Download applikasi baca novel online untuk android disini: DOWNLOAD

VERTICAL RUN

2.

Tak lama sesudah pukul 18.00, David Elliot melangkah ke dalam penyergapan.

Sambil menggelar perangkapnya, ia menyimpulkan anak buah Ransome tentu menyingkir dari tangga darurat. Dengan menjaga pintu keluar lantai dasar kiranya sudah cukup untuk memastikan mangsa mereka tidak akan lolos. Di samping itu, kadang-kadang ada perokok—terasing dari kantor mereka, bak penderita lepra di akhir abad kedua puluh ini—menyelinap ke tangga untuk menikmati rokok diam-diam. Sementara kehadiran tukang telepon membawa gulungan kabel^ naik-turun tangga tidaklah menarik perhatian para pecandu nikotin itu, namun kehadiran orang-orang bersenjata yang melakukan patroli tentu memancing kecurigaan ‘mereka.

Seandainya jadi Ransome, Dave tidak akan

165memerintahkan anak buahnya memeriksa tangga darurat sampai lama sesudah jam kerja berakhir. Sayangnya, kini jam kerja itu sudah berakhir, dan beberapa anak buah Ransome jadi usil. Dalam hati Dave bertanya-tanya apakah bos mereka tahu apa yang mereka lakukan. Mungkin tidak. Orang seperti Ransome takkan pernah menyetujui jebakan yang disiapkan dengan sembarangan seperti itu. Tidak konsisten dengan standar profesional Ransome. Dave sendiri merasa tindakan itu amatiran.

Kau tak bisa mendapat bantuan bagus lagi.

Dua anak buah Ransome mengambil posisi di tangga barat. Mereka merunduk di sudut di lantai 33 dekat pintu darurat. Salah satu di antara mereka, tak disangsikan merasa dirinya cerdik, mencopot lampu neon di atas pintu itu. Platform beton, dinding kelabu dingin, dan pintu itu sendiri jadi bertabir bayangan.

Bayang-bayang itulah yang jadi petunjuk. Seandainya mereka membiarkan lampu itu menyala, Dave mungkin tidak memperhatikan mereka sampai segalanya terlambat.

Cara kuno mematikan lampu. Orang-orang ini terlalu banyak membaca novel Robert Ludlum.

Mereka tak mungkin lama di sana. Sewaktu memberikan sentuhan akhir pada ranjau-ranjaunya, dalam • lima belas menit terakhir ini Dave sudah dua kali melewati lantai 33.

Kalau mereka pernah mendapat latihan, tentu ada sepasang lagi di lantai 32, menunggu di balik pintu darurat. Taktik penyergapan baku, langsung dari buku pedoman.

Gagasannya adalah menjebaknya antara lantai 32

166

dan 33. Dua orang menembak dari atas, dan dua dari bawah. Istilah teknisnya “flanking crossfire”. Cara ini membuat sasaran jadi daging cincang.

Ini berarti keramaian takkan mulai sampai kau sudah berada di tengah tangga berikutnya.

Dave menaiki beberapa anak tangga terakhir ke lantai 32. Tumit sepatunya bergaung pada tangga beton. Dua laki-laki dalam kegelapan itu tahu ia mendatangi. Mereka tentu mendengarnya, mengikuti gerakannya, dan berbisik penuh harap ke radio mereka.

Sudah berapa lama mereka di sana? Sudah berapa lama mereka mendengarkan? Apakah mereka punya waktu untuk memanggil lebih banyak orang?

Ruang kosong di antara tangga tersebut, sumur kosong yang menukik dari atap gedung sampai ke tanah itu, cukup lebar sehingga ia bisa melihat musuhnya yang sedang menunggu. Keduanya menempelkan badan ke dinding. Keduanya menyandang senapan sergap yang gemuk, jelek di pundak.

AR-15? Bukan, yang lain. Magasinnya lebih besar dan pelurunya lebih banyak.

Dave berhenti dan terengah-engah dengan keras, seolah mencari napas. Ia menarik keluar ujung kemejanya dari dalam celana dan menyekakannya ke wajah. Ia mengembuskan napas dengan keras. “Aku benci tangga terkutuk ini,” gumamnya dengan suara # sekadar cukup keras untuk didengar. Salah satu laki-laki di atasnya itu merapatkan radio lebih dekat ke mulut.

Idiot. Kau tak bisa berceloteh di radio sambil membidikkan senapan sekaligus. Apakah mereka tak mengajarimu apa-apa?

167Jdve memutar pundak dan kembali mendaki. Dua laki-laki di lantai berikutnya tidak akan menembak. Tidak sekarang. Mereka ingin memastikan bahwa mereka mengenainya, dan satu-satunya cara untuk itu adalah memancingnya hingga terjepit tembakan dari dua arah. Mereka tidak akan menembak sampai ia mencapai platform di tengah antara lantai 32 dan 33. Ia pasti akan hal ini.

Kepastian itu tidak menolong. Jantungnya tetap berdebar-debar keras, dan sekarang, dengan seketika, ia benar-benar kehabisan napas. Butir-butir keringat menyembul di keningnya. Otot kecil di bawah mata kirinya berkedut-kedut tak terkendali. Lututnya terasa lemas. Ia ingin sebatang rokok.

Ada saatnya kau sengaja melangkah ke dalam jebakan. Kadang-kadang kau melakukannya sebab itulah satu-satunya cara untuk menghabisi musuh. Kadang-kadang kau melakukannya sebab satu-satunya cara untuk mencapai tujuanmu adalah dengan melompat ke dalam jebakan itu. Namun kebanyakan kau melakukannya sebagai umpan untuk perangkapmu sendiri. Dave mendaki. Satu undak. Dua. Tiga. Empat… Hanya saat itu saja ia tak terlihat. Orang-orang di lantai 33 tidak lagi bisa melihatnya. Mereka tentunya menggeser bidikan mereka ke platform delapan anak tangga di depannya, menunggunya terperosok ke dalam penglihatan mereka. Orang-orang yang siap di balik pintu darurat tentu menegangkan otot mereka, bersiap melompat. Dua regu itu mengira mereka tahu akan berada di mana sasaran mereka. Mereka sudah siap untuk itu, berharap, dan bahkan mungkin berpikir bagaimana, sesudah urusan ini beres, mereka saling

168

menepuk pundak, melontarkan gurauan konyol, menyalakan rokok, dan saling meyakinkan, bila semuanya sudah diucapkan dan dikerjakan, urusan David Elliot ternyata bukan tugas yang luar biasa sulit.

Dave menempelkan tangan pada susuran tangga— dingin, kosong, bulat.

Satu tarikan napas dalam.

Ia menarik, menendang, mendorong, dan melompat.

Tiga puluh dua tingkat ke lantai dasar. Bila ia meleset, ia meleset, dan selesailah semuanya.

Ia melewati rongga di antara tangga itu, melewati susuran di seberangnya, dan mendarat dengan tumit. Itu lompatan pendek yang gampang—hanya beberapa saat berbahaya untuk membawanya dari tangga di atas lantai 32 ke satu tingkat di bawahnya.

“Sialan!” Suara dari atas. Peluru-peluru berperedam memukul beton di tempat ia mendarat. Dave sudah menghilang.

Ia meraih susuran tangga, mencengkeramnya, dan melemparkan diri ke bawah. Ia melompati dua atau tiga anak tangga sekaligus. Ia harus melewati platform berikutnya. Bila ia masih berada di tangga di bawah lantai 32…

Pintu darurat itu terempas membuka. Sepatu berdetak pada beton.

…lalu orang di belakangnya akan melihat jelas punggungnya.

Ia mengayunkan tubuh melewati susuran dan melompat. Hujan peluru mengiris udara di atas, di belakang, dan di sampingnya.

Pekikan kesal, “Bangsat, bangsat, bangsat!”

David Elliot lari.

169”Di sini Egret! Dia ada di lantai 31, 30, turun ke bawah! Di mana kau? Apa? Di tangga barat, kau tolol! Kemarilah, cepat!”

Seseorang, mungkin lebih dari satu, mengosongkan satu magasin, mungkin lebih dari satu, ke lubang tangga. Peluru-peluru itu mengenai dinding, memuncratkan kepingan-kepingan beton sekeras batu. Dave merasa pundaknya sakit seperti tersengat lebah.

Mereka bergemuruh menuruni tangga, menembak sambil berlari. Peluru-peluru gepeng memantul simpang siur.

Prosedur operasi baku. Kalau kau tak bisa mengenai sasaranmu dengan tembakan langsung, kenai dia dengan pantulan peluru.

Dave melompati susuran tangga lagi. Satu tembakan, satu pantulan peluru, berdesing di bawah dagunya. Ia meringis. Jauh di bawah sana—berapa tingkat tangga lagi? Satu pintu lain terbuka. Orang berlarian ke atas sekarang. Mereka mencoba menangkapnya di tengah.

Lantai 26. Satu tingkat lagi.

Ia terpeleset, menahan tubuh, tegak kembali. Ia sudah berada tepat di tempat yang &inginkarinya— lantai 25.

Ia mendongak melihat tangga. Itu dia, berkelok-kelok di atas anak tangga, panjang dan pipih, sama seperti saat ia meninggalkannya. Ternyata membuka gulungannya naik hingga ke lantai 29 sungguh pekerjaan yang berat. Ia tidak mengira akan terpaksa memakainya.

Anak buah Ransome berlarian melewati ujungnya sekarang. Mereka tidak melihatnya, atau seandainya

170

melihat, mereka tidak memikirkannya. Slang darurat untuk kebakaran.

Dave meraih roda dengan lapisan enamel merah itu dengan dua tangan, dan memutarnya. Macet. Dave menariknya dengan entakan panik. Roda itu beku di tempat.

Oh, Tuhan, jangan lakukan ini pada kami.

Ia memasang kuda-kuda, dan menarik keras. Roda itu bergerak. Pipa air itu berdeguk dan mendesis. Air mengalir di dalamnya. Dave menarik lebih keras. Roda itu berputar dengan leluasa. Bunyi desis itu mengeras jadi gemuruh. Pipa air itu tidak lagi pipih dan berkerak. Ia terisi, membulat, bergerak. Air menggelegak lewat di dalamnya, naik satu tingkat tangga, ke tingkat kedua, tekanannya makin meningkat setiap inci.

Berapa besar tekanan airnya? Kalau ingatan ini benar, 150 kilo. Dan itu tekanan yang besar luar biasa, Sobat.

Slang itu melonjak, berayun ke kiri dan ke kanan, dan mulai bangkit. Ia kelihatan hidup, seperti ular cokelat raksasa yang terbangun sambil menggoyang tubuh. Dan slang itu bergoyang di sini, lima tingkat dari ujungnya, maka nozzle-nya. akan…

Jeritan bergema di dalam ruang tangga itu.

…melecut kian kemari tak terkendali. Tekanan 150 kilo dalam gerakan cepat. Nozzle kuningan pejal seberat tiga atau tiga setengah kilo. Satu pukulan saja akan menghancurkan kaki seorang laki-laki yang kuat.

Jeritan itu mengeras. Mendatangi lebih dekat, dan dengan kecepatan yang luar biasa. Dave menengadah - tepat untuk melihat satu tubuh lewat. Laki-laki itu

171meluncur turun di dalam ruang tangga itu, memutar lengannya seperti kincir, mencoba memegang susuran tangga. Wajahnya pucat pasi oleh keputusasaan dan kengerian. Sial.

Sungguh sial. Ia sebenarnya tidak ingin membunuh mereka. Ia cuma ingin memperlambat mereka.

Dari atas terdengar lebih banyak jeritan, teriakan, dan tidak sedikit umpatan. Dave tak menghiraukannya. Ada urusan lebih serius yang jadi pemikirannya. Orang-orang yang naik dari lantai bawah sudah dekat. Seandainya ia menyiasati kunci dan kabur ke lantai 25, mereka akan tepat berada di belakangnya, dan ia akan jadi sasaran empuk.

la bisa mendengar mereka—seberapa dekat—dua atau tiga tingkat tangga di bawahnya. Salah satu di antara mereka hampir kehabisan napas, terengah, “Apa yang terjadi di atas sana?”

Satu suara lain, tidak begitu tersengal-sengal, menjawab, “Hanya ada satu cara untuk mengetahuinya.” Sol sepatu berderap pada beton. Mereka berlari.

Tembakan peluru, senapan otomatis, melubangi slang kebakaran itu. Air menyembur dari slang, mengendurkan tekanan pada setiap lubang peluru, memperlambat gerakannya yang mengombak. Sekarang, orang-orang yang berlari menuruni tangga bisa melewatinya dengan aman.

Tadi, ketika sedang menggelar jebakan-jebakannya, Dave sudah melilitkan kabel coaxial tebal rangkap dua pada pipa-pipa tangga. Salah satunya ada di lantai ini. Kabel itu terikat erat dan takkan lepas. Ia mengambilnya, melingkarkannya di antara kaki.

172

Katakan padaku kau takkan melakukan ini. Dua lilitan pada kaki kiri, dua pada kaki kanan. Kau benar-benar sinting.

Naik ke pundak kiri, di bawah selangkangan, silang-menyilang di punggung, dan lagi pada pundak kanan dan kiri.

Bung, biar kujelaskan setegas mungkin. Aku tak ingin mati.

Satu simpul ganda. Ia pun selesai.

Ia menarik kabel itu. Tertambat kuat. Dan temali yang membungkus dirinya, meskipun dibuat dengan terburu-buru, toh merupakan imitasi tali parasut yang cukup bisa diandalkan.

Oh, tidak, Bung! Tidak!

Sebutir peluru mendesing lewat dekat dadanya. Ia tak memikirkannya. Ia mengambil satu langkah pendek ke depan, cepat tapi tidak terburu-buru, mengambil ancang-ancang, dan melompat melewati pegangan tangga. Ia terjun dengan sempurna, hasil latihan yang lama, dan tak pernah terlupakan. Ia terjun menyelam ke dalam kolam cokelat berlumpur di masa kecilnya, masuk ke dalam danau hijau di atas gunung. Sebilah pisau lipat besar, terlipat di pinggang, kini berputar di udara, dengan tenaga putaran tubuhnya menegak. Perenang dalam lompatan yang sempurna.

Dan rasanya hebat.

Dave terjun menerobos ruang kosong di antara tangga-tangga itu. Saat jatuh, ia sepintas melihat wajah, seorang laki-laki dengan mata terbelalak dan mulut menganga. “Ya Tuhan!” bisik laki-laki itu.

Sebutir peluru mendesing entah di mana, terlalu jauh untuk dikhawatirkan.

173Ia mencengkeram kabel itu, bersiaga untuk sentakan yang akan datang. Ini tentu takkan lebih parah daripada lompatannya yang pertama dulu, pikirnya. Tujuh ratus lima puluh meter di atas Fort Bragg. Satu atau dua laki-laki, badut kompi itu, melontarkan lelucon lemah. Semua yang lain dengan muram menghindari mata rekan-rekan mereka. Sersan Kuba keparat itu pelatih terjun. Ia berdiri di samping pintu terbuka, berteriak-teriak dalam deruan angin, meneriakkan hitungan, dan meneriakkan umpatan. Siapa nama orang Kuba itu…?

Kabel itu tersentak tegang. Lebih tipis daripada tali kanvas pipih pada parasut, kabel itu mengiris ke dalam kakinya. Rasa sakit tak terduga memeras udara dari paru-parunya.

Aduh! Ini sakit.

Ia berayun ke kiri, melewati susuran tangga lantai 21 dan membentur ke dinding dengan kekuatan yang meremukkan. Dengan refleks, ia menarik simpul ganda itu, terjungkal di atas beton, dan menggelinding.

“Sialanr seru seseorang. “Kaulihat keparat itu?”

Seseorang lagi berteriak, “Turun! Turun ke sana! Jangan biarkan bangsat itu lolos!”

Dave mencabut pistol dari balik kemeja. Kakinya mati rasa dan gemetar. Ia memaksakan diri untuk berdiri tegak. Ia menyeringai, memperlihatkan gigi, dan menghamburkan dua puluh butir peluru ke atas.

Apakah kita mulai bersenang-senang?

Saat untuk bergerak lebih lanjut. Peluru-peluru lunak berdenting dan terpantul pada tangga-tangga di atasnya. Dengan tenang, Dave mengkritik bidikan pengejarnya. Ia tadi terlihat jelas. Seandainya mereka

174

penembak yang lebih jitu, mereka tentu sudah mengenainya. Ia menduga sedikit atraksi bungee stunt buatan sendiri tadi telah mengejutkan mereka.

Bisakah kita keluar dari sini sekarang?

David Elliot berlari. Ia berlari vertikal seperti yang dilakukannya seharian ini, dan dengan demikian tak setapak pun maju lebih dekat pada kebebasan. Tapi bagaimanapun tidak pula selangkah lebih dekat pada penangkapan.

Di lantai 19, ia melompati kawat sandungan. Di lantai 17, ia mendengar seseorang—mungkin dua orang—mendatangi jebakan. Sambil tersenyum tipis mendengar pekik mereka, ia mengosongkan dua ember sabun cair yang licin pada anak tangga.

Pengejar-pengejarnya mengumpat ketika mereka sampai ke tangga itu. Atau lebih tepatnya, beberapa di antara mereka mengumpat. Yang lain menjerit dan merintih—mereka yang mengalami patah tulang. Dave mendengar jerit kesakitan mereka dan menahan tawa.

Sekarang di lantai 15 ia mendengar desis caci maki bercampur kelegaan dari mereka yang, tinggi di atas sana, kehilangan sepatu dalam cengkeraman lem karet yang lengket dan mengering dengan cepat. Caci makinya terungkap dari lubuk hati, Dave tahu, dan lebih bisa dipahami karena kejujurannya.

Sebaliknya, orang yang berada dekat oven microwave pada saat yang salah tidak mengumpat. Ia hanya merengek. Dave merasa orang itu kedengarannya terkejut. Mungkin butuh dokter, segera. Sayang. Di samping itu, ia akan hidup. Bukan urusan besar, hanya oven microwave kecil, model countertop yang dicuri dari ruang istirahat karyawan. Dave memasuk-175kan sepasang botol diet cola isi dua liter ke dalamnya, dan menancapkan mesin itu ke soket listrik darurat. Ketika berlari melewatinya, ia menekan tombol on. Empat puluh tujuh detik kemudian ledakan cola panas dan serpihan pintu oven menghadang pengejarnya yang lain.

Dave mendengar semua itu—semua kegusaran mereka yang terluka, segala makian jorok, semua teriakan minta tolong mereka—sementara ia berlari, dan ia tertawa.

Lantai 13 (lantai 14 menurut logika manajer gedung itu), Dave ingat merupakan tempat ia menaruh sebotol larutan pembersih. Dengan banyak pertimbangan, ia menempelkan sebungkus korek api ke dalamnya.

Karena orang-orang yang mengejarnya sudah dengan hati-hati memperlambat langkah—tak ada alasan untuk itu, gumpalan-gumpalan kertas fotokopi yang tampaknya tidak membahayakan itu lebih daripada yang diperkirakan—Dave punya banyak waktu untuk mengosongkan botol, menyalakan sebatang korek, dan sambil turun ke lantai 12 menjentikkannya ke dalam genangan larutan pembersih. Ketika meledak menyala, ia tidak dapat lagi menahan diri.

Yang terakhir didengar pengejarnya adalah tawanya, tawa dalam dari perut, gembira, gelak senang tak terhingga, bergema di ruang tangga itu. Mereka berhenti, saling pandang dengan tatapan bertanya, dan menggeleng.

Dua keping kuningan itu berdering merdu ketika jatuh terpantul di atas meja Kolonel John James Kreuter. Sang kolonel memungutnya, memegangnya

176

di bawah cahaya, dan memicingkan mata. Ia memutar lidahnya di dalam mulut, menggaruk pelipis, dan mengernyit. “Baiklah, Letnan, kau mau berdiri di sana seharian seperti kau baru saja menelan burung kenari atau kau akan menceritakan apa maksud semua ini.”

‘Tanda pangkat, Sir. Itu tanda pangkat perwira Rusia.” Dave tidak dapat menahan nada puas diri dalam suaranya. Ia bahkan tidak mencoba menyembunyikannya.

Kreuter menggosokkan tangan pada pipinya. Ia mengangkat muka memandang Dave, dan kembali memandang dua emblem kuningan itu. “Kemungkinan besar perwira lapangan. Mayor, mungkin.”

“Ya, Sir. Begitulah tepatnya.” Dave meletakkan sehelai kertas terlipat di atas meja kerja sang kolonel Kreuter memandangnya seperti melihat tikus mati. “Dan apa ini, daftar hadiah Natal untuk Sinterklas?”

“Bukan, Sir. Ini nama kapten ARVN, salah satu sekutu kita yang setia. Mayor itu memberikannya pada saya tak lama sebelum kematiannya.” Ia menggigit lidah. Ia harus melakukannya. Seandainya tidak, ia tentu akan tertawa.

reuter membuka lipatan kertas itu dan mengangguk. Ia mengetuk sebatang rokok Camel tanpa filter dari bungkusnya, menggoreskan jempol ke batang korek api, mengernyit sambil menyedot. “Dan bagaimana kau, Letnan Elliot, bisa menyelesaikan tugas luar biasa ini?”

Dave memperlihatkan giginya. “Well, Sir…” Ia merasakan kegelian menggelegak dari perutnya, “…saya pikir…” Wajahnya merah padam akibat usaha

177mengendalikan diri. “…hidup…” Ia tidak bisa menahannya lagi. “…jauh lebih menyenangkan…” Tidak ada harapan lagi. “…daripada mati!” Tawa itu meledak.

Mamba Jack menyentakkan kepala ke belakang dan tertawa bersamanya. “Wah, wah, wah, Letnan, kau memang hebat. Itulah yang bisa kukatakan padamu. Cuma wah, wah, wah, mungkin kau dan aku bisa memulai persahabatan yang baik.”

3.

Pukul 19.03.

David Elliot melangkah keluar dari lift dan menapaki lantai 45.

Sudah saatnya kau kembali ke tempat kejadian perkara. Bila benar ada jawaban, di tempat inilah kau akan menemukannya.

Suite eksekutif Senterex terkunci. Resepsionisnya sudah lama pulang, dan semua sekretaris tentu sudah berlalu sebelum pukul 18.00. Mungkin masih ada satu-dua eksekutif yang kecanduan kerja tinggal di sana sampai sepetang itu. Biasanya ada. Dave berharap bisa menghindari mereka, tetapi bila tidak, ia sudah cukup siap menanganinya.

Ia memasukkan kunci kantornya ke lubang, memutarnya, dan mendorong pintu.

Sekarang bukankah kau senang Bernie tidak memasang alat canggih dengan kartu elektronis di lantai ini? Peralatan keparat itu secara otomatis mencatat nomor identitas siapa saja yang masuk dan siapa saja yang keluar.

Ia berjalan cepat melintasi ruang penerimaan tamu,

178

belok kiri ke dalam koridor yang menuju ke kantor Bernie Levy. Kemudian, terdorong impuls, ia berhenti, memutar badan, dan berlari ke timur tempat ia, dua belas jam lalu, meringkuk ketakutan dihujani peluru Ransome dan Carlucci.

Perbaikan itu tanpa cacat. Lubang-lubang bekas peluru sudah ditambal, bagian-bagian yang tercungkil sudah dilapisi wallpaper; tak ada goresan, lekukan, atau guratan sedikit pun.

Tak ada bukti. Seandainya kau mencoba menunjukkan pada orang lain bukti mengenai apa yang terjadi pagi ini, mereka hanya akan memandangmu dan dengan sedih menggeleng. Dave yang malang, kata mereka, semua itu ada dalam pikirannya.

Ia melihat ke karpet, tempat darah Carlucci tercecer. Tak ada setitik pun noda yang tersisa, tak ada bukti, tak ada jejak bahwa di sini, di tempat ini, seorang laki-laki telah mengucurkan darah hingga tewas. Karpet itu sudah diganti dengan karpet yang berwarna sama, berserabut sama, dan bahkan seolah sudah pernah dipakai seperti setiap inci karpet lain di koridor itu.

Kerja profesional yang bagus. Tapi apakah kau mengharapkan kurang dari John Ransome dan kawan-kawan?

Ia berbahk kembali menuju ke kantor Bernie dan, ketika memasuki ruang penerimaan tamu, ia hampir bertabrakan dengan tubuh Dr. Frederick L.M. Sandberg, Jr. dengan pakaiannya yang gemilang.

Sandberg mundur selangkah, menengok ke belakang dari atas pundaknya, dan menenangkan diri. Dengan sopan santun gaya ningrat ia berkata, “Selamat sore, David.”

179”Hai, Dok.” Fred Sandberg anggota tertua Dewan Direktur Senterex. Sudah beberapa tahun lalu ia pensiun dari kedudukannya sebagai dekan fakultas kedokteran di Yale, tetapi tetap aktif dalam praktek. Kliennya terbatas pada eksekutif-eksekutif senior, dan selain mahal ia memang pintar. Bahkan begitu pintarnya sehingga ia bertindak sebagai dokter pribadi Bernie, Dave, dan kebanyakan kader eksekutif Senterex.

“Dan bagaimana keadaanmu petang ini, David?” Nada suara Sandberg lembut, halus, dengan keanggunan yang tak dapat ditiru.

“Pernah lebih baik dari sekarang.”

Sandberg tersenyum lembut. “Begitulah yang kudengar.”

Dave meringis. “Kau dan semua yang lain, kukira.”

“Begitulah. Sore ini Bernie mengadakan rapat Dewan Direksi. Perlu kukatakan, kaulah satu-satunya pokok bahasan dalam agenda rapat tersebut.” Si dokter membelai pipinya yang tercukur halus, seolah siap bicara lebih jauh. Dave bicara lebih dulu.

“Dok, kau kenal aku, kan? Sedikitnya sudah lima tahun kau memeriksaku. Kau kenal aku luar-dalam sampai 12,5 senti di ujung usus besar.”

Sandberg menatap dari atas kacamatanya yang berbingkai emas. “Benar.”

“Jadi kau tahu aku tak sinting.”

Sandberg melontarkan senyum yang luar biasa profesional. “Tentu saja aku tahu. Dan, David, harus kutegaskan, baik aku maupun yang lain tak pernah mengira kau sebenarnya…”—ia mengernyitkan hidungnya yang aristokratis, siap mengucapkan istilah yang kurang pantas dari segi medis—”…sinting.”

180

“Ceritanya adalah kilas balik akibat pemakaian obat. Benar, kan?”

“Itu lebih dari cerita, David. Aku sudah melihat bukti. Agen Ransome…”

“Agen? Begitukah yang dikatakannya mengenai dirinya?” Mark juga memakai kata itu.

“Bukan sekadar apa yang dikatakannya. Tapi memang begitulah dia, agen federal…”

“Dia bohong. Dia pembunuh bayaran.”

Ekspresi pada wajah Sandberg menunjukkan simpati dan kasihan. Di bawah jaket sport cokelat kekuningan, ia memakai waistcoat kuning kenari. Bukan rompi melainkan waistcoat. Hanya laki-laki dengan gaya dan penampilan seperti dia bisa memakai barang aneh seperti itu. Sandberg mengorek-ngorek salah satu sakunya.

“Hati-hati, Dok. Mereka tentunya memperingatkanmu bahwa aku berbahaya.”

“Memang benar.” Ia mengeluarkan secarik barang empat persegi panjang putih dari waistcoat. “Ah, ini dia. Kartu nama Agen Ransome. Coba lihat.”

David mencabut kartu itu dari jari Sandberg.

John R Ransome

SPECIAL INVESTIGATIONS OFFICER Bureau of Veterans Affairs

Di situ tercantum nomor telepon, alamat di Washington, dan logo resmi dengan huruf timbul.

181Dave mengerutkan bibir. “Barang cetakan yang bagus. Tapi mencetak memang murah.”

“Itu bukan pemalsuan, David.” Suara Sandberg rendah, dan sedikit sedih.

“Pagi tadi ketika aku menggeledah saku bajingan itu, ia membawa kartu nama lain. Specialist Consulting Group. Katanya dia…”

“David, percayalah, aku sudah memeriksa surat mandat Agen Ransome dengan cukup teliti. Kau tahu, tak ada orang yang mencapai umur dan posisi seperti aku tanpa membangun kalangan sahabat sendiri. Jadi, aku melakukan penyelidikan diam-diam di antara teman-teman lama. Mereka meyakinkanku bahwa dia seperti yang disebutkannya.”

Dave menggeleng. “Orang ini profesional, Fred. Dia mengecohmu dan teman-temanmu. Itulah yang dilakukan para profesional.”

“Baiklah, David, kalau itu yang kauhilang. Tapi coba katakan padaku, kalau bukan pegawai pemerintah, siapa dia?”

“Coba aku tahu. Yang kuketahui hanyalah sejalc sarapan tadi, dia dan gerombolannya mencoba membunuhku.”

Paras Sandberg menunjukkan pandangan tertarik yang profesional. Itu lebih-kurang merupakan ekspresi yang mengatakan, Ya, Mr. Elliot, dan apa yang dilakukan makhluk-makhluk angkasa luar itu sesudah menculikmu ke Planet X? Akibatnya David tergagap-gagap. “Dok… Fred, jangan pandang aku seperti itu. Kau harus mendengar cerita dari pihakku.”

“Tentu, David. Dengan senang hati. Tapi aku khawatir aku sudah bisa membayangkan isi ceritamu.

182

Singkatnya, ceritamu tentang orang-orang tanpa nama dari organisasi tanpa wajah ingin membunuhmu karena alasan-alasan yang tak dapat kaupahami. Kau tak melakukan apa-apa. Kau tak bersalah dan tak terlibat. Tapi Mereka—Mereka dengan ‘M’ besar—ingin kau mati. Apakah itu menggambarkan isi ceritamu, David? Itukah cerita yang ingin kausampaikan?”

Perut David serasa luruh. Ia menggosok bibir dan memandang sepatunya. Sandberg meneruskan, “David, tolonglah aku. Pikirkan cerita yang ingin kausampaikan padaku. Pertimbangkan kredibilitasnya. Kemudian katakan padaku bila kau merasa itu tak mencurigakan. Katakan padaku itu bukan… ah… gejala krisis mental tertentu.”

Dave mengerutkan dahi, menggeleng. “Sekarang giliranmu untuk berbaik hati membantui. Pikirkanlah ceritaku. Pikirkanlah apa yang akan terjadi bila itu benar. Pikirkanlah kebohongan macam apa yang akan mereka ceritakan bila mereka ingin mempengaruhi semua orang bahwa aku sudah sinting.”

Sandberg berbicara seolah sedang menegur bocah yang keras kepala. “Masalahnya bukan cerita, David, masalahnya catatan. Mereka sudah memperlihatkan dokumen-dokumennya padaku. Semua dokumen. Seperti kauketahui, aku duduk sebagai anggota Direksi dua kontraktor hankam dan aku punya hak untuk melihat dokumen-dokumen yang cukup rahasia. Jadi, orang-orang yang sedang berusaha… hmm… menahanmu, cukup mudah dibujuk untuk memperlihatkan berkas-berkas mereka padaku. Harus kukatakan, potret yang mereka lukis tidak indah. Sudah tentu tak ada kesalahan yang ditimpakan padamu. Kau hanyalah

183korban yang tak berdosa. Rasanya memang mengerikan. Aku khawatir itu bukan saat-saat terindah dalam sejarah negara kita, dan apa yang mereka lakukan terhadapmu—kau dan rekan-rekanmu—sama sekali tak bisa dibenarkan.”

Dave berbicara dari sela-sela gigi. “Mereka tak melakukan apa pun terhadapku. Mereka tak melakukan apa pun terhadap kami. Apa pun yang kami lakukan, kami lakukan untuk diri sendiri. Dengar, Dok… Fred, berkas-berkas yang mereka perlihatkan padamu itu palsu. Itu bohong, menipusempurna, lengkap, simetris, kolosal. ” Ś

“Masih mengutip Mark Twain, kan, David?”

“Aku takkan melakukannya kalau aku gila.”

“Mungkin saja. David, kami sudah bicara tentang sesuatu yang relevan dengan situasimu sebelum ini. Aku ingat reaksimu atas keprihatinanku, dan karena alasan itulah aku ragu-ragu mengungkitnya.”

“Apa?” David menahan omongannya. “Teruskan, Dok. Katakan saja.”

“Apakah kau masih… sort, David, aku benar-benar tak suka mengajukan pertanyaan ini… apakah kau masih mendengar suara-suara itu?”

“Aduh, Dok! Itu… itu bukan apa-apa. Itu cuma cara untuk… Seperti sudah kukatakan padamu, itu bukan benar-benar suara, tagi kurang-lebih hanya aku bicara pada diri sendiri.”

Sandberg mengulangi perlahan-lahan, “Bicara. Pada. Diri. Sendiri.” Ia mengangguk. Anggukan itu mengatakan segalanya.

“Sialan, aku…”

“Kau ingat ketika kau pertama kali bicara denganku

184

mengenai—kita sebut saja—idiosyncrasy ini, kukatakan tak ada jeleknya kalau kau menemui kolegaku, seorang spesialis.”

“Dok, kukatakan waktu itu dan akan kukatakan sekarang juga, aku tak perlu menemui psikater. Aku sewaras kau.”

Sandberg menggeleng. “David, David, biar kuulangi, dan penting sekali bagimu memahami ini—tak seorang pun mengatakan kau gila. Kukatakan dengan pasti, kau tidak gila, bukan dalam arti biasanya. Apa yang terjadi, dan aku sudah menyaksikan bukti tak terbantah yang menegaskannya, kau dan banyak orang lain dalam unitmu di AD diberi zat psikotropik eksperimental. Kemudian timbul kerumitan yang tak terduga sebelumnya. Aku diberitahu komandan kalian sendiri…”

dinding. “Oh, astaga! Itukah yang mereka katakan? Bahwa segala yang terjadi karena kami semua terpengaruh obat? Ya Tuhan!”

“David, tenanglah.” Sandberg kembali meraih ke dalam saku waistcoat. Dave mengangkat pistolnya. Sandberg mengeluarkan permen pengharum napas. “Sudahlah, David, kau tak perlu menodongkan barang itu padaku.” Ia mengambil sebutir permen dari bungkus, memasukkannya ke mulut, dan mengangsurkan bungkusan itu kepada Dave. Dave menggeleng. Si dokter meneruskan, “David, aku tak menyangsikan bahwa kau percaya orang-orang mencoba membunuhmu. Tapi kau harus menyadari bahwa semua bukti…”

“Bagaimana dengan ini?” Dave mengacungkan pistolnya.

“Mereka sudah memeperingatkanku tentang itu. Kau merampasnya dari polisi.”

185”Dok, ini bukan pistol polisi. Lihatlah. Ini…” “Aku tak tahu apa-apa tentang senjata kecuali fakta bahwa aku membencinya.” Dave menggeram kesal.

Sandberg menurunkan suaranya, mengambil nada yang lebih akrab. “Ada satu hal lagi, David. Helen meneleponku.”

“Oh, persetan.”

“Sewajarnyalah dia prihatin terhadap dirimu, terhadap pengaruh obat eksperimental seperti yang diberikan padamu. Dan karena dia merasa selama jangka waktu tertentu perkawinan kalian tidak…”

“Hentikan itu, Dok. Aku mungkin perlu bicara dengan penasihat perkawinan, tapi sekarang itu bukan dalam prioritasku.”

“Aku bisa menyanggah bahwa laki-laki yang tak mengutamakan perasaan-perasaannya terhadap istri sendiri membutuhkan sesuatu yang lebih dari sekadar nasihat perkawinan.” Sandberg memasukkan kembali permennya ke saku.

Dave mengembuskan desah panjang. “Brengsek, Dok, aku…” Suaranya mengeras ketika ia melihat apa yang dilakukan si dokter. “Keluarkan tanganmu dari saku rompi itu, Dok.”

“Waistcoat.”

“Benar. Ada apa di dalam sana? Apa lagi yang kausimpan di situ selain sebungkus permen Ceris?”

Dr. Sandberg tersenyum sedih. “Semprotan kecil Mace. Mereka memberikannya pada kami semua. Maksudnya, David, cuma sekadar membuatmu tak berdaya. Aku janji hanya itulah maksudnya.”

“Dok, kau dan aku—kita bersahabat, kan?”

186

“Aku sungguh berharap demikian.”

“Bagus, sebab apa yang akan kulakukan terhadapmu didasari atas persahabatan

Sandberg mencoba mundur. Ia tidak bisa melakukannya. Tanpa disadarinya, Dave sudah mendesaknya hingga punggungnya menempel ke dinding.

4.

Tata ruang kantor direktur mengungkapkan lebih banyak mengenai perusahaan itu daripada laporan tahunannya. Sebagai contoh, seperti diketahui oleh semua analis pasar saham, bijaksanalah kiranya mewaspadai perusahaan yang presiden direkturnya menghias kantor pribadinya dengan model-model pesawat jet—terutama pesawat Gulfstream, Learjet, dan pesawat pribadi lain berharga tinggi. Tak pelak lagi kehadiran model miniatur semacam itu berarti bahwa perusahaan itu memiliki armada jet yang sangat mahal, kemewahan yang dibeli atas beban pemegang saham sebab sang bos percaya bahwa tidaklah sesuai dengan martabatnya bila bepergian dengan menumpang United, American, atau Delta, seperti orang biasa.

Dengan pertimbangan sama, investor yang berpengalaman boleh mencurigai pimpinan perusahaan yang memberikan kontrak dekorasi ruangan-ruangannya kepada “perusahaan arsitek interior” yang dikelola oleh istrinya (istri kedua, yang lebih muda, yang berambut pirang). Hasilnya biasanya antara lain berupa kain-kain pelapis mewah tapi dengan perabot yang secara geometris ganjil, hiasan-hiasan keramik dengan warna-warna primer oleh seniman rakyat

187pemilik Mercedes, dan litograf seperti gaya lukisan Jim Dine, Frank Stella, Sean Scully, atau Bruce Nauman, tapi harganya lebih mahal daripada karya ash para empu modern itu.

Di ujung seberang spektrum itu—lebih jarang ditemukan di New York City daripada di lingkungan high tech Silicon Valley California dan Route 128 Massachusetts—adalah para direktur yang kantornya memamerkan sikap egaliter: meja kerja logam, kursi berlapis vinil, lantai tanpa karpet, tak ada hiasan apa pun pada dinding kecuali whiteboard, dan mungkin beberapa diagram. Orang-orang dalam tahu bahwa bijaksana juga mewaspadai direktur macam ini. Pada hakikatnya, presiden direktur suatu perusahaan merupakan kekuasaan pengambil keputusan utama dari perusahaan tersebut. Namun sejumlah CEO atau presdir merasa bahwa tanggung jawab seperti itu meresahkan. Untuk menghindarinya, mereka mengelilingi diri dengan hiasan-hiasan bergaya rakyat jelata, bersembunyi di balik kedok pimpinan perusahaan yang demokratis. Tata ruang sederhana adalah tanda pertama dan paling nyata dari eksekutif yang terlalu takut mengambil keputusan.

Kantor Bernie tidak memperlihatkan apa pun seperti itu. Seperti orang yang menempatinya, kantor itu teduh dan mewakili nilai-nilai tradisional. Hanya sedikit lebih besar daripada kantor eksekutif lain di Senterex, ruang kerja Bernie menempati sudut timur laut lantai 45. Jendela-jendelanya terbuka menghadap panorama yang mencakup Central Park di utara (pada siang hari yang cerah ia bisa melihat ke seberang Hudson hingga Westchester County dan lebih jauh

188

lagi), dan gedung PBB di timur, East River, Queens, Long Island, dan kemilau Samudra Atlantik di kejauhan. Meja kerja Bernie terbuat dari kayu mahoni berwarna gelap yang diukir gaya klasik dengan penuh curahan hati; kursi bersandaran tinggi dengan jok Jculit itu dibeli dari tukang-tukang yang membuat perabotan Mahkamah Agung Amerika Serikat; sofa-sofanya berasal dari satu sumber, empuk dan nyaman. Hanya ada sedikit barang-barang kecil, suvenir, ini-itu: satu set pen Mont Blanc pada tempat dari batu granit, sipoa antik hadiah dari mitra joint venture-nya di Cina, foto istri dan anak-anaknya yang berbingkai perak, serta penindih kertas dari kristal yang dipotong berbentuk heksahedron sebagai kenangan atas salah satu kegiatan amalnya, dan sebutir peluru besar ukuran 14,5^milimeter untuk senapan antitank PTRD Soviet yang jelek. Peluru dengan panjang 17,5 senti dan garis tengah 2,5 senti itu dipahat dengan nama Bernie dan pesan, “Kompi B, Batalion Ke-3: Inchon ke Sasaran dan kembali, 1950—1952. Semper Fidelis.”

Untuk seni Bernie menggantung beberapa lukisan karya keluarga Wyeth—N.C. sampai Andrew—dan semuanya dibayar dari saku Bernie sendiri, bukan dari kantong Senterex. Dave menduga kehadiran karya seni itu karena selera Bernie yang luas serta fakta bahwa salah satu anggota Direksi Senterex, Scott Thatcher, adalah kolektor seni dengan reputasi besar dan sangat gemar dengan Brandywine school.

Dekor kantor Bernie hanya memperlihatkan dua keeksentrikan: buku-buku dan mesin kopinya. Buku-buku itu sudah berusia satu dekade dan merupakan

189setengah dari kumpulan aliran yang dianggap Dave sebagai “penyembuhan kepercayaan eksekutif—segala jenis mulai dari In Search of Excellence sampai Reengineering the Corporation. Presiden direktur Senterex tidak bisa melewatkan satu buku yang menjanjikan akan mengungkapkan rahasia-rahasia untuk meningkatkan efektivitas manajerial. Ia membeli semuanya, membaca semuanya, percaya pada semuanya—setidaknya sampai muncul-yang baru.

Dengan satu jari Dave menyusuri kulit sampul buku-buku itu dan tersenyum mengingat kenangan yang ditimbulkannya.

Kemudian ada mesin kopi Bernie. Itu pun membuat Dave tersenyum. Suatu saat, mungkin karena pengaruh salah satu guru motivasi yang berpangkalan di California, Bernie memutuskan bahwa sekretaris eksekutif Senterex tidak seharusnya ditugaskan membuat kopi. Tamu-tamu ke suite eksekutif itu tidak lagi disapa dengan sopan oleh sekretaris anggun yang menawari kopi, teh, atau cokelat. Melainkan menjadi tanggung jawab masing-masing eksekutif untuk memiliki mesin kopi, teh celup, dan termos cokelat panas sendiri.

Tak seorang pun bisa memahami mengapa Bernie menganggap penting bahwa para eksekutif berbayaran enam angka harus menghamburkan waktu untuk merepotkan diri dengan poci, penyaring, dan gilingan, tetapi ia tetap bergeming. Dapur kecil di lantai 45 diubah menjadi ruang fotokopi, dan seluruh kantor eksekutif diberi mesin kopi Toshiba.

Hasilnya adalah bencana: noda pada karpet, bubuk kopi bertaburan pada dokumen-dokumen penting, dan lemari-lemari arsip yang mahal kehilangan pelitur—

190

nya—belum lagi tamu-tamu yang jengah, tercekik minuman yang disajikan kepada mereka, diam-diam mengeringkan cangkir mereka ke pot tanaman.

Sesudah sebulan bencana yang makin menghebat, staf sekretaris berontak. Mereka mulai datang lebih pagi, menyelinap ke dalam kantor bos mereka, dan membuat kopi sendiri. Tak lama kemudian perdamaian pulih di lantai 45, dan semua orang, mulai dari Bernie ke bawah, tampaknya mendapatkan yang mereka inginkan.

Bernie, yang pelupa dalam urusan-urusan seperti itu dan lebih tergantung pada sekretarisnya daripada yang mau diakuinya, rupanya kembali meninggalkan mesin pembuat kopinya menyala. Dave menekan tombol off. “Terima kasih, Bernie,” gumamnya.

Poci itu separo penuh dengan campuran pribadi Bernie, sumber kecemburuan semua orang di lantai itu. Dave menuang secangkir, meneguk, dan tersenyum. Bernie bersikeras bahwa San Francisco satu-satunya kota besar di Amerika tempat semua kantor membanggakan diri karena menawarkan kopi dengan rasa paling sedap kepada para tamu. Karena itu, ia memesan campuran kopi istimewa—arabika, Kona, dan sesuatu lainnya—untuk diterbangkkan dari San Francisco ke Senterex tiap bulan. Tetapi ia tak mau mengungkapkan nama pemasok tempat ia membelinya, atau menyediakan biji kopi itu untuk eksekutif Senterex yang lain. “Aku ingin,” Bernie tersenyum dibuat-buat, “orang ingat bahwa kopi tersedap di New York disajikan oleh Bernie Levy. Dengan demikian, mungkin mereka akan kembali untuk minum kopi lagi dan kita

191bisa berbisnis. Kalau kaii mau berbuat sama, pergilah cari kopimu sendiri.”

Bernie. Dia punya sudut pemikiran sendiri pada segala hal. Deal maker terbesar.

Dave menikmati kopi itu. Benar-benar sempurna. Dalam hati ia bertanya-tanya apakah ia bisa menemukan nama pemasoknya dalam berkas-berkas Bernie.

Penentuan prioritasmu keliru, Sobat. Kalau mau memeriksa berkas-berkas Bernie, kau seharusnya mencari sesuatu yang lain.

Dave meletakkan cangkir kopinya dengan hati-hati di atas alas kuningan. Ia memutar kursi sehingga menghadap lemari arsip Bernie, dan mengungkitnya hingga terbuka.

Laci paling atas berisi berkas-berkas pribadi dan rahasia dari pimpinan Senterex—dua deret map Pen-daflex Esselte kuning kehijauan, masing-masing mencantumkan label yang mengidentifikasi isinya. Label kuning untuk notulen rapat Direksi. Label hijau menandai lembaga-lembaga amal yang terdekat di hati Bernie: Bala Keselamatan, Children’s Hospital, United Jewish Appeal, Lighthouse for the Blind, ASPCA. Label putih pada delapan map mencantumkan nama masing-masing divisi operasi Senterex. Satu label biru bertuliskan “Lockyear Laboratories”. Label oranye untuk rencana dan prakiraan bisnis. Ungu untuk analisis penanaman modal bagi sasaran akuisisi yang potensial. Selusin map dengan label merah mencantumkan nama masing-masing eksekutif paling senior di Senterex.

Dave mengambil map yang mencantumkan namanya.

192

Berkas itu sungguh tipis. Isinya dimulai dengan fotokopi dari surat lamaran aslinya ke Senterex. Foto yang tertempel dengan stapler memperlihatkan laki-laki muda penuh semangat dengan potongan rambut dua dolar. Lamaran itu diikuti dengan sejumlah memo untuk dan dari Bagian Personalia sebelum namanya diganti dengan “Sumber Daya Manusia”. Isinya berkaitan dengan promosi, kenaikan gaji, dan pergantian tugas. Ada beberapa formulir asuransi, satu-dua penilaian dari orang-orang yang pernah membimbingnya waktu permulaan ia bekerja di Senterex, serta kopi dari berbagai perjanjian dan komitmen yang ditandatanganinya saat ia menaiki tangga jabatan di perusahaan itu. Hampir di akhir berkas itu ia menemukan sejumlah korespondensi antara pengacara Senterex dan Komisi Saham dan Surat Berharga. Segera setelah Dave diangkat menjadi eksekutif dalam perusahaan, transaksi saham apa pun yang dilakukannya akan bersangkutan dengan lembaga itu.

Helaian kertas terakhir dalam map itu adalah sepucuk surat dengan kop FBI.

Perut Dave berjungkir balik.

“Mr. Levy yang terhormat,” demikian bunyinya. “Mengenai Mr. David P. Elliot, orang yang sudah Anda kenal dan bekerja pada perusahaan Anda, dengan surat ini kami memberitahukan bahwa kami ditugaskan untuk melakukan penyelidikan latar belakang terhadap orang tersebut di atas, penyelidikan tersebut dianggap perlu dan memadai menurut peraturan-peraturan dalam Undang-Undang Kontraktor dan Pemasok Hankam tahun 1953, seperti pada amandemen, dan menyinggung pemberian security clearance

1$bagi para eksekutif dan direktur yang terlibat dalam operasi bisnis rahasia, terbatas, tertutup, dan/atau masalah keamanan lainnya. Pemohon pemeriksaan tersebut memerintahkan yang bertanda tangan di bawah ini untuk mengadakan koordinasi dengan Anda membahas perinciannya secepat mungkin. Terima kasih atas kerja sama Anda dalam hal ini.” Uh-oh.

Undang-Undang Kontraktor dan Pemasok Hankam? Tapi Senterex tidak pernah bekerja untuk Hankam. Bahkan, sebenarnya ia sama sekali tidak pernah mengerjakan proyek pemerintah. Atau mungkinkah?

Dave membaca surat itu dua kali. Tidak banyak isinya.

Bagaimana dengan tanggalnya?

Tiga hari yang lalu. Surat itu bertanggal tiga hari yang lalu. Nah, apa arti semua itu? Dan mengapa— mengapa, mengapa, mengapa—sesudah bertahun-tahun ini ada orang mencoba memperbarui security clearance yang sudah dibatalkan pada hari ia dibebastugaskan dari Angkatan Bersenjata?

Lebih parah lagi…

Lebih parah lagi, kecuali surat itu palsu, Dave adalah sasaran pemeriksaan pemerintah federal. Dan Ransome memberitahu semua orang bahwa ia agen pemerintah federal.

Seandainya saja Dr. Sandberg benar: Ransome benar-benar agen FBI!

Tidak masuk akal. Pemerintah tidak memberikan kontrak untuk membunuh warga sipil yang tak berdosa. Pemerintah tidak akan mengirim kelompok pembunuh

194

bayaran yang hebat untuk menghabisi businessman berusia 47 tahun. Itu cerita untuk film, fiksi murahan, teori konspirasi. Oliver Stone, Geraldo Rivera, Rush Limbaugh.

Sudah pernah ada dugaan tanpa bukti—Lee Harvey Oswald, Jack Ruby, Bill Casey, Martha Mitchell…

Hanya orang-orang sinting yang mengemukakan pernyataan seperti itu, bahkan seandainya dugaan tentang teori konspirasi itu benar, orang-orang yang tewas itu dibunuh karena suatu alasan. Mereka tahu sesuatu. Mereka terlibat dalam sesuatu. Mereka memiliki rahasia.

Apa yang telah kausaksikan, apa yang telah kaudengar, apa yang kauketahui?

Tidak ada apa-apa. Dave tidak punya rahasia— tidak tahu rahasia negara. Tidak ada…

Mahkamah Militer itu rahasia. Mereka merahasiakan catatannya. Mereka mendesakmu menandatangani janji untuk tidak pernah mengungkapkan apa yang terjadi.

Tidak, tidak, tidak. Itu sudah terlalu lama. Di samping itu, Dave bukanlah satu-satunya yang tahu. Masih ada beberapa saksi lain. Dan semua orang, semua orang, yang terlibat dalam sidang-sidang itu tahu—anggota dewan, jaksa penuntut, pembela, notulis. Rasanya gila sekadar memikirkan bahwa…

Gila.

Sekali lagi ia melihat surat FBI itu. Apakah ini asli? Apakah palsu? Apakah ada cara untuk mencari tahu mengapa surat ini dikirimkan?

Ia mengangkat telepon Bernie dan menekan nomor yang tercetak di bawah nama orang yang menanda—

195tangani surat tersebut. Telepon itu dijawab pada deringan pertama. “Anda telah menelepon Federal Bureau of Investigation. New York City. Jam kantor kami pukul 08.30 pagi sampai 17.30. Bila Anda tahu nomor pesawat orang yang hendak Anda hubungi, harap tekan nomor itu sekarang. Bila tidak, harap tekan tombol bintang sekarang.”

Dave tidak menyukai sistem telepon robot terkutuk ini. Ia menekan tombol bintang. “Bila Anda hendak meninggalkan pesan untuk operator, harap tekan tombol pagar. Bila Anda hendak mengakses sistem voice mail, harap tekan tombol ‘0’ sekarang.”

Ia menekan “0”.

“Harap masukkan nama terakhir orang yang voice mail box-nya hendak Anda hubungi, pakailah tombol pada telepon Anda. Pakailah ‘0’ sebagai ganti huruf ‘Q’.”

Dave melihat tanda tangan pada surat itu. Ia memasukkan nama tersebut.

‘Tidak ada orang dengan nama yang baru saja Anda masukkan yang bisa dihubungi melalui sistem voice mail ini. Bila Anda salah memasukkan nama tersebut atau hendak mengulang lagi, harap tekan tombol bintang sekarang.”

Ia menutup telepon.

Mungkin orang yang mengirim surat ini tidak bekerja untuk FBI. Mungkin ada di sana, tapi namanya tidak dimasukkan ke database sistem telepon terkutuk itu. Mungkin, mungkin, mungkin. Dave tidak tahu. Ia tidak punya jawaban. Tak ada jawaban di mana pun.

Ataukah ada?

Ia perlu berpikir. Ada sesuatu yang ia lupakan

196

atau ia singkirkan dari pikirannya. Itulah kunci dari apa yang tengah terjadi. Tapi mula-mula…

Ia mempelajari berkas-berkas dalam lemari arsip Bernie. Personalia, Amal, Prakiraan, Rapat Direksi, Kandidat Akuisisi, Operasi Divisi. Salah satu di antara mereka mungkin menyimpan petunjuk. Ia meraih yang pertama dalam laci itu. Saat ia melakukannya, Bernie kembali ke dalam ruangan.

Bernie tidak masuk dari ruang sekretarisnya, tetapi dari pintu di barat. Pintu itu menghubungkan kantornya dengan ruang rapat direksi Senterex. Sambil berjalan mundur, ia berbicara dengan seseorang yang masih berada di ruang rapat. “…Bukankah kau mengetahuinya?”

Dave terlonjak, menahan napas, yakin jantungnya telah berhenti.

Bernie meneruskan, “Tunggu sebentar. Itu milikmu, kan, berkas surat di sana itu?” Ia melangkah kembali ke dalam ruang rapat.

Dave melesat dari kursi Bernie, tergopoh-gopoh ke dalam lemari. Lemari itu seperti yang ada di kantornya sendiri, model walk in yang luas. Bernie memakainya untuk menyimpan segala macam keperluan rapat— kuda-kuda besar, spidol, kaset, dan setengah lusin kuda-kuda untuk dipasang pada tripod. Direktur Senterex tidak bisa memimpin rapat kerja tanpa menulis pada papan tulis.

Dave merapat pada dinding yang jauh, menarik pintu lemari itu sampai hampir tertutup tapi tidak benar-benar tertutup.

Bernie masuk kembali ke kantor itu. “…seperti pisau menusuk jantungku, begitulah.”

197Suara lain menjawab, “ftau tak sendirian. Aku dan Olivia juga menyukai David.”

Dave kenal suara itu. Logat sengau New England yang khas itu milik Scott C. Thatcher, salah satu anggota Dewan Direksi Senterex, direktur perusahaannya sendiri, dan salah satu sahabat dekat Dave.

“Jadi semuanya ini akhirnya mungkin akan beres,” kata Bernie. “Si Ransome ini, dia bukan orang sembarangan.”

“Emmm.” Dave bisa membayangkan Thatcher. Ia tentu sedang mengelus kumisnya yang lebat model Mark Twain atau menyisirkan jari pada rambutnya yang putih, panjang, dan acak-acakan. “Bernard, mengenai Mr. Ransome, menurutku apakah kau tak berharap terlalu banyak?”

Keluar. Keluar sana sekarang juga. Thatcher akan mempercayaimu. Dialah satu-satunya di dunia ini yang akan mempercayaimu.

“Aku? Apa maksudmu?”

“Hari ini bukan pertama kalinya aku menemui orang itu. Aku tak melupakan wajah orang. Aku sudah pernah melihatnya sebelum ini, dan aku sudah pernah melihatnya di gedung ini.”

Sekarang. Lakukanlah sekarang. Thatcher akan berada di pihakmu.

“Uh…”

“Menurutku sekitar empat atau lima minggu lalu, di ruang rapat. Ia baru hendak berlalu ketika aku masuk. Bahkan aku ingat jelas aku menanyaimu tentang dia.”

Keluarlah saja dari lemari, Sobat. “Hai, Scotty! • Wah, senang sekali berjumpa denganmu!”

198

Ia tak dapat melakukannya. Itu akan menyeret Thatcher ke dalam persoalan. Membawa hidup Thatcher ke dalam bencana seperti hidupnya sendiri sekarang.

Tolol! Thatcher CEO perusahaan komputer terbesar nomor dua di dunia. Mereka memajang fotonya pada sampul majalah Forbes, Fortune, Business Week. Tak ada yang akan mengusiknya.

“Omong kosong. Mishegaas.”

“Sama sekali tidak. Dia memandangku dengan sikap yang sombong luar biasa. Aku berkomentar tentang hal itu padamu. Kaujawab dia eksekutif dari perusahaan yang rencananya akan kaubeli. Menilik sikap laki-laki itu, kupikir jawabanmu itu mustahil.”

Dave meletakkan tangan pada kenop pintu lemari.

Lakukan! Lakukan!

“Bukan aku. Tentu orang lain yang kauingat.”

“Bernard, meskipun sudah tua dan lemah dan jauh dari musim semi masa mudaku, aku belum lagi pikun. Laki-laki itu pernah ke sini,” dan kaulah tuan rumahnya.”

Dave memutar pegangan pintu perlahan-lahan, mendorong pintunya dengan lembut. “Bernie Levy tak bohong.”

“Kalimat keliru. Lebih tepatnya, orang akan berkata, ‘Bernard Levy jarang bohong sebab ia tahu dirinya canggung dalam melakukannya.’”

“Scotty, sahabatku…”

Melalui celah yang makin lebar Dave melihat Bernie merentangkan tangan mengungkapkan isyarat keterbukaan yang palsu.

“Kita sahabat, Bernard, dan sudah empat puluh

199tahun lebih kita bersahabat. Aku salah satu anggota dalam dewan direksimu, dan kau salah satu anggota dalam dewan direksiku. Di antara kita ada kepercayaan. Kalau benar dalam masalah David ini ada lebih banyak daripada yang mau kauungkapkan, aku harus menghormati hal itu—karena alasan-alasanmu itu pasti baik.”

Sekarang atau tak pernah lagi, Sobat.

Dave menekankan telapak tangannya pada pintu. Radio dalam sakunya berdesis bangun. Thatcher berkata, “Kalau perlu bantuan, kau bisa meneleponku kapan saja.” Dave mendorong. Bernie berkata, “Urusan ini lebih berat dari yang kauketahui.” Suara Ransome muncul di radio, memanggil, “Mr. Elliot? Apakah kau copyT Thatcher berkata, “Tapi ingatlah selalu bahwa David sahabatku juga.” Ransome berkata, “Aku punya wewenang untuk menawarkan pemecahan kompromi yang bisa diterima kedua belah pihak, Mr. Elliot.” Dave menarik tangannya dari pintu. Bernie berkata, “Dia seperti anakku sendiri.” Thatcher menjawab, “Kalau begitu, kuucapkan selamat malam. Olivia menungguku di rumah.” Ransome berkata, “Mr. Elliot, aku sungguh berterima kasih bila kau menjawab.” Bernie berkata, “Selamat malam.” Suara Dave berkata, “Lupakan, konyol. Sekarang kau tentu sudah memasang alat pelacak dan triangulation di seluruh gedung, kan, Ransome? Jadi suruh mereka mencariku. Suruh mereka menemukan di lantai berapa aku sekarang. Coba terka, Sobat. Aku tak ada di lantai berapa pun. Aku di luar, dan aku takkan kembali. Hei, Ransome, kau boleh lari dan lari secepat mungkin, tapi kau tak bisa menang-200

kapku!” Suara Ransome sedatar dan sedingin es. “Mr. Elliot, ini benar-benar perilaku kekanak-kanakan yang tak dapat diterima.” Bernie berbicara dari dekat pintu, “Kau akan hadir dalam rapat komite audit minggu depan?” Suara kedua, suara Partridge, muncul di radio. “Benar yang dikatakannya. Dia ada di Upper West Side.” Thatcher, kini sudah di luar kantor Bernie, menjawab, “Maaf. Aku harus berada di Singapura. Ada yang harus dibicarakan dengan pemasok terbesar kita.”

Di suatu tempat di Manhattan, Marge Cohen mematikan tape recorder.

Partridge berbisik, “Dia Jiilang. Mampuslah kita.”

Dave berdiri tak bergerak, memikirkan komentar terakhir itu dalam benaknya.

5.

Ia melangkah keluar dari lemari, pistolnya tergenggam ringan sejajar pinggang. “Kalau kau bergerak, Bernie, aku akan menembakmu.” Ia berusaha agar terdengar sungguh-sungguh.

Bernie sedang duduk di balik meja kerjanya, membalik-balik dokumen. Ia mengangkat muka dengan ekspresi letih. “Halo, Davy. Senang berjumpa denganmu.” Ia terdengar seperti laki-laki yang sudah berusia sejuta tahun.

“Bernie, aku ingin tanganmu tetap di atas meja. Aku tak ingiti kau mencabut pistol lain…”

“Tak ada pistol lagi.” Bernie melontarkan senyum samar.

“…atau sebotol Mace.”

201Bernie mengangguk. “Kau tahu tentang itu?”

“Aku tahu.” Dave berjalan lebih dekat. “Aku juga tahu tentang beberapa hal lain. Tapi aku ingin tahu lebih banyak.”

Wajah Bernie adalah model kesedihan. Ia memutar tangan hingga telapaknya menghadap ke meja. Ketika ia berbicara Dave merasakan kata-katanya lebih ditujukan untuk diri sendiri daripada untuk orang lain. “Ya. Begitulah. Kau menghabiskan seluruh hidupmu mencoba jadi mensch sejati, manusia utama. Bekerja keras, bermain jujur, mengatakan kebenaran, mengerjakan hal yang benar, jadi patriot. Ketika semua itu selesai, tahukah kau apa selanjutnya? Akan kukatakan apa. Bagi mereka kau tetaplah bukan apa-apa selain Yahudi kecil busuk. Hai, Yahudi, kerjakan ini. Hai, Yahudi, kerjakan itu. Terima kasih, kau warga Amerika yang baik. Sebagai orang Yahudi, cukuplah.”

Ia menggeleng perlahan, sedih, beban seluruh dunia terpikul di pundaknya. “Mereka memberiku Bintang Perak. Aku. Bernie Levy. Kau tahu itu, Davy?”

Dave menjawab dengan segenap kelembutan yang bisa ia kerahkan, ‘Tidak, Bernie, aku tak tahu.”

“Scotty, dia juga mendapatkannya. Aku, juga mendapatkannya. Hal paling menyebalkan yang pernah kaulihat. Dua prajurit gila, benar-benar sinting, Letnan Thatcher dan Kopral Levy. Menyerang tank Korea Utara, itulah yang kami lakukan. Dia dengan senapan .45 dan granat tangan, aku dengan senapan M-l. Sungguh sinting. Seharusnya kami sudah mati. Tapi sebaliknya kami berdua mendapatkan Bintang Perak. MacArthur, dialah yang menyematkannya. Oh, kau seharusnya menyaksikannya, Dave, seharusnya me-202

nyaksikannya. Scotty tergeletak di ranjang dengan satu kaki terangkat. Bernie Levy berdiri di sampingnya. Laki-laki tua itu masuk. Ada fotografer dari majalah Life memotret. Itu benar-benar peristiwa besar, Davy, mungkin saat terindah yang pernah kualami. Dan MacArthur mulai menyematkan medali, dan tahukah kau? Scotty, dia cuma letnan rendahan, Scotty mulai mengutuki sang jenderal. Sang jenderal! Bisakah kau mempercayainya? Luar biasa. Itu mukjizat. Tak seorang pun pernah menyaksikan hal seperti itu. Aku—aku tertegun. Apakah dia, Scotty maksudku, pernah menceritakan hal itu padamu?” Dave menggeleng.

“Tercengang. Bernie Levy tercengang. Ayah Scotty adalah dokter dalam staf MacArthur. Maksudku, di Jepang tak lama sesudah perang usai. Dia dan orang Rusia ini dan seorang OSS sedang memeriksa penjahat-penjahat perang. Lalu mereka menemukan sesuatu dan mereka menyampaikannya pada Jenderal dan sang jenderal memerintahkan tutup itu rapat-rapat. Tapi mereka menolak, maka sang jenderal memecat semuanya dan mencari dokter baru untuknya. Maka—kau harus membayangkan ini—maka lima atau enam tahun kemudian, seorang letnan yang sedang terbaring di ranjang dengan jenderal paling penting di dunia—di dunia!—yang sedang menyematkan Bintang Perak pada piamanya, dan ada fotografer memotret, dan sekonyong-konyong sang letnan memarahi sang jenderal karena memecat ayahnya. Oh, Davy, kau seharusnya ikut menyaksikannya. Sungguh chutzpahl Bernie Levy tak pernah menyaksikan yang seperti ini!”

Dave tersenyum lebar. “Itu cerita bagus, Bernie.”

203Seulas senyum kecil terlintas pada bibir Bernie. “Aku tahu,” katanya, sambil memandang lurus ke mata Dave dan mengangguk. Tiba-tiba senyum itu lenyap. Bernie kembali tampak letih. “Oke, oke. Jadi kau mau bicara, Dave, kita akan bicara. Mungkin aku akan mengatakan sesuatu padamu, mungkin tidak. Seorang laki-laki masih tetap memiliki kehormatan. Itu tak dapat mereka rampas dariku. Jadi duduklah, yang nyaman.”

“Aku akan berdiri.”

“Duduk, berdiri, apa bedanya?” Dengan tangan gemuknya Bernie menggenggam secangkir kopi, mengangkatnya ke bibir, dan menghirup seteguk. “Kau mau aku menuangkan secangkir kopi untukmu, Davy?”

“Yang kauminum tadi kopiku, Bernie.”

Paras Bernie berubah. “Kopimu?”

“Ya. Aku menuangnya ketika melihat-lihat berkas arsipmu.” -

“Kau minum kopiku?” Bernie tiba-tiba bersandar di kursinya. Ekspresi letih pada wajahnya digantikan dengan senyum ironis. Senyum itu melebar. Bernie tertawa. “Sungguh luar biasa. Kau minum kopiku. Sekarang, aku minum kopimu. Bukankah itu luar biasa? Davy, ini begitu luar biasa, kau tak tahu.”

Ia tertawa lebih keras, gelaknya jadi terbahak-bahak.

Dave mengernyit. “Aku tak menangkap leluconnya.”

“Leluconnya? Ini lelucon yang luar biasa, Davy! Luar biasa! Dan yang paling bagus dari semuanya, lelucon itu tertuju pada Bernie Levy!” Masih terguncang-guncang tawa, Bernie bangkit berdiri dan, dengan cangkir kopi di tangan, berjalan melintasi kantor itu.

204

Di samping jendela utara ada meja kerja bundar dan empat kursi bersandaran tegak. Bernie meletakkan tangannya pada sandaran salah satu kursi itu, mencengkeramnya dengan erat, dan berpaling pada Dave. “Ini lelucon paling hebat di dunia!”

Tiba-tiba, dengan kekuatan yang mencengangkan, Bernie mengangkat kursi itu dan melemparkannya ke jendela. Kaca pecah berantakan ke luar, berpusar-pusar dalam udara malam, dilecut angin dan sesaat tampak seperti badai permata, badai es, cahaya putih terpantul dan terurai dan berkeredapan di antara kepingan-kepingan intan. Embusan angin bercampur serpihan kaca menerjang kembali ke dalam kantor. Satu kepingan menggoreskan garis lurus merah pada pipi kiri Bernie. Dave maju selangkah dengan ragu-ragu. Bernie mengangkat sebelah tangannya, seolah mengatakan padanya agar jangan mendekat. Semua kesedihan dalam wajahnya sudah lenyap, dan ia kelihatan gembira seperti anak kecil. “Bernie Levy hanya bisa menyalahkan Bernie Levy. Berbalik adalah permainan yang adil. Ini lelucon bagus, Davy, terbagus di antara semuanya. Coba kukatakan padamu, hanya Tuhan sendirilah yang bisa menciptakan lelucon seperti ini.”

Bernie menghirup satu tegukan terakhir dari kopi itu, dan, sambil masih memegangi cangkirnya, ia melangkah ke udara kosong.

6.

Butuh waktu enam detik bagi sebuah*’ objek untuk jatuh sejauh tiga ratus meter. Dave punya cukup banyak waktu untuk mencapai jendela dan menyaksi—

205kan Bernie Levy tewas. Di Vietnam ia sudah tentu menyaksikan cukup banyak kematian. Ia butuh waktu lebih panjang daripada kebanyakan orang untuk jadi keras terhadap hal itu, tetapi begitu ia jadi keras, tetap keraslah ia. Namun, menyaksikan akhir riwayat Bernie, bahkan dari ketinggian, tetaplah mengerikan. Sangat mengerikan.

Bernie malang yang tambun itu meledak.

Tangan dan kaki tanpa tubuh, kepingan-kepingan daging merah, organ tubuh kelabu meledak ke jalan. Darah, yang tampak hitam di bawah kilauan lampu jalan, mengalir jadi sungai-sungai kecil. Sebuah mobil yang sedang melaju pesat ke timur di Fiftieth Street menikung naik ke trotoar, memercikkan bunga api ketika miring menyerempet gedung, dan terguling ke samping sambil mengepulkan asap. Seorang wanita yang tersiram darah langsung pingsan. Teman laki-lakinya berlutut muntah-muntah di tempat perempuan itu tergeletak. Orang-orang yang lebih jauh menjerit. Sepotong dari Bernie Levy sebesar bola sepak menggelinding ke persimpangan Park Avenue, mengakibatkan rem mendecit dan spatbor penyok. Seekor anjing menarik lepas tali kekang dari genggaman kendur tuannya dan berlari penuh semangat menuju bau memikat dari kotoran segar.

Empat puluh lima tingkat dari tanah, David Elliot mencondongkan badan ke luar melalui jendela yang pecah, memalingkan muka, merasakan angin dingin dan tajam, dan bersyukur bahwa udaranya begitu segar. Bicara ke angkasa, ia berbisik, “Ya Tuhan, Bernie, mengapa kaulakukan ini? Tuhan, tak mungkin masalahnya seburuk itu. Apa pun persoalannya, aku

206

tentu akan memaafkanmu. Kita seharusnya bisa mencari penyelesaiannya. Kau tak perlu…” Suara berisik.

Bukan hanya di jalan di bawah, tetapi juga di koridor-koridor di luar kantor Bernie. Kaki berlarian di karpet. Bunyi logam beradu dari senapan memasukkan sebutir peluru ke pangkal laras. Sebuah suara tenang berlogat Appalachian: “Hati-hati di atas sana.”

Astaga! Ternyata selama ini selalu berada di lantai ini!

Dave mundur dari jendela, dan bergegas menyeberangi kantor itu, melemparkan diri ke dalam lemari, meringkuk ngeri dalam kegelapan. Pintu ke kantor Bernie membuka. Dave mendengar bunyi berdebam dan langkah diseret. Mata pikirannya membayangkan pjemandangan itu—taktik penyergapan baku: satu orang bertiarap di ambang pintu, jari yang menempel pada picu menegang; satu lagi berlutut, membidikkan senapan otomatis membentuk lengkungan lebar saat mencari sasaran; orang ketiga merunduk di belakang dan di atasnya, melakukan tindakan sama.

“Bersih?” Ransome berbicara dari luar kantor.

“Bersih. Tapi kita ada masalah.”

“Apa?”

“Yahudi itu bunuh diri. Terjun.”

Raungan sirene dari jalan meredam separo bagian pertama jawaban Ransome. Yang Dave dengar hanyalah, “…seharusnya sudah tahu dia takkan bisa menanggung beban itu.”

“Kita punya beberapa memt sebelum polisi setempat tiba.” Ransome ada di dalam kantor sekarang, memegang kendali, memberikan perintah-perintah dengan

207suara lembut tenang. “Wren, bawa tiga orang dan pindahkan peralatan kita ke pangkalan. Pakai tangga.”

Pangkalan? Apakah mereka sudah mendirikan pangkalan operasi di lantai lain?

“Bluejay, telepon—pakailah alat pengacak—katakan pada bagian patologi bahwa aku butuh sampel darah subjek. Secepatnya. Perintahkan mereka membawanya dengan ambulans dan antarkan ke sini.”

Sampel darah? Dari mana gerangan mereka mendapatkan sampel darah? Sudah berbulan-bulan darahmu tak pernah diambil, tidak sejak Dr. Sandberg… uh-oh. Oh ya, sampel darahmu pernah…

“Sir?”

“Pelacakan sidik DNA, Bluejay. Aku akan memercikkan sedikit darah subjek pada kaca pecah itu.” “Mengerti, Sir. Bagus sekali.” m

“Kerjakan.” “Siap, Sir.”

Satu suara lain, lebih lemah, lebih tua. “Aku tak mengerti, Komandan.”

“Aku dan Bluejay akan tiba di sini beberapa menit sesudah polisi datang. Kita berikan kesan bahwa ini bukan sekadar bunuh diri biasa. Siapa tersangka utamanya akan disiratkan juga. Bagian forensik akan menemukan dua golongan darah di tempat kejadian. Bingo, ini pembunuhan. Dan ketika mereka mengautopsi subjek, semuanya akan cocok.”

Autopsi? Sekarang kita tahu kesepakatan apa yang hendak ditawarkan padamu.

. Ransome meneruskan, “Greylag, aku ingin kau membuka keran ke media. Pemaparan maksimum. Radio, televisi, surat kabar. Orang gila melempar

208

bosnya ke luar jendela. Pembunuh maniak berkeliaran. Anjing gila. Tembak mati. Pada pukul 20.30 semua aparat penegak hukum di New York akan mencarinya.”

“Bagaimana bila dia memutuskan meninggalkan kota?”

“Berlawanan dengan gambaran psikologisnya. Dia salah satu di antara kita. Dia takkan berhenti begitu saja dan kabur.”

‘Tapi…”

“Usul diterima. Kita sudah menghubungi semua orang yang dikenalnya atau mungkin akan dihubunginya, kan?”

“Ya, Sir. Dua regu.”

Astaga! Berapa resimen yang ada di bawah perintah orang ini?

“Oke. Ada berapa jalan keluar dari pulau ini?”

Greylag diam untuk berpikir: “Empat lorong mobil. Enam belas atau tujuh belas jembatan, saya kira. Tiga heliport. Empat atau lima rute kereta bawah tanah, mungkin lebih banyak lagi. Feri. Empat bandara termasuk Newark dan Westchester. Tiga jalur kereta api. Oh ya, dia bisa pakai cable car ke Roosevelt Island lalu…”

‘Terlalu banyak. Kita tak punya cukup sumber daya untuk meliput semuanya.”

“Saya bisa telepon Washington.”

Washington? Oh, Tuhan, apakah bajingan-bajingan ini benar dari pemerintah?

“Untuk sekarang, itu bukan pilihan yang diinginkan.” Ada nada baru dalam suara Ransome—sedikit murung, agak resah. “Sama sekali tak diinginkan. Tempatkan saja beberapa orang pada arteri utama

209dan di bandara. Itulah pilihan terbaik yang bisa kita ambil. Kalian sisanya, sampaikan pesan—bila ada yang bertemu dengan polisi setempat, tetaplah tenang. Mereka polisi New York, bukan model jago tembak Speedy Gonzales yang biasa kalian hadapi. Mereka tak bisa disuap dengan murah. Tutup mulut rapat-rapat dan hindari konfrontasi. Oke, ayo kita kerjakan.”

“Radio, Sir. Berita untuk Anda. Mendesak.”

“Beri… Robin di sini… Dia apa? …Bagus, bagus…. Diterima. Robin selesai. Oke, kalian, dengarkan. Wren ada di lantai 17 dengan tusukan menembus nadi lehernya.” Suaranya tanpa emosi seperti robot.

Dave, sambil merunduk di dalam lemari, menggigit bibir. Kaupikir pembuka surat itu tak mematikan, kan, Sobat?

Suara Ransome yang dingin monoton meneruskan, “Saudara-saudara. Ini keteledoran. Aku minta pembersihan di ruang tangga itu sesudah percobaan tak kompeten untuk memikat subjek dalam baku tembak. Aku kecewa dengan hasilnya. Mulai sekarang mari kita usahakan bertindak sedikit lebih profesional. Mengingat sikap subjek yang tidak kooperatif, harap hati-hati.”

“Sir, apakah kita akan menangkapnya?”

“Afirmatif, Greylag. Bila kita tak menangkapnya di jalan, kita akan menangkapnya saat dia kembali ke sini. Dia akan kembali, kau tahu.”

Persetan!

Bagus. Saya mau sedikit waktu pribadi dengan Mr. Elliot.”

“Negatif. Akulah yang pertama dalam antrean. Takkan ada sisa.”

210

“T

2.

DEJA VU

“…ia tidak merasa bahwa perang terdiri atas pembunuhan para musuhmu. Ada kontradiksi di sini.”

—Patrick O’Brian, KM.S. Surprise

r di-scan dan di-djvu-kan untuk ^ dimhader dimhad.co.cc oleh:

OBI

Salam buat diinhad-pangcu, suhu bbsc, kang zusi sekeluarga, otoy dengan kameranya, syauqy_arr dengan hanaold.wordpress.com -nya, grafity, dan semua dimhader.

Dilarang meng-komersil-kan atau kesialan menimpa anda.Salam buat dimliad-pangcu, suhu bbsc, kang zusi sekeluarga, otoy dengan kameranya, syauqy_arr dengan lianaold.wordpress.com -nya, grafity, dan semua dimhader.

Dilarang meng-komersil-kan atau kesialan menimpa anda.

BAB 6

DAVE BERJALAN-JALAN

1.

Akuilah, Bung, kau selalu ingin melakukan ini. Benar.

Lebih menyenangkan dari yang pernah kaulakukan selama hidup.

Dekat. Sangat dekat.

Orang di BMW itu tak menanggapimu dengan serius. Beri lampu.

Dave mengangkat tuas lampu jauhnya. Pengemudi BMW itu sedang menempelkan ponsel ke telinganya. Ia tidak mau bergeser, mengangkangi dua jalur, dan menghalangi jalan Dave. Dave mengangkat mikrofon dari dasbor, menjentikkan tombol, dan dengan marah menggeram. “Anda yang di dalam BMW, ini keadaan darurat kepolisian. Minggir dari jalan atau Anda ditahan.”

213Suaranya yang diperkeras itu menggema di jalan yang penuh sesak. Pengemudi BMW itu menoleh, memandang dengan muak, dan menepikan mobilnya. Dave menginjak pedal gas. Hanya ditemani malaikat pelindungnya yang suka mengejek, ia melesat membelah udara malam Manhattan dengan mobil polisi curian.

Ya!

Kunci-kuncinya ada di dalam saku polisi itu. Ditempeli label yang mencantumkan nomot-pelat kendaraannya. Dave meliriknya dengan cemas, dan sudah siap menjatuhkannya di lantai keramik WC pria ketika suara dalam dirinya berbisik, Hei, Sobat, kau baru saja merobohkan polisi berseragam saat dia sedang bertugas—atau setidaknya saat dia sedang kencing— dan mengikatnya dengan selotip di dalam WC untuk orang cacat. Ditambah lagi kau telah mencuri pakaian, lencana, senjata, dan topinya. Tapi sepatunya tidak.

Hanya karena sepatu itu tidak cocok. Ditambah lagi kau telah membunuh lima, mungkin enam orang yang barangkali agen federal, mencuri - uang dari semua orang yang kaujumpai, menelepon dengan ancaman pengeboman, memasang perangkap yang membahayakan nyawa di tangga kebakaran salah satu gedung pencakar langit Park Avenue, melakukan penyerangan-penyerangan berbahaya serta membongkar dan menyelinap masuk, meracik peledak buatan sendiri, dan mencuri milik perusahaan telepon. Oh ya, kau juga dicari karena pembunuhan terhadap Bernie Levy. Jadi apa yang akan mereka lakukan

214

padamu kalau kau mencuri mobil polisi juga? Paling parah, mereka mungkin akan menambahkan beberapa abad lagi pada hukuman yang pasti sudah berjumlah sepuluh ribu tahun di Sing Sing.

Dave mengangkat pundak dan mengantongi kunci itu. Ia keluar dari WC lantai 45 tepat saat seorang polisi lain masuk. Dave mengangguk padanya.

“Astaga,” omel polisi itu. “Orang itu punya WC pribadi dan dia bunuh diri. Percaya tidak?”

Dave menjawab, “Tadi aku juga bilang pada letnan bahwa aku mau kencing, sekali saja seumur hidup, di WC pribadi Park Avenue, dan dia melarangku, mungkin ada bukti di sana.”

“Sama seperti yang dikatakannya padaku. Percaya tidak?”

Lima menit kemudian Dave sudah sampai di lantai dasar, menerobos di antara kerumunan polisi dan kru kamera di lobi. Tak seorang pun memedulikannya. Seperti sudah diduganya, seragam biru polisi itu membuatnya lebih tak kasatmata daripada penyamarannya sebagai tukang reparasi telepon.

Mobil patroli itu tepat berada di pinggir jalan. Dave menyelinap ke dalamnya, memutar kunci kontak, tersenyum lebar, dan mengendarainya menuju kegelapan malam.

Di persimpangan Eighty-seventh Street dan Broadway, Dave membelok ke kiri, dengan gembira memacu mobil polisi itu, dan mengebut ke barat. Di tengah blok berikutnya ia mematikan sirene dan lampu kedip. Ia mengurangi kecepatan, menepi ke kanan, dan merapat ke trotoar. Di sana ada cukup tempat parkir di samping hidran.

215Mungkin tak ada peraturan dalam kitab undang-undang yang tidak kaulanggar hari ini.

Marge Cohen mengatakan dia tinggal di Ninety-fourth Street. Dave berniat menempuh jarak yang tersisa dengan berjalan kaki. Polisi berjalan kaki memang merupakan pemandangan yang kurang lazim sehingga beberapa orang meliriknya. Kebanyakan tak peduli.

Ia membelok ke utara di Broadway. Sudah bertahun-tahun ia tak pernah ke bagian kota ini. Hunian yuppie sudah memenuhi daerah ini. Bar-bar yang dilewatinya memajang pakis dalam pot dan nama-nama yang bergaya. Toko yang dulu menjual barang bekas kini menjual barang antik. Manekin-manekin di toko pakaian kelihatan seperti Cher di malam yang payah. Tapi jalanannya masih tetap kotor, ditaburi puing-puing yang sangat khas dan hanya terkumpul di Upper West Side Manhattan.

Jalanlah seperti polisi, Bung, jangan seperti turis.

Dave memperlambat langkahnya, memaksa diri berjalan dengan gaya John Wayne, dan menunjukkan sikap waspada.

Itu lebih mirip.

Ia sampai di bagian utara Ninety-first Street sebelum menemukan yang diinginkannya. Neon hijau di atas pintu masuk itu berbunyi “McAnn’s Bar and Grill.”

Bila kau tak bisa mempercayai pub Irlandia, apa yang bisa kaupercayai?

Ia mendorong pintu hingga terbuka. Tempat itu remang-remang. Baunya campuran busa bir, serbuk gergajian, dan corned beef panas. Pengunjung tempat

216

itu bukan kaum yuppie, tak pernah dan takkan terjadi. Mereka kelihatan seperti sudah lama duduk di depan meja mereka. Satu atau dua orang meliriknya, kemudian kembali mengurusi bir mereka.

Ia berjalan ke bar. Bartender sudah mengambilkan Ballantine untuknya. Dave tidak suka merek itu. Tapi toh ia menerimanya juga.

“Ada yang bisa kubantu?”

Dave mengangkat gelasnya. “Ini sudah cukup membantu.” Ia minum seteguk. Sedikit rasa metalik itu mengingatkannya pada… kejadian yang sudah begitu lama… mengingatkannya pada…

Ballantine adalah bir favorit Taffy Weiler. Pengungsi berambut merah dari New York itu sudah mengirim entah berapa kotak bir tersebut ke Pegunungan Sierra. Sesudahnya, tepat sebelum mereka pergi, Dave memaksanya mengumpulkan kaleng kosongnya. Taffy ingin meninggalkannya di tempat itu. Dave merasa gusar mengingat kotoran yang akan mencemari keindahan…

“Mau dicampur minuman lain?”

“Maaf?” Bartender itu memutuskan rantai pikiran Dave.

“Aku tanya apakah kau mau minuman lain untuk dicampur dengan birmu.” “Tidak saat bertugas.”

Bartender itu mendengus. “Itu tak mencegah rekan-rekanmu. Kau masih baru di sini, kan?”

“Tugas sementara. Biasanya aku bertugas di Astoria.”

“Namaku Dunne. Panggil aku Jack.” Uh… benar, Bung, jadi apa nama yang tertera pada pelat nama yang kaupakui? Jangan mengintip.

217”Hutchinson. Semua orang memanggilku Hutch.” “Cocok.”

“jKau punya buku telepon, Jack?” “Tentu.” Bartender itu meraih ke bawah bar dan mengangkat Halaman Putih Manhattan yang tebal. Ia mengawasi sementara Dave membalik-balik ke bagian C. Cogan, Coggin, Cohan, Cohee, Cohen… Banyak Cohen. Cari. Cohen, Marge? Tidak terdaftar. Cohen, Marigold? Sama saja. Cohen, M.? Ada beberapa lusin. Tapi hanya ada satu di Ninety-fourth Street. Tepat di pinggir Amsterdam. Itu pasti dia.

Ia mengembalikan buku petunjuk telepon itu kepada si bartender. “Terima kasih. Apakah di sini ada telepon—telepon pribadi yang bisa kupakai?” “Di belakang. Kurasa telepon lokal.” “Tentu.” “Silakan saja.”

Bukan Marge Cohen yang diteleponnya, dan bukan pula nomor lokal. Melainkan nomor bagian informasi AT&T International. Dave menginginkan sebuah nomor telepon di Switzerland.

2.

Apartemen Marge terletak di bangunan empat tingkat dari batu cokelat, yang oleh penduduk New York dianggap menarik, tetapi mengingatkan orang pada apartemen-apertemen pinggiran kota pada zaman Depresi. Tidak ada cahaya yang memancar dari jendela-jendelanya yang kotor. Sebuah tangga beton berlubang-lubang menuju ke pintu depannya yang

218

tertutup terali. Dave mendengar dengkuran. Sepertinya ada orang sedang tidur di antara tong-tong sampah di bawah tangga.

Menurut deretan kotak surat kotor di serambi, apartemen M.F. Cohen terletak di lantai dasar di bagian belakang. Apartemen IB.

Dave mencari-cari bel dan interkom. Ada yang telah mencabut peralatan itu dari tempatnya. Ia mengangkat pundak, dan mengakali kunci pintu itu dengan kartu kredit.

Dinding-dinding di dalam berwarna kelabu akibat kurangnya perhatian. Karpetnya sudah aus dan bernoda, lampu lorongnya remang-remang. Bangunan itu berbau jamur, ketuaan, dan ketidakpedulian. Pemiliknya tidak mengeluarkan banyak biaya untuk memeliharanya, dan mungkin takkan melakukannya sampai para penghuninya mengancam akan mogok membayar uang sewa.

Dave mengetuk pintu ke apartemen IB.

Cahaya berkelip melalui lubang pengintai pintu. Ada yang mengintip ke luar. Pintu berdetak, gerendel diputar, pintu terempas membuka, Marge Cohen melompat ke arahnya sambil mendesis seperti kucing. “Kau bajingan!”

Ada apa gerangan?

Tangan Marge tertekuk membentuk cakar; kuku jarinya—yang tidak panjang dan tidak dicat—diarahkan ke mata. Dave mundur ke belakang. Serangan itu meleset, tapi tidak jauh. Dave mengangkat sebelah tangannya, “Tunggu sebentar…”

Marge merunduk, siap menerjang. “Kau keparat busuk!” Ia melompat. Kukunya kembali terarah ke

219mata. Dave menangkap pergelangan tangannya, dan memeganginya. Sambutan semacam ini sama sekali tak diduganya.

“Bajingan, bajingan, bajingan!” Gadis itu meronta dalam pegangan Dave, dan mendaratkan tendangan keras ke tulang keringnya. Dave tahu kakinya pasti memar.

Dengan tubuh sekecil .ini dia kuat, kan?

Marge menjerit, “Beraninya kau! Bajingan!” Dave mengangkatnya, mendorongnya ke belakang, memaksanya masuk ke apartemen. Ia menendang Dave lagi.

Dengan pinggulnya Dave mendorong pintu hingga menutup. “Kalian pikir kalian siapa, kalian pikir kalian siapa!” Sambil memutar dengan marah, Marge berusaha melepaskan diri dari Dave. Dave mempererat pegangannya, menariknya mendekat. Marge meludah ke wajah Dave.

“Marge? Hei, dengar aku tidak…” Api putih, halilintar musim panas di Indiana, rasa sakit membakar. Paru-paru Dave mengembus hingga kosong. Ia merosot berlutut, berusaha keras menjaga kesadaran.

Marge telah mengayunkan lutut ke selangkangannya.

Ransome dan begundal-begundalnya memang masalah, Sobat, tapi perempuan New York berbobot 55 kilo adalah masalah lain yang sama sekali berbeda.

Dave menopangkan satu tangan ke lantai untuk menjaga keseimbangan, dan menggeleng untuk menjernihkan pandangannya. Tidak berhasil. Ia mengangkat kepala, menarik napas dalam sambil gemetar. Marge mendatanginya dengan jambangan bunga yang cukup besar untuk membunuh. Ketika ia mengayunkannya

220

ke bawah, Dave jatuh ke kiri, menyapu kaki Marge. Perempuan itu terguling di sampingnya, mengumpat. Dave menggulingkan tubuh ke atasnya, memanfaatkan berat badan untuk menahannya. Marge berteriak dan mengumpat serta bersumpah akan membunuhnya.

Tak seharusnya kau menguras uangnya seperti itu, Sobat.

“Marfpf akh mnntmffT…” Dave memaksa pikirannya meninggalkan rasa sakit di antara kakinya, memusat-kannya pada napas, memusatkan pikiran agar bisa berbicara jelas. “Marge, aku minta maaf telah mengambil uangmu. Kupikir akan membuat kejadian itu lebih tak mencurigakan dan…”

“Uang?” jerit gadis itu. “Uang! Kau bajingan gila, aku sudah lupa semua itu, kau dan teman-teman terkutukmu yang sinting, akan kurobek bolamu, kau…”

Dave butuh waktu sepuluh menit untuk menenangkannya. Sesudah tenang Marge menangis, sedih sekali, gemetar seperti burung yang ketakutan.

Empat laki-laki, berperawakan besar, sudah menunggu di pintunya. Salah satu di antara mereka menunjukkan lencana. Lima belas menit sebelumnya ia sudah membuang radio yang diberikan Dave kepadanya, meninggalkannya di dalam kotak sampah di sekitar D’Agostino’s. Ia pikir tak ada yang perlu dikhawatirkannya.

“Bisakah kami masuk dan bicara dengan Anda, Miz Cohen? Kami ingin mengusut perampokan di kantor Anda hari ini.”

“Silakan. Berapa lama yang diperlukan?”

“Tak lama. Mari saya bawakan tas belanjaan Anda.”

221Sewaktu ia membuka pintu apartemen, hanya tiga orang yang masuk. Orang keempat berdiri di lorong di luar. Salah satu dari tiga laki-laki itu berbalik, mengunci pintu, dan menyandarkan punggungnya ke sana.

Pintu itu satu-satunya jalan keluar. Marge mundur, ke belakang sofa yang memisahkan tubuh mungilnya dengan dua laki-laki lainnya. Salah satu dari mereka membawa tas kulit hitam. Ia meletakkannya di atas meja kopi.

Laki-laki kedua, yang tadi menunjukkan lencana, berbicara, “Saya Officer Canady. Ini Dokter Pierce.” “Dokter?”

“Spesialis ginekologi.”

“Kami punya alasan untuk yakin bahwa laki-laki yang menyerang Anda sore tadi mungkin telah memerkosa Anda saat Anda tak sadarkan diri.”

‘Tidak. Jangan konyol. Saya akan tahu…”

“Kami ke sini untuk memastikannya. Sekarang dokter akan memeriksa Anda.”

Dokter itu mengenakan sepasang sarung tangan lateks.

Wajah Marge bersih, ia sudah membasuh makeup-nya. Air matanya mengalir jernih, setiap tetesnya transparan dan terang. “Kapas pengoles,” ia tersedak. “Botol-botol spesimen. Jarum. Dua yang lainnya mengawasi. Wajah mereka tak berubah. Yang bertubuh besar…” Ia bergidik dan tersedu di lengan Dave.

“Tenang, Marge.” Dave tidak bisa memikirkan kata lain untuk diucapkan. “Itu sudah berakhir. Coba tarik napas dalam dan…”

.222

“Dia memegangiku ke lantai. Tangannya menutup mulutku. Ia melepaskan pakaianku. Yang satunya lagi, yang katanya dokter, oh, Tuhan, itu lebih parah daripada…” Seluruh tubuhnya berguncang, tersiksa oleh sedu sedan dan penghinaan.

Dave memelukkan lengannya, menyandarkan kepala Marge ke dadanya. Rupanya itu melegakan Marge. Di samping itu, lebih baik bila Marge tak melihat wajahnya yang putih karena kemarahan dan menunjukkan ekspresi laki-laki yang merencanakan pembalasan.

Pukul 21.23.

Dave bersama Marge lebih dari sejam. Ia menemukan sebotol brendi, merek murahan, Christian Brothers. Minuman itu menenangkan Marge. Selain lingkaran memar di bawah matanya yang hijau zamrud, ia kembali menjadi perempuan menarik yang dijumpai Dave sore tadi.

Mereka tidak lagi bicara tentang orang-orang yang telah menganiayanya. Ia tidak bisa bicara tentang hal itu. Mungkin butuh waktu berbulan-bulan sebelum ia bisa membicarakannya. Sekarang mereka bicara tentang Dave, mencoba menemukan jawaban yang masuk akal atas kejadian yang telah menimpanya.

“Aku tak tahu,” kata Dave. “Aku punya beberapa dugaan, tapi itu semua cuma dugaan.”

Marge memakai semacam blus luar berwarna biru. Dave tidak tahu tepat modelnya—mungkin gaun malam, atau lebih tepat blus longgar yang dipakai di atas celana panjang. Namun Marge tidak memakai celana panjang. Dan kakinya indah. Dave memaksa matanya agar terfokus pada wajah Marge.

223”Apa? Coba beri contoh.” Marge menjepit sebatang rokok Salem Ultra Light 100 dengan jari. Asap biru bergulung ke langit-langit. Dave hampir saja minta sebatang. Ia benar-benar ingin merokok.

“Oke, poin pertama. Ini pemerintah, atau sesuatu yang berkaitan dengan pemerintah.”

“Itu hal paling sinting yang pernah kudengar. Hei, bulan lalu aku melihat film seperti ini di HBO. Lembaga rahasia di bawah Pentagon, orang-orang berseragam yang tak jelas asal-usulnya, organisasi tanpa nama yang berkatian dengan Odessa.* Film konyol. Aku matikan HBO.”

“Tapi ini pasti…”

“Jangan tolol. Hal semacam itu tak terjadi—rencana rahasia, persekongkolan keji…”

“Persekongkolan gelap itu ada. Kalau kau tak percaya, tanyalah pada Julius Caesar.”

“Oh, sudahlah! Itu kejadian dua ribu tahun lalu.”

“Bagaimana dengan Iran-Contra atau Whitewater atau Watergate? Ya, Watergate. Ingat Gordon Liddy?”

Marge memandangi Dave. Matanya besar dan cerah, bibirnya dirapatkan. Dave suka bibir itu. Ia pikir… Ia menggeleng. Ia tidak tahu apa yang ia pikir.

Oh ya, kau tahu.

“Siapa? Watergate? Hei, kaupikir berapa umurku? Skandal itu sudah berakhir sebelum aku masuk sekolah dasar.” Gadis itu mengibaskan tangan. Gulungan asap tergantung di udara.

“Liddy salah satu anggota persekongkolan Watergate. Ia menulis buku setelah keluar dari penjara. Dalam buku itu dikatakannya bahwa selama beberapa

224

waktu ia yakin dirinya akan dibungkam. Katanya ia sudah siap untuk itu. Dan Liddy anggota FBI. Ia orang dalam. Ia tahu bagaimana hal seperti ini terjadi.”

“Bagiku kedengarannya seperti cerita sinting.”

Dave mengembuskan napas. Ketika menarik napas ia merasakan asap rokok Marge. “Orang juga terlibat dalam operasi-operasi rahasia lainnya. Bahkan pengadilan dan para hakim menyebut Watergate sebagai persekongkolan rahasia. Persekongkolan itu nyata.”

Marge menggeleng.

“Satu hal lain…” Dave menelan ludah. “…Aw, persetan, orang-orang yang melakukan semua ini, Gordon Liddy dan Oliver North dan semua yang lainnya, percaya, benar-benar dan sungguh-sungguh percaya, bahwa mereka berada di pihak yang benar. Sama seperti mereka percaya bahwa orang-orang yang menentang,mereka adalah musuh kebenaran, keadilan, dan jalan hidup Amerika. Aku berani bertaruh, bila kau menanyai Ransome, ia akan mengatakan padamu dialah yang baik dan akulah si jahat. Dan dia sungguh-sungguh. Ah, aku tahu aku dulu…” Dave terdiam.

Marge memiringkan kepala, matanya terbuka sedikit lebih lebar. Namun ia terlalu tanggap untuk berbicara.

“Dengar, Marge, dulu, hampir sebelum kau lahir, aku salah satu dari mereka. Mereka membawaku pergi dari Angkatan Bersenjata… Bukan, itu bohong. Mereka tak membawaku. Yang sebenarnya, aku mengajukan diri secara sukarela. Kupikir itulah tindakan yang benar. Waktu itu aku menganggap banyak hal sebagai kebenaran.” Dave memejamkan mata. Ini bukan kenangan indah, rasanya menyakitkan untuk

225mengingatnya kembali. “Mereka mengirimku ke suatu tempat di Virginia. Pelatihan khusus. Senjata khusus. Intelijen khusus. Cara perang khusus. Untuk beberapa lama kami mengira kami dilatih untuk bekerja sama dengan ARVN, tentara Vietnam Selatan…”

“Vietnam?” Ekspresi pada wajah Marge berubah. Dave tak dapat membacanya.

“Perangku, Marge. Aku terlibat di dalamnya.” -

“Apakah itu seburuk…”

“Ya. Bahkan sebenarnya lebih buruk.” Dave memutuskan bahwa ekspresi yang diperlihatkan Marge adalah keprihatinan sejati. Ia bersyukur. Marge terlalu muda untuk mengingat perang itu, dan terlalu muda untuk masuk ke dalam golongan yang membenci segala orang dan segala hal yang berkaitan dengan perang itu.

Begitu juga, terlalu muda untukmu.

Ia mengosongkan gelas brendi, dan mengisinya lagi. Dulu ada begitu banyak manusia pembenci. Pergi berperang memang buruk. Namun dari beberapa segi, kembali adalah lebih buruk lagi.

“Dave?” Marge mencondongkan badan ke depan. Dave bisa melihat payudaranya bergeser di bawah blusnya. Ia tidak memakai BH dan…

Singkirkan itu dari pikiranmu, Bung.

“Maaf. Kenangan lama.” Dave tersenyum samar. “Nah, aku bilang mereka melatih kami untuk segala macam pekerjaan kotor—beratus-ratus orang. Kamp P sudah sepuluh atau dua puluh tahun dipakai untuk urusan ini ketika aku di sana. Mungkin sekarang pun masih. Ribuan orang pernah melewatinya, sepasukan penuh beranggotakan prajurit-prajurit rahasia. Dan

226

kini mereka ada di luar sana entah di mana. Mungkin mereka tak bekerja untuk pemerintah. Mungkin mereka tak bekerja untuk lembaga yang bekerja untuk lembaga lain yang bekerja untuk pemerintah. Tapi bila kau tahu orang yang tepat, kau bisa menemykan mereka, dan mereka akan melakukan pekerjaan apa pun yang ditugaskan pada mereka dengan bayaran.”

Marge mengernyit. “Tak mungkin. Pemerintah tidak membunuh pembayar pajak. Defisitnya terlalu besar. Di samping itu, aku tak bisa percaya ada orang yang mau memberikan perintah terang-terangan…”

Dave meludah. “Mereka tidak memberikan perintah. Mereka hanya memberikan isyarat. Ingat Becket? Sang raja berkata, ‘Siapakah yang akan membebaskanku dari pendeta pengacau ini?’ dan berikutnya yang kautemukan adalah seorang uskup tergeletak mati di lantai.”

Marge mengangguk, tapi tidak mempercayainya. “Oke. Misalkan saja itu mungkin. Apa buktimu?”

“Tak ada. Tak ada bukti nyata. Semuanya bukti tak langsung—cara mereka bicara, peralatan hightech yang mereka bawa-bawa, betapa mudahnya mereka memerintahkan agar telepon disadap, fakta bahwa Ransome membaca berkas personaliaku di ketentaraan, fakta bahwa semua orang di pihaknya seakan punya alamat tersembunyi. Dan satu hal lain adalah Harry Halliwell. Temanku Harry, yang mencoba meremukkan otakku dengan poci kopi. Dia dukun hebat, pembuat mukjizat sejati dalam dunia politik. Bila dia di pihak Ransome, pasti berarti ada orang-orang penting yang terlibat.”

“Aku masih tetap tak percaya… kecuali…

227Menurutmu mungkinkah ini ada kaitannya dengan Vietnam?”

“Ya. Tidak. Sialan, aku tak tahu. Ada sesuatu yang terjadi di sana. Aku ada di tengahnya. Tapi aku bukan satu-satunya yang terlibat. Seandainya mereka ingin membungkam kami, mereka harus memburu kami semua. Di samping itu, mereka menutup-nutupinya—suatu persekongkolan lain, persekongkolan tutup mulut. Dan lagi pula, kejadiannya sudah terlalu lama. Tak ada yang tersisa, tak ada yang peduli. Tak ada Siapa pun yang benar-benar peduli.”

“Bisakah kau… maukah kau cerita padaku? Maksudku, mungkin ada yang kaulupakan.”

Suara Dave merendah. Ia nyaris menggeram. “Lupa? Tak mungkin. Belum ada yang kulupakan. Coba seandainya aku bisa.”

“Tapi…”

“Tidak, Marge. Kau tak ingin tahu, dan aku tak ingin menceritakannya padamu. Percayalah pada kata-kataku. Itu tak ada kaitannya dengan apa yang terjadi hari ini. Tak mungkin.”

“Terserahlah kalau begitu katamu. Tapi mengapa orang-orang ini, mengapa ada orang ingin membunuhmu?”

Dave melempar tangannya ke langit-langit. “Itulah pertanyaannya. Menurut dugaanku aku telah melihat atau mendengar sesuatu yang tak semestinya kulihat atau kudengar. Kalau saja aku tahu. Tapi apa pun itu, gagasan bahwa aku mengetahuinya membuat beberapa orang yang sangat berkuasa jadi sangat ketakutan.”

“Ketakutan?” Ia menyedot rokoknya dalam-dalam. Dave menghela napas.

228

“Tepat. Takut aku akan go public. Takut sesudah aku tahu apa itu, aku akan meniup peluit. Aku dulu pernah melakukannya—meniup peluit. Mereka tak pernah melupakanmu bila kau melakukan itu. Mereka juga tak pernah melupakanmu.”

“Itukah yang kaukatakan? Mereka takut kau akan memaparkan… memaparkan apa yang mereka lakukan? Mereka berniat membunuhmu sebab kau tukang tiup peluit?”

“Mungkin, cuma mereka memakai kata-kata yang lebih keras daripada ‘tukang tiup peluit’. Tapi ya, itu mungkin. Di Angkatan Bersenjata dulu, kami memakai istilah ‘plausible deniability’. Artinya, perwira-perwira senior bisa menyangkal mereka tahu apa yang kami lakukan. Itu berarti apa pun permainan gila yang kami lakukan, kami harus memastikan bos kami punya pilihan untuk mengatakan, ‘Hei, ini operasi gila. Sama sekali tanpa izin. Berlawanan dengan perintah. Jangan salahkan kami. Kami tak tahu apa-apa tentang itu.’”

‘“Misimu, Jim, bila kau memihh menerimanya…’”

“Sesuatu seperti itulah. Akan kuceritakan padamu satu hal lain. Apa pun hal itu, pastilah sesuatu yang tak boleh diketahui orang lain. Jenis rahasia yang mengakibatkan anggota Kongres marah dan mengadakan pemeriksaan terbuka serta para reporter The Washington Post melolong ke bulan.”

“Iran-Contra.”

“Misalnya.”

Matanya kabur meninggalkan wajah Marge. Seolah mata itu punya kehendak sendiri, mata itu…

Kau melihat kakinya lagi, Bung. Seharusnya itu tak kaulakukan.

229”Jadi alasan mereka memburumu dan alasan mereka ketakutan adalah karena kau bisa menghancurkan kedok mereka, menghancurkan kemampuan mereka untuk mengingkari segala pengetahuan akan… akan… apa pun persoalan itu.”

Dave kembali minum seteguk brendi. Ia merasa lebih hangat sekarang, dan agak lebih santai. Ia meletakkan gelas itu. Mabuk itu tidak baik. “Kau tahu apa yang aneh? Yang aneh, mereka hendak menjadikanku bagian dari itu. Maksudku kalau benar surat itu asli, bukan hasil pemalsuan, maka FBI sedang memeriksaku karena ada yang hendak mengaktifkan kembali security clearence-ku.”

“Tapi kalau itu yang mereka lakukan, mengapa mereka berusaha membunuhmu sekarang?” Marge mengubah sikap tubuhnya, melipat satu tungkainya di bawah yang lain. Sepintas Dave melihat celana dalam pink pucat.

Omong-omong secara pribadi, mungkin ada baiknya bolamu sedang biru lebam.

“Itu pertanyaan rumit lainnya. Mungkin mereka menemukan sesuatu dalam pemeriksaan latar belakangku yang membuat mereka berpikir aku merupakan risiko jelek. Mungkin saat mereka menemukannya, seseorang mengatakan sesuatu yang seharusnya tak kudengar. Entahlah. Yang bisa kukatakan hanyalah bahwa itu pasti terjadi dalam beberapa hari terakhir. Mungkin dalam 24 jam terakhir. Bernie kelelahan. Ia tak tidur. Ransome dan Carlucci tak bercukur. Mereka tak tidur sepanjang malam. Dan segala yang mereka lakukan untuk menangkapku sudah tersedia—operasi yang gampang. Mereka merancangnya sambil jalan.

230

Tanpa rencana. Itulah satu-satunya alasan mengapa aku masih hidup. Ransome bukan keroco. Seandainya dia punya waktu untuk menggelar rencana operasi yang terperinci, aku tentu sudah masuk tas mayat dan diberi label sebelum makan pagi.”

Marge menunjukkan pandangan bersimpati, dan menudingkan satu jari ke gelas Dave yang kosong. “Kau mau minum lagi?”

Dave berpikir, Ya! Kau pun minum lagi!

‘Tidak.”

“Jadi apa yang telah kaulakukan beberapa hari terakhir ini? Apa yang kaulihat? Dengan siapa kau bicara?”

“Marge, aku sudah memeras otak. Tak ada apa-apa. Sama sekali tak ada apa-apa. Aku melewatkan akhir pekan di Long Island bersama Scotty dan Olivia Thatcher. Minggu malam aku menjemput Helen di bandara. Dia…”

“Helen?”

“Istriku.”

“Istrimu.” Suaranya senetral ekspresi yang ditunjukkannya. Ia memasukkan dua kakinya ke bawah selimut.

Kau menanggalkan cincin kawinmu, Sobat. Ingat? Perempuan ini bertindak berdasarkan anggapan yang salah.

“Ahh… dia pergi ke California menghadiri pernikahan seorang sahabat di college. Senin, Selasa, Rabu, aku pergi ke kantor. Kerja seperti biasa. Rapat-rapat, pertemuan-pertemuan, laporan yang harus diperiksa, keputusan yang harus dibuat, telepon yang harus dibalas. Semuanya rutin kecuali aku harus

231kembali ke Long Island hari Rabu untuk rapat, dan Senin malam aku harus memainkan peran sebagai tuan rumah untuk beberapa pengunjung dari Jepang.”

“Permisi sebentar.” Marge berdiri dan keluar dari ruang duduk. Ia meninggalkan rokoknya menyala di asbak. Dave memandangnya dengan lapar. Ia mengulurkan tangan, merasa bersalah, menahan diri, mengulurkan tangan lagi, dan merasa lebih bersalah lagi.

Ayo kita coba menahan godaan, Sobat. Maksudku segala cobaan yang dikehendaki daging.

Asap rokok mengambang di udara. Dave berliur dan menderita hingga Marge kembali.

Ia memakai blue jeans, dan menggendong kucing betina berbulu panjang. Tadi Marge duduk meringkuk di sofa bersamanya. Kini ia bertengger di kursi malas, dengan hati-hati memisahkan diri dari Dave dibatasi meja kopi murahan berlapis kaca.

“Kucing bagus,” kata Dave, mendadak merasa tidak enak. “Siapa namanya?”

“Dia jantan. Namanya Tito. Berasal dari Colorado.”

“Tito?”

“Kakakku menikah dengan laki-laki yang punya keluarga besar. Musim panas ini aku pergi ke ranch mereka. Kepala keluarga mereka bertempur bersama partisan Yugoslavia selama Perang Dunia II. Dia memberiku kucing ini dan memilihkan nama untukku.” Ia menurunkan binatang itu ke lantai.

Dave mengulurkan sebelah tangan untuk membelainya. Kucing itu mendesis, memperlihatkan taringnya, dan melangkah gontai menjauh dari jangkauannya.

“Hati-hati—aku baru membawanya ke dokter

232

hewan,” kata Marge. “Suasana hatinya masih murung karena operasi.”

“Oh. Benar. Itu menjelaskan…”

Ya, itu menjelaskan persoalan, kan?

Es serasa muncul di dalam pembuluh darah Dave.

Itu dia. Tepat di depan hidungmu. Pasti itu, Bung. Tak mungkin karena hal lain.

Tidak, itu tak mungkin.

“Kau tak apa-apa?” Suara Marge terdengar khawatir.

Dave memandang ragu-ragu ke gelas brendi di tangannya. Ia menuang sisanya ke dalam tenggorokan, berdiri, dan dengan cukup hati-hati menjatuhkan gelas itu sehingga hancur berkeping-keping di lantai.

3.

David Elliot melaju kencang di Long Island Expressway. Ia melewati gerbang keluar Great Neck, rumah si Greg yang suka jatuh cinta, yang pakaiannya ia kenakan. Dave menduga Greg kini mungkin memandang kehidupan keluarga monogami sebagai alternatif yang lebih baik—atau setidaknya kurang berisiko— dibanding dengan peran sebagai Casanova kantor.

Ia mengelus bagian atas kepalanya yang baru dilicinkan. Ketika Marge, yang tidak seperti kebanyakan penduduk punya SIM, pergi untuk mengambil mobil sewaan, Dave menggunting rambut dan membuat garis rambut baru. Kemudian ia merendam rambut yang tersisa dalam peroksida. Efeknya mencengangkan. Kini ia pirang dan mulai membotak, menurutnya ia tampak seperti orang yang

233sama sekali lain, meskipun tidak seperti orang dengan penampilan yang ia sukai. Potongan rambutnya agak seperti banci. Seandainya ada anak buah Ransome yang ditempatkan untuk berjaga di Triborough Bridge, mereka tentu tak menghiraukannya.

Dalam hati ia bertanya-tanya apakah Marge sudah pergi. Ia berharap demikian. Dan ia berharap mudah-mudahan Marge memaafkannya karena telah mencuri kunci mobil sewaan dan isi dompetnya ketika ia sedang berada di kamar mandi. Dave memutuskan harus mengkhianatinya sekali lagi ketika Marge pergi ke kantor persewaan mobil Herz. Waktu menunggunya kembali, dengan tergesa-gesa Dave menulis penjelasan dengan mesin tik elektronik tua milik Marge:

Marge yang baik:

Aku menyesal bertindak seperti ini, tapi aku terpaksa. Aku datang ke sini sebab aku perlu tempat bersembunyi, dan kupikir kau akan membiarkanku tidur denganmu di sofamu beberapa hari sampai sudah aman bagiku untuk pergi. Tapi sekarang kupikir aku telah membawa hidupmu dalam bahaya.

Kutinggalkan jam tanganku. Rolex emas pejal. Harga ecerannya $15.000 atau $20.000. Jual atau gadaikanlah. Ambil uangnya. Pergilah ke luar kota. Bawa kucingmu dan naiklah ke pesawat terbang pertama yang bisa kaudapatkan. Bila tidak, mereka mungkin akan menyakitimu. Pergilah ke ranch sanakmu di Colorado. Aku melihatnya di buku alamatmu. Bila

234

selamat melewati semua ini, aku akan menghubungimu di sana.

Sekarang tolong kemasi barangmu dan keluarlah dari apartemenmu. Jangan pakai kartu kredit, sebab mereka bisa melacaknya. Kau harus melakukannya, Marge. Percayalah padaku. Aku tak berdusta.

Sekali lagi aku minta maaf karena mengambil uangmu lagi. Jam tangan itu akan lebih dari cukup untuk menggantinya. Marge, kumohon -kau melakukan yang kuminta. KABURLAH SEBELUM TERLAMBAT.

Dave

Yang tidak disebutkannya dalam surat itu adalah ketakutannya bahwa, seandainya ia tidak kabur, Marge akan mendesak minta jawaban, atau lebih parah lagi, berkeras untuk ikut. Lebih baik ia tidak tahu apa-apa. Ketidaktahuan itu adalah perlindungan terbaik baginya.

Dave melirik odometer. Mobil murah dari Korea itu baru. Baru berjalan 344 kilometer ketika Dave meninggalkan apartemen Marge. Kini tercatat 395 kilo. Masih ada sekitar 50 kilo lagi yang harus ditempuhnya.

Suara di radio mengumumkan bahwa sudah saatnya berita penting. Dave membesarkan volume. “Berita paling utama pada jam ini, pencarian terhadap David Perry Elliot sedang dilaksanakan di seluruh penjuru kota. Ia diduga membunuh usahawan New York, Bernard J. Levy. Levy, presiden Senterex, perusahaan

235konglomerat dengan kekayaan miliaran dolar, didorong dari jendela kantornya di lantai 45 sebuah gedung di Park Avenue sore ini. Sumber-sumber kepolisian melaporkan Elliot sebagai tersangka utama, dan menyatakan bahwa Levy baru-baru ini mempertanyakan urusan finansial yang menjadi tanggung jawab Elliot.” Itu kejutan baru.

“Pihak berwajib juga menduga bahwa Elliot telah menyerang perwira polisi William Hutchinson serta mencuri seragam dan kendaraannya. Elliot digambarkan sebagai laki-laki kulit putih, tinggi 183 senti, berat 85 kilo, rambut dan mata cokelat muda, dan dalam kondisi fisik prima. Ia dikabarkan bersenjata dan sangat berbahaya. Warga diminta untuk segera memberitahu polisi bila melihat orang yang sesuai dengan deskripsi itu. Dalam berita lain hari ini…”

Dave mengecilkan volume.

Di depan papan tanda bertuliskan PATCHOGUE— 38 km. Gerbang keluar yang harus diambilnya.

Baru tiga hari lalu ia ke sana. Iajpergi dengan limusin yang dikemudikan sopir, salah satu dari empat limusin yang disiagakan untuk para eksekutif Senterex. Dalam lalu lintas siang, ia butuh hampir dua jam dari kantor Senterex ke Lockyear Laboratories. Kini, larut malam, hanya perlu satu jam kurang.

Pasti Lockyear Laboratories, kan? Hanya dari tempat itulah Ransome bisa mendapatkan sampel darahmu.

Kunjungan-kunjungan ke berbagai anak perusahaan adalah salah satu beban yang meletihkan dalam kehidupan seorang eksekutif. Bak pangeran dari istana

236

perusahaan dikirim untuk mengunjungi vasalnya, ia disambut di ruang penerimaan tamu oleh manajer pabrik yang tersenyum resah. Manajer ini menggembalakan tamunya yang sudah letih bepergian ke ruang rapat yang sudah dibersihkan. Ia menawari tamunya segelas kopi yang tak keruan rasanya. Aturan sopan santun menuntut kopi itu diterima dan diteguk. Tak lama kemudian empat atau lima orang paling senior dalam pasukan divisi itu memasuki ruangan. Hari ini kemeja mereka bersih, kerahnya dikancingkan, dan dasi mereka dirapikan. Mereka memakai jas, yang dalam kesempatan selain ini hanya dibiarkan kusut di balik pintu kantor mereka. Sang tamu berdiri, bersalaman, dan sia-sia mencoba mengingat nama mereka. Manajer divisi berjalan ke kepala meja rapat, sibuk dengan layar proyektor dan menyalakan overhead projector. Ia mengatakan bahwa dengan beberapa transparansi ia akan menjelaskan operasi divisi itu. Ia jarang bicara dengan manajemen puncak perusahaan, dan berniat memanfaatkan peluang ini sebaik mungkin. Sang tamu berusaha tampak tertarik. Padahal tidak. Seseorang mematikan lampu. Sang tamu tidak perlu lagi memperlihatkan wajah tertarik, sebab kini tak ada yang bisa melihat wajahnya. Si manajer setempat bicara panjang-lebar dalam presentasi mengenai operasi divisinya. Didirikan sesudah Perang Dunia II oleh putra sulung tukang patri emigran; grafik-grafik itu mengilustrasikan sejarah pertumbuhan yang mantap selama empat puluh tahun; bagan organisasi dengan huruf-huruf kecil; skema operasi yang mulus dan efisien; daftar pelanggan yang puas; lebih banyak lagi grafik meramalkan rencana pertumbuhan yang

237ambisius—secara ringkas suatu keluarga karyawan yang bahagia, puas karena diambil oleh perusahaan induk yang terkemuka, melihat hubungan yang hanya saling menguntungkan. Sang tamu duduk tanpa bicara sepanjang khotbah ini—kalau tidak menikmati tidur-tidur ayam santai, tentu bersusah payah mencoba meramu satu-dua pertanyaan cerdas.

“Nah, kecuali Anda ada pertanyaan, mari kita beristirahat sebentar sebelum kita mulai tur.”

“Bagaimana dengan pesaing?” demikian tadi Dave bertanya. Sebagian besar presentasi itu berputar sekitar biologi kekebalan tubuh—molekul reseptor, antigen, atribut limfosit, sel T, sel B, histocompatibility complex, polipeptida, CD 8 coreceptor, macrophages, dan hal-hal semacam itu. Pertanyaan tentang pesaing adalah satu-satunya yang bisa dikemukakan Dave.

Sebagian besar jawabannya tidak ia mengerti. Itu banyak berkaitan dengan “golongan unik molekul-molekul MHC”, “pendekatan baru dalam clonal deletion hypothesis”, “binatang laboratorium transgenic SCID dan TSR”, serta “hubungan istimewa dengan National Istitutes of Health dan organisasi riset lain yang didanai oleh pemerintah federal”.

Dave, yang tidak tahu apa-apa, mengangguk penuh pengertian. Ia tidak suka penugasan yang diberikan Bernie untuk bertanggung jawab atas Lockyear, dan lebih dari sekadar kesal karena sekali lagi ia terpaksa mempelajari suatu bahasa dan industri baru sehingga ia bisa mengawasi akuisisi lain yang dilakukan Bernie. Ada urusan apa sampai Senterex membeli perusahaan bioteknologi?

Sesudah kunjungan sampingan ke kamar kecil,

238

mereka mulai tur itu. Kantor-kantor administrasi; pusat komputer dengan stasiun-stasiun kerja yang mengelola perangkat lunak database Molecular Design Laboratories; Lab nomor satu dengan berbagai peralatan krom mengilat yang namanya tak dapat dieja Dave; Lab nomor dua dengan dinding yang tertutup sangkar-sangkar berisi tikus putih bermata pink, Lab nomor tiga begitu dingin hingga Dave bisa melihat uap napasnya; Lab empat adalah tempat orang-orang membedah kucing; Lab lima…

DILARANG MASUK HANYA AKSES CETAK SUARA GUNAKAN PELINDUNG SESUAI PERATURAN

“Dan ini Lab lima. Saya rasa kita tak punya waktu untuk memperlihatkannya pada Anda hari ini…” Terima kasih, Tuhan!

“…di samping itu, Anda harus memakai…”

Pintu Lab lima terempas membuka. Seseorang dengan “pakaian luar angkasa” putih salju—pakaian pelindung berat yang membungkus pemakainya dari kepala ke ujung kaki—melangkah keluar, menoleh, dan mengumpat, “Keparat, tutup sangkar itu!” Sebuah bola bulu cokelat menggeliat dan melompat *di dadanya. Ia terguling. Benda cokelat itu melompat ke atas. Dengan gerak refleks, Dave menangkapnya. Rasa sakit menghunjam tangannya. Itu seekor monyet, monyet kecil berbulu cokelat kemerahan. Gigi taringnya yang panjang tertanam di tangan kirinya.

Kekacauan berlangsung beberapa detik. Orang-orang

239menggumam, “Maaf. Kecelakaan kecil. Belum pernah terjadi.” Kemudian mereka membawanya ke bagian medis. Seorang perawat membersihkan lukanya, mengoleskan antiseptik, dan membalut lukanya dengan kain kasa.

“Sekarang akan saya ambil sampel darah Anda, Mr. Elliot. Tidak, tak ada apa-apa, tak mungkin rabies atau semacam itu. Tapi lebih baik berjaga-jaga daripada menyesal. Itu peraturan emas kita di Lockyear Laboratories. Lebih baik berjaga-jaga daripada menyesal. Oh—dan satu ons pencegahan lebih berharga daripada satu pon pengobatan. Itulah kalimat lain yang selalu kami ucapkan.”

Sampel darah itu.

Ya. Aku tahu. Dari sanalah Ransome mendapatkannya.

Dan lukisan itu.

Lukisan apa?

Lukisan si tua menyeramkan Lockyear entah siapa, orang yang mendirikan perusahaan itu.

Dave ingat. Ada lukisan cat minyak berbingkai dari Lockyear di ruang rapat itu. Ia hampir tak meliriknya. Tapi… ada sesuatu mengenai lukisan itu. Lukisan itu menggambarkan seorang laki-laki tua, mungkin awal enam puluhan. Nah, lantas apa yang begitu aneh…? Itu adalah… Bukan. Laki-laki dalam lukisan itu… Aha! Ia memakai seragam, seragam tentara. Mengapa pendiri laboratorium riset bioteknologi berpose dalam pakaian seragam?

Bukan sekadar seragam.

Seragam itu bukan model sekarang, bukan pula model yang dipakai Dave sewaktu berdinas. Lockyear memakai

240

jas model Eisenhower, dasi hitam pendek yang menggelikan, dan topi tempur model Perang Dunia II.

Apa yang dikatakan Bernie mengenai akuisisi itu?

Lockyear sudah meninggal beberapa tahun lalu. Ada masalah dengan hartanya. Itulah sebabnya perusahaan itu dijual, itulah sebabnya—kata Bernie— harganya murah.

Jadi kita tahu seorang laki-laki berusia enam puluh, mungkin tujuh puluh tahun, dan sebuah perusahaan yang sudah berumur empat dasawarsa. Jadi ketika mendirikannya mungkin ia berusia tiga puluhan. Tapi ketika dia lebih tua, dan tiba saatnya membuat lukisan potretnya, apa yang dikerjakannya?

Para eksekutif puncak dan pendiri perusahaan berpose untuk potret resmi mereka dalam setelan jas biru bergaris-garis lembut. Kemeja putih, dasi warna gelap, mungkin rompi. Tapi Lockyear tidak. Lockyear berpose dengan seragam militer yang sudah berumur empat puluh tahun.

Aneh.

Memang sangat aneh.

4.

Di gerbang keluar Patchogue, Dave belok ke selatan menuju ke pantai. Beberapa menit kemudian ia kembali membelok ke timur.

Di sana terbentang tanah pertanian, padang rumput yang berombak-ombak, ladang-ladang kentang, beberapa deret pohon. Jalan aspal sempit itu kosong pada jam seperti ini. Mobil sewaan Dave satu-satunya yang ada di jalan tersebut, satu-satunya cahaya yang

241terlihat hanyalah dari lampu depannya. Ia memejamkan mata kanan, dan tetap menahannya demikian.

Kau tahu tentu ada lebih banyak hal daripada sekadar sampel darah.

Dave merasa resah mengemudi malam hari. Ia tidak menyukai penampilan pepohonan itu. Daun-daun yang hijau dan hangat di bawah sinar matahari itu kini pucat di bawah sorotan lampu depan.

Ayo, akuilah.

Ia benci warna pucat. Mengingatkannya pada mayat. Dan pepohonan seharusnya disinari dari atas, menjatuhkan bayangannya ke bawah. Mengemudi di waktu malam membalikkan susunan yang alami itu. Membuatnya pusing.

Kau tak menghiraukanku, Sobat.

Seekor binatang dengan mata berpijar berlari menyeberangi jalan. Jantung Dave melompat ke tenggorokannya. SebelUm ia bisa menyentuh rem, binatang itu sudah hilang dari penglihatan.

Kau tak ingin menghadapi kenyataan.

Belok kanan. Ke arah lautan lagi. Malam itu tanpa bulan. Itu akan membantu.

Hei, Bung! Dengar aku….

Itu dia. Bentangan pagar dari kawat anyam, di atasnya dililiti dengan kawat duri. Gerbang dan gardu jaga. Papan petunjuk kecil:

Lockyear Laboratories, Inc. Pegawai Harus Memperlihatkan Tanda Pengenal Pengunjung harus Melapor Sebelum Masuk

Dave melewatinya, menjaga agar mobilnya melaju

242

dengan kecepatan tetap. Tak seorang pun terlihat. Gardu jaga itu kosong, tak terlihat ada penjaga.

Mungkinkah Ransome melakukan kesalahan, tidak menempatkan beberapa orangnya di sini?

Tak mungkin.

Atau Dave yang keliru, dan Lockyear tidak berada di tengah segala persoalan ini? Sama juga, tak mungkin.

Dave mengemudi satu setengah kilo menjauhi batas paling selatan pagar’Lockyear sebelum mematikan lampu depan. Ketika menepi ia membuka mata kanannya. Satu mata itu sudah menyesuaikan diri dengan kegelapan. Itu cara kuno prajurit infanteri, memejamkan sebelah mata sementara nyala api pemberi tanda menyala. Begitu kegelapan kembali, daya penglihatanmu dalam kegelapan akan lebih baik daripada musuhmu.

Masih berada di belakang kemudi, ia berusaha melepaskan pakaian Greg, dan memakai seragam polisinya. Celana biru tua, kemeja biru tua, warna malam.

Satu hal terakhir. Lampu dalam.

Dave memakai pistolnya untuk menghancurkan bola lampu itu. Kemudian ia membuka pintu mobil, membungkuk untuk mengambil segenggam tanah dari samping jalan. Tanah pertanian yang gembur, subur, tepat untuk menghitamkan wajah, tangan, dan kulit kepalanya yang baru saja botak.

Ia mundur, berbelok, dan dengan lampu depan dipadamkan, mengemudi pelan-pelan ke arah Lockyear. Seratus meter dari batas tanah milik laboratorium itu, ia mematikan mesin, berhenti dekat batas selatan tanah itu.

243Selama mengemudi melintasi Long Island ia memikirkan apa yang telah disaksikannya sehari sebelumnya, sebisa mungkin merekonstruksi tata letak tanah Lockyear. Luas tanah itu 1,3 kilometer persegi, dengan kompleks perkantoran terletak di tengah. Sebagian besar lahan itu datar dan tanpa ciri-ciri tertentu, meskipun ada sedikit lereng meninggi di selatan bangunan utama. Jajaran pohon, hampir seperti hutan, mengelilingi bagian terluar, menyembunyikan pagarnya.

Seandainya anak buah Ransome ada di sana, mereka tentu bersembunyi di antara pepohonan, dalam bayangan, di luar penglihatan.

Dave menanggalkan sepatunya. Sepatu itu tidak bagus untuk rencana dalam benaknya. Sol kulitnya akan terpeleset di rumput dan rontokan dedaunan, serta berdetak terlalu keras di lantai linoleum.

Entah di mana, entah bagaimana, kau harus mendapatkan sepatu yang pantas.

Ia sudah mengambil dua handuk tangan cokelat tua dari kamar mandi Marge. Sekarang ia memasangnya di kaki, mengikatnya dengan benang. Kikuk, tapi boleh juga.

Ia mulai menyeberangi jalan.

Benar-benar dalih yang sangat menyedihkan bagi seorang profesional! Ransome tentu akan gusar. Astaga, kau tak bisa mendapatkan bantuan yang baik lagi.

Dave merapatkan bibir tidak setuju. Ia menggeleng. Pengintai itu sembilan meter di depannya, merunduk di bawah pohon elm Cina. Dave takkan melihatnya

244

seandainya orang tersebut tidak memilih saat itu untuk menyalakan rokok.

Sudah tak ada disiplin yang tersisa di dunia. Mamba Jack tentu akan menghajar siapa saja yang menyalakan rokok saat berjaga malam.

Beberapa saat kemudian Dave menghunjamkan moncong pistolnya ke belakang telinga laki-laki itu dan berbisik, “Kejutan.” Laki-laki itu tersentak, mengerang, dan menjatuhkan senjatanya. Bau isi perut menghambur darinya.

“Berapa banyak?” Dave berbisik.

“Uh…”

“Dengar, tolol. Tak ada risikonya bagiku. Kalau aku melukis pemandangan dengan otakmu, mereka tidak bertindak lebih dari yang sudah mereka rencanakan terhadapku. Jadi katakan, ada berapa banyak dari kalian di sini?”

“Bung, tak seorang pun percaya kau akan sampai ke sini.”

“Aku akan menghitung sampai tiga. Satu…” “Lima, lima. Dua di sisi ini, dua di sisi seberang, dan satu di dalam gedung.” “Aku tak percaya.”

“Aku tak bohong. Demi Tuhan, tidak…”

Godaan untuk menembaknya sungguh memikat. Mereka berutang kepadanya, Ransome dan mereka semua. Mereka mencoba membunuhnya. Mereka melibatkan putranya ke dalam urusan ini, istrinya, dan Annie. Mereka memakai kebohongan untuk mengubah teman-temannya jadi musuh. Mungkin lebih hebat lagi, mereka memperlakukan Marge Cohen yang malang seperti ternak. Mereka layak mati. Mereka semua. Mulai dari yang ini.

245Ia tak melakukannya. Tapi ia memukulkan pistolnya lebih keras daripada yang diperlukan. Dan ketika ia menemukan yang lainnya, sekitar seratus meter di sebelah utara, ia melakukannya lagi. Kemudian, karena merasa perlu menegaskan, ia memakai gagang pistolnya untuk menghantam mata kaki orang kedua itu hingga remuk.

Orang pertama tadi tidak berbohong. Hanya ada dua penjaga di sisi selatan lahan itu. Dave mengatasi mereka dengan mudah. Selama beberapa bulan berikutnya, mereka memerlukan balutan gips dan tongkat.

Dave mengintai sisi barat, di belakang kompleks bangunan. Tak ada orang di sana—ini akan mudah.

Di sebelah selatan ada tanjakan yang naik-turun. Dave merunduk dan melesat ke depan, tersembunyi oleh bentuk tanah itu. Tiga puluh meter dari pintu belakang, ia menjatuhkan diri ke tanah, dan merayap menempuh sisanya.

Satu orang di dalam gedung? Begitulah kata orang tadi. Mungkin benar, mungkin bohong. Hanya ada satu cara untuk mengetahuinya.

Dave mengulurkan tangan ke pegangan pintu. Pegangan itu berputar mudah. Tidak terkunci. Pertanda buruk.

Yang ada di dalam pertanda yang lebih buruk lagi.

5.

Lockyear Laboratories ternyata kosong. Semuanya sudah lenyap. Mereka sudah memindahkan perabotan, bangku laboratorium, peralatan, dan lukisan-lukisan

246

dari dindingnya. Bahkan lampu-lampunya sudah dicopot. Apa yang tadinya Lockyear Laboratories kini merupakan bangunan kosong.

Dave melepaskan handuk yang dibungkuskannya pada telapak kaki. Ia berjalan diam-diam menyusuri koridor-koridor kosong dengan kaki terbungkus kaus, mencoba mengingat rute ke laboratorium riset.

.Bau desinfektan dalam bangunan itu menyengat. Setiap ruangan, setiap kantor, setiap koridor berbau bakterisida. Di satu-dua tempat lantainya masih basah dengan cairan itu. Dave menyentuhnya, mendekatkan jarinya ke hidung, dan meringis. Desinfektan keras.

Ia ingat hari sebelumnya ia dibawa melewati WC pria, keran air, WC wanita, dan ruang duduk karyawan. Laboratorium-laboratorium itu—nomor satu sampai lima—terletak berjajar pada koridor di sebelah kiri ruang duduk tersebut.

Masalahnya bukan apa yang kaulihat, bukan apa yang kaudengar, bukan apa yang kaukerjakan. Bukan salah satu di antara semua itu.

Itu. WC, ruang duduk. Dan…

Detak sol sepatu lars pada lantai. Ada orang sedang berjalan mendatangi di koridor, dari arah laboratorium-laboratorium itu.

Dave mundur ke sudut, mengangkat pistol dan bersiap.

Hanya sedikit cahaya redup, hampir tidak cukup untuk melihat, menembus dari jendela.

Langkah kaki itu sampai di ujung koridor, dan berhenti. Kemudian mulai lagi, mendatangi ke arahnya. Dave mengaitkan jarinya pada picu, memegang kokoh pistol itu dengan dua belah tangan. Dalam jarak ini,pistol itu akan membuat lubang menembus sasarannya. Ia menunggu penuh harap.

Sekarang hantu bukan manusia, meskipun tanpa seks atau sihir, Letnan David Elliot melewatkan siang hari yang lengas di neraka bukan sebagai predator melainkan sebagai mangsa, peran yang tidak cocok baginya.

Ia berlari sehingga membawanya selangkah di depan pemburunya, pelarian yang membuatnya frustrasi dan ingin membalas dendam, pelarian yang penuh dengan kengerian.

Tidak lagi.

Itu kini sudah berubah. Dialah si pemburu. Pengejarnya adalah buruan. Ia tahu inilah susunan yang semestinya.

Indranya berubah, persepsinya bergeser, ia memusatkan perhatian pada keadaan di depan, tak menghiraukan apa yang mungkin mengintai di belakang.

Kulitnya menggelenyar. Matanya melihat ke. kiri dan ke kanan. Daya pandangnya sangat tajam, pendengarannya akut luar biasa. Ia mengendus udara dan bisa merasakan—berani sumpah ia bisa merasakan— aliran keringat pada pipi musuhnya yang sedang bersembunyi.

Pemburu.

Dan, ya Tuhan, ia tak pernah merasa begitu hidup.

Orang itu melangkah dalam jarak pandangnya, membelakangi jendela. Dave memusatkan pandangannya. Tangannya tenang. Tinggi sasarannya kira-kira 163 senti, perawakannya ramping. Ia membidik ke batang tubuh itu. Penjaga itu membawa sepucuk senapan tempur

248

M16A1 dengan tangan kiri. Ia memakai topi bisbol. Di bawah topi itu rambutnya terjuntai. Perempuan.

Tak lama setelah perang Irak tahun 1991, timbul perdebatan sengit—juga di kantor-kantor Senterex seperti halny*a tempat lain—mengenai peran wanita dalam pertempuran. Haruskah wanita bertempur? Haruskah mereka membunuh? Pengaruh apa yang timbul terhadap laki-laki karena bertempur berdampingan dengan wanita? Bagaimana musuh akan bereaksi? David Elliot tidak menyuarakan pendapat, menolak berperan serta dalam diskusi, pura-pura tak tertarik, dan mencoba mengalihkan pokok pembicaraan. Pengalamannya dengan Vietcong mengajarkan bahwa prajurit wanita sama mematikannya seperti laki-laki. Demikian pula semua prajurit yang pernah dikenalnya takkan ragu-ragu sedetik pun untuk memikirkan jenis kelamin musuh yang menembaknya.

Perempuan itu tidak berpaling. Ia lewat, perlahan-lahan memeriksa lorong itu, prajurit yang jemu dalam tugas yang membosankan. Langkah kakinya mereda. Tak lama kemudian ia pun pergi.

Dave menggerakkan rahangnya maju-mundur. Ia hampir saja membunuh perempuan itu sekadar untuk membunuh.

Untuk semalam ini kita sudah memberikan cukup banyak penegasan, kan?

Masalah ini mengubahnya untuk memerankan sesuatu yang tidak diinginkannya. Membawanya ke 25 tahun lalu. Waktu itu hampir saja ia melewati garis batas. Kini ia juga nyaris melewatinya lagi.

Ransome terus-menerus mengatakan kau salah satu dari mereka, digunting dari kain yang sama.

Ia menggeleng. Takkan dibiarkannya mereka me—

249lakukan itu padanya. Harganya terlampau tinggi. Ia ingat harganya; ia ingat ekspresi mengutuk dan putus asa pada paras Mamba Jack Kreuter ketika Jack menyadari apa yang telah dilakukannya, dan tahu ia telah pergi begitu jauh sehingga tak mungkin lagi kembali.

Oke, Sobat, tenanglah. Kau sudah tahu apa yang akan kautemukan, jadi mari selesaikan ini dan keluar dari Dodge.

Dave mengernyit. Ia tidak tahu apa yang akan ditemukannya.

Oh ya, kau sudah tahu.

Ia mulai menyusuri lorong itu, berbelok ke koridor laboratorium, dan melewati tempat yang dulu merupakan Laboratorium satu. Tempat itu, seperti tiap ruangan lain di bangunan itu, sudah dikosongkan.

Masalahnya bukan Lab satu. Kau harus berhenti pura-pura masih tidak tahu apa masalahnya.

Lab dua dalam kondisi yang sama. Seperti halnya Lab tiga dan Lab empat.

Lab lima.

Bahkan pintunya pun sudah lenyap. Mereka bukan saja menyingkirkan perabot dan peralatan dari Lab lima, tapi bahkan mengambil pintunya. Dan di dalam itu ada…

Lapisan linoleumnya sudah dicabut. Langit-langitnya dibongkar. Mereka sudah menyerang dinding-dindingnya, penopang langit-langit, lantai betonnya dengan semprotan api. Setiap inci plesteran dinding, beton, dan baja sudah mereka sterilkan dengan api. Tak ada apa-apa sama sekali, tidak ada lalat, kutu, atau mikroba yang bisa selamat dari Lab lima.

David Elliot membungkuk, dan jatuh berlutut. Untuk kedua kalinya hari ini, ia muntah.

250





0 Response to "VERTICAL RUN"

Post a Comment

Translate

English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified