saraf rusak itu jugalah yang selalu menimbulkan rasa bersalah dalam dirinya setiap kali ia memikirkan ia harus dekat dengan Darren, demi menepati janjinya pada Tatyana.
“Lo memang cewek yang baik banget, Tha… Sayang lo nggak bisa jadi ama abang gue. Padahal gue bakal seneng banget kalau lo bisa jadi kakak ipar gue someday.”
Thalita cengengesan, campuran antara perasaan lega (karena dia sekarang nggak punya janji sama Tatyana yang harus ditepati) dan rasa geli mendengar Tatyana yang membayangkan mereka bakal jadi ipar someday.
Maaf, ya, Na, gue nggak bisa memenuhi permintaan lo. Hati gue masih belum siap untuk menerima cowok baru lagi. Gue masih sayang banget sama Andra.


“Aku nggak bohong!” balas Thalita ketus. Dia sudah terlanjur basah, nggak bisa mundur lagi. Kalau cuma dengan cara ini Andra mau menjauhinya, berarti dia nggak boleh ragu-ragu.
“Seperti apa orangnya?” tanya Andra pahit.
“Buat apa kamu tanya-tanya? Kamu kan udah bukan siapa-siapaku lagi!” Thalita masih mempertahankan keketusannya. Dia dan Andra jelas nggak punya masa depan lagi, kenapa harus membangun harapan semu?
“Huh, kamu nggak akan nemuin cowok yang lebih baik dari aku, Tha!”
“Siapa bilang? Cowokku yangsekarang jauh lebih baik segalanya dari kamu!”
Andra mendengus, meremehkan. “Dia cuma pelarianmu, kan? Aku tahu, kamu pasti masih sayang sama aku! Tapi gara-gara ortumu, temen-temenmu, dan semua orang bilang aku ini berbahaya, makanya kamu mutusin aku, ya kan?” Andra menatap Thalita tajam. Thalita cepat-cepat mengalihkan pandangannya. Dari dulu dia nggak pernah bisa membalas kalau Andra menatapnya seperti itu.
“Bisa-bisanya kamu ngomong kayak gitu! Memangnya kamu tahu apa tentang cowokku? Kamu nggak tahu apa-apa soal dia! Asal kamu tahu aja ya, aku… aku sudah nggak sayang sama kamu lagi!”
Senyap. Yang terdengar hanya deru kendaraan bermotor di lapangan parkir, dan di jalan besar depan SMA Persada Bangsa.
Setelah mendengar itu, Andra melangkah keluar gerbang sekolah, dan Thalita merosot lemas di halaman parkir sekolahnya. Kalau saja Andra nggak pernah terjerat drugs, mungkin kejadiannya nggak akan seperti ini. Mungkin Thalita nggak perlu punya cerita cinta yang sebegitu ribet di usianya yang belum lagi tujuh belas tahun.
* * *
“Gue nggak bisa bilang Thalita salah, Ndra,” kata Darius bingung. Dia sudah putus asa menasihati Andra. Darius salah satu teman Andra yang mantan junkies, tapi sekarang sudah tobat dan bersih total selama enam bulan lebih tinggal di panti rehabilitasi.
“Nah, kalo gitu menurut lo, gue yang salah?”
“Yah… mestinya lo dulu nerima tawaran gue buat rehab. Thalita dulu sampai memohon-mohon juga kan sama lo? Tapi lo nggak mau, berarti itu salah lo sendiri dong!”
Lama-lama Darius sebal juga. Andra ini, dia kan udah jelas-jelas tahu gimana caranya menebus kesalahan, kenapa malah nggak dilakukan sih? Malah dia duduk nelangsa di sini, merengek-rengek kayak cewek. Tinggal masuk rehab, sembuh, dan Thalita bakal mau balik sama dia lagi, apa susahnya?! omel Darius dalam hati.


„Come the day I thought I‟d never get through,
I got over you
(Over You – DAUGHTRY)

Atau mungkin dia bisa mulai mengiming-imingi Ayu dengan narkoba juga? Hmm…
“Tapi, Ndra…,” Tante Retno berusaha mencegah. Dia tahu Andra benci sekali padanya dan Ayu. Aneh kalau sekarang Andra mau memanggilkan Ayu, kalau dia memang nggak punya maksud tersembunyi.
“Nggak apa-apa, Tante. Tante di sini aja, nikmati makanannya, dan semua yang sudah Tante curi dari keluarga saya!” kata Andra ketus, lalu segera berjalan cepat menuju tangga.
Hampir saja Papa menyusul untuk memarahi Andra, tapi ditahan oleh Tante Retno.
* * *
“Bah, lo masih make rupanya?” tanya Agus kasar.
Andra menatap laki-laki berewokan di depannya itu dengan tatapan kosong. “Ada stok nggak, Bang?”
“Lo ada duitnya berapa?”
Andra menyodorkan beberapa lembar uang seratus ribuan, uang jajannya untuk bulan itu.
“Yakin nih, cuma segini?” tanya Agus meremehkan.
“Ya adanya cuma itu, gimana dong?”
“Babe lo kan tajir, Ndra!”
Andra mendengus. “Babe, Babe… kalo Papa tahu gue minta duit untuk nyabu, gue bakal langsung dijeblosin ke tempat rehab! Bisa gila gue di sana!”
Agus tertawa ngakak. “Lha, temen lo itu, siapa namanya? Itu… yang udah tobat itu?!” tanya Agus sambil berusaha mengingat-ingat.
“Darius, Bos!” sahut Bejo, salah satu anak buah Agus.
“Ah, ya! Darius! Nama aja macho, tapi kelakuan bencong! Dia udah keluar dari panti rehab belon?”
“Udah. Udah tobat,” sahut Andra.
“Dia nggak gila, kan?”
Andra menggeleng.
“Berarti panti rehab itu kagak bikin orang jadi gila, Ndra! Bego lo!” Agus ngakak semakin keras.
Andra menuang isi bir yang ada di atas meja ke dalam salah satu gelas dan menghabiskannya sekali tenggak.

Sungguh, kalau dia sanggup, dia kepengin banget meninggalkan semua ini dan kembali pada Thalita, tapi dia nggak bisa. Tubuhnya menderita jika tak menghirup semua bubuk putih itu. Sakitnya tak tertahankan.
* * *
Thalita menutup presentasi makalahnya dengan senyum mengembang. Semua pertanyaan dari Pak Lukas, atau dari teman-teman di kelas pelajaran Agama itu bisa dijawabnya dengan jawaban yang tepat. Darren yang partner sekelompoknya juga tersenyum puas. Jawaban-jawaban yang diberikannya nggak kalah bagus. Dia menguasai banget materi untuk presentasi kali ini, dan Thalita jadi kagum sama cowok itu.
Thalita memang sudah nggak terbeban lagi untuk menepati janjinya pada Tatyana, karena janji itu sudah di-cancel. Dan entah kenapa, setelah itu dia malah merasa jadi lebih enjoy berada di dekat Darren. Rasanya semua tekanan yang mengimpitnya selama ini udah hilang, dan dia jadi nggak harus melakukan “manuver-manuver” untuk pedekate sama Darren cuma karena terbeban janjinya pada Tatyana itu.
Sepertinya semua jadi terasa lebih mudah sekarang, termasuk kerja sama dalam makalah itu dengan Darren. Dan Thalita baru sadar, setelah semua perasaan terbebannya itu hilang, ngobrol-ngobrol sama Darren ternyata bener-bener fun. Cowok itu enak diajak ngobrol apa aja, terutama soal sepak bola. Tiap Senin pagi, mereka berdua pasti udah heboh membahas pertandingan sepak bola liga-liga top Eropa weekend sebelumnya. Kadang-kadang debat kusir kalau tim jagoan mereka bukan tim yang sama. Singkatnya, pembatalan “perjanjian” itu malah membuat Thalita bisa akrab dengan Darren, dan kali ini akrab yang bener-bener akrab, bukan karena terpaksa.
Padahal nih, gara-gara melihat idola mereka bisa segitu gampangnya akrab sama cewek “biasa-biasa aja” macam Thalita (apalagi saat ngobrolin sepak bola), separuh cewek SMA Persada Bangsa jadi rela begadang dan terkantuk-kantuk di depan TV tiap Sabtu dan Minggu subuh, nonton pertandingan sepak bola yang sama sekali nggak mereka mengerti. Dan itu cuma supaya mereka bisa sok nyinggung-nyinggung tentang bola juga di depan Darren hari Senin-nya!
Darren lempeng aja menghadapi semua tingkah gila cewek-cewek itu, karena dia tahu mereka itu sebenarnya nggak ngerti bola, dan melakukan hal gila macam itu cuma untuk menarik perhatiannya. Cuma, Darren agak surprised juga karena nggak nyangka dia bisa membuat segitu banyak cewek rela punya “mata panda” di hari Senin pagi akibat mantengin bola subuh harinya. Kok bisa ya? pikir Darren heran.


Darren berdiri dan menggamit tangan Thalita, yang dengan panik melirik ke arah tempat Andra duduk. Cowok itu kelihatannya lagi sibuk ngobrol sama Darius. Mungkin Thalita dan Darren bisa keluar dari situ tanpa sepengetahuan Andra…
Semakin dekat ke sofa Andra duduk, Thalita semakin mempercepat langkahnya. Kenapa dari sekian banyak tempat dan waktu, dia bisa ketemu sama Andra di sini? Kenapa?
Beberapa langkah lagi sudah pintu keluar, Thalita menunduk semakin dalam. Kalau saja dia bisa mengubah wajahnya jadi wajah orang lain walau cuma beberapa detik…
“Thalita?”
Suara itu seperti ribuan jarum yang menusuk punggungnya. Andra ternyata masih bisa mengenalinya, bahkan walaupun Thalita sudah menunduk sampai-sampai nggak bisa melihat jalan di depannya.
“Mmm… hai, Ndra,” sapa Thalita, mengerling Andra sedikit. Cowok itu kelihatan seperti baru ditonjok jatuh.
“Hai! Thalita! Apa kabar?” sapa Darius yang baru menyadari siapa yang disapa Andra.
Thalita bengong sesaat melihat Darius. Cowok itu kelihatan beda banget dengan yang terakhir Thalita lihat. Darius agak gemuk sekarang, dan sepertinya penuh semangat hidup, beda sekali dengan Andra yang berdiri di sebelahnya. Andra tambah kurus, matanya cekung, dan tulang pipinya menonjol. Thalita nggak bisa menahan diri untuk nggak melirik lipatan siku Andra. Masih banyak bekas suntikan di sana. Ia bergidik ngeri.
“Hai, Dar,” sapa Thalita seadanya. “Long time no see…”
“Siapa dia?” tanya Andra tanpa basa-basi. Tatapannya tertuju pada tangan Darren yang menggenggam tangan Thalita penuh perlindungan.
“Ini…” Thalita terbata, tapi nggak menarik lepas tangannya. Genggaman Darren terasa aman, dan dia takut kalau-kalau dia bakal jatuh lemas seandainya dia berdiri di hadapan Andra tanpa menggenggam tangan Darren. “Ini… ini Darren, pacar gue.”
Andra benar-benar kelihatan seperti orang yang baru divonis hukuman mati. Sementara Darren menoleh ke arah Thalita dengan tatapan bingung, tapi pada detik berikutnya dia kelihatan mengerti drama apa yang sedang dimainkan Thalita.
Thalita merasa berdiri di tepi tebing, siap menerjunkan diri ke jurang yang terhampar di hadapannya. Apa yang baru saja ia katakan? Kenapa kata-kata itu terucap begitu saja? Apa itu dorongan emosinya, yang merasa marah karena melihat kondisi Andra masih sama parahnya seperti ketika mereka putus? Apakah itu pengaruh rasa kecewanya, karena ia sama sekali tak melihat ada usaha yang dilakukan Andra untuk


Kali ini dia benar-benar membutuhkan barang itu, lebih dari yang sebelum-sebelumnya.
* * *



0 Response to "Thalita 1"

Post a Comment