Download applikasi baca novel online untuk android disini: DOWNLOAD

The Wednesday Latters 3

Sejujurnya, aku sudah lama tidak berjumpa dengan ayahmu, Tapi aku berani bersaksi bahwa beliau sudah berjasa banyak di kabupaten ini. Begitu juga dengan ibumu."

"Benar, Beliau memang sudah berjasa banyak bagi.." Tlba-tiba, pintu kamar mandi terbuka dan Nathan Crescimanno melangkah masuk.

"Halo semua," sapa Malcolm melihat keduanya,

"Pastur Doug, apa Anda sudah sempat bertemu dengan Jaksa Penuntut dan calon Gubernur Negara Bagian Virginia?" tanya Malcolm, sengaja ingin menyulut kekesalan Nathan.

"Daerah Istimewa Virginia," koreksi Nathan,Malcolm tersenyum.

"Kami sempat bertukar sapa di luar," jawab Doug. "Senang berjumpa dengan Anda lagi, Tuan crescimanno."

Ketiga pria itu berdiri di ambang pintu.

"Wah, situasinya kok jadi aneh ya," kata Malcolm.

"Aku tidak memerhatikan," gerutu Nathan segera melangkah masuk ke salah satu bilik di kamar mandi dan menutup pintunya rapat-rapat.

Pastur Doug dan Malcolm beriringan kembali ke Lobi. Keduanya berhenti di sebuah meja yang memajang empat bigkai foto pasangan Jack dan Laurel serta pernak-pernik mereka, termasuk Alkitab m ilik Jack.

Setelah memerhatikan meja tu selama beberapa saat, Pastur Doug mulai angkat suara, "Aku sudah menduga bahwa kau dan Nathan sempat berselisih pendapat," katanya. Ia mengambil sebingkai foto Jack dan Laurel saat mereka sedang berdiri di beranda Monticello dan berpura-pura terus mengamati foto tersebut. "Tapi sebagai orang ketiga, bolehkah aku bertanya kenapa kau harus mempersulit keadaan?"

"Maksud Anda?"

"Kenapa kausenang membuatnya kesal?"

"Nathan adalah target yang menyenangkan."

"Mungkin saja," kata Pastur Doug, "tapi saat ini, bukankah dia yang berkuasa?"

Malcolm terkejut mendengar perkataan. Pastur Doug. "Maafkan aku jika sudah lancang."

"Tidak apa," kata Malcolm."Maksud Anda baik."

"Tentu saja." Pastur Doug tertegun sesaat, "Malcolm, tidak ada orang yang sempurna di dunia ini."

"aku tahu itu,"

Pastur Doug meletakkan sebelah tangan di atas pundak Malcolm. "Aku sangat mengagumi keluargamu dan juga dirimu. Kami senang melihatmu di sini. Kurasa kedua saudaramu membutuhkanmu sekarang,"

Malcolm tahu bahwa perkataan Pastur Doug benar. "Jika kau sudah siap, temui aku."

Makolm menepuk pundak Pastur Doug. "Pasti."

kerumunan pelayat yang datang malam itu berangsur¬angsur menipis saat jam menunjukkan pukul sepuluh, dan pada pukul 10:20 hanya ada segelintir saja yang masih bernaung di sana. A&P dan Bibi Allyson menemui Tuan dan Nyonya Gutherie di kantor mereka yang terletak tidak jauh dari ruang melayat. A&P dan Allyson harus mengatur keperluan logistik demi memindahkan tubuh Jack dan Laurel untuk pemakaman digereja malam berikutnya.

Angela mencium ibu dan kedua pamannya sebelum pergi

bermalam di kediaman keluarga Godfrey.

Rain dan Nathan duduk berdampingan di sofa, di sudut ruangan yang sama tempat anggota keluarga Cooper bersalaman dengan tamu-tamu yang hendak pamit.

Matthew menutup dan mengunci masing-masing peti dengan sangat hati-hati. Kemudian, ia mengambil sebuah sapu tangan dan mengelap permukaan peti hingga semua sidik jari yang tertinggal habis terhapus.

Malcolm dan Samantha berdiri bergandengan di balik altar tepat di bawah lukisan Yesus Kristus yang tergantung tinggi di atas kedua peti. Samantha menyandarkan kepalanya ke bahu kakaknya.

Melalui bukaan pintu di belakang ruangan, Pastur Doug terlihat sedang berdiri di Lobi, memandangi pernak-pernik keluarga Cooper dan membaiik-balik halaman Perjanjian Baru pada Alkitab milik jack,

"Siap untuk pergi?" tanya Matthew, menyembulkan kepalanya di antara wajah Malcolm dan Samantha.

"Sudah sejak dua jam yang lalu," jawab Malcolm.

"AkU Juga,"aku samantha. 'Ayo kita pergi dari sini,"

Ketiganya segera pamitan dan berterima kasih kepada Rain, Nathan, dan kedua Pastur Doug serta Braithwaite.

"Semoga berhasil, ya," kata Rain seraya memeluk setiap anggota keluarga Cooper di ambang pintu.

"Kok semoga berhasil?" tanya Nathan saat pintu tertutup kembali dan anggota keluarga Cooper berjalan pergi menuju kendaraan patroli milik Samantha,

"Karena ini akan jadi malam yang sulit dilalui bagi mereka.Mereka benar-benar membutuhkan kehadiran satu sama lain, dan aku senang mereka ada di sini bersama."

Nathan menatap ketiga saudara Cooper dari balik jendela. "Kau baik-baik saja?" tanya Rain.

"Ya." Nathan menggerakkan kakinya dengan resah, "Hanya saja, aku merasa sangat egois karena menginginkan pekan ini cepat berakhir supaya kita bisa kembali pada kehidupan kira sehari-hari. Sepertihya aku sudah gila, ya?"

"Kau tidak egois, Nate. Kau juga berada di posisi yang sulit, aku tahu itu. Tapi sejauh ini, kau melakukan semuanya dengan sempurna."

"Menurutmu begitu?"

"Ya."

"Aku tidak sabar mendengar kalimat yang sama keluar dari bibirmu nanti setelah kita bercinta,"Nathan mengecup mesra kekasihnya.

"Bersabarlah, Tuan Crescimanno. Lebib baik kita pikirkan bagaimana caranya melewati akhir pekan ini." Rain meregangkan Lengannya dan memeluk Nathan.

Nathan membalas pelukan Rain dan perlahan-lahan mengerakkan tangannya dari pinggang kekasihnya yang ramping ke atas pinggul. "Ka tahu betapa aku mencintaimu, kan?"

"Aku, tahu."

"Aku hanya ingin hidup bersamamu. Aku ingin kita segera menyongsong masa depan, memiliki anak, dan membangun sebuah keluarga bersama, Aku ingin kau merasa nyaman bersamaku, dan kita bisa mencapai kesuksesan bersama."

"Aku tahu, Nate, Aku juga memginginkan semua itu." "Kau yakin?"

"Aku yakin."

"Jadi aku tidak perlu khawarir?"

"Kau tidak perlu khawatir,"

"Kau benar-benar yakin semuanya baik-baik saja?"

"Sangat yakin," Namun, di luar jendela, terbiaskan oleh cahaya jingga lampu jalanan yang memantul di atas pelataran parkir; Rain melihat Cooper bersaudara berdiri membentuk lingkaran sambil membicarakan serangkaian keputusan yang harus mereka ambil bersama, Rain hampir berharap, ia berada di tengah-tengah mereka, walau hanya untuk semalam.

Pada akhirrrya, Samantha dan Matthew setuju dengan usul Malcolm untuk berhenti di kota kecil bernama Tom's Brook. Penggemar milk'shake, ketiganya sempat memutuskan bertandang ke Apotek Walton dan Smoot di jalan Main, namun karena sudah terlalu malam, mereka beralih ke Iokasi pemberhentian truk di samping Rute 81.

"Hey!" panggil Matthew pada kedua adiknya dari kursi belakang. "Mau membaca beberapa surat?" Ia menunjukkan setumpuk surat dan melambaikannya ke hadapan Samantha dan Malcolm.

"Hey!" Suara nyaring Samantha menggema ke seisi mobil. "Bakankah surat-surat itu seharusnya berada di penginapan?"

Matthew mengangkat bahunya. "Kupikir, kita ada waktu luang untuk membaca."

"Lalu, kenapa sekarang kau justru terdengar merasa bersalah karena sudah membawa surat-surat itu keluar dari penginapan?" Matthew mengangkat bahunya sekali lagi.

"Kau adalah kakak yang memiliki pengaruh buruk," ledek Samantha.

"Kalau begitu kita tidak akan membacanya?" tanya Matthew.

"Salah. Kita akan membacanya," jawab Malcolm mewakili suara hati ketiganya.

22 Februari 1961

LaureL tersayang

Aku yakin kau bosan mendengarkan ucapanku ini,tapiakhir pekan lalu adalah sesuatu yang benar-benar kita butuhkan untuk menghabiskan waktu bersama.Seandainya saja kita tidak pergi.maka kita tidak akan pernah mengunjungi Natural bridge, padahal kita tinggal di Virginia!memalukan sekali.Yuk kita pergilagi ke sana minggu depan.Apa menurutmu Amanda sudi menjaga anak-anak kita lagi dalam waktu dekat ini?(aku hanya setengah bercanda loh)

Omong-omong tentang Natural Bridge,dan aku menuliskan ini karena aku yakin suatu hari anak-anak kita akan membaca surat ini,melepas celana renangku di pemandian air panas dan mengunci dirimu di dalam mobil adalah sebuah tidnakan lancang.Apa kau lihat wajah penjaga taman?aku bisa saja ditilang!Toling dicatat,ini adalah suatu perjuangan yang takkan membuatku kalah.Aku akan terus menunggu.KAu takkan tahu tempat dan waktunya.Tapi yakinlah dirimu laurel cooper bahwa sebelum kita meninggalkan dunia ini.Kau juga akan menelusuri hutan liar

Jack si penari bugil

1 MAret 1961

Nyonya cooper

Aku selalu merasa janggal menulis surat untukmu saat kau duduk tepat diseberang ruangan dan tidak jauh dariku.Saat ini kau sedanq membaca buku yang diberikan Matthew untuk hari ulang tahunmu.Sulit dipercaya bahwa anak kita yang baru berusia sepuluh tahun menghadiahkan orang tuanya dengan buku panduan investasi.Matthew selalu saja membuatku terpana.Kalau ia tidak jadi bintang olahraga nantinya,aku yakin ia akan jadi seorang ahli keuangan sebelum usianya mencapai tiga puluh tahun.Bahkan mungkin, sebelum ia berusia dua puluh tahun.

Aku tertawa dalam hati karena barusan kau bertanya apa yang sedang aku lakukan.Saat ku jawab bahwa aku sedang menulis sebuah lagu, kau memutar matamu dan melemparkan senyuman yang selalu membuatku tergila-gila padamu.Coba tebak aku MEMANG sedang menulis lagu.Mungkin suatu hari aku akan akan mengirimkan lagu ini kepada pacarmu,tuan Presley.

Aku punya irama ini dikepalaku,tapi aku tidak mengerti tangga nada sama sekali.Karena itu kau harus mempercayaiku bahwa lagu yang kutulis ini memang indah.kurasa ini lagu ballad.

Mintalah kepada tuhan

---------------------

Jak Cooper

1961

Terkadang berbuat yang terbaik saja belum cukup

Terkadang aku butuh sesuat yang lebih

Karena itu bapakku telah meminta kepada tuhan

Saat hujan turun di dalam kepalaku

Dan percikan airnya membasahi mataku.

Aku berpikir tentang cinta yang ia bagi kepadaku.

Di atas saliub, dibukit Calvalary.

*REFF*

Aku harus belajar untuk meminta dari tuhan

dalam segala hal yang kulakukan

Ya, aku akan belajar untuk meminta dari tuhan

dan semua impianku akan jadi kenyataan...

Ya, aku tahu lagu ini aneh.lagu ini butuh satu bait lagi, dan menurut sammie bahkan membutuhkan satu bait ekstra.Mungkin suatu hari nanti ya.Mungkin nanti aku akan menyanyikan untukmu.Iramanya benar-benar membuat lagi ini menjadi hidup!(Tapi jangan ditunggu karena tim baseball chicagho cubs punya kesempatan lebih besar memenangkan piala dunia sebelum aku mati).

Sejujurnya,aku telah menulis lagu di dalam kepalaku untuk waktu yang cukup lama. Suatu hari mungkin aku akan menyelesaikannya,tapi aku benar-benar senang pada bagian pertamanya dan aku ingin berbagi denganmu. Sudah dua minggu ini aku menggumamkan lagu ini.

Ide ini datang kepadaku setelah aku menceritakan tentang MAlcolm.Aku terbaring di atas ranjang sempit di lantai dua gedung kampus.Aku menangis terus tanpa henti,kau tahu itu dan kata-kata yang kutuangkan dalam lagu terus terngiang di telingaku.Kurasa seperti serangkaian doa.Sejak itu aku selalu berusaha untuk menuliss ulang kata-katanya.Aku selalu ingin memasukkan kata-kata itu ke dalam surat,tapi entah kenapa aku selalau lupa.Tapi hari ini aku ingat.

Menurutku, aku sudah lebih bisa meminta kepada tuhan sekarang.Aku belajar darimu,bersama dengan 3.572.988 hal lain yang kupelajari darimu

salam sayang

Jack Lennon

saat Matthew sudah membacakan semua surat yang dibawanya dari penginapan, ketiganya mengisi waktu dalam mobil dengan obrolan kecil.

Mereka tidak terburu-buru.

Samantha dan Matthew tidak bisa memikirkan hal lain kecuali perselingkuhan ibu mereka, Malcolm tidak bisa memikirkan hal lain kecuali membaca lebih banyak surat Jack untuk mengetahui siapa ayah kandungnya.

"SiaPA nama pacar pertamamu, Sam? Pemuda yang sangat aneh, berbulu lebat, memiliki masalah bau badan, dan bercita-cita menulis novel fantasi itu."

"Robert Smith. Sekarang ia sudah jadi pengarang terkenal."

"hebat juga."

"Dan dia tidak berbulu Lebat."

"Sejak kapan batas kecepatan mobil ditingkatkan di sini?"

"Tidak pernah. Sejak kapaa kau jadi orang yang menyebalkan?"

"Buka jendela mobilmu."

"Kenapa?"

"Percayalah padaku," jawab Malcolm.

"ApAKAh orang kepercayaan Ayah akan datang ke pemakaman?" tanya Samantha.

"Siapa orang kepercayaan Ayah?" tanya Matthew.

"Pengacara ItU."

"Alex Palmer."

"Iya, dia."

"Dia pasti datang ke pemakaman. Kita harus menandatangani beberapa surat, entah sebelum atau sesudah prosesi pemakaman,aku tidak yakin."

"APA yang terjadi pada tempat jual-beli mobil Chevy yang dulu ada di sudut jalan itu?"

"Kebakaran setahun yang lain. Sekarang mereka membangun tempat baru di Strasburg."

"APA si Kurus Gila itu masih menjalankan toko kelontong dan tempat penjualan umpan di New Marker?"

"Namanya Gordon Craw."

"aaaah benar, Kita selalu menjulukinya si GOrdo." "Gordo sudah meninggal."

"Oh."

"Ya."

"Aku suka padanya."

"kita semua suka padanya."

"AKU yakin kalian tidak peduli, tapi kok rasanya kira melaju terlalu cepat. Apa mungkin karena aku duduk di kursi belakang."

"Diamlah."

"Aku hanya memberikan informasi saja."

"MALCOLM?"

"Ya?"

"Jangan terlalu dipaksa." Samantha melarikan tangannya ke belakang leher Malcolm dan dengan lembut mengelus tengkuknya.

"Memaksa apa?"

"Mencari jawaban." Ia memalingkan wajahnya dan menatap Malcolm lekat-lekat. "Semua orang sedang berduka, tidak kamu saja,"

Malcolm menatap keluar jendela.

"Jangan dipaksa, Kak, jawaban itu akan datang dengan sendirinya."

"WOW. lihat." Samantha menunjuk ke jendela di samping Malcolm. "Aku bersumpah, seminggu yang lalu, ada restoran cina di sana. Sekarang, semua plangnya sudah diturunkan. Bahkan tidak langgeng sampai tiga bulan. Gedung itu memang sial, semua restoran yang buka di situ selalu tutup."

"Kau benar, Dulu ada restoran, mexico yang menyajikan makanan lezat di sana, Guadala-apa gitu, Ayah dan Ibu mengajakku ke sana sendirian suatu kali untuk ulang tahunku, tidak lama setelah kita pindah kemari. Seminggu penuh aku jadibuang angin terus."

"Kau selalu buang angin sejak itu."

"KAu tahu tidak, Dik, kalau kau terrarik dengan kecepatan ini kita bisa sampal ke Washington D,C. dalam waktu 20 menit, Apa kaumau.."

"Apa kau ingin jalan kaki saja, Matt?"

"SAMMIE, kau ingat tidak tahun pesta perpisahan saat kau memasak makan malam untuk Rain dan aku, kau berdandan seolah-oiah sedang bermain jadi tuan rumah yang kaya raya? Aku mungkin tidak pernah mengatakan ini kepadamu, tapi saar kau menyajikan salad dan ikan trout yang ternyata enak sekali ... itu adalah kali pertama kami berciuman."

"Kau dan Sam berciuman? 00000h.."

"Dasar gila."jawab Malcolm. Derai tawa menyelimuti perutnya yang sedikit keram dan sarat akan keraguan.

"Mal, ciuman pertamamu dengan Rain bukan di pesta perpisahan. Kau menciumnya untuk pertama kali di jalan setapak menuju gereja diSungai Shenandoah. Aku lihat sendiri, kok,"

"Kurasa dia benar, Mal," Matthew setuju.

"Apa kalian pikir, aku tidak tahu kapan dan di mana aku berciuman Untuk pertama kalinya?"

"Ciuman pertama dengan gadis mana saja?" tanya Matthew.

"Atau ciuman pertama dengan Rain?"

"Ciuman pertama."

"Ciuman pertama, Pantat!"

"Tidak, terima kasih," canda Malcolm. "Aku tidak punya waktu untuk mencium bokongmu."

Matthew terpingkal. Ia bertanya-tanya kapan terakhir kali ia dan Malcolm bisa bersenda gurau seperri sekarang.

Malcolm berpikir betapa anehnya bahwa ia bisa mengingat gadis pertama yang diciumnya saat masa remaja dulu, tapi bahwa sekarang ia bahkan tidak mengenal nama ayah kandungnya Sendiri.

"SEKARANG kalian diam saja, biar aku yang memesan.

"Apa yang ingin kalian pesan?" suara kasar seorang pelayan wanita menyalak dari dalam kotak Speaker yang digunakan oleh pelanggan yang memesan di Drive Thru. .

Samantha tidak menanyakan apa yang diinginkan oleh kedua kakaknya sebelum berkata, "Tiga gelas milkshake cokelat Snickers." Ia menoleh pada Malcolm di sampingnya, "Malam ini kita akan melakukan semuanya bersama-sama."

Malcolm pikir keputusan Samantha sedikit berlebihan, tapi di lain pihak, niat adiknya itu membuatnya merasa nyaman.

Samantha melanjutkan, "Sekarang, mari kita cari jawaban dari pertanyaan kita,"

Malcolm mengacak rambut Samantha."Aku sayang padamu, Dik."

"Jangan sentuh rambutku." Kali ini, mereka semua tertawa.

"MINGGIR di sini," Malcolm berkata saat mereka mendekati putaran menuju Domus Jefferson.

"Apa kau tidak bisa tahan sebentar? Tiga puluh detik lagi kita akan sampai di rumah."

"Minggir!" pinta, Malcolm. Samantha mengikuti kemauan Malcolm dan sebelum kendaraan patroli itu berhenti, Malcolm mendorong pintunya hingga terbuka dan muntah ke bahu jalan.

"Kau tidak apa-apa?"

"Milkshake ... ,," gumam MalCOlm sebelum muntah dua kali lagi."Perut kosong ... tegang ... campuran yang buruk."

Samantha menyodorkan serbet tisu miliknya.

"Maaf, ya."

"Tidak perlu minta maaf." Samantha tahu benar perasaan kakaknya sekarang, Dia sendiri sudah semalaman ini bergulat dengan emosioya. "Tutup pintunya. Ayo kita pulang."

Samantha memutar di Rute 11 dan berkendara menuju penginapan. Di tengah sinar lampu mobil patroli yang dikendarainya, mereka melihat seorang pria sedang duduk di anak tangga beranda, mengenakan sepasang celana panjang bernuansa gelap dan sebuah baju dingin berwarna biru.

"Beliau datang juga," kata Samantha.

"Siapa?" Kedua mata Malcolm terpejam dan kepalanya bersandar di jendela.

"Paman Joe."

samantha, Matthew, dan Malcolm masing-masing merasa janggal bertemu dengan paman mereka di beranda penginapan. Meski hal ini tidak mereka ungkapkan secara terang¬terangan, namun tidak satu pun dari ketiga bersaudara itu yang Ingat terakhir kali mereka melihat Paman Joe mengenakan celana panjang longgar dan baju dingin. Menurut Samantha, baju dingin yang dikenakan pamannya terlalu besar untuk ukuran tubuhnya yang sedang.' Matthew memandangi sederetan nomor yang tertanam di belakang tangan Joe dalam bentuk tato permanen. Malcolm justru mengagumi tato tersebut,

Walau Jack dan Joe adalah saudara kembar, Joe tampak memiliki porsi tubuh yang lebih ramping dibandingkan Jack. Berat badan Joe sepertinya 20 kilogram lebih ringan daripada berat badan saudara kembarnya, dan Samantha berani bertaruh bahwa ototnya lebih besar dibandingkan dengan pamannya itu.

Matthew memperhatikan bahwa Paman Joe memiliki bentuk dan warna mata yang identik dengan mata Jack hingga keduanya bisa saja ditukar tanpa ada seorang pun yang mengetahui.

Matthew jadi merinding memikirkan itu. Ketiga bersaudara tersebut melihat bahwa rambut Joe tidak seputih milik Jack, meski Joe tidak memiliki rambut sebanyak saudara kembarnya. Baik wajah Joe maupun Jack semasa masih hidup sama-sama terlihat tua dan lelah; namuni penyakit yang mendera Joe tampak lebih berbahaya dari kanker yang merenggut hidup Jack. Joe adalah seOrang pemabuk yang kini harus membayar setiap tetes minuman yang pernah diteguknya deogan harga tak terhingga.

Joe menjelaskan dengan suara gugup ia mendengar kabar kematian saudara kembar dan iparnya dari seorang petugas pembebasan bersyarat yang meninggalkan tiga pesan di mesin penjawab telepon rumahnya. Menurut penjelasan Joe, saat itu ia sedang membantu seorang teman lama pindah ke sebuah apartemen kecil Setelah menghabiskan masa hukuman di Penjara Negara Bagian missouri serta dua minggu di sebuah rumah koreksi di pinggiran St. Louis.

"Kami rnenyesal karena kau tidak mendengar kabar itu langsung dari kami," kata Matthew tulus.

"Kau tidak perlu menyesal. Sudah lama sekali aku tidak menjadi bagian dari keluarga ini."

"Kau adalah anggota keluarga Cooper,"kata Samantha, membuka pintu depan dan membiarkan tiga laki-Iaki itu masuk mendahuluinya.

"Terima kasih," kata Joe, menatap kakinya sendiri saat ia melangkah melewati Samantha.

"Paman,"samantha menarik tangan joe dengan lembut,

"Tidak peduli sudah berapa lama kau tidak ada di tengah-tengah kami, kau akan selalu menjadi bagian dari keluarga ini. Kautahu itu, kan?"

"Terima kasih, Samantha." Joe berhenti dan menatap ke dalam mata kemenakannya seolah ingin mengatakan lebih dari itu. "Terima kasih,"

"Apa kau sudah makan?"

Joe menggeleng.

"Masuklah. Ada cukup banyak makanan di dalam untuk

seisi Lembah ini,"

"Terima kasih." joe mengikuti Samantha ke dalam dapur tempat ia memaksa untuk menyiapkan makananannya sendiri.

Samantha menghampiri Matthew di meja makan. "Mana Mal?" tanyanya.

"Sedang ganti baju." Matthew menilik ke dalam dapur, "Aku masih tidak percaya akhirnya Paman Joe datang juga," bisiknya.

"Aku juga tidak percaya," jawab Samantha, "tapi setidaknya dia datang." Ia menjulurkan kepalanya ke dalam dapur, Joe sedang mengambil beberapa iris daging ayam kalkun dan meletakkannya ke atas piring.

"Kau tidak harus makan di sana sendirian, Paman," kata Samantha.

"Tidak apa, lagipula meja kalian sedang dipakai. Aku tidak keberatan makan di sini."

"Kalau begitu, setelah kau selesai makan, bergabunglah bersama kami." Samantha duduk di meja makan dan melempar senyum pada Matthew.

Matthew memutar matanya.

di atas, Malcolm menggosok giginya dan mengenakan kaus sepak bola berwarna kuning menyala yang dibelinya di Brazil. Saat menuruni tangga, ia memperhatikan foto-foto yang terpajang di dinding sebelah kamarnya, reuni keluarga; wajah lusinan tamu penginapan; Jack dan Laurel di sebuah dermaga menerawang ke Pantal Virginia. Kakeknya-ayah Jack-sedang berpose di lapangan bola kaki sambil memeluk bola kaki dan berlutut di satu kaki. Beliau mengenakan helm yang terbuat dari kulit. Foto lain memperlihatkan Jack dan Joe yang duduk di belakang truk karatan sedang berpose di depan kamera.

"Kausmu bagus juga,' Pele," kata Samantha menyambut kedatangan Malcolm di antara mereka, "Apa kau tahu Pele itu siapa?"

"biar begini, aku juga banyak membaca."

"Membaca apa?'

"buku"

"Buku tentang sepak bola?"

"Kenapa tidak?"

"Apa judul buku terakhir yang kaubaca?' Malcolm mengambil tempat duduknya di meja makan. "Tommyknockers."

"Tommyknockers?"

"Aku Juga suka buku-buku karangan Stephen King. Angela yang membuarku tertarik membaca buku-buku tersebut,"

"Apa? Kau membiarkan Angela membaca buku horor? apa-apaan itu?"

"Yang penting dia suka membaca. Itu sudah cukup bagiku.."

"Tapi.."

"Dan dia juga senang membaca buku-buku karangan Tom Clancy. Kemampuan, membacanya selalu melebihi anak-anak lain. Kenapa kau tidak selesaikan dulu buku yang kautulis dan berikan bahan bacaan yang lebih' baik pada keponakanmu?"

"Ah, halo?" Matthew berbisik sedikit keras; meski ia berharap pamannya tidak mendengar pembicaraan mereka. "Bisakah kita tunda acara pembedahan buku ini? Apa yang akan kita lakukan dengan Joe?"

''Apa maksudmu?" Samantha balik berbisik pada Matthew dengan nada dramatis.

"Apa dia akan tinggal di sini?"

"Tentu saja, kan masih ada kamar kosong."

"Apa kita tahu dia habis dari mana saja?" Matthew menilik ke dalam dapur, lalu berbalik menatap adik perempuannya. "Apa kita tahu bagaimana ia bisa sampai di sini?" .

"Mungkin naik pesawat ulang-alik, Matt Atau bus penjara, Tenanglah. Dia itu bukan penjahat. Apa sih masalahmu?" Sementara itu, Malcolm tidak mendengar apa pun yan.g dikatakan kedua saudaranya. Ia sibuk membuka-buka amplop surat.

"Apa menurutmu dia tidak terlalu memaksa berada di sini? Apa kau tidak merasakan betapa aneh tingkahnya di depan kita? "Sejak kapan kan jadi orang yang suka menghakimi, Matt? Sudah jelas Paman Joe itu sedang berkabung, bahkan mungkin mengalami shock. Ia baru saja kehilangan saudara kembarnya."

"Aku tahu itu, Sammie .. Tapi aku merasa ada yang tidak beres, Beda. Apa pun itu."

"Mungkin ini yang terjadi jika ia tidak lagi minum minuman keras,"

"Terserah kau lah, akU.."

"Hey, Paman?" panggil Samantha, mengangkat kepalanya agar bisa dilihat oleb Joe dari dapur. "Matt ingin tahu sudah berapa lama kau tidak mabuk dan bagaimana kau bisa sampai di sini. Karena dia tidak melihat ada mobil lain di parkiran depan."

Matthew menjatuhkan kepalanya ke atas meja dan mengetukkan dahinya tiga kali.

Joe menghampiri mereka dan berdiri di ambang pintu, mengisap mulutnya dengan serbet kertas dan menggenggam segelas air putih. "Aku berhenti minum sejak tanggal lima januari tiga tahun yang Ialu. Dari Bandara Nasional Washington aku menumpang bus Greyhound sampai terminal di Harrisonburg. Dari sana aku naik taksi kemari."

"tiga tahun? Selamat ya, Joe."

"Terima kasih, Aku merasa lebih baik sekarang, Sehat. Aku masih menyesuaikan diri,"

"Menyesuaikan diri dengan apa?" tanya Mtthew.

"Pada kehidupan di luar penjara, Kehidupan yang tidak dinodai oleh alkohol."

"Menurut kami kau tampak luar biasa, Paman. Kami sungguh bangga padamu," Samantha tersenyum. "Tapi kenapa kau harus naik taksi dari Harrisonburg? Seharusnya kau menelepon kami, kamil bisa menjemputmu."

"Tadinya kupikir lebih baik aku naik taksi, karena aku tahu kalian pasti repot mengurusi pemakaman."

"Kapan kau tiba di sini?"

"Sekitar satu jam yang lalu, muugkin satu jam setengah."

"Kalau begitu tidak lama setelah acara pelayatan dimulai. Pemakamannya besok, tapi kami akan pastikan kau mendapat waktu khusus sebelum acara dimulai besok. Ayah dan Ibu terlihat begitu damai."

"Kuhargai itu. Ada beberapa hal yang ingin kusampaikan pada mendiang Jack dan Laurel."

"Tidak masalah. Kami juga ingin agar kaududuk bersama kami di pemakaman besok," Samantha menendang tulang kering Matthew di bawah meja,

"Ya!" Matthew angkat suara. "Kami Ingin agar kau pergi ke pemakaman bersama kami."

"Kita akan naik limosin milik keluarga Gutherie," tambah Samantha. "Apa kau ingat pada keluarga Gutherie?"

"Tentu saja," Joe meneguk air putih dalam gelas yang digenggamnya. "Permisi, ya." ia melangkah masuk kembali ke dapur.

"Tolonglah, Matt, jangan dingin begitu padanya." Samantha mengalihkan pandangannya pada Malcolm. "Kau juga bisa mengajaknya bicara, 'kan?'

Malcolm terus membaca lembaran surat yang dipegangnya.

"Kurasa, ia punya masalah yang lebih mendesak daripada Joe," kata Matthew.

Malcolm tidak mengindahkan Samantha maupun Matthew. Samantha dan Matthew mulai mengacak tumpukan surat di hadapan mereka, mencoba mengingat-ingat bahwa ada suatu alasan kenapa mereka menumpuknya dalam urutan kronologis.

"Kulihat kalian telah menemukan surat-surat ayah kalian," kata Joe, memasuki ruangan itu lagi beberapa menit kemudian. "Sudah berapa banyak yang kalian baca?"

"Kautahu tenang surat-surat ini?" tanya Matthew.

Malcolm secara. refleks mengangkat wajahnya,menatap Joe.

"Tentu,kata joe, mengambil tempat di kepala meja, "Aku tahu semuanya."

Selama satu jam Joe bercerita panjang lebar mengenai masa lalunya kepada tiga kemenakannya. Dengan bercerlta,ia merasa lebih nyaman berada di tengah mereka. Sesekali ia berhenti untuk mengendalikan luapan emosinya sendiri, tapi sebelum Samantha dan Matthew sempat membaca surat-surat yang ada di hadapan mereka, Joe sudah meluncurkan cerita lain tentang petualangan-petualangannya bersama Jack.

Malcolm hanya mendengarkan sedikit saja cerita Joe. karena ia terus membaca surat demi surat, mencari informasi lengkap tentang perselingkuhan ibunya dan situasi yang membuat Jack memaafkan perbuatan istrinya. Setelah Laurel mengakui kesalahannya dan Jack tiba-tiba pergi ke Chicago, Malcolm yakin bahwa surat-surat yang ditulis Jack berubah hambar dan memiliki kode-kode tertentu. Jika Malcolm berada dalam posisi ayahnya, ia mungkin takkan melakukan hal yang sama, tapi ia menduga Jack berusaha melindungi kehormatan ibunya. Ia berharap Jack Juga berusaha melindungi kehormatan dirinya sendiri.

Surat-surat yang di tulis setelah pengakuan Laurel tampak datar dan dipenuhi oleh Fakta, Beberapa surat bahkan hanya memuat menu makanan yang disantap Jack selama seminggu. Menurut Malcolm, Jack menulis surat-surat itu karena la merasa bertanggung jawab untuk melakukannya, karena ia sudah terlanjur berjanji.

"Jack menepati janjinya," gumamnya keras setelah membaca surat yang di tulis di sebuah kartu indeks yang dilipat dua dan dimasukkan ke amplop yang biasa digunakan oleh petugas bank untuk menyimpan uang tunai milik pelanggan.

Dalam surat-surat itu, Malcolm tidak menemukan apa-apa yang bisa membantunya menemukan ayah kandungnya.

"Sebaiknya aku tidur dulu," kata Joe setelah menceritakan pengalamannya bermain bola kasti untuk yang ketiga kali. "Apa ada kamar untukku?"

"Tidak perlu ditanya lagi, tentu saja," jawab Samantha.Ada banyak kamar kosong. Salah satu kamar di atas juga kosong. Tepat di pucuk tangga,. di sebelah kamar mama. Aku ingin menempatkanmu di kamar tidur Ayah dan Ibu, tapi Allyson sudah mengambilnya, Tidak apa, 'kan?"

"Allyson juga ada di sini?"

"Sekarang ia sedang keluar, tapi sebentar lagi ia pasti sampai. Kurasa, saat ini ia sedang bersama A&P. Mungkin mereka berhenti di rumah A&P sebentar, Kautahu sendiri betapa akrabnya mereka. Ibu melakukan hal yang baik mengenalkan mereka sebagai sahabat pena,"

Joe mengangguk. "Kalau begitu, mungkin aku bisa bertemu dengannya besok pagi. Sampai besok, ya."

"Di lemari koridor ada handuk-banduk yang bisa, kaugunakan. Apa ada hal lain yang kau perlukan?"

"Tidak, terima kasihh." Joe menganggukkan kepalanya pada Samantha, Matthew. dan Malcolm sebelum melangkah ke pintu depan untuk mengambil tas kopernya dari beranda,

"Biarkan aku membantumu." Matthew mengikuti langkah Joe dan menahan pintu agar tetap terbuka saat J0e membungkuk dan mengangkat kopernya yang berat, "Joe, aku minta maaf jika aku tampak dingin terhadapmu." .

"Kau tidak perlu minta maaf, Aku tidak berhak mendapat perlakuan yang lebih baik."

'Kau salah, Kau telah berubah dari sebelumnya. Kurasa aku hanya terkejut,"

Joe tersenyum. "Aku sendiri terkejut, Matthew Seharusnya aku yang meninggal, bukan ayahmu."

Matthew melangkah ke beranda, menutup pintu di belakangnya. "Kenapa begitu?'

Joe meletakkan kopernya kembali ke tanah dan bersandar pada pagar beranda. Matthew mendekatinya.

"Kautahu aku masuk penjara untuk yang terakhir kali?"

"Karena menyetir dalam keadaan mabuk?"

"Lebih buruk dan itu." Joe memalingkan wajahnya. "Terakhir aku menenggak minuman beralkohol tanggal 5 Januari, tiga tahun yang lalu aku masuk penjara selama dua tahun."

"Karena mengendarai mobil dalam keadaan mabuk?" Suaraa Matthew meninggi.

"Lebih dari itu. Aku menabrak seorang gadis malam itu." Napas Joe menjadi berat, "Aku nyaris membunuhnya,"

"tapi gadis itu kan selamat?"

"Ia selamat karena Tuhan menyelamatkannya,"

"Kalau begitu dia tidak apa-apa, 'kan?"

Joe mendengarkan deru mobil yang berlalu di belakangnya, di atas jalan yang melintas di depan penginapan. "Tuhan juga menyelamatkanku, Tuhan berkata pada gadis itu untuk engunjungiku, dan setiap bulan gadis itu selaIu datang menemuiku. Ia juga menulis surat kepadaku hampir setiap minggu. Ia bahkan menggambar untukku."

"Gadis itu sudah memaafkanmu?"

''ya.''

'itu luar biasa joe. Sungguh."

Matthew mengusap sebentuk paku yang tertancap pada pagar. "Seandaioya saja kami tahu penderitaanmu."

"Aku memilih untuk tidak memberi tahu orang banyak mengenai semua ini. Ayahmu tahu, dan mungkin ibumu juga tahu. tapi aku ingin meninggalkan penjara dan diuji sekali lagi sebelum seluruh dunia mengantisipasi kegagalanku."

"Sepertinya kau sudah berhasil. Setidaknya, sekarang kau sampai di sini." Matthew meletakkan sebelah tangan di atas pundak Joe.

"Kurasa kaubenar, Matthew." Joe mengangkat wajahnya.

"Aku memang telah melewati ujian terberatku karena gadis itu mau memaafkanku,"

Kedua pria itu berdiri terdiam selama beberapa menit sambil menerawang jauh ke arah pelataran parkir dan Rute 11.

"Joe?"

"Ya?"

"Apa yang kauketahui tentang ibuku?"

Joe tertegun sesaat dan menatap kegelapan malam.

"Tentu saja aku mengenal ibumu dengan cukup baik'" Ia tertegun lagi. "Dia adalah orang yang baik hati."

Matthew mempelajari gerak-gerik Joe sebelum bertanya lagi.

"Apa kautahu tentang perselingkuhan ibuku?"

Sebelum Joe bisa menjawab, kendaraan milik A&P menderu mendekati pelataran parkir dan kedua laki-laki itu dibanjiri oleh cahaya terang yang berasal dari lampu mobil. Allyson berterima kasih sebanyak dua kali kepada A&P karena telah menganramya pulang dan melambaikan tangannya saat kendaraan itu menjauh dari penginapan.

"Apa itu Joseph Cooper?" Allyson menaiki anak tangga beranda perlahan-lahan.

"Satu-satunya," jawab Marthew.

"Halo, Allyson," kata Joe.

Sebelum menjawab, Allyson menapakkan kakinya di atas anak tangga teratas dan merengkuh pria bertubuh kurus itu dalam pelukan erat. "Saudaramu sungguh bangga terhadapmu."

Unruk perrama kaJinya rnalam itu, Joe rnenicikkan air mara.

"Terima kasih," isak Joe.

"Kau sudah menunjukkan banyak kemajuan." "Terima kasih."

"Aku rindu padamu,"

"Aku juga rindu padamu,"

Allyson mendekatkan mulutnya di telinga kanan Joe. "Aku sangat bangga padamu, karena telah datang kemari, untuk segala-galanya," Ia melepaskan pelukannya dan menatap Joe dari kepala sampai kaki."Tidakkah pamanmu terlihat segar, Matthew?"

"Tentu saja."

Allyson menatap Joe lekat-lekat. Kedua matanya. basah, merah dan lelah. "Kau kelihatan lelah. Kita lanjutkan pembicaraan ini besok saja ya. Kau menginap di sini, kan?'

MATTHEW membawa koper joe ke atas, mengucapkan selamar malam dan memeluk pamannya untuk pertama kali semasa usia dewasanya. Saat ia turun ke ruang makan, Allyson sudah bergabung dengan Samantha dan Malcolm di meja.

Samantha memainkan piringan hitam milik ayahnya, sebuah lagu berjudul Kind of BLue karya Miles Davis yang merupakan kesukaan Jack. Saat bait-bait lagu mengisi lantai pertama penginapan" Allyson memberikan sepucuk surat kepada Malcolm.

"Baca ini," katanya.

29 May 1957

LAurel

Aku harus pergi ke stasiun kereta hari ini untuk menjemput Scott keebler dari Richmond (ia bekerja di universitas Richmond,kau pernah bertemu dengannya tahun lalu).

Aku tidak bisa pergi ke sana tanpa teringat pada hari aku menghadiri sebuah reuni di chicago.

Aku melihatmu di atas peron.Aku melihatmu tersenyum dan melambai di samping matthew.Matthew juga melambai,tapi ia tidak tersenyum.Aku melihatnya memandangimu tepat saat peron itu berangsur-angsur sirna dari pandanganku.Aku tidak bisa mendengar apa yang ia katakan,tapi aku berpikir ia sedang bertanya padamu,kenapa aku pergi tanpa mengajaknya dan kapan aku akan kembali.

Padahal aku hanya pergi selama empat hari.Kenapa acara reuni itu sangat penting bagiku?Kenapa aku meninggalkanmu sendirian?kenapa aku begitu kukuh menghadiri acara yang akan mempertemukanku dengan segerombolan laki-laki yang menjadi teman bermain baseball dulu?padahal saat kami muda,perhatian kami tercurah pada permainan dan para gadis?

KENAPA AKU MENINGGALKANMU SENDIRIAN?

Aku hanya mengingat satu pelajaran dari sekolah minggu dulu mengenai pilihan.Apa aku pernah menceritakan kisah kereta kepadamu?

Sejujurnya,aku tidak suka sekolah minggu.Kursinya keras dan pantatku kurus.Ruangannya selalu panas,tetapi kami tidak diizinkan membuka jendela.Mereka bilang iblis dapat mendengar kami jika jendela dibuka.Kurasa mereka tidak mengizinkan kami untuk membuka jendela karena ada terlalu banyak polisi asap di luar.

Karena aku tidak suka sekolah minggu.Setidaknya pada saat itu kelas yang kuhadiri sarat akan orang tua yang menguliahiku tentang hal-hal yang bahkan belum kumengerti.Tapi pada suatu hari di hari minggu,guru kami yang bernama Robert snow,seorang guru yang gemar melucu dan sangat pintar mengajari kami tentang pilihan.

Setelah dipikir-pikir,Robert snow adalah satu-satunya alasan aku mengikuti sekolah minggu dulu.

Beliau menjelaskan kepada kami mengenai sebuah kereta yang melintasi benua amerika di utara ke barat yang melewati oklahoma city.Kereta itu seharusnya mengantar barang,aku lupa barang apa,ke san diego.NAmun,karena ada sebagaian kecil dari rel kereta yang luput dipindahkan,kereta itu justru berakhir di oregon.

Satu pilihan kecil, kata Robert snow, bisa membawa kita pada haluan yang sangat jauh dari keinginan kita.Aku tidak tahu kenapa aku mengingat cerita itu.Mungkin tidak ada kebenaran di sana.Kurasa aku hanya kangen pada Robert snow dan sekolah minggu juga.sedikit.

Hari ini aku berpikir tentang kehidupan kita dan hari dimana aku meninggalkanmu seorang diri.Apa sih yang begitu penting dari hari itu?aku pergi ke chicago untuk berjumpa dengan teman-teman sekolahku dulu dan sejumlah prajurit yang berhasil kembali dari perang dalam keadaan hidup.Kau tinggal di rumah bersama Matthew.Kau bekerja.Aku pergi ke sebuah acara reuni.

Satu hari.Satu pilihan.Sesuatu yang sangat kecil,tapi lihat lah bagaimana hari itu telah mengubah kehidupan kita.

Aku menyesal karena telah meninggalkanmu.Aku egois.Aku menyesal kau tinggal dirumah seorang diri.Aku menyesal aku tidak ada di sana bersamamu.Aku menyesali semua penderitaan yang kita lalui.

Setidaknya saat pilihanku membuat kita harus menderita,pilihanmu memmbawa berkah: Malcolm.

Kurasa jika nanti ada tamu yang perlu dijemput di stasiu kereta,aku akan mengirim orang lain.

Akumencintaimu Laurel.Sungguh

JAck

Perlahan-lahan, Malcolm melipat SUrat itu mengikuti bekas garis yang ada sebelum memasukkannya kembali-ke dalam amplop. Ia menatap wajah adik ibunya. Meski tubuh Allyson lebih pendek, bulat dengan kulit lebih putih dari Laurel, namun mata, hidung dan mulutrrya sangat mirip dengan milik mendiang kakaknya.

Allyson bangkit dari kursinya dan mengitari meja, Ia meremas pundak Samantha, lalu berhenti di belakang kursi kosong di samping Malcolm. Ia mengecup kepala Malcolm dan mengambll tempat di sisinya.

"Allyson?" kata Malcolm.

Kedua mata Allyson menjawab, Ya, Sayang?namun, bibirnya tidak berucap apa-apa.

Malcolm menarik napas panjang dan menghelanya keras¬keras. Ia menggeser kursinya sedikit menjauh dari meja. Ia men¬gosok matanya. Ia melipat tangan dan menggaruk otot tangannya di bawah lengan kaus yang ia kenakan.

Allyson menanyakan apa yang ada di benak ketiga kemenakannya, "Apa yang terjadi saat Jack ada di Chicago!"

Samantha mengangguk. Ia bangkit dari kursi dan pindah ke kursi lain di dekat Matthew. Keempatnya duduk berseberangan di meja itu. Matthew menggenggam tangan adik perempuannya.

Malcolm menatap Allyson, "Ya."

"KAlian harus tahu bahwa pembicaraan kita sekarang bukanlah sesuatu yang bisa direncanakan." Allyson merasa ragu. "Mungkin orang tua kalian punya rencana untuk menceritakan semua ini entah kapan,semasa hidup mereka. Setahuku, mereka sering membicarakannya, terurama,sejak ayah kalian jatuh sakit. Kuakui, aku selalu bertanya-tanya kapan mereka akan bercerita kepada kalian tentang apa yang terjadi. Seringkali aku membayangkan bagaimana reaksi kalian nanti, Tapi dalam pikiranku, aku tidak pernah membayangkan akan menjadi orang yang harus menceritakan kebenarannya kepada kalian. Aku selalu mengira bahwa orang tua kalian, yang akan duduk di sini dan berbicara kepada kalian." jemarinya, Allyson berrnain-main dengan setummuk surat, "Ternyata, hal ini lebih sulit dari bayanganku." Ia mengetulkan jemarinya ke sudut amplop, menebar amplop-amplop tersebut hingga membentuk lingkaran, lalu menumpuknya lagi seperti kartu remi. "Aku tidak pernah mempersiapkan diri untuk melakukan ini. Tapi hidup ini memang jarang mempersiapkan kita untuk banyak hal, ya Ayah dan ibumu tidak mencoba untuk

punya anak saat kau dikandung, Malcolm. Bahkan mereka sangat hati-hati merngenai hal tersebut. Mereka ingin menunggu setahun lagi sebelum punya anak kedua. Meski begitu,ayahmu tetap senang saat Laurel mengatakan padanya bahwa ia mengandung." Allyson mengangkat sudut bibirnya. "jack pikir kau adalah anak yang tidak disengaja." Ia menatap Samantha. "ibumu mencintaimu, Sammie, dan kau juga, Matt." Allyson kembali menatap Malcolm. "Kalian semua sungguh dicintai. Lebih dari segalanya, ayah kalian menginginkan agar kalian sukses. ia sangat bangga terhadap kalian semua ..."

"Ada satu alasan kenapa kalian mengabaikan kebenaran tentang hidup orang tua kalian. Kalian harus tahu itu, Terurama kau, Malcolm. Kau harus tahu bahwa semua ini tidak penting apabila dibandingkan dengan cinta Jack dan Laurel terhadapmu, karena mereka mencintaimu sama besarnya dengan cinta mereka terhadap Matt dan Sammie. Tidak, ada perbedaan pada cara mereka menyayangimu, tidak ada.."

"Ally." Malcolm meletakkan tangannya di lengan Allyson.

"Ayah kalian tidak perlu menghadiri acara reuni di Chicago. Bahkan, ia menolak untuk pergi. Tapi ibu kalian memaksa, karena ia pikir jack akan menyesalinya di kemudian hari apabila ia tidak pergi ke sana. Akhir pekan itu adalah, kali pertama Jack melihat teman-teman sekolahnya sejak masa SMA. itu adalah kali pertama ia mengetahui siapa yang masih hidup. Ia sedih sekali mendapati sekian banyak temannya meninggal di medan perang. Hal itu mengingatkannya pada satu kegagalan dalam hidupnya .... "

Allyson menatap Matthew. "Kau dititipkan pada seorang wanita malam itu. Kau ingat pada Nyonya Hatch?"

'Ya." Matthew tersenyum. "Ibu selalu bercerita ten tang Nyonya Hatch."

"Nyonya Hatch menjagamu dua hari dalam seminggu, atau muagkin tiga,aku tidak ingat. Ia tinggal di dekat Jalan Old Lynchburg dibagian utara kota Woodstock, dan selalu menjagamu saat ibumu bekerja di apotek rumah sakit. Nyonya Hatch memiliki seekor anjing kecil, kalau tidak salah anjing jenis terrier. Aku luPa nama anjing itu, tetapi aku ingat ia selalu menyalak pada sesiap orang yang ada di sekitarnya. Aku ragu apa kau bisa mengingat semua ini, tapi Nyonya Hatch sangat baik terhadap ibumu. Seorang sahabat, Nyonya Hatch dan Laurel terus berkomunikasi setelah Malcolm lahir dan ibumu berhenti bekerja, Nyonya Hatch adalah seorang wanita yang baik hati.

"Sore itu, pada hari yang sama kau dan ibumu mengantar Jack ke stasiun kereta, Laurel menitipkanmu pada keluarga Hatch dan berangkat kerja. Ia harus bekerja selama enam belas jam, dengan waktu istirahat tidak Iebih dari sejam. Ia melakukannya karena bayarannya cukup besar dan orang tuamu sedang berusaha untuk mengumpulkan uang untuk mendirikan penginapan ini,

"Terkadang Laurel menghabiskan waktu istirahatnya di rumah sakit, dan terkadang ia pulang kerumah untuk makan demi mengirit pengeluaran. Malam itu, ia pulaag dan makan spaghetti di rumah,sisa dari yang dibuatnya pagi itu untuk ayahmu, agar Jack tidak kelaparan selama perjalanan ke Chicago. Laurel tidak berlama-lama di rumah, ia masuk dan makan secepat mungkin. Kalian tahu sendiri, ibu kalian bukan orang yang bisa bertele-tele dalam hal apa pun." ,

Ruangan itu sunyi, tidak ada komentar beterbangan atau pun canda-tawa terselip keluar dari bibir anak-anak keluarga Cooper.

"Saat Laurel selesai menyantap makan malamnya," Allyson melanjutkan, "ia berbaring di atas sofa untuk memejamkan mata sebentar, Laurel dan Jack,tentunya kau juga, Matthew,tinggal dekat sekali dengan rumah sakir tempat Laurel bekerja, Paling hanya empat atau lima blok jauhnya dari rumah kalian. Tapi kalian juga tinggal tidak jauh dari rumah pengungsian yang didirikan pemerintah untuk para gdandangan. Hal ini selalu membuat Jack waswas, dan Laurel mengatakan bahwa jack terlalu berlebihan. Para gelandangan itu selalu berbaik hati pada Laurel dan sesekali Laurel membawakan mereka roti buatannya sendiri yang terkenal enaknya.

"Malam itu, Laurel tertidur di atas sofa ... di ruang utama apartemen kecil tersebut. Laurel menggunakan jaketnya sebagai selimut, Kalian tahu kan bahwa ibu kalian bukan seorang apoteker? Tentu kalian tahu. Tapi apa kalian tahu bahwa Laurel selalu memaksa agar semua orang, bahkan para asisten dan kasir mengenakan jaket putih panjang? Katanya agar mereka tampak bersih, murni."

Allyson memandang Malcolm dan menggelengkan kepalanya, pundaknya mulai bergoyang, "Beberapa menit setelah ia jatuh tertidur," napas Allyson memburu, "Tidak ada yang tahu betapa lama ia tertidur ... tapi, ia terbangun mendapati ada seorang laki¬laki di atasnya. Mata laki-laki itu merah dan tampak seolah sedang kerasukan. Laki-laki itu menindih Laurel, mengoyak pakaiannya, menyentuhnya." Allyson menatap Samantha, yang balas menatapnya dengan mulut ternganga dan mata basah oleh air mata. "Laki-laki itu memaksakan kehendaknya pada ibu kalian," kata Allyson lirih.

"tidak mungkin," bisik Malcolm.

"Ya. Ibu kalian diperkosa."

Diperkosa,pikir Malcolm. Ia membayangkan ibunya bergulat di apartemen kecil dan remang-remang.Pergulatan yang mengguncang seisi apartemen sebelum si pemerkosa mencapai kepuasan bengis.

Malcolm bangkit dari kursinya dan berlari ke kamar mandi, ia memuntahakan isi perutnya.

MAtthew mendekatkan dirinya kepada Samantha dan memeluk adik perempuannya. Samantha terisak dan tubuhnya gemetar seolah dia merasakan pendertitaan ibunya. Ia berusaha untuk mengeluarkan pertanyaan,atau mengatakan sesuatu, tapi kata-katanya tenggelam dalam luapan air mata dan kesedihan. Samantha tidak pernah menangis sesedih ini, dengan isakan yang mencengkram perutnya membuat kepalanya sakit, bahkan saat ia mendengar kabar kematian orang tuanya sekalipun.

Allyson juga menangis,namun diam-diam. Ia menangisi Malcolm.Beberapa menit kemudian, mereka mendengar suara kakus yang disiram,lalu pintu kamar mandi yang ditutup kembali.

"Biarkan aku yang bicara padanya," Matthew menawarkan diri.

"jangan," Allyson bangkit berrdiri "Biarkan aku yang melakukannya." Ia menlnggalkan ruangan itu dan menemukan Malcolm, sedang duduk di ayunan di pekarangan belakang penginapan.

"AKU tidak percaya," Matthew berkata pada adiknya. "Aku ... tidak percaya. Ibu diperkosa dan kita tidak pernah tahu. Aku tidak percaya." Ia beranjak ke dapur dan mengambil segelas air. Saat ia kembali, Samantha sudah membuka amplop-amplop surat lainnya."Sebaiknya kita menunggu."

"Menunggu apa?"

"Malcolm dan Allyson."

"lbu diperkosa. Siapa yang memperkosa beliau? Kenapa beliau diperkosa?apa kita harus percaya bahwa ibu mengandung anak haram? Apa kita harus percaya bahwa Malcolm adalah anak haram?'

"Lebih baik kita menunggu sampai mereka kembali untuk menemukan jawaban itu." Matthew kembali memasuki dapur, tapi kali ini ia mengisi dua gelas kecil dengan susu.

Samantha mengikuti langkah kakaknya, memandangi Matthew dari ambang pintu. "Bagaimana mungkin kau tidak pernah tahu?"

"Tentang kejadian itu?"

"ya."

"Aku masih kecil, Sam. Aku bahkan tidak ingat apartemen tempat kami tinggal saat itu. Aku bahkan tidak begitu ingat rupa Nyonya Hatch,"

"Tapi Ibu kan diperkosa. Diperkosa! Pasti ada penangkapan oleh polisi, deposisi, sidang di pengadilan. Kau tidak pernah menyimak semua itu? Rasanya..."

"Rasanya apa, Samantha? Kau pikir aku tahu semua ini dan sengaja menyembunyikannya? Bahkan Ayah tidak tahu sampai Malcolm berusia satu tahun, kan?"

Samantha bersandar pada tiang pintu. "Kenapa Ibu tidak mau menceritakan kejadiannya pada Ayah? Kenapa beliau harus memaksa melalui penderitaan itu sendirian? Bagaimana mungkin ada orang yang bisa menyembunyikan hal sebesar itu dari keluarganya?"

"Ayah juga pasti sedang kalut dengan masalahnya sendiri. Ibu mungkin berpikir bahwa beliau hanya berusaha untuk melindungi Ayah."

"Jadi beliau menanggung derita ini seorang diri?"

"Kurasa beliau meanggungnya bersama Allyson." "Kau benar,"

Dua puhuh menit kemudian, Malcolm dan Allyson masuk ke ruang makan lewat pintu dapur dan mengambil tempat duduk masing-masing di sekitar meja makan, Samantha sedang menelepon di dapur, Matthew sedang di kamar mandi, Malcolm menatap kosong saat Allyson mencari-cari surat untuk dibacanya sampai ia menemukan sepucuk surat tertanggal Maret 1959.

"Pas sekali," kata Allyson. Malcolm mengangguk. "Apa kita harus menunggu sampai yang lain kembali?" Malcolm mengangguk lagi.

Saat Samantha dan Matthew kembali berkumpul di meja makan, Allyson bertanya, "Bolehkah aku membacanya?"

Malcom mengangguk sekali lagi.

4 Maret 1959

Laurel sayang

Aku tidak tahu bagaimana harus menjelaskan ini padamu. Tapi aku minta maaf karena pergi dari rumah sore ini. Kapan sih aku akan belajar untuk mendengarkan nasihatmu?

Ruang pengadilan nyaris kosong saat aku tiba.Paling hanya ada tiga orang dari penjara,termasuk penjaga Bradenburg,penasihat kota dan panel pembela. Pengacara yang ditunjuk oleh pengadilan untuknya juga ada disan. Pengacara itu tersenyum padaku,senyumnya yang mungkin jika aku cukup peduli bisa membuatku berjabat tangan degannya. Tapi aku tidak melakukan itu.

Aku jadi saksi pertama.Aku tidak menyukai itu, tapi toh tidak ada bedanya.Aku menyampaikan kata demi kata semua yang kukatakan padamu selama tiga tahun terakhir.Bhawa tiga tahun bukan waktu yang cukup. Bagaimana kita tahu bahwa ia takkan menggangu kita lagi.BAhwa ia takkan mabuk lagi.Bahwa ia sudah berubah sejak ia masuk penjara?

Saksi lainnya menyampaikan niatnya untuk bertobat.tentang perjuangannyaa menjadi orang baik-baik,tetapi aku tidak ingin mempercayainya.Aku tidak ingin memaafkannya.

Aku ingin agar ia mabuk-mabukkan malam ini juga,agar ia bisa berbuat kesalahan, pergi dari negara bagian ini dan ditahan di tempat yang jauh dari kita atas perbuatannya yang melanggar hukum.Aku tidak ingin i amelukai orang lain,aku hanya ingin agar ia melukai dirinya sendiri.

Aku ingin agar ia msuk penjara selama mungkin,sehingga ia tidak punya kesemptan untuk melihat dunia luar sampai kau dan aku meninggal.

Pengacarnya bilang padaku bahwa ia berhak di beri kesempatan untuk berubah. Pengacara itu ngoceh panjang lebar tentang kunjungan-kunjungannya serta jurnal yang ditulis 'si tahanan' semasa dalam penjara. Kata si pengacara 'si tahanan' sudah mulai menghafal isi alkitab, bahwa 'si tahanan' berhak mendapat kesempatan untuk menemukan tuhan. Untuk menolon gorang lain , untuk menjadi manusia yang utuh lagi.

Seandainya saja aku tidak menjadi saksi pertama.

Aku tidak bisa berbicara padamu atau terhadap tuhan mengenai apa yang kulihat. Ia belum banyak berubah, tapi ia sedang dalam proses 'perubahan'.Saat penuntut menanyakan apakah menurutnya ia berhak mendapatkan kebebebasan,ia menjawab bahwa ia tahu, ia bukan manusia sempurna,bahwa ia takkan bisa menjad manusia sempurna dan bahwa ia yakin akan berbuat kesalahan seumur hidupnya.Ia juga mengatakan bahwa ia menerima dengan lapang dada apa pun keputusan pengadilan.Ia bahkan menangis saat ia mengatakan bahwa baik di dalam penjara maupun di dunia luar, ia akan menghabiskan seumur hidupnya membayar kesalahan yang dilakukannya saat mabuk-mabukkan.

kemudian,ia mengatakan hal lain yang membuatku terkejut.Katanya ia tidak akan lagi membuat kesalahan yang menyakiti orang lain.Perkataan itu sungguh luar biasa. Setidaknya,aku merasa ia tulus mengatakannya.

Laurel demi dirimu aku ingin membencinya.Entah kenapa kurasa jika membencinya maka itu adalah sesuatu yang lumrah dan bisa dimengerti.Aku ingin melihatnya menderita,tersungkur di atas tanah,menangis dan berteriak minta ampun.Aku tidak ingin seseorang menyelamatkannya.Aku ingin ia selamanya tersungkur di sana.

Namun, didalam ruang pengadilan itu, yang kulihat adalah sepasang mata yang tidak dipengaruhi alkohol dan benar-benar bersih.Saat pengadilan memutuskan untuk membebaskannya secara bersyarat, yang kurasakan adalah belas kasihan dan penyesalan, setidaknya ia mencoba untuk menjadi lebih baik.Kau juga mencoba.Sementara aku tidak.

Semoga tuhan memaafkanku

Jack

"Aku malu sekali, Malcolm. Aku memohon kepada ibumu agar menggugurkan kandungannya. Menggngurkanmu." Allyson memutar kursinya menghadap Malcolm dan meletakkan kedua tangannya di atas lutut Malcolm. "Aku mengatakan pada Laurel bahwa mengandungmu adalah satu kesalahan dan bahwa semua orang akan mengerti apabila ia menggugurkanmu."

"Ally-"

"Tldak, Sam. Ia butuh mendengar semua ini.' Allyson menatap ke dalam mata Malcolm yang tampak lelah. "Tidak ada seorang pun yang akan menghakimi ibumu apabila dia menggugurkan kandungannya. Kehamilan itu bukanlah pilihannya dan kebanyakan pastur akan mendukungnya apabila ia ingin menggugurkan kandungannya."

"Bagaimana dengan Ayah?" tanya Matthew "Bagaimana mungkin lbu bisa mengelabui Ayah? Bukankah Ibu mengkhianati Ayab karena tidak mengatakan yang sebenarnya?"

Malcolm memperhatikan wajah Matthew saat kakaknya itu angkat suara.

"IbumU ketakutan; Ia pikir kebenaran itu akan menghantui ayah kalian dengan amarah dan rasa bersalah yang takkan ada habisnya," kata Allyson.

"Tapi bukankah pada akhirnya Ayah juga merasakan semua itu?" tanya Matthew. "Baca saja surat-suratnya,beliau merasa begitu berat hati, begitu tidak bernyawa,"

"Memang, tapi ibu kalian tetap kukuh pada keputusannya untuk melahirkan bayi itu. Ia tidak pernah benar-benar serius ingin menggugurkan kandungannya." Allyson menatap Malcolm. "Ia percaya bahwa kau adalah hadiah dari Tuhan," kata Allyson. "Bahwa Tuhan telah mengirimu ke bumi, Malcolm. Kau adalah sebuah kehidupan baru. Kau dalah nyawa yang sudah bernaung di dalam perut ibumu. Laurel takkan mengakhiri semua itu. Dia takkan meng.."

" ... pokoknya takkan mau mengakhiri kehamilannya. Tak percaya bahwa pilihan itu tidak ada di tangannya. Sekali benih itu tertanam, kau sudah menjadi seorang manusia, Titik."

Di seberang ruangan,Samantha menatap bayangannya sendiri di kaca lemari pajangan. Ia membayangkan ayahnya yang sedang memarahi mantan suaminya, Will, di dalam ruang tamu apartemenya dulu. Ia bisa mendengar suara ayahnya menggelegar saat membahas perselingkuhan Will. Salah Satu dari perselingkuhan itu pada akhirnya mengakhiri pernikahan mereka.

Samantha bangkit dari duduknya. "Kalian tahu tidak? Jika Ayah tahu apa yang terjadi, beliau mungkin akan membunuh laki-laki itu" la memutari meja makan dan berdiri di belakang Malcolm. Ia meletakkan kedua tangannya di atas pundak Malcolm dan dengan lembut mengelus leher kakaknya. "ayah pasti akan membunuh laki-laki itu. Lalu, beliau akan masuk penjara karenanya. Dan Ibu...Ibu bisa kehilangan bayinya.. Beliau bisa kehilangan dirimu.!

"Kau benar, Sam." Allyson terus memandangi Malcolm.

"Laurel tahu sifat ayahmu. Kalian semua tahu sifat Jack. ia selalu melindungi keluarganya bahkan terhadapku juga begitu. Jika laurel ingin mempertahankan kandungannya, maka ia harus memaafkan laki-laki yang merenggut kehormatannya. Dan jika ibu kalian sanggup, maka ayah kalian juga sanggup. Saat Laurel mengatakan yang sebenarnya pada Jack, Malcolm sudah menjadi bagian keluarga Cooper. Percayalah padaku,terutama kau Malcolm-ibu kalian berusaha berkali-kali uutuk menceritakan yang sebenarnya pada Jack sebelum itu. Ia bergulat dengan batinnya sendiri. Ia ingin jujur pada ayah kalian sebelum akhirnya ia bercerita pada Jack malam itu. Laurel selalu berdiskusi denganku tentang hal ini. Dan memang, ia menceritakan semuanya di hari kau mulai berjalan, MalcoLm-seperti yang ditulisnya dalam . surat. Sebelumnya, Laurel menuggu sebuah tanda, atau sinyal dari Tuhan, untuk waktu yang tepat. Langkah pertamamu adalah tanda yang telah ia tunggu-tunggu untuk menumpahkan semua yang memberatkan dadanya. Sama seperti dirimu sekarang, ia juga menjajaki sesuatu yang tidak ia ketahui bagaimana akhirnya." Allyson memandang Malcolm lekat-lekat, "Sudah waktunya Jack tahu kebenaran itu,"

"Jack Cooper adalah ayahmu," kata Samantha, melingkarkan lengannya disekeliling leher Malcolm. "Sama seperti beliau adalah ayahku dan Matt. Beliau bekerja seumur hidupnya untukmu; beliau juga berkorban untukmu. Beliau ada dalam aliran darahmu."

"Malcolm?" Allyson menggenggam kedua tangan keponakanya."Kau baik-baik saja?"

Malcolm, tidak sekalipun melepaskan tatapannya dari Matthw. Dalam pikirannya, ia kembali ke masa Ialu kerika Jack dan MattheW sering pergi kemping dan berjalan-jalan berdua ke Charlottesville, dan betapa Jack memuja Matthew.

"Mal,.kau baik-baik saja?" tanya Matthew.

"Kau tahu,"

"Tentang hal ini?" Matthew tidak memercayai tuduhan adik laki-lakinya.

"Tentang semuanya."

"Malcolm, kau salah sangka. Aku tidak.."

"Kau tahu!"Malcolm segera bangkit, menendang kursinya hingga jatuh dan mendorong Samantha serta Allyson agar menjauh darinya.ia mengitari meja makan untuk menghampiri kakaknya, "Bangun pembohong!"

"Malcolm tenang dulu.."

"Kau tahu alku tidak sama dengan kalian!" Malcolm menarik kerah kemeja yang dikenakan Matthew dan mengguncangnya. "Kau tahu Ibu diperkosa!Kau tahu aku berbeda dengan kalian!"

Allyson dan Samantha buru-buru menghampiri Malcolm. "Tidak, Sayang," kata Allyson. "Matthew tidak tahu apa-apa. Aku tahu. Ibumu tahu. Polisi tahu. Hanya itu."

"Tidak" Malcolm mendorong Matthew sekeras mungkin melepas cengkeraman tangannya pada kemeja Matthew dan membuar kakaknya terjatuh ke lantai. "Kau adalah yang tetua dari kita bertiga. Kau dan Ayah selalu melakukan semuanya bersama, kalian berolahraga bersama dan beliau selalu mengajakmu pergi jalan-jalan karena kau tahu kebenarannya!"

"Aku.."

"Kausengaja menyembunyikan ini darikU karna kau. merasa spesial!" teriakan Malcolm menggema ke seisi penginapan.

"Malcolm-"

Malcolm melarikan lengannya ke atas meja dalam gerakan setengah lingkaran, melempar tumpukan surat ke udara hingga berserakan ke mana-mana.

"Tolonglah, Malcolm." Matthew bangkit berdiri dan meregangkan kedua lengannya lebar-lebar, "Aku tahu saat kautahu, kau harus percaya itu."

Malcolm memukul kedua pergelangan tangan Matthew dengan kepalan tangannya. Nyaris semenit berlalu sebelum Malcolm menarik napas dan menatap kakaknya dengan pandangan penuh amarah."Kau berbohong."

"Tidak."

"Kau berbohong padaku."

Malcolm membalikkan tubuhnya, pergi meninggalkan ruagan ketika dilihatnya Joe sedang berdiri di ambang pintu.

"Kalian semua berbohong," katanya, beranjak meninggalkan ruangan dan melewati Joe begitcu saja.

Beberapa saat kemudian, mereka mendengar deru truk Chevy milik Jack. Roda kendaraan mulai menggelinding menuju Rute 11 dan derunya hilang ditelan malam.

Samantha dan Allyson saling berpelukan. Samantha mengusap air matanya di atas bahu Allyson.

Joe terdiam sesaat, lalu diam-diam pergi meninggalkan ruang makan dan kembali ke kamarnya,

Matthew, dengan tangan gemetar, berlutut dan memunguti surat-surat yang berserakan di bawah meja dan kursi.

Malcolm berkendara melewati Bar Woody's di Jalan Main. Ia melewati museum teater, bank, tugu ,Ben Franklin dan tugu-tugu Lain di Kota woodstock yang sehari sebelumnya menyambut kedatangannya.

Di perempatan terakhir yang berada di dalam batas kota Woodstock, ia berputar dan berkendara ke arah Selatan, Ia berhenti sebentar di depan rumah Rain. Tirai jendela rumah itu tergerai, dan ia membayangkan Rain yang terlelap, sendirian, damai, tanpa ada rasa takut menggerogotinya. Ia membayangkan Rain tertidur di atas sofa, dengan buku tertelungkup di atas dadanya, Lalu, Malcolm membayangkan ibunya.Tiba-tiba,ia memikirkan

kemungkinan untuk berpamitan pada Rain.

Dua puluh lima menit kemudian, Malcolm berkendara menjauh dari kediaman Rain. Dari cermin mobilnya, ia menatap jendela rumah Rain. Jendela-jendela itu masih gelap.

Malcolm berhenti di sebuah pom bensin disudut antara Rute 31 dan jalan Reservoir. Ia memenuhi tangki bensin mobil dan berkendara kembali melalui tengah kota menuju Menara Woodstock.Ia menepi di jalanan berbatu,lalu mengambil senter Maglite dari laci dasbor dan sehelai selimut berbahan wol dari sebuah kotak kayu yang dijejalkan ke belakang kursi penumpang.

Malcolm menapaki jalan kecil menuju menara,suara kakinya yang bergesekan dengan tanah basah mengisi rongga telinganya.Ia memanjat tangga menara dan duduk dalam kegelapan.Ia mencabik-cabik lapisan cat kering di pinggir jeruji,membuang serpihannya ke udara dan mengarahkan sinar senter pada jatuhnya serpihan yang terlihat bak salju.Sesaat kemudian ia berbaring di atas punggungnya dan memandangi langit kelam yang penuh bintang hingga air matanya membuat cahaya-cahaya kecil itu terbias jadi satu.

Serangkaian acara ulang tahun terlintas di kepalanya,tahun demi tahun sampai yang diingatnya hanyalah pengalamannya makan kue di atas meja piknik anak-anak yang terbuat dari plastik di halaman belakang rumahnya,sementara Matthew berlarian bersama anak-anak tetangga.

Jack mengawasi mereka dari beranda.

Ibunya berdansa.

"Malcolm?bangun,Malcolm."

Seseorang mengguncang pundaknya.

"Rain?"

"Hai,duduklah."Malcolm menuruti permintaan Rain dan wanita itu duduk disisinya,bergeser mendekat hingga kaki mereka bersentuhan.Rain menarik selimut yang dibawa Malcolm untuk menutupi tubuh mereka berdua.

"Bagaimana kau tahu aku ada disini?"

"Samantha."

"Bagaimana dia tahu aku ada disini?"

"Dia adikmu."

Malcolm Mengganguk."Dia meneleponmu?"

"Dia menunggu, kurasa mereka semua menunggu,sampai kau kembali.Saat kau tidak kembali,dia meneleponku.Menurutnya hanya aku yang bisa menemuimu sekarang."

Malcolm mengambil senter yang tergeletak disampingnya dan menyaksikan serpihan cat kering berjatuhan di atanh."Kenapa kau ada di sini?"tanya Malcolm.

"apa itu sebuah pertanyaan?"

Malcolm mengganguk.

"aku datang untuk menyelamatkanmu."

"Dari apa?"

"Dari dirimu sendiri."

"Kenapa begitu?"

"Kau adalah pria yang emosional."Rain menyikutnya."aku tidak ingin kau melakukan sesuatu yang gila."

"Seperti apa?bunuh diri dari atas menara pengawas?dengan ketinggian macam ini,aku beruntung jika bisa mematahkan kaki."

Rain terseayum. "Bukan, aku tidak pernah membayangkan mu sebagai orang yang suka terjun untuk bunuh diri.Aku selalu membayangkan kau akan mati dengan cara lain."Ia menatap Malcolm dan tertegun sesaat."Mungkin di atas perahu yang kebakaran."

"Perahu kebakaran?"

Rain tertawa. "Hanya itu yang terpikir olehku sekarang,"

Malcolm bersungut penuh canda. Lalu, ia meniup setumpuk serpihan cat kering yang teronggok di atas, telapak tangannya.

"Kata Samantha ada sesuatu yang ingin kau sampaikan padaku."

Malcolm mengelupas cat kering di pinggiran jeruji Tanpa memandang Wajah Rain. "Dia tidak mengatakannya padamu."

"apa itu sebuah pertanyaan?"

"Dia tidak mengatakannya padamu?"

"tidak."

Malcolm menceritakan semuanya dengan nada tenang yang menandakan bahwa akhir cerita itu sendiri tidak penting baginya, Ia mengulang perkataan Allyson sebagaimana diceritakan kepadanya.tetapi saat Rain berusaha untuk membayangkan kejadian yang sedang dibicarakan Malcolm, yang didapatnya justru hanya campuran kalimat yang dinodai oleh kepedihan.

"Kupikir Ibu selingkuh, .. Jack tidak pernah meninggalkannya ... .Surat-surat ... Sofa...Ibu diperkosa ... Ayah tetap mendampinginya ... Rasa bersalah .... Aku tidak ingin tahu siapa yang ...

Aku membentak Matthew...Ibu sendirian.... Ibu menderita sendirian... Ayah tetap tinggal... Memaafkan ... Ibu adalah seorang pemberani ... Keputusan ... Korban .... "

Rain mermeluk Malcolm. Ia menangis di atas dada Malcolm, meninggalkan noda air mata berbentuk lingkaran abu-abu di atas selimut, "Aku turut menyesal," bisik Rain. "Aku sangat menyesal."

WAKTU berlalu dan matahari mulai terbit di atas Lembah.

"Apa kau ingat Hari Bolos Bersama?" tanya Rain tiba-tiba.

"Tentu saja,seharusnya kan aku tidak.ikut."

"Tapi aku berhasil membujukmu."

"Ya, kau berhasil." Rain tersenyum mendengar respon Malcolm.

"Berapa anak yang ikut bolos hari itu? Selusin? Kita bersama¬sama mendaki Bebatuan Humpback untuk melihat matahari terbit."

"Kau menggendong Marge Graves saat kita menuruni jalan setapak karena pergelangan kakinya bengkak, kauingat itu? Berapa jauh kau menggendongnya,tiga kilometer?"

"Tidak sejauh itu,"

"Setidaknya sejauh itu."

"Mungkin.'

"Kau tahu apa yang lucu dari kejadian tersebut? Marge bilang padaku bahwa ia tadinya berpikir bahwa selama setahun penuh aku membencinya."

"Kenapa?"

"Karena kau menggendongnya, merawatnya."

"Ah, itu pemikiran bodoh,"

"Marge adalab anak manis, pintar lagi. Tapi aku tidak berbicara padanya setelah itu .... " Rain meniup kedua tangannya. Ia menerawang kedalam bayang-bayang pepohonan dalam hutan lebat di hadapan mereka. "Kau harus tahu," ujarnya pelan. Ia tidak perlu melihat Malcolm menggeleng. "Ya, kau harus tahu. Mungkin laki-laki itu tinggal di kota ini.Mungkin laki-laki itu mengenal 0rang tuamu,"

"Kenapa ia harus tinggal di kota ini?Tidak. Dia hanya seorang pemabuk, seorang gelandangan. Mungkin sekarang ia sudah mati. terlantar, Mudah-mudahan saja."

Rain menggosok kedua tangannya untuk mengusir dingin. "Kenapa udara selalu menjadi lebih dingin saat matahari terbit?"

Malcolm tidak menjawab.

"Mungkin Nathan bisa membantumu,Atau adikmu. Sam mungkin bisa melacaknya dari catatan polisi yang ada. Cari tahu apa yang terJadi pada laki-laki itu."

"Tidak."

mereka terdiam lagi, diselimuti oleh cahaya mentari pagi yang menembus kumpulan kabut di bawah mereka dan memandikan pepohonan hingga terlihat begitu indah.

"Kau Ingat kencan pertama kita?" tanya Rain, meski ia tahu jawaban malcolm'.

"Tentu."

"Nonton di bioskop, lalu piknik di atas menara. Pahlawanku."

Seperti film, adegan Itu terulang di kepalanya.

"Kau membawa sebuah lentera kemari, yang menurutku amat berbahaya Kauingat?"

Malcolm mengangguk'

"Kau Juga membawa selimut,"

Malcolm tersenyum.

"Kau begitu baik terhadapku."

Malcolm menatap Rain dalam-dalam untuk pertama kalinya malam itu. Ia mencondongkan wajahnya lebih dekat kepada Rain.

Rain buru-buru melepaskan selimut yang menyelubunginya dan bangkit berdiri, meregangkan kedua lengannya untuk menyambut udara pagi yang segar. Tubuhnya gemetar."Sebaiknya kita pergi dari sini," Dengan hati-hati, Rain mulai menuruni tangga menara.

Malcolm melipat selimut yang dibawanya, menyimpan senternya ke dalam saku, dan mengikuti langkah Rain menuruni menara. Mereka menelusuri jalan setapak kembali ke mobil masing-masing.

"Setidaknya pikirkanlah," kata Rain sembari membuka pintu mobilnya sendiri.

"Apa?'

"Mungkin laki-laki itu sudah berubah, seperti yang dikatakan ayahmu." Rain menundukkan kepalanya sedikit. "Semua . orang bisa berubah.mal."

"Tidak semua orang."

Rain duduk di balik kemudi dan memasukkan kunci mobil ke dalam mesin. "Apa aku akan melihatmu di misa gereja pagi ini?" ia bertanya seraya tersenyum.

"Sepertinya aku tidak akan datang," jawab Malcolm, melempar selimut ke belakang truk.

"Aku mengerti," kata Rain mengalah. "Tapi kau akan datang ke acara pemakaman malam ini.'

"Itu suatu pertanyaan?"

"Tidak juga." Rain melangkah keluar dari mobil dan memeluk Malcolm. "Kau akan baik-baik saja, Mal."

Malcolm menarik napas panjang. "Kau pikir begitu?" Harum tubuhnya membuat Malcolm luluh, bahkan setelah mereka menghabiskan waktu semalaman di atas menara.

"Aku yakin,"

"Mungkjn, tapi tanpamu semuanya jadi terasa lebih sulit,"

"Kau masih memiliki aku."

"Tidak, Nathan yang memilikimu."

Rain menjatuhkan lengannya dari tubuh Malcolm. "Aku sudah berjanJi Malcolm. Aku sudah berjanji padanya,"

"AKU tahu." MalClm membuka pintu truknya dan duduk di balik kemud;i. "Aku tahu."

"Tapi, suka atau tidak," Rain mengedipkan matanya, "kau masih memilikiku dalam segala hal yang paling kau butuhkan,"

"'Aku tahu." Malcolm menutup pintu truknya. ia melempar sebuah senyuman palsu, melambaikan tangannya, dan memutar kunci mobilnya. Ia mengagumi dan membeoci kode etik Rain.

Edit teks bu nora

http://ebukita.wordpress.com 30

Minggu Pagi

Samantha dan Matthew sedang menyantap sarapan ketika Malcolm tiba kembali di Domus Jefferson.

"Selamat datang," sapa Samantha begitu kakaknya melangkah masuk ke dalam penginapan.

"Terima kasih."

"Sudah merasa baikan?" tanya Matthew

"Sedikit."

"Kau lapar?"

"Keroncongan. Rasanya seperti aku sudah berhari-hari tidak makan."

"Memang kau belum makan selama dua hari," kata adiknya, menggiring Malcolm pada sebuah kursi, Samantha meletakkan piring di hadapan Malcolm dan menuangkan jus jeruk ke dalam gelas kosong. "Kurasa kau tidak ingin mengikuti misa pagi ini."

"Tidak, aku benar-benar.."

"Jangan khawatir. Kami juga berpikir kau takkan ingin datang, Kami akan bilang; pada orang-orang bahwa kau butuh istirahat,mungkin karena mabuk pesawat atau hal lain yang masuk akal."

"Sebenarnya, kauperlu tidur," tambah Matthew. "Aku sendiri ingin tidur siang nanti sebelum acara pemakaman. Mungkin dua jam saja."

Samantha meletakkan telur orak-arik ke atas irisan daging ham ala virginia di piring makan Malcolm.

"HeY,soal semalam ... aku minta maaf Aku tidak tahu harus bilang apa lagi."

"Permintaan maaf saja sudah lebih dari cukup,"

Samantha membungkuk dan mengecup pipi Malcolm. "Tidak usah dipikirkan. Kau melakukan apa yang pasti akan kami lakukan jika kami ada di posisimu, jika siapa pun ada di posisimu."

Malcolm menatap ragu ke seberang meja, ke dalam mata kakaknya.

'Matthew tersenyum. "Dengarkan adikmu," katanya sembari bangkit dari kursi dan mendorong kursinya kembali ke dekat meja makan. "Jangan khawatir."

"Semalam aku.."

"Kau harus mengeluarkan uneg-unegmu, meledak, meringankan bebanmu. Kami tahu itu akan terjadi kok, Lepaskanlah semuanya" Matthew menarik jaket dari belakang kursi. "Aku akan menggosok gigi dulu. Lima menit lagi sudah siap, ya Sam?"

"Lima menit," matthew berlari kecil menaiki tangga sementara Samantha mengambil botol kecil berisi pil dari dalam kabinet dapur."Nih!" Ia meletakkan dua butir pil di samping piring makan Malcolm. "Minumlah pil-pil ini Jika kau sudah selesai makan."

"Ini obat apa?"

"Obat tidur,"

"Milik lbu?"

"Milik Ayah.beliau membutuhkannya sesekali.Terutama

menjelang kematiannya."

"Terima kasih."

Samantha mencium pipi Malcolm sekali lagi dan meletakkan botol pil itu ke dalam tasnya. "Tidurlah, Ally sudah pergi ke gereja bersama A&P. Joe juga menelepon Pastur Braithwaite untuk minta tumpangan ke Gunung Jackson. Tempat ini sepi. Tidurlah selamna kau mau dan kita akan berbincang lagi nanti sore sebelum pemakaman."

"Terima kasih, Sam,"

"Kau janji akan tidur?"

"janji."

"Dan Mal ... jangan membaca surat-surat Tidurlah."

"Mana aku punya tenaga untuk membaca surat?" Malcolm melemparkan senyum simpul dan menuang beberapa tetes saus tabasco di atas telur orak-ariknya.

Beberapa menit kemudian, Matthew dan Samantha meneriakkan kata-kata pamit dari pintu depan penginapan sebelum berkendara pergi untuk menghadiri misa gereja dan acara makan siang.

TIGA menit setelah itu,sebuah mobil menepi di pelataran parkir penginapan. Malcolm mendengar suara langkah kaki menapak di atas bebatuan sebelum tiba dipintu samping penginapan. Langkah kaki yang sama menaiki empat anak tangga menuju pintu dapur.

"Masuklah." kata Malcolm menyambut tiga ketukan pada pintu. Pintu tersebut terbuka.

"Hai, Malcolm."

"Nathan."

"Kau tidak datang ke gereja," kata Nathan. "Sepertinya kau juga sama." sahut Malcolm.

Nathan tidak mengindahkan perkataan Malcolm dan segera menjatuhkan sebentuk tas kecil ke atas meja tidak jauh dari piring makan Malcolm, sebelum ia mengambil tempat di meja yang sama,"Kau akan membuat perutmu busuk mengonsumsi ini," kritik Nathan, membaca label di belakang botol tabasco.

"Kalau itu yang akan membunuhku, aku pasti dalam keadaan sehat walafiat sekarang." Malcolm merampas botol itu dari tangan Nathan dan menuangkan porsi yang lebih besar ke atas sisa makanannya,

"Kudengar, kau sempat melihat-lihat tempat bersejarah di sekitar sini untuk mengenang masa lalu."Nathan menuang segelas Jus untuk dirinya sendiri.

"Apa maksudmu?"

"Menara WoOdstock."

Malcolm mengunyah sepotong daging ham.

"Itu tidak ada da1am perjanjian kita saat aku memberikanmu kebebasan untuk bepergiaa di dalam kota."

"Menara itu kan tidak jauh dari sini,"

"Tetap saja, kau tidak berlaku sesuai dengan perjanjian kita.Perjanjiannya adalah kau harus selalu berada di dekat Sam dan Matt. Berdiam diri di penginapan kecuali ada acara keluarga yang mendesak."

"Termasuk menjauhi pacarmu, kau lupa bagian itu." "Tunangan. Dan aku tidak Iupa, aku baru saja hendak mengingatkanmu akan hal tersebut."

"Tunangan? Kudengar status kalian berubah terus. Dan sekarang kalian belum resmi bertunangan lagi."

"Itu informasi yang salah, Malcolm Ceoper,buronan, pelarian, kriminal,Bagaimanapun, itu bukan urusanmu."

"Tentu saja itu urusanku, karena malam itu kau telah berbohong padaku,"

"Apa iya?" Nathan memutar borol garam di atas meja.

"Kau tidak bertunangan dengan Rain, karena Rain belum mengiyakan lamaranmu."

Nathan memutar botol garam itu lagi, "Kau tahu, aku mencintainya."

"Ya, kau benar-benar menunjukkan cintamu."Malcolm memutar matanya.

"Kau dan aku tidak jauh berbeda Malcolm, Kita berdua adalah laki-lakl kuat, suka bersaing, dan sangat berbakat dalam hal mengecewakan orang tua kita, Hidup kita berbeda, rencana kira berbeda tapi karakter kita sama,apa kau setuju?" Ia memutar botol garam dengan kasar. "Aku tidak memaksamu memukuli laki-laki itu sampai berlumuran darah, dan aku tidak memaksamu untuk meninjuku.'

"Dua kali."

"Benar," geram Nathan. "Aku juga tidak memaksamu untuk mengambil tiket pesawat itu."

Malcolm melumuri sisa daging hamnya dengan tabasco sampai botol itu kosong, lalu melempar betolnya ke dalam tong sampah di seberang ruangan.

"Aku tidak ada alasan untuk tinggal di kota ini," "Benar Bahkan sekarang pUn halnya sama."

Malcolm mengunyah sepotOng daging ham lagi. "Sedang apa kau disini?"

"Uonrk rnembuat perjanjian."

"Aku tidak tertarik, Bukankah seharusnya kita berbicara hari Senin? Aku ingin Matt dan Sammie di sampingku. itu perjanjian kita."

"Baik sekali kaU mengingat mereka.tapi kita tidak butuh kehadiran mereka untuk melakukan ini." Nathan menggeser tas berbahan kain nilon lebih dekat ke samping Malcolm.

Malcolm memandang tas itu.

"Silakan Lihat saja apa isinya."

"Aku sudah bisa membayangkan isinya."

"Aku hanya mendapatkan dua tahun kedamaian dari tiket pesawat yang kau ambil."

"Kalau kau punya keluhan laporkan saja pada orang tuaku."

"Aku tidak mengeluh. Percaya atau tidak, aku suka kedua orang tuamu. Mereka orang baik-baik." Nathan. mengulurkan tangannya dan membuka ritsleting tas, Ia mengeluarkan tumpukan uang dua puluh dolaran ke atas meja, "Berapa lama yang akan kauberikan padaku untuk dua puluh lima ribu dolar?"

"Dua puluh lima ribu dolar?"

"Dua puluh lima ribu dolar,"

"Kaurela membayarku sebesar ini hanya untuk pergi dari kehidupanmu?" Nathan pernah membuat Malcolm terkejut sebelumnya, tapi jumlah uang yang dikeluarkan Nathan saat ini membuat kepalanya mabuk.

Nathan tersenyum bangga sambil mengacak tumpukan uang dihadapannya.

"Apa yang kauingin aku lakukan? Aku pergi ke Brazil atau ke mana pun aku mau, dan berjanji takkan mengganggu kehidupanmu?"

"Setidaknya se1ama lima tahun. Pada saat itu, aku dan Rain pasti sudah memiliki satu atau dua anak dan mungkin aku sudah berada di Richmond bekerja sebagai Senator Negara Bagian, atau setidaknya seorang delegasi. Setelah itu, terserah apa yang ingin kau lakukan. Aku takkan mengkhawatirkan dirimu lagi."

Malcolm membayangkan dirinya kembali ke tengah hutan Amazon, membawa berkardus-kardus buku untuk anak-anak di sana, bahkan obat-obatan dan penyaring air. Ia membayangkan sampul buku yang belum selesai ditulisnya. l

"Jadi aku boleh menyimpan uang ini, kabur, dan hidup tanpa berada di bawah pengawasanmu." Ia memiringkan kepalanya. "Atau aku bisa menceritakan persekongkolan kita selama ini serta penyuapan yang terjadi kepada atasanmu, adikku, penata rambut ibuku dan biarkan Rain memutuskan siapa yang lebih dulu keluar dari penjara di antara kita berdua.'

"Itu takkan terjadi."

"Kenapa?"

"Karena kau tidak akan sanggup membuatnya menderita seperti itu."

"Akan kupikirkan lagi," kata Malcolm, meski Ia tahu Nathan benar.

"Berpikirlah secepat mungkin, pemakaman akan diadakan malam ini,"

"Aku tahu kapan pemakaman akan dilangsungkan."

Nathan mulai mengepak lembaran uang kontan yang meumpuk di atas meja kembaii ke dalam tas.

"Tinggal kan saja."

"Tinggalkan saja?"

"Mungkin dengan adanya uang ini di atas meja, aku bisa mengambil keputusan lebih cepat,"Malcolm beralasan.

"Baiklah. Tapi jika kau tidak mengendarai mobil sewaan itu kembali ke bandara begitu acara pemakaman selesai, aku akan melemparmu ke dalam penjara selama sebulan sambil memikirkan tuduhan apa saja yang bisa kujatuhkau kepadamu." Nathan tersenyum dingin. "Melanggar masa percobaan. Melaaggar masa jaminan. Biaya kerusakan yang belum terbayar; Tuntutan penganiayaan yang belum terproses." Dengan setiap tuntutan, Nathan mennggeser setumpuk uang kontan lebih dekat kepada Malcolm.

"Selamat tinggal" Nathan," kata Malcolm, mengulurkan tangannya.

Nathan menjabat tangan Malcolm. "Selamar Hari Sabar."

MAlCOLM menelan dua butir pil tidur yang ditinggalkan Samantha dan memasukkan piring kotornya kedalam mesin pencuci piring. Ia melangkah melalui ruang makan dan melihat bahwa surat-surat Orang tuanya sudah disusun kembali dalam tumpukan rapi. Tulisan tangan Samantha tertera di atas lembaran

post-it yang tercantum di atas setiap tumpukkan surat untuk menandakan urutan tahun.Proyek itu terlihat sudah hampir selesai. Lembaran surat dan amplop yang belum ditentukan alokasi tumpukkannya tergeletak di lantai, bersandar pada tembok,

Malcolm bertanya-tanya apakah ada salah satu surat yang menyimpan nama orang yang menyerang ibunya. Tanpa memperhatikan catatan bulan atau tahun, ia mengambil sejumlah amplop dan naik ke lantai atas. Ia memandangi kamar ridur orang tuanya beberapa saat sebelum masuk ke kamarnya sendiri, berbaring di atas ranjang.

Ia lanjut membaca sampai pil-pil tidur yang ditenggaknya mulai bekerja.

21 oktober 1987

Laurel

Beberapa hari yang lalu aku mendengar sebuah lagu di radio yang mengingatkanku padamu.Sebenarnya lagu itu mengingatkanku pada kita dan arti kehidupan kita berdua.

Aku behitu menyukai lagu tersebut sampai membujuk rain agar menuliskan liriknya untukku (Sebagai gantinya aku berjanji bahwa ia bisa mengambil satu hari libur ekstra bulan depan)

Lagu ini bergaya campuran antara musik rakyat dan musik country.tapi nadanya benar-benar pelan dan enak didengar.PEnyanyinya adalah seorang pemdua bernama Jason Steadman.Kalau tidak salah dia juga yang menggubah lagu ini.

Nothing exciting

================

Oleh Jason Steadman

We wrote it down on a paper

a map to the treasure

hit down by the shore

we crossed our step as we wandered

we kicked in the water

you incited a war

i wote yor name in the sand

'crooked heart dotted i'

i wrote my name in your hand while staring up at the sky

we gathered shells under seaweed til quater past nine

we built a fire with driftwood

drank tonics with limes

nothing exciting,except that i was with you

we took a stroll on the boardwalk

ate raspberry snow cones

i chocked on the ice

i threw baseballs at milk jugs

i couldn't

quite hit them

we left with no prize

i didn't notice that mustard was aweared on my chin

you tried to swallow you laughter

couldn't hold it qute in

You held my arm on the coaster

wouldn't open your eyes

we headed home with the top down clouds rolling by

nothing exciting,except that i was with you

i'd seen old yeller before

but this time cried when he died

i never took time before

to watch cloud in the sky

i didn't realize that mothers

gave helpful advice

i hadn't notice some people

are hurting inside

my life is turning my world is changing with you

i bought a yellow tobaggan

you lost your wool wittens

i started curse

i sang a verse 'white christmas'

but forgot

the chorus

you wade up some word

you double-dipped in my chocolate

when i looked away

you look so cute when you're guilty

i didn't know what to say

i nearly making angels

but thawed by the fire

we ent to bed at eight-thirty

though we wern't that tired

nothing exciting,except that i was with you

i'd seen old yeller before

but this time cried when he died

i never took time before

to watch cloud in the sky

i didn't realize that mothers

gave helpful advice

i hadn't notice that lately

there are stars in my eyes

life is exciting each moment i spend with you.

10 Juli 1968

Laurel

Aku tidak akan menjabarkan bagaimana rupa tempat ini.KAu harus mengaguminya dengan mata kepalamu sendiri. Tempat ini layaknya surga.

Aku meniginap di salah satukamar tamu penginapan atas permintaan tuan dan nyonya condie.Menurut mereka, aku harus mencoba menghabiskan waktu di penginapan saat malam hari.Kurasa aku benar-benar betah disini.Suasananya sangat tenag Laurel dan memberiakan perasaan damai didada yang tidak ingin kulewatkan.Aku berharap saat aku menyingkap tirai kamar tidurku besok pagi aku akan melihat kabut beranjak di padang rumput di bawah penginapan dan hantu-hantu prajurit perang menyelinap diam-diam diantaranya. Aku merasa seolah-olah aku akan tidur di dalam buku sejarah malam ini.

Aku menghabiskan waktu di sebuah rumah makan di tengah kota malam ini.Kalau tidak salah di jalan Main.Dikota ini hanya ada satu jalan utama dan jalan ini melintas sepanjang pusat kota.Jalan ini juga kerap disebut Rute 11 atau old valley pike memanjang sepanjang sejauh berpuluh-puluh kilometer dari utara ke selatan, menjadi penghubung antar kota-kota kecil disekitar Woodstock.Kurasa Woodstock adalah pusatnya.

Tempat ini memiliki sejarah yang luar biasa.Aku belajar dari seorang wanita di rumah makan ini, yang bernama Tiffanee (apa aku benarmengejanya?),mengenai seorang pria bernama John Peter Muhlenberg (apa aku benar mengejanya?) dan yang biasa di panggil pastur pejuang, nah itu baru nama panggilan yang bagus.

John datang ke Woodstock di akhir tahun 1700 an untuk menjadi pastur di kongregasi se kabupaten.Pada tahun 1776 mana,seperti kau tahu, adalah tahun kesukaan ku,beliau memberikan khotbah yang mengajak para sukarelawan untuk bergabung dengan tentara kontinental. Di akhir khotbahnyaa,beliau merobek jubah gerejanya untuk menampangkan seragam prajurit di bawahnya. Beliau berteriak "Ada waktu untuk berdoa dan ada waktu untuk berjuang."Wah betapa hebatnya orng itu.

Kota ini pernah menampung jenderal serta prajurit-prajurit dari dua belah kubu yang bertempur di perang saudara. Dan tebak siapa yang merancang gedung pengadilan kota?jefferson.Bebatuan yang digunakan untuk membanngun gedung itu adalah batu terindah yang pernah ku lihat.

Sayang,tempat ini benar-benar terasa seperti rumah bagiku.Penginapan ini butuh beberapa perbaikan di sejumlah bagian,tapi tidak ada yang tidak bisa dilakukan oleh suamimu sendiri (tentunya dengan bantuan MAlcolm dan Matthew).Aku memmbayangkan untuk menaruh pajangan baru di dinding,perabotan baru di kamar-kamar penginapan dan kasur-kasur baru di rumah pondokku.KAsur-kasur yang ada sekarang terlihat kusam seolah kebanyakan diinjak dan dikencingi anak-anak.

Kedengarannya konyol memang,tetapi aku tidak sabar sampai kau bisa melihat kotak surat disini.Kotak surat itu adalah hal pertama yang kuperhatikan.Warnanya merah seperti warna karatan.dengan patung kecil seekor merpati putih yang sedang membawa amplop surat di paruhnya.Kotak surat ini akan menyimpan surat-surat hari rabu kita dengan bangga dan memohon agar kau membacanya keras-keras.Benar kan?sudah kubilang aku terdengar konyol.

Kita tidak perlu mengambil keputusan dalam waktu seminggu ini,tapi kita juga tidak bisa menunggu terlalulama.Keluarga Condie ingin segera mengesahkan penjualan penginapan ini agar dalam waktu sebulan mereka bisa pindah Ke Boulder.

Aku akan merasa tenag jika nanti meninggal di dalam rumah ini. Tempatnya tampak seolah begitu dekat dengan tuhan.

Sampai jumpa beberapa hari lagi.

Jack

26 Agustus 1981

LAurel

Saat ini pukul 3 sore di hari Rabu.Maukah kau mendengar cerita perihal mimpi aneh yang mendatangiku semalam?

Kita sedang berlibur,entah di Utah,Idaho atauMontana dan kita tinggal si sebuah penginapan yang bersebelahan dengan toko serba ada model zaman dahulu.Dari luar toko itu tampak antik.

Kita masuk ke dalam toko itu dan si empunya toko terlihat seperti orang paling menyeramkan yang pernah kulihat.Lalu semua yang ingin kita beli tidak dijual disana atau tidak baik untuk kita.

Saat kau ingin membeli telur.Siempunya mengeluarkan suara 'bleh' yang aneh dan berpura-pura meludah.Saat kau ingin membeli kopi,hanya untuk mengetesnya (karena sebenarnya kau tidak pernah minum kopi).Ia berkata."Itu minuman jahanam!"

satu-satunya yang kita lihat berada di dalam lemari es adalah susu, seoalh hanya itu yang dijual disana.

Aku setengah berharap meonster-monster kecil akan berhamburan dari belakang meja kasir dan memakan kita hidup-hidup.Oh seraaammmmmm.

Tapi dalam dunia mimpi,kejadian itu bisa saja berubah lebih buruk ya?

Jack

sekitar 150 orang datang menghadiri acara penghormatan dan makan siang di Pegunungan Jackson. Banyak dari tamu da¬tang berkunjung, hingga pada pukul 2 siang mereka baru kemba1i' ke Demus Jefferson.

A&P ikut berberes' hingga pukul 3 sore, Ialu kembali ke rumahnya unruk mengajak Castro jalan-jalan dan mengisi seratus senter Maglite dengan batere, Rain menawarkan membantuya dan mengikuti A&P sampai ke rumah.

Nathan berkurar dengan pekerjaannya eli kantor,

Pastur Braithwaite membaca PUIang catatannya untuk ' acara pemakaman berkali-kali dan melatih pidatonya keras-keras; sebanyak dua kali.

Pastur Doug duduk di barisan pertama di dalam' gereja sambil mendengarkan, mengagumi, dan berdoa.

Joe berjalan-jalan di sekirar Pegunungan jackson. Ia duduk di sebuah taman. Ia membaca koran Washington POSe edisi bart Minggu dan mencari lowongan kerja.

Samatha pergi melihat keadaan Angela di kediaman keluarga GodHey dan kembali ke penginapan untuk mencuci baju dan tidur siang.

Domus jefferson tampak sunyi saat Matthew dan Allyson melangkah masuk melalui pintu depan. Mereka menaiki tangga ke lantai atas dan menemukan Malcolm tertidur di tengah ranjang.Allyson menutup pintu kamar Malcolm. "Tidak perlu membangunkannya sekarang, Masih ada cukup waktu."

Matthew memeluk Allyson dan berterima kasih padanya karena sudah jauh-jauh datang. Lalu ia Iekas beranjak ke dalam kamar untuk tidur siang.

Di dalam penginapan yang sepi, Allyson membaca dan mengatur tumpukkan surat-surat sarnpai pukul 5 sore, Ketukan di pintu depan membuyarkan kousentrasinya saat sedang membaca salah, SatU surat yang ditulis, tangan oleh Jack dari Makam ArlingtOn.

Allyson mendorong pintu kasa hingga terbuka lebar. "Monica!"

"Hai Allyson."

"Kupikir kau tridak bisa datang,"

"Tadinya kupikir juga begitu."

"Kau berkendara kemari?" tanya Allyson.

"Ya. Tidak terlalu jauh juga, hanya enam sampai tujuh jam perjalanan. Aku juga menikmati waktu itu untuk berpikir,"

"Terpujilah hatimu.Masuklah." A11ysOn memmpersilakan Monica masuk kedalam penginapan dan memeluknya erat-erat, "Aku sungguh bahagia kau ada di sini." Ia melepaskan pelukannya meski kedua tangannya tetap mencengkeram lengan Monica. "Kau tampak luar biasa, Benar-benar luar biasa."

Monica mengenakan sepasangg celana denim mahal, sebuah baju berkerah tinggi berwarna putih, dan baju dingin berwarna merah, Rambutnya yang berwarna pirang tergerai sebatas bahu; matanya yang berwarna biru tampak Lelah tapi tetap bersinar, Ia menjinjing sebentuk amplop besar di kepitan lengannya.

"Kau juga tampak luar biasa. Sudah lama sekali aku tidak melihatmu, ya?"

"Sudah cukup lama Sayang. Terlalu lama."

"Samantha meneleponku semalaman." Monica memandangi sepatu Adidasnya yang baru dibeli dan berwarna biru tua. "Aku turut berduka cita Allyson, atas meninggal nya Jack dan kakakmu."

"Mereka juga keluargamu. Tidak peduli kau sering, bertemu dengan mereka atau tidak, kau tetap bagian dari keluarga ini,"Allyson meraih tangan Monica dan menggiringnya melalui serambi penginapan menuju ke ruang makan.

Monica mengamati seisi ruangan dan tumpukan sejarah keluarga Cooper di atas meja makan, "Matt ada di mana?"

Allyson menggerakkan kepalanya ke arah lantai atas. Monica menapakkan kakinya ke atas anak tangga dan menjulurkan kepalanya ke dalam setiap kamar sebelum membuka pintu tempat Matthew menginap dan masuk ke kamarnya.

Enam menit kemudian, Matthew menarik pintu yang'sama hingga terbuka lebar,"Aku akan jadi seorang ayah!" la berlarian ke bawah, berteriak, "Yeaaaaaaaaa!" Ia masuk ke dalam serambi penginapan mengenakan kaus kaki hitam dan harus mundur sebentar untuk melihat Allyson yang sedang duduk di meja makan.

Ia mengangkat selembar foto yang menunjukkan wajah seorang bayi berkulit hitam botak, cantik dan bermata besar."Ini putera ku."

"Matthew, Matthew!"Allyson bangkit dari kursinya dan merebut foto itu dari tangan Matthew. Ia menatap foto itu sekali lagi dan merangkul keponakannya."Kau akan menjadi seorang ayah.Aku tahu hal ini pasti akan terjadi."

Monica memandangi keduanya dari pucuk tangga."DAn kau akan menjadi nenek yang luar biasa,untuk kedua kalinya."

"Ada apa sih?"Malcolm berteriak dari atas ranjangnya.

"Turunlah,paman Malcolm!"

Malcolm melangkah keluar dari kamarnya, menggosok matanya dan melihat Monica.Ia menggosok matanya sekali lagi.

"Ini aku,"Kata Monica tersenyum.

"Kau ada di sini."

"Ya, sepertinya semua orang sudah melihat itu."

"Malcolm, lihat!"Matthew berdiri di serambi penginapan dan mengangkat foto bayi kecil tadi di atas kepalanya."Perkenalkan putera baruku."

"Kalau begitu urusanmu di Newark berjalan lancar ya?"Malcolm menatap Monica.

"Ya.Akhirnya bayi itu jadi milik kami.KAmi akan menjemputnya dalam waktu dua minggu."

"Siapa namanya?"tanya MAlcolm.

"Pertanyaan yang bagus."Matthew menatap isterinya."Mon?"

"Aku suka nama Jack."jawab Monica sambil tersenyum.

"Aku juga suka nama itu."Matthew memandangi mata si bayi yang besar.

"Itu bagus sekali," Malcolm melihgkarkan lengannya di sekitar tubuh Monica dan memeluk saudari Iparnya untuk yang pertama kali dalam waktu bertahun-tahun.

"Sam bilang padaku-" Monica berbisik,

Malcolm mengangkat jarinya di udara. "Tidak sekarang. Sekarang ini adalah saat kebahagiaanmu. Turunlah dan kendalikan suamimu." .

Monica rnengikuti saran Malcolm, sementara Malcolm mandi dan bercukur untuk menghadiri pemakaman ibunya dan Jack Cooper.

matthew dan Monica mengendarai limosin yang berada di urutan paling depan dalam iring-iringan menuju acara pemakaman di gereja. Malcolm dan Samantha berkendara bersarna Allyson, Angela, dan Paman Joe ,di dalam limosin kedua yang juga berwarna hitam. Kedua limosin yang mereka tumpngi melewati Taman WoodstOck, kuburan tempat Jack dan Laruel akan dimakamkan malam itu juga, lalu memotong jalan di Rute 11 antara penginapan dan Pegunungan Jackson.

Pastur Braithwaite menyapa keluarga Cooper di muka gereja.Tim penyambut keluarga yang berkabung, termasuk keluarga Gutherie dan dua karyawan yang bekerja di rumah duka. "Selamat datang," sapa. mereka, menyalami tangan masing-mastng anggota keluarga Cooper, "Selamat datang."

Kelompok paduan suara gereja menyanyikan lagu, Amazing Grace", yang juga merupakan lagu kesukaan Jack, sementara Allyson mengucapkan doa dalam hati untuk mendiang Jack dan Laurel.Dari mimbar gereja, Pastur Braithwaite menyaPa para kogregasi, berterima kasih kepada mereka yang telah jauh-jauh datang untuk mendukung keluarga Cooper, dan memberkati mereka karena niat yang tulus. 'Di belakang Pastur Braithwaite, gambaran Yesus Sang Penyelamat menatap darii atas dengan tangan terentang lebar terlukis edi jendela yang sangat indah. Rangkaian bunga dan ranting memenuhi seperempat muka gereja. Jack dan Laarel beristirahat di dalam peti masing-masing di kedua sisi mimbar.

Sang pastur memandangi seluruh keluarga yang hadir, yang mengambil tempat di barisan utama, sementara Rain dan Nathan,duduk di barisan berikutnya, Ia memandangi kumpulan wajah yang memenuhi gereja, ada yang dikenalnya, namun sebagian besar asing' baginya. Ia melihat Maria Lewia, keluarga Rovnyak, dan pengacara Jack, Alex Palmer, yang di temuinya malam sebelumnya, Dengan sebuah anggukan kepala, Pastur Braithwaite menyapa para walikota dari kota-kota terangga yang juga hadir di gereja bersama pasangan mereka dan duduk berkumpul di beberapa baris darii depan . .Ia setengah melambai kepada A&P yang duduk di posisi langganannya, di belakang gereja, Ia mendapati sejumlah anak yang mulai bosan dan tersenyum pada orang tua mereka seolah hendak mengatakan. Tidak apa, mereka adalah anak-apak Tuhan, maka ini adalah rumah mereka juga.

Ia memandangi teman lama dan muridnya, Pastur Doug, yang duduk disudut belakang gereja seraya memeluk Alkitab dan mendengarkan dengan saksama. Lalu, Pastur Braithwaite mengedipkan mata pada istri dan ibu mertuanya yang duduk di barisan depan di samping keluarga Cooper.

Gereja yang sempit memanjang tampak penuh. Ia memulai pemakaman itu.

"Teman-teman, malam ini kita berkumpul untuk berkabung,' tetapi juga untuk merayakan hidup kedua pelayan Tuhan di hadapan kita.'

Seseorang meneriakkan kata. "haleluya" dari barisan belakang.

"Kita tidak akan bersedih, trapi bergembira, Kita takkan menangis, tap.i tertawa. Kita tidak menghakimi, tapi memaafkan; dan kita akan menghitung hari sampai kita berjumpa lagi dengan mereka di Hari Kebangkitan," Pastur Braithwaite melanjutkan dengan mernbaca beberapa ayat dari Perjanjian Baru sebelum mempersilakan Matthew untuk naik keatas mirnbar dan membacakan kata-kata pujian, "Saya tidak sempat menuliS apa-apa,"matthew memulai karena saya tahu betapa sulitnya bagi saya untuk mempersiapkan pidato tertulis hari ini. Saya tidak pandai berkata-kata, seperti yang kalian ketahui, itu adalah kemahiran Malcolm."

Aliyson mengelus permukaan tangan Malcolm.

"Sekaraag kami sudah mempelajari bahwa menulis adalah kemahiran Ayah juga," lanjut Matthew.

Matthew memandangi isrrinya. Monica mengusap air mata yang membasahi pipi dan mengedipkan kedua matanya, "Usia saya baru tujuh belas tahun saat keluarga saya pindah ke Lembah ini. Ayah ingin agar saya melamar menjadi siswa SMA di sini dan menjadi bagian dari kelompok Woodstock Falcon. Beliau ingin agar saya bisa berrnain bola kaki setahun lagi." la memandangi peti Jack. "Tapi saya ingin keluar dari rumah. Saya tidak pernah khawatir meninggalkan rumah kami di Charlottesville karena saya pikir saya sudah dewasa. Saya siap untuk tantangan yang lebih besar, Tapi melihat kalian di sini dan setelah bercengkerama dengan kalian minggu ini saya tahu bahwa seumur hidup saya akan menyesali kesempatan yang saya lewatkan untuk menjadi anggota tim Falcon."

"Hidup Falcon!" teriak seseorang dari sisi kiri gereja. Yang lain tertawa.

"Benar Hidup Falcon." Matthew menarik sepucuk sapu tangan dari sakunya, "Jack dan Laurel Cooper bukanlah pasangan yang sempurna. Ayah cepat marah, seperti yang kalian ketahui. Dan Ibu .... Nah, mungkin Ibu adalah orang yang sermpurna,"

"Amin," sahut suara lain.

Matthew lalu menceritakan beberapa kisah, dan sebagian diambilnYa dari surat-surat yang sudah dibacanya selama berjam¬jam, Ia menceritakan kisah di mana ibunya mengambil pakaian Jack dari danau, Para pengunjung terpana, lalu tergelak. Ia membuat tamu-tamu yang datang untuk berkabung tertawa di ujung kursi mereka saat ia menyampaikan pengalaman orang tuanya ketika berkunjung ke graceland dan berpura-pura bahwa Laurel sekarat.

Ia mengambil sepucuk surat dari saku jaketnya dan membacakan bait lagu yang ditulis ayahnya di tahun 1961. "Saat hujan turun dl dalam kepalaku, dan percikan airnya membasahi mataku, aku berpikir tentang cinta yang Ia bagi kepadaku, di atas salib, di bukit Calvary;" Matthew tidak berencana untuk melakukan apa yang kemudian ia Iakukan, tapi ia mendengar nada itu keluar mengiringi lirik yang sedang dibacanya, hingga ia terdengar menyanyikan bait reff dari agu karangan ayahnya. "Aku harus belajar unruk meminta dari Tuhan, dalam segala hal yang kulakukan. Ya, aku akan belajar unruk meminta dari Tuhan, dan semua impianku akan jadi kenyaraan." Riuh-rendah tepuk tangan menyambut nada terakhirnya.

"Ayah dan Ibu belajar untuk meminta dari Tuhan. Mereka sering meminta karena dalam hidup memang sudah selayaknya begitu. Terkadang doa mereka dijawab dengan kesunyian, tapi itu karena mereka sudah tahu jalan mana yang harus mereka ambil saat mereka menyampaikan doa tersebut. Di saat lain, mereka dibimbing pada keputusan-keputusan yang sebelunnya bahkan tidak pernah terpikirkan. Keputusan-keputusan itulah yang menjadi berkah dalam hidup mereka. Keputusan yang mudah dlambil hanya akan membawa kepuasan sesaat kan?" Ia menatap Mal¬colm. "Keputusan yang sulit diambil membawa kebahagiaan yang tak ada habisnya. Keputusan macam itulah yang membawa kebesaran Tuhan, kebesaran kalian semua, kebesaran saya. Keputusan yang sulit membawa kehidupan baru," Matthew dan adik laki¬lakinya secara bersamaan membersit hidung mereka.

"Sekarang saya tidak perlu khawatir akan sakit kepala yang mendera Ayah dan membuat beliau sulit tidur, Atau apakah Ibu mendapat cukup waktu istirahat. Saya tidak perlu bertanya-tanya di mana 0rang tua saya hari ini; karena saya tahu mereka ada bersamaNya." Ia menunjuk ke.arah gambaran Yews di belakangnya. "Saya sangat yakin akan hal itu." Ia menatap Istrinya. "Terima kasih. Terima kasih atas kedatangan kalian .... Amin,"

"Amin."

Pastur Braithwaite kembali berdiri di atas podium. "Atas perminnaan keluarga, kami ingin mempersilakan siapa saja yang hendak menyampaikan pesan mereka di atas mimbar, Kami memanggil Anda untuk naik kemari."

Beberapa tamu mulai berbicara termasuk seorang penjaja keliling dari Philadelphia yang sempat menjual sebuah iklan brosur pada Jack dan Laurel Cooper, "Saya tidak pernah bertemu muka dengan mereka," akunya. "Tapi saya tetap datang."

Penata rambut Laurel, Nancy Nightbell, juga berbicara. Begitu pula Angela dan A&P. A&P menangis sejadi-jadinya, Dengan tubuh gemetar dan napas memburu, ia menceritakan kebaikan keluarga Cooper padanya selama bertahun-tahun. "Saya takkan mungkin ada di sini tanpa mereka," Tidak ada seorang pun yang Hadir malam itu yang meragukan ucapan A&P.

Samantha berbicara sebentar, berterima kasih kepada semua orang yang telah membantu selama jack sakit-sakitan.ia berterima kasih kepada Kepala Polisi Romenesko, yang berdiri kaku di balik dinding. Ia memandangi Nathan. "Terima kasih, Nathan Crescimanno, untuk dukunganmu minggu ini,"

Malcolm bergeser di atas kursinya, tahu benar apa maksud Samantha.

Paseur Doug juga berbicara, Ia memperkenalkan dirinya pada para tamu dan memuji hidup jack dan Laurel. Ia berusaha untuk tenang saat menghaturkan rasa terima kasihnya terhadap jack karena telah mengirimkan surat-surat lamaran dan menelepon banyak orang demi mencarikannya peketjaan. Ia memuja ikatan pernikahan Jack dan Laurel yang sangat kuat dan cinta mereka yang langgeng. Terakhir, ia menatap ke arah Pastur Braithwaite,menyebutnya sebagai "saudara" dan berterima kasih kepadanya karena telah mengajarinya banyak hal.

Setelah Pasrur Doug selesai berbicara.timbul keheningan dan tidak ada orang lain yang menawarkan diri untuk naik ke mimbar, Akhinya, Pastur Braithwaite berdiri. "Kita sudah diberkati malam ini, teman-teman. Kalau tidak ada lagi yang ingin berbicara, maka saya akan.."

"Pastur?" Joe berdiri. "Apa saya boleh berbicara?'

Joe mengambil gilirannya di atas mimbar dan berdiri menghadap ke seluruh kongregasi.

"Nama saya Joe Cooper. Saya adalah saudara kembar Jack" Para tamu mendesah dan mengenali kemiripan Joe dan Jack. "Selama bertahun-tahun, saya sering sekali keluar-masuk kota ini.Beberapa dari kalian mengenal saya, sementara lainnya mungkin tidak. Bagi kalian yang tidak mengenal saya, kalian beruntung" Ia mencengkeram kedua sisi mimbar hingga buku-buku jarinya memutih,

"Saya telah membuat banyak kesalahan," lanjut joe. "Saya tidak sebaik Jack atau pun kedua putranya. Tentunya, saya tidak sebaik Laurel maupun Samantha atau kalian." Air mata berkumpul di pelupuk mata joe dan turun membasahi pipinya.

'Maafkan saya ... maafkan saya untuk segalanya ... karena telah mengabaikan kalian semua. Saya minta maaf untuk semua kesalahan yang saya perbuat." Ia mulai terisak. "Saya minta maaf karena

telah membuat kalian malu, karena telah melukai keluarga kita. Saya sudah membuang begitu banyak. .. waktu." Ia tersungkur di atas kedua Iututnya dan membenamkan wajahnya ke dalam kedua tangan.

Pastur Braithwaite mendekat dan berlutus dl samping Joe. Ia merangkul J0e. "Tuhan mencintaimu, J0e. Yakinlah. Ia mencintaimu. Ja memaafkanmu."

Perut Malcolm keram dan sekali lagi,ia merasa ada gumpalan dalam dadanya yang kini bergerak ke tenggoroknya.

Joe kembali ke tempat duduknya dan Angela merangkulnya Pnuh kasih sayang.

"Itulah semangat keluarga Cooper," Pastur Braithwaite menunjukkan. "Cinta yang mereka miliki tak bersyarat. Saya sendiri sudah merasakannya. Saya juga sudah merasakan pertobatan mereka." Ia berjalan menghampiri Sang Pianis gereja dan membisikkan sesuatu di telinganya. Pianis tersebut balas mengangguk.

"Saya rasa, saatnya tepat bagi kita untuk menutup acara ini dengan menyanyikan sekali lagi lagu amazing Grace."

setelah mengucapkan doa syukur, yang datang dari isteri Matthew, Monica, kerumunan pengunJung berpencar di pelataran parkir yang gelap dan satu demi satu mereka mulai berkendara menuju Taman woodstock.

Saat para pengunjung mendekati lokasi makam, anggOta paduan suara mulai memmbagikan lebih dari seratus- buah senter Maglire. Setiap orang mengarahkan cahaya senter mereka pada peri-peri yang diusung dari mobil jenazah ke atas bukit kecil tempat peri-peri itu diletakkan di atas penyanggah berwarna hijau sebelum nanti diturunkan ke dalam lubang sedalam dua meter, Cahaya-cahaya yang bersatu menciptakan luapan sinar yang tidak lazim dilihat para pengunjung.

Pastur Doug menyampaikan doa terakhir, sebelum meminta para tamu untuk mengarahkan senter mereka ke langit kelam, setiap cahaya senter bertemu dengan lainnya dan menciptakan cahaya putih bersih yang bersinar menuju surga.

Masing-masing angota- keluarga meletakkan setangkai bunga mawar putih di atas peti Laurel. Matthew meletakkan pin kampanye Ronal Reagan dari tahun 1984 di atas peti Jack. Semua orang berpelukan, saling mencium pipi, berjanji untuk terus berkomumikasi; dan para tamu pun pergi secepat mereka datang, letih karena telah menghabiskan akhir pekan mereka berkabung.

Tiba-tiba semua orang baru menyadari kepergian Jack dan LaUrel.

Keluarga dan teman-teman dekat berdiri di setiap sisi makam sambil berbiSik ketikabayangan seseorang bergulir melewati batu¬baru nisan disekitar dan menghampiri mereka,

Sosok itu berhenti di salah satu nisan tetangga. "Maaf," kata laki-laki itu .. Kedua tangannya dibenamkan di dalam sakku depan celananya yang gelap. Ia mengenakaa jaket berbahan woL.

Nathan membutuhkan waktu cukup lama untuk mengenali SOSok tersebut, tetapi Rain dengan cepat mengenalinya.

Laki-laki itu menghampiri pastur Braithwaite dan mengulurkan tangannya. "Misa yang mengharukan, Pastur, Bagus sekali.

"Tuan," Nathan menyela. "Saya rasa kehadiran, Anda di sini sungguh tidak pantas ka.."

Laki-laki itu mengalihkan perhatiannya pada Malcolm, bibirnyla tersungging dan membentuk sebuah senyuman kecil,"Hai,malcolm."

""WOl,"Malcolm menggumam pada dirinya sendiri, mengenali laki-laki itu.

"Tuan, ini benar-benar.."

"Tuan?Tuan adalah panggilan yang terlalu formal untuk sepasang teman lama seperti kita," kata laki-laki itu.

"Apa yang dia lakukan di sini?" Rain bertanya pada Nathan. "aku sempat menuntut ilmu di sekolah hukum bersarna Tuan Nathan Crescimanno." Wol menatap Rain. "aku berasal dari Winchester. Aku punya praktik hukum di Leesburg."

"Nathan?" Rain menarik tangan kekasihnya. "Kau kenal dengan dia?"

Nathan menggores sebuah senyum terpaksa dan berbisik lemah, "Kurasa, ia sedang mabuk,"

Wol berbicara saat mendekati peti Jack, "Aku tidak begitu mengenal Jack dan Laurel Cooper, kecuali dari reputasi mereka. Tapi kudengar belakangan ini Jack sempat sakit-sakitan." Ia mengelus permukaan peti. "Banyak gosip yang betebaran di Lembah ini."ia beralih ke peti Laurel. "jika mereka memang orang baik seperti yang kalian katakan, maka aku suka pada mereka."

Nathan menjauhkan dirinya dari Rain, "Ini bukan waktu yang tepat, Mull. lni bukan tempat.."

"Menjauhlah, Nathan," kata Malcolm. "Biarkan orang in! bicara atau kan boleh pergi."

"Jangan lakukan ini, Nathan, jangan berlaku sebagai seerang Penuntut umum terhadapku, Aku sudah menunggu selama acara misa pemakaman untuk melihat apakah kau akan bangkit berdiri dan berbicara di atas mimbar, Aku sudah menunggu lama agar kau bisa merasakan apa yang kurasakan selama dua tahun Ini."'ia menatap Rain. "Aku sudah merasakan malu dan penyesalan yang tak ada habisnya. Aku ingin sekali kembali ke kota ini lusinan kali, tapi tak pernah berani.'

"Ini konyol," kata Nathan. "Laki-laki ini.."

"Laki-laki ini apa?" sela Mull. "Laki-laki ini ingin menceritakan seSuatu? Kau benar," Ia berbisik di telinga Nathan. "Semua ini akan terjadi sekarang, Malam Ini kita berdua akan melepaskan beban yang mendersa kita. Kau atau aku yang akan bebas?"

Mull mengenali rasa takut dan keputusasaan yang memenuhi pandangan Nathan. "'Kau atau aku?"ulangnya.

"Malcolm, Matthew, kalian semua, orang ini jelas-jelas mabuk. Dia tidak tahu apa yang ia katakan.."

"Tidak," Mull menatap Rain dan suaranya berangsur lembut. "Aku tahu apa yang kukatakan." Rasa bersalah yang menghantuinya selama berminggu-minggu dan berbulan-bulan membuatnya berani untukangkat suara. "aku menyerang wanita ini dua tahun yang lalu."

Mull mengambil langkah untuk mendekati Rain. Rain menjauh darinya, "Semua itu seharusnya tak lebih dari sebuah permainan. Permainan iseng. Nathan memintaku untuk menggodamu,untuk menjadi orang brengsek."

Nathan menjatuhkan diri ke atas salah satu kursi lipat.

"Aku memandangimu di bar semalaman dan aku menggodamu. Seharusnya hal itu tidak lebih dari taruhan dua orang iseng, dua orang bOdoh dan tidak tahu diri." Suaranya pecah. Ia menghela napas panjang dan menatap Malcolm. "Lalu, aku menantimu. Aku menunggu semalaman agar kau datang. Hari itu hari ]Umat. Malam pertandingan bola kaki. Kau datang tepat pada waaktunya. Kami tahu, kau akan mengikuti Rain ke luar bar, tapi kami tidak menyangka bahwa kau akan bereaksi segila itu." Kedua

matanya menyampaikan permohonan maaf terhadap Malcolm. "Kami memancingmu,"

Kedua kaki Malcolm kontan tegang

"Dan kau terpancing."

"Apa yang sedang dia katakan, Nathan?" tuntut Rain. "Nathan?"

"Nathan memintaku untuk bersenang-senang sedikit tapi aku kelewatan. Sudah jelaskan?" Mull kembali mendekati peti Jack dan Laurel. "Niatku hanya ingin iseng, berpura-pura agar terlihat seperti orang yang memang brengsek" Suaranya pecah lagi, "Asal kaliantahu, aku takkan pernah .... "

"Nathan?" tanya Rain dengan nada pelan. "Apa semua ini benar?"

Tidak ada Orang selain adiknya yang pernah melihat Nathan menangis. Sekarang ia mengubur wajahnya ke dalam kedua tangan dan menangis sejadi-jadinya,

"Nathan? Apa kau membayarnya untuk menggodaku? Apa kau menjebak aku dan Malcolm? Apa kau yang melukaiku? Melukai Malcolm?" Dengan keluarnya setiap pertanyaan, suara Rain' meninggi.

Masih dalam posisi duduk, Nathan menatap tanah di bawah kakinya dan mengusap hidungnya dengan sapu tangan."Aku ingin tahu," katanya dengan nada lirih hingga sulit didengar oleh orang-orang di sekelilingnya.

"Apa?"

"Aku ingin tahu apa yang akan dilakukan Malcolm."

Rain berjongkok di samping Nathan, "Kenapa?" ia bertanya lirih. "Kenapakau begitu ingin tahu?"

Anggota keluarga lain, A&P dan kedua Pastur Doug serta Pastur Braithwaite mohon diri kepada Malcolm dan berjalan ke mobil mereka masing-masing, Sesekali mereka menoleh ke belakang,penasaran apa yang sedang terJadi.

Malcolm berdiri disampjng peti ibunya,

Mull memohon maaf sekali lagi, Rain dan Malcolm menganggukkan kepala mereka."Mull berjalan kembali melalui barisan nisan di makam 'dan kembali ke mobilnya yang terparkir di sisi lain taman.

Rain duduk di sisi Nathan. "Kenapa?"

"Karena aku tidak ingin hidup dibayang-bayangi olehnya."

"Kau tidak percaya padaku?"

"Aku percaya padamu." Akhirnya, ia menatap Rain. "Aku selalu mempercayaimu."

"Lalu apa yang kaupikir akan terjadi?'

"Entahlah," jawab Nathan, kepalanya masih tertunduk. Malcolm bergerak mendekati mereka, tapi Rain melambaikan tangannya dan mengisyaratkan agar ia tidak rmelakukannya. Malcolm berjaga di sekitar makam 0rang tuanya.

"Apa .kau berharap Malcolm akan membiarkan laki-laki itu ... ? Apa kau pikir Malcolm merasa semua itu lucu atau cerdik?"

"Tidak."

"malcolm mencintaiku,tentu saja,dan ia membelaku.Laki-laki manapun memebelaku."

"Aku tahu."

Rain memutar dagu Nathan dan memandangi kedua matanya yang basah."Kau mengusir Malcolm."

"Ya."

"Kau berbohong padaku."

Nathan mengangguk.

"Kau berbohong padaku," ujar Rain pelan seraya memalingkan wajahnya,

Nathan pulang sendirian.

KEDUA limosin yang ditumpangi keluarga cooper kembali ke penginapan dan, atas permintaan Alex Palmer, semua anggota keluarga Cooper beserta teman dekat mereka berkumpul di ruang tamu Domas Jefferson.

"Saya tahu kalian sudah melalui masa yang sulit,' Tuan Palmer mulai berbicara saat keluarga Cooper mengambil tempat duduk di atas sofa dan kursi. ia menarik sebentuk kursi dari ruang makan dan duduk di ambang pintu.

Malcolm duduk di dekat perapian, menyaksikan adegan itu berlangsung," meski di kepalanya ia terus membayangkan reaksi pamannya di atas mimbar,

Rain duduk di sisi Malcolm, matanya merah. Ia meremas sehelai sapu tangan.

A&P dan Allyson duduk di satu sofa.

Pastur Braithwaite berdiri di sudut ruangan, bersandar dalam posisi aneh pada dinding. Pastur Doug berdiri disampingnya.

"Ini adalah akhir pekan yang sulit," lanjut Tuan Palmer, Kepala-kepala di sekitarnya mengangguk setuju, "Saya Sungguh merasa bersyukur karena telah mengenal keluarga kalian, Orang tua kalian sungguh luar biasa. Jack Cooper adalah orang yang jujUr dan setia. Saya sangat mengagumi beliau. Dan ibu kalian memiliki jiwa yang tegar dan unik, Sebuah contoh bagi kita semua. Wanita yang penuh keajaiban. Kalian semua tahu itu."

ia menarik sebentuk map dari dalam tas kerjanya. "Saya berharap kita bisa melakukan ini di waktu lain, tapi ini adalah kehendak ayah kalian. Bahkan, beliau memaksa, Beliau pasti punya alasan sendiri," Tuan Palmer mengangkat map itu,"Semuanya ada di sini."

Rain menarik napas panjang dan mengunci jemarinya dengan jemari Malcolm. .

"Sekarang kalian tahu bahwa ayah kalian adalah seseorang yang gemar menulis surat dan orang yang sangat mahir dalam hal itu." TUan Palmer meraih ke dalam map yang digenggamnya dan menarik sebuah amplop."Jack memberi instruksi agar kita semua membacanya malam ini." Amplop itu sudah terbuka, Ia mengeluarkan beberapa carik kertas-dari dalamnya.

Monica, pindah ke atas sofa tempat Matthew duduk berdampingah dengan Samantha dan menyempilkan dirinya di samping suaminya. Angela duduk di kaki ibunya.

Allyson bergeser lebih dekat dengan A&P dan memberi tanda pada joe agar bergabung dengannya. Joe duduk di samping Allyson. Allyson menggenggam kedua tangan Joe.

Pastur Braithwaite dan Pastur Doug mengawasi dengan saksama.

"Apa ada di antara kalian yang ingin membacakan surat terakhir dari ayah kalian untuk ibu kalian?"

"Ya, kata samantha, mengulurkan tangannya. "Biarkan aku yang membacanya."

Tuan Palmer menyerahkan surat itu kepada Samantha.

13 April 1988

Laurel tersayang

Kau tidak pernah berhenti mengejutkanku.Malam ini kau membuatku bertanya-tanya lagi.

Disini aku duduk sendiri,meski kau masih berada disisiku,terbaring damai di atas ranjang yang kita bagi selama hampir empat puluh tahun.Aku tidak bisa hidup tanpamu.

Bukankah kau yang seharusnya menulis suratterakhir untukku?Setelah aku meninggal dalam tidur,seharusnya kau bangun dan menemukanku dalam keadaan mati.Lalu kau akan menulis surat terakhir dan menyimpannya sampai kau tidak tahan berada jauh-jauh dariku dan menemaniku lagi di atas langit. Tapi sekarang justru aku yang ditinggal sendiri.

Sebentar lagi hidup kita akan jadi sejarah bagi ketiga putra-putri kita.Sebuah buku yang terbuka,secara harfiah.Sudah lama aku mengira bahwa dari ketiga putra-putri kita,Malcolm lah yang paling menghargai surat-surat ini.Dia adalah si ahli kata-kata.MAtthew akan berpikir bahwa surat-surat ini bersifat misterius. dan Samantha akan merengkuhnya sekuat tenaga hingga perlu sekitar sepuluh pria untuk memisahkannya dari surat-surat ini.Ia bahkan mungkin takkan bisa tidur selama berminggu-minggu.Kuharap ketiganya bisa belajar dari surat-surat ini.

Laurel,pernikahan kita memang tidak sempurna.Kita telahmelalui banyak cobaan.Kita telah diuji dengan hal-hal yang lebih berat dari yang pernah kita bayangkan saat kita setuju untuk mengharungi bahtera ini.Tapi perjalanan ini sungguh mulia.Aku telah diangkat olehmu.Dan kau telah melakukan lebih dari

itu.KAu telah menempati semua janjimu. Terima kasih karena telah mempercayai rencana besar Tuhan sebelum aku siap menerimanya.

Aku telah menulis banyak surat dan kata-kata pada hari Rabu.Tetap saja masih banyak yang ingin kusampaikan padamu.NAmun sebentar lagi aku akan bertemu denganmu.Sebelumm itu, aku harus menunggu anak-anak.

Aku menyesal karena kau bekerja terlalu keras,hingga jarang menghabiskan waktu bersama mereka.Aku menyesal karena selalu harus membaca semua artikel koran dan tidur lebih lama di pagi saat kita seharusnya pergi memancing. Aku menyesal karena mereka telahh mendengar bentakkanku.Aku sangat malu karena pernah membentak mereka.Atau siapa pun juga.

Kuharap mereka akan memaafkanku karena gagal menjadi ayah yang dijanjikan terhadap mereka.

Semoga tuhan juga akan memaafkan kekuranganku.Semoga mereka memaafkan satu sama lain.

Semoga ratusan tahun akan berlalu sebelum mereka kembali kepada kita di atas sana.

Jack

Samantha menghapus jejak air mata yang membasahi kantong matanya dengan kedua jari tengahnya. Matthew merangkul pundak adik perempuannya dan membisikkan sesuatu di telinga Samantha.Samantha tersenyum.

"Masih ada tiga surat disini,satu untuk setiap anak."Kata Tuan Palmer.

"Kurasa aku takkan sanggup membaca surat lain" kata Samantha.

Matthew memandangi adik laki-lakinya di dekat perapian,

Malcolm menggeleng.

"Kalau begitu biarkan aku yang membacanya." Matthew mengambil surat-surat itu dan mulai membaca.

Untuk Matthew

Putra sulungku

Ada alasan kenapa kau menjadi putra sulungku nak,Pikiran dan semangatmu membawa inspirasi bagi banyak orang. Apa kau sadar akan hal itu?Apa kau tahu betapa aku menghargaimu dan terpana oleh talenta yang kau miliki?kau adalkah seorang pria berbakat yang memutuskan untuk menggandakan bakatmu.KAu telah membuatnya bangga.Kau telah membuatku bangga.Aku tidak sabar sampai kau menjadi seorang ayah.kau akan melakukannya dengan luar biasa.

Matthew,cintailah isterimu.Cintailah dia seolah hanya dialah yang kau miliki di dunia ini.Dari suatu hari,kau akan sadar bahwa hanya dia yang kau miliki di dunia ini.

aku menyayangimu

Ayah

Teruntuk Samantha

Bintang Broadwayku

Di hari yang panjang,saat aku lelah menghadapi kebosanan di universitas dan orang-orang yang malas bekerja,aku mengingatmu.Aku berkendara pulang di hari seperti itu,menantikan adegan apa yang telah kau siapkan untukku,peran apa yang kau ingin aku mainkan.Peran apa pun akan ku lakukan,asal aku bisa berada dalam satu pertunjukkan bersamamu.

Kembalilah ke atas panggung.Sudah saatnya.Temukan cahayamu.

Aku sudah lusinan kali berkata kepadamu, dan sekarang dalam keadaan mati pun aku akan mengatakannya sekali lagi,Sammie biarkan cucuku yang cantik mengenal ayahnya.Dia mungkin bukan ayah yang sempurna,tetapi ia tetap ayahnya.

Kau selalu bersinar Sammie.Aku akan berbagi panggung denganmu,kapan pun kau mau

Aku menyayangimu

Ayah

Teruntuk Malcolm

Penulisku,putraku

Aku selalu bertanya-tanya semarah apakah dirimu hari ini.Aku sering menangis di malam hari dan memimpikanmu.Aku memimpikan amarahmu.Aku berdoa semoga aku salah.Tapi aku akan mengerti jika aku benar.

Kukatakan padamu nak,bahwa penemuanmu bukanlah tentang siapa ayahmu.Hal itu belum berubah.Sejak pertama kali aku memelukmu dalam pangkuanku setelah pengakuan ibumu,di hari aku kembali dari kediaman nenekmu di Chicago,sejak saat itu, aku selalu melihat putraku. Aku melihat seorang anak laki-laki milikku dan yang menjadi bagian dari diriku seperti halnya Matthew. Aku melihat sebuah berkah dari tuhan yang diberikan kepadaku.Tidak ada satu alasan kenapa kau perlu tahu tentang malam ketika hidup ibumu berubah.

Apa yang nayata kemarin tetap nyata hari ini. Akulah ayahmu,, ibumu bisa memaafkan. Aku memaafkan.Tuhanmu memaafkan.Begitu juga seharusnya dirimu.

Malcolm,jika kau belum menyelesaikan bukumu selesaikanlah.Tolong.lalu tulislah buku-buku lain.Kau harus tahu bahwa aku berharap akan berjumpa lagi denganmu.Ibumu dan aku tidak sabar untuk melihat anak-anakmu.Menurut kami,anak-anak itu akan mirip dengan Rain.Kau tidak salah baca.Nak kami selalu tahu apa yang kalian berdua belum bisa lihat.Kalian ditakdirkan untuk bersama.

Aku menyanyangimu

Ayahmu.

Ruangan itu berubah sunyi. Malcolm mengubUr kepalanya kedalam rengkuhan tangannya dan menangis. Rain mengelus punggung Malcolm dengan sebelah tangan dan menghapus air matanya sendiri dengan tangan lain.

Hanya mata Pastur Doug yang kering, "Boleh aku berbicara?" ia bertanya, menatap ke seberang ruangan, ke arah Tuan Palmer.

"Tentu saja."

"Kalian mungkin SUdah mengetahui ini, tapi aku takkan mlungkin berada disini tanpa bantuan ayah kalian." Irama kalimat yang keluar dari mulutnya berubah cepat. "Ayah kalian yang mencarikan pekerjaan untukku, bersama dengan saudaraku di sana." ia menatap Pastur Braithwaite, "Ada sebuah perseteruan di Winchester saat aku tiba di sana. Katanya ada banyak orang yang meragukanku. Lagipula, aku ini adalah mantan narapidana dan banyak yang bertanya-tanya; apakah aku sudah benar-benar tobat."

Pastur Braithwaite meletakkan sebelah lengan di sekeliling pundak Pastur Doug dan meremasnya untuk memberi dorongan moral.

"Tapi kau tahu yang sebenarnya saat itu, kan?" Tanya Pastur Doug.

pastur Braithwaite mengangguk,

"AkU bertemu dengan seseorang dalam penjara, orang yang sangat baik, Aku menghabiskan waktu berjam-jam bersamanya. la membantuku bertemu dengan Sang Penyelamat saat yang kulihat adalah kekotoran dan keputusasaan, Orang ini, saudaraku, membawaku kemari," Untuk pertama kalinya selama akhir pekan itu Pastur Doug menangis.

"Beberapa tahun lalu, aku tinggal di charlottesville, Aku bekerja sebagai seorang mekanik. Tapi bukannya bekerja, aku lebih banyak menghabiskan waktuku menggunakan obat-obat terlarang dan minum-miauman beralkohol. Aku bahkan berusaha menjadi bandar obat-obatan terlarang, tapi aku tidak cukup lihai untuk itu. bayangkan saja.

"Pada satu titik, aku sempat menjadi gelandangan. Ketika aku dipecat dati bengkel, aku juga kehilangan apartemenku, Aku menghabiskan waktu teler dan berada dalam pengaruh obat-obatan. Jarang sekali pikiranku ini lurus, bahkan terkadang aku tidak bisa berpikir sama sekali. Percaya atau tidak, dulu aku sempat tinggal di dekat rumah sakit karena akul ingin bahwa jika suatu hari aku terkapar atau mati di tengah jalan, aku tidak ingin siapa pun harus menggotongku jauh-jauh ke rumah sakit,"

Malcolm meagangkat wajahnya.

Pastur Doug memainkan jam tangannya dan melanjutkan perkataannya.

"Suatu malam, aku melihat seorang wanita cantik mengenakan pakaian putih-putih sedang berjalan pulang Dari kejauhan, ia tampak bagai malaikat.

"Aku melihatnya masuk ke dalam sebuah apartemen. Aku berdiri di luar selama beberapa menit, Aku tidak Ingat berapa lama, karena aku sedang teler Entah bagaimana, aku pasti telah mencongkel pintu depan apartemen itu,agar bisa masuk.

"Dia tertidur dia atas sofa." Pastur Doug menggeleng dan sebuah isak tangis meluap dari dadanya. ia terdiam sesaat untuk mengambil napas. "Aku bahkan tidak melihat seorang wanita di sana. Aka tidak tahu apa yang aku lihat di sana."

Pastur Braithwaite mengeratkan rangkulanya.

"Saat semuanya berakhir," lanjut Pastur Doug, "saat semua suara-suara berhenti mengisi kepalaku, ia sudah tersungkur dalam posisi meringkuk di atas lanrtai, Sedangkan aku berdiri di dekat pintu, menatapi langit-langit."

Pastur Braithwaite menopang saudaranya agar terus berdiri. "AkU melangkah pergi dan terhuyung-huyung masuk ke dalam rumah pengungsian . .ltu adalah, malam terakhir yang kuhabiskan disana. Besok paginya, aku masuk ke dalam penjara."

Malcolm berdiri. "Ternyata kau?"

"ya."

"kau yang melakukan semua ini?"

"ya."

"Kau adalah ayahku?" "Kedua tangan Malcolm terasa kram dan urat nadi di lehernya ikut menegang.

"Bukan, malcolm. ]ack adalah ayahmu."

Pastur Doug berdiri seorang diri saat yang lain, termasuk Pastur Braithwaite, berkumpul dan memeluk Malcolm dalam luapan air mata hangat.

Air mata Malcolm membuat tubuhnya gemetar,

Paman Joe merengkuh nya dalam pelukan.

Malc0lm berbisik, "Maafkan aku."

Rain bergabung dengan keduanya dan mereka berdiri di tengah kerunmunan orang yang saling berpelukan, lengan mereka terpaku di bahu satu sama lain.

"Maafkan aku," kata Pastur Doug. "Lebih dari sekadar kata¬kata, aku sungguh-Sungguh menyesal. Mengakui semua ini kepadamu Malcolm, adalah suatu perhentian dalam perjalananku ke sUrga yang tidak bisa kulewatkan. Tanpa maafmu, hidupku takkan pernah lengkap,"

Mereka semua menangis.

EPILOG

24 Agustus 2007

mulut Noah setengah ternganga. Ia menatap ayahnya. Malcolm terus melemparkan serpihan cat kering ke udara lembap dan rnenyinari serpihan itu dengan cahaya senter Maglite. Mereka duduk berdampingan di atas Menara woodstock.

"Jadi Kakek Jack bukan benar-benar kakekku?"

"Tentu saja beliau adalah kakekmu."

"Lalu bagaimana dengan Pastur Doug?"

"Beliau adalah ayah biologisku."

Noah mengambil segenggam batang pretzel dari kantong besar dan meletakkan tiga batang dalam mulutnya. "Aku bingung,"

"Kami tahu kau pasti bingung."

"Luar biasa!" SUara Noah yang lantang memecahkan udara malam. "Dan semua orang tahu tentang ini? Semua orang dalam keluarga kita?"

"Kau mendengarkan ceritanya tidak sih?" Malcolm tergelak.

"Tentu saja semua orang tahu. Semua orang ,yang perlu tahu, tahu."

"sulit dipercaya. Ayah menceritakannya seolah ini adalah kabar lama,seolah Ayah membacanya di situs internet dan menyampaikannya pada orang lain. 'Hey tahu tidak? Kakekmu bukan benar-benar kakekmu, sebenarnya kakekmu adalah seorang pastur yang ... ."Noah tidak sanggup menyelesaikan kalimatnya,

"Aku tahu ini sulit untuk diterima, Nak, tapi inilah sejarah hidupmu. Sudah saatnya kau tahu. Tidak ada yang berubah. fakta adalah fakta. Kau tetap anggota keluarga Cooper."

Mereka duduk menatap serpihan cat kering yang berjatuhan ke tanah.

"Kenapa Ayah baru menceritakannya sekarang?"

"Karena kau sudah, dewasa, Kau sudah tumbuh besar dan menjalankan hidupmu ke tahap berikutnya. Kau adalah seorang anak kuliahan.'

"Tidak sampai hari Senin."

"Sudah cukup dekat." Malcolm tersenyum dan melemparkan sebatang pretzel ke arah putranya.

"Dan kalian semua memaafkannya," Noah menatap ayahnya,"seolah tidak pernah terjadi apa-apa."

"Kami memaafkannya, karena Tuhan memaafkannya, Kita tidak bisa memilih jalan lain."

"LUar biasa."

"Dengar noah kami memaafkannya bukan seolah tidak pernah terjadi apa-apa. Kami memaafkan, tapi melupakan tidak semudah itu. Kautahu bahwa keluargamu tidak sempurna." Malcolm menatap putranya lekat-lekat. "Hal ini tidak mudah, Noah. Kami semua menderita untuk waktu yang lama."

"Semua orang tampak baik-baik saja sekarng."

noah memandangi ayahnya dan untuk pertama kali Malcolm melihat wajah seorang lelaki dewasa pada diri putranya.

"Bagaimana dengan Ayah sendiri!" tanya Noah.

"Ibumu membuatku pergi menemui seOrang ahli terapi yang juga merupakan sahabatnya di Harrisonburg. Aku menemui ahli terapis itu selama enam bulan sekadar untuk memproses semua yang terjadi." "

"Apa terapi itu menolong Ayah?" Tanpa menunggu jawaban dari ayahnya, Noah menjawab pertanyaannya sendiri, "Kurasa begitu, karena Ayah masih ada di sekitar sini." ,

"Suka tidak suka, aku tetap di sini."

Noah meneguk air minum dari dalam botol.

"Nak, ini adalah sejarah. Sejarah keluarga kita. Beberapa bagian dari sejarah ini menyakitkan, dan bagian lain sangat indah. Tapi inilah diri kita yang sebenarnya,"

Noah terdiam sebentar dan bertanya, "apa aku boleh menemuinya?'

"Tidak dalam waktu dekat. Beliau meninggal empat atau lima tahun yang lalu,"

"Apa Ayah pernah menemuinya lagi sejak malam itu?" "Tentu saja. Ibumu dan Ayah selalu makan siang bersamanya dan Pastur Braithwaite sekali atau dua kali setahun selama beberapa tahun. Sebagai bagian dari proses penyembuhan kata ibumu."

"Memang terdengar seperti ide Ibu,"

"Pastur Doug hidup dengan baik."

"Meninggal sebagai pastur juga?"

"Meninggal sebagai pastur, pelayan Tuhan."

"Lu-ar-bi-a-sa."

Malcolm meletakkan tangan kirinya diatas pundak putranya, "Doug White membawa banyak orang ke jalan Tuhan. Kongregasinya menjadi tempat perlindungan bagi mereka yang butuh kesempatan kedua dalam hidup, Ia mengikuti contoh Pastur Braithwaite dan menjalankan tugasnya di rumah pengungsian serta penjara.Pastur Doug mendedikasikan seluruh hidupnya kepada Tuhan.",

Noah kembali mencabik lapisan cat kering pada jeruji menara. ia meminjam senter ayahnya.

"Bagaimana dengan Nathan?" tanya Noah, menyaksikan dua serpihan cat berlomba jatuh ke tanah. "Apa yang terjadi padanya?"

"Dia masuk penjara, tapi hanya sebentar, Pengadilan mengampuninya. Kami semua mengampuninya,"

"Di mana Nathan sekarang?"

"Ia pergi ke Richmond, seperti yang ia inginkan. Tapi ia tidak pernah mencalonkan diri sebagai pejabat. Ia memdapat izin untuk praktik hukum dengan syarat ia bekerja sebagai pembela umum."

"Apa. ia pernah menikah?"

"Setahu Ayah tidak,"

Noah mengunyah segemggam barangpre4:Zei. "Bagaimana dengan Ayah?Bagaimana ayah bisa menghindari

hukuman?'

"Aku tidak menghindari hukuman, Aku dihukum melakukan kegiatan sosial selama seratus jam lebih, mendapat masa per'cobaan selama tiga tahun, dan sebuah denda dari pengadilan karena telah melanggar masa jaminanku yang pertama kali, Selain itu, seseorang harus mengambil alih usaha penginapan. Hakimnya mengerti semua itu." Malcolm rmelempar sebatang pretzel ke dalam mulutnya. "Harga kecil yang harus kubayar untuk membela wanita yang kucintai,"

"Dan uangnya?" tanya Noah. "Duit puluh lima ribu dolar?"

"Ah, ya, uang itu. Mull meninggalkan makam malam itu dan menyerahkan dirinya ke polisi keesokan paginya karena telah menjadi bagian dari rencana Nathan dan berbohong selama bertahun-tahun," Malcolm membenarkan kaca matanya. "Kami gunakan uang itu untuk menebusnya keluar dari peajara sore itu juga. Seperti yang kukatakan, kita harus saling mengampuni. Dan ketika ia membayar kami, uang itu karmi berikan lagi ke orang lain."

"Siapa?"

"Kepada siapa, maksudmu?"

"Terserahlah, Yah. Siapa yang menerima uang itu?"

"Kepada Penampungan Anak-anak Alan & Anna Belle Prestwich di Washington, D.C."

"A&P?"

Malcolm tersenyum Lebar.

"Bagus sekali.'

Noah dan Malcolm tidak beranjak dari atas beranda. Langit malam terlihat semakin gelap dan bintang-bintang mulai bermunculan.

"Bagaimana dengan surat yang lain?"

"Surat yang mana?" Malcolm menolehkan kepalanya ke arah Noah.

"Yang ditulis Ibu. Yang ditulis Ibu saat Ayab ada di Brazil. Yang Ayah bilang tidak pernah Ayah dapatkan."

"Ahh.kukira kau sudah lupa soal itu. Anakku memang seorang genius."

"Ayah berbohongkan pada Ibu dan mengatakan bahwa Ayah tidak pernah menerima surat tersebut?"

"Mungkin."

"Ayah pasti berbohong!" Noah meninju lengan ayahnya. "Apa Ayah sempat membacanya?"

"Mungkin."

"Apa isi surat itu ?"

"Maaf Genius, kau harus tanya pada ibumu soal itu." Malcolm memindahkan setumpuk serpihan cat kering ke atas tangan putranya.

Noah meniup tumpukan itu dan membuat serpihan-serpihan tersebut beterbangan di udara.

Kedua mata Malcolm mengikuti salah satu serpihan yang melayang-layang di udara menuju ke tanah.

ia tidak melihat serpihan itu di permukaan tanah.

tamat

0 Response to "The Wednesday Latters 3"

Post a Comment

Translate

English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified