Download applikasi baca novel online untuk android disini: DOWNLOAD

Penantian Terakhir

Astrid Prihatini WD

Hujan deras mengguyur Solo, tepat saat taksi yang kutumpangi memasuki gerbang Bandara Adi Sumarmo. Sopir taksi yang sejak tadi mengajakku mengobrol, mulai mengaktifkan wiper untuk menghalau tempias hujan dari pandangannya, sebelum akhirnya taksi berhenti tepat di depan pintu masuk bandara. Aku pun melompat turun. Sementara sopir taksi membuka bagasi dan menurunkan koper mungilku.


”Matur nuwun (terima kasih), Pak,” ucapku, seraya menyerahkan lembaran dua puluh ribuan sebagai ongkos taksi. Sopir taksi itu mengucapkan terima kasih, sebelum menghilang dari hadapanku. Sesaat aku termenung, didera keraguan hebat. Benarkah keputusan yang kuambil ini? Aku bertanya dalam hati. Namun, bila ingat kilasan-kilasan peristiwa menyakitkan itu, rasanya tak ada yang salah dengan keputusanku ini. Tidak. Aku tidak mau kembali ke sana lagi. Aku ingin pergi membuka lembaran baru!

Aku masuk ke salah satu kafe, yang banyak tersebar di sepanjang bandara. Pelayan yang sedang mengelap meja, tersenyum ke arahku. Aku duduk dan memesan segelas susu cokelat hangat dan sandwich. Belum sampai lima menit, pesananku datang. Rasa pedih mendadak menyergap hatiku, mengingat semua yang kualami selama sepekan terakhir ini. Namun, buru-buru kutepis kilasan-kilasan peristiwa yang menyakitkan itu.

Di dalam pesawat, sekali lagi kutatap ujung landasan dan semua hal yang akan mengingatkanku pada kehidupan sebelum ini, untuk kali terakhir. Diam-diam rasa takut mulai menerkam, menggantikan kepedihan yang tadi sempat membuai jiwaku. Ketakutanku makin membesar mengingat kehidupan baru yang akan kujalani ke depan.

Ya, mungkin dalam satu hingga tiga jam ke depan, seluruh hidupku tak akan pernah sama lagi. Semuanya akan berubah. Sungguh aku takut, karena aku tak pernah tahu apa yang akan terjadi dan apa yang akan menantiku di depan sana nanti. Diam-diam, aku pun berharap, semoga ada seseorang yang menelepon dan memintaku untuk membatalkan kepergianku ini.

Tapi, tidak. Tidak ada telepon seperti itu. Itu hanya ada dalam khayalanku. Bagaimana mungkin aku bisa mengharapkan Pras akan menghubungiku, bila ia memikirkanku saja tidak pernah? Toh, dia sudah berbahagia dengan wanita itu... siapa namanya? Ah, sudahlah.

Kukenakan sabuk pengaman. Pesawat mulai bergerak menyusuri landasan. Gerimis yang mengguyur sudah tak sederas tadi. Meski begitu, landasan masih terlihat basah. Makin lama makin cepat, hingga akhirnya pesawatku menukik naik, menembus angkasa.

Sesuai rencana, aku turun di Jakarta dan naik pesawat lagi menuju Sumatra. Setiba di Sumatra, aku akan dijemput Mas Rangga. Mas Rangga pula yang mengajakku bergabung dengan Yayasan Sahabat Alam yang dipimpinnya. Yayasan ini bergerak di bidang pelestarian satwa langka. Menurut Mas Rangga, pekerjaan ini cocok untukku. Maklumlah, selama ini dia mengenalku sebagai wartawan yang cukup peduli terhadap isu-isu lingkungan hidup.

”Kamu penyuka kucing bukan, Ni? Nah, inilah saatnya membuktikan rasa cintamu itu dengan mengabdi di sini, untuk menyelamatkan kucing-kucing di sini!” Begitu kata Mas Rangga.

”Ya, aku cinta kucing, Mas. Tapi, setahuku yang kau selamatkan itu bukan kucing! Tapi, macan!” balasku, sewot.
Begitulah, kubulatkan langkah untuk bergabung dengan Mas Rangga sebagai pelarianku. Sebetulnya, aku merasa ngeri dengan apa yang akan kulakukan di sana nanti. Bisakah aku bertahan hidup di sana nanti, setelah 28 tahun lebih kujalani hidupku dalam gelimang kemudahan fasilitas? Perjalanan Solo-Jakarta dan disambung Jakarta-Sumatra, berlangsung lancar tanpa kendala yang berarti.

Tiba di salah satu bandara perintis di Sumatra, aku mencari Mas Rangga. Tak kulihat sosoknya di ruang tunggu. Tak ada tulisan berisi namaku di deretan para penjemput. Aduh, bagaimana ini? Satu per satu penumpang yang sepesawat denganku mulai beringsut meninggalkan bandara. Ada yang pergi dengan rombongan penjemputnya atau naik ojek sendiri. Sementara aku masih celingukan seperti turis kesasar. Untung ini bukan Jakarta. Coba aku celingukan seperti ini di Jakarta, wah... bisa jadi mangsa empuk preman! Mungkin, nasibku akan sama tragisnya dengan TKI!

Tiba-tiba dari kejauhan kulihat sebuah mobil besar yang warnanya sudah tak keruan, saking banyaknya lumpur yang melekat di badan mobil, berjalan terseok-seok. Mobil itu berjalan ke arahku dan ketika sudah tiba di depanku, seorang pria melompat turun. Tingginya kira-kira 175 cm dengan berat 65 kg dan berkulit sawo matang. Wajahnya lumayan manis sebetulnya, seandainya dia mau melepas kacamata hitamnya yang sudah ketinggalan zaman itu.

”Maaf, apakah Anda Kania?” tanyanya padaku.

”Ya,” kuanggukkan kepala.

”Mas Rangga tidak bisa menjemput. Ada keadaan darurat di markas. Jadi, dia menyuruh aku menjemputmu,” ia menjelaskan.

Oh, begitu. Ia sama sekali tak meminta maaf atas keterlambatannya, yang membuatku seperti turis kesasar selama 15 menit di pintu keluar bandara! Tanpa meminta persetujuanku, dia langsung meraih koper merah di tanganku. ”Yuk, berangkat. Kita masih harus menempuh dua jam perjalanan dari sini!” ujarnya, sambil memasukkan koperku ke tempat duduk belakang.

Aku pun naik dan duduk di sebelahnya. Ia langsung menyalakan mesin mobilnya. Dengan satu sentakan dahsyat mobil itu melompat ke depan... benar-benar melompat, sebelum akhirnya berjalan menyusuri jalanan di depannya. Ia sama sekali tak meminta maaf atas insiden barusan! Ugh! Benar-benar pengemudi yang tak kenal sopan santun dan tak tahu cara memperlakukan wanita rupanya! Apakah hidup sekian lama di belantara telah memupus nilai-nilai kesopanan dari perbendaharaan katanya?

Kami melewati daerah-daerah pedesaan. Pemandangannya sangat indah dengan banyak hamparan sawah, ladang diselingi pegunungan. Ya, seandainya dia mau sedikit saja mengerem laju mobilnya, agar aku bisa lebih leluasa menikmati lukisan. Sayangnya, dia mengemudi seperti kesetanan. Dia pikir jalanan ini sirkuit Monako apa? Lagi pula... hei, bisa-bisanya dia tidak memperkenalkan diri padaku! Huh! Benar-benar tak tahu sopan santun.

”Hei... bisakah kau menyetir dengan santai dan tidak ugal-ugal¬an seperti ini?” akhirnya keluar juga kekesalanku.

”Kenapa? Kau ingin menikmati pemandangan alam di sekitarmu? Kita bukan sedang piknik!” ujarnya, ketus.
Hah! Aku terbelalak menghadapi kekasarannya. Kenapa Mas Rangga mengutus sopir sebengis ini untuk menjemputku? Memangnya tak ada yang bisa bermanis-manis sedikit saja pada wanita?

”Aku tidak berkata begitu. Kau sendiri yang mengambil kesimpulan seperti itu! Maksudku, kita kan melewati jalan desa. Bagaimana bila tiba-tiba melintas anak penggembala sapi atau bebek atau ayam, misalnya? Padahal, kau melaju sekencang ini seolah sedang berpacu di sirkuit F-1!” ujarku, sedikit berteriak, mengatasi gaduhnya suara mesin dan kerikil-kerikil yang tergilas roda mobil.

”Yang seperti itu hanya ada di film-film!” tukasnya, keras kepala. Huh, dasar keras kepala! ”Atau... jangan-jangan kau takut mabuk, ya?” ujarnya tiba-tiba, sambil melirikku dengan tatapan yang sa–ngat merendahkan.

Apa? Mabuk? Mustahil. Seorang Kania tak mungkin mabuk! ”Aku ini wartawan, sudah terbiasa dengan medan dan cuaca tak bersahabat! Aku tak kenal kata mabuk darat, udara, maupun laut, tahu? Tubuhku sekuat banteng, asal kau tahu saja!” protesku, jengkel.

Dia malah tersenyum. Baru sekali ini dia tersenyum lepas padaku. ”Hei, jangan sebut-sebut namaku!” ujarnya, menahan senyum.

Kini ganti aku yang terkejut dan terpukul telak, lantaran tak bisa membalas kata-katanya. Tapi, dia tak berkata-kata lagi. Jadi, aku tak tahu di bagian mana aku telah menyebut namanya. Apakah namanya Mabuk? Atau berkonotasi dengan kata mabuk? Atau, jangan-jangan dia pemabuk? Ah... sudahlah, ngapain aku harus pusing-pusing memikirkan siapa nama makhluk sombong berhati dingin ini!

Di sebuah kedai, dia menghentikan mobilnya. Kupikir dia akan mengisi bensin. Tapi, sampai lama dia tak juga muncul. Masa membeli bensin saja selama ini? Jangan-jangan dia menimba sendiri dari kilang minyak di belakang kedai sana! Saat kekesalanku memuncak, tiba-tiba makhluk sok itu muncul dan berdiri tepat di dekatku.
”Ternyata, kamu benar-benar takut mabuk, ya, sampai memilih di mobil terus?” tanyanya, kejam.

”Hei, jangan menuduh sembarangan. Aku tidak takut mabuk! Aku tidak takut apa pun di dunia ini, tahu?” balasku, jengkel.

”Kalau begitu, kenapa kau tidak turun dari mobil dan ikut makan bersamaku di warung?” ujarnya, membuat kejengkelanku meluap tak terkendali. Sebagai wartawan, aku sering bertemu dan berhadapan dengan berbagai macam tingkah dan sifat manusia. Tapi, tidak ada yang semenjengkelkan makhluk sok di depanku ini!

”Tidak bisakah kau mengatakan padaku, kita mampir makan dulu di sini, sebelum melanjutkan perjalanan? Apa kau pikir aku ini Deddy Corbuzier yang jago membaca pikiran orang lain? Yang kau lakukan tadi hanyalah melompat turun dan masuk ke warung, setelah itu tidak keluar-keluar lagi. Jadi, bagaimana aku bisa tahu kau sedang makan atau menimba air di dalam sana?!” tukasku, dengan kemarahan tak terbendung.

”Ya, sudah, kalau begitu, ayo, turun dan makan dulu. Perjalanan kita masih jauh,” akhirnya ia mengalah dan berkata dengan suara lebih lembut. Tetapi, hatiku sudah telanjur jengkel oleh perlakuannya barusan.

”Aku tidak makan. Aku masih kenyang. Tadi di pesawat aku sudah makan,” kataku, didorong oleh harga diriku yang telah terluka. Sesaat kulihat ekspresi keterkejutan di kedua bola matanya. Dia sudah melepas kacamata hitamnya yang norak itu, sehingga bisa kulihat sepasang mata kecokelatan miliknya. Mata yang sangat indah, sebetulnya, asal dia bisa menghapus kesedihan itu dari sana. Benarkah dia sedih? Ah, kenapa aku jadi memikirkan dia?

Pagi hari aku terbangun oleh kicauan burung. Tubuhku masih terasa penat, setelah seharian kemarin menempuh perjalanan jauh dengan makhluk paling menyebalkan di dunia. Aku menempati sebuah kamar yang terletak tak jauh dari markas, sebutan untuk kantor. Aku tak tahu berapa luas keseluruhan tempat ini. Soalnya, kemarin aku belum sempat keliling.

Yang kutahu, di kompleks ini ada sebuah bangunan utama yang dipergunakan sebagai kantor dan ruang pertemuan. Di sayap kiri dan kanan ada bangunan tambahan yang berbentuk paviliun-paviliun. Ada yang dipergunakan sebagai tempat praktik dokter, ruang operasi, ruang pemulihan untuk memulihkan kondisi binatang-binatang yang sakit, dan kamar untuk karyawan pengelola tempat ini. Salah satunya adalah kamar yang kini kutempati. Aku beruntung, karena kamar yang kutempati terletak paling ujung, berbatasan langsung dengan pegunungan di latar belakang sana dan alam bebas.

Mas Rangga sedang duduk mengopi di ruang kerjanya, saat aku menemuinya. Aku sudah mandi dan menikmati sarapan yang kuambil sendiri di dapur. Di sini tak mengenal jam kerja. Setiap jam adalah bekerja. Karena, sewaktu-waktu ada saja binatang yang sakit dan membutuhkan pertolongan anak buah Mas Rangga.

”Bagaimana tidur semalam? Kuharap nyamuk-nyamuk hutan tak mengganggumu,” sapa Mas Rangga, begitu melihat kemunculanku.

”Enggak, kok, Mas. Aku tidur kayak orang mati semalam.”

Aku duduk di dekatnya. Tidak kulihat sosok makhluk menye–balkan itu. Di mana dia? Hei, kok, aku jadi penasaran padanya, ya? Ah, sudahlah. Buat apa memikirkan orang-orang yang membuat hati jengkel?

”Hari ini ngapain, Mas?” tanyaku. Aku tak terbiasa duduk diam, tak melakukan sesuatu.

”Kamu santai saja dulu, Ni. Apa mau lihat-lihat tempat penangkaran?” Mas Rangga menyahut dari balik palmtop-nya. Dia sedang asyik mengetik-ngetik sesuatu.

Tepat pada saat itu, seorang wanita masuk.

”Lin, kenalkan teman baru kita. Namanya Kania. Dia ini reporter sebuah harian ternama di Solo,” ujar Mas Rangga pada wanita itu. ”Ni, itu Linda. Dia bagian dapur dan logistik kita.”

Kami bersalaman. Lalu, dia berkata. ”Mas, hari ini logistik kita habis. Aku mau belanja.”

”Ni, kalau ingin kerjaan, ikutlah belanja ke desa bersama Linda!”

Aku pun melompat bangun dan mengekor Linda keluar dari kantor. Kami belanja dengan mempergunakan mobil kantor, sebuah pick up. Menurut Linda, mobil ini sangat praktis, karena dapat memuat banyak barang. Usai belanja, Linda mengajakku memasukkan barang-barang hasil buruan kami ke ruang pendingin. Setelah itu, dia membuat catatan di sebuah buku. Catatan itu berisi daftar barang belanjaan kami. Catatan itu nantinya akan di-input ke komputer dan dipergunakan untuk laporan pertanggungjawaban tiap bulan pada donatur.

Menurut Mas Rangga, yayasan yang dikelolanya mendapat dana dari tiga sumber. Semuanya dari negara-negara asing yang sangat peduli terhadap kelestarian satwa. Aku kadang-kadang gemas pada bangsaku sendiri, yang tak memiliki kepedulian terhadap satwa dan habitat satwa tersebut. Padahal, Tuhan sudah sangat bermurah hati menganugerahi Indonesia dengan flora dan fauna yang sangat unik, membuat negara-negara lain iri karenanya. Manusia yang diberi malah memanfaatkan seenaknya, tanpa pernah memikirkan apa dampak dari eksploitasi berlebihan tersebut terhadap kelang¬sungan hidup selanjutnya! Untunglah, ada orang-orang seperti Mas Rangga, Linda, dan makhluk menyebalkan itu. Kalau tidak, entah apa jadinya negeri ini.

Usai input data, aku diajak Mas Rangga ke penangkaran. Loka–sinya kurang lebih 200 meter dari kantor pusat. Kami berjalan kaki menembus alam yang masih sangat asri. Tempat yang diceritakan Mas Rangga itu ternyata berupa tempat terbuka dengan banyak kerangkeng. Hampir di semua kerangkeng ada penghuninya. Kebanyakan harimau benggala. Tetapi, ada juga satu dua burung elang, beruang madu, dan rusa.

Dari semua makhluk itu, hanya harimau yang menarik perhatianku. Dari dulu aku selalu beranggapan harimau adalah makhluk paling menakjubkan di muka bumi ini. Ada empat harimau di dalam kerangkeng-kerangkeng terpisah. Keempatnya mengaum penuh semangat, begitu melihat Mas Rangga.

”Halo, Cantik!” Mas Rangga dengan cuek mengelus kepala salah satu harimau. ”Ini namanya Cantik, Ni. Yang di sebelahnya itu Seto.”

Aku menoleh ke arah yang ditunjuk Mas Rangga dan detik itu juga aku langsung jatuh hati melihatnya. Makhluk itu luar biasa mengagumkan. Dia berdiri tenang di kandangnya. Bulunya yang keemasan dengan loreng-loreng hitam terlihat berkilat di bawah sinar matahari pagi, sementara sepasang mata hitamnya menatapku tajam. Tiba-tiba ia membuka mulutnya lebar-lebar dan mengaum dengan suara keras sekali. Aku tersenyum melihatnya.

”Halo, Seto, semalam kurang tidur, ya?” sapaku pada makhluk menakjubkan itu.

”Bukan begitu caranya berinteraksi dengan harimau!” sebuah suara mengejutkanku. Ternyata, makhluk menyebalkan itu! Entah sejak kapan dia berdiri memerhatikanku. Tinggi menjulang dan terlihat angkuh dengan setelan jas putih dan sepatu bot. ”Kau bisa diterkam, kalau caramu seperti itu!” ujarnya lagi. Uh, apa pedulinya?
Aku bangkit. ”Kupikir dia lebih tahu sopan santun daripadamu, makhluk yang mengaku sebagai makhluk paling superior di muka bumi ini!” balasku, tak mau kalah.

Sesaat kulihat ada senyum geli di sudut-sudut bibirnya. Namun, secepat itu pula, bibirnya kembali mengatup angkuh. ”Aku serius,” ujarnya, dengan mimik sungguh-sungguh. ”Di alam liar, harimau merupakan makhluk alfa dan makhluk lainnya adalah makhluk beta. Karena itu, mereka menjadi santapan harimau. Nah, bila kau ingin berinteraksi dengan harimau, kau harus tunjukkan bahwa kaulah si makhluk alfa itu. Bukan dia!” dia menjelaskan panjang lebar.

Aduh... rumit amat! Kupikir, metode itu lebih tepat untuk meng¬hadapimu, bukan makhluk cantik ini. Kalimat itu nyaris meluncur dari mulutku, tapi kutahan. Selanjutnya, dia menerangkan tentang harimau.

“Di Indonesia ada dua spesies harimau, yaitu Panthera tigris sondaica atau lebih dikenal dengan nama harimau jawa, dan Panthera tigris sumatrae atau lebih dikenal sebagai harimau sumatra. Daerah persebaran mereka sesuai dengan namanya. Sayangnya, harimau jawa sekarang ini sudah punah. Jadi, spesies yang masih tersisa di alam sekarang ini tinggal harimau sumatra. Karena itu, kita harus menjaga kelestariannya supaya tak ikut punah seperti harimau jawa,” katanya, menerangkan, sementara aku hanya bisa mengangguk-angguk.

Dalam hati aku bertanya-tanya, siapa pria ini sebenarnya? Mengapa dia begitu paham tentang seluk-beluk harimau? Begitu besarnya kepeduliannya terhadap makhluk-makhluk cantik ini. Namun, sebaliknya, dia sama sekali tak peduli terhadap makhluk bernama wanita!

”Hei, rupanya kau masih di sini! Wah, kalau sudah ngobrol soal harimau dengan Mahesa, memang bisa bikin lupa waktu, Ni!”

Mas Rangga tiba-tiba muncul dan menepuk bahuku. Aku tersenyum. Diam-diam senang, lantaran akhirnya aku tahu nama makh¬luk menyebalkan ini. Mahesa. Hmm... nama yang aneh. Kalau tidak salah, artinya banteng jantan. Pantas saja dia senyum-senyum waktu itu! ”Ahe, ada telepon buatmu dari Jakarta!” ujar Mas Rangga.

”Makasih, ya, Mas!” ujarnya dan bergegas menuju kantor.

Aku bertanya-tanya, siapa gerangan yang menelepon di siang bolong begini. Pasti mahal sekali. Hanya orang-orang istimewa yang mau melakukan hal sebodoh itu. Siapa? Kekasihnya? Ya, ampun! Kok, aku jadi memikirkannya, sih? Tidak. Bukankah aku sudah bersumpah akan melupakan semua jenis pria di bumi ini? Tidak, tidak ada cinta dan pria dalam hidupku!

”Kasihan Mahesa, tiap menit selalu dikontrol ayahnya. Untung hanya ayahnya. Seandainya kekasihnya ikut ngecek, aku yang pusing!” ujar Mas Rangga, seolah dapat menebak pikiranku. ”Yuk, ke ruang pemulihan, Ni. Kita lihat bagaimana kondisi Rimba. Rimba itu anak macan yang kami temukan nyaris mati, karena induknya mati dibunuh pemburu. Nanti Ahe biar menyusul ke sana,” kata Mas Rangga, seraya menggandeng tanganku.

”Memang dia itu siapa, sih, Mas?” tanyaku, tak dapat menyembunyikan rasa penasaranku.

”Kamu belum berkenalan dengan dia? Ya, ampun, kupikir kalian sudah berkenalan. Dia itu dokter hewan yang bertugas di sini! Bukan karyawan tetap, sih. Dia senang di sini, karena tempat dan kesibukan di sini menjadi terapi baginya untuk melupakan masa lalunya yang pahit. Tunangannya meninggalkannya demi pria lain yang jauh lebih kaya,” kata Mas Rangga.

Oh... aku manggut-manggut. Jadi, dia dokter hewan? Jadi, dia pernah disakiti wanita? Pantas, dia sekasar itu!

Aku sedang memberikan susu pada Rimba, saat Koko berlari-lari masuk, seperti dikejar serombongan pemberontak bersenjata. Ni, kamu lihat Mahesa? tanyanya, dengan napas memburu.

”Tadi, sih, dari sini, memeriksa Rimba,” sahutku, cuek.

Susu di dot telah habis. Rimba, harimau sumatra jantan yang kini telah pulih berkat kasih sayang Mas Rangga dan teman-temannya, kumasukkan kembali ke kerangkengnya.

”Ada apa, sih?”

”Ada penangkapan lagi di pelabuhan.”

”Penangkapan apa? Bahasamu itu, kok, kriminal banget!”

”Maaf... kamu belum tahu, ya, istilah-istilah yang sering kami pakai!” kata Koko, sambil tertawa. ”Itu artinya, ada aksi penyelundup¬an binatang yang dilindungi, tapi berhasil digagalkan petugas! Pe–lakunya tertangkap dan sekarang menyisakan dua landak hutan di sana. Kamu mau ikut dan melihat seperti apa situasinya?”

”Boleh?”

”Boleh-boleh saja. Ayo.”

Koko menyeretku ke mobil. Dia menyetir seperti kesetanan. Di pelabuhan (bukan pelabuhan seperti Merak atau Tanjungmas, sebetulnya lebih tepat bila kusebut tempat penyeberangan), hewan yang berhasil disita telah dibawa ke kantor polisi setempat. Maka, kami pun melaju ke kantor polisi. Wah, seandainya aku masih jadi wartawan, tentu aku bisa mewartakan berita penangkapan ini! Adrenalinku kembali terpacu, seperti saat mengikuti penggrebek¬an lokalisasi yang dilakukan petugas.

Dua petugas polisi tersenyum ramah dan menepuk punggung Koko, saat kami tiba di kantor polisi. ”Di mana, Mas, sitaannya?” tanya Koko.

”Masuk saja, Mas. Pak Komandan tadi yang bawa!”

”Ada?”

”Ada, sedang menelepon di dalam. Masuk saja!”

Koko menyeretku masuk ke ruangan yang di pintunya terdapat papan nama bertuliskan ’Komandan’. Nama yang tercantum di situ membuatku terpaksa mengernyitkan kening. AKP M. Ardiansyah. Benarkah? Ah, tapi kan banyak orang yang namanya mirip! Aku berusaha menghibur diriku sendiri dan melangkah masuk. Saat itulah rasanya aku melihat makhluk itu!

Aku terpaku. Kalau nama mirip, bisa kumaklumi. Tapi, mungkinkah ada dua manusia di muka bumi ini yang serupa benar, padahal bukan kembarannya? Rasanya, tidak! Rasanya, yang kulihat di sana itu adalah hantu masa laluku, yang bangkit kembali dari kuburnya. Kapten Ardiansyah! Ya, bagaimana aku bisa lupa nama dan sosok itu? Rasanya, aku ingin kembali ke Solo. Bagaimana mungkin, di tempat yang kukira aman dari jeratan masa laluku ini, aku justru bertemu dengan pria yang sosoknya hingga kini belum bisa kuhapus sepenuhnya dari ingatanku!

”Hei, masuk, Ko!” katanya, tanpa mengangkat muka dari komputer di depannya. Dia belum melihat siapa makhluk di samping Koko!

Begitu Koko duduk, dia menoleh. Detik itu juga kurasakan seluruh waktu dan momen yang ada membeku. Hanya aku, dia, dan kilasan-kilasan masa lalu yang pernah terajut di antara kami berdua.

”Halo, apa kabar? Ternyata dunia tak selebar daun kelor, ya?” sapaku, berusaha riang.

”Baik. Kamu?” terbata dia menjawab sapaanku.

”Seperti yang kau lihat. Baik!” aku mengangguk.

Koko menatapku heran. ”Kalian sudah saling kenal?”

”Begitulah. Ketika masih di Semarang dulu,” kataku, sambil menjaga agar suaraku tak terdengar bergetar. Padahal, aku ingin sekali menangis! Tuhan... tolonglah aku!

Koko manggut-manggut. Selanjutnya, mereka terlibat dalam obrolan tentang binatang yang dilindungi itu dan proses pengembalian kembali ke habitat aslinya. Setelah itu, Koko pamit. Di mobil, aku lebih banyak diam. Koko pun mulai menggodaku.

”Wah, setelah ketemu Pak Ardiansyah, kok, jadi pendiam, sih?”

Aku tersenyum masam.

”Dia masih bujangan, Ni. Baru enam bulan bertugas di sini,” Koko menjelaskan, tanpa kuminta.

”Oh, ya?” dalam hati aku bertanya-tanya. Bujangan? Lalu, di mana wanita itu? Wanita yang telah menghancurkan impianku untuk dapat bersanding dengan pujaan hatiku? Wanita yang menurut Ardiansyah jauh lebih layak untuknya.

”Iya. Hei, sepertinya pernah terjadi sesuatu yang istimewa antara dirimu dan dia,” goda Koko lagi, menggugah lamunanku.

”Kami berteman. Sudah lama sekali,” ujarku, setengah merenung.

Ya, sudah lama sekali. Tujuh tahun yang lalu saat aku bertugas di Semarang dan dia masih anak kemarin sore yang tengah menyelesaikan pendidikannya di Akademi Kepolisian. Anak kemarin sore yang membuatku jatuh hati dan membuaiku dengan cinta yang begitu memabukkan. Namun, kisahku tak berakhir bahagia seperti kisah Cinderella. Sakit memang. Dan, itu semua salahku, karena aku terlalu percaya padanya. Aku terlalu percaya bahwa mimpi yang kami bangun akan terlaksana suatu saat nanti. Tak tahunya, mimpi yang kubangun itu laksana istana di atas pasir yang langsung runtuh begitu tersapu ombak!

Kini, nasib mempertemukanku lagi dengannya. Waktu tujuh tahun ternyata tak mengubah penampilannya. Dia masih Ardi yang kukenal tujuh tahun lalu. Masih memesona, masih tinggi tegap, dan masih memiliki sepasang mata yang tenang menghanyutkan. Mata yang dulu sangat kupuja. Sampai sekarang pun masih tetap kupuja. Sampai kapan pun, aku tak akan bisa melupakannya dan menghapus sosoknya dari ingatanku.

Mungkin, mungkin akulah yang bodoh, karena tidak betul-betul bisa melupakannya! Mungkin, karena aku tak bisa sepenuhnya melupakan Ardi itulah, Pras berpaling dariku. Mungkin, Pras merasa tak sepenuh hati kucintai dan dia mencari cinta yang utuh dari wanita lain. Mungkin. Entahlah. Aku sendiri tak tahu apa penyebabnya.

Esok harinya, saat aku memberi makan Rimba, Mas Rangga berteriak memanggilku. Aku berlari-lari menjumpainya. Dia tak sendiri. Di sampingnya ada Ardi! Tampil tanpa seragam dinas¬nya, membuatnya terlihat lebih bersih, muda, dan mentereng. Sepertinya, dia tak cocok berada di tengah belantara seperti ini! Dia tersenyum dan menyapaku.

Mas Rangga diam-diam meninggalkan kami berdua. Aku tak tahu harus berkata apa. Entah kenapa, aku seperti orang yang tersihir. Mungkinkah, pertemuanku ini merupakan jawaban Tuhan atas doa-doa yang kupanjatkan tiap malam selama ini? Mungkinkah justru di pedalaman Sumatra ini aku menemukan sebentuk cinta sejati? Bagaimana bila cinta itu dibawa oleh seorang Ardiansyah? Bisakah aku memercayakan kembali hatiku padanya?

”Sibuk?” tanyanya lagi, memenggal habis lamunanku.

”Ya. Aku sedang memberi makan Rimba. Mau lihat?” akhirnya aku menemukan topik obrolan yang menyenangkan.
”Boleh.”

Sepertinya dia sudah tak asing lagi dengan tempat ini. Mungkin, dia sering kemari untuk mengecek binatang-binatang sitaan. Dia mengekorku seperti bebek. Aku baru ingat, hari ini hari Minggu, pantas saja dia tidak mengenakan seragam. Hmm... tinggal di pedalaman ternyata bisa membuat seseorang lupa pada kalender!

Di ruang pemulihan sudah ada Mahesa. Dia sedang membungkuk, memeriksa landak hutan, saat aku dan Ardi masuk. Dia mengangkat muka dan tersenyum. ”Pagi, Ndan! Tumben Minggu-Minggu sidak ke sini!” sapanya ramah, membuatku terheran-heran. Kenapa kemarin dia tak seramah itu padaku, ya?

”Iya, nih, sedang nggak ada kerjaan di rumah! Gimana landaknya?”

”Untungnya tidak apa-apa, Ndan. Cuma stres, karena terlalu lama berada di dalam kardus. Selebihnya, baik, kok,” Mahesa menerangkan, sambil sibuk melakukan ini-itu pada landak-landak itu.

Aku meneruskan kembali pekerjaanku yang tertunda. Rimba sekarang sudah lumayan jinak dan menurut padaku. Yah, namanya juga masih anak-anak! Paling mudah memang menaklukkan hati anak-anak, dan bukannya pria dewasa yang sangat memesona seperti makhluk di sampingku ini!

”Kamu di sini sedang undercover atau bagaimana?” tanya Ardi.

Tanpa kusadari, tinggal kami berdua di ruangan itu. ”Enggak. Aku memang bekerja di sini.”

”Kerja? Lalu, pekerjaanmu di Solo bagaimana?” tanyanya.

”Aku tinggal.”

”Pekerjaan seenak itu kaulepas begitu saja demi pekerjaan seperti ini?” tanyanya, setengah tak percaya.

”Kamu sendiri, ngapain di tempat seperti ini?” tanyaku.

”Nia, Nia... seperti tidak tahu saja. Aku ini abdi negara. Jadi, di mana pun aku ditempatkan, aku harus patuh!” ujarnya.

Hening. Aku kehabisan bahan bicara.

”Maafkan kekhilafanku di masa lalu, Ni. Aku menye¬sal. Tapi, aku benar-benar khilaf waktu itu!” ujarnya tiba-tiba, dengan suara lirih.

Aku tertegun. Hatiku tergerak untuk menanyakan nasib wanita itu. Namun, mulutku tak sampai hati menanyakannya. ”Aku sudah memaafkanmu dari dulu. Sudahlah, lupakan saja!” Hanya itu yang meluncur dari mulutku.

Dia diam. Kami saling bersitatap dalam keheningan. Dia masih seindah dulu. Makhluk yang kerap menghiasi mimpiku. Yang hanya bisa kurindukan bayangannya, tanpa bisa kudekap sosoknya. Sosok yang begitu kubenci, namun juga sangat kupuja. Oh, Tuhan! Kenapa hidupku bisa begini rumit? Mengapa aku harus mengenal seorang Ardiansyah? Apa maksud-Mu, Tuhan?

”Ehm, kau mau minum apa?” tanyaku, mengusir suasana canggung yang tiba-tiba menyergap kami berdua.

”Apa saja. Tapi, sebenarnya aku tidak haus, aku lapar. Dari tadi pagi belum sarapan. Kau mau menemaniku mencari sarapan?” tanya Ardiansyah.

”Kamu yakin di sini ada warung enak?”

”Hei, aku sudah enam bulan di sini. Jadi, aku tahu tempat-tempat jajan yang enak dan mengenyangkan. Mau ikut?”
Tawarannya itu kembali mengingatkanku pada kenangan tujuh tahun lalu. Kami berdua termasuk senang jajan. Tak meng¬herankan, tiada hari terlewat, tanpa berburu makanan enak dan murah di Simpang Lima, Jalan Pemuda.... Astaga! Kenapa aku jadi terbawa ke masa laluku?

”Baiklah,” aku mengangguk. ”Aku pamit pada Mas Rangga dulu. Oke?”

Ardiansyah mengangguk dan mengekorku ke kantor. Mas Rangga sedang duduk di balik meja kerjanya, mengetik-ngetik sesuatu. Dia mengangkat muka, saat kami masuk.

”Aku akan ke kota sebentar, cari makan. Mas Rangga mau ikut?”

”Enggak, deh. Aku sudah sarapan. Lagi pula, nanti malah mengganggu kalian berdua,” ia mengerling penuh arti pada sosok tinggi tegap di sampingku.

”Ya, sudah. Mau nitip sesuatu?”

”Tidak usah. Terima kasih. Ini hari liburmu, Ni. Silakan saja, kalau kau ingin pelesir ke kota sampai sore,” ujar Mas Rangga. Lalu, pada Ardi dia berkata, ”Dia bebas hari ini, Bang. Dia sepenuhnya milikmu. Tapi, tolong kembalikan padaku, kalau urus¬anmu dengannya sudah selesai. Oke?”

Ardi tersenyum dan mengedipkan sebelah matanya penuh arti. ”Kami pergi dulu!” pamit Ardi.

Sepintas kulihat Mahesa yang sedang mencuci mobil, mengan¬tar kepergianku dengan tatapan aneh. Tapi, aku tak berani mengartikan tatapannya. Ah, peduli apa aku dengannya?

Sungguh aneh. Justru di saat aku berpikir, kecil kemungkinannya aku bertemu dengan Ardiansyah atau Pras di pedalaman ini, Tuhan malah mempertemukanku dengan Ardiansyah di sini, ribuan mil jauhnya dari Solo. Ya, setelah berpisah darinya, aku sudah kehilangan asa. Kupikir tak mungkin aku akan bertemu lagi dengannya. Jalan hidup kami sudah sangat berbeda.

Setelah peristiwa itu, aku memutuskan kembali ke Solo dan menata hidupku yang sempat porak-poranda oleh seorang Ardiansyah. Waktu itu adalah tahun terakhirnya di Akpol. Jadi, semestinya, setelah lulus, dia pasti ditugaskan ke suatu daerah. Tak dinyana, dia ada di sini!

Kini sosok Ardi hadir menggoda kembali. Hampir setiap saat dia muncul di kantor. Kadang-kadang membawakan makanan atau buah tangan, jika dia baru pulang dari Jakarta. Atau sekadar mampir dan ngobrol ngalor-ngidul denganku atau Mas Rangga.

Di akhir pekan, jika sedang tak ada kegiatan, dia menga¬jakku ke luar. Entah itu ke kota atau ke pulau-pulau yang bertebaran di sekitar daerah sini dengan perahu motor atau berburu durian di pedalaman. Banyak hal yang kami lakukan berdua, yang perlahan tapi pasti, mulai menghapus kenangan pahit itu dari hatiku.

Mungkinkah ini yang dimaksud dengan pepatah, bahwa cinta itu memaafkan? Benarkah? Ah, entahlah, aku tak tahu. Aku hanya seorang wanita naif, yang mencoba mencari makna cinta dan hidup.

”Tidak seharusnya engkau begitu baik seperti ini padaku,” ujarku, sambil membersihkan tanganku dari aroma durian yang sangat menyengat.

”Kenapa? Ada yang marah? Tunanganmu?” ia bertanya, sambil menoleh padaku.

Kugelengkan kepala. ”Bukan aku, tapi kamu. Aku dengar, dalam waktu dekat kau akan menikah...,” kalimatku belum usai, saat tiba-tiba tawanya menggema.

”Kau dengar dari siapa?” tanyanya, di akhir tawanya.

”Ya, pokoknya, aku dengar dari banyak orang. Sumber informasiku kan banyak!” dustaku.

Dia mencibir. ”Sumbermu tidak valid, tuh!” ledeknya. ”Sampai saat ini aku masih sendiri. Silakan geledah rumah dinasku dan isi dompetku sekalian! Jika kau berhasil menemukan foto seorang wanita, aku beri hadiah 100 juta, deh!” tantangnya.

“Masa, sih?”

”Ya, sudah, kalau kau tak percaya!” tukasnya. ”Yang jelas, aku belum punya pacar, Nia. Sejak aku putus dari Widuri tujuh tahun silam, aku belum menemukan tambatan hati yang sesuai!”

”Kenapa? Dia meninggalkanmu?”

Dia tersenyum kecut. ”Ya. Dia meninggalkanku demi sahabatku sendiri. Sekarang mereka sudah menikah dan hidup bahagia. Suaminya sekarang jadi pejabat di Mabes. Hebat, ’kan?” ujarnya, getir.

”Tak perlu menyesali nasib. Masing-masing orang sudah ada jalannya sendiri-sendiri. Percayalah, Tuhan selalu memilihkan yang terbaik untuk kita!” hiburku, sok filosofis.

”Tapi, percayakah kau bahwa Tuhan kadang-kadang memberi kita kesempatan kedua?” ujarnya.

Hatiku berdetak mendengarnya. ”Maksudmu?”

”Maksudku, takdir telah mempertemukan kita kembali. Mungkinkah, itu berarti, Tuhan memberiku kesempatan untuk menebus kesalahanku di masa lalu?”

Aku diam. Aku pun sama tak tahunya dengan dia. Aku tak ta-hu apa rencana Tuhan di balik pertemuanku kembali dengan Ardiansyah ini!

Hari telah gelap saat aku tiba di kantor. Aku segera mandi dan menyusul yang lain di kantor. Mereka semua sedang rapat. Mas Rangga tengah bicara dengan serius, saat aku masuk sambil menggumamkan permintaan maaf. Mas Rangga menyuruh¬ku segera bergabung dan duduk di sebelah Linda.

Mas Rangga menjelaskan sesuatu, sambil memperlihatkan gambar-gambar melalui OHP. Makhluk itu juga ada di sana, duduk di meja paling ujung. Kedua tangannya tersilang di depan dada, seperti orang menahan dingin, sementara matanya terarah ke OHP. Hmm... makhluk itu lumayan manis, seandainya dia mau sedikit, sedikit saja tersenyum, dan bersikap ramah kepada orang lain!

Linda menyodok sikuku. ”Ni, kita menghadapi masalah serius, nih,” ujarnya.

”Serius bagaimana?”

”Itu... illegal logging mulai merambah ke hutan kita. Padahal, kita jelas-jelas menjadikan hutan itu sebagai kawasan konservasi dan dilindungi. Tak seorang pun boleh menebang atau mengambil apa pun di kawasan tersebut. Tapi, rupanya, para pelaku itu tak mau tahu aturan seperti itu. Yang penting dapat uang!” kata Linda, tanpa dapat menyembunyikan kegeramannya.

Aku manggut-manggut. Di depan, Mas Rangga tengah berkata, ”Dulu, luas hutan konservasi kita lebih dari 10.000 hektar. Tapi sekarang, setidaknya berkurang 1% setiap bulan. Ini sangat memprihatinkan kita semua! Soalnya, kalau sudah tak ada hutan tersisa, bagaimana nasib binatang-binatang itu? Bagaimana kita bisa mengembalikan ke habitat aslinya, bila habitat aslinya telah rusak?”

Slide di depan menampilkan foto-foto dari udara kondisi hutan semula yang masih lebat dibandingkan dengan kondisi hutan yang kian menipis akibat praktik illegal logging. Beberapa kawasan terlihat gundul dan hanya menyisakan lingkungan yang rusak parah. Hanya terlihat tunggul-tunggul kayu yang mengenaskan.

Kuhela napas. Oh, Tuhan, tolong bukakan mata hati mereka pelaku illegal logging itu... supaya mereka sadar bahwa rupiah-rupiah yang mengalir masuk ke kantong mereka itu tak sebanding nilainya dengan bencana yang ditimbulkan oleh perbuat¬an mereka!

”Bencana besar menanti umat manusia, jika praktik tersebut tak segera dihentikan. Menurut laporan penduduk setempat, setiap kali turun hujan, sekarang daerah hilir sering dilanda banjir. Masih untung bukan banjir bandang. Bagaimana bila yang terjadi adalah banjir bandang, yang diakibatkan hilangnya pohon yang menahan aliran air? Bukan hanya manusia yang tersapu banjir, tetapi juga satwa-satwa langka yang dilindungi ikut hanyut terbawa air! Ini mengerikan sekali! Kehancuran ekosistem, berarti kehancuran bagi kehidupan manusia itu sendiri! Ini harus dicegah!” kata Mas Rangga, berapi-api.

”Kemarin saya sudah membentuk tim untuk menyelidiki cara kerja para pelaku illegal logging ini. Nah, saya ingin minta laporannya dari ketua tim. Bagaimana Mahesa?”
Semua mata tertuju padanya.

Makhluk itu berdehem, seperti orang penting.
”Ya, saya dan tim telah mengadakan penelitian intensif di lapangan. Sudah ada beberapa temuan. Pertama, beberapa waktu lalu kami sudah menelusuri dari mana kayu-kayu itu dihanyutkan dan ternyata memang berasal dari hutan kita. Kedua, kalau boleh saya umpamakan, cara kerja mereka itu mirip tikus pengerat alias cepat sekali. Soalnya, mereka mempergunakan gergaji mesin. Dan, sistem tebang yang digunakan bukan tebang pilih seperti anjuran pemerintah.”

Semua tercenung. Rapat hari itu memutuskan untuk mengadakan penyelidikan lagi dan aku ikut masuk ke dalam tim yang dipimpin Mahesa. Ah!

Matahari bersinar sangat terik, saat aku, Mahesa, dan Pudjo masuk ke perahu motor. Pudjo duduk di belakang, mengendalikan mesin, sementara aku dan Mahesa di depan mengawasi aliran sungai.

Perahu mulai bergerak. Suaranya sangat ribut, berpacu dengan kecipak air yang terbelah ujung perahu. Sungai mengalir tenang. Airnya berwarna kecokelatan, pertanda telah turun hujan di daerah pegunungan sana. Sesekali terlihat batang dan ranting-ranting kayu hanyut bersama aliran air. Kudengar Mahesa mendecakkan lidah, tiap kali melihat ranting-ranting hanyut itu. Dia kelihatan sangat jengkel.

Air sesekali terpercik ke mukaku. Memberiku kesegaran yang menyenangkan di bawah sengatan terik matahari ini. Air begitu dekat denganku. Tinggal kuulurkan tanganku ke bawah, maka aku bisa merasakan kesegarannya, yang serasa mengalir di setiap pori-pori tubuhku. Kuulurkan tangan dan membiarkan tanganku terseret aliran air.

Hmm... rasanya sangat menyenangkan! Seperti waktu kecilku dulu, saat bermain air di aliran banjir depan rumahku!

”Nia! Kamu ngapain? Kamu ke sini untuk kerja, bukan buat main air!” kata-kata Mahesa menyentakkanku ke alam nyata.

Ia melotot ke arahku. Heh, kenapa, sih, dia semarah itu? Aku kan hanya menyelupkan tanganku di dalam air! Apa itu salah?

”Iya, aku tahu! Kamu kenapa, sih, marah-marah seperti wanita mau datang bulan saja!” sergahku, tanpa dapat kucegah.

Dia tambah melotot padaku. ”Kamu... sejak pertama datang sampai detik ini, kerjamu hanya bermain-main saja. Pergi ke sana, kemari. Piknik. Membeli ini-itu. Heh, kau pikir sedang liburan apa di sini?” tukasnya galak, membuatku naik pitam.

”Aku tidak main-main. Aku bekerja seperti kamu dan Mas Rangga juga!”

“Kalau begitu tunjukkan, dong, profesionalitasmu!”

”Kamu...!” Aku nyaris mencekiknya.

Untunglah niatku itu tak sampai terlaksana, karena Pudjo tiba-tiba berteriak, ”Lihat itu ada kayu!”

Pertikaianku dengan Mahesa pun segera terhenti dan perhatian kami teralih ke arah yang ditunjuk Pudjo. Benar. Tak jauh dari kami ada berpuluh-puluh batang kayu dihanyutkan. Kami mengikuti kayu-kayu itu. Terus ke hilir. Di sana ternyata ada penyeberangan lagi. Jika dilihat dari darat, tidak kelihatan, karena tertutup pohon-pohon yang sangat rimbun. Tetapi, sebenarnya itu hanya kamuflase untuk menutupi aktivitas sebenarnya. Di situ teronggok ribuan kubik kayu yang siap diangkut!

Kami bertiga terpana. ”Ni, kayaknya kamu, deh, yang harus mencari tahu ke penduduk sekitar. Soalnya, wajahmu kan belum dihafalkan orang-orang sini! Benar kan, Ahe?” ujar Pudjo, seolah ia minta persetujuan Mahesa.

Yang ditanya hanya menjawab lirih, ”Hmm....”

”Tapi... bagaimana caranya? Gila apa kalian melepas wanita di lingkungan seperti itu?”

”Heh, kamu kan wartawan, kamu pasti mengenal teknik investigasi. Pakai akalmu, dong!” kali ini Mahesa menyahut, seolah mendapat angin dari pertanyaanku barusan.

”Aku tidak bertanya padamu!” sambarku, galak. ”Begini saja, kita balik saja ke kantor. Nanti kita cari informasi tentang perusahaan kayu yang ada di kota. Oke?” ujarku.

Kedua pria itu mengangguk setuju. Setelah itu, Pudjo mengantarku ke kantor kecamatan untuk mencari data yang kubutuhkan. Ada tiga perusahaan yang beroperasi di kawasan ini. Satu perusahaan mempunyai pemodal dari Jakarta, lainnya dari Jawa Timur dan Sumatra. Aku tidak heran. Soalnya, memang banyak perusahaan yang dikendalikan dari Jakarta seperti itu.

Yang harus kuselidiki adalah muatan dari perusahaan-perusahaan itu. Data ini harus didapat langsung dari mereka! Kuputuskan untuk memperoleh data-data itu hari ini juga, mumpung aku di kota. Begitulah. Bukan hal mudah. Tetapi, teknik yang kugunakan dalam investigating reporting cukup manjur.

Aku menyamar sebagai mahasiswi yang tengah membuat skripsi dan aku membutuhkan informasi dari perusahaan tersebut. Dua dari tiga perusahaan yang ada memberikan informasi dan data yang kubutuhkan. Yang satunya sengaja mempersulit dengan meminta surat keterangan dari universitas.

”Wah... yang satu ini lumayan sulit, Djo. Tapi, besok, kita coba cara lain. Oke?” ujarku pada Pudjo, yang setia menunggu di mobil.

”Tidak apa. Tapi, ngomong-ngomong, kamu hebat juga dalam sehari bisa mengumpulkan data sebanyak itu!”

”Hmm... aku kan mantan reporter, Djo! Jangan pernah lupa itu!”

”Wah... kalau hasil investigasimu ini kau tulis, bisa-bisa kau dapat hadiah Pulitzer nanti!” goda Pudjo.

Hari berikutnya aku tidak ke mana-mana, aku fokus meneliti data-data dari dua perusahaan kayu itu. Tidak ada yang janggal. Jumlah kayu yang mereka muat sesuai dengan izin dan tidak ada penambahan kuota dalam dua tiga tahun terakhir.

”Perusahaan kami sedang collapse. Terutama, sejak ada pemain baru itu. Katanya, sih, modalnya lebih kuat dan didukung oleh orang-orang penting di ibu kota. Lha, kalau saya? Zaman sekarang susah main kayu, kalau nggak punya dukungan kuat di belakang!” ujar karyawan salah satu perusahaan yang kemarin sempat kuwawancarai.
Menjelang siang, Sisil menepuk bahuku. ”Ni, sebetulnya kamu itu punya catatan kriminal apa, sih, sampai polisi mondar-mandir mencarimu terus?” ujarnya, sambil menggerakkan dagunya ke halaman depan.

Di sana kulihat Ardiansyah tengah ngobrol dengan Koko. Ya, ampun! Kumatikan komputer dan aku setengah terbang berlari mendapatkannya.

”Anak ini sedang belajar jadi pertapa, Bang. Dari kemarin nggak makan minum, nih,” ledek Koko.

”Ya, sudah, saya pinjam Kania dulu, ya, Ko,” kata Ardi pada Koko, yang membalasnya dengan lambaian tangan.

”Ni, aku ingin masak buat kamu. Bagaimana?” ujar Ardi, setelah kami berdua saja di mobil.

Rumah dinas Ardi kira-kira hanya sepuluh menit dari kantorku. Rumah yang ditempatinya sama seperti rumah-rumah penduduk pada umumnya. Tidak mewah dan berlebihan. Tidak ada yang mencirikan itu rumah pejabat penting di wilayah ini. Satu hal yang jelas, rumahnya tertata apik dan resik. Dengan cekatan dia mengeluarkan sayur-mayur dan bahan-bahan yang diperlukan dari lemari pendingin.

”Mau masak apa, sih?” tanyaku.

”Apa, ya? Aku cuma punya kubis, wortel, dan kembang kol.”

”Orak-arik saja. Cepat dan praktis. Soalnya, aku sudah lapar, nih.”

”Siap, Tuan Putri.” Ia memberikan hormat padaku.

Aku tersenyum, lalu membantu meracik sayuran dan bahan-bahan yang diperlukan. Tapi, aku membiarkan dia yang memasak itu semua. Aku hanya menonton. Ternyata, dia luwes juga di dapur. Jadi terlihat tambah seksi. Hmm... seandainya aku punya suami seksi dan jago memasak seperti ini, pasti aku betah di rumah, terus-menerus melihatnya memasak!

Bagaimana? ia minta pendapatku begitu masakannya matang.

”Enak!” kataku, mantap.

Dia menunduk dan menghadiahiku kecupan. ”Aku akan jadi kokimu terus, jika kau mau jadi istriku!” bisiknya.

”Ardi, ini saatnya makan dan bukan waktunya untuk merayu!” aku pura-pura marah, meski hati ini berdebar senang.

”Aku serius. Dua bulan lagi, aku ditarik lagi ke Jawa dan aku ingin menikah. Menikah dengan gadis Solo yang kukenal tujuh tahun lalu.”

”Widuri?” godaku.

”Dengan wanita yang kini berdiri di depanku!” ujarnya riang, sambil menatapku tajam.

Kurasakan pipiku memanas. Sungguh aku senang mendengar kalimat itu. Tapi, untuk menikah? Aduh, jangan sekarang. Hatiku masih porak-poranda.

”Beri aku waktu untuk menjawabnya. Oke?” aku memutuskan.

Sebagai jawabannya, dia mengangguk dan sekali lagi memberiku kecupan mesra di kening.

Penyelidikanku nyaris menemui jalan buntu, kalau saja aku tak mengenal seorang Ardi! Suatu siang, saat aku selesai berbelanja keperluan bulananku, seseorang menghampiri dan menyapaku.

”Mbak Nia... aduh, susahnya mencari Anda! Apa kabar, Mbak?” ujarnya ramah. Sangat ramah.

Ia pria setengah baya berperut sangat buncit. Aku ingat. Dia yang menerimaku di perusahaan kayu asal Jakarta itu. Salah satu karyawan di situ, yang dengan pongahnya berkata tidak bisa menerimaku, tanpa surat keterangan dari universitas. Kini dia sedang tersenyum manis padaku. Dunia sudah terbolak-balik rupanya.

”Kabar baik, Pak,” kataku, sambil mengangguk.

”Mbak, saya nggak enak, nih, pada Anda. Kalau Mbak Nia sejak dulu bilang bahwa Anda adalah calonnya Pak Ardi, tentu akan saya bantu sepenuhnya!” ujarnya.

Apakah sangkut pautnya Ardi dengan ini semua? Apakah Ardi menelepon pria ini? Rasanya, mustahil! Ardi tidak tahu proyek penelitianku.

Sebelum aku sempat berkata apa-apa dia sudah memberiku sege¬pok kertas. “Yah, saya rasa, seluruh penduduk desa ini sudah tahu siapa Mbak Nia. Sepertinya, hanya saya yang tak tahu! Maaf, ya, Mbak. Ini, data yang Mbak butuhkan. Semoga lekas selesai skripsinya. Dengar-dengar, Pak Ardi sudah tidak sabar ingin segera mempersunting Mbak Nia,” ucapnya, sambil tersenyum.

Setelah itu dia meninggalkanku begitu saja. Aku hanya bisa terbe¬ngong-bengong, seperti orang yang tiba-tiba mendapat undian ratusan juta. Ardi? Apa peran Ardi di sini? Tapi, terserahlah! Yang penting, aku memperoleh apa yang kubutuhkan. Aku pun kembali ke kantor dan menelitinya sampai larut malam. Bingo! Ini yang kucari!

Kuserahkan data itu pada Mahesa, sambil berkata, ”Ini hasil kerjaku! Kalau kau anggap ini hanya main-main saja, terserah!”

Dia tampak terperanjat mendengar kata-kataku. Namun, aku tak peduli pada reaksinya. Dengan pongahnya kutinggalkan dia dengan setumpuk data dan ulasan yang kutulis.

Meski aku masih heran dengan insiden siang kemarin, aku tak hendak menanyakannya pada Ardi. Aku juga tak menceritakan kejadian itu. Sebaliknya, aku justru ingin tahu, ada apa di balik ini semua. Aku berniat mencari jawabannya di rumah dinas Ardi.

Di akhir pekan, Ardi biasanya mengajakku ke rumah dinasnya. Setelah makan siang, biasanya dia akan pergi ke kantor sebentar. Saat itulah aku beraksi. Aku masuk ke ruang kerja Ardi. Di situ ada berkas-berkas dan komputer. Aku memeriksa berkas-berkas itu, tidak ada apa-apa. Hanya laporan kejadian kriminal biasa.

Aku beralih ke komputernya. Aduh... ada password! Aku mencoba semua hal yang kuingat dari diri Ardi, yang bisa menjadi password. Aku memeras otakku. Pikirkan kata sandi yang sederhana! Ardi tidak mungkin membuat password yang sulit diingat! Lalu... pikir¬an itu tiba-tiba merayapiku dan membuatku merinding. Pelan, aku menuliskan panggilan kesayangannya padaku: Puteri. Dadaku berdegup kencang dan... ah! Aku menjerit senang saat tak muncul tulisan access denied di layar.

Jemariku bergetar menyusuri file demi file. Ugh, banyak sekali. Aku membaca cepat. Waktuku hanya 30 menit. Cepat! Aku gugup dan dihantui rasa bersalah, karena seumur hidup belum pernah aku membaca dokumen pribadi seseorang! Dan... ini dia!

Aku nyaris kena serangan jantung, ketika melihat data itu. Laporan truk-truk yang keluar-masuk membawa kayu dari tiga perusahaan. Kuambil flash disk yang sudah kupersiapkan dari kantor dan mengopi data-data itu. Nanti, nanti di kantor saja aku memeriksanya! Yang penting, aku dapat datanya dulu! Semua data yang kubutuhkan kukopi. Untungnya, aku bisa menyelesaikannya sebelum Ardi pulang.

Aku matikan komputer dan kuredakan deburan jantungku dengan segelas es sirup. Kunikmati minuman itu di beranda belakang, sambil menatap kebun dan jemuran pakaian Ardi. Kukompres dahiku dengan gelas yang terasa dingin, sambil berdoa semoga tak ada yang aneh dengan data itu.

Tak lama kemudian, kudengar deru mesin mobil Ardi memasuki halaman. Aku menunggu, sambil berpikir, siapa kamu sebenarnya, Ardi?

Malamnya, di kamarku, aku ngebut mempelajari data-data yang kuperoleh dari komputer Ardi dan mencocokkannya dengan data milik tiga perusahaan kayu yang beroperasi di sini. Angkanya cocok. Hanya satu perusahaan yang angkanya tidak cocok. Jumlah yang tercatat di komputer Ardi, jauh lebih banyak daripada jumlah yang tertera di laporan perusahaan itu.

Aku tertegun, mengapa ada selisih seperti ini? Mungkinkah Ardi keliru meng-input data? Kalau keliru memasukkan angka, tidak mungkin selisihnya sampai sebesar ini.

Oh, Tuhan, apa-apaan ini?

Saat aku membuka-buka buku laporan milik perusahaan dari Jakarta itu, sesuatu terjatuh. Kupungut perlahan. Ada beberapa lembar kuitansi. Ada tulisan yang membuatku makin tertegun: ’Telah diserahkan kepada AH.’

Keningku berkernyit. AH siapa? Ardiansyah? AH. Angka yang tertera membuatku geleng-geleng kepala. Ada tanggal dan tahunnya. Aku bisa melacaknya di rekening Ardi! Masalahnya, bisakah aku mencuri lihat buku tabungannya? Pasti bisa!

Aku kemudian memfotokopi kwitansi itu dan menyimpannya sendiri. Entah kenapa, untuk temuan baru ini aku enggan melaporkannya pada Mahesa. Berhari-hari aku mencoba mencuri lihat rekening tabungan Ardi. Jika dia pergi meninggalkanku sendirian di rumah, aku langsung beraksi, menggerataki seluruh isi rumahnya.

Rasa bersalah benar-benar menderaku kini, karena aku seperti mata-mata di sarang musuh. Aku manusia paling munafik di dunia. Di depan Ardi aku adalah kekasih yang baik, namun di belakangnya aku seperti musuh yang sewaktu-waktu siap menikamnya dengan pisau.

Perjuanganku tak sia-sia. Aku berhasil menemukan buku tabungan Ardi. Benda itu tersimpan di lemari pakaiannya, di antara tumpukan pakaiannya yang terlipat rapi. Hati-hati aku mengambil benda itu. Ada dua buah buku dari dua bank berbeda. Aku memeriksanya cepat.

Untuk yang satu ini aku sangat berterima kasih pada Tuhan, karena dikaruniai daya ingat yang luar biasa tajam. Sehingga, aku bisa ingat pasti tanggal-tanggal dan jumlah uang yang tertera di kuitansi. Tanggal dan jumlah itu tertera di buku tabungan Ardi!

Aku nyaris pingsan melihatnya. Apa-apaan ini? Uang apa ini? Kukembalikan buku itu ke tempatnya semula. Detik berikutnya aku mulai dikuasai kecurigaan, siapa sebenarnya Ardi? Mengapa aku masih saja belum bisa memercayainya? Mungkinkah instingku ini benar?

Hari ini sebetulnya aku berniat mengonfrontasi temuanku pada Ardiansyah. Namun, aku terpaksa membatalkan rencanaku, karena Mas Rangga mengajakku mengamati satwa di hutan. Aku, Mahesa, dan Mas Rangga yang berangkat. Inilah kali pertama aku mendapat tugas untuk mengamati perilaku satwa, yang telah dikembalikan ke alamnya. Ada rasa cemas sekaligus senang, saat aku naik ke mobil mengikuti jejak Mahesa dan Mas Rangga.

Kami membawa perbekalan untuk dua hari. Kata Mas Rangga, sekadar berjaga-jaga, bila kami terpaksa menginap di hutan. Kami berangkat naik mobil. Setelah itu, mobil itu kami tinggal di permukiman penduduk yang berbatasan dengan hutan dan kami meneruskan perjalanan dengan berjalan kaki, menembus lebatnya pepohonan.

Mahesa berjalan paling depan sebagai penunjuk jalan, aku di belakangnya, dan Mas Rangga di paling belakang. Kami semua menggendong ransel yang berisi bahan makanan, peralatan survival, dan bivak.

Sinar matahari terlihat menerobos di sela-sela pepohonan. Kicau burung dan bebunyian satwa hutan seolah menjadi musik yang menyambut kedatangan kami bertiga. Sejak di mobil, sampai berjalan menembus hutan, Mahesa tak banyak cakap. Entahlah, aku sendiri tak tahu mengapa. Namun, kuperhatikan, akhir-akhir ini Mahesa memang lebih banyak berdiam diri. Bahkan, sekali waktu aku tak melihatnya sama sekali. Kata Mas Rangga, Mahesa sedang pulang ke Jakarta.

”Mahesa itu gila kerja, Ni. Di Jakarta dia punya klinik khusus hewan. Kalau sedang suntuk dengan suasana Jakarta, dia ke sini, mencurahkan waktu dan tenaganya untuk binatang-binatang langka di sini!” ujar Mas Rangga.

Aku hanya manggut-manggut, meski dalam hati makin bertanya-tanya tentang pria satu itu. Belum pernah aku melihat orang yang begitu mendedikasikan hidupnya untuk penyelamatan binatang-binatang langka. Sepertinya, kebahagiaan hidup yang dirasakannya tak diukur dari banyak sedikitnya materi. Sementara orang-orang seusianya tengah berlomba mengejar materi dan jabatan, demi memperoleh masa depan yang lebih gemilang, dia justru berkutat di pedalaman Sumatra ini tanpa mengharap imbalan apa pun.

”Kita berhenti di sini dulu, Ahe. Aku capek. Sepertinya, Bima dan Srikandi tak bakal masuk ke hutan lebih jauh lagi!” kata Mas Rangga.

Mahesa tak berkata apa-apa. Dia hanya mengulurkan botol air mineral yang sedari tadi digenggamnya. Setelah itu, dia pergi, entah apa yang dilakukannya.

”Mas, mungkinkah Bima dan Srikandi bisa hidup sesuai dengan naluri kehewanan mereka, setelah sekian lama menjadi peliharaan orang?” tanyaku, teringat nasib dua harimau Sumatra, yang kami lepas beberapa waktu lalu.

”Kita berharap begitu, Nia.”

”Kasihan binatang-binatang itu, Mas. Mereka sudah terbiasa jadi binatang peliharaan. Mau makan, ada yang memberi. Hidup aman dan nyaman di dalam kerangkeng, tak punya musuh sesama binatang buas. Apa jadinya bila mereka kita lepas ke alam liar, Mas? Bisa nggak mereka cari makan sendiri?”

”Kita kan sudah melatihnya, Nia. Kita sudah memberinya waktu untuk beradaptasi. Mudah-mudahan, bekal yang kita berikan cukup untuk membuat mereka bertahan hidup di alam liar!”

Mahesa kembali, sambil terengah-engah. ”Mereka di sana, Mas. Kira-kira 500 meter dari sini,” ujarnya.

”Yuk, kita ke sana,” kata Mas Rangga, sambil menarik tanganku.

Aku kembali berjalan, menginjak tanah lembek di bawah kakiku. Kuhilangkan perasaan jijik dan takutku. Toh, ada Mas Rangga dan Mahesa yang menemani. Kami berhenti di bawah sebuah pohon besar.

Mas Rangga menyuruhku naik. ”Ini namanya pohon pengamatan, Nia. Kami punya beberapa pohon seperti ini, agar bisa leluasa mengamati satwa,” ujarnya, menjelaskan.

Tak jauh dari pohon itu, ada aliran sungai. Menurut Mas Rangga, tempat paling ideal untuk mengamati satwa adalah di dekat aliran sungai. Soalnya, semua binatang pasti akan datang ke sungai itu untuk minum. Di atas pohon itu pun telah dibangun semacam rumah pohon.

Ketika tiba di rumah pohon, Mahesa dan Mas Rangga ternyata justru meluncur turun. Mereka berpamitan hendak menelusuri jejak harimau yang telah mereka lepaskan pekan lalu. Kuhela napas, dalam hati memaki mereka karena tak mengikutsertakan aku! Ugh! Ini pasti akal-akalan Mahesa!

Duduk diam, sungguh membosankan. Aku mulai mendengarkan suara-suara hutan. Suara siamang. Suara burung-burung. Suara desing yang aneh. Suara apa itu? Aku lebih menajamkan indra dengarku. Suara itu terdengar sayup-sayup, entah dari mana. Namun, aku hampir yakin bahwa suara yang kudengar itu adalah suara gergaji mesin. Aku nyaris terlonjak. Berarti, aku dekat sekali dengan tempat penebangan kayu ilegal itu. Astaga! Jika aku bisa menemukan sumber suara itu, maka aku akan menemukan lokasi tempat perampok-perampok hutan itu beraksi!

Dengan penuh semangat, tanpa memedulikan pesan dari Mas Rangga, aku meluncur turun dan mulai mencari sumber suara itu. Di mana? Suara itu hilang timbul. Aku terus berjalan, sambil menajamkan telingaku. Sampai pada suatu titik, suara itu tak lagi terdengar lamat-lamat. Jantungku berdebar kencang. Makin aku bergerak maju, suara itu terdengar makin jelas.

Itu dia! Aku berhasil menemukan lokasi penebangan pohon itu! Oh, untunglah aku tadi tak lupa membawa kamera digitalku! Di depanku, tepat di depan mataku, terpampang adegan persis di televisi, yang sudah ribuan kali kusaksikan. Dua pria sedang asyik menggergaji dengan chensaw. Mereka sama sekali tak menyadari kehadiranku. Aku sibuk memotret. Meski sadar bahwa aku tak mungkin menghasilkan foto dengan kualitas gambar memuaskan, aku terus memotret, sampai seseorang menoleh padaku dan berteriak, ”Hei, ada orang di sana!” Detik itu juga aku langsung sadar kehadiranku telah diketahui.

Kumasukkan kameraku ke dalam tas, lalu berlari secepat kakiku bisa melangkah. Lari tanpa tentu arah, yang penting selamat! Aku berlari dan terus berlari, tanpa menengok ke belakang. Aku tak tahu berapa orang yang mengejarku. Aku lari seperti kesetanan. Hanya dengan cara inilah aku bisa menyelamatkan nyawaku! Dadaku berdegup kencang seolah hendak meledak.

Tapi... ups! Kakiku tersangkut sebuah akar. Tanpa bisa dicegah lagi, aku terjatuh dengan menimbulkan suara yang sangat berisik, lantaran aku terjatuh di dedaunan kering, yang menjadi alas hutan. Aku mencoba bangkit, tapi... mereka lebih sigap.

”Nah, mau lari ke mana?” seseorang menangkap tanganku dan memaksaku berdiri.

Dua pria berwajah seperti preman menatapku. Aku tak kenal mereka. Kurasakan tubuhku sangat lemas saat mereka membawaku pergi, masuk ke areal yang tadi kulihat. Tak seperti dugaanku, wilayah itu sudah menyerupai permukiman. Ada beberapa bangunan dan sebuah kapal tertambat di tepi sungai. Aku dibawa masuk ke salah satu bangunan.

”Tunggulah di sini, biar bos kami yang mengambil sikap!” ujar seorang pria, sambil melemparku ke lantai kayu dan mengunci pintu. Gelap. Aku hanya dapat mendengar aktivitas penebangan di luar sana.

Waktu sedetik benar-benar terasa seperti setahun. Aku menunggu sampai terdengar langkah-langkah kaki mendekat dan gerendel kunci dibuka. Pintu berderit, menghadirkan seberkas cahaya dan sesosok tubuh. Aku tak bisa melihatnya dengan jelas, karena silau.

”Nia!” ujar sosok itu.

Suara itu sudah tak asing lagi di telingaku. Kukerjapkan mata berkali-kali, sampai mataku terbiasa dalam gelap dan bisa melihat sosok itu secara utuh. Tak ada yang lebih mengejutkan dari apa yang kulihat saat ini. Ardiansyah! Dia menarikku hingga berdiri dan mendudukkan aku di kursi.

”Apa yang kau lakukan di sini?” tanyanya.

”Seharusnya, aku yang bertanya seperti itu padamu. Apa yang kaulakukan di sini, Ardi?” ujarku, balik bertanya.
Mereka bilang, biar bos yang mengambil tindakan. Inikah bos mereka itu? Ardikah bos mereka?

”Aku sedang patroli....”

”Jangan bohong, Ardi! Kau pikir aku bodoh dan buta? Hanya polisi hutan yang berhak masuk ke wilayah ini. Wilayah kekuasaanmu ada di luar sana! Bukan hutan dan seisinya yang kaulindungi, tetapi masyarakat di luar sana!” selaku dengan nada sedikit naik.

Ardiansyah menatapku tak berkedip. Sebelum dia sempat berkata, aku sudah melanjutkan kembali, ”Kau pikir, aku tak tahu keterlibatanmu di sini? Aku tahu semua, Ardi. Aku tahu kau memperoleh bagian dari ini semua. Aku melihat semua pembayaran yang ditujukan padamu!”

”Kau tidak mengerti apa yang kau katakan, Nia,” ujarnya.

”Tidak mengerti bagaimana? Kau pikir aku hanya meracau? Aku punya bukti yang bisa menyeretmu ke pengadilan!” seruku, sambil berurai air mata.

”Kau pikir aku akan diam saja, membiarkan kau menyeretku ke pengadilan?” ia balas menggertak.

Ardi mendekatiku, berjongkok di depanku. Ia tersenyum lembut. Selembut belaian tangannya yang mengusap pipiku. ”Kalau kau diam dan melupakan peristiwa ini, aku pun akan diam, Nia. Aku akan melupakan semua ini. Toh, sebentar lagi kita menikah dan dua bulan lagi kita sudah meninggalkan pulau ini. Toh, hasilnya juga untuk kita berdua. Kita nikmati berdua. Bagaimana bila kita lupakan saja?” ujarnya.

Melupakan? Bagaimana mungkin aku bisa menutup mata atas apa yang dia lakukan ini? Padahal, perbuatannya ini jelas-jelas melanggar hukum. Dan... bagaimana mungkin aku bisa hidup dari hasil seperti ini? Tegakah aku menyuapkan nasi yang dibeli dengan rezeki haram ke mulut anakku? Bisakah aku berbahagia tinggal di istana megah dan naik mobil mewah, sementara masyarakat di sekitar hutan ini, entah setahun atau berapa tahun lagi, harus kehilangan rumah dan harta bendanya karena tanah longsor atau banjir bandang? Bisakah aku hidup di atas penderitaan ribuan penduduk desa ini?

”Tidak, Ardiansyah! Tidak akan ada pernikahan! Tidak akan ada kesempatan kedua untukmu! Waktumu telah habis. Aku tidak bisa menutup mata atas perbuatanmu ini!” ujarku, dengan nada sangat dingin, sampai aku sendiri pun bergidik mendengar suaraku.

”Aku masih percaya padamu, Nia. Aku masih memberimu waktu untuk berubah pikiran, Sayang.” Ia menatapku lembut.

Saat itulah ide itu melintas di benakku. Dengan sigap kuraih pis¬tol di pinggang kekasihku dan kutodongkan padanya. ”Ardiansyah, atas nama hukum, kuminta engkau mempertanggungjawabkan perbuatanmu di depan pengadilan!” ucapku, tajam.

Sesaat dia terpana melihat moncong pistol yang terarah ke dadanya itu. Mungkin, dia tak menduga aku bisa segesit itu mengambil pistol. Hanya sedetik kulihat kekagetan di matanya, detik berikutnya dia kembali menjadi Ardiansyah yang kejam dan kuat. Dengan gerakan yakin, dia berdiri. Aku ikut berdiri. Kami saling menghadap, bak dua koboi tengah duel maut.

”Kalau aku tidak mau, apa yang akan kaulakukan? Menembakku? Baik, tembaklah aku! Memang itu yang ingin kau lakukan dari dulu, bukan? Untuk membalas sakit hatimu? Ayo, tembaklah aku. Akhirilah hidupku! Tuntaskan sakit hatimu padaku!” tantang Ardi.

Aku tidak sebodoh itu. Aku tidak ingin terpancing. Lagi pula, aku tidak tahu bagaimana mempergunakan senjata ini. Tanpa mengucapkan apa-apa, aku bergerak perlahan mendekati pintu. Berusaha tetap menjaga pandanganku ke arah Ardiansyah. Pelan-pelan kubuka pintu.

”Aku tidak akan menembakmu, karena ada yang lebih berhak menjatuhkan hukuman padamu. Jadi, biarkan aku pergi dan menyerahkan bukti-bukti keterlibatanmu pada pihak yang berwenang,” ujarku, sambil pelan-pelan melangkah ke luar.

Ardiansyah masih menatapku. Tinggi dan tampan. Namun, kini, perasaanku kepadanya telah mati. Dengan perasaan terguncang, kutinggalkan bangunan itu. Dua pria berusaha menahanku, namun Ardiansyah berseru, ”Biarkan dia. Dia bersenjata!”

Tersaruk-saruk aku berjalan keluar dari areal tersebut. Aku benar-benar tak tahu arah. Kupikir, bila, toh, aku bisa selamat dari cengkeraman Ardiansyah, tetap saja aku tak mungkin kembali hidup-hidup ke permukiman penduduk. Aku tak tahu hutan ini. Aku pasti tersesat, sebelum akhirnya mati karena kelaparan dan kedinginan di hutan ini.
Oh, Tuhan, tolonglah aku.

Aku terus berjalan tanpa tahu arah. Sampai tiba-tiba seseorang menarik tubuhku dan membekap mulutku dari belakang. Pistol Ardiansyah pun terjatuh dari tanganku.

”Kau pikir aku sebodoh itu membiarkanmu pergi?” bisik orang itu. Suara itu... suara Ardiansyah! ”Kau benar-benar keras kepala! Kenapa, sih, kau tidak menurut saja pada kemauanku?” bisiknya lagi di telingaku. Bekapan dan cengkeraman tangannya di mulut dan leherku benar-benar kuat, sampai kupikir, aku bisa mati karenanya.

”Anggukkan kepala, jika kau berubah pikiran, Nia!”

Kugelengkan kepala kuat-kuat. Sebagai balasannya, dia memperkuat cekikan di leherku. Aku tahu, dia akan menghabisi nyawaku. Mungkin, setelah itu dia akan menghanyutkan tubuhku di sungai. Sehingga, bila mayatku nanti ditemukan penduduk, mereka akan mengira aku mati karena tenggelam di sungai, bukan oleh ulah Ardiansyah! Oh, betapa kejamnya dia!

Dengan sisa-sisa kekuatanku, kuraih tubuhnya dan kuremas pangkal pahanya kuat-kuat. Berhasil! Dia menjerit dan pegangannya terlepas. Aku memperoleh waktu untuk lari. Lari! Lari, Nia! Aku terus berlari. Tapi, aku kalah cepat. Dia berhasil menangkapku, menarikku, dan menamparku. Menghujaniku dengan pukulan-pukulan dahsyat. Aku berusaha melawan sebisaku. Aku terjatuh oleh pukulannya.

”Tidak tahu diuntung!” dia terus mencaciku dan menyerangku.

”Kau yang tidak tahu diuntung! Aku menyesal telah mencintaimu, Ardi! Aku menyesal!” pekikku, dengan menahan sakit. Mulutku terasa asin. Kepalaku pening. Aku berusaha bangkit, namun sebuah pukulan menjatuhkanku lagi dan duniaku terasa gelap sesudahnya....

Saat kubuka mataku, sekelilingku kulihat putih. Apakah aku sudah berada di surga? Oh, syukurlah. Memang telah lama aku mengharapkan malaikat maut mencabut nyawaku. Kematian mungkin bisa mengakhiri seluruh penderitaan hidupku selama ini. Tetapi... aku tertegun. Kulihat seraut wajah yang sangat kukenal, tengah tersenyum padaku. Mungkinkah dia itu sebetulnya malaikat yang diutus Tuhan turun ke bumi? Bila benar begitu, maka dia adalah malaikat yang sangat tampan.

”Syukurlah, akhirnya kau sadar juga,” ujar Mahesa. ”Minum?” Ia mengulurkan segelas air putih.

Aku meminumnya sedikit, sekadar membasahi tenggorokanku yang terasa sangat kering.

”Tenang, semuanya sudah beres, kok. Ardiansyah telah ditangani petugas yang memang berwenang untuk itu,” ujarnya.

”Bag... bagaimana kau tahu?”

Mahesa tersenyum, lalu bercerita bahwa sebenarnya dia sudah lama mencurigai keterlibatan Ardiansyah dalam praktik illegal logging itu. Namun, dia belum punya cukup bukti untuk menyeret Ardiansyah, sampai aku datang memberinya setumpuk bukti.

”Dari situ, aku dan Mas Rangga merencanakan aksi untuk menangkap basah kegiatan mereka. Makanya, kami memutuskan untuk mengadakan pengamatan. Sebetulnya, kemarin itu bukan pengamatan satwa, Nia, tetapi pengamatan kegiatan mereka. Kami tahu, sewaktu kamu tertangkap dan Ardiansyah mengejarmu. Untunglah aku dan Mas Rangga sudah membagi tugas. Aku tetap berjaga di dalam hutan, sementara Mas Rangga melapor ke pihak berwajib. Dengan begitu, Ardiansyah dan komplotannya bisa segera diringkus,” ujarnya, panjang lebar.

”Jadi... kamu tahu? Kamu melihat semua?”

”Ya,” angguknya.

”Kenapa aku tidak diberi tahu tentang kegiatan hari itu? Seandainya aku tahu, aku pasti tidak akan diburu rasa penasaran sampai memutuskan melihat sendiri ke sana, bukan?” protesku.

”Maafkan aku, Nia. Aku yang salah, karena tidak memberi tahu. Aku tak menyangka, kau mendengar suara gergaji itu dan memutuskan untuk mencari arah suara itu. Kau betul-betul nekat!”

”Kalau aku tahu, aku tak akan senekat itu!” kilahku.

Mahesa tertawa. ”Baik, baik. Mulai detik ini, aku tak akan membiarkanmu berbuat senekat itu lagi. Aku akan selalu menjagamu untuk memastikan kau baik-baik saja. Kau benar-benar gadis pemberani, cerdas, dan sama sekali tidak cengeng. Tak seperti dugaanku semula. Maafkan aku, karena aku sempat salah menilaimu. Maukah kau memberiku kesempatan untuk lebih mengenalmu?” ujarnya lagi. Kali ini sambil menatapku lembut.

Ada desir aneh di sudut-sudut hatiku saat bertatapan dengan sepasang mata cokelatnya yang sendu. Sepasang mata itu kini tak lagi menatapku sinis dan dingin, melainkan menawarkan sebentuk kedamaian yang selama ini kucari. Mungkinkah dia perhentian terakhirku? Hati kecilku sibuk bertanya. Kuharap begitu. Sebab, aku sudah terlalu lelah dalam pengembaraan ini.
***

0 Response to "Penantian Terakhir"

Post a Comment