HOME

Wednesday, March 21, 2012

Rain: kisah pacar malaikat




Onik


Tetanggaku Seorang Malaikat
"Vey!!! Keluar, Vey!" seseorang menggedor-gedor pintu
kamarku, mengejutkanku, hingga beberapa pakaian yang
akan kumasukkan ke lemari, melompat berhamburan
kemana-mana... aaah apes! Akupun cemberut seraya
membuka pintu kamarku.
"Ada apa sih! Bikin kaget aja!" kataku ketus pada Vika,
teman satu kontrakanku yang tinggal di kamar sebelahku.
"Ada tetangga baru, Bo', ganteng bangeeeet!" katanya
sambil melompat-lompat kegirangan. Astaga, Vika! Sampai
segitunya! Aku hanya menggeleng-gelengkan kepalaku. Vika
menatapku heran seraya mengerutkan alisnya,
"Kok kamu cuek, Vey?"
"Emangnya aku harus ngapain? Ikut sorak-sorak kayak
kamu? Jelek-jelek gini aku masih waras, Vik," Vika mencibir
mendengar jawabanku.
"Lagian kamu ini kayak nggak pernah liat cowok ganteng
aja," kataku lalu kembali masuk ke kamar. Vika
menghalangiku,
"Kamu liat dulu dong... jangan kasih penilaian dulu, soalnya
yang ini lain dari yang lain, Vey!"
"Paling sama aja kan...," tapi rupanya Vika tak mau
menyerah, ditariknya tanganku keluar rumah kost menuju ke
halaman depan. Kulihat ada beberapa cowok tengah
mengangkati barang-barang dan memasukkannya ke dalam
rumah baru dan besar itu. Tapi mereka sama sekali tidak
ganteng, penampilan mereka terlihat seperti kuli angkat. Lalu
akupun ketawa.
"Sejak kapan kamu berselera sama kuli?" godaku.
"Bukan mereka tapi... bentar-bentar... hm... itu!" telunjuk Vika
menancap di sesosok cowok bertubuh tegap dan tinggi,
berkulit bersih yang tiba-tiba muncul dari dalam rumah. Dan
astaga! Bener-bener ganteng! Kayak artis... hm... sejenis
Bertrand Antolin? Mungkin? Yang jelas, wajahnya terlihat
bersinar di mataku, dan apa itu? Aku seperti melihat
sepasang sayap putih di belakang punggungnya... Ya,
benar, dia serupa seorang malaikat untukku... saking tak
percayanya, aku sampai melongo melihatnya. Dan untuk
beberapa saat aku dan Vika dibuatnya terpaku, dan...
meneteskan air liur, sluuurrp... hehehe...
"Bener kan, Vey? Ganteng banget kan?" kata Vika setelah si
Bertrand masuk kembali ke rumah. Aku hanya
menganggukkan kepala, masih dengan ekspresi kagum.
"Itu beneran orang atau patung porselin?" tanyaku membuat
Vika tertawa.
"Gimana? Cocok nggak?" tanyanya lagi.
"Cocok apanya?" tanyaku heran.
"Cocok buat kamulah... aku kan udah punya Evan...," kata
Vika menggodaku. Aku sampai tersipu dibuatnya.
Bagaimana mungkin aku tidak tersipu? Vika menjodohkan
aku dengan cowok seganteng itu, cowok terganteng yang
pernah kulihat sepanjang masa.
"Jangan cuma diam, Vey... ayo ajak kenalan!" katanya
sambil menarik tanganku lagi, mengajakku menyeberangi
jalan, menuju rumah cowok ganteng itu. Aku pasrah saja
ketika Vika melakukannya, kenapa? Karena aku juga ingin
mengenalnya tentu saja...
***
"Permisi...," sapa Vika setengah berteriak, supaya cowok itu
keluar dari rumah. Dan benar saja, tak lama kemudian sosok
ganteng itu keluar dengan senyumnya yang ramah dan
manis, semanis madu... cieeee...
"Maaf, ada yang bisa saya bantu, Mbak?" tanyanya.
"Kok mbak sih, panggil aja aku Vika, dan ini temen aku,
namanya Veyara," kata Vika to the point seraya
mengulurkan tangannya.
"Rain...," katanya. Ow.. ternyata namanya Rain, nama yang
keren... sekeren yang punya... ohhh... ups! Mungkin aku
sekarang sudah gila dilanda asmara yang tiba-tiba, aku
tertawa geli dalam hati.
"Hm... Rain... Veyara ini kerjaannya bikin desain taman,
gimana kalo dia saja yang bikinin taman buat kamu, soalnya
kulihat rumah kamu ini masih gersang , sayang kan kalo
rumah sebagus ini dibiarin gersang?" Rain tersenyum lagi
lalu menatapku. Oh my GOD! Tatapan itu kurasa sedikit
menggoda... ge er aku dibuatnya... akupun kembali tersipu.
"Gimana kalo Veyara sendiri yang menawarkannya ke aku?
Kapan kita bisa membicarakan ini, Vey?" tanya Rain padaku.
Dug! Vika menyenggol siku tanganku dengan cukup keras
untuk menyadarkanku dari lamunan.
"Eh iya.. iya, boleh... kapan?" ucapku tergagap. Rain tertawa
kecil.
"Nanti malam saja, sekitar jam tujuh? Gimana?" tanyanya.
"Ok jam tujuh," kataku.
Aku mematut diriku di depan cermin ketika seseorang
mengetuk pintu kamarku. Setelah aku membukanya, Vika
pun masuk. Dan apa yang dilakukannya? Matanya
menatapku dari ujung rambut hingga ujung kaki, lalu
menggeleng-gelengkan kepala.
"Kenapa Vik?" tanyaku.
"Vey… Vey, pantes aja kamu tuh nggak pernah bisa dapet
cowok, lihat aja penampilan kamu sekarang ini! Jayus
banget sih! Emangnya udah berapa lama kamu nggak beli
baju baru sih!" protesnya.
"Emangnya kenapa harus pake baju baru! Kan aku cuma
mau nawarin dia bikin taman doang!" jawabku.
"Kamu ini lugu atau goblok sih! Itu kan cuma excuse aja, Bo'!
Siapa tau kan kamu bisa sambil menyelam minum air!"
"Maksudmu?" kataku sambil mengernyitkan alisku. Vika
kembali menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Baru kali ini aku kenal sama orang yang umurnya di atas
duapuluh tapi lugunya minta ampun! Maksudku... siapa tahu
Rain itu bisa jadi pacar kamu setelah kamu tawarin dia bikin
taman! Gitu aja kok bingung sih!"
"Apa!!! Rain jadi pacarku! Mana mungkin dia mau sama aku,
Vik! Aku aja nggak berani ngebayanginnya! Terlalu muluk,
tau!"
"Kenapa? Kamu juga cantik kok! Pinter lagi..., cuma...,"
"Cuma apa?"
"Cuma nggak pernah beli baju baru! Ayo kupinjami
punyaku!" lagi-lagi Vika menarik tanganku. Tapi kali ini
masuk ke kamarnya, dan memintaku mencoba beberapa
bajunya yang hampir semua terlalu sexi untukku. Sampai
pada akhirnya ketemu juga mana yang paling pantas
kupakai... versi Vika tentu saja, karena tetap saja aku
merasa tak ada satupun yang cocok untukku. Jelas ini bukan
gayaku! Tapi aku bisa berbuat apa, kubiarkan saja
sahabatku ini me-make over diriku. Sampai rambut
panjangku yang ikalpun dibakar dengan jepitan... entah apa
namanya?
"Ini namanya catok," kata Vika seolah menjawab pertanyaan
yang hanya kusimpan dalam hati.
"Emangnya biar apa?" tanyaku.
"Ya biar lurus... biar bagus kayak yang di iklan sampo, aku
heran sama kamu, Vey, masa sih udah lama tinggal di
Yogya masih aja jayus gitu!"
"Aku nggak suka ke salon, Vik, kau kan udah tahu itu kan?"
"Trus selama ini kamu kalo potong rambut di mana?" aku
tersenyum lalu menjawab,
"Tinggal tarik gini trus potong deh!" jawabmu enteng.
Vikapun tertawa.
"Untung rambutmu ikal, jadi klo motongnya nggak rata,
nggak ketauan, hahaha...," gelaknya.
Beberapa saat kemudian, selesailah Vika mendadani aku,
lalu akupun kembali mematut diriku di depan cermin.
"Gimana?" tanya Vika. Yang jelas aku melihat diriku lain dari
biasanya, dan ternyata... aku cantik juga ya... aku tersenyum
puas melihat hasil kerja Vika.
"Thanks, Vik, kalo nggak ada kamu aku nggak bakalan
keliatan seperti ini," Vika tertawa kecil.
"Udah sono berangkat, udah telat setengah jam kamu!"
serunya. Lal aku melihat jam tanganku, menunjukkan pukul
setengah delapan. Wah! Akupun buru-buru keluar untuk
menemui Rain.
***
Sesampainya di halaman depan rumah besar itu, aku
terdiam, ada rasa ragu yang membuatku enggan masuk ke
sana. Entah kenapa? Mungkin karena aku yang kurang
percaya diri atau mungkin karena sifatku yang pemalu setiap
bertemu dengan cowok, terutama yang ganteng dan
berwajah malaikat seperti Rain.
"Jangan pernah bermimpi punya pacar kayak Rain, Vey,
karena itu akan menyakiti
diri kamu sendiri!" kata hatiku seketika itu juga. Lalu kutarik
nafasku panjang, "Tapi bukankah tujuanku ke sini, mau
bicara soal taman?" berpegang dengan kata-kata itu,
akhirnya kuberanikan diri untuk masuk dan mengetuk pintu
rumah itu.
Tak seberapa lama kemudian, Rainpun membuka pintu, dan
wajah itu terlihat semakin ganteng karena terpantul temaram
lampu teras. Membuat jantungku berdegub kencang.
"Kamu telat setengah jam, Vey, jadi kupikir kamu nggak
datang," katanya sambil tersenyum begitu tulus, sehingga
tak nampak sedikitpun kemarahan, atau kekecewaan atas
keterlambatanku.
"Iya, maaf," jawabku.
"Nggak apa-apa, gimana kalo ketemuannya besok aja,
soalnya aku lagi ada perlu," kata Rain bahkan belum
mempersilakan aku masuk. Aku mengerutkan alisku heran,
Rain seperti menutupi sesuatu, terlihat dari cara Rain yang
tidak melebarkan pintunya. Hhh... entah aku harus berterima
kasih atau tidak pada Vika, yang jelas dia membuat Rain
membatalkan pertemuannya denganku...
"Hm, ya udah, nggak apa-apa..., aku permisi dulu," kataku
seraya membalikkan badan.
"Tunggu, Vey...," panggil Rain. Akupun menoleh.
"Besok aku saja yang ke rumah kamu, jam sepuluh pagi ya?"
katanya. Lalu aku mengangguk dan kembali berbalik.
"Satu lagi...," katanya lagi. Aku kembali menoleh. Kulihat
Rain tersenyum.
"Malam ini kamu terlihat cantik," katanya mengejutkanku.
"Sampai ketemu besok ya," sambungnya lalu menutup pintu.
Oh my God! Lututku terasa lemas mendengar ucapan Rain,
kalau saja aku tak takut kotor dan terluka, saat ini aku pasti
sudah ngesot menuju ke rumah. Aku sangat bahagia, hingga
tak ada kata lain yang bisa mengungkapkan rasaku ini.
Dan kepada Vika, rupanya aku harus berterima kasih
padanya…
Dilanda Cinta
Pagi ini aku terbangun oleh sinar mentari yang dengan
silaunya menyapa mataku dari balik gorden kamarku yang
semalam lupa aku tutup. Aku terlalu sibuk termenung sambil
terus menatap rumah Rain, sampai akhirnya aku ketiduran.
Ahhhh… kuregangkan otot punggung dan leherku yang
kaku, duh! Badanku malah jadi sakit semua.
“Vey! Bangun ini udah hampir jam sepuluh lho!” lagi-lagi Vika
mengedor-gedor pintu kamarku. Lalu segera kulihat jam dan
spontan aku melompat untuk bergegas ke kamar mandi.
***
“Kamu ini gimana sih, Vey! Niat nggak sih ketemu sama
Rain?” kata Vika dengan nada sedikit marah saat melihatku
keluar kamar, masih dengan rambut yang basah berbalut
handuk.
“Lepasin handuknya, emangnya kamu mau nemuin Rain
dengan gaya ala Aladin kayak gitu! Heh!” Vika menarik
handuk dari rambutku lalu segera memasukkan aku ke
kamarnya.
“Mau apa lagi sih, Vik?” tanyaku.
“Kenapa sih kok kamu getol banget biar aku jadian sama
Rain? Aku sampai kalah getol sama kamu…!” tanyaku
heran.
“Mau tahu alasannya?” kuanggukkan kepalaku.
“Ya karena Rain itu cocok buat kamu, lagian aku juga nggak
mau kamu selalu sendiri kalo malam minggu aku tinggal
pergi sama Evan, aku nggak tega, tau!” ungkapnya
membuatku tersenyum. Aku tak pernah menyangka kalau
Vika sebegitu peduli denganku. Padahal kami bersahabat
belum terlalu lama, baru sekitar tiga tahun, tepatnya dari
pertama kali masuk kuliah. Tapi kami baru saja dua bulan
tinggal bersama dalam satu kontrakan, sebelumnya kami
berdua ngekost di tempat yang berbeda.
Tak lama kemudian terdengar pintu rumah diketuk tiga kali.
Itu Rain! Spontan jantungku langsung berlomba, sampai
tanganku terasa dingin dan basah. Ahhh, baru kali ini aku
merasakan cinta yang begitu dahsyat! Tubuhku sampai
gemetaran, kepalaku.. mataku… semua terasa berdenyut,
seperti akan pingsan. Vika menepuk bahuku,
“Sudah, santai saja, jangan keliatan nervous gitu, norak tau!”
bisiknya. Lalu akupun menarik nafasku dalam-dalam,
mencoba untuk menenangkan diri.
***
Lagi-lagi kulihat senyum maut itu tersembul dari balik pintu.
Andai saja aku pantas pingsan, pasti sudah aku lakukan,
agar aku bisa terjatuh di pelukan Rain… oh my God…
membayangkannya malah membuatku semakin berkunangkunang…
dan BRUUUKKK!!! Gelap!
***
Kubuka mataku perlahan, kulihat Rain tepat di depan
depanku tengah menatapku cemas.
“Kamu lagi sakit ya?” tanyanya. Lalu kugelengkan kepalaku.
“Trus kenapa kamu pingsan?” Hah! Aku pingsan beneran??
Jadi? Tadi Rain yang menggendongku dan meletakkanku di
kasur? Dan saat ini Rain tengah menemaniku di kamar…
sendirian? Jadi aku hanya berdua dengan Rain? Ahhhh…
gelap lagi!
***
“Kamu ini kenapa sih. Vey! Pingsan nggak perlu sampai dua
kali kan?!? Jadi batal lagi kan kamu ketemuan sama Rain!”
serbu Vika saat aku terbangun dari pingsanku yang kedua.
“Abis, aku nggak kuat nahan detak jantungku yang keras
banget, Vik… rasanya aku nggak bakalan bisa deh ketemu
sama dia, aku takut kalo lama-lama aku mati,” Vika malah
tertawa mendengar ucapanku.
“Vey, Vey… mana mungkin orang bisa mati akibat degdegan
karena cinta? Kamu ini udah gede tapi masih aja
kayak anak kecil..,” kata Vika lalu menyambung lagi
tawanya.
“Trus aku musti gimana dong?” tanyaku mengiba.
“Tenangin dirimu dulu deh, tegasin kalo ketemuan kamu
sama Rain adalah untuk ngomongin bisnis, dan satu lagi,
jangan ngebayangin yang bukan-bukan, karena itu akan
bikin kamu makin deg-degan!” jelas Vika. Akupun
menganggukkan kepalaku. Yah, andai saja aku bisa
melakukannya semudah kamu mengucapkannya Vik…
***
Sore ini seperti biasa aku menyiram taman mungilku yang
terhampar di halaman, tapi bukan hanya itu, sekarang aku
punya kebiasaan baru… memandang rumah besar yang
berdiri kokoh di seberang, sambil berharap malaikat
pemiliknya keluar menghantar senyuman. Tak kusagka pintu
rumah itu terbuka, duh! Baru begitu saja, jantungku langsung
menunjukkan reaksinya, gimana ini! Payah! Aku langsung
gugup sendiri, sampai selang yang kubawa terjatuh dan saat
mengambilnya… Srrrooottt!!! Menyemprot wajahku. Ahhhh
beginikah efek Rain untukku! Namun ternyata yang keluar
adalah seorang wanita tengah baya, yang berwajah cukup
cantik keindo-indoan. Mungkin itu mamanya. Lalu kulihat
Rain muncul di balik pintu. Sekilas kudengar pembicaraan
mereka.
“Ya sudah, mama pulang dulu ya, ati-ati kamu di sini,” kata
wanita itu sambil mencium pipi Rain, Rain membalasnya,
lalu melambaikan tangan.
“Mama juga hati-hati di jalan ya,” katanya. Oooh… so
sweeet, terkesan sekali selain ganteng ternyata Rain sangat
menyayangi mamanya. Semakin membuatku terpesona oleh
sosok malaikat yang terpancar dari auranya.
Setelah sang mama menghilang dengan mobil mahalnya,
Rain menatapku dari ambang pintu, lalu kembali
melemparkan senyumnya. Alamaaaakkk!!! Untung saja aku
ingat kata Vika… "TENANGKAN DIRIMU!" Ufff…
berulangkali aku mengeluarkan udara dari mulutku, seperti
orang mau melahirkan yang sering kulihat di TV saja… aaah
biar!
Lalu setelah Rain masuk, akupun kembali menyiram taman
dengan santai, bahkan aku kini bersenandung.
Bersenandung sebuah lagu bahagia, yah… aku memang
bahagia, bertetanggakan cowok seperti Rain…
“Eh… hem!” kudengar seseorang berdehem di dekatku,
akupun menoleh… ternyata… RAIN!!! Rain sudah berdiri di
belakangku tanpa aku sadari, dan parahnya lagi selang yang
kubawa masih menyala dan mengucur di atas kaki Rain
dengan santainya. Rain tertawa.
“Jadi menurutmu kakiku kotor ya? Sampai kamu harus
mencucinya?” ucapnya menyadarkanku. Lalu segera saja
selang itu aku tekan untuk menghentikan aliran airnya, dan
sambil menarik nafas dalam aku beranjak mematikan kran.
Hhh.. tenang, Vey, tenang… hiburku sendiri, seraya kembali
berdiri dan menghampiri Rain.
“Ada apa?” tanyaku.
“Ini aku bawain sesuatu buat kamu,” Rain menyerahkan
sebuah bingkisan kecil padaku.
“Apa ini?” tanyaku lalu membukanya. Aku mengerutkan
alisku saat melihat benda yang Rain berikan.
“Itu alat bantu pernafasan, kamu kena asma kan?” katanya.
Asma?!? Sejak kapan aku kena asma!
“Kemarin kamu pingsan kehabisan nafas, jadi aku beliin
kamu ini,” katanya lagi. Entah aku harus bilang apa, karena
aku tahu aku tak mungkin mengatakan yag sebenarnya,
kalau kemarin aku pingsan bukan karena kehabisan nafas,
tapi karena dia…
“Makasih,” kataku singkat.
“Jadi kapan kita bisa ngobrol soal taman? Sekarang bisa?”
katanya. Lalu aku menganggukkan kepalaku.
“Masuk dulu, Rain… aku persiapin dulu gambar contohnya,”
kataku agak lancar… hhh aku bersyukur!
***
Rain melihat beberapa contoh gambar yang sudah aku
persiapkan sebelumnya, lalu kembali meletakkannya di
meja.
“Semua bagus, kamu aja yang pilihin buat aku,” katanya.
“Tapi selera orang kan beda-beda…,” jawabku.
“Aku percaya kamu pasti pilihkan yang terbaik buat aku,
Vey…,” katanya sambil menatapku dalam. Lha! Ini baru
bahaya! Aku bisa pingsan lagi kalau begini terus! Aku
mencoba menghindari tatapan itu dengan kembali
berkonsentrasi mengamati setiap gambar yang ada di
depanku sambil terus menenangkan diri. Setelah jantungku
agak mereda, aku mengambil salah satu gambar favoritku
lalu kuberikan pada Rain.
“Ini yang paling aku suka, karena selain hong sui-nya bagus,
ini juga…,” Rain meletakkan jari telunjuknya tepat di depan
bibirku.
“Ya, aku tahu… ini memang yang lebih indah dari yang lain,
tapi menurutku masih ada yang lebih indah dari ini,” hhh…
bener kan, selera kita nggak sama… pikirku.
“Kamu, Vey… kamu adalah yang terindah yang pernah aku
kenal…,” Gubraakkkk!!! Tapi tidak, aku tidak mau pingsan
kali ini… kucoba mengalihkan pembicaraan,
“Kamu mau minum apa, Rain… air putih atau teh? Aku
ambilin dulu…,” kataku seraya beranjak, tapi tangan Rain
menahanku.
“Aku nggak haus, Vey… aku cuma pengin kamu temenin
aku aja, jadi kamu jangan kemana-mana, di sini aja ok?”
katanya. Akupun kembali duduk.
“Kenapa? Kamu takut aku ngerayu kamu? Saat ini aku
nggak lagi ngerayu kamu, Vey, aku cuma pengin ngungkapin
sebuah kejujuran, kejujuran kalo kamu adalah cewek yang
spesial buat aku… kamu tahu kenapa? Karena
kesederhanaan dan keluguanmu yang terpancar dari wajah
dan tingkah lakumu… yang belum pernah aku temuin pada
cewek manapun selama ini,” kata Rain lalu menggenggam
tanganku. Sementara aku hanya mampu untuk diam, sambil
meredakan degub jantung yang terus menyiksa. Rain
mengangkat daguku lalu menatap mataku dengan lembut.
“Aku… jatuh cinta sama kamu pada pandangan pertama,
Vey,” Ahhhhh! Akupun hanyut dalam ciuman mesra Rain
yang menghantarkanku terbang ke langit tingkat tujuh.
Ciuman pertama yang tak akan pernah kulupakan, bau nafas
hangat dan segar pertama yang tak akan pernah kubiarkan
menghilang.
“Aku juga mencintaimu, Rain…,” desahku.
Ternyata Dia Bukan Malaikat
Rain adalah cowok yang sempurna, selain ganteng, dia juga
memperlakukan seorang cewek dengan sangat baik. Begitu
baiknya sampai selama enam bulan kami berpacaran, Rain
tak pernah menuntut yang berlebihan padaku. Dia sama
sekali berbeda dengan Evan, yang menurut Vika, selalu
menjurus ke hal yang belum pantas untuk dilakukan, sampai
pada akhirnya Vika meninggalkan Evan dua bulan yang lalu
karena risih akan bujukan cowok itu.
“Kamu beruntung punya cowok seperti Rain, Vey,” kata Vika
saat kami makan siang di sebuah food court di Ambarukmo
Plaza.
“Semua juga berkat kamu kan?” kataku. Setelah dua bulan
berpisah dari Evan, hidupnya seolah berubah menjadi
hampa, aku benar-benar tak tega melihatnya, hhh…
sebenarnya ingin sekali aku membalas kebaikan Vika yang
telah menjodohkan aku dengan Rain, tapi bagaimana
caranya? Aku hanya bisa menerima ajakannya untuk jalan
saat dia merasa bosan, yah hanya itu yang bisa aku
lakukan… menyediakan waktu untuknya. Andai aku bisa
berbuat lebih untuk sahabatku ini…
“Mungkin sekarang udah saatnya untuk cari cowok lagi, Vik,”
kataku sambil menyedot es kelapa, minumanku. Namun
reaksi Vika masih sama seperti biasanya, menggelengkan
kepalanya.
“Aku masih malas, Vey, trauma,” jawabnya singkat. Dan aku
hanya bisa menghargai keputusannya.
“Trus, apa kamu udah dikenalin sama keluarganya Rain?”
tanyanya. Aku menggelengkan kepalaku.
“Rain bilang mama dan papanya orang sibuk, sering ke luar
negeri, jadi masih nunggu saat yang bener-bener pas,”
jawabku. Vika menganggukkan kepalanya. Lalu sesaat
kemudian kulihat Vika mengernyitkan alisnya menatapku…
eh bukan dia bukan menatapku tapi ke belakangku… ada
apa? Akupun menoleh karena penasaran. Kulihat Rain
sedang bersama mamanya, membawa banyak belanjaan.
Dan mereka menuju ke food court ini.
“Tuh ada Rain sama mamanya, ini kesempatan buat kamu
untuk ngenalin diri, Vey, mumpung sempet kan?” kata Vika
bersemangat. Bener juga kata Vika, itu yang terlintas di
pikiranku. Setelah pamit dengan Vika, aku menghampiri
mereka yang duduk tak seberapa jauh dari tempatku duduk.
“Sore Tante,” sapaku. Kulihat wajah Rain terperanjat melihat
kehadiranku. Lalu akupun melemparkan senyumku yang
termanis untuknya.
“Sore…, siapa ya?” tanya wanita itu lalu menatap Rain
dengan tatapan penuh tanda tanya.
“Saya Veyara, Tan… saya…,”
“Dia temen aku, Ma,” sahut Rain mengejutkanku. Bagaimana
aku tidak terkejut? Rain mengatakan kalau aku ini
temannya? Kenapa dia tidak bilang saja kalau aku ini
pacarnya???
“Owh, jadi temannya Rain ya? Satu kampus?” tanya wanita
itu padaku.
“Iya, Ma.. satu kampus,” jawab Rain lagi sebelum aku
menjawabnya. Entah kenapa dia berbohong seperti itu pada
mamanya! Jelas aku ingin tahu!
“Maaf, Tante… saya pinjam Rain sebentar…,” kataku seraya
menarik tangan Rain menjauh dari mamanya.
Saat kami berdiri berhadapan, kutatap mata Rain dengan
tajam, karena jelas aku tersinggung dengan ucapannya…
“Apa maksud kamu, Rain?!” tanyaku. Rain menatapku
dengan tatapan yang aneh, sebuah tatapan yang selama ini
belum pernah kulihat. Ada rasa tak suka di dalamnya.
“Sekarang bukan waktu yang tepat untuk ngenalin diri ke
mamaku, Vey!” katanya tegas.
“Tapi kenapa? Toh kita udah pacaran selama enam bulan
kan? Apa salahnya aku…,”
“Jelas salah, karena aku belum pengin melakukannya!” Rain
menatapku tajam, setajam belati yang diap menusuk hatiku.
Lalu kubalas tatapan itu,
“Owh jadi bukan karena mama papa kamu sibuk… tapi
karena kamu yang belum mau ya? Kamu jahat, Rain… kamu
udah boongin aku!” yang jelas aku kecewa, cowok yang
selama ini aku kira tulus, ternyata menyimpan dusta.
“Vey… bersabarlah, please…,” kata Rain merendahkan
nada suaranya. Andai saja pembatas bendungan airmataku
tidak kuat, tentu saat ini juga aku akan menangis sejadinya.
Hatiku teramat sangat sakit, menyadari sesuatu yang selama
ini tak pernah terpikirkan olehku…
“Aku tahu kenapa kamu ngelakuin ini semua, Rain… kamu
malu kan ngenalin aku ke mama kamu? Karena aku bukan
cewek dari keluarga yang kaya kayak kamu, dan aku juga
bukan cewek yang cantik yang seimbang sama kamu… tapi
kamu lupa satu hal, Rain… cinta nggak mandang semua itu,
tapi aku juga nggak akan maksain kamu untuk bisa nerima
aku apa adanya… karena memang beginilah keadaanku,
keadaan yang sama sekali nggak sesuai untuk kamu dan
keluargamu…,” akhirnya pecah sudah tembok pembatas itu,
aku menangis. Sementara Rain masih saja tak berbuat apaapa,
malahan dia meninggalkanku, tanpa sepatah katapun.
“Kita pulang sekarang, Vey,” kata Vika sambil memelukku.
Lalu akupun pergi meninggalkan tempat itu bersama
ceceran airmata.
***
“Vey…,” Vika menyentuh bahuku yang sesenggukkan
menangis di balik bantal.
“Rain pasti punya alasan ngelakuin semua ini, Vey, soalnya
aku yakin banget, cowok sebaik Rain nggak akan gitu aja
ngambil keputusan… mungkin dia emang sengaja akan
ngenalin kamu setelah dia banyak cerita tentang kebaikankebaikan
kamu… jadi dengan begitu, saat ngenalin kamu
pada keluarganya, mereka akan nerima kamu apa
adanya…,” aku memutar otak dan mencampurkannya
dengan suara hatiku. Dan akupun mulai tenang, mungkin
benar kata Vika…
“Sayang banget kan kalo kamu harus putus sama cowok
yang udah begitu sempurna, jarang lho ada cowok yang
kayak Rain… jangan sampai kamu nyesel, Vey,” Vika
mengelus rambutku perlahan lalu beranjak meninggalkanku,
seolah sengaja agar aku bisa leluasa berpikir.
***
Aku tak tahu apakah Rain akan memaafkanku atau tidak,
yang jelas aku harus minta maaf padanya, karena
sesungguhnya di dalam hatiku, aku tak akan mampu bila
harus kehilangan sosok Rain yang sudah begitu melekat
pada nadiku. Entah apa yang akan aku lakukan bila harus
kehilangan dia…
Dengan berbekal semangat '45, aku melangkah menuju ke
rumah Rain malam ini. Perlahan aku memasuki halaman
rumah itu, sebuah halaman dengan taman indah hasil
sentuhanku beberapa bulan yang lalu... yang membuatku
dekat dengan Rain… Hhhh... kuhela nafas panjang
mengenang semua itu. Semakin membuatku tak ingin
kehilangan Rain.
Kuketuk pintu rumah itu berkali-kali, tapi tak ada sahutan,
sepertinya Rain sedang tak ada di rumah, hhh… lalu akupun
duduk di teras sembari menunggunya pulang. Lalu kuambil
ponsel dari tas kecilku, dan kutekan nomor Rain. Beberapa
kali tetap tak ada jawaban. Aku mulai cemas, tak biasanya
Rain seperti ini… lalu akupun mencoba dan mencoba lagi…
tetap tak ada jawaban. Jangan-jangan… akupun beranjak
lalu membuka pintu rumah yang ternyata tak terkunci itu…
pikiranku kalut tak keruan, takut terjadi sesuatu ada Rain…
pikiranku terbang tak tentu arah, memikirkan Rain yang
berlumuran darah, bunuh diri karena aku! Teringat saat itu
Rain pernah berkata,
“Kalau aku sampai putus sama kamu, aku lebih baik nggak
usah hidup aja sekalian…,”
“Kok kamu ngomong gitu sih, Rain… nggak baik tau!”
jawabku.
“Kamu itu satu-satunya orang yang bisa ngertiin aku, Vey…
yang bisa kasih semangat ke aku… Cuma kamu satusatunya
orang di dunia ini yang aku butuhin… cuma
kamu…,”
Dengan panik aku mencari Rain di dapur, kamar mandi,
halaman belakang… tapi tak kutemukan.
“RAIIIINNN!!!” teriakku. Namun tetap tak ada sahutan. Lalu
akupun naik ke lantai atas, aku mendengar suara gemericik
air dari kamar Rain… Aku bergegas membukanya…
Tetap saja tak ada Rain di sana, lalu langkah kuteruskan
menuju ke kamar mandi yang ada di dalam kamar itu…
kamar mandi yang dari dalamnya mengeluarkan suara air
yang mengucur cukup deras. Mendengar suara itu membuat
otakku membayangkan yang bukan-bukan! Kubayangkan
tubuh Rain membiru karena menenggelamkan diri di bathup!
Ya Tuhan, aku tak sanggup melakukan ini… bagaimana
kalau semua dugaanku benar! Dengan mengumpulkan
segenap nyali dan kekuatan… akupun akhirnya membuka
pintu kamar mandi itu..
JREEENNNGGGG!!!!
Kulihat tubuh Rain berpelukan dengan mamanya di bawah
siraman shower dengan begitu panasnya. Adegan yang tak
pernah kubayangkan sedikitpun akan kulihat dengan mata
kepalaku sendiri. Rain tampak terkejut melihatku, demikian
juga dengan mamanya… Akupun segera berlari
meninggalkan tempat itu dengan hati yang tak keruan, kacau
balau, kusut! Hancur berkeping-kepin, entah apa istilah yang
lebih pantas untuk kuungkapkan, aku sudah tak tahu lagi…
yang ada di benakku hanya JIJIK dan JIJIK!
Bagaimana mungkin seseorang yang selama ini
kubayangkan sebagai sesosok malaikat bisa berbuat itu?!?
Bahkan iblispun akan berpikir dua kali untuk tidur dengan
mamanya sendiri!

Rahasia Masa Lalu
Sudah tiga hari sejak kejadian itu, aku mengurung diri di
dalam kamar. Duka yang kurasakan terlalu amat
menyakitkan, sehingga membuatku terus menangis. Bahkan
tak kuhiraukan Vika yang terus-menerus memanggilku,
menyuruhku makan, tapi aku tetap tidak keluar dari kamar,
sudah cukup buatku memakan sedikit snack dan air minum
yang selama ini kusimpan di kamarku. Hhhh… Entah
bagaimana caranya supaya aku bisa menghapus bayangan
kejadian malam itu dari mataku? Aku tak tahu… atau
mungkin seumur hidup aku tak akan pernah bisa…
Seperti biasa, siang ini kulihat rumah Rain dari jendela, ada
perasaan rindu di antara benci yang mencekam… tak seperti
biasanya Rainpun sama sekali tidak terlihat keluar rumah.
Yang jelas aku merasa heran, karena sampai saat ini Rain
belum juga mengucapkan kata maaf padaku… entah apa
yang ada di otaknya sehingga dia melakukan itu? Atau
mungkin dia merasa tidak bersalah? Uuhh… menyebalkan!
Tapi… seandainya dia minta maaf... apakah aku akan
memaafkannya?
“Nggak! Kesalahannya sudah teramat sangat berat! Bukan..
bukan hanya kesalahan, tapi ini sudah kelainan! Aku nggak
akan pernah maafin dia! Sampai kapanpun! Rain terlalu
menjijikkan untuk kumaafin…,” pikirku.
Lalu sesaat kemudian, kulihat Rain keluar dari rumahnya
dengan membawa beberapa tas. Sesekali Rain memandang
ke rumahku, mungkin dia mencariku untuk minta maaf, atau
kangen? Huh biarin! Untuk apa juga aku masih pedulikan
dia, bukankah rasa jijikku sudah melebihi ambang batas
kemanusiaan! Kulihat Rain menyeberang dan berjalan
memasuki halaman rumahku. Tak seberapa lama kemudian
kudengar Vika mengetuk pintu kamarku. Tapi aku tetap pada
pendirianku, tak akan menemui Rain…
Lalu kulihat Rain pergi dengan langkah gontai, sambil
sesekali menoleh dan memandang ke jendela kamarku.
Jujur, ada perasaan sedih menyelinap di hati ketika aku
melihat ekspresinya, tak dapat kupungkiri rasa cinta masih
saja kurasa, tapi karena rasa cinta itu juga yang membuatku
tak bisa menerima perlakuannya… lalu aku bisa apa?
Kecuali hanya pasrah membiarkannya menghilang dari
pandangan.
“Vey… bukain dong pintunya, aku mau ngomong nih,” kata
Vika. Lalu akupun bergegas membukanya. Ternyata… aku
masih saja bersemangat untuk mendengar sesuatu tentang
Rain.
“Akhirnya setelah tiga hari kamu buka pintu juga, Vey…,
kamu ini kenapa sih? Berantem ya sama Rain? Soal apa?
Kok kamu nggak curhat sih sama aku? Masih soal kemarin
pas di food court ya?” Vika memberodongku dengan
segudang pertanyaan.
“Ngapain Rain ke sini?” tanyaku tanpa basa-basi.
“Rain pergi, Vey… dia tadi mau minta maaf sekalian pamit
sama kamu,” kata Vika cukup membuatku terkejut.
“Emangnya dia mau pergi ke mana?” tanyaku. Vika
mengangkat bahunya.
“Ini nomor ponselnya yang baru, kamu tanya aja ke dia
langsung tentang itu, soalnya tadi dia nggak sempet cerita
banyak sama aku,”
“Menurutmu apa yang harus aku lakuin, Vik?”
“Apa yang harus kamu lakuin, cuma kamu sendiri yang tahu,
Vey… karena ini tentang apa yang kamu rasain… yang jelas
kalo aku jadi kamu, aku akan maafin dia, meskipun akhirnya
cuma bisa temenan aja sama dia, karena kehilangan
seseorang yang sangat dicintai, sangat berat, Vey… aku
udah ngalaminnya sendiri, sampai kadang aku merasa kalo
aku sudah mengambil keputusan yang salah,”
“Apa yang kamu lakukan sudah benar, Vik… kalian memang
belum pantas ngelakuinnya,”
“Tapi aku bisa cari cara lain kan? Misalnya… minta dia untuk
nikahin aku… yah meskipun kita berdua masih kuliah, tapi
nggak ada salahnya kan menikah dulu? Toh aku dan Evan
sudah sama-sama dewasa…?!? Perpisahan bukan satusatunya
jalan, Vey… dan aku menyesal,” kupeluk Vika
seolah ingin memberinya kekuatan, walaupun saat ini aku
sendiripun sedang rapuh.
“Vey, jangan biarin hal itu terjadi juga sama kamu, paling
nggak, dengerin penjelasan dari Rain biar kamu tahu apa
alasannya ngelakuin semua ini dan kalo kamu memang
udah nggak bisa nerima dia sebagai pacar kamu lagi, kamu
masih bisa nerima dia sebagai teman kan, Vey? Daripada
seumur hidup kamu terus penasaran dan nyesel karena
nggak bakal ketemu sama dia lagi… ,” Untuk kesekian
kalinya, ucapan Vika terdengar benar di telingaku. Rain
bukanlah orang yang suka melakukan suatu hal tanpa
alasan, yang jelas itu yang kutahu selama ini…
“Nah sekarang juga kamu kejar dia, pakai motorku nih,
mungkin dia masih ada di pintu gerbang depan nungguin
taxi,” lalu akupun segera melesat ke pintu gerbang
perumahan tempat kami tinggal. Namun… sia-sia, tak ada
Rain di sana. Lalu akupun turun dari motor dan berjalan ke
arah pak Rochim, satpam, yang sedang duduk di depan
gerbang bersama temannya.
“Pak, tadi liat Rain nggak?”
“Owh, mas Rain… lihat Mbak?”
“Udah lama dia dapat taxinya?” tanyaku.
“Udah lama gimana, Mbak… dari tadi orangnya aja masih
nungguin kok… tuh di dalam pos…,” kata pak Rochim. Entah
perasaan apa yang kini melanda hatiku, antara senang dan
miris… bercampur baur menjadi satu. Namun itu tak
membuatku urung menghampiri Rain, aku tak mau menyesal
di sepanjang usiaku, seperti apa yang dikatakan Vika.
Entah kenapa, debar dada yang telah lama menghilang…
tiba-tiba saja kini datang kembali. Ingin rasanya kuusir pergi,
tapi yang kubicarakan di sini adalah jantung, suatu benda
yang tak bisa kukendalikan semauku. Lalu akupun
melakukan trik lama untuk mengatasinya… kutarik nafas
panjang lalu kuhembuskan lewat mulut... Akhirnya aku
berani melongokkan kepalaku ke dalam pos satpam, kulihat
Rain tengah tertidur nyenyak dengan menelungkupkan
kepalanya di bangku yang ada di sana. Hhh… melihat wajah
itu membuatku tak percaya dengan kejadian yang kulihat
semalam, wajah yang begitu polos dan tulus… seolah hanya
aura kebaikan saja yang terpancar dari sana.
Tak lama kemudian kulihat sebuah mobil mewah warna
hitam berhenti di dekat pos. Dan keluarlah dari dalamnya,
seorang wanita yang tak lain dan tak bukan adalah mama
Rain. Wanita itu terlihat sangat marah, bahkan dia
menyingkirkan aku begitu saja dari pintu dan
membangunkan Rain dengan mencolek lengan cowok itu
dengan keras.
“Hey bangun!” kulihat Rain mengerjapkan matanya.
“Kamu pikir setelah semua yang aku beri untuk hidup kamu,
kamu bisa ninggalin aku gitu aja!” bentak wanita itu seraya
menyinggung kepala Rain seenaknya.
“Tunggu! Apa-apaan ini! Bagaimana mungkin seorang mama
memperlakukan anaknya seperti itu! Bukankan itu udah jadi
tanggung jawab anda sebagai mama!” bentakku tak mau
kalah, karena sesungguhnya aku tak rela melihat Rain
diperlakukan seperti itu.
“Diam kamu! Semua ini gara-gara kamu kan! Emangnya
kamu itu siapa heh! Dasar pelacur!” kata wanita itu
mendorong tubuhku dengan jari telunjuknya. Aku menatap
mata wanita itu marah,
“Saya heran, kenapa wanita yang tampak begitu terhormat
dan anggun bisa melakukan hal serendah ini! Berteriakteriak
nggak keruan… Apa anda sudah nggak peduli dengan
pikiran orang lain terhadap anda?” kataku. Wanita itu seperti
tersadar mendengar ucapanku, lalu dia segera menarik
tangan Rain untuk membawanya naik ke mobil, namun Rain
mengibaskan tangan itu.
“Aku nggak mau ikut Mama lagi! Semua sudah selesai!”
katanya. Wanita itu semakin nanar melihat Rain yang mulai
marah.
“Apa maksudmu selesai?!? Apa kamu sudah lupa dengan
status kamu sebelum kenal aku! Kamu itu bukan siapasiapa,
Rain! Kamu cuma seorang gigolo yang ngejual diri
karena butuh uang untuk bayar rumah sakit adik kamu yang
sekarat! Kamu pikir setelah aku angkat derajatmu dan biayai
semua kebutuhan kamu, kamu bisa dengan seenaknya saja
ninggalin aku! Memangnya kamu anggap aku ini apa!!!
Seseorang yang bisa kamu manfaatin untuk kepentingan
kamu! Heh!” Gigolo? Apa itu? Aku tak tahu arti istilah itu, tapi
aku tahu pasti arti kata ‘menjual diri’… apakah… artinya.. ?
Aku terkejut setengah mati. Jadi selama ini aku pacaran
dengan seorang mantan gigolo, pelacur cowok?!?
Sebenarnya ada apa ini? Kenapa bisa seorang mama
mengatakan itu??? Semua terasa begitu membingungkan
untukku!
“Aku pasti akan bayar semuanya! Meskipun itu artinya aku
harus bekerja bercucur keringat campur darah!” balas Rain.
“Hutang budimu ke aku, nggak bisa dinilai pake uang! Apa
kamu lupa wajah gantengmu itu dari mana? Kalau bukan
karena aku yang membawamu operasi plastik ke Amerika
setelah kecelakaan itu, sekarang kamu sudah jadi monster,
Rain!” kata wanita itu tak mau kalah. Membuatku terkejut
mendengarnya, entah apa maksud wanita itu dengan
mengatakan kalau tanpanya wajah Rain sudah menjadi
monster?
Dan yang lebih mengejutkan lagi, Rain mengeluarkan
sebuah cutter dari tasnya, lalu mengarahkannya pada
wajahnya sendiri.
“Ok kalau itu yang Mama mau!”
“Kamu mau apa?!?” teriak wanita itu bersamaan denganku.
“Denger, Ma, asal aku bisa lepas dari Mama, dan kembali
memiliki hidupku! Apapun akan kulakukan! Termasuk
mengembalikan wajahku ini!” Rain mulai menusukkan cutter
itu di pipinya, membuatku menjerit ketakutan..
“Hentikan!!! Sudah cukup! Rain… jangan lakukan itu!” kataku
sambil menangis bersimpuh di kakinya. Aku tahu aku tak
akan sanggup melihat Rain menjadi begitu menderita.
“Sudahlah, Vey… biarin aku ngelakuin ini, aku udah jenuh
dengan wajah yang mengendalikan hidupku ini…,” katanya
lirih. Aku mendongak ke atas menatapnya dengan tatapan
memelas, dengan harapan Rain akan menghentikannya
demi aku. Tes! Tes! Darah segar menetes dari pipi Rain,
mendarat tepat di pipiku. Tapi ternyata Rain tetao nekad
melakukannya. Lalu akupun segera bersimpuh di kaki wanita
itu, mencoba memohon padanya agar meminta Rain
menghentikan tindakannya. Tapi wanita itu hanya mematung
menatap Rain yang mulai menyobek wajahnya.
Melihat itu semua, jelas aku shock ditambah lagi dengan
tubuhku yang masih lemas karena selama tiga hari hanya
makan snack dan minum seadanya, membuatku terkulai
pingsan.
***
Beberapa saat kemudian, aku terbangun, dan langsung
kuteriakkan dengan keras nama Rain. Aku menyesal kenapa
aku begitu lemah, sehingga di saat genting seperti itu, aku
malah pingsan! Tapi… tapi ada di mana aku sekarang? Tibatiba
Vika masuk dan berlari menghampiriku,
“Vey, kamu nggak apa-apa kan? Tadi pak Rochim yang
bilang ke aku kalo kamu dilarikan ke rumah sakit…, kamu
sih, udah tiga hari nggak makan! Susah banget nih orang
kalo diomongin! Jadi lemes kan?!? ” tampak jelas kulihat
kecemasan di wajah Vika.
“Aku nggak apa-apa, Vik, tapi mana Rain? Aku mau ketemu
sama dia,” kataku.
“Rain ada di depan kamar, Vey,”
“Gimana keadaannya? Apa dia baik-baik aja?” kataku seraya
melepasi semua infus yang melekat di tanganku.
“Kamu jangan turun dulu, Vey, kamu kan masih sakit…, dia
baik-baik aja kok, malahan dia sudah sempat cerita ke aku
tentang kejadian tadi,” lalu kutatap wajah Vika.
“Dia cerita apa aja, Vik?” aku kembali duduk di tempat tidur.
Vika menarik nafasnya panjang.
“Semuanya, Vey… ,”
“Tentang gigolo?” tanyaku. Vika mengangguk.
“Dia terpaksa ngelakuinnya karena adiknya kena gagal
ginjal, Vey… dan dia nggak punya uang untuk terapi cuci
darah yang harus dijalani adiknya seminggu sekali. Yah,
walaupun akhirnya si adik meninggal juga… kasihan dia…,
aku panggilin dia ya, biar kalian bisa ngobrol,” kata Vika.
“Tunggu Vik… katakan apa yang harus aku lakuin, aku sama
sekali nggak nyangka kalo profesi Rain itu…,” Vika
menggelengkan kepalanya, melarangku melanjutkan katakataku.
“Itu sudah masa lalu, Vey… rasanya nggak adil buat Rain
kalo dia terus divonis seperti itu hanya karena ingin nolongin
adiknya yang sekarat…,” benar kata Vika, tak seharusnya
aku berpikiran buruk tentang itu. Kekasih macam apa aku
ini? Kenapa aku tak bisa berpikiran dewasa seperti Vika?
Aku mulai mengutuk diriku sendiri.
Tak lama kemudian kulihat Rain muncul dengan senyuman
dan perban di pipi kanannya.
“Rain…,” teriakku lalu berhambur memeluknya.
Kubenamkan kepala di dadanya, menumpahkan seluruh
airmata yang sedari tadi terus menggenangi pelupuk
mataku.
“Kupikir aku akan kehilangan kamu, Rain… kupikir kamu
mau bunuh diri!!!” kataku di sela tangis yang menderu.
Ternyata cinta tetaplah cinta, itu yang aku rasakan…
meskipun aku tahu siapa Rain… aku tetap tak ingin
kehilangan dia… dan saat ini yang aku inginkan adalah terus
bersamanya… tak peduli siapa Rain, tak peduli apa yang
telah dilakukannya… Rain mengelus rambutku lalu berkata,
“Thanks Vey, karena kamu akhirnya aku bisa memiliki
kehidupanku yang selama ini dikuasai oleh mama,” katanya.
“Tapi kenapa mamamu ngelakuin semua itu, Rain?” tanyaku.
Rain melepaskan pelukannya lalu membawaku duduk.
“Sebenarnya dia bukan mamaku, Vey… tapi seorang tante
kesepian yang ditinggal suaminya kerja di Jerman…,
namanya Anita,”
“Maksudmu?” aku tak mengerti. Rain menghela nafasnya
panjang.
“Aku adalah simpanannya, Vey, karena itu aku manggil dia
mama, supaya nggak ada orang yang curiga…, dan
sebenarnya namaku juga bukan Rain… tapi Raditya… maaf,
Vey, selama ini aku udah nggak jujur sama kamu… bukan
karena aku sengaja ngebohongin kamu, tapi karena aku
bingung antara memilih cinta atau hutang budi…,”
“Lalu apa yang membuat kamu mengambil keputusan ini?”
“Kamu, Vey… setelah kejadian tiga hari yang lalu, aku
ngerasa salah sama kamu, aku jadi sadar betapa egoisnya
cinta yang selama ini aku kasih ke kamu… seseorang yang
pantas dicintai dengan tulus dan jujur. Kehilangan adikku...
dan kamu juga membuat aku sadar, apa yang sebenarnya
ingin kukejar dalam hidupku… kebahagiaan, terutama
kebahagiaan orang yang tulus mencintai aku… bukan
sekedar melunasi hutang budi atau yang lainnya… Vey,
kamu mau kan maafin aku?” tanyanya sambil menatap
mataku dalam-dalam.
”Aku tahu kamu kecewa, Vey… karena ternyata aku nggak
sesempurna yang kamu kira, aku nggak punya apa-apa
selain seonggok tubuh yang menjijikkan dan selembar wajah
yang palsu… Jujur saja sedari dulu aku ngerasa nggak
pernah pantas untuk jadi pendampingmu, Vey… hanya saja
aku nggak bisa menahan diri untuk nggak mencintai kamu…
tapi sekarang aku sadar, aku harus bisa… karena kamu
pantas ngedapetin cowok yang jauh lebih baik dari aku,”
katanya. Membuatku tahu alasan Rain tak pernah
menyentuhku selama ini…
“Tapi please… ijinin aku untuk jadi temen kamu... Kita
salaman ya?” tanyanya seraya mengulurkan tangannya
padaku. Lalu akupun melirik Vika yang berdiri di hadapanku.
Vika tersenyum dan mengedipkan sebelah matanya, dan
aku tahu apa artinya… bahwa hanya aku yang tahu apa
yang harus aku lakukan, karena aku yang merasakannya…
“Maaf… aku nggak bisa jadi temen kamu…,” jawabku tak
membalas uluran tangan Rain, mengejutkan Rain dan juga
Vika.
“Karena… hhh…,” kutarik nafasku yang mulai tersengal,
karena penyakit debar jantungku kembali kambuh.
“Aku mau lebih dari itu… aku mau kamu jadi pendampingku
selamanya, nggak peduli gimana keadaanmu, nggak peduli
topeng apa yang kamu pakai… dan nggak juga peduli
dengan apa yang kamu punya, selama kamu masih punya
cinta… maka akupun sama…,” jawabku. Lalu Rainpun
kembali menarikku ke dalam pelukannya. Tangis haru
terdengar dari bibirnya. Sementara Vika, kulihat dia
tersenyum sambil mengacungkan ibu jarinya.
“Dan satu hal lagi yang ingin aku minta sebelum memulai
semua dari awal, kuburlah nama Rain bersama masa lalumu
yang kelam, dan mulai sekarang aku akan panggil kamu
Raditya…,” Raditya mempererat pelukannya. Dan aku…
bahagia…karena cowok yang sekarang ada di depanku
adalah Raditya… Raditya yang baru, yang akan menata
kembali hidupnya bersamaku…
Tentang Penulis
Leoni Margaretha atau yang lebih dikenal
dengan panggilan Onik merupakan ibu rumah
tangga yang bercita-cita menulis cerita film.
Tulisan-tulisannya banyak terdapat pada situs
penulis kemudian.com. Cerita ini merupakan salah satu
ceritanya di antara ratusan cerita dan puisi lainnya.



Onik


Tetanggaku Seorang Malaikat
"Vey!!! Keluar, Vey!" seseorang menggedor-gedor pintu
kamarku, mengejutkanku, hingga beberapa pakaian yang
akan kumasukkan ke lemari, melompat berhamburan
kemana-mana... aaah apes! Akupun cemberut seraya
membuka pintu kamarku.
"Ada apa sih! Bikin kaget aja!" kataku ketus pada Vika,
teman satu kontrakanku yang tinggal di kamar sebelahku.
"Ada tetangga baru, Bo', ganteng bangeeeet!" katanya
sambil melompat-lompat kegirangan. Astaga, Vika! Sampai
segitunya! Aku hanya menggeleng-gelengkan kepalaku. Vika
menatapku heran seraya mengerutkan alisnya,
"Kok kamu cuek, Vey?"
"Emangnya aku harus ngapain? Ikut sorak-sorak kayak
kamu? Jelek-jelek gini aku masih waras, Vik," Vika mencibir
mendengar jawabanku.
"Lagian kamu ini kayak nggak pernah liat cowok ganteng
aja," kataku lalu kembali masuk ke kamar. Vika
menghalangiku,
"Kamu liat dulu dong... jangan kasih penilaian dulu, soalnya
yang ini lain dari yang lain, Vey!"
"Paling sama aja kan...," tapi rupanya Vika tak mau
menyerah, ditariknya tanganku keluar rumah kost menuju ke
halaman depan. Kulihat ada beberapa cowok tengah
mengangkati barang-barang dan memasukkannya ke dalam
rumah baru dan besar itu. Tapi mereka sama sekali tidak
ganteng, penampilan mereka terlihat seperti kuli angkat. Lalu
akupun ketawa.
"Sejak kapan kamu berselera sama kuli?" godaku.
"Bukan mereka tapi... bentar-bentar... hm... itu!" telunjuk Vika
menancap di sesosok cowok bertubuh tegap dan tinggi,
berkulit bersih yang tiba-tiba muncul dari dalam rumah. Dan
astaga! Bener-bener ganteng! Kayak artis... hm... sejenis
Bertrand Antolin? Mungkin? Yang jelas, wajahnya terlihat
bersinar di mataku, dan apa itu? Aku seperti melihat
sepasang sayap putih di belakang punggungnya... Ya,
benar, dia serupa seorang malaikat untukku... saking tak
percayanya, aku sampai melongo melihatnya. Dan untuk
beberapa saat aku dan Vika dibuatnya terpaku, dan...
meneteskan air liur, sluuurrp... hehehe...
"Bener kan, Vey? Ganteng banget kan?" kata Vika setelah si
Bertrand masuk kembali ke rumah. Aku hanya
menganggukkan kepala, masih dengan ekspresi kagum.
"Itu beneran orang atau patung porselin?" tanyaku membuat
Vika tertawa.
"Gimana? Cocok nggak?" tanyanya lagi.
"Cocok apanya?" tanyaku heran.
"Cocok buat kamulah... aku kan udah punya Evan...," kata
Vika menggodaku. Aku sampai tersipu dibuatnya.
Bagaimana mungkin aku tidak tersipu? Vika menjodohkan
aku dengan cowok seganteng itu, cowok terganteng yang
pernah kulihat sepanjang masa.
"Jangan cuma diam, Vey... ayo ajak kenalan!" katanya
sambil menarik tanganku lagi, mengajakku menyeberangi
jalan, menuju rumah cowok ganteng itu. Aku pasrah saja
ketika Vika melakukannya, kenapa? Karena aku juga ingin
mengenalnya tentu saja...
***
"Permisi...," sapa Vika setengah berteriak, supaya cowok itu
keluar dari rumah. Dan benar saja, tak lama kemudian sosok
ganteng itu keluar dengan senyumnya yang ramah dan
manis, semanis madu... cieeee...
"Maaf, ada yang bisa saya bantu, Mbak?" tanyanya.
"Kok mbak sih, panggil aja aku Vika, dan ini temen aku,
namanya Veyara," kata Vika to the point seraya
mengulurkan tangannya.
"Rain...," katanya. Ow.. ternyata namanya Rain, nama yang
keren... sekeren yang punya... ohhh... ups! Mungkin aku
sekarang sudah gila dilanda asmara yang tiba-tiba, aku
tertawa geli dalam hati.
"Hm... Rain... Veyara ini kerjaannya bikin desain taman,
gimana kalo dia saja yang bikinin taman buat kamu, soalnya
kulihat rumah kamu ini masih gersang , sayang kan kalo
rumah sebagus ini dibiarin gersang?" Rain tersenyum lagi
lalu menatapku. Oh my GOD! Tatapan itu kurasa sedikit
menggoda... ge er aku dibuatnya... akupun kembali tersipu.
"Gimana kalo Veyara sendiri yang menawarkannya ke aku?
Kapan kita bisa membicarakan ini, Vey?" tanya Rain padaku.
Dug! Vika menyenggol siku tanganku dengan cukup keras
untuk menyadarkanku dari lamunan.
"Eh iya.. iya, boleh... kapan?" ucapku tergagap. Rain tertawa
kecil.
"Nanti malam saja, sekitar jam tujuh? Gimana?" tanyanya.
"Ok jam tujuh," kataku.
Aku mematut diriku di depan cermin ketika seseorang
mengetuk pintu kamarku. Setelah aku membukanya, Vika
pun masuk. Dan apa yang dilakukannya? Matanya
menatapku dari ujung rambut hingga ujung kaki, lalu
menggeleng-gelengkan kepala.
"Kenapa Vik?" tanyaku.
"Vey… Vey, pantes aja kamu tuh nggak pernah bisa dapet
cowok, lihat aja penampilan kamu sekarang ini! Jayus
banget sih! Emangnya udah berapa lama kamu nggak beli
baju baru sih!" protesnya.
"Emangnya kenapa harus pake baju baru! Kan aku cuma
mau nawarin dia bikin taman doang!" jawabku.
"Kamu ini lugu atau goblok sih! Itu kan cuma excuse aja, Bo'!
Siapa tau kan kamu bisa sambil menyelam minum air!"
"Maksudmu?" kataku sambil mengernyitkan alisku. Vika
kembali menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Baru kali ini aku kenal sama orang yang umurnya di atas
duapuluh tapi lugunya minta ampun! Maksudku... siapa tahu
Rain itu bisa jadi pacar kamu setelah kamu tawarin dia bikin
taman! Gitu aja kok bingung sih!"
"Apa!!! Rain jadi pacarku! Mana mungkin dia mau sama aku,
Vik! Aku aja nggak berani ngebayanginnya! Terlalu muluk,
tau!"
"Kenapa? Kamu juga cantik kok! Pinter lagi..., cuma...,"
"Cuma apa?"
"Cuma nggak pernah beli baju baru! Ayo kupinjami
punyaku!" lagi-lagi Vika menarik tanganku. Tapi kali ini
masuk ke kamarnya, dan memintaku mencoba beberapa
bajunya yang hampir semua terlalu sexi untukku. Sampai
pada akhirnya ketemu juga mana yang paling pantas
kupakai... versi Vika tentu saja, karena tetap saja aku
merasa tak ada satupun yang cocok untukku. Jelas ini bukan
gayaku! Tapi aku bisa berbuat apa, kubiarkan saja
sahabatku ini me-make over diriku. Sampai rambut
panjangku yang ikalpun dibakar dengan jepitan... entah apa
namanya?
"Ini namanya catok," kata Vika seolah menjawab pertanyaan
yang hanya kusimpan dalam hati.
"Emangnya biar apa?" tanyaku.
"Ya biar lurus... biar bagus kayak yang di iklan sampo, aku
heran sama kamu, Vey, masa sih udah lama tinggal di
Yogya masih aja jayus gitu!"
"Aku nggak suka ke salon, Vik, kau kan udah tahu itu kan?"
"Trus selama ini kamu kalo potong rambut di mana?" aku
tersenyum lalu menjawab,
"Tinggal tarik gini trus potong deh!" jawabmu enteng.
Vikapun tertawa.
"Untung rambutmu ikal, jadi klo motongnya nggak rata,
nggak ketauan, hahaha...," gelaknya.
Beberapa saat kemudian, selesailah Vika mendadani aku,
lalu akupun kembali mematut diriku di depan cermin.
"Gimana?" tanya Vika. Yang jelas aku melihat diriku lain dari
biasanya, dan ternyata... aku cantik juga ya... aku tersenyum
puas melihat hasil kerja Vika.
"Thanks, Vik, kalo nggak ada kamu aku nggak bakalan
keliatan seperti ini," Vika tertawa kecil.
"Udah sono berangkat, udah telat setengah jam kamu!"
serunya. Lal aku melihat jam tanganku, menunjukkan pukul
setengah delapan. Wah! Akupun buru-buru keluar untuk
menemui Rain.
***
Sesampainya di halaman depan rumah besar itu, aku
terdiam, ada rasa ragu yang membuatku enggan masuk ke
sana. Entah kenapa? Mungkin karena aku yang kurang
percaya diri atau mungkin karena sifatku yang pemalu setiap
bertemu dengan cowok, terutama yang ganteng dan
berwajah malaikat seperti Rain.
"Jangan pernah bermimpi punya pacar kayak Rain, Vey,
karena itu akan menyakiti
diri kamu sendiri!" kata hatiku seketika itu juga. Lalu kutarik
nafasku panjang, "Tapi bukankah tujuanku ke sini, mau
bicara soal taman?" berpegang dengan kata-kata itu,
akhirnya kuberanikan diri untuk masuk dan mengetuk pintu
rumah itu.
Tak seberapa lama kemudian, Rainpun membuka pintu, dan
wajah itu terlihat semakin ganteng karena terpantul temaram
lampu teras. Membuat jantungku berdegub kencang.
"Kamu telat setengah jam, Vey, jadi kupikir kamu nggak
datang," katanya sambil tersenyum begitu tulus, sehingga
tak nampak sedikitpun kemarahan, atau kekecewaan atas
keterlambatanku.
"Iya, maaf," jawabku.
"Nggak apa-apa, gimana kalo ketemuannya besok aja,
soalnya aku lagi ada perlu," kata Rain bahkan belum
mempersilakan aku masuk. Aku mengerutkan alisku heran,
Rain seperti menutupi sesuatu, terlihat dari cara Rain yang
tidak melebarkan pintunya. Hhh... entah aku harus berterima
kasih atau tidak pada Vika, yang jelas dia membuat Rain
membatalkan pertemuannya denganku...
"Hm, ya udah, nggak apa-apa..., aku permisi dulu," kataku
seraya membalikkan badan.
"Tunggu, Vey...," panggil Rain. Akupun menoleh.
"Besok aku saja yang ke rumah kamu, jam sepuluh pagi ya?"
katanya. Lalu aku mengangguk dan kembali berbalik.
"Satu lagi...," katanya lagi. Aku kembali menoleh. Kulihat
Rain tersenyum.
"Malam ini kamu terlihat cantik," katanya mengejutkanku.
"Sampai ketemu besok ya," sambungnya lalu menutup pintu.
Oh my God! Lututku terasa lemas mendengar ucapan Rain,
kalau saja aku tak takut kotor dan terluka, saat ini aku pasti
sudah ngesot menuju ke rumah. Aku sangat bahagia, hingga
tak ada kata lain yang bisa mengungkapkan rasaku ini.
Dan kepada Vika, rupanya aku harus berterima kasih
padanya…
Dilanda Cinta
Pagi ini aku terbangun oleh sinar mentari yang dengan
silaunya menyapa mataku dari balik gorden kamarku yang
semalam lupa aku tutup. Aku terlalu sibuk termenung sambil
terus menatap rumah Rain, sampai akhirnya aku ketiduran.
Ahhhh… kuregangkan otot punggung dan leherku yang
kaku, duh! Badanku malah jadi sakit semua.
“Vey! Bangun ini udah hampir jam sepuluh lho!” lagi-lagi Vika
mengedor-gedor pintu kamarku. Lalu segera kulihat jam dan
spontan aku melompat untuk bergegas ke kamar mandi.
***
“Kamu ini gimana sih, Vey! Niat nggak sih ketemu sama
Rain?” kata Vika dengan nada sedikit marah saat melihatku
keluar kamar, masih dengan rambut yang basah berbalut
handuk.
“Lepasin handuknya, emangnya kamu mau nemuin Rain
dengan gaya ala Aladin kayak gitu! Heh!” Vika menarik
handuk dari rambutku lalu segera memasukkan aku ke
kamarnya.
“Mau apa lagi sih, Vik?” tanyaku.
“Kenapa sih kok kamu getol banget biar aku jadian sama
Rain? Aku sampai kalah getol sama kamu…!” tanyaku
heran.
“Mau tahu alasannya?” kuanggukkan kepalaku.
“Ya karena Rain itu cocok buat kamu, lagian aku juga nggak
mau kamu selalu sendiri kalo malam minggu aku tinggal
pergi sama Evan, aku nggak tega, tau!” ungkapnya
membuatku tersenyum. Aku tak pernah menyangka kalau
Vika sebegitu peduli denganku. Padahal kami bersahabat
belum terlalu lama, baru sekitar tiga tahun, tepatnya dari
pertama kali masuk kuliah. Tapi kami baru saja dua bulan
tinggal bersama dalam satu kontrakan, sebelumnya kami
berdua ngekost di tempat yang berbeda.
Tak lama kemudian terdengar pintu rumah diketuk tiga kali.
Itu Rain! Spontan jantungku langsung berlomba, sampai
tanganku terasa dingin dan basah. Ahhh, baru kali ini aku
merasakan cinta yang begitu dahsyat! Tubuhku sampai
gemetaran, kepalaku.. mataku… semua terasa berdenyut,
seperti akan pingsan. Vika menepuk bahuku,
“Sudah, santai saja, jangan keliatan nervous gitu, norak tau!”
bisiknya. Lalu akupun menarik nafasku dalam-dalam,
mencoba untuk menenangkan diri.
***
Lagi-lagi kulihat senyum maut itu tersembul dari balik pintu.
Andai saja aku pantas pingsan, pasti sudah aku lakukan,
agar aku bisa terjatuh di pelukan Rain… oh my God…
membayangkannya malah membuatku semakin berkunangkunang…
dan BRUUUKKK!!! Gelap!
***
Kubuka mataku perlahan, kulihat Rain tepat di depan
depanku tengah menatapku cemas.
“Kamu lagi sakit ya?” tanyanya. Lalu kugelengkan kepalaku.
“Trus kenapa kamu pingsan?” Hah! Aku pingsan beneran??
Jadi? Tadi Rain yang menggendongku dan meletakkanku di
kasur? Dan saat ini Rain tengah menemaniku di kamar…
sendirian? Jadi aku hanya berdua dengan Rain? Ahhhh…
gelap lagi!
***
“Kamu ini kenapa sih. Vey! Pingsan nggak perlu sampai dua
kali kan?!? Jadi batal lagi kan kamu ketemuan sama Rain!”
serbu Vika saat aku terbangun dari pingsanku yang kedua.
“Abis, aku nggak kuat nahan detak jantungku yang keras
banget, Vik… rasanya aku nggak bakalan bisa deh ketemu
sama dia, aku takut kalo lama-lama aku mati,” Vika malah
tertawa mendengar ucapanku.
“Vey, Vey… mana mungkin orang bisa mati akibat degdegan
karena cinta? Kamu ini udah gede tapi masih aja
kayak anak kecil..,” kata Vika lalu menyambung lagi
tawanya.
“Trus aku musti gimana dong?” tanyaku mengiba.
“Tenangin dirimu dulu deh, tegasin kalo ketemuan kamu
sama Rain adalah untuk ngomongin bisnis, dan satu lagi,
jangan ngebayangin yang bukan-bukan, karena itu akan
bikin kamu makin deg-degan!” jelas Vika. Akupun
menganggukkan kepalaku. Yah, andai saja aku bisa
melakukannya semudah kamu mengucapkannya Vik…
***
Sore ini seperti biasa aku menyiram taman mungilku yang
terhampar di halaman, tapi bukan hanya itu, sekarang aku
punya kebiasaan baru… memandang rumah besar yang
berdiri kokoh di seberang, sambil berharap malaikat
pemiliknya keluar menghantar senyuman. Tak kusagka pintu
rumah itu terbuka, duh! Baru begitu saja, jantungku langsung
menunjukkan reaksinya, gimana ini! Payah! Aku langsung
gugup sendiri, sampai selang yang kubawa terjatuh dan saat
mengambilnya… Srrrooottt!!! Menyemprot wajahku. Ahhhh
beginikah efek Rain untukku! Namun ternyata yang keluar
adalah seorang wanita tengah baya, yang berwajah cukup
cantik keindo-indoan. Mungkin itu mamanya. Lalu kulihat
Rain muncul di balik pintu. Sekilas kudengar pembicaraan
mereka.
“Ya sudah, mama pulang dulu ya, ati-ati kamu di sini,” kata
wanita itu sambil mencium pipi Rain, Rain membalasnya,
lalu melambaikan tangan.
“Mama juga hati-hati di jalan ya,” katanya. Oooh… so
sweeet, terkesan sekali selain ganteng ternyata Rain sangat
menyayangi mamanya. Semakin membuatku terpesona oleh
sosok malaikat yang terpancar dari auranya.
Setelah sang mama menghilang dengan mobil mahalnya,
Rain menatapku dari ambang pintu, lalu kembali
melemparkan senyumnya. Alamaaaakkk!!! Untung saja aku
ingat kata Vika… "TENANGKAN DIRIMU!" Ufff…
berulangkali aku mengeluarkan udara dari mulutku, seperti
orang mau melahirkan yang sering kulihat di TV saja… aaah
biar!
Lalu setelah Rain masuk, akupun kembali menyiram taman
dengan santai, bahkan aku kini bersenandung.
Bersenandung sebuah lagu bahagia, yah… aku memang
bahagia, bertetanggakan cowok seperti Rain…
“Eh… hem!” kudengar seseorang berdehem di dekatku,
akupun menoleh… ternyata… RAIN!!! Rain sudah berdiri di
belakangku tanpa aku sadari, dan parahnya lagi selang yang
kubawa masih menyala dan mengucur di atas kaki Rain
dengan santainya. Rain tertawa.
“Jadi menurutmu kakiku kotor ya? Sampai kamu harus
mencucinya?” ucapnya menyadarkanku. Lalu segera saja
selang itu aku tekan untuk menghentikan aliran airnya, dan
sambil menarik nafas dalam aku beranjak mematikan kran.
Hhh.. tenang, Vey, tenang… hiburku sendiri, seraya kembali
berdiri dan menghampiri Rain.
“Ada apa?” tanyaku.
“Ini aku bawain sesuatu buat kamu,” Rain menyerahkan
sebuah bingkisan kecil padaku.
“Apa ini?” tanyaku lalu membukanya. Aku mengerutkan
alisku saat melihat benda yang Rain berikan.
“Itu alat bantu pernafasan, kamu kena asma kan?” katanya.
Asma?!? Sejak kapan aku kena asma!
“Kemarin kamu pingsan kehabisan nafas, jadi aku beliin
kamu ini,” katanya lagi. Entah aku harus bilang apa, karena
aku tahu aku tak mungkin mengatakan yag sebenarnya,
kalau kemarin aku pingsan bukan karena kehabisan nafas,
tapi karena dia…
“Makasih,” kataku singkat.
“Jadi kapan kita bisa ngobrol soal taman? Sekarang bisa?”
katanya. Lalu aku menganggukkan kepalaku.
“Masuk dulu, Rain… aku persiapin dulu gambar contohnya,”
kataku agak lancar… hhh aku bersyukur!
***
Rain melihat beberapa contoh gambar yang sudah aku
persiapkan sebelumnya, lalu kembali meletakkannya di
meja.
“Semua bagus, kamu aja yang pilihin buat aku,” katanya.
“Tapi selera orang kan beda-beda…,” jawabku.
“Aku percaya kamu pasti pilihkan yang terbaik buat aku,
Vey…,” katanya sambil menatapku dalam. Lha! Ini baru
bahaya! Aku bisa pingsan lagi kalau begini terus! Aku
mencoba menghindari tatapan itu dengan kembali
berkonsentrasi mengamati setiap gambar yang ada di
depanku sambil terus menenangkan diri. Setelah jantungku
agak mereda, aku mengambil salah satu gambar favoritku
lalu kuberikan pada Rain.
“Ini yang paling aku suka, karena selain hong sui-nya bagus,
ini juga…,” Rain meletakkan jari telunjuknya tepat di depan
bibirku.
“Ya, aku tahu… ini memang yang lebih indah dari yang lain,
tapi menurutku masih ada yang lebih indah dari ini,” hhh…
bener kan, selera kita nggak sama… pikirku.
“Kamu, Vey… kamu adalah yang terindah yang pernah aku
kenal…,” Gubraakkkk!!! Tapi tidak, aku tidak mau pingsan
kali ini… kucoba mengalihkan pembicaraan,
“Kamu mau minum apa, Rain… air putih atau teh? Aku
ambilin dulu…,” kataku seraya beranjak, tapi tangan Rain
menahanku.
“Aku nggak haus, Vey… aku cuma pengin kamu temenin
aku aja, jadi kamu jangan kemana-mana, di sini aja ok?”
katanya. Akupun kembali duduk.
“Kenapa? Kamu takut aku ngerayu kamu? Saat ini aku
nggak lagi ngerayu kamu, Vey, aku cuma pengin ngungkapin
sebuah kejujuran, kejujuran kalo kamu adalah cewek yang
spesial buat aku… kamu tahu kenapa? Karena
kesederhanaan dan keluguanmu yang terpancar dari wajah
dan tingkah lakumu… yang belum pernah aku temuin pada
cewek manapun selama ini,” kata Rain lalu menggenggam
tanganku. Sementara aku hanya mampu untuk diam, sambil
meredakan degub jantung yang terus menyiksa. Rain
mengangkat daguku lalu menatap mataku dengan lembut.
“Aku… jatuh cinta sama kamu pada pandangan pertama,
Vey,” Ahhhhh! Akupun hanyut dalam ciuman mesra Rain
yang menghantarkanku terbang ke langit tingkat tujuh.
Ciuman pertama yang tak akan pernah kulupakan, bau nafas
hangat dan segar pertama yang tak akan pernah kubiarkan
menghilang.
“Aku juga mencintaimu, Rain…,” desahku.
Ternyata Dia Bukan Malaikat
Rain adalah cowok yang sempurna, selain ganteng, dia juga
memperlakukan seorang cewek dengan sangat baik. Begitu
baiknya sampai selama enam bulan kami berpacaran, Rain
tak pernah menuntut yang berlebihan padaku. Dia sama
sekali berbeda dengan Evan, yang menurut Vika, selalu
menjurus ke hal yang belum pantas untuk dilakukan, sampai
pada akhirnya Vika meninggalkan Evan dua bulan yang lalu
karena risih akan bujukan cowok itu.
“Kamu beruntung punya cowok seperti Rain, Vey,” kata Vika
saat kami makan siang di sebuah food court di Ambarukmo
Plaza.
“Semua juga berkat kamu kan?” kataku. Setelah dua bulan
berpisah dari Evan, hidupnya seolah berubah menjadi
hampa, aku benar-benar tak tega melihatnya, hhh…
sebenarnya ingin sekali aku membalas kebaikan Vika yang
telah menjodohkan aku dengan Rain, tapi bagaimana
caranya? Aku hanya bisa menerima ajakannya untuk jalan
saat dia merasa bosan, yah hanya itu yang bisa aku
lakukan… menyediakan waktu untuknya. Andai aku bisa
berbuat lebih untuk sahabatku ini…
“Mungkin sekarang udah saatnya untuk cari cowok lagi, Vik,”
kataku sambil menyedot es kelapa, minumanku. Namun
reaksi Vika masih sama seperti biasanya, menggelengkan
kepalanya.
“Aku masih malas, Vey, trauma,” jawabnya singkat. Dan aku
hanya bisa menghargai keputusannya.
“Trus, apa kamu udah dikenalin sama keluarganya Rain?”
tanyanya. Aku menggelengkan kepalaku.
“Rain bilang mama dan papanya orang sibuk, sering ke luar
negeri, jadi masih nunggu saat yang bener-bener pas,”
jawabku. Vika menganggukkan kepalanya. Lalu sesaat
kemudian kulihat Vika mengernyitkan alisnya menatapku…
eh bukan dia bukan menatapku tapi ke belakangku… ada
apa? Akupun menoleh karena penasaran. Kulihat Rain
sedang bersama mamanya, membawa banyak belanjaan.
Dan mereka menuju ke food court ini.
“Tuh ada Rain sama mamanya, ini kesempatan buat kamu
untuk ngenalin diri, Vey, mumpung sempet kan?” kata Vika
bersemangat. Bener juga kata Vika, itu yang terlintas di
pikiranku. Setelah pamit dengan Vika, aku menghampiri
mereka yang duduk tak seberapa jauh dari tempatku duduk.
“Sore Tante,” sapaku. Kulihat wajah Rain terperanjat melihat
kehadiranku. Lalu akupun melemparkan senyumku yang
termanis untuknya.
“Sore…, siapa ya?” tanya wanita itu lalu menatap Rain
dengan tatapan penuh tanda tanya.
“Saya Veyara, Tan… saya…,”
“Dia temen aku, Ma,” sahut Rain mengejutkanku. Bagaimana
aku tidak terkejut? Rain mengatakan kalau aku ini
temannya? Kenapa dia tidak bilang saja kalau aku ini
pacarnya???
“Owh, jadi temannya Rain ya? Satu kampus?” tanya wanita
itu padaku.
“Iya, Ma.. satu kampus,” jawab Rain lagi sebelum aku
menjawabnya. Entah kenapa dia berbohong seperti itu pada
mamanya! Jelas aku ingin tahu!
“Maaf, Tante… saya pinjam Rain sebentar…,” kataku seraya
menarik tangan Rain menjauh dari mamanya.
Saat kami berdiri berhadapan, kutatap mata Rain dengan
tajam, karena jelas aku tersinggung dengan ucapannya…
“Apa maksud kamu, Rain?!” tanyaku. Rain menatapku
dengan tatapan yang aneh, sebuah tatapan yang selama ini
belum pernah kulihat. Ada rasa tak suka di dalamnya.
“Sekarang bukan waktu yang tepat untuk ngenalin diri ke
mamaku, Vey!” katanya tegas.
“Tapi kenapa? Toh kita udah pacaran selama enam bulan
kan? Apa salahnya aku…,”
“Jelas salah, karena aku belum pengin melakukannya!” Rain
menatapku tajam, setajam belati yang diap menusuk hatiku.
Lalu kubalas tatapan itu,
“Owh jadi bukan karena mama papa kamu sibuk… tapi
karena kamu yang belum mau ya? Kamu jahat, Rain… kamu
udah boongin aku!” yang jelas aku kecewa, cowok yang
selama ini aku kira tulus, ternyata menyimpan dusta.
“Vey… bersabarlah, please…,” kata Rain merendahkan
nada suaranya. Andai saja pembatas bendungan airmataku
tidak kuat, tentu saat ini juga aku akan menangis sejadinya.
Hatiku teramat sangat sakit, menyadari sesuatu yang selama
ini tak pernah terpikirkan olehku…
“Aku tahu kenapa kamu ngelakuin ini semua, Rain… kamu
malu kan ngenalin aku ke mama kamu? Karena aku bukan
cewek dari keluarga yang kaya kayak kamu, dan aku juga
bukan cewek yang cantik yang seimbang sama kamu… tapi
kamu lupa satu hal, Rain… cinta nggak mandang semua itu,
tapi aku juga nggak akan maksain kamu untuk bisa nerima
aku apa adanya… karena memang beginilah keadaanku,
keadaan yang sama sekali nggak sesuai untuk kamu dan
keluargamu…,” akhirnya pecah sudah tembok pembatas itu,
aku menangis. Sementara Rain masih saja tak berbuat apaapa,
malahan dia meninggalkanku, tanpa sepatah katapun.
“Kita pulang sekarang, Vey,” kata Vika sambil memelukku.
Lalu akupun pergi meninggalkan tempat itu bersama
ceceran airmata.
***
“Vey…,” Vika menyentuh bahuku yang sesenggukkan
menangis di balik bantal.
“Rain pasti punya alasan ngelakuin semua ini, Vey, soalnya
aku yakin banget, cowok sebaik Rain nggak akan gitu aja
ngambil keputusan… mungkin dia emang sengaja akan
ngenalin kamu setelah dia banyak cerita tentang kebaikankebaikan
kamu… jadi dengan begitu, saat ngenalin kamu
pada keluarganya, mereka akan nerima kamu apa
adanya…,” aku memutar otak dan mencampurkannya
dengan suara hatiku. Dan akupun mulai tenang, mungkin
benar kata Vika…
“Sayang banget kan kalo kamu harus putus sama cowok
yang udah begitu sempurna, jarang lho ada cowok yang
kayak Rain… jangan sampai kamu nyesel, Vey,” Vika
mengelus rambutku perlahan lalu beranjak meninggalkanku,
seolah sengaja agar aku bisa leluasa berpikir.
***
Aku tak tahu apakah Rain akan memaafkanku atau tidak,
yang jelas aku harus minta maaf padanya, karena
sesungguhnya di dalam hatiku, aku tak akan mampu bila
harus kehilangan sosok Rain yang sudah begitu melekat
pada nadiku. Entah apa yang akan aku lakukan bila harus
kehilangan dia…
Dengan berbekal semangat '45, aku melangkah menuju ke
rumah Rain malam ini. Perlahan aku memasuki halaman
rumah itu, sebuah halaman dengan taman indah hasil
sentuhanku beberapa bulan yang lalu... yang membuatku
dekat dengan Rain… Hhhh... kuhela nafas panjang
mengenang semua itu. Semakin membuatku tak ingin
kehilangan Rain.
Kuketuk pintu rumah itu berkali-kali, tapi tak ada sahutan,
sepertinya Rain sedang tak ada di rumah, hhh… lalu akupun
duduk di teras sembari menunggunya pulang. Lalu kuambil
ponsel dari tas kecilku, dan kutekan nomor Rain. Beberapa
kali tetap tak ada jawaban. Aku mulai cemas, tak biasanya
Rain seperti ini… lalu akupun mencoba dan mencoba lagi…
tetap tak ada jawaban. Jangan-jangan… akupun beranjak
lalu membuka pintu rumah yang ternyata tak terkunci itu…
pikiranku kalut tak keruan, takut terjadi sesuatu ada Rain…
pikiranku terbang tak tentu arah, memikirkan Rain yang
berlumuran darah, bunuh diri karena aku! Teringat saat itu
Rain pernah berkata,
“Kalau aku sampai putus sama kamu, aku lebih baik nggak
usah hidup aja sekalian…,”
“Kok kamu ngomong gitu sih, Rain… nggak baik tau!”
jawabku.
“Kamu itu satu-satunya orang yang bisa ngertiin aku, Vey…
yang bisa kasih semangat ke aku… Cuma kamu satusatunya
orang di dunia ini yang aku butuhin… cuma
kamu…,”
Dengan panik aku mencari Rain di dapur, kamar mandi,
halaman belakang… tapi tak kutemukan.
“RAIIIINNN!!!” teriakku. Namun tetap tak ada sahutan. Lalu
akupun naik ke lantai atas, aku mendengar suara gemericik
air dari kamar Rain… Aku bergegas membukanya…
Tetap saja tak ada Rain di sana, lalu langkah kuteruskan
menuju ke kamar mandi yang ada di dalam kamar itu…
kamar mandi yang dari dalamnya mengeluarkan suara air
yang mengucur cukup deras. Mendengar suara itu membuat
otakku membayangkan yang bukan-bukan! Kubayangkan
tubuh Rain membiru karena menenggelamkan diri di bathup!
Ya Tuhan, aku tak sanggup melakukan ini… bagaimana
kalau semua dugaanku benar! Dengan mengumpulkan
segenap nyali dan kekuatan… akupun akhirnya membuka
pintu kamar mandi itu..
JREEENNNGGGG!!!!
Kulihat tubuh Rain berpelukan dengan mamanya di bawah
siraman shower dengan begitu panasnya. Adegan yang tak
pernah kubayangkan sedikitpun akan kulihat dengan mata
kepalaku sendiri. Rain tampak terkejut melihatku, demikian
juga dengan mamanya… Akupun segera berlari
meninggalkan tempat itu dengan hati yang tak keruan, kacau
balau, kusut! Hancur berkeping-kepin, entah apa istilah yang
lebih pantas untuk kuungkapkan, aku sudah tak tahu lagi…
yang ada di benakku hanya JIJIK dan JIJIK!
Bagaimana mungkin seseorang yang selama ini
kubayangkan sebagai sesosok malaikat bisa berbuat itu?!?
Bahkan iblispun akan berpikir dua kali untuk tidur dengan
mamanya sendiri!

Rahasia Masa Lalu
Sudah tiga hari sejak kejadian itu, aku mengurung diri di
dalam kamar. Duka yang kurasakan terlalu amat
menyakitkan, sehingga membuatku terus menangis. Bahkan
tak kuhiraukan Vika yang terus-menerus memanggilku,
menyuruhku makan, tapi aku tetap tidak keluar dari kamar,
sudah cukup buatku memakan sedikit snack dan air minum
yang selama ini kusimpan di kamarku. Hhhh… Entah
bagaimana caranya supaya aku bisa menghapus bayangan
kejadian malam itu dari mataku? Aku tak tahu… atau
mungkin seumur hidup aku tak akan pernah bisa…
Seperti biasa, siang ini kulihat rumah Rain dari jendela, ada
perasaan rindu di antara benci yang mencekam… tak seperti
biasanya Rainpun sama sekali tidak terlihat keluar rumah.
Yang jelas aku merasa heran, karena sampai saat ini Rain
belum juga mengucapkan kata maaf padaku… entah apa
yang ada di otaknya sehingga dia melakukan itu? Atau
mungkin dia merasa tidak bersalah? Uuhh… menyebalkan!
Tapi… seandainya dia minta maaf... apakah aku akan
memaafkannya?
“Nggak! Kesalahannya sudah teramat sangat berat! Bukan..
bukan hanya kesalahan, tapi ini sudah kelainan! Aku nggak
akan pernah maafin dia! Sampai kapanpun! Rain terlalu
menjijikkan untuk kumaafin…,” pikirku.
Lalu sesaat kemudian, kulihat Rain keluar dari rumahnya
dengan membawa beberapa tas. Sesekali Rain memandang
ke rumahku, mungkin dia mencariku untuk minta maaf, atau
kangen? Huh biarin! Untuk apa juga aku masih pedulikan
dia, bukankah rasa jijikku sudah melebihi ambang batas
kemanusiaan! Kulihat Rain menyeberang dan berjalan
memasuki halaman rumahku. Tak seberapa lama kemudian
kudengar Vika mengetuk pintu kamarku. Tapi aku tetap pada
pendirianku, tak akan menemui Rain…
Lalu kulihat Rain pergi dengan langkah gontai, sambil
sesekali menoleh dan memandang ke jendela kamarku.
Jujur, ada perasaan sedih menyelinap di hati ketika aku
melihat ekspresinya, tak dapat kupungkiri rasa cinta masih
saja kurasa, tapi karena rasa cinta itu juga yang membuatku
tak bisa menerima perlakuannya… lalu aku bisa apa?
Kecuali hanya pasrah membiarkannya menghilang dari
pandangan.
“Vey… bukain dong pintunya, aku mau ngomong nih,” kata
Vika. Lalu akupun bergegas membukanya. Ternyata… aku
masih saja bersemangat untuk mendengar sesuatu tentang
Rain.
“Akhirnya setelah tiga hari kamu buka pintu juga, Vey…,
kamu ini kenapa sih? Berantem ya sama Rain? Soal apa?
Kok kamu nggak curhat sih sama aku? Masih soal kemarin
pas di food court ya?” Vika memberodongku dengan
segudang pertanyaan.
“Ngapain Rain ke sini?” tanyaku tanpa basa-basi.
“Rain pergi, Vey… dia tadi mau minta maaf sekalian pamit
sama kamu,” kata Vika cukup membuatku terkejut.
“Emangnya dia mau pergi ke mana?” tanyaku. Vika
mengangkat bahunya.
“Ini nomor ponselnya yang baru, kamu tanya aja ke dia
langsung tentang itu, soalnya tadi dia nggak sempet cerita
banyak sama aku,”
“Menurutmu apa yang harus aku lakuin, Vik?”
“Apa yang harus kamu lakuin, cuma kamu sendiri yang tahu,
Vey… karena ini tentang apa yang kamu rasain… yang jelas
kalo aku jadi kamu, aku akan maafin dia, meskipun akhirnya
cuma bisa temenan aja sama dia, karena kehilangan
seseorang yang sangat dicintai, sangat berat, Vey… aku
udah ngalaminnya sendiri, sampai kadang aku merasa kalo
aku sudah mengambil keputusan yang salah,”
“Apa yang kamu lakukan sudah benar, Vik… kalian memang
belum pantas ngelakuinnya,”
“Tapi aku bisa cari cara lain kan? Misalnya… minta dia untuk
nikahin aku… yah meskipun kita berdua masih kuliah, tapi
nggak ada salahnya kan menikah dulu? Toh aku dan Evan
sudah sama-sama dewasa…?!? Perpisahan bukan satusatunya
jalan, Vey… dan aku menyesal,” kupeluk Vika
seolah ingin memberinya kekuatan, walaupun saat ini aku
sendiripun sedang rapuh.
“Vey, jangan biarin hal itu terjadi juga sama kamu, paling
nggak, dengerin penjelasan dari Rain biar kamu tahu apa
alasannya ngelakuin semua ini dan kalo kamu memang
udah nggak bisa nerima dia sebagai pacar kamu lagi, kamu
masih bisa nerima dia sebagai teman kan, Vey? Daripada
seumur hidup kamu terus penasaran dan nyesel karena
nggak bakal ketemu sama dia lagi… ,” Untuk kesekian
kalinya, ucapan Vika terdengar benar di telingaku. Rain
bukanlah orang yang suka melakukan suatu hal tanpa
alasan, yang jelas itu yang kutahu selama ini…
“Nah sekarang juga kamu kejar dia, pakai motorku nih,
mungkin dia masih ada di pintu gerbang depan nungguin
taxi,” lalu akupun segera melesat ke pintu gerbang
perumahan tempat kami tinggal. Namun… sia-sia, tak ada
Rain di sana. Lalu akupun turun dari motor dan berjalan ke
arah pak Rochim, satpam, yang sedang duduk di depan
gerbang bersama temannya.
“Pak, tadi liat Rain nggak?”
“Owh, mas Rain… lihat Mbak?”
“Udah lama dia dapat taxinya?” tanyaku.
“Udah lama gimana, Mbak… dari tadi orangnya aja masih
nungguin kok… tuh di dalam pos…,” kata pak Rochim. Entah
perasaan apa yang kini melanda hatiku, antara senang dan
miris… bercampur baur menjadi satu. Namun itu tak
membuatku urung menghampiri Rain, aku tak mau menyesal
di sepanjang usiaku, seperti apa yang dikatakan Vika.
Entah kenapa, debar dada yang telah lama menghilang…
tiba-tiba saja kini datang kembali. Ingin rasanya kuusir pergi,
tapi yang kubicarakan di sini adalah jantung, suatu benda
yang tak bisa kukendalikan semauku. Lalu akupun
melakukan trik lama untuk mengatasinya… kutarik nafas
panjang lalu kuhembuskan lewat mulut... Akhirnya aku
berani melongokkan kepalaku ke dalam pos satpam, kulihat
Rain tengah tertidur nyenyak dengan menelungkupkan
kepalanya di bangku yang ada di sana. Hhh… melihat wajah
itu membuatku tak percaya dengan kejadian yang kulihat
semalam, wajah yang begitu polos dan tulus… seolah hanya
aura kebaikan saja yang terpancar dari sana.
Tak lama kemudian kulihat sebuah mobil mewah warna
hitam berhenti di dekat pos. Dan keluarlah dari dalamnya,
seorang wanita yang tak lain dan tak bukan adalah mama
Rain. Wanita itu terlihat sangat marah, bahkan dia
menyingkirkan aku begitu saja dari pintu dan
membangunkan Rain dengan mencolek lengan cowok itu
dengan keras.
“Hey bangun!” kulihat Rain mengerjapkan matanya.
“Kamu pikir setelah semua yang aku beri untuk hidup kamu,
kamu bisa ninggalin aku gitu aja!” bentak wanita itu seraya
menyinggung kepala Rain seenaknya.
“Tunggu! Apa-apaan ini! Bagaimana mungkin seorang mama
memperlakukan anaknya seperti itu! Bukankan itu udah jadi
tanggung jawab anda sebagai mama!” bentakku tak mau
kalah, karena sesungguhnya aku tak rela melihat Rain
diperlakukan seperti itu.
“Diam kamu! Semua ini gara-gara kamu kan! Emangnya
kamu itu siapa heh! Dasar pelacur!” kata wanita itu
mendorong tubuhku dengan jari telunjuknya. Aku menatap
mata wanita itu marah,
“Saya heran, kenapa wanita yang tampak begitu terhormat
dan anggun bisa melakukan hal serendah ini! Berteriakteriak
nggak keruan… Apa anda sudah nggak peduli dengan
pikiran orang lain terhadap anda?” kataku. Wanita itu seperti
tersadar mendengar ucapanku, lalu dia segera menarik
tangan Rain untuk membawanya naik ke mobil, namun Rain
mengibaskan tangan itu.
“Aku nggak mau ikut Mama lagi! Semua sudah selesai!”
katanya. Wanita itu semakin nanar melihat Rain yang mulai
marah.
“Apa maksudmu selesai?!? Apa kamu sudah lupa dengan
status kamu sebelum kenal aku! Kamu itu bukan siapasiapa,
Rain! Kamu cuma seorang gigolo yang ngejual diri
karena butuh uang untuk bayar rumah sakit adik kamu yang
sekarat! Kamu pikir setelah aku angkat derajatmu dan biayai
semua kebutuhan kamu, kamu bisa dengan seenaknya saja
ninggalin aku! Memangnya kamu anggap aku ini apa!!!
Seseorang yang bisa kamu manfaatin untuk kepentingan
kamu! Heh!” Gigolo? Apa itu? Aku tak tahu arti istilah itu, tapi
aku tahu pasti arti kata ‘menjual diri’… apakah… artinya.. ?
Aku terkejut setengah mati. Jadi selama ini aku pacaran
dengan seorang mantan gigolo, pelacur cowok?!?
Sebenarnya ada apa ini? Kenapa bisa seorang mama
mengatakan itu??? Semua terasa begitu membingungkan
untukku!
“Aku pasti akan bayar semuanya! Meskipun itu artinya aku
harus bekerja bercucur keringat campur darah!” balas Rain.
“Hutang budimu ke aku, nggak bisa dinilai pake uang! Apa
kamu lupa wajah gantengmu itu dari mana? Kalau bukan
karena aku yang membawamu operasi plastik ke Amerika
setelah kecelakaan itu, sekarang kamu sudah jadi monster,
Rain!” kata wanita itu tak mau kalah. Membuatku terkejut
mendengarnya, entah apa maksud wanita itu dengan
mengatakan kalau tanpanya wajah Rain sudah menjadi
monster?
Dan yang lebih mengejutkan lagi, Rain mengeluarkan
sebuah cutter dari tasnya, lalu mengarahkannya pada
wajahnya sendiri.
“Ok kalau itu yang Mama mau!”
“Kamu mau apa?!?” teriak wanita itu bersamaan denganku.
“Denger, Ma, asal aku bisa lepas dari Mama, dan kembali
memiliki hidupku! Apapun akan kulakukan! Termasuk
mengembalikan wajahku ini!” Rain mulai menusukkan cutter
itu di pipinya, membuatku menjerit ketakutan..
“Hentikan!!! Sudah cukup! Rain… jangan lakukan itu!” kataku
sambil menangis bersimpuh di kakinya. Aku tahu aku tak
akan sanggup melihat Rain menjadi begitu menderita.
“Sudahlah, Vey… biarin aku ngelakuin ini, aku udah jenuh
dengan wajah yang mengendalikan hidupku ini…,” katanya
lirih. Aku mendongak ke atas menatapnya dengan tatapan
memelas, dengan harapan Rain akan menghentikannya
demi aku. Tes! Tes! Darah segar menetes dari pipi Rain,
mendarat tepat di pipiku. Tapi ternyata Rain tetao nekad
melakukannya. Lalu akupun segera bersimpuh di kaki wanita
itu, mencoba memohon padanya agar meminta Rain
menghentikan tindakannya. Tapi wanita itu hanya mematung
menatap Rain yang mulai menyobek wajahnya.
Melihat itu semua, jelas aku shock ditambah lagi dengan
tubuhku yang masih lemas karena selama tiga hari hanya
makan snack dan minum seadanya, membuatku terkulai
pingsan.
***
Beberapa saat kemudian, aku terbangun, dan langsung
kuteriakkan dengan keras nama Rain. Aku menyesal kenapa
aku begitu lemah, sehingga di saat genting seperti itu, aku
malah pingsan! Tapi… tapi ada di mana aku sekarang? Tibatiba
Vika masuk dan berlari menghampiriku,
“Vey, kamu nggak apa-apa kan? Tadi pak Rochim yang
bilang ke aku kalo kamu dilarikan ke rumah sakit…, kamu
sih, udah tiga hari nggak makan! Susah banget nih orang
kalo diomongin! Jadi lemes kan?!? ” tampak jelas kulihat
kecemasan di wajah Vika.
“Aku nggak apa-apa, Vik, tapi mana Rain? Aku mau ketemu
sama dia,” kataku.
“Rain ada di depan kamar, Vey,”
“Gimana keadaannya? Apa dia baik-baik aja?” kataku seraya
melepasi semua infus yang melekat di tanganku.
“Kamu jangan turun dulu, Vey, kamu kan masih sakit…, dia
baik-baik aja kok, malahan dia sudah sempat cerita ke aku
tentang kejadian tadi,” lalu kutatap wajah Vika.
“Dia cerita apa aja, Vik?” aku kembali duduk di tempat tidur.
Vika menarik nafasnya panjang.
“Semuanya, Vey… ,”
“Tentang gigolo?” tanyaku. Vika mengangguk.
“Dia terpaksa ngelakuinnya karena adiknya kena gagal
ginjal, Vey… dan dia nggak punya uang untuk terapi cuci
darah yang harus dijalani adiknya seminggu sekali. Yah,
walaupun akhirnya si adik meninggal juga… kasihan dia…,
aku panggilin dia ya, biar kalian bisa ngobrol,” kata Vika.
“Tunggu Vik… katakan apa yang harus aku lakuin, aku sama
sekali nggak nyangka kalo profesi Rain itu…,” Vika
menggelengkan kepalanya, melarangku melanjutkan katakataku.
“Itu sudah masa lalu, Vey… rasanya nggak adil buat Rain
kalo dia terus divonis seperti itu hanya karena ingin nolongin
adiknya yang sekarat…,” benar kata Vika, tak seharusnya
aku berpikiran buruk tentang itu. Kekasih macam apa aku
ini? Kenapa aku tak bisa berpikiran dewasa seperti Vika?
Aku mulai mengutuk diriku sendiri.
Tak lama kemudian kulihat Rain muncul dengan senyuman
dan perban di pipi kanannya.
“Rain…,” teriakku lalu berhambur memeluknya.
Kubenamkan kepala di dadanya, menumpahkan seluruh
airmata yang sedari tadi terus menggenangi pelupuk
mataku.
“Kupikir aku akan kehilangan kamu, Rain… kupikir kamu
mau bunuh diri!!!” kataku di sela tangis yang menderu.
Ternyata cinta tetaplah cinta, itu yang aku rasakan…
meskipun aku tahu siapa Rain… aku tetap tak ingin
kehilangan dia… dan saat ini yang aku inginkan adalah terus
bersamanya… tak peduli siapa Rain, tak peduli apa yang
telah dilakukannya… Rain mengelus rambutku lalu berkata,
“Thanks Vey, karena kamu akhirnya aku bisa memiliki
kehidupanku yang selama ini dikuasai oleh mama,” katanya.
“Tapi kenapa mamamu ngelakuin semua itu, Rain?” tanyaku.
Rain melepaskan pelukannya lalu membawaku duduk.
“Sebenarnya dia bukan mamaku, Vey… tapi seorang tante
kesepian yang ditinggal suaminya kerja di Jerman…,
namanya Anita,”
“Maksudmu?” aku tak mengerti. Rain menghela nafasnya
panjang.
“Aku adalah simpanannya, Vey, karena itu aku manggil dia
mama, supaya nggak ada orang yang curiga…, dan
sebenarnya namaku juga bukan Rain… tapi Raditya… maaf,
Vey, selama ini aku udah nggak jujur sama kamu… bukan
karena aku sengaja ngebohongin kamu, tapi karena aku
bingung antara memilih cinta atau hutang budi…,”
“Lalu apa yang membuat kamu mengambil keputusan ini?”
“Kamu, Vey… setelah kejadian tiga hari yang lalu, aku
ngerasa salah sama kamu, aku jadi sadar betapa egoisnya
cinta yang selama ini aku kasih ke kamu… seseorang yang
pantas dicintai dengan tulus dan jujur. Kehilangan adikku...
dan kamu juga membuat aku sadar, apa yang sebenarnya
ingin kukejar dalam hidupku… kebahagiaan, terutama
kebahagiaan orang yang tulus mencintai aku… bukan
sekedar melunasi hutang budi atau yang lainnya… Vey,
kamu mau kan maafin aku?” tanyanya sambil menatap
mataku dalam-dalam.
”Aku tahu kamu kecewa, Vey… karena ternyata aku nggak
sesempurna yang kamu kira, aku nggak punya apa-apa
selain seonggok tubuh yang menjijikkan dan selembar wajah
yang palsu… Jujur saja sedari dulu aku ngerasa nggak
pernah pantas untuk jadi pendampingmu, Vey… hanya saja
aku nggak bisa menahan diri untuk nggak mencintai kamu…
tapi sekarang aku sadar, aku harus bisa… karena kamu
pantas ngedapetin cowok yang jauh lebih baik dari aku,”
katanya. Membuatku tahu alasan Rain tak pernah
menyentuhku selama ini…
“Tapi please… ijinin aku untuk jadi temen kamu... Kita
salaman ya?” tanyanya seraya mengulurkan tangannya
padaku. Lalu akupun melirik Vika yang berdiri di hadapanku.
Vika tersenyum dan mengedipkan sebelah matanya, dan
aku tahu apa artinya… bahwa hanya aku yang tahu apa
yang harus aku lakukan, karena aku yang merasakannya…
“Maaf… aku nggak bisa jadi temen kamu…,” jawabku tak
membalas uluran tangan Rain, mengejutkan Rain dan juga
Vika.
“Karena… hhh…,” kutarik nafasku yang mulai tersengal,
karena penyakit debar jantungku kembali kambuh.
“Aku mau lebih dari itu… aku mau kamu jadi pendampingku
selamanya, nggak peduli gimana keadaanmu, nggak peduli
topeng apa yang kamu pakai… dan nggak juga peduli
dengan apa yang kamu punya, selama kamu masih punya
cinta… maka akupun sama…,” jawabku. Lalu Rainpun
kembali menarikku ke dalam pelukannya. Tangis haru
terdengar dari bibirnya. Sementara Vika, kulihat dia
tersenyum sambil mengacungkan ibu jarinya.
“Dan satu hal lagi yang ingin aku minta sebelum memulai
semua dari awal, kuburlah nama Rain bersama masa lalumu
yang kelam, dan mulai sekarang aku akan panggil kamu
Raditya…,” Raditya mempererat pelukannya. Dan aku…
bahagia…karena cowok yang sekarang ada di depanku
adalah Raditya… Raditya yang baru, yang akan menata
kembali hidupnya bersamaku…
Tentang Penulis
Leoni Margaretha atau yang lebih dikenal
dengan panggilan Onik merupakan ibu rumah
tangga yang bercita-cita menulis cerita film.
Tulisan-tulisannya banyak terdapat pada situs
penulis kemudian.com. Cerita ini merupakan salah satu
ceritanya di antara ratusan cerita dan puisi lainnya.

Members

Translate

English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified