Download applikasi baca novel online untuk android disini: DOWNLOAD

VERTICAL RUN

“Ya, Mr. Elliot. Bagaimana aku bisa membantumu?” Nada bicara Ransome netral, datar. Bisa dikata dia terdengar santai.

“Aku menyesal mengenai temanmu Carlucci.”

“Jangan khawatir. Aku hampir tak kenal orang itu.”

“Bagus. Di samping itu, kupikir harus kauakui itu kesalahanmu.”

“Benarkah begitu, kenapa?” Sedikit pun Ransome tidak terdengar tertarik.

“Kau seniornya. Di samping itu, kau seharusnya tahu kalau aku lolos melewati Bernie, hampir pasti aku tentu membawa senjatanya.”

Sesaat mereka diam sebelum Ransome menjawab, “Pendapatmu diterima.” Suaranya sepenuhnya tetap tidak emosional.

Ah, gagasan itu takkan berhasil. Kau takkan berhasil membuatnya kehilangan ketenangan. Omong-omong, aku berani bertaruh regu bersenjata itu sudah ada di lift sekarang.

(Berpikirlah, Saudara-saudara. Berpikirlah cepat, dan berpikirlah tajam.)

39Dave memandang sekeliling ceruk tersebut. Ceruk itu dalamnya hanya sekitar semeter dengan dinding-dinding seperti yang ada di dalam suite eksekutif, dilapisi dengan wallpaper kaku, putih kekuningan. Pada enam tempat, lapisan itu tercungkil berlubang, tak rata, dan memperlihatkan tempat-tempat kosong di belakangnya. Tak ada yang bisa dilihat selain kotak merah kecil bertanda ALARM—FIRE.

Sambil mengulurkan tangan kirinya yang terbalut, Dave mengentakkan kotak alarm kebakaran itu hingga terbuka dan menarik tuasnya. Raung sirene melengking dalam lorong-lorong itu. Terdengar seperti gergaji bundar beradu dengan lembaran logam, dan bunyi itu membuat tambalan gigi Dave ngilu.

Ransome memperkeras suara mengatasi lengkingan itu. “Tidak bagus, Mr. Elliot. Kami akan mengumumkannya sebagai kekeliruan alarm.”

Dave balas berteriak, “Pikirkanlah, Ransome.”

“Apa yang kau… Ah! Bagus sekali, Mr. Elliot. Kau sudah menghentikan lift-lift itu, kan? Menurut peraturan, lift-lift itu secara otomatis akan kembali ke lantai dasar saat alarm berbunyi. Itu benar-benar hebat, bagus luar biasa.”

“Terima kasih.”

“Selamat, kau baru saja berhasil mengulur waktu yang tadinya kukira tak kaumiliki. Tapi percayalah, orang-orangku akan pakai tangga.”

Ransome rasanya bungkam. Tidak… tidak bungkam. Dave bisa mendengar suaranya, tertindih bunyi alarm. Ia mungkin sedang bicara di radio menjelaskan situasi itu.

Uh-uh. Tidak bagus. Kau tak ingin dia bicara de—

40

ngan anak buahnya, kau ingin dia bicara denganmu.

“Ransome!”

“Ya, Mr. Elliot.” Ketika Ransome menjawab, alarm itu berhenti. Lenyapnya bunyi itu membuat Dave terlonjak.

(Jangan panik. Jangan gentar.)

“Apa Ransome namamu yang sebenarnya?”

“Bukan.”

“Bagaimana dengan John?” “Bukan.”

“Maukah kau mengatakan padaku siapa namamu?” “Tidak.”

“Keberatan kalau aku terus memanggilmu Ransome? Atau kau lebih suka John?”

Ransome memikirkannya. “Ransome lebih bagus.”

“Oke, Ransome namamu. Mr. Ransome, aku ingin minta tolong.”

“Silakan.”

“Ceritakan padaku mengapa kau ada di sini. Maksudku, apa sebenarnya semua ini?”

“Maaf, tak bisa mengatakannya. Yang dapat kukatakan hanya tak ada sesuatu yang pribadi. Harap kau bisa menerimanya.”

(Kau harus berpikir. Berpikir adalah satu-satunya jalan keluar.)

Dave membiarkan nada pahit merayap dalam suaranya. “Terima kasih banyak. Lalu mengapa kau tak dapat mengatakannya padaku? Ada apa, bukankah aku perlu tahu?”

“Sesuatu seperti itulah.”

Ia mengendus-endus umpan. Sekarang coba merengek-rengek sedikit.

41”Baiklah kalau begitu. Apa saja pilihanku? Tak bisakah kita membuat kesepakatan atau entah apa?”

“Aku khawatir tak bisa, Mr. Elliot. Hanya ada satu jalan untuk mengakhiri urusan ini. Pilihan terbaik yang bisa kutawarkan hanyalah membuatnya mudah untukmu. Renungkan pengalaman militermu; kau akan mengerti apa yang kumaksud.”

Dave menggigit bibirnya. Apa yang diketahui orang ini mengenai catatan militernya? Dan berani-beraninya dia mengungkitnya?

“Apa yang kaubicarakan?”

Suara Ransome menghangat. Perubahan nada suara itu nyaris tak terasa, tapi ada. “Tadi malam aku membaca berkas 201-mu.”

Baru tadi malam? Apa yang…?

Ransome meneruskan, “Ternyata kita belajar di sekolah yang sama serta mengikuti pelajaran-pelajaran yang sama, kau dan aku. Akademi Paman Ho dalam urusan sopan santun elegan. Kau ‘ R.O.T.C. Aku keajaiban 90 hari. Tidak penting bagaimana kita sampai ke sana. Yang penting, meskipun aku di sana sebelum kau, kita dalam unit yang sama, dan tempat yang sama, dan masuk ke neraka dahsyat yang sama. Kita bahkan melapor pada CO….”

“Mamba Jack,” kata Dave tanpa pikir. Ini jelek, sangat jelek.

“Ya, Kolonel Kreuter. Aku termasuk dalam regunya, sama seperti kau. Dan Jack cuma memakai satu jenis orang—jenis seperti aku, seperti kau. Orang macam itulah.”

Dave memaksakan diri tertawa. “Ransome, apakah kau mencoba mengatakan bahwa menurutmu aku semacam lawan tangguh?”

42

“Kau tahu itu, Sobat. Mereka takkan memberikan baret hijau padamu kecuali kau salah satu dari itu. Dulu kau memakainya. Aku memakainya. Kita adalah kita.”

Dave tak ingin mendengar ini. “Mungkin. Tapi aku sudah lama jadi orang lain sekarang.”

“Kurasa tidak. Sekali kau jadi salah satu di antara kita, kau selalu salah satu di antara kita.” Logat pegunungan Ransome terdengar bersemangat sekarang, dan ia bicara dengan kebanggaan prajurit. “Ini seperti jadi komunis atau Katolik. Kau tak bisa berhenti. Tak sepenuhnya. Coba pikirkan—kau masih punya semua kecepatan gerakan; kau masih profesional. Kalau kau tak percaya, coba saja tanya Carlucci.”

“Aku beruntung.”

“Kurasa tidak.”

(Hanya logika dan akal sehat yang akan menyelamatkanmu.)

Dave menaikkan nada suaranya, bicara lebih cepat dan dengan kegelisahan yang diperhitungkan. “Oke, oke. apa maksudmu?”

“Maksudku sangat sederhana. Kau menjalani tugas dengan kehormatan, setidaknya hingga terakhir…”

Dave membentak, “Beberapa orang akan bilang itulah satu-satunya bagian terhormat.”

“Ya,” kata Ransome dengan suara terseret, “tapi kita berdua tahu orang macam apa mereka. Tapi yang kumaksud adalah kau dulu memakai warna yang sama, menjalankan tugas, dan mengabdi bersama yang terbaik.”

“Jadi?”

“Jadi, itu menambah nilaimu dalam catatanku.” Dave meninggikan suaranya. “Apa?” Ia terdengar hampir menjerit.

43”Satu pertolongan. Hanya satu. Pertama, lemparkan pistol kecil mainan itu. Lalu kau keluar dan mengambil posisi. Kau ingat posisi itu, kan? Berlutut, tangan di bawah pantat. Tundukkan kepalamu, dan aku akan menangani sisanya. Tidak bertele-tele, tidak ruwet. Itulah penawaran terbaik yang bisa kuberikan padamu, Mr. Elliot. Bersih, cepat, dan tanpa rasa sakit. Kalau tidak—yah, persetan, Bung, kita akan melewatkan pagi yang porak-poranda di sini.”

“Ya Tuhan!” Dave membuat kata itu terdengar seperti cicit ketakutan. Ia ingin terdengar nyaris histeris, tapi belum benar-benar demikian. “Itukah tawaran terbaikmu? Astaga!”

“Pikirkanlah. Masalahnya bisa lebih buruk.” (Dan apa yang dikatakan logika dan akal sehat pada kita, Saudara-saudara?)

Dave menanggalkan jasnya dan menghitung sampai lima puluh. “Uh…,” ia mengerang.

“Ayolah, Mr. Elliot, pakailah akal sehat. Buatlah urusan ini mudah untukmu sendiri.”

“Kau tak bisa… maksudku, tak bisakah kita… ahh, merundingkan urusan ini? Kalau saja kauberitahukan apa masalahnya…”

Jangan terlalu berlebihan. Dia akan curiga.

“Coba saja bisa kukatakan, tapi tak bisa. Dengar, Mr. Elliot, dulu kau dan aku menjalankan tugas yang sama. Ingat bagaimana keadaannya? Nah, aku menyesal mengatakan begitulah keadaannya sekarang. Jadi, ayolah, Mr. Elliot, kita berdua tahu bagaimana urusan ini diselesaikan, sama seperti kita ketahui juga tak ada cara lain. Hadapilah kenyataan, Sobat: makin lama kau menunggu, makin parah keadaannya.

44

Ayo, Mr. Elliot, kuminta—bukankah kau lebih suka penyelesaiannya lebih mudah bagimu?” Suara Ransome lembut, simpatik, mendorong.

(Satu-satunya tanggapan yang rasional adalah membuat musuh tidak mampu menembakmu.)

“Uh… maksudku… uh… Tapi tak bisakah kita… uh…” Dave menarik lengannya, bersiap melakukan lemparan keras, dan melontarkan jasnya yang sudah tergulung ke tengah koridor. Hujan peluru tanpa bunyi mencabik-cabiknya jadi pita saat jas itu masih berada di udara.

Dave tersenyum, dalam hati menghitung berapa kali Ransome melepaskan tembakan. Suara dalam benaknya, malaikat pelindungnya, mengejek dengan suara cempreng Donal Bebek, Tentu saja kau tahu ini artinya perang….

5.

Dulu ia tidak membenci perang. Dua puluh lima tahun yang lalu tak sedikit pun ia membencinya. Orang lain memang benci. Tapi Dave Elliot tidak. Dave Elliot cukup menikmatinya—atau setidaknya menyukainya sampai ia menyadari bagaimana perang sedang mengubahnya.

Ia terutama menikmatinya saat musuhnya hebat. Makin cakap mereka, makin senanglah dia. Ada sesuatu yang menggairahkan mengetahui lawanmu adalah profesional-profesional yang cerdik dan tangguh, sehingga membuat… membuat pertempuran itu… nyaris menyenangkan.

“Ransome, kuanggap itu isyarat yang tak bersahabat.”

45”Aku mengerti perspektifmu, Mr. Elliot, tapi coba lihat situasinya dari sudut pandangku. Aku sekadar berusaha mengerjakan tugasku di sini.” Sedikit pun tak ada tanda penyesalan dalam suara Ransome.

Ayolah, Ransome, lakukan. Ayo, Ransome, ayo. Kau tahu kau harus melakukannya.

Jantung Dave berdegup menggeledek. Ia memaksa diri mengambil napas panjang-panjang, dalam-dalam, hiperventilasi, menjaga tingkat adrenalinnya tetap tinggi, mendorong diri bersiap melakukan apa yang akan dilakukannya. Kuatkan semangat, kuatkan semangat, kuatkan semangat! Itulah yang selalu diteriakkan Mamba Jack sebelum timah panas mulai beterbangan. Kuatkan semangat!

Ya!

“Tadi kupikir kita sesama rekan dalam pasukan.”

“Aku ingin kau tahu bahwa aku sungguh-sungguh jujur mengenai hal itu, Mr. Elliot.”

Dengarkan. Bersiaplah. Otot-otot kaki Dave menggelenyar. Wajahnya merah membara penuh harap. Dengan obsesif ia menggosokkan ibu jarinya dengan telunjuk maju-mundur cepat.

“Kau tahu aku takkan percaya lagi apa yang kaukatakan.”

“Aku bisa menghargai itu.”

Setiap detik sekarang. Setiap detik…

Suara itu sangat samar. Cuma klik kecil—bunyi yang ditimbulkan oleh magasin dikeluarkan dari gagang pistol, Dave berdoa. ‘ Pasti itu. Kalau tidak, kau akan mati.

Ia menarik keras tuas alarm kebakaran, memakainya untuk menarik tubuh berdiri. Sirene meraung, mengisi

46

jerong itu dengan lengking memekakkan. Dave berputar keluar dari ceruk, meregangkan kaki, melemparkan sikunya, berlari ke depan sekeras-kerasnya dan secepat-cepatnya, berlari seperti yang dilakukannya setiap pagi tapi lebih cepat, bila para dewa memutuskan tersenyum pada Dave Elliot, berlari ke tempat laki-laki yang menyebut dirinya John Ransome sedang membungkuk dengan pistol yang untuk sementara itu kosong.

Dan ternyata dewa-dewa itu benar-benar tersenyum. Ransome sedang tiarap di lantai tempat penerimaan tamu, kepala dan pundaknya menyudut ke dalam lorong dalam gaya tiarap klasik untuk penembak. Sebuah magasin kosong tergeletak di bawah dagunya. Ia kehilangan keseimbangan, berguling ke samping untuk mengisi kembali senjatanya. Ketika menerjang-maju, Dave melihat kemarahan terlintas pada wajah Ransome. Laki-laki itu tahu ia telah terkecoh.

Well, terima kasih, Mr. Ransome. Kau sungguh baik mau berbaring dalam posisi seperti itu—sempurna untuk latihan menembak sasaran, tapi kurang menguntungkan dari segi mobilitas.

Ransome beringsut mundur, mengangkat tangannya berusaha membela diri. Dave terpisah satu setengah meter. Ransome menarik tubuh hingga merangkak; mulai hendak berdiri.

Ini terlalu dekat. Terlalu dekat. Ia akan terpaksa memakai pistol Bernie, dan ia tidak ingin melakukannya kecuali terpaksa. Dan dia harus melakukannya kecuali…

Ada satu hal, para instrukturnya di Fort Bragg memberitahu, satu hal yang sama sekali, selamanya tak

47boleh kaulakukan dalam pertarungan tangan kosong, menendang lawanmu. Lupakan segala yang pernah kausaksikan atau kaudengar atau kaubaca tentang karate, judo, kung-fu. Lupakan Batman dan lupakan Bruce Lee dalam film seri TV Green Hornet. Itu produk Hollywood, bukan dunia nyata. Dalam dunia nyata, ada dua puluh hal berbeda yang bisa dilakukan lawan bila kaurnengangkat kaki ke udara, dan sembilan belas di antaranya akan membuatmu mati. Jangan pernah menendang! Dulu para sersan pelatih itu meneriakkannya berkali-kali. Jangan pernah menendang!

Ia menendang wajah Ransome.

Sekolah yang sama dan pelajaran yang sama? Itukah yang kaukatakan, Mr. Ransome? Kalau begitu, kau tentu tak menduga gerakan itu, kan?

Tumit Dave menghunjam telak di bawah pipi kiri Ransome, menyentakkan kepalanya ke belakang dan memutarnya terjungkal, telentang dengan perut di atas. Dave melipat siku kanannya menjadi seperti tombak, menerjang ke depan, menusuk keras ke ulu hati Ransome. Wajah Ransome jadi putih pucat. Dave menarik kembali lengannya, meratakan telapaknya, mengarahkan pukulan mematikan ke ujung dagu Ransome.

Ia tak pernah melepaskan pukulan itu. Wajah Ransome mengendur, dan matanya terpejam.

Dave melintangkan lengan kanannya pada leher Ransome dengan kekuatan mencekik. Ransome tak bergerak. Dave membuka kelopak mata kanan Ransome. Hanya putihnya yang terlihat. Kebanyakan orang bisa memutar bola mata mereka ke belakang. Seseorang yang terlatih bisa pura-pura pingsan secara

48

meyakinkan. Dave menjentikkan jari ke putih mata Ransome. Tak ada gerakan sedikit pun. Tak ada orang yang bisa pura-pura. Ransome tak sadarkan diri.

Dave Elliot ingin merokok lebih dari yang lainnya di dunia ini.

Menurut isi dompetnya, John Michael Ransome adalah wakil direktur pada perusahaan bernama The Specialist Consulting Group. Almarhum Mark Carlucci adalah associate senior pada organisasi yang sama. Tak satu pun dari kartu nama dua laki-laki itu mencantumkan alamat, hanya nomor telepon: kode wilayah 703— Virginia. Juga tidak ada alamat rumah pada SIM mereka, cuma nomor kotak pos—nomor kotak pos yang sama untuk Ransome maupun Carlucci.

Sekarang ada kebetulan kecil untukmu. Suara dalam benak Dave terdengar sedikit puas, setidaknya untuk sementara ini.

“Sparrow, di sini Partridge. Lapor.” Radio Carlucci model mini, hitam, dan tidak mencantumkan cap atau tanda dari pabrik pembuatnya. Carlucci menjepitkannya di sabuk. Sekarang Dave memakainya di sabuknya sendiri.

“Roger. Di sini Sparrow. Ada banyak sekali tangga di gedung ini.”

“Di mana kau dan kapan perkiraan waktu kedatanganmu?”

“Kami di lantai 34 tangga selatan, dan orang-orang ini butuh istirahat. Beri kami tiga, Partridge.”

“Apakah tiga menit lagi bisa kauterima, Robin?”

Dave menjawab, mencoba menirukan logat Appalachian Ransome yang terseret lembut, “Afirmatif.”

49”Roger. Kami istirahat, Sparrow. Partridge out.” Wah.

Dave mundur meninggalkan Ransome. Meskipun laki-laki itu pingsan dan terikat dengan sabuknya sendiri, Dave tidak ingin melepaskan pandangan darinya—tidak pula dari pistol aneh yang diambilnya dari tangan almarhum Mark Carlucci.

Kau harus pikirkan baja penembak itu.

Nanti. Tidak sekarang.

Ia mengangkat telepon di meja resepsionis, menekan nomor 9 untuk sambungan keluar, dan menekan nomor pada kartu nama Ransome. Jeda sejenak sementara telepon itu disambungkan. Pesawat di ujung seberang berdering satu kali sebelum suara mekanis menjawab, “Masukkan sandi otorisasi Anda.”

“Halo, saya mau bicara dengan sekretaris Mr. Ransome.”

“Masukkan sandi otorisasi sekarang.” Itu suara operator telepon robot yang dikendalikan komputer. Dave menekan beberapa tombol telepon, memasukkan nomor acak. “Akses ditolak.” Klik.

Dave mengangkat bahu. Kalau hendak mendapatkan jawaban, ia tentu harus mendapatkannya dari tempat lain. Sementara itu…

Ia melangkah kembali ke tempat Ransome terbaring. Laki-laki itu masih tak sadarkan diri. Sekalipun seandainya ia sadar, Dave sangsi ia akan mengatakan sesuatu kepadanya. Ransome bukanlah jenis orang yang bisa dengan mudah dipaksa bicara. Tentu butuh interogasi berjam-jam—interogasi gaya MACV-SOG— untuk meruntuhkannya.

Dave hendak menjatuhkan dompet Ransome ke

50

dada laki-laki itu. Ia berhenti, mengernyit, dan membukanya. Dihitungnya uang di dalam dompet tersebut. Delapan puluh tiga dolar. Ia sama sekali tidak suka melakukan ini.

Ah, lakukanlah. Berapa kali mereka bisa menggantungmu?

Kalau benar ia dalam masalah sebesar yang diperkirakannya—apa definisi yang lebih baik dari masalah selain menghadapi regu penembak berperangai buruk?—maka ia akan membutuhkan uang tunai. Memakai kartu kredit sama saja dengan bunuh diri. Setiap transaksi kartu kredit di Amerika dicatat secara elektronis. Belilah sesuatu di sebuah toko, dan pelayan toko itu akan menggosokkan kartumu pada salah satu terminal kecil Verifone abu-abu itu untuk memasukkan data pembelianmu ke komputer di tempat jauh. Kotak Verifone itu secara otomatis mencatat identitas penjual yang memasukkan transaksi tersebut. Kalau seseorang ingin tahu kau berada di mana—tepatnya di mana— yang harus mereka lakukan hanyalah meneliti beberapa komputer. Dan bila kau cukup tolol untuk memakai mesin ATM, pekerjaan itu akan lebih mudah lagi.

Dave melipat uang Ransome dua kali, dan memasukkannya ke saku celana. Kemudian ia mengosongkan dompet Carlucci. Enam puluh tujuh dolar. Ia tahu seharusnya ia menguras saku Bernie Levy juga, tapi sudah terlambat melakukannya sekarang. Ia sudah kembali ke kantornya mempersiapkan kejutan kecil untuk regu bersenjata Ransome. Bukan gagasan bagus masuk ke sana lagi.

Sebagai gantinya ia berjalan ke pintu darurat di sebelah barat, dan masuk ke’ ruang tangga. Bila

51beruntung, ia akan mendapatkan pertolongan hanya tiga lantai dari sana.

6.

Tangga darurat—setiap gedung perkantoran pencakar langit pasti punya. Biasanya terbuat dari beton tapi kadang-kadang baja. Semuanya tergantung pada peraturan pembangunan gedung itu. Tangga Dave terbuat dari beton.

Lubang tempat tangga itu mengingatkannya pada film tentang penjara—Cagney and Raft sekitar 1939. Dinding-dindingnya tanpa tanda apa-apa, seragam, kelabu. Nuansa monoton dingin itu hanya disela dengan pipa-pipa berisolasi dan, setiap lima lantai, dengan kotak enamel merah berisi slang darurat untuk menghadapi kebakaran.

Anak tangga itu sendiri cukup lebar bagi tiga orang berjalan berdampingan; melingkar-lingkar dari puncak gedung hingga lantai dasar, cukup sempurna bentuk geometrisnya, spiral dari semen. Pada tiap lantai dan tiap setengah lantai ada platform beton 2 kali 3,5 meter. Lima puluh lantai, seratus platform, dan dua belas anak tangga yang menghubungkan tiap platform satu ke yang berikutnya. Sama sekali tak ada tanda-tanda selain pelat logam yang menyebutkan nomor lantai.

Pada setiap platform, tangga itu membelok 180 derajat. Dua belas anak tangga naik, belok. Dua belas anak tangga, belok. Dua belas anak tangga, belok. Kalau lari terlalu cepat, kau akan pusing.

Pusing… Kalau punya masalah dengan ketinggian,

52

kau tentu tak ingin melihat ke balik susuran dan ke bawah lubang itu.

Dave menggigit bibir. Celah antara tangga yang melilit seperti spiral itu cukup lebar untuk satu orang. Bila ingin cara mudah untuk mengakhiri semua ini, kau tak perlu berbuat apa-apa selain melangkah ke pintu darurat, melintasi platform, melangkahi susuran besi yang dingin, dan…

Hei, bukankah suasana hati kita gedang ceria pagi ini?

Lima lantai teratas gedung itu menampung kantor Howe & Hummel, penasihat hukum. Harry Halliwel, partner senior di sana dan pengacara Dave, menghuni kantor sudut yang luas di lantai 48. Seperti Dave, Harry suka bangun pagi dan setia lari pagi. Mereka sering kali tiba di persimpangan Fiftieth dan Park Avenue bersamaan. Harry berlari ke utara dari rumahnya di Murray Hill, Dave datang dari arah yang berlawanan.

la menganggap Harry bukan saja sebagai pengacaranya, tetapi juga sebagai sahabatnya. Lima tahun sebelumnya, ketika Dave dan Helen menikah, Harry menjadi best man dan istrinya, Susan, menjadi matron of honor. Sedikitnya sekali sebulan, dan kadang-kadang lebih sering, dua pasangan itu pergi bersama malam hari ke kota. Suatu ketika mereka pernah berlibur ke Hawaii bersama, meskipun Harry menghabiskan sebagian besar waktunya di pantai dengan telepon seluler tertempel di telinga.

Bila ada yang bisa menolong Dave sekarang. Harry-lah orangnya. Dengan otak cerdas dan cara

53bicara lembut merayu, Harry Halliwell adalah pengacaranya pengacara. Lebih dari itu, ia salah satu orang langka dengan integritas yang tidak dipertanya kan lagi serta oleh para politisi dan pimpinan perusahaan disebut sebagai “pialang jujur”. Ia sering diundang untuk menyelesaikan konflik antara serikat buruh dan manajemen, antara kalangan bisnis dan pemerintah, bahkan kadang-kadang antarnegara. Tak peduli betapa ruwet perselisihannya. Harry selalu berhasil menegosiasikan kompromi yang dirasa adil oleh kedua belah pihak.

Harry rasanya kenal semua orang, dan semua orang rasanya kenal dia. Kliennya bervariasi mulai dari nama-nama raksasa dalam Forbes 400 sampai bos-bos Mafia. Tak ada masalah yang tak dapat ditangani Harry Halliwell.

Termasuk, mudah-mudahan, membantu klien yang tiba-tiba saja kepalanya jadi buruan pembunuh bayaran.

Dave berlari naik, dua atau tiga anak tangga sekaligus, berlari seperti yang dilakukannya seumur hidup, dan dengan sempurna. Ketika ia sampai di lantai. 48, napasnya bahkan tidak terengah-engah.

Ia mendorong pintu darurat. Tidak bergerak.

Ia mengentakkan pegangannya. Terkunci. Alarm kebakaran seharusnya membuka kunci semua pintu di gedung itu secara otomatis. Tentu ada yang tidak beres, atau mungkin anak buah Ransome tahu bagaimana menangani pekerjaan mereka.

Pintu darurat hanya terbuka satu arah. Pintu-pintu itu terbuka dari dalam, tapi terkunci dari luar.

54

Di kota ini terlalu banyak orang sinting yang akan melakukan sebaliknya.

Bukan masalah. Dave mungkin tidak bisa memakai Kartu Platinum American Express-nya untuk membeli cara melepaskan diri dari kesulitan, tapi bukan berarti sama sekali tidak bisa memakainya. Instrukturnya— bukan pelatih dari Special Forces di Fort Bragg, tetapi yang lain, yang tak pernah menyebut nama belakang mereka—pernah mengajarkan, di antara berbagai keterampilan haram lain, cara membuka kunci tanpa anak kunci.

Gerendel itu berdetak. Pintu darurat itu terempas membuka.

Beberapa saat kemudian ia sudah berada di luar kantor Harry. Pintu Harry terbuka sedikit. Lampu-lampunya menyala. Ia bisa mendengar suara Harry berbicara pelan di telepon.

Dave mengetuk pintu dan kemudian masuk. Harry sedang duduk berselonjor di kursinya, masih dengan pakaian lari. Kakinya diletakkan di atas meja Parsons yang penuh barang dan goresan, yang dipakainya sebagai meja kerja. Di belakangnya, rak-rak buku penuh dengan kertas-kertas lepas, bundel dokumen, dan koleksi segala macam benda tetek-bengek yang dikumpulkan selama tiga puluh tahun kariernya.

Sang pengacara mengangkat muka memandang Dave, mengangkat alis sebelah, dan berbicara di telepon. “Ya. Ya. Aku mengerti. Sungguh. Jangan khawatir. Kongres takkan menyelidiki. Aku sudah bicara dengan Bob, dan menurutku kita bisa menemukan titik kesepakatan. Tidak, kurasa tidak. Sungguh. Benar. Nah, sekarang aku ada janji lain yang harus

55kutangani. Tentu. Oh, dan maaf aku tak bisa menghadiri ulang tahun Chelsea. Aku yakin dia menerima hadiahku. Bagus. Tentu saja. Jangan terlalu dipikirkan. Ya, selamat pagi.”

Harry menghela napas sambil meletakkan gagang telepon ke tempatnya. “Ya ampun.” Pertama ia mengernyit, lalu memandang sambil tersenyum. “Sudah tiba bulan yang sama. Sidang penentuan anggaran. Orang tentu menyangka bahwa sesudah dua ratus tahun bekerja, pihak eksekutif dan legislatif tentu sudah belajar bagaimana mencapai kesepakatan.” Ia menunjuk poci perak Tiffany. “Kopi, David?”

“Terima kasih. Aku membutuhkannya.”

“Duduklah, dan ceritakan padaku apa yang membawamu ke kantorku sepagi ini.” Harry mengangkat poci itu. Ia mengamatinya dan meringis.

Dave menarik kursi. Ia mencoba menyusun cara yang cocok untuk menuturkan apa yang harus dikatakannya. Ia tidak bisa melakukannya. Sebaliknya, ia berkata tanpa pikir, “Harry, ini memang gila, tapi Bernie baru saja mencoba membunuhku.”

Alis Halliwell terangkat lagi. Ia mengangkat tutup poci dan mengintip ke dalamnya. “Kau tentu bercanda.”

“Sama sekali tidak. Dan dia tak sendiri. Ada dua orang lain—pembunuh, Harry.”

Harry mengguncang poci kopi itu dan mengernyit. “Hmmf. Rasanya aku menghabiskan poci ini kurang dari setengah jam. Minum kopi sebanyak ini tak bagus untuk jantung. Pembunuh, katamu? Mereka tentunya tidak begitu mahir, kan? Tidak kalau kau…” Ia berhenti, mengacungkan poci itu dan mengamati wajah Dave.

Dave mengangguk. “Ini bukan lelucon, Harry. Sudah

56

ada satu mayat di lantai 45. Mungkin dua. Aku dalam kesulitan.”

Harry menarik kakinya dari meja. Ia berdiri dan berbisil^ “Kau serius, ya?”

Dave mengangguk lagi.

“Bagaimana kau, ahh, bisa… well..”

“Nasib baik, Harry. Refleks lama dan keberuntungan. Dan seandainya tak sebugar sekarang, kurasa aku sudah mati.”

Alis Harry mencapai puncak ketinggian, bertahan di sana beberapa detik, lalu jatuh mengernyit. “Uh… well. Wah, wah, wah…”

“Aku butuh pertolongan.”

Harry melontarkan senyum profesionalnya yang sangat terlatih dan membuat kliennya merasa lebih lega. “Dan kau akan mendapatkannya. Tapi pertama-tama kau akan mendapat kopi. Seperti aku juga.” Ia keluar dari balik meja kerjanya. “Apa pun… well… masalah ini, Dave, aku yakin ini tentu menuntut konsumsi kafein lebih banyak dari yang kita perlukan. Aku akan ambil kopi lagi.”

Sambil berkata demikian, ia berjalan melewati Dave dan menuju ke pintu. Dave tidak menghitung waktu dengan tepat untuk tindakan berikutnya. Seandainya melakukannya, ia tentu tidak melihat kilatan perak berat dari sudut mata Harry.

Mendadak Dave miring ke kiri. Poci kŠpi menghantam sandaran kursi, meleset hanya seinci dari tengkoraknya. Poci itu lepas dari tangan Harry dan menggelinding di atas karpet.

“Harry! Ada apa…?” Dave sudah berdiri. Dengan wajah berubah dan merah, Harry mundur ke pintu.

“Kau sudah mati, Elliot! Mati!”

57Dave tertegun, mulutnya ternganga. Rasa asam dan dingin mengaduk isi perutnya. “Harry…” Tapi Harry berbalik dan lari.

7.

Sampai sejauh ini, ia bertindak mengandalkan intuisi dan banyak keberuntungan. Kini ia butuh rencana.

Ransome orang profesional, begitu pula anak buahnya. Akan ada orang di lobi mengawasi lift dan tangga darurat. Ransome sudah memberitahu mereka bagaimana tampang Dave dan bagaimana caranya berpakaian. Sepagi ini lobi itu masih kosong. Dalam sedetik anak buah Ransome akan mengenalinya bila ia mencoba kabur dari gedung ini.

Juga tidak mungkin mencari telepon dan minta bantuan. Ia tidak bisa menghubungi teman, menelepon istrinya, menelepon saudaranya. Ia bahkan tidak bisa menelepon polisi. Sedikitnya tidak langsung sekarang ini. Sampai ia tahu mengapa—mengapa, mengapa, mengapa—bosnya, sahabatnya, dan beberapa orang yang sama sekali tak dikenalnya menghendaki kematiannya.

Sebab bila mereka menginginkannya mati, mereka mungkin ingin beberapa orang lain mati juga. Dan David Elliot tidak berniat membawa orang-orang yang dicintainya ke dalam bahaya.

Di samping itu, ia bisa menjaga diri sendiri. Setidaknya untuk sementara waktu. Mungkin lebih lama dari itu. Lagi pula, dulu mereka melatihnya dengan baik—memuaskan. Sepertinya tubuhnya belum melupakan pelajaran yang sudah lama ditolak pikirannya.

. 58

Hal itu menakutkannya. Menakutkannya lebih daripada yang dilakukan Bernie. Atau Harry. Atau Ransome. Atau bunyi yang ditimbulkan peluru, dekat, terlalu dekat, ke tempat kau meringkuk ketakutan.

Di balik kulitnya, sesudah sekian tahun ini. rasanya masih hidup seseorang—dulu ia nyaris berubah jadi orang tersebut. Dan tak seorang pun—baik Ransome, atau orang lain—membuatnya takut lebih hebat daripada orang itu.

Dave harus mencari tempat bersembunyi—bersembunyi dan merenung dan menyusun rencana. Rasanya ia tahu di mana tempat itu.

Sekarang ia di lantai 40, distrik kelas pekerja Senterex dan rumah bagi eselon-eselon perusahaan yang lebih rendah. Tidak ada karya seni mahal di benteng ini. Sebagian besar lantai itu berupa bilik-bilik kerja berpenyekat yang ditempati para akuntan junior,, petugas pencatat order, dan golongan lebah pekerja lainnya. Mereka orang-orang yang bekerja tepat dari pukul sembilan hingga pukul lima. Seluruh lantai tersebut pasti masih kosong.

Lantai 40 juga tempat kafeteria karyawan terletak, ruangan berdinding putih dilengkapi dengan meja-meja berlapis Formica, dan menampung sederet mesin otomat. Dave berjalan melewatinya, berhenti, dan berputar. Ia perlu sesuatu dari kafeteria. Dua benda, sebenarnya…

Ia menyisipkan sehelai satu dolar curiannya ke mesin penukar uang. Empat pecahan 25 sen berdencing ke nampan penukar. Ia memasukkan dua keping ke mesin kopi. Sebuah cangkir kertas turun ke dispensernya. Mesin itu bersendawa dan menyemburkan cairan

59cokelat mengepul-ngepul ke dalam cangkir. Dave mengangkatnya.

Aduh! Kopi ini hampir mendidih’

Ia menghirup seteguk. Rasanya membakar, jauh terlampau panas, dan…

Blah! Ugh! Memuakkan! Astaga, inilah kopi terbusuk yang pernah kaurasakan sejak dinas ketentaraan dulu. Seandainya bekerja di tempat ini, aku akan mengajukan keluhan pada Dinas Perlindungan Lingkungan!

Dengan ragu-ragu ia menyesap untuk kedua kalinya. Tidak, ini takkan semakin mempengaruhimu, dan kau tak menginginkannya.

Dave berjalan ke meja tempat penyimpanan bumbu dan peralatan makan kafeteria. Sejenak ia berpikir untuk menambah kopinya dengan zat berwarna mencurigakan berlabel “Pengganti Krim Kopi Buatan”, tetapi memutuskan untuk tidak melakukannya. Sebagai gantinya, ia memilih dua garpu stainless steel dan pisau meja dari koleksi peralatan dapur. Lalu ia berjalan cepat kembali ke koridor.

Sekarang di mana? Dulu letaknya dekat belokan dan… t

Pintu itu dicat putih kekuningan. Ada dua kunci tertancap, yang satu kunci standar yang dipakai pada semua pintu kantor Senterex dan yang lain kunci deadbolt yang besar. Papan abu-abu bertulisan timbul tergantung di samping pintu: RUANG 4017, RUANG TELEPON,

Kunci deadbolt itu tidak jadi masalah. Dave memonyongkan • bibir, mengingat pelajaran-pelajaran dulu, dan mulai bekerja dengan garpu-garpu itu.

60

BAB 2

KOLAM RENANG TUA

1.

DALAM setiap bisnis dan di setiap perusahaan selalu ada paling tidak satu eksekutif tingkat tinggi yang percaya bahwa anak buahnya tidak cukup kompeten, tak peduli betapa cakap mereka—tetapi juga yakin mereka bisa dibuat demikian. Dengan mudah. Dalam semalam. Yang dibutuhkan hanyalah sedikit pelatihan, sedikit inspirasi, sedikit pemaparan pada program pelatihan motivasi yang benar.

Ahh, tapi mana yang benar? Lagi pula ada begitu banyak program. Jauh di dalam hati mereka, eksekutif-eksekutif semacam itu tahu bahwa program yang “benar” sebenarnya ada. Itu adalah minuman ajaib yang sekali ditemukan akan secara ajaib mengubah pekerja-pekerja biasa menjadi teladan produktivitas yang sempurna tanpa cacat. Hal sederhana ini, batu ^

61filsuf ini, mungkin ditemukan dalam buku, atau kaset video, atau program software komputer, atau, yang paling mungkin, tentulah hasil seminar tiga hari yang diselenggarakan oleh perusahaan bernama ganjil, berkantor pusat (tak bisa dihindari) di California Utara.

? Tidak jadi soal. Di mana pun dan apa pun bentuknya, program itu ada, dan sekali ditemukan akan menimbulkan efek yang sama terhadap staf seperti yang ditimbulkan oleh kata “SHAZAM” terhadap Billy Batson—gemuruh guntur, kilatan halilintar gaib, dan lihatlah: Captain Marvel!

Malanglah bagi David Elliot bahwa di Senterex, pemuja utama dogma tersebut adalah juga direktur utama, Bernard E. Levy. Antusiasme Bernie pada gelombang-gelombang terbaru dalam teori manajerial canggih sungguh tak terpuaskan. Ia menganut semuanya, satu per satu seluruhnya, dengan semangat religius. Lebih parah lagi, sesudah terlahir kembali dalam gereja baru ini dan itu yang mengajarkan cara baru untuk meningkatkan produktivitas, ia bersikeras agar seluruh kader eksekutif mengikutinya bertobat dalam aliran tersebut.

Selama enam tahun menduduki jabatannya di lantai 45, Dave sudah hampir setengah lusin kali menerima pengajaran dari dukun peningkatan motivasi, mesias manajerial, dan guru ilmu perilaku. Ia duduk di seminar-seminar tak kunjung putus sepanjang akhir pekan yang diadakan oleh profesor-profesor bisnis yang saat itu sedang populer, berkubang bersama sesama eksekutif lain dalam bak panas di Esalen Institute, dan berkeringat bersama mereka di sauna-sauna di Aspen Institute. Ia lari berdampingan dengan

62

bosnya yang ngos-ngosan dengan wajah ungu pada “kamp pelatihan” In Search of Excellence, dan setahun kemudian, membantu membopongnya turun dari gunung tempat pergelangan kaki Bernie terkilir dalam program Outward Bound “team-building adventure”. Pada kesempatan lain, Bernie mengunci seluruh kader-kader manajernya di dalam ruangan tanpa jendela di University of Arizona, mendesak agar mereka menghabiskan sehari yang sunyi untuk mengetik gagasan “brainstorming” pada komputer. Bahkan ada yang disebut “Wolverine Management Seminar”, yang menurut Dave adalah program yang pada dasarnya duduk mengelilingi meja rapat dan menggeramkan nafsu besar untuk melahap mentah-mentah jantung para pesaing Senterex.

Baru beberapa bulan lalu, Bernie merekrut “psikolog organisasi” yang istimewa. Laki-laki itu, seperti kebanyakan ahli Bernie, bekerja di California, datang ke New York untuk tanpa putus memberondong manajer-manajer top di Senterex dengan berbagai tes pengenalan pola dan acara tanya-jawab pendek.

Dave ingat satu-satunya tanya-jawab itu di mana ia belajar sesuatu mengenai dirinya sendiri—atau lebih tepatnya, tentang segala yang lainnya.

Sang psikolog memberi Dave serangkaian pertanyaan asosiasi-preferensi berbentuk bebas.

“Apa warna favorit Anda?”

“Hijau.”

“Dengan nuansa tertentu?” “Hijau zamrud.” Hijau seperti botol hijau. “Apa mobil favorit Anda?”

63”Yang saya kendarai? Mercedes.” “Bukan, apa yang ingin Anda kendarai?” “Porsche.”

“Porsche hijau zamrud?” “Bukan. Saya rasa kuning.”

“Kuning adalah warna seksual. Apakah Anda tahu itu?”

“Tidak, tapi saya tak terkejut.” “Seandainya Anda mengalami reinkarnasi sebagai binatang, Anda ingin kembali sebagai binatang apa?” “Anjing laut.” “Mengapa?”

“Mereka hanya mengapung bersama gelombang, bukan?”

“Menurut Anda akan jadi binatang apa Anda?” Dave tidak menjawab.

“Ayolah, Mr. Elliot. Menurut takdir atau karma, Anda akan jadi binatang apa seandainya Anda mengalami reinkarnasi?”

Dave menggeleng. “Saya tak tahu. Saya suka lari. Mungkin saya akan terlahir kembali sebagai rusa atau entah apa.”

“Ah, sang buruan, bukan sang pemburu.”

“Kalau begitu kata Anda.” Tetapi jawaban yang terbentuk dalam benak Dave, karma yang ditakutinya telah dimilikinya, tidak ada hubungannya dengan herbivora.

“Apakah Anda punya fantasi?” “Tentu saja.”

“Fantasi akan kekuasaan?” “Bukankah kita semua begitu?” “Fantasi mengenai prestasi?”

64

“Tentu.”

“Yang saya maksud bukan sukses.” “Saya tahu itu.”

“Prestasi apa yang Anda angankan? Prestasi terhebat. Puncak impian Anda?”

Tanpa pikir Dave menukas, “Mark Twain.” Kemudian wajahnya memerah.

Psikolog itu tampak bingung. “Mark Twain? Maukah Anda menjelaskan jawaban itu?”

Dave merasa tidak enak. Ia tidak pernah menyebutkan fantasinya tentang Mark Twain kepada siapa pun, bahkan tidak kepada Helen sekalipun, yang toh tidak akan memedulikannya. Sebenarnya, kepada diri sendiri pun ia hampir tak mengakui. Ia menyahut tergagap-gagap, “Prestasi yang saya impikan adalah… ah… saya ingin menulis buku… buku tentang Mark Twain. Sebenarnya saya ingin menulis penelitian tentang hidup dan karyanya. Itulah yang saya angankan.”

“Sebuah bestseller!”

“Tidak, tidak perlu begitu. Tapi mendapat sorotan kritis tentu akan menyenangkan, bukan?”

“Wah, ini sangat menarik, Mr. Elliot. Kebanyakan orang bisnis pada kedudukan sesenior Anda berkhayal tentang olahraga—membeli tim bisbol, jadi juara PGA, berlayar keliling dunia, dan hal-hal seperti itu. Tapi Anda, Mr. Elliot, Anda berangan-angan tentang sesuatu yang benar-benar lain. Anda berangan-angan menjadi tokoh sastra terpelajar. Ini benar-benar aneh sekali.”

Suatu ketika, Dave sendiri mungkin akan setuju bahwa hal ini memang aneh sekali.

652.

Suatu ketika, ada seorang pemuda yang ingin menjadi pengacara, tetapi cita-cita tertingginya lebih ambisius daripada itu. Menjadi pengacara hanyalah langkah ke arah itu. Pada akhirnya, ia ingin terjun ke dalam politik. Senat, istana gubernur, anggota Kabinet, bahkan mungkin… ah, siapa tahu sejauh mana ia bisa pergi.

Ia perlu gelar dari sekolah hukum terkemuka, lebih disukai Harvard atau Columbia. Dan ia akan memerlukan nilai cukup bagus untuk bekerja magang pada hakim agung anggota Mahkamah Agung—atau, paling tidak, pada hakim Pengadilan Tinggi. Kemudian ia akan menghabiskan beberapa tahun bekerja pada pemerintah negara bagian, mencari kontak, membangun hubungan dengan orang-orang yang tepat. Sesudah itu, ia akan siap mengejar jabatan. Pertama, lembaga legislatif negara bagian. Kemudian sesuatu yang lebih tinggi. Kehidupan publik adalah takdirnya.

Ia menyeringai ketika membayangkan dirinya mengajukan ucapan cerdas Jenaka dalam debat televisi. Ia sudah bisa melihat foto wajahnya tersenyum di surat kabar, pada poster kampanye, pada sampul majalah… berdiri di bawah lampu sorot, di podium, di belakang mimbar… tegak dan bangga dan populer dan dinamis dan dihormati, pemimpin… dan tentu, saja, pujaan masyarakat. Selalu begitu. Lebih dari yang lainnya. Ia akan jadi seseorang yang mereka sebut sebagai “hati nurani Senat”, atau sesuatu yang mirip. Sama seperti Jimmy Stewart dalam film lama itu, ia akan jadi orang yang…

66

Tentu saja ini lamunan. Lamunan yang dipakainya agar tetap terjaga sementara, dengan upah 75 sen per jam, ia membanting tulang di pabrik pendaur ulang aluminium sekitar tiga puluh kilo dari universitas. Di antara kuliah dan pekerjaan rumah, di antara latihan R.O.T.C. dan pekerjaan yang diambilnya untuk membayar uang kuliah, ia biasanya bisa menyisihkan empat jam untuk tidur pada hari biasa. Pada akhir pekan ia membayar utang.

Ia mengincar predikat cum laude. Ia nyaris berhasil, tapi belum cukup.

Ia tidak keberatan dengan R.O.T.C. Latihan tersebut mengendurkan dari ketegangan berpikir, dan kuliahnya tidak begitu menuntut. Satu-satunya keberatannya terhadap Reserve Officer Training Corps adalah—pada tahun ini ketika lebih banyak pemuda Amerika mendaftar daripada sebelumnya—program tersebut mewajibkannya bergaul dengan atlet-atlet kampus, mahasiswa-mahasiswa asrama, dan mahasiswa-mahasiswa teknik yang benar-benar menikmati permainan sebagai tentara. Itu hanya keberatan kecil, dengan mudah diimbangi dengan beasiswa yang didapatkan dari program tersebut, dan ketika direnungkan, sudah pasti catatan prestasi militer yang bagus—idealnya dengan satu atau dua medali penghargaan—akan menjadi aset penting bagi politikus muda yang sedang menanjak.

Baiklah, ia mendapatkan medali penghargaan. Salah satunya adalah medali Bintang Perunggu.

Namun waktu itu medali tersebut sudah tidak relevan, seperti juga catatan tugas militer yang telah dilaksanakan dengan gagah berani. Ia meninggalkan

67impian politiknya bahkan sebelum sidang mahkamah militer itu dimulai. Bukannya meneruskan hasrat mengejar kehidupan publik dan kekuasaan politik; David Elliot memutuskan bahwa ia ingin menjalani hidupnya dengan nyaman, bahkan makmur, seperti yang dilakukannya; tapi lebih dari kenyamanan dan kekayaan, ia ingin meluncur di dunia ini setenang mungkin, tanpa meninggalkan jejak di belakangnya.

Desa My Lai masih segar dalam ingatan Angkatan Bersenjata. Empat atau lima ratus penduduk sipil, mereka tak pernah bisa sepakat berapa banyak jumlahnya, secara metodis dibantai oleh bocah-bocah manis dari Kompi C. Dalam keadaan perang, dan korbannya orang-orang sipil tanpa dosa serta tanpa senjata, diikutilah semua tradisi yang dihormati di segala masa. Penyiksaan. Pemerkosaan. Pengambilan kulit kepala. Kebiasaan konvensional dalam perang.

Kabar pembantaian itu cukup banyak bocor pada pers sehingga pihak yang berkuasa itu sangat malu. Tapi mereka malahan lebih malu lagi karena Letnan David Perry Elliot.

Jadi ketika tiba saatnya untuk mahkamah militer, Mereka (dengan “M” kapital) memutuskan untuk bergerak perlahan-lahan, hati-hati, dan dengan kerahasiaan luar biasa.

Prosedur yang berlarut-larut itu mengakibatkan Dave tak memiliki apa-apa kecuali waktu. Ia terkurung di pangkalan, dilarang berkomunikasi dengan dunia luar. Selain latihan fisik setiap hari—yang oleh banyak orang disebut sebagai kebiasaan obsesif—satu-satunya rekreasi yang terbuka baginya adalah membaca.

68

Ia sebenarnya bukan orang yang sangat gemar membaca. Sekolah menengah menyaksikannya membaca tugas-tugas wajib yang semuanya diseleksi dengan ‘.cermat untuk menunjukkan bahwa membaca adalah membosankan. Di perguruan tinggi, antara pekerjaan malam kuliahnya, ia tidak punya banyak waktu apa pun di luar buku teks. Demikian pula kariernya sesudah itu, yang menyangkut latihan perang rahasia, tidak memberikan waktu untuk membaca santai.

Bagaimanapun, berbulan-bulan menunggu mulainya pengadilan, hanya sedikit yang ia kerjakan selain membaca. Ia membaca apa saja yang ia temukan, sebagian besar buku-buku kumal yang sudah begitu sering dipegang banyak tangan serta disimpan di barak Perwira Lajang.

Ada dua bacaan yang meninggalkan kesan mendalam pada dirinya. Yang pertama ditulis oleh Hiram Ulysses Grant, karena kesalahan administrasi di West Point menjadi Ulysses S. Grant. Yang kedua oleh Mark Twain.

Ini yang pertama, ditulis menjelang kematiannya oleh jenderal Amerika yang mungkin terbesar dan sudah pasti paling berat hati: “Pengalaman membuktikan bahwa orang yang menghalangi perang di mana negaranya terlibat, tak peduli benar atau salah, menduduki tempat yang tak patut dicemburui dalam hidup atau sejarah. Lebih baik baginya, secara individual, mendukung perang, wabah, dan kelaparan, daripada bertindak sebagai penghalang terhadap perang yang sudah dimulai.”

Dan ini yang kedua, Sam Clemens (Mark Twain) bicara: “Patriotisme adalah patriotisme. Menyebutnya

69sebagai Fanatisme tidak akan menurunkan nilainya; udak ada yang bisa menurunkan nilainya. Bahkan kesalahan politik sekalipun, dan seribu kali lebih hebat dari itu, tidak akan mempengaruhinya; ini terhormat—selalu terhormat, selalu mulia—layak menegakkannya dan memandang wajah bangsa-bangsa.”

Sejak itulah David Elliot selalu membaca Mark Twain, dan membacanya kembali.

3.

Aman di balik pintu ruang telepon yang terkunci, Dave membicarakan masalahnya dengan malaikat pelindungnya yang sinis.

Mari kita hitung fakta-fakta dalam kasus calon almarhum David Elliot, bagaimana, Sobat? Mungkin ada alasan nalar yang bisa kautemukan di balik kekacauan ini. Mungkin kau akan menemukan cara bagaimana menyelamatkan nyawatnu.

Mungkin tidak.

Benar, tapi rasanya kau tak punya hal yang lebih baik untuk dikerjakan dengan waktumu. Jadi, pertanyaan pertama: Siapa Ransome dan siapa teman-temannya?

ť Dave menjawab tanpa suara: Sebenarnya, yang kuketahui adalah siapa dia dulu dan dari mana asalnya. Special Operations. Perang rahasia. Sama seperti akuberseragam tentara, tapi tidak sepenuhnya di bawah komando Angkatan Bersenjata. Bukan sekadar otot kasar belaka. Mereka tak pernah merekrut kekuatan otot hanya sekadar untuk kekuatan otot itu.

70

Dan apa lagi?

Orang yang mampu mempertahankan diri. Pilot kamikaze tidak perlu melamar. Kita tidak berlagak jadi pahlawan dan kita tidak akan berbuat seperti pasukan Custer. Itulah yang terus dikatakan Mamba Jack kepada kami.

Otak, otot, dan naluri untuk bertahan hidup. Sine qua non mendasar bagimu untuk urusan ini. Jadi sekarang apa yang kauketahui?

Tak banyak. Sesudah perang berakhir, sebagian besar dari kami yang berkecimpung dalam urusan ini langsung pulang, menggantung senjata, dan mencoba membangun kehidupan kami. Mereka yang tak berhenti—well, beberapa di antara mereka masih tetap bekerja, atau begitulah yang kudengar. Tak selalu di Angkatan Bersenjata, tapi tetap dalam dinas aktif.

Jadi Ransome mungkin anggota FBI?

Tak mungkin. Mengapa ada orang pemerintah yang ingin membunuhku? Aku tak punya urusan dengan politik. Aku tak pernah menandatangani petisi-petisi. Aku tak bergabung dalam gerakan apa pun. Persetan, aku bahkan tak memberikan suara.

Tapi, FBI pernah dikenal…

Gila! Aku sangsi apakah pernah bicara dengan pegawai pemerintah dalam 25 tahun terakhir ini.

Bagaimana dengan tahun ke-26?

Tak mungkin. Bila ingin membungkamku, mereka tentu sudah melakukannya waktu itu. Bukan sekarang. Sinting kalau menunggu sampai selama ini. Di samping itu, kejadian itu merupakan sejarah kuno. Tak ada orang yang peduli lagi.

Mungkin ya. Mungkin tidak. Dan kalau Ransome bukan salah satu Los Federates, apa pekerjaannya?

71Siapa tahu? Mungkin tentara bayaran. Sesudah perang tersebut beberapa orang membawa keterampilan mereka ke tempat lain. Jadi tentara bayaran—penasihat-penasihat kepercayaan dari diktator setempat di Singapura, Irak, Ekuador, atau entah mana. Pada tahun tertentu aku melihat mereka disebut dalam beberapa berita tentang Chili atau Afrika Selatan, dan tahun berikutnya aku mendengar mereka di Ethiopia atau Guatemala. Kolonel Kreuter, si tua yang baik Mamba Jack, membentuk perusahaan sendiri. Ia menyebutnya War Dog Inc.

Kaupikir Ransome dikirim Kreuter? Setelah bertahun-tahun, kini Mamba Jack melunasi utang?

Tidak. Seandainya memutuskan melunasi utang lama. Jack akan melakukannya sendiri. Bukan berarti ini penghiburan.

Jadi?

Jadi, aku masih dalam kegelapan. Bagaimana dengan Mafia?

Tak mungkin. Usahawan tak berurusan dengan gangster kecuali dalam film. Kecil sekali kemungkinan Bernie Levy berurusan dengan mereka. Ia takkan menyentuh apa pun yang melibatkan Mafia. Ia businessman paling etis yang pernah kujumpai—Straight Arrow sejati.

Straight Arrow baru saja memperpendek rentang hidupmu dengan sepucuk Browning. Aku tahu itu.

Bagaimana dengan Harry? Dia membela orang itu, Joey entah siapa namanya, raja Mafia dari New Jersey.

Harry Halliwell mungkin saja membela gangster, tapi ia takkan pernah berbisnis dengan mereka.

72

Bukan FBI, bukan Mafia. Mungkin PLN, marah karena kau lupa membayar rekening listrik.

Oh, jangan bercanda! Aku bahkan tak punya cukup informasi sekadar untuk menduga apa. yang terjadi.

Kau punya informasi. Misalnya, Ransome mengatakan membaca berkas 201-mu.

Arsip riwayat militerku. Ocehannya tentang dinasku yang terhormat sampai akhir berarti ia tahu apa yang tercantum di dalamnya. Tapi tak seharusnya ada orang yang tahu itu. Mereka sudah menyegel catatan-catatan tersebut. Mereka mencapnya “Sangat Rahasia”, dan memendamnya di dalam lemari besi Army Judge Advocate General. Tak seorang pun bisa membaca berkas 201-ku kecuali membawa izin dari pejabat tingkat tinggi. Atau kenal seseorang dengan izin tersebut.

Satu teka-teki lain: Bernie-lah yang sebenarnya datang untuk menarik picu, bukan Ransome. Kesimpulan apa yang kaudapat dari^itu?

Ransome seorang profesional. Menurut dugaanku dia sudah berada dalam bisnis ini—apa pun bisnisnya— seumur hidup. Dia tangkas, dan membunuh orang tidak mengusik perasaannya sedikit pun. Jadi, mengapa dia mengirim Bernie untuk melakukannya? Bila kontrak pembunuhan itu ditujukan kepadaku, dan ia ada di sana, mengapa Ransome membiarkan warga sipil seperti Bernie Levy mencoba melakukan pekerjaannya?

Pikirkan mise-en-scene-nya—perjanjiannya, Sobat.

Benar. Kau benar. Aku hampir saja tak memikirkannya. Mereka mencoba melakukannya di kantor. Mengapa di sana? Mengapa mereka tak menghabisiku dari mobil yang sedang melaju saat aku sedang joging, atau memompakan peluru ke belakang telingaku saat

73aku berjalan pulang malam hari? Hanya ada satu jawaban untuk itu. Jawabannya adalah pada waktu sepagi itu di lantai 45 pencakar langit Park Avenue, tak ada banyak orang. Tak ada orang yang melihat. Tak ada yang mengajukan pertanyaan. Seharusnya pembunuhan itu terlaksana dengan sangat tenang, tak seorang pun akan tahu. Ingat ucapan Ransome, “Ini seharusnya pesta pribadi. Biarkan tetap demikian.” Dan, karena itu…

Kolonel John James Kreuter membungkuk di balik meja lapangan di dalam kemah berpenerangan lilin. Tak seorang pun memanggilnya Kolonel Kreuter. Mereka memanggilnya Mamba Jack. Julukan yang diambil dari nama Black Mamba, jenis ular dengan racun saraf, racun yang paling cepat bekerja dan mematikan di dunia—cukup satu gigitan, dan sepuluh detik kemudian kau sudah jadi sejarah.

Mamba Jack bangga dengan julukannya.

Sebotol Jack Daniel’s Black Label berisi tiga perempat penuh tegak di depan sang kolonel. Puntung sebatang Lucky Strike tanpa filter bergantung di bibirnya. Ia mengisap satu sedotan terakhir dalam-dalam, dan menjentikkan puntung itu ke tanah. Ia tersenyum pada Dave. Giginya putih luar biasa, dan ia memiliki gigi taring terpanjang yang pernah dilihat Dave.

“Wah, ini dia Letnan Elliot muda tampak berseri-seri dan cerah.” Mamba Jack bicara dengan logat Texas Timur yang diseret, aksen orang yang dilahirkan dan dibesarkan sebagai redneck.

Kecuali diberitahu lebih dulu, seperti halnya Dave diberitahu oleh petugas administrasi, bahwa Kolonel

74

Kreuter lulus sebagai peringkat ketiga di kelasnya di West Point, kau akan menyangkanya orang dusun tolol.

“Kurasa sudah saatnya kau kehilangan keperjakaanmu, Letnan.”

“Sir?”

Kreuter melirik. Membuatnya tampak seperti si Serigala Jahat dalam kartun Disney, dan ia tahu itu. “Aku ada pekerjaan kecil buatmu. Kelihatannya Charlie punya seorang mayor KG B Rusia di sebelah utara Dee Em Zee. Nah, si Rusia ini jadi agak mengganggu. Tampaknya dia membagi-bagikan senjata, membagi-bagikan logistik, dan juga membagi-bagikan nasihat. Aku tak terlalu keberatan dengan senjatanya, dan kau tak terlalu keberatan dengan logistiknya, tapi nasihat itu—kenapa, Nak, itu sangat menjengkelkanku. Benar-benar duri dalam daging. Jadi yang kuinginkan agar kaukerjakan, Letnan, kaubawa beberapa orang melintasi Dee Em Zee dan sampaikan rasa tak senangku pada Rusia itu.’.’

“Sir. Anda ingin saya membawanya kembali?”

“Tidak. Untuk apa? Persetan, apa yang kuinginkan dari orang Husia bau? Tak bisa bicara dengannya. Tak kenal bahasanya. Di samping itu, tak ada yang membutuhkan orang Rusia hidup dan gemetaran di sini. Begini saja sudah cukup menimbulkan kerumitan politik.”

“Pemberantasan, Sir?”

“Ya, Letnan Elliot, itu istilah yang bisa diterima. Tapi jangan serampangan mengerjakannya. Tanpa mayat, dan tanpa bukti. Yang kita inginkan, Letnan Elliot, adalah agar atasan mayor KGB itu khawatir. Aku ingin dia khawatir anak buahnya membelot dan kabur.

75Khawatir dia akan bicara, ngoceh, dan nyanyi. Aku ingin dia mimpi buruk, mayor itu muncul di TV bicara dengan Mike Wallace dan Walter Cronkite. Kau ngeiti, Letnan, kau tahu apa yang kuinginkan?” “Ya, Sir.”

“Dan apa itu, Letnan?”

Kau tentu ingat apa jawabmu, kan? malaikat pelindung Dave yang sarkastis bertanya.

Sambil merosot ke lantai linoleum ruang telepon Senterex, Dave Elliot tersenyum dengan perasaan yang bertentangan mengenang jawabannya: “Ya, Sir,” katanya. “Anda ingin mayor itu hilang.”

Benar. Dan kini seseorang ingin agar kau hilang.

4.

Di awal tahun 1970-an, ketika Dave baru memulai kariernya dalam dunia bisnis, ruang peralatan telepon merupakan tempat yang luas, ramai. Semua peralatannya elektromekanis—tak habis-habisnya tumpukan pemancar dan sakelar yang berdetik-detik. Waktu itu sistem PBX membutuhkan pemeliharaan khusus, dan biasanya regu pekerja perusahaan telepon muncul untuk mengotak-atik perangkat kerasnya satu atau dua kali seminggu. Dave, yang posisi pertamanya di bagian administrasi dari apa yang waktu itu disebut First National City Corporation, ingat orang-orang tersebut. Mereka biasanya berperawakan besar, agak kegemukan, dengan puntung cerutu terjepit di antara gigi. Semuanya memakai celana kerja tebal berwarna kelabu dan punya nama panggilan Irlandia atau Italia.

76

Yang terpenting, mereka memiliki loker di ruang telepon. Pakaian cadangan, overall, jaket, kadang-kadang sepatu kerja bot. Dave berharap menemukan sesuatu yang mirip itu di dalam ruangan yang berisi peralatan pengendali telepon Senterex. Tidak beruntung. Zaman sistem PBX elektromekanis sudah lewat. Sistem telepon modern bentuknya lebih kecil, ringkas, dan dikendalikan dengan komputer. Satu-satunya bunyi yang ditimbulkannya hanyalah desir kipas pendingin.

Ya, ada loker di ruangan itu. Tetapi isinya, selain rak-rak suku cadang elektronik mini dan gulungan kabel warna-warni, hanyalah dua majalah Hustler terbitan lama, sabuk peralatan, dan sepasang sarung tangan. Hanya sabuk dan sarung tangan itu yang akan berguna untuk apa yang ada dalam pikiran David.

Satu barang lain yang berguna di ruangan itu adalah telepon abu-abu di dinding. Sesudah lebih dari sejam berpikir keras, Dave memutuskan memakainya. Ia menelepon adik laki-lakinya. Bukan Helen. Helen tidak bisa menangani krisis dengan baik, dan sangat cepat menyalahkannya atas segala ketidakberesan. Sudah sejak lama Dave memutuskan bahwa bila perkawinan keduanya itu hendak dipertahankan (dan ia sangat menghendakinya demikian), ia dan ia sendiri yang harus menangani segala masalah sulit.

Masalah sulit? Kategori yang sangat cocok untuk persoalan saat ini, kan?

Lebih baik menelepon adiknya daripada berurusan dengan Helen. Frank akan tercengang, tapi setidaknya ia bisa diandalkan utnuk bertindak. Yang akan dilakukan Helen hanyalah… “merengek”, itulah kata yang kaucari… mengeluh. Dan mengajukan pertanyaan-pertanyaan menuduh hingga ia tidak sempat menjawab—dan ia memang tidak punya jawabannya.

Dave mengamati telepon itu, memeriksa arlojinya, dan siap menelepon ketika logat Appalachian Ransome bergemeresik di radio. “Di sini Robin.”

“Kau oke, Robin?” Dave mengenali suara itu— orang yang bernama Partridge. Aksennya singkat dan bergaya militer. Mungkin dia, seperti Ransome, juga mantan perwira.

“Lebih melukai harga diriku daripada yang lainnya, Partridge.” Dave mengangguk setuju. Jawaban Ransome sungguh tepat. Memperlihatkan sedikit kekecewaan (tapi tak pernah menunjukkan penyesalan) adalah hal paling cerdik yang bisa dilakukan komandan sesudah gagal melaksanakan misi.

“Baiklah,” Ransome meneruskan, “aku ingin status penuh, tapi sebelum itu kauberikan, aku ingin kalian memberitahu markas dan minta penyadapan dan pelacakan. Aku ingin semua yang berkaitan dengan sasaran diamati. Istrinya, mantan istrinya, anaknya, adik laki-lakinya, dokternya, dokter giginya, pialangnya, dan orang yang menggosok sepatunya. Tetangga dan teman-temannya. Semua orang yang dikenalnya. Sadap mereka semua, dan sadap sekarang juga. Bila sasaran menelepon seseorang, putus sambungannya. Aku tak ingin, sekali lagi, tak ingin sasaran mengucapkan sepatah kata pun pada siapa pun. Mengerti, Partridge?” “Afirmatif. Langsung kukerjakan.” “Sir?” Suara lain. Bukan Partridge, dan tidak begitu profesional.

“Ya, Bluejay,” jawab Ransome.

“Sir… uh… dengan situasi ini, sasaran lolos dan

78

seterusnya, apakah menurut Anda kami bisa diberi latar belakang tentang… uh…”

“Negatif. Kau sudah tahu apa yang perlu kauketahui.”

“Tapi, Sir, maksud saya… misalnya, mengapa kita memburu orang ini? Bukankah akan membantu bila kita tahu alasan…”

“NFW, Bluejay. Jangan tanya. Percaya saja padaku mengenai urusan ini, kalian lebih baik tak tahu.”

“Sir…”

“Robin selesai.” Radio itu bungkam.

Dave menggigit bibir, menarik tangannya dari telepon, dan mengubah rencananya. Tapi kemudian ia memakai telepon juga. Ia menghubungi 411—informasi.

Jam tangannya menunjukkan pukul 09.37. Sudah hampir saatnya pergi.

Ia meneguk ampas kopinya yang sekarang sudah suam-suam kuku dan meringis. Hanya butuh sedikit kecakapan seni dan sedikit biaya untuk membuat secangkir kopi yang lumayan. Dalam hati ia bertanya-tanya mengapa para distributor mesin otomat kopi itu tidak bisa menguasai kecakapan tersebut.

Dave berdiri, melingkarkan sabuk peralatan itu di sekeliling pinggulnya. Sabuk itu lebar, terbuat dari kulit samak, dan digantungi dengan obeng, tang, pengupas kabel, solder, dan perangkat tes telepon berwarna biru dengan sarung dan ujung yang bergelantungan, dan satu-dua peralatan lain yang fungsinya tak dapat dipahaminya. Sabuk itu temuan yang bagus. Ia akan mengubah penampilannya. Ia menyelipkan

79sepasang sarung tangan kerja di bagian depan sabuk peralatan itu, menyembunyikan gesper sabuk Gucci mencolok yang menahan celana cokelatnya.

Tak ada yang memperhatikan tukang reparasi telepon. Dia bagian dari perabot.

Dave sudah mengubah belahan rambutnya, menanggalkan dasi, melepas penyangga kerah, mengupas balutan tangan kiri, dan menggulung lengan kemeja. Jam tangan dan cincin kawinnya tersimpan di dalam saku celana. Gumpalan kotoran mengerak di bawah kukunya yang terawat rapi. Ia akan jalan dengan bibir agak ternganga, bernapas melalui mulut. Cuma pekerja kerah biru biasa yang sedang bertugas.

Masalah terbesarnya adalah sepatu. Sepatu itu jauh terlampau mahal .bagi tukang reparasi telepon, dan kelihatan. Ia berdoa semoga tak ada yang memperhatikannya, dan mengumpat diri sendiri karena tidak pakai otak untuk mengambil sepatu Nike-nya dari lemari kantor.

Satu masalah lain: ia perlu memakai kamar mandi. Sesaat ia berpikir akan meninggalkan liang persembunyiannya dan berjalan ke lorong menuju ke kamar kecil, tapi diputuskannya tak layak menempuh risiko. Tekanan pada kandung kemihnya memang tidak nyaman sehingga ia tidak ingin menunggu lima belas menit atau lebih sebelum berniat meninggalkan ruang telepon tersebut, lantai 40, dan gedung Senterex itu sendiri. Rencana pelarian yang akan dilakukannya itu hanya sedikit menyisakan waktu ekstra untuk pergi ke sana. Dan, begitu sampai di jalan—well, tidak banyak toilet umum di pulau Manhattan, dan bukan orang hati-hati yang memakainya.

80

Dengan berat hati ia kencing ke dalam cangkir kopi dari kertas itu, mengisinya hingga setinggi bibirnya.

Satu suara baru muncul dari radio Carlucci. “Robin, apakah kau dengar?”

Ransome menjawab, “Robin di sini.”

“Di sini Myna. Robin, ada satu kekacauan.”

“Menurutku ada lebih dari satu.” Ransome bicara tanpa emosi.

“Afirmatif. Tapi yang ini mendesak. Markas baru saja mengeluarkan Thrush dari kantong mayat dan memulai prosedur.”

“Lalu?”

“Inventarisasi melaporkan bahwa senjatanya hilang.” “Bukan kejutan.” “Begitu juga radionya.”

Cukup lama tak ada suara. Lalu Ransome bergumam datar, “Aku sangat kecewa mendengar itu.”

“Selama ini sasaran telah mendengarkan setiap patah kata yang kita ucapkan.”

“Aku sudah memikirkan pemecahannya, Myna. Beritahu semua pos untuk siaga. Baiklah, Saudara-saudara, dengarkan. Ada yang hendak kukatakan. Aku ingin Mr. Elliot mendengarkannya juga. Mr. Elliot, harap jawab.”

Jempol Dave berkedut-kedut ke arah tombol bicara. Ia tidak menekannya.

Ransome menarik napas panjang dan tidak tahan diam saja. “Mr. Elliot?” katanya. “Mr. Elliot? Baiklah, silakan tempuh caramu sendiri. Sejauh ini kau sudah melakukannya. Kalian semua, harap perhatikan. Aku akan menguraikan garis besar agenda pelaksanaan pesta kecil ini.”

81Nada bicara Ransome halus. Ia bicara perlahan-lahan dan jelas, tanpa sedikit pun nada emosi. “Aku ingin dua regu siaga di lantai dasar. Aku ingin pengintai ekstra di lift dan tangga, dan dua regu cadangan dari luar. Partridge, beritahu markas agar memerintahkan orang-orang tersebut ke sini secepatnya. Mr. Elliot, kubayangkan saat ini kau tentu mencari akal untuk keluar saat istirahat makan siang atau akhir jam kerja. Pasti kau berharap takkan dikenali di tengah orang banyak. Tapi kau akan kelihatan. Percayalah. Kau takkan keluar dari gedung ini. Nah, karena kau tentu sudah menarik kesimpulan tanpa ragu, operasi ini terlindung selimut keamanan, dan kami sama sekali tak ingin mengejutkan warga sipil. Hari ini akan jadi hari kerja biasa bagi orang-orang baik yang bekerja di gedung ini. Malam ini, sesudah semua orang pulang, kami akan melakukan pemeriksaan dari lantai ke lantai. Partridge, beritahu markas aku akan butuh anjing. Anjing, Mr. Elliot. Aku yakin mereka akan mengenal bau tubuhmu dari pakaian lari yang kausimpan di kantormu. Kecuali aku tak beruntung, semua ini akan selesai sebelum tengah malam.”

Ransome berhenti, menunggu reaksi. Dave tidak memberikan reaksi sama sekali. Sebaliknya ia berdiri mematung, kepalanya miring sedikit ke kiri, mendengarkan perbendaharaan kata dan irama suara yang sudah dikenal dan tak diharapkannya.

“Tak ada komentar, Mr. Elliot? Begitu. Biar kukatakan terus terang, menurutku tindakanmu pagi ini sangat tak layak. Tapi, mengingat catatan dinasmu, seharusnya aku tak terkejut. Aku yakin kau tahu bagian mana dari catatan tersebut yang kumaksud.”

82

Dave meringis.

“Ah, kau mengejutkanku. Mungkin kau bahkan mengejutkan diri sendiri. Dan bicara tentang kejutan, kau boleh yakin ranjau yang kaupasang dalam kantormu telah bekerja sesuai dengan spesifikasi. Kami butuh waktu sepuluh menit untuk menjinakkannya.”

Dave tadi sudah merancang sedemikian rupa sehingga pistol otomatis .25 Bernie akan menembak ke lantai begitu ada orang membuka pintu kantornya. Ia berharap orang-orang Ransome akan mengira dia ada di dalam sana, bertahan sampai titik darah penghabisan. Jelas mereka terkecoh.

“Satu hal lagi, Mr. Elliot. Aku sudah memeriksa senjataku. Apa yang kaulakukan pada pistol itu sungguh bagus. Terimalah pujianku. Seandainya aku tak menemukan penjepit kertas yang kauselipkan ke dalam moncong pistolku, begitu menembak aku akan mendapat kejutan hebat, kan?”

Bila cuma itu yang kautemukan, kau mungkin masih akan mendapat kejutan hebat, dasar tolol!

“Sekarang kupikir kemampuanmu untuk mengacau operasi ini bukan sekadar karena pelatihan hebat yang kaudapatkan—yang terbaik yang bisa disediakan Paman Sam. Menurutku, Mr. Elliot, itu sudah ada dalam darahmu. Kurasa yang kaulakukan itu muncul secara alami. Itu membuatmu jadi orang yang amat sangat berbahaya.”

Ransome berhenti sejenak. • “Tapi aku juga.”

Dave merasakan bibirnya merapat. Ransom sedang memanas-manasi. Ia sedang merencanakan sesuatu… sesuatu, yang tak diragukan lagi, diambil dari buku teks tentang perang psikologis.

83”Sejauh ini aku sudah kehilangan dua anak buah, satu karena kejituan bidikanmu dan satu karena kecelakaan di luar kantormu. Aku tak ingin kehilangan lagi. Karena itu aku hendak mengajukan penawaran padamu. Mengingat keadaanmu sekarang, kau sangat dianjurkan menerimanya. Karena itu, kuharap kau berbuat sesuai nalar, dan bekerja sama.”

Nalar? Astaga! Orang ini mencoba membunuhmu, dan dia ingin kau bekerja sama!

“Tawarannya sebagai berikut. Aku akan menghubungi atasanku dan minta persetujuan mereka untuk menyampaikan beberapa fakta padamu. Semoga aku bisa membujuk mereka, bila kau mengetahui fakta-fakta ini, akan tercapai kesepakatan. Mungkin ada peluang untuk menegosiasikan penggantian perintah yang kudapatkan sekarang. Perintah itu, pasti kau sudah tahu, adalah menjatuhkan sanksi. Untuk melakukan itu—agar kau” dan aku merundingkan persyaratan sehingga sanksi itu bisa dibatalkan—kita perlu bicara. Jadi, Mr. Elliot, harap kerjakan seperti yang kukatakan. Ini benar-benar penting. Sementara ini kami akan mengubah sandi pada radio kami. Setelah itu terlaksana, kau tak bisa lagi menangkap transmisi kami. Bahkan kau takkan mendengar apa-apa. Tapi jangan sekali-kali, kuulangi, jangan sekali-kali membuang radiomu. Bawalah terus dan biarkan tetap menyala. Seandainya atasanku memutuskan kita bisa merundingkan penyelesaian ramah-tamah untuk urusan ini, aku akan mengembalikan sandi tadi sehingga kau bisa mendengarku. Kuulangi lagi. Tetap nyalakan radiomu. Aku akan memakainya untuk menghubungimu lagi, kuharap dalam waktu relatif singkat.”

84

Ransome berhenti, lalu menambahkan, “Aku benar-benar berterima kasih bila kau memberikan jawaban, Mr. Elliot.”

Au, teruskan, katakan sesuatu. Muntahkan semua. Dave menekan tombol transmit dan bicara, “Ransome?”

“Ya, Mr. Elliot?”

“Keruklah kotoranmu dengan sendok es krim.”

Ransome menarik napas tajam. “Mr. Elliot, aku mulai percaya kau kurang memiliki kematangan seperti yang diharapkan dari orang seusiamu dan pengalaman seperti itu. Tapi, tanpa memedulikan komentarmu yang tak pantas, aku akan memberimu informasi yang sangat penting. Sebenarnya, tak seharusnya aku mengatakan ini, tapi aku toh akan mengatakannya. Saat ini kaupikir skenario terbaik adalah keluar dari gedung ini dan pergi ke jalanan. Nah, Mr. Elliot, aku ada di sini untuk mengatakan padamu bahwa itu bukan skenario terbaik bagimu. Malahan, itu skenafio terburuk. Bila kau keluar dari gedung ini, yang akan terjadi akan lebih buruk daripada skenario terburuk yang pernah kaubayangkan.”

Radio itu bungkam, tepat seperti yang dijanjikan Ransome. Dave mengangkat pundak, memasukkan radio ke saku kemeja, dan meraih telepon. Teleponnya dijawab pada dering pertama. “WNBC-TV, Channel Four Action News. Ada yang bisa saya bantu?”

Ketika pertama kali meramu rencana ini, Dave berpikir yang paling baik adalah bicara dengan suatu

85aksen—Irlandia atau Arab atau samar-samar bernada Spanyol. Namun agar siasat ini berhasil, ia harus terdengar benar-benar seperti orang asing, dan ia tidak yakin bisa melakukannya. Lebih gampang bicara seperti orang gila biasa, konvensional. Orang New York sudah terbiasa dengan jenis ini.

Berceloteh secepat yang bisa dilakukan lidahnya, Dave menyemburkan kata-kata, “Bisakah kau menolongku? Tidak. Tapi aku bisa menolongmu. Aku bisa menolong semua orang. Dan aku akan melakukannya. Aku sudah muak. Muak! Sekarang aku akan melakukan sesuatu untuk menanggulanginya. Ingat film itu. ‘Aku marah luar biasa, dan aku takkan membiarkannya lagi.’ Nah, aku juga takkan membiarkannya lagi. Itulah sebabnya mereka akan mati!”

“Sir?”

“Sungai darah. Pembukaan wasiat ketujuh. Lihatlah kuda putih, dan nama yang duduk di atasnya adalah Maut. Akulah Maut, dan hari ini aku datang pada yang jahat. Maka dengan kekerasan kota Babilon akan dihancurkan, dan takkan ditemukan lagi. Pagi ini aku membawa api ilahi, dan api ini akan membakar kejahatan dari muka bumi!”

“Sir, saya tak mengerti.”

“Musnahlah anjing, dan tukang sihir, dan pelacur, dan pembunuh, dan penyembah berhala, dan siapa saja yang suka berbohong. Itulah yang kukatakan, dan aku mengatakannya hari ini bahwa mereka akan dilemparkan ke dalam jurang.”

“Ya. Ya, Sir, tapi bisakah saya…”

“Persimpangan Fiftieth Street dan Park Avenue. Kirim satu kru kamera. Katakan saja pada mereka

86

agar mengarahkannya ke tengah gedung. Mereka akan melihatnya. Pagi ini. Segera. Setan dan pasukannya akan hancur. Mereka akan hancur dalam sekali ledakan. Kau mengerti maksudku? Dengan satu ledakan!”

“Sir? Sir? Anda masih di sana?”

“Ya. Tapi mereka tidak! Mereka akan berada di neraka!”

‘Tolong, bisakah saya mengajukan satu pertanyaan? Hanya satu…”

“Tak bisa.” Dave menutup telepon. Ia membiarkan dirinya tersenyum puas.

6.

Beberapa menit kemudian ia mendengar suara evakuasi. Sesaat sesudah itu seseorang mengguncang-guncang gagang pintu ruang telepon dan berteriak, “Ada orang di dalam? Halo? Ada ancaman ledakan bom di sini. Semua harus keluar dari gedung.”

Sukses. Malaikat pelindung Dave yang masam berkokok. Orang-orang televisi menelepon polisi. Polisi mengirim regu penjinak bom. Ransome tak bisa mencegah mereka memerintahkan evakuasi seandainya ia mencoba. Dan ia takkan berani mencoba— sebab, bila kau orang seperti Ransome, kau akan tahu itu bisa jadi benar. Bisa saja ada or*n& benar-benar menanam bom di gedang ini. Peluangnya mungkin seratus banding satu, tapi bisa saja terjadi. Dan kau tahu, bila kau memang mencoba mencegah evakuasi dan ternyata memang ada bom meledak, maka kau, John Ransome, akan berenang dalam lautan penderitaan.

87Pegangan pintu berguncang lagi. “Ada orang di dalam?” Dave tidak menjawab. Ia mendengar orang itu berjalan pergi.

Ia memaksakan diri untuk menunggu. Beberapa saat kemudian, di luar jadi makin sepi. Cuma beberapa langkah kaki yang lewat dengan tergesa-gesa. Kemudian sunyi. Ia menarik gerendel dan mendorong pintu hingga terbuka. Ia melangkah keluar, melihat ke kiri dan ke kanan. Koridor itu kosong. Ia memandang tajam, mengamati dinding di kejauhan pada persimpangan lorong tersebut. Ia mendengarkan gema tumit sepatu pada lantai linoleum, mencari bayang-bayang pada dinding bercat beige.

Bukan benar-benar beige, kan? Lebih dekat ke taupe muda atau cafe au lait, begitu kan menurutmu?

Siapa peduli apa warnanya?

Cuma sekadar ingin membantu.

Puas karena semua orang sudah pergi, Dave berlari kencang di lorong itu, berbelok ke kanan, dan melewati kafeteria. Kosong. Semua orang sudah pergi. Perhentian berikut…

Tempat kerja bagian akunting. Ruang kantor seluas 465 meter persegi, dibagi-bagi menjadi bilik-bilik ukuran 2,5 kali 2,5 meter dengan penyekat kelabu… —’Metllirutku lebih cenderung ke warna dove.

Setiap bilik berisi meja kecil, kursi, dan lemari arsip dengan dua laci. —

Penyekat itu cukup rendah sehingga Dave bisa mengintip dari atasnya. Ia bergegas melewatinya, menjenguk ke dalam setiap bilik ketika lewat. Dalam lingkungan yang dengan hati-hati dirancang untuk

88

m

melenyapkan individualitas, setiap penghuni bilik telah menyuntikkan sedikit sentuhan pribadi. Di sini ada boneka Garfield meringkuk di atas lemari arsip, di sana ada vas dengan bunga iris yang baru dipotong, di tempat lain ada foto anak-anak atau hasil gambar mereka dengan krayon ditempelkan pada penyekat kelabu itu, atau lebih tepatnya dove. Satu atau dua poster seni; foto kastil di Bavaria dan satu lagi foto seorang laki-laki dan seorang perempuan, mereka berpelukan, berdiri di pantai yang cerah keemasan; lukisan amatir dari cat minyak; model pesawat terbang; bingkai tulisan sulaman palsu, PENINDASAN TERHADAP KARYAWAN AKAN TERUS BERLANJUT HINGGA MORAL MEMBAIK.

Tetapi di mana pun ia tidak menemukan yang dibutuhkannya. Dan waktu tinggal sedikit. #

Itu! Wah. Tidak. Bukan itu. Itu milik perempuan.

Dave mengenakkan gigi dengan kesal. Barang itu sungguh sederhana. Begitu sederhana, tapi begitu penting. Seharusnya mudah. Selalu ada orang yang…

Aha!

Kacamata baca. Bingkai kawat, model laki-laki, ukurannya kurang-lebih tepat. Seseorang yang rabun dekat telah meninggalkannya sebelum meninggalkan lantai ini. Sebagian besar ancaman pemboman merupakan ancaman kosong. Pemilik kacamata ini takkan membutuhkannya, tak hendak memakainya untuk menuruni tangga. Ia yakin orang itu akan kembali dalam beberapa menit.

Dave mengenakan kacamata itu. Dunianya berubah jadi kecil, miring ke arah yang salah, dan tidak terfokus. Ia menanggalkan kacamata itu dan mencopot

89lensanya. Ia berharap dari kejauhan tak ada orang yang akan memperhatikan bingkai kacamata itu ko^ song.

Saat untuk bekerja. Di tengah orang banyak, kau hanya sekadar orang canggung berkacamata. Tanpa dasi dan jas, melainkan dengan sabuk peralatan, kacamata, dan celana yang bisa dianggap celana kerja khaki—ya, kau akan berhasil. Selain Ransome, tak seorang pun di antara mereka pernah berhadapan muka dengannya. Sobat, kau akan keluar dari sini!

Dan ia pun keluar—ke koridor, mengitari koridor, melewati pintu darurat, masuk ke tempat tangga, dan kemudian…

Aw, sialan.

Ada orang-orang di tangga itu, dan bukan sekadar orang-orang tersesat. Para penghuni dari sepuluh lantai teratas sedang turun. Jumlahnya ratusan. Tangga itu penuh sesak.

Pertama kabar baik. Beberapa di antara mereka . mungkin berasal dari lantai 45. Mereka mungkin temanmu. Sekarang kabar jelek, kaupikir Bernie dan Harry teman-temanmu….

Dave memandang wajah-wajah itu. Tak satu pun tampak pernah dikenalnya. Ia melangkah ke tengah kerumunan. Dengan cemas dan waspada ia mendengarkan setiap suara, mencoba menangkap nada yang mungkin dikenalnya atau mengenalnya.

“…mungkin orang-orang Arab itu lagi.”

“Bukan, aku di kantor ketika telepon itu masuk. Menurut mereka kemungkinan orang Irlandia sinting.”

“Aku orang Irlandia.”

90

“Oh. Kalau begitu…”

Tidak. Ia belum pernah mendengar suara-suara tersebut.

Tepat di depannya. Dua wanita, “…jadi dipikirnya dia bisa memindahkanku dari bagian word processing sehingga langsung bertanggung jawab padanya. Tapi, entahlah, orang itu menyebalkan sekali.”

‘“Sayang, dia pengacara. Pengacara memang sudah dari sononya menyebalkan!”

Ia tak kenal satu pun di antara mereka.

Dua suara lain, lebih jauh lagi. Dave memusatkan perhatian untuk mendengarkan mereka, “…dengan surat proposal resmi selama dua minggu. Bukan berarti mereka akan menerima proposal kita atau membayar uang jasa kita. Perusahaan itu tak pernah melakukannya.”

“Mengapa? Mereka tahu harus ada yang melakukan pekerjaan itu, kan?”

Pembicara tersebut adalah dua laki-laki, satu lebih muda, satu lebih tua, keduanya berpakaian sangat rapi dan berpotongan mahal. Dave menduga mereka konsultan manajemen dari biro McKinley-Allan yang bermarkas di lantai 34 hingga lantai 39. Memasang tarif sebesar $3.000 ke atas untuk satu hari pekerjaan profesional mereka, McKinley-Allan tentulah perusahaan konsultan termahal, bila bukan yang paling terkenal.

Laki-laki tua ih\ mungkin salah satu partner senior, menjawab dengan suara yang mengingatkan orang pada Orson Welles. “Alasannya, seperti yang akan diakui partner-partner kita yang lebih berwawasan, bila dianalisis dengan cermat, profesi konsultan tidaklah berbeda dari pelacur biasa—pesaing yang harus kita takuti adalah orang-orang amatir yang bersemangat.”

91Laki-laki muda itu tertawa agak keras. Yang lebih tua memandangnya dengan cemberut. Dave mengenali profilnya yang bak bintang film. Ia adalah Elliot Milestone, salah satu partner McKinley-Allan yang paling terkenal.

Kau hanya sekali berjumpa dengannya. Dia mungkin tak ingat kau. Tapi bagaimanapun, berhati-hatilah.

Satu suara lain, yang ini di belakangnya. Suara itu menggunakan bahasa yang hanya didengar di ruang rapat direktur dan suite eksekutif—kata-kata bersuku banyak gaya eksekutif yang mengalir manis: “…katakan pada Bernie bahwa kita harus serius mempertimbangkan akan memindahkan perusahaan ini keluar dari New York.” Dave tersentak. Si pembicara adalah Mark Whiting, kepala bagian keuangan Senterex. “Pajaknya mengerikan, mondar-mandirnya luar biasa, dan siapa yang mau menuruni tangga sejauh 45 lantai tiap kali ada orang gila menelepon dan mengancam akan meledakkan bom?”

“Aku setuju sekali denganmu.” Keadaan jadi makin parah. Suara yang menjawab adalah milik Sylvester Lucas, wakil direktur Senterex. “Kita sudah menerima proposal pembangunan dari Arizona, New Mexico, Colorado, New Hampshire, dan Ohio….”

“Lupakan Ohio.”

“Hampir pasti. Meskipun demikian, mereka menawarkan keuntungan dalam pajak, biaya tenaga kerja, dan kategori biaya lainnya. Menerima salah satu di antara mereka tentu hasilnya lebih baik daripada satu poin margin tambahan pada keuntungan kita. Pada P/ E yang sekarang, itu akan mengangkat nilai saham kita dalam jumlah yang besar.”

92

“P/E-nya juga akan naik.”

“Sudah sewajarnya. Bagi kita yang paket pendapatannya termasuk mendapatkan saham tentu akan mendapatkan keuntungan tertentu.”

“Ah, peduli amat. Mengapa kau tak mendesak Bernie? Ajukanlah dalam rapat Dewan Direksi yang akan datang.”

“Tentu. Aku akan mendesak Bernie saat ini juga, seperti ucapanmu tadi, seandainya tak ada urusan menyedihkan dengan Dave Elliot.”

“Em. Ya. Aku sudah diberitahu—tepatnya tentang QT, kau tahu—ini semacam episode kilas balik. Vietnam. Aku tahu ini bukan sesuatu yang tak pernah terjadi di antara mereka yang kurang beruntung dalam dinas.”

“Oh? Itu menjelaskan persoalannya.”

“Dan ada beberapa hal lain. Si Ransome ini mengatakan padaku cukup banyak tentang kolega kita. Cerita yang menyenangkan. Jelas ada episode-episode lain. Aku berniat mengemukakan seluruhnya pada Dewan Direksi.”

“Ah. Ya, Bernie sudah mengumumkan akan mengadakan rapat nanti….”

Belokan tangga lantai 18 sudah ada di depan. Ketika Dave sampai di sana, ia mundur, menghadap dinding serta menyibukkan diri dengan sabuknya sampai Whiting dan Lucas lewat. Ia merasa sulit bernapas, meskipun sama sekali tidak kehabisan napas.

7.

Makin dekat orang-orang itu ke lantai dasar, makin sedikit mereka bicara. Banyak yang merasa pusing

93dan kehabisan napas. Beberapa orang bersandar lemas pada dinding belokan tangga, memijati paha yang tak terlatih.

Kaki Dave Elliot terasa baik-baik saja. Otot-otot pelarinya bisa menerima hukuman lebih berat daripada yang dibebankan oleh 45 tingkat tangga.

Ada pintu tepat di depannya—hijau logam, pudar, dan penyok. Di atasnya tertulis angka “2” besar. Berjaga-jaga bila ada orang yang tidak mengerti, tertulis juga LANTAI DUA.

Ini dia. Sebentar lagi adalah perhentian terakhir. Semua harap siap. Pastikan untuk memeriksa barang-barang bawaan Anda….

Kemungkinan terburuk yang bisa terjadi adalah Ransome menunggu di lantai dasar, berdiri di samping pintu darurat, memeriksa setiap wajah yang lewat. Seandainya ia ada di sana, seseorang akan mati. Ransome tak mungkin mengeluarkan senjatanya. Dave yakin akan hal itu. Tetapi ia juga yakin tangan Ransome takkan jauh dari pistolnya, orang itu takkan ragu memakainya, serta akan meminta maaf dan memberi alasan kepada para saksi nanti sesudahnya. Bila Ransome menunggu, Dave hanya akan punya satu atau dua detik untuk…

Membunuhnya.

Benar.

Dengan obeng. Tembus ke jantung. Lalu kau lari. Lalu aku lari.

Dave mengencangkan genggamannya pada obeng Phillips panjang. Ia menariknya dari sabuk peralatan,

94

memegangnya menempel pada kaki. Otot-otot lengan kanannya mengeras, tegang dan siap.

Ia sampai di dasar tangga. Di depannya kerumunan orang berjejalan melewati pintu darurat dan menuju ke lobi lantai dasar. Dave ikut berdesakan di belakang mereka, matanya melirik ke kanan dan ke kiri, obengnya siap.

Ransome ada di tempat lain. Dave menggosokkan telapak tangannya pada celana. Ia bisa merasakan kelembapannya melalui kainnya. Itu tak baik. Obeng itu bisa saja tergelincir lepas dari jarinya.

Sejauh ini baik-baik saja. Kau toh tak benar-benar ingin membunuhnya. Kau sudah keluar dari urusan bunuh-membunuh.

Dan sudah sejak lama.

Dave menarik napas lamban dalam dan mencoba memusatkan pikiran pada yang tengah terjadi di sekitarnya. Ada sesuatu yang tidak beres. Lobi itu penuh sesak. Tak seorang pun bergerak. Gerombolan orang banyak itu mendorong ke depan, tapi tidak sampai ke mana-mana. Dan kemarahan mulai tersulut.

Tidak peduli laki-laki atau perempuan, pengacara lulusan Harvard atau sopir taksi kelahiran Queens, orang New York tetaplah orang New York, dan saat suara mereka meninggi dengan kemarahan istimewa yang hanya bisa ditimbulkan oleh orang New York frustrasi, semuanya bicara dengan aksen yang sama. “Ayo maju, goblok.” “Kausebut aku ‘goblok’?” “Ada apa sih di sini?” “Kaupikir aku yang tanggung jawab atas latihan penyelamatan ini?” “Hei, tolol, singkirkan tanganmu dari pantatku.” “Bukan saya, lady.” “Gombal kalau bukan.” “Ayo ke atas sana!” “Matikan

95rokok itu sebelum kumatikan sendiri.” “Coba saja.” “Jangan dorong.” “Kalian dengar, ada orang Ay-rab akan membakar tempat ini setiap saat, jadi keluarlah.” “Siapa yang kaupanggil Ay-rab, dasar tolol?” “Di kupingmu, Bung.” “Yeah?” “Yeah!”

Sumber kemacetan itu di bagian depan lobi yang terang, tertutup kaca. Empat di antara pintu putar yang menghadap ke Park Avenue rusak. Berarti tinggal dua pintu putar dan sepasang pintu biasa sebagai jalan keluar.

Berani bertaruh pintu-pintu itu bukan kebetulan macet.

Kerumunan itu bergelombang maju di lobi. Dave masih di belakang, dan masih jauh—terlalu jauh— dari jalan dan dari keamanan. Tingginya cukup di atas rata-rata sehingga ia bisa melihat dari atas kepala orang-orang yang berdesakan di depannya. Ia memeriksa, mencari titik-titik bahaya.

Itu mereka.

Empat regu sedang berdiri berkerumun di samping pintu keluar, di pinggir tempat orang-orang takkan mendesak mereka. Tubuh mereka besar, seperti Ransome, dan memakai setelan jas kodian seperti dia. Siku masing-masing orang itu terlipat, tangannya tertempel di dada, siap meraih senjata di bawah jas.

Didorong dari belakang, Dave tidak punya pilihan lain kecuali maju. Pandangannya tetap tertuju pada pengawas itu. Mereka memakukan pandangan pada wajah orangrorang yang paling dekat ke pintu keluar.

Laki-laki di samping Dave menggeram, “Pemilik gedung terkutuk ini tak bisa merawat pintu terkutuk di gedung terkutuk ini. Selamat datang di Kota New York terkutuk.” Dave tidak menghiraukannya.

96

Tepat di belakangnya seorang wanita menjerit, “Aduh, kauinjak kakiku!” Dave mengangkat sepatunya. “Maaf, Bu.”

“Aduh, orang-orang ini…” Dave menyingkir.

Sekarang ia di depan lift belakang. Gedung itu mempunyai dua lift, satu untuk 25 lantai teratas, dan satu untuk 25 lantai bagian bawah. Masing-masing pintu lift terletak di koridor buntu di sisi lobi. Di antara kedua koridor itu ada koridor ketiga yang lebih pendek dan ditempati kios koran.

Ia mendengar sesuatu. Mulanya suara itu tak dipahaminya. Hanya satu suara di tengah banyak suara, meskipun agak lebih keras daripada yang lain-lainnya. Ia nyaris tak menyadarinya. Perhatiannya terpusat pada beberapa orang yang ada di samping pintu. Seandainya perempuan itu tidak mengulangi lagi, Dave tentu akan mengabaikannya.

“Itu dia! Di sana! Lihat! Di sana! Lihat!”

Kemudian ia tersadar. Ia menoleh. Ia melihat… ia bingung… tidak bisa percaya…

“Itu dia! Di sana! Itu dia! Tangkap dia!”

8.

Dalam kehidupan setiap anak laki-laki selalu ada, atau seharusnya ada, sebuah kolam. Idealnya, kolam ini berada di tempat yang pribadi dan terpencil, jauh dari mata orang-orang dewasa. Kolam itu harus dalam (untuk menyelam), sejuk (untuk hawa panas musim panas), dan dikelilingi pepohonan yang tinggi dan rimbun (untuk bersantai meditatif).

Dan yang terbaik dari segala kemungkinan, kolam itu juga agak berbahaya.

97Kolam Dave sempurna, tanpa tanding. Terletak di balik deretan bukit rendah—sekadar cukup curam untuk tidak dibajak dan ditanami—dan di lembah datar. Ia bersepeda sejauh lima kilo di antara tanaman jagung yang tinggi dan gandum yang bergoyang-goyang nyaman menuju ke perbukitan itu. Setelah lima belas menit terengah-engah mendorong sepedanya maju setiap langkah, ia pun sampai di tepi kolam itu.

Kolam tersebut panjangnya 1.200 meter dan lebarnya 800 meter. Sebagian besar tepiannya tertutup ilalang hijau-cokelat dan pussy willow. Sebuah rakit ringkih yang dibuat asal-asalan—tak lebih dari papan-papan dan drum lima puluh galon yang sudah berkarat—terapung-apung di tengahnya. Tak ada orang lain kecuali anak laki-laki berusia tertentu pernah ke tempat ini.

Sempurna!

Dave pertama kali diundang ke daerah keramat ini ketika ia mencapai usia sepuluh tahun. Disepakati bahwa mereka yang berusia lebih muda tidak diterima di kolam tersebut. Dan disepakati pula bahwa yang lebih tua dari lima belas tahun, dalam usia menjelang kematangan, diharapkan mencari rekreasi musim panas lainnya. Ini tempat untuk anak laki-laki, dan dimaksudkan agar tetap demikian selamanya.

Bukan berarti orang-orang dewasa tidak mengetahuinya. Sama sekali tidak. Mereka semua tahu adanya kolam itu, dan semuanya, laki-laki dan perempuan, melarang anak mereka pergi ke sana. “Kau akan kena tetanus kalau berenang di kolam itu: Lagi pula, kolam itu penuh ular cottonmouth, dan di dasarnya ada pasir apung.”

98

Hebat! Pasir apung! Dan ular! Wah!

Meskipun demikian, dalam kenyataannya, Dave dan semua temannya tak pernah menemukan yang lebih hebat daripada ular rumput di dalam ceruk. Dan mengenai pasir apung itu… ah, anak-anak itu tahu bahwa bila ada di antara mereka yang pernah hilang tertelan pasir apung, kisahnya akan bergaung dalam radius 160 kilo, dan bertahan selama seratus tahun. Karena tidak ada kisah semacam itu, teori pasir apung bisa diabaikan.

Kecuali…

Kecuali bahwa satu dari daya pikat terbesar dari kolam itu adalah kedalamannya, yang memang sangat dalam. Meskipun mereka telah mencoba sekuat tenaga, tak seorang pun pernah menyelam cukup dalam untuk mencapai dasarnya. Jadi, ada atau tidak adanya pasir apung tidak bisa dikonfirmasikan. Mungkin bahaya itu memang benar ada. Mungkin dasar kolam itu lumpur berbahaya yang akan mencengkeram kakimu bak gurita raksasa berlendir dan menyedotmu sampai menjerit-jerit dan meronta-ronta ke bawah dan ke bawah.

Atau, mungkin ada yang lain di dasar kolam itu. Sesuatu yang hidup. Sesuatu yang akan menelanmu dan tak meninggalkan jejak. Sesuatu yang bergigi dan kelaparan yang membangkitkan desas-desus tentang pasir apung, tapi ternyata adalah…

…belut raksasa, bertaring…

…gurita besar seperti dalam film itu…

…kerang raksasa seperti dalam film lain…

…dinosaurus, czrvo-entahapanamanya…

…penyu penggigit, yang sudah berusia lima ratus tahun dan sangat besarnya…

99Nah, mereka harus menyelam, bukan? Itu penting. Harus dilakukan. Tak satu pun anak bisa menahan godaannya. Salah satu dari mereka akan berhasil. Pasti. Suatu hari, seseorang akan berhasil. Dan bila melakukannya, ia akan jadi pahlawan dan prestasi keberaniannya akan bergema hingga berabad-abad.

Dave menyelam. Anak-anak lain bermain meriam-meriaman dari rakit, atau mendorongnya, atau terjun dengan gaya batu. Dave menyelam. Ia berlatih, menyempurnakan lompatannya, caranya menukik, meluruskan terjunnya seperti pisau lipat yang menusuk ke dalam air, dalam, dan makin dalam lagi.

Suatu hari dengan penuh kemenangan ia berhasil mencapai dasar.

r kolam itu cokelat, keruh, berlumpur. Kau tidak bisa melihat tangan sendiri di depan wajahmu. Makin dalam kau menyelam, makin gelaplah keadaannya. Akhirnya, tidak ada apa-apa, tidak ada cahaya sama sekali kecuali sinar pudar seperti kilau tembaga jauh di atasmu.

Pada hari ia mencapai dasar kolam itu, bahkan sinar pudar itu pun tidak ada. Dave telah melewati batas tempat sinar tidak bisa menerobos lagi. Ia menggapai-gapai ke bawah dengan membabi buta, tahu bahwa ia berhasil menyelam lebih jauh daripada siapa pun, ke dunia yang belum pernah dicapai oleh anak lain. Puas dengan keberhasilannya, ia mengayuh sekali lagi, lurus ke bawah, mengayun lengannya ke depan. Tangannya menyentuh sesuatu.

Lendir. Licin. Jantungnya serasa naik ke mulut. Gurita itu! Bukan, seutas sesuatu. Apa? Rumput liar. Rumput liar di dasar. Aku berhasil! Ia mencengkeram

- 100

rumput itu dan menarik tubuhnya ke bawah lagi. Hati-hati sekarang, bisa jadi itu benar-benar pasir apung. Bukan, cuma lumpur biasa. Dientakkannya rumput air itu. Ia ingin bukti bahwa ia, David Elliot, akhirnya melakukan sesuatu yang dicita-citakan oleh semuanya. Rumput air itu tercabut dengan mudah.

Saatnya pergi sekarang. Sudah terlalu lama di sini. Butuh udara.

Kakinya menendang. Begitu jauh ia mencoba keberuntungannya, begitu lama ia di bawah permukaan air. Wajahnya terasa merah karena perjuangan itu. Air liur mengisi mulutnya. Ia benar-benar butuh udara. Permukaan tak mungkin terlalu jauh, kan?

Ia berenang lebih keras, mengayuh sepenuh tenaga. Rasanya makin payah. Rasa sakit menusuk tajam sekitar pangkal hidungnya. Paru-parunya sakit.

Ia bisa melihat kilau warna tembaga itu. Lebih terang sekarang. Tak jauh lagi. Semua di atas rakit itu akan jadi gila saat mereka melihat apa yang ada di tanganku. Titik-titik merah, nyala api dalam kegelapan, menari-nari di depan matanya. Terang. Sangat terang. Udara sesaat lagi…

Tangannya membentur sesuatu. Seandainya tangannya tidak sedang terulur untuk mengayuh, kepalanya tentu retak terbentur benda itu. Tapi ia mengayuh. Tidak keras. Tak jadi soal. Yang penting dia butuh udara sekarang. Sekarang, Tuhan, sekarang! Dan ada sesuatu yang menahannya ke bawah, mencegahnya menghirup udara, menjebaknya dalam air yang dingin dan gelap itu, membunuhnya, menenggelamkannya. Lilitan rantai membelit erat dadanya. Ia tidak pernah tahu apa yang demikian menyakitkan. Setiap saat

101sekarang mulutnya akan terbuka, air akan membanjir masuk, paru-parunya akan terisi, ia akan tenggelam dan mati. Ia mendorong dan bergulat dengan benda yang menahannya dalam air, dalam kegelapan, jauh dari kehidupan dan udara. Benda itu kejam dan aktif dan jahat dan personifikasi kebencian dan ingin dia mati dan ia tidak bisa melewatinya dan ia akan membuka mulut dan berteriak dan…

Rakit itu. Ia ada di bawah rakit. Ia mendorong, dengan wajah biru dan tangan hampa ia terengah mencari udara.

Hingga ia mencapai usia 47 tahun, saat terperangkap di bawah permukaan air itu menandai keputusasaan terhebat yang pernah dikenalnya, dan ketakutan terhebat. Ia tidak bisa membayangkan apa pun yang lebih mengerikan atau lebih menyakitkan daripada kehabisan napas, dan terperangkap dalam air di bawah suatu benda—entah apa. Dekatnya kematian terasa ringan dibandingkan dengan kengerian dingin yang timbul karena mengetahui bahwa takdir sudah menjatuhkan tangan padamu dan tidak ada jalan keluar.

Namun, pada usia 47 tahun, usia yang tidak bagus untuk pelajaran seperti itu, Dave menemukan ada semacam rasa putus asa yang bahkan lebih parah lagi. Ia menemukan hal ini ketika melihat Helen, istrinya, wanita yang dengan tulus ia coba cintai, menuding padanya dan berteriak, “Itu dia! Di sana! Itu dia! Tangkap dia!”

102

BAB 3

BAWANG BUKAN UNTUK DIMAKAN

1.

Nanti, suara dalam benak Dave yang pemarah tentu akan memakinya karena bertingkah tepat seperti yang diharapkan Ransome.

Guncangan atas pengkhianatan Helen membuatnya lumpuh. Ia tidak bisa menerimanya, tidak bisa bergerak. Dilihatnya Helen berdiri dekat jendela tinggi lobi itu, dikelilingi penembak-penembak berwajah muram, dan ia tidak bisa mempercayai bukti yang diberikan matanya. Helen memandangnya, menunjuk padanya, mengarahkan pembunuh-pembunuh terlatih anak buah Ransome ke arahnya. Itu tak terpikirkan. Pikirannya menolak kenyataan itu. Helen takkan pernah melakukan sesuatu seperti itu”. Dave terhipnotis, kelinci yang mematung di hadapan ular.

Ia hanya ingat samar-samar mengenai apa yang

103terjadi selanjutnya. Pundak-pundak mendorongnya dari belakang. Sebuah suara sengau menggeram, “Maju, kau.” Begundal Ransome mendesak ke tengah kerumunan orang, menerobos gelombang orang-orang New York yang marah. Seseorang menepuk punggungnya. “Ayo, Sobat, kita harus keluar dari sini.”

Tubuhnya menyelamatkan nyawanya. Pikirannya tidak berhubungan dengan hal itu. Sekat rongga badannya terasa kejang. Ia terengah mengambil napas. Di tengah impitan orang banyak ia tidak bisa membungkuk atau berbalik. Isi perutnya mulai naik. Ia muntah dan tersedak serta mengeluarkan bunyi basah yang panjang.

“Ada apa, Sir?”

Muntahan itu menyembur d*ri mulut dan menerobos lubang hidungnya. Seseorang berteriak, “Oh, sialan!” Kerumunan orang itu tersentak menjauh darinya. Ketika orang-orang yang berada paling dekat dengannya berteriak dan mendesak untuk menghindari muntahan, mereka yang lebih dekat dengan pintu keluar terdorong ke depan.

Seseorang berteriak. Orang New York tahu bahwa begitu teriakan mulai, tibalah saat bergerak. Cepat-cepat.

Kerumunan manusia di lobi itu mendesak ke arah pintu keluar yang terhalang. Sebuah jendela dengan pelat kaca tinggi di samping salah satu pintu putar pecah berantakan ke luar. Suara seorang laki-laki memekik kesakitan. Satu jendela lagi pecah. Orang-orang berlari cepat-cepat di bawah hujan pecahan kaca, berlari ke jalan. Anak buah Ransome tersapu mundur; seorang terjatuh, menjerit, jeritan itu berubah jadi rengekan; tak lama kemudian diam.

104

Dave terhuyung menjauh dari orang banyak itu, masuk ke koridor lift.

Beberapa saat kemudian ia mendapati dirinya berkunang-kunang dan gemetar, dan tidak lagi berada di lantai dasar. Ia tidak tahu pasti di mana atau bagaimana ia sampai ke sana. Lift-lift itu dalam keadaan terbuka, tak berfungsi sampai diaktifkan kembali oleh pihak yang berwenang. Setiap lift, sesuai peraturan pendirian bangunan, punya pintu darurat di langit-langitnya. Yang dibutuhkan untuk membukanya hanyalah memutar empat baut. Ia pernah—menurutnya ia pernah—ia tidak yakin ia pernah—apa…?

Seperti film, Sobat. Kau dan Tarzan.

Aku tak melakukannya.

Oh ya, lihat pelumas dan kotoran pada pakai-anmu.

Perasaan kebas itu mulai surut. Ia membungkuk, meletakkan tangannya pada lutut, dan memaksakan diri untuk menarik napas dalam, melahap udara. Ya Tuhan! Tadi itu sungguh mengerikan. Yang terburuk. Ia tidak pernah lumpuh seperti itu sejak…

Jangan memikirkannya.

Helen! Mengapa? Bagaimana? Apa yang mungkin…

Jangan pula pikirkan hal itu. Pikirkan urusan lain. Seperti bagaimana rasa masam dalam mulutmu.

Ia ingin minum air. Sangat ingin. Sedikit sabun dan kain penyeka tentu tidak ada bahayanya.

Ia memandang berkeliling dengan dungu. Rasanya ia… di mana? …tampaknya tidak dikenal, tapi…

Lantai dua. Pasti di sana.

Ada apa di lantai dua? Apa gerangan yang mengisi

105lantai dua gedung perkantoran New York? Kebanyakan pencakar langit di Park Avenue bahkan tidak punya lantai dua. Lobi untuk lift mereka, semuanya dari marmer dan karya seni pahat modern, terbentang dua atau tiga tingkat. Dan, untuk beberapa gedung yang memang memanfaatkan lantai dua mereka, tempat itu merupakan ruang kantor yang paling tak diinginkan di tempat tersebut—sejajar dengan atap-atap bus, bertengger di atas bisingnya kehidupan jalanan New York, mengumpat dengan jendela-jendela yang kotor terus dan tidak punya pemandangan. Lantai dua merupakan tempat yang tak bisa disewakan dan membebani setiap pemilik gedung.

Dalam pengalaman Dave, orang-orang bisnis sejati tidak punya kantor di lantai dua. Mereka selalu lebih tinggi—jauh di angkasa tempat rajawali-rajawali perusahaan bersarang. Tak seorang pun akan dipergoki dengan alamat di lantai dua—setidaknya tak seorang pun yang tidak terlibat dalam bisnis aneh dan misterius, yang sepenuhnya di luar praktek bisnis normal di New York. KERJAKAN-kerjakan-KERJAKAN-ker-jakan. Kau melantur ke dimensi yang berbeda….

Sekonyong-konyong pikiran itu terlintas kembali dalam benaknya. Ia pernah ke lantai ini. Pemilik-pemilik gedung di New York memakai lantai dua mereka untuk tempat sementara, menyewakan kantor seperti menyewakan kamar di motel transit bagi orang-orang yang membutuhkan kanior (jangan tanya apa alasannya) selama satu-dua jam atau satu-dua hari. Atau sebagai alternatif, mereka menempatkan klub makan siang di lantai dua mereka—restoran-restoran pribadi yang hanya bisa dinikmati para anggota, para

106

penghuni elite di tingkat yang lebih tinggi. Makanan yang biasa-biasa, anggur yang terlalu mahal, tetapi pelayanan yang baik dan privasi yang nyaman bila kau ingin mengesankan pelanggan dari luar kota. (“Saya sudah minta Suzy memesan meja untuk makan siang di klub itu….”)

Seperti semua eksekutif Senterex, Dave juga memiliki kartu anggota klub di gedung itu. Sudah bertahun-tahun ia tak pernah memakainya. Ia bahkan tidak yakin apakah ia ingat nama yang dipakai pemilik gedung untuk menyebut tempat itu. Nama yang berbau Inggris. Selalu bau Inggris. The Churchill Club? The Windsor Club? The Parliament Club?

Tak jadi soal. Di klub itu tentu ada air, dan kamar kecil. Dave sangat ingin memakai kamar kecil. Yang dilengkapi dengan sabun dan pancuran air panas.

Ia melangkah keluar dari koridor lift lantai dua dan belok ke kiri. Lorong itu dilapisi dengan wallpaper berdesain merah tua dan dihiasi dengan lukisan cat minyak para perdana menteri yang sudah almarhum.

Benar, the Prime Ministers Club.

Pintu masuknya tampak tebal, berat, dipernis untuk memberikan penampilan kayu ek Tudor yang mahal. Sebuah pelat kecil dari kuningan dipaku sejajar dengan mata: KHUSUS UNTUK ANGGOTA DAN TAMU.

Pintu itu terbuka ke serambi berlapis beledu dan dihiasi lebih banyak lagi gambar politikus-politikus yang sudah almarhum. Podium untuk sang maitre d’, dengan buku reservasi bersampul kulit dan tempat tinta dari kuningan—astaga, malahan dilengkapi dengan pena bulu—berada di sebelah kiri. Gorden-gorden mewah tebal dan jumbai-jumbai emas yang

107seronok memisahkan ruang depan itu dari ruang tengah restoran.

Toiletnya jauh di bagian belakang restoran itu.

Ruang makannya luas, dan terang benderang. Meja-mejanya dilapisi kain linen seputih salju, dilengkapi dengan peralatan makan perak berkilauan. Di meja tengah, menghadap ke pintu, dengan gelas air jeruk setengah kosong di dekat tangan kirinya, duduklah Ransome. Tangan kanannya mengacungkan pistolnya dan membidikkannya ke arah dada Dave. Ekspresi wajahnya tetap netral seperti biasa. Ia tidak mengucapkan sepatah kata pun, hanya menarik picu.

2.

Pelatuk berdetak. Asap mengepul dari moncong pistol otomatis berperedam itu. Memar di bawah mata Ransome—kenang-kenangan dari sepatu Dave—memerah. Samar-samar terlintas ekspresi kesal pada wajahnya. Ia mengangkat tangan kiri untuk menarik pengokang dan memasukkan peluru ke laras. Saat itu Dave sudah mencabut senjatanya sendiri. Ransome menjatuhkan kembali tangannya ke atas meja.

Dua laki-laki itu saling pandang tanpa bicara. Dave merasakan seulas senyum tipis mereka di wajahnya. Ekspresi Ransome tidak berubah.

Ransome memecahkan keheningan itu. “Mr. Elliot, kau benar-benar burung berbulu langka. Aku mulai merasa sayang padamu.”

“Tanpa bermaksud kasar, tapi aku merasakan yang sebaliknya.”

“Mr. Elliot, aku benar-benar simpati padamu.”

108

“Terima kasih.” Dave memberi isyarat kecil dengan pistolnya. “Omong-omong, aku akan berterima kasih kalau kau mau menjatuhkan pistolmu. Biarkan saja lepas dari jarimu. Dan lalu…”

Senjata itu, saudara kembar pistol di tangan Dave, berdebam di karpet. Ransome berbicara sebelum Dave bisa menyelesaikan pikirannya, “Tendang menjauh, Mr. Elliot? Itu tradisional, dan aku memang tradisional, penganut nilai-nilai tradisional.” Ia menendang dengan ujung sepatunya. Pistol itu meluncur tiga meter ke depan. Ransome meneruskan, “Sekadar ingin tahu, kau tak keberatan mengatakan apakah semua peluru dalam magasin itu kaukutak-katik?”

“Cuma yang pertama. Bila kau tak punya peralatan yang tepat, butuh waktu banyak untuk mengeluarkan mata peluru dari selongsong dan mengosongkan mesiunya.”

“Aku tahu.” Ransome seperti sangat santai, laki-laki pendiam sedang bercakap-cakap dengan kenalan jauh. “Tapi, mengingat arah hubungan kita pagi ini, aku yakin aku akan memeriksa semua sisa peluru bila punya kesempatan.”.

Kendali dirinya sungguh mencengangkan. Laki-laki ini pasti orang paling tenang di planet ini. “Apa yang membuatmu beranggapan kau bakal punya kesempatan?”

Ransome mengangkat sebelah alisnya ke arah moncong pistol Dave, yang kini tertuju ke tengah dadanya. Ia menggeleng. “Kau tak punya keteguhan itu. Oh, memang, dalam panasnya pertempuran kau bisa membunuh orang. Aku sudah melihat kau melakukannya. Tapi dengan darah dingin? Kurasa tidak.”

109Tepat sesuai jadwal, iseng-iseng Ransome mulai memain-mainkan sebilah pisau meja. Ekspresinya tetap datar, tetapi pupil matanya melebar. Otot-otot lehernya menegang. Ia siap bergerak. “Tidak, Mr. Elliot, kau takkan menembakku.”

Dave menembaknya.

Pistol berperedam itu menimbulkan bunyi pelan, terdengar seperti tinju memukul bantal. Ransome melolong. Ia mencengkeram pahanya, tepat di bawah selangkangan, tempat darah mengucur. “BANGSAT KEPARAT KAU MENEMBAKKU BAJINGAN TENGIK!”

Dave tak menghiraukannya. Ia ada di lantai, menjatuhkan diri ketika melepaskan tembakan. Ia berguling ke kiri, satu kali, dua kali, tiga kali, sambil matanya mencari di mana seharusnya anak buah pendukung Ransome berada.

Dan memang ada.

Dave membidik, menghela napas, menarik picu. Bunyi tinju memukul bantal satu kali. Dua kali. Tiga kali. Bunyi itu lembut. Anak buah Ransome itu menghilang dalam hujan merah. Ia tak pernah mengangkat senjatanya.

“AKU AKAN MEMBUNUHMU BANGSAT BAJINGAN KAU MENEMBAKKU!”

‘Tutup mulutmu, kau bertingkah seperti bayi.” Dave berguling sekali lagi sambil membidikkan pistol ke arah Ransome.

“KEPARAT KAU ITULAH YANG HARUS KUKATAKAN KAU BANGSAT!” Ransome membungkuk, menekankan kedua belah tangan pada lukanya. Wajahnya terangkat, dan bibirnya tertarik ke

110

dalam. Matanya berputar, dan ia tampak seperti anjing Doberman mengamuk.

Dave mengembuskan udara lewat bibir dengan muak. “Sudahlah, Ransome. Itu luka daging. Aku tak percaya kalau aku menoreh dagingmu lebih dari satu milimeter. Seandainya aku ingin kau benar-benar terluka, kau tahu aku bisa melakukannya.”

“BAJINGAN BANGSAT KEPARAT BERANI-BERANINYA KAU MENEMBAKKU!”

Tiga meja—empat, termasuk meja Ransome—sudah diatur untuk sarapan. Seseorang sedang rapat pagi sambil sarapan ketika Dave menelepon dengan ancaman ledakan bom itu. Dave meraih segelas air es dari salah satu meja dan mengguyurkan isinya ke wajah Ransome. “Ransome, ambil lap meja, tempelkan ke pahamu, dan tutup mulutmu. Dengan caramu bertingkah seperti ini, kau akan mati karena serangan jantung sebelum mati karena luka itu.”

Air es itu membuat rambut Ransome lengket. Sungai kecil mengalir turun di pipinya. Ekspresi wajahnya membuat Dave bergidik. Itulah wajah Sersan Satu Mullin, tepat sebelum tamat riwayatnya. Dengan suara rendah dan amat sangat dingin, Ransome mendesis, “Elliot, kau bajingan tengik, kau tadi bisa saja meledakkan bolaku.”

“Itu risiko permainan, temanku. Di samping itu, kau bilang kau sudah membaca berkas 201-ku. Seharusnya kau ingat nilaiku dalam ketepatan menembak.” “Aku akan membunuhmu karena ini.” Dave mengembuskan napas dengan kesal. “Jadi apa lagi yang baru?”

“Bagaimana aku melakukannya, bangsat. Bagaimana sakit dan lama waktunya. Itulah yang baru.”

111”Terima kasih karena kaujelaskan hubungan kita. Sementara ini, jangan duduk di situ seperti orang tolol meneteskan darah ke mana-mana. Tempelkan sekeping es pada lukamu. Itu akan mengurangi rasa sakit dan mengurangi perdarahan.”

Ransome menggeram, merapatkan bibir, dan berputar untuk mengambil sekeping es dari gelas -air. Ketika ia berbalik, Dave mengayunkan pistol ke belakang kepalanya. Ransome tersungkur ke meja dan tergelincir pelan ke lantai.

Satu penggalan pada jam. Waktu sepenuhnya terhenti. Ia punya (halo, sobat lama) sepucuk pistol berisi peluru di tangannya. Musuhnya tak sadarkan diri di kakinya. Sekadar terdorong rasa ingin tahu, bukan karena kekejaman dalam hati, Dave membidikkan moncong pistol itu ke bawah tengkorak Ransome. Gerakan itu terasa enak, terasa benar. Ibu jarinya menarik pelatuk ke belakang. Rasanya lebih enak lagi.

Itu tentu akan mudah sekali dilakukan. Persoalan mudahlah yang mengutukmu, bukan yang sulit.

Dua puluh lima tahun sebelumnya. David Elliot, tidak sepenuhnya waras waktu itu, berdiri di jantung kengerian dan berjanji kepada Tuhan bahwa ia takkan pernah, untuk selamanya, menembakkan senjata karena kemarahan. Aku takkan melukai siapa pun, demikian ia berdoa, tak pernah lagi, tak ada tindakan kemarahan, tak ada lagi tindak kekerasan—oh, Tuhan, aku takkan berperang lagi….

Kini, hanya dalam sepagian ini, ia sudah membunuh

112

dua orang. Mudah—semudah dulu—dan otomatis, la tidak merasakan apa pun.

Namun sekarang, tepat pada saat ini, sepucuk pistol di tangan dan sasaran yang pantas dalam penglihatannya, ia merasakan sesuatu—perasaan telah menyelesaikan sesuatu, emosi nyaman seorang terlatih yang sudah melatih keterampilannya hingga sempurna. Dengan dua nyawa baru saja melayang di tangannya dan bau mesiu di jarinya, ia .tahu bahwa bukan kecil risiko baginya untuk merasa enak, cukup enak, dan merasa makin lega setiap saat.

Tak pernah lagi, pikirnya. Tak pernah. Ia hampir sesat. Mereka hampir menang. Kini itu terjadi lagi. Bila ia membiarkannya. Namun ia takkan, tak bisa membiarkan dirinya berubah menjadi manusia yang dulu mereka harapkan.

Ransome menduga sebaliknya. Ransome dan orang-orangnya. Mereka pikir mereka tahu apa yang akan dilakukannya. Ambil satu-dua orang sipil sebagai sandera. Siapkan sergapan. Tumpuk mayat yang roboh. Mulai tembak-menembak. Mencoba dengan tembak-menembak keluar dari gedung itu.

Dave tersenyum muram. Ia mengangkat laras pistol itu dari kepala Ransome, menekan pengaman, melepaskan kokangan, dan menyelipkan senjata itu ke bawah sabuknya. Meskipun tahu musuhnya tidak dapat mendengarnya, ia tetap berbicara kepada Ransome: “Berapa orang yang kaupasang untuk mengawasi pintu keluar, Sobat? Dua puluh? Tiga puluh? Lebih banyak lagi? Berapa pun jumlahnya, aku takkan bisa melewati mereka, kan?” Dave melihat ke celananya, robek dan ternoda minyak. ‘Tidak. Aku sungguh mencolok mata.

113Persetan, melihat bagaimana keadaanku, mereka akan menembakku. Tapi aku akan keluar, Ransome. Percayalah. Juga percayalah aku akan melakukannya dengan caraku sendiri, bukan caramu. Aku lebih baik menembakkan pistol ke kepala sendiri daripada berbuat seperti itu.

3.

Tempat itu gelap, hangat, nyaman, dan aman. Di dekatnya, peralatan menimbulkan bunyi mendengung. Udaranya agak apak, tapi tidak terlalu jelek. Dave berbaring miring, meringkuk nyaman. Perutnya penuh dan rasanya ia ingin tidur siang. Ia suka di sini.

Selalu ingin merangkak kembali ke dalam rahim, kan, Sobat?

Tempat persembunyian yang sempurna. Dave senang menemukan tempat ini, dan sedikit terkejut. Senterex sudah sejak lama memindahkan bagian Management Information System-nya ke pinggiran New Jersey. Tadinya ia pikir setiap perusahaan lain di New York, termasuk pialang-pialang Wall Street, sudah melakukan hal yang sama. Ruang kantor di Manhattan terlalu mahal untuk disia-siakan menampung perangkat keras komputer. Di samping itu, programer adalah jenis manusia yang sulit, dan lebih produktif bila disisihkan dari tekanan kehidupan kota besar.

Bagaimanapun, setidaknya ada satu perusahaan New York yang belum merelokasi komputer-komputernya. Perusahaan itu adalah anak perusahaan American lnterdyne Worldwide. American Interdyne, penerbit saham palsu kamikaze yang diberantas pada tahun

114

1980-an, beroperasi di bawah perlindungan undang-undang kebangkrutan dan hakim federal yang sudah pikun. Mungkin itulah sebabnya mengapa perusahaan itu masih menempatkan komputer-komputernya di lantai dua belas menara perkantoran yang sangat mahal di Park Avenue.

Berapa sewa ruang di sini? Sekitar empat puluh dolar per kaki persegi.

Ruang komputer American Interdyne luas dan bergaya kuno—penuh dengan komputer mainframe besar, perangkat periferal yang menderu-deru, dan konsol yang berkedip-kedip. Perusahaan-perusahaan lain sedang membongkar sistem besar mereka yang tersentralisasi, mengganti perangkat raksasa dari IBM seharga $15 juta dengan stasiun-stasiun kerja yang ramping dan client/server network berkecepatan tinggi. American Interdyne belum melakukannya. Bagian sistem komputernya lintang pukang di seluruh lantai itu, seperempatnya dipergunakan untuk komputer mainframe raksasa yang oleh kebanyakan eksekutif, Dave salah satunya, dianggap seperti dinosaurus.

Namun, ia senang melihatnya sekarang. Yang paling menyenangkan mengenai monster-monster itu, pikirnya, adalah kerumitannya. Raksasa-raksasa manja yang menuntut perawatan dan makanan tak habis-habisnya. Berbatalion-batalion teknisi berbayaran tinggi memanjakan mereka. Sistem catu daya yang dibuat khusus. Pendingin udara yang besar dan berdaya tinggi. Deretan periferal yang tak ada habisnya. Peralatan pemantau dan pengendali khusus.

Dan kabel.

Banyak kabel. Kabel dalam jumlah lebih besar

115daripada yang kaubayangkan. Instalasi komputer mainframe besar membutuhkan bertumpuk-tumpuk kabel. Dan kau tak sekadar menempelkan kabel-kabel itu sekali dan kemudian melupakannya. Tak bisa. Kau selalu harus mengutak-atik kabel-kabel, menghubungkan kembali berbagai port, soket, dan interface. Oh, DASD itu dihubungkan ke mainframe, dan mainframe itu dihubungkan ke frontend, dan frontend dihubungkan ke multiplexer, sekarang dengar de word of de lawd!

Yang berarti lantai yang dinaikkan. Ruang komputer American Interdyne, seperti semua pemakai mainframe lain, dibangun pada lantai yang dinaikkan. Kabel-kabel dan kawat-kawat berkelok-kelok di bawahnya. Lantai itu dipasangi panel sehingga, seperti yang begitu sering diperlukan, staf komputer bisa membukanya dan menata kembali konfigurasi kabel-kabel tersebut.

Gelap, hangat, dan nyaman. Sungguh cukup nyaman di bawah lantai itu.

Dave butuh kedamaian. Dua kali sesudah meninggalkan Prime Minister’s Club ia nyaris bertumbukan dengan anggota-anggota Pasukan Penjinak Bom Kepolisian New York. Seandainya mereka melihatnya… compang-camping, kotor, bau muntahan, tangannya penuh dengan makanan curian, dan dengan pistol-pistol tidak sah terselip di sabuknya…

Pasti agak sulit mencari alasan meloloskan diri, Sobat. Terutama menjelaskan baja penembak itu.

Pistol itu semuanya otomatis. Satu milik Carlucci, dan satu milik anak buah pendukung Ransome. Keduanya berbentuk dan bermodel sama, apa bentuk

116

dan modelnya, Dave tidak tahu. Tak satu pun mencantumkan cap pembuatnya atau nomor serinya. Keduanya memiliki rangka dari serat polimer ringan, peredam suara buatan pabrik, pembidik laser, dan rangka penyimpan magasin yang menampung 21 peluru.

Peluru-peluru itu jadi bahan renungan—namanya TUG, singkatan dari Torpedo Universal Geschoss. Dave tak pernah tahu ada peluru semacam itu untuk pistol. Mata pelurunya untuk berburu, dirancang untuk menembus dalam, menjadi jamur di dalam tubuh, merobek jantung sasaran. Orang yang tertembak tubuhnya dengan salah satu peluru itu akan mati seketika di tempatnya berdiri; bahkan luka terserempet sekalipun akan membuatnya lumpuh.

Di atas tuas pengamannya, ada batang pengokang yang sedikit melekuk. Dave menduga dengan mendorong pengokang ini ke depan akan mengubah pistol itu menjadi otomatis penuh, mengubah pistol tersebut menjadi senapan mesin yang bisa dipegang tangan.

Perkakas bagus. Tak sehebat pistol Ingram MAC lamamu yang dilengkapi dengan WerBell Sionics suppressor, tapi cukup jahat. Otomatis .38, 130 grain untuk kecepatan dari laras hanya setitik di bawah kecepatan suara. Seperti itu suaranya akan teredam optimal. Menghantam sasaranmu dengan energi sebesar 150 kilo per kaki persegi. Aduh.

Aduh juga bila pihak yang berwajib sampai menangkap orang sipil membawa pistol semacam itu. Dave merasa bahwa memikirkan untuk memiliki senjata macam itu saja sudah melanggar Undang-Undang Sullivan.

117Dan itu menimbulkan beberapa pertanyaan dari mana asal senjata-senjata itu—orang-orang yang membawanya.

Aman di bawah lantai, kepala berbantal kabel AWG 22 yang terbungkus karet, nyaman, Dave mencoba tidur. Malaikat pelindungnya yang suka berdebat itu tidak membiarkannya. Masalahnya tentu saja Helen. Mengapa dia muncul di samping anak buah Ransome? Bagaimana mereka membujuknya agar memusuhi suami sendiri?

Dave ragu-ragu Helen memang berniat mengkhianatinya. Anak buah Ransome mungkin sudah menceritakan kebohongan yang mengerikan kepada Helen {atau lebih parah lagi, suara dalam benaknya memperingatkan, kebenaran yang mengerikan) agar mau mengidentifikasikannya.

Kebohongan apa? ia bertanya pada diri sendiri. Kebenaran apa? balas malaikat itu.

Ia tidak bisa menemukan jawaban untuk kedua pertanyaan tersebut. Tidak pula ia bisa membiarkan dirinya memeriksa penjelasan alternatif atas perilaku Helen—belum bisa. Mungkin dia ada di pihak mereka. Mungkin dia ingin kau mati sama seperti semua orang lain.

Tidak masuk akal. Sudah lima tahun dicurahkannya untuk bekerja sekuat tenaga mengubah perkawinan itu menjadi keberhasilan.

Seberapa keras Helen bekerja?

Diam! Aku tak butuh ini!

Kau tahu apa kata mereka tentang orang yang berdebat dengan diri sendiri, dan kemudian kalah… ?

118

Dave menggeram dan berguling, berusaha menemukan posisi yang yang lebih nyaman. Saat ia membalik^ radio yang diambilnya, bersama uang 67 dolar, dari mayat anak buah Ransome, terlepas. Diambilnya radio itu dan ditempelkannya ke telinga. Volumenya kecil. Cepat atau lambat staf teknik American Interdyne akan datang kembali ke ruang komputer. Dave tidak ingin mereka bertanya-tanya heran dari mana bunyi aneh itu—kedengarannya seperti walkie-talkie, Frank—berasal.

Suatu percakapan sedang berlangsung: “…seperti ada orang menjatuhkan sandwich dengan saus tomat dan melaburkannya ke lantai. Setengah penduduk New York City pasti telah menginjak wajah bangsat malang itu.”

Suara lain menjawab, “Aduh, mengerikan. Itu cara mati yang mengerikan. Seseorang harus memanggil Don… Robin dan memberi kita perintah lebih lanjut.”

“Negatif. Robin tak mau dihubungi dengan radio. Kita tak bisa bicara padanya sampai dia bicara pada kita.”

“Aww, man. Polisi mulai membiarkan orang-orang kembali ke dalam gedung. Aku tak tahu apa yang harus kita kerjakan, tapi kupikir kita harus keluar dari sini.”

“Tidak tanpa perintah.”

“Persetan dengan perintah itu, man. Dan satu hal lagi, cuma Robin dan Partridge yang tahu apa sebenarnya maksud segala kerusuhan ini. Maksudku, kita harus membunuh orang ini, kan? Bukan urusan besar, kata mereka. Cuma satu hari kerja dengan gaji biasa, kan? Ya, bukan masalah besar. Nah, kalau bukan masalah besar, mengapa mereka tak menjelas-119kan apa maksud semua ini? Astaga, seperti kita tak dapat izin atau entah apa. Tapi, uh-uh, tak ada pertanyaan, kata Robin. Tak ada jawaban, kata Robin. Jadi, persetan dengan semua ini. Kau tahu apa pendapatku? Menurutku laki-laki ini, sasaran kita, bikin orang ketakutan. Maksudku dia tahu rahasia busuk salah satu bocah besar itu. Dan siapa pun bocah besar itu…”

“Hentikan itu!” Dave kenal suara tersebut. Suara itu milik Partridge.

‘Tidak, man, dengarkan…”

“Tenang, Warbler. Dan jangan panggil aku ‘man.” Suara Warbler menitikkan sarkasme. “Wah, maafkan saya, Sir.”

“Warbler, kalau kau ada masalah dengan rantai komando, akulah yang akan memecahkannya untukmu. Dan bila ada di antara kalian ada masalah dengan tugas kalian, dengan senang hati aku akan membicarakannya satu per satu. Kalau tidak, kalian tahu apa tugas kalian, dan itu sajalah yang perlu kalian ketahui. Mengerti, Saudara-saudara?”

Orang kedua dalam garis komando. Partridge adalah orang kedua Ransome.

Seseorang menggumam, “Ya, Sir.”

“Aku tak mendengarnya, prajurit.”

“Maaf, Sir. Saya bilang ya, Sir.”

“Bersihkan saluran.” Itu suara Ransome, cukup tenang, tetapi tidak setenang sebelumnya. “Di sini Robin. Teman kita mendapat radio lain “

“Baji…”

“Aku bilang bersihkan saluran. Kalau kalian sudah lupa, itu berarti tutup mulut kalian.”

120

Kedengaran gampang tersinggung, kan?

“Poin nomor satu: Sementara ini, aku akan memberikan kode perubahan. Kita akan beralih ke Xylophone Delta Niner. Poin nomor dua: aku ingin semua kembali ke stasiun masing-masing secepatnya. Poin nomor tiga: aku perlu perlengkapan medis untuk penggunaan pribadi. Poin nomor empat: Kita perlu regu pembersih di lantai dua, di dalam restoran. Juga perlu tas mayat.”

“Kau mendapatkan dia, Robin?”

“Negatif. Tas itu untuk Oriole.”

“Aww, man…”

‘Tutup mulutmu!” Dave mendengar bentakan. Ransome menarik napas dalam dan mengembuskannya keras. Ia baru saja menyalakan sebatang rokok. Ah, kita semua punya kelemahan kecil.

“Mr. Elliot, aku yakin kau mendengarkan ini. Aku segera menyatakan gencatan senjata unilateral.”

Mengutip Mftrk Twain, aku curiga teman kita ini agak hemat dengan kebenaran.

“Kuulangi, sekarang saat genjatan senjata, Mr. Elliot. Kami semua akan kembali ke pos masing-masing dan istirahat sebentar. Seperti yang kujanjikan, aku akan mengkomunikasikan keadaan saat ini pada atasanku dan mendesak mereka agar memberikan kuasa melakukan negosiasi. Untuk sementara, orang-orangku akan tetap berjaga di tempat mereka. Kuang’ gap kau akan berbuat sama. Mengingat penjagaan yang kami lakukan di pintu keluar, itulah satu-satunya tindakan yang rasional.”

Ransome berhenti, menunggu jawaban. “Konfirmasimu akan berguna, Mr. Elliot.”

121Dave menekan tombol bicara di radionya dan berbisik, “Aku copy, Robin.”

“Terima kasih. Ada satu hal lagi untukmu. Kami akan minta manajemen restoran ini menginventarisasi barang mereka. Bila ada merica yang hilang, aku akan mengubah perintah-perintah sebelumnya sesuai dengan keadaan.”

Tiga kantong merica tergeletak dekat kaki Dave. Ia selalu ragu-ragu bila pelayan dengan sopan bertanya, “Merica yang baru digiling, Sir?” Di tempat seperti New York ini, ia tidak benar-benar yakin bahwa gilingan merica dari kayu itu benar-benar berisi butiran biji merica. Menurut perkiraannya, benda itu hanyalah tabung penyimpan merica yang dirancang agar pelanggan percaya bahwa mereka benar-benar mendapatkan apa yang mereka bayar. Di dapur Prime Minister’s Club, Dave menemukan sederet penggiling merica dalam keadaan terbuka, satu corong, dan tiga kantong merica halus. Selamat datang di New York.

“Itu berarti, Mr. Elliot, kau tak perlu menyia-nyiakan waktu menyebarkannya untuk menghindari anjing.”

Jahat sekali. Kalau cukup banyak merica yang-kaupakai, anjing-anjing itu akan mengamuk dan berbalik menyerang tuan mereka. ^ “Baiklah, semuanya, reset ke Xylophone Delta Niner. Kerjakan sekarang.”

Dave mengira radio itu akan diam saat Ransome dan anak buahnya mengaktifkan penggantian kode. Tapi, sesaat kemudian, suara Ransome meneruskan, “Ada satu hal lagi yang perlu kusampaikan, Mr. -Elliot. Sekarang pasukan tak lagi mendengarkan, aku

122

bisa mengatakannya dengan mantap. Kau mantan perwira. Kau tahu apa yang bisa dan tak bisa diucapkan komandan di depan anak buahnya.” -“Aku copy, Robin.”

Ransome menyedot, lalu mengembuskan desis panjang dan lamban. Dave berani bertaruh, Ransome tentu mengisap rokoknya. “Oke. Beginilah. Di sana tadi aku kehilangan kendali, Mr. Elliot, maka aku patut minta maaf. Aku tak gampang kehilangan kendali. Tapi ketika melihat darah di antara kakiku, kupikir kau telah menembak alatku. Itulah sebabnya aku bersikap seperti tadi’. Sekarang kuakui aku menyesal. Aku tahu aku keluar garis, dan aku tahu kau hanya mengambil tindakan yang tepat. Kau salah satu anak buah Koloriel Kreuter. Dia mengajarkan padamu peraturan-peraturannya, sama seperti yang diajarkan padaku. Tak ada pasukan dengan satu prajurit dan tak ada pilot solo. Bahkan Lone Ranger sekalipun punya teman Indian yang setia. Kau tahu itu. Kau tahu aku tadi membawa* pendukung. Dan kau menanganinya tepat seperti yang harus kaukerjakan. Aku menghargainya. Kuharap kau memaafkan tingkah dan omonganku. Aku sungguh-sungguh. Kau boleh pegang janjiku bahwa episode itu takkan terulang.”

Boleh juga. Persis seperti dalam buku-buku perang urat saraf. Dapat dipercaya, tulus, terus terang— kau tahu. untuk orang sinting macam Ransome, dia kedengaran seperti orang baik hati.

“Mr. Elliot? Apakah kau mendengarkan. Mr. Elliot?”

“Aku copy, Robin.”

“Over and out.” Radio itu mati. Ransome sudah mengganti kode.

123Dave menyandarkan kepalanya ke kabel-kabel itu, mencari posisi nyaman. Ia bersendawa. Makanan yang diambilnya dari Prime Minister’s .Club terasa selezat makanan yang pernah ia makan. Namun itu tidak mengejutkan. Apalagi, peraturan pertama dalam keprajuritan adalah: makanan curian terasa paling lezat.

“Selalu ambil ayam bila kau punya kesempatan, sebab bila kau sendiri tak menginginkannya, kau bisa dengan mudah menemukan orang lain yang mau, dan perbuatan baik takkan pernah dilupakan.” Begitu kata Huck Finn.

Dan peraturan kedua dalam keprajuritan adalah ini: begitu tembak-menembak berhenti, tibalah saat tidur.

Tak lama kemudian, David Elliot tertidur. 4.

Jaket wol instruktur itu memberikan penampilan yang pantas sebagai pengajar. Tingginya rata-rata, tapi serasa lebih tinggi. Caranya menegakkan kepala, dengan hidung terangkat sedikit, menambah ilusi tingginya. Rambutnya agak panjang, tapi terpangkas rapi dan bergaya untuk akhir tahun enam puluhan. Tapi bagaimanapun juga, potongan itu terasa agak ganjil di dalam ruangan yang penuh dengan potongan gaya militer.

Ia bicara dengan aksen New England yang tegas— bukan dengan logat Irlandia keluarga Kennedy, tapi lebih aristokratis. “Selamat siang, Saudara-saudara.” Letnan Elliot dan rekan-rekannya sesama siswa yang hanya berjumlah selusin sudah menghabiskan pagi itu

124

dengan melihat-lihat fasilitas tersebut. Fasilitas itu merupakan perbaikan besar di Fort Bragg. “Namaku Robert. Kalian bisa memanggilku Rob bila mau. Seperti semua orang yang akan kalian jumpai di sini, aku lebih suka dipanggil dengan nama pertama. Sedangkan nama keluarga kami, ah, aku khawatir kami sudah mengalami sedikit amnesia.” Kelas itu tertawa senang.

“Pelatihan yang kalian terima di Kamp P ini mungkin akan kalian terima sebagai kejutan. Lembaga ini bukan bertujuan memperdalam pelajaran-pelajaran yang sudah kalian pelajari. Kami anggap kalian sudah menguasai seni keprajuritan dengan baik. Dan bila tidak, kalian takkan ada di sini. Kurikulum kita diarahkan pada keahlian yang lain. Keahlian ini memiliki dua dimensi. Dimensi yang tak pelak lagi ingin kalian dengar adalah manifestasi luar keahlian kita—senjata-senjata luar biasa, alat-alat berbahaya, tipu muslihat keji, dan keterampilan-keterampilan mematikan lainnya yang dituntut dari pelaku sabotase, subversi, dan pembunuh. Sudah tentu kami akan mengajarkan pada kalian hal-hal tersebut. Tapi bukan segera. Pertama, kita akan memusatkan perhatian pada dimensi kedua keahlian ini, dimensi psikologis, dimensi dalam, dimensi pikiran. Pada akhirnya, Saudara-saudara, dalam pikiranlah permainan ini dimainkan, dan dalam pikiranlah permainan ini dimenangkan atau tidak. Apakah kalian memahami maksudku?”

Beberapa orang mengangguk. Seorang perwira Marinir di belakang Dave berseru keras, “Ya, Sir!”

“Coba lupakan kata ‘sir. Kita di sini kolega yang sederajat. Sekarang, sebagai permulaan, kalian sebagai

125warga Amerika yang baik tentulah tumbuh dewasa dalam budaya yang menjunjung tinggi olahraga beregu. Aku yakin kalian semua pernah menyaksikan berbagai pertandingan dan dengan penuh semangat mendukung regu daerah kalian. Kemungkinan besar, kalian sendiri pernah bermain di berbagai lapangan, kalian masing-masing adalah pemain beregu yang baik. Bahkan mungkin kalian pernah meraih satu-dua prestasi besar dalam olahraga. Bila demikian halnya, kalian berhak merasa bangga, karena olahraga beregu memang merupakan permainan terhormat. Namun sayangnya, permainan tersebut juga merupakan penyederhanaan struktur yang” primitif. Coba renungkan: lapangan itu memiliki dua gawang. Hanya ada dua regu yang bertanding. Permainan itu dimainkan selama periode waktu tertentu yang sudah ditentukan, diatur oleh buku peraturan sederhana yang sudah dikenal dan ditaati oleh wasit serta para pemain. Beberapa orang mengatakan olahraga adalah metafora untuk perang, dan perang adalah metafora untuk olahraga. Aku khawatir bukan begitu, meskipun sudah jadi kesalahan yang lazim diyakini oleh orang Amerika. Selama beberapa minggu mendatang, aku berharap akan membebaskan kalian dari kesalahan menyedihkan ini, sebab kalian lihat, perang, dan terutama jenis perang di mana kalian dipersiapkan, punya lebih dari dua pihak dan lebih dari dua regu. Selain itu tak ada perangkat peraturan yang mengaturnya. Permainan yang akan kalian pelajari ini berlapis-lapis seperti bawang. Kupaslah selapis, dan selapis lagi sudah menunggu kalian. Dan satu lagi, dan satu lagi. Orang yang bermaksud mencari inti tersembunyi sesiung bawang, Saudara-126

saudara, adalah orang yang akan sangat kecewa. Karena begitu ia mengupas bawang itu sampai ke jantungnya, ia takkan mendapatkan apa-apa. Psikologi dari kebenaran seperti ini bisa sangat meresahkan. Misiku adalah mempersiapkan kalian menghadapinya. Semoga aku mengajari kalian bagaimana melihat di balik permukaan segala hal, bagaimana merasakan berapa banyak lapisan yang dimiliki bawang itu, dan bagaimana mengenali bahwa lapisan-lapisan itulah yang menjadi jiwa bawang tersebut. Ini masalah yang mendesak, Saudara-saudara, sebab begitu kalian keluar dari ruang kelas dan masuk ke neraka tempat kami akan mengirim kalian, dengan cepat kalian akan menemukan bahwa di bawah permukaan permainan ini ada permainan lain sedang dimainkan, dan di bawahnya masih ada permainan lain. Dan peraturannya. Saudara-saudara, ahh, semua peraturannya akan sangat jauh berbeda.”

Mamba Jack Kreuter terlalu cerdik untuk mengirim letnan yang masih hijau, baru tiga minggu di negara itu, sebagai perwira yang bertanggung jawab atas misi pembunuhan di seberang Garis DMZ. Dave Elliot memikirkan hal ini ketika ia masih berada di dalam tenda sang kolonel. Fakta menunjukkan bahwa sang kolonel memandang Dave tak lebih sebagai domba korban.

Bukan berarti Jack tidak adil. Dia sudah memberikan cukup informasi kepada Dave—sekadar cukup—untuk bernalar mendapatkan kebenaran.

Kreuter sengaja membocorkan fakta bahwa orang Rusia yang harus dibunuh Dave adalah seorang mayor

127KGB. Kreuter juga menegaskan bahwa persoalan dengan mayor itu bukanlah bantuannya kepada VC, tetapi lebih karena nasihat yang ia berikan kepada mereka.

Pertanyaan: Nasihat apa yang diberikan seorang mayor KGB kepada Vietcong?

Jawab: Nasihat berdasarkan data intelijen KGB, sebab data intelijen inilah yang selalu jadi modal Komitet Gosudarstvennoy Bezopasnosti.

Pertanyaan: Dari mana KGB mendapatkan data intelijennya?

Jawab: Dari agen dan informan.

Dave duduk di dalam tendanya sendiri, minum bir hangat sambil merenung-renungkannya. Mayor Rusia itu mendapat pasokan informasi dari informan—mungkin salah satu perwira Vietnam di bawah komando Kreuter, atau mungkin orang lain. Siapa pun orangnya, ia tentulah berkedudukan tinggi dan memberi informasi bermutu. Baik Mamba Jack Kreuter maupun komandan lain tidak akan mengambil risiko melakukan penyerbuan melewati garis DMZ, kecuali kehilangan data intelijen itu serius.

Pertanyaan: Bagaimana caramu menangkap pengkhianat ini?

Jawab: Pasang perangkap untuk membunuh perwira senior Vietcong—atau lebih baik lagi, orang Rusia itu sendiri.

Pertanyaan: Apa umpannya?

Jawab: Seregu prajurit yang bisa dikorbankan di bawah pimpinan letnan yang juga boleh dikorbankan.

Dave dikirim ke utara untuk memancing musuh keluar dari sarangnya. Kreuter berharap ia akan

128

melakukan kesalahan masuk perangkap, maju cukup dekat ke markas orang Rusia itu untuk menarik perhatian, dan memancing tembak-menembak sehingga menimbulkan kebingungan. Sementara itu, regu kedua—pasukan Amerika dengan pimpinan-pimpinan yang lebih berpengalaman—akan menjepit pangkalan operasi Rusia itu Begitu tembak-menembak mulai, mereka akan menyerbu dan menerkam mangsa mereka. Inilah tujuan misi tersebut. “Di balik permukaan permainan, ada permainan lain yang dimainkan….”

Pertanyaan: Mereka sebut apa umpan yang dipakai untuk memikat harimau?

Jawab: Domba Yudas.

Pertanyaan: Berapa banyak domba Yudas yang dibutuhkan untuk mendapatkan harimau itu? Jawab: Selalu ada yang pertama.

5.

Meskipun ia tidak memimpikan bawang, David Elliot terbangun memikirkannya. Atau lebih tepatnya bagian tertentu. Lapisannya yang teratas, katanya pada diri sendiri, bernama Bernie Levy.

Coba ceritakan lebih banyak padaku.

Orang seperti Ransome tidak mengirim orang\ macam Bernie untuk melaksanakan pekerjaan kotor mereka. Mereka melaksanakannya sendiri. Untuk itulah mereka dibayar. Satu-satunya kemungkinan Ransome membiarkan Bernie pergi membunuhku adalah bila Bernie bersikeras, meyakinkannya, mendebatnya. Ia dan Ransome mungkin berkutat keras hingga hal itu terjadi. Bernie Levy keras kepala. Tuhan tahu dia

129keras kepala. Sekali ia memutuskan bahwa sesuatu benar, ia akan berpegang teguh pada keputusan itu.

Itu hanya sebagian dari jawaban.

Bagian lainnya adalah apa yang diucapkannya. “Bernie Levy menyalahkan diri sendiri, dan Tuhan takkan mengampuni.”

Jadi?

Entah bagaimana Bernie merasa dirinya bertanggung jawab atas niat Ransome untuk membunuhku. Bila ia yakin bahwa mimpi buruk ini kesalahannya, ia tentu yakin bahwa membunuhku adalah tugasnya. Lebih dari sekadar tugasnya. Kewajibannya. Bernie mantan anggota Marinir. Semper Fidelis. Kewajiban selalu ia junjung tinggi.

Kaupikir Bernie-lah yang ada di balik semua kekusutan ini?

Mungkin tidak. Mungkin dia cuma salah satu kor-^ban, sama seperti aku. Menurut dugaanku dia cuma korban. Ia hanya punya pilihan membiarkan Ransome membunuhku atau menembakku sendiri. Ketika masuk ke kantorku, dia menggumam dan bicara tergagap-gagap bahwa ia tidak punya alternatif. Itulah yang dimaksudkannya. Dipikirnya ia wajib memberitahuku. Aku harus dibunuh karena kesalahan yang ia lakukan. Ia merasa wajib menjadi orang yang menarik picu. Ia tidak bisa membiarkan seseorang yang tak dikenal melakukannya.

Isyarat kebaikan hati.

Boleh kukatakan mulia. Bernie menanggung dosa itu dalam jiwanya sendiri. Masalah ini pasti mengusik hati nuraninya.

Oke, jadi dalam neraka jahanam apa Bernie terlibat dan bagaimana kau terlibat?

130

Aku tak tahu. Aku bahkan tak bisa menebak.

Kau yakin tidak menyaksikan pembunuhan oleh mafia atau entah apa saat aku tidak waspada9

Apa yang kulihat? Apa yang kudengar? Apa yang kuketahui?

6.

Seseorang berjalan di atas, melintasi lantai yang dinaikkan di ruang komputer itu. Suara laki-laki, tenor dan tanpa aksen, berseru, “Sekarang sudah pukul 15.30. El Supremo ingin semua staf operasi berada di ruang rapat. Ada dekrit baru yang datang dari atas.”

Seseorang mengeluh. “Pemotongan gaji lagi.”

“Ya,” yang lain menambahkan. “Untuk menutup kerugian karena makin bengkaknya bonus bagi manajemen top.”

“Dengar, Saudara-saudara,” suara tenor itu berkata, “saya tahu memang berat keadaan di sini, tapi setidaknya kita masih punya pekerjaan.”

“Setidaknya hingga pukul 15.30.”

Suara tenor itu tak menghiraukan cemooh tersebut. “El Supremo mengatakan butuh waktu sejam bersama kalian. Apakah kita menjadwalkan urusan penting antara sekarang sampai waktu itu?”

Seorang wanita menjawab, “Tak ada yang besar, tapi ada pemeriksaan RJE pada piutang yang mestinya dilaksanakan pukul 16.00. Itu untuk’ Fort Fumble, kantor pusat kita yang terhorniat.”

“Oke, Marge, kau yang menangani urusan itu. Kau tak perlu ikut rapat dan menyelesaikannya. Aku akan




0 Response to "VERTICAL RUN"

Post a Comment