Download applikasi baca novel online untuk android disini: DOWNLOAD

Kembang Gunung Purei


Penulis: Lan Fang

Jika aku lebih memilih berada di hutan Bumban, bukan karena aku tidak mencintai Ida. Ah, mengapa ia tidak mengerti juga duniaku?

Pelan tapi pasti, rintik-rintik air dari langit mulai membasahi hutan Bumban. Aku dan dua orang staf bagian penggergajian berada di lokasi penebangan dengan jas hujan dan sepatu bot proyek.

Basri, stafku di lapangan, menanyakan apakah perlu melanjutkan penebangan karena melihat cuaca tidak bersahabat. Aku memberikan instruksi untuk meneruskan penebangan, karena melihat gergaji chain saw-nya sudah tertancap lebih dari setengah pohon. Kemiringan pohon meranti besar itu hampir menyentuh bumi! Kurasa pekerjaan ini sudah kepalang tanggung. Kembali ke rumah tarik, rumah kayu beroda seperti karavan yang bisa berpindah-pindah, memerlukan waktu hampir setengah jam dari lokasi penebangan. Dan, itu tidak mudah ditembus dalam cuaca buruk.

Akhirnya, penggergajian pohon meranti besar itu dilanjutkan. Bunyi gergaji chain saw timbul tenggelam didera angin yang disisipi petir dan halilintar. Helm proyek, jas hujan, sepatu bot, dan sekujur tubuh basah kuyup disiram curahan air dari langit. Tanah makin becek tergenang air, sehingga jejak kaki sepatu bot tercetak jelas pada permukaannya. Rumput dan semak rebah diterpa angin kencang. Ranting dan dahan berderak. Derajat kemiringan pohon meranti makin kecil. Sedikit lagi akan roboh mencium bumi!

Tiba-tiba gergaji chain saw itu berhenti. Mata pisaunya yang tajam tertancap di belahan tengah batang kayu yang terkoyak lebar. Dua petugas yang memegang masing-masing sisi ujung gergaji itu menggerakkannya sekuat tenaga, tetapi usaha mereka sia-sia.

Para pekerja berteriak memanggilku. Setengah berlari, aku terjun ke lokasi. Kuteliti gergaji chain saw dari sebelah sisi batang kayu yang telah terkoyak itu. Mata pisaunya masih baru, tombol on masih menyala, gergaji sudah pada posisi yang benar. Lalu, kenapa masih tidak bergerak?

Dalam rinai hujan, ekor mataku menangkap ada sebatang ranting kecil yang mengganjal di sebelah dalam mesin. Aku mengulurkan tangan kananku untuk menariknya. Aha, aku berhasil! Dan, ngiiing … secara otomatis gergaji chain saw mendenggung lagi, membabat… pergelangan tangan kananku! Aku terlambat menarik tanganku!

Aku tersentak bangun dari tidurku dengan dada sesak. Badanku bergetar seakan-akan aku berada di pengujung napas. Selalu saja mimpi buruk itu datang menghantuiku! Gergaji chain saw, hujan lebat, dan… cresss, darah segar mengucur dari pergelangan tangan kananku! Ya, ilusi itu selalu hadir dalam mimpiku!

Dengan tangan kiri, kusibakkan selimut yang menutup tubuhku. Pandanganku terbentur pada tangan kananku yang kelihatan ‘polos’. Di dalam keremangan lampu tempel yang menerangi kamar di dalam rumah tarik, aku melihat dengan jelas, betapa menjijikkannya ujung pergelangan tanganku yang berbentuk bulat tidak beraturan! Persis seperti… pentungan kasti!

Kepedihan menyelinap. Menggumpal menjadi amarah yang menyakitkan. Aku pun berkubang ketidakpercayaan diri. Kepongah-anku menaklukkan hutan Bumban ternyata sangat mahal tebusannya!

Masih segar dalam ingatanku, ketika kusampaikan kabar gembira kepada Ida, tunanganku, bahwa aku mendapat promosi menjadi area manager untuk wilayah penebangan hutan Bumban dengan masa kontrak kerja dua tahun. Waktu itu hatiku berbunga. Bukankah dengan peningkatan posisiku, aku akan mendapatkan penyesuaian gaji dan fasilitas sebagai seorang head project?

Sebenarnya, perusahaan memberikan fasilitas rumah dinas di tengah kota Banjarmasin, tapi aku lebih memilih tinggal di sawmill camp, tempat proses pengolahan kayu, yang ada di Jelapat. Aku pikir, dengan tinggal di sana, aku dapat ikut terjun langsung ke area penebangan di tengah hutan Bumban untuk memilih kualitas kayu terbaik yang boleh ditebang. Nah, setelah kontrakku selesai dalam jangka waktu dua tahun, bila suka, aku bisa meneruskan pekerjaanku sebagai branch manager dan berkantor pula di Banjarmasin!

Ternyata, semua di luar perhitunganku. Promosi yang kuterima justru memicu konflik dengan Ida. Gadis itu mempertanyakan rencana pernikahan kami. Katanya, ia keberatan jika setelah menikah harus mengikutiku ke pedalaman hutan Bumban!
Ya, jangankan sampai ke sana, menetap di rumah bedeng yang terbuat dari kayu dengan fasilitas seadanya di sawmill camp yang berada di Jelapat saja, Ida merasa keberatan. “Apa tidak ada pekerjaan lain selain harus masuk ke dalam hutan?” ia menggerutu panjang lebar.

Waktu itu aku menjawab dengan nada rendah, “Da, kita bisa tinggal di sawmill camp yang ada di Jelapat. Dari Jelapat ke Banjarmasin hanya memakan waktu kurang lebih setengah jam jika ditempuh dengan speed boat. Paling lama pun hanya satu jam. Lagi pula kontrak itu kan hanya untuk waktu dua tahun.”

“Katamu ‘hanya’ dua tahun?” calon istriku bertanya dengan nada tinggi dan mata terbelalak. Mata bulat itu dahulu amat kukagumi. Bahkan, membuatku tergila-gila karena keindahan dan kejernihannya. Tapi sekarang, mata bulat itu memandangku dengan pandangan sengit seakan-akan ingin mengobarkan perang. Aku tidak kuasa menentangnya….

Ida lalu menjelaskan keberatannya jika aku menerima promosi itu. “Aku tidak mungkin mengikutimu sampai ke pedalaman hutan walau pun ‘hanya’ untuk waktu dua tahun!” ujarnya, mempertegas kata ‘hanya’ dengan penuh tekanan.

“Masalahnya bukan ‘hanya’ sekadar dua tahun, atau ‘hanya’ sekadar tinggal di sawmill camp yang jauh dari kota saja, Nang! Tapi, pekerjaan itu berisiko tinggi. Buat apa sih, harus masuk menebas hutan? Di dalam hutan pun kau tinggal di dalam rumah tarik, dan harus selalu waspada terhadap serangan binatang buas. Kau harus siap hidup berpindah-pindah dengan kondisi seadanya yang menurutmu ‘hanya’ dalam jangka waktu dua tahun.”

“Ah,sungguh tidak bisa kubayangkan! Bukankah lebih baik menjadi supervisor mekanik mesin di Banjarmasin seperti sekarang?” ujarnya bertubi-tubi dengan nada tinggi, sambil berulang-ulang menekankan kata ‘hanya’ yang tadi kukatakan dengan mata mendelik. Duh!

Ida tidak mau tahu, jika sebaliknya aku memandang tawaran itu sebagai tantangan. Selama ini, aku hanya dikirim ke lokasi penebangan atau ke sawmill bila ada kerusakan atau masalah mesin di lapangan. Setelah itu aku kembali bekerja di belakang meja. Ughh, suatu rutinitas yang membosankan!

Aku ingin mengganti dinamika pekerjaanku. Tawaran itu peluang berharga bagiku. Sejak itu, tanpa banyak kata, langsung kusadari bahwa Ida memberikan pilihan padaku ; rumah masa depan atau hutan Bumban….

Jika aku memilih hutan Bumban, bukan karena aku tidak mencintai Ida. Tapi, aku ingin Ida mengerti kobaran api yang membakar jiwaku untuk menaklukkan keperawanan hutan Bumban yang eksotis! Apalah artinya menunda tujuh ratus tiga puluh hari, bila kelak mendapatkan hari-hari lain yang manis? Ida bisa menunggu. Peluang emas tidak akan datang untuk kedua kalinya!

Akhirnya aku menggumuli hari yang sarat dengan denging mesin, debu kayu, hujan angin, kelembaban, serta kegelapan yang disela dengan suara binatang hutan. Kadang-kadang diselingi lagu-lagu dangdut para pekerjaku di saat istirahat siang.

Tak kupungkiri, perasaan rindu memilin-milin hatiku. Keayuan alami Ida terbayang bagaikan keelokan hutan Bumban. Mata bulatnya yang cemerlang bagaikan matahari terang yang memupus selaput embun pagi. Kulit kuningnya yang lembut dan bibir tipis merekah yang mengulas senyum manis, terasa hangat bila mencercahkan sebuah kecupan!

Tiga bulan sekali, aku menyempatkan diri pulang ke Banjarmasin. Selain menjenguk keluarga, tentu saja aku kangen ketemu Ida. Aku berharap hubungan kami membaik seperti semula. Kupikir, Ida hanya merajuk. Tapi, setiap aku datang, wajahnya kecut. Dan, sindiran sinis panjang lebar mengenai hidup baru yang kujalani, berakhir dengan debat kusir mengenai kontrak penebanganku yang ‘hanya’ … dua tahun!

Hanya. Dan, hanya…. Kata-kata itu selalu diulanginya dengan penuh tekanan. Bibir tipisnya yang kukagumi bergerak-gerak sinis. Bola mata indahnya memancarkan bara. Wajah cantiknya berubah menjadi monster yang menyeramkan!

Lama-lama aku bosan dengan kenyinyirannya. Aku selalu pulang dan kembali ke sawmill di Jelapat, atau ke dalam hutan Bumban dengan membawa segudang dongkol yang menggunung sampai ke pangkal tenggorokanku! Tak heran, memasuki awal kontrak di tahun kedua, aku mulai jarang menemuinya.

Aku dan Ida sama-sama keras kepala. Lebih baik waktu yang meredam amarah di dada kami. Toh, menghabiskan waktu yang tersisa satu tahun lagi tidaklah lama. Setelah itu, mungkin situasi menjadi lebih baik? Dengan sebuah rumah tarik, genset (mesin pembangkit listrik), enam orang staf, dan seorang tukang masak, aku merambah hutan Bumban.

Bila sebuah area hutan selesai ditebang, kami akan menarik rumah kayu dan genset untuk berpindah ke area penebangan berikutnya. Aku selalu berharap cuaca bersahabat tidak mencurahkan hujan, sehingga kami dapat segera menyelesaikan satu area penebangan.

Kami mencari pohon-pohon kayu jenis timbul seperti meranti, agatis, atau ramin yang siap tebang. Lalu mengukur lingkaran batang pohon itu. Bila lingkarannya mencapai enam puluh senti, berarti pohon itu siap tebang. Maka dua orang stafku akan menyiapkan mesin chain saw untuk menggergaji pohon itu. Mesin pun berbunyi nyaring nggiiing…. selama penebangan berlangsung. Debu-debu beterbangan. Dan, pelan-pelan pohon besar itu akan miring semakin rendah, lalu kemudian krakk…. rubuh ke tanah!

***

Sementara batang pohon itu diikat, sebuah truk siap mena-riknya menuju area pangkalan kayu — di mana kami menimbun batang-batang kayu yang telah ditebang. Kemudian dengan sebuah alat besar seperti capit kepiting raksasa, kayu-kayu itu diangkat untuk diletakkan di atas logging truk. Lalu dibawa menuju log pond, yaitu terminal penampungan kayu, terakhir yang berada di muara sungai Barito melalui jalan hutan yang telah dirambah sebelumnya.

Bagian terakhir di log pond adalah bagian pekerjaan yang paling kusukai. Kayu-kayu besar dari logging truk dilemparkan sehingga mengambang di atas Sungai Barito. Ketika batang-batang kayu itu bersentuhan dengan permukaan air sungai, ma-ka akan menimbulkan suara buncah byaarr…. hingga memercikan muncratan air yang membasahi sebagian kemejaku.

Sejenak batang-batang kayu itu timbul tenggelam diterpa gelombang. Sebelum akhirnya diikat menjadi satu dengan tali tambang besar bagaikan sebuah rakit yang terapung-apung di atas sungai. Kemudian sebuah kapal tank boat besi menarik batang-batang kayu yang terapung itu sampai ke sawmill untuk diproses menjadi balok, papan, atau bahkan plywood.

Aku kerap mengikuti perjalanan menuju sawmill. Aku lebih suka memilih duduk di atas rakitan batang kayu yang terapung, daripada duduk di dalam kapal tank boat besi itu. Aku duduk bersila sambil mengisap rokok dan membiarkan sebagian kancing pakaian proyek di dadaku terbuka.

Di atas rakitan kayu, kurasakan tubuhku berayun-ayun mengikuti gelombang sungai. Sesekali ayunan gelombangnya meninggi bila berpapasan dengan speed boat, dan perahu getek yang menuju Banjarmasin atau ke Palangkaraya. Di sisi-sisi sungai itulah aku menikmati pemandangan jajaran pohon bakau yang lebat dengan dahan dan ranting panjang berjuntai ke permukaan sungai. Sebagian akarnya kadang timbul mengambang, menjadi tempat persinggahan sekelompok enceng gondok yang mengapung.

Keluar dari hutan Bumban, menuju sawmill di Jelapat – tepatnya di sepanjang sisi Sungai Barito, aku melihat wanita-wanita dengan tapih (kain panjang) yang melilit tubuh sampai sebatas dada. Mereka asyik mandi dan mencuci di atas undak-undakan dari kayu galam yang mencapai bibir sungai di belakang rumah mereka yang menghadap Sungai Barito.

Pundak mereka terlihat cokelat berkilat ditimpa sinar matahari yang membias. Tapih yang melekat basah mencetak tubuh mereka, membuatku dengan mudah mengintip celah-celah payudara yang menyembul karena terbungkus ketat. Sementara anak-anak laki-laki yang terjun telanjang dari tepi rumah mereka yang berjajar di atas Sungai Barito, berlomba berenang dan menyelam di sela kayu galam yang menopang rumah mereka untuk mencari ikan dan udang kecil. Pekik mereka melengking tinggi membiaskan dunia kanak-kanak yang penuh warna.

Nah, itulah duniaku! Benar-benar dunia pria yang bisa dinikmati sampai ke tulang sumsum. Aku merasa seperti penakluk rimba! Keangkeran belantara terasa nisbi bila kulangkahkan kaki merambahnya. Bunyi denging chain saw ketika memotong batang pohon, gemeretak batang yang pelan-pelan rubuh mencium bumi, dan buncah keras batang kayu yang beradu dengan permukaan sungai ketika dilempar di muara log pond, adalah bukti bahwa aku merupakan bagian dari rimba belantara yang tak terpisahkan!

Mengapa Ida tidak mau mengerti dunia yang menjadi napas kehidupanku? Ah, teringat gadis itu, aku kembali terhempas pada kenyataan pahit yang menyakitkan! Seekor nyamuk hinggap di lengan kiriku. Aku tidak menepuknya, cukup hanya membuatnya terbang dengan menggoyangkan lengan. Ia pergi meninggalkan suara denging yang nyaring. Dan lagi-lagi, mataku membentur ujung pergelangan tanganku yang… buntung, bulat, dan tidak beraturan bentuknya itu.

Bagaimana bila Ida melihatnya? Apakah ia bisa menerimaku lagi? Ketika pergi ke hutan Bumban, kutinggalkan sengit membara di antara kami. Lalu, bisakah aku datang kembali kepadanya dalam keadaan yang ‘tidak lengkap’? Bukankah dari semula Ida sudah berkeberatan jika aku memilih hutan Bumban? Aku membatin dengan kepercayaan diri setipis sehelai kertas. Ego kelaki-lakianku yang begitu pongah rontok seperti bunga-bunga bungur yang gugur.

Aku berusaha mengambil ujung selimut dengan tangan kiri. Dengan mata berkaca-kaca aku mengikuti gerakan tanganku yang tampak susah payah mengangkat selimut untuk menutupi tubuhku. Aku bergumam dengan perasaan pedih karena merasa lucu pada diri sendiri. Aku merasa telingaku pun terkejut mendengar suaraku yang berada di ambang tawa dan tangis.

Sampai sekarang aku masih merasa takut jika harus menulis. Bukannya aku tidak pernah mencobanya. Ya, aku pernah mencoba menulis dengan tangan kiri. Tapi, aku kecewa melihat hasilnya. Mirip tulisan anak yang baru belajar menulis! Sehingga sejak kecelakaan itu terjadi — tepatnya dua bulan lalu, aku tidak pernah menulis lagi. Aku selalu minta pertolongan Basri, stafku, untuk menuliskan laporan yang harus diserahkan kepada pimpinan di kantor cabang di Banjarmasin.

Belum lagi soal makan dan berpakaian! Aku makan berhamburan. Bahkan, berpakaian pun aku harus meminta pertolongan orang lain. Satu-satunya yang mungkin bisa kulakukan tanpa bantuan orang lain, adalah mengisap rokok (ah, tapi aku pun masih tidak bisa menyalakan rokok sendiri!)

Aku terlentang berbantalkan lengan kiriku. Mataku menerawang, mencoba menerka berapa juta bintang yang ada di atas langit Bumban saat ini. Tapi, pandanganku terbentur pada serat kayu kasar langit-langit rumah tarik yang tampak remang-remang terkena temaram sinar lampu tempel. Gelisah pun menyergap ketika aku mulai menghitung hari. Besok, sebagian dari hutan Bumban sudah selesai ditebang. Saatnya off, keluar dari hutan Bumban!

Perlukah aku menemui Ida? Gadis itu masih tunanganku. Aku berharap hubungan kami membaik. Tapi, apa yang harus kukatakan tentang nasib tangan kananku yang buntung? Bisakah Ida yang cantik menerima pria yang ‘tidak lengkap’ seperti diriku? Maukah ia menyalakan api rokok untukku? Membantuku mengenakan pakaian? Membenahi makananku yang berhamburan? Astaga, apakah aku harus tampak begitu tidak berdaya di hadapannya?

Kegelisahanku menggeliat dan menggumpal di ulu hati. Kantuk terasa menggantung di kelopak mata. Aku terpejam, di antara lelap dan jaga. Ketika subuh tiba, suara genset yang dinyalakan membuatku terbangun dengan perasaan enggan.

Aku berdiri tegak di atas kayu-kayu bundar besar yang mengapung di atas Sungai Barito. Dari tengah log pond, aku mengawasi pekerja-pekerja yang mengikat kayu-kayu menjadi sebuah rakit dengan tali tambang. Sementara di tepian log pond, sebuah truk yang baru keluar dari dalam hutan Bumban memuat puluhan kayu bundar lagi. Mereka bekerja sampai matahari tepat berada di atas ubun-ubun.

Amit, kepala grup pekerjaku mendekat dan meminta sebatang rokok. Kurogoh saku bajuku. Hanya tinggal sebatang! Kuserahkan rokok beserta bungkusnya pada Amit. “Jika ada getek lewat yang menjual rokok, tolong beritahu saya,” ujarku.

Di sepanjang daerah pesisir Sungai Barito yang menghubungkan Banjarmasin dan Palangkaraya, orang-orang berjualan di atas sebuah perahu kecil yang dikayuh. Kami menyebutnya getek. Ada yang berjualan sayur mayur, buah-buahan, kopi, rokok, dan kue-kue. Lengkapnya seperti warung kecil! Getek-getek itu ada yang dikayuh tangan, ada pula yang bermesin dinamo kecil.

Amit mengangguk. “Baiklah, Pak. Sekalian bisa minum kopi atau teh. Anak-anak,’kan bekerja keras hari ini. Saya tak menyangka kalau begitu banyak kayu yang keluar dari dalam hutan!”

“Ya, syukurlah, sekarang musim kemarau. Jadi, pekerjaan menebang berjalan lancar. Kalau kita cepat selesai, ‘kan cepat pula menerima gaji. Kalian bisa segera kembali ke kampung,” sahutku, tersenyum kecil.

“Pak Nanang bila bulik (kapan pulang) ke Banjarmasin?” tanya laki-laki itu dengan memakai bahasa Banjar.

Aku membuang pandang ke tengah Sungai Barito untuk menenangkan hati. Kontrak kerja pertamaku selama dua tahun sudah selesai dua bulan lalu. Seperti perjanjian semula, pimpinan memberiku kesempatan untuk menjadi branch manager yang berkantor di Banjarmasin. Tapi, kutolak! Aku bahkan telah menandatangani perpanjangan kerja menebang hutan untuk masa … dua tahun lagi!

“Bapak kada handak bulik (tidak ingin pulang)?” Amit bertanya lagi ketika melihatku diam terpaku.

Amit tidak mengerti, kenapa ia melihat perasaan enggan pulang di wajah pimpinan proyeknya. Bukankah pulang adalah keinginan setiap orang bila pergi jauh? Sedangkan sejauh apa pun burung terbang, ia akan selalu pulang ke sarang yang dibangunnya.

Sebenarnya, bagi Amit, menjadi pekerja di log pond bukan cita-citanya. Hati kecilnya kerap merasa rindu dengan istri dan lima orang anaknya. Ia sendiri selalu ingin pulang ke dusunnya. Tapi, apa mau dikata? Di dusunnya, salah satu dusun kecil di kecamatan Gunung Purei, ia hanya memiliki sepetak tanah peladangan yang kurang subur karena lahannya bergambut.

Seperti adat kebiasaan nenek moyangnya, suku Dayak Ngaju, keluarganya melakukan sistem ladang berpindah, yaitu berpindah-pindah lokasi sehabis panen. Biasanya mereka berladang karet. Tapi ada pula yang berladang jagung, umbi-umbian, dan hasil hutan lainnya. Mereka mengerjakan ladang dengan cara tradisional. Membajak, menugal, menyemai, memupuk, menyadap, menuai panen dengan secara handep (gotong royong). Setelah panen usai, mereka mengadakan upacara bagondang (upacara adat sehabis panen) untuk bersyukur atas hasil panen yang mereka dapatkan.

***

Perkenalan dengan Bua membuat hatiku kembali bergetar. Gadis Dayak Ngaju itu begitu tulus memberi perhatian kepadaku.

Sudah setahun Amit bekerja di log pond sebagai kepala regu. Ia memimpin sekitar sepuluh sampai dua belas pekerja. Mereka kebanyakan orang-orang Dayak dari berbagai suku yang berdiam di sepanjang Sungai Kapuas, Sungai Kahayan, juga di pinggiran Sungai Barito di dekat perusahaannya.

Suku yang terbanyak adalah suku Dayak Ngaju. Ada pula beberapa suku Dayak Iban, sebagian kecil lagi suku Dayak Apu Kayan. Sebagian dari mereka meninggalkan ladang-ladang tradisional yang diolah karena tergiur menaguk rupiah dari perusahaan kayu yang menjamur. Sebagian lagi karena tersingkir oleh kaum pendatang. Dan, banyak pula yang menyeberang sampai ke perbatasan Sarawak untuk mengadu nasib bekerja apa saja.

Kantor perusahaan kayu tempat Amit bekerja berada di Banjarmasin. Di sinilah ia berkenalan dengan Nanang Syam sebagai kepala proyek penebangan hutan. Selain itu, Amit bertemu banyak urang (orang) Banjar. Kepala proyek yang membuka jalan dari hutan ke log pond, Pak Hasan, adalah urang Banjar. Staf penggergaji, Basri, dan tiga di antara empat sopir truk, juga urang Banjar. Bahkan, paman tuha (paman tua) — begitu mereka menyebut tukang masak di rumah tarik, mengaku masih keturunan kerajaan Banjar! Mereka sering menertawakan pengakuannya. Dan, mengatakan paman tuha sudah pikun!

Mungkin itu sebabnya kebanyakan dari mereka berkomunikasi dengan memakai bahasa Banjar. Terkecuali bila bercakap dengan pekerja lain yang berasal dari suku Dayak. Selama setahun Amit sudah melihat berjuta-juta kubik kayu yang diangkutnya dari log pond menuju sawmill. Semula sebagai putra daerah, ia merasa bangga, hutannya menyumbang pendapatan terbesar untuk daerah. Tapi semakin lama, bukit-bukit dan hutannya kian gundul. Hatinya giris bila mengingat ke mana lagi sukunya harus berpindah mencari tempat penghidupan?

Tetapi, Amit tidak melihat perasaan itu ada pada Nanang. Dalam pandangannya yang sederhana, ia melihat pria muda berusia tiga puluh lima tahun itu adalah seorang pekerja keras. Tanpa gentar ia merambah sampai ke dalam hutan. Bahkan, tidak segan-segan ikut terjun ke Sungai Barito untuk merakit balok-balok kayu. Tidak pernah Amit melihat garis kelelahan di wajahnya.

Ulun dangar ujar urang kantor nang (saya dengar kata orang kantor yang) di Banjar sebujurnya (sebetulnya) Bapak boleh menetap di kantor cabang di Banjarmasin. Tapi, kabarnya Bapak menolak? Bukankah lebih enak duduk di kursi daripada berpanas hujan di dalam hutan, Pak? Kada bosankah (Tidak bosankah) Bapak bakurung (berkurung) di dalam hutan?” Amit bertanya bertubi-tubi.

Kada handakkah Bapak kawin? Hidup berkeluarga? Kada sorangan tarus nang kaya sakarang?”(tidak inginkah Bapak kawin? Hidup berkeluarga? Tidak sendirian terus seperti sekarang?) Amit bertanya hati-hati, walaupun ia menyadari pertanyaannya sedikit ‘kurang ajar’.

Aku mengernyitkan kening mendengar pertanyaannya. Aku tidak suka mendengar pertanyaan itu karena membuat diriku seakan-akan telanjang. Sekian lama kusimpan lara. Mimpi tentang pernikahan dan hidup berkeluarga hancur berantakan ketika Ida mengembalikan cincin pertunanganku! Tapi, melihat wajah Amit yang penuh rasa penasaran, aku tidak tega mengabaikan pertanyaannya.

Aku kada ba’ untung, Mit! (Aku tidak beruntung, Mit!)” sergahku pendeki. Aku duduk bersila di atas balok-balok kayu yang mengapung. “Mana ada perempuan mau dengan laki-laki bertangan kutung nang kaya (tangan buntung seperti) aku?” aku tertawa kecut sembari memperlihatkan tangan buntungku pada Amit.

Amit ikut duduk di sisiku. “Ck,ck! Amun cuman nang kaya itu…” (kalau cuma seperti itu…)

“Tanganku ini kada bagus banar, (sangat tidak bagus) Mit! Bayangkan, gadis yang berkenalan denganku pasti merasa jijik ketika pertama kali ba’ salaman (bersalaman) dengan tangan kutung (buntung) seperti ini!” sambungku seraya tertawa getir.

Bah! Tidak bisa kulupakan bagaimana ekspresi wajah Ida ketika aku menemuinya di akhir masa kerja kontrakku. Ia tampak terkejut luar biasa ketika melihat tangan kananku yang buntung. Sorot matanya aneh mengikuti setiap gerakan tangan kiriku yang kaku. Aku benar-benar merasa seperti badut yang menggelikan di hadapannya!

Tidak banyak kata terucap di pertemuan kami. Bahkan jujur saja, aku menyesali pertemuan itu. Seharusnya aku tidak perlu menemui Ida lagi. Aku sudah merasa, kami akan merasa asing satu sama lain! Bukan sekadar jarak dan waktu yang terbentang. Tapi, justru karena telah terjadi ‘perubahan’ pada diriku!

Sebuah getek melintas, menimbulkan riak. Rakit dari balok-balok kayu bergerak sejenak. Terombang-ambing dimainkan gelombang.

“Amit, handak (mau) minumkah?” ibu setengah tua dari dalam getek menyapa setengah berteriak.

Amit mengangguk. Getek menepi ke sisi rakit balokan kayu. Berbagai wadai (kue) ditata dalam piring-piring yang terletak di atas sebuah bangku panjang yang dijadikan meja di dalam getek. Tampak pula gelas-gelas kopi dan teh berjajar di depan ibu setengah tua tadi.

Aku mengikuti Amit duduk di dalam getek yang sempit itu. Getek terayun-ayun ketika mendapat tambahan beban. Kulihat ibu setengah tua itu merapikan kerudungnya dan segera melayani kami.

Di sisinya duduk seorang gadis muda berbaju hijau pupus yang sudah kusam. Rambut hitamnya tergerai sebatas bahu. Wajah polosnya terlihat lugu. Tangannya terlihat cekatan ketika menyuguhkan segelas kopi di hadapanku. Ia sempat mengulas senyum kecil ketika berbentur pandang denganku. Aku menangkap kesederhanaan yang tercermin dikilasan senyum itu….

Amit kemudian memperkenalkan ibu setengah tua itu sebagai ibu mertuanya. Dan, gadis di samping ibu itu adalah adik iparnya. “Hasil ba’ warung (membuka warung) seperti ini lumayan juga untuk menambah uang dapur, Pak. Daripada cuma ma’ harap (mengharap) hasil ladang nang kada tamtu (yang tidak tentu), terutama pada musim kemarau seperti ini. Kami bergetek menyusuri sepanjang sisi Sungai Barito ba’ jual wadai (berjualan kue), kopi, teh, dan nasi untuk pekerja-pekerja log pond dari pagi sampai tengah hari.”

Aku berkata kepada Amit agar memesan beberapa gelas kopi lagi dan sepiring wadai untuk dibagikan kepada para pekerja di log pond yang menjadi anak buah Amit. “Nanti aku yang bayar,” ujarku pendek.

Aku tak enggan membayari mereka segelas kopi. Maklumlah, hubungan para karyawan di divisiku sangat akrab. Mereka pun tidak sungkan meminta sebatang rokok kepadaku. Pendek kata, hubunganku dengan Basri, Hasan, paman tuha, atau Amit, dan para pekerja itu tidak terlihat seperti hubungan antara atasan dan bawahan.

Apalagi, aku tidak pernah segan terjun sendiri ke lapangan dan ikut kusam kena debu kayu di saat penggergajian. Aku juga ikut mengantar kayu-kayu dari dalam hutan sampai ke log pond. Bahkan turut serta berkuyup-kuyup menceburkan diri ke Sungai Barito di log pond bila mereka sedang merakit kayu!

Hanya saja, aku langsung menutup diri bila mereka menanyakan statusku yang membujang. Tidak ada seorang pun di antara mereka yang mampu menembus tirai yang kupasang. Dengan rapi kusimpan luka hatiku. Sekilas yang tampak adalah Nanang yang tegar, sang penakluk rimba. Namun siapa yang tahu, sesungguhnya aku di bawah bayang-bayang ketidakpercayaan diri?

Tangan kananku yang buntung menjadi ‘hantu’ yang terus menemani mimpi burukku! Sampai akhirnya aku pun terbiasa, bahkan berteman akrab dengannya! Dengan rahang terkatup rapat menahan geram, kubuka bungkus rokok yang ada di hadapanku. Sungguh sulit melakukannya dengan tangan kiri. Sebungkus rokok itu bergerak ke kanan dan ke kiri, bagaikan ikan menggelepar di atas bangku panjang yang difungsikan sebagai meja. Dengan susah payah, akhirnya aku berhasil juga mengeluarkan sebatang rokok .

Amit hanya melirik tanpa berani membantu. Ia tahu aku tidak pernah mau dibantu melakukan hal-hal yang bersifat pribadi.
Aku menghirup kopi. Rasa pahit dan manis mengaliri tenggorokanku. Angin semilir menerpa wajah. Dari radio transistor yang sudah usang di sisi meja getek, kudengar reffrein dendang lagu dangdut Terlena yang dibawakan penyanyi Ikke Nurjanah. Begitu, kata penyiarnya.

Huh! Siapa pun penyanyinya, apa pun judulnya, apa peduliku?

“…masih terngiang di telingaku…bisik cintamu….betapa merdu dan mesranya…oooooh, terlena…terlena…oooooh, ku terlena….”

Bah! Cinta? Makiku benci di dalam hati. Cinta hanya ada dalam syair-syair lagu, selebihnya cinta adalah nol besar! Cinta adalah gombal! ‘Hantu’ yang berdiam di hatiku menjawab nyaring, terbahak-bahak.

Sementara itu getek terombang-ambing diayun riak, berpapasan dengan beberapa speed boat yang melaju kencang. Menempuh perjalanan ke Palangkaraya, Kuala Kapuas, Tamiang Layang, Buntok, Muara Teweh, atau bahkan sampai ke pucuk Purukcahu.

Sebagian besar dari mereka adalah pedagang. Mereka membeli barang dari kota besar seperti Banjarmasin di Kalimantan Selatan, atau pun Palangkaraya di Kalimantan Tengah, yang kemudian dijual di kota-kota kecamatan atau kabupaten kecil, bahkan sampai ke dusun di Kalimantan Tengah. Sebagian lagi adalah pemasok kebutuhan para pekerja sawmill yang bertebaran di Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah. Dan tentu saja, satu-satunya transportasi termudah adalah melalui Sungai Barito.

Kantorku pun selalu mengirim kurir untuk memasok kebutuhan bahan pokok dari Banjarmasin ke log pond Jelapat ini, sepuluh hari sekali. Termasuk mengantar dan mengirim laporan yang harus kuserahkan ke kantor.

Aku mengangkat kepala dari gelas kopi. Dan, pandanganku membentur sepasang mata gadis di depanku. Cepat kubuang pandang, ketika menyadari mata gadis itu memandangku tanpa berkedip. Aku rikuh karena tidak mendapati sinar pandang yang mengandung belas kasihan. Bahkan, mata itu mengikuti setiap gerakanku yang rikuh dengan sorot mata… takjub! Wah!

Aku tidak mampu memungkiri, kalau aku tengah bersirobok-pandang dengan mata seindah bintang! Dadaku berdesir karena perasaan aneh yang sudah lama tidak menghangati hatiku mendadak muncul — menggilas ‘si hantu’ yang membekukan nuraniku!

Setengah gugup, aku meraih pemantik api gas murahan yang berada di depanku. Dengan tangan kiri, aku bersusah payah menyalakannya. Angin semilir mematikan api. Aku berusaha lagi, dan lagi. Tapi, apinya mati. Begitu, berulangkali. Sementara ‘mata bintang’ di depanku terus memandangi gerakku. Membuatku semakin gugup.

Tanpa diduga olehku, tiba-tiba gadis itu meraih korek api dari tangan kiriku. Dengan gerakan gemulai, ia menyalakannya. Lalu gadis itu menyodorkan nyala api itu dengan tangan kanannya. Sedangkan tangan kirinya melindungi nyala korek api dari hembusan angin. Ia memajukan tubuhnya….

Aku terkesima. Tanpa sadar, kuselipkan sebatang rokok di sudut bibirku. Tak ada perasaan marah melanda hati, bila seperti biasanya ada orang lain yang menolongku melakukan hal-hal pribadi. Bahkan, perasaan aneh yang sempat menghangat sejenak tadi, sekarang terasa membara kembali. Seluruh ruang hatiku terasa begitu hangat dan nyaman!

***

Jarakku dengan si gadis hanya sebatas meja kayu kecil di depanku. Wangi tubuh gadis itu menyeruak menerobos lubang hidungku. Wangi itu bagaikan aroma bunga liar yang dibasahi embun pagi di hutan Bumban. Wangi bunga, wangi rumput, wangi pandan, wangi bambu, wangi rempah, wangi kemenyan, dan wangi…wangi…udara…melayang-layang segar, aku mengurai bau wangi itu bak seorang ahli aromatherapy.

Gila! Tanpa sadar kunikmati rasa nyaman yang menggelepar diam-diam di rongga dada. Dan, hatiku makin tergetar ketika semilir angin tengah hari menyapukan beberapa helai rambut gadis itu menyentuh pipiku. Terasa halus menggelitik bagaikan uraian benang pelangi para bidadari!

“Bua!” kudengar suara Amit kemudian berbicara dengan bahasa Dayak kepada gadis itu dengan nada menegur.
Aku tersentak. Sadar dari sedotan kumparan pesona yang diciptakan gadis itu. Aku menoleh kepada Amit. “Tidak apa-apa,” kataku tersenyum. Aku tahu, Amit takut jika aku merasa tersinggung.

“Terima kasih,” ujarku kepada gadis itu setelah mampu melepaskan diri dari pesona yang menghangati seluruh permukaan hatiku.

Gadis itu lagi-lagi mengurai senyum.

Hmm, jadi Bua namanya! Aku membatin dalam hati. Dan, malam itu, senyum Bua menjadi kembang tidurku. Mata bintangnya terasa begitu terang. Sehingga ‘sang hantu’ yang biasanya menyelinap diam-diam dalam gelap tidak mampu melawan silaunya. Setelah sekian tahun, aku merasa mimpiku tidak lagi kelabu!

Di log pond segera tersebar berita baru yang hangat. Berita itu bergulir begitu saja dari mulut-mulut pekerja. Ya, apa lagi kalau bukan cerita tentang pemimpin proyek penebangan hutan Bumban, Nanang Syam, yang sedang jatuh cinta! Gelap hati Nanang sekarang terang-benderang oleh kilau ‘mata bintang’ si Kembang Gunung Purei! Siapa lagi kalau bukan Bua. Gadis Dayak Ngaju dari atas getek itu rupanya telah memancing si penakluk hutan keluar dari rimbanya yang gulita!

Memang sejak pertemuan pertama kami di atas getek, aku semakin sering keluar dari hutan Bumban. Setiap selesai sebuah area penebangan, aku selalu ikut-serta mengirim kayu-kayu ke log pond. Bila dahulu, aku hanya menginap semalam dua malam di log pond, sekarang aku bisa tinggal selama empat sampai lima hari di log pond.

“Bukan itu saja!” seru Basri. “Coba lihat! Pak Nanang tidak pernah keberatan bila Bua membantu memantik api jika ia hendak merokok. Bahkan, Pak Nanang pun meminta Bua yang menuliskan laporan untuk kantor. Padahal, itu,’kan pekerjaanku dulu!” sambung Basri sambil tertawa.

Setidaknya, bagi seluruh pekerja proyek penebangan hutan Bumban, perkembangan hubungan Nanang Syam dengan Bua adalah berita gembira. Kian hari, mereka kian melihat terang di wajah pemimpin proyeknya yang biasanya selalu mendung. Yang paling menyenangkan bagi mereka, tentu saja, sekarang acara minum kopi di tengah hari selalu dibayari gratis oleh Nanang!

“Kau tidak pernah punya keinginan keluar dari dusunmu di Gunung Purei?” tanyaku pada Bua di suatu siang. Seperti biasa, kami menjalin kata di atas getek kayu yang terayun-ayun disapu riak gelombang. Hatiku terasa ringan seperti burung layang-layang yang terbang rendah meniti angin di atas permukaan sungai.

Jika sudah begini, aku bisa betah duduk berjam-jam bersama Bua. Gadis desa yang sangat sederhana itu ternyata punya banyak kata yang memikat. Gaya bertuturnya yang lemah-lembut, ceritanya yang tidak pernah membosankan, wajahnya yang sederhana namun eksotis, hingga ketulusannya melayaniku, membuatku tak jemu menatapnya tanpa mengedipkan mata!

“Aku pernah handak umpat Kak Amit begawi di sawmill (pernah hendak ikut Kak Amit bekerja di sawmill). Ya, kerja apa saja. Hidup berladang sangat membosankan,” Bua menjawab. “Tapi Ineen (Ibu) tidak mengizinkan. Kata Ineen, di sawmill banyak orang-orang kota dan orang-orang asing yang suka menganggu gadis. Mereka suka mempermainkan perempuan. Apalagi tinggal aku, anak perempuannya yang belum kawin. Ineen handak aku mengawaninya (ibu hendak aku menemaninya) karena Umaaq (Bapak) sudah meninggal ketika kami membuka ladang,” ujarnya.

Bua selalu memakai bahasa Indonesia dicampur bahasa Banjar bila berbicara padaku. Kadang-kadang juga masih memakai beberapa istilah Dayak. Tapi bila berbicara dengan Amit atau sesama suku Dayak , ia lebih suka memakai bahasa aslinya.
“Bahasa Indonesiaku kada (tidak) bagus. Hanya sekolah sampai tuntung (selesai) SD,” katanya kala itu sambil tersipu malu.
Kada papa (tidak mengapa). Begitu saja juga sudah bagus…,” Aku memujinya dengan tulus. Sejak kerap berbincang denganku, Bua semakin banyak memakai bahasa Indonesia.

“Apakah kau handak (hendak) dijodohkan dengan pilihan ibumu?” Aku langsung menanyakan pertanyaan klise yang kurasa perlu. Klise karena sudah terlalu banyak cerita perkawinan yang terjadi dari perjodohan yang diajukan orang tua. Siti Nurbaya — Datuk Maringgih, Sampek — Eng Tay, Romeo — Juliet, dan banyak lagi. Tapi kuanggap perlu kutanyakan, karena aku ingin tahu!

Kutelusuri lekuk-lekuk wajah Bua yang berubah ketika mendengar pertanyaanku. Ia kelihatan jengah dan salah-tingkah. Ditambah lagi, ekspresi tidak suka. Ah, aku bingung mengartikan perubahan wajahnya! Aku ingin menebak apa yang tersembunyi di balik rona wajahnya yang berubah-ubah. Tapi, yang kulihat justru pemandangan indah yang membuatku enggan mengerjapkan mata!

Anak rambut halus berjuntai di dahi, alis lebat bak semut berbaris memayungi sepasang mata bintang, kulit kuning halus, bibir mungil merah, dagu lentik yang terbelah, sampai leher jenjang yang tertutup oleh sebagian rambut hitam lebat yang tergerai. Keindahan alami bak hutan Bumban! Membetot jiwaku, mengurung hatiku, sehingga enggan untuk keluar dari dalam lingkaran pesona itu!

“Pada saat umur tujuh belas tahun, aku pernah dilamar anak Demang (ketua agama). api, aku tak suka padanya. Aku juga tak suka pada Demang.”

“Kenapa?”

Bua menghela napas. “Demang masih suka menjatuhkan hukuman pengayauan (pancung kepala), bila terjadi sengketa antarsuku atau antarwarga. Itu mengerikan! Padahal menurut kepercayaan kami, kaharingan, hukuman pengayauan hanya menyebabkan arwah-arwah penasaran. Arwah-arwah itu gentayangan dan bila tidak mendapat tempat akan berdiam di batu-batu atau pohon-pohon besar. Arwah-arwah itu suka mengganggu panen.”

“Padahal kami bekerja keras menanti panen. Hanya berbekal nasi ketan dan air minum yang ditaruh di dalam potongan bambu. Kami mengerjakan ladang hanya dengan cara tradisional, seperti membakar ladang untuk mendapatkan abu sebagai pupuk, membajak, menugal, menyiram, menyemai benih, menjaga dan memanennya.”

“Tujuannya agar sejak masa tanam sampai panen, benih itu tidak kelaparan dan kehausan, sehingga memberikan hasil panen yang memuaskan. Semua kami lakukan dengan gotong royong. Istilah kami secara handep. Hari ini kami mengerjakan ladang Kak Amit, besoknya lagi ladangku, begitu terus bergantian, sampai panen tiba. Karena itu, kalau panen kami berhasil, kami selalu merayakannya dengan upacara bagondang.”

“Suku Dayak Benuaq dan Tunjung di Kalimantan Timur, bahkan selalu memberikan sesajen kepada itaak kakaah benturaatn tana, yaitu roh-roh yang dipercaya menjaga kondisi tanah, sejak sebelum dimulai pembenihan sampai setelah panen. Mereka berdoa agar roh-roh itu memberikan kesuburan tanah, menjaga tangan dan kaki mereka ketika menugal, menghindarkan hama dan penyakit, dan membuat hasil panen berlimpah,” sambung Bua panjang lebar.

“Semula keluargaku bingung bagaimana menolak lamaran Demang. Karena Demang sangat berpengaruh di dalam tatanan keluarga suku Dayak. Akhirnya, kami meminta bantuan Tamanggung (ketua adat) untuk menyampaikan penolakan itu, dengan alasan aku masih harus membantu Ineen. Bukankah kedudukan Tamanggung sama pentingnya dengan Demang? Tapi rupanya mereka tersinggung dengan penolakan itu. Mereka bersumpah membalas dendam. Bahkan, anak Demang berkata akan mengirim buluh perindu untuk dapat memikat dan mendapatkanku!”

Sampai di sini, rona sedih yang tampak di wajah manis dara Gunung Purei itu semakin menua seakan-akan langit gelap digayuti mendung. Mata bintangnya mendadak suram. Kata-katanya terhenti. Ia tertunduk memilin-milih ujung bajunya.

“Tidak lama setelah itu, Umaaq kedapatan meninggal ketika membuka ladang,” ujarnya gamang. “Kami semua percaya bahwa itu semua kiriman musibah dari Demang.”

Aku terperangah.

“Ketika Umaaq hendak pergi membuka ladang, seperti biasanya ia berangkat pagi-pagi untuk menebang dan membakar pepohonan. Ia lakukan setiap hari sampai tanah itu siap kami tanami. Suatu hari, Ineen mendengar bunyi burung mentit di sebelah kanan rumah kami. Ineen langsung mengatakan bahwa itu pertanda kurang baik, dan menyuruh Umaaq untuk tetap tinggal di rumah saja.”

“Tapi Umaaq bilang, bunyi burung mentit itu berasal dari sebelah kiri rumah yang memberikan tanda, bahwa perjalanannya ke ladang yang baru dibuka akan membawa hasil yang memuaskan. Mereka lalu berdebat soal bunyi burung mentit itu berasal dari sebelah kanan atau kiri. Hingga akhirnya, Umaaq berangkat juga ke ladang dengan keyakinan burung mentit itu berbunyi dari sebelah kiri rumah.”

“Siangnya aku menyusul membawa nasi ketan. Sepanjang perjalananku selalu diganggu tanda-tanda buruk. Langkahku terhalang pohon kayu tumbang, dan ular yang melintas, bahkan burung punguk yang mengikuti langkahku selalu berbunyi! Menurut kepercayaanku, semua itu tanda bala (petaka). Aku bingung akan meneruskan perjalanan ke ladang, atau pulang kembali ke rumah….”

Aku masih diam menunggu kelanjutan kata-kata Bua. Sesekali kuhirup kopi di depanku. Dengan telaten, ia membukakan dua bungkus wadai nagasari. Setelah daun pisang terbuka, ia meletakkan wadai nagasari itu di sebuah piring kecil yang ada di hadapanku. Kemudian ia menambahkan kopi ke dalam gelasku.

“Begitu sampai aku di ladang, aku melihat Umaaq terbujur kaku. Di kakinya tampak darah segar menetes bekas patukan ular. Dan, dadanya remuk tertindih pohon tumbang!” ujarnya getir.

“Mungkin itu hanya suatu kecelakaan,” Aku menyahut pelan berusaha membesarkan hatinya.

Bua menunduk. “Aku selalu mengatakan itu pada diriku sendiri untuk membesarkan hati. Tapi jauh di dalam hatiku mengatakan, bahwa itu pasti perbuatan Demang! Begitu pula kata orang sedusun.”

Aku mendengar kisahnya antara percaya dan tidak.

“Itu masih belum cukup.”

“Apalagi yang terjadi?”

“Sejak kematian Umaaq, aku jadi sering menangis sendiri.”

“Kau sangat sedih dengan kepergian ayahmu, ya?”

Bua tersenyum kecut. “Bukan. Bukan itu. Kesedihanku karena Umaaq meninggal memang dalam. Tapi, tidak akan membuatku menangis meraung-raung seperti orang gila setiap hari.”

“Maksudmu? Aku tidak mengerti….”

“Walau pun Umaaq sudah dikuburkan dengan upacara wara, kesedihan tetap ada di rumah kami. Ineen tidak rela Umaaq meninggal dengan cara tidak wajar. Aku terus berusaha menghibur dan menyakinkan bahwa kematian Umaaq benar-benar suatu kecelakaan. Aku tidak mau berburuk sangka. Bukankah itu dosa , Kak Nanang?”.

***

Perkenalan dengan Bua membuat hatiku kembali bergetar. Gadis Dayak Ngaju itu begitu tulus memberi perhatian kepadaku.

Bua membantuku belajar menulis lagi. Berulang kali pulpen yang kupegang dengan jari-jari di tangan kiri tidak bisa digerakkan dengan baik. Aku menggelengkan kepala putus asa. Tapi, dengan penuh kasih, gadis itu membelai jemariku. Berulang kali ia memberikan sehelai kertas baru. Aku bergegas menjepit pulpen lagi dan berusaha menulis sebaik mungkin. Aku cinta padamu, tulisku dengan susah payah.

“Apa?” tanya gadis itu dengan rasa ingin tahu.

“Bacalah! Dan, jawablah!” ujarku dengan penuh pengharapan.

“Aku… apa itu? Aku cinta… benar? Terus? Aku… cinta… padamu?” gadis itu mengeja tulisanku terbata-bata. Lalu mata indahnya terbelalak. Bintang di matanya makin benderang. Aku silau memandangnya!

“Bagaimana?”

Jantungku berpacu makin cepat ketika gadis itu tertunduk dan dengan suara pelan tergagap-gagap menjawab, “Saya, saya… tidak tahu, Kak Nanang. Apakah Kak Nanang tidak takut kutuk atas diriku?” tanyanya ragu. “Aku perempuan pembawa sial dan pemberi bala. Aku takut, nasib Kak Nanang jadi tidak mujur bila menjalin hubungan denganku….”

“Persetan dengan kutuk itu!” sergahku seraya meraihnya ke dalam dekapanku. Aku sama sekali tidak memikirkan kutukan Demang (ketua agama) atau Jue. Dengan tangan buntung ini, aku pun hidup dalam kutukan dan penderitaan. Bila saat ini aku menemukan kunci di mana aku bisa membuka diriku, kenapa aku harus menundanya? Ya, Bua-lah kunci itu!

Bua merasakan pipinya panas terbakar. Ia merasa panas yang menjalari tubuhnya sama seperti panas matahari di atas langit Gunung Purei. Bua merasa sedang berada di tengah ladang. Melihat benih yang ditanamnya mengembang menjadi daun, batang, ranting, dahan, bunga, lalu berbuah. Ia merunduk tidak berani mengangkat kepala untuk beradu pandang. Khawatir semua rasa cintanya terberai tak terbendung….

Sejak beranjak remaja, orang-orang selalu mengatakan, Bua adalah gadis tercantik di dusunnya! Ineen (Ibu) dan Umaaq (Bapak) mencintainya melebihi saudara-saudara perempuannya yang lain. Bahkan, Bua merasa mereka terlalu melindunginya. Ia tidak pernah ke luar dusun lebih dari pergi ke Kecamatan Gunung Purei. Itu pun selalu bersama Umaaq bila menjual hasil panen. Bahkan, ibu kota provinsi Kalimantan Tengah, Palangkaraya, pun tidak pernah diinjaknya!

Lima orang kakak perempuannya sudah menikah semua. Mereka tinggal berkumpul dengan Umaaq dan Ineen di rumah panjang yang disebut betang. Suami-suami mereka juga ikut tinggal bersama. Sebaliknya, tiga kakak lelakinya menetap di keluarga istri mereka. Menurut adat, jika seorang lelaki telah menikah, maka ia akan tinggal bersama keluarga besar istrinya di betang (rumah panjang dan besar tempat berkumpul beberapa keluarga).

Sebelum kakak-kakak perempuannya menikah, mereka sering mengatakan, Umaaq dan Ineen pilih kasih dengan lebih menyayanginya. Tetapi, orang tuanya bilang, seorang belian (dukun) telah meramalkan nasib Bua ketika lahir. Banyak kejadian tidak terduga menimpa dirinya, sehingga belian memberi tahu Umaaq dan Ineen untuk hati-hati menjaganya. Bahkan, harus menyelenggarakan upacara selamatan setiap tahun kepada seniang (roh-roh suci) untuk memohon perlindungan!

Mungkin itu sebabnya Umaaq dan Ineen selalu berada di sisinya. Mereka bilang, orang kota adalah orang-orang jahat. Terlebih sekarang banyak sekali penduduk yang datang bertransmigrasi. Mereka merebut tanah penduduk asli. Penebangan hutan terjadi di mana-mana. Kata Kak Amit, mereka datang dari kota besar, bahkan juga dari negara asing. Tak jarang terdengar berita pertengkaran dan perkelahian penduduk asli dengan orang-orang kota hanya karena berebut lahan atau benturan adat istiadat.

Sebetulnya, Bua ingin sekali melihat dunia luar selain rimba dusunnya. Bukankah di sana banyak keindahan? Tapi, Bua tidak pernah tahu…. Termasuk, impian pendamping hidupnya. Bua sungguh tidak tahu! Ia tak pernah mengenal laki-laki selain Umaaq. Setiap hari ia melihat ayahnya bekerja keras menghidupi keluarga dengan sembilan anaknya. Membuka hutan menjadi ladang, menebang pohon, dan membakarnya. Membajak tanah, menugal, menyemai, memupuk, hingga memanen hasilnya. Lumbung padi di dalam betang tidak pernah kekurangan.

Bila hasil panen berlimpah, Umaaq pulang membawa oleh-oleh baju baru untuk Bua dan kakak-kakaknya. Juga pupur (bedak) dan gincu untuk Ineen. Mereka selalu menyambut kedatangan Umaaq dengan hati gembira. Masih lekat dalam ingatannya seruan Umaag begitu menginjak halaman betang.

“Ini, Umaaq bawakan kesukaanmu,” katanya sambil mengeluarkan sebungkus gula-gula sebesar telur cecak berwarna-warni cerah. Itu berlangsung terus hingga kakak-kakak lelakinya beranjak besar dan membantu Umaaq membuka ladang. Sementara Bua dan kakak-kakak perempuannya bergantian mengirim nasi ketan dan air minum di dalam batang bambu saat istirahat siang.

Ya, di hati Bua, ayahnya adalah satu-satunya lelaki yang paling baik, bertanggung jawab, dan paling mencintainya. Ia merasa nyaman berada di sisi Umaaq. Sehingga, ketika Umaaq tewas mengenaskan di tengah ladang, seluruh hatinya hilang! Hidup Bua terasa sunyi dan hampa!

Setelah upacara selamatan yang meminta lepas kutuk Jue, barulah Ineen memperbolehkannya ikut berjualan di atas getek. Bua mengenal kehidupan lain di luar ladang dan betang. Ia mulai mempunyai kesibukan baru yang memupus rasa sedihnya. Hingga ia bertemu Nanang Syam!

Di matanya, Nanang seperti Umaaq yang giat bekerja keras. Laki-laki seperti itu pastilah memberikan kehangatan dalam rumah betang-nya. Tidak seperti Jue, jejaka manja anak Demang yang mengandalkan orang tuanya. Jue sampai hati mengurung Bua di dalam kutuk yang membuatnya dijauhi para lelaki. Tapi sekarang, Nanang Syam tidak peduli pada kutuk itu dan menawarkan cintanya. Bua memejamkan matanya rapat-rapat. Tidak! Aku tidak mau berpikir lain. Aku ingin menikmati saat bahagia ini, walaupun hanya sejenak. Aku tidak perlu takut atau ragu….

Wangi kemenyan bercampur wangi bunga rampai dan cendana semerbak mengharumi seluruh ruangan dalam rumah betang. Tepung tawar pun ditorehkan. Baras (beras) kuning dilemparkan. Kapur sirih disiapkan. Tuak dan arak mengalir. Tetabuhan gong dan tambur berbunyi. Berbaur dengan tawa riang yang bergema di seluruh dusun. Kaum perempuan menyiapkan makanan untuk sesaji dan pesta. Berton-ton beras dikeluarkan lengkap bersama ayam, kerbau, dan babi yang disembelih para lelaki.

Sebuah dusun kecil di Gunung Purei akan berpesta! Semaraknya bukan saja karena panen yang berlimpah. Bukan sekadar ladang-ladang menghasilkan. Bukan pula puji syukur kepada roh-roh yang melindungi dusun dan ladang. Ya, ini bukan sekadar pesta selamatan bagondang (upacara adat sehabis panen)! Ini pesta perkawinan sekaligus upacara puji syukur!

Aku melirik pengantinku, Bua. Cantik nian bidadariku dalam untaian kembang mayang di rambutnya! Pakaian pengantinnya berwarna keemasan, berpadu dengan aneka kalung dan gelang dari manik-manik. Tubuh dan rambutnya wangi bunga dan rempah karena ia batimung (timung-spa tradisional Banjar untuk calon pengantin) semalaman. Cerah kulitnya kuning cemerlang bapupur (berbedak). Belum lagi senyum tersungging di bibirnya yang bergincu. Berjuta bintang ada di matanya!
Hari ini aku melangsungkan pernikahanku dengan Bua secara adat Dayak Ngaju. Sebelumnya, aku ingat Amit pernah membicarakan masalah perkawinan ini denganku. Ia mengabarkan bahwa Bua hamil! Aku terkejut! Ingatanku berjalan mundur….

Siang itu kantorku sepi. Para pekerja berlomba memuat kayu-kayu ke tank boat. Sebagian lagi menurunkan kayu dari bak truk. Kesibukan mereka sayup-sayup terdengar, sementara Paman tuha menyiapkan makan malam di belakang. Aku dan Bua baru selesai makan siang ketika tiba-tiba kepalaku pusing dan mataku berkunang-kunang. Lantai yang kuinjak seakan berputar, membuat perutku mual. Keringat dingin membanjiri dahiku. Aku berpegangan pada Bua, menahan tubuhku agar tidak ambruk.

“Kenapa? Ada apa?” ia bertanya panik.

“Aku tidak enak badan. Mungkin terlalu capek hingga ‘masuk angin’. Kemarin aku memuat dan mengirim kayu sampai malam. Banyak sekali kayu ke luar dari hutan! Aku dikejar waktu. Akhir kontrak tinggal beberapa bulan lagi….”

Bua memapahku duduk bersandar di sofa. Aku membaringkan tubuh seraya memijit keningku. “Sebentar lagi juga baik,” kataku berusaha menenangkannya. Dengan cekatan Bua mengambil sebotol minyak kayu putih, balsem, dan obat sakit kepala dari kotak P3K yang tergantung di dinding kantorku. Tak lupa pula segelas air putih hangat.

“Kupijat, ya? Wajahmu pucat sekali,” ujarnya seraya mengangsurkan botol minyak kayu putih di bawah hidungku. “Dan, badanmu dingin seperti es,” sambungnya cemas, seraya menekan-nekan tisu di keningku yang berkeringat.

Aku memejamkan mata. Pijatan lembut di keningku membuatku nyaman. Terlebih ketika ia mengoleskan balsem di tengkuk leherku. Aroma minyak kayu putih berbaur dengan aroma tubuh dan rambutnya yang wangi bagaikan bau cemara basah karena embun dan air hujan. Bahkan, aku merasakan embusan napasnya menerpa lembut wajahku. Kulitnya yang halus bersentuhan dengan kulitku.

Perlahan aku membuka mata ketika kurasakan rasa sakit berkurang. Wajah Bua hanya beberapa sentimeter dari wajahku. Bibirnya merah basah dan segar. Alis, mata, dagu, dan semua lekuk di wajahnya bagaikan pahatan sempurna Illahi. Ketika ia memajukan badannya untuk membetulkan letak kepalaku, dadanya yang padat begitu dekat di wajahku! Aku tak mampu menahan gelora yang meluap. Aku merengkuh tubuh Bua lebih lekat dengan diriku. Dan, menciumi dadanya, lehernya, tengkuknya, anak-anak rambutnya, dagu, dan bibirnya….

***

Wangi… wangi, duh! Wangi bunga liar, wangi tanah yang terkena siram hujan pada saat kemarau, wangi kembang setaman. Memabukkan dan menggelora! Aku memandang wajahnya. Galau dan kepasrahan tergambar di sana.

“Jangan…,“ bisiknya tersendat dengan tubuh gemetar. Saat itu, sungguh, sudah sangat terlambat untuk berkata ‘jangan’!

Sunyi yang paling senyap hadir ketika semuanya berakhir. Tak ada isak tangis seorang gadis yang kehilangan keperawanannya, seperti yang sering kulihat di sinetron televisi. Tak ada juga ekspresi marah dan tetes air mata. Yang kudapati justru pandangan bingung gadis lugu saat melihat percikan semburat merah darah perawannya!
“Bua….” Aku menyentuh lengannya. “Kau baik-baik saja?”

Sejenak ia tergagap. Senyumnya sumbang dan suaranya terdengar hambar. “Tidak apa-apa. Aku baik-baik saja,” sahutnya datar.

Aku sibuk mereka-reka apa yang Bua rasakan. Senang, takut, malu, marah, atau sedih?

“Aku tidak apa-apa. Aku baik-baik saja. Hanya saja aku bingung…,” ucapannya mengambang. Lalu ia menggelengkan kepala kuat-kuat dan segera membenahi pakaian serta rambutnya. Bua menatapku dengan pandangan yang sulit kumengerti. “Aku pulang dulu. Ineen pasti sudah menungguku di getek.” Ia pergi dengan setengah berlari.

Sejak itu kami tidak pernah membicarakan kejadian siang itu lagi. Hubungan kami menjadi ‘berubah’. Walaupun Bua melayaniku dengan baik, ia menjadi lebih pendiam. Matanya sering menerawang. Bila kutanya, ia selalu menjawab tidak apa-apa. Bahkan, tidak jarang, ia hanya menggeleng dan tersenyum getir.

Selama ini, yang kutahu dari cerita-cerita atau berita yang kubaca, di mana-mana seorang gadis pasti menuntut pertanggungjawaban (yang terus terang, aku sendiri belum berani untuk memikirkannya sampai ke sana!) dari laki-laki yang merenggut keperawanannya. Tapi, si ‘Kembang Gunung Purei’ Bua, justru tak mau membicarakannya padaku. Pada laki-laki yang memerawaninya!

Lamunanku terputus ketika kudengar suara Amit berbicara dengan nada rendah dan sedih. “Sebetulnya, Bua melarangku untuk membicarakan masalah ini dengan Pak Nanang, walaupun Ineen sudah memaksanya sejak lama. Ya, tepatnya sejak ia jadi gunjingan seluruh dusun….”

“Aku tidak mengerti. Gunjingan apa?” sahutku bingung.

“Sejak Bua mempunyai hubungan dekat dengan Pak Nanang, seluruh dusun membicarakannya. Dari perempuan-perempuan yang menampi beras, gadis-gadis yang mencuci baju di sungai, para lelaki yang membuka ladang dan jejaka yang menyabung ayam, sampai anak-anak yang bermain di pekarangan dan nenek-nenek yang mengunyah sirih….”

“Apa yang mereka bicarakan?” Aku jadi ingin tahu.

“Sudah tahu kisah Demang dan Jue mengutuk Bua menjadi perawan tua dan gadis pembawa bala?”

Aku mengangguk. “Bua pernah cerita padaku.”

“Pak Nanang masih terus menyukainya?”

Hmmm….”

Sejurus kemudian kudengar Amit tertawa getir. “Pada mulanya orang-orang sekadar menggoda, Bua mendapat pasangan pimpinan proyek hutan Bumban. Ia gadis beruntung karena ternyata kutuk Demang tidak terbukti. Sumpah Jue tidak mempan pada Bua! Lama-kelamaan mereka mulai menerka-nerka, kapan Bua dipinang? Cerita bertambah seru ketika ada yang mengatakan, Bua tidak akan menikah karena laki-laki mana pun pasti takut akan kutukan Jue! Mereka bertaruh. Sebagian mengatakan Bua akan kawin, sebagian lagi menyanggah, Bua akan tetap jadi perawan tua pembawa bala!” Amit mendengus keras, menahan marah.

“Waktu itu Ineen dan Tamanggung (ketua adat) sudah mendesak Bua membicarakan masalah ini dengan Pak Nanang. Ineen ingin Bapak cepat mengawini Bua. Tapi, Bua malu membicarakannya. Ia merasa bukan gadis yang pantas untuk Pak Nanang. Bua hanya gadis dusun biasa, masih berkurung kutuk pula! Ia menunggu pinangan datang. Namun, Bapak tak juga kunjung membicarakan masalah itu dengan Bua. Juga tidak memberikan jaminan akan meminang Bua….”

“Kami baru berkenalan sekitar lima bulan,” sahutku gamang. “Kami masih punya banyak waktu untuk mengenal lebih dalam….”

“Tapi, menurut pandangan masyarakat di dusun kami, Bua tidak lebih dari seorang simpanan dan pelayan yang menjadi pengisi waktu Pak Nanang. Seperti banyak yang dilakukan perempuan-perempuan lain yang kawin kontrak di sawmill-sawmill orang asing. Bua jadi gunjingan orang sedusun! Ya, siapa bisa membisukan mulut dan membutakan mata mereka? Bua ke luar rumah hanya untuk turun ke log pond menemui Bapak. Ia malu diperbincangkan karena tidak ada laki-laki yang mau melamarnya, sehingga katanya bersedia jadi simpanan orang kota di log pond!”

“Apa? Sampai sejauh itu?” Aku terperanjat.

Mereka bilang, Pak Nanang hanya bermain-main dengan Bua. Kada handak bujur- bujur kawin lawan Bua (tidak serius hendak menikahi Bua). Habis kontrak penebangan hutan, Bua akan disepak seperti sepah dibuang!”

“Ah, kejam sekali! Aku tidak punya pikiran seperti itu terhadap Bua! Dia begitu baik padaku, mana mungkin aku memperlakukannya seperti itu?”

“Tapi, ini omongan orang sedusun, Pak! Apa bisa kita melarang orang sedusun membicarakan Bua? Dan, apakah salah bila membicarakan Bua? Jarum jatuh berbunyi meriam, berita sekata bisa jadi sedepa. Bukankah tidak ada asap bila tak ada api? Kasihan Bua, ia sungguh suka pada Pak Nanang….”

Setajam itukah lidah mengasah kata? Tidak ada orang yang tangkas memuji kebaikan, tapi dengan cerdas membumbui keburukan orang lain. Kata sepatah ditangkal menjadi selaksa kata! Sanggupkah Bua sebagai terdakwa diperlakukan bagai seorang pesakitan?

Aku ingat, jalinan hubunganku dengan Ida hampir dua tahun lebih sebelum kami memutuskan bertunangan. Tapi, kurasakan perasaan kasihku lebih besar pada Bua, walaupun hubungan kami baru berjalan lima bulanan. Apakah karena Bua setia menemani di saat-saat sulitku? Benarkah aku mencintainya, bukan sekadar pelarian?

“Kasihan Bua,” gumam Amit lagi. “Pada saat lahirnya, seorang belian sudah meramalkan berdasarkan nyahuq (firasat) yang tampak, bahwa Bua akan banyak mengalami kejadian dalam perjalanan hidupnya. Kehamilannya sekarang belum diketahui orang sedusun, baru kami sekeluarga di dalam rumah betang yang tahu. Tak bisa kubayangkan bagaimana seandainya orang sedusun tahu….”

“Menurutmu bagaimana, Mit?” Aku bertanya dengan pikiran buntu.

“Kawini Bua.”

“Kawin?” Aku merasa gamang.

“Kenapa? Bukankah Pak Nanang suka Bua? Bukankah Bua suka Pak Nanang? Bukankah Bapak tidak menghiraukan kutuk itu?”
“Kawin bagaimana?” tanyaku seperti orang dungu. Bah! Aku muak dengan diriku sendiri!

“Sebetulnya, kalau Pak Nanang memang handak bujur-bujur kawin lawan Bua, kita tinggal bikin kawin adat di dusun. Bua akan lepas dari gunjingan dan bebas setiap hari melayani Pak Nanang. Bua boleh tinggal di log pond dengan Pak Nanang.”

“Sesederhana itu?” Bagiku, perkawinan itu sakral. Harus ada restu orang tua, penghulu, maskawin, dan ijab kabul. Lalu, bagaimana perkawinanku dengan Bua? Orang tuaku belum mengenal Bua! Apakah mereka menyetujuinya? Ayahku salah seorang pejabat di Departemen Kehutanan Banjarmasin. Bahkan, ia masih punya silsilah keturunan dengan Kerajaan Banjar. Orang tuaku juga taat menjalankan salat dan puasa. Bagi mereka, menantu seiman adalah syarat mutlak.

Sedangkan Bua, hanya seorang gadis kembang dusun Gunung Purei, keturunan Dayak Ngaju penganut Kaharingan. Pendidikannya pun seadanya. Selepas sekolah dasar, ia membantu orang tuanya membuka ladang. Sekarang, ikut membantu berjualan wadai di atas getek yang melintas di sepanjang Sungai Barito. Menawarkan kopi kepada pekerja-pekerja kasar sawmill.

Begitu pula dengan keyakinan Kaharingan yang dianutnya. Ada banyak roh dan makhluk halus di bumi, upacara, dan selamatan. Ada pertanda nyahuq —mantra, boneka-boneka kayu, dan sihir. Ada penyirapan, sumpah, kutuk, serta bala. Ada seniang dan belian. Sistem hukum dan kekerabatan pun mereka punya sendiri. Mereka percaya pada Demang dan Temanggung, yang lebih mereka hormati daripada pejabat pemerintah!

Bisakah ayah dan ibuku menerima Bua? Lain halnya dengan Ida! Calon menantu ideal, alumnus Fakultas Hukum Universitas Lambung Mangkurat. Ayahnya pengusaha sukses tambak ikan air tawar di Banjarmasin. Mereka memiliki berhektar-hektar area tambak di Martapura! Aku mengenal Ida karena hubungan dekat ayahnya, Pak Arifin, dengan ayahku. Ibunya pun seorang dosen senior di Universitas Lambung Mangkurat. Nah, apa lagi yang kurang? Kecantikan, kepandaian, kekayaan, martabat, dan nama baik, segalanya ada di dalam diri Ida! Terus terang, sampai saat ini, aku masih sulit mencari kekurangannya. Kecuali, ia telah menyakiti hatiku dengan mengembalikan cincin pertunangan kami!

Aku ingat, pesta pertunangan kami diselenggarakan meriah di salah satu hotel berbintang di Banjarmasin. Banyak tamu datang dari berbagai kalangan. Pejabat tinggi, rektor, dan mahasiswa. Bahkan, kalangan pengusaha tambak ikan dan tambak udang pun hadir. Ida secantik Putri Junjung Buih. Semua memuji kami sebagai pasangan serasi. Itu baru pesta pertunangan!

***

Kebahagiaan bersama Bua terusik ketika Ida kembali hadir dan amat membutuhkan penghiburan dariku. Mampukah aku menolaknya?

Suasana pagi masih sepi. Hanya terdengar suara binatang hutan dari kejauhan. Para pekerja kayu belum banyak yang datang. Sebagian stafku yang tinggal di mess log pond belum semuanya turun ke log pond. Beberapa dari mereka masih tertidur kelelahan. Kemarin kami bekerja membongkar kayu yang keluar dari dalam hutan hingga menjelang subuh. Minggu-minggu terakhir, kegiatan pengiriman kayu ke sawmill meningkat tajam!

Ada perintah mempercepat area penebangan dan pengiriman kayu dari kantor cabang di Banjarmasin dan sawmill di Jelapat. Belakangan ini situasi di pedalaman Kalimantan Tengah dan Kalimantan Timur kurang baik. Terjadi bentrokan perkelahian antara suku Dayak dengan kaum pendatang yang kebanyakan berasal dari Jawa dan Madura. Bahkan, di beberapa daerah tertentu, suasana tegang memuncak. Orang-orang Jawa dan Madura mulai mengungsi ke Palangkaraya atau Samarinda.

Pimpinan cabang di Banjarmasin takut arus pengungsi atau ketegangan itu menjalar ke Banjarmasin, yang sudah pasti memengaruhi kegiatan kerja di log pond dan sawmill yang merupakan perbatasan antara Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah. Dan, berita itu bukan isapan jempol! Banyak pekerja harian di log pond yang kebanyakan suku Dayak minta berhenti, pulang kampung!

“Di kampung-kampung banyak perkelahian, Pak Nanang. Mereka tidak tenang hanya meninggalkan anak-anak dan kaum perempuan, sementara kebanyakan laki-laki bekerja di sini,” ujar Amit.

“Kenapa bisa begitu?”

“Tak tahu jugalah! Belakangan, situasi tak menentu. Bikin perayaan, pasti ada keributan. Kalah ba’ saung (mengadu) ayam dan mabuk sedikit, malah berkelahi!” jawabnya. “Tahu Tiong, orang sebelah di rumah betang kita? Gara-gara anak gadisnya melapor digoda pendatang di kampung sebelah ketika turun ke Gunung Purei, minggu lalu Tiong berkelahi sampai babak belur! Seluruh pemuda dusun sudah menghunus mandau dan tombak handak balas menyerang ke kampung sebelah! Untung saja, Tamanggung (ketua adat) melarang.”

“Belum lagi di Gunung Mas! Sekarang orang Dayak makin terpencil. Sudah tak punya tanah untuk digarap sendiri, ladang dan huma pun diberikan kepada kaum pendatang! Maka banyak pekerja kita bulik (kembali) ke dusun handak menjaga ladang, huma, dan rumah betang dari serbuan kaum pendatang. Kami tidak punya harta apa-apa kecuali tanah ladang dan rumah betang. Bahkan, berita terakhir, ketegangan memuncak di Sambas! Banyak pembantaian yang dilakukan orang Dayak kepada kaum pendatang. Di Pontianak, aku dengar, kaum pendatang mengadakan perlawanan keras. Kami khawatir dan takut sekali mereka balas menyerang sampai ke dusun kami!”

Memang, situasi meruncing, bahkan di beberapa daerah terjadi pertumpahan darah. Suku-suku Dayak yang biasanya berdiam di pesisir sungai atau di dalam hutan, bergerak turun ke kampung, kecamatan, sampai ke kabupaten-kabupaten. Mereka melengkapi diri dengan mandau, tombak, bahkan sumpit yang matanya beracun tanpa penawar! Suasana memanas! Seakan-akan genderang perang telah ditabuh.

Kantor cabang dan sawmill memintaku menyelesaikan proyek penebangan dalam dua sampai tiga bulan ke depan, padahal kontrak kerja masih enam bulan! Mereka takut situasi tak terkendali. Aku berusaha keras menyelesaikan proyek penebangan secepat mungkin karena tak ingin terjebak dalam situasi buruk. Apalagi sekarang ada Bua!

Seminggu setelah perkawinanku di dusun Bua, aku membawanya ke luar dari Gunung Purei untuk tinggal di log pond. Sebetulnya, aku ingin membawanya tinggal di sawmill di Jelapat. Di sana ada rumah camp. Sedangkan di log pond cuma rumah bedeng yang terbuat dari kayu seadanya. Tapi, Bua lebih memilih tinggal di log pond.

“Aku belum siap mendampingi Kak Nanang di sawmill. Orang-orang di sana pasti kurang suka dengan kehadiranku. Apalagi kita cuma kawin adat di dusun! Tidak apa tinggal di log pond, sama seperti tinggal di rumah betang. Bahkan, di sini ada Kak Amit. Juga lebih dekat ke Gunung Purei. Setiap hari masih bisa bertemu Ineen di getek,” begitu ia memberikan alasan.

Semula, seluruh isi rumah betang keberatan. Menurut adat mereka, akulah yang ikut berdiam di dalam keluarga besar rumah betang. Dengan susah payah, aku menjelaskan bahwa itu tidak mungkin. Pekerjaan dan tanggung jawabku ada di log pond dan sawmill di Jelapat. Setiap hari aku harus melaporkan hasil pekerjaanku ke kantor cabang di Banjarmasin. Untunglah, Amit, yang sangat mengerti situasi dan kondisi pekerjaanku membenarkan penjelasanku. Terlebih lagi Bua juga mendukungku. Bahkan, begitu girangnya ia ketika kami meninggalkan Gunung Purei!

Sambil memeluk lengan kiriku, ia berkata, “Aku benar-benar meninggalkan Gunung Purei! Aku gembira sekali! Ini mimpiku sejak dulu. Aku ingin seorang laki-laki membawaku ke luar dari sana. Aku tidak tahu kenapa. Tapi, aku sungguh tidak suka dusunku di Gunung Purei. Mungkin karena banyak kejadian tidak enak, ya?” Bua tertawa manja.

“Sekarang kau bersamaku. Tidak ada lagi kejadian tidak enak yang menimpamu. Aku akan melindungimu.” Aku suka melihat barisan giginya yang kecil dan rapi seperti biji mentimun, bila ia tertawa.

“Salah! Aku yang melindungimu! Bukankah aku sudah bersumpah, menanggung semua petaka yang mengenaimu?” ia menukas kata-kataku.

Ck ck ck… bicara apa kau? Kita pengantin baru. Harus bicara yang baik-baik saja,” aku memotong kalimatnya. Dan, Bua menikmati hidup barunya di log pond. Ia istri yang baik. Setiap hari, ia merapikan rumah dan memasak. Ia mencuci baju di tepian log pond. Kadang-kadang juga membantu Paman Tuha memasak untuk seluruh penghuni log pond.

Kandungan Bua memasuki bulan kelima. Dengan perutnya yang membuncit, ia makin menarik. Wajahnya tampak keibuan. Sebetulnya, aku berkeinginan membawanya ke Banjarmasin sebulan sekali untuk memeriksakan kandungannya, tapi Bua menolak. Ia lebih suka pulang ke dusun untuk memeriksakan kandungannya ke dukun beranak, dan meminum ramuan akar-akar dan daun-daun yang dibuat Ineen.

“Kata dukun, anak kita sehat. Ia mulai menendang-nendang. Dan, tendangannya kuat sekali! Mungkin dia laki-laki. Nakalnya, wah! Ineen memberiku jamu dari akar-akar dan daun-daun yang dibuatnya sendiri. Bagus untuk menguatkan peranakan, kata Ineen,” cerita Bua berseri-seri.

“Tapi, kalau sudah saatnya melahirkan, tetap harus ke dokter, Bua….”

Ia tersenyum. “Kak Nanang, dukun beranak di dusun itu sangat ahli! Dia yang membantu Ineen ketika melahirkan aku dan kakak-kakakku. Aku takut dengan dokter. Katanya, dokter di puskesmas Gunung Purei selalu menyuntik orang. Lagi pula, aku tidak suka orang asing,” sambungnya dengan mimik serius.

“Oh, ya, kecuali Kak Nanang tentunya!” ia cepat meralat kata-katanya.

Suasana sepi dan lamunanku buyar ketika sayup-sayup kudengar suara deru speed boat merapat ke dermaga log pond. Siapa gerangan yang datang begitu pagi ke log pond? Kurir dari sawmill di Jelapat? Atau, dari kantor cabang di Banjarmasin? Aku bertanya-tanya dalam hati. Laporan pengiriman kayu kemarin memang belum sempat kukirimkan, karena kami baru selesai mengirim log-log kayu terakhir hampir menjelang subuh. Kupikir, akan kuselesaikan hari ini. Menurut Basri, staf penebanganku di dalam hutan, hari ini pengiriman kayu dari dalam hutan sudah tidak begitu banyak.

Kuperhitungkan, tenggat dari kantor cabang di Banjarmasin, agar proyek penebangan bisa selesai dalam dua atau tiga bulan ke depan bisa kupenuhi bila kiriman log-log kayu dari dalam hutan selancar kemarin. Apalagi belakangan ini, cuaca bersahabat. Hujan tidak pernah turun. Jalan yang kami buka dari dalam hutan ke log pond tidak pernah sebecek musim penghujan. Sehingga, tidak ada halangan yang berarti bagi truk-truk keluar-masuk hutan. Nah, setelah proyek selesai, aku tinggal menyelesaikan urusan administrasi saja.

Setelah itu, aku sudah berencana tinggal di Banjarmasin saja daripada di camp sawmill. Bukankah dua tiga bulan mendatang, Bua melahirkan? Saat ini, kondisinya sehat. Ia tidak pernah terlihat lemas, muntah-muntah, atau bahkan mengidam seperti wanita yang mengalami kehamilan pertama. Hmmm, mungkin anak yang dikandungnya anak baik dan penurut, pikirku. Anak yang tidak menyusahkan orang tuanya, aku tertawa geli dalam hati. Dan, itu anakku!

Ada ketukan di pintu ruang kerjaku.

“Ya?” jawabku segera. Aku membuka pintu perlahan. “Ayah?” seruku terkejut, setengah tidak percaya.

Tiga tahun lebih aku keluar-masuk hutan Bumban, log pond, dan sawmill di Jelapat, tapi Ayah dan Ibu tak pernah menengokku. Padahal, jarak tempuh antara Banjarmasin ke sawmill di Jelapat dengan menggunakan speed boat hanya sekitar tiga puluh menit. Dari Jelapat, bila hendak dilanjutkan ke log pond pun tidak jauh lagi. Apalagi Ayah sering melakukan kunjungan ke hutan-hutan pedalaman. Bukan saja di ibu kota provinsi atau kota besar seperti Palangkaraya, Balikpapan, tapi juga sampai kota-kota kecil seperti Sampit, Muara Teweh, Buntok, Tamiang Layang, bahkan sampai ke Nunukan.

Aku tahu sebabnya. Mereka menyimpan marah besar karena aku lebih memilih hutan Bumban dan menunda perkawinanku dengan Ida. Bahkan, ketika terjadi kecelakaan yang menimpa tangan kananku, mereka shock, namun tetap saja mnyalahkanku! Terlebih lagi, Ida membatalkan pertunangan kami! Ayah dan Ibu menganggap aku mempermalukan mereka. Mereka berharap, sebagai anak laki-laki tertua yang dibanggakan, aku memiliki masa depan cerah sebagai branch manager di Banjarmasin dari sebuah perusahaan kayu besar di Indonesia. Kemudian, mereka bermenantukan gadis paling sempurna: Ida! Tapi, ternyata harapan mereka hancur berantakan!

Jika akhirnya aku memperpanjang kontrak dua tahun lagi, itu pun karena aku lebih menghukum diriku sendiri. Aku bukan anak berbakti. Aku menyadari keputusan memilih hutan Bumban mengecewakan banyak orang! Ya, andai saja aku menikahi Ida, ceritanya tentu lain! Lalu tiba-tiba saja, Ayah berdiri di depanku sekarang! Ada apa?

Kami lama berdiri berhadapan ketika akhirnya aku sadar, sesuatu harus kulakukan. Aku menundukkan kepala dengan hormat mencium telapak tangannya. Saat itu, dadaku didera rasa haru dan bersalah. Sejak kecelakaan yang menghilangkan tangan kananku, aku tidak pernah bertemu Ayah. Aku tidak pernah keluar dari hutan Bumban, log pond, atau sawmill untuk pulang ke Banjarmasin. Aku masih belum siap untuk menyadari, bahwa aku menorehkan rasa kecewa yang dalam di hati kedua orang tuaku!

“Bagaimana keadaanmu?” Ayah menyapaku.

“Baik,” jawabku seraya menarik kursi mempersilakannya duduk.

“Bagaimana situasi pekerjaanmu di sini?” Kali ini aku membaca nada cemas di dalam suaranya. “Kabarnya orang-orang Dayak turun ke kota. Bahkan sampai ke Palangkaraya, Sampit, Samarinda, dan Pontianak. Di Sambas terjadi pertumpahan darah. Mereka memburu kaum pendatang yang lari ke tempat pengungsian. Dan, banyak pula yang dipulangkan ke Jawa dan Madura! Suasana makin tegang, kau tahu?”

Aku mengangguk. “Ulun (saya, bahasa Banjar halus) juga mendengar hal itu. Apakah sudah sampai ke Banjarmasin?”

Ayah menggeleng. “Belum, Banjarmasin masih aman. Tidak terlalu menegangkan. Tapi, kami khawatir keadaanmu.”

“Tidak, tidak apa-apa. Semua baik-baik saja. Kebanyakan pekerja di sini memang orang Dayak. Ada beberapa yang pulang kampung, tapi ada yang melanjutkan pekerjaan. Untuk sementara, kantor cabang di Banjarmasin dan sawmill di Jelapat meminta penebangan dan pengiriman dipercepat. Ulun perkirakan dua sampai tiga bulan mendatang sudah bisa selesai. Bagaimana kabar Ibu dan adik-adik: Rusli, Juwita?“ tanyaku mengalihkan pembicaraan.

“Ibu dan adik-adikmu baik-baik saja. Ibu yang memaksa menengokmu di sini. Kami lama tidak mendengar kabarmu. Setahun lebih kau tidak pulang ke Banjarmasin. Kami cemas. Apalagi ditambah perkembangan situasi yang memanas seperti ini. Dan, mungkin kau belum tahu. Bulan lalu, kami kecelakaan,” cerita Ayah dengan nada berat. “Dan, ada hal yang serius….”

“Hah?” Aku terperanjat. “Kenapa ulun kada (saya tidak) dikabari? Ada kejadian serius apa, Ayah?” potongku tak sabar.

“Ida….”

“Ida?” Nama itu muncul lagi setelah sekian tahun tenggelam!

“Kenapa Ida?” tanyaku datar.

***

“Setelah pertunanganmu dengan Ida batal, hubungan kami dengan orang tua Ida menjadi tidak enak. Kami sama-sama kecewa. Tapi, Ida lebih parah lagi. Ia sakit hati dan merana. Ia begitu mencintaimu, namun justru kau pulang dengan kondisi mengecewakan. Bisa kau bayangkan perasaannya?” Ayah mengulang kisah lama. Membuatku menunduk dalam-dalam dengan perasaan pedih.

Tidakkah kalian tahu, aku lebih sakit dari yang kalian rasakan? Aku lebih merana di hutan Bumban! Bertahun-tahun aku menghukum diri sendiri dengan rasa kecewa yang mendera. Aku lebih sakit! Aku lebih kecewa!

“Kau tahu, Ida mengambil gelar masternya di bidang hukum? Nah, hubungan kami membaik beberapa bulan lalu. Dalam rangka menyusun disertasinya, Ida perlu data pendukung tentang hak ulayat pengelolaan tanah dalam Undang-Undang Pokok Agraria. Kebetulan, Ayah punya informasi data lengkap tentang kondisi tanah dan hutan di seluruh Kalimantan. Kini, Ida sudah menyelesaikan masternya dengan cum laude. Hebat anak itu!” Aku mendengar nada sesal di antara kata-kata pujian Ayah.

“Kalau saja kalian jadi menikah waktu itu! Ya, andai saja, Ida sudah jadi menantuku! Alangkah baiknya!” sambungnya. “Kau tentu bangga punya istri seperti Ida! Bukan saja santun dan cantik, tapi juga punya otak encer! Apalagi ibumu sangat menyayangi Ida. Tapi, sekarang….”

“Ayah, tidak bisakah kita tidak usah membicarakan Ida lagi?” tukasku tidak sabar. Sekian tahun berlalu, penyesalan masih terpelihara di benak orang tuaku. Begitu berartikah Ida bagi mereka? Aku mendengus pelan. Mereka tidak tahu, sekarang ada Bua! Bua istriku, sebentar lagi melahirkan anakku!

Oh, ya? Istri dan calon anak? Benarkah? Bukan sekadar tanggung jawab dari kesalahan yang kau buat? Bukan karena kesepian dan tersirap mantra? Tiba-tiba hati kecilku mengejek.

Jelas karena cinta! Tukasku jengkel. Oh, ya? Lagi-lagi hati kecilku mengolok-olok. Cinta? Lalu, kenapa diam saja? Kenapa tidak bicarakan tentang Bua? Aku terenyak. Seharusnya keberadaan Bua kujelaskan pada Ayah! Tidak mungkin, aku membawa pulang Bua ke Banjarmasin tanpa menjelaskan tentang dirinya. Aku harus menjelaskan perkawinanku dengan Bua di dusun. Aku calon ayah dari si kecil yang ada dalam kandungan Bua. Aku harus menjelaskan ….

“Ida buta!” suara Ayah mendesis pelan, memutus debat di dalam hatiku.

“Apa?” Aku terkejut seperti disengat lebah.

“Ida buta!” Ayah mengulangi ucapannya dengan nada berat.

“Buta? Buta bagaimana? Ida tidak bisa melihat?” tenggorokanku mendadak kering melihat anggukan Ayah.

Tak bisa kupungkiri, Ida pernah menjadi perempuan terkasih di hatiku. Aku pernah membangun angan rumah masa depan bersamanya. Tetapi, Ida juga pernah menyakitiku….

“Mengapa? Kenapa hal itu bisa terjadi?” suaraku terdengar gemetar.

“Bulan lalu Ida lulus cum laude. Untuk merayakan keberhasilan putrinya, mereka lalu mengundang kami untuk melihat hasil panen tambak ikan di Martapura. Tentu saja kami setuju!”

Lalu Ayah menceritakan bahwa mereka pergi bersama-sama ke Martapura. Suasana santai dan ceria. Ayah Ida berdiskusi tentang rencana perluasan tambak ikan dan tambak udangnya. Sedangkan para ibu dan Ida lebih banyak membahas cara memasak ikan dengan bumbu-bumbu yang komplet. Ikan digoreng, dibakar, bahkan sampai dipais. Mereka bersama-sama menghabiskan hari yang menyenangkan itu.

“Kami pulang menjelang magrib dalam satu mobil. Ida yang menyetir. Memasuki Banjar Baru, tiba-tiba sebuah truk pengangkut batu bara tergelincir dari arah depan dan menubruk mobil yang kami tumpangi dengan keras! Kecelakaan hebat tak bisa dihindari. Mobil terseret jauh, terguling, dan kaca-kaca pecah berhamburan, hingga penyok, dan berhenti menghantam pohon….”

“Ayah dan Ibu serta Ibu Arifin yang duduk di belakang, hanya luka-luka kecil dan memar. Pak Arifin, ayah Ida, sempat diopname di rumah sakit karena ada beberapa tulang yang patah dan luka serius karena ia duduk di depan. Yang kasihan adalah Ida. Ia yang paling parah!”

“Wajahnya hancur terkena pecahan kaca, selain menderita gegar otak. Ida mengalami perdarahan hebat sehingga sempat koma dan mengalami pembedahan serius di Rumah Sakit Suaka Insan di Banjarmasin. Untunglah masa krisisnya sudah lewat, hanya saja… matanya tidak bisa melihat lagi!”

Ah, tak bisa kubayangkan wajah cantik Ida penuh parut luka dan jahitan. Belum lagi matanya…. Masih kuingat jelas, mata indahnya yang menyorotkan kekecewaan karena aku meninggalkannya masuk ke dalam hutan Bumban.

“Ida tahu?” tanyaku dengan hati nyeri.

“Tentang matanya yang buta ia tahu. Juga luka-luka di wajahnya. Ida bisa merabanya. Ayah kasihan melihat penderitaannya. Ia sudah pulang ke rumah dan lebih banyak mengurung diri. Padahal, setelah meraih gelar master, Ida berencana menjadi dosen di Universitas Lambung Mangkurat. Nang, Ayah pikir Ida membutuhkan dorongan agar semangatnya pulih kembali.”

Aku tergugu. Aku pun pernah mengalami masa sulit seperti itu, Ayah! Dan, aku mengharapkan Ida memberikan semangat. Tapi ternyata, justru pil pahit kuterima: kekecewaan! Gadis itu membuat luka di hatiku lebih parah dibanding luka buntung tangan kananku. Aku ingin mati karena merana, tapi ajal tidak datang begitu saja. Sampai Bua datang….

“Tidak bisakah matanya disembuhkan dengan operasi?” Aku menghindar tawaran Ayah.

“Bisa sebetulnya. Bila ada donor mata.”

“Nah!” Tak sadar aku menepuk punggung meja keras-keras.

“Tapi, Ida menolak! Katanya, ia belum siap. Ia masih terguncang hebat karena kecelakaan itu. Ya, andai saja, bukan Ida yang menyetir mobil itu,” Ayah bergumam pelan.

Kami tepekur. Aku tidak tahu, apa yang memenuhi benak Ayah. Tampak sekali penyesalannya yang dalam atas peristiwa yang menimpa Ida. Sejak ia bercerita, aku terlalu banyak mendengar kata ‘andai’ keluar dari mulutnya. Ya, aku bisa mengerti. Sebetulnya ini tidak perlu terjadi, ‘andai’ saja tiga tahun yang lalu aku tidak mengambil keputusan yang keliru.

Ah, ternyata aku ‘ketularan’ Ayah berandai-andai! Aku pun menyimpan sesal yang sama. Andaikan semua ada gunanya? Apakah rasa sesal itu bisa mengembalikan sang waktu? Sekarang ada Bua dalam kehidupanku. Dan, seorang bayi mungil akan lahir. Anakku! Aku menghela napas panjang.

Tepatkah saatnya ini jika aku menjelaskan keadaan kami pada Ayah? Aku mereka-reka. Cepat atau lambat, aku harus memberitahukan tentang Bua dan calon cucunya. Tapi, bagaimana caranya menjelaskan begitu banyak kejadian yang terjadi di luar dugaanku sendiri?

“Apakah kau tidak ingin menengok Ida dan menghiburnya?” suara Ayah membuatku terperangah. “Ida mantan tunanganmu. Walau ia pernah mengembalikan cincin, Ayah rasa, ia hanya kecewa dengan keputusanmu. Jangan salahkan dia dan menyimpan dendam kepadanya, Nang.”

Sama sekali tak terlintas di pikiranku! Aku sibuk memikirkan bagaimana cara menjelaskan keberadaan Bua kepada orang tuaku. “Ulun kada (tidak) dendam. Tapi, apa Ida mau menerima kedatanganku? Dahulu saja….”

“Dulu berbeda dengan sekarang, Nanang,” tukas Ayah. “Dulu Ida sehat, sekarang buta. Dulu Ida kecewa, sekarang putus asa. Ida butuh seseorang untuk menghiburnya.”

Aku mendengus. “Saat aku membutuhkan dorongan dan hiburannya, ia malah membuangku,” tukasku kesal.

“Nanang! Itu salahmu! Masuk hutan itu pilihanmu. Bukankah ia sudah mengatakan keberatannya waktu itu?” Ayah membuatku terpojok. “Anggaplah kau mengunjungi teman lama, Nang. Apa kau tidak merasa prihatin?” suara Ayah meninggi. Agaknya ia mulai kehilangan kesabarannya.

Aku tak mampu menjawab. Masa lalu dan masa datang, sudah tidak bisa kupikirkan dengan jernih. Ida dan Bua. Bua dan Ida. Keduanya bergantian mengimpit dadaku!

Ulun masih kada tahu. Nanti ulun pikirkan dan atur waktunya,” akhirnya aku memutuskan untuk tidak mengecewakan Ayah kesekian kalinya.

Saat itulah aku mendengar langkah ringan melintas dekat jendela. Aku menangkap sesosok bayangan. Bua! Aku yakin, ia mendengarkan semua yang kami bicarakan! Padahal, aku tidak pernah menceritakan keberadaan Ida. Bua pun tak pernah bertanya apa-apa. Yang ia tahu, hanyalah menggembirakan hatiku. Hingga Ayah pulang, tidak terlintas sedikit pun nama Bua dalam pembicaraan kami. Hari itu berlalu membingungkan….

Hampir dua tahun aku tak pernah mengunjungi rumah Ida lagi. Tapi, sekarang gadis itu duduk di depanku dengan pandangan nanar tidak bersinar. Wajahnya hancur dengan bekas-bekas jahitan yang masih tampak baru! Hatiku pedih melihat keadaannya. Aku memperhatikan dirinya lebih teliti. Ida kelihatan kurus. Pipinya cekung dan bibir yang indah dulu begitu pucat. Di kening sebelah kiri atas matanya, tampak luka parut memanjang sampai ke pelipis. Sementara di pipi kanan parutan jahitan panjang sampai di kelopak mata.

“Wajahku kelihatan jelek, ya?” suaranya terdengar pahit.

Aku berhenti memperhatikan wajahnya dan tanpa mampu kucegah menghela napas panjang. Bukankah orang cacat selalu memiliki kepekaan lebih daripada orang normal? Bukankah aku juga pernah mengalami hal serupa?

“Tidak. Biasa saja,” jawabku.

Ida tertawa sumbang, lalu berbicara dengan nada sinis. “Kau bohong….”

“Tidak. Apa adanya saja….”

“Kau cuma menghiburku….”

“Tidak. Aku pernah merasakan hal yang sama. Dan, aku juga tidak suka dikasihani atau dihibur dengan kata-kata klise,” sambungku.

Ia mendengus. “Tidak sama dengan apa yang aku rasakan,” tegasnya sangar.

“Bagaimana keadaanmu?” tanyaku mengalihkan pembicaraan. “Kabarmu baik?”

“Baik?” Ida menukas dengan suara tinggi. “Mungkin kau sama butanya dengan aku! Tidakkah kau lihat keadaanku sekarang? Keadaan begini yang kau katakan ‘baik’?” ia menyembur berapi-api. Tanpa bisa dibendung, air matanya tumpah di pipi. Keangkuhannya yang selama ini aku kenal, runtuh dalam derai air mata. Ida sekarang rapuh dan tak berdaya. Tiba-tiba ia mengembuskan napasnya kuat-kuat. “Pulanglah, Nang! Mungkin lebih baik aku mati saja. Aku tidak tahan begini,” ujarnya dengan nada gemetar.

Sampai aku pulang, tidak banyak yang kami bicarakan. Tapi, pertemuan dengan Ida terbawa hingga aku berada di log pond. Aku tak bisa melupakan nada pilu suaranya yang nyaris tanpa harapan hidup. Tangisnya terngiang menembus lingkaran kabut di rimbun hutan Bumban. Seakan-akan akulah yang terluka.

Hitung-hitung kemudian, sudah empat kali dalam sebulan ini aku ke Banjarmasin. Memang untuk menyelesaikan administrasi pekerjaanku. Log pond sudah bersiap-siap ditutup. Proyek penebangan hutan Bumban sudah selesai. Lebih cepat satu bulan dari waktu yang aku perkirakan. Aku bahkan sudah menyelesaikan pembayaran upah para pekerja. Yang tertinggal hanya beberapa orang staf inti. Tapi, itu juga berarti aku makin sering mengunjungi Ida. Padahal, sungguh aku tidak tahu, apa yang mendorongku berbuat begitu!

***

Bua ingin pulang ke Gunung Purei, tapi aku bertekad membawanya ke Banjar masin. Hingga kecelakaan itu terjadi! Kutuk dan balakah yang menimpa kami?

Semua kegiatan di log pond hampir selesai. Kegiatan penebangan sudah berakhir. Pengiriman kayu ke sawmill tinggal memakan waktu beberapa hari saja. Aku sudah mengatakan pada Bua, bahwa dalam beberapa minggu ke depan, kami harus pindah ke Banjarmasin.

“Tidakkah lebih baik jika kita tinggal di Gunung Purei?” ia pernah berkata begitu padaku.

“Di Gunung Purei?” Aku mengeryitkan dahi.

Ia mengangguk polos. “Ada Ineen. Kita bisa tinggal di rumah betang. Sehabis melahirkan, aku bisa kembali bekerja di ladang. Biar anak kita dijaga Ineen.”

Aku memandangnya bingung. Sesederhana itukah angan-angannya?

“Lalu, bagaimana aku?” tanyaku.

“Kak Nanang bisa membuka ladang. Aku akan membantu Kak Nanang. Jika anak kita laki-laki, sebentar saja ketika beranjak remaja, ia sudah bisa membantu Kak Nanang membuka ladang. Jika ia anak perempuan, aku akan mengajarinya mengirim nasi ketan dan air minum di dalam bambu,” jawabnya tersenyum manis. Aku melihat mimpi tentang hari esok yang sangat sederhana di matanya.

“Aku membuka ladang?” Aku terbahak tanpa mampu kutahan.

“Kenapa?” Bua menatapku heran. “Di sini Kak Nanang menebas hutan dan menebang kayu. Sama saja, ’kan?”

Aku tertawa geli. “Di sini semua memakai mesin. Lihat! Ada mesin gergaji, mesin pemotong, capit raksasa, dan pekerja-pekerja. Bukan aku yang mengerjakan semua itu. Aku seorang kepala proyek di sini.”

Ia mengernyitkan kening.

“Selain itu, coba lihat! Aku hanya punya satu tangan!” seruku menambahkan. “Mana bisa aku menebang dengan kapak? Menebas dengan arit? Memanggul kayu?”

“Sudah kubilang, aku akan membantu Kak Nanang.”

“Bua, Bua, tidak ada perempuan membuka ladang,” jawabku sambil mengelus kepalanya dengan rasa sayang. Hatiku iba mendengar jawabannya.

“Tidak apa-apa,” sahutnya pelan.

“Sebaiknya kita ke Banjarmasin,” ujarku.

Ia menoleh menatapku dalam-dalam. Aku tidak mengerti artinya.

“Kau tidak suka?” tanyaku.

Dia cuma diam. Menunduk.

“Di Banjarmasin, aku punya pekerjaan. Aku tidak perlu membuka ladang. Kau bisa beli pakaian-pakaian bagus. Bisa berdandan agar lebih cantik….”

Tapi, ia diam saja. Aku melihat pancaran ragu terbayang di wajahnya.

“Oh,ya, kau juga bisa rutin memeriksakan kandunganmu ke dokter. Tinggal beberapa bulan lagi kita menjadi ayah dan ibu. Nah! Kita akan punya anak. Lalu anak kita akan sekolah,” kataku, mengalihkan perhatiannya.

Kali ini, ada senyum kecil menghiasi bibirnya. Aku berhasil membuatnya tersenyum. Selalu begitu. Bua tampak bahagia bila membicarakan tentang masa depan anak kami. Tangannya mengelus-elus perutnya yang membuncit. Mimiknya terlihat lucu. Seakan-akan sedang mengajak bayi di dalam perutnya bercanda. Aih, aura keibuan terlihat memancar kuat dari raut wajahnya.

“Ya, ya, anak kita harus sekolah yang tinggi. Dia harus pandai seperti Kak Nanang. Jangan seperti aku,” ujarnya seraya tertawa geli sambil mengangkat bahunya.

“Siapa bilang tidak boleh seperti kau? Aku justru ingin anak kita seperti kau. Baik budi dan penuh cinta kasih,” tukasku.

Bua memicingkan mata dan meraih tanganku. Membawanya ke atas perutnya. “Coba rasakan, ini tendangannya! Sampai-sampai perutku benjol! Wah, nakal sekali! Ini tidak seperti aku. Kata Ineen, aku anak penurut.”

Aku tertawa mendengar celotehnya. Lalu menjawab, ”Oh, ya, aku mempunyai sebuah rumah kecil yang kucicil dari dulu. Kita bisa tinggal di sana. Tapi, kurasa, sementara kita lebih baik tinggal bersama Ayah dan Ibu dulu. Biar mereka bisa lebih mengenalmu. Dan, kau bisa lebih dekat dengan mereka. Bukankah juga lebih baik, bila ada Ibu yang menjagamu? Kandunganmu sekarang sudah memasuki bulan ketujuh….”

Bua menghela napas panjang. Dengan nada berat ia bersuara, “Apakah mereka akan menyukaiku?”

“Pasti! Pasti suka! Kau istri yang baik!” tukasku cepat. Walau sebenarnya, terus terang saja, benakku masih belum tahu bagaimana harus menjelaskan keberadaan Bua kepada Ayah dan Ibu.

Nggg… tapi aku lebih suka di Gunung Purei,” gumamnya pelan.

Aku tertawa kecil sambil menepuk punggung tangannya. “Hei! Ingat? Bukankah kau pernah bilang bahwa kau sangat ingin keluar dari Gunung Purei? Bukankah kau pernah bilang bahwa Gunung Purei selalu membuatmu merasa tidak nyaman? Nah, sekarang kita akan pergi jauh-jauh dari Gunung Purei.”

Bua tersenyum kecil. Ia menjawab sambil menunduk. “Ya, benar begitu. Tapi, entahlah, aku juga tidak mengerti. Aku merasa lebih gelisah bila membayangkan Kak Nanang membawaku ke Banjarmasin. Aku tidak pernah hidup di kota. Aku takut dengan orang-orang kota….”

“Itu hanya sementara. Tidak lama kemudian, kau pasti sudah bisa menyesuaikan keadaan.”

Nggg, tapi… ah, perasaanku tidak nyaman,” Bua tidak mampu menyembunyikan kegelisahannya. Matanya yang biasanya indah kelihatan menggelepar. Wajahnya yang biasanya sumringah terlihat bingung dan murung. Senyumnya yang biasanya selalu merekah, menjadi tawar….

Aku ingat, beberapa hari yang lalu, Bua berkata padaku, “Kak Nanang, bagaimana jika aku ikut Ineen pulang ke Gunung Purei?”

“Maksudmu?” tanyaku bingung.

Ineen tidak keberatan jika aku kembali ke Gunung Purei.”

“Maksudmu?” aku mengulangi pertanyaanku dengan bingung.

“Ah, perasaanku tidak nyaman bila harus ikut Kak Nanang ke Banjarmasin. Bagaimana kalau aku tetap tinggal di Gunung Purei….”

“Dan, aku tinggal di Banjarmasin, begitu? Begitu maksudmu?” sambarku sedikit berang.

Ia hanya tertunduk sambil menggigiti bibirnya.

“Mana bisa begitu, Bua?” sergahku. “Kau istriku! Ke mana pun aku pergi, kau harus bersamaku.”

“Tapi, perasaanku tidak enak sekali, Kak Nanang! Aku takut terjadi sesuatu di Banjarmasin. Aku… tidak ingin ada sesuatu yang menimpa kita.”

“Maksudmu?”

“Kutuk Jue… kutuk Demang…. Aku pembawa sial….”

“Ah, itu lagi!” sergahku. “Lihat, di sini kita bahagia, bukan? Di Banjarmasin juga kita pasti bahagia! Kenapa? Karena kebahagiaanku adalah bersamamu, Bua!”

“Tetapi, di sini ada belian. Bila ada apa-apa, ada belian. Lagi pula, kutuk itu sudah dikurung. Tapi, kalau kita melangkah ke luar Gunung Purei, kutuk itu menjadi bebas. Kutuk itu akan bekerja lagi…. Aku, ah….”

Aku memandangnya dengan bingung. Sama sekali tidak mengerti apa yang dipikirkannya.

“Walaupun aku sudah bersumpah bahwa aku akan menggantikanmu bila terjadi musibah yang menimpa Kak Nanang. Tapi, bukan itu yang kita inginkan, bukan? Kita ingin hidup tenang, damai, dan bahagia sampai tua. Aku ingin bersama Kak Nanang selamanya. Sampai menjadi nini-nini (nenek) dan kai-kai (kakek).”

Aku merangkulnya. Mengelus-elus punggungnya. “Tenanglah. Tidak akan terjadi apa-apa….” Tapi, walau aku berusaha menenangkannya, aku sendiri pun sebetulnya dilanda bingung. Bukan kebingungan yang sama seperti yang dirasakan Bua tentang kutuk Jue dan Demang, tetapi bingung menjelaskan keberadaan Bua kepada orang tuaku….

Tetapi, itu harus! Tekadku. Aku tidak bisa menyembunyikan keberadaannya berlama-lama. Itu tidak fair untuknya. Aku berutang banyak padanya. Bua datang di saat semua gelap bagiku. Ia datang dengan segala kesederhanaannya, tapi kaya dengan pengharapan. Adakah utang yang melebihinya di saat kita berada di dalam kegelapan dan sendiri, ternyata ada seseorang datang mengulurkan pengharapan?

Perempuan ini sungguh berarti bagiku. Cinta kasih dan kesabarannya yang tulus, serta kesederhanaannya membuatku keluar dari kungkungan kegelapan dan rasa putus asa. Ia menumbuhkan rasa percaya diriku lagi. Di hadapannya, aku sungguh-sungguh menjadi laki-laki utuh. Terlebih ia mengandung anakku.

Tiba-tiba sebuah suara lantang tergopoh-gopoh membuyarkan debat di hatiku. Suara langkah kaki dengan derap tergesa terdengar nyaring beradu dengan lantai kayu. “Pak Nanang! Pak Nanang! Astaga!” suara Paman tuha panik memanggilku. Laki-laki tua itu menerobos masuk ke ruang kerjaku dengan napas tersengal-sengal. Raut wajahnya panik.

“Ada apa?”

“Astaga! Bua… Bua…!” sahutnya terbata-bata.

Sontak aku berdiri. “Kenapa Bua? Di mana Bua?”

“Jatuh terpeleset. Di… di…,” jawabnya gugup tanpa bisa mengucapkan akhir kata-katanya. Hanya tangannya yang menunjuk ke arah tepian sungai.

“Astaga!” Dengan wajah pucat aku langsung berlari.

“Perdarahan….” Ucapan Paman tuha yang mengambang kemudian sempat mampir di telingaku dan membuatku makin menghambur bagaikan terbang. Rasa panikku makin menjadi-jadi ketika melihat Bua tergeletak tak berdaya di bibir log pond. Hanya ada Amit dan Basri duduk di sisinya. Wajah keduanya pun bingung tanpa melakukan apa-apa. Sementara itu, darah segar mengucur deras di paha sampai ke kaki Bua. Tubuhnya basah karena air dan darah. Wajahnya pucat. Matanya bersinar panik.

“Kak Nanang, tolong… tolong… anak kita…,” ia tersendat menahan tangis. “Tolong, panggilkan dukun beranak di Gunung Purei…,” desahnya lemah tanpa daya.

Aku menggelengkan kepala. “Tidak. Tidak, Bua! Tidak usah panggil dukun. Ayo, kuatkan dirimu. Kita segera ke Banjarmasin. Kau harus dibawa ke rumah sakit! Cepat, siapkan speed boat!” perintahku kepada Amit dan Basri setelah aku bisa menguasai diri dari rasa panikku.

“Tidak. Tidak! Tidak, Kak Nanang! Aku mau ke Gunung Purei saja…,” Bua mencengkeram lenganku.

“Astaga, Bua! Di Banjarmasin ada rumah sakit. Ada dokter yang ahli. Mereka pasti bisa menolongmu dan anak kita!”

“Aku ingin ke Gunung Purei. Ke Ineen….”

***

Tidak ada waktu untuk berdebat. Aku sungguh khawatir dengan keadaannya. Terlebih lagi dengan keadaan anak dalam kandungannya. Ah, itu anakku! Anak pertamaku! Dengan dibantu Amit yang masih berdiri dengan wajah ragu, aku memapah Bua masuk ke dalam speed boat yang tertambat di bibir log pond. Aku lalu meletakkan kepala perempuan terkasih itu dengan hati-hati di atas pangkuanku. “Bertahanlah, Bua. Bersabarlah. Tidak akan terjadi apa-apa. Anak kita pasti bisa diselamatkan,” ujarku, kemudian memerintahkan Basri untuk segera menstarter mesin speed boat.

“Ke Gunung Purei…,” ia mendesah lemah.

Tanpa menghiraukan kata-katanya, aku memerintahkan Basri menjalankan speed boat menuju arah Banjarmasin. Speed boat langsung melaju membelah Sungai Barito dengan kecepatan tinggi. Mesin speed boat terdengar meraung-raung. Kelotok (perahu dengan mesin dinamo kecil) dan getek yang berpapasan dengan speed boat terombang-ambing dengan keras. Air sungai yang cokelat membuncah menjadi buih berwarna putih.

Yang ada di dalam pikiranku hanyalah bagaimana bisa secepat mungkin sampai di dermaga kantorku di Banjarmasin, lalu segera membawa Bua ke Rumah Sakit Suaka Insan untuk mendapatkan perawatan. Rasanya, aku tidak bisa mengampuni diriku sendiri bila sampai terjadi sesuatu dengan dirinya!

Perjalanan menuju Banjarmasin kurasakan lama sekali. Apalagi Bua di atas pangkuanku berulang kali merintih, memejamkan mata sambil menggigit bibirnya sendiri sampai putih karena menahan sakit. Sementara tangannya memegang perutnya dan tangan yang satu lagi mencengkeram lenganku. Darah masih mengucur deras di sela-sela pahanya. Dan, peluh berbintik-bintik di dahinya.

“Cepat, Basri! Cepat!” seruku panik. Melihatnya menderita, aku seakan-akan ikut merasakan sakitnya. Menatap matanya yang begitu memelas, aku juga merasakan kecemasannya. Satu-satu helaan napasnya membuat dadaku terasa lebih sesak. Butir-butir keringatnya berpacu dengan pecahan buih air Sungai Barito.

“Masih lama? Masih jauh?” tanyaku bertubi-tubi dengan tidak sabar.

“Sebentar lagi, Pak. Sawmil sudah kita lewati. Sebentar lagi sampai. Di depan sudah kelihatan bayangan titik dermaga,” jawab Basri sambil meninggikan kecepatan.

“Aku takut, takut… anakku…,” desah Bua lemah dengan berlinang air mata.

“Tidak akan terjadi apa-apa dengan anak kita!” tandasku seraya membesarkan hatiku sendiri.

“Aku takut… takut… kutuk Jue, Kak Nanang!” Air matanya makin deras.

“Ah!” sergahku kacau. Bua bicara soal kutukan itu lagi! Aku bingung bagaimana menenangkannya karena untuk menenangkan hatiku sendiri pun tak sanggup. Begitu bertubi-tubi loncatan-loncatan peristiwa berkelebat di kepalaku!

Masuk hutan Bumban, tangan buntung, lalu bertemu ‘Kembang Gunung Purei’, Bua. Dan, kawin adat di dusun tanpa restu orang tuaku, kutuk Jue, doa-doa belian yang berkumandang, asap dupa, wangi bunga, hingga mimpi-mimpi mengerikan yang kualami: pengantinku berdarah! Kemudian…. Aku memejamkan mata.

Bua hamil dan Ayah tiba-tiba datang membawa berita: Ida buta! Lalu, pergolakan di pedalaman, proyek selesai, namun aku masih juga menyembunyikan keberadaan Bua. Dan, datangnya hari ini! Bua mengalami perdarahan hebat! Ah, apa arti semua ini? Apakah benar kutuk itu mulai bekerja? Apakah benar sesuatu yang buruk akan terjadi? Semua kejadian melintas bagaikan tebaran serbuk pasir di atas lautan bergolak. Berhamburan lalu langsung lenyap disergap gelombang ombak.

Gelombang? Ombak? Begitu tiba-tiba tampak di depanku gelombang ombak menggulung tinggi. Mengangkasa. Lalu, pecah berpendar. Sejenak terdengar suara riuh-rendah. Bunyi kayu berderak. Bunyi air membuncah. Ada sinar berkilau, semburatkan warna merah… darah!

Ya, bau amis darah menyergap penciumanku! Darah apakah ini? Dari mana datangnya? Darah ular dari cawan yang kuminum saat hari pengantinku? Atau, darah Bua yang mengalir dari sela-sela pahanya? Darah… calon anakku?

Tubuhku terasa ringan melayang. Dan, ada yang terasa terlepas. Genggaman jemari Bua-kah? Aku melihat ragaku terhempas keras jatuh dari ketinggian. Byurrr! Seperti log kayu yang baru diturunkan dari tank boat meluncur ke dalam sungai. Membuncah keras. Tenggelam sejenak. Lalu terapung-apung. Sungai merona merah… darah….

Sayup-sayup, tapi nyata aku mendengar suara orang-orang ramai melompat ke dalam sungai. Aku merasakan tubuhku terangkat. Tapi, aku lemas tidak berdaya. Jiwaku melintasi batas nyata dan maya. Semuanya terjadi begitu cepat! Apa yang terjadi padaku?

“Astaga, kasihan!”

“Wah! Kenapa mesti dihantam speed boat lain dari pinggir?”

“Mengapa laju speed boat ini begitu cepat?”

“Rupanya ia tidak melihat speed boat lain melaju dari sisi sebelah sini….”

“Cepat! Panggil dokter, siapkan ambulans!”

“Ada empat orang! Yang satu ini, ughh! Lukanya parah sekali! “

“Bisakah ia diselamatkan?”

“Lihat, ada seorang perempuan! Sedang hamil pula!“

“Siapa dia? Cepat, cepat! Selamatkan perempuan itu, anaknya….” Suara-suara itu berkumandang dan mendengung memenuhi gendang telingaku. Terdengar sibuk dan bising sekali! Belum lagi ditambah suara raungan sirene ambulans. Apa yang terjadi?

Aku melayang dengan ringan tanpa rasa sakit. Aku melihat jelas kesibukan orang-orang yang berkerumun di dermaga speed boat di samping kantorku. Puing-puing kayu speed boat mengambang di permukaan sungai bercampur warna merah dan bau amis darah serta solar yang tumpah.

Langit dan lantai serasa berputar-putar. Kepala di bawah. Kaki di atas. Perutku mual. Detak jantungku serasa meloncat-loncat. Paru-paru terasa mengelembung bagaikan balon hendak pecah. Sebentar lagi, seakan-akan mengisut seperti balon kehabisan udara. Kemudian, seolah jutaan jarum menusuk kepalaku. Sakitnya, duh! Nyeri! Berpendar-pendar dengan macam-macam cahaya. Silau. Tetapi, aku tetap tidak mampu membuka mata.

Astaga, inikah batas antara hidup dan mati? Beginikah yang namanya sekarat? Begini sakitkah rasa mempertahankan hidup? Begini sakitkah mempertahankan seuap napas? Napas… yang membedakan antara hidup dan mati! Aku merasakan batas antara hidup dan mati begitu tipis dan dekat. Seakan tiada beda!

“Jangan khawatir, Bu. Keadaannya mulai membaik. Masa kritisnya sudah lewat. Biarkan saja ia beristirahat. Kami akan memantau perkembangannya. Jika bisa melewati satu kali dua puluh empat jam, saya rasa tidak perlu terlalu khawatir. Saya harapkan, ia bisa sadar sebelum itu. Kemudian kami baru akan meneruskan pemeriksaan lanjutan.”

“Terima kasih, Dokter.”

Itu suara ayahku! Sementara isak tangis Ibu masih terdengar dekat di sisi telingaku.

“Marilah kita sama-sama berdoa. Keadaannya masih jauh lebih baik daripada orang yang mengemudikan speed boat atau wanita hamil itu! Keduanya masih koma. Kami pantau ketat di ICCU, karena kami tidak harapkan terjadi sesuatu yang buruk.”

“Ya. Kami sangat terkejut ketika kantor Nanang menelepon ke rumah, mengabarkan bahwa Nanang mengalami kecelakaan di dermaga! Saya dan ibunya langsung kemari. Nanang sama sekali tidak cerita, ia akan pulang ke rumah hari ini. Rencananya, kontrak kerjanya berakhir bulan depan. Dan ia mengatakan pada saya, bahwa bulan depan baru pulang ke Banjarmasin.”

“Oh, ya! Siapa wanita itu? Bapak mengenalnya? Tahu keluarganya?”

“Tidak, Dok. Kami sama sekali tidak mengenalnya….”

“Baiklah, tidak mengapa. Nanti saya tanyakan pada kantor Pak Nanang.”

“Katanya, dia dalam keadaan hamil tua. Bagaimana dengan bayinya, Dok?”

“Syukurlah, tidak apa-apa. Bayi laki-laki itu sehat dan hebat!”

“Kasihan…,” kali ini aku mendengar helaan napas ibuku.

Kasihan? Ibu kasihan pada Bua dan bayi yang dilahirkannya? Itu anak dan istriku, Bu ! Tapi, lidahku terasa kelu. Aku tidak sanggup berkata-kata.

“Bua…,” tiba-tiba saja lidahku yang kaku mencetuskan nama itu! Sungguh-sungguh suatu kekuatan luar biasa yang mendorong bibirku menyebut nama Bua. Keluar dari dasar hatiku yang terdalam! Aku meneriakkan namanya dengan seluruh udara yang tersisa di dalam paru-paruku! Dengan susah payah aku berhasil juga mencetuskan nama itu dengan seluruh limpahan kasih sayang dan pengharapan di dadaku!

Ah, begitu panjang dan sakitkah perjuanganku hanya untuk mengucapkan sebuah nama? Nama dari perempuan terkasih itu! Aku tidak mau mati, Bua! Aku ingin selalu bersamamu. Bersama anak kita. Dan, tanpa bisa kucegah, terngiang kembali semua kata-kata Bua….

Aku yang akan melindungimu. Bukankah aku sudah bersumpah, akan menanggung semua bala, petaka, dan musibah yang akan mengenaimu? Ya, perasaanku tidak enak sekali, Kak Nanang. Aku takut terjadi sesuatu di Banjarmasin. Aku… aku… tidak ingin ada sesuatu yang menimpa kita! Kutuk Jue, kutuk Demang. Aku ini pembawa sial….”

“Bawalah aku pulang ke Gunung Purei, Kak Nanang. Di sana ada belian. Bila ada apa-apa, ada belian. Lagi pula, kutuk itu sudah dikurung. Tapi, kalau kita melangkah ke luar dari Gunung Purei, kutuk itu menjadi bebas dan bekerja lagi….”

Ah, benarkah kutuk itu yang terjadi sekarang? Di mana belian? Di mana senjang? Di mana nyahuq (firasat)? Di mana semua upacara selamatan itu? Astaga! Saat udara yang meniup tipis di ujung hidung yang disebut napas ini berhenti, atau masih mengembuskan sedikit udara, yang ada di dalam gejolak rohku hanyalah keinginan untuk bersama dengan Bua. Hidup atau mati. Tidak ada bedanya.

Rohku mengejawantah mencari Tuhan….

Tuhan Yang Mahabesar. Dia-lah yang punya kuasa untuk menghentikan detak jantung yang masih melompat-lompat ini. Dia-lah yang mampu menghentikan paru-paru yang masih mengembang mengembuskan aliran udara kecil ke ujung hidung. Ya, hanya Dia. Tuhan Allah-ku.

Tanpa mampu kucegah, air hangat mengalir dari sudut mataku yang terpejam. Kesedihan terasa mencukili segenap hatiku sampai ke ujung-ujungnya. Membuatnya terasa ngilu.

“Pak Dokter! Nanang!” Tiba-tiba aku mendengar Ibu berteriak.

“Buaa…,” kuulang lagi menyebut nama itu dengan seluruh kekuatan yang tersisa. Bahkan jika mampu, ingin kusebut nama itu puluhan kali, ratusan kali, ribuan kali, bahkan jutaan kali. Biar semua orang tahu, betapa berartinya nama itu bagiku! Biar semua orang tahu, tidak ada bedanya antara mati dan hidup asalkan aku bisa bersama Bua!

Aku berusaha membuka kelopak mataku. Aku ingin bangun dan mencari Bua. Samar-samar aku melihat wajah ayah dan ibuku, dokter, dan para perawat yang berbaju putih. Mereka kelihatan lega dan terkejut menatapku.

“Nanang…,” suara ibuku terdengar tercekat.

“Tenanglah, Bu. Tenang. Pak Nanang sudah sadar, lebih cepat dari waktu yang saya perkirakan. Biarkan sekarang dia beristirahat. Kondisinya lemah sekali. Mudah-mudahan saja besok kondisinya sudah jauh lebih baik,” dokter itu berkata.

Ah, apa arti ucapannya? Sudah kembali kepada Sang Kehidupan-kah aku?

“Bua istriku…. Dan, bayi itu anakku….” Aku mendengar suaraku menggema parau. Seolah-olah datang dari dalam lorong yang sangat jauh. Seakan-akan datang dari belahan dunia lain. Sebuah pengakuan yang terlambatkah kata-kata yang baru kuucapkan? Sebuah pengakuan pada saat yang salahkah?

Aku tidak tahu. Aku sungguh tidak tahu. Karena sebetulnya, aku punya kata-kata lebih banyak daripada hanya sebuah pengakuan. Kata-kata tentang cinta. Cerita tentang asa. Tetapi, tidak ada yang mampu kuutarakan. Yang kurasakan hanya seluruh hatiku. Terasa nyeri dan ngilu. Air mataku merembes, dan mengalir menganak-sungai, dari ujung mata membasahi seluruh wajahku. Tanpa bisa kucegah.

Pada saat-saat seperti ini, sungguh! Aku menyadari, ternyata cinta — lebih dari sekadar kata-kata! Lebih dari sekadar ucapan semata! Cinta adalah perbuatan yang nyata! Dan, suasana mendadak hening serta senyap ketika aku mengakhiri kata-kataku tadi. Lalu dengan segenap kekuatan yang tersisa, aku menganggukkan kepala sekali lagi untuk meyakinkan mereka. “Ya, dia… Bua… istriku. Dan, anakku….”

Hanya itu. Kepalaku kembali terasa berputar. Semuanya kembali terlihat samar. Aku menutup perlahan kelopak mataku dengan sejuta rasa lelah. Ya, hanya itu kata-kata terakhir yang mampu kuucapkan sebelum aku kembali terlelap. Aku tidak tahu untuk berapa lama.

Tamat

0 Response to "Kembang Gunung Purei"

Post a Comment