Download applikasi baca novel online untuk android disini: DOWNLOAD

VERTICAL RUN

131tetap di sini kalau-kalau kau membutuhkan bantuan. Aku dan El Supremo biasa pulang naik kereta api bersama. Dia bisa memberitahuku mengenai rapat itu nanti. Yang lain, segera ke sana. Kalian tahu betapa benci bos kita pada orang-orang yang terlambat dalam rapatnya.”

Paduan tiga atau empat suara mulai melagukan pembukaan Showboat, “Semua negro bekerja…” “Hentikan!”

Tumit dan sol sepatu beradu dengan ubin. Dave mendengar pintu terbuka dan terbanting menutup. Sesaat suasana hening. Kemudian bunyi langkah kaki mendatangi ke arahnya. Ringan, berdetak-detak sepatu perempuan, yang bernama Marge itu. Wanita itu berhenti tepat di atas kepalanya.

Suara tenor itu bicara, “Apakah kau mengerjakan-Ś nya dari konsol itu?”

“Em, ya.”

Langkah kaki yang lebih berat dari laki-laki itu berdebam di atas kepala Dave. “Itu 3178, kan?” ” “Ya.”

“Aku tak tahu mereka masih membuatnya. Sama sekali bukan terminal yang tepat untuk pekerjaan ini, kan?”

“Kerjakan dengan perangkat itu atau tidak sama sekali. Begitulah cara American Interdyne.” - “Well, bagaimana kau…”

“Dengar, Greg, sudah tujuh bulan aku menangani ini sendirian. Kau tak perlu tinggal di sini. Mengapa kau tak ikut rapat itu ^saja? Menyenangkan hati El Supremo?”

Dave mendengar Greg menggoreskan ujung se—

132

patunya pada lantai. “Ah… Marge, masalahnya aku tak benar-benar tinggal di sini untuk membantumu dengan pekerjaan itu.”

“Oh?” Menurut Dave nada suara Marge berubah sedikit menajam.

“Uh, ya. Ah, masalahnya, Marge, aku… Dengar, aku sudah pernah mengatakan hal ini. Kau gadis yang cantik, dan kupikir aku bukan laki-laki yang jelek.”

“Begitu juga Ken dan Barbie, tapi mereka tidak dibungkus dalam kotak yang sama.” Dave menduga ini ucapan wanita yang sudah pernah membicarakan urusan ini.

“Ayolah, Marge. Aku laki-laki yang cocok untukmu, dan kau tahu itu.”

“Laki-laki pilihanku tak punya istri dan anak di Great Neck.”

“Sudah kukatakan padamu itu sudah berakhir. Kau ingin bukti? Baiklah. Aku bisa menunjukkan bukti tagihan pengacaranya!”

“Terima kasih, tak perlu.”

“Yang kuminta hanyalah kita keluar bersama-sama sekali atau dua kali. Bersantai dan bersenang-senang. Minum satu-dua gelas, menikmati makan malam lezat. Mungkin rionton film. Sekadar untuk saling kenal lebih dalam. Apa salahnya dengan itu? Mengapa kau sama sekali tak mau mempertimbangkannya?”

“Greg, biar kutegaskan padamu. Aku sudah memikirkannya. Panjang-panjang.”

“Bagus. Aku tahu itu tak bisa…”

“Dan aku memutuskan tidak.”

“Apa? Mengapa?” Suara Greg jadi lebih keras daripada ukuran sopan santun.

133”Tak ada ‘mengapa’-nya, Greg. Hanya tidak saja.”

“Kau tak menanggapiku dengan serius. Dengar, Marge, aku serius mengenai ini. Sangat serius. Kau sudah jadi penting bagiku, dan kau takkan… Hei! Jangan pergi begitu saja selagi aku bicara!”

Terdengar pertengkaran. Suara Marge juga naik, lebih tinggi daripada suara Greg. “Lepaskan aku, Greg. Lepaskan aku sekarang juga!”

“Tidak sampai kau diam dan mendengarkan! Menurutmu siapa yang kauhadapi di sini? Aku bosmu, Marge. Apa kau sudah lupa itu? Akulah yang mengisi formulir penilaianmu dan memutuskan kenaikan apa yang akan kaudapatkan. Akulah yang menyelamatkanmu dari penyempitan pegawai terakhir kemarin. Dan bila kau tak ingin mendapatkan giliran berikutnya, lady, kau sebaiknya meluruskan sikapmu!”

“Apa! Greg…”

“Lupakan apa kata Gedung Putih tentang perekonomian, babe. Di luar sana itu adalah dunia yang dingin dan keras, dan pekerjaan bagus tak mudah didapatkan.”

“Tidak, Greg. Ada…”

‘Terutama bila kau punya noda hitam dalam catatanmu. Di lain pihak, Marge, bila kau tetap bekerja di American Interdyne, masih ada pefuang. Kau bahkan mungkin mendapatkan kenaikan pangkat bila memainkan kartumu dengan benar.”

“Ada orang lain, Greg…”

“Peduli amat dengannya! Tinggalkan pacarmu itu, Sayang.”

‘Tidak. Maksudku di belakangmu.” Greg yang sedang memilin tangan Marge ke punggung, menengok ke belakang.

134

David Elliot tersenyum kepadanya, meskipun tidak dengan ramah

7.

Dave mendorong Greg dengan ujung kakinya, memastikan bahwa laki-laki perayu itu sudah pingsan.

Ia menggoyang-goyangkan pergelangan tangan, mencoba membuang rasa sakit itu. Buku-buku tangan kirinya memar, dan darah menetes dari lukanya yang tak terbalut.

Tanganmu kotor. Dengan semua yang lainnya kau akan mendapat gangrene.

Sesudah menengok terakhir kalinya pada Greg yang sedang tak sadarkan diri, Dave memandang Marge. Pikiran pertamanya: tulang pipi yang indah. Pikiran keduanya: perempuan ini akan berteriak setiap saat sekarang. Tanpa pikir ia berkata, “Hai, aku Dave Elliot dan kau baru saja melewatkan hari yang menyebalkan.”

Rahang Marge—persegi, kuat, menarik—mengendur. Matanya yang hijau (hijau pekat, hijau zamrud, hijau seperti danau kecil di atas gunung), tampak lebar di balik kacamata berbingkai merah, persegi, besar. Ia membuka dan menutup mulutnya dua kali. Tak ada suara yang keluar.

“Sebenarnya, hari yang sangat menyebalkan.”

Buat dia tertawa. Bertindaklah sedikit kekanak-kanakan, sedikit kecewa.

Marge melangkah mundur. Dengan lemas ia memberikan isyarat dengan tangan kanannya, seolah mencoba mendorong sesuatu.’

135”Kurasa aku tampak berantakan.”

Marge akhirnya berhasil bergumam, “Setengahnya saja kau tak tahu.”

“Hari yang amat sangat menyebalkan.”

“Dan kau bau.” Ia mengerutkan cuping hidungnya. Dave menyukai itu.

“Sebenarnya, ini hari paling menyebalkan dalam hidupku. Dengar, Marge—Itu namamu, kan?—Marge, kalau mundur lagi kau akan menabrak dinding. Yang akan kulakukan adalah bergeser ke Sini, menjauh dari pintu. Jadi kalau kau mau jalan pelan-pelan ke pintu dan keluar, aku akan mengerti.”

Marge memonyongkan bibirnya, sambil menyipitkan mata memandangnya. “Sungguh?”

“Ya, sungguh.” Ia perempuan yang menarik. Dalam hal itu Greg benar. Agak pendek, mungkin 158 senti, tapi proporsinya bagus. Rambut hitam, berkilauan seperti batu bara, dipotong poni. Usianya pertengahan dua puluhan. Mata hijau ceria dan bibir yang dirancang untuk tersenyum. Hidung model Yahudi yang manis dan menarik serta…

Bukankah sebaiknya kauhentikan alur pikiran itu, Sobat? Perempuan itu sudah repot menghadapi satu laki-laki hidung belang hari ini.

Marge tetap menempelkan punggungnya ke dinding dan matanya terpaku pada Dave. Ia beringsut di garis tepi ruangan itu hingga sampai ke pintu. Begitu memegang erat pegangan pintu ia berbicara kembali, “Kurasa aku harus mengucapkan terima kasih atau entah apa padamu. Maksudku mengenai si gila Greg itu. Jadi terima kasih.”

“Kembali,” Dave memandang kemejanya yang

136

semula putih. Ia menggosok lapisan kotorannya. Tidak ada perbaikan.

Marge memandangnya, mengangguk, dan menempelkan telapak tangan ke samping tubuhnya. “Itu saja? Kau bilang, ‘Kembali,’ dan selesai begitu saja?”

“Begitulah, kurasa.” Hati-hati, hati-hati.

“Kau muncul begitu saja dari lantai seperti makhluk ciptaan Stephen King, jadi kung-fu lover boy, dan kemudian selesai begitu saja tak peduli siapa laki-laki bertopeng itu, itukah yang kaukatakan?”

Saat untuk melontarkan senyum kekanak-kanakan. Ayolah, Sobat, buat dia mempercayaimu.

Dave menghela napas dan memandang ke bawah. “Kedengarannya seperti kau butuh bantuan. Mengenai Greg, maksudku. Dan…” Ia mengangkat muka dan tersenyum lebar, “…lagi pula, aku perlu melakukan sesuatu untuk… entahlah… menyenangkan hati atau membuktikan bahwa aku orang baik atau entah apa. Jadi… mungkin alasanku memukulnya adalah… aku mungkin melakukannya lebih untuk kepentingan diri sendiri.”

“Apa?” Marge menggerutu. “Kau selalu memecahkan masalah citra dirimu dengan memukul orang?”

“Tidak. Aku tak pernah punya masalah dengan citra diri sampai hari ini.”

Marge mengamatinya. Caranya memandang nyaris seperti cara dokter memeriksa, inci demi inci, dari atas ke bawah. Dave menduga Marge sedang mencoba memutuskan bagaimana tampangnya di balik lapisan kotoran itu. Akhirnya wanita itu bicara, “Apakah kau… entahlah… dalam masalah atau apa?”

Dave kembali menghela napas. “Terlalu ringan untuk mengatakan aku ada masalah.”

137Marge menempelkan tangan pada paha, menggembungkan pipi, dan mengangguk. Dave merasa ekspresi itu sangat menarik. “Oke. Aku tahu akan menyesali ini, tapi baiklah. Kurasa aku berutang budi…” Ia mengibaskan tangan dengan muak pada Greg yang tergeletak.

Sempurna. Sekarang beri dia yang terakhir.

“Marge, aku butuh pertolongan. Aku mau minta bantuanmu. Tapi aku tak ingin kau merasa kau berutang budi padaku.”

Marge mengembuskan napas. “Oke, Mr…. siapa namamu tadi?”

“Elliot. Dave Elliot.”

“Baiklah, Mr. Dave Elliot. Kau punya waktu lima menit, sesuai jam dinding. Coba kudengar apa yang hendak kaukatakan.”

Marge mengetuk-ngetukkan kaki pada lantai dan menempelkan jari pada bibir bawahnya. Akhirnya ia bicara, “Aku harus mempercayai semua ini, hah?”

Dave mengangkat pundak. “Ada telepon di dinding sana. Teleponlah Senterex. Nomor pesawatku 4412 dan nama sekretarisku Jo Courtner. Nomor pesawatnya

4411. Bilang padanya kau asisten dokter gigiku dan kau menelepon untuk menjadwal ulang janji pertemuanku untuk besok. Omong-omong, dokter gigi itu bernama Schweber. Coba lihat apa yang terjadi.”

“Berapa nomor utamanya?”

Dave memberikan nomor itu kepada Marge. Marge menekan nomor itu, minta dihubungkan ke pesawat

4412, dan berbicara, “Selamat siang. Di sini Marge dari kantor Dr. Schweber. Mr. Elliot ada janji per—

138

temuan untuk besok yang harus kami ubah.” Ia berhenti, mendengarkan. “Oh. Kalau begitu, apakah Anda tahu kapan dia akan kembali?” Diam lagi. “Beberapa minggu. Baiklah, akan saya telepon kembali pertengahan bulan depan. Oke. Bagus. Terima kasih dan selamat bekerja.”

Ia meletakkan gagang telepon. “Kau pergi ke luar kota. Urusan keluarga mendesak. Tak seorang pun tahu berapa lama kau pergi.”

“Sekarang teleponlah adikku. Kalau benar ada urusan keluarga yang mendesak, dia tentu juga akan kembali ke Indiana. Katakan kau menelepon dari kantor pengacaraku—namanya Harry Halliwell—dan kau perlu bicara dengannya mengenai surat perwalian yang kubuat.”

Marge menelepon. Alisnya melengkung ketika mendengar jawabannya. Sesudah meletakkan gagang telepon ia berkata, “Adikmu bilang kau sedang dalam perjalanan bisnis ke Tokyo. Katanya kau takkan kembali selama sebulan.”

Dave memajang senyumnya yang paling hangat, paling ramah. “Aku sungguh butuh pertolongan, Marge.”

Marge menggeleng dan menatap ke lantai. “Dengar, aku cuma karyawati biasa. Orang-orang dengan senjata… Mafia atau entah apa… dan di samping itu, kau sudah… maksudku… kau sudah melukai orang.”

Marge berhenti bicara, menjilat lidah, dan menatap Greg yang terbujur tak sadarkan diri.

Hati-hati, Sobat, kau akan kehilangan dia.

Dave menyisirkan jari ke rambutnya. “Hanya untuk menahan mereka agar tak menyakitiku.”

Mata Marge masih menatap Greg.

139”Apakah kau tahu tentang senjata, Marge?”

Bibir wanita itu menipis. “Ketika aku delapan tahun, keluargaku pindah ke Idaho. NRA country. Tiap orang adalah pemburu. Aku sudah melihat segala macam senapan yang ada.”

“Bagus. Lihatlah ini.” Dave mengulurkan tangan ke punggung dan mencabut salah satu pistol yang tersembunyi di balik kemejanya. Ia berjongkok, meletakkannya di lantai, dan mendorongnya berputar ke arah Marge. “Kuambil dari salah satu anak buah Ransome.”

Marge membungkuk dan mengambil senjata itu. Dipegangnya pistol itu dengan sikap hormat penembak berpengalaman. Sesudah sesaat mengamatinya, ia mengangguk. “Pistol hightech, kan? Aku belum pernah melihat yang seperti ini.”

Dave tidak mengucapkan apa-apa. Ia hanya menunggu Marge mengambil keputusan.

Akhirnya ia melakukannya. Ia memeriksa kunci pengaman pistol itu, membalik gagangnya lebih dulu, dan berjalan menjauh dari pintu. Ia mengangsurkan pistol itu kepada Dave. “Kupikir kau benar-benar dalam masalah, Mister.”

Dave mengambil pistol itu dan menyisipkannya ke balik kemeja. “Aku butuh bantuan. Cuma sedikit. Takkan melibatkanmu. Aku janji. Sumpah.”

Pembohong!

“Tidak, aku…”

‘Tiga hal. Itu saja yang kuminta. Pertama: carikan aku pita isolasi atau entah apa—apa saja yang kalian pakai untuk membungkus kabel di bawah lantai. Dua: carikan aku tape recorder atau mesin dikte. Tiga:

140

awasi lorong sementara aku pergi ke kamar kecil untuk ganti pakaian dan cuci muka.”

“Pakailah kamar kecil wanita.”

“Maaf.”

“Hanya di bagian ini ada karyawati yang bekerja di lantai ini. Mereka semua sedang rapat sekarang. Kamar kecil wanita lebih aman.”

8.

Dave—sudah membersihkan diri, tidak begitu bau, serta memakai celana dan kemeja Greg si perayu— kembali ke dalam ruang komputer.

Marge memandangnya memberikan persetujuan. “Kau kelihatan seperti pecandu komputer. Kacamata tebal, celana terlalu pendek, kemeja tidak dimasukkan. Yang kaubutuhkan cuma salah satu protektor plastik itu.”

“Terima kasih. Seandainya aku punya kaus kaki putih dan sepatu olahraga, penyamaranku akan sempurna.”

Meskipun Greg lima senti lebih pendek daripada Dave dan pinggangnya satu nomor lebih besar, pakaiannya cukup nyaman dipakai. Kemeja yang longgar itu jelas satu nilai plus. Membuat pistol mudah disembunyikan. Sayangnya sepatu Greg jadi masalah. Sepatu itu terlalu kecil. Dave masih memakai pantofel Bally yang jelas kelihatan mahal itu. Ia ingin membuangnya.

Marge menimang-nimang mesin dikte yang diberikan Dave. “Kau yakin ini akan berhasil?”

“Kuharap begitu. Ini pilihanku yang terbaik.”

“Dan kau yakin sudah menyetel radio ini dengan benar?”

141Dave mengambil dua radio—yang pertama dari Carlucci dan yang kedua dari laki-laki yang ditembaknya di Prime Minister’s Club. Sewaktu bersembunyi di bawah lantai ruang komputer, ia memeriksanya. Di bagian belakang kedua radio itu ada panel kecil yang bisa dicabut. Ketika panel itu dicabut, Dave menemukan sederet lampu LED mini berwarna merah yang tak disangsikan lagi menunjukan kode sandi radio itu. Sederet tombol geser terletak di bawah deretan LED itu. Hanya butuh waktu sebentar baginya untuk menyetel radio kedua dengan kode yang sama seperti pada radio Carlucci—radio yang kata -Ransome akan dipakainya untuk menghubungi Dave.

“Ya, Marge, radio itu sudah disetel semestinya.”

“Jadi yang harus kukerjakan hanyalah menekan tombol transmit dan memutar rekamanmu?” Ia menunjuk dengan jari yang panjang, langsing. Dave suka jari panjang. Ia benci yang gemuk pendek. Menurutnya Marge benar-benar memiliki jemari sempurna. Hal-hal lain juga. Menurutnya wanita itu antitesis dari istrinya—montok menarik, sedangkan Helen kurus model New York; kecil mungil, sedangkan Helen… ah, terus terang, terlalu tinggi; lugas, sedangkan Helen dingin canggih; dan berdaya tarik seksual, sedangkan Helen…

Hei, Bung! Ya, kau!

Ia memaksa pikirannya kembali ke urusan di depan mata. “Baiklah. Begitu kau mendengar suara—suara apa saja—mainkan rekaman itu. Tapi hanya bila kau berada di luar gedung ini. Kalau kau mendengar suara saat di dalam gedung, abaikan saja. Bila

142

Ransome menghubungi sebelum kau keluar dari sini, aku harus menyusun rencana lain.”

Marge menghela napas dalam dan melontarkan seulas senyum. “Bagaimana dengan Greg9”

Senyum yang menarik!

“Cepat atau lambat tentu ada yang akan mendengarnya. Kalau tidak begitu, tentu pembersih gedung akan menemukannya saat mereka berbenah. Sampai saat itu dia takkan pergi ke mana-mana.”

Marge mengamati sepatu. “Omong-omong, aku berniat tanya padamu—mengapa kaulilitkan begitu banyak pita isolasi itu pada… ah, kau tahu… pada barangnya?”

“Bila tiba saatnya ada orang melepaskan pita isolasi itu, aku ingin dia berteriak ‘aduh’.”

Marge tertawa. “Kau jahat, Mr. David Elliot.” Senyumnya membuat ruangan itu cerah.

Dan sorot matanya mengungkapkan suatu arti. Atau setidaknya Dave berpikir demikian. Atau, mungkin ia berharap perempuan itu memandang dengan sorot penuh arti. “Ya,” ia menyeringai, “itulah aku, jahat seperti anjing kampung.”

Marge mengangkat dagunya. Pipinya makin merona. “Tapi tidak jahat pada semua orang?”

Suara Marge melembut. Sebaliknya, suara Dave parau kasar. “Tidak, tidak terhadap semua orang.” Dave maju selangkah. Itu sepenuhnya gerak refleks. Marge mengambil tindakan yang sama. Tak ada yang refleks mengenai hal ini. Dave memperhatikan bahwa ruang komputer ber-AC itu jadi lebih hangat. Bukan kehangatan yang tak menyenangkan. Lebih seperti tiupan angin musim panas yang lesu.

143Marge berdiri lebih dekat padanya. Matanya berbinar-binar. Hanya jarak tiga puluh senti yang memisahkan mereka. Kalau Dave tidak keliru membaca tanda-tanda itu, tentu Marge suka berada lebih dekat dengannya. Dave tertarik padanya, dan sebaliknya.

Ada suatu daya magnetis—nyata, seketika, tak terhindarkan. Langka, tapi terjadi. Beberapa orang menyebutnya cinta pada pandangan pertama, meskipun memang bukan.

Pikiran yang tolol luar biasa berkelebat dalam benak Dave. Ia menyukai pikiran itu, dan ia menyukai ketololannya, dan yang terutama ia menyukai Marge, maka…

Ia menahan diri—sentakan kendali pikirannya yang demikan mendadak hingga terasa menyakitkan. Bahkan memikirkan apa yang tadi ia pikirkan sebenarnya sangat salah dan gila, kalau bukan bunuh diri. Dan melibatkan perempuan ini, yang sudah demikian dalam terlibat…

Sungguh menyenangkan mengetahui kau sedikitnya masih punya sisa moral, Bung.

Dave menggenggam tangan Marge, menjabatnya seperti yang dilakukannya terhadap rekan kerja. “Terima kasih atas segala bantuanmu, Marge. Beribu-ribu terima kasih. Tapi sebaiknya aku pergi sekarang. Teman-temanmu—orang-orang lain di bagian ini— kurasa sebentar lagi akan kembali dari rapat itu.”.

Kilau dalam mata Marge makin cemerlang. “Oke, tapi dengar, nama lengkapku Marigold Fields Cohen— jangan pandang aku seperti itu, aku lahir tahun 1968 dan orangtuaku tinggal di San Francisco. Bukan salahku kalau mereka memberiku nama konyol. Omong-omong, namaku tercantum dalam buku telepon. West

144

Ninety-fourth Street, di pinggir Amsterdam. Bila kau terbebas dari kekusutan ini, kau akan meneleponku, oke? Atau kau malahan bisa mampir.”

Dave balas tersenyum kepadanya. Marge merasa sangat senang. Dave sepenuhnya mendapat kepercayaan. Ia tergoda untuk mengucapkan sesuatu yang gegabah. Sesuatu yang amat sangat gegabah.

Sayang kau laki-laki yang sudah menikah dengan bahagia. Atau, kalau dipikir-pikir, mungkin sudah tidak lagi.

Atau memang ia tak pernah demikian.

“Tentu, Marigold.” Ia mencoba bicara dengan suara tulus. Mungkin memang demikian sikapnya.

“Jangan sekali-kali memanggilku Marigold lagi.”

“Tak pernah lagi. Aku janji. Sumpah mati. Sekarang ada satu hal terakhir.”

Marge mengangguk dengan bersemangat.

“Hal terakhir adalah aku tak ingin kau terlibat dalam kesulitan ini. Aku tak ingin siapa pun curiga kau membantuku. Tapi saat mereka menemukan Greg, akan ada banyak pertanyaan. Jadi, yang perlu kita lakukan adalah memberimu alibi. Gagasanku ini akan jadi alibi yang amat sempurna. Tak ada yang akan mempertanyakannya. Kau mengerti alibimu harus tahan peluru, kan?”

“Ya. Apa itu?”

“Ini.” Dave mengayunkan pukulan uppercut ke rahang Marge. Ia menangkap tubuh Marge ketika terkulai tak sadarkan diri, dan perlahan-lahan menurunkannya ke lantai. Kemudian ia mengambil semua uang tunai dari dompetnya. Hanya 23 dolar, gadis malang. Namun Dave meninggalkan uang receh supaya gadis itu bisa pulang naik kereta bawah tanah.

145BAB 4

SEMUA ADA DALAM PIKIRAN

1.

Karena tunduk pada takhayul yang paling konyol, organisasi yang mendirikan dan mengelola gedung Dave telah memutuskan di situ tidak ada lantai tiga belas. Sebagai gantinya, lantai-lantai itu diberi nomor 11, 12, 14, 15—seolah-olah dewa-dewa atau iblis yang membagikan nasib buruk itu demikian bodohnya sehingga tidak bisa menghitung.

American Interdyne hanya menempati dua lantai— 12 dan 14. Ruang penerimaan tamunya ada di lantai 14.

Resepsionisnya sedang merangkak-rangkak, memicingkan mata ke karpet, dan hidungnya seperti pilek. Dave ternganga memandangnya.

Wanita itu karikatur yuppie tahun 1980-an. Keliman rok dari serat alami, bermotif herringbone itu terjuntai

146

hingga ke bawah lutut. Pemain tackle NFL bisa iri dengan bantalan bahu blasernya yang serasi. Blus katun putihnya terkanji begitu banyak sehingga serasa bergemeresik ketika ia membungkuk, dan pita warna merah anggur di lehernya tampak seperti sejenis unggas mati dari spesies yang hampir punah. Penampilan perempuan itu hampir meneriakkan bahwa pakaian tersebut dibeli di Alcott & Andrews—dan Alcott & Andrews sudah bangkrut beberapa tahun lalu.

“Permisi.” Dave bicara dengan nada paling sopan yang bisa dikerahkannya dalam keadaan seperti itu. “Saya dari perusahaan telepon.”

Perempuan itu mengangkat kepala, menyipitkan mata memandang kira-kira ke arahnya. “Jangan bergerak (srot). Berdiri saja di situ dan jangan bergerak.”

“Kehilangan lensa kontak?”

“Dua-duanya (srot), percaya tidak?”

“Bisa saya bantu?”

“Hanya kalau kau hati-hati (srot)”

“Saya akan hati-hati.”

Sambil berjongkok, Dave mulai meneliti karpet itu. Ia melihat kilau pantulan cahaya dekat perempuan itu merangkak. “Sedikit di sebelah kiri Anda, arah pukul sebelas dari tangan Anda. Lihat?”

“Ya, terima kasih (srot). Satu ketemu, tinggal satu lagi.”

“Yang satunya tepat di sebelah utaranya.”

“Oh. Bagus. Aku lihat (srot)”

Perempuan itu melakukan ritualnya, menjilat satu jari, mengangkat kelopak mata, mengarahkan hidung ke langit-langit, dan kemudian menempelkan lensa kontak itu ke mata. Dave merasa tingkah pemakai

147lensa kontak hanya sedikit lebih lumayan daripada orang yang membersihkan hidung di depan umum.

Perempuan itu menarik sehelai tisu dari kotak di meja kerja dan menyeka matanya. Kertas itu jadi ungu karena maskara.

“Ada yang masuk ke mata?” Bahkan saat bertanya Dave tahu tak seharusnya ia melakukannya.

“Tidak.” Perempuan itu menelan ludah, menyedot ingus, dan menyeka air mata. “Aku… aku…”

Dave tidak suka dijadikan sasaran berbagi beban oleh orang yang tak dikenalnya.

“…menangis.”

Di lain pihak, ia butuh bantuan perempuan ini. Mencoba sebisa mungkin agar terdengar bersimpati, Dave menghela napas. “Oh. Apakah ada masalah?”

Dua menit kemudian, Dave tahu lebih banyak daripada yang diinginkannya mengenai sejarah hidup resepsionis itu. Di akhir delapan puluhan, ia meraih gelar MBA dari salah satu universitas ternama, terjun ke Wall Street sebagai bankir investasi, di-PHK dalam gelombang penyempitan industri finansial terakhir ini, dan tetap menganggur sampai, dalam keputusasaan, ia melamar dan mendapatkan pekerjaan sebagai resepsionis di American Interdyne Worldwide. Dave bersuara menghibur.

“Maka satu-satunya tempat aku bisa mendapatkan pekerjaan adalah tong sampah seperti ini (srot), dan aku masih harus membayar pinjaman mahasiswaku (srot), dan aku hampir tak bisa memberi makan kucingku (srot), dan mantan suamiku juga keluar dari pekerjaan dan tak bisa membayar tunjangan anak

148

(srot) dan induk semangku menggugat (srot), dandan…”

Dave menyentuh tangannya. “Apa? Kau boleh menceritakannya padaku.”

“Pantatku diremas-remas lagi.”

“Siapa, Greg?” Dave menelan ludah. Itu tadi salah. Untunglah perempuan itu tak memperhatikannya.

“Dia juga. Mereka semua! Mulai.dari dirut keparat perusahaan busuk ini kapan saja dia ada di sini sampai manajer kantor keparat itu!”

Dave melipat tangan dan memejamkan mata.

Pertama Marge, sekarang perempuan ini. Rasanya ada budaya perusahaan yang istimewa di American Interdyne.

“Perempuan itu juga busuk.”

“Maaf?”

“Manajer kantor.”

Sesudah menenangkan perempuan itu, Dave meminta apa yang ia inginkan. Wanita itu tersenyum percaya, dan memberikannya. Dave tadi begitu penuh pengertian, begitu membantu, sehingga wanita itu sama sekali tak memikirkannya. Di samping itu, Dave masih memakai sabuk peralatan tukang reparasi telepon di pinggangnya. Yang diminta wanita itu hanyalah janji bahwa Dave akan mengembalikannya sesudah selesai. Sebuah kunci.

Dave berjanji, walaupun hanya janji kosong. Perempuan itu melihat jam tangannya. “Apakah kau akan selesai sebelum pukul 17.00? Aku pulang pukul 17.00.”

Dave tersenyum kepadanya untuk terakhir kali, sambil berkata, “Mungkin belum. Tapi kunci ini akan

149saya sisipkan ke bawah kertas isap di meja Anda. Tak apa-apa, kan?”

“Oh, tentu. Atau masukkan ke laci tengah.”

“Beres. Oh, satu hal lagi, apakah Anda kenal wanita bernama Marge Cohen? Dia bekerja di bagian komputer.”

Resepsionis itu mengangguk.

“Anda mungkin perlu meneleponnya. Dia baik, dan saya pikir dia tahu banyak bagaimana menghadapi pelecehan.”

“Aku akan menelepon ke rumahnya petang ini.” la mengacungkan buku petunjuk telepon American Interdyne.

Dave berbalik untuk pergi. “Anda bilang ruang telepon ada di lantai ini?”

“Tepat di ujung gang di sebelah kiri.” “Terima kasih. Sampai jumpa nanti.” “Sampai jumpa nanti.”

Perempuan itu memberinya kunci master untuk ruangan-ruangan telepon dan peralatan. Bila beruntung, kunci itu bisa dipakai untuk seluruh ruang peralatan di seluruh gedung ini. Ruang telepon. Lemari peralatan pembersih. Ceruk-ceruk kecil dan bilik-bilik sempit tempat manajer gedung, perusahaan listrik, dan beberapa organisasi lain menyimpan peralatan ini-itu. Kunci itulah yang ia butuhkan.

2.

Dave sedang menghitung isi ruang peralatan AIW ketika Ransome akhirnya melakukan sesuatu yang tak termaafkan.

150

Radio di saku kemeja Dave mendesis hidup. Logat Appalachian Ransome muncul dari speaker. “Mr. Elliot, di sini aku bersama seseorang yang ingin bicara denganmu.”

Rahang Dave mengeras. Apa lagi sekarang? Tipuan murahan lain. Sedikit perang urat saraf untuk menggoyahkan keseimbangan mangsamu. Sesuatu untuk menghancurkan rasa percaya dirinya dan membuatnya bertanya-tanya…

“Aku tahu dari catatanmu bahwa loyalitas bukanlah salah satu nilai pribadimu. Tidak terhadap kesatuanmu. Tidak terhadap rekan-rekanmu. Tapi aku tetap berharap kau merasakan ikatan tertentu dengan darah dagingmu sendiri.”

Apa!

“Dad?”

Tidak!

“Dad, kau di sana?”

Mark, anaknya. Putra tunggalnya. Anaknya dari istri pertama. Anaknya dari Annie. “Dad, ini aku, Mark.”

Dia mahasiswa junior di Columbia, tinggal di asrama di West 110th Street, datang untuk bersantap malam bersama ayahnya paling sedikit sekali seminggu. Helen yang cemburu tak pernah bergabung dengan mereka. Ia tahu Mark orang terpenting dalam hidup Dave.

“Dad, dengarkan aku.”

Anak itu ingin jadi filsuf. Di tahun pertama kuliah ia mengambil mata kuliah pengantar. Sesuatu dalam kuliah itu menyentuh jiwanya. Ia menemukan makna pada Plato, relevansi pada Kant, dan kegembiraan

151pada Hegel. Atas kehendak sendiri, tanpa desakan dari profesor-profesornya, di tahun kedua ia membaca karya Martin Heidegger Being and Time dan menulis artikel kritis yang, mirabile dictu, diterima untuk dipublikasikan.

“Ayolah, Dad. Ini penting.”

Oh, Ransome, kau bajingan kotor, sungguh berani kau menyeret anakku dalam urusan ini? Akan kulihat kau membayar ini. Kau akan membayarnya tuntas.

“Kau harus mendengarkan, Dad.”

Dave, yang meragukan apakah ia sendiri pernah memakai kata “filsafat” sejak kuliah prasarjana, dengan antusias mendorong Maik dalam bidang studinya. Bila para ayah lain mungkin akan memandang dengan curiga pada keinginan putranya untuk menginvestasikan tahun-tahun kuliahnya dalam bidang yang dikenal tak ada relevansinya dengan pekerjaan komersial—nah, bodohlah mereka.

“Aku ada di bawah. Mom sedang naik pesawat. Dia akan tiba di sini satu-dua jam lagi.”

Aku akan membunuhmu, Ransome. Aku akan membunuhmu dan mencuci tanganku dalam darahmu.

“Dad, kau harus mendengarkan. Agen Ransome sudah menceritakan segalanya padaku. Dia sudah memperlihatkan catatannya, Dad.”

Kebohongan menyeramkan apa lagi ini?

“Itu terjadi pada yang lain, Dad. Dad bukanlah satu-satunya. Ada 20 atau 25 di antara kalian. Mereka memberimu obat. Di Vietnam, Dad, sebelum aku lahir, mereka memberimu obat.”

Aku akan mengirismu dengan pisau. Aku akan membakarmu. Oh, Ransome, Ransome, kau setan

152

jahat, siksa yang akan kutimpakan padamu takkan berakhir.

“Itu eksperimen, Dad. Mereka tak tahu apa yang akan terjadi. Tapi obat itu, Dad, punya pengaruh jangka panjang. Bahkan sesudah bertahun-tahun ini, orang masih mendapat kilas balik. Mereka bisa jadi gila, Dad. Bahkan sesudah bertahun-tahun ini mereka bisa gila. Angkatan Bersenjata berusaha meredam kehebohan. Mereka mencoba mencari semua orang yang mendapatkan obat itu. Katanya mereka bisa mengobatinya. Kata mereka…”

Apa? Apa kata mereka? Ini bakal jadi lebih parah. Inilah yang diharapkan Ransome akan membuatku hilang kendali.

“Dad, kata mereka ada efek genetisnya. Katanya mereka harus mengetesku juga. Kata mereka mungkin itulah sebabnya Mom… itulah yang membuat Mom menghadapi berbagai masalah itu.”

Angela. Bunga kampus. Pengantin di bulan Juni. Satu putra. Dua kali keguguran spontan. Depresi berat. Pertarungan dengan alkohol. Perceraian. Lalu perawatan psikiater, perkawinan kembali, dua putri cantik, serta kehidupan baik-baik dan nyaman bersama laki-laki lain.

“Dad, Dad melihat bayang-bayang, tapi itu bukan salah Dad. Itu karena obat, Dad. Obat jahat yang tinggal di dalam sistem tubuh selama bertahun-tahun ini. Mereka memperlihatkan catatannya padaku. Mereka memperlihatkan catatan orang lain juga. Ini terjadi pada kalian semua. Ada perubahan dalam tubuh Dad saat Dad mendekati usia lima puluh tahun. Zat itu memicunya. Dad mulai membayang-bayangkan

153berbagai hal, melihat orang memburu Dad dengan pistol dan pisau dan segala macam. Dad mulai percaya semua orang keluar untuk memburu’ Dad. Jadi Dad mulai melawan mereka sebelum mereka mendekati Dad. Dad mulai mencoba menyerang semua orang. Semua itu hanya ada dalam pikiran Dad, tapi mereka bisa menyembuhkannya. Kalau Dad mau menyerahkan diri, mereka bisa menyembuhkannya. Kalau tidak, masalahnya akan jadi makin parah. Dan sangat cepat, Dad, sangat cepat. Dad harus membiarkan mereka mengobati. Zat itu membuat Dad melihat hal-hal yang tak ada. Membuat Dad ingin menyakiti orang. Dad, demi Tuhan, biarkan Agen Ransome menolong Dad. Untuk itulah ia datang ke sini, Dad. Dia teman Dad. Dia ke sini untuk menolong.”

Pistol itu terasa enak dalam genggaman tangannya. Permukaan pegangannya menimbulkan perasaan aman. Jarinya membelai picu. Picu itu terasa halus dalam sentuhan. Ia menggeser ibu jari pada kunci pengaman dan menekannya. Ia menggeser tuas pemilih dari semiotomatis menjadi otomatis. Ia merasa makin nyaman dengan lewatnya setiap detik.

“Tak bisakah Dad merasakannya? Kegusaran itu? Tak bisakah Dad melihat bahwa yang Dad rasakan adalah kegusaran tak terkendali?” ‘Benar sekali.

3.

Ia ingin membunuh dan membunuh dan membunuh.

“Pada akhirnya, Saudara-saudara, jauh lebih berguna menghancurkan semangat musuh daripada menghancurkan tubuhnya.”

154

Rasanya ia tak sabar lagi menunggu tembak-menembak mulai.

Profesor Robert yang minta dipanggil Rob mengucapkan kata-kata itu.

Ia ada di lantai tiga.

Hal lain yang ia katakan adalah, “Kerjakan yang satu itu, dan lainnya akan jadi tugas yang jauh lebih sederhana.”

Ia pergi ke safla menerobos kabut merah tua.

tulah yang diinginkan Ransome, Sobat.p>

Kabut itu menipis.

Kau mengikatnya dengan pita dan mempersembahkannya padanya dalam kotak.

Tak lama kemudian segalanya terlihat, bermandikan cahaya murni kejelasan.

Ya Tuhan! Tak bisakah kau melihat apa yang ia lakukan terhadapmu?

Dave mengeluarkan magasin dari pistol, dan memeriksanya. Penuh.

Ransome membohongi istrimu, dia membohongi anakmu, dia membohongimu. Ini umpan! Ini perangkap!

Ia memasukkan kembali magasin itu ke dalam gagang, menarik kokang, dan memasukkan sebutir peluru ke laras. Membunuh orang-orang ini tentu melegakan.

Kau berjalan langsung ke sana. Mereka tentu sedang menunggu!

Dave ingin mereka menunggu. Ia berharap demikian.

“Musuh yang pikirannya tertekan adalah musuh yang lemah luar biasa. Mereka yang mengalami

155demoralisasi adalah yang paling mudah dikalahkan, yang gentar adalah yang paling siap dihancurkan. Demikianlah prinsip pertama dalam perang psikologis, dan perintah pertama dalam profesi kita yang terhormat.”

Profesi terhormat? Profesi terhormat siapakah itu?. Ransome? Mamba Jack? Sersan Mullin? Aku?

Tangannya mencengkeram pegangan tangga. Susuran tangga itu terbuat dari logam, dicat kelabu warna kapal perang, dan dingin.

Dingin. Pusatkan pikiran pada dingin. Jangan pikirkan hal lain. Hanya dingin itu. .

Dave berhenti. Ia berdiri diam tak bergerak.

Bagus. Sekarang napas. Tarik napas panjang dan pelan.

Ia memaksa diri menarik napas sedalam mungkin, begitu dalam sehingga terasa sakit. Ia menahannya hingga melihat kunang-kunang di depan matanya, lalu mengembuskannya perlahan-lahan. Dengan ujung kemeja disekanya keringat dari alis.

Itu lebih baik, Bung.

Ia mengulurkan tangan kanannya. Tangan itu gemetar.

Itulah maksudnya. Orang dengan tangan gemetar bukanlah jago tembak terbaik di dunia.

Sudah begitu dekat ia menghampiri perangkap. Ransome nyaris mendapatkannya.

“Ia yang mengalahkan musuh dengan strategi, layak dipuji seperti ia yang mengalahkannya dengan kekuatan.” Machiavelli mengatakan itu. Ingat? Ingat Profesor Rob dulu suka terus-menerus menyitirnya?

Ia menggeser kunci pengaman dan menyetel kembali

156

pistol itu menjadi semiotomatis. Ia mencoba menyelipkan kembali pistol itu ke sabuk. Ia perlu tiga kali mencoba sebelum berhasil.

Ia akan melakukannya lagi. Ia akan melakukan apa saja untuk mengacau pikiranmu.

Lutut Dave jadi lemas. Ia tersungkur di tangga, tak bergerak dan menggigil, Sampai rasa geramnya surut.

Itu tadi tentu upaya terbaik Ransome. Tak ada tipu daya lebih keji yang bisa dilakukan laki-laki itu selain memanggil Mark, membujuknya agar berusaha merayu ayahnya masuk ke perangkap kematian, membohonginya…

Kau yakin itu dusta?

Tidak, ia tidak yakin. Itulah keistimewaannya. Seseorang—salah satu rekannya sendiri—mungkin pernah memberinya sejenis obat eksperimental. Bukan pertama kalinya kalangan intelijen melakukan cara itu. Setidaknya salah satu kontraktor pernah secara sembunyi-sembunyi diberi LSD dan sebagai akibatnya melakukan bunuh diri. Butuh waktu 25 tahun sebelum CIA mengakui episode itu dan dengan enggan memberikan tunjangan kepada keluarga laki-laki itu.

Pernah ada kejadian lain juga. Pada tahun 1950-an, Angkatan Bersenjata diam-diam menyemprot udara di atas San Francisco dengan mikroba yang menyebar lewat udara, Serratia marcescens. Satu dasawarsa kemudian sekelompok peneliti senjata perang rahasia mengisi tabung-tabung penuh dengan bibit penyakit yang cukup ganas, menjatuhkannya di lintasan sistem kereta bawah tanah New York, kemudian memantau

157penyebaran pilek dan hidung mampet yang diakibatkannya. Sekitar waktu yang sama, di luar Utah, sekawanan biri-biri mati ketika ada sesuatu yang tak jelas lepas dari laboratorium rahasia. Di tempat lain ada desas-desus mengenai para ahli rekayasa biologi, imunologi, dan genetika yang menaruh minat tak sehat pada hasil-hasil eksperimen dalam penjara yang dilakukan oleh kekuatan-kekuatan Poros selama Perang Dunia II. Kemudian ada juga narapidana Amerika yang diinjeksi dengan virus menular, obat-obatan yang belum diuji, dan yang paling terkenal, syphilis spirochetes. Tambahkan itu dengan pengujian mengerikan yang dilakukan Angkatan Bersenjata terhadap sesama anggotanya dengan memakai zat-zat radioaktif, dan tidaklah sulit untuk percaya bahwa ada spesialis berpikiran keji yang merasa termotivasi untuk memberikan obat-obatan perusak pikiran kepada beberapa rekannya.

Dinas intelijen yang sejak dulu menerapkan hukum sendiri, memang memiliki kemampuan untuk melakukan eksperimen-eksperimen membahayakan terhadap prajurit maupun warga sipil dengan dalih demi kepentingan keamanan nasional Amerika, dan hal iju merupakan keharusan bila kau percaya, seperti semua orang lain, Soviet juga melakukan hal yang persis sama. Bila ada beberapa tikus laboratorium, penjahat-penjahat penghuni penjara,atau laki-laki berseragam menderita—nah, apakah itu harga yang terlalu mahal untuk menjamin kelestarian demokrasi? Bahkan, ketika pada dasawarsa 1970-an para penyelidik Senat pertama kali mengetahui operasi itu dan menyuarakan kengerian mereka, tidak sedikit orang yang bertanggung jawab merasa gusar. Untuk apa segala keributan

158

itu? Kalian membayar kami untuk melaksanakan tugas ini. Kalian tidak bisa menyalahkan kami— kami orang baik!

Ransome telah menyusun kebohongan yang sangat membahayakan, lebih dari sekadar membahayakan karena kebohongan itu dapat dipercaya. Itu menjamin semua orang—semua—yang kenal dengan Dave dan mungkin mau menolongnya kini akan berbalik ke pihak Ransome. Lebih parah lagi, itu menyebabkan Dave meragukan diri sendiri.

Itu bisa jadi benar, tahu.

Aku tahu. Semoga Tuhan menolongku.

Ia menggigil di lubang tangga yang remang-remang, tangannya memeluk lutut, putus asa mengetahui kini ia benar-benar sendiri.. Tak ada orang untuk diajak bicara, tak ada orang yang akan mendengarkan. Istri, anak, teman-teman—semua orang yang seharusnya percaya padanya ternyata percaya kebohongan. Setiap tangan akan tertuding ke arahnya, dan tak ada orang yang dapat ia percaya.

Demikianlah mimpi buruk di siang bolong ini, kegilaan yang baru dimulai, pikiran yang kini bingung tetapi tak lama lagi akan berubah menjadi kesintingan yang membuat orang berpikiran waras mengintip ke bawah ranjang mereka di waktu malam, curiga bahwa te

mereka disadap, dan akhirnya menjadi yakin ada kekuatan jahat yang memantau seluruh gerakan mereka. Mungkin pemerintah, mungkin Trilateral Commission, mungkin makhluk dari piring terbang. Kau tidak bisa mempercayai siapa pun dan setiap orang mungkin salah satu di antara Mereka atau Agen Mereka. Dan tak lama kemudian kau mulai menulis

159surat-surat panjang kepada editor majalah Scientific American, atau mungkin tidak karena editor-editor itu juga merupakan bagian dari konspirasi tersebut. Dan kau berniat melapisi kamarmu dengan aluminium foil untuk mencegah masuknya gelombang radio, dan malam hari kau berkeliaran di jalanan menyemprot dinding-dinding dengan cat menggambarkan simbol-simbol mistik untuk mengusir kekuatan-kekuatan aneh, dan sementara itu kau berceloteh kepada diri sendiri dan apa yang kauucapkan itu, bila tidak masuk akal orang lain tentulah masuk akalmu sendiri, dan kau mencari-cari tempat gelap untuk bersembunyi siang hari, sebab Mereka ada di luar sana, dan Mereka sedang mencari, dan Mereka menginginkanmu masuk ke lubang bidik….

Para psikiater menyebutnya paranoia, dan bila gejala ini makin parah mereka menyingkirkanmu.

Sebab, bagaimanapun, orang yang mengira semua orang di dunia ingin membunuhnya bisa menjadi bahaya.

Salambii.it limliad-pangcu, siilm bbsc, kang jrtisi sekeluarga, otoy dengan kameranya, syanqy arr dengan lianaoki.wordpress.com -nya grafity dan semua dimhader.

Dilarang nieng-koniersil-kanatan kesialan menimpa anda.

160

BAB 5

LELUCON HALUS

1.

Dengan keberuntungan maka Marge—Marigold Fields Cohen, yang mungkin dikandung pada musim panas ketika Dave mendaki Pegunungan Sierra dan tidur di tepi danau yang indah, hijau, dan tak pernah terlupakan—masih tak sadarkan diri. Bila demikian, gadis itu tidak akan mendengar suara Mark. Bila demikian, ia masih tetap akan memakai tape recorder itu ketika tiba saat Dave meloloskan diri.

Bagaimanapun lebih baik punya rencana alternatif Baik. Dave tidak menginginkan apa pun lebih dari menghindari Ransome dan anak buahnya. Namun bila terjadi sesuatu yang tidak beres sebelum Marge menyalakan tape itu, ia akan memerlukan bidang yang bisa diterobosnya dengan cepat, dan yang tidak bisa diterobos musuhnya. Sampai sejauh ini ia berhasil

161mendului musuh-musuhnya selangkah pendek, dan kebanyakan memainkan permainan bertahan. Sudah tiba saat untuk mengubahnya. Di samping itu, ia berutang pada Ransome karena telah membawa putra-‘ nya dalam persoalan ini. Sebenarnya, ia berutang cukup banyak kepada Ransome.

1, 2, 3, 5, 7, 11, 13, 17, 19, 23, 29, 31, 37, 41, 43, 47.

Bilangan prima. Bilangan prima dibagi oleh bilangan berapa pun kecuali satu atau bilangan itu sendiri akan menghasilkan angka pecahan. Bilangan prima merupakan sumber kekaguman yang tak habis-habisnya bagi para ahli matematika, dan mudah dihitung—atau, lebih tepatnya, mudah dihitung bila kau hanya tertarik pada bilangan yang lebih kecil daripada 50.

Profesor Rob berbicara, “Saudara-saudara, bisakah kalian bayangkan betapa memalukannya bila pelaku sabotase melakukan kesalahan hingga terperangkap ranjaunya sendiri? Coba pikirkan. Bayangkan diri kalian sendiri, tergeletak di tengah puing-puing membara, mungkin satu kaki putus, atau mungkin dengan kepingan tubuh berhamburan di depan mata kalian. Pikirkan betapa kecewa perasaan kalian bila tahu alat penghancur yang menimbulkan kerusakan itu yang kalian pasang sendiri. Ya ampun, tapi bukankah wajah kalian akan jadi merah padam? Menurutku itu merupakan pengalaman hidup yang lebih membingungkan. Agar kalian bisa menghindari saat konyol dan memalukan seperti itu; sudah jadi misiku hari ini untuk mengajar kalian sedikit aritmetika. Yang akan

162

kubahas, dan akan kalian pelajari, adalah deret matematis sederhana. Rumus seperti itu cukup berguna untuk mengingat kembali tempat-tempat di mana kalian sudah menyiapkan lelucon kecil untuk memberi pelajaran pada lawan kalian.”

Semua ada enam belas bilangan prima yang lebih kecil dari 50. Dave memasang perangkap pada tangga darurat di enam belas lantai. Enam belas di tangga timur, enam belas di barat, dan enam belas di selatan.

Para instrukturnya di Kamp P selalu menekankan pentingnya kesederhanaan. Perangkap yang baik adalah perangkap yang sederhana, dirancang untuk menghasilkan efek maksimum dengan bahan minimal. Seperti halnya dalam hampir semua bidang usaha, demikian pula dalam seni tipuan kotor—K.I.S.S. adalah kebijaksanaan yang lebih besar.

Dave menghargai K.I.S.S. Perangkap-perangkap-nya—para instruktur itu menyebutnya “lelucon”—terdiri atas kabel telepon hijau yang direntangkan sebagai sandungan dekat anak tangga teratas; berember-em-ber sabun cair yang licin (semacam yang dipakai dalam dispenser kamar mandi) disiapkan di sudut-sudut tempat ember-ember itu bisa dengan mudah diambil oleh orang yang sedang berlari, berbotol-botol lem karet yang lengket siap untuk dituangkan; kaleng-kaleng berisi cairan pembersih yang mudah terbakar ditempatkan sedemikian rupa sehingga mudah diraih; kabel yang berukuran jauh lebih besar, kali ini dililitkan dengan hati-hati pada pipa air dan bisa dengan mudah dibongkar; beberapa pembuka surat murahan ditempel tiga-tiga, isi stapler ditinggalkan di berbagai posisi yang strategis di tangga itu, slang

163pemadam kebakaran yang sudah dilepas dari gulungannya dan dibentangkan lima tingkat tangga; tiga kaleng kecil toner mesin fotokopi yang siap memuntahkan serbuk hitam membutakan mata; dan berbagai benda lain.

Guru-gurunya tentu akan bangga dengannya. K.I.S.S.: Keep It Simple, Stupid. (Buat tetap sederhana, tolol.)

Dave sangsi semua perangkapnya itu akan efektif. Banyak yang takkan terkait kakinya. Dan untuk yang terpeleset, paling parah mereka hanya akan patah tangan atau kaki dan luka tergores. Kebanyakan hanya menimbulkan ketidakenakan dan tak satu pun terjamin sebagai alat pembunuh. Tidak perlu demikian. Yang perlu dilakukan hanyalah memperlambat Ransome dan orang-orangnya.

Di lain pihak, Bung, kalau kau benar-benar ingin melukai…

Dalam lemari penyimpan alat pembersih ia menemukan lima karton besar—amonia pembersih.

Amonia adalah barang lumrah. Semua orang memakainya untuk membersihkan jendela, menyucihamakan toilet, dan membersihkan porselin. Zat itu adalah bagian dari perlengkapan rumah tangga biasa.

Di Kamp P mereka mengajarinya tentang perabot rumah tangga biasa. Mereka mengajarkan kepadanya bahwa, bagi orang yang tahu, sepen dapur biasa sebenarnya merupakan gudang racun, pembakar, dan peledak. Bila dicampur dengan perbandingan yang tepat, tidak sedikit barang rumah tangga biasa bisa menjadi senjata mematikan.

Di antaranya adalah amonia.

164

Bila dicampur dengan yodium—yang biasa ditemukan di dalam kotak peralatan P3K biasa—amonia menghasilkan endapan kristal nitrogen triiodida. Sesudah diolah dengan baik dan dikeringkan, nitrogen triiodida menjadi zat yang memiliki nilai komersial. Bahkan sebenarnya DuPont menjualnya dengan merek yang terkenal dalam industri pertambangan—terkenal sebagai alat yang sempurna untuk meledakkan simpanan bahan tambang hingga terbuka. Satu-satunya masalah dengan benda itu adalah sifatnya yang tidak stabil. Bila-sejumlah kristal triiodida menerima tekanan sebesar tiga puluh kilo saja, maka…

Malaikat pelindung Dave menyeringai. Bum!

2.

Tak lama sesudah pukul 18.00, David Elliot melangkah ke dalam penyergapan.

Sambil menggelar perangkapnya, ia menyimpulkan anak buah Ransome tentu menyingkir dari tangga darurat. Dengan menjaga pintu keluar lantai dasar kiranya sudah cukup untuk memastikan mangsa mereka tidak akan lolos. Di samping itu, kadang-kadang ada perokok—terasing dari kantor mereka, bak penderita lepra di akhir abad kedua puluh ini—menyelinap ke tangga untuk menikmati rokok diam-diam. Sementara kehadiran tukang telepon membawa gulungan kabel^ naik-turun tangga tidaklah menarik perhatian para pecandu nikotin itu, namun kehadiran orang-orang bersenjata yang melakukan patroli tentu memancing kecurigaan ‘mereka.

Seandainya jadi Ransome, Dave tidak akan

165memerintahkan anak buahnya memeriksa tangga darurat sampai lama sesudah jam kerja berakhir. Sayangnya, kini jam kerja itu sudah berakhir, dan beberapa anak buah Ransome jadi usil. Dalam hati Dave bertanya-tanya apakah bos mereka tahu apa yang mereka lakukan. Mungkin tidak. Orang seperti Ransome takkan pernah menyetujui jebakan yang disiapkan dengan sembarangan seperti itu. Tidak konsisten dengan standar profesional Ransome. Dave sendiri merasa tindakan itu amatiran.

Kau tak bisa mendapat bantuan bagus lagi.

Dua anak buah Ransome mengambil posisi di tangga barat. Mereka merunduk di sudut di lantai 33 dekat pintu darurat. Salah satu di antara mereka, tak disangsikan merasa dirinya cerdik, mencopot lampu neon di atas pintu itu. Platform beton, dinding kelabu dingin, dan pintu itu sendiri jadi bertabir bayangan.

Bayang-bayang itulah yang jadi petunjuk. Seandainya mereka membiarkan lampu itu menyala, Dave mungkin tidak memperhatikan mereka sampai segalanya terlambat.

Cara kuno mematikan lampu. Orang-orang ini terlalu banyak membaca novel Robert Ludlum.

Mereka tak mungkin lama di sana. Sewaktu memberikan sentuhan akhir pada ranjau-ranjaunya, dalam • lima belas menit terakhir ini Dave sudah dua kali melewati lantai 33.

Kalau mereka pernah mendapat latihan, tentu ada sepasang lagi di lantai 32, menunggu di balik pintu darurat. Taktik penyergapan baku, langsung dari buku pedoman.

Gagasannya adalah menjebaknya antara lantai 32

166

dan 33. Dua orang menembak dari atas, dan dua dari bawah. Istilah teknisnya “flanking crossfire”. Cara ini membuat sasaran jadi daging cincang.

Ini berarti keramaian takkan mulai sampai kau sudah berada di tengah tangga berikutnya.

Dave menaiki beberapa anak tangga terakhir ke lantai 32. Tumit sepatunya bergaung pada tangga beton. Dua laki-laki dalam kegelapan itu tahu ia mendatangi. Mereka tentu mendengarnya, mengikuti gerakannya, dan berbisik penuh harap ke radio mereka.

Sudah berapa lama mereka di sana? Sudah berapa lama mereka mendengarkan? Apakah mereka punya waktu untuk memanggil lebih banyak orang?

Ruang kosong di antara tangga tersebut, sumur kosong yang menukik dari atap gedung sampai ke tanah itu, cukup lebar sehingga ia bisa melihat musuhnya yang sedang menunggu. Keduanya menempelkan badan ke dinding. Keduanya menyandang senapan sergap yang gemuk, jelek di pundak.

AR-15? Bukan, yang lain. Magasinnya lebih besar dan pelurunya lebih banyak.

Dave berhenti dan terengah-engah dengan keras, seolah mencari napas. Ia menarik keluar ujung kemejanya dari dalam celana dan menyekakannya ke wajah. Ia mengembuskan napas dengan keras. “Aku benci tangga terkutuk ini,” gumamnya dengan suara # sekadar cukup keras untuk didengar. Salah satu laki-laki di atasnya itu merapatkan radio lebih dekat ke mulut.

Idiot. Kau tak bisa berceloteh di radio sambil membidikkan senapan sekaligus. Apakah mereka tak mengajarimu apa-apa?

167Jdve memutar pundak dan kembali mendaki. Dua laki-laki di lantai berikutnya tidak akan menembak. Tidak sekarang. Mereka ingin memastikan bahwa mereka mengenainya, dan satu-satunya cara untuk itu adalah memancingnya hingga terjepit tembakan dari dua arah. Mereka tidak akan menembak sampai ia mencapai platform di tengah antara lantai 32 dan 33. Ia pasti akan hal ini.

Kepastian itu tidak menolong. Jantungnya tetap berdebar-debar keras, dan sekarang, dengan seketika, ia benar-benar kehabisan napas. Butir-butir keringat menyembul di keningnya. Otot kecil di bawah mata kirinya berkedut-kedut tak terkendali. Lututnya terasa lemas. Ia ingin sebatang rokok.

Ada saatnya kau sengaja melangkah ke dalam jebakan. Kadang-kadang kau melakukannya sebab itulah satu-satunya cara untuk menghabisi musuh. Kadang-kadang kau melakukannya sebab satu-satunya cara untuk mencapai tujuanmu adalah dengan melompat ke dalam jebakan itu. Namun kebanyakan kau melakukannya sebagai umpan untuk perangkapmu sendiri. Dave mendaki. Satu undak. Dua. Tiga. Empat… Hanya saat itu saja ia tak terlihat. Orang-orang di lantai 33 tidak lagi bisa melihatnya. Mereka tentunya menggeser bidikan mereka ke platform delapan anak tangga di depannya, menunggunya terperosok ke dalam penglihatan mereka. Orang-orang yang siap di balik pintu darurat tentu menegangkan otot mereka, bersiap melompat. Dua regu itu mengira mereka tahu akan berada di mana sasaran mereka. Mereka sudah siap untuk itu, berharap, dan bahkan mungkin berpikir bagaimana, sesudah urusan ini beres, mereka saling

168

menepuk pundak, melontarkan gurauan konyol, menyalakan rokok, dan saling meyakinkan, bila semuanya sudah diucapkan dan dikerjakan, urusan David Elliot ternyata bukan tugas yang luar biasa sulit.

Dave menempelkan tangan pada susuran tangga— dingin, kosong, bulat.

Satu tarikan napas dalam.

Ia menarik, menendang, mendorong, dan melompat.

Tiga puluh dua tingkat ke lantai dasar. Bila ia meleset, ia meleset, dan selesailah semuanya.

Ia melewati rongga di antara tangga itu, melewati susuran di seberangnya, dan mendarat dengan tumit. Itu lompatan pendek yang gampang—hanya beberapa saat berbahaya untuk membawanya dari tangga di atas lantai 32 ke satu tingkat di bawahnya.

“Sialan!” Suara dari atas. Peluru-peluru berperedam memukul beton di tempat ia mendarat. Dave sudah menghilang.

Ia meraih susuran tangga, mencengkeramnya, dan melemparkan diri ke bawah. Ia melompati dua atau tiga anak tangga sekaligus. Ia harus melewati platform berikutnya. Bila ia masih berada di tangga di bawah lantai 32…

Pintu darurat itu terempas membuka. Sepatu berdetak pada beton.

…lalu orang di belakangnya akan melihat jelas punggungnya.

Ia mengayunkan tubuh melewati susuran dan melompat. Hujan peluru mengiris udara di atas, di belakang, dan di sampingnya.

Pekikan kesal, “Bangsat, bangsat, bangsat!”

David Elliot lari.

169”Di sini Egret! Dia ada di lantai 31, 30, turun ke bawah! Di mana kau? Apa? Di tangga barat, kau tolol! Kemarilah, cepat!”

Seseorang, mungkin lebih dari satu, mengosongkan satu magasin, mungkin lebih dari satu, ke lubang tangga. Peluru-peluru itu mengenai dinding, memuncratkan kepingan-kepingan beton sekeras batu. Dave merasa pundaknya sakit seperti tersengat lebah.

Mereka bergemuruh menuruni tangga, menembak sambil berlari. Peluru-peluru gepeng memantul simpang siur.

Prosedur operasi baku. Kalau kau tak bisa mengenai sasaranmu dengan tembakan langsung, kenai dia dengan pantulan peluru.

Dave melompati susuran tangga lagi. Satu tembakan, satu pantulan peluru, berdesing di bawah dagunya. Ia meringis. Jauh di bawah sana—berapa tingkat tangga lagi? Satu pintu lain terbuka. Orang berlarian ke atas sekarang. Mereka mencoba menangkapnya di tengah.

Lantai 26. Satu tingkat lagi.

Ia terpeleset, menahan tubuh, tegak kembali. Ia sudah berada tepat di tempat yang &inginkarinya— lantai 25.

Ia mendongak melihat tangga. Itu dia, berkelok-kelok di atas anak tangga, panjang dan pipih, sama seperti saat ia meninggalkannya. Ternyata membuka gulungannya naik hingga ke lantai 29 sungguh pekerjaan yang berat. Ia tidak mengira akan terpaksa memakainya.

Anak buah Ransome berlarian melewati ujungnya sekarang. Mereka tidak melihatnya, atau seandainya

170

melihat, mereka tidak memikirkannya. Slang darurat untuk kebakaran.

Dave meraih roda dengan lapisan enamel merah itu dengan dua tangan, dan memutarnya. Macet. Dave menariknya dengan entakan panik. Roda itu beku di tempat.

Oh, Tuhan, jangan lakukan ini pada kami.

Ia memasang kuda-kuda, dan menarik keras. Roda itu bergerak. Pipa air itu berdeguk dan mendesis. Air mengalir di dalamnya. Dave menarik lebih keras. Roda itu berputar dengan leluasa. Bunyi desis itu mengeras jadi gemuruh. Pipa air itu tidak lagi pipih dan berkerak. Ia terisi, membulat, bergerak. Air menggelegak lewat di dalamnya, naik satu tingkat tangga, ke tingkat kedua, tekanannya makin meningkat setiap inci.

Berapa besar tekanan airnya? Kalau ingatan ini benar, 150 kilo. Dan itu tekanan yang besar luar biasa, Sobat.

Slang itu melonjak, berayun ke kiri dan ke kanan, dan mulai bangkit. Ia kelihatan hidup, seperti ular cokelat raksasa yang terbangun sambil menggoyang tubuh. Dan slang itu bergoyang di sini, lima tingkat dari ujungnya, maka nozzle-nya. akan…

Jeritan bergema di dalam ruang tangga itu.

…melecut kian kemari tak terkendali. Tekanan 150 kilo dalam gerakan cepat. Nozzle kuningan pejal seberat tiga atau tiga setengah kilo. Satu pukulan saja akan menghancurkan kaki seorang laki-laki yang kuat.

Jeritan itu mengeras. Mendatangi lebih dekat, dan dengan kecepatan yang luar biasa. Dave menengadah - tepat untuk melihat satu tubuh lewat. Laki-laki itu

171meluncur turun di dalam ruang tangga itu, memutar lengannya seperti kincir, mencoba memegang susuran tangga. Wajahnya pucat pasi oleh keputusasaan dan kengerian. Sial.

Sungguh sial. Ia sebenarnya tidak ingin membunuh mereka. Ia cuma ingin memperlambat mereka.

Dari atas terdengar lebih banyak jeritan, teriakan, dan tidak sedikit umpatan. Dave tak menghiraukannya. Ada urusan lebih serius yang jadi pemikirannya. Orang-orang yang naik dari lantai bawah sudah dekat. Seandainya ia menyiasati kunci dan kabur ke lantai 25, mereka akan tepat berada di belakangnya, dan ia akan jadi sasaran empuk.

la bisa mendengar mereka—seberapa dekat—dua atau tiga tingkat tangga di bawahnya. Salah satu di antara mereka hampir kehabisan napas, terengah, “Apa yang terjadi di atas sana?”

Satu suara lain, tidak begitu tersengal-sengal, menjawab, “Hanya ada satu cara untuk mengetahuinya.” Sol sepatu berderap pada beton. Mereka berlari.

Tembakan peluru, senapan otomatis, melubangi slang kebakaran itu. Air menyembur dari slang, mengendurkan tekanan pada setiap lubang peluru, memperlambat gerakannya yang mengombak. Sekarang, orang-orang yang berlari menuruni tangga bisa melewatinya dengan aman.

Tadi, ketika sedang menggelar jebakan-jebakannya, Dave sudah melilitkan kabel coaxial tebal rangkap dua pada pipa-pipa tangga. Salah satunya ada di lantai ini. Kabel itu terikat erat dan takkan lepas. Ia mengambilnya, melingkarkannya di antara kaki.

172

Katakan padaku kau takkan melakukan ini. Dua lilitan pada kaki kiri, dua pada kaki kanan. Kau benar-benar sinting.

Naik ke pundak kiri, di bawah selangkangan, silang-menyilang di punggung, dan lagi pada pundak kanan dan kiri.

Bung, biar kujelaskan setegas mungkin. Aku tak ingin mati.

Satu simpul ganda. Ia pun selesai.

Ia menarik kabel itu. Tertambat kuat. Dan temali yang membungkus dirinya, meskipun dibuat dengan terburu-buru, toh merupakan imitasi tali parasut yang cukup bisa diandalkan.

Oh, tidak, Bung! Tidak!

Sebutir peluru mendesing lewat dekat dadanya. Ia tak memikirkannya. Ia mengambil satu langkah pendek ke depan, cepat tapi tidak terburu-buru, mengambil ancang-ancang, dan melompat melewati pegangan tangga. Ia terjun dengan sempurna, hasil latihan yang lama, dan tak pernah terlupakan. Ia terjun menyelam ke dalam kolam cokelat berlumpur di masa kecilnya, masuk ke dalam danau hijau di atas gunung. Sebilah pisau lipat besar, terlipat di pinggang, kini berputar di udara, dengan tenaga putaran tubuhnya menegak. Perenang dalam lompatan yang sempurna.

Dan rasanya hebat.

Dave terjun menerobos ruang kosong di antara tangga-tangga itu. Saat jatuh, ia sepintas melihat wajah, seorang laki-laki dengan mata terbelalak dan mulut menganga. “Ya Tuhan!” bisik laki-laki itu.

Sebutir peluru mendesing entah di mana, terlalu jauh untuk dikhawatirkan.

173Ia mencengkeram kabel itu, bersiaga untuk sentakan yang akan datang. Ini tentu takkan lebih parah daripada lompatannya yang pertama dulu, pikirnya. Tujuh ratus lima puluh meter di atas Fort Bragg. Satu atau dua laki-laki, badut kompi itu, melontarkan lelucon lemah. Semua yang lain dengan muram menghindari mata rekan-rekan mereka. Sersan Kuba keparat itu pelatih terjun. Ia berdiri di samping pintu terbuka, berteriak-teriak dalam deruan angin, meneriakkan hitungan, dan meneriakkan umpatan. Siapa nama orang Kuba itu…?

Kabel itu tersentak tegang. Lebih tipis daripada tali kanvas pipih pada parasut, kabel itu mengiris ke dalam kakinya. Rasa sakit tak terduga memeras udara dari paru-parunya.

Aduh! Ini sakit.

Ia berayun ke kiri, melewati susuran tangga lantai 21 dan membentur ke dinding dengan kekuatan yang meremukkan. Dengan refleks, ia menarik simpul ganda itu, terjungkal di atas beton, dan menggelinding.

“Sialanr seru seseorang. “Kaulihat keparat itu?”

Seseorang lagi berteriak, “Turun! Turun ke sana! Jangan biarkan bangsat itu lolos!”

Dave mencabut pistol dari balik kemeja. Kakinya mati rasa dan gemetar. Ia memaksakan diri untuk berdiri tegak. Ia menyeringai, memperlihatkan gigi, dan menghamburkan dua puluh butir peluru ke atas.

Apakah kita mulai bersenang-senang?

Saat untuk bergerak lebih lanjut. Peluru-peluru lunak berdenting dan terpantul pada tangga-tangga di atasnya. Dengan tenang, Dave mengkritik bidikan pengejarnya. Ia tadi terlihat jelas. Seandainya mereka

174

penembak yang lebih jitu, mereka tentu sudah mengenainya. Ia menduga sedikit atraksi bungee stunt buatan sendiri tadi telah mengejutkan mereka.

Bisakah kita keluar dari sini sekarang?

David Elliot berlari. Ia berlari vertikal seperti yang dilakukannya seharian ini, dan dengan demikian tak setapak pun maju lebih dekat pada kebebasan. Tapi bagaimanapun tidak pula selangkah lebih dekat pada penangkapan.

Di lantai 19, ia melompati kawat sandungan. Di lantai 17, ia mendengar seseorang—mungkin dua orang—mendatangi jebakan. Sambil tersenyum tipis mendengar pekik mereka, ia mengosongkan dua ember sabun cair yang licin pada anak tangga.

Pengejar-pengejarnya mengumpat ketika mereka sampai ke tangga itu. Atau lebih tepatnya, beberapa di antara mereka mengumpat. Yang lain menjerit dan merintih—mereka yang mengalami patah tulang. Dave mendengar jerit kesakitan mereka dan menahan tawa.

Sekarang di lantai 15 ia mendengar desis caci maki bercampur kelegaan dari mereka yang, tinggi di atas sana, kehilangan sepatu dalam cengkeraman lem karet yang lengket dan mengering dengan cepat. Caci makinya terungkap dari lubuk hati, Dave tahu, dan lebih bisa dipahami karena kejujurannya.

Sebaliknya, orang yang berada dekat oven microwave pada saat yang salah tidak mengumpat. Ia hanya merengek. Dave merasa orang itu kedengarannya terkejut. Mungkin butuh dokter, segera. Sayang. Di samping itu, ia akan hidup. Bukan urusan besar, hanya oven microwave kecil, model countertop yang dicuri dari ruang istirahat karyawan. Dave memasuk-175kan sepasang botol diet cola isi dua liter ke dalamnya, dan menancapkan mesin itu ke soket listrik darurat. Ketika berlari melewatinya, ia menekan tombol on. Empat puluh tujuh detik kemudian ledakan cola panas dan serpihan pintu oven menghadang pengejarnya yang lain.

Dave mendengar semua itu—semua kegusaran mereka yang terluka, segala makian jorok, semua teriakan minta tolong mereka—sementara ia berlari, dan ia tertawa.

Lantai 13 (lantai 14 menurut logika manajer gedung itu), Dave ingat merupakan tempat ia menaruh sebotol larutan pembersih. Dengan banyak pertimbangan, ia menempelkan sebungkus korek api ke dalamnya.

Karena orang-orang yang mengejarnya sudah dengan hati-hati memperlambat langkah—tak ada alasan untuk itu, gumpalan-gumpalan kertas fotokopi yang tampaknya tidak membahayakan itu lebih daripada yang diperkirakan—Dave punya banyak waktu untuk mengosongkan botol, menyalakan sebatang korek, dan sambil turun ke lantai 12 menjentikkannya ke dalam genangan larutan pembersih. Ketika meledak menyala, ia tidak dapat lagi menahan diri.

Yang terakhir didengar pengejarnya adalah tawanya, tawa dalam dari perut, gembira, gelak senang tak terhingga, bergema di ruang tangga itu. Mereka berhenti, saling pandang dengan tatapan bertanya, dan menggeleng.

Dua keping kuningan itu berdering merdu ketika jatuh terpantul di atas meja Kolonel John James Kreuter. Sang kolonel memungutnya, memegangnya

176

di bawah cahaya, dan memicingkan mata. Ia memutar lidahnya di dalam mulut, menggaruk pelipis, dan mengernyit. “Baiklah, Letnan, kau mau berdiri di sana seharian seperti kau baru saja menelan burung kenari atau kau akan menceritakan apa maksud semua ini.”

‘Tanda pangkat, Sir. Itu tanda pangkat perwira Rusia.” Dave tidak dapat menahan nada puas diri dalam suaranya. Ia bahkan tidak mencoba menyembunyikannya.

Kreuter menggosokkan tangan pada pipinya. Ia mengangkat muka memandang Dave, dan kembali memandang dua emblem kuningan itu. “Kemungkinan besar perwira lapangan. Mayor, mungkin.”

“Ya, Sir. Begitulah tepatnya.” Dave meletakkan sehelai kertas terlipat di atas meja kerja sang kolonel Kreuter memandangnya seperti melihat tikus mati. “Dan apa ini, daftar hadiah Natal untuk Sinterklas?”

“Bukan, Sir. Ini nama kapten ARVN, salah satu sekutu kita yang setia. Mayor itu memberikannya pada saya tak lama sebelum kematiannya.” Ia menggigit lidah. Ia harus melakukannya. Seandainya tidak, ia tentu akan tertawa.

Kreuter membuka lipatan kertas itu dan mengangguk. Ia mengetuk sebatang rokok Camel tanpa filter dari bungkusnya, menggoreskan jempol ke batang korek api, mengernyit sambil menyedot. “Dan bagaimana kau, Letnan Elliot, bisa menyelesaikan tugas luar biasa ini?”

Dave memperlihatkan giginya. “Well, Sir…” Ia merasakan kegelian menggelegak dari perutnya, “…saya pikir…” Wajahnya merah padam akibat usaha

177mengendalikan diri. “…hidup…” Ia tidak bisa menahannya lagi. “…jauh lebih menyenangkan…” Tidak ada harapan lagi. “…daripada mati!” Tawa itu meledak.

Mamba Jack menyentakkan kepala ke belakang dan tertawa bersamanya. “Wah, wah, wah, Letnan, kau memang hebat. Itulah yang bisa kukatakan padamu. Cuma wah, wah, wah, mungkin kau dan aku bisa memulai persahabatan yang baik.”

3.

Pukul 19.03.

David Elliot melangkah keluar dari lift dan menapaki lantai 45.

Sudah saatnya kau kembali ke tempat kejadian perkara. Bila benar ada jawaban, di tempat inilah kau akan menemukannya.

Suite eksekutif Senterex terkunci. Resepsionisnya sudah lama pulang, dan semua sekretaris tentu sudah berlalu sebelum pukul 18.00. Mungkin masih ada satu-dua eksekutif yang kecanduan kerja tinggal di sana sampai sepetang itu. Biasanya ada. Dave berharap bisa menghindari mereka, tetapi bila tidak, ia sudah cukup siap menanganinya.

Ia memasukkan kunci kantornya ke lubang, memutarnya, dan mendorong pintu.

Sekarang bukankah kau senang Bernie tidak memasang alat canggih dengan kartu elektronis di lantai ini? Peralatan keparat itu secara otomatis mencatat nomor identitas siapa saja yang masuk dan siapa saja yang keluar.

Ia berjalan cepat melintasi ruang penerimaan tamu,

178

belok kiri ke dalam koridor yang menuju ke kantor Bernie Levy. Kemudian, terdorong impuls, ia berhenti, memutar badan, dan berlari ke timur tempat ia, dua belas jam lalu, meringkuk ketakutan dihujani peluru Ransome dan Carlucci.

Perbaikan itu tanpa cacat. Lubang-lubang bekas peluru sudah ditambal, bagian-bagian yang tercungkil sudah dilapisi wallpaper; tak ada goresan, lekukan, atau guratan sedikit pun.

Tak ada bukti. Seandainya kau mencoba menunjukkan pada orang lain bukti mengenai apa yang terjadi pagi ini, mereka hanya akan memandangmu dan dengan sedih menggeleng. Dave yang malang, kata mereka, semua itu ada dalam pikirannya.

Ia melihat ke karpet, tempat darah Carlucci tercecer. Tak ada setitik pun noda yang tersisa, tak ada bukti, tak ada jejak bahwa di sini, di tempat ini, seorang laki-laki telah mengucurkan darah hingga tewas. Karpet itu sudah diganti dengan karpet yang berwarna sama, berserabut sama, dan bahkan seolah sudah pernah dipakai seperti setiap inci karpet lain di koridor itu.

Kerja profesional yang bagus. Tapi apakah kau mengharapkan kurang dari John Ransome dan kawan-kawan?

Ia berbahk kembali menuju ke kantor Bernie dan, ketika memasuki ruang penerimaan tamu, ia hampir bertabrakan dengan tubuh Dr. Frederick L.M. Sandberg, Jr. dengan pakaiannya yang gemilang.

Sandberg mundur selangkah, menengok ke belakang dari atas pundaknya, dan menenangkan diri. Dengan sopan santun gaya ningrat ia berkata, “Selamat sore, David.”

179”Hai, Dok.” Fred Sandberg anggota tertua Dewan Direktur Senterex. Sudah beberapa tahun lalu ia pensiun dari kedudukannya sebagai dekan fakultas kedokteran di Yale, tetapi tetap aktif dalam praktek. Kliennya terbatas pada eksekutif-eksekutif senior, dan selain mahal ia memang pintar. Bahkan begitu pintarnya sehingga ia bertindak sebagai dokter pribadi Bernie, Dave, dan kebanyakan kader eksekutif Senterex.

“Dan bagaimana keadaanmu petang ini, David?” Nada suara Sandberg lembut, halus, dengan keanggunan yang tak dapat ditiru.

“Pernah lebih baik dari sekarang.”

Sandberg tersenyum lembut. “Begitulah yang kudengar.”

Dave meringis. “Kau dan semua yang lain, kukira.”

“Begitulah. Sore ini Bernie mengadakan rapat Dewan Direksi. Perlu kukatakan, kaulah satu-satunya pokok bahasan dalam agenda rapat tersebut.” Si dokter membelai pipinya yang tercukur halus, seolah siap bicara lebih jauh. Dave bicara lebih dulu.

“Dok, kau kenal aku, kan? Sedikitnya sudah lima tahun kau memeriksaku. Kau kenal aku luar-dalam sampai 12,5 senti di ujung usus besar.”

Sandberg menatap dari atas kacamatanya yang berbingkai emas. “Benar.”

“Jadi kau tahu aku tak sinting.”

Sandberg melontarkan senyum yang luar biasa profesional. “Tentu saja aku tahu. Dan, David, harus kutegaskan, baik aku maupun yang lain tak pernah mengira kau sebenarnya…”—ia mengernyitkan hidungnya yang aristokratis, siap mengucapkan istilah yang kurang pantas dari segi medis—”…sinting.”

180

“Ceritanya adalah kilas balik akibat pemakaian obat. Benar, kan?”

“Itu lebih dari cerita, David. Aku sudah melihat bukti. Agen Ransome…”

“Agen? Begitukah yang dikatakannya mengenai dirinya?” Mark juga memakai kata itu.

“Bukan sekadar apa yang dikatakannya. Tapi memang begitulah dia, agen federal…”

“Dia bohong. Dia pembunuh bayaran.”

Ekspresi pada wajah Sandberg menunjukkan simpati dan kasihan. Di bawah jaket sport cokelat kekuningan, ia memakai waistcoat kuning kenari. Bukan rompi melainkan waistcoat. Hanya laki-laki dengan gaya dan penampilan seperti dia bisa memakai barang aneh seperti itu. Sandberg mengorek-ngorek salah satu sakunya.

“Hati-hati, Dok. Mereka tentunya memperingatkanmu bahwa aku berbahaya.”

“Memang benar.” Ia mengeluarkan secarik barang empat persegi panjang putih dari waistcoat. “Ah, ini dia. Kartu nama Agen Ransome. Coba lihat.”

David mencabut kartu itu dari jari Sandberg.

John R Ransome

SPECIAL INVESTIGATIONS OFFICER Bureau of Veterans Affairs

Di situ tercantum nomor telepon, alamat di Washington, dan logo resmi dengan huruf timbul.

181Dave mengerutkan bibir. “Barang cetakan yang bagus. Tapi mencetak memang murah.”

“Itu bukan pemalsuan, David.” Suara Sandberg rendah, dan sedikit sedih.

“Pagi tadi ketika aku menggeledah saku bajingan itu, ia membawa kartu nama lain. Specialist Consulting Group. Katanya dia…”

“David, percayalah, aku sudah memeriksa surat mandat Agen Ransome dengan cukup teliti. Kau tahu, tak ada orang yang mencapai umur dan posisi seperti aku tanpa membangun kalangan sahabat sendiri. Jadi, aku melakukan penyelidikan diam-diam di antara teman-teman lama. Mereka meyakinkanku bahwa dia seperti yang disebutkannya.”

Dave menggeleng. “Orang ini profesional, Fred. Dia mengecohmu dan teman-temanmu. Itulah yang dilakukan para profesional.”

“Baiklah, David, kalau itu yang kauhilang. Tapi coba katakan padaku, kalau bukan pegawai pemerintah, siapa dia?”

“Coba aku tahu. Yang kuketahui hanyalah sejalc sarapan tadi, dia dan gerombolannya mencoba membunuhku.”

Paras Sandberg menunjukkan pandangan tertarik yang profesional. Itu lebih-kurang merupakan ekspresi yang mengatakan, Ya, Mr. Elliot, dan apa yang dilakukan makhluk-makhluk angkasa luar itu sesudah menculikmu ke Planet X? Akibatnya David tergagap-gagap. “Dok… Fred, jangan pandang aku seperti itu. Kau harus mendengar cerita dari pihakku.”

“Tentu, David. Dengan senang hati. Tapi aku khawatir aku sudah bisa membayangkan isi ceritamu.

182

Singkatnya, ceritamu tentang orang-orang tanpa nama dari organisasi tanpa wajah ingin membunuhmu karena alasan-alasan yang tak dapat kaupahami. Kau tak melakukan apa-apa. Kau tak bersalah dan tak terlibat. Tapi Mereka—Mereka dengan ‘M’ besar—ingin kau mati. Apakah itu menggambarkan isi ceritamu, David? Itukah cerita yang ingin kausampaikan?”

Perut David serasa luruh. Ia menggosok bibir dan memandang sepatunya. Sandberg meneruskan, “David, tolonglah aku. Pikirkan cerita yang ingin kausampaikan padaku. Pertimbangkan kredibilitasnya. Kemudian katakan padaku bila kau merasa itu tak mencurigakan. Katakan padaku itu bukan… ah… gejala krisis mental tertentu.”

Dave mengerutkan dahi, menggeleng. “Sekarang giliranmu untuk berbaik hati membantui. Pikirkanlah ceritaku. Pikirkanlah apa yang akan terjadi bila itu benar. Pikirkanlah kebohongan macam apa yang akan mereka ceritakan bila mereka ingin mempengaruhi semua orang bahwa aku sudah sinting.”

Sandberg berbicara seolah sedang menegur bocah yang keras kepala. “Masalahnya bukan cerita, David, masalahnya catatan. Mereka sudah memperlihatkan dokumen-dokumennya padaku. Semua dokumen. Seperti kauketahui, aku duduk sebagai anggota Direksi dua kontraktor hankam dan aku punya hak untuk melihat dokumen-dokumen yang cukup rahasia. Jadi, orang-orang yang sedang berusaha… hmm… menahanmu, cukup mudah dibujuk untuk memperlihatkan berkas-berkas mereka padaku. Harus kukatakan, potret yang mereka lukis tidak indah. Sudah tentu tak ada kesalahan yang ditimpakan padamu. Kau hanyalah

183korban yang tak berdosa. Rasanya memang mengerikan. Aku khawatir itu bukan saat-saat terindah dalam sejarah negara kita, dan apa yang mereka lakukan terhadapmu—kau dan rekan-rekanmu—sama sekali tak bisa dibenarkan.”

Dave berbicara dari sela-sela gigi. “Mereka tak melakukan apa pun terhadapku. Mereka tak melakukan apa pun terhadap kami. Apa pun yang kami lakukan, kami lakukan untuk diri sendiri. Dengar, Dok… Fred, berkas-berkas yang mereka perlihatkan padamu itu palsu. Itu bohong, menipu—sempurna, lengkap, simetris, kolosal. ” Ś

“Masih mengutip Mark Twain, kan, David?”

“Aku takkan melakukannya kalau aku gila.”

“Mungkin saja. David, kami sudah bicara tentang sesuatu yang relevan dengan situasimu sebelum ini. Aku ingat reaksimu atas keprihatinanku, dan karena alasan itulah aku ragu-ragu mengungkitnya.”

“Apa?” David menahan omongannya. “Teruskan, Dok. Katakan saja.”

“Apakah kau masih… sort, David, aku benar-benar tak suka mengajukan pertanyaan ini… apakah kau masih mendengar suara-suara itu?”

“Aduh, Dok! Itu… itu bukan apa-apa. Itu cuma cara untuk… Seperti sudah kukatakan padamu, itu bukan benar-benar suara, tagi kurang-lebih hanya aku bicara pada diri sendiri.”

Sandberg mengulangi perlahan-lahan, “Bicara. Pada. Diri. Sendiri.” Ia mengangguk. Anggukan itu mengatakan segalanya.

“Sialan, aku…”

“Kau ingat ketika kau pertama kali bicara denganku

184

mengenai—kita sebut saja—idiosyncrasy ini, kukatakan tak ada jeleknya kalau kau menemui kolegaku, seorang spesialis.”

“Dok, kukatakan waktu itu dan akan kukatakan sekarang juga, aku tak perlu menemui psikater. Aku sewaras kau.”

Sandberg menggeleng. “David, David, biar kuulangi, dan penting sekali bagimu memahami ini—tak seorang pun mengatakan kau gila. Kukatakan dengan pasti, kau tidak gila, bukan dalam arti biasanya. Apa yang terjadi, dan aku sudah menyaksikan bukti tak terbantah yang menegaskannya, kau dan banyak orang lain dalam unitmu di AD diberi zat psikotropik eksperimental. Kemudian timbul kerumitan yang tak terduga sebelumnya. Aku diberitahu komandan kalian sendiri…”

dinding. “Oh, astaga! Itukah yang mereka katakan? Bahwa segala yang terjadi karena kami semua terpengaruh obat? Ya Tuhan!”

“David, tenanglah.” Sandberg kembali meraih ke dalam saku waistcoat. Dave mengangkat pistolnya. Sandberg mengeluarkan permen pengharum napas. “Sudahlah, David, kau tak perlu menodongkan barang itu padaku.” Ia mengambil sebutir permen dari bungkus, memasukkannya ke mulut, dan mengangsurkan bungkusan itu kepada Dave. Dave menggeleng. Si dokter meneruskan, “David, aku tak menyangsikan bahwa kau percaya orang-orang mencoba membunuhmu. Tapi kau harus menyadari bahwa semua bukti…”

“Bagaimana dengan ini?” Dave mengacungkan pistolnya.

“Mereka sudah memeperingatkanku tentang itu. Kau merampasnya dari polisi.”

185”Dok, ini bukan pistol polisi. Lihatlah. Ini…” “Aku tak tahu apa-apa tentang senjata kecuali fakta bahwa aku membencinya.” Dave menggeram kesal.

Sandberg menurunkan suaranya, mengambil nada yang lebih akrab. “Ada satu hal lagi, David. Helen meneleponku.”

“Oh, persetan.”

“Sewajarnyalah dia prihatin terhadap dirimu, terhadap pengaruh obat eksperimental seperti yang diberikan padamu. Dan karena dia merasa selama jangka waktu tertentu perkawinan kalian tidak…”

“Hentikan itu, Dok. Aku mungkin perlu bicara dengan penasihat perkawinan, tapi sekarang itu bukan dalam prioritasku.”

“Aku bisa menyanggah bahwa laki-laki yang tak mengutamakan perasaan-perasaannya terhadap istri sendiri membutuhkan sesuatu yang lebih dari sekadar nasihat perkawinan.” Sandberg memasukkan kembali permennya ke saku.

Dave mengembuskan desah panjang. “Brengsek, Dok, aku…” Suaranya mengeras ketika ia melihat apa yang dilakukan si dokter. “Keluarkan tanganmu dari saku rompi itu, Dok.”

“Waistcoat.”

“Benar. Ada apa di dalam sana? Apa lagi yang kausimpan di situ selain sebungkus permen Ceris?”

Dr. Sandberg tersenyum sedih. “Semprotan kecil Mace. Mereka memberikannya pada kami semua. Maksudnya, David, cuma sekadar membuatmu tak berdaya. Aku janji hanya itulah maksudnya.”

“Dok, kau dan aku—kita bersahabat, kan?”

186

“Aku sungguh berharap demikian.”

“Bagus, sebab apa yang akan kulakukan terhadapmu didasari atas persahabatan

Sandberg mencoba mundur. Ia tidak bisa melakukannya. Tanpa disadarinya, Dave sudah mendesaknya hingga punggungnya menempel ke dinding.

4.

Tata ruang kantor direktur mengungkapkan lebih banyak mengenai perusahaan itu daripada laporan tahunannya. Sebagai contoh, seperti diketahui oleh semua analis pasar saham, bijaksanalah kiranya mewaspadai perusahaan yang presiden direkturnya menghias kantor pribadinya dengan model-model pesawat jet—terutama pesawat Gulfstream, Learjet, dan pesawat pribadi lain berharga tinggi. Tak pelak lagi kehadiran model miniatur semacam itu berarti bahwa perusahaan itu memiliki armada jet yang sangat mahal, kemewahan yang dibeli atas beban pemegang saham sebab sang bos percaya bahwa tidaklah sesuai dengan martabatnya bila bepergian dengan menumpang United, American, atau Delta, seperti orang biasa.

Dengan pertimbangan sama, investor yang berpengalaman boleh mencurigai pimpinan perusahaan yang memberikan kontrak dekorasi ruangan-ruangannya kepada “perusahaan arsitek interior” yang dikelola oleh istrinya (istri kedua, yang lebih muda, yang berambut pirang). Hasilnya biasanya antara lain berupa kain-kain pelapis mewah tapi dengan perabot yang secara geometris ganjil, hiasan-hiasan keramik dengan warna-warna primer oleh seniman rakyat

187pemilik Mercedes, dan litograf seperti gaya lukisan Jim Dine, Frank Stella, Sean Scully, atau Bruce Nauman, tapi harganya lebih mahal daripada karya ash para empu modern itu.

Di ujung seberang spektrum itu—lebih jarang ditemukan di New York City daripada di lingkungan high tech Silicon Valley California dan Route 128 Massachusetts—adalah para direktur yang kantornya memamerkan sikap egaliter: meja kerja logam, kursi berlapis vinil, lantai tanpa karpet, tak ada hiasan apa pun pada dinding kecuali whiteboard, dan mungkin beberapa diagram. Orang-orang dalam tahu bahwa bijaksana juga mewaspadai direktur macam ini. Pada hakikatnya, presiden direktur suatu perusahaan merupakan kekuasaan pengambil keputusan utama dari perusahaan tersebut. Namun sejumlah CEO atau presdir merasa bahwa tanggung jawab seperti itu meresahkan. Untuk menghindarinya, mereka mengelilingi diri dengan hiasan-hiasan bergaya rakyat jelata, bersembunyi di balik kedok pimpinan perusahaan yang demokratis. Tata ruang sederhana adalah tanda pertama dan paling nyata dari eksekutif yang terlalu takut mengambil keputusan.

Kantor Bernie tidak memperlihatkan apa pun seperti itu. Seperti orang yang menempatinya, kantor itu teduh dan mewakili nilai-nilai tradisional. Hanya sedikit lebih besar daripada kantor eksekutif lain di Senterex, ruang kerja Bernie menempati sudut timur laut lantai 45. Jendela-jendelanya terbuka menghadap panorama yang mencakup Central Park di utara (pada siang hari yang cerah ia bisa melihat ke seberang Hudson hingga Westchester County dan lebih jauh

188

lagi), dan gedung PBB di timur, East River, Queens, Long Island, dan kemilau Samudra Atlantik di kejauhan. Meja kerja Bernie terbuat dari kayu mahoni berwarna gelap yang diukir gaya klasik dengan penuh curahan hati; kursi bersandaran tinggi dengan jok Jculit itu dibeli dari tukang-tukang yang membuat perabotan Mahkamah Agung Amerika Serikat; sofa-sofanya berasal dari satu sumber, empuk dan nyaman. Hanya ada sedikit barang-barang kecil, suvenir, ini-itu: satu set pen Mont Blanc pada tempat dari batu granit, sipoa antik hadiah dari mitra joint venture-nya di Cina, foto istri dan anak-anaknya yang berbingkai perak, serta penindih kertas dari kristal yang dipotong berbentuk heksahedron sebagai kenangan atas salah satu kegiatan amalnya, dan sebutir peluru besar ukuran 14,5^milimeter untuk senapan antitank PTRD Soviet yang jelek. Peluru dengan panjang 17,5 senti dan garis tengah 2,5 senti itu dipahat dengan nama Bernie dan pesan, “Kompi B, Batalion Ke-3: Inchon ke Sasaran dan kembali, 1950—1952. Semper Fidelis.”

Untuk seni Bernie menggantung beberapa lukisan karya keluarga Wyeth—N.C. sampai Andrew—dan semuanya dibayar dari saku Bernie sendiri, bukan dari kantong Senterex. Dave menduga kehadiran karya seni itu karena selera Bernie yang luas serta fakta bahwa salah satu anggota Direksi Senterex, Scott Thatcher, adalah kolektor seni dengan reputasi besar dan sangat gemar dengan Brandywine school.

Dekor kantor Bernie hanya memperlihatkan dua keeksentrikan: buku-buku dan mesin kopinya. Buku-buku itu sudah berusia satu dekade dan merupakan

189setengah dari kumpulan aliran yang dianggap Dave sebagai “penyembuhan kepercayaan eksekutif—segala jenis mulai dari In Search of Excellence sampai Reengineering the Corporation. Presiden direktur Senterex tidak bisa melewatkan satu buku yang menjanjikan akan mengungkapkan rahasia-rahasia untuk meningkatkan efektivitas manajerial. Ia membeli semuanya, membaca semuanya, percaya pada semuanya—setidaknya sampai muncul-yang baru.

Dengan satu jari Dave menyusuri kulit sampul buku-buku itu dan tersenyum mengingat kenangan yang ditimbulkannya.

Kemudian ada mesin kopi Bernie. Itu pun membuat Dave tersenyum. Suatu saat, mungkin karena pengaruh salah satu guru motivasi yang berpangkalan di California, Bernie memutuskan bahwa sekretaris eksekutif Senterex tidak seharusnya ditugaskan membuat kopi. Tamu-tamu ke suite eksekutif itu tidak lagi disapa dengan sopan oleh sekretaris anggun yang menawari kopi, teh, atau cokelat. Melainkan menjadi tanggung jawab masing-masing eksekutif untuk memiliki mesin kopi, teh celup, dan termos cokelat panas sendiri.

Tak seorang pun bisa memahami mengapa Bernie menganggap penting bahwa para eksekutif berbayaran enam angka harus menghamburkan waktu untuk merepotkan diri dengan poci, penyaring, dan gilingan, tetapi ia tetap bergeming. Dapur kecil di lantai 45 diubah menjadi ruang fotokopi, dan seluruh kantor eksekutif diberi mesin kopi Toshiba.

Hasilnya adalah bencana: noda pada karpet, bubuk kopi bertaburan pada dokumen-dokumen penting, dan lemari-lemari arsip yang mahal kehilangan pelitur—

190

nya—belum lagi tamu-tamu yang jengah, tercekik minuman yang disajikan kepada mereka, diam-diam mengeringkan cangkir mereka ke pot tanaman.

Sesudah sebulan bencana yang makin menghebat, staf sekretaris berontak. Mereka mulai datang lebih pagi, menyelinap ke dalam kantor bos mereka, dan membuat kopi sendiri. Tak lama kemudian perdamaian pulih di lantai 45, dan semua orang, mulai dari Bernie ke bawah, tampaknya mendapatkan yang mereka inginkan.

Bernie, yang pelupa dalam urusan-urusan seperti itu dan lebih tergantung pada sekretarisnya daripada yang mau diakuinya, rupanya kembali meninggalkan mesin pembuat kopinya menyala. Dave menekan tombol off. “Terima kasih, Bernie,” gumamnya.

Poci itu separo penuh dengan campuran pribadi Bernie, sumber kecemburuan semua orang di lantai itu. Dave menuang secangkir, meneguk, dan tersenyum. Bernie bersikeras bahwa San Francisco satu-satunya kota besar di Amerika tempat semua kantor membanggakan diri karena menawarkan kopi dengan rasa paling sedap kepada para tamu. Karena itu, ia memesan campuran kopi istimewa—arabika, Kona, dan sesuatu lainnya—untuk diterbangkkan dari San Francisco ke Senterex tiap bulan. Tetapi ia tak mau mengungkapkan nama pemasok tempat ia membelinya, atau menyediakan biji kopi itu untuk eksekutif Senterex yang lain. “Aku ingin,” Bernie tersenyum dibuat-buat, “orang ingat bahwa kopi tersedap di New York disajikan oleh Bernie Levy. Dengan demikian, mungkin mereka akan kembali untuk minum kopi lagi dan kita

191bisa berbisnis. Kalau kaii mau berbuat sama, pergilah cari kopimu sendiri.”

Bernie. Dia punya sudut pemikiran sendiri pada segala hal. Deal maker terbesar.

Dave menikmati kopi itu. Benar-benar sempurna. Dalam hati ia bertanya-tanya apakah ia bisa menemukan nama pemasoknya dalam berkas-berkas Bernie.

Penentuan prioritasmu keliru, Sobat. Kalau mau memeriksa berkas-berkas Bernie, kau seharusnya mencari sesuatu yang lain.

Dave meletakkan cangkir kopinya dengan hati-hati di atas alas kuningan. Ia memutar kursi sehingga menghadap lemari arsip Bernie, dan mengungkitnya hingga terbuka.

Laci paling atas berisi berkas-berkas pribadi dan rahasia dari pimpinan Senterex—dua deret map Pen-daflex Esselte kuning kehijauan, masing-masing mencantumkan label yang mengidentifikasi isinya. Label kuning untuk notulen rapat Direksi. Label hijau menandai lembaga-lembaga amal yang terdekat di hati Bernie: Bala Keselamatan, Children’s Hospital, United Jewish Appeal, Lighthouse for the Blind, ASPCA. Label putih pada delapan map mencantumkan nama masing-masing divisi operasi Senterex. Satu label biru bertuliskan “Lockyear Laboratories”. Label oranye untuk rencana dan prakiraan bisnis. Ungu untuk analisis penanaman modal bagi sasaran akuisisi yang potensial. Selusin map dengan label merah mencantumkan nama masing-masing eksekutif paling senior di Senterex.

Dave mengambil map yang mencantumkan namanya.

192

Berkas itu sungguh tipis. Isinya dimulai dengan fotokopi dari surat lamaran aslinya ke Senterex. Foto yang tertempel dengan stapler memperlihatkan laki-laki muda penuh semangat dengan potongan rambut dua dolar. Lamaran itu diikuti dengan sejumlah memo untuk dan dari Bagian Personalia sebelum namanya diganti dengan “Sumber Daya Manusia”. Isinya berkaitan dengan promosi, kenaikan gaji, dan pergantian tugas. Ada beberapa formulir asuransi, satu-dua penilaian dari orang-orang yang pernah membimbingnya waktu permulaan ia bekerja di Senterex, serta kopi dari berbagai perjanjian dan komitmen yang ditandatanganinya saat ia menaiki tangga jabatan di perusahaan itu. Hampir di akhir berkas itu ia menemukan sejumlah korespondensi antara pengacara Senterex dan Komisi Saham dan Surat Berharga. Segera setelah Dave diangkat menjadi eksekutif dalam perusahaan, transaksi saham apa pun yang dilakukannya akan bersangkutan dengan lembaga itu.

Helaian kertas terakhir dalam map itu adalah sepucuk surat dengan kop FBI.

Perut Dave berjungkir balik.

“Mr. Levy yang terhormat,” demikian bunyinya. “Mengenai Mr. David P. Elliot, orang yang sudah Anda kenal dan bekerja pada perusahaan Anda, dengan surat ini kami memberitahukan bahwa kami ditugaskan untuk melakukan penyelidikan latar belakang terhadap orang tersebut di atas, penyelidikan tersebut dianggap perlu dan memadai menurut peraturan-peraturan dalam Undang-Undang Kontraktor dan Pemasok Hankam tahun 1953, seperti pada amandemen, dan menyinggung pemberian security clearance

1$bagi para eksekutif dan direktur yang terlibat dalam operasi bisnis rahasia, terbatas, tertutup, dan/atau masalah keamanan lainnya. Pemohon pemeriksaan tersebut memerintahkan yang bertanda tangan di bawah ini untuk mengadakan koordinasi dengan Anda membahas perinciannya secepat mungkin. Terima kasih atas kerja sama Anda dalam hal ini.” Uh-oh.

Undang-Undang Kontraktor dan Pemasok Hankam? Tapi Senterex tidak pernah bekerja untuk Hankam. Bahkan, sebenarnya ia sama sekali tidak pernah mengerjakan proyek pemerintah. Atau mungkinkah?

Dave membaca surat itu dua kali. Tidak banyak isinya.

Bagaimana dengan tanggalnya?

Tiga hari yang lalu. Surat itu bertanggal tiga hari yang lalu. Nah, apa arti semua itu? Dan mengapa— mengapa, mengapa, mengapa—sesudah bertahun-tahun ini ada orang mencoba memperbarui security clearance yang sudah dibatalkan pada hari ia dibebastugaskan dari Angkatan Bersenjata?

Lebih parah lagi…

Lebih parah lagi, kecuali surat itu palsu, Dave adalah sasaran pemeriksaan pemerintah federal. Dan Ransome memberitahu semua orang bahwa ia agen pemerintah federal.

Seandainya saja Dr. Sandberg benar: Ransome benar-benar agen FBI!

Tidak masuk akal. Pemerintah tidak memberikan kontrak untuk membunuh warga sipil yang tak berdosa. Pemerintah tidak akan mengirim kelompok pembunuh

194

bayaran yang hebat untuk menghabisi businessman berusia 47 tahun. Itu cerita untuk film, fiksi murahan, teori konspirasi. Oliver Stone, Geraldo Rivera, Rush Limbaugh.

Sudah pernah ada dugaan tanpa bukti—Lee Harvey Oswald, Jack Ruby, Bill Casey, Martha Mitchell…

Hanya orang-orang sinting yang mengemukakan pernyataan seperti itu, bahkan seandainya dugaan tentang teori konspirasi itu benar, orang-orang yang tewas itu dibunuh karena suatu alasan. Mereka tahu sesuatu. Mereka terlibat dalam sesuatu. Mereka memiliki rahasia.

Apa yang telah kausaksikan, apa yang telah kaudengar, apa yang kauketahui?

Tidak ada apa-apa. Dave tidak punya rahasia— tidak tahu rahasia negara. Tidak ada…

Mahkamah Militer itu rahasia. Mereka merahasiakan catatannya. Mereka mendesakmu menandatangani janji untuk tidak pernah mengungkapkan apa yang terjadi.

Tidak, tidak, tidak. Itu sudah terlalu lama. Di samping itu, Dave bukanlah satu-satunya yang tahu. Masih ada beberapa saksi lain. Dan semua orang, semua orang, yang terlibat dalam sidang-sidang itu tahu—anggota dewan, jaksa penuntut, pembela, notulis. Rasanya gila sekadar memikirkan bahwa…

Gila.

Sekali lagi ia melihat surat FBI itu. Apakah ini asli? Apakah palsu? Apakah ada cara untuk mencari tahu mengapa surat ini dikirimkan?

Ia mengangkat telepon Bernie dan menekan nomor yang tercetak di bawah nama orang yang menanda—

195tangani surat tersebut. Telepon itu dijawab pada deringan pertama. “Anda telah menelepon Federal Bureau of Investigation. New York City. Jam kantor kami pukul 08.30 pagi sampai 17.30. Bila Anda tahu nomor pesawat orang yang hendak Anda hubungi, harap tekan nomor itu sekarang. Bila tidak, harap tekan tombol bintang sekarang.”

Dave tidak menyukai sistem telepon robot terkutuk ini. Ia menekan tombol bintang. “Bila Anda hendak meninggalkan pesan untuk operator, harap tekan tombol pagar. Bila Anda hendak mengakses sistem voice mail, harap tekan tombol ‘0’ sekarang.”

Ia menekan “0”.

“Harap masukkan nama terakhir orang yang voice mail box-nya hendak Anda hubungi, pakailah tombol pada telepon Anda. Pakailah ‘0’ sebagai ganti huruf ‘Q’.”

Dave melihat tanda tangan pada surat itu. Ia memasukkan nama tersebut.

‘Tidak ada orang dengan nama yang baru saja Anda masukkan yang bisa dihubungi melalui sistem voice mail ini. Bila Anda salah memasukkan nama tersebut atau hendak mengulang lagi, harap tekan tombol bintang sekarang.”

Ia menutup telepon.

Mungkin orang yang mengirim surat ini tidak bekerja untuk FBI. Mungkin ada di sana, tapi namanya tidak dimasukkan ke database sistem telepon terkutuk itu. Mungkin, mungkin, mungkin. Dave tidak tahu. Ia tidak punya jawaban. Tak ada jawaban di mana pun.

Ataukah ada?

Ia perlu berpikir. Ada sesuatu yang ia lupakan

196

atau ia singkirkan dari pikirannya. Itulah kunci dari apa yang tengah terjadi. Tapi mula-mula…

Ia mempelajari berkas-berkas dalam lemari arsip Bernie. Personalia, Amal, Prakiraan, Rapat Direksi, Kandidat Akuisisi, Operasi Divisi. Salah satu di antara mereka mungkin menyimpan petunjuk. Ia meraih yang pertama dalam laci itu. Saat ia melakukannya, Bernie kembali ke dalam ruangan.

Bernie tidak masuk dari ruang sekretarisnya, tetapi dari pintu di barat. Pintu itu menghubungkan kantornya dengan ruang rapat direksi Senterex. Sambil berjalan mundur, ia berbicara dengan seseorang yang masih berada di ruang rapat. “…Bukankah kau mengetahuinya?”

Dave terlonjak, menahan napas, yakin jantungnya telah berhenti.

Bernie meneruskan, “Tunggu sebentar. Itu milikmu, kan, berkas surat di sana itu?” Ia melangkah kembali ke dalam ruang rapat.

Dave melesat dari kursi Bernie, tergopoh-gopoh ke dalam lemari. Lemari itu seperti yang ada di kantornya sendiri, model walk in yang luas. Bernie memakainya untuk menyimpan segala macam keperluan rapat— kuda-kuda besar, spidol, kaset, dan setengah lusin kuda-kuda untuk dipasang pada tripod. Direktur Senterex tidak bisa memimpin rapat kerja tanpa menulis pada papan tulis.

Dave merapat pada dinding yang jauh, menarik pintu lemari itu sampai hampir tertutup tapi tidak benar-benar tertutup.

Bernie masuk kembali ke kantor itu. “…seperti pisau menusuk jantungku, begitulah.”

197Suara lain menjawab, “ftau tak sendirian. Aku dan Olivia juga menyukai David.”

Dave kenal suara itu. Logat sengau New England yang khas itu milik Scott C. Thatcher, salah satu anggota Dewan Direksi Senterex, direktur perusahaannya sendiri, dan salah satu sahabat dekat Dave.

“Jadi semuanya ini akhirnya mungkin akan beres,” kata Bernie. “Si Ransome ini, dia bukan orang sembarangan.”

“Emmm.” Dave bisa membayangkan Thatcher. Ia tentu sedang mengelus kumisnya yang lebat model Mark Twain atau menyisirkan jari pada rambutnya yang putih, panjang, dan acak-acakan. “Bernard, mengenai Mr. Ransome, menurutku apakah kau tak berharap terlalu banyak?”

Keluar. Keluar sana sekarang juga. Thatcher akan mempercayaimu. Dialah satu-satunya di dunia ini yang akan mempercayaimu.

“Aku? Apa maksudmu?”

“Hari ini bukan pertama kalinya aku menemui orang itu. Aku tak melupakan wajah orang. Aku sudah pernah melihatnya sebelum ini, dan aku sudah pernah melihatnya di gedung ini.”

Sekarang. Lakukanlah sekarang. Thatcher akan berada di pihakmu.

“Uh…”

“Menurutku sekitar empat atau lima minggu lalu, di ruang rapat. Ia baru hendak berlalu ketika aku masuk. Bahkan aku ingat jelas aku menanyaimu tentang dia.”

Keluarlah saja dari lemari, Sobat. “Hai, Scotty! • Wah, senang sekali berjumpa denganmu!”

198

Ia tak dapat melakukannya. Itu akan menyeret Thatcher ke dalam persoalan. Membawa hidup Thatcher ke dalam bencana seperti hidupnya sendiri sekarang.

Tolol! Thatcher CEO perusahaan komputer terbesar nomor dua di dunia. Mereka memajang fotonya pada sampul majalah Forbes, Fortune, Business Week. Tak ada yang akan mengusiknya.

“Omong kosong. Mishegaas.”

“Sama sekali tidak. Dia memandangku dengan sikap yang sombong luar biasa. Aku berkomentar tentang hal itu padamu. Kaujawab dia eksekutif dari perusahaan yang rencananya akan kaubeli. Menilik sikap laki-laki itu, kupikir jawabanmu itu mustahil.”

Dave meletakkan tangan pada kenop pintu lemari.

Lakukan! Lakukan!

“Bukan aku. Tentu orang lain yang kauingat.”

“Bernard, meskipun sudah tua dan lemah dan jauh dari musim semi masa mudaku, aku belum lagi pikun. Laki-laki itu pernah ke sini,” dan kaulah tuan rumahnya.”

Dave memutar pegangan pintu perlahan-lahan, mendorong pintunya dengan lembut. “Bernie Levy tak bohong.”

“Kalimat keliru. Lebih tepatnya, orang akan berkata, ‘Bernard Levy jarang bohong sebab ia tahu dirinya canggung dalam melakukannya.’”

“Scotty, sahabatku…”

Melalui celah yang makin lebar Dave melihat Bernie merentangkan tangan mengungkapkan isyarat keterbukaan yang palsu.

“Kita sahabat, Bernard, dan sudah empat puluh

199tahun lebih kita bersahabat. Aku salah satu anggota dalam dewan direksimu, dan kau salah satu anggota dalam dewan direksiku. Di antara kita ada kepercayaan. Kalau benar dalam masalah David ini ada lebih banyak daripada yang mau kauungkapkan, aku harus menghormati hal itu—karena alasan-alasanmu itu pasti baik.”

Sekarang atau tak pernah lagi, Sobat.

Dave menekankan telapak tangannya pada pintu. Radio dalam sakunya berdesis bangun. Thatcher berkata, “Kalau perlu bantuan, kau bisa meneleponku kapan saja.” Dave mendorong. Bernie berkata, “Urusan ini lebih berat dari yang kauketahui.” Suara Ransome muncul di radio, memanggil, “Mr. Elliot? Apakah kau copyT Thatcher berkata, “Tapi ingatlah selalu bahwa David sahabatku juga.” Ransome berkata, “Aku punya wewenang untuk menawarkan pemecahan kompromi yang bisa diterima kedua belah pihak, Mr. Elliot.” Dave menarik tangannya dari pintu. Bernie berkata, “Dia seperti anakku sendiri.” Thatcher menjawab, “Kalau begitu, kuucapkan selamat malam. Olivia menungguku di rumah.” Ransome berkata, “Mr. Elliot, aku sungguh berterima kasih bila kau menjawab.” Bernie berkata, “Selamat malam.” Suara Dave berkata, “Lupakan, konyol. Sekarang kau tentu sudah memasang alat pelacak dan triangulation di seluruh gedung, kan, Ransome? Jadi suruh mereka mencariku. Suruh mereka menemukan di lantai berapa aku sekarang. Coba terka, Sobat. Aku tak ada di lantai berapa pun. Aku di luar, dan aku takkan kembali. Hei, Ransome, kau boleh lari dan lari secepat mungkin, tapi kau tak bisa menang-200

kapku!” Suara Ransome sedatar dan sedingin es. “Mr. Elliot, ini benar-benar perilaku kekanak-kanakan yang tak dapat diterima.” Bernie berbicara dari dekat pintu, “Kau akan hadir dalam rapat komite audit minggu depan?” Suara kedua, suara Partridge, muncul di radio. “Benar yang dikatakannya. Dia ada di Upper West Side.” Thatcher, kini sudah di luar kantor Bernie, menjawab, “Maaf. Aku harus berada di Singapura. Ada yang harus dibicarakan dengan pemasok terbesar kita.”

Di suatu tempat di Manhattan, Marge Cohen mematikan tape recorder.

Partridge berbisik, “Dia Jiilang. Mampuslah kita.”

Dave berdiri tak bergerak, memikirkan komentar terakhir itu dalam benaknya.

5.

Ia melangkah keluar dari lemari, pistolnya tergenggam ringan sejajar pinggang. “Kalau kau bergerak, Bernie, aku akan menembakmu.” Ia berusaha agar terdengar sungguh-sungguh.

Bernie sedang duduk di balik meja kerjanya, membalik-balik dokumen. Ia mengangkat muka dengan ekspresi letih. “Halo, Davy. Senang berjumpa denganmu.” Ia terdengar seperti laki-laki yang sudah berusia sejuta tahun.

“Bernie, aku ingin tanganmu tetap di atas meja. Aku tak ingiti kau mencabut pistol lain…”

“Tak ada pistol lagi.” Bernie melontarkan senyum samar.

“…atau sebotol Mace.”

201Bernie mengangguk. “Kau tahu tentang itu?”

“Aku tahu.” Dave berjalan lebih dekat. “Aku juga tahu tentang beberapa hal lain. Tapi aku ingin tahu lebih banyak.”

Wajah Bernie adalah model kesedihan. Ia memutar tangan hingga telapaknya menghadap ke meja. Ketika ia berbicara Dave merasakan kata-katanya lebih ditujukan untuk diri sendiri daripada untuk orang lain. “Ya. Begitulah. Kau menghabiskan seluruh hidupmu mencoba jadi mensch sejati, manusia utama. Bekerja keras, bermain jujur, mengatakan kebenaran, mengerjakan hal yang benar, jadi patriot. Ketika semua itu selesai, tahukah kau apa selanjutnya? Akan kukatakan apa. Bagi mereka kau tetaplah bukan apa-apa selain Yahudi kecil busuk. Hai, Yahudi, kerjakan ini. Hai, Yahudi, kerjakan itu. Terima kasih, kau warga Amerika yang baik. Sebagai orang Yahudi, cukuplah.”

Ia menggeleng perlahan, sedih, beban seluruh dunia terpikul di pundaknya. “Mereka memberiku Bintang Perak. Aku. Bernie Levy. Kau tahu itu, Davy?”

Dave menjawab dengan segenap kelembutan yang bisa ia kerahkan, ‘Tidak, Bernie, aku tak tahu.”

“Scotty, dia juga mendapatkannya. Aku, juga mendapatkannya. Hal paling menyebalkan yang pernah kaulihat. Dua prajurit gila, benar-benar sinting, Letnan Thatcher dan Kopral Levy. Menyerang tank Korea Utara, itulah yang kami lakukan. Dia dengan senapan .45 dan granat tangan, aku dengan senapan M-l. Sungguh sinting. Seharusnya kami sudah mati. Tapi sebaliknya kami berdua mendapatkan Bintang Perak. MacArthur, dialah yang menyematkannya. Oh, kau seharusnya menyaksikannya, Dave, seharusnya me-202

nyaksikannya. Scotty tergeletak di ranjang dengan satu kaki terangkat. Bernie Levy berdiri di sampingnya. Laki-laki tua itu masuk. Ada fotografer dari majalah Life memotret. Itu benar-benar peristiwa besar, Davy, mungkin saat terindah yang pernah kualami. Dan MacArthur mulai menyematkan medali, dan tahukah kau? Scotty, dia cuma letnan rendahan, Scotty mulai mengutuki sang jenderal. Sang jenderal! Bisakah kau mempercayainya? Luar biasa. Itu mukjizat. Tak seorang pun pernah menyaksikan hal seperti itu. Aku—aku tertegun. Apakah dia, Scotty maksudku, pernah menceritakan hal itu padamu?” Dave menggeleng.

“Tercengang. Bernie Levy tercengang. Ayah Scotty adalah dokter dalam staf MacArthur. Maksudku, di Jepang tak lama sesudah perang usai. Dia dan orang Rusia ini dan seorang OSS sedang memeriksa penjahat-penjahat perang. Lalu mereka menemukan sesuatu dan mereka menyampaikannya pada Jenderal dan sang jenderal memerintahkan tutup itu rapat-rapat. Tapi mereka menolak, maka sang jenderal memecat semuanya dan mencari dokter baru untuknya. Maka—kau harus membayangkan ini—maka lima atau enam tahun kemudian, seorang letnan yang sedang terbaring di ranjang dengan jenderal paling penting di dunia—di dunia!—yang sedang menyematkan Bintang Perak pada piamanya, dan ada fotografer memotret, dan sekonyong-konyong sang letnan memarahi sang jenderal karena memecat ayahnya. Oh, Davy, kau seharusnya ikut menyaksikannya. Sungguh chutzpahl Bernie Levy tak pernah menyaksikan yang seperti ini!”

Dave tersenyum lebar. “Itu cerita bagus, Bernie.”

203Seulas senyum kecil terlintas pada bibir Bernie. “Aku tahu,” katanya, sambil memandang lurus ke mata Dave dan mengangguk. Tiba-tiba senyum itu lenyap. Bernie kembali tampak letih. “Oke, oke. Jadi kau mau bicara, Dave, kita akan bicara. Mungkin aku akan mengatakan sesuatu padamu, mungkin tidak. Seorang laki-laki masih tetap memiliki kehormatan. Itu tak dapat mereka rampas dariku. Jadi duduklah, yang nyaman.”

“Aku akan berdiri.”

“Duduk, berdiri, apa bedanya?” Dengan tangan gemuknya Bernie menggenggam secangkir kopi, mengangkatnya ke bibir, dan menghirup seteguk. “Kau mau aku menuangkan secangkir kopi untukmu, Davy?”

“Yang kauminum tadi kopiku, Bernie.”

Paras Bernie berubah. “Kopimu?”

“Ya. Aku menuangnya ketika melihat-lihat berkas arsipmu.” -

“Kau minum kopiku?” Bernie tiba-tiba bersandar di kursinya. Ekspresi letih pada wajahnya digantikan dengan senyum ironis. Senyum itu melebar. Bernie tertawa. “Sungguh luar biasa. Kau minum kopiku. Sekarang, aku minum kopimu. Bukankah itu luar biasa? Davy, ini begitu luar biasa, kau tak tahu.”

Ia tertawa lebih keras, gelaknya jadi terbahak-bahak.

Dave mengernyit. “Aku tak menangkap leluconnya.”

“Leluconnya? Ini lelucon yang luar biasa, Davy! Luar biasa! Dan yang paling bagus dari semuanya, lelucon itu tertuju pada Bernie Levy!” Masih terguncang-guncang tawa, Bernie bangkit berdiri dan, dengan cangkir kopi di tangan, berjalan melintasi kantor itu.

204

Di samping jendela utara ada meja kerja bundar dan empat kursi bersandaran tegak. Bernie meletakkan tangannya pada sandaran salah satu kursi itu, mencengkeramnya dengan erat, dan berpaling pada Dave. “Ini lelucon paling hebat di dunia!”

Tiba-tiba, dengan kekuatan yang mencengangkan, Bernie mengangkat kursi itu dan melemparkannya ke jendela. Kaca pecah berantakan ke luar, berpusar-pusar dalam udara malam, dilecut angin dan sesaat tampak seperti badai permata, badai es, cahaya putih terpantul dan terurai dan berkeredapan di antara kepingan-kepingan intan. Embusan angin bercampur serpihan kaca menerjang kembali ke dalam kantor. Satu kepingan menggoreskan garis lurus merah pada pipi kiri Bernie. Dave maju selangkah dengan ragu-ragu. Bernie mengangkat sebelah tangannya, seolah mengatakan padanya agar jangan mendekat. Semua kesedihan dalam wajahnya sudah lenyap, dan ia kelihatan gembira seperti anak kecil. “Bernie Levy hanya bisa menyalahkan Bernie Levy. Berbalik adalah permainan yang adil. Ini lelucon bagus, Davy, terbagus di antara semuanya. Coba kukatakan padamu, hanya Tuhan sendirilah yang bisa menciptakan lelucon seperti ini.”

Bernie menghirup satu tegukan terakhir dari kopi itu, dan, sambil masih memegangi cangkirnya, ia melangkah ke udara kosong.

6.

Butuh waktu enam detik bagi sebuah*’ objek untuk jatuh sejauh tiga ratus meter. Dave punya cukup banyak waktu untuk mencapai jendela dan menyaksi—

205kan Bernie Levy tewas. Di Vietnam ia sudah tentu menyaksikan cukup banyak kematian. Ia butuh waktu lebih panjang daripada kebanyakan orang untuk jadi keras terhadap hal itu, tetapi begitu ia jadi keras, tetap keraslah ia. Namun, menyaksikan akhir riwayat Bernie, bahkan dari ketinggian, tetaplah mengerikan. Sangat mengerikan.

Bernie malang yang tambun itu meledak.

Tangan dan kaki tanpa tubuh, kepingan-kepingan daging merah, organ tubuh kelabu meledak ke jalan. Darah, yang tampak hitam di bawah kilauan lampu jalan, mengalir jadi sungai-sungai kecil. Sebuah mobil yang sedang melaju pesat ke timur di Fiftieth Street menikung naik ke trotoar, memercikkan bunga api ketika miring menyerempet gedung, dan terguling ke samping sambil mengepulkan asap. Seorang wanita yang tersiram darah langsung pingsan. Teman laki-lakinya berlutut muntah-muntah di tempat perempuan itu tergeletak. Orang-orang yang lebih jauh menjerit. Sepotong dari Bernie Levy sebesar bola sepak menggelinding ke persimpangan Park Avenue, mengakibatkan rem mendecit dan spatbor penyok. Seekor anjing menarik lepas tali kekang dari genggaman kendur tuannya dan berlari penuh semangat menuju bau memikat dari kotoran segar.

Empat puluh lima tingkat dari tanah, David Elliot mencondongkan badan ke luar melalui jendela yang pecah, memalingkan muka, merasakan angin dingin dan tajam, dan bersyukur bahwa udaranya begitu segar. Bicara ke angkasa, ia berbisik, “Ya Tuhan, Bernie, mengapa kaulakukan ini? Tuhan, tak mungkin masalahnya seburuk itu. Apa pun persoalannya, aku

206

tentu akan memaafkanmu. Kita seharusnya bisa mencari penyelesaiannya. Kau tak perlu…” Suara berisik.

Bukan hanya di jalan di bawah, tetapi juga di koridor-koridor di luar kantor Bernie. Kaki berlarian di karpet. Bunyi logam beradu dari senapan memasukkan sebutir peluru ke pangkal laras. Sebuah suara tenang berlogat Appalachian: “Hati-hati di atas sana.”

Astaga! Ternyata selama ini selalu berada di lantai ini!

Dave mundur dari jendela, dan bergegas menyeberangi kantor itu, melemparkan diri ke dalam lemari, meringkuk ngeri dalam kegelapan. Pintu ke kantor Bernie membuka. Dave mendengar bunyi berdebam dan langkah diseret. Mata pikirannya membayangkan pjemandangan itu—taktik penyergapan baku: satu orang bertiarap di ambang pintu, jari yang menempel pada picu menegang; satu lagi berlutut, membidikkan senapan otomatis membentuk lengkungan lebar saat mencari sasaran; orang ketiga merunduk di belakang dan di atasnya, melakukan tindakan sama.

“Bersih?” Ransome berbicara dari luar kantor.

“Bersih. Tapi kita ada masalah.”

“Apa?”

“Yahudi itu bunuh diri. Terjun.”

Raungan sirene dari jalan meredam separo bagian pertama jawaban Ransome. Yang Dave dengar hanyalah, “…seharusnya sudah tahu dia takkan bisa menanggung beban itu.”

“Kita punya beberapa memt sebelum polisi setempat tiba.” Ransome ada di dalam kantor sekarang, memegang kendali, memberikan perintah-perintah dengan

207suara lembut tenang. “Wren, bawa tiga orang dan pindahkan peralatan kita ke pangkalan. Pakai tangga.”

Pangkalan? Apakah mereka sudah mendirikan pangkalan operasi di lantai lain?

“Bluejay, telepon—pakailah alat pengacak—katakan pada bagian patologi bahwa aku butuh sampel darah subjek. Secepatnya. Perintahkan mereka membawanya dengan ambulans dan antarkan ke sini.”

Sampel darah? Dari mana gerangan mereka mendapatkan sampel darah? Sudah berbulan-bulan darahmu tak pernah diambil, tidak sejak Dr. Sandberg… uh-oh. Oh ya, sampel darahmu pernah…

“Sir?”

“Pelacakan sidik DNA, Bluejay. Aku akan memercikkan sedikit darah subjek pada kaca pecah itu.” “Mengerti, Sir. Bagus sekali.” m

“Kerjakan.” “Siap, Sir.”

Satu suara lain, lebih lemah, lebih tua. “Aku tak mengerti, Komandan.”

“Aku dan Bluejay akan tiba di sini beberapa menit sesudah polisi datang. Kita berikan kesan bahwa ini bukan sekadar bunuh diri biasa. Siapa tersangka utamanya akan disiratkan juga. Bagian forensik akan menemukan dua golongan darah di tempat kejadian. Bingo, ini pembunuhan. Dan ketika mereka mengautopsi subjek, semuanya akan cocok.”



0 Response to "VERTICAL RUN"

Post a Comment

Translate

English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified