Download applikasi baca novel online untuk android disini: DOWNLOAD

Never Trust a Dead Man

Oleh: Vivian Vande Velde GM 401 03.051 Hak Cipta dilindungi oleh undang-undang All rights reserved © Penerbit PT Grasindo, Jl.

Palmerah Selatan 22-28, Jakarta 10270 Penerjemah: Judica Nababan

Editor Penyelia: A. Ariobimo Nusantara Editor: Fermina Purba

Perwajahan isi: Suwarto Ilustrasi Sampul: Rudi

Diterbitkan pertama kali oleh penerbit PT Grasindo, Anggota IKAPI, Jakarta 2003

Dilarang mengutip atau memperbanyak sebagian atau seluruh isi buku ini tanpa izin tertulis dari Penerbit.

Dicetakoleh Percetakan PT Gramedia, Jakarta Isi di luar tanggung jawab Percetakan

untuk Gloria dan Terry, yang selera humor mereka —sama

menakutkannya—

cocok dengan seleraku

SATU

Bagi Selwyn Roweson, pagi hari bagi orang desa dimulai sebelum

malam berakbir. Saat itu, ia dan ayahnya sedang me-mindahkan tunggul-tunggul pohon di sepetak tan ah yang mereka harapkan dapat menjadi ladang tambahan untuk musim Semi mendatang. " Walaupun kau tidak akan menikahi Anora," kata ayahnya, "Kau akan menikah suatu saat, dan pasti akan me-merlukan ladang tambahan."

Selwyn berpikir kalau ayahnya berharap bahwa dengan menarik dan memarang ranggul-tunggul pohon bandel itu sudah cukup baginya

untuk mengusir Anora dari pikiran Selwyn—ungguh memperlihatkan betapa sederhananya orang tua memandang suatu persoalan. "Lagipula," lanjut ayahnya, "Gadis kota yang kurus tidak cocok untuk hidup di pertanian. Kau perlu mencari wanita besar dan kekar."

"Besar?" ulang Selwyn, hampir kehabisan napas sambil mengayunkan kapak ke salah satu akar-akar pohon dan menghamburkan serpihan

kayu pada pakaian dan rambutnya. "Kefcar?" la sendiri berperawakan kecil—dan di usia tujuh betas tahun seperti ini tampaknya tidak akan bertambah tinggi atau gemuk Iagi. Hal terakhir yang diinginkannya adalah seorang istri yang Jebih besar dan kuat daripada dirinya. uKita ini sedang bicara tentang istri atau sepasang lembu jantan?"

"Begini," kata ayah nya, seakan-akan masalah itu sedang di-

pertimbangkannya, "Tentu saja itu akan menjadi pilihanmu. Lembu jantan sangat bagus untuk memindahkan tunggul-tunggul pohon. Selain itu, percakapan mereka setelah makan, malam umumnya biasa- biasa saja, sehingga mereka tak dapat berdansa sama sekali. Daripada begitu, mungkin kau dapat mencari gadis yang besar dan kekar, tapi tidak sebesar dan sekekar lembu jantan."

Selwyn tertawa. Ia sangat lega karena mata kapak itu akhirnya

membelah akar tunggul.

Kemudian ia meletakkan kapak dan memungiit sekop. Hari itu cuaca pan as, dan tidak semes tinya terjadi karena waktu itu sudah niusim gugur di mana dedaunan berjatuhan namun salju musim dingin

belum turun. Semen tara itu, kemeja Selwyn yang basah masih saja lengket di punggungnya. Kemudian ia berhenti, menegakkan tubuhnya

untuk beristirahat sekejap, lalu meniupkan sejuntai rambut yang menutupi matanya. Saat itulah dia melihat penduduk desa datang mendekat. "Ayah," katanya. Mereka tampaknya akan membantu Selwyn dan ayahnya menggali tunggul pohon karena beberapa dari mereka membawa tongkat atau pentungan, dan semuanya menampakkan muka masam.

3

Senyum ayahnya menghilang, tetapi suaranya terdengar riang sewaktu ia berteriak kepada sekitar satu lusin atau lima belas orang yang

mendekat. "Ada apa? Apa yang terjadi? Jangan katakan kalau kita berperang lagi."

Im pertanyaan yang wajar, karena di antara mereka semua hanya ayah

Serwyn yang ikut berperang dalam pasukan raja, sehingga ia

terlambat menikah dan usianya sudah lima puluh tahun saat anaknya berumur tujuh belas. Penduduk desa pernah datang minta tolong kepadanya untuk menghadapi prajurit-prajurit yang telah melanggar perbatasan, atau menghadapi bandit-bandit yang menjarah di jatan menuju Saint Hilda, atau ketika dua penyihir yang berseteru hampir saja menumbangkan kedai minuman Orik ketika ia mencoba menengahi per-tengkaran keduanya.

Namun ayahnya berpikir bahwa masalah nya bukan itu; Selwyn tahu bahwa keriangan suaranya itu dipaksakan.

Dan keraguan itu menghilang ketika Thome yang berdiri di depan, berteriak, "Turunkan sekop itu, Rowe."

Ucapan itu terasa sangat aneh, apa pun alas an mereka ke sini, Selwyn merasakan ketakutan yang melanda hulu hatinya. Memang Thome adalah tetangga mereka dan sudah mengelola tanah pertanian

terdekat sejak lama sebelum Selwyn lahir.

Ayahnya yang sebelumnya tidak punya alasan untuk memegangi sekopnya, melihat sambil berpikir sesuatu ke axah Thorne dan kerumunan yang mendekat. Ia menancapkan sekopnya ke tumpukan tanah

bekas galian, dan menyandarkan lengannya di atas pegangan sekop, tetap siap untuk meraihnya.

Penduduk desa berhenti, sekitar lima atau enam langkah darinya.

Jauhnya kira-kira satu lemparan sekop.

"Melangkahlah ke sini, Nak," kata Linton, keponakan Miller. Selwyn bclum tahu maksud perkataan itu.

"Tetap di situ," perintah ayah Selwyn, seolah-olah Selwyn tidak

mencurigai apa-apa.

"Kami hanya ingin berbicara dengan nya," kata Thorne.

"Baik. Bicaralah," kata ayah Selwyn. "Pendengarannya cukup baik."

Thome menatapnya selama beberapa saat. Lalu ia berkata, "Farold mad. Ia dibunuh di penggilingan tadi malam."

Farold adalah keponakan Derian, tukang penggiling, sepupu Linton. Selwyn terkejut bahwa seseorang telah dibunuh dalam komunitas

mereka yang tenang, tapi tidak kaget kalau korbannya Farold. Ia bahkan lega karena Farold yang mati, bukan yang lain. Senang,

kalau boleh dikatakan dengan jujur, bahwa jika itu memang harus terjadi pada seseorang, hal itu terjadi pada Farold. Namun dia tahu bahwa dia tidak boleh membiarkan hal semacam itu terlihat pada air mukanya. Ia mencoba memikirkan hal-hal yang baik saja. Farold tidak seburuk itu sebenarnya, katanya pada diri sendiri. Farold lebih baik dari... Ah, lebih balk daripada duduk di atas paku. Ia juga lebih baik daripada mematahkan gigi karena biji keras persik.

Ayahnya bertanya, "Apa yang menyebabkan kalian berpikir bahwa

Selwyn yang melakukannya?"

Ada banyak alasan. Sebenarnya dengan melihat penampilan mereka, hanya itulah alasan mereka ke sini. Bagaimana mereka bisa berpikir bahwa Selwyn akan mem bun uh seseorang— bahkan orang yang

menjengkelkan dan be'rtingkah seperti Farold? Tapi Thorne memandang tepat ke arahnya, dan bertanya kepadanya, bukan kepada ayahnya, "Kamukah yang melakukannya?"

5

Selwyn perlu beberapa saat untuk mengeluarkan suara. " Bukan," katanya. Ia heran karena Thorne yang sudah mengenal dirinya begitu lama dapat bertanya dengan mimik muka yang da tar seperti itu.

"Baiklah kalau begini," kata Thorne.

"Hal ini tidak mungkin," pikir Selwyn. Mereka telah ber-jalan jauh dari Penryth dan tidak mungkin langsung berbalik kembali hanya dengan keterangan bahwa dirinya tidak bersalah.

"Kami semua di sini kemarin," ayah Selwyn berkata kepada mereka. "Tadi malam katamu? Kami semua di sini, kami ber-empat, sepanjang malam—aku, anak ini, ibunya, dan nenek-nya. Kami akan bersaksi untuknya."

Hal itu menyebabkan Selwyn menggigii tetapi hal itu di-mtupinya dengan gerakan berpura-pura mengibaskan seekor laiat. Lalu ia melipat tangannya di dada dengan sikap agak menantang.

"Baiklah," kata Thome. "Mari kembali ke desa, jelaskan semuanya kepada Bowden. Kita lihat apakah ada sesuatu yang kau ketahui dan mungkin dapat menolong kami untuk me-netapkan siapa yang membunuhnyz."

Orang-orang yang ada di belakang Thorne terlihat tidak percaya dan menganggap hal itu tidak rasional.

"Saya kan baru saja menjelaskan pada kalian," kata ayahnya. "Dan

ingadah, ada beberapa orang yang senang kalau Farold mari." Setelah itu ia memandang tepat ke arah Linton, seperti meminta maaf karena berbicara buruk tentang seseorang yang telah mati di depan sanak saudaranya, atau seperti meng-ingatkan setiap orang bahwa Linton adalah orang yang di-untungkan dengan kematian Farold—karena sekarang ia adalah sanak terdekat yang masih hidup dari penggiling tua yang kaya itu.

6

Linton meludah ke tanah, tampaknya meludahi mereka. Kata Thorne, "Begini Rowe, biarkan Selwyn ikut dengan kami untuk menerangkannya sendiri. Bowden adalah orang yang rasional. Tapi putrinya menangis terus-menerus ..."

Bowden. Ia adalah ayah Anora dan Selwyn tahu karena Anora-lah ia dituduh. Sepanjang musim panas, ia dan Farold berJomba menarik

perhatian dan mendapatkan kasih sayang Anora, dan akhirnya Anora memilih Farold. Oua minggu yang lalu, kedua pemuda itu bertarung di jalan di hadapan semua orang. Atau lebih tepatnya, Selwyn mencoba untuk bertarung, dan Farold—yang lebih besar, lebih tinggi, dan lebih kuat— berhasil menjatuhkannya secara kasar ke atas onggokan tanah seolah-olah Selwyn berusia kira-kka sepuluh tahun lebih tua, dan lebih seperti hiburan bagi penonton. Jadi sekarang, tampaknya setiap orang berpikir bahwa Selwyn telah memperpanjang pertarungan itu.

"Gadis itu menuduhnya?" tanya ayah Selwyn, karena dia tak pernah

berpikir kalau Anora akan bersikap demikian. Selwyn terkejut dengan pikiran itu.

"Tidak,"*kata Thorne. "Aku sudah katakan, kejadiannya semalam: Tidak ada yang melihat. Derian juga tidak mendengar apa-apa,

apalagi dengan suara ributnya kincir air dan ke-adaannya yang setengah tuli itu. Tampaknya pembunuh memanjat dan masuk lewat jendela. Biarkan anakini pergi dan bicara, Rowe. Biar urusannya beres. Kaupikir dengan berlaku seperti ini akan membantu masalah?" Akhirnya—meski Slewyn merasa lega sekaligus takut—I ayahnya mengangguk dan menjauhi sekop.

"Bagus,f kata Thorne kepadanya. "Baiklah. Sekarang kembali ke

rumah dan katakan kepada Nelda dan ibunya bahwa

7

kalian akan kembali pada waktu makan malam." Linton dan dua atau tiga orang lainnya tampak siap untuk protes, tapi Thorne

mengangguk dan berkata, "Ayo."

Ayah Selwyn memegang pundak anaknya dan dua orang penduduk berbalik menuju rumah.

Segera setelah itu mereka melompat dari belakang.

Selwyn jatuh ke tanah dengan keras. Wajahnya menyentuh tanah tan

pa sempat mengangkat tangannya untuk menahan. Seseorang meletakkan lututnya di belakang lehernya dan berteriak, "Ikat tangannya, ikat

tangannya!"

Tangan Selwyn diikat ke belakang, seseorang maju me-nyediakan tali. Hal ini membuktikan bahwa meski Thorne sudah mengucapkan

kata-kata manis, ternyata ia seorang pem-bohong dan sudah merencanakan hal itu sebelumnya.

Sebagian besar dari mereka mengejar ayahnya. Berapalah orang yang diperlukan untuk membawa seorang anak yang kecil, kurus, berusia

tujuh belas tahun yang hanya pernah sekali bertarung sekali—itu pun kalah? Tapi banyak sekali orang yang mengerumuni ayahnya

sehingga Selwyn tidak dapat melihat-nya. Namun dia baik-baik saja, tampaknya memang begitu karena Selwyn mendengar dia menyumpah- nyumpah.

"Rowe," kata Thorne, "Aku bersumpah: Kalau kau buat masalah, akan

kubiarkan mereka memukuli kepalamu, dan kami akan menyeretmu. Selwyn akan baik-baik saja." Thorne baru menengok Selwyn setelah

mengatakan hal itu, benar-benar seperti teman yang dapat dipercaya. "Kami hanya tidak ingin kalian berdua melakukan hal yang bodoh, Rowe." Ayah Selwyn tetap melawan. "Rowe

Akhirnya, mereka mengambil kain yang dipakai Selwyn dan ayahnya untuk membungkus pegangan sekop dan mengguna-

kannya untuk menyumbar mulut mereka, atau menggantikarf rasa tanah di mulut Selwyn dengan rasa tanah dan keringat.

Saat menyumbat mulut Selwyn, mata ayahnya tampak ketakutan, dan hal itu adalah hal yang paling buruk karena Selwyn belum pernah melihat ayahnya takut seperti itu sebelumnya.

Selwyn berjalan dengan lambat dan didorong perlahan menuju desa. Bagaimana dengan ibunya. Selwyn khawatir, kalau ia akan mencari mereka karena tidak kembali untuk makan siang?

Ia berhenti. Meski pun khawatir, ia tetap menengok ke belakang.

Tlba-tiba seseorang memukul bagian belakang kepala-nya cukup keras sehingga membuat lututnya goyah. Seketika itu juga, ia didorong lagi. Tapi seseorang menangkapnya agar ia tegak kembali. Dan

mereka pun terus berjalan.

DUA 4*

Semua orang sudah berkumpul di sekeliling rumah Bowden, si kepala desa. Di dalam rumah, orang penuh sesak dan hal am an dipenuhi

oleh kerumunan orang yang meluap ke jaianan. Lebih ramai dari hari raya.

Thorne mendesak untuk masuk rumah. Se bagi an besar dari mereka yang menjemput Selwyn dapat menyelip masuk, meskipun mereka harus

memaksa keluar orang lain yang sudah ada di dalam terlebih dahulu. Anora, seperti yang dikatakan Thorne, menangis tersedu-sedu dengan kerasnya. Wajahnya yang biasanya rupawan, sekarang sembab dan kemerahan karena air mata. Begitu melihat Selwyn, ia menutup mukanya dengan kain renda di gaunnya—satu-satunya hal yang bisa dilakukannya karena pandangan setiap orang tertuju padanya—dan ia mulai

re

mengayunkan tubuhnya ke depan dan ke belakang di atas bangku-nya. Orang-orang saling menyikut dan menun juk. Derian, rukang

penggiling, paman pemuda yang mati itu menepuk-nepuk kakinya, "Sudah, sudah," dan membelaJak ke arah Selwyn.

"Kami membawa mereka," Linton mengumumkan. Kalimat ini sebenarnya hampir tidak perlu karena setiap orang sudah melihat hal itu.

"Mereka menyulitkan kami." Hal ini adalah sesuatu yang dapat dilihat sendiri oleh orang-orang, karena mereka melihat keadaan

keduanya yang diikat dan mulut yang disumbat, pakaian mereka yang tak karuan lagi dan robek, dan pipi kanan ayah Selwyn yang keunguan karena buku jari seseorang. Tapi Linton selalu berusaha membuat dirinya kelihatan penting. Ia adalah tipe orang yang akan berkata, "Ten tu saja hujannya lebat," kalau-kalau orang tidak memper-hatikan. Dan jika orang memperhatikan, dan menjawab, "Ya, kamj dapat melihat iru," maka Linton akan mencoba meyakin-kan bahwa hujan yang paling lebat telah menerpa rumahnya.

Bowden telah menyalakan perapian, suatu hal yang boros dalam cuaca

sehangat had itu. Namun ia ingin pamer kalau ia adalah orang terkaya di desa itu, dan hanya rumahnya yang punya sebuah ruangan, tidak seperti orang-orang lainnya. Walau demikian, mungkin Selwyn satu-satunya orang di ruangan itu yang sulit mendapat udara segar akibat kayu bakar yang menyala dan orang-orang yang berdesakan. Bowden berdiri perlahan dan bertanya pada Thorne, bukan kepada Selwyn, "Jadi, apa yang dikatakan anak ini?" Mengapa setiap orang terus berbicara di sekitarnyat "Ia ada di rumah dengan keluarganya semalamari,"¦ jawab (Thome dengan sedikit mengangkat bahu yang dapat berarti apa saja.

11

Selwyn pun berpikir tentang Thorne: Hidungmu yang panjang dan matamuyang bersinar membuat kau seperti tikus. Selama mengenalnya, inilah pertama kali Selwyn punya pikiran seperti itu. Bowden,

pikir Selwyn, seperti banteng—malas tapi

berbahaya.

Bowden mendaratkan sorotan matanya yang malas dan berbahaya im pada ayah Selwyn yang mengamuk tidak kaman dengan mulut tersumbat

sambil berjuang sekuat mungkin membuka ikatannya. Ia bertanya kepadanya, "Makan malam hingga matahari terbit: Bersediakah Anda meyakinkan setiap orang bahwa tidak mungkin anak Anda keluar rumah tengah malam sewaktu setiap orang sedang tidur?" Ayahnya

mengangguk penuh semangat, namun Bowden melanjutkan, "Apa-kah Anda selalu menempatkan penjaga rumah untuk memasti-kan dia tidak

keluar rumah, sehingga ia tidak akan terlibat dalam kejahatan?"

Pertanyaan ini tidak dijawab dengan jelas, ya atau tidak.

Ayah Selwyn pun mulai berbicara dengan mulut tersumbat. Tapi tak seorang pun dapat menangkap kata-katanya, dan Selwyn menduga bahwa Bowden lebih tertarik untuk menunjukkan dirinya kelihatan pin tar

daripada mencari fakta-fakta.

"Ayolah, Rowe," kata Bowden, "tidak ada yang menuduh-mu telah mem bantu masalah ini. Setiap orang tahu adanya hubungan yang buruk

antara Selwyn dengan Farold karena purriku Anora."

Anora pun menampakkan wajahnya dari bawah renda gaunnya, tapi menyembunyikan lagi.

Bowden meneruskan, "Anak muda yang berdarah panas— kita semua

pernah melihat hal itu. Aku menyalahkan diriku sedikit karena tidak melihat hal itu sebelumnya dan tidak

mendorong Anora untuk memilih salah satu dari kalian lebih cepat. Namun dengan memilih farold seharusnya urusan sudah selesai. Tapi, Selwyn tidak dapat menerima hal itu. Kita pernah melihat pertarungan yang dipancingnya di kedai minuman Orik. Dan Farold juga pernah memukulnyadisana ..." Bowden menggelengkan kepala dengan sedihnya seakan hendak mengatakan bahwa ia tidak tahan kekerasan, meskipun dia juga salah satu penonton pada ban itu, tertawa dan menyemangati, tidak peduli siapa pemenangnya, benar- benar gembira karena adanya hiburan itu. "Tentu saja dapat dimengerti bahwa Selwyn merasa terhina. Dan sudah semestinya Anda ingin melindungi-nya, anak tunggal, dan segalanya bagi Anda. Rowe, ini bukan kecelakaan karena. naik darah: Selwyn naik ke kamar Farold di tengah malam, menikamnya sementara pemuda itu tidur. Seseorang yang melakukan itu..." Sekali lagi Bowden menggelengkan kepaJanya dengan penuh arti. "Tabiat seperti itu, woh, tak ada jaminan kalau itu tak akan terjadi lagi."

"Tidak!'' Selwyn berteriak. Tapi tak ada satu orang pun me-ngerti karena mulutnya yang disumbat. Ia pun menggelengkan kepalanya untuk meyakinkan bahwa ada orang merasa ragu terhadap apa yang sedang dikatakannya.

"Kenapa sumbatan mulutnya tidak dibuka saja?" usul seseorang. "Sulit mendapatkan jawaban yang benar kalau tidak dibuka." "Buka sumbatan anak itu!M kata Bowden.

Sumbat dilepas, dan tampaklah mulut Selwyn yang kotor dan kering.

"Bukan aku yang melakukan," protesnya. "Ya, waktu aku itu marah karena Anora memilih Farold. Tapi aku tidak begitu membencinya sampai membunuhnya*" Farold sebenarnya tidak begitu menyebalkannya, sekali lagi Selwyn memaksa-

13

lean di ri berpikir demikian, seakan berpiki ran baik dapat mem- buktikan ketidakbersalahannya. Farold tidak sejelek seperti hidung

yang ingusan ketika kita sedang berusaha membuat seorang gadis terkesan. Farold juga tidak sejelek rasa gatal-gatal di pantat kita.

Bowden menyipitkan matanya. "Kau tidak sedang mengatakan bahwa salah Anora sendiri mengapa memilih Farold dan bukan engkau, iya kariT katanya.

Ini yang dihindari Selwyn—membuat Bowden takut kalau-kalau ia

mengejar-ngejar Anora. Kenapa sih dia tidak bertanya dengan pertanyaan yang sederhana dan jawaban yang langsung? "Tidak," katanya. "Yang ingin kukatakan adalah: aku tidak membunuh Farold."

^

Akhirnya Derian memutuskan untuk bicara, "Farold adalah pemuda yang baik," perkataan yang dalam situasi berbeda mungkin akan ditentang Selwyn. Perkataan ini mungkin akan ditentang juga oleh

banyak orang bila dalam situasi yang berbeda. Walau demikian, jika menyangkut Derian, orang tidak pernah yakin berapa banyak bagian

percakapan yang benar-benar ia dengar dan mengerti. Namun penggiling tua itu adalah orang yang membesarkan Farold yang sudah ditinggal mati orang tuanya sejak kecil. Jadi, kalau ia kacau, itu pastilah karena kesedihan dan juga karena tulinya.

Bowden memberi tanda pada seseorang yang berdiri dekat meja.

Sebuah benda diambil dan diberikan lewat tangan derru tangan. "Kau

mengenali ini?"' tanya Bowden'.-'*

Selwyn pikir jantungnya akan berhenti berdetak. "A... k.. .u....n

Tentu saja ia mengenali pisau khusus bergagang panjang itu—pisau

itu miliknya. Hadiah dari ayahnya sebagai tanda bahwa ia telah dewasa. Pisau ini dipakai ayahnya sewaktu

14

berperang, dan tak ada yang menyamai pisau itu di desa mereka.

"Aku kehilangan pisau itu, kira-kira waktu panen." Selwyn melihat sekilas dengan gelisah ke sekeliling ruangan. "Raedan"— ia menangkap satu wajah yang dikenalnya, lalu yang Iain— "Meiton. Kalian ingat kan kalau aku kehilangan pisau-itu. Aku mencarinya ke mana-mana. Aku terus menanyakan apakah ada orang yang menemukannya.''

"Ya," Raedan berkata dengan cepat, dan saudaranya, Merton* juga

mengangguk.

Selwyn menoleh ke arah Thorne—walaupun ia bertampang dan berlaku seperti tikus—tapi kata-katanya akan lebih dihargai, karena lebih tua dari umurnya.

Dan Thome memang berkata, "Aku ingat." Tapi Bowden berkata, "Pada waktu panen, Anora pertama kalinya mengatakan padamu bahwa ia memilih Farold. Hilangnya pisaumu pada waktu yang sama menunjukkan kalau engkau sudah lama merencanakan hal ini." ;

"Tidaki" teriak Selwyn. Mungkinkah mereka salah me-nanggapi dan memutarbalikkan segalanya?

Bowden menyerahkan pisau itu kembali dan sekali lagi benda itu

berpindah dari satu tangan ke tangan lain, tidak langsung ke arah meja karena setiap orang ingin melihat pisau itu. "Di mana kau semalam?" tanya Bowden.

Selwyn ragu. Ia tahu kalau berkata jujur pasti akan me-rugikan dirinya. "Di rumah," katanya berbohong. "Seperti yang ayahku coba katakan pada Anda."

Mendengar itu, terlihat reaksi di dalam ruangan itu: suara

mengeluh yang berdesir di antara kerumuman orang.

Selwyn menebak-nebak sebentar sebelum Bowden berkata: "Seseorang meuhatmu, Nak."

15

Ia berpikir untuk menyangkalnya, dengan harapan Bowden hanya menggertak, atau hanya ada seorang saksi atau seseorang yang tidak yakin atau tidak dipercaya. Namun dia salah mem-perhitungkan dan

membuktikan kepada orang-orang bahwa dia berbohong, dan ini merupakan tamparan yang buruk daripada hal lainnya. Sadar akan

perasaan terluka pada wajah ayahnya, yang juga telah dibuatnya menjadi seorang pembohong, Selwyn mengangguk. "Ya," akunya. "Baiklah. Saya ke luar malam itu. Saat itu belum larut malam. Tapi saya tidak pergi ke dekat-dekat penggilingan, dan saya tidak membunuh Farold." Semua yang dikatakannya benar. "Apakah ada orang yang melihat dan mengatakan bahwa saya berada dekat penggilingan?" Jika mereka mengatakan hal itu, berarti mereka bohong, walaupun ia tidak akan dapat membuktikan hal itu. Namun akan baik bila mereka tahu bagaimana ia bersikap.

Bowden mengangkat tangannya untuk mencegah orang di ruangan itu bertanya. "Aku yang akan bertanya," katanya. "Apakah kau ada di dekat penggilingan?"

"Tidak," kata Selwyn. Ia melihat bagaimana Bowden akan bertanya,

sehingga ia berusaha menjaga agar suaranya tenang: "Kepergianku tak lebih dekat dari jalan kami ke sini hari ini dari daerah pertanian."

Reaksi kerumunan orang lebih jelas sekarang, suara mereka menggumam.

"Di sini?" Bowden bertanya dengan tatapan tajam kepada putrinya sambil menyiratkan bahwa ia akan berbicara dengan-nya nanti, jika

hal itu ternyata benar.; r ¦

"Saya melihat Anora di pasar kemarin pagi. Ia ..." Ia ragu-ragu, tidak ingin melibatkan Anora dalam masalah; dan lagi-pula, mengatakan adalah kata yang terlalu kuat. "Anora meng-

indikasikan bahwa jika saya datang ..." Ia mulai lagi bicara sambil berharap agar kara-katanya lebih dimengerti jika ia memulainya dari arah yang berbeda. "Anora memberi kesan bahwa ... ia tampaknya berpikir bahwa ia mungkin sudah melakukan kesalahan dengan setuju menikahi Farold. Saya pikir ... jika saja kami dapar berbicara berdua saja, ia mungkin akan memutuskan pertunangan." Ruangan itu pecah dalam hiruk-pikuk. "Oh, Selwyn," kata Anora, suaranya lebih dari keluhan, dan tiba-tiba keributan berhenti sehingga orang dapat me-nyimak. "Aku tak pernah mengatakan

begitu."

"Tidak," Selwyn setuju. "Tapi kita berbicara, dan kau ... kau ia memikirkan senyum manisnya dan cara ia meng-angkat kepalanya untuk melihatnya, karena—sama kecil seperti dirinya—gadis itu kurus. Ia juga mencoba mengingat lebih jelas apa yang sudah dikatakan gadis itu.

"Aku hanya mencoba berbaik hati," kata Anora, ada rasa simpati di mata biru pucamya. "Kau tampak begitu sedih ketika kukatakan aku

akan menikahi Farold, setelah ia menekanmu di minuman Orik dan menuangkan minuman di sekujur tubuhmu lalu menjatuhkanmu ke atas timbunan sampah ..."

Terima kasih sudah mengingatkankuy Selwyn tergoda untuk

mengatakannya. Aku hampir lupa bagaimana memalukannya kejadian itu.

Kemudian Anora melanjutkan, "Aku selalu menyukaimu dan tidak mau menyakiti peraSaanmu. Tapi aku bclum pernah mengatakan sesuatu untuk datang semalam."

"Tidak," kata Selwyn. "tapi kupikir..." Selwyn membuang pandangan

darinya, lalu menunduk. Jelas sekali, ia sudah salah tangkap.

17

Bowden berkata kepada Anora, "Jadi kau melihatnya tadi malam atau tidak?" . "Tidak," jawab Anora. Bowden menoleh ke arah Selwyn. "Aku melemparkan kerikil ke daun jendela," kau Selwyn kepada Bowden,"tapi aku khawatir membangunkan Anda atau istri Anda. Jadi aku berhenti."

"Pastilah aku sudah tidur," kata Anora. "Aku tidak mendengar apa- apa." Ia menambahkan, "Tapi aku percaya padamu."

Selwyn takut hanya Anora satu-satunya yang percaya.

Bowden menarik napas panjang dengan gusarnya. "Kita tidak tahu pasti jam berapa Farold terbunuh tadi malam," ia mengingatkan

setiap orang, "apakah Selwyn benar-benar mampir ke sini terlebih dahulu atau sesudahnya. Kita hanya tahu ia terbunuh sekitar jam makan malam—setelah Linton pergi dan Derian naik ke kamar tidurnya di atas—dan sebelum Linton kembali waktu subuh."

" Waktunya cukup lama hingga mayat itu pun kaku," Linton menerangkan, ia merasa dirinya penting karena dialah yang pertama kali menemukan kejadian itu, "namun tak lama kemudian mayat itu berbau."

"Ya, dalam udara sepanas ini mayat pasti mulai berbau," seseorang di ruangan itu berkomentar, suara bisikan kerasnya terdengar. Anora meratap dan lari keluar, satu-satunya cara untuk me-larikan diri dari semua mata yang tertuju kepadanya. Ibunya mengikutinya dari dekat.

"Terima kasih banyak, Orik," kata Bowden. . i Orik mengangkat bahunya dengan malu. Jelas sekali ia jengkel karena kerumunan yang

banyak itu berkumpul di

18

rumah Bowden, dan bukan di kedai minumannya—karena seharusnya ia

dapat menjual makanan dan minuman kepada semua orang. Hal itu berlangsung beberapa saat lamanya, orang-orang memberikomentar dan menawarkan pendapat, dan beberapa dari mereka percaya akan kata-kata Selwyn. Mungkin akan berbeda kalau ia tidak berbohong, tapi itu belum tehtujuga, dan sekarang tak ada lagi

yang dapat dilakukan Selwyn.

Pada waktu tengah hari, tinggal sedikit orang yang me-nyatakan

ridak yakin—mereka adalah teman sebaya Selwyn dan tak disangka im adalah Holt, si pandai besiy—yang di-kesampingkan oleh mayoritas, dan menyatakan bahwa Selwyn pasti bersalah. Bersalah karena ia punya alasan untuk membenci Farold, karena pisaunya yang ditemukan di sana, dan karena— meskipun tak ada yang benar-benar melihatnya

memaniat jendela Farold—ia ada di situ di waktu yang tepat. Itu saja sudah cukup.

Hukum meminta bayaran nyawa untuk nyawa, tapi sepanjang yang diingat di desa itu tak seorang pun pernah di-hukum mati. Beberapa orang berpendapat bahwa Selwyn sebaiknya dikirim ke kota Saint Hilda yang lebih besar. Di sana ada seorang hakim tetap,

seliiingga dapat diatur pelaksana-an suatu hukuman. Namun dijelaskan juga bahwa hakim im mungkin akan meminta pengusutan sendiri; dan hakim itu pasti perlu melihat mayat itu.

Kejadian ini akan menimbulkan bahaya. Desa Penryth terlalu kecil untuk mempunyai seorang pastor khusus dan bergantung kepada biarawan yang berkeliling untuk melayani pemberkatan pernikahan, baptisan anak, dan misa untuk kematian. Namun membiarkan mayat yang belum didoakan

19

dan belum dikubur sampai malam hari—khususnya mayat orang yang

mati dibunuh—adalah mencari masalah. Apa pun yang dikatakan gereja, orang tahu bahwa arwah-arwah di malam hari akan merasuki tubuh yang kosong. Oleh karena im, Farold harus dikuburkan secepatnya.

Maka mereka mendapat ide untuk memecahkan dua masalah tersebut sekaligus: "Kita akan pergi ke atas bukit," kata Bowden dengan suaranya yang berkesan res mi, dan keden^tran-nya seolah-olah sakit paru-paru. "Kita akan pergi ke gua pe-kuburan dan di sana kita akan mengunci korban yang mati dalam kuburan bersama pembunuhnya yang hidup—Farold dan Selwyn bersama-sama."

T1GA

"Saya. tidak melakukannyaT teriak Selwyn, kalimat yang sepan j'ang sore ini dia coba ucapkan. Tapi orang-orang im belum juga percaya padanya. Namun ia tidak bisa hanya berdiri dan menunggu, semen

rara mereka merencanakan cara terbaik untuk membunuhnya. Mulutnya

justru disumbat lagi oleh mereka. Tangannya tentu saja tetap diikat.

Bowden memerintahkan orang untuk mengikat ayah Selwyn pada sebuah

kursi, dan mengatakan bahwa ia akan lebih mudah diawasi setelah semuanya selesai dan berlalu. "Anda dan istri Anda tidak akan dirugikan karena kejahatan yang dilakukan anak Anda," katanya berjanji.

Seseorang bertanya berapa lama kira-kira rencana itu akan berlangsung—pertanyaan yang sangat ingin Selwyn ^ jawabannya. Tapi bersamaan dengan itu mereka seteng

menyeretnya, dan agak mengangkatnya keluar pintu. Selwyn pun tidak sempat melihat ayahnya untuk yang terakhir kali. Aku tidak melakukannya, pikirnya, siapa tahu saja pikirannya yang

bersemangat im dapat diketahui ayahnya. Tapi tentu saja ayahnya

sudah tahu bahwa dia tak melakukannya. *u

Di luar, pancaran sinar matahari tetap me rah jambu dan jingga di cakrawala. Padahal, waktu itu musim gugur dengan sore hari yang biasanya tidak tahan lama dan hampir tidak tampak seperti malam sama sekali. Obor-obor dinyalakan. Selwyn bertanya-tanya apakah satu obor akan ditinggalkan untuknya dalam gua pekuburan. Namun jika ia beruntungdan mad dengan cepat, ia yakin dirinya lebih lama hidup daripada sebuah obor.

Seseorang mengambil kereta kuda—milik Orik, dan ter-cium bau minuman ale yang turn pah dari tong-tong minuman yang bocor dan

telah terserap papan kereta: bau yang cukup kuat sehingga kita tidak perlu ke kedai minuman Orik untuk mabuk. Selwyn dinaikkan ke belakang kereta dan dibaringkan dengan kepala menghadap bawah, supaya ia tidak dapat berbuat macam-macam terhadap orang-orang

yang menjalankan tugas itu. Tapi ia mengangkat kepalanya saat mendengar keributan, sambil berharap bahwa ia dapat membuat dirinya tidak sadar akan apa yang sedang terjadi. Kemudian, kelompok orang kedua keluar dari penggilingan sambil membawa

bungkusan kaku berlapis kain yang seharusnya isinya adalah Farold. Sejenak ia berpikir kalau mereka telah membuat tandu untuk mengangkat mayat itu. Namun sewaktu mereka menempatkan mayat itu

ke atas kereta yang ada di sampingnya, Selwyn menyadari bahwa tukang penggiling bersaudara im tidak perlu sebuah tandu: Kematian telah membuat Farold sekaku kaytt—dan

sebelumnya mereka berhasil melipat tangannya di dada. Selwyn menu

cup matanya dan membuang muka, namun kereta itu teriaJu keciJ untuk menghindari kcpungan lengan Farold, apd-lagi bau mayatnya. Baunya hanya bau ramuan tumbuh-rumbuhan yang dimandikan para

wanita desa sebelum men> bungkusnya dengan kain kafan, kata Selwyn kepada dirinya. Mayat itu belum mulai membusuk—belum. Farold tidaklah seburuk itu, Selwyn mencoba meyakinkan dirinya lagi. Dia tidak seburuk seperti... seperti ... penjahat yang mati di teras rumah Jura? Ide jelek, Selwyn memaki dirinya sendiri. Ini sama sekali bukan waktu untuk memikirkan hal-hal yang me-nyangkut kematian.

Selwyn menarik napas cepat dan pendek—menghirup bau ale, ramuan tumbuh-tumbuhan, kayu dan keringatnya sendiri— dan sewaktu mereka sampai di bukit, kepalanya terasa ringan, tapi tidak cukup pening dan ia pun bingung. Hal itu pun disyukurinya. Tangan-tangan menyeretnya keluar dari kereta kuda, lalu membalikkan badannya dan mendudukkannya di tepi kereta karena tampaknya ia tidak kuat berdiri.

Anora ada di sana juga, menangis dengan kerasnya. Sepanjang jalan Selwyn tidak menyadari keributan yang terjadi di belakangnya, karena deri tan roda-roda kereta, gedebak-gedebuk kaki-kaki kuda di jalan, dan terlebih lagi—degupan jantungnya. Derian Miller

datang j uga, "Aku mau melepas kepergian anak itu," katanya, tentu saja maksudnya Farold, bukan Selwyn.

Namun Thorne bertanya, "Anda mau mengatakan sesuatu ... sebelum kita membaringkan dia?" Derian menggelengkan ;pala.

"Tidak ada," kata penggiling itu. "Ia anak yang baik, ia akan 1 enang."

"Amin," gumam Linton, ingin menganggap ucapan itu sebagai doa agar ia—yang juga sanak saudara yang meninggal— tidak diminta untuk memimpin doa.

"Amin," yang lainnya bersama-sama mengifcucfc'**

Bowden, sebagai pemimpin, seharusnya ada di sana juga. Ia

menggunakan alasan harus ada seseorang yang tinggal untuk mengawasi ayah Selwyn, walaupun alasan yang mungkin ia tidak mau berjalan kaki sepanjang uga mil. Bowden hanya bisa memberi perintah, bukannya melakukan sesuatu. '

Seperti biasa, Thorne mengambil alih ketidakhadiran Bowden, cepat- cepat sebelum didahului Linton. "Adakah yang ingin mengatakan sesuatu atas nama Selwyn?9 tanyanya.

Orang-orang saling memandang dengan tidak enak hati. Tak ada yang memandang langsung ke arah Selwyn.

Linton mendengus.

Holt, si pandai besi berkata, "Ia juga anak yang baik karena

kejadian ini."

Linton mendengus lagi.

Pujian yang begitu bersemangat. Riwayat hidup yang begitu menyentuh. Meskipun akan mati, Selwyn merasa pedih dan marah. Jika

ia benar-benar meninggal dan bukannya dihukum mati, apakah teman- temannya dapat menemukan kata-kata? Selwyn, mungkin mereka akan berkata ... Ia kembali memikirkan eulogi sebelumnya untuk Farold: Selwyn, mungkin teman-temannya akan berkata, ia tidak seburuk penjahat yang mati di teras rumah kita,

Jalan masuk ke gua kuburan adalah buatan orang yang terbuat dari tumpukan tanah dan batu, dan ditutup batu yang ukurannya paling

tidak sebesar kereta kuda Orik. Untuk meng-gerakkannya perlu empat orang, termasuk Holt Blacksmith.

Di belakangnya adalah kuburan tempat penduduk Penryth yang telah

dimakamkan sejak dulu.

Bau pengap busuk dan debu keluar sewaktu pintu terbuka— tidak seburuk, ah akhirnya, bau Farold. Tapi orang-orang meng-ikatkan kain untuk menutupi hidung, ini tanda-tan da yang tidak baik—

betul-betul tanda tidak baik—dua pria membungkuk untuk mengangkat Farold, dan beberapa orang lagi berkerumun di sekitar Selwyn, siap untuk menuntun, menyeret, meng-angkatnya ke dalam kuburan, apa

saja yang perlu dilakukan.

Semestinya ia jalan sendiri—ia ingin orang-orang dapat bercerita kepada keluarganya kalau ia berjalan menuju akhir hidupnya dengan martabat—namun ia mencoba untuk berhenti sebentar dan melihat

Anora terakhir kali nya, meskipun gadis itu masih mcnyembunyikan wajahnya, menangis, dan orang-orang berpikir kalau ia melawan.

Tlba-tiba ia dicengkeram dari bawah kedua lengannya dan ditarik ke depan begitu cepatnya sehingga ia tak dapat menjejakkan kakinya dengan benar, begitu kuat mereka menyeretnya, dan semakin iaber- juang untuk berdiri sendiri, semakin orang-orang itu mengira kalau ia melawan.

Lalu mereka melintasi tanah tidak rata di jalan masuk yang terbuat

dari tumpukan tanah dan batu. Mereka pun menuruni tanah curam yang berliku-liku. Obor membuat bayangan berkelap-kelip di dinding terjal dan langit-langit gua. Kuburan dalam bukit ini telah diukir oleh alam, tapi orang-orang zaman dulu sudah menghaluskan beberapa jalan, meskipun tidak terlalu banyak Beberapa bagian di Jalan itu mudah membuat orang tersandung atau tergelincir. Dan kemudian—- yaampun— bau amat busuk, sehingga seluruh penduduk desa yang sudah mari meneriangnya. Kuburan yang paling baru adalah kuburan

25

Snell—baru setahun mati karena kecelakaan tertebas sabit besar

sewaktu memotong rumput-rumput kering.

Mayat-mayat terbaring di ceruk atau dideretkan di dinding, dan beberapa diletakkan di atas yang lain. Kain-kain kafan telah hancur atau compang-camping, dan sedikit memperlihatkan daging

kecokelatan yang telah hancur atau tulang-tulang.

Selama beberapa menit lamanya mereka berjalan melintasi jalan dengan deretan mayat.

Selwyn mendengar bunyi derakan dan melihat Thome yang memegang

kalti Farold yang tanpa sengaja menginjak sepotong tulang. Linton yang memegang bagian pundak Farold, me-nendang apa saja yang tersisa ke dinding. Sesuatu yang gelap dan berbulu lembut keluar melintas dengan cepat dan meng-hilang ke dalam sebuah celah. Bahkan seandainya Selwyn sedang berjalan dengan kekuatannya sendiri, hal im cukup untuk membuat lututnya seperti mencair. Jalan menikung ada di depan mereka, tapi Linton berkata sambil terengah-tengah, "Cukup. Ya ampun, sudah cukup.* Dan Thorne, yang biasanya senang, membantah apa pun yang diusulkan Linton, setuju.

Ada celah di dinding yang dibuat dari seonggok kain kafan dan dari

bentuknya membuat kita yakin bahwa mayat di dalam nya sudah menjadi tulang-tulang. "Pindahkan yang di sebelah sana untuk yang ini," kata Thorne. i

Dua orang yang menyeret Selwyn memindahkan mayat im karena tempat

im akan dipakai meletakkan mayat Farold, tapi kain kafan lapuk itu hancur di tangan mereka, sehingga menumpah-kan tulang-tulang rapuh seperti kapur dan pecah di tanah.

Thome memberi isyarat bahwa hal im tidak apa-apa, dan mereka sebaiknya tetap memindahkan nya, semakin cepat

semakin baik. Ia dan Linton membaringkan Farold dalam ceruk berdebu itu.

"Bagaimana dengan dia?" tanya Linton, sambil menggerak-kan kepalanya ke arah Selwyn.

"Dudukkan saja dia," peri n tah Thome. Seseorang mendorong kaki Selwyn, dan mendudukkannya dengan keras di atas kerikil hal us lantai gua.

Thorne mengambil sepotong tali yang dililitkan di Ucat

pinggangnya, lalu mengikat mata kaki Selwyn agak longgar. Kemudian ia mengambil pisau belatinya. "Apa yang kauiakukan?" tanya Raedan.

Selwyn tidak sadar ada Raedan di situ sampai ia mendengar suaranya. Jangan hentikan dta, pikir Selwyn, ingin mencegah niat baik Raedan. Apabila Thome mau mempercepat kematian-nya, ini mungkin lebih baik.

Tapi Thome berkata, "Aku akan memotong sedikit tali pengikat pergelangan tangannya."

"Kenapa?" Linton menuntut jawaban. "Kalau kau tidak tahu, aku tak

bisa menerangkannya." Thorne mengiris tali itu, cukup kendor, sehingga Selwyn harus berusaha melepaskannya sehingga ia tak sempat mengikuti rombongan pengubur ke luar, dan hal itu cukup menenangkan hati Thome.

Linton berkata, "Yah, baiklah, pertama-tama ia akan mem-buka sumbatnya, lalu kita harus mendengarkan teriakannya di belakang kita."

"Dan kita harus segera keluar dari sini segera," kata Thorne. "Kita tidak akan dapat mendengarnya jika batu penutup itu sudah ditempatkan lagi." Ia segera berbalik ke pintu keluar gua, dengan obor yang menerangi jalan.

27

Raedan berhenti sebentar untuk meletakkan tangannya di atas bahu Selwyn, lalu bergegas menyusul.

Lalu suara Linton yang melengking ke arah Thorne kembali terdengar, "Aku akan mengatakan hal ini kepada Bowden."

Selwyn berusaha meiepaskan sisa untaian tali. Ia tak dapat kabur, ia tahu itu. Namun ia kalut dan mau mendekat ke pintu masuk, di

mana udara lebih segar, dan bau kematian yang tak sabar menantikannya untuk bergabung, tidak terlalu terasa. Cahaya obor semakin mengecil dan redup, lalu benar-benar

menghiiang. Ia diselimuti kegelapan total—betul-betul tidak ada bedanya seperti saat ia memejamkan mata. Yang tersisa hanya suara- suara: suara tetesan, desiran, garutan. Serangga, katanya, bukan arwah yang marah yang kembali untuk menuntut, "Apa yang telah kau lakukan tethadap tulangku?"

Pildrnya, ia mendengar gaung lemah dari bam besar pintu masuk yang berguling. Atau mungkin bukan. Ia berada j di dalam gua.

Teman-teman dan para tetangganya tadi mungkin sudah setengah jalan menuruni bukit meninggalkan Selwyn. 'Mereka sedang memutar dan menarik,' pikirnya sambil berusaha me-mutuskan tali yang sudah dikendurkan oleh Thorne. Seperti yang sudah diperingatkan Linton, yang pertama kali ia lakukan adalah meiepaskan sumbat. Ia mengatakan pada dirinya sendiri bahwa ia berani. Ia tahu hal im

percuma—bahkan seandainya penduduk desa dapat mendengarnya, tapi memang tidak mungkin—tapi ia tak dapat menahannya. Ia bertertak- teriak dan menjerit memanggil mereka untuk kembali.

Akhirnya lama setelah suaranya serak, ia dapat meiepaskan si mpul

yang mengikat pergelangan kakinya. Ia perlahan berdiri, dan meregangkan tangannya dalam kegelapan. Ia menyeretkan

28

kaki ke depan dengan hari-hati. Kemudian tangannya menyentuh sesuatu, seperti jaring laba-Jaba dan berdebu, yang lebih baik

tetap tidak disentuh. Di sebelah kanan tampaknya bersih. Tapi entah bagaimana rasanya potongan-potongan tulang ada di bawah kakinya, dan kakinya tergelincir. Ia mcletakkan tangannya untuk menahan tubuhnya agar tidak jatuh dan mendarat di atas satu mayat. Kain kafan dan tulang ambruk di bawah tekanan tangannya yang terempas, sehingga mengebulkan kepulan debu berbau tajam. Masih dalam posisi merangkak, Selwyn mundur cepat-cepat, berusaha keras tidak mengisapnya. Tapi sekarang sesuatu melibat di sekitar pergelangan kaki kirinya. Talinya sendiri? Atau salah satu yang membungkus mayat? Atau mayat itu sendiri?

' Selwyn mengibaskan pergelangan kakinya dan berdiri, kepalanya

terben tur. Pastil all langit-langit melengkung men-jorok ke dinding, yang artinya ia perlu mundur selangkah. Tapi ke arah im ada mayat lain. Ke sebelah kiri, dan tulang keringnya membentur bam yang menjorok keluar. Sekali lagi ia jatuh— di atas mayat lagi. Mayat itu menahan be rat badannya, dan memastikan bahwa itu mayat Farold.

Selwyn mem biarkan dirinya jatuh ke lantai. Toh ia tak dapat

menemukan pintu masuk im. Lebih baik ia tetap diam. Lalu, seandainya arwah yang marah benar-benar datang untuk men uduhnya, ia dapat berkata, "Bukan aku yang mengganggu istirahatmu. Pergilah, hantui mereka yang masih hidup!"

EMPAT

3s

Selwyn menarik napas melalui mulutnya untuk me nghi ndari bau

mayat-mayat im. Tapi ia justru merasakan bau im di tenggorokannya, yang membuat keadaan makin buruk saja.

Ia mencoba untuk merencanakan kematiannya sendiri, meskipun ia tahu hal im masih akan lama terjadi. Tuhan tahu ia tidak membunuh

Farold, tapi ada beberapa hal lain yang memberatkan jiwanya dan memerlukan doa. Seperti' ke-banyakan minum ale (sejenis bir tapi lebih keras) dua minggu lalu, dan menghasut Farold agar bertarung, yang tentu saja salah—dan juga bodoh. Selwyn berdoa agar hal im diampuni, meskipun ia merasakan banyaknya luka memar dan hinaan di depan umum sudah cukup untuk menebus dosanya.

Dengan dahi diletakkan di atas kedua lututnya yang tegak dan

tangannya yang didekapkan di sekeliling kakinya, ia juga

berdoa untuk kedamaian mayat-mayat di sekitarnya. Secara rohaniah, ia menekankan kata kedamaian.

Saat itu terasa suatu sensasi yang menjalar di lehernya dan dia merasa bahwa itu pikirannya yang melantur, karena ia tak dapat melihat, atau mungkin saja hanya tetcsan keringat. Tapi hal itu mengganggu dan inilah saat untuk memperhatikan betul-betul, karena setetes keringat adalah hal yang dapat di-kendalikannya. Ia

menyeka lehernya dan memukul suatu benda yang berkaki banyak dan bergeliang-geliut. Setidaknya, ia pikir benda itu sudah mati.

Ia berharap telah memukulnya sampai mati. Ia menepuk-nepukkan dada, tangan, dan bagian-bagian belakang tubuh yang dapat dicapainya.

Mungkin-, katanya dalam hati, akan lebih mudah jika id

berkonsentrasi berdoa ... nanti.

Jam demi jam berlaJu. Suara desiran binatang berlarian ke sana kemari sedang ... ia hanya dapat menebak-nebak, dan ia tidak suka

dengan hal im. Tapi sejauh ini mereka scpertinya malu dan berlarian kalau ia menepukkan tangan atau meng-gerakkan kaki atau berteriak mengusir mereka. Suara im adalah sesuatu yang lebih baik daripada bunyi berisik yang ia dengar dari serangga yang sekali- kali menjalari dirinya.

Ia mendengar kelelawar—setidaknya ia berharap itu kelelawar, dan bukan arwah-arwah yang gentayangan. Lalu mengapa hantu-hantu yang gentayangan di gua ini menunggu sampai benar-benar malam, padahal

di dalam gua ini selalu malam? Apa pun im—Kelelawar, katanya pada diri sendiri, pasti kelelawar-—jumlahnya ada banyak, mengipas- ngipaskan sayap mereka yang keras, mendecit-decit. Ia menunduk dan me-lindungi kepalanya, karena ia pernah mendengar kelelawar yang

H

menyangkut di rambut orang. Tapi yang ini lebih pintax. Mereka menukik ke bawah, ke samping kepalanya, melesat sepertinya

berjarak dua atau tiga jari saja. Mereka pasti ber-maksud ke luar. Ia mencoba mengikuti mereka, dan sekali lagi mememarkan kepala dan tulang keringnya dalam kegelapan, dan akhirnya kelelawar-kelelawar im terbang meriinggalkari dia.

Berjam-jam kemudian mereka kembali, yang berarti pasti di luar sana hampir subuh. Ia menunggu, namun kegelapan di sekelilingnya tidak berkurang. Begim pula dengan dinginnya. Ia begim haus,

tenggorokannya terasa termmp.

Setidaknya ada jalan keluar untuk rasa dingin seperti im, yaim lapisan-lapisan pembungkus mayat-mayat di dekatnya. Tapi lebih

baik ia tetap kedinginan.

"Tenang," ia meyakinkan mayat-mayat di situ melalui gigi-gigjnya yang bergemeletuk "Aku tidak akan mengambil milikmu."

Akhirnya, datang gerakan yang mungkin datang dari kelelawar-

kelelawar, meskipun—setelah memikirkannya—dia tidak yakin malam sudah datang lagi.

Bukan, ini bukan kelelawar, mereka terbang di atas. Ini sesuatu yang bergerak sepanjang lantai, dalam jarak tertenm tapi semakin mendekat. Sesuatu yang menghamburkan kerikil ketika mendekat. Sesuatu yang besar. Rasa jijik dan ketakutan terhadap serangga dan tikus-tikus lenyap seketika karena ia membayangkan hewan-hewan pemangsa yang lebih besar. Ia memang ingin kematian yang lebih cepat daripada mati kelaparan, atau kedinginan, atau kehausan,

tapi ini sesuatu yang akan melompat dan menyerangnya dalam kegelapan dan merobek tenggorokannya, dan ia tidak akan tahu

apakah itu sesuatu yang akan membunuhnya atau tidak

Ini adalah hal yang didapatnya dengan tidak berdoa selagi ia punya kesempatan. Ia pun mencoba memperbaiki waktu yang hilang itu

dengan ikhlas.

Beruang, serigaJa, atau harimau? Atau—bahkan pikiran yang membingungkan—mayat yang iri dengan udara yang dihirupnya, atau darah yang mengaliri pembuluhnya?

Terjadilah semuanya dengan cepat, ia berdoa. Dan terakhir, dengan putus asa: Aku turut menyesal atas segaia-galanya.

Di luar sana, secara luar biasa, terlihat cahaya redup yang

semakin terang bersamaan dengan datangnya suara-suara yang semakin

mendekat. Sebuah obor? Apakah penduduk desa merasa kasihan terhadapnya?

Tiba-tiba Selwyn sadar akan apa yang terjadi: Mereka sudah menemukan pembunuh sebenarnya. Mereka mejjihat betapa mengerikan

kesalahan yang mereka buat dan sekarang mereka datang untuk membebaskan dirinya, pastilah dengan putus asa berharap mereka tidak terlalu terlambat. Tapi...

Tapi kalau memang begitu, bukankah mereka akan memanggil-manggil dirinya, meyakinkan dia bahwa pe-nyelamatan dirinya sudah dekat? Bukankah mereka ingin sekali membiarkan dirinya tahu bahwa mereka datang?

Mereka ini tidak terdengar seperti rombongan, sepertinya hanya satu orang. Bukan ayahnya yang melarikan diri dari Bowden, bukan juga Raedan atau Merton yang menyesal dan datang kembali. Karena jika salah satu dari mereka, ia pasti akan dipanggil.

Pastilah im sebuah alat penerang. la dapat melihat cahaya yang memantul di dinding gua. Ini mengurangi kemungkinan bahwa im adalah binatang yang datang untuk memangsanya, dan ini

33

merupakan pilihan keduanya setelah diselamatkan. Apakah arwah bercahaya? Cahaya im cukup terang, sehingga ia dapat menentukan

tempatnya, menunjukkan padanya bahwa apa pun yang mendekatinya datang dari dalam gua pekuburan im. Cahaya im datang dari sudut. Setelah sehari penuh dalam kegelapan total, sinar terang menyakiti matanya, dan ia mengangkat tangan menutupi mata-nya, berharap im malaikat, tidak akan melukai, dan jika im hantu ... Ia sangat berharap im bukan hantu. ?lr

Ia mengintip dari celah jari-jarinya.

Sesosok berpakaian hitam mendekat,. kepalanya ditutupi kerudung.

Sam tangannya terulur dan alat penerang im ternyata sama sekali bukan obor, meskipun jauh lebih terang daripada cahaya lilin. Selwyn berdebar-debar beberapa saat ketika menyadari bahwa im bola cahaya yang melayang-layang di atas telapak tangan yang terulur, dan tidak tersambung dengan apa-apa. Sam tangan sosok im memegangi ujung kemdungnya untuk menutupi bagian bawah pada wajahnya.

Bukan menyembunyikannya, Selwyn sadar. Tapi menumpi hidungnya.

Tentu saja malaikat yang diperintahkan untuk menemani arwah-arwah mari menuju akhirat, seharusnya terbiasa dengan bau kematian. Dan— Selwyn memaksa dirinya untuk rasional—1 juga seharusnya hanm-hanm yang gentayangan di bumi.'

Sosok itu berhenti. Ia berdiri tepat di hadapannya, melihat ke bawah di mana ia meringkuk di lantai di antara mayat-mayat yang sudah lama maupun yang belum terlalu lama mati.

Tangan yang memegangi kerudung jatuh dan memper-lihatkan kepangan rambut yang putih dan wajah seorang wanita tua. Wanita ma im berkata, "Kau benar-benar kelihatan mengeri-

Jean dan bau sekaJi. Tapi siapa pun yang menguburmu jelas sekali

tak tahu apa-apa tentang orang mati."

KaJimat itu tidak kedengaran seperti ucapan malaikat atau pun hantu.

Ia menelan ludah tiba-tiba, meskipun mulutnya sama sekali kering.

"Apakah kau—" Ia harus berhenti, tenggorokannya tertarik oleh rasa haus dan rasa ngeri.

"Ayo, hati-hati." Wanita tua itu menaikkan sebuah jarinya untuk

menarik perhatian Selwyn. "Kalau kau menanyakan sesuatu yang bodoh, aku akan memukul kepalamu," Ia menekankan hal itu, seolah- olah mereka sudah pernah men-diskusikan sesuatu.

Dengan suara yang getas karena kehausan, Selwyn bertanya, "Apakah

Anda mau menjelaskan sebelumnya, pertanyaan-pertanyaan apa yang bodoh itu?"

Kelihatannya tidak. Dan kelihatannya pertanyaan tadi salah

satunya. Wanita itu memukul sisi kepalanya. "Aduh." "Kan aku sudah memberi peringatan," katanya. .

Ia memutuskan untuk tidak mengambil risiko dengan bertanya hal lain. Dia ingin mengelak mundur, kalau saja ada tempat untuk

mundur. Yang dapat dilakukannya hanya meringkuk sengsara di lantai.

"Pertanyaan-pertanyaan bodoh," kata wanita tua im menjelaskan,

"yaitu seperti Apakah aku mati?' atau Apakah kau mati?' atau

Apakah kau hantu?"'

Bagi Selwyn, pertanyaan-pertanyaan itu terdengar rasional. Mungkin wanita itu dapat melihat apa yang dipikirkannya karena

sepertinya dia sedang bersiap untuk memukulnya kembali.

35

Untuk mengalihkannya, Selwyn bertanya, meskipun tenggorokannya sakit jika bicara, "Lalu bagaimana kalau aku menanyakan Anda:

'Siapa, atau apakah Anda?' Aku tidak bertanya siapa atau Anda itu apa," ia cepat-cepat menambahkan: "Aku bertanya: Apakah suatu pertanyaan yang bodoh kalau aku bertanya: Siapakah atau apakah Anda?'"

Wanita im perlu beberapa waktu lamanya untuk mencerna kalimat im. Akhirnya ia memukul lagi, tapi Selwyn melihat gerakannya dan merunduk, sehingga pukulan wanita tua im hanya mengenai telinganya.

"Im untuk pertanyaan Apakah Anda?' Siapa lagi gerangan aku, di tempat semacam ini, dengan alat penerang seperti ini, mencari sesuatu dari orang mati?0

Selwyn menelan ludah, meskipun ia benar. jelas sekali, wanita itu adalah penyihir.

Wanita tua im melanjutkan. "Tapi aku tidak memukulmu karena

bertanya siapakah aku, karena tak mungkin kau sudah tahu hal im. Namaku Elswyth." Ia lalu memukul lagi.

"Untuk apa im?"

'Agar kau tidak meminta air, yang kelihatannya sangat kau

perlukan." Kemudian ia meletakkan bola betcahaya im di atas kepalanya—atau lebih tepatnya sejengkal di atas kepalanya— dan membuka apa yang dikiranya bongkok punggung wanita tua itu. Sebenarnya im adalah sebuah tas punggung. Cahaya itu menurun dan mengikuti wanita tua im ketika ia duduk di lantai. "Gerakannya lebih lemur dari umurnya yang dapat di-tebak Selwyn. Ia merogoh tasnya dan mengeluarkan kantong kuiit minuman anggur yang diulurkan padanya. Kantong im berisi air, apek dan hangat, dan begitu enak daripada apa pun. Bagian dalam tenggorokannya yang kering membuka, namun

ia tidak ingin kelihatan serakah dan egois—apalagi di depan

seorang penyihir yang dapat menyeimbangkan bola cahaya di atas kepalanya dan punya kecenderungan untuk memukul. "Terima kasih," katanya, sambil mengembalikannya masih setengah penuh. "Habiskanlah," katanya. HItu semata-mata air. Aku belum memantrainya."

Belum pernah terlintas dalam pikiran Selwyn untuk khawatir bahwa seorang penyihir dapat memberinya air yang dibacakan mantera.

Akhirnya ia mengatakan hal ini. Selwyn tetap meng-habiskannya karena bahaya apa pun yang ada di dalamnya sudah diminumnya. "Terima kasih," katanya lagi, jauh lebih lembut.

"Terima kasih kembali.-;

Selwyn menatapi barisan mayat di gua di sekelilingnya dan berpikir sekaligus ingin mengenyahkan pikiran tentang apa yang diinginkan wanita tua im dari orang mati.

Elswyth merasa kasihan dan menjawab pertanyaan tanpa membuat

Selwyn menanyakan nya. "Untuk satu mantraku, aku perlu seikat

rambut orang yang baru mati. Kudengar dari orang-orang, ada yang baru meninggal di Penryth di seberang hutan, jadi aku ke pekuburan gua ini." Ia menatap Selwyn dengan mata menyipit, "Kuharap yang dibicarakan orang-orang itu bukan kau. Tak ada gunanya kalau begitu. Apakah seseorang mengira kamu sudah mat?l"> ¦

b "Tidak," Selwyn meyakinkannya. "Yang mati im Farold." 3a

melambaikan tangannya ke arah mayat itu. Mayat Farold mulai berbau, bau hal us memualkan yang berasal dari sebelah kanan-nya. "Aku di sini sebagai hukuman karena sudah rriembunuhnya -—bukanj^ ia menambahkan dalam satu tarikan napas, "aku

yang membunuhnya. Tapi aku dituduh melakukannya." Ia tidak tahu apa yang dapat disimpulkan dari pandangan yang sedang diarahkan Elswyth kepadanya. Apakah wanita itu mem-percayainya? Atau, karena

ia seorang penyihir, apakah ia lebih senang mendengar bahwa Selwyn benar-benar pembunuh?

Elswyth berkata, "Jadi penduduk desamu menuduh kau membunuh dan

menjatuhimu hukuman mati chVsini di sisi korbanmu?",;.jj Tidak tahu di mana—jika ada—harapan untuk selamat, Selwyn mengangguk.

Elswyth berkata, "Keringat dari dahi orang yang dijatuhi hukuman

adalah salah satu bahan untuk beberapa mantra. Bolehkah kuminta?..

.sebagai balasan air yang kuberi padamu? Aku sangat percaya pada pembayaran karena balas budi." Kemudian ia merogoh-rogoh ke dalam tasnya.

Selwyn melihatnya dengan pandangan ngeri. Elswyth tidak peduli: Baginya, pembunuh atau korban yang tak bersalah dari keadilan yang salah tak ada bedanya. Selwyn berkeringat, meski ia kedinginan ketika Elswyth mengambil secarik kain woiyang diambil dari tas punggungnya dan mengusap dahinya dengan kain im.

"Bagus," kata Elswyth. Ia melipat kain itu dan memasuk-kannya dalam kotak kayu kecil. "Baiklah. Ini akan berguna. Sekarang,

apakah kita akan mendiskusikan balas budimu karena aku mengeluarkanmu dari sini? Aku kira kau mau keluar dan sini—kecuali kau sudah begim dikuasai rasa bersalah hingga yakin kau pantas untuk meninggal dengan cara seperti ini.

"Aku sudah mengatakan pada Anda," Selwyn berkata, "Aku tidak melakukannya.0

Elswyth tanpa reaksi menunggu jawabannya.

38

"Tentu saja aku mau keluar dari sini," kata Selwyn. "Aku akan melakukan apa saja yang Anda inginkan jika Anda me nolongku."

Elswyth memukul kepala Selwyn. "Itu," Selwyn dapat mendengar

begitu dengung di telinganya lenyap. "untuk ketolok anmu dalam hal tawar-menawan Begini saja. Kau berutang padaku satu tahun

melayani: pekerjaan rumah tangga, menebang kayu bakar,

mengambilkan bahan-bahan untuk mantraku pokoknya apa saja yang kusuruh. Selama satu tahun."

"Tidak," kata Selwyn, tiba-tiba menyadari apa yang dapat terjadi padanya.

"Terlambat. Kau sudah setuju sebelumnya. Kau beruntung karena suasana hatiku lagi enak, sehingga aku tidak mengatakan kau berutang seluruh hiduptnu kcpadaku." la menggelengkan kepalanya. "Anak bodoh," ia menggerutu, mulai bangkit. "Dengan cara apa lagi wanita setua aku mencegahmu untuk mengikutiku keluar dari sini dan bebas?" Pikiran betapa bodohnya Selwyn, mendorong wanita itu memukul lagi.

Selwyn melihat gerakan itu,—tapi menyadari begitu bodohnya ia*— Selwyn tidak mengelak.

LIMA

Penyihir Elswyth mengambil sebilah pisau dari tasnya dan sekali

lagi memegangi ujung jubah yang menutupi hidungnya. la mengendus. Sekali endusan untuk langsung menemukan Farold. Semua yang dilakukan Selwyn dalam gelap—-berjalan sepanjang dinding dengan resiko mcmbangkitkan kemarahan roh-roh orang mau yang tersandung oleh nya—telah mem-bawanya kurang dari dua belas langkah dari tempat Farold.

"Tunggu," kata Selwyn berbisik dengan ngeri, melihat iengan Farold

yang terjuntai. "Ia bergerak." mggtli

Elswyth mengendus lagi. Ia berkata kepada Selwyn, "Kau bau sekali. Ia betul-betul bau orang mad."

Tapi kara-kara im sama sekali tidak mengurangi ketakutan

40

41

lengan yang terjuntai dan melipatnya di dada Farold, seakan-akan

ia juga percaya akan adat-istiadat kepantasan. "Mayat akan menjadi kaku," katanya pada Selwyn. Ia menggoyang-goyang-kan lengannya

yang sudah tidak terikat itu. "Lalu menjadi lemas lagi. Tak ada yang perlu ditakuti di sini, kecuali kalau besok mayat ini akan

mulai membusuk dan kita sudah pergi jauh-jauh dari sini."

Dan kecuali, pikir Selwyn mengamat-amati, Elswyth juga tampak jauh lebih berpengalaman mengenai mayat-mayat daripada siapa pun.

Elswyth membungkuk dan memotong seikat rambut cokelat muda Farold, lalu membungkusnya dengan secarik kain wol tak dikelantang dari

tas punggungnya. Setelah selesai ia menyelipkan kain im lagi ke bawah tubuh Farold dengan begitu hati-hatinya seakan menyelimuti

seorang anak yang sedang tidur.

"Urusanku di sini sudah selesai," katanya kepada Selwyn, "kecuali kau mau mencuri pisau-pisau atau cincin atau barang berharga yang

dikuburkan bersama orang-orang ini."

"Tidak," Selwyn dengan penuh semangat meyakinkan nya. Lalu, untuk pertama kalinya ia berpikir mungkin Elswyth memang tidak bermaksud serius dengan semua usul-usulnya»"Tidak," ulangnya dengan lebih

tenang.

Dan Elswyth memang tersenyum.

"Ayo," Elswyth menyapukan bola pijar dari tempamyayang sejengkal jaraknya dari kepalanya sehingga sekali lagi melayang di atas telapak tangannya. "Pelayananmu dimulai sejak sekarang. Kau akan memulainya dengan membawakan tasku."

"Elswyth," panggil Selwyn. Tampaknya meteka sangat akrab, mengingat umur mereka yang terpaut jauh:Tapi Selwyn

Melihat ekspresi wajahnya, Elswyth membentak, "Ia tidak bergerak."

"Maksudku bukan sekarang." Selwyn tidak bersedia mendekat. Bola

ajaib yang melayang-layang di atas kepala Elswyth cukup terang untuk mengusir bayang-bayang, dan hal ini ada untungnya dan juga tidak. "Tapi..." Pertama-tama ia menunjuk ke arah mayat yang ditutupi kain, lalu ke arah lengannya yang dibungkus kain lain, karena Farold sudah kaku sebelum para wanita desa menyiapkan penguburannya. Hal itu yang terakhir kali dilihat Selwyn ketika obor-obor itu dibawa pergi: Farold diietakkan ke dalam dinding, lengannya ditempelkan lurus keluar. Tapi sekarang tergantung ke bawah, masih terbungkus, dan tepinya hampir menyapu lantai. Apakah aku memarahkan lengannya? Selwyn berpikir, merasa ngeri, mengingat bagaimana ia tadi menginjak mayat Farold dalam kegelapan. Apakah arwah Farold akan gentayangan karena hal itu?

Tentunya tidak semarah terhadap siapa pun yang sudah membunuhnya, Selwyn meyakinkan dirinya sendiri. Tentunya orang yang sudah mengalami suatu pembunuhan tidak akan marah pada orang yang secant

tak sengaja memarahkan tangannya.

Elswyth menggelengkan kepalanya sambil menatap Selwyn, seakan-akan seluruh pikirannya terbaca di wajahnya. Jika wanita tua itu

berdiri cukup dekat dengarmya mungkin* h sudah memukul Selwyn lag?. Sambil menekan ujung jubahnya lebih kencang lagi. ia menggunakan pisaunya untuk membuka keliman yang dijahit wanita- wanita desa untuk menjahit pembungkus mayat Farold. Ia mengerutkan wajahnya sambil melihat mayat yang telah berusia dua hafi,tmK— membuat Selwyn mempertimbangkannya kembali. Lalu ia mengambil udakyakih bagaimana memanggil seorang penyihir. Tentu saja bukan dengan "Tuan Putri. Yang Dipertuan Tidak Agung?w1fofia dia menyebutkan namanya Elswyth, entah benar-benar nama-nya atau

bukan.

Ia menoJeh untuk memandangi Selwyn dengan ekspresi wajah yang

tampaknya bukan karena keberatan dengan keakrabannya, tapi ekspresi siap-siap untuk menerima—dan ingin menyelesai-kan cepat- cepat—omong kosong apa saja yang mungkin ia rencan akan.

Selwyn cepat-cepat berkata. "Aku mengkhawatirkan keluargakuJ" > Elswyth menoleh sekeliiing gua kuburan. "Mereka ada di sini?" dengan nada suara yang curiga.

"Tidak," kata Selwyn cepat-cepat, sebelum Elswyth berubah menjadi

tidak percaya pada apa pun yang dikatakannya. "Tapi mereka tahu aku dibawa ke sini."

Elswyth tidak melihat adanya hubungan hal tersebut. Ia memberi isyarat untuk terus menjelaskan sambil menggerak-gerakkan tangannya sehingga bola pijarnya pun ikut bergerak dan membuat pusing siapa pun yang melihatnya.

"Mereka tidak sadar bahwa Anda sudah ...," ia ragu-ragu sejenak, lalu berkata, "menyelamatkanku." Elswyth mendengus. Selwyn menarik

napas panjang. "Mereka tidak sadar bahwa Anda telah menyelamatkanku." Ia berhenti, merasa tak pasti.

"Jadi mereka akan terkejut dan tahun depan akan senang, ya kanln

ia mengatakannya dengan nada yang menyiratkan bahwa ia tidak percaya sepenuhnya kaku hal im yang benar-enar menjadi masalah. Selwyn cepat-cepat berkata, karena wanita itu mulai mem-ikkan badan. "Tapi ayahku ... aku khawatir tentang ayahku.

43

Ia mungkin akan melakukan hal yang gegabah dan bodoh.

Mungkin ia akan berusaha menyelamatkanku sendiri, atau me-nentang

Bowden yang menjatuhkan hukuman seperti ini padaku. Dan Bowden mungkin akan melakukan hal yang sama padanya, atau membunuhnya seketika itu juga."

Elswyth memandangnya sambil termenung.

"Aku khawatir jika ayahku tidak tahu aku selamat, ia akan melakukan hal yang gegabah dan akan membahayakan ke-selamatannya sendiri."

Elswyth berkata, "Apakah kau sedang mencoba meminta sesuatu?"

Ia seorang penyihir, Selwyn mengingatkan dirinya sendiri. Meskipun kenyataannya ia terlihat seperti seorang nenek biasa, ia tidak terbiasa dengan perasaan cinta dan perhatian terhadap keluarga. "Aku minta apakah pengabdianku boleh dimulai besok," ia meyakinkan Elswyth dengan tergesa-gesa. "Aku akan menemani Anda ke mana saja Anda ingin pergi. Tapi aku ingin mampir dulu ke rumah agar orang tuaku melihat aku baik-baik saja, dan memberi tahu mereka aku akan kembali tahun depan."

"Tapi kamu tidak akan kembali tahun depan," kata Elswyth menjelaskan. "Tentu saja penduduk desamu dengan geram akan

mengakhiri hidup yang masih kaumiliki ini."

"Oh.** Selwyn malu karena is-tidak berpikir ke situ. "Ya sudah, aku akan mengatakan pada orang tuaku kalau aku baik-baik saja, tapi tenm saja aku tidak akan dapat kembali ke rumah. Mereka akan

puas dengan hal im, jika memang harus begitu, asalkan mereka tahu aku selamat"

Elswyth menggelengkan kepalanya. "Jika kamu curiga kalau ayahmu

mungkin akan mencoba menyelamatkan dirimu dan membalas dendam, tenm saja orang lain akan punya pikiran

44

yang sama. Mereka akan mengatur orang untuk mengawasi-

riya i

Rasanya suiit bagi Selwyn untuk menerima bahwa wanita itu mungkin benar.

"Jadi," Selwyn berkata dengan putus asa, "dapatkan Anda mengirim kabar kepada mereka?"

"Apakah sebelum atau sesudah ayahmu mencoba rencana gegabah nya dan dihukum karena itu?"

"Baiklah, Anda punya usul?" Selwyn berteriak karena frustasi. "Biarkan duniayang mengaturnya secara alami," kata Elswyth. "Kita tidak membicarakan tentang dunia," kata Selwyn-. "Kita membicarakan tentang keluargaku."

Elswyth memandangnya dengan air muka yang tidak menunjukkan apa yang sedang dipikirkannya.

Selwyn mencoba mengendalikan napasnya yang tidak teratur. "Aku

ingin," katanya, "membuktikan bahwa aku tidak membunuh Farold. Itu satu-satunya cara agar aku dapat kembali. Itu satu-satunya cara agar keluargaku kembali ke keadaan seperti semuJa."

Alis Elswyth terangkat, tanda merasa skeptis, namun ia tidak menentangnya. "Apa yang kauminta?" tanyanya.

"Aku minta waktu setahun yang aku janjikan ditunda sampai aku membuktikan ketidakbersalahanku."

"Dan apa yang kau akan tawarkan untuk membayarnya?"

Selwyn mencoba menilai Elswyth, seperti wanita im selalu jelas menilai dirinya. "Tambahan waktu?" tanyanya ragu-ragu.

"Satu tahun lagi," Elswyth setuju.

Hati Selwyn menciut. Tapi kalau ia dapat bertahan selama sam tahun untuk pengabdiannya, pastilah ia dapat bertahan hingga dua tahun.

45

Elswyth berkata, "Kau akan memberiku dua tahun peng-abdian karena menunda untuk mcmulainya sampai esok pagi."

"Esok pagi?" Selwyn menciut. "Kau minta untuk semalam,"

"Tapi im untuk menerangkan kepada orang tuaku," Sehvyn berkata,

"bukan untuk berusaha membuktikan ketidakbersalahanku." Wanita im mengulurkan tangannya untuk menunjukkan ia sudah bersikap terbuka dan berbaik hati. "Berapa lama itu? Jika kau tidak pernah berhasil, apakah artinya kau tidak akan pernah menjalankan kewajibanmu padaku? Harus ada batas waktu kalau kau akan datang padaku, entah kau berhasil melakukan apa yang kau minta atau tidak." Selwyn ingin mengatakan bahwa ia kira hal im adil, ketika Elswyth berkata, "Sam minggu. Sebagai penukar waktu bebas selama seminggu, kau akan memberiku tiga tahun."

"Tapi ..."

"Jika kau tidak berhasil dengan apa yang kauniatkan im dalam seminggu, apa kaupikir kau akan pernah dapat melakukannya? Jika pada akhir minggu kau merasa hampir membuktikan ketidakbersalahanmu, datang dan bicaralah kepadaku. Kita akan lihat apa yang dapat kita atur selanjutnya."

Selwyn punya bayangan bahwa seluruh sisa hidupnya akan dihabiskan untuk mengabdi.

"Setuju atau tidak?" tanya Elswyth.

"Semju," kata Selwyn karena ia tidak punya pilihan lain. "Kecuali..."

Kaiimat im membuat Elswyth berhenti dan berbalik. 1 Elswyth

mengembuskan napas keras-keras, seakan-akan dia yang selalu kalah dalam tawar-menawar im. "Apa?"

Berapa yang harus kubayar untuk membcli mantra dari Anda?"

Selwyn sama sekali tidak senang dengan senyuman Elswyth karena pertanyaan itu.

"Mantra seperti apa?" tanyanya. "Mantra untuk membuktikan ketidakbersalahanku." "Kau harus lebih spesifik," katanya. Selwyn

menimbang-nimbang. Hanya ada dua orang yang tahu fakta bahwa dirinya tidak bersalah: dirinya sendiri dan si pembunuh. Ia meiemparkan pandangan gugup ke arah mayat Farold yang terbungkus kain kafan. Ya, sebetulnya, dengan menghi tung yang mati ini jadi tiga orang yang tahu. Ia menelan ludah dengan susah payah dan berkata kepada Elswyth, "Anda tahu banyak tentang mayat."

"Aku banyak membaca," ia berkata kepada Selwyn dengan senyuman tak

berdosa.

"Anda tahu bagaimana menghidupkan orang main „' "Tidak," katanya. Tapi ia berhenti dengan hati-hatl Selwyn menahan napas, bukan karena mencium bau tidak enak Elswyth berkata, "Ya, mungkin. Tapi

hanya sementara. Dan itu ter-gantung pada..."

Selwyn hampir tidak dapat bersuara, karena sadar ia men-ceburkan diri ke dalam ilmu sihir paling hitam. Ia bertanya, "Pada apa?"

Elswyth mulai menghitung dengan jari-jarinya yang ber-bonggol, membuat bola pijar ajaib berputar. "Ramuan yang tepat. Dan kebetulan aku membawanya." Ia menggerakkan jarinya yang kedua. "Sudah berapa lama orang itu mati." Ia juga melihat ke arah Farold. "Dalam hal ini mungkin ada suatu

47

komplikasi." Ia menggerakkan jarinya yang ketiga. "Dan keinginan

orang mati im untuk kembali."

Kata Selwyn, "Aku akan memberimu satu tahun dari hidupku untuk membangkitkan Farold dari kematiannya. Hidupkan ia cukup lama agar di depan umum dapat menyata-kan bahwa aku tidak membunuhnya."

"Oh, tidak," kata Elswyth, hampir tertawa karena berapa meng- gelikannya tawaran im. "Pembuatan mantra im sendiri akan membuatmu membayar dengan tiga tahun, entah Farold-mu im memilih untuk mengacuhkan panggilan mantra im atau tidak."

Tiga tahun! pikir Selwyn. Tanpa kepastian apakah akan berhasil atau tidak. Pertama dia sudah menyetujui setahun untuk tindakan Elswyth yang menunjukkan jalan keluar dari gua, dan setahun lagi

karena tidak langsung memulai pengabdiannya segera, dan ...

katanya, "Jika Farold membersihkan namaku malam ini, aku tidak akan memerlukan seminggu ekstra yang sudah kita diskusikan." Elswyth memberikan senyuman menakutkan im lagi. Tapi kau sudah setuju*

Selwyn menggertakkan giginya. Enam tahun. Tapi pilihan apa lagi yang ia punya? Ia mengangguk.

Sekali lagi Elswyth meletakkan bola ajaib di atas kepalanya agar tangannya bebas. "Bawa mayat im ke sini," ia menyuruh Selwyn. "Maksud Anda menyentnruiya?"

Elswyth memukul kepalanya. "Jika kaukatakan bahwa kau dapat memindahkan dia tanpa menyentuhnya dengan sihir," kata wanita im, "Aku akan minta maaf karenanya."

Selwyn menahan napas sebanyak-banyaknya, melenturkan jari-jarinya,

menutup matanya, dan berharap ia akan bangun

48

dari mimpi yang menakutkan itu. Tapi akhirnya ia harus berjalan ke

tempat mayat Farold terbaring, harus meletakkan tangannya di bawah mayat itu, dan harus mengangkatnya— mayat yang terkulai itu. "Jangan khawatir," kata Elswyth, "ia tidak akan pecah sampai beberapa hari lagi."

Selwyn mulai muntah, meskipun ia belum makan sejak pagi satu setengah hari sebelumnya.

Elswyth menunjuk mayat lain yang ditempatkan di dinding dan diletakkan di atas tandu. "Berikan padaku sedikit kayu dari tandu

mayat itu."

Tidak ada gunanya memprotes. Potongan-potongan tulang kering berjatuhan dengan mudah di tangan Selwyn—mayat itu telah lama

terbaring di sana. Walaupun begitu, Selwyn ber-bisik minta maaf. "Berlututlah," kata Elswyth, "dan jangan memotong lingkaran." "Lingkaran apa?" Selwyn mulai bertanya, tapi Elswyth sudah siap menggoreskan sebuah tanda di lantai batu karang dengan bam bercahaya yang diambilnya dari tas punggungnya —sebuah lingkaran yang cukup besar untuk mengelilinginya, Selwyn dan Farold, juga kayu yang sudah dibawanya.j5elanjut-nya, Elswyth mengatur kayu im menjadi tumpukan kecil yang rapi, dan mencoba menciptakan percikan api dengan meng-gunakan bam api, baja, dan sedikit rami.

"Tak dapatkah Anda membuat api dengan sihir?" tanya SeJrwyn. "Kita tak dapat menggunakan sihir untuk membuat sihir," kata

Elswyth kepadanya. "Dan setiap kali kau berbicara,; kau mengisap energi dan membuat mantranya melemah."

49

Selwyn menduga Elswyth mengatakan im agar dirinya diam, tapi ia berhenti bertanya, siapa tahu saja benar.

Begim api menyala, Elswyth mengambil pot tembikar kecil dari tas punggungnya dan menempatkannya di atas api. Ia mengosongkan botol

kecil ke dalam pot: satu cairan merah terang jernih—seperti bam delima yang meleleh, pikir Selwyn; satunya lagi sesuatu yang tebal

ungu kehitaman yang harus dikocoknya dulu untuk dikeluarkan dari tempatnya. Bahan im membuat suara hisapan yang keras ketika akhirnya bergeliang-geliut keluar dan jatuh dengan suara ributpop ke dalam ramuan merah yang sudah bercahaya im. Terdengar suara

«/«*, asap biru, dan bau tak enak yang sejenak membuat Selwyn lupa akan bau tempat ia sedang berada.

Elswyth membuka kain penutup Farold kembali dan memotong lagi segumpal rambutnya.

Kulitnya berwarna kehijauan mengerikan. Tanpa sadar Selwyn

beringsut mundur dengan lututnya. Sambil menatap tajam, Elswyth menangkap petgelangan tangannya sebelum ia memutus lingkaran. Dia sudah berbicara tentang keinginan orang mati untuk kembali dan Selwyn heran. Ia mengira setiap orang mati akan gembira hidup kembali, meskipun untuk sementara. Sekarang, dengan melihat

keadaan tubuh dari mayat yang akan mereka hidupkan, Selwyn menjadi tidak yakin.

Elswyth menempatkan rambut Farold ke dalam pot bet-sama bermacam- macam dedaunan dan bubuk dari tasnya. Akhirnya ia menarik tulang betis manusia yang kering dan putih. Ia melambai-lambaikannya, mengembuskan asap biru dari pot tembikar ke arah Farold dan mulai memanggil-manggil nama Farold.

Selwyn merasakan kepalanya ringan, meskipun tanpa asap.

Dalam lantunan nada yang datar, dia meminta maaf karena mengganggu istirahat Farold dan mengatakan bahwa temannya, Selwyn—yang tidak

merasa membunuhnya—membutuhkan-nya. "Kau mati belum waktunya," ia menyanyi, "terputus, tak adil, tak adil. Temanmu yang menderita mencaripertolongan darimu untuk membuka kedok pembunuhmu."

Ia menyentuh kepala Selwyn, memaksanya melihat Fat old, meski sekuat tenaga Selwyn coba hindari. Ia menyerahkan tulang ini dan menempatkan ujungnya yang lain di atas kening Farold. "Kembalilah," katanya, yang Selwyn bayangkan dituju-kan untuk Farold meskipun ia sedang memandanginya. Elswyth memberi isyarat dan Selwyn menyadari bahwa ia harus meng-ulangi kalimat im. "'Kembalilah,*" dia mencicit.

"Gunakan ramuan ini..., kata Elswyth mengembuskan asap.

"'Gunakan ramuan ini...,"* Selwyn mengikuti. "Dan kekuatanku..." Itu menjelaskan mengapa ia membantunya. Tapi Selwyn mengulangi kata-kata itii: "'Dan kekuatanku.. .,w Apakah hanya imajinasinya

saja, atau ia benar-benar merasa lebih lemah? Tak ada pilihan lam, katanya mengingatkan diri sendiri.

"Dan masuklah ke dalam tubuh ini," Elswyth menyelesai-kan kalimat

itu, sambil mengisyaratkan Selwyn untuk membuat tulang itu tetap menyentuh Farold.

"'Dan masuklah ke dalam tubuh ini.'"

Tapi pada saat Selwyn berbicara, tiba-tiba terdengar suara bising

dalam gua, gempar. Tubuh Selwyn melompdn siap untuk bertahan kalau ada serangan.

Suara itu hanya kelelawar-kelelawar yang sekali lap berputar-putar keluar karena matahari sudah menghilang dan malam sudah tiba.

Dalam sekejap Selwyn puhh, tapi satu dari kelelawar itu—yang biasanya cerdas dan luwes malam

sebelumnya—terjatuh di pangkuannya.

"Ahh!" suara Farold berteriak kecil dengan oktaf yang amat ringgi.

"Apa yang sudah kau lakukan?"

Selwyn melihat tulang yang diberikan Elswyth kepadanya, yang tanpa disadarinya terangkat dari alis Farold dan—sekarang— menunjuk ke

arah atas di mana sekumpulan kelelawar menukik dan menyambar dan terbang di atas lengkungan depan, masuk ke dalam gua besar. Mereka meninggal kan seekor kawanannya.

Elswyth meraih mayat Farold yang tetap kaku dan kelelawar yang

mengepak-ngepakkan sayapnya. Ia gusar dan terus mencoba untuk berdiri sendiri. Ia memukul Selwyn keras-keras. "Dasar bodoh!" teriaknya.

ENAM

Kelelawar itu kesulitan untuk berdiri tegak. Karena tak dapat berdiri seimbang, ia terus mengepakkan sayapnya, tapi ini hanya membuatnya sedikit naik ke atas tanah, kuat, berhenti mengepakkan

sayap, jatuh ke tanah, dan terguling. Lalu men-cobanya lagi. "Bodoh?" kelelawar itu mengulangi kata-kata Selwyn, suaranya kecil tapi betul-betul suara Farold. "Bodoh? Lebih dari bodoh itu namanya!"

Sehvyn mengulurkan tangannya untuk menolong kelelawar itu tersandung.

Sebagai balasan, makhluk itu malah menendangnya. Tapi ia mulai

terbang, satu kaki kecilnya terangkat, mendengking, "Oh, oh, oh, oh, oh! Dasar kamu pengganggu!" Kelelawar itu berusaha menendang Selwyn dengan kakinya yang satu lagi. dan menggeletak di atas punggungnya.

Selwyn mengulurkan jarinya, dan kelelawar itu tampak enggan memeganginya untuk bangkit berdiri. la lebih meng-gunakan ibu jari kecilnya di pinggir sayap-sayapnya sebagai tangan. Selwyn

memandang kelelawar itu dengan telinganya yang lebar dan hidungnya yang besar, lalu ke arah mayat Farold, lalu ke Elswyth. "Apa yang terjadi?" tanyanya tak berdaya.

"Apayang terjadi kelelawar im menjerit. "Apa yang terjadi

Pertanyaan bodoh apa itu? Selwyn Roweson, dasar goblok, mestinya kamu dapat melihat apa yang terjadi. Dasar goblok" Masih berpegangan pada jari telunjuk Selwyn, ia menendang tulang tangan kanan Selwyn, meleset, lalu merasakan dirinya terangkat dari tanah, bergantung-gantung pada ibu jari Selwyn.

Tenm saja Elswyth berpihak pada kelelawar itu. Ia merenggut tulang dari tangan Selwyn lalu mengacung-acungkannya ke arah nya. "Kan

sudah kukatakan untuk mengacungkan ini ke arah mayat itttr*'*

"Yah, sebetulnya," Selwyn membenarkan, "Anda tidak terlalu jelas mengatakan ..."

Wanita im memukul kepala Selwyn dengan tulang im sekali lagi. "Ya," ia setuju supaya aman. "Ya, Anda mengatakannya."

"Lalu mengapa kau pergi dan mengacungkan nya ke arah kelelawar- kelelawar?"

"Aku tak sengaja," kata Selwyn. "Hanya saja, kelelawar-kelelawar im tiba-tiba membuat suara ribut yang membuatku takut." "Membuatmu takut?" Elswyth dan kelelawar memekik bersamaan.

Elswyth mengacungkan tulang im ke arah kelelawar dan berteriak ke arah Selwyn, "Lihadah dia. Ukurannya kurang lebih sebesar jarimu. Apa yang sebetulnya membuatmu begitu

54

55

"Terima kasih banyak, profesor." Kelelawar itu meludah ke tanah. "Itu betul-betul potongan informasi yang tidak berguna untuk

kekacauan ini. Aku kelihatan seperti makhluk pengerat, aku merasa seperti makhluk pengerat—siapa sih Anda hingga berani mengatakan aku bukan mahkluk pengerat, Anda kan hanya penyihir tua!"

Selwyn melihat kilatan tersinggung di mata Elswyth. la menarik

tangannya supaya kelelawar im dapat mencoba melari-kan diri, tapi ia tetap berdiri, goyah tapi menantang.

Elswyth mengangkat tulang itu, yang memang cukup besar untuk mengirim kelelawar im-—atau Farold yang ada dalam tubuh kelelawar—

kembali ke tempat di mananya. Tapi ia merasa kasihan terhadap makhluk berukuran mungil im dan sebagai gantinya ia memukul Selwyn.

"Pantas saja seseorang membunuhmu," kata Elswyth kepada Farold sewaktu Selwyn mengelus kakinya yang dipukul tapi tidak berani mengeluh bahwa serangan terakhir im tidak adil. "Kau potongan kecil yang menyebalkan."

Kelelawar im berdiri tak bergerak selama beberapa saat. "Im betul," katanya akhirnya, jauh lebih tunduk. "Aku sudah dibunuh. Begitulah aku telah meninggal. Aku mendengarmu memanggil-ku, oleh sebab im aku kembali."

"Betul," kata Selwyn, senang dapat kembali ke topik pem-bicaraan yang seharusnya. "Kami memanggilmu kembali supaya kau dapat mengatakan siapa yang melakukannya."

Kelelawar si Farold im berkata, "Kupikir kalian memanggil-ku ke sini supaya kalian dapat mengatakannya kepada^w."

"ApaT Elswyth membentak.

"Kamu tidak tahu siapa yang membunuhmu?" tanya Selwyn dengan ngeri.

kerakutan sampai kau harus pergi dan mengacau-balaukan mantra itu?"

"Suara ribut itulah yang mengagetkan aku," protes Selwyn. Mengapa ia selalu membuat segala sesuatunya seperti itu sehingga ia

kelihatan bodoh?" Aku tidak takut terhadap seekor kelelawar." Ia memutuskan untuk tidak mengatakan bahwa sekawanan kelelawar sedikit lebih menakutkan daripada seekor kelelawar. Kemungkinan besar, Elswtyh tidak merasa terancam oleh berapapun jumlah kelelawar, dan kelihatannya ia ingin mempergunakan tulang itu di kepalanya lagi. Katanya, "Jadi arwah Farold kembali ke raga yang salah? Arwahnya masuk ke dalam raga kelelawar? Dapatkah kita membatalkan mantra im?

"Tidak," kata EJswyth dengan nada yang mengindikasikan bahwa

sekali lagi dia memang bodoh. Dan kepada Farold dia berkata, "Kelelawar tidak berdiri, jadi berhentilah mencoba."

Mati saja ternyata belum cukup," kelelawar im mengeluh, tetap mencengkeram jari-jari Selwyn dan melompat ke atas dan ke bawah

dengan marah-marah, "dan sekarang aku harus menjadi hewan pengerat juga?" "Aku minta maaf," kata Selwyn.

"Sebenarnya," Elswyth berkata, tampak berpikir serius, "kamu

tidak."

Selwyn dan kelelawar im saling berpandangan. "Apanya yang tidak?" kelelawar menuntut jawaban. "Dia tidak menyesal?"

Elswyth mengangkat bahunya. "Itu aku tidak tahu. Tapi kamu bukan

hewan pengerat." "Aku kelelawar,"

"Hal im betul-betul sangat berbeda. Kelelawar mempunyai muka seperti tikus, tapi mereka betul-betul jenis yang berbeda dari

hewan pengerat."

56

"Aku kan sedang tidur, dasar bodoh, Itu terjadi di tengah malam,

hari geiap, dan"—kelelawar itu memukul tangan Selwyn dengan sayapnya, seakan lupa ia punya sayap, dan bukannya tangan—"jika

kau melihat sebelum semua ini terjadi, kau pasti melihat kalau aku m'tikam dari belakang"

Selwyn meletakkan keningnya di telapak tangannya. Elswyth melemparkan tulang itu, bahkan terlalu'|f|ik untuk dipukul. "Karena betapa menggelikannya ini semua," Farold meng-umumkan, "melihatmu bertindak bodoh lagi, Selwyn, menemui penyihir tua di sini, kupikir aku akan kembali sekarang. Ke-hidupan setelah kematian kelihatan jauh lebih masuk akal daripada apa yang kaulakukan."

"Tunggul* teriak Selwyn. Enam tahun. Ia baru saja mem-berikan enam tahun hidupnya—untuk dihina oleh Farold, dipukul oleh Elswyth, dan berakhir tanpa kemajuan sedikit pun dibandingkan keadaan pada

waktu semua ini dimulai. "Tapi kamu hendak menemukan siapa yang membunuhmu. Itulah sebabnya kau kembali, katanya begitu."

"Dari yang aku tahu, dapat saja kamu," kata Farold. Elswyth berteriak putus asa. "Apa-apaan sih ini—apakah ada sesuatu di air

minum kalian sehingga setiap orang di Penryth bodoh? Mengapa dia mau membayar untuk membawa-mu kembali jika ia yang membunuhmu?"

Farold tidak bertanya apa yang harus Selwyn bayar. "Kupikir begim," katanya setuju.

"Jadi pembunuh yang sebenarnya bebas, dan aku disalah-kan?" kata Selwyn. "Dan Bowden memutuskan aku untuk mau di sini di gua bersamamu."

57

"Kupikir Bowden tidak akan membebaskanmu," kata Farold sambil mengepakkan sayap kelelawarnya. "Dia akan merasa yakin kalau hal ini adalah sebuah tipuan. Atau dia akan menangkapmu dengan tuntutan melakukan sihir."

Selwyn tidak membantah, kerena ia sedang memikirkan bagaimana cara bereaksi jika ia datang membawa kelelawar yang dapat berbicara dan mengaku sebagai orang yang sudah dibunuh. Tapi untuk menunjukkan

Farold bahwa ada untung-nya bagi Farold juga, ia berkata, "Tapi kalau kau membantuku, mungkin kita berdua dapat menemukan siapa pelakunya dan kamu dapat beristirahat dengan lebih tenang di kehidupan setelah kematian."

"Aku sedang beristirahat dengan tenang," gerutu Farold, "sampai kau mengganggu aku." Tapi lalu ia berkata, "Baiklah, mengapa tidak? Lagipula aku ingin sekali lagi melihat Anora."

Dengan disebutnya nama Anora dari mulut kelelawar kecil itu, Selwyn merasa.. .ia tak yakin apa itu. Perasaan yang tidak baik, apa pun im: gelombang rasa cemburu, marah, merasa bersalah karena senang, karena sekarang Farold, yang tentu saja bukanlah seorang saingannya.

Elswyth tersenyum manis dan membalas den dam terhadap Farold yang sudah mengucapkan kata-kata kasar kepadanya tadi. Katanya, "Kalau

begim kupikir bagus juga kau ada di tubuh yang sekarang ini; Mayat berusia tiga hari akan membuat kesan pertama yang buruk."

"Dasar penyihir tua jelek," ulang Farold.

Sambil memandangi Farold, kemudian Selwyn, Elswyth berkata,

"Kalian berdua memang cocok." TUJUH 4*

Selwyn membungkus kembali mayat Farold, karena ia terus saja

mencari kesalahan dan membuatnya kesal, misalnya mengeluh kalau Selwyn tidak melakukan pekerjaannya dengan sikap hormat sebagaimana mestinya. Memang sulit sekali bersikap penuh hormat sambil berjuang menahan muntah. Kemudian Selwyn memutuskan bahwa mulai saat ini ia akan menghindari situasi yang mengharuskan ia menyiapkan mayat yang bisa mengkritiknya.

Ia meletakkan kembali mayat itu—tangannya kini terlipat rapi di

atas dada—ke dalam ceruk dinding, dan ini artinya mereka akan bersiap meninggalkan gua. Tapi tampaknya tidak.

"Apa?" tanya Farold. "Apa kita tidak berdoa dulu?" a Elswyth menarik napas dalam-dalam sambil tetap menunggu.

59

Selwyn mengucapkan sesuatu yang pernah dikatakan paman Farold, Derian, di mulut gua, "la anak yang baik dan akan selalu dikenang." "Itu saja?" I

Selwyn tampak siap menghadapi kematahan, tapi Farold sepertinya

putus asa. Selwyn tidak sanggup memperlihatkan padanya bahwa dirinya telah cukup baik meniru Derian. Ia pun merasa tidak pan

tas mengatakan, "Di sinilah terbaring Farold. Ia tidak seburuk monster yang wafat di bawah teras." Namun ia hanya berkata, "Sulit memusatkan perhatian kalau kau me-nyimak sambil berdiri di sana." "Aku bersedia membantumu," kata Elswyth, "pada waktu kami menurunkan mayatmu selama-lamanya.

Farold pasti tidak merasa terhina dengan ancaman itu, pikir

Selwyn.

Namun tetap saja sulit untuk meninggalkan tempat itu. Dalam tubuh kelelawar, Farold juga menemukan kesulitan yang sama untuk terbang, sama seperti pada waktu ia mencoba berdiri tegak. "Biarkan pikiran kelelawar mengaturnya," usul Elswyth. "Mahkluk itu tahu bagaimana cara terbang."

"Tidak ada yang ingin ia sampaikan," kata Farold. "Yang ia inginkan hanya keluar dan memangsa serangga kecil bet sama

rombongannya yang lain."

"Rombongan?* ulang Elswyth dengan penuh penghinaan, "Kawanan, kelompok, apa pun nama segerombolan kelelawar." "Sekumpulan," kata Elswyth. "Sekelompok kelelawar disebut

kumpulan. Tadinya aku ingin bilang kau berpikir terlalu banyak, tapi sudahlah."

"Makan serangga lalu buang air besar," ujar Farold sambil

menertawakannya. "Dasar sok tahu!"

"Sambil bergelantungan di bawah jari-jari mereka," tarn bah

Elswyth, tiba-tiba ia menyerangnya dengan pukulan.

Tampaknya nada kebencian dan gerakan Elswyth yang sekonyong-

konyong itu cukup menakutkan Farold, sehingga otak kelelelawarhya berhasil mengambil alih. Ia mengepakkan sayapnya dan terbang ke pundak Selwyn, menjatuhkan sesuatu—seperti yang tadi ia katakan— kotoran kelelawar di man a-man a.

Selwyn tidak menyanggah. Ia tidak ingin berkelakar tentang apa pun yang akan menundanya keluar dari gua tersebut. "Kau bisa berlatih terbang begitu kita di luar," ujarnya pada Farold. Lalu kepada

Elwsyth. "Tenang saja, aku akan membopongnya."

"Kau juga harus membawa tas punggung itu!" Elswyth mengingatkan. Kemudian Selwyn menunduk untuk memungut tas itu, dan ternyata

isinya lebih berat daripada dugaannya, dan lebih besar. Ia membutuhkan waktu untuk melemparkan bungkusan itu ke punggung dan mengatu r tali di pundaknya—dan Farold menggerutu karena merasa tidak nyaman berpindah ke sisi pundak yang Iain—dan pada saat itu Elswyth berjalan men-dahuluinya.

"Jangan sampai ketinggalan," sanggah Farold. Segala sesuatu yang

Farold katakan terdengar seperti sanggahan. <>

"Oh," ujar Selwyn, seolah-olah hal itu tak pernah terpikir olehnya sama sekali. "Baiklah kalau begitu."

Farold tidak menyadari kekasaran itu dan hanya meng-gumam. " Dasar tolol!"

Elswyth men ggi ri ng mereka jauh ke dalam gua, dan lentera di atas kepalanya mengayun seiring dengan langkahnya yang cepat dan pasti. Bau yang mcnyengat semakin berkurang,

61

karena mayat-mayat yang teronggok sejauh ini telah tinggal sangat lama dan sebagian besar telah menjadi debu. Jalan semakin menyempit dan bahkan semakin berkelok.

Lalu Elswyth menundukkan kepalanya dan melangkah sepanjang celah dinding, sehingga lentera ajaibnya mulai me-redup.

" Tub kariy gara-gara kamu," sergah Farold.

"Tidak ada yang lebih buruk daripada seorang pengkhianat, kecuali pengkhianat dengan penglihatan mata kelelawar yang buruk di malam hari: Farold mengangkat bahu dan meninggalkan Selwyn di tengah kegelapan.

Selwyn bergegas ke celah dinding. Ia dapat merasakan sesuatu dengan jari-jarinya, namun ketika ia melangkah seperti yang di lakukan Elswyth, tubuh nya tidak bisa masuk

Tas, ia menyadarinya; taslah yang membuat ia menabrak dinding dan

menahannya. Ia segera meiepaskan tas im dari punggungnya, memeganginya dengan tangan kan an, dan me-nyandarkan bahu kirinya ke dalam celah dinding. Ia berjalan tergopoh-gopoh ke pinggiran gua, sambil merasakan bam yang ada di punggung maupun di dadanya. Tidak ada waktu untuk panik karena ada kemungkinan ia akan

terjebak di antara bam yang tidak dapat bergerak: Ia yakin Elswyth tidak akan memiliki kesabaran untuk kembali hanya untuknya. Dua

seretan langkah. Tiga. Lalu dinding bam pun hilang, baik yang mendorong punggungnya maupun yang ada tepat di mukanya.

Saat im masih gelap, tetapi ia dapat melihat bayangan, dan

bayangan yang lebih gelap, yang berarti lebih banyak lentera dari sebelumnya. Yang lebih menyenangkan lagi, udara terasa dingin dan segar, dan tercium aroma daun yang berguguran serta buah apel. Ia menengadahkan wajahnya dan melihat setitik cahaya.

62

Kini ia sudah ada di luar, memandangi langit malam hari.

Elswyth menepuk belakang kepalanya. "Apakah kau akan berdiri saja

di situ sepanjang malam sam bil memandangi bin tang-bin tang im?" Elswyth tidak akan merusak suasana hatinya. Sekarang ia ada di luar. Tcrnyata la tidak akan mati. Paling tidak dalam beberapa

hari ini. Atau setidaknya bukan seperti yang ia ketahui. Lagipula,

ia tidak akan kesepian di dalam kegelapan karena cukeJiiingi oleh

orang-orang yang telah mendahuluinya. Sekarang ia telah berada di luar.

Walaupun tidak tampak adanya tanda-tanda kehadiran, Farold tidak mengurangi kegembiraannya. Ia yakin Farold tidak akan punya pikiran untuk berkeharan jauh-jauh.

"Ini tidak menyenangkan, tahu," kata Elswyth padanya sambil mengambil tas seolah-olah ia yang membawanya hingga jauh ke sini tanpa Selwyn, dan seolah-olah ia terbiasa membawanya sendiri sebelum bertemu dengan Selwyn. Dengan jemari-nya ia menorehkan lingkaran pada dahi lelaki im. "Tujuh hari sebelum lingkaran tutup," katanya, menggunakan suara yang ia telah kenali sebagai suara penuh kekuasaan. Kemudian Elswyth mengitarinya dan jarinya masih tetap menyentuh, sehingga ia kembali menoreh lingkaran lain, kali ini melingkari kepalanya, dari dahinya, ke sepanjang telinga kiri, lalu belakang kepala, ke telinga kiri dan kembali ke

dahinya. "Tujuh hari, dan kau akan tertarik padaku." Ia

menggerakkan jarinya turun melewati hidung, bibir, dagu, dan leher, lalu membelok ke kiri, tempat ia membuat lingkaran di atas jantungnya. "Tujuh hari, dan kau akan datang kepadaku." Ia menyandarkan telapak tangannya ke dada lelaki im.

Selwyn merasakan detak jantungnya berubah, iramanya berganti—tiba- tiba ia menyadari tanpa mengetahui bagaimana

63

ia dapat mengetahui hal im—mengikuti detak jantung perempuan

itu.

Elswyth menarik tangannya, merapikan ranselnya, dan mulai berjalan.

"Tunggu," panggil Selwyn. Ia belum pernah kemari sebelumnya. Jauh di lekukan lereng tempat gua penguburan; ia belum pernah mendengar tentang pintu masuk kedua ini* Jetapi ia dapat mengenali daerah

ini karena sebuah bukit tihggi yang bernama Kakek, entah kenapa

bentuknya menyerupai bentuk seorang kakek yang berjanggut. "Penryth ke arah sana."

"Pergilah ke arah sana," ujar Eslwyth tanpa menoleh sedikit-pun ke

belakang. "Datangi aku dalam waktu tujuh hari." u

Tampaknya ia tidak berniat untuk menjauhkan Selwyth dari masalah yang mungkin akan menimpanya: harusnya ia sudah dapat menebak hal im. "Tetapi aku tidak tahu tempat tinggal-mu." Selwyth mengambil

beberapa langkah agar suaranya dapat terdengar. "Setelah hutan." Sepertinya teriakan itu tidak me-nolong sama sekali: seluruh wilayah ini adalah hutan lebat. Satu-satunya penyihir yang pernah ia dengar di sekitar daerah ini tinggal di desa Woodham. Tetapi penyihir im mungil, bungkuk, dan menurut orang-orang, ia cebol dan hanya bermata sam. Sedangkan Elswyth berambut putih dan

berkeriput, berdiri tinggi dan tegak, dan tak sam pun dari matanya

yang tampak rabun. ,. "Di dalam hutan beiantara," Elswyth membetulkan. Kemudian ia menoleh menatapnya. "Kau akan temukan

aku." Ia mengangkat tangannya ke arah Selwyth, lalu ke Farold, kemudian meletakkan tangan di dadanya. Jantung Selwyn berdetak dengan an eh dan terasa sakit. "Dalam tujuh hari, kau akan tertarik padaku di luar kendalim u. Kau tidak akan sanggup menghindar untuk mencariku." .

64

Ia menjatulikan tangannya dan detakan jantung Selwyn yang liar pun berhenti. Dengungan yang semula memadati kepalanya hilang,

denyutan pada otot tangan dan kakinya berhenti} dan kini ia dapat

bernapas.

Elswyth membalikkan badannya kembali dan Selwyn bisa saja membiarkannya pergi, tetapi sesuatu memukul bagian belakang kepalanya.

"Aku kesulitan mendarat," kata Farold. "Rasa serangga-serangga itu tidak enak. Apa kau pernah memakannya? Kenapa kau tidak bisa menciptakan kelelawar yang memakan buah-buahan? Apa rencana lata hari ini? Apakah kau akan mem biarkan Elswyth pergi sebelum kau membuat rencana? Buatku im kurang cerdik. Bagaimana kalau kau

masih membutuhkan kekuatan gaibnya sedangkan kau telah membiarkannya pergi?"

Akhirnya, seseorang berhasil bicara sesuatu yang menarik perhatian Elswyth.ttApakah kau membutuhkan mantera lagi?" tanyanya, sambil berbalik.

Selwyn dapat menebak arah percakapan im. "Tidak," ia meyakinkan

perempuan im.

"Ya," kata Farold, kembali mendarat di pundak Selwyn. Selwyn memukulnya. "Kalau kau ingin membuat ke-sepakatan dengannya, kau

urus saja sendiri."

"Aku tidak membutuhkan kekuatan sihirnya," kata Farold. "Kau yang bumh." Sebelum Serwyn melawan, Farold melanjut-kan, "Aku dapat berjalan—konon—ke Penryth dan tak seorang pun akan mengenaliku.

Itukah rencanamu? Agar aku menguping dari jendela rumah orang dan mendengarkan seseorang berkata sendiri, 'Wah, wah, hari Selasa lalu aku mem-bun uh Farold dan tak seorang pun mengetahuinya. Apa yang

65

harus aku lakukan untuk bersenang-senang hari Selasa nanti? Mungkin aku akan bunuh Bowden,' lalu aku akan memberi tahu Bowden

atau siapa pun yang akan membunuhnya dan kita akan tetap berbaring di sini sambil menunggu serta me-nangkapnya, kemudian ia mengaku telah membunuhku sehingga semua orang tahu bukan kau pelakunya,

dan kau bisa kembali. Itukah rencanamu? Karena begim orang-orang me-lihatmu, bagaimana reaksi mereka menurutmu? Aku pikir mereka tidak akan mendengarkan satu pun yang kaukatakan dan mereka memutuskan tidak akan mengambil risiko dengan mengembalikanmu ke dalam gua, karena jelas-jelas kau sanggup keluar dari sana. Maka mereka akan melanjutkan rencana mereka dengan melempari kau bam

atau memenggal kepalamu —yang mungkin tidak mereka lakukan dengan benar pada waktu pertama kali, karena mereka tidak punya pengalaman sama sekali."

Elswyth berkata. "Kelelawar im benar juga."

"Bukan im rencanaku," kata Serwyn.

"Apa?" tanya Elsywth dan Farold bersamaan.

Selwyn mencoba berpikir.

"Kau harus menyamar," kata Farold.

"Itu tidak memerlukan kekuatan sihir," kata Selwyn.

"Dari mana kau bisa menyamar tanpa kekuatan sihir?" tanya Farold. "Dan bagaimana kau yakin orang-orang tidak akan mengenalimu kecuali ia mengubahmu dengan kekuatan sihir?"

"Baiklah," kata Elsywth. "Selama sam tahun?"

"Aku tidak mengatakan ya," Selwyn cepat-cepat menyanggah. "Menurutku, kau dapat saja kembali ke sana"—Farold mengibaskan salah satu sayapnya ke arah gua penguburan— "dan berganti baju dengan menelanjangi salah sam jenasah itu.

00

Mungkin seseorang terkubur dengan mengenakan topi dan kau bisa memakainya untuk menutupi wajahmu sambil berharap tak seorang pun

akan bertanya-tanya."

"Enam tahun, tujuh tahun," kata Elswyth. "Tidak banyak perbedaannya. Tetapi aku tidak bisa menungguimu semalaman agar kau bisa mengambil keputusan." Selwyn tidak suka diburu-buru. '

"Mungkin kau bisa menggunduli kepalamu," usul Farold. "Apakah menurutmu orang-orang akan mengenalimu kalau kepalamu gundul? Sepertinya aku masih menyimpan pisau pencukur di punggungku, kecuali kalau ada yang telah meng-ambilnya. Tetapi mungkin seseorang telah melakukannya, karena badanku tidak mungkin akan serata ini. Aku dapat mencabut rambutmu sam per satu."

"Aku harus melakukan hal lain," kata Elswyth. Mereka seolah-olah

berkeras untuk tidak memberi Selwyth ketenangan agar berpikir sedetik pun. "Aku harus mengumpulkan bahan-bahan untuk sebuah ramuan berkhasiat yang sangat penting. Kalau kalian menahanku lebih lama lagi, aku bisa kesal dan akan meminta kenaikan pembayaran selama dua tahun."

Selwyn merasa ditekan untuk mengambil keputusan yang terburu-buru. "Aku punya ide," ujar Farold dengan penuh semangat kepada Elswyth.

"Kau bisa membuat kami berdua tampak seperti per dagang kaya danTimux. Berikan kami surra, perhiasan, dan emas."

"Aku," kata Serwyn, "tidak akan mengorbankan sam tahun dalam

hidupku agar kau dapat mencoba mengesankan orang-orang dengan pakaian yang mewah."

"Baik," jawab Farold, "minta dia untuk membuatmu menyamar sebagai pedagang kaya, kalau kau pikir tidak akan ada

67

seorang pun yang heran mengapa seorang pedagang kaya mem-

bawa seekor kelelawar."

Elswyth melanjutkan. "Lagipula aku tidak dapat menyamar-kanmu

menjadi manusia," ujarnya pada Farold. "Kau adalah kelelawar. Kau hanya sebesar ini," ia menggerakkan kedua tangannya, "Tidak cukup untuk merenggangkanmu"—ia me-lebarkan lengannya—"ke dalam ukuran manusia."

"HuM" dengus Farold.

Elswyth memandang Selwyn. "Aku bisa membuatkanmu pakaian mewah, tetapi aku tidak dapat membuatmu kaya."

Dan apa yang akan dilakukan seorang pedagang berpakaian mewah tanpa barang dagangan di desa sekecil Penryth? tanya Serwyn, "Mengapa tidak kauberi saja aku pakaian yang berbeda, warna rambut yang berbeda..." sambil menggerakkan tangannya dengan putus asa. "Mata yang berbeda," sambung Elswyth, "hidung yang lebih besar, mulut yang lebih kecil..."

Selwyn mengangguk.

"Selama sam tahun?"

Selwyn bertekad tidak akan memberinya alasan bila tidak menerima tawarannya. "Untuk sam tahun." Ia setuju.

"Orang akan curiga kalau kau membawa drakula." Farold

memperingatkannya.

Aku hanya ingin menyamar, kata Selwyn. "Biarkan mereka curiga," katanya. Apabila ia beruntung, mungkin seseorang akan menangkap Farold dan memelintir lehernya.

DELAPAN Si:

Selwyn menginginkan pakaian pengembara. Keinginan ini membuat

Farold—yang sejak tadi tak henri-henri berbisik di telinganya, "Pakaian pedagang kaya"—berteriak dengan muak-nya lalu terbang mengibaskan sayapnya. Tetapi Selwyn merasa bahwa pilihannya itu sepertinya benar. Dalam hidupnya, ia jarang bertemu orang asing. Penryth terlalu kecil untuk menarik perhatian pendatang baru; dan letaknya bukan dalam rute per-dagangan, sehingga jarang sekali orang-orang yang hendak ke suam tujuan melewati desa itu, Sebagian besar orang asing yang ia temui berarti masalah, entah im tentaxa pemberontak, penjahat yang kadang-kadang muncul di bagian hutan yang paling belukar di jalan menuju Saint Hilda, ataupun dua penyihir yang bertarung—disingkirkan dari istana kerajaan karena tidakmampuan mereka untuk meratakan penginapan Orik.

69

Namun Selwyn teringat, ketika ia masih kecil, sekelompok

pengembara telah berjalan menuju kail Santa Agnes, sang penguasa danau. Mereka mengenakan pakaian lusuh dan sandal, dan para petualang sebelumnya memakai tanda pengenal, emblem, dan kalung- kalung kerang untuk menunjukkan tempat asal mereka.

Kini pada saat-saat terakhir ia terpikir untuk bertanya, "Dapatkah aku menjadi petualang yang bersih?"

Jawab Elswyth, "Para petualang tidak dikenal karena ke- bersihannya." -

"Mereka lebih bersih daripada ini," kata Selwyn, sangat sadar bahwa badannya bau. Menurutnya, ia telah terbiasa mencium bau mayat. Namun karena kini ia telah keluar dari gua dan berharap sekali lagi agar hidupnya menjadi bersih, bau kematian yang masih tersisa padanya menjadi tidak tertahankan. "Sedikit debu dari jalan tidak menjadi masalah."

"Tapi kita membutuhkan air untuk ramuan," kata Elswyth padanya,

Ia tidak menyukai seringaian yang ada dalam pikirannya.

Di bukit inilah bermula sejumlah aliran air, yang berkelok dan bertemu, serta akhirnya membentuk sungai yang menjadi sumur penggilingan Derian. Elswyth menolak dua mata air lain sebelum

menemukan sam yang tampak sangat dalam dan mengalir cepat. "Ini saja," katanya.

Selwyn memandangi lereng dan jalan yang licin—ia tampak

tercengang, mengira mengetahui apa yang akan terjadi, dan menahan lidahnya. Tak lama kemudian, sambil merogoh-rogoh ke dalam tas punggung, Elswyth memerintahkan, "Ambilkan batang."

"Dari dalam air?" teriaknya.

70

Elswyth menatapnya, "Kalau kau mau melakukannya," katanya. "Aku sendiri akan mencoba mencari di atas tanah, atau mematahkan salah satu dari pohon dan semak-semak di sana."

Farold menukik dari kegelapan dan bergumam. "Si bodohT lalu ia memangsa kunang-kunang dan kembali menghilang di daJam kegelapan. Sinar bulan cukup terang untuk melihat, walaupun Selwyn melangkah keluar dari lingkaran sinar sihir Elswyth. Kemudian ia menemukan sebuah batang. Ia malah menemukan beberapa, dan membawakan semuanya—yang pendek, panjang, tipis, tebal, lurus—tak tahu mengapa perempuan itu membutuhkan nya. Pasti bukan untuk membuat

^pi—karena tadi ia jelas-jelas me-nyebut jumiahnya satu. Ia menebak perempuan itu akan mengatakan kurang dan menyebutnya tolol.

Namun perempuan itu sama sekali tidak memandangnya dan hanya berkata. "Pegang sam di tanganmu." "Yang mana?"

Lalu muncullah pandangan yang menunjukkan bahwa dirinya tolol. Elswyth menggerakkan tangannya dengan penuh ketidaksabaran. "Yang

mana saja!"

Kemudian ia memegang salah sam batang dan menjatuhkan yang lain. Pasti perempuan ini memiliki persedian wol yang tak habis-

habisnya, mengingat ia mengambil sam lagi dari dalam tasnya dan meletakkannya di atas kepala Selwyn. "Sekarang? ujarnya. "kau harus pergi ke dalam air." Sepertinya percuma untuk me-nyanggah. Ia tahu ia mengernyit, namun perempuan itu terus berkata, "Ikuti arus, duduk, berbaring—apa pun asal seluruh tubuhmu tertutup air— peganglah ranting dan wol lalu hitung

sampai lima—" sekejap ia tampak ragu. "Kau tahu bagaimana menghitung?"

"Aku bisa menghitung sampai lima," Serwyn meyakinkan perempuan im dengan tercengang. Seorang petani harus bisa menghitung, setidaknya cukup baik untuk menjumlah benda-

benda.

"Lalu kau keluar lagi," katanya.

Ia yakin bahwa sebagian dari semua im hanyalah bertuj uan untuk menyiksanya.

Bebatuan di pinggir aliran air basah dan rata serta sangat licin. Akibatnya, ia hampir terpeleset dua kali, tangannya tertarik dan ia harus bertahan dengan kakinya, sambil tetap memegang ranting dengan kepala tertutup kain wol. Saat terjatuh ketiga kalinya, ia tidak seberuntung tadi. Air yang dingin hampir mencapai pinggangnya-—membuatnya sulit bernapas selama beberapa saat. "Tidak cukup dalam," teriak Elswyth, seolah-olah Selwyn berhenti di sana, seolah-olah ia tidak dapat membedakan air yang mencapai pinggangnya dan air yang menutupi kepalanya.

Kemudian Selwyn bangkit dan berjalan ke tengah, namun aliran air itu tidak semakin dalam. Ia harus duduk di dalam nya, tetapi air

im masih juga belum menutupi kepalanya, sehingga akhirnya ia harus berbaring di dalam air yang serta merta menutupi wajahnya. SatuduatigaempatlimOy ia menghitung di dalam hati dengan jarak mendekati detakan jantung. Namun ia tidak mau melakukan hal yang sia-sia—yaitu membuat Elswyth menyuruh-nya kembali dengan berkata, "Lakukan lagi, lebih perlahan." Maka ia menghitung dengan lebih perlahan, dan berhenti di antara tiap angka. Satu. Dua. Tiga. Empat. Lima.

72

Ia melihat Elswyth tidak berkata apa pun tentang ke-khawarirannya, tentang keinginan untuk menyelamatkannya. Selwyn tidak menjelaskan

kebingungannya saat mendengarkan perintah perempuan im, namun hanya berkata sambil memandangi topi dan tongkat, "Aku tidak mengerti soal pakaian dan ranting."

"Kekuatan sihir tidak dapat menjadikan sesuatu dari hal yang tidak ada," ujar Elswyth. "Im sebabnya kukatakan aku tidak dapat memberikanmu emas. Apa—kaupikir aku hanya mempersulitmu saja?" Selwyn memutuskan agar sebaiknya ia tidak menjawab pertanyaan itu. Tampaknya bulu di punggung tangannya menebal dan menghitam. Tangannya lebih lebar daripada sebelumnya. Penampilannya berubah karena ia berhasil me-maksa dirinya menyelam, sama seperti halnya dengan pakaian yang ia kenakan, membuatnya gempal, dan lebih hi tarn, dan— ia merasakan hidungnya—lebih mancung. Katanya, "Terima kasih, ini pasti akan berhasil."

"Aku meragukannya," Elswyth mendengus.

Farold mendarat di pundaknya. "Si pengembara dan ke-lelawarnya siap," ia memberikan pengumuman, "bukankah gambaran ini konyol? Yang lebih tepat adalah seorang pengembara dan seekor anjing." "Enam bulan untuk seekor anjing," ujar Elsywth, memberikan penawaran kepada Selwyn—karena ia begitu be running— dan bukannya Farold. "Dan kau akan menjadi seekor anjing yang sangat keciL" "Seekor kelelawar lebih baik bagi pengembara," jawab Selwyn.

Namun Elswyth berkata. "Hitung." Kini ia tiba-tiba bertanya-tanya, apakah yang ia maksudkan menghitung dengan keras?

Selwyn menghitung dengan kerns* tentu saja sebentar lagi ia akan mati. Hitungannya kini lebih cepat daripada yang kedua, namun lebih lam bat daripada yang pertama. "Satu, dua, tiga...." Pada waktu ia mencapai "empat", ia kehabisan napas. Udara keluar dari dalamnya bersamaan dengan gel em bung yang membawa suaranya. Ia hampir saja sanggup menyebutkan 'lima lalu berdiri, napasnya

tersendat. Ia merasa benci pada dirinya sendiri, pada Elswyth, dan

bertanya-tanya mengapa ia mem-biarkan dirinya melakukan semua ini. i

Ia bangkit, bersandar pada ranting. Yang sungguh mengejut-kan, ranting im tidak patah karena berat tubuhnya, dan yang sungguh

mencengangkan, ranting itu cukup tinggi untuk menyangganya bahkan pada waktu berdiri. Ia melihat ke bawah dan melihat bahwa ranting im telah berubah menjadi tongkat berjalan yang hal us dan tebal. Pakaiannya pun berubah: kemeja dan tali penyangganya telah menjadi jubah usang kecokelatan, dan kain wol yang berada di dalam tangannya telah berubah bentuk dan bahan. Ia mengangkat tangannya dan mendapati topi jerami.

Keluar dari dalam air sebelum kau menjadi basah," teriak Elswyth padanya.

Dan sungguh tak diduga. Ia menyadari bahwa bagian tubuhnya yang keluar dari air, langsung kering seluruhnya. Ia melangkah ke

pinggir sungai, dan air yang menutupinya meng-hilang, sama seperti air yang menghilang dari baja.

"Aku sangka kau tahu menghitung sampai lima," Elswyth me-

marahinya. "Kau terlalu lama di sana, aku kirakau tenggelam."

74

"Kalau begitu aku akan menjumpaimu," kata Elswyth "tujuh hari lagi. Sebenarnya kalian telah membuang-buang waktuku, enam

setengah hari."

Elswyth tidak mendoakan dirinya agar selamat. r

SEMB1LA.N

Elswyth meninggalkan mereka, dan akhirnya tidak ada alasan bagi Selwyn untuk memanggtfnyakembali. Ia bimbang, antara merasa lega dan terancam. Lega karena ia tidak perlu lagi melindungi kepala dan tangannya dari serangan penyihir im dan karena ia tidak lagi berada dalam bahaya untuk menawar lebih banyak tahun pelayanan kepada perempuan itu. Ia merasa terancam karena kini ia sendiri.

Bersama dengan Farold jelas tidak lebih baik daripada berada sendiri.

Ia mengumpulkan buah beri liar yang dapat ia temukan di dalam kegelapan—ia tetap kelaparan, tapi tidak lagi pingsan ke-laparan. "Apa yang kau lakukan?" tanya Farold dengan suara kecilnya yang menyebalkan saat Selwyn mulai mencari tempat yang nyaman untuk duduk—mungkin untukuoV sejenak.

"Mencari tempat istifahat hingga pagi hari," jawab Selwyn. Ia telah menghabiskan dua malam terakhir di pekuburan massal, tidur

tak teratur dan keletihan menjadi bagian yang paling baik dari ketakutan yang ia alami, sehingga membuatnya tidak bersikap pilih- pilih. Ia duduk di atas tanah berumput dan menyingkirkan beberapa batu tajam.

"Oh, masuk akal," kata Farold padanya. "Kaubayar si penyihir per jam, lalu hal pertama yang kaulakukan adalah tidur siang."

"Maa£" ujar Selwyn. "Kau telah mati dengan nyamannya selama tiga

hari terakhir, Sedangkan aku harus hidup selama itu."

"Mati terlalu melelahkanmu." Lawan Farold. "Aku tidak perlu menyebutkan upaya orang tolol yang akan mengembalikan-mu menjadi seekor kelelawar. Kita lihat saja siapa yang lebih baik kalau tiba

giliranmu mati."

Karena tidak merasa nyaman, Selwyn menyadari bahwa ia hampir saja memperoleh giliran im. Daripada bertengkar dengan Farold, ia menjelaskan, "aku tidak bisa muncul begim saja di Penryth di

tengah malam. Kau kenal mereka, kan. Mereka pasti yalrin aku seorang pencuri atau pencoleng dan segera mengusirku."

Farold tidak berkata apa pun—yang hampir pasti berarti'ia setuju

walaupun tidak mau mengakuinya.

Kata Serwyn, "Dengan begini kita punya kesempatan berbicara." "Aku tidak boleh membicarakan kehidupan akhirati* Farold mencengkeram ranting pohon terdekat dan menggantungkan dirinya.

"Itu salah sam persyaratan sebelum manusia diper-silakan pergi." "Baiklah," Serwyn menyettrjui perlahan. Kini terpikir oleh-nya, ia tidak mempercayai bahwa ia telah menghabiskan

waktunya dengan orang yang telah mati dan kini kembali, dan belum sekalipun ia berpikir untuk bertanya seperti apa rasanya kematian— pertanyaan yang selalu menganggu manusia sepanjang umur mereka. Ia terlalu disibukkan oleh kekhawaur-annya, Farold menyeringai dengan penuh kepuasan—bahkan Selwyn dapat mengenali raut wajahnya hanya dari bibir seekor kelelawar yang bergantung di kegelapan menjelang subuh. "Baiklah," ulangnya dengan kecewa—kini—karena ia tidak

dapat mengajukan pertanyaan yang sebelumnya tak pernah terpikirkan. Ia kemudian mengajukan apa yang sebelumnya ia ingin ungkapkan. "Mari kita bicara tentang rnusuh-musuhmu."

"Aku tidak punya musuh. Semua orang menyukaiku."

"Aku tidak," .ungkap Selwyn. "Dan seseorang telah membunuhmu. Atau kau menikam dirimu sendiri dari belakang? Apakah ini bunuh diri?"

"Aku juga tidak menyukaiww," sergah Farold. "Aku selalu ingat penyebabnya."

"Perdebatan ini tidak berguna. Siapa yang menginginkan kematianmu?"

Dalam keadaan terbalik, Farold mengangkat bahu. Kata Selwyn, "Rasanya mungkin saja Linton."

"Linton saudara sepupuku," sanggah Farold. "Mengapa ia menginginkanku mari?"

Selwyn berusaha mencegah dirinya untuk tidak mengatakan, Karena ia adalah sepupumu," sebaliknya ia berkata, "Untuk mendapatkan penggilingan." Linton adalah anak tertua saudara perempuan Derian, dan selama dua tahun terakhir ini ia mem bantu menjalankan penggilingan. teuton.

"Kalau begim ia akan membunuh Paman Derian juga," tiba-tiba Farold menyadari seluruh keterlibatan ini. "Apakah

ia ki

ia akan melakukannya? Apakah kaupikir ia yang membunuh-ku? Kaupikir ia merencanakan membunuh Paman Derian?"

Untuk pertama kalinya, Farold terdengar prihatin akan seseorang seiain dirinya. "Aku ragu ia akan membunuh Derian," Selwyn

meyakinkan dia. "Hal im akan tampak jelas. Orang akan mencurigainya apabila kalian berdua mendadak tewas."

"Tetapi ia dapat menunggu selama dua atau tiga tahun,9 kata

Farold, kini dipenuhi semangat mencurigai, "lalu ia akan merab un

uh nya."

"Apabila ia menunggu selama dua atau uga tahun, mungkin saja

Derian mad dengan sendirinya," kata Selwyn. "Orang setua dia."

"Wah, kau benar-benar menyenangkan, ya?" bentak Farold. "Memangnya kau tidak pernah mengkhawatirkan perasaan orang lain?"

Sulit sekali membayangkan seekor kelelawar yang kasar memiliki perasaan. Selwyn membayangkan dirinya bahwa ia akan bersikap lebih

manis dan tidak segamblang ini apabila Farold dalam rupanya yang lama. "Maaf." Katanya.

"Pamanku Derian mem besar kan aku, tahu tidak?"—Farold terus

menyatakan kekecewaan nya— "dari waktu aku belum dapat berjalan atau berbicara—sewaktu bibiku, Sela, berkata kalau tangannya sudah terlalu disibukkan oleh Linton."

"Maaf," ulang Selwyn. "Aku tidak bermaksud apa-apa." Ia tidak

ingin mengatakan bahwa Farold sangat lambat, belum dapat berjalan, berbicara sewaktu kedua orangtuanya wafat. Selwyn dan Farold seusia, yang berarti Farold berumur lima tahun ketika penggilingan tua itu terbakar, sehingga menewas-kan Earm Miller dan istrinya, Laura, serta tiga anak yang lebih tua. Selwyn dan keluarganya

dapat mencium asap dari rumah

79

mereka, sejauh tujuh rumah peternakan. Derian bukan hanya membesarkan Farold. Ialah yang menyelamatkan anak im dari api. "Tadi aku tidak berpikir," kata Selwyn. Farold mendengus.

Selwyn bertanya-tanya bagaimana mengembalikan arah percakapan ini.

Sementara ia masih memikirkan hal im, Farold berkata, "Jika Linton membunuhku—yang menurutku tidak mungkin— tapi jika ia

melakukannya, bagaimana kau membuatnya agar mau mengakui perbuatannya itu?"

Dengan perlahan-lahan ia berbicara sambil berusaha mencari jalan

keluar, "Seseorang melihatku di desa setelah hari gelap. Mungkin orang im melihat Linton juga."

"Linton tinggal di desa," dengan cepat Farold menunjukkan. "dengan orang ma, tiga saudara laki-laki, dan dua saudara perempuan."

Selwyn dapat melihat Farold memurar mata kelelawarnya. Tidak sadarkah ia betapa beruntungnya ia karena dahan yang ia gelantungi jauh dari jangkauan? "Ya. Tetapi kata Derian, saat im kalian bertiga makan tengah malam dan Linton langsung pulang. Mungkin seseorang melihatnya keluar lagi setelah im dan pulang ke penggilingan."

"Dan siapa pun yang melihat ini tidak terpikir untuk menyebutkan

hal ini sebelumnya—sewaktu kau dihukum mati —dan kini ia akan menceritakan semua?"

Selwyn merasa tidak nyaman dengan kekasaran Farold. "Sebelumnya," ujarnya, "semua orang begim yakin aku membunuhmu. Mereka mungkin

tidak berpikir untuk menceritakan kegiatan Linton." "Oh, bisa jadi. Kini semuanya jelas."

Yang membuatnya geram adalah Farold ternyata benar. "Dan," sambung

Selwyn. "Aku perlu menemukan siapa yang menemukan atau mencuri pisauku."

"Pisaumu?"

Selwyn pikir suara Farold terdengar aneh, dan ia menatapnya. "Aku

terbunuh oleh pisaumu?"

Apakah Farold merasa perlu diyakinkan kembali bahwa bukan Selwyn yang membunuhnya? "Ya," jawab Selwyn.

Namun yang dikatakan oleh Farold hanya, "Oh." i

"Apa?" tanya Serwyn dengan curiga. - "Pisaumu ada padaku." Farold mengaku.

"Apa? ulang Serwyn.

"Jangan bernada seperti itu padaku," Farold memperingat-kan, terdengar sama seperti ibu Selwyn kalau mengatakan hal serupa. Selwyn menolak untuk rerlibat dalam perdebatan im "Jangan bicara soal nada kalau kau yang mencuri pisauku!" irt

"Aku cuma bermaksud untuk bergurau," kata Farold. "Apa kau tidak bisa bercanda? Toh aku berencana akan mengembali-kannya."

"Kalau bercanda, kau akan mengembalikannya dalam sehari. Buktinya,

kau telah menyimpan pisau itu selama tiga minggu."

"Ya, bagaimana ya..." kata Farold, tetapi jelas tidak tahu harus mengatakan apa lagi. Ia membetulkan sayapnya. "Ini tidak ada gunanya," ia menarik napas.

Selwyn masih ingin menggoncang-goncang tubuh kelelawar im hingga

bola matanya berantakan. Ia mengambil napas dua kali dan menggeretakkan giginya. "Apakah ada yang tahu," tanyanya dengan

geram, "kau menyimpan pisau itu? Mungkin Linton?" Ol

"Tidak," jawab Farold perlahan, sambil berpikir, "bukan Linton,

tapi Merton."

"Merton?" ulang Selwyn tercengang. Merton adalah saudara laki-laki Raedan, sahabatnya—ia pun berteman dengannya. Atau setidaknya Selwyn mengira mereka berteman. Sungguh buruk menyadari hal itu—-

selama berhari-hari ia kelelahan mencari pisau yang hilang— sedangkan Merton mengetahui letaknya. Dengan demikian ia sama jahatnya dengan Farold. Tetapi yang lebih buruk adalah apa yang terjadi di rumah Bowden. Ketika itu, di bawah penyelidikan Bowden, Selwyn menjelaskan bahwa ia telah kehilangan pisau, dan Merton mengiyakan namun tidak menyebutkan sama sekali bahwa ternyata Farold memegang pisau itu sekian lama. Sama sekali tidak, bahkan ketika Bowden memutuskan bahwa hilangnya pisau tersebut

menunjukkan bahwa Selwyn telah merencanakan untuk membunuh Farold. "Merton tahu kau menyimpan pisauku?" tanyanya, hanya unmk memastikan bahwa ia memahami semua ini dengan benar. "Setelah

sekian lama?" Tidak mungkin selama itu.

"Dialah yang menemukan pisau im," kata Farold. "Kau menjatuhkannya sewaktu semua orang menolong janda Snell menyabit rumput kering.

Merton menemukannya di re-rumputan setelah kita selesai makan.

Kami mengira ini bisa menjadi lelucon yang sera setelah selama ini kau memamer-mamerkan pisau itu, seperti biasa—"

"Aku. J/ sanggah Selwyn memotong. Namun ia tidak dapat

menyangkalnya. Ia sangat bangga dengan pisau yang dibawa ayahnya pulang dari perang. Ia memang cenderung mengeluar-kannya kapan pun ia punya alasan untuk memamerkan gagang-nya yang indah. Pisau im memang pisau besi berkualitas tinggi

yang ujungnya lebih lancip daripada pisau-pisau biasa milik penduduk desa. Namun, ia malah bertanya, "Apakah Raedan juga tahu?"

Farold mengangkat bahu, "Aku tidak menceritakannya, tetapi mungkin

Merton yang bilang padanya. Kami bosan men-dengarkan omonganmu

yang selalu menyombongkan pisau im," katanya. "Aku bilang aku yang

menyimpannya, karena kami berdua tahu apabila Merton yang memegangnya, ia tidak akan mungkin sanggup berpura-pura tidak tahu begim ;kaji mulai bertanya-tanya. Tetapi aku memang berniat akan mengembalikannya."

"Apakah ia tahu kau menyimpannya di mana?" Merton? Pikirnya. Merton, atau mungkin Raedan?

Farold mengangkat kedua sayapnya. "Rasanya aku tidak mengatakan nya secara khusus," katanya. "Tetapi aku menyimpannya di dalam ko tak pakaianku—cukup mudah untuk menemukan nya."

"Rasanya tidak mungkin seorang lelaki masuk ke kamar lelaki lain

dengan niat membunuhnya, lalu mencari-cari senjata." "Menurutmu, mengapa Merton masuk ke kamar dan berniat untuk

membunuhku?" tanya Farold.

"Apa lagi alasan dia masuk ke kamarmu di tengah malam, perlahan- lahan agar tidak membangunkanmu?"

"Kami tidak tahu jika ia yang melakukannya," Farold menaikkan nada suaranya, sama seperti Selwyn. "Aku mengira kau mengatakan Linton- lah yang membunuhku."

"Entahlah," teriak Selwyaau ?Aku tidak tahu siapa yang

melakukannya. Menurutku, mungkin saja Linton pelakunya. Mungkin juga MertomiAtau orang lain. Aku tidak berada di

sana, karena terlalu tolol untuk bangun ketimbang dibunuh. Kau ada

di sana." Sulit membayangkan Merton sebagai pem-bunuh, tetapi sulit juga membayangkan dirinya menjadi pencuri—atau, yang terbaik, sebagai penipu yang bersedia membiarkan kecurangan berlangsung terus walaupun ia dibiar-Jtan sendiri di dalam gua hingga mati.

"Wah, jangan luapkan amarahmu padaku," kata Farold. "lebih baik aku makan serangga daripada cUhina seperri ini." Ia mengepakkan sayap dan hilang di tengah kegelapan malam, meninggalkan Selwyn

sendiri.+ SEPULUH

Ketika Selwyn terbangun setelah beberapa jam tertidur, ia terkejut

karena menemukan Farold telah kembali dan meng-gantungkan diri di dahan. Pada malam sebelumnya, ia tidak heran kalau dirinya ditinggalkan sendiri.

Selwyn meminum air sungai dan menemukan segenggam lebih buah beri.

Tetapi, musim buah hampir selesai dan sebagian besar beri rusak serta berwarna cokelat, sehingga hampir tidak memuaskan rasa laparnya. Sepanjang waktu tersebut, Farold tidak bergerak sedikit pun. "Farold," panggilnya.

Farold terus menggan tung, sayapnya membungkus tubuhnya. "Farold, wakrunya pergi." Tak ada reaksi.

Mungkin ia telah memutuskan untuk kembaU ke dunia akhirat, sepeni

yang pernah ia ancam. Atau mungkin tubuh kelelawar itu sendiri telah mati. Lalu di mana Farold?

Sambil berjaga-jaga, Selwyn menggoyang-goyangkan tubuh makhluk

mungil itu, tubuhnya masih bergetar dan kedua sayapnya ditarik lebih ketat lagi—menunjukkan bahwa makhluk itu ternyata masih hidup. "Pergi sana," Farold bergumam dengan

malasnya.

Selwyn menyandarkan tubuhnya lebih dekat lagi, sehingga ia dapat terus menyodokkan jarinya untuk kedua kalinya dan berteriak

sekeras-kerasnya di telinga kelelawar itu: "Farold, kau pemalas! Bangun!"

Kelelawar itu menggeiam, memamerkan giginya yang kecil mungil, tapi sangat panjang.

Selwyn tetlonjak ke belakang, tapi kelelawat itu tidak me- nyerangnya. Sekali lagi makhluk itu mengatupkan kedua belah matanya.

"Farold," desak Selwyn. "Sudah pagi."

"Aku tahu," jawab Farold, tanpa membuka matanya sedikit-pun.

"Kelelawar adalah binatang malam."

"Kau bukan kelelawar," Selwyn mencoba menyadarkannya. "Bukan kelelawar sesungguhnya."

"Katakanlah itu pada tubuhku. Lagipula aku terjaga se-malaman."

"Aku juga."

"Mungkin seseorang yang tolol telah mengubahmu menjadi kelelawar juga," kata Farold. "Sebaiknya kauperiksa."

Selwyn menggoyang-goyangkan batang pohon tempat Farold bersandar. Namun kaki mungil Farold yang bercakar menahannya. Ia membuka salah satu matanya dan membelalak ke arah Selwyn. "Pergi sana," ujar Farold. "Kembalilah nanti pada waktu matahari terbenam."

86

"Aku tidak mau membuang-buang waktuku seharian hanya untuk menunggumu." Bcrsusah-susah sepanjang hari penuh.

"Ya sudah, pergi saja sendiri," kata Farold. "Kau yang tidur

semaJam, padahaJ itulah waktu yang cepat untuk mulai bekerja. Jangan bicara kepadaku soal kemalasan."

"Kita sepakat," kata Serwyn, padahal mereka tidak ber-sepakat sama

sekali— "untuk tidak baik bepergian pada malam hari, karena para penduduk desa akan mengusir kita."

"Kau tidak dapat melawan dorongan hati," kata Farold di tengah- tengah kantuknya.

Selwyn tidak berani meninggalkan makhluk itu. Farold mungkin tidak dapat pergi ke Penryth sendiri. Tadi malam, pada awalnya, ia tidak tahu kalau kelelawar im tidak sanggup berdiri. dan hampir tidak bisa terbang. Segala sesuatu akan tampak berbeda dan membingungkan bagi seseorang yang baru saja menemukan dirinya berjalan sepanjang hari dan bepergian di udara. Namun bagaimana cara seseorang

membawa kelelawar yang sedang tidak berniat bepergian? Elswyth

tidak membekali-nya peralaran—tapi tampaknya dia beranggapan bahwa seorang petualang akan bepergian di siang hari. Ia jelas tidak ingin membawa Farold di tangannya ke mana-mana. Sambil memandang

ke sekeJilingnya, terlihat olehnya topi jerami yang dibuat Elswyth dari potongan kain wol. Membawa Farold di puncak topi mungkin sedikit lebih baik daripada membawanya di telapak tangan. Katanya, "Baiklah, kau bisa bergelantungan di batang pohon itu, dapatkah

kau bergelantungan di pinggiran topiknl*

Sekali lagi Farold membuka sebelah matanya yang terkantiik-kantuk. "Nanti kelihatan tolol," ujarhya. Kau punya usul yang lebih jitu?"

87

Farold menghela napas. Selwyn pun mengenakan topinya. Kemudian, Farold meiepaskan diri dari batang pohon im dan mengepakkan sayap ke arah bagian belakang topi. Ia hampir tidak memiliki beban sama

sekali, terayun-ayun. "Sudah kukatakan, kau harus memintanya untuk mengubahku menjadi seekor anjing."

Selwyn mengitari desa Penryth menuju rumahnya terlebih dahulu. Ia

tidak tahu bagaimana menjelaskan apa yang terjadi serta meyakinkan keluarganya bahwa ia sungguh-sungguh dirinya. Namun ia tidak sanggup membayangkan mereka menganggapnya telah mati, atau yang lebih buruk lagi, sedang sekarat.

Saat ia semakin dekat, menyeberangi tanah yang bam saja dipanen, ia tidak melihat tanda-tanda kegiatan, bahkan asap dari api di dapur sekalipun tidak. Beberapa ekor ayam mengais-ngais di pekarangan, tidak mempedulikan dirinya.

Ia membuka pintu dan memanggil, "Halo."

Satu-satunya jawaban datang dari bagian belakang topinya. "Tidak bisakah kau pelankan suaramu selagi orang normal sedang mencoba

untuk tidur?" gumam Farold.

Selwyn menahan diri untuk tidak mengatakan bahwa Farold tidak normal sama sekali, bahkan semasa ia hidup.

Ia melangkah masuk ke dalam rumah dan melihat tak seorang pun

berada di rumah, bahkan neneknya sekalipun, yang jarang bergerak dari tempat kegemarannya di ruang tengah, juga tidak ada. Ruangan im tidak berantakan: lantai dipel dengan bersih sama seperti yang biasa dilakukan oleh ibunya, tempat tidur tertata dengan rapi,

meja bersih, kursi tempat keluarga menyantap m akan an terletak di tempatnya di bawah meja.

Selwyn mengolcskan tangannya pada debu di ruang tengah dan

merasakan tempat itu memang bersih. Tidak seorang pun memasak pagi ini dan membiarkan api mati. Itu berarti keluarganya pergi kemarin atau lebih dini lagi—tapi ia pikir hal itu rasanya tidak mungkin: semarah-marahnya orang-orang di desa untuk mengganjarinya hukuman mati, keluarganya tidak akan meninggalkan peternakan untuk mencari kerja lagi di tempat lain. Yang lebih tepat lagi, seseorang telah me-mutuskan untuk tidak membiarkan keluarganya sendiri, tidak pada saat ia belum mad, karena mereka masih dapat merencana-kan sesuatu untuk mengeluarkannya dari dalam gua.

Jelas sekali, pikirnya, tentu saja mereka berada dalam keadaan

baik dan aman.

Ia menemukan makanan: lebih banyak bukti, karena tak ada seorang pun yang bepergian menjelang musim dingin dan meninggalkan makanan. Terdapat setengah potong roti, begitu keras, sehingga ia

harus mencelupkannya ke dalam air agar cukup Iunak untuk dimakan—

suatu tanda bahwa roti itu telah berada di sana sejak diambil. Ada

juga buah-buah dan sayur mayur yang ia makan tanpa disiangi dan mentah hingga akhirnya, akhirnya perutnya penuh kembali.

"Heh!" terdengar suara di belakangnya:—kali ini bukan Farold. Selwyn segera membalikkan badannya dan menemukan Merton berdiri di pintu.

"Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Merton. "Apa yang kau lakukan di sini?" balas Selwyn, teringat masalah pisau. Merton menyipitkan matanya ke arah Selwyn. Ia membawa sebuah sekop—sekop mereka—di pundaknya, namun kini ia

melayangkan sekop itu ke mbuhnya, dan ujung logamnya yang tajam mengarah pada Selwyn.

Tidak mungkin ia dapat mengenaliku, Selwyn mengingatkan dirinya. Ia melihat seorang asing—seorang asing yang berada di dalam rumah

yang bukan miliknya, menyantap makanan yang bukan miliknya. Dengan keyakinan bahwa Farold tidak terpikir untuk berbicara, Selwyn menurunkan pandangan matanya agar terlihat tenang dan tidak ingin memulai perkelahian. Katanya, "Maaf. Kau sangat

menakutkanku. Aku hanyalah seorang pengembara malang yang kelaparan yang terpisah dari kelompok. Aku berkelana dan tersesat selama dua hari. Rumah inilah yang per-tama kali aku temui dan aku

datang untuk meminta makanan. Tapi aku tidak menemukan seorang pun di sini."

Merton tetap tidak mengatakan apa pun dan Selwyn tidak tahu seberapa masuk akal kisahnya bagi lelaki im.

"Maaf," kata Selwyn—sebagai seorang pengembara, ia tidak mungkin mengetahui bahwa ini bukan rumah Merton, sehingga ia berpura-pura seolah-olah mengira Merton pemilik rumah itu—"Maaf, aku mengambil makananmu. Aku senang sekali bila dapat bekerja untukmu sebagai bayaran." Mungkin ini dapat menjadi alasan untuk tinggal agar dapat menemukan lebih banyak hal mengenai apa yang terjadi pada malam pembunuhan itu.

Perlahan-lahan Merton menurunkan sekop. "Aku bukan pemilik rumah ini," katanya, sungguh melegakan: Selwyn menemukan kemungkinan bahwa peternakan ini dirampas dari kedua orang tuanya, karena anak mereka telah menjadi pem-bunuh. Merton menambahkan, "Aku hanya menjagai hewan ternak ..."—ia ragu-ragu—"sementara para pemiliknya pergi ltira-kira selama sehari."

Hewan cernak Tentu saja towan-hewan perlu dirawat. Seh*^ ingat

bahwa ayam-ayam itu akan segera mengerumunj^ apabila mereka tidak makan berhari-haii Apabila kanH,-dibiarkan lepas tanpa makanan, mereka akan berkeliaran ten« dan apabila mereka tidak dilepaskan, pasti sekarang mereka hampir kelaparan. "Terima kasih," kata Selwyn dengan sepenuk had. "Kau baik sekali."

Merton terbingung-bingung tidak habis pikir, bagaimana sang pengembara ini perlu berterima kasih untuk perhatiannya kepada

hewan milik orang lain.

"Aku... ehhh.. .telah bersumpah akan mempersembahkan doa di kuil Santa Agnes bagi semua orang baik yang aku temui di sepanjang perjalanan."

Tapi tidak termasuk dirimu, ujar Selwyn di dalam benaknya.

Menjagai hewan-hewanku, tetapi meninggalkanku hingga mati. Ia tersenyum cerah kepada Merton.

Kata Merton, "Mereka yang tinggal di sini adalah orang-orang baik. Berdoalah bagi mereka, aku yakin mereka tidak akan marah karena memberimu makanan ini."

"Apakah mereka .membutuhkan doa?" Selwyn berusaha terdengar naif. "Secara khusus?"

Merton tampak terkejut namun hanya menjawab, "Bukankah setiap orang membutuhkannya?"

"Siapakah mer^bj£" tanya Selwyn. "Di manakah mereka? Merton menyipitkan matanya kembali dengan curiga. "Banyak tanya juga kau, ya?"

Kata Serwyn, "Aku ingin mengucapkan terima kasih kepada mereka. Aku yakin apa yang aku makan hari ini di iini telah menyelamatkan hidupku."

"Aku akan sampaikan terima kasihmu kepada mereka, uj31

91

Merton kepadanya. "Sebagian besar waktuku kuhabiskan di jjpi. petetnakanku ada di sebelah."

Tapi tampaknya tidak, mungkin Merton curiga bahwa dirinya adalah

seorang pencuri dan hendak memperingatkannya bahwa tempat ini diawasi dengan baik. Selwyn berharap ia tidak terlalu terlihat terkejut karena baik seorang pengembara maupun pencuri tidak akan tahu apabila Metton telah berbohong.

"Baikah, semoga Tuhan menyertai penghuni peternakan ini," katanya. "Semoga kalian semua memperoleh pahala atas perbuatan kalian," ia mengatakan kalimat kedua dengan ke-tulusan had.

Merton memandangnya dengan penuh kemarahan, dan Selwyn pikir itu merupakan bukti dari perasaan bersalahnya.

Namun lagi-lagi, mungkin karena ia melihat sesuatu di belakang

topi Selwyn sewaktu lewat di hadapannya—Farold sang kelelawar yang bergelantungan di ujung topi.

SEBELAS

4* " - J

"Wah, tindakanmu tadi tepat sekali," ujar Farold sewaktu mereka berjalan ke arah jalan pedesaan. "Kita banyak belajar, ya? Serwyn kurang berun tung karena sesungguhnya ia berharap agar

Farold tertidur selama percakapan yang penuh kesalahan itu. Diam," gerutunya. Ia menoleh ke belakang untuk berjaga-jaga apabila

Merton memastikan bahwa ia benar-benar pergi, dan ternyata betul. Merton terus memperharikannya sambil menyangkuli kebun ibunya yang

akan menghasilkan sayuran hingga musim dingin tiba.hu pun kalau kebun im bersih dan dedaunan dan kotoran, Sepadan dengan

tindakannya mem' berikan pisauku kepada Farold untuk memberiku pelajarw* pikirnya, tetapi tidak sepadan dengan tindakannya untuk tidak berbicara sewaktu pisau itu berada dalam tubuh Farold. Merton

berhenti mencangkul dan membelalakkan matanya. Selwyn pura-pura melambaikan tangan yang tidak dapat menyingkir-kan kecurigaan

Merton bahwa ia adalah pencuri.

"Jadi siapa lagi yang akan kita tanyai?" tanya Farold dengan posisinya di belakang topi jerami Selwyn.

Selwyn memutuskan tidak akan membiarkan cemoohan Farold im mengecilkan dirinya. "Ayo berikan nasihatmu, kelelawar yang bijaksana," katanya.

Farold berpikir, "Aku sungguh-sungguh butuh minuman." .. Selwyn

berhenti, memegangi topinya dan memutarnya sehingga Farold yang bergelantungan terbalik dan terlempar ke depan wajahnya. "Jangan sekali-sekali memikirkan hal itu," ia memperingatkan. Memikirkan seekor kelelawar yang mabuk cukup membuatnya bergidik. Ia tak sanggup membayangkan kelelawar ini jika terlalu banyak minum—siapa yang dapat me-nebak seberapa banyak takaran bagi seekor kelelawar?—itu cukup membuatnya kehabisan napas.

"Sepertinya kau sanggup meneguk bir Orik," kata Farold. "Minuman itu bisa menyingkirkan kerdipan aneh salah sam matamu, dan mungkin bisa membuatmu menjadi teman yang menyenangkan." Sebelum Selwyn dapat membuka mulutnya untuk menjawab, Farold melanjutkan, "Selain im, tempat mana lagi yang lebih baik dari kedai bagi orang yang ingin berkumpul dan saling mendiskusikan suatu masalah?"

Selwyn memikirkan hal im. "Mungkin kau benar bahwa kedai adalah

tempat yang baik untuk memperoleh keterangan," ia mengakui. Tapi—

pertama-tama—aku tidak punya uang. Dan—yang kedua—apa yang akan

aku lakukan: Masuk ke sana dan berkata, "Aku dan kelelawarku ingin minum bir?"

"Pengembara selalu meminta-minta," kata Farold.

"Bukan pengembara ini," bentak Selwyn. "Huh," gerucu Farold. "Dan ketiga, aku juga tidak mau berbagi minuman denganmu."

Namun mereka tetap pergi ke kedai Orik, karena Selwyn tidak tahu harus melakukan apa hup.

Dan di sana mereka menemukan ayah Selwyn. Selwyn tertegun di pintu masuk.

Ayahnya berada dalam posisi yang sama dengan sewaktu ia terakhir kali melihatnya: terikat pada bangku, walaupun pada waktu im ia berada di tengah-tengah ruangan Bowden, dan kini di sudut kedai Orik. Setidaknya saat ini mulutnya tidak disumbat. Ia duduk terkulai, terlihat marah, sedih, dan sangat-sangat bosan.

"Tetap bergerak, tetap bergerak," bisik Farold di telinganya. Serwyn tidak yakin apakah Farold masih bergelayutan di

belakangnya, memaksanya maju karena tidak bisa melihat, atau masih mengharapkan minuman, atau apabila ia melihat ke mana mereka

pergi, ia telah melihat ayah Selwyn dan berharap Selwyn tidak akan mengatakan atau melakukan sesuatu yang akan menjatuhkan mereka. Selwyn tetap maju, sekali lagi karena ia tidak tahu hams berbuat apa.

Tidak ada tanda-tanda kehadiran ibu dan neneknya. Bahkan, selain

Orik, hanya ayahnya yang berada dalam kedai itu.

Orik yang duduk di salah satu meja, yang tampak tertekan karena ayah Serwyn, segera melompat benliiin3Akhirn^* ia menjerit, "seorang pelanggan!"

Selwyn berusaha untuk tidak memandang ayahnya. Ia tidak mungkin mengenali dirinya dalam samaran—dan walaupun ia dapat mengenali, Selwyn tidak menginginkannyai karena

hal itu akan mengakhiri segala sesuatu, apalagi semua im

disaksikan Orik Maka ia menatap Orik, dan membiarkan ucapan Orik masuk dari telinga ke benaknya. "Oh," ia berkata, "sayangnya aku hanya seorang pengembara yang lewat, tanpa uang, dan bersedia bekerja untuk sesuap makan dan tempat tidur di sudur selama sam atau dua hati;" :

Orik mulai menyeka meja begim matanya memandang Selwyn, walaupun meja tersebut sama sekali tak bernoda, Seluruh meja tak bernoda.

Demikian pula dengan lantai dan dinding. Belum pernah Selwyn menyaksikan ruangan sebersih ini. Namun mendengar perkataan Selwyn, Orik melemparkan taplak mejanya, "Memang kelihatannya aku butuh bantuan?" tanyanya. "Melayani keramaian? Menjaga agar para pembeli tidak saling dorong pada waktu membayar?"

"Ehh...," ujar Selwyn. Pandangannya kembali termju pada ayahnya yang tampangnya tidak jelek-jelekamat. Tidak banyak lelaki yang

terikat di sudut kedai, dan mungkin orang-orang akan penasaran dibuatnya.

"Ya," kata Orik, melihat arah pandangannya. "Tampaknya kau telah menemukan permasalahannya," Ia berjalan mendekati salah sam tong

minuman, menarik penump, dan menuangkan secangkir bir. Selwyn merasa ia mendengar Farold menjilat bibir kelelawarnya yang mungil. Tetapi Orik menghabiskan minuman itu dalam sam tegukan. "Siapa yang ingin datang ke tempat ini, menghabiskan uang, dan memandangi wajah seperti im?"

Ayah Selwyn membelalakkan matanya dan Selwyn berkata, "Aku...lalu mengangkat tangannya dengan putus asa.

"Tepat sekali," kata Orik dan menuangkan bir ke dalam cangkirnya yang kedua.

"Lalu mengapa ia- di sini?" tanya Selwyn. "Karena tidak ada tempat

lain untuknya,"* "Oh, begitu," ujar Selwyn, seorang pengembara sejati tidak akan—atau tidak dapat—mengatakan hal itu hanya dengan mendengarkan penjelasan Orik yang terpotong-potong. Selwyn menyadari ia tidak boleh terdengar terlalu tahu atau Orik akan menjadi curiga. Lalu ia berkata, "Apa yang telah ia lakukan?"

Ternyata Orik menjadi curiga. "Kalau kau hanya lewat, kau tidak perlu tahu."

"Tidak," jawab Selwyn. Namun ia mencoba untuk menangkap mau ayahnya, untuk memperlihatkan—paling tidak—suripatinya, Tetapi ayahnya sedang tidak memandang ke arahnya.

"Pergilah sekarang," kata Orik kepadanya. "Aku tidak sanggup m em berikan mu derma."

Namun sebelum Serwyn dapat meninggalkan tempat itu, pintu kedai

terbuka. Serywn berharap ada orang yang datang untuk dilayani dan

mengurangi am arah Orik. Namun Orik— yang segera melihat dengan penuh rasa ingin tahu—hanya berkata, "Oh, kau nipanya."

"Kau," yang ternyata adaJah Thorne. Ia masuk dan berkata, "Aku cuma mau memeriksa Rowe."

i *Tentu saja," kata Orik "Apa lagi alasan orang datang ke sini?" Thorne terdiam dan memandangi Selwyn. Selwyn melihat rasa tidak setuju pada pandangannya, tapi setidaknya bukan rasa mengenali dirinya. Selwyn mengira bahwa banyak dari penampilannya sebagai pengembara yang tidak dapat disetujui— terutama di sekitar bagian topinya, yang jelas menerima tatapan tajam Thorne. Tetapi lelaki itu memalingkan wajahnya dan menanyakan ayah Selwyn. "Semua baik- baik saja? Ada yang diperlukan?"

Ayah Selwyn melemparkan tatapan dingin pada Thorne.

"Nelda akan segera mengantarkanmu makan malam," kata Thorne,

seolah-olah ia bam saja menyampaikan sal am hangat. "Aku baru saja

melewati mmah Bowden dan melihatnya berkemas-kemas."

Ayah Selwyn tetap saja tidak mengatakan apa pun, walaupun Selwyn merasa lega karena telah mengetahui ibunya yang tinggal bersama

keluarga Bowden. Mungkin neneknya juga berada di sana karena dia bisa saja menyusahkan orang dan hanya sedikit orang yang bersedia menjaganya.

"Apakah kau perlu menggunakan ember?" tanya Thorne.

Namun Selwyn tidak mengatakan apa pun. .

Thorne menundukkan badannya untuk memeriksa ilea tan tali yang menahannya. "Tidak lagi," katanya.

"Apakah seharusnya aku merasa lebih enak?" ayah Serwyn men jawab sambil membelalakkan matanya.

Hal itulah yang membuat Selwyn tersadar bahwa mereka sedang menantikan hari yang diharapkan di mana ia tidak dapat bertahan.

Ia telah menduga hal ini, tetapi sulit rasanya untuk mendengar hal im.

"Heh!" teriak Orik. "Heh!" ia mengibas-ibaskan tangan ke sekitar

kepalanya. "Hama sejenis apa yang kaubawa ber-samamu?"

Thorne melihat ke sekelilingnya. Demikian pula Selwyn, walaupun ia sudah sudah dapat menebak apa yang sedang terjadi—dan tebakannya adalah Farold.

Orik berputar-putar sambil mengacak-acak rambut dengan jarinya—

yang tidak lebat—dan menepuk-nepuk taplak serta melambai-lambaikan

celemeknya lalu melihat ke atas, ke bawah dan seputarnya. "Ada yang terbang dari arahnya dan tercebur

ke dalam minumanku," Orik menjelaskan, sambil meyakinkan agar Thorne tidak mencurigainya kemasukan roh. "Selama empat hari tak seorang pun berkunjung kecuali kau dan Nelda yang datang untuk Rowe. Sekarang aku kedatangan seseorang dengan hama perusak yang terbang dan minum bir."

Selwyn memutuskan untuk pura-pura tak bersalah. "Apa?" ia bertanya dengan wajah kosong, tidak membiarkan matanya menatap Farold, yang

tampak tergantung pada lemari tempt tong-tong bir disimpan, yang tampak semangat meneguk tetes-an bir yang bocor dari tempat Orik menukar penutup minuman.

Thorne memandangi Selwyn dengan pandangan seolah-olah baru saja

menggigit buah asam. Ia bertanya kepada Orik, "Maksudmu binatang jorok dan menjijikkan yang tergantung di topinya?"

Farold mengeluarkan suara untuk membantah dan menarik perhatian

Orik.

"Heh," sergah Orik sekali lagi menatapnya. "Topiku?" tanya Selwyn, berusaha terdengar naif dan tak berbahaya. Ia melepas topi dan memutai benda itu dengan tangannya seolah memeriksanya. "Rasanya

tak ada yang aneh dengan topiku."

Farold sedang berendam dan menukik sambil mengeluarkan suara wuah- wuah yang Selwyn percayai tak pernah di-keluarkan oleh satu jenis kelelawar pun sebelumnya.

Orik mengejar Farold dengan sapu, tetapi—karena lebih melihat arah pergi Farold daripada di mana dia sebenarnya— ia tersandung sebuah kursi sehingga sapunya terlepas, melayang, dan hampir saja

mengenai Thorne kalau ia tidak segera me-ngelakkan tubuhnya ke belakang. Satu-satunya masalah adalah kursi ayah Selwyn ada di sana dan kursinya tidak bisa mundur.

Ia, kursinya, dan Thorne terjungkal ke lantai, bersama dengan

Orik.

Pintu terbuka dan seseorang masuk. Farold melarikan diri dengan salah satu sayapnya terkembang sehingga Selwyn yakin bahwa

kelelawar itu sama sekali tidak peduli.

"Kau baik-baik saja?" Selwyn betgegas menolong ayahnya tanpa mempedulikan Orik dan Thorne—hampir saja me-langkahi tubuh Thorne untuk mencapai ayahnya.

Meski terbaring miring, ayahnya berusaha mendesak-desakan tali yang mengikatnya dan berharap dirinya terlepas.

Thorne mendorong Selwyn agar menjauh darinya dan berusaha

mendekat! kursi. Lalu tiba-tiba muncullah Merton yang datang untuk menolongnya—ternyata dialah yang batu memasuki tempat itu. Selwyn melihatnya menundukkan badan untuk menghindari Farold dan tidak mengenali siapa dirinya.

"Ada apa di sini?" tanya Merton, sementara Thorne me-mastikan bahwa ikatan tali masih kuat.

"Entahlah," gerutu Ofik. Ia berdiri di pintu masuk sambil mengayun-ayunkan tongkat sapu, melihat ke kiri dan kanan seolah- olah mengharapkan kehadiran tamu bersayap lain yang tidak ia harapkan. "Orang menyebalkan ini datang bertanya ini itu, dan ia dikelilingi oleh taksasa menyebalkan yang me-nyerang kami." "Raksasaf pikir Selwyn.

" Dia juga bertanya-tanya tentang rumah Rowe," ujar Merton. "Ia lebih dulu sampai di rumah itu sebelum aku. Dan aku mengikutinya untuk melihat rencana buruk apa yang ada di benaknys.".

Selwyn berupaya tampak tidak bersalah. la sungguh-sungguh menatap lelaki itu untuk pertama kalinya. Serwyn

1 VI/

berharap Elswyth telah mengerjakan tugas dengan mengubah wajahnya

sebaik ia mengubah pakaiannya.

"Rumah Rowe?" ulang Thorne. ii Orik yang masih mengamati dari

pintu mengatakan, "Mungkin ia adalah sejenis makhluk terlatih yang

dapat terbang dan mampu membunuh dari Prancis atau negara lain; "Kelelawar itu," Merton menjelaskan pada Orik. Kepada Thorne, katanya, "Mungkinkah makhluk itu salah satu kerabat Rowe? Mereka mengabarkan bahwa mereka dalam bahaya?"

"Tidak ada kesempatan untuk melakukan hal itu," kata Thome. Selain itu, Rowe tidak memiliki kerabat. Dan selain itu, lihat dia, ia tidak mengenalinya."

Ayah Serwyn sedang mengamatinya seolah-olah berusaha untuk mencari

kemungkinan siapakah ia. Namun kini wajahnya kembali kosong, sehingga Thorne tidak dapat memperoleh apa pun darinya. Sambung Thorne, "ia cuma seorang pengembara yang serba salah, jorok, dan terlalu ingin tahu."

Selwyn merasa tersinggung. Orik-lah yang serba salah, bagian yang jorok akibat ulah Farold—karena menjatuhkan kotoran kelelawar di seluruh punggung dan bahunya setelah Elswyth membersihkannya

secara khusus. Tetapi ia tidak dapat mengelak dari tuduhan terlalu ingin tahu.

"Baiklah," akhirnya ia berkata sebelum mereka mengubah pikiran

mereka dan memutuskan untuk mengikatnya pada kursi, "karena tidak ada tawaran pekerjaan dan keramahandi tempat ini, sebaiknya aku pergi." Satu tahun, pikirnya. Aku telah membayar satu tahun untuk samaran ini, dan sia-sia semuanya.

Ia menaruh kembali topinya di kepala, meluruskan jubah pengembaranya, dan meninggalkan kedai im.

101

Di belakangnya terdengar pintu terbuka.

"Bawa tikus dekilmu im!" tetiak Orik di belakangnya.

Bisa saja Selwyn membalas berteriak, "Kelelawar beda dengan tikus!" tetapi tebaknya Orik mungkin tidak terlalu tertarik

mendengarnya. Ia terus berjalan karena menyadari bahwa Thome dan

Merton ada di luar dan berdiri di samping Orik untuk memastikan bahwa kali ini ia sungguh-sungguh pergi.

Sewaktu ia melewati rumah Bowden, ia mengintai Farold yang berusaha melihat Anora melalui jendela. Tetapi sewaktu Farold melihat bahwa Selwyn telah pergi, ia menukik ke bawah dan mencengkeram bagian depan topi lelaki im sehingga ia berayun-ayun di muka wajah Selwyn. "Maaf kalau tadi aku bertindak agak konyol karena kelelahan," katanya, "sudah aku peringatkan bahwa kelelawar adalah binatang malam?"

"Mabuk," Selwyn membenarkan, marah tapi bersikap tenang sehingga suaranya tidak akan terdengar oleh penduduk desa yang berdiri di pinggir jalan mengamatinya. "Kau mabuk, bukan kelelahan."

Farold mengangkat bahu, mengatupkan matanya dan dalam sekejap

mulai mendengkur. DUA BELAS

Keadaan Selwyn semakin memburuk bila dibandingkan dengan kemarin,

ketika ia tidak punya pilihan selain membiarkan Elswyth mengubah penampilannya dengan kekuatan sihir-nya. Tak peduli seberapa jauh berjalan, yang ia rasakan sekarang adalah ia telah memilih samaran yang salah. Ia berpikir untuk membuat samaran lain. Ia merasa

kesal karena tindakannya yang bodoh, dan memaksa dirinya dengan keras, "Berpikirlah! ia telah menawar tujuh tahun. Ia teringat kembali sewaktu ia masih berusia sepuluh tahun, untuk memastikan dalam pe-mikirannya apakah tujuh tahun itu. Perbedaan yang besar antara tujuh belas dan sepuluh tahun. Ia berusaha berpikir ke depan hingga dua puluh empat tahun kemudian, tapi ia tak sanggup-

Ia berjalan terus dan tahu bahwa akhirnya ia harus kembau Penryth.

Ia juga sadar bahwa ia tidak akan dapat keroba"

sebagai pengembara yang menyebalkan, mencurigakan, dan merepotkan. Namun ia tidak sanggup berpikir lagi bagaimana mengubah samaran sihirnya, daripada ia membayangkan bagaimana cara menyamar seperti

semalam.

Tidak ada jalan keluar. Ia membutuhkan bantuan Elswyth.

Ia berhenti dan mengambil napas dengan menggigil. Aku tidak akan

melawannya, pikirnya. Satu tahun dari semua itu tidak ada artinya sama sekali.

Baiklah, bukannya tidak berani sama sekali.

Ia menghela napas panjang lagi, dan kali ini ia merasa lebih kuat.

Hal pertama yang ia perlukan adalah menemukan Elswyth. Tetapi sebelum ia dapat melakukannya, ia harus menemukan di mana dirinya berada. Ia telah berjalan cukup lama tanpa mem-perhatikan apa pun, dan entah mengapa ia kini berdiri di re-rumputan.

Hal paling masuk akal yang perlu dilakukan adalah berusaha mencari jalan kembali, berputar ke perbukitan, ke bagian belakang gua pekuburan, tempat ia terakhir kali melihat Elswyth. Begitu tiba di

sana, apabila ia mujur, ia pasti dapat menemukan jejak langkah

Elswyth.

Tapi bukan berani—sebagai seorang petani—ia memiliki pengalaman cukup untuk mengikuti jejak.

Saat itu matahari berada di kaki langit. Dan ia menyadari bahwa sebentar lagi waktunya para kelelawar mulai terbangun. Dengan pemikiran itu, Selwyn berharap seekor kelelawar ter-tentu akan bangun dengan kepala beidenyut-denyut sakit Namun itu bukan hal penting. Hal yang penting adalah hampir satu hari penuh berlalu sejak ia tidak melakukan penawaran apa pun terhadap Elswyth: satu hari dalam seminggu sejak

perempuan sihir itu menugaskannya. Pergi. Tanpa hasil. Tapi itu tak perlu dipikirkan. Sama halnya dengan kenyataan— walaupun mengira bahwa ia dapat menemukan kembali tempat ia dan Elswyth berpisah — maka ia akan mencoba untuk mencari jejaknya di malam hari.

Apa lagi yang hams ia lakukan?

Dari tempatnya berdiri di padang rumput, tidak ada satu pun tanda

jalan, ke arah mana pun ia memandang. Ia memutar badannya untuk kembali ke arah asalnya, dan merasa bahwa ia tidak mungkin sanggup berjalan jauh di atas tanah yang kasar tanpa perhatian sedikit

pun. Sepertinya ia telah berjalan sekurang-kurangnya dalam garis

lurus.

Tetapi ia berhenti setelah tiga atau empat langkah. Entah kenapa rasanya salah.

Tolol ia memarahi dirinya, dan mengambil sam langkah lagi. Tapi ia

tak sanggup melangkah lagi.

Ia berputar kembali, ke arah jalan yang ia lalui tanpa sadar— arah jalan yang ia yakini bukan dari sana ia berasal.

Kau membuang-buang waktu, gumamnya. Karena selama hidupnya ia

tidak pernah meninggalkan rumah lebih dari sepuluh mil. Seharusnya ia menyadari untuk tidak mempercayai pengetahuannya tentang arah jalan. Mungkin ada jalan di ujung padang rumput ini, atau mungkin

tidak. Tapi pasti ada jalan di belakangnya, dan tentu saja sebuah jalan yang sebenarnya.

Walau demikian.... i

la mengatupkan mata dan berputar; perlahan-lahan, dan menyentuh detakan jantungnya. Ia teringat jari-jemari Elswyth yang menyelusuri jantungnya, mengucapkan mantera baginya, "Tujuh hari dan kau harus datang kepadaku." Dan sewaktu ia menanyakan hal im kepadanya, ia berkata bahwa ia akan tertarik

*U3

padanya. "Pasti," katanya, "kau tidak akan dapat berhenti men-

cariku." Hanya sam hari berlalu, dan tarikan im hampir tak terasa olehnya karena terlalu perlahan. Namun ia terus mengikutinya sewaktu pikirannya terlalu disibukkan untuk mengikuti jejak kakinya. Ia membuka mata dan menghadap arah yang ia telah hadapi tanpa disadarinya.

Terlalu banyak bahaya di tanah yang tak rata apabila ia berjalan dengan mata tertutup. Namun Selwyn berusaha untuk me-nyingkirkan bermacam pikiran dari benaknya dan ia mulai berjalan.

Farold terbangun pada waktu senja.

Selwyn akhirnya menemukan jalan rerumputan, namun tak berapa lama kemudian ia merasa dirinya hendak meninggalkan tempat itu kembali.

Kini ia berjalan di daerah yang sedikit lebih lebar daripada jalan setapak dalam hutan lebat;

"Aku benci harus mengatakan hal ini padamu," kata Farold dengan

gaya bicaranya yang selalu penuh tuduhan, "tetapi sadar-kah kau bahwa kita sudah berjalan meninggalkan Penryth?"

"Ya," jawab Selwyn.

"Kita ada di dalam hutan belantara," sergah Farold. "Ya," kata

Selwyn.

"Apakah ini karena kau telah mengurangi daftar tertuduh hingga hanya beruang bersenjata pisau atau serigala yang membenci

pembantu pemilik penggilingan?"

"Aku sedang mencari Elswyth," gumam Selwyn, seperti mengharapkan amukan.

Tetapi tenggorokan Farold mengeluarkan suara getaran, " Ya, dan

siapakah yang bisa menyalahkanmu karena kehilangan jejaknya — dia penyihir muda yang manis dan penuh kasih/

"Ah, diam kau!"ujar Selwyn.

106

Ia terus berjalan walaupun sudah gelap dan Farold terus menutup mulut selama beberapa waktu.

Kelegaan Selwyn hanya terjadi apabila Farold terbang me-

ninggalkannya beberapa kali untuk mengincar sejumlah serangga. Tetapi ia selalu kembali.

Namun, tetap saja Farold, dengan kemampuan kelelawar-nya yang tinggi untuk menemukan segala sesuatu dalam kegelapan, akhirnya

berkata, "Ada rumah-rumah di atas sana."

Selwyn menghentikan langkahnya dan Farold tiba-tiba terbang menukik ke atas untuk menghindari pukulan pada bagian belakang

kepalanya.

"Oh, memang masuk akal," gerutu Farold. "Mendaki mil demi mil di tengah hutan belantara lalu berhenti karena melihat adanya rumah- rumah."

"Shhhhh," sergah Selwyn. Ia hampir saja tidak dapat melihat bentuk perumahan dari kegelapan, tapi tak satu pun me-nampakkan adanya lampu, apalagi di tengah malam seperti ini. Di Penryth terdapat lebih sedikit rumah. Kenyataan ini serta gaya desa mungil di luar belantara itu membuatnya berpikir bahwa ini adalah desa Woldham.

Ia belum pernah ke Woldham, tetapi ia pernah mendengar desa ini dan tentang penyihir yang tinggal di sana. Jadi itulah Eslwyth,

walaupun kisah-kisah yang ia dengar sebelumnya mengatakan bahwa penyihir Woldham kerdil dan berpunggung bungkuk. Nenek penyihir

itu hanya memiliki mata satu. Tetapi mungkin sebagai penyihir ia telah menemukan pengobatan. Atau mungkin menjadi Elswyth, dia

hanya berpura-pura bahwa salah satu matanya buta untuk alasan yang hanya dapat dipahami oleh Elsywth.

"Yang mana rumahnya?" Farold berbisik, menurunkan nada suaranya, tetapi tidak terlalu banyak.

107

"Bagaimana aku tahu?" ben tak Sehvyn.

Farold melesat di depannya dan melompat ke rumah tet-dekat,

berupaya mengintip melalui lubang dan drai. W

"Faroldy panggil Selwyn, tidak berani mengeraskan suaranya. "Farold, kembali!" Yang ia perlukan hanya membangun-kan seseorang lalu kabur dari desa ini juga. Entah mengapa, ia merasa Elwsyth

tidak akan membela dirinya.

Seperti biasa, Farold tidak mempedulikannya.

Ia tetap berdiri di tengah kegelapan dan menyimak kalau-kalau

sayap kelelawar Farold yang mungil mengeluarkan suara. Kemudian Selwyn merasakan sesuatu menarik-nariknya dari sebelah kanan. Elswyth, pikirnya. Ia berpaling ke arah im dan dalam sekejap Farold kembali ke sisinya. i

"Kau hanya menebak atau kau memang tahu?" tanya Farold. "Shhhh," kembali Selwyn menyuruhnya diam.

"Tetapi—," Farold mulai lagi, karena Selwyn berjalan me-lampaui sekelompok rumah, kembali menuju jalan setapak yang mengarahkan

mereka kembali ke tengah rimba belantara.

"Kau ingin membuat marah orang-orang sedesa?" tanya Selwyn. "Kau ingin'membuat Elswyth marah?''

Akhirnya kata-kata itu membuatnya diam.

Selwyn melihat sesuatu yang menariknya ke jalan setapak yang tak ia lihat sebelumnya. Jalan setapak itu melintasi be* berapa pohon dan mengarah ke sebuah rumah yang me-nyendiri, dikelilingi oleh

pagar batu setinggi bahu. Tetapi ia tidak mengikuti jalan setapak yang menuju pintu gerbang, ia malah mengelilingi rumah itu dan menaiki dinding,

"Tadi" tanya Farold, dengan suaranya yang anehnya terdengar keras di telinga Selwyn, "kauperhatikan ada jalan setapak

dan gerbang dengan pengait yang sederhana, bukan? Semula juga aku tidak mau mengatakannya, kecuali—"

"Shhh!" bisik Selwyn dengan keras, siap untuk mencekiknya. "Maukah kau berhenti membuat keributan?" ia melompat melampaui dinding itu dan menjejakkan kakinya di dalam gerobak kecil di sisi dinding

yang lain. Gerobak kecil itu miring karena berat badannya, sehingga ia dan beberapa pot tanah liat terlempar ke arah pagar yang belum jadi yang terbuat dari kayu dan tali temali. Pagar yang rapuh itu jatuh tertimpa oleh-nya dan ia mendarat di atas semak- semak rasberi. Ia berguling untuk membebaskan dirinya dari semak- semak dan terguling ke semak-semak lainnya. "Aduh, aduh, aduh." Ia

terhenyak, tak mampu menahan jeri tan rasa sakit. Ia terus berguling dan me-robohkan lebih banyak pagar kecil. Pasti terdapat giring-giring yang terpasang di sisi luar pagar itu untuk mencegah biri-biri karena akan terdengar den tangan keras begitu mereka datang. Selwyn tahu bahwa pemilik kebun itu ingin menghindarkan biri-biri karena serom bongan hewan itu segera berkumpul dan mulai mengembik padanya dan berusaha mendekati semak-semak rasberi. Farold berbisik di telinganya. "O, kalau begitu maumu, aku akan berusaha lebih diam.

"Shh," perintah Selwyn. "Shhhh," Selwyn menyuruh hewan-hewan itu diam.

.Pintu depan rumah itu terbuka, memancarkan sinar di kegelapan yang Selwyn kenali sebagai lampu penyihir. Suara yang terdengar

kesal berteriak," Hai kau perusak! Sudah berapa kali kukatakan untuk menjauh dari pekarangahku!" ji n

Namun pada saat yang bersamaan, seseorang memukul bagian belakang

kepalanya dengan keras: Elswyth, tepat berada

109

di sampingnya, dan bukan perempuan yang meneriakinya dari pintu depan. "Diam!" Elswyth memerintahnya dengan bisikan yang tajam.

"Kau terdengar seperti seekor ular yang histeris."

Sosok tubuh yang ada di pintu depan—yang dapat Selwyn tangkap hanyalah bayangannya—mengangkat kedua tangannya. Tiba-tiba sebuah sapu melayang dari pintu depan, tapi tak tersentuh oleh tangan

perempuan iw, bergerak menuju beranda, pekarangan, domba, dan langsung ke tempat mereka merunduk di antara pagar-pagar rasberi yang rusak.

"Selamat tinggal," kata Farold, menghilang ke dalam kegelapan. Elswyth menggerakkan tangannya, tapi sapu itu tidak menghiraukannya dan segeta mengatah ke Selwyn. Walaupun penyihir itu betditi di pintu depan dengan tangan bertengger di paha, sapu

itu mulai memukuli kepala dan punggung Selwyn seolah-olah penyihir itu berdiri di sana dan memegangi sapu itu.

"Aduh, aduh, aduh, aduh!" Selwyn menunduk dan melindungi

kepalanya.

Elswyth juga tak mempedulikannya. Ia memanjat pagar dengan kecepatan yang menakjubkan untuk perempuan se-umurnya. Tiba-tiba ia muncul kembali dari sisa yang lain dan berbisik dengan keras,

"Tolol! Apa kau hanya diam di sini don membiarkan ia memukulimu tanpa perasaan?"

"Terlambat," teriak Farold.

Selwyn berharap apabila ia tidak melawan, sapu itu akan meninggalkan nya, tapi tampaknya tidak demikian yang terjadi. Ia memanjat dinding kembali, tapi sulit karena sapu im terus memukulinya. Tetapi begitu ia menjatuhkan diri ke tanah, sapu pemarah itu meninggalkannya dan kembali ke nenek penyihir yang ada di pintu depan.

1 1u

"Perusuh!" ceriaknya kembali dan membanting pintu hingga tertutup.

Tetapi Selwyn masih belum dalam keadaan aman. Elswyth kembali menampar kepalanya. "Tolol!" katanya. "Apa yang kaulakukan tadi?" "Aku mencarimu," kata Selwyn.

"Dan aku," kata Elswyth, "sedang mencari salah satu bumbu untuk

ramuan jimatku: susu dari biri-biri milik penyihir itu akan kucuri tengah malam, tapi kau mengacaukan rencana itu." "Maaf," kata Selwyn. "Kau bisa mencobanya lagi." Ia menempelengnya lagi. "Kaupikir berapa kali tengah malam datang ke desamu dalam satu malam?" tanyanya.

Ia tidak bermaksud untuk melakukan rencananya itu malam ini juga. Ia hanya ingin mengatakan bahwa Selwyn tidak sepenuhnya

mengacaukan ramuan jimatnya.

"Tolol," ulangnya kembali. "Mengapa kau ingin menemuiku? Apakah kau siap untuk memulai tujuh tahun pelayananmu? Apakah kau sudah

membuktikan siapa pembunuh kelelawar itu?" I "Tidak juga," aku Selwyn.

Farold mendengus. "Ia berhasil memperpendek daftar ter-tuduh," ujarnya. "Ia tahu kalau pelakunya bukan dia dan aku."

"Lalu maumu apa?" tanya Elswyth.

Selwyn mengira bahwa ini saat yang tidak tepat untuk meminta bantuan, tetapi ia tidak sabar menunggu. Katanya, "Orang-orang mencurigaiku sebagai pengembara karena mereka tidak mengenaliku

dan mereka bertanya-tanya mengapa aku mengajukan banyak pertanyaan.''

Elswyth tersenyum.

Selwyn sadar bahwa ia dalam masalah. TIGA BELAS

"Jadi," kata Elswyth, "apakah kau ingin agar aku membuat-kan samaran baru atau rencana baru?"

"Mungkin beberapa saranmu akan berguna," ucap Selwyn penuh pengharapan.

Harusnya ia lebih cerdas lagi.

Katanya, "Nasihat berharga sama dengan samaran, yaitu satu tahun menjadi budakku. Tetapi apabila aku harus berdiri di sini dan mendengarkan seluruh kisah hidupmu yang membosankan agar aku dapat mencarikan tindakan yang paling tepat bagimu, maka tiap kali aku menguap karena me-ngantuk kau harus membayarku dengan tambahan

enam bulan."

Menyadari. tingkat kesabaran Elswyth, buru-buru Selwyn oienjawab,

"Kalau begitu samaran baru saja bagaimana?"

"Pedagang kaya dan seekor anjing," bisik Farold dengan suaranya yang begitu perlahan, mungkin ia berusaha seolah-olah suara im ada di dalam benak Selwyn.

Selwyn mengabaikannya dan menjelaskan kepada Elswyth. "Masalahnya para penduduk desa tidak terbiasa dengan orang asing. Jadi pikirku

mungkin lebih baik kalau aku menyamar sebagai seseorang yang mereka kenali. Dapatkah aku melakukannya? Dapatkah kau membuatku seperti seseorang tertentu?"

"Apabila penjelasanmu cukup baik," Elswyth meyakininya. "Aku akan

mengambilkanmu seember air sehingga kau dapat berkaca, lalu kau dan kelelawarltu dapat memanduku sewaktu aku melakukan perubahan.

Tenm saja hal im membutuhkan lebih banyak waktu. Jadi kau harus membayarku selama dua tahun. Mengapa hal im tidak mengejutkan? "Wah, pandai sekali," kata Farold. "Dua tahun untuk samaranmu sebagai seseorang, dan beberapa tahun untuk memastikan bahwa kau dan orang tersebut tidak memasuki ruangan yang sama pada waktu yang sama."

"Aku sedang berpikir,* Selwyn menjelaskan, "seharusnya dia

seseorang yang tidak tinggal lagi di Penryth." "Seperti kau dan aku,* ujar Farold. "Seperti Alden," Alden adalah anak tertua Thorne, tetangga-riya, yang beberapa tahun lebih tua dari Selwyn dan Farold. Ia meninggalkan desa untuk kehidupan yang lebih menantang daripada menjadi seorang petard tahun lalu.

"Alden? kata Farold dengan suara kelelawarnya "Alden ThornesorvT—

walaupun hanya ada sam orang Alden di desa itu. "Apa yang

membuatmu berpikir orang akan berbicara dengan nya? Bahkan kaupikir Thorne pun tidak akan senang melihatnya kembali, dia orang yang tidak berguna. Tak seorang-

pun menyukainya. Lebih daripadamu. Mengapa, aku bisa

menceritakanmu—i

Elswyth mengerang—dengan keras, "Aku yakin kau bisa," katanya. "Tetapi aku harus meminta bayaran enam bulan tiap kali aku

mengantuk" la menguap dengan selebar-lebarnya, lalu tersenyum dengan manis dan anggunnya, lalu berkata, "Maaf-kan aku."

Berpaling kepada Selwyn, lalu bertanya, "Jadi, Alden Thorneson-kah pilihanmu, atau kau hanya menduga-duga?"

Selwyn tampak ragu, sementara im Farold menggeleng-gelengkan kepalanya dengan penuh ketakutan. "Kisah. apa yang dapat kauceritakan?" tanyanya kepada Farold. "Ceritakan padaku sam kisah, yang terburuk."

Farold memusatkan perhatian selama sekejap. "Baiklah. Ia membakar tempat pembuatan ladam milik Holt."

"Bukankah kilat yang menyebabkan kebakaran im terjadi sewaktu

badai?" kata Selwyn.

Farold hanya memandangnya. "Begitav bukan?" tanya Selwyn.

Ujar Elswyth. "Hanya karena api timbul saat badai, bukan berani badailah penyebabnya."

" Betul sekali," sambut Farold." Nenek sihir tua ini benar juga." Ia mengerutkan hidung kelelawarnya yang besar, jelas menyesali

lontaran pujiannya, lalu menambahkan, "Kadang-kadang." Elswyth menyeringaikan giginya kepada Farold.

"Tetapi ," ujar Selwyn, ia tidak ingin mempercayai bahwa sesuatu bisa seburuk im. Holt telah kehilangan segalanya karena kebakaran im. "Mengapa kaukatakan Alden penyebabnya?"

"Mereka berdua tidak pernah rukun. Alden senang sekali mencari

jalan untuk menyiksa Holt, misalnya, iapernah menuangkan minyak di kayu perapian yang disimpan Holt. Jadi sewaktu

m

Holt hendak menggunakan kayu itu, api mengeluarkan asap dan bau menyengat. Dan hampir mustahil untuk memisahkan bagian man a yang

dilumuri minyak dan mana yang tidak. Akhirnya Holt harus membuang semua kayu itu dan memotong yang baru. Hort selalu mengeluh kepada Thorne tentang gangguan dan hal Iainnya yang disebabkan oleh

Alden. Semakin sering Holt mengeluh, semakin sering Alden

mengganggunya."

Selwyn hampir saja berkata bahwa hal itu lebih berat daripada yang menyebabkan ia tertuduh membunuh Farold, tetapi Farold

melanjutkan, "Pada malam kebakaran itu, aku pulang terlambat dari kedai, dan bergegas dari satu pintu ke pintu lain mencoba menghindari hujan. Saat itu aku melihat Alden keluar dari tempat pembuatan ladam, tanpa cahaya di belakangnya yang menunjukkan bahwa ia sedang meren can akan sesuatu malam im. Tak terpikir olehku ia berbuat sesuatu yang lebih buruk daripada membengkokkan kuku kuda, tetapi ia pasti menyimpan bara yang panas di suatu tempat yang terus me-manas sepanjang malam, menunggu hingga kilat menyambar. Lalu...." Farold mengepakkan sayapnya, menggambarkan bahwa toko besi tempa im terbakar.

Kata Selwyn* "Ini lebih buruk daripada pancingan yang biasa ia

lakukan. Mungkin saja hanya kebetulan."

"Kecuali," kata Farold, "lalu mengapa—sewaktu aku memo jokkannya— ia bersedia membayarku agar aku tidak me-takan pernah melihatnya?" Elswyth terbahak-bahak "Kau memerasnya? Si kelelawar yang

menyebalkan ini suka memeras?"

"Tidak," jawab Farold. Ia merapikan sayapnya. "Aku hanya .. menerima uang darinya ... dan tidak menceritakan kepada rang-orang

bahwa aku membunuhnya."

"Tidak heran ia meninggalkan dusun itu?" ujar Elswyth. "Agar tidak perlu membayarmu."

Selwyn tidak melihat ini sebagai sesuatu yang lucu seperti yang

Elswyth pikirkan. "Kau tahu ia yang membuat api tapi kau tidak mengatakan hal itu kepada orang lain?" q

"Apa gunanya?" Farold membela diri. "Pada saat itu, tempat im juga

sudah hancur. Memangnya aku bisa mencegah hal im terjadi?"

"Tetapi kau tahu im bukan akibat bencana alam seperti yang disangka orang?" kejar Selwyn.

Farold mengangkat bahunya. "Aku meminjamkan uang pada Holt untuk memulai kembali."

Kata SerwyrvwfiEidak diragukan lagi, uang itulah yang dibayar-kan

Alden Thorneson kepadamu."

"Ya," jawab Farold, seolah-olah ia tidak melihat hal itu salah. Pemikiran baru datang pada Selwyn, "Dan bagaimana dengan Thorne. Tahukan dia tentang ini semua?"

"Mengenai kebakaran atau uang?" tanya Farold, marah, karena nada

suara Selwyn yang penuh tuduhan. "Keduanya," jawab Selwyn.

"Ya." Farold mengaku.

"jadi bisa saja Thorne me ngi ngi nkan kernatianmu - untuk melindungi nama baik keluarganya, dan mencegahmu meminta uang tambahan."

"Tidak," kata Farold. Lalu ia memikirkan lagi. "Tapi, mungkin

saja."l b

"Tertuduh lain," kata Elswyth. "Aku senang jadinya."

Selwyn cukup cerdik untuk tidak mempercayai kata-kata Elswyth

tersebut. "Ya," katanya, "dengan mempertimbangkan segala sesuatu, rasanya tidak tepat menyamar sebagai Alden.

Ietapi siapa lagi? Tidak seorang pun meninggalkan P selama sepuluh tahun terakhir ini." nryth

Farold berpikir selama beberapa saat, "Tidak betul " u; "Kendra pergi."

"Tetapi ia seorang gadis," sanggah Selwyn. "Ia adalah anak gadis Orik," ujar Farold.

Selwyn tidak mengerti maksud komentar itu, "betarti' adalah seorang gadis," tegasnya.

ij?flt adalah gadis kedai," kata Farold. "Orang-orang selalu

menceritakan masalah mereka kepada penunggu kedai atau gadis-gadis kedai. Siapa lagi yang lebih baik, kalau kau meng-jnginlean orang terbuka dan menceritakan segala hal?" "Ia perempuan," ulang

Selwyn, suaranya semakin keras "Tadi sudah kau katakan," kata

Farold. "Orang senang bet-bincang dengan gadis seperti itu." "Itulah sebabnya ibunya mengirim gadis itu ke biara di Saint Hild," kata Selwyn, "Sehingga para biarawati dapat me-ngajarnya untuk tak mendengarkan segala sesuatu yang dikata-kan orang." Farold mengangkat bahu, "Coba pikirkan," bujukhya. "Alden

Thorneson pulang dengan penuh percaya diri ke desa setelah menjadi pangeran perampok atau raja perompak atau kehidupan apa pun yang

ia sebut, lalu Kendra pulang kembali bekerja di kedai ayahnya. Lalu mereka berdua bertanya 'Ja& kalau ada berita baru?' dengan siapa kau akan berbkaim!

Selwyn menjadi gelisah, mengetahui bahwa Farold benar. "Bagaimana kalau Kendra datang sewaktu aku sedang menyamar menjadi dirinya?"

¦ 1 h

"Orang-tuanya mengirimkan dirinya untuk ^ para biarawatj^ isata

Farold, "Kaupikir mereka dapat mendi

nya dalam enam bulan? Rasanya ia tidak akan pulang secepat

itu daripada Alden."

Rata Elswyth, "Penyamaran itu dapat saja dilakukan apabila kau

ingin tahu. Dengan perintah-perintah yang jelas, aku dapat membuatmu tampak seperti seorang gadis."

"Entahlah...," kata Selwyn.

Baik Farold maupun Elswyth menghela napas.

Saat itu tidak ada otang lain. Tanpa ragu Elswyth dapat melihat dari wajahnya. Ia menyetingai dengan liciknya. "Kesempatan terakhir untuk menjadi laki-laki," ia memper-ingatkan.

EM PAT BELAS

Elswyth menyuruh Selwyn agar kembali memanjat tembok pekarangan dan mengambil salah satu pot tanah liat yang secara tak sadar dibuangnya sewaktu menjatuhkan gerobak kecil. Ia yakin sekali

bahwa penyihir Woldham akan mengamatinya dan sekali lagi akan mengirimkan sapu untuk mengejarnya. Tetapi malam itu begitu hening dan ia bisa menyeret ember dari dalam sumur untuk mengisi pot. "Potitu kuranggelap untuk mengduarkan bayangan,"kata Selwyn, sewaktu ia membawa benda itu kembali kepada Elswyth. "Aku bisa mengusahakannya dengan kekuatan sihir," jawab -yth.

"Baiklah kalau begitu, mengapa kau tidak menyediakan air dengan

kekuatan sihirmu?" tanya Selwyn. "Pot itu juga untuk keperluanmu, kan?"

119

Ia kembali menempeleng bagian belakang kepalanya dan

merasa tidak perlu untuk memberikan alasan.

Ia mengeluarkan api kecil dan sesuatu yang mendidih di atasnya, "Ceritakan kepadaku tentang Kendra," katanya

kemudian. "Seperti apa tampangnya?" "Ia sangat cantik," ujar

Farold.

"Bagaimana kau bisa mengatakannya?" gumam Elswyth. "Cobalah lebih mendetail. Berapa umutnya dan seberapa tinggikah ia? Apa warna

rambut dan matanya? Apakah ia gemuk atau kurus?"

"Ia lebih tua sedikit daripada Farold dan aku—," Selwyn mulai

lagi.

"Usianya 18 tahun," potong Farold. "Rambutnya cokelat terang," sambung Selwyn. "Cokelat tua," Farold membetulkan.

"Ileal tetapi tidak terlalu keriting," sambung Serwyn. "Panjangnya sampai ke sini." Farold terbang di antara pundak dan siku Elswyth.

Bayangan Selwyn berubah sewaktu Elswyth merendam kedua tangannya ke dalam asap yang muncul dari pot yang mendidih. Badannya bergidik. Kali ini lebih sulit memusatkan pikiran daripada sebelumnya, saat ia mengalami perubahan sewaktu berada di dalam aliran sungai dan ketika melangkah keluar, dan menemukan semuanya

telah terjadi. Untuk pertama kali ia menyadari bahwa Elswyth telah berbuat baik kepadanya.

Apa yang kulakukarii Ia bertanya kepada dirinya sendiri sewaktu penampilannya berubah, ia yakin bahwa ini adalah kesalahan terbesar yang ia lakukan sejauh ini.

En tab. karena Farold sangat memperhatikan Kendra ataukah memang ia sangat teliti, maka Selwyn membiarkan kelelawar

ini menggunakan seluruh caranya sewaktu ia berkeras tentang

tekstur rambut Kendra yang sesungguhnya dan bagaimana ia membelah

rambutnya dari tengah ke kiri dan memiJiki sedikit lekukan di atas hidungnya, kemudian jari-jarinya yang panjang dan lentik. Namun akhirnya Selwyn membanting kakinya sewaktu Farold mengatakan, "Bagian ininya lebih besar," dan ia menaruh sayapnya di depan dadanya.

"Aduh, sudahlah," ujar Selwyn sewaktu Elswyth membuat perbaikan. "KembaJikan ke ukuran semulai" Ia mengecilkan dadanya. . "Ia butuh

lebih," Farold meyakinkannya. . "Tidak," Selwyn melipat tangan di depan mbuhnya, sebagian untuk melindungi dirib "Mungkin lebih kecil." ^ i

Farold mendengus, "Lebih besar," bisiknya dengan keras. "Lebih

kecil," lawan Selwyn.

Elswyth menghela napas, "Ini membuang-buang waktu.

Kesempatan terakhir atau aku kenakan kau enam bulan tambahan. Lihat bayangan dirimu. Sekarang, lebih kecil atau besar?" "Orang

akan memperhatikan," Farold memperingatkan.

"Mereka akan bertanya-tanya apa yang dilakukan para biarawati di Saint Hilda terhadap Kendra?" /

Selwyn melihat bayangan dirinya di dalam air pot tanah liat. Entail bagaimana Elswyth mengubah pakaian pengembaranya menjadi sebentuk gaun, dan kini ia berusaha menarik penutup dadanya lebih ke atas lagi. Ia mengatupkan matanya dan membayangkan Kendra sewaktu ia terakhir kali .melihatnya, yaitu di awal musim semi. Selwyn teringat saat duduk di belakang kereta Orik, ia mengenakan gaun musim semi yang cerah, dan men i up kan ciuman pada lelaki- lelaki muda yang berkumpul untuk mengantarnya ke biara Saint Hilda. Banyak sekali lelaki

muda yang hadir saat im karena Kendra sangat digemari. Ia menyipitkan mata dari balik bulu matanya, dan melihat pantul-an

tersebut sambil membayangkan gambaran im sebagai Kendra, bukan dirinya. Dengan enggan ia bergumam, "Sedikit lebih besar," lalu segera mengatupkan matanya kembali sebelum Elswyth dapat melakukannya.

"Nah," katanya. "Sekarang dengarkan nasihatku secara cuma-cuma: cobalah jangan terjungkal karena rokmu, cobalah untuk tidak berjalan seolah-olah kau melangkahi selokan di ladang ayahmu."

"Baiklah," gumam Selwyn.

"Hey!" kata Farold. "Ia masih memiliki suaranya." .in ¦ ^hw karena aku membuatkannya samaran," Elswyth menjelaskan. "Aku tidak mengubahnya secara keseluruhan."

"Jangan lakukan!" kata Elswyth. Sudah cukup buruk dan tampak

seperti perempuan.

Ujar Elswyth, "Kalau aku melakukannya, kau harus mem-bayar tiga

tahun tambahan."

"Aku yakin aku dapat mengatasinya." Kata Selwyn.

"Aku yakin kau dapat," kata Elswyth menyetujui Selwyn, namun

sambil tertawa.

"Bagaimana denganku?" tanya Farold. "Tidakkah kau khawatir para penduduk desa akan mengenaliku sebagai kelelawar pembunuh Francis milik pengembara itui" 1

Serwyn tergoda untuk memintanya tidak kembali ke desa— karena ia lebih menyuli tkan daripada berguna. Tetapi ia teringat bahwa Farold telah memberitahukannya tentang Merton dan pisau, serta tentang bagaimana Thome mengetahui Farold yang telah memeras anak lelakinya. Dua orang lagi mungkin telah membunuh Farold, suam hal yang sebelumnya tak pernah ia duga. Farold mungkin akan memberikannya informasi lain. Dan ja benar orang-orang akan cukup terkejut meiihat ke-datangan Kendra—secara mendadak dan tanpa pemberitahuan. Jelas ia tidak boleh ditemani oJeh seekor kelelawar.

"Enam bulan untuk menjadikannya seekor anjing?" Selwyn bertanya

kepada Elsyth.

Dengan tangannya ia memperlihatkan ukuran hewan yang tidak lebih besar daripada Iebar tangannya. "Anjing mungii."

Selwyn menggaruk bagian belakang telinganya, kebiasaan yang ia lakukan kaiau sedang berpikir dan sekejap merasa ke-bingungan dengan rambut yang ia miliki di atas kepalanya. Anjing yang sedemikian mungilnya dapat mudah terinjak. Dan lebih memudahkan apabila Farold tahu bagaimana cara terbang. "Bagaimana kalau burung kutilang?" usulnya. "Di dalam sangkar? Jenis hewan inilah yang mungkin akan dibawa pulang oleh Kendra sebagai kenang- kenangan dari para biarawati." "Sangkar?" jerit farold dengan mar ah. "Untuk keamananmu," Selwyn meyakinkan dirinya. "Enam bulan," ujar Elswyth. "Kumpulkan beberapa belah kayu agar aku dapat membuat sebuah sangkar."

LIMA BELAS

Setelah beristirahat semalam di hutan belantara, Selwyn dan Farold kembali berpisah dengan Elswyth untuk pergi ke Peniyth: Selwyn—

seorang pria muda yang menyamar menjadi seorang gadis—yang harus memusatkan perhatiannya tiap kali melangkah agar tidak tersangkut oleh roknya yang panjang serta Farold—mayat dalam tubuh kelelawar yang sedang menyamar menjadi seekor burung kutilang, yang sedang berupaya keras untuk mengeluarkan nyanyian seekor kutilang dari dua belah bibir kelelawarnya.

"Pelankan siulanmu," saran Selwyn, "lebih mengalun."

"Sudah, hentikan," gerutu Farold, tanpa sedikit pun nada kicauan

dalam suaranya. Ia berpegangan pada sisi sangkar, tak niempedulikan ayunan yang disebabkan oleh Elswyth, yang nien,urutnya pasti disukai oleh para burung. Ia menambahkan,

"Kau mcmbuatku mabuk dengan mengayun-ayunkan sangkar ke depan dan

beiakang, ke depan dan beiakang,"—Selwyth melangkah hingga ke batas pinggir roknya dan tersandung, semen tara Farold terus tertawa—"naik dan turun—n

"Dan sampai ke semak di tepi jurang hingga j atuh," ancam Selwyn. "Pada saat ini, itu merupakan suatu tawaran yang balk," Farold mengerang.

"Shhhhh," ujar Selwyn.

"Maafkan aku karena belum cukup menderita agar dapat menyamaimu," kata Farold. 1

"Shhhh," Selwyn mengulangi, kali ini lebih mendesak. "Seseorang da

tang."

Dari arah mereka datang terdengar suara derakan roda kereta. Selwyn memandang ke atas dari kakinya serta jaJan yang kotor, dan untuk pertama kali ia mengamati sekitarnya selama beberapa saat:

Kali ini ia lebih dekat ke desa daripada yang ia duga sebelumnya. Ini pasti pekarangan milik Raedan dan saudara lelakinya, Merton, yang baru saja ia lewati.

Yang pertama kali ingin ia lakukan adalah melompat ke dalam semak-

semak yang berada di sepanjang sisi jalan untuk menghindari bertemu dengan siapa pun, walaupun tujuan semua penyamaran ini adalah untuk berada di sekitar orang-orang dan kembali ke Penryth. Selain itu, bagaimana kalau ada orang yang datang mendengarkan percakapannya? Itu merupakan pertanyaan bersisi dua, karena bagaimana jika siapa pun yang datang mengenali suarahya atau Farold?

Hampir tidak ada waktu untuk mulai memikirkan semua kemungkinan kesalahan yang akan terjadi. Tidak ada waktu untuk khawatir atau memutuskan apa yang hams dilakukan.

125

Lalu tampak Raedan datang mengitari kelokan jalan. Ia menarik kereta beroda dua yang biasa ia gunakan untuk membawa bar an g- barang, dan kini penuh dengan tumpukan wol hasil tenunan dan

pintalan ibu dan saudara perempuannya sepanjang musim dingin.

Ketika melihat Selwyn, Raedan mendadak bethenti, kereta

menabraknya dari beiakang.

Ia tidak akan percaya dalam sekejap, pikir Selwyn. Apa yang menyebabkannya begitu?

"Kendra!" Raedan berseru dengan penuh kegembiraan. Ia segera

menjatuhkan kendali kereta dan berlari mendekatinya lalu—sebelum

Selwyn dapat menghentikannya—ia meng-angkatnya ke atas. Entah

mungkin karena Selwyn masih seberat seorang lelaki, atau ia merasa canggung karena tidak terbiasa apabila seseorang mengangkat serta memutar-mutar tubuhnya, ia dan Raedan serta rok panjang dan

sangkar burung ter-perangkap menjadi satu sehingga mereka terjatuh

bertumpukan di jalan.

Raedan terlalu gembira karena menyadari hal itu—atau setidaknya

mengucapkan kata-kata," Kendra, senang sekali bertemu kembali dengan mil!"

Selwyn mengunci sikunya sedemikian rupa agar Raedan tidak

menariknya terus mendekat. Ia menjauhkan diri dari sangkar Farold serta Raedan. Raedan adalah sahabatnya yang paling dekat, tetapi tidak sedekat itu.

Farold bersandar pada geligi sangkatnya yang berayun-ayun, dengan

raut wajah yang menyerupai seorang pelaut yang baru terserang badai.

Selwyn membersihkan kerongkongannya dua kali. Semula ia ragu,

naraun ia sadar bahwa akhirnya iia-harus berbicara.

Dengan bisikan yang serak ia berkata, "Aku juga gembira bertemu denganmu Raedan." Untuk menutupi suaranyayang aneh, atau untuk menghindari segala keinginan Raedan untuk memberikan sambutan yang

lebih hangat, ia segera menambah-kan, "Maaf, aku agak tidak sehat." Ia segera bersin dengan keras. "Sudan berhari-hari aku demam." .

"Kau masih gadis tercantik di Penryth," kata Raedan. Apakah aku

tampak begitu mabuk cinta dan tolol sewaktu berbicara dengan Anora? Selwyn bertanya-tanya. Apakah aku mengatakan hal-halyang terdengar sekonyol itu? "Terima kasih," bisiknya, dengan menundukkan kepala serta bersembunyi di balik ujung selendang yang telah dipersiapkan Elswyth dari dua buah gelondong benang

miliknya. Ia tidak mengatakan bahwa Anora lebih cantik dari gadis itu. "Kau baik sekali. Bagaimana kabar kedua orangtuaku?"

"Baik-baik saja," jawab Raedan. "Mereka pasti akan bahagia sekali melihatmu."

"Aku harap begitu," suara Selwyn mendadak menjadi sengau. Ia

menutupi mulutnya dengan selendang lalu terbatuk-batuk. "Aku sudah tidak sabar ingin bertemu mereka," ia mulai berjalan ke arah desa, yang pikirnya merupakan akhir dari perbincangan itu. Namun Raedan, yang baru saja kembali dari desa dan sedikit lagi akan riba di rumahnya, segera mengambil kendali kereta lalu berputar dan mulai berjalan di samping Selwyn.

"Mari kubantu," kata Raedan mengambil alih sangkar dari genggaman

Serwya. ^Hidangan istimewa untuk menyambut kedatanganmu?" "Kenang-kenangan dari para suster di Saint Hilda," Selwyn Kkenjelaskan, sambil menikmati kicauan dan kepakan sayap Farold yang penuh kepanikan. Raedan menyeimbangkan

sangkar ini—memang ceroboh, pikir Selvyn, lalu meletakkan-nya di atas cumpukan kain wol. Ia berharap Farold tidak akan lupa diri

dan mulai membuat lawakan atau memprotes ataupun muntah karena gerakan itu. Apakah burung kutilang melipat

kedua sayapnya di atas perut apabila merasa mual?

Raedan meremas punggung Selwyn, "Kaulah yang memang dibutuhkan orang-orang di desa ini," katanya dengan sungguh-sungguh. "Banyak kejadian mengerikan berlangsung."

"Oh?" ujar Selwyn. "Ada yang perluaku ketahui?" Raedan ragu-ragu.

"Bahkan apabila itu adalah kabar buruk"—Selwyn tersadar bahwa

suaranya meninggi dan menurun. Ia berpikir seharusnya berlatih berbicara sama halnya dengan berjalan—"bahkan apabila itu adalah kabar buruk, seseorang akhirnya harus bercerita

padaku." ilc

Raedan menarik napas panjang. "Kabar buruk," katanya, "walaupun tidak secara langsung berkenaan dengan keluarga-mu. Ini mengenai Farold, keponakan pemilik penggilingan itu.... iatewas."

Selwyn kesal karena Raedan menyebutkan nama Farold lebih dahulu. Namun, itu adalah hal yang paling wajar untuk memulai sesuatu, daripada langsung mencari tertuduh yang melakukan pembunuhan. "Malang sekali nasibnya," katanya. "Kecelakaan karena mabuk?" "Bukan kecelakaan sama sekali. Ia terbunuh?"

"Sungguh?" Serwyn berusaha terdengar terguncang. "Siapa yang tega melakukan hal sekeji itu? Linton-kah?"

Farold mengeluarkan dengusan yang tidak sepatutnya dikeluarkan

oleh seekor kutilang.

"Bukan," /awab Raedan perlahan. "Mengapa kau menanya-kan hal itu?" "Tampaknya pertanyaanku wajar. Siapakah yang dituduh

meiakukannya?"

"Selwyn," jawab Raedan. "Selwyn Roweson." "Tidak mungkin? seru Selwyn "Anak sebaik itu." "Hari-hati, aku tidak berkata ia yang meiakukannya," Untung Raedan mengamati Selwyn dan tidak melihar

bahwa Farold yang ada di dalam kereta di belakangnya tampak panik dan memberikan canda agar Selwyn diam. Bagaimana Farold ber-harap ia dapat memperoleh keterangan tentang sang pembunuh tanpa membicarakan hal itu sama sekali? Selwyn kembali me-musatkan perhatiannya kepada Raedan yang berkata, "Tetapi sayangnya semua bukti tampak mengarah kepadanya."

"Apa..."—Selwyn teringat suaranya dan kembali memulai dengan

perlahan—"Bukti apa?"

"Pertama, keduanya sudah lama bersaing memperebutkan anak perempuan Bowden, Anora, yang diakhiri dengan kesedia-an Anora

untuk menikahi Farold."

Serwyn mengeiuarkan suara tak peduli. "Pilihan yang buruk Tetapi tidak ada hal yang pasti. Pasti nantinya gadis itu akan sadar dan mengubah pikirannya."

Farold meludah ke dasar sangkar burung. "Bisa jadi,w Raedan mengakui. "Tetapi pisau Selwyn-lah yang mematikan Farold.w

"Siapa pun," ujar Selwyn dengan penuh pengertian "dapat menemukan pisau milik seseorang dan memakainya."

"Sekali Jagi mungkin saja," Raedan berkata dengan mudah-nya sehingga Selwyn sulit untuk memperkirakan apakah lelaki itu tahu kalau saudara lelakinya telah menemukan pisau tersebut

atau tidak. "Semula Selwyn bersumpah bahwa ia tidak berada di desa malam itu, lalu—ketika ia menyadari keberadaan seorang saksi—ia

pun mengakuinya. Memang sulit sekali mem-percayai orang yang

selalu mengubah-ubah ceritanya."

Toloi, talol dan tololl Selwyn memarahi dirinya untuk ke-bohongan yang tak berguna dan membahayakan itu. "Mungkin ia takut," ujarnya.

"Siapa yang tidak akan begitu?" Raedan mengiyakan dengan penuh

simpatik.

"Siapa yang menjadi saksi?" tanya Selwyn. "Ibumu."

la membutuhkan beberapa saat sebelum menyadari yang dimaksudkan oleh Raedan adalah Ibu Kendra, Wilona, dan bukan ibunya sendiri. Bagaimanapun ia tidak dapat meragukan kejujuran ibunya.

Aku rasa ia tidak meiakukannya," kata Raedan. "Dia bukan orang

seperti itu!

"tidak," Selwyn mengiyakan.

"Tetapi untuk itu mereka telah menghukumnya."

Selwyn tidak sanggup menanyakan hal selanjutnya, walaupun Kendra

pasti akan bertanya-tanya. Raedan berbicara seolah-seolah semuanya adalah masa lalu dan Selwyn menyadari itu dengan perasaan mual bahwa tak ada alasan bagi siapa pun untuk yakin bahwa ia akan selamat dari gua pekuburan. Tanpa campur tangan Elswyth, pasti

saat ini ia sudah tewas. Dalam satu atau dua hari, begitu semua orang yakin bahwa ia telah tewas, mereka akan membebaskan ayahnya. Lalu apa lagi? pikirnya.

Pada saat itu mereka hampir tiba di Penryth lalu terdengar suara- suara memanggilnya. "Helo, Kendra Orang-orang berlarian mendatanginya. Ia hams memaksakan dirinya untuk ceria,

130

karena Kendra tidak memiliki alasan khusus untuk bersedih atas

Selwyn Roweson—segetir apa pun nasib yang telah iaalami. Para gadis memeiuk dan mencium pipinya, yang terasa nikmat—

walaupun sedikit membuatnya frustasi. Ia berusaha sebaik mungkin untuk menghindari para laki-laki yang akan melakukan hal sama. Beberapa kali pantatnya dicubit dan ditepuk, Bukannya Selwyn lupa betapa disukainya Kendra, ia hanya tidak menyadari seberapa besar rasa an tusias yang diper-lihatkan orang-orang itu.

Aldiirnya, bersama dengan kerumunan yang mengelilingi-nya, ia masuk ke dalam kedai. Orik dan Wilona berdiri di ambang pintu.

Keduanya menyambutnya dengan tangan terbuka. Selwyn memilih untuk

lari ke dalam pelukan Orik terlebih dahulu agar ia dapat mencari alasan untuk segera melepaskan diri dan memeiuk 'ibunya'.

"Ayah," bisiknya, sedikit terbatuk dan mendengus. "Ibu." Ia mendengus dan batuk. "Maaf aku pilek." Ia memaksakan untuk bersin. Wajah Orik bercahaya. Wilona menangis dengan penuh kebahagiaan. "Mari semua," undang Orik "Mari rayakan bersama kami."

Semua orang bergembira karena minuman gratis disedia-kan. Tampaknya Selwyn senang masuk ke dalam kedai—walau terpaksa harus melihat ayah Selwyn terikat di sudut.

Farold menjerit dengan kerasnya, sebuah peringatan— siapa tahu Selwyn membutuhkan hal itu—bahwa ia berada di sana sehingga tidak ditinggal begitu saja di dalam kereta Raedan. Ia lebih terdengar seperti seekor ayam daripada seekor kutilang tetapi Selwyn memberisenyum Kendra' yang lebih cerah dan membawa sangkar ke dalam.

131

Di dalam, Wilona memegangi tangannya. Ia tampak enggan melepaskan dirinya yang dipahami Selwyn sebagai kegembiraan seorang ibu atas kepulangan anak gadisnya. Namun Wilona terus menarik tangannya, menariknya ke arah beiakang kedai ke ruang keluarga mereka.

Aduh, tidak! Pikir Selwyn. Hal terakhir yang ia inginkan adalah berada sendirian bersama seorang ibu dari orang yang sedang menyamar sebagai anaknya.

"Orik," panggil Wilona di atas keramaian orang-orangyang berkumpul

di dalam ruangan itu.

Ia melihat tatapan suaminya. "Satu kali minum gratis!" teriaknya pada kumpulan orang-orang itu. Lalu, "Linton," tunjuknya. "Kau

yang bertanggung jawab."

Wilona bukan upe orang yang akan meninggalkan pelanggan-nya di tangan pelanggan yang lain.

Selwyn menyadari bahwa ia telah salah sebelumnya. Hal terakhir

yang ia inginkan adalah berada bersama kedua orang tua gadis yang sekarang sedang ia samari.

Kemudian ketiganya meninggalkan kedai menuju ruang keluarga, lalu

Orik menutup pintu penghubung di beiakang mereka yang hanya dapat mengh ilangkan sedikit dari keributan.

Orik bersandar di pintu dan Wilona melipat kedua tangan di dadanya serta memandangi Selwyn.

Selwyn menelan ludah, menyadari bahwa telah terjadi suatu kesalahan.

Wilona bertanya, "Bagaimana dengan bayi ini?"

Di dalam sangkar, Farold membuat keributan yang terdengar seperti, "Ups!"

ENAM BELAS

"Bayi," Selwyn mengulangi, berusaha terdengar seolah-olah ia hanya

mengulang, bukan bertanya—dan pada saat yang ber-samaan berusaha sekuat tenaga untuk mencari tahu apa sebenar-nya yang dimaksudkan

oleh Orik dan Wilona. Tentu saja, yang nyata: Kendra Hikyim ke biara Saint Hilda bukan hanya untuk tujuan pendidikan, tetapi untuk menyembuny ikan kenyataan bahwa ia—seorang gadis muda yang belum menikah—hamil.

"Bayi itu," kata Wilona dengan tidak sabar meninggikan suaranya. "Kau tidak perlu berpura-pura dengan kami. Kami tahu keadaanmu;

kamilah yang telah mengatur segalanya dengan parasuster." "Tentu saja," ujar Selwyn, berusaha untuk mengulur waktu. Ia melemparkan pandangan ke arah sangkar burung yang masih ia pegang, mencari tahu apakah Farold mungkin dapat mem-

berikannya petunjuk. Farold mengangkat bahu mungilnyayang kuning dan montok.

Sehvyn melihat Wilona siap untuk mengguncang-guncang-nya. Ia

menjilat bibirnya. Dengan ragu ia berkata, "Para suster bersedia untuk membesarkan itu." tanya Wilona dengan tajam. "Apakah yang kita bicarakan sekarang seekor hewan peliharaan atau bayimu?" Selwyn berspekulasi. Kendra sesungguhnya jelas tidak memperlihatkan kehamilannya sewaktu meninggalkan Penryth pada bulan April. Ini berarti baru-baru ini ia melahirkan sang bayi—

apabila ia memang memilikinya. Karena yakin bahwa ia belum memberi

tahukan hal ini kepada kedua orangtuanya, ia menebak. "Mereka setuju untuk membesarkan bayi perempuan itu." ujarnya. Kata-kata terakhir diucapkannya dengan meng-gumam, sehingga apabila Orik dan Wilona berkata. "Bukankah kau mengi r imkan kabar bahwa anakmu

laki-laki," maka ia dapat mengatakan kepada mereka bahwa ia memang mengirimkan kabar demikian, bahwa yang tadi ia katakan adalah bayi laki-laki dan mereka telah salah dengar.

Tetapi jelas sekali Kendra tidak pernah memberi kabar sama sekali. Wilona bertepuk tangan. "Bayi perempuan," teriaknya. "Bayi perempuan yang manis."

Selwyn membenci dirinya karena telah mempermainkan kehidupan

keluarga ini dengan cara seperti ini.

Orik menggerutu, "Asalkan para suster itu bersedia mem-pertahankan bayi itu dan aibmu tidak menulari ibumu, aku, dan saudara-saudara

lelakimu."

Adik lelakinya berusia lima, tujuh dan delapan tahun. Selwyn tidak mengerti bagaimana perbuaran Kendra dapat tercermin pada mereka. Tampaknya Wilona pun sama tidak mengertinya. Ia me-nyikut

suaminya. "Kita sudah membicarakan hal itu," ujarnya. "Kini saatnya bergembira karena semua sudah berakhir, anak itu berada dalam keadaan sehat, dan Kendra telah kembali bersama kita." Ia memeiuk Selwyn erat-erat.

"Karena kini kau telah kembali," ujar Orik, "kau bisa mem-bantu menyediakan minuman."

"Baik, ayah," jawab Selwyn dengan malu-malu. Tangan Orik berada di

pintu, tetapi kemudian ia mem-balikkan badannya. "O ya," ia

berkata seolah-olah tenang. "Kau pasti akan mengerahui berita ini, jadi lebih baik aku yang mem-beritahukanmu." "Apa, Ayah?"

"Selwyn Roweson muda telah membunuh Farold" Ia terdengar gembira sekali sehingga Selwyn kehilangan kata-kata.

"Sudah, sudahlah sayang," ujar Wilona sambil menepuk-nepuk tangan Selwyn. "Aku yakin semua ini adalah yang ter-baik. Kau sepakat bahwa kau dan Farold telah melakukan suatu kesaiahan dan kau tidak sungguh-sungguh mencintainya."

Selwyn merasakan sesuatu yang tidak mengenakkan karena ia akan

mengerahui apa yang mereka sedang bicarakan.

Kata Orik, "Aku melihat kejadian itu sebagai pertolongan yang diberikan Selwyn. Aku memandang Farold seperti satu cacing yang berkurang dari dun ia ini, karena ia telah menyesat-kan seorang

gadis muda yang lugu.

"Farold?" ujar Selwyn, bisikannya terdengar sengau, tak peduli untuk mencoba terdengar seperti seorang gadis. Ia ter-ingat Farold

yang menceritakan bagaimana ia bertemu dengan Alden Thorneson pada malam kebakaran di tern pat pembuatan

ladam kuda. "Aku pulang terlambat dari kedai," ujar Farold pada waktu itu. Semuanya kini tampak jelas. Ia tidak berani mengangkat

sangkar burung. Satu kali pandangan ke wajah Farold—atau salah satu dari wajah-wajah Farold—cukup membuatnya kehilangan kendali, ia tahu hal itu. Ia harus mem-buka sarang dan mencekik leher burung kutilang itu,

"Oapatkah aku...." kata Selwyn, "Bolehkah aku.... aku..." "Rasanya Kendra membutuhkan waktu sendirian," ujar Wilona kepada Orik. "Fasti mengejutkan, bagaimanapun juga."

"Baiklah," Orik mengiyakan dengan menggerutu. "Tetapi jangan terlalu lama. Aku membutuhkanmu begitu orang-orang itu mulai membayar."

"Baik, ayah," Selwyn berusaha menjawab.

Begitu pintu tertutup di beiakang kedua orang tua Kendra, Selwyn mengangkat sangkar burung hingga setingkat dengan matanya.

Farold menggelengkan kepalanya. Bila Selwyn percaya bahwa

kelelelawar yang sedang menyamar menjadi burung kutilang dapat berubah menjadi pucat, ia dapat katakan bahwa muka Farold pucat pasi.

"Kau," kata Selwyn.

"Bukan," jawab Farold.

"Teganya kau membiarkanku menyamar sebagai -" "Bukan," ulang

Farold. "... seorang perempuan?" "Selwyn, dengarkan aku."

"Kau mengusulkan padaku, padahal kau mengetahui —" "Aku tidak tahu." "Seharusnyd kau tahu -"

"Seharusnya aku tahu," Farold melompat naik turun di

dalam sangkat. Untung kerumunan di dalam kedai di luarpun sangat

ribut karena suara keduanya menjadi semakin keras d keras dan kini

Farold berteriak, "Selwyn, kau tolol! Coba ka dengarkan aku dulu!"

"Sudah ciikup aku mendengarkanmu." "Bukan aku."

Selwyn mengguncang-guncangkan sangkar burung itu "Bukan aku," jerit Farold. "Aku tidak tahu kalau ia dikirim untuk melahirkan bayi karena itu bukan bayiku."

"Kedengarannya," Selwyn berteriak kembali sambil menggoyang- goyangkan sangkar semakin keras, "seolah-olah Kendra menceritakan kepada kedua orangtuanya bahwa kau yang melakukan. Ia seharusnya tahu!"

"Aku seharusnya juga tahu," kata Farold. Ia mengatakannya dengan tenang namun tegas, sehingga Selwyn menghentikan goncangannya. "Bukan aku," kata Farold lagi.

Selwyn memikirkan kejadian itu, "Apa kau yakin?" tanyanya. "Tentu

Seiwyn. Aku bersumpah tidak bersalah." Dalam keadaan ini bagaimana mungkin ia menolak untuk mempercayai hal itu. Ia menghela napas

dan berusaha memahami keadaan ini dengan penjelasan yang berbeda.

"Menurutku," katanya, "Kendra berbohong kepada orang tuanya untuk me-lindungi ayah sang anak yang sesungguhnya."

"Melindungi," Farold mengulangi dengan tololnya. "Orik mengatakan kepadanya"—Selwyn berkata lagi, law membetulkan perkataannya—

"mengatakan kepadaku.. .bahwa aku..." ia menjadi bingung kembali—" bahwa Selwyn mem-

bunuhnya.....maksudku... membunuhmu."

Kata Farold, "Mungkin Orik takut atau tidak mau mengaku kepada

anak perempuannya bahwa dia yang membunuhku.

"Atau bisa juga," kata Selwyn, "ia lega Wena orang lain melakukannya sehingga ia terbebas dari rnasalah Tidak

berarti ia pembunuhnya.

Sayap-sayap Farold terkulai dan Selwyn betharap ia dapat enarik kembali kata-katanya.

"Mungkin sebaiknya kita kembali ke kedai dan mulai berbicara

dengan orang-orang," usul Selwyn. "Kita lihat apa yang bisa kita temukan."

"Tentu saja, mengapa tidak?" ujar Farold dengan sedih. "Kita cari

siapa lagi orang yang menginginkan kematianku." TUJUH BELAS

Selwyn tak perlu lama-lama memutuskan bahwa ia tidak dilahirkan untuk hidup sebagai gadis kedai minuman. Jika ada satu pria lagi

yang melihat gaunnya atau menyentuh pantatnya, ia pasti akan meninjunya.

Ayahnya tetap terikat di kursi di pojok kedai minuman, meskipun

kedai sangat ramai. Selwyn tahu tidak mungkin ada kesempatan untuk berbicara tanpa didengar orang lain. Meskipun begitu, ia mengisi cangkir dengan ale dan memberikan kepadanya.

Ayah melihatnya dengan tatapan dingin. Tangan-tangannya, tentu

saja diikat ke beiakang.

"Kalau Anda mau," kata Selwyn berkata dengan suara yang dibuat semirip mungkin seperti suara gadis, tidak berani memberikan sinyal apa pun kepada ayahnya dengan begitu banyak-

nya orang di sekitar. "Aku dapat memegangi cangkir sementara

Anda minum."

Ayahnya menganggukkan kepala.

Selwyn berkata dengan sungguh-sungguh, "Saya ingin berbicara dengan Anda tentang Selwyn." Hal ini setidaknya tidak perlu dikatakannya, walaupuh ia tahu bahwa ayahnya—seperti semua orang di sana—akan menganggap Kendra hendak me-nyampaikan ucapan belasungkawa kepada ayah yang kehilangan anak itu.

Ayahnya menutup matanya dan tidak berkata apa-apa.

Seseorang yang lewat merampas dengan cepat cangkir yang ada di

tangan Selwyn dan dengan lembut berkata, Terima kasih, sayang."

Tak ada alasan lain bagi Selwyn berdiri di situ, tapi Selwyn ingin mengambilkan lebih banyak minuman lagi untuk diberikan pada

ayahnya.

Waktu berjalan kembali. Derian Miller, paman Farold, meletakkan tangannya di bahu Selwyn. "Menyedihkan," katanya, sambil menganggukkan kepala ke arah ayah Selwyn.

"Iya," kata Selwyn. Dia bergerak untuk menyelinap pergi tapi tidak bisa—karena berhimpitan dengan meja kasii kedai minuman di depan dinding—ia tidak seperti Kendra yang tak pernah terlihat

menyelinap pergi biar bagaimanapun mabuknya atau memaksanya para

langganan Orik.

"Menyedihkan kita semua," kata tukang giling itu. Ia sudah tua dan pikirannya kacau dan—Selwyn ingat setelah Derian mengatakan—benar-

benar layak sama sedihnya seperti ayah Selwyn. Yang lebih layak lagi, menurut orang lain: meskipun masing-masing orang kehilangan anak laki-laki yang dibesar-kannya, setiap orang percaya bahwa ayah Sewlyn membesarkan

140

seorang pembunuh. Mara Derian meraii dan tangannya yang di atas bahu Selwyn bergetar.

SeJwyn menjauhkan diri dan berusaha tetap tenang, "Tapi kejam untuk Rowe." Nama ayahnya terasa ganjil di bibirnya. Dengan gugup ia hendak melipat tangannya di atas dada, tapi rasanya tidak biasa. Ia ingin meletakkan tangannya dengan lemas di atas perutnya, yang raembuatnya tampak seperti sakit perut, atau

menariknya ke beiakang di atas pantatnya yang membuatnya kelihatan bodoh. Anirnya ia biarkan tangannya jatuh terkulai di kedua sisi

badan.

"Hatimu sungguh baik karena mengkhawatirkan hal-hal itu," kata Derian. "Tapi ia tidak ditinggalkan dengan terikat seperti itu sepanjang hari. Thorne dan Bowden atau beberapa dari mereka

melepaskan dia beberapa waktu sekali dalam sehari; mereka mem biarkan dia makan, melemaskan otot. Pada malam hari, ia tidur di

tempat Holt, tapi tetap dukat di tiang. Orang tidak mau meninggalkannya tanpa diawasi. Dia orang yang gegabah. Orang gegabah akan melakukan hal-hal yangsembrono."

Selwyn Iega mendengar bahwa keadaannya tidak seburuk yang dia

kira. Ia bertanya, "Bagaimana dengan—ia ingat untuk tidak menyebut ibuku—ibu dan neneknya?"

Derian meremas bahunya sekali lagi. "Kamu baik sekali, Kendra! Mereka diawasi dari jauh. Jika coba-coba menyelamat-kan Selwyn, mereka sudah tahu akibatnya. Tapi Rowe—ia bukan orang yang kita bisa anggap main-main. Meskipun sekarang—mudah-mudahan—semuanya sudah selesai. Mungkin mereka akan melepaskannya besok." Derian menghela napas. "Setidaknya mereka masih saling memiliki—Rowe dan Nelda. Sedangkan saya ditinggalkan sendirian." Derian menggeleng- kan kepalanya. "Sendirian."

Ill

Tubuh orang tua itu tiba-tiba bergoyang karena tangisan

tanpa suara. Tangannya sedikit menurun dari bahu Selwyn— betul- betul tanpa sengaja. Selwyn yakin, karena umur Dorian* tttbuhnya lemah dan keadaan waktu itu*j-namun Selwyn merasa tidak nyaman dan hampir saja panik. Apa yang akan dilakukannya?

Selwyn mengatakan apa yang pertama kali terlintas dalam pikirannya. "Tapi keadaan ini pasti sulit bagi mereka—Selwyn dan orang tuanya—karena ditin|rgalkan teman-teman mereka.

"Sulit karena ditinggalkan teman-teman mereka?" ulang Derian,

sambil bersandar lebih dekat tapi tetap saja salah dengar. "Yah"ia mengusap wajahnya—"Asal kau tahu saja, aku sudah membantu

semampuku saat meteka memutuskan bahwa Selwyn-lah yang sudah

membunuh anak itu." cn

"Benarkah?" tanya Selwyn, yang tidak melihat bantuan sama sekali dari Derian dan juga dari orang lain.

"Aku melihat Selwyn di desa malam itu. Keesokan harinya di rumah

Bowden, bahkan sebelum orang-orang itu membawa masuk Selwyn dan Rowe, tbumu maju dan berkata kalan ia telah melihat Selwyn berjalan melewati kedai minuman. Jadi aku berpikir dalam hati,

'Karena itu, kejadian pertarungan dua minggu lalu dan tentang pisau membuat anak itu sudah menjadi terhukum. Tidak ada gunanya bagiku untuk menghilang-kan harga dirinya, dengan mengatakan bahwa ia duduk di bawah jendela beiakang rumah Bowden sambil mencucurkan airmata'

"Mencucurkan air mata" adalah hal yang dibesar-besarkan. Namun

Selwyn hams duduk ketika ia tak dapat menarik per-haman Anora. Ia

takut membangunkan seluruh isi rumahnya. Dan dengan enggan ia mengaku, memeiuk lututnya dan

meletakkan kepaianya, yang mungkin saja kelihatan seperti menangis, meskipun pasti tidak lebih dari setetes dua tetes air

mata. Tukang penggiling itu tidak menceritakan hal detail ini —

yang tidak ada hubungannya dengan kasus itu—-kepada kumpulan orang

di rumah Bowden; tampaknya Derian betul-betul melihatnya dan bukan hanya mengarang-ngarang saja untuk membuat Kendra terkesan dengan kebaikan hatinya.

Selwyn diseiamatkan dari komentar Derian ketika Holt, si pandai

besi, muncul di beiakang Derian dan menepuk punggung-nya dengan ramah sambil berkata, " Waktunya berbagi Kendra, PakTua."

Derian berputar, sehingga Selwyn bisa bergerak menjauh dari dinding. Tukang giling itu pergi sambil memberikan senyum sedih. "Hanya orang tua yang sedang berbagi kesedihannya dengan gadis muda yang simpatik," katanya, mengusap matanya.

"Maaf mengganggu," kata Holt, "untuk sesuatu yang sepele seperti memesan minuman."

"Jangan sampai Orik mendengar Anda menyebut minuman dengan

sepele," kata Selwyn gembira, sehingga ada alasan untuk masuk ke meja kasir dan mengambilkan minuman. Pada saat yang sama ia mengingatkan dirinya sendiri, AYAH, dasarbodoh. Seharusnya Orik adalah ayah kamu.

Jika pun Holt atau Derian memperhatikan perubahan itu, mereka

tidak memberi komentar. Sebaliknya, Derian berkata, "Saya tak akan mengganggu kalian orang-orang muda lebih lama lagi"—meskipun Holt

setidaknya dua belas tahun lebih tua daripada Kendra—ia pun pergi menjauh, sementara Holt menyenderkan sikunya di atas meja kasir. Holt mengerutkan dahi. "Ada apa dengan burung yang kau bawa dari biara itu?"

Selwyn melihat arah pandangan Holt—ke tempat ia meletakkan sangkar Farold di salah satu tong-tong minuman di beiakang meja kasir. Farold sedang bergantung terbalik di sebuah palang yang disediakan Elswyth sebagai ayunannya.

Selwyn menahan napas melihat kebiasaan kelelawar pada malam hari itu.

"Biasalah," katanya. "Kadang-kadang ia suka pura-pura mati,"

"Oh," kata Holt, sepertinya hal itu masuk diakal.

Selwyn meletakkan secangkir ale yang berluap busa di hadapannya. Holt meneguknya panjang lalu berkata, "Akan Lebih mudah bersimpati

kepada orang itu"—ia menggerakkan kepaianya ke arah Derian yang sedang berbicara dengan seseorang di seberang ruangan—"jika keponakannya tidak seperti..."

Selwyn menaikkan alisnya, namun Holt—mungkin karena ia pikir

sedang berbicara dengan seorang wanita—tidak metier uskan ucapannya.

"Anda tidak menyukai Farold, ya?" tanya Selwyn. Ia me-lawan

keinginannya untuk menengok ke sangkar di beiakang dan mengguncangkan tubuh Farold agar bangun serta yakin kalau ia juga mendengar.

"Yah, Farold, ya Farold." Holt menyorongkan cangkirnya supaya

diisi lagi. "Kita mau ngomongxpz lagi?"

Kelihatannya ia akan membiarkan pembicaraan itu selesai Selwyn berkata, "Walaupun begitu, apakah menurutmu tidak aneh kalau Selwyn membunuhnya?"

"Saya tahu ini hal yang sulit dikatakan," kata Holt, "ta] kejadian

itu kelihatannya baik bagi saya."

"Benarkah?" tanya Selwyn, hampir melupakan sua perempuannya.

Holt mengangguk. "Farold meminjami saya uang untuk mulai usaha

lagi setelah kebakaran tahun lalu. Ini tahun yang bagus buat saya—

sangat bagus—tapi Farold memasang"—Holt menggelengkan kepaianya—

Mbunga yang sangat tinggi."

Selwyn membersihkan tumpahan minuman, namun kali ini tidak dapat menahan diri untuk tidak melihat sangkar Farold. Ia tetap tergantung di ayunannya, kelihatannya men-dengkur, tergantung

rerbalik, seperti kutilang emas betul-betul mams yang tidak terganggu apa pun. .

"Saya masih mampu mengatur pembayaran," kata Holt, "sampai

pernikahannya dengan Anora direncanakan. Tiba-tiba ia ingin semua uangnya dikembalikan secepatnya untuk mem-bangun rumah yang layak untuk gadis itu." Ia menghabiskan minuman keduanya. "Tidak ada yang lebih baik lagi sekarang. Tentu saja pembayaran utang saya dialihkan kepada Derian, tapi ia mau menunggu seperti perjanjian pertama—dalam waktu dua tahun."

Selwyn tak dapat memutuskan apa yang akan diucapkan Kendra, Ia tak dapat memutuskan apa yang akan diucapkannyd. Apakah Holt telah mem

bun uh Farold untuk menghindar melunasi utangnya? Ia ingat Holt adalah salah satu dari sedikit orang yang berbicara untuk membelanya. Apakah itu karena rasa bersalah? Apakah itu karena—-di antara mereka semua— Holt yang sungguh-sungguh tahu bahwa Selwyn tidak bersalah, meskipun ada buktinya?

Begitu Holt menjauh dari meja kasir untuk berbicara dengan orang lain, Selwyn menuju rak tempat sebuah piring besar dengan

sebongkah roti dan beberapa iris daging domba, siapa tahu ada orang ingin makanan dan minuman. Dasar kelelawar, pikir Selwyn, memotong ujung roti, pemeras

mengambil sepotong kulit roti yang keras—pedagang uang. Ia melemparkannya di antara jeruji sangkar untuk menimpuk Farold. Terlalu keras. Potongan roti itu terpental dari jeruji kayu sangkar. Ia mencoba potongan yang lebih kecil. Potongan itu bisa masuk ke sangkar, tapi tak mengenai Farold. Potongan ketiga kena kepala Farold.

Farold tersentak bangun. Ia tergantung seperti kelelawar, tapi

karena ia menggunakan kaki kutilang, ia pun kehilangan pegangan pada ayunan dan jatuh ke dasar sangkar dengan suara kuakan betul- betul seperti kelelawar atau kutilang emas.

"Tembakan jitu untuk seorang gadis!" kata Merton, mem-buat Selwyn

terloncat karena ia sama sekali tak mengira ada orang berdiri sangat dekat.

Bodoh, ia memarahi dirinya, ia tahu Farold hanya menatap dan menggelepai-gelepaikan bulu-bulunya dan tidak mulai memaki-maki dirinya.

Selwyn masih kesal dengan kesembronoan dan kebodoh-annya sendiri.

Ia pun masih marah karena masalah pisau yang diambil Merton dan tidak pernah diberitahukan kepadanya, serta jengkel dengan nada

suara Merton yang merendahkan dirinya. Selwyn mengisi cangkir Merton dengan ale lalu dengan sengaja melepaskannya sebelum Merton benar-benar me-megangnya.

"Aduh, kikuknya saya," katanya ketika Merton mengusap keningnya yang basah kuyup. Selwyn tersenyurh, kdu berbalik dan pergi tanpa mengambilkan Merton minuman lagi.

DELAPAN BELAS

Keramaian di kedai minuman itu belum juga bubar hingga laru t malam. Setelab seminggu tanpa tamu, Orik merasa begitu puas diri sampai-sampai Selwyn tak dapat menahan diri untuk tidak menceburkan wajabnya ke ember besar ale—terutama karena men unit perkiraan Selwyn, ia adalah orang yang paling mungkin telah membunuh Farold.

Akhirnya, Bowden dan Holt mengumumkan sudah waktunya ayah Selwyn

dibawa bermalam ke bengkel pandai besi. Berjam-jam telah berlaJu dengan jarak yang terpisah hanya satu ruangan dari ayahnya, namun Selwyn tidak punya ke-sempatan untuk berbicara kecuali sekali, itu pun untuk me-nawarkan minuman. Besok, pikirnya. Pasti ada cara

agar ia bisa menemuinya secara pribadi. Begitu juga dengan ibunya, ia membuat rencana untuk berbicara dengannya. Ketika hams

membawa makanan untuk tawanan itu—dan diikuti oleh suara yang

keras dan perintah dari ism Bowen—ayah Selwyn tampak pucat dan tertekan dan bayangan gelap di bawah mata dan pipinya terlihat jelas, sehingga Selwyn harus memalingkan mukanya. Esok pagi Bowden dan keluarganya pasti tidak akan keberatan dengan kunjungan

Kendra.

Akhirnya mereka semua pergi malam itu; orang tuanya, para penjaga, pelanggan, dan orang-orangyangtinggal di situ. Sekarang waktunya

berberes-beres.

Wilona menyapanya, "Ibu dapat meiakukannya sendiri, Kendra. Kau sudah menempuh perjalanan jauh hari ini— berjalan dari Saint Hilda, mendengar semua peristiwa, meng-ambilkan minuman, dan

melayani para tamu tanpa henti sejak sore sampai malam. Kau telah berdiri seharian." Kemudian ia menepuk tangan Selwyn. "Kau perlu istirahat."

Tidak,n Selwyn meyakinkannya, "Aku baik-baut saja. Aku masih mau lebih lama di sini."

"Ibu tidur saja," katanya—sambil berharap. Kendra me-manggilnya

"Ibu" dan bukan panggilan kesayangan lain. "Betul, Ibu perlu

tidur. Ibu sudah bekerja keras, memasak dan bersih-bersih, dan membuat semuanya lancar sepanjang hari ini. .

"Ini bukan anak perempuan kita," Orik meraung, sehingga Selwyn hampir berhenti bernapas mendengar itu. Tapi Orik lalu memberinya pelukan ringan dan meneruskan, "Ini gadis pekerja keras yang dulunya Kendra kita, dan sekarang sudah diubah oleh para biarawati."

"Oh, Orik," Wilona mengeluh dengan nada jengkel sekaligus sayang

yang mengingatkan Selwyn akan orang tuanya sendiri sehingga ia sedih.

Orik mencium kening Selwyn. "Selamat datang, Nak," katanya.

"Selamat datang, Ayah senang sekali kau di sini."

"Terima kasih, Ayah," kata Selwyn canggung, sekarang ia merasa bersalah karena ingin menenggelamkan Orikke ember ale. Tapi jangan merasa sentimental terhadapnya, Selwyn memperingatkan dirinya

sendiri. Kenyataan bahwa Orik mencintai keluarganya bukan merupakan bukti bahwa ia tidak mem bunuh Farold. Hal itu mungkin merupakan sebuah motif yang kuat.

Sewaktu Orik berjalan menuju rumah di beiakang kedai minuman, Wilona berkata sekali lagi, "Biarkan Ibu membantu, Kendra. Ibu memaksanya. Kita akan punya kesempatan untuk bercakap-cakap." Kesempatan untuk bercakap-cakap bukanlah hal yang diharapkan Selwyn. Ia tersenyum semanis mungkin dan berkata, "Aku juga ingin. Betul, Bu. Kita memang perlu bicara, tapi bukan malam ini. Setelah kebisingan sepanjang hari ini"— ia mengangkat tangannya—"telingaku butuh istirahat." Kalirnat itu kedengarannya tidak sepeni yang ia inginkan. aPikiranhx butuh istirahat. Dan suaraku." Ia

membersihkan tenggorokan-nya untuk mengingatkan kemungkinan bahwa dirinya terserang flu.

Sebenarnya bicaranya juga tidak jelas, tapi Wilona berkata, "Ibu tahu. Ibu mengerti." Dan ia juga mencium keningnya. "Karnu yakin?" Selwyn mengangguk.

Pintu belum juga tertutup dengan sempurna ketika Farold mulai

berbicara, "Jadi..."

Selwyn cepat berbaiik dan meletakkan jarinya di bibir ngan takut. Wilona membuka pintu kembali. "Apakah kau memanggil

Ibu, sayang?"

"Tidak, Bu," kata Selwyn, sambil mendorong satu dari bangku-bangku ke atas menyender ke dinding. "Mungkin pikiran Ibu saja, itu hanya suara kayu yang bergeser di lantai."

Wilona meniupkan ciuman di udara dan menutup pintu.

Selwyn mengacungkan jari memberi Farold peringatan. Farold mengembuskan napas—beberapa kali—, keras-keras—karena Serwyn

membersihkan semua meja, kursi dan bangku tanpa sandaran, lalu menyapu lantai. Selwyn menolak bicara dengannya sampai ia mengumpulkan semua cangkir dan piring dan membawanya ke dapur, yang berjarak cukup aman dari kedai minuman dan dari ruangan tempat Orik dan Wilona sedang tidur atau mencoba tidur. Lalu ia membawa sangkar Farold ke dapur juga.

"Sekarang tenang," kata Selwyn sambil mulai membersih-kan piring- piring, "Apa yang sudah kita ketahui?"

Farold berkata, "Kita seharusnya membuat Elswyth mem-perbesar pantatmu."

Dengan kesal, Selwyn memukulkan kain pencuci basah ke sisi sangkar, sehingga Farold terpercik air yang berbusa. Lalu, "Ssstt," ia memperingatkan sebelum Farold menyerukan protesnya. "Yang aku tahu," katanya "kenapa juga orang tidak membunuhmu dari sejak dulu."

"Apa?" tanya Farold sok lugu. "Kau sudah berbicara dengan siapa tadi? Ada yang menyebarkan berita bohong tentangku, ya?

"Cerita tentang kau yang meminta kembali uang yang kau pinjamkan

ke Holt—uang yang kaudapat dari memeras Alden dan ayahnya, Thorne.

Tiba-tiba saja kau hams mendapatkan

150

semua uangmu kembali kurang dari satu tahun setelah itu, bukannya

dua tahun seperti yang kaujanjikan karena kau ingin membuat Anora terkesan, ya kan?" "Oh," kata Farold. "Oh," ulang Selwyn. Dan ketika Farold tidak menyahut, "Itu pembelaan yang bagus darimu, Farold."

"Aku tidakperlu membela diri," kata Farold. "Kan aku yang mati, kau ingat itu kan? Aku bukan tersangka?"

"Kita tidak membicarakan ten tang siapa yang membunuhmu. Kita sedang membicarakan kau orang yang keji dan tidak ber-nilai."

"Kau tahu aku bisa pergi kapan saja aku man," Farold memberi-nya peringacan. "Orang yang sudah mari tidak perlu dimarahi." Bagaimanapun juga, pikiran Farold itu menakutkan. "Kau membuatku bersimpati padamu dan memperhatikan rasa sakit hatimu, lalu aku tahu bahwa kau orang yang tidak berperasaan karena meminta Holt membayarmu, padahal kau tahu hal itu akan membuatnya bangkrut." "Dia tidak akan bangkrut akibat itu," kata Farold. Dengan segan ia m enam bahkan, "Mungkin hal ini akan merugikannya. Tapi aku perlu uang itu. Aku tak dapat menikahi Anora dan memintanya tinggal di ruangan kecilku di bawah tangga. Dan kita tak dapat pindah ke ruangan Paman Derian, atau memin tanya bertukar ruangan: "Maaf Paman Derian, dapatkah Anda pindah dari ruangan besar di bagian depan rumah dan menghadap jalan ke kamar sempit tepat di sebelah mesin penggiling? Jalan satu-satunya adalah membangun ruangan baru dan harus diberi perabot. Paman Derian kan tidak pernah menikah, jadi belum pernah ada wanita yang tinggal di peng-"ingan sejak orang ruaku meninggal."

151

"Kamu kan punya—pernah punya—banyak uang dari usaha penggilingan," kata Selwyn. Tiba-tiba ia berpikir. wBenar, kan? Apakah penggilingan dalam kesulitan uang sejak kau mengelolanya?"

Mungkin, pikirnya, Derian yang membunuh Farold. Derian yang tinggal di penggilingan tentunya punya kesempatan lebih bagus

untuk membunuhnya daripada Merton atau Orik atau Thome atau Holt atau bahkan Linton, orang yang pertama dicurigai Selwyn. Jika Farold salah mengelola penggilingan dan menyebabkan kerugian ... mungkin ia menolak untuk mengembalikan pengelolaan kepada Derian lagi...

Namun Farold menggelengkan kepaianya. "Tidak," kata Farold,

terang-terangan berkeberatan. "Penggilingan meng-hasilkan banyak uang lebih banyak di bawah pengelolaanku tahun ini daripada tahun- tahun sebelumnya."

"Jadi, jika kau punya begitu banyak uang, mengapa kau memerlukan uang yang sudah kaupinjamkan kepada Holt?"

"Karena Derian adalah pemilik. Uang hasil penggilingan adalah miliknya."

Selwyn memikirkan ayah yang mau membantunya untuk membersihkan lahan baru ketika ada kemungkinan Selwyn akan menikahi Anora. Tapi tidak setiap keluarga sama. Dan jika Derian tidak mau meminjamkan uang kepada Farold, Selwyn dapat melihat bagaimana paniknya Farold dan berrjaling ke Holt. Anora, ia yakin, akan mengerti dan tidak akan meminta tempat tinggal yang mewah. Ia terlalu baik dan manis untuk membiarkan siapa saja terluka, walaupun tidak langsung. "Baiklah," kata Selwyn, "jadi bukan Derian. Sekarang tinggal Orik, yang mengira kau adalah ayah dari anak yang dikandung putrinya

yang tak menikah.Ia mengacungkan jempolnya mulai menghitung.

152

"Dan Wilona, untuk alasan yang sama," kata Farold. Reaksi pertama Selwyn adalah ingin berkata tidak, namun ia lalu memikirkannya. Pembunuh telah menikam punggung Farold pada malam hari. Ia tampaknya sudah memperhitungr kan waktu Farold yang sedang tidur, dan tidak akan melawan, Seorang wanita, tidak sekuat pria, mungkin telah memilih cara serangan sembunyi-sembunyi seperti itu. "Mungkin," ia meng-akui, dan menghi rung dengan jari telunjuknya. Lalu ia menerus-kan, "Atau Holt, sehingga ia harus mengembalikan uang yang ia pin jam darimu. Atau Thorne, untuk memastikan kau tidak akan memberirahukan orang-orang apa yang aku ketahui tentang anaknya. Atau Alden, karena sudah memerasnya..."

"Alden!" Farold berteriak. "Alden tersangka yang paling mungkin karena ia tidak tinggal di sini lagi. Jika kembali dari suatu tempat, hanya Tub an yang tahu niatnya untuk mem-bunuhku sembilan

bulan setelah kejadian, lalu kembali lenyap ditelan malam tanpa jejak, begitu?"

"Mungkin saja," Selwyn bersikeras, tapi ia menurunkan kembali

jarinya yang mengarah kepada Alden. Lalu ia menaik-kannya kembali karena kembali menghitung. "Linton, karena usaha penggilingan akan diteruskan olehnya ..." "SelaJu berlebihan," kata Farold memperhatikan. Selwyn tidak peduli dan mulai menghitung dari tangannya yang satu lagi untuk hitungan yang keenam. Dan Merton." "Untuk apa Merton ingin aku mati?" ; "Belum terpikirkan," kata

Selwyn. "Tapi ialah satu-satunya orang selain kamu yang tahu tentang pisauku." Farold tidak membantah.

" Tidak ada orang lain lagi yang tahu tentang pisau itu, kanV "Tidak," kata Farold.

"Jadi, mengapa Merton mau membunuhmu?" tanya

Selwyn.

"Aku kan sudah bilang tidak tahu."

"Aku pikir kau mungkin ingat sesuatu yang belum kauceritakan padaku sebelumnya. Seperti tentang Alden dan Thorne dan Holt

sampai tingkat tertentu tentang Kendra. Apakah adaT

"Tidak ada," kata Farold galak. "Kau terus menambah kemungkinan, tapi tak seorang pun yang cocok. Dan kau tidak punya banyak

kemajuan untuk membuktikan sesuatu."

"Aku tahu," gerutu Selwyn. "Besok kita harus can alasan untuk melihat kamarmu—kita lihat apakah kita dapat menge-tahui sesuatu

di sana."

"Kita coba," kata Farold. "Tapi aku ragu, setelah hampir satu minggu, kita dapat menemukan sesuatu."

Selwyn pikir mungkin ia benar, namun ia hanya berkata, "Sementara

ini aku akan mengeluarkanmu dari sangkar." Ia membuka benang ikat yang menutup pin tunya yang kelihatan memikat karena terbuat dari tanaman rambat anggur dan diikatkan pada tangkai kecil. "Coba terbang di sekitar rumah para tersangka. Mungkin kau melihat atau mendengar sesuatu yang penting." 11

Farold mengibas-ngibaskan sayapnyadi sekeliling ruangan supaya tidak kaku, lalu bertengger di atas sangkar. "Oh itu mungkin

sekali," katanya dengan antusiasme yang dilebih-lebihkan. "Pada waktu seperti ini aku mungkin melihat orang sedang tidur dan mendengar orang mendengkun.%

"Aku akan membiarkan pintu sangkar tetap terbuka sehingga kau bisa

masuk dan keluar," kata Selwyn mengabaikan sikap kasarnya. "Mungkin kau mengetahui sesuatu besok. Cobalah

menghindari orang. Jika ada yang bertanya, aku harus men-jawab

kalau kau terbang kabur. Tapi karena Kendra sangat disukai orang, maka setiap orang akan mencoba menangkapmu kembali demi aku. Namun, pastikan kau kembali kepadaku secara teratur sehingga kita bisa saling bertukar informasi yang sudah kita ketahui."

"Jadi maksudmu, " kata Farold, "aku harus ada di sekitar orang- orang supaya bisa mengawasi mereka, tapi harus menjauh supaya mereka tidak melihatku. Dan sementara itu aku harus kembali ke

sini secara teratur, padahal setiap orang akan mencoba menangkapku untuk membuatmu terkesan."

Selwyn memukui sangkar itu dengan kain lap basah lagi dan Farold terbang ke udara. "Pergi saja sana," Selwyn menyuruh-nya. "Jauh-

jauh dari tong ale, ya!" Ia membuka pintu beiakang, lalu pergi mengambil ember air pencuci untuk membuang isinya.

Yang pertama dilihat Selwyn ketika ia melangkah keluar adalah Farold belum terbang, tapi hanya bertengger di atas pintu yang rerbuka sambil meniru suara burung kutilang emas yang jelek. Lalu Selwyn melihat mengapa ia begitu. Ternyata Anora juga sedang mengosongkan ember air pencuci ke jalan kecil. Ia tidak meiihatnya di kedai minuman seharian ini, dan juga tidak meiihatnya sejak

hari ia diseret dari rumah ayahnya ke gua pekuburan itu.. Sekarang, meskipun Anora memunggunginya, awalnya Selwyn tidak dapat bersuara. Hal ini bagus juga karena ia punya waktu untuk mengubah suaranya. "Halo," sapanya dalam bisik-an serak yang—jika

tidak sama persis dengan suara perempuan— setidaknya tidak seperti suara pria.

Anora segera berbalik sehingga sejumlah air.yang sedang dituangnya

mengenai kakinya. Dengan ter'buru-buru Anora

menegakkan embernya kembali meskipun pasti sudah tak banyak lagi air yang tersisa. Pastilah dia malu untuk membalas sapaannya,

karena ia hanya diam sambil memandangi dirinya yang berdiri di jalan kecil, dan hanya diterangi oleh cahaya lilin yang memancar dari masing-masing pintu rumah mereka.

Anora yang baik hati dan cantik. Pemandangan itu membuat Selwyn

sulit bernapas. Tiba-tiba segalanya jelas baginya: Farold itu penyelidik, teman, dan pembanru yang jelek untuk diajak bekerja sama. Anora yang manis akan lebih banyak mem-bantu memecahkan masalah kejahatan dan membuktikan ketidak-bersalahannya. Ia tahu bahwa ia harus berhati-hati untuk tidak membuatnya ketakutan. Namun ia yakin, begitu ia menjelaskan semua yang telah terjadi, Anora pasti mau mem bantu dirinya.

Ia segera berbalik agar dapat membuang air yang dibawanya tanpa membuat Anora terpercik, dan pada saat yang bersamaan ia mulai berpikir bagaimana cara yang tepat untuk mengatakan sesuatu pada Anora.

Tiba-tiba saja seember air yang dingin dan kotor mengenai punggungnya. Selwyn kaget dan ketika berbalik ia melihat Anora sedang membalikkan ujung ember ke arahnya. Ternyata ia salah. Masih ada sisa air yang cukup banyak di ember itu.

Farold pun terdiam karena kaget, paruhnya terbuka tapi kicauannya berhen ti tiba-tiba.

"Apa-apaan ini....," kata Selwyn, lupa mengatur suaranya, tapi

rasa dingin dan kaget membuatnya melupakan semua itu.

" Berani-beraninya kau kembali!" Anora meludah ke arahnya.

Ia tahu siapa aku, pikirnya. DanAayakin akulah yang membunuh

Farold.

Pikiran bahwa Anora tidak percaya akan ketidakbersala annya membuat ia tak mampu bersuara. Ternyata diamnya it

15b

menguntungkan, karena Anora melanjutkan, "Kau wanita murahan, perempuan sundal, kau sampah yang tidak berharga."

"Tapi..." Selwyn tidak dapat berpikir apa yang dapat dikata-kannya dengan semua itu.Ci"

Anora mengayunkan embernya, menyerang lengannya. "Mengapa kau tidak pergi saja, Kendra?" 1

Selwyn menahan tepi ember ketika Anora mulai mengayun untuk yang kedua kalinya. "Apa sih yang kamu bicarakan?"

"Apa yang kamu bicarakan?" Anora menirukan dengan mimik muka yang kejam. "Jangan pura-pura Iugu di depanku. Ibumu menceritakan kepada ibuku semua tentangmu. Aku tahu di man a saja kamu selama ini." Ia terus mencoba merebut ember dari pegangan Selwyn, tapi tak berhasil.

"Kapan?" tun tut Selwyn, karena Wilona seharian ini mem-bantu di kedai minuman dan ibu Anora hanya datang sebentar Saja, ketika

menyertai ibu Selwyn membawakan makanan untuk si terhukum. "Kapan ibu kita bicara?0

Tampaknya Anora menebak apa yang dipikirkan Selwyn. "Bukan hari

ini, bodoh? ia mencemooh. "Lebih dari seminggu yang lalu. Ibumu sangat senang, dan ia bilang bahwa kau mungkin akan segera pulang dari biara. Dan ketika ibuku mengatakan bahwa enam bulan itu terlaiu sebentar bagi gadis yang ingin belajar sikap berbudi halus dan lagipula kau agak ketuoan untuk dikirim ke biara, ibumu keceplosan mengatakan mengapa sebenarnya kau harus pergi ke sana. Kau mengacaukan segalanfa, dasar pelacur kecil jelek. Semestinya aku yang menjadi anak kepala desa dan istri pedagang terkaya di Penryth. Setiap orang akan iri kepadaku. Apalagi tampang Farold juga tidak terlaiu jelek Tapi aku harus membatalkan pertunanganku karena kau, dan membuat rencana lain yang tidak begmi

kusukai. Bagaimana mungkin aku menikah dengan Farold, padahal kau mengandung anak haramnya dan anak itu akan

selalu menjadi anak sulungnya yang bukan lahir dari aku?"

Selwyn hanya bisa diam tercengang oleh banjiran kata-kata dengki

yang diucapkan oleh Anora-nya yang lembut.

"Tapi sekarang Farold mati," kata Anora, "dan kupikir itu menguntungkan buatku." Ia merenggut ember cuciannya dari tangan

Selwyn, lalu mendekatinya—ia tampak yakin—dan sambil menyakiti dengan jarinya. "Kupikir aku lebih beruntung lagi kalau kau juga mati." Kemudian ia berbalik, rambutnya mengenai wajah Selwyn, dan kakinya dihentakkan sambil berjalan masuk ke rumahnya. Lalu ia membanting pintu, sehingga angin berembus di belakangnya.

Dengan perlahan Sewyn berbalik menghadap pintu kedai minuman. Ia menyorongkan jarinya ke Farold, setengah ber-harap bahwa—dengan

wajahnya yang menunjukkan setengah perasaan dari yang ia sedang rasakan—Farold lebih memilih bertemu Elswyth daripada bersama dirinya.

Tapi Farold mengikutinya kembali ke kedai minuman.

"Dan tampangnya juga tidak terlaiu jelek," Farold meng-gerutu, seolah-olah itu kalimat terburuk yang sudah diucapkan Anora.

"Ia memutuskan pertunangan?" Selwyn bertanya dengan merapatkan giginya, berjuang keras untuk tidak mencekik leher kecil Farold. "Aku terus-menerus tanya padamu, Apakah ada sesuatu yang kaupikir perlu kuketahui?' dan kau tidak berpikir untuk memberitahukan bahwa Anora membatalkan pertunangan? Apakah ada hal kecil lainnya

yang tidak kaukatakan, seperti—misalnya—mungkin seseorang berkata,

'Farold, aku akan membunuhmu?' Mungkin kau lupa memberitahukannya? Selwyn sadar ia hampir berteriak dengan suara aslinya. Ia me ngambil napas panjang berkali-kali.

"Apa bedanya bagimu, dengan melihat keadaanmu aku dan Anora bertengkar? Lagipula"—Farold mengepak-ngepakkan sayapnya—"Kupikir ia tidak bersungguh-sungguh waktu mengatakan bahwa ia tidak akan menikah denganku. Kupikir ia akan melupakan hal itu.

Apa? Selwyn bertanya tak percaya.

"Waktu itu ia tidak mengatakan mengapa ia sangat marah

Jangan lupa, aku juga tidak tahu bahwa Kendra—ingat?

menuduhku sebagai ayah dari anak yang dikandungnya. Itu bukan salahku."

"Kau tidak pernah salah, ya," gerutu Selwyn. Tapi ia ingat waktu pagi hari sebelum Farold dibunuh. Saat itu ia melihat Anora di

pasar dan ia pikir Anora mengisyaratkan sesuatu yang salah telah terjadi antara ia dan Farold. AKU TIDAK salah, ia berkata pada dirinya sendiri, meski kemudian ia ingat ketika pemeriksaan di rumah Bowden, Anora menyangkal hal ini, membuatnya kedengaran bodoh—atau seorang pembohong. Ia juga ingat sedu sedan yang dilakukannya.

"Mungkin ada sesuatu yang seharusnya kau ketahui," kata Farold.

"Oh?" Selwyn berkata sedikit kesal. "Apa itu?"

"Anora marah sekali sehingga segalanya kacau; tapi satu kalimat yang aku ingat, katanya 'Tunggu saja sampai aku mem-beritahu ayahku.'"

Selwyn mengendapkan pikiran itu. Bowden tahu atau berpikir bahwa dirinya tahu—kalau Farold sudah memper-malukan anaknya dengan Kendra. Satu lagi ayah yang marah.

Tapi sulit sekali memikirkan Bowden ketika pikirannya

terus kembali ke Anora. Anora yang lembut, manis, dan baik. Ia tampaknya menetapkan di antara dirinya dan Farold ber-aasarkan siapa yang lebih menguntungkan. Ia mau beralih ketika rencananya

gagal. Ia sudah sangat meyakinkan sebagai tunangan yang sedang kemalangan. Ia hendak memaki-maki Kendra dan mencoba memukulnya dengan ember cuci. Se-tidaknya ia baru saja mengharapkan sesuatu yang buruk untuk dirinya dan bahkan sudah mengancamnya.

Selwyn melihat tangannya, pada bilur merah waktu Anora merenggut ember cucinya. Tampaknya Anora mampu berbuat lebih dari yang ia pikirkan. Dengan perlahan ia menghitung dengan jarinya, tujuh dan

delapan—dua lagi tersangka untuk ditambahkan dalam daftar pembunuh yang mungkin: Anora dan ayahnya.

SEMB1LAN BELAS

Sudah lama sekali Selwyn tidak tidur di tempat tidur, tapi di atas

tanah keras, sehingga Selwyn tidur lama sekali. Orang tua Kendra berpikir ia perlu beristirahat, sehingga mereka tidak membangunkannya.

Pada waktu bangun, matahari sudah bersinar dan ia dapat mencium

bau rod panggang—membuktikan bahwa Wilona, paling tidak, sudah bekerja keras.

Ia berpakaian, terpeleset sedikit karena tidak terbiasa dengan

pakaian wanita, dan memasuki ruang umum kedai minuman tepat waktu untuk melihat ayahnya—ayah kandungnya— didudukkan di kursi. Orang bergantian menjaganya, ia tahu hal ini kemarin. Jadi ayahnya diawasi, bahkan ketika ia tidur. Tampaknya tadi malam adalah giliran Raedan dan saudaranya

Merton. Mereka baru saja mau pergi, kelihatan bermata muram karena begadang.

Bagus, pikir Selwyn melihat mereka. Menderim.

Keterlambatannya mungkin menguntungkan, pikimya. Untuk berbicara dengan ayahnya di toko pandai besi Holt pagi ini, ia harus menyingkirkan terlebih dahulu dua bersaudara itu—yang ingin cepat

selesai dan pulang ke rumah—seperti halnya Holt. Selwyn tahu, bahwa mungkin tidak banyak kesempatan untuk berbicara secara pribadi. Lebih mudah di sini. Tapi ia harus cepat berbicara. Dari yang dibicarakan orang kemarin, hari ini adalah hari terakhir. Tidak ada yang yakin kalau Selwyn dapat bertahan di gua selama

itu. Petang nanti ayahnya akan dibebaskan, dan Selwyn perlu bicara dengannya sebelum ia berbuat sesuatu yang gila-gilaan yang tak

dapat di-batalkan jika terjadi.

"Selamat pagi," Selwyn menyapa masing-masing orang tuanya: Orik sedang memeriksa sisa ale di tong dan Wilona mengadoni adonan di dapur. "Apa sebaiknya aku memberi sedikit roti Ibu yang enak itu

kepada Si Tawanan?"

Wilona berhenti untuk berpikir. "Rowe bukan seorang tawanan," katanya, meskipun Selwyn pikir siapa pun yang diikat di kursi dan

dijaga sepanjang hari adalah seorang tawanan. "Dan istrinya akan membawakannya makanan sebentar lagi."

"Setidaknya kita berbuat baik dengan member i nya minum," bantah

Sewlyn dan Wilona hanya mengangkat bahu.

Selwyn mengisi cangkir dan membawanya ke ayahnya. Ia sengaja berdiri di antara ayahnya dan Orik, dan memunggungi Orik sebelum ia membungkuk ke arah kursi. Ia tak dapat mengatakan hal yang sebenarnya kepada ayahnya, tidak seluruh-nya. Apalagi dalam keadaan terburu-buru seperti itu, dengan

risiko seseorang dapat mendekati mereka setiap saat. Ia berbisik, pelan sekali, "Saya akan memberi tahu Anda sesuatu. Tolong jangan

bereaksi."

Sampai sekarang ayahnya kelihatan melamun dan Iesu, matanya hampir tidak terfokus seolah-oiah ia hampir tak menyadari kehadiran orang lain di ruangan itu. Sekarang mata itutertuju kepada Selwyn, tajam tapi waspada, seakan-akan dengan dorongan kemauan semata-mata ia dapat menerima semuanya, apa pun yang harus Selwyn katakan.

Selwyn berbisik, "Minumlah." Setelah ayahnya menuruti, Sewlyn

berkata, "Selwyn masih hidup dan dalam keadaan baik —jangan bereaksi." Ia tak pernah menganggap ayahnya seorang yang demonstrarif, tapi ia dapat melihat harapan dan ke-gembiraan ketika ia menarik napas pendek dan yang penting sekali ia tidak menarik perhatian Orik dari tong-tong ale. "percayalah," Selwyn melanjutkan, "selama Anda terus bersikap seperti sebelumnya dan tidak memberi mereka alasan untuk curiga bahwa Anda telah mendengar sebuah berita, semuanya akan baik" Sebetulnya ia tidak terlaiu yakin akan hal ini juga. "Di mana dia sekarang," ayah Selwyn berbisik. Ia tak dapat mengatakan sebenarnya, DisinL "Aman," katanya. "Betul. Minumlah lagi supaya Orik tidak curiga."

Alis ayahnya terangkat sewaktu mendengar—Kendra me-manggil ayahnya dengan namanya—itu, tapi ia meminum ale-nyx Lalu karena ia meminta ayahnya untuk percaya saja, Selwyn menambahkan, "Ada jalan keluar

di beiakang gua, di sisi Bukit kakek. Ada seorang teman yang datang"—Elswyth mungkin akan memukul ia karena berani menyebutnya teman —dan menunjukkan Selwyn tempat yang aman." Penryth tidak aman, tapi ia mengatakannya begitu supaya lebih mudah saja.

1©3

"Teman kamu?" ayah Selwyn bertanya.

Selwyn perlu waktu beberapa saat untuk menguraikan hal ini,

menyadari bahwa ayahnya tidak memandangnya sebagai seorang penipu, meskipun kesalahannya menyebu t nama Orik. Ayahnya hanya bertanya apakah ia—Kendra—adalah teman yang sudah menunjukkan Selwyn jalan keluar dari gua.

"Bukan." Ia tidak berani mengakui dermawan itu- adalah seorang penyihir, karena ia tidak mau ayahnya khawatir. Ia berbuat semampunya. "Seseorang yang dapat menolongnya. Mereka punya rencana untuk mencari pembunuh yang se-sungguhnya."

Ayahnya menutup matanya sejenak. Lalu ia berbisik, "Aku mau percaya itu ..."

Selwyn mengingat hari kejadian itu bermula, ketika ia dan ayahnya

sedang bekerja membersihkan tanah. Ia berkata, "Selwyn berpesan untuk mengatakan kepada Anda bahwa Anda benar tentang Anora, dan Anda benar tentang gadis besar dan kekar itu." Kelakar itu tercetus hanya di antara mereka pada hari itu, tanpa didengar orang lain.

Ayahnya menutup matanya sekali lagi dan menarik napas panjang. "Saya harus pergi,!! kata Selwyn, karena setiap kalimat— setiap

waktu yang dilewati bersama—semakin memperbesar kemungkinan baginya untuk membuat kesalahan, entah itu mengungkapkan yang

sebenarnya tentang dirinya atau ayahnya yakin bahwa Kendra gila, dan- dua-duanya buruk kalau samp terjadi. "Katakan juga pada Nelda supaya tidak khawatir." Tadinya. ia berencana pergi ke rumah Bowden, namun setelah mendengar semua yang diucapkan Anora tadi malam, ia takut hal itu tidak aman dilakukan.

164

"Terima kasih," kata ayahnya dengan penuh kehangatan, sehingga Selwyn harus berperang melawan keinginan untuk mencerirakan seluruhnya, walaupun itu berbahaya. Akan ada waktunya untuk itu. Ia berharap.

Ia mendengar siulan aneh yang tidak terlaiu mirip suara burung, tidak mirip suara manusia, dan mendapati Farold bertengger di bingkai jendela.

Tanpa terlihar bahwa ia mengenalinya, Selwyn berjalan ke bagian beiakang bangunan, ke ruangan tempat tinggal. Sebentar kemudian Farold muncul di jendela. "Apa yang kauketahui?" tanya Selwyn. "Aku tahu bahwa susah hidup menjadi kelelawar yang hidup dalam badan burung kutilang emas. Aku tak tahu burung kutilang makan apa, tapi aku tetap senang sekali serangga kecil, aku tetap ingin makan semalaman dan tidur seharian, tapi mata kutilang tidak terlaiu bagus untuk melihat di malam hari, dan aku tak dapat membuat suara kecil yang akan membantuku kembali ketika aku menjadi kelelawar, dan..."

"Farold!" Selwyn berkata dengan jengkel. "Kau mengoceh saja.

Maksudku apakah kau mengetahui sesuatu yang penting?" Farold mendengus. "Kau yang menyuruh aku keluar malam hari, lalu mengatakan padaku kalau hal ini tidak penting."

Selwyn menggertakkan giginya. "Apakah kau menemukan sesuatu yang ada hubungannya dengan pembunuh?"

Farold mengembuskan napas—keras-keras. "Aku kan baru coba jelaskan padamu bahwa untuk mendapat cukup makanan agar aku tidak pingsan

kelaparan saja butuh waktu semalaman?"

Giliran Selwyn yang mengembuskan napas. "Jadi, tidak ada," katanya. "Yang ingin kaukatakan adalah kau tidak tahu apa-apa."

Farold membuka paruhnya dan berkaok seperti bumng gagak.

"Diam deh" kata Selwyn kepadanya. "Baiklah. Karena semua tergantung padaku, maka yang ingin aku lakukan adalah

mengunjungi kamar tempatmu dibunuh."

"Jika semua tergantung padamu, mengapa kau bersusah payah mengatakannya padaku?"

"Farold? Selwyn berseru dengan jengkel.

Tiba-tiba Farold mulai meniru kutilang emas, yang dirasa-kan Selwyn betul-betul menyebalkan, namun sedetik kemudian ia merasakan tangan Wilona di pundaknya.

"Kasihan kau, sayang," ibu Kendra berkata. "Ibu tahu kau merasa sedih karena Farold dibunuh. Tapi kau harus menenma bahwa ia sudah

mati. Hadapilah kenyataan ini, sayang." Sambil menggelengkan kepala, Wilona menjauh.

Suara aneh terdengar dari paruh kutilang emas FarokL

"Mau ikut tidak?" tanya Sewlyn, "atau kau mau tertawasaja terus di situ?"

"Oh, tentu saja aku mau ikut," kata Farold. "Aku tidak mau

ketinggalan sesuatu yang menyenangkan." DUA PULUH

Setelah Selwyn menyelesaikan tugas paginya di kedai minuman, ia

mengatakan kepada orang tua Kendra bahwa para biarawati di Saint Hilda menyarankan pentingnya udara segar untuk kesehatan kutilang emas—terutama burung kutilang emas yang dipelihara di sangkar. "Kami berdua mau jalan-jalan keluar," kata Selwyn kepada mereka. "Kami akan kembali sebelum para langganan datang."

Jika orang tua Kendra merasakah hal itu aneh, mereka tidak mengatakan apa pun.

Ketika ia berjalan menuruni jalan sambil membawa sangkar burung, orang-orang melambai dan menyapa. Gadis-gadis kedai minuman yang cantik, pikir Selwyn, dapat berjalan-jalan dengan apa saja, suatu hal yang menggelikan untuk anak-anak lelaki petani.

Penggilingan berdiri terpisah di daerah pinggiran Penryth karena pabrik ini harus berada di samping sungai, dan suara bising yang terus menerus dari kincir yang berputar siang dan malam sudah cukup membuat orang-orang tidak mendirikan rumah mereka terlaiu dekat.

Ketika Selwyn tiba di sana, ia melihat pintu keluar dan langganan yang datang hanya janda Snell. Sementara itu, Linton sedang

mengikat sekarung tepung untuknya. Bagus, pikir Selwyn. Bahkan lebih bagus dari yang diharapkannya. Tangan janda Snell berbonggol-bonggol dan lumpuh, ia perlu bantuan Linton untuk membawa tepung itu ke rumahnya. Selwyn berjalan sedikit menjauh, ke tempat di mana ladang mulai ditanami—ini mungkin milik paman Raedan dan Merton, pertanian terdekat dengan desa. Ketika

berbalik, Linton dan janda itu sudah jauh di bawah menuju ke arah

berlawanan, Linton memanggul karung tepung itu di pundaknya. Selwyn kembali ke penggilingan, dan hanya Derian tua yang ada di sana.

Sebelum Derian meiihatnya, Selwyn melemparkan pandang-an ke

sekeliling ruangan. Kebanyakan rumah di Penryth tidak diberi kunci karena setiap orang saling mengenai; tapi orang yang menjalankan bisnis pasti memiliki kunci—karena adalah bodoh bila menggoda

orang dengan sesuatu yang tidak dapat dimilikinya. Selwyn melihat kayu yang berat menyender di dinding di samping pintu dan tahu bahwa pada malam hari kayu itu akan ditempatkan pada siku-siku di kedua sisi pintu. Untuk melewati pintu itu dibutuhkan beberapa pria untuk mengangkainya. Tak heran bila Thome mengatakan bahwa

pem-bunuhnya pastilah masuk lewat jendela. Tapi tak perlu lewat jendela kamar tidur Farold, pikir Selwyn, meskipun tak satu pun

168

yang terbuka. Ia akan mcmcriksa randa-tanda yang dibuka dengan paksa pada semua jendela, pikirnya; jika ada waktu. Di ruangan ini hanya ada satu jendela yang menghadap desa— menghadap ladang milik

paman Raedan dart*Merton.-

Sekarang dengan suara Kendra, ia berkata, "Halo." Ia harus mengucapkannya dua kali sebelum Derian menengok dan rersenyum

kepadanya. Selwyn meneruskan, "Pagi ini saya pikir saya perlu membawa burung penyanyi saya jalan-jalan keluar, dan saya juga sudah pergi begitu lama sehingga saya harus melihat semuanya dan bertemu setiap orang lagi" jangan mengobrol, Selwyn berkata pada dirinya. Jangan menjelaskan terlaiu banyak.

Tapi Derian tidak mengomentari apa yang diucapkan Selwyn. Ia hanya menjawab, "Selalu senang ada pengunjung yang cantik."

Selwyn merasa wajahnya memerah, meskipun Derian memuji Kendra, bukan dirinya. Ia meletakkan sangkar burung di atas meja, dan— seperti yang sudah di rencanakan nya bersama Farold—ia menyentuh potongan kayu pengunci yang longgar. "Oh!" Selwyn berteriak purus asa ketika kayu itu jatuh dan Farold terbang keluar dari sangkar. "Oh, kembali, burung kecil!" Selwyn merasa betul-betul bodoh, tapi Derian dengan gagah melompat untuk menolong.

Farold mendarat di atas rumpukan karung-karung tepung dan menunggu

sampai Derian berjarak dua langkah sebelum ia terbang lagi dan berputar di sekeliling ruangan.

Selwyn mengejar Farold, tapi Farold melompat dari meja ke atap

sangkar, ke ambang jendela.

"Oh, tolong," pekik Selwyn, "tutuplah pintu dan jendela sebelum ia terbang keluar."

Farold terbang dari jendela, tapi ia terbang melewati kepala

Derian dan keluar lewat pintu yang masih terbuka. Ia segera mendarat di atas tong air di sisi pintu.

"Tojonglah aku!" Selwyn mendesak Derian, kalau-kalau penggiling

tua itu menyerah.

Derian mengikuti Farold ke luar pintu.

"Aku akan menutup daun jendela di sini," teriak Selwyn, "untuk berjaga-jaga kalau ia masuk kembali." Ia melihat daun-daun jendela

dikencangkan oleh palang yang sederhana. Seseorang dapat membukanya dari luar, meskipun Selwyn meng-harapkan ada bekas goretan di kayu jika memang itu yang terjadi, dan ternyata tidak ada.

Sementara itu di luar, ia melihat Farold terbang dari tong air ke dan an pohon yang rendah. Ketika Derian mendekat, Farold terbang ke dahan lain di sisi lain dari pohon itu, dan sebentar kemudian

terbang untuk bertengger di atas semacam semak—untuk memikat

Derian dan terus mengikutinya, tapi tetap tidak dapat ditangkap.

Segera setelah Derian hilang dari penglihatan, Selwyn naik ke atas. Penggilingan adalah satu-satunya bangunan di Penryth yang memiliki dua tingkat, untuk memuat perlengkapan roda yang sangat besar yang dibutuhkan untuk memutar gerinda penggilingan. Menurut Farold, kamar Derian letaknya di atas, di depan. Kamar Farold adalah yang lebih kecil di ski beiakang tangga, di mana ia dapat mengawasi dan mendengar segalanya.

Ia masuk kamar Derian terlebih dulu. Selwyn memutuskan untuk memexiksa jendela selagi ia punya lebih banyak waktu, karena

Selwyn tidak dapat memikirkan penjelasan apa yang diberikan kepada

Derian jika ia kembali dan mendapati dirinya di sana.

170

Di atas terletak ruangan besar tempat menyimpan per-lengkapan roda

dan tangkai untuk roda penggiling. Hanya ada satu jendela, tapi terJalu kecij bagi orang dewasa untuk lewat dan menghadap—sekali lagi—ladang milik saudara Raedan dan Merton. Di seberang dinding ada pintu yang terbuka dan ter-lihat pemandangan roda air raksasa yang masuk ke dalam sungai. Tak ada yang dapat memanjat dan masuk melalui tempat itu.

Dalam kamar Derian, daun jendela tampak tidak pernah dirusak dan

lagipula penyelundup pasti memerlukan tangga untuk mencapai nya, karena tidak ada pohon tinggi di dekatnya. Selwyn memandang keluar dan melihat Derian, sekarang hampir sampai ke toko pandai besi, masih mengejar kutilang emas. Tapi seseorang lain bisa masuk, mencari pemilik penggilingan atau Linton kembali ke rumah. Selwyn harus buru-buru.

Ia kembali ke bawah dan membuka pintu kamar Farold. Ia yakin rubuh

Farold tidak di sana lagi; Sebetulnya, ia tahu, lebih dari yang lain di mana sebetiunya Farold dan tubuhnya. Dan tidak ada alasan untuk mengharapkan kalau-kalau ia akan menemukan kasur dan selimut yang basah oleh darah. Seseorang pasti sudah membawanya. Melihat keadaannya, ia tidak tahu mengapa ia begitu memilih untuk melihat ruangan di mana seseorang sudah ineninggaJ.

Meskipun belum sampai seminggu kosong, ruangan itu sudah berbau

debu dan apek. Seprai sudah tidak ada, meskipun Selwyn dapat mengatakan tadinya ada di mana, dtlihat dari celah di bawah jendela. Tak ada tetesan darah, tak ada bukti bahwa kehidupan seorang pemuda sudah diakhiri dengan kekerasan di sini. Di situ ada lemari pakaian yang pernah di-ceritakan Farold, tempat ia menyimpan pisaunya. Selwyn

171

memeriksa semua barang di situ; la merasa tidak menentu memegang barang milik Farold yang tak akan pernah diguna-kannya lagi, menggeledah pakaian yang tidak akan pernah dikenakannya lagi— meskipun ia diizinkan Farold ada di sini Pakaian-pakaian, segulung benang ikat, beberapa koin, sebutir apel yang sudah lembek dan cokelat. Di pojok bawah ada bam kecil yang kelihatannya tidak ada

gunanya kecuali terlihat bersinar. Apakah Farold pernah menjadi anak laki-laki yang memungut sebutir batu hanya karena bagus? Selwyn menyadari setelah tujuh belas tahun hidup di desa yang sama dengan Farold, ia tidak mengetahuinya. Ia menutup lemari itu, Merton—atau yang lain. Jika Merton membual telah menemukan pisau itu—mungkin ia mencari pisau itu di lemari, karena itu tempat yang wajar untuk menyimpan benda se-macam itu. Tapi Merton tidak punya alasan untuk membunuh Farold.

I Jadi, misalkan saja pembunuh ini' tidak tahu tentang pisau itu.

Selwyn berpikir—seperti yang sudah dipikirkannya sebelumnya— pembunuh itu tidak memasuki ruangan lalu mencari sesuatu untuk membunuh calon korbannya. Mungkin-kah si pembunuh telah membawa alat yang lain, menjatuhkan -nya, dan dengan begitu harus menggunakan yang ada di situ? Ia—pria atau wanita—mungkinkah tidak menyadari bahwa pisau itu milik Selwyn sampai esok hari nya?

' Atau di sisi lain, pikir Selwyn, sebegitu penidurkah Farold

sehingga seseorang dapat masuk tidak hanya memanjat lewat jendelanya, namun juga menjatuhkan senjatanya dan mencari senjata lain di ruangan itu?

Dan jika pembunuh itu telah menjatuhkan atau meninggalkan sesuatu,

apakah benda itu sudah ditemukan oleh Linton

172

ketika menemukan mayat itu, atau oleh Derian setelah Linton memanggilnya, atau oleh Bowden dan Thorne ketika mereka memeriksa

ruangan itu, atau oleh para wanita yang sudah menyiapkan jenazahnya untuk dikuburkan? Dan jika memang ada dan tidak ada dari mereka yang menemukannya dan benda itu belum dibersihkan, atau diinjak-injak atau ditutupi sejak kejadian itu, bagaimana Selwyn mengenaii benda itu sebagai sesuatu yang bukan seharusnya ada di ruangan itu?

Selwyn beran jak ke jendela. Walaupun begitu ada satu alasan lain—

katanya pada diri sendiri—mengapa ia sudah dicurigai, seolah-olah percekcokan dengan Farold, pisau itu, dan ke-nyataan bahwa ia berada di sekitar tempat itu tidaklah cukup: Jendelanya kecil. la kurus dan pendek dan dapat dengan mudah melewatinya. Holt tentu saja tidak bisa, atau Bowden dan Orik mungkin juga tidak

la membuka daun jendela dan mendapati—di luar sungai yang menggerakkan roda penggilingan—-ia mendapatkan pemandangan jelas

bagian beiakang rumah Bowden. Ia merasa-kan apa yang ia tahu sebagai gelombang rasa cemburu yang tidak masuk akal; Farold dapat memandangi Anora masuk dan keluar dari situ.

Tidak ada bedanya sekarang, pikir Selwyn, antara satu hal dengan yang lainnya.

Sungai itu merupakan penghalang, sehingga tidak mudah masuk lewat jendela Tidak mungkin. seorang wanita, kalau begitu, pikir Selwyn.

Tidak, kecuali kalau nekat. Dia berpikir tentang Anora dan Wilona, dan memutuskan untuk tidak menghilangkan salah satu di antara

mereka bagaimanapun juga. la melongok ke luar jendela untuk mencari goresan sempit di tanah antara dinding dan air. Jika ada jejak kaki, cuaca se-

173

minggu ini pasti sudah menutupinya. Ia tidak tahu apakah ada orang yang sudah mencari itu pagi itu, tapi itu bukan infbrmasi yang

mereka berikan ketika mereka sedang menuduh dirinya. Tidak ada jejak kaki berlumpur di ambang jendela atau di lantai, setidaknya tidak ada lagi. Daun jendela banyak ter-gores, tapi kebanyakan goresan sudah lama. Selwyn curiga kalau-kalau Farold menyelinap keluar masuk lewat jendela ini pada malam hari kalau ia tidak ingin pamannya tahu di mana ia berada—seperti ketika ia pergi ke kedai minuman dan memata-matai Alden di bengkel si pandai besi. Tiba-tiba saja, Farold terbang masuk menerjang wajahnya.

"Keluar!" teriak Farold. "Keluar! Ia menyerah dan kembali." Selwyn membanting daun jendela, tapi terbuka lagi. Ketika

ia meraih untuk kedua kalinya, ia mendengar langkah di pintu masuk di belakangnya.

"Wah, wah," kata Derian, "sedang apa di sini?" -

"Saya ..., " kata Selwyn, "Saya pikir saya melihat burung

saya terbang di sisi kincir penggiling dan saya pikir ia mungkin kembali masuk jika saya membuka salah satu jendela di

beiakang."

- Derian mendekatinya untuk mendengar dengan jelas. "Burung itu?"

tanyanya.

Selwyn menunjuk. "Ia bertengger di pohon seberang di sungai." Farold merasa harus tetap tinggal di mana ia bertengger dan

membuat kicauan kutilang emas.

"Tapi kau memutuskan untuk menyerah," Derian menunjuk. "Kau baru saja menutup jendela."

"Burung itu terlaiu bangga dengan dirinya—suka bermain-main.

Biarkan saja ia akan kembali atau tidak." Bodoh! Bodoh!

174

Selwyn memaki dirinya sendiri. Setiap kata yang diucapkannya maiah

memperburuk kata sebelumnya.

Apakah ia mendengar penjelasannya yang lemah atau tidak, Derian berkata, "Kau ingin melihat ruangan Farold." Bukan pertanyaan, hanya pengamatan.

Tak ada gunanya menyangkal hal itu lagi. "Iya," Selwyn mengakui. "Kudengar kalian berdua berreman," kata Derian, suaranya iembut. "Teman baik. Sangat berteman baik. Aku mengerti mengapa kau ingin melihat ruangannya dan menyentuh barang-barangnya."

Dalam had Selwyn mengeluh. Apakah hanya ia dan Farold di Penryth yang tidak biasa dengan gosip tentang Farold dan Kendra? Tapi tidak ada saJahnya mem biarkan Derian percaya cerita itu. Ini

menjadi alasan keingintahuannya. Selwyn melipat tangannya di depan dan memandanginya, tidak mengakui tapi juga tidak menyangkal. Di

sisi lain, ada sesuatu dari cara Derian mengucapkan "menyentuh" yang membuat Selwyn merasa kulitnya kotor.

Tampaknya Derian menganggap diamnya sebagai rasa sedih kehilangan Farold. "Sudahlah," katanya, "yang sudah terjadi biarkan berlalu. Bersedih tidak akan membawa anak itu kembali."

Ini bukan yang diharapkan Selwyn dari seorang paman yang baru kehilangan. Ia mendongak, merasa. terkejut. Pasti aku salah menangkap sesuatu, Selwyn berkata pada dirinya sendiri, karena apa yang ia tangkap senyuman Derian semakin lama semakin berkurang kelembutannya, dan semakin seperti mengerling.

"Jangan takut," kata Derian mendekat. "Aku tahu kau me-miliki hati

yang baik dan lembut—bukankah ini sudah kukata-kan kemarin di kedai minuman? Kita dapat saling menghibur.

175

Kamu, bagaimanapun masih punya keluarga. Aku sekarang betul-betul sendirian."

Ini kalimat yang sama yang dilagukannya kemarin, tapi tidak membuat Selwyn menjadi suka kepadanya, karena ia mulai mencurigai Derian yang hanya mencoba membuat Kendra merasa prihatin dengan keadaannya.

Selwyn mundur satu langkah. "Tidak," katanya tegas, supaya Derian mendengarnya dengan jelas. jika Derian mengambil satu langkah lagi sehingga ia cukup jauh dari pintu, Setwyn akan punya kesempatan untuk berlari keluar. Pilihan lain adalah menjatuhkan-nya, tapi Setwyn enggan lakukan. Laki-laki tua itu menawarkan sesuatu yang menjijikkan, tapi—misalkan Selwyn adalah Kendra—ia tidak tahu seberapa menjijikkannya tawaran itu menurutnya. Namun, Setwyn

tetap marah atas nama Kendra.

"Ayolah," kata Derian. "Aku mungkin tua, tapi kaya. Tapi buat apa kekayaan itu jika seseorang sendirian? Bersama-sama akan kita

atasi kesedihan kita karena Farold." Derian maju beberapa langkah,

dan Selwyn berlari melewatinya.

"Datanglah lagi untuk berkunjung," Derian memanggilnya setelah

Setwyn mengambil sangkar Farold dan menuju pintu keluar. "Umurku

tidak terlaiu menakutkan bagi Anora. Ia pun menyukaiku sejak Farold meninggal. Aku punya uang dan energi yang cukup untuk kalian berdua."

Terkejut sekali dengan apa yang dikatakan Derian—tidak peduli

bahwa orang itu sudah cukup tua untuk menjadi kakek Kendra, tidak peduli bahwa Selwyn bukanlah betul-betul Kendra—Selwyn bergegas lari ke jalan.

Farold bertengger di atas bahu Setwyn dan membuat suara jijik. "Apakah pamanku baru saja menawarkan padamu seperti apa yang kupikir?"

176

Selwyn membelalak. Lalu ia berusaha membuat ekspresi yang lebih menyenangkan pada wajahnya ketika para penduduk melihat ke arahnya.

"Ya ampun," kata Farold. "Tampaknya kita menghadapi kesulitan

besar."

Selwyn melihat Bowden sedang mendekat, diapit oleh Thome dan

Linton.

Dan—ini yang terburuk—beberapa langkah di beiakang mereka ada Orik dan Wilona. Mereka membawa bungkusan yang kemungkinan besar

seorang bayi anak perempuan mereka, Kendra. DUA PULUH SATU

Ia dapat mencoba meyakinkan setiap orang bahwa ialah Kendra yang asli, dan pendatang bam kuadalah seorang penipu. Namun, ia

sebenarnya menyadari sudah beruntung berhasil membodohi orang- orang selama ini. Jika ada pertanyaan-per-tanyaan tentang masa kecil dan keluarga Kendra, penyamaran-nya akan segera tersingkap oleh pertanyaan -pertanyaan yang lebih rumit daripada sekadar, "Siapa nama orang ruamu?"

Sebetulnya Kendra yang asli mungkin sudah menjawab pcrtanyaan- pertanyaan seperti itu untuk memuaskan setiap wang. Dia mungkin,

telah meyakinkan Orikdan Wilona sebelum mereka membawa permasalahan ini kepada Bowden.

Selwyn menjatuhkan sangkar burung dan mulai berlan berlawanan arah, dan Farold terbang di sebelahnya.

178

179

sudah melihat dirinya berubah dari Kendra menjadi si tawanan dan

mungkin Selwyn yang sudah mati di depan mata kepala mereka

sendiri. Tak ada yang mau menjadi yang pertama untuk mendekatinya. Ia duduk di tepi sungai, menarik napas, karena ia bukan perenang yang kuat, dan berkata kepada Farold, "Bagaimanapun aku tak pernah

dapat meyakinkan mereka." Ia memegang tangannya dan memeiuk tangannya sendiri— dirinya sendiri. "Bagaimana kau tahu?" "Bagaimana aku tahu apa?"

"Bahwa membenamkan diriku ke dalam air akan menetral-kan mantra itu?

Farold memandangnya dengan skeptis. kau tidak tahu itu? Kau mem biarkan ia memantraimu tanpa tahu apa penangkal-nya? Kau memang

bodoh, sulit dipercaya kau tak pernah bertanya kepadanya. Aku bertanya pertama kali, bahkan ketika ia belum memberikan mantranya kepadaku. Aku pikir kau meiakukannya juga sebelum kau

membiarkannya sungguh-sungguh mulai. Kau bodoh."

Akhirnya, Merton yang pertama kali memegang lengannya, dan memaksanya berdiri. Selwyn," katanya ragu-ragu, merasa tidak masuk akal, tapi jelas di tengah keheningan setidaknya setengah jumlah

seluruh penduduk desa, dan yang lainnya tetap berkumpul. "Apakah itu kamu yang sebenarnya? Selwyn?"

Linton sudah berenang menyeberangi sungai. Ia tidak mau ada orang lain yang mengambil alih penangkapan itu. "Membunuh sepupuku rupanya belum cukup," teriak Linton, sehingga orang-orang di kedua sisi sungai dapat mendengar. "Jelas sekali Selwyn juga terlibat dengan sihir! Menurutku kita harus mengikatnya dengan bam dan menenggelamkannya."

"Hentikan dia!" teriak Linton. "Ia penyihir, dan burung itu adalah jelmaan iblis sekutunya!"

Ini mungkin, pikir Selwyn sebelum berlari, sama buruknya dengan

dituduhnya ia sebagai pembunuh. Tangan-tangan penduduk terus berusaha menangkapnya. Rok panjang me-ngancamnya untuk tersandung setiap ia mengambil langkah. Selwyn mengeiak, menghindari sekelompok penduduk desa dan berlari di antara dua bangunan: rumah Bowden dan kedai minuman. Lalu ia sampai ke tepi sungai. "Tunggu," teriak Farold.

Selwyn melompat, tepatsewaktu Farold berteriak, "Jangan!" Air

sejenak menutupi kepaianya. Gaun ini akan membuat-ku tenggelam dan menyebabkanku mati, pikir Selwyn, namun sebentar kemudian ia naik ke permukaan air dan mulai berenang. Setelah setengah jalan menyeberangi sungai, ia menyadari ada sesuatu yang salah. Pada setiap gerakan ia melihat Iengan baju-nya, tapi itu bukan lengan baju yang ia pakai ketika menyelam tadi. Itu lengan baju kemejanya sendiri; yangdipakainya ketika ia dikurung di gua pekuburan, baju yang sudah dimantrai oleh Elswyth, dua kali.

Selwyn menarik dirinya ke atas jauh-jauh. Farold bertengger di dahan di bawah di tepi sungai dan berteriak, "Kau memang bodoh! Mengapa kau pergi dan untuk apa merusak mantra itu? Sekarang kau bisa meyakinkan mereka bahwa kau adalah Kendra yang asli."

Selwyn melihat penduduk desa yang mendekat dari se-berang sungai maupun tepi sungai dan datang dari sisi penggilingan, dan tidak menyisakan kesempatan kepadanya untuk kabur. Ia tidak bisa lolos

dari mereka. Namun, meskipun mereka tidak mencegahnya kabur, mereka tidak mendekat. Mereka

180

"Linton...," kata Selwyn, tapi Linton justru menahan tubuh-nya. Merton masih memegang lengannya, sehingga lengannya terpuntir sakit, tinggi di atas punggungnya. Selwyn merasa kesakitan, dan berikutnya Linton menjejalkan sumbat mulutnya. Mereka tidak akan membiarkannya berbicara. Dia sudah tahu sesuatu, tapi mereka tidak akan membiarkan dirinya berbicara.

Tiba-tiba Farold menukik dari langit, tepat menuju wajah Linton.

Karena terkejut, Linton melemparkan tangannya ke atas untuk melindungi wajahnya, dan melepaskan sumbat itu. Tapi sekejap kemudian, Linton cukup sadar untuk menepiskan tangannya di sekirar kepaianya. Farold mendatanginya lagi.

Selwyn meludahkan sumbatnya. "Tidak!" teriaknya, tahu bahwa Linton hanya perlu pukulan kecil untuk meremukkan kchidupan tulang rapuh kelelawar yang menyamar sebagai burung itu. "Jangan!"

Dan sebelum ia dapat memperingatkan Linton apa yang akan

dilakukannya itu, tangan Linton menyerang kutilang emas itu, dan melemparkannya ke tan ah.

Farold jatuh dengan bunyi gedebuk kecil tapi penuh. "Tidak," kata Selwyn lagi, kali ini dengan suara seperti udara yang dikeluarkan dari paru-parunya. Ia meronta dari tangan Merton dan melemparkan dirinya sambil berlutut. Tapi tampaknya tidak ada yang dapat dilakukannya lagi. Burung itu terbaring diam, lehernya terpuntir; kakinya pincang, tak ada suara napas sedikit pun. Walaupun begitu, Selwyn mengangkat badan yang amat ringan itu.

Selwyn merasa pan as, dingin, kepaianya terasa melayang dan sekaligus berat. Setelah percekcokan dan keluhan selama

181

ini, ucapan-ucapan yang meremehkan, waktu-waktu ia pernah berpikir bahwa ia akan jauh lebih baik kalau sendirian daripada dengan bantuan Farold—dengan senang hati ia akan memberi-kan beberapa tahun lagi ke Elswyth untuk menukar detak jantung di dada makhluk yang mungil itu.

Tapi tak ada tanda-tanda kehidupan.

Linton mendorong bahu Selwyn dengan kasar, mendorong lengannya sehingga badan burung itu jatuh dari tangan Selwyn, jatuh sekali

lagi ke tanah berumput. "Cukup," Linton berkata dengan keras. "Tidak ada lagi mantra atau sejenisnya."

Selwyn bangkit berdiri. Ia ingin sekali melukai Linton dan cara

terbaik untuk meiakukannya adalah dengan mengatakan-nya sebenarnya apa yang sudah dilakukannya.

Tapi informasi ini sangat mengerikan dan—lagipula—-Linton hanyalah orang yang bodoh dan pengganggu orang lemari.

Farold sudah mati—lagi—dan tidak ada alasan untuk se-pupunya agar tahu bahwa Farold sudah man dua kali, dan Linton sendiri yang bertanggung jawab terhadap kematiannya yang terakhir.

Orang-orang berbisik, "Apa yang terjadi?" dan "Bagaimana ini bisa terjadi?" Beberapa dari mereka kelihatan tercengang, dan beberapa tampak ketakutan.

Di seberang sungai, Bowden menampilkan ekspresi ter-baiknya:

marah. "Aku yang memberi perintah," ia mulai, seakan-akan berhadapan dengan sihir, kematian, kebohongan, dan plot semua yang dapat ditangkapnya adalah pikiran bahwa ia sudah bersabda Selwyn harus mati, tapi ternyata tidak.

Farold sudah mati jauh sebelum Setwyn mulai terbiasa dengannya, mulai menyukainya. Ia tidak begitu buruk. Ia tidak

182

183

Selwyn melihat sekeliling sampai ia menemukan Anora. "Untuk alasan sama yang setiap orang kira mengapa aku ingin Farold mati. Untuk memenangkan Anora."

Anora menutup mulutnya dengan tangannya, sehingga membuat

ekspresinya susah dilihat.

Derian tertawa. "Aku sudah tua," katanya.

Selwyn berkata kepada orang-orang, "Aku tahu hal itu sewaktu Derian menyangka aku Kendra.. ."Ia tidak yakin bagaimana mengatakannya.Kendra yang asli meletakkan tangan di pinggangnya dan melemparkan rambutnya. "Derian Miller katanya. "Asal tahu saja. Ia memberikan janji-janji semacam itu."

"Dengan Kendra?" teriak Anora kepada Derian. "Kau merencanakan bersama ayahku untuk menikahi aku.n

"Apa?" kata Derian, pendengarannya berkurang.

Kendra tidak mempedulikannya. "Oh tidak," katanya kepada Anora, terdengar—pikir Selwyn—lebih berkesan simpatik daripada menuduh.

"Pasti kamu tidak percaya padanya, kanV

Bibir Anora menipis. "Jangan bicara padaku," bentaknya. "Setidaknya aku ingin membuat pria itu menunggu sampai kami menikah. Aku tak mencoba meninggalkan bayiku di tangan para

biarawati di Saint Hilda."

Kendra memeiuk bayinya erat. Dia mengangkat kepaianya tinggi- tinggi meskipun suaranya terguncang. "Setidaknya aku mencintai pria itu, bukan uangnya."

"Pria yang mana?" Anora mengejek. "Farold, atau Derian?" "Mereka berdua menawarkan diri untuk menikah denganku."

"Bukan kedua-duanya," kata Kendra. "Dan untuk semua itu, kurasa

perjalananku lebih bagus dari kamu."

begitu buruk seperti kalau kita sedang duduk di atas paku. Ini tidak adil, tapi ia tidak dapat melakukan apa-apa. Selwyn harus meneruskannya sendirian. "Saya tidak bermaksud mencelakai orang,"

katanya, berbicara kepada setiap orang, tidak hanya kepada Bowden atau Linton.Saya menyesal menyalahgunakan kebaikan Anda." Ucapan itu ditujukan kbusus untuk Kendra dan keiuarganya, yang ada di antara mereka yang berdiri di pinggir sungai. "Saya hanya ingin mengerahui siapa sebenarnya yang membunuh Farold."

"Itu," kata Bowden, "sudah ditetapkan sehingga setiap orang puas. Dan sekarang, selain membunuh, kau juga terbukti terlibat dalam

sihir."

"Dan apa yang kauketahui?" teriak Raedan, tidak mem-pedulikan

Bowden. "Apa?"

Selwyn menarik napas panjang. Pembunuhnya tidak mungkin Merton, yang tahu tentang pisau tapi tidak punya motif untuk membunuh Farold. Bukan juga Bowden atau Holt yang tidak mungkin masuk ke dalam daerah penggilingan. Linton, Anora, Thorne, Orik, dan "wilona semuanya punya alasan menginginkan kematian Farold dan dapat dengan cara memperkecil diri-—masuk melalui jendela Farold.

Tapi hanya satu orang yang menurutnya dapat dengan mudah mengerahui tentang pisau tanpa sepengetahuan Farold, yang punya akses ke dalam ruangan Farold, dan yang Selwyn berhasil ketahui— ada yang ingin sekali Farold enyah dari rencananya. Ia meng- umumkan, "Saya yakin dia adalah pemilik penggilingan." Bisikan tidak percaya terdengar dari kerumunan orang. "Kau bohong." Suara tua Derian yang gemetar terdengar. berdiri memandangi mereka dari balik jendela penggilingan. Kau bohong," ulangnya. "Buat apa saya meiakukannya?"

184

Aku juga menawarkan diri* pikir Selwyn. Aku pernah ingin menikah denganmu. Apakah Anora tidak menyebutkan namanya karena cintanya tidak relevan sekarang, atau karena dia tidak pernah masuk

hitungan? Memang tidak ada bedanya, tapi ia tetap sakit hari. Anora memandang marah ke arah Kendra. "Pelacur," katanya. "Cukup." Bowden melihat Anora, Kendra, Derian, lalu ke Selwyn. Katanya, "Semuanya ini tidak langsung ke pokok masaiahnya. Aku tidak akan membiarkan nama dan reputasi putriku ternoda. Rencana

keluarga kami yang dibuat bersama Derian setelah Farold meninggal bukan urusan seluruh desa. "Langsung setelah Farold meninggal,"

teriak Wilona. Bowden tampaknya siap ingin memukulnya: dua orang tua yang melindungi anak mereka. "Intinya adalah—ia mengacung-kan jarinya ke arah Selwyn untuk menekankan kata-katanya— pisaumu yang membunuh Farold.".

"Pisauku," kata Selwyn, "yang hilang, yang ditemukan Merton, dan yang diberikannya kepada Farold." Ia melihat ke arah Merton yang tampaknya ingin menyangkal hal itu.

Namun setelah ragu-ragu sejenak, Merton mengangguk, berkata, "Itu benar."

"Oh, aku yakin begitu," Bowden membentak. "Tetapi mengapa baru kaukatakan sekarang?"

"Aku takut," kata Merton, "jika orang tahu Farold yang menyimpan pisau itu..."—dengan putus asa melihat ke arah Selwyn lalu menyelesaikan kalimamya dengan cepat—"mereka akan memikirkan satu alasan bagi Selwyn untuk membenci Farold dan ingin dia mati: untuk mendapatkan pisaunya kembali."

185

Tiba-tiba saja kediaman Merton terasa masuk akal. Selwyn dapat

melihat orang-orang meiihatnya dengan curiga, bahkan sampai sekarang. Padahalaku memerlukanmu sekarang Farold, pikirnya, tapi bukan perasaan marah atau kesal yang dirasakan-nya. Katanya kepada Merton, "Tapi bagaimana aku tahu Farold menyimpannya kalau kau

atau Farold tidak memberitahuku sebelum dia mati? Tentu saja

Farold tidak memanggilku untuk memberitahu.:'.

"Aku juga tidak," kata Merton kepada orang-orang. Penduduk desa

salah berpandang-pandangan seakan-akan hendak mencari apakah ada yang dapat mengatakan apa sebenarnya yang ingin dikatakan Selwyn.

Mereka sudah meiihatnya berubah bentuk di depan mata kepala mereka. Ia menceritakan kisah selanjutnya. "Aku me-minta bantuan dari seorang penyihir," katanya, "penyihir yang sama yang mengubah penampilanku. Dengan bantuannya, aku tahu kebenarannya dari Farold setelah ia mati." "Omong kosong...," Bowden mulai berbicara. "Atau lebih tepatnya, aku tahu dari rohnya." Demi Linton, Selwyn tetap tidak mengatakan, "Ia tad! hidup dan kau dengan gegabah sudah membunuhnya," ia tidak ingin membiarkan Linton hidup dengan mengerahui hal itu. Farold, mengapa kau harus mengalami hal ini? Selwyn harus menarik napas panjang supaya tidak gemetar. "Pembohong," kata Derian.

"Kebohongan yang menyedihkan," Bowden menambahkan.

"Farold memberitahuku bahwa ia menyimpan pisau itu di kamarnya,"

kata Selwyn, "dan Derian dapat mengambilnya dengan mudah."

itu anakku. Apa kau dapat membayangkan aku membunuhnya. Tidakkah kau ingat sewaktu ayahnya pemilik penggilingan dan penggilingan terbakar? Aku menerobos melewati api dan me-nyelamatkan dia. Aku membesarkannya seperti anakku sendiri."

Selwyn ingat ketika ia dan Farold berbicara dengan Elswyth tentang

anak Thorne, Alden yang membakar bengkel pandai besi dan Elswyth berkata, "Hanya karena ada kebakaran yang dimulai selagi ada badai, tapi bukan berani badai itu penyebab-nya." Sekarang Selwyn menambahkan, "Farold beruntung karena Anda ada di dekatnya malam itu. Dan Anda, tentu saja beruntung hanya kamar-kamar tempat tinggal yang terbakar dan banyak orang yang meninggal—tapi mesin-

mesin tidak rusak. Aku ingat waktu itu setiap orang menepuk pundak

Anda. Mereka menyebut Anda pahlawan. Tapi menurutku Anda berada di sana untuk meyakinkan penggilingan itu sendiri tidak ikut

terbakar. Menurutku, Anda menyelamatkan Farold hanya supaya orang tidak bertanya-tanya mengapa Anda berada di sana. Tidak ada yang

bertanya apa yang sedang dilakukan seorang pahlawan di dekat tempat bencana terjadi. Jelas sekali: menolong keponakan kecil yatim piatu yang malang."

"Bohong," ulang Derian. Namun kali ini Bowden tidak sependapat dengannya.

Selwyn berkata, "Sejak puluhan tahun ini Anda jadi terbiasa membunuh untuk mendapatkan apa yang Anda mau."

"Nak, penyihirmu itu sudah mempengaruhi pikiranmu," kata Derian. Tidak ada seorang pun yang menanggapinya.

Derian menghilang dari jendela.

"Pembunuh!" Linton berteriak, mendorong Selwyn, tanpa melihat- lihat lagi. "Anda membunuh sanak keluarga sendiri."

'Kamar Farold adalah ruangan miliknya," kata Derian. "Aku tidak pernah ke kamarnya."

"Anda ada di kamarnya sekarang." Derian mengangkat tangannya putus asa. "Karena kamu tadi di sini," ia memprotes. "Kamu menyamar sebagai Kendra —dan membuka daun jendela."

"Cukup," kata Bowden kepada Linton. "Sumbat mulutnya dan bawa dia

kembali ke rumahku sampai kita memutuskan apa yang akan kita lakukan rerhadapnya."

"Anda memang di kamarnya waktu itu," kata Selwyn kepada Derian sewaktu Linton menunduk untuk mengambil sumbat. Dia berbicara dengan cepat. "Di depan Holt Blacksmith, Anda kemarin mengakui melihatku pada malam pembunuhan. Anda melukiskanku mencoba membuat Anora mendekati jendela." Ia menemukan Holt dalam keramaian dan Holt mengangguk. "Aku ingat," kata Holt kepada semua orang. Linton ragu-ragu.

Selwyn menyelesaikan kalimatnya, "Tapi kamar Anda ada di sisi depan penggilingan Derian, menghadap ke jalan."

Derian menjilat bibirnya. "Aku tak dapat tidur malam itu. Aku

pikir... aku mendengar keributan dari kamar Farold, jadi aku ke sana untuk melihat. Jendela terbuka—itulah suara yang kudengar, salah satu daunnya berderik—dan aku melongok keluar jendela dan melihatmu. Pasti kau masuk melalui jendela itu setelah aku kembali tidur."

Kata Thorne, "Anda mendengar daun jendela berderik, padahal biasanya tidak dapat mendengar pelanggan menggedor-gedor pintu depan Anda? Katanya Anda tidur nyenyak sepanjang malam! Katanya

Anda tidak mendengar apa-apa! 'Maksudku setelah itu," kata Derian dengan lemah. "Farold

188

Semua sudah berakhir. Dengan pernyataan itu, Selwyn tahu semuanya selesai.

Orang lain mulai berteriak, berlari. Seseorang berteriak untuk menghen tikan pemilik penggilingan—bahwa ia mau mencoba membokar

tempat itu dan membawa semuanya bersamanya.

Ohy Farold, pikir Selwyn, menunduk memandangi tubuh kecil burung itu di rumput. Dari awal, ia sudah tahu semuanya harus ada

akhirnya. Untuk setiap orang—pada akhirnya,— segalanya akan selesai. Tapi tidak dengan cara sepertiiini, pikir Selwyn.

Ia dapat mendengar gedebuk kaki di bangunan penggilingan, di tangga bawah, tangga atas, dan lalu di lantai dua daun jendela di

sisi Iain yang menghadap roda-roda kincir raksasa terbanting terbuka. Bersamaan dengan suara itu, Derian me-nerjunkan diri keluar. Orang-orang menahan napas atau menjerit, dan mendekat, namun Selwyn tidak mampu melihat apa yang sedang terjadi. Ia tidak dapat memalingkan muka terhadap apa yang sudah terjadi. i

Akhirnya, ia berjalan kembali ke kedai minuman, menemui ayah dan ibunya.

DUA PULUH DUA.

Menurut tawar-menawar yang sudah dilakukan antara Selwyn dan Elswyth, ia mempunyai sisa waktu empat hari untuk dihabiskan bersama keluarganya sebelum masa pelayanannya selama sembilan setengah tahun dimulai.

Ibunya menangis tersedu-sedu dan mendesaknya untuk pergi jauh. Ia mengatakan jika Selwyn terpisah jauh berrnil-mil dari penyihir itu

mungkin mantranya untuk memanggil Selwyn tidak ampuh. Jika mereka dapat berlayar dengan kapal, ia yakin bahwa laut yang memisahkan mereka akan meng-hilangkan kekuatan penarik daya sihir itu. Sedangkan Ayah akan membiarkan mantra itu memanggil Selwyn. Ia akan ikut bersama Selwyn dan memenggal kepala penyihir itu. "Ayah," kata Selwyn, "tidak. Aku sudah setuju. Ia sudah

190

melakukan bagian dari tawar-menawar itu. Aku akan melakukan bagianku."

"Kita lihat saja nana," kata ayahnya dengan nada yang me-nyiratkan

bahwa ia sudah memutuskan sesuatu dalam pikir- annya.

Maka untuk menghindari bencana, Selwyn pergi setelah baru tiga hari lamanya.

Ia mengatakan kepada orang tuanya—-yang memang benar —bahwa ia akan pergi ke desa untuk mengucapkan selamat tinggal kepada Kendra. Tetapi ia tidak mengatakan bahwa ia tidak akan kembali ke rumah untuk mengucapkan selamat tinggal kepada mereka.

Ia berjalan di ladang, menyusuri jalan kecil yang menanjak ke bukit. Ia sampai ke jalan yang menikung dan menurun tepat sebelum tepi huran ketika. Di dekat tikungan tampaklah seorang gadis jangkung—gadis angsa, tampaknya di samping-nya berjalanlah seekor bebek besar yang canggung.

Bebek iru mengangkat sayapnya, tapi pastilah terjepit karena sayapnya tetap menyatu. Makhluk itu menyerang Selwyn, sayapnya

melebar dan mengepak, kelihatan aneh seperti seorang anak kecil'yang berlari segera setelah belajar berjalan.

• Selwyn membentengi dirinya, meskipun bebek umumnya tidaklah

seagresif angsa.

Bebek itu melingkarkan sayapnya di betis Selwyn dan berkata, "Selwyn, dasar bodoh, aku heran sekaligus senang kau masih hidup! Apa yang terjadi, apakah kau kebingungan, kau datang sehari lebih

awal, bagaimana kau lolos?" ! ' "Farold}** kata Sehvyn.

"Berapa banyak bebek yang dapat bicara yang kaurahu?" tanya bebek itu.

191

Selwyn berlutut untuk mengangkatnya ke lengannya. "Aku tidak tahu kalau ada bebek seperti itu!" tenaknya. "Dan aku heran dan senang sekali melihatmu masih hidup." Ini betul-betul di luar

perkiraannya. "Apa. yang tet jadi?" tanyanya. Ketika itu wanita

muda itu sudah ada di dekat mereka, dan me-nambahkan, "Siapakah orang ini?"

Wanita muda itu memukul kepaianya.

"Oh," katanya dengan mata berkunang-kunang. "Elswyth," Selwyn ingat kalau ia selalu mengatakan bahwa ia sedang me-ngumpulkan ramuan untuk manna yang penting. Ia sekarang tahu mantra apa itu.

Elswyth menjadi muda, hampir seumur dia sekarang. "Aku memang datang," katanya kepada Sehvyn. Sambil mengalihkan perhatiannya kepada Farold, ia bertanya, "Mengapa kau menjadi bebek?"

Farold berkata, "Setelah si tolol sepupuku itu mulai memukul,

tiba-tiba aku menemukan diriku di dalam kehidupan setelah kematian lagi—dan kupikir, berarti ia betul-betul me-mukulku."

Selwyn mengangguk.

"Jadi kupikir, 'Aku pernah mengalami mati, menjalani semuanya; tapi itu adalah hal yang berbeda untuk aku yang bodoh ini.' Aku yakin penduduk desa akan mendorongmu ke sungai atau merobekmu. Jadi kataku,' Baildah, aku tidak dapat berbuat apa-apa di sini.

Aku tak punya tubuh lagi, jadi aku pergi ke penyihir tua itu untuk melihat apa yang mungkin dapat dilakukannya.'"

Elswyth memperlihatkan cengirannya.

"Cuma ia sekarang tidak tua lagi," Selwyn memperhatikan.

"Ia tetap mudah dicari. Beberapa hal jadi mudah dalam kehidupan setelah kematian, kau tahu—meskipun aku tak

192

dapat mengatakan padamu centang ini. Tanpa tubuh aku hantui dirinya sampai ia lelah dan membcriku tubuh." Farold meriaik-kan sayapnya. "Sialnya, ia tidak punya banyak pilihan. Kau bagaimana? Sudah rahu siapa yang membunuhku? Maksudku, yang membunuhku pertama kali, bukan Linton?"

"Oh," kata Sclwyn, enggan untuk menyampaikan kabar. "Aku khawadr

Derian-lah orangnya."

^DerianV kata Farold. "Pamanku sendiri?" "Aku khawatir begitu."

Elswyth membuat suara kecewa dan menggelengkan kepaJanya. "Padahal

aku yakin pacarnya yang cantik itu,w katanya.

Farold tidak mempedullkannya. "Tapi katamu bukan dia, karena aku sudah mengelola penggilingan dengan begitu baiknya."

"Kau-lah yang mengatakan, bukan dia, karena kau mengelola

penggilingan dengan sangat baik," Selwyn membetul-kan. "JDan itu tidak ada hubungannya. Ternyata dia mem-bun uhmu untuk mendapatkan Anora."

"Ha!"Elswythmemberikansenyuman akubilangjugaapa." "Dan ternyata juga," Selwyn menyelesaikan ucapannya, "dia-lah yang membuat kebakaran yang membunuh keluarga-fnu ketika kau masih kecil, untuk mendapatkan penggilingan itu dari ayahxnu. Ketika semua orang melawannya, ia melompat dari jendela atas dan bunuh diri." :

Farold terduduk di jalan yang berdebu dengan menghela napas panjang, yang terdengar aneh karena keluar dari paruh bebek. "Aku menyesal," kata Selwyn. "Aku hanya kaget," kata Farold

kepadanya. Elswyth menghela napas juga untuk menyiratkan kalau ia

mulai bosan.

193

Setelah beberapa saat, Farold berkata kepada Selwyn, "Tap! mereka membiarkanmu pergi, bahkan setelah tahu bahwa penyamaranmu melibatkan kekuatan sihir?"

"Kurasa," kata Selwyn, "itu hanya karena mereka merasa tidak enak sudah memasukkanku ke gua kuburan. Tapi sebagian besar dari mereka tidak mau berbicara kepadaku, dan tidak mau melihatku jika kami berpapasan di jalanan. Anora meludah ke arahku, tapi kupikir itu karena tidak ada seorang pun yang mau berbicara dengannya juga. Tampaknya ia mau menikah dengan Derian, dan setiap orang melihat kalau itu karena uang. Ia juga mengucapkan hal-hal yang mengerikan kepada Kendra. Dan mengenai Kendra, ternyata ayah bayinya adalah Alden Thorneson."

"Kendra," kata Elswyth. "Gadis cantik lain dengan ..." ia menggerakkan tangannya"Kendra yang malang," kata Farold. "Padahal

ia lebih baik dengan aku."

Kata Selwyn, "Ia mencoba melindungi Alden, mengira bahwa Alden akan menikahinya setiba mereka berdua di Saint Hilda, tapi ternyata tidak. Tapi Raedan mau menikahi Kendra. Tampaknya ia

sudah lama mencintainya. Ia menginginkannya bersama bayi itu. Kendra dan Raedan adalah sedikit orang yang mau berbicara denganku—dan dari antara semua orang, Kendra-lah sebenarnya yang paling punya alasan untuk me-nyalahkan aku."

"Itukah sebabnya kau pergi lebih cepat tanya El "tanpa menunggu mantra pemanggil?"

"Tidak," Selwyn mengaku. "Aku khawatir orang tuaku ... berbuat

sesuatu untuk menolong aku." "Ah," kata Elswyth.

194

"Kau baik sekali sudah menolong Farold," kata Selwyn, "dan datang untuk melihat apakah aku butuh pertoiongan." Ia memikirkan apa yang baru diucapkannya. "Apakah aku ber-utang beberapa tahun lagi untuk ini?" •

Elswyth meringrs. "Dengan angka yang akan kau jalani," katanya, "kau akan beru tang bettahun-tahun, dan aku akan harus memberimu mantra supaya kau lebih muda, sehingga kau dapat menjalaninya. Tiga tahun untuk bebek, dua tahun untuk berjalan se/auh ini, satu

tahun lagi karena aku sudah memperingatkan bebek itu jika ia tidak berhen ti berkwek-kwek, dan aku akan membuatmu mem bayar satu

tahun lagi."

Lima belas setengah tahun. Selwyn menghela napas. "Sebaiknya kita mulai sekarang," katanya. "Mari kita mulai." Farold berkata, "Aku

pikir..." "Sebagai gantinya," kata Elswyth memotong. Farold berkwek-kwek ke arahnya. "Kupikir," ulangnya kepada Selwyn, "apa yang kau perlukan adalah pengganti." Pengganti apa?" tanya Elswyth kesal. "Pengganti untuk menggantikan tempatmu melayani penyihir

tua ini. Aku bersedia."

"Aku tidak," kata Elswyth, "aku tidak berniat menghabiskan lima

belas setengah tahun denganmu."

"Sayang sekali," kata Farold. "Kwek, kwek, kwek, kwek, kwek." "Hen ti kan itu," Elswyth memperingatkan dengan dingin. "Aku tak perlu

mantra untuk memasakmu dan menyirammu dengan kuah ceri." "Aku akan menghantuimu lagi."

Elswyth melipat lengannya di depan dadanya. la melihat sewlyn. "Kamu sudah berjanji," katanya mengingatkan dengan a yang tenang

dan datar.

"Betul," ia setuju. Ia melihat kepada Farold. "Betul," katanya kepada Farold.

"Bagus," kata Elswyth. Bulu-bulu ekor Farold terkulai. Elswyth berkata, "Bereslah sudah, aku membebaskanmu dari janjimu."

"Apa?" tanya Selwyn.

"Menghabiskan waktu lima belas setengah tahun bersama orang yang tidak mau bersamanya? Ini sama buruknya dengan menghabiskan lima belas setengah tahun bersama bebek. Anggaplah itu sebagai hadiah ulang tahun untuk diriku: bebas dari kebersamaan denganmu. Selamat tinggal, Selwyn. Selamat tinggal, bebek."

"Tunggu," Selwyn memanggilnya ketika ia mulai menuruni jalan. Elswyth berbalik

Meskipun muda, ia tidak secantik Anora. Ia tidak lincah dan menyenangkan seperti Kendra. Tapi ia sudah menolong Sehvyn ketika tidak ada seorang pun meiakukannya. Sudah berkali-kali ia menolongnya. Dan ia sudah datang ke Penryth mungkin, ia mengira, karena ia berpikir Selwyn sedang membutuhkan bantu-an lagi. Mengapa pula ia berhenti mengharap ia akan dibayar?

"Satu tahun," kata Selwyn, "kelihatannya adil. "Aku tak akan

menyesali setelah apa yang kauiakukan untukku." Elswyth meiihatnya dengan pandangan menghargainya.

"Kalau? Selwyn menambahkan, "kau berjanji berhenti memukul. Itu tidak begitu baik"

"Baiklah," ia mulai dengan tersinggung, tapi lalu dengan segan, ia memaksakan diri untuk mengangguk, katanya, "aku akan mencoba."

196

Dan Selwyn hanya berharap ia akan mencoba dengan sekuat tenaga.

Ia memberi isyarat untuk bergabung dengannya. "Pertama-tama," kata Selwyn, "aku harus kembali dan rnen-jelaskan kepada orang tuaku, sehingga mereka tidak khawatir." "Baiklah," katanya. "Aku tidak

merasa heran." Kemudian mereka berjalan ke Penryth dengan Farold

bergoyang-goyang di belakang mereka sambil menggerutu, "Adakah kolam di sekitar sini? Kau tahu kan bebek butuh air?

.....Seharusnya kau membawa ember untuk mengangkatku. Kita harus mencarinya di Penryth."

"Kau kan mestinya pergi ke tempat kehidupan setelah kematian," Elswyth bertanya. "Oh," kata Farold, "nana."

tamat

0 Response to "Never Trust a Dead Man"

Post a Comment

Translate

English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified