Download applikasi baca novel online untuk android disini: DOWNLOAD

VERTICAL RUN

endiri merupakan satu pasukan tunggal. Tak ada kata yang tepat untuk menjelaskan dia itu apa, mereka belum menciptakannya.”

…di pundak. Ia kembali menyusuri koridor menuju ke ruang rapat. Ia berhenti di ambang pintunya.

Sesudah memicu alarm agar berbunyi, ia punya

387tiga pilihan—bisa lari ke tangga, bersembunyi di lemari Bernie, atau mengunci diri di ruang rapat.

Menurutnya lemari itu merupakan pilihan terbaik. Ia bisa mencapainya lebih cepat daripada tangga mana pun. Anak buah Ransome takkan melongok ke dalam lemari. Mereka akan melihat mayat-mayat, melihat kabel yang tergantung di luar jendela terbuka, dan menyimpulkan ia telah kabur ke atap.

Atau demikianlah yang kauharap.

Atau demikianlah yang kuharap.

Ia masuk ke ruang rapat, berjalan mengukur panjangnya, dan untuk yang diharapkannya sebagai terakhir kali, memasuki kantor Bernie Levy.

Pemandangan di sana tidak berubah. Karya potong-memotong Ransome masih terpampang.

Gila. Sinting. Sama sekali tidak diperlukan dan tidak bisa dibicarakan. Yang harus mereka lakukan hanyalah menjelaskan hal itu kepadanya. Ia tentu tidak akan senang, namun ia tidak akan lari. Seandainya mereka memberitahukan apa yang diceritakan Ransome kepadanya sekarang, ia mungkin akan bekerja sama. Mereka sebenarnya bisa menawarkan membawanya entah ke mana, ke ruangan bersih, steril, terisolasi dari dunia luar. Atau mereka bisa membawanya ke pulau tak berpenghuni, atau tempat lain yang aman. Yang harus mereka lakukan hanyalah membiarkannya mati dengan sedikit martabat. Ia takkan melawan. Bagaimana ia bisa melawan? Mengetahui yang sebenarnya, ia tentu akan menyerah.

Akan tetapi sebaliknya, mereka memutuskan memperlakukannya seperti binatang buruan. Kami pembunuh berlisensi, Mr. Elliot, orang profesional

388

yang sangat terlatih, dan kami tahu apa yang terbaik. Di samping itu, kami tak cukup mempercayaimu untuk menceritakan yang sebenarnya. Kami tak cukup mempercayai siapa pun untuk menceritakan hal itu. Kami akan berbohong padamu, dan kami akan berbohong pada teman-temanmu, dan kami akan berbohong pada orang-orang yang membayar kami. Begitulah cara kami, Mr. Elliot, dan bila sekarang kau belum terbiasa dengannya, kau takkan pernah terbiasa. Maka jadilah warga negara yang baik, dan jangan mempersulit saat kami membereskan masalah kami dengan cara tradisional ini.

Kau masih bisa menawarkan untuk menyerah. Mungkin kau bisa membujuk Ransome agar membiarkan Marge pergi…

Terlambat. Segalanya sudah berkembang terlampau jauh. Ada utang yang harus dilunasi…

“Baiklah, kalian semua, baiklah, Mr. Elliot, inilah poko?persoalannya: begitu virus itu bermutasi ke tahap ketiga, dan begitu virus itu menyebar ke penduduk, ia tak dapat dihentikan. Satu-satunya cara untuk menghentikannya adalah menghentikannya sebelum ia mencapai tahap ketiga. Itu berarti menghentikan orang yang membawanya. Jadi kaubunuh dia sebelum terlambat. Dan dalam melaksanakannya kau harus membunuh beberapa orang lain, itu merupakan harga yang murah. Bahkan seandainya kau harus membunuh seluruh kota New York, itu masih murah. Itu merupakan alternatif yang terbuka, kau tahu itu. Menjatuhkan bom merupakan alternatif rasional.”

…rekening yang harus ditutup. Tahun depan nama John Ransome tidak akan tercantum dalam buku petunjuk telepon.

389Dave membuka dan menutup tangannya. Ia melihat selotip itu. Terentang dari kotak alarm ke jendela yang pecah.

Ayo kita bereskan.

Dave menyentakkan selotip itu.

Ransome masih berbicara. Kata-kata keluar dari mulutnya sedikit lebih cepat daripada seharusnya. Ia sudah bicara terlalu banyak, tahu bahwa segala yang ia ucapkan membuat urusan jadi lebih parah, tetapi tidak kuasa menahan diri. “Kaupikir AIDS menular. Nah, Saudara-saudara, tingkat infeksi AIDS hanya berlipat dua kali dalam setahun. Tapi ini…” Ransome menarik napas pendek, tajam. “Dia ada di sini! Kantor Yahudi itu! Ayo! Ayo, ayo, ayo!”

Dave membuka pintu kantor Bernie, berputar, dan berlari kembali ke dalam lemari. Dari koridor ia bisa mendengar pintu-pintu lain terempas dan suara orang berlarian.

“Robin, di sini Parrot…” ?

“Tenang. Regu cadangan dan regu pelapis tetap di pos.”

Dave di dalam lemari. Ia menggeser pintunya hingga tertutup.

Mereka ada di koridor, tepat di balik dinding. Dave mendengar mereka bergerak. Seseorang tersandung dan berdebam di lantai. Ada suara lain. Dave tidak bisa mengenalinya. Seperti suara berkumur, dan suara tercemplung. Siapa pun orangnya yang paling dekat ke dinding berbisik cukup keras hingga Dave bisa mendengar, “Singkirkan keparat loyo itu dari sini sampai dia berhenti muntah.”

Ransome menyemburkan seruan, “Sialan!” Bukan seperti kebiasaannya ia mengumpat terkejut.

390

Dari radio terdengar suara Parrot, “Robin, apa yang terjadi?”

“Tenang, kuulangi, tenang. Aku akan kembali menghubungimu.”

Suara dari balik dinding, “Berapa banyak? Siapa?”

Suara lain, “Buzzard, Macaw, dan Crow.”

Ransome tidak berbisik. Ia berbicara dengan nada percakapan tenang, normal. “Loon, Bluejay, dan Condor ada di ruang rapat. Mereka juga tumbang. Enam orang. Mr. Elliot mulai menjengkelkanku.”

“Dia masih di sana, Sir?”

“Afirmatif. Bisa ke mana lagi dia? Bila dia keluar ke koridor, kita tentu sudah mendapatkannya sekarang.” Nada suara Ransome beralih. “Atau… atau…” Ia kedengaran terheran-heran. Dalam hati Dave bertanya-tanya mengapa.

“Sir, apakah kita harus…”

“Harus apa, prajurit? Mengambil bayaran kita? Kurasa kita harus melakukannya. Baiklah, semuanya, tunggu hitungan. Siapkan senjata kalian untuk rock and roli, dan bila Mr. Elliot kebetulan masuk ke bidang tembak kalian, semprot dia. Sekarang, satu…”

Dave bisa mendengar gerendel berdetak. Orang-orang yang tahu mereka sudah memasukkan sebutir peluru ke laras mengokang lagi senapan mereka untuk memastikan. Selalu demikian. Dalam keadaan demikian ia sendiri tentu akan melakukannya.

“…dua…”

Jantung mereka tentu terasa terlalu besar untuk dada mereka. Bahkan benar-benar terasa sakit. Semburan adrenalin terakhir sebelum tembak-menembak dimulai sungguh menggentarkan. Pertama kali merasakannya, Dave mengira ia kena serangan jantung.

391”…tiga!”

Hujan peluru tanpa suara terdengar tidak terlalu beda dari bunyi sekawanan burung dara yang terkejut, mengepakkan sayap mereka dengan panik untuk menghindari kucing yang mengintai.

Selongsong kuningan panas berdenting ke atas lantai. Kaca berhamburan. Sesuatu, berderak seperti popcorn mekar. Sebuah benda terjatuh hancur. Dave bisa merasakan getaran peluru yang menembus ke dalam dinding, lantai, langit-langit.

Ia bisa membayangkan apa yang terjadi di dalam kantor Bernie. Ia sudah pernah menyaksikannya. Ada desa sekitar tiga puluh kilometer sebelah utara daerah perbatasan, dan di luarnya ada rumah perkebunan Prancis yang dipakai sebagai markas musuh. Anak buah Dave menembakkan peluru demikian banyak hingga salah satu dindingnya runtuh. Begitu tembakan itu berhenti, Dave-lah yang pertama masuk. Interior rumah itu—setiap keping perabot—telah berubah jadi confetti, guntingan kertas kecil yang ditebarkan dalam pesta.

Tempat itu sunyi senyap. Hanya sedetik tidak ada suara. Kemudian seseorang mulai berceloteh.

“Persetan! Oh, Tuhan! Perempuan-perempuan ini! Aku jadi prajurit bukan untuk…”

“Tenang.” Dalam suara Ransome terdengar nada tajam yang belum pernah didengar Dave.

“Aku mau muntah. Biarkan aku keluar dari sini.”

“Bergeraklah selangkah saja, dan kau akan jadi mayat.”

“Aw, sialan! Itu si Cohen. Ya Tuhan! Apa kau sakit jiwa…”

392

Dave mendengar bunyi batuk pelan dari senjata berperedam. Sesuatu tersungkur menimpa lemari, dan terperosot ke lantai.

Dengan suara pelan dan tenang Ransome berbisik, “Jika aku bilang tenang, kusuruh kalian tenang. Sekarang, kalian semua, kembalilah bekerja. Persoalan di depan mata bukanlah perempuan-perempuan ini, persoalannya adalah subjek ini, yang tampaknya telah berkelit lagi dari kita…”

“Jendelanya, Sir…”

“Salah satu periksa ruang rapat itu…”

“Tidak, Sir, jendelanya…”

Suara Ransome menenggelamkan yang lain. “Minggir. Biar kulihat apa… oh, astaga. Kalian tak tahu, ya?”

Ia di jendela, pikir Dave. Ia sudah melihat kabel itu. Mereka semua bersamanya. Punggung mereka menghadap padanya, dan sungguh mudah membereskan mereka.

Ransome menyalak ke radio. “Atap! Elliot punya tali! Parrot, bawa regu cadangan ke tangga! Cepat! Cepat!”

Parrot balas berteriak, “Tangga barat, Sir! Cuma itu satu-satunya jalan ke atap!” “Kerjakan!”

Beberapa detik kemudian keheningan kembali. Dave menarik napas panjang. Pundaknya mengendur, dan mengendur juga cengkeramannya pada gagang Jati-Matic itu. Semua itu hanya makan waktu semenit. Mereka datang dan mereka pergi, dan tak seorang pun curiga bahwa semua itu tipuan.

Tubuh-tubuh itu, darah, lubang peluru, kanvas

393terbuka dari jendela Bernie yang pecah, kabel yang tergantung di luar—semua itu ilusi yang sempurna. Ransome menelannya mentah-mentah, bulat-bulat.

Hati-hati. Ingat apa yang dulu dikatakan Mamba Jack tentang perasaan yakin yang berlebihan.

Uang panjar untuk kantong mayat.

Sesaat tadi, bukankah ada sesuatu yang aneh pada suara Ransome?

Mungkin. Hanya sesaat itu tadi suaranya berubah. Seperti bingung.

Jadi ?

Lebih baik aman daripada menyesal.

Dave bertiarap di lantai lemari. Ia menggosokkan tangan pada kemeja dan mencengkeram erat Jati-Matic itu. Gagangnya ditumpangkannya ke pundak.

Magasin isi 40 peluru. Mengimbangi bobotnya.

Ia mengungkit pintu lemari dengan ujung jari. Pintu itu terbuka sepersekian inci.

Dave berhenti dan mendengarkan. Sunyi. Tak ada sedikit pun tanda-tanda yang menunjukkan ada orang di baliknya. Ia menggeser lagi pintu itu.

Masih tidak ada apa-apa.

Dan lagi. Dan pintu itu terbuka seluruhnya.

Dave melangkahi mayat laki-laki yang ditembak Ransome.

Kantor Bernie kosong.

Satu jendela lain hancur, diledakkan berhamburan ke udara malam oleh anak buah Ransome. Sebagian dari meja kerja mahoni Bernie, bagian yang paling dekat ke pintu, hancur berkeping-keping. Lima atau enam deret lubang peluru melintang pada dinding di belakangnya. Salah satu lukisan Wyeth rusak; dua

394

lainnya tak tersentuh. Sofa Bernie kini hanya jadi serpihan kain, serat, dan kayu. Lemari arsipnya miring seperti mabuk. Lampu-lampunya jadi serpihan porselen. Dan kepala-kepala yang terpancang itu…

Ia menarik napas panjang, memaksa perasaan mual jadi kemarahan. Seseorang telah mencuri peluru antitank berukir mengenang pengabdian Bernie di Korea. Dave berpikir bila menemukan orang yang mengambilnya, ia akan membunuhnya juga.

Ia merayap ke pintu, yang kini lepas dari engselnya, dan menggulingkan tubuh ke koridor. Ia berputar ke kiri, menyodokkan Jati-Matic itu ke depan, membidik setinggi pinggang orang yang sedang berdiri. Ia melepaskan serentetan tembakan tanpa bunyi, dan bersalto, mengayunkan senapan yang masih berbunyi itu ke kanan.

Peluru-pelur# itu berdebuk ke dinding. Tak ada siapa pun di sana. Koridor itu kosong, tenang di bawah lampu neon. Wallpaper tak mencolok, karpet beige, lukisan indah berbingkai bisu itu tetap sama seperti semula—perusahaan Amerika, hanya dinodai beberapa lubang peluru dan tiga mayat bermandi darah.

Dave berputar ke kiri, dan berputar lagi. Tuhan mengasihimu, Bung. Ransome benar-benar terkecoh. Ya.

Sekarang ayo selesaikan. Benar.

Dave mengeluarkan magasin Jati-matic itu dan memasukkan magasin baru. Ia membawa senapan itu dengan tangan kiri dan mulai berlari. Ransome sedang

395

%menuju ke tangga barat, Ransome dan semua anak buahnya kecuali empat orang yang ada di lantai dasar.

Dave berlari cepat ke tangga timur. Kini ia tenang, terkendali. Ia sudah tenang sejak merobohkan tiga orang di ruang rapat tadi. Ketenangan lama itu sudah kembali padanya, sikap waspada santai seorang profesional yang sedang melaksanakan pekerjaan profesional. Tak ada kegusaran, tak ada kengerian, tak ada kebimbangan. Hanya tugas itu. Tugas itu saja.

Ia mengulurkan tangan ke pintu, membukanya, dan berlari menaiki tangga.

Lantai 49.

Pintu darurat itu terkunci. Tak ada waktu untuk mengakalinya. Ia menembaknya terbuka.

Ia berlari. Hanya ada beberapa detik yang tersisa. Ransome akan sampai di atap setiap saat. Takkan butuh waktu lama baginya untuk menyadari ia telah terpancing melakukan sesuatu yang tak seharusnya dilakukan seorang komandan—mengkonsentrasikan pasukannya di satu lokasi dengan hanya satu jalan masuk dan satu jalan keluar.

Dave berlari.

Melewati satu koridor. Belok kanan. Lebih cepat. Satu belokan lagi.

Momentum gerakannya membuatnya menabrak dinding. Ia terpental, tersandung, dan kembali berlari cepat. Kakinya yang tanpa sepatu berdetap pada karpet. Napasnya tidak memburu. Ia tenang, teguh, damai. Tak sampai tiga puluh detik lagi, segalanya akan beres.

Pintu darurat ke tangga barat.

396

Dave menahan tubuh hingga berhenti. Nyaris berusaha keras. Sepertinya ia tak ingin berhenti berlari. Ia merasa bisa terus berlari selamanya.

Ditempelkannya telinga pada pintu. Ia tak mendengar apa-apa. Musuhnya tak ada di sana.

Ia mendorong pintu itu, mengganjalnya terbuka dengan salah satu pistolnya.

Beton di bawah kakinya yang terbungkus kaus terasa ‘dingin. Di atasnya ia bisa mendengar detak tertahan bunyi tumit sepatu. Beberapa orang masih di tangga, belum sampai ke atap.

Sayang.

Ia mengambil empat langkah ke depan dan melihat ke bawah. Tangga itu berputar seperti spiral sejauh 49 lantai. Dua tingkat tangga per lantai, 98 tingkat seluruhnya. Satu platform tiap lantai, dan satu lagi di antara tiap lantak Kau bisa melihat ke dasar. Kau bisa melihat ke puncak.

Dan bila kau tengadah, dan bila kau tahu ke mana harus melihat, kau bisa melihat di mana ruang tangga itu menuju ke atap. Kau bisa melihat dasar platform di dalam bungker atap. Kau bisa melihat di mana Dave menempelkan botol cokelat berisi kristal nitrogen triiodida.

Baby go boom!

Dave mengangkat Jati-Matic. Tembakan yang berbahaya. Ia melihat kembali ke pintu, memperhitungkan toleransinya. Dua meter. Mepet. Ia akan berhasil bila perhitungan waktunya tepat. Bila tidak, ia takkan pernah tahu.

Ia memusatkan pandangannya. Seseorang masih di atas sana naik ke atap. Dave menunggu orang itu keluar dari bahaya.

397Radio bergemeresak. Ransome berteriak, “Myna! Myna, tutup…” Waktu habis! Dave menembak.

Jati-Matic itu tersentak di pundaknya. Ia melompat, terjun ke arah pintu. Jarinya masih menempel pada picu. Peluru menyembur di dalam ruang tangga, berpantulan pada beton. Pintu itu, koridor, tempat aman hanya beberapa kaki jauhnya.

Matanya terpejam rapat. Cahaya itu putih terang, begitu putih, begitu menyilaukan. Pembuluh darah di kelopak matanya jadi berpijar merah membara.

Dan hawa panas seperti jantung Tuhan.

Dan petir, bukan guruh badai petir di kejauhan, bukan gemuruh pelan dan panjang yang terdengar dari jendela kamar tidur anak-anak, bukan tunggu kilatnya dan hitung berapa detik sampai kau mendengar bunyinya dan kemudian kalikan dengan 0,2 hingga kau akan tahu berapa mil jarak petir itu menyambar.

Bukan petir dari jauh. Bukan petir dari dekat.

Petir dalam ruangan, petir yang terdengar dari dalam petir itu sendiri.

Sebagian tubuhnya sudah melewati ambang pintu ketika ledakan itu menyambar. Tenaga ledakan itu tidak memukulnya roboh, melainkan mengangkatnya, memutarnya, dan membantingnya ke dinding dalam keadaan jungkir balik. Ledakan itu menahannya sedetik, mendorongnya begitu keras sehingga napas meninggalkan paru-parunya, dan kemudian menjatuhkannya ke lantai.

Ia merasa seakan-akan satu geng jalanan

398

memukulinya dengan pentungan. Setiap ototnya sakit. Setiap inci kulitnya terasa memar.

Ia menjauhkan diri dari pintu terbuka itu, yang kini hanya berupa logam penyok pada engsel melengkung. Gumpalan-gumpalan beton tercurah dari atas, memantul, dan menggelinding pada karpet. Awan debu yang mencekik tercurah ke wajahnya. Ia membuka mulut mencari napas dan merangkak pergi.

Air.

Di ujung koridor itu ada pancuran air minum. Ia sampai ke sana, menegakkan badan, dan mendorong tuasnya. Ia minum banyak-banyak, dan membiarkan air mengalir ke wajahnya. Di belakangnya terdengar bunyi logam terbanting. Sebatang baja-I lepas dari langit-langit dan menusuk lantai di tempat, beberapa detik lalu, ia tergeletak.

Astaga, Sobat, apakah kau yakin tidak terlalu banyak membakar triiodida itu?

Tidak.

Ia kembali minum air.

Suara—gelombang statik?—suara manusia— bergemeresak di radio. Telinga Dave berdenging. Ia tidak bisa memahami… Ia menggerakkan rahangnya maju-mundur, menelan ludah, dan mencoba memulihkan pendengarannya. Terdengar bunyi plop, dan ia bisa mendengar lagi.

“…di sana? Ulangi, apa yang terjadi? Masuk, Robin. Masuk, Partridge. Ulangi, apa yang terjadi di atas sana? Harap jawab.” Itu Myna, orang yang dipasang di lobi.

Dave menekan tombol transmit. “Myna, berikan laporan. Bagaimana kedengarannya di bawah sana?”

399”Seperti tabrakan kereta api.”

“Apakah ada yang mendengarnya di jalan? Apakah ada kegiatan di luar sana?”

“Negatif. Siapa pun di luar sana yang mendengarnya mungkin mengira itu peledakan got Con Ed. Tapi ada orang lain di gedung ini, dan berani bertaruh mereka semua sedang menghubungi 911.”

Benar. Apa pun yang terjadi selanjutnya harus terjadi dengan cepat.

“Standby, Myna. Jangan lakukan apa-apa.”

“Afirmatif. Tapi siapa ini?”

“Akan kukatakan siapa itu.” Ransome. Suaranya parau seperti pita rekaman 78 rpm.

Dave menekankan ibu jarinya. “David Elliot bicara, Myna. Tetaplah tenang, dan jangan bertindak sembrono bila kau ingin pulang selamat hari ini.”

Ransome berbicara lembut, “Kau membuatku tercengang, Mr. Elliot. Tampaknya hanya ada kemungkinan kecil kami akan pulang.”

“Mereka akan pulang dengan selamat bila mereka mendengarkan dan melakukan apa yang kukatakan. Myna, Partridge, kalian semua, perhatikan aku baik-baik. Pertama, kujelaskan bagaimana status kalian menurutku. Myna, kau punya tiga orang bersamamu. Ada enam orang di lantai 45…”

“Mati,” sela Ransome.

“Tidak semuanya. Seharusnya kau melihat lebih teliti. Aku hanya menembak mereka yang tak memberiku pilihan lain. Coba kalian renungkan, sehari penuh aku mencoba sebisa mungkin untuk tidak membunuh kalian.”

“Dan patut disesali karena kurang berhasil.”

400

Dave mengertakkan gigi. Satu angka untuk John Ransome. Ia tidak bisa membiarkan keparat itu mencetak angka lagi—tidak bila ia, seperti yang diharapnya, hendak memenangkan hati anak buah Ransome untuk menentangnya. “Oke, Ransome, di atap kau punya—berapa—selusin.”

“Kau tak benar-benar berharap aku mengatakannya, kan?”

“Lebih sedikit. Siapa saja yang tadi berada di tangga, siapa saja yang berdiri dekat pintu, sekarang sudah tercatat dalam daftar korban. Myna, sebagai informasi, bunyi bising yang kaudengar tadi adalah bunyi aku meledakkan tangga. Semua yang di atap tetap berada di sana.”

“Di sini Robin. Myna, beritaruj Mabes segera.”

“Tahan, Myna,” Dave menyela. “Bila kau memberitahu Mabes, salah satu dari dua hal akan terjadi. Satu, mereka akan mengirim lebih banyak orang, atau dua, mereka akan mengatakan persetan dengan itu semua dan menjatuhkan heavy. Mana pun yang terjadi, kau akan mati.”

“Jangan dengarkan dia, Myna.”

“Myna, bila mereka mengirim lebih banyak orang, mereka takkan mendapatkanku. Tidak seketika itu juga. Bahkan seandainya mereka mengirimkan satu resimen penuh dan memeriksa kantor demi kantor, tetap akan butuh waktu berjam-jam. Saat itu matahari tentu sudah terbit. Akan ada banyak orang di jalan. Para pekerja akan datang. Kota ini akan terbangun.”

“Myna, aku sudah memberimu perintah. Hubungi Mabes.”

“Dan kau tahu apa yang akan kulakukan? Aku 4Ł)lakan menunggu sampai puncak jam sibuk. Kemudian aku akan memecahkan kaca dengan kursi dan terjun ke bawah. Mungkin aku akan melompat dari jendela lantai 10. Mungkin jendela lantai 40. Tak ada bedanya, sebab saat aku menimpa beton di bawah, darahku akan tersebar ke mana-mana. Apakah kau melihat ke jalan sesudah Bernie Levy yang malang melompat, Myna? Akan sama kejadiannya denganku.”

“Myna, aku tak perlu memperingatkanmu mengenai hukuman menolak perintah^ kan?”

“Kau sudah dengar apa yang dikatakan bos kalian beberapa saat lalu mengenai darahku, kan? Darahku penuh kuman atau virus atau entah apa dari neraka. Coba pikirkan, Myna, pikirkan seberapa jauh darah Bernie memercik. Pijdrkan berapa banyak orang yang mulut dan hidungnya tepercik darahku kalau aku melompat keluar dari jendela pada jam sibuk.”

“Kerjakan tugasmu, Myna, telepon…”

Myna memotong ucapan Ransome, “Apa pilihanku? Aku akan mati bila kau melompat. Aku akan mati bila mereka membom kita. Dan aku akan mati bila aku membiarkanmu keluar dari sini, sebab virusmu akan membunuh semua orang di dunia.”

“Aku takkan kabur. Itu kesepakatannya.”

Myna tidak menjawab. Sesudah diam sesaat, Ransome tertawa pelan. “Aku ingin dengar ini. Oh ya, sungguh aku ingin dengar. Katakan padaku, Mr. Elliot, apa rencana yang ada dalam benakmu? Sudah tentu kau tak percaya, di saat selarut ini, kau mendapatkan pemecahan baru untuk mengatasi kesulitan kita?”

“Aku punya. Apakah kau mau mendengarnya?”

402

Ransome mendengus. “Bicaralah.”

“Pertama, aku ingin menanyakan sesuatu pada Myna. Myna, apakah kau tahu apa yang telah dilakukan temanmu Robin, temanku Ransome? rladiah kecil macam apa yang ditinggalkannya untukku di dalam kantor Bernie Levie?”

“Uh…”

“Bagaimana denganmu, Parrot? Apakah kau pernah ke sana dan melihatnya?”

“Tidak. Aku berada dua lantai di bawahnya dalam regu cadangan. Mengapa kau tanya?”

“Ceritakan pada mereka, Ransome. Kau begitu bangga dengannya, jadi ceritakan pada mereka.”

Dave mendengar bunyi desis dan goresan. Rokok dan korek Ransome ternyata selamat dari ledakan itu. “Aku tak melihat alasan untuk melakukannya, Mr. Elliot. Aku juga tak menerima perintah dari orang seperti kau.”

“Baiklah. Aku akan melakukannya untukmu. Parrot, Myna, kalian semua, yang dilakukan bos kalian adalah memenggali beberapa kepala dan menancapkannya pada tonggak.” Dave berhenti untuk memberikan efek. “Kepala wanita.”

Seseorang, Dave tidak tahu siapa, menggumamkan umpatan tak percaya.

Suara Ransome mengeras, tidak banyak, tetapi bisa terdengar. “Kau melakukan kesalahan, Mr. Elliot. Lebih dari satu kali. Jika melihat lebih cermat, kau tentu akan tahu…”

“Bahwa kau menahan Marge Cohen sebagai sandera? Nah, tidak. Aku sudah menemukannya, dan aku melepaskannya, dan sudah sejak lama” dia keluar dari sini.”

403Ransome berbisik, “Ke-pa-rat.”

“Oke, mari kita bahas pokok persoalannya.” Dave berbicara sambil merapatkan gigi, berusaha keras mengendalikan suaranya. “Aku ingin kalian tahu bahwa bos kalian telah memancangkan kepala beberapa wanita. Kalian dengar itu? Apakah kalian mendengarku dengan jelas? Apakah kalian mengerti apa yang dikerjakan komandan sinting kalian di waktu luangnya? Kuulangi sekali lagi—bos kalian memenggali kepala wanita.”

“Perang urat saraf. Langkah yang disetujui…”

“Simpan omonganmu, Ransome. Itu cuma dalih. Dia ingin kalian percaya bahwa alasannya melakukan hal itu adalah untuk meruntuhkan sarafku. Aku dulu di ‘Nam. Kalian tahu itu. Dan ketika aku di sana ada orang melakukan tindakan yang sama terhadap perempuan-perempuan Vietnam—memenggali kepala mereka. Saat itu aku lumpuh, jadi bos kalian pikir sekarang pun aku akan lumpuh. Itulah alasan yang akan diberikan Ransome pada kalian. Namun itu bukan satu-satunya alasan. Bukan alasan sebenarnya. Alasan sesungguhnya, alasan mengapa ia melakukannya…”

“Diam, Elliot. Siapa yang memberimu izin untuk buka praktek psikiatri?”

“…sebab dia suka…”

“Letnan Elliot mengkhianati anak buah dan komandannya sendiri.”

Dave terperangah.

“Itulah yang dilakukannya di ‘Nam. Ia mengkhianati komandannya. Mengadukannya. Mengirimnya ke mahkamah militer, dia dan lima anak buahnya. Kalian tak bisa mempercayainya. Kalian tak bisa memper—

404

cayai sepatah kata pun yang dikatakannya. Dia adalah Yudas.”

“Benar.” Dave, dengan buku-buku jari memutih, meremas radio itu sekuat-kuatnya. “Kau benar, Ransome. Dan aku berani bertaruh bahwa sedikitnya salah satu anak buahmu—mungkin lebih dari satu— akan mengambil tindakan yang sama.” Dave merendahkan suaranya dan meneruskan dengan sungguh-sungguh. “Salah satu dari kalian akan menyerahkan Ransome. Kalian akan melakukannya sebab itulah tindakan yang benar, atau kalian melakukannya sebab kalian takkan bisa tidur malam hari, atau kalian melakukannya’ sebab kalian tahu bahwa bila siapa pun yang berwenang sampai tahu apa yang terjadi di sini, kalian akan tertimpa nasib seperti bos kalian. Dan itu, Teman-teman, akan jadi nasib yang benar-benar mengenaskan.”

Ransome mendengus. “Omong kosong. Aku punya wewenang…”

“Untuk memenggal leher perempuan, untuk menggorok perempuan? Hei, kalian, bila Ransome punya wewenang seperti itu, aku ingin melihatnya dalam surat tertulis. Maksudku, seandainya aku jadi kalian…”

“Kalian terlindungi. Akulah perwira senior di sini, sepenuhnya bertanggung jawab, dan…”

Dave balas menukas, “Perwira seniorlah yang lolos dengan penundaan hukuman. Anak buahlah yang menanggung akibat. Selalu demikian keadaannya selama ini, dan selalu demikianlah kelak. Aku tak pernah berjumpa dengan prajurit tempur yang tak tahu itu, Ransome.”

“Mr. Elliot, aku sudah bosan denganmu. Myna,

405kuperintahkan kau menghubungi Mabes. Sekarang kerjakanlah.”

“Jangan, Myna. Dengarkan tawaranku. Terimalah tawaran ini atau kau akan mati.”

Radio itu bungkam. Detik demi detik berlalu. Tangan Dave berkeringat. Ia tidak berani meletakkan radio itu untuk menyeka keringatnya.

Akhirnya, Myna berkata, “Teruskan, Sir. Maksudku, rasanya kami harus mendengar tawaranmu. Maksudku bila tak ada yang keberatan.”

“Kau mengecewakanku, Myna,” bisik Ransome. “Ingat, bila dia ingin berunding, dia bisa melakukannya setiap saat pagi ini.”

Kau menangkapnya basah, Sobat.

Dave menyela, “Partridge, kau percaya itu? Selama ini kaulah yang paling dekat dengan Ransome. Ayolah, Partridge, katakan pada kami, katakan pada teman-temanmu, apa yang akan terjadi bila aku mencoba berunding.”

Suara Ransome meninggi, meskipun hanya sedikit. “Diam, Partridge! Ini akan kutangani. Seperti kalian semua tahu, seandainya Mr. Elliot sedikit membantu, seandainya dia menunjukkan tanda bersedia bekerja sama, seandainya dia bertindak dewasa seperti yang kita harapkan…”

Partridge menyela, “Kau tentu sudah menembak jantungnya.”

Suara Ransome pecah. “Partridge, terkutuk kau, prajurit! Dan, Myna, aku memerintahkanmu, dan kau harus patuh!”

Dave menjaga suaranya tetap datar. Tidak mudah. “Tawaranku sederhana. Yang kuinginkan hanyalah

406

Ransome. Kalian berikan dia padaku, biarkan aku bersamanya beberapa menit, dan sesudah aku selesai…” %

“Pembohong! Pembohong keparat busuk!”

“Sesudah aku selesai dengan apa yang harus kulakukan—sama seperti yang akan kalian lakukan— akan kulepaskan senjataku, dan aku akan menyerahkan diri.”

“Ini omong kosong! Omong kosong! Jangan dengarkan!”

Dave memaksa diri agar terdengar letih dan putus asa. “Lift mungkin rusak akibat ledakan itu, Myna. Aku akan menuruni tangga, sebelah utara. Tanpa senjata. Tanpa tipuan. Tangan terangkat. Kemudian terserah padamu. Kau mau menembakku, terserah. Kurasa aku toh bakal mati juga. Kau mau menelepon Mabes, itu pun boleh. Apa pun yang kauinginkan, itulah yang kaulakukan. Aku tak peduli. Aku hanya ingin melewatkan beberapa saat intim bersama bosmu.”

“Kau bajingan. Kaupikir orang-orang ini begitu tolol…”

Satu suara lain memotong Ransome. Suara Par-r-tridge, berbicara pelan, “Bagaimana kau mau mengambilnya? Dia ada di atas sini. Kau di bawah sana.”

“Aku akan kembali ke kantor Bernie Levy. Dalam satu menit aku akan berada di sana. Di sana ada tali. Kabel sebenarnya. Di sisi utara atap. Ikat Ransome dan turunkan dia ke jendela Levy—yang pecah. Tapi mula-mula lepaskan semua pakaiannya. Aku ingin dia telanjang bulat.”

Ransome menggeram, “Wah, Mr. Elliot, aku tak pernah tahu kau merasa begitu terhadapku.”

407Dave tak menghiraukannya. “Partridge, Myna? Apakah kita sepakat?”

Hening di ujung lain hubungan radio itu. Dave menahan napas. Kini semuanya terkait pada kesetiaan. Sejauh mana kesetiaan anak buah Ransome pada pemimpin mereka? Sejauh mana mereka mencintainya; sekuat apa ikatan mereka? Dalam jiwa beberapa prajurit ada ikatan erat yang lebih dari sekadar ketaatan. Bila orang yang mereka ikuti adalah orang yang tepat, tak ada apa pun yang bisa menghancurkan ikatan mereka terhadapnya. Mereka akan mati lebih dulu.

Namun perwira yang mereka abdi dengan sumpah setia itu harus berjuang mendapatkannya. Dave menduga Ransome tidak demikian.

Demikian pula menurut Partridge.

“Setuju.” Ada ketegasan militer dalam suara Partridge. Dave tahu orang itu mengatakan yang sebenarnya.

Ransome mengaum, “LEPASKAN TANGAN BUSUKMU DARIKU. AKU AKAN MELIHATMU DI DEPAN REGU TEMBAK KAU KEPARAT JANGAN BERANI-BERANI MENYENTUHKU KAU BAJINGAN BUSUK ATAU AKAN KUKEBIRI KALIAN…”

Dave mendengar suara mendengus dan caci maki tersekap. Radio Ransome mengeluarkan bunyi seperti kertas kaca diremas.

“Partridge.” Dave bertanya, “Partridge, apakah kau di sana?”

“Di sini, Mr. Elliot. Kau di mana?”

“Hampir sampai ke kantor Levy. Aku di koridor sekarang.”

408

“Kami siap menurunkannya.”

“Tunggu sebentar, Partridge. Berapa ukuran sepatu yang dipakainya?”

“Menurutku dua belas. Lebar. Dua belas B atau C.”

Dave melangkah ke dalam kantor Bernie. Sisa pembantaian dan kengerian tak bermakna itu^inti semua peperangan dalam sejarah. Cara terbaik adalah mengabaikannya. Mengabaikannya adalah satu-satunya cara agar seorang prajurit bisa tetap waras.

“Bagus. Biarkan sepatunya tetap terpakai. Selain itu tak ada apa pun. Bahkan kaus kakinya pun tidak. Hanya sepatunya. Bisa dimengerti, Partridge?”

“Mengerti, Mr. Elliot.”

“Panggil aku Dave.”

“Dia segera diturunkan… Mr. Elliot.”

Dave berjalan ke jendela dan menarik kanvas itu. Ia mendongak. Tubuh Ransome baru saja diturunkan melewati pagar atap. Ia telanjang, putih, dan secara kasar, otot-ototnya bisa dikatakan indah. Bahkan dari kejauhan, Dave bisa melihat badannya terhias silang-silang bekas luka.

Laki-laki ini pernah menerima medali Purple Heart. Mungkin lebih dari satu.

Kendali diri Ransome sudah pulih. Ia tidak lagi berteriak, tidak lagi mengumpat. Suaranya tenang, datar, samar-samar menunjukkan aksen Appalachian-nya. “Aku sangat kecewa dengan kalian semua. Kalian menangani situasi ini bukan dengan tanggung jawab yang diharapkan dari para profesional terampil. Tapi masih ada waktu…”

Dave menekan tombol transmit pada radionya. “Par—

409tridge, aku tak ingin dia diturunkan seluruhnya. Akan kuberitahu kapan kau harus berhenti. Dan tolong geser dia sedikit ke kiri, supaya aku bisa meraihnya.” “Baik, Mr. Elliot.”

“…masih ada waktu untuk membalikkan situasi ini. Kalian tahu aku. Kalian tahu aku orang berpikiran terbuka. Aku siap melupakan sedikit penyimpangan dari tugas ini. Kalau tidak, yang kalian lakukan akan disebut pemberontakan. Aku ingin kalian…”

Ransome berputar turun. Tubuhnya menggesek permukaan granit kasar dari gedung itu. Meninggalkan bekas parutan pada kulitnya. Dave meringis. Ransome tidak.

“…memikirkan pemberontakan. Dan aku ingin kalian memikirkan.kewajiban kalian. Aku punya keyakinan bahwa bila kalian memikirkan kewajiban, kalian akan melakukan tindakan yang tepat dan benar.”

Dave menekan radionya. “Partridge, kurang-lebih satu setengah meter lagi lalu berhenti.”

“Siap.”

Partridge dan orang-orang di atap itu tidak bersikap lembut terhadap Ransome. Pergelangan kakinya diikat erat dengan kabel. Peredaran darahnya terpotong, dan kakinya berubah jadi ungu tua. Di bagian atas, lengannya terpilin di belakang punggung. Kabel itu diikatkan demikian kencang di sekitar sekat rongga dadanya sehingga daging menonjol di antara lilitan. Ransome tentu kesakitan, tetapi tentu saja ia tidak memperlihatkannya. Laki-laki seperti Ransome tak pernah memperlihatkannya.

Dave melangkah mundur dari jendela. Kaki Ransome yang tertutup sepatu muncul. Kemudian betisnya yang telanjang. “Tahan,” kata Dave.

410

“Siap.”

Ransome terkekeh. “Kau salah, Mr. Elliot. Mereka harus menurunkanku satu-dua kaki lagi sebelum kau bisa membelai-belaiku.”

Dave tak menghiraukannya. Ia mengulurkan tangan ke udara, meraih kaki kiri Ransome, dan membuka tali sepatunya.

“Apa ini, Mr. Elliot, kaupikir aku menyembunyikan senapan mesin kaliber .50 di sana?”

Dave melepaskan sepatu kanan Ransome, dan memakainya ke kaki sendiri. Ukurannya sangat tepat, sama seperti dengan yang kiri.

Ransome tertawa seolah menikmati lelucon pribadi. “Ah, hadiah buatmu. Seharian sudah kauhabiskan pura-pura sebagai orang yang bisa menggantikan kedudukanku. Sekarang kaupikir sudah berhasil. Tapi sebenarnya belum.”

Dave membungkuk dan mengikat tali sepatu.

“Sementara kau menikmati saat-saat kemenangan sementara, biar kuberitahu kau, bila kaupikir kau mempermalukanku, kau keliru. Dan bila kaupikir kau bisa menghancurkanku, kau juga keliru.”

Dave menegakkan tubuh. Ia mencondongkan badan ke luar jendela, meraih betis Ransome. Ia berbicara ke radio, “Partridge, apakah kau dengar penjelasan Ransome mengenai situasiku?”

Partridge terdengar sedikit bingung. “Ya, Sir. Mengapa kautanyakan?”

“Seluruhnya?”

“Ya, Sir”

“Semua tentang tiga fase penyakit ini. Pertama dalam darah, kemudian dalam cairan tubuh, dan kemudian dalam sistem pernapasan?”

411”Ya, Sir. Aku mengerti.” “Dan kau mengerti semuanya?” “Ya, Sir.”

“Dan kau tahu aku sekarang dalam fase kedua? Bahwa penyakit ini bisa ditularkan lewat darah, urin, dan ludah? Dan tentang minum dari cangkir yang sama, dan gigitan sayang, dan ciuman, semuanya itu?”

“Afirmatif, Sir. Sekarang tolong katakan mengapa kautanyakan semuanya ini?”

“Tentu,” kata Dave. “Atau yang lebih baik, lihatlah ke bawah, dan saksikan.”

David Elliot memandang wajah musuhnya. Ia tidak lagi membenci laki-laki ini. Kalaupun ada perasaan, ia merasa sedikit bersimpati padanya.

Ransome balas menatap tajam.

Dave tersenyum. Anehnya, senyum itu sungguh-sungguh, hangat dan bukannya tidak ramah.

Mata Ransome menyala-nyala dengan kebencian yang nyaris bisa teraba. “Apakah kau siap balas dendam, Elliot? Ayolah, man, ayo. Aku sudah tak sabar melihat perbuatan sinting apa yang ada dalam benakmu.”

Senyum Dave melebar. Ia memperkeras suaranya, memastikan bahwa orang-orang di atas atap itu bisa mendengarnya. “Apa yang ada dalam benakku, Sobat? Hanya ada ciuman. Itu saja. Hanya ciuman dan sedikit gigitan sayang.”

Saat Dave Elliot menurunkan Marge Cohen keluar dari jendela lantai 2 yang pecah, di atasnya, jauh namun cukup jelas, ia mendengar jeritan Ransome yang tajam dan gila penuh ketakutan.

Dan tetap mendengarnya, sewaktu mereka pergi menyongsong fajar.

412

EPILOG

Tidurlah; dan bila hidup terasa pahit bagimu, maafkanlah,

Bila manis, bersyukurlah; meskipun tak bisa meneruskannya lagi.

Dan baiklah kiranya bersyukur, dan memaafkan.

Algernon Charles Swinburne, “Ave atque Vale”

Seorang laki-laki di atas kuda.

Namanya David Elliot. Ia berperawakan ramping dan berkulit gelap, wajahnya belum pucat akibat serangan terakhir penyakitnya.

Perjalanan ini adalah yang terakhir. Ia tahu bahwa maut menanti di ujungnya.

Matanya cokelat, dan tampak serius seandainya tidak ada senyum yang membuat sudut-sudutnya berkeriput.

Ia tahu bahwa ia akan mati seorang diri, dan sudah berdamai dengan takdir yang tak terelakkan

413itu. Musim gugur sudah dekat, musim dingin tidak jauh lagi; tubuhnya tidak akan ditemukan sampai musim panas datang lagi.

Kesadaran inilah sebagian yang menyebabkan senyum itu. Mikroba yang tak lama lagi akan memasuki tahap ketiga, tahap membunuh, membutuhkan inang hidup. Maka dengan mati jauh dari manusia lain, ia akan membunuh apa yang telah membunuhnya.

Ada alasan-alasan lain mengapa ia tersenyum, namun itu hal-hal pribadi.

Hari ini, ia sudah lebih dari 320 kilometer di sebelah timur San Francisco, di Pegunungan Sierra. Kemarin ia melintasi kaki lereng, dan mengambil’ kudanya dari laki-laki dengan kulit seperti disamak yang tampak tak sedikit pun bertambah usianya sejak terakhir kali Dave melihatnya.

Dave memberikan uang dan beberapa surat kepada laki-laki itu. Surat-surat tersebut dialamatkan kepada pied-a-terre di Sutton Place, ke kantor di Basel, ke asrama di Columbia University, dan ke ranch di Colorado. Laki-laki itu menghitung uang, tersenyum puas, melipat surat-surat itu ke dalam saku kemeja, dan berjanji tidak akan mengirimkannya hingga salju pertama musim itu turun.

Sekarang David Elliot berkuda ke barat menuju ke dataran tinggi yang luas, menaiki lereng berbatu-batu, ke lembah kecil yang pernah dikunjunginya sekali, dan tak pernah dilupakannya. Di sana tak ada jalan setapak, tapi ia tahu ke mana harus pergi. Setiap meter tanah di sana—granit, kelabu dengan bercak-bercak hitam—masih segar dalam benaknya, seolah baru kemarin ia ke sini.

414

Ia tidak bercukur. Rambut-rambut di pipi, dagu, dan bagian atas bibirnya sudah tiga hari dibiarkan tumbuh.. Ia berangan seandainya cambang itu tumbuh lebih cepat. Kiranya baik memakai kumis pada akhirnya.

Dave mengambil sehelai saputangan. Ia mengangkat tepi topi jeraminya dan menyeka keringat. Ia tahu masih berapa jauh tujuannya. Hanya tinggal sejam lagi.

Matahari hampir tenggelam ketika ia tiba. Udara dipenuhi dengan cahaya keemasan. Ia mendaki gundukan kecil, menengok ke bawah, dan menahan napas. Keindahan lembah itu sungguh mendebarkan. Di tengahnya, lebih hijau daripada botol hijau, terbentang danau zamrud yang selalu diingatnya, sama seperti ia mengingat bayangan senja lembut yang terbentang di seberangnya. Tak sesuatu pun bergerak. Dan ya, udara ini sesegar anggur.

Inilah saat terindah dalam hidupnya, terindah yang bisa dialami. Ia tahu bahwa, di antara semua orang, ia mendapatkan hak istimewa untuk mengalaminya dua kali. Dan kesadaran ini mengisi hatinya dengan kegembiraan.

415THE SPECIALIST CONSULTING GROUP. Inc. Jawaban merujuk pada arsip: 04-95-270K T

Kantor Administrasi Proyek

Mail Drop 172, LEMDUSA 20817

KEPADA: Daftar Edaran, via faks

DARI: Administrator Proyek, Proyek 79-1-18

SUBJEK: Status

Kantor ini memberitahukan kepada Anda bahwa:

1. Hasil-hasil pengujian terbaru menunjukkan bahwa kemampuan hidup mikroba 138,12.b tergantung pada inang yang menyerap oksigen dalam jumlah besar. Efektivitas mikroba menurun secara logaritmis sesuai fungsi rumus f(x) = -2.17E+5 ” ln(x) + 4.71E+5, di mana x adalah tekanan atmosfer dalam milibar Mikroba 138.12.b memasuki saat tidur pada ketinggian 1.260 meter ą 5% di atas permukaan laut. 100% mortalitas mikroba terjadi di atas ketinggian 2.040 meter ą 5% di atas permukaan laut. Staf R&D menekankan bahwa hasil ini tidak diperkirakan, dan mohon maaf atas segala kesulitan yang mungkin timbul dari kekhilafan ini. Staf lebih lanjut menegaskan bahwa efektivitas mikroba tetap pada parameter yang telah ditetapkan di bawah ketinggian 600 meter ą 5%.

2. Penyelidikan lapangan menegaskan bahwa subjek ELLIOT, David Perry, mencapai lokasi perkemahan di bawah Gunung Excelsior, negara bagian California (38°07’ Lintang Utara dan II8°53’ Bujur Barat) pada tanggal 29 September tahun ini. Peta USGS menunjukkan bahwa lokasi perkemahan ini terletak pada ketinggian 2.830 meter di atas permukaan laut. Dengan demikian, kemungkinan besar bahwa subjek ELLIOT, pada saat ini, masih belum mati. Data lebih jauh mengenai gerakan subjek ELLIOT selanjutnya dan keberadaannya saat ini belum diterima.

3. Subjek KREUTER, John James, Kolonel, Veteran Angkatan Bersenjata AS, meninggalkan kantornya di Basel, Switzerland, pada tanggal 14 Oktober tahun ini. Data lebih lanjut mengenai gerakan dan keberadaan subjek KREUTER saat ini belum diterima

4. Catatan paspor menunjukkan bahwa subjek COHEN, Marigold Fields, melapor pada imigrasi Swiss pada tanggal 28 September tahun ini. Subjek Cohen tinggal di Hotel Mercure Luceme, Switzerland sampai tanggal 14 Oktober tahun ini. Data lebih lanjut mengenai gerakan dan keberadaan subjek Cohen saat ini belum diterima

5. Kantor ini menilai kemungkinan inisiatif balas dendam oleh subjek ELLIOT, mungkin bekerja sama dengan subjek KREUTER, adalah di atas tingkat risiko yang bisa diterima. Semua personel yang terlibat dengan ini diarahkan untuk mengambil prosedur pertahanan tingkat 3. %

6. Tetap tenang, Saudara-saudaralTampaknya situasi ini dalam kendali kita.

LTF mjCATATAN PENULISp>

Pada tahun 1946 penyelidik kejahatan perang Sekutu menemukan bahwa Dr. Shiro Ishii, jenderal Tentara Kekaisaran Jepang dan komandan organisasi militer yang dikenal sebagai Unit 731, telah membangun laboratorium senjata biologi terbesar dan termaju di dunia di Manchuria. Laboratorium-laboratorium satelitnya kelak ditemukan di Tokyo dan tempat lain. Bukti-bukti yang dikumpulkan oleh para penyelidik itu menunjukkan bahwa selama masa perang, Ishii dan para asistennya telah melakukan uji coba senjata biologis secara ekstensif terhadap penduduk sipil Cina serta terhadap tahanan perang Amerika dan Inggris yang disekap di berbagai kamp di Asia Tenggara.

Tak dapat dijelaskan mengapa Dr. Ishii (yang kejahatannya jauh melampaui rekannya dari Jerman, Dr. Josef Mengele) tidak pernah dibawa ke pengadilan. Sebaliknya, ia diizinkan menikmati masa pensiun yang makmur dan panjang, menikmati uang tunjangan besar dari Pemerintah Jepang serta pendapat dari berbagai sumber yang tetap anonim sampai, tepat ketika novel ini dikirim kepada typesetter, The New York Times mengungkapkan bahwa Pemerintah AS telah memba-419yarkan upah tetap dalam jumlah besar kepada Dr. Ishii.

Beberapa catatan yang bisa dilihat umum memberikan keterangan yang membingungkan mengenai hakikat laporan-laporan riset yang dibuat oleh Dr. Ishii dan stafnya.

Salam buat dimhad-pangcu, suhu bbsc, kang zusi sekeluarga, otoy dengan kameranya, syauq arr dengan lianaold.wordpress.com -nya, grafity, dan

semua dimliader.

Dilarang meng komersil kan atau kesialan menimpa anda.

420

Ya, catat nama saya sebagai anggota GRAMEDIA BOOK CLUB dan kirimi saya informasi setiap kali ada buku baru karya pengarang favorit saya yang terbit. Terlampir prangko balasan Rp 600,-

Nama

No. Anggota -Usia Jabatan

Alamat

………………………(Isikan jika Anda pernah terdaftar)

………………………tahun Pria/wanita*

Pelajar/mahasiswa/karyawan/wiraswastawan/ ibu rumah tangga*

Kode pos:………..

Coret yang tidak perlu

Tandai pengarang yang Anda pilih

( ) JohnGrisham

( ) Sidney Sheldon

( ) AlistairMacLean

( ) JackHiggins

( ) Jeffry Archer

( ) Michael Crichton

( ) Sir Arthur Conan Doyle

( ) Thomas Harris

( ) Steve Martini

( ) Irving Wallace

( ) Stephen King

( ) Barbara Delinsky

( ) Barbara Taylor Bradford

( ) Erich Segal

Telp.:…………………………….

(Terjebak)

> Pearl S. Buck

> Jackie Collins

) Rosamunde Pilcher ) Agatha Christie I Danielle Steel I Mary Higgins Clark ) James Patterson I Harold Robbins

> KenFollet

I Mario Puzo I Joseph Finder i CarlSagan i R.L.Stine i Joseph R. Garber

PT Gramedia Pustaka Utama Bagian Promosi Jl. Palmerah Selatan 24-26, Lt.6 Jakarta 10270

“Sayang? Beri aku sekaleng bir. Berdebat denganmu membuatku hauuuuus sekali.”

Taffy mengambil sekaleng Ballantine hangat dari kantong pelananya. Ia mengangsurkannya pada Dave, sekaligus dengan pembuka botol. Dave membuka bir itu dan dengan cepat mengangkatnya ke mulut, menadahi busanya dengan lidah. Kemudian ia mengangkat tepi topi jeraminya dan menyeka keringatnya dengan sehelai saputangan, satu dari enam helai yang dibekalkan ibunya. “Masih berapa jauh?” tanyanya.

Taffy melontarkan senyum miring. “Menurut sumber-sumberku, kita seharusnya sudah sampai. Tentu saja waktu itu sumber-sumberku sedang mabuk.”

Dave tergelak.

Mereka berdua meneruskan perjalanan.

Matahari sudah hampir tenggelam ketika mereka tiba, saat keramat ketika langit membara, dan keheningan suatu gunung suci turun. Mereka naik ke tanjakan dan melihat ke bawah. Dave mengatur napas. Keindahan tempat itu serasa menghentikan jantung.

^’Sungguh sempurna,” bisik Taffy. “Tepat seperti yang mereka katakan, tempat yang sempurna. Apakah aku benar, atau benar?”

Dave tidak menjawab. Ia terpukau pada apa yang sedang ia saksikan, sebuah lembah kecil, lima atau mungkin enam kali lebih besar daripada stadion Indiana State. Lembah itu nyaris membentuk lingkaran sempurna, dibatasi tebing karang terjal berwarna putih pada tiga sisinya, sebatang pohon conifer menjulang tinggi, dan di tengahnya ada danau kecil berwarna Tiijau zamrud, lebih hijau daripada botol hijau.

9Bayang-bayang senja yang lembut terbentang di atasnya. Tak ada sesuatu pun yang bergerak. Udaranya segar memabukkan. Dave merasakan sesuatu yang belum pernah dirasakannya sebelum ini, dan tidak berharap akan pernah mengalaminya lagi. Ia terangkat tinggi; ia merasa utuh penuh.

Tiba-tiba bunyi panah berbulu melesat di udara, seekor elang berekor merah melesat dari angkasa. Cakarnya mencengkeram binatang kelabu kecil. Elang itu melengkingkan pekik kemenangan ketika berkelebat hilang dari pandangan. Semuanya terjadi dalam hitungan detik, di sini dan lenyap, hanya dengan ujung-ujung sayap berkilauan yang mengambang di udara untuk menandai lintasan terbangnya. Kuda Dave tersentak resah ke belakang. Dave membelai lehernya.

“Kita berkemah di tepi danau, compadreV

“Boleh,” jawab Dave. Ia tidak benar-benar menaruh perhatian. Sebaliknya, ia terbungkus perasaan kagum, sesaat tenggelam dalam impian. Shangri-la, Bali Hai, Avalon, Armenia-in-the-Sky, Oz, Negeri Ajaib, Bar-soom—setiap orang memiliki tempat impian pribadi. Lembah inilah tempat impiannya. Keindahan tempat itu menyihirnya dan menjadikannya bagian dari alam sekelilingnya. Ia tahu bahwa ia takkan pernah melupakan lembah ini, tahu bahwa selama sisa hidupnya, apa pun masalah yang akan datang, kenangan akan saat dan tempat ini akan tetap menghibur dan memberinya kedamaian.

Saat ini merupakan saat terindah dalam hidupnya, terindah yang pernah dialaminya, dan selama hidup ia akan mengingatnya dengan penuh kerinduan. Ia tahu akan hal ini, dan itu membuatnya sedih.

10

1.

Walaupun dari segala macam tindakan, tipu muslihat adalah sesuatu yang dibenci, tapi dalam urusan perang hal itu merupakan tindakan yang terpuji dan mulia, dan barang siapa mengalahkan musuhnya dengan strategi, layak dipuji seperti ia yang mengalahkan musuh dengan kekuatan.

—Machiavelli, Sang Pangeran

BAB 1

BAGAIMANA DAVE KEHILANGAN PEKERJAAN

1.

PADA pagi di hari ia menghilang, David Elliot bangun, seperti biasa dilakukannya pada hari kerja, tepat pukul 05.45. Dua puluh lima tahun sebelumnya di tempat yang hijau dan panas, ia pernah mempelajari cara untuk bangun kapan saja ia mau. Kini itu sudah jadi kebiasaan.

Dave mengeluarkan kakinya dari bawah selimut Pratesi. Ia memandang dengan tulus ke tempat istrinya, Helen, berbaring meringkuk membentuk bola kecil, padat, di bagian kanan ranjang itu. Jam radio Panasonic di meja samping ranjang disetel untuk berbunyi pukul 08.20. Saat sang istri terbangun menyambut hari kerjanya yang lebih beradab, Dave sudah berada di kantornya di pusat kota, bekerja keras.

Ia melangkah ke dalam lemari dinding dan meraih

13sepatu Nike, sweatsuit, kaus kaki, dan ikat kepalanya dari rak. Kemudian, berjalan hati-hati menyusuri lemari pakaian yang sangat modern, rendah, dan panjang— buah karya terbaru redekorasi Helen yang obsesif—ia meraba-raba dan mengeluarkan tas lipat dari laci, memasukkan pakaian dalam untuk ganti, dompet, kunci, dan arloji Rolex President emas miliknya ke tas itu.

Sesudah mampir ke kamar mandi tamu untuk buang air dan sikat gigi, ia menuju ke dapur. Lampu indikator mesin kopi Toshiba-nya menyala hijau. Timer digital display-nya menunjukkan angka 05.48. Ia menuang isi poci itu ke dalam cangkir enamel besar yang dihiasi dengan gambar 47 Ronin, cendera mata dari kunjungan ke Kuil Sengakuji dalam salah satu perjalanan bisnis ke Tokyo. Ia mengosongkan ampas dari wadah bubuk kopinya, mengisi reservoir mesin itu, dan menyetelnya kembali untuk pukul 08.15. Helen juga membutuhkan kopi pagi sebanyak ia sendiri. Atau mungkin lebih banyak—Helen jauh dari ramah-tamah saat baru bangun, dan sesudah membuka pintu-pintu galerinya di Lexington Avenue barulah ia menyandang perilakunya yang terbaik.

Kopi kental, hangat mengalir turun dalam tenggorokan Dave. Ia bergidik senang.

Sesuatu yang lembut menggosok kaki piamanya. Dave mengulurkan tangan ke bawah untuk menggaruk dagu kucing itu. “Bon matin, ma belle,” katanya, tahu bahwa semua kucing lebih suka bicara bahasa Prancis. Kucing itu, yang dinamakan Apache, melengkungkan lehernya, meregangkan tubuh, dan mendengkur.

Helen tidak suka nama Apache. Lebih dari satu kali ia mendesak agar Dave mengubahnya. Pernikahan

14

kedua memang menghasilkan lebih banyak kompromi daripada pernikahan pertama. Dave tahu itu, dan tahu ia harus mengabulkan permintaan istrinya. Tapi nama kucing tetaplah nama kucing; tak ada kaitannya dengan keinginan pemiliknya. Dan demikianlah, sesudah lima tahun perkawinannya Dave tetap memanggil binatang itu “Apache”, sedangkan Helen (sebagai perempuan berambut pirang, terbiasa semaunya sendiri) dengan dingin menyebutnya sebagai “kucing itu”.

Apache berjalan pergi mengerjakan acara paginya. “AM revoir, Apache,” bisik Dave, dengan cara kecil seperti itu memuaskan rasa hormat yang dinodai terlalu banyak konsesi.

Sambil memikirkan yang bukan-bukan mengenai perbedaan antara cat—kucing dengan cattiness—kebencian, Dave mengambil koran pagi New York Times dari luar pintu apartemen. Selama beberapa menit berikutnya, ia duduk di depan meja kamar makan untuk menikmati kopi dan membalik-balik lembaran surat kabar. Ia membacanya sambil lalu. Ritual pagi melihat-lihat surat kabar sepintas hanya sekadar alasan untuk menikmati cangkir pertama kopinya hari itu.

Ketika membalik halaman sampai ke bagian ekonomi, tanpa begitu disadarinya ia memperhatikan telapak tangan kanannya telah terangkat untuk memijat dada kirinya. Dave meringis. Sebuah suara dalam dirinya—Dave selalu mengira itu malaikat pelindungnya—berbisik sengit, Masih mencari-cari rokok. Dua belas tahun sesudah kau berhenti, dan tubuhmu masih membutuhkan suntikan nikotin pagi hari. Coba pikir, Sobat, mungkin kau toh seharusnya kembali merokok lagi.

15***

“Pagi, Mr. Elliot. Hari yang nyaman untuk lari.” Penjaga pintu gedung itu percaya bahwa sudah menjadi tugasnya untuk meyakinkan para pelari pagi bahwa setiap pagi adalah “hari yang nyaman untuk lari”.

“Selamat pagi, Tad. Ada kabar mengenai Lithuania di koran pagi ini?”

Leluhur Tad bermigrasi ke Amerika Serikat pada tahun 1880-an. Tetapi bagi Tad, itu seperti baru kemarin. Ia nasionalis yang kukuh terhadap tanah leluhurnya. Dave merasa bahwa selama tiga tahun sejak ia dan Helen membeli apartemen mereka, tak pernah sehari pun lewat tanpa Tad mengucapkan sesuatu tentang Lithuania.

“Tak ada apa-apa di News atau Times, Mr. Elliot. Tapi saya mendapat koran dari Vilnius lewat pos. Koran itu biasanya tiba hari Rabu atau Kamis. Akan saya beritahu Anda apa yang terjadi besok.”

“Bagus.”

“Omong-omong, kenapa tangan Anda?” Tad menunjuk balutan kain kasa yang diplester pada telapak tangan kiri Dave.

“Seorang karyawan menggigitku.”

Tad mengedipkan mata. “Anda pasti bercanda.”

‘Tidak. Kami… maksudku perusahaan kami membeli lab riset di Long Island. Kemarin aku berkunjung ke sana untuk melihat-lihat. Salah satu… karyawan produksi menyatakan ketidaksetujuannya pada manajemen baru ini.” Dave menyeringai masam. “Padahal pengambilalihan itu tanpa kekerasan.”

Tad tertawa terbahak-bahak seraya mendorong pintu depan hingga terbuka. “Anda mengarang, bukan?”

16

“Tidak. Kau melihat banyak yang seperti itu dalam kehidupan di perusahaan besar—menggigit tangan yang memberi makan.”

Tad tergelak lagi. “Rasanya saya senang cuma jadi penjaga pintu, Mr. Elliot. Selamat pagi.”

“Sama-sama, Tad. Sampai jumpa besok,”

“Tentu, Mr. Elliot. Selamat jalan.”

Pada hari Sabtu dan Minggu, Dave biasanya lari ke barat, berjoging melintasi Fifty-seventh Street menuju ke Fifth Avenue, lalu ke utara menuju ke Central Park. Pada hari-hari itu, lari sepenuhnya merupakan kegiatan bersenang-senang. Lebih sedikit orang-orang gila yang mengancam di jalanan—atau begitulah rasanya—dan si pelari bisa memusatkan pikiran pada langkahnya. Yang paling baik adalah akhir pekan saat Mark datang dari Columbia University untuk berlari di sisi ayahnya. Mark, putranya dari Annie, kebanggaan istimewa Dave. Berlari bersama Mark merupakan bagian terindah dari hari-hari Dave, yang paling dinantikannya.

Dave selalu ingat untuk mengajak Helen bergabung dengan mereka dalam lari akhir pekan tersebut. Helen tidak pernah menerimanya. Ia merasa keringat pelari kurang begitu anggun, dan sebaliknya ia lebih suka keringat chic yang diperas di pusat-pusat kebugaran mahal, oleh pelatih-pelatih pribadinya yang bahkan lebih mahal lagi.

Tidak jadi masalah. Mark bersamanya, dan, cerah atau hujan, acara lari itu menyenangkan. - Tidak begitu halnya pada hari kerja. Tak peduli bagaimana kau berlari, tak peduli ke mana kau berlari,

17dibutuhkan kewaspadaan luar biasa. Blok-blok tertentu harus dihindari; lorong-lorong adalah risiko; tak ada yang berani, kecuali orang nekat, berlari di bawah jembatan dan jalan layang; dan mereka yang bijaksana takkan mulai lari sebelum fajar. Berlari waktu subuh, bahkan laki-laki seperti David Elliot sekalipun, yang tak punya musuh di dunia, kadang-kadang melirik resah ke belakang.

Rutenya di hari kerja membawanya ke timur di Fifty-seventh Street ke Sutton Place, kemudian ke utara di York Avenue hingga ia sampai di jembatan penyeberangan pejalan kaki melintasi FDR Drive. Ia berlari menyusuri jalan kecil di pinggir East River hingga sampai ke ujung Nineties Street. Sesampai di sana, ia membelok ke selatan lagi, menyusuri kembali jalur yang sudah ditempuhnya. Sesudah menyeberangi jembatan untuk kedua kalinya, berlari ke barat menuju ke Park Avenue, dan kemudian ke selatan menuju ke persimpangan antara Fiftieth dan Park Avenue.

Biasanya ia memasuki kantornya beberapa saat sesudah pukul 07.00.

Sebagai wakil direktur eksekutif perusahaan, David Elliot berhak atas, dan menikmati, berbagai fasilitas yang sesuai dengan kedudukan tersebut. Suite-nya di lantai 45 berupa ruangan seluas 75 meter persegi tertata mahal, lemari walk in, bar tersembunyi, dan kamar mandi lengkap dengan tub dan shower.

Dave suka air mandinya panas. Uap mengisi kamar mandi ketika ia menyabuni tubuhnya dari atas ke bawah dua kali. Masih di bawah pancuran, ia mengambil pisau cukur Gillette dan sekaleng krim cukur dari rak di atas keran. Ia tak pernah memakai cermin

18

saat bercukur, dan sudah begitu lama hingga ia tak ingat lagi sejak kapan. Itu merupakan kebiasaan lain yang diperolehnya dalam perang yang mau tak mau diingatnya.

Pukul 07.20.

David Elliot, dengan sehelai handuk melilit pinggang, melangkah keluar dari kamar mandi dan masuk ke kantornya. Di atas bufet mahoni di belakang meja kerja mahoni yang serasi, mesin kopi Toshiba, saudara kembar dari model yang ada di rumah, berbunyi tiga kali, memberi tanda bahwa kopinya sudah siap. Dave mengisi cangkir besar berwarna cokelat dengan kopi itu. Cangkir itu dihiasi desain enamel perak, bersegi-segi: Logo perusahaan Senterex.

Dave minum seteguk dan mengembuskan napas. Hidup tanpa kopi sungguh terlalu menyebalkan untuk direnungkan.

Sialan, ia melihat lukisan cat air di atas lemarinya miring. Setiap satu atau dua minggu, beberapa vandal jembel dari kru pembersih gedung tentu menyenggolnya miring. Itu hal kecil yang mengesalkan, tapi semakin menjengkelkan. Ia meletakkan cangkir kopinya di atas alas kuningan (juga di-emboss dengan logo Senterex), dan meluruskan lukisan itu—gambar seekor harimau tidur karya Hua Yen sekitar pertengahan abad kedelapan belas—cukup indah, cukup berharga, salah satu dari fasilitas yang menyenangkan bekerja di Senterex. Bernie Levy, direktur utama perusahaan itu, yang lebih pintar dari orang-orang kasar itu, tidak membiarkan pembelanjaan untuk tata ruang para eksekutif itu jatuh ke tangan pada desainer berbayaran

19tinggi, atau lebih parah lagi, istri para eksekutifnya. Sebaliknya ia menuntut karya seni bermutu, hanya karya para master, menghiasi ruangan-ruangan di kantor pusat itu. Karena alasan inilah enam rangkaian lukisan Leonor Freni menghiasi ruang resepsi lantai 45. Orozco, Rouault, Beckmann, Barlach, dan Ensor bisa ditemukan di koridor-koridornya. Di tempat lain, pada dinding berbagai kantor, tamu bisa menemukan lukisan Picasso, Munch, Thomas Eakins (di kantor Direktur Utama Senterex, tentu saja) salah satu karya Matisse yang paling mahal, dan lukisan abstrak Whistler yang memesona. Bernie sendiri mempunyai kegemaran istirnewa terhadap karya Camille Pissarro, dua lukisan cat minyaknya tergantung megah di ruang rapat perusahaan. Dasar Bernie, ia menyangkal bahwa Senterex mengumpulkan karya seni itu karena alasan-alasan estetis; sebaliknya, bila para tamu berkomentar mengenai koleksi perusahaan itu, ia membual berapa besarnya koleksi itu bila diuangkan, dan betapa banyak uang tunai yang bisa dikumpulkan perusahaan seandainya koleksi itu dijual. Tetapi Bernie bohong. Ia takkan pernah menjual koleksi Senterex, tak sepotong pun. Ia terlalu mencintainya.

Dave mundur selangkah, mengamati macan itu. Lukisan itu sudah lurus kembali, atau sudah cukup lurus.

Dan sekarang saat untuk sedikit musik. Ia menyalakan stereonya. Pembukaan Long March Symphony karya Ding San-de mengalun lembut melalui speaker. Sambil bersantai, dalam hati Dave bertanya-tanya mengapa tokoh-tokoh musik Amerika mengabaikan karya-karya romantis Cina.

Tak menemukan jawaban untuk pertanyaannya sen—

20

diri, dan lebih tak peduli lagi terhadap politik kebudayaan dibanding dengan politik kemasyarakatannya, Dave menyisihkan pikiran itu dari benaknya. Sebagai gantinya, ia meraih cangkir kopi dan minum seteguk. Aduh, sungguh nikmat!

Hampir tanpa kecuali Dave selalu menjadi orang pertama yang tiba di kantor—atau setidaknya orang pertama di suite eksekutif. Bernie Levy, kapten kapal perusahaan, belum muncul hingga sekitar pukul 08.00, limusinnya meninggalkan Short Hills, New Jersey, pukul 06.50 tepat. Kader-kader eksekutif lainnya berdatangan antara pukul 08.15 sampai 08.45, tergantung pada kereta api mana yang berhasil mereka tumpangi dari Greenwich, Scarsdale, atau Darien, dan selalu dengan syarat kereta tersebut berangkat tepat waktu. Yang pertama dari para sekretaris tiba pukul 08.30 tepat.

Karena alasan inilah, seperti halnya kebiasaan paginya yang tak bervariasi, Dave tahu ia bisa telanjang bulat bermalas-malasan di meja kerjanya, menikmati kopi cangkir kedua untuk hari itu, dan mempelajari halaman-halaman The Wall Street Journal.

erapa menit yang tenang berikutnya, dengan cangkir kopi ketiga di tangan, ia berjalan ke lemari walk-in, lalu memilih setelan jas untuk hari tersebut.

Hari ini ia memilih setelan cokelat muda, hampir khaki. Meskipun udara lengas brutal dari musim panas terakhir sudah hilang, udara di akhir September masih hangat. Setelan jas wol Dave akan tetap berada di gantungan selama beberapa minggu lagi.

Sesudah mengenakan celana dan sabuk, dan dengan kaki terbungkus nyaman dalam pantofel B ally dan kulit yang lembut, Dave membuka kemeja putih yang

21tersetrika licin. Ia mengenakannya, dan sesudah menimbang-nimbang beberapa lama, ia memilih dasi kuning pucat dengan motif biru dari raknya. Cermin besar melapisi seluruh bagian belakang pintu lemari. Ia menarik daun pintu itu tiga perempat tertutup sehingga bisa mengamati diri sendiri.

Kau tak pernah belajar bagaimana mengikatkan dasi tanpa cermin, kan? malaikat pelindungnya bertanya.

Ia mengamati diri sendiri dengan cermat. Tak jelek. Sama sekali tak jelek. Garis pinggangnya tidak berubah sejak kuliah. Empat puluh tujuh tahun, tapi tampak lebih muda. Oh, kau anjing tampan, kau akan hidup selamanya. Dave mengangguk seolah menyetujuinya. Joging tiap hari, dua kali seminggu berlatih beban, tidak merokok kecuali sekali-sekali mengisap cerutu mahal, diet yang bahkan Helen pun tak bisa mencerca, konsumsi alkohol tidak berlebihan…

“Davy?”

Suara bertanya itu datang dari belakangnya—suara Bernie Levy, aksen Brooklyn-nya yang kasar tak bisa dicuri. Dave melirik Rolex-nya. Pukul 07.43. Lalu lintas pasti sangat sepi pagi ini. Pemimpin dan Direktur Utama Senterex berada di kantor jauh lebih pagi dari jadwal.

Dave mengangkat pundak mengenakan jasnya, mendorong simpul dasinya sedikit ke kiri, dan memegang .cangkir kopinya, mendorong pintu lemari hingga terbuka.

“Ya, Bernie. Ada apa?”

Bernie memunggungi lemari itu. Dave tidak melihat pistol itu sampai Bernie berbalik.

22

Di hutan sini ada dua macam waktu—waktu panjang dan waktu lamban. Waktu panjang adalah yang biasanya kaualami. Kau duduk di bawah sebatang pohon atau di dalam tenda lapangan, atau mungkin kau sedang berjingkat gaya Indian menerobos semak belukar, dan tidak terjadi apa-apa. Berjam-jam lewat, dan tidak ada yang terjadi. Kemudian kau melihat arloji Timex-mu dan ternyata waktu baru berlalu lima menit sejak terakhir kali kau melihatnya. Waktu panjang.

Jenis yang lain adalah waktu lamban. Terdengar detak datar logam, receiver sepucuk AK-47 menerima sebutir pelufu. Kemudian tembakan dan ledakan dan jeritan dan desing peluru di segala penjuru dan masing-masing terbidik ke arahmu selama-lamanya. Dan sesudah teror panas berjam-jam, dan kemurkaan besar, ketika tembakan berhenti, kau kembali dari neraka dan melihat arloji Timex-mu.

Coba terka apa? Baru lima menit berlalu sejak terakhir kali kau melihatnya.

Waktu lamban. Jam itu tercekik molase. Orang-orang menangisi betapa lambannya detik-detik berlalu. Mereka adalah MACV-SOG. Simbol kesatuan di pundak mereka bergambar tengkorak bertaring memakai baret hijau. Mereka terkeras dari yang keras, terburuk dari yang buruk. Tak ada sesuatu pun yang menggentarkan mereka. Mereka melihat arloji. Mereka menangis.

- Suatu siang, bau bubuk mesiu dan kuningan panas masih segar di udara, Letnan Satu David Elliotmeletakkan Timex baja birunya Ťdi atas pokok kayu yang sudah membusuk, memasukkan satu magasin penuh ke pistol otomatis Colt .45 Model 191 IA, dan meledakkan arloji itu hingga berkeping-keping.

Pistol dalam tangan Bernie Levy serasa kecil ganjil. Bernie 12,5 senti lebih pendek dan sepuluh kilo lebih berat daripada Dave. Tangannya besar dan gemuk. Pistol itu nyaris hilang dalam genggamannya. Senjata itu berlapis nikel. Dave berani bertaruh gagangnya tentu terbuat dari gading. Kaliber kecil, bisik malaikat pelindung Dave. Dua puluh lima? Mungkin .22. Tenaga pukulnya tak besar. Tapi cukup untuk jarak seperti ini.

“Bernie, kenapa kau bawa…”

Bernie tampak sangat letih. Matanya merah dan diliputi lingkaran hitam, seolah sudah terlalu lama ia tidak tidur. Wajahnya, yang dulu tajam bergairah bak rajawali, sudah kendur termakan usia. Lemak yang meng-gelambir di bawah dagunya gemetar karena emosi yang tak dapat dibacj Dave. Berapa usianya? Enam puluh tiga, kan? Dave berpikir ia seharusnya tahu tepat.

“…senjata?”

Sorot mata Bernie kosong, kelopaknya setengah terkatup. Mata itu bak mata reptil, dingin dan kosong. Sama sekali tak ada apa pun di dalamnya. Dave berharap melihat sesuatu dalam mata tersebut. Entah apa, ia tidak tahu.

“Demi Tuhan, kenapa?”

Bernie menggeser tangannya ke depan, mengangkat pistol tersebut.

Astaga, dia akan menarik picunya!

24

“Bernie, ayolah, bicaralah padaku.”

Bibir Bernie mengerut, menegang, kemudian mengendur. Dave mengawasi tangannya menegang

“Bernie, jangan. Katakan ada apa. Bernie, demi Tuhan…”

Pundak Bernie berkedut. Ia menjilat bibirnya. “Davy, ini… kalau saja aku punya pilihan… Kau tak tahu, Davy… Bernie Levy hanya menyalahkan diri sendiri, dan Tuhan takkan mengampuni. Davy, Davy, kau tak mungkin tahu betapa aku sangat menyesali ini.”

Anehnya, Dave nyaris ingin terbahak. Nyaris. “Ini akari lebih menyakitimu daripada menyakitiku, hah? Itu yang hendak kaukatakan, Bernie?”

Bernie menghela napas dan mengerutkan bibir. “Selalu demikian dengan hal-hal yang ganjil, Davy, selalu demikian dengan wisenheimer spritz” Tangan yang memegang pistol itu kembali menegang.

Waktu lamban. Meskipun tidak mendidih, kopi itu cukup panas.

Rasanya butuh waktu berabad-abad untuk mencapai wajah Bernie, matanya yang terbelalak lebar. Kopi itu membakar tepat ke dalam matanya. Bernie berteriak. Dave menapak satu, dua, tiga langkah ke depan, tangan kirinya diturunkan dan diluruskan. Makan waktu berjam-jam untuk melakukannya, berjalan menyongsong moncong pistol Bernie yang goyah.

Ia menyapu lengan Bernie, berjingkat akibat rasa nyeri pada tangannya yang terbalut. Ia menghunjamkan lutut ke selangkangan Bernie. Bernie mengeluarkan suara seperti ban bocor. Pistol itu terlempar. Dave meraihnya di udara. Bernie membungkuk ke depan, kepalanya sejajar dengan pinggang Dave. Dave

25mengayunkan gagang pistol itu ke belakang kepalanya. Keras-keras. Dua kali.

Bernie tergeletak diam di lantai. David Elliot berdiri di sebelahnya, napasnya terengah-engah, menunggu jam mencocokkan diri kembali ke waktu normal, tapi yang terpenting adalah memikirkan apa yang selanjutnya harus dikerjakannya.

Kehidupan dalam dunia bisnis bukanlah tanpa saat-saat tegang. Ada bajingan dan pahlawan, kemenangan dan kekalahan, serta pertarungan ganas. Persahabatan dijalin, dan kemudian diputuskan; kata-kata kasar saling dilontarkan; ada persaingan yang pahit, dan bahkan kebencian terbuka. Bagaimanapun, konflik antareksekutif berbentuk pertarungan politis, bukan fisik. Hanya di televisi, dan hanya dalam acara-acara tayangan yang lebih konyol, ada orang-orang bisnis mencabut pistol dan menodongkannya kepada yang lain.

Pikiran semacam itu, dalam bentuk yang sudah sangat diringkas, berkelebat dalam benak David Elliot saat ia berusaha mengatur napas. Ia merenungkan beberapa detik terakhir, namun tidak menemukan jejak apa pun mengapa bosnya, yang dianggapnya sebagai sahabat, berniat memburunya dengan senapan terisi.

Kecuali ini semacam lelucon konyol.

Lelucon? Uh-oh…

Perut Dave serasa luruh. Kemudian ia melirik pistol itu. Sepucuk baby Browning. Bukan mainan. Juga tanpa gagang gading. Ia mengeluarkan magasinnya. Delapan butir penuh. Ia menarik kembali pengokangnya. Sebutir peluru melompat dari tempatnya

26

dan bergulir ke lantai. Ia memungutnya. Kaliber .25, ujung berlubang. Bukan lelucon.

Kalau begitu apa? Apa gerangan yang bisa mendorong Bernard Levy, yang dikenal Dave sebagai eksekutif berperangai tenang seperti bawaan sejak lahir, untuk menodongkan sepucuk pistol kepada salah satu karyawannya?

Tak ada apa pun. Tak ada alasan di dunia ini yang bisa menjelaskan hal itu. Pagi hari sebelumnya, tak lama sebelum berangkat melihat-lihat akuisisi baru di Long Island, Dave duduk di kantor Bernie dan membahas serangkaian laporan pemasaran bersamanya. Pertemuan itu berjalan baik, hangat dan ramah, serta ditutup dengan persetujuan Bernie atas rekomendasi-rekomendasi Dave.

Tak ada sepatah pun kata negatif. Bahkan tak ada tanda-tanda ke sana.

Hal lain sebelum itu? Tidak mungkin. Dave mengelola beberapa dari dua lusin divisi Senterex. Ia mengelolanya dengan rapi, dan hasilnya selalu seperti yang diharapkan. Tak ada sumber konflik di sana.

Bukan berarti ia dan Bernie selalu sepakat. Bernie seorang deal maker, konglomerat besar dari aliran lama. Ia mulai dari jalanan kota Brooklyn sebagai putra imigran. Tanpa aset selain keberanian, hidung yang tajam mencium peluang, dan pengamatan yang tajam untuk meraih akuisisi yang menguntungkan, ia membangun Senterex mulai dari permukaan tanah.

Dan Bernie masih melakukan akuisisi. Ia tidak tahan bila tidak melakukannya. Itu adalah darah hidupnya. Ia suka mencari-cari perusahaan kecil—kadang—

27kadang sedikit menguntungkan, kadang-kadang tidak— yang bisa dibelinya dengan harga murah dan kemudian dikembangkannya. Sebagian dipertahankannya sebagai bagian dari portofolio Senterex. Sebagian dijualnya, tapi tak pernah dengan harga rugi. Semuanya cocok dengan visinya mengenai sinergi finansial. Sekali-sekali eksekutif lain di Senterex tidak setuju dengan sasaran akuisisi Bernie, dan berdebat dengannya. Dave sendiri telah menentang keras keputusan Bernie untuk membeli Lockyear Laboratories, dan bahkan menentang lebih keras lagi penugasan yang diberikan Bernie untuk memikul tanggung jawab pengoperasiannya sesudah transaksi itu selesai.

Tapi apakah itu alasan yang cukup kuat untuk membunuh seseorang? Tak mungkin terjadi dalam sejuta tahun.

Mungkinkah itu karena sesuatu yang pribadi? Apakah Dave melakukan sesuatu di luar kantor yang telah menghina Bernie, menistanya, melecehkannya, atau mengkhianatinya? Tidak mungkin. Bernie menjalani hidup yang tenang, nyaris sepenuhnya pribadi. Meskipun hubungan mereka lebih dari sekadar ramah-tamah, pergaulan mereka sebagian besar terbatas di seputar lantai 45.

Kini Bernie hendak membunuhnya. Tanpa sepatah pun kata penjelasan. Cuma sepucuk pistol, dan dengan pedih Bernie mengatakan, “Bernie Levy hanya menyalahkan diri sendiri, dan Tuhan takkan mengampuni.”

“Aduh, Bernie,” Dave berbisik, meskipun hanya bicara pada diri sendiri, “kalau kau ingin menembak, demi Tuhan tembaklah orang yang istimewa. Bukan orang biasa seperti aku.”

28

Biasa—David Elliot tahu tentang dirinya sendiri, tahu tepat siapa dirinya, tahu bahwa ia laki-laki biasa, berpegang teguh pada perkiraan biasa dari kehidupan biasa. Memang, ketika masih kecil, tak lebih dari bocah di daerah pertanian Indiana, ia menginginkan sesuatu yang lebih daripada yang seharusnya diinginkan anak petani—tindakan-tindakan gagah berani yang diganjar dengan medali dan nama besar. Namun dengan segera ia mengetahui bahwa hal-hal semacam itu didapat dengan suatu harga. Maka sekarang, dan selama waktu yang sangat lama, ia hanyalah orang biasa. Persetan, lebih daripada sekadar biasa, ia adalah statistik. Bagaimanakah profil rata-rata eksekutif perusahaan besar dengan gaji cukup tinggi? David P. (Perry) Elliot, itu saja. Dua perkawinan, satu kali cerai, bukan jenis yang rajin beribadat, konservatif dalam hal keuangan dan moderat dalam kehidupan sosial, secara etnis berdarah campuran, bertubuh bugar, gemar football, mengantuk dengan bisbol, membaca lebih sedikit daripada yang seharusnya, nonton televisi lebih banyak daripada yang semestinya, perkawinan monogami yang membosankan dan sedikit terlalu sopan santun, sekali-sekali toh merasa tergoda, bekerja rata-rata 56 jam seminggu, khawatir dengan keadaan bursa, mengeluh tentang pajak, tidak berjudi, tidak memakai obat bius, dan tidak menunggu pemeriksaan fisik tahunannya dengan gembira. Ia berlibur di tempat-tempat biasa. Ia bergaul dengan teman-teman biasa. Ia berpegang pada tata cara biasa. Selama 25 tahun, ia mengabdi pada sesuatu yang biasa dalam segala hal. Dengan sikap positif ia memeluknya, tidak mengingin-29kan yang lain dari kehidupan ini di luar segala yang biasa. Beginilah ia mendefinisikan kata “baik”. Sialan, ia cuma laki-laki biasa dan tidak lebih.

Jadi kenapa, Bernie, kenapa gerangan kau mencoba membunuhku?

David Elliot, laki-laki biasa, tidak bisa menyusun jawaban untuk pertanyaan itu.

Dave melihat arlojinya. Pukul 07.45 tepat. Dua menit. Waktu lamban sudah berakhir. Disadarinya bahwa tindakan yang harus diambil, satu-satunya yang harus dikerjakan, adalah mencari bantuan. Mungkin Bernie menderita serangan penyakit. Mungkin kerusakan otak atau…

…atau apa saja, malaikat pelindungnya yang sinis menggeram. Itu tidak relevan. Sobat, kau baru saja memukul direktur perusahaan yang terdaftar dalam Bursa New York bernilai $8 miliar dengan pistol hingga tergeletak di karpet kantormu yang mahal. Menurut definisi, kau sekarang menghadapi masalah yang di luar kompetensimu sebagai businessman. Di samping itu, coba kukemukakan, kaupukul Bernie cukup keras. Bagaimana bila dia bukan sekadar pingsan? Seperti, misalnya… oh, persetan…

Dave menjatuhkan pistol itu ke dalam saku jasnya. Ia melangkah keluar dari kantornya, menarik napas dalam, dan mulai berlari menyusuri lorong panjang berlapis karpet yang menghubungkan kantor sudutnya itu dengan bagian lain dari suite eksekutif tersebut. Ia berharap ada salah satu rekan kerjanya yang datang pagi. Atau salah satu sekretaris. Atau resepsionis. Atau siapa saja.

30 •

Ia sampai di tempat penerimaan tamu di ujung koridor. Dua laki-laki bermata dingin sedang berdiri di sana, tepat di balik sudut. Begitu melihatnya, mereka mulai memasukkan tangan ke balik jas mereka.

Jam David Elliot kembali melambat.

3.

Dave memaksa wajahnya tersenyum. “Selamat pagi. Saya Pete Ashby. Ada yang bisa saya bantu?”

Dua laki-laki itu membeku diam. Mata yang bertubuh lebih jangkung menyipit, mengamati wajah Dave.

“Apakah kalian menunggu Dave Elliot? Dia biasanya yang pertama datang, tapi saya baru saja berjalan melewati kantornya dan pintunya masih tertutup.”

Dua laki-laki itu mengendur, tapi hanya sedikit. Tak satu pun lebih tinggi daripada Dave, tapi keduanya, dengan standar apa pun, berperawakan besar—sungguh besar, jenis kekar yang mengingatkanmu pada atlet angkat berat, pegulat profesional, dan operator bor beton. Leher kemeja jadi wash ‘n’ wear mereka sedikitnya berukuran 18. Jas mereka, yang satu cokelat dan satunya lagi kelabu (dan Dave lihat, tidak semuanya terbuat dari serat alami), adalah model longgar, yang lebih disukai pria berotot kekar— meskipun tak satu pun dari jas mereka itu yang dijahit cukup longgar untuk menyamarkan siluet sarung pistol yang tergantung di pundak mereka.

Mereka tak mengenalmu, Sobat. Kau beruntung. Mereka tak tahu bagaimana tampangmu. Paling-paling mereka sudah pernah melihat foto, dan bukan

31foto yang sangat bagus. Tetaplah tenang, kau mungkin bisa lolos dari ini.

Yang lebih jangkung di antara dua orang itu, laki-laki berwajah persegi yang rambut pendeknya sudah mulai beruban, berkata, “Tidak, Mr. Ashley…”

“Ashby, Pete Ashby. Saya wakil direktur bagian teknik.”

“Maaf kalau begitu, Mr. Ashby. Saya dan rekan saya di sini hendak menemui Mr. Levy.” Dalam suaranya ada logat Appalachian—Tennessee timur, North Carolina barat, terapat di pegunungan Amerika Utara. Banyak orang mengatakan aksen itu merdu, tapi logat seperti itu membuat kulit Dave merinding.

“Kantor Bernie ada di ujung gang di sebelah kiri. Dia biasanya datang sekitar saat ini. Perlu saya lihat dulu?”

Si jangkung melirikkan matanya ke kiri. Inilah pertama kalinya mereka meninggalkan wajah Dave. “Tak perlu. Katanya dia akan menemui kami di sini.”

Dave merasakan keringat merembes dari telapak tangannya. Pintu-pintu ke tempat penerimaan tamu eksekutif Senterex terkunci sampai pukul 08.30. Tak seorang pun bisa masuk tanpa kunci. “Bisa saya ambilkan kopi atau lainnya untuk Anda, Mr…. ahh, rasanya saya belum menangkap nama Anda.”

“John.” Diam sejenak. Laki-laki itu tidak senang memberitahukan namanya. “RanSome. Dan rekan kerja saya Mark Carlucci. Kami… akuntan. Kami ke sini untuk… memeriksa laporan audit bersama Mr. Levy.”

Benar. Cooper Lybrand memang merekrut pen-siunan pemain lineback NFL untuk menyeimbangkan pembukuan kliennya. Akan tiba saat itu.

32

“Senang berjumpa dengan Anda.” Dave memperhatikan tidak seorang pun dari mereka mengulurkan tangan. “Sekarang bagaimana dengan kopinya? Biar saya ambilkan untuk Anda sekalian. Di lantai ini kami semua punya mesin kopi sendiri. Kebanyakan perusahaan punya dapur kecil atau…”

Tutup mulut, tutup mulut, tutup mulut. Kau meracau. Kau akan mengacaukan urusan.

“…yah, kopi saya sudah siap. Saya bisa…”

“Tidak, terima kasih, Mr. Ashey.”

Itu percobaan keduamu, dasar kau bangsat licin.

“Ashby.”

“Maaf. Saya memang payah dengan nama-nama.”

Pikiran Dave berpusar. Dua laki-laki ini pasti terlibat dengan apa yang telah dilakukan Bernie— atau tepatnya, yang ia coba lakukan—beberapa menit sebelumnya. Tak ada penjelasan lain untuk kehadiran mereka di tempat penerimaan tamu eksekutif pada waktu seperti ini. Tapi bagaimana keterlibatan mereka, dan siapa mereka? Sarung pistol yang terpeta dari balik jas masing-masing menjelaskan padanya… Apa? Apakah mereka polisi? Mafia? KGB? Dengan bajingan macam apa Bernie melibatkan diri?

“Nah, saya harus bekerja. Bernie tentu akan ke sini setiap saat sekarang. Jadi saya permisi…”

“Tentu saja. Jangan sampai kami menahan Anda.”

Tempat penerimaan tamu itu terletak di persimpangan empat koridor. Kantor Dave, seperti kantor-kantor eksekutif divisi, terletak di ujung jauh koridor selatan. Suite Bernie di sisi yang berseberangan, menempati sudut timur laut dan memiliki pemandangan terindah. Kepala bagian lainnya—keuangan, urusan

33hukum, personalia, dan lain-lain menempati kantor-kantor di sebelah timur. Sebuah lorong pendek menuju ke barat melalui pintu ganda dari kaca menuju ke lift Dave membelok ke barat.

Salah, kau idiot, salah! Kau tadi bilang mesin kopimu ada di lantai ini. Kau tadi bilang kau wakil direktur. Kau tak bisa pergi ke lift…

Ia tersentak menahan langkah. Dua laki-laki itu kini memandangnya. Ekspresi mereka telah berubah.

Dave mencoba mengimprovisasikan seulas senyum. Ia tidak berhasil. “Kalian tak melihat tumpukan Wall Street Journal di samping lift? Mereka biasanya meninggalkan koran itu tepat di luar pintu kaca.” Alasan lemah, tapi pantas dicoba.

Laki-laki yang menyebut dirinya Ransome menggeleng pelan. Sorot matanya berubah datar.

Dave mengangguk, dan berbelok ke timur. Ia berjalan melintasi tempat penerimaan tamu itu menuju ke koridor. Di tengah punggungnya serasa ada titik kecil yang nyeri panas. Sudah 25 tahun ia tidak pernah merasakan hal seperti itu, tidak sejak ia berpatroli di daerah Indian. Charlie ada di sini. Charlie bersenjata. Oh, aduh, Charlie sekarang mengangkat senjata. Dia membidik. Dia menegangkan jarinya. Hei, Bung, Charlie siap tersenyum….

Seluruh saraf di tubuhnya terbakar. Keringat mengucur dari keningnya dan menetes ke pipi. Kerongkongannya terbakar akibat naiknya cairan lambung.

Di dalam koridor sekarang. Hampir lolos. Sepuluh detik lagi dan kau akan hilang dari pandangan. Ia ingin berteriak dan berlari. Ia merasakan lututnya gemetar. Degup jantungnya menulikan telinga. Tetap

34

tenang. Kau bisa, sama seperti yang kaulakukan dulu….

Enam meter darinya ada ceruk kecil pada koridor. Ceruk itu sebenarnya dibuat untuk tempat mesin fotokopi yang tak pernah dipasang. Ketika melewatinya, Dave mendengar suara Ransome yang lembut terseret di belakangnya. “Oh, Mr. Elliot, ada satu hal.”

“Ya.”

Aduh sialan!

4.

Dave melemparkan tubuhnya ke ceruk itu. Pundaknya menumbuk dinding dengan keras. Empat lubang meletus menganga pada plester dinding. Serpihan-serpihan kecil bercampur” debu kapur berhamburan di udara. Debu menyengat matanya. Ia meluncur ke lantai, mencari-cari pistol Bernie di sakunya. Dua lubang lagi menganga. Satu-satunya suara yang didengarnya adalah bunyi detak peluru merobek ke dalam beton. Ransome dan Carlucci memakai alat peredam.

Ia melipat kakinya ke belakang, mencari pijakan pada dinding di belakangnya. Ia menarik pengokang pistol kecil otomatis tersebut dan, sambil melepaskannya, ia melemparkan diri ke depan ke koridor.

Carlucci baru saja memasuki lorong, satu langkah di depan Ransome, pistolnya tersangga dengan dua belah tangan. Moncongnya terbidik tinggi, di atas tempat Dave berbaring. Dave menembak dua kalv dan dua kali lagi. Carlucci berhenti. Sebentuk karangan bunga, mawar darah, mekar di saku kemejanya. Mulutnya ternganga. Ia berbisik, “Santa Maria, Bunda

35Allah, doakanlah….” Dave berguling kembali ke dalam ceruk itu.

Ransome, masih di tempat penerimaan tamu, melontarkan satu tembakan yang tak terbidik baik, kemudian berkelit ke kiri dan hilang dari pandangan.

Dave memandang heran pada pistol kecil mengilat Salam genggamannya. Wah, wah, malaikat pelindungnya berpendapat. Sama seperti naik sepeda, kan? Sekali kau belajar bagaimana melakukannya, kau takkan pernah lupa.

Suara Ransome, rendah tapi bukan tak terdengar, datang dari tempat penerimaan tamu. “Partridge, di sini Robin. Thrush tumbang. Aku menghadapi sasaran. Kuulangi. Aku menghadapi sasaran.”

Hebat, dia punya radio dan dia punya teman.

Ransome berhenti, mendengarkan jawaban yang tak dapat didengar Dave.

“Afirmatif untuk regu bersenjata, Partridge. Negatif untuk petugas medis, sudah terlambat untuk itu. Negatif untuk penutupan gedung. Seharusnya ini pesta pribadi. Kita pertahankan seperti itu.” Ia berhenti lagi. “Untuk dicatat, 185 senti, 85 kilo, perawakan sedang dan sangat ramping. Rambut: cokelat muda, belah kiri, potongan mahal. Tanpa bulu wajah. Mata cokelat. Tanpa kacamata, tanpa ciri-ciri menonjol: Perhatikan itu. Tak ada tanda-tanda khusus kecuali balutan kasa pada tangan kiri. Setelan ringan warna khaki, jas dua kancing, tanpa rompi. Kemeja putih, dasi kuning berpola biru. Manset emas dengan hiasan batu onyx…” Diam sedetik. “Onyx adalah batu akik hitam mengilat, Partridge. Astaga, dari mana mereka menemukan kalian? Terus: pantofel hitam, polos, tanpa

36

jumbai atau hiasan. Jam tangan emas dipakai di tangan kiri. Cincin kawin di jari manis. Satu hal lagi—tambahkan ‘bersenjata dan berbahaya’ pada deskripsi itu.” Ransome berhenti lagi, lalu menjawab, “Sekarang? Sekarang dia pongah seperti negro berbekal pisau. Pikirnya dia mengendalikan situasi. Tapi tidak.” Ransome berhenti untuk yang terakhir kali, lalu berkata, “Tak jadi soal. Kita bisa menunggu. Tak satu pun di antara kita boleh pergi ke mana pun. Roger, lantai 45, afirmatif. Robin selesai.”

Suara Ransome tenang, tanpa tanda-tanda emosi, dan aksen gunungnya membuat bulu kuduk Dave berdiri. Jantungnya berdetak lebih cepat sekarang, dan napasnya pendek-pendek. Suara itu, logat Appalachian terkutuk itu… begitu mirip suara Sersan Michael Mullins… almarhum Sersan Mullins…

Sekarang bukan saat tepat untuk mengenang peristiwa lampau, Sobat. Sekarang saat untuk berpikir. Berpikir cepat, dan berpikir…

“…tajam, Saudara-saudara.” Instruktur latihan survival itu kolonel yang tegas, berperawakan ramping dengan seragam yang terjahit sempurna. Ada sesuatu dalam sikapnya, caranya berdiri, dan caranya bergerak, yang menyatakan kepada para pendengarnya bahwa ia tahu pokok pengajarannya dari pengalamannya sendiri. Kolonel itu tidak bicara tentang teori abstrak. Topik kuliahnya adalah pengalaman pribadi yang didapatkan dengan mahal.

“Saudara-saudara, apakah kalian ingin tahu disebut apa orang yang panik menghadapi tembakan? Akan saya beritahukan. Saudara-saudara, istilah teknis bagi

37orang yang panik dalam menghadapi tembakan adalah ‘sasaran’. Prajurit macam itu termasuk jenis prajurit yang sudah tercoret dari papan nilai pihak lawan sebelum akhir ronde pertama. Dengan demikian, saat mendengar tembakan mendatangi ke arah kalian, jangan panik. Jangan gentar. Jangan takut atau merasa terguncang sedikit pun. Sebaliknya, kalian harus berpikir. Berpikir adalah satu-satunya jalan keluar. Hanya logika dan penalaran yang akan menyelamatkan kalian. Dan. apa dikatakan oleh logika dan penalaran, Saudara-saudara? Inilah yang dikatakannya pada kita: bila orang menembakmu, satu-satunya tanggapan yang rasional adalah—dengan teguh dan tanpa keraguan— buat musuh tak mampu menembakmu lagi. Saudara-saudara, tak ada alternatif lain yang bisa diterima sebagai ganti tindakan ini.”

Secara mental Dave mengingat kembali tata letak lantai 45 itu. Koridor tempat ia terperangkap ini menuju ke timur, melewati setengah lusin kantor lain—bilik-bilik yang dihuni para pembantu dan asisten kader eksekutif. Di ujung jauh koridor itu ber-simpangan dengan koridor lain—koridor yang melingkari garis keliling gedung itu* Disitulah para eksekutif tinggal.

Satu hal lain. Pintu keluar darurat saat kebakaran. Ada tiga jalan keluar darurat itu, pintu-pintu baja berat yang terbuka ke tangga. Salah satunya… terletak di koridor ini… di mana? Terpisah sekitar delapan meter, pikirnya. Bila Ransome sehebat yang diperkirakannya, Dave tentu akan mati jauh sebelum mencapai pintu tersebut.

38

Tapi, bagaimanapun kau toh akan mati juga, kan? Tadi Ransome mengatakan sesuatu tentang regu bersenjata. Mungkin mereka di lobi, sekali jalan dengan lift. Waktunya mendesak, Sobat, kau mungkin punya tiga menit, mungkin empat untuk menghirup napas yang tersisa.

Dave meringis mendengar cemooh suara dalam pikirannya. Ransome, pikirnya. Satu-satunya jalan keluar adalah melalui Ransome. Sambil menangkupkan tangan ke mulutnya Dave berseru, “Hei, Ransome.”




0 Response to "VERTICAL RUN"

Post a Comment

Translate

English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified