Download applikasi baca novel online untuk android disini: DOWNLOAD

Suluk Kematian


Salman Rusydie Anwar

ADALAH belum siang betul saat aku mendapati suasana gaduh penuh tangis kematian itu. Pagi masih buta. Anak-anak belum sepenuhnya terjaga dari tidurnya. Mereka masih bergelut dengan mimpi-mimpi indahnya. Tentang alam, tentang permainan, maupun tentang dunia yang disangkanya masih bisa bertahan dengan kemolekan yang dimilikinya.

Namun, di pagi yang buta itu. Alam menegaskan keadaannya sendiri. Sebagai sesuatu yang sepenuhnya tidak bisa disangka-sangka. Ia menunjukkan bahwa apa yang dimilikinya tetap berada dalam satu kendali Yang Maha tak Terduga. Alam bergeliat dalam satu irama yang asing. Membanting-bantingkan gedung, pohon, kerikil, daun yang gugur. Bahkan anak-anak yang belum sepenuhnya terjaga dari lelapnya.

Maka, jadilah suasana di pagi hari itu sebagai penegasan tentang apa yang sesungguhnya harus aku pahami. Aku masih mengenakan mantel tebalku. Dingin. Burung-burung di sebagian tempat masih merunduk lelah. Diam. Layaknya memberi waktu bagiku untuk menyaksikan tarian-tarian ajaib tangan Tuhan.

Tarian ajaib itu tak hanya menggiringku untuk tetap terpaku pada kenyataan maut yang bergentayangan dan memaksaku untuk berteriak, menangis. Penuh ketakutan. Namun sekaligus tarian-tarian maut itu mengocok perutku untuk terpingkal-pingkal tertawa. Karena bayangan kematian yang mengancam itu terlihat begitu lucu. Setidaknya untuk ditakuti.

Atas tarian ajaib tangan Tuhan. Atas guncangan yang melempar-lemparkan guguran dedaunan. Orang-orang melolong-lolong di sekitarku. Menumpahkan serak parau suara mereka ke dalam irama yang satu. Ketakutan. Kepanikan. Ancaman kematian, terus membuntuti gerak langkah mereka yang berlarian. Berhamburan. Sampai terlihat olehku di antara mereka. Ambruk. Bagai tumbangnya pepohonan. Darah berhambur ke arah-arah. Mulut mengerang. Matanya terpejam pasrah. Sebuah balok beton begitu angkuh menindihnya. Akhh…! Suaranya kini mulai melemah. Sebelum akhirnya ia beku. Direngkuh sunyi yang sesungguhnya.

Sementara orang-orang di sekitarnya terus mempercepat langkah. Tanpa sedikitpun menoleh dan memberinya ucapan selamat tinggal. Ia yang ambruk, telah menjadi bagian beton-beton yang patah. Yang terus dilalui oleh langkah yang panik. Yang tak boleh disentuh, kalau tidak ingin maut menyentuhnya. Semacam egoisme yang tak menemukan pilihan untuk tidak dilakukan. Aku pun terdiam. Entah menerima atau sebaliknya mengutuk. Tapi pagi itu, semuanya terjadi tanpa pertimbangan-pertimbangan yang bisa dilakukan. Semua orang mesti merasa perlu untuk hanya tahu apa yang bagi mereka sangat berharga. Hidup. Dan selamat di antara bayangan kematian yang sangat serius mengancam.

Aku, seperti terus dipaksa untuk terus tetap berdiri di atas bongkahan-bongkahan tubuh manusia. Tak kuhiraukan orang-orang yang tak sengaja menubruk tubuhku. Tanah yang kupijak kurasakan terus berderak-derak. Menderitkan suara kematian yang semakin jalang mengancam. Aku pun tak bisa berdoa jika hal itu hanya bisa kulakukan sendiri. Sementara orang-orang terus menjerit-jerit. Tak jelas melafalkan suara apa. Tapi, bukankah Tuhan tak perlu diberi penjelasan tentang apa yang kami semua harapkan. Ia tahu betul apa makna di balik histerisnya orang-orang. Aku tetap terdiam. Membiarkan maut mengancamku yang di mana saja dan kejadian apa saja tetap tak bisa kutolak. Tapi bagaimana dengan mereka?

Setelah semuanya terlihat begitu mencekam. Akhirnya malam pelan-pelan merayap. Aku pun memutuskan untuk pergi. Kususuri puing-puing yang ambruk itu. Aku terus berjalan ke arah timur. Aku, pada waktu itu, merasa harus menemui-Mu secepatnya. Setidaknya meminta-Mu penjelasan. Tentang atas dasar apa Kau lakukan semua ini. Aku tahu bahwa setelah perjanjian itu, Kau tak memperbolehkan aku untuk menemui-Mu. Apalagi bertanya tentang apa saja yang Kau lakukan. Kau memintaku untuk diam. Lebih tepatnya bersabar atas semua perbuatan-Mu yang tak sepenuhnya masuk di akalku.

Akh…, betapa Kau telah menjadikan aku layaknya seperti Musa. Yang tak boleh bertanya ketika sang Khidir menenggelamkan sebuah perahu milik si miskin. Ketika ia dengan dingin menggorok leher seorang bocah yang sedang asyik bermain. Atau bahkan ketika ia dengan susah payah memperbaiki sebuah rumah, di mana itu semua ia lakukan tanpa imbal jasa. Tanpa perhitungan apa-apa sampai Musa sendiri bergumam, ”Betapa bodohnya engkau atas semua perbuatan yang kau lakukan ini, Khidir”. Dan demi mendengar itu, si Khidir memutuskan untuk tidak lagi bersama Musa.

Tapi aku tahu bahwa Kau bukan si Khidir itu. Setidaknya Kau bukan bagian dari mereka. Bukan bagian dari siapa saja. Kau adalah pribadi yang bebas dari pengaruh siapa pun. Dan karena itu, aku terus mencari-Mu. Meminta penjelasan atas semua tindakan-Mu pada hari itu.

Engkau tahu sendiri. TindakanMu telah menjadi penyebab dari terjadinya beberapa kehilangan-kehilangan. Anak-anak itu. Lihatlah. Ia terlepas dari dekapan ibunya untuk pergi ke suatu alam yang tak memberinya kemungkinan untuk kembali. Lihat juga para orang-orang yang sudah tua renta itu. Ia telah kehilangan kesempatan menikmati sisa hidupnya bersama para cucu mereka yang tersayang.

”Kau hanya bisa mencercaKu dengan pertanyaan-pertanyaan konyolmu itu. Sementara Aku, harus terus berusaha menunjukkan betapa Aku masih memiliki kuasa atas hidup mereka. Setidaknya atas kecongkakan mereka yang ditujukan padaKu dari hari ke hari,” suaraMu kudengar menggelegar.

Aku mengangkat kepala. Berusaha membantah dengan cara menatapMu. ”Baiklah kalau memang itu alasanMu. Aku tak keberatan. Kau memang memiliki hak untuk melakukan itu semua. Sebab segalanya memang Engkaulah pengaturnya. Tapi aku sungguh menyesalkan, betapa Engkau tidak memilah-milah kepada siapa seharusnya kuasaMu mesti Kau tunjukkan”.

Aku tak mendengar lagi suaraMu selain suara deru angin yang menusuk-nusuk hidungku.Ada bau anyir darah yang tiba-tiba menyengat. Seperti terus mengobarkan aroma kematian yang seakan terus berseliweran di hadapanku. Malam semakin pekat. Burung-burung hantu terus mendesiskan suara-suara mistisnya di tengah-tengah rinai gerimis yang mulai turun secara tiba-tiba.

”Di mana, Kau?” tanyaku dengan setengah berteriak. ”Ayo keluarlah. Jangan bersembunyi dan kembali membuat teka-teki. Kau masih harus menjelaskan kepadaku tentang alasan dari semua perbuatanMu ini. Keluarlah dan tampakkan wujudMu”.

Angin berhembus semakin kencang. Tanah yang kupijak kembali bergoyang. ”Hei, hentikan perbuatanMu ini. Apa Kau tidak tahu apa akibat dari perbuatanMu ini!!”

Kau tetap tak memberiku jawaban. Selain tanah yang terus kelihatan hilang keseimbangan. Aku sendiri kini semakin ingin memburuMu. MempersoalkanMu dan segalanya seperti hendak kutumpahkan kepadaMu. Di tengah suaraku yang semakin tak jernih didengar. Aku terus berteriak-teriak. Memanggil-manggilMu dari segala arah. Kau tak jua semakin bergegas menemuiku. Sehingga karenanya aku semakin memanggilMu dengan penuh keberangan.

”Kau tak perlu berteriak-teriak seperti itu. Toh, kenyataannya Aku berada lebih dekat dari urat lehermu. Lagipula apa hakmu mencari-cari. Aku, sekadar untuk mengetahui alasanKu berbuat begitu pada tempatmu. Pada daerahmu. Kau seperti halnya dengan mereka juga. Semuanya berada di bawah kekuasaanKu. Jadi apapun yang Aku lakukan, sepenuhnya itu berada dalam hakKu. Dan kau, juga semuanya, hanya memiliki dua pilihan sikap terhadap tindakanKu. Bersabar, atau pergi saja ke mana kau suka.

Tapi yang harus kalian semua ingat adalah; bahwa itu semua, Aku lakukan semata-mata untuk mengetahui secara pasti apakah kalian masih menganggapKu ada atau tidak. Masih menjadikanKu sebagai satu-satunya jaminan atas segala urusan hidupmu atau malah sebaliknya, mengacuhkan.

Kalian semua, sedikitpun tidak memiliki hak untuk memberiKu ukuran-ukuran berupa apa saja atas kejadian ini. Apakah kemudian, kalau Aku porak porandakan kehidupan mereka lantas kau menganggapKu tidak lagi mengasihimu. Tidak lagi menyayangimu? Kalau memang benar demikian anggapanmu terhadapKu, maka ketahuilah bahwa itu semua adalah salah. Karena hal itu adalah ukuran-ukuranmu belaka yang hanya dipaksakan untuk mensifati kedirianKu atau lebih tepatnya menudingKu tak memiliki belas kasihan.

Ingat! Aku memiliki banyak cara yang tak terbatas untuk menunjukkan betapa Aku sangat berkuasa di samping Aku juga penyayang bagi semua. Tak terkecuali dengan apa yang menimpamu saat ini. Kau bisa juga beranggapan, bahwa bencana yang meluluhlantakkan daerahmu, ciptaan dan kepunyaanKu, yang telah menyebabkan orang-orang dekat yang kau cintai itu semuanya menghilang secara tiba-tiba sebagai cobaan kepedihan dan sebuah bencana malapetaka.

Tapi, pernahkah kau berpikir bahwa apa yang kau anggap sebagai bencana, berarti pula bernilai malapetaka bagiKu. Belum tentu demikian. Karena, walau bagaimanapun, kau tak memiliki kesanggupan untuk tahu dengan urusan dan rencana-rencanaKu. Kau hanya tahu meminta agar Aku mengasihimu, menyayangimu mulai sejak lahir sampai ajal memanggil. Dan kau hanya tahu bahwa wujud kasih sayangKu bisa kau terima selama ini memberikan rasa nikmat, rasa senang, rasa nyaman dan aman. Padahal, ukuran-ukuran seperti itu hanyalah semata kecenderunganmu mengikuti nafsu belaka.

Padahal, Aku memiliki banyak jalan untuk mewujudkan kasih sayangKu. Sekalipun itu dengan jalan yang menyakitkan hatimu. Tapi itulah Aku. Sekali lagi itulah Aku. Yang tidak bisa seenak rasamu dituntut memenuhi kenyamanan demi kenyamanan yang kau pinta. Aku mesti memberimu kasih sayang. Meski hal itu Aku wujudkan dalam bentuk guncangan demi guncangan yang melanda rumahmu itu. Tapi Aku tidak tahu apa kau bisa menemukan taburan kasih sayangKu?

Terhadap orang-orang yang telah dengan begitu tiba-tiba pergi dari kehidupanmu, kau tak perlu risau. Kepada mereka semua Aku hanya merasa kasihan sebab sudah terlalu lama mereka menanti-nanti kebahagiaan yang pernah dijanjikan para penguasamu. Daripada kebahagiaan yang mereka nanti-nanti itu tak kunjung datang. Kenapa tidak saja bergabung dengan orang-orangKu yang telah berbahagia. Karenanya Kupanggil mereka semua untuk secepat mungkin merasakan kebahagiaan yang telah lama mereka impikan. Jadi, kenapa kau mesti bersedih atas hal yang tidak sepenuhnya kau ketahui ini, hah…! Oh, iya. Apa kau masih bisa mengikuti jalan pikiranKu?” tanyaMu kemudian.

Tak ada yang bisa kuucapkan sebagai jawaban atas pertanyaanMu itu. Bahkan, sekalipun Kau mengulangi dan memaksaku menjawab pertanyaanMu. Aku tetap tidak bisa memberikan jawaban. Aku memilih untuk terdiam. Beku. Mencoba memahami apa yang baru saja Kau sebut sebagai jalan pikiran. Yah…, Jalan Pikiran-Mu.

Susah. Waktu membeku. Seperti aku. Di hadapanMu. Pada hari bencana itu.*** ADALAH belum siang betul saat aku mendapati suasana gaduh penuh tangis kematian itu. Pagi masih buta. Anak-anak belum sepenuhnya terjaga dari tidurnya. Mereka masih bergelut dengan mimpi-mimpi indahnya. Tentang alam, tentang permainan, maupun tentang dunia yang disangkanya masih bisa bertahan dengan kemolekan yang dimilikinya.

Namun, di pagi yang buta itu. Alam menegaskan keadaannya sendiri. Sebagai sesuatu yang sepenuhnya tidak bisa disangka-sangka. Ia menunjukkan bahwa apa yang dimilikinya tetap berada dalam satu kendali Yang Maha tak Terduga. Alam bergeliat dalam satu irama yang asing. Membanting-bantingkan gedung, pohon, kerikil, daun yang gugur. Bahkan anak-anak yang belum sepenuhnya terjaga dari lelapnya.

Maka, jadilah suasana di pagi hari itu sebagai penegasan tentang apa yang sesungguhnya harus aku pahami. Aku masih mengenakan mantel tebalku. Dingin. Burung-burung di sebagian tempat masih merunduk lelah. Diam. Layaknya memberi waktu bagiku untuk menyaksikan tarian-tarian ajaib tangan Tuhan.

Tarian ajaib itu tak hanya menggiringku untuk tetap terpaku pada kenyataan maut yang bergentayangan dan memaksaku untuk berteriak, menangis. Penuh ketakutan. Namun sekaligus tarian-tarian maut itu mengocok perutku untuk terpingkal-pingkal tertawa. Karena bayangan kematian yang mengancam itu terlihat begitu lucu. Setidaknya untuk ditakuti.

Atas tarian ajaib tangan Tuhan. Atas guncangan yang melempar-lemparkan guguran dedaunan. Orang-orang melolong-lolong di sekitarku. Menumpahkan serak parau suara mereka ke dalam irama yang satu. Ketakutan. Kepanikan. Ancaman kematian, terus membuntuti gerak langkah mereka yang berlarian. Berhamburan. Sampai terlihat olehku di antara mereka. Ambruk. Bagai tumbangnya pepohonan. Darah berhambur ke arah-arah. Mulut mengerang. Matanya terpejam pasrah. Sebuah balok beton begitu angkuh menindihnya. Akhh…! Suaranya kini mulai melemah. Sebelum akhirnya ia beku. Direngkuh sunyi yang sesungguhnya.

Sementara orang-orang di sekitarnya terus mempercepat langkah. Tanpa sedikitpun menoleh dan memberinya ucapan selamat tinggal. Ia yang ambruk, telah menjadi bagian beton-beton yang patah. Yang terus dilalui oleh langkah yang panik. Yang tak boleh disentuh, kalau tidak ingin maut menyentuhnya. Semacam egoisme yang tak menemukan pilihan untuk tidak dilakukan. Aku pun terdiam. Entah menerima atau sebaliknya mengutuk. Tapi pagi itu, semuanya terjadi tanpa pertimbangan-pertimbangan yang bisa dilakukan. Semua orang mesti merasa perlu untuk hanya tahu apa yang bagi mereka sangat berharga. Hidup. Dan selamat di antara bayangan kematian yang sangat serius mengancam.

Aku, seperti terus dipaksa untuk terus tetap berdiri di atas bongkahan-bongkahan tubuh manusia. Tak kuhiraukan orang-orang yang tak sengaja menubruk tubuhku. Tanah yang kupijak kurasakan terus berderak-derak. Menderitkan suara kematian yang semakin jalang mengancam. Aku pun tak bisa berdoa jika hal itu hanya bisa kulakukan sendiri. Sementara orang-orang terus menjerit-jerit. Tak jelas melafalkan suara apa. Tapi, bukankah Tuhan tak perlu diberi penjelasan tentang apa yang kami semua harapkan. Ia tahu betul apa makna di balik histerisnya orang-orang. Aku tetap terdiam. Membiarkan maut mengancamku yang di mana saja dan kejadian apa saja tetap tak bisa kutolak. Tapi bagaimana dengan mereka?

Setelah semuanya terlihat begitu mencekam. Akhirnya malam pelan-pelan merayap. Aku pun memutuskan untuk pergi. Kususuri puing-puing yang ambruk itu. Aku terus berjalan ke arah timur. Aku, pada waktu itu, merasa harus menemui-Mu secepatnya. Setidaknya meminta-Mu penjelasan. Tentang atas dasar apa Kau lakukan semua ini. Aku tahu bahwa setelah perjanjian itu, Kau tak memperbolehkan aku untuk menemui-Mu. Apalagi bertanya tentang apa saja yang Kau lakukan. Kau memintaku untuk diam. Lebih tepatnya bersabar atas semua perbuatan-Mu yang tak sepenuhnya masuk di akalku.

Akh…, betapa Kau telah menjadikan aku layaknya seperti Musa. Yang tak boleh bertanya ketika sang Khidir menenggelamkan sebuah perahu milik si miskin. Ketika ia dengan dingin menggorok leher seorang bocah yang sedang asyik bermain. Atau bahkan ketika ia dengan susah payah memperbaiki sebuah rumah, di mana itu semua ia lakukan tanpa imbal jasa. Tanpa perhitungan apa-apa sampai Musa sendiri bergumam, ”Betapa bodohnya engkau atas semua perbuatan yang kau lakukan ini, Khidir”. Dan demi mendengar itu, si Khidir memutuskan untuk tidak lagi bersama Musa.

Tapi aku tahu bahwa Kau bukan si Khidir itu. Setidaknya Kau bukan bagian dari mereka. Bukan bagian dari siapa saja. Kau adalah pribadi yang bebas dari pengaruh siapa pun. Dan karena itu, aku terus mencari-Mu. Meminta penjelasan atas semua tindakan-Mu pada hari itu.

Engkau tahu sendiri. TindakanMu telah menjadi penyebab dari terjadinya beberapa kehilangan-kehilangan. Anak-anak itu. Lihatlah. Ia terlepas dari dekapan ibunya untuk pergi ke suatu alam yang tak memberinya kemungkinan untuk kembali. Lihat juga para orang-orang yang sudah tua renta itu. Ia telah kehilangan kesempatan menikmati sisa hidupnya bersama para cucu mereka yang tersayang.

”Kau hanya bisa mencercaKu dengan pertanyaan-pertanyaan konyolmu itu. Sementara Aku, harus terus berusaha menunjukkan betapa Aku masih memiliki kuasa atas hidup mereka. Setidaknya atas kecongkakan mereka yang ditujukan padaKu dari hari ke hari,” suaraMu kudengar menggelegar.

Aku mengangkat kepala. Berusaha membantah dengan cara menatapMu. ”Baiklah kalau memang itu alasanMu. Aku tak keberatan. Kau memang memiliki hak untuk melakukan itu semua. Sebab segalanya memang Engkaulah pengaturnya. Tapi aku sungguh menyesalkan, betapa Engkau tidak memilah-milah kepada siapa seharusnya kuasaMu mesti Kau tunjukkan”.

Aku tak mendengar lagi suaraMu selain suara deru angin yang menusuk-nusuk hidungku.Ada bau anyir darah yang tiba-tiba menyengat. Seperti terus mengobarkan aroma kematian yang seakan terus berseliweran di hadapanku. Malam semakin pekat. Burung-burung hantu terus mendesiskan suara-suara mistisnya di tengah-tengah rinai gerimis yang mulai turun secara tiba-tiba.

”Di mana, Kau?” tanyaku dengan setengah berteriak. ”Ayo keluarlah. Jangan bersembunyi dan kembali membuat teka-teki. Kau masih harus menjelaskan kepadaku tentang alasan dari semua perbuatanMu ini. Keluarlah dan tampakkan wujudMu”.

Angin berhembus semakin kencang. Tanah yang kupijak kembali bergoyang. ”Hei, hentikan perbuatanMu ini. Apa Kau tidak tahu apa akibat dari perbuatanMu ini!!”

Kau tetap tak memberiku jawaban. Selain tanah yang terus kelihatan hilang keseimbangan. Aku sendiri kini semakin ingin memburuMu. MempersoalkanMu dan segalanya seperti hendak kutumpahkan kepadaMu. Di tengah suaraku yang semakin tak jernih didengar. Aku terus berteriak-teriak. Memanggil-manggilMu dari segala arah. Kau tak jua semakin bergegas menemuiku. Sehingga karenanya aku semakin memanggilMu dengan penuh keberangan.

”Kau tak perlu berteriak-teriak seperti itu. Toh, kenyataannya Aku berada lebih dekat dari urat lehermu. Lagipula apa hakmu mencari-cari. Aku, sekadar untuk mengetahui alasanKu berbuat begitu pada tempatmu. Pada daerahmu. Kau seperti halnya dengan mereka juga. Semuanya berada di bawah kekuasaanKu. Jadi apapun yang Aku lakukan, sepenuhnya itu berada dalam hakKu. Dan kau, juga semuanya, hanya memiliki dua pilihan sikap terhadap tindakanKu. Bersabar, atau pergi saja ke mana kau suka.

Tapi yang harus kalian semua ingat adalah; bahwa itu semua, Aku lakukan semata-mata untuk mengetahui secara pasti apakah kalian masih menganggapKu ada atau tidak. Masih menjadikanKu sebagai satu-satunya jaminan atas segala urusan hidupmu atau malah sebaliknya, mengacuhkan.

Kalian semua, sedikitpun tidak memiliki hak untuk memberiKu ukuran-ukuran berupa apa saja atas kejadian ini. Apakah kemudian, kalau Aku porak porandakan kehidupan mereka lantas kau menganggapKu tidak lagi mengasihimu. Tidak lagi menyayangimu? Kalau memang benar demikian anggapanmu terhadapKu, maka ketahuilah bahwa itu semua adalah salah. Karena hal itu adalah ukuran-ukuranmu belaka yang hanya dipaksakan untuk mensifati kedirianKu atau lebih tepatnya menudingKu tak memiliki belas kasihan.

Ingat! Aku memiliki banyak cara yang tak terbatas untuk menunjukkan betapa Aku sangat berkuasa di samping Aku juga penyayang bagi semua. Tak terkecuali dengan apa yang menimpamu saat ini. Kau bisa juga beranggapan, bahwa bencana yang meluluhlantakkan daerahmu, ciptaan dan kepunyaanKu, yang telah menyebabkan orang-orang dekat yang kau cintai itu semuanya menghilang secara tiba-tiba sebagai cobaan kepedihan dan sebuah bencana malapetaka.

Tapi, pernahkah kau berpikir bahwa apa yang kau anggap sebagai bencana, berarti pula bernilai malapetaka bagiKu. Belum tentu demikian. Karena, walau bagaimanapun, kau tak memiliki kesanggupan untuk tahu dengan urusan dan rencana-rencanaKu. Kau hanya tahu meminta agar Aku mengasihimu, menyayangimu mulai sejak lahir sampai ajal memanggil. Dan kau hanya tahu bahwa wujud kasih sayangKu bisa kau terima selama ini memberikan rasa nikmat, rasa senang, rasa nyaman dan aman. Padahal, ukuran-ukuran seperti itu hanyalah semata kecenderunganmu mengikuti nafsu belaka.

Padahal, Aku memiliki banyak jalan untuk mewujudkan kasih sayangKu. Sekalipun itu dengan jalan yang menyakitkan hatimu. Tapi itulah Aku. Sekali lagi itulah Aku. Yang tidak bisa seenak rasamu dituntut memenuhi kenyamanan demi kenyamanan yang kau pinta. Aku mesti memberimu kasih sayang. Meski hal itu Aku wujudkan dalam bentuk guncangan demi guncangan yang melanda rumahmu itu. Tapi Aku tidak tahu apa kau bisa menemukan taburan kasih sayangKu?

Terhadap orang-orang yang telah dengan begitu tiba-tiba pergi dari kehidupanmu, kau tak perlu risau. Kepada mereka semua Aku hanya merasa kasihan sebab sudah terlalu lama mereka menanti-nanti kebahagiaan yang pernah dijanjikan para penguasamu. Daripada kebahagiaan yang mereka nanti-nanti itu tak kunjung datang. Kenapa tidak saja bergabung dengan orang-orangKu yang telah berbahagia. Karenanya Kupanggil mereka semua untuk secepat mungkin merasakan kebahagiaan yang telah lama mereka impikan. Jadi, kenapa kau mesti bersedih atas hal yang tidak sepenuhnya kau ketahui ini, hah…! Oh, iya. Apa kau masih bisa mengikuti jalan pikiranKu?” tanyaMu kemudian.

Tak ada yang bisa kuucapkan sebagai jawaban atas pertanyaanMu itu. Bahkan, sekalipun Kau mengulangi dan memaksaku menjawab pertanyaanMu. Aku tetap tidak bisa memberikan jawaban. Aku memilih untuk terdiam. Beku. Mencoba memahami apa yang baru saja Kau sebut sebagai jalan pikiran. Yah…, Jalan Pikiran-Mu.

Susah. Waktu membeku. Seperti aku. Di hadapanMu. Pada hari bencana itu.*

Prolog Kematian

Akmal Nasery Basral

GADIS itu terperangah melihat tayangan televisi di depannya: siaran langsung dari sebuah ruas jalan protokol yang biasanya selalu padat. Kali ini suasana jalan terlihat mencekam. Bukan karena terlalu lengang. Tidak. Jalan itu tetap ramai, tetapi dalam bentuk lain. Bentuk yang kalau bisa tak ingin ia saksikan meski sepersejuta kerjap mata. Namun terlambat. Ia telanjur melihat kerumunan orang yang sedang menggelepar seperti disembelih tangan-tangan algojo yang tak tampak.Ada yang dahinya koyak, lengan kutung, pinggul rompal.

Anehnya tak terlihat warna merah darah yang membanjir seperti layaknya bila mayat-mayat berserakan. Semua berwarna cokelat kehitaman, seperti wajah-wajah yang diolesi oli mesin pada permainan rakyat saat perayaan tujuh belas Agustus di kampung-kampung. Kamera menangkap ekspresi seorang lelaki yang mencoba keluar dari parit di pinggir jalan. Badannya gemetar, seperti bayi yang baru belajar berdiri dan menyeimbangkan badan. Sedikit lagi ia berhasil keluar dari parit. Sedikit lagi dan, hup, ia kembali terguling seperti batang pisang yang menggelinding. Daun telinganya terlihat hanya tinggal yang sebelah kiri. Bajunya cabik-cabik seperti diterkam selusin anjing gila.

Lalu kamera televisi mengambil gambar long shoot kawasan itu …

Gadis itu terpaku. Ia lupa hendak mengerjakan apa semenit yang lalu, atau hendak menelepon siapa. Gambar yang tersaji di layar kaca seperti membangunkan kembali kenangan masa lalu yang sudah terkubur rapi di pojok ingatannya. Gedung-gedung jangkung yang kini terlihat telanjang akibat semua kaca pembungkusnya hancur berantakan. Begitu halus seperti beras tumbuk di lesung petani. Kendaraan yang berhenti tak beraturan, tak berpola, dan masih menyisakan asap hitam tipis.

Kamera televisi berubah mengambil posisi medium close up.

Gadis itu tercekik. Di hadapannya, di layar televisi, sebuah sepeda motor hangus terpanggang seperti bangkai tikus raksasa. Dan di atas motor itu, ya Tuhan, seseorang tergeletak dengan posisi seperti hendak terjun bebas ke kolam renang. Tak jelas apakah orang (atau mayat?) itu berjenis kelamin lelaki atau perempuan. Tetapi apakah bedanya sekarang? Seperti apakah rasanya ketika maut mendekapmu dengan pelukannya yang mesra? Gadis itu menggigil. Butir-butir keringat sebesar jagung bermunculan di dahinya. Badannya terasa makin panas di ruangan yang begitu sejuk.

Lalu kamera televisi kembali mengambil long shoot dari sebuah mobil yang kini sehitam jelaga.

Gadis itu menghapus setitik air matanya yang mulai terbit. Ia mengambil remote control dan memberanikan diri memperbesar volume suara televisi. Kamera bergerak mengambil close up, lalu extreme close up ke arah mobil sedan itu. Seorang perempuan muda terkulai seperti tertidur. Pipi kanannya bertumpu pada kemudi sehingga ia seperti terlihat menengok ke kiri. Bubuk jelaga di wajahnya tak bisa menutupi kecantikannya yang menonjol. Kamera menangkap gambar sebuah folder tergeletak di jok kiri mobil itu. Sebuah tulisan di bagian kanan atas: Kay Elena.

Lantas kamera bergerak menangkap wajah seorang penyiar yang terbata-bata berujar. “… ledakan besar yang terjadi 25 menit lalu di kawasan ini sudah menewaskan 12 orang tak berdosa yang mati di tempat, termasuk seorang korban wanita di belakang kami. Kami masih belum bisa memastikan apakah korban memang bernama Kay Elena seperti terlihat di foldernya, ataukah itu milik orang lain yang juga masih berada di dalam mobil nahas tersebut…”

Tanggul di pelupuk mata gadis itu jebol seperti banjir besar yang merendamJakarta hampir setiaplima tahun sekali. Tak tertanggulangi.

DUA tahun lalu. Ya, dua tahun yang lalu gadis itu bertemu mereka, orang-orang yang baru dilihatnya pertama kali selama ia bekerja di kafe tersebut. Tiga pasangan yang datang sendiri-sendiri. Dihitung sejak kedatangan orang pertama –seorang lelaki tegap berkaca mata– yang duduk di kursinya sekarang, orang keenam baru muncul hampir 30 menit kemudian. Setelah itu salah seorang dari mereka, seorang perempuan berwajah oriental, melambaikan tangan kepadanya. Ia mendekat.

“Adayang bisa saya bantu?”

“Bisa keluarkan menu untuk reservasi atas nama Verena sekarang?” ujar si wajah oriental dengan senyumnya yang ramah.

“Segera.Ada lagi yang lain?”

“Tidak. Cukup itu dulu untuk saat ini. Terima kasih.”

Gadis itu kembali ke dapur, mengambil pesanan mereka. Orang-orang yang aneh. Mereka terlihat akrab, sangat akrab, ketika bercakap-cakap. Tapi sewaktu mereka datang tadi, satu persatu, mereka hanya saling melambaikan tangan, lalu bersalaman sebentar seperti baru pertama kali bertemu.

Gadis itu mulai menata pesanan di atas meja. Sesekali ia mencuri dengar pembicaraan mereka. Tidak. Sebenarnya ia bukan mencuri dengar dalam arti harafiah. Ia sedang mengatur pesanan mereka, sehingga apa boleh buat, banyak juga kata-kata yang tak sengaja terdampar di gendang telinganya.

“Saya kira besok kita bisa mulai survei ke daerah Trunyan dan Toya Bungkah,” ujar seorang lelaki bertubuh kecil yang berambut ikal. “Kalau cocok, kita bisa mulai syuting lusa.”

“Apa tidak sebaiknya kita tunggu dulu Verena selesai dengan seminarnya, Anton?” ujar seorang wanita berkulit pucat yang duduk di seberangnya. “Toh, dia cuma dua hari sebagai pembicara. Nanti di hari ketiga baru kita hunting lokasi bersama-sama.”

“Tidak apa-apa Eva. Kalian jalan saja dulu kemana kalian ingin selama dua hari ini. Setelah itu aku menyusul,” jawab Verena.

“Tetapi rasanya kok kurang komplet kalau kita cuma berlima, dan Ve tidak ikut terlibat,” sambung lelaki pertama yang datang ke kafe. “Aku setuju dengan usul Eva. Bagaimana Malik?”

“Terserah. Aku ikut saja rencana kalian.” ujar lelaki ketiga yang terlihat paling tua dari mereka berenam. “Aku sudah ambil cuti kantor dua minggu, jadi tidak terlalu terburu-buru.”

“Ira?” Si lelaki pertama kali ini mengalihkan pandangannya pada seorang perempuan yang terlihat paling muda di antara mereka. “Bagaimana menurutmu?”

“Aku juga setuju, Beng. Lebih enak kalau kita bisa melakukannya bersama-sama, karena ….”

“Bukan begitu maksudku. Maaf kupotong,” tukas Verena. “Aku senang kalian mau menunggu sampai pekerjaanku selesai di sini, tetapi …”

Gadis itu tak bisa mendengarkan lebih jauh. Ia harus kembali ke dapur, mengambil sisa pesanan yang belum terbawa. Orang-orang di belakangnya terus bercakap-cakap. Begitulah, sambil melayani mereka, gadis itu mulai mendapat gambaran tentang tamu-tamunya. Sebuah gambaran yang mungkin saja berbeda dari kenyataan sesungguhnya.

Keenam orang ini ternyata memang baru pertama kali bertemu. Mereka datang dari beragam profesi. Verena Sucipto adalah doktor pakar gempa lulusan Universitas Kyoto yang akan menjadi pembicara di sebuah simposium internasional di Nusa Dua. Tampangnya lebih mirip seperti aktris Zhang Ziyi ketimbang ilmuwan yang selalu berkutat di laboratorium. Sementara Anton seorang sutradara independen yang beberapa film dokumenternya sudah diputar beberapa festival film kelas dunia. Kalau ia tak salah dengar, mereka akan membuat film tentang kematian. Entah kematian siapa atau apa. Tapi ia tak yakin apakah ingatannya benar untuk hal ini. Sementara Eva, Beng, Ira, dan Malik, ah, ia tak bisa mengingat profesi mereka satu-persatu. Lagi pula apa perlunya? Mereka hanya mampir sekali ini saja di kafe tempatnya bekerja.

Yang membuat gadis itu tertarik kepada mereka adalah karena keenam orang itu sudah lebih dulu berinteraksi secara virtual. Mereka para pengembara dunia maya yang tak kenal lelah. Sudah lebih dari dua tahun, dari yang ia dengar, mereka berdiskusi intens setiap hari. Kadang-kadang bisa beberapa kali dalam sehari. Namun baru kali ini mereka bisa bertemu muka. Keenam orang itu anggota mailing list “Eternal-Life” yang tertarik membahas fenomena kematian dan hidup sesudah mati. Jumlah anggota milis sebenarnya lebih dari 400 orang, tapi hanya mereka yang bisa bertemu sekarang. Dan ternyata tak seorang pun tinggal atau berasal dari pulau ini.Ada yang dariJakarta ,Malang ,Medan bahkanMakassar . Mereka berbincang-bincang dengan antusias soal pengalaman Astral, near death experience, dan istilah-istilah lain yang baru pertama kali didengar gadis itu dalam hidupnya.

Mailing list tentang kematian? Ada-ada saja. Apa enaknya hidup bila membicarakan yang mati?

Tapi kemudian sebuah peristiwa tak lazim terjadi. Ketika mereka selesai makan, dan ia sedang membereskan meja, awalnya Verena yang berkata.

“Terima kasih. Anda melayani kami baik sekali.”

“Tidak masalah. Itu sudah tugas saya.”

“Kalau tidak keberatan, boleh tahu nama Anda?”

Nah, ini dia. Biasanya hanya lelaki iseng yang mulai bertanya seperti itu, dengan mata merah mereka yang mulai berpendar seperti hendak menerkam tubuhnya.

Gadis itu melihat cepat ke arahlima tamunya yang lain. Mereka menatapnya dengan sopan. Sebuah tawaran perkenalan yang tulus. Apakah ia akan memberi tahu mereka nama panggilannya? Tidak, itu terlalu akrab. Nama lengkapnya? Jangan, terlalu formal. Atau nama depannya saja? Ya, ini saja. Mereka bukan siapa-siapa selain tamu yang hendak berterima kasih.

“Caitlin.” Ia menyorongkan tangan.

“Verena.”

“Eva.”

“Anton Hermansyah. Bisa kau panggil salah satunya kalau mau.”

“Malik.”

“Beng.”

“Ira”

Ya, ya, aku sudah hafal nama kalian semua.

“Caitlin?” Anton menatap matanya, terpaku. “Kamu Indo?”

Mengangguk.

“Prancis?” sambung Eva. “Garis wajahmu seperti Sophie Marceau.”

Menggeleng. Tertawa lemah.

“Terima kasih. Itu pujian yang berlebihan.”

“Irlandia ya? Matamu hijau?” Beng menyambar separuh menggoda.

“Huuuuuu….” seru teman-temannya serempak. “Dia pakai soft lens Beng. Makanya jangan keterusan jadi paranormal supaya nggak ketinggalan mode. Bergaul dong,” ledek Ira.

“Jadi apa?” tanya Verena.

“Mama dariNebraska . Darikota kecil yang sulit dicari di peta.”

Paratamunya seperti anggota kelompok vokal yang berseru kompak: “O!”

“Satu pertanyaan kecil, tak usah kau jawab bila tak ingin: kenapa tak jadi bintang sinetron? Dengan modal wajah dan tubuhmu yang … “ Anton memekik kecil sebelum menuntaskan kalimatnya. Kakinya diinjak Ira. “Anton!”

“Tak apa-apa Eva. Aku hanya menginginkan pekerjaan yang benar-benar aku inginkan.Ada yang salah dengan menjadi pelayan kafe, Anton?”

“Tidak, cuma …” Anton pantang menyerah. “Kami di sini ingin membuat sebuah film kolaborasi, independen. Sebagai dokumentasi persahabatan saja. Tak ada yang mendapat bayaran. Barangkali jika, eh, kau mau ikut? Bagaimana teman-teman?” Ia mencari dukungan.

Film tentang kematian? Tidak, terima kasih.

“Begini Caitlin,” Verena seperti bisa membaca pikirannya. “Ini sebuah film, ah aku tak tahu apakah pantas disebut sebuah film, yang jelas hanya sebuah dokumentasi kecil. Entah apa istilah yang pas, tetapi Anton punya beberapa ide yang menurut kami cukup menarik bila dicoba dalam dokumentasi ini. Masalahnya adalah tak seorang pun dari kami yang benar-benar akrab dengan seluk beluk pulau ini. Maksudku, barangkali kau tahu tempat-tempat yang belum over exposed, tapi memiliki daya magis yang tinggi. Sebentar…” Verena melihat ponselnya yang bergetar. “Ya, saya sendiri. Halo …”

“Bagaimana Caitlin?” Kali ini Eva yang buka suara.

“Aku tak tahu. Aku tak pernah tertarik dengan syuting film. Mungkin kalau sekadar menunjukkan beberapa tempat seperti yang diinginkan Verena, aku tahu beberapa di antaranya. Aku hampir dua tahun di sini.”

“Halo? Aduh, sinyalnya putus-putus. Saya keluar sebentar.” Verena menutup ponsel dengan tangannya, dan melihat ke arah teman-temannya. “Maaf, saya tinggal sebentar. Saya harus menerima telepon ini. Tentang seminar besok.”

Verena melihat ke arahnya, seperti minta pertolongan. Ia mengantar tamunya ke pintu dan membukakannya. Doktor muda itu berjalan menjauh dari kafe. Caitlin melihat sejenak ke lebuh di depannya yang mulai ramai. The night is still young. Aroma laut tercium tipis di cuping hidungnya. Mengambang di jalan-jalan. Dentum musik yang menyelinap dari ratusan tembok resto, bar, dan kafe di sepanjang jalan yang tak terlalu besar itu seperti melukis langit dengan nada-nada mayor yang repetitif. Ia melihat secercah warna merah di langit Oktober. Ia menutup pintu, dan berjalan kembali ke meja teman-teman barunya. Anton langsung menyambutnya dengan pertanyaan.

“Jadi bagaimana, Cait… bersed… ik…”

Pertanyaan itu tak utuh didengarnya. Tiba-tiba ia merasa pening yang luar biasa. Lampu-lampu kafe terlihat bergoyang, tembok bergemuruh seperti sedang dibuldozer, dan lantai tempatnya berdiri seakan sepotong sampan yang diamuk taifun samudera. Seluruh isi perutnya seolah berebut keluar dari lehernya yang jenjang. Matanya nanar. Orang-orang terlihat menjerit. Ia tak tahu apakah tamu-tamu di sekitarnya itu memang menjerit, ataukah hanya penglihatannya saja seperti ketika sedang mabuk berat.

Mereka terlihat membuka mulut lebar-lebar dan berteriak, tapi ia hanya mendengar suara lamat-lamat. Ataukah telinganya yang kini tuli? Lalu gelap. Aneh, kini ia baru mendengar orang-orang berteriak. Sangat keras seperti mendengar nafiri kematian, dengan bunyi berderum-derum dari atas kepalanya. Di dalam gulita ia melihat gulungan asap, dan bau mesiu yang menyilet-nyilet hidungnya sampai ke pangkal penciuman.Ada bau amis yang samar, lalu asin, lalu tawar. Ia sudah tak yakin dengan kemampuan panca inderanya. Lalu semuanya menghitam. Ia seperti terjatuh ke dalam lorong tak berujung, begitu panjang. Dan terus meluncur seperti setitik debu dalam cerobong asap. Hitam sepekat-pekatnya. Ia tak tahu apakah matanya sudah buta atau masih bisa melihat. Tapi apa artinya ‘bisa melihat’ bila yang ada di sekeliling hanya kelam?

SETAHUN setelah peristiwa itu ia menerima sebuah kiriman paket. Sebuah CD kompilasi lagu. Desain sampulnya mosaik foto dari enam orang sahabat barunya diBali . Di bagian atas sampul tertulis dengan tinta perak yang ditulis tebal, In Loving Memory of Our Beloved Soul-Sister, Verena Sucipto, 1969-2002. Penggalan puisi Henry Austin Dobson, “The Paradox of Time” tertera disana .

time goes you say, ah no.alas, time stays.we go.

Ledakan itu, ledakan yang terjadi ketika malam belum lagi mencapai puncak terkelamnya, ikut membawa pergi nyawa Verena. Perempuan berwajah Oriental itu berdiri terlalu dekat dengan episentrum ledakan di luar kafe. Tubuhnya hancur. Sementara ia dan kelima teman barunya pingsan dan terluka parah. Delapan orang lain di kafe tempatnya bekerja ikut meninggal.

Tiga bulan pertama dihabiskannya di rumah sakit, karena cedera di bagian kepala dan tulang lengan atasnya retak tertimpa balok. Ia menderita nyeri di sekujur tubuh, tapi kepalanya yang paling serius. Ia sempat mengalami kondisi permanent vegetatif state selama tiga pekan. Memasuki pekan keempat, sebuah mukjizat kecil membuatnya percaya Tuhan itu ada. Kesadarannya berangsur pulih. Cerobong hitam pekat yang mengelilinginya ternyata berakhir. Ia serasa jatuh di sebuah lubang yang dimasuki sejarum tipis cahaya, lalu menjadi segaris, sebidang, dan diikutinya terus sumber cahaya itu yang mengantarkannya ke sebuah taman. Begitu kemilau, begitu wangi semerbak kesturi.

Di bulan keempat ia baru mengetahui bahwa Verena meninggal akibat ledakan itu. Beng diamputasi kaki kirinya, dan Ira kehilangan bola mata kanannya yang membusuk akibat tertusuk serpihan puing. Teman-temannya yang lain meski mengalami berbagai cedera, berangsur-angsur kembali pulih. Tinggal ia sendiri yang harus menjalani terapi pasca-traumatik intensif selama sembilan bulan, bolak-balik antara Jakarta-Singapura. Ia bersikeras tetap tinggal diJakarta , dan menampik usul kedua orang tuanya yang sudah bercerai agar mau menetap di negara pulau itu untuk memudahkan pengobatan.

Di bulan kesepuluh pengobatan, ibunya terbang dariNebraska ke Singapura dan sudah menunggu di ruang tunggu therapist. Selesai sesi, ibunya dengan sangat hati-hati meminta putri semata wayangnya yang keras kepala itu untuk mau mengikutinya ke sebuah apartemen di kawasan Bugis Junction. Ia mengalah, sambil terus bertanya-tanya apa yang hendak disampaikan ibunya.

Di apartemen itu ia temukan sebuah kejutan lain: ayahnya sudah menunggu. Tidak mungkin. Ayahnya seorang Atase Perdagangan KBRI di sebuah negeri pecahan Uni Soviet, terlalu sibuk untuk mau menunggu. Sejak ia kecil, ayahnya tak pernah punya waktu untuk menunggunya. Tidak ketika ia pulang sekolah, tidak ketika ia pulang les balet, tidak dalam kondisi apapun. Ia merasa ayah dan ibunya berkomplot untuk menjebaknya sekarang. Tapi ia tetap melihat adanya kekakuan hubungan mereka yang tak pernah cair.

“Aku langsung saja ke pokok permasalahan. Ibumu yang memintaku ke mari. Dia khawatir kau selalu bolak-balik Jakarta-Singapura tanpa pengawalan…”

“Aku bukan pejabat negara yang perlu dikawal.”

“Jangan bantah dulu. Demi Tuhan, tidak bisakah kau untuk sekali saja mendengarkan kami?”

“Dengarlah sayang, mama yang akan menemanimu di sini sampai kau benar-benar sembuh. Setelah itu, terserah apakah kau mau kembali keJakarta , keBali , atau hidup di manapun. Kau sudah 21 tahun, dan berhak mengatur hidupmu sendiri.”

Gadis itu tahu ia tak punya pilihan lain. Tidak pada saat-saat seperti ini. Tubuhnya sedang tidak sempurna, mentalnya sedang lemah, dan kondisi keuangannya, ah, tak ada yang bisa disebutnya sebagai tabungan saat ini. Ia parasit hidup bagi kedua orang tuanya. Di usia ke-21. Betapa memalukan. Ia tak punya pilihan lain, selain menghabiskan pekan demi pekan di lantai 18 sebuahkota metropolis yang selalu sibuk setiap saat. Belum lagi seorang ibu yang selalu meladeninya seteliti meladeni bayi. Ia sama sekali tak tersentuh. Ia tahu telah mewarisi dua sifat terburuk dari orang tuanya: kekeraskepalaan ayahnya, dan arogansi ibunya. Semua melebur dengan sempurna di wajahnya yang seindah bidadari.

Suara pembawa acara di televisi tiba-tiba mengembalikan kesadarannya, “… kami baru mendapatkan konfirmasi dari pihak kepolisian bahwa korban tewas bernama Kay Elena sebenarnya bernama lengkap Caitlin Elena Adikaryono, putri tunggal Atase Perdagangan Indonesia di Uzbekistan, Bapak Adikaryono Sumo …”

Gadis itu mengusap matanya yang basah. Ia tahu dirinya sudah lama mati, tapi tidak pernah dibayangkannya setragis ini. Ia abaikan ketukan pintu dan suara ibunya yang bertalu-talu di luar kamar. Kematian itu begitu cepat, meski terus saja terjadi pada dirinya berulang kali. Setiap saat.

“Kay, Kay, buka pintunya. Sarapanmu sudah dingin nanti nggak enak lagi, ayo sayang. Kamu harus banyak makan, kalau mau cepat sembuh. Kay, Kay …”***

Perempuan Senja

Indrian Koto

Perempuan itu selalu muncul saat di mana siang merasa kalah. Tepat ketika matahari mulai tenggelam dan segalanya berwarna hitam. Dia hadir begitu saja dari ujung cakrawala. Sesekali dia muncul di antara barisan burung camar dan gumpalan awan. Tak jarang dia hadir ketika sampan-sampan nelayan bersandar di bawah pohon ketapang. Barangkali juga dia tercipta dari butiran pasir dan buih-buih.Perempuan senja, begitulah aku menyebutnya. Awalnya, dia muncul ketika senja sedikit mendung. Aku kira hanya bagian dari permainan malam yang sering mencelakakan.Tapi tidak. Dia benar-benar tercipta begitu saja dan berdiri di hadapanku dengan wajah penuh harapan. Aku tak sepenuhnya mengerti hingga dia membuka sapa. Aku tidak mau ditipu senja dan terperdaya bayangan-bayangan setan yang berkeliaran di pangkal malam. hingga dengan setengah memaksa dia mengajakku berkenalan.Maka, seperti sepasang kekasih kami menghabiskan waktu malam-malam dengan segala kerinduan yang terasa binal. Aku tidak terlalu peduli apakah dia manusia sungguhan atau roh jahat. Yang pasti, aku telah menyukainya.Itulah awal semua. Dia muncul dari balik kabut saat malam baru membuka diri. Setelahnya kami bergumul bagai sepasang kekasih di musim kawin. Kami telah kehilangan kalimat untuk sebuah percakapan. Ketika subuh menjelang dia akan pergi begitu saja sebagaimana datangnya.Aku memang tak biasa dengan hal aneh dan sedikit ganjil, tapi percayalah, aku bukanlah orang yang suka bertanya. Seperti datang dan perginya, bukankah menjadi haknya untuk tidak diketahui siapa pun juga? Aku tak sungguh-sungguh pernah bertanya dan tak terlalu peduli jawabannya. Bibir itu lebih menggairahkan untuk dikulum ketimbang mendengar sebuah penjelasan.”Kau boleh menyebutku apa saja, bahkan pelacur jika kau sudi,” katanya suatu kali ketika kami menikmati kacang rebus di alun-alunkota .”Tetapi, aku tak memberi serupiah pun padamu setiap kali kita habis bercinta.”"Paling tidak ini tak membuatmu pusing dan kehilangan selera untuk melanjutkan tidur sehabis bercinta.”"Satu hal,” katanya kemudian. “Kau tak boleh bertanya tentang aku. Apalagi asalku dan bicara leluhurku.”"Seperti dongeng saja,” gumamku sambil tertawa. Tetapi aku tetap setuju. Lalu kami menghabiskan sisa malam. Kemudian seperti biasa, ketika aku terjaga, aku kembali kehilangan dia.* * *Senja adalah waktu yang paling nikmat untuk mengutuk apa saja. Aku akan menyumpah sampai mulutku terasa kering dan bergetah. Aku tak begitu mengerti mengapa aku begitu membenci. Setelah puas dengan segala caci maki aku akan meninggalkan pantai dengan penuh rasa bangga. Begitulah kebiasaanku sebelum kemudian bersekutu dengan malam tanpa harus karam di balik selimut. Malam adalah kutukan.Kota tak pernah memberi ruang untuk sebuah basa-basi dan keakraban. Tak ada yang lebih nikmat selain berjalan sepanjang lorong yang temaram, dengan tubuh sempoyongan, atau sekadar duduk di sembarang taman. Jika punya uang berlebih, tentu tak lupa kuhabiskan di tempat pelacuran.Aku tinggal sendiri dikota ini dengan memiliki sebagian malam. Aku tak punya kebiasaan lain selain menikmati rokok di bawah cahaya sambil memperhatikan asapnya mengepul di udara. Atau mengoceh sendirian dengan botol minuman sebelum akhirnya tersungkur di jalanan. Biasanya, sebelum matahari mencipta cahaya, aku sudah lelap di kamar kontrakan.Betapa nikmat hidupku, melewati sepanjang pagi dan siang dengan dengkur sempurna. Terbangun ketika sore menyapa. Sejenak aku memaki mimpi yang kabur entah kemana sebelum kemudian berlabuh di pinggir pantai. Seperti biasa, aku mengutuk senja sepuas-puasnya sebelum lebur dalam bingarkota , sejuta cahaya, taman, lampu jalan, botol minuman, pelacur murahan dan pisau di tangan. Rutinitas diakhiri dengan menyambar mimpi yang sempat tertunda.* * *Aku tak pernah menduga akan mengalami kejadian yang tak sekalipun aku mimpikan. Sore itu, seperti sore-sore sebelumnya, aku tengah bercakap-cakap dengan gemuruh ombak dan buih-buih.Mendung menggantung di langit musim kemarau. Barangkali kabut atau sisa asap apa saja. Tapi tidak! Sebelum matahari benar-benar karam, gerimis tiba-tiba jatuh. Hujan senja di musim kemarau. Matahari masih menyembul dan cahayanya memantul pada bebatuan dan karang-karang. Hujan panas.Ada pelangi yang terbentuk bagai sebuah jembatan dari ujung langit (bukankah hujan panas di sore kemarau hanya membawa bencana saja jika tidak sebentuk makhluk tak berwujud? Segalanya hanya mendatangkan petaka dan melulu bencana). Dan aku terus mengutuk.Ketika kelam menyempurnakan diri, kulihat sebentuk kabut di antara butiran awan. Lamat membentuk wujud berwarna hitam. Melayang di antara sisa cahaya. Makin lama makin nyata. Ketakutan tiba-tiba menghujaniku. Adakah karena aku terlalu banyak mengutuk? Atau mungkinkah pelangi pada sebuah sore bergerimis membuat apa saja menjadi nyata?Aku tak cukup mampu menerjemahkannya ketika bayangan itu benar-benar menjelma sesosok manusia. Melayang di antara gelombang dan air pasang. Di balik ombak dia menjelma sosok perempuan. Sialan, hantu-hantu bisa saja bergentayangan di waktu-waktu begini, tapi kenapa mesti berwujud seorang perempuan -dan cantik pula? Aku menyumpah dalam hati sambil menelan ludah. Terlambat untuk menarik pujian yang terlanjur kulontarkan. Biarlah apa yang akan ditimpakan padaku. Sakit, sekarat lalu mati. Apa yang kutakutkan sesungguhnya. Bukankah hidup dan mati selalu kumainkan di ujung belati?Sialan, dia mendekat. Tubuh ramping itu terbalut gaun kuning panjang menutupi hingga mata kakinya. Tak salah lagi, ini pasti sisa-sisa hantu jaman kolonial. Rambutnya kuning panjang dan sedikit keriting, hidungnya mancung dan tubuhnya begitu semampai. Dari beberapa depa tercium aroma kembang yang menusuk. Kenapa dari wanita cantik melulu kelihatan kesempurnaan?Dia kian dekat dan sialnya, aku tidak bisa bergerak. Mataku terpaku pada sosok yang kini berdiri di hadapanku. Sumpah, aku tak bisa menyebutkan apa-apa tentang dia. Kali ini aku melihat perempuan yang luar biasa dan aku tak cukup mampu menyebutkan kesempurnaannya. Kau pasti mengira aku telah jatuh cinta. Boleh saja! Bukankah ketika cinta kita melihat segalanya begitu sempurna dan tampak indah?Dia tersenyum padaku tetapi tak cukup mampu membuatku bisa membalasnya.”Jumbalang, jin laut, hantu air, hantu blau sekalipun, kau salah jika mengganggu orang seperti aku,” gumamku.Tak kusangka dia malah tertawa memperlihatkan barisan giginya yang putih rapi.”Aku ingin mengenalmu, apakah berlebihan?” Katanya kemudian. “Aku sering melihat dan mendengarmu mengutuk malam. sepertinya kau begitu menyukai siang sehingga tak ingin melepaskan. Aku cemburu. Kau begitu benci pada malam?”"Bedebah. Tapi kau cantik juga,” desisku.”Ajarkan aku mengenal siang,” pintanya. Suaranya, mengingatkan aku pada sebuah negeri yang jauh.* * *”Aku lahir di sebuah tempat di mana matahari selalu tenggelam.” Katanya suatu kali. “Aku ingin melihat pagi saat di mana matahari naik dan kemudian karam.”Kulihat matanya berbinar.”Apakah kau ingin mengenal negeri yang punya matahari?” tanyaku mencoba menebak keinginannya. “Aku bukanlah manusia yang terjaga ketika matahari menyala.” Dia tampak kecewa. “Tidak inginkah kau mengenakan padaku?”"Tidak! Aku tidak pernah menyukai siang. Ia tidak seperti apa yang kau bayangkan. Aku menghabiskan sepanjang siang dengan tidur panjang,” aku mencoba menjelaskan. Tangannya mencengkeram bahuku, ketakutan.”Apakah siang begitu menakutkan?” “Amat sangat. Bahkan menjijikkan.”"Apa bedanya dengan malam?”Aku menatapnya tajam. “Bukankah kita sama-sama tercipta dari malam? Malam membuat kita hidup dan berdenyut. Malam membuat kita terus tumbuh. Sedang siang…”"Ah sudahlah,” dia terlihat jengah. “Aku kira pagi adalah saat di mana keriangan segera dibuka. Tetapi ternyata kengerian yang baru menyala.”"Segala keburukan baru tercipta.” Tambahku.Aha, lihatlah wajahnya yang tegang itu. aku tak pernah membiarkan wajah itu larut dalam kesedihan. Sekejap saja dia telah lupa dengan segala kebingungan dan kehilangan selera untuk kembali bertanya. Segera kegalauan ini digantikan adegan yang lain. Dan pagi ini aku temukan sisa aroma dan bau keringatnya saja.Selalu. Sebelum subuh dia berlalu.* * *Harusnya kebingungan ini berakhir jika dia mau menceritakan dari mana dia berasal. Aku selalu lupa untuk bertanya sesuatu tentang dirinya. Tak ada yang kuketahui tentang dia kecuali kebersamaan yang tercipta di malam buta dan dia tercipta dari senja. Aku tak berani untuk sekedar bertanya. Apakah segalanya akan menjadi terbuka ketika aku bisa bertanya kampung halaman dan dari mana dia berasal. Adakah dia sungguh-sungguh tidak berrahasia?”Aku hanya ingin melihat sinar matahari muncul pertama kali. Tetapi kau selalu bilang siang begitu kejam.” Katanya dalam kesedihan yang paling dalam sebelum menghilang di balik kelam. Meninggalkan sisa wanginya dan kusut ranjang.Kali ini dia telah membuatku benar-benar marah dengan mengatakan aku sebagai pembohong. Dan lihatlah dia melolong. Aku paling tidak suka lihat air mata. Terlalu cengeng.”Lonte sialan. Tidak adakah yang lebih indah kau pertanyakan selain siang dan melulu siang? Tahu apa aku tentang itu semua? Aku tak cukup tahu, kataku. Aku tak sungguh-sungguh peduli pada itu semua karena siang dan segala yang membayang juga tampak begitu sombong. Aku tak pernah tahu apa-apa tentang siang seperti aku tidak tahu siapa dan dari mana kamu berasal.” Aku berteriak penuh emosi. Ia sesenggukan di sudut kamar. “Kau tak lebih seorang pelacur murahan yang kesepian. Kau perlu uang, bukan siang. Setelah itu kembalilah pulang, jalang…”Ia masih terisak di sudut ruang. “Baiklah, kalau kau tidak mau memberitahuku biarlah aku belajar mencarinya sendiri.”Aku merasa kian marah saja. Darah naik ke ubun-ubunku. Kepalaku terasa mau pecah. Marah yang luar biasa. Harga diriku seperti sudah tidak ada.”Pergi saja perempuan senja. Kau telah menyakitiku dengan pertanyaan pahit ini. Kau menyudutkanku dengan pertanyaan itu. kau ingin melihat kelemahanku yang tidak mengetahui sebagian waktu. Kau menghina kelemahanku. Kau mengejek ketidakberdayaanku. Kau tahu, matahari hanya milik sebagian orang. Bukan aku, bukan kamu…,” kemarahanku mencapai puncaknya. “..dan kau, siapa kau sebenarnya penyihir binal?”Kubanting pintu dengan kemarahan yang luar biasa. Perempuan itu telah membuat aku tak bisa tidur sepanjang siang tiap kali pertanyaannya menghantuiku.Aku menghabiskan sisa malam di jalan lengang. Malam sedikit terang. Seonggok bulan bertengger di langit yang tampak cemas. Tiba-tiba aku teringat akan dongeng perempuan langit yang pulang kampung dengan selendang. Aku berlari pulang, berharap perempuan senja masih bergulung di atas ranjang. Pagi datang seperti sepercik sesal yang terus menggulung. Senyap. Sesenyap petang-petangku yang datang kemudian. Perempuan senja pergi. Ia tak pernah datang lagi. Mungkinkah ia kembali ke langit dengan sekeping selendang atau menyusup ke dasar lautan? Aku tak punya jawaban.Senja mengeras, seperti hatiku yang serupa cadas. Rumahlebah, Yogyakarta 2004-2006

Tuhan, Bolehkah Kami Bunuh Diri?

Joni Ariadinata

Segelas racun babi mengepul di atas meja. Asap kretek melenggok dari mulut menuju petromaks, membentuk gulungan hening. Abah Marta merapatkan handuk dari sergapan dingin di leher dengan gigi gemerotak. Di balik jaket berkaos tebal tersembunyi dada kering kerempeng mengatur desahan napas. Tersengal-sengal karena penyakit asma. Terengah-engah menimbulkan bunyi mirip pompa air mekanik. Mencengik. Mata keriputnya memicing, menatap Wardoyo menantunya yang tengah mempermainkan asap. Ragu-ragu. Berganti-ganti dengan fokus gelas racun menantang di meja. Suara dengkuran menembus gorden pintu di belakangnya; kamar Ambu Marsinah tidur.Ada kemerosak angin.Ada kemerosak bambu-bambu bergesekan di luar.”Mulailah.” Wardoyo berkata pendek. Menghisap asap kretek ke dadanya dalam-dalam.Ada ketegangan merayap.Ada kegamangan mengalir. Abah Marta sekali lagi menatap wajah menantunya. Kepala Wardoyo mengangguk. Setengah dipaksa setengah putus asa, tangan Abah Marta maju meraih gelas. Racun hangat, manis bercampur kopi, mengepul hangat dalam genggaman. Gemetar. Bibir tuanya gagal tersenyum. Tak tega mata Wardoyo melambungkan ke langit-langit, melihat dua ekor cecak berkejaran. Menunggu.”Pahit!” Abah Marta menghentakkan cangkir. Mengusap bibirnya cepat. Kemudian meludah, getir. Setengah menit belralu, ia terhenyak. Wajahnya pucat. Panas merajam-rajam perutnya tanpa ampun. Menyeruak ke atas, membetot-betot usus. Lehernya tercekik: “Wardoyyy…” ia berteriak parau. Tubuhnya lantas menggeblag jatuh. Sebelum kakinya menyepak meja dan kursi yang ia duduki terbalik. Suaranya gaduh. Abah Marta berkelojot-kelojot sekarat. Matanya membeliak. Kemudian sunyi. Mati. *** BERPULUH tahun Rantawi didera penyakit menakutkan. Jika hawa malam berubah dingin, maka sesuatu menggodam dadanya telak. Gumpal kedua belah paru-parunya terasa terhimpit beban berton-ton dan mencekik saluran udara menuju arah kerongkongan. Di saat itulah dunia bagi Eantawi amat gelap dan sumpek. Satu-satu helaan napas ia keluarkan dengan susah payah, menimbulkan bunyi cengik yang menjijikkan; bahkan bagi telinganya sendiri. Barangkali jika bukan karena Ratri, anak perempuan satu-satunya yang mengeluh putus asa, ia tak akan setega ini: membunuh diri dengan segelas kopi bercampur racun babi. Memang Rantawi dengan kehidupannya telah hancur luluh: dua hektare sawah, setengah bahu perkebungan kopi, satu pabrik penggilingan padi telah lepas satu persatu dari tangannya untuk pengobatan tanpa hasil. Tapi melintas pikiran untuk bunuh diri, tak pernah sedikit pun terjangkau. Terlebih karena Rantawi selalu menyimpan ketahanan iman dengan tak pernah lekang berdoa. Berharap satu kemukjizatanakan datang pada suatu ketika. Tapi malam ini, Tuhan telah berlaku sangat tidak adil. Rantawi gamang atas kemauan Tuhan pada dirinya. Keluarga Mayor Sulaiman mendadak memutuskan pertunangan sepihak bagi anaknya, Ratri. Tentu, adalah pukulan batin teramat hebat karena mereka justru menyalahkan penyakit yang Rantawi derita sebagai alasan pokok. Asma disamaratakan dengan sejenis lepra! Mereka menuntut dikembalikannya harta panjer yang diserahkan melalui upacara sukacita.”Mereka takut Ratri hanya akan menghancurkan karier dan masa depan Kang Basuki,” begitu kata Ratri.Dengan tangisan tersedak-sedak. “Seperti Bapak. Karena asma adalah penyakit keturunan.” “Begitu yakin, apa mereka sudah memeriksamu?” “Mereka menolak. Juga Kang Basuki,”Ratri putus asa. Tiga hari kemudian tak bisa ditanya. Ia hanya mengurung diri dalam kamar. Rantawi marah. Amat marah. Sungguh nasib telah memain-mainkannya seperti potongan gabus dalam amukan air deras. Tapi penegasan Keluarga Sulaiman memang beralasan. Satu-satunya yang patut dipersalahkan pasti hanyalah Tuhan. Begitulah ketika tangannya mantap menuangkan racun. “Kini, tak mungkin ada lagi pemuda yang mau mendekati Ratri, Ayah!” Rantawi memandang meja tertegun-tegun. Sejentik kegamangan menggelepar, tapi gumpal dendam menyumbatnya cepat. Irama jantung berlomba dengan kesunyian.Ya, ya, tidak akan ada pemuda yang mau menyunting ratri selama ia ada begitu barangjali keinginan Ratri. Entah karena keturunan, entah karena beban bahwa kenyataan Rantawi tak akan bisa lagi hidup tanpa sebuah gantungan. Diseretnya langkah menuju kamar Ratri. Anak itu tertidur dengan badan melungkar, penuh beban. Manik-manik keringat bermunculan pada leher dan ujung kening; ia hampiri kemudian mengusapnya lembut. Seekor nyamuk yang hinggap di betis dijentiknya hati-hati. Dirapatkannya selimut, kemudian keluar. Kekosongan menyergap ketika air mata dari sudut matanya jatuh. Segelas racun babi yang terdiam di meja. Rantawi melangkah ke kamar Ijah, isterinya. Ijah dengan gurat ketuaan yang makin kentara. Tersenyum dalam ketenangan mata terpejam. Begitu tabah. Bertahun-tahun wanita di hadapannya harus bekerja sendiri menggarap sawah yang masih tersisa. Rantawi tak sanggup lagi berpikir dan merasa. Langkahnya mantap. Meraup gelas. Menenggaknya dalam satu tarikan napas… Putus asa. Gendang telinganya menangkap jerit tangis meneluwung tak bertepi. Badannya terguncang-guncang. Suara-suara teriakan, derit roda, suara-suara sepatu. Kemudian sepi. Senyap. Di manakah? Mungkinkah Tuhan… Satu kejaiban terjadi: ia menangkap mata Ratri, mata isterinya, mata Basuki. Kemudian badannya melambung ingin meraup. Sebuah tangan kokoh menahannya.Rantawi harus beristirahat, lamat-lamat katanya. Aneh, ia merasa betapa dadanya teramat lapang. Napasnya longgar tak tersumbat bunyi cengik menjijikkan. Kepala dan tubuhnya ringan. “Dua hari engkau pingsan,” begitu kata pertama ia dengar. Suara isterinya. Betulkah ia masih hidup? Rantawi ingin berteriak, “Kenapa aku di sini? Betulkah kamu Ijah? Di manakah aku?”"Asmamu kumat,” isterinya menjelaskan. “Aku membawamu ke rumah sakit. Sudahlah Kang, istirahat yang tenang. Kata dokter, asmamu kemungkinan besar sembuh. Entah kenapa.” Tuhan maha adil, begitulah ketika Rantawi tersungkur dalam sujud. Mohon ampun dan penyesalan atas sangka buruk. Tiga hari setelah berbaring di Rumah Sakit dan dinyatakan sembuh total. Empat ekor kambing disembelih sebagai rasa syukur, dan seluruh kampung turut menikmatinya. Juga tentu, Basuki. Keluarga Mayor Sulaiman telah datang turut mengucapkan gembira dan minta maaf. Tuhan maha besar. *** SEHARI setelah syukuran, Wardoyo ditangkap. Berita menjalar cepat dari mulut ke mulut. Wardoyo membunuh Abah Marta dengan secangkir kopi dan racun babi! Pembunuhan amat keji, begitu komentar mereka. Mayat Abah Marta ditemukan membiru. Visum menyebutkan ususnya hancur membusuk. Orang-orang kampung mengutuk Wardoyo. Melemparinya dengan batu: “Kafir! Mertuamu sendiri tega kau bunuh, heh?” ramai berteriak. Riuh menggelandang Wardoyo, “Kau bunuh atas dasar apa, Wardoyo?” “Rantawi. Demi Allah, Mang Rantawi yang menyuruhku…” Rantawi terbadai. Rantawi hanya bisa mematung, tak mampu berbuat apa-apa. Teror datang menyerganya begitu tiba-tiba. Sungguh ia begitu menyesal, amat menyesal telah menceritakan seluruh rahasia kesembuhannya pada Wardoyo, adik iparnya. “Racun babi,” begitu ia menceritakan dengan mantap: “Entahlah. Segala obat telah diupayakan; tapi justru racun babi yang membikin aku sembuh. Heh, bukankah mertuamu menderita asma sepertiku?” “Bagaimana kalau ia mati?” “Tuhan telah menunjukkan sebuah keajaiban. Bahkan di dalam racun babi, bisa terdapat obat. Obat mujarab. Masih tidak percayakah kamu, Wardoyo?” Dan kini ia sangsi. Diam-diam Rantawi merasa, ia ikut bandil besar dalam pembunuhan Abah. Berhari-hari Rantawi tak sudi makan. Sampai ketika polisi datang menjemputnya untuk ditanyai: “Demi Allah, saya tidak berkomplot untuk membunuhnya!” katanya.Keras. Dan tubuh Rantawi digelandang hina. Riuh hantaman puluhan caci; orang-orang kampung bergimbung. Menuding berteriak. Kelebat bayangan Ratri ambruk. Lalu Ijah? Bergetar. Keringat dingin memercik. Gusti Allah… bayangan yang buruk. Ia seperti melihat betapa Tuhan kini tengah bergitung; menjawab tantangannya ketika ia memilih mati bunuh diri. Benarkah tak ada dosa yang tak diperhitungkan? Dan kini Rantawi dipaksa menggigil, tersentak berteriak: “Alangkah lebih terhormat mati ketimbang terhina di penjara…”

Wabah

A Mustofa Bisri

Mula-mula tak ada seorang pun di rumah keluarga besar itu yang berterus terang. Masing-masing memendam pengalaman aneh yang dirasakannya dan curiga kepada yang lain. Masing-masing hanya bertanya dalam hati, “Bau apa ini?” Lalu keadaan itu meningkat menjadi bisik-bisik antar “kelompok” dalam keluarga besar itu. Kakek berbisik-bisik dengan nenek. “Kau mencium sesuatu, nek?”

“Ya. Bau aneh yang tak sedap!” jawab nenek.

“Siapa gerangan yang mengeluarkan bau aneh tak sedap ini?”

“Mungkin anakmu.”

“Belum tentu; boleh jadi cucumu!”

“Atau salah seorang pembantu kita.”

Ayah berbisik-bisik dengan ibu. “Kau mencium sesuatu, Bu?”

“Ya. Bau aneh yang tak sedap!” jawab ibu.

“Siapa gerangan yang mengeluarkan bau aneh tak sedap ini?”

“Mungkin ibumu.”

“Belum tentu; boleh jadi menantumu.”

“Atau salah seorang pembantu kita.”

Demikianlah para menantu pun berbisik-bisik dengan istri atau suami masing-masing. Anak-anak berbisik antarmereka.Para pembantu berbisik-bisik antarmereka. Kemudian keadaan berkembang menjadi bisik-bisik lintas “kelompok”. Kakek berbisik-bisik dengan ayah atau menantu laki-laki atau pembantu laki-laki. Nenek berbisik-bisik dengan ibu atau menantu perempuan atau pembantu perempuan.Para menantu berbisik-bisik dengan orang tua masing-masing. Ibu berbisik-bisik dengan anak perempuannya atau menantu perempuannya atau pembantu perempuan. Ayah berbisik-bisik dengan anak laki-lakinya atau menantu laki-lakinya atau pembantu laki-laki. Akhirnya semuanya berbisik-bisik dengan semuanya.

Bau aneh tak sedap yang mula-mula dikira hanya tercium oleh masing-masing itu semakin menjadi masalah, ketika bisik-bisik berkembang menjadi saling curiga antarmereka. Apalagi setiap hari selalu bertambah saja anggota keluarga yang terang-terangan menutup hidungnya apabila sedang berkumpul. Akhirnya setelah semuanya menutup hidung setiap kali berkumpul, mereka pun sadar bahwa ternyata semuanya mencium bau aneh tak sedap itu.

Mereka pun mengadakan pertemuan khusus untuk membicarakan masalah yang mengganggu ketenangan keluarga besar itu. Masing-masing tidak ada yang mau mengakui bahwa dirinya adalah sumber dari bau aneh tak sedap itu. Masing-masing menuduh yang lainlah sumber bau aneh tak sedap itu.

Untuk menghindari pertengkaran dan agar pembicaraan tidak mengalami deadlock, maka untuk sementara fokus pembicaraan dialihkan kepada menganalisa saja mengapa muncul bau aneh tak sedap itu.

Alhasil, didapat kesimpulan yang disepakati bersama bahwa bau itu timbul karena kurangnya perhatian terhadap kebersihan. Oleh karena itu diputuskan agar semua anggota keluarga meningkatkan penjagaan kebersihan; baik kebersihan diri maupun lingkungan. Selain para pembantu, semua anggota keluarga diwajibkan untuk ikut menjaga kebersihan rumah dan halaman. Setiap hari, masing-masing mempunyai jadwal kerja bakti sendiri.Ada yang bertanggung jawab menjaga kebersihan kamar tidur, ruang tamu, ruang makan, dapur, kamar mandi, dan seterusnya. Sampah tidak boleh dibuang di sembarang tempat. Menumpuk atau merendam pakaian kotor dilarang keras.

Juga disepakati untuk membangun beberapa kamar mandi baru. Tujuannya agar tak ada seorang pun anggota keluarga yang tidak mandi dengan alasan malas. Siapa tahu bau itu muncul justru dari mereka yang malas mandi. Di samping itu, semua anggota keluarga diharuskan memakai parfum dan menyemprot kamar masing-masing dengan penyedap ruangan. Semua benda dan bahan makanan yang menimbulkan bau seperti trasi, ikan asin, jengkol, dan sebagainya dilarang dikonsumsi dan tidak boleh ada dalam rumah. Setiap jengkal tanah yang dapat ditanami, ditanami bunga-bunga yang berbau wangi seperti mawar, melati, kenanga, dan sebagainya.

Ketika kemudian segala upaya itu ternyata tidak membuahkan hasil dan justru bau aneh tak sedap itu semakin menyengat, maka mereka menyepakati untuk beramai-ramai memeriksakan diri. Jangan-jangan ada seseorang atau bahkan beberapa orang di antara mereka yang mengidap sesuatu penyakit. Mereka percaya ada beberapa penyakit yang dapat menimbulkan bau seperti sakit gigi, sakit lambung, paru-paru, dan sebagainya. Pertama-tama mereka datang ke puskesmas dan satu per satu mereka diperiksa. Ternyata semua dokter puskesmas yang memeriksa mereka menyatakan bahwa mereka semua sehat. Tak ada seorang pun yang mengidap sesuatu penyakit. Tak puas dengan pemeriksaan di puskesmas, mereka pun mendatangi dokter-dokter spesialis; mulai dari spesialis THT, dokter gigi, hingga ahli penyakit dalam. Hasilnya sama saja. Semua dokter yang memeriksa tidak menemukan kelainan apa pun pada kesemuanya.

Mereka merasa gembira karena oleh semua dokter –mulai dari dokter puskesmas hingga dokter-dokter spesialis– dikota , mereka dinyatakan sehat. Setidak-tidaknya bau aneh dan busuk yang meruap di rumah mereka kemungkinan besar tidak berasal dari penyakit yang mereka idap. Namun ini tidak memecahkan masalah. Sebab bau aneh tak sedap itu semakin hari justru semakin menyesakkan dada. Mereka pun berembug kembali.

“Sebaiknya kita cari saja orang pintar;” usul kakek sambil menutup hidung, “siapa tahu bisa memecahkan masalah kita ini.”

“Paranormal, maksud kakek?” sahut salah seorang menantu sambil menutup hidung.

“Paranormal, kiai, dukun, atau apa sajalah istilahnya; pokoknya yang bisa melihat hal-hal yang gaib.”

“Ya, itu ide bagus,” kata ayah sambil menutup hidung mendukung ide kakek, “Jangan-jangan bau aneh tak sedap ini memang bersumber dari makhluk atau benda halus yang tidak kasat mata.”

“Memang layak kita coba,” timpal ibu sambil menutup hidung, “orang gede dan pejabat tinggi saja datang ke “orang pintar” untuk kepentingan pribadi, apalagi kita yang mempunyai masalah besar seperti ini.”

Ringkas kata akhirnya mereka beramai-ramai mendatangi seorang yang terkenal “pintar”. “Orang pintar” itu mempunyai banyak panggilan.Ada yang memanggilnya Eyang, Kiai, atau Ki saja. Mereka kira mudah. Ternyata pasien “orang pintar” itu jauh melebihi pasien dokter-dokter spesialis yang sudah mereka kunjungi. Mereka harus antre seminggu lamanya, baru bisa bertemu “orang pintar” itu. Begitu masuk ruang praktik sang Eyang atau sang Kiai atau sang Ki, mereka terkejut setengah mati. Tercium oleh mereka bau yang luar biasa busuk. Semakin dekat mereka dengan si “orang pintar” itu, semakin dahsyat bau busuk menghantam hidung-hidung mereka. Padahal mereka sudah menutupnya dengan semacam masker khusus. Beberapa di antara mereka sudah ada yang benar-benar pingsan. Mereka pun balik kanan. Mengurungkan niat mereka berkonsultasi dengan dukun yang ternyata lebih busuk baunya daripada mereka itu.

Keluar dari ruang praktik, mereka baru menyadari bahwa semua pasien yang menunggu giliran ternyata memakai masker. Juga ketika mereka keluar dari rumah sang dukun mereka baru ngeh bahwa semua orang yang mereka jumpai di jalan, ternyata memakai masker.

Mungkin karena beberapa hari ini seluruh perhatian mereka tersita oleh problem bau di rumah tangga mereka sendiri, mereka tidak sempat memperhatikan dunia di luar mereka. Maka ketika mereka sudah hampir putus asa dalam usaha mencari pemecahan problem tersebut, baru mereka kembali membaca koran, melihat TV, dan mendengarkan radio seperti kebiasaan mereka yang sudah-sudah. Dan mereka pun terguncang. Dari siaran TV yang mereka saksikan, koran-koran yang mereka baca, dan radio yang mereka dengarkan kemudian, mereka menjadi tahu bahwa bau aneh tak sedap yang semakin hari semakin menyengat itu ternyata sudah mewabah di negerinya.

Wabah bau yang tak jelas sumber asalnya itu menjadi pembicaraan nasional. Apalagi setelah korban berjatuhan setiap hari dan jumlahnya terus meningkat. Ulasan-ulasan cerdik pandai dari berbagai kalangan ditayangkan di semua saluran TV, diudarakan melalui radio-radio, dan memenuhi kolom-kolom koran serta majalah. Bau aneh tak sedap itu disoroti dari berbagai sudut oleh berbagai pakar berbagai disiplin.Para ahli kedokteran, ulama, aktivis LSM, pembela HAM, paranormal, budayawan, hingga politisi, menyampaikan pendapatnya dari sudut pandang masing-masing. Mereka semua –seperti halnya keluarga besar kita– mencurigai banyak pihak sebagai sumber bau aneh tak sedap itu. Tapi –seperti keluarga besar kita–tak ada seorang pun di antara mereka yang mencurigai dirinya sendiri.

Hingga cerita ini ditulis, misteri wabah bau aneh tak sedap itu belum terpecahkan. Tapi tampaknya sudah tidak merisaukan warga negeri –termasuk keluarga besar itu– lagi. Karena mereka semua sudah terbiasa dan menjadi kebal. Bahkan masker penutup hidung pun mereka tak memerlukannya lagi. Kehidupan mereka jalani secara wajar seperti biasa dengan rasa aman tanpa terganggu. ***

Rembang, 6 Juni 2003

Doa Kiai Sepuh

Humam S. Chudori

Sejak Kadir ke rumah Kiai Sepuh, banyak orang yang mengatakan sang kiai mendukung pencalonan lelaki bertubuh tegap itu sebagai bupati. Tidak jelas siapa yang mula-mula menyebarkan berita ini. Yang pasti, berita itu tersebar setelah dua kali Kadir bertandang ke rumah lelaki berusia tiga perempat abad lebih itu.Masyarakat memang banyak yang percaya pada keampuhan doa lelaki yang sudah lama hanya bisa duduk di kursi roda itu. Mereka sangat meyakini karomah yang dimiliki sang kiai. Berita adanya restu dari sang kiai terhadap calon pemimpin itu, tentu saja, makin meyakinkan para pendukung Kadir. ‘Sang jago’ dianggap mendapat restu dari sang kiai. Dan, usaha yang mendapat restu dari Kiai Sepuh hampir bisa dipastikan selalu berhasil. Sementara, dua calon lainnya tak ada yang sowan ke rumah sang kiai. Meskipun berita itu sudah sangat santer, menyebar, sang kiai tetap saja tak pernah mau tahu kalau dirinya dianggap mendukung salah satu calon pemimpin wilayah itu. ‘’Mendengar masalah-masalah dari luar, apalagi yang sifatnya duniawiah, dapat menjerumuskan seseorang menjadi penghuni neraka,'’ demikian prinsip Kiai Sepuh yang diperoleh dari sang guru, ayah kandungnya sendiri, sebelum ia dipercaya menggantikan kedudukan sang ayah untuk memimpin pondok pesantren.Sejak memimpin pondok pesantren, Kiai Sepuh nyaris tak pernah keluar dari lingkungan pesantrennya. Kesibukan sehari-harinya hanya mempelajari kitab kuning, ber-muzakarah, memimpin majelis zikir di masjid yang terletak di depan rumahnya, serta kegiatan ibadah mahdhah lainnya. Apalagi sejak dua tahun lalu, setelah ayah darilima orang anak dan kakek tiga belas cucu itu harus berkursi roda akibat terjatuh di kamar mandi. Ia semakin jarang keluar rumah. Bahkan hanya sesekali keluar dari kamar, tempatnya ber-taffakur. Mungkin karena ia sudah tidak memimpin pondok pesantren lagi. Memang, sudah tiga tahun lebih kepemimpinan pondok pesantren dipercayakan kepada Nurdin, anaknya yang kedua. Anak pertama Kiai Sepuh, Sholawati, adalah seorang perempuan. Rumah Kiai Sepuh terletak di tengah pondok pesantren yang didirikan almarhum ayahnya. Rumah itu tak pernah sepi dari tamu. Bukan hanya orang yang tinggal di sekitar pondok pesantren saja tamu yang datang. Banyak pula orang dari luarkota . Setiap malam Jumat, Kiai Sepuh mengadakan majelis zikir di masjid depan rumahnya. Usai berzikir bersama ia memberikan tausiah. Tidak jarang masjid itu tak mampu menampung jamaah. Karena saking banyaknya orang dari luarkota yang ikut hadir dalam majelis zikir, kendati tidak setiap malam Jumat Kiai Sepuh akan memimpin acara tersebut. Apalagi setelah ia hanya bisa duduk di kursi roda.Sebenarnya Kiai Sepuh tidak pernah mengatakan mendukung atau merestui Kadir sebagai calon bupati. Baginya siapa pun boleh datang untuk bersilaturahmi ke rumahnya. Boleh datang ke pondok pesantrennya. Boleh menghadiri majelis zikirnya. Meskipun tidak setiap kali majelis zikir yang diselenggarakan pasti akan diisi tausiah olehnya. Melainkan oleh murid-murid yang telah mendapat kepercayaan sang kiai untuk memberikan tausiah.Pada hari Jumat, setelah melaksanakan shalat dhuha, Kiai Sepuh akan keluar dari kamar. Memberi kesempatan kepada para jamaah terutama yang datang dari luarkota yang ingin bertemu dengannya. Kendati akhirnya hanya bisa berjabat tangan dengan sang kiai, mereka yang datang dari luarkota tidak merasa kecewa. Sebab, untuk bisa berbincang-bincang dengan sang kiai sangat tidak memungkinkan. Apalagi jika menyadari jamaah yang datang ke tempat itu sangat banyak. Mereka sudah cukup bersyukur apabila bisa mencium tangan sang kiai, dan ini diartikan akan mendapatkan berkah dari sang kiai.Hasil penghitungan pemilihan suara sudah selesai. Ternyata, Kadir calon yang dianggap telah direstui oleh Kyai Sepuh tak berhasil meraih suara terbanyak. Berati ia gagal menjadi bupati. Betapa kecewa Kadir dan para pendukungnya. Jamaah majelis zikir Kiai Sepuh mulai berkurang, setelah Kadir gagal menjadi bupati. Kendati pondok pesantrennya tetap tidak berubah. Tak ada santri yang keluar.'’Benar bahwa iman itu ada saatnya bertambah dan ada saatnya berkurang. Barangkali, saat ini keimanan masyarakat tengah menurun. Hingga banyak orang mulai malas menghadiri pengajian,'’ pikir Kiai Sepuh, tatkala menyadari majelis zikirnya tidak seramai dulu.Ustad Sani merasa heran. Ia tidak dapat memahami kenapa majelis zikir itu tidak seramai dulu. Meski orang-orang yang tinggal di luarkota masih saja mengalir. Namun, tidak sebanyak dulu orang yang hadir di majelis zikir yang diselenggarakan Kiai Sepuh pada setiap malam Jumat. ‘’Jangan-jangan karena Pak Kiai sudah jarang memberikan tausiah pada majelis zikir?'’ pikir Ustad Sani.'’Tapi apa mungkin? Bukankah Pak Kiai sudah hampir satu tahun tak pernah memberikan tausiah sendiri,'’ bantah batinnya sendiri, ‘’Tetapi, kenapa baru sekarang jamaah menjadi berkurang.'’ Jangan-jangan ada yang menyebarkan fitnah terhadap Pak Kyai? Tetapi, apa ada yang berani berbuat demikian? Atau justru fitnah itu ditujukan untuk saya, karena selama ini saya yang menggantikan beliau memberikan tausiah. Toh, sampai saat ini beliau masih tetap yang memimpin jamaah zikir. Setumpuk pertanyaan memenuhi benak Ustad Sani. Namun, tak satu pun yang mampu dijawabnya sendiri. ‘’Doa Kiai Sepuh sekarang sudah tidak makbul lagi.'’

‘’Buktinya, Pak Kadir, satu-satunya calon yang mendapat restu dari Pak Kiai, gagal jadi bupati.'’ ‘’Buat apa kita kesana kalau cuma sekedar untuk bersalaman.”'’Pantas, anak saya tetap juga belum berjodoh, padahal sudah hampir satu tahun saya rajin menghadiri majelis zikir Pak Kiai.'’

‘’Anak saya juga tak diterima di sekolah yang diinginkannya.'’

‘’Saya juga. Sudah puluhan kali ikut majelis zikir Kiai Sepuh. Tapi, usaha saya tetap tak berubah. Tetap saja tidak maju-maju. Bahkan belakangan ini malah merosot. Mungkin doa Pak Kiai sudah tak makbul lagi.'’Masih banyak lagi komentar senada yang menilai doa Kiai Sepuh sudah tidak semakbul dulu lagi. Demikian berita yang beredar dalam masyarakat. Itu terjadi setelah Kadir gagal menjadi bupati. Kiai Sepuh hanya tersenyum, tatkala mendapat laporan tersebut dari ustad Sani. ‘’Saya tidak tahu siapa yang mula-mula menyebarkan berita seperti itu, Pak Kiai,'’ lanjut Ustad Sani.

‘’Terus kalau tahu, apa yang akan kamu lakukan?

‘’ tanya Kiai Sepuh.

Ustad Sani tak berkutik mendapat pertanyaan itu.

‘’Lagipula untuk apa perlu tahu hal-hal semacam itu,'’ lanjut sang kiai. Ustad Sani diam.

‘’Kalau sekarang mereka tak mau melakukan zikir bersama, memangnya kenapa? Kalau mereka menilai saya seperti itu, ya alhamdulillah! Sebab, kalau tujuan mereka ikut dalam majelis zikir untuk hal-hal semacam itu, ingin usahanya lancar, mendapat jodoh, memperolah pekerjaan, mempertahankan jabatan, sungguh tidak tepat nawaitu mereka itu. Meskipun berdoa juga merupakan salah satu upaya agar keinginannya terkabul. Tetapi, kalau tujuan mereka ikut majelis zikir di sini seperti itu jelas keliru.'’ Ustad Sani masih tetap diam.

‘’Sekali lagi kita perlu bersyukur,'’ lanjut Kiai Sepuh, kalem. Tenang. Tidak ada tanda-tanda kalau ia kecewa dengan laporan tersebut. ‘’Dari sini kita jadi tahu mana yang emas dan mana yang loyang.'’Lelaki baya itu sama sekali tidak terkejut mendengar berita yang disampaikan Ustad Sani. Lantaran selama ini ia berharap agar yang datang ke majelis zikirnya adalah orang-orang yang ingin ber-taqarrub kepada Allah, bukan untuk yang lain-lain. Namun, kalau kemudian Allah mengabulkan hajatnya setelah bergabung dalam majelis zikir, itu soal lain. Karena itu hak prerogratif Allah.Sebenarnya sejak beberapa tahun lalu ia sudah tahu, tidak sedikit orang yang datang ke majelis zikirnya hanya untuk mendapatkan sesuatu di luar yang dimaksudkan Kiai Sepuh. Tidak sedikit orang yang datang ke majelis zikirnya mengharap berkah dari sang kiyai agar usahanya lancar, anaknya mendapatkan jodoh, bisa memperoleh pekerjaan dengan mudah, atau meraih jabatan tertentu. Namun, ia tidak pernah merasa mampu melarang mereka yang datang dengan tujuan lain. Bukan untuk ber-taqarrub kepada Allah. Melainkan agar usahanya maju, bisa meraih jabatan, untuk mendapat pekerjaan atau atau hal-hal yang bersifat keduniaan. ‘’Jadi Kamu tak perlu punya prasangka yang bukan-bukan kepada mereka,'’ ujar sang kiai.'’Bukankah sudah sering kamu sampaikan meskipun Allah telah berfirman, Ud uuni astajib lakum, toh terkabulnya doa bisa bermacam-macam. Bisa langsung, bisa digantikan, atau ditunda di akherat kelak,'’ tambah sang kiai. Ustad Sani diam. Mungkinkah tausiah yang selama ini saya sampaikan tidak dipahami mereka? Tanyanya dalam batin. Namun, pertanyaan itu tak mampu ia utarakan kepada Kiai Sepuh.

Pun Ustad Sani tidak berani minta penilaian orang lain tentang caranya memberi tausiah. Sebab, hal ini dapat menyebabkan riya. Padahal riya bisa berarti syrik kecil. Atau, sebaliknya justru ia tak pernah bersedia memberikan tausiah lagi. Sebab, minta penilaian orang dapat berarti macam-macam. Bisa ditafsirkan macam-macam oleh dirinya.***

Konvensi

A Mustofa Bisri

Sungguh aku bersyukur. Sebagai dukun yang semula paling-paling hanya nyapih dan nyuwuk anak kecil monthah, rewel dan nangis terus, atau mengobati orang disengat kalajengking, kini –sejak seorang sahabatku membawa pembesar dariJakarta ke rumah– martabatku meningkat. Aku kini dikenal sebagai “orang pintar” dan dipanggil Mbah atau Eyang. Aku tak lagi dukun lokal biasa. Pasienku yang semakin hari semakin banyak sekarang datang dari mana-mana. Bahkan beberapa pejabat tinggi dan artis sudah pernah datang. Tujuan para pasien yang minta tolong juga semakin beragam; mulai dari mencarikan jodoh, “memagari” sawah, mengatasi kerewelan istri, hingga menyelamatkan jabatan. Waktu pemilu kemarin banyak caleg yang datang dengan tujuan agar jadi.

Tuhan kalau mau memberi rezeki hamba-Nya memang banyak jalannya. Syukur kepada Tuhan, kini rumahku pun sudah pantas disebut rumah. Sepeda onthel-ku sudah kuberikan pembantuku, kini ke mana-mana aku naik mobil Kijang. Pergaulanku pun semakin luas.

Nah, di musim pemilihan kepala daerah atau pilkada saat ini, tentu saja aku ikut sibuk. Dari daerahku sendiri tidak kurang dari sepuluh orang calon yang datang ke rumah. Tidak itu saja.Para pendukung atau tim sukses mereka juga datang untuk memperkuat. Mereka umumnya minta restu dan dukungan. Sebetulnya bosan juga mendengarkan bicara mereka yang hampir sama satu dengan yang lain. Semuanya pura-pura prihatin dengan kondisi daerah dan rakyatnya, lalu memuji diri sendiri atau menjelekkan calon-calon lain. Padahal, rata-rata mereka, menurut penglihatanku, hanya bermodal kepingin. Beberapa di antara mereka bahkan bahasa Indonesianya saja masih baikan aku. Tapi ada juga timbal-baliknya. Saat pulang, mereka tidak lupa meninggalkan amplop yang isinya lumayan.

***

Pagi itu dia datang ke rumah sendirian. Tanpa ajudan. Padahal, kata orang-orang, ke mana-mana dia selalu dikawal ajudan atau stafnya. Pakaian safari –kata orang-orang, sejak pensiun dari dinas militer, dia tidak pernah memakai pakaian selain stelan safari– yang dikenakannya tidak mampu menampil-besarkan tubuhnya yang kecil. Demikian pula kulitnya yang hitam kasar, tak dapat disembunyikan oleh warna bajunya yang cerah lembut. Bersemangat bila berbicara dan kelihatan malas bila mendengarkan orang lain. Mungkin karena aku justru termasuk orang yang agak malas bicara dan suka mendengar, maka dia tampak kerasan sekali duduk lesehan di karpetku yang butut.

Dia cerita bahwa sebentar lagi masa jabatannya sebagai bupati akan habis. Tapi dia didorong-dorong –dia tidak menyebutkan siapa-siapa yang mendorong-dorongnya– untuk maju mencalonkan lagi dalam pilkada mendatang. Sebetulnya dia merasa berat, tapi dia tidak mau mengecewakan mereka yang mengharapkannya tetap memimpin kabupaten yang terbelakang ini.

“Nawaitu saya cuma ingin melanjutkan pembangunan daerah ini hingga menjadi kabupaten yang makmur dan berwibawa,” katanya berapi-api. “Saya sedih melihat kawan-kawan di pedesaan, meski saya sudah berbuat banyak selama ini, masih banyak di antara mereka yang hidup di bawah garis kemiskinan. Perjuangan saya demi rakyat daerah ini khususnya, belum selesai.”

“Saya sudah menyusun rencana secara bertahap yang saya perkirakan dalam masalima tahun ke depan, akan paripurna pengentasan kemiskinan di daerah ini. Saya tahu, untuk itu hambatannya tidak sedikit.” Dia menyedot Dji Sam Soe-nya dalam-dalam dan melanjutkan dengan suara yang sengaja dilirihkan. “Njenengan tahu, orang-orang yang selama ini ada di sekeliling saya, yang resminya merupakan pembantu-pembantu saya, justru malah hanya mengganggu. Sering menjegal saya. Mereka sering mengambil kebijaksanaan sendiri dengan mengatasnamakan saya. Lha akhirnya sayakan yang ketiban awu anget, terkena akibatnya. Sekarang ini beredar isu katanya bupati menyelewengkan dana ini-itu; bupati menyunati bantuan-bantuan untuk masyarakat; bupati membangun rumah seharga sekian miliar di kampung asalnya; dan isu-isu negatif lain. Ini semua sumbernya ya mereka itu.”

“Namun itu semua tidak menyurutkan tekad saya untuk tetap maju demi rakyat daerah ini yang sangat saya cintai. Saya mohon restu dan dukungan Panjenengan. Saya berjanji dalam diri saya, kalau nanti saya terpilih lagi, akan saya sapu bersih sampah-sampah yang tak tahu diri itu dari lingkungan saya.”

Dia menyebut beberapa nama yang selama ini memang aku kenal sebagai pembantu-pembantu dekatnya. Aku hanya mengangguk-angguk dan sesekali memperlihatkan ekspresi heran atau kagum. Sikap yang ternyata membuatnya semakin bersemangat.

“Jadi Sampeyan sudah siap betul ya?” tanyaku untuk pantas-pantas saat dia sedang menghirup tehnya.

Buru-buru dia letakkan gelas tehnya dan berkata, “Alhamdulillah, saya sudah melakukan pendekatan kepada Pak Kiai Sahil. Bahkan beliau mengikhlaskan putranya, Gus Maghrur, untuk mendampingi saya sebagai cawabup.”

Kiai Sahil adalah seorang tokoh sangat berpengaruh di daerah kami. Partai terbesar di sini tak bakalan mengambil keputusan apa pun tanpa restu dan persetujuan kiai yang satu ini. Sungguh cerdik orang ini, pikirku.

“Kiai Sahil sudah memanggil pimpinan partai Anu dan dipertemukan dengan saya. Dan tanpa banyak perdebatan, disepakati saya sebagai calon tunggal bupati dan Gus Maghrur pendamping saya sebagai cawabup. Mudah-mudahan bermanfaat bagi masyarakat yang sudah lama mendambakan pemimpin yang kuat ini dan mampu mengantarkan mereka kepada kehidupan yang lebih layak.”

***

Sesuai pembicaraan di telepon sebelumnya, malam itu sekda datang bersama istrinya. Sementara istrinya ngobrol dengan istriku, dia langsung menyampaikan maksud tujuannya.

“Langsung saja, Mbah; maksud kedatangan kami selain bersilaturahmi dan menengok kesehatan Simbah, kami ingin mohon restu. Terus terang kami kesulitan menolak kawan-kawan yang mendorong kami untuk mencalonkan sebagai bupati. Lagi pula memang selama periode kepemimpinan bupati yang sekarang, Panjenengan tahu sendiri, tak ada kemajuan yang berarti. Saya yang selama ini mendampinginya setiap saat merasa prihatin, namun tidak bisa berbuat apa-apa. Saya harus tutup mata dan telinga bila melihat dan mendengar tentang penyelewengan atasan saya itu.”

“Jadi, selama ini, Sampeyan tidak pernah mengingatkan atau menegurnya bila melihat dia berbuat yang tidak semestinya?” tanyaku.

“Ya tidak sekali dua kali,” sahutnya, “tapi tak pernah didengarkan. Mungkin dia pikir sayakan hanya bawahannya. Setiap kali saya ingatkan, dia selalu mengatakan bahwa dialah bupatinya dan saya hanya sekretaris; dia akan mempertanggungjawabkan sendiri semua perbuatannya. Lama-lama sayakan bosan. Ya akhirnya saya diamkan saja. Pikir saya, dosa-dosanya sendiri.”

“Tapi akibatnyakan bisa juga mengenai orang banyak?!”

“Lha, itulah, Mbah, yang membuat saya prihatin dan terus mengganggu nurani saya. Tapi ke depan hal ini tidak boleh berulang. Saya dan kawan-kawan sudah bertekad akan menghentikannya. Bila nanti saya terpilih, saya tidak akan biarkan praktek-praktek tidak benar seperti kemarin-kemarin itu terjadi. Saya akan memulai tradisi baru dalam pemerintahan daerah ini. Tradisi yang mengedepankan kejujuran dan tranparansi. Pemerintahan yang bersih. Kasihan rakyat yang sekian lamanya tidak mendapatkan haknya, karena kerakusan pemimpinnya. Saya tahu persis data-data potensi daerah ini yang sebenarnya tidak kalah dari daerah-daerah lain. Seandainya dikelola dengan baik, saya yakin daerah ini akan menjadi maju dan tidak mustahil bahkan paling maju di wilayah propinsi.”

“Jadi Sampeyan sudah siap betul ya?” Aku mengulang pertanyaanku kepada bosnya tempo hari.

“Ya, mayoritas pimpinan partai saya, Partai Polan, dan pengurus-pengurus anak cabangnya sudah setuju mencalonkan saya sebagai bupati dan Drs Rozak dari Partai Anu sebagai cawabupnya. Jadi nanti koalisi antara Partai Polan dan Partai Anu. Menurut hitungan di atas kertas suara kedua partai besar ini sudah lebih dari cukup.”

“Lho, aku dengar Partai Anu sudah mencalonkan bos Sampeyan berpasangan dengan Gus Maghrur?” selaku.

“Ah, itu belum resmi, Mbah. Beberapa tokoh dari Partai Anu yang ketemu saya, justru menyatakan tidak setuju dengan pasangan itu. Pertama, karena mereka sudah mengenal betul bagaimana pribadi bos saya dan meragukan kemampuan Gus Maghfur. Itukan akal-akalannya bos saya saja. Gus Maghfur hanya dimanfaatkan untuk meraup suara mereka yang fanatik kepada Kiai Sahil.”

***

Konferensi Cabang Partai Anu yang digelar dalam suasana demam pilkada, meski sempat memanas, namun berakhir dengan mulus. Drs Rozak terpilih sebagai ketua baru dengan perolehan suara cukup meyakinkan, mengalahkan saingannya, Gus Maghrur.

Drs Rozak bergerak cepat. Setelah kelengkapan pengurus tersusun, langsung mengundang rapat pengurus lengkap. Di samping acara perkenalan, rapat pertama itu juga memutuskan: DPC akan mengadakan konvensi untuk penjaringan calon-calon bupati dan wakil bupati. Drs Rozak menyatakan dalam konferensi pers bahwa selama ini partainya belum secara resmi menetapkan calon dan inilah saatnya secara resmi partai pemenang pemilu kemarin ini membuka pendaftaran calon dari mana pun. Bisa dari tokoh independen, bisa dari partai lain. Ditambahkan oleh ketua baru ini, bahwa dia sudah berkonsultasi dengan Dewan Pimpinan Pusat Partai dan diizinkan melakukan konvensi tidak dengan sistem paket. Artinya, masing-masing mendaftar sebagai calon bupati atau wakil bupati dan baru nantinya ditetapkan siapa berpasangan dengan siapa.

Tak lama setelah diumumkan, banyak tokoh yang mendaftar, baik sebagai calon bupati maupun calon wakil bupati. Termasuk di antara mereka yang mendaftar sebagai cabup: bupati lama dan sekdanya. Menurut keterangan panitia konvensi, agar sesuai dengan prinsip demokrasi, calon-calon akan digodok, dipilih, dan ditetapkan melalui pertemuan antara pengurus cabang lengkap, pengurus-pengurus anak cabang, dan organisasi-organisasi underbow partai; dengan ketentuan partai hanya akan mencalonkan satu cabup dan satu cawabup.

Semua orang menunggu-nunggu hasil konvensi partai terbesar di kabupaten itu. Maklum Partai Anu merupakan partai yang diyakini menentukan. Apalagi sebelumnya sudah ramai dan simpang siur berita mengenai calon-calon dari partai ini. Orang-orang tak ingin terus menduga-duga apakah benar partai yang katanya menyesal dulu mendukung bupati yang sekarang akan mencalonkannya lagi berpasangan dengan Gus Maghrur, putra Kiai Sahil sesepuh partai. Dan apakah sekda yang konon dicalonkan oleh Partai Polan benar akan berpasangan dengan Drs Rozak yang kini menjadi ketua Partai Anu.

Singkat cerita, konvensi berjalan dengan mulus. Sesuai kesepakatan, calon bupati dipilih sendiri dan calon wakil bupati dipilih sendiri pula. Kemudian yang terpilih sebagai cabup dipasangkan dengan yang terpilih sebagai cawabup. Hasilnya sungguh mengejutkan banyak orang, terutama bupati lama dan sekdanya. Ternyata yang terpilih dan disepakati menjadi calon-calon partai ialah Drs Rozak sebagai cabup dan Ir Sarjono, ketua Partai Polan sebagai cawabupnya.

***

“Itulah politik,” kataku kepada istriku yang tampak bingung setelah mendengar ceritaku. “Untung aku tidak tergiur ketika ada yang menawariku –dan kamu ikut mendorong-dorongku– untuk ikutan maju sebagai cawabup!” ***

Putri Langit

Gita Nuari

Adabulan di atas atap rumah ketika Putri Langit datang menemui Supria yang sedang tertidur di samping istrinya. “Untung kamu datang, Putri,” sambut Supria di dalam mimpinya. ”Sudah lama aku menunggumu. Ke mana saja kamu, Putri. Aku gelisah sejak sore tadi,” lanjut Supria dengan hati yang teramat girang. “Aku menemui orang-orang yang dilanda gelisah seperti kamu. Mereka semua meminta aku untuk mengunjunginya,” sahut Putri Langit sesaat setelah turun dari langit dengan mengendarai selendang kabut. “Bukankah engkau pernah berucap, diriku akan lebih engkau perhatikan ketimbang yang lain. Bukan begitu Putri?” “Benar. Perhatianku kepadamu lebih daripada yang lainnya. Tapi tidakkah engkau mengutamakan energi berpikirmu untuk anak dan istri, juga orang-orang yang dekat denganmu?” “Justru itu Putri, aku jadi tersiksa. Aku merasa dikebiri oleh mereka. Aku seperti kuda, dipecut untuk terus berjalan. Bahkan berlari mengejar yang tak pasti.”

Putri Langit terdiam. Supria merasa tak enak hati.

“Putri, maafkan aku. Aku amat serakah ingin menguasai kebaikan hatimu.” “Jangan berkata seperti itu,” ujar Putri Langit. “Semua mahluk sepertimu itu serakah. Tapi tidak seharusnya engkau seperti mereka.” “Benar, Putri. Tapi, jiwa inilah yang tak bisa tenang. Persoalan demi persoalan bemunculan tanpa peduli persoalan lama belum selesai,” beber Supria. “Sudahlah,” suara Putri Langit melunak. “Aku cukup kasihan padamu. Kemarilah lelakiku, pegang tanganku. Ayo, ikut pergi denganku,” bimbing Putri Langit membawa Supria terbang ke atas langit menerobos gumpalan-gumpalan awan.

Di atas langit, tepatnya di Kerajaan SerbaAda , Supria diturunkan. “Kita sudah sampai, lelakiku,” suara Putri Langit lembut. “Jangan sungkan untuk meminta.” Supria yang telah berada di ruang berdinding cahaya itu tampak terlihat gugup. Mungkin kehidupannya di alam fana begitu sulit untuk meraih sesuatu. Sedangkan di Kerajaan Serba Ada ini semua serba mudah. Misalnya, ketika Supria kehausan, tiba-tiba saja bermacam jenis minuman segar tersedia di hadapannya.

“Bagaimana?” Tanya Putri Langit.

“Sungguh menakjubkan!” cetus Supria terkagum-kagum.

“Di dunia kamu telah kehilangan suasana surga?” Supria tersipu malu. Disingkirkannya gelas minuman dari hadapannya, lalu menatap Putri Langit dalam-dalam. “Aku ingin bercinta,” desisnya. Kali ini Putri Langit yang tersipu malu. “Kenapa? Apa kamu menolak bercinta denganku?” kejar Supria. “Tidak,” sahut Putri Langit. “Justru aku membawamu ke sini untuk melupakan semua yang membebani pikiranmu.” Supria begitu senang hatinya mendengar Putri Langit berkata seperti itu. Dan, Supria menerima uluran tangan Putri Langit, terus mereka berpelukan. Di angkasa mereka seperti kapas berguling-guling seakan hendak menguasai alam semesta. Mereka menjelma bintang, berkelap-kelip di angkasa raya. Pada saat yang lain, mereka seperti dua cahaya meteor yang bertubrukan. Tubuh mereka memercikkan beribu cahaya. Begitu indah.

“Aku bahagia sekali, Putri.”

“Aku senang kau bisa bahagia.”

“Aku ingin memilikimu selamanya.” Putri Langit mengendurkan pelukannya, lalu berkata, “Serakah kemanusiaanmu muncul lagi. Mestinya kau tak perlu mempunyai sifat seperti itu lagi.” “Di bumi aku tersiksa sekali. Aku seperti kuda, dipecut untuk selalu terus berjalan. Aku tak mau turun lagi, Putri. Aku mau selalu bersamamu,” kata Supria memberi alasan. “Jangan begitu, lelakiku,” sanggah Putri Langit. “Aku akan datang dan membawamu ke mana kamu suka, asal kamu tidak mementingkan dirimu sendiri.”

“Apa benar begitu?” Supria jadi penasaran. Putri Langit tak menyahut. Sebaliknya, ia membawa Supria turun ke bumi untuk melihat apa yang dikerjakan oleh orang-orang dekat Supria. Siang atau malam, orang-orang yang berada di bumi tak melihat keberadaan Putri Langit atau Supria yang telah menjelma angin. “Kamu kenal dengan orang itu, lelakiku?” tanya Putri Langit sambil menunjuk ke salah seorang perempuan di belakang gerobak rokok. “Hah, itu Winarti? Istriku! Sedang apa dia?” ucap Supria heran. “Lihat saja dulu, ke mana dia setelah ini,” kata Putri Langit mengenai keberadaan istri Supria di pinggir jalan. Dan, perempuan yang dikenal sebagai istrinya itu kini berjalan menuju halte bus. Sebuah buskota muncul. Perempuan itu naik ke dalam buskota bersama beberapa calon penumpang. Di dalam bus perempuan itu mengeluarkan alat musik sebangsa ketimpring dari dalam tasnya. Lalu perempuan itu menyanyi.

“Astaga, istriku mengamen!?” “Nah, ternyata orang yang kamu anggap telah menyiksa dirimu, justru sebaliknya. Dia lebih tabah ketimbang dirimu,” tukas Putri Langit. Mata Supria tak berkedip. “Winarti! Winarti!” teriak Supria dari atas angkasa.

“Istrimu tidak akan mendengar atau melihat. Sebab kita sedang dalam wujud angin. Mau lihat yang lainnya?” tawar Putri Langit kemudian. Supria mengangguk. Bahkan ia bernafsu ingin melihat semua kejadian pada saat dirinya berada di tempat lain. “Ayo Putri, bawa aku ke tempat orang-orang di mana aku tak ada di dekatnya.” “Dengan senang hati, lelakiku,” sambut Putri Langit seraya menuntun tangan Supria. Dan terus, mereka berkesiur ke pohon-pohon di tepi jalan sehingga menyejukkan mereka yang sedang berteduh di bawahnya. “Kamu lihat anak itu? Coba perhatikan siapa dia?” tanya Putri Langit sambil menunjuk ke salah seorang anak laki-laki yang sedang menyedot minyak tanah dari mobil tangki dengan menggunakan selang yang dimasukkan ke jirigen. Bocah kecil itu melakukannya di saat mobil tangki minyak itu terjebak lampu merah. “Ya Tuhan, itu anakku! Itu anakku! Oh, sekecil itu dia sudah berada di jalan raya! Bagaimana ini, Putri?” keluh Supria semaput. “Itulah. Ternyata anakmu pun tak mau tinggal diam terhadap kehidupan ini. Meski di mata kita perbuatannya itu salah, tapi itulah yang aku bilang tadi, mereka juga sedang merasakan kesusahanmu. Ikut bersikap bagaimana untuk menata hidup ini secara benar. Bersyukurlah, anak dan istrimu sedang membangun prinsip-prinsip di dalam hidup ini.” Supria tercenung. Sebagai angin dia memilih bersemayam di dahan pohon. Bersembunyi dari hiruk-pikuk persoalan. Dia ingin berteriak tapi entah seperti apa bunyinya. Tentu anak dan istrinya tak akan tahu kalau yang berkesiur di sekelilingnya itu adalah sang suami, sang ayah yang telah berburuk sangka terhadap dirinya. “Mau lihat yang lainnya lagi?” tantang Putri Langit sambil menarik tangan Supria dari rimbun pohon yang tumbuh di tepi jalan raya itu. Supria menurut. Dia tak bisa menolak. Putri sudah berbuat baik, pikirnya. Maka dengan senang hati Supria mengikuti terus ke mana Putri Langit pergi walau harus meninggalkan raganya di tempat lain. “Apakah engkau ingin melihat orang-orang yang engkau anggap telah berjasa di tempat tinggalmu, Supria?” tanya Putri Langit kemudian.

Supria merasa senang kalau memang itu bisa. “Kamu tahu siapa dia?” tanya Putri Langit melalui lubang angin pada sebuah hotel yang mereka datangi. Ya, aku kenal. Dia adalah seorang lurah di desaku. Tapi kenapa dia bersama perempuan yang bukan istrinya?” Supria berkata. “Jangan bingung, lelakiku,” kata Putri Langit. Lalu Putri Langit membawa Supria yang tengah bingung ke sebuah hotel lainnya. “Kamu kenal dengan perempuan yang ada di dalam kamar hotel itu?” tanya Putri Langit untuk yang kesekian kali. “Oh, itu! Bukankah itu istri temanku? Mengapa dia berdua dengan lelaki yang bukan suaminya di dalam hotel? Ah, dunia apa ini, Putri?” Tanpa menyahut Putri Langit membawa Supria pergi lagi untuk melihat-lihat sesuatu yang belum diketahui oleh kekasih batinnya itu melewati daerah-daerah yang belum pernah Supria kunjungi. Kedua makhluk yang menjelma angin itu berkesiur ke tenda-tenda kafe, terus naik lagi ke gedung-gedung tinggi, kemudian berhenti sebentar di sudut-sudut ruang. Hampir semua pemandangan yang dilihatnya sangat bertentangan dengan hati nuraninya. “Dan yang ini,” kata Putri Langit sambil menunjuk ke sebuah rumah yang terpisah dari perkampungan penduduk. “Kamu mungkin tak kenal dengan perempuan tua itu, tapi tentunya mengenal sekali dengan perempuan muda yang sedang terbaring itu,” lanjut Putri Langit setelah mereka masuk ke rumah itu melalui lubang angin di atas jendela. Supria terkejut bukan main. Dia hampir tak percaya.

“Astaga! Bukankah itu Punasokawati, anak tetanggaku? Oh, mengapa dia dalam keadaan setengah telanjang dengan kedua kaki direntangkan?”

“Dia mau aborsi!” sela Putri Langit.

“Apa itu aborsi?”

“Mengeluarkan jabang bayi dari rahimnya.”

“Lho, bukankah Punasokawati itu belum punya suami?” “Itulah, karena kecerobohannya mengenal laki-laki tanpa pandang bulu. Siapa saja dia pacari. Sampai-sampai dia hamil. Dia sendiri tidak tahu siapa ayah anak yang ada di dalam kandungannya itu,” jelas Putri Langit. Supria mundur. Dia mau muntah. Kepalanya berdenyut. Perutnya mual.

“Kenapa lelakiku, apa kamu terkejut?”

Supria galau.

“Apa mau lihat yang lebih gila lagi?” tawar Putri Langit kemudian. “Ti.. tidak, tidak! Sudah Putri, jangan kau teruskan lagi membawaku ke dalam kehidupan gila itu. Jangan lagi Putri! Putri!” Mendengar ocehan Supria, Winarti, istri Supria yang galak dan cerewet itu terjaga dari tidurnya. Siapa Putri? Pikirnya. ‘Kurang ajar!’ Kutuknya kemudian. Hati sang istri tiba-tiba terbakar api cemburu di pagi buta. Tanpa basa-basi lagi, sang istri itu mengambil air dari dalam gentong lalu disiramkan ke wajah suaminya. “Dasar bajingan! Siapa Putri, heh! Siaaappaaa!” teriak Winarti sambil menjambak rambut Supria dengan kasar sehingga suaminya itu terlempar dari atas tempat tidurnya. Supria yang masih gugup dan bingung itu hanya melongo di lantai kamarnya, tanpa bisa menjelaskan duduk persoalannya. **

Sekian

0 Response to "Suluk Kematian"

Post a Comment

Translate

English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified