Download applikasi baca novel online untuk android disini: DOWNLOAD

Lost One Love

Brukk!!! Tiba – tiba cowok itu jatuh. Jatuh tepat di depanku. Aku yang panik kemudian menghampirinya. Kulihat wajahnya pucat tak berdaya. Aku benar – benar bingung dengan ini semua. Sekuat yang aku mampu, aku mencoba berteriak meminta pertolongan. Hening. Tak ada balasan apapun. Kulihat sekelilingku memang benar – benar hening seolah tak ada kehidupan. Aku bertambah panik, sempat terpikir di benakku untuk menyadarkannya dengan memberi nafas buatan. Akh!! Tidak. Aku tak mengenalnya, lagipula aku tak tahu bagaimana caranya. Di tengah kepanikanku, aku teringat akan seseorang. Ray! Aku mengambil ponsel di saku celanaku. Segera saja kuhubungi dia. Tak lama kemudian panggilanku tersambung.

“Hallo. . . ?,” ucap seseorang dari seberang.

“Ray, tolongin aku!!!,” ucapku panik.

“Dhea, kamu kenapa? Ada apa?,” tanya Rayhan yang juga ikut panik.

“Ada orang pingsan di depanku, Ray!Aku gak tahu kenapa tiba – tiba dia pingsan!,” jawabku.

“Kamu di mana sekarang? Kenapa malam – malam gini kamu masih keluyuran?,” tanya Rayhan.

“ Aku di lapangan basket belakang sekolah kita. Aku gak keluyuran kok!! Aku cuma cari angin aja!!,” jawabku membela diri.

“Ya udah, aku ke situ sekarang!,” ucapnya.

Sambungan telepon pun terputus. Aku benar – benar bersyukur Rayhan mau menolongku. Dia memang sahabat terbaikku.

Kupandang lagi cowok yang ada di pangkuanku ini sekarang. Wajahnya seolah – olah tak asing lagi di benakku. Rasanya aku pernah bertemu dengannya sebelumnya. Dan sepertinya aku sudah mengenalnya lama. Akh!! Tak mungkin. Jangan berkhayal, Dhea!! ucapku pada diriku sendiri. Tiba – tiba terdengar suara klakson mobil yang membuyarkan lamunanku. Kulambaikan tanganku kepada mereka. Rayhan datang bersama Dimas dan Nathan. Mereka adalah sahabat – sahabatku.

“Kenapa bisa begini?,” tanya Dimas.

“Aku gak tahu. Tiba – tiba aja dia pingsan pas main basket!,” jawabku.

“Kamu kenal?,’ tanya Nathan.

“Enggak!,” jawabku singkat.

“Ya udah, bawa dia masuk mobil,” ucap Rayhan.

Mereka bertiga akhirnya membawanya masuk mobil. Aku mengikuti dari belakang. Rayhan benar – benar mengemudikan mobilnya dengan cepat.

***

Perlahan – lahan matanya yang indah itu terbuka. Pandangannya seolah kaget, heran, dan bingung saat melihat kami. Matanya seakan bertanya – tanya tentang apa yang sudah terjadi.

“Kamu tadi pingsan waktu main basket. Aku tadi sempat melihatmu bermain. Permainan basketmu indah. Tapi, tiba – tiba kamu jatuh. Kukira kamu cuma bercanda, tapi ternyata kamu malah pingsan,”ucapku.

“Kamu kenapa sih? Kata dokter tadi kamu . . . ,” ucap Rayhan terputus seakan dia ingin menyembunyikan sesuatu.

“Aku gak pa – pa kok!! Mungkin aku cuma kecapekan latihan. Besok ada pertandingan basket!,” ucapnya.

“Oo. . .seharusnya kamu gak gitu dong! Kasihan badan kamu! Apalagi besok kamu mau tanding, kamu itu baiknya istirahat aja, siapin mental, jangan malah bikin badan tambah rusak. Aku yakin kamu besok menang, permainanmu tadi benar – benar menakjubkan! Bagus banget!,” ucapku.

“Makasih!,” ucapnya padaku. Pandangannya yang sekarang berbeda dengan yang tadi. Ada selintas rasa di matanya. Aku benar – benar merasakannya. Tapi aku hanya tersenyum mengiyakan ucapannya.

“O iya, nama kamu siapa? Rumah kamu mana?,” tanya Dimas.

“Aku Alvin. Rumahku gak jauh kok dari sekolah kalian itu!,” jawabnya.

“Aku Dimas. Ini Nathan, itu Rayhan, dan dia . . . .”

“Aku Dhea!,” ucapku memotong kata – kata Dimas.

“Makasih ya semua! Udah mau nolongin aku!,” ucap Alvin kepada kami.

“Iya, gak pa – pa kok!,” ucapku senang.

“He eh, gak pa – pa!,” ucap Nathan. Sepertinya dia terpaksa ikut ke sini. Aku tahu dia jam segini pasti sudah tidur. Kasihan dia, gara – gara aku matanya jadi merah gitu. Sedangkan Dimas dan Rayhan hanya mengangguk mengiyakan.

“Udah malem nih,kalian gak pulang?,” tanya Alvin.

“Iya nih! Udah jam 12. Kita pulang yuk!,” ajak Nathan yang sedari tadi bertingkah laku aneh. Mungkin dia merengek pada Ray. Memang cuma Ray yang mengertikan keadaan kami. Dia sosok sahabat yang benar – benar the best bagiku. Dia paling dewasa di antara kami berenam.

“Lha Alvin gimana?,” tanyaku cemas.

Semuanya diam. Seolah di kamar rumah sakit ini tak ada tanda – tanda kehidupan lagi. Mungkin mereka berpikir. Atau malah mengantuk? Aku tak tahu pasti, tetapi kulihat pandangan mata Rayhan menatapku dengan aneh. Pandangan yang belum pernah kulihat sebelumnya. Mungkin dari kecil, aku mempunyai bakat lebih dari orang lain. Aku bisa membaca tatapan mata seseorang. Mungkin cocoknya aku jadi psikolog ya?

“Alvin ikut aja ya sama kita? Kan udah malem. Kata dokter tadi kamu juga udah boleh pulang kok!,” ucapku menyarankan.

“Gak usah, Dhe! Aku tadi udah sms kakakku buat jemput aku. Kalian duluan aja!,” tolak Alvin secara halus.

“Ya udah yuk pulang! Aku dah ngantuk banget nih!,” pinta Nathan dengan muka kusut dan memelas.

“Ya udah yuk!,” ucap Rayhan. Dia yang sedari tadi hanya terdiam memandangku dan Alvin dengan pandangan aneh, akhirnya bicara juga.

“Ya udah deh! Da – da, Alvin! Moga cepet sembuh ya! Good luck juga! Moga besok menang!,” ucapku memberinya semangat.

“Iya, Dhea! Makasih ya buat semua,” ucap Avin lembut.

Aku tersenyum kepadanya. Kami sekarang berpisah. Kulihat tatapan aneh itu lagi di mata Rayhan. Hal itu semakin membuatku bertanya – tanya apa arti tatapan itu.

***

“Kriiiiiingggg!!!!!”

Jam weker di kamarku berbunyi.

“Astaga! Jam 06.45! Aku telat nih!”, teriakku.

Segera saja aku lompat dari tempat tidurku, cepat – cepat mandi dan berganti pakaian. Mungkin tak sempat lagi bila aku harus sarapan. Omelan rutin mamaku masih saja terngiang di otakku, tapi kali ini aku tak mempedulikannya. Setelah berpamitan, segera saja aku meminta pak Jon untuk mengantarku ke sekolah.

***

Keberuntungan mungkin sedang bersamaku sekarang. Aku sampai di sekolah tepat sebelum bel masuk berbunyi. Pintu gerbang itu masih terbuka untukku.

“Untung kamu gak telat, Dhe!,” ucap Abel.

“Iya, biasanya mesti telat, terus nyuruh Ray buat nylametin dari pak satpam itu deh!,” tambah Rere.

Mereka berdua adalah sahabatku. Kami berenam sudah bersahabat sejak SD. Sepuluh tahun sudah kami bersama, karena sekarang kami duduk di bangku kelas 2 SMA. Aku, Rayhan, Dimas, Rere, Abel dan Nathan adalah enam sahabat yang tak akan terpisahkan. Semoga.

“Maybe, this is my lucky day!!,” ucapku girang.

Kami bertiga hanya tertawa mendengar ucapanku tadi.

Pelajaran hari ini seakan membuatku tersenyum sepanjang hari. Waktu seolah – olah ingin cepat kuputar. Tak sabar lagi aku menunggu waktu saat aku dipertemukan lagi dengannya.

“Teng . . teng . . teng!!!!”

Akhirnya waktu yang aku tunggu – tunggu tiba. Waktu di mana aku bertemu lagi dengan dia. Mungkin aku telah menyukainya sejak pertama berjumpa.

“Kita jadi ke caffe kan?,” suara seseorang tiba – tiba membuyarkan lamunanku.

“Jadi dong! Masak ditraktir gak mau sih!,” ucap Dimas dan Abel serempak. Sepertinya mereka telah merangkai kata – kata itu sebelumnya.

“Nathan gak ikut?,” tanyanya.

“Enggak, dia tadi kayaknya pergi sama ceweknya kok!,” ucapku.

“Ya udah, ayo berangkat!,” ajaknya.

Aku tersenyum kepadanya. Rayhan tiba – tiba mendekatiku.

“Kamu bareng siapa? Aku apa Alvin?,” tanyanya kepadaku.

Belum sempat aku menjawab, Rere cepat - cepat membonceng di sepeda motor Rayhan.

“Aku bareng Ray aja ya! Aku kan gak kenal sama Alvin, jadi kamu yang bareng ma dia aja ya, Dhe!,” ucapnya.

“It’s OK!!,” jawabku dengan tersenyum lembut kepadanya. Hatiku seolah – olah ingin berteriak bahwa memang ini yang kuharapkan. Aku bisa bersamanya.

Alvin tersenyum kepadaku. Dia menyalakan motornya dan aku akhirnya pergi bersamanya, tapi . . . aku sempat melihat tatapan yang sama seperti tempo hari itu lagi di mata Ray. Dia benar – benar membuatku bertanya – tanya. Namun segera saja kutepiskan semua anggapanku. Kuingin siang ini menjadi hari yang berkesan untukku. Siang ini Alvin bermaksud mengajak kami berlima makan dan bersenang – senang sebagai ucapan terima kasihnya. Dan kuharap siang ini benar – benar indah dan mengesankan.

***

Sejak siang itu, otakku serasa dipenuhi oleh nama seorang cowok. Ya. Alvin. Mungkin aku sangat menyukainya dan ternyata dia pun begitu kepadaku. Kita sekarang berhubungan dekat, lebih dari teman. Aku dan dia saling menyayangi, hingga kami benar – benar tak ingin berpisah apalagi kehilangan.

Satu bulan sudah, hubunganku dengannya terjalin. Selama ini hubungan kita baik – baik saja. Tak ada masalah apapun yang mengganjal. Tetapi tidak untuk siang ini. Mata dan telingaku mengetahui apa yang sedang terjadi sekarang. Kupandang Alvin dan Ray sedang bertengkar di seberang jalan depan sekolahku. Kudengar mereka beradu argumen yang sebenarnya tidak aku mengerti. Aku cepat – cepat menghampiri mereka.

“Alvin! Rayhan! Kalian ini kenapa?,”teriakku kepada mereka.

Mereka berdua memandangku dan berhenti berdebat.

“Sayang, ini urusanku dengan Ray,” ucap Alvin.

“Iya Dhe, aku bener – bener harus nyelesain ini semua!,” ucap Rayhan.

“Kalian ini ngomong apa sih? Aku gak ngerti! Sayang, bisa kan kamu ma Rayhan tuh ngomong baik – baik aja!,” ucapku dengan menangis. Air mataku seolah – olah tak tertahan lagi. Aku gak mau orang – orang yang aku sayang bertengkar seperti ini.

“Dan kalian gak perlu berantem pukul – pukulan kayak tadi kan!!,” tambahku.

“Maafin kita, Dhe!,” ucap Rayhan menyesal.

“Iya, maafin aku juga ya, Sayang! Aku gak bermaksud buat kamu sedih dan nangis kayak gini. Aku gak tega nglihatnya. Udah ya Sa, gak usah nangis lagi,” ucap Alvin mencoba menenangkanku. Dia mengusap air mata di pipiku. Aku memandangnya penuh harapan agar dia tak seperti ini lagi. Ia mengangguk pelan dan memelukku. Aku akhirnya berhenti menangis, tapi tiba – tiba mataku memandang tatapan aneh itu lagi di mata Ray. Segera saja aku melepaskan pelukan Alvin.

“Janji ya kalian gak berantem lagi!,” pintaku.

“Iya Boss!!,” ucap mereka serempak.

Aku tersenyum lega. Tetapi, tiba – tiba pandanganku terpusat pada wajah Alvin yang benar – benar pucat.

“Sayang, kamu kenapa?,” tanyaku cemas.

“Aku gak apa – apa kok!,” jawabnya lemas.

“Sayang, kamu tuh pucat banget! Kita bawa ke rumah sakit ya. . .,” ucapku mulai panik.

Rayhan yang seolah tahu apa yang sedang terjadi, segera saja ia menelepon rumah sakit. Dan yang aku ketahui sekarang, kulihat wajah Alvin semakin pucat dan ia pingsan.

***

“Kamu bener – bener sayang sama Alvin ya, Dhe?,” tanya Rayhan kepadaku.

“Iya, Ray! Aku beneran sayang sama dia, aku gak mau dia pergi secepat ini!,” jawabku sambil menangis di pelukan Rayhan.

Aku dan Rayhan sekarang ada di depan ruang ICU. Aku melihat orang yang sangat aku sayang berbaring lemas tak berdaya di depan sana. Berbaring lemas karena penyakit yang belum pernah aku ketahui sebelumnya. Alvin menderita penyakit gagal ginjal stadium akhir.

“Maafin aku ya, Dhe! Sebenernya dari awal kita kenal ma Alvin, aku udah tahu kalau dia punya penyakit gagal ginjal ini. . .,” ucap Rayhan menyesal.

Aku melepaskan pelukan Rayhan. Kutatap dia dengan pandangan kecewa dan penuh tanda tanya.

“Iya, Dhe! Aku tuh dah tahu dari awal, tapi Alvin nglarang aku buat bilang ini semua ke kamu. Dia gak mau buat kamu sedih apalagi menangis kayak gini. Dia juga beneran sayang sama kamu, Dhe! Dan asal kamu tahu aja, aku tadi berantem sama dia karena dia mencoba buat bunuh diri. . . .”

“Hah!!!!! Bunuh diri?????!!!!!,” teriak Abel, Nathan, Dimas, dan Rere serempak. Ternyata mereka telah menyusul kami.

“Iya. Alvin tahu kalau umurnya gak lama lagi. Dia gak mau kehilangan orang – orang yang dia sayang. Dia gak mau orang – orang itu sedih gara – gara dia. Dia gak mau orang – orang tahu bahwa dia punya penyakit seperti ini. Sulit bagi dia untuk jujur sama kita, apalagi sama kamu, Dhea! Dia gak mau buat kamu sedih kayak gini, Dhe!,” jelas Rayhan.

Aku hanya terdiam. Aku tak mengerti apa yang sebenarnya telah terjadi. Bibirku pun seakan sulit mengucap, hanya pandanganku yang semakin kecewa setelah mengetahui ini semua. Air mataku semakin banyak yang terbuang. Badanku lemas dan hampir terjatuh jika tak ditolong oleh Abel dan Rere. Mereka berdua memelukku dan mencoba menguatkanku, walaupun sebenarnya mereka juga menangis karena ini.

“Trus sekarang keadaan Alvin gimana?,” tanya Dimas.

“Dokter tadi bilang sama tante dan om kalau keadaan Alvin itu kritis. Alvin butuh donor ginjal, karena ginjal Alvin yang berfungsi hanya satu,” ucap mama Alvin mencoba tenang dan menyembunyikan kesedihannya.

“Trus udah ada ginjal yang pas buat Alvin belum, Tante?,” tanya Rere.

“Pakai ginjal saya aja, Tante!,” pintaku lirih.

“Jangan, Dhea! Keadaan kamu lagi gak stabil. Tante tahu kok kalau kamu gak mau kehilangan Alvin. Kita pun juga. Tapi Alvin tadi kan bilang gak mau nglihat orang – orang yang dia sayang menangis, jadi jangan nangis lagi ya, Dhe! Kita berdoa aja mudah – mudahan apapun yang terjadi, ini memang yang terbaik untuk kita,” ucap mama Alvin mencoba menenangkanku.

“Dokter tadi bilang kalau ginjal aku pas sama ginjal Alvin, jadi biar aku aja yang mendonorkan ginjal ini buat Alvin,” ucap Rayhan tiba – tiba.

“Jangan, Ray! Aku gak mau kehilangan kamu juga. . .,” ucapku dengan masih menangis.

“Dhea, apapun yang terjadi nanti, aku yakin ini terbaik buat kita kayak yang dibilang tante tadi. Aku gak mau nglihat orang yang paling aku sayang sedih dan menangis karena orang yang dia sayang pergi ninggalin dia. Aku akan berusaha agar operasi ini lancar. Kalaupun nanti aku atau Alvin pergi,atau kami berdua ataupun tidak ada sama sekali, pasti itu semua udah kehendak-Nya. Kamu gak perlu menangis ataupun bersedih kayak gini, Dhe! Tersenyum ya, Dhe, doain kita. Moga operasinya nanti lancar. Yakinlah bahwa apapun yang terjadi nanti, itu pasti yang terbaik,” ucap Rayhan menguatkanku. Aku mencoba tersenyum walau hatiku menangis.

“Aku sayang kamu, Dhea!,” ucap Rayhan sambil mencium keningku. Inikah jawaban dari semua tatapan penuh tanda tanya itu? Aku tak mengerti dan tak tahu pasti.

“Aku juga sayang sama kamu, Ray!,” ucapku sambil memeluknya.

“Kita juga!,” ucap teman – temanku yang lain.

Kami berenam akhirnya berpelukan. Kami tak ingin berpisah satu sama lain apalagi kehilangan. Kami ingin selalu bersama. Tapi ini semua sudah keputusan Rayhan. Aku yakin ini yang terbaik dan kami hanya bisa berdoa di sini. Berharap operasinya lancar dan kami bisa berkumpul bersama lagi.

***

Satu jam sudah aku menunggu di sini. Di samping orang yang paling aku sayang. Operasi tadi masih membuatku cemas karena sampai sekarang mereka berdua belum sadarkan diri juga. Lama aku menunggu, akhirnya Alvin terbangun dari tidurnya.

“Alvin, akhirnya kamu sadar juga!,” ucapku senang.

Aku memeluknya erat. Berharap dia tak akan meninggalkanku lagi.

“Iya Sayang, ini semua juga karena doa kamu dan yang lainnya,” ucapnya.

Aku melepaskan pelukanku.

“Sayang, kamu tadi nangis ya? Aku kan dah bilang jangan nangis lagi,” tanya Alvin.

“Maafin aku! Aku cuma gak mau kamu pergi ninggalin aku!,” jawabku.

“Kalaupun aku pergi, aku akan selalu ada kok di hati kamu. Dan aku akan selalu jagain kamu, Dhea!,” ucapnya sambil tersenyum padaku.

“Eh yang lain mana, Dhe? Rayhan mana?,” tanya Alvin tiba - tiba.

Aku terdiam sejenak. Aku bingung akan menjawab apa.

“Yang lain ada kok! Di luar,” jawabku lirih.

“Sayang, ada apa sih sebenernya? Apa yang udah terjadi?,” tanya Alvin cemas. Sepertinya dia tahu kalau aku berbohong padanya.

Belum sempat aku menjawab, tiba – tiba Abel, Rere, dan orang tua Alvin datang.

“Sayang kamu udah sadar? Syukurlah!,” ucap mama Alvin senang.

“Iya, Ma!,” ucap Alvin.

“Anak papa kan kuat!!,” ucap papa Alvin.

“Iya dong, Pa!,” ucap Alvin girang.

“Iya, Vin, kita juga seneng kamu udah sadar,” ucap Abel dan Rere.

“Makasih semua,” ucap Alvin dengan tersenyum.

Abel dan Rere pun membalas senyum itu.

“Rayhan mana?,” tanya Alvin mulai cemas.

“Rayhan . . .,” ucapan Rere terputus.

“Dhea, Ray kritis, Dhe!!,” teriak Nathan yang tiba – tiba datang dan mengagetkanku.

“Rayhan!!!!!!!!,” teriakku histeris.

Seketika itu juga aku, Rere dan Abel berlari menyusul Nathan menuju ruang rawat Rayhan.

“Ray, bangun Ray!!! Ray bangun!!!,” teriakku cemas mencoba menyadarkannya.

“Ray, bangun Ray!!! Sadar Ray!!!,” teriak Rere yang juga ikut cemas.

Tetapi Rayhan tetap terdiam. Apapun yang kami lakukan tak sedikitpun membuat Rayhan tersadar.

“Sebenernya keadaan Ray itu gimana sih, Dok?,” tanya Abel cemas.

“Ehm . . . Kami sudah berusaha sekuat yang kami mampu. Tapi, Tuhan berkehendak lain . . .,” ucap dokter itu dengan tenang.

“Enggak, gak mungkin!!! Rayhan!!!!!!!,” teriakku histeris sambil memeluknya.

“Ray. . . .,” ucap yang lain lirih.

Teman – temanku juga ikut memeluknya. Kami semua menangis. Ini memang sungguh sulit bagi kami.

“Ini gak mungkin terjadi!! Rayhan gak mungkin ninggalin kita kan???,” tanyaku dengan masih saja menangis histeris. Aku tak percaya kalau ini memang benar – benar terjadi. Aku seakan hanya tenggelam dalam mimpi burukku dan ingin cepat – cepat terbangun dari tidurku ini.

“Sayang, sabar ya! Kita semua juga ngrasa kehilangan, tapi ini semua udah kehendak-Nya!,” ucap Alvin menenangkanku. Dia berusaha mengusap air mata yang semakin deras mengalir di pipiku ini. Namun ternyata itu sulit. Air mataku semakin banyak yang terbuang. Hingga mataku seolah – olah kering karena tangisan tadi. Hatiku perih dan benar – benar hancur. Aku bingung akan ini semua. Kenapa Tuhan memisahkanku dengan sahabat terbaikku? Apakah mungkin aku akan menemukan lagi sahabat sebaik dia di dunia ini? Sahabat yang berani berkorban untuk kebahagiaan sahabatnya. Sahabat yang selalu ada untuk sahabatnya. Dan sahabat terbaik yang akan selalu ada di hati kami.

Tuhan, kuatkan kami! Kini aku dan yang lain hanya bisa diam termenung dan berdoa. Air mata kami telah habis untuk menangisi kepergian Rayhan. Tapi kami yakin pasti ada hikmah dibalik ini semua.

Dan kini yang aku tahu ,“Jika kamu berani menyayangi seseorang, berarti kamu harus berani untuk kehilangan dia. Karena di setiap pertemuan itu pasti akan ada perpisahan”.

Rayhan, semoga kamu tenang dan bahagia di alam sana. Kami yakin malaikat akan membawamu ke tempat terindah di sisi-Nya. Amin.

“We love you, Ray. We’ll always miss you”.

Sekian.

0 Response to "Lost One Love"

Post a Comment

Translate

English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified