Download applikasi baca novel online untuk android disini: DOWNLOAD

TempatKu di Sisi Mu

Gola Gong

Episode 1

Tempatku di Sisi-Mu

Bashir Merasa Bersalah Pada Almarhum Kakaknya

Rahasia-Nya kucari selalu

di sela sinar matahari dan rembulan

Menghitung bintang-bintang

Menunggu ufuk timur memerah

hingga barat gelap gulita

(aku tahu, jiwaku kerdil tak sebanding)

Matahari senja di Selat Sunda menggelincir masuk ke cakrawala. Tak ada seorang pun yang menyaksikan perubahan alam itu karena langit diselimuti jubah hitam para iblis dari neraka. Angin berembus kencang. Ombak berdebur keras. Dan angin menebarkan penyakit. Semua hanya berdiam diri di rumah, di kamar-kamar hotel berbintang, atau bahkan ada yang tidak peduli sama sekali dengan pergantian waktu itu. Tak ada bedanya. Dari sore ke malam, dari terang ke gelap. Toh, nasib tidak ditentukan oleh sebuah senja! Tetapi oleh perjuangan dan doa. Itu pun jika Allah berkehendak. Kalau tidak, berarti itu takdir namanya!

Keheningan senja pun diusik oleh suara tibut para nelayan. Mereka menunjuk-nunjuk ke pantai yang berkarang. Beberapa berlari ke sana dan memeriksa seonggok benda yang baunya sangat menyengat! Benda itu tersangkut di karang!

"Oiii, ada orang matiiii! " teriak seorang nelayan dari karang.

Para nelayan lainnya yang berada di pantai, serentak berlarian ke karang. Mereka, seperti ada yang mengomando, menutup hidung! Seolah-olah bau menyengat merebak di udara!

Mereka tersentak!

Seonggok mayat manusia yang sudah membusuk tersangkut di karang. Kaosnya sudah tercabik-cabik! Tubuhnya menggelembung seperti balon, dan wajahnya rusak! Mereka mulai bertanya-tanya, jangan-jangan mayat yang mereka temukan masih sanak saudara!

"Ada yang kenal, nggak?"

“Coba, cari dompetnya!”

Seorang nelayan dengan berani membalikkan tubuh mayat itu dengan kayu! Lalu dia mengorek-ngorek saku belakang celana si mayat, tetapi dompet yang dicari tidak ditemukan.

"Pasti anak Jakarta!"

"Iya! Minggu kemarin kan, ada yang hilang!"

"Pasti dimakan buaya putih!"

"Nyi Roro Kidul, kali!"

"Kualat!"

"Udah tahu dilarang mandi, eh ...nekat juga!"

"Anak sekarang, mana percaya sama yang begituan!"

"Dikiranya takhayul!"

"Lha, kalau udah ada yang mati begini, gimana?"

"Kalau udah ada yang mati, mereka baru percaya!"

"Bulan ini saja ada enam orang yang mati!"

"Butuh bukti apa lagi?"

"Heh, jangan ribut! Udah malam, nih! Mendingan lapor polisi!"

"lya! Jadi merinding, nih!"

"Gotong! Gotong! Ntar pasang, kebawa lagi ke laut."

Para nelayan dengan sukarela menggotong mayat yang sudah busuk itu sambil menutup hidung mereka. Mayat itu digeletakkan di tempat yang agak tinggi di bawah pohon kelapa. Beberapa nelayan menutupnya dengan pelepah daun kering. Mereka masih merubungi mayat itu!

Dalam sekejap, temuan mayat manusia yang tersangkut di karang merobek keindahan senja! Bau menyengat kini merebak di udara; bau kematian. Para iblis yang hinggap di daun-daun kelapa di sepanjang pantai, tertawa-tawa! Mereka sangat puas karena keturunan Adam itu sudah terperangkap pada sesuatu yang musyrik! Mereka percaya bahwa mayat yang tersangkut di karang di pinggir pantai itu, disebabkan oleh penunggu Selat Sunda, yang masih ada hubungannya dengan Nyi Roro Kidul, penguasa laut selatan! Itulah sebabnya, kenapa ada beberapa lokasi di sepanjang pantai Selat Sunda yang dianggap keramat dan sangat tabu dipakai untuk berenang! Plang-plang bertuliskan larangan untuk berenang dipasang: DILARANG BERENANG DI SINI, BANYAK KARANG! Begitulah yang tertulis. Padahal semestinya ditulis seperti ini: AWAS, INI DAERAH ANGKER, MlLIK NYI RORO KIDUL! JANGAN NEKAT, KECUALI MAU MATI!

MaIam muIai merembet naik. Hotel-hotel berbintang yang makin memadati pantai mulai merias diri; lampu-lampunya yang genit berlompatan di antara batang-batang pohon kelapa, seolah-olah hawa kematian itu tidak menjadi penghalang buat mereka bersolek menyambut malam! Pantai jadi terang benderang bagai perawan kampung yang sudah pandai bersolek. Sangat berlawanan dengan suasana di seberangnya; lampu-lampu teplok minyak tanah di gubuk-gubuk neIayan, potret miskin masyarakat yang terpinggirkan sejak dahulu. Padahal kita makan ikan laut dari hasil tangkapannya!

Para iblis di puncak-puncak pohon kelapa makin kesenangan. Kayu bakar neraka jahanam itu makin yakin bahwa malam ini akan makin banyak lagi keturunan Adam menjadi pengikut mereka! Para nelayan yang heboh dengan temuan mayat masih berkerumun. Beberapa orang polisi sudah sampai ke lokasi kejadian. Sangat terasa sekali angin malam dari Selat Sunda, yang menyebarkan aroma kematian berembus masuk ke jendela hotel “Semenanjung.”

Sepasang pengantin baru, yang hendak berbulan madu, sangat terganggu oleh suara ribut-ribut para nelayan di pantai. Mereka yang baru saja meletakkan tas pakaian, bergegas ke pintu baIkon. Yang lelaki membuka pintu balkon. Mereka berjalan ke luar. Angin menampar-nampar tubuh mereka. Aroma kematian tercium oleh hidung mereka.

"Ada apa, ya?" Anah merapatkan busana muslimahnya yang tergerai oleh angin. Dia menunjuk ke orang-orang yang menyemut di pantai berkarang.

"Kayaknya ..., ada orang mati," Bashir menduga-duga. "Di pantai karang itu, memang banyak sekali orang yang hilang. Minggu kemarin, ada dua orang turis dari Jakarta hilang saat berenang. Tempat itu memang berbahaya kalau dipakai berenang. Banyak karangnya."

"Nggak dipasang papan larangan?"

"Sudah. Tapi, mereka pasti mengira, penunggu laut yang meminta korban seorang lelaki tampan dan masih bujangan, untuk dijadikan teman hidup Nyi Ratu Roro Kidul!"

"Astaghfirullah! Di zaman global ini masih ada yang percaya sama cerita-cerita takhayul seperti itu?"

"Buat mereka, cerita ini bukan takhayul. Tapi, sesuatu yang harus mereka percayai karena sudah ada sebelum mereka ada. Dan sudah merupakan bagian dari tradisi. Turun-temurun."

"Ya, saya tahu. Tapi, harusnya mereka berpikir bahwa mati, rezeki, dan jodoh itu rahasia Allah!" Anah menggelengkan kepalanya.

"Hey!" Bashir mencubit pipi Anah. "Kita ke sini mau bulan madu, bukan ngebahas soal takhayul! "

"Iya, iya! " Pipi Anah bersemu merah. Dia merasa seperti boneka cantik yang sedang dimanjakan pemiliknya. Dia merasa bahagia karena suaminya adalah orang yang dia cintai dan dia inginkan sejak dahulu. Berbeda dengan Hakim, yang hanya menjalankan kewajiban sebagai anak terhadap wasiat ayahnya!

"Mau punya anak berapa?" tanya Bashir. "Selusin, ya! " Bashir makin bersemangat.

"Iya!" jerit Anah manja.

Episode 2

Tempatku di Sisi-Mu

Mari pengantinku, berjalan di sisiku

Meniti jalan setapak

Menuju cahaya surga di ujung sana

Mari pengantinku, ulurkan tangan

Terima mas kawin dariku:

Rajutan basmalah dan doa-doa

Angin malam dengan aroma kematian makin keras berembus dan membentur-bentur kaca jendela sebuah kamar di hotel Semenanjung. Menyebar hawa dingin menakutkan yang menggigit. Seolah mengiringi malam keramat bagi sepasang pengantin baru yang sedang menjalankan perintah Allah. Pengantin berbahagia itu yakin, bahwa perkawinan adalah ibadah. Saat sebagai seorang suami, memberi nafkah lahir dan batin kepada istrinya adalah kewajiban. Saat sebagai istri, melayani suami dengan keikhlasan adalah pahala imbalannya.

Para malaikat turun dari langit membawa berkah dan rahmat-Nya. Jubah-jubah mereka dikembangkan dan seolah menyerupai layar raksasa yang melindungi pengantin baru itu dari aroma kematian. Para iblis tidak akan mampu menerobos ranjang putih pengantin, untuk meniupkan hal-hal laknat di hati mereka: pengantin baru di jalan Allah!

Di ranjang suci itu, Allah menebarkan wewangian bagi orang-orang yang beriman. Para malaikat menaburkan putih melati harum mewangi di seluruh ruangan. Dan seprai putih pun memberikan kabar bahwa si wanita masih suci ibarat Siti Maryam, bunda tersayang Nabi Isa. Tak ada yang bisa memungkirinya bahwa orang yang sabar dan tawakal akan mendapatkan kebahagiaan jua. Tak akan bisa dibantah bahwa Allah Maha Mendengar. Dia akan dekat, jika kita terus memanggil nama-Nya.

"Allahu Akbar!" Bashir berseru penuh haru.

Anah tersenyum bahagia memeluk suaminya.

Bashir tidak menyangka, jika hal ini terjadi. "Anah?" tanyanya tidak percaya. Dia bangkit dan mundur beberapa langkah. Bahkan tubuhnya hampir saja menabrak meja. "Kamu ...?" keheranan terus menyelimuti jiwanya.

"Kak Bashir," Anah tersenyum menatapnya. "Kenapa? Kok, kayak ngelihat hantu saja!"

"Ini tidak mungkin, Anah…."

"Apanya yang tidak mungkin?"

"Kamu?"

"Kak Hakim memang tidak pernah menyentuhku," Anah termenung.

"Apa?"

"Kak Hakim tidak mencintai aku. Dia menikahi aku karena ingin Bapak bahagia sebelum berpulang ke rahmatullah….."

"Jadi?"

"Setiap malam aku bertanya-tanya, kenapa Kak Hakim tidak pernah mau menyentuhku, sebagaimana layaknya seorang suami pada istrinya. Itu, kan kewajibannya."

"Hakim tidak pernah ...?"

"Iya, dia tidak pernah menyentuhku."

"Tapi, kenapa? Pasti ada alasannya!"

"Ketika aku bertanya, Kak Hakim memintaku untuk bersabar."

"Dan jawabannya ada di Bangkok?" Bashir menebak dengan tidak sabar.

"Ya! Jawabannya di Bangkok. Kak Hakim sengaja tidak menyentuhku karena dia sudah mempunyai istri dan seorang anak di Bangkok. Namlok Sarachipat dan Siti Aisyah."

"Astaghfirullah! Kenapa aku begitu bodoh!"

"Kak Hakim ingin mempertemukan aku dengan mereka, supaya aku bisa mengambil keputusan sendiri bahwa sebetulnya perkawinan kami harus diakhiri sesegera mungkin."

"Astaghfirullah! Aku yang bersalah!"

"Kamu nggak salah, Kak Bashir!"

Bashir berjalan mondar-mandir di kamar hotel. Dia berjalan sambil memukuli kepalanya dan bahkan menjambaki rambutnya sendiri. .Anah bangkit dari tempat tidur dan berusaha menenangkan suaminya.

"Aku memang tolol! Gegabah! Dari dulu aku memang biang masalah!" begitu terus dia menyalahkan dirinya sendiri.

"Istighfar, Kak Bashir! Istighfar!" Anah berusaha menenangkannya.

"Nggak ada gunanya! Aku layak disebut sebagai seorang pembunuh!"

"Kak Bashir! Jangan bicara seperti itu!"

"Harusnya aku memberi Kak Hakim kesempatan bicara!"

"Kamu sedang khilaf waktu itu!"

"Ini malah langsung main pukul!"

"Nggak ada gunanya menyesali perbuatan yang sudah terjadi! "

"Ini bukan hanya harus aku sesali, Anah! Tapi, aku tak patut menjadi anak Bapak! Aku tak patut menyandang nama Muhammad Al Bashir! Aku harusnya mendekam di penjara seperti halnya Dicky! Aku sudah membunuh kakakku sendiri!"

"Kak Hakim meninggal karena serangan jantung."

"Akulah penyebabnya! "

"Di Bangkok, Kak Hakim juga terkena serangan jantung."

"Aku mempercepat kematiannya!"

"Cepat atau lambat, kita akan meninggal juga, Kak Bashir."

"Tapi, aku membunuh Hakim!"

Anah tidak menanggapi.

Bashir duduk dengan lunglai. "Semua yang aku lakukan karena aku mencintai kamu," matanya berkaca-kaca. "Aku tidak ingin melihat kamu menderita. Aku ingin kamu bahagia bersama Kak Hakim," dia menangis terisak-isak.

Anah menghampiri suaminya yang rapuh bagai kayu tua termakan rayap. Dia merengkuh suaminya agar menangis di pelukannya. Sebagai seorang wanita, dia merasa suaminya seperti bayi yang butuh belaian sayang dari seorang ibu. Sejak dilahirkan, suaminya memang tidak pernah mendapatkan kasih sayang ibunya.

"Aku malu sama kamu, Anah…."

"Malulah pada Allah….."

"Dosaku tak terampuni," Bashir merasa nyaman dalam pelukan istrinya.

"Allah Maha Pengampun," Anah membelai rambut suaminya.

"Aku nggak layak jadi suami kamu…."

"Aku mencintai kamu, Kak Bashir. Kamu juga. Itu tidak terbantahkan."

"Ya ...," Bashir mengangguk sambil menatap mata istrinya. "Aku mencintai kamu sejak pertama melihat kamu. Ya, aku sangat menginginkan kamu menjadi pendamping hidupku selamanya….."

"Apakah itu tidak cukup untuk modal kita dalam mengarungi bahtera rumah tangga?"

Bashir mengusap kedua matanya yang basah. Dia tertegun dengan pertanyaan istrinya. Cinta menjadi modal? Cukupkah? Astaghfirullah! Dia langsung memeluk Anah dengan erat. Dia berusaha mengalirkan seluruh kehangatan jiwanya pada Anah!

"Aku mencintai kamu dengan segenap raga! Aku ingin jadi suami kamu, pelindung kamu. Insya Allah….."

"Alhamdulillah," Anah tersenyum bahagia. "Sebaiknya kita shalat malam dulu," Anah membimbing Bashir untuk berdiri.

Bashir bangkit dan mencoba untuk menjadi seorang suami yang tabah. Rasanya tidak masuk akal, jika Bashir lebih rapuh daripada Anah yang pernah mendapat cobaan demikian berat. Mulai dari kenyataan hidupnya sebagai anak yang dibuang orangtuanya, sampai ke pernikahannya dengan Hakim yang ternyata semu.

Episode 3

Tempatku di Sisi-Mu

Luka itu memerih kini

Mengiris sebagian hati

Meninggalkan penyesalan

di sepanjang sejarah waktu

Namun harus kukejar matahari

Menuntaskan segala rasa sakit

agar tak terpuruk kunanti

Sore yang kesekian dalam kehidupan rumah tangga Bashir dan Anah. Bashir menggandeng Anah menuju pantai. Mereka mencoba untuk menikmati matahari senja di Selat Sunda untuk yang kesekian kalinya. Tetapi wajah Bashir belum segembira biasanya. Di sana masih tergambar kabut duka seorang manusia yang ditinggal pergi oleh orang-orang terdekatnya. Anah memakluminya.

"Lihatlah senja itu," Bashir menunjuk ke barat.

"Seperti bola api raksasa," Anah berumpama.

"Dan lihatlah anak-anak nelayan itu," kali ini Bashir menunjuk ke sebelah selatan.pantai. Tampak anak-anak nelayan sedang bermain bola plastik dengan gembira. "Mereka sudah terbiasa dengan senja. Tak ada lagi yang istimewa bagi mereka. Tapi, lihatlah mereka ...," kali ini Bashir menunjuk ke sebelah utara. Di sana banyak turis lokal dan mancanegara duduk-duduk menunggu senja tiba. "Bagi mereka, senja ibarat sebuah peristiwa yang harus mereka rayakan. Sebuah peristiwa besar, yang mungkin tidak akan bisa mereka nikmati lagi esoknya."

Anah mengangguk. "Subhanallah," dia berdecak kagum melihat bola merah raksasa itu seperti balon raksasa mainan, yang perlahan-lahan menggelincir masuk ke batas cakrawala. Bagi Anah, bola api raksasa itu sepertinya mudah diraih oleh anak-anak nelayan yang terbiasa menangkap ikan atau udang dengan jaringnya.

"Jangan sampai matamu berkedip, Anah," Bashir mengingatkan. "Peristiwa inilah yang selalu dinanti-nantikan orang," tambahnya sambil menunjuk ke layar raksasa yang terbentang di timur.

Anah kontan membelalakkan kedua bola matanya. Di depannya muncul perubahan warna yang sangat indah, warna senja kemerahan, berubah kuning keemasan, memantul di permukaan laut biru yang tenang, berpendar-pendar, dan berkilauan.

"Allahu Akbar!" Bashir menyerukan nama Allah. Anah sangat gembira melihat suaminya yang mengagumi peristiwa alam ini. Sejenak mereka bisa melupakan persoalan Hakim. Senja di Selat Sunda ini membuatnya merasa bersyukur.

Berbarengan dengan menggelincimya bola api raksasa itu, terdengar suara ribut anak nelayan. Ternyata mereka juga ikut gembira melepas senja.Anak-anak nelayan itu berlompatan! Bahkan mereka melambaikan tangan pada perahu-perahu ayah mereka, yang seolah-olah sedang berenang di permukaan cairan emas kolam raksasa. Mereka sadar, tangan Yang Mahakuasalah yang menorehkan lukisan indah itu.

Tetapi kegembiraan Anah, Bashir, anak-anak nelayan, dan para turis yang hendak melepas kepergian senja, lagi-lagi dirusak oleh awan-awan hitam dari asap pabrik kimia di kawasan industri Cilegon. Tampak mereka berusaha secara ramai-ramai meniup gumpalan awan hitam pekat ibarat kepalan tangan iblis itu. Alhamdulillah, angin yang perkasa membantu mereka; meniup awan-awan laknat itu agar menjauh dan pergi! Sang Angin tidak ingin melihat keturunan Adam ini merasakan sesak napas, tenggorokan gatal, atau mata perih gara-gara polusi yang disemprotkan cerobong pabrik itu!

"Jangan kau ganggu keindahan bola api raksasa itu dengan asapmu! Jangan kau sakiti mereka!" begitu kata sang Angin pada awan hitam. "Juga, jangan kau tambah penderitaan masyarakat tak berdosa di sekeliling pantai ini!"

Awan-awan hitam yang bagai jubah maut itu berangsur-angsur pergi entah ke mana. Keindahan senja di Selat Sunda itu kembali muncul. Anak-anak nelayan bersorak menikmatinya walaupun hanya untuk sekejap. Mereka kembali bermain ombak sambil menyembur-nyemburkan air ke tubuh temannya, dan tidak memedulikan kehadiran Anah dan Bashir, yang juga sedang menikmati lukisan dari Sang Mahaagung itu.

"Aku jadi ingat masa kecil kita," Bashir tersenyum melihat kegembiraan anak.anak nelayan itu.

"Kak Hakim selalu menang jika balap lari di pantai," Anah juga tersenyum.

Bashir tertawa. "Kak Hakim curang. Dia suka nyuri start!"

“Kamu juga curang! Suka ngedorong Kak Hakim!"

“Kak Hakim ...," tiba-tiba suara Bashir terdengar sedih.

Anah dalam sekejap merasa menyesal sudah membicarakan Hakim!

Mereka tiba-tiba merasa, tubuh mereka seperti dipaku ke pantai! Kalau dilihat dari kejauhan, tubuh mereka membayang seperti patung pualam yang disapu warna keemasan. Para cucu Adam itu kini mengunci mulut. Mereka hanya berdiri memandangi layar raksasa yang sedang memutar film tentang matahari terbenam! Lidah ombak yang menjilati jari-jari kaki mereka tidak mereka pedulikan. Bahkan ketika air laut menenggelamkan kaki mereka sampai sebatas mata kaki, mereka tetap tidak bergeming dari pantai.

Mereka dalam diam yang hening. Mereka bahkan tidak terusik oleh suara gaduh anak-anak nelayan, yang berteriak-teriak dan berlarian meninggalkan pantai.

“Oiii, ada mayat!" teriak mereka ketakutan.

Mayat manusia ditemukan lagi. Kali ini terdampar di pantai. Tubuhnya sudah rusak dan menggelembung. Sukar untuk dikenali. Anak-anak itu terus saja berlarian ke sana kemari, berteriak-teriak mengabarkan tentang penemuan mayat!

Tetapi, Bashir dan Anah tetap saja asyik menikmati senja di pantai.

Episode 4

Tempatku di Sisi-Mu

Lukaku sembuh jua

Kau sentuh dengan zat-Mu

Keperihan itu sirna, namun

Kau harus mengingatkanku

Kenangan pahit itu tak kan hilang

Untuk yang kesekian kalinya masyarakat di sekitar pantai digegerkan oleh penemuan mayat. Sebetulnya peristiwa ini sudah biasa bagi mereka. Di setiap weekend atau musim liburan, selalu saja ada peristiwa lara tersisa dari kegembiraan para turis lokal. Kalau tidak sanak saudaranya jatuh terpeleset di karang, atau hilang entah ke mana saat berenang di tengah laut. Tetapi, menemukan mayat tetap saja peristiwa tragis yang menyebarkan aroma kematian; membikin bulu kuduk berdiri dan takut akan mati. Bahkan juga sensasi. Itu akan tampak keesokan harinya, ketika Koran-koran lokal membumbuinya dengan kisah mistik tentang wilayah kekuasaan Nyi Roro Kidul, yang terbentang mulai dari pantai selatan di ujung timur Jawa sampai ke Selat Sunda!

"Aku selalu merasa berdosa jika ingat Kak Hakim,” suara Bashir lirih.

"Sudahlah, Kak," Anah menatap ke layar raksasa di depannya. Di mata Anah, langit barat yang mulai gelap itu seperti berubah jadi layar raksasa yang terang benderang oleh gemerlap bintang! Yang menyuguhkan gambar-gambar kehidupannya. Di sana muncul wajah dirinya selagi kecil bersama almarhum Bik Eti, yang dengan ikhlas menyusuri rel kereta api sambil menjinjing bakul nasi uduk, serta teko berisi air putih hangat. Nasi uduk Bik Eti yang murah-meriah yang selalu dinanti-nanti oleh Pak Soleh-pengemis berkaki buntung, dan kuli-kuli di stasiun kereta api Cilegon.

Kemudian muncul wajah almarhum Pak Haji Budiman beserta kedua anaknya yang masih kecil saat itu; Hakim dan Bashir. Pak Haji yang selalu tersenyum bijaksana padanya. Masih terasa kehangatan tutur katanya yang selalu menghibur, jika hatinya sedang bersedih karena diejek sebagai anak haram. Yang selalu dipermasalahkan oleh orang-orang karena wajahnya yang indo.

"Anah? Kamu ngelamun?" Bashir menegurnya.

"Aku ingat masa laluku," Anah menjawab lirih.

Bashir memahaminya. Terbukti dia kembali menatap langit barat, menikmati senja. Bashir sepertinya ingin membiarkan Anah kembali larut dengan masa lalunya! Dan terbukti Anah seperti melihat kembali dirinya yang.tumbuh bersama Hakim dan Bashir. Masa-masa indah ketika belajar mengaji dan sekolah….. Ketika Anah dan Bashir masuk ke SMA, ketika Hakim dikirim Pak Haji ke Mesir….. Lalu tinggallah Anah bersama Bashir. Setiap hari, mereka pergi sekolah bersama-sama….. Setiap hari, pulang sekolah juga bersama-sama…… Benih cinta sudah tumbuh dan mekar saat itu….

Kini terbentang peristiwa yang sangat menyakitkannya! Saat Dicky, playboy di masa sekolah dahulu yang menjebaknya! Ketika itu Dicky berhasil memperdayanya bahwa Bashir menyuruhnya pulang bersama Dicky. Kata Dicky, Bashir diamankan di Polres Serang karena kepergok mabuk di jalan raya. Lalu Tedi membiusnya di atas mobil! Di villa ayahnya, Dicky berhasil melucuti pakaiannya dan hampir saja merenggut kesuciannya! Subhanallah ..., doanya didengar Allah! Tedi yang bersekongkol dengan Dicky, ternyata menolongnya! Tedi menebus dosanya dengan mengorbankan nyawanya sendiri! Tedi tewas di ujung belati Dicky! Pada saat yang bersamaan, Bashir dating dan menghajar Dicky! Setelah itu, Anah pergi melupakan kisah traumatisnya ke Jakarta. Keluarga Hidayat mengasuh dan merawat, serta menyekolahkannya hingga jadi dokter. Sedangkan Dicky dipenjara!

Bashir membawa kekecewaannya dengan menjadi seorang wartawan. Dia mengelilingi Indonesia; meliput daerah-daerah kerusuhan…. Sampai berita duka itu datang! Pak Haji Budiman kecelakaan! Tepatnya korban tabrak lari! Dicky berada di balik itu semua, tetapi aparat tidak berhasil menemukan bukti-bukti! Terlebih lagi para pengacara Tuan Marabunta, yang dengan licin memutarbalikkan fakta!

Pak Haji Budiman wafat dan meninggalkan amanah, agar Anah menikah dengan Hakim. Dia tahu Bashir kecewa. Dia juga tahu, kalau Bashir curiga, kenapa kakaknya mengajak dirinya bulan madu di Bangkok. Ketika pulang berbulan madu dengan membawa istri dan anaknya; Namlok Sarachipat dan Siti Aisyah, Bashir langsung menghadiahi Hakim dengan bogemnya! Hakim terkapar dan pulang ke rahmatullah di rumah sakit Namlok dan Siti Aisyah meratapi kepergian Hakim, yang mereka tunggu kedatangannya setelah bertahun-tahun berpisah. Tetapi, mereka bertemu untuk kemudian berpisah kembali. Mereka akhirnya memutuskan pulang ke Bangkok dengan membawa hati yang luka.

Kini ...setelah masa idahnya habis, Bashir melamarnya. Cinta mereka yang terpendam, muncul kembali ke pemukaan. Bashir menyiram lagi cintanya yang masih bertunas dan terus tumbuh. Pada malam pertama mereka, Bashir menyatakan keheranan karena Anah masih suci.

"Anah, kamu?" mata Bashir berkaca-kaca.

"Kak Hakim tidak pernah menyentuhku," Anah menunduk saat itu.

Bashir menangisi ketololannya karena menjadi penyebab kematian Hakim. "Aku memang bodoh! Bodoh!" tangisnya waktu itu.

Anah hanya bisa memeluknya dan mengalirkan hawa ketenangan pada Bashir yang kini resmi menjadi suaminya. Hal yang sudah lama dia impikan.

Ombak berdebur lagi, berbarengan dengan kilat yang melecut seperti cemeti di langit.

Anah tersadar dari lamunannya.

Bashir menyentuh tangannya. "Anah ..., sebaiknya kita shalat magrib dulu," Bashir mengingatkan.

Anah tersadar dan mengangguk.

Layar raksasa di depannya langsung menggulung!

Bashir membimbing Anah masuk ke dalam rumah.

Episode 5

Tempatku di Sisi-Mu

Cintaku bersemi pada-Mu

Pada sebuah nama kulabuhkan

letih dan segala sesal

Cinta ini bagaikan debu bagi-Mu

tetapi janjiku: akan kupersembahkan

debu cinta yang berserak

“Samiallahulimanhamidah rabbanalakalhamdu ... Allahu Akbar," Bashir bersujud dengan khidmat. Seluruh hatinya merendah di hadapan Sang Khalik. Dia merasa, di selembar sajadah inilah tempat yang layak untuk berserah diri. Dia pun berharap suatu saat kelak, mendapat tempat di sisi-Nya!

Anah mengikuti gerakan-gerakan shalat suaminya dengan hati yang khusyuk. Bersujud baginya adalah satu cara untuk memohon ampun pada Allah dengan segenap ketulusan. Dengan segenap keikhlasan.

Dua manusia yang sedang menapakkan kaki di bahtera rumah tangga itu sedang bersimpuh di depan Sang Khalik. Sajadah mereka yang panjang basah oleh air mata dan doa mereka. Para malaikat menjadi saksi, betapa dengan sepenuh hati mereka berserah diri pada Sang Pencipta! Mereka merasa dengan cara seperti ini, semakin dekat dengan Sang Khalik. Di sanalah sebetulnya mereka meminta untuk ditempatkan kelak, di sisi-Nya! Di tempat dambaan semua orang: surga! Tempat di sana ada sungai susu dan taman yang indah!

"Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh...," Bashir mengucapkan salam.

Anah yang menjadi makmum mengikuti. Dia mengusap wajahnya. Ya, Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang, berkahilah rumah tangga kami ini sehingga menjadi keluarga yang sakinah, mawadah, dan rahmah. Ridhailah niat baik kami ini!

Setelah itu Bashir menoleh dan mengulurkan tangannya. Anah menyalaminya sambil mencium punggung tangan suaminya. Itu pertanda rasa hormat seorang istri pada suaminya sebagai pemimpin rumah tangga. Lalu mereka berzikir dan mendoakan orangtua mereka yang berada di alam kubur. Mereka meminta pada Allah, agar kedua orangtua juga saudara-saudara mereka yang telah berpulang, diberi ampunan dan dibebaskan dari siksa kubur. Ditempatkan di sisi-Nya! Amien ya rabbal alamien….. Setelah selesai berdoa, Bashir menggeser tempat duduknya agak mundur. Dia memiringkan badannya. Dia bersila. Kopiahnya dibuka. Sedangkan Anah membuka mukenanya. Bashir kini menyaksikan lagi anugerah Allah Yang Mahaagung, yaitu kecantikan euro-asia yang terpancar dari wajah Anah. Subhanallah ..., Bashir memuji Sang Khalik atas karunia yang sudah diperolehnya. Karunia yang awalnya dimiliki kakaknya, Hakim. Tiba-tiba perasaan bersalah kembali menusuki hatinya.

"Aku merasa sangat berdosa pada Hakim," Bashir melontarkan batu yang menghimpit jiwanya.

"Kak Bashir sudah berulangkali mengatakannya," Anah tersenyum, mencoba menghibur suaminya.

Bashir tidak peduli. "Hakim ..., dia kakakku yang berhati mulia," Bashir menengadah ke langit-langit kamar. Matanya berkaca-kaca. "Ya Allah ... sekarang mata hatiku mulai terbuka lebar….. Ya Rabbi. ...Betapa sulitnya posisi Hakim saat itu….."

"Jangankan Kak Hakim. Posisiku juga sulit saat itu," Anah mengingatkan suaminya.

Bashir tertegun. Dia menatap Anah. "Ya ..., kamu juga dalam posisi sulit saat itu. Bodohnya, aku baru bisa merasakannya sekarang. Andai saja waktu itu .…”

"Kamu tahu, Kak Bashir Aku sangat mencintai kamu. Tapi, sebelum meninggal ...Pak Haji menyuruhku untuk menikah dengan Kak Hakim," Anah melipat mukena. "Aku tidak ingin jadi anak durhaka yang tidak tahu membalas budi."

"Ya," Bashir menggenggam tangannya. "Tindakanmu sudah tepat."

"Aku menganggap, pernikahanku dengan Kak Hakim adalah suatu ibadah. Suatu anugerah. Kak Hakim lelaki yang baik di mataku. Sampai sekarang pun tetap begitu. Sampai kapan pun."

"Aku justru yang merasa bersalah dengan kepergian Bapak dan Hakim," suara Bashir terganjal di kerongkongan. "Terlebih-lebih jika aku ingat Hakim. Hakim pergi dikarenakan kebodohanku."

“Itu sudah suratan nasib…..”

"Andai saja aku mau bersabar, dengan memberinya kesempatan untuk bicara. Ya Allah ..., dosaku tidak terampuni," Bashir menitikkan air mata.

"Kak Bashir," giliran Anah menggenggam tangan suaminya. "Kamu jangan terlalu menyalahkan diri sendiri."

"Bagaimana tidak, Anah?" Bashir menatapnya. "Hakim ternyata sangat melindungi kamu. Bahkan menyentuh kamu pun tidak. Dibiarkannya kamu tetap suci. Padahal kamu sudah sah sebagai istrinya," Bashir menarik napas. "Hakim tidak bersalah merahasiakan pernikahannya dengan Namlok Sarachipat. Dia hanya ingin menjadi anak yang baik. Seperti juga kamu."

"Sudahlah, Kak Bashir ..., jangan tenggelam dengan kesalahan yang sudah diperbuat. Yang paling baik sekarang, adalah menata hidup kita. Membina rumah tangga kita supaya sakinah."

"Tapi, aku sangat gegabah menilai Hakim saat itu. Aku terbawa emosi karena Hakim mengkhianati kamu. Menyakiti kamu."

"Kak Bashir ..., jangan terlalu merasa bersalah….."

"Ya, Allah. .., andai rotasi bumi ini bisa aku putar," Bashir mengusap wajahnya.

"Itu menyalahi takdir, namanya….."

"Aku manusia yang kotor," Bashir menenggelamkan wajahnya di pelukan Anah.

"Jangan berkecil hati, Kak Bashir ...," Anah mengusap-usap rambut Bashir. "Allah Maha Pengasih. Dia mengetahui apa yang ada di hati hamba-hamba-Nya," tambahnya menenangkan hati suaminya. Matanya berkaca-kaca.

Bashir mendekap erat wanita yang sejak dahulu dia cintai. Matanya juga berkaca-kaca. Dadanya bergejolak kencang, sekencang ombak pasang malam hari yang memukuli karang di luar sana. Setiap ingat perlakuan kasarnya yang menyebabkan kematian Hakim, bulu kuduknya berdiri. Hatinya terajam. Ya Allah, ampunilah hamba-Mu ini! Hamba khilaf!

"Kak Bashir ..., sudah ...Kamu lelaki. Kamu pemimpin di rumah ini. Kalau kamu rapuh, kepada siapa aku meminta perlindungan?"

Bashir menyeka air matanya. Dia menatap istrinya yang sudah sering mengalami cobaan hidup yang berat. "Aku akan melindungi kamu," katanya tegas. "Tentu atas pertolongan Allah," tambahnya.

"Alhamdulillah ..., kalimat itulah yang aku tunggu," Anah mengecup kening suaminya.

Bashir bangkit. Dia duduk di tepian ranjang. "Sekarang milikku yang berharga tinggal kamu, Anah. Orang-orang yang aku cintaii Ibu, Bapak, dan Hakim, sudah dipanggil Allah," dia berhenti dan menatap Anah yang masih duduk di sajadah. "Apa pun yang akan terjadi, aku akan mempertaruhkan nyawaku untuk melindungi kamu…."

Anah juga bangkit sambil menatap suaminya dengan perasaan bahagia. Anah tahu, suaminya tidak main-main ketika mengatakan kalimat tadi. Ada nyawa dipertaruhkan di sana. Nyawa suaminya sendiri.

Episode 6

Tempatku di Sisi-Mu

Jalan panjang menuju harapan

Semak berduri terkadang penghalang

Bismillah, jadikan hati bersih nan lapang

Alhamdulillah ingatkan pada Sang Penyayang

Alam Banten di ujung tahun sedang bersahabat dengan para petani. Hujan mengguyur seharian. Tak kenal waktu, terkadang pagi, malam, atau siang. Sawah-sawah menebarkan wewangian lumpur, kodok-kodok menembang lagu hujan, itik-itik bercengkerama di sawah yang tergenang menyerupai danau, kerbau-kerbau bermandi lumpur, dan para petani menebar benih padi. Mereka membungkuk seperti sedang shalat. Di sana ada keringat yang ditanam. Insya Allah, tiga atau empat bulan, Allah meridhai rezeki mereka dengan hasil panen yang bagus. Jika Allah berkehendak lain, didatangkan-Nya ujian banjir: panen raya gagal! Tetapi dengan rasa ikhlas, para petani itu terus saja menanam benih padi lagi, tak mengenal lelah dan tak mengenal putus asa. Mereka ternyata termasuk orang.orang yang memahami QS Al-Insyirah [94]: 7-8, apabila kamu telah selesai (dari suatu urusan), maka kerja keraslah kamu (dengan urusan yang lain). Dan kepada Tuhanmulah kamu berharap.

Kilat menggelegar!

Langit sore yang mendung terang sekejap.

Sebuah mobil berhenti di depan pemakaman umum. Pengemudinya Bashir. Dia tampak berpikir keras sebelum keluar dari mobil. Tiba-tiba dia terperanjat karena suara petir menggelegar menampar jiwanya. Hatinya tergoncang. Dia merasa Tuhan sedang memperingatkannya bahwa pada akhirnya nanti, tempat ini akan jadi alamatnya terakhir; terbaring kaku di dalam tanah berukuran kurang lebih dua kali 1 meter! Laa ilaaha illallaah Muhammadarasulullah…. Bashir mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangannya.

Bashir melihat ke langit. Hari memang sudah sore. Langit mendung. Angin berkesiur kencang. Sang Khalik seolah mengingatkannya untuk sesegera mungkin menyelesaikan urusannya. Kalau tidak, hujan akan menjadi penghalang tujuannya. Dia mengitari pandang. Dia merasakan angin menghantam tubuhnya. Dingin di sekujur tubuhnya.

Bismillahirrahmanirrahim ..., Bashir membuka pintu mobil. Dia berjalan memasuki pintu gerbang pemakaman. Tidak ada orang. Sepi. Dia berjalan dengan hati-hati di jalan setapak yang terjepit oleh makam-makam. Jiwanya langsung terhimpit oleh perasaan ketakutan. Kedua kakinya menginjak dedaunan kering. Angin berkesiur seperti ditiupkan dengan sengaja oleh para iblis yang berkeliaran di kuburan. Para iblis yang dengan sengaja mengajak para cucu Adam untuk menjadi musyrik dan kufur di kuburan.

Bashir berhenti. Dia merasakan dadanya sesak. Dia merasakan pemakaman umum ini menyergapnya!! Dia merasakan para iblis membetotnya agar mau menjadi temannya!

Bashir melangkah lagi. Daun-daun yang warnanya kecokelatan, pertanda sudah berumur, beterbangan ke segala arah. Bahkan ada yang menampar ke wajahnya. Dalam sekejap, hawa kematian langsung menyergapnya! Menikam seperti pisau! Dia mencoba berlindung pada Allah lewat doa-doa, ketika kakinya melewati jalan setapak di antara makam-makam. Dia mencari-cari makam kakaknya yang bersanding dengan makam bapak dan ibunya.

Bashir berdiri tepekur!

Hening.

Matanya mulai digenangi air.

Ketiga makam itu adalah orang-orang yang dicintainya. Yang pertama pergi adalah ibunya. Beliau wafat setelah melahirkannya. Begitu kata bapaknya. Sepanjang hidupnya, Bashir tidak pernah mengenal ibunya. Kemudian Allah memanggil bapaknya lewat suatu pembunuhan yang direncanakan Dicky. Terakhir, dirinyalah yang menyebabkan kakaknya meninggal. Visum dari dokter, Hakim meninggal karena serangan jantung! Ya Rabbi, tempatkanlah mereka di sisi-Mu. Damaikanlah mereka di alam kubur. Jauhkanlah mereka dari siksa kubur. Pada saatnya nanti Israfil meniup terompet pertanda kiamat tiba, bangunkanlah mereka seperti terbangun dari mimpi yang indah! Ya Allah Yang Maha Pengasih, kabulkanlah doaku ini!

Bashir mencabuti rumput yang meranggas di makam ibunya. Dia cabuti sambil meneteskan air mata. Dia merasa ketika mencabuti rumput itu, seperti sedang menyentuh jari-jari ibunya. Seperti sedang merasakan kasih sayang ibunya yang tak pernah dia dapatkan. Dia juga berharap, air matanya yang jatuh akan terus merembes menembus tanah dan bisa menghangatkan jasad ibunya. Kemudian dia menyirami pusara ibunya dengan air kendi. Tampak tanah merah itu kini segar. Usai itu, dia melakukan hal yang sama pada makam bapaknya. Kemudian pada makam kakaknya.

Bashir terdiam lagi. Dia memandangi ketiga makam orang-orang yang dia cintai. Dadanya bergolak. Air matanya jebol lagi membasahi pipinya. Dia betul-betul ingin merengkuh ketiganya. Ingin mendekapnya dalam sebuah doa.

Suara daun kering terdengar gemerisik. Ada kaki yang menginjaknya.

Bashir tertegun.

"Kita pulang, Kak Bashir," tiba-tiba Anah sudah berdiri di belakangnya.

Bashir kaget. Dia tidak menyangka Anah ada di sini. Dia bangkit.

"Sedang apa di sini?" selidik Anah.

"Sedang menyesali nasib," Bashir terisak.

"Kak Bashir!”

"Sejak malam pengantin, aku merasa dikejar perasaan bersalah. Perasaan berdosa. Aku jadi tahu, bahwa Hakim ternyata lebih baik dari yang aku kira. Dia hanya berada pada posisi yang sulit saat itu. Seharusnya, aku membantunya agar lepas dari masalah itu. Tapi, mana aku tahu? Dia tidak pernah bercerita padaku tentang Namlok Sarachipat dan Siti Aisyah."

“Itulah sebabnya, kenapa Hakim lebih cepat dipanggil Allah. Bukankah orang baik selalu cepat pergi?"

“Berarti aku bukan orang baik."

“Bukan begitu maksudku. Setidak-tidaknya, kamu masih diberi kesempatan oleh Allah untuk memohon ampunan. Untuk memperbaiki segala amal dan ibadah kamu. Itu artinya, kita harus bersyukur karena Allah memberimu banyak waktu untuk bertobat. Untuk memperbaiki diri."

Bashir tertegun mendengar kalimat-kalimat yang keluar dari mulut istrinya. Dia menggenggam kedua tangan istrinya dengan rasa haru. Dadanya menggelegak dengan perasaan bahagia.

“Anah! Betul katamu! Harusnya aku tidak menyesali nasib! Harusnya aku memikirkan perjalanan rumah tangga kita selanjutnya!" Usai berkata begitu, Bashir memeluk Anah. “Ya, Allah! Terima kasih! Kau limpahkan aku dengan karunia-Mu! Kau beri aku mukjizat-Mu! Seorang istri yang selain cantik, juga salehah!"

Anah menatapnya dengan bahagia.

“Tidak baik kita berlama-lama di sini!" Bashir menarik Anah untuk pergi.

“Siapa suruh!" Anah tersenyum.

Bashir tersenyum.

"Sudah lama aku nggak ngelihat kamu tersenyum!"

Kini Bashir tertawa.

"Apa lagi tertawa."

"Ya! Sejak Bapak wafat, aku jadi sulit untuk bergembira! Bawaannya tegang! Apa lagi kalau ketemu Dicky! Pinginnya berantem melulu!"

"Mulai sekarang, Kak Bashir harus selalu tersenyum di depanku! Syukur-syukur tertawa!"

"Insya Allah!" Bashir mengajak Anah pergi.

Anah hampir saja tersandung batu nisan sebuah makam.

"Naik apa kamu ke sini?"

"Becak!" Anah merajuk kesal.

"Kasihan!" olok Bashir.

Anah mencubit lengan Bashir.

Kemesraan dan kehangatan itu tumbuh lagi. Mereka menyusuri makam-makam. Mereka meninggalkan pemakaman itu untuk menuju masa depan yang lebih baik

Episode 7

Tempatku di Sisi-Mu

Anah Melahirkan dan Membangun Klinik Asy Syifa

Mata air berasal dari gunung,

membentuk aliran sungai

Memberi penghidupan pada pepohonan dan unggas

berujung di muara lautan, itu mukjizat Sang Khalik

Kita mengotorinya dengan uang dan kekuasaan

Lupa pada asal dan muasal,

tanah dan kisah buah Kuldi

Waktu menggelinding dengan kehendak Allah. Pak tani menanam benih, dan tumbuh jadi padi. Serangga menyerbuki pepohonan, dan tumbuh bunga, lalu berbuah. Begitulah Allah menciptakan makhluknya berpasang-pasangan dan beranak pinak. Itu sudah dimulai sejak Nabi Adam dan Hawa.

Begitu juga dengan Siti Nurkhasanah. Setelah melewati bulan madu yang diselimuti wangi-wangian surgawi, perutnya makin hari makin membesar. Allah sudah meniupkan ruh-Nya pada benih yang ditanam Bashir di rahim Anah.

"Oh anakku sayang, kapan kita bisa berkumpul ...," Anah berdendang setiap waktu sambil mengelus-elus perutnya. Selama dia hamil, ngidamnya selalu ingin melihat berita sore di televisi. Mungkin, karena ayah si bayi di dalam perutnya ini pernah jadi wartawan.

Anah memencet tombol power. Bip! Gambar-gambar menyatu menjadi warna yang bergerak-gerak. Dia terpaku di tempat duduknya! Lalu penyiar televisi mewartakan berita terkini, konflik suku, ras, dan agama! Anak-anak yang kepalanya terlepas dari badannya, tubuh yang hangus dibakar, kemaluan yang ditusuk bambu, bahkan sampai ke tubuh yang dipotong menjadi belasan bagian! Perutnya yang makin membesar merasa mual dan ingin muntah! Si bayi di dalam rahimnya mendesak-desak, seolah memprotes pada ketidakadilan dan kekejaman yang terjadi di bumi Nusantara!

Dia langsung mematikan televisi. Dia berdiri dan berjalan ke ruang tamu. Di depan jendela ruang tamu, dia menyingkap gorden, melihat ke luar. Magrib baru saja lewat. Malam mulai menggelayuti. Gerimis masih saja turun. Dia mengelus perutnya yang sedang hamil tua. Tadi sore Bashir menelepon. Dia sedang berada di Rangkasbitung. Dia sudah memulai lagi bisnis pertanian. Menjajaki panen-panen raya di persawahan di selatan Banten.

Bagi Anah, waktu terus bergulir sangat cepat. Terasa seperti baru kemarin saja pernikahannya dengan Bashir. Dia serasa ikut merasakan denyut Banten yang terus berbenah. Mulai dari pemilihan gubernur Banten yang sering diundur, sampai ke penerimaan calon pegawai negeri sipil daerah Banten yang diisukan berbau KKN; kolusi, korupsi, dan nepotisme. Dari hari ke hari geliat masyarakatnya makin terasa. Selalu tak pernah lepas dari perebutan kepentingan, baik itu golongan maupun partai. Katanya, begitulah politik. Bahkan almarhum John F. Kennedy pernah menulis di memoarnya bahwa "Jika politik kotor, puisilah yang membersihkannya". Mungkin sebaiknya dia dan para politikus itu membaca dan memahami dengan teliti isi Al-Quran. Di sana akan banyak hal ditemui bahwa di mana pun kita berada, tak peduli itu dunia politik, bisnis, pendidikan, dan apa pun juga ..., sikap jujur dan mencintai sesama makhluk adalah hal yang paling penting dalam hidup ini. Dengan itu semua, pasti akan tercipta kehidupan yang kita impi-impikan; gemah ripah loh jinawi aman tentrem kertaraharja.

Tetapi jangankan di Banten, bahkan hampir di seluruh pelosok Nusantara, sarapan Anah adalah koran lokal. Di sana tertulis dan terpampang berita demo-demo mahasiswa dan LSM, yang kritis menyikapi isu politik uang saat pemilihan gubernur, bupati, atau ketua partai. Hal itu jadi menu makanan membosankan bagi dirinya yang sedang menanti kelahiran anak pertama mereka. Semuanya hanya menghamba pada keserakahan duniawi!

Berita-berita seperti itu terkadang terasa hambar tak bergaram baginya karena hanya berhenti pada retorika saja tanpa ada penyelesaian. Anah berpikir, entah siapa yang bebal atau keras kepala. Masyarakatkah atau para elit politik yang sudah jelas-jelas mengejar status, harta, dan gila kehormatan?! Tak ada itu yang namanya mengatasnamakan rakyat karena untuk urusan gaji dan tunjangan saja ributnya minta ampun. Kata mereka, kalau kerja tidak bermobil, dibilang kurang berwibawa. Nyuci tidak memakai mesin cuci, ketinggalan zaman. Kenapa para wakil rakyat yang rakus itu tidak mau membeli kedua benda impor itu dengan menyisihkan gaji mereka? Tetapi malah memaksa membelinya lewat brankas daerah. Memaksa rakyat yang diwakilinya membayarkan ongkos keserakahan mereka.

Sungguh ..., mereka tidak pernah memikirkan bahwa para petani yang selalu membungkuk keringatan saat menanam padi, para nelayan yang bertarung melawan badai saat menjating ikan, para guru taman kanak-kanak yang mendidik anak mereka dengan gaji ala kadarnya, para tukang sampah yang membersihkan halaman rumah mentereng mereka, hidupnya kembang kempis! Hidupnya hanya penuh dengan harapan dan impian! Astaghfirullahaladzim….. Ingatlah selalu pada saat kita dipanggil untuk menghadap-Nya! Sudah cukupkah bekal yang dibawa? Bukan harta, bukan pula jabatan. Tetapi, amal perbuatan! Audzubillahhimindzalik….

Padahal semua akan dipanggil oleh Allah. Akan mati. Akan dikubur di dalam tanah. Akan jadi tengkorak. Akan dimakan dengan lahap oleh rayap dan cacing tanah. Mungkin para birokrat di pemerintahan dan di gedung dewan yang terhormat itu sudah lupa pada tanah seukuran dua meter persegi! Tanah tempat kita akan dikubur kelak. Tempat kita akan didatangi Malaikat Munkar dan Nakir untuk dimintai pertanggungjawabannya, mengenai amal perbuatan kita selama di dunia. Masya Allah! Apakah kita termasuk orang.orang yang pantas berada di sisi-Nya?

Anah bergidik jika mengingat itu semua! Dia sendiri selalu belum merasa pantas untuk mendapat tempat yang layak di sisi-Nya!

Lamunan Anah buyar ketika terdengar suara klakson mobil di pintu gerbang. Lampu mobil itu menyorot, sehingga gerimis hujan tampak seperti garis-garis yang sengaja diciptakan Sang Pelukis Agung di atas kanvas cahaya! Kini sebuah mobil mewah berhenti di depan pintu gerbang rumah. Mang Kasman, tukang kebun, lari tergopoh-gopoh berpayungkan sarungnya membuka pintu gerbang. Anah bergegas menuju pintu. Membukanya dan berjalan ke teras sambil menopang perutnya.

Mobil sedan itu berhenti di pelataran depan. Anah menunggu di teras. Penumpangnya Pak Hari Natadiningrat dan Natalia. Kedua manusia yang dahulu pernah melakukan dosa besar; melakukan perzinaan dan membuang bayi dari hasil nafsu birahi mereka, kini tampak makin tenang di hari tuanya. Kedua orangtuanya sudah menemukan bahwa inti dari kebahagiaan itu terletak pada semakin dekatnya hati kita dengan Allah. Ada rasa ikhlas dan pasrah bahwa segala sesuatu itu milik Allah dan akan kembali kepada-Nya!

Anah menyambut kedatangan orangtuanya di teras dengan kedua tangan terbuka.

"Assalamu'alaikum ...," Natalia memberi salam dengan penuh sayang sambil mengelus-elus perut Anah yang sedang hamil tua.

"Wa'alaikum salam," Anah memeluk ibunya. Kemudian ke ayahnya.

"Sudah waktunya, ya?" Pak Hari tampak bahagia sekali.

"Insya Allah, minggu depan, Pak," kata Anah.

Episode 8

Tempatku di Sisi-Mu

"Alhamdulillah, Papa masih diberi kesempatan menjadi seorang Kakek," Pak Hari merasa bersyukur akan mendapat karunia seorang cucu.

"Begitu juga Anah, Pak," Anah ikut bersyukur. "Masih diberi kesempatan menjadi seorang Ibu," tambahnya bahagia melihat ayahnya bahagia. Siapa yang tidak bahagia menjadi seorang ibu? Dikarunia anak itu pertanda Allah mempercayai kita. Anak adalah amanah serta anugerah. Di mana-mana setiap wanita mendambakannya.

"Mana Bashir?" Natalia mencari-cari ke dalam rumah.

"Kak Bashir ke Rangkasbitung, Bu. Di sana sedang ada panen raya. Yah, Kak Bashir kayaknya tertarik untuk kembali ke bisnis pertanian."

Mereka berjalan ke ruang keluarga. Mereka duduk. Anah dengan hati-hati mencari kursi yang nyaman untuk duduk.

"Hati-hati," Natalia mengingatkan.

Anah mengangguk dan tersenyum sambil memegangi pinggangnya, seolah-olah menahan beban berat si bayi di dalam perutnya.

“Sudah di-USG?" Natalia penasaran.

“Lelaki atau perempuan?" kali ini Pak Hari yang tidak sabar.

"Kak Bashir nggak mau bayinya di-USG. Nanti nggak surprise. Perempuan atau laki-laki, kita terima saja sebagai karunia Ilahi."

Pak Hari dan Natalia saling pandang dan tersenyum. Kemudian mereka berdua seperti sedang menyuruh untuk memulai percakapan dengan topik yang baru. Anah memperhatikan mereka. Ada apa gerangan?

"Kenapa, Pak?" Anah menyelidik.

"Itu ..." Pak Hari ragu-ragu.

"Itu apa, Pak?" Anah tersenyum lucu.

"Papa ini! Ngomong itu saja susah!" Natalia tertawa. “Itu, rencana kamu membangun klinik Asy Syifa!" Natalia menegaskan.

"Oh, itu. Insya Allah," Anah menerawang. "Tapi….”

“Tapi, kenapa?" Pak Hari cemas menanti kelanjutan kalimat anaknya yang pernah disia-siakannya.

"Aduh, gimana ya? Mestinya ada Kak Bashir. Biar enak membicarakannya," Anah merasakan perutnya mulas. Dia mengelus-elus perutnya.

“Kenapa, Anah? Mulas?" Natalia cemas.

“Iya…..”

"Katanya minggu depan?" Pak Hari panik.

Anah tersenyum. "Kayaknya belum saatnya. Masih mulas biasa," katanya menenangkan kedua orangtuanya.

"Bener?" Natalia meminta kepastian.

Anah mengangguk.

"Oke. Sekarang kita bicarakan lagi soal klinik Asy Syifa!" Pak Hari serius.

Anah mengangguk-angguk.

"Bagaimana?" Pak Hari sudah tidak sabar.

Bola mata Anah menerawang jauh. "Aku ingin sekali mempunyai klinik Asy Syifa. Ini semua demi almarhumah Bik Eti, orang yang aku anggap seperti ibu kandung sendiri. Beliau sakit karena tidak mampu pergi ke dokter. Andai saja saat itu ada klinik yang khusus membantu orang-orang miskin untuk berobat, Bik Eti pasti tertolong jiwanya," dia mengenang masa lalunya dengan pedih. Air mata menggenang di kedua bola matanya. "Tapi, pembangunannya mesti ditunda tahun depan. Tanahnya saja belum dibeli," Anah menjelaskan dengan sedih.

"Anah, sudahlah, jangan mengingat-ingat masa lalu lagi," Natalia ikut sedih. "Sekarang, konsentrasikan saja pada apa yang akan kamu kerjakan sekarang. Insya Allah, mimpi kamu memiliki klinik itu akan terwujud," Natalia menggenggam tangannya. "Kami akan membantu mewujudkannya."

"Terlalu mahal biayanya. Kak Bashir dan aku nggak akan sanggup."

"Soal biaya tidak ada masalah. Papa yang akan menanggungnya. Anggap saja ini hadiah dari Papa buat kamu. Iya, kan Pa?" Natalia menatap suaminya.

"Mamamu betul," Pak Hari tersenyum.

Anah tertegun.

"Kenapa? Kamu keberatan?" Pak Hari agak kecewa.

"Harus dibicarakan dulu dengan Kak Bashir, Pak…."

"Apa Bashir akan keberatan?" Pak Hari mendesak terus. "Bukankah kamu berhak dengan segala yang Papa miliki? Buat siapa lagi semua yang Papa miliki ini, kecuali kamu? Papa tidak punya siapa-siapa lagi. Kamu yang berhak mewarisi semuanya."

Anah menatap Natalia dengan wajah bingung.

Natalia mengangguk.

Episode 9

Tempatku di Sisi-Mu

Berawal dari keringat dan biji-bijian

ditanamlah impian dan harapan

Air hujan dan doa menyuburkan

Gembiralah dengan panen kasih sayang:

atas kuasa-Nya, manusia pun begitu!

Siti Nurkhasanah menyiapkan sarapan dengan teliti. Dia menata letak piring, sendok, garpu pada tempatnya. Bik Marhamah membantu menyusun tempat nasi, lauk-pauk, minuman, dan tempat cuci tangan. Anah tampak tersenyum puas.

Bik Marhamah celingak-celinguk. "Pada ke mana, Neng? Kok, Den Bashir, Bapak, sama Ibu belum muncul?”

"Mereka masih pada di kamar, Bik. Tolong, panggil mereka ...”

Bik Marhamah mengangguk dan pergi. Sedangkan Anah berjalan menuju televisi yang sejak subuh tadi terus menyala.

"Assalamu'alaikum,” tiba-tiba Bashir muncul, masih mengenakan sarung, baju koko, dan peci.

"Wa'alaikum salam,” Anah kaget sambil mencium tangan suaminya. "Dari mana saja, Kak?” tanyanya.

"Tadi ..., abis shalat subuh di masjid Agung, mampir dulu ke pesantren,” Bashir mengecup keningnya.

Lalu Anah mematikan televisi.

"Kok, dimatiin televisinya? Kan, lagi rame berita Afghanistan?”

"Mau lihat orang-orang mati kena born Amerika? Ntar sarapannya nggak ada selera lagi," Anah kembali ke meja makan, menyiapkan sarapan buat suaminya.

"Iya, ya. Muak juga melihat kesombongan Amerika!" Bashir mengangguk-angguk dan duduk. Piringnya sudah diisi nasi goreng dengan lauk telor dadar. "Bapak sama ibu, mana?" dia mencari-cari.

"Assalamu'alaikum," Pak Hari muncul bersama Natalia.

"Wa' alaikum salam!” Bashir dan Anah serentak menjawab.

Pak Hari dan Natalia menarik kursi dan duduk. Mereka saling senyum dan tampak bahagia sekali menatap Bashir dan Anah. Dari raut wajah mereka, tampak sekali sangat mendambakan momongan cucu!

Anah menyinduk nasi goreng untuk mereka. Sarapan yang hangat. Bashir makan dengan lahap. Anah tersenyum bahagia. Seorang istri akan bahagia jika masakannya disantap dengan penuh semangat oleh sang suami. Itu.pertanda bahwa dia tidak sia-sia mengabdikan dirinya menjadi seorang istri. Kedua orangtuanya juga sangat menikmati sarapan semeja dengan anak dan menantu. Mereka ikut bahagia. Mereka berharap, semoga memulai hari baru sebagai suami-istri dengan berkumpul di meja makan sambil sarapan, itu adalah awal yang baik. Di sana ada basmalah dan hamdalah; mensyukuri segala rezeki yang diberikan oleh Allah Swt.

"Bagaimana panen rayanya?" Pak Hari menyela.

"Bagus, Pak! " Bashir optimis. Dia pulang dari Rangkasbitung tengah malam tadi.

"Kamu kirim ke mana nanti berasnya?"

"Untuk sementara akan saya salurkan di pasar lokal dulu, Pak."

"Kenapa?"

"Kalau mesti ke Jakarta, risikonya besar."

"Bisnis, kan memang penuh risiko."

"Mata rantainya itu yang belum saya pahami betul. Tau sendiri, Pak. Selalu ada siluman-siluman di sepanjang jalan tol dan di pasar induk. Kasihan para supirnya nanti. Penghasilan mereka yang nggak seberapa harus berkurang. Aku memang belum mampu membayar banyak para supir. Insya Allah, kalau bisnis pertanian ini maju, distribusinya akan diperluas sampai ke Jabotabek."

Pak Hari mengangguk.angguk. "Nanti kamu akan menguasainya. Kalau perlu, turun langsung. Awalnya, jangan mempercayakan masalahnya pada orang lain. Pelajari dulu. Setelah kamu kuasai, baru kamu serahkan pada orang kepercayaan kamu. Saat itu, kamu tinggal mengaturnya di belakang meja," Pak Hari membagi pengalamannya.

Bashir menyimak dengan serius. Anah dan Natalia memperhatikan dan mendengarkan percakapan mereka dalam kapasitas sebagai seorang istri. Mereka menyelingnya dengan mengangkut piring-piring bekas sarapan ke dapur.

"Tuan Marabunta, bagaimana? Apa dia dan anaknya masuk juga ke sini?"

"Nggak, Pak. Sudah lama mereka nggak ketahuan kabarnya."

"Bagus, bagus!" Pak Hari tersenyum puas.

"Sekarang soal klinik itu," Natalia mengingatkan.

"Ya, soal klinik itu!" Pak Hari menimpali.

"Klinik?" Bashir kaget.

"Semalam, Bapak sama Ibu menanyakan hal itu. Kami membicarakannya, tapi kami belum memutuskannya karena menunggu Kak Bashir," Anah menjelaskan.

"Coba kamu cek dulu, apakah betul tanah itu mau dijual?" kata Pak Hari.

"Tanah yang mana?" Bashir masih bingung.

"Kak Bashir?" Anah menatap suaminya.

Bashir kaget. "Ya?" tanyanya.

"Soal tanah kosong dekat stasiun itu," Anah mengingatkan.

Episode 10

Tempatku di Sisi-Mu

"Oh, tanah itu!" Bashir kini tersenyum. "Maaf, aku belum mengerti tadi. Pikiranku masih ke bisnis pertanian saja!" tambahnya tertawa.

"Bagaimana?" kini giliran Natalia.

"Bagaimana?" Bashir masih belum mengikuti pembicaraan.

"Kak Bashir," Anah tersenyum. "Rencana pembangunan klinik Asy Syifa itu."

"Oh, klinik Asy Syifa!" Bashir mulai paham. "Ya, ya, ya!" dia mulai serius.

"Kamu sudah bertemu dengan pemiliknya?" Pak Hari bertanya.

"Belum, Pak. Baru tangan kedua. Tapi, pada dasarnya mereka tidak keberatan kalau di atas tanah itu akan dibangun klinik. Harganya masih bisa dibicarakan. Insya Allah, minggu depan aku akan bertemu dengan pemilik tanah itu."

"Bagus, bagus. Tapi, lebih cepat, lebih baik," Pak Hari tersenyum. "Lihat itu istrimu. Dia sudah tidak sabar ingin segera melihat klinik Asy Syifa. Iya kan, Anah?" tanya Pak Hari. "Nanti kalau perlu, Anah melahirkan di sana!" katanya bercanda.

Anah hanya tersenyum menatap suaminya sambil mengelus perutnya.

"Bagaimana bayinya? Udah pingin keluar?" Bashir menempelkan telinganya di perut Anah.

"Yah, mulas-mulasnya sih, udah kerasa."

"Kamu jangan kerja yang berat-berat dulu, ya….."

Anah mengangguk.

Natalia dan Pak Hari saling pandang, penuh rasa haru dan bahagia. Ada perasaan nyeri di hati mereka, jika teringat dengan perlakuan mereka pada Anah!

"Kak Bashir," kata Anah, "kalau sibuk, urusan tanah kan bisa diserahkan sama Pak Soleh."

"Pak Soleh?" Bashir mengangguk-angguk.

"Betul juga. Mungkin Pak Soleh bisa mengatasi masalah tanah ini. Mungkin dia bisa menemui langsung pemiliknya. Kenalannya di stasiun kan banyak. Gimana?" Natalia nimbrung.

Bashir masih mengangguk-angguk.

"Kak Bashir?" Anah meminta kepastian.

Bashir menatap Anah. "Ya, mungkin Pak Soleh bisa lebih cepet ngurusin masalah tanah ini. Aku bawaannya emosi melulu. Maafkan aku, Anah."

"Ya nggak apa-apa! Ya, kan Pak?" Anah tertawa.

"Sama saja. Yang penting, rencana pembangunan klinik Asy Syifa lancar!" Pak Hari juga tertawa.

"Allahu Akbar!" tiba-tiba Anah menjerit kesakitan. "Laa ilaaha illallaah Muhammadarasulullah….."

"Anah!" Bashir panik.

"Astaghfirullah!" Anah melihat ke lantai. Ada tumpahan air. Ternyata ketubannya pecah. "Ya, Allah!" Wajah Anah pucat. Tubuhnya limbung.

"Cepat bawa ke rumah sakit, Bashir!"

Bashir menahan tubuh Anah yang hendak jatuh.

“Papa!” Nataha menyuruh suammya, “Cepet, nyalain mobilnya!"

Pak Hari bergegas pergi. Dada lelaki tua itu membuncah, antara cemas dan bahagia. Sebentar lagi dia akan memiliki seorang cucu dari anak kandungnya sendiri! Dari anak yang dahulu pernah dibuangnya ketika bayi di stasiun Cilegon. Ya Allah, terima kasih! Kau limpahkan padaku karunia-Mu yang tidak terkira ini! Seorang cucu! Lindungilah mereka! Janganlah Kau beri aku cobaan lagi, ketika Kau merenggut istri dan kedua anakku. Hatinya gelisah! Tiba-tiba berkelebatan gambar-gambar masa lalunya, istri dan kedua anaknya yang tewas pada kecelakaan pesawat terbang di Medan!

Sementara itu Bashir dan Natalia memapah Anah untuk berjalan. Mereka membawanya keluar. Bik Marhamah yang muncul dari dapur dengan minuman jadi panik. Dia berteriak-teriak menyebut nama Allah agar Anah diberi keselamatan.

Sebentar lagi akan terjadi proses regenerasi! Seorang bayi lahir ke bumi dengan tubuh telanjang ibarat kertas putih tak bernoda! Selanjutnya, Allah menyerahkannya pada kedua orangtua serta dirinya sendiri, dengan apa nanti kertas putih itu akan ditulisi. Dengan ibadah ataukah dengan kemaksiatan?! Allah pun menyerahkan tugas pada kedua malaikat-Nya; Rakib dan Atib untuk selalu mencatat dalam rapor-Nya, apakah kelak imbalan yang pantas itu surga ataukah neraka?!

Episode 11

Tempatku di Sisi-Mu

Kujemput ridha-Mu dalam sakit ini

Setiap menahan napas

Tetes keringat yang tersisa

Mantra dan puja-puji

Memohon kekuatan ajaib

Merasuk nadi dan darah:

Kelak di sisi-Mu surga!

Pak Hari memarkir mobilnya di klinik Firdaus, sebuah rumah bersalin cukup ternama di Cilegon. Bashir bergegas turun dan berlari ke lobi. Bashir mengabarkan pada para suster jaga di front office bahwa istrinya akan melahirkan. Pada saat itu juga dari ruangan dalam, muncul seorang lelaki yang menangis histeris. Lelaki itu dipapah oleh ayahnya. Bashir tertegun memperhatikan mereka!

"Ya Allah, kenapa Kau panggil Neng Kokom!" teriaknya dalam tangis.

"Istighfar, Ujang," kata ayahnya menyabarkan. "Kamu sedang diuji," tambahnya lagi.

"Ujang nggak bisa hidup tanpa Neng Kokom, Pak ...," isaknya lagi.

"Tapi, kamu bisa hidup dengan anakmu, Ujang," ayahnya mengingatkan. "Kamu inget, apa pesan Kokom sebelum melahirkan? Kalau kamu cinta sama Kokom, kamu harus merawat anakmu dengan baik. Menyekolahkannya sampai jadi sarjana."

Ujang, suami malang yang baru kehilangan istrinya itu tertegun. Dia seperti termakan oleh omongan ayahnya. Lalu dia membalik dan bergegas masuk lagi ke dalam klinik. Sedangkan Bashir, yang sejak tadi tertegun, merasa ada aroma kematian menyelusup ke relung kalbunya. Peristiwa Ujang dan ayahnya tadi sangat membekas di hati Bashir. Astaghfirullah ...! Ya Allah, lindungilah istri dan anak kami! Lancarkanlah persalinannya nanti!

"Ayo, Pak! Di mana istrinya?” seorang perawat lelaki mendorong brankar, menegur Bashir.

"Istri?" Bashir terkesiap.

"Katanya istri Bapak mau melahirkan?" si Perawat mengingatkannya.

"Astaghfirullah!" Bashir tersadar. Dia segera berlari ke tempat parkir.

Perawat lelaki menggeleng-gelengkan kepalanya. Dia segera mengikuti Bashir sambil mendorong brankar.

Sepanjang berlari itu, Bashir merasa seperti dikejar-kejar para setan jahanam yang menakut-nakutinya, bahwa istrinya tidak akan lama lagi hidup di dunia! Bahkan bayi yang dikandungnya pun tidak akan selamat! Astaghfirullah! Bashir membuang jauh-jauh pikiran sesat itu! Para malaikat meniupkan kabar ke hatinya bahwa mati, rezeki, dan jodoh itu urusan Allah! Lantas dia berzikir: subhanallah, subhanallah, subhanallah ...! Para iblis laknat akhirnya lari pontang-panting!

Di tempat parkir, Pak Hari dan Natalia sedang memapah Anah keluar dari mobil. Bashir dan perawat itu membantu Anah naik ke brankar. Anah rebah di brankar. Wajah Anah sudah pucat. Perawat itu dengan gesit mendorong brankar. Bashir dengan setia mendampingi. Dia tidak pernah melepaskan tangan Anah dari genggamannya.

"La haulaa wala quwwata illa billaah ...,” Anah mengerang kesakitan.

"Anah ..., sabar, ya…. Kuatkan hati kamu,” Bashir merasa sedih.

"Sakit, Kak Bashir Di sini Di perut ...," Anah mencoba untuk membagikan rasa sakitnya.

"Anah Andai saja kita bisa berbagi rasa sakit itu....”

Anah menatap suaminya dan tersenyum bahagia.

Brankar terus didorong masuk ke ruang bersalin. Bashir memaksa untuk ikut walaupun Anah melarangnya. Sedangkan Pak Hari dan Natalia memilih duduk di ruang tunggu.

Siang merembet naik. Jarum jam berdetak lambat. Ketegangan tergambar di ruang tunggu Klinik Bersalin "Firdaus”. Pak Hari Natadiningrat sejak tadi mondar-mandir; dari dinding yang satu ke dinding yang lain. Natalia hanya duduk sambil berzikir. Tasbih kecil bergerak-gerak di genggaman tangan kanannya. Subhanallah, subhanallah, subhanallah….

"Lama sekali,” Pak Hari menatap ke pintu ruang bersalin. Dia tak kuasa menyembunyikan kegelisahannya. “Jangan-jangan….”

"Sabar, Papa," Natalia menenangkan. "Duduklah. Berdoalah pada Allah, agar Anah diberikan kemudahan ketika melahirkan," tambahnya mengingatkan.

Pak Hari merasa malu pada istrinya. Dia mengusap wajahnya. "Astaghfirullah," katanya. Bukankah kelahiran juga urusan Allah? Batinnya berusaha tenang. Lalu dia duduk dan menyenderkan kepalanya ke dinding. Dia kini pasrah dalam doa.

Di ruang persalinan, tampak Anah terbaring dengan lemas. Sudah sejam dia mengerang kesakitan. "Ya, Allah ...," suaranya pasrah.

Episode 12

Tempatku di Sisi-Mu

Air infus menetes satu-satu, mengaliri slang dan masuk ke tubuhnya.

"Nyebut, Anah, nyebut ...," Bashir menguatkan dengan menyeka keringat di kening istrinya.

"Laa ilaaha illallaah Muhammadarasulullah ...," suara Anah melemah.

"Sebentar lagi kamu akan jadi 'Ibu' ..., Anah," Bashir sangat gembira.

“Dan kamu….. ‘Bapak’….,” Anah juga gembira.

"Anak-anak kita nanti akan memanggil kita 'Bapak' dan 'Ibu', Anah. Betapa indahnya!" Bashir penuh sukacita.

"Tapi ..., kenapa Bu Bidan lama sekali?"

"Sabar, Anah Sebentar tagi Bu Bidan datang." Bashir menenangkan.

"Ya Allah ...," Anah mengerang untuk yang kesekian kali. "La haulaa wala quwwata illa billaah…."

"Semuanya akan beres, Anah. Insya Allah.. .." Bashir dengan setia menemani Anah yang tergeletak di pembaringan.

Sudah beberapa kali Anah mengeden, si bayi belum juga keluar. Hampir sejam Anah berada dalam penderitaan; menahan rasa sakit di perut karena si bayi medesak-desak ingin keluar. Tadi Anah diberi induksi lewat cairan infus. Menurut asisten bidan yang menangani prapersalinan, karena ketubannya pecah, si bayi harus segera dikeluarkan. Kalau tidak, bisa berbahaya bagi si bayi. Tetapi, walaupun di dalam penderitaan, cobalah lihat wajahnya! Betapa ikhlas dan bahagia! Semua Ibu pasti begitu! Selama 9 bulan mengandung dan mempertaruhkan nyawa ketika melahirkan, tetapi mereka tetap berada dalam kebahagiaan, serta keikhlasan yang sangat luar biasa! Imbalannya, Allah melimpahkan karunia seorang anak serta sebuah jabatan yang sangat tinggi: seorang ibu! Jabatan yang diperoleh tanpa unsur kolusi, korupsi, dan nepotisme! Tetapi langsung hadiah dari Sang Maha Pencipta, Allah Swt.

"Aduh, sakit ...," Anah mengerang memegangi perutnya.

Bashir mulai menyeka keringat yang muncul di kening istrinya.

Tiba-tiba pintu kamar bersalin terbuka.

"Itu ..., Bu Bidan datang," bisik Bashir gembira di telinga Anah.

"Alhamdulillah ...," wajah Anah berseri-seri walaupun menahan sakit.

Bu Bidan langsung menyuruh asistennya untuk mempersiapkan peralatan yang diperlukan. Wanita setengah baya berjilbab itu menatap Bashir. "Suaminya?" tanyanya tersenyum.

“Iya, Bu…”

"Anak pertama?" tanyanya lagi sambil memeriksa Anah.

"Iya…”

"Nggak nunggu di luar saja?"

"Bu Bidan keberatan?"

“Nggak…”

"Aku tidak akan membiarkan istriku berjihad sendirian, Bu. Aku harus menemaninya. Memberi semangat. Aku tidak ingin kehilangan istri dan anakku," suara Bashir serius sambil menggenggam tangan istrinya.

"Insya Allah, semuanya akan lancar," Bu Bidan tersenyum pada Anah.

Anah juga tersenyum.

"Bisa kita mulai?" Bu Bidan sudah memakai sarung tangan.

Anah menatap suaminya, seolah meminta dukungan.

"Ya, kita mulai sekarang," Bashir mengangguk.

"Bismillahirrahmanirrahim ...," Bu Bidan memulai pekerjaannya.

Anah menarik napas, mengeden ...terus berulang-ulang. Bu Bidan membimbingnya dengan sabar dan telaten.

Bashir menunggui proses persalinan ini dengan cemas sambil berdoa.

"Ayo, Anah ...ambit napas ...," Bu Bidan memberi perintah sambil tersenyum tutus.

Anah mengambil napas tagi. Mengumpulkannya. Menghirupunnya. Bismillah…. Anah mengeden lagi….. Tak kenal menyerah…. "Sudah, Bu Bidan ...?" Anah mulai kehabisan tenaga. Butiran keringat menghiasi wajahnya.

"Sebentar lagi Ayo ...," Bu Bidan tersenyum. “Itu ..., batok kepalanya sudah kelihatan..., Alhamdulillah, ayo ..., terus ...dorong lagi ..."

“Sudah ketihatan bayinya," Bashir gernbira.

“Ayo, tarik napas Ya ..., dorong ...," Bu Bidan menekan perut Anah.

Anah menarik napas, mengumpulkannya, dan mengeden lagi dengan sekuat tenaga. Sekarang keringat membanjiri tubuhnya. Wajahnya pucat. Bu Bidan terus memompa semangatnya. Kepala bayi itu sudah mutai keluar. Tetapi, ketika Bu Bidan hendak rnenariknya, kepala bayi itu masuk lagi! Anah tergolek dengan lemas. Bashir menatap Bu Bidan dengan ketegangan yang sangat tuar biasa!

Episode 13

Tempatku di Sisi-Mu

Lautan waktu harus dilewati

Betapapun pedihnya

Betapa besar tenaga terkuras

Tak ada kesempatan untuk kembali

dan menghindari amanah-Nya

Harus terus berjalan

Atau kehilangan ruang dan waktu

Bu Bidan mendekati asistennya. Dia menyuruh asistennya menyiapkan peralatan untuk alat bantu persalinan. Sedangkan Anah masih tergolek tanpa daya sambil menahan rasa sakit di perutnya. Hatinya antara bahagia dan cemas. Bahagia, karena sebentar lagi dia akan menjadi seorang ibu, hal yang sangat diidam-idamkan oleh seluruh wanita di muka bumi. Seorang ibu, berarti komplet sudah hidupnya! Mempunyai seorang suami yang sangat mencintainya. Juga seorang anak, pertanda sebagai seorang istri sudah memberikan kebahagiaan pada suami tercinta! Cemas? Sudah pasti! Dia merasa cemas, takut terjadi hal buruk pada dirinya atau bayinya. Dia tidak pernah tahu apa yang direncanakan Allah pada hamba-Nya. Bisa saja setelah melahirkan, adalah saat terakhirnya melihat suaminya! Audzubillahhimindzalik…..

“Anah…..,” Bashir menggenggam erat-erat lengan Anah. "Kamu nggak apa-apa, kan?" tanyanya cemas.

Anah mencoba tersenyum. Kecemasannya kini hilang begitu melihat suaminya yang sangat ikhlas menemaninya. Ada semangat baru masuk ke peredaran darahnya. Dia tahu, suaminya berdoa untuk keselamatannya. Dia juga yakin, Pak Hari dan Natalia mendoakannya. Bik Marhamah dan Pak Soleh juga!

Seorang pelayan masuk sambil membawa segelas teh manis panas. Bu Bidan mengambil gelas itu dan menyodorkannya pada Anah. Ada sedotan plastik di gelas itu. Bashir mengambil alih gelas itu.

"Ayo, Anah ..., minum dulu ...,” Bashir mengatur letak sedotannya.

Dengan susah payah, Anah mengangkat kepalanya. Bashir membantu menopang kepala Anah dengan tangannya. Dengan begini, Anah bisa nyaman menyedot minuman hangat itu. Bashir menatapnya dengan perasaan campur aduk; bahagia dan cemas!

"Yang banyak minumnya,” kata Bu Bidan. "Supaya tenaganya kembali.”

Anah mengikuti saran Bu Bidan. Dia menyedot teh manis itu sebanyak.banyaknya. Ada semacam tenaga baru masuk ke tubuhnya: teh manis dan spirit dari suaminya yang tetap setia mendampinginya. Rasanya jika maut menjemputnya saat ini, asal buah hatinya selamat lahir ke dunia, dia akan ikhlas.

"Dimulai lagi, ya ...,".Bu Bidan sudah bersiap-siap.

Bashir meletakkan gelas minuman yang tinggal setengahnya lagi.

Anah mengangguk dan merasakan tenaganya sudah pulih lagi.

"Kenapa bayinya sulit keluar, Bu Bidan?" Bashir cemas.

"Panggul Anah sempit, sehingga si bayi yang badannya besar susah keluar," Bu Bidan menjelaskan sambil terus memompa semangat pada Anah untuk terus mengeden. "Ayo, Anah! Ayo! Nah, itu batok kepalanya kelihatan lagi! " seru Bu Bidan.

Anah terus mengedan. "La haulaa wala quwwata illa billaah ...," Anah menyerukan doa di antara napasnya yang sesak. Dia terus berulang-ulang melafalkan doa tersebut; tiada daya upaya selain kekuatan Allah. Wajahnya pucat berkeringat. Tetapi, si bayi hanya muncul batok kepalanya saja dan setelah itu hilang lagi.

Bashir hanya bisa memandangi perjuangan mereka berdua dengan doa. Istrinya dan Bu Bidan, sama-sama sedang memperjuangkan suatu kehidupan: kelahiran si bayi ke dunia. Semuanya dia pasrahkan pada yang di atas. Allahlah yang berkehendak atas semua hamba-Nya!

Bu Bidan memijiti perut Anah dengan halus. "Biasa, anak pertama," katanya menghibur. "Ingat ya ...mengedennya bukan seperti mau buang air besar. Tapi, di perut. Rasakan yang di perut ini. Dan keluarkan ..., ya?" katanya lagi pada Anah.

Anah mengangguk pasrah.

"Siap?"

Anah mengangguk lemah.

"Kalau tidak keluar juga, Bu?" Bashir cemas.

"Kalau terpaksa, ada dua cara untuk mengeluarkan si bayi, yaitu dengan vacum atau cesar! "

"Subhanallah!" Anah menjerit kesakitan. "Laa ilaaha illallaah Muhammadarasulullah……"

Bashir merasa tangan istrinya menggenggam tangannya dengan kuat. Keringat membanjiri wajah istrinya. Bashir mengelapnya dengan sapu tangan. Ada rasa ketakutan muncul tiba-tiba pada dirinya. Dia jadi teringat almarhum ibunya saat melahirkannya dahulu. Kata almarhum ayahnya, ibunya mengalami pendarahan hebat setelah melahirkannya. Ibunya meninggal setelah melahirkan dia. Betapa pedih hatinya jika mengingat hal itu.

Episode 14

Tempatku di Sisi-Mu

"Lakukan saja, Bu! Jangan tunda lagi!" Bashir pasrah.

Bu Bidan mengangguk. Dia menyuruh asistennya untuk mempersiapkan alat vacum. Sementara itu, Bashir menyodorkan gelas minuman dan menyuruh Anah untuk meminumnya agar tenaganya terkumpul lagi.

Anah mengeden lagi. Bashir menggenggam tangannya. Bu Bidan dengan sigap memasang alat vacum di batok kepala si bayi. Bashir tampak tegang. Ya Allah, lindungilah istri dan anakku! Semuanya terjadi dengan sangat cepat. Bu Bidan menarik alat itu dengan sangat hati-hati. Batok kepala itu pelan-pelan mulai menemukan wujudnya; sebuah wajah perempuan dengan rambut, mata, telinga, hidung, dan bibir. Betapa cantik! Allahu Akbar!

Setelah itu Bu Bidan tidak memakai alat vacuum lagi. Dia memegangi leher si bayi dan menariknya pelan-pelan. Si bayi seperti sudah menemukan jalan kehidupan, dia keluar dengan mudahnya; tangan, tubuh, dan kaki! Betapa sempurna dan agung Sang Pencipta makhluk bernama manusia ini! Masya Allah!

Bu Bidan memukul pantat si bayi.

Lalu terdengarlah suara tangis bayi memecah dunia!

"Alhamdulillah…..,” Anah menarik napas lega. "Allahu Akbar, anak kita perempuan…." katanya menatap suaminya dengan perasaan bahagia yang menggunung.

Bashir mengecup kening istrinya.

"Alhamdulillah…. Kita harus bersyukur menerima amanah dari Allah ini."

Anah mengangguk. "Coba lihat bayinya. Bu Bidan," pintanya.

Bu Bidan menggendong si bayi dan memperlihatkannya pada Anah. "Cantik kayak ibunya,” kata Bu Bidan tertawa.

"Iya, cantik seperti kamu." Bashir tersenyum memuji.

Bu Bidan menimang-nimang si bayi dan menimbangnya.

"Berapa tinggi-beratnya, Bu?" Anah penasaran.

"Tingginya 50 cm dan beratnya 3 kilo 7 ons," Bu Bidan memberi kabar gembira. "Besar sekali," dia menimang-nimang lagi. Lalu bayi itu diserahkan pada asistennya untuk dimandikan.

Asisten wanita itu memandikan si bayi.

"Selamat, ya ...," Bu Bidan menyalami Anah dan Bashir. "Kalian sudah jadi Ibu dan Bapak."

"Terima kasih atas pertolongan Ibu," Anah merasa terharu.

"Berterimakasihlah pada Allah," Bu Bidan mengingatkan.

Anah dan Bashir mengangguk.

"Sebaiknya kelahiran kedua jaraknya jangan terlalu dekat," saran Bu Bidan Anah menatap Bashir, seolah meminta jawaban.

"Insya Allah, Bu ...," Bashir tersenyum penuh arti.

"Saya harus menemui pasien yang lain. Assalamu'alaikum," Bu Bidan pamitan.

"Wa'alaikum salam ...," Anah dan Bashir tersenyum bahagia.

Bu Bidan membuka pintu ruang bersalin dan pergi.

"Kayaknya, kamu mau langsung punya anak lagi, ya?" Anah menyelidik.

Bashir tertawa. "Nggak apa-apa, kan?" dia balik nanya.

"Nggak apa-apa, gimana?" Anah merajuk.

"Paling baik kan, anak pertama dengan yang kedua ...jangan terlalu jauh jaraknya. Biar mereka ada temen. Gedenya bareng kan enak. Kita juga ngurusnya sekalian. Capeknya sekaligus gitu."

“Tapi dua saja, ya?!”

"Tigalah!"

"Ya, sudah! Kamu saja yang ngelahirin bayi ketiga!"

Bashir tertawa. "Nantilah kita bicarain lagi. Sekarang, aku ...eh ...Bapak ...," katanya masih tertawa, "mau ngazanin dulu," katanya seraya mendekati asisten Bu Bidan yang sedang membedong si bayi.

Asisten Bu Bidan meletakkan bayi merah itu di tempat yang sudah diberi lampu penerang, supaya suhu badannya hangat. "Silakan, Pak," kata asisten Bu Bidan. Lalu dia keluar dari kamar persalinan.

"Terima kasih," Bashir tersenyum bahagia dan penuh haru, ketika melihat buah hatinya tergeletak di boks bayi. Wajahnya yang bulat cantik, alis matanya dan rambutnya yang tebal, serta bibirnya yang bergerak-gerak mencari mata air kehidupan; air susu ibu. Sebentar lagi kamu akan mendapatkan air paling hebat, anakku! Air ciptaan Allah, yang di dalamnya tidak ada zat pengawet!

Episode 15

Tempatku di Sisi-Mu

Takbir ini menyambutmu

Tasyahud ini menamaimu

Tahlil ini mengingatkanmu

Anugerah terindah dalam hidup:

Kuharap Ia selalu menyentuhmu!

Bayi merah itu bergerak-gerak. Kain yang membedongnya membuat geraknya terbatas. Bashir tampak bahagia sekali. Ketakutan akan kehilangan buah hatinya tidak terbukti. Allah ternyata mempercayainya untuk mengemban amanah ini: menjadi seorang bapak! Betapa besar rahmat dari Allah ini: seorang bayi perempuan! Oh, betapa akan bahagia hidupku nanti! Mendengar suara tawa dan tangis seorang anak! Mendengar dia memanggil: Bapak! Baginya, anak selain untuk meneruskan keturunan, juga buat penambah semangat hidup.

Bashir bersiap-siap hendak mengazani. Dia mengatur napasnya supaya tidak keras. Dia tidak ingin membangunkan anaknya yang sedang tidur pulas. Tetapi, belum juga Bashir mengazani, saat itu Pak Hari Natadiningrat dan Natalia menyeruak masuk.

"Assalamu'alaikum!" Pak Hari tampak sangat gembira.

"Wa'alaikum salam," Bashir menundanya.

Natalia menyerbu Anah dan memeluknya dengan sukacita. "Anah ..., aduh Kamu nggak apa-apa, kan?"

Anah tersenyum.

“Mama khawatir sekali….”

“Alhamdulillah, semuanya lancar. Berkat doa Ibu sama Bapak," Anah bahagia sekali.

Sedangkan Pak Hari menyalami Bashir dengan perasaan yang tidak terlukiskan. "Selamat, Bashir! Kamu jadi bapak sekarang!" katanya. "Jangan lupa, kamu harus sesegera mungkin memberi kabar pada Pak Hidayat dan Ibu!”

"Iya, Pak!” Bashir mengangguk. Dia berjalan ke sudut dan menghubungi Pak Hidayat dengan handphone-nya. "Assalamu'alaikum," sapa Bashir. "Ya. Bashir, Pak ...," katanya tersenyum pada Anah. "Alhamdulillah, sudah lahir, Pak. Perempuan. Sehat, sehat,” dia mengabarkan. “Amin, amin…..,” dia mengangguk-angguk. "Ya, kami tunggu, Pak….. Salam buat Ibu. Assalamu'alaikum," dia mengakhiri percakapan.

"Kapan mereka ke sini?" tanya Pak Hari.

"Insya Allah, besok," Bashir berjalan ke boks bayi.

"Perempuan atau laki-laki?" Natalia mengikuti Bashir menuju boks bayi.

"Perempuan, Bu," jawab Bashir.

"Alhamdulillah, perempuan, Papa!" Natalia memandangi bayi merah itu dengan mata berkaca-kaca. "Cantik sekali!" pujinya terisak-isak. Sekelebat peristiwa ketika dia membuang bayi itu muncul. Dan dia menangis saat itu juga!

"Papa jadi kakek!" Pak Hari juga menangis.

"Mama jadi nenek! Kita sudah semakin tua, Pa!" Natalia memeluk suaminya dan tangisnya makin menjadi-jadi.

"Sudah, Mama, sudah….. Ini kan hari kebahagiaan kita semua," Pak Hari mencoba tersenyum kepada Bashir dan Anah. "Mamamu terlalu bahagia menyambut kedatangan cucunya," suara Pak Hari terbata-bata. "Cucu kami yang pertama….’

Bashir hanya tersenyum dan mengangguk sambil menggenggam tangan Anah. Mereka juga larut dalam kebahagiaan sekaligus kesedihan. Mereka bisa merasakan apa yang sedang dirasakan Pak Hari dan Natalia.

Para malaikat pun turun menyelimutkan jubah kebahagiaanya. Mereka mengubah ruang bersalin ini menjadi seperti di surga. Semua orang di dalamnya tampak berseri-seri wajahnya, penuh kebahagiaan.

“Kalian sudah memberinya nama?" Natalia mengingatkan.

Bashir meminta pendapat Anah.

"Siapa namanya, Pak?" Anah kini memanggil Bashir dengan sebutan "bapak".

"Ibu saja yang memberi nama," Bashir pun memanggil Anah dengan "ibu".

“Bapak saja,” Anah tersenyum.

Bashir mengangguk. Berpikir sebentar. Lalu, "Kunamai dia 'Siti Nurkhalishah'. Bagaimana? Ibu setuju?"

Anah mengangguk senang. "Siti Nurkhalishah?” Anah manggut-manggut.

"Jelek?”

"Alhamdulillah. Itu nama yang baik,” Anah bahagia.

"Iya, itu nama yang sangat baik. Semoga Siti Nurkhalishah menjadi anak yang saleh,” Natalia mendoakan.

"Panggilannya 'Nur’, ya?!” Pak Hari mengusulkan.

"Iya, panggilannya 'Nur',” Anah tidak keberatan. "Sekarang, ayo, azani anak kita, Pak!” Anah mengingatkan suaminva.

Bashir mengangguk. Dia mendekati si bayi vang masih tertidur. Andai saja pancaindranya sudah optimal bekerja, si bayi itu pasti akan makin bahagia karena dilahirkan di antara keluarga yang bahagia menyambut kelahirannya.

Bashir mendekatkan wajahnya ke telinga buah hatinya. "Allahu Akbar, Allahu Akbar….”

Bayi merah itu tampak tersenyum. Dia seperti sudah paham betul arti dari azan vang dikumandangkan bapaknya. Bibirnya bergerak-gerak dengan lucu. Wajahnya berseri-seri. Kelopak matanya yang terpejam berdenyut-denyut seperti mau membuka.

Episode 16

Tempatku di Sisi-Mu

Ia memberi karunia sebuah hati

Kuat seperti baja

pun rapuh tertiup angin

Ia menciptakan rasa

Memberi wama pada darah

yang melaluinya:

menjelmalah di jalan-Nya!

Ekahan tiba. Anak-anak kecil yatim piatu, berbondong-bondong memasuki halaman rumah Bashir. Mereka tampak lucu-lucu dan riang gembira dengan sarung, peci, serta baju koko. Mereka antre untuk mendapat jatah sekantung plastik makan siang dan amplop berisi uang. Mereka tampak sangat gembira dan antusias menyambut peristiwa syukuran kelahiran bayi bernama Siti Nurkhalishah!

“Ayo, ayo! Antre yang baik, ya? Jangan berebut!" Pak Soleh memberi aba-aba sambil merapikan barisan anak-anak dalam satu lajur.

Namanya anak-anak, selalu saja ada yang nakal. Selalu saja ada yang ingin menarik perhatian. Dan selalu saja ada tangis serta tawa ria. Begitulah mereka, anak-anak yang membuat orangtua selalu bahagia.

“Hey, kamu!" Pak Soleh menegur. “Mau hadiah, nggak?"

“Mau, Pak!" jawab si anak nakal yang sedari tadi hobinya merusak antrean.

“Kalau mau, antre yang bener!" Pak Soleh menjewer telinganya dengan gemas. Jeweran sayang seorang ayah kepada anaknya.

Bashir menggeleng-gelengkan kepalanya sambil tertawa. Bik Marhamah hanya tersenyum sambil menyiapkan bingkisan yang akan dibagi-bagikan pada anak-anak yatim piatu itu. Bingkisan berisi makan siang dengan daging kambing dan amplop berisi uang.

“Namanya siapa?" tanya Bashir sambil mengucek-ucek rambut si anak.

“Iwan, Kak," jawabnya malu-malu.

“Sekolahnya, kelas berapa?"

“Kelas lima di ibtidaiyah, Kak ..."

“Wah, bagus, bagus!" Bashir senang.

Terus begitu, silih berganti, setiap anak mendapatkan sekantong plastik bingkisan. Bashir dengan telaten melayani anak-anak yatim piatu itu. Pak Soleh dan Bik Marhamah membantunya. Begitulah mereka mensyukuri nikmat Allah, saling berbagi kegembiraan, kebahagiaan, dan saling memberi rezeki. Peristiwa itu tentu saja dicibiri para iblis yang sejak tadi berusaha mengacaukan acara. Tetapi ternyata, pengaruh para malaikat lebih kuat!

Sementara itu di teras rumah, Anah dirubung Pak Hari, Natalia, Pak Hidayat, serta istrinya. Si bayi sedang menyusu. Mereka tampak sangat bahagia menyambut kelahiran Siti Nurkhalishah. Bayi merah yang kepalanya sudah digunduli itu, tampak merasa nyaman dalam dekapan si ibu serta limpahan kasih sayang orang-orang terdekatnya.

Tetapi, keindahan siang itu terusik oleh kedatangan sebuah mobil mewah. Semua orang tertuju ke pintu gerbang. Bashir tampak gelisah. Anah juga. Pak Hari dan Natalia saling pandang, mencoba untuk memahami apa yang sedang terjadi. Sedangkan Pak Hidayat dan istrinya berdoa!

Pintu mobil terbuka.

Bashir langsung bergerak dan berjalan menuju pintu gerbang. Dia melihat tatapan Anah yang mengingatkannya untuk tidak berbuat gegabah. Tetapi, dia seperti tidak menggubris peringatan istrinya. Bahkan Pak Soleh pun tidak dipedulikannya.

"Bashir, jangan emosi," Pak Soleh mengingatkan.

"Terusin pembagiannya, Pak!" itu saja perintah Bashir.

"Istighfar, Bashir," saran Pak Soleh.

Bashir keburu berjalan mendekati pengemudi mobil mewah itu. Wajahnya langsung memerah diliputi amarah. Dadanya berdebum-debum, menyimpan magma yang siap diledakkan.

"Assalamu'alaikum, Bashir!" terdengar salam seseorang.

"Mau apa kamu kemari, Dick?" Bashir langsung mencegatnya.

Ternyata yang datang adalah Dicky. Di tangannya ada bunga dan kado yang besar. "Jawab dulu salamku tadi, Bashir! Sesama Muslim, sebaiknya kita saling mendoakan!" dia mengingatkan sambil tersenyum pada Anah dan semua orang yang ada.

Bashir menarik napas dengan kesal.

Dicky berjalan menuju teras sambil berbicara, seolah-olah dia sudah menjadi orang yang paling bijaksana. "Ayolah, Bashir! Lupakan yang sudah-sudah. Pengalaman selama di penjara membuatku berpikir lain tentang hidup. Percayalah. Aku sudah berubah!" katanya tersenyum pada orang-orang di teras rumah.

"Berubah? Oh, ya?" Bashir mencibir.

"Ayo, jangan sinis begitu, dong! Kamu jadi 'bapak' sekarang. Kamu juga harus mulai berubah sikapnya, dong!" Bashir tertawa. "Iya, kan?" tanyanya pada Anah dan semua orang.

Anah hanya tersenyum mendengar kalimat-kalimat Dicky. Betapa berbeda sekarang walaupun masih ada kesombongan di dalamnya. Tetapi, melihat wajah suaminya masih menyimpan dendam, perasaannya tetap saja tidak nyaman.

"Terima kasih. Sekarang, langsung ke persoalan. Ada apa kamu kemari?" Bashir sudah berdiri di depan Anah. Dia merasa perlu untuk melindungi istrinya

"Saya ingin ikut merasakan kegembiraan kalian. Menjadi seorang ayah dan ibu. Sebuah keluarga bahagia. Dengan seorang anak. Laki-laki apa perempuan?"

"Perempuan," ketus suara Bashir.

"Selamat, ya! " Dicky mengulurkan lengan kanannya pada Bashir. Sementara itu, lengan kirinya sibuk memegangi kado dan bunga.

Bashir menyalami dengan kaku. Lalu Dicky menyerahkan kado dan bunga pada Bashir. Bik Marhamah mengambil alih kado dan bunga dari tangan Bashir.

"Silakan, ya! Kami mau membantu Pak Soleh dulu," Pak Hari tersenyum pada Dicky.

"Oh, silakan, Pak! Silakan!" Dicky mengangguk.

Pak Hari mengajak Natalia, Pak Hidayat, dan istrinya untuk membantu membagi.bagikan bingkisan kepada anak.anak yatim piatu. Di dalam hati mereka, sebetulnya ada perasaan tidak nyaman. Mereka tahu sepak terjang Dicky dan ayahnya, Marabunta. Mereka juga tahu bahwa antara Bashir dan Dicky sudah seperti anjing dan kucing. Itu terjadi sejak kanak-kanak. Dan Anah ada di tengah-tengah mereka.

"Apa lagi, Dick?" Bashir tidak basa.basi.

"Silakan duduk, Dick," Anah bersikap ramah sebagai tuan rumah.

"Anah!" Bashir menegur.

"Bashir, Bashir! Ternyata kamu masih cemburu sama saya!" Dicky tertawa kecil sambil bertolak pinggang. "Lihat istrimu! Walaupun saya pernah berbuat kurang ajar sama dia, tapi dia tidak menaruh dendam. Dia menerima saya dengan penuh senyum!"

Bashir merasa darahnya bergejolak.

Anah merasa makin tidak nyaman. Dia harus menuruti apa kata suami. "Maaf, aku ke dalam dulu, Dick," katanya.

Episode 17

Tempatku di Sisi-Mu

"Sebentar, sebentar!" Dicky mencegah. "Jangan pergi dulu, Anah!"

Anah menatap suaminya dengan gusar.

Bashir menatap Dicky dengan sebal. "Sebaiknya kamu pergi dari sini, Dick! Kamu tamu yang tidak diharapkan! Mengerti?!"

"Please ...," Dicky memohon. "Izinkan saya bicara pada kalian. Ini tentang saya dan ayah saya. Sungguh, saya menyesal dengan peristiwa yang menimpa Pak Haji. Saya khilaf. Saya minta maaf dengan tulus," suaranya serius.

Bashir menatap Anah. Seolah meyakinkan istrinya bahwa Dicky pandai bersilat lidah.

"Saya sudah menebus kesalahan saya di penjara. Bahkan ayah saya sekarang dirawat di rumah sakit, terkena stroke. Bukankah itu cukup sebagai hukuman yang ditimpakan Allah pada saya dan ayah saya?"

"Innaa lillaahi ...," Anah merasa prihatin.

Tetapi Bashir tetap waspada.

Dicky merasa di atas angin. Dia berjalan mendekati Anah. "Saya mau lihat bayinya dulu!" tanpa bisa dicegah, dia sudah di sebelah Anah. Dia melihat bayi yang sedang digendong Anah sambil mencoba melucu. "Cantik! Seperti ibunya!" Dicky tersenyum, kembali pada sifat asalnya.

"Terima kasih," Anah tersenyum dan berlalu.

"Kamu belum menerima permohonan maaf saya," Dicky mendesak.

"Aku sudah memaafkan kamu," Anah menjawab pendek dan menghilang ke dalam rumah.

"Apa lagi, Dick?" Bashir mengusirnya.

"Wow, wow, wow!" Dicky mengangkat kedua lengannya tinggi-tinggi. "Kamu nggak pernah belajar dari pengalaman! Pantas saja kalau Hakim mati di tanganmu!" sindirnya.

"Heh! Jangan ngomong sembarangan, ya!" Bashir mengancam.

Dicky menggeleng. "Bashir, Bashir! Kamu itu masih perlu belajar banyak untuk menjadi seorang pemimpin!" dia melecehkan. "Saya datang ke sini untuk silaturahmi. Tapi, kamu malah memperlakukan aku seperti ini!"

"Aku nggak butuh khotbah kamu!"

"Lihat! Kamu sudah mempermalukan saya di depan mereka!" Dicky menunjuk ke halaman.

"Atau aku akan mengusir kamu secara paksa!"

"Oke, oke! Saya akan pergi!" Dicky mengalah.

Dia pergi sambil melemparkan senyum kepada orang-orang.

Bashir menatap kepergiannya dengan perasaan sebal.

"Kenapa kamu bersikap kasar ?" terdengar suara Anah penuh sesal. Dia muncul dari dalam rumah. Si bayi sudah tidak digendongnya lagi.

"Orang kayak Dicky nggak boleh dikasih hati! Bisa belagu dia!"

"Tapi, dia tamu. Dia datang dengan baik-baik. Kita harus menghormati tamu."

"Kamu sudah menghormati dia sebagai tamu! Tapi, jangan paksa saya untuk melakukan hal yang sama! Terlalu banyak luka yang belum tersembuhkan karena dia dan ayahnya!"

Anah terdiam. Luka lama. Dia sendiri pernah punya. Tetapi, semuanya dia serahkan pada Allah. Toh, Dicky sudah menerima ganjarannya: penjara. Hanya saja, luka lama Bashir memang sangat berat sekali. Yaitu kehilangan orang yang dicintainya: bapak. Sebetulnya sampai sekarang, dengan pelan-pelan dan kesabaran, Bashir terus berusaha mengumpulkan bukti-bukti baru bahwa peristiwa tabrak lari yang menimpa ayahnya adalah hasil rekayasa Dicky dan ayahnya, Marabunta. Tetapi, hasilnya masih tetap nihil. Anah selalu mengingatkan agar Bashir mengikhlaskan semuanya. Yakinlah, bahwa hukuman setimpal akan menimpa Dicky dan ayahnya di hari pembalasan nanti!

"Bukankah Allah Maha Pengampun?" Anah mencoba lagi.

Bashir menatapnya. "Kenapa kamu membela dia, orang yang sudah jelas mengakibatkan Bapak meninggal?" suara Bashir agak meninggi.

"Ssst ..., jangan emosi kayak gitu. Nggak enak sama yang lain."

Bashir tersadar. Dia berusaha bersikap biasa lagi. Dia duduk. Dia melihat ke halaman, anak-anak yatim piatu itu sedang bergembira bernyanyi-nyanyi sambil menikmati hidangan ala kadarnya.

"Tuan Marabunta sekarang terkena stroke. Allah ternyata lebih awal memberinya hukuman di sini," Anah mengingatkan.

Bashir mengangguk walaupun dari tatapan matanya masih belum bisa menerima kenyataan ini. Dari raut wajahnya juga, masih terlukis kemarahan terhadap Dicky dan ayahnya.

"Tidak baik hidup diliputi dendam. Yang rugi kita sendiri…."

Bashir menatapnya.

"Kak Bashir bisa mengikhlaskannya sekarang?"

Bashir membuang wajahnya. Dia menatap lagi ke halaman. Dia melihat Pak Hari sedang menari-nari dengan seorang anak.

"Aku nggak mau, sepanjang hidup kita nanti, kamu selalu dibayangi peristiwa ini."

Kini Bashir menatapnya lagi.

"Kak Bashir mau dengar omonganku?"

Bashir mengangguk.

"Aku minta jawabannya sekarang."

Bashir masih terdiam.

"Bersihkan jiwa Kak Bashir dari dendam. Ingat, Kak Bashir sekarang sudah jadi bapak. Tanggung jawabnya tidak hanya pada aku semata. Tapi juga pada anak-anak kita kelak. Mereka akan meniru apa yang diperbuat bapaknya."

Bashir melontarkan napasnya.

"Kak Bashir belum mau menjawab?"

"Insya Allah, Anah ...," akhirnya Bashir bersuara, setelah sang iblis dan malaikat bertempur di dadanya.

Episode 18

Tempatku di Sisi-Mu

Kerikil-kerikil berserakan

Dikumpulkan dengan doa

Lalu menjadi monumen kebahagiaan

Kuat dan kokoh dalam firman-Nya:

Jadikan itu rumah-Nya!

Truk-truk pengangkut tanah merah dan batu bata hilir mudik di perkampungan dekat stasiun. Muatan itu ditumpahkan di sebidang tanah yang kini sedang dilanda kesibukan luar biasa. Pembangunan klinik hampir selesai. Tampak para tukang sedang memasang genteng di atap.

"Awas, gentengnya! " Pak Soleh berteriak pada para tukang yang sejak tadi bercanda melulu.

"Tenang. Pak Soleh!" seorang tukang tertawa.

"Tenang, tenang gimana! Kalian ngelemparin gentengnya sembarangan!”

“Udah biasa. Pak Soleh! Nih!" tukang itu melemparkan sebuah genteng sambil menutup matanya ke udara.

Genteng pun melayang ke udara! Seorang tukang yang berdiri di atap menangkapnya dengan sigap!

"Heh! Itu genteng mahal, tau!" Pak Soleh berteriak kaget. "Kalau sampai pecah, upah kalian saya potong!”

Para tukang hanya tertawa menimpali ancaman Pak Soleh. Mereka tahu. Pak Soleh hanya bercanda. Mereka tahu. Pak Soleh itu baik hati. Mereka tahu, Pak Soleh itu paling ringan tangan. Boro-boro motong upah tukang ..., uangnya pun terkadang suka diberikan pada tukang yang sedang kesusahan.

"Pak Soleh!" panggil seorang tukang yang sedang memutar-mutarkan lengannya. Di genggamannya ada sebuah genteng. "Tangkap, ya!!"

"Heh, awas!!" Pak Soleh kaget dan gugup.

Tetapi genteng itu tidak tertuju kepada Pak Soleh. Genteng itu melayang ke udara! Tukang lainnya yang duduk di atap rumah menangkap genteng itu dengan tertawa. Pak Soleh bernapas lega sambil geleng-geleng kepala. Begitu terus pertunjukan itu berlangsung. Ratusan genteng dilemparkan ke udara dan ditangkap! Kemudian genteng-genteng itu disusun dengan rapi, menutupi bangunan yang sudah hampir jadi.

Orang-orang kampung merasa bersyukur dengan kehadiran klinik milik Anah ini. Anah di mata mereka kini menjelma menjadi anak yang sukses. Tabir yang sejak dahulu mereka simpan erat-erat, kini tidak dipermasalahkan lagi. Bahkan menjadi berkah buat mereka.

"Itulah hikmahnya kehadiran Anah di sini bagi kita," kata Pak Soleh, pengemis berkaki buntung mengomentari. "Dulu, kita pernah menolak kehadirannya sebagai anak jadah. Untung Bik Eti dengan sabar dan tawakal merawatnya. Lihatlah sekarang... Anah menjadi wanita muslimah. Kedua orangtua kandungnya kini berkumpul lagi. Dan lihatlah pula, sebuah klinik berobat bagi orang-orang miskin seperti kita dibangunnya!”

Orang-orang yang tinggal di perkampungan di sekitar stasiun kereta api mengiyakan. Baginya, Anah memang hikmah. Bukan saja klinik, tetapi selama Anah tinggal bersama almarhum Pak Haji Budiman, kampung mereka termasuk paling sering mendapat bantuan sembako. Bahkan, Pak Hari Natadiningrat pun termasuk paling sering mengirimkan bantuan sembako jika hari lebaran tiba. Bukan hanya pada saat lebaran saja. Tetapi, pada saat krismon mengganas, bantuan sembako dari Pak Hari terus mengalir. Sekarang, kebiasaan baik itu dilanjutkan oleh Anah dan Bashir!

"Pak Soleh inget, kan? Bagaimana Ibu meninggal?" Anah memulai rencana pembangunan kliniknya dengan mengingat peristiwa tragis yang menimpa Bik Eti. "Anah nggak sanggup membawa Ibu berobat ke dokter karena nggak punya uang. Anah saat itu berjanji, kelak kalau Anah jadi dokter, tenaga dan pikiran Anah akan Anah sumbangkan bagi orang-orang miskin. Termasuk membangun klinik Asy Syifa ini.”

"Namanya klinik Asy Syifa?” Pak Soleh merasa bangga.

"Artinya itu 'kesembuhan', Pak Soleh," Anah menjelaskan. "Insya Allah, orang-orang yang berobat ke klinik Asy Syifa akan diberi kesembuhan oleh Allah Swt. Anah kan hanya sebagai perantara-Nya saja.”

"Alhamdulillah, " Pak Soleh bersyukur karena Anah tidak menjadi kacang yang lupa pada kulitnya.

"Dan pengalaman Anah waktu kehilangan Ibu dulu karena nggak bisa membawa Ibu ke dokter, nggak akan terulang lagi, Pak Soleh," kata Anah mengenang ketika meletakkan batu pertama.

Semua impian Anah kini sedang mendekati kenyataan. Di tanah kosong yang dahulu hanya ada plang bertuliskan: DI TANAH INI AKAN DIBANGUN "KLINIK ASY SYIFA” kini sudah mulai menampakkan wujud bangunannya!

Pak Soleh tersenyum bangga melihat kenyataan di depannya ini. Semuanya berjalan tanpa bisa diduga. Bermula dari bayi yang dibuang di gerbong kereta, kemudian ke almarhumah Bik Eti yang menemukan bayi malang itu. Bik Eti yang mengasuh, merawat, membesarkan, dan mendidiknya. Terus bergulir ke Pak Haji Budiman yang merawatnya hingga lulus SMU, lalu ke keluarga Hidayat yang berhasil mengantarkannya menjadi seorang dokter, dan kini Pak Hari Natadiningrat menghadiahinya sebidang tanah, yang di atasnya akan dibangun sebuah klinik yang diperuntukkan bagi orang-orang tidak mampu seperti dirinya.

Episode 19

Tempatku di Sisi-Mu

"Alhamdulillah," Pak Soleh mengucap syukur. "Atas kuasa-Mu jualah, klinik ini berdiri," katanya penuh haru.

Pak Soleh kembali terlempar ke peristiwa puluhan tahun yang lalu. Saat itu, Anah hanya bisa meratapi Bik Eti yang sakit parah. Hanya karena mereka miskin saja, mereka tidak sanggup membawa Bik Eti ke dokter. Sejak kepergian Bik Eti karena sakitlah, Anah bercita-cita ingin menjadi dokter. Alhamdulillah, diiringi dengan doa dan kerja keras, Anah berhasil menjadi seorang dokter!

Ketika Anah mengemukakan keinginannya membangun klinik "Asy Syifa", yang diperuntukkan bagi orang tidak mampu, Pak Hari Natadiningrat sangat mendukung. Bahkan, seolah ingin menebus dosa lamanya, Pak Hari membantu seluruh biaya pembuatan klinik "Asy Syifa". Mulai dari pembelian sebidang tanah di dekat perkampungan di belakang stasiun, serta pengadaan material dan tukangnya. Pak Hidayat pun tidak ketinggalan. Dia menjanjikan akan membelikan peralatan medis untuk persalinan. Komplet sudah kebahagiaan Anah karena Allah telah mempermudah impiannya.

Sedangkan Pak Soleh dipekerjakan sebagai pengawas bangunan. Bahkan berkat Pak Soleh pulalah, pembelian tanah untuk klinik jadi lancar. Pak Soleh yang miskin, ternyata ada artinya juga bagi orang lain. Pak Soleh merasa hidupnya kini lebih berarti.

"Bagaimana pembangunan kliniknya, Pak Soleh?" tiba-tiba terdengar suara Anah.

Pak Soleh kaget. Dia menengok. "Lho, kamu!" Ternyata Anah sejak tadi sudah berdiri di belakangnya. Siti Nurkhalishah, yang kini sudah berumur 1 tahun, dituntunnya. Nur rupanya sudah memaksa ingin berjalan sendiri.

"Astaghfirullah ...,” Pak Soleh tertawa. "Anah dari tadi di situ, ya?” tanyanya malu.

"Iya,” Anah tersenyum. "Anah lihat, Pak Soleh lagi ngelamun. Kenapa, Pak? Inget sama masa lalu, ya?”

Pak Soleh mengangguk dan berjalan terpincang-pincang sambil tertawa. Sekarang Pak Soleh tidak lagi memakai kruk. Kakinya yang buntung sudah disambung memakai kaki palsu. Bashir yang membelikannya.

"Iya, Anah. Bapak inget Bik Eti,” katanya sedih. Anah tersenyum lagi. Dia mencoba untuk tidak larut dalam kesedihan masa lalu. Anah menatapnya dengan rasa haru. Pak Soleh yang sudah terlalu banyak menolongnya. Pak Soleh yang tidak sekadar orang lain bagi Anah, tetapi lebih dari seorang sahabat. Saat ini bagi Anah, Pak Soleh bisa saja sebagai pengganti almarhumah Bik Eti dan almarhum Pak Haji Budiman. Pak Soleh sebagai orangtuanya juga, selain Pak Hari Natadiningrat dan Natalia!

"Nur, Sayang ...,” kini Pak Soleh mengalihkan perhatian pada Nur kecil. "Sini, Nur, sini ...,” Pak Soleh mengulurkan lengannya. "Ayo, cium tangan dulu,” katanya.

Anah mengajari Nur cium tangan. Nur kecil melonjak-lonjak gembira mengulurkan tangannya. Lalu Nur menyalami dan mencium punggung tangan Pak Soleh. Subhanallah ..., anak sekecil N ur Isudah bisa menerima pelajaran budi pekerti; harus menghormati orang yang lebih tua. Itu termasuk bekal kita dalam menjalani hidup yang serba keras ini kelak. Insya Allah.

"Nur, besarnya mau jadi apa?" Pak Soleh pun mengangkat tubuhnya tinggi-tinggi!

Nur menjerit-jerit kegirangan.

“Jadi dokter kayak Ibu, ya!"

Nur mengangguk-angguk kesenangan.

Anah menyaksikannya dengan mata berkaca-kaca. Dia seperti melihat dirinya yang dipangku Pak Soleh!

Episode 20

Tempatku di Sisi-Mu

Anah Mendapat Warisan Hari Natadiningrat

Dari tanah muncullah dahan, lalu daun,

bunga, buah, dan angin musim menjadi temannya

Seiring waktu kembali pada Sang Muasal

Daun kering berguguran ke tanah pangkuan

Berserak dan berserah diri di selembar sajadah:

sudahkah ingat bekal pada-Nya?

Magrib baru saja lewat. Menjelang isya.

Malam mulai menurunkan jubah hitamnya. Langit tak berbintang. Hitam pekat. Para iblis sedang mengepung sebuah rumah besar yang sepi. Dari rumah besar itu tak ada suara apa-apa, selain suara batuk berkepanjangan yang terdengar. Para iblis api neraka itu bersembunyi di batang-batang pepohonan, yang sudah puluhan tahun tumbuh di halaman rumah. Juga hinggap di daun-daunnya sehingga bergoyang-goyang mengisyaratkan kegelisahan. Mereka menjulurkan lidah apinya, seolah hendak membakar para penghuni rumah besar itu. Mereka sedang menunggu sesuatu yang akan terjadi….

Batuk dari dalam rumah. itu terdengar lagi.

Para iblis tertawa terbahak-bahak. Apinya menyembur dan menghanguskan dedaunan. Kemudian mereka mengendap-endap ke jendela kamar. Mereka mengintip lewat celah-celah gorden. Mereka menanti dengan harap-harap cemas bahwa pertunjukan akan berakhir dengan kemenangan yang berpihak pada mereka! Tetapi, di sudut lain, para malaikat pun turun dengan sayap putihnya. Mereka meniupkan aroma wewangian ke dalam kamar! Pertunjukan di dalam kamar pun mereka tonton. Para malaikat dan para iblis tampak tegang!

"Bagaimana, Pa?" Natalia tergopoh-gopoh muncul, membawa segelas air putih.

Pak Hari terduduk di pinggiran tempat tidur. Lelaki tua beruban itu tidak hanya batuk. Tetapi juga menggigil. Wajahnya pucat. Bibirnya bergetar kebiru-biruan.

"Mama panggil Dokter Gunawan ke sini, ya?"

"Nggak usah. Papa hanya batuk biasa," Pak Hari menarik selimut.

Natalia menyodorkan air putih.

Pak Hari menggeleng.

Natalia meletakkan gelas itu di meja kecil. Lalu dia duduk di tempat tidur. Menyentuh kening suaminya. "Tapi, suhu badan Papa tinggi sekali!" nadanya sangat cemas.

"Papa justru merasa dingin, Mama ...,” Pak Hari berbaring dan menyelimuti tubuhnya.

"Tuh, kan! Ini demam, namanya!” Natalia membantu menyelimuti suaminya.

"Mungin Papa kecapekan," Pak Hari menggigil.

"Kan Mama bilang, Papa udah nggak perlu lagi ngurusin perusahaan. Sekaranglah saatnya buat Papa pensiun."

Pak Hari tidak menjawab. Dia malah makin menggigil.

"Papa!” Natalia panik. Dia meraba lagi kening suaminya. Panasnya melebihi batas normal. "Mama panggil Dokter Gunawan, ya?!” Natalia bangkit dan menuju meja di dekat jendela kamar. Diraihnya telepon.

Pak Hari makin menggigil dan panasnya makin meninggi.

Para iblis terus menyemburkan api nerakanya! Tetapi, para malaikat meniupkan wewangian yang sejuk sehingga suasana di dalam kamar terasa seperti di pegunungan.

Pak Hari tak tahan lagi! Dia menggerak-gerakkan bibirnya, "Laa ilaaha illallaah Muhammadarasulullah….”

Para iblis merasa tubuhnya sendiri yang terbakar, ketika mendengar kalimat itu keluar dari mulut Pak Hari. Mereka bersembunyi di batang-batang pohon dan di rerimbunan dedaunan. Mereka menanti dengan harap-harap cemas! Para malaikat tersenyum senang.

"Ya, Allah!" Natalia tampak gugup. Dia tidak jadi memijit angka-angka nomor telepon Dokter Gunawan, karena dilihatnya suaminya tidak bergerak-gerak lagi! "Nyebut, Papa! Nyebut!" Natalia histeris.

Walaupun tubuh Pak Hari terbujur kaku, bibirnya tetap mengeluarkan suara, "Laa ilaaha illallaah Muhammadarasulullah…..” Suaranya pelan sekali. Hampir berdesis.

"Papa ...," Natalia memegangi tangannya. "Papa masih mendengar suara Mama?"

Pak Hari mengangguk dan tersenyum. "Natalia ..., tolong ...kamu ambil ...map hijau... di laci ... lemari pakaian," suara Pak Hari terpatah-patah.

"Map hijau? Untuk apa?" Natalia tidak mau melepaskan pegangannya.

“Ambillah…”

Natalia merasa ada tekanan dari kalimat suaminya tadi, yang mengharuskannya mengambil map hijau itu. Dia dengan cemas melepaskan pegangannya. Dia meletakkan tangan suaminya di dadanya. Sambil matanya melihat ke tempat tidur, tempat Pak Hari terbujur kaku, dia berjalan menuju lemari. Dibukanya dan dicari-carinya map berwarna hijau di dalam laci. Begitu ditemukan, dia langsung bergegas ke tempat tidur.

Dia menyerahkan map hijau itu kepada suaminya. “Ini Papa, mapnya,” katanya cemas.

Kedua tangan Pak Hari bergerak dengan lemah, mencari-cari benda yang diinginkannya. Natalia mendekatkan map hijau itu ke tangan suaminya. Pak Hari mendekap map hijau itu ke dadanya dengan penuh sukacita.

"Alhamdulillah," bibir Pak Hari bergerak pelan.

Natalia tidak pernah tahu apa isi map itu. Dia tidak sempat menanyakannya karena langsung berlari ke meja telepon. Tanpa melewatkan pandangan ke tubuh suaminya, dia menelepon ke handphone Dokter Gunawan.

"Dokter Gunawan! Ini saya, Dok! Bu Hari Natadiningrat!” katanya was-was. "Tolong kirim ambulan ke rumah, Dok! Segera, ya!!” perintahnya. "Bapak, Dok! Bapak sakit!” Natalia menangis sambil meletakkan gagang telepon di tempatnya.

Natalia bergegas lagi ke tempat tidur. Suaminya masih terbujur kaku. Kedua tangannya mendekap map hijau ke dadanya. Matanya terpejam. Ada senyuman tersungging di bibirnya. Betapa tenang wajah itu.

"Papa!" panggilnya gelisah. "Papa masih mendengar suara Mama?"

Tidak ada suara apa-apa. Para malaikat meniupkan wewangian ke dalam kamar. Sedangkan para iblis sudah terbirit-birit ketakutan. Kayu-kayu bakar untuk api neraka itu tidak berhasil membawa penghuni kamar menjadi bagian dari mereka, karena para malaikat berhasil melindungi!

"Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raajiuun ...,” Natalia memeluk tubuh suaminya dengan perasaan kehilangan yang amat sangat. Dia mencoba untuk melepaskan kepergian suaminya dengan rasa ikhlas. Dari asal kembali ke asal.

Tiba-tiba, sayup-sayup dari pengeras suara masjid, suara azan isya menggema….. seolah mengantarkan ruh Pak Hari yang sedang menuju tempat di sisi-Nya!

Episode 21

Tempatku di Sisi-Mu

Dia Maha Rahman

Dikasihi-Nya kita dalam balutan doa dan nikmat

Diciptakan-Nya dari darah dan tiupan ruh

Anak-anak masa depan

Di mana harap tertumpah

Dia Maha Rahim

Memberi segala terbaik

pada sekitar dunia:

tetapi kita lalai mengingat ciptaan-Nya!

Di ruang keluarga. Tampak perut Siti Nurkhasanah sudah membesar lagi. Hamil tua. Diperkirakan minggu ini anak keduanya akan lahir. Rupanya Bashir mewujudkan keinginannya untuk mempunyai anak kedua dalam waktu yang cepat. Umur Siti Nurkhalishah sekarang sudah dua tahun. Waktu yang tepat untuk memberikan adik bagi si sulung.

Anah merasa bahagia dengan kehamilan keduanya ini. Dia tidak menjadikan kehamilan keduanya ini sebagai beban hidup, tetapi justru menerimanya sebagai rahmat dan amanah baru. Dia tahu, betapa banyak para istri yang sangat mendambakan jabatan sebagai ibu. Jabatan yang hanya diberikan secara gratis oleh Allah! Tanpa perlu menyuap atau main sikut sini, sikut sana. Sogokannya pada Allah hanya dengan mengikuti segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya!

"Ayo, Dede ...," Anah mengelus-elus perutnya, "... kapan keluar," katanya mengajak si bayi berbicara. "Teteh sudah nggak sabar punya temen main," dia tersenyum sendiri melihat anak pertamanya, Siti N urkhalishah, sedang mengacak-acak isi amplop di lantai.

"Nur, suratnya jangan dirobekin. Bapak belum baca suratnya. Foto-fotonya juga jangan diguntingi... Bapak kan mau lihat juga…."

"Emang, ini foto siapa?"

"Itu foto Tante Namlok sama anaknya."

"Namanya siapa?"

"Siti Aisyah…."

"Nama saya 'Siti Nurkhalishah'. Sama!" Nur gembira. Dia sudah tidak tertarik lagi dengan surat dan foto-foto itu. Dia kini berpindah ke televisi.

Anah bangkit dan membereskan foto-foto yang berserakan di lantai. Sebelum dimasukkan ke amplop, dia melihatnya sekali lagi. Foto-foto Namlok Sarachipat dengan suami barunya. Juga ada Siti Aisyah yang sudah sekolah setingkat dengan sekolah dasar di sini. Umur Siti Aisyah sekarang sekitar 8 tahunan. Mereka berfoto di depan Grand Palace, istana raja Thailand, Bhumipol Abdulyadey. Betapa bahagianya mereka. Ternyata mereka sangat tabah dan berhasil mengatasi ujian berat dari Allah, ketika harus kehilangan Hakim yang berpulang ke rahmatullah!

Lalu Anah mengambil lagi surat dari Namlok. Bahkan Siti Aisyah pun sudah pandai menulis surat. Mereka mengucapkan terima kasih karena selalu rutin dikirimi uang oleh Bashir. Uang bagian dari hasil keuntungan perusahaan yang menjadi hak mereka. Namlok mengabarkan bahwa semua uang hak anaknya ditabungkan di bank. Insya Allah, jika Siti Aisyah besar nanti, uang itu akan banyak manfaat bagi dirinya.

Sedangkan Siti Aisyah menulis, betapa ingin sekali berlibur ke Cilegon. Berziarah ke makam ayahnya dan berkenalan dengan saudaranya, Siti Nurkhalishah. Tulisan tangan dan bahasa Inggrisnya sudah cukup lancar. Tanpa disadari, Anah meneteskan air mata. Tiba-tiba saja dia ingat pada Hakim, suami dan ayah mereka, yang juga pernah singgah sesaat di kehidupannya.

"Ya Allah, lindungilah Hakim di alam kubur. Beri dia tempat yang layak di sisi-Mu. Ampunilah segala dosa-dosanya," begitu Anah berdoa untuk keselamatan mantan suaminya.

Lalu Anah melipat lagi surat itu dan bersama foto-fotonya dimasukkan ke dalam amplop. Diletakkannya surat berharga itu di meja kerja Hakim. Dia berjalan ke sofa dan duduk lagi dengan hati-hati. Diambilnya majalah kesehatan dari bawah meja. Sambil membaca, dia mengawasi Nur yang sedang asyik nonton film takhayul di televisi.

"Ibu ..., takut!" tiba-tiba Nur bangkit dari duduknya dan berlari, bersembunyi di balik kursi. Di layar televisi, si tuyul sedang dikejar-kejar musuhnya yang bertubuh lebih besar.

“Kenapa, Teteh? Kok, takut? Itu, kan bohong-bohongan,” Anah tersenyum.

“Bohong-bohongan, Bu?”

“Iya.”

“Bapak mana, Bu?” Nur kecil tidak tertarik lagi pada televisi. Dia mendekati ibunya dan duduk di sebelahnya.

Episode 22

Tempatku di Sisi-Mu

“Bapak masih kerja.”

“Oh, Bapak masih kerja,” katanya mulai tertarik pada majalah yang dibaca ibunya.

“Iya.”

“Bapak kerja di mana?”

“Di kantor.”

“Oh, di kantor,” kali ini dia mulai menarik-narik majalah. “Ibu sedang apa?” Siti Nurkhalishah naik ke kursi.

“Baca majalah.”

“Majalah apa?”

“Ini,” Anah menunjukkan isi majalah. “Tuh ..., ada Dede yang sedang minum susu, kan?”

“Oh, iya ...,” Nur mengangguk-angguk. “Teteh juga minum susu!”

“Minum susunya yang banyak. Biar sehat."

“Teteh juga makannya banyak!”

“Teteh, kan sudah besar. Jadi, makannya harus banyak. Biar cepet tinggi kayak Ibu sama Bapak."

“Kok, Bapak belum pulang, Bu?" Nur kecil kini berdiri di kursi.

"Bapak masih banyak pekerjaan. Mungkin belum selesai."

"Kapan pulangnya?"

"Insya Allah, setelah Ibu shalat isya. .."

“Teteh juga mau shalat isya!"

"Ayo, kita shalat di mushola," ajak Anah.

"Nanti aja, Bu!" Nur kecil mulai melompat-lompat di kursi.

"Teteh ...," panggil Anah kepada Siti Nurkhalishah. " Ayo ..., kursi buat apa?" katanya mengingatkan.

"Buat duduk!" jawab Nur yang kini makin pandai bicara.

"Kalau buat duduk, kenapa Teteh main lompat-lompatan?" Anah tersenyum. Anak pertamanya sekarang minta dipanggil "teteh", yang berarti "kakak" karena sebentar lagi dia akan punya adik.

Nur turun dari kursi.

"Hati-hati turunnya, Nur…."

"Teteh!" Nur meralat.

"Iya, hati-hati turunnya, Teh ...," Anah tersenyum.

Nur sudah turun. Dia mendekati ibunya lagi. Anah menyambut buah hatinya dengan senyuman. Biasanya Nur minta digendong. Tetapi kali ini dia sudah mengerti bahwa ibunya akan kewalahan dengan perutnya. Dia hanya menempelkan telinganya di perut ibunya yang besar.

"Dede tidur?" tanyanya ingin tahu.

Anah tersenyum dan mengelus-ngelus perutnya.

"Iya, dedenya sedang tidur."

"Dede, nggak bangun?"

"Bangunnya besok. Sekarang sudah malam. Teteh juga harus tidur…"

"Teteh mau main dulu!" katanya menuju ruang bermain, yang letaknya di sudut ruang keluarga.

Anah melihat ke jam dinding. Sudah jam delapan malam! "Mainnya jangan lama-lama ya, Teh ...," Anah memberi syarat.

"Iya, Bu ...," jawab Nur sambil menarik sebuah kardus. Isinya ditumpahkan ke lantai. Boneka, rumah-rumahan, mainan dokter-dokteran, tumpah ruah ke lantai. Dia dengan penuh semangat dan gembira memilih-milih mainan itu dan menyusunnya di lantai. Dia sedang membuat sebuah rumah boneka. Boneka itu ditidurkan di ranjang. Kemudian dia mencari-cari peralatan dokternya.

Kriiing ...! telepon berdering!

Anah agak susah untuk bangkit.

"Teteh saja, Bu!" Nur berlari.

“Kriiiing…!!

"Pasti dari Bapak!"

"Assalamu'alaikum!" Nur memberi salam di telepon. "Ini siapa?" tanyanya. "Ini 'Teteh Nur'," katanya gembira. "Oh, Nenek!" dia melihat ke ibunya. "Nenek, Bu!" Nur mengacungkan gagang telepon ke ibunya.

Anah kini sudah bangkit dengan menopang tubuhnya di pegangan kursi. Dia berjalan menuju meja telepon. "Dari Nenek, Teh?" tanyanya.

"Nih!" Nur menyerahkan gagang telepon dan berlari lagi menuju mainannya di sudut ruangan.

"Assalamu'alaikum, Bu ...," Anah memberi salam. Ada keheranan di wajahnya. Biasanya Natalia suka berlama-lama jika sudah berbicara dengan Nur di telepon. "Ya, Bu? Apa? Bapak?" kabar dari Natalia membuat jiwanya berguncang. "Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raajiuun ...," wajah Anah langsung pucat.

"Ibu!" Nur berteriak.

Tubuh Anah limbung.

Episode 23

Tempatku di Sisi-Mu

Suara-suara itu membangunkanku

Tidur yang melelahkan

Pun bagimu

Bersusah-susah menjagaku

Di tengah cemas bila tak ada detak

Dan aku bergegas mendatangi suara

Cahaya benderang:

Rabbi, tak Kau ceritakan cahaya itu!

Anah melihat ke Nurkhalishah yang sedang berlari ke arahnya. "Awas jatuh, Teh ...," katanya mengawasi dengan cemas. Nur memang sedang nakal-nakalnya. Anak seumur dia kalau berlari tidak ingat celaka. Apa saja dianggapnya tidak ada. Pernah Nur jatuh terpeleset, menginjak susu yang ditumpahkannya sendiri. Untung kepalanya jatuh tepat di atas karpet. Kalau tidak, entahlah apa yang terjadi. Di kliniknya, Anah sering menerima pasien anak kecil yang jatuh karena terpeleset. Biasanya bagian belakang kepala mereka yang membentur ke lantai. Ada yang diiringi dengan muntah-muntah, atau hanya pusing biasa. Begitulah memang risiko punya anak kecil di rumah. Allah selalu mengujinya dengan hal-hal kecil.

Tetapi Bashir sering mengingatkannya bahwa anak kecil itu tidak boleh dilarang. Nanti tidak akan jadi anak yang terampil. Malah jadi anak yang penakut. Yang harus dilakukan adalah, selalu mengawasi atau menemani si anak bermain. Bukan malah melarang. Kalau versi Pak Soleh lain lagi. Dia percaya bahwa di sekeliling anak kecil itu banyak malaikat yang menjaga. Jika si anak dalam bahaya, atas perintah Allah, malaikatlah yang melindungi si anak. Subhanallah! Anah hanya bisa mengucap syukur dengan cerita Pak Soleh ini. Semoga para malaikat menjaga Nur!

"Ibu, sakit?" Nur memeriksa perut ibunya.

"Iya, Ibu sakit," Anah mencoba menahan nyeri di perutnya. "Teteh ..., panggil Pak Soleh, ya ..."

"Pak Soleh?"

"Iya. Cepet ...," kata Anah sambil menarik kursi. Dia duduk dengan hati-hati. Telepon masih dipegangnya.

Nur kecil berlari ke depan rumah.

"Bibik! Bik Inaaah!" Anah berteriak-teriak memanggil pembantu rumah.

Pembantu rumah segera muncul dengan tergopoh-gopoh. Dia kaget melihat majikannya yang mengerang kesakitan. "Ibu! " teriaknya.

"Bik, sini Bik," kata Anah. "Bantuin saya jalan ke kamar," pintanya.

Bik Marhamah segera menahan tubuh Anah dengan bahunya. Dia melingkarkan tangannya ke pinggang Anah. "Aduh, Ibu ...kenapa jadi begini?" Bik Marhamah cemas dan menangis.

"Ayo, Bik ..., hati-hati jalannya, Bik," kata Anah berjalan tertatih-tatih menuju kamar.

Sementara itu, Siti Nurkhalishah sudah berada di teras. "Pak Soleh! " dia berteriak sekencang-kencangnya. Dia hampir saja menabrak kursi.Untung dia sangat cekatan. Dia terus berlari ke halaman samping, mencari-cari Pak Soleh. "Pak Soleh!" Nur berteriak lagi.

Pak Soleh, yang kini tinggal di paviliun, muncul tergopoh-gopoh. Kaki palsunya tidak sempat dipakai. Dia hanya bertumpu pada sebuah kruk. Dia masih membetulkan lilitan sarungnya, ketika Nur kecil sudah sampai dengan napas terengah-engah.

"Teteh ..., kenapa? Kok, belum tidur?" Pak Soleh meneliti sekeliling rumah. Dia khawatir ada orang jahat masuk ke halaman rumah.

"Pak Soleh dipanggil Ibu," Nur menunjuk ke dalam rumahnya.

"Ibumu, kenapa?" Pak Soleh bergegas menuju ke dalam rumah.

"Ibu sakit?" Pak Soleh makin mempercepat langkahnya yang dibantu dengan kruk.

Nur menelitinya dengan heran. "Kok, kaki Pak Soleh satu?" tanyanya penasaran.

"Iya! Pak Soleh tadi nggak sempat make kaki palsu!"

"Kaki palsu?"

"Iya! Kan, Bapak Teteh yang ngebeliin?"

"Oh!"

Pak Soleh sudah sampai di teras. Nur mengejarnya.

"Mana Ibumu?"

"Di sana! Lagi nelepon!"

Pak Soleh bergegas ke dalam rumah. "Astaghfirullah!” dia kaget melihat Anah sedang dipapah Bik Marhamah ke dalam kamar. Di lantai ada cairan ketuban campur darah. "Anah! Kamu nggak apa-apa?”

Episode 24

Tempatku di Sisi-Mu

"Pak Soleh ...,” Anah mencoba tersenyum. "Cepet, telepon Bu Bidan! Suruh dia ke sini! Bashir juga! Kayaknya si bayi sudah nggak tahan pingin keluar!” kata Anah menyuruh.

"Bayinya mau keluar?" Pak Soleh panik.

"Iya,” Anah merasakan kontraksi lagi.

Pak Soleh kelihatan bingung. Sebetulnya dia ingin membantu Bik Marhamah memapah Anah ke dalam kamar. Tetapi dia sendiri sangat repot berjalan tanpa kaki palsu.

"Pak Soleh, cepet ...,” Anah mengingatkan.

Akhirnya Pak Soleh bergegas ke meja telepon, mengikuti perintah Anah.

Sedangkan Nur menangis menyaksikan peristiwa aneh itu. "Ibuuu!" tangisnya makin keras.

"Ssst ..., Nur ..., jangan nangis,” Anah mencoba tersenyum.

"Ibu berdarah, ya?” Nur takut melihat ketuban dan darah berceceran di lantai.

Anah mengangguk. Bik Marhamah mendudukkannya di tepi ranjang. Anah mengatur posisinya. Dia menyuruh Bik Marhamah menumpuk bantal di kepalanya. Lalu Anah berbaring. Bik Marhamah membantu mengangkat kedua kakinya ke ranjang. Kini Anah sudah berbaring di tempat tidur. Nur mendekati ibunya. Anak kecil itu tidak mau jauh-jauh dari ibunya. Tangisnya sudah mereda.

"Bik ..., cepet ..., sediain air panas, ya Ambil juga kain-kain yang bersih…."

"Iya, Bu," Bik Marhamah bergegas berlari ke dapur.

"Ibu sakit, ya?" Nur terisak-isak sedih.

"Dedenya mau keluar, Teh," Anah mengelus kepalanya dengan penuh kasih sayang.

"Dedenya mau keluar, Bu?" Nur penasaran.

"Iya. Dedenya pingin ketemu sama Teteh yang cantik," Anah tersenyum untuk mengatasi rasa sakit di perutnya.

"Kok, Ibu berdarah?" Nur keheranan.

"Teteh ...," Anah mengelus-elus rambut Nur. "Sebentar lagi 'dede' mau keluar dari perut Ibu. Teteh jangan nakal, ya? Nanti Bu Bidan ke sini…”

"Bu bidan?"

"Bu dokter ...," Anah mengikuti kemauan anaknya.

"Oh, Bu dokter!" Nur mmgangguk-angguk. Lalu Nur berandai-andai, "Ibu dokter. Teteh juga dokter!"

"Iya, Teteh juga dokter."

Siti Nurkhalishah tampak senang disebut dokter.

"Sekarang, Teteh main lagi, sana ...," suruh Anah.

"Iya, Bu," katanya menurut. Dia berjingkrak-jingkrak gembira keluar dari kamar. Anah tersenyum bahagia. Dia memejamkan matanya, mencoba menikmati rasa sakit yang luar biasa di perutnya. Dia hahya bisa pasrah pada Allah. Dia yakin bahwa Allah akan melindungi dirinya dan bayinya.

"Bagaimana, Anah?" tiba-tibaPak Soleh muncul. Dia menarik kursi dan duduk di depannya. "Masih bisa tahan?"

Anah mengangguk. "Bashir, bagaimana?" tanyanya berharap.

"Kebetulan Bashir mau pulang ketika Bapak telepon. Sekarang dia sedang dalam perjalanan ..."

“Bu Bidan?”

"Bu Bidan juga langsung ke sini ..."

"Alhamdulillah ...," Anah merasa lega. "Pak Soleh ...," tiba-tiba matanya berkaca-kaca.

"Kenapa, Anah? Sakit, ya perutnya?" Pak Soleh merasa sedih.

"Bukan itu, Pak ...," Anah terisak-isak. "Tadi, Ibu Natalia menelepon."

Pak Soleh dengan setia mendengarkan.

"Katanya Pak Hari meninggal dunia…."

"Innaa lillaahi ...," Pak Soleh kaget.

Anah tersedu-sedan, antara sedih dan menahan nyeri di perutnya. Dalam hatinya dia berbisik, seharusnya Pak Hari menungguinya lagi saat ini. Dia sangat berharap sekali mendapatkan cucu lelaki. Insya Allah, dari hasil USG, bayinya adalah lelaki.

“Semoga Pak Hari diterima di sisi-Nya ...," Pak Soleh mendoakan.

"Amien ya rabbal alamien ...," Anah menerawang. “Waktu begitu cepat berlalu ya, Pak ...," Anah menyeka air matanya. “Ada yang datang, ada yang pergi ...," sejenak dia melupakan nyeri di perutnya.

Pak Soleh mengangguk.

"Sudahlah, Pak ...," Anah kini tersenyum. “Sekarang, tolong ambilkan tas kerja saya..."

"Baik, Anah ...," Pak Soleh menyeret langkahnya, keluar dari kamar.

Anah tergolek sendirian di kamar. Dia menatap langkah kaki Pak Soleh dengan penuh harapan. Di dalam diri lelaki tua berkaki satu itu, ada semacam tempat berlabuh bagi hatinya jika sedang gundah gulana. Itu dirasakannya sejak dia masih kecil, saat Bik Eti masih hidup. Saat dia tinggal di stasiun kereta api.

Episode 25

Tempatku di Sisi-Mu

Erangan itu membuatku takut,

tetapi para malaikat dan nabi memberi kekuatan:

tugasmu usai!

Dia menyentuh dengan penuh cinta

Aku patuh tak bertanya

Hawa dingin menyergap

Aku berteriak kedinginan

Mata Pak Soleh berkaca-kaca ketika tertatih-tatih ke ruang kerja Anah di samping ruang keluarga. Dia merasakan juga hal yang sama; Anah sudah seperti anaknya sendiri. Itu dia rasakan sejak almarhumah Bik Eti menemukan bayi berumur satu bulan di gerbong kereta di stasiun Cilegon.

"Pak Soleh, mau ke mana? Nur ikut!" Nur bangkit dan mengejar Pak Soleh.

Lamunan Pak Soleh buyar. Dia sudah sampai di pintu penghubung menuju ruang kerja Anah. Pak Soleh melihat Nur sedang asyik main rumah-rumahan. "Bapak mau ngambil tas kerja ibumu," katanya bergegas.

"Nur ikut!"

"Nur…., main saja sana….,” Pak Soleh menuju meja kerja Anah. Di sana ada tas kerja Anah. Diambilnya tas itu.

“Nur yang bawa, Pak!"

“Berat, Nur….,”

“Nggak pa-pa!" Nur merebut dan menarik tas kerja itu.

"Jangan, Nur…”

"Nur yang bawa!" Nur tetap memaksa.

Pak Soleh tidak bisa mencegah lagi. "Iya, Nur boleh bawa tasnya ...," katanya tersenyum.

“Horeee! Nur yang bawa!" Nur dengan semangat menyeret tas yang sangat berat untuk ukuran gadis kecil seperti dia. Tetapi, Nur pantang menyerah. Dia terus menyeret tas kerja ibunya ke kamar.

"Nur ..., biar Pak Soleh yang bawa ...," kata Bik Marhamah, yang muncul dari dapur dengan baskom berisi air panas.

"Nur juga kuat!" jawab Nur.

Bik Marhamah dan Pak Soleh hanya pasrah saja menatap Nur, yang kalau sudah ada maunya tidak bisa dibantah. Akhirnya mereka membiarkan Nur membawakan tas kerja ibunya. Bik Marhamah menyuruh Pak Soleh membawakan beberapa kain bersih yang digepit di ketiaknya. Mereka kemudian mengikuti Nur di belakang, sambil berharap-harap cemas, jika melihat Nur kepayahan menyeret tas kerja ibunya.

Akhirnya Nur sampai juga di sisi tempat tidur ibunya. "Ini, Bu! Tas dokternya!" dia meletakkan tas itu di dekat ibunya dengan bangga. "Berat, Bu! Tapi Nur kuat. Kan sudah besar!"

Anah mengusap kepala Nur dengan senyuman. "Makasih ya, N ur ...Sekarang, Nur main lagi ya... Jangan ganggu Ibu, ya…."

“Emang, Ibu kenapa sih?" Nur meneliti tubuh ibunya.

"Dedenya kan mau keluar ...”

"Oh ...,” Nur mengangguk dan pergi menemui "rumah mainan"-nya di sudut ruangan. Sekali lagi dia menoleh, ingin memastikan bahwa ibunya baik-baik saja. Setelah merasa yakin, dia berjingkrak-jingkrak keluar kamar.

Pak Soleh sudah berdiri di dekat Anah. Dia bersiap-siap, jika ada sesuatu terjadi pada diri Anah. Bik Marhamah meletakkan air panas di baskom. Juga beberapa kain bersih.

"Siapkan saja semuanya ...,” perintah Anah. "Bismillah ...,” dia memulai sesuatu pekerjaan dengan meminta perlindungan pada Allah. Tiba-tiba saja, dia merasakan kontraksi yang hebat. Dia merasakan nyeri yang luar biasa. Ada dorongan yang kuat sekali dari dalam perutnya. "Aduuuh..., kayaknya bayinya mau keluar ...," Anah mengeden.

"Aduuh ..., gimana, Bu?” Bik Marhamah makin gugup.

"Bismillah, Bik ...,” Pak Soleh menyemangatinya.

Tetapi karena pada kelahiran pertama bayinya, Anah mengalami chepalo previx disproportion atau panggul sempit, setelah mengeden dengan kuat pun, bayinya belum mau keluar.

"Biiik ..., Pak ..., tolong tarik kepalanya, ya Pelan-pelan saja ...,” Anah mengeden lagi.

Bik Marhamah dan Pak Soleh saling pandang. Mereka tak bisa berbuat apa.apa. Di penglihatan mereka, belum tampak si bayi keluar. Mereka tampak ketakutan dan hanya bisa berdoa saja.

Anah tersadar akan lamunannya. Dia ingat bahwa panggulnva sempit. Dia menangis. Dia meminta perlindungan pada Allah. Dia pasrah. Tetapi, jika boleh memilih, dia memilih si bayi vang lahir selamat dengan taruhan nyawanya.

"Pak Soleh, ayo telepon Den Bashir lagi,” Bik Marhamah makin cemas.

Pak Soleh mengangguk dan berbalik hendak ke luar kamar. Tetapi saat itu muncul Bashir tergopoh-gopoh. Di belakangnva Nur mengikuti sambil berjingkrak-jingkrak .

"Bapak datang! Bapak datang!” teriak Nur gembira sekali.

"Anah!” Bashir menyerbu ke tempat tidur.

"Pak…..” Anah menggenggam tangan suarninva.

"Masih kuat?” Bashir meneliti sekujur tubuh istrinya.

Anah menggeleng lemas. Pasrah. Wajahnya pucat.

Bashir mencoba untuk tenang walaupun gugup.

"Sabar, Anah….. Tenang ...,” itu saja yang keluar dari mulutnya.

"Pak ..., Ibu sakit, ya?” Nur memepet ke tubuh bapaknya.

"Iya. Ibu sakit.” Bashir tersenyum. "Bik, tolong Nur jagain dulu, ya?!” perintahnya.

Tetapi Nur menolak. Dia menangis. "Nur mau lihat Dede!” tangisnva.

"Iya….., tetapi nanti. Dedenya kan belum keluar," Bik Marhamah memangkunya. Dia membawa Nur ke luar kamar.

"Pak ..., Bu Bidannya belum datang, ya?" Anah was-was.

"Bapak tadi udah nelepon. Katanya Pak Soleh juga nelepon, ya?"

"Iya. Ibu yang nyuruh," Anah mengiyakan.

"Tahan sebentar, ya?" pinta Bashir.

Tiba-tiba terdengar klakson mobil. Semua melihat ke jendela kamar dengan wajah lega dan penuh pengharapan.

"Alhamdulillah, Bu Bidan datang," Pak Soleh mengucap syukur.

"Insya Allah, semuanya akan lancar," Bashir mengecup kening istrinya.

“Kak Bashir ...," Anah menangis.

"Percayakan semuanya sama Allah."

“Iya, Kak ...," Anah menangis.

Pada saat itu Bu Bidan muncul tergopoh-gopoh. Di belakangnya, asistennya menjinjing tas. Dengan sigap, Bu Bidan memberikan perintah ini-itu pada Bashir dan Pak Soleh.

"Semuanya ada di mobil! Cepet, bawa ke sini!" kata Bu Bidan.

Bashir dan Pak Soleh tidak banyak bicara. Mereka mengikuti semua instruksi Bu Bidan. Anah tergolek pasrah. Bu Bidan tersenyum menguatkan hatinya.

"Kasusnya sama seperti yang pertama," kata Bu Bidan.

"Divacum lagi, Bu?” tanya Anah pasrah.

"Iya."

"Lakukan saja, Bu."

"Jangan takut. Melahirkan biasa, divacum atau dicesar sama saja. Yang penting anak dan ibunya selamat," Bu Bidan memberikan semangat.

Anah menangis terharu mendengar kalimat Bu Bidan yang sejuk.

Waktu berlalu. Dengan alat vacum dan atas kehendak Allah, terdengarlah suara tangis bayi lelaki memecah malam.

"Alhamdulillah," Bu Bidan mempertunjukkan si bayi.

"Bayinya laki-Iaki! Sepasang!" bisik Bashir di telinga Anah.

Anah tergolek lemas dan bahagia. Bashir mengecup keningnya.

"Jangan ada yang ketiga ya, Pak!" Bu Bidan memperingatkan. "Kasihan ibunya!"

Bashir mengangguk, "Insya Allah, Bu Bidan. Dua saja sudah cukup."

Bu Bidan dan Anah saling pandang. Mereka saling senyum.

"Terima kasih, Bu," suara Anah tulus.

"Berterimakasihlah pada Allah, karena dialah yang menghidupkan dan mematikan makhluknya," Bu Bidan tersenyum.

Bik Marhamah dan Pak Soleh muncul di pintu kamar. Mereka mengucap syukur karena Anah dan bayinya diberi keselamatan oleh Allah Swt.

"Horeee! Nur punya Dede!" tiba-tiba muncul Nur berteriak gembira.

Episode 26

Tempatku di Sisi-Mu

Angin berkabar padaku

Cerita rasul dan riwayat mimpi

Ayat-ayat mengalun rindu

Bertemulah aku di muara:

saat Ia mengisi raga kosongku!

Matahari sudah menggelincir turun dari titik kulminasi. Awan hitam menyergap bola merah raksasa itu. Ini seperti pertanda bahwa alam pun ikut berdukacita dengan kepergian orang yang kita cintai. Angin berembus di pemakaman umum itu. Dedaunan merunduk. Daun yang kering lepas dari tangkainya, dan yang masih hijau menunggu gilirannya nanti untuk kembali ke pangkuan alam.

Tanah merah mulai dikeduk dengan sekop. Lalu dilemparkan ke dalam lubang berukuran dua meter persegi. Segundukan demi segundukan, tubuh terbujur kaku yang dibalut kain kafan itu mulai tertimbun tanah merah. Tak ada harta atau kekuasaan yang bisa mencegahnya saat itu.

Natalia menaburkan bunga di pusara suaminya. Semoga kamu medapatkan tempat di sisi Allah! Amien ya rabbal alamien …..

Para pelayat yang berjubel mengantar Hari Natadiningrat ke liang kubur satu per satu sudah pulang. Tinggal Bashir, Pak Hidayat, dan istrinya yang masih setia menemani Natalia.

"Saya permisi pulang, Bu!" Bashir meminta izin. "Ada urusan yang harus diselesaikan."

Natalia mengangguk, "Terima kasih kamu mau datang," katanya menahan keharuan.

Bashir mencium tangan Natalia. "Assalamu’alaikum," dia pamitan. "Mari Pak, Bu ...," dia juga menyalami Pak Hidayat dan istrinya.

"Wa'alaikum salam," mereka melepas kepergian Bashir.

Angin berkesiur lagi. Daun-daun kering beterbangan.

"Natalia ...," Bu Hidayat meraih pundaknya. "Ayo, kita pulang," ajaknya.

Natalia bangkit. Dia mencoba untuk bertahan, tetapi air mataya jebol juga. Bu Hidayat memeluknya. Membiarkan kesedihan Natalia tumpah ruah. Di dadanya.

"Kenapa Allah selalu mengambil orang-orang yang saya cintai, Bu?" ada nada protes di suara Natalia.

"Itu artinya, kamu sedang diuji."

"Kenapa harus saya?"

"Karena Allah sayang sama kamu…."

"Ini tidak adil, Bu….”

"Istighfar, Natalia ...," Bu Hidayat mengingatkan. "Cobalah lihat ke sekeliling kamu. Betapa banyak orang yang tidak seberuntung kamu. Mereka hidup dililit kemiskinan."

"Tapi, mereka tetap bahagia dengan sebuah keluarga. Ada ayah, ibu, dan anak-anak. Sementara saya, Bu?" Natalia seolah menggugat keberadaannya.

"Itulah bedanya. Kamu diberi harta melimpah, tapi tidak diberi sebuah keluarga yang utuh. Kenapa? Jika kamu diberi kebahagiaan sebuah keluarga, kamu pasti akan lupa pada keluarga-keluarga yang kesusahan dalam segi ekonomi. Dengan limpahan materi, kamu bisa memiliki keluarga-keluarga baru, dengan cara membantu mereka."

Natalia menyeka air matanya. Dia merasa omongan Bu Hidayat benar adanya. Dia mencoba tersenyum karena sudah menemukan jawaban yang dicarinya. ”Astaghfirullah," dia tersenyum. "Kenapa saya tidak mensyukuri nikmat yang sudah Allah berikan?"

Pak Hidayat dan istrinya kini tersenyum lega. Dia berhasil membawa Natalia pergi dari pemakaman. Para iblis yang sudah bersiap-siap dengan rantai dan obor neraka, lari terbirit-birit. Lagi-lagi mereka gagal mengajak umat Muhammad ke golongan mereka.

Tetapi Natalia terhenti di pintu pemakaman. Saat itu sebuah taksi berhenti. Diana keluar dan berlari ke arahnya. Diana yang memilih berdomisili di Singapura sambil kuliah, tiba-tiba ada di depannya. Diana memeluknya dengan mata berkaca-kaca.

“Diana!" Natalia mengusap-usap rambutnya.

“Hallo, Om, Tante," Diana menyapa Pak Hidayat dan istrinya.

Mereka tersenyum pada Diana. “Kami duluan, ya," mereka pamitan. “Assalamu’alaikum ..."

"Wa'alaikum salam ...," Natalia tersenyum melepas mereka.

Diana berjongkok dan menaburkan bunga di pusara Pak Hari.

"Maafkan Diana, Mama. ..nggak ikut pemakaman Papa Hari…."

"Nggak apa-apa, Diana ...," Natalia memegangi bahunya. "Kamu baru datang, ya?"

"Iya, Ma. Dari bandara langsung by taksi ke sini."

"Kamu nggak ketemu Bashir tadi?" tanya Natalia.

"Ketemu. Tapi, Bashir nggak mau berhenti. Jalan terus dia!" Diana agak sebal.

"Kuliah kamu gimana?" Natalia mengalihkan topik.

"Lancar, Ma!"

"Kamu capek, ya," Natalia memperhatikan luka parut di wajah Diana, akibat kecelakaan mobil di Cilegon, sudah tidak begitu kentara. "Luka parut kamu mendingan sekarang."

"Tapi, tetap saja Diana nggak bisa berkarir lagi," nada suaranya kecewa. "Mereka pada nggak mau lagi make Diana. Terutama produk kosmetik. Ini semua gara-gara Bashir!"

"Hus, nggak boleh nyalahin orang lain! Ini namanya musibah. Allah sedang menguji kamu!"

"Menguji, kok dengan cara seperti ini!"

"Susah kalau bicara sama kamu!" Natalia menggandeng Diana, mengajak pergi. “Tapi, kamu masih bisa fashion show, kan?"

“Sesekali saja. Tapi, Diana mau fokuskan kuliah saja. Jadi designer juga nggak jelek kan, Ma!"

“Bagus, bagus itu ...," Natalia mengangguk senang. “Ayo, kita pulang," ajaknya meninggalkan pemakaman umum.

“Mama. ..tadi Bashir datang sendirian, ya? Kok, nggak sama Anah?" Diana mengitari pandang.

"Anah nggak bisa datang. Dia baru saja melahirkan."

"Melahirkan lagi?"

“Iya. Anaknya yang kedua."

“Astaga!” Diana tersenyum senang.

“Besok Mama mau ke Cilegon."

“Secepat itu? Bukankah Mama masih berkabung?"

“Ada sesuatu yang harus Mama sampaikan pada Anah."

“Sesuatu yang penting? Apa itu?" Diana menyelidik.

Natalia tersenyum dan mengajak Diana pulang. Diana merasa ada sesuatu yang disembunyikan mamanya. Hatinya berontak. Mama sekarang pilih kasih. Itu sudah dirasakannya sejak Anah memasuki kehidupannya. Semuanya kini selalu serba Anah. Setiap saat, selalu saja mamanya membandingkannya dengan Anah. Misalnya, “Diana, shalat dulu!" Atau, “Lihat tuh, Anah! Cantik sekali memakai jilbab!" Lain waktu, “Kamu harus sabar seperti Anah." Menyebalkan. Okelah, dirinya dan Anah terlahir dari rahim yang sama, mamanya. Tetapi, masing-masing pasti punya cara pandang yang berbeda dengan kehidupan. Apalagi memaksakan pakaian orang kepada dirinya! Nanti dulu!

"Kenapa, Diana?" Natalia menanyakannya, ketika sudah berada di dalam mobil.

Diana yang duduk di balik kemudi diam saja. Dia merasa gerah lagi jika mengingat perbandingan-perbandingan dirinya dengan Anah. Itulah kenapa dia memilih tinggal di Singapura. Tidak lain supaya dia bisa melupakan hal itu.

Hari sudah semakin sore dan mendung makin pekat. Angin berembus keras, memecahkan gumpalan air di dalam awan. Gerimis pun turun, seolah menangisi kepergian Pak Hari.

Episode 27

Tempatku di Sisi-Mu

Hingga mimpi kukejar Engkau

Mencari jawaban segala tanya

Memuaskan dahaga

Menuntaskan lapar

Mencairkan kerinduan tak terkira

Diana sekali lagi membaca surat wasiat Pak Hari Natadiningrat kepada Siti Nurkhasanah, di atas kertas bersegel! Dia merasakan gejolak hatinya menggelegak. Darahnya mendidih. Kepalanya hendak meledak. Ini tidak benar! Ini keterlaluan! Anah mendapatkan hampir seluruh warisan Pak Hari? Mamanya dapat apa? Sungguh keterlaluan! Apalagi dirinya, yang hanya mendapatkan hibah sebuah mobil tua! Ini tidak masuk akal! Malah beberapa panti asuhan dan pesantren di Banten, Jakarta, dan Bogor mendapat durian runtuh dari hibah harta Pak Hari! Keterlaluan!

"Diana!" Natalia sangat kaget, ketika rnemergoki anaknya sedang membaca surat wasiat Pak Hari.

"Diana nggak terima, Mama! Nggak terima!" dia marah sekali.

"Apa-apaan kamu?" Natalia merebut map hijau itu. "Ini untuk Anah! Kamu nggak berhak membacanya!"

"Surat wasiat ini nggak sah. Pasti Papa Hari lagi sekarat bikinnya!"

"Astaghfirullah, kamu ini ngomong apa?!"

"Kenapa? Diana, kan anak Mama juga!"

"Ingat, Diana! Kamu bukan anak kandung Papa Hari!"

"Papa Hari nggak adil!"

"Nggak adil, bagaimana?"

"Anah mendapatkan lebih banyak dari Mama!"

"Lho, itu kan sudah hak Anah ..."

"Tapi, tetap saja nggak adil!"

"Diana ..., dengan kebagian rumah ini saja, Mama sudah bersyukur. Sudah alhamdulillah…."

"Tapi, Mama…..”

"Tapi, apa? Karena kamu nggak kebagian? Kamu nggak berhak, Diana. Ingat, almarhum papamu mewariskan apa sama kamu? Harta yang melimpah. Mama dapat apa? Hanya rumah dan pensiun papamu. Apa Mama mempermasalahkan? Nggak, kan? Kenapa? Karena itu memang hak kamu sebagai seorang anak!"

Lalu Natalia menjelaskan pada Diana, bahwa pembagian warisan berdasarkan surat wasiat itu sudah diatur dalam QS An-Nisaa (4): 11-12 bahwa Anah sebagai anak tunggal mendapatkan setengahnya, sedangkan dirinya mendapatkan seperdelapan dari harta Pak Hari, sesudah dipenuhi wasiat yang ditulisnya serta dibayar utang-utangnya. Bahkan Natalia juga mengingatkan, Diana mendapat hibah dari Pak Hari walaupun hanya sebuah mobil. Itu sudah lebih dari cukup! Sudah harus disyukuri!

Diana terdiam. Kata-kata mamanya mengingatkannya pada surat wasiat dari almarhum papanya. Hampir semua harta kekayaan papanya jatuh ke tangannya. Kalau berandai-andai, dia tidak usah bekerja pun, harta warisannya tidak akan habis. Mamanya sama sekali tidak protes walaupun hanya mendapatkan pensiun almarhum ayahnya sebagai mantan pejabat Orde Baru.

"Mama tahu kamu nggak suka dengan surat wasiat ini."

“Sudahlah, Mama. Nggak perlu kita perdebatkan lagi. Papa Hari kan sudah memutuskan begitu…."

"Kamu ikhlas?"

"Tapi, Diana tetap saja ini merasa nggak adil buat Mama," nada suaranya sudah mulai merendah.

"Sudah, sudah," Natalia mengusap-usap rambutnya. "Nggak akan ada selesainya kalau ngamangin saal harta."

"Iya, sih…”

"Aya, kita ke Cilegon sekarang. Kamu yang nyupir, ya!"

Cilegon? Sudah lama dia tidak ke sana! Sejak kecelakaan itu!

"Gimana? Mau ikut, nggak?”

"Iya, Ma!" Diana bangkit dan tanpa banyak bicara berjalan ke luar rumah. Segala macam bayangan berkelebatan di benaknya. Bashir yang pernah mencampakkannya. Bashir yang mengakibatkan wajahnya jadi rusak. Anah yang merebut Bashir dari tangannya. Anah yang "merampok" Natalia darinya!

"Diana?" Natalia menegurnya.

"Ya….."

"Kalau kamu masih capek, ya sudah ...kamu di rumah saja."

Diana menggeleng. Dia berjalan ke garasi. Masuk ke mobil dan menyalakan mesin mobil. Natalia bergegas masuk. Dia duduk dan menatap anaknya dengan teliti. Dia tahu kalau masih ada sesuatu yang mengganjal di hati anaknya.

"Mama tahu. Ini karena kamu cemburu sama Anah….."

Diana merasa wajahnya memerah. Dia tidak menyangka, kalau mamanya akan bicara seperti itu. Dia memang mengakui jatuh cinta pada Bashir. Tetapi, ternyata Bashir mencampakkannya. Luka parut di wajahnya ini adalah bukti hidup yang tidak akan pernah hilang. Seluruh hidupnya hancur gara-gara luka parut sialan ini. Dia sudah berusaha untuk menghilangkannya dengan operasi plastik di Amerika. Tetapi, hanya mengurangi saja, tidak bisa total hilang. Luka parut yang melintang tipis di pipinya, tetap saja menghancurkan kariernya. Produk-produk kosmetik langsung membantalkan kontraknya!

Lantas Diana memutuskan untuk kuliah dan menetap di Singapura. Ayahnya yang mantan pejabat Orde Baru mempunyai apartemen. Dia tidak peduli, apakah apartemen itu dibeli papanya dari uang korupsi atau bukan. Pokoknya, dia ingin meninggalkan Jakarta. Melupakan segala kenangan manis; gebyar lampu blitz para fotografer, tepuk tangan meriah, serta lenggak-lenggok gemulai di catwalk!

Episode 28

Tempatku di Sisi-Mu

Pencarianku di ujung dunia

menemui kerak-kerak peradaban

Terasing dan kalah

Menjadi pinggiran menyedihkan

Menyisakan gurat kesombongan:

Aku manusia batu, sisa-sisa masa lalu!

Siti Nurkhasanah masih berbaring di tempat tidur ketika Natalia memberikan map berwarna hijau padanya. Faqih, bayi yang baru dilahirkannya tertidur di sebelahnya. Dia tidak bisa menghadiri pemakaman ayahnya, karena kondisinya belum pulih benar setelah melahirkan bayi keduanya.

“Apa ini?” Anah merasa heran.

"Warisan kamu!" kata Diana ketus.

Anah kaget mendengar nada suara Diana yang ketus.

"Bacalah," Natalia duduk di sisi pembaringan sambil melihat si bayi. "Alhamdulillah, laki-laki ... Sepasang sudah," katanya bahagia sambil memangku si bayi. Lalu ditimang-timang cucu lelakinya itu. "Sayang, kamu nggak bisa ketemu kakekmu. Dia sangat menginginkan sekali punya cucu laki-laki," katanya penuh haru.

Diana duduk di kursi dekat jendela dan memilih membaca majalah fashion yang dibawanya. Dia sengaja memperlihatkan sikap acuh tak acuh dengan kehadiran si bayi. Natalia menatapnya dengan tatapan memerintah, agar dia mengubah perilakunya. Tetapi, Diana tidak peduli. Anah melemparkan senyum bijak pada ibunya, seolah memberitahukan bahwa kelakuan Diana tidak menjadi masalah baginya.

Anah masih menimang-nimang map hijau itu.

"Sudah diberi nama?"

"Sudah, Bu. Namanya 'Muhammad Al Faqih'," katanya sambil memeriksa beberapa lembar kertas bermaterai. Dadanya berdegup keras. Surat wasiat!

"Faqih," Natalia meletakkan si bayi di sebelah Anah. "Sudah diberi ASI?"

"Alhamdulillah, Bu," jawab Anah, tetapi matanya tetap pada map hijau itu.

"Ayo, dibuka mapnya," Natalia mengingatkan.

Saat itu Nur kecil masuk. Dia sangat gembira melihat neneknya datang. "Nenek datang, Nenek datang!" teriaknya gembira.

"Assalamu'alaikum, Nur Sayang," Natalia tersenyum sambil menyodorkan lengannya.

Tetapi, Nur menarik-narik selimut si bayi. "Dedenya tidur, ya?" katanya ingin tahu.

"Iya," Natalia tersenyum.

"Ayo, cium tangan Nenek dulu, Nur," suruh Anah pada anak sulungnya, tetapi kedua bola matanya terbelalak ketika menyadari bahwa isi map itu adalah surat wasiat Pak Hari, yang mengatur tentang pembagian warisan. "Masya Allah!" pekiknya tidak percaya.

"Kaget, ya?" Diana mencibir. "Jadi miliuner kamu!"

“Diana!” tegur Natalia.

Anah menatap Natalia. Dia merasa ini terlalu kebanyakan. "Apa aku nggak salah baca, Bu?” nada suaranya penuh keraguan.

"Nggak," Natalia tersenyum sambil menimang-nimang Faqih.

"Kok, dedenya digendong Nenek?" Nur merasa tidak disayang.

Si bayi menangis, seolah mendengar nada protes dari kakaknya. "Tuh, dedenya nangis. Dedenya pingin minum susu," Natalia meletakkan bayinya di sebelah Anah.

"Dede minum susu!" Nur naik ke tempat tidur.

"Nur," Natalia memanggil. "Katanya mau digendong Nenek?"

"Nggak mau! Nur pingin minum susu Ibu!"

"Nur," Anah menegur dengan tegas. "Ayo, turun!"

"Tuh, ada Tante Diana. Cium tangan dulu, sana ...," Natalia berusaha memangkunya.

"Nggak mau! Tante Diana jahat!"

"Eh ..., nggak baleh bilang begitu sama Tante. Sana, minta maaf sama Tante," Anah menatap Nur dengan tajam.

Nur takut juga jika melihat ibunya sudah melatat. Dia menurut saja ketika neneknya memangkunya. Tetapi, dia tidak berani melihat Diana yang menatapnya dengan marah.

"Bilang apa kamu tadi?" Diana marah, "Dasar nakal!"

"Nggak mau, nggak mau! Tante Diana jahat!" Nur meronta-ronta. Dia minta diturunkan dari gendongan neneknya.

"Diana!" Natalia betul-betul marah.

"Ah!" Diana bangkit. "Selalu saja Diana yang disalahin!" gerutunya.

"Nur, kan masih kecil!"

“Mama! Sekali-kali, anak kecil juga mesti dikasih pelajaran! Ajarin dong, sopan santun!" kalimatnya ditujukan pada Anah.

"Astaghfirullah ...," Natalia tidak percaya dengan ucapan anaknya.

“Iya, Bu," Anah menengahi dengan sabar. "Nur memang tidak sopan tadi. Harusnya aku mengajari Nur sopan santun ..."

Nur masih saja menangis. Malah tambah keras.

"Iya, kan!" Diana merasa menang sendiri. “Diana tunggu di mobil, deh! " dia ngeloyor pergi.

Natalia tidak sanggup mencegah karena dia tahu itu percuma. "Maafkan Diana, ya ...," katanya sambil menurunkan Nur.

"Nggak apa-apa, Bu," Anah yang sudah menyusui Faqih tersenyum. Kini dia merangkul Nur, yang merapat ke tubuhnya karena ingin melihat Faqih. "Dedenya lagi minum. Haus," kata Anah mengusap kepala Nur.

"Iya, dedenya haus," Nur mengelus-elus kepala adiknya dengan sayang. "Nur juga haus. Minum susu dulu!"

"Sana, minta sama Bibik!"

Nur menurut. Dia beranjak pergi. "Nek, Nur mau minum susu dulu. Haus. Dede juga minum susu," katanya pada Natalia sambil melompat-lompat. "Dadah, Nenek!" dia melambaikan tangannya dan keluar dari kamar.

"Dadaaah," Natalia membalas lambaian tangannya.

Anah tersenyum melihat kelincahan si sulung. Dia kembali mengambil map hijau itu. Menyerahkannya pada Natalia. "Bu, aku merasa nggak berhak menerimanya," katanya.

"Kenapa, Anah? Itu harta kekayaan papamu. Kalau kamu menolak, berarti kamu menolak juga papamu sebagai ayah kandungmu."

"Tapi, Bu ..., untuk apa harta sebanyak itu? Di sini pun aku nggak kekurangan."

"Yang penting sekarang, terimalah warisan ini, supaya papamu senang di alam kubur sana. Dan juga supaya Mama nggak merasa bersalah. Apa kata orang nanti, kalau mereka tahu kamu nggak nerima warisan sepeser pun. Bisa jadi fitnah, kan?"

Anah terdiam. Dia melihat Faqih yang kelihatannya masih kehausan.

"Setelah kamu terima, terserah mau kamu apakan warisan itu. Atau, kenapa kamu tidak membuat rumah sakit swasta saja sekalian?"

Anah termenung. Lalu, "Diana, bagaimana? Dia hanya mendapatkan hibah sebuah mobil. Diana pasti marah."

"Itu lebih dari cukup."

Anah menatap ibunya. "Selanjutnya, Ibu bagaimana?"

"Ibu mungkin mau ikut bersama Diana ke Singapura. Tinggal beberapa lama di sana. Menemaninya sampai lulus kuliah."

Anah mengangguk-angguk. Matanya berkaca-kaca.

Natalia juga.

Episode 29

Tempatku di Sisi-Mu

Bashir Bertemu Mantan Pacarnya

Kata-kata, sumpah.serapah

jampi-jampi, mantra-dusta

iblis-iblis, api neraka

mengantarku menjauh-Mu

membuatku bergulat berontak

Syair itu masih kuingat

Subhanallah, subhanallah!

(segalanya membeku, tidak bagiku!)

Sebuah mobil sedan berhenti di pintu lobi hotel Semenanjung. Seorang wanita cantik dengan pakaian casual; berkacamata hitam, celana warna cokelat kaki, dan kemeja putih bermerek, turun dari mobil. Dia mengitari pandang ke sekeliling hotel sambil menebar senyum pada siapa saja. Kemudian dia berjalan mengitari mobil. Dia membuka bagasinya. Dikeluarkannya traveling bag. Dia memanggil petugas hotel dan memberikan kunci mobilnya.

"Tolong parkirkan mobil saya," pintanya dengan senyum ramah.

Petugas hotel itu mengangguk. Tamu cantik itu berjalan menuju lobi. Begitu memasuki lobi, dia berhenti sambil membuka kaca mata hitamnya. Dengan gerakan yang anggun, dia mengitari pandang, seolah-olah mengumumkan pada khalayak ramai bahwa kedatangan dirinya jangan sampai dilewatkan. Terbukti, semua orang yang ada di lobi dalam sekejap tertuju padanya. Dia melemparkan senyum manisnya pada semua orang sambil melangkahkan kaki menuju meja resepsionis. Dua orang karyawan hotel menyambutnya.

"Assalamu'alaikum," sapa resepsionis wanita.

"Wa'alaikum salam," dia masih menebar pesonanya. "Masih ada kamar?" tanyanya.

Resepsionis yang lelaki sibuk mencari,cari di buku. Padahal biasanya dia tidak pernah begitu.

"Hmmm, sebentar, Bu ...," katanya.

"Kok, Ibu?" ledeknya. "Aku masih 'nona', Mas!" senyumnya lagi.

"Oh, Nona, ya ...,” katanya gugup. “Maaf, maaf, Mbak ..."

Karyawan yang wanita menginjak kaki temannya dengan sebal. "Genit kamu!" katanya pelan. "Laporin sama Pak Bashir, tau rasa kamu!" ancamnya.

"Ssst ..., bisiknya malu-malu. "Ini kan termasuk pelayanan juga," katanya tak mau kalah.

"Gimana, ada nggak?" si tamu tersenyum.

"Ada, ada ..., Mbak ...," karyawan lelaki menimpali.

"Yang menghadap ke pantai, ya!"

"Iya, iya!"

"Pemilik hotel ini namanya 'Muhammad Al Bashir', ya?"

Kedua resepsionis itu saling padang.

"Iya, bukan?"

"Iya, iya!" petugas yang lelaki merasa heran.

"Kok, Mbak tahu?"

"Tahu aja!"

"Berapa malam, Mbak?" karyawan wanita langsung memotong.

"Bisa sehari, dua hari ..., atau ...hmm ... seminggu ...," katanya enteng saja sambil mengeluarkan kartu tanda pengenalnya.

"Cash atau pakai kartu?" karyawan perempuan membaca KTP si tamu.

"Kartu," dia mengambil kartu kreditnya dan menyerahkannya pada karyawan wanita.

Karyawan lelaki terdiam. Dia menatap tamunya dengan perasaan kagum. Tetapi, lagi-lagi dia membuang muka, ketika kakinya diinjak teman wanitanya yang sedang sibuk memasukkan data-data si tamu ke komputer.

"Bosmu itu udah punya anak berapa?"

"Dua," jawab karyawan lelaki.

"Bosmu suka ke sini?"

"Suka. Tapi nggak tentu.”

"Kalau malam Minggu, Pak Bashir suka menginap di sini bersama Ibu dan kedua anaknya," si karyawan wanita memotong dengan kesal.

"Oh, ya?" dia tersenyum. "Keluarga yang bahagia!"

"Mereka memang bahagia!"

Si Tamu hanya tersenyum saja. Dia merasa lucu dengan tingkah laku kedua karyawan hotel ini. "Sudah?" tanyanya.

"Silakan, Mbak," resepsionis wanita mempersilakan si Tamu mengikuti room boy.

“Terima kasih,” si tamu tersenyum.

Tetapi baru saja beberapa langkah, seorang petugas hotel mendekatinya. Dia memberikan kunci mobil padanya. Si Tamu membuka dompetnya dan memberikan selembar dua puluh ribuan sebagai tip.

"Terima kasih," si petugas menerima tip itu dengan wajah berseri-seri.

Si Tamu cantik mengangguk, dan kembali mengikuti room boy ke kamarnya yang menghadap ke pantai. Lenggak-lenggoknya sangat beraturan dan enak dipandang. Semua mata memang memandangnya tanpa mau berkedip.

"Siapa sih, dia?" gumam resepsionis lelaki sambil mengecek datanya di komputer.

"Nggak tau, ah!" jawab si resepsionis wanita tidak suka. "Namanya 'Mutiara Harum Mewangi'. Puitis sekali namanya. Sesuai dengan orangnya yang cantik!"

"Emang gue pikirin!"

"Jangan-jangan ..."

"Jangan-jangan, apa?"

"Pak Bashir kan ganteng!"

"Udah, jangan bikin gosip!"

"Kok, sirik gitu, sih?"

"Abisnya!"

"Cemburu, ya sama aku?"

"Iya!”

"Aduuuh, sayang ...Aku tuh nggak level sama dia. Kayak bumi dan Iangit. Gajiku setahun aja, enggak bakalan kuat buat beli mas kawinnya!"

"Makanya, cepet lamar aku! Bulan depan, Pak Bashir kan ngasih pinjaman lunak buat yang mau kawin!"

"Iya, ya!"

"Mau, nggak?"

"InsyaAllah…."

"Bener?"

"Insya Allah!"

"Tapi, Insya Allah-nya, Insya Allah ngeriung, kan?"

"Iya, iya!" si lelaki serius mengiyakan.

Dan si wanita tampak puas mendengarnya. Ada gurat-gurat kebahagiaan di wajahnya.

Hal itu pun terjadi pada si Tamu cantik. Saat ini dia sedang membuka pintu balkon kamarnya. Di depannya kini membentang Selat Sunda yang indah. Gunung Krakatau samar-samar tampak terhalang sapuan awan.

Dia berjalan ke luar kamar. Berdiri di balkon. Kedua tangannya dibiarkannya lepas. Angin menggeraikan rambutnya yang sebahu. Senyumnya mengembang, "Kamu pasti kaget melihatku, Bashir…."

Episode 30

Tempatku di Sisi-Mu

Rabbi, lidah ini kelu

bukan kuasaku, lidah ini buta

bukan inginku, lidah ini beku

bukan karenaku, hati ini membiru:

pecahkan risau ini, ya Rabbi!

Mutiara duduk di restoran. Dia menatap sekeliling. Dia sengaja mengambil tempat duduk yang strategis dan bisa memandang luas ke seluruh sudut, tanpa harus menarik perhatian orang. Di mejanya ada makan malam yang dimakannya sedikit-sedikit serta segelas air putih. Dia wanita cantik dan modern. Dia sudah hampir seminggu menginap di hotel Semenanjung. Ada sesuatu yang sedang dicari-carinya.

Tiba.tiba dia tersenyum. Dia melihat ke pintu restoran. Tampak seorang ayah sedang mengejar-ngejar bocah kecil yang melempar-lempar bola karet ke lantai. Di belakangnya seorang ibu berjilbab, menuntun gadis cilik secantik dirinya.

“Pak!" bocah kecil itu mengejar bola karetnya yang menggelinding jauh.

“Ayo, ambil!" kata si bapak.

Bocah kecil itu berlari-lari. Si bapak tersenyum melihat gaya lari anak lelakinya yang masih belum stabil. Si ibu sudah berteriak-teriak agar si bocah hati-hati larinya. Kenyataannya begitu. Si bocah terjatuh. Si ayah mengejarnya dengan penuh tawa. Tetapi si ibu begitu cemas. Dalam beberapa saat, si bocah bangkit lagi dan kembali berlari mengambil bolanya.

Kini si bocah berdiri di depan seorang wanita cantik. Tiara-Mutiara Harum Mewangi. Bola karetnya ada di genggamannya. Si bocah menatapnya dengan malu-malu. Sedangkan bapaknya berdiri mematung, tak jauh dari tempat mereka.

"Ini bolanya," Tiara menyodorkan bola karet.

“Bola Faqih….”

“Oh, Faqih namanva, ya?"

“Iya!"

“Ini bolanya….”

Faqih mengambil bolanya.

Bapak si bocah kini sudah mendekat. Tiara tersenyum padanya. Bapak si bocah berusaha tersenyum juga. Dia menoleh, melihat ke istrinya, yang juga sedang berjalan ke arahnya.

“Halo, Bashir,” sapanya.

“Tiara!"

“Itu istrimu?"

“Iya! Sedang apa kamu di sini?"

“Seperti kebanyakan tamu hotel lainnya. Menikmati laut."

“Sudah cukup lama, Tiara. ..."

“Ya, sudah cukup lama…"

“Pak, Pak!" Faqih menarik-narik ujung kaos bapaknya.

“Ya, Faqih?"

“Siapa, Pak?"

Bashir tersenyum. "Ini Tante Tiara. Temen sekolah Bapak."

"Temen sekolah Bapak?"

"Ayo, cium tangan dulu sana…”

Faqih dengan bersemangat mendekati Tiara. Dia mengulurkan lengannya. Tiara juga. Setelah itu, Faqih sudah duduk di pangkuan Tiara. Dia tidak malu-malu lagi. Apalagi setelah sebatang cokelat disodorkan Tiara padanya.

"Assalamu'alaikum," terdengar suara Anah menyapa.

Bashir berdebar keras jantungnya.

"Wa'alaikum salam," Tiara bangkit dan meletakkan Faqih di kursi.

"Bu, mau itu!" kali ini Nur merajuk, menunjuk cokelat di tangan adiknya.

"Oh, mau cokelat, ya?" Tiara mengambil sebatang lagi dari tasnya. Diberikannya pada Nur.

Nur gembira menerimanya. Dia langsung duduk dan membuka cokelatnya.

"Eh ..., Nur kok, belum bilang makasih?" Anah mengingatkan.

"Makasih, Tante," kata Nur, di mulutnya sudah penuh dengan cokelat.

Tiara tersenyum. Anah menatapnya. Bashir kikuk sejenak. Mereka beberapa saat hanya memperhatikan Nur dan Faqih yang sibuk mengunyah cokelat.

"Baru dua, ya?" Tiara memecahkan kebisuan.

"Oh, iya Baru dua ...," Bashir kaget.

"Dua saja," Anah tersenyum meralat.

"Yah, dua saja cukup. Kan sudah sepasang," Tiara tersenyum.

Anah menatap suaminya. Ada sesuatu tersimpan lewat bola matanya. Sesuatu yang minta dijelaskan tentang siapa wanita cantik ini.

"Anah ...," Bashir akhirnya menjelaskan. "Ini ‘Tiara’… hmm. ‘Mutiara’ komplitnya…..”

Tiara mengulurkan lengannya.

"Tiara. .., ini istriku," katanya pada Tiara.

Anah menjabat lengan Tiara dengan ramah.

"Sendiri?" tanya Anah tersenyum. :

"Iya. Sendiri saja," Tiara menjawab dengan ramah pula.

"Ayo, silakan duduk," Bashir mempersilakan Tiara duduk.

Tiara duduk. Anah juga duduk sambil menatapnya. Seolah mengingatkan Bashir bahwa mereka datang ke restoran untuk suatu urusan penting. Tetapi Bashir tampak tidak menangkap arti tatapan Anah. Dia sedang berada dalam suatu kebingungan. Dia tidak siap dengan pertemuan ini.

"Kerja di mana?” Anah mencoba mencairkan suasana.

"Di koran. Aku dulu satu kantor dengan Bashir. Tapi, begitu Bashir dikirim ke Maluku, saya pindah ke televisi swasta. Lebih menantang."

"Ke sini sekadar liburan?"

"Tujuan utamanya, meliput Banten yang baru saja jadi provinsi. Terutama duet gubernur dan wakil gubernur wanitanya. Sangat menarik. Daerah yang agamis, seorang pemimpinnya wanita. Bagaimana menurut Mbak?"

Anah tersenyum. "Apa ini wawancara?" katanya tertawa ramah.

“Yah, begitulah. Salah satu cara megumpulkan opini masyarakat. Boleh kan, Bashir?"

Bashir agak kikuk, "Terserah istriku. Sudah lama aku meninggalkan dunia jurnalistik. Jadi, aku lupa dengan teknik wawancara untuk menghimpun opini publik," kata Bashir berdiplomasi.

“Dulu, Bashir paling jago mewawancarai masyarakat. Tekniknya bukan sedang mewawancarai. Orang-orang diajaknya ngobrol. Seperti teman saja," Tiara memuji Bashir.

Anah menatap Bashir dengan tajam.

Akhirnya Bashir bangkit. "Maaf, Tiara. ..Kami harus pergi," katanya menguatkan diri.

“Oh, silakan, silakan," Tiara juga bangkit.

“Nur… Faqih….,” Anah memanggilnya. “Ayo, cium tangan dulu sama Tante ..."

“Tangan Nur kotor, Bu ...," Nur memperlihatkan tangannya yang belepotan cokelat.

"Ayo, bersihkan," Anah menyodorkan sapu tangan.

Nur yang pintar dengan cekatan membersihkan tangannya dengan sapu tangan. Adiknya tidak mau kalah. Dia selalu mencontoh apa yang dilakukan kakaknya. Kali ini pun dia mencari-cari sapu tangan buatnya karena tangannya juga kotor. Bashirlah yang memberikan sapu tangannya. Dengan lagak orang dewasa, Faqih membersihkan wajahnya yang coreng-moreng dengan cokelat.

“Ayo ...," Anah menuntun Nur.

"Makasih cokelatnya, Tante!" Nur melambaikan tangannya.

"Sampai jumpa! Nanti sini lagi, ya!" giliran Faqih yang pamitan.

Mutiara tersenyum dan melambaikan tangannya. Anah mencoba menyimak tatapan sendu pada bola matanya. Dan Bashir menyimpannya dalam hati peristiwa ini. Dia berjanji, segalanya tak perlu lagi disembunyikan. Jika ada kesempatan, dia akan membicarakan dengan Anah.

Episode 31

Tempatku di Sisi-Mu

Al Fatihah!

Lindungi aku, ya Allah

Al Fatihah!

Pada-mu kumohon pertolongan

Al Fatihah!

Tuntun jalanku, ya Rabbi!

Al Fatihah!

Jembatan itu terbentang sudah

Bashir menuju ruangan khusus di restoran sambil menuntun Faqih. Ruangan itu untuk tamu-tamu penting. Biasanya jika mereka melakukan pertemuan sambil makan siang, di sinilah tempatnya. Terlindung dari keramaian dan langsung menghadap pantai. Anah dan Nur menyusul di belakangnya. Mereka ada janji bertemu dengan Dicky.

Semalam, Dicky menelepon Bashir. Dia meminta bertemu di sini. Katanya ada hal yang sangat penting menyangkut ayahnya. Awalnya Bashir tidak tertarik. Tetapi, ketika dengan suara memelas Dicky menceritakan bahwa ayahnya sudah di ujung maut, Bashir meminta waktu untuk membicarakannya dahulu dengan Anah.

"Sebaiknya kita terima tawaran Dicky," begitu Anah menyarankan.

"Kenapa?" Bashir masih keberatan saat itu.

"Karena mungkin saja Allah memberi kesempatan pada kita untuk meminta maaf pada Tuan Marabunta."

"Apa? Meminta maaf? Apa nggak kebalik?" Baghir tertawa sinis.

"Jangan takabur dulu. Barangkali kita juga punya kesalahan yang nggak disengaja pada Tuan Marabunta."

"Nggak mungkin! "

"Mungkin saja! Cobalah diingat-ingat. Lagian, nggak ada salahnya kan kita saling memaafkan?"

Bashir termenung.

"Ayolah, telepon Dicky, sana. Katakan, kita bersedia bertemu besok. Di restoran hotel kita."

Bashir menggelengkan kepalanya.

"Kasihan Dicky. Dia mengemban amanah dari ayahnya, yang entah besok atau lusa masih hidup atau nggak untuk bisa bertemu dengan kita."

"Nggak semudah itu."

"Juga nggak sulit kan buat kita untuk menerima tawaran dia? Kan, kita nggak rugi apa-apa?"

Begitulah Anah. Terus membujuk suaminya agar mau melakukan sesuatu perbuatan dengan iktikad baik. Dengan tulus dan ridha Allah semata. Dengan keikhlasan bahwa segalanya adalah kehendak Sang Khalik.

"Bagaimana?"

Akhirnya Bashir mengangguk. Betapa gembiranya Anah melihat iktikad baik suaminya. Apalagi tanpa perlu disuruh lagi, suaminya langsung menghubungi Dicky lewat telepon. Mereka siap untuk bertemu di hotel Semenanjung.

Keputusan suaminya untuk menerima tawaran Dicky bertemu di sini sangatlah tepat. Itu tampak tergambar dari wajah Dicky sekarang. Betapa gembira dan bahagia Dicky, ketika melihat Bashir dan Anah datang memenuhi undangannya.

"Assalamu'alaikum," Dicky yang sejak tadi menunggu mereka, bangkit dari duduknya. Makan malamnya ludes. Wajahnya tidak lagi sesombong seperti biasanya.

"Wa'alaikum salam," Bashir pun menjawabnya dengan tulus.

Dicky mengangguk hormat pada Anah. Mereka bersalaman. Tampak ada perubahan perilaku di antara Bashir dan Dicky. Faqih dan Nur mendekati Dicky sambil mengulurkan tangannya. Dicky pun menyambut kedua anak itu dengan ramah dan gembira.

"Aku iri sama kalian!" kata Dicky menggendong Faqih. "Punya segala-galanya. Sedangkan aku, sendirian dan kesepian!"

Bashir dan Anah hanya mendengarkan saja.

"Namamu Faqih, ya!" Dicky masih mengangkat tubuh Faqih .

"Iya, Om! " Faqih menjerit-jerit kesenangan.

"Ganteng kamu!" Dicky memuji tulus.

"Ganteng kayak Bapak!" Faqih tertawa.

Dicky terharu ketika meletakkan Faqih. Dia menatap Bashir dan Anah dengan tatapan sedih dan tertekan. Anah memilih duduk di meja satunya lagi sambil mengawasi Nur dan Faqih yang bermain kejar-kejaran.

"Bagaimana kesehatan bapakmu, Dick?" Bashir duduk.

"Itulah, kenapa aku meminta kalian datang."

"Ada yang bisa saya bantu?"

"Papa menyuruhku menemui kalian."

"Untuk apa? Masih tertarik ngebeli hotel Semenanjung?" ledek Bashir.

"Boro-boro mikirin bisnis," Dicky hanya meringis.

"Sorry, bercanda!"

"Iya, aku tahu."

"Lantas, untuk apa?"

"Entahlah……”

"Nggak kamu tanyain?"

"Sudah. Tapi Papa bilang, ini urusan Papa sama kamu."

Bashir terdiam. Dia menoleh ke istrinya, meminta pendapatnya. Tetapi, Anah juga tertegun.

"Kalian keberatan?" Dicky merasa tak berdaya.

Bashir masih belum menjawab. Terbayang lagi kisah panjang yang pahit, ketika ayahnya masih hidup. Bagaimana saat itu Tuan Marabunta.

"Bapakmu dirawat di Tangerang, ya?" kali ini Anah yang bersuara.

"Iya," Dicky berharap sekali pada Anah. Dia langsung mengambil pulpen di sakunya dan menuliskan lantai, serta nomor kamarnya di kertas menu. "Papa di sini dirawatnya. Aku berharap kalian bisa datang. Barangkali, ini adalah permintaan Papa yang terakhir."

Bashir mengambil kertas itu. Membacanya. Di sana tertulis sebuah rumah sakit ternama di Karawaci, Tangerang. Lalu kertas itu diserahkannya pada Anah.

"Aku mohon, please ...datanglah….."

"Insya Allah, " Bashir buka mulut juga.

"Aku akan sangat berterima kasih, jika kalian mau datang."

"Ya, insya Allah!" Bashir menegaskan.

Dicky menatap Bashir dengan makna yang sangat sukar dilukiskan!

Episode 32

Tempatku di Sisi-Mu

Cahaya, cahaya, cahaya!

Benderang, berpendar-pendar

kilau, silaukan mala:

lelap kutunggu cahaya-Mu!

Hujan sambung-menyambung. Bahkan kilat menggelegar. Pertanda alam murka pada ulah manusia. Keesokan harinya, di koran-koran pasti akan tersiar kabar, di beberapa daerah di bumi kita terkena banjir. Tanah longsor, air sungai meluap, tangis histeris para korban yang kehilangan harta bendanya, kemacetan lalu lintas Semuanya hanya karena air. Kata sebagian orang, air murka karena laju jalannya terhalang sehingga dia mencari jalan yang lain. Atau air tak bisa meresap ke dalam tanah. Itu bisa diakibatkan oleh sampah yang bikin pampat selokan, tanah resapan yang mulai berkurang, pohon-pohon yang ditebangi, bukit-bukit yang digunduli…..

Tak pernah lagi manusia bersahabat dengan alam-Nya! Yang ada hanya nafsu keserakahan merajalela di bumi ini. Para iblis menjadi komando sambil tertawa-tawa membawa obor neraka. Mereka menyemburkannya kepada umat Muhammad yang tak beriman; mari kita musnahkan bumi ini! Jangan bersisa. Jerit tangis terdengar di mana-mana!

“Astaghfirullah ...!" Bashir mematikan televisi. Berita malam itu membuat jiwanya bergetar. “Betapa hancur bumi kita ini," katanya lagi.

"Kalau nonton berita, nonton aja. Jangan dimasukin ke hati. Bisa ikut pusing nanti," Anah meledek sambil mengelus-elus rambut Nur yang tidur di pangkuannya.

"Iya juga, sih. Mendingan cuek aja," Bashir mengiyakan juga. "Emang gue pikirin!" tambahnya tertawa.

"Ssst ...," Anah mengingatkan suaminya agar jangan berisik.

Bashir tersadar. Dia memeriksa Faqih yang tertidur di lantai berkarpet. "Sudah pada tidur, ya?" dia juga melihat ke Nur.

Anah mengangguk.

Bashir dengan hati-hati memangku Faqih. Begitu juga Anah dengan Nur di pangkuannya. Tetapi, Nur ternyata bangun lagi dan menangis minta dibuatkan susu. Anah menurunkan Nur dan menuntunnya ke dapur. Sedangkan Bashir membawa Faqih ke kamarnya. Bashir dan Anah sejak dini membiasakan kedua anaknya tidur di kamarnya. Awalnya Bashir menemani Faqih tidur dengan dongengan. Begitu juga Anah dengan Nur yang paling senang cerita tentang pengemis buta, yang ternyata malaikat. Pada pengemis malaikat itu, Nur suka berandai-andai minta istana boneka dan baju seperti Cinderela. Bahkan Anah menciptakan lagunya untuk dinyanyikan bersama-sama. Begini liriknya:

Episode 33

Tempatku di Sisi-Mu

Bu, Ibu minta uang

di luar ada pengemis

pengemisnya orang buta

katanya haus dan lapar

Ini uang beri ke pengemis

nasi sayur air dan ikan

bilang sama pengemis

tiap minggu suruh ke sini

Jika Anah bercerita tentang pengemis malaikat, Nur akan memulainya dengan menyanyi dahulu. Biasanya kalau belum tidur, Faqih juga ikut mendengarkan dan menyanyi bersama kakaknya. Keesokan harinya, kalau ada pengemis sungguhan berdiri di pintu gerbang rumah, Nur dan Faqih berebut menjadi yang pertama memberikan uang serta seliter beras. Terkadang Nur suka mendorong Faqih, supaya jangan ikut-ikutan. Atau lain hari, Faqih yang memukul Nur. Pengemis itu diam-diam suka tersenyum melihat tingkah polah kakak beradik itu. Pak Soleh dan Bik Marhamahlah yang biasanya ketiban repot, memisahkan mereka agar jangan berkelahi.

"Nanti-nanti, bawa temannya ke sini," bisik Pak Soleh pada pengemis itu.

Setelah kejadian itu, pengemis itu datang selalu berdua. Nur dan Faqih pun bisa berlari-lari gembira membawa segelas beras dan uang recehan ke pintu gerbang. Biasanya ketika pengemis itu pergi, Faqih paling lantang berteriak, “Sampai jumpa! Nanti ke sini lagi, ya!"

Begitulah Nur dan Faqih. Mereka selalu diberi dongengan yang mengajarkan pedidikan moral sejak dini. Secara halus dan dengan cara bermain atau bernyanyi. Terlebih-lebih Nur, yang kini makin mengerti dan maunya makin banyak saja. Dia tidak akan pernah bisa tidur, sebelum ibunya mendongeng.

Seperti malam ini. Setelah Nur minum susu, dia minta dongengan pengemis malaikat itu. Anah berbaring. Nur memeluknya. Mulailah Anah bercerita tentang keluarga kaya, yang tidak mau berbagi rezeki pada tetangganya yang miskin. Suatu hari datanglah pengemis buta ke rumahnya. Pengemis itu diusir. Tetangganya yang miskin melihat pengemis buta itu. Diberinya minum air putih pengemis itu. Juga nasi dengan lauk ala kadarnya. Sebelum pergi, pengemis buta itu bertanya pada si miskin. “Bapak minta apa?” Si miskin itu menjawab, "Saya hanya butuh pekerjaan tetap, supaya bisa menafkahi anak dan istri saya.” Keesokannya orang kaya itu jatuh miskin, dan si miskin itu mendapatkan pekerjaan sehingga hidupnya makmur sentosa. Ternyata, pengemis buta itu malaikat.

"Cerita pengemis malaikatnya udah, ya ...,” Anah membelai kepala Nur yang sudah mengantuk. "Sekarang Nur bobo dulu…..”

Nur tidak bereaksi.

Bashir mengintip di celah pintu kamar. Anah bangkit secara perlahan dari tempat tidur. Diselimutinya tubuh Nur. Tetapi, baru beberapa langkah saja, Anah terhuyung-huyung. Dia merasakan kepalanya pening dan nyeri di perutnya. Bashir segera masuk dan menahan tubuhnya.

"Anah, kenapa kamu?" katanya pelan dengan wajah cemas.

"Nggak tahu, nih ...," Anah berjalan ke luar kamar. "Kok, tiba-tiba kepala saya pusing. Di perut sebelah sini nih ..., kok sakit sekali ...," dia menunjuk ke bagian tempat hati manusia berada.

Bashir tiba-tiba saja merasa cemas!

Episode 34

Tempatku di Sisi-Mu

Genggam hati ini, ya Rabbi

Ringankan beban ini

biar kulapang menemui-Mu

Menyambut sekuntum senyum

Mengakhiri waktu:

beri aku tempat di sisi-Mu!

Bashir membimbing Anah masuk ke dalam kamar. Anah duduk di kursi rias. Dia mencoba mengumpulkan tenaganya. Bashir menatapnya. Tiba-tiba dia merasa bersalah. Jangan-jangan ini ada hubungannya dengan Mutiara.

"Badan ini rasanya lemes sekali ...," nada Anah sangat cemas.

"Besok kita periksa ke dokter spesialis."

“Iya…”

"Maafkan saya, Anah ...," Bashir duduk di sisi tempat tidur.

"Maaf? Soal apa?" Anah menatapnya.

"Mutiara…..."

"Mutiara? Kenapa dia? Kamu nggak salah apa-apa, kok," Anah membuka jilbabnya. Dia duduk sambil bercermin, membersihkan riasan di wajahnya. "Itu, kan masa lalu kamu."

"Aku pikir, nggak ada gunanya menceritakan masa laluku sama kamu."

"Iya, nggak ada gunanya."

"Dunia ternyata kecil. Dia muncul begitu saja seperti angin."

"Ya, dia muncul begitu saja."

"Aku heran, kenapa dia ke sini…."

"Kelihatannya dia belum menikah."

"Aku nggak tahu."

"Atau ..., dia menunggu Kak Bashir."

"Aku tidak pernah menjanjikan apa-apa sama dia."

"Kelihatannya dia masih mencintai Kak Bashir."

"Aku tidak bisa mencegah seseorang untuk mencintai aku atau tidak, Anah. Iya, kan?"

"Kenapa Kak Bashir nggak pemah cerita tentang Mutiara sama aku?" Anah menatapnya lagi. Tetapi, wajahnya tetap dengan senyuman.

"Karena kamu tidak pernah menanyakannya. Menanyakan tujuh tahun saat kita berpisah. Saat aku menjadi wartawan di Jakarta."

"Ya, aku tidak pernah menanyakan masa lalu sama kamu. Karena itu nggak akan ada gunanya."

"Seharusnya aku yang bercerita. Toh, itu tidak akan mengubah apa-apa."

"Kak Bashir takut aku cemburu, barangkali?"

"Mungkin saja."

"Sekarang, bagaimana?"

"Bagaimana, apanya?"

"Dia masih sendiri, Kak Bashir."

"Itu tidak ada hubungannya denganku!"

Anah bangkit dan berjalan ke tempat tidur. Tetapi, tiba-tiba dia membungkuk, menahan nyeri di hatinya. Bashir buru-buru bangkit dan memapah istrinya ke tempat tidur. Membaringkannya.

"Sebaiknya besok kita periksa sekalian nengok Tuan Marabunta."

Anah menggeleng, "Nggak, nggak apa-apa. Kok…."

"Nggak apa-apa. gimana?" Bashir menyelimuti tubuh istrinya dengan cemas. "Bulan depan kita mau naik haji. Kamu harus sehat!" Lalu dia menyentuh kening istrinya. "Astaghfirullah! Suhu badan kamu panas sekali!"

Akhirnya Anah mengangguk. "Iya. Besok periksa ke dokter." katanya pasrah.

Bashir tampak masih cemas. Dia memegangi tangan istrinya. "Iya, kamu panas. Kenapa. kamu?"

"Mungkin mau flu.”

"Sebaiknya kamu minum obat penurun panas!"

Bashir hendak ke luar kamar.

"Kak Bashir. Aku ini dokter. Nggak apa-apa. Jangan panik."

Bashir berhenti. Dia menatap Anah.

"Sini, jangan ke mana-mana," panggilnya.

Bashir kembali ke tempat tidur. Dia berbaring di sisi Anah.

"Kembali ke soal Mutiara," Anah memeluk suaminya dengan penuh kasih sayang.

"Kenapa dengan Mutiara?" Bashir merasa kurang nyaman.

"Aku wanita. Ada sesuatu yang dia tunggu dari Kak Bashir. Penjelasan."

"Penjelasan apa?" Bashir merasa heran dengan perangai istrinya kali ini.

“Pergilah. Temui dia. Katakan pada dia beberapa kahmat saja."

"Kalimat apa?" Bashir bangkit dan duduk. Dia menatap Anah.

Anah ter.senyum. Dia masih berbaring. Matanya menerawang. ke langit-langit kamar. "Yah ..., katakan apa sajalah. Misalnya, tentang kita. Tentang anak-anak kita."

"Aku nggak mengerti. Apa mau kamu?"

"Aku percaya sama Kak Bashir. Aku tahu, Kak Bashir tidak akan mengkhianati aku."

"Aku mencintai kamu. Sejak dulu. Dia hanya mampir dalam kehidupanku sesaat."

"Ingat-ingatlah, barangkali Kak Bashir pernah menjanjikan sesuatu pada dia."

Bashir terdiam. Dia menunduk. Wajahnya tersembunyi oleh rambutnya yang sudah panjang lagi. Dia tampak sedang memikirkan sesuatu.

"Kak Bashir ...Aku tidak apa-apa, kok."

"Kamu menyuruhku menemui dia?"

"Kenapa? Salah?"

"Itu bisa mengundang fitnah."

"Kalau pertemuannya di dalam kamar hotel atau di suatu tempat rahasia, mungkin iya."

"Aku betul-betul nggak mengerti. Apa yang harus aku katakan?"

"Katakan padanya bahwa Kak Bashir sudah mempunyai istri dan dua orang anak."

"Dia sudah melihatnya tadi."

"Dia ingin mendengarnya langsung dari mulut Kak Bashir."

“Kenapa kamu jadi begini?"

“Firasat seorang wanita."

“Firasat? Apa yang kamu rasakan?" Bashir menatapnya dengan penuh tanda tanya.

“Bahwa dia masih menunggu Kak Bashir."

“Apa?" Bashir tidak percaya mendengar omongan istrinya. “Itu nggak mungkin! Kamu terlalu berlebihan. Siapa tahu dia sudah bersuami dan punya anak seperti kita!"

“Aku tidak melihat ada cincin kawin di tangannya."

“Bisa saja lupa dia pakai!"

“Sekali lagi, firasat perempuan."

Bashir termenung lagi.

“Kamu betul-betul berlebihan. Sekarang kita tidur, ya. Besok pagi kita harus ke Karawaci. Menengok Tuan Marabunta. Juga memeriksakan penyakit kamu."

Anah terdiam.

“Anah!"

“Hmmm…."

“Apa rencana kita naik haji dibatalkan saja?"

“Jangan!"

“Makanya, besok kamu harus periksa."

“Iya, iya…”

Bashir memejamkan matanya. Tetapi, pikirannya melayang-layang entah ke mana; ke Anah, ke Mutiara, ke Nur, Faqih, Tuan Marabunta yang tergolek di rumah sakit, ke Dicky yang menderita….. Tiba-tiba, dia merasakan sesuatu yang aneh di kamarnya. Dia merasakan Anah jadi berbeda. Ya, Allah? Pertanda apakah ini?

Bashir pun bangkit dengan hati-hati. Dia menuju kamar mandi. Mengambil wudhu. Dia shalat malam. Dia percaya apa yang dikatakan dalam QS Al Baqarah (2) : 186, bahwa Allah itu selalu dekat dengan hamba-Nya, jika dirinya berdoa, maka Allah akan mengabulkan doanya.

Episode 35

Tempatku di Sisi-Mu

Tanah merah tanah basah

Tanah dingin tanah terakhir

Tempat bertemu Munkar-Nakir

Segala pertanyaan itu

menghujam deras:

beri aku tempat-Mu!

Bashir mengendarai mobil dengan kecepatan sedang. Anah duduk membisu di sebelahnya. Mereka sedang menuju sebuah rumah sakit ternama di kawasan Karawaci. Mereka hendak menengok Tuan Marabunta yang sudah tergolek sakit selama 6 bulan! Mereka tidak bersuara. Pikiran mereka melayang.layang entah ke mana. Mungkin saja ke Mutiara. Atau mungkin ke masa lalu mereka dengan Dicky dan ayahnya, yang penuh dengan pertentangan!

Tetapi, ketika melewati jembatan Ciujung, mereka melihat antrean mobil tersendat-sendat dari jalan arah Jakarta. Ternyata di sana ada sebuah mobil Kijang yang ringsek! Tidak jauh dari mobil naas itu, sebuah truk gandeng melintang. Bagian depannya juga penyok.

"Innaa lillaahi ...," Anah yang duduk di sebelahnya bergidik.

Ada tiga mayat tergeletak di pinggir jalan. Tubuh mereka hanya ditutupi koran. Darah berceceran di sekitar mobil Kijang.

"Masya Allah!" Bashir seperti melihat bayang-bayang kematian di depannya.

Pernahkah membayangkan, jika pada suatu hari pamitan dengan doa dan senyuman pada anak-istri, tetapi di tengah perjalanan karena kecerobohan orang lain, harus mengalami nasib naas? Sudah bukan rahasia umum lagi, jika para supir truk atau bus, suka ugal-ugalan mengendarai mobilnya. Pernah suatu kali Bashir naik bus Merak-Rambutan. Astaghfirullah! Supir bus itu menjadikan jalan tol seperti sirkuit saja. Dia dengan santainya zig-zag dalam kecepatan tinggi. Tak pernah dia memedulikan keselamatan mobil-mobil lain di belakang atau di sampingnya. Jika ada mobil lain menghalangi laju di depannya, tidak segan-segan dia menyerudukkan busnya hingga berjarak hanya sejengkal saja sambil memencet klakson berkali-kali! Seolah-olah berteriak: minggir, minggir! Bayangkan: sejengkal! Bagaimana coba, kalau pengemudi mobil di depannya itu kaget dan mengerem? Tubrukan pasti tak akan terhindarkan!

”Hati-hati, jangan ngebut," Anah juga cemas. Wajahnya pucat.

“Kamu betul nggak apa-apa?” Bashir mengambil jalur lambat.

“Terus sajalah," Anah memejamkan matanya.

Tubuhnya serasa disergap sesuatu yang merontokkan seluruh sendi-sendi tubuhnya.

Bashir menatap istrinya lagi. Dia merasa takut. Tiga mayat yang tergeletak tadi masih membekas di hatinya. Sebenamya Allahlah yang berwenang menghidupkan dan mematikan hamba-hamba-Nya! Tak akan ada yang mampu menolaknya jika sudah berurusan dengan ajal. Tak perlu pangkat yang tinggi, atau hanya sekadar hamba sahaya. Semua akan mati dan sama di sisi-Nya! Tetapi, jika dia harus kehilangan istrinya sekarang, dia tidak akan mampu mengatasinya! Atau jika dia yang dipilih untuk mati terlebih dahulu, dia juga tidak mau. Ya Allah, panjangkanlah umur kami! Berilah kami kesempatan untuk melihat Nur dan Faqih dewasa, sampai kami menimang anak-anak dari mereka!

Bayang-bayang kematian itu terlihat juga oleh Bashir pada Tuan Marabunta. Pengusaha kaya raya yang flamboyan sekaligus rakus, serta selalu menghalalkan segala cara dalam mencapai tujuannya, kini tergolek tak berdaya. Segala macam kekuasaannya, harta yang melimpah, tukang pukulnya yang menyeramkan, pengaruhnya yang luar biasa, menjadi tak berarti lagi di depan Allah! Dengan kuasa-Nya, dia kini hanya seonggok daging tak berdaya.

Bashir berdiri mematung melihatnya. Lututnya gemetar. Hatinya seperti diiris-iris. Begitu juga Anah, merasakan hal yang sama. Betapa trenyuh hatinya melihat orang yang dahulu sangat berkuasa, kini ibarat kayu tua yang rapuh dimakan rayap. Bagi Anah dan Bashir, peristiwa ini bisa menjadi cermin agar tidak takabur pada sesama hamba-Nya. Tidak sombong. Tidak menghamba pada status dan kekayaan. Tidak menganggap orang lain itu lebih rendah daripada kita. Dalam keseharian pun banyak peristiwa seperti ini terjadi. Pada orang-orang yang di zaman Orde Baru begitu sangat berkuasa, kini menukik menjadi orang paling hina. Diseret-seret dari satu persidangan ke persidangan yang lain dan berakhir di penjara!

"Terima kasih, kalian mau datang," kata Dicky gembira. Dia mendekati tempat tidur, tempat ayahnya terbaring. Dia mendekatkan bibirnya di telinga ayahnya. “Papa….,” katanya. “Bashir sama Anah sudah datang. Mereka ada di sini…."

Tangan Tuan Marabunta yang kini kurus dan pucat, menggapai-gapai. Kepalanya bergerak ke samping. Bola matanya yang kosong, kini mulai ada gerakan-gerakan pertanda hidup.

"Mendekatlah," pinta Dicky pada Bashir dan Anah. Tatapan matanya sayu karena kurang tidur.

Bashir menggandeng Anah. Mereka mendekat. Dicky meraih tangan ayahnya. "Peganglah," dia meminta dengan sangat.

Bashir dan Anah saling pandang. Anah mengangguk. Lalu mereka menyatukan tangan dan menggenggam tangan Tuan Marabunta. Tiba-tiba tangan Tuan Marabunta balas menggenggam dengan kuat. Bashir dan Anah sangat kaget. Dicky juga!

"Papa ...," Dicky berharap dengan cemas. "Ayo, katakanlah. Mumpung mereka ada di sini ...," katanya sambil melihat ke Bashir.

Bashir berjongkok. Anah juga. Mereka serempak mendekatkan kepala mereka ke bibir Tuan Marabunta.

"Assalamu'alaikum, Tuan Marabunta," kata Anah lembut.

Semua menanti reaksinya. Tanpa diduga, mulutnya bergerak-gerak. Semua saling pandang dengan harap-harap cemas.

"Wa'alaikum salam," terdengar suara Tuan Marabunta terpatah-patah. Parau tersekat di tenggorokan.

"Apa kabar, Tuan?" Bashir menyapa.

Mulut itu hanya menyunggingkan senyum bahagia.

"Kedatangan kalian membawa berkah. Sudah lama saya tidak mendengar suara Papa," Dicky sangat sukacita sekali.

"Maafkan saya," tiba-tiba mulut Tuan Marabunta bergerak-gerak lagi. Kalimat tadi keluar dengan pelan, tetapi sangat jelas terdengar.

"Kami sekeluarga sudah memaafkan Tuan. Begitu juga kami, meminta maaf jika ada kesalahan," Bashir menggenggam erat tangannya.

"Sebagai hamba-hamba Allah, kita harus saling memaafkan," Anah tersenyum bahagia.

"Bapakmu ..., kamu ..., semuanya ...," Tuan Marabunta terbatuk. Dadanya berguncang. Dia menarik napas. Terasa berat sekali. Tetapi bibirnya terbuka lagi, "Kalian ..., tidak pernah membuat kesalahan ...padaku ...juga pada Dicky. Kamilah... yang banyak melakukan kesalahan. Kami banyak dosa pada kalian," begitu panjang kalimat-kalimatnya.

Dicky tidak menyangka ayahnya bisa mengatakan kalimat seperti itu. Dia sangat antusias mengikutinya. Wajahnya antara tegang dan penuh sukacita. Dia tak bersuara apa-apa. Dia hanya menyaksikan peristiwa bersejarah ini dengan saksama.

Bashir dan Anah mengangguk-angguk dan tersenyum.

"Sekarang, Tuan istirahat saja. Jangan banyak bicara dulu," kata Bashir.

Tuan Marabunta hanya tersenyum. Wajahnya kini tampak bergairah sekali. Warna pucat berganti menjadi memerah, pertanda kehidupan mulai muncul. Tetapi, itu hanya sekejap saja. Karena setelah itu, tak ada tanda.tanda kehidupan lagi. Wajahnya terbujur kaku. Tinggal senyumnya saja yang masih membekas.

Dicky panik. Dicky mengguncang-guncangkan tubuh ayahnya. "Papa! Bangun, Papa!" teriaknya.

"Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raajiuun ...," Bashir dan Anah menundukkan kepalanya, pertanda memberi hormat pada ruh yang keluar dari jasad Tuan Marabunta.

Dari asal, kembali ke asal. Semoga Allah menerima segala amal perbuatannya. Semoga dia diterima di sisi-Nya!

Episode 36

Tempatku di Sisi-Mu

Anah Terkena Kanker Hati dan Menyuruh Bashir Menikah

Lalu bergegas aku meraihnya

saat terulur cahaya-Mu

Memaksaku tercerabut dari tanah:

Rabbi, ringankan langkahku ini!

Vonis dokter itu seperti kilat menggelegar! Anah terkena kanker hati! Positif! Umurnya diperkirakan tidak akan lama lagi. Bashir tidak bisa menerima kenyataan ini. Berbeda dengan Anah, yang justru lebih sabar dan pasrah. Bagi sebagian dokter, kanker hati adalah takdir dari Allah!

Kabar mengerikan ini persis tiga minggu menjelang keberangkatannya ke tanah suci. Bashir berlari ke pantai dan berteriak-teriak sendirian sambil menatap langit. Dia seperti memprotes keputusan Allah bahwa dirinya tidak pernah diberi kesempatan untuk merasakan kebahagiaan. Semua orang yang dia cintai begitu cepat dipanggil ke sisi-Nya. Mulai dari ibunya, ayahnya, kakaknya, sampai istrinya yang sudah masuk dalam daftar antrean. Jika sudah tiba waktunya, Allah tinggal menyuruh Malaikat Izrail untuk mencabut nyawa istrinya!

"Sebaiknya kita gagalkan saja rencana kita ke Makkah," Bashir melihat Anah makin hari makin pucat saja. Tubuhnya makin menyusut. Padahal selera makannya cukup besar.

"Nggak, Kak, nggak boleh kita batalkan. Ini panggilan Allah. Saya akan sehat ketika berangkat nanti. Insya Allah," kata Anah yang berbaring di tempat tidur. Dia menangis ketika menyampaikan niatnya untuk tetap berangkat ke Makkah. Tangannya langsung menggapai tasbih di meja kecil. Lalu dia berzikir; subhanallah, subhanallah…..

Bashir menatap Anah dengan sedih. Dia memijit kedua kaki istrinya dengan rasa sayang. Kedua anaknya, Siti Nurkhalishah dan Muhammad Al Faqih, masuk ke kamar. Mereka langsung naik ke tempat tidur dan bertingkah polah seperti seorang dokter saja.

"Ibu sakit, ya?" tanya Nur, gadis cilik berusia empat tahun.

"Iya, Teh. Ibu sakit," Anah tersenyum mengusap kepalanya.

"Minum obat ya, Bu," Nur menyodorkan "obat" di tangannya. Nur memang paling suka berlagak jadi dokter seperti ibunya.

"Obat, Bu, obat," Faqih, bocah berusia dua tahun, tidak mau kalah dengan kakaknya. Dia juga menyodorkan "obat".

Tetapi Nur mendorongnya, "Nggak boleh! Teteh aja yang periksa Ibu!" katanya cemberut.

Faqih hampir terjatuh. Faqih menangis. Bashir menggendongnya dan menenangkannya. Anah hanya tersenyum.

"Sama saudara, Teteh nggak boleh begitu ...," Anah menasihati.

"Faqih nakal!" Nur cemberut. "Teteh saja jadi dokter. Faqih nggak boleh!"

Faqih meronta-ronta di pelukan Bashir. Bapak muda itu mencoba menenangkan Faqih. Dia membawa Faqih keluar untuk bermain robot-robotan.

"Tuh, kasihan kan Faqihnya. Teteh jadi nggak punya temen," Anah mengingatkan.

Nur tampak menyesal. "Dede!" akhirnya dia berteriak memanggil adiknya. Dia turun dari ranjang dan berlari ke luar kamar.

Anah hanya tersenyum saja. Jari-jarinya tak pernah berhenti menghitung tasbih sambil berzikir. Andai saja Nur dan Faqih tahu penyakit yang dideritanya. Ya Allah, berilah aku kesehatan! Berilah aku kekuatan! Tunjukkanlah mukjizat-Mu! Tetapi, jika ini cara-Mu untuk menguji aku dan Bashir, aku pasrah dan ikhlas. Begitu terus batin Anah memohon, di antara zikirnya.

Tidak lama, Nur dan Faqih muncul bersamaan. Nur menggandeng Faqih. Mereka akur lagi. Bashir berdiri sambil tersenyum di pintu kamar. Tetapi, dia menatap istrinya dengan perasaan yang sangat sedih. Dia merasa seperti akan kehilangan istrinya. Tanda-tanda itu selalu membayanginya terus. Terkadang dia tidak ingin mendahului Tuhan bahwa sebetulnya rezeki, jodoh, dan mati adalah rahasia-Nya! Tetapi, dari tutur kata istrinya, seolah-olah mengingatkannya pada kematian. Kemarin malam saja, Anah berkali-kali menyebut "andai saya pergi", "andai saya pergi". Dia bergidik mendengarnya. Terbayang lagi percakapan di meja makan itu, yang membuatnya jengkel setengah mati.

"Andai saya pergi, kamu harus menikah dengan Mutiara," begitu Anah memulai makan malam.

"Kamu mau pergi ke mana?" Bashir meletakkan sendok dan garpunya. Selera makannya langsung musnah.

Para iblis, yang selalu mengitari mereka, menjulurkan lidah apinya sambil terkekeh-kekeh. Para setan neraka itu sedang menanti-nanti kehancuran rumah tangga mereka. Tetapi, para malaikat juga tidak tinggal diam. Sinar Ilahi itu selalu meniupkan wewangian ayat-ayat Allah, agar terlindung dari bujuk rayu sang setan!

"Penyakitku ini aneh," Anah menerawang jauh. "Kadang muncul, kadang hilang. Sungguh, aku takut kehilangan kamu, Nur, dan Faqih," Anah terisak.

"Istighfar, Anah ...," Bashir mengingatkan. "Kita semua akan mati. Itu suatu keharusan. Nggak akan bisa kita menghindarinya."

"Tapi, aku ingin mati, setelah Nur dan Faqih dewasa. Setelah mereka memberikan cucu-cucu padaku…."

Bashir berdiri dan berjalan mendekatinya. Memijiti pundaknya. "Nanti kita cari dokter spesialis yang hebat sepulang dari Makkah. Kalau perlu kita ke luar negeri. Barangkali penyakitmu bisa disembuhkan."

"Amien….”

"Kamu nggak boleh putus asa, Anah!"

"Aku bukan putus asa. Aku hanya berusaha realistis. Ini kenyataan yang harus kita hadapi. Kak Bashir akan kehilangan aku selama-lamanya. Banyak hal yang harus kita bicarakan malam ini. Dan Kak Bashir harus mendengarkannya dengan baik," nada Anah serius. "Sekarang, duduklah….."

Bashir duduk. Wajahnya tegang.

"Aku ingin Kak Bashir mewujudkan keinginanku…."

"Apakah ini semacam wasiat?" suara Bashir bergetar. Matanya mulai berkaca-kaca.

"Iya," bibir Anah juga bergetar.

"Katakanlah, kalau memang itu maumu…”

"Aku ingin Kak Bashir mengembangkan klinik Asy Syifa menjadi sebuah rumah sakit. Aku ingin nanti orang-orang yang tak mampu datang berobat dan tak usah memikirkan biayanya…."

Bashir merasa ada butiran hangat jatuh ke pipinya. "Insya Allah, Anah ...," dia betul-betul menangis, “ ...kalau itu maumu…..”

Anah tersenyum bahagia walaupun terasa pedih.

"Sebaiknya Ibu Natalia kita beri tahu sekarang," saran Bashir.

"Tidak perlu. Biarkan Ibu menemani Diana dengan tenang di Singapura. Hidupnya saja lebih menderita daripada kita. Semua orang yang dicintainya pergi. Kalau Ibu harus tahu dari awal bahwa aku ...orang yang dicintainya ...akan pergi juga…." Anah menerawang jauh, “….itu pasti akan membuatnya tambah menderita lagi."

"Pak Hidayat juga?"

"Ya, Pak Hidayat juga. Tak perlu ada orang lain yang tahu. Biarlah ini untuk kita berdua saja."

Bashir makin tersedu-sedan. Dia peduli kalau dirinya adalah lelaki, yang harus membatasi diri dengan air mata. Tetapi, ini menyangkut dengan orang yang paling dia cintai, istrinya! Dengan segenap raga! Dan kini dia dihadapkan pada kenyataan, bahwa istrinya akan segera pergi mendahului dia! Menemui panggilan Sang Pencipta!

Episode 37

Tempatku di Sisi-Mu

Kupahami kini mengapa

segalanya dipasangkan

karena kelak berubah satu

kembali utuh sebagai jiwa

Yang dimiliki-Nya. kembali pada-Nya:

jadikan aku penghuni surga-Mu!

Sebuah mobil memasuki kawasan pantai yang sepi. Pohon-pohon kelapa dan semak-semak melindungi mereka dari pandangan orang di jalan raya Anyer-Labuan. Di pantai sudah ada sebuah mobil yang diparkir. Pengemudinya keluar dari mobil, begitu tahu ada mobil lain mendekati dan berhenti di sebelah mobilnya.

"Assalamu'alaikum," Mutiara menyapa pengendara mobil itu.

"Wa'alaikum salam," jawab Anah sambil menurunkan jendela mobil.

Betapa kaget Mutiara, ketika melihat wajah si pengendara mobil itu pucat. Berbeda ketika dia melihatnya pertama kali malam itu di restoran.

"Kamu sakit, ya?" tanyanya cemas.

Anah tersenyum saja.

"Sebaiknya kita cari kafe atau apalah. Yang penting, kita jangan ngorol di pantai. Anginnya sedang kencang," Mutiara berkali-kali merapikan rambutnya yang tergerai angin.

"Pakailah," Anah menyodorkan kerudung. "Supaya rambutmu nggak acak-acakan."

Mutiara tampak sungkan menerimanya. Dari dahulu dia paling tidak mau berkerudung, sampir sekalipun. Apalagi berjilbab seperti wanita di depannya. Menurutnya, kecantikan itu keindahan. Lantas, kenapa harus disembunyikan? Bukankah keindahan itu untuk dipertontonkan? Yang penting, dia bisa menjaga batas-batas kesopanan. Dia sadar dirinya cantik. Sebatas itu sajalah. Tak perlu dia menyembunyikan kecantikan wajahnya lewat kerudung atau jilbab. Tetapi, melihat tatapan matanya, dia tak kuasa menolak. Lalu kerudung itu dia lilitkan di kepalanya. Terasa nyaman memang. Rambutnya tidak acak-acakan lagi.

"Kamu kelihatan makin cantik dengan kerudung itu," dia lagi-lagi tersenyum.

“Ya, makasih…”

"Bagaimana kalau kita ngobrol di mobil aja?"

"Boleh,” Mutiara memutar. Dia membuka pintu mobil dan duduk.

"Maaf ya, aku sudah mengganggu waktu kamu….."

"Nggak apa-apa…”

"Aku tahu alamatmu dari buku tamu di hotel."

"Aku sudah menduganya."

Hening beberapa saat. Semua seperti sedang mencari kata-kata yang tepat.

"Bashir tahu kamu ke sini?"

"Nggak. Ini antara kita berdua saja."

"Apakah ini ada hubungannya antara aku dan Bashir?"

“Iya. Ada."

“Sungguh, kami nggak ada hubungan apa-apa lagi," Mutiara merasa bersalah. ”Kemarin di restoran itu, aku hanya ingin melakukan sesuatu yang lain saja. Pekerjaanku di Jakarta sebagai wartawan teve, kadang membuat bosan juga."

“Aku percaya. Kalian sudah nggak ada hubungan lagi."

“Lantas, kenapa kamu menghubungiku?"

“Ini tentang aku semata."

Mutiara menatap wanita pucat di sebelahnya dengan penuh tanda tanya.

“Tentang sakit yang aku derita."

“Kamu sakit apa?"

“Kanker."

“Astaga!"

“Umurku nggak akan lama lagi."

Mutiara terhenyak untuk yang kedua kali.

“Maukah kamu menjawab dengan jujur pertanyaan saya?"

“Pertanyaan apa?"

“Siap kamu mendengarnya sekarang?"

“Apa ini? Jangan pake teka-tekilah!" Mutiara jadi gelisah tidak karuan.

Anah menoleh. Dia menatap Mutiara dengan tajam. Mencoba mencari-cari jawaban yang sedang dicarinya. “Kamu masih mencintai Bashir?" tanyanya serius sekaligus mengagetkan.

“Pertanyaan apa ini?" Mutiara tertawa aneh.

“Kamu hanya perlu menjawab ‘ya' atau 'tidak' saja."

"Jangan memaksa!" dia langsung membuka pintu mobil. Keluar dan menarik kerudungnya hingga terlepas. Kerudung itu dilemparkannya. Ada perasaan marah, jengkel, dan aneh menyergapnya. Seorang istri dari orang yang pernah dicintainya, tiba-tiba saja menodongnya dengan pertanyaan tadi! Hah! Gila! Tetapi, sisi lain hatinya berbisik, kenapa kamu berhari-hari menunggu Bashir di restoran? Kenapa kamu sampai sekarang belum juga menikah? Kenapa kamu paling suka meliput berita-berita di Banten? Bukankah kamu masih berharap bisa bertemu dengan Bashir?

"Saya ternyata salah duga. Maafkan saya,” tiba-tiba Anah sudah ada di sebelahnya.

Mutiara merasa tubuhnya bergetar. Masih cintakah dirinya pada Bashir? Pantaskah dia merebut Bashir dari dia?

"Atau kamu belum siap menjawabnya sekarang?” Anah menduga-duga.

"Kenapa kamu nggak berobat ke Amerika saja? Siapa tahu diagnosa di sini salah?” Mutiara mengalihkan pembicaraan.

"Insya Allah, itu akan kami coba.”

“Itu lebih baik kan, ketimbang kita membahas pertanyaan bodoh tadi?!”

"Itu bukan pertanyaan bodoh. Dan jawabannya pun tidak bodoh. Itu keluar dari perasaan kita, dari hati seorang wanita,” Anah menegaskan. "Terima kasih atas waktunya. Assalamu'alaikum,” Anah tersenyum dan membalik. Lalu dia berjalan ke mobil.

Mutiara masih terpaku di tempatnya.

Anah menyalakan mesin mobil. Tetapi, sebelum pergi, Mutiara berlari dan mendekati jendela mobilnya. Anah menurunkan kaca jendela.

"Ada apa?" Anah tersenyum di balik wajah pucatnya.

"Apakah masih perlu aku jawab?”

"Sekarang tidak perlu lagi. Assalamu'alaikum,” Anah merasa bahagia.

“Wa’alaikum salam….”

Anah menjalankan mobilnya.

Mutiara berjalan beberapa langkah melepas mobil itu. Hatinya gundah gulana. Kakinya hampir saja menginjak kerudung pemberian Anah. Tanpa sadar, dia memungut kerudung itu. Melilitkannya di kepalanya. Rambutnya yang tergerai tak keruan, kini terlindung dari godaan angin barat yang galak.

Episode 38

Tempatku di Sisi-Mu

Berjalan di antara ayat-ayat-Mu

kutemukan setitik cahaya

Jalan setapak zikir dan doa

hingga pada tujuan:

tempatku di sisi-Mu!

“Allahumalabaik, allahumalabaik ...," puja-puji jutaan jamaah haji itu menggema di seluruh penjuru Ka'bah. Langit Makkah biru terang. Matahari terik. Tetapi, angin sepoi-sepoi membuat sejuk suasana Masjidil Harram. Jutaan jamaah haji yang sedang melakukan tawaf-mengelilingi Ka'bah sebanyak 7 kali, tidak merasakan bola merah raksasa itu membakar tubuh. Mereka tetap bersemangat dengan perasaan puji syukur menyerukan "Bismillahi Allahhu Akbar" setiap melewati garis cokelat pemberian Ir. Soekarno, sebagai pertanda kita sudah genap mengelilingi Ka'bah sebanyak satu putaran.

Anah terus berjalan dalam lindungan tubuh Bashir. Tubuhnya dipeluk oleh Bashir dari belakang supaya tidak tersenggol atau terdorong oleh jamaah yang lain. Jalan Anah sudah sempoyongan. Bashir tampak merasa cemas. Sebetulnya Bashir tidak setuju istrinya menunaikan ibadah haji dalam kondisi sakit seperti ini. Tetapi, istrinya bersikeras. Bagi istrinya, niat itu sudah bulat. Tak ada alasan lain yang bisa menghalanginya untuk tidak datang ke rumah Allah ini. Bahkan kanker hati yang kini dideriranya sekalipun! Tak kan ada! Ini termasuk jihad juga!

"Kak Bashir," suara Anah pelan.

"Ya, Anah?"

"Ayolah, bawa aku ke Hajar Aswad," pinranya serius.

"Insya Allah," Bashir membelokkan arah ke pinggir.

Tinggal saru sudut lagi, Bashir sudah berhasil membawa istrinya ke tempat batu hitam berasal dari surga itu. Tetapi, perjuangannya untuk sampai ke sana sangatlah berat. Jamaah-jamaah haji lain pun tidak mau kalah. Kadangkala Bashir terdorong kembali ke arah kanan sehingga berada di lingkaran besar. Tetapi, Bashir tidak pernah mau menyerah. Dia terus mendekap Anah agar bisa mendekati Hajar Aswad. Dan entah dari mana datangnya, atau itu mungkin keajaiban: pertolongan dari Allah! Seorang lelaki tinggi besar berdiri di belakang mereka. Orang itu pun hendak mendekati Hajar Aswad. Dia selalu mendorong jamaah lain yang hendak mendekari Hajar Aswad. Dia seolah-olah memberikan kesempatan pada Bashir dan Anah untuk mencium Hajar Aswad! Semuanya terasa jadi serba mudah bagi Bashir dan Anah!

Anah mencium Hajar Aswad dengan mata berlinang. Dahulu Nabi Muhammad mencium batu hitam ini. Jadi ini sunnah nabi. Tidak dilakukan pun tidak apa-apa. Kemudian Bashir melakukan hal yang sama. Setelah mereka selesai, lelaki tinggi hitam itu mengambil giliran. Bashir dan Anah tersenyum padanya.

"Thanks for your help," kata Anah.

Lelaki itu tersenyum dan langsung mencium batu surga itu!

Begitulah yang terjadi pada Bashir dan Anah. Segala urusan menjadi serba mudah. Itu pun terulang ketika mereka ingin shalat sunnah di Hijir Ismail. Sementara itu orang-orang harus berdesak-desakan, mereka malah diberi keleluasan. Selalu saja ada orang yang mempersilakan mereka.

Selesai shalat di Hijjir Ismail, mereka menuntaskan tawaf, yang tinggal dua putaran lagi. Setelah itu mereka menuju air zamzam. Meminum airnya. Mencoba merasakan penderitaan bayi Isma'il yang kehausan di padang Arafah.

"Masih kuat?" Bashir membimbingnya.

"Insya Allah," Anah tersenyum.

Mereka berjalan untuk melakukan sai, berjalan bolak-balik dari bukit Safa ke Marwa. Ini mengingatkan kita pada perjuangan Siti Hajjar, yang saat itu sangat panik sekali mencari air untuk bayinya, Isma'il. Selama melakukan sai, Bashir tak henti-hentinya mengingatkan Anah untuk istirahat dan meminum air zamzam lewat keran. Anah sangat kepayahan sekali. Wajahnya pucat. Jalannya limbung.

"Alhamdulillah ..., akhirnya selesai juga," Anah merasa lega.

"Ayo, sekarang kita potong rambut dulu," ajak Bashir.

Anah mengangguk bahagia.

Bashir membawa Anah ke pinggir. Secara bergantian mereka memotong rambut beberapa helai. Tetapi, setelah Bashir memotong rambut Anah, tiba-tiba saja Anah jatuh ke pelukannya. Bashir menyangga tubuh istrinya dengan cemas!

"Anah!"

"Kak Bashir ...," lemah sekali suara Anah.

Bashir membopong Anah. Hatinya merasa galau disergap segala macam ketakutan. Di depan matanya tiba-tiba saja muncul kedua anaknya. Mereka memanggil dan menangisi Anah!

"Anah, kamu harus kuat, Anah!" tidak terasa air mata Bashir jatuh bergulir.

"Kak Bashir ..., dengar ...," suara Anah mendesah.

"Ya, Anah ...," Bashir terus membopong Anah ke posko kesehatan.

"Ada sesuatu yang ingin aku katakan ..."

"Katakanlah, Anah " .

"Sebelum berangkat, aku menemui Mutiara ..."

"Kenapa kamu sebodoh itu?"

"Itu bukan bodoh, Kak Bashir. Itu niat baik yang keluar dari hati seorang wanita... yang mencintai suami dan kedua anaknya…"

"Maatkan aku, Anah ...," Bashir terisak penuh penyesalan.

"Jika aku tiada, demi anak-anak ..., temuilah Mutiara….”

"Jangan bicara yang nggak-nggak, Anah ..."

"Jadikanlah dia penggantiku, Bashir…."

"Anah!"

"Dia masih mencintai kamu…."

"Anah!"

Tetapi Anah tidak bersuara lagi.

Bashir merasakan langit Makkah runtuh menimpa tubuhnya.

--Ciloang, akhir Januari 2001

0 Response to "TempatKu di Sisi Mu"

Post a Comment

Translate

English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified