Download applikasi baca novel online untuk android disini: DOWNLOAD

VERTICAL RUN

“Baru saja masuk revisi untuk perintah-perintah siang tadi. Kita diinstruksikan untuk merendam subjek dalam asam saat kita selesai. Tapi dalam perintah ini tak ada syarat dia harus mati saat kita melakukannya.”

“Mengerti, Chief.” .

Dave meringis. Mengerti, Ransome.

“Siap ke tempat masing-masing.”

Dave melihat ke pintu, la melihat ke telepon. Ia harus memutuskan.

2.

“Bitte?”

Dave ingin mencabut telepon itu dari soketnya. Perempuan keparat ini tidak bisa bicara bahasa

327Inggris. “Kreuter,” ia mendesis. “Saya ingin bicara dengan Mr. Jack Kreuter. Kreuter. Tolong.”

Untuk ketika kalinya wanita itu menjawab, “Nein, nein, ich verstehe nicht.”

Sungguh menggemaskan. Detik demi detik berlalu, dan perempuan keparat ini tak mau memahaminya. Bagaimana mungkin ia tidak mengerti nama Kreuter? Terkutuklah ia sampai ke neraka!

Orang Swiss seharusnya mampu menguasai dua bahasa. Dave mencoba bahasa Prancis patah-patah, “Mademoiselle, je desire a parler avec monsieur Kreuter, votre president.”

“Bitte?”

Dave merah padam karena marah. “Kreuter. Kreuter. Kau kraut tolol, apakah kau tak tahu nama bosmu sendiri.”

Perempuan itu menjawab dengan sopan, “Eins augenblick, bitte,” dan Dave menunggu.

Beberapa detik kemudian suara wanita lain muncul di saluran. Ia bicara dengan aksen berirama naik-turun yang lazim pada perempuan-perempuan Jerman yang berbahasa Inggris, “Ya. Di sini Solvig. Ada yang bisa saya bantu?”

Terima kasih, Tuhan! “Saya mau bicara dengan Kolonel Kreuter.”

“Ah.” Dave tahu bahwa perempuan itu menutupi gagang teleponnya dengan tangan. Ia mendengarnya berceloteh dalam bahasa Jerman. Lalu perempuan itu berbicara lagi kepadanya, “Maaf atas kekacauan tadi. Kami mengucapkan ‘crew-TER’ dan Anda mengucapkan ‘CROY-ter\ Maaf.”

Dave mengenakkan gigi. Perempuan itu menerus—

328

kan, “Herr Kreuter belum tiba di biiro, bagaimana Anda mengucapkannya, di kantor. Saya kira sebentar lagi dia akan datang. Boleh saya catat pesan Anda supaya dia bisa menelepon Anda kembali?”

“Saya tidak bisa dihubungi. Saya akan menelepon lagi. Katakan padanya bahwa Dave Elliot menelepon, dan saya akan menelepon kembali…”

Telepon berbunyi klik. Jantung Dave runtuh. “Halo!” teriaknya. “Halo! Kau masih di sana?”

Sesudah hening sesaat, terdengar suara yang diseret lamban, “Well, pindahkan. Sambungkan aku dan gelitiki pantatku dengan bulu.”

“Uh, apakah ini…” Dave tergagap-gagap. Ia tahu siapa orang ini.

“Nak, sungguh lama kau menunda meneleponku. Aku sampai sudah berhenti berharap.” Sambungan antara New York dan Basel sungguh jelas dan sempurna. Kedengarannya seperti telepon lokal.

Jack sepertinya sudah cukup siap untuk berbicara dengannya. Namun bukan begitu reaksi yang diperkirakan Dave. Ia tidak tahu bagaimana menangani situasi ini. “Well… kau tahu… uh…”

“Tentu. Ya, tentu. Seharusnya aku yang meneleponmu, tapi kupikir pilihan ada di pihakmu.”

Ia tidak tahu pasti bagaimana menafsirkan kata-kata Jack. Ia tergagap-gagap lemas, “Jadi, em… Jack, apa kabar?”

“Sebagian besar tak berubah, Nak. Tuhan rupanya menganggap aku layak menerima kesehatan dan mempertahankan rambutku. Tak bisa minta lebih dari itu. Dan bagaimana denganmu? Kau baik-baik dan sehat?”

329”Sama-sama.”

“Dan keluargamu. Bagaimana dengan si pirang yang fotonya selalu kaubawa?”

“Annie. Baik, tapi kami… Ah, aku sudah punya istri baru sekarang.”

“Yah, bukankah kita semua begitu. Omong-omong, aku sendiri sudah ganti enam kali. Seperti kata orang, nasib buruk bisa saja terjadi. Jadi bagaimana dengan kariermu? Kau baik-baik—jadi pengacara hebat dan meraup banyak uang?”

“Aku tidak kuliah di fakultas hukum. Aku cuma usahawan New York biasa. Tapi ya, kurasa aku baik-baik saja. Atau setidaknya dulu. Aku… ah… boleh kausebut kehilangan pekerjaan.”

“Aku ikut menyesal, Nak. Benar-benar menyesal. Sekarang aku juga berbisnis. Perusahaan lama yang kumiliki di sini, pabrik uang. Terhebat yang pernah kausaksikan. Aku akan terpaksa membuat gudang uang besar seperti Gober Bebek. Mungkin menurutmu jiwa tempur, prajurit terhormat tak bisa menghasilkan laba, tapi nyatanya bisa. Nak, dengar kataku, tentara bayaran dan perdagangan senjata adalah bisnis yang berkembang untuk tahun ‘90-an.”

“Aku ikut senang, Jack.”

“Tadi kau bilang kau baru saja kehilangan pekerjaan, kan?” “Yah…”

“Persetan, Nak, mengapa kau tak naik burung perak besar, dan terbang ke sini. Kita bisa ngobrol. Mungkin aku punya lowongan di suatu tempat.”

“Uh…”

“Ayolah, Nak. Kau selamanya favoritku, kau tahu

330

itu. Aku tak pernah bertemu dengan siapa pun yang lebih baik darimu.”

“Jack, aku… oh, aduh, Jack…” Tidak, bukan ini yang diharapkannya. Mirip pun tidak.

“Oh, sudahlah, Nak. Ada apa? Apakah kau masih diberati kejadian di ‘Nam dulu?”

“Bukan itu.” Karena alasan yang aneh, Dave merasa matanya berkedut-kedut. “Atau mungkin itu. Tapi, aduh, Jack, aku yang melaporkanmu!”

“Ya, lalu kenapa?” Jawaban yang keliru. Bukan itu yang ingin didengar Dave.

“Kau diadili di mahkamah militer.”

“Lalu kenapa lagi?”

Tak sanggup berbicara, Dave menggerakkan rahangnya maju-mundur.

“Diadili di mahkamah militer bukan harga yang terlalu mahal untuk dibayar. Mereka orang-orang jahat dan perlu dibunuh, dan ketika mereka lenyap, bumi ini jadi tempat yang agak lebih baik.”

Dave hampir tak bisa mengeluarkan kata-katanya, “Jack, aku yang meniup peluit melaporkanmu.”

“Oh, sialan, gara-gara itulah rupanya selama bertahun-tahun ini kau tak mau meneleponku. Kaupikir aku masih marah atau apa. Tolol, Nak, itu benar-benar tolol. Aku tak pernah marah padamu kecuali mungkin agak kesal. Apalagi kau cuma melakukan yang benar. Nah, Nak, pernahkah kau melihatku mengeluh tentang orang yang berbuat benar? Tidak, bukan begitu watakku. Memang, aku agak mencemaskan pengadilan itu. Tapi tidak terlalu. Kurasa mereka tak punya keberanian untuk memasukkanku ke penjara dengan semua yang kuketahui. Dan mereka tak

331melakukannya. Jadi persetan, mereka menendangku keluar dari Angkatan Bersenjata. Sekarang aku punya rekening gemuk di bank Swiss, dan aku naik Mercedes besar. Waktu aku mengendarainya mereka mengirim pesuruh-pesuruh mereka berlarian untuk membuka pintu bagiku. Heh! Coba katakan padaku, Nak, coba katakan, untuk apa aku harus marah padamu?”

Dua puluh lima tahun dihabiskan David Elliot dengan menghukum diri sendiri karena sesuatu yang dianggapnya sebagai dosa. Namun ternyata si korban tidak menyalahkannya. Si korban justru berterima kasih. Itu lebih parah daripada pengampunan.

Ia memukulkan tinjunya ke dinding.

“Kau masih di sana, Nak?”

“Aku di sini.” Dave melirik tangannya. Darah merembes di buku jarinya.

“Nah, sekarang. Pasti—apa?—sekitar pukul 03.00 di situ. Kukira kau tak menelepon sekadar untuk basa-basi.”

“Benar.” Ia mengibaskan rasa sakit dari jemarinya. Rasa sakit itu biasa saja.

“Oke, kalau begitu kau mau mengatakan apa yang ada dalam pikiranmu?”

Dave hendak mengucapkan sesuatu. Ia menggigit lidahnya, menarik napas dalam, dan mulai bicara. “Jack, apakah kau kenal… apakah kau pernah dengar seseorang bernama John Ransome?”

Suara Kreuter jadi bersemangat. “Johnny Ransome? Tentu saja aku tahu. Dia sersan di unit itu, oh, coba kuingat-ingat, mungkin delapan atau sembilan bulan sebelum kau datang.”

Jantung Dave berdebar-debar. Ransome pernah jadi

332

salah satu anak buah Kreuter. Mungkin mereka berdua masih berhubungan. “Di mana dia sekarang?”

“Tidak ke mana-mana, kecuali namanya yang terpampang pada dinding hitam yang mereka dirikan di Washington.”

“Mati?” Dave menggigit bibirnya.

“Benar. Menginjak ranjau. Akulah yang memasukkannya ke kantong dan mengidentifikasinya. Mengapa kau tanya?”

“Ada orang yang memakai namanya. Katanya dia pernah bertugas bersamamu.”

“Banyak yang pernah melakukannya. Bagaimana tampangnya?”

“Besar, gempal, sangat berotot. Rambut kelabu pasir. Wajah persegi. Tingginya 175 atau 180 senti. Aksen Appalachian, kedengaran seperti… orang yang kita kenal.”

“Bisa salah satu dari selusin orang yang berlainan. Apa lagi yang bisa kauceritakan tentang dia?”

“Tak banyak. Kecuali… mungkin, hanya mungkin nama aslinya Donald. Kudengar…”

“Wah, wah. Dulu ada dua Donald dalam unit itu pada saat yang sama dengan Sersan Johnny. Yang satu letnan dua, yang lain kapten. Orang-orang memanggil letnan itu Tceman’, sedang yang satunya ‘Captain Cold’—mereka berdua orang-orang busuk seperti kau.”

“Aku bukan orang busuk.”

Jack menyeret umpatan itu, “Bulllll-sheeeeet! Satu-satunya perbedaan antara kau dan mereka berdua adalah kau punya selera humor.”

Uh-uh, pikir Dave. Tidak. Tidak benar. Aku tidak

333sama dengan mereka, tidak pernah, dan takkan pernah…

“Jadi bagaimana, Nak, apa lagi yang bisa kauceritakan padaku tentang Donald-keparat-Donald-mu ini?”

“Dia punya banyak kartu identitas. Salah satu menyebutkan dia bekerja di Departemen Veteran. Satu lainnya menyebutkan dia bekerja untuk sesuatu yang disebut The Specialist Consulting Group.”

Dave mendengar Jack menarik napas keras. “Apa urusanmu dengan mereka?”

Dave tak menghiraukan pertanyaan itu. “Siapakah mereka, Jack?”

Suara Kreuter bernada tidak setuju. “Kontraktor. Pembunuh bayaran. Jenis yang takkan disentuh orang-orang seperti aku dengan garu sampah sekalipun.”

“Apa…”

Kreuter mendengus. “Kurasa aku kedengaran sok suci. Sama seperti lelucon tentang pengacara dan penyelundup perempuan dari Tijuana itu. Standar profesional dan lain-lain. Tapi, tidak, mereka melakukan pekerjaan yang sama sekali takkan kukerjakan. Specialist Consultin’, entah apa, rasanya tak punya nilai moral. Setidaknya, setahuku.”

“Untuk siapa mereka bekerja?”

“Siapa saja yang punya uang. Siapa saja yang ingin orang lain menyelesaikan pekerjaan kotor mereka, dan bersedia membayarnya.”

“Pemerintah?”

“Tidak belakangan ini, itu pasti. Specialist Consultin’ sudah lama tidak dipakai untuk pekerjaan Pemerintah AS. Sekitar dua puluh tahun lebih. Di

334

Washington tak bakal ada yang menyentuh mereka. Bukan berarti mereka sama sekali tak punya satu-dua hubungan, entah di mana, entah bagaimana. Bukan hubungan langsung, bukan sebagai kontraktor utama dan bukan pula sebagai subkontraktor. Mungkin sub-subkontraktor atau sesuatu seperti itu. Mereka sudah ada sejak dulu, sejak ayahku pulang dari perangnya. Jadi beralasan kalau mereka punya teman. Nah, sekarang apakah kau akan menceritakan padaku mengapa kau bertanya-tanya tentang mereka? Terus terang itu bukan pertanyaan yang akan diajukan warga negara baik-baik.”

“Aku punya alasan sendiri. Ceritakanlah padaku tentang mereka, Jack. Siapa mereka dan apa yang mereka kerjakan?”

“Oh, aku tak kenal mereka. Juga tak ingin kenal. Dan mengenai apa yang mereka kerjakan, well, umumnya kelompok seperti Specialist itu terlibat dalam segala macam bisnis. Intelijen dan analisis, menyuap dan membujuk perwira asing, menjadi subkontraktor operasi, pekerjaan kotor R&D, penjualan senjata, plus menyelundup dan masuk dan menyadap tempat orang lain serta berbagai pekerjaan kotor lain.”

“Pekerjaan kotor R&D?”

“Ya, pekerjaan iblis yang hanya terpikir oleh pikiran bawah sadarmu yang paling kotor.” “Maksudmu…”

“Nak, aku tak suka berlarut-larut membicarakan hal ini.”

Dave menghela napas dalam. “Jack, aku harus tahu. Harus!”

Kreuter mengeluh. “Yang kuketahui tak lebih dari

335spekulasi. Aku cuma bisa bilang padamu bahwa desas-desus sudah beredar lama—selama yang kuingat. Di akhir Perang Dunia II, pihak Rooskie menduduki Jerman bagian timur tempat para Kraut itu paling banyak membangun kamp kematian, dan paling banyak, dalam tanda kutip, melakukan eksperimen medis. Menguasainya, bisa kaubayangkan Joe Stalin, yang gila seperti tikus kakus, tentu mendapatkan segala kebusukan yang sedang digarap para Kraut itu. Dan kaupikir sendiri begitu orang-orang kita tahu, mereka mengatakan bila pihak Rusia punya barang itu, kita harus punya juga.” “Barang, Jack?”

“Bibit penyakit, Nak, bibit penyakit. Penyakit menular. Kuman dan virus dan senjata biologi. Menurut desas-desus banyak ilmuwan musuh yang waktu itu mengembangkannya. Menurut desas-desus masih ada yang melakukannya.”

Mereka terdiam lama, Dave menyalakan sebatang rokok.

“Kau diam saja, Nak.” Suara Jack jadi lembut. Dalam ucapannya tersimpan keprihatinan. “Cuma berpikir, Jack.” “Berpikir apa?”

“Apa yang akan terjadi bila lima puluh tahun lalu seseorang, katakan saja dokter Angkatan Bersenjata dalam staf MacArthur, kebetulan menemukan fasilitas riset senjata biologi Jepang.”

“Pertanyaan mudah, Nak. Barang-barang itu dikemas dan dikirim pulang. Sama seperti yang mereka lakukan dengan semua lab roket Nazi, serta orang-orangnya.”

336

“Lalu apa?”

“Kau harus ingat, senjata biologis sangat ilegal. Dilarang oleh Kongres dan dikutuk oleh perjanjian bersama. Jadi mereka akan melakukan apa saja untuk menjaga kerahasiaannya. Misalnya mereka takkan mensubkontrakkannya pada orang luar—mungkin pada teman-temanmu dari Specialist Consultin’ atau orang-orang seperti mereka. Dan beberapa orang yang perlu tahu mengenai hal itu akan diberitahu bahwa semua itu sekadar untuk riset—sekadar agar. tak ketinggalan dari apa yang dikerjakan Rusia. Orang-orang Rusia itu punya sesuatu yang dinamakan Biopreparat untuk diujicobakan di pulau di Laut Aral. Tak seorang pun diizinkan pergi ke pulau itu. Mereka yang pergi tak pernah kembali. Jadi bisa kaubayangkan bila pihak Rusia melakukan kegiatan R&D haram, tentu pihak Yankee juga. Dan tentu saja bila mereka—pihak kita atau pihak mereka—merasa seseorang akan membuka rahasia mereka, mereka akan melakukan apa yang secara teknis disebut ‘appropriate sanction1, istilah yang definisinya mencantumkan juga langkah-langkah yang patut disesalkan namun perlu, langkah-langkah yang sudah kita kenal dengan sedih.”

“Satu pertanyaan terakhir, Jack. Apa yang akan terjadi pada seseorang yang terinfeksi oleh salah satu senjata itu?”

“Nak, kemungkinan besar akan mati.”

Monyet itu. Monyet tolol keparat itu.

Ia sudah curiga sejak kucing Marge waspada terhadapnya, sudah tahu sejak ia melihat bagian dalam akuisisi terakhir Bernie Levy, dan sejak itu meng—

337habiskan setiap detik dengan berdoa mudah-mudahan ia keliru.

Lockyear menjadi kedok untuk laboratorium riset senjata biologis. Lab yang sudah ada sejak akhir Perang Dunia II. Lab yang didirikan oleh laki-laki yang merasa pantas berpose dengan seragam militer berusia lima puluh tahun untuk potretnya.

Laboratorium senjata. Dari luarnya lab itu seperti perusahaan bioteknologi biasa. Tetapi di bagian dalamnya—di dalam Lab nomor lima—tempat itu jauh daripada sekadar biasa. Monyet itu pun bukan binatang lab biasa. Monyet itu telah terinfeksi zat uji coba. Dan monyet itu lepas dan menggigit…

David Elliot almarhum.

Bernie telah dibujuk agar membeli Lockyear. Siapa yang tahu bagaimana atau mengapa? Mungkin Harry Halliwell, si pialang jujur, menangani transaksi itu. Mungkin orang lain. Itu tidak penting. Yang penting adalah mereka telah menarik rasa tanggung jawab dalam diri Bernie. Ia jatuh ke dalam kebohongan yang mereka ceritakan padanya. Itulah sebabnya ia bersedia melakukannya. Itu mestinya tak jadi masalah baginya. Tidak bila mereka mengungkit rasa patriotismenya. Semper Fidelis.

Bernie yang malang. Ia tidak tahu yang sebenarnya tentang Lockyear. Mereka tidak bercerita padanya. Tidak sampai…

Ia menugaskan mantan tukang mengadu untuk menangani transaksi ini. Dan tukang mengadu itu terinfeksi.

Cepat atau lambat Dave akan mulai memperlihatkan gejala. Ia akan pergi menemui dokter. Lalu menjalani

338

beberapa tes. Tes itu akan mengungkapkan sesuatu yang tak dapat dijelaskan. Dan masalah pun akan meledak.

Panggilan ke Pusat Pengawasan Penyakit. Konsultasi dengan Organisasi Kesehatan Dunia. Pertanyaan, pertanyaan, dan lebih banyak pertanyaan.

Pertapaan diajukan kepada orang-orang yang tidak suka pertanyaan.

Penyakit ini menular, kau tahu. Benar-benar amat menular.

Dave menuang kopi untuk diminumnya sendiri ketika ia berada di kantor Bernie. Bernie minum dari cangkir yang sama. Kemudian ia bunuh diri. “Bernie Levy hanya menyalahkan Bernie Levy. Itu lelucon yang menggelikan, Davy. Berbalik adalah permainan yang adil…”

Ia membawa cangkir itu bersamanya. Empat puluh lima tingkat dari tanah.

Apa pun yang menimpa Dave, infeksi itu tentu sangat hebat sehingga Bernie lebih suka bunuh diri daripada menanggungnya. Dan Ketika Partridge mengira Dave telah kabur dari gedung itu, ia berkata, “Matilah kita semua.”

Marge.

Itulah sebabnya mereka melakukan vaginal smear dan mengambil sampel darah. Mereka khawatir Dave telah…

Andai kata kau sampai menciumnya saja. Apa pun penyakit yang ia dapatkan dari monyet itu tentulah lebih dari sekadar serius. Kaupikir bisa diobati?

Bila obatnya ada, mengapa mereka tidak memberikan saja obat itu kepadanya?

339Lebih mudah membunuhmu dan urusan selesai. Kau tukang tiup peluit, ingat? Misalkan mereka memberimu obat. Apakah kau akan menunjukkan terima kasih yang sepantasnya dan menutup mulut besarmu itu? Atau apakah kau akan go public? Dan seandainya kau mereka, orang busuk seperti kau ini, apakah kau bersedia mengambil riMko?

Di ujung seberang sambungan telepon sejauh 6.400 kilometer itu, Mamba Jack Kreuter bertanya, “Kau sudah menyimpulkan situasimu, Nak?”

“Begitulah, Jack.” .

“Kau mau menceritakannya padaku?”

Dave mengembuskan napas panjang. “Terima kasih, Jack. Tapi sebaiknya tidak.”

“Rasanya bisa kukatakan aku mengerti. Seorang pendeta Jerman yang kukenal di sini memberikan kata yang tepat untuk itu. Lima suku kata, yaitu: ‘eskatologi’. Itulah yang kita bicarakan selama ini, eskatologi. Tapi bagaimanapun, bila ada yang bisa kukerjakan…”

“Kau sudah cukup membantu. Kau sudah menceritakan apa yang perlu kuketahui. Dan aku berterima kasih.”

“Tak jadi soal. Dan dengar, bila kau berhasil lolos dari masalah-masalahmu ini, kau harus meneleponku. Aduh, kita dulu bersahabat, dan kita seharusnya tetap bersahabat.”

“Aku akan melakukannya bila bisa, Jack.”

“Nah, Nak, aku sungguh berharap kau akan melakukannya.”

“Oke. Dengar, Jack. Aku harus pergi.”

340

“Baiklah. Tapi sekarang dengarkan, singkirkanlah urusan di ‘Nam dari benakmu. Itu sudah sangat lama, dan tak berguna memikirkannya terus.”

“Baiklah, Jack.”

“Dan tetaplah pakai otakmu, kaudengar?” “Ya.”

“Sayonara, Nak.” “Sayonara, Jack.”

3.

Senjata biologis. Tanpa suara, tak kasatmata, dan mematikan. Suatu benda dari mimpi buruk dan novel-novel Stephen King. Bukan jenis senjata yang kaupakai untuk membunuh seorang musuh, bahkan bukan untuk membunuh satu resimen. Kau bahkan tidak memakainya untuk membunuh seluruh tentara musuh. Hanya ada satu penggunaan untuk senjata macam itu—membunuh seluruh negeri.

Sekarang senjata itu lepas berkeliaran dalam tubuhnya.

Dan ia lepas berkeliaran di New York. Tak heran mereka memburunya. Dan tak heran Ransome berpikir Dave-lah pihak yang jahat. Memang!

Ia harus lari. Mereka tidak tahu ia ada di dalam gedung itu. Ransome sudah memerintahkan orang-orangnya untuk menjauh dari tangga dan lift. Laki-laki yang disebut Myna, yang bertanggung jawab di lobi, mengira ia pekerja komputer dari American Interdyne Worldwide. Dave bisa melewatinya.

341Bila lari, ia akan selamat. Sekali ia berada di jalan ia bisa kabur ke… ke… ke mana pun yang diinginkannya. Takkan sulit. Ia akan memanggil taksi dan meminta si sopir membawanya menyeberangi Sungai Hudson menuju ke New Jersey. Stasiun kereta api Newark merupakan tempat yang sama baiknya seperti tempat mana pun. Dari sana, ia bisa naik Amtrak Express ke Philadephia atau Washington. Kemudian ia bisa naik pesawat. Ia sudah mencuri cukup uang untuk terbang ke tempat mana pun di dunia.

Begitu sampai di tempat persembunyian, ia akan menelepon beberapa orang. Departemen Kesehatan. Pers. Bahkan mungkin satu atau dua anggota Kongres.

Bila ada obat untuk apa yang telah mereka berikan kepadanya, publisitas itu akan memaksa mereka untuk memberikannya. Dan bila tidak ada… ia akan menyeberangi jembatan itu bila sampai di sana.

Ia harus lari. Tidak ada alasan untuk tetap tinggal. Apalagi alasan untuk melangkah dalam baku tembak.

Ah, mungkin ada satu alasan.

Marge.

Mungkin dua alasan.

Ransome. Sudah saatnya melunasi utang-piutang. 4.

Pukul 03.36—satu setengah jam sebelum cahaya redup pertama datangnya pagi di timur; tiga jam sebelum matahari terbit.

Dave memandang langit berlama-lama untuk terakhir kali. Di dekat cakrawala, langit tampak pucat,

342

warna biru muda, dan bintang-bintang terhapus sinarnya oleh berpendarnya jutaan lampu jalan. Lebih tinggi lagi, beberapa bintang, hanya yang paling terang, terbakar menembus kabut kota. Namun tepat di atas kepala, malam masih hitam dan pekat, bintang-bintang tampak tajam, bercahaya terang bericlerang— Perseus untuk selamanya mengejar Andromeda, yang harus diselamatkannya; Orion menguntit gugusan Great Bear sepanjang masa; Pleiades menari-nari di belakang cadar biru cerah.

Betapa indahnya langit malam, betapa menyedihkan lampu-lampu listrik membutakan mata penghuni kota terhadap keagungannya. Kapankah terakhir kali ia melihat bintang-bintang itu, benar-benar melihatnya? Sudah begitu lama… berkemah di bawah tenda mereka di ketinggian Sierra, Taffy mendengkur mabuk, Dave terjaga dan memandang terpesona ke atas pada… Kita makin suka berfilsafat, kan? Dave mendesah. Ah, setidaknya langit cerah. Diramalkan akan terjadi hujan badai—Dave mendengar prakiraan cuaca dari radio mobil sewaan itu. Tapi, badai itu tidak datang, setidaknya belum. Terima kasih, Tuhan, atas berkat-berkat kecil. Di sekelilingnya pemandangan kota itu tenang. Di kejauhan, di selatan Battery dan di balik pelabuhan, ia bisa melihat cahaya lampu dari Jembatan Verrazano. Mendadak disadarinya bahwa belum pernah sekali pun ia sampai ke jembatan itu. Sudah lebih dari dua puluh tahun ia habiskan di kota New York dan ia belum pernah menginjakkan kaki di Pulau Staten. Aneh— pulau itu merupakan bagian kota ini. Orang-orang tinggal di sana. Pulau itu punya restoran, teater, dan

343bahkan mungkin satu-dua museum. Namun ia tak pernah ke sana. Pernah terlintas gagasan untuk pergi ke sana. Kini, di saat dan di tempat seperti ini, ia bertanya-tanya dalam hati seperti apakah tempat itu.

Memang aneh hal-hal yang lewat dalam pikiranmu bila kau”akan mati.

Satu hal ganjil lainnya adalah selama bertahun-tahun bekerja di Senterex, ia belum pernah sekali pun sampai di atap gedung ini. Atap gedung-gedung lain, ya. Ada kebun di atap gedung apartemennya; di musim panas, pada pagi hari Minggu, ia suka pergi ke sana untuk membaca The New York Times. Helen menggelar resepsi pernikahan mereka rli atas gedung lain—suatu tempat di pusat kota; barangkali ia bisa melihatnya dari tempatnya berdiri bila ia tahu ke mana harus memandang. Dan juga atap-atap lain. Namun ia belum pernah ke atap gedung ini.

Tempat itu penuh sesak. Bagian tengahnya dipenuhi dengan sistem pengatur udara gedung itu, mesin raksasa berwarna kelabu. Bahkan pada malam selarut ini, disetel rendah, mesin itu bergemuruh bising. Di bagian lain ada pipa-pia, tandon air darurat untuk fire sprinkler gedung tersebut, segala macam saluran, dan tentu saja, blockhouse semen tempat tangga darurat berakhir.

Generasi-generasi mendatang akan menyebut blockhouse itu sebagai “tempat pertahanan terakhir Elliot”. Bahkan mereka mungkin akan memasang tanda peringatan, sama seperti untuk Custer.

Dua deret susuran besi mengitari tepi atap itu. Pagar itu kokoh dan tertanam kuat. Ia memeriksa kekuatannya dan memeriksanya kembali sebelum memutuskan untuk memakainya.

344

Ia membungkuk ke balik susuran itu dan melihat ke bawah. Jalan raya jauh di bawah. Setitik aspal lebih gelap dari lainnya.

Bernie.

Ia tidak mau memikirkan hal itu. Tidak dengan apa yang hendak dilakukannya. Di samping itu, sudah saatnya menyelesaikan urusan ini.

Ia menarik kabel coaxial itu—sama seperti kabel yang menyelamatkan nyawanya siang tadi. Ia menemukan lagi gulungan kabel seperti itu sepanjang 75 meter di salah satu ruang telepon. Kabel itu kuat; ia tahu kabel itu lebih dari cukup untuk menahan bobotnya. Sayangnya kabel itu berlapis karet—terlalu licin dan terlalu tipis sebagai tali yang tepat untuk panjat-memanjat. Tapi, itu saja yang dipunyainya, jadi dengan mengorbankan lebih banyak waktu dan kejengkelan, dengan hati-hati ia merangkapnya, dan mengikatkan simpul-simpul besar setiap semeter. Simpul-simpul itu bisa jadi pegangannya.

Ia memakai sarung tangan tukang reparasi telepon, mengencangkan lilitan tali pada pahanya, dan mencoba kekuatan kabel itu untuk terakhir kali, lalu melangkahi susuran pagar itu.

Ia menunggu suara dari dalam pikirannya. Tidak ada. Malaikat pelindung Dave sama sekali bungkam. Seolah tertegun dengan apa yang akan dilakukannya sehingga lupa berkomentar.

Ayolah, katakan sesuatu.

Kau akan mati.

Lalu kenapa?

Kau akan membawaku bersamamu. Itulah hidup, Sobat.

345Ia menggoyang kabel itu. Rasanya kendur, bebas dari kekusutan. Saat pergi.

Ia mencengkam kabel itu, menapakkan kaki di pinggir atap, meregangkan kabel itu dengan bobotnya. Satu kaki di bawah yang lain, satu tangan di atas yang lain, satu simpul sekali jalan. David Elliot mulai berjalan mundur menuruni dinding lantai 50.

Dua puluh lima tahun lalu ia pernah melakukan perbuatan ini. Di Fort Bragg, mereka memerintahkan semua peserta latihan memanjat cerobong asap setinggi 45 meter, lalu turun dengan tali. Dua orang dalam unit pelatihan Dave menolak. Orang ketiga berhasil sampai ke puncak dan kemudian tak mampu bergerak. Mereka bertiga dicoret. Tidak ada baret hijau untuk mereka. Dave bergabung dengan yang lain menertawakan kepengecutan mereka.

Kita tak bisa tertawa sekarang, kan?

Tali dari kabel itu mengiris pahanya dengan kejam. Bila ia tidak turun dengan cepat, ikatan itu akan mengakibatkan kakinya mati rasa.

Di antara jendela-jendela gedung itu ada lapisan lembaran batu granit. Dave menapakkan kakinya ke sana. Sepatunya disisipkannya di sabuk. Batu granit itu kasar dan tajam, serta terasa dingin menembus kaus kakinya.

Gedung itu didirikan pada awal dasawarsa 1960-an. Kini, sesudah tiga puluh tahun ditempa angin, cuaca, dan polusi, batu itu mulai aus. Beberapa retakannya cukup besar untuk dimasuki pensil. Takkan makan waktu lama lagi, paling banyak beberapa tahun, lapisan batu itu akan runtuh. Kemudian

346

kepingan-kepingan batu akan mulai menghujani jalan. Dalam hati Dave bertanya-tanya ada berapa gedung lain di New York yang berkondisi sama seperti ini.

Ia melewati lantai 50. Lampu-lampu di sana mati. Seharusnya ia memeriksa lampu-lampu itu sebelum turun. Tidak lucu bila ada pekerja malam yang menengok ke luar jendelanya dan melihat seorang laki-laki dengan sepasang pistol tersarung di pinggangnya bergelantungan 50 lantai di atas jalan.

Ia melihat ke bawah. Tidak ada lampu hingga lantai 45. Ia aman.

Kabel coaxial }tu tidak cocok untuk menggantikan tali tambang. Kabel itu licin; dan tangannya letih mencengkeram tali tipis itu. Lebih lama lagi dan tangannya akan kejang. Dan itu akan jadi masalah.

Antara lantai 47 dan 46, tumit Dave menyentuh sekeping granit yang lepas dari permukaan gedung. Enam detik kemudian kepingan batu itu meledak menimpa tong sampah hijau, menimbulkan bunyi yang terdengar seperti ledakan mortir. Tentu saja Myna, penjaga lobi tadi, akan mengirim orang untuk memeriksa, kecuali ia benar-benar tolol.

Di lain pihak, New York memang penuh dengan suara-suara aneh dan tak dapat dijelaskan. Setiap saat sepanjang hari terdengar geraman dan lolongan serta kadang-kadang seperti ledakan bom. Orang jadi terbiasa dengan itu. Mungkin Myna mengabaikan bunyi itu.

Sudah hampir sampai ke lantai 45. Perhentian terakhir—terakhir dalam banyak arti bila Ransome dan anak buahnya ada di kantor Bernie.

Ia meninggalkan atap gedung dekat sudut timur

347laut. Ketika mencapai lantai 45, ia berada di sebelah kiri jendela yang dipecah Bernie.

Mereka tentu sudah menutup jendela itu. Manajemen gedung tentu bersikeras menutupnya, demikian pula pihak polisi. Dengan prakiraan cuaca menyatakan datangnya hujan badai, tak seorang pun ingin ada kantor yang terbuka untuk dirusak air. Satu-satunya pertanyaan adalah apakah mereka memakai kanvas atau—seperti yang mereka pakai untuk menutupi jendela lobi yang pecah—plywood.

Jendela yang pecah di bawah sana—itulah yang memberimu gagasan ini, kan? Kau tahu kau tak bisa melewati Ransome. Kau harus mengitarinya. Dan ya, aku setuju. Gagasan ini gila luar biasa.

Ia turun sejajar dengan jendela. Jendela itu ditutup dengan kanvas.

Ia keliru memperhitungkan panjang kabel yang dibutuhkannya. Ada tiga atau empat meter yang terkatung-katung di bawahnya. Itu bisa berbahaya seandainya ia terpaksa meninggalkan kantor Bernie dengan terburu-buru.

Dave menapakkan kakinya pada batu dan memutar lengan kanannya sehingga terlilit kabel. Satu, dua, tiga lilitan. Ia melepaskan pegangan tangan kiri. Kabel itu mengiris ke dalam daging. Sambil meringis, ia menggulung naik beberapa meter yang tergantung di bawahnya, mengikatnya, dan kemudian melepaskan lilitan tangan kanannya.

Dan sekarang bersiaga untuk sesuatu yang benar-benar berbahaya. Ia menanyai suara dalam benaknya, apakah kau siap untuk ini?

Mengapa kau tak membuat tali jerat dan gantung diri saja?

348

Empat puluh lima lantai dari atas jalan—tapi hanya butuh enam detik untuk jatuh sejauh itu—David Elliot mendorong tubuhnya menjauh dari sisi gedung dan berayun ke arah jendela bertutup kanvas itu. Di puncak ayunan, ia merebahkan tubuh ke belakang, meregangkan kaki, dan menggenjot seperti anak di ayunan.

Ia^berayun menjauh dari jendela tertutup itu, menggenjot lagi, dan berayun kembali. Kabel itu berkeriat-keriut. Dalam hati ia bertanya-tanya seberapa besar daya regang kabel itu.

Apakah tidak terlambat mengajukan pertanyaan itu di tengah permainan seperti ini?

Ia berayun-ayun seperti pendulum. Lengkung lintasan ayunan itu membawanya melewati jendela bertutup kanvas tersebut. Ia hampir mencapai jendela kaca di sebelahnya. Hampir, tapi belum. Ia berayun kembali.

Jendela-jendela itu bertutup curtainwall aluminium—dinding luar tanpa fungsi struktural. Curtainwall… Selama sembilan jam yang membosankan, lima hari seminggu, setiap minggu sepanjang masa kuliah, ia bekerja di pabrik pengolahan aluminium, dibayar 75 sen per jam, membuat curtainwall. Mungkin orang-orang yang membangun gedung ini duki membeli curtainwall dari pabrik tempat ia bekerja. Waktunya kira-kira sama. Bukankah itu kebetulan?

Ia mencapai puncak ayunan ke belakang. Ia menarik dan menggenjot serta mulai turun kembali.

Kali ini ia akan berhasil. Curtainwall itu menonjol lima senti dari lapisan batu granit. Ia tentu bisa

349mengaitkan jari pada logam itu, menghentikan ayunan, dan mendorong tubuh ke depan. Kemudian ia bisa melihat ke balik jendela. Bila Ransome benar meninggalkan kejutan di kantor Bernie, ia tentu bisa melihatnya.

Pinggir jendela kaca berangka itu semakin dekat. Dave meraihnya, mencengkeramkan jari-jarinya. Momentum ayunannya mengempas kembali. Tenaganya nyaris melepaskan cengkeramannya. Ia mencengkeram erat-erat sambil mengenakkan gigi.

Keliru. Kau memendekkan kabel itu terlalu banyak.

Ia berhasil. Ia menegang, menarik badan ke depan, hampir ke sana, jari-jarinya licin karena keringat, tumitnya berusaha mencari pijakan pada granit, kabel tipis itu mengiris otot pahanya.

Ia sampai di sana—berpegangan pada ambang jendela yang sempit, merapatkan tubuh pada jendela kaca, melihat ke dalam kantor Bernie.

Lampu-lampunya menyala. Apa yang ditinggalkan Ransome untuknya bisa terlihat jelas. Dan ya, tepat seperti itulah yang disebut Ransome sebagai mahakarya.

Jemari Dave lepas dari curtainwall itu. Ia terguling dari jendela. Beberapa lama ia terayun maju-mundur sampai gerakan itu reda.

Tidak sepenuhnya sadar, David Elliot tergantung lemas dan tak berdaya di atas jalan.

5.

Hijau zamrud.

Dengan mata merah delima.

350

Seekor lipan bak permata.

Di atas sehelai daun bak batu kemala.

Ia mendengar bunyi berdesing membelah langit. Ia mengenal bunyi itu. Roket RPG-7 buatan Soviet^ Ia memejamkan mata.

Roket itu meledak. Ia membuka mata. Daun itu bergetar. Lipan itu seperti tak mempan oleh pemboman itu. Ia terus makan.

Seseorang meneriakkan perintah. Perintah yang tak masuk akal.

Lipan itu berbisa. Dalam pelatihan survival, mereka mengajarimu serangga mana yang bisa kaumakan dan mana yang tidak. Yang ini akan membuatmu kejang-kejang.

Lagi pula ia tidak lapar.

Sepucuk AK-47 mengosongkan magasinnya. Peluru melecut semak-semak. Beberapa berdetak pada pohon di dekatnya. Seseorang berteriak, “Mundur!” Itu Kreuter. Apa yang dikatakannya masuk akal juga.

Itu bukan Vietcong, bukan pasukan patroli. Siapa pun yang mengatakan itu pasukan patroli pasti tidak tahu apa yang dikatakannya. Itu dua brigade penuh pasukan Vietnam Utara. Mereka punya kendaraan lapis baja dan punya artileri. Ini bagian dari serbuan besar. Bukan yang ingin dihadapi oleh tiga regu yang kekurangan orang.

“Mundur! Mundur!”

Mundur bukanlah yang dikehendaki. Lari terbirit-biritlah yang diperlukan.

Senapannya tergeletak di dalam lumpur. Ia mengulurkan tangan kanan untuk mengambilnya. Ia tidak bisa memegangnya. Senapan tergelincir dari

351jarinya. Itu aneh. Rasanya ada yang tidak beres dengan tangannya. Mungkin ada hubungannya dengan potongan logam yang menonjol keluar dari lengan atasnya. Potongan besi itu sepanjang paku bantalan kereta api, tapi lebih pipih dan melengkung. Sepertinya benda itu masuk ke satu sisi dan keluar dari sisi lainnya. Tidak ada banyak darah.

Dengan memakai lengan kanannya, ia mengambil senapan itu, sepucuk CAR-15, dan mendorong tubuh untuk berdiri. Ia gemetar dan nyaris jatuh.

Di sebelah kirinya, dua orang sedang tertatih-tatih menerobos semak belukar. Ia tidak bisa memfokuskan pandangan pada mereka. Oh, sekarang ia melihat siapa mereka. Latourneau dan Pasceault. Mereka mendaftar bersama di kota kecil di New Hampshire, dan mereka bersahabat karib. Latourneau seperti sedang membantu Pasceault, yang sulit berjalan. Kaki kanannya hilang. Itulah sebabnya ia tidak bisa berjalan dengan baik.

Pijar yang sangat terang membutakan Dave. Ketika ia” bisa melihat lagi, Latourneau dan Pasceault sudah lenyap. Hanya ada kawah berlumpur, dan asap.

“Berbaris! Mundur!”

Itu lucu. Orang yang baru saja melangkah ke dalam gilingan daging tidak mungkin mundur dengan teratur.

Ia terantuk-antuk ke arah suara Kreuter.

Bunyi yang ditimbulkan Kalashnikov AK-47 cukup istimewa. Kau takkan pernah melupakannya. Beberapa prajurit Vietnam Utara itu tampaknya membawa modifikasi Tipe 56 dengan magasin berisi 40 peluru. Senapan itu bisa menembakkan 350 peluru per menit. Banyak sekali timah di udara.

352

Sparky Henderson berteriak-teriak di radio meminta bantuan dari udara*. Kreuter merenggutkan handset itu dari jarinya dan dengan tenang memberikan koordinat mereka. Dave terantuk.

Jack menariknya. “Perlu medis?”

“Tidak sakit rasanya.” Tepat seperti yang mereka ceritakan kepadamu. Bisa berjam-jam lagi sebelum luka itu terasa sakit.

Jack, Sparky, dan Dave berlari.

Langit di atas mereka penuh dengan deruan ombak gemuruh. Hutan di belakang mereka tertelan kobaran api. Gemuruh petir dan halilintar dari Tuhan. Serangan udara sedang berlangsung.

Kepala Dave sudah hampir jernih sekarang. Ia tahu sedang berada di mana, apa yang terjadi, dan ke mana ia akan pergi. Akan ada evakuasi udara dekat desa yang mereka lewati siang tadi. Hanya di tempat itulah helikopter bisa mendarat. Heli itu dijadwalkan tiba pukul 19.15.

Ia menerobos semak belukar. Dedaunan hijau itu berat dan basah. Akar-akaran melilit kakinya. Ia sudah jauh dari pertempuran. Lengking pesawat pem-bom terdengar jauh, bunyi ledakan hanya seperti ketukan.

Ia berhasil memisahkan diri dari yang lain. Atau, mungkin mereka berhasil memisahkan diri darinya. Mana pun kejadiannya, penarikan mundur ini tidak dilakukan dengan ketepatan militer. Gerakan mundur kacau-balau. Semua orang lari dalam kepanikan. Kreuter tentu akan marah.

Semua itu karena kejutan dan hebatnya serangan

353dari pihak Vietnam. Pasukan patroli itu terjeblos langsung ke tengahnya. Musuh sedang menunggu, menjepit dalam posisi bagus, sergapan yang diperhitungkan untuk menghabisi.

Mereka sudah tahu ada regu patroli Amerika mendatangi.

Dave berhenti dan melihat lengannya. Mulai sakit sekarang. Akan ada bekas luka besar dan mungkin kerusakan otot. Untuk sementara waktu ia akan masuk dalam daftar nontempur.

Dengan hati-hati ia mengeluarkan kotak plastik dari saku kemejanya. Di dalamnya ada sebungkus rokok Winstons dan korek api butana. Ia membuka kotak itu dengan mulut, menarik sebatang rokok dengan bibir, dan menyalakannya. Nikotin itu menolong.

Ia menutup kotak itu dengan hati-hati dan menyelipkannya kembali ke dalam seragam.

Di dalam saku kirinya ada kompas. Tangan kirinya tak dapat ia pakai. Butuh beberapa lama baginya untuk mengeluarkan kompas itu. Ia membuka tutupnya, membacanya, dan menyesuaikan kembali arahnya. Pikirnya ia punya sekitar sejam lagi. Ia punya banyak waktu.

Ia keluar dari hutan di tepi sawah padi. Desa itu ada di sana, di sebelah kanannya, terpisah sekitar dua ratus meter. Ia bisa mendengar ratap tangis dari desa itu. Tak bisa dibayangkannya apa yang menyebabkan ratap tangis itu.

Ia melihat arloji. $12 dari PX di Cam Ranch Bay. $12 harus dikeluarkannya sesudah arlojinya yang lama dihancurkannya berkeping-keping. Ia ingin menghan—

354

curkan arloji ini juga. Pukul 18.30. Masih ada 45 menit lagi sebelum helikopter-helikopter itu tiba di - tempat pendaratan.

Jerit tangis itu naik-turun bagaikan lolong serigala. Dave bertanya-tanya dalam hati apa yang sedang terjadi. Mungkin ada orang melukai sapi dengan granat pecah. Ia mulai merencah sawah, menuju ke desa itu.

Ia sampai ke tempat itu dari selatan. Semua tangis dan jeritan itu berasal dari ujung utara.

Senapannya tergantung di pundak. Toh ia tak bisa memakainya, tidak mungkin dengan lengan kiri terluka. Ia mencabut pistolnya dari sarung, model standar kaliber .45 untuk tentara.

Ia melewati gubuk-gubuk itu. Dengan sangat hati-hati, ia mengintip dari pojok gubuk terakhir. Tempat yang bisa disebut sebagai alun-alun kota itu tepat di depannya. Namun yang ia saksikan tak sepenuhnya ia pahami.

Di belakangnya ada suara berbisik, Hei, Sobat, kalau jadi kau, aku akan berbalik dan pergi ke arah lain.

Dave memutar tubuh. Tak ada siapa pun di sana. Ia menggeleng. Pasti karena guncangan. Mendengar suara-suara.

Ia berbalik kembali untuk melihat lapangan desa itu.

Ia masih tetap tak memahami apa yang dilihatnya. Keletihan. Kebingungan. Gemetar di dalam jiwa akibat pertempuran belum lagi terwujud dalam penampilan luar. Ia kembali menggeleng, mencoba menjernihkan otak.

Sersan Mullins ada di sana, dan beberapa laki-laki. Kreuter dan sebagian besar unit itu belum datang.

355Sedetik itu, ia bertanya pada diri sendiri apa arti sebagian besar unit itu belakangan ini. Berapa korban yang tewas di belakang sana?

Ia melihat lebih cermat. Penduduk desa itu berkerumun di sisi pematang. Dua prajurit Amerika memegang senapan mereka, menjaga mereka, menahan mereka di tempat. Bukan hanya penduduk dusun itu yang mereka jaga. Ada selusin GI Amerika yang berdiri bersama mereka. Senjata mereka sudah lenyap dan tangan mereka terangkat ke udara.

Aneh.

Mullins sedang melakukan sesuatu. Ia berlutut di tanah memunggungi Dave. Tiga laki-laki bersamanya, dua merangkak, dan satu berdiri.

Mullins menggerakkan tangannya maju-mundur. Penduduk desa itu melolong.

Mullins berdiri. Ada sesuatu di tangannya. Ia berjalan ke arah kerumunan itu.

Di sana ada beberapa tonggak tertancap ke tanah, tepat di depan pematang. Beberapa di antaranya berujung runcing. Yang lainnya tidak. Tetapi ada beberapa benda duduk di atasnya.

Bukan, bukan duduk. “Duduk” adalah kata yang salah. Kata yang tepat adalah “terpancang”.

Mullins menancapkan satu kepala perempuan lagi pada sebatang tonggak.

6.

Ransome, karena tidak punya tonggak runcing dan tanah gembur untuk menancapkannya, telah memakai tripod—yang disimpan Bernie di lemarinya.

356

Cara mengirisnya pun lebih rapi, nyaris seperti pembedahan, sama sekali tidak mirip dengan cara menjagal serampangan yang dilakukan Sersan Mullins dengan pisau K-Bar-nya yang andal. Bagaimanapun, Ransome telah menyelesaikan pekerjaan yang rapi dan bersih, tepat seperti yang diharapkan dari orang profesional dengan keterampilan tinggi.

Ransome tentu saja memancangnya menghadap ke pintu. Cara itu akan menghasilkan efek terbaik.

Bahkan ia mungkin sudah menjahit kelopak mata itu agar terbuka.

Marge Cohen dengan mata membelalak. Itu karya yang bagus.

Itu tentu akan membuat Dave menjerit.

7.

Dave menjerit.

Mullins berputar. Orang-orang yang bersamanya jatuh bertiarap. Dave membidikkan pistolnya ke dada Mullins. Mullins maju ke arahnya. Dave meneriakkan sesuatu kepadanya, ia tidak tahu pasti entah apa. Mullins maju, langsung ke moncong pistol Dave. Dave menekan picu. Tempat pelurunya kosong. Dengan tangan hancur ia tidak bisa menarik pengokang. Ia meneriakkan sesuatu. Entah apa, ia tidak tahu pasti. Mungkin sama sekali bukan kata-kata.

Mullins merenggut pistol itu darinya, dan menampar wajahnya. “Tutup mulutmu! Tutup mulut, kau mahasiswa banci keparat!”

Dua laki-laki memeganginya dan membantingnya ke atas tanah. Mullins berdiri di atasnya dengan

357pisaunya. “Kau banci keparat, kau mau menembakku! Benar, mahasiswa? Benar, kan? Menembak rekanmu sendiri, kau bajingan!”

Mullins kelihatan seperti binatang gila. Bibirnya miring dan bergetar. Matanya berkedip kadang terfokus kadang tidak. Butir-butir air liur bepercikan dari mulutnya.

Mullins jongkok. Ia mendorong ujung pisaunya ke leher Dave. “Tujuannya, bajingan, adalah membunuh musuh terkutuk! Semuanya. Termasuk orang-orang keparat yang membantu musuh keparat. Kau bunuh mereka, dan kau bunuh perempuan mereka, dan kau bunuh anak-anak mereka, dan kemudian sesudah mereka semua mampus, semua orang akan senang kecuali mereka yang sudah mati dan tak ada yang peduli, dan kita semua akan pulang. Itulah tujuannya, kau bangsat kecil. Kau ingat itu, ingatlah baik-baik, dan kau takkan pernah lagi menodongkan pistol ke arahku.” Ia menoleh kepada yang lain dan menggeram, “Bawa bangsat ini bersama bangsat-bangsat lainnya. Aku akan berurusan dengan mereka sesudah selesai dengan bajingan-bajingan itu.”

Ia dan anak buahnya menarik seorang wanita lain dari gerombolan penduduk desa yang sedang menangis. Mullins melirik ke arah Dave. “Yang kita perlihatkan ini pelajaran langsung, demi Tuhan, pelajaran langsung.”

Mereka mendorong perempuan itu ke bawah dan memeganginya. Ia telentang diam sementara Mullins menggorok lehernya. Pancuran darah muncrat satu hingga satu setengah meter ke udara, menyembur ke lumpur sejauh tiga atau tiga setengah meter dari

358

sana. Mullins mengangkat kepala perempuan itu dengan mencengkeram rambutnya dan memperlihatkannya ke seluruh desa. Ia melolong seperti serigala, dan matanya gila tak tertembus. “Katakan pada mereka,” teriaknya pada penerjemah, “katakan pada mereka inilah yang akan terjadi bila bekerja sama dengan musuh! Katakan pada mereka inilah yang akan mereka terima! Katakan kalian tidak sembarangan dengan Amerika dan tidak sembarangan dengan Angkatan Bersenjata AS, dan terutama tidak main-main dengan Sersan Satu Michael J. Mullins.”

Si penerjemah menyemburkan kata-kata dalam bahasa Prancis, Mullins menyalak, “Bawa satu lagi ke sini.”

Mereka merangkul pinggang perempuan itu. Ia menjerit dan menendang-nendang. Ia berhasil lepas dari pegangan mereka dan kembali ke dalam kerumunan orang banyak. Karena alasan-alasan yang tak dapat dipahami Dave, perempuan itu berlari ke arahnya, berlutut, dan merangkul kan tangan pada lututnya. Air matanya kemilau jernih dan besar. Meskipun Dave bisa sedikit berbahasa Prancis, ia tidak mengerti ucapan perempuan itu.

Mereka datang untuk mengambilnya. Dave pucat pasi karena marah. Ia menggeram, “Mullins, kau akan digantung! Kaudengar aku? Aku akan menyaksikanmu digantung karena ini!”

Mullins memandangnya, hanya sekadar ingin tahu, atau demikianlah tampaknya. Tatapannya tegas; suaranya dingin, tenang, dan tanpa beban, dan karena itu jauh lebih mengerikan daripada jeritan gilanya. “Melaporkanku? Menuduhku? Kau akan melakukan—

359nya, kan, mahasiswa?” Ia memberikan perintah kepada anak buahnya, “Bawa piaraan si kolonel ke sini.”

Salah satu di antara mereka memilin lengan kiri Dave yang terluka ke punggung. Ia menjerit dan hampir pingsan. Mullins menyebutnya pengecut.

Mereka mendorongnya hingga telungkup. Mullins berlutut di sampingnya, menggulingkannya, dan menyekakan bilah pisaunya pada baju seragam Dave. Pisau itu meninggalkan noda seperti karat. Suara Mamba Jack Kreuter berdentum, “Jangan bergerak! Jangan bergerak dan hentikan itu, prajurit!”

Mullins berdiri. Anak buahnya berdiri ke samping. Dave mendorong badannya untuk berlutut.

Jack berdiri di sana. Sekitar dua puluh orang ada di belakangnya. Mereka semua mengangkat senapan. Jack memegang senapannya pada pahanya. Matanya lebar. Ia memandangi penduduk desa yang berdiri di samping tanggul, para prajurit di antara mereka yang masih mengangkat tangan, mayat-mayat tanpa kepala itu, tonggak-tonggak itu, dan kepala-kepala yang tertancap di atasnya. “Oh, Tuhan,” bisiknya. “Perbuatan menjijikkan apa ini?”

Dave memperhatikan aksen bicaranya sudah hilang. Ia tidak lagi terdengar seperti orang kampung dari Texas Timur.

“Mullins, oh, Mullins, kau iblis…” Suara Kreuter memudar diam.

jVlullins hanya memandangnya. Matanya kekanak-kanakan tak menunjukkan rasa bersalah.

Jack melihat korban pembantaian itu, dan menggeleng. Ia bersuara parau, “Mengapa, man, mengapa?”

Mullins menyeringai angkuh. “Aku perlu menegaskan.”

360

Salah satu anak buahnya menirukan, “Ya Penegasan. Tak ada dewan di dunia yang akan menyalahkan kami.”

Cahaya dan kehidupan lenyap dari mata Jack Kreuter. Ia membidikkan senapannya pada laki-laki yang baru saja bicara, dan menembak. Senjata itu disetel” dalam keadaan full automatic; pelurunya membelah sasaran jadi dua. Seorang prajurit di sampingnya mencondongkan badan ke depan dan bertanya, “Sir?”

Kreuter mengangguk. Prajurit itu menembak laki-laki yang berdiri paling dekat dengan Mullins. Ia berjalan menghampiri mayat itu dan mengosongkan satu magasin ke wajahnya.

Seorang lagi anak buah Kreuter menembak. Dan yang lain lagi.

Ada enam orang yang membantu Mullins melakukan kekejiannya. Kreuter sudah membunuh satu. Sisanya dibunuh oleh lima prajurit yang menyertai Kruter. Semuanya berakhir dalam beberapa detik.

Mullins masih hidup, menyunggingkan senyum mencemooh. Dadanya dibusungkan, dan ia berdiri siaga.

Kreuter menjatuhkan senapannya. Dicabutnya pistol otomatis .45 dari sarung. Ia mengambil tiga langkah cepat ke depan. Mullins meludahinya. Kreuter menjepit dagunya dengan pistol, dan menempelkan moncongnya pada pelipis kanan Mullins.

Dave berdiri. “Jack!” serunya.

Kreuter mengalihkan matanya, yang dingin dan kosong mengerikan, ke arah Dave. “Apa?” itu saja yang dikatakannya.

361Dave tak sanggup membalas tatapannya. Ia tidak bisa memandang lurus ke mata Jack. Ia menggumam, “Tak apa-apa.”

Sersan Michael J. Mullins, asal Hamilton, Tennessee, menggeram, “Banci keparat.”

Jack mengalihkan pandangan dari Dave, kembali menatap Mullins. Sebagian besar wajah Mullins lenyap.

Di kejauhan Dave mendengar deru rotor helikopter. Pertolongan udara itu datang agak terlalu awal. Namun juga agak terlambat.

Terkatung-katung lumpuh di atas Fiftieth Street, Dave membayangkan kembali hari itu, sekali lagi menantang fakta bahwa ia sendiri seharusnya membunuh mereka—Mullins dan mereka semua. Memang itu kecelakaan, peristiwa kebetulan, sehingga ia tidak bisa melakukannya. Seandainya lengannya tidak lumpuh terluka, seandainya bisa mengokang pistol .45 itu, ia tentu akan melakukannya. Ia ingin melakukannya. Ia tentu menyukainya dan tak menyesal. Atau benarkah?

Eris, sang dewi peluang, kekacauan, dan nasib, menganggap Dave layak menerima kesempatan kedua untuk membuktikannya.

362

BAB 10

ESKATOLOGI

Kepala-kepala itu, semuanya kecuali satu, diambil dari tempat penyimpanan mayat. Beberapa di antaranya kelihatannya nyaris segar, yang lain kurang begitu. Sudah tentu mereka semua perempuan. Sudah dari dulu itulah yang dipakai Michael J. Mullins— orang-orang seperti Ransome dan Mullins selalu memakai perempuan bila mereka merasa perlu “menegaskan”.

Beberapa masih muda, salah satu tak lebih hanya remaja. Lainnya lebih tua, meski tak satu pun setua istri kepala desa itu dulu. Kebanyakan berusia setengah baya. Mereka seharusnya punya waktu lebih panjang lagi.

Bagaimana cara mereka mati? David tidak tahu. Tidak pula berniat mengarang cerita-cerita kecil tentang mereka. Mereka semuanya sudah mati dan masuk ke rumah mayat.

363Semuanya kecuali Marge Cohen, dengan kulitnya yang kelabu, memar—kini seperti dempul, tidak lagi hidup kemerahan—mungkin masih sedikit menyisakan hawa hangat.

Dave berpikir seharusnya ia membelai pipinya dengan jari untuk merasakan kehangatan itu, kehangatan terakhir yang dipancarkan wanita itu. Namun jarinya dingin, begitu dingin. Ia tidak dapat melakukannya, ia bahkan tidak bisa mengendalikan diri untuk melihat lebih teliti….

Sesaat, ketika bergelantungan di atas jalan, ia sempat mengira Ransome juga telah mengambil kepala Helen, dan Annie, bahkan resepsionis rabun dari lantai 14.

Tetapi tidak. Mereka semua tak dikenal, semua kecuali Marge.

Dan Ransome memang benar—ia lebih mengenal Dave daripada Dave mengenal diri sendiri. Melihat kepala-kepala yang tertancap itu telah melumpuhkannya, tepat seperti yang direncanakan Ransome. Seandainya masuk lewat pintu kantor, Dave tentu telah diam membeku—dan ia akan tetap tak bergerak sampai anak buah Ransome meringkusnya.

Rencana Ransome sungguh bagus. Ia tentu akan menyesal saat mengetahui rencana itu tak berhasil.

Sangat menyesal.

Map arsip Bernie mengenai Lockyear ditandai dengan label biru. Map itu masih ada di tempat Dave mengingatnya, di belakang berkas-berkas berlabel transparan mengenai divisi operasi Senterex, dan sebelum map dengan label oranye yang berisi proyeksi prakiraan bisnis.

364

Namun berkas Lockyear itu tidak lagi setebal beberapa jam sebelumnya. Arsip itu kini hanya berisi sehelai kertas, catatan yang ditulis di atas kertas surat pribadi Bernie. “Mr. Elliot, kurasa kau takkan bisa sampai sejauh ini. Bila sampai di sini, kau tentu lebih pinttar daripada yang kuduga. Bila kau benar-benar pinttar, aku akan menyerah sekarang juga. J.R.”

Dave memakai pena Mont Blanc milik Bernie untuk menuliskan jawaban di bawah paraf Ransome: “J.R., kau orang kampung buta huruf, hanya ada satu huruf ‘t’ dalam kata ‘pintar’. Omong-omong, kalau benar-benar pintar, kau tentu akan menyerah sekarang (tanda kutip). D.P.E.”

Dave meninggalkan map itu terbuka di atas meja kerja Bernie. Hanya ada sedikit kemungkinan Ransome akan melihat tulisan Dave, namun bila melihatnya, tulisan itu akan membakar hatinya—pembalasan remeh, tapi memuaskan.

Ada sesuatu yang baru di kantor Bernie, yang tidak ada di sana siang tadi. Benda itu kotak kecil berwarna abu-abu, tergantung di atas pintu. Alarm kontak, Dave menebak, dan mungkin dikendalikan dengan sinyal radio. Bila demikian, ia.bisa memanfaatkannya.

Sambil mengalihkan pandangan dari tengah kantor, Dave berjalan ke lemari Bernie, dan menginventarisasi perlengkapan kantor yang disimpan Bernie di sana: kuda-kuda, spidol berwarna, paku payung, dan… ya, itu dia… “Scotch 3M #665 selotip lapis ganda. Menempelkan kertas, foto, sampel dan potongan kain dengan cepat dan rapi. Siap pakai! Menempel dan merekat seketika; tidak perlu waktu pengeringan. 1 Roli 1/2 in x 1296 in (36 yd).”

365Tiga puluh enam yard. 32,5 meter. Ia membutuhkan dua kotak.

Ia mengamati kotak abu-abu yang tergantung di atas pintu kantor. Sehelai kabel yang hampir tak tampak terentang dari dasar kotak itu ke celah antara daun pintu dan rangkanya. Kabel itu tertempel ke pintu; bila pintu terbuka, kabel itu akan putus, memicu sinyal tanpa bunyi. Alarm yang sederhana, tidak mahal dan tidak bisa diakali, jaminan akan memberi peringatan kepada pemburu bahwa buruannya telah jatuh ke dalam perangkap.

Kecuali buruan itu sudah berada di dalam perangkap, dan menyusun rencana untuk kabur.

Dengan hati-hati, sangat hati-hati, Dave melilitkan selotip di sekeliling kabel pemicu alarm tersebut— satu, dua, tiga lilitan, memastikan selotip itu menempel cukup kuat.

Kemudian, sambil berjalan mundur dan hati-hati membuka gulungan selotip, ia menuju ke jendela yang pecah.

Ia mengulurkan tangan ke luar jendela, meraih tali pemanjatnya. Sesaat ia berniat menoleh kembali. Ada dua hal terakhir yang hendak dilakukannya. Satu adalah memberikan ciuman pada…

Sudahlah, Sobat. Sudah lewat terlalu lama bagimu untuk memberikan isyarat-isyarat dramatis.

Ada satu hal lain yang ingin dilakukannya.

Ruang rapat direksi Senterex dihubungkan dengan kantor Bernie dengan pintu kayu ek berwarna pucat. Dave tahu Ransome tentu memasang orang-orangnya di sana, memerintahkan mereka untuk tiarap dengan senapan siaga.

366

Dan, karena itu, hal lain yang ingin dikerjakan David Elliot adalah masuk ke ruang rapat itu. Ia berniat membunuh siapa saja yang ditemukannya di sana. Tidak makan waktu lama, dan tentu memuaskan hati.

Ia kembali menggeleng, lalu dengan hati-hati melilitkan kabel pada pahanya, mengikat kembali tali pemanjatnya. Tanpa menoleh, tanpa ingin menoleh, ia berayun-ayun dalam kegelapan malam.

Saat ia memanjat naik, suara Ransome terdengar di radio: “Sekarang pukul 03.45, Saudara-saudara. Beri laporan.”

Pukul 03.45? Apakah tadi hanya sembilan menit? Bagaimana mungkin hanya sembilan menit? Rasanya seperti berabad-abad.

Waktu lamban.

“Myna di sini. Semua sepi. Petrel, Killdeer, dan Raven semuanya di pos masing-masing,” lapor laki-laki di lobi tadi, yang punya masalah dengan kaum homoseks.

Empat orang di lantai dasar. Sangat gampang dibereskan, Sobat.

“Partridge lapor, Robin. Greylag, Ovenbird, Loon, Bluejay, dan Condor siap di pos. Bila muncul di tangga timur, dia akan jadi santapanku.”

Enam orang di lorong menuju ke tangga kebakaran timur.

“Parrot di sini. Stork, Finch, Darter, Buzzard, Macaw, dan Warbler bersamaku.” Regu cadangan di lantai 43.

“Pigeon melapor. Di sebelah barat Ringdove, Cockatiel, Catbird, Egret, dan Whippoorwill sudah siaga.”

367Sedikitnya ada dua belas orang di lantai 45. Berapa lagi?

“Di sini Kingfish, Calhoun, aku, dan tiga teman lagi-“

“Tunggu!” suara Ransome meninggi. “Pigeon, laporkan lagi jumlah kalian.”

“Afirmatif, Robin. Ringdove, Cockatiel, Catbird, Egret, dan Whippoorwill.”

Suara Ransome mengeras. “Itu baru lima. Kalian seharusnya berenam. Mana Snipe?”

“Kupikir dia bersama Kingfisher.”

Laki-laki bernama Kingfisher itu menanggalkan gaya bicara model Amos and-Andy. “Tidak, dia seharusnya ada di regumu, Pigeon.”

Ada ketegangan dalam suara Ransome. “Snipe? Snipe, harap lapor. Di mana kau?”

Dave tahu di mana dia. Snipe sedang menggigit-gigit isolasi di Jantai 12.

Ransome kembali memanggil Snipe. Lagi-lagi tak ada balasan.

“Oh, sialan,” Ransome mendesis gemetar. “Oh, sialan.” Sesaat Dave mengira Ransome gemetar ketakutan. Kemudian disadarinya bahwa bukan rasa takut yang membuat suara laki-laki itu bergetar, melainkan luapan kegembiraan. “Dia sudah kembali! Dia melewati Myna! Dia ada di sini!”

Partridge, orang kedua pemegang komando di bawah Ransome dan penghubung ke dunia luar, berbisik penuh harap, “Kita akan berhasil, kan, Sir?”

“Afirmatif.” Apa pun emosi yang tadi membuat suara Ransome melengking kini telah lenyap. Dengan dingin ia memberikan perintah, “Hubungi Mabes. Katakan pada mereka agar menunda heavy”

368

Heavy? Dave bertanya pada diri sendiri. Apa artinya? Karena alasan tertentu kata itu memicu kenangan samar-samar akan Jenderal Curtis LeMay yang suka mengunyah cerutu. LeMay kepala staf Angkatan Udara Amerika Serikat tahun 1960-an. Sekarang kenapa aku tiba-tiba teringat padanya? tanya Dave dalam hati.

“Maaf, Sir.” Suara itu milik Kingfisher, dan suara itu meninggi. “Kau bilang ‘heavy’T

Ransome menjawab lembut, “Tahan pertanyaan itu, Kingfisher. Itu cuma rencana alternatif.”

“Mabes mengatakan mereka sudah siaga dalam jajaran!” Partridge nyaris berteriak.

“Partridge, suruh mereka kembali ke pangkalan.”

“Heavy! Ya Tuhan. Bagaimana mungkin…”

Heavy? Curtis LeMay? Itu mengingatkan Dave pada film lama. Film apa itu…?

“Tenang,” kata Ransome datar. “Kalau kau ada masalah, Kingfisher, kita akan membicarakannya pada saat yang tepat.”

Kingfisher berteriak, “Heavy keparat! Oh, man, kau telah menipuku!”

Ransome mengembuskan napas. “Kau sudah tahu pekerjaan ini berbahaya ketika menerimanya. Sekarang tenanglah.”

“Oh, sialan, sialan, sialan…”

“Kau dibebaskan dari tugas, Kingfisher. Melaporlah pada Parrot di 43. Kestrel, ambil alih regu kalian.”

“Kau keparat, Robin! Kau keparat busuk…”

“Kestrel, tolong singkirkan orang itu dari udara.”

Terdengar bunyi tercekik. Radio berderak. Seseorang, Kestrel, menurut perkiraan David, menggeram, “Kingfisher masuk dalam daftar korban, Robin.”

369Ransome berkata dengan suara halus dan dingin seperti es, “Kalian semua dengarkan. Belum ada keputusan, kuulangi, belum ada keputusan akhir mengenai… mengenai masalah kecil yang begitu mengusik Kingfisher. Tapi aku percaya kalian tahu sudah disiapkan beberapa langkah darurat. Mungkin beberapa dari kalian yang selama ini memandang ringan-gentingnya situasi sekarang mendapatkan perspektif yang lebih baik.”

Jenderal LeMay adalah model dari tokoh dalam film lama itu. Pemainnya George C. Scott. Apa judul film itu? Peter Sellers juga ikut main. Oh ya. Dr. Strangelove.

“Alternatif tersebut hanya akan dijalankan bila subjek tidak kembali ke gedung ini.”

Dave menapakkan kakinya pada dinding. Pikirnya, mungkin memanjat kembali ke atap bukanlah cara terbaik untuk meloloskan diri. Mungkin memicu alarm dan menuruni tangga sementara Ransome dan gerombolannya berkerumun menuju ke kantor Bernie bukanlah pemecahan terbaik. Mungkin ada jalan yang lebih baik.

Ia mendengar bunyi berdetak dan tarikan napas. . Ransome baru saja menyalakan sebatang rokok. “Saudara-saudara, syarat keamanan… well, beberapa di antara kalian telah menanyakan mengapa kita memburu Mr. Elliot yang licin, dan mengapa kita diwajibkan untuk melaksanakan prosedur yang tak lazim. Selama ini aku belum mengungkapkan seluruh fakta. Sekarang aku siap melakukannya.”

Ransome menyedot dalam dan mengembuskan napas. Suara itu membuat Dave ingin merokok.

370

Ayo, puaskan dirimu.

Dave merogoh bungkus Virginia Slims dari saku. Dengan mulutnya ia mencabut sebatang dan mengambil korek. Bungkus rokok itu lepas dari jarinya. Ia meraihnya. Kotak rokok itu bergulir lepas, melayang-layang turun 45 lantai Jce jalan.

Biar saja. Benda itu akan membunuhmu.

“Sekarang akan kukatakan pada kalian. Dan karena tak disangsikan lagi subjek kita, Mr. Elliot, tentu membawa radio Snipe, akan kuceritakan juga padanya. Dengarkan, semuanya. Dengarkan, Mr. Elliot. Dengarkan baik-baik.”

Dave mengisi paru-parunya dengan asap rokok. Ransome melakukan kekeliruan. Ia berbicara saat ia seharusnya mengambil tindakan. Ia mengalihkan perhatian anak buahnya dari misi mereka. Perhatian mereka akan terfokus pada kata-katanya dan bukan pada kemungkinan bahwa Dave…

“Tampaknya Mr. Elliot telah terinfeksi suatu virus. Bukan virus biasa. Jauh dari itu. Sebaliknya, virus ini sangat istimewa. Virus inilah yang oleh orang-orang lab disebut ‘tiga fase’, istilah yang artinya sangat mutagenis. Virus ini berubah, berevolusi dalam tiga fase yang terpisah dan berlainan. Mirip dengan ulat yang berubah menjadi kepompong, dan kepompong menjadi kupu-kupu, virus Mr. Elliot berubah dari satu bentuk’ ke bentuk yang lain, kehidupan yang sama sekali berbeda, dan kemudian berubah menjadi bentuk ketiga, makhluk hidup yang sepenuhnya lain.”

…sedang bergerak.

Dave menjentikkan rokoknya, dan mulai mengayunkan tubuhnya, berayun kembali ke jendela Bernie. Ia

371tahu apa yang akan dilakukannya. Ia tahu— menurutnya ia tahu—tepat bagaimana Ransome menyiagakan orang-orangnya. Bila mereka ditempatkan seperti seharusnya, ia bisa melumpuhkan mereka.

Dengan keberuntungan, ia bahkan mungkin tidak perlu membunuh siapa pun. Siapa pun, kecuali Ransome.

“Atau telur katak jadi berudu, dan berudu jadi katak, tiga makhluk hidup yang berlainan, masing-masing dengan sifat perilaku yang unik. Demikian juga virus Mr. Elliot yang malang.”

Dave melepaskan ikatan talinya, dan kembali memasuki jendela kantor itu. Ia mencabut pistol dari bawah sabuknya dan mengeluarkan magasinnya. Penuh. Ia menarik pengokang. Sebutir peluru melompat keluar. Ia mengambilnya dari lantai dan mengembalikannya ke dalam bilik pelatuk. Ia memasang kembali magasin, melepaskan kunci pengaman, dan menyetel selektornya ke full automatic.

Sedikitnya tentu ada dua orang di dalam ruang rapat itu. Mungkin lebih. Laporan untuk Ransome hanya sampai pada Kingfisher—28 orang. Empat di antara mereka ada di lobi, dan tujuh lagi sebagai cadangan di lantai 43. Kingfisher sendiri sudah bebas tugas. Itu berarti tinggal 16 orang, termasuk Ransome. Dave menghitung rencana penyergapan yang baik. Ia tahu bagaimana ia akan mengalokasikan kekuatan seandainya ia yang memegang komando dan bila Ransome berbuat yang sama, di sana ada…

“Pertama, virus ini hanya benda kecil yang tak berbahaya. Satu-satunya ciri istimewa, ia sangat menyukai primata. Kera, gorila, simpanse, orang utan

372

kukira, dan manusia. Hanya primata, Saudara-saudara. Virus ini, virus Mr. Elliot, adalah virus yang suka pilih-pilih—takkan menerima spesies lain sebagai inang.”

…tiga orang. Mereka semua memunggungi pintu. Perhatian mereka terpusat pada ucapan Ransome sehingga mereka tak mendengar pintu terbuka, tidak tahu pintu itu menutup.

Dave memegang pistol itu dengan dua belah tangan, gaya tempur, dan beringsut maju. Mereka tukang pukul biasa, prajurit hijau seperti Snipe, dan sama sekali bukan kelas Ransome. Dua membawa Finnish Jati-Matic buatan Finlandia, senapan mesin ringan 9 mm dengan magasin isi 40 peluru dan peredam suara bikinan pabrik. Dave mengernyit tak setuju. Magasin isi 40 adalah amatir. Bobotnya menyeret moncongnya ke bawah. Seorang profesional yang terlatih tentu tahu itu. Seorang profesional hanya akan memakai magasin isi 20.

Orang ketiga membawa Ingram MAC dengan suppressor WerBell Sionics, senjata canggih di zaman Dave dulu, tetapi sekarang hanya merupakan barang antik yang menarik. Si tolol itu meletakkan senapan tersebut di atas meja rapat. Dave mengulurkan tangan kiri dan…

“Seperti yang kukatakan, virus tiga fase. Pada fase pertama, tidak banyak yang terjadi kecuali virus itu ikut berputar-putar dalam aliran darah yang hangat dan nyaman, dan di sana banyak makanan. Virus itu suka berada di sana, maka memutuskan untuk tinggal. Dan begitu tinggal, ia mulai membentuk keluarga. Keluarga besar. Itulah inti tahap pertama—berkembang

373biak. Setiap 45 menit virus itu membelah diri. Yang tadinya hanya ada satu virus, kini ada dua. 45 menit kemudian, yang tadinya dua, kini jadi empat. 45 menit sesudahnya, delapan. Dan demikian seterusnya selama masa kurang-lebih 24 jam. Dan ketiga tahap pertama berakhir. Saudara-saudara, virus kecil itu sudah menjadi bapak dari 4 miliar keturunan, Saudara-saudara, lebih dari 4 miliar.”

…menjatuhkan pistol otomatis itu ke lantai. “Angkat kepala, Bung,” bisik Dave. “Angkat tangan juga.”

Seorang berbalik, sambil mencoba membidikkan Jati-Matic-nya. Dave mengayunkan pistolnya. Mulut laki-laki itu menyemburkan pecahan gigi dan ludah berdarah. Dave berbicara sebelum tubuh itu terempas ke lantai. “Jangan bergerak dan kau takkan mati. Aku tak ingin…”

Laki-laki itu—sebenarnya pemuda—yang membawa-bawa MAC, jadi pucat pasi. Matanya berputar ngeri. Kata-kata dan air liur menyembur dari mulutnya. “Dia bawa penyakit. AIDS, oh, Tuhan, menjauhlah dariku!” Ia terbirit-birit ke pintu.

Dave membidikkan pistolnya ke paha pemuda itu. Ia tidak ingin membunuhnya. Ia tidak ingin membunuh siapa pun. Bila menembak kaki anak muda itu, ia akan menjatuhkannya…

“Sesudah sekitar 24 jam, tahap kedua dimulai. Tahap ini berlangsung sekitar 72 jam—tiga hari. Dalam tahap itulah virusmu sekarang, Mr. Elliot. Ia telah berubah, berevolusi, bermutasi dari tahapnya semula yang pasif dan tak membahayakan menjadi sesuatu yang lain. Ulat itu telah berubah jadi kepompong, dan pupa itu banyak tingkah.”

374

…dengan berteriak-teriak. Jeritan itu akan memberi tanda kepada anak buah Ransome yang lainnya. Dave tidak bisa mengambil risiko itu. Ia mengangat moncong pistol, menembak, dan memalingkan wajah, mual. Senjata laki-laki ketiga jatuh ke lantai. Tangannya terangkat. Ia menyandarkan punggungnya pada salah satu lukisan Pissaro yang sangat disayangi Bernie, lukisan rumah di ujung jalan yang gelap. “Tapi jangan sentuh aku, man” ia memohon. “Aku akan melakukan apa saja yang kauinginkan, cuma jangan sentuh aku!”

Dave mengangguk. Ia merogoh ke dalam saku dan mengeluarkan botol pil yang diambilnya dari lemari obat Nick Lee. “Oke, Nak, aku ingin kau menelan lima butir pil ini. Di belakangmu ada sebotol air. Ambil, dan tuang satu gelas, dan kemudian telan pil ini.”

Pemuda itu menunjukkan paras khawatir. Dave mencoba mengerahkan segala kemampuan untuk melontarkan senyum ramah. Tidak cukup berhasil. “Hanya pil tidur.”

Pemuda itu…

“Begitu bermutasi, virus itu jadi gesit. Ia mulai bermigrasi keluar dari peredaran darah dan masuk ke organ lain. Kini ia bisa menyebar. Sesudah 24 jam, si pembawa—kau, Mr. Elliot—bisa menularkannya pada orang lain. Tapi hanya lewat cairan tubuhnya saja—mani, air liur, urin, atau darah. Sudah sekitar 36 jam Mr. Elliot terinfeksi virus ini, jadi virus itu dalam keadaan yang sangat menular. Kalian tentu ingat, pada pukul 15.30 sore ini, tepat sebelum jam ke-24 infeksinya, aku memberikan perintah baru mengenai cara penanganan mayatnya. Kalian kini tentu memahami dasar perintah tersebut.”

375…menggeleng dan berkata, “Aku takkan makan apa pun yang sudah kausentuh.”

Dave menjawab, “Bacalah labelnya. Ini bukan resep untukku. Aku belum menyentuh pil-pil itu. Di samping itu, bila kau tak menelannya…” Ia memberi tanda dengan pistol. Pemuda itu mengerti, membuka botol, dan menelan setengah lusin obat tidur yang keras. “Sekarang bagaimana?” ia bertanya.

“Sekarang berbaliklah dan menghadap dinding.”

“Jangan memukulku terlalu keras, oke?”

“Akan kulakukan sebaik mungkin.” Dave…

“Mr. Elliot, aku ingin kau memperhatikan ini. Dengar baik-baik. Virus itu bisa menyebar—akan tersebar—pada siapa saja yang minum dari cangkir bekas si pembawa, siapa saja yang mencium si pembawa, siapa saja yang diberinya gigitan sayang, siapa saja yang ditidurinya.”

…memukul belakang telinganya dengan pistol. Pemuda itu menjerit dan terhuyung, tapi tidak jatuh. Dave memukulnya lagi, lebih keras.

Ia melihat kembali ke pintu yang menuju ke kantor Bernie, membayangkan bagaimana tubuh-tubuh itu seharusnya tergeletak. Satu dari tiga tubuh itu benar-benar mayat. Ia tidak suka hal itu. Ia sudah berusaha sebaik mungkin untuk menghindarinya.

Ia menyelipkan tangan ke bawah lengan orang mati itu. Terlalu banyak darah. Bila Ransome atau salah satu anak buahnya melongok ke dalam ruang rapat, melihat ke lantai dan dinding, mereka akan tahu apa yang telah terjadi. • Terlambat memikirkannya sekarang.

Ia menyeret mayat itu sepanjang ruang rapat,

376

menelentangkannya dekat pintu. Ia meletakkan salah satu senapan Jati-Matic di dadanya. Kemudian ia kembali menyeret orang kedua.

Kurang dari semenit, ia sudah mengatur tubuh-tubuh itu sedemikian rupa sehingga tampak…

“Tentu saja si pembawa tak tahu ia bisa menularkannya, ia menyebarkan penyakit ke mana-mana. Ia merasa masih sehat sebab virus itu tak menimbulkan efek yang merugikan. Setidaknya belum. Itu belum terjadi sampai hari keempat. Saat itu virus tersebut sudah bermutasi lagi. Apa yang tadinya kepompong kini jadi kupu-kupu. Ia siap terbang.”

…seperti mereka sudah mati ketika menyerbu keluar dari ruang rapat itu. Bila alarm di atas pintu Bernie berbunyi, mereka tentulah yang pertama masuk ke kantornya.

Untuk memberikan efek terakhir, ia melangkah ke tengah kantor dan menembakkan selusin peluru tanpa bunyi ke dinding dan ke lantai. Sekarang ruangan itu tampak seperti tempat baku tembak.

Waktunya hampir habis. Ransome (Astaga, ia sungguh cinta dengan suaranya sendiri!) tidak akan mengoceh selamanya. Dave harus membereskan sisa ilusinya dengan cepat. Dua pintu terbuka ke ruang rapat—satu dari kantor Bernie dan satu…

“Secara teknis, pada tahap ketiga, virus ini menjadi apa yang oleh para dokter disebut ‘pneumatis’. Itu berarti si pembawa menyebarkan infeksinya hanya dengan bernapas. Tiap kali mengembuskan napas ia menyemburkan enam juta spora—kuulangi, Saudara-saudara—enam juta. Ia menghirup napas, mengembuskan napas. Bila melakukannya lima puluh kali, ia

377melepaskan cukup banyak virus untuk menginfeksi setiap laki-laki, perempuan, dan anak-anak di Amerika Serikat. Bila melakukannya seribu kali, ia menyebarkan cukup banyak virus untuk semua orang, setiap orang hidup, di bumi yang hijau ini.”

…dari lorong yang menghubungkan kantor Bernie dengan ruang resepsionis. Hanya ada tiga kantor di koridor itu—satu milik Mark Whiting, kepala keuangan Senterex, yang kedua milik Sylvester Lucas, wakil direktur perusahaan, dan yang ketiga milik Howie Fine, kepala penasihat hukum. Ransome tentu memasang orang di dalam semua kantor itu. Mereka, seperti tiga orang di ruang rapat itu, akan saling mendului masuk ke suite Bernie bila alarm itu berbunyi.

Dave membungkuk, membuka pintu itu, dan berguling ke lorong. Ia membuat lingkaran dengan pistolnya, mencari sasaran.

Tak ada seorang pun di sana. Tepat seperti seharusnya.

Pertanyaan yang menarik adalah lokasi Ransome. Dave tidak tahu pasti apakah Ransome menempatkan diri dekat suite Bernie—misalkan saja, di dalam kantor Whiting atau kantor Lucas—atau lebih jauh lagi. Alternatif mana pun dari segi militer betul: dekat untuk memimpin serangan; jauh untuk mengarahkan kekuatan sesuai dengan yang dibutuhkan situasi di medan pertempuran. Manakah yang akan dipilih Ransome?

Manakah yang akan kaupilih?

Lempar koin. Yang jauh, kurasa.

Ia bergeser ke pintu kantor Whiting dan menempel—

378

kan telinga pada daun pintu. Ia tidak bisa mendengar apa-apa kecuali bisikan Ransome yang dingin di radio. Ia mengangkat pistolnya…

“Tapi kutegaskan lagi. Kau tahu, virus ini makhluk kecil yang lemah. Begitu keluar dari tubuh inangnya, ia tak bisa hidup terlalu lama. Sepuluh menit, mungkin lima belas menit paling lama. Kecuali menemukan pembawa lain sebelum waktu itu, ia akan mati.”

…menumpukan kaki, dan dengan pundaknya mendorong pintu hingga terbuka. Seorang laki-laki kulit hitam, sudah agak berumur, sedang duduk di belakang meja kerja Whiting. Senjatanya, juga sepucuk Jati-Matic, disandarkan pada lemari arsip Whiting dengan pangkal menghadap ke atas. Laki-laki itu memandang Dave, membelalakkan matanya lebar-lebar, mengangkat tangannya. Ekspresi pada wajahnya mengatakan bahwa ia terlalu miskin pengalaman untuk „ memberikan perlawanan.

Dengan kakinya Dave mendorong pintu hingga menutup.

Laki-laki itu berkata, “Mister, aku cuma mau bilang aku menyesal. Aku kebetulan melihat apa yang dikerjakan orang itu di kantor Mr. Levy, tapi aku sama sekali tak ada sangkut pautnya, dan itu membuatku mual.” Matanya sedih dan sedikit basah. Ia memakai kumis yang sudah mulai beruban. Ia sudah mulai tua,-dan letih.

Dave bertanya, “Apakah kau veteran?”

“Ya, Sir. Masuk tahun ‘66. Aku tadinya anti wajib militer, ditugaskan di kesatuan 546 Med. Tapi 93 persen kasatuan kami jadi korban di Tet. Sesudah itu tidak lagi jadi CO. Aku masuk pasukan infanteri.

379Bertugas terus di sana. Pensiun dua tahun lalu. Seharusnya aku tetap pensiun, kurasa.”

Dave mengangguk. “Kurasa begitu.”

“Jadi, Sir, aku akan sangat berterima kasih bila kau tak menganggapku sebagai musuh yang akan menyerang.”

“Tidak.” Dave mengeluarkan botol pil tadi dari sakunya.

Wajah sedih laki-laki itu menunjukkan bahwa ia mengerti, dan ia sudah siap menerima nasib apa pun yang direncanakan Dave baginya.

“Buka tutup botol ini, keluarkan lima atau enam butir, dan telanlah.”

Laki-laki hitam itu mengambil botol dari tempat Dave meletakkannya. Dengan kesedihan tak terhingga, ia berkata, “Orang itu sudah gila. Memenggali kepala. Memanggil heavy. Percayakah kau? Oh, Mister, aku sudah menimbang-nimbang untuk kabur ketika mendengar itu. Seandainya kau tak masuk menerobos pintu, aku mungkin sudah lari. Satu hal lagi, Sir masih ada satu lagi. Kau tahu apa kode nama yang diberikan padaku? ‘Crow’—Gagak. Itulah yang diberikan padaku. Dan aku satu-satunya kulit hitam dalam tugas ini. Percayakah kau?”

Dalam telapak tangannya ada enam tablet kuning. Ia mengamatinya, menghela napas, dan menelannya. “Ini pil tidur, kan? Berapa lama waktu yang diperlukan?”

“Terlalu lama. Aku harus mempercepat kerjanya.” “Kau ingin aku berbalik?” Menyerah dan pasif. “Silakan.”

“Oke, tapi kau harus ingat, aku menyesal. Mister,

380

aku menyesal dan seandainya bisa sejak dulu aku keluar dari sini.” Dave memukulkan gagang pistolnya ke belakang tengkorak laki-laki itu. “Aku juga,” gumamnya.

Perhentian berikutnya, kantor Sly Lucas. Apakah Ransome…

“Bagaimanapun, pembawa pertama tadi, Mr. Elliot, tetap tak tahu apa yang terjadi. Ia tetap tak merasa sakit. Yang dirasakannya hanyalah sedikit ganjil, dan anehnya merasa sedikit lebih bergairah. Warna-warni serasa lebih cerah baginya, bunyi-bunyi lebih merdu, rasa dan bau lebih tegas. Ia akan mulai bermimpi indah. Tergantung pada metabolismenya, ia bahkan mungkin mendapatkan satu-dua penampakan.”

…ada di dalam sana, mengoceh tak putusnya di radio? Dave berharap orang itu tak ada di sana. Ia ingin Ransome terus berbicara, menceritakan yang -sebenarnya kepada anak buahnya. Sebab begitu tahu kebenaran itu, mereka akan mulai berkeringat. Satu-dua orang mungkin akan lari. Mereka semua akan melakukan kesalahan.

Ia menendang pintu Lucas.

Dua laki-laki, tak satu pun di antara mereka adalah Ransome.

Satu sedang berdiri siaga di pintu, yang lain menatap ke luar jendela. Penjaga itu bergerak cepat. Ia menembak sebelum pintu sepenuhnya terbuka.

Ia menembak terlalu tinggi, terlalu banyak mengeluarkan tenaga untuk magasin isi 40 butir itu. Peluru merobek plesteran dinding di atas kepala Dave. Si penjaga sibuk menurunkan moncong Jati-Matic itu. Dave menjatuhkan diri berlutut. Ia melepaskan sem—

381buran tembakan pendek ke dada laki-laki itu. Bunyi duk, duk, duk pelan pistol otomatis itu rasanya terlalu lembut untuk akibat yang dihasilkannya. Ditembakkan dari jarak pendek, peluru tersebut mengangkat tubuh laki-laki itu dan melemparnya berpusar ke belakang menimpa kursi. Semburan darah memercik ke mata Dave. Debu plesteran dinding memasuki hidungnya.’ Ia melompat kembali ke koridor, merapatkan punggung ke dinding, di luar penglihatan.

Laki-laki di sebelah jendela itu menyemburkan dua tembakan ke lorong. Dave menyeka mata dengan lengan kemeja. Satu lagi tembakan meledak ke dinding. Bunyi peluru merobek plesteran dinding terdengar lebih keras daripada letusan teredam dari Jati.-Matic tersebut.

Dave memasukkan satu klip baru ke gagang pistolnya. Ia harus bertindak sebelum orang itu memakai radionya. Ia mencopot sepatu sebelah, menyiapkan diri, dan melemparkannya melalui ambang pintu. Peluru menghujani udara. Dave berguling melewati pintu.

Lawannya sudah mengambil posisi di sudut. Jati-Matic-nya ditopangkan pada pundak. Senapan itu dibidikkan ke sebelah kiri pintu, dan di atas lantai. Ia mulai mengalihkan pandangan ke tempat Dave berbaring.

Tembakan Dave meruntuhkan kakinya. Laki-laki itu mendnegus. Senapannya berguncang. “Kau bajingan, busuk,” katanya.

Dave membidikkan pistol ke tengah dadanya. “Jangan lakukan.”

Laki-laki itu mengayunkan senjatanya ke arah Dave…

382

“Kalian mungkin bertanya bagaimana kami tahu semua ini. Nah, Saudara-saudara, jawabnya adalah: Ya. Ya, Mr. Elliot bukan orang pertama yang terinfeksi virus ini. Tentu saja, dalam kasus lain kondisinya jauh lebih terkontrol. Begitulah kami tahu, Saudara-saudara, dan begitulah kami tahu bahwa tidak ada obatnya.”

…yang merobohkannya dengan satu tembakan tunggal.

Dave mendesis. Ia tidak menginginkan ini. Ia hanya menginginkan Ransome. Ini tidak perlu, kematian itu, dan segala lainnya. Kata-kata Ransome membuktikannya.

Dan Dave merasa begitu dingin.

Namun ia tidak dapat, berhenti. Tidak sekarang. Masih ada satu kantor lagi, kantor ketiga, tempat begundal Ransome sedang menunggu…

“Atau lebih tepatnya, masih ada satu pengobatan. Bila kau membunuh pembawanya, orang yang terinfeksi itu, jauh sebelum virus itu mencapai tahap terakhirnya, kau bisa menghentikan penyebaran penyakit ini. Dan, Saudara-saudara, itulah cara satu-satunya untuk menghentikannya. Apakah kau mengerti, Mr. Elliot?”

…kantor Howie Fine. Howie adalah kepala penasihat hukum Senterex. Di atas lemari arsipnya tergantung lukisan cat minyak karya Thomas Eakins. Lukisan itu menggambarkan sidang pengadilan yang terkenal, sang hakim di balik mejanya, si saksi yang bingung bercampur takut di boks, sang jaksa berbicara berapi-api kepada dewan juri. Dave tidak pernah menyukai lukisan itu. Ia tak -pernah menyukai apa pun yang berkaitan dengan ruang sidang.

383Ia menendang pintu hingga terbuka. Ruangan itu kosong. Tidak, tidak kosong sama sekali. Ruangan itu…

Bagaimana…? Apa…?

Tenaga di kakinya hilang. Ia merosot berlutut, tak lagi mampu berdiri tegak, begitu lemah sehingga ia bisa saja jatuh tak berdaya, tersungkur ke lantai. Ruangan itu tidak sepenuhnya kosong; tak ada siapa pun di sana kecuali Marigold Fields, panggil-aku-Marge, Cohen. Tali nilon—tampak seperti tali parasut—dipakai untuk mengikatnya ke kursi besar Howie Fine yang berjok kulit, la masih hidup, sadar, tersumbat mulutnya, memandang padanya, matanya terbelalak demikian lebar, selebar seharusnya. Benar-benar sangat lebar.

Ia mencoba mengatakan sesuatu kepada Dave. Dave tak dapat menangkap maksudnya. Mulutnya tersumbat rapat. Kata-katanya hanya berupa gumam tanpa arti.

Dave menelan ludah. Berat. Dua kali. Ini tak mungkin… dia, yang lain… kepala-kepala mereka… teater kebiadaban Ransome… Dia sudah mati. Dave sudah melihat dengan mata kepala sendiri.

Marge bernapas lewat mulutnya yang ternganga, menelan udara. Suaranya yang teredam seperti memohon agar Dave melepaskan ikatannya.

Mengapa? Apa yang Ransome… tunggu sebentar. Tentu saja. Sudah jelas. Ransome…

“Mengertikah kau bahwa inilah satu-satunya cara untuk menghentikan penyakit itu, Mr. Elliot? Dan amat sangat penting menghentikan penyakit ini. Mengapa? Karena gejala-gejala sebenarnya takkan mulai beberapa hari sesudah virus itu bermutasi

384

menjadi tahap ketiga. Kau dengarkan ini, Mr. Elliot? Beberapa hari menghirup napas, beberapa hari mengembuskan napas. Beberapa hari menyemburkan enam juta kematian dengan setiap embusan napasmu. Kemudian kau akan mulai merasakannya, Mr. Elliot. Pertama demam. Kemudian keringat. Kedinginan, mual, rasa sakit yang menusuk. Dalam 72 jam kau akan mati.”

…seorang profesional. Dia tentu punya rencana cadangan untuk menghadapi kegagalan. Dan rencana cadangan dari rencana cadangan. Itulah sebabnya ia tidak membunuh Marge. Perempuan ini tak ada manfaatnya dalam keadaan mati. Akan tetapi, dalam keadaan hidup ia akan jadi senjata lain, senjata terakhir yang bisa dipakainya terhadap mangsanya. Ia harus membiarkannya hidup, siap mengeluarkannya bila Dave berhasil selamat dari perangkap mematikan yang disiapkan untuknya. Pada saat itulah—bila tahu Dave lolos—Ransome akan menempelkan salah satu radionya ke mulut Marge, dan berharap jeritannya akan mencegah Dave kabur.

Barangkali cara itu akan berhasil. Sama seperti caranya memancang kepala itu seharusnya berhasil.

Kepala itu… karya seni yang bagus. Yang nyaris bisa dikaguminya. Harus diakuinya, benda itu dibuat dengan ahli, tepat seperti yang kauharapkan dari seorang ahli semacam Ransome. Apakah itu terbuat dari lempung atau lilin atau karet atau perempuan mati yang cukup mirip dan cukup makeup sehingga tampak seperti Marge? Dave tidak tahu. Ia tid^ik peduli. Yang ia peduli adalah Marge ternyata masih hidup.

385Ia berniat melihat Marge tetap demikian.

Dave berdiri dengan susah payah. “Maaf, Marge. Aku harus pergi.”

Marge menggeleng keras-keras. Suara-suara yang lebih keras, jeritan seandainya ia bisa membuka mulut, bergolak di bawah penyumbat mulutnya.

“Kau lebih aman di sini daripada bila aku melepaskanmu. Tak lama lagi akan terjadi keributan di lorong-lorong itu. Aku tak ingin kau berada di tengahnya.”

Matanya menyorotkan pandangan membunuh. Ia akan merobek tenggorokan Dave bila ia lepas.

Dave mendorongnya ke lemari Howie hingga tak terlihat. “Tapi aku akan kembali. Aku janji. Aku janji akan kembali untukmu. Marge, jangan pandang aku seperti itu. Sialan, aku kehabisan waktu dan tak punya pilihan.”

Dave meninggalkannya, tahu bahwa Marge takkan memaafkannya, dan kembali ke koridor untuk mengerjakan…

“Tujuh puluh dua jam. Itu saja yang akan kau-punyai. Dan kemudian kau mati. Dalam jam-jam itu kau akan berharap kau sudah mati. 20 atau 30 hari sesudah itu, semua orang akan mati. Semua orang yang berada cukup dekat untuk menghirup napasmu. Dan setiap orang yang berhubungan dengan orang-orang yang sudah terinfeksi olehmu, dan semua orang yang berhubungan dengan mereka. Dengan kata lain, semua orang di dunia, Mr. Elliot, seluruhnya.”

…apa yang harus dikerjakannya. Menyeret dua mayat itu ke posisi yan^ dimaksudkannya hanya butuh sesaat. Begitu mayat-mayat itu selesai diaturnya,

386

lorong di luar kantor Bernie tampak seperti tempat pembantaian. Darah yang berbau tembaga menggenang di karpet, bau bubuk mesiu yang tajam tergantung di udara, Orang mati malang melintang dalam posisi yang tidak nyaman, seperti halnya semua orang mati, wajah mereka menunjukkan ekspresi terperanjat.

Dave berjalan dengan kaus kaki. Salah satu sepatunya telah dihancurkan dengan tembakan. Yang sebelah lagi dibuangnya. Laki-laki kulit hitam itu memakai sepatu kerja selutut berukuran besar dan tampak nyaman dipakai. Tampaknya sepatu itu cocok dengan ukurannya dan Dave memandanginya dengan penuh keinginan.

Lebih baik jangan. Mungkin ada orang mengamatinya.

Benar.

Sudah tiba saat memulai pesta ini, kan? Benar lagi.

Dave mengangkat salah satu Jati-Matic itu, memeriksa klip pelurunya, dan mengeratkan talinya. Ia menyandangnya…

“Lupakan pembunuh biasa, dan lupakan tentara dan perang, dan lupakan Hitler serta Stalin dan setiap despot sinting yang pernah lahir. Betapapun banyaknya korban yang mereka timbulkan tidaklah ada artinya dibanding dengan angka yang




0 Response to "VERTICAL RUN"

Post a Comment