Download applikasi baca novel online untuk android disini: DOWNLOAD

The Wednesday Latters

THE WEDNESDAY LETTERS

ASON F.WRIGHT

April 13, 1988

RABU MALAM

Tidak lama setelah pukul sebelas malam, Laurel naik ke atas tempat tidur dan menyelipkan tubuhnya ke bawah selimut berwarna merah marun di samping suaminya, Jack. Ia melingkarkan kedua belah lengannya ke sekeliling tubuh Jack, mendekapnya dari belakang. Saat jemarinya merasakan tekstur tulang rusuk yang berbaris di bawah kulit dada suaminya, lauren berubah cemas. Ingatannya melayang pada masa beberapa tahun lalu ketika berat tubuh suaminya, jauh melebihi berat tubuhnya sendiri.

Mengira bahwa ia sudah tertidur lelap, Laurel-pun memulai kegiatan rutinnya di malam hari. Ditariknya napas dalam-dalam, meregangkan serta mengisi setiap rongga parunya dengan udara. Lalu, dengan bibir yang masih terkatup rapat, ia membiarkan udara yang ditariknya tadi perlahan-lahan keluar lewat hidungnya. Dengan begitu, ia pun merasa tenang kembali.

Laurel memejamkan matanya; berdoa untuk putra-putrinya-Marthew, Malcolm, Samantha.---dan juga untuk cucunya, Angela, serta adik perempuannya, Allyson. Kemudian, ia menghaturkan permohonan kepada Tuhan agar memberikan suaminya waktu untuk hidup lebih lama. Namun secepat ia memohon, secepat itu pula ia menyesali permohonannya. Ia justru mengutuk kelemahannya dalam menghadapi kenyataan. Akhirnya, ia mengakhiri doa singkat itu dengan air mata.

"Hai," suara Jack mengejutkannya.

"Hai," balasnya lembut, mengusap matanya pada sarung bantal yang berwarna biru tua. "Kupikir kau sudah terlelap."

"Tidak Juga. Bagaimana perasaanmu?'

"Baik-baik saja, tapi kutinggalkan cucian piring untuk dikerjakan oleh Rain besok pagi. Dadaku masih terasa nyeri. Apa mungkin aku terlalu tua untuk quesadilla yang kumasak sendiri?" , Laurel melarikan jemarinya ke antara helaian rambut Jack yang

tipis dan memutih, sementara tangan yang lain mengelus dadanya sendiri. "Bagaimana denganmu? Masih pusing?"

"Tidak lagi, Sayang."

"Kau itu pemb0h0ng yang buruk, jack Cooper." Ia memindahkan jemarinya dari rambut suaminya ke atas kening Jack.

"Ah, kau benar, ini semua salah gumpalan yang ada di dalam , kepalaku," sahut Jack penuh canda.

Selama 18 bulan, Jack-yang berusia tujuh puluh satu tahun-tengah sibuk memerangi tumor otak ganas dan tidak bisa dioperasi. Saat ditemukan, tumor ganas yang sewaktu-waktu bisa mencabut 'nyawanya itu berukuran sebesar kelereng, sekarang, ukurannya sama dengan sebuah bola ping-pong.

Rasa sakit kepala yang ditimbulkan tidak teratur polanya, terkadang la bahkan tidak mengalami sakit kepala sama sekali selama dua atau tiga hari. Namun, saat rasa sakit kepala itu muncul, maka reaksinya bermacam-macam ,ual, sakit mabuk-sehingga membuatnya tidak berdaya dan harus berbaring di atas tempat tidur untuk waktu yang lama.

Meski dokter-dokter yang merawatnya selalu berusaha untuk meyakinkan Jack bahwa di luar sana terdapat obat-obat serta terapi baru yang tidak lama lagi akan masuk ke pasaran, ia tahu bahwa satu-satunya yang dapat menyembuhkan penyakitnya hanyalah sentuhan Tuhan,

Namun, pikir Jack tentunya Tuhan punya kepentingan lain yang lebih mendesak daripada menolongnya. Lagipula, dia bukan orang besar, sehari-hari ia mengelola sebuab penginapan yang sederhana di negara bagian Virginia.

Sejak ia didiagnosis menderita tumor otak, Laurel sudah berulang kali mendengarkan lelucon yang sama terlepas dari mulut suaminya: bahwa Tuhan punya kepentingan lain yang lebih mendesak ketimbang memperpanjang umurnya.

"Contohnya, membawa kedamaian ke daerah Timur Tengah," seloroh Jack, atau mengembalikan tim kesukaanku Chicago Cub, ke tengah ajang World Series."

Penginapan yang mereka kelola bersama dinamakan Domus jeferson terletak di jantung Lembah Shenandoah, tepar di antara pegunungan Allegheny dan Blue Ridge. Jack sering berkata seandainya ia bisa hidup melewati hari kiamat dan Sang Pencipta memberinya dua pilihan antara Surga dan daerah perbukitan tersebut, maka ia takkan pikir panjang untuk memilih langkh terakhir.

Di musim semi seperti sekarang, saat waktu menjelang tengah malam di hari Rabu, tempat penginapan yang mereka cintai tampak lengang, Satu-satunya tamu yang menginap adalah Anna Belle Prestwich, seorang pewaris perusahaan pembuat rnakanan binatang peliharaan yang kaya raya.

Meski penghujung malam sudah tiba, biasanya Anna Belle masih terjaga sambil membaca sebuah novel roman di dalam kamar sewa seharga $190 semalam-namun ia memaksa untuk membayar lebih $300.

Kamar tersebut didekorasi menggunakan perangkat mewah mirip dengan perangkat di kediaman mantan Presiden Arnerika Serikar yang ketiga, Thomas Jefferson, di Monticello. Perangkat tersebut juga tidak sembarangan dibuat, melainkan hasil jerih payah beberapa pengrajin tangan.

Dari jendela kamar, penghuninya dapat menatap jauh ke arah padang rumput seluas 400 hektar yang terbentang di belakang penginapan, menggapai sebuah sungai kecil yang merrgalir di batas hutan.

Biasanya, setelah selesal membaca tiga atau empat edit teks bu nora

http://ebukita.wordpress.com dari novel roman kesukaannya, Anna Belle akan membawa kucingnya, Castro, untuk berjalan-jalan di sekeliling penginapan dengan berbekal sebuah senter milik mendiang suaminya. Ia sadar bahwa tidak biasanya orang mengajak seekor kucing berjalan-jalan, tetapi ia tidak seperti kebanyakan 0rang. Dan sebagian besar kucing-kucing peliharaan orang tidak memiliki masalah berat badan, seperti

Castro.

Anna Belle adalah Langganan tetap di penginapan milik Jack dan Laurel. Beberapa tabun belakangan ini, ia selalu menginap di sana setidaknya dua kali sebulan. Dan tidak jarang ia menghabiskan waktu sampai sepuluh hari di setiap kunjungannya.

Aneh, memang ". mengingat bahwa tempat tinggalnya sendiri terletak kurang dari saru mil jaraknya dari penginapan tersebut, Megah, besar dan dilengkapi dengan empat rumah tamU, istana bergaya Southern itu digosipkan berkisar antara setengah juta sampai seratus sepuluh juta dolar,

Di pagi musim dingin yang cerah, lama setelah pepohonan menghempaskan daun-daun ke atas tanah, menara tinggi yang mencuat dari salah santu gudang bekasnya serta atap dari rumah utama yang bernuansa putih dapat terlihat melalui pepohonan yang berjajar ke arah timur.

Wanita asal Florida yang bertubuh pendek, gempal. dan berusia nyaris setengah abad ini pertama berjumpa dengan mendiang suaminya, Alan Prestwich, di Pantai Miami saat keduanya sedang berjalan menyusuri tepi pantai di suatu pagi di musim gugur. Alan sedang memunguti kulit kerang unruk koleksi putri sekretarisnya, sementara Anna belle sedang mengajari Castro agar tidak mudah takur kepada air.

Pertemuan mereka pagi itu membuahkan pernikahan yang tak terduga, yang juga merupakan pernikahan pertama bagi keduanya. Saat itu, suaminya mengatakan bahwa ia mencintai Anna Belle karena kebaikan hatinya, karena ia memiliki pinggul besar nan unik, dan karena kulit putihnya yang seperti susu, namun lmmbur Layaknya mentega. Tapi, yang paling utama, Alan mencintainya karena rambut merah tua Anna Belle yang menjurus ke arah merah marun, yang kini memutih dengan anggun.

"Wanita~wanita yang biasanya aku kencani takkan berani meninggalkan rumah tanpa terlebih dahulu mengecat warna rambut mereka agar tampak lebih muda," tutur Alan, berjalan di sampingnya pagi itu, "Tapi, kau, Anna Belle-kau seperti seekor ikan unik di tengah laut yang dipenuhi oleh ikan itu-itu saja,"

"Kalau aku memang sebaik yang kau katakan," sahut Anna Belle. di akhir kencan penama mereka, "lalu kenapa semua Iaki¬laki yang baik selalu menghindariku?"

"Mereka tidak menghindarimu," jawab Alan. "Hanya saja belum ada yang cukup baik untukmu."

Enam minggu kemudian, mereka pun menikah.

Tiga tahun setelah itu, di tengah-tengah kehidupan baru mereka sebagai sepasang suami-istri,Alan seorang pengusaha yang memiliki hobi mengendarai pesawat pribadi-jatUh di tengah rawa Everglades ketika menerbangkan pesawat jet model Gulfstream III keluaran 1984 yang baru saja dibelinya.

Para petugas berwenang tidak menemukan apa-apa di rawa itu kecuali sebentuk senter bermerek Maglire berukuran empar puluh sentimeter, bersinar terang di bawah permukaan air kotor, tergeletak hampir dua kilometer jauhnya dari lokasi jatuh pesawat. Sejak itu, anna Belle selalu membawa senter ke mana pun ia pergi, yakin bahwa suatu hari ia akan membutuhkannya untuk menemukan Castro di tengah hutan setelah habis memakan donat, untuk menakut-nakuti beruang, atau untuk hal-hal lain yang berguna.

Seumur hidupnya, Anna Belle selalu diberkahi oleh berat badan yang agak berlebihan. Saat ini bekerja di supermarket A&P dulu, serombongan teman sekolahnya yang jahil selalu memanggilnya dengan sebutan yang Sama" A&P. Demi menggoda mereka, ia pUn dengan senang hati mengadopsi julukan itu sebagai nama panggilnya. Dan, sampai saat ini, julukan itu masih, melekat padanya.

Diberi juLukan berarti orang memerhatikanku, katanya pada diri sendiri.

Sekarang A&P kerap bertanya-tanya julukan apakah yang akan diberikan oleh teman-teman sekolahnya jika mereka tahu bahwa dia akan mewarisi sebagian besar dari kekayaan suaminya. Perusahaan peninggalan Alan menjadikannya seorang milyuner berkali-kali.

Tidak lama setelah kecelakaan yang dialami suaminya, Anna Belle memilih untuk pindah ke daerah Woodstock, Virginia. Pilihan ini dibuatnya berdasarkan sebuah brosur Asosiasi Sandiwara Pengulangan Perang Saudara yang ia temukan di lemari kerja suaminya suatu hari, di mana nama sebuah kota asing tampak dilingkari dengan tinta bolpen. Sebulan kemudian, ia sudah resmi menjadi warga WoodstOck, Virginia.

Jack dan Laurel tidak membuang waktu untuk menjalin persahabatan dengan tetangga baru mereka yang ramah. Diam-diam, mereka berspekulasi bahwa tujuan hidup Anna Belle adalah untuk menghabiskan semua warisannya di penginapan yang mereka kelola.

"Coba tebak berapa besar tip yang diberikan A&P padaku malam ini, hanya karena aku mengantarkan SUSu pesanannya?" bisik Laurel di telinga suaminya.

"SeratUS dolar."

"Lebih tinggi lagi."

"Dua ratus lima puluh dolar?" "Lebih tinggi lagi," ulang Laurel.

"Lima ratus dolar?" suara Jack meninggi, tidak-percaya.

"Lima rarus sembilan belas dolar dan lima puluh dua sen. Ia mernberikan semua uang yang ada di dalam dompetnya."

"Itu upah yang lumayan karena kau sudah susah-susah menemukan botol SuSU di kulkas dan menuangkan ke dalam gelas." jack menghe1a napas, menepuk-nepuk bantal tidurnya. "Wanita itu memang luar biasa."

"Dia tidak berbahaya, kok,"

Jack memutar rubuhnya dan menatap wajah istrinya, mengunci pandangannya pada sepasang mata Laurel yang berwarna kecokelatan dan tampak dipenuhi segudang pengalaman. Matanya sendiri, yang dulu terlihat begitu mempesona, .kini tampak merosot ke dalam kepalanya sejauh setengah senti meter, dikelilingi oleh lingkaran hitam. Laurel sering mengatakan sambil bercanda bahwa Jack mewarisi mata menyerupai binatang rakun dari ayahnya, .namun setahun belakangan ini lingkaran hitam yang mengelillngi kedua indera pengelihatannya itu tampak semakin gelap hingga terkesan memisah dari pipinya.

Jack mencondongkan wajahnya ke arah Laurel, hidung mereka nyaris bersentuhan. "Suaru saat kitaa harus mengatakan yang sebenarnya pada Anna Belle," ujarnya pelan.

Sejak pertama A&P menginap di Domus jeperson, ia selalu meninggalkan tip sangat besar untuk servis yang biasa-biasa saja. Kebaikannya itu juga tidak bisa dipolakan dengan akal sehat. Apa bila Jack membantu membawakan sebuah tas milik A&P, maka

ia akan mengeluarkan selembar uang seratus dolar sebagai tip untuk Jack. Apabila Laurel meninggalkan sebungkus permen di atas bantal setelah rutinitas merapikan kamar tamu, maka A&P akan menyelipkan beberapa lembar uang dua puluh dolar ke dalam tangan Laurel saat makan pagi.

Pernah, suatu kali, dokter langganan Laurel menemukan detak jantung yang tidak teratur di dalam dada Laurel, menyimpulkan bahwa ada kelainan pada jantung Laurel yang disekan oleh genetik turunan. Mendengar hal ini, A&P memaksa agar Laurel menerima sejumlah uang darinya untuk mernbiayai perawatan medis, meski sembiln puluh persen dari biaya itu sudah ditanggung oleh perusahaan asuransi.

Di waktu lain, saat saudara kembar jack, joseph, ditahan untuk yang ketiga kalinya karena penggunaan obat-obat terlarang, A&P memaksa untuk berkendara ke Pantai Virginia, menebus Joseph keluar dari tahanan, dan membawanya kembali ke rumahnya seudiri, dengan alasan semua kamar yang ada di penginapan sudah penuh disewa oleh pengunjung. Joseph tinggal di rumah A&P sampai ia menemukan pekerjaan dan tempat tinggal sendiri. Jack sungguh berterima kasih pada A&P, meski ia beranggapan bahwa perjalanan panjang dari Pantai Virginia ke Woodstock merupakan perjalanan terpanjang dalam hidup saudara kembarnya itu.

Baik Jack maupun Laurel telah belajar sejak awal, bersahabat dengan A&P berarti tidak bisa menolak uang pemberian A&P. Tamu favorit mereka itu sangatlah keras kepala, dan tidak akan mau mundur sampai mereka menuruti kehendaknya, Meski begiru, A&P sama sekali tidak mengira bahwa Jack dan Laurel

menyumbangkan uang yang ia berikan selama ini ke penampungan anak-anak terlantar di bagian tenggara Kota Washington, D.C. Tanpa sepengerahuan A&P, beberapa tahun belakangan ini, si Murah Hati Anna Belle sudah mendanai kemajuan-kemajuan baru di dapur penampungan; juga memperbaiki sebagian dari atap yang rusak; dan berandil dalam terbentuknya sebuah lapangan basket baru Serta taman bermain yang dikelili lagi oleh pagar pengaman yang tinggi.

"Tentu saja kita akan mengatakan yang sebenarnya pada A&P. .. " ucap Laurel enteng, " ... suatu hari nanti," Sebelum jack bisa memberikan reaksi pada perkataan istrinya, kedua mata Laurel tiba-tiba terbelalak dan tubuhnya bergoyang menyamping dan maju-mundur, kedua tangannya mencengkeram dada.

"Sayang!" Jack mengangkat kepalanya untuk mencari tahu apa yang-sedang terjadi, "Ada apa? Laurel? Duduklah dulu,"

Laurel bersusah-payah untuk duduk, namun jatuh bersandar di atas kayu yang terpaku di kepala ranjang. "Aku ... tidak ... bisa ... napas ... dadaku ... telepon ... ," kata-katanya tak lebih dari hembusanr udara kosong,

Jack menoleh ke jendela dan memanggil-manggil A&P.

"Nyonya Prestwich, kemarilah! Kemarilah cepat! Tolong!'

Tapi A&P sudah memulai rutinitasnya berjalan-jalan di malam hari, menyusuri,pinggiran sungai, menghitung bintang lewat refleksi cahaya yang terbias di atas permukaan air,berarus lambat dan berbincang-bincang tencang ilmu astrologi kepada Castro sambil menarik tali kekangnya.

"Ya Tuhan, tolonglah kami" teriak Jack, sementara napas Laurel menghantarkan rasa sakit yang semakin jadi dan, kedua matanya terbelalak seolah ingin berteriak, Jack menoleh ke arah wadah telepon cordless yang berada di atas meja tidur di sisi Laurel.

Kosong.

"Tanganku, jack!" kedua mata Laurel bergerak mengikuti rasa sakit yang menjalar dari dadanya ke lengan kirinya, kemudian ke pinggul dan kakinya. "Jack," Entah bagaimana, terakhir kalinya ia menyebut nama suaminya itu justru terdengar seperti permohonan maaf.

"Ya, Tuhan" panggil Jack sekali lagi.

Berusaha untuk duduk tegak, Jack berteriak kepada wanita di sisinya, "Laurel!" Namun, mulut dan mata istrinya sama sekali tidak bergerak. Jack menggerakkan kakinya melampaui sudut ranjang hingga kedua telapaknya menyentuh lantai. Ia hanya bisa melangkah dua kali sebelum keseimbangannya hilang lalu ia terhuyung jatuh. Ruangan di sekitarnya berputar hebat, Jack berpegangan pada sebuah lampu yang terbuat dari tembaga. Begitu ia hendak menyeimbangkan tubuhnya.Tudung lampu itu pun tumbang dan menghempaskan tubuh Jack ke atasnya, Tudung lampu yang terbuar dari kaca pecah berantakan di permukaan lantai, ditimpa lagi oleh berat badan Jack.

"Ya tuhan!Tolonglah kami, tuhan!' Jack terbaring menatap langit-langir, kedua tangannya menggapai permukaan lantai. Kepalanya sakit. Air mata deras mengumpul di matanya. Memiringkan kepalanya ke satu sisi, kedua matanya menemui sebentuk plat mobil asal Tennessee yang terpajang di dinding kamar,

Perlahan-lahan, ruangan itu pun berhenti berputar, dan Jack berhasil mengangkat tubuhnya sendiri kembali ke atas tempat tidur yang bingkainya terbuat dari kayu. Posisi Laurel belum berubah, tetapi matanya kini terpejam. Kedua lengannya terkulai di samping badan.

"Laurel?" Jack melarikan jemarinya ke atas pipi Laurel. "Sayang?" Sebelah tanganya ia letakkan di atas dada Laurel yang kini tak bersuara. "Manisku,"Jack melingkarkan kedua lengannya mengelilingi tubuh Laurel dan menariknya lebih dekat. "Manisku," katanya lagi. Perlahan-lahan, .ia menggoyangkan tubuh istrinya maju-mundur tanpa henti.

Beberapa saat kemudian, Jack meletakkan kepala istrinya kembali ke atas, bantal dengan lembut, Lalu, dari laci paling atas meja yang berada di sisi tempat tidurnya, ia mengambil sebentuk pena, secarik amplop yang sudah terisi dengan beberapa lembar surat dan selembar kertas tulis berlogo Domus Jeforson yang masih kosong. Beralaskan buku Alkitab versi King james, ia pun mulai menulis:

l3 April 1988

Laurelku yang terkasih

Sepulub menit berlalu dan Jack sudah menyelesaikan surat yang tadi ditulisnya. Bersamaan dengan surat-surat lain, ia pun menyegel surat yang baru saja ia rampungkan ke dalam secarik amplop, dan di bagian luar amplop, ia menulis catatan pendek, Dikuburnya tumpukkan surat-surar itu di dalam Perjanjian Baru.

Setelah mengembalikan Alkitab yang ia gunakan sebagai alas menulis ke atas meja tidur, ia bergeser mendampingi tubuh istrinya. Dengan hari-hati, .ia meletakkan lengannya di bawah tubuh Laurel dan mereogkuhnya ke dalam pelukan. Dibelainya tengkuk Laurel yang ditumbuhi helaian rambur halus berwarna kecokelatan, Ialu membisikkan sesuatu ke telinganya yang masih terasa hangat. Dikecupnya dahi Laurel.

Jack memikirkan putranya, Malcolm, dan berharap ia sanggup menghadapi hari-hari yang akan datang.

Akhirnya, Jack menyerah ketika sakit kepala yang terakhir datang menghantam. Dan ia terridur.

Pukul 9:04 kcesokan paginya, A&P yang khawatir karena tidak menemukan sahabat-sahabatnya di ruang umum penginapan masuk ke dalam kamar pasangan itu bersama Castor. Merekalah yang pertama kali menemukan Jack dan Laurel terbaring damai dalam keadaan tubuh yang sudah dingin-berpelukan.

KAMIS PAGI

Setelah menemukan tubuh Laurel dan Jack, pihak pertama yang dihubungi olen A&P adalah tim paramedik, dengan permintaan untuk segera mengirimkan mobil ambulans Sambil menunggu kedatangan mereka, ia menghubungi Samantha-sayangnya, tidak ada' yang menjawab panggilannya-dan sederetan nomor lain yang ia temukan tergeLetak diatas meja tulis Laurel, tidak jauh dari ruang penerimaan tamu,

Di antara mereka yang dihubungi oleh A&P secara berurutan (sesuai dengan yang tertulis di atas kertas) ada-lab penata rambut Laurel, Nancy Nighrbell. "Siapa ini? Siapa yang meninggal? Ada orang meninggal?"

"Ini A&P."

"Tidak ada supermarket A&P di sekitar sini,"

"Bukan supermarket. Saya ini tetangganya keluarga Cooper, Anna Belle."

"Oh," Nancy menekankan nada suaranya seolah hendak mengatakan "aha!'. "Tentu saja; wan ita yang kaya raya itu 'kan?"

"Ya, ya," A&P berseloroh, "Saya punya kabar buruk-"

"Sudah lama saya ingin bertanya," Nancy terus saya berbicara tannpa mengindahkan perkaraan A&P. "Siapa sih yang menatra rambutmu?"

"Apa?"

"Rambutmu," ulang Nancy. "Siapa yang menatanya? Karena warnanya tidak cocok menurut saya:"

"Saya-"

"Ah, tidak penting," Nancy menyahut seenaknya. "Kapan-kapan telepon saya, ya?"

"Baiklah." Pembicaraan tersebur sangat sulit untuk diselesaikan, tetapi A&P adalah orang yang tidak suka menyinggung perasaan orang lain. "Saya pasti akan meughubungimu."

"Terus, kau tadi mengatakan bahwa ada seseorang yang meninggal?"tanya Nancy sekali lagi.

"Keluarga Cooper."

"Jack Cooper? Ia meninggal? Semoga ia berisrirahat dengan tenang. Dia itu orang baik, lho, Bolehkah aku berbicara dengan Laurel?"

"Nancy, dengarkan saya. Laurel juga sudah meninggal. Keduanya baru saja meninggal."

"Dua-duanya?"

"ya..'"

"Jack dan Laurel? Keduanya meninggal?"

"ya keduanya meninggal semalam. Saya yang menemukan mereka pagi ini."

"Aduh, aduh." Nancy menghela napas panjang. "Saya akan segera ke sana, ya," Sebelum Nancy memutuskan sambungan telepon, A&P mendengarnya berteriak kepada seseerang, "Ran¬dall! Aku butuh rumpangan! Matikan saja pertunjukan gular di televisi, berhenri rnakan cokelarfitdge.dan cepar pakai celanarnu!"

Jika hari itu tidak dirundungi oleh kematian kedua sahabatnya, maka A&P akan tertawa mendengar ocehan Nancy.

Selain Nancy, Anna Belle juga menghubungi seorang gadis berusia 15 tahun yang bekerja di toko kelontong dan p0m bensin langganan keluarga Cooper; pemilik toko susu dan keju; seorang wanita yang pernah menjual iklan penginapan di Philadelphia; seorang bankir di Winchester Virginia; Pastur Aaron Braithwaite dari gereja Kristen tanpa aliran yang kerap dikunjungi keluarga Cooper di Pegunungan jackson, serta nomor tidak dikenal yang ternyata pernah mendengar tenrang penginapan keluarga Cooper sambil menangis-hisreris, wanita yang tidak dikenal itu berjanji untuk membawa makanan saat menghadiri pemakaman Jack dan Laurel.

Orang terakhir yang dihubungi Anna Belle adalah Rain Jesperson, teman dekat keluarga Cooper yang merangkap sebagai manajer Domus Jeferson. Anna Belle tidak tahu bagaimana caranya mengabarkan kematian Jack dan Laurel kepada Rain.

Tidak seperri Jack dan Laurel; Rain yang berusia 30 tahun adalah penduduk asli Lembah Shenandoah. Kedua orang tuanya merupakan satu-satunya kaum hippie yang ada di daerah tersebut.

Rain berbicara dengan logat kampung yang ringan dan menarik Rambutnya yang berwarna agak pirang tergerai sampai pundak. Dengan tinggi tubuh lima kaki lebih sedikit, tidak sulit bagi Rain untuk berbaur di tengah kerumunan orang banyak.

Namun, Rain. Jesperson memiliki suatu keunikan yang tidak dimiliki orang lain, matanya yang berwarna hijau dan mulus.

Rain dibesarkan di kora Strasburg, terletak di Rute Utara 11, hanya berapa kota jauhnya dari DomUs jefferson. Selepasnya dari sekolah mengalir, ia menimba ilmu periklanan di Universitas James Madison, yang jaraknya tidak sampai satu jam dari kora Harrisonburg.

Tidak seperti teman-temannya yang memilih pindah ke kota-kota besar yang terletak di sepanjang Rute 1-95 seperti Richmond, Baltimore, atau New York City, Rain bersikukuh mempertahankan tempat kelahirannya .. Ia bahkan tidak memiliki hasrat sama sekali untuk meninggalkan daerah yang dianggapnya sebagai rumah.

Rain yalkin ia bisa merealisasikan semua impiannya di antara gugusan bukit yang mengelilingi Lembah Shenandoah, tidak hanya di kota-kota besar, Bayangannya tentang masa depan belum berubah sejak dulu, saat ia masih sering membaca kisah Cinderella di malam hari.Ia membayangkan seorang suami, anak-anak; pagar kayu berwarna merah jambu, bukan putih. Terutama, ia membayangkan ketenteraman. Rain percaya impian-impian itu akan mengikutinya, dan bukan sebaliknya.

Teleponnya berdering sebanyak empat kali di dalam rumahnya yang tersusun dari batu bata merah.

"Rain!" bisik A&P.

"Ini aku, A&P, menelepon dari penginapan."

"Hey A&P,bagaimana kabarmu? Apa kau memperhatikan bahwa aku sudah membeli susu organik berlemak rendah seperti yang kauminta? Apa kau sudah makan?"

"Ya, aku sudah melakukan semua itu. Tapi aku-"

"Kami sedang kehabisan roti gandum yang kau suka, aku tahu. Nanti aku juga akan ke sana, kok. Laurel memberi izin kepadaku untuk masuk agak siang, karena sampai jumat malam hanya kau yang menginap."

"Rain, sebaiknya kau segera datang. Sesuatu telah terjadi."

"Jack?" tanya Rain, meski ia tidak menunggu jawaban dari Anna Belle. "Sesuatu pasti telah terjadi pada Jack. Oke, aku,aku pasti sampai di sana lima menit lagi. Duh, pantas saja aku merasa tidak enak saat meninggalkan penginapan kemarin sore." Air mata Rain berkumpul di sudut mata. Katakan pada Laurel bahwa aku akan segera datang. Terima kasih, Anna Belle, maaf kau harus meneleponku dengan kabar buruk ini."

"Rain?" A&P merasa mual.

"Ya?"

"Tidak apa-apa. Sampai jumpa sebentar lagi." .

Sepuluh menit kemudian mobil yang dikendarai Rain berhenti di depan Demus Jefferson. Beberapa mobil polisi dan sebuah ambulans terparkir di pelataran berbaru yang sempit, menghadap ke berbagai arah menuju pintu mas we. A&P menangis saat ia melihat sosok Rain mendekat, berita buruk yang tadi belum tuntas ia sampaikan lewat telepon duduk seperti batu besar di dalam perutnya. Ia menemui Rain di gerbang utama dan segera merengkuh tubuh mungil itu ke dalam pelukannya.

"Oh, Anna Belle, tidak apa-apa, Jack sudah bebas sekarang, sshhh." Kedua mata Rain dibasahi oleh air mata.

A&P menarik dirinya dari pelukan Rain, menatap ke matanya yang hijau berkilauan terbasuh air. "Laurel juga telah pergi."

Kedua lengan Rain mendadak jaruh dari pundak A&P. ''Apa maksudmu, pergi?"

"Meninggal," A&P tersedak, "Laurel juga meninggal."

Rain buru-buru berlari melewati pagar kayu dan menelusuri jalan setapak yang terbuat dari batu-batu besar menuju tangga kscil serta beranda yang membatasi pintu utama penginapan. Ia tidak mengindahkan kerumunan orang yang sedang berpelukan dan menangis di taman, atau di beranda.

"Laurel?" Rain memanggil sekuat tenaga saat ia menapak di dalam ruang tengah. Dua orang polisi dan seorang laki-laki yang mengenakan jas berdiri sambil menyandarkan tubuh mereka di dinding, berbicara dalam nada suara rendah. "Laurel?" Rain berlari menaiki tangga, tidak mengindahkan seorang pollsi yang berada di hadapannya.

"Nona jesperson, tolong turun 'ke bawah." Polisi itu mencekal lengannya kemejanya, tetapi Rain tidak peduli. Ia terus saja melangkah dan membuka pintu kamar utama. Di dalamnya, seQrang wanita sedang mengambil foto-foto dokumentasi lampu yang rusak serta tudungnya yang berantakan. Selembar kain putih menutupi rimbunan di tengah ranjang.

"Rain'." A&P berdiri di ambang pintu, bertutur dengan suara lembut dan terkendali. "Mereka berdua meninggal semalam."

"Laurel juga? Kok bisa? Kecelakaan?" Kedua lutut Rain terasa lemas. Saat ia hendak duduk di kursi yang terletak di balik pintu kamar, seorang fotografer lepas yang bertugas memotret lokasi kejadian tiba-tiba saja menghampiri. Forografer tersebut memohon maaf dua kali sebelum meminta Rain dan A&P untuk meninggalkan kamar tidur Jack dan Laurel.

Tidak lama setelah itu, di dalam dapur penginapan, A&P rnencerirakan kepada Rain perihal kcjadian yang dialarrunya cadi pagi.

'Aku tidak percaya ,"tukas Rain, meski dalam hati kecilnya ia tahu bahwa A&P tidak berbohong.

"Tim paramedik belum bisa menentukan seedit teks bu nora

http://ebukita.wordpress.com pasti meninggalnya Laurel, tapi ada kemungkinan ia terkena stroke atau serangan jantung sesaat sebelum tidur. Menurut perkiraanku, Jack berusaha untuk menolong istrinya, hanya saja, ... ia terlambat. Kau sendiri tahu penderitaan Jack selama ini, bahkan semalam ia pamit untuk tidur lebih cepat dari biasanya. Kurasa dengan kepergian Laurel, secara otomatis, ia pun berhenti hidup-kau mengerti maksudku?"

Rain menganggukkan kepalanya, meneguk air dalam gelas yang digenggamnya.

"Mereka meninggal di atas tempar tidur, terbaring dalam pelukans atu sama lain, dan tampak begitu bahagia." A&P menyeret kursi duduknya agar lebih dekat dengan Rain. "Mereka seperti foto yang sering kulihat terpasang di kartu-kartu ucapan. Kautahu . kan apa yang kumaksud? Kartu-katu ucapan Hallmark yang menampangkan foto pasangan yang sedang jatuh cinta dalam nuansa hitam-putih, dengan halaman kosong di bagian tengah kartu supaya kita bisa menulis pesan kita sendiri? Coba sekali-sekali kauperhatikan wajah-wajah di dalam foto-foto tersebut seolah tidak ada satu hal pun yang salah dalam hidup mereka. Seolah mereka siap kapan saja dunia akan kiamat. Ekspresi macam itulah yang kutemui di wajah Jack dan Laurel saat kutemukan mereka pagi tadi. Wajah Jack begitu tampan, nyaman dan damai." ia berhenti sebentar, melemparkan pandangannya ke jendela, "Seandainya saja Alan meninggal seperti itu.'

Kedua wanita yang sedang duduk berdampingan dan dirundung kesedihan itU perlahan-lahan muLai menerima kenyataan pahit meninggalnya dua sahabat mereka. Tatapan mereka berkelana melampaui jendela dapur, hilang di antara kerumunan manusia di halaman depan penginapan, Sementara kedua mata Rain menyelubungi tubuh-tubuh asing milik orang-orang yang sedang berkabung, pikirannya tertuju pada Malcolm Cooper.

"AAyah dan Ibu sudah meninggal."

"Apa?Sammie?" Malcolm berteriak kepada telepon satelit miliknya.

"Mereka sudah pergi, Mal." Samantha, adik perempuan Malcolm, mengulang perkataannya tadi seraya menggapai sebuah revolver Magnum berkaliber .357 yang tergeletak di atas meja dapur. jemarinya yang kuat dan kapalan memutar tabung silinder revolver, sementara di telinganya tersangkut sebuah gagang telepon dinding berusia 76-tahun yang terbuat dari kayu .

Samantha berbicara dengan nada tegas, meski ia agak lelah setelah sepagian mengurusi pemindahan jenazah kedua orang tuanya dari penginapan ke kamar jenazah kabupaten. Ia tidak punya pilihan lain kecuali menyaksikan tubuh ayah dan ibunya dimasukkan ke dalam kantong hitam, diusung keluar dari DomU5 jefferson dan pada akhirnya dibawa pergi oleh kereta jenazah.

Matanya menangkap bentuk kursi tinggi yang empuk di hadapannya, setengah tersembunyi di bawah meja panjang yang melintang di sisi lain dapur, Dapur tersebut memiliki ukuran yang sungguh di luar batas normal, pikir Samantha, dan setiap perabotan berdiri bagai pulau-pulau kecil di tengah lautan luas.

"Bagaimana Sammie? Bagaiman mungkin mereka pergi begiu saja?"

"Ibu terkena serangan jantung, Mal, dan Ayah pergi mengikutinya. Semua itu terjadi semalam, entah pukul berapa."

Malcolm menatapi seekor monyet sapajou yang sedang minum dari pinggiran sungai. Monyet jenis ini memiliki bulu berwarna gelap di sekitar tubuh, lengan, dan kaki; serta bulu berwarna terang di sekitar kepala, leher dan dada. Dari sudut matanya, Malcolm juga melihat bayangan seekor ular sepanjang dua belas kala merayap di' atas permukaan air tidak jauh dari moyet tadi.

"Jadi Ibu sudah meninggal?"

"Ya."

"Dan Ayah juga?"

'Beliau mengidap kanker, Malcolm."

"Aku tidak tahu itu," ujar Malcolm pelan. Ia memindahkan telepon satelit-yang digenggamnya dari satu telinga ke telinga lainnya, dan melemparkan pandangannya ke arah langit barat. Pepohonan dan akar-akar hijau mencuat tinggi, menggapai langit yang melindungi hutan serta Sungai Amazon di daerah Manaus, Brazil. Dengan sekali dayung, Malcolmn pUn mulai menahkodai perahu yang ia tumpangi melalui perairan berlumut, Bak pendayung profesional, Malcolm memutar sudut dayungnya secara vertikal sementara perlahan-lahan membawa perahu berwarna perak, berukuran empat belas kaki, dengan dasar yang rata kembali ke tengah sungai terpanjang di dunia, Matanya basah oleh air mata untuk mendiang sang ibu.

"Aku akan pulang katanya kepada Samantha.

"Benarkah?" tanya adik perempuannya itu, setengah tidak percaya.

"Berikan aku satu-dua hari untuk perjalanan ke sana."

"Kau yakin, Malcolm? jika kau yakin, maka kami harus memberitahukan kedatanganmu pada Nathan."

"Aku yakin. Aku pasti datang," desak. Malcolm. "Tunggu sampai aku tiba, ya."

"Baiklah."

"Aku sangat berduka cita, Sam."

"Aku juga," bisik Samantha.

"Maafkan aku karena tidak ada di sana sekarang," Malcolm nyaris tersedak oleh kata-katanya sendiri.

"Tidak apa, Mal, kau melakukan apa yang harus kaulakukan. Tidak apa-apa."

Malcolm menarik napas dalam-dalam sebanyak tiga kali.

"Aku sayang padamu. Kautahu itu 'kan, Dik?"

"Aku tahu. Aku juga sayang padamu."

"Apa kau menyayangi dirimu sendiri?"

"Oh,hush." Samantha tersenyum untuk pertama kalinya sejak ia mendengar di radio polisi tentang dua jenazah yang ditemukan di Domus Jefferson.

Samantha menarik tuas telepon untuk memutuskan sam¬ungan dan menghubungi nomor lain. "Dia sedang dalam perjalanan kemari," katanya kepada kakak sulungnya, Matthew.

"Dari mana?"

"Entahlah." Samantha menghela napas. "Dari alam, mungkin."

"Berapa lama sebelum ia tiba?"

"Katanya dua hari."

"Kalau begitu ia masih ada di Brazil." Matthew berhenti berbicara sejenak, lalu bertanya, "Bagaimana reaksinya?"

"Sunyi."

"Sudah kutebak,"

Baik kedua orang tuanya, maupun Matthew dan Samantha, sudah hampir setahun ini hilang komunikasi dengan Malcolm. Sesekali selembar kartu pos datang dari lokasi terpencil di Amerika Selatan,yang merupakan satu-satunya bentuk komunikasi pilihan Malcolm sejak ia meninggalkan Woodstock dua tahun sebelumnya, Terakhir kali ia menelepon ke rumah adalah beberapa hari setelah ia menerima paket kiriman ibunya yang dialamatkan ke sebuah apartemen di Sere Lagoas, Brazil. Paket itu berisi kue-kue kering, sepucuk surat dari Rain yang disimpan Malcolm namun tak pernah ia baca, dan sejumlah uang tunai dari A&P yang disembunyikan di dalam sepasang kaus kaki panjang. Malcolm menggunakan uang tersebut untuk membeli penyaring air yang terbuat dari tanah liat, sepatu anak-anak, dan beberapa buku gambar.

Paket yang dikirim Laurel juga menghantarkan sebentuk telepon satelit berharga mahal. Selembar kertas post-it terekat pada buku manual yang disertakan. Tulisan tangan ibunya berbunyi."jaga dirimu. Hubungi kami jika kau sudah siap." Malcolm mengikuti saran ibunya dan menelepon, tetapi pembicaraan pertama mereka dengan cepat berakhir saat Laurel memohonnya untuk kembali.

Laurel sempar menyesal karena tidak sempat memberitahukan Malcolm bahwa ayahnya sedang sekarat, Malcolm membawa telepon satelit pemberian ibunya ke mana pun ia pergi, namun jarang sekali diaktifkan.

"Bagaimana daftar orang-orang kenalan Ayah?" Samantha bertanya pada Matthew.

'Beres,aku sudah menelepon semua orang. Ada tiga atau empat nama yang tidak aku kenal, tapi A&P membantuku menemukan beberapa nomor, Mudah-mudahan mereka semua bisa datang ke pemakaman."

"Aku juga berharap begitu."

"Oh," Matthew tiba-tiba teringat, "Bibi Allyson menghubungiku kembali. Beliau tidak bisa mendapatkan kursi penerbangan dari Las Vegas sampai Sabtu sore."

"Aku tidak sabar bertemu dengan beliau. Ya ampun, sudah lama sekali aku tak melihatnya!"

"Baru dua tahun, Beliau datang untuk merayakan ulang tahun, pernikahan Ayah dan Ibu yang ke-35, ingat?" Matthew terdiam sesaat. "Apa masih belum ada kabar dari saudara Ayah?"

"Beliau itu paman kita," jawab Samantha, tidak menutup¬nutupi kegusarannya .. "Dan memang belum ada kabar dari beliau. Aku meninggaLkan pesan pada petugas pengawasnya di St. Louis."

"Jangan salahkan aku, Dik, tapi aku takkan heran jika beliau tidak datang. Kedatangan Malcolm saja sudah cukup menegangkan."

"Mungkin." kata Samantha. "tapi beliau tetap harus dikabari."

"Baiklah, Coba terus kalau begitu."

Samantha tahu apa yang akan mereka bahas selanjutnya.

"Kau sudah menelepon Nathan?" tanya Matthew.

"Kau kan tahu hal itu tidak mudah dilakukan."

"AkU tahu, Sam, tapi dia adalah Jaksa Penuntut Umum di sini. Dia harus tahu Malcolm berencana,untuk pulang, Atau kau ingin minta bantuan Rain untuk menyampaikan berita ini padanya."

"Kurasa boleh juga." Samantha menyarungi senjata api miliknya .. "Tapi kejadian ini membuat Rain terpukul, Matt. Sangat terpukul."

"Sudah kuduga," balas Matthew, "Dia sudah datang?"

"Ia tiba beberapa saat yang lalu. Sekarang ia ada di luar bersama Anna Belle dan para tetangga."

"Aku merasa kasihan pada Rain. Dia itu sudah seperti keluarga kita sediri."

"Ya."

"Sampaikan padanya ucapan terima kasihku atas semua bantuannya, ya? Aku harus segera terbang ke Dulles. Nanti aku akan menyewa mobil dan berkendara dari bandera ke penginapan. Aku akan tiba sekitar pukul lima atau enam sore."

"Apa Monica ikut?"

"Tidak bisnisnya sedang ramai dan ia tidak bisa meninggalkan pekerjaan."

"Tidak bisa pergi sebentar saja?"

"Tidak."

"Aku turut sedih mendengarnya, Matt. Apa semua baik-baik saja dengan kalian?"

"Oh, ya, tentu saja, Kautahu sendiri bagaimana sifat Monica meski ia datang, ia pasti hanya bisa memikirkan klien¬kliennya sepanjang waktu. ia melakukan usaha ini dengan sungguh-sungguh. servis 24 jam, kautahu-lah. Dan karena semua ini baru untuknya, jadi ia cukup stres, la benar-benar kewalahan."

"Matt. dia itu kan pelatih pribadi-"

"Pelatih kesehatan," Matthew mengoreksi.

"-Terserah lah, Dia pasti bisa menyisihkan sedikit waktu. Kau juga tahu itu, Kaubutuh dia sekarang."

"Tidak apa kok, Sam. Sungguh. Lagipula, kami sudah menjadwalkan pertemuan dengan seorang-pakar adopsi yang pernah kuceritakan padamu dan juga seorang wanita hamil lainnya di newark akhir minggu ini. Aku punya perasaan kalau kali ini kami akan berhasil. Jadi, Monica tidak mau melewatkan pertemuan tersebut. Waktunya tidak tepat baginya untuk datang."

"Jangan lupa menyampaikan itu kepada Ibu dan Ayah. Mereka seharusnya meninggal dua minggu dari sekarang, saat Monica punya cukup waktu untuk datang melayat." Suara Samantha meninggi dan memecah. "Maafkan kelancanganku, Matt. Aku senang akan segera berjumpa denganmu."

"Begitu pula aku, Sam. Maafkan aku karena adak ada di sana bersamamu sekarang.

Samantha mengangguk."Aku tahu." Air matanya mengalir.

"Sam?"

"Kita pasti bisa melewati ini bersama."

"Kuharap begitu."

"Sam?"

"Ya, Matt?"

"Jangan lupa bicara dengan Rain."

Samantha menghela napasnya. "Baiklah.'

Edit teks bu nora

http://ebukita.wordpress.com4

KAMIS MALAM

Boa tarde," kata Malcolm pada seorang wanita muda yang duduk di balik meja tiker berlogo Penerbangan Brazil, TAM Airlines.

"Boa tarde. senhor" Selamat siang, Tuan.

"Eu preciso passage para Washington. D. c." Saya ingin memesan satu tiket ke washington, D.C.

"Fala ingles?" tanya wanita muda berambut cokelat brunette itu. Apakah Anda bisa berbahasa inggris?

"Tentu saja. Apa saya terlihat seperti orang Amerika?" Malcolm melarikan jemarinya ke janggut kasar yang melekat di sekitar wajahnya. Kulitnya berwarna kecokelatan dan terlihat keriput karena sudah berbulan-bulan tinggal di pedalaman Amazon. Kedua matanya agak kemerahan dan terasa perih, Rambutnya dibiarkan memanjang sampai sebatas pundak.

''Ya, Tuan." Wanita muda itu tersenyum, memamerkan deretan gigi putih cemerlang, membuar kompleksi kulit wajahnya yang sedikit gelap terlihat mencolok. "Anda perlu bepergian ke Amerika Serikat, Hari apa?"

"Secepatnya,hari ini, kalau bisa."

"Penerbangan terakhir menuju Miami akan berangkat dalam waktu dua puluh lima minutos ... menit, maksud saya ... tapi Anda tidak akan bisa melewati gerbang imigrasi dalam waktu sesingkat itu.

"Bagaimana dengan penerbangan menuju los Angeles?" "Malam ini? Tidak ada."wanita muda tersebut menggengkan kepalanya. "Tolong tunggu sebentar." Ia dengan cekatan menyelipkan juntaian rambutnya ke belakang telinga.

Malcolm tidak sengaja menilik dua tanda lahir yang sebelumnya tersembunyi di dekatr bagian atas lehernya, di bawah rahang dagu, sejajar dengan telinga kanannya.

Si petugas penerbangan dengan cepar mengerukkan jemarinya yang lentik ke atas panel keyboard kuno berwarna krem. "Kami bisa menerbangkan Anda ke Rio De janeiro, lalu Anda transit di sana sambil menunggu penerbangan berikutnya ke Miami. Dari Miami.Anda akan naik penerbangan berikutnya menuju bandara Dulles di Washingcon, D.C. Itukah tujuan terakhirAnda?"

"Tujuan saya cukup dekat dari situ."

"Anda ingin ke Virginia, correto?" tanya si wanita muda. "Apakah Virginia tempat yang indah?"

Apa?" Malcolm balik bertanya, seolah tidak menyimak.

"Maaf;" kata si wanita muda, tersipu malu. "Saya boleh 'mengonfirmasi penerbangan ini untuk Anda? Anda akan tiba di Washington dua jam lebih awal Jika mengambil penerbangan ini, dibanding apabila Anda mengambil jadwal penerbangan pertama besok pagi."

,Hanya dua jam perbedaannya?"

"Sim. Hanya dua jam."

Malcolm mengagumi wajah wanita muda di hadapannya yang begitu muda dan polos. Cahaya remang-remang yang membanjiri ruangan tempat mereka berada mungkin membuat orang-orang di sekitar mereka tidak nyaman, tetapi bagi wajah malaikat asal Brazil yang sedang dipandanginya cahaya itu membuar kulit si wanita berkilauan.

Malcolm menebak-nebak dalam hati usia si wanita muda itu, dan tebakannya mengarah pada angka 21 atau 22. Meski ia sering digoda oleh lusinan wanta selama masa tinggalnya di 'Brazil, suara ibunya yang terdengar amat religius dan khawatir, serta bayang¬bayang Rain yang menyesakkan kepalanya, membuat Malcolm enggan mengikuti hasratnya untuk jatuh ke dalam godaan-godaan tersebut.

Dirasakannya lagi pukulan dalam dada yang kian. menggebu, mengingatkannya bahwa kedua orangtuanya telah pergi, dan rasa kehilangan itu diikuti oleh suaru sensasi lain yang menjeratnya ke dalam dunia baru,dunia di mana ia terlahir tanpa tujuan,

Malcolm masih menatapi wajah muda di depannya, Wanita muda itu,sama cantiknya seperti wanita-wanita lain yang ia temui di Brazil. Tanpa pikir panjang, ia mencondongkan tubuhnya lebih dekat. "Bagaimana dengan Rencana B?'

"Rencana B?rencana apa?"

"Rencana B. Aku tetap di sini sampai jam kerjamu berakhir, Lalu, aku mengajakmu makan mala ,kita bisa berjalan-jalan, ditepi sungai, dan kau boleh mengucapkan selamat tinggal padaku pada pukul"-Malcolm mencondongkan tubuhnya lebih jauh melewati meja tiket dan menolehkan kepalanya untuk mencuri pandang ke arah layar moniror komputer-"pada puku1 7:32 pagi, saat aku harus menumpang penerbangan 2122 menuju Miami."

Wanita muda itu tersenyum dan dengan hati-hati melirik ke arah kiri dan kanan. "Ya, Tuan. Saya pikir, saya suka dengan Rencana B ini."

"Kalau begiru, tolong segera dikonfirmasikan tiketnya." Malcolm balas.' tersenyum, menyerahkan segepok mata uang Brazil, reatis, dari dalam taS ranselnya.

Si wanita mengecek kembali paspor milik Malcolm dan memberikan sebentuk folder kecil berisi lembaran tiket, uang kembalian, bon pembelian, dan forrnulir imigrasi. "Nama saya Ana Paula," bisik si wanita muda, meregangkan lengannya di atas meja tiket,

"Malcolm. Prazer ern conbece-la" ia menjabat tangan Ana Paula dengan dua tangan.

"Saya juga senang berjumpa dengan Anda." Ana Paula menoleh dap melihat bahwa atasannya sedang mengawasi dari jauh, waswas terhadap orang Amerika yang tampak tertarik kepada pegawai barunya, "Jam kerja saya berakhir pukul sepuluh nanti malamn. Saya akan menemui Anda di tempat antrean raksi."

"Pukul sepuluh,' Malcolm mengulang perkataan Ana Paula lengkap dengan aksen Portugis yahg kental.

"Siapa berikutnya?" Ana Paula memanggil seorang wanita gemuk berkebangsaan Italia yang sedang menunggu di antrean di belakang wanita itu, Malcolm menghilang dan mulai menghabiskan waktu sampai ia bisa bertemu lagi dengan wanita cantik asal Brazil tadi.

Beberapa menit lewat pukul sepuluh malam, Ana Paula muncul di tempat antrean taksi di luar terminal bandara seperti yang telah dijanjikan.

Malcolm duduk di atas kursi kayu sambil mengutak-atik telepon satelit dalam genggamannya. Ia menyaksikan sejumah supir taksi berebutan untuk mendapatkan penumpang kulit putih. Mendadak Malcolm merasakan kram ringan di perutnya.

Ana Paula mengenakan celana pendek tipis berwarna merah muda, atasan berwarna putih dan tas kuning. Rambutnya yang berwarna hitam pekat tumpah di atas pundaknya yang mulus dan bundar,

Malcolm menatap tanpa henti, mulutnya sedikit menganga. Aku mungkin tidak akan pernah kembali ke tempat ini, pikirnya.

"Oi."

"Hello," jawah Ana Paula.

'jadi, yang manakah yang lebih disukai oleh si Cantik Ana Paula,bahasa Inggris atau Portugis?"

Sejujurnya? Aku lebih suka bahasa lnggris. Biasanya aku tidak pernah bisa berlatih. Di malam hari, aku sekolah, tetapi tidak banyak teman-temanku yang bekerja di bandara ini yang bisa berbahasa Inggris dengan baik. 'Meski begitu, mereka selalu merasa mampu berbahasa Inggris karena' mereka bisa mengucapkan Mac Donalds dan Pizza Hoot. Tapi menurut saya itu tidak menunjukkan apa-apa."

"Ha!" Malcolm menyelami kedua mata Ana Paula. "Kau benar," Ia membungkuk dan menyandangkan ransel besar yang tergeletak di atas tanah. "Ayo makan."

"Mac Donalds?"'tawa Anna Paula.

" Feijoada."

"Serio?"

"Serio. Itu mungkin akan jadi makanan Brazil terakhirku untuk beberapa waktu."

"Oh?"

"Tapi setidaknya, aku ada di sini malam ini."

Senyum Ana Paula kembali mengembang. "Kalau begitu kita panggil taksi. Kita bisa pergi ke restoran tepi sungai di Hotel Tropica. Kau pernah ke sana?"

"Belum pernah, tapi apa mereka menyajikan feijoada?"

Ana Paula terkekeh lagi. "Aku yakin mereka menyajikan feijonda, ya. Restoran ini adalah salah satu yang terbaik di Manaus."

Malcolm meraih tangan Ana Paula dan menggiringnya mendekati sebuah taksi. Menyelak di depan pasangan asal Amerika yang sudah lanjut usia, ia segera menduduki kursi penumpang di belakang sambil menenteng tas ranselnya, Dengan terburu-buru, ia menarik Ana Paula ke atas pangkuannya.

'Hotel Tropica." seru Malcolm kepada sang sopir, merasakan taksi yang mereka tumpangi bergerak pergi.

Pada pukul 11.15 malam,feijoada disajikan di atas meja mereka. Masakan itu merupakan khas Brazil,sup daging yang dicampur dengan kacang-kacangan serta sayur-sayuran hijau. Kaki, telinga, serta hidung adalah bagian yang paling disukai para penggemar sup tersebut, Sup yang disajikan malam itu merupakan sisa dari paket makan siang sebelumnya, dihidangkan kembali untuk Malcolm setelah ia menjanjikan tip yang sangat besar bagi pelayan dan koki restoran.

Jam-jam berikutnya, dua sejoli Amerika-Brazil terlibat dalam pembicaraan serius tentang impian Ana Paula untuk sekolah di Amerika Serikat dan pesta kejutan di hari ulang tahunnya baru¬baru ini, merayakan usianya yang ke-18.

Pada pukul 01:30 pagi, Malcolm sudah menceritakan kepada Ana Paula mengenai alasannya kembali ke Virginia dan setumpuk masalah yang sedang menunggunya di sana. Ia bahkan bercerita tentang novel yang sudah bertahun-tahun ini masih dalam proses penulisan. Ia juga menjelaskan bagaimana ia berencana untuk merayakan kesuksesan novel tersebut pada malam buku pertamanya masuk ke dalam daftar best-seller di koran New York Times. Tentunya, setelah novel itu rampung

Satu-satunya hal yang tidak ia ceritakan kepada Ana Paula adalah bagaimana wanita muda itu telah membantunya menghapuskan bayang-bayang Rain dari dalam pikirannya.

Sementara itu, menggunakan jari telunjuk, tengah, dan manisnya, Ana Paula menggambar angka delapan imajiner di bawah lengan Malcolm yang tidak tertutup kain pakaian, terpampang di atas meja bertaplak krem, Dari wakru ke waktu, Malcolm berusaha untuk melupakan kematian orang tuanya agar ia bisa menikmati sentuhan Ana Paula.

Sekitar pukul 02:30 pagi, di dalam sebuab bar yang tidak jauh dari restoran bintang empat tempat mereka menyantap makan malam pasangan itu menghabisi botol anggur ke dua. Seorang petugas 'yang sedang membersihkan lantai bolak-balik menyeret tungkai pelnya di sekitar mereka.

Ana Paula mencondongkan tubuhnya ke arah Malcolm dan membisikkan sesuatu, Bibirnya meuempel cukup lama di telinga Malcolm. Harum tubuhnya membuat Malcolm mabuk kepayang,meski ia kenal harum itu, Tapi saat ia menatap ke dalam mata berwarna cokelat nan indah milik Ana Paula ia justru melihat bayangan orang lain di sana.

"Aku tidak bisa," jawaban Malcolm mengejutkan keduanya. Pada pukul 07:00 pagi, walau telah menolak kecantikan wanita Brazil yang menemaninya menghabiskan waktu semalam suntuk, Malcolm menumpangi pesawat 2122 dengan kepala yang penuh akan wejangan ibunya dan d.ada yang sesak akan rasa bersalah.

JUMAT PAGI

Dalam perjalanan menuju Miami, Malcolm duduk termangu menatapi bayangannya sendiri yang terpantul di permukaan jende1a pesawat. Pada pantulan yang sama, ia menemukan ibunya, Laurel. yang sedang berdansa sendirian di tengah-tengah ruang tamu. Kedua orang tuanya baru saja diresmikan sebagai pemilik Domus Jefferson dan sesuai dengan keinginan Jack-seriap jengkal penginapan tersebut dilapisi oleh cat berwarna putih. Saat itu musim panas tahun 1963. Malcolm berusia tiga belas tahun.

Tidak jauh dari ruang ramu tempat Malcolm menyaksikan ibunya berdansa, Matthew. kakak sulungnya, sedang berdebat dengan ayabnya perihal untung-rugi menjalankan bisnis penginapan dan membandingkannya dengan jabatan Jack sebelumnya sebagai Kepala Dinas Perbaikan di Universitas Virginia.

Marthew mengethui bahwa jabatan ayahnya di universitas bukan sesuatu yang bisa dibanggakan. namun setidaknya Jack bisa mendapatkan gaji bulanan yang memadai dan penghargaan yang tidak kecil dari Universitas Virginia atas pengabdiannya selama 22 tahun. Teman kerja Jack di sana sering menjulukinya sebagai Jack Barry, karena kemiripannya dengan pembawa acara Twenty-One dan karena kesenangannya memecahkan teka-teki.

"Kau pasti Kepala Dinas Perbaikan paling pintar di seluruh universitas nasional," ujar teman-temannya suatu hari. "Seharusnya kau mengepalai dinas di Yale. Kau adalah tukang bersih-bersih dengan kermampuan baca tertinggi di seantero Amerika." Mereka menggodanya, Jack tertawa mereka menggodanya lag; dan Jack hanya tersenyum.

Selama sepuluh tahun, Jack dan Laurel diam-diam menabung demi merealisasikan impian mereka untuk membeli dan menjalankan bisnis penginapan. Tapi, mereka membayangkan bahwa mimpi itu tidak akan menjadi kenyataan sampai anak-anak mereka sudah dewasa dan mampu mencari tempat tinggal masing¬masing. Namun, sebuah warisan bernilai besar tiba-tiba dilimpahkan kepada mereka, dari paman Jack yang sedang sekarat di Kota Pittsburg. Dan rezeki yang tidak disangka itu pun menjadi batu loncatan bagi pasangan Jack dan Laurel untuk merealisasikan semua rencan-rencana terpendam mereka.

Dengan uang hibahan paman Jack, mereka menyewa sebuah apartemen untuk tempat tinggal joe saudara kembar Jack. Mereka juga membayarkan uang sewa apartemen selama enam bulan pertama dan memberikan beberapa ribu dolar kepada Joe untuk menyokong biaya hidupnya sampai ia menemukan pekerjaan baru.

Beberapa minggu sebelum pasangan Cooper membeli Domus JeffersoJ!, Joe dipecat dari pekerjaannya sebagai ahli pertamanan di Kabupaten Albemarle. Sepertlnya, orang-orang di kabupaten tersebut tidak suka kebiasaan Joe mengendarai mesin pemotong

rumput sejauh empat mil ke tengah kota untuk mengonsumsi bir segar saar jam makan siang.

"Anda ingin minum Tuan?" SUara lembut pramugari yang mendadak hinggap di telinga Malcolm menariknya dari lembah masa lalu yang sedang ia selami. Malcolm menggelengkan kepalanya sebagai balasan, dan menutup tirai jendela pesawat seolah unruk mengenyahkan bayangannya sendiri.

Malcolm bukan orang yang mudah tidur. Ia mematikan lampu kabin, menyandarkan kepalanya ke jendela, dan memejamkan matanya rapat-rapat, Dalam bayangannya, ia melihat Samantha, adik perempuannya yang rewel. Masih di dalam bayangan yang sama, Samantha sedang membaca buku teks karya Shakespeare di beranda depan rumah seraya memperkirakan berapa lama lagi ia harus menunggu sebelum ia boleh meminta izin lagi kepada orang tuanya untuk menelepon ke luar kota.

Di usia yang ke-10, Samantha merasa sangat kesal karena harus dipisahkan dari teman-temannya di Kota Charlottesville, mengikuri kepindahan keluarganya ke Lembah Shenandoah di Virginia.

"Charlottesville memang tempat yang membosankan," gerutu samantha pada kedua orang tuanya, "tapi tempat ini jauh lebih sepi, dan karenanya cukup menyeramkan bagiku."

Selang beberapa waktu, Samantha akhirnya membiasakan diri diwoodstOck dan menemukan sejumlah temnan baru. Meski begitu, ia tetap saja rindu akan kehidupan yang ia tinggalkan di Kora Charlottesville, sebuah kora nyentrik yang dibangun oleh Thomas Jefferson.

Satu-satunya hal yang membuatnya betah adalah pondokan kecil tempat ia dan Malcolm tinggal sampai mereka menyelesaikan pendidikan menengah ke atas, terletak tidak jauh dari penginapan yang dikelola oleh orang tua mereka. Teman-temannya mengagumi pondokan tersebut, dan beberapa dari mereka bahkan merasa iri. Tapi, bagi Samantha, semuanya tidak sebanding dengan apa yang ia rindukan.

Walau telah diberi kebebasan dan fasilitas yang memadai di pondokan itu, bayang-bayang Kota Charlottesville tidak pernah lepas dari pikiran Samantha. Hal yang paling mernbuatnya ingin berlari kembali ke kota itu adalah kehidupan teater yang begitu semarak di sana. Sejak usia enam tahun, Samantha sudah mulai mengikuti audisi pertunjukkan teater di sekitar Charlottesville, dan meski peran yang ia mainkan tergolong kecil, ia tetap merasa berhak mengomentari kehidupan teater di Woodstock yang dikategorikan sebagai, "amatir, tidak memberi inspirasi dan tidak cocok untuk seseorang yang punya potensi besar di bidang teater."

Lebih dari sekali Samantha menganCam kedua orang tuanya untuk meninggalkan Virginia, minta tumpangan.pada siapa saja yang lewat sampai Washington. D.C., naik kereta Amtrak ke New York dan mencoba peluangnya di panggung' Broadway. Di ulang tahunnya yang ke-I7, Samantha merealisasikan niatnya itu.

Matthew, anak sulung keIuarga Cooper, berusia 17 saar mereka pindah ke Woodstock. Untungnya karena ia selalu mengambil kelas musim panas selama dua tahun berturut-turut, maka ia diizinkan untuk lulus setahun lebih cepat dari teman-teman sekelasnya di Charlottesville.

Ayahnya menganjurkan ia melanjutkan pendidikan menengahnya di Woodstock supaya bisa bermain untuk tim Falcon dari SMA Woodstock dan menikmati masa remajanya. Namun, nasihat itu tidak diindahkan oleh Matthew. Hasratnya untuk menjadi pemain olahraga sudah lama luntur, dan di usianya yang ke-17, ia tidak sabar untuk menjadi mahasiswa ekonomi di kampus Univeritas Teknologi Virginia di Kota Blacksburg.

Tidak ingin mengeccwakan ayahnya, Matthew pun beralasan bahwa lututnya terlalu lemah untuk terus' berkiprah di dunia olahraga. Ia berpikir ayabnya hanya menglnginkan suatu hari anak sulungnya bisa menjadi milyuner suaru hari nanti. Dan, ya, Matthew juga menginginkan hal yang sama-tapi bukan di lapangan olahraga, melainkan di bursa saham wall Street.

Bayangan musim panas tahun itu terlukis jelas di dalam benak Malcolm. lbunya mengenakan rok terusan berwarna kuning, menggoyangkan tubuh mengikuti irama musik Elvis yang dimainkan di mesin piringan hitam. Mesin itu sudah ada di dalam penginapan sejak sebelum mereka tinggal di sana. peninggalan pemilik aslinya, Malcolm memandangi gerak-gerik ibunya dari meja makan yang lebar.

"Itu bukan dansa namanya, Bu."

"Oh, begitukah menurutmu, Malcolm Cooper?" 'Bahkan Sammie bisa bergoyang lebih baik dari itu."

"Diam, Tolol!" Samantha memperingatkan lewat jendela

yang terbuka dari beranda depan.

"Samantha!" tegor Laurel.

"Maaf, Bu-Bodoh. Gimana, lebih baik?" Laurel menahan tawanya sendiri.

"Maukah kau berdansa dengan ibumu, Tuan Muda?" tantang Laurel kepada Malcolm.

'B0leh" tapi untuk satu lagu saja," jawab Malcolm sembari beranjak dari duduknya dan menghampiri ibunya. "Perhatikan, Sammie," teriaknya. "Kau mungkin bisa belajar dari praktik ini." 'Belajar apa? Caranya mudah?"

"Teruskan membacamu Samantha .. Dan kau, Tuan," Laurel mengedipkau sebelah matanya kepada Malcolm, "jangan goda. adjkmu terus. Siap untuk berdansa?"

Tiga lagu berlalu sementara Malcolm dan ibunya bergerak dari ruang tamu ke ruang makan, dengan luwes mengelilingi meja makan seolah benda itu mewakili pasangan imajiner yang juga sedaang berdansa di sekitar mereka, hingga akhirnya mereka sampai di dapur,

"Kau berdansa dengan sangat baik!" Laurel mengangkat suaranya dengan riang sambil membungkuk rendah dan berputar di bawah lengan Malcolm. "Kau bahkan lebih baik dari yang kukira!"

Kalimat tersebut seolah datang dari mulut Tuhan sendiri,

BApAK dan lbu sekalian," pramugari asal Brazil berbicara dalam bahasa inggris dengan aksen yang nyaris tidak ketara dibandingkan 'Orang-orang pribumi yang diternui Malcolm di Brazil. "Kami sudah memulai prosesi pendaratan pesawat ke landasan Miami. Kapten kapal meminta agar Anda mematikan dan memasukkan kembali semua alat-alat elektronik dan letakkan nampan di posisi semula dalam keadaan terkunci. Waktu setempat adalah pukul 03:30 sore."

Malcolm menyerahkan tiga bungkus pretzel yang sudah kosong serta kaleng minuman Sprite kepada pramugari yang lewat, lalu meraih sebuah kantong kertas dari belakang kursi penumpang di hadapannya untuk berjaga-jaga. Siapa tahu ia akan merasa mual.

Di seberangnya, dua bocah asal Brazil duduk berjajar,sepertinya mereka kembar, pikir Malcolm. Di tengah kedua bocah itu ndalah seorang pria, mungkin ayah mereka, yang sedang membaca majalah sepak bola. Bocah-bocah tadi menunjuk-nunjuk ke halaman majalah yang sedang dibaca, berdebat seru tentang pemain mana yang lebih hebat, "Shh," kata sang ayah. "Fecham suas bocas" la melirik ke arah Malcolm dan mengumbar senyum.

Malcolm membiarkan matanya trerpejam lagi dan pikirannya melayang kepada sebuab lapangan sepak bola yang ditumbuhi rerumputan di samping gedung gereja di Sete Lagoas. Ia sedang berjalan menuju ke aparteemennya, melalui sebuah mal di tengah kota, suatu area yang memamerkan sederetan restoran, bar, dan toko-toko roti. Mal itu terletak tidak jauh dari salah satu sungai bernama sama dengan kota tempat ia berada.

Perut Malcolm terasa penuh, setelah diisi oleh kacang hitam, nasi, dan potongan daging bistik yang disantapnya saat makan siang tadi. Di lidahnya masih terasa gelembung soda manis rasa buah beri dari minuman Guarana yang diteguknya berbarengan dengan porsi makan siang.

"Oi, amigo!" Seorang bocah laki-laki memanggilnya. "Americano! Americano!"

Malcolm menoleh.

"Quer Jogr?"

Malcolm tersenyum lebar dan menunjukkan jarinya pada sepasang sandal jepit yang ia kenakan. "Nao tenbo saparos,' ujarnya. "Ndo tenho sapatos"

Bocah itu tertawa dan setengah lusin pemain bola datang mengerumuni, setiap pasang mata memandangi sosok Malcolm yang berkulit putih dan berkebangsaan Amerika.

"Olha!" salah seorang dari mereka berteriak. Secara serempak, Setiap pemain pun mengarahkan telunjuk mereka ke kaki masing¬masing.

Malcolm tidak memperhatikan hal ini sebelumnya: beberapa dari mereka beralaskan sandal, sedang sisanya tidak mengenakan alas kaki sama sekali. Malcolm rnenyuuggingkan senyurn gembira, lalu berjalan ke arah lapangan, menendang kedua sandal jepitnya jauh ke tepi lapangan. Salah satu pemain mengusulkan agar ia melepaskan kemeja yang ia kenakan, bergabung dengan tim kulit. Malcolm melempar kemejanya ke tanah. Dalam waktu sekian detik, langit bergemuruh hebat dan menurunkan hujan lebat.

Mereka terus bemnain.

Malcolm berlarian di seputar lapangan luas hingga kakinya terasa perih seperti terbakar, mengejar bola dan pemain lainnya seakan ia masih berusia 12 tahun. Bocah-bocah di sekelilingnya dengan gesit menggiring bola dari saru SUdUt lapangan ke sudut lainnya, membentuk formasi kesebelasan yang bergerak mengikuti irama permainan. Saat Malcolm melihat adanya peluang baginya untuk menggiring bola ke gawang lawan, si Penjaga gawang tampak lengah dan terpelesei di tanah basah sehingga Malcolm bisa mencetak gol. Tapi ia yakin, bocah penjaga gawang itU sengaja menjatuhkan diri.

Malcolm mengedipkan maranya ke arah si Penjaga gawang. Bocah itu membalas kedipannya.

Dengan tubuh basah kuyup dan sarat akan lumpur, Malcolm meraih kaus yang tergeletak di atas tanah sebelum menjatuhkan dirinya sendiri ke atas rerumputan, menatap langit kelam. Bocah¬bocah sepermainannya tidak membuang banyak waktu untuk mengerumuninya, menindihnya seraya meluncurkan serangkaian pertanyaan tentang tempat kelahirannya, Amerika Serikat.

Apakah dia kaya? Bagaimanakah warna langit di Amerika Serikat? Apa ia pernah mengunjungi toko serba ada 7-1l? Apakah dia sudah menikah? Apakah binatang-binatang anjing di Amerika serikat menggonggong dalam bahasa Inggris? Sudikah ia membawa mereka semua kembali bersamanya ke kampung halaman? Atau bahkan hanya salah satu dari mereka?

Malcolm dengan sabar menjawab setiap pertanyaan yang lepas dari mulur setiap bocah, lalu sebelum beranjak pergi, ia mengeluarkan segepok uang kertas yang basah terkena hujan dari kantong kemejanya, Uang tersebut ia serahkan kepada salah satu bocah-bocah yang mengelilinginya seraya menunjukkan jarinya ke sebuah roko roti eli seberang jalan. Mereka berteriak kegirangan, beberapa menjabat tangannya, sedang yang lain berseru: 'TOs! t0s!"

Sementara seorang dari mereka cukup berkata, "Obrigado," dan memeluk Malcolm untuk waktu yang cukup lama.

Wajah kotor dan penuh terima kasih itulah yang terbesit di dalam benak Malcolm ketika bocah-bocah dalam pesawat yang duduk di samping kursinya mendadak meledak dalam tawa renyah. Kemudian, ayah mereka menegur kegaduhan yang mereka ciptakan. Malcolm memalingkan wajah, memandangi lautan biru di bawah sana.

Orang tuaku; telah meninggal, batinnya.

Beberapa jam dan satu penerbangan lagi maka ia akan berkumpul kembali dengan Matthew dan Samantha, pemakaman untuk dua orang, serta sebuah konfrontasi melawan kenangan¬kenangan yang ia miliki bersama Jack. Kepalanya berputar.

Malcolm berusaha untuk mengesampingkan adegan yang jauh lebih tidak mengenakkan antara dirinya dan petugas-petugas kepolisian, juga pertemuannya kembali dengan pria yang mencuri cinta masa mudanya.

Orang tunku telah meninggal.

Entah kenapa, hidungnya menangkap harum parfum yang kerap dikenakan Rain.

Apa dia sudah tiba?" teriak Nathan Crescimanno saat ia melangkah keluar dari dalam mobil BMW miliknya dan berjalan menuju gerbang mama Domus Jefferson.

"Belum,' jawab Samantha, berdiri di beranda. Dengan tinggi tubuh tidak lebih dari 157 cm dan satu setel jas longgar, Nathan tampak seperti seorang bocah laki-laki yang sedang mengendarai mobil ayahnya.la juga mengenakan kacamata berbingkai emas ala John Lennon.

"Di mana Rain?"

"Ada di dalam. Tapi pelankan suaramu, ya? Banyak hal yang sedang terjadi di sana."

"Maaf Aku sendiri sedang merasa lelah." Nathan mencakar dengan halus batang hidungnya sendiri. "Bisa tolong panggilkan Matt agar menemuiku di sini? Aku akan menunggu di luar."

Samantha mengangguk, matanya memancarkan senyuman, lalu segera masuk ke penginapan yang penuh sesak. Tidak lama, Matthew keluar menghampiri Nathan di beranda, Samantha mengikuti kakaknya dari belakang,

"Hey. Nathan," sapa Matthew, menjabat tangan Nathan yang kecil dan halus. Terlalu kecil dan halus untuk seorang pria, pikir Matthew.

"Matt, Matt, Matt, akhirnya kau sampai juga. Bagaimana kabarmu? Bagaimana Boston?"

"Boston menyenangkan, tapi sebenarnya aku tinggal di New York"

"Mana wanita cantik pendampingmu? Mon tidak ikut pulang?"

"Tidak, Monica tidak bisa datang. Bisnisnya sekarang sedang benar-benar naik daun."

"Baguslah. Hey, Matt, aku turut berduka cita atas kejadian yang menimpa orang tuamu. Aku tahu kalian pasti sedang sedih."

Di seberang beranda, Samantha menoleh dan memutar bola matanya ke atas.

"Aku hargai itu .... Terus, apa kabar terbarumu? Kau sudah berbicara kepada Ketua Romenesko?"

"Sudah, dan seperti yang kujanjikan kepadamu di telepon, aku berhasil membujuk beliau agar menyetujui perjanjian kita. Kami takkan mengganggu Malcolm sampai pemakaman selesai. Aku meyakinkan Ketua Romenesko bahwa Malcolm takkan mengambil risiko untuk lari ... setidaknya untuk beberapa hari ke depan."

"Kuhargai usahamu," kata Matthew."Kami sekeluarga menghargai usahamu," Matthew mengoreksi perkataannya, mencuri¬curi pandang ke arah Samantha.

Samantha memberi anggukan setuju yang terpaksa kepada nathan.

Pintu kasa tiba-tiba terbuka dan Rain melangkah ke beranda.

"Hai!" sapa Nathan. "Kau baik-baik saja? Sedari tadi pagi aku mencoba menghubungimu di sini. Kenapa kau tidak menjawab?"

"Maaf Nathan, kami tidak bisa menjawab setiap telepon yang masuk. Karena telepon di penginapan ini sudah berdering tanpa henti sejak kabar kematian Jack dan Laurel tersebar."

Nathan menghampiri Rain dan menariknya ke dalam rangkulan. "Tidak apa," katanya lembut. "Aku hanya khawatir,"

"AkU tahu," balas Rain. melepaskan ketegangannya dengan cara meremas pundak Nathan. "Maafkan kelancanganku,"

"Kita akan baik-baik saja, Sayang." Nathan menaikkan volume suaranya hingga bisa terdengar sampai ke ujung beranda. "Semua ini akan berlalu dengan cepat."

"Aku masuk dulu," kata Samantha, berpura-pura batuk untuk menyembunyikan sesuatu.

Matthew menundukkan kepala, menutupi senyum yang merekah di wajah,

"Rain, Sayang, temanilah Samantha ke dalamn. Aku harus membicarakan sesuatu yang penting dengan Matt." Nathan mcengecup pipi Rain. "Aku cinta padamu," ia berbisik di telinga Rain.

Rain melepas senyum hangat, memeluk Nathan sekali lagi, sebelum masuk ke penginapan dan mengikuti langkah Samantha ke lantai dua.

"Dengar, Matt. aku harus selalu berada di dekat-dekat Sini sampai pemakaman selesai. Aku mungkin juga akan meminta bantuanmu dan Sammie untuk mengawasi Malcolm. Jangan sampai dia ditinggal sendirian."

"Aku mengerti, Nathan. Kuhargai kebesaran hatimu untuk membiarkan kami mengadakan pemakaman ini dengan tenang. Kehilangan kedua orang tua kami dalam satu hari sudah cukup sulit bagi kami, Kurasa kami tidak akan sanggup menangani masalah-masalah lain yaog lebih berat selama beberapa hari ini."

"Tentu saja. Dan, aku berjanji, Rain dan aku takkan mengganggu waktu kebersamaan kalian." Nathan berusaha unruk mendengar serius. "Apakah kau akan ada di sini saat Malcolm tiba?''

"Seharusnya, ya."

"Di mana kau menginap?"

Matthew memiringkan kepalanya ke satu sisi, lalu mengerutkan dahinya dan menautkan alisnya. "Aku menginap di sini, Nathan. Tempar ini 'kan penginapan."

"Ah, benar juga." Nathan mengamati gedung penginapan di hadapannya seolah ini pertama kalinya, mengusir rasa malu yang mendadak menggerogoti. "Ya sudah, sebaiknya kita masuk."

"Nathan?" panggil Matthew saat Nathan meletakkan tangannya di atas gagang pintu, bersiap untuk masuk.

"Pernikahannya masih tetap akan berlangsung, 'kan?" "Kau juga sudah dengar kabar itu?"

"Tentu saja."

"Lalu, kenapa kau harus bertanya? Apa kau tahu sesuatu yang harus aku ketahui?" Nathan tertawa gugup; menurut Matthew tawanya terdengar seperti batuk anak-anak.

"Tenang saja, aku cuma tanya. Karena aku tinggal di New York maka aku jarang mendengar berita tentang Woodstock. Sam baru saja mengatakan padaku bahwa penginapan ini akan menjadi tempat resepsi pernikahan dan sisanya aku menebak sendiri. Resepsi Pernikahan."

"Pintar juga tebakanmnu. Ya, kami masih akan tetap menjalankannya. Kecuali ada sesuatu yang menghentikannya, ya?"

"Benar." Matthew mengangguk.

"Pokoknya awasi saja adik laki-lakimu."

Di dalam kamar tidur utama yang telah dirapikan seolah dindingnya tidak pernah menyaksikan kernatian sepasang suami-istri lanjut usia,Samantha dan Rain berbaring di atas kasur berukuran besar sambil menatapi kipas angin yang menggantung di langit-langit.

"Aku masih tidak bisa mempercayainya," kata Rain. ''Aku tahu."

"Ayah-ibumu meninggal Begitu saja."

"Aku tahu. Seperti mimpi, ya? Aku terus-terusan berpikir bahwa Ayah sedang berjalan-jalan mengitari penginapan atau membaca di ruang bacanya. Tapi aku sudah mengecek beberapa kali. Beliau tidak ada di sana."

"Sakit sekali rasanya kehilangan mereka, dan aku hanya pegawai di sini.."

"Rain," Samantha memotong perkataan Rain, "kau tahu bahwa kau lebih dari sekadar pegawai untuk kami. Kau adalah keluarga kami. Ayah dan lbu mencintaimu."

"Kuharap begitu." Rain mengusap air mata yang mulai bermuara di sudut matanya dengan kedua jempol."Aku sudah Lelah menangis terus, padahal mereka baru meninggal 24 jam yang lalu. Proses pemakaman saja tidak akan selesai sampai beberapa hari lagi."

"Aku sudah menebak." Samantha menghela napas panjang, terdengar jelas oleh Rain. "Apa kau sudah memikirkan apa yang kira-kira akan kaulakukan?" Ia menatap Rain.

"Tentang apa?"

"Kautahu tentang apa,"

"Tentang pekerjaanku di sini? Tentang resepsi pernikahan pasangan Vanatter yang akan dilaksanakan minggu depan? Tentang selokan di dekat rumahku? Aku hampir bisa menumbuhkan pohon Natalku.."

"Kau pasti tahu maksudku."

"Oh."

"Ya, oh."

"Maksudmu apa yang akan kulakukan tentang laki-laki itu, Siapa namanya,si Petualang?"

"Yup, itu dia."

Rain tersenyum lemah. "Aku belum berpikir sejauh itu, Jujur deh,otakku sudah seperti agar-agar sekarang, Sam. Aku masih kalut akan apa yang terjadi di penginapan ini."

"Apakah kau berusaha untuk membohongi seorang petugas polisi?" Samantha menepuk pinggul Rain dengan punggung tangannya.

"Entahlah. Maksudku, memang aku sempat memikirkan dia sekali atau dua kali- atau seratus kali- tapi biasanya semua pikiranku itu hanya membuatku merasa mual."

"Dia akan tiba di sini malam ini, Tadi ia sudah menghubungiku dari Miami.'

"Bagaimana ia akan kemari?"

"Dengan mobil sewaan. Aku sudah menawarkan untuk menjemputnya, tapi ia mnenolak, Sebenarnya aku ingin sekali pergi dari tempat ini, meski untuk sesaat, Mencari udara segar. Kalau aku harus berjalan dari penginapan ini ke Miami dan memapahnya kembali, pasti sudah aku lakukan,"

"Oh tidak, Apa kau jengah karena dibawah sesak dengan banyak orang? Kau mau aku meminta mereka pergi?"

"Jangan, aku tahu maksud mereka baik," kata Samantha, "hanya saja aku merasa energiku terserap habis. Tubuhku lelah dipeluk." Mereka terdiam untuk sesaat. "Kau tahu kan bahwa kau takkan mungkin menghindarinya selama tiga hari."

"Aku tahu." Rain berpikir panjang, Menit berikutnya berlalu cepat.

Akhirnya Samantha menanyakan hal yang paling ditakuti Rain. "Kau masih mencintainya, 'kan?"

Rain memutar cincin pertunangan yang melingkar di jari manisnya. "Aku sama saja dengan wanita yang sudah menikah, sam."

"Bukan itu pertanyaanku."

"Aku mencintai Nathan. Sungguh. Dia sangat baik padaku, selalu memperlakukanku seperti ratu. Aku tahu sejumlah orang tidaktahan pada sifatnya, dan aku mengerti. Tapi, bagiku, ia adalah seorang pria sejati. Dia begitu kokoh dan sabar menghadapiku, Dia mencintaiku. Dia punya mimpi."

"Mimpi untuk menguasai dunia."

"Bukan dunia, Sam, hanya Negara Bagian Virginia. Lagipula, ia tinggal di kota yang sama denganku. Jadi mimpinya sama saja dengan mimpiku."

"Dengar, kau juga tidak memberikan Si Petualang alasan yang cukup untuk tinggal di sini bersamamu." Samantha menolehkan wajahnya ke arah Rain dan memohon maaf saat itu juga dengan matanya.

Mereka terbaring dan terbungkam, mendengarkan suara¬suara manusia yang berbaur di bawah sana, serta suara ringkikan engsel pintu yang bergoyang terbuka dan tertutup setiap dua menit.

"Sam?"

"Ya?"

"Omong-omong tentang mimpi .... "

"Uh-oh," Samantha menggumam.

"Bagaimana dengan impianmu sendiri? Apa yang kaulakukan sekarang?"

"Aku pernah punya mimpi, bahkan mimpi yang sangat besar, tapi untuk sementara aku harus mengesampingkan mimpi-mimpi itu." Ia ragu sesaat, "Kautahu lah bagaimana situasinya." Samantha menatapi langit-langit.

"Kenapa kau berhenti?"

"Berhenti berakting?"

"Ya."

"Oh, entahlah. Will benci kehidupan seperti itu. la membenci aktor-aktor lainnya. Ia berpikir semua aktor itu hanya ingin menggantikan posisinya dalam hidupku, Berpikir bahwa semua aktor bersifat egois dan memiliki penilaian yang dangkal."

"Tapi kau tidak seperti itu."

"Mudah-mudahan saja tidak,"

"Tapi dia justru yang egois dan berpenilaian dangkaL kan?"

"Lebih dari yang kautahu," kata Samantha mengakui.

Rain menepuk paha Samantha. "Lalu kenapa tidak dlteruskan aktingmu sekarang ini?

"Oh, nanti sajalah. Aku tidak ada waktu sekarang."

Rain menimbang-nimbang jawaban Samantha. "Tapi suatu hari nanti kau mungkin menemukan waktu yang tepat untuk kembali berakting. Dan aku yakin teman-teman lamamu pasti senang melihatmu lagi di Kota Harrisonburg."

"Mungkin,"

'Sudah berapa lama sejak terakhir kau berakting bersama mereka?" tanya Rain. "Lima, tujuh tahun?"

"Sekitar itu."

Rain menggosok matanya dan meregangkan kedua lengannya di atas kepala. "Aku akan menjadi orang pertama yang mengantre karcis pertunjukkanmu. Barisan pertama. Pertunjukkan pertama,"

"Aku tahu," kata Samantha. "Tapi sekarang kita harus mengurusimu dulu,"

"Ya ampun, bagaimana mungkin kaupunya waktu untuk mengurusi rmasalah hatiku di tengah semua ini?"

"Aku menganggapnya seperti terapi. Kurasa aku sudah 99 persen mati rasa saat ini, Aku tidak punya buku petunjuk yang bisa memberitahukanku cara mengatasi kematian kedua oraag tuaku di malam yang sama. jadi, dengan cara mengalihkan isu masalahnya kepadamu, membua masalahku sendiri menjadi Iebih mudah untuk ditangani." Ia memandangi Rain lagi, tersenyum lebar.

"Samantha Cooper!" Rain mengambil sebentuk bantal yang tergeletak di antara mereka dan memukul Samantha di kepala,

"Shhh, ada orang-orang yang sedang berkabung di bawah,"

Kedua wanita itu berusaha untuk menahan derai tawa mereka.

"Sam, apa yang harus kulakukan?"

"Aku tak tahu, Aku benar-benar tidak tahu."

Mereka beristirahar di kamar itu sampai kegaduhan di lantai dasar pindah ke luar dari penginapan dan ke halaman depan, lalu pindah lagi ke pelataran parkir, hingga akhirnya terbagi-bagi dalam selusin kendaraan.

Penginapan itu kemudian menjadi sunyi.

Malcolm memandangi setumpuk peta-peta loka1. "Saya baru saja tiba dari Amerika Selatan untuk menghadiri

sebuah pemakaman," ujarnya kepada Salima, seorang wanita yang bekerja di Avis, tempat penyewaan mobil. Wanita muda berwajah kalem dan baik hati 'itu menatar pesanan mobil untuk Malcolm dari yang berukuran ekonomis ke ukuran sedang,

Saat Malcolm menambahkan bahwa pemakaman yang akan ia hadiri adalah milik kedua orang tuanya, Salima menatar pesanan mobilnya menjadi ukuran besar. Kemudian, setelah bercerita mengenai pengalaman pahitnya ditinggalkan oleh satu-satunya wanita yang pernah ia cintai, serta betapa ia dicekam rasa takut untuk berjumpa lagi dengan wanita tersebut setelah dua tahun berkelana, Salima setuju menyewakan sebuah sedan Mustang berwarna biru tua kepada Malcolm.

Di pertengahan bulan April ini, saat musim semi menuai warna cemerlang pada pohon dan tanaman, udara yang berembus di Virginia kelewat hangat, layaknya musirn panas. Termometer di atas papan dasbor mobil menunjukkan suhu 22 derajar Celsius.

Malcolm merapatkan mobil yang dikendarainya ke jalur darurat di jalan tol, membuka atap mobilnya.

Ia melanjutkan perjalanannya ke arah barat, melalui daerah pinggiran Virginia Utara sampai deretan mal dan restoran makanan cepat saji perlahan-lahan sirna di tengah ladang pertanian serta gulungan bukit yang memagari Rute 66, bersambung di arah selatan pada Rure 81.

Belum tiga jam berlalu sejak pesawat yang ia tumpangi mendarat di bandara Dulles, dan kini ia sudah tiba di sebuah pom bensin yang terletak di jalur tol menuju Kota Woodstock. Ia membeli sekaleng minuman Diet Coke dan dua kotak permen Tic tac, Malcolm merasa lega, meski sedikit terkejut, menemukan si penjaga toko sama sekali asing baginya.

Ditutupnya kembali atap mobil Mustang yang ia kendarai, sebelum ia meluncur pergi dari lokasi pom bensin dan menuju ke tengah kota, Tidak banyak yang berubah di tempat itu sejak kepergiannya. Sebelum memasuki batas kota, ia sempat melihat restoran terbaru Arby's di dekat jalur keluar jalan tol dan sebuah pom bensin Shell yang belum lama ditata ulang. Namun, Kota Woodstock itu sendiri terlihat sama persis seperti saat ia tinggalkan, dua tahun yang lalu ketika ia kabur membawa ransel berisi pakaian dan secarik tiket pesawar gratis.

Apotek Walton & Smoot's tampak gelap. Begitu pula toko pernak-pernik di sebelahnya, serta gedung perkantoran real-estate Century 21 di sudut jalan. Satu blok jauhnya dari sana di jalan Main Street, bioskop milik keluarga Devin Rovnyak terlihat remang-remang dengan beberapa lampu yang masih menyala. Dugaan Malcolm mengatakan, anak kembar Devin sedang berada di dalam bioskop menonton film-film yang akan dimainkan minggu depan.

Malcolm penasaran, apakah anak-anak remaja itu membiarkan pintu belakang bioskop terbuka begitu saja, Demi mengenang masa lalu, ia bisa saja masuk diam-diam dan mengejutkan kedua anak itu dari belakang dengan mengenakan ember popcorn di kepalanya sambil mengayun-ayunkan dua pasang penjepit hot¬dog di tangan,Ia yakin kedua remaja itu akan kencing dicelana, di hadapan siapa saja yang ada di sana; Malcolm sudah pernah melakukan hal ini sebelumnya. Menarik juga, pikirnya. mungkin besok-besok.

Akhirnya, ia memutuskan untuk mengendarai mobil sewaannya ke sisi lain kota tempat ia tumbuh dewasa dan berhenti di pelataran parkir Ben Franklin Department Srore.ia teringat akan cintanya kepada Kota Woodstock,Tidak seperti kota-kota kecil lainnya di negara bagian Virginia, Woodstock tidak menawarkan armosfir kuno ataupun modern. Di pelataran parkir ini, contohnva, berdiri salah satu cabang bank nasional yang baru saja selesai dibangun. Gedung-gedung bersejarah mengintip dari kejauhan, menatap langsung ke arah kumpulan restoran modern serta cabang hotel ternama. Malcolm menganggapnya perpaduan sempurna antara, masa lampau dan masa kini, Masyarakat kota ini takkan pernah melupakan warisan leluhur yang begitu kaya dan indah, atau mengorbankan semangat kota kecil yang mereka miliki. Walau begitu, mereka juga tak akan menolak penyajian burger keju dari Woody's dan es krim Frosty ukuran besar,

Malcolm memasuki RUte 11 dan berkendara melawan arah untuk kembali ke tengah kota mengambil belokan ke kiri menuju jalan Woodstock Tower Road dan mengikuti alur jalan sejauh beberapa kilometer menaiki pegunungan yang berkelok, sampai ia tiba di Hutan Nasional George Washington. Dalam waktu singkat, setelah ia berada di puncak gunung memandangi kota Woodstock dan Tujuh Lekuk Sungai Shenandoah yang terkenal dari ketinggian beberapa ribu kaki,Malcolm mulai mendaki jalan setapak yang berbatu menuju ke menara logam yang merupakan obyek wisata ternama. Ia menaiki susunan tangga dan berdiri disebuah platform yang besar.

Waktu SMA dulu, Malcolm dan teman-temannya sering sekali berdiri di sini, berkumpul selama berjam-jam di atas Menara Woodstock. Pemandangan yang disajikan sungguh unik, menampangkan keindahan Virginia bagian Utara, Di bagian Barat, berdiri di pelataran yang dulu digunakan sebagai pemantau kebakaran, para pengunjung bisa melihat Kota woodstock dan Tujuh Lekuk Persimpangan Utara Sungai Shenandoah. Di bagian Timur, jika udara berembus tenang dan' langit cerah, kita bisa melihat Lembah Port dan Pegunungan Massanutten. Di hari-hari yang sangat cerah, 'Pegunungan Blue Ridge juga bisa terlihat,

Malcolm mengingatkan dirinya sendiri untuk kembali ke tempat ini di siang hari, agar ia dapat menikmati pemandangan sekitarnya dengan lebih saksama.

Ia menyalakan senter yang ditentengnya, menyinari atap logam di sampingnya dan tersenyum melihat ukiran-ukiran yang tergores di sana. Ada beberapa yang baru, dan beberapa yang ia kenal. Ia melihat tulisan tangannya sendiri tergores di salah satu tiang, penyanggah, menggunakan spidolmerah: AKU CINTA RJ.

Selesai bernostalgia, Malcolm kembali mengendarai Mustangnya melalui jalan sempit berbatu menuju Rute 11.Ia mengambil arah selatan dan melihat binar lampu menyala di lantai atas musium kota. Ia bertanya-tanya apakah Maria Lewia sudah pensiun.

Maria Lewia adalah guru bahasa lnggris di SMA tempat Malcolm sekolah, dan beliaulah alasan kenapa ia lngin menjadi seorang novelis. Nyonya Lewia sudah pernah menerbitkan sejumlah buku;salah satunya adalah novel roman yang ditulis dengan nama samaran. Beliau pensiun dari posisinya sebagai guru SMA. ketika akhirnya menyadari batas kesabarannya berdebat dengan anak-anak remaja berusia 17 tahun, Tapi, masa pensiunnya berlangsung kurang dari seminggu.

Bethany Brickhouse, seorang direktur museum berusia delapan puluh dua tahun berbadan sehat dan berwajah. cantik, merupakan salah satu penyumbang terbesar di museum Kota Woodstock. Suatu hari, Nyonya Brickhouse pingsan di tengah panas dan kemeriahan pesta lulus-lulusan SMA Central-dan tidak pernah sadarkan diri.

Setelah diminta oleh Walikota Woodstock, didukung oleh anggota pemerintahan kota, tetangga dan juga Malcolm, Nyonya Lewia menggantikan posisi Nyonya Brickhouse sebagai direktur museum.

Meski sudah larut malam, Malcolm ingin mengunjungi wanita yang menjadi guru tulisnya. Namun, ia kemudian mengurungkan niatnya. Nyonya Lewia pasti akan menanyakan kabar novelnya yang sampai sekarang belum ia selesaikan. Lagipula, ia tidak ingin mengejutkan orang lanjut usia seperti Nyonya Lewia,

kalau-kalau beliau kencing di celana seperti anak-anak kembar keluarga Rovnyak.

Roda kendaraan terus melaju melalui jalan-jalan sepi, sampai akhirnya berhenti di depan Bar Woody's's. Jumat malam yang biasanya menarik begitu banyak pelanggan, kali ini Bar Woody's's terlihat sepi. Musim olahraga bela kaki bagi siswa sekolah menengah sudah lama selesai, karena itu tidak ada permainan yang bisa dirayakan,

Sejak terakhir ia melihat Rain, Malcolm belum pernah berada di dekat Bar Woody's'S. Menatapi trotoar di pinggir jalan, ia seolah terseret kembali ke malam itu, sebuah adegan dalam memorinya mengacu pada sebentuk gigi berwarna merah menggelinding di atas turtup lubang periksa jalan yang terbuat dari besi padat. Malcolm meringis mengingat kejadian tersebut, merasakan ususnya melilit hebat.

Waktu itu, ia mengunjungi Rain di rumahnya pagi-pagi sekali setelah perkelahian fisik yang ia alami malam sebelumnya. Malcolm berdiri di pintu depan rumah Rain dan menyampaikan bahwa laki-laki yang ia pukul semalam adalah putra dari pejabat pemerintah daerah Virginia yang terhormat,oleh itu, ia yakin bahwa hukuman yang ia terima takkan setimpal dengan. perbuatannya. Malcolm juga berkata, bahwa perkelahian itu akan meniadi tambahan terakhir dari daftar kelakuan buruknya.

Malcolm menjelaskan bahwa Nathan mengumbar berita pertunangan mereka berdua. Benarkah begitu? ia menuntur ingin tahu, Ia menganjurkan kepada Rain untuk menjauhi laki-laki yang menurutnya tidak bisa dipercaya, ia memohon Rain untuk pergi bersamanya meninggalkan Kota Woodstock.

Rain mengangkat telunjuknya dan sambil berderai air mata, menuduh Malcolm sekali lagi membiarkan dirinya dikuasai oleh kecemburuan.

Malcolm memohon.

Rain menangis.

Dua puluh empat jam berikutnya, Rain masih tetap berada di Woodstock, sementara Malcolm berada di bagian Selatan Benua Amerika,

Malcolm menggelengkan kepalanya seakan hendak mengguncang ingatannya sendiri. Ia menginjak pedal gas dan melaju meninggalkan Bar Woody's's. Ia menerobos lampu merah sebelum bergegas pergi jauh-jauh dari kota Woodstock, seakan ditarik oleh gelapnya malam menuju negeri entah berantah, sampai-sampai Rute 11 tidak terlihat lagi. Ia tidak tahu harus ke mana.

jarak yang terbentang antara Malcolm dan keluarganya tidak Iebih dari dua mil. Dua mil antara dia dan sejarah, yang ia tinggalkan dua tahun lalu. Sekali lagi, harum, parfum yang kerap dikenakan Rain berembus menerpa wajahnya,

Malcolm keluar dari jalan trol lewat jalur kiri, meneruskan perjalanannya menelusuri jalan kecil yang berakhir di atas bukit, tempar Domas Jeferson berdiri. Begitu roda mobil yang ia kendarai berhenti berputar, lampu besar yang masih menyala menyinari kesunyian penginapan di malam hari. Dari balik kemudi, Malcolm termangu mendapati dirinya berada di halaman penginapan milik mendiang 0rang tuanya. Kesunyian yang menyelimuri membuat hatinya gundah.

Tidak peduli berapa banyak orang yang menginap di Domas Jaferson atau kegaduhan macam apa yang mereka seedit teks bu nora

http://ebukita.wordpress.comkan, penginapan itu akan selalu terlihat bagai pemandangan yang dilukis dengan cat air. Bahkan kelap-kelip lampu mobil ambulans, isak¬tangis para pelayat, dan lengkingan sirene sedan kepolisian yang mengerumuni penginapan seharian ini tidak berpengaruh pada ketenangan kota yang memang menjadi ciri khas daerah tersebur. Jack sering mengistilahkan kesunyian penginapan yang dikelolanya sebagai, 'semangat Jefferson'. Sedang Malcolm menyebutnya, 'seram'.

Malcolm menghitung mobil-mobil yang terparkir di dekat penginapan. Total ada empat: Chevy El Camino keluaran 1979. mobil patroli Kepolisian WoodstOck, Volvo milik ibunya dan mobil pick-up bermerek Chevy warna hijau milik ayahnya. Malcolm mematikan lampu besar mobil yang dikendarainya dan terdiam di balik kemudi.

Di beranda yang remang-remang, Malcolm membayangkan ibunya sedang memeluk seorang pemuda kurus yang terlihat rapi mengenakan setelan tuxedo berwarna biru. Di samping si pemuda adalah seorang gadis berusia 17 tahun yang periang dan juga merupakan kencannya malam itu,

Si pemuda melepaskan diri dari dekapan ibunya, meraih tangan kencannya,dan pura-pura tidak melihat uluran tangan ayahnya. "Hari-hari," pesan ibunya saat ia menggiring kencannya itu ke dalam mobil limosin berwarna putih. Malcolm tidak ingat apakah ia menjawab pesan ibunya atau tidak, ia hanya ingat harum wangi-wangian yang dikenakan Rain, aromanya berdansa di bawah hidung Malcolm" menguap perlahan dari tengkuk leher Rain saat mereka sedang berdansa di bawah lampu hias di Hotel Marriott, di Kota Harrisonburg.

Malcolm mendorong pintu mobil sewaannya dan beranjak ke luar seraya meregangkan kaki di tengah beningnya malam di Kota Woodstock. Ia meraih sebentuk ransel dari bagasi mobil dan berjalan menuju penginapan, sandal yang ia kenakan menciptakan kegaduhan saat menapaki tumpukan kerikil di halaman penginapan.

ia menaiki enam anak tangga yang membimbingnya ke beranda penginapan, yang mudah dikenal dari brosur-brosur iklan dmus Jejferson.

"Hai, Malcolm," suara seseorang menyapa dari dalam kegelapan.

Malcolm tersentak kaget "Halo?" Ia menjatuhkan ranselnya ke tanah dan memutar badannya, menemukan dua laki-laki-pastur-yang sedang duduk di kursi goyang berwarna putih, Ada enam kursi goyang di beranda, semuanya menghadap ke arah malam gelap.

"Maaf, kukira kau sudah melihat kami di sini," ujar salah seorang pastur seraya bangkit berdiri.

"Ya ampun, bagaimana mungkin kau punya pikiran seperti itu? Kau benar-benar menakut.."

'Malcolm!" tegur pastur itu, suaranya diliputi oleh kekesalan. yang amat dikenal Malcolm.

"Maaf, Pastur B."

"Aku seaang melihatmu di sini. Kau masih ingat kepada Pastur DoUg White?"

"Tentu saJa.hai pastur."

Pastur Doug ikur berdiri dan menjabat tangan Malcolm.

Pastur Doug dan Pastur Braithwaite memiliki tinggi tubuh dan usia yang sama. Bedanya, apabila Pastur Braithwaite selalu berpenampilan necis, maka Pastur Doug berpenampilan sebaliknya,

Rambut Pastur Braithwaire tampak sangat terawat dan panjangnya tidak berubah sedikit pun sejak Malcolm pertama berjumpa dengan beliau, saat ia masih remaja dan sering dipaksa ke gereja oleh orang tuanya. Rambut beliau memang selalu diporong rapi tepat di atas batas telinga, dan poninya selalu rata menutupi dahi yang berkilau. Sekarang beliau tampil mengenakan kemeja putih, dasi biru, dan jas biru yang sepadan.

Sementara, itu, Pastur Doug terkenal dengan penampilanrrya yang asal jadi.' Malcolm melihat bahwa di tengah kemelut warga yang kehilangan dua sahabat terdekat mereka, Pastur Doug tetap saja mempertahankan gaya berpakaian yang sama.

Rambut Pastur Doug terlihat menipis di bagian atas kepala, dengan lambang yang memanjang tidak rata. Beliau mengenakan jas hujan berwarna hitam di atas kemeja putih dan dasi hitam yang tersimpul kendur, Celana berbahan polyester berwarna hitam yang beliau kenakan tampak terlalu ketat, dan sepasang kaus kaki berwarna cokelat muda dipadanlkan dengan sepasang sepatu tenis berwarna hitam bertali hitam juga.

Ketika Malcolm menjabat tangan Pastur Doug, jemarinya merasakan bekas luka di pergelangan tangan beliau. Malcolm sudah lama ingin menanyakan perihal luka tersebut. Namun, ia selalu mengurungkan niatnya.

Selama sepuluh tahun, Malcolm tidak pernah melihat kedua pastur tersebut secara terpisah. Pastur Doug melayani umat gereja kecil di dekat Rute 7 di Kota Winchester, dan sesekali beliau selalu berkeliling diLembah bersama Pastur Braithwaite yang tak pernah berada jauh dari beliau.

"Aku mendapat kabar tentang Jack dan LaUrel dari A&P," kata Pastur Braithwaite. "Kami sungguh menyesali kejadian ini, Malcolm. Kami ada di sini untuk membantu."

Malcolm menganggukkan kepalanya dan dari sudut matanya ia bisa melihat adiknya menghampiri pintu depan penginapan.

"Tadinya kupikir seseorang akan menunggu. kedaranganku di sini," lanjut Malcolm,.mengangkat suaranya keras-keras,-"tapi aku sungguh berharap bahwa orang yang menungguku-adalah pecundang."

"Malcolm!" Teriakan itu, datang dari balik pintu kawat, "Jangan membicarakan adikmu seperti itu!" Samantha bergegas membuka pintu dan berlari menghampiri kakaknya, menubruk dada Malcolm, membuat pria itu nyaris terjatuh.

"Tenaaaang dong!' kala Malcolm. "Aku sudah tahu kau pasti ada di sekitar sini." Ia meregangkan setiap otot di lengan dan kakinya unruk menahan berat badan mereka berdua agar tidak terjatuh. "Memangnya sudah selama itukah kita tidak berjumpa?"

Samantha melepaskan dirinya dari dekapan Malcolm dan melancarkan sebuah pukulan ringan di dada kakaknya, "Sudah lama sekali, Bodoh."

"Benarkah? Sepertinya baru kemarin kau memanggilku dengan sebutan itu .. "

"Kau akan mendengar sebutan itu lebih banyak lagi sebelum malam ini berakhir,"

"Oh, aku tidak sabar mendengarnya .... Omong-omong, mana kemenakanku?"

"Ada bersama keluarga Godfrey. Aku menitipkannya di sana sejak aku menyampaikan kabar kematian Ayah dan lbu kepadanya. AkU tidak ingin Angela sendirian di rumah."

"Katakan pada Angie bahwa paman kesukaannya ada di sini. itu pasti akan membuatnya ceria lagi"

"Dia tahu-pamannya itu-mengajak dia makan es krim sore tadi." Samantha tertawa bahkan sebelum ia menyelesaikan leluconnya.

"Ya sudah, sebaiknya kami tinggalkan kalian berdua unruk saling berbincang,' sela Pastur Braithwaite, sambil membungkuk beliau meraih tas koper kulit berwarna cokelat. "Lagipula, kami harus pulang. Pastur Doug akan menginap bersama keluargaku untuk beberapa hari."

"Baik sekali hatimu, Pastur," puji Samantha.

Pastur Braithwaite melangkah menuruni anak tangga dan Pastur Doug mengikuti dari belakang, lalu berhenti saat ia berhadapan dengan Malcolm. "Aku senang melihat kalian berkumpul lagi. Dan, sekali lagi.aku turut berduka cita atas kepergian orang tua kalian." Beliau meletakkan sebelah tangan di pundak Malcolm dan menatapnya lekat-lekat.

"Terima kasih, Pastur.'

"]ika kalian perlu teman bicara, siapa saja dari kalian, jangan sungkan-sungkan untuk menghubungi Pastur Braithwaite."

"Terima kasih," kata Samantha keras-keras agar Pastur Braithwaite ikut mendengar.

Pastur Doug meuuruni anak tangga dengan langkah pelan, lebar, dan teratur, Beliau berhenti begitu sampai di landasan terendah, lengannya yang panjang dan kurus melambai ke arah Malcolm dan Samantha.Setelah itu, beliau membungkukkan badan dan masuk ke dalam mobil milik Pastur Braithwaite. Beberapa detik kemudian, mobil yang mereka tumpangi bergerak menelusuri jalan kecil yang tadi Malcolm lewati, hingga akhirnya ditelan kegelapan malam.

"Aneh ya cara Pastur Doug membungkuk?" tanya Malcolm, melirik Samantha .

"Diamlah dan peluk aku lagi." Samantha menarik tubuh kakaknya lebih dekat, mendekapnya erat dan menghirup sisa aroma air sungai yang masih melekat di janggut kasar Malcolm."Aku tidak tahu yang mana yang lebih buruk Mal,meninggalnya Ayah dan Ibu, atau bau badanmu yang sangat tidak sedap. Kapan sih kau terakhir mandi?"

'Beberapa hari yang lalu, dan sebenarnya juga aku hanya siram-siram saja, bukan pakai air lagi ... trapi pakai lumpur."

"Di Brazil?"

"Ya. Brazil."

"Aku tidak peduli seperti apa baumu, aku hanya senang kau suda di sini." Samantha mengeratkan dekapannya, "Aku rindu padmu, Mal."

"Aku orang yang mudah dirindukan, Sammie."

Samantha mengangkat kepalanya dari pundak Malcolm. "Aku serius. Bagaimana kita bisa mengantisipasi. tragedi ini? Aku rahu kematian bisa kapan saja mengambil Ayah dari dalam kehidupan kita, sejak beliau didiagnosis mengidap kanker, Tapi Ibu?" Ia mengubur wajahnya di dada Malcolm dan mulai terisak.

"Sudahlah, ayo kita masuk." Malcolm menjinjing ranselnya dan mengikuti langkah Samantha ke dalam penginapan. Ia berhenti sebentar di serambi untuk mengamati rumah yang sunyi.

"Ia sedang rnengunjungi Rosie dan Rick Schwartz, di Pegunungan Jackson, tapi ia akan kembali. Ia juga menginap di sini."sam rnembersit hidungnya.

"Pasangan Schwartz masih hidup?" tanya Malcolm. "Ayolah, Mal, kau belum pergi selama itu. Rick masih menjalankan kliniknya dan Rosie masih menjabat sebagai walikota . . Kalau dihitung, sudah sepuluh tahun ia menjabat di posisi itu,"

"Kurasa tidak banyak yang berubah di tempat ini, ya." Malcolm memberi pernyataan, bukan bertanya,

"Ya," jawab Samantha. "Woodstock akan terus menjadi Woodstock dan keluarga Cooper akan terus menjadi keluarga Cooper. Itu kata Ayah."

Malcolm menjatuhkan ranselnya di dasar tangga dan berjalan melalui koridor menuju ruang dapur, Ia berhenti sebentar di tengab jalan untuk membenarkan letak bingkai di dinding yang menyimpan sekeping liang logam kuno bernilai satu sen koleksi orang tua mereka.

"Tempat ini punya bau yang berbeda."

"itu karena tidak ada yang memasak di sini," Samantha duduk di meja makan yang panjang. Malcolm duduk di seberangnya. Dinding ruangan yang berwarna putih seperti kulit telur diisi oleh foto-foto pahlawan perang dan presiden-presiden yang pernah duduk di Gedung Putih.

Keramik mahal dipamerkan di balik dinding kaca sebuah lemari antik hasil kerajinan tangan yang dibeli Jack di sebuah pelelangan di Kota Waynesboro dalam tahun yang sama mereka sekeluarga pindah ke WoodstOck. Foto kediaman thomas Jefferson, Monticello, yang telah digubah oleh seorang arsitek tergantung di dinding lain tepat di antara foto Presiden Jefferson dan Presiden George Washington.di belalcang Malcolm, sebuah lukisan menggambarkan Jenderal Washington yang sedang berdoa di tengah tumpukkan salju di Lembah Forge tergantung rapi. Lukisan itu merupakan salah saru rekayasa seni yang paling disukai Jack.

"Kau ingat harumnya sarapan yang selalu disiapkan Ibu?" Samantha menyandarkan kedua sikunya di atas meja. "Roti pangang ala perancis yang beliau masak? Juga cara beliau mencelupkan roti panggang ala texas di sirup manis yang beliau buat sendiri semalaman? Apalagi daging ham ala virginia. Harumnya begitu menggoda sampai waktu makan malam."

"Ibu menang jago masak, ya." Malcolm meletakkan kedua lengannya ke belakang kepala, mengaitkan kesepuluh jarinya tersimpul, menatap langit-langit.

"Itulah kehebatan beliau," jawab Samantha. "Seandainya saja aku lebih sering makan bersama mereka di sini beberapa tahun belakangan."

Keduanya duduk terdiam, menatapi gugusan foto keluarga dan barang antik yang mengisi dinding ruang, Pada akhirnya, Samatha meletakkan kepalanya ke atas kedua lengannya yang terlipat di atas meja. Ia menatap Malcolm dan mengagumi sosoknya yang kasar. Bahkan setelah melalui perjalanan panjang, dan wajah yang ditumbuhi janggut panjang dan berantakan, Malcolm tetap saja terlihat tampan.

"Kapan upacara pemakaman akan dilangsungkan?" tanya

Malcolm.

"Minggu malam di gereja, Orang-orang akan melayat hari Sabtu."

"Pemakaman di hari Minggu?"

"Itu permintaan Ayah. Beliau sempat bilang pada anggota gereja dan membuat mereka berjanji pada beliau untuk melakukannya di hari Minggu. "Kalau tidak salah beliau juga melakukannya secara tertulis dalam surat kontrak yang beliau tanda tangani saat mengurus pemakarnannya sendiri."

"Beliau sudah membayar biaya pemakaman dirinya sendiri sebelum..? Oh, itu terdengar seperti ... seperti .... "

"Seperti kebiasaan Ayah? Yep."

"Dan orang-orang akan melayat ke gereja juga?"

"Bukan, mereka akan melayat ke Rumah Duka Gutherie di Kota Edinburgh."

"Ariek Gutherie masih hidup?"

"Malcolm!"

"Maaf Dik, kau tahu aku suka bercanda,'

Samantha menggerutu dan keduanya kembali terdiam.

"Dia sedang ada di rumah keluarga Guthrie sekarang, kalau saja kau penasaran," kata Samantha beberapa menit kemudian.

"Dimana?"

"Di rumah keluarga Guthrie."

"Siapa?"

"Nancy Reagan, siapa lagi?"

"Oh, baguslah. Ada urusan apa Nancy Reagan di sini?"

"Kau itu benar-benar bodoh. Kau pasti tahu siapa yang aku maksud."

Malcolm bersandar di kursinya dan menatap ke langit-langit.

"Rain."

"Dia menanyakanmu, asal kautahu."

"Dia juga masih hidup?"

"Malcolm. Berhentilah."

"Berhenti apa? Aku tidak tahu apa yang ingin kaudengar dariku, Sam."

"Kau tidak ingin tahu kabarnya?"

"Tidak juga."

"Bohong."

"Baiklah, apa kabarnya?"

"Sedih."

"Oke."

Samantha mengedipkan matanya. "Dan dia masih lajang."Malcolm segera membenarkan posisi duduknya.

"Pernikahannya dengan Nathan sudah ditunda tiga kali. Yang pcrtama memang dikarenakan sesuatu yang mendadak. Kerabat Rain di Kota Gaithersburg harus melakukan operasi dan beliau buruh bantuan selama beberapa bulan, jadi Rain pergi ke sana dan menjaga kerabatnya. Nathan mengatakan dia tidak keberatan, tapi aku bisa lihat betapa hal Itu membuatnya kesal."

"Sesuatu yang pasti membuatmu kegirangan," Malcolm tersenyum.

Bibir Samantha juga menyunggingkan sebersit senyuman, tapi ia tidak melanjutkan.

"Aku tidak percaya bisa berakhir begitu, kupikir pernikahannya sudah lama berlangsung."

"Ya, itu karena kau bukanlah orang yang mudah untuk dilacak. Aku sudah mencoba menghubungimu berkali-kali di nomor telepon yang Ibu berikan kepadamu."

"Memang aku jarang mengaktifkan telepon itu, Kau beruntung Kamis kemarin aku menjawab."

"Sedang ada di mana kau waktu itu?"

"Di atas perahu, di tengah perairan Amazon, di sebelah Utara amazon, sibuk memotret dan menulis."

"Menulis?"

"Iya, menulis bukuku, Kau masih ingat kan dengan bukuku?"

"Itu 'kan dua tahun yang lalu, Mal. Kupikir sekarang kau sudah selesai dengan buku itu."

"Kupikir juga begitu. Tapi, nyatanya, aku terjangkit penyakir inspirasi buntu."

"Itu masih lebih baik daripada terjangkit penyakit cacingan," Samantha tersenyum.

"Aku sempat cacingan," wajah Malcolm berubah serius.

Samantha nyaris membenturkan kepalanya sendiri ke atas meja. Lalu, keduanya tertawa bersama bak dua orang yang sedang berbagi lelucon kuno yang hanya diketahui oleh mereka,

"Terus, kapan kita akan membicarakannya?" tanya Samantha saat gelegar tawa mereka menyusut jadi tawa kecil.

"Nah, ini dia,"

"Kita tidak bisa terus-terusan menghindari topik ini."

"Sejujurnya, aku heran kau bisa tahan selama ini."

"Tidak mudah bagiku, Malcolm."

"Aku serius. Tadinya kupikir Nathan bersama cecunguknya akan menunggu kedatanganku."

"Matt dan Nathan membuat kesepakatan. Kaupunya waktu beberapa hari, tapi setelah pemakaman selesai, kita harus menghadapinya bersama,"

"Matt membuat perjanjian dengan Nathan agar tidak menggangguku? Pasti sulit sekali membujuk Nathan untuk sepakat."

"Memang sulit, tapi setidaknya perjanjian itu sudah disepakati semua pihak. Matt benar-benar berusaha sebisa mungkin untuk menolongmu."

"Lalu, apa syaratnya? Kau harus memegangi tanganku selarna tiga hari?"

'Bukan begitu. Aku hanya perlu kunci mobilmu."

"Apa?"

"Kunci mobilmu, Mal."

"Kau pasti bercanda:"

"Aku serius, Kau dilarang menyetir. Surat Izin MengemudimU juga ditahan."

"Apa?'

Ini prosedur standar, Apa kau tidak mengerti kenapa pihak kepolisian selalu menahan SIM seorang berandal sepertimu yang selalu berencana untuk kabur?"

"Ayolah, Dik, Aku janji takkan macam-macam,"

"Maaf Mal. Pekerjaanku yang jadi taruhan di sini. Pekerjaanku"

Malcolm menarik serangkaian kunci dari saku celana pendek yang ia kenakan lalu menggesernya ke arah Samantha,

"Maaf, ya," Samantha merengkuh rangkaian kunci di hadapannya.

"Aku mengerti. Maafkan aku juga karena kau diberi tanggung jawab untuk mengawasiku."

"Jangan minta maaf soal itu." Samantha mengulurkan tangannya, meraih jemari Malcolm.

"Kau melakukan hal yang benar."

"Begitu menurutmu."

"Ya. Sebenarnya kau tidak perlu pulang:"

"Ayah dan Ibn meninggal, bagaimana mungkin aku tidak pulang?" .

"Meski begitu, aku tetap bangga terhadapmu. Ayah dan Ibu juga pasti bangga terhadapmu."

"Mari kita lihat apakah kau masih merasakan kebanggaan itu pada Minggu malam."

"Mal, tolong jangan buat masalah."

"Aku bersumpah," kata Malcolm, membuat tanda silang di dadanya dengan menggunakan jari telunjuk,

"Aku sayang padamu, Bodoh."

Samantha membimbing Malcolm ke lantai dua, ke dalam kamar tidur utama dan menjabarkan semua yang diceritakan oleh A&P kepadanya tentang bagaimana wanita itu menemukan Jack dan Laurel suatu pagi di hari Kamis dalam keadaan sudah meninggal dan berpelukan. Samantha menjelaskan bahwa ibu mereka sudah lama merasa tersiksa karena belum sempat mengabarkan kepada Malcolm perihal kondisi ayah mereka yang sekarat karena kanker.

"Ketidaktahuanmu benar-benar menghancurkan hatinya,"

"Aku benar-benar sedih untuk Ibu, tapi aku dan Ayah sudah lama tidak pernah berbicara lagi. Mungkin sudah sejak dua atau tiga tahun sebelum kepergianku. Aku tidak yakin kalau aku akan cepat-cepat pulang begitu mendengar kabar yang ingin disampuikan Ibu kepadaku."

"Beliau itu ayah kita, Mal. Ayahmu, darah dagingmu." Samantha membiarkan kata-katanya barusan tenggelam dalam pikiran kakaknya. "Kau pasti akan pulang untuk beliau."

"Mungkin." Malcolm mengangguk, meski ia sangsi.

Dengan hati-hati, Samantha menyampaikan penjelasan yang didapatnya dari ahli koroner tentang kematian orang tua mereka dua malam lalu. Ia mengingatkan Malcolm, bahwa keluarga mereka mengidap penyakit jantung keturunan dan meskipun Laurel tidak pernah merasa dirinya terancam oleh serangan jantung, ternyata rasa nyeri di dadanya merupakan sesuatu yang lebih serius dari rasa ketidaknyamanan.

"Kautahu sendiri bagaimana sifat Ibu," kata Samantha, duduk di kaki ranjang, "Beliau tidak pernah bisa berhenti beraktivitas. Kau ingat musim panas ketika beliau mematahkan pergelangan kakinya di Danau Caroline, namun mengaku kepada kita bahwa kakinya hanya terkilir? Bahkan dalam keadaan seperti itu, beliau masih tetap berjalan-jalan sampai Ayah memaksa beliau pergi ke..."

"Ya, ya, dan Ayah sangat marah," sela Malcolm. "Oh betapa marahnya, beliau saat itu. Lalu, Dokter memperlihatkan hasil X¬Ray Ibu. 'Nah, 'kan," Malcolm meniru suara ayahnya yang rendah dan berwibawa, "Pergelangan kakimu patah, tahu! Patah! Aku sudah bilang padamu bahwa pergelangan kakimu patah?'

"Bersopanlah sedikit," kata Samantha. meski ia juga tertawa mendengar impersonasi Malcolm. terhadap mendiang ayah mereka. "Ibu selalu bisa melawan apa saja."

"Kecuali serangan jantung," kata Malcolm.

"Kecuali serangan jantung,' Samantha setuju.

Mereka pindah dari kamar satu ke kamar yang lain. Malcolm memperhatikan beberapa barang seni yang baru, juga tempat tidur beratap baru yang diletakkan disalah satu kamar tamu di atas,

"Ini pasti ranjang antik bulan madu seseorang," Samantha mengernyitkan dahinya, "tidak usah komentar."

Perhentian mereka terakhir adalah sebuah perpustakaan kecil, dan di sini Samantha mulai menceritakan pengalaman hidupnya lama dua tahun terakhir. Dia mendapatkan. kenaikan gaji saat satuan Polisi Kabupaten berusaha untuk merekrutnya dari Satuan Polisi Kota. Kepolisian Kabupaten memang menawarkan gaji yang lebih besar dari gajinya di Kepolisian Kota, aku Samantha.tetapi bekerja di sekitar kabupaten berarti ia akan menghabiskan bnnyak waktu di luar kora, jauh dari putrinya dan Domus Jefferson. Itu juga berarti ia tidak bisa memenuhi panggilan orang tuanya kapan pun mereka membutuhkan kehadirannya.

Malcolm bertanya perihal Will Armistead, kekasih masa SMA samantha dan mantan suaminya selama enam tahun belakangan ini. Samantha menjelaskan bahwa Will baru saja pindah dari Arlington ke Atlanta untuk bekerja di sebuah firma humas.

"Apa kaurindu padanya?" tanya Malcolm.

"Kautahu kan rasa gatal yang ditimbulkan tanamnan poison Ivy jika kau kebetulan terkena racunnya di antara dua jari tanganmu? Semakin digaruk, gatalnya semakin jadi, Tapi, jika kau berhenti menggaruk, maka gatalnya akan hilang perlahan-lahan. Setelah beberapa lama, kauingat rasa gatal itu, tapi tetap saja kau merasa baikan."

"Aku tidak mengerti."

"Oh, diamlah. Aku tahu kau mengerti maksudku. Intinya,setelah enam tahun ... rasanya seperti tiga minggu. Luka yang diakibatkan oleh racun itu sudah hilang."

"Jadi kau benar-benar merindukannya?"

Yang aku tahu, Aku merindukannya," jawab Samantha, "tapi dia tahu Atlanta tidak terlalu jauh. Mungkin tahun ini aku akan membawanya ke sana untuk berkunjung." Samantha mengedikkan pundaknya, "Pelan-pelan, aku mulai melupakan permasalahan yang kami miliki. Mungkin jika dia datang berkunjung kemari, aku akan mentraktirnya di Bar Woody's's."

"Bagaimana dengan karir aktingmu? KaU sudah aktif lagi?"

"'Belum."

"Karena .... ?"

"Suatu hari, Mal."

"Kapan?"

"Suatu hari Entah kapan." Samantha menyandarkan kepalanya di atas tangan kanannya. "Dengan situasi Ayah dan lbu belakangan ini ... lalu kejadian ini.. .. Aku tidak punya banyak peluang.' Suaranya, perlahan-lahan mengecil. "Dan Will benar¬benar senang menghancurkan mimpi-mimpiku."

"Setidaknya ia tidak menghancurkan bakatmu."

"Siapa yang tahu?"

"Sudahlah, lakukan saja. Sudah saatnya, Siapa tahu ada sesuatu yang menarik di Kota Harrisonburg. Mereka selalu mengadakan pertunjukkan di JMU."

"Mungkin."

Malcolm mengedipkan matanya ke arah Samantha, "Terima kasih."

Saat suasana di antara mereka kembali sunyi, mereka mendengar suara pintu utama penginapan terbuka lebar. "Halo?" sapa Samantha.

"lni aku," Matthew menjawab.

"Kami ada di atas," kata Samantha. "Jadilah anak manis," bisik samantha kepada Malcolm.

Beberapa saat kemudian, Matthew muncul di ruangan yang sama. Meski dasi merah yang ia kenakan tampak kendur, tetapi ia masih mengenakan jaket sport berwarna merah yang menempel di tubuhnya seharian ini.

'Malcolm, kau sampai juga," katanya, mengulurkan tangan. Malcolm tidak menjabat tangan Matthew, melainkan setelah membasahi bibirnya ia mengecup punggung tangan kakaknya.

"Kenapa sih kau ini?" Matthew menggelengkan kepala dan memeperkan punggung tangannya pada kaus yang dikenakan Malcolm.

"Sammie memintaku untuk jadi anak manis."

Samantha memutar matanya,

"Senang berjumpa denganmu," kata Matthew. 'Meski kau terlihat seperti sampah."

"Oh, terima kasih. Sebenarnya, waktu di pesawat aku mengenakan seragam anak perempuan Pramuka milikmu.tapi aaku bersalin setelah tiba di sini-"

"Sudah, sudah. Hentikan perseteruan ini."

"Sam benar," kara Matthew.

"Ya, Sam. memang benar," Malcolm mengulurkan tangannya sebagai tanda perdamaian. Namun, ketika Matthew menjabatnya, Malcolm menarik tangan kakaknya dan mengecupnya sekali lagi.

"Oh, dewasalah sedikit!" hardik Matthew; memeperkan punggung tangannya sekali lagi di atas dada adik laki-lakinya, meski kali ini dengan sepenuh tenaga.

"Semuanya, ayo turun ke bawah," perintah Samantha, mengambil posisi sebagai penengah, posisi yang cukup dikenalnya. Ia menggiring kedua kakaknya keluar dari perpustakaan dan turun ke lantai dasar, "jangan lupa," ia mengingatkan sambil mengikuti Malcolm dan Matthew'dari belakang, "aku punya senjata api."

Tiga bersaudara itu kemudian berkumpul di ruang tengah yang luas. Malcolm berbaring telentang di salah satu sofa kulit, Matthew melepas jaket yang ia kenakan dan duduk di kursi malas, sementara Samantha duduk di atas tungku baru yang memagari perapian. Api yang berkobar panas malam itu kini hanya tersisa percikannya saja, berdansa lepas diantara dua batang kayu yang terkulai,

"Paman joe akan datang?" tanya Malcolm.

"Aku tidak yakin beliau sudah mendengar kabar kematian Ayah dan Ibu,"

"Beliau sempat menulis surat padaku waktu aku tinggal di Sete Lagoas,mungkin sekitar tahun lalu-dan di surat itu beliau berkata bahwa beliau sudah tidak mabuk-mabukkan lagi, sudah pindah ke St. Louis unruk suatu pekerjaan dan bertemu dengan seorang wanita di sana."

"Itu benar,"kata Samantha. 'Beliau memang sudah membaik, Ayah bilang Paman Joe sudah berhenti minum-minuman keras seJak tiga tahun lalu mungkin lebih."

"Itu kata beliau,' imbuh Matthew.

"Itu kata petugas pengawasnya," kata Samantha penuh keyakinan.

Matthew mengangguk menyampaikan permintaan maaf

yang setengah hati.

"Kuharap beliau bisa datang. Senang juga jika bisa bertemu lagi dengan beliau. Mungkin beliau bisa berbagi cerita tentang apa saja yang menarik unruk dilakukan di dalam penjara," Malcolm mengerutkan dahinya.

"Topik selanjutnya ... ," Samancha mendesak,

"Hey, Matt, Sammie bilang aku dihukum selama beberapa hari," katra Malcolm.tidak menghiraukan Samantha, memeluk bantal di sofa.

: Bisa dibilang begitu," balas Matt.

"Lalu apa? Apa yanga kan rerjadi Senin pagi?"

"Kita berunding dengan Nathan dan beberapa orang dari pemerintahan kabupaten, lalu mereka akan menahanmu.'

"Setelah itu?"

"Setelah itu terserah Hakim Houston."

"Ayolah, Matthew kau benar-benar tidak tahu apa yang ada dalam benak mereka?"

"Mereka berpikir bahwa kau akan dijatuhi hukuman dalam masa percobaan karena terlibat tiga perkelahian dalam satu tahun.Terus kau juga menghancurkan motor seseorang."

"Intinya?"

"Terus, kauserang orang yang sama di Bar Woody's's dan berlaku sangat, sangat keterlaluan. Kau nyaris membunuhnya."

"Nyaris," Malcolm mengingatkan.

"Terserahlah, pokoknya kau nyaris membunuhnya. Lalu kau memukul Nathan Crescimanno sampai parah."

"Dua kali," kata Malcolm, mengerutkan dahi.

"Benar,"

Ia berhak dipukul."

"Oh, aku tidak meragukan itu. Tapi jangan lupa bahwa kau¬kabur membawa uang jaminanmu. Tunggu, tunggu ... kaukabur membawa uang jaminan Ayah, jaminan yang Ayah bayar agar kau bisa jadi tahanan luar karena kau melakukan hal-hal yang ... ceroboh," Matthew mengerutkan bibir sambil menggeleng.

"Dua kata, .Matthew, Bela Diri."

"Bela diri? Yang benar saja, Kalau kaupercaya itu, kenapa kau harus lari'? Kenapa kau harus bersembunyi?"

Karena Brazil memiliki pemandnngan yang jauh lebih indah dari pada penjara, pikir Malcolm. Dan di Brazil ia tidak perlu melihat Rain setiap saat. Malcolm tersenyum ironis, memalingkan wajahnya.

"Bela -diri," caci Martbew, dengan jemarinya mengilustrasikan tanda kutip di udara kosong. "Kau ketakutan orang yang kautendangi rusuknya akan menggigit pergelangan kakimu? Dan kenapa kau mematahkan hidung Nathan? Karena dia mencuri pacarmu?"

"Hentikan!" hardik Samantha.

Malcolm mengabaikan adiknya. "Mungkin orang Itu punya senjata."

"Dia tidak.."

"Bagaimana jika wanita-yang direbut hatinya adalah Monica, huh, Matt? Kau akan menjabat tangan laki-laki yang merebut kekasihmu dan pergi begitu saja?"

"Monica itu istriku, Tolol. Perbedaannya besar sekali!" Matthew tidak jngat terakhir dia berbicara sekeras ini, dan harus berusaha untuk menahan amarahnya. Dia membenci betapa mudah Malcolm membuatnya naik pitam.

Dari posisinya di seberang ruangan, Samantha menjatuhkan kepalanya ke dalam rengkuhan kedua tangan. Sementara perdebatan Matthew dan Malcolm bergulir di sekitarnya, ia berharap kedua orang tuanya sudi hadir untuk terakhir kalinya guna melerai mereka. Ia berharap akhir pekan ini akan berlangsung secepat mungkin. Ia berdoa agar diberikan kekuatan. Ia menyesali keberadaan Rain di Bar woody's's malam itu dan juga menyesali hahwa sifat pemarah ayahnya diturunkan kepada Malcolm.

JUMAT malam di musim gugur di Kota W00dstock berarti sedang berlangsungnya permainan bola kaki sekolah me nengah. Semangat yang melanda kota itu memang tidak sebesar di Texas namun tetap saja terasa tulus dan menyenangkan. Menang atau kalah, tidak ada bedanya: Woodstock mencintai tim Falcon mereka, Hanya dengan menggunakan satu tangan, Anda bisa menghitung jumlah orang yang tidak mengenal sekolah negeri tempat tim Falcon dilatih atau anggota dari tim itu sendiri.

Permainan di jumat malam itu berakhir dengan kemenangan tim Rams dari Kora Strasburg melewatkan sebuah gol, waktu yang mereka miliki hanya 4 detik Tim Falcon dan teman-teman sekelas mereka merayakan dengan pesta pizza di kantin sekolahan. Ayah¬ayah mereka merayakan dengan membeli bir seharga satu dolar di Bar WQody's's di jalan Main Street.

Malcolm kebetulan sedang mengunjungi kedua orang tuanya di akhir pekan. Meski ia tinggal di sebuah apartemen di Kota Front Royal yang berjarak tiga puluh mil dari WOOdStOck, Malcolm tidak jarang bersantap di Domus Jefferson. Di Front Royal, Malcolm bekerja paruh waktu untuk Virginia Park Service, namun pemandangan di kota barunya tidak sebanding dengan pemandangan di Woodstock. Oleh itu ia selalu kembali, bukan hanya karena ia rindu pada masakan ibunya.

Rain sudah menjabat sebagai manajer di Demus Jejerson selama dua tahun. Meski Rain membuat Malcolm patah hati tidak lama setelah ia putus kuliah dari James Madison University, persahabatan mereka anehnya tetap langgeng.

Di waktu luangnya, Malcolm mencari kesempatan menulis untuk RoLling Stone, National Geographic, Time; ia bahkan mengirimkan sejumlah penawaran kepada majalah Redbook. Saat itu, ia sudah merasa sebagai seorang novelis, meski ia baru menerbitkan tiga artikel.

Malcolm memarkirkan kendaraan VW-nya di antara sebuah mobil pick-up dan sedan Honda Accord, Ia berada tiga blok jauhnya dani Bar W00dy's's, yang mana mencakup seluruh jarak dari ujung bagian bersejarah kota ke ujung lainnya. Ia masuk ke dalam bar pada pukul 10:35 malam dan mendapati Rain sedang berbincang-bincang dengan dua orang teman wanitanya di sudut bar. Mata Malcolm sudah terlatih untuk melihat di dalam gelap.

Walau Rain bukan seorang peminum-bahkan Malcolm tidak pernah melihat Rain minum alkohol-ia merupakan seseorang yang kehadirannya sangar diperlukan di sebuah pesta. Malcolm sudah menebak bahwa di jam-jam malam seperti ini, Rain pasti sudah menyimpan setengah lusin kunci mobil di dalam tasnya. Rain mengaku bahwa ia menyukai pesta yang asyik dan berkumpul bersama teman-temannya, tetapi Malcolm tahu yang sebenarnya. Dalam perjalanan pulang dari sebuah seminar di Charleston pada tahun 1975, mobil yang dikendarai ayah Rain menabrak pohon. Di samping tubuh ayahnya ditemukan sebuah botol vodka yang sudah hampir kosong.

Malcolm menangkap pandangan Rain dan tersenyum. Hanya menggnakan bibirnya tanpa suara, Malcolm mengucapkan kata halo' dari seberang ruangan dengan cara yang sangat menyolok, membuka bibirnya sepuluh kali lebih lebar dari seharusnya. Rain membalas ucapannya dengan cara yang sama konyolnya, Lalu, Malcolm memuji potongan rambur Rain dengan cara menciptakan gunting dari dua jari tangannya dan pura-pura memotong poni rambutnya. Ia juga menambahkan kedipan mata yang berlebihan.

Rain tersenyum lebar, memberi tanda ucapan terima kasih: melarikan tangannya di atas dagu, membuka telapaknya ke arah Malcolm. Sebelum Malcolm bisa membalas, pandangannya dihalangi oleh pelanggan-pelanggan lain.

Malcolm memutari seisi bar untuk menyapa orang-orang yang dikenalnya. Ia berjabat tangan dengan mereka, memeluk beberapa wanita yang sangat akrab yang dikenalnya sejak SMA. dan tentunya saling bertepuk tangan dengan para penggemar olahraga bola kaki yang semakin marak.

Ia mendengarkan perhitungan yang berbeda-beda dari setiap penonton tentang penyerangan terakhir serta pertahanan tim Falcon yang penuh keberanian seorang penggemar mengatakan. bahwa tendangan final sejauh tiga puluh dua meter yang diluncurkan oleh tim lawan melayang jauh ke kanan. Penggemar lainnya berpendapar bahwa bolanya melayang jauh ke kiri. "Siapa yang peduli? Yang penting mereka tidak gol! KITA MENANG!" sahut penggemar lain, dan ketiganya mengangkat gelas-gelas bir mereka di udara, sebelum memasuki ronde minum berikutnya.

Malcolm membiarkan dirinya melebur dalam suara dan aroma ada di sekelilingnya, membayangkan semua itu dituangkan dalam bentuk tulisan untuk sebuah kolom di majalah bergengsi SpOrts Illustrated. "Penggemar TiJU Olahraga Bola Kaki di Korta Kecil, menyukai ide tersebut. Ditulisnya judul artikel yang ada dalam bayangannya ke atas serbet, yang kemudian ia jejalkan ke dalam saku.

Mendekati waktu tengah malarn, Malcolm mengamati jarak yang semakin menipis antara Rain dan seorang pria tidak dikenal, berkepala pitak dan mengenakan jaket sport berbahan wol.

"Wol? Yang benar saja," Malcolm mengolok-olok dengan suara lumayan keras hingga seisi' bar bisa mendengar jika kegaduhan di dalam ruangan itu tidak terlalu menyolok.

Ia mengamati seisi bar dan mencari-cari sosok Nathan. Nathan telah resmi menjadi kekasih Rain sejak setahun yang lalu. Dan, walaupun ia tidak pernah mendiskusikannya bersama Rain, Malcolm selalu was-was bahwa suatu hari mantan kekasihnya itu akan bertunangan ,dengan Nathan, Memikirkan kemungkinan terjadinya hal tersebut membuat kepala Malcolm berdenyut nyeri.

Di sisi lain, sepanjang tahun, Nathan selalu mengumbar¬umbar kepada siapa saja yang mau mendengarkan tentang rencana hidupnya bersama Rain: menikah, melahirkan anak laki-laki dan anak perempuan secara berurutan, mencalonkan diri sebagai Wakil Pemerintahan Daerah, melahirkan anak laki-laki lagi, menjalankan masanya sebagai Wakil Pemerintahan Daerah selama dua periode, melahirkan seorang anak perempuan lagi, mencalonkan diri sebagai jaksa Agung, dan empat tahun kemudian ia akan mencalonkan diri sebagai Gubernur Negara Bagian Virginia. Nathan selalu beranggapan bahwa ia dilahirkan untuk posisi tersebut.

Malcolm setuju. Hanya Nathan yang punya ambisi sebesar itu.

Nathan adalah satu-satunya pria yang dikencani Rain selain Malcolm. Ketika Rain dan Malcolm berkencan, Malcolm menolak untuk melamar kekasihnya sampai ia sanggup membeli sebuah cincin, sebuah paket bulan madu, sebentuk rumah, memiliki biaya perawatan anak, termasuk uang sekolah mereka, yang rencana akan disekolahkan di sekolah-sekolah Ivy League. Rain lelah menunggu satu hal. sementara Malcolm lelah menuggu hal lain. Meski itu adalah alasan utama berakhirnya hubungan mereka, Malcolm belajar untuk menghargai,bahkan mengagumi keputusan Rain untuk, tidak melepaskan keperawanannya begitu saja, Mengetahui bahwa nathan adalah orang yang pada akhirnya akan menodai kesucian Rain, Malcolm merasakan dirinya hancur. .

Nathan adalah orang baik, Malcolm. mengingatkan dirinya sendiri, meski ambisinya yang tidak terkendali itu membuat keluarga Cooper cemas akan masa depan warga Virginia.

Malcolm menyingkirkan pikiran buruknya-ia bertanya¬tanya kenapa Nathan membiarkan Rain bersosialisasi selama ini tanpa dirinya.

"Coop!" Lonnie Smallwood si Tukang Mabuk berteriak, menepuk punggung Malcolm "keras-keras hingga Malcolm nyaris tersedak, 'Ke mana saja sih? Sudah lama aku tidak melihatmu di sekirar sini."

"Aku sering kemari, tapi kau selalu mabuk."

"Jangan begitu," kata Lonnie dengan nada seperti orang yang sedang berkumur, "Setiap Senin aku tidak pernah mabuk,"

"Nah, mungkin itu alasannya-aku kerja setiap Senin," "Yaaaaaaaa," Lonnie terbata, "Memangnya kau diizinkan masuk ke tempat ini? Bukannya kau sedang dalam masa percobaan?"

Malcolm tidak mendengarkan. Matanya terfokus pada kursi Rain di meja bar, tetapi kursi itu sudah ditempati oleh orang lain berpakaian hitam dan topi koboy yang besar. Teman-teman wanita Rain masih berkumpul di meja bar, tapi semuanya terjebak dalam percakapan bersama orang dewasa yang mengenakan kaus olahraga bola kaki berlambang Washington Redskins.

"Wol," kata Malcolm. Laki-laki yang mengenakan jaket sport dan juga Rain,sudah menghilang dari bar. "Aku harus pergi, Lonnie," katanya cepat-cepat berlari ke arah pintu keluar.

"Sampai nanti, Coop! Ayo kita berburu kapan-kapan!" Malcolm melangkah keluar lewat pintu depan dan mencari¬cari sepanjang jalan Main Street. Dia melangkah lagi ke arah utara dan mendengar suara Wol datang dari sebuah gang kecil.

"Ayo, Sayang, aku dengar kamu masih semurni salju." Wol menarik blus yang dikenakan Rain.

"Lepaskan, lepaskan!" Rain menggeram, memukul laki-laki itu dengan kedua tangannya.

Malcolm segera berlari menghampiri mereka dan melemparkan tubuhnya seadiri ke atas laki-laki tersebut, menghantamn dada wol dengan sudut pundak kanannya lalu melempar Wol terbang di udara seperti bola, kemudian jatuh di atas tanah. Malcolm berdiri menjulang di sam ping tubuh Wol, mendadak sebuah pukulan telak mendarat di wajah Wol. Buk! Suara benturan antara kepalan tangan Malcolm dan tulang rahang laki-laki berkepala pitak tersebut terdengar begitu keras hingga menimbulkan gema di tengah kepungan gedung tua yang dibangun di zaman Perang Saudara.

"Bangun," tantang Malcolm.

"Pergi sana," jawab wol, mermbuang ludah penuh darah ke permukaan sepatu tenis yang dikenakan Malcolm.

Malcolm menoleh kepada Rain. "Kau baik-baik saja?" Sebelum Rain sempat memberi jawaban, Malcolm sudah memutar badannya dan menendang Wol di perutnya dengan sekuat tenaga.

Wol mengerang kesakitan, berguling di tanah, memunggungi Malcolm.

Tanpa belas kasihan, Malcolm menapakkan kakinya tepat di antara dada dan perut Wol

"Rain!" Suara seorang laki-laki memanggil dari kejauhan. Nathan.

"Nate!" Rain berlari ke arahnya dan Nathan segera merengkuhnya ke dalam pelukan.

"Apa yang terjadi?" tanya Nathan, mengelus gerai rambutnya dan mendekapnya erat.

"Orang ini ... brengsek ... ia memegang ... menyentuhku dan melucutkan blus yang kukenakan ....

"Shhh, kau sudah aman sekarang. Masuklah ke dalam mobilku, aku parkir di seberang jalanan, bisa lihat, kan? Pintunya tidak kukunci," Rain seolah tidak ingin lepas dari Nathan, gengaman tangannya begitu kuat mencengkeram lengan kekasihnya. "Tidak apa. Pergilah."

"Bukankah seharusnya kau mengabari kantor polisi?" Rain berbicara dengan napas terengah.

"Msuklah ke dalam mobil Sekang juga." Melihat ekspresi di wajah Rain yang sarat rasa takur, Nathan mengubah nada bicaranya jadi lembut. "Rain, kau aman sekarang, Biarkan aku meluruskan hal ini,"

Rain segera membalikkan tubuhnya dan berlari pergi. Malcolm kembali mencermati fisik Wol dan sekali lagi meluncurkan sebuah tendangan maut yang mematahkan dua buah tulang rusuk lawannya,

"Ho! Cukup, Malcolm." Nathan menarik lengan Malcolm. "Cukup? Oh, kau juga mau ikutan menghajarnya? Silakan."

Malcolm bergerak menjauh dan meganggukkan kepalanya ke arah Wol1, memberi tanda isyarat kepada Nathan. "Giliranmu sekarang."

"Aku bukan mau menghajarnya. Aku ingin kau berhenti memukulinya. sudahlah, kurasa ia telah menyadari kesalahannya." .

"Ya, aku sadar," susul wol. "Lagi pula cewek itu tidak pantas diperebutkan."

Malcolm meluncurkan tendangan kedua, lebih bertenaga dari sebelumnya, mengerang kesal saat ujung kakinya menghantam tubuh Wol. Saat wol melipat kedua lengan untuk menutupi dadanya sendiri, Malcolm yang belum juga puas menghajarnya segera beralih menendang wajah lawannya, Tendangau Malcolm yang terakhir membuat kepala Wol berdarah dan tubuhnya lemas tak sadarkan diri. Sebuah gigi terlempar keluar dari mulutnya yang menganga dan menggelinding di atas jalan.

"Malcolm!" teriak Nathan, "Sudah cukup! Laki-laki ini ada benarnya!"

"Apa?" Malcolm melirik Nathan.

"Rain bukan wanita yang pantas kau bela sejauh ini." Mata Malcolm mendelik marah.

"Kita sernua tahu Rain adalah wanita yang suka menggoda laki-laki."

"Apa katamu?Apa kau mabuk? Apa sih masalahmu?"

"Aku tidak punya masalah. Aku bahkan punya banyak 'kesempatan'. Dan Rain sudah sering memberikan aku banyak kesempatan,tahu kan maksudku?"

"Apa?"

"Apa kau perlu kukirimkan surat memo? Semalam kami bertunangan. Karena itu malam-malam sepiku sudah resmi berakhir."

Tanpa berpikir panjang, Malcolm melayangkan tinjunya ke wajah Jaksa Penuntut Umum Kabupaten Lembah Shenandoah, mematahkah tulang hidungnya. Darah yang berwarna merah gelap mengucur dari kedua lubang hidung Nathan dan membasahi bibirnya. Wajahnya pun berubah semedit teks bu nora

http://ebukita.wordpress.com.

Nathan Crescimanno tersenyum meski kesakitan. Malcolm meninjunya sekali lagi,

"Kau milikku sekarang" kata Nathan, tersenyum lebar. Sambil melangkah pergi, ia membuang ludah di pinggir jalan.

LEWAT tengah malam, Samantha terbangun dari tidurnya. Walau tidak direncanakan, tetapi ia telah pindah dari posisinya di dekat tungku perapian ke atas karpet yang terhampar di tengah ruang tamu dan tertidur lelap. Suara ban mobil yang menggesek permukaan jalan dan diikuti oleh butiran kerikil yang menggelinding membaugunkannya dari alam mimpi.

Samantha mengusap wajahnya, bangkit, dan berjalan ke beranda depan. Dilihatnya Matthew sedang duduk di kursi goyang. " siapa yang mengendarai mobil malam-malam begini?" tanya Samantha, masih setengah tertidur,

"Kakakmu."

"Apa?" Samantha tersentak, mendadak tidak merasakan kantuk yang tadi merundunginya,

"Kakakmu. Dia sedang ingin menenangkan diri."

"Pakai mobil siapa?"

Marthew tidak bereaksi. Tanpa harus menebak lebih lama, Samantha sudah tahu jawabannya, Mulutnya terbuka lebar.

Mobil sedan kepolisiannya telah raib dari pelataran parkir.

Rain menghabiskan malamnya di rumah. Ia menghubungi teman serta kerabat keluarga Cooper untuk mengabarkan berita sedih yang menimpa Jack dan Laurel semalam. Ia juga menyampaikan informasi terkini mengenai jadwal pemakaman di akhir minggu.

Pada Sabtu sore nanti, anak-anak jack dan Laurel akan mengadakan acara makan siang yang dihadiri oleh teman-teman dekar serta tamu-tamu langganan Demus Jefferson. A&P yang mengawasi acara tersebut.

Sabtu malam, jenazah Jack dan Laurel akan dibaringkan di Rumah Duka Guthrie mulai pukul enam sampai delapan malam.

Minggu pagi, A&P teah memanggil sekelompok penyanyi gereja untuk meramaikan acara misa, di sebuah gereja di Pegunungan Jackson. Gereja tersebut sudah berbaik hati memberikan jasa pelayanan bagi keluarga dan kerabat Cooper, tentunya karena mereka dijanjikan sumbangan sebesar lima ribu dolar oleh sumber yang tak dikenal. Tapi semua orang tahu penyumbang tak dikenal itu adalah A&P yang juga mendanai makan siang besar di hari Minggu sore bagi tamu-tamu yang datang dari luar kota untuk menghadiri pemakaman Jack dan Laurel.

Keluarga Cooper memperkirakan jumlah pelayat yang datang tidak kurang dari seratus Orang, bahkan mungkin lebih. di penghujung acara, prosesi pemakaman akan dimulai dari gereja yang sama, dipimpin oleh Pastur Braithwaite, dan berakhir di Kuburan Massanutten.

Rain berpikir bahwa jadwal pemakarnan Jack dan Laurel terdengar seperti jadwal pertandingan oLahraga.

NATHAN menghubungi beberapa orang dari kantornya di Barisan Pengacara, yang tidak lain adalah sederetan kantor kecil terletak di dekat gedung pengadilan. ia berjalan mondar-mandir. Ia membaca berkas Malcolm dan laporan dari Kesatuan Polisi untuk kesekian kalinya. Ia meghubungi seorang sahabatnya dari

sekolah hukum, Ia mondar-mandir lagi. Menatapi dinding di seberang ruang kerjanya, ia mengagumi foto diri Rain berukuran 28x43 cm yang tergantung di bawah sederetan surat-surat diploma serta penghargaan yang terbingkai rapi, Ia menghubungi rumah duka membangunkan Arie Curheria, dan menanyakan apakah persiapannya berjalan baik untuk acara melayat dan pemakaman di hari Minggu.

"Semuanya sudah siap, Tn. Crescimanno. Tolong jangan menelepon lagi; ini sudah malam." Ia menghela napas. "Maafkan kelancangan saya. Bagaimana kalau Anda menanyakan perihal ini lagi nanti di Minggu sore?Adilkan?"

"Adil," Nathan menjawab dengan kesal. ia memutuskan sambungan telepon tanpa mengucapkan apa-apa.

RaiN mengenakan celana training kesukaannya dan baju training berlogo tim basket Washington Bullets. Ia menyusun dafrar panjang, mengeceknya lagi, menambahkan nama-nama baru dan men coret nama-nama lain. Perangkat masak yang tergeletak bersih di dalam mesin pencuci piring yang dibelikan oleh Nathan, dicucinya lagi dengan tangan. Ia tidak peduli apakah mesin cuci itu masih baru (dibeli di Sears) dan ia juga tidak peduli bahwa

nathan sudah bersusah-payah membayar semua pengeluaran instalasi mesin tersebut di dapurnya,

Saat ia sedang membasuh piring di wastafel, terdengar dering telepon. Suara Nathan menyapanya dari seberang saluran, entah untuk yang keberapa kalinya hari itu. ''Aku baik-baik saja, kok," kata Rain. "Tidak usah cemas, Nate. Sampai besok, ya?"

RAin meraih sebentruk buku tahunan SMA Central angkatan 1974 dari bawah tumpukan baju dingin di atas rak lemari bajunya. Halaman demi halaman dipandanginya, menghitung jumlah teman sekolahnya-yang kini tidak lagi tinggal di Lembah shenandoah. Padalembaran yang ditandai dengan lipatan di sudut atas, ia menemukan halaman di mana terdapat foro dirinya dan Malcom sedang berdiri saling merangkul di bawah pinata (wadah besar terbuat dari kertas atau jerami berisi manisan yang biasanya digunakan sebagai pemeriah acara berasal dari kebudayaan Aztec) berbentuk burung falkon, melambangkan tim olahraga kebanggaan SMA Central.

Di foto itu, Malcolm mengenakan jas rubedo berwarna biru milik ayahnya. Rain mengenakan gaun pesta berwama merah muda deugan ekspresi gelisah.

NATHAAN menghubungi seorang staf perbankan di nomor bebas biaya yang menyediakan layanan 24 jam, Ia mengecek ulang jumlah tabungan dan saham yang ia miliki. Ia menghubungi kakaknya di Sacramento, tetapi disambut oleh mesin penjawab. ia menandai ulang sejumlah berkas di kantornya dan menelaah dokumen-dokumen pengadilan yang akan di proses minggu depan. Ia memandangi foto Rain berulang kali. ia berlutut di hadapan kursi seharga 400 dolar yang terbuat dari kulit dan setelah sepuluh tahun, berdoa untuk yang pertama kalinya. Ia berdoa agar Tuhan mau mengetuk hati ayah yang tidak pernah dikenalnya supaya bangga terhadapnya, Ia memohon agar satu-satunya wanita yang mengerti dan mencintainya takkan hanyut dalam kehidupan eksoris milik Malcolm Cooper.

RAIN juga berdoa untuk yang keempat kalinya hari itu dan terlelap di atas ranjangnya seorang diri.

PUkul 01 :30 pagi di hari Sabtu,Matthew, Samantha, dan A&P berkumpul di meja makan sambil memilah-milah tumpukkan surat serta dokumen milik mendiang Jack dan Laurel. Di tengah kegiatan mereka itu, tiba-tiba mereka mendengar kegaduhan dari arah pekarangan, diikuti silaunya lampu jauh kendaraan yang menyinari serambi penginapan. Samantha buru-buru melangkah ke pintu depan.

"Sebaiknya kau diam di sini saja," kata Matthew memperingati A&P, mengikuti langkah adik perempuannya. "Kau tak ingin terlibat dalam apa yang terjadi di luar sana."

"Kau tidak perlu menjelaskannya kepadaku. Aku dan Castro akan berjaga di sini." Setelah tubuh Matthew menghilang dari pandangannya, A&P mengangkat kuCing piaraannya ke atas meja, di samping kertas-kertas yang berserakan. "Pendengaranmu masih berfugsi!"

Castro sang kucing, mengedipkan matanya dua kali.

Samantha berlari menuruni anak tangga di beranda penginapan, tepat pada saat seorang petugas kepolisian membuka pintu belakang kendaraan patroli miliknya.

Malcolm melangkah keluar, kedua tangannya terborgol, emosinya meluap-luap. "Apa-apaan ini Sammie? Mereka memborgolku!"

"maaf Malcolm,"kata Keith,"ini perintah adikmu."

"Kau tidak perlu meminta maaf Keith," kata Samantha, "Malcolm, borgol yang tersangkut di pergelangan tanganmu adalah hal yang tidak penting untuk kaubicarakan sekarang. Apa sih yang merasukimu sampai kau berani-berani membawa kabur kendaraan patroliku tanpa izin?"

Samantha meminta Keith untuk membuka ikatan borgol yang membelenggu Malcolm.

"Aku adalah kerban kekerasan polisi, Sammie! Semua orang tahu aku orang yang sensitif!"

"Diam"!lSamantha berteriak cukup keras hingga di dalam penginapan, Castro melompat dari alas meja dan bersembunyi di bawah kursi yang diduduki A&P.

Samantha menoleh pada dua orang petugas kepolisian yang berdiri di dekat Malcolm, "Apa yang terjadi? Di mana kalian menemukan nya?"

"Ia duduk di depan bioskop di jalan Main Street." "Itu saja yang dia lakukan?"

"Ya," Malcolm menjawab pertanyaan Samantha yang tidak ditujukan kepadanya. "Aku sedang mengantre film The Princess Bride. Aku sedang ingin menonton banyak film. Apa itu salah?"

"Yang salah adalah perbuatanmu mencuri kendaraan patroliku."

"Itu 'kan kesalahan teknis."

Samantha menatap Malcolm dengan mata terbelalak. Tanpa memalingkan wajahnya dari Malcolm, ia berkata kepada dua petugas kepolisian yang meningglkan perintah selanjutnya, "Maaf aku sudah merepotkan kalian, Hal ini takkan terjadi lagi," katanya.

"]angan khawatir," Keith tersenyum dan melemparkan kunci mobil Yang ada dalam genggamannya kepada Samantha.

"Kuhargai bantuan kalian, dan terima kasih karena telah mengembalikan kendaraanku."

"Selamat malam Sam. Selamat malam, Malcolm." kata Barry, yang baru sadar bahwa Matthew sedang berdiri di beranda, mengawasi sejak mereka tiba. "Oh, hai, Matt."

"Hai," sapa Matthew.

'Kami turut berduka cita atas meninggalnya orang tua kalian."

"Terima kasih," kata Matthew. "Terima kasih juga karena telah mengantar adikku pulang."

Kedua petugas tadi segera masuk ke mobil patroli mereka dan menderu pergi dari penginapan Domas jefferson Sampai di Rute 11I mereka menertawai kecerobohan Malcolm.

"Terima kasih, Dik, Tadinya aku khawatir kau akan marah padaku."

"Apa yang membuatmu berpikir aku tidak marah padamu?

Aku merasa sangat marah, rasanya aku ingin menendangmu kembali ke-Brazil."

"Kau tahu tidak, Keith itu orang yang sangat pandai merayu. Kurasa ia naksir padamu." Malcolm merendahkan suaranya untuk menimbulkan efek misterius. "Aku sempat menguping di dalam perjalanan kemari."

Tawa Matthew segera berderai mendengar hal itu.

"Apa yang lucu, Matt?" Samantha menggertak kakak sulungnya, meski matanya tetap terfokus pada Malcolm.

"Hey, semuanya," A&P memanggil mereka dari balik pintu kasa .. "Masuk dan lihatlah apa yang kutemukan,"

"Kita selesaikan masalah ini nanti," Samantha menggeram, sementara Malcolm menaiki anak tangga satu per satu dan mengikuti Matthew yang sudah menghilang di balik pintu. Kesal, Samantha menghantam kepala Malcolm dari belakang dengan tangan yang sedang menggenggam rangkaian kunci mobil.

KEEMPATNYA berkumpul di meja makan. Malcolm segera memeluk A&P dan mengecupnya di pipi seraya berbisik, "Terima kasih, untuk segalanya." A&P balas mengecup Malcolm

"Apa yang kau temukan, Anna Belle?" tanya Samantha, amarahnya belum juga reda.

"Tadi WaktU aku selesai menyortir surat-surat di meja ini, aku kepikiran untuk turun ke gudang dan mencari kardus-kardus lain yang menyimpan dokumen pajak seperti yang kauminta, Matthew. Tapi, aku justru menemukan kardus ini." la mengangkat sebentuk kardus dari lantai dan meletakkannya di atas meja, Kardus tersebut memiliki label bertanda 'LC 1948-1955.' "lsi dalam kardus ini adalah tumpukkan surat yang ditulis oleh ayah kalian untuk ibu kalian. Setidaknya, hanya itu yang kulihat di sini." "Aku selalu berpikir bahwa kardus-kardus di gudang hanya berisi dokumen-dokumen pajak atau sesuatu yang berhubungan dengan itu," celetuk Samantha.

Matthew tidak tahu harus berpikir apa. "Sejujurnya, aku tidak pernah melihar kardus-kardus seperti ini, Apa masih ada lagi yang serupa ini di dalam gudang?"

"Entahlah, Ketika aku melihat isi di dalam kardus ini, aku segera membawanya kemari. Coba lihat di belakang gudang, sebelah lemari penyimpan makanan, tepat di balik tembok. Labelnya terletak di punggung kardus, kalian tidak akan menemukannya kalau tidak mencari dengan teliti."

Selama lima belas menit Samantha dan A&P membaca tumpukkan surat di dalam kardus yang ditemukan A&P sementara kedua kakak beradik Matthew dan Malcolm bolak-balik dari gudang ke ruang makan, menumpuk kardus demi kardus yang mereka temukan.

Tidak lama kemudian A&P mengambil tas tangannya dan menggendong Castro.



0 Response to "The Wednesday Latters"

Post a Comment

Translate

English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified