Download applikasi baca novel online untuk android disini: DOWNLOAD

The Wednesday Latters2

ia juga mencium tiga bersaudara itu sebelum beranjak pergi. "Lihatlah apa isi kardus-kardus itu," pesannya sembari menutup pintu belakang. "Kalian tidak punya siapa-siapa lagi kecuali SatU sama lain." Sebenarnya, Anna Belle ingin berpesan lebih banyak lagi, namun ia mengurungkan niatnya. Akhirnya, ia berbincang dengan Castro selama perjalanan. kembali ke rumahnya sendiri.

Beberapa surat mereka baca dalam hati, tanpa mengeluarkan suara, dan satu persatu mereka melipat kertas-kertas berisi tulisan tangan orang tua mereka kembali ke dalam amplop layaknya ,memasukkan mayat ke daJam peti Surat lainnya mereka baca bersama. Banyak dari surat-surat tersebut menceritakan kegiatan yang dilakukan Jack dan Laurel ketika sedang bersama maupun terpisah dari satu sama lain.

Sebagian besar perangko yang terekat di ujung kanan atas amplop memiliki cap kantor pos asal Richmond, Carlorresville, Nor¬fQlk, New York, dan Memphis. Ada juga surat-surar yang tidak pernah terkirim dan ketiga bersaudara Matthew, Malcolm, dan Samantha membayangkan bahwa surat-surat itu diselipkan di bawah bantal Laurel atau di tengah buku yang sedang ia baca.

Sejumlah surat berisi hal-hal yang sangat pribadi, yang menurut penilaian tiga bersaudara keluarga Coopers tidak pantas mereka baca sepenuhnya, bila menemukan surat-surat bernada sama, mereka segera meugembalikannya ke atas tumpukkan surat lain yang telah mereka baca.

jack kerap menulis surat di atas kertas folio, kertas buku tulis bergaris, kertas buku tulis dengan tulang spiral, serta kopsurar ho¬selcempatnya menginap, Bahkan beberapa surat ditulisnya di atas

serbet. Matthew menemukan sepucuk surat yang dikeratkan pada selembar uang, dan surat lain yang ditulis di balik selembar brosur berisi pengumuman pertunjukkan seorang selebritas yang sedang melakukan promosi film Star Trek di Washington D.C.

4 NovelMber 1979

Lourel

Hari Rabu ini baru saja dimulai.Aku sedang duduk di pelataran parkir dan brosur ini adalah satu-satunya yang bisa kupakai untuk menulis surat kepadamu.Tidak jauh dariku,joe sedang bergurau dengan beberapa wanita diseberang jalan.

Berita yang ingin kusampaikan padamu malam ini adalah,kau siapa?AKU BERTEMU DENGAN WILLIAM SHATNER!

Apakah kau dengar?AKU BERTEMU DENGAN WILLIAM SHATNER!

Aku begitu yakin saat pihak teater menjanjikan kehadiran beberapa aktor film saat pertunjukkan dilm malam ini,bahwa mereka akan menghadirkan George Takei atau bintang figuran lain yang tidak terkenal. Tapi saat aku dan joe sedang duduk-duduk di lobi,William Shatner melenggang begitu saja dihadapan kami.Wah!ternyata ia sebaik yang kubayangkan. Memang ada yang menganggap bahwa dia itu penuh dnegan omong kosong dan mungkin memang begitu adanya.Menurutku pribadi,ia memiliki karakter yang berbeda.Siapa sih yang tidak punya karakter?

Sekarang aku menyesal karena tidak sempat meminta tanda tangannya.Aku begitu gugup saat ia menjabat tanganku hingga satu-satunya yang terpikir olehku adalah untuk mengatakan "Semoga anda panjang umur dan sejahtera".Ia menatapku dan tersenyum.Dia bahkan tidak mengatakan bahwa aku adalah pria uzur berusia 62 tahun terkonyol yang pernah ditemuinya,tapi aku yakin ia berpikir seperti itu.Mungkin ia tidak tahu harus berkata apa padaku.Ah,siapa yang peduli?AKU BERTEMU DENGAN WILLIAM SHATNER!

Oh ya,filmnya juga sangat memukau!Aku tidak sabar mengajak Matthew dan MAlcolm untukk menontonnya saat malam pembukaan.Kau akan ikut bersama kami kan?

Kau tahu tidak.Joe sangat senang bisa pergi malam ini.Ia ingin agar aku menyampaikan kepadamu rasa terima kasihnya.Dan aku juga ingin berterima kasih padamu karena pengertianmu yang luar biasa.Joe benar-benar membutuhkan reaksi ini.

Saat kau membaca surat ini,aku pasti sudah menceritakan semua yang terjadi malam ini secara langsung,bahkan berkali-kali,kau tahu lah bagaimana sifatku.Masa bodoh ah.Aku mencintaimu.

mau dengar hal yang lebih mengejutkan lagi?Aku mencintaimu lebih daripada Star trek

Jack (Kirk)

3 November 1948

LaureL.

Aku tidak punya waktu banyak.Saat ini waktu makan siang dan teman-temanku hanya ingin membicarakan perihal pemilihan umum.Seseorang mengatakan bahwa ada surat kabar yang mencetak kepala berita berjudul "Dewey mengaalahkan Truman!"Aku ingin sekali mencari surat kabar itu sebagai koleksi.

Aku jadi penasaran,apa yang aakan terjadi jika Partai REpublik membiarkan MacArthur mencalonkan diri sebagai presiden.Aku pasti akan lebih bersemangat mengikuti pemilihan umum.Tapi,aku tetap berpikir bahwa Dewey yang akan menang.Tur kereta atau tur siulan atau tur apalah yang disebut-sebut oleh Presiden Truman ternyata ampuh juga.

Jadi keputusanku adalah ini,kau siap?Kau Benar!dan sekarang kita semua harus menanggung derita selama empat tahun di bawah kepemimpinan seorang presiden dari partai demokratis.Kuharap kau senang Laurel Cooper.Kau menang!

Biarlah.Aku masih mencintaimu.Meski kau seorang pengikut Partai Demokratis atau Partai Republik atau bahkan Partai Dixie (Oh ya.Joe bilang padaku bahwa ia akan memilih Strow Thurmond,meskipun ia orang satu-satunyaa yang melakukan itu.kalau saja ia memilih Dewey,mungkin aku takkan mengenakan baju berwarna hitam hari ini.)

N.B. Aku orang yang tepat janji lho.Terimalah selembar uang bernilai satu dolar ini sebagai pembayaran kekalahanku dalam taruhan kita.Kurasa uang ini takkan lari kemana-mana lagi.

22 ApriL 1970

"Untuk pengantin wanitaku yang terindah"

Perjalanan yang menyenangkan!aku menulis surat ini seolah sedang berada di masa depan,puluhan tahun dari sekarang.saat aku sudah meninggal dan pergi dari kehidupanmu,sehingga kau dapat menemukan surat ini dan mengingat kembali waktu yang kita habiskan bersama minggu ini.Karena kau juga pasti sudah tua dan lelah dan siap menemuiku lagi di surga,kau akan membutuhkan surat-surat yang kukirim padamu untuk mengisi Lubang-Lubang dalam ingatanmu tentang tahun-tahun yang kita lewati berdua.Mungkin saja setelah aku meninggal kau jadi kehilangan akal sehat?gila?Apakah aku mengada-ada?ya.kupikir juga begitu.

Aku bisa menghitung dengan satu tangan sejumlah kenangan tak terlupakan yang kumiliki sampai aku diseret pergi dari kehidupan ini.Kalau memungkinkan aku bahkan akan membawa kenagan satu ini sampai jauh ke dalam liang kubur.

Semalam kita mengunjungi Graceland!tapi kita tidak hanya berkunjung kan?Semalam adalah kali kedua kita mengunjungi Memphis.Sudah berapa tahun kau memohon-mohon padaku untuk datang berkunjung ke Memphis dan akhirnya niat kita kesampaian juga untuk makan malam di jalan Beale.Beberapa bulan lalu aku bahkan tidak bisa mimpi pergi ke Memphis.Tapi jika keberuntungan berada tangan kita tidak mungkin menolaknya.

Tolong jelaskan padaku Laurel Cooper,bagaimana dan kapan kau berubah menjadi aktris yang meyakinkan?sang raja Rock & Roll bahkan memujamu!Siapa sangka semuannya berjalan begitu mulus?lebih mulus dari rencana kita ya.

Kuakui aku masih kecewa karena kita tidak diperbolehkan berfoto disana,tapi aku mengerti alasan mereka.Apa jadinya jika orang-orang tahu bahwa kita telah ingkar janji dan mengunjungi Graceland?bahwa kita sempat bertemu Elvis dan Priscilla presley?Kau memang luar biasa.Oh ya elvis bahkan sempat berjanji pada kita.Aku yakin hal itu bukan sesuatu yang lumrah.

Semua bermula di gerbang keamanan.Kau tampak begitu anggun.Kalau aku tidak tahu kau sedang berpura-pura,aku pasti sudah menangis tak karuan!kau menatap penjaga gerbang dengan penuh keyakinan dan memohon menemui Elvis di kediamannya dengan alasan bahwa hidupmu hanya tinggal 36 jam.

"apa?"tanya si penjaga sambil tertawa.

Aku tidak tahu bagaimana kau bisa memasang ekspresi serius saat menjelaskan bahwa kau mengidap penyakit paru-paru batu Asia.Apalagi saat kau berpura-pura batuk, ya ampun,hebat sekali!Aku benar-benar berpikir bahwa di dalam paru-parumu ada sejumlah gundu yang menyumbat.Aku bahkan tidak ingin tahu kapan kau sempat menyempurnakan jenis batuk semacam itu.

Lalu sang penjaga menghubungi Priscilla.Seperti Mukjizat ya?Ketika Priscilla meminta si penjaga untuk mengantar kita ke pintu masuk timur.aku nyaris kencing di celana.Kau menjabat tangan si penjaga dan berterima kasih padanya,kemudian mencium punggung tangannya seolah ia baru saja memberikanmu hadiah terbesar dalam hidup.

Aku berani bertaruh satu dolar denganmu,sipenjaga pasti mencuci tangannya dengan alkohol selama sejam karena takut tertular penyakitmu.

priscilla begitu murah hati,begitu cantik.ia juga tampak lebih lembut dari yang kubayangkan. Benar-benar seorang wanita terhormat.

Tur yang ia berikan merupakan bonus malam itu,aku tidak pernah berpikir kita bisa melihat isi rumah itu.Tadinya sih aku berpikir untuk melihat-lihat ke lantai atas, tapi aku tidak yakin jantungku akan tahan menghadapi kegirangan macam itu.

Setelah lima belas menit,mungkin lebih dari itu kita berdiri di pintu menunggu si penjagaa datang untuk menjemput kita. Pada saat yang bersamaan,tiga buah mobil menghampiri.Sudah jelas siapa yang ada di dalam salah satu mobil tersebut.

Saat sang raja melangkah keluar dan mencium isterinya aku yakin nyaris melelh terpesona.Priscilla memperkenalkan kita pada sang raja,menjelaskan alasan kita disana dan bagaimana sekaratnya dirimu.Suara Elvis masih berdering,eh bernyanyi di kepalaku.

"Kau datang jauh-jauh ke memphis untuk menemui kami beberapa saat sebelum menemui penciptamu?

Seharusnya kau menerima penghargaan Oscar saat itu juga Laurel.

"Aku selalau berangan untuk bertemu denganmu tuan,serta,batuk-batuk,pengantinmu wanitamu yang indah.

Seandainya Samantha bisa melihat ibunya berakting seperti ini!

"Semoga tuhan memberkatimu"Elvis memeluk dan mengecup pipimu.Aku lihat kau nyaris pingsan.Aku jadi bertanya-tanya apakah yang akan terjadi jika aku meninjunya di dagu karena telah bermesraan dengan isteriku?

Ketika si penjaga datang untuk mengantar kita keluar dari istana kediaman sang Raja.Elvis meminta salah satu asistennya untuk melepaskan selempengan plat mobil dari salah satu kendaraannya.Plat mobil itu dihadiahkan kepada kita.Atas permintaan sang raja asisten yang samaa meraih sebentuk pena dari sakunya agar sang raja dan isterinyaa bisa menandatangi bagian belakang dari plat mobil tersebut.

Perjalanan yang luar biasa!

Aku tidak ingat benar apa yang terjadi har-hari berikutnya di Tennessee.Apa sih yang perlu diingat dalam perjalanan itu.

kecuali lima belas menit yang kita habiskan di kediaman sang Raja dan pengantin wanita terindahnya?

Aku tidak sabar ingin menceritakan ini semua pada anak-anak.Mungkin suatu hari,saat kita berdua telah tiada.Mereka akan menemukan surat-surat ini dan tiba-tiba menyadari kenapa ada selempeng plat mobil asal Tenessee tergantung di dinding kamar tidur kita.

Salam sayang

Jack Cooper

Suami dari satu-satunya

Penderita penyakit paru-paru asia

yang hidup dan selamat

NB.mungkin saat kita sampai di rumah dan hadiah pemberian sang raja sudah kita simpan baik-baik.Kita harus menulis surat dan meminta maaf atas kelancangan kita berbohong pada mereka.Bagaimana menurutmu?

SEBELUM Samantha selesai membaca bagian N. B. dari surat Jack kepada Laurel, Malcolm dan Matthew sudah mendorong kursi mereka menjauh dari meja dan menghambur ke lantai atas sambil saling mendorong dan menghalangi. Saat mereka mendekati pintu

kamar tidur utama, Matthew mengurangi kecepatan langkahnya dan membiarkan Malcolm menyelinap di sampingnya hingga mendahuluinya. Lalu dari belakang, ia mendorong Malcolm di atas ranjang dan buru-buru meraih lempengan plat mobil asal Tennessee dari dinding.

"Wow!"

"Pesan apa yang tertulis di situ?" tanya Malcolm, berguling ke sisi ranjang yang lain, menyeimbangkan tubuhnya, dan merebut plat itu dari tangan kakaknya.

"Untuk Laurel dan Jack," Malcolm membaca pesan di balik plat tersebut. "Nikmatilah hari-hari terakhir kalian. Elvis dan Priscilla, 1970."

"Ayah dan Ibu bilang ini hanya suvenir dari perjalanan mereka, bukan sesuatu yang ditandatangani secara langsung oleh sang Raja. Aku tidak percaya kita tidak pernah melihat ini!"

"Perjalanan yang luar brasa,"gumam Malcolm, menggeleng¬kan kepalanya, "Perjalanan hebat."

KEDUA kakak beradik itu kembali ke ruang makan dan menemukan Samantha sedang menangis.

"Hey, Dik, kau kenapa? Apa yang kautemukan?" tanya Matthew.

Ia mengangkat sebuah surat di udara."Ayah menanyakan pada Ibua pakah yang akan terjadi pada penginapan ini saat beliau sudah tiada."

Matthew dan Malcolm kembali duduk dikursi masing-masing.

"Kapan surat itu ditulis?" tanya Matthew

Samantha menilik tanggal yang tertera di atas kertas. "Bulan juni tahun kemarin."

"Apa Ayah memang sudah tahu beliau akan meninggal?" tanya Malcolm.

Samantha tidak rnenjawab.

"Aku dan Ayah sempat membicarakan hal ini waktu liburan dulu," kata Matthew. "Beliau ,mengatakan bahwa Alex Palmer.."

"Siapa Alex Palmer?" Malcolm menginterupsi.

"Pengacara Ayah. Dia tinggal di Kota Front Royal. Ayah mengatakan padaku bahwa Alex membantu beliau menguedit isi surat warisan beliau tahun lalu, karena itu aku beranggapan bahwa mungkin penyakit beliau sudah tidak tertolong lagi. Ayah dan Ibu memiliki sejumlah uang yang mereka simpan di beberapa rekening tabungan. Tidak banyak, sih Kebanyakan dari uang itu mereka habiskan untuk memelihara penginapan ini, Ayah punya polis asuransi yang menjamin kesejahteraan Tbu jika tiba saatnya beliau pergi." Matthew tampak ragu. "Yah bqgaimana pun masih banyak hal yang harus diurus. Aku akan menghubungi ALex."

"Ayah pasti tidak berpikir mereka berdua akan meninggalkan kita pada waktu yang bersamaan," kata Samantha.

Mendadak, ketiganya terdiam.

"Bagaimana dengan penginapan ini?" tanya Malcolm membuka pembicaraan.

"Seharusnya kita membagi semuanya sama rata, termasuk penginapan ini. Tapi proses penjualannya akan makan waktu cukup lama, seperti biasanya. Kecuali .... " Matthew menatap adik perempuannya. "Kecuali ada salah satu di antara kita yang ingin terus mengelolanya. Ayah sangat jelas menginginkan salah satu dari kita untuk meneruskan usaha ini."

Samantha dan Malcolm kontan menatap Matthew,

"Kau tahu aku tidak bisa tinggal di sini," Matthew menjawab tatapan adik-adiknya. Aku tidak bisa meninggalkan Boston. Aku punya, klien dan saham di sana. Kau juga tahu Monica takkan mau tinggal di kota kecil seperti Woodstock."

Samantha dan Malcolm menganggukkan kepala mereka, "Kurasa aku bisa meneruskan usaha ini," Samantha berusaha tersenyum.

"Kau kan seorang, polisi," kata Malcolm. "Hasratmu tidak mungkin tiba-tiba berubah menginginkan mengelola sebuah penginapan."

Samantha tahu kakaknya benar.

"Bagaimana kalau kita teruskan saja?" tanya Malcolm. "Rain bisa mengelola tempat ini."

"Mungkin hanya untuk sementara, Mal, tapi tidak lama dia juga akan pergi. Nathan tidak akan tinggal di kota ini untuk waktru yang lama,' Samantha tiba-tiba menyesal telah membawa-bawa nama Nathan dalam pembicaraan mereka. "Maaf, ya." Ia mengelus lengan Malcolm.

Malcolm tersenyum,"Sudah, lupakan." Ia menggenggam tangan adik perempuannya. "Ayo, kita lanjutkan membaca."

"Tidak mungkin!" Samantha berseru. "Aku menemukan sebuah surat yang ditulis saat malam pernikahan mereka.

Tertanggal 16 Juni 1948." Ia membuka lipatan surat dan menggenggamnya untuk ditelaah oleh kedua kakaknya.

"Tidak, tidak, tidak!" Malcolm berteriak, dengan bercanda menutupi kedua telinganya. "Aku tidak mau mendengar cerita te tang malam pengantin mereka! Singkirkan, singkirkan cepat!"

"Oh, diamlah. Di dalam surat ini tidak ada hal-hal yang mesum seperti dalam pikiranmu. Ayah adalah seorang pria terhormat."

"Apa kauyakin kita diperbolehkan membaca surat-surat ini?"

Malcolm bertanya dengan nada yang serius, meski ia sudah membaca tujuh atau delapan surat dari koleksi yang menumpuk di hadapannya.

"Ibu takkan menyimpan surat-surat ini jika beliau tidak ingin kita membacanya," balas Samantha.

"Sam benar,' Matthew ikut berpendapat, "Mereka pasti tahu, suatu hari kita akan menemukan surat-surat ini. Hanya saja, aku masih sulit percaya kalau Ayah menulis semua ini."

"Aku sering sekali melihat beliau menulis," kata Samantha "tapi tadinya kukira beliau sedang membereskan masalah pekerjaan. Kalau kutanya apa yang sedang beliau kerjakan, beliau pasti menjawab bahwa beliau sedang menyusun daftar keperluan penginapan,atau mencatat khotbah yang didengar beliau di gereja, atau menulis buku hariannya. Aku tidak pernah menyangka beliau senang menulis-surat untuk Ibu. Bahkan Ibu sendiri tidak pernah

menyinggungnya."

"Mungkin karena memang kita tidak seharusnya tahu." Malcolm mendadak berhenti membaca,"Mungkin kita harus menunggu. Rasanya k0k Janggal, ya. Pemakaman mereka saja belum dilaksanakan,"

"Terserah kalau kau ingin menunggu," kata Samantha. "Aku akan terus membaca."

16 Juni 1948

Teruntuk Ny.Cooper

Percayakah kau bahwa akhirnya kita menikah juga?Kita sudah menikah!Betapa indahnya hari ini.Sekarang pukul 11.50 malam dan di seberang ruangan kau sedang terlelap dalam tidur. Apa kau tahu bahwa malaikat juga bisa mendengkur?Aku baru tahu kalau ternyata mereka bisa mendengkur.Aku mengetahui ini karena kau juga mendengkur,dan kau adalah malaikatku.

Aneh sekali.Aku tidak pernah menyangka kalau wanita juga bisa mendengkur.Kau pasti membenciku karena berpikiran seperti ini,tapi apa yang dapat kau lakukan sekarang?Kita sudah menikah dan kau harus menerima ku apa adanya!

Aku sudah berjanji hari ini digereja dan aku akan berjanji lagi padamu malam ini.Mulai sekarang,aku akan menulis surat padamu setiap minggu.Dimanapun kita berada,entah di dua sisi benua yang luas ini atau di dalam ruang tamu yang sempit,aku pasti akan menulis surat padamu.Tadinya kau ingin menyimpan sebuah jurnal tapi aku tidak akan bisa konsisten menulisnya.Siapa juga yang ingin membacanya?Surat adalah hal lain.Surat mampu bertahan di tengah perputaran waktu.

Aku tidak mungkin mengatakan ini jika kau terbangun sekarang.Tapi berhubung kau sedang tidur..aku akan mengatakan nya disini,terima kasih,terima kasih karena telah menungguku.Terima kasih karena telah membuatku menunggu.Malam ini seindah yang aku bayangkan selama ini.Bukan,malam ini JAUH LEBIH BAIK dari yang aku bayangkan.MAlam ini merupakan sebuah berkah mukjizat.

Aku akan membuat sebuah janji lagi.(Percaya tidak percaya aku belum pernah berjanji sebanyak ini dalam satu hari) Laurel aku akan selalu mendampingimu.Tak peduli apa pun yang terjadi,kita akan selalu bersama.Tanpa rahasia.Tanpa kejutan dan aku akan selalu setia kepadamu dalam segala hal.

Aku mencintaimu Ny.Jack Cooper.

jc

N.B. Maaf soal kelakuan saudaraku Joe.Kita akan balas dia di pernikahannya nanti.

JC

SAMANTHA melipat surat itu-dan menyelipkannya kembali ke dalam amplop.

Malcolm dan Matthew saling memandang dari dua sisi meja makan.

"Sulit dipercaya," gumam Matthew.

"Sulit dipercaya," ulang Malcolm. Tampaknya hanya kalimat itu yang mampu mereka utarakan.

Samantha mengambil sepucuk surat lain dari dalam kardus dan mulai membacanya, Malcolm dan Matthew meneruskan bacaan surat yang ada dalam genggaman masing-masing.

SELAMA satu jam, putra-putri Jade dan Laurel saling mengoper surat demi surat di sekeliling meja makan. Samantha menangis berkali-kali, hampir setiap ia membuka surat baru tetapi bahkan kedua kakaknya yang memiliki kulit tebal serta kepala sekeras batu juga sempat menitikkan air mata sesekali.

"Oke," kata Samantha memperingati. "Setelah ini kita masing-masing hanya boleh membaca satu surat, karena kita harus segera tidur, Besok kita akan melalui hari yang panjang dan surat-surat ini takkan pergi ke mana-mana;" Ketiganya memasukkan tangan mereka ke dalam salah satu kardus yang dilapisi debu dan meraih sebuah surat terakhir untuk malam itu.

27 November 1957

Teruntuk Laurel

Aku tidak tahu kenapa aku membutuhkan waktu yang sangat lama untuk mempelajari kata-kata yang sangat sederhana.

Maafkan aku.

Terkadang aku lupa betapa bahayanya temperamenku jika dibiarkan meledak-ledak.Apakah dulu kau sempat membayangkan seorang gadis Kristen baik-baik sepertimu bisa jatuh cinta kepada seorang penggemar tim bola kasti chicago cubs dari utara sepertiku?

Aku ingin sekali melemparkan seribu alasan kepadamu demi membela harga diriku,tapi alasan apa yangf kumiliki setelah membentak wanita yang aku cintai?Itu bukan sebuah pertanyaan.Dan tidak cukup untuk menjelaskan perbuatanku.

Kita berdua tahu bahwa saat ini keuangan kita sungguh pas-pasan.Setidaknya dalam hal kita berdua mengerti.Sejujurnya hal tersebut mungkin takkan berubah selama kau menjadi isteriku.

Aku minta maaf kau merasa tertipu.Ternyata suamimu bukanlah seperti yang diharapkan kebanyakan wanita,seorang pria sukses didikan universitas-universitas kenamaan atau seorang ahli waris yang memiliki kekayaan yang melimpah. Kau berhak mendapatkan pria seperti itu.Kau berhak mendapatkan seseorang yang lebih baik dari aku.Aku hanya berharap kau tidak perlu bekerja.Setidaknya jangan sekarang.

Entah bagaimana caranya.Aku yakin kita akan berhasil mengatasi semua ini.Aku sungguh meyakini hal itu.Apakah kau percaya padaku?

Ya intinya aku minta maaf.Aku minta maaf karena belum berhasil menjadi seorang suami yang pernah kujanjikan untukmu.

Tolong jangan menyerah begitu saja padaku

Jack

Baru membaca dua paragraf pada surat yang sedang dibacanya,Matthew menyikut Samantha dan berbisik,"Tukarkan suratmu denganku."

9 April 1975

Laurel

New York tampak jauh lebih hijau dari yang kubayangkan.Tentunya ada banyak hal di kota ini yang tak terkesan untuk kuceritakan padamu.tapi satu hal yang benar-benar membuatku terkejut adalah warna-warna hijau yang bertebaran di mana-mana.Bahkan juga warna-warna putih di taman serta pot tanaman.Suatu hari,mungkin kita bisa menikmati suasana ini bersama.

Aku menginap di sebuah motel yang terletak enam blok jauhnya dari rumah bibimu-Beverly terlihat baik-baik saja.Aku melihatnya dan Beverly sedang berjalan-jalan di Times Square sore ini.Aku ingin menghampiri dan memeluknya,menguncangnya dan memeluknya lagi.Tapi kuurungkan niatku.Tentu saja menurut Del aku harus menunggu setidaknya seminggu lagi.

Berikan Sammie beberapa waktu agar ia merindukan kampung halamannya.Sulit sekali untuk menunggu karena kau merindukannya lebih dari dia merindukanku.Atau mungkin aku salah?

(Aku lupa mengabarkan padamu,aku meninggalkan payungku dikereta.Aku membeli payung lain di sini.Aku mengecek nanti saat aku kembali ke Washington.D.C kalau-kalau ada yang menemukan dan menitipkannya ke tempat barang hilang.Siapa tahu?payung itu kan kondisinya payah)

BEsok pagi-pagi sekali aku akan pergi ke teater dan mencari seszeorang bernama EB Arthur.Tapi apa mungkin ibu orang itu menamakannya EB?nantilah kutanyakan.

Bev menyampaikan padaku bahwa nama teaternya dalah "Curtains."Ironis ya?teater itu memberikan pertunjukan yang dikategorikan sebagai pinggiran-pinggiran-pinggiran Broadway.Kurasa itu artinya letak teater tersebut sangat jauh dari Broadway hingga kita harus naik taksi untuk mencari pertunjukkan yang sesungguhnya.

Bev sangat khawatir,tapi ia akan meleset dari rencana kita malam ini.ia akan memberitahu sammie bahwa teater "Curtains" sedang menggelar audisi untuk pemain baru.Jika si EB ini memiliki sedikit saja akal sehat,maka kita akan berada dalam masalah besar.Tapi mengingat bahwa di kota ini apa saja bisa dihalalkan,maka kurasa kita takkan mengalami banyak kesulitan.Aku yakin bebrapa ratus dolar akan membuatnya melakukan apa yang kita mau.Setidaknya,kuharap begitu.Hanya itu berita yang kumiliki sekarang (Tambah sebuah payung baru)

BerdoaLah.

JC

"AyAH mengikutimu sampai New York?" kedua saudara Samantha berseru pada saat yang bersamaan.

Samantha merasa lidahnya kelu, Tidak sanggup menjawab.

"Waduh, waduh, tiga kali waduh!" Malcolm menusukkan setiap kata lebih keras dari sebelumnya. "Matt kau menemukan surat itu di kardus mana?"

"Tunggu, Malcolm," protes Samantha, "aku adak yakin apa¬kah aku ingin-"

"Oh, aku yakin kau pasti menginginkannya," kata Malcolm.

Ia segera mengacak-acak tumpukan surat itu dalam kardus yang ditunjukkan Matthew sampai ia menemukan sepucuk surat tertanggal 16 April 1975, ditulis dengan pensil di atas amplop kuning.

"Kalau begitu biar aku yang membacanya," kata Samantha, merebut surat itu dari genggaman Malcolm dan membukanya perlahan-lahan.

16 April 1975

Teruntuk LC.

TErtanda:New york city.New York USA

Aku tidak tahu apakah aku menulisnya dengan benar.Tetapi siapa yang peduli.Aku sadar kita sudah berbicara di telepon semalam,tetapi telepon jarak jauh tidak bisa menandingi surat hari Rabu kan sayang?

Malam ini adalah saatnya SAmmie mendapatkan peran dengan empat baris dialog.Aku yakin aku bisa menghafalkannya lebih cepat dari dia.Aku tertolong Karena EB Arthur memberikan naskah pertunjukkannya padaku (seharga 35 dolar) Dan aku juga telah menonton proses latihannya sejak awal dari atas agar sammie tidak bisa melihatku (tempat spesial ini kudapatkan setelah membayar 50 dolar).

Aku bertemu dengan Bev hari ini disebuah restoran dekat teater saat Samantha sedang latihan.Katanya Samantha selalu memaksa Del untuk berlatih dialog dengannya berulang kali.

Laurel,puteri kita benar-benar mempesona malam ini.Pertunjukkannya sendiri sih tidak hebat-hebat amat,percayalah,tetapi sammie meberikan penmpilan yang luar biasa.Ia naik panggung tepat setelah rehat kedua.Sebelum ia naik panggung,jantungku berdetak sangat keras sampai aku merasa yakin orang-orang juga ikut mendengarnya.Lalu,saat ia naik panggung..wah,jantungku nyaris berhenti.Ia melangkah ke panggung seperti menguasai tempat ini.Inilah adegan perdanya.

MELINDA:(diperankan oleh puteri kita)

"Aku datang untuk membersihkan karpet."

TN.BURNS:

"Karpet ini tidak perlu dibersihkan.Pergi sana."

MELINDA:

"Kalau begitu seseorang pasti merasa karpet ini perlu dibersihkan tuan.Aku mendapat perintah untuk membersihkannya."

TN.BURNS:

"Mana coba aku lihat surat kerjamu."

MELINDA:

"Aku meninggalkannya di bawah.Biar aku ambilkan."

TN.BURNS"

"Aku tidak tahu siapa kau nona,Tapi karpetku tidak perlu dibersihkan.Jangan sampai aku harus mengatakannya sekali lagi."

Lalu,sammie,maksudku melinda meraih sebentuk pistol mainan dari dalam tas mainnanya dan menembak TN.BURNS di dada lima kali!!!!

MELINDA

"Sekarang karpet ini perlu dibersihkan."

Aku tidka tahu bagaimana mereka melakukannya LAurel,tapi saat pria itu terjatuh.ia memegang dadanya sendiri dan..tiba-tiba saja darah mengucur menembus jaket yang ia kenakan.Sluruh dadanya basah oleh cairan merah.Pada saat ini seluruh penonton bersorak sorai.Mereka tertawa dan bertepuk tangan dan tertawa lagi.

Jumlah penonton yang hadir sekitar tujuh puluh atau delapan puluh orang,tapi mereka semua mengelu-elukan puteri kita seolah ia adalah Audrey Hepburn.Melihat penampilannya malam ini..aku tidak sangsi akan kemampuannya untuk menjadi aktris sehebat Audrey Hepburn.

Sejujurnya?aku masih marah dia kabur dari rumah.Aku kesal karena aku harus meninggalkan pekerjaan dan mempertaruhkan jabatanku untuk tinggal di sebuah motel yang penuh kecoa seharga $39/semalam.Aku sedih karena entah berapa lama waktu harus berlalu sebelum ia sadar bahwa aku ada di tempat ini bersamanya dan kalau kita beruntung..mungkin dalam waktu beberapa puluh tahun,ia akan mengetahui kejadian sebenarnya.

Aku benar-benar sedih karena kau serta Matthew dan MAlcolm tidak ada disini malam ini.AKu merasa sedih karena aku tahu ia akan memberontak saat aku datang ke rumha Del dan Bev beberapa hari lagi untuk membawanya pulang.

Biar begitu menyaksikan pertunjukkan teater malam ini membuatku sadar akan satu hal,ia mungkin takkan memenangkan piala oscar malam ini,atau piala apala yang mereka berikan untuk pemain teater,tapi puteri kita adalah seorang bintang. Aku sangat sangat mencintainya.

Terima kasih karena telah mendukung rencana kecilku.kebanyakan isteri pasti keberatan (Maksudku tidak ada isteri yang mau menyetujui rencana kecilku!)

Hari ini Rabu.Sampai bertemu.

salam rindu

jack

N.B. Sebarkan beritanya: putri kita adalah bintang pingiran¬pingiran-pingiran Broadway!

"BOLEH tidak aku mengutarakannya sekali lagi?" tanya Malcolm saat adiknya sedang membersit hidung setelah menangis membaca surat ayahnya.

"Mengutarakan apa?" tanya Samantha dengan suara bingung,

"Waduh!" Malcolm berseru keras sekali di tengah malam yang .sunyi. 'Apa kau menyadari itu .semua, Dik?"

"Tidak," kata Samantha pelan. "Aku bakkan tidak tahu harus berkata apa .... "

"Mari kita rangkum kejadian di dalam surat," usul Malcolm.

Matthew mengangkat jari telunjuknya di udara seolah hendak menekan tombol pause pada sebuah alat perekam. "Biarkan aku yang menjelaskan," pintanya, "Sam, Ayah mengikutimu sampai New York. Beliau merencanakan semua itu dan ia tinggal di motel selama dua minggu. Bagaimana mungkin kau tidak tahu?"

"Bagaimana muugkin kau sendiri tidak mengetahuinya?" balas Samantha.

"Aku tidak tinggal di rumah saat itu, Aku sedang menyelesaikan tugas kuliahku di Blacksburg." Matthew menoleh pada adik laki-lakinya. "Bagaimana denganmu? Apa alasanmu?"

Malcolm mengedikkan bahunya. "Aku hanya ingat Sam kabur ke New York saar berusia 17 tahun dan beberapa hari kemudian Ayah pergi ke acara konvensi perawatan penginapan di Chicago. Aku ingat Ibu memintaku untuk bantu-bantu di sekitar penginapan selama Ayah pergi. Beliau bahkan memberiku upah."

Matthew membuat ekspresi konyol di wajahnya. "Konvensi perawatan penginapan? Kau itu benar-benar bodoh."

'Sudahlah," Samantha menghentikan perdebatan sebelum kedua kakaknya mulai adu kepala. "Kalian tidak mengerti inti dari cerita ini. Ayah membayar orang supaya aku bisa masuk ke dalam pertunjukan itu. Beliau seperti membeli aku. Aku mendapatkan peran itu karena beliau membayar untuk itu."

"Ya, Sam," Malcolm berseloroh dengan nada yang lebih lembut dari biasanya. "Beliau memang membayar semua itu, Lalu, beliau membiarkanmu tinggal di New York dengan kerabat Ibu, seseorang yang bahkan kau sendiri tidak kenal baik,ya ampun, bahkan Ibu sendiri tidak kenal baik dengan bibinya, Ayah membiarkanmu berkeliaran di Broadway selama dua minggu sebelum beliau muncul dan berlaku seolah ia tidak tahu apa-apa."

"Ya, tapi nyatanya ... beliau selalu mengawasiku."

"Benar, beliau selalu mengawasimu." Suara Malcolm terdengar pelan dan ia mulai mengacak-acak tumpukkan surat lainnya. Samantha melipat surat yang baru saja mereka baca, menyelipkannya ke dalam amplop, dan memasukkannya ke dalam saku kemeja birunya, tepat di bawah lencana polisi yang berwarna emas.

SABTU PAGI

Malcolm dan Matthew tertidur pulas sampai waktu mendekati pukul 9 pagi. Satu-satunya bel yang membangunkan mereka adalah kebiasaan Samantha menggelitik leher mereka saat masih terbuai dalam mimpi di ranjang masing-musing.

"Pergi sana," Malcolm mengusir adiknya, mengubur kepalanya di bawah bantal, "Masih terlalu pagi untuk bangun."

"Salah, sekarang justru sudah terlambat" Samantha menarik selimut yang menyelubungi tubuh Malcolm dan secara refleks menutup hidung dan mulutnya. "Kau harus mandi. Sekarang. Seluruh penginapan bau seperti monyet yang sedang sakit."

"Ah, sementara kau menyinggung monyet sakit,apa Matt

sudah bangun?"

"Ia sedang mandi di kamar mandi bawah. Cepat mandi."'Malcolm terhuyung-huyung meninggalkan ranjang tidurnya, melalui koridor mernuju kamar tidur orang tuanya. Ia mengenakan celana pendek bermotif macan tutul yang sudah sobek, Setelah berbasuh di bawah pancuran air hangat dan mencukur janggutnya yang menghabiskan dua mata pisau milik ayahnya, Malcolm mengenakan jubah mandi ayahnya yang berwarna biru tua dan melangkah ke dapur.

"Bagaimana, penampilanku sudah, lebih baik?" tanya Malcolm.

"Jauh lebih baik. Terima kasih." Samantha membalik tiga adonan kue panekuk ke atas piring dan salah satunya jatuh ke tangan Malcolm. "Maaf, aku bukan wanita yang pandai menyajikan makanan."

"Semalam aku bermimpi kita semua sedang berenang di KOA. Tapi kolam renangnya dikelilingi oleh pasir, seperti pantai buatan kurasa, dan kita memarkirkan mobil kita tepat di pinggiran pasir." Malcolm menunjuk ke arah Samantha. "Kau dan Monica, ditambah oleh seorang teman penulisku berikut suaminya, kalian mengenakan baju renang ala tahun 1930 an,benar-benar longgar dan kendor, Kalian terlihat konyol."

Samantha memutar matanya, tetapi memutuskan untuk tidak memberikan kormentar,

Matthew bahkan tidak mengangkat wajahnya dari balik koran Waal Street Journal yang sedang dibacanya, dan malah terus mengunyah sarapan telur orak-arik yang disediakan Samantha.

"Oh, Matt, aku baru teringat," kata Samantha, menjatuhkan sendok spatula ke dalam bak cuci piring. "Monica menelepon tadi saatr kau sedang mandi,"

"Terima kasih," mata Matthew masih menganalisis laporan saham. "Sebentar lagi aku akan menghubunginya." Ia berharap mendapatkan kabar baik yang sudah lama ia nantikan.

"Kapan dia akan datang?" tanya Malcolm.

Samantha mengetuk kepala Malcolm dengan garpu dan

menggelengkan kepalanya.

"Monica takkan datang," kata Matthew santai.

"Dia takkan datang?"

"Itu maksudku saat aku mengatakan bahwa ia takkan datang."

"Maaf Bung, aku cuma tanya. Aku mengira ia akan datang ke pemakaman orang tua kita, Lagipula, kita hanya akan melakukan ini sekali seumur hidup. Benar,kan?"

"Diam sajalah," gerutu Matthew, bangkit dari kursinya dan meletakkan piring serta gelas yang dipakainya ke dalam bak cuci piring. "Terima kasih atas sarapannya, Sam. Aku harus pergi menemui Rain di gereja." Ia melangkah pergi tanpa menoleh ke belakang.

Malcolm menjatuhkan pisau dan garpunya, mengangkat kedua tangannya di udara. seolah menyerah, ia menatap Samantha dengan tidak bersalah. "Apa yang aku lakukan hingga dia kesal? Apa karena aku menceritakan perihal baju renang yang dikenakan istrinya? Sejujurnya, Monica tampak lebih menarik daripada kau, Bagian belakang baju renangmu benar-benar kendor."

Samantha memunggungi Malcolm dan merendam kedua tangannya ke dalam air sabun di bak cuci piring.

"Benar kok, Sammie, niatku hanya ingin ngobrol."

"Keadaan sudan banyak bagi Matthew belakangan ini."

"Kenapa begitu?" tanya Malcolm. Samantha melanjutkan mencuci piring.

"Apa karena masalah anak?" Malcolm menggelengkan kepalanya. "Ya, ampun, sudah lima tahun belakangan ini kan dia tahu kalau mereka tidak bisa punya anak? Kenapa juga masih terus mncoba? Apa mereka pikir kehadiran seorang anak bisa menyelesaikan semua masalah yang dihadapi?"

"Bukan itu, Mal, sekarang ini mereka ingin mengadopsi anak. Dan, sayangnya, proses mengadopsi anak itu tidak mudah. Selama dua tahun belakangan ini mereka hampir saja mendapatkan anak untuk diadopsi, pokoknya tinggal selangkah lagi, tapi karena satu dan lain hal, mereka gagal terus, Menurutku, mempunyai anak akan menolong menyelesaikan beberapa masalah. Kehadiran seorang anak akan membuat mereka lebih betah di rumah menhabiskan waktu bersama. Setidaknya, itu yang terlintas di dalam benak mereka, dan hanya itu yang penting bagiku." Samantha mengangkar botol sirop, mentega, dan kotak jus dari atas meja.

"Benar juga."

"Jangan bilang pada siapa-siapa, ya. Tapi Matt mengatakan bahwa Monica sudah meninggalkan kelab kebugaran tempat ia bekerja, la memulai usaha sendiri sekarang sebagai pelatih pribadi. Eh, bukan,pelatih hidup, menurutnya. Kurasa ia juga menyediakan jasa membantu orang yang ingin menguruskan badan. Jadi begitulah, menurut Matt bisnisnya itu sangat sukses sehingga membuat rumah tangga mereka sedikit terganggu. Mereka tidak pernah ada di rumah pada waktu yang sama.'

"Dan karena itu dia tidak bisa menghadapi pemakaman mertuanya yang super heboh karena dia harus mengawasi beberapa orng gemuk supaya tidak gagal dalam diet mereka?"

"Mal-"

"Tunggu," Malcolm menyelak. "Dia melakukan hal yang salah. Kau juga tahu itu,"

Samantha menghela napas. Ia berdiri di belakang Malcolm dan menarik ujung rambutnya yang basah dan menjuntai sampai batas pundak. "Sudah waktunya kau cukur rambut."

"Enak saja,"

"Malcolm Cooper, kau tidak bisa menghadiri pemakaman 0rang tuamu dengan penampilan seperti orang hutan. Kan harus potong rambut.

"Lima sentimeter saja,"

"Sepuluh."

"Tujuh,"

"Ya sudah," Samantha setuju. "Tujuh sentimeter saja."

MALCOLM menghabiskan sarapannya dan berganti pakaian. Ia mengenakan salah satu dari tiga pasang celana pendek usang yang dibawanya dari Brazil, berikut sebuah kaus rancangan Milton Nascimento. Ia mengagumi rambut panjangnya yang tebal untuk terakhir kalinya di cermin kamar mandi. Lalu, ia menemui adiknya di beranda belakang rumah. "Apa ada daftar tunggunya untuk potOng rambut?"

"Ayo, kita harus cepat-cepat menyelesaikan ini, Mal, A&P akan segera datang untuk memulai makan siang. Tempar ini akan peuuh sesak dengan pengunjung."

"Omong-omong, bagaimana keadaan cuaca di sini? Kok terasa panas sekali ya, untuk bulan April?"

"Musim dingin kemarin relatif sedang dan begitu juga dengan musim semi, Hangat dan indah." Samantha memakaikan sebuah jas hujan berwarna kuning dengan tema taman bermain Busch Garden. "Maaf, hanya ini yang bisa kutemukan ... Ya, pokoknya, kau harus berterima kasih."

"Untuk jas hujan ini?"

"Untuk cuaca musim ini. Jika cuacanya baik berarti orang¬orang yang sedang dalam perjalanan kemari akan tiba dengan selamat. Mereka datang dari berbagai tempat, kau tahu itu." Samantha membuka sebuah tas besar berwarna hitam dan memindahkan gunting serta jepitan milik ibunya. "Wow."

"Apa?" Malcolm menjulurkan kepalanya lewat bukaan jas hujan yang sempit menggaruk telinganya meoggunakan ujung¬ujung plastik.

"Ibu tidak pernah membersihkan peralatan ini dengan baik. Rambut Ayah yang beruban masih tersangkut di mana-mana. Meskipun Ayah tidak memiliki banyak rambut di kepalanya." Samantha mengambil sebuah sisir kasar dari dalam tas dan menggosoknya berkali-kali di atas sarung plastik. Beberapa helai rambut putih berterbangan di udara dan berubah menjadi warna perak begitu disinari matahari pagi. Ia memilih sebentuk sisir dari saku dalam tas, "Tundukkan kepalamu," perintahnya kepada Malcolm disusul deogan gerakannya menyisir rambut di belakang kepala kakaknya, "Rambutmu juga sudah ditumbuhi sedikit uban. DUa tahun ini kau pasti stres, ya?"

"Aku tidak akan menggunakan kata 'stres' untuk menjelaskan pengalamanku dua tahun belakangan ini, Uban-uban itu mungkin turunan dari Ibu."

Samantha terus menyisir rambut Malcolm hingga benar-benar lurus dan rata, sebagian terlihat bagai helaian yang meluap turun dari dahinya. Malcolm memiliki porsi tubuh yang lebih tinggi dari Samantha, perbedaan tinggi badan mereka sekitar lima belas inci, sehingga bahkan dalam posisi duduk pun ia masih lebih tinggi dari adiknya.

"Kami sempat kebingungan. Mal," ujar Samantha, membuka lembaran masa lalu kehidupan orang tuanya saat Malcolm menghilang. "Ayah didera oleh sakit kepala yang luar biasa. Kata Ibu beliau sering sekali berteriak di tengah malam karena tidak bisa menahan rasa sakitnya." Samantha memotong beberapa senti rambut kakaknya dan menyingkirkan bagian yang telah terpotong dari pundak Malcolm ke atas lantai dengan menggunakan tepi sisir. "Aku tahu bahwa hidup beliau takkan bertahan lama. Enam bulan yang lalu, dokter yang merawat beliau di UVA mengatakan bahwa beliau hanya bisa bertahan selama tiga bulan. Setiap hari rasanya seperri bonus. Aku tahu hal lni mungkin terdengar aneh bagimu. Hubunganmu dengan Ayah selalu saja canggung, apa pun nya. Semua orang tahu kau lebih condog terhadap Ibu. Lagipula, sudah lama kau pergi dari sini," Samantha mengambil langkah mundur sedikit untuk mengamati sudut leher Malcolm,

"Kurasa, bagiku semua ini masih seperti mimpi. Aku melihat ke pekarangan ini dan aku lupa bahwa aku sudah tidak berada di Amerika Selatan. Aku sudah pulang. Beberapa hari yang lalu, akU masih mengapung di atas Sungai Amazon, seorang diri, mengambil fOto, menulis di atas buku catatanku. Aku juga rindu tempat ini, dan kalau boleh jujur aku lebih sering merindukanmu. Tapi, setidaknya, di sana aku merasa tenang. Aku berada di suatu tempat di mana orang-orang tidak menggosipkan tetangga mereka atau melacak gerak-gerik satu sama lain. Sepertinya tempat itu adalah dunia lain yang memiliki aturannya sendiri. Entahlah, pokoknya keren."

"Keren?" Samantha menarik rambut poni Malcolm dengan sisir, lalu memoteng sebanyak dua senti. "Itu ungkapan terbaik yang bisa kau katakan sebagai seorang penulis?"

"Kau harus pergi ke Brazil suatu hari. Kau harus bertemu dengan orang-orang di sana. Warga asli Brazil sangat rendah hati, tulus. Mereka hidup dari hari ke hari tanpa kerumitan yang kita hadapi di sini."

"Suatu hari, mungkin aku bisa pergi ke sana. Kenapa tidak?Apa ada restoran McDonald's di sana?"

Malcolm segera membayangkan gadis Brazil cantik yang ia temui, lalu tersenym. "Ya, Dik." Senyumnya semakin melebar,"Di sana ada restoran MacDonald's."

Samantha mulai meratakan rambut liar di atas telinga Malcolm. Pria itu menyaksikan gumpalan rambut jatuh ke atas jas hujan yang sedang ia kenakan. Gumpalan rambut itu tak lama ditepis angin hingga jatuh ke atas lantai.

"Ayah dan Ibu sudah meninggal," kata Malcolm Ia terdiam sesaat seolah menunggu kata-kata itu hilang dari dalam pikirannya dan digantikan oleh kalimat lain yang lebih masuk akal. 'Aku akan segera bertemu lagi dengan teman lamaku Nathan, serta segerombolan pasukannya yang gila. Dan aku juga akan segera masuk penjara. Untuk berapa lama? Enam bulan? Setahun? Atau lebih dari itu?" Ia ingin tersenyum lagi. namun tidak sanggup. "Dan aku juga akan berada satu ruangan dengan Rain."

"Semua ini terasa begitu berat dan tiba-tiba, seolah kita terperangkap dalam sebuah sinetron."

Malcolm menghitung tahun-tahun yang telah lewat, seolah tidak mengindahkan perkataan Samantha. "Terakhir kau, aku dan Matt berada di tempat yang sama adalah,kapan?tahun 198;)?"

"Sepertinya begitu,Pada saat ulang tahun pernikahan Ayah dan lbu, bukan?" Samantha memandangi sebuah cermin kecil di dalam tas yang tergeletak di samping kakinya sambil terus memotong rambur Malcolm. "Itru akhir pekan yang menyenang¬kan."

"Ya, saat itu kau ketahuan sering curang dalam permainan , scrabble."

"Aku tidak main curang!" Samantha menyentil telinga kanan Malcolm dengan sisir.

"Aduh! Kau tidak Ingat pidato Ayah? Aku meyakinkan beliau bahwa kau merryimpan huruf-huruf lain di pangkuanmu dan beliau menyatakan kekecewaannya padamu. Beliau berkata .. "keluarga Cooper tidak boleh main curang. Edit teks bu nora

http://ebukita.wordpress.comkan Matt tertawa mendengarnya. ia tahu aku sudah berhati-hati melempar sejumlah kubus huruf ke aras pangkuanmu di bawah meja. Ketika kau bangkit berdiri unruk menjawab telepon, lima belas huruf segera berjatuhan ke lantai." Malcolm 'tertawa. "ltu adalah masa-masa indah."

"Indah bagimu," Samantha dengan gesit mempercepat gerakan mengguntingnya. "Aku hanya akan meratakan rambut belakangmu yang tumbuh liar seperti sarang burung." Potongannya merambah dari belakang ke semua sisi kepala Malcolm sebelum Malcolm mampu protes, potongan rambut barunya tampak seperti seorang perwira angkatan daraat.

Ketika Samantha menyapu sisa-sisa rambut Malcolm yang berserakan di lantai, pria itu bergulat untuk melepaskan jas hujan yang melekat di tubuhnya, menggaruk telinganya lagi sembari menarik jas tersebut lewat kepalanya, Ia melepas kaus yang ia kenakan dan mengibasnya berkali-kali agar helaian rambut yang menempel bisa segera terhempas. Malcolm melarikan jemarinya ke rambut-rambut yang tumbuh di atas dadanya dan menemukan beberapa helai uban tumbuh di sana. Dia bediri menghampiri keran air yang sedang menyirami tanaman di pekarangan, membungkuk dan memhiarkan air dingin mengguyur kepalanya. Dengan gusar Malcolm mengacak-acak rambut pendeknya sambil mengoceh panjang lebar tentang kepercayaan antar saudara.

"Aku takkan memaafkanmu semudah itu," gerutunya pada Samatha. "Dua tahun kuhabiskan menunggu agar rambutku bisa tumbuh panjang."

"Aku menyesal tidak sempat melihat rambut panjangmu," suara yang familiar tiba-tiba mendekatinya dari belakang.

Malcolm menjauh dari semprotan air dan berdiri tegak. Rain.

"Sam yang memberitahuku bahwa rambutmu sudah panjang. Seandainya saja aku sempat melihatnya." Rain melempar senyuman yang membuat matanya menari dan dahinya mengerut; seuyum yang menurut Malcolm diimpikan pelukis besar, Van Gogh, tapi yang tidak pernah bisa dilukis karena ia tidak mampu melukis wajah secantik Rain.

Selama dua tahun belakangan ini, Malcolm sudah membayangkan ratusan kali di kepalanya tentang pertemuannya kembali dengan Rain. Apakah yang akan dikatakan Rain? Apakah ia akan mengenakan kalung yang diberikan Malcolm saat pesta dansa mereka? Kalung yang membuar Nathan cemburu ketika Rain mengenakannya? Akankah Rain berbicara pada Malcolm?

Malcolm juga sering bertanya-tanya apakah yang akan dia katakan kepada Rain jika mereka bertemu kembali setelah dua rahun terpisah. Dua tahun lalu, sejak ia ditolak mentah-mentah setelah pertengkaran hebat di Bar Woody's, Malcolm tidak pernah melihat ke dalam mara Rain.

Meski tidak disengaja Malcolm mengamati Rain dari ujung kepala hingga ujung kaki layaknya sebuah karya seni. Rambut Rain masih terlihat begitu hidup seperti yang diingatnya.Walau Malcolm jarang melihat Rain mengacak rambutnya sendiri, rambutyang benwarna cokelat muda itu selalu saja tampak seolah setiap helainya telah ditempatkan di posisinya masing-masing. Mau diapakan saja,berantakan, basah, diikat kuncir kuda, dikonde, atau menempel di dahinya setelah melakukan kegiatan olahraga berkeringat,rambur Rain selalu tampak natural.

"Malcolm?''

Pria itu seolah tersesat di dalam tatapan Rain. Bola mata Rain yang berwarna hijau tua tampak sangat menonjol; warna yang sesuai dengan pipi kemerahannya. Selama dua tahun ini, Malcolm berusaha melarikan diri dari tatapan mata Rain, tetapi ia baru sadar sekarang bahwa selama di Amerika Selatan, ia justru dikelilingi oleh bayang-bayang warna mata Rain.

"Mal?''

Malcolm buru-buru melepas tatapannya dan menggelengkan kepalanya,"Ya, rambut panjangku memang cukup keren," Dasar tolol, kutuknya pada diri sendiri, tetapi takut kalau-kalau Rain mendengar pikirannya barusan,

"Seperti yang kukatakan tadi," senyum Rain semakin mengembang, "aku menyesal tidak sempat melihatnya,"

Malcolm membungkuk lagi mematikan keran air, mengambil selembar handuk dan mengeringkan kepala serta mengelap tetesan air yang membasahi pundak dan lengannya.la mengambil kaus yang dilemparnya, ke lantai dan mengenakannya di kepala.

"Jangan menyesal," kata Malcolm akhirnya bisa bernapas seperti biasa setelah beberapa menit merasakan dadanya sesak menyusul kehadiran Rain di dekatnya. "Dengan rambut seperti itu aku terlihat seperti orang hutan."

Senyumdi wajah Rain mendadak hilang, berganti dengan ekspresi sedih. "Aku turut berduka cita atas meninggalnya orang tuamu."

"Terima kasih."

"Boleh aku memelukmu?"

"Apa Nathan tidak keberatan?" Dasar tolol, katanya lagi pada diri sendiri. Tapi sebelum ia bisa memikirkan hal lain, Rain segera menghampirinya dengan kedua lengan terencang dan air mata yang membasahi mata. Malcolm tridak pernah mengatakan kepada siapa pun bahwa ia mencintai cara air mata Rain membasahi bulu matanya yang lebat, Setelah beberapa detik, air mata itu menetes ke pipinya dan berlomba menggapai dagunya.

Keduanya berpelukan dan wangi parfum yang dikenakan Rain membuat bulu kuduk Malcolm berdiri.

"Aku turut berduka cita atas meninggalnya 0rang tuamu." Kali ini Rain membisikkan kalimat itu di telinga Malcolm.

"Terima kasih," Malcolm balas berbisik dan menjatuhkan lengannya dari tubuh Rain. Tidak lama, Rain pun melakukan hal yang sama.

"Aku senang kau ada di sini," Rain menarik sebentuk sapu tangan dari saku depan celana denimnya. Dengan sapu tangan itu, ia menghapus air matanya sendiri yang membasahi pipi dan dagunya. "Aku sudah siap. Aku belajar dari pengalaman. Hari Kamis kemarin, aku menghapus air mata yang membanjiri mata dan hidungku menggunakan lengan kerneja yang kukenakan,aku tidak sabar melihat tagihan dry cleaning ku nanti." Ia setengah tertawa.

"Mau masuk?" Malcolm menunjuk dengan anggukan kepala ke arah beranda.

"Tidak. Orang-orang sudah mulai berdatangan untuk acara makan siang dan aku ingin sendiri sebentar,"

"Satu pertanyaan saja?" Malcolm terkejut berapa mudahnya ia jatuh ke dalam rutinitas mereka yang dulu.

"Satu pertanyaan." Rain juga tampak merindukan kebiasaan mereka.

"Oke," jawab Malcolm. "Mari kita duduk di ayunan."

Rain mengikuti langkah Malcolm melintasi halaman belakang menuju sebuah ayunan untuk dua orang yang bergantung di dahan pohon maple,

"Samantha dan aku melihat kedua orangtuamu duduk di sini kurang dari serninggu yang lalu. Kalau, tidak salah, Minggu malam. Ayabmu sedang berada dalam kondisi yang baik. Setelah makan malam Laurel mengajak beliau duduk di sini. Mereka duduk selama sejam, mungkin lebih."

"Ayah dan Ibu sangat menyukai ayunan ini. Mereka bahkan membawanya jauh-jauh dari Chaelottesville." Malcolm mendorong ayunan yang mereka duduki, hingga mereka mulai mengayun pelan.

"Benarkah begitu? Aku tidak pernah tahu."

"Hadiah dari Paman Joe. Kalau tidak salah, beliau yang membuatnya sendiri."

"Serius?"

Malcolm mengangguk.

Aku yakin ibumu berpikir bahwa suatu hari beliau akan duduk di sini sendirian. Beliau pasti tidak pernah membayangkan kejadiannya akan seperti ini."

"Siapa yang bisa membayangkan kalau semuanya akan berakhir seperti ini?"

Rain mengangguk "Aku ingin berterima kasih padamu." "Untuk apa?" Malcolm mendorong kakinya sekali lagi, dan keduanya mulai bersandar di atas ayunan.

"Untuk apa yang kaulakukan malam itu. Menyelamatkanku."

Malcolm menatap Rain. "Kau tidak perlu berterima kasih padaku untuk itu, Rain. Siapa pun pasti akan melakukan hal yang sama."

"Mungkin saja. Tapi harga yang harus kaubayar sangat mahal. Tidak banyak orang yang berani melakukan itu."

"Kau benar, Orang lain mungkin tidak akan sebodoh aku hingga berlaku kelewatan."

"Kau benar-benar menghabisi pria itu." Malcolm.mengangkat bahunya."Sudah sepantasnya begitu."

"Tapi, apa kau juga harus memukuli kekasihku?" Rain tersenyum dan menyikut pinggang Malcolm .

"juga sudah sepantasnya."

Rain menggelengkan kepalanya. "Aku tidak mau mendengar alasanmu. Kecemburuan bukanlah sesuatu yang bisa kauatasi dengan baik."

Mereka berayun dan mendengarkan gesekan tali tambang yang beradu dengan dahan pohon di atas kepala mereka. Dua ekor tupai saling berkejaran menuruni batang pohon, lalu berlarian lagi di atas rumput halaman. Udara bulan April membawa harum musim panas yang akan segera tiba.,

"Kau tahu, ia mencintaiku."

Malcolm mengamati rerumputan di bawah kakinya,

"Aku bisa melihat sisi Nathan yang tidak dilihat oleh orang lain. la memang ambisius, Dan aku tahu banyak orang merasa risih karenanya. la juga punya kebiasaan mencampuri urusan orang lain, aku tahu itu,tapi ia tulus dan terikat."

"Terikat pada apa?"

"Terikat padaku, Pada sebuah keluarga. Pada kehidupan yang baik." Rain menatap ke seberang pekarangan yang rumputnya terpangkas rapi melihat sosok pasangan yang sedang berbincang¬bincang di atas anak tangga."Nathan punya banyak impian dan sebuah rencana pasti. Aku mengagumi tekadnya. Aku senang menjadi bagian dari impian-impian itu. Kurasa, bahkan implannya kini telah menjadi impianku juga."

"Bagaimana dengan impianmu sendiri?' tanya Malcolm.

"Berikan aku sebuah rumah penuh dengan anak yang memanggilku Ibu, seorang laki-laki yang mencintaiku dan menuliskanku satu atau dua puisi sesekali, atau mungkin yang bisa membuatkanku sebuah ayunan seperti ini,dan impianku akan menjadi kenyataan."

"Nathan menulis puisi untukmu?"

"Ia berusaha." Rain tersenyum. "Setidaknya, ia berusaha."

Rain menolehkan kepalanya untuk melihat profil Malcolm yang tampan dari samping, "Boleh aku menanyakanrnu sesuatu?" tanya Rain.

"Hanya satu pertanyaan?"

"Sebenarnya, ada dua,"

"Silakan saja."

"Kenapa kau pergi?"

Sekali lagi Malcolm mendorong kakinya di atas tanah dan membuat mereka terayun lebih tinggi. Dahan pohon yang menahan berat badan mereka tampak sedikit rnelekuk,

"Pilihan."

"Pilihan?"

"Kita semua harus menentukan pilihan.Aku telah menentukan pilihanku.Aku memilih kebebasan dan Brazil daripada menghabiskan waktu berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun dalam penjara.Dan aku memilih untuk tidak menyaksikan pernikahanmu dnegan Nathan."

"Tahunan di penjara?"Rain tidak mengindahkan kalimat terakhir Malcolm.

"Dengan catatanku di kepolisian?pasti.:Malcolm bersandar di punggung ayunan."Aku kelewatan.Aku nyaris membunuh laki-laki yang hendak memperkosamu."

"Ya,tapi kau tidak membunuhnya."

"Aku meninju jaksa penuntut umum."

"Dua kali."

Malcolm tersenyum."Tunaganmu membangun kasus yang sangat menarik."

"Nathan berjanji kau akan dipelakukan dengan adil."

Malcolm menengadahkan wajahnya,menatapi ranting-ranting di atas mereka."apakah dia pernah mengatakan padamu bahwa kau pantas dibela?"

"APa?"

Malcolm merendahkan kakinya dan lama-kelamaan ayunan itu bergerak semakin pelan."katamu kau punya dua pertanyaan."

Rain melompat ke atas rumput dan menatap wajah Malcolm.

"Kenapa kau tidak pernah menjawab suratku?"

Pertanyaan itu tidak mengagetkan Malccolm.Ia tahu isi surat itu.Ia selalu menduga bahwa Rain menuliskan tentang kabar pernikahannya dengan Nathan dan oleh karena itu ingin mengucapkan selamat tinggal pada Malcolm.Malcolm membawa surat itu ke mana-mana,tapi tidak pernah ia buka.

"Aku menunggu balsanmu."Rain mempelajari ekspresi Malcolm,lalu menggelengkan kepalanya."Ibumu mengirimkan sebuah paket setelah kau pergi ke Brazil.Beliau mengirim sebuah telepon satelit,aku bahkan pergi ke fairfax bersama beliau untuk membeli telepon itu. Sebelum beliau menutup kardus yang akan dikirim,aku menyelipkan sepucuk surat untukmu."

"Aku tidak pernah menerimanya.Aku tidak heran,Disana orang-orang membuka barang kiriman dari luar,terutama paket-paket besar.Mereka mencari oleh-oleh yang bisa mereka makan atau gunakan,permen,perangko,sepatu nike.Seseorang pasti sudah mengambil suratmu sebelum aku menerima paket itu."

"Mereka mengambil suratku,dan bukannya telepon satelite yang jelas berharga mahal?"

"Itu sudah biasa."Malcolm tidak sanggup mengatakan yang sebenarnya,bahwa ia selalu merasa takut untuk membaca surat Rain.Bahkan melihat amplopnya saja ia merasa seolah dadanya teriris. Ia membayangkan isi surat itu mengabarkan bahwa Rain dan Nathan sudah menikah,dan ia tahu bahwa melihat tulisan tangan Rain yang melingkar-lingkar akan membuatnya susah tidur selama berbulan-bulan.

"Sayang."Rain tersenyum,tapi kali ini senyumnya tidak selebar senyum sebelumnya waktu pertama kali melihat Malcolm."Seandainya saja kau menerima surat itu."Ia membenarkan blusnya agar terlihat rapi."Sebaiknya aku masuk ke dalam.Samantha dan A&P mungkin membutuhkan bantuanku mempersiapkan makan siang."Ia memutar badannya dan melangkah menuju ke penginapan.

"Rain?"panggil Malcolm.

"Ya?"

"Mengapa kau dan Nathan belum menikah?"

Rain menghela napas."Waktunya belum tepast."Ia berbalik dan melanjutkan langkahnya.

"Rain?" panggil Malcolm lagi.

"Ya?"

Malcolm menatap Rain lama-lama."Tidak ada apa-apa."

Rain melambai dan berjalan meninggalkannya.

Malcolm duduk di atas ayunan,menghirup udara di sekitarnya bahkan ditempat terbukaa seperti ini,dikepung oleh harum parfum yang dikenakan yang dikenakan Rain.

Dasar tolol,ia mengutuk diri sendiri.

Acara makan siang yang diatur A&P dengan cepat berubah menjadi ajang reuni antar pelanggan penginapan Domus Jefferson,baik itu yang sudah jadi pelanggan tetap maupun yang hanya pernah menginap satu atau dua kali.Lebih dari dua puluh orang tamu menghadiri acara tersebut,kebanyakan dari mereka sudah mengenal satu sama lain karena pernah tidak sengaja bertemu saat menginap di Domus Jefferson pada waktu bersamaan.Jika ada yang belum saling kenal,maka Rain dan Samantha akan memperkenalkan mereka.Terlepas dari tingkat keakraban para tamu dnegan dengan mendiang suami isteri Jack dan Laurel,semuanya merasa berutang budi dan oleh karena itu wajib menghormati anggota keluarga yang ditinggalkan.

Sementara gerombolan pengunjung menikmati sajian makan siang yang berupa roti hangat dan irisan daging ham khas Virginia,serta salad kentang buatan Rain, A&P tak henti-hentinya mengulang kenangan yang ia miliki bersama Jack dan Laurel di penginapan itu.Beberapa cerita mengundang tawa,sementara cerita lainnya membuat ruangan tempat mereka berkumpul jadi

sunyi senyap, diisi sesekali oleh suara isak tangis dan helaian tisu yang ditarik dari wadahnya,

Pada kesempatan ini pula Samantha memperkenalkan putrinya yang berusia sepuluh tahun, Angela, kepada para tamu.

"Halo, semuanya," sapa Angela.

"Angela pintar seperti ayahnya dan cantik seperti ibunya," Samantha mengumumkan, diiringi oleh senyuman bangga.

A&P memperkenalkan pasangan Joy dan Moody Faulkner di kesempatan yang sama, Joy dan Moody pernah menginap di Domus Jefferson selama dua malam saat musim semi tahun 1982. Karena mereka sangat menikmati layanan yang diberikan oleh penginapan itu. Moody mengundurkan diri dari posisinya sebagai rekanan di sebuah firma hukum bergengsi di Washington. Setelah itu, pasangan tersebut membeli sebuah penginapan yang kemudian mereka kelola sendiri di Lembah Canaan yang indah di negara bagian Virginia Barat.

"Jack dan Laurel sangat bermurah hati kepada kami," Joy menjelaskan kepada tamu-tamu lain. "Kami menelepon mereka suatu hari untuk mengabarkan bahwa kami sedang dalam proses membeli sebuah penginapan yang terletak tidak jauh dari Tim¬berline Resort. Sebenarnya, kami hanya ingin tahu lebih banyak tentang harga, promosi, hal-hal. seperti itu lah. Tapi, mereka justru menugaskan Rain untuk mengurus Demus Jefferson. Benar 'kan, Rain?"

"Benar," Rain mengangguk dari ambang pintu dapur .. "Sementara Rain bertanggung jawab di sini, Jack dan Laurel datng menghampiri kami. Mereka datang tepat saat kami baru saja selesai mengurus proses pembelian penginapan itu, benar 'kan, Sayang?' Joy menoleh ke arah Moody dan menepuk lutut suaminya dengan penuh kelembutan. Moody meneguk cairan soda 7-Up dari dalam kaleng dan mengangguk. "Jack dan Laurel tinggal di penginapan kami selama dua-tiga hari dan mengajarkan kami semua yang perlu kami ketahui tentang teknik mengelola sebuah penginapan. Kurasa, sepuluh tahun pun takkan cukup bagi kami untuk mempelajari semua itu dari buku petunjuk dan majalah yang membahas teknik-teknik yang diajarkan Jack dan Laurel kepada kami. Bahkan nama penginapan kami; Harmony woods, merupakan usul Laurel. Nama yang sempurna. Kau ingat itu 'kan, Sayang?" Joy menepuk lutut suaminya sekalilagi. "Tuhan benar-benar menciptakan karakter yang luar biasa dalam diri pasangan Cooper. Benar-benar luar biasa. Mana ada pasangan lain yang mau membantu sejauh itu untuk orang asing?"

"Mungkin tidak ada orang seperti mereka," sahut Rain. "Tapi kalian bukan orang asing. Kalau kalian sudah menginap sehari saja di Domus Jefferson maka kalian secara otomatis sudah jadi bagian keluarga Cooper." Rain mengangkat gelasnya ke udara untuk menyulang mendiang Jack dan Laurel.

"Setuju," seisi ruangan itu bergumam sambil mengangkat gelas mereka tinggi-tinggi ke udara, Sedangkan A&P mengangkat senter Maglite-nya tinggi-tinggi.

Matthew menyambut pasangan Morgan, yang berasal dari Liberia dan tinggal di Kora Reston, Virginia. Mereka adalah pelanggan tetap di Domus Jefferson yang berkunjung setiap tahun di hari Valentine. Pada kesempatan yang sama, mereka memperkenalkan Matthew kepada tiga putra-putri mereka, Tim, Lisa, dan Kimberly.

"Sepertinya kita sudah menaikkan populasi minoritas di woodtock sebanyak seratus persen," canda salah seorang tamu.

"Mungkin kami harus pindah dan menjadi penduduk di kota ini," Nyonya Morgan balas menggoda."Sedikit keanekaragaman akan mengguncang penduduk di sini."

Matthew menimpali bahwa salah satu kekuatan magis penginapan yang dimiliki oleh orang tuanya adalah menarik para tamu dari berbagai latar belakang yang berbeda, Dan pada akhirnya, mereka semua menjadi keluarga instan.

"Nyonya Morgan mengangguk setuju. "Karena itulah kami berlangganan di sini. Bertemu dengan Jack dan Laurel sekali setahun sudah cukup membuat kami merasa seperti bagian dari keluarga mereka, meski kami tidak ada hubungan darah dengan Jack dan Laurel."

"Keluarga Instan," A&P berkata, "Kau benar sekali." Samantha melangkah ke tengah ruangan dari posisinya yang cukup jauh di sudut, ia mengambil tempat di samping Kristen Rirch yang duduk di dekat perapian, "Layne ada di mana?" bisiknya.

"Dia tidak bisa datang. Sibuk kerja."

"Kalian baik-baik saja?"

"Ya. Layne dapat promosi di pekerjaannya beberapa bulan yang lalu dan sejak itu ia tidak pernah libur, Tapi kami baik-baik saja, malah lebih baik dari yang kuharapkan selama ini."

"Aku senang mendengarnya, Bagaimana kabar Kay?"

"Dia sedang kuliah di Universitas Brown, baru mulai bulan September kemarin. Dari nada suaranya yang kudengar setiap maiam lewat telepon, sepertinya dia rindu sekali pada kami dan ingin pulang. Tapi, aku yakin, dia siap untuk maju dan tumbuh menjadi wanita dewasa, Sekarang, rumah kami kosong."

"Apa kau juga terjangkit sindrom kesepian?"

"Ha! Kalau ini adalah sebuah penyakit, maka aku senamg berada dalam kondisi ini. Aku dan Layne bisa tidur sampai pukul sembilan pagi, sesekali bahkan kami mondar-mandir di dalam rumah hanya mengenakan piyama saja." Kedua wanita itu terkekeh geli.

"Kris, apa kau keberatan jika aku membagi kisah hidupmu dengan tamu-tamu di sini?'

"Tentu saja tidak, Aku justru merasa bangga."

Samantha segera bangkit berdiri di atas tungku bat. "Kawan semuanya, apa kalian mengenal Kristen?" Beberapa kepala mengangguk sejumlah lainnya menatap penasaran. Samantha meletakkan tangannya di atas pundak Kristen. Kristen adalah teman baik keluarga kami. Dia tinggal di Roanoke."

"Halo semuanya," sapa Kristen malu-malu.

"Sekitar, berapa, sepuluh tahun yang lalu ya?"-Kristen mengangguk dan Samantha lanjut bercerita-"Kristen dan suaminya, Layne, mampir ke WoodstOck bersama putra mereka, Cameron, dan putri mereka, Kay. Cameron sedang melakukan perawatan untuk menyembuhkan penyakit kanker otak yang dideritanya, dan situasinya pada tahap itu benar-benar terlihat tidak menguntungkan." Kristen melingkarkan sebelah lengannya mengelilingi lutut Samantha lalu menyandarkan kepalanya di paha Samantha, "Cameron adalah seorang siswa SMP yang sangat, sangat pintar. Ia bahkan diberi penghargaan sebagai ilmuwan Nasional."

"Selamat ya," ujar seseorang dari tengah kerumunan para tamu, Yang kebetulan tahu benar betapa bergengsinya penghargaan tersebut.

Kristen mengucapkan terima kasih lewat gerak bibirrrya, sementara matanya mulai basah oleh air mata.

"Jika kalian mencari istilah ahli sejarah di dalam kamus, kalian akan melihat foto Cameron yang mengenakan kemeja dan dasi. Ia sangat mencintai era Perang Saudara, Ia amat mengagumi jenderal Stonewall Jackson dan tahu segalanya tentang beliau."

"Belnar sekali," gumam Kristen, menganggukkan kepalanya membayangkan masa-masa lampau bersama putranya, seperti yang sering ia lakukan sehari-hari.

"Setiap kali mereka harus berkunjung ke Washington, D.C. untuk memberikan perawatan kepada Cameron, mereka selalu belok pada Rute 81 dan mampir di penginapan ini, Cameron dan Ayah berbincang selama berjam-jam tentang sejarah lembah dan kota ini, serta sejarah kota-kota kecil yang digambarkan di peta hanya dengan sebuah titik. Cameron juga sering memanggilAyah dengan sebutan kakek. Kurasa, Ayah menyukai panggilan itu. Mereka punya satu ikatan pribadi berdua .... "

"Setelah perawatan Cameron yang terakhir, rumah sakit tempat ia dirawat memberikan-dua pilihan kepada Kristen dan suaminya. Putra mereka bisa terus dirawat di rumah sakit, tetapi tanpa barapan untuk keluar, atau membawa putra mereka pulang dan membiarkannya meninggal dengan tenang." Pada titik ini, bahkan sejumlah anak yang sibuk bermain kontan berhenti untuk mendengarkan lebih lanjut..Hanya Malcolm yang tiba-tiba menghilang dari dalam ruangan itu. A&P mengamati sekeliling¬nya dan terkejut melihar padatnya ruangan.

"Cameron membuat pilihannya sendiri;" lanjut Samantha.

"Tanpa sepengetahuan orang tuanya, ia menghubungi Ayah dan bertanya apakah ia boleh tinggal di sini selama beberapa hari. Dokter yang merawatnya mengatakan bahwa ia hanya akan bertahan hidup selama beberapa minggu, paling lama sebulan, tapi Cameron lebih tahu. Iya 'kan, Kris?"

"Memang benar. Dan kalau kuingat-ingat, aku pasti sudah memarahinya kalau tahu apa yang ia lakukan.' Ruangan yang dipenuhi dengan ketegangan tiba-tiba menghaturkan tawa singkat. Kristen menyeka air matanya.

"Beberapa dari kalian mungkin sudah mendengar cerita ini, dan bagi kalian yang belum pernah ... pasti terkejut jika kalian tahu bahwa kedua orang tuaku membuka tiga kamar dari tujuh kamar yang ada di penginapan ini untuk keluarga Birch selama mereka membutuhkannya, Hari pertama mereka menginap, Ayah mengajak Cameron dan Layne mengelilingi Rute 11 untuk melihat-lihat semua lokasi bersejarah, Cameron ingin pergi ke Manassas untuk melihat medan perang di Bull Run, tetapi sayang kondisinya terlalu lemab untuk bepergian ke sana." Samantha sempat berhenti di tengah-tengah kisahnya, ragu. "Cameron sangat lemah sepertinya, setiap jam tenaganya semakin berkurang. Pada hari ketiga atau keempat, Cameron sudah tidak sanggup bangun dari tempat ridurnya. Ayah dan ibunya .... "

Samantha tersedak oleh air mata yang mulai memenuhi tenggoroknya. Ketika ia bersiap untuk melanjutkan ceritanya, mendadak Malcolm muncul di ambang pintu, Dengan hati-hati, ia melangkah di antara barisan tamu yang duduk di kursi lipat atau pun di atas lantai. Malcolm menyerahkan sebentuk kop surat Demus jeferson kepada adiknya dan mengambil tempat duduk di sisi Kristen.

Samantha membaca satu,dua paragraf yang tertera di atas kop surat, lalu membungkuk dan berbisik di telinga Kristen. Beberapa saat kemudian, Kristen mengambil alih kop surat tersebut dan bangkit berdiri. Samantha kembali duduk dan bergeser lebih dekat dengan Malcolm. Malcolm merangkulnya dan dengan penuh kasih sayang menarik kepala diknya agar bersandar di pundaknya.

"Saya tahu sore ini penuh dengan cerita-cerita kenangan," Kristen meuarik napas dalam-dalam, lalu menghembuskan kata-kata berikutnya. "SaYa harap kalian juga akan mendengarkan cerita saya."

"

11 Februari 1979

Aku menulis uart ini di hari minggu,lain dari biasanya.Rasanya kadang-kadang kita boleh membuat pengecualian.Kalau ada seseorang yang berhak mendapat pengecualian.kalau ada seseorang yang berhak mendapat pengecualian.orang itu adalah Camaeron.

Seminggu ini adalah waktu yang sangat membuatku bahagia.Memang situasinya sangat menyayat hati,tetapi aku senang kita mendapat kesempatan untuk melakukannya.Aku senang karena Cameron meminta untuk tinggal bersama kita disini.Eh bukan senang melainkan bangga

saat kau sedang keluar jalan-jalan dengan Sammie sore tadi aku menelepon Pastur Braithwaite dan meminta beliau untuk datang mengunjungi Cameron dan orang tuanya. Aku tidak ikut menemani mereka di kamar.tapi ketika beliau turun dan ke lantai bawah..beliau menangis.Beliau memandangku untuk waktu yang lamaa seolah ia tidak tahu harus berkata apa.Lalu beliau mengatakan bahwa ia tidak pernah bertemu sosok manusia yang begitu siap menemui sang pencipta seperti Cameron.Beliau bahkan berharap suatu hari beliau juga bisa siap seperti Cameron.

KAu tahu kebanyakan orang dalam kondisi Cameron akan menyalahkan tuhan atas derita yang mereka alami.Kurasa kalau aku berada dalam posisi itu aku akan menyalahkan tuhan.

Aku pasti sudah menceritakan semua ini kepdamu secara langsung kalau aku sanggup melakukannya tanpa menitikkan air mata.Kau tahu sendiri bagaimana perasaanku jika tertangkap basah menangis dihadapan orang banyak.Seusai makan malam,saat kau sedang mencuci piring.Layne turun ke bawah dan menyampaikan bahwa Cameron hendak bertemu denganku.Jadi aku menghampiri kamarnya dan duduk disudut ranjangnya.Orang tua Cameron pamit sebentar dari kamar dan meninggalkan kami berdua,meski seharusnya mereka tidak perlu melakukan itu.

Cameron berterima kasih padaku untuk waktu yang telah ia lewatkan bersama kita dan untuk hal-hal lainnya.Ia juga berpesan agar aku memberikan ciuman hanggat kepadamu nanti (oh ya senyumnya mengembang sangat lebar saat ia mengatakan itu).Kemudian Cameron menggenggam tanganku dengan sisa tenaga.

yang ia miliki.Lalu meteakkan sekeping kuno dari tahun 1965 di atas telapak tanganku.Ia bilang "Kau boleh memiliki koin ini."Koin itu adalah benda keberuntungan yang selalu dibawanya kemana-mana sejak ia didiagnosis mengidap kanker otak setahun yang lalu.Ia membelinya di sebuah toko Roanake sehari sebelum keluarganya membawa dia ke washington DC untuk menjalani tes kesehatan yang pertama.

Cameron lalu meletakkan di atas tanganku dan berkata "Tuan Cooper kadang-kadang benda keberuntungan tidak ada gunannya."ia tersenyum "Setidaknya begitulah menurutku."

Aku tertawa dan mengecup bocah itu dipipi.Kami berdua menangis,sampai-sampai aku ngeri tubuhnya tidak sanggup mengantisipasi emosi yang berlebihan.Akhirnya aku menenangkan diri dan menghapus air mata yang membasahi pipi dan matanya.Aku memeluknya untuk yang terakhir kali dan kukatakan padanya bahwa ia harus menghabiskan waktu bersama keluarganya.Aku beranjak dari tempat tidur dan bergegas untuk keluar.Namun ketika aku menoleh untuk memandanginya,wajah Cameron sedang menoleh ke arah lain.menatapi sebuah lampu di atas meja tidur.

Laurel aku juga tidak akan mempercayai apa yang akan kuceritakan kepadamu sekarang jika aku tidak mendengarnya sendiri.Tapi apa yang kudengar begitu nyata.

Cameron membuka matanya.Kedua bola matanya tampak jernih dan jauh lebih bersemangat dari hari-hari sebelumnya.Dengan suara serak ia berkata "Stonewell?'

SepuLuh menit kemudian Kris,layne dan kay kecil turun ke bawah.Lyne memintaku mulai menelepon orang-orang.Cameron sudha meninggal.

Aku tahu bahwa kematian bukanlah sesuatu yang membahagiakan,tapi selagi aku menuliskan surat ini untukmu..aku tidak bisa menyangkal.Kedamaian yang menyelimuti hatiku.Aku bahagia mengetahui sekarang Cameron sudah terbebas dari penderitaannya.Dan walau keluarganya merasakan kekosongan dalam hidup mereka tanpa kehadiran Cameron,aku yakin mereka tahu bahwa Cameron kini berada di tempat yang lebih baik.

Aku membayangkan bocah itu sudah melangkah melewati gerbang masuk menelusuri medan perang Bull run yang berkabut di Manassas.Tapi ia tidak sendirian, Stonewall Jakson ada bersamanya.

Sekarang aku tahu kenapa tuhan melibatkan dirinya di hari minggu.dihari itu.ia menyambut orang-orang favoritnya.

Jack

Kristen melangkah turun dari atas tungku batu dan segera dikerumuni oleh tamu lainnya. Satu per satu mereka memeluknya, bahkan yang sebelumnya tidak pernah ia kenal. Ia menyapa satu per satu kawan barunya dengan rasa haru. "Terima kasih .... Terima kasih banyak. Semua ini bukan berkat'Cameron,

tapi berkat keluarga Cooper..Senang bertemu dengan Anda ....seandainya saja Layne ada di sini .... Anda baik sekali, terima kasih."

Pada akhirnya, para tamu pun berpencar ke berbagai ruangan dalm penginapan dan melanjutkan obrolan mereka. masing-masing. Dua pasangan berbincang dan bergiliran duduk di ayunan di halaman belakang.

Setelah berberes, A&P mohon diri kepada keluarga Cooper. "Aku dan Castro ingip jalan-jalan sebentar, Ialu beristirahar sebelum acara berikutnya dimulai. Kalau ada waktu, aku juga ingin membeli beberapa buah senter," Ia menghentikan langkahnya di pintu. "Sampai bertemu beberapa jam lagi, ya."

"Aku sayang padamu, Anna Belle," kata Samantha. A&P

meniupkan sebuah ciuman jauh kepada Samantha dan pergi dari penginapan itu.

"Dia adalah wanita yang baik hati," kata Malcolm. "Wanita paling baik yang kutahu," jawab adiknya,

Ruang tamu yang sebelumnya penuh sesak dengan pelayat kini terlihat lengang. Matthew, Samantha, Malcolm dan Rain berkumpul di sana. Malcolm, dan Rain bermain catur Cina di atas meja.

"Mungkin kita harus membicarakan perihal surat-surat itu," kata Matthew.

"Aku setuju," sahut Samantha, mendului Malcolm. "Mal?"

"Boleh, tadinya memang aku berencana unruk membaca surat-surat itu lagi setelah tamu-tamu pulang."

Samantha menangkap ekspresi Rain yang kebingungan. "Semalam kami menemukan setumpuk surat. Entah berapa jumlahnyaa mungkin ratusan..."

"Ribuan,'" celetuk Malcolm. "Ha, sekarang aku jadi Raja," kata Malcolm, yang ditujukan kepada Rain, sambil menggeser biji caturnya berwarna merah ke dalam petak merah di sudutr papan catur bagian lawan.

"Malcolm benar," tambah Matthew. "Mungkin ada beberapa ribu surat yang kami temukan, Ternyata Ayah menulis surat untuk Ibu setiap hari Rabu."

"Setiap han Rabu?" Rain hampir tidak percaya.

Matthew mengangguk."Rasanya seperti menemukan harta karun. Memang tidak semua isi surat-surat itu menarik, dan beberapa juga sangat pendek, hanya satu atau dua baris tulisan. Tapi sejauh yang kami tahu, Ayah menulis surat untuk Ibu setiap minggu."

"Wow." Rain merasakan kehangatan timbul dari dalam

dadanya dan menjalar ke tenggoroknya.

"Ya, aku jadi raja lagi," kata Malcolm, sekali lagi menggeser biji caturnya ke atas petak merah di sudut papan.

"Curang," bisik Rain.

"Setelah kita selesai membaca surat-surat itu, mungkin kita bisa mengumpulkannya dalam satu buku," usul Matthew, "Aku punya teman di percetakkan yang mungkin punya beberapa ide lain. Bagaimana kalau kita gabungkan semuanya dalam satu jilid dan difotokopi agar kita semua bisa menyimpannya?"

"Aku suka ide itu, Matt," kata Samantha.

"Kedengarannya bagus," kata Malcolm, melempari biji catur hitam milik Rain sebanyak dua kali dan menghabiskan sisa biji catur Rain dari atas papan. "Aku yakin, kau bisa mengirimkan jilid itu kepadaku di penjara,"

Rain melempar sebentuk biji catur ke arah Malcolm. "Menurutku itu ide yang hebat, Matthew. Aku yakin orang tua kalian pasti menginginkan hal yang sama." Ia bangkit dari Iantai dan meregangkan 0tOt-OtOt tubuhnya. "Yang menang dapar giliran membereskan, ya," katanya kepada Malcolm. 'Akuharus pulang. Nathan dan aku juga ingin jalan-jalan sebentar sebelum pergi ke Rumah Duka Guthrie untuk acara selanjutnya. Kau mau aku yang membawa Alkitab, Sam? Supaya kau tidak perlu repor nantinya? Aku pasti sampai di sana lebih, dulu."

"Boleh juga," jawab Samantha. "Kalau tidak ada di atas meja tidur Ayah."

Rain segera menaiki tangga. "Alkitab? tanya Malcolm.

"Menurut Rain tidak ada salahnya jika kita meletakkan Alkitab di atas meja saat acara melayat jenazah berlangsung. Itu kalau kalian mengizinkan."

"Tentu saja," kata Matthew.

Diatas, Rain mengangkat Alkitab milik Jack dari atas meja dan melihat ada sebuah amplop yang terselip di balik sampul. Ia menarik amplop itu dan membaca tulisan tangan berantakan di bagian depan. Kalimat itu ditulis secara vertikal, dari atas ke bawah.

HAnya untuk Rain,temanku yang tersayang,tolong jaga ini dan berikan kepada pengacaraku Alex Palmer.Kau adalah permata hati.Aku akan merindukanmu.

Jack

(Tolong jaga MAlcolm untukku)

"WAH," Rain menarik napas. Terburu-burU, ia menyelipkan amplop itu kembali di balik sampul dan turun ke bawah.

"Aku pergi dulu, ya," katanya berpamitan.

"Terima kasih ya, Rain,acara makan siang tadi takkan mungkin berjalan lancar tanpa bantuanmu." Samantha dan Rain berpelukan.

Rain melemparkan sebuah kecupan di udara, "Sampai ketemu nanti."

Samantha menekaan jarinya di pundak Malcolm. "Sana, antar dia sampai depan."

Malcolm memberikan gerakan salut kepada adiknya dan mengikuti Rain sampai ke pelataran parkin

"Terima kasih," kata Rain saat Malcolm membukakan pintu mobil untuknya. Dari dalam mobil, Rain menyalakan mesin dan menurunkan kaca jendelanya, Ia menatapi kedua mata Malcolm dan menemukan sosok Jack di sana.

"Aku lupa tanya padamu," kata Rain, "apa kau sudah menyelesaikan bukumu?"

"Buku apa?'

"Jangan pura-pura lupa. Novelmu. Karya besarmu." "Belum."

"Ada kemajuan, Hemingway?'

"Oh, bagus. Sekarang kau membandingkan aku dengan orang yang mati bunuh diri, Terima kasih banyak."

"Aku membandingkan bakatnya, bukan hidup matinya.

Dasar pintar,sok."

"Pintar,sok?"

'Sok pintar, kau tahu lah maksudku." Gigi Rain tampak bersinar saat ia tersenyum.

"Rain, kau memang orang yang penuh pujian, tapi membandingkan aku dengan pengarang terkenal seperti Ernest Hemingway,sungguh tidak adil bagi beliau. Dia itu kan seorang sesepuh dalam dunia sastra."

Rain memiringkan kepalanya ke satu sisi dan membiarkan rambutnya jatuh, terurai dari belakang telinga. "Apa kau akan mengizinkan aku membaca apa yang sudah kau tulis sejauh ini?"

"Mungkin saja, kalau kau datang mengunjungiku di penjara.'

"Malcolm!"

"oh, maaf,aku bercanda. Kau tidak perlu mengunjungiku."

"Kau takkan pernah berubah." Rain mencuri pandang ke arah jam tangannya, tapi senyuman yang tergores di wajahnya merupakan sebuah undangan bagi Malcolm untuk melanjutkan perbicangaan mereka.

"Ceritanya klasik kok," kata Malcolm, menawarkan sinopsis novel yang sedang ditulisnya, "Seorang pria bertemu dengan seorang wanita, jatuh cinta sejak kecil, mengejarnya selama bertahun-tahun."

"Bertahun-tahun?" Rain mengangkat kedua alisnya,

"Bahkan selama puluhan tahun. Pria itu mengejarnya sampai Brazil, di mana si wanita sedang melakukan kegiatan sukarela bersama.sebuah gereja,membangun rumah, mengajarkan bahasa Inggris kepada orang awam, dan berbagi ilmu bermain Pac-Man yang tidak tertandingi oleh siapa pun."

"Yang terakhir itu bobong, 'kan?"

"Kalau tidak percaya, nanti beli saja bukunya." Malcolm mengedipkan sebelah matanya,

"Apa si pria tampan akhirnya mendapatkan si wanita?" Malcolm menunjuk Rain dengan kedua jari telunjuknya.

"Siapa bilang pria itu tampan?"

Rain tersipu, meski hanya sebentar, Tidak seorang Pun, kecuali Malcolm, bisa mendeteksi reaksi Rain barusan, Rain mengenakan sabuk pengamannya dan berpura-pura membetulkan letak cermin mobilnya. "Pokoknya, pastikan keduanya berakhir bahagia apapun yang terjadi."

"Aku ini bukan orang yang suka cerira berakhir dengan keba¬hagiaan. Kau rahu itu.'

"Mungkin seharusnya kau mengubah pikiranmu."

"Dan mungkin suatu hari aku juga bisa mendapatkan akhir yang bahagia." Malcolm mengedikkan pundaknya.

Rain mengulurkan tangannya keluar jendela dan meraih tangan Malcolm. "Akhir yang edit teks bu nora

http://ebukita.wordpress.comagia bisa datang dalam bentuk apa saja.ingat itu." Rain menaikkan jendela mobilnya dan melambai pada Malcolm. .

Malcolm memandangi mobilnya yang pergi meninggalkan pelataran parkir dan berbelok ke Rute 11.

Rain memandangi Malcolm dari cermin di sisi mobil.

"TERUS?" Samantha bertanya kerika Malcolm masuk ke ruang tamu,

"Terus apa? Ayo. kita lanjutkan membaca."

Masing-masing dari ketiga bersaudara itu kembali mengelilingi meja makan yang dipenuhi tumpukan surat.

30 Maret 1988

Laurel

aku punya perasaan yang tidak enak.ini mungkin surat terakhir yang ku tulis untukmu.Aku merasa seolah sudah melewati batas kadar luasaku.seperti susu yang disimpan kelamaan di kulkas.Bagaimana kau suka dengan analogiku barusan?sekarang kau tahu apa yang harus kau tulis di batu nisanku nanti.

aku jadi sering bertanya-tanya apa lagi yang ahrus kulakuakn di dunia?berapa lama sampai aku akan bertemu lagi denganmu di alam baka?sepuluh dua puluh tahun?ibumu meninggal di usia 101.Aku tidak peduli indahnya surga.aku takkan rela menunggumu selam tiga puluh tahun.mungkin untuk menyesali kematianku.kau harus mulai merokok (tapi tolong jangan di dalam penginapan)

pertanyaan lain yang ada di benakku:

kapan aku akan diadili?saat sang pencipta turun lagi ke bumi?apa yang akan kulakukan jika itu terjadi?

Bagaimana aku bisa menemukan orang tuaku?

Apakah aku akan bertemu dengan seseorang setelah aku pergi?seseorang yang lebih baik hati?lebih tampan?lebih sabar?lebih pandai mencium?

dimana aku harus menunggumu?

Laurel.berapa lama lagi aku harus menunggumu?

selamanya

suamimu

N.B apakah ada tempat VIP di surga?tempat dimana aku bisa bertemu dengan mendiang pemain tim Chicago cub yang bernama Gobby Hartnett?atau lebih daripada itu dimana aku bisa bertemu dengan Thomas Jepperson?

NNB Aku serius nih.berapa lama aku harus menunggumu di alam baka?

4 JuLi 1956

Laurel

mungkin ini akibat meninton pertunjukan kembang api.Aku terbangun di tengah malam dan menulis surat ini di meja dapur.Sudah lama sekali aku tidak dihantui mimpi seburuk ini.

Tadi aku bermimpi Joe mati di dalam lubang persembunyian.Ia sedang membaca salah satu suratku dan tertunduk didampingi oelh sebuah pistol.Seorang prajurit jepang melompat ke dalam lubang tersebut dan mulai berteriak-teriak sepertinya dalam bahasa perancis.

kejadian itu tampak nyata sekali.Seperti biasanya dan aku tidak mampu menolong Joe karena aku sendiri tidak memegang senjata.Aku menyaksikan semuanya dari lubang persembunyianku.tepat di samping lubang persembunyian Joe.si pembunuh kemudian membersihkan noda darah di pisaunya menggunakan celana Joe,ia melambai padaku lalu pergi begitu saja.

setidaknya mimpi itu tidak menghantuiku setiap malam atau setiap minggu.Tidak seperti dulu.Tpai tetap saja saat mimpi itu datang aku merasa terperangkap.Meskipun itu hanya mimpi.

aku yakin ini oleh letusan petasan yang kulihat.

Aku akan menelepon Joe besok.

salam sayang

Jack

15 Februari 1956

ini adalah pembicaraan yang seharusnya kita lakukan secara langsung,tetapi sayangnya tidak mudah untuk melakukan itu.Beberapa hal lebih gampang diungkapakan di atas kertas.

Aku menikmati waktu bersama kita semalam.makan malam,musik.kau juga menyukai bunga mawar merah kan?

akau akui,aku berharap semuanya tidak berakhir seperti itu semalam.tiga bulan sudah berlalu sejak Malcolm lahir dan kau masih saja berlaku aneh terhadapku.Aku rindu padamu.aku rindu akan hubungan intim kita yang semakin hari semakin membaik!(tersenyumlah)

AKu akan siap jika kau sudah siap.Tidak perlu terburu-buru karena aku tahu bahwa proses melahirkan seorang anak merupakan hal yang cukup berat bagi tubuh dan keseimbangan emosimu.Tapi kuharap kau akan merasa lebih baik dalam waktu dekat ini sehingga kita bisa menikmati malam romantis berdua.

Mungkin kita bisa liburan di akhir pekan?Kalau itu yang kau inginkan,kau cukup bilang padaku dan aku akan atur semuanya.Termasuk menemukan orang yang bisa menjaga anak-anak kita selagi kita pergi.

salam sayang

Jack

16 JuLI 1980

Laurel

Minggu ini cukup membosankan.Aku bukannya mengeluh karena suratku minggu lalau sama tebalnya dengan buku bacaan.Mungkin bukan bacaan yang menarik,tapi setidaknya tetap sebuah bacaan.

Malcolm dan Sammie pergi makan malam semalam,hanya berdua saja.Kapan terakhir mereka melakukan itu?Aku berani bertaruh kepada Malcolm sedang butuh teman bicara tentang cinta. Entah kenapa,anak itu tidak pernah mau berbicara dneganku mengenai hal tersebut.Seandainya saja ia mau terbuka padaku.

Omong-omong tentang taruhan, apa kita akan bertaruh lagi menyangkut pemilu tahun ini?Reagan tampak cukup kuat untuk memenangkan persaingan ini.Kulihat Bush tidak punya karakter yang tepat untuk jadi seorang presiden.Lagipula,kurasa ia terlalu lemah menangani masalah aborsi dan partai sayap kanan tidka mungkin mendukung kelemahannya itu.Reagan akan membuat Bush hancur lebur sebelum persaingan ini selesai.Dan sulit bagaiku untuk membayangkan bahwa presidenmu,Jimmy carter,akan mengubah hal tersebut.Ia pasti akan kembali bercocok tanam kacang-kacangan musimm panas depan.lihat saja

Kalau kau mau,aku takkan bertaruh apa-apa denganmu untuk sekarang ini.Tapi nanti menjelang pemilu,kita harus bertaruh lagi seperti biasa $1

Salam sayang

Jack

18 Desember 1985

LC

Seminggu lagi natal akan tiba.masih banyak yang harus di kerjakan.Aku senang sekali jika natal jatuh pada hari rabu.seperti tahun ini.itu berarti minggu depan kau akan mendapatkan surat yang sangt panjang dariku.

nah karena aku sudah sangat mengantuk,surat yang kutulis malam ini lumayan pendek.Aku benar-benar lelah

Aku sangat mencintaimu

Jack

16 juni 1971

LAurel tersayang

Selamat hari ulang tahun pernikahan kita !aku sangat menyukai tahun-tahun saat hari pernikahan kita jatuh pada hari Rabu.Berarti kau akan mendapatkan lebih dari kartu ucapan seharga 99 sen yang ku beli di apotek.(Ya ya kau selalau bilang bahwa kau menyukai apa saja pemberianku,tapi wajahmu selalu berubah saat Rabu sudah mendekat).

Sudah beberapa lama ini aku menyusn daftar berikut.Hari ini sepertinya saat yang tepat bagiku untuk emnambahkan beberapa hal.

Hal-hall yang aku suka darimu

1.rambutmu.rambutmu terlihat sama seperti saat kita baru menikah.Bagaimana mungkin?sementara aku sudah memerangi uban sejak aku di sekolah menengah.

2. tawamu.tawa yang keras,bukan tawa kecil yang sopan yang selalu memenuhi penginapan dan menarik para tamu dari kamar mereka masing-masing karena takut kelewatan sesuatu yang seru.Kalau saja mereka tahu apa yang mereka lewatkan.

3.sikap adilmu

4.kesabaranmu

5.caramu melepaskan selimut di malam hari ketika kau berbalik bdan di tempat tidur agar kau tidak menarik selimut itu dari tubuhku.aku bahkan tidak bisa merasakan saat kau memegang selimut itu lagi.dalam posisis barumu,dan menariknya sedikit.aku suka tarikan-tarikan kecil itu.

imajinasimu

7. kebesaran hatimu untuk ememaafkan kesalahan siapa saja.

8. Kecintaanmu pada tuhan.

9.caramu menyetir mobil seolah kau harus pergi ke suatu tempat secepat mungkin.

10.penampilanmu saat disinari oleh matahari sore,di tengah-tengah kegiatan bercocok tanam

11.caramu mencintai anak-anak kita

12.roti panggang ala perancis yang kau buat

13.caramu mendengarkanku saat aku membicarakan hal yang tidak jelas di atas tempat tidur,bahkan saat kau sudh mengantuk sekalipun.

14.suara dengkuranmu

15.kakimu

16.politikmu.kita mungkin tidak selalu setuju,tetapi aku senang bahwa kau peduli terhadap pemerintahan negeri ini lebih daripada kebanyakan orang.

17.caramu menemukan dan mempertahankan sahabat-sahabatmu.itu adalah suatu berkah

18.pidato-pidatomu di pertemuan orang tua murid dan guru

19.matamu sebelum aku maju untuk menciummu,tepat sebelum mereka terpejam.

20.kau

Aku mencintaimu

Jack

1 November 1956

LAurel

Ini mungkin surat terakhir yang kutulis untukmu.Entah kenapa aku masih saja menuliskan surat ini untukmu.Mungkin karena aku sudah terlanjur berjanji.

Kuharap kau menyimpan surat pertama yang kutulis untukmu.Temukanlah surat itu.Bacalah surat itu.

Aku baru sadar bahwa hari ini bukan hari Rabu.Mungkin ini sudah seharusnya.

Hari ini.Malcolm genap berusia sat tahun.

Hujan turun deras sore ini,hampir lima sentimeter dalam waktu dua jam.

Malcolm sudah mulai belajar jalan semalam.Apakah itu yang mndorongmu untuk bicara padaku?Rasa bersalahmu saat melihatku bangga terhadap keberhasilan anak kita?

Aku hanya menuliskan hal-hal ini agar suatu hari saat kau membaca surat ini,bertahun-tahun dari sekarang, kau akan sadar bahwa hari ini semuanya begitu jelas.

Apa yang seharusnya aku lakukan saat kurasakan hidupku direbut dari dalam dadaku,meski anehnya aku masih tetap bernapas.

Apakah aku orang terakhir yang kau beritahu?

Apa yang kau harap aku katakan?apa yang kau ingin aku katakan?Bagaiaman bisa kau hidup dengan rahasia ini?Bagaimana kau hidup dengan ku?

Aku tidak tahu kemana aku akan pergi beberapa hari ke depan.Kalau dan jika aku siap untuk bicara,aku akan bilang padamu.

Jangan cari aku.Setidaknya kau bisa memberiku sedikit waktu.

Jack Cooper

Sunyi senyap.

Matthew dan Samantha saling bertukar pandang. Malcolm menggenggam surat itu di tangannya dan berusaha untuk tidak mengutuk, teriak, dan membalikkan meja makan. Yang paling penting, ia berusaha untuk tidak menangis. Perlahan-lahan, ia meletakkan surat dalam genggamannya ke atas tumpukan surat di dekatnya dan dengan sopan mohon dia ke kamar kecil.

"Apa yang terjadi?" tanya Samantha ..

"Aku tidak tahu sama sekali,"

"Matt, kau kan anak paling tua, apa yang terjadi saat itu?"

"Tahun 1956 usiaku baru 5 tahun. Aku bahkan tidak ingat di mana kita tinggal."

Samantha bersandar di kursinya dan menjulurkan lehernya untuk melihat apakah pintu kamar mandi terbuka. "Apakah Ibu selingkuh? Apakah ini yang membuat Ayah begitu marah?" Tapi sebelum mendapat jawaban, Samantha mulai mengaduk tumpukan surat di dekatnya. 'November 1956. November 1956,"

gumamnya."

"Sam," kata Matthew, "mungkin sebaiknya kita tidak."

"Tidak apa?" tanya Malcolm, kembali memasuki ruangan. Wajahnya sudah dicuci. Beberapa tetes air melekat di dahinya.

"Malcolm," Matthew menarik napas dan meletakkan kedua tangannya di atas meja, "jangan sampai kita menarik kesimpulan yang terburu-buru."

"Ibu selingkuh."

"Kita tidak tahu itu. Kita harus tenang-"

"Ibu selingkuh, Matt. Coba kau baca suratnya sekali lagi."

"Kita tidak tahu apa yang dilakukan Ibu, Mal, kita.."

"Beliau selingkuh!"

"Mal.."

"Beliau selingkuh terhadap Ayah!" teriak Malcolm. "Dan Ayah tidak meninggalkannyal" Malcolm menarik napas panjang dan gemetar, "Ayah tetap mendampinginya. Aku tidak per.."

"Malcolm.." Samantha bangkir berdiri dan mengelus lengan Malcolm.

"..Aku tidak percaya."

"Mal, ayo kita teruskan membaca. Pasti masih ada surat-surar lain,yang bisa menjelaskan kejadian saat itu. Apa pun yang terjadi, nytanya semua bisa diluruskan kembali. Dimaafkan." Samantha menatap Malcolm lekat-lekat. "Benar kean? Ayo, kita harus terus membaca."

Matthew memperhatikan situasi di sekelilingnya seolah ini mimpi terakhir sebelum matahari terbit dan membangunkan tamu-tamu penginapan yang sedang bermimpi. Ia bermimpi kursi koseng di sisinya diisi oleh Monica.

Malcolm kembali duduk dan mendorong tumpukan surat di dekatnya ke tengah meja. Ia menidurkn kepalanya ke atas meja dan menyerah pada rasa sakit kepala yang menyerang. Ia benci pada ibunya.

Samantha menarik sepucuk surat lain dari sebuah amplop tertanda LaIBERTYVILLE, ILLUNOIS, 11/08/1956.

7 November 1956

Laurel

Aku berada di Chicago.Aku naik kereta ke rumah ibuku.Aku berjalan melewati Wrigley Field kemarin,tetapi lapangan itu tampak gelap dan kososng.Seperti aku.

Ibu dan aku berbincang sampai larut malam semalam.Beliau marah aku pulang kepadanya,tetapi setidaknya beliau senang aku tidak pergi ke tempat lain.Menurut beliau,seharusnya aku tetap berada bersamamu,berdebat dan menuntut jawaban atas semua pertanyaanku.Beliau juga menyarankan agar aku mendengar lebih seksama penjelasanmu.Tapi beliau memang begitu karena ayah bukan seorang pendengar yang baik.

Ada suara dikepalaku (atau mungkin di dadaku) yang mengatakan bahwa ada sesuatu yang hilang antara kita satu atau dua tahun belakangan ini.Mungkin aku juga kurang saksama mendengarkan suara itu.

Kau menangis saat Malcolm lahir.Apa kau ingat kerasnya tangisanmu waktu itu?para suster yang merawatmu sangat khawatir samapai mau membiusmu.Aku meyakinkan mereka bahwa tidak lama kau akan tenang sendiri.

KAmi semua berpikir kau mengalami depresi,sesuatu yang terkadang dialami wanita setelah melahirkan.Tangisanmu yang tak berhenti.Emosimu yang tak karuan.Kau bukan Laurel yang kukenal lagi sejak kita mengetahui bahwa kau hamil untuk kedua kalinya.

Setidaknya ,sekarang aku tahu alasannya.Depresi dan rasa bersalah tampaks eperti hal yang sama.

Apa kau sedih karena kau tahu kenyataan yang sebenarnya?

Apakah Ally tahu?Apakah orang tuamu tahu?Apakah pastur-pastur di gereja kita selama ini juga tahu?

Apakah ada orang lain yang tahu?

Dan satu pertanyaan yang seharusnya kutanyaakan padamu sebelum menghancurkan foto itu dan pergi dari hadapanmu adalah...

Apakah kau tahu siapa ayah Malcolm sebenarnya?

Jack

"Ibu selingkuh," Malcolm mengulang perkataannya dengan pelan. Matthew dan Samantha saling bertatapan, tumpukan surat yang mereka temukan menggunung di atas meja, Samantha mulai menangis.

"Malcolm," ujar Matthew, menunggu sampai adik laki-lakinya itu membalas tatapannya sebelum melanjutkan kalimatnya.

"Hal ini tidak mengubah apa pun di antara kita."

"Apa katamu?"

"Hal ini tidak mengubah apa pun di antara kita. Yang lebih penting lagi, hal ini tidak mengubah identitasmu."

"Kau mengatakan bahwa hal ini tidak mengubah diriku? Tidak mengubah siapa aku sebenarnya."

"kau adalah anggota keluarga Cooper. Ayah mencintaimu. Beliau dan Ibu sudah menyelesaikan masalah lni sejak lama."

"Tapi kau tetap bersikeras bahwa hal lni tidak mengubah keadaan? Mengetahui bahwa ibu kita selingkuh terhadap ayah sama sekali tidak mengganggumu?" Suara Malcolm terdengar semakin keras. "Mengetahui bahwa aku adalah anak haram?"

"Kurasa yang hendak dikatakan Matthew kepadamu adalah ... kau tetap saudara kami," Samantha menambahkan. "Kami tetap mencintaima. Ayah dan Ibu mencintaimu. Kautahu itu."

"Selama ini," Malcolm bangkit berdiri, "selama ini aku mencintai Ibu dan berkelahi terus dengan Ayah,menuduh beliau terlalu keras, terlalu banyak menuntut, dan terlalu sibuk melindungi nama baik keluarga,sementara beliau tahu bahwa aku bukan keturunannya."

"Kau benar, Mal," kata Samantha dengan nada tajam. 'ayah tahu bahwa kau bukan anak kandungnya, tapi tetap saja beliau mencintai dan membesarkanmu.Kau sendiri yang bilang, beliau tidak pernah pergi dari sisi Ibu."

Dengan kedua tangannya, Malcolm mengacak tumpukan surat di atas meja hingga satu per satu mereka beterbangan ke berbagai sudut ruangan."Beliau bukan. ayahku!"

Malcolm melangkah ke pintu depan. "Dan Ibu adalah seorang pendusta," katanya sembari menjejakkan kaki keluar dari penginapan itu.

"Kauhendak pergi ke mana? Malcolm?" panggil Samantha, mendadak merasakan perutnya mulas.

"Biarkan dia pergi," Matthew mencegah adiknya yang hendak mengejar Malcolm. Kemudian, ia berlutut dan mengumpulkan surar-surat yang berserakan di atas lantai.

"Biarkan dia pergi,"

Lima menit kemudian, dua orang turis yang sedang berkendara di Rute 11 memberikan tumpangan kepada Malcolm ke Bar Woody's.

Matthew dan Samantha merapikan surat-surat yang bertebaran di mana-mana. Tumpukkan surat itu pun berpindah dari meja makan ke lemari pajangan, lalu ke pinggir jendela dan ke atas kursi-kursi yang mengelilingi meja makan. Keduanya tidak banyak berbicara. Dan, meski Samantha belum membaca surat¬surat yang tertulis dari tahun 1956 dan 1957, ia dengan hati-hati menjaga mereka agar tidak berceceran.

"Lihat ini, Sammie," kata Matthew..mengencerkan suasana.

"Puisi." Ia menyerahkan empat pucuk surat kepada adiknya. 'Ingat tidak? Natal tabun 1958. Ibu menaruh empat fotokopi puisi ini di buku kenangan kita."

24 Desember 1958

Sammie dan jaket warna-warni

Teruntuk putriku SAMANTHA

di hari naatal kita yang pertama 1958

Ayah ingin membelikan sebuah jaket untukmu

Tapi tidak ada bahan yang cukup indah

Untuk menyulam jaket yang pantas bagimu

dan ayah juga tak memiliki banyak uang untuk membeli bahan itu.

Ayah ingin membelikan sebuah jaket untukmu

Tapi tidak cukup warna di dunia ini

yang mampu menandingi semangat hidupmu

Bahkan pelangi pun kalah cemerlang.

Ayah akan membelikan sebuah jaket untukmu di surga.

24 Desember 1958

Musim kelima

Teruntuk isteriku LAurel di hari natal yang kesepuluh 1958

Musim semi membawa kehidupan baru

keceriaan dan penghijauan

Di musim panas datang matahari kehangatan dan kedamaian yang menyinari seluruh permukaan bumi.

Musim gugur membawa warna-warna yang indah

perlahan menghiasi dunia dengan kelembutan

Musim dingin memeberikan kekuatan

Keindahan seperti salju

Lalu ada satu musim lagi...

kau adalah semua yang ditawarkan alam kepadaku

suatu berkah hadiah dari sang pencipta

kau adalah musim kelima

Desember 24 1958

Sebuah jawaban

Teruntuk puteraku Matthew

di hari natal kita yang ke delapan.1958

"Apakah cita-citamu nanti kalau sudah dewasa?"

Dari balik senyumannya yang bercahaya.urutannya mungkin berubah-ubah.

Namun,jawabannya selalu sama.

"Seorang dokter,seorang polisi,seorang pemain base ball,seorang pembawa acara tv dan seorang laki-laki sejati. Bisahkah aku menjadi semua itu?"

Dari balik senyum ayah yang penuh kerutan,kata-katanya terkadang berubah.

Namun jawabannya selalu sama.

"Kau pasti bisa."

Desember 24 1958

Mimpi

Teruntuk Puteraku Malcolm

di hari natal ke empat kita.1958

setiap malam di dalam sebuah mimpi

seorang tua yang bijaksana berbisik di telinga ayah

"Mereka yang sempurna akan cepat dipanggil pulang."

Setiap subuh menyambut pagi

Ayah membuka mata yang telah mengantuk

Yang kemudian membawa ayah pada sebuah ranjang mungil

Ada seorang bocah laki-laki di sana

Dia adalah puteraku

Meski ayah hanya merawat bocah itu.Ayah selalau berdoa agar tuhan membiarkannya tumbuh dewasa bersama kami.

Dering bel di pintu penginapan mengejutkan kedua kakak¬beradik itu,

"Jam berapa ini?" tanya Samantha.

"Setengah lima." Matthew menilik jam tangan Rolex yang tersangkut di pergelangannya. "Kaumau aku yang membuka pintu?"

"Ya. Terima kasih."

Bel itu berdering sekali lagi. "Tunggu sebentar," sahut Matthew sambil berjalan ke pintu. "Sebentar, Apa orang tidak tahu . kalau di penginapan mereka bisa langsung masuk?" Ia membuka pintu dan tersenyum. Allyson Husson.

"Masih ada kamar kosong di penginapan ini?"

"Bi Ally. Kau sampai juga."

"Tentu saja, Anak Muda. Sekarang pestanya boleh dimulai."

"Bibi belum berubah sedikit pun." Matthew memandangi sepatu bot yang dikenakan bibinya-berwarna merah dan terbuat dari kulit. Ia juga memandangi topi yang bertengger di kepala bibinya,bertepi lebar dan berwarna merah jambu, diselubungi oleh renda-renda dengan sebentuk pita putih yang dihiasi oleh serpihan permata palsu teronggok di pucuk.

Matthew ingin mengatakan bahwa hiasan tersebut lebih cocok diletakkan di kerudung, tetapi karena ia tahu Malcolm akan melantunkan lelucon yang sama nanti, maka Matthew mengurungkan niatnya.

Matthew mengagumi rambut perak Allyson yang diam-diam mencuat dari bawah topi besarnya, serta penampilan beliau yang mengenakan sepasang celana jeans berwarna putih, kemeja denim ala Caesar's Palace, dan sebentuk jaket berbulu palsu yang dikepitnya di bawah lengan. Allyson adalah adik perempuan Laurel yang berusia 61 tahun.

'llyson Husson dibesarkan bersama Laurel di Hampton Roads, Virginia, hanya beberapa mil jaraknya dari tepi pantai. Kedua orang tua mereka tak pernah mengakui hal ini, tetapi Allyson adalah putri yang dikandung secara tidak sengaja. Kedua orang tua mereka bercerai saat Allyson dan Laurel masih sekolah, Laurel duduk di bangku SMA,sementara Allyson duduk di bangku SD kelas dua. Setelah perceraian itu ibu mereka menderita depresi yang cukup parah. Beliau menganjurkan kepada kedua putrinya untuk selalu menjaga kondisi tubuh, jangan pernah gemuk,mengunakan riasan wajah, belajar untuk masak, dan belajar unrtuk mengenali tempat mereka di dunia. Beberapa tahun setelah perceraian orang tuanya, Allyson memutuskan bahwa tempatnya di dunia adalah di luar Virginia. 1a memohon kepada Laurel dan ibunya agar mengizinkannya tinggal bersama sang ayah. Namun keduanya tidak pernah membiarkan Allyson tinggal di apartemen sang ayah di Williamsburg. Padahal jarak antara kedua kota itu hanya 72 kilometer.

Laurel ridak pernah menginap di apartemen ayahnya, dan satu-satunya alasan ia pergi mengunjungi sang ayah adalah untuk menemani Allyson, "Rumahku adalah di mana ibuku berada," katanya pada sang ayah.

Setelah lulus SMA, meski ia berhasrat untuk meninggalkan Virginia dan menimba ilmu di tempat lain, Laurel memutuskan untuk tetap tinggal bersama keluarganya dan bekerja membantu menutupi biaya sehari-hari mereka bertiga.

Ia bekerja di sebuah toko PX di dalam markas tentara yang letaknya tidak jauh dari rumah mereka.

Saat Laurel tidak bekerja, ia mulai membaca Alkitab dan sering menceritakan isinya kepada sang ibu, Laurel membiasakan diri untuk membaca isi Alkitab kepada ibunya, dan tidak lama keduanya menemukan iman mereka yang sebelumnya tidak pernah ada di dalam rumah itu.

Allyson, di lain pihak, memiliki misi lain. Setiap malam, sebelum tidur, Allyson menghibur ibunya dengan cara menari-nari dan meafalkan dialog pertunjukan yang panjang lebar. Suatu kali Laurel pernah mengatakan kepada adiknya, bahwa setiap lelucon yang ia utarakan akan menambahkan umur panjang kepada hidup ibu mereka, Benar saja, ibu mereka meninggal di usia 101 tahun, 22 tabun setelah kepergian mantan suaminya yang pemabuk.

Allyson mengasah kemampuannya sebagai seorang penghibur di tepi jalan dekat rumahnya. Tanpa sepengetahuan ibu dan kakaknya, selama berbulan-bulan Allyson menghabiskan waktunya di SOre hari bersenda gurau dengan para prajurit tentara yan keluar-masuk dari markas dekat rumah mereka.

Diusianya yang ke-15, Allyson mulai menggelar pertunjukan di kelab-kelab lokal di akhir pekan. Ia menjadi seorang komedian termuda di sepanjang pantai timur negeri. Mungkin mereka hanya mengada-ada, tapi Allyson tidak menolak pujian itu. Setelah putus sekolah di tahun 1944, ia mengambil keputusan yang mengecewakan Laurel dan menghantui dirinya sendiri seumur hidup,Allyson pergi ke pesisir pantai barat negeri demi mendongkrak kariernya sebagai seorang penghibur.

Dalam waktu singkat, Allyson sudah berada di Eropa menyanyi di hadapan prajurit-prajurir Amerika yang sedang bertugas di sana. Pada tanggal 7 Mei 1945, Allyson sedang manggung di London, menyanyikan tembang mlilik Doris Day yang berjuduL 'Mimpiku Semakin Indah Setiap Saat" ketika seorang jurnalis sebangsanya menghambur ke dalam kelab, naik ke atas panggung dan mengumumkan bahwa pasukan Jerman sudah menyerah. Lalu, ia mencium Allyson di bibir secara spontan. Enam minggu kemudian, mereka menikah.

Pada tahun 1949,status Allyson kembali lajang.la menikahi seorang bintang film kelas menengah di tahun 1952, lalu cerai lagi di tahun 1954. Pada tahun 1958, ia menikahi seorang penyanyi kelab, bercerai lagi di tahun 1963. Pernikahan terakhirnya berlangsung di tahun 1969,dengan seorang kontraktor bangunan yang disewa untuk membangun sebuah kasino. Sang kontraktor ini merupakan cinta sejatinya, Namun, pernikahan tersebut juga berakhir di tahun 1979 di Las Vegas. saat sebuah bola penghancur gedung tidak sengaja menghantam bus yang didiami oleh suaminya.

Tahn itu, Allyson mulai mencari Tuhan.

Matthew tidak punya pilihan lain kecuali tersenyum. "Wow, kau terlihat. .. cantik sekali." Ia memerhatikan jaket berbulu yang dikepit Allyson.

"Jangan khawatir," kata Allyson. "Ini jaket palsu."

"Kalau begitu, silakan masuk." Matthew segera menngangkat koper bibinya, hendak membawanya masuk,

"Turunkan koper itu," perintah Allyson. Matthew segera menurunkannya. "Peluk dulu bibimu." Matthew mengikuti kemauan bibinya."Kau memang putra Jack Cooper,tidak salah lagi. Dia juga tidak pernah mau memelukku,"

"Maaf," kata Matthew, meski pikirannya masih tertambat pada Malcolm.

"Sekarang lepaskan aku, kau 'kan sudah menikah ... dan bawa koper itu masuk,'

Sebelum Matthew sempat membawa koper Allyson masuk ke dalam rumah, bibinya sudah menghambur ke tengah koridor.

"Samantha, Malcolm ... aku sudah datang."

"Di ruang makan, Bi," panggil Samantha,

"nah, ini dia aktris kecilku," kata Allyson saat memasuki ruang makan, "Peluk aku,"

Samantha bangkit berdiri dan mengikuti perintah bibinya.

"Aku sungguh sedih untuk kalian semua."

"Bi Ally. kami baik-baik saja kok."

"um," Allyson mengangkat sepasang alisnya yang tipis "menurutku kalian tidak baik-baik saja. Tidak ada seorang pun di dunia yang merasa baik-baik saja setelah dltinggalkan oleh orang tua mereka. Kalian jelas terluka. Tapi aku di sini untuk membantu kalian." ia memeluk Samantha lebib erat.

"Kau adalah yang terbaik..Bi. Aku juga sedih karena kau kehilangan seorang kakak yang luar biasa."

"Itu benar, Tapi aku akan bertemu lagi dengannya. Sudah lima tahun aku tidak datang kemari dan di usiaku sekarang ini, kesempatanku untuk bertemu lagi dengannya jauh lebih besar dibandingkan saat kami terpisahkan oleh gunung tinggi."

Samantha tersenyum, meski air matanya kembali menggenang. "Aku benar-benar merindukanmu." la mengangkat sebelah tangan untuk menghapus air matanya.

"Hapuskan saja air matamu di kemejaku, Itu aku mengenakan kemeja ini. Kau pernah makan buffet di Caesar's Palace? Nah aku biasa mengelap mulutku dengan kemejaku.

Samantha terkekeh dan mengaangkat setumpuk surat dari atas salah satu kursi yang mengeliling] meja makan. Allyson duduk di atas kursi tersebut dan melepaskan topinya, menggantungnya di pUnggung kursi di sampingnya, "Bagaimana selanjurtnya?"

"Apanya yang bagaimana?" tanya Samantha.

"Jadwal acara, Sayang. Apa yang harus kita lakukan sekarang?"

"Ah, itu. Kita akan segera berangkat ke Rumah Duka Guthrie, dan harus sudah tiba di Edinburg pukul enam sore. Tapi perjalanannya hanya akan makan waktu beberapa menit. Besok akan diadakan konser di gereja, lalu sebuab acara makan siang, dan pemakamannya akan diselenggarakan di gereja pada malam hari."

"Aku meninggalkan kopermu di kamar utama, tidak apa kan?' Matthew memasuki rung makan dan mengambil tempat duduknya di meja, Allyson tampak kebingungan. "Bibi tidak memesan kamar di penginapan lain, 'kan?"

"Tidak sih," jawab Allyson. "Tadinya kupikir kau akan membiarkanku menginap di kamar lain."

"Kamar utama itu adalah kamar terbagus di penginapan ini, Ally. Ayah dan Ibu pasti ingin agar Bibi menginap di situ."

Allyson merendahkan suaranya, "Kalau begitu, terima kasih. Terima kasih banyak, Matt," Ia menghapus air mata yang membasahi pipinya dan mengambil sepucuk surat dari salah satu tumpukan di atas meja. "Apa semua ini?"

Matthew menatap Samantha, Samantha mengangguk, "Apa Bibi tahu kalau Ayah sering menulis surar cinta untuk Ibu?" Mattew meregangkan kedua lengannya untuk menunjukkan jumlah surat yang terkumpul.

"Oh, maksudmu Surat Hari Rabu?"

"Bibi tahu soal itu?"

"Aku bukan hanya saudara ibumu, aku juga sahabat beliau, tentu saja aku tahu. Laurel pernah meneleponku saat bulan madunya dan membacakan surat pertama yang diulis ayah kalian. seandainya aja suami pertamaku seperti Jack. seseerang yang menumpahkan isi hatinya tanpa perlu diminta? jarang lho." Ia menatapi nama Laurel yang tertera di atas amplop berwarna hijau muda. "Memang aku harus mencoba beberapa kali sampai aku berhasil menemukan cinta sejatiku, dan sekarang aku akan membawa namanya sampai di liang kubur nanti." Ia beralih memandangi cincin kawin yang tersangkut di jari manisnya. Cincin berlian pertama yang pernah ia miliki.

"Ibu kalian tidak membacakan semua surat yang ditulis oleh ayah kalian kepadaku,karena surat-surat itu bersifat pribadi. Tapi, sesekali Laurel pasti meneleponku untuk membacakan sesuatu yang dianggapnya menyentuh atau menarik. Dia sangat mencintai surat-surat ini, dan bangga karena ayah kalian yang menulisnya. Aku selalu membayangkan bahwa ada sebuah harta karun di dalam surat-surat ini, beberapa rahasia dan petualangan yang tidak kalian ketahui. Bahkan mungkin beberapa gosip seru."

Allyson meraih sebuah amplop yang tergeletak di dekatnya dan mengambil sepucuk surat dari dalamnya, Surat itu ditulis di atas kop surat penerbangan Trans-World. "23 Juli 1969," ia membaca keras-keras. "Hai Laurel, apa kau percaya bahwa ada seseorang yang benjalan di atas bulan minggu ini? Ajaib sekali! Akankah anak-anak kita melihat seseorang hidup di atas sana suatu hari nanti? Mungkin saja, Kalau kita bisa membawa Neil Armstrong sampai bulan, bayangkan apa lagi yang bisa kita lakukau?" AJlyson dengan cepat membaca sisa surat tersebut dalam hati dan menyelipkannya kembali ke dalam amplop.

"Mereka berdua memiliki hidup yang luar biasa," gumam Allyson. "Kertas-kertas ini," ia mengetukkan jari telunjuknya ke atas sepucuk surat sembari berbicara, "menyelamatkan pernikahan orang tua kalian lebih dari sekali."

Allyson melemparkan sebuah tatapan kepada Samantha, lalu melirik ke arah Matthew. Mata Matthew yang berwarna kehijauan menatapnya lekat-lekat. Allyson kembali menatap Samantha.

"Aku penasaran apakah surat-surat macam ini bisa menyelamatkan pernikahanku yang pertama. Apakah aku pernah bercerita kepada kalian mengenai suami pertamaku, Darwin?" Allyson tidak menunggu jawaban dari kedua kemenakannya, "Sebenarnya dia itu orang baik, tapi entah kenapa dia berhenti mencintaiku. Aku sendiri tidak tahu alasannya apa. Aku selalu berpikir bahwa mungkin aku tidak cukup pintar untuknya. Tapiku akui, aku tidak pernah menyesali waktu yang kuhabiskan bersamanya. Tidak sekalipun. Aku belajar banyak dari Darwin. Dia itu seorang penulis, kalian tahu Dia pernah bekerja di New York Times, bahkan beberapa tulisannya pernah mendapatkan penghargaan. Kami bertemu di luar negeri waktu Perang Dunia II berakhir, Aku belajar mengenai perang itu darinya, kenapa saat itu Amerika terjun

ke medan perang. Aku belajar tentang sastra dan tempat-tempat di dunia yaog tadinya tidak pernah kuketahui. Sebelum aku mengenal Darwin, aku tidak tahu perbedaan antara Wiliam Shakespeare dan Charles Schulz. Aku memang sempat menimba ilmu di sekolah menengah,karena ibu kalian memaksa,tapi aku tidak pernah benar-benar belajar." Pandangan Allyson melayang pada tumpukan surat-surat yang berwarna putih dan beberapa lainnya yang sudah menguning termakan waktu.

"Aku pernah bertemu sekall dengan Charles Schulz,apa aku pernah cerita kepada kalian? Ibu kalian juga pernah bertemu dengan beliau. Charles ikut terjun ke medan perang, meski pada saat itu tampaknya semua pemuda terjun ke medan perang. Kecuali ayah kalian. Kurasa, Jack memerangi hal yang berbeda. Saat itu, aku dan Darwin tinggal di New York. Kalau tidak salah, sekitar tahun 1948 atau 1949, aku baru saja bercerai,sementara orang tua kalian baru saja menikah. LAurel sangat menyayangkan hal itu, merasa janggal karena disaat mereka menikah aku malah mengurus perceraianku.

"Darwin sedang menulis artikel untuk koran New york times tentang seseorang yang kartunis yang sedang naik daun, dan ia mendengar kabar tentang seorang kartunis di Mennesota yang bekerja pada sebuah surat kabar di St.Paul.Kartunis ini menulis sebuah komik mingguan berjudul lil'folks (orang-orang kecil).Salah satu karakter dalam komik itu adalah seekor anjing dan seorang bocah laki-laki bernama Charlie Brown. Kalian pasti mengenalnya kan.Apakah kalian tahu."Ia menoleh kepada Matthew,:bahwa kartunis itu, yang bernama schulz, menyimpan setiap komik yang diterbitkan pada tanggal enam juni?ia memberi edisi itu perlakuan khusus.Ia menyimpan untuk mengenang teman-temannya saat perang."

"Normadia."Kata Matthew

"Benar, matthew."Allyson mengganguk."Normadia.Kau tahu bahwa ayah kalian menyesal tidak berada disana hari itu?selalau menyesalinya."

"Karena beliau tidak ada di Normadia?"tanya Samantha.

"jack ditugaskan untuk bekerja di sebuah galangan kapal.kurasa mereka menyebut tempat itu sekarang sebagai Markas Angkatan laut Norfolk.Ayah kalian punya keahlian khusus dalam keterampilan tangan.Ia berpikir layaknya seorang ahli teknik,ia bisa melihat hal-hal yang tidak dilihat orang tentang cara kerja atau rancangan apa saja. Setelah perang usai ayah kalian benar-benar merasa bersalah, Hal itu menghantuinya, sampai-sampai ibu kalian jadi khawatir,

"Yang harus kalian ketahUi adalah bahwa banyak dari teman ayah kalian yang meninggal pada perang tersebut, di pantai normandia." Pandangan Allyson mendadak hilang di antara tumpukan surat dihadapaanya. "Aku tahu bahwa paman kalian, Joe, sempat menyaksikan peperangan itu. Tapi dia tidak berada di sana untuk waktu yang lama, Ia kembali ke Amerika dalam k0ndisi mabuk, dan sejak saat itu ia terus mabuk-mabukkan." AllYSOn melempar pandangannya pada Matthew,Jack selalu menyangka bahwa orang-orang menghakiminya secara tidak langsung karena tidak terjun ke medan perang seperti pemuda-pemuda lain. Ia tidak pernah mengerti bahwa hasil jerih payahnya di galangan kapal itu tidak kalah pentingnya dengan tugas mengusung senjata di medan perang. Ia, bahkan menyusun beherapa kapal yang membawa pemuda-pemuda itu ke pantai Normandia. Aku ingat Laurel meneleponku tidak lama setelah mereka menikah. Kalau tidak salah tahun 1943. Ayah kalian dihantui mimpi buruk meski ia tidak pernah meninggalkan tanah kelahirannya, dan tidak pernah melihat 0rang terbunhu saat menjalankan tugas mengabdi kepada negara. Satu-satunya-yang la lihat hanyalah cuplikan berita di televisi. stelah perang selesai, Jack menonton cuplikan-cuplikan yang sama berulang kali.Sejumlah temannya yang kembali dan perangd alam keadaan hidup tiba¬tiba saja memiliki kepribadian berbeda, Mereka pergi ke medan perang dengan wajah berusia 19 tahun, tapi kembali ke tanah air seolah berusia 40 tahun.Jack-tidak tahu haruS bersikap bagaimana di tengah mereka, Meski begitu, ia tetap berhubungan dengan beberapa temannya itu, AkU ingat orang tua kalian sempat mengundang salah satu temannya yang kehilangan lengan pada acara makan malam Thanksgiving. Kalau tidak salah, waktu itu kau masih bayi, Matthew.

"Beberapa orang setidaknya, beberapa sepupu ayah kalian di Chicago, berpikir bahwa ayah kalian sangat. .. beruntung. jack sempat main baseball di sekolah menengah. Kalian pasti tahu itu-Jack sangat gemar bermain baseball. Saat Jack di SMA, tim baseball sekolahnya memenangkan kejuaraan negara bagian, Mungkin itu terjadi sekitar tahun 1936 atau 1937, atau bahkan 1938, Aku ingat Laurel mengatakan bahwa Jack adalah seorang penangkap bola yang sanggup memukul dengan tangan kiri mau¬pun kanan.

"Apa kalian tahu bahwa Jack menyimpan foto tim sekolahnya? Aku yakin foto itu ada di kamarnya sekarang. Kara Laurel, ayah kalian menulis nama teman-teman satu timnya di balik foto tersebut, termasuk tanggal kematian mereka,

"Tentu saja, orang mengatakan Jack Cooper adalah pemuda beruntung, anak emas, .karena ia tidak pernah terbang dengan parasut atau berlarian membawa senjata di pesisir pantai, dan juga tidak pernah melangkahkan kaki ke tengah mayat-mayat kawan seperjuangannya. Saat pemuda-pemuda itu berkumpul dan membicarakan perihal perang,baik itu di Korea, Vietnam, atau di mana saja mereka selalu mengucilkan ayab kalian karena ia tidak pernah terjun ke medan perang.

"Ayah kalian tidak pernah berperang bukan karena dia takut atau enggan terjun ke medan perang, tapi karena ia memiliki tangan yang terampil dan mata yang berkemampuan untuk menganalisis suatu rancangan. Namun, la juga terkena imbas perang. Ia melalui hal-hal yang mengerikan seumur hidupnya layaknya pemuda-pemuda lain yang terjun ke medan perang." suara Allyson mulai bergetar. "Dia benar-benar tersiksa,' Allyson mengusap air mata yang menggenang di pelupuk matanya.

Samantha dan Matthew bangkit dari kursi mereka dan mendekatkan diri di sisi Allyson. Mereka berlutut di samping Allyson dan merangkul bibi mereka dari dua sisi. Allyson meletakkan tangannya di atas pipi Matthew dan mengecup dahi kemenakannya. Matthew memeluk Allyson sekali lagi, sebelum ia

menghilang ke lantai atas.

Samantha dan Allyson masih berpelukan sampai Matthew

kembali ke ruang makan membawa sebentuk foto hitam putih menggambarkan delapan belas pemain baseball yang mengenakan kaus berlogo "C" di bagian dada serta topi berlogo sama. Mereka berkumpul mengelilingi sebuah piala perak berukuran tiga puluh

sentimetrer, berbentuk seorang pemain yang sedang mengayunkan sebuah pukulan kasti ke belakang pundak.

Matthew dan Samantha melihat Jack di antara kerumunan pemain lainnya, berjongkok di barisan paling bawah, tepat di tengah, dengan kedua Tangan menunjuk ke arah kamera.

Matthew membalik foto itu dan menemukan delapan belas nama. Di samping sembilan nama, tanggal 6 ]uni 1944 terukir rapi dengan goresan tinta hitam. Tiga pemain lain meninggal sebelum tahun 1945 berakhir. Dua pemain meninggal di akhir tahun 1960-an dan dua lagi di tengah tahun 1970an. Hanya Jack dan saudara kembarnya, Joe, seorang pelempar bola terkenal di grup tersebut, yang tidak memiliki tanggal kematian terukir di samping nama mereka.

Matthew meraih sebentuk bolpen dari saku kemejanya, dan mengeluskan tangannya ke halaman belakang foto. Lalu, di samping nama ayahnya, ia menulis dengan goresan rapi dan jelas: 13 April 1988.

samantha. Matthew, dan AlIyson nyaris saja lupa waktu jika bukan karena telepon yang mendadak berdering. Rain.

"Sam. apa semuanya baik-baik. saja? Sekarang sudah hampir pukul enam dan para tamu gelisah."

"Semuanya baik-baik saja," kata Samantha. "Kami lupa waktu. Bibi Ally sudah sampai di sini."

"Bagus kalau begitu, Apa aku bisa memastikan kepada para tamu bahwa kau akan segera berangkat?"

"Ya. Kami berangkat sekarang. Sampai jumpa." Samantha dan Allysoon berganti pakaian, Samantha memilih rok abu-abu yang terbuat dari wol dan atasan hitam rajutan. Allyson tidak mengindahkan gaun yang masih tersimpan di dalam koper, dan justru mengunakan salah satu gaun milik Laurel yang tergantung di lemari baju di kamar mama. Matthew mengenakan jas hitam favoritnya yang bermerk Armani pemberian Monica di hari Natal beberapa tahun lalu.

"Biarkan aku yang menyetir," kata Samantha saat mereka menuruni anak tangga di beranda sambil menunjuk ke arah mobil patrolinya. Begitu mereka sudah berada di dalam mobil, tiba-tiba Matthew dan Samantha berteriak; "Malcolm!"

"Dimana anak itu?"tanya allyson.

Samantha mengerutkan dahinya. "Pertanyaan yang jitu."

"Apa kita harus mencarinya di Bar Woody's?" usul Matthew dari kursi belakang.

"Jawaban yang jitu." Samantha mengendarai mobilnya menjauh dari penginapan dan memasuki Rute 11, menuju alun-alun Kota woodstoock berlawanan arah dengan Rumah Duka Guthrie di kota sebelah Edinburg.

Ia menyalakan lampu dan sirene mobilnya.

"ADA yang melihat kakakku di sini?" Samantha menaikkan suaranya menembus kerumunan pengunjung bar di hari Sabtu rnalam. "Malcolm Cooper?"

Laure Loveless, salah satu bartender yang sedang bertugas malam itu, menyeruak di antara kerumunan pengunjung dan menghampiri Samantha. "Halo, Sam." Suaranya yang besar tidak sepadan dengan tubuh mungilnya, wajah imut, dan senyumnya yang manis.

"Hey, Double 1. Kau melihat Mal di sini?"

"Sejam yang lalu dia datang kemari, tapi tidak tinggal lama."

"Apa dia mabuk?"

"Tidak, dan sejujurnya, kurasa dia bahkan tidak minum alkohol sama sekali. Alice menyajikannya minuman bersoda. Malcolm berkata ia ingin menjernihkan pikirannya, Dia terlihat cukup aneh, Sam berbicara panjang lebar tentang kehilangan arah dan bergumam tentang ibumu. Tapi, seperti yang kukatakan tadi, dia tidak tinggal lama di sini paling hanya setengah jam."

"Terima kasih, ya." Samantha menepuk lengan Laurie dan memutar badannya, bersiap pergi.

"Tunggu" kata Laurie. "Ia bertanya apakah aku tahu edit teks bu nora

http://ebukita.wordpress.comwa dia bukan saudara kandungmu,"

"Apa kau tahu?" Samantha berbalik menatap Laurie.

"Tentu saja, aku tahu. Sekarang, semua orang tahu. Semua orang yang tinggal di Lembah ini pasti sudah tahu." Laurie menurunkan volume suaranya hingga Samantha harus bersandar pada gerak bibir bartender itu. "Kami semua turut berduka cita atas meninggalnya orang tua kalian. Mereka benar-benar orang baik,"

Samantha rnenarik napas dan membalas perkataan Laurie dengan senyum penuh terima kasih. Kemudian, ia melangkah keluar dari Bar Woody's.

"Bagaimana?" tanya Matthew, begitu Samantha masuk ke dalam mobil lalu mengenakan sabuk pengaman.

'Malcolm tadi ada di sini. Sekarang dia tidak ada di sini, Dan aku merasa jengkel padanya."

Allyson menepuk papan dashboard di hadapannya dengan penuh canda. "Ini baru namanya petua..'

"Petugas Cooper..di mana lokasimu sekarang?" Radio polisi di dalam mobil menyela perkataan Allyson.

"Di jalan Main, Bar Woody's. Ada apa, Barry?"

"Aku melihat sesuatu yang kurasa ingin kauketahui.' "Apa ada hubungannya dengan kakakku si Buronan?" "Ya, Dan Menara Woodstock"

samantha mengerang kesal. "Kita memang bodoh," ia menolehkan kepala ke belakang dan menatap Matthew. "Seharusnya kita ke sana dulu."ia menekan tombol pada radio walkie-talkie di hadapannya. "Apa Crescimanno ada di situ?"

"Tidak. Dan aku tidak memanggilnya, tapi kautahu sendiri di kota ini ... kabar cepat tersebar,"

"Aku akan segera ke sana." sekali lagi, Samantha menyalakan lampu mobil dan sirene polisinya.

"Ternyata tadi aku terlalu cepat mengambil kesimpulan," Allyson menepuk papan dashboard sekali lagi. "Ini baru petualangan."

Samantha meningkatkan kecepatan mobilnya melalui Jalan Main kemudian jalan berliku menuju Menara Woodstock.

"Dik, kurasa kau mengendarai mobil ini terlalu cepat di atas bebatuan.."

"Matthew,diamlah!"

"Oke."

Samantha berhenti di belakang mobil patroli lain dan mengiringi Matthew dan Allyson menelusuri jalan sepetak menuju Menara woodstock. Petugas Keith dan Barru berdiri sambil berbisik di tengah kabut yang menyelimuti dasar menara.

"Maaf aku telat," kara Samantha. "Bagaimana kalian menemukannya?"

"Ada turis yang menelepon saluran darurat 911. Mereka mengatakan bahwa ada seorang pria di atas menara yang sedang beryanyi-nyanyi dan berlaku aneh. Mereka khawatir,"

"Malcolm," panggil Samantha. "Kau sudah selesai di sini?"

"Hampir," teriak Malcolm.

"Apa yang kaulakukan di sini?' tanya Samantha. "Berpikir,"

"Tentang apa?"

"Entahlah. '

Allyson melangkah maju mendekati menara dan menyentuh lengan Samanrha. "Biarkan aku mencoba. Hai, Mal," ia berteriak keras-keras.

"Allyson?" jawab Malcolm, mencondongkan tubuhnya ke pinggir pagar pelindung dan menatap ke bawah. "Apa itu kau?" Tangan Malcolm terasa basah memegang selongsong besi pagar.

"Ya, ini aku. Ayo, turun."

Malcolm membuang wajahnya. "Apa kau juga tahu?" tanya Malcolm, matanya menatap ke arah cakrawala.

"Aku tahu apa?" tanya Allyson.

Malcolm balas berteriak, "Apa kau tahu? Apa kau tahu bahwa kakakmu selingkuh?"

"Malcolm! Turunlah. Temui aku,"

"Lalu kau akan menceritakan semuanya? siapa aku. sebenarnya?"

"Kita harus bicara,"

Malcolm diam sebentar sebelum akhirnya melangkah menuruni tga lantai menara lewat rangga besi.

"Apa dia sedang mabuk?" Allyson berbisik di telinga Samantha.

"Tidak. Hatinya sedang hancur,"

"Ingatlah untuk berlaku lembut dengannya, Sammie. Kau juga," Allyson menoleh kepada Matthew yang sedang berdiri dj belakang mereka. "Bayangkan, untuk kali ini saja, jika kalian ada di posisinya." Kedua kakak-beradik itu menganggukkan kepala mereka setengah hati di hadapan Allyson.

Malcolm menapakkan kaki di tangga terakhir, lalu melangkah melewati dua petugas polisi yang berjaga. "Fred. Barney," sapa Malcolm dengan sopan seraya menganggukkan kepalanya.

Allyson menemui Malcolm dan merengkuhnya dalam pelukan. "akuu merindukanmu."

Sebelum Malcolm bisa membalas sapaan bibinya, dadanya segera terguncang dan kedua tangannya mencengkeram bagian belakang gaun yang dikenakan Allyson, yang di pinjam dari lemari Laurel. Malcolm mengenali gaun itu dan harum tubuh ibunya yang masih melekat. Ia menangis.

"Sudahlah, tidak apa. Shhh. Semua baik-baik saja."

Malcolm mengangkat wajahnya dari pundak Allyson dan seolah melihat wajah ibunya, "Apakah kautahu?"

Allyson menangkap tatapan Samantha dan Matthew yang sedang berdiri di sisi mobil patroli. "Ya," ia mengecup dahi Malcolm."Aku tahu."

samantha parkir di barisan depan di pelataran parkir Rumah Duka Guchtie yang ditandai oleh sebuah lempengan besi bertuliskan Hanya untuk Keluarga Mendiang. Ia mengangkat satu jari ke udara dan menatap Malcolm dari cermin di samping kendaraan. "Jangan, Malcolm. Aku tidak mau mendengar kau membuat lelucon lagi."

Keempatnya kemudian segera turun dari mobil patroli.

"Aku tidak percaya kau membiarkan aku datang kemari hanya mengenakan celana pendek dan kaus."

"Maaf Malcolm," kara Samantha. "Kita sudah setengah jam telat karena harus mencarimu keliling kota." Ia menarik ujung kaus yang dikenakan Malcolm. "Jangan khawatir," bisiknya. "Orang¬orang pasti mengerti."

Arik Guthrie, yang sedari tadi berdiri di luar unruk menyambut anggota keluarga Cooper, melihat tiga bersaudara itu bersama bibinya berdiri di atas trotoar, Ia segera menjuLurkan kepalanya ke dalam untuk sesaat, mungkin untruk mengumumkan kedatangan mereka, lalu melambaikan tangannya kepada Samantha, Malcolm, Matthew, dan Allyson, memberi tanda agar mengambil jalur bebatuan yang akan membawa mereka melalui pintu masuk pribadi di depan gereja kecil. "Lewat pintu sini, ya. Kami senang sekali akhirnya kalian sampai."

Allyson berjalan dengan sebelah lengan memeluk pinggang Malcolm. Ia memberi tanda pada Malcolm agar berjalan lebih pelan. "Kalian berdua silakan jalan di depan. Kami akan menyusul."

Samantha menggenggam tangan Matthew dan melangkah melewati pintu yang dibukakan oleh Arik Guthrie dengau penuh wibawa. Arik mengikuti, keduanya dan menutup pintu saat dilihatnya Allyson dan Malcolm berhenti di ujung jalur bebatuan.

"Malcolm," kata Allyson, menarik daun telinga MaJcolm perlahan. "Acara berkabung ini bukanlah hal mudah bagi siapa pun, terurama bagimu. Aku tahu itu. Kakak dan adikmu juga tahu itu, Tapi, Malcolm," ia mengangkat dagu kemenakannya sehingga tatapan mereka bertemu, "ini bukan sesuatu yang bisa kaulewatkan, Kita harus melakukan ini, kita harus tetap bersama, dan mendorongmu agar tetap tabah." Allyson melihat air mata memenuhi sudut mata malcolm. "Aku berjanji, sesampainya kita di penginapan aku akan menceritakan semuanya."

Malcolm menurunkan tatapannya dan menatap kedua kakinya sendiri."Aku bahkan tidak tahu siapa diriku."

Allyson melihat bahwa laki-laki berusia 32 tahun yang berdiri di hadapannya, yang dulu penuh semangar dan kebanggaan, kini tak ubahnya seorang bocah berusia 12 tahun.

"Apa katamu, Sayang?"

"Aku tidak tahu siapa diriku." Malcolm menggelengkan kepalanya, "Bagaimana itu bisa terjadi?" tanyanya, mengusap hidung basahnya dengan ujung kaus yang ia kenakan. "Bagaimana mungkin seseorang bisa mendapati dirinya kebingungan seperti ini hanya dalam waktu beberapa jam?"

Allyson menimbang-nimbang jawaban apa yang harus ia berikan kepada kemenakannya.

"Ayahku masih hidup." Malcolm mengeratkan kepalan tangannya ke dalam saku celana. "Beliau masih hidup, di suatu tempat. Beliau tidak ada di dalam sana." Malcolm menoleh ke arah rumah duka.

"Kau salah," jawab Allyson penuh empati."Ayahmu ada di dalam sana, terbaring di samping ibumu." Ia memeluk Malcolm lagi dengan sepenuh hati. "Tidak ada yang berubah, Sayang. Jack Cooper tetap ayahmu, dan kakakku adalah Ibumu. Mereka mencintaimu dalam segala hal, tapi pikiranmu membutakanmu akan semua itu,"

"Kalau begitu katakan kepadaku. Kenapa? Kenapa Ayah tidak meninggalkan ibu? Semua surat-surat itu ... beliau terus menulisnya seolah tak ada yang terjadi."

"Tidak seperti itu. Memang ada sesuatu yang terjadi, jangan mengambil kesimpulan terlalu cepat. Ayahmu menderita. Ibumu juga menderita. Bahkan lebih dari yang kaubayangkan."

"Itu bukan jawaban!" suara Malcolm, meninggi dan pecah. "Nanti akan kuceritakan."

"Malam ini juga?"

"Malam ini juga."

Allyson memeluk Malcolm unruk terakhir kalinya. "Sekarang, mari kita masuk. Masukkan ujung kausmu ke dalam celana. Ini adalah pelayatan bukan Karnaval Brazil."

Walau kepalanya berdenyut seolah mau pecah dan perutnya melilit karena kalut, Malcolm menemukan secercah energi untuk tersenYum .

SAtu demi satu, para tamu maju ke depan untuk menghaturkan rasa hormat kepada mendiang Jack dan Laurel. Mereka datang dari berbagai tempat di Selatan, Harrisonburg, Staunton. dan kota-kota kecil. lainnya yang terletak di sepanjang Rute 11: New Market, Pegunungan jackson.Edinburg.Woodstock.Tom'sbrook, dan Strasburg. Beberapa berkendara dari Timur, berbondong¬boundong dalam sejumlah kendaraan dari Washington, D.C., Arlington, dan Rosslyn, semuanya hampir 160 kilometer jauhnya dari edinburg, dikelilingi oleh sabuk ibu kota negeri.

Para pelayat berhenti untuk melihat peti kayu yang sama, terbaring berdampinga, dihiasi dengan kain sutra rajutan tangan berwarna putih krem. di dalamnya, Jack mengenakan jas PUtih dan wajahnya tampak bugar seolah ia tidak pernah mengenal rasa sakit. Laurel, di lain pihak, mengenakan gaun putih dan riasan wajah yang tidak menyolok. Tangan kiri mereka bersilang di atas tangan kanan mereka, bertumpu di atas perut. Cincin kawin mereka bersinar terang diterpa cahaya lampu.

Peti mereka diletakkan di kedua sisi mimbar gereja kecil berwarna cokelat yang dibangun oleh keluarga guthrie di akhir tahun 1970an.

Pastur Doug berdiri seperti penjaga di sudut mimbar dengan kedua lengan di sisi. Beberapa kali ia melihat dan memeluk tamu¬ramu yang tampak emosional dan bersahabat.

Di samping kanan mimbar dan di sebelah kanan peti Jack,Matthew, Allyson, Samantha, serta Angela, Malcolm dan, karena diminta Samantha, Rain berdiri berdampingan.

Pastur Braithwaite dari gereja di Pegunungan Jackson juga datang. Beliau berdiri di pintu depan di samping keluarga Guthrie, tersenyum pada wajah-wajah yang familiar dan asing dan berterima kasih kepada semuanya karena telah datang.

Nathan mengamati acara tersebut dari sudut ruangan tepat di belakang meja penerima tamu.

Di tengah prosesi acara, saat pengunjung perlahan-lahan berbaris untuk memberi hormat pada Jack dan Laurel, Rain mencondongkan tubuhnya ke arah Malcolm dan meletakkan tanganya di punggung pria itu. "Celana pendek?"

"jangan tanya."

"Aku takkan bertanya," Rain tersenyum, karena ia tahu Samantha akan menceritakan semuanya nanti.

"Terima kasih."

"Aku benar-benar senang kau ada di sini," Kali ini ia berbisik di telinga Malcom dari jarak yang sangat dekat hingga Malcolm bisa merasakan hembusan napas Rain di belakang lehernya. Udara yang keluar dari mulut Rain membuat bulu kuduknya berdiri.

Malcolm ingin sekali menarik tangan Rain dan menggiringnya ke pelataran parkir untuk menceritakan apa yang baru saja diketahuinya, bahwa ia bukanlah anak kandung Jack Cooper Tapi, ia hanya berkata, "Terima kasih."

"Jangan berterima kasih padaku, pokoknya tetaplah jaga perilakumu.'

"Aku tidak bisa merasakan apa-apa, jadi tidak mungkin berlaku yang tidak-tidak."

Selusin tamu lain berhenti untuk bersalaman termasuk Marla Lewia, direktur museum Woodstock. Ia memeluk Malcolm dan bertanya tentng novel yang ditulisnya. ia juga membuat Malcolm berjanji Untuk mengunjunginya sebelum pergi meninggalkan kota.

Di sisi lain, Matthew sudah menyempurnakan jawabannya apabila orang-orang bertanya keberadaan Monica. "Dia ada di Newark. Dia ingin sekali berada di sini, tapi saat ini adalah kemungkinan kami untuk mengadopsi anak. Ayah dan Ibu pasti bisa mengerti.' Ia bertanya-tanya apakah perkataannya Itu benar, tapi dilihatnya para tamu juga mengerti alasannya, "Akan kusampaikan salam "belasungkawa kalianr kepada Monica," ujarnya datar kepada para tamu.

Malcolm memerhatikan wajah-wajah yang mengelilinginya seolah hendak mencari suatu pertanda atau petunjuk yang bisa membenarkan dugaannya, bahwa semua orang tahu perihal rahasia hidupnya, Tapi wajah-wajah itu sangat polos tidak menyimpan sedikit pun jejak rahasia yang diincarnya, Malcolm akhirnya memutuskan bahwa para pelayat yang berhamburan menyampaikan rasa belangsukawa. mereka tidak mengenal baik kedua orang tuanya, atau mereka sangat pintar menyembunyikan apa yang mereka ketahui.

Aneh, pikir Malcolm. Tidak seorang pun dalam kerumunan para tamu yang menunjukkan rasa simpati terhadap derita yang sedang ditanggungnya saat ini. Mereka hanya melihat tiga keturunan Jack dan Laurel yang sedang berkabung tanpa memerhatikan bahwa luka Yang tergores di dadanya lebih dalam dan menyakitkan dari pada luka di dada Matt maupun Samantha. Meski begitu, ia tetap menyalami setiap pelayat dan memandangi mereka lebih lama dari seharusnya. Ia bahkan memerhatikan dengan saksama sekian banyak individu yang selama ini tidak pernah dikenalnya.

Ia berharap satu di antara mereka mengetahui kebenaran mengenai dirinya.

Ia bertanya-tanya, siapa di antara mereka yang akan membuka tabir hidupnya.

Ia juga penasaran, siapa di antara mereka yang telah berbohong telak kepadanya selama ini, berpura-pura lugu dan tidak mengerti.

Ia ingin tahU, apakah ayah kandungnya akan datang ke acara pelayatan Jack dan Laurel, kemudian menyelipkan secarik kertas berisi nomor telepon hotel tempat lelaki itu menginap ke dalam tangannya saat mereka bersalaman.

Seiring dengan bergulirnya detik demi detik malam itu, Malcolm ingin menertawai dirinya sendiri karena telah bersusah payah menampakkan rasa sedih yang berlebihan,bahkan melebihi kesedihannya setelah ditinggalkan oleh Jack dan Laurel. Sementara Rain, satu-satunya orang yang mengenal dirinya dengan baik, berdiri di sampingnya tanpa sekalipun menunjukkan rasa simpati terhadap luka yang' menganga di dadanya. Sesekali, Rain memerhatikan gerak-gerik Malcolm saat memerangi emosinya sendiri, dan pada saat itu, ia pun melarikan jemarinya ke atas jemari Malcolm, yang terasa seperti sengatan listrik pada kulit Malcolm.

Setiap beberapa jam, Malcolm melirik ke arah jam dinding yang bertengger di dinding, meughitung menit. "Berapa lama kita harus tinggal di sini?" ia bertanya pada Samantha saat barisan pelayat mulai sepi.

"Selama yang diperlukan, Mal,sampai setiap orang sudah mendapatkan kesempatan untuk menyapa kta dan menghaturkan rasa hormat mereka pada Ayah dan Ibu."

Malcolm mengangkat kedua alisnya tinggi-tinggi, mengharapkan jawaban yang lebih pasti.

"Mungkin sejam lagi."

"Nah, itu lebih baik." Ia berbalik untuk berbisik ke telinga Rain, lalu kembali menatap adiknya. "Aku pergi sebentar Ya."

"Mal?" protes Samantha.

"Tenang aku hanya ingin ke kamar mandi. Kau sendiri yang dulu menjulukiku Si Kandung Kemih,ingat tidak?'

Dalam perjalanannya menuju lobi, Malcolm berpapasan dengan Nathan yang sedang berbincang bersama Gail Andrus, Bendahara Kabupaten Shenandoah. Tanpa menghentikan langkahnya, Malcolm berkata dengan lantang, "Rain sudah jadi milikmu lagi sekarang."

Gail tersenyum jenaka.

Nathan bungkam seribu bahasa.

Malcolm berdiri di salah satu wadah urin sambil menatapi langit-langit ketika Pastur Doug masuk ke dalam kamar mandi dan berdiri di sampingnya untuk menggunakan wadah yang lain.

"Oh, hey;"

"Halo, Malcolm."

"Tempat ini terlihat seperti perkumpulan pastur, ya."

Pastur Doug tersenyum. "Kau memiliki selera humor yang sama dengan ayahmu."

Malcolm memandangi dinding di hadapannya. "Apa Anda

sering datang kemari?"

"Lebih dari yang kuinginkan," angguk Pastur Doug. "Kurasa aku sudah semakin uzur.'

"Aku juga." Malcolm berbalik untuk mencuci tangannya di wastafel.

"Bagaimana keadaanmu?"tanya Pastur Doug, menekan tungkai pada wadah sabun cair dan menggosok tangannya sampai busa putih menyelimuti kedua tangannya.

"Setidaknya aku masih ada disini," jawab Malcolm. "Itu pasti berarti aku baik-baik saja."

"Menurutku juga begitu."

"Anda kenal baik dengan kedua orang tuaku, kan?" Malcolm menempatkan kedua tangannya di bawah mesin pengering yang mengembuskan udara panas.

"Aku lebih mengenal ayahmu daripada ibumu. Kenapa?" "Aku hanya penasaran, karena di tempat ini banyak sekali orang yang datang dari berbagai pelosok, yang tidak pernah kulihat sebelumnya."

"Lalu?"

"Entahlah, aku Cuma ingin tahu, berapa banyak dari mereka yang benar-benar mengenal kedua orang tuaku terutama ibuku dan berapa banyak yang datang hanya karena mereka merasa ini adalah suatu kewajiban bersama,"

"Apa menurutmu itu nya aku ada di sini?"

"Bukan Anda, tentunya Yang lain."

"Kau mungkin heran." Kini giliran Pastur Doug yang mengeringkan tangannya."Jack dan Laurel sangat dihargai dan disukai di berbagai lingkungan."

"Aku tahu itu, Tapi itu tidak berarti semua orang mengenal mereka dengan baik, 'kan?"

"Kau kan tahu bagaimana orang tuamU selalu menyimpan perihal rumah tangga mereka untuk diri mereka sendiri?"

Malcolm serus memancing, "Berapa banyak yang Anda ketahui tentangg masa lalu mereka?" .

"Ya, aku selalu beranggapan bahwa kedua orang tuamu bukan manusia sempurna tidak ada dari kita semua yang sempurna," Pastur Doug tersenyum, "tapi setidaknya mereka berusaha, Mereka adalah orang baik-baik. Mereka selalu membantu orang lain dan selalu bisa memaafkan kesalahan siapa pun, Bersama guru spiritualku, Pastur Braithwaite, ayahmu mencarikan pekerjaan pertamaku sebagai pengkhotbah di Winchester, Tanpa ayahmu, aku takkan pernah mengetahui keindahan Lembah ini dan 0rang¬Orang yang tinggal di sekitarnya."

Malcolm menganggukkan kepalanya.



0 Response to "The Wednesday Latters2"

Post a Comment

Translate

English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified