Download applikasi baca novel online untuk android disini: DOWNLOAD

VERTICAL RUN

VERTICAL RUN

TERJEBAK

Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama Jakarta, 1998VERTICAL RUN

by Joseph R. Garber Copyright Š 1995 by Joseph R. Garber Indonesian translation rights arranged with Joseph R. Garber c/o Ellen Levine Literary Agency, Inc., New York through Tuttle-Mori Agency, Inc., Tokyo. All rights reserved.

TERJEBAK

Alih bahasa: Hidayat Saleh GM 402 98.971 Hak cipta terjemahan Indonesia: PT Gramedia Pustaka Utama Jl. Palmerah Selatan 24—26, Jakarta 10270 Diterbitkan pertama kali oleh Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama, anggota IKAPI, Jakarta, 1998

Perpustakaan Nasional: Katalog Dalam Terbitan (KDT)

GARBER, Joseph R.

Terjebak/Joseph R. Garber; alih bahasa. Hidayat Saleh—Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 1998.

432 him.; 18 cm.

Judul asli: Vertical Run ISBN 979 - 605 - 971 -1

I. Judul . U. Saleh, Hidayat

Dicetak oleh Percetakan PT Gramedia, Jakarta

Isi di luar tanggung jawab percetakan

Untuk Steve Oresman, terkenal sebagai Magpie, jenis burung yang lebih bagus daripada yang ditemukan di dalam buku ini.

Dilarang meng komersil-kan atau kesialan menimpa anda. Pertikaian, kekacauan, perselisihan, pertengkaran, pembunuhan, kekecewaan, ketakutan… kemunafikan… penjarahan, pencurian, perampokan, kebohongan, keributan besar, huru-hara, keributan… perseteruan, kebencian dan kemurkaan… penipuan, pengkhianatan, penghasutan, perzinahan… perang, kecemburuan, kebencian, dendam… dan akhirnya semua kejahatan.

—Almanak dan Ramalan 1559 oleh Vaughan

Manusia, secara biologis, dan ditinjau dari segi apa pun, benar-benar mangsa yang tak tertaklukkan…

—William James

PROLOG

Lalu kita pergi bersama. Jiwaku Gulungan tegang yang tiada habisnya, menjadi tenang

Dalam embusan angin yang menyejukkan dan mendebarkan.

—Robert Browning, “Perjalanan Bersama yang Terakhir”

DUA orang laki-laki di atas punggung kuda.

Yang jangkung, Dave Elliot, berperawakan langsing dan berkulit gelap, dengan kaki dan tangan panjang. Matanya yang cokelat tampak serius, namun ia menyunggingkan senyum samar. Yang lebih pendek, Taffy Weiler, bertubuh kekar bak buldog; rambutnya yang seperti kawat berwarna merah manyala, seperti T-shirt celupan yang dikenakannya, dan matanya yang biru berkilau dengan kenekatan luar biasa.

Dave berasal dari Indiana. Taffy lahir dan besar di New York. Mereka berjumpa di San Francisco, yang pada musim panas ini satu-satunya tempat untuk ditinggali. Kini mereka bersahabat karib.

Di bulan September, Taffy akan mulai bekerja di perusahaan elektronik berukuran menengah dekat San

Jose, perusahaan yang disebut Hewlett-Packard. Tidak banyak orang di NYU pernah mendengar nama ini. Dave, yang telah lulus dari program R.O.T.C. Indiana State, akan masuk Angkatan Darat; ia akan melapor untuk bertugas pada minggu ketiga bulan Agustus. Sudah pasti ia akan dikirim ke Vietnam.

Perjalanan berkuda ini merupakan perjalanan bersama mereka yang terakhir. Kehidupan sebagai orang dewasa menunggu mereka di penghujung musim panas.

Hari ini mereka berada di ketinggian Sierra, lebih dari tiga ratus kilometer sebelah timur San Francisco. Kemarin mereka melintasi kaki lereng, mengambil kuda dan bagal pengangkut dari seorang laki-laki dengan kulit bak disamak, yang menunggu mereka dalam truk pikap, dan mulai menunggang kuda ke barat, menuju ke lereng gunung.

Di sini, di lereng berbatu-batu dengan ketinggian lebih dari 2.700 meter, kuda mereka jadi terengah-engah. Tidak ada jalan; lereng itu curam. Tanahnya batu granit; gundukan-gundukan kelabu bercampur hitam. Butiran batu kuarsa putih kecil menggelinding di bawah pijakan kuku kaki binatang-binatang itu, dan begitu menyilaukan dalam cahaya siang, sehingga tak dapat dipandang.

Sesekali Dave mengelus kumis lebat yang dibiarkannya tumbuh sepanjang musim panas ini. Ia bangga dengannya, merasa kumis itu membuatnya kelihatan lebih tua. Padahal tidak.

Taffy meliriknya. “Kau harus berjanji padaku, compadre. Kau harus berjanji pada hari kau muncul untuk disumpah, kau masih memakai kumis itu.”

“Kumis ini akan lenyap. Aku akan kelimis, rambut tentara, gaya all American boy.”

8

“Ah, sayang!”Kolam Dave sempurna, tanpa tanding. Terletak di balik deretan bukit rendah—sekadar cukup curam untuk tidak dibajak dan ditanami—dan di lembah datar. Ia bersepeda sejauh lima kilo di antara tanaman jagung yang tinggi dan gandum yang bergoyang-goyang nyaman menuju ke perbukitan itu. Setelah lima belas menit terengah-engah mendorong sepedanya maju setiap langkah, ia pun sampai di tepi kolam itu.

Kolam tersebut panjangnya 1.200 meter dan lebarnya 800 meter. Sebagian besar tepiannya tertutup ilalang hijau-cokelat dan pussy willow. Sebuah rakit ringkih yang dibuat asal-asalan—tak lebih dari papan-papan dan drum lima puluh galon yang sudah berkarat—terapung-apung di tengahnya. Tak ada orang lain kecuali anak laki-laki berusia tertentu pernah ke tempat ini.

Sempurna!

Dave pertama kali diundang ke daerah keramat ini ketika ia mencapai usia sepuluh tahun. Disepakati bahwa mereka yang berusia lebih muda tidak diterima di kolam tersebut. Dan disepakati pula bahwa yang lebih tua dari lima belas tahun, dalam usia menjelang kematangan, diharapkan mencari rekreasi musim panas lainnya. Ini tempat untuk anak laki-laki, dan dimaksudkan agar tetap demikian selamanya.

Bukan berarti orang-orang dewasa tidak mengetahuinya. Sama sekali tidak. Mereka semua tahu adanya kolam itu, dan semuanya, laki-laki dan perempuan, melarang anak mereka pergi ke sana. “Kau akan kena tetanus kalau berenang di kolam itu: Lagi pula, kolam itu penuh ular cottonmouth, dan di dasarnya ada pasir apung.”

98

Hebat! Pasir apung! Dan ular! Wah!

Meskipun demikian, dalam kenyataannya, Dave dan semua temannya tak pernah menemukan yang lebih hebat daripada ular rumput di dalam ceruk. Dan mengenai pasir apung itu… ah, anak-anak itu tahu bahwa bila ada di antara mereka yang pernah hilang tertelan pasir apung, kisahnya akan bergaung dalam radius 160 kilo, dan bertahan selama seratus tahun. Karena tidak ada kisah semacam itu, teori pasir apung bisa diabaikan.

Kecuali…

Kecuali bahwa satu dari daya pikat terbesar dari kolam itu adalah kedalamannya, yang memang sangat dalam. Meskipun mereka telah mencoba sekuat tenaga, tak seorang pun pernah menyelam cukup dalam untuk mencapai dasarnya. Jadi, ada atau tidak adanya pasir apung tidak bisa dikonfirmasikan. Mungkin bahaya itu memang benar ada. Mungkin dasar kolam itu lumpur berbahaya yang akan mencengkeram kakimu bak gurita raksasa berlendir dan menyedotmu sampai menjerit-jerit dan meronta-ronta ke bawah dan ke bawah.

Atau, mungkin ada yang lain di dasar kolam itu. Sesuatu yang hidup. Sesuatu yang akan menelanmu dan tak meninggalkan jejak. Sesuatu yang bergigi dan kelaparan yang membangkitkan desas-desus tentang pasir apung, tapi ternyata adalah…

…belut raksasa, bertaring…

…gurita besar seperti dalam film itu…

…kerang raksasa seperti dalam film lain…

…dinosaurus, czrvo-entahapanamanya…

…penyu penggigit, yang sudah berusia lima ratus tahun dan sangat besarnya…

99Nah, mereka harus menyelam, bukan? Itu penting. Harus dilakukan. Tak satu pun anak bisa menahan godaannya. Salah satu dari mereka akan berhasil. Pasti. Suatu hari, seseorang akan berhasil. Dan bila melakukannya, ia akan jadi pahlawan dan prestasi keberaniannya akan bergema hingga berabad-abad.

Dave menyelam. Anak-anak lain bermain meriam-meriaman dari rakit, atau mendorongnya, atau terjun dengan gaya batu. Dave menyelam. Ia berlatih, menyempurnakan lompatannya, caranya menukik, meluruskan terjunnya seperti pisau lipat yang menusuk ke dalam air, dalam, dan makin dalam lagi.

Suatu hari dengan penuh kemenangan ia berhasil mencapai dasar.

Air kolam itu cokelat, keruh, berlumpur. Kau tidak bisa melihat tangan sendiri di depan wajahmu. Makin dalam kau menyelam, makin gelaplah keadaannya. Akhirnya, tidak ada apa-apa, tidak ada cahaya sama sekali kecuali sinar pudar seperti kilau tembaga jauh di atasmu.

Pada hari ia mencapai dasar kolam itu, bahkan sinar pudar itu pun tidak ada. Dave telah melewati batas tempat sinar tidak bisa menerobos lagi. Ia menggapai-gapai ke bawah dengan membabi buta, tahu bahwa ia berhasil menyelam lebih jauh daripada siapa pun, ke dunia yang belum pernah dicapai oleh anak lain. Puas dengan keberhasilannya, ia mengayuh sekali lagi, lurus ke bawah, mengayun lengannya ke depan. Tangannya menyentuh sesuatu.

Lendir. Licin. Jantungnya serasa naik ke mulut. Gurita itu! Bukan, seutas sesuatu. Apa? Rumput liar. Rumput liar di dasar. Aku berhasil! Ia mencengkeram

- 100

rumput itu dan menarik tubuhnya ke bawah lagi. Hati-hati sekarang, bisa jadi itu benar-benar pasir apung. Bukan, cuma lumpur biasa. Dientakkannya rumput air itu. Ia ingin bukti bahwa ia, David Elliot, akhirnya melakukan sesuatu yang dicita-citakan oleh semuanya. Rumput air itu tercabut dengan mudah.

Saatnya pergi sekarang. Sudah terlalu lama di sini. Butuh udara.

Kakinya menendang. Begitu jauh ia mencoba keberuntungannya, begitu lama ia di bawah permukaan air. Wajahnya terasa merah karena perjuangan itu. Air liur mengisi mulutnya. Ia benar-benar butuh udara. Permukaan tak mungkin terlalu jauh, kan?

Ia berenang lebih keras, mengayuh sepenuh tenaga. Rasanya makin payah. Rasa sakit menusuk tajam sekitar pangkal hidungnya. Paru-parunya sakit.

Ia bisa melihat kilau warna tembaga itu. Lebih terang sekarang. Tak jauh lagi. Semua di atas rakit itu akan jadi gila saat mereka melihat apa yang ada di tanganku. Titik-titik merah, nyala api dalam kegelapan, menari-nari di depan matanya. Terang. Sangat terang. Udara sesaat lagi…

Tangannya membentur sesuatu. Seandainya tangannya tidak sedang terulur untuk mengayuh, kepalanya tentu retak terbentur benda itu. Tapi ia mengayuh. Tidak keras. Tak jadi soal. Yang penting dia butuh udara sekarang. Sekarang, Tuhan, sekarang! Dan ada sesuatu yang menahannya ke bawah, mencegahnya menghirup udara, menjebaknya dalam air yang dingin dan gelap itu, membunuhnya, menenggelamkannya. Lilitan rantai membelit erat dadanya. Ia tidak pernah tahu apa yang demikian menyakitkan. Setiap saat

101sekarang mulutnya akan terbuka, air akan membanjir masuk, paru-parunya akan terisi, ia akan tenggelam dan mati. Ia mendorong dan bergulat dengan benda yang menahannya dalam air, dalam kegelapan, jauh dari kehidupan dan udara. Benda itu kejam dan aktif dan jahat dan personifikasi kebencian dan ingin dia mati dan ia tidak bisa melewatinya dan ia akan membuka mulut dan berteriak dan…

Rakit itu. Ia ada di bawah rakit. Ia mendorong, dengan wajah biru dan tangan hampa ia terengah mencari udara.

Hingga ia mencapai usia 47 tahun, saat terperangkap di bawah permukaan air itu menandai keputusasaan terhebat yang pernah dikenalnya, dan ketakutan terhebat. Ia tidak bisa membayangkan apa pun yang lebih mengerikan atau lebih menyakitkan daripada kehabisan napas, dan terperangkap dalam air di bawah suatu benda—entah apa. Dekatnya kematian terasa ringan dibandingkan dengan kengerian dingin yang timbul karena mengetahui bahwa takdir sudah menjatuhkan tangan padamu dan tidak ada jalan keluar.

Namun, pada usia 47 tahun, usia yang tidak bagus untuk pelajaran seperti itu, Dave menemukan ada semacam rasa putus asa yang bahkan lebih parah lagi. Ia menemukan hal ini ketika melihat Helen, istrinya, wanita yang dengan tulus ia coba cintai, menuding padanya dan berteriak, “Itu dia! Di sana! Itu dia! Tangkap dia!”

102

BAB 3

BAWANG BUKAN UNTUK DIMAKAN

1.

Nanti, suara dalam benak Dave yang pemarah tentu akan memakinya karena bertingkah tepat seperti yang diharapkan Ransome.

Guncangan atas pengkhianatan Helen membuatnya lumpuh. Ia tidak bisa menerimanya, tidak bisa bergerak. Dilihatnya Helen berdiri dekat jendela tinggi lobi itu, dikelilingi penembak-penembak berwajah muram, dan ia tidak bisa mempercayai bukti yang diberikan matanya. Helen memandangnya, menunjuk padanya, mengarahkan pembunuh-pembunuh terlatih anak buah Ransome ke arahnya. Itu tak terpikirkan. Pikirannya menolak kenyataan itu. Helen takkan pernah melakukan sesuatu seperti itu”. Dave terhipnotis, kelinci yang mematung di hadapan ular.

Ia hanya ingat samar-samar mengenai apa yang

103terjadi selanjutnya. Pundak-pundak mendorongnya dari belakang. Sebuah suara sengau menggeram, “Maju, kau.” Begundal Ransome mendesak ke tengah kerumunan orang, menerobos gelombang orang-orang New York yang marah. Seseorang menepuk punggungnya. “Ayo, Sobat, kita harus keluar dari sini.”

Tubuhnya menyelamatkan nyawanya. Pikirannya tidak berhubungan dengan hal itu. Sekat rongga badannya terasa kejang. Ia terengah mengambil napas. Di tengah impitan orang banyak ia tidak bisa membungkuk atau berbalik. Isi perutnya mulai naik. Ia muntah dan tersedak serta mengeluarkan bunyi basah yang panjang.

“Ada apa, Sir?”

Muntahan itu menyembur d*ri mulut dan menerobos lubang hidungnya. Seseorang berteriak, “Oh, sialan!” Kerumunan orang itu tersentak menjauh darinya. Ketika orang-orang yang berada paling dekat dengannya berteriak dan mendesak untuk menghindari muntahan, mereka yang lebih dekat dengan pintu keluar terdorong ke depan.

Seseorang berteriak. Orang New York tahu bahwa begitu teriakan mulai, tibalah saat bergerak. Cepat-cepat.

Kerumunan manusia di lobi itu mendesak ke arah pintu keluar yang terhalang. Sebuah jendela dengan pelat kaca tinggi di samping salah satu pintu putar pecah berantakan ke luar. Suara seorang laki-laki memekik kesakitan. Satu jendela lagi pecah. Orang-orang berlari cepat-cepat di bawah hujan pecahan kaca, berlari ke jalan. Anak buah Ransome tersapu mundur; seorang terjatuh, menjerit, jeritan itu berubah jadi rengekan; tak lama kemudian diam.

104

Dave terhuyung menjauh dari orang banyak itu, masuk ke koridor lift.

Beberapa saat kemudian ia mendapati dirinya berkunang-kunang dan gemetar, dan tidak lagi berada di lantai dasar. Ia tidak tahu pasti di mana atau bagaimana ia sampai ke sana. Lift-lift itu dalam keadaan terbuka, tak berfungsi sampai diaktifkan kembali oleh pihak yang berwenang. Setiap lift, sesuai peraturan pendirian bangunan, punya pintu darurat di langit-langitnya. Yang dibutuhkan untuk membukanya hanyalah memutar empat baut. Ia pernah—menurutnya ia pernah—ia tidak yakin ia pernah—apa…?

Seperti film, Sobat. Kau dan Tarzan.

Aku tak melakukannya.

Oh ya, lihat pelumas dan kotoran pada pakai-anmu.

Perasaan kebas itu mulai surut. Ia membungkuk, meletakkan tangannya pada lutut, dan memaksakan diri untuk menarik napas dalam, melahap udara. Ya Tuhan! Tadi itu sungguh mengerikan. Yang terburuk. Ia tidak pernah lumpuh seperti itu sejak…

Jangan memikirkannya.

Helen! Mengapa? Bagaimana? Apa yang mungkin…

Jangan pula pikirkan hal itu. Pikirkan urusan lain. Seperti bagaimana rasa masam dalam mulutmu.

Ia ingin minum air. Sangat ingin. Sedikit sabun dan kain penyeka tentu tidak ada bahayanya.

Ia memandang berkeliling dengan dungu. Rasanya ia… di mana? …tampaknya tidak dikenal, tapi…

Lantai dua. Pasti di sana.

Ada apa di lantai dua? Apa gerangan yang mengisi

105lantai dua gedung perkantoran New York? Kebanyakan pencakar langit di Park Avenue bahkan tidak punya lantai dua. Lobi untuk lift mereka, semuanya dari marmer dan karya seni pahat modern, terbentang dua atau tiga tingkat. Dan, untuk beberapa gedung yang memang memanfaatkan lantai dua mereka, tempat itu merupakan ruang kantor yang paling tak diinginkan di tempat tersebut—sejajar dengan atap-atap bus, bertengger di atas bisingnya kehidupan jalanan New York, mengumpat dengan jendela-jendela yang kotor terus dan tidak punya pemandangan. Lantai dua merupakan tempat yang tak bisa disewakan dan membebani setiap pemilik gedung.

Dalam pengalaman Dave, orang-orang bisnis sejati tidak punya kantor di lantai dua. Mereka selalu lebih tinggi—jauh di angkasa tempat rajawali-rajawali perusahaan bersarang. Tak seorang pun akan dipergoki dengan alamat di lantai dua—setidaknya tak seorang pun yang tidak terlibat dalam bisnis aneh dan misterius, yang sepenuhnya di luar praktek bisnis normal di New York. KERJAKAN-kerjakan-KERJAKAN-ker-jakan. Kau melantur ke dimensi yang berbeda….

Sekonyong-konyong pikiran itu terlintas kembali dalam benaknya. Ia pernah ke lantai ini. Pemilik-pemilik gedung di New York memakai lantai dua mereka untuk tempat sementara, menyewakan kantor seperti menyewakan kamar di motel transit bagi orang-orang yang membutuhkan kanior (jangan tanya apa alasannya) selama satu-dua jam atau satu-dua hari. Atau sebagai alternatif, mereka menempatkan klub makan siang di lantai dua mereka—restoran-restoran pribadi yang hanya bisa dinikmati para anggota, para

106

penghuni elite di tingkat yang lebih tinggi. Makanan yang biasa-biasa, anggur yang terlalu mahal, tetapi pelayanan yang baik dan privasi yang nyaman bila kau ingin mengesankan pelanggan dari luar kota. (“Saya sudah minta Suzy memesan meja untuk makan siang di klub itu….”)

Seperti semua eksekutif Senterex, Dave juga memiliki kartu anggota klub di gedung itu. Sudah bertahun-tahun ia tak pernah memakainya. Ia bahkan tidak yakin apakah ia ingat nama yang dipakai pemilik gedung untuk menyebut tempat itu. Nama yang berbau Inggris. Selalu bau Inggris. The Churchill Club? The Windsor Club? The Parliament Club?

Tak jadi soal. Di klub itu tentu ada air, dan kamar kecil. Dave sangat ingin memakai kamar kecil. Yang dilengkapi dengan sabun dan pancuran air panas.

Ia melangkah keluar dari koridor lift lantai dua dan belok ke kiri. Lorong itu dilapisi dengan wallpaper berdesain merah tua dan dihiasi dengan lukisan cat minyak para perdana menteri yang sudah almarhum.

Benar, the Prime Ministers Club.

Pintu masuknya tampak tebal, berat, dipernis untuk memberikan penampilan kayu ek Tudor yang mahal. Sebuah pelat kecil dari kuningan dipaku sejajar dengan mata: KHUSUS UNTUK ANGGOTA DAN TAMU.

Pintu itu terbuka ke serambi berlapis beledu dan dihiasi lebih banyak lagi gambar politikus-politikus yang sudah almarhum. Podium untuk sang maitre d’, dengan buku reservasi bersampul kulit dan tempat tinta dari kuningan—astaga, malahan dilengkapi dengan pena bulu—berada di sebelah kiri. Gorden-gorden mewah tebal dan jumbai-jumbai emas yang

107seronok memisahkan ruang depan itu dari ruang tengah restoran.

Toiletnya jauh di bagian belakang restoran itu.

Ruang makannya luas, dan terang benderang. Meja-mejanya dilapisi kain linen seputih salju, dilengkapi dengan peralatan makan perak berkilauan. Di meja tengah, menghadap ke pintu, dengan gelas air jeruk setengah kosong di dekat tangan kirinya, duduklah Ransome. Tangan kanannya mengacungkan pistolnya dan membidikkannya ke arah dada Dave. Ekspresi wajahnya tetap netral seperti biasa. Ia tidak mengucapkan sepatah kata pun, hanya menarik picu.

2.

Pelatuk berdetak. Asap mengepul dari moncong pistol otomatis berperedam itu. Memar di bawah mata Ransome—kenang-kenangan dari sepatu Dave—memerah. Samar-samar terlintas ekspresi kesal pada wajahnya. Ia mengangkat tangan kiri untuk menarik pengokang dan memasukkan peluru ke laras. Saat itu Dave sudah mencabut senjatanya sendiri. Ransome menjatuhkan kembali tangannya ke atas meja.

Dua laki-laki itu saling pandang tanpa bicara. Dave merasakan seulas senyum tipis mereka di wajahnya. Ekspresi Ransome tidak berubah.

Ransome memecahkan keheningan itu. “Mr. Elliot, kau benar-benar burung berbulu langka. Aku mulai merasa sayang padamu.”

“Tanpa bermaksud kasar, tapi aku merasakan yang sebaliknya.”

“Mr. Elliot, aku benar-benar simpati padamu.”

108

“Terima kasih.” Dave memberi isyarat kecil dengan pistolnya. “Omong-omong, aku akan berterima kasih kalau kau mau menjatuhkan pistolmu. Biarkan saja lepas dari jarimu. Dan lalu…”

Senjata itu, saudara kembar pistol di tangan Dave, berdebam di karpet. Ransome berbicara sebelum Dave bisa menyelesaikan pikirannya, “Tendang menjauh, Mr. Elliot? Itu tradisional, dan aku memang tradisional, penganut nilai-nilai tradisional.” Ia menendang dengan ujung sepatunya. Pistol itu meluncur tiga meter ke depan. Ransome meneruskan, “Sekadar ingin tahu, kau tak keberatan mengatakan apakah semua peluru dalam magasin itu kaukutak-katik?”

“Cuma yang pertama. Bila kau tak punya peralatan yang tepat, butuh waktu banyak untuk mengeluarkan mata peluru dari selongsong dan mengosongkan mesiunya.”

“Aku tahu.” Ransome seperti sangat santai, laki-laki pendiam sedang bercakap-cakap dengan kenalan jauh. “Tapi, mengingat arah hubungan kita pagi ini, aku yakin aku akan memeriksa semua sisa peluru bila punya kesempatan.”.

Kendali dirinya sungguh mencengangkan. Laki-laki ini pasti orang paling tenang di planet ini. “Apa yang membuatmu beranggapan kau bakal punya kesempatan?”

Ransome mengangkat sebelah alisnya ke arah moncong pistol Dave, yang kini tertuju ke tengah dadanya. Ia menggeleng. “Kau tak punya keteguhan itu. Oh, memang, dalam panasnya pertempuran kau bisa membunuh orang. Aku sudah melihat kau melakukannya. Tapi dengan darah dingin? Kurasa tidak.”

109Tepat sesuai jadwal, iseng-iseng Ransome mulai memain-mainkan sebilah pisau meja. Ekspresinya tetap datar, tetapi pupil matanya melebar. Otot-otot lehernya menegang. Ia siap bergerak. “Tidak, Mr. Elliot, kau takkan menembakku.”

Dave menembaknya.

Pistol berperedam itu menimbulkan bunyi pelan, terdengar seperti tinju memukul bantal. Ransome melolong. Ia mencengkeram pahanya, tepat di bawah selangkangan, tempat darah mengucur. “BANGSAT KEPARAT KAU MENEMBAKKU BAJINGAN TENGIK!”

Dave tak menghiraukannya. Ia ada di lantai, menjatuhkan diri ketika melepaskan tembakan. Ia berguling ke kiri, satu kali, dua kali, tiga kali, sambil matanya mencari di mana seharusnya anak buah pendukung Ransome berada.

Dan memang ada.

Dave membidik, menghela napas, menarik picu. Bunyi tinju memukul bantal satu kali. Dua kali. Tiga kali. Bunyi itu lembut. Anak buah Ransome itu menghilang dalam hujan merah. Ia tak pernah mengangkat senjatanya.

“AKU AKAN MEMBUNUHMU BANGSAT BAJINGAN KAU MENEMBAKKU!”

‘Tutup mulutmu, kau bertingkah seperti bayi.” Dave berguling sekali lagi sambil membidikkan pistol ke arah Ransome.

“KEPARAT KAU ITULAH YANG HARUS KUKATAKAN KAU BANGSAT!” Ransome membungkuk, menekankan kedua belah tangan pada lukanya. Wajahnya terangkat, dan bibirnya tertarik ke

110

dalam. Matanya berputar, dan ia tampak seperti anjing Doberman mengamuk.

Dave mengembuskan udara lewat bibir dengan muak. “Sudahlah, Ransome. Itu luka daging. Aku tak percaya kalau aku menoreh dagingmu lebih dari satu milimeter. Seandainya aku ingin kau benar-benar terluka, kau tahu aku bisa melakukannya.”

“BAJINGAN BANGSAT KEPARAT BERANI-BERANINYA KAU MENEMBAKKU!”

Tiga meja—empat, termasuk meja Ransome—sudah diatur untuk sarapan. Seseorang sedang rapat pagi sambil sarapan ketika Dave menelepon dengan ancaman ledakan bom itu. Dave meraih segelas air es dari salah satu meja dan mengguyurkan isinya ke wajah Ransome. “Ransome, ambil lap meja, tempelkan ke pahamu, dan tutup mulutmu. Dengan caramu bertingkah seperti ini, kau akan mati karena serangan jantung sebelum mati karena luka itu.”

Air es itu membuat rambut Ransome lengket. Sungai kecil mengalir turun di pipinya. Ekspresi wajahnya membuat Dave bergidik. Itulah wajah Sersan Satu Mullin, tepat sebelum tamat riwayatnya. Dengan suara rendah dan amat sangat dingin, Ransome mendesis, “Elliot, kau bajingan tengik, kau tadi bisa saja meledakkan bolaku.”

“Itu risiko permainan, temanku. Di samping itu, kau bilang kau sudah membaca berkas 201-ku. Seharusnya kau ingat nilaiku dalam ketepatan menembak.” “Aku akan membunuhmu karena ini.” Dave mengembuskan napas dengan kesal. “Jadi apa lagi yang baru?”

“Bagaimana aku melakukannya, bangsat. Bagaimana sakit dan lama waktunya. Itulah yang baru.”

111”Terima kasih karena kaujelaskan hubungan kita. Sementara ini, jangan duduk di situ seperti orang tolol meneteskan darah ke mana-mana. Tempelkan sekeping es pada lukamu. Itu akan mengurangi rasa sakit dan mengurangi perdarahan.”

Ransome menggeram, merapatkan bibir, dan berputar untuk mengambil sekeping es dari gelas -air. Ketika ia berbalik, Dave mengayunkan pistol ke belakang kepalanya. Ransome tersungkur ke meja dan tergelincir pelan ke lantai.

Satu penggalan pada jam. Waktu sepenuhnya terhenti. Ia punya (halo, sobat lama) sepucuk pistol berisi peluru di tangannya. Musuhnya tak sadarkan diri di kakinya. Sekadar terdorong rasa ingin tahu, bukan karena kekejaman dalam hati, Dave membidikkan moncong pistol itu ke bawah tengkorak Ransome. Gerakan itu terasa enak, terasa benar. Ibu jarinya menarik pelatuk ke belakang. Rasanya lebih enak lagi.

Itu tentu akan mudah sekali dilakukan. Persoalan mudahlah yang mengutukmu, bukan yang sulit.

Dua puluh lima tahun sebelumnya. David Elliot, tidak sepenuhnya waras waktu itu, berdiri di jantung kengerian dan berjanji kepada Tuhan bahwa ia takkan pernah, untuk selamanya, menembakkan senjata karena kemarahan. Aku takkan melukai siapa pun, demikian ia berdoa, tak pernah lagi, tak ada tindakan kemarahan, tak ada lagi tindak kekerasan—oh, Tuhan, aku takkan berperang lagi….

Kini, hanya dalam sepagian ini, ia sudah membunuh

112

dua orang. Mudah—semudah dulu—dan otomatis, la tidak merasakan apa pun.

Namun sekarang, tepat pada saat ini, sepucuk pistol di tangan dan sasaran yang pantas dalam penglihatannya, ia merasakan sesuatu—perasaan telah menyelesaikan sesuatu, emosi nyaman seorang terlatih yang sudah melatih keterampilannya hingga sempurna. Dengan dua nyawa baru saja melayang di tangannya dan bau mesiu di jarinya, ia .tahu bahwa bukan kecil risiko baginya untuk merasa enak, cukup enak, dan merasa makin lega setiap saat.

Tak pernah lagi, pikirnya. Tak pernah. Ia hampir sesat. Mereka hampir menang. Kini itu terjadi lagi. Bila ia membiarkannya. Namun ia takkan, tak bisa membiarkan dirinya berubah menjadi manusia yang dulu mereka harapkan.

Ransome menduga sebaliknya. Ransome dan orang-orangnya. Mereka pikir mereka tahu apa yang akan dilakukannya. Ambil satu-dua orang sipil sebagai sandera. Siapkan sergapan. Tumpuk mayat yang roboh. Mulai tembak-menembak. Mencoba dengan tembak-menembak keluar dari gedung itu.

Dave tersenyum muram. Ia mengangkat laras pistol itu dari kepala Ransome, menekan pengaman, melepaskan kokangan, dan menyelipkan senjata itu ke bawah sabuknya. Meskipun tahu musuhnya tidak dapat mendengarnya, ia tetap berbicara kepada Ransome: “Berapa orang yang kaupasang untuk mengawasi pintu keluar, Sobat? Dua puluh? Tiga puluh? Lebih banyak lagi? Berapa pun jumlahnya, aku takkan bisa melewati mereka, kan?” Dave melihat ke celananya, robek dan ternoda minyak. ‘Tidak. Aku sungguh mencolok mata.

113Persetan, melihat bagaimana keadaanku, mereka akan menembakku. Tapi aku akan keluar, Ransome. Percayalah. Juga percayalah aku akan melakukannya dengan caraku sendiri, bukan caramu. Aku lebih baik menembakkan pistol ke kepala sendiri daripada berbuat seperti itu.

3.

Tempat itu gelap, hangat, nyaman, dan aman. Di dekatnya, peralatan menimbulkan bunyi mendengung. Udaranya agak apak, tapi tidak terlalu jelek. Dave berbaring miring, meringkuk nyaman. Perutnya penuh dan rasanya ia ingin tidur siang. Ia suka di sini.

Selalu ingin merangkak kembali ke dalam rahim, kan, Sobat?

Tempat persembunyian yang sempurna. Dave senang menemukan tempat ini, dan sedikit terkejut. Senterex sudah sejak lama memindahkan bagian Management Information System-nya ke pinggiran New Jersey. Tadinya ia pikir setiap perusahaan lain di New York, termasuk pialang-pialang Wall Street, sudah melakukan hal yang sama. Ruang kantor di Manhattan terlalu mahal untuk disia-siakan menampung perangkat keras komputer. Di samping itu, programer adalah jenis manusia yang sulit, dan lebih produktif bila disisihkan dari tekanan kehidupan kota besar.

Bagaimanapun, setidaknya ada satu perusahaan New York yang belum merelokasi komputer-komputernya. Perusahaan itu adalah anak perusahaan American lnterdyne Worldwide. American Interdyne, penerbit saham palsu kamikaze yang diberantas pada tahun

114

1980-an, beroperasi di bawah perlindungan undang-undang kebangkrutan dan hakim federal yang sudah pikun. Mungkin itulah sebabnya mengapa perusahaan itu masih menempatkan komputer-komputernya di lantai dua belas menara perkantoran yang sangat mahal di Park Avenue.

Berapa sewa ruang di sini? Sekitar empat puluh dolar per kaki persegi.

Ruang komputer American Interdyne luas dan bergaya kuno—penuh dengan komputer mainframe besar, perangkat periferal yang menderu-deru, dan konsol yang berkedip-kedip. Perusahaan-perusahaan lain sedang membongkar sistem besar mereka yang tersentralisasi, mengganti perangkat raksasa dari IBM seharga $15 juta dengan stasiun-stasiun kerja yang ramping dan client/server network berkecepatan tinggi. American Interdyne belum melakukannya. Bagian sistem komputernya lintang pukang di seluruh lantai itu, seperempatnya dipergunakan untuk komputer mainframe raksasa yang oleh kebanyakan eksekutif, Dave salah satunya, dianggap seperti dinosaurus.

Namun, ia senang melihatnya sekarang. Yang paling menyenangkan mengenai monster-monster itu, pikirnya, adalah kerumitannya. Raksasa-raksasa manja yang menuntut perawatan dan makanan tak habis-habisnya. Berbatalion-batalion teknisi berbayaran tinggi memanjakan mereka. Sistem catu daya yang dibuat khusus. Pendingin udara yang besar dan berdaya tinggi. Deretan periferal yang tak ada habisnya. Peralatan pemantau dan pengendali khusus.

Dan kabel.

Banyak kabel. Kabel dalam jumlah lebih besar

115daripada yang kaubayangkan. Instalasi komputer mainframe besar membutuhkan bertumpuk-tumpuk kabel. Dan kau tak sekadar menempelkan kabel-kabel itu sekali dan kemudian melupakannya. Tak bisa. Kau selalu harus mengutak-atik kabel-kabel, menghubungkan kembali berbagai port, soket, dan interface. Oh, DASD itu dihubungkan ke mainframe, dan mainframe itu dihubungkan ke frontend, dan frontend dihubungkan ke multiplexer, sekarang dengar de word of de lawd!

Yang berarti lantai yang dinaikkan. Ruang komputer American Interdyne, seperti semua pemakai mainframe lain, dibangun pada lantai yang dinaikkan. Kabel-kabel dan kawat-kawat berkelok-kelok di bawahnya. Lantai itu dipasangi panel sehingga, seperti yang begitu sering diperlukan, staf komputer bisa membukanya dan menata kembali konfigurasi kabel-kabel tersebut.

Gelap, hangat, dan nyaman. Sungguh cukup nyaman di bawah lantai itu.

Dave butuh kedamaian. Dua kali sesudah meninggalkan Prime Minister’s Club ia nyaris bertumbukan dengan anggota-anggota Pasukan Penjinak Bom Kepolisian New York. Seandainya mereka melihatnya… compang-camping, kotor, bau muntahan, tangannya penuh dengan makanan curian, dan dengan pistol-pistol tidak sah terselip di sabuknya…

Pasti agak sulit mencari alasan meloloskan diri, Sobat. Terutama menjelaskan baja penembak itu.

Pistol itu semuanya otomatis. Satu milik Carlucci, dan satu milik anak buah pendukung Ransome. Keduanya berbentuk dan bermodel sama, apa bentuk

116

dan modelnya, Dave tidak tahu. Tak satu pun mencantumkan cap pembuatnya atau nomor serinya. Keduanya memiliki rangka dari serat polimer ringan, peredam suara buatan pabrik, pembidik laser, dan rangka penyimpan magasin yang menampung 21 peluru.

Peluru-peluru itu jadi bahan renungan—namanya TUG, singkatan dari Torpedo Universal Geschoss. Dave tak pernah tahu ada peluru semacam itu untuk pistol. Mata pelurunya untuk berburu, dirancang untuk menembus dalam, menjadi jamur di dalam tubuh, merobek jantung sasaran. Orang yang tertembak tubuhnya dengan salah satu peluru itu akan mati seketika di tempatnya berdiri; bahkan luka terserempet sekalipun akan membuatnya lumpuh.

Di atas tuas pengamannya, ada batang pengokang yang sedikit melekuk. Dave menduga dengan mendorong pengokang ini ke depan akan mengubah pistol itu menjadi otomatis penuh, mengubah pistol tersebut menjadi senapan mesin yang bisa dipegang tangan.

Perkakas bagus. Tak sehebat pistol Ingram MAC lamamu yang dilengkapi dengan WerBell Sionics suppressor, tapi cukup jahat. Otomatis .38, 130 grain untuk kecepatan dari laras hanya setitik di bawah kecepatan suara. Seperti itu suaranya akan teredam optimal. Menghantam sasaranmu dengan energi sebesar 150 kilo per kaki persegi. Aduh.

Aduh juga bila pihak yang berwajib sampai menangkap orang sipil membawa pistol semacam itu. Dave merasa bahwa memikirkan untuk memiliki senjata macam itu saja sudah melanggar Undang-Undang Sullivan.

117Dan itu menimbulkan beberapa pertanyaan dari mana asal senjata-senjata itu—orang-orang yang membawanya.

Aman di bawah lantai, kepala berbantal kabel AWG 22 yang terbungkus karet, nyaman, Dave mencoba tidur. Malaikat pelindungnya yang suka berdebat itu tidak membiarkannya. Masalahnya tentu saja Helen. Mengapa dia muncul di samping anak buah Ransome? Bagaimana mereka membujuknya agar memusuhi suami sendiri?

Dave ragu-ragu Helen memang berniat mengkhianatinya. Anak buah Ransome mungkin sudah menceritakan kebohongan yang mengerikan kepada Helen {atau lebih parah lagi, suara dalam benaknya memperingatkan, kebenaran yang mengerikan) agar mau mengidentifikasikannya.

Kebohongan apa? ia bertanya pada diri sendiri. Kebenaran apa? balas malaikat itu.

Ia tidak bisa menemukan jawaban untuk kedua pertanyaan tersebut. Tidak pula ia bisa membiarkan dirinya memeriksa penjelasan alternatif atas perilaku Helen—belum bisa. Mungkin dia ada di pihak mereka. Mungkin dia ingin kau mati sama seperti semua orang lain.

Tidak masuk akal. Sudah lima tahun dicurahkannya untuk bekerja sekuat tenaga mengubah perkawinan itu menjadi keberhasilan.

Seberapa keras Helen bekerja?

Diam! Aku tak butuh ini!

Kau tahu apa kata mereka tentang orang yang berdebat dengan diri sendiri, dan kemudian kalah… ?

118

Dave menggeram dan berguling, berusaha menemukan posisi yang yang lebih nyaman. Saat ia membalik^ radio yang diambilnya, bersama uang 67 dolar, dari mayat anak buah Ransome, terlepas. Diambilnya radio itu dan ditempelkannya ke telinga. Volumenya kecil. Cepat atau lambat staf teknik American Interdyne akan datang kembali ke ruang komputer. Dave tidak ingin mereka bertanya-tanya heran dari mana bunyi aneh itu—kedengarannya seperti walkie-talkie, Frank—berasal.

Suatu percakapan sedang berlangsung: “…seperti ada orang menjatuhkan sandwich dengan saus tomat dan melaburkannya ke lantai. Setengah penduduk New York City pasti telah menginjak wajah bangsat malang itu.”

Suara lain menjawab, “Aduh, mengerikan. Itu cara mati yang mengerikan. Seseorang harus memanggil Don… Robin dan memberi kita perintah lebih lanjut.”

“Negatif. Robin tak mau dihubungi dengan radio. Kita tak bisa bicara padanya sampai dia bicara pada kita.”

“Aww, man. Polisi mulai membiarkan orang-orang kembali ke dalam gedung. Aku tak tahu apa yang harus kita kerjakan, tapi kupikir kita harus keluar dari sini.”

“Tidak tanpa perintah.”

“Persetan dengan perintah itu, man. Dan satu hal lagi, cuma Robin dan Partridge yang tahu apa sebenarnya maksud segala kerusuhan ini. Maksudku, kita harus membunuh orang ini, kan? Bukan urusan besar, kata mereka. Cuma satu hari kerja dengan gaji biasa, kan? Ya, bukan masalah besar. Nah, kalau bukan masalah besar, mengapa mereka tak menjelas-119kan apa maksud semua ini? Astaga, seperti kita tak dapat izin atau entah apa. Tapi, uh-uh, tak ada pertanyaan, kata Robin. Tak ada jawaban, kata Robin. Jadi, persetan dengan semua ini. Kau tahu apa pendapatku? Menurutku laki-laki ini, sasaran kita, bikin orang ketakutan. Maksudku dia tahu rahasia busuk salah satu bocah besar itu. Dan siapa pun bocah besar itu…”

“Hentikan itu!” Dave kenal suara tersebut. Suara itu milik Partridge.

‘Tidak, man, dengarkan…”

“Tenang, Warbler. Dan jangan panggil aku ‘man.” Suara Warbler menitikkan sarkasme. “Wah, maafkan saya, Sir.”

“Warbler, kalau kau ada masalah dengan rantai komando, akulah yang akan memecahkannya untukmu. Dan bila ada di antara kalian ada masalah dengan tugas kalian, dengan senang hati aku akan membicarakannya satu per satu. Kalau tidak, kalian tahu apa tugas kalian, dan itu sajalah yang perlu kalian ketahui. Mengerti, Saudara-saudara?”

Orang kedua dalam garis komando. Partridge adalah orang kedua Ransome.

Seseorang menggumam, “Ya, Sir.”

“Aku tak mendengarnya, prajurit.”

“Maaf, Sir. Saya bilang ya, Sir.”

“Bersihkan saluran.” Itu suara Ransome, cukup tenang, tetapi tidak setenang sebelumnya. “Di sini Robin. Teman kita mendapat radio lain “

“Baji…”

“Aku bilang bersihkan saluran. Kalau kalian sudah lupa, itu berarti tutup mulut kalian.”

120

Kedengaran gampang tersinggung, kan?

“Poin nomor satu: Sementara ini, aku akan memberikan kode perubahan. Kita akan beralih ke Xylophone Delta Niner. Poin nomor dua: aku ingin semua kembali ke stasiun masing-masing secepatnya. Poin nomor tiga: aku perlu perlengkapan medis untuk penggunaan pribadi. Poin nomor empat: Kita perlu regu pembersih di lantai dua, di dalam restoran. Juga perlu tas mayat.”

“Kau mendapatkan dia, Robin?”

“Negatif. Tas itu untuk Oriole.”

“Aww, man…”

‘Tutup mulutmu!” Dave mendengar bentakan. Ransome menarik napas dalam dan mengembuskannya keras. Ia baru saja menyalakan sebatang rokok. Ah, kita semua punya kelemahan kecil.

“Mr. Elliot, aku yakin kau mendengarkan ini. Aku segera menyatakan gencatan senjata unilateral.”

Mengutip Mftrk Twain, aku curiga teman kita ini agak hemat dengan kebenaran.

“Kuulangi, sekarang saat genjatan senjata, Mr. Elliot. Kami semua akan kembali ke pos masing-masing dan istirahat sebentar. Seperti yang kujanjikan, aku akan mengkomunikasikan keadaan saat ini pada atasanku dan mendesak mereka agar memberikan kuasa melakukan negosiasi. Untuk sementara, orang-orangku akan tetap berjaga di tempat mereka. Kuang’ gap kau akan berbuat sama. Mengingat penjagaan yang kami lakukan di pintu keluar, itulah satu-satunya tindakan yang rasional.”

Ransome berhenti, menunggu jawaban. “Konfirmasimu akan berguna, Mr. Elliot.”

121Dave menekan tombol bicara di radionya dan berbisik, “Aku copy, Robin.”

“Terima kasih. Ada satu hal lagi untukmu. Kami akan minta manajemen restoran ini menginventarisasi barang mereka. Bila ada merica yang hilang, aku akan mengubah perintah-perintah sebelumnya sesuai dengan keadaan.”

Tiga kantong merica tergeletak dekat kaki Dave. Ia selalu ragu-ragu bila pelayan dengan sopan bertanya, “Merica yang baru digiling, Sir?” Di tempat seperti New York ini, ia tidak benar-benar yakin bahwa gilingan merica dari kayu itu benar-benar berisi butiran biji merica. Menurut perkiraannya, benda itu hanyalah tabung penyimpan merica yang dirancang agar pelanggan percaya bahwa mereka benar-benar mendapatkan apa yang mereka bayar. Di dapur Prime Minister’s Club, Dave menemukan sederet penggiling merica dalam keadaan terbuka, satu corong, dan tiga kantong merica halus. Selamat datang di New York.

“Itu berarti, Mr. Elliot, kau tak perlu menyia-nyiakan waktu menyebarkannya untuk menghindari anjing.”

Jahat sekali. Kalau cukup banyak merica yang-kaupakai, anjing-anjing itu akan mengamuk dan berbalik menyerang tuan mereka. ^ “Baiklah, semuanya, reset ke Xylophone Delta Niner. Kerjakan sekarang.”

Dave mengira radio itu akan diam saat Ransome dan anak buahnya mengaktifkan penggantian kode. Tapi, sesaat kemudian, suara Ransome meneruskan, “Ada satu hal lagi yang perlu kusampaikan, Mr. -Elliot. Sekarang pasukan tak lagi mendengarkan, aku

122

bisa mengatakannya dengan mantap. Kau mantan perwira. Kau tahu apa yang bisa dan tak bisa diucapkan komandan di depan anak buahnya.” -“Aku copy, Robin.”

Ransome menyedot, lalu mengembuskan desis panjang dan lamban. Dave berani bertaruh, Ransome tentu mengisap rokoknya. “Oke. Beginilah. Di sana tadi aku kehilangan kendali, Mr. Elliot, maka aku patut minta maaf. Aku tak gampang kehilangan kendali. Tapi ketika melihat darah di antara kakiku, kupikir kau telah menembak alatku. Itulah sebabnya aku bersikap seperti tadi’. Sekarang kuakui aku menyesal. Aku tahu aku keluar garis, dan aku tahu kau hanya mengambil tindakan yang tepat. Kau salah satu anak buah Koloriel Kreuter. Dia mengajarkan padamu peraturan-peraturannya, sama seperti yang diajarkan padaku. Tak ada pasukan dengan satu prajurit dan tak ada pilot solo. Bahkan Lone Ranger sekalipun punya teman Indian yang setia. Kau tahu itu. Kau tahu aku tadi membawa* pendukung. Dan kau menanganinya tepat seperti yang harus kaukerjakan. Aku menghargainya. Kuharap kau memaafkan tingkah dan omonganku. Aku sungguh-sungguh. Kau boleh pegang janjiku bahwa episode itu takkan terulang.”

Boleh juga. Persis seperti dalam buku-buku perang urat saraf. Dapat dipercaya, tulus, terus terang— kau tahu. untuk orang sinting macam Ransome, dia kedengaran seperti orang baik hati.

“Mr. Elliot? Apakah kau mendengarkan. Mr. Elliot?”

“Aku copy, Robin.”

“Over and out.” Radio itu mati. Ransome sudah mengganti kode.

123Dave menyandarkan kepalanya ke kabel-kabel itu, mencari posisi nyaman. Ia bersendawa. Makanan yang diambilnya dari Prime Minister’s .Club terasa selezat makanan yang pernah ia makan. Namun itu tidak mengejutkan. Apalagi, peraturan pertama dalam keprajuritan adalah: makanan curian terasa paling lezat.

“Selalu ambil ayam bila kau punya kesempatan, sebab bila kau sendiri tak menginginkannya, kau bisa dengan mudah menemukan orang lain yang mau, dan perbuatan baik takkan pernah dilupakan.” Begitu kata Huck Finn.

Dan peraturan kedua dalam keprajuritan adalah ini: begitu tembak-menembak berhenti, tibalah saat tidur.

Tak lama kemudian, David Elliot tertidur. 4.

Jaket wol instruktur itu memberikan penampilan yang pantas sebagai pengajar. Tingginya rata-rata, tapi serasa lebih tinggi. Caranya menegakkan kepala, dengan hidung terangkat sedikit, menambah ilusi tingginya. Rambutnya agak panjang, tapi terpangkas rapi dan bergaya untuk akhir tahun enam puluhan. Tapi bagaimanapun juga, potongan itu terasa agak ganjil di dalam ruangan yang penuh dengan potongan gaya militer.

Ia bicara dengan aksen New England yang tegas— bukan dengan logat Irlandia keluarga Kennedy, tapi lebih aristokratis. “Selamat siang, Saudara-saudara.” Letnan Elliot dan rekan-rekannya sesama siswa yang hanya berjumlah selusin sudah menghabiskan pagi itu

124

dengan melihat-lihat fasilitas tersebut. Fasilitas itu merupakan perbaikan besar di Fort Bragg. “Namaku Robert. Kalian bisa memanggilku Rob bila mau. Seperti semua orang yang akan kalian jumpai di sini, aku lebih suka dipanggil dengan nama pertama. Sedangkan nama keluarga kami, ah, aku khawatir kami sudah mengalami sedikit amnesia.” Kelas itu tertawa senang.

“Pelatihan yang kalian terima di Kamp P ini mungkin akan kalian terima sebagai kejutan. Lembaga ini bukan bertujuan memperdalam pelajaran-pelajaran yang sudah kalian pelajari. Kami anggap kalian sudah menguasai seni keprajuritan dengan baik. Dan bila tidak, kalian takkan ada di sini. Kurikulum kita diarahkan pada keahlian yang lain. Keahlian ini memiliki dua dimensi. Dimensi yang tak pelak lagi ingin kalian dengar adalah manifestasi luar keahlian kita—senjata-senjata luar biasa, alat-alat berbahaya, tipu muslihat keji, dan keterampilan-keterampilan mematikan lainnya yang dituntut dari pelaku sabotase, subversi, dan pembunuh. Sudah tentu kami akan mengajarkan pada kalian hal-hal tersebut. Tapi bukan segera. Pertama, kita akan memusatkan perhatian pada dimensi kedua keahlian ini, dimensi psikologis, dimensi dalam, dimensi pikiran. Pada akhirnya, Saudara-saudara, dalam pikiranlah permainan ini dimainkan, dan dalam pikiranlah permainan ini dimenangkan atau tidak. Apakah kalian memahami maksudku?”

Beberapa orang mengangguk. Seorang perwira Marinir di belakang Dave berseru keras, “Ya, Sir!”

“Coba lupakan kata ‘sir. Kita di sini kolega yang sederajat. Sekarang, sebagai permulaan, kalian sebagai

125warga Amerika yang baik tentulah tumbuh dewasa dalam budaya yang menjunjung tinggi olahraga beregu. Aku yakin kalian semua pernah menyaksikan berbagai pertandingan dan dengan penuh semangat mendukung regu daerah kalian. Kemungkinan besar, kalian sendiri pernah bermain di berbagai lapangan, kalian masing-masing adalah pemain beregu yang baik. Bahkan mungkin kalian pernah meraih satu-dua prestasi besar dalam olahraga. Bila demikian halnya, kalian berhak merasa bangga, karena olahraga beregu memang merupakan permainan terhormat. Namun sayangnya, permainan tersebut juga merupakan penyederhanaan struktur yang” primitif. Coba renungkan: lapangan itu memiliki dua gawang. Hanya ada dua regu yang bertanding. Permainan itu dimainkan selama periode waktu tertentu yang sudah ditentukan, diatur oleh buku peraturan sederhana yang sudah dikenal dan ditaati oleh wasit serta para pemain. Beberapa orang mengatakan olahraga adalah metafora untuk perang, dan perang adalah metafora untuk olahraga. Aku khawatir bukan begitu, meskipun sudah jadi kesalahan yang lazim diyakini oleh orang Amerika. Selama beberapa minggu mendatang, aku berharap akan membebaskan kalian dari kesalahan menyedihkan ini, sebab kalian lihat, perang, dan terutama jenis perang di mana kalian dipersiapkan, punya lebih dari dua pihak dan lebih dari dua regu. Selain itu tak ada perangkat peraturan yang mengaturnya. Permainan yang akan kalian pelajari ini berlapis-lapis seperti bawang. Kupaslah selapis, dan selapis lagi sudah menunggu kalian. Dan satu lagi, dan satu lagi. Orang yang bermaksud mencari inti tersembunyi sesiung bawang, Saudara-126

saudara, adalah orang yang akan sangat kecewa. Karena begitu ia mengupas bawang itu sampai ke jantungnya, ia takkan mendapatkan apa-apa. Psikologi dari kebenaran seperti ini bisa sangat meresahkan. Misiku adalah mempersiapkan kalian menghadapinya. Semoga aku mengajari kalian bagaimana melihat di balik permukaan segala hal, bagaimana merasakan berapa banyak lapisan yang dimiliki bawang itu, dan bagaimana mengenali bahwa lapisan-lapisan itulah yang menjadi jiwa bawang tersebut. Ini masalah yang mendesak, Saudara-saudara, sebab begitu kalian keluar dari ruang kelas dan masuk ke neraka tempat kami akan mengirim kalian, dengan cepat kalian akan menemukan bahwa di bawah permukaan permainan ini ada permainan lain sedang dimainkan, dan di bawahnya masih ada permainan lain. Dan peraturannya. Saudara-saudara, ahh, semua peraturannya akan sangat jauh berbeda.”

Mamba Jack Kreuter terlalu cerdik untuk mengirim letnan yang masih hijau, baru tiga minggu di negara itu, sebagai perwira yang bertanggung jawab atas misi pembunuhan di seberang Garis DMZ. Dave Elliot memikirkan hal ini ketika ia masih berada di dalam tenda sang kolonel. Fakta menunjukkan bahwa sang kolonel memandang Dave tak lebih sebagai domba korban.

Bukan berarti Jack tidak adil. Dia sudah memberikan cukup informasi kepada Dave—sekadar cukup—untuk bernalar mendapatkan kebenaran.

Kreuter sengaja membocorkan fakta bahwa orang Rusia yang harus dibunuh Dave adalah seorang mayor

127KGB. Kreuter juga menegaskan bahwa persoalan dengan mayor itu bukanlah bantuannya kepada VC, tetapi lebih karena nasihat yang ia berikan kepada mereka.

Pertanyaan: Nasihat apa yang diberikan seorang mayor KGB kepada Vietcong?

Jawab: Nasihat berdasarkan data intelijen KGB, sebab data intelijen inilah yang selalu jadi modal Komitet Gosudarstvennoy Bezopasnosti.

Pertanyaan: Dari mana KGB mendapatkan data intelijennya?

Jawab: Dari agen dan informan.

Dave duduk di dalam tendanya sendiri, minum bir hangat sambil merenung-renungkannya. Mayor Rusia itu mendapat pasokan informasi dari informan—mungkin salah satu perwira Vietnam di bawah komando Kreuter, atau mungkin orang lain. Siapa pun orangnya, ia tentulah berkedudukan tinggi dan memberi informasi bermutu. Baik Mamba Jack Kreuter maupun komandan lain tidak akan mengambil risiko melakukan penyerbuan melewati garis DMZ, kecuali kehilangan data intelijen itu serius.

Pertanyaan: Bagaimana caramu menangkap pengkhianat ini?

Jawab: Pasang perangkap untuk membunuh perwira senior Vietcong—atau lebih baik lagi, orang Rusia itu sendiri.

Pertanyaan: Apa umpannya?

Jawab: Seregu prajurit yang bisa dikorbankan di bawah pimpinan letnan yang juga boleh dikorbankan.

Dave dikirim ke utara untuk memancing musuh keluar dari sarangnya. Kreuter berharap ia akan

128

melakukan kesalahan masuk perangkap, maju cukup dekat ke markas orang Rusia itu untuk menarik perhatian, dan memancing tembak-menembak sehingga menimbulkan kebingungan. Sementara itu, regu kedua—pasukan Amerika dengan pimpinan-pimpinan yang lebih berpengalaman—akan menjepit pangkalan operasi Rusia itu Begitu tembak-menembak mulai, mereka akan menyerbu dan menerkam mangsa mereka. Inilah tujuan misi tersebut. “Di balik permukaan permainan, ada permainan lain yang dimainkan….”

Pertanyaan: Mereka sebut apa umpan yang dipakai untuk memikat harimau?

Jawab: Domba Yudas.

Pertanyaan: Berapa banyak domba Yudas yang dibutuhkan untuk mendapatkan harimau itu? Jawab: Selalu ada yang pertama.

5.

Meskipun ia tidak memimpikan bawang, David Elliot terbangun memikirkannya. Atau lebih tepatnya bagian tertentu. Lapisannya yang teratas, katanya pada diri sendiri, bernama Bernie Levy.

Coba ceritakan lebih banyak padaku.

Orang seperti Ransome tidak mengirim orang\ macam Bernie untuk melaksanakan pekerjaan kotor mereka. Mereka melaksanakannya sendiri. Untuk itulah mereka dibayar. Satu-satunya kemungkinan Ransome membiarkan Bernie pergi membunuhku adalah bila Bernie bersikeras, meyakinkannya, mendebatnya. Ia dan Ransome mungkin berkutat keras hingga hal itu terjadi. Bernie Levy keras kepala. Tuhan tahu dia

129keras kepala. Sekali ia memutuskan bahwa sesuatu benar, ia akan berpegang teguh pada keputusan itu.

Itu hanya sebagian dari jawaban.

Bagian lainnya adalah apa yang diucapkannya. “Bernie Levy menyalahkan diri sendiri, dan Tuhan takkan mengampuni.”

Jadi?

Entah bagaimana Bernie merasa dirinya bertanggung jawab atas niat Ransome untuk membunuhku. Bila ia yakin bahwa mimpi buruk ini kesalahannya, ia tentu yakin bahwa membunuhku adalah tugasnya. Lebih dari sekadar tugasnya. Kewajibannya. Bernie mantan anggota Marinir. Semper Fidelis. Kewajiban selalu ia junjung tinggi.

Kaupikir Bernie-lah yang ada di balik semua kekusutan ini?

Mungkin tidak. Mungkin dia cuma salah satu kor-^ban, sama seperti aku. Menurut dugaanku dia cuma korban. Ia hanya punya pilihan membiarkan Ransome membunuhku atau menembakku sendiri. Ketika masuk ke kantorku, dia menggumam dan bicara tergagap-gagap bahwa ia tidak punya alternatif. Itulah yang dimaksudkannya. Dipikirnya ia wajib memberitahuku. Aku harus dibunuh karena kesalahan yang ia lakukan. Ia merasa wajib menjadi orang yang menarik picu. Ia tidak bisa membiarkan seseorang yang tak dikenal melakukannya.

Isyarat kebaikan hati.

Boleh kukatakan mulia. Bernie menanggung dosa itu dalam jiwanya sendiri. Masalah ini pasti mengusik hati nuraninya.

Oke, jadi dalam neraka jahanam apa Bernie terlibat dan bagaimana kau terlibat?

130

Aku tak tahu. Aku bahkan tak bisa menebak.

Kau yakin tidak menyaksikan pembunuhan oleh mafia atau entah apa saat aku tidak waspada9

Apa yang kulihat? Apa yang kudengar? Apa yang kuketahui?

6.

Seseorang berjalan di atas, melintasi lantai yang dinaikkan di ruang komputer itu. Suara laki-laki, tenor dan tanpa aksen, berseru, “Sekarang sudah pukul 15.30. El Supremo ingin semua staf operasi berada di ruang rapat. Ada dekrit baru yang datang dari atas.”

Seseorang mengeluh. “Pemotongan gaji lagi.”

“Ya,” yang lain menambahkan. “Untuk menutup kerugian karena makin bengkaknya bonus bagi manajemen top.”

“Dengar, Saudara-saudara,” suara tenor itu berkata, “saya tahu memang berat keadaan di sini, tapi setidaknya kita masih punya pekerjaan.”

“Setidaknya hingga pukul 15.30.”

Suara tenor itu tak menghiraukan cemooh tersebut. “El Supremo mengatakan butuh waktu sejam bersama kalian. Apakah kita menjadwalkan urusan penting antara sekarang sampai waktu itu?”

Seorang wanita menjawab, “Tak ada yang besar, tapi ada pemeriksaan RJE pada piutang yang mestinya dilaksanakan pukul 16.00. Itu untuk’ Fort Fumble, kantor pusat kita yang terhorniat.”

“Oke, Marge, kau yang menangani urusan itu. Kau tak perlu ikut rapat dan menyelesaikannya. Aku akan

131tetap di sini kalau-kalau kau membutuhkan bantuan. Aku dan El Supremo biasa pulang naik kereta api bersama. Dia bisa memberitahuku mengenai rapat itu nanti. Yang lain, segera ke sana. Kalian tahu betapa benci bos kita pada orang-orang yang terlambat dalam rapatnya.”

Paduan tiga atau empat suara mulai melagukan pembukaan Showboat, “Semua negro bekerja…” “Hentikan!”

Tumit dan sol sepatu beradu dengan ubin. Dave mendengar pintu terbuka dan terbanting menutup. Sesaat suasana hening. Kemudian bunyi langkah kaki mendatangi ke arahnya. Ringan, berdetak-detak— sepatu perempuan, yang bernama Marge itu. Wanita itu berhenti tepat di atas kepalanya.

Suara tenor itu bicara, “Apakah kau mengerjakan-Ś nya dari konsol itu?”

“Em, ya.”

Langkah kaki yang lebih berat dari laki-laki itu berdebam di atas kepala Dave. “Itu 3178, kan?” ” “Ya.”

“Aku tak tahu mereka masih membuatnya. Sama sekali bukan terminal yang tepat untuk pekerjaan ini, kan?”

“Kerjakan dengan perangkat itu atau tidak sama sekali. Begitulah cara American Interdyne.” - “Well, bagaimana kau…”

“Dengar, Greg, sudah tujuh bulan aku menangani ini sendirian. Kau tak perlu tinggal di sini. Mengapa kau tak ikut rapat itu ^saja? Menyenangkan hati El Supremo?”

Dave mendengar Greg menggoreskan ujung se—

132

patunya pada lantai. “Ah… Marge, masalahnya aku tak benar-benar tinggal di sini untuk membantumu dengan pekerjaan itu.”

“Oh?” Menurut Dave nada suara Marge berubah sedikit menajam.

“Uh, ya. Ah, masalahnya, Marge, aku… Dengar, aku sudah pernah mengatakan hal ini. Kau gadis yang cantik, dan kupikir aku bukan laki-laki yang jelek.”

“Begitu juga Ken dan Barbie, tapi mereka tidak dibungkus dalam kotak yang sama.” Dave menduga ini ucapan wanita yang sudah pernah membicarakan urusan ini.

“Ayolah, Marge. Aku laki-laki yang cocok untukmu, dan kau tahu itu.”

“Laki-laki pilihanku tak punya istri dan anak di Great Neck.”

“Sudah kukatakan padamu itu sudah berakhir. Kau ingin bukti? Baiklah. Aku bisa menunjukkan bukti tagihan pengacaranya!”

“Terima kasih, tak perlu.”

“Yang kuminta hanyalah kita keluar bersama-sama sekali atau dua kali. Bersantai dan bersenang-senang. Minum satu-dua gelas, menikmati makan malam lezat. Mungkin rionton film. Sekadar untuk saling kenal lebih dalam. Apa salahnya dengan itu? Mengapa kau sama sekali tak mau mempertimbangkannya?”

“Greg, biar kutegaskan padamu. Aku sudah memikirkannya. Panjang-panjang.”

“Bagus. Aku tahu itu tak bisa…”

“Dan aku memutuskan tidak.”

“Apa? Mengapa?” Suara Greg jadi lebih keras daripada ukuran sopan santun.

133”Tak ada ‘mengapa’-nya, Greg. Hanya tidak saja.”

“Kau tak menanggapiku dengan serius. Dengar, Marge, aku serius mengenai ini. Sangat serius. Kau sudah jadi penting bagiku, dan kau takkan… Hei! Jangan pergi begitu saja selagi aku bicara!”

Terdengar pertengkaran. Suara Marge juga naik, lebih tinggi daripada suara Greg. “Lepaskan aku, Greg. Lepaskan aku sekarang juga!”

“Tidak sampai kau diam dan mendengarkan! Menurutmu siapa yang kauhadapi di sini? Aku bosmu, Marge. Apa kau sudah lupa itu? Akulah yang mengisi formulir penilaianmu dan memutuskan kenaikan apa yang akan kaudapatkan. Akulah yang menyelamatkanmu dari penyempitan pegawai terakhir kemarin. Dan bila kau tak ingin mendapatkan giliran berikutnya, lady, kau sebaiknya meluruskan sikapmu!”

“Apa! Greg…”

“Lupakan apa kata Gedung Putih tentang perekonomian, babe. Di luar sana itu adalah dunia yang dingin dan keras, dan pekerjaan bagus tak mudah didapatkan.”

“Tidak, Greg. Ada…”

‘Terutama bila kau punya noda hitam dalam catatanmu. Di lain pihak, Marge, bila kau tetap bekerja di American Interdyne, masih ada pefuang. Kau bahkan mungkin mendapatkan kenaikan pangkat bila memainkan kartumu dengan benar.”

“Ada orang lain, Greg…”

“Peduli amat dengannya! Tinggalkan pacarmu itu, Sayang.”

‘Tidak. Maksudku di belakangmu.” Greg yang sedang memilin tangan Marge ke punggung, menengok ke belakang.

134

David Elliot tersenyum kepadanya, meskipun tidak dengan ramah

7.

Dave mendorong Greg dengan ujung kakinya, memastikan bahwa laki-laki perayu itu sudah pingsan.

Ia menggoyang-goyangkan pergelangan tangan, mencoba membuang rasa sakit itu. Buku-buku tangan kirinya memar, dan darah menetes dari lukanya yang tak terbalut.

Tanganmu kotor. Dengan semua yang lainnya kau akan mendapat gangrene.

Sesudah menengok terakhir kalinya pada Greg yang sedang tak sadarkan diri, Dave memandang Marge. Pikiran pertamanya: tulang pipi yang indah. Pikiran keduanya: perempuan ini akan berteriak setiap saat sekarang. Tanpa pikir ia berkata, “Hai, aku Dave Elliot dan kau baru saja melewatkan hari yang menyebalkan.”

Rahang Marge—persegi, kuat, menarik—mengendur. Matanya yang hijau (hijau pekat, hijau zamrud, hijau seperti danau kecil di atas gunung), tampak lebar di balik kacamata berbingkai merah, persegi, besar. Ia membuka dan menutup mulutnya dua kali. Tak ada suara yang keluar.

“Sebenarnya, hari yang sangat menyebalkan.”

Buat dia tertawa. Bertindaklah sedikit kekanak-kanakan, sedikit kecewa.

Marge melangkah mundur. Dengan lemas ia memberikan isyarat dengan tangan kanannya, seolah mencoba mendorong sesuatu.’

135”Kurasa aku tampak berantakan.”

Marge akhirnya berhasil bergumam, “Setengahnya saja kau tak tahu.”

“Hari yang amat sangat menyebalkan.”

“Dan kau bau.” Ia mengerutkan cuping hidungnya. Dave menyukai itu.

“Sebenarnya, ini hari paling menyebalkan dalam hidupku. Dengar, Marge—Itu namamu, kan?—Marge, kalau mundur lagi kau akan menabrak dinding. Yang akan kulakukan adalah bergeser ke Sini, menjauh dari pintu. Jadi kalau kau mau jalan pelan-pelan ke pintu dan keluar, aku akan mengerti.”

Marge memonyongkan bibirnya, sambil menyipitkan mata memandangnya. “Sungguh?”

“Ya, sungguh.” Ia perempuan yang menarik. Dalam hal itu Greg benar. Agak pendek, mungkin 158 senti, tapi proporsinya bagus. Rambut hitam, berkilauan seperti batu bara, dipotong poni. Usianya pertengahan dua puluhan. Mata hijau ceria dan bibir yang dirancang untuk tersenyum. Hidung model Yahudi yang manis dan menarik serta…

Bukankah sebaiknya kauhentikan alur pikiran itu, Sobat? Perempuan itu sudah repot menghadapi satu laki-laki hidung belang hari ini.

Marge tetap menempelkan punggungnya ke dinding dan matanya terpaku pada Dave. Ia beringsut di garis tepi ruangan itu hingga sampai ke pintu. Begitu memegang erat pegangan pintu ia berbicara kembali, “Kurasa aku harus mengucapkan terima kasih atau entah apa padamu. Maksudku mengenai si gila Greg itu. Jadi terima kasih.”

“Kembali,” Dave memandang kemejanya yang

136

semula putih. Ia menggosok lapisan kotorannya. Tidak ada perbaikan.

Marge memandangnya, mengangguk, dan menempelkan telapak tangan ke samping tubuhnya. “Itu saja? Kau bilang, ‘Kembali,’ dan selesai begitu saja?”

“Begitulah, kurasa.” Hati-hati, hati-hati.

“Kau muncul begitu saja dari lantai seperti makhluk ciptaan Stephen King, jadi kung-fu lover boy, dan kemudian selesai begitu saja tak peduli siapa laki-laki bertopeng itu, itukah yang kaukatakan?”

Saat untuk melontarkan senyum kekanak-kanakan. Ayolah, Sobat, buat dia mempercayaimu.

Dave menghela napas dan memandang ke bawah. “Kedengarannya seperti kau butuh bantuan. Mengenai Greg, maksudku. Dan…” Ia mengangkat muka dan tersenyum lebar, “…lagi pula, aku perlu melakukan sesuatu untuk… entahlah… menyenangkan hati atau membuktikan bahwa aku orang baik atau entah apa. Jadi… mungkin alasanku memukulnya adalah… aku mungkin melakukannya lebih untuk kepentingan diri sendiri.”

“Apa?” Marge menggerutu. “Kau selalu memecahkan masalah citra dirimu dengan memukul orang?”

“Tidak. Aku tak pernah punya masalah dengan citra diri sampai hari ini.”

Marge mengamatinya. Caranya memandang nyaris seperti cara dokter memeriksa, inci demi inci, dari atas ke bawah. Dave menduga Marge sedang mencoba memutuskan bagaimana tampangnya di balik lapisan kotoran itu. Akhirnya wanita itu bicara, “Apakah kau… entahlah… dalam masalah atau apa?”

Dave kembali menghela napas. “Terlalu ringan untuk mengatakan aku ada masalah.”

137Marge menempelkan tangan pada paha, menggembungkan pipi, dan mengangguk. Dave merasa ekspresi itu sangat menarik. “Oke. Aku tahu akan menyesali ini, tapi baiklah. Kurasa aku berutang budi…” Ia mengibaskan tangan dengan muak pada Greg yang tergeletak.

Sempurna. Sekarang beri dia yang terakhir.

“Marge, aku butuh pertolongan. Aku mau minta bantuanmu. Tapi aku tak ingin kau merasa kau berutang budi padaku.”

Marge mengembuskan napas. “Oke, Mr…. siapa namamu tadi?”

“Elliot. Dave Elliot.”

“Baiklah, Mr. Dave Elliot. Kau punya waktu lima menit, sesuai jam dinding. Coba kudengar apa yang hendak kaukatakan.”

Marge mengetuk-ngetukkan kaki pada lantai dan menempelkan jari pada bibir bawahnya. Akhirnya ia bicara, “Aku harus mempercayai semua ini, hah?”

Dave mengangkat pundak. “Ada telepon di dinding sana. Teleponlah Senterex. Nomor pesawatku 4412 dan nama sekretarisku Jo Courtner. Nomor pesawatnya

4411. Bilang padanya kau asisten dokter gigiku dan kau menelepon untuk menjadwal ulang janji pertemuanku untuk besok. Omong-omong, dokter gigi itu bernama Schweber. Coba lihat apa yang terjadi.”

“Berapa nomor utamanya?”

Dave memberikan nomor itu kepada Marge. Marge menekan nomor itu, minta dihubungkan ke pesawat

4412, dan berbicara, “Selamat siang. Di sini Marge dari kantor Dr. Schweber. Mr. Elliot ada janji per—

138

temuan untuk besok yang harus kami ubah.” Ia berhenti, mendengarkan. “Oh. Kalau begitu, apakah Anda tahu kapan dia akan kembali?” Diam lagi. “Beberapa minggu. Baiklah, akan saya telepon kembali pertengahan bulan depan. Oke. Bagus. Terima kasih dan selamat bekerja.”

Ia meletakkan gagang telepon. “Kau pergi ke luar kota. Urusan keluarga mendesak. Tak seorang pun tahu berapa lama kau pergi.”

“Sekarang teleponlah adikku. Kalau benar ada urusan keluarga yang mendesak, dia tentu juga akan kembali ke Indiana. Katakan kau menelepon dari kantor pengacaraku—namanya Harry Halliwell—dan kau perlu bicara dengannya mengenai surat perwalian yang kubuat.”

Marge menelepon. Alisnya melengkung ketika mendengar jawabannya. Sesudah meletakkan gagang telepon ia berkata, “Adikmu bilang kau sedang dalam perjalanan bisnis ke Tokyo. Katanya kau takkan kembali selama sebulan.”

Dave memajang senyumnya yang paling hangat, paling ramah. “Aku sungguh butuh pertolongan, Marge.”

Marge menggeleng dan menatap ke lantai. “Dengar, aku cuma karyawati biasa. Orang-orang dengan senjata… Mafia atau entah apa… dan di samping itu, kau sudah… maksudku… kau sudah melukai orang.”

Marge berhenti bicara, menjilat lidah, dan menatap Greg yang terbujur tak sadarkan diri.

Hati-hati, Sobat, kau akan kehilangan dia.

Dave menyisirkan jari ke rambutnya. “Hanya untuk menahan mereka agar tak menyakitiku.”

Mata Marge masih menatap Greg.

139”Apakah kau tahu tentang senjata, Marge?”

Bibir wanita itu menipis. “Ketika aku delapan tahun, keluargaku pindah ke Idaho. NRA country. Tiap orang adalah pemburu. Aku sudah melihat segala macam senapan yang ada.”

“Bagus. Lihatlah ini.” Dave mengulurkan tangan ke punggung dan mencabut salah satu pistol yang tersembunyi di balik kemejanya. Ia berjongkok, meletakkannya di lantai, dan mendorongnya berputar ke arah Marge. “Kuambil dari salah satu anak buah Ransome.”

Marge membungkuk dan mengambil senjata itu. Dipegangnya pistol itu dengan sikap hormat penembak berpengalaman. Sesudah sesaat mengamatinya, ia mengangguk. “Pistol hightech, kan? Aku belum pernah melihat yang seperti ini.”

Dave tidak mengucapkan apa-apa. Ia hanya menunggu Marge mengambil keputusan.

Akhirnya ia melakukannya. Ia memeriksa kunci pengaman pistol itu, membalik gagangnya lebih dulu, dan berjalan menjauh dari pintu. Ia mengangsurkan pistol itu kepada Dave. “Kupikir kau benar-benar dalam masalah, Mister.”

Dave mengambil pistol itu dan menyisipkannya ke balik kemeja. “Aku butuh bantuan. Cuma sedikit. Takkan melibatkanmu. Aku janji. Sumpah.”

Pembohong!

“Tidak, aku…”

‘Tiga hal. Itu saja yang kuminta. Pertama: carikan aku pita isolasi atau entah apa—apa saja yang kalian pakai untuk membungkus kabel di bawah lantai. Dua: carikan aku tape recorder atau mesin dikte. Tiga:

140

awasi lorong sementara aku pergi ke kamar kecil untuk ganti pakaian dan cuci muka.”

“Pakailah kamar kecil wanita.”

“Maaf.”

“Hanya di bagian ini ada karyawati yang bekerja di lantai ini. Mereka semua sedang rapat sekarang. Kamar kecil wanita lebih aman.”

8.

Dave—sudah membersihkan diri, tidak begitu bau, serta memakai celana dan kemeja Greg si perayu— kembali ke dalam ruang komputer.

Marge memandangnya memberikan persetujuan. “Kau kelihatan seperti pecandu komputer. Kacamata tebal, celana terlalu pendek, kemeja tidak dimasukkan. Yang kaubutuhkan cuma salah satu protektor plastik itu.”

“Terima kasih. Seandainya aku punya kaus kaki putih dan sepatu olahraga, penyamaranku akan sempurna.”

Meskipun Greg lima senti lebih pendek daripada Dave dan pinggangnya satu nomor lebih besar, pakaiannya cukup nyaman dipakai. Kemeja yang longgar itu jelas satu nilai plus. Membuat pistol mudah disembunyikan. Sayangnya sepatu Greg jadi masalah. Sepatu itu terlalu kecil. Dave masih memakai pantofel Bally yang jelas kelihatan mahal itu. Ia ingin membuangnya.

Marge menimang-nimang mesin dikte yang diberikan Dave. “Kau yakin ini akan berhasil?”

“Kuharap begitu. Ini pilihanku yang terbaik.”

“Dan kau yakin sudah menyetel radio ini dengan benar?”

141Dave mengambil dua radio—yang pertama dari Carlucci dan yang kedua dari laki-laki yang ditembaknya di Prime Minister’s Club. Sewaktu bersembunyi di bawah lantai ruang komputer, ia memeriksanya. Di bagian belakang kedua radio itu ada panel kecil yang bisa dicabut. Ketika panel itu dicabut, Dave menemukan sederet lampu LED mini berwarna merah yang tak disangsikan lagi menunjukan kode sandi radio itu. Sederet tombol geser terletak di bawah deretan LED itu. Hanya butuh waktu sebentar baginya untuk menyetel radio kedua dengan kode yang sama seperti pada radio Carlucci—radio yang kata -Ransome akan dipakainya untuk menghubungi Dave.

“Ya, Marge, radio itu sudah disetel semestinya.”

“Jadi yang harus kukerjakan hanyalah menekan tombol transmit dan memutar rekamanmu?” Ia menunjuk dengan jari yang panjang, langsing. Dave suka jari panjang. Ia benci yang gemuk pendek. Menurutnya Marge benar-benar memiliki jemari sempurna. Hal-hal lain juga. Menurutnya wanita itu antitesis dari istrinya—montok menarik, sedangkan Helen kurus model New York; kecil mungil, sedangkan Helen… ah, terus terang, terlalu tinggi; lugas, sedangkan Helen dingin canggih; dan berdaya tarik seksual, sedangkan Helen…

Hei, Bung! Ya, kau!

Ia memaksa pikirannya kembali ke urusan di depan mata. “Baiklah. Begitu kau mendengar suara—suara apa saja—mainkan rekaman itu. Tapi hanya bila kau berada di luar gedung ini. Kalau kau mendengar suara saat di dalam gedung, abaikan saja. Bila

142

Ransome menghubungi sebelum kau keluar dari sini, aku harus menyusun rencana lain.”

Marge menghela napas dalam dan melontarkan seulas senyum. “Bagaimana dengan Greg9”

Senyum yang menarik!

“Cepat atau lambat tentu ada yang akan mendengarnya. Kalau tidak begitu, tentu pembersih gedung akan menemukannya saat mereka berbenah. Sampai saat itu dia takkan pergi ke mana-mana.”

Marge mengamati sepatu. “Omong-omong, aku berniat tanya padamu—mengapa kaulilitkan begitu banyak pita isolasi itu pada… ah, kau tahu… pada barangnya?”

“Bila tiba saatnya ada orang melepaskan pita isolasi itu, aku ingin dia berteriak ‘aduh’.”

Marge tertawa. “Kau jahat, Mr. David Elliot.” Senyumnya membuat ruangan itu cerah.

Dan sorot matanya mengungkapkan suatu arti. Atau setidaknya Dave berpikir demikian. Atau, mungkin ia berharap perempuan itu memandang dengan sorot penuh arti. “Ya,” ia menyeringai, “itulah aku, jahat seperti anjing kampung.”

Marge mengangkat dagunya. Pipinya makin merona. “Tapi tidak jahat pada semua orang?”

Suara Marge melembut. Sebaliknya, suara Dave parau kasar. “Tidak, tidak terhadap semua orang.” Dave maju selangkah. Itu sepenuhnya gerak refleks. Marge mengambil tindakan yang sama. Tak ada yang refleks mengenai hal ini. Dave memperhatikan bahwa ruang komputer ber-AC itu jadi lebih hangat. Bukan kehangatan yang tak menyenangkan. Lebih seperti tiupan angin musim panas yang lesu.

143Marge berdiri lebih dekat padanya. Matanya berbinar-binar. Hanya jarak tiga puluh senti yang memisahkan mereka. Kalau Dave tidak keliru membaca tanda-tanda itu, tentu Marge suka berada lebih dekat dengannya. Dave tertarik padanya, dan sebaliknya.

Ada suatu daya magnetis—nyata, seketika, tak terhindarkan. Langka, tapi terjadi. Beberapa orang menyebutnya cinta pada pandangan pertama, meskipun memang bukan.

Pikiran yang tolol luar biasa berkelebat dalam benak Dave. Ia menyukai pikiran itu, dan ia menyukai ketololannya, dan yang terutama ia menyukai Marge, maka…

Ia menahan diri—sentakan kendali pikirannya yang demikan mendadak hingga terasa menyakitkan. Bahkan memikirkan apa yang tadi ia pikirkan sebenarnya sangat salah dan gila, kalau bukan bunuh diri. Dan melibatkan perempuan ini, yang sudah demikian dalam terlibat…

Sungguh menyenangkan mengetahui kau sedikitnya masih punya sisa moral, Bung.

Dave menggenggam tangan Marge, menjabatnya seperti yang dilakukannya terhadap rekan kerja. “Terima kasih atas segala bantuanmu, Marge. Beribu-ribu terima kasih. Tapi sebaiknya aku pergi sekarang. Teman-temanmu—orang-orang lain di bagian ini— kurasa sebentar lagi akan kembali dari rapat itu.”.

Kilau dalam mata Marge makin cemerlang. “Oke, tapi dengar, nama lengkapku Marigold Fields Cohen— jangan pandang aku seperti itu, aku lahir tahun 1968 dan orangtuaku tinggal di San Francisco. Bukan salahku kalau mereka memberiku nama konyol. Omong-omong, namaku tercantum dalam buku telepon. West

144

Ninety-fourth Street, di pinggir Amsterdam. Bila kau terbebas dari kekusutan ini, kau akan meneleponku, oke? Atau kau malahan bisa mampir.”

Dave balas tersenyum kepadanya. Marge merasa sangat senang. Dave sepenuhnya mendapat kepercayaan. Ia tergoda untuk mengucapkan sesuatu yang gegabah. Sesuatu yang amat sangat gegabah.

Sayang kau laki-laki yang sudah menikah dengan bahagia. Atau, kalau dipikir-pikir, mungkin sudah tidak lagi.

Atau memang ia tak pernah demikian.

“Tentu, Marigold.” Ia mencoba bicara dengan suara tulus. Mungkin memang demikian sikapnya.

“Jangan sekali-kali memanggilku Marigold lagi.”

“Tak pernah lagi. Aku janji. Sumpah mati. Sekarang ada satu hal terakhir.”

Marge mengangguk dengan bersemangat.

“Hal terakhir adalah aku tak ingin kau terlibat dalam kesulitan ini. Aku tak ingin siapa pun curiga kau membantuku. Tapi saat mereka menemukan Greg, akan ada banyak pertanyaan. Jadi, yang perlu kita lakukan adalah memberimu alibi. Gagasanku ini akan jadi alibi yang amat sempurna. Tak ada yang akan mempertanyakannya. Kau mengerti alibimu harus tahan peluru, kan?”

“Ya. Apa itu?”

“Ini.” Dave mengayunkan pukulan uppercut ke rahang Marge. Ia menangkap tubuh Marge ketika terkulai tak sadarkan diri, dan perlahan-lahan menurunkannya ke lantai. Kemudian ia mengambil semua uang tunai dari dompetnya. Hanya 23 dolar, gadis malang. Namun Dave meninggalkan uang receh supaya gadis itu bisa pulang naik kereta bawah tanah.

145BAB 4

SEMUA ADA DALAM PIKIRAN

1.

Karena tunduk pada takhayul yang paling konyol, organisasi yang mendirikan dan mengelola gedung Dave telah memutuskan di situ tidak ada lantai tiga belas. Sebagai gantinya, lantai-lantai itu diberi nomor 11, 12, 14, 15—seolah-olah dewa-dewa atau iblis yang membagikan nasib buruk itu demikian bodohnya sehingga tidak bisa menghitung.

American Interdyne hanya menempati dua lantai— 12 dan 14. Ruang penerimaan tamunya ada di lantai 14.

Resepsionisnya sedang merangkak-rangkak, memicingkan mata ke karpet, dan hidungnya seperti pilek. Dave ternganga memandangnya.

Wanita itu karikatur yuppie tahun 1980-an. Keliman rok dari serat alami, bermotif herringbone itu terjuntai

146

hingga ke bawah lutut. Pemain tackle NFL bisa iri dengan bantalan bahu blasernya yang serasi. Blus katun putihnya terkanji begitu banyak sehingga serasa bergemeresik ketika ia membungkuk, dan pita warna merah anggur di lehernya tampak seperti sejenis unggas mati dari spesies yang hampir punah. Penampilan perempuan itu hampir meneriakkan bahwa pakaian tersebut dibeli di Alcott & Andrews—dan Alcott & Andrews sudah bangkrut beberapa tahun lalu.

“Permisi.” Dave bicara dengan nada paling sopan yang bisa dikerahkannya dalam keadaan seperti itu. “Saya dari perusahaan telepon.”

Perempuan itu mengangkat kepala, menyipitkan mata memandang kira-kira ke arahnya. “Jangan bergerak (srot). Berdiri saja di situ dan jangan bergerak.”

“Kehilangan lensa kontak?”

“Dua-duanya (srot), percaya tidak?”

“Bisa saya bantu?”

“Hanya kalau kau hati-hati (srot)”

“Saya akan hati-hati.”

Sambil berjongkok, Dave mulai meneliti karpet itu. Ia melihat kilau pantulan cahaya dekat perempuan itu merangkak. “Sedikit di sebelah kiri Anda, arah pukul sebelas dari tangan Anda. Lihat?”

“Ya, terima kasih (srot). Satu ketemu, tinggal satu lagi.”

“Yang satunya tepat di sebelah utaranya.”

“Oh. Bagus. Aku lihat (srot)”

Perempuan itu melakukan ritualnya, menjilat satu jari, mengangkat kelopak mata, mengarahkan hidung ke langit-langit, dan kemudian menempelkan lensa kontak itu ke mata. Dave merasa tingkah pemakai

147lensa kontak hanya sedikit lebih lumayan daripada orang yang membersihkan hidung di depan umum.

Perempuan itu menarik sehelai tisu dari kotak di meja kerja dan menyeka matanya. Kertas itu jadi ungu karena maskara.

“Ada yang masuk ke mata?” Bahkan saat bertanya Dave tahu tak seharusnya ia melakukannya.

“Tidak.” Perempuan itu menelan ludah, menyedot ingus, dan menyeka air mata. “Aku… aku…”

Dave tidak suka dijadikan sasaran berbagi beban oleh orang yang tak dikenalnya.

“…menangis.”

Di lain pihak, ia butuh bantuan perempuan ini. Mencoba sebisa mungkin agar terdengar bersimpati, Dave menghela napas. “Oh. Apakah ada masalah?”

Dua menit kemudian, Dave tahu lebih banyak daripada yang diinginkannya mengenai sejarah hidup resepsionis itu. Di akhir delapan puluhan, ia meraih gelar MBA dari salah satu universitas ternama, terjun ke Wall Street sebagai bankir investasi, di-PHK dalam gelombang penyempitan industri finansial terakhir ini, dan tetap menganggur sampai, dalam keputusasaan, ia melamar dan mendapatkan pekerjaan sebagai resepsionis di American Interdyne Worldwide. Dave bersuara menghibur.

“Maka satu-satunya tempat aku bisa mendapatkan pekerjaan adalah tong sampah seperti ini (srot), dan aku masih harus membayar pinjaman mahasiswaku (srot), dan aku hampir tak bisa memberi makan kucingku (srot), dan mantan suamiku juga keluar dari pekerjaan dan tak bisa membayar tunjangan anak

148

(srot) dan induk semangku menggugat (srot), dandan…”

Dave menyentuh tangannya. “Apa? Kau boleh menceritakannya padaku.”

“Pantatku diremas-remas lagi.”

“Siapa, Greg?” Dave menelan ludah. Itu tadi salah. Untunglah perempuan itu tak memperhatikannya.

“Dia juga. Mereka semua! Mulai.dari dirut keparat perusahaan busuk ini kapan saja dia ada di sini sampai manajer kantor keparat itu!”

Dave melipat tangan dan memejamkan mata.

Pertama Marge, sekarang perempuan ini. Rasanya ada budaya perusahaan yang istimewa di American Interdyne.

“Perempuan itu juga busuk.”

“Maaf?”

“Manajer kantor.”

Sesudah menenangkan perempuan itu, Dave meminta apa yang ia inginkan. Wanita itu tersenyum percaya, dan memberikannya. Dave tadi begitu penuh pengertian, begitu membantu, sehingga wanita itu sama sekali tak memikirkannya. Di samping itu, Dave masih memakai sabuk peralatan tukang reparasi telepon di pinggangnya. Yang diminta wanita itu hanyalah janji bahwa Dave akan mengembalikannya sesudah selesai. Sebuah kunci.

Dave berjanji, walaupun hanya janji kosong. Perempuan itu melihat jam tangannya. “Apakah kau akan selesai sebelum pukul 17.00? Aku pulang pukul 17.00.”

Dave tersenyum kepadanya untuk terakhir kali, sambil berkata, “Mungkin belum. Tapi kunci ini akan

149saya sisipkan ke bawah kertas isap di meja Anda. Tak apa-apa, kan?”

“Oh, tentu. Atau masukkan ke laci tengah.”

“Beres. Oh, satu hal lagi, apakah Anda kenal wanita bernama Marge Cohen? Dia bekerja di bagian komputer.”

Resepsionis itu mengangguk.

“Anda mungkin perlu meneleponnya. Dia baik, dan saya pikir dia tahu banyak bagaimana menghadapi pelecehan.”

“Aku akan menelepon ke rumahnya petang ini.” la mengacungkan buku petunjuk telepon American Interdyne.

Dave berbalik untuk pergi. “Anda bilang ruang telepon ada di lantai ini?”

“Tepat di ujung gang di sebelah kiri.” “Terima kasih. Sampai jumpa nanti.” “Sampai jumpa nanti.”

Perempuan itu memberinya kunci master untuk ruangan-ruangan telepon dan peralatan. Bila beruntung, kunci itu bisa dipakai untuk seluruh ruang peralatan di seluruh gedung ini. Ruang telepon. Lemari peralatan pembersih. Ceruk-ceruk kecil dan bilik-bilik sempit tempat manajer gedung, perusahaan listrik, dan beberapa organisasi lain menyimpan peralatan ini-itu. Kunci itulah yang ia butuhkan.

2.

Dave sedang menghitung isi ruang peralatan AIW ketika Ransome akhirnya melakukan sesuatu yang tak termaafkan.

150

Radio di saku kemeja Dave mendesis hidup. Logat Appalachian Ransome muncul dari speaker. “Mr. Elliot, di sini aku bersama seseorang yang ingin bicara denganmu.”

Rahang Dave mengeras. Apa lagi sekarang? Tipuan murahan lain. Sedikit perang urat saraf untuk menggoyahkan keseimbangan mangsamu. Sesuatu untuk menghancurkan rasa percaya dirinya dan membuatnya bertanya-tanya…

“Aku tahu dari catatanmu bahwa loyalitas bukanlah salah satu nilai pribadimu. Tidak terhadap kesatuanmu. Tidak terhadap rekan-rekanmu. Tapi aku tetap berharap kau merasakan ikatan tertentu dengan darah dagingmu sendiri.”

Apa!

“Dad?”

Tidak!

“Dad, kau di sana?”

Mark, anaknya. Putra tunggalnya. Anaknya dari istri pertama. Anaknya dari Annie. “Dad, ini aku, Mark.”

Dia mahasiswa junior di Columbia, tinggal di asrama di West 110th Street, datang untuk bersantap malam bersama ayahnya paling sedikit sekali seminggu. Helen yang cemburu tak pernah bergabung dengan mereka. Ia tahu Mark orang terpenting dalam hidup Dave.

“Dad, dengarkan aku.”

Anak itu ingin jadi filsuf. Di tahun pertama kuliah ia mengambil mata kuliah pengantar. Sesuatu dalam kuliah itu menyentuh jiwanya. Ia menemukan makna pada Plato, relevansi pada Kant, dan kegembiraan

151pada Hegel. Atas kehendak sendiri, tanpa desakan dari profesor-profesornya, di tahun kedua ia membaca karya Martin Heidegger Being and Time dan menulis artikel kritis yang, mirabile dictu, diterima untuk dipublikasikan.

“Ayolah, Dad. Ini penting.”

Oh, Ransome, kau bajingan kotor, sungguh berani kau menyeret anakku dalam urusan ini? Akan kulihat kau membayar ini. Kau akan membayarnya tuntas.

“Kau harus mendengarkan, Dad.”

Dave, yang meragukan apakah ia sendiri pernah memakai kata “filsafat” sejak kuliah prasarjana, dengan antusias mendorong Maik dalam bidang studinya. Bila para ayah lain mungkin akan memandang dengan curiga pada keinginan putranya untuk menginvestasikan tahun-tahun kuliahnya dalam bidang yang dikenal tak ada relevansinya dengan pekerjaan komersial—nah, bodohlah mereka.

“Aku ada di bawah. Mom sedang naik pesawat. Dia akan tiba di sini satu-dua jam lagi.”

Aku akan membunuhmu, Ransome. Aku akan membunuhmu dan mencuci tanganku dalam darahmu.

“Dad, kau harus mendengarkan. Agen Ransome sudah menceritakan segalanya padaku. Dia sudah memperlihatkan catatannya, Dad.”

Kebohongan menyeramkan apa lagi ini?

“Itu terjadi pada yang lain, Dad. Dad bukanlah satu-satunya. Ada 20 atau 25 di antara kalian. Mereka memberimu obat. Di Vietnam, Dad, sebelum aku lahir, mereka memberimu obat.”

Aku akan mengirismu dengan pisau. Aku akan membakarmu. Oh, Ransome, Ransome, kau setan

152

jahat, siksa yang akan kutimpakan padamu takkan berakhir.

“Itu eksperimen, Dad. Mereka tak tahu apa yang akan terjadi. Tapi obat itu, Dad, punya pengaruh jangka panjang. Bahkan sesudah bertahun-tahun ini, orang masih mendapat kilas balik. Mereka bisa jadi gila, Dad. Bahkan sesudah bertahun-tahun ini mereka bisa gila. Angkatan Bersenjata berusaha meredam kehebohan. Mereka mencoba mencari semua orang yang mendapatkan obat itu. Katanya mereka bisa mengobatinya. Kata mereka…”

Apa? Apa kata mereka? Ini bakal jadi lebih parah. Inilah yang diharapkan Ransome akan membuatku hilang kendali.

“Dad, kata mereka ada efek genetisnya. Katanya mereka harus mengetesku juga. Kata mereka mungkin itulah sebabnya Mom… itulah yang membuat Mom menghadapi berbagai masalah itu.”

Angela. Bunga kampus. Pengantin di bulan Juni. Satu putra. Dua kali keguguran spontan. Depresi berat. Pertarungan dengan alkohol. Perceraian. Lalu perawatan psikiater, perkawinan kembali, dua putri cantik, serta kehidupan baik-baik dan nyaman bersama laki-laki lain.

“Dad, Dad melihat bayang-bayang, tapi itu bukan salah Dad. Itu karena obat, Dad. Obat jahat yang tinggal di dalam sistem tubuh selama bertahun-tahun ini. Mereka memperlihatkan catatannya padaku. Mereka memperlihatkan catatan orang lain juga. Ini terjadi pada kalian semua. Ada perubahan dalam tubuh Dad saat Dad mendekati usia lima puluh tahun. Zat itu memicunya. Dad mulai membayang-bayangkan

153berbagai hal, melihat orang memburu Dad dengan pistol dan pisau dan segala macam. Dad mulai percaya semua orang keluar untuk memburu’ Dad. Jadi Dad mulai melawan mereka sebelum mereka mendekati Dad. Dad mulai mencoba menyerang semua orang. Semua itu hanya ada dalam pikiran Dad, tapi mereka bisa menyembuhkannya. Kalau Dad mau menyerahkan diri, mereka bisa menyembuhkannya. Kalau tidak, masalahnya akan jadi makin parah. Dan sangat cepat, Dad, sangat cepat. Dad harus membiarkan mereka mengobati. Zat itu membuat Dad melihat hal-hal yang tak ada. Membuat Dad ingin menyakiti orang. Dad, demi Tuhan, biarkan Agen Ransome menolong Dad. Untuk itulah ia datang ke sini, Dad. Dia teman Dad. Dia ke sini untuk menolong.”

Pistol itu terasa enak dalam genggaman tangannya. Permukaan pegangannya menimbulkan perasaan aman. Jarinya membelai picu. Picu itu terasa halus dalam sentuhan. Ia menggeser ibu jari pada kunci pengaman dan menekannya. Ia menggeser tuas pemilih dari semiotomatis menjadi otomatis. Ia merasa makin nyaman dengan lewatnya setiap detik.

“Tak bisakah Dad merasakannya? Kegusaran itu? Tak bisakah Dad melihat bahwa yang Dad rasakan adalah kegusaran tak terkendali?” ‘Benar sekali.

3.

Ia ingin membunuh dan membunuh dan membunuh.

“Pada akhirnya, Saudara-saudara, jauh lebih berguna menghancurkan semangat musuh daripada menghancurkan tubuhnya.”

154

Rasanya ia tak sabar lagi menunggu tembak-menembak mulai.

Profesor Robert yang minta dipanggil Rob mengucapkan kata-kata itu.

Ia ada di lantai tiga.

Hal lain yang ia katakan adalah, “Kerjakan yang satu itu, dan lainnya akan jadi tugas yang jauh lebih sederhana.”

Ia pergi ke safla menerobos kabut merah tua.

tulah yang diinginkan Ransome, Sobat.p>

Kabut itu menipis.

Kau mengikatnya dengan pita dan mempersembahkannya padanya dalam kotak.

Tak lama kemudian segalanya terlihat, bermandikan cahaya murni kejelasan.

Ya Tuhan! Tak bisakah kau melihat apa yang ia lakukan terhadapmu?

Dave mengeluarkan magasin dari pistol, dan memeriksanya. Penuh.

Ransome membohongi istrimu, dia membohongi anakmu, dia membohongimu. Ini umpan! Ini perangkap!

Ia memasukkan kembali magasin itu ke dalam gagang, menarik kokang, dan memasukkan sebutir peluru ke laras. Membunuh orang-orang ini tentu melegakan.

Kau berjalan langsung ke sana. Mereka tentu sedang menunggu!

Dave ingin mereka menunggu. Ia berharap demikian.

“Musuh yang pikirannya tertekan adalah musuh yang lemah luar biasa. Mereka yang mengalami

155demoralisasi adalah yang paling mudah dikalahkan, yang gentar adalah yang paling siap dihancurkan. Demikianlah prinsip pertama dalam perang psikologis, dan perintah pertama dalam profesi kita yang terhormat.”

Profesi terhormat? Profesi terhormat siapakah itu?. Ransome? Mamba Jack? Sersan Mullin? Aku?

Tangannya mencengkeram pegangan tangga. Susuran tangga itu terbuat dari logam, dicat kelabu warna kapal perang, dan dingin.

Dingin. Pusatkan pikiran pada dingin. Jangan pikirkan hal lain. Hanya dingin itu. .

Dave berhenti. Ia berdiri diam tak bergerak.

Bagus. Sekarang napas. Tarik napas panjang dan pelan.

Ia memaksa diri menarik napas sedalam mungkin, begitu dalam sehingga terasa sakit. Ia menahannya hingga melihat kunang-kunang di depan matanya, lalu mengembuskannya perlahan-lahan. Dengan ujung kemeja disekanya keringat dari alis.

Itu lebih baik, Bung.

Ia mengulurkan tangan kanannya. Tangan itu gemetar.

Itulah maksudnya. Orang dengan tangan gemetar bukanlah jago tembak terbaik di dunia.

Sudah begitu dekat ia menghampiri perangkap. Ransome nyaris mendapatkannya.

“Ia yang mengalahkan musuh dengan strategi, layak dipuji seperti ia yang mengalahkannya dengan kekuatan.” Machiavelli mengatakan itu. Ingat? Ingat Profesor Rob dulu suka terus-menerus menyitirnya?

Ia menggeser kunci pengaman dan menyetel kembali

156

pistol itu menjadi semiotomatis. Ia mencoba menyelipkan kembali pistol itu ke sabuk. Ia perlu tiga kali mencoba sebelum berhasil.

Ia akan melakukannya lagi. Ia akan melakukan apa saja untuk mengacau pikiranmu.

Lutut Dave jadi lemas. Ia tersungkur di tangga, tak bergerak dan menggigil, Sampai rasa geramnya surut.

Itu tadi tentu upaya terbaik Ransome. Tak ada tipu daya lebih keji yang bisa dilakukan laki-laki itu selain memanggil Mark, membujuknya agar berusaha merayu ayahnya masuk ke perangkap kematian, membohonginya…

Kau yakin itu dusta?

Tidak, ia tidak yakin. Itulah keistimewaannya. Seseorang—salah satu rekannya sendiri—mungkin pernah memberinya sejenis obat eksperimental. Bukan pertama kalinya kalangan intelijen melakukan cara itu. Setidaknya salah satu kontraktor pernah secara sembunyi-sembunyi diberi LSD dan sebagai akibatnya melakukan bunuh diri. Butuh waktu 25 tahun sebelum CIA mengakui episode itu dan dengan enggan memberikan tunjangan kepada keluarga laki-laki itu.

Pernah ada kejadian lain juga. Pada tahun 1950-an, Angkatan Bersenjata diam-diam menyemprot udara di atas San Francisco dengan mikroba yang menyebar lewat udara, Serratia marcescens. Satu dasawarsa kemudian sekelompok peneliti senjata perang rahasia mengisi tabung-tabung penuh dengan bibit penyakit yang cukup ganas, menjatuhkannya di lintasan sistem kereta bawah tanah New York, kemudian memantau

157penyebaran pilek dan hidung mampet yang diakibatkannya. Sekitar waktu yang sama, di luar Utah, sekawanan biri-biri mati ketika ada sesuatu yang tak jelas lepas dari laboratorium rahasia. Di tempat lain ada desas-desus mengenai para ahli rekayasa biologi, imunologi, dan genetika yang menaruh minat tak sehat pada hasil-hasil eksperimen dalam penjara yang dilakukan oleh kekuatan-kekuatan Poros selama Perang Dunia II. Kemudian ada juga narapidana Amerika yang diinjeksi dengan virus menular, obat-obatan yang belum diuji, dan yang paling terkenal, syphilis spirochetes. Tambahkan itu dengan pengujian mengerikan yang dilakukan Angkatan Bersenjata terhadap sesama anggotanya dengan memakai zat-zat radioaktif, dan tidaklah sulit untuk percaya bahwa ada spesialis berpikiran keji yang merasa termotivasi untuk memberikan obat-obatan perusak pikiran kepada beberapa rekannya.

Dinas intelijen yang sejak dulu menerapkan hukum sendiri, memang memiliki kemampuan untuk melakukan eksperimen-eksperimen membahayakan terhadap prajurit maupun warga sipil dengan dalih demi kepentingan keamanan nasional Amerika, dan hal iju merupakan keharusan bila kau percaya, seperti semua orang lain, Soviet juga melakukan hal yang persis sama. Bila ada beberapa tikus laboratorium, penjahat-penjahat penghuni penjara,atau laki-laki berseragam menderita—nah, apakah itu harga yang terlalu mahal untuk menjamin kelestarian demokrasi? Bahkan, ketika pada dasawarsa 1970-an para penyelidik Senat pertama kali mengetahui operasi itu dan menyuarakan kengerian mereka, tidak sedikit orang yang bertanggung jawab merasa gusar. Untuk apa segala keributan

158

itu? Kalian membayar kami untuk melaksanakan tugas ini. Kalian tidak bisa menyalahkan kami— kami orang baik!

Ransome telah menyusun kebohongan yang sangat membahayakan, lebih dari sekadar membahayakan karena kebohongan itu dapat dipercaya. Itu menjamin semua orang—semua—yang kenal dengan Dave dan mungkin mau menolongnya kini akan berbalik ke pihak Ransome. Lebih parah lagi, itu menyebabkan Dave meragukan diri sendiri.

Itu bisa jadi benar, tahu.

Aku tahu. Semoga Tuhan menolongku.

Ia menggigil di lubang tangga yang remang-remang, tangannya memeluk lutut, putus asa mengetahui kini ia benar-benar sendiri.. Tak ada orang untuk diajak bicara, tak ada orang yang akan mendengarkan. Istri, anak, teman-teman—semua orang yang seharusnya percaya padanya ternyata percaya kebohongan. Setiap tangan akan tertuding ke arahnya, dan tak ada orang yang dapat ia percaya.

Demikianlah mimpi buruk di siang bolong ini, kegilaan yang baru dimulai, pikiran yang kini bingung tetapi tak lama lagi akan berubah menjadi kesintingan yang membuat orang berpikiran waras mengintip ke bawah ranjang mereka di waktu malam, curiga bahwa telepon mereka disadap, dan akhirnya menjadi yakin ada kekuatan jahat yang memantau seluruh gerakan mereka. Mungkin pemerintah, mungkin Trilateral Commission, mungkin makhluk dari piring terbang. Kau tidak bisa mempercayai siapa pun dan setiap orang mungkin salah satu di antara Mereka atau Agen Mereka. Dan tak lama kemudian kau mulai menulis

159surat-surat panjang kepada editor majalah Scientific American, atau mungkin tidak karena editor-editor itu juga merupakan bagian dari konspirasi tersebut. Dan kau berniat melapisi kamarmu dengan aluminium foil untuk mencegah masuknya gelombang radio, dan malam hari kau berkeliaran di jalanan menyemprot dinding-dinding dengan cat menggambarkan simbol-simbol mistik untuk mengusir kekuatan-kekuatan aneh, dan sementara itu kau berceloteh kepada diri sendiri dan apa yang kauucapkan itu, bila tidak masuk akal orang lain tentulah masuk akalmu sendiri, dan kau mencari-cari tempat gelap untuk bersembunyi siang hari, sebab Mereka ada di luar sana, dan Mereka sedang mencari, dan Mereka menginginkanmu masuk ke lubang bidik….

Para psikiater menyebutnya paranoia, dan bila gejala ini makin parah mereka menyingkirkanmu.

Sebab, bagaimanapun, orang yang mengira semua orang di dunia ingin membunuhnya bisa menjadi bahaya.

Salambii.it limliad-pangcu, siilm bbsc, kang jrtisi sekeluarga, otoy dengan kameranya, syanqy arr dengan lianaoki.wordpress.com -nya grafity dan semua dimhader.

Dilarang nieng-koniersil-kanatan kesialan menimpa anda.

160

BAB 5

LELUCON HALUS

1.

Dengan keberuntungan maka Marge—Marigold Fields Cohen, yang mungkin dikandung pada musim panas ketika Dave mendaki Pegunungan Sierra dan tidur di tepi danau yang indah, hijau, dan tak pernah terlupakan—masih tak sadarkan diri. Bila demikian, gadis itu tidak akan mendengar suara Mark. Bila demikian, ia masih tetap akan memakai tape recorder itu ketika tiba saat Dave meloloskan diri.

Bagaimanapun lebih baik punya rencana alternatif Baik. Dave tidak menginginkan apa pun lebih dari menghindari Ransome dan anak buahnya. Namun bila terjadi sesuatu yang tidak beres sebelum Marge menyalakan tape itu, ia akan memerlukan bidang yang bisa diterobosnya dengan cepat, dan yang tidak bisa diterobos musuhnya. Sampai sejauh ini ia berhasil

161mendului musuh-musuhnya selangkah pendek, dan kebanyakan memainkan permainan bertahan. Sudah tiba saat untuk mengubahnya. Di samping itu, ia berutang pada Ransome karena telah membawa putra-‘ nya dalam persoalan ini. Sebenarnya, ia berutang cukup banyak kepada Ransome.

1, 2, 3, 5, 7, 11, 13, 17, 19, 23, 29, 31, 37, 41, 43, 47.

Bilangan prima. Bilangan prima dibagi oleh bilangan berapa pun kecuali satu atau bilangan itu sendiri akan menghasilkan angka pecahan. Bilangan prima merupakan sumber kekaguman yang tak habis-habisnya bagi para ahli matematika, dan mudah dihitung—atau, lebih tepatnya, mudah dihitung bila kau hanya tertarik pada bilangan yang lebih kecil daripada 50.

Profesor Rob berbicara, “Saudara-saudara, bisakah kalian bayangkan betapa memalukannya bila pelaku sabotase melakukan kesalahan hingga terperangkap ranjaunya sendiri? Coba pikirkan. Bayangkan diri kalian sendiri, tergeletak di tengah puing-puing membara, mungkin satu kaki putus, atau mungkin dengan kepingan tubuh berhamburan di depan mata kalian. Pikirkan betapa kecewa perasaan kalian bila tahu alat penghancur yang menimbulkan kerusakan itu yang kalian pasang sendiri. Ya ampun, tapi bukankah wajah kalian akan jadi merah padam? Menurutku itu merupakan pengalaman hidup yang lebih membingungkan. Agar kalian bisa menghindari saat konyol dan memalukan seperti itu; sudah jadi misiku hari ini untuk mengajar kalian sedikit aritmetika. Yang akan

162

kubahas, dan akan kalian pelajari, adalah deret matematis sederhana. Rumus seperti itu cukup berguna untuk mengingat kembali tempat-tempat di mana kalian sudah menyiapkan lelucon kecil untuk memberi pelajaran pada lawan kalian.”

Semua ada enam belas bilangan prima yang lebih kecil dari 50. Dave memasang perangkap pada tangga darurat di enam belas lantai. Enam belas di tangga timur, enam belas di barat, dan enam belas di selatan.

Para instrukturnya di Kamp P selalu menekankan pentingnya kesederhanaan. Perangkap yang baik adalah perangkap yang sederhana, dirancang untuk menghasilkan efek maksimum dengan bahan minimal. Seperti halnya dalam hampir semua bidang usaha, demikian pula dalam seni tipuan kotor—K.I.S.S. adalah kebijaksanaan yang lebih besar.

Dave menghargai K.I.S.S. Perangkap-perangkap-nya—para instruktur itu menyebutnya “lelucon”—terdiri atas kabel telepon hijau yang direntangkan sebagai sandungan dekat anak tangga teratas; berember-em-ber sabun cair yang licin (semacam yang dipakai dalam dispenser kamar mandi) disiapkan di sudut-sudut tempat ember-ember itu bisa dengan mudah diambil oleh orang yang sedang berlari, berbotol-botol lem karet yang lengket siap untuk dituangkan; kaleng-kaleng berisi cairan pembersih yang mudah terbakar ditempatkan sedemikian rupa sehingga mudah diraih; kabel yang berukuran jauh lebih besar, kali ini dililitkan dengan hati-hati pada pipa air dan bisa dengan mudah dibongkar; beberapa pembuka surat murahan ditempel tiga-tiga, isi stapler ditinggalkan di berbagai posisi yang strategis di tangga itu, slang

163pemadam kebakaran yang sudah dilepas dari gulungannya dan dibentangkan lima tingkat tangga; tiga kaleng kecil toner mesin fotokopi yang siap memuntahkan serbuk hitam membutakan mata; dan berbagai benda lain.

Guru-gurunya tentu akan bangga dengannya. K.I.S.S.: Keep It Simple, Stupid. (Buat tetap sederhana, tolol.)

Dave sangsi semua perangkapnya itu akan efektif. Banyak yang takkan terkait kakinya. Dan untuk yang terpeleset, paling parah mereka hanya akan patah tangan atau kaki dan luka tergores. Kebanyakan hanya menimbulkan ketidakenakan dan tak satu pun terjamin sebagai alat pembunuh. Tidak perlu demikian. Yang perlu dilakukan hanyalah memperlambat Ransome dan orang-orangnya.

Di lain pihak, Bung, kalau kau benar-benar ingin melukai…

Dalam lemari penyimpan alat pembersih ia menemukan lima karton besar—amonia pembersih.

Amonia adalah barang lumrah. Semua orang memakainya untuk membersihkan jendela, menyucihamakan toilet, dan membersihkan porselin. Zat itu adalah bagian dari perlengkapan rumah tangga biasa.

Di Kamp P mereka mengajarinya tentang perabot rumah tangga biasa. Mereka mengajarkan kepadanya bahwa, bagi orang yang tahu, sepen dapur biasa sebenarnya merupakan gudang racun, pembakar, dan peledak. Bila dicampur dengan perbandingan yang tepat, tidak sedikit barang rumah tangga biasa bisa menjadi senjata mematikan.

Di antaranya adalah amonia.

164

Bila dicampur dengan yodium—yang biasa ditemukan di dalam kotak peralatan P3K biasa—amonia menghasilkan endapan kristal nitrogen triiodida. Sesudah diolah dengan baik dan dikeringkan, nitrogen triiodida menjadi zat yang memiliki nilai komersial. Bahkan sebenarnya DuPont menjualnya dengan merek yang terkenal dalam industri pertambangan—terkenal sebagai alat yang sempurna untuk meledakkan simpanan bahan tambang hingga terbuka. Satu-satunya masalah dengan benda itu adalah sifatnya yang tidak stabil. Bila-sejumlah kristal triiodida menerima tekanan sebesar tiga puluh kilo saja, maka…

Malaikat pelindung Dave menyeringai. Bum!




0 Response to "VERTICAL RUN"

Post a Comment

Translate

English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified