HOME

Monday, May 28, 2012

Merahnya Cinta Birunya Rindu


Popon Saadah


Bahwa wanita harus mandiri, dia setuju. Tapi apabila wanita wajib melahirkan anak dari rahimnya sendiri, dia pikir-pikir dulu untuk mengatakan setuju. Jika perempuan seperti dirinya tak kunjung dipercaya oleh Yang Maha Kuasa untuk melahirkan manusia walaupun hanya seorang, apa mau dikata? Satu-satunya yang bisa dia lakukan, berusaha menerima kenyataan. Biarlah tak sempat melahirkan, asal hidupku yang sebenarnya singkat ini bisa lebih bermakna tanpa keturunan, banyak yang harus kulakukan selain melulu memikirkan masalah yang satu ini, pikirnya menghibur diri.
Semula hatinya merasa yakin, dialah satu-satunya wanita yang paling beruntung, bisa bersanding dengan pria pujaan gadis-gadis pada masanya, serta pendamping hidupnya ini sangat sayang dan penuh perhatiaan terhadapnya. Rasanya lengkaplah sudah kebahagiaannya pada waktu itu. Tapi kemudian, setelah keduanya meniti tangga kehidupan asmara dan berhasil mencapai pelaminan, muncul tuntutan sang pujaan. Dia harus memberinya momongan. Setelah perkawinanya lewat beberapa tahun, dalam penantian yang menggelisahkan, dia tak kunjung merasakan adanya tanda-tanda kehamilan. Sebenar-benarnya dia tak berniat membuat kecewa suami kesayangan, karena masalah itu di luar kekuasaannya, tapi kenyataannya suaminya memang merasa dikecewakan.
Dia pernah berjuang keras mewujudkan impian suami untuk bisa mempersembahkan buah cinta, darah dagingnya. Dia banyak membaca berbagai referensi tentang kehamilan, melaksanakan tips-tips untuk bisa hamil, baik yang tradisional maupun yang boleh dibilang modern, terapi pijat pun pernah ia lakukan. Tapi impian suami sekaligus impiannya itu betul-betul hanya sebuah impian. Sejak itu bahtera rumah tangganya oleng. Perahu pun karam ke dasar lautan kehidupan bersama cinta yang telah lama dibina bersama. Suami berani memilih lagi, memilih perempuan yang bisa diharapkan mampu menghadirkan keturunan.
Hanya dengan alasan itu suaminya berpaling? Begitulah, hanya dengan alasan seperti itu. Sadarlah sekarang, dia bukanlah perempuan terpilih seperti anggapannya selama ini. Dia memang kalah, dikalahkan dalam hidup oleh rivalnya yang tentu saja sesama perempuan.
Kalah! Sebuah kata yang melahirkan rasa pesimis. Dan kata itu cukup besar mempengaruhi jiwanya. Kekalahan telah membentuk perasaannya untuk tidak percaya pada laki-laki. Siapa pun laki-laki itu. Tak terkecuali ayahnya sendiri. Mungkinkah masih tersisa rasa percaya pada ayahnya yang telah bertahun-tahun mencampakkan ibu dan dirinya hanya karena seseorang yang lebih cantik dan lebih muda dari ibunya? Rasa percaya pada kaum Adam sudah tak bersisa. Apalagi sampai hari ini ayahnya masih seperti dulu, tak ada niat memperbaiki hubungan sebagai ayah dan anak dengannya yang sudah terlanjur putus, dan semakin merenggang jaraknya. Ternyata pada umumnya laki-laki akan memilih dan tunduk pada wanita yang menang, menang dalam berkompetisi dengan sesama kaumnya.
Karena kekalahan lah kehidupannya jadi porak poranda. Andai dulu ibunya bisa memenangkan persaingan, andai waktu itu dirinya berhasil menghadirkan anak sebagai buah cinta dia dan suami dalam rumahnya, andai waktu itu dia mempunyai kelebihan dalam segala hal dari rival yang telah merebut suaminya, dan berbagai andai-andai lainnya, mungkin hidup ini terasa begitu indah dan menyenangkan untuk dijalani dan dikenang.
Sebagian kolega yang bersimpati pada nasibnya berpendapat, bahwa suaminya hanya mengkambinghitamkan kemandulannya untuk lari darinya. Bisa jadi begitu. Tapi apa pun alasan yang sebenarnya, nasib sudah membawanya pada lanjutan cerita hidup seperti sekarang ini. Kenyataannya sekarang dia sudah tercampakkan! Persis seperti ibunya dulu. Semacam reinkarnasi. Bedanya, ibunya mampu melahirkan dirinya, meskipun tetap saja tak bisa menghindar dari kekalahan.
Menurutnya hidup ini semata-mata perjuangan yang tidak pernah selesai. Tuntas masalah yang satu, masalah lain di depan sana segera menghadang. Terkadang, setelah berjuang keras pun jika takdir menentukan lain, keberuntungan tak pernah dapat kita raih. Terpikir kembali olehnya, jika dia dianugrahi anak pun, belum tentu permasalahan hidupnya yang rumit-rumit berakhir sampai di situ. Di sini manusia hanya bisa bersabar.
Untung sampai detik ini logikanya masih berfungsi normal. Masih bisa berpikir jernih. Sebaiknya aku tidak boleh lagi menyerah meskipun kalah dan kalah dalam episode hidup berikutnya, tekadnya. Secercah harapan yang kadang mampu membangkitkan semangat hidupnya datang dari orang-orang yang masih membutuhkannya, seperti ibunya, murid-muridnya, dan beberapa teman dekatnya di dunia maya.
Teman dekat di dunia maya? Ya, rupanya dia hanya percaya pada pria-pria cyber, percaya bahwa pria-pria ideal hanya ada di dunia digital, pria-pria yang bisa dijadikan tokoh imajinasi sekehendak hatinya. Pria-pria yang tak akan banyak menuntut seperti layaknya pria di dunia nyata. Setidak-tidaknya itu menurut pendapatnya sendiri yang telah malang melintang menjelajah dunia yang unik itu. Pada detik ini pun dia sudah bersiap-siap berselancar di internet, memasuki dunia imajinasi, dunia di mana orang-orang yang wujud fisiknya entah di mana, menyapanya dengan akrab.
Kebetulan suasana di lab komputer sudah sepi. Teman-temannya lebih dulu meninggalkannya sendirian di ruangan, seperti sengaja memberi kesempatan padanya untuk leluasa mengumbar hayalan. Layar komputer di meja kerja yang sejak satu jam yang lalu dibiarkan menampilkan landscape secara slide show dia hampiri. Tangan kananya meng-klik internet explorer, karena berniat membuka e-mail yang sudah empat hari tidak dibukanya. Setelah itu krusornya diarahkan pada icon Yahoo Messenger. Jari-jarinya mengetik username dan password dengan cepat. Beruntung, kali ini jaringan internet sedang tak ada gangguan. Tidak lama menunggu, folder menu utama miliknya di YM sudah tampil. Tapi sayang, teman-teman cyber yang selalu mengajaknya bercanda sedang tidak online. Semuanya.
Lalu dia tatap id seseorang yang juga sama sedang tidur nyenyak alias offline. Tak apalah yang lainnya off, asal dia saja yang OL hari ini. Plissss….kamu OL dong…..!! pintanya penuh harap. Aneh, tiba-tiba id itu menyala, id yang ber-nickname fauzi2003. Mungkin ini satu kebetulan yang membahagiakan. Ya Tuhan, kenapa setiap id dia menyala perasaanku selalu berubah menjadi kacau? Ada apa dengan aku pada hari ini dan hari-hari sebelumnya? Gumamnya.
Tiba-tiba muncul sebuah folder baru persis di depan matanya.
“Hallo Dear, apa kabar?” fauzi2003 lebih dulu menyapa dirinya yang masih merasakan sesuatu yang aneh dalam dadanya.
Dengan girangnya dia menjawab sapaan itu. “Hai juga, alhamdulillah, aku lagi fit hari ini. Dan kamu?”
“Aku lagi kedinginan di sini, Darling…”
“Pake mantel yang tebal atuh, atau nyalakan api di tungku!”
“Sudah, tapi nggak bisa membuatku jadi hangat. Badanku boleh hangat, tapi hatiku tetap saja menggigil…”
“Busyet, dia nyindir aku,” gerutunya pula. Tak disadarinya jari-jarinya sudah mengetik kalimat seperti ini, “Kalo gitu sama dong, I’m lonely too.”
“Masa? Kok bisa sama ya….orang kesepian ketemu orang kesepian jadinya apa coba?” Pria di seberang sana itu menggodanya dengan sebuah teka-teki.
“Ya dua orang kesepian. Satu tambah satu kan sama dengan dua.”
“Salah! Satu pria kesepian ditambah satu wanita kesepian jadi seorang anak, hahaha….” Kata si pria sambil tertawa puas.
Dia terkejut saat membaca kalimat terakhir yang diketik lawan bicaranya itu. Serasa ada yang menonjok ulu hatinya. Anak? Dia selalu merasa tidak nyaman dengan kata “anak”. Bukankah kekalahan dalam hidupnya selama ini karena masalah anak!
“Buzzzzzzzzzz…..,” fauzi2003 seperti tak sabar menunggu balasan kelakarnya.
Dia jadi tidak berselera meneruskan chatting-nya. Dia biarkan fauzi2003 berkali-kali membunyikan suara “ding!” Ah mau buka e-mail saja. Biarkan laki-laki di seberang sana itu kebingungan sendiri dengan sikapku, katanya dalam hati.
“Ding!!”
“Hallo, are you still there?”
Dia sama sekali enggan membalas message itu, lalu memutuskan untuk menutup folder YM-nya. Klik…klik….id female_39 sign out. Sekarang dia lebih berkonsentrasi pada e-mali-e-mail yang masuk. Matanya terpaku pada e-mail dari seseorang. Lagi-lagi e-mail dari fauzi2003. Diam-diam hatinya senang juga, sebab isinya sudah pasti menghibur. Karakter Fauzi memang humoris, meskipun tak jarang membuat dia kesal.
Dear female di Indonesia,
Sudah bisa dipastikan, kamu pasti kangen padaku. Ya kan? Hayoh ngaku!
Kalo nggak, biar aku aja yang terus terang, boleh ya?
Entah kenapa, aku selalu khawatir bila kamu lama nggak online. Ke mana saja selama empat hari ini? Tahu nggak, badanku hampir berlumut menunggumu. Tak ada email, tak ada tulisan baru di blog-mu. Kamu ternyata bisa juga menyiksaku seperti ini.
Ini aku sudah berjujur ria. Kapan kamu mau jujur cerita tentang hatimu?
Miss U,
Fauzi
Sejenak dia tertegun, Apa-apaan sih Fauzi ini? Kenapa to the point amat tentang perasannya padaku? Apa dia cuma bercanda? Tapi…kalau dipikir-pikir…sebenarnya aku juga seperti itu, hehe… Fauzi, aku pun mau jujur pada diri sendiri, bahwa aku juga sama, selalu khawatir bila kamu offline berhari-hari, hatiku sering mengalami rindu berat. Tapi…ups, sorry aja ya bila harus to the point gitu bilang secara langsung padamu. Perempuan itu tak boleh blak-blakan, harus lantip kata orang Sunda. Orang bijak bilang, bila perempuan cantik telanjang, hilanglah kecantikannya. Aku sih memang bukan perempuan cantik, tapi aku pun nggak mau telanjang, katanya masih dalam hati.
Dia mencoba me-reply e-mail itu. Jari-jarinya menari-nari di atas keyboard, bibirnya tersenyum, membayangkan wajah Fauzi yang kegirangan saat menerima balasan e-mailnya nanti. Membayangkan wajah yang diciptakannya sendiri, karena sahabatnya yang nun jauh di sana itu tak pernah menampakkan muka, dalam bentuk foto sekali pun.
Dear fauzi di Aussi yang lagi mengigil.
Aku senang menerima e-mailmu. Tapi aku nggak bisa jujur padamu. Tentang semua yang tersimpan dalam hatiku, adalah secret! Apa perlunya kamu tau. Kecuali bila kamu sudi memperlihatkan wajahmu yang handsome itu. Selama kamu bersembunyi, selama itu pula aku akan bungkam tentang kata hatiku.
Miss U too
Female.
Lalu dia cepat-cepat meng-klik tombol send di e-mailnya, dalam hitungan detik emailnya sudah terkirim. Untuk hari ini dia merasa sudah cukup surfing-nya, sekujur tubuhnya terasa lelah, seharian membimbing murid-murid membuat power point. Badannya butuh dopping dan istirahat. Sudah terbayang di kelopak matanya sofa yang lembut dan secangkir kopi panas yang pasti sudah disediakan pembantunya sedang menunggu di rumahnya. Di jalan raya yang sudah mulai sepi, dia memacu Chevrolet-nya dengan kencang.
***
Akhir-akhir ini seperti ada cairan semangat mengalir dalam darahnya. Entah dari mana sumbernya, dia sendiri tak tahu. Yang jelas, belakangan ini dia merasa bergairah dalam bekerja, optimis dalam memandang hari esok. Rasa jenuh karena dua tahun lamanya hidup menyendiri perlahan mulai berkurang, digantikan oleh rasa senang, lebih tepatnya bahagia, karena setiap hari bertemu dengan orang-orang yang menurutnya menyenangkan.
Seperti hari ini. Di tengah suara gaduh anak-anak di lab komputer, dia tatap wajah muridnya satu persatu. Mereka adalah mahluk-mahluk yang membuatku seakan-akan orang yang paling dibutuhkan di dunia ini, pikirnya. Di ruangan ini seolah-olah dialah primadonanya, para siswa baik laki-laki maupun perempuan, selalu ingin dia dampingi apabila mereka menemukan masalah dengan komputernya. Terkadang dia kewalahan menghadapi pertanyaan dan permintaan mereka. Dia tatap wajah cantik Septi, siswa kelas 3 A ini sedang tekun mengamati layar monitor. Dia menyukai anak itu, karena selain cantik dan berkerudung, pandai pula. Seandainya pernikahannya dulu sempat dianugrahi anak, mungkin sudah sebesar anak-anak ini. Dia tatap pula wajah Radinal yang sedang asyik mengetik. Andai dulu dia sempat melahirkan, dan anaknya itu laki-laki, mungkin seperti Radinal lah wajahnya, tampan, pintar, dan kalem.
“Bu, kenapa ya krusornya menghilang?” Seorang murid membuyarkan lamunannya.
“Mana?” Dia bangkit dari kursi. “Oh, itu komputernya hang, tunggu saja sampai normal kembali. Lho, kok kamu malah chatting, mana tugasnya?” Kata dia dengan nada kesal.
“Belum, Bu. Komputernya keburu hang!” Anak itu berdalih.
“Coba semua dengarkan dulu!” Dia bertepuk tangan beberapa kali, berusaha menghentikan suara ribut para siswa yang kebingungan dengan tugasnya. Waktu matanya melirik ke sudut ruangan, terlihat dua anak sedang cakar-cakaran.
“Hei, Doni, Arif di mana-mana selalu bercanda! Sudah selesai belum membuat e-mailnya?”
“Ini Bu Si Arif, menggangu terus!” Anak yang dipanggil Doni membela diri.
“Pekerjaanmu sudah selesai, Arif?”
“Belum, Bu. Gagal terus registrasinya.”
“Makanya harus konsentrasi dulu pada tugas-tugasmu. Sekarang bukan saatnya untuk main-main. Cepat. Waktunya tinggal 20 menit lagi!
“Buuu….Si Rian mah malah main game! Teriak seorang anak lagi. Ditimpali oleh teriakan anak-anak yang lain yang mengolok-ngolok murid bernama Rian itu.
“Perhatikan sekali lagi, dilarang chatting dan main game, ini lab untuk belajar, bukan warnet! Hari ini kalian wajib punya e-mail. Bagi yang belum berhasil registrasi e-mailnya, terpaksa tidak dipekenankan pulang!”
“Yaaaa……!”Terdengar suara koor anak-anak.
“Laporkan address e-mail masing-masing pada Ibu. Ayo sini, siapa yang sudah sukses registrasinya?” Dia duduk kembali di kursinya. Beberapa siswa perempuan menghampirinya. Dia mulai mencatat address-address e-mail yang baru, untuk kemudian mengecek hasil pekerjaan siswa-siswanya itu. Yang paling membahagiakan hatinya adalah bila pekerjaan para siswanya memuaskan.
Dengan ancaman tidak diperbolehkan pulang sebelum pekerjaannya selesai, murid-murid jadi lebih konsentrasi. Akhirnya satu persatu maju melaporkan e-mailnya masing-masing untuk dicatat pada buku catatan khusus miliknya. Menghadapi murid-murid yang sedang masa-masanya berkembang baik fisik maupun mentalnya, memang perlu trik dan metode yang tepat. Serta tidak emosional tentunya. Dan sudah pasti semua usaha ke arah itu sangat melelahkan.
Hari ini programnya di kelas 3 A selesai. Setelah ditertibkan lebih dahulu oleh KM-nya, para siswa berdoa bersama, lalu mengucapkan salam padanya, dan bubar.
Dia membereskan kembali kursi-kursi yang tak beraturan letaknya, kemudian mematikan semua komputer yang ada. Harusnya komputer-komputer itu di-refresh dulu, tapi dia merasa malas. Besok saja oleh Pak Soni guru IT kelas dua. Dia ingin cepat-cepat surfing ke dunia maya seperti biasa. Ada satu puisi yang mau diposting pada blognya. Puisi yang tidak lain adalah suara batinnya sendiri. Ketika blognya sudah tampil di layar monitor, dia lanjutkan dengan membuka file yang ada di dalam flashdisk untuk di-copy paste ke dalam blog.
Dia tidak pernah merasa tua untuk bloging, juga tidak pernah merasa tua untuk menulis puisi-puisi cinta. Hari ini dia berniat posting sebuah puisi. Sebuah puisi untuk seseorang, seseorang yang secara sadar atau tidak mulai sering menggoreskan kesan dalam benaknya, setiap hari. Puisi ini juga satu ungkapan perasaan yang ditujukan pada seseorang itu yang makin hari makin membuatnya penasaran karena keakraban dan kehangatan obrolannya, sedangkan wajah identitas diri orang itu tetap saja gelap.
Goresan tanganku untuk engkau yang selalu ngajak main petak umpet!
Setia Menanti
Bulanku bulan pemalu
bertirai awan
bertopeng mendung
beselimut kabut dan embun yang tebal
walau malam sejuk tentram
Sedang di pelataran taman
sekuntum melati sabar menanti
menunggu bulanku tak malu lagi
menyebarkan cahaya kehangatan
memacu detak jantung-jantung rindu
menggetarkan sendi-sendi kasih
Aku setia,
menunggu keberanianmu
menyapa bumi
memandang taman
menatap mesra setangkai kembang
yang telah lama mendambamu karena disia-siakan seekor kumbang
Karena akses internet sedang bagus-bagusnya, dengan cepat puisinya sudah tampil diblog yang berlatar coklat. Tak lupa dia membuat ilustrasi di atas puisi itu dengan meng-upload gambar yang diambil dari komputernya, gambar setangkai bunga melati. “Selamat membaca wahai orang misterius,” Kalimat yang keluar dari bibirnya itu dia tujukan pada Fauzi, yang dalam puisinya dia sebut sebagai “bulanku bulan pemalu”.

Dia masih enggan membuka folder YM-nya. Saat ini dia hanya ingin membaca tulisan-tulisan karya blogger lain di weblog, sebagai bahan perbandingan untuk blog kepunyaannya. Bila sambil chatting, pikirannya sukar untuk berkonsentrasi penuh. Apalagi jika teman chat-nya itu Fauzi! Oh ya, hari ini dia juga berniat membuka blog Fauzi yang address-nya tercantum di link blog miliknya. Dengan dua kali klik, blog Fauzi sudah tampil di hadapannya.
Setiap membaca blog pria misterius itu, dia seolah-olah sedang membaca buku harian seorang pria kesepian. Tulisan-tulisan yang di-posting pada blog itu rata-rata bernada sendu. Hei, ada puisi baru juga, tentang apa? Lalu dia baca puisi itu larik demi larik.
Kemarau
Padang ilalangku kering kerontang
masih seperti itu
dulu, kemarin, dan hari ini
rumput-rumput pirang
tanah retak kekeringan
dengan harap-harap cemas
menunggu dan menunggu datangnya peri itu
dari negeri antah berantah
yang berkenan merubah
tanahku tak kering lagi
ilalang tak pirang lagi
Buat siapa ya puisi ini? Siapa peri yang ditunggu-tunggu dengan cemasnya dalam puisi tadi? Dan di mana negeri antah berantah itu? Puisi adalah puisi, tidak bisa ditafsirkan begitu saja, sebab karya sastra itu multitafsir. Semuanya bisa berupa ungkapan perasaan penulisnya, bisa juga menggambarkan suasana hati orang lain yang ditulis melalui tangan penyair itu.
Diam-diam hatinya tergelitik ingin tertawa. Jika dipikir-pikir, kelakuan mereka berdua tak ubahnya sepasang remaja yang baru mengenal apa yang dinamakan “asmara.” Blog dia dan blog lelaki itu berisi tulisan-tulisan yang temanya dominan tentang cinta. Seperti itukah setiap blogger yang sedang jatuh cinta? Rasanya manusiawi pula bila memang mereka seperti itu, karena asmara dan rasa cinta itu bersifat universal, milik siapa saja, dari etnis apa pun, dan tanpa batasan usia. Mereka berdua pun masih berhak merasakannya, di usia yang tak muda lagi, dengan umur mulai menapaki hitungan kepala empat. Malah di usia tersebut lah dia merasakan kematangan dalam me-manage semua perasaannya itu.
Tiba-tiba di dadanya timbul lagi rasa itu, rasa yang selalu muncul bila dia sedang menyendiri, rasa yang lebih tepatnya bernama “rindu”. Dia klik ikon YM, bulatan kuning menyala menggambarkan wajah manusia yang lucu itu meloncat-loncat dengan mata terbuka dan mulut tersenyum lebar, seperti sedang menertawakan dirinya yang tengah gundah gulana, kangen pada seseorang yang bermukim di sebuah kota yang bernama Sydney.
Terbukalah folder YM-nya, folder yang dia anggap jendela, jendela untuk bisa berinteraksi dengan sesama dalam bentuk aksara. Tapi kali ini id-nya sengaja dibuat invisible, agar teman-teman yang sedang online tidak mengetahui bahwa sebenarnya dia available. Sebab kali ini, dia hanya ingin menemui satu orang saja, agar lebih berkonsentrasi ngobrolnya. Kebetulan id orang yang dituju sedang menyala. Lalu dia memberanikan diri menyapanya lebih dulu.
“Assalamualaikum,” seperti biasa hatinya mendadak berdebar-debar.
Kemudian terlihat di bawah folder PM (Privacy Message) itu kalimat: Fauzi2003 is typing message.
“Waalaikumsalam”, pesan balasan itu disertai ikon yang gerakan kedua tangannya seperti gerakan memeluk.
Dia balas dengan ikon itu juga. Pada waktu bersamaan, dalam imajinasinya pun terbayang, bahwa pada detik-detik ini mereka berdua tengah berpelukan di…alam maya.
“Apa kabar, Uzi?” Uzi adalah panggilan sayang dia pada pria itu, sejak hatinya terasa jadi lebih dekat dengan sosok keseluruhan pria ini, meskipun wajah si pria tetap bertopeng hitam pekat.
“Seperti kemarin, baik-baik saja, tapi masih tetap sendirian. Dan kamu Nice gimana kabarnya?” Nice, juga panggilan sayang si pria untuk dirinya, setelah si pria merasa yakin bahwa profil si wanita beserta kepribadiannya secara utuh adalah seleranya.
“Masih seperti kemarin, sendirian juga.”
“Sudah makan siang?” Tanya laki-laki itu.
“Sudah, Uzi juga sudah makan?”
“Ah, Si Neng mah hobby-nya teh ngopas omongan orang aja.”
Setiap orang yang baru mengenal chatter pria ini akan terheran-heran dan bertanya-tanya, masa seorang warga negara Australia bicaranya berlogat Sunda? Ada kata “mah” dan “teh”-nya segala. Si pria memang orang Sunda, lahir di Priangan sekian puluh tahun yang lalu, hijrah ke negeri kangguru karena suatu hal yang hanya dia sendiri yang tahu. Jadi dia bukan bule beneran, tapi bule bohong-bohongan.
“Jangan ngopy paste atuh, pengulangan kalimat itu bikin orang bosan!” Kata pria itu lagi.
“Kan biar praktis, nggak usah cape-cape mikir, heheh…”
“Tahu nggak Nice, hari ini kamu terlihat lebih cantik,” pria itu mengalihkan topik pembicaraan, entah dalam rangka menyanjung, entah berniat merayu, atau mungkin sekedar ingin menghibur.
“Mmm…sok tau ah! Sekarang aku kan nggak pake webcam, nggak pasang pic lagi,” balasnya.
“Eh, tapi tebakannya kok bisa tepat ya, tahu dari mana hari ini aku semakin cantik?” dia mencoba bergurau juga.
“Lho, belum tahu ya, aku punya mata batin, yang bisa melihat lebih tajam dari mata yang sebenarnya.” Pria itu mulai menggodanya.
“Terima kasih kalau begitu. Uzi juga terlihat keren hari ini!”
“Nice juga sok tahu ternyata.” Bantah si pria.
“Emang Uzi aja yang punya mata batin?” Dia berusaha membalas canda laki-laki itu.
“Salah kalau Nice bilang aku keren hari ini.”
“Kenapa salah?” Tanyanya.
“Orang aku cuma pake kaos oblong yang kumal dan kain sarung sekarang, mana belum mandi lagi, hahahah….., mata batin Nice lagi merem ya…hehehe…”
Ah biasa, Uzi selalu begitu, tidak mau kalah, pikirnya. Lalu dia ngetik lagi.
“Iya, dalam keaadaan begitu saja sudah terlihat keren, apalagi bila sedang memakai stelan jas dan dasinya, alamak….mana tahan…!” Pujinya.
“Ah, nggak mungkin lah aku pake baju seperti itu, aku kan bukan politikus, tapi kadang-kadang suka juga sih ngejar-ngejar tikus.”
Dia diam. Kalau diladeni terus, canda pria itu suka tambah ngelantur plus menjengkelkan.
“Kenapa diam? Bingung dengan kegantenganku ya Neng?”
“Lagi sedih, ternyata pacarku ini cuma seorang tukang berburu tikus!”
“Gak masalah, yang penting setia kan?” laki-laki itu melemparkan ikon yang matanya berkedip-kedip kegenitan.
“Mana ada lelaki setia di dunia ini? I don’t believe it!” Giliran dia melempar ikon, ikon yang sedang menjulurkan lidah, yang artinya mengejek.
“Jadi Si Neng ini meragukan aku? Suatu saat akan kubuktikan kesetiaanku padamu!”
“Cara pembuktiannya?” Sebenarnya dia cuma asal tanya, tidak serius menanggapi. Dia sudah terlanjur tak percaya pada kaum bapaknya.
“Aku ingin bikin surprise, special for you, sebagai bukti bahwa aku pria setia dan pria sejati.” Jawaban pria itu masih samar, dia tak mengerti.
“Surprise apaan?”
“Namanya juga surprise. Kalau dibilangin dari sekarang bukan kejutan lagi atuh namanya.” Jawab lelaki itu.
“Pokoknya tunggu tanggal mainnya!”
“OK, aku tunggu deh surprise-nya!” masih sebuah jawaban asal-asalan.
“Eh, sebenarnya aku masih kangen padamu, sayangku. Tapi sekarang aku harus off. Dengan berat hati aku mau undur diri. Boleh ya Darling…..?” Di sela-sela bercandanya, kadang suka keluar juga romantisnya pria ini.
“Kok gitu sih, tega ya sama aku!” Lalu dia memilih ikon yang lagi menangis menjerit-jerit.
“Please, don’t cry Honey, don’t be sad today!” Pria itu kembali memberi ikon yang gerakan kedua tangannya seperti gerakan memeluk.
“Hari ini ada kegiatan di Islamic Centre. Sorry, aku nggak bisa lama. Besok-besok kan kita bisa chat lagi ya Sayang?”
“Iya deh, aku rela melepas kepergianmu. Jaga diri baik-baik. Dan jangan lupa ya oleh-olehnya!” Aneh, kali ini hatinya benar-benar sedih, seperti seorang kekasih yang akan ditinggal jauh oleh pasangannya di dunia nyata.
“Iya, Sayang.” Tak lama kemudian Ikon YM yang berlambang “love” berhamburan di PM-nya.
“Kalau aku sudah off, Nice boleh chatting sama yang lain ya, biar nggak kesepian, gitu…” Itulah Fauzi, dia selalu berusaha membuat hatinya senang, tak pernah melarangnya chatting dengan orang-orang.
“Nggak ah, aku juga mau off. Persiapan buat chatting sama Uzi lagi besok,” jawabnya.
“Kok pake persiapan segala, kaya chatting sama orang penting aja.”
“Buat aku, Uzi adalah orang penting.” Kali ini dia berani berterus terang, karena sudah tak tahan, dadanya telah penuh sesak oleh luapan perasan rindu pada seorang bule bohongan itu, dan akhirnya meluber juga kerinduan itu dalam bentuk keterusterangan. Keterusterangan yang masih dalam batas sopan tentang gejolak hatinya. Tapi juga bukan pengakuan yang terlalu terbuka ibarat wanita yang berbusana seronok. Di cyber, dia ingin bersikap normal, apa adanya, atau bahkan bilang to the point bahwa dia masih membutuhkan teman sharing, teman yang lebih dari sekedar teman. Ya…seperti fauzi itu, yang selalu memberi perhatian lebih padanya, yang selalu bersikap hangat, yang tak lupa memberinya kata-kata mesra, yang selalu membuat hatinya gembira, dan semacamnya.
“Ya udah, aku off dulu ya Sayang. CU….”
Sebelum dia membalas message itu, pria di seberang sana sudah lebih dulu off. Dia pun ikut-ikutan sign out. Hari menjelang sore. Dia harus tiba di rumah sebelum magrib.
Ternyata ibunya sudah menunggu di rumahnya. Pembantunya bilang ibunya sudah tiba di rumahnya sejak tadi siang. Ada rasa sesal, kenapa dia tidak diberi tahu dari awal tentang kedatangan tamu istimewanya ini. Pasti tadi dia tak akan berlama-lama di sekolah.
Kira-kira setengah tahun dia tak bertemu ibunya. Jarak Bandung-Jakarta memang tak begitu jauh, tapi kesibukanlah yang membuat jarak mereka seolah-olah sangat jauh. Ibunya adalah pengurus salah satu panti jompo di bilangan Kemayoran Jakarta. Untuk urusan yang tidak terlalu penting, ibunya tak pernah sengaja datang ke Bandung. Dia yang biasanya datang ke Jakarta saat libur panjang. Oleh karenanya dia merasa heran, kali ini Si Mama ada urusan apa gerangan? Yang membuatnya lebih heran lagi, ibunya tidak memberi kabar terlebih dahulu tentang kunjungannya ini, melalui SMS sekali pun. Seperti orang jaman dulu saja, di mana alat komunikasinya hanya berupa surat yang dititipkan melalui jasa pos yang penyampaiannya perlu waktu berhari-hari.
“Mamaaahhh….kok nggak ngasih kabar mau datang?” Dari garasi di samping rumahnya dia sudah berteriak, protes pada perempuan paruh baya yang sedang menunggunya sejak tadi siang itu.
“Takut mengganggu. Nanti pekerjaanmu nggak kelar-kelar,” kata ibunya setelah berhadapan dengan putri semata wayangnya itu.
“Minimal kasih tahu pake SMS, kek. Atau nyuruh Si Juju telepon ke sekolah!” Dia masih bernada protes.
“Sudah lah, Mama nggak mau bikin repot kamu.” Lalu ibunya melepas rasa kangen dengan mendekap buah hatinya erat-erat.
“Sudah makan? Instirahatnya sudah cukup? Pakai travel ya tadi?” Tanyanya sambil duduk di pinggir ibunya.
“Makan…sudah, istirahat…sudah, nyampe di rumah ini berkat jasa travel…terus mau tanya apa lagi?” Kata ibunya sambil tertawa.
“Nanya kok borongan gitu!”
Dia cuma tersenyum. Habis, hatinya sudah tak sabar, ingin mengetahui tujuan yang sebenarnya dari kunjungan ibunya ke Bandung ini.
Setiap dia berada di sisi ibunya, setiap itu pula hatinya merasa tentram. Seakan-akan dia kembali menjadi anak kecil yang ketika tidur harus dikelonin, ketika tiba waktunya makan harus disuapi. Tiba-tiba dirinya merasa sedang berada kembali di dunia anak-anak, di masa-masa di mana dia bebas bermain dan bertindak, terlepas dari persoalan orang dewasa yang rumit dan berat.
Obrolan akrab antara ibu dan anak berlanjut hingga ke tempat tidur, sambil bernostalgia mengenang hari-hari yang membahagiakan yang pernah dilaluinya berdua, dan berusaha melupakan hari-hari yang berisi pahit getirnya kehidupan yang pernah dijalaninya bersama-sama juga.
“Apa obsesi kamu yang sampai saat ini merasa belum tercapai?” Pertanyaan ibunya yang satu ini membuatnya heran. Selama ini ibunya lah yang selalu menganjurkan untuk belajar menerima apa adanya dalam segala hal, baik itu nasib, rejeki, dan keaadaanya yang seperti ini. Dan sekarang ibunya bertanya tentang obsesi? Obsesi pada hal apa?
“Nggak ada, Ma. Aku sudah merasa cukup senang dengan apa yang ada!” Jawabnya.
“Apa tidak ingin seperti orang lain?”
“Maksud Mama?” Dia menatap ibunya lekat-lekat, ingin segera tahu, rahasia apa yang ada di balik pertanyaan ibunya itu. Feelingnya menangkap isyarat, bahwa ada sesuatu yang sedang dipendam di hati ibunya. Dia bangkit dari posisi badannya yang tidur terlentang. Lalu duduk bersila sambil memeluk guling menghadap ibunya yang masih terlentang menatap langit-langit kamar yang putih bersih.
“Kamu nggak bisa terus menerus hidup sendiri seperti ini. Wanita harus punya pendamping, untuk kemudian mendapat keturunan. Lalu hidup berbahagia besama keluarga, baik keluarga kecil maupun keluarga besar, yaitu keluarga yang terdiri dari saudara-saudara dari pihak ibumu dan suamimu. Bicara masalah anak, meskipun terbilang beresiko tinggi untuk melahirkan pada usiamu sekarang ini, tapi banyak yang mampu dan masih bisa mendapat keturunan. Makanya harus secepatnya berumah tangga lagi. Jangan cepat berputus asa. Kita hanya wajib berusaha, tercapai tidaknya semua keinginan kita adalah urusan Yang Maha Kuasa. Tolong, jangan sia-siakan hidupmu ini, Nak!” Giliran ibunya yang menatap wajahnya lekat-lekat.
Sejenak dia terdiam. Dia merasa tak yakin pada ucapan ibunya. Bahkan dia meragukan daya simak telinganya sendiri. Jangan-jangan telinganya sudah berkurang kepekaannya sehingga terdapat kesalahan dalam menyimak. Lalu bila ternyata kupingnya tak salah dengar, sejak kapan ibunya mempunyai gagasan seperti ini? Kemarin-kemarin beliau tenang-tenang saja tak pernah usul yang aneh-aneh. Kenapa tiba-tiba malam ini menyuruhnya merubah gaya hidup menyendiri yang sudah lumayan lama ia jalani.
Ibunya berkata lagi, “Sebenarnya masalah pendamping nggak usah susah-susah dicari, tinggal kamu bilang mau, besok pun dia bisa datang jika diundang ke sini. Orang nya baik, supel, intelek, pekerja yang ulet, dan lumayan ganteng.”
Omongan ibunya yang ini juga tak kalah mengagetkannya. Semudah itukah ibunya ingin merubah hidup dirinya? Dan begitu beraninya menawarkan seorang calon pendamping yang belum tentu cocok dengan seleranya? Masalah si cowok yang katanya baik, supel, intelek, pekerja yang ulet, dan lumayan ganteng, itu masalah selera ibunya. Rasanya dia tidak pernah dan tak ingin berpikir tentang semua karakter laki-laki yang hidup di dunia nyata. Dia merasa tak berkepentingan dengan semua itu.
Ada apa dengan ibunya? Ada motif apa dibalik semua usul ibunya yang terasa mendadak ini? Tak merasa khawatirkah anaknya kelak disia-siakan untuk kedua kalinya oleh menantunya, seperti bapaknya dulu yang mengecewakan dua orang wanita sekaligus, menyia-nyiakan dia dan ibunya? Tak takutkah pengalaman buruk beliau berulang menimpa anaknya?
Melihat dia diam seribu bahasa, ibunya berkata lagi. “Kalau memang kamu merasa malu untuk menjawab setuju, lalu menyerahkan semuanya pada Mama, pasti urusannya akan beres. Calonmu itu sudah lama lho menunggu saat yang tepat untuk berkenalan denganmu. Mama juga sudah kepingin banget gendong cucu, cucu yang cantik kaya Mamanya.”
Ketika dia berusaha untuk menjelaskan terlebih dahulu keaadaan hatinya pada saat ini yang masih jauh untuk diajak ke arah itu, ibunya sudah menyela lagi, “Ingat Nak, Mama, juga kamu itu perempuan, mahluk lemah, suatu saat butuh bantuan pria sebagai penanggung jawab kehidupan kita. Mama sudah bosan hidup seperti ini, melakukan apa-apa sendirian, capek, lelah!”


Di hadapan Mama tersayang dia selalu ingin tersenyum, apa pun suasana hatinya pada saat ini. Dia membuang jauh-jauh semua rasa yang bisa merusak kemesraan dia dan ibunya malam ini. Dia berusaha tenang dan bijak menyikapi semuanya. Padahal di lubuk hatinya, di lubuk hatinya yang paling dalam, dia benar-benar kecewa dengan gagasan ibunya yang terkesan memaksakan kehendak itu.
“Ya nantilah, Anis pikir-pikir dulu.” Dia kembali tidur terlentang, masih memeluk guling kesayangan.
“Sampai kapan pikir-pikirnya? Sekarang sudah saatnya bertindak, sudah lewat waktu untuk pikir-pikir!” Desak ibunya.
“Ya harus dipikir dulu Mama, ini masalah hidup, bukan perkara gampang!” Akhirnya terungkap juga kekesalan hatinya.
“Mikirnya kamu itu suka kelamaan!” Bentak ibunya.
Akhirnya di hadapan ibunya dia cemberut juga.
“Sekarang begini, usahakan kamu bisa bertemu dulu dengan calonmu. Mama yakin, setelah kalian ketemu, ke sananya akan lancar-lancar saja.”
Dia terdiam, tak berniat sama sekali meneruskan acara bincang-bincangnya itu. Malam ini dia benar-benar merasa kehilangan kebebasan dalam menentukan pilihan hidup. Ibarat seekor burung dara yang sedang terbang lepas, tiba-tiba dipanggil tuannya untuk masuk kembali ke dalam sangkar.
Tapi dia sudah bisa menebak apa akibatnya jika menolak keinginan ibunya. Sesungguhnya, dia tak mau membuat orang yang paling istimewa dalam hatinya ini kecewa, sedih, dan marah padanya.
“Masalah ini kita tunda dulu, Anis sudah ngantuk banget nih Ma, besok kita lanjutkan lagi rapat pentingnya ya!” Suasana sedikit tegang, dia ingin mencairkannya dengan mencoba bercanda.
“Tapi awas, jangan memperumit masalah dengan banyak mikir, ntar rambut kamu rontok semua!”
“Ah, rontok juga nggak masalah, kan sekarang mah ada wig!” Katanya sambil cepat-cepat bersembunyi di balik selimut tebalnya, ingin segera mengakhiri percakapan yang menyebalkan ini. Seterusnya ibunya entah berbicara tentang apa lagi, sebab imajinasinya saat ini sedang melayang ke negeri seberang, “Ngomong-ngomong, lagi ngapain ya Fauzi? Sekarang waktu di Aussi kan sudah menjelang dini hari. Apa dia masih asyik bermimpi tentang aku? Atau malah pria itu sudah bangun dan sedang menyiapkan segala keperluan buat aktifitas rutinnya? Sayang sekali dia tidak bisa berkomunikasi langsung selain lewat YM. Laki-laki itu pantang mempublikasikan nomor telepon, alamat jelas rumahnya, apalagi wajah berikut suaranya. Seperti buronan saja!”
Pagi hari yang di nantikannya tiba juga. Dia bersemangat untuk mulai menjalani hari ini dengan setumpuk rencana. Rencana pertama, menghindar beberapa saat dari ibunya yang pasti akan bertanya lagi mengenai kesediaannya dipertemukan dengan seseorang. Kedua, mengulur-ngulur waktu untuk memberi jawaban sambil memikirkan jawaban yang tepat bila nanti ibunya bertanya lagi tentang sikapnya dalam menghadapi “calonnya” itu. Ketiga adalah rencana yang berkaitan dengan pekerjaannya. Untuk menyiasati jadwal mengajar yang padat agar tidak cepat penat, dia memilih metode resitasi untuk programnya hari ini. Kebetulan minggu kemarin kelas 9 B, C, dan G sudah diberi materi tentang adobe photo shop. Minggu ini tinggal mengetes para siswa melalui penugasan. Tentu saja dengan bimbingannya. Dia berusaha untuk tidak meninggalkan kelas tanpa alasan yang jelas.
Siangnya mau browsing. Dirinya selalu haus akan hal-hal baru yang berkaitan dengan profesinya. Menurutnya, guru jaman sekarang jangan kalah kreatif dan kalah inovatif oleh murid-muridnya. Jika seorang guru cuma bisa berteori dan cukup berpuas diri dengan ilmu yang dia dapatkan dulu di bangku kuliah, akan terlangkahi beberapa tahap oleh murid yang pandai dan bergairah dalam belajar. Apalagi anak-anak masa kini besar sekali rasa ingin tahunya. Dan itu modal dasar mereka dan salah satu faktor yang memudahkan para guru dalam merangsang minat dan kemampuan mereka pada salah satu bidang keilmuan. Sebagai contoh, di bidang IT, tak jarang mereka sudah lebih dulu mengetahui website tertentu dengan mencari informasi sendiri, baik melalui surfing maupun chatting dengan sesama remaja di internet. Coba tanya remaja-remaja pengguna aktif internet tentang Friendster, mereka akan menjelaskan website itu berikut seluk beluk yang ada di dalamnya dengan sangat fasih. Padahal dia sebagai guru belum pernah memperkenalkan website itu pada para siswanya. Di sisi lain fenomena ini sangat membantu para guru dalam mentransfer ilmu pada para siswa, di sisi lainnya lagi, bila kepribadian para siswa rapuh dan lalai, dampak negatif internet akan segera menyergap mereka. Berlimpahnya situs porno serta tindakan kriminal di cyber (cyber crime) adalah hal yang sewaktu-waktu akan menjadikan mereka sebagai korbannya. Barangkali tindakan preventif-nya ada pada orang tua dan guru yang harus memberikan semacam pembekalan kepada mereka, dengan memberikan rambu-rambu yang harus ditaati, serta berwanti-wanti agar mereka bersikap ekstra hati-hati.
Untuk dirinya pribadi pun internet telah memberikan banyak keuntungan plus kerugiannya sekaligus. Kerugian? Betul. Semenjak dia asyik dengan dunia cyber, dia merasa terisolir dari lingkungan sosialnya. Setiap hari dia lebih banyak berkutat di depan komputer, jarang berbaur dengan sahabat-sahabat maupun teman-teman seprofesi. Sehingga banyak sahabatnya yang sesekali mengajukan protes dan mencap dia sebagai orang yang sombong akhir-akhir ini. Dan kehilangan beberapa sahabat buat dia adalah sebuah kerugian. Tapi sampai saat ini dia belum menemukan satu solusi pun tentang bagaimana caranya keluar dari masalah tersebut, bagaimana caranya dia bisa hidup dengan damai dan adil pada sahabatnya di dua alam, alam nyata dan alam maya. Kadang-kadang dia berpikir, jika seperti itu masalahnya, berarti dia harus berguru pada hewan amphibi seperti katak dan sejenisnya. Kok bisa ya hewan-hewan itu hidup di dua alam tanpa ada yang protes? Atau siapa tahu kepada hewan-hewan itu pun banyak binatang lain yang menyebutnya sombong? Tapi…untuk sementara, biarlah dia dianggap sombong oleh teman-teman di dunia nyata, yang penting kegiatannya ini tidak pernah merugikan orang lain, pikirnya.
Dan kali ini dia kembali membuka jendela dunia mayanya, ingin segera menemui seseorang yang akhir-akhir ini sudah memproklamirkan diri menjadi…pacarnya. Ada beberapa message offline di PM-nya. Tak salah lagi semua pesan itu pasti dari si pria pemalu. Isi pesannya melulu tentang kerinduan pria itu padanya. Apakah semua ungkapan perasaan itu benar adanya? Keluar dari hati sanubarinya yang paling dalam? Dia tak peduli, apakah kata-kata itu kata-kata yang sesuai fakta atau hanya gombal belaka, rasanya tak perlu pembuktian.
Berdasarkan pengalamannya, sahabat-sahabat pria yang pernah singgah di hati dan menghiasi hari-harinya dengan bunga-bunga cinta datang dan pergi silih berganti. Ada yang sebelum pergi sempat pamit dulu, ada yang menghilang begitu saja. Sudah lumrah. Terlalu biasa. Barangkali si pria ini pun akan seperti itu, satu hari dengan tak disangka datang padanya dengan cinta, dan suatu saat, entah kapan, akan lenyap juga tanpa berita. Dan dia tak berhak menyalahkan siapa-siapa, karena semua itu terjadi bukan di alam fisik, tapi di alam imajinasi yang tak jelas batas-batas wilayahnya, atau memang sesungguhnya alam tersebut tanpa batas.
“Hi, Honey, kenapa baru online? Banyak kerjaan?” Sapa pria itu.
“ Iya lah, aku kan mesti kerja dulu. Kalau chatting terus, nanti aku dibilang makan gaji buta.”
“Jadi sekarang Nice capek ya?”
“lumayan, sampe pegel-pegel nih badanku.”
“Sini, aku pijitin bagian yang pegelnya.”
“Nggak mau, ah!”
“Kenapa?”
“Mana terasa kalo mijitnya cuma pake ikon doang?”
“Ye…kan yang dipijitnya juga cuma ikon, ya sama-sama nggak enaknya atuh,” Kata si pria tak mau kalah.
“BTW, Uzi sudah makan siang?”
“Waktu kita kan berbeda Neng. Waktu di tempatku sekarang menjelang sore. Waktu makan siang sudah lama lewat, tapi… perutku masih kekenyangan.”
“Emang makannya sama apa tadi?”
“sama Spinach Canelloni Tomato Coulis.”
“Wah, masakan apaan tuh? Asing banget kedengarannya di telingaku.”
“Sejenis makanan yang bahan dasarnya bayam. Masih ada sisa di piring, kamu mau nyicipin?” Kata laki-laki itu sambil memberi ikon yang lagi nyengir.
“Kalau memang tersedia juga di situ, aku lebih memilih lotek atau karedok aja deh. Ada nggak?”
“Wah kamu mah ngerepotin aku aja. Karedok yang enak kan mesti pake oncom dan kencur. Di Aussi mesti ke mana ya nyari oncomnya?”
“Untuk menjamu tamu istimewa, mesti ketemu dong tuh oncom! Rupanya Uzi pinter masak ya?”
“Sebagai orang yang hidup sebatang kara di negeri orang, aku harus bisa masak. Aku kan nggak bisa mengandalkan kamu yang masih ada di Indo!” Ketikannya diakhiri dengan ikon smile.
“Suatu saat, bila kita ditakdirkan bertemu, aku janji mau masak makanan special untukmu, tahu goreng biar gampang masaknya, mau?” Dia menambahkan ketikannya juga dengan ikon yang lagi nyengir.
“Asal kamu yang menghidangkannya, makanan apa pun akan menjadi hidangan yang istimewa.”
“Halah, gombalnya keluar lagi deh! Eh, boleh nggak aku curhat sama kamu, Uzi?”
“Tentang apa?”
“Tapi bener ya mau dengerin masalah aku ini?”
“Bukan dengerin kali, tapi baca. Kita kan nggak pake voice!”
“OK, gini…aku mau dikenalin dengan seseorang oleh Mamaku. Menurut pendapatmu gimana?” Dia mengetik kalimat itu dengan rasa sedih. Takut perasaan pria itu terluka. Tapi…pada siapa lagi dia harus mengeluh mengenai masalah itu. Dia sudah terbiasa sharing dengan laki-laki ini. Masalah seperti ini terlalu pribadi untuk diekspos kepada teman-temannya di sekolah.
“Orang mana dia?”
“Orang Jakarta.”
“Kalau cuma mau kenal, aku rasa bagus lah. Kita jadi tambah saudara.”
“Kalau ternyata laki-laki itu nantinya berniat lebih serius ingin menjalin hubungan yang lebih dekat lagi denganku, gimana?”
“Bila itu terjadi, tinggal tanya hati kecilmu. Mau nggak menerimanya sebagai orang yang special buatmu.”
Dia merasa kaget dengan jawaban pria itu, dan kemudin…kecewa.
“Kenapa Uzi ngasih advise seperti itui?”
“Lho, memang harusnya gimana? Sekarang kan kamu lagi butuh saran yang baik-baik. Kalau saranku jelek nanti pikiranmu tambah kalut.”
“Kok, Uzi nggak ngelarang sih? Lalu, selama ini kamu menganggap aku sebagai apa? Jadi kata-kata indah yang kamu hambur-hamburkan setiap hari di PM kita itu cuma gombal belaka?” Dia memilih ikon yang lagi nangis menjerit-jerit untuk melengkapi ketikannya. Dia kecewa pada jawaban kekasih cyber-nya. Padahal selama ini dalam hatinya sering muncul rasa jealous bila tahu Fauzi sedang chatting juga sama teman perempuannya yang lain. Makanya, jika dia selalu menolak untuk dikenalkan pada teman-teman wanita Fauzi di YM, bukan apa-apa, semata-mata karena dia cemburu, cemburu pada semuanya.
“Sepertinya kamu nggak cemburu sama sekali pada pilihan mamaku, Uzi?”
“KENAPA TIDAK BILANG DARI KEMARIN-KEMARIN BAHWA KITA CUMA TEMAN, HAH?!”
Wah gawat, Nice benar-benar marah rupanya, dia mengetik kalimat itu dengan huruf kapital semua, seolah-olah dia sedang berteriak membentakku, pikir lelaki itu dengan kagetnya.
“Sebentar, Nice, jangan sewot dulu….aku tak bermaksud…..” laki-laki itu tak bisa meneruskan ketikannya, karena si wanita off dengan tiba-tiba, menutup jendela mayanya rapat-rapat. Signout
Sejenak wanita yang sedang kecewa berat itu seorang diri menatap hampa layar monitor komputernya yang sudah kembali ke tampilan semula. Tapi dalam kesedihannya dia masih sempat berpikir, kenapa dia harus marah pada Fauzi? Bukankah dia sudah biasa dengan datang dan perginya pria-pria cyber? Dia sendiri tak mengerti dengan keadaan hatinya pada saat ini. Kenapa dia jadi serius menanggapi sikap-sikap romantis Fauzi? Kenapa dia tidak rela bila Fauzi tak ada rasa cemburu padanya? Bukankah selama ini dia menganggap bahwa dunia maya adalah kembarannya dunia mimpi, petualangan seindah apa pun di dunia cyber akan segera berakhir jika dia terjaga (sign out). Ternyata yang diselimuti misteri itu bukan cuma pribadi seorang Fauzi, tapi juga pribadinya sendiri. Dengan semuanya ini, dia betul-betul tidak mengerti.
Dengan perasaan yang masih kacau balau, dia mulai browsing, membuka-buka surat kabar online. Pikirannya tetap saja bercabang, tak bisa berkonsentrasi pada satu objek. Dia membayangkan ibunya yang sedang menunggunya di rumah, menunggu kepastian jawaban dari persoalannya tadi malam. Pikirannya loncat lagi pada Fauzi yang mungkin sedang terbengong-bengong di depan komputernya, atau malah bisa jadi sedang asyik berkencan dengan perempuan lain bercanda ria di cyber juga. Meskipun dari awal kenal dengan pria itu dia berusaha untuk menganggap bahwa sosok Fauzi sama dengan bayangan, perlahan tapi pasti, hatinya kena juga, tak bisa menghindar dari lemparan anak panah merah yang dilepas Fauzi dari busurnya. Buktinya, saat ini dia sedang terkapar, menggelepar.
Untuk menenangkan hatinya yang sedang galau, dia berniat menulis surat untuk Fauzi melalui e-mail, ingin meminta nasehat yang benar-benar bisa membuat hatinya tentram. Ketika e-mailnya sudah terbuka, di list paling atas ada email baru dengan subject “Maafkan Aku”. Pengirimnya fauzi2003@yahoo.com.au. Dengan cepat dia buka isinya, siapa tahu tertera kabar yang bisa membuatnya kembali tegar dan segar.
Assalamualaikum, Nice.
Hari ini kamu sensitif amat. Kita kan belum selesai ngobrolnya di YM. Aku ingin obrolan kita berakhir sampai tuntas, tidak menggantung seperti tadi. Bisa nggak kamu bersikap sedikit tenang. Kamu kan sudah dewasa banget, bukan remaja lagi. Malu dong sama murid-murid kamu yang sudah mulai berpikir logis. Dikit-dikit ngambek, dikit-dikit ngambek, gimana bisa selesai persoalannya bila kamu gampang tersinggung?
Aku bukannya tidak cemburu waktu kamu menceritakan semuanya. Tapi aku harus introspeksi sebelum menghadirkan rasa cemburu itu. Apalah artinya aku buatmu, dibanding ibumu dan calonmu itu. Posisi mereka sangat dekat dengan wujudmu. Nah aku? Wajahku saja kamu belum tahu, ya kan? Memang kita sudah sangat dekat, sudah saling memahami karakter masing-masing. Tapi itu saja tidak cukup untuk sebuah hubungan yang serius. Kita dipisahkan oleh jarak yang sangat jauh. Bersentuhan lewat citra saja tidak cukup, Nice. Harus ada tindak lanjutnya, yaitu petemuan fisik. Dan sampai saat ini aku belum siap untuk menampilkan sosokku seutuhnya pada siapa pun, termasuk padamu, orang yang sangat istimewa di hatiku. Demi kebahagiaan belahan jiwaku, aku rela kamu bertemu pria yang benar-benar hadir wujudnya dan nyata, yang selalu bersedia ada disampingmu kapan pun kamu mau.
Tapi bukan berarti aku tidak lagi membutuhkanmu. Kalau mau jujur, sosokmu aku tempatkan pada ruang hati yang khusus sudah sejak lama. Ah, barangkali ungkapan jujurku ini kedengarannya gombal, klise, dan murahan. Andai kamu bisa merasakannya, seperti itulah sesungguhnya aku. Aku terlanjur menyayangimu seperti aku menyayangi diriku sendiri. Aku sendiri tak mengerti dengan semua ini. Aku jadi chatter sudah lama banget, bertahun-tahun, tapi baru kali ini merasakan sebuah perasaan yang sukar diungkapkan dengan kata-kata. Perasaan yang barangkali hanya aku dan kamu yang bisa merasakan kenikmatannya.
Nice, kamu percaya takdir kan? Bila kamu seorang muslim yang baik, pasti optimis bahwa kasih sayang Allah begitu besar pada hamba-Nya, kamu tidak usah ragu pada hidup ini. Bila kita berjodoh, suatu saat kita akan bertemu jiwa dan raga, akan dipertemukan dalam keadaan sehat walafiat, sejauh mana pun jarak yang membentang antara negeriku dan negerimu. Tapi bila Allah berkata lain, kita harus rela dipisahkan selamanya. Dan itu berarti kamu akan dipertemukan dengan seseorang yang terbaik, yang bisa membahagiakanmu dunia dan akhirat.
Sekarang tenangkan dulu pikiranmu. Jangan bertindak dalam keadaan emosi yang tidak stabil. Bila sudah merasa baikan, kabari aku ya, Sayang.
Aku di Aussi, yang selalu sendiri.
Fauzi
Tanpa disadarinya dia sudah berurai air mata. Isi email itu begitu menyayat-nyayat perasaannya. Jadi apa yang harus dia lakukan selanjutnya bila Fauzi bersikap pasrah seperti itu? Apakah dia memilih menyenangkan hati ibunya atau memilih membahagiakan hati kekasih cybernya? Dia biarkan pikirannya tenggelam dalam kebingungan. Barangkali kepada sang waktulah dia berharap jawabannya. Apakah dia bisa sepasrah Fauzi dalam menjalani hidup ini? Sang waktu jualah yang akan memberi kepastian.

Terjadi perubahan besar dalam dirinya, sejak kedatangan ibunya tempo hari. Perlahan dia bersedia memulai melangkahkan kaki menapaki jalan hidup yang selama ini dihindarinya, kehidupan baru dengan kehadiran seseorang. Seseorang yang tak cuma bisa hadir di alam imajinasinya, tidak cuma berwujud siluet yang tampil dalam avatar atau display image di folder PM (Privacy Message-nya), bukan pula seseorang yang sosoknya hanya diwakili oleh ikon dan aksara, tapi orang itu benar-benar nyata, senyata dirinya dan ibunya.
Dia bukan tak berdaya menolak semua obsesi ibunya itu. Dia rela menjalani semuanya semata-mata karena rasa kasih yang besar terhadap ibu yang telah bersusah payah mengandung, melahirkan, dan membesarkannya. Kepada siapa lagi dia harus tunduk dan patuh, selain kepada bunda yang sudah begitu tegar menjadi single parent, hingga dia bisa menjadi wanita yang mandiri seperti sekarang ini. Dia pantang menjadi seorang anak yang membangkang.
Pada hari ini dia harus mau menunggu kedatangan seseorang itu, seseorang yang mungkin selanjutnya akan membuat harinya-harinya tak sepi lagi. Dan hal tersebut menjadi bagian dari tuntutan skenario kehidupan dia selanjutnya.
Hari ini juga dia terpaksa menghapus semua image buruk tentang pria dalam pikirannya. Mulai saat ini dia harus mengakui dan harus percaya, bahwa dari sekian banyak pria yang tak setia di dunia nyata, terdapat juga pria-pria setia. Oleh karena itu dia mulai berani membuka diri, dengan harapan, setiap pengorbanan yang ia lakukan, membuahkan kebahagiaan untuk bundanya seorang.
Ketika lelaki yang dinantikannya itu sudah berada di hadapannya, dia baru tersadar, bahwa momen ini tak setegang yang dibayangkan. Semuanya berjalan dengan santai, tanpa debaran jantung di dadanya, tiada luapan perasaan gembira layaknya bila dia bertemu Fauzi di alam maya. Sungguh sebuah awal pertemuan yang terlalu biasa.
“Seperti sudah kuduga sebelumnya, wanita yang saya kunjungi hari ini semanis namanya!” Kata lelaki itu, setelah keduanya berjabat tangan dan duduk berhadapan, dengan jarak yang cukup dekat, hanya terhalang oleh meja tamu ukuran setengah meter, yang di atasnya sudah tersedia dua gelas softdrink beserta beberapa makanan cemilan.
“Terima kasih. Tapi saya tidak semanis yang anda kira. Biasa saja, alakadarnya, seperti yang anda lihat ini.” Dia menjawab dengan santainya.
“Panggil saya Zul. Nama lengkap saya Dzulfikar Malik. Kalau adik memanggil saya dengan kata ‘anda’, kesannya resmi sekali.“ Kata pria itu sambil tersenyum.
“Oh, begitu ya. Baiklah Bang Zul, selamat datang di rumahku. Saya senang bertemu denganmu.” Dia membalas senyum tamunya itu. Bagaimana pun enggannya dia menghadapinya, tapi menghormati tamu adalah sebuah keharusan. Terbayang pula dalam benaknya, ibunya yang sekarang sudah kembali ke Jakarta, akan tersenyum bahagia bila menyaksikan semua adegan permulaan ini.
“Ibumu memanggilmu dengan nama Anis. Nama lengkapnya?” Rupanya pria itu masih penasaran tentang namanya. Atau barangkali masih dalam rangka “mukadimah”, untuk menghilangkan sedikit nervous.
“Dewi Rengganis.” Jawabnya.
“Sebuah nama yang sangat bagus, seperti tokoh utama dalam cerita wawacan,” tamunya memujinya lagi. Pikirnya, ah, Si Abang ini pandai juga berbasa-basi demi menyenangkan hati tuan rumah.
“Tapi di cyber, saya dipanggil ‘Nice’.” Tiba-tiba dia jadi teringat pada seseorang yang barangkali sekarang sedang sabar menunggunya dan berharap dirinya segera online di Yahoo Messenger.
“Di cyber? Maksudnya?”
“Saya kan guru IT, sambil memanfaatkan sarana dan waktu, saya sering chatting di internet. Nah ada salah seorang teman chatting yang memanggil saya dengan sebuah nama, ‘Nice’.” Dia berkata begitu sambil tertawa kecil, merasa malu, hari gini, di saat umurnya sudah “dewasa banget” kata Fauzi, masih hobby chatting.
“Kalau begitu, saya harus memanggilmu Nice juga?”
“Oh, jangan, itu hanya namaku di cyber. Panggil Anis sajalah seperti teman-teman yang lainnya.” Entah kenapa dia merasa tidak rela bila panggilan sayang Fauzi untuknya ditiru lelaki lain.
“Baiklah. Ibumu tentu sudah banyak bercerita tentang saya kan? Jadi saya tidak perlu memperkenalkan diri secara mendetail. Lambat laun Adik akan lebih banyak tahu tentang pribadi saya dari pada saya sendiri.”
“Boleh saya bertanya, Bang?”
“Silahkan.”
“Sudah lama Bang Zul mengenal ibuku?”
“Kira-kira setahun yang lalu. Waktu itu saya berkunjung ke Panti Wreda tempat ibu Dik Anis bertugas. Lalu…setelah beberapa kali berkunjung dalam rangka kegiatan amal yang diselenggarakan kampus saya, kami sempat berbincang-bincang banyak tentang keluarga masing-masing. Dari situlah saya mengetahui bahwa Ibu Pramanik mempunyai seorang anak yang sangat ia banggakan. Dan Alhamdulillah saya sudah berada di hadapannya sekarang,“ kata si pria sambil menatapnya. Kemudian pria itu mengalihkan pandangannya ke arah lain ketika dia membalas tatapannya.
Sang tamu nampaknya berjuang keras untuk mencairkan suasana dengan mencari-cari tema obrolan yang tepat dan menarik. Sikapnya sedikit tidak tenang, sering merubah posisi duduknya.
Melihat semua ini dia maklum, sebab pertemuan ini direncanakan dan dirancang untuk mencapai satu tujuan, dia dan lelaki itu suatu saat harus menjadi pasangan hidup. Tapi dia sendiri tak terpengaruh oleh rencana atau tujuan itu. Dia menganggap bahwa tamu yang sedang dihadapinya ini bukan siapa-siapa, tak ada istimewanya, anggap saja laki-laki ini teman sejawat, seperti teman-teman prianya di sekolah.
Selanjutnya dia sendiri yang berinisiatif untuk mengubah-ngubah topik pembicaraan, agar ketegangan sang tamu mencair dan akhirnya merasa nyaman. Dari kesimpulannya sementara, lelaki itu baik, low profile, tapi sedikit serius, dan sepertinya tidak suka bercanda. Dia jadi teringat pada teman chatting-nya yang lain, Hassan Ismail dari negeri jiran, Malaysia. Karakter Hassan banyak kemiripannya dengan pria ini.
Performent lelaki yang baru dia kenal ini…baik juga. Busana yang dikenakan sangat pas dengan tubuhnya yang agak tinggi dan sedikit ramping. Kemeja biru muda bermotif kotak-kotak berlengan panjang dengan celana panjang biru tua, membuat matanya terasa sejuk. Rambutnya hitam pekat, sedikit ikal, disisir rapih kearah belakang. Dan satu hal yang membuat dia betah bercakap-cakap dengan tamunya ini adalah kegemaran yang hampir sama dengannya, sama-sama hobby membaca karya sastra, sama-sama pengagum Pramudya Ananta Toer dan Umar Khayam. Malah katanya pria ini seorang kolektor karya-karya Pram. Dengan begitu dia punya teman baru untuk sekedar bertukar pikiran tentang sastra.
Sebuah kesan pertama yang mulus. Tapi dia tak pernah berharap banyak. Tak pernah menginginkan hubungan ini menjadi hubungan serius dan spesial. Seandainya dia bukan figur wanita yang dicari lelaki itu juga tak masalah. Dia hanya ingin menjalani hidup ini seperti yang seharusnya dijalani, dengan tanpa beban.
Untuk pertemuan pertama, mereka menghabiskan waktu di rumah saja, dan tak begitu lama, hanya dua jam. Kedatangan Dzulfikar ke Bandung dalam rangka menghadiri seminar yang diselenggarakan oleh universitas tempatnya bekerja pada siang hari ini di sebuah wisma di daerah Lembang. Dan laki-laki itu menyempatkan diri mampir ke rumah seorang Dewi Rengganis. Katanya malamnya Bang Zul ini akan segera kembali ke Jakarta.
Tugas pertamaku sudah kulaksanakan dengan baik, Mama. Katanya dalam hati.
Sepeninggal tamunya itu, dia bergegas menghampiri mobilnya, untuk kemudian meluncur menuju sebuah warnet yang sudah menjadi langgananya bila dia sedang tak ada jadwal mengajar. Dia sudah tak sabar ingin “bertemu” dengan pujaan hatinya. Entah kenapa, sejak malam tadi hati dan pikirannya tak bisa lepas dari bayangan pria yang pasti sekarang sedang menunggunya di YM.
Kebetulan siang ini tak begitu banyak pengunjung warnet, sehingga suasananya cukup tenang. Dia memilih kursi dan komputer nomer dua, karena sudah hapal betul, komputer itulah yang paling bisa diandalkan, tak pernah menimbulkan masalah selama digunakan. Dari komputer operator terdengar alunan lembut suara Ebiet G. Ade menyanyikan lagu yang liriknya seperti ini,
Mengapa dadaku mesti berguncang
bila kusebutkan namamu…
sedang kau diciptakan
bukanlah untukku
itu pasti
tapi aku tak mau peduli…
sebab cinta bukan mesti bersatu…
biar kucumbui bayangmu…
dan kusandarkan harapanku…
Lagu itu cukup mempengaruhi jiwanya. Suara khas Ebiet yang merdu mendayu-dayu membuat hatinya tak menentu, sendu dan pilu jadi satu.
Baru menyentuh komputer saja dadanya sudah lebih dulu berdebar. Begitu dahsyatkah pengaruh cintanya pada pria yang sampai detik ini belum juga memperlihatkan wajahnya? Dalam hal ini tepat sekali pepatah yang mengatakan, bahwa cinta itu buta. Sedangkan pepatah lain yang mengatakan bahwa cinta berawal dari mata turun ke hati, tidak berlaku untuk kasus dirinya ini. Perasaannya pada pria misterius itu sudah sampai pada level “siapa pun Fauzi, dia tak peduli”.
Pernah suatu hari laki-laki ini menceritakan keadaan dirinya yang sebenarnya. Waktu itu Fauzi memberi tahu bahwa dia punya masalah dengan kaki kirinya. Karena sebuah kecelakaan lalu lintas, tulang tempurung di lutut kirinya diganti dengan metal dan plastik. Mengetahui hal itu, sama sekali hatinya tak berubah, malah kasih sayangnya pada lelaki itu berlipat-lipat. Dan kiranya dia pun tak akan mempermasalahkan, apakah wajah Fauzi itu bulat, oval, kotak, atau berbentuk jajaran genjang. Bahkan andai tak berwujud pun, Fauzi untuknya tetap sangat berarti.
Dalam waktu singkat jendela mayanya sudah terbuka lebar. Seperti biasa PM-nya penuh dengan message offline dari seseorang. Seseorang yang tak kenal lelah merindukannya siang dan malam.
“Uzi sayang… apa kabar?” Dia mendahului menyapa pria itu.
“Hi, Nice. Kemana saja? Sudah baca message offline-ku semua? Seperti itulah keadaan hatiku saat ini. Dan aku…sedang kurang sehat.”
“Kenapa? Sakit apa, Sayang?”
“Biasa, penyakit yang dulu kambuh lagi.”
“Ya ampun Uzi, kalau rumah kita deketan, pasti sekarang aku ajak kamu berobat ke dokter.”
“Thanks, Honey, aku masih kuat berobat sendiri.”
“Emangnya sakit apa? Ada problem lagi dengan knee replacement?”
“Bukan. Kata dokter tekanan darahku naik lagi. Terus hasil diagnosis terakhir, katanya aku mengidap diabetes. Tapi don’t worry, sudah makan obat kok.”
“Aduh aku harus gimana dong? Kasihan banget Uzi sayang !” Ikon yang sedang menangis mewakili keadaan hatinya.
“Selama aku masih bisa chatting, jangan khawatir .”
“Oh ya, gimana kabar tentang sang pangeran yang mau ketemu kamu itu?” Pertanyaan pria itu dengan tiba-tiba menodongnya.
“Mmm…nggak tahu, nggak ada kabarnya. Barangkali orang itu masih sibuk, belum sempat bertemu aku.” Dia nekad berbohong, demi orang yang disayanginya sepenuh hati. Bagaimana mungkin dia menceritakan semuanya ketika kondisi kesehatan Fauzi sedang melemah seperti sekarang ini. Meskipun di dalam e-mail Fauzi pernah berbicara panjang lebar bahwa dirinya pasrah menerima baik buruknya takdir, tapi hati kecilnya bisa jadi berkata lain.
“Aku do’akan, semoga kamu bahagia seandainya terlaksana hidup bersama laki-laki itu. Sungguh dia seorang pria yang sangat beruntung, bisa bertemu kamu atas izin dan keridhoan ibumu.”
“Uzi, lebih baik kita ngobrol masalah yang lain saja!” Pintanya.
“Kenapa? Aku kan harus memberimu spirit. Aku rasa pilihan ibumu itu sangat tepat. Jangan pernah menolak. Asal kamu tahu, Nice, bila kamu bahagia, aku pun ikut bahagia.”
“Lebih baik kita berbicara masalah kita saja yu. Aku ingin Uzi lebih memperhatikan kesehatan Uzi sendiri. Jangan melulu memikirkan aku. Percayalah, aku tetaplah aku, yang selalu setia menemuimu di YM. Tak akan ke mana-mana. Paling bolak-balik antara sekolah, rumah, dan kadang-kadang ke warnet seperti sekarang.” Hari ini dia benar-benar ingin menghibur kekasih cyber-nya. Dalam bayangannya, muka Fauzi kelihatan pucat, badannya lemas tak bergairah.
“Oh ya, hati-hati dengan makanannya dan juga jangan lupa minum obatnya.”
“Terima kasih atas perhatiannya, Neng. Tapi aku akan berterima kasih lagi bila kamu menuruti segala kehendak ibumu.” Jawab pria itu.
“Apa maksudmu Uzi? Kenapa omongannya muter lagi ke situ? Udah dibilangin aku nggak suka!!”
“Tapi kamu harus cepat mengambil keputusan, Sayang. Jangan sampai terlambat. Hidupmu terlalu berharga untuk disia-siakan seperti aku.”
Dari kalimat yang diketik Fauzi barusan, dia menangkap sesuatu yang buruk sedang berkecamuk dalam diri kekasihnya itu. Sepertinya Uzi sedang badmood. Nada bicaranya apatis. Apa semua itu gara-gara aku pernah curhat tentang calon yang diajukan Mama padaku? Atau karena memang kondisi badan Uzi sedang tidak baik? Hatinya begitu khawatir dengan keadaan ini. Lalu dia berniat mengakhiri percakapannya hari ini. Kalau tidak, seperti hari-hari sebelumnya, suka terjadi missunderstanding, dan ujung-ujungnya pasti berantem.
“Uzi, dengan berat hati aku off duluan ya. Ada sesuatu yang harus aku beli sekarang juga. Aku harap kamu tidak berpikir yang buruk-buruk tentang aku. Sampai hari ini, tidak ada yang berubah dalam diri dan jiwaku.” Tak ingin menunggu jawaban dari pria di seberang sana, dia langsung sign out. Dia berharap esok hari kondisi Fauzi sudah membaik dan fresh lagi, serta muncul lagi karakter aslinya: senang bercanda juga suka tertawa lepas.

Akhirnya malam ini dia bertemu juga dengan Fauzi. Laki-laki ini datang menemuinya dengan seikat symbol cinta di tangannya. Dia menerima mawar-mawar merah itu dengan bahagia, lalu dirangkainya dalam jembangan berbentuk hati. Dalam pandangannya, wajah dan penampilan Fauzi biasa saja. Raut mukanya menggambarkan kebersahajaan pribadinya. Tak ada yang dipersoalkan, dia sudah terlanjur suka dengan semua yang ada pada pria itu.
Tanpa sungkan Fauzi memeluknya dengan penghayatan yang dalam. Dia pun tak berdaya menolak dekapan kekasih yang sudah begitu lama dinantikan kehadirannya.
“Wujud asli Nice itu ternyata seperti ini, toh…” Pria itu bebisik di telinganya. Wajah si wanita merona dikarenakan rasa malu dan rindu yang menggebu.
“Ternyata mukaku ancur ya, Uzi?” Dia membalas berbisik di telinga pria itu. Masih di dalam hangatnya pelukan pria pujaan, dia menatap lekat-lekat wajah kekasihnya yang semakin mendekati wajahnya.
“Ancur apanya? Ancur lipstick-nya kali.” Saat ini wajah dan tubuh mereka berpadu tak berjarak. Seperti jiwa mereka yang sudah sejak lama lekat. Suasana jadi hening…sepi… sebab mereka tengah menikmati gelora rasa dengan bertautnya dua bibir, begitu lama…dan…lama… Bibirnya benar-benar tak kuasa menghindari lumatan bibir nakal kekasihnya. Tiba-tiba dia terbangun dari tidurnya. Terasa ada yang mendesak di bawah perutnya, ingin segera dikeluarkan. Dengan segera dia bangkit lalu tergesa-gesa masuk ke kamar kecil. Ah, ternyata adegan hangat yang baru saja ia alami hanyalah sebuah mimpi.
Sekembalinya dari toilet dia masih merenung-renung. Kok bisa ya malam ini aku mimpi bertemu dan kemudian berkencan dengan Fauzi. Gumamnya. Mungkin karena sejak dua hari ini dia terlalu konsen memikirkan dan mengkhawatirkan keadaan kekasihnya itu. Rasa sesal memenuhi rongga dadanya karena mimpinya tak sempat selesai. Lalu dia melirik jembangan bunga berbentuk hati yang ada di atas buffet, tak ada seikat mawar merah di situ. Sedih. Matanya melirik jam meja di samping vas bunga yang ternyata masih kosong itu, jarum pendeknya berada di posisi waktu tengah malam. Dia ingin meneruskan tidurnya dengan harapan mimpinya tadi bersambung ke episode atau jilid selanjutnya. Tapi selamat, sampai tiba pagi hari mimpi indahnya tak muncul lagi.
Tiba-tiba telepon genggamnya berdering. Sebuah pesan singkat khusus untuknya, dari pria yang baru beberapa hari dikenalnya, Dzulfikar.
“Selamat pagi, Anis. Apa kabar hari ini?”
“Alhamdulillah, saya sehat.”
“Belum berangkat ke sekolah, Bu Guru?”
“Sebentar lagi. Sekarang sedang sarapan.”
“OK. Kalau begitu, selamat menjalani aktifitas rutinnya. Good luck!”
Akh, basa-basi yang basi!!
Dia membalas kembali pesan itu dengan singkatnya, “Thanks.” Sebenarnya dia tak begitu suka basa-basi seperti itu, dirinya lebih suka kalimat yang sifatnya to the point, apalagi melalui SMS. Dia menyukai kalimat-kalimat yang singkat, padat, jelas, biar cepat tertangkap maksudnya dan cepat selesai urusannya, serta tidak akan menimbulkan salah tafsir. Kecuali bila ngobrol di cyber, itu lain lagi. Momen dan suasana di alam maya memang dikondisikan untuk berbasa-basi dalam rangka membuang waktu, mengusir sepi, dan membunuh rasa jenuh.
Andai bukan ibunya yang memperkenalkan dia pada pria itu, dari awal dia sudah terbirit-birit menjauh. Kehadiran seorang pria dengan sosok nyata tak dirasa penting untuknya. Tanpa pendamping pun, dia masih bisa makan, jajan, shopping, nge-net di warnet. Apa lagi?
Lalu bagaimana dengan masa tuanya jika dia panjang usia? Siapa yang akan mengurusnya jika bukan anak kandung dan saudara? Kan ada panti wreda. Semua tunjangan pensiunnya akan dia serahkan pada panti yang berbaik hati mengurusnya.
Tapi ternyata hidup ini tak sesederhana itu. Banyak hal yang harus dipertimbangkan sebelum mengambil satu keputusan. Sepertinya dia tidak boleh bersifat egois, harus patuh pada ibu, tunduk pada waktu, berbaik-baik sikap pada calon pendamping hidupnya nanti, dan sebagainya. Menjalani semuanya memang tampaknya melelahkan!
Untuk melupakan sejenak persoalan-persoalan yang akhir-akhir ini berdesakan memenuhi kepalanya, dia terjun lagi ke dunia cyber, menemui salah seorang chatter yang dalam mimpinya tadi malam telah sudi menyempatkan hadir. Tapi kemudian dia Kecewa berat. Id yang dituju tidak online. Kemana ya Uzi? Rasanya hari ini bukan hari kegiatannya di Islamic Centre. Atau ada acara mendadak? Hatinya tak berhenti bertanya-tanya. Anehnya lagi, tak seperti biasanya pria itu tak meninggalkan message offline di PM-nya. Hari ini YM-nya benar-benar sunyi dan membosankan. Ada sih beberapa teman yang OL yang sudah akrab juga dengannya, tapi semuanya cuma sekedar teman berbincang di kala senggang. Tak ada yang seistimewa pria itu. Di blog-nya pun tak ada postingan baru, artikel dan karya-karya yang ada basi semua.
Satu jam sudah berlalu. Dia memutuskan untuk tidak lagi menunggu, karena yang ditunggu tak kunjung muncul. Besoknya terjadi lagi seperti itu. Lusa dan hari-hari selanjutnya, sama. Tak ada lagi acara chatting mesra, tak ada lagi kegiatan berbalas e-mail, tak ada lagi diskusi di blog masing-masing secara bergantian. Dan dia enggan menulis e-mail walau hanya sekedar menanyakan keberadaan si pria saat ini, sebab bila e-malinya tak berbalas, malah akan membuat hatinyanya semakin kecewa. Sesungguhnya dia telah kehilangan jejak. Fauzi benar-benar tenggelam di lautan ketidakpastian.
Sebagai tanda bahwa dia masih setia, setiap hari tak bosan-bosannya mengecek keberadaan kekasihnya itu dengan membuka YM, e-mail dan blog. Id fauzi2003 tetap “tidur nyenyak”. Sempurnalah kemisteriusanmu, Fauzi! Katanya.
Yang dia khawatirkan adalah kondisi fisik Fauzi. Waktu chatting terakhir Fauzi sempat bercerita bahwa kesehatannya memburuk. Dia berdo’a untuk kesembuhan laki-laki itu, andai sekarang sedang dalam perawatan di rumah sakit.
Sejak menghilangnya orang terdekat setelah ibunya, jiwanya terasa hampa, merana. Hari-hari yang dilalui tak ubahnya seperi lembaran buku kosong yang warna kertasnya abu-abu. Kelam. Kegiatan chatting, surfing, maupun browsing sudah bukan kegiatan rutin lagi kali ini. Hanya sekali-sekali saja dia lakukan saat butuh referensi.
Mengajar anak-anak pun tidak sesemangat dulu. Bila tak terlalu penting, dia jarang menggunakan media internet dalam proses belajar mengajarnya. Baginya, internet bukan hal yang menarik lagi. Gelap terangnya dunia itu sudah ia pahami. Di cyber dia pernah tertawa bahagia, dan di cyber pula ia menangis karena kecewa.
Sekarang dia sedang belajar menapaki dunia realita, dunia di mana semua penghuninya bisa diraba, termasuk Dzulfikar, yang akhir-akhir ini sering mengunjunginya bila sedang bebas tugas. Memang skenario hidupnya harus seperti ini barangkali. Lambat laun dia menyadari semua ini dengan pasrah. Oleh karena itu dia tak pernah menolak bila Dzulfikar mengajaknya ke suatu tempat untuk tujuan refreshing, hitung-hitung terapi, pemulihan hatinya yang tengah merana kehilangan belahan jiwa secara tiba-tiba.
Kadang mereka berdua saja pergi ke café untuk sekedar nongkrong menikmati beberapa jenis makanan yang dipesan, diiringi pertunjukan musik liveshow. Bila awal bulan, Zul selalu mengajaknya ke toko buku, hunting buku-buku terbitan baru. Atau berjalan kaki menyusuri jalan yang rindang menikmati sejuknya udara sore kota Bandung sambil mencari jajanan yang enak di lidah tapi murah.
Kali ini pun seperti itu, mereka sudah cukup jauh berjalan menyusuri panjangnya Jalan Setia Budi. Ketika melihat bangku kosong yang permanen karena terbuat dari bata, Dzulfikar mengajaknya beristirahat dulu.
“Kenapa dari tadi diam saja, Nis? Apa yang sedang kamu pikirkan?”
“Nggak. Cuma sedikit cape.” Jawabnya.
“Cape? Ya sudah, kita duduk dulu di sini yu, sampai lelahnya hilang.”
“Atau barangkali ada sikapku yang kamu tidak suka?” Kata Dzulfikar lagi. Dia berpikir sejenak, rasanya tidak ada juga. Pada dasarnya Zul itu baik, malah baik banget. Hidupnya penuh vitalitas dan optimisme. Tapi ada satu hal yang tak ada padanya, yaitu sifat romantis. Kalau pun berbicara banyak, nada maupun isi pembicaraannya lurus-lurus saja. Sampai hari ini, dia belum pernah mendengar satu pun ungkapan Zul tentang ketertarikan laki-laki ini pada dirinya, apalagi kata-kata mesra seperti sayang, honey, darling, miss you, love you, dan sebagainya.
Dia jadi ingin mengajukan pertanyaan, hubungan yang sedang mereka jalini ini hubungan macam apa? Hubungan khusus atau cuma sekedar pertemanan? Bagi dia sih tak masalah mau condong ke arah mana kedekatan yang sudah berjalan tiga bulan ini. Yang terpenting harus ada kejelasan. Tapi dia tak berani terbuka tentang semua ini langsung pada orangnya. Jawaban yang keluar dari bibirnya bukan seperti apa yang sedang dipikirkannya.
“Nggak ada, Zul. Sikapmu selama ini baik-baik saja. Aku cuma pusing dikit.”
“Pusing? Kenapa tidak bilang dari tadi? Pasti kita tidak akan jalan sejauh ini. Anis…Anis…” Kata pria itu lagi. Dia bangkit dari duduknya, kemudian mengajak si wanita untuk segera bergegas meninggalkan tempat itu.
Entah kenapa, si wanita pikirannya jadi teringat kembali pada seseorang, seseorang yang sudah cukup lama berusaha dia lupakan. Lalu dia membandingkannya dengan laki-laki yang sedang berada di sampingnya ini. Jika yang sekarang sedang mendampinginya ini adalah Fauzi, mungkin dia akan merasa sedang dilindungi. Mungkin pula dari awal bertemu Fauzi sudah menghiburnya dengan kalimat-kalimat indah, lalu tangan Fauzi menggenggam tangannya, atau memeluk bahunya. Sinar matanya bergelora dan berbicara banyak tentang cinta. Tapi Dzulfikar? Menyentuh bahunya barang sebentar juga belum pernah. Saat menyebrang jalan raya saja dia tak mau menggandeng tangannya. Kata-katanya lugas tak bersayap. Pandangan matanya lurus ke depan, sekali-sekali meliriknya dan sinarnya terpancar tanpa makna. Andai Zul menganggap dia kekasihnya, Zul adalah seorang kekasih yang dingin. Untuk teman diskusi, OK lah, untuk teman jajan juga lumayan, pria tinggi ramping ini selalu bersedia menjadi donatur. Tapi untuk dijadikan pendamping hidup? Dia tidak bisa membayangkannya. Akan seperti apa atmosfir rumah tangganya bila sang kepala rumah tangga terlalu serius, tak suka humor, dan bersikap sedingin es?
“Mau terus pulang, atau mau mampir dulu ke rumah makan?” Kata pria itu setelah keduanya ada di dalam mobil yang sengaja diparkir agak jauh dari bangku permanen tadi.
“Ke Indah café aja, aku kangen pada secangkir kopi panas.”
“OK.” Kata pria itu sambil memutar mobilnya ke arah jalan menuju café yang dimaksud.
Suasana di dalam café cukup ramai oleh pengunjung yang ingin menikmati akhir pekan. Dia dan laki-laki itu memilih duduk di kursi yang agak tersembunyi, terhalang oleh tanaman rindang yang tumbuh dalam pot besar.
Dari panggung, seniman-seniman penghibur para tamu sedang bersiap-siap akan menghadirkan lagu-lagu requaest para pengunjung. Tak lama kemudian terdengarlah suara merdu dua orang penyanyi membawakan lagu “Cintai”-nya Melly Guslow featuring Krisdayanti.
Suasana di sekitar mereka berdua cukup romantis. Tapi pria ini tak terpengaruh oleh keadaan, dia tengah khusu dengan buku barunya. Dan si wanita bengong sendiri, sambil sesekali menyeruput kopi panas kesukaannya.
Lagu yang tengah dibawakan penyanyi café itu sampai pada lirik:
Cinta tegarkan hatiku
tak mau sesuatu merenggut engkau
naluriku berkata tak ingin terulang lagi
kehilangan cinta hati bagai raga tak bernyawa
Aku junjung petuahmu
cintai dia yang mencintaiku
hatinya dulu berlayar
kini telah menepi
bukankah hidup kita akhirnya harus bahagia…
Hatinya kembali merindukan orang itu, orang yang tiba-tiba menghilang tak tentu rimbanya setelah mengunjunginya dalam mimpi. Fauzi, di mana engkau berada saat ini? Apa salahku hingga kamu tak mau memberitahuku tentang keberadaanmu sekarang? Batinnya.
“Kamu menyenangi lagu itu, Nis?”
“Iya, Uzi. Itu lagu favoritku.”
“Uzi? Siapa tuh Uzi?” Tanya laki-laki itu sambil memandang wajahnya keheranan.
“Eh, sorry. Tadi aku sedang berpikir tentang teman di sekolahku itu. Dia juga senang lagu ini.” Dia berusaha bersikap wajar dengan mencoba tersenyum.
“Teman, apa teman?” Kata pria itu lagi.
“Ya teman lah, kenapa memang kalau dia bukan teman?” Dia sedikit gusar pada laki-laki di hadapannya. Dia kurang suka dengan nada menyelidik pria itu. Akhirnya mereka terdiam. Si pria asyik sendiri dengan buku bacaannya, si wanita tak mau kalah, juga asyik sendiri dengan khayalannya tentang pria Australia pujaannya.

Kemudian dia mengajak Dzulfikar pulang. Terasa ada yang tidak beres dengan badannya. Kepalanya terasa berat. Padahal biasanya bila sudah minum kopi, kepenatannya hilang seketika.
“Bang, kenapa ya badanku tiba-tiba sakit semua?” Katanya setelah mereka tiba di rumah.
“Mungkin masuk angin. Muka kamu kelihatan pucat, Nis.” Laki-laki itu menempelkan punggung tangan kanannya di jidat Anis.
“Suhu badanmu tidak normal, anget. Pasti sekarang pusing ya?”
“Duh, pusing banget! Perutku mual lagi.”
“Yu, kita pergi ke dokter sekarang juga!” Ajak pria itu.
“Nggak ah, besok saja. Aku masih cape.”
“Kan biar cepat sembuh. Di mana baju anget-nya? Abang ambilkan.”
“Di lemari kecil, di samping tempat tidur.”
Setelah semuanya siap mereka keluar rumah lagi, menemui dokter umum yang biasa berpraktek pada sore hari. Menurut diagnosis dokter, dia kelelahan, perlu istirahat beberapa hari dan meminum obat sesuai resep yang diberikan.
Selama seminggu dia istirahat total di rumah. Berusaha melupakan semua tugas-tugasnya di sekolah. Tapi, berhari-hari kondisi badanya tidak juga pulih. Dia sering menderita pusing yang hebat. Badannya semakin hari semakin lemas, tak nafsu makan. Setiap malam tiba suhu tubuhnya meninggi, tapi dia menggigil kedinginan, meriang. Perutnya sakit, melilit-lilit. Tubuh bagian belakang juga. Terasa seperti ada ribuan jarum yang menusuk-nusuk di sekitar pinggul dan bokongnya.
Karena merasa tidak kuat menahan semuanya, dia menyuruh pembantunya untuk interlokal ke Jakarta. Dengan sangat terpaksa dia memberitahukan keadaannya pada ibunya, padahal sebenarnya dia tak ingin merepotkan ibunya atau siapa pun.
Dalam keadaan seperti itu, mimpinya pada suatu malam masih sempat disinggahi sosok Fauzi. Sesuai dengan kondisi tubuhnya yang buruk, mimpinya pun buruk juga. Tak disangka, dalam mimpi itu hati Fauzi ternyata berbagi. Dengan jujurnya laki-laki itu mengaku, bahwa dia tengah dekat dengan seorang wanita yang bisa membuatnya selalu happy. Satu pengkhianatan yang membuatnya merintih kesakitan. Dalam pengakuan selanjutnya, pria itu pun masih membutuhkannya dan sama sekali tak hendak menendang dirinya. Sungguh sebuah keserakahan kaum lelaki pada umumnya!
Masih dalam mimpi malam itu, mereka bertengkar hebat. Akhirnya dia memutuskan untuk mengalah, mengundurkan diri sebagai orang terdekat pria ini. Mengalah, seperti ketika dia dikhianati oleh suaminya dulu. Mengalah adalah jalan satu-satunya yang ia pilih dalam segala bentuk persaingan agar sebuah masalah segera terselesaikan, tidak berlarut-larut berkepanjangan. Meskipun dengan begitu dia akan mendapat gelar “Sang Pecundang”.
Dalam mimpi itu pula Fauzi memohon dan memelas untuk tidak ditinggalkannya. Waktu dia melemparkan kalimat-kalimat yang bernada tajam ke arah Fauzi, muka laki-laki itu terlihat pucat dan badannya gemetar.
“Please Honey, aku mohon jangan marah. Badanku suka langsung gemetaran. Sudah kukatakan berkali-kali, kamu adalah segalanya, Nice. Sampai hari ini kamu tetap yang terbaik, really! “ Pintanya.
“Seharusnya kamu tidak menceritakan semua hal yang sebenarnya tak perlu kamu ceritakan padaku. Atau kalau memang maunya jujur, bersikaplah ksatria, pilih aku atau dia, jangan menginginkan keduanya. Ingat, aku juga punya hati, yang pasti sama dengan hati wanita itu, sama dengan hati yang kamu punya, sangat peka, sebab hati manusia bukanlah baja. Dan aku rasa, lebih baik hubungan ini kita akhiri sampai di sini!” Begitulah dia, jika tersinggung pasti keluar karakter buruknya, keras kepala.
“Kamu kan tahu sendiri keaadaanku sekarang, aku dalam keadaan sakit, kakiku tak sesempurna pria lain. Jangan membuat aku semakin sengsara tak berdaya. Please, jangan tinggalkan aku, Sayang!” Fauzi masih tidak mengerti juga dengan keputusannya.
“Aku lebih sakit lagi, Uzi. Luka hatiku berdarah-darah. Jangan mentang-mentang kamu tidak sempurna, lalu bisa semena-mena memperlakukan aku seperti itu!” Katanya lagi.
“Baik. Kalau begitu maafkan aku. Sekarang, katakanlah apa maumu. Aku akan melakukan semua kehendakmu. Aku akan jauhi semua teman-teman perempuanku. Demi kamu, aku akan delete semua chatter di list-ku, asal jangan kehilanganmu, kumohon!” Kedua telapak tangan lelaki itu berpadu dan di angkat mendekati dadanya, seperti gerakan orang yang sedang menyembah.
“Tidak usah sampai bertindak seperti itu! Kenapa tidak dari awal berpikir begitu. Sekarang sudah terlambat. Semua tindakanmu selanjutnya tak ada gunanya, hanya buang-buang energi dan waktu. aku sudah terlanjur kecewa. “ Sepertinya keputusannya kali ini tidak bisa diganggu gugat .
“Sayang, lihat keaadaanku, aku begitu gemetar mendengar semuanya. Entah apa yang terjadi pada diriku esok hari, mungkin lebih buruk lagi.” Kata laki-laki itu sambil berurai air mata. Baru kali ini dia melihat seorang laki-laki menangis, dalam mimpinya. Dia jadi tahu, sebenarnya Uzi adalah seorang yang berkepribadian lemah.
Dengan tenangnya dia menjawab, “Aku sudah pasrah, apa pun yang akan terjadi pada dirimu. Mungkin kekasih barumu itulah yang lebih bisa menolongmu dari pada aku!” Kemudian dia berlalu, meninggalkan seorang pria yang bermuka samar-samar mirip wajah pada selembar poto buram, yang tengah berdiri kaku, dalam mimpi itu.
Ketika dia mulai siuman, kepalanya masih terasa berat, otaknya seperti dibebani tumpukan batu-batu besar. Badannya panas dan sangat lemas. Dari ubun-ubun sampai ujung kaki, terasa amat sakit. Begitu matanya terbuka, dia terheran-heran dengan keadaan di sekelilingnya. Ya Allah, aku sedang berada di mana? Langit-langit ruangan itu berwarna putih, tembok juga putih, gordyn putih, kasur dan selimut yang sedang menutupi tubuhnya putih. Apakah aku sudah berada di suatu tempat di luar alam dunia? Pikirnya dengan perasan takut yang mencekam.
Dia mengangkat tangannya yang terasa begitu pegal. Astagfirullah, ternyata tangannya itu sedang dalam keaadan diinfus. Secara perlahan dia bisa menguasai gejolak perasaan takut dan cemasnya. Kesadarannya mulai pulih. Sekarang dia bisa menebak dengan yakin bahwa dirinya sedang dirawat di rumah sakit.
Tiba-tiba dia dikejutkan oleh sebuah suara yang sudah sangat intim dengan telinganya.
“Anis, Sayang…ini Mama, Nak…Kamu sudah sadar Sayang?” Kata ibunya sambil terisak.
“Apa yang telah terjadi, Ma? Sejak kapan Anis dibawa ke tempat ini?” Bisiknya. Dia baru menyadari, untuk berkata seperti itu pun dia kekurangan tenaga.
“Kamu jatuh pingsan di rumah. Ketika itu Juju panik, langsung interlokal ke Jakarta. Sekarang kita ada di rumah sakit. Tapi Mama tak khawatir lagi, kamu dalam perawatan dokter ahli.” Hibur ibunya.
“Alhamdulillah, sekarang kamu sudah sadarkan diri.” Suara seorang pria. Ketika dia menengok ke arah suara itu…Dzulfikar.
“Kenapa Abang ada di sini?” Suaranya lemah hampir tak terdengar.
“Abang sangat khawatir akan keadaanmu. Mungkin dalam beberapa hari ini Abang akan menungguimu di sini.”
“Tidak usah repot-repot, nanti gimana dengan pekerjaannya?”
“Tenang saja, Abang sudah ambil cuti tahunan selama seminggu.”
“Aku pengen pulang sekarang juga.” Dia merengek seperti anak kecil.
“Belum boleh, Sayang. Kamu terkena Typhus mesti bedrust dan tidak boleh banyak bergerak.” Kata ibunya.
Tangan laki-laki yang berdiri di sisinya mengelus-ngelus lembut lengannya. Pengaruhnya langsung terasa, dia jadi sedikit tenang, dan tentu saja senang, karena kenyataannya masih ada seorang pria yang protect pada dirinya.
Dalam keadaan tak berdaya dia masih sempat berpikir tentang laki-laki ini. Kenapa Dzulfikar begitu baik padanya? Sampai mau mengorbankan waktunya hanya untuk menunggui dirinya, di rumah sakit pula. Sebenarnya bagaimana perasaan laki-laki ini terhadapnya? Dia merasa amat penasaran.
Dzulfikar memang bukan Fauzi. Baik pribadi maupun perasaannya sulit ditebak. Zul lebih sering mengajaknya berkomunikasi tentang perasaan lewat body language. Dan sebagai wanita yang akhir-akhir ini mulai akrab dengannya, dia harus pandai menafsikan tanda-tanda itu, untuk kemudian menjadi jelas jawabannya, bahwa Dzulfikar telah jatuh hati padanya.
Perjalanan hidupnya mengisi hari-hari dengan terbaring di rumah sakit membuahkan kisah baru. Kisah kedekatan antara dia dengan Dzulfikar. Perlahan tapi pasti hatinya mulai luluh, mau menerima pria itu sebagai bagian dari hidupnya. Semua itu selain demi kasih sayangnya pada ibunya seorang, juga dia merasa telah berhutang budi. Kesembuhannya tidak terlepas dari peran pria itu yang telah rela menunggui dan meladeninya di saat dia sedang membutuhkan pertolongan.
Akhirnya dirinya terbiasa dengan karakter Dzulfikar yang tidak romantis. Malah hal itu membuatnya merasa aman dan nyaman. Sebab menurut pengalaman dan pengamatannya, bila seorang pria bersikap begitu romantis ketika bertemu kekasihnya, perlu dicurigai, boleh jadi pria itu akan bersikap sama seperti itu pada perempuan lain.
***
Dan malam ini, di tengah temaramnya lampu-lampu hias di ruang makan sebuah restoran, dia sedang berhadapan dengan laki-laki yang akan mengungkapkan sesuatu yang penting untuk menentukan episode hidupnya selanjutnya. Kebetulan suasana restoran itu tak begitu ramai, malah terkesan sepi, sebab hari ini hari kerja, bukan akhir pekan. Dengan begitu mereka berdua lebih bisa menikmati menu favorit, serta lebih leluasa mengungkapkan segenap perasaan masing-masing yang tengah “bergemuruh” pada saat ini, baik melalui kata-kata maupun dengan bahasa isyarat yang hanya dimengerti oleh mereka berdua.
“Sesuai janjiku tadi pagi di telepon, malam ini ada sesuatu yang ingin Abang bicarakan.” Kata pria itu. Pada detik-detik ini, tiba-tiba sosok Zul di matanya begitu mempesona. Stelan jas yang dikenakannya bergaya eksekutif muda, dengan wangi parfum yang ia suka, mampu membuatnya terpana. Dan satu lagi, cara berbicaranya yang elegant, jauh dari kata-kata murahan, untuk pertama kalinya mampu pula membuat jantungnya berdebar.
“Tentang apa?” Dia hanya bisa mengeluarkan dua buah kata. Masih terpana.
“Tentang banyak hal.” Laki-laki itu menatapnya penuh arti. Dia balas menatap. Dan sinar mata teduh pria itu membuatnya jadi salah tingkah.
“Pada malam ini, perkenankanlah Abang mengajukan sebuah permintaan.”
“Iya, tentang apa?” Dia masih salah tingkah.
“Abang berharap, Anis mau jadi istri Abang!” Kalimat itu diakhiri dengan senyum manis.
Sesaat dia merasa bingung. Rasanya terlalu dini kupingnya mendengar permintaan ini. Dan dia merasa malam ini bukan waktu yang tepat untuk menjawabnya.
“Bagaimana, Nis?” Terpancar dari raut muka laki-laki itu, hatinya sedang dalam keaadaan harap-harap cemas, menunggu sebuah kepastian.
“Maaf, aku tidak bisa menjawabnya malam ini. Berilah aku kesempatan untuk berpikir.” Dia memberanikan diri mengajukan tenggang waktu.
“Kenapa jawabannya harus ditunda-tunda? Bukankah kita sudah sama-sama dekat? Direstui pula oleh ibumu. Dan usia kita sudah sama-sama tak muda lagi, kita dikejar waktu. Apa yang menjadi ganjalanmu selama ini, hingga tidak siap menjawabnya?” Pertanyaan laki-laki itu memberondong seperti peluru yang ditembakkan dari sebuah senapan.
“Andai Abang tahu tentang riwayat rumah tanggaku dulu, mungkin Abang akan maklum pada sikapku ini. Ada dua faktor yang membuat aku sedikit trauma untuk menikah lagi. Apakah ibuku pernah bercerita tentang ini?” Dia mencoba menjelaskan semuanya dengan tenang.
“Pernah sih. Tapi Abang tidak tahu, apa saja dua faktor yang membuatmu trauma itu?”
“Pertama, aku takut dikhianati lagi. Abang pasti lebih tahu, setiap orang siapa pun itu, ingin dicintai sepenuh hati. Siapa sih yang rela membagi cinta kekasihnya kepada perempuan lain? Rasanya tak ada. Semua wanita berharap dicintai dan dikasihi sepenuhnya, tak ingin tersaingi. Dan laki-laki, kadang-kadang tak mengerti apa maunya wanita, atau pura-pura tak mengerti. Nah aku takut hal itu terjadi lagi.”
“Dan kedua?” Pria ini tak sabar menunggu kelanjutan perkataannya.
“Ketahuilah, aku seorang perempuan mandul. Apa yang bisa Abang harapkan dari wanita seperti aku ini?” Katanya dengan nada sendu. Kata hatinya, apakah selanjutnya Zul akan mundur teratur atau terus maju setelah mengetahui semuanya? Dia sudah pasrah sejak jauh-jauh hari.
Hening sejenak. Keduanya sedang sama-sama berusaha mengolah perasaan, agar bisa mengajukan argumen yang tidak membuat hati pasangannya tersinggung.
Hidangan yang tersaji pada dua piring besar di meja sudah habis, disantap keduanya, tinggal beberapa dessert yang menunggu dihabiskan juga.
“Dengarkan Anisku sayang, kedekatan kita sudah berjalan lama, bukan baru sehari dua hari. Abang rasa kita sudah sama-sama maklum akan keadaan masing-masing. Sudah seharusnya kita mencintai pasangan kita dengan segala kekurangan maupun kelebihannya. Begitu pun kamu, Abang mohon kamu mau menerima Abang dengan segala kekurangan dan kelemahan seorang Dzulfikar.”
“Lalu, apakah Abang rela rumah tangga kita tak dihiasi oleh tangisan, teriakan, maupun canda ria anak-anak?” Dia mencoba menyelami perasaan laki-laki yang sedang lekat menatapnya, meskipun dia tahu betul bahwa hati orang itu tak akan pernah bisa terselami.
“Abang tak akan pernah menuntut Anis untuk bisa melahirkan.” Pria itu menjawab dengan mantapnya.
“Alasannya?” Dia tak percaya akan jawaban yang baru saja didengarnya.
“Mau tahu alasannya?” Laki-laki itu masih menatapnya. Dan bibirnya tersenyum. Sepertinya buat laki-laki ini hidup bukanlah beban, tapi hidup adalah rangkaian momen-momen yang menyenangkan.
“Katakan, apa dong alasannya?” Giliran dirinya yang penasaran.
“Abang sengaja merahasiakan semua ini. Sebab takut kehilanganmu, takut Anis mundur sebelum kita sempat mengenali diri kita masing-masing. Abang berwanti-wanti pada ibumu untuk tidak menceritakan semuanya, sampai tiba waktunya nanti. Dan sekarang telah sampailah pada waktu yang dijanjikan itu.”
“Hey, Abang sengaja ya mengulur-ngulur waktu dan bicara berbelit-belit biar aku pusing mendengarnya? Berani-beraninya lagi bersekongkol sama ibuku! Emang rahasia apaan?” Mendengar itu Zul malah tertawa senang.
“Sadar nggak Nis, kalau kamu lagi cemberut gitu lucu deh kelihatannya.”
“Sekarang kita kan lagi meeting ceritanya. Seriuslah, jangan bercanda dulu!” Protesnya lagi.
“OK. Simak baik-baik acara buka-bukaan ini. Dari perkawinanku terdahulu, aku sudah dikaruniai anak, dua orang, laki-laki dan perempuan. Abang pikir cukuplah dua saja. Tak mau tambah lagi. Andai kita ditakdirkan berjodoh, anak-anak itu adalah anakmu juga. Dan rumah kita tak akan sepi dari teriakan mereka, sebab anak-anakku sedang masa-masanya senang berantem.”
Dia sedikit terkejut mendengarnya. Kenapa Zul baru cerita sekarang?
“Dan ibunya?” Dia menyela pembicaraan laki-laki itu.
“Ibunya meninggal ketika anak-anakku berumur balita. Dia menderita gagal ginjal hingga tak tertolong.” Pria itu diam sejenak, barangkali pikirannya sedang menerawang peristiwa sekian tahun yang lalu, yang membuat hati pria itu tiba-tiba merasa pilu.
“Sekarang anak-anakmu umur berapa?”
“Si Sulung, laki-laki ganteng kaya bapaknya, berumur dua belas tahun, Si Bungsu perempuan, cantik seperti calon mamanya ini, umurnya sepuluh tahun.”
Dia berusaha untuk tersenyum, padahal dirinya masih terkaget-kaget mendengar pengakuan jujur Dzulfikar.
“Dan giliranmu untuk menjawab pertanyaanku tadi, bersediakah menjadi istriku? Relakah menjadi ibu anak-anakku? Tolong, jawabannya jangan ditunda sampai esok hari, apalagi diundur-undur sampai minggu dan bulan depan, bisa-bisa Abang merana karenanya…!”
“Beri aku waktu sepuluh menit untuk menimbang-nimbang!” Dia masih mengajukan tenggang waktu. Dalam waktu sepuluh menit ini dia harus konsentrasi berpikir dan bernalar, agar tidak salah menentukan pilihan.
Entah kenapa, pikirannya berputar kembali ke masa-masa ketika dia sering chatting dengan Fauzi. Hallo, apa kabar Australia? Kenapa kamu tak mau menampakkan diri, melalui tulisan sekalipun, Uzi? Sampai kapan kamu bersembunyi seperti itu?
Dalam kebimbangannya, dia menimbang-nimbang, jika dia menerima tawaran Dzulfikar, bagaimana dengan Fauzi? Dia khawatir suatu saat Fauzi datang kembali padanya menagih kesetiaannya. Tapi bila dia memilih Fauzi, Apa yang akan dia alami di kehidupan selanjutnya? Bagaimana mungkin dia memilih teman hidup yang keberadaannya tak pasti? Bagaimana bila ternyata hati Fauzi juga telah berbagi seperti dalam mimpinya waktu itu?
“Silahkan, Abang tinggal dulu ya, mau ke toilet sebentar.” Dzulfikar bangkit dari kursinya, sepertinya sengaja memberi kesempatan pada Anis untuk merenung sejenak, dalam rangka memberi jawaban yang diharapkan akan memuaskan dan melegakan hatinya.

Terpikir olehnya, sampai kapan hatinya akan terus menerus tenggelam dalam kebimbangan? Bila tak ada keberanian memutuskan satu persoalan, sampai kapan pun tak akan pernah bertemu kebahagiaan. Bila ingin ada perubahan ke arah depan, dia memang harus berani melangkah. Tapi bila ternyata kegagalan masih berpihak padanya, harus rela juga menerimanya. Setiap pilihan yang diambil ada resikonya, dan sesungguhnya, hidup adalah resiko itu sendiri.
Secepat gerakan jarum jam penunjuk detik, Dzulfikar sudah kembali berada di hadapannya, menunggu jawaban yang suatu saat harus bisa dipertanggungjawabkan.
Di menit-menit terakhir, dia masih menimbang-nimbang. Bila dia bersedia menerima Zul sebagai suami, sederet kewajiban harus segera dilaksanakan. Bila dia rela menerima kedua anak Zul sebagai anaknya juga, segudang tugas sebagai seorang ibu, harus segera ditunaikan. Tapi tentu saja semua itu ada imbalannya. Sudah menjadi sunnatullah, amal kebaikan sebesar dzarrah pun akan ada pahalanya. Dan sebaliknya, perbuatan buruk sebesar dzarrah pun akan mendapat balasan. Pahala atas ketaatan seorang istri pada suami sudah menantinya. Pahala atas kerelaannya mendidik dan membesarkan anak-anak dengan penuh kasih sayang juga tengah menunggunya. Bismillaahirrahmaanirrohiim, ya Allah semoga pilihanku kali ini adalah pilihan yang terbaik dalam hidupku. Dan aku memilihnya semata-mata untuk mencari ridho-Mu ya Allah. Semua kata hatinya itu mendorongnya untuk memberikan jawaban dengan mantap.
“Malam ini adalah malam yang bersejarah bagiku, karena pada malam ini aku masih berkenan dipilih. Dengan begitu aku bukan lagi seorang pecundang.” Jawabnya.
“Abang mohon, cari kalimat yang jernih, biar Abang bisa langsung paham maksudmu!” Pinta Dzulfikar.
“Aku menerima ajakanmu!” Tiga kata yang sangat jernih menurutnya. Tapi si pria masih menuntutnya agar memperjelas dan mempertegas jawaban itu.
“Ajakan yang mana? Ajakan makan malam atau….??”
“Aku besedia menjadi istrimu dan menjadi ibu anak-anakmu!”
Mendengar itu terlihat senyum Dzulfikar mengembang, pertanda hatinya senang, puas dan tentu saja bahagia.
“Terima kasih, Anis.”
“Tapi ada satu permintaanku yang mesti dicatat dalam hati Abang!” Katanya lagi.
“Apa itu?”
“Aku adalah wanita yang tidak bisa berkompetisi. Selalu menjadi perempuan yang dikalahkan. Oleh karena itu, tolong jangan sekali-kali menyuruhku bersaing dengan wanita lain. Jangan pernah memunculkan perempuan lain sebagai pesaingku, itu saja!” Katanya lagi kemudian.
“Oh itu. Jangan khawatir. Abang ditinggalkan oleh ibunya anak-anak sudah begitu lama. Jika Abang mau, mungkin dari dulu sudah meminang orang. Tujuh tahun Abang hidup sebagai widower. Tidak pernah terpikir untuk mencari pasangan secepatnya. Apalagi berganti-ganti. Menurut Abang, mencari calon istri itu ternyata jauh lebih sulit dari pada mencari jarum di dasar lautan. Masalahnya Abang punya anak. Bila salah memilih, sudah pasti anak-anaklah yang menjadi korban pertama kesalahan itu.” Keterangan Dzulfikar panjang lebar.
“Semoga aku bisa memegang amanah baru ini dengan teguh dan sabar,” jawabnya.
“Mudah-mudahan,” Jawab laki-laki itu pula sambil memegang kedua tangannya. Dan jari-jari tangan mereka bertaut dengan eratnya, seakan tak ingin lepas selamanya.
***
Hari ini dia seolah-olah terlahir kembali ke dunia. Semuanya seperti baru dalam pandangannya. Tirai kelabu yang selama ini terpasang di jendela hatinya, menghilang dengan sendirinya. Dia menyongsong hari-hari indah dengan segudang gairah. Langkahnya tak bimbang lagi.
Minggu depan Dzulfikar berencana mempertemukan dia dengan anak-anaknya. Satu babak dalam kehidupannya yang cukup mendebarkan. Dia khawatir anak-anak Zul tak berkenan dengan kehadirannya, meskipun Dzulfikar pernah bilang, semua itu bisa diatur asal mereka berdua bisa memilih pendekatan yang tepat.
Dan kekhawatiran itu terbawa juga ke tempat kerjanya. Pikirannya tak bisa lepas dari persoalan bagaimana cara melaksanakan pendekatan yang jitu agar anak-anak Zul rela menerima dia menjadi bagian dari hidup mereka. Meskipun sudah bertahun-tahun dia menjadi guru, yang setiap hari bercampur baur dengan anak-anak remaja, dan selalu berhasil menyelami hati dan perasaan mereka, tapi tetap saja rencana pendekatan pada anak-anak Zul nanti adalah sebuah tantangan tersendiri, dan belum tentu dia mampu dan sukses melaksanakannya.
Dia berusaha melupakan sejenak kekhawatirannya itu dengan melakukan kegiatan bersih-bersih ruangan. Sambil menunggu kedatangan orang tua murid yang memang hari ini dipanggil untuk menemuinya, dia membersihkan dan merapikan lab komputer. Setelah menyapu debu-debu yang banyak menempel pada komputer dan mejanya dengan lap, diteruskan dengan menyusun buku-buku yang bertumpuk tak beraturan menjadi susunan yang rapi di dalam lemari.
Dalam surat panggilan orang tua kemarin yang dititipkan pada salah seorang siswa kelas 3 H, dia mengundang orang tua Lewi untuk datang pada jam 9 pagi. Sekarang sudah lewat tiga puluh menit. Sayangnya orang tua anak itu tidak memiliki handphone maupun pesawat telepon di rumahnya, sehingga sulit dihubungi secara langsung. Sudah satu minggu ini anak itu tidak masuk sekolah, tapi teman-temannya sering memergokinya setiap hari berangkat pagi-pagi dari rumah dengan memakai pakaian seragam.
Terdengar suara orang mengetuk pintu lab. Dia segera membukanya. Mang Dadan (pesuruh sekolah) memberitahukan bahwa ada seseorang yang mau bertemu dengannya.
“Suruh dia menemui saya di sini, tolong ya, Mang!”
“Mangga, Bu,” kata pesuruh itu sambil segera berlalu.
Ketika dia sedang mengeluarkan buku absensi anak kelas 3 H, orang itu sudah berada di ambang pintu. Seperti biasa, dia menyambut ramah setiap orang tua siswa yang telah sudi memenuhi undangannya.
“Silahkan masuk, Pak!.” Katanya. Sambil mempersilahkan tamunya untuk duduk.
“Bapak ini orang tua kandung Lewi?” Tanyanya setelah tamu itu duduk berhadapan dengannya.
Laki-laki itu tak segera menjawab. Malah kelihatannya kikuk. Ada apa dengan tamu ini? Pikirnya.
“Putra Bapak sudah seminggu ini tidak masuk sekolah tanpa berita. Apakah dia dari rumah berangkat setiap hari?” Tanyanya lagi.
“Jadi ini yang bernama Ibu Rengganis itu?” Laki-laki itu malah balik bertanya.
“Betul, saya wali kelas 3 H. Silahkan, Bapak jangan sungkan-sungkan. Saya mengundang Bapak untuk membicarakan dan menyelesaikan masalah “anak” kita.
“Maaf, saya bukan orang tuanya..siapa tadi?” Kata laki-laki itu.
“Oh? Bukan orang tua kandung maksudnya?”
Sesaat lelaki itu terdiam. Matanya memancarkan sinar yang aneh, seaneh sikapnya pada detik-detik ini.
“Tak masalah, siapa pun yang hadir, yang penting bisa mewakili orang tua kandungnya,” katanya lagi.
“Aku datang dari tempat yang sangat jauh, menyebrangi lautan luas untuk sampai di tempat ini. Website SMP 4 banyak membantuku, sampai akhirnya aku bisa menemukanmu di sini.” Sinar mata yang aneh itu kembali menyergapnya. Dia baru tersadar, bahwa orang ini tak ada hubungannya sama sekali dengan muridnya yang bernama Lewi Nofemena. Dia berpikir sesaat, siapa gerangan orang ini?
Di ruangan ini sepi…hening…Di luar terdengar riuh rendah suara gelak tawa dan teriakan anak-anak sekolah yang sedang menikmati jam istirahatnya.
“Sungguh sebuah keajaiban, aku bisa menemuimu saat ini. Akhirnya terlaksana juga aku berbincang-bincang denganmu secara langsung. Apa kabar, Nice?” Kata orang itu lagi.
Nice?…Nice, kata pria ini? Apa dia tak salah dengar?…Panggilan yang baru saja diberikan laki-laki ini untuknya mengingatkan dia pada seseorang. Jadi…yang ada di hadapannya ini adalah….Fauzi?….Akh! Tidak mungkin!! Dia merasa tak yakin, tapi mendadak hatinya berdebar juga. Dan dia sadar betul bahwa sekarang dia tidak dalam keadaan tertidur. Jadi semua ini bukanlah mimpi.
Tak ada pria yang selalu memanggilnya “Nice”, kecuali Fauzi. Dia menatap pria di hadapannya dengan sinar menelisik. Seandainya benar orang ini adalah Fauzi yang dulu selalu ia rindukan siang dan malam, sosoknya sangat berbeda dengan Uzi yang hidup dalam imajinasi dan mimpi-mimpinya selama ini. Uzi yang ada dalam citranya dan pernah hadir dalam mimpinya adalah Uzi yang umurnya tak beda jauh dengannya, Uzi yang penampilannya bersahaja, seadanya, dan terkesan asal-asalan.
Tapi Uzi yang sekarang sudah berwujud nyata di hadapannya adalah seorang pria yang berpenampilan kebapakan. Menurut perkiraannya, umur pria itu sekitar sepuluh tahun lebih tua darinya. Postur badannya sedang, tidak terlalu tinggi dan tidak juga pendek menurut ukuran orang Indonesia. Mengenakan busana casual, jeans dan T-shirt yang tersembunyi di balik jacket berwarna gelap. Tubuhnya yang termasuk dalam kategori gemuk tersamarkan oleh jacket coklat tua, membuat laki-laki ini terlihat berwibawa. Kulitnya putih bersih. Rambutnya agak ikal, dibiarkan tumbuh sebatas tengkuk. Dan dia masih ingat, bahwa tempurung lutut Fauzi terbuat dari metal, tapi ketika Fauzi berdiri dan berjalan menghampirinya tadi terlihat normal-normal saja.
Tapi perbedaan persepsinya tentang Fauzi di dunia nyata dan dunia imajinasinya sama sekali tidak mengubah perasaan rindu dendam yang sudah terlanjur terpendam dalam hatinya.
“Apakah kamu masih mengenaliku, Nice sayang?” Kata pria itu lagi.
“Siapa sebenarnya anda ini?” Dia masih tak percaya pada tebakannya sendiri.
“Dulu aku pernah berjanji akan membuat surprise. Hari ini janji itu kupenuhi. Aku datang dari jauh dengan cinta, cinta yang akan tetap membara dan tak akan pernah kita padamkan.” Ya Allah, dia benar-benar Fauzi. Gaya pengungkapan perasaannya sangat khas, romantis dan puitis.
“Jadi….?” Dalam debaran jantungnya yang semakin kencang, dia masih memerlukan penjelasan.
“I’m Fauzi2003.” Penjelasan singkat yang justru membuatnya semakin terkaget-kaget. Lalu, gembirakah dia? terharukah? Atau malah bingung? Dia sendiri tak tahu, perasaan apa yang tengah berkecamuk dalam hatinya sekarang ini.
Sebagai seorang yang sudah seharusnya mapan dalam menyikapi setiap persoalan, sudah selayaknya dia bersikap tenang. Juga sebagai seorang yang berprofesi sebagai guru, rasanya tidak sedap dipandang mata bila dia menampakkan diri terkejut-kejut di depan tamu istimewanya ini. Dengan begitu dia berjuang sekuat tenaga untuk bisa menguasai keadaan.
“Sebuah kejutan yang dahsyat, Uzi. Tapi alangkah lebih baiknya bila sebelumnya beritahu aku tentang kedatanganmu, biar aku bisa mempersiapkan diri, dan menjamu tamu dengan sepantasnya.” Perkataannya ini dalam rangka mencairkan suasana. Fauzi berwujud nyata hanya tersenyum, kemudian berkata lagi.
“Bolehkah aku memelukmu, Sayang?” Tiba-tiba sinar mata Fauzi menembus jantungnya. Rupanya lelaki itu sejak tadi sudah tak sabar ingin mendekapnya. Bak terkena hipnotis dirinya segera bangkit dari posisi duduk, untuk kemudian menyambut pelukan mesra pria yang sudah tidak misterius lagi.
Keadaan lab komputer yang sepi dan berada di lantai dua serta jauh dari ruang guru, sangat mendukung peristiwa ini. Adegan pertemuan dua orang kekasih yang sudah lama bertaut jiwa tak seorang pun sempat menyaksikannya. Hanya benda-benda yang ada di sekeliling ruanganlah yang menjadi saksi bisu peristiwa itu.
Fauzi mendekapnya lebih hangat dari dekapannya dulu ketika pertama kali bertemu di alam mimpi. Ternyata sosok Fauzi adalah sosok yang begitu perkasa di matanya. Dalam dekapan hangatnya itu dia merasa tentram dan terlindungi. Sudut hatinya yang sejak kecil kedinginan karena tak pernah tersentuh kasih sayang seorang ayah, untuk pertama kalinya terhangatkan.
“Nice, kamu mirip betul dengan pic-pic yang terpasang berjejer di blogmu. Dan kamu mirip betul dengan Nice yang selalu hadir dalam benakku sepanjang waktu.” Dalam debaran jantungnya yang cukup kuat, pria itu berusaha mengungkapkan sedikit demi sedikit kata-kata hatinya.
“Pastilah mirip, itu kan poto-poto narsis-ku sendiri, bukan pinjem punya orang.” Katanya, kedua tangannya masih melingkari tubuh gemuk pria itu. Terasa olehnya sekujur tubuh pria itu begitu hangat, entah pengaruh suhu udara hari ini yang memang sedang memasuki musim kemarau, entah pengaruh lain yang datang dari lubuk hati masing-masing yang tak terselami kedalamanya. Pria itu mengecup ubun-ubunya beberapa kali, satu hal yang tak pernah dilakukan oleh Dzulfikar terhadapnya. Dia tersentak secara tiba-tiba ketika mengingat nama Dzulfikar. Lalu secara perlahan dia melepaskan pelukannya dan juga pelukan mesra pria itu, dengan alasan ingin segera menghidangkan minuman.
“Sebentar ya Uzi, aku buatkan minuman dulu. Di sini hanya tersedia air putih, teh manis, dan kopi. Mau minum apa?” Katanya, sambil menghampiri meja tempat menyimpan termos air, ceret, berikut gelasnya, di sudut ruangan.
“Cukup air putih saja!” Tatapan mata pria itu tak pernah lepas mengamatinya. Dia sadari hal itu, dengan begitu dia jadi tidak bebas bersikap.
“Maaf, untuk sementara saya belum bisa menjamu tamu dari negeri antah berantah ini dengan sepantasnya. Habis, kedatanganmu mendadak sekali sih!” Katanya dengan nada malu.
“Oh, it’s OK.” Jawaban yang masih disertai senyuman.
Dia menghidangkan dua gelas air putih di meja dengan tangan sedikit gemetar. Sesungguhnya dia masih belum bisa menguasai keadaan.
“Aku sangat ingin kita bisa lebih bebas lagi berkencan di tempat lain, Nice. Aku menginap di hotel Harmony, jalan Talagabodas. Kalau bersedia, sekarang juga kita ke tempat menginapku itu. Sepertinya kita akan lebih leluasa ngobrol di sana. Atau kita jalan-jalan dulu keliling kota Bandung. Please, beri pelayanan yang memuaskan untuk turismu ini!”
Mendengar ajakan itu dia terdiam. Dia teramat bingung dengan semua pengalaman hidupnya pada hari ini: pertemuan yang tiba-tiba, permintaan tamu yang tiba-tiba pula.
“Ingat Nice, aku datang dari jauh, tak selayaknya kamu tolak semua keinginanku!” Kembali sinar mata Fauzi menusuk tepat di bilik jantungnya. Dan aneh, sekelebatan wajah Dzulfikar hinggap pula di pelupuk matanya, lalu pergi lagi.
“Aku berharap Uzi berkenan mengunjungi rumahku, sekarang juga!” Dia sengaja mengundang Fauzi ke rumahnya sebagai tanda bahwa sekarang di antara mereka berdua sudah tak ada lagi hal-hal yang bersifat misteri. Andai pun suatu saat nanti ia dengan Fauzi tak kesampaian hidup bersama dalam satu ikatan perkawinan, yang ia inginkan Fauzi tetap bisa mengunjungi rumahnya, betapa pun jauhnya jarak yang terbentang antara Australia dan Indonesia, atas nama pesaudaraan.
“Wow, undangannya boleh juga. Tentu saja aku tak akan melewatkan kesempatan emas ini. Jam berapa kamu diperbolehkan meninggalkan tempat ini?” Kata laki-laki itu dengan semangatnya.
“Sebenarnya hari ini tak ada jadwal mengajar, kosong. Aku sekarang ada di sini karena berniat memanggil orang tua siswa, dan ternyata dia tak memenuhi undanganku.” Jawabnya.
“Dan yang datang malah orang asing, ya?” Kata laki-laki itu.
“Iya, yang datang malah seorang bule yang sedikit gosong.” Jawabnya. Keduanya tertawa. Dia masih bisa bercanda, tapi belum bisa mengusir semua kegalauan dalam hatinya. Kemudian dia bangkit dari kursi menuju tempat yang telindung dari pandangan dan pendengaran Fauzi, masuk ke ruangan sebelah yang berfungsi sebagai gudang kecil. Melalui handphone-nya dia menyuruh pembantunya memesan hidangan lengkap dari catering langganan untuk menjamu tamunya itu.
“Bila semua sudah siap, beri tahu Ibu secepatnya ya, Ju!” Pesannya lagi pada pembantu setianya.
Setelah ada bel pemberitahuan bahwa hidangan telah siap disantap di rumah, mereka pun bergegas meninggalkan sekolah.
“Bersembunyi di mana selama ini, Uzi?” Tanyanya sesaat setelah mereka berdua berada di dalam mobil yang sedang melaju di jalan raya.
Ternyata Uzi adalah seorang pria romantis di mana-mana, di cyber, di dunia nyata seperti sekarang ini, juga dalam mimpi-mimpinya. Saat ini pun posisi duduk Fauzi begitu dekat dengannya yang tengah berkonsentrasi pada setir dan jalanan. Sesekali tangan kanan Fauzi melingkar di bahunya.
“Waktu itu aku sakit, Nice sayang. Diabetes dan hipertensi sangat mengganggu hidupku. Aku sempat terpuruk, kesehatanku memburuk, dan harus menjalani perawatan intensif di rumah sakit. Waktu itu tekadku sangat kuat untuk bisa sembuh. Aku sangat berharap rencanaku untuk menemuimu bisa terlaksana di alam nyata. Oleh karenanya aku turuti semua petunjuk dokter yang menyarankan aku berdiet ketat dan bersitirahat secara total. Usahaku ternyata tak sia-sia kan, Nice Sayang?”
Selama Fauzi berbicara panjang lebar itu, dia berpikir keras, bagaimana caranya menjelaskan pada laki-laki ini tentang kehadiran Dzulfikar di antara mereka berdua. Dan bagaimana caranya menjelaskan pada Dzulfikar tentang siapa sebenarnya Fauzi. Sejujurnya, dia tak mau menyakiti hati kedua pria yang di matanya sama-sama penting, sama-sama bermakna. Dulu dan kemarin-kemarin dia tak menyangka sama sakali, bahwa di kemudian hari akan dihadapkan pada masalah rumit seperti ini.
“Uzi…, Uzi percaya takdir kan?” Dia mencoba mengajukan pertanyaan yang dulu pernah Fauzi ajukan juga kepadanya.”
“Kenapa bertanya begitu, Sayang? What’s the matter? Adakah sesuatu yang buruk telah menghalangi hubungan kita?” Raut muka Fauzi tiba-tiba berubah. Wajah cerahnya meredup seketika.

Dia segera menyadari kekeliruannya, kenapa bertanya seperti itu? Sekarang bukanlah waktu yang tepat untuk berterus terang pada Fauzi tentang masalah rumit yang sedang dihadapinya itu. Biarlah Fauzi menikmati dulu kebersamaan ini sepuasnya. Biarlah tamu yang datang dari tempat yang sangat jauh ini berkesempatan menumpahkan segenap rindu dendam, yang pasti dalam hatinya sudah begitu lama terpendam.
“Aku bertanya seperti itu, karena ya…ingin saja. Sekedar bertanya, boleh kan?” Katanya sambil melirik dan mengajak tersenyum pria di sampingnya.
“Jangan membuat pertanyaan dan pernyataan yang menimbulkan kepenasaranku!” Pinta pria itu.
“Hehe..kita sekarang berada di dunia realita, Uzi. Kita bukan sedang chatting di cyber. Nyantai aja lagi. Apa lagi sih yang membuat Uzi masih merasa penasaran terhadapku?” Tanya dia.
“Kamu banyak berubah!” Jawab Fauzi.
“Masa? Apanya yang berubah?”
“Banyaklah. Di dunia realita ternyata kamu tidak sehangat female_39, tidak semanja female_39, dan sepertinya di darat female_39 ini sengaja menjaga jarak. Sejak aku tiba di sekolahmu sampai detik ini, telingaku belum pernah sekalipun mendengar kamu memanggilku dengan kata “sayang”, seperti dulu waktu kita sering berkencan di YM.” Protes Fauzi.
“Apa yang telah terjadi, Nice?” Tanyanya lagi. Sesungguhnya pertanyaan ini menambah kacau balau pikirannya.
Beruntung, mobilnya segera tiba di halaman rumah yang pagarnya sudah terbuka lebar. Dengan begitu dia terhindar beberapa saat dari pertanyaan yang nadanya menodong itu.
“Selamat datang di rumahku!” Katanya sambil mengajak tamunya masuk lewat pintu depan menuju beranda. Sang tamu mengikutinya dari belakang, seolah-olah sudah terbiasa bertamu ke rumah itu, tanpa rasa canggung sedikit pun.
“Rumah yang sejuk. Pasti aku akan betah berlama-lama tinggal di sini.” Kata pria itu sambil merebahkan diri di sofa berwarna biru di ruang tamu.
“Silahkan, kenapa tidak. Beginilah rumahku, berantakan.”
“Rapi begini dibilang berantakan?” Tanya Fauzi keheranan.
“Aku akui, aku bukan wanita yang pandai menata rumah. Kalau pun sekarang rumah ini tampak bersih dan rapi, itu karena jasa pembantuku.”
Kemudian dia memeriksa meja makan. Di sana sudah terhidang masakan kesukaannya: ayam goreng, sayur asem, beberapa bungkus pepes jamur, sambal goreng lengkap dengan lalabnya, serta beberapa potong buah melon sebagai makanan pencuci mulut.
Ketika memasuki acara makan siang, hatinya kembali dilanda kebingungan. Yang ia takutkan adalah Fauzi mulai lagi mengeluarkan pertanyaan-pertanyaan yang membuatnya terpojok. Oleh karena itu selama menikmati santap siang bersama, dia berusaha menghindari topik percakapan yang mengarah pada masalah pribadi. Dengan sengaja dia mengajak Fauzi berbicara mengenai tema-tema global, seperti tentang keadaan sosial, ekonomi, dan politik di Indonesia akhir-akhir ini. Mengatur alur pembicaraan supaya sesuai dengan yang dia inginkan terasa sangat melelahkan.
Cepat atau lambat, dia harus terbuka juga, bahwa Fauzi jangan berharap banyak padanya, sebab di antara mereka berdua sekarang, telah hadir Dzulfikar. Yang membuatnya bingung, apakah laki-laki ini akan siap mendengar semuanya? Dan apakah perlu juga dia berterus terang pada Dzulfikar tentang kedatangan pria ini? Menurutnya, walau bagaimana pun, Zul harus dilibatkan dalam masalah ini, sebab dia sudah terlanjur menerima laki-laki itu sebagai calon pendamping hidupnya. Tapi untuk sementara, kepada siapa dia harus meminta advise atas masalahnya ini? Kepada ibunya? Ah, sudah tentu ibunya akan sangat keberatan dengan kedatangan pria asing ini, dan sudah bisa dipastikan ibunya akan berpihak pada calon menantu kesayangannya.
Tampaknya Fauzi sangat menikmati jamuannya. Melihat itu hatinya merasa senang, setidaknya dia sudah berusaha menjadi tuan rumah yang baik hari ini. Dan tak lupa dia berdo’a juga, semoga Fauzi lupa pada pertanyaan-pertanyaan yang akan diajukan padanya dan terlalu pribadi itu.
Tapi ketika mereka sudah kembali ke ruang depan, sebelum mereka duduk kembali di kursi tamu, Fauzi membuat surprise jilid kedua. Pria ini menghampirinya dan meraih tangan kirinya, lalu memasang sebentuk cincin bermodel cincin kawin bermata indah di jari manisnya. Bagaimana dia bisa menolak semua ini, adegan ini begitu tiba-tiba. Dan tak terbayangkan, bagaimana jadinya perasaan Fauzi jika dia menolaknya?
“Cincin ini mewakili segenap ungkapan yang telah lama terpendam dalam hati. Dengan cincin ini aku tak perlu lagi berpanjang-panjang menyampaikan semua isi hatiku dalam bentuk kalimat. Aku harap kamu bisa menerjemahkan semuanya, Nice.“ Kata Fauzi sambil menatapnya lekat-lekat, dan memegang erat jemari tangan kirinya.
“Uzi, kenapa kau lakukan ini? Kenapa begitu hobby-nya Uzi membuat kejutan untukku?” Dia memperlihatkan ketidak setujuannya dengan menarik tangannya. Kemudian mereka berdua duduk berbarengan di kursi yang berseberangan. Dia amati dengan seksama cincin bermata indah itu. Mata cincin itu tampak berkilauan terkena sinar dari sekeliling ruangan. Mata cincin itu entah dari jenis apa, dia tak paham soal batu-batuan mulia. Yang dia tahu adalah bahwa ruby symbol cinta yang agung, zamrud melambangkan harapan, dan berlian melambangkan keabadian cinta. Tapi kenapa cincin itu Uzi berikan kepadanya? Sedangkan sampai hari ini cintanya belum pasti untuk siapa.
“Tampaknya kamu tak suka dengan pemberianku ini. Ada apa sih sebenarnya? berterus teranglah! Dari awal perjumpaanku denganmu perasaanku sudah tak enak. Feeling-ku mengatakan ada sesuatu yang tengah menghadangku untuk tak bisa dekat denganmu. Cepat katakan, ada apa?!” Nada bicara Fauzi meninggi, berarti hati pria ini betul-betul tersinggung atas sikapnya itu.
“Uzi,…Uzi jangan berharap banyak padaku!” Dia berkata begitu dengan suara lirih dan sedikit bergetar.
“Apa maksudmu?” Suara Fauzi masih meninggi.
“Di antara kita ada Dzulfikar!” Dengan sangat terpaksa dia mengungkapkannya, meskipun dia tahu kalimat yang baru saja diucapkannya adalah sebuah ungkapan yang berpotensi melukai hati Fauzi.
Fauzi tersenyum hambar. Lalu berkata lagi, “Sudah kuduga sebelumnya, pasti dialah penyebab berubahnya perlakuanmu terhadapku.” Mendengar Fauzi berkata seperti itu dirinya benar-benar pasrah. Terserahlah apa yang akan terjadi kemudian akibat dari keterusterangannya ini. Dia merasa lelah dan tak sanggup lagi terus menerus menyembunyikan kenyataan dan bergelut dalam kebingungan. Dia ingin segera keluar dari lingkaran masalah yang tak pernah selesai sejak dia mengenal Dzulfikar. Pada Dzulfikar pun dia akan bersikap sama. Dia akan berterus terang secepatnya, bahwa Fauzi yang sekarang sedang ada di Indonesia dan tengah mengunjungi rumahnya ini adalah kekasih cyber-nya, sebelum mereka berdua dipertemukan oleh ibunya. Jika dia serba takut untuk terbuka dan menyembunyikan semuanya, artinya dia membiarkan dirinya tersiksa dan terbelenggu masalah yang tak berkesudahan tentang laki-laki. Lagi-lagi masalah laki-laki yang membuat hidupnya menjadi seru itu.
“Tapi ingat, Nice, aku tak akan menyerah begitu saja. Kamu sendiri menyadari, bahwa sebelum bertemu dia, kamu lebih dulu dekat denganku. Laki-laki itu tak bisa seenaknya merampas semua yang pasti akan menjadi milikku!” Kata Fauzi, nada suaranya yang cukup tinggi itu tak pernah merendah.
Dia terkejut dengan pernyataan tamunya ini. Di cyber Uzi adalah pria yang bijaksana dan terkesan selalu mengalah, sering menasehatinya agar bersikap tenang, tak gampang terpancing emosi. Tapi di alam nyata sebaliknya, Fauzi terbukti sebagai seorang yang gigih memperjuangkan apa yang dia inginkan, apa pun yang akan terjadi.
“Dulu aku terkesan mengalah dan bergantung pada takdir karena jarak kita berjauhan dan aku sedang sakit waktu itu. Sekarang, aku bisa melakukan apa pun. Kesembuhanku dari beberapa penyakit membuat gairah hidupku kembali menggebu. Dan saat ini, posisiku bahkan lebih dekat denganmu dari pada orang Jakarta itu!”
Dia tak berniat membantah semua pernyataan tamunya ini. Dia membiarkan pria ini berpuas diri memuntahkan kata-kata sebagai perwujudan dari emosinya. Apa pun yang akan terjadi terjadilah, bukankah semua mahluk yang ada di bumi ini hanya menjalani hidup seperti apa yang telah digariskan dalam skenario kehidupan? Pikirnya.
Dengan perasaan yang sama-sama edang dilanda kegalauan, mereka berpisah untuk sementara. Fauzi kembali ke hotelnya menggunakan taksi. Pria ini menolak mentah-mentah tawaran Anis untuk mengantarnya sampai ke hotel tempatnya menginap. Rupanya pengakuan Anis membuat pria itu benar-benar gusar. Tapi Fauzi masih berkenan meninggalkan nomor telepon genggamnya, serta berjanji akan menemuinya lagi pada kesempatan lain. Dan cincin yang matanya berkilau-kilau itu masih melingkar di jari manis tangan kirinya.
Kejujuran yang telah dia sampaikan pada Fauzi membuat beban pikirannya berkurang. Dadanya sedikit lega, meskipun akibat dari keterusterangannya itu sudah bisa diprediksi akan memicu konflik dan ketegangan yang berkelanjutan antara Fauzi dan Dzulfikar. Untuk semakin mengurangi beban yang seakan-akan menghimpit dadanya itu, dia akan segera berterus terang pula pada Dzulfikar, lewat telepon. Sebab tidak mungkin menyuruh Dzulfikar datang menemuinya di Bandung pada hari kerja seperti sekarang ini. Tapi juga dia tak mau menunggu akhir pekan yang masih empat hari lagi. Kelamaan. Sedangkan dirinya sudah tak kuat lagi menggenggam masalah ini, ingin segera memecahkannya, apa pun resiko yang harus dia tanggung sendirian.
Malam ini, tepat jam 20.00 dia menghubungi Dzulfikar lewat telepon rumahnya. Dia menggeser kursi ke dekat meja telepon, karena sudah pasti pembicaraannya dengan Zul kali ini akan berlangsung lama.
Setelah berbasa-basi seperti biasa, dia segera mengutarakan maksud sebenarnya menghubungi Dzulfikar. Dia bercerita dari awal tentang perkenalannya dengan seorang pria bernama Fauzi, warga negara Australia itu, sampai kepada kunjungan Fauzi ke rumahnya tadi siang. Setelah puas bercerita, lalu dia berhenti berbicara, memberi kesempatan kepada Dzulfikar untuk menanggapi kejujurannya ini. Apakah Dzulfikar akan bersikap sama seperti Fauzi tadi siang terhadapnya, dia telah siap menerimanya.
“Kapan saya bisa bertemu Fauzi, Nis?” Suara tenang itu mengagetkannya, kaget karena Zul tak terdengar emosi.
“Kalau Abang sudah bertemu dia, mau apa?” Tanyanya penuh kekhawatiran.
“Abang mau bilang padanya, bahwa kamu adalah milikku. Meskipun kita belum resmi menikah, tapi paling tidak, pada minggu yang lalu kamu pernah mengucapkannya secara lisan bahwa kamu sudi menerima Abang beserta anak-anak untuk menjadi bagian dari hidupmu. Masa kamu lupa peristiwa bersejarah itu? Malah Anislah yang memohon agar Abang tidak memunculkan wanita lain sebagai sainganmu. Ternyata Anis sendiri yang memulai memunculkan pria lain sebagai sainganku! Tapi Abang tak gentar. Katakan pada kekasih cyber-mu itu, Abang ingin bertemu dia secepatnya. Abang ingin tahu seberapa besar cintanya padamu hingga bisa berubah wujud dari roh maya menjadi mahluk yang nyata!” Nada bicara Dzulfikar datar-datar saja, sama sekali tidak meninggi. Tapi mendengar isi pembicaraannya semua orang akan paham, bahwa dia sedang ingin menerjang, menerjang seseorang dengan kalimat-kalimat berbisanya. Dan hati Anis tersinggung.
“Akan aku usahakan kalian bisa bertemu secepatnya. Aku sudah cape menghadapi masalah-masalah seperti ini. Aku tak ingin terus menerus menjadi korban keegoisan laki-laki!” Sampai juga dia pada titik jenuh itu.
“Jangan mencoba mengingkari ucapanmu pada malam itu, Anis. Asal kamu tahu, anak-anak sudah kuberi penjelasan tentang profil calon mamanya. Jangan sampai rencana kamu untuk bertemu anak-anakku minggu depan gagal total gara-gara pria itu!” kata Dzulfikar lagi dari telepon di seberang sana.
“Abang boleh saja berkata seperti itu, jangan begini jangan begitu. Tapi jalan hidupku bukan Abang yang menentukan, tapi diriku sendiri!” Dia berani berkata begitu karena merasa heran, kenapa kedua laki-laki itu begitu egoisnya? Baik Fauzi maupun Dzulfikar sama-sama ingin memaksakan kehendaknya. Tak pernah terlontar dari mulut mereka kalimat penawaran untuk dirinya, memberi kebebasan padanya untuk menentukan pilihan. Tak pernah keluar dari mulut mereka pertanyaan seperti ini, “Di antara kita berdua, siapa yang akan kamu pilih sebagai teman hidupmu?” Bukankah kalimat itu lebih sejuk terdengar dari pada saling menantang dan saling melempar kata-kata tajam?
“Kencan kita pada malam minggu kemarin bukan akhir dari perjuanganmu mendekatiku. Kenyataan, di depan mata muncul persoalan baru yang tak bisa kita hindari, mau tak mau harus dihadapi. Dan selama Abang belum mengikatku dengan ijab kabul pernikahan, Abang belum berhak penuh mengatur hidupku!” Menghadapi sikap Zul seperti itu, hatinya yang sudah mantap dan sudah pasti memilih Dzulfikar, pada saat ini kembali goyah. Semua rencana hidupnya ke depan bersama Dzulfikar yang telah disusun dalam kepalanya, seketika buyar.
Dia harus segera mengakhiri percakapan ini dengan Dzulfikar. Bila tidak, perdebatan tentang hubungan mereka akan semakin memanas. Dia meminta Dzulfikar untuk menyempatkan diri datang ke Bandung besok pagi. Dia tak mau masalah ini berlaut-larut dan membuat hidupnya tak tenang. Dan Zul menyanggupinya. Lalu dia mengontak Fauzi melalui handphone di hotelnya.
“Selamat malam, Uzi.” Sapanya, setelah nomer HP-nya tersambung dengan nomor HP Fauzi.
Sesaat terdengar suara khas Fauzi yang agak serak dari seberang sana.
“Good evening, Honey. Belum tidur?”
“Belum, ada yang ingin aku sampaikan padamu.”
“Tentang apa, Sayang?”
Hatinya sedikit lega, ternyata gusarnya Uzi tadi siang tak berkepanjangan. Laki-laki ini kembali mau beramah-ramah menyapanya.
“Maaf deh, aku mengganggu waktu istirahatmu.”
“Nggak apa-apa. Malah dari tadi aku menantikan deringan telepon darimu. Ternyata tempat seramai apapun jadi sesepi kuburan, bila tak ada kamu di sampingku, Nice.” Suara yang agak serak itu kembali merayu-rayu.
“Besok mau kan Uzi datang lagi ke tempatku?”
“Oh, with pleasure. Jam berapa?”
“Pagi-pagi saja. Biar tidak terjebak macet dan tidak kegerahan.”
“OK, Honey. Besok dandan yang cantik ya!” jawab pria itu. Dia jadi sedih mendengarnya. Tampaknya Fauzi begitu yakin, angan-angan mereka berdua yang benihnya telah disemai sejak di dunia maya akan terwujud dengan segera.
“Dzulfikar ingin bertemu denganmu, Uzi.” Katanya lagi dengan suara pelan.
“Siapa pun yang ingin bertemu denganku, akan aku hadapi!” Nada lembut Fauzi yang merayu-rayu itu berubah menjadi naik.
“Kalau begitu terima kasih atas kesediaannya, see you tomorrow.” Katanya. Hening…tak ada jawaban dari pemilik suara agak serak di seberang sana, mungkin sedang tak berkenan menjawab semua yang baru saja dia ucapkan.

Malam ini adalah malam yang membuatnya begitu resah. Sebentar-sebentar dia terbangun dari tidurnya, terganggu oleh kegelisahannya sendiri. Dia jadi takut menghadapi hari-hari yang terbentang di hadapannya. Andai dia punya kuasa menghindari hari esok dan melompat ke masa depan, barangkali malam ini juga dia akan segera melakukannya.
Dia tak bisa memprediksi, apa yang akan terjadi esok hari. Apa yang akan dilakukan Dzulfikar dan Fauzi dalam menyelesaikan persoalan mereka bertiga ini? Apakah keduanya akan bersikukuh pada prinsipnya masing-masing, mempertahankan apa yang menurut mereka berdua adalah haknya? Atau setelah terjadi perdebatan sengit akan ada salah seorang yang rela mengalah memberikan apa yang menjadi haknya pada rivalnya?
Bila dipikir-pikir, dia tak berbeda dengan sebuah benda, benda yang tak berdaya, layaknya sebuah mainan yang menjadi rebutan dan permainan pria yang ingin memainkannya. Ia benci pada dirinya sendiri, yang begitu bodohnya membiarkan dirinya menjadi pemicu perseteruan dua orang laki-laki. Dalam skenario kehidupan ini, kenapa harus dia yang menjalani peran sebagai sumber gara-gara bersitegangnya dua pria itu?
Pagi ini dia mencoba mengawali kegiatannya dengan berpikir positif, bahwa semuanya akan terselesaikan dengan baik. Dia ingin pertemuannya dengan kedua orang yang telah berkenan memberi warna pada kehidupannya adalah pertemuan yang memberinya banyak hikmah. Dan dia ingin merayakan pertemuan ini dengan menghidangkan jamuan lezat pagi hari. Makanan apa ya yang menjadi menu favorit Zul dan Uzi? Dia ingin membuat jamuan yang simple, tapi bisa memuaskan kedua tamunya. Kemudian dia masih ingat, di sela-sela chatting-nya dulu, Fauzi suka bercerita tentang makanan kesukaannya. Dan makanan khas Sunda yang disukai dan dirindukan Uzi selama berada di Aussi adalah kupat tahu. Sedangkan Zul lebih suka lontong kari. Pagi ini dia akan menghidangkan keduanya. dia membeli ketupat yang sudah jadi dari penjual yang sudah terkenal akan kelezatan rasa ketupatnya, sedangkan sayur dan yang lain-lainnya dia masak sendiri.
Detik-detik yang mendebarkan itu akhirnya tiba juga. Dia sudah siap dengan semuanya, dengan jamuan simple-nya, dan dengan penampilannya yang lain dari biasanya. Dia mengenakan gaun yang terbaik untuk menghormati kedua tamunya. Harapannya, sambutan yang dipersiapkannya sedemikian rupa ini bisa meredakan keegoisan kedua laki-laki itu.
Yang lebih dulu tiba di rumahnya adalah Dzulfikar. Wajahnya tampak serius, seperti sedang berpikir tentang sesuatu yang sangat penting.
“Bagaimana kabarnya anak-anak, Bang?” Barangkali dengan bertanya seperti itu dia bisa sedikit menyenangkan hati dan mengurangi keseriusan pria ini.
“Alhamdulillah, mereka baik. Kelihatannya mereka senang waktu melihat fotomu, keduanya antusias ingin cepat bertemu dengan Mama Anis.” Kata Dzulfikar sambil tersenyum.
“Dan komentar mereka?” Dia jadi penasaran dibuatnya.
“Kata mereka, kamu sepertinya seorang mama yang ideal. Tapi Si Sulung sempat bertanya, galak nggak ya Pa calon mama baru itu?” Kata Zul sambil menatapnya, seolah ingin menyelami perasaannya saat ini. Dan dia yang ditatap, hanya tersenyum.
“Lalu aku bilang sama anak-anakku, Mamamu itu curang, suka nyuruh Papa bersaing sama orang lain, padahal dia sendiri tidak mau disaingin!” Kata Dzukfikar lagi.
Dia sangat paham, kali ini Zul menyindirnya. Lalu dia segera memberi jawaban, “Itu bukan kehendakku, Bang. Tapi mungkin memang sudah suratan takdir kita harus menghadapi persoalan ini. Mengertilah, semua ini di luar dugaanku.” Katanya penuh harap, meminta pengertian Dzukfikar atas kehadiran Fauzi yang tiba-tiba itu di tengah-tengah mereka. Dan Dzulfikar tak sempat menjawab kembali perkataannya, karena di luar terdengar suara deru mobil. Sebuah taksi berhenti tepat di depan pagar rumahnya. Terlihat dari kaca jendela ruang depan, Fauzi turun dari taksi itu dan berjalan menuju tempat di mana dia dan Dzulfikar sudah menunggunya.
Ketika sudah berada di hadapannya, apa yang Fauzi perbuat terhadapnya di depan Dzulfikar? Laki-laki itu menghampirinya dan mengecup keningnya. Akh, dasar Fauzi! Dia jadi kesal, tidak bisakah pria itu bersikap wajar dengan menahan barang sebentar sikap romantisnya itu? Atau mungkin Uzi sengaja melakukannya di depan Zul sebagai sebuah tantangan? Tapi tampaknya Zul tenang-tenang saja. Pria yang satu ini paling jago menjaga sikap dan menyembunyikan perasaannya.
“Bang Zul, kenalkan, ini Uzi. Dia datang dari tempat yang jauh.” Katanya, dengan hati yang teramat sangat khawatir, khawatir Zul dan Uzi akan melakukan tindakan saling menyinggung perasaan.
“Uzi, ini Bang Zul, yang pernah saya ceritakan waktu itu.” Katanya lagi.
Mereka berdua bersalaman sambil menyebutkan nama masing-masing. Entahlah, apa yang terjadi dalam lubuk hati mereka pada menit-menit ini. Dia sama sekali tidak bisa menebaknya. Yang tampak dari air muka keduanya, mereka tengah serius, tak ada senyum, tak ada basa-basi yang bisa mencairkan suasana.
Dia yakin keduanya belum sempat sarapan pagi di tempat masing-masing. Lalu dia mengajak kedua pria itu menikmati hidangan yang telah disediakan. Tapi tampaknya kedua pria itu, termasuk dirinya, kurang berselera. Selama menyantap makanan di piring masing-masing tak saling berkata-kata, bisa jadi semuanya tengah asyik memikirkan susunan dan bentuk bahasa yang akan dikemukakan, dalam rangka menyelesaikan urusan yang teramat pribadi ini. Suasana di ruang makan jadi tegang dan beku. Dia sengaja membiarkan kedua pria itu tenggelam dalam pikirannya sendiri-sendiri.
Ketika dia dan kedua tamunya kembali ke ruang tamu, Dzulfikarlah yang lebih dulu membuka “forum perdebatan” ini.
“Saya sebagai wakil dari tuan rumah, mempersilahkan anda untuk memulai menjelaskan tentang kedatangan anda ke Indonesia,” Zul memulai percakapan, langsung ke pokok permasalahan dengan tanpa basa-basi.
Semoga mereka mau berdamai, Ya Allah. Dan berilah aku kesiapan serta kekuatan dalam menghadapi kedua pria ini, doanya, dalam hati.
“Saya hanya memenuhi janji saya pada Nice, bahwa suatu saat saya akan datang ke Indonesia mengunjunginya bila Tuhan mengizinkan. Dan ternyata saya diperkenankan juga bertemu dengannya.” Jawab Fauzi dengan tenangnya.
“Dan tolong jelaskan juga alasan anda, kenapa ingin bertemu dengan saya. Rasanya saya tidak berkepentingan dengan anda. Di Bandung, saya hanya mengenal Nice, yang lain tidak!” Fauzi balik menodong Dzulfikar dengan pertanyaan seperti itu..
“Salah sekali bila anda beranggapan saya tak berkepentingan dengan anda. Anis adalah calon istri dan calon ibu anak-anakku. Saya berhak melindungi dan menjaganya dari siapa pun yang mencoba meracuni pikirannya. Dan pertemuan kita pagi ini sangat penting buat saya, saya bisa langsung mengatakan pada anda, jangan mengganggu hubungan kami yang hanya tinggal selangkah lagi menuju pelaminan.” Sikap Dzulfikar tak kalah tenangnya.
“Mana buktinya bahwa dia calon istri dan calon ibu anak-anak anda?” Tantang Fauzi.
“Sedangkan cincin yang melingkar di jarinya pun adalah pemberian saya!” Kata Fauzi lagi dengan mantapnya. Ih, kekanak-kanakan amat kamu, Uzi! Pikir si wanita. Lalu Dzulfikar menoleh pada jari manis tangan kiri si wanita.
“Itu bukanlah sesuatu yang bisa memperkuat sebuah hubungan. Sebuah cincin tidak bisa dijadikan bukti bertautnya antara dua perasaan. Cinta dan kasih sayang itu kan tak kasat mata, karena terdapat dalam hati sanubari masing-masing. Dengan begitu buktinya pun tak harus berwujud benda nyata.”
Bila acara debat kusir ini diteruskan, dipastikan akan tambah seru dan semakin menegangkan. Tapi tentu saja dia sebagai tuan rumah tak menghendaki adanya perseteruan yang semakin tajam. Dia segera melerai perdebatan itu.
“Aku mengundang kalian ke rumahku bukan untuk adu mulut, tapi untuk menyelesaikan sebuah persoalan. Bila kalian tidak bisa aku andalkan untuk menyelesaikannya, aku akan memanggil pihak lain, atasanku misalnya. Apakah kalian setuju bila sekarang juga aku akan memanggil Pak Susanto sebagai atasanku di sekolah untuk ikut melerai perdebatan ini? Tak ada sepotong jawaban pun dari kedua tamunya. Kesempatan ini dia gunakan untuk berbicara lagi.
“Kalian terlalu percaya pada diri masing-masing, sehingga lupa pada keberadaanku. Kalian tak memberiku kesempatan untuk bersuara menyampaikan pendapatku tentang persoalan ini. Asal kalian tahu, pada hari ini, dengan disaksikan oleh dua orang pria yang sama-sama egoisnya, aku tak akan pernah memilih siapa-siapa untuk teman hidupku selanjutnya.” Dia nekad membuat keputusan sepihak. Tapi jauh di dasar hatinya yang paling dasar, dia mengakui, bahwa sesungguhnya dia masih sangat mengasihi dan mengagumi kedua pria yang ada di hadapannya ini. Tapi apa boleh buat, demi sikap adilnya pada keduanya, dia harus segera menentukan, ke arah mana kemudi kehidupan harus dikendalikan. Dia harus segera memilih arah dan jalan di antara banyak jalan yang terbentang, jalan menuju masa datang. Mungkin kedua pria ini terkejut dengan keputusan yang baru saja ia utarakan, mungkin juga tak percaya, tapi….ya seperti itulah sikap yang diambilnya demi sebuah keadilan.
”Kenapa kamu tak memilih salah satu di antara aku dan dia, Nice?” Tanya Fauzi, dengan air muka yang keheranan
“Karena aku tak mau berbuat tak adil pada kalian berdua.” Jawabnya.
“Tapi dengan bersikap seperti itu secara tak sadar kamu telah merugikan dirimu sendiri.” Dzulfikar menambahkan. Rupanya kedua pria itu lupa pada karakter keras kepalanya si wanita, masih saja mencoba memberi masukan.
“Tak masalah seberapa besar kerugianku, asal hati kalian terhindar dari ketidak adilanku.” Katanya lagi.
Fauzi dan Dzulfikar terdiam, keduanya baru tersadar, bahwa ternyata kelanjutan cerita hidup mereka sepenuhnya berada di tangan si wanita. Hitam putihnya warna kehidupan mereka selanjutnya tergantung kepada keputusan yang diambil si wanita pada hari ini.
Melihat kedua tamu prianya duduk tertegun, sebenarnya hantinya merasa sangat iba. Bagaimana pun kedua pria itu adalah manusia-manusia yang pernah begitu dekat dengan jiwa raganya, pernah mengisi hari-hari sepinya hingga dia menyadari bahwa hidup ini indah. Pada detik dan menit ini ingin rasanya dia memeluk mereka satu persatu secara bergantian, sebagai tanda bahwa cinta kasihnya pada mereka berdua begitu besar, dan tak akan pernah pudar. Tapi ia tak boleh melakukan itu. Dia harus tampak tegas dan tegar di mata mereka, agar mereka pun yakin bahwa dia bisa hidup senormal mungkin tanpa kehadiran mereka.
Dia pun tak boleh memberi kesempatan kepada Dzulfikar untuk mempertemukan anak-anaknya dengan dirinya, bisa-bisa keputusan yang dirasanya sudah adil ini dibatalkan hanya karena hatinya luluh serta terpesona oleh wajah-wajah suci anak-anak Zul.
“Aku juga membatalkan janjiku untuk bertemu dengan anak-anakmu, Bang. Sampaikan permintaan maafku yang sebesar-besarnya pada keduanya. Mohon maaf juga atas segala kesalahanku selama ini pada kalian. Terima kasih atas semua bantuannya yang sangat berharga, baik bantuan moral maupun material. Semoga Allah sajalah yang akan membalas kebaikan kalian. Selamat tinggal. Aku do’akan mudah-mudahan kalian segera menemukan seseorang yang kalian cari selama ini, yang tentu saja segala sesuatunya melebihi semua yang ada dalam diriku.” Dia berusaha untuk bersikap setegar mungkin dalam mengutarakan semua itu. Padahal, andai Zul dan Uzi tahu, hati kecilnya saat ini tengah menangis, menangis sejadi-jadinya, meratapi perpisahan ini. Senyatanya, pada hari ini dia merasakan ada sesuatu yang tercerabut dari dalam jiwanya. Bila dia diibaratkan sebentuk cincin indah bermata dua, dia adalah cincin yang kedua matanya itu lepas, terlempar begitu saja dari watang-nya.
Kedua tamunya terdiam begitu lama, merasa tak percaya pada semuanya. Peristiwa ini layaknya sebuah pertunjukan sandiwara yang baru menghadirkan lakon cerita dalam beberapa babak, tiba-tiba cerita berakhir begitu saja, karena ada salah seorang aktris yang mogok, tak mau melanjutkan permainan perannya di atas panggung. Dan pentas pun segera ditutup dengan layar.
Sebagai laki-laki, keduanya semakin meyakini bahwa seorang wanita adalah sebuah teka-teki yang tak ada jawabannya, sebuah misteri yang tak akan pernah terungkap kemisteriaannya. Tapi tak tercantum dalam prinsip hidup keduanya bahwa lelaki akan menyerah begitu saja. Semakin ditentang, semakin tertantang untuk bisa menyederhanakan rumitnya persoalan.
Seakan-akan pernah diadakan kesepakatan antara keduanya, persaingan dalam mendapatkan cinta seorang Dewi Rengganis pun akan mereka lanjutkan di babak berikutnya pada pertunjukan sandiwara selanjutnya, karena mereka berdua berpendapat bahwa sesungguhnya hidup itu adalah persaingan yang tak berkesudahan

.***
The End


Cara Cepat Hamil

Members

Translate

English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified