Download applikasi baca novel online untuk android disini: DOWNLOAD

VERTICAL RUN

sana. Mullins mengangkat kepala perempuan itu dengan mencengkeram rambutnya dan memperlihatkannya ke seluruh desa. Ia melolong seperti serigala, dan matanya gila tak tertembus. “Katakan pada mereka,” teriaknya pada penerjemah, “katakan pada mereka inilah yang akan terjadi bila bekerja sama dengan musuh! Katakan pada mereka inilah yang akan mereka terima! Katakan kalian tidak sembarangan dengan Amerika dan tidak sembarangan dengan Angkatan Bersenjata AS, dan terutama tidak main-main dengan Sersan Satu Michael J. Mullins.”

Si penerjemah menyemburkan kata-kata dalam bahasa Prancis, Mullins menyalak, “Bawa satu lagi ke sini.”

Mereka merangkul pinggang perempuan itu. Ia menjerit dan menendang-nendang. Ia berhasil lepas dari pegangan mereka dan kembali ke dalam kerumunan orang banyak. Karena alasan-alasan yang tak dapat dipahami Dave, perempuan itu berlari ke arahnya, berlutut, dan merangkul kan tangan pada lututnya. Air matanya kemilau jernih dan besar. Meskipun Dave bisa sedikit berbahasa Prancis, ia tidak mengerti ucapan perempuan itu.

Mereka datang untuk mengambilnya. Dave pucat pasi karena marah. Ia menggeram, “Mullins, kau akan digantung! Kaudengar aku? Aku akan menyaksikanmu digantung karena ini!”

Mullins memandangnya, hanya sekadar ingin tahu, atau demikianlah tampaknya. Tatapannya tegas; suaranya dingin, tenang, dan tanpa beban, dan karena itu jauh lebih mengerikan daripada jeritan gilanya. “Melaporkanku? Menuduhku? Kau akan melakukan—

359nya, kan, mahasiswa?” Ia memberikan perintah kepada anak buahnya, “Bawa piaraan si kolonel ke sini.”

Salah satu di antara mereka memilin lengan kiri Dave yang terluka ke punggung. Ia menjerit dan hampir pingsan. Mullins menyebutnya pengecut.

Mereka mendorongnya hingga telungkup. Mullins berlutut di sampingnya, menggulingkannya, dan menyekakan bilah pisaunya pada baju seragam Dave. Pisau itu meninggalkan noda seperti karat. Suara Mamba Jack Kreuter berdentum, “Jangan bergerak! Jangan bergerak dan hentikan itu, prajurit!”

Mullins berdiri. Anak buahnya berdiri ke samping. Dave mendorong badannya untuk berlutut.

Jack berdiri di sana. Sekitar dua puluh orang ada di belakangnya. Mereka semua mengangkat senapan. Jack memegang senapannya pada pahanya. Matanya lebar. Ia memandangi penduduk desa yang berdiri di samping tanggul, para prajurit di antara mereka yang masih mengangkat tangan, mayat-mayat tanpa kepala itu, tonggak-tonggak itu, dan kepala-kepala yang tertancap di atasnya. “Oh, Tuhan,” bisiknya. “Perbuatan menjijikkan apa ini?”

Dave memperhatikan aksen bicaranya sudah hilang. Ia tidak lagi terdengar seperti orang kampung dari Texas Timur.

“Mullins, oh, Mullins, kau iblis…” Suara Kreuter memudar diam.

jVlullins hanya memandangnya. Matanya kekanak-kanakan tak menunjukkan rasa bersalah.

Jack melihat korban pembantaian itu, dan menggeleng. Ia bersuara parau, “Mengapa, man, mengapa?”

Mullins menyeringai angkuh. “Aku perlu menegaskan.”

360

Salah satu anak buahnya menirukan, “Ya Penegasan. Tak ada dewan di dunia yang akan menyalahkan kami.”

Cahaya dan kehidupan lenyap dari mata Jack Kreuter. Ia membidikkan senapannya pada laki-laki yang baru saja bicara, dan menembak. Senjata itu disetel” dalam keadaan full automatic; pelurunya membelah sasaran jadi dua. Seorang prajurit di sampingnya mencondongkan badan ke depan dan bertanya, “Sir?”

Kreuter mengangguk. Prajurit itu menembak laki-laki yang berdiri paling dekat dengan Mullins. Ia berjalan menghampiri mayat itu dan mengosongkan satu magasin ke wajahnya.

Seorang lagi anak buah Kreuter menembak. Dan yang lain lagi.

Ada enam orang yang membantu Mullins melakukan kekejiannya. Kreuter sudah membunuh satu. Sisanya dibunuh oleh lima prajurit yang menyertai Kruter. Semuanya berakhir dalam beberapa detik.

Mullins masih hidup, menyunggingkan senyum mencemooh. Dadanya dibusungkan, dan ia berdiri siaga.

Kreuter menjatuhkan senapannya. Dicabutnya pistol otomatis .45 dari sarung. Ia mengambil tiga langkah cepat ke depan. Mullins meludahinya. Kreuter menjepit dagunya dengan pistol, dan menempelkan moncongnya pada pelipis kanan Mullins.

Dave berdiri. “Jack!” serunya.

Kreuter mengalihkan matanya, yang dingin dan kosong mengerikan, ke arah Dave. “Apa?” itu saja yang dikatakannya.

361Dave tak sanggup membalas tatapannya. Ia tidak bisa memandang lurus ke mata Jack. Ia menggumam, “Tak apa-apa.”

Sersan Michael J. Mullins, asal Hamilton, Tennessee, menggeram, “Banci keparat.”

Jack mengalihkan pandangan dari Dave, kembali menatap Mullins. Sebagian besar wajah Mullins lenyap.

Di kejauhan Dave mendengar deru rotor helikopter. Pertolongan udara itu datang agak terlalu awal. Namun juga agak terlambat.

Terkatung-katung lumpuh di atas Fiftieth Street, Dave membayangkan kembali hari itu, sekali lagi menantang fakta bahwa ia sendiri seharusnya membunuh mereka—Mullins dan mereka semua. Memang itu kecelakaan, peristiwa kebetulan, sehingga ia tidak bisa melakukannya. Seandainya lengannya tidak lumpuh terluka, seandainya bisa mengokang pistol .45 itu, ia tentu akan melakukannya. Ia ingin melakukannya. Ia tentu menyukainya dan tak menyesal. Atau benarkah?

Eris, sang dewi peluang, kekacauan, dan nasib, menganggap Dave layak menerima kesempatan kedua untuk membuktikannya.

362

BAB 10

ESKATOLOGI

Kepala-kepala itu, semuanya kecuali satu, diambil dari tempat penyimpanan mayat. Beberapa di antaranya kelihatannya nyaris segar, yang lain kurang begitu. Sudah tentu mereka semua perempuan. Sudah dari dulu itulah yang dipakai Michael J. Mullins— orang-orang seperti Ransome dan Mullins selalu memakai perempuan bila mereka merasa perlu “menegaskan”.

Beberapa masih muda, salah satu tak lebih hanya remaja. Lainnya lebih tua, meski tak satu pun setua istri kepala desa itu dulu. Kebanyakan berusia setengah baya. Mereka seharusnya punya waktu lebih panjang lagi.

Bagaimana cara mereka mati? David tidak tahu. Tidak pula berniat mengarang cerita-cerita kecil tentang mereka. Mereka semuanya sudah mati dan masuk ke rumah mayat.

363Semuanya kecuali Marge Cohen, dengan kulitnya yang kelabu, memar—kini seperti dempul, tidak lagi hidup kemerahan—mungkin masih sedikit menyisakan hawa hangat.

Dave berpikir seharusnya ia membelai pipinya dengan jari untuk merasakan kehangatan itu, kehangatan terakhir yang dipancarkan wanita itu. Namun jarinya dingin, begitu dingin. Ia tidak dapat melakukannya, ia bahkan tidak bisa mengendalikan diri untuk melihat lebih teliti….

Sesaat, ketika bergelantungan di atas jalan, ia sempat mengira Ransome juga telah mengambil kepala Helen, dan Annie, bahkan resepsionis rabun dari lantai 14.

Tetapi tidak. Mereka semua tak dikenal, semua kecuali Marge.

Dan Ransome memang benar—ia lebih mengenal Dave daripada Dave mengenal diri sendiri. Melihat kepala-kepala yang tertancap itu telah melumpuhkannya, tepat seperti yang direncanakan Ransome. Seandainya masuk lewat pintu kantor, Dave tentu telah diam membeku—dan ia akan tetap tak bergerak sampai anak buah Ransome meringkusnya.

Rencana Ransome sungguh bagus. Ia tentu akan menyesal saat mengetahui rencana itu tak berhasil.

Sangat menyesal.

Map arsip Bernie mengenai Lockyear ditandai dengan label biru. Map itu masih ada di tempat Dave mengingatnya, di belakang berkas-berkas berlabel transparan mengenai divisi operasi Senterex, dan sebelum map dengan label oranye yang berisi proyeksi prakiraan bisnis.

364

Namun berkas Lockyear itu tidak lagi setebal beberapa jam sebelumnya. Arsip itu kini hanya berisi sehelai kertas, catatan yang ditulis di atas kertas surat pribadi Bernie. “Mr. Elliot, kurasa kau takkan bisa sampai sejauh ini. Bila sampai di sini, kau tentu lebih pinttar daripada yang kuduga. Bila kau benar-benar pinttar, aku akan menyerah sekarang juga. J.R.”

Dave memakai pena Mont Blanc milik Bernie untuk menuliskan jawaban di bawah paraf Ransome: “J.R., kau orang kampung buta huruf, hanya ada satu huruf ‘t’ dalam kata ‘pintar’. Omong-omong, kalau benar-benar pintar, kau tentu akan menyerah sekarang (tanda kutip). D.P.E.”

Dave meninggalkan map itu terbuka di atas meja kerja Bernie. Hanya ada sedikit kemungkinan Ransome akan melihat tulisan Dave, namun bila melihatnya, tulisan itu akan membakar hatinya—pembalasan remeh, tapi memuaskan.

Ada sesuatu yang baru di kantor Bernie, yang tidak ada di sana siang tadi. Benda itu kotak kecil berwarna abu-abu, tergantung di atas pintu. Alarm kontak, Dave menebak, dan mungkin dikendalikan dengan sinyal radio. Bila demikian, ia.bisa memanfaatkannya.

Sambil mengalihkan pandangan dari tengah kantor, Dave berjalan ke lemari Bernie, dan menginventarisasi perlengkapan kantor yang disimpan Bernie di sana: kuda-kuda, spidol berwarna, paku payung, dan… ya, itu dia… “Scotch 3M #665 selotip lapis ganda. Menempelkan kertas, foto, sampel dan potongan kain dengan cepat dan rapi. Siap pakai! Menempel dan merekat seketika; tidak perlu waktu pengeringan. 1 Roli 1/2 in x 1296 in (36 yd).”

365Tiga puluh enam yard. 32,5 meter. Ia membutuhkan dua kotak.

Ia mengamati kotak abu-abu yang tergantung di atas pintu kantor. Sehelai kabel yang hampir tak tampak terentang dari dasar kotak itu ke celah antara daun pintu dan rangkanya. Kabel itu tertempel ke pintu; bila pintu terbuka, kabel itu akan putus, memicu sinyal tanpa bunyi. Alarm yang sederhana, tidak mahal dan tidak bisa diakali, jaminan akan memberi peringatan kepada pemburu bahwa buruannya telah jatuh ke dalam perangkap.

Kecuali buruan itu sudah berada di dalam perangkap, dan menyusun rencana untuk kabur.

Dengan hati-hati, sangat hati-hati, Dave melilitkan selotip di sekeliling kabel pemicu alarm tersebut— satu, dua, tiga lilitan, memastikan selotip itu menempel cukup kuat.

Kemudian, sambil berjalan mundur dan hati-hati membuka gulungan selotip, ia menuju ke jendela yang pecah.

Ia mengulurkan tangan ke luar jendela, meraih tali pemanjatnya. Sesaat ia berniat menoleh kembali. Ada dua hal terakhir yang hendak dilakukannya. Satu adalah memberikan ciuman pada…

Sudahlah, Sobat. Sudah lewat terlalu lama bagimu untuk memberikan isyarat-isyarat dramatis.

Ada satu hal lain yang ingin dilakukannya.

Ruang rapat direksi Senterex dihubungkan dengan kantor Bernie dengan pintu kayu ek berwarna pucat. Dave tahu Ransome tentu memasang orang-orangnya di sana, memerintahkan mereka untuk tiarap dengan senapan siaga.

366

Dan, karena itu, hal lain yang ingin dikerjakan David Elliot adalah masuk ke ruang rapat itu. Ia berniat membunuh siapa saja yang ditemukannya di sana. Tidak makan waktu lama, dan tentu memuaskan hati.

Ia kembali menggeleng, lalu dengan hati-hati melilitkan kabel pada pahanya, mengikat kembali tali pemanjatnya. Tanpa menoleh, tanpa ingin menoleh, ia berayun-ayun dalam kegelapan malam.

Saat ia memanjat naik, suara Ransome terdengar di radio: “Sekarang pukul 03.45, Saudara-saudara. Beri laporan.”

Pukul 03.45? Apakah tadi hanya sembilan menit? Bagaimana mungkin hanya sembilan menit? Rasanya seperti berabad-abad.

Waktu lamban.

“Myna di sini. Semua sepi. Petrel, Killdeer, dan Raven semuanya di pos masing-masing,” lapor laki-laki di lobi tadi, yang punya masalah dengan kaum homoseks.

Empat orang di lantai dasar. Sangat gampang dibereskan, Sobat.

“Partridge lapor, Robin. Greylag, Ovenbird, Loon, Bluejay, dan Condor siap di pos. Bila muncul di tangga timur, dia akan jadi santapanku.”

Enam orang di lorong menuju ke tangga kebakaran timur.

“Parrot di sini. Stork, Finch, Darter, Buzzard, Macaw, dan Warbler bersamaku.” Regu cadangan di lantai 43.

“Pigeon melapor. Di sebelah barat Ringdove, Cockatiel, Catbird, Egret, dan Whippoorwill sudah siaga.”

367Sedikitnya ada dua belas orang di lantai 45. Berapa lagi?

“Di sini Kingfish, Calhoun, aku, dan tiga teman lagi-“

“Tunggu!” suara Ransome meninggi. “Pigeon, laporkan lagi jumlah kalian.”

“Afirmatif, Robin. Ringdove, Cockatiel, Catbird, Egret, dan Whippoorwill.”

Suara Ransome mengeras. “Itu baru lima. Kalian seharusnya berenam. Mana Snipe?”

“Kupikir dia bersama Kingfisher.”

Laki-laki bernama Kingfisher itu menanggalkan gaya bicara model Amos and-Andy. “Tidak, dia seharusnya ada di regumu, Pigeon.”

Ada ketegangan dalam suara Ransome. “Snipe? Snipe, harap lapor. Di mana kau?”

Dave tahu di mana dia. Snipe sedang menggigit-gigit isolasi di Jantai 12.

Ransome kembali memanggil Snipe. Lagi-lagi tak ada balasan.

“Oh, sialan,” Ransome mendesis gemetar. “Oh, sialan.” Sesaat Dave mengira Ransome gemetar ketakutan. Kemudian disadarinya bahwa bukan rasa takut yang membuat suara laki-laki itu bergetar, melainkan luapan kegembiraan. “Dia sudah kembali! Dia melewati Myna! Dia ada di sini!”

Partridge, orang kedua pemegang komando di bawah Ransome dan penghubung ke dunia luar, berbisik penuh harap, “Kita akan berhasil, kan, Sir?”

“Afirmatif.” Apa pun emosi yang tadi membuat suara Ransome melengking kini telah lenyap. Dengan dingin ia memberikan perintah, “Hubungi Mabes. Katakan pada mereka agar menunda heavy”

368

Heavy? Dave bertanya pada diri sendiri. Apa artinya? Karena alasan tertentu kata itu memicu kenangan samar-samar akan Jenderal Curtis LeMay yang suka mengunyah cerutu. LeMay kepala staf Angkatan Udara Amerika Serikat tahun 1960-an. Sekarang kenapa aku tiba-tiba teringat padanya? tanya Dave dalam hati.

“Maaf, Sir.” Suara itu milik Kingfisher, dan suara itu meninggi. “Kau bilang ‘heavy’T

Ransome menjawab lembut, “Tahan pertanyaan itu, Kingfisher. Itu cuma rencana alternatif.”

“Mabes mengatakan mereka sudah siaga dalam jajaran!” Partridge nyaris berteriak.

“Partridge, suruh mereka kembali ke pangkalan.”

“Heavy! Ya Tuhan. Bagaimana mungkin…”

Heavy? Curtis LeMay? Itu mengingatkan Dave pada film lama. Film apa itu…?

“Tenang,” kata Ransome datar. “Kalau kau ada masalah, Kingfisher, kita akan membicarakannya pada saat yang tepat.”

Kingfisher berteriak, “Heavy keparat! Oh, man, kau telah menipuku!”

Ransome mengembuskan napas. “Kau sudah tahu pekerjaan ini berbahaya ketika menerimanya. Sekarang tenanglah.”

“Oh, sialan, sialan, sialan…”

“Kau dibebaskan dari tugas, Kingfisher. Melaporlah pada Parrot di 43. Kestrel, ambil alih regu kalian.”

“Kau keparat, Robin! Kau keparat busuk…”

“Kestrel, tolong singkirkan orang itu dari udara.”

Terdengar bunyi tercekik. Radio berderak. Seseorang, Kestrel, menurut perkiraan David, menggeram, “Kingfisher masuk dalam daftar korban, Robin.”

369Ransome berkata dengan suara halus dan dingin seperti es, “Kalian semua dengarkan. Belum ada keputusan, kuulangi, belum ada keputusan akhir mengenai… mengenai masalah kecil yang begitu mengusik Kingfisher. Tapi aku percaya kalian tahu sudah disiapkan beberapa langkah darurat. Mungkin beberapa dari kalian yang selama ini memandang ringan-gentingnya situasi sekarang mendapatkan perspektif yang lebih baik.”

Jenderal LeMay adalah model dari tokoh dalam film lama itu. Pemainnya George C. Scott. Apa judul film itu? Peter Sellers juga ikut main. Oh ya. Dr. Strangelove.

“Alternatif tersebut hanya akan dijalankan bila subjek tidak kembali ke gedung ini.”

Dave menapakkan kakinya pada dinding. Pikirnya, mungkin memanjat kembali ke atap bukanlah cara terbaik untuk meloloskan diri. Mungkin memicu alarm dan menuruni tangga sementara Ransome dan gerombolannya berkerumun menuju ke kantor Bernie bukanlah pemecahan terbaik. Mungkin ada jalan yang lebih baik.

Ia mendengar bunyi berdetak dan tarikan napas. . Ransome baru saja menyalakan sebatang rokok. “Saudara-saudara, syarat keamanan… well, beberapa di antara kalian telah menanyakan mengapa kita memburu Mr. Elliot yang licin, dan mengapa kita diwajibkan untuk melaksanakan prosedur yang tak lazim. Selama ini aku belum mengungkapkan seluruh fakta. Sekarang aku siap melakukannya.”

Ransome menyedot dalam dan mengembuskan napas. Suara itu membuat Dave ingin merokok.

370

Ayo, puaskan dirimu.

Dave merogoh bungkus Virginia Slims dari saku. Dengan mulutnya ia mencabut sebatang dan mengambil korek. Bungkus rokok itu lepas dari jarinya. Ia meraihnya. Kotak rokok itu bergulir lepas, melayang-layang turun 45 lantai Jce jalan.

Biar saja. Benda itu akan membunuhmu.

“Sekarang akan kukatakan pada kalian. Dan karena tak disangsikan lagi subjek kita, Mr. Elliot, tentu membawa radio Snipe, akan kuceritakan juga padanya. Dengarkan, semuanya. Dengarkan, Mr. Elliot. Dengarkan baik-baik.”

Dave mengisi paru-parunya dengan asap rokok. Ransome melakukan kekeliruan. Ia berbicara saat ia seharusnya mengambil tindakan. Ia mengalihkan perhatian anak buahnya dari misi mereka. Perhatian mereka akan terfokus pada kata-katanya dan bukan pada kemungkinan bahwa Dave…

“Tampaknya Mr. Elliot telah terinfeksi suatu virus. Bukan virus biasa. Jauh dari itu. Sebaliknya, virus ini sangat istimewa. Virus inilah yang oleh orang-orang lab disebut ‘tiga fase’, istilah yang artinya sangat mutagenis. Virus ini berubah, berevolusi dalam tiga fase yang terpisah dan berlainan. Mirip dengan ulat yang berubah menjadi kepompong, dan kepompong menjadi kupu-kupu, virus Mr. Elliot berubah dari satu bentuk’ ke bentuk yang lain, kehidupan yang sama sekali berbeda, dan kemudian berubah menjadi bentuk ketiga, makhluk hidup yang sepenuhnya lain.”

…sedang bergerak.

Dave menjentikkan rokoknya, dan mulai mengayunkan tubuhnya, berayun kembali ke jendela Bernie. Ia

371tahu apa yang akan dilakukannya. Ia tahu— menurutnya ia tahu—tepat bagaimana Ransome menyiagakan orang-orangnya. Bila mereka ditempatkan seperti seharusnya, ia bisa melumpuhkan mereka.

Dengan keberuntungan, ia bahkan mungkin tidak perlu membunuh siapa pun. Siapa pun, kecuali Ransome.

“Atau telur katak jadi berudu, dan berudu jadi katak, tiga makhluk hidup yang berlainan, masing-masing dengan sifat perilaku yang unik. Demikian juga virus Mr. Elliot yang malang.”

Dave melepaskan ikatan talinya, dan kembali memasuki jendela kantor itu. Ia mencabut pistol dari bawah sabuknya dan mengeluarkan magasinnya. Penuh. Ia menarik pengokang. Sebutir peluru melompat keluar. Ia mengambilnya dari lantai dan mengembalikannya ke dalam bilik pelatuk. Ia memasang kembali magasin, melepaskan kunci pengaman, dan menyetel selektornya ke full automatic.

Sedikitnya tentu ada dua orang di dalam ruang rapat itu. Mungkin lebih. Laporan untuk Ransome hanya sampai pada Kingfisher—28 orang. Empat di antara mereka ada di lobi, dan tujuh lagi sebagai cadangan di lantai 43. Kingfisher sendiri sudah bebas tugas. Itu berarti tinggal 16 orang, termasuk Ransome. Dave menghitung rencana penyergapan yang baik. Ia tahu bagaimana ia akan mengalokasikan kekuatan seandainya ia yang memegang komando dan bila Ransome berbuat yang sama, di sana ada…

“Pertama, virus ini hanya benda kecil yang tak berbahaya. Satu-satunya ciri istimewa, ia sangat menyukai primata. Kera, gorila, simpanse, orang utan

372

kukira, dan manusia. Hanya primata, Saudara-saudara. Virus ini, virus Mr. Elliot, adalah virus yang suka pilih-pilih—takkan menerima spesies lain sebagai inang.”

…tiga orang. Mereka semua memunggungi pintu. Perhatian mereka terpusat pada ucapan Ransome sehingga mereka tak mendengar pintu terbuka, tidak tahu pintu itu menutup.

Dave memegang pistol itu dengan dua belah tangan, gaya tempur, dan beringsut maju. Mereka tukang pukul biasa, prajurit hijau seperti Snipe, dan sama sekali bukan kelas Ransome. Dua membawa Finnish Jati-Matic buatan Finlandia, senapan mesin ringan 9 mm dengan magasin isi 40 peluru dan peredam suara bikinan pabrik. Dave mengernyit tak setuju. Magasin isi 40 adalah amatir. Bobotnya menyeret moncongnya ke bawah. Seorang profesional yang terlatih tentu tahu itu. Seorang profesional hanya akan memakai magasin isi 20.

Orang ketiga membawa Ingram MAC dengan suppressor WerBell Sionics, senjata canggih di zaman Dave dulu, tetapi sekarang hanya merupakan barang antik yang menarik. Si tolol itu meletakkan senapan tersebut di atas meja rapat. Dave mengulurkan tangan kiri dan…

“Seperti yang kukatakan, virus tiga fase. Pada fase pertama, tidak banyak yang terjadi kecuali virus itu ikut berputar-putar dalam aliran darah yang hangat dan nyaman, dan di sana banyak makanan. Virus itu suka berada di sana, maka memutuskan untuk tinggal. Dan begitu tinggal, ia mulai membentuk keluarga. Keluarga besar. Itulah inti tahap pertama—berkembang

373biak. Setiap 45 menit virus itu membelah diri. Yang tadinya hanya ada satu virus, kini ada dua. 45 menit kemudian, yang tadinya dua, kini jadi empat. 45 menit sesudahnya, delapan. Dan demikian seterusnya selama masa kurang-lebih 24 jam. Dan ketiga tahap pertama berakhir. Saudara-saudara, virus kecil itu sudah menjadi bapak dari 4 miliar keturunan, Saudara-saudara, lebih dari 4 miliar.”

…menjatuhkan pistol otomatis itu ke lantai. “Angkat kepala, Bung,” bisik Dave. “Angkat tangan juga.”

Seorang berbalik, sambil mencoba membidikkan Jati-Matic-nya. Dave mengayunkan pistolnya. Mulut laki-laki itu menyemburkan pecahan gigi dan ludah berdarah. Dave berbicara sebelum tubuh itu terempas ke lantai. “Jangan bergerak dan kau takkan mati. Aku tak ingin…”

Laki-laki itu—sebenarnya pemuda—yang membawa-bawa MAC, jadi pucat pasi. Matanya berputar ngeri. Kata-kata dan air liur menyembur dari mulutnya. “Dia bawa penyakit. AIDS, oh, Tuhan, menjauhlah dariku!” Ia terbirit-birit ke pintu.

Dave membidikkan pistolnya ke paha pemuda itu. Ia tidak ingin membunuhnya. Ia tidak ingin membunuh siapa pun. Bila menembak kaki anak muda itu, ia akan menjatuhkannya…

“Sesudah sekitar 24 jam, tahap kedua dimulai. Tahap ini berlangsung sekitar 72 jam—tiga hari. Dalam tahap itulah virusmu sekarang, Mr. Elliot. Ia telah berubah, berevolusi, bermutasi dari tahapnya semula yang pasif dan tak membahayakan menjadi sesuatu yang lain. Ulat itu telah berubah jadi kepompong, dan pupa itu banyak tingkah.”

374

…dengan berteriak-teriak. Jeritan itu akan memberi tanda kepada anak buah Ransome yang lainnya. Dave tidak bisa mengambil risiko itu. Ia mengangat moncong pistol, menembak, dan memalingkan wajah, mual. Senjata laki-laki ketiga jatuh ke lantai. Tangannya terangkat. Ia menyandarkan punggungnya pada salah satu lukisan Pissaro yang sangat disayangi Bernie, lukisan rumah di ujung jalan yang gelap. “Tapi jangan sentuh aku, man” ia memohon. “Aku akan melakukan apa saja yang kauinginkan, cuma jangan sentuh aku!”

Dave mengangguk. Ia merogoh ke dalam saku dan mengeluarkan botol pil yang diambilnya dari lemari obat Nick Lee. “Oke, Nak, aku ingin kau menelan lima butir pil ini. Di belakangmu ada sebotol air. Ambil, dan tuang satu gelas, dan kemudian telan pil ini.”

Pemuda itu menunjukkan paras khawatir. Dave mencoba mengerahkan segala kemampuan untuk melontarkan senyum ramah. Tidak cukup berhasil. “Hanya pil tidur.”

Pemuda itu…

“Begitu bermutasi, virus itu jadi gesit. Ia mulai bermigrasi keluar dari peredaran darah dan masuk ke organ lain. Kini ia bisa menyebar. Sesudah 24 jam, si pembawa—kau, Mr. Elliot—bisa menularkannya pada orang lain. Tapi hanya lewat cairan tubuhnya saja—mani, air liur, urin, atau darah. Sudah sekitar 36 jam Mr. Elliot terinfeksi virus ini, jadi virus itu dalam keadaan yang sangat menular. Kalian tentu ingat, pada pukul 15.30 sore ini, tepat sebelum jam ke-24 infeksinya, aku memberikan perintah baru mengenai cara penanganan mayatnya. Kalian kini tentu memahami dasar perintah tersebut.”

375…menggeleng dan berkata, “Aku takkan makan apa pun yang sudah kausentuh.”

Dave menjawab, “Bacalah labelnya. Ini bukan resep untukku. Aku belum menyentuh pil-pil itu. Di samping itu, bila kau tak menelannya…” Ia memberi tanda dengan pistol. Pemuda itu mengerti, membuka botol, dan menelan setengah lusin obat tidur yang keras. “Sekarang bagaimana?” ia bertanya.

“Sekarang berbaliklah dan menghadap dinding.”

“Jangan memukulku terlalu keras, oke?”

“Akan kulakukan sebaik mungkin.” Dave…

“Mr. Elliot, aku ingin kau memperhatikan ini. Dengar baik-baik. Virus itu bisa menyebar—akan tersebar—pada siapa saja yang minum dari cangkir bekas si pembawa, siapa saja yang mencium si pembawa, siapa saja yang diberinya gigitan sayang, siapa saja yang ditidurinya.”

…memukul belakang telinganya dengan pistol. Pemuda itu menjerit dan terhuyung, tapi tidak jatuh. Dave memukulnya lagi, lebih keras.

Ia melihat kembali ke pintu yang menuju ke kantor Bernie, membayangkan bagaimana tubuh-tubuh itu seharusnya tergeletak. Satu dari tiga tubuh itu benar-benar mayat. Ia tidak suka hal itu. Ia sudah berusaha sebaik mungkin untuk menghindarinya.

Ia menyelipkan tangan ke bawah lengan orang mati itu. Terlalu banyak darah. Bila Ransome atau salah satu anak buahnya melongok ke dalam ruang rapat, melihat ke lantai dan dinding, mereka akan tahu apa yang telah terjadi. • Terlambat memikirkannya sekarang.

Ia menyeret mayat itu sepanjang ruang rapat,

376

menelentangkannya dekat pintu. Ia meletakkan salah satu senapan Jati-Matic di dadanya. Kemudian ia kembali menyeret orang kedua.

Kurang dari semenit, ia sudah mengatur tubuh-tubuh itu sedemikian rupa sehingga tampak…

“Tentu saja si pembawa tak tahu ia bisa menularkannya, ia menyebarkan penyakit ke mana-mana. Ia merasa masih sehat sebab virus itu tak menimbulkan efek yang merugikan. Setidaknya belum. Itu belum terjadi sampai hari keempat. Saat itu virus tersebut sudah bermutasi lagi. Apa yang tadinya kepompong kini jadi kupu-kupu. Ia siap terbang.”

…seperti mereka sudah mati ketika menyerbu keluar dari ruang rapat itu. Bila alarm di atas pintu Bernie berbunyi, mereka tentulah yang pertama masuk ke kantornya.

Untuk memberikan efek terakhir, ia melangkah ke tengah kantor dan menembakkan selusin peluru tanpa bunyi ke dinding dan ke lantai. Sekarang ruangan itu tampak seperti tempat baku tembak.

Waktunya hampir habis. Ransome (Astaga, ia sungguh cinta dengan suaranya sendiri!) tidak akan mengoceh selamanya. Dave harus membereskan sisa ilusinya dengan cepat. Dua pintu terbuka ke ruang rapat—satu dari kantor Bernie dan satu…

“Secara teknis, pada tahap ketiga, virus ini menjadi apa yang oleh para dokter disebut ‘pneumatis’. Itu berarti si pembawa menyebarkan infeksinya hanya dengan bernapas. Tiap kali mengembuskan napas ia menyemburkan enam juta spora—kuulangi, Saudara-saudara—enam juta. Ia menghirup napas, mengembuskan napas. Bila melakukannya lima puluh kali, ia

377melepaskan cukup banyak virus untuk menginfeksi setiap laki-laki, perempuan, dan anak-anak di Amerika Serikat. Bila melakukannya seribu kali, ia menyebarkan cukup banyak virus untuk semua orang, setiap orang hidup, di bumi yang hijau ini.”

…dari lorong yang menghubungkan kantor Bernie dengan ruang resepsionis. Hanya ada tiga kantor di koridor itu—satu milik Mark Whiting, kepala keuangan Senterex, yang kedua milik Sylvester Lucas, wakil direktur perusahaan, dan yang ketiga milik Howie Fine, kepala penasihat hukum. Ransome tentu memasang orang di dalam semua kantor itu. Mereka, seperti tiga orang di ruang rapat itu, akan saling mendului masuk ke suite Bernie bila alarm itu berbunyi.

Dave membungkuk, membuka pintu itu, dan berguling ke lorong. Ia membuat lingkaran dengan pistolnya, mencari sasaran.

Tak ada seorang pun di sana. Tepat seperti seharusnya.

Pertanyaan yang menarik adalah lokasi Ransome. Dave tidak tahu pasti apakah Ransome menempatkan diri dekat suite Bernie—misalkan saja, di dalam kantor Whiting atau kantor Lucas—atau lebih jauh lagi. Alternatif mana pun dari segi militer betul: dekat untuk memimpin serangan; jauh untuk mengarahkan kekuatan sesuai dengan yang dibutuhkan situasi di medan pertempuran. Manakah yang akan dipilih Ransome?

Manakah yang akan kaupilih?

Lempar koin. Yang jauh, kurasa.

Ia bergeser ke pintu kantor Whiting dan menempel—

378

kan telinga pada daun pintu. Ia tidak bisa mendengar apa-apa kecuali bisikan Ransome yang dingin di radio. Ia mengangkat pistolnya…

“Tapi kutegaskan lagi. Kau tahu, virus ini makhluk kecil yang lemah. Begitu keluar dari tubuh inangnya, ia tak bisa hidup terlalu lama. Sepuluh menit, mungkin lima belas menit paling lama. Kecuali menemukan pembawa lain sebelum waktu itu, ia akan mati.”

…menumpukan kaki, dan dengan pundaknya mendorong pintu hingga terbuka. Seorang laki-laki kulit hitam, sudah agak berumur, sedang duduk di belakang meja kerja Whiting. Senjatanya, juga sepucuk Jati-Matic, disandarkan pada lemari arsip Whiting dengan pangkal menghadap ke atas. Laki-laki itu memandang Dave, membelalakkan matanya lebar-lebar, mengangkat tangannya. Ekspresi pada wajahnya mengatakan bahwa ia terlalu miskin pengalaman untuk „ memberikan perlawanan.

Dengan kakinya Dave mendorong pintu hingga menutup.

Laki-laki itu berkata, “Mister, aku cuma mau bilang aku menyesal. Aku kebetulan melihat apa yang dikerjakan orang itu di kantor Mr. Levy, tapi aku sama sekali tak ada sangkut pautnya, dan itu membuatku mual.” Matanya sedih dan sedikit basah. Ia memakai kumis yang sudah mulai beruban. Ia sudah mulai tua,-dan letih.

Dave bertanya, “Apakah kau veteran?”

“Ya, Sir. Masuk tahun ‘66. Aku tadinya anti wajib militer, ditugaskan di kesatuan 546 Med. Tapi 93 persen kasatuan kami jadi korban di Tet. Sesudah itu tidak lagi jadi CO. Aku masuk pasukan infanteri.

379Bertugas terus di sana. Pensiun dua tahun lalu. Seharusnya aku tetap pensiun, kurasa.”

Dave mengangguk. “Kurasa begitu.”

“Jadi, Sir, aku akan sangat berterima kasih bila kau tak menganggapku sebagai musuh yang akan menyerang.”

“Tidak.” Dave mengeluarkan botol pil tadi dari sakunya.

Wajah sedih laki-laki itu menunjukkan bahwa ia mengerti, dan ia sudah siap menerima nasib apa pun yang direncanakan Dave baginya.

“Buka tutup botol ini, keluarkan lima atau enam butir, dan telanlah.”

Laki-laki hitam itu mengambil botol dari tempat Dave meletakkannya. Dengan kesedihan tak terhingga, ia berkata, “Orang itu sudah gila. Memenggali kepala. Memanggil heavy. Percayakah kau? Oh, Mister, aku sudah menimbang-nimbang untuk kabur ketika mendengar itu. Seandainya kau tak masuk menerobos pintu, aku mungkin sudah lari. Satu hal lagi, Sir masih ada satu lagi. Kau tahu apa kode nama yang diberikan padaku? ‘Crow’—Gagak. Itulah yang diberikan padaku. Dan aku satu-satunya kulit hitam dalam tugas ini. Percayakah kau?”

Dalam telapak tangannya ada enam tablet kuning. Ia mengamatinya, menghela napas, dan menelannya. “Ini pil tidur, kan? Berapa lama waktu yang diperlukan?”

“Terlalu lama. Aku harus mempercepat kerjanya.” “Kau ingin aku berbalik?” Menyerah dan pasif. “Silakan.”

“Oke, tapi kau harus ingat, aku menyesal. Mister,

380

aku menyesal dan seandainya bisa sejak dulu aku keluar dari sini.” Dave memukulkan gagang pistolnya ke belakang tengkorak laki-laki itu. “Aku juga,” gumamnya.

Perhentian berikutnya, kantor Sly Lucas. Apakah Ransome…

“Bagaimanapun, pembawa pertama tadi, Mr. Elliot, tetap tak tahu apa yang terjadi. Ia tetap tak merasa sakit. Yang dirasakannya hanyalah sedikit ganjil, dan anehnya merasa sedikit lebih bergairah. Warna-warni serasa lebih cerah baginya, bunyi-bunyi lebih merdu, rasa dan bau lebih tegas. Ia akan mulai bermimpi indah. Tergantung pada metabolismenya, ia bahkan mungkin mendapatkan satu-dua penampakan.”

…ada di dalam sana, mengoceh tak putusnya di radio? Dave berharap orang itu tak ada di sana. Ia ingin Ransome terus berbicara, menceritakan yang -sebenarnya kepada anak buahnya. Sebab begitu tahu kebenaran itu, mereka akan mulai berkeringat. Satu-dua orang mungkin akan lari. Mereka semua akan melakukan kesalahan.

Ia menendang pintu Lucas.

Dua laki-laki, tak satu pun di antara mereka adalah Ransome.

Satu sedang berdiri siaga di pintu, yang lain menatap ke luar jendela. Penjaga itu bergerak cepat. Ia menembak sebelum pintu sepenuhnya terbuka.

Ia menembak terlalu tinggi, terlalu banyak mengeluarkan tenaga untuk magasin isi 40 butir itu. Peluru merobek plesteran dinding di atas kepala Dave. Si penjaga sibuk menurunkan moncong Jati-Matic itu. Dave menjatuhkan diri berlutut. Ia melepaskan sem—

381buran tembakan pendek ke dada laki-laki itu. Bunyi duk, duk, duk pelan pistol otomatis itu rasanya terlalu lembut untuk akibat yang dihasilkannya. Ditembakkan dari jarak pendek, peluru tersebut mengangkat tubuh laki-laki itu dan melemparnya berpusar ke belakang menimpa kursi. Semburan darah memercik ke mata Dave. Debu plesteran dinding memasuki hidungnya.’ Ia melompat kembali ke koridor, merapatkan punggung ke dinding, di luar penglihatan.

Laki-laki di sebelah jendela itu menyemburkan dua tembakan ke lorong. Dave menyeka mata dengan lengan kemeja. Satu lagi tembakan meledak ke dinding. Bunyi peluru merobek plesteran dinding terdengar lebih keras daripada letusan teredam dari Jati.-Matic tersebut.

Dave memasukkan satu klip baru ke gagang pistolnya. Ia harus bertindak sebelum orang itu memakai radionya. Ia mencopot sepatu sebelah, menyiapkan diri, dan melemparkannya melalui ambang pintu. Peluru menghujani udara. Dave berguling melewati pintu.

Lawannya sudah mengambil posisi di sudut. Jati-Matic-nya ditopangkan pada pundak. Senapan itu dibidikkan ke sebelah kiri pintu, dan di atas lantai. Ia mulai mengalihkan pandangan ke tempat Dave berbaring.

Tembakan Dave meruntuhkan kakinya. Laki-laki itu mendnegus. Senapannya berguncang. “Kau bajingan, busuk,” katanya.

Dave membidikkan pistol ke tengah dadanya. “Jangan lakukan.”

Laki-laki itu mengayunkan senjatanya ke arah Dave…

382

“Kalian mungkin bertanya bagaimana kami tahu semua ini. Nah, Saudara-saudara, jawabnya adalah: Ya. Ya, Mr. Elliot bukan orang pertama yang terinfeksi virus ini. Tentu saja, dalam kasus lain kondisinya jauh lebih terkontrol. Begitulah kami tahu, Saudara-saudara, dan begitulah kami tahu bahwa tidak ada obatnya.”

…yang merobohkannya dengan satu tembakan tunggal.

Dave mendesis. Ia tidak menginginkan ini. Ia hanya menginginkan Ransome. Ini tidak perlu, kematian itu, dan segala lainnya. Kata-kata Ransome membuktikannya.

Dan Dave merasa begitu dingin.

Namun ia tidak dapat, berhenti. Tidak sekarang. Masih ada satu kantor lagi, kantor ketiga, tempat begundal Ransome sedang menunggu…

“Atau lebih tepatnya, masih ada satu pengobatan. Bila kau membunuh pembawanya, orang yang terinfeksi itu, jauh sebelum virus itu mencapai tahap terakhirnya, kau bisa menghentikan penyebaran penyakit ini. Dan, Saudara-saudara, itulah cara satu-satunya untuk menghentikannya. Apakah kau mengerti, Mr. Elliot?”

…kantor Howie Fine. Howie adalah kepala penasihat hukum Senterex. Di atas lemari arsipnya tergantung lukisan cat minyak karya Thomas Eakins. Lukisan itu menggambarkan sidang pengadilan yang terkenal, sang hakim di balik mejanya, si saksi yang bingung bercampur takut di boks, sang jaksa berbicara berapi-api kepada dewan juri. Dave tidak pernah menyukai lukisan itu. Ia tak -pernah menyukai apa pun yang berkaitan dengan ruang sidang.

383Ia menendang pintu hingga terbuka. Ruangan itu kosong. Tidak, tidak kosong sama sekali. Ruangan itu…

Bagaimana…? Apa…?

Tenaga di kakinya hilang. Ia merosot berlutut, tak lagi mampu berdiri tegak, begitu lemah sehingga ia bisa saja jatuh tak berdaya, tersungkur ke lantai. Ruangan itu tidak sepenuhnya kosong; tak ada siapa pun di sana kecuali Marigold Fields, panggil-aku-Marge, Cohen. Tali nilon—tampak seperti tali parasut—dipakai untuk mengikatnya ke kursi besar Howie Fine yang berjok kulit, la masih hidup, sadar, tersumbat mulutnya, memandang padanya, matanya terbelalak demikian lebar, selebar seharusnya. Benar-benar sangat lebar.

Ia mencoba mengatakan sesuatu kepada Dave. Dave tak dapat menangkap maksudnya. Mulutnya tersumbat rapat. Kata-katanya hanya berupa gumam tanpa arti.

Dave menelan ludah. Berat. Dua kali. Ini tak mungkin… dia, yang lain… kepala-kepala mereka… teater kebiadaban Ransome… Dia sudah mati. Dave sudah melihat dengan mata kepala sendiri.

Marge bernapas lewat mulutnya yang ternganga, menelan udara. Suaranya yang teredam seperti memohon agar Dave melepaskan ikatannya.

Mengapa? Apa yang Ransome… tunggu sebentar. Tentu saja. Sudah jelas. Ransome…

“Mengertikah kau bahwa inilah satu-satunya cara untuk menghentikan penyakit itu, Mr. Elliot? Dan amat sangat penting menghentikan penyakit ini. Mengapa? Karena gejala-gejala sebenarnya takkan mulai beberapa hari sesudah virus itu bermutasi

384

menjadi tahap ketiga. Kau dengarkan ini, Mr. Elliot? Beberapa hari menghirup napas, beberapa hari mengembuskan napas. Beberapa hari menyemburkan enam juta kematian dengan setiap embusan napasmu. Kemudian kau akan mulai merasakannya, Mr. Elliot. Pertama demam. Kemudian keringat. Kedinginan, mual, rasa sakit yang menusuk. Dalam 72 jam kau akan mati.”

…seorang profesional. Dia tentu punya rencana cadangan untuk menghadapi kegagalan. Dan rencana cadangan dari rencana cadangan. Itulah sebabnya ia tidak membunuh Marge. Perempuan ini tak ada manfaatnya dalam keadaan mati. Akan tetapi, dalam keadaan hidup ia akan jadi senjata lain, senjata terakhir yang bisa dipakainya terhadap mangsanya. Ia harus membiarkannya hidup, siap mengeluarkannya bila Dave berhasil selamat dari perangkap mematikan yang disiapkan untuknya. Pada saat itulah—bila tahu Dave lolos—Ransome akan menempelkan salah satu radionya ke mulut Marge, dan berharap jeritannya akan mencegah Dave kabur.

Barangkali cara itu akan berhasil. Sama seperti caranya memancang kepala itu seharusnya berhasil.

Kepala itu… karya seni yang bagus. Yang nyaris bisa dikaguminya. Harus diakuinya, benda itu dibuat dengan ahli, tepat seperti yang kauharapkan dari seorang ahli semacam Ransome. Apakah itu terbuat dari lempung atau lilin atau karet atau perempuan mati yang cukup mirip dan cukup makeup sehingga tampak seperti Marge? Dave tidak tahu. Ia tid^ik peduli. Yang ia peduli adalah Marge ternyata masih hidup.

385Ia berniat melihat Marge tetap demikian.

Dave berdiri dengan susah payah. “Maaf, Marge. Aku harus pergi.”

Marge menggeleng keras-keras. Suara-suara yang lebih keras, jeritan seandainya ia bisa membuka mulut, bergolak di bawah penyumbat mulutnya.

“Kau lebih aman di sini daripada bila aku melepaskanmu. Tak lama lagi akan terjadi keributan di lorong-lorong itu. Aku tak ingin kau berada di tengahnya.”

Matanya menyorotkan pandangan membunuh. Ia akan merobek tenggorokan Dave bila ia lepas.

Dave mendorongnya ke lemari Howie hingga tak terlihat. “Tapi aku akan kembali. Aku janji. Aku janji akan kembali untukmu. Marge, jangan pandang aku seperti itu. Sialan, aku kehabisan waktu dan tak punya pilihan.”

Dave meninggalkannya, tahu bahwa Marge takkan memaafkannya, dan kembali ke koridor untuk mengerjakan…

“Tujuh puluh dua jam. Itu saja yang akan kau-punyai. Dan kemudian kau mati. Dalam jam-jam itu kau akan berharap kau sudah mati. 20 atau 30 hari sesudah itu, semua orang akan mati. Semua orang yang berada cukup dekat untuk menghirup napasmu. Dan setiap orang yang berhubungan dengan orang-orang yang sudah terinfeksi olehmu, dan semua orang yang berhubungan dengan mereka. Dengan kata lain, semua orang di dunia, Mr. Elliot, seluruhnya.”

…apa yang harus dikerjakannya. Menyeret dua mayat itu ke posisi yan^ dimaksudkannya hanya butuh sesaat. Begitu mayat-mayat itu selesai diaturnya,

386

lorong di luar kantor Bernie tampak seperti tempat pembantaian. Darah yang berbau tembaga menggenang di karpet, bau bubuk mesiu yang tajam tergantung di udara, Orang mati malang melintang dalam posisi yang tidak nyaman, seperti halnya semua orang mati, wajah mereka menunjukkan ekspresi terperanjat.

Dave berjalan dengan kaus kaki. Salah satu sepatunya telah dihancurkan dengan tembakan. Yang sebelah lagi dibuangnya. Laki-laki kulit hitam itu memakai sepatu kerja selutut berukuran besar dan tampak nyaman dipakai. Tampaknya sepatu itu cocok dengan ukurannya dan Dave memandanginya dengan penuh keinginan.

Lebih baik jangan. Mungkin ada orang mengamatinya.

Benar.

Sudah tiba saat memulai pesta ini, kan? Benar lagi.

Dave mengangkat salah satu Jati-Matic itu, memeriksa klip pelurunya, dan mengeratkan talinya. Ia menyandangnya…

“Lupakan pembunuh biasa, dan lupakan tentara dan perang, dan lupakan Hitler serta Stalin dan setiap despot sinting yang pernah lahir. Betapapun banyaknya korban yang mereka timbulkan tidaklah ada artinya dibanding dengan angka yang akan dicatat Mr. Elliot. Dia sendiri merupakan satu pasukan tunggal. Tak ada kata yang tepat untuk menjelaskan dia itu apa, mereka belum menciptakannya.”

…di pundak. Ia kembali menyusuri koridor menuju ke ruang rapat. Ia berhenti di ambang pintunya.

Sesudah memicu alarm agar berbunyi, ia punya

387tiga pilihan—bisa lari ke tangga, bersembunyi di lemari Bernie, atau mengunci diri di ruang rapat.

Menurutnya lemari itu merupakan pilihan terbaik. Ia bisa mencapainya lebih cepat daripada tangga mana pun. Anak buah Ransome takkan melongok ke dalam lemari. Mereka akan melihat mayat-mayat, melihat kabel yang tergantung di luar jendela terbuka, dan menyimpulkan ia telah kabur ke atap.

Atau demikianlah yang kauharap.

Atau demikianlah yang kuharap.

Ia masuk ke ruang rapat, berjalan mengukur panjangnya, dan untuk yang diharapkannya sebagai terakhir kali, memasuki kantor Bernie Levy.

Pemandangan di sana tidak berubah. Karya potong-memotong Ransome masih terpampang.

Gila. Sinting. Sama sekali tidak diperlukan dan tidak bisa dibicarakan. Yang harus mereka lakukan hanyalah menjelaskan hal itu kepadanya. Ia tentu tidak akan senang, namun ia tidak akan lari. Seandainya mereka memberitahukan apa yang diceritakan Ransome kepadanya sekarang, ia mungkin akan bekerja sama. Mereka sebenarnya bisa menawarkan membawanya entah ke mana, ke ruangan bersih, steril, terisolasi dari dunia luar. Atau mereka bisa membawanya ke pulau tak berpenghuni, atau tempat lain yang aman. Yang harus mereka lakukan hanyalah membiarkannya mati dengan sedikit martabat. Ia takkan melawan. Bagaimana ia bisa melawan? Mengetahui yang sebenarnya, ia tentu akan menyerah.

Akan tetapi sebaliknya, mereka memutuskan memperlakukannya seperti binatang buruan. Kami pembunuh berlisensi, Mr. Elliot, orang profesional

388

yang sangat terlatih, dan kami tahu apa yang terbaik. Di samping itu, kami tak cukup mempercayaimu untuk menceritakan yang sebenarnya. Kami tak cukup mempercayai siapa pun untuk menceritakan hal itu. Kami akan berbohong padamu, dan kami akan berbohong pada teman-temanmu, dan kami akan berbohong pada orang-orang yang membayar kami. Begitulah cara kami, Mr. Elliot, dan bila sekarang kau belum terbiasa dengannya, kau takkan pernah terbiasa. Maka jadilah warga negara yang baik, dan jangan mempersulit saat kami membereskan masalah kami dengan cara tradisional ini.

Kau masih bisa menawarkan untuk menyerah. Mungkin kau bisa membujuk Ransome agar membiarkan Marge pergi…

Terlambat. Segalanya sudah berkembang terlampau jauh. Ada utang yang harus dilunasi…

“Baiklah, kalian semua, baiklah, Mr. Elliot, inilah poko?persoalannya: begitu virus itu bermutasi ke tahap ketiga, dan begitu virus itu menyebar ke penduduk, ia tak dapat dihentikan. Satu-satunya cara untuk menghentikannya adalah menghentikannya sebelum ia mencapai tahap ketiga. Itu berarti menghentikan orang yang membawanya. Jadi kaubunuh dia sebelum terlambat. Dan dalam melaksanakannya kau harus membunuh beberapa orang lain, itu merupakan harga yang murah. Bahkan seandainya kau harus membunuh seluruh kota New York, itu masih murah. Itu merupakan alternatif yang terbuka, kau tahu itu. Menjatuhkan bom merupakan alternatif rasional.”

…rekening yang harus ditutup. Tahun depan nama John Ransome tidak akan tercantum dalam buku petunjuk telepon.

389Dave membuka dan menutup tangannya. Ia melihat selotip itu. Terentang dari kotak alarm ke jendela yang pecah.

Ayo kita bereskan.

Dave menyentakkan selotip itu.

Ransome masih berbicara. Kata-kata keluar dari mulutnya sedikit lebih cepat daripada seharusnya. Ia sudah bicara terlalu banyak, tahu bahwa segala yang ia ucapkan membuat urusan jadi lebih parah, tetapi tidak kuasa menahan diri. “Kaupikir AIDS menular. Nah, Saudara-saudara, tingkat infeksi AIDS hanya berlipat dua kali dalam setahun. Tapi ini…” Ransome menarik napas pendek, tajam. “Dia ada di sini! Kantor Yahudi itu! Ayo! Ayo, ayo, ayo!”

Dave membuka pintu kantor Bernie, berputar, dan berlari kembali ke dalam lemari. Dari koridor ia bisa mendengar pintu-pintu lain terempas dan suara orang berlarian.

“Robin, di sini Parrot…” ?

“Tenang. Regu cadangan dan regu pelapis tetap di pos.”

Dave di dalam lemari. Ia menggeser pintunya hingga tertutup.

Mereka ada di koridor, tepat di balik dinding. Dave mendengar mereka bergerak. Seseorang tersandung dan berdebam di lantai. Ada suara lain. Dave tidak bisa mengenalinya. Seperti suara berkumur, dan suara tercemplung. Siapa pun orangnya yang paling dekat ke dinding berbisik cukup keras hingga Dave bisa mendengar, “Singkirkan keparat loyo itu dari sini sampai dia berhenti muntah.”

Ransome menyemburkan seruan, “Sialan!” Bukan seperti kebiasaannya ia mengumpat terkejut.

390

Dari radio terdengar suara Parrot, “Robin, apa yang terjadi?”

“Tenang, kuulangi, tenang. Aku akan kembali menghubungimu.”

Suara dari balik dinding, “Berapa banyak? Siapa?”

Suara lain, “Buzzard, Macaw, dan Crow.”

Ransome tidak berbisik. Ia berbicara dengan nada percakapan tenang, normal. “Loon, Bluejay, dan Condor ada di ruang rapat. Mereka juga tumbang. Enam orang. Mr. Elliot mulai menjengkelkanku.”

“Dia masih di sana, Sir?”

“Afirmatif. Bisa ke mana lagi dia? Bila dia keluar ke koridor, kita tentu sudah mendapatkannya sekarang.” Nada suara Ransome beralih. “Atau… atau…” Ia kedengaran terheran-heran. Dalam hati Dave bertanya-tanya mengapa.

“Sir, apakah kita harus…”

“Harus apa, prajurit? Mengambil bayaran kita? Kurasa kita harus melakukannya. Baiklah, semuanya, tunggu hitungan. Siapkan senjata kalian untuk rock and roli, dan bila Mr. Elliot kebetulan masuk ke bidang tembak kalian, semprot dia. Sekarang, satu…”

Dave bisa mendengar gerendel berdetak. Orang-orang yang tahu mereka sudah memasukkan sebutir peluru ke laras mengokang lagi senapan mereka untuk memastikan. Selalu demikian. Dalam keadaan demikian ia sendiri tentu akan melakukannya.

“…dua…”

Jantung mereka tentu terasa terlalu besar untuk dada mereka. Bahkan benar-benar terasa sakit. Semburan adrenalin terakhir sebelum tembak-menembak dimulai sungguh menggentarkan. Pertama kali merasakannya, Dave mengira ia kena serangan jantung.

391”…tiga!”

Hujan peluru tanpa suara terdengar tidak terlalu beda dari bunyi sekawanan burung dara yang terkejut, mengepakkan sayap mereka dengan panik untuk menghindari kucing yang mengintai.

Selongsong kuningan panas berdenting ke atas lantai. Kaca berhamburan. Sesuatu, berderak seperti popcorn mekar. Sebuah benda terjatuh hancur. Dave bisa merasakan getaran peluru yang menembus ke dalam dinding, lantai, langit-langit.

Ia bisa membayangkan apa yang terjadi di dalam kantor Bernie. Ia sudah pernah menyaksikannya. Ada desa sekitar tiga puluh kilometer sebelah utara daerah perbatasan, dan di luarnya ada rumah perkebunan Prancis yang dipakai sebagai markas musuh. Anak buah Dave menembakkan peluru demikian banyak hingga salah satu dindingnya runtuh. Begitu tembakan itu berhenti, Dave-lah yang pertama masuk. Interior rumah itu—setiap keping perabot—telah berubah jadi confetti, guntingan kertas kecil yang ditebarkan dalam pesta.

Tempat itu sunyi senyap. Hanya sedetik tidak ada suara. Kemudian seseorang mulai berceloteh.

“Persetan! Oh, Tuhan! Perempuan-perempuan ini! Aku jadi prajurit bukan untuk…”

“Tenang.” Dalam suara Ransome terdengar nada tajam yang belum pernah didengar Dave.

“Aku mau muntah. Biarkan aku keluar dari sini.”

“Bergeraklah selangkah saja, dan kau akan jadi mayat.”

“Aw, sialan! Itu si Cohen. Ya Tuhan! Apa kau sakit jiwa…”

392

Dave mendengar bunyi batuk pelan dari senjata berperedam. Sesuatu tersungkur menimpa lemari, dan terperosot ke lantai.

Dengan suara pelan dan tenang Ransome berbisik, “Jika aku bilang tenang, kusuruh kalian tenang. Sekarang, kalian semua, kembalilah bekerja. Persoalan di depan mata bukanlah perempuan-perempuan ini, persoalannya adalah subjek ini, yang tampaknya telah berkelit lagi dari kita…”

“Jendelanya, Sir…”

“Salah satu periksa ruang rapat itu…”

“Tidak, Sir, jendelanya…”

Suara Ransome menenggelamkan yang lain. “Minggir. Biar kulihat apa… oh, astaga. Kalian tak tahu, ya?”

Ia di jendela, pikir Dave. Ia sudah melihat kabel itu. Mereka semua bersamanya. Punggung mereka menghadap padanya, dan sungguh mudah membereskan mereka.

Ransome menyalak ke radio. “Atap! Elliot punya tali! Parrot, bawa regu cadangan ke tangga! Cepat! Cepat!”

Parrot balas berteriak, “Tangga barat, Sir! Cuma itu satu-satunya jalan ke atap!” “Kerjakan!”

Beberapa detik kemudian keheningan kembali. Dave menarik napas panjang. Pundaknya mengendur, dan mengendur juga cengkeramannya pada gagang Jati-Matic itu. Semua itu hanya makan waktu semenit. Mereka datang dan mereka pergi, dan tak seorang pun curiga bahwa semua itu tipuan.

Tubuh-tubuh itu, darah, lubang peluru, kanvas

393terbuka dari jendela Bernie yang pecah, kabel yang tergantung di luar—semua itu ilusi yang sempurna. Ransome menelannya mentah-mentah, bulat-bulat.

Hati-hati. Ingat apa yang dulu dikatakan Mamba Jack tentang perasaan yakin yang berlebihan.

Uang panjar untuk kantong mayat.

Sesaat tadi, bukankah ada sesuatu yang aneh pada suara Ransome?

Mungkin. Hanya sesaat itu tadi suaranya berubah. Seperti bingung.

Jadi ?

Lebih baik aman daripada menyesal.

Dave bertiarap di lantai lemari. Ia menggosokkan tangan pada kemeja dan mencengkeram erat Jati-Matic itu. Gagangnya ditumpangkannya ke pundak.

Magasin isi 40 peluru. Mengimbangi bobotnya.

Ia mengungkit pintu lemari dengan ujung jari. Pintu itu terbuka sepersekian inci.

Dave berhenti dan mendengarkan. Sunyi. Tak ada sedikit pun tanda-tanda yang menunjukkan ada orang di baliknya. Ia menggeser lagi pintu itu.

Masih tidak ada apa-apa.

Dan lagi. Dan pintu itu terbuka seluruhnya.

Dave melangkahi mayat laki-laki yang ditembak Ransome.

Kantor Bernie kosong.

Satu jendela lain hancur, diledakkan berhamburan ke udara malam oleh anak buah Ransome. Sebagian dari meja kerja mahoni Bernie, bagian yang paling dekat ke pintu, hancur berkeping-keping. Lima atau enam deret lubang peluru melintang pada dinding di belakangnya. Salah satu lukisan Wyeth rusak; dua

394

lainnya tak tersentuh. Sofa Bernie kini hanya jadi serpihan kain, serat, dan kayu. Lemari arsipnya miring seperti mabuk. Lampu-lampunya jadi serpihan porselen. Dan kepala-kepala yang terpancang itu…

Ia menarik napas panjang, memaksa perasaan mual jadi kemarahan. Seseorang telah mencuri peluru antitank berukir mengenang pengabdian Bernie di Korea. Dave berpikir bila menemukan orang yang mengambilnya, ia akan membunuhnya juga.

Ia merayap ke pintu, yang kini lepas dari engselnya, dan menggulingkan tubuh ke koridor. Ia berputar ke kiri, menyodokkan Jati-Matic itu ke depan, membidik setinggi pinggang orang yang sedang berdiri. Ia melepaskan serentetan tembakan tanpa bunyi, dan bersalto, mengayunkan senapan yang masih berbunyi itu ke kanan.

Peluru-pelur# itu berdebuk ke dinding. Tak ada siapa pun di sana. Koridor itu kosong, tenang di bawah lampu neon. Wallpaper tak mencolok, karpet beige, lukisan indah berbingkai bisu itu tetap sama seperti semula—perusahaan Amerika, hanya dinodai beberapa lubang peluru dan tiga mayat bermandi darah.

Dave berputar ke kiri, dan berputar lagi. Tuhan mengasihimu, Bung. Ransome benar-benar terkecoh. Ya.

Sekarang ayo selesaikan. Benar.

Dave mengeluarkan magasin Jati-matic itu dan memasukkan magasin baru. Ia membawa senapan itu dengan tangan kiri dan mulai berlari. Ransome sedang

395

%menuju ke tangga barat, Ransome dan semua anak buahnya kecuali empat orang yang ada di lantai dasar.

Dave berlari cepat ke tangga timur. Kini ia tenang, terkendali. Ia sudah tenang sejak merobohkan tiga orang di ruang rapat tadi. Ketenangan lama itu sudah kembali padanya, sikap waspada santai seorang profesional yang sedang melaksanakan pekerjaan profesional. Tak ada kegusaran, tak ada kengerian, tak ada kebimbangan. Hanya tugas itu. Tugas itu saja.

Ia mengulurkan tangan ke pintu, membukanya, dan berlari menaiki tangga.

Lantai 49.

Pintu darurat itu terkunci. Tak ada waktu untuk mengakalinya. Ia menembaknya terbuka.

Ia berlari. Hanya ada beberapa detik yang tersisa. Ransome akan sampai di atap setiap saat. Takkan butuh waktu lama baginya untuk menyadari ia telah terpancing melakukan sesuatu yang tak seharusnya dilakukan seorang komandan—mengkonsentrasikan pasukannya di satu lokasi dengan hanya satu jalan masuk dan satu jalan keluar.

Dave berlari.

Melewati satu koridor. Belok kanan. Lebih cepat. Satu belokan lagi.

Momentum gerakannya membuatnya menabrak dinding. Ia terpental, tersandung, dan kembali berlari cepat. Kakinya yang tanpa sepatu berdetap pada karpet. Napasnya tidak memburu. Ia tenang, teguh, damai. Tak sampai tiga puluh detik lagi, segalanya akan beres.

Pintu darurat ke tangga barat.

396

Dave menahan tubuh hingga berhenti. Nyaris berusaha keras. Sepertinya ia tak ingin berhenti berlari. Ia merasa bisa terus berlari selamanya.

Ditempelkannya telinga pada pintu. Ia tak mendengar apa-apa. Musuhnya tak ada di sana.

Ia mendorong pintu itu, mengganjalnya terbuka dengan salah satu pistolnya.

Beton di bawah kakinya yang terbungkus kaus terasa ‘dingin. Di atasnya ia bisa mendengar detak tertahan bunyi tumit sepatu. Beberapa orang masih di tangga, belum sampai ke atap.

Sayang.

Ia mengambil empat langkah ke depan dan melihat ke bawah. Tangga itu berputar seperti spiral sejauh 49 lantai. Dua tingkat tangga per lantai, 98 tingkat seluruhnya. Satu platform tiap lantai, dan satu lagi di antara tiap lantak Kau bisa melihat ke dasar. Kau bisa melihat ke puncak.

Dan bila kau tengadah, dan bila kau tahu ke mana harus melihat, kau bisa melihat di mana ruang tangga itu menuju ke atap. Kau bisa melihat dasar platform di dalam bungker atap. Kau bisa melihat di mana Dave menempelkan botol cokelat berisi kristal nitrogen triiodida.

Baby go boom!

Dave mengangkat Jati-Matic. Tembakan yang berbahaya. Ia melihat kembali ke pintu, memperhitungkan toleransinya. Dua meter. Mepet. Ia akan berhasil bila perhitungan waktunya tepat. Bila tidak, ia takkan pernah tahu.

Ia memusatkan pandangannya. Seseorang masih di atas sana naik ke atap. Dave menunggu orang itu keluar dari bahaya.

397Radio bergemeresak. Ransome berteriak, “Myna! Myna, tutup…” Waktu habis! Dave menembak.

Jati-Matic itu tersentak di pundaknya. Ia melompat, terjun ke arah pintu. Jarinya masih menempel pada picu. Peluru menyembur di dalam ruang tangga, berpantulan pada beton. Pintu itu, koridor, tempat aman hanya beberapa kaki jauhnya.

Matanya terpejam rapat. Cahaya itu putih terang, begitu putih, begitu menyilaukan. Pembuluh darah di kelopak matanya jadi berpijar merah membara.

Dan hawa panas seperti jantung Tuhan.

Dan petir, bukan guruh badai petir di kejauhan, bukan gemuruh pelan dan panjang yang terdengar dari jendela kamar tidur anak-anak, bukan tunggu kilatnya dan hitung berapa detik sampai kau mendengar bunyinya dan kemudian kalikan dengan 0,2 hingga kau akan tahu berapa mil jarak petir itu menyambar.

Bukan petir dari jauh. Bukan petir dari dekat.

Petir dalam ruangan, petir yang terdengar dari dalam petir itu sendiri.

Sebagian tubuhnya sudah melewati ambang pintu ketika ledakan itu menyambar. Tenaga ledakan itu tidak memukulnya roboh, melainkan mengangkatnya, memutarnya, dan membantingnya ke dinding dalam keadaan jungkir balik. Ledakan itu menahannya sedetik, mendorongnya begitu keras sehingga napas meninggalkan paru-parunya, dan kemudian menjatuhkannya ke lantai.

Ia merasa seakan-akan satu geng jalanan

398

memukulinya dengan pentungan. Setiap ototnya sakit. Setiap inci kulitnya terasa memar.

Ia menjauhkan diri dari pintu terbuka itu, yang kini hanya berupa logam penyok pada engsel melengkung. Gumpalan-gumpalan beton tercurah dari atas, memantul, dan menggelinding pada karpet. Awan debu yang mencekik tercurah ke wajahnya. Ia membuka mulut mencari napas dan merangkak pergi.

Air.

Di ujung koridor itu ada pancuran air minum. Ia sampai ke sana, menegakkan badan, dan mendorong tuasnya. Ia minum banyak-banyak, dan membiarkan air mengalir ke wajahnya. Di belakangnya terdengar bunyi logam terbanting. Sebatang baja-I lepas dari langit-langit dan menusuk lantai di tempat, beberapa detik lalu, ia tergeletak.

Astaga, Sobat, apakah kau yakin tidak terlalu banyak membakar triiodida itu?

Tidak.

Ia kembali minum air.

Suara—gelombang statik?—suara manusia— bergemeresak di radio. Telinga Dave berdenging. Ia tidak bisa memahami… Ia menggerakkan rahangnya maju-mundur, menelan ludah, dan mencoba memulihkan pendengarannya. Terdengar bunyi plop, dan ia bisa mendengar lagi.

“…di sana? Ulangi, apa yang terjadi? Masuk, Robin. Masuk, Partridge. Ulangi, apa yang terjadi di atas sana? Harap jawab.” Itu Myna, orang yang dipasang di lobi.

Dave menekan tombol transmit. “Myna, berikan laporan. Bagaimana kedengarannya di bawah sana?”

399”Seperti tabrakan kereta api.”

“Apakah ada yang mendengarnya di jalan? Apakah ada kegiatan di luar sana?”

“Negatif. Siapa pun di luar sana yang mendengarnya mungkin mengira itu peledakan got Con Ed. Tapi ada orang lain di gedung ini, dan berani bertaruh mereka semua sedang menghubungi 911.”

Benar. Apa pun yang terjadi selanjutnya harus terjadi dengan cepat.

“Standby, Myna. Jangan lakukan apa-apa.”

“Afirmatif. Tapi siapa ini?”

“Akan kukatakan siapa itu.” Ransome. Suaranya parau seperti pita rekaman 78 rpm.

Dave menekankan ibu jarinya. “David Elliot bicara, Myna. Tetaplah tenang, dan jangan bertindak sembrono bila kau ingin pulang selamat hari ini.”

Ransome berbicara lembut, “Kau membuatku tercengang, Mr. Elliot. Tampaknya hanya ada kemungkinan kecil kami akan pulang.”

“Mereka akan pulang dengan selamat bila mereka mendengarkan dan melakukan apa yang kukatakan. Myna, Partridge, kalian semua, perhatikan aku baik-baik. Pertama, kujelaskan bagaimana status kalian menurutku. Myna, kau punya tiga orang bersamamu. Ada enam orang di lantai 45…”

“Mati,” sela Ransome.

“Tidak semuanya. Seharusnya kau melihat lebih teliti. Aku hanya menembak mereka yang tak memberiku pilihan lain. Coba kalian renungkan, sehari penuh aku mencoba sebisa mungkin untuk tidak membunuh kalian.”

“Dan patut disesali karena kurang berhasil.”

400

Dave mengertakkan gigi. Satu angka untuk John Ransome. Ia tidak bisa membiarkan keparat itu mencetak angka lagi—tidak bila ia, seperti yang diharapnya, hendak memenangkan hati anak buah Ransome untuk menentangnya. “Oke, Ransome, di atap kau punya—berapa—selusin.”

“Kau tak benar-benar berharap aku mengatakannya, kan?”

“Lebih sedikit. Siapa saja yang tadi berada di tangga, siapa saja yang berdiri dekat pintu, sekarang sudah tercatat dalam daftar korban. Myna, sebagai informasi, bunyi bising yang kaudengar tadi adalah bunyi aku meledakkan tangga. Semua yang di atap tetap berada di sana.”

“Di sini Robin. Myna, beritaruj Mabes segera.”

“Tahan, Myna,” Dave menyela. “Bila kau memberitahu Mabes, salah satu dari dua hal akan terjadi. Satu, mereka akan mengirim lebih banyak orang, atau dua, mereka akan mengatakan persetan dengan itu semua dan menjatuhkan heavy. Mana pun yang terjadi, kau akan mati.”

“Jangan dengarkan dia, Myna.”

“Myna, bila mereka mengirim lebih banyak orang, mereka takkan mendapatkanku. Tidak seketika itu juga. Bahkan seandainya mereka mengirimkan satu resimen penuh dan memeriksa kantor demi kantor, tetap akan butuh waktu berjam-jam. Saat itu matahari tentu sudah terbit. Akan ada banyak orang di jalan. Para pekerja akan datang. Kota ini akan terbangun.”

“Myna, aku sudah memberimu perintah. Hubungi Mabes.”

“Dan kau tahu apa yang akan kulakukan? Aku 4Ł)lakan menunggu sampai puncak jam sibuk. Kemudian aku akan memecahkan kaca dengan kursi dan terjun ke bawah. Mungkin aku akan melompat dari jendela lantai 10. Mungkin jendela lantai 40. Tak ada bedanya, sebab saat aku menimpa beton di bawah, darahku akan tersebar ke mana-mana. Apakah kau melihat ke jalan sesudah Bernie Levy yang malang melompat, Myna? Akan sama kejadiannya denganku.”

“Myna, aku tak perlu memperingatkanmu mengenai hukuman menolak perintah^ kan?”

“Kau sudah dengar apa yang dikatakan bos kalian beberapa saat lalu mengenai darahku, kan? Darahku penuh kuman atau virus atau entah apa dari neraka. Coba pikirkan, Myna, pikirkan seberapa jauh darah Bernie memercik. Pijdrkan berapa banyak orang yang mulut dan hidungnya tepercik darahku kalau aku melompat keluar dari jendela pada jam sibuk.”

“Kerjakan tugasmu, Myna, telepon…”

Myna memotong ucapan Ransome, “Apa pilihanku? Aku akan mati bila kau melompat. Aku akan mati bila mereka membom kita. Dan aku akan mati bila aku membiarkanmu keluar dari sini, sebab virusmu akan membunuh semua orang di dunia.”

“Aku takkan kabur. Itu kesepakatannya.”

Myna tidak menjawab. Sesudah diam sesaat, Ransome tertawa pelan. “Aku ingin dengar ini. Oh ya, sungguh aku ingin dengar. Katakan padaku, Mr. Elliot, apa rencana yang ada dalam benakmu? Sudah tentu kau tak percaya, di saat selarut ini, kau mendapatkan pemecahan baru untuk mengatasi kesulitan kita?”

“Aku punya. Apakah kau mau mendengarnya?”

402

Ransome mendengus. “Bicaralah.”

“Pertama, aku ingin menanyakan sesuatu pada Myna. Myna, apakah kau tahu apa yang telah dilakukan temanmu Robin, temanku Ransome? rladiah kecil macam apa yang ditinggalkannya untukku di dalam kantor Bernie Levie?”

“Uh…”

“Bagaimana denganmu, Parrot? Apakah kau pernah ke sana dan melihatnya?”

“Tidak. Aku berada dua lantai di bawahnya dalam regu cadangan. Mengapa kau tanya?”

“Ceritakan pada mereka, Ransome. Kau begitu bangga dengannya, jadi ceritakan pada mereka.”

Dave mendengar bunyi desis dan goresan. Rokok dan korek Ransome ternyata selamat dari ledakan itu. “Aku tak melihat alasan untuk melakukannya, Mr. Elliot. Aku juga tak menerima perintah dari orang seperti kau.”

“Baiklah. Aku akan melakukannya untukmu. Parrot, Myna, kalian semua, yang dilakukan bos kalian adalah memenggali beberapa kepala dan menancapkannya pada tonggak.” Dave berhenti untuk memberikan efek. “Kepala wanita.”

Seseorang, Dave tidak tahu siapa, menggumamkan umpatan tak percaya.

Suara Ransome mengeras, tidak banyak, tetapi bisa terdengar. “Kau melakukan kesalahan, Mr. Elliot. Lebih dari satu kali. Jika melihat lebih cermat, kau tentu akan tahu…”

“Bahwa kau menahan Marge Cohen sebagai sandera? Nah, tidak. Aku sudah menemukannya, dan aku melepaskannya, dan sudah sejak lama” dia keluar dari sini.”

403Ransome berbisik, “Ke-pa-rat.”

“Oke, mari kita bahas pokok persoalannya.” Dave berbicara sambil merapatkan gigi, berusaha keras mengendalikan suaranya. “Aku ingin kalian tahu bahwa bos kalian telah memancangkan kepala beberapa wanita. Kalian dengar itu? Apakah kalian mendengarku dengan jelas? Apakah kalian mengerti apa yang dikerjakan komandan sinting kalian di waktu luangnya? Kuulangi sekali lagi—bos kalian memenggali kepala wanita.”

“Perang urat saraf. Langkah yang disetujui…”

“Simpan omonganmu, Ransome. Itu cuma dalih. Dia ingin kalian percaya bahwa alasannya melakukan hal itu adalah untuk meruntuhkan sarafku. Aku dulu di ‘Nam. Kalian tahu itu. Dan ketika aku di sana ada orang melakukan tindakan yang sama terhadap perempuan-perempuan Vietnam—memenggali kepala mereka. Saat itu aku lumpuh, jadi bos kalian pikir sekarang pun aku akan lumpuh. Itulah alasan yang akan diberikan Ransome pada kalian. Namun itu bukan satu-satunya alasan. Bukan alasan sebenarnya. Alasan sesungguhnya, alasan mengapa ia melakukannya…”

“Diam, Elliot. Siapa yang memberimu izin untuk buka praktek psikiatri?”

“…sebab dia suka…”

“Letnan Elliot mengkhianati anak buah dan komandannya sendiri.”

Dave terperangah.

“Itulah yang dilakukannya di ‘Nam. Ia mengkhianati komandannya. Mengadukannya. Mengirimnya ke mahkamah militer, dia dan lima anak buahnya. Kalian tak bisa mempercayainya. Kalian tak bisa memper—

404

cayai sepatah kata pun yang dikatakannya. Dia adalah Yudas.”

“Benar.” Dave, dengan buku-buku jari memutih, meremas radio itu sekuat-kuatnya. “Kau benar, Ransome. Dan aku berani bertaruh bahwa sedikitnya salah satu anak buahmu—mungkin lebih dari satu— akan mengambil tindakan yang sama.” Dave merendahkan suaranya dan meneruskan dengan sungguh-sungguh. “Salah satu dari kalian akan menyerahkan Ransome. Kalian akan melakukannya sebab itulah tindakan yang benar, atau kalian melakukannya sebab kalian takkan bisa tidur malam hari, atau kalian melakukannya’ sebab kalian tahu bahwa bila siapa pun yang berwenang sampai tahu apa yang terjadi di sini, kalian akan tertimpa nasib seperti bos kalian. Dan itu, Teman-teman, akan jadi nasib yang benar-benar mengenaskan.”

Ransome mendengus. “Omong kosong. Aku punya wewenang…”

“Untuk memenggal leher perempuan, untuk menggorok perempuan? Hei, kalian, bila Ransome punya wewenang seperti itu, aku ingin melihatnya dalam surat tertulis. Maksudku, seandainya aku jadi kalian…”

“Kalian terlindungi. Akulah perwira senior di sini, sepenuhnya bertanggung jawab, dan…”

Dave balas menukas, “Perwira seniorlah yang lolos dengan penundaan hukuman. Anak buahlah yang menanggung akibat. Selalu demikian keadaannya selama ini, dan selalu demikianlah kelak. Aku tak pernah berjumpa dengan prajurit tempur yang tak tahu itu, Ransome.”

“Mr. Elliot, aku sudah bosan denganmu. Myna,

405kuperintahkan kau menghubungi Mabes. Sekarang kerjakanlah.”

“Jangan, Myna. Dengarkan tawaranku. Terimalah tawaran ini atau kau akan mati.”

Radio itu bungkam. Detik demi detik berlalu. Tangan Dave berkeringat. Ia tidak berani meletakkan radio itu untuk menyeka keringatnya.

Akhirnya, Myna berkata, “Teruskan, Sir. Maksudku, rasanya kami harus mendengar tawaranmu. Maksudku bila tak ada yang keberatan.”

“Kau mengecewakanku, Myna,” bisik Ransome. “Ingat, bila dia ingin berunding, dia bisa melakukannya setiap saat pagi ini.”

Kau menangkapnya basah, Sobat.

Dave menyela, “Partridge, kau percaya itu? Selama ini kaulah yang paling dekat dengan Ransome. Ayolah, Partridge, katakan pada kami, katakan pada teman-temanmu, apa yang akan terjadi bila aku mencoba berunding.”

Suara Ransome meninggi, meskipun hanya sedikit. “Diam, Partridge! Ini akan kutangani. Seperti kalian semua tahu, seandainya Mr. Elliot sedikit membantu, seandainya dia menunjukkan tanda bersedia bekerja sama, seandainya dia bertindak dewasa seperti yang kita harapkan…”

Partridge menyela, “Kau tentu sudah menembak jantungnya.”

Suara Ransome pecah. “Partridge, terkutuk kau, prajurit! Dan, Myna, aku memerintahkanmu, dan kau harus patuh!”

Dave menjaga suaranya tetap datar. Tidak mudah. “Tawaranku sederhana. Yang kuinginkan hanyalah

406

Ransome. Kalian berikan dia padaku, biarkan aku bersamanya beberapa menit, dan sesudah aku selesai…” %

“Pembohong! Pembohong keparat busuk!”

“Sesudah aku selesai dengan apa yang harus kulakukan—sama seperti yang akan kalian lakukan— akan kulepaskan senjataku, dan aku akan menyerahkan diri.”

“Ini omong kosong! Omong kosong! Jangan dengarkan!”

Dave memaksa diri agar terdengar letih dan putus asa. “Lift mungkin rusak akibat ledakan itu, Myna. Aku akan menuruni tangga, sebelah utara. Tanpa senjata. Tanpa tipuan. Tangan terangkat. Kemudian terserah padamu. Kau mau menembakku, terserah. Kurasa aku toh bakal mati juga. Kau mau menelepon Mabes, itu pun boleh. Apa pun yang kauinginkan, itulah yang kaulakukan. Aku tak peduli. Aku hanya ingin melewatkan beberapa saat intim bersama bosmu.”

“Kau bajingan. Kaupikir orang-orang ini begitu tolol…”

Satu suara lain memotong Ransome. Suara Par-r-tridge, berbicara pelan, “Bagaimana kau mau mengambilnya? Dia ada di atas sini. Kau di bawah sana.”

“Aku akan kembali ke kantor Bernie Levy. Dalam satu menit aku akan berada di sana. Di sana ada tali. Kabel sebenarnya. Di sisi utara atap. Ikat Ransome dan turunkan dia ke jendela Levy—yang pecah. Tapi mula-mula lepaskan semua pakaiannya. Aku ingin dia telanjang bulat.”

Ransome menggeram, “Wah, Mr. Elliot, aku tak pernah tahu kau merasa begitu terhadapku.”

407Dave tak menghiraukannya. “Partridge, Myna? Apakah kita sepakat?”

Hening di ujung lain hubungan radio itu. Dave menahan napas. Kini semuanya terkait pada kesetiaan. Sejauh mana kesetiaan anak buah Ransome pada pemimpin mereka? Sejauh mana mereka mencintainya; sekuat apa ikatan mereka? Dalam jiwa beberapa prajurit ada ikatan erat yang lebih dari sekadar ketaatan. Bila orang yang mereka ikuti adalah orang yang tepat, tak ada apa pun yang bisa menghancurkan ikatan mereka terhadapnya. Mereka akan mati lebih dulu.

Namun perwira yang mereka abdi dengan sumpah setia itu harus berjuang mendapatkannya. Dave menduga Ransome tidak demikian.

Demikian pula menurut Partridge.

“Setuju.” Ada ketegasan militer dalam suara Partridge. Dave tahu orang itu mengatakan yang sebenarnya.

Ransome mengaum, “LEPASKAN TANGAN BUSUKMU DARIKU. AKU AKAN MELIHATMU DI DEPAN REGU TEMBAK KAU KEPARAT JANGAN BERANI-BERANI MENYENTUHKU KAU BAJINGAN BUSUK ATAU AKAN KUKEBIRI KALIAN…”

Dave mendengar suara mendengus dan caci maki tersekap. Radio Ransome mengeluarkan bunyi seperti kertas kaca diremas.

“Partridge.” Dave bertanya, “Partridge, apakah kau di sana?”

“Di sini, Mr. Elliot. Kau di mana?”

“Hampir sampai ke kantor Levy. Aku di koridor sekarang.”

408

“Kami siap menurunkannya.”

“Tunggu sebentar, Partridge. Berapa ukuran sepatu yang dipakainya?”

“Menurutku dua belas. Lebar. Dua belas B atau C.”

Dave melangkah ke dalam kantor Bernie. Sisa pembantaian dan kengerian tak bermakna itu^inti semua peperangan dalam sejarah. Cara terbaik adalah mengabaikannya. Mengabaikannya adalah satu-satunya cara agar seorang prajurit bisa tetap waras.

“Bagus. Biarkan sepatunya tetap terpakai. Selain itu tak ada apa pun. Bahkan kaus kakinya pun tidak. Hanya sepatunya. Bisa dimengerti, Partridge?”

“Mengerti, Mr. Elliot.”

“Panggil aku Dave.”

“Dia segera diturunkan… Mr. Elliot.”

Dave berjalan ke jendela dan menarik kanvas itu. Ia mendongak. Tubuh Ransome baru saja diturunkan melewati pagar atap. Ia telanjang, putih, dan secara kasar, otot-ototnya bisa dikatakan indah. Bahkan dari kejauhan, Dave bisa melihat badannya terhias silang-silang bekas luka.

Laki-laki ini pernah menerima medali Purple Heart. Mungkin lebih dari satu.

Kendali diri Ransome sudah pulih. Ia tidak lagi berteriak, tidak lagi mengumpat. Suaranya tenang, datar, samar-samar menunjukkan aksen Appalachian-nya. “Aku sangat kecewa dengan kalian semua. Kalian menangani situasi ini bukan dengan tanggung jawab yang diharapkan dari para profesional terampil. Tapi masih ada waktu…”

Dave menekan tombol transmit pada radionya. “Par—

409tridge, aku tak ingin dia diturunkan seluruhnya. Akan kuberitahu kapan kau harus berhenti. Dan tolong geser dia sedikit ke kiri, supaya aku bisa meraihnya.” “Baik, Mr. Elliot.”

“…masih ada waktu untuk membalikkan situasi ini. Kalian tahu aku. Kalian tahu aku orang berpikiran terbuka. Aku siap melupakan sedikit penyimpangan dari tugas ini. Kalau tidak, yang kalian lakukan akan disebut pemberontakan. Aku ingin kalian…”

Ransome berputar turun. Tubuhnya menggesek permukaan granit kasar dari gedung itu. Meninggalkan bekas parutan pada kulitnya. Dave meringis. Ransome tidak.

“…memikirkan pemberontakan. Dan aku ingin kalian memikirkan.kewajiban kalian. Aku punya keyakinan bahwa bila kalian memikirkan kewajiban, kalian akan melakukan tindakan yang tepat dan benar.”

Dave menekan radionya. “Partridge, kurang-lebih satu setengah meter lagi lalu berhenti.”

“Siap.”

Partridge dan orang-orang di atap itu tidak bersikap lembut terhadap Ransome. Pergelangan kakinya diikat erat dengan kabel. Peredaran darahnya terpotong, dan kakinya berubah jadi ungu tua. Di bagian atas, lengannya terpilin di belakang punggung. Kabel itu diikatkan demikian kencang di sekitar sekat rongga dadanya sehingga daging menonjol di antara lilitan. Ransome tentu kesakitan, tetapi tentu saja ia tidak memperlihatkannya. Laki-laki seperti Ransome tak pernah memperlihatkannya.

Dave melangkah mundur dari jendela. Kaki Ransome yang tertutup sepatu muncul. Kemudian betisnya yang telanjang. “Tahan,” kata Dave.

410

“Siap.”

Ransome terkekeh. “Kau salah, Mr. Elliot. Mereka harus menurunkanku satu-dua kaki lagi sebelum kau bisa membelai-belaiku.”

Dave tak menghiraukannya. Ia mengulurkan tangan ke udara, meraih kaki kiri Ransome, dan membuka tali sepatunya.

“Apa ini, Mr. Elliot, kaupikir aku menyembunyikan senapan mesin kaliber .50 di sana?”

Dave melepaskan sepatu kanan Ransome, dan memakainya ke kaki sendiri. Ukurannya sangat tepat, sama seperti dengan yang kiri.

Ransome tertawa seolah menikmati lelucon pribadi. “Ah, hadiah buatmu. Seharian sudah kauhabiskan pura-pura sebagai orang yang bisa menggantikan kedudukanku. Sekarang kaupikir sudah berhasil. Tapi sebenarnya belum.”

Dave membungkuk dan mengikat tali sepatu.

“Sementara kau menikmati saat-saat kemenangan sementara, biar kuberitahu kau, bila kaupikir kau mempermalukanku, kau keliru. Dan bila kaupikir kau bisa menghancurkanku, kau juga keliru.”

Dave menegakkan tubuh. Ia mencondongkan badan ke luar jendela, meraih betis Ransome. Ia berbicara ke radio, “Partridge, apakah kau dengar penjelasan Ransome mengenai situasiku?”

Partridge terdengar sedikit bingung. “Ya, Sir. Mengapa kautanyakan?”

“Seluruhnya?”

“Ya, Sir”

“Semua tentang tiga fase penyakit ini. Pertama dalam darah, kemudian dalam cairan tubuh, dan kemudian dalam sistem pernapasan?”

411”Ya, Sir. Aku mengerti.” “Dan kau mengerti semuanya?” “Ya, Sir.”

“Dan kau tahu aku sekarang dalam fase kedua? Bahwa penyakit ini bisa ditularkan lewat darah, urin, dan ludah? Dan tentang minum dari cangkir yang sama, dan gigitan sayang, dan ciuman, semuanya itu?”

“Afirmatif, Sir. Sekarang tolong katakan mengapa kautanyakan semuanya ini?”

“Tentu,” kata Dave. “Atau yang lebih baik, lihatlah ke bawah, dan saksikan.”

David Elliot memandang wajah musuhnya. Ia tidak lagi membenci laki-laki ini. Kalaupun ada perasaan, ia merasa sedikit bersimpati padanya.

Ransome balas menatap tajam.

Dave tersenyum. Anehnya, senyum itu sungguh-sungguh, hangat dan bukannya tidak ramah.

Mata Ransome menyala-nyala dengan kebencian yang nyaris bisa teraba. “Apakah kau siap balas dendam, Elliot? Ayolah, man, ayo. Aku sudah tak sabar melihat perbuatan sinting apa yang ada dalam benakmu.”

Senyum Dave melebar. Ia memperkeras suaranya, memastikan bahwa orang-orang di atas atap itu bisa mendengarnya. “Apa yang ada dalam benakku, Sobat? Hanya ada ciuman. Itu saja. Hanya ciuman dan sedikit gigitan sayang.”

Saat Dave Elliot menurunkan Marge Cohen keluar dari jendela lantai 2 yang pecah, di atasnya, jauh namun cukup jelas, ia mendengar jeritan Ransome yang tajam dan gila penuh ketakutan.

Dan tetap mendengarnya, sewaktu mereka pergi menyongsong fajar.

412

EPILOG

Tidurlah; dan bila hidup terasa pahit bagimu, maafkanlah,

Bila manis, bersyukurlah; meskipun tak bisa meneruskannya lagi.

Dan baiklah kiranya bersyukur, dan memaafkan.

Algernon Charles Swinburne, “Ave atque Vale”

Seorang laki-laki di atas kuda.

Namanya David Elliot. Ia berperawakan ramping dan berkulit gelap, wajahnya belum pucat akibat serangan terakhir penyakitnya.

Perjalanan ini adalah yang terakhir. Ia tahu bahwa maut menanti di ujungnya.

Matanya cokelat, dan tampak serius seandainya tidak ada senyum yang membuat sudut-sudutnya berkeriput.

Ia tahu bahwa ia akan mati seorang diri, dan sudah berdamai dengan takdir yang tak terelakkan

413itu. Musim gugur sudah dekat, musim dingin tidak jauh lagi; tubuhnya tidak akan ditemukan sampai musim panas datang lagi.

Kesadaran inilah sebagian yang menyebabkan senyum itu. Mikroba yang tak lama lagi akan memasuki tahap ketiga, tahap membunuh, membutuhkan inang hidup. Maka dengan mati jauh dari manusia lain, ia akan membunuh apa yang telah membunuhnya.

Ada alasan-alasan lain mengapa ia tersenyum, namun itu hal-hal pribadi.

Hari ini, ia sudah lebih dari 320 kilometer di sebelah timur San Francisco, di Pegunungan Sierra. Kemarin ia melintasi kaki lereng, dan mengambil’ kudanya dari laki-laki dengan kulit seperti disamak yang tampak tak sedikit pun bertambah usianya sejak terakhir kali Dave melihatnya.

Dave memberikan uang dan beberapa surat kepada laki-laki itu. Surat-surat tersebut dialamatkan kepada pied-a-terre di Sutton Place, ke kantor di Basel, ke asrama di Columbia University, dan ke ranch di Colorado. Laki-laki itu menghitung uang, tersenyum puas, melipat surat-surat itu ke dalam saku kemeja, dan berjanji tidak akan mengirimkannya hingga salju pertama musim itu turun.

Sekarang David Elliot berkuda ke barat menuju ke dataran tinggi yang luas, menaiki lereng berbatu-batu, ke lembah kecil yang pernah dikunjunginya sekali, dan tak pernah dilupakannya. Di sana tak ada jalan setapak, tapi ia tahu ke mana harus pergi. Setiap meter tanah di sana—granit, kelabu dengan bercak-bercak hitam—masih segar dalam benaknya, seolah baru kemarin ia ke sini.

414

Ia tidak bercukur. Rambut-rambut di pipi, dagu, dan bagian atas bibirnya sudah tiga hari dibiarkan tumbuh.. Ia berangan seandainya cambang itu tumbuh lebih cepat. Kiranya baik memakai kumis pada akhirnya.

Dave mengambil sehelai saputangan. Ia mengangkat tepi topi jeraminya dan menyeka keringat. Ia tahu masih berapa jauh tujuannya. Hanya tinggal sejam lagi.

Matahari hampir tenggelam ketika ia tiba. Udara dipenuhi dengan cahaya keemasan. Ia mendaki gundukan kecil, menengok ke bawah, dan menahan napas. Keindahan lembah itu sungguh mendebarkan. Di tengahnya, lebih hijau daripada botol hijau, terbentang danau zamrud yang selalu diingatnya, sama seperti ia mengingat bayangan senja lembut yang terbentang di seberangnya. Tak sesuatu pun bergerak. Dan ya, udara ini sesegar anggur.

Inilah saat terindah dalam hidupnya, terindah yang bisa dialami. Ia tahu bahwa, di antara semua orang, ia mendapatkan hak istimewa untuk mengalaminya dua kali. Dan kesadaran ini mengisi hatinya dengan kegembiraan.

415THE SPECIALIST CONSULTING GROUP. Inc. Jawaban merujuk pada arsip: 04-95-270K T

Kantor Administrasi Proyek

Mail Drop 172, LEMDUSA 20817

KEPADA: Daftar Edaran, via faks

DARI: Administrator Proyek, Proyek 79-1-18

SUBJEK: Status

Kantor ini memberitahukan kepada Anda bahwa:

1. Hasil-hasil pengujian terbaru menunjukkan bahwa kemampuan hidup mikroba 138,12.b tergantung pada inang yang menyerap oksigen dalam jumlah besar. Efektivitas mikroba menurun secara logaritmis sesuai fungsi rumus f(x) = -2.17E+5 ” ln(x) + 4.71E+5, di mana x adalah tekanan atmosfer dalam milibar Mikroba 138.12.b memasuki saat tidur pada ketinggian 1.260 meter ą 5% di atas permukaan laut. 100% mortalitas mikroba terjadi di atas ketinggian 2.040 meter ą 5% di atas permukaan laut. Staf R&D menekankan bahwa hasil ini tidak diperkirakan, dan mohon maaf atas segala kesulitan yang mungkin timbul dari kekhilafan ini. Staf lebih lanjut menegaskan bahwa efektivitas mikroba tetap pada parameter yang telah ditetapkan di bawah ketinggian 600 meter ą 5%.

2. Penyelidikan lapangan menegaskan bahwa subjek ELLIOT, David Perry, mencapai lokasi perkemahan di bawah Gunung Excelsior, negara bagian California (38°07’ Lintang Utara dan II8°53’ Bujur Barat) pada tanggal 29 September tahun ini. Peta USGS menunjukkan bahwa lokasi perkemahan ini terletak pada ketinggian 2.830 meter di atas permukaan laut. Dengan demikian, kemungkinan besar bahwa subjek ELLIOT, pada saat ini, masih belum mati. Data lebih jauh mengenai gerakan subjek ELLIOT selanjutnya dan keberadaannya saat ini belum diterima.

3. Subjek KREUTER, John James, Kolonel, Veteran Angkatan Bersenjata AS, meninggalkan kantornya di Basel, Switzerland, pada tanggal 14 Oktober tahun ini. Data lebih lanjut mengenai gerakan dan keberadaan subjek KREUTER saat ini belum diterima

4. Catatan paspor menunjukkan bahwa subjek COHEN, Marigold Fields, melapor pada imigrasi Swiss pada tanggal 28 September tahun ini. Subjek Cohen tinggal di Hotel Mercure Luceme, Switzerland sampai tanggal 14 Oktober tahun ini. Data lebih lanjut mengenai gerakan dan keberadaan subjek Cohen saat ini belum diterima

5. Kantor ini menilai kemungkinan inisiatif balas dendam oleh subjek ELLIOT, mungkin bekerja sama dengan subjek KREUTER, adalah di atas tingkat risiko yang bisa diterima. Semua personel yang terlibat dengan ini diarahkan untuk mengambil prosedur pertahanan tingkat 3. %

6. Tetap tenang, Saudara-saudaralTampaknya situasi ini dalam kendali kita.

LTF mjCATATAN PENULISp>

Pada tahun 1946 penyelidik kejahatan perang Sekutu menemukan bahwa Dr. Shiro Ishii, jenderal Tentara Kekaisaran Jepang dan komandan organisasi militer yang dikenal sebagai Unit 731, telah membangun laboratorium senjata biologi terbesar dan termaju di dunia di Manchuria. Laboratorium-laboratorium satelitnya kelak ditemukan di Tokyo dan tempat lain. Bukti-bukti yang dikumpulkan oleh para penyelidik itu menunjukkan bahwa selama masa perang, Ishii dan para asistennya telah melakukan uji coba senjata biologis secara ekstensif terhadap penduduk sipil Cina serta terhadap tahanan perang Amerika dan Inggris yang disekap di berbagai kamp di Asia Tenggara.

Tak dapat dijelaskan mengapa Dr. Ishii (yang kejahatannya jauh melampaui rekannya dari Jerman, Dr. Josef Mengele) tidak pernah dibawa ke pengadilan. Sebaliknya, ia diizinkan menikmati masa pensiun yang makmur dan panjang, menikmati uang tunjangan besar dari Pemerintah Jepang serta pendapat dari berbagai sumber yang tetap anonim sampai, tepat ketika novel ini dikirim kepada typesetter, The New York Times mengungkapkan bahwa Pemerintah AS telah memba-419yarkan upah tetap dalam jumlah besar kepada Dr. Ishii.

Beberapa catatan yang bisa dilihat umum memberikan keterangan yang membingungkan mengenai hakikat laporan-laporan riset yang dibuat oleh Dr. Ishii dan stafnya.

Sekian

0 Response to "VERTICAL RUN"

Post a Comment

Translate

English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified