Download applikasi baca novel online untuk android disini: DOWNLOAD

PERCY JACKSON & THE OLYMPIANS 6

Gemuruh lagi. Hades bangkit dari singgasananya, menjulang hingga setinggi tiang bendera. "Ayahmu mungkin bisa mengelabui Zeus, Bocah, tapi aku tidak sebodoh itu. Aku bisa menebak rencananya."

"Rencananya?"

"Kaulah si pencuri pada titik balik matahari musim dingin," katanya. “Ayahmu berniat terus merahasiakanmu. Dia memberimu petunjuk ke ruang singgasana di Olympus. Kau mengambil petir asali dan helmku. Andai aku tidak mengirim Erinyes untuk menemukanmu di Akademi Yancy, Poseidon mungkin berhasil menyembunyikan muslihatnya untuk memulai perang. Tapi sekarang kau telah dipaksa untuk muncul di permukaan. Kau akan dibeberkan sebagai pencuri suruhan Poseidon, dan aku ingin helmku dikembalikan!"

"Tapi ..." kata Annabeth. Aku bisa menduga bahwa benaknya berpacu sejuta kilometer per jam. "Dewa Hades, helm kegelapanmu juga hilang?"

"Jangan pura-pura bodoh, Bocah. Kau dan satir ini telah membantu pahlawan ini—datang ke sini, pasti untuk mengancamku atas nama Poseidon—untuk memberiku ultimatum. Apa Poseidon menyangka, aku bisa diperas agar mendukungnya?"

"Tidak!" kataku. "Poseidon tidak—aku tidak—"

"Selama ini aku tak mengatakan apa-apa tentang hilangnya helm itu," Hades menggeram, "karena aku tidak punya pikiran muluk bahwa akan ada orang di Olympus yang mau menawariku keadilan sedikit pun, bantuan sedikit pun. Akulah yang rugi jika tersebar kabar bahwa senjata angkerku yang paling sakti itu hilang. Jadi, aku sendiri yang mencarimu, dan ketika sudah jelas kau akan mendatangiku untuk menyampaikan ancaman, aku tidak berusaha menghentikanmu."

"Kau tidak berusaha menghentikan kami? Tapi—"

"Kembalikan helmku sekarang, atau aku akan menghentikan kematian," ancam Hades. "Itu tawaran dariku. Aku akan membuka bumi dan membiarkan kaum mati membanjir kembali ke dunia. Aku akan menjadikan negeri-negerimu mimpi buruk. Dan kau, Percy Jackson— tengkorakmu akan memimpin pasukanku keluar dari Hades."

Semua tentara tengkorak maju satu langkah, menyiapkan senjata. Pada titik itu, mungkin seharusnya aku ketakutan. Anehnya, aku merasa tersinggung. Aku paling marah kalau dituduh melakukan sesuatu yang tak kulakukan. Aku sudah sering mengalami itu.

"Kau sama buruknya dengan Zeus," kataku. "Kaupikir aku mencuri darimu? Itu sebabnya kau mengutus Erinyes untuk mengejarku?"

"Tentu saja!” kata Hades.

"Dan monster-monster lain?"

Hades mengerutkan bibir. "Aku tak berkaitan dengan mereka. Aku tak ingin kau mati cepat—aku ingin kau dibawa ke hadapanku hidup-hidup supaya kau bisa menghadapi setiap siksa di Padang Hukuman. Pikirmu kenapa aku membiarkanmu masuk kerajaanku begitu mudah?"

"Mudah?"

"Kembalikan barangku!"

"Tapi aku tak memegang helmmu. Aku datang untuk meminta petir asali."

"Yang sudah kaumiliki!" teriak Hades. "Kau datang ke sini dengan membawanya, Bocah Tolol, menyangka kau dapat mengancamku!"

"Tapi aku nggak bawa petir!"

"Coba buka tasmu."

Firasat buruk melandaku. Berat di ranselku, seperti bola boling. Mustahil .... Aku menurunkan ransel itu dan membuka ritsleting-nya. Di dalamnya terdapat silinder logam sepanjang 60 sentimeter, kedua ujungnya tajam, mendengung dengan energi.

"Percy," kata Annabeth. "Bagaimana—"

"Ng—nggak tahu. Aku nggak ngerti."

"Kalian pahlawan selalu saja sama," kata Hades. "Kepongahan membuatmu tolol, menyangka kau dapat membawa senjata seperti itu ke hadapanku. Aku tidak meminta petir asali Zeus, tetapi karena sudah berada di sini, kau akan menyerahkannya kepadaku. Aku yakin ini bisa menjadi alat tawar-menawar yang baik. Dan sekarang ... helmku. Mana helmku?"

Aku terdiam seribu bahasa. Aku tak punya helm. Aku tak tahu sama sekali bagaimana petir asali itu bisa masuk ke dalam ranselku. Aku ingin berpikir bahwa Hades sedang bermuslihat. Hades itu tokoh jahat. Tetapi, tiba-tiba dunia jungkir balik. Kusadari bahwa aku telah dipermainkan. Zeus, Poseidon, dan Hades telah diadu domba oleh orang lain. Petir asali itu berada di ransel, dan aku mendapatkan ransel itu dari ...

"Dewa Hades, tunggu," kataku. "Ini semua kekeliruan."

"Kekeliruan?" Hades menggelegar. Para kerangka tulang mengarahkan senjata. Dari ketinggian di atas, terdengar kepakan sayap berkulit, dan tiga Erinyes menukik lalu bertengger di punggung singgasana majikan mereka. Erinyes yang berwajah seperti Bu Dodds menyeringai kepadaku dengan bersemangat dan melecutkan cambuknya.

"Tak ada kekeliruan," kata Hades. "Aku tahu mengapa kaudatang—aku tahu alasan sesungguhnya kau membawa petir itu. Kau datang untuk tawar-menawar soal dia."

Hades melepaskan sebuah bola api keemasan dari telapak tangannya. Bola itu meledak di atas tangga di depanku, dan di sana ada ibuku, beku dalam hujan emas, persis seperti keadaannya saat si Minotaur mulai mencekiknya hingga mati.

Lidahku kelu. Aku mengulurkan tangan untuk menyentuhnya, tetapi cahayanya sepanas api unggun.

"Ya," kata Hades dengan puas. "Aku yang mengambilnya. Aku tahu, Percy Jackson, pada akhirnya kau akan datang untuk tawar-menawar denganku. Kembalikan helmku, maka mungkin aku akan melepaskannya. Dia tidak mati, kautahu. Belum. Tapi kalau kau tak menyenangkan hatiku, itu akan berubah."

Aku teringat pada mutiara di saku. Mungkin mutiara itu bisa menolongku keluar dari masalah ini. Kalau aku bisa membebaskan ibuku ....

"Ah, mutiara itu," kata Hades, dan darahku membeku. "Ya, kakakku dan muslihat-muslihat kecilnya. Keluarkan, Percy Jackson."

Bertentangan dengan keinginanku, tanganku bergerak dan mengeluarkan mutiara-mutiara itu.

"Hanya tiga," kata Hades. "Sayang sekali. Kau tahu, kan, setiap mutiara itu hanya dapat melindungi satu orang. Kalau begitu, cobalah ambil ibumu, Anak Dewa Cilik. Dan temanmu yang mana yang akan kautinggalkan untuk menjalani keabadian bersamaku? Ayo. Pilihlah. Atau beri aku ransel itu dan terima syaratku."

Aku menoleh kepada Annabeth dan Grover. Wajah mereka suram.

"Kita ditipu," kataku kepada mereka. "Dijebak."

"Iya, tapi kenapa?" tanya Annabeth. "Dan suara di dalam lubang—"

"Aku belum tahu," kataku. "Tapi aku mau bertanya."

"Putuskan, Bocah!" bentak Hades.

"Percy," Grover meletakkan tangan di bahuku. "Kau nggak boleh memberinya petir itu."

"Aku tahu."

"Tinggalkan aku di sini," katanya. "Gunakan mutiara ketiga untuk ibumu."

"Tidak!"

"Aku seorang satir," kata Grover. "Kami tak punya jiwa seperti manusia. Dia bisa menyiksaku sampai aku mati, tapi dia tak akan mendapatkanku selamanya. Aku hanya akan direinkarnasi sebagai bunga atau apa. Ini cara terbaik."

"Jangan." Annabeth menghunus belati perunggunya. "Kalian pergi saja. Grover, kau harus melindungi Percy. Kau harus mendapatkan izin pencarimu dan memulai misimu mencari Pan. Bawa ibunya dari sini. Aku akan melindungimu. Aku berencana mati dengan berjuang."

"Nggak mau," kata Grover. "Aku saja yang di sini."

"Pikir lagi, Anak Kambing," kata Annabeth.

"Hentikan, kalian berdua!" Aku merasa seakan-akan hatiku dikoyak menjadi dua. Mereka berdua telah menemaniku menghadapi begitu banyak hal. Aku ingat Grover menukik memukul Medusa di taman patung, dan Annabeth menyelamatkan kami dari Cerberus; kami berhasil bertahan hidup di wahana Waterland milik Hephaestus, Gateway Arch di St. Louis, Kasino Teratai. Aku menempuh ribuan kilometer dengan cemas, bahwa aku akan dikhianati seorang teman, tetapi teman-temanku yang ini tak akan pernah melakukan itu. Mereka hanya pernah menyelamatkanku, berulang-ulang, dan sekarang mereka ingin mengorbankan nyawa demi ibuku.

"Aku tahu apa yang harus kulakukan," kataku. "Ambil ini. Aku memberi mereka masing-masing sebutir mutiara.

Kata Annabeth, "Tapi, Percy ..."

Aku berbalik dan menghadap ibuku. Aku sangat ingin mengorbankan diriku sendiri dan menggunakan mutiara terakhir itu untuknya, tetapi aku tahu apa yang pasti dikatakannya. Dia pasti tidak memperbolehkan aku melakukan ini. Aku harus membawa petir itu kembali ke Olympus dan memberi tahu Zeus keadaan sebenarnya. Aku harus menghentikan perang. Ibuku tak akan memaafkanku kalau aku malah menyelamatkan dia. Aku teringat pada ramalan di Bukit Blaster, yang terasa terjadi sejuta tahun yang lalu. Dan pada akhirnya kau akan gagal menyelamatkan yang terpenting.

"Maaf," kataku kepadanya. "Aku akan kembali. Akan kucari caranya."

Tampang sombong pada wajah Hades memudar. Katanya, "Anak dewa ...?"

"Akan kutemukan helmmu, Paman," kataku kepadanya. "Akan kukembalikan. Ingat soal kenaikan gaji Charon."

"Jangan menentangku—"

"Dan nggak ada ruginya Paman bermain dengan Cerberus sekali-sekali. Dia suka bola karet merah."

"Percy Jackson, kau tak boleh—"

Aku berseru, "Sekarang, teman-teman!"

Kami membanting mutiara di kaki. Selama satu detik yang mengerikan, tak terjadi apa-apa.

Hades berteriak, "Hancurkan mereka!"

Pasukan kerangka tulang bergegas maju, pedang terhunus, senapan berbunyi klik menjadi otomatis penuh. Erinyes menerjang, cambuk mereka berkobar. Persis ketika para kerangka tulang itu menembak, keping-keping mutiara di kakiku meletus dengan ledakan cahaya hijau dan tiupan angin laut yang segar. Aku terselubung dalam bola putih seperti susu, yang mulai melayang dari tanah. Annabeth dan Grover berada tepat di belakangku. Tombak dan pedang membal begitu kena gelembung mutiara, sementara kami melayang naik. Hades berteriak dengan begitu marah, seluruh benteng berguncang dan aku tahu LA. tak tidur lelap malam itu.

"Lihat ke atas!" teriak Grover. "Kita akan menabrak!"

Benar saja, kami melaju tepat ke arah stalaktit, yang kupikir akan meledakkan gelembung dan menusuk kami.

"Bagaimana cara mengendalikan ini?" teriak Annabeth.

"Kayaknya nggak bisa dikendalikan!" aku balas berteriak. Kami menjerit sementara gelembung menabrak ke langit-langit dan ... Gelap. Apakah kami mati? Tidak, aku tetap dapat merasakan sensasi gerakan. Kami naik, menembus batu padat, semudah gelembung udara menembus air. Itulah keajaiban mutiara itu, kusadari—Apa yang milik laut akan selalu kembali ke laut.

Selama beberapa saat, aku tak bisa melihat apa-apa di luar tembok bola yang mulus, lalu mutiara itu menembus ke dasar laut. Dua bola susu lain, Annabeth dan Grover, mengikutiku sementara kami membubung menembus air. Dan—pias!

Kami meledak ke permukaan, di tengah-tengah Teluk Santa Monica, menyenggol seorang peselancar dari papannya yang berseru sebal, "Hei!"

Aku menyambar Grover dan menariknya ke pelampung laut. Aku menangkap Annabeth dan menyeret dia juga. Seekor hiu yang penasaran mengitari kami, hiu putih besar sepanjang sekitar tiga meter. Aku berkata, "Pergi sana." Hiu itu berbalik dan bergegas pergi.

Si peselancar berteriak tentang keracunan jamur basi dan mendayung menjauhi kami secepatnya. Entah bagaimana, aku tahu jam berapa saat itu: dini hari, 21 Juni, hari titik balik matahari musim panas.

Di kejauhan, Los Angeles kebakaran, asap mengepul dari berbagai tempat di seluruh kota. Ternyata benar, telah terjadi gempa, dan itu salah Hades. Dia mungkin sedang mengirim pasukan kaum mati mengejarku.

Tapi saat ini, Dunia Bawah bukan masalah terbesarku. Aku harus ke pantai. Aku harus membawa petir Zeus kembali ke Olympus. Dan yang terpenting, aku harus bicara serius dengan dewa yang menipuku.

20. Aku Bertempur dengan Kerabatku yang Berengsek

Sebuah perahu Penjaga Pantai menjemput kami, tetapi mereka terlalu sibuk sehingga tak menahan kami lama-lama, tidak pula bertanya-tanya bagaimana tiga anak berpakaian biasa bisa sampai ke tengah-tengah teluk. Ada bencana yang harus ditangani. Radio mereka mendapat panggilan darurat tanpa henti.

Mereka mengantarkan kami di Dermaga Santa Monica, dengan handuk tersampir di bahu dan botol air yang bertulisan AKU PENJAGA PANTAI JUNIOR! dan melaju pergi untuk menyelamatkan orang lagi.

Pakaian kami basah-kuyup, bahkan pakaianku. Saat perahu Penjaga Pantai muncul, aku berdoa dalam hati agar mereka tidak akan mengangkatku dari air dan menemukanku dalam keadaan kering, yang pastinya akan membuat orang heran. Jadi, aku menyuruh tubuhku agar basah kuyup. Benar saja, sihir tahan airku yang biasa telah hilang. Aku juga bertelanjang kaki, karena sepatuku kuberikan kepada Grover. Lebih baik Penjaga Pantai bertanya-tanya mengapa salah satu dari kami bertelanjang kaki daripada mengapa salah satu dari kami memiliki kaki kambing.

Setelah mencapai tanah kering, kami terseok-seok di sepanjang pantai, mengamati kota terbakar dengan latar matahari terbit yang indah. Aku merasa seperti baru kembali dari kematian—dan memang itulah yang terjadi. Ranselku masih diberati petir asali Zeus. Hatiku bahkan lebih berat lagi karena telah melihat ibuku.

"Aku nggak percaya," kata Annabeth. "Kita sudah jauh-jauh pergi ke sana."

"Ini tipuan," kataku. "Strategi yang sehebat strategi Athena."

"Hei," katanya memperingatkan.

"Kau mengerti, kan?"

Dia menundukkan pandangannya, amarahnya memudar. "Iya. Aku mengerti."

"Aku nggak!" Grover mengeluh. "Jelaskan—"

"Percy ..." kata Annabeth. "Aku ikut sedih soal ibumu. Sungguh menyesal ..."

Aku berpura-pura tak mendengar. Kalau aku membicarakan ibuku, bisa-bisa aku mulai menangis seperti anak kecil.

"Ramalan itu benar," kataku. "’Kau akan pergi ke barat, dan menghadapi sang dewa yang berkhianat.' Tapi, bukan Hades. Hades nggak menginginkan perang di antara Tiga Besar. Orang lain yang mencuri. Seseorang mencuri petir asali Zeus, dan helm Hades, dan memfitnahku karena aku anak Poseidon. Poseidon akan disalahkan oleh kedua sisi. Sebelum matahari terbenam hari ini, akan ada perang segi tiga. Dan akulah penyebabnya."

Grover menggeleng, bingung. "Siapa yang selicik itu? Siapa yang menginginkan perang seperti itu?"

Aku berhenti berjalan, melihat ke arah pantai. "Aduh, siapa ya, coba kupikir dulu."

Dan dia pun berdiri sana, menanti kami, dengan jaket kulit hitam dan kacamata hitam, pemukul bisbol aluminium tersandang di bahu. Sepeda motornya menggemuruh di samping, lampu depannya memerahkan pasir.

"Hei, Bocah," kata Ares, seolah-olah setulusnya senang bertemu denganku. "Kau seharusnya mati."

"Kau menipuku," kataku. "Kau yang mencuri petir asali dan helm itu."

Ares menyeringai. "Sebenarnya, aku tidak mencurinya sendiri. Dewa mengambil lambang kekuasaan dewa lain—itu larangan besar. Tapi kau bukan satu-satunya pahlawan di dunia ini yang bisa menjalankan tugas."

"Siapa yang kaugunakan? Clarisse? Dia berada di sana pada titik balik matahari musim panas."

Gagasan itu sepertinya membuatnya geli. "Tidak penting. Yang penting, Bocah, kau menghambat upaya perang. Begini, kau harus mati di Dunia Bawah. Lalu, si Ganggang Tua itu akan marah pada Hades karena membunuhmu. Si Napas Bangkai akan memegang petir asali, jadi Zeus akan marah juga padanya. Dan Hades masih mencari ini.

Dari sakunya dia mengeluarkan sebuah topi ski— seperti yang sering dipakai perampok bank—dan meletakkannya di antara setang motor. Langsung saja topi itu berubah menjadi helm perang perunggu yang rumit.

"Helm kegelapan," dengap Grover.

"Persis," kata Ares. "Sampai di mana aku tadi? Oh iya, Hades akan marah pada Zeus dan Poseidon, karena dia tak tahu siapa yang mengambil helm ini. Tak lama kemudian, terjadi pesta bogem tiga arah yang mengasyikkan."

"Tapi, mereka itu keluargamu!" Annabeth protes.

Ares mengangkat bahu. "Jenis perang yang paling bagus. Selalu paling berdarah. Tak ada yang setara asyiknya dengan menonton saudaramu bertempur, itu yang selalu kubilang."

"Kau memberiku ransel itu di Denver," kataku. "Selama itu petir asali ada di dalamnya."

"Ya dan tidak," kata Ares. "Mungkin terlalu rumit untuk dipahami otak manusiamu yang kecil, tetapi ransel itu sebenarnya sarung petir asali, cuma berubah bentuk sedikit. Petir itu terkait dengannya, mirip-mirip dengan pedangmu itu, Bocah. Pedang itu selalu kembali ke sakumu, kan?"

Aku tak tahu bagaimana Ares tahu soal itu, tapi barangkali seorang dewa perang memang harus berusaha tahu tentang segala macam senjata.

"Pokoknya," lanjut Ares, "sihirnya kuotak-atik sedikit, supaya petir itu baru kembali ke sarungnya setelah kau mencapai Dunia Bawah. Begitu kau mendekati Hades.... Langsung deh, kiriman posnya sampai. Andai kau mati dalam perjalanan—tak ada yang rugi. Senjata itu masih kupegang."

"Tapi kenapa tak kau simpan sendiri saja petir asali itu?" tanyaku. "Kenapa dikirim ke Hades?"

Rahang Ares berkedutan. Selama sesaat, dia kelihatan seolah-olah sedang mendengarkan suara lain, jauh di dalam kepalanya. "Kenapa aku tidak ... ya ... dengan kekuatan api seperti itu...”

Dia masuk TRANCE itu selama satu detik ... dua detik ...

Aku bertukar pandangan gugup dengan Annabeth.

Wajah Ares menjadi jernih. "Aku tak ingin repot. Lebih baik kau yang tepergok memiliki benda itu."

"Kau bohong," kataku. "Mengirim petir itu ke Dunia Bawah bukan gagasanmu, ya?"

"Tentu saja itu gagasanku!" Asap mengepul dari kacamata hitamnya, seolah-olah akan terbakar.

"Bukan kau yang memerintahkan pencurian itu," tebakku. "Ada orang lain yang mengirim seorang pahlawan untuk mencuri kedua benda itu. Lalu, ketika Zeus mengutusmu untuk memburunya, kau menangkap pencuri itu. Tapi kau tak menyerahkannya kepada Zeus. Sesuatu meyakinkanmu untuk melepaskan orang itu. Kau menyimpan benda-benda itu sampai ada pahlawan lain yang datang dan bisa mengantarkannya. Makhluk di lubang itu menyuruh-nyuruhmu."

"Aku Dewa Perang! Aku tak menerima perintah dari siapa pun! Aku tak pernah bermimpi!"

Aku ragu. "Siapa yang menyebut-nyebut mimpi?"

Ares tampak resah, tetapi dia berusaha menutupinya dengan tersenyum mengejek. "Kita kembali ke masalah sekarang, Bocah. Kau masih hidup. Aku tak bisa membiarkanmu membawa petir itu ke Olympus. Kalau-kalau kau berhasil membuat orang-orang tolol keras kepala itu mendengarmu. Jadi, aku harus membunuhmu. Bukan masalah pribadi."

Dia menjentikkan jari. Pasir meledak di kakinya dan keluarlah seekor celeng liar, lebih besar dan lebih jelek lagi daripada celeng yang kepalanya tergantung di atas pintu pondok tujuh di Perkemahan Blaster.

Makhluk itu mengais-ngais pasir, memelototiku dengan mata manik-manik, sambil menurunkan cula tajam dan menunggu aba-aba membunuh dikeluarkan.

Aku melangkah ke air. "Lawan aku sendiri, Ares."

Dia tertawa, tetapi aku mendengar nada yang sedikit meninggi dalam tawanya... keresahan. "Kau cuma punya satu bakat, Bocah, yaitu melarikan diri. Kau melarikan diri dari Chimera. Kau melarikan diri dari Dunia Bawah. Kau tak punya nyali."

"Takut, ya?"

"Enak saja." Tetapi, kacamatanya mulai meleleh akibat panas matanya. "Tak boleh ada keterlibatan langsung. Maaf, Bocah. Kau tidak selevel denganku."

Annabeth berkata, "Percy, lari!"

Celeng raksasa itu menerjang. Tetapi, aku tak mau lagi melarikan diri dari monster. Atau Hades, atau Ares, atau siapa pun.

Sementara celeng itu menyerangku, aku membuka penaku dan bergeser ke samping. Riptide muncul di tanganku. Kuayunkan ke atas. Taring kanan celeng terpotong dan jatuh di kakiku, sementara hewan yang kehilangan arah itu menerjang ke laut.

Aku berteriak, "Ombak!" Langsung saja sebuah ombak melambung entah dari mana dan menelan celeng itu, membungkusnya seperti selimut. Makhluk itu mendecit ketakutan satu kali. Lalu hilang, ditelan oleh laut.

Aku kembali menghadap Ares. "Kau mau melawanku sekarang?" tanyaku. "Atau mau bersembunyi lagi di balik babi piaraan?"

Wajah Ares ungu karena murka. "Hati-hati, Bocah. Aku bisa mengubahmu menjadi—"

"Kecoak," kataku. "Atau cacing pita. Iya, aku yakin. Itu tak akan membuat pantat dewamu dirotan, kan?"

Api menari-nari di sepanjang tepi atas kacamatanya. "Astaga, kau benar-benar minta dibakar hingga musnah."

"Kalau aku kalah, ubah aku menjadi apa pun yang kauinginkan. Ambil petir itu. Kalau aku menang, helm dan petir itu menjadi milikku dan KAU harus pergi."

Ares mencibir. Dia mengayunkan pemukul bisbol dari bahunya.

"Kau ingin dilumatkan dengan cara apa: klasik atau modern?"

Aku mengacungkan pedang kepadanya.

"Boleh, bocah mampus," katanya. "Klasik saja."

Pemukul bisbol itu berubah menjadi pedang besar yang dipegang dengan dua tangan. Gagangnya berupa tengkorak perak besar, mulutnya menggigit batu mirah.

"Percy," kata Annabeth. "Jangan lakukan ini. Dia itu dewa."

"Dia pengecut,” kataku kepadanya. Annabeth menelan ludah.

"Setidaknya, pakai ini. Supaya mujur." Dia melepaskan kalungnya, dengan manik-manik perkemahan untuk lima tahun dan cincin dari ayahnya, dan mengikatkannya di leherku.

"Perdamaian," katanya. "Athena dan Poseidon bersama-sama."

Mukaku terasa sedikit hangat, tetapi aku berhasil tersenyum.

"Makasih."

"Dan ambil ini," kata Grover.

Dia memberiku kaleng timah gepeng yang mungkin disimpannya di saku selama seribu kilometer. "Kaum satir mendukungmu."

"Grover ... aku nggak tahu harus berkata apa."

Dia menepuk bahuku. Aku memasukkan kaleng timah itu di saku belakang.

"Sudah selesai berpamitan?" Ares mendekatiku, jaket kulit hitamnya melambai-lambai di belakang, pedangnya berkilauan seperti api tertimpa cahaya matahari terbit.

"Aku sudah bertempur selama semenjak dunia ada, Bocah. Kekuatanku tak terbatas dan aku tak bisa mati. Kau punya apa?"

Ego yang lebih kecil, pikirku, tetapi tak mengatakan apa-apa. Aku tetap berpijak dalam ombak, mundur ke dalam air hingga setinggi pergelangan kaki. Aku teringat perkataan Annabeth di restoran Denver, sudah begitu lama: ARES PUNYA KEKUATAN. CUMA ITU YANG DIA PUNYA. KEKUATAN SEKALIPUN KADANG-KADANG HARUS TUNDUK KEPADA KEARIFAN.

Dia mengayunkan pedangnya membelah kepalaku, tetapi aku sudah berpindah tempat. Tubuhku berpikir untukku. Air seolah-olah mendorongku ke udara dan aku bersalto melewati kepala Ares, sambil mengayunkan pedang saat aku turun. Tetapi, Ares sama cepatnya. Dia berputar, dan tusukan yang semestinya bersarang di tulang punggungnya ditangkis dengan ujung gagang pedang.

Dia menyeringai. "Lumayan, lumayan."

Dia membacok lagi dan aku terpaksa melompat ke tanah kering. Aku berusaha menyamping untuk kembali ke air, tetapi Ares tampaknya tahu apa yang kuinginkan. Geraknya lebih unggul, mendesak begitu keras sehingga aku harus memusatkan seluruh perhatianku agar tidak tercincang. Aku terus mundur dari laut. Aku tak bisa menemukan peluang untuk menyerang. Pedangnya bisa menjangkau beberapa kaki lebih jauh daripada Anaklusmos. DEKATI LAWAN, Luke pernah berkata kepadaku, dulu saat belajar bermain pedang. KALAU PEDANGMU LEBIH PENDEK, DEKATI LAWAN.

Aku melangkah masuk sambil menusuk, tetapi Ares sudah menebak gerakan itu. Dia memukul pedangku hingga terlepas dari tangan dan menendang dadaku. Aku terbang—enam, mungkin sembilan meter. Punggungku barangkali sudah patah andai aku tidak mendarat di bukit pasir yang empuk.

"Percy!" teriak Annabeth. "Polisi!"

Penglihatanku mendua. Dadaku seperti baru dihantam dengan balok pendobrak, tetapi aku berhasil berdiri. Aku tak bisa mengalihkan pandangan dari Ares, takut dia membelahku jadi dua, tetapi dari sudut mataku terlihat lampu merah berdenyar dari jalan sepanjang pantai.

Pintu mobil dibanting.

"Di sana, Pak Polisi!" seseorang berteriak. "Lihat, kan?"

Suara seorang polisi yang parau: "Sepertinya anak di televisi itu... apa-apaan.”

"Pria itu bersenjata," kata seorang polisi lain. "Panggil bala bantuan."

Aku berguling ke samping sementara pedang Ares membacok pasir.

Aku berlari ke tempat pedangku, menyambarnya, lalu menebas ke muka Ares, tetapi ditangkis lagi.

Ares sepertinya tahu persis apa yang akan kulakukan persis sebelum kulakukan. Aku melangkah kembali ke ombak, memaksanya ikut.

"Akuilah, Bocah," kata Ares. "Kau tak mungkin menang. Aku cuma bermain-main denganmu."

Indraku bekerja lembur. Sekarang aku memahami perkataan Annabeth, bahwa GPPH membantu kita bertahan hidup dalam pertempuran. Aku terjaga penuh, memerhatikan setiap detail. Aku bisa melihat bagian tubuh Ares mana yang menegang. Aku bisa tahu ke mana dia akan menyerang. Pada saat yang sama, aku sadar akan Annabeth dan Grover, sepuluh meter di sebelah kiri. Aku melihat mobil polisi kedua berhenti, sirenenya meraung-raung. Para penonton, orang yang keluyuran di jalan akibat gempa bumi, mulai berkerumun. Di antara kerumunan, aku merasa melihat beberapa orang yang berjalan dengan langkah berderap aneh, khas kaum satir. Juga ada sosok-sosok arwah yang berkilau, seolah-olah kaum mati telah bangkit dari Hades untuk menonton pertempuran. Aku mendengar kepak sayap berkulit melingkar-lingkar di suatu tempat di atas.

Sirene lagi.

Aku melangkah lebih jauh ke dalam air, tetapi Ares bergerak cepat. Ujung pedangnya merobek lengan baju dan menggores lenganku.

Suara polisi di megafon berkata, "Jatuhkan senapan! Letakkan di tanah. Sekarang!"

Senapan?

Aku melihat senjata Ares, yang tampak menggeriap, kadang terlihat seperti pistol, kadang pedang dua tangan. Aku tak tahu apa yang dilihat manusia di tanganku, tetapi aku cukup yakin benda itu tak akan membuat mereka menyukaiku.

Ares menoleh dan melotot kepada penonton. Aku mendapat waktu sesaat untuk bernapas. Sekarang ada lima mobil polisi, dan barisan polisi yang mendekam di belakangnya, mengarahkan pistol kepada kami.

"Ini masalah pribadi!" bentak Ares. "Enyahlah!"

Dia menyapukan tangan, dan sebuah tembok api merah bergulir di mobil-mobil patroli. Para polisi nyaris tak sempat melompat berlindung sebelum mobil mereka meledak. Kerumunan di balik mereka bercerai-berai, menjerit-jerit. Ares tertawa menggelegar.

"Nah, pahlawan kecil. Ayo ikut masuk ke panggangan ini."

Dia membacok. Aku menangkis pedangnya. Akhirnya cukup dekat untuk menyerang, kulancarkan gerak tipuan untuk mengecoh, tetapi pedangku tertangkis. Ombak menampar-nampar punggungku sekarang. Ares sudah masuk ke air hingga sepaha, mengarung mengejarku.

Aku merasakan irama laut, ombaknya semakin besar karena air pasang naik, dan tiba-tiba aku mendapat ide. OMBAK KECIL, pikirku. Dan air di belakangku sepertinya menyurut. Aku menahan air pasang dengan kekuatan niat, tetapi energi air terkumpul, seperti soda di balik sumbat botol.

Ares maju, menyeringai dengan percaya diri. Aku menurunkan pedang, seolah-olah terlalu letih untuk meneruskan. TUNGGU SAAT YANG TEPAT, kataku kepada laut. Tekanannya sekarang hampir mengangkatku dari tanah. Ares mengangkat pedang. Aku melepaskan air pasang dan melompat, membubung tepat di atas Ares dengan meniti ombak.

Tembok air setinggi dua meter menghantam mukanya dengan telak, membuatnya mengumpat dan meludah-ludah karena mulutnya penuh ganggang. Aku mendarat di air di belakangnya dan melakukan serangan tipuan ke arah kepalanya, seperti yang sebelumnya kulakukan. Dia berputar cepat dan sempat mengangkat pedang, tetapi kali ini dia sedang pusing, dia tidak mengantisipasi tipuan itu. Aku mengubah arah, merangsek ke pinggir, dan menghunjamkan Riptide lurus ke dalam air, menusukk ujungnya ke tumit sang dewa.

Auman yang menyusul begitu keras, gempa Hades pun tampak seperti peristiwa kecil jika dibandingkan Laut pun terdorong mundur dari Ares, menyisakan lingkaran pasir basah selebar lima belas meter.

Ichor, darah keemasan bangsa dewa, mengalir dari luk di sepatu bot si dewa perang. Air mukanya sudah lebih d benci. Nyeri, kaget, tak percaya bahwa dia telah dilukai. Dia terpincang-pincang ke arahku, mengumpat-umpat dengan bahasa Yunani kuno.

Sesuatu menghentikannya.

Seolah-olah sebuah awan menutupi matahari, tetapi lebih buruk. Cahaya memudar. Suara dan warna pun surut. Suatu sosok yang dingin dan berat meliputi pantai, melambatkan waktu, menurunkan suhu hingga membeku, dan membuatku merasa bahwa dalam hidup ini sudah tak ada harapan lagi, bertarung tidak berguna lagi.

Kegelapan terangkat.

Ares tampak tercenung.

Mobil-mobil polisi terbakar di belakang kami. Kerumunan penonton sudah kabur. Annabeth dan Grover berdiri di pantai, terpana, melihat air membanjir kembali ke sekeliling kaki Ares, ichor keemasannya yang bercahaya melarut ke dalam air pasang.

Ares menurunkan pedang.

"Kau telah mendapat musuh, Anak Dewa," katanya kepadaku. "Kau telah mengundang nasib buruk bagimu sendiri. Setiap kali kau mengangkat pedang untuk bertempur, setiap kali kau mengharapkan sukses, kau akan merasakan kutukanku. Awas, Perseus Jackson. Awas."

Tubuhnya mulai bersinar.

"Percy!" seru Annabeth. "Jangan dilihat!"

Aku berpaling sementara Dewa Ares memperlihatkan bentuk abadinya yang sejati. Entah bagaimana, aku tahu bahwa jika melihatnya, aku akan musnah menjadi abu.

Cahaya itu padam.

Aku menoleh kembali. Ares sudah menghilang. Air pasang pun menyurut, menampakkan helm kegelapan Hades yang terbuat dari perunggu. Aku memungutnya dan berjalan ke arah teman-temanku.

Tetapi, sebelum aku sampai ke situ, kudengar kepakan sayap berkulit. Tiga nenek bertampang jahat dengan topi renda dan cambuk berapi melayang turun dari langit dan mendarat di depanku.

Erinyes yang di tengah, yang pernah menjadi Bu Dodds, melangkah maju. Taringnya diperlihatkan, tetapi sekali ini dia tidak kelihatan mengancam. Dia lebih kelihatan kecewa, seolah-olah sudah berencana melahapku, tetapi kemudian memutuskan bahwa aku mungkin akan membuatnya sakit perut.

"Kami melihat seluruh kejadiannya," desisnya. "Jadi ... benar-benar bukan kau?"

Aku melemparkan helm itu kepadanya, yang ditangkapnya dengan kaget.

"Kembalikan itu ke Dewa Hades," kataku. "Ceritakan yang sebenarnya. Suruh dia membatalkan perang."

Dia ragu, lalu membasahi bibir berkulit hijaunya dengan lidah bercabang.

"Jalani hidup dengan baik, Percy Jackson. Jadilah pahlawan sejati. Karena kalau tidak, kalau kau pernah jatuh ke dalam genggamanku lagi ..." Dia terkekeh, menikmati pikiran itu. Lalu, dia dan saudari-saudarinya terbang dengan sayap kelelawar, melayang ke langit yang penuh asap, lalu menghilang.

Aku bergabung dengan Grover dan Annabeth, yang menatapku kagum.

"Percy......,” kata Grover. "Itu benar-benar...”

"Mengerikan," kata Annabeth.

"Keren!" Grover mengoreksi.

Aku tidak merasa ngeri. Aku jelas tidak merasa keren. Aku capek dan penat dan kehabisan tetangga sama sekali. "Apa kalian merasakan itu... apa pun itu?" tanyaku.

Mereka berdua mengangguk resah.

"Pasti itu gara-gara Erinyes yang terbang," kata Grover.

Tetapi, aku tak seyakin itu. Sesuatu telah mencegah Ares membunuhku, dan apa pun yang bisa melakukan itu tentu jauh lebih kuat daripada Erinyes. Aku menatap Annabeth, dan kami pun saling memahami. Aku tahu sekarang makhluk apa yang berada di lubang itu, apa yang telah berbicara dari pintu masuk Tartarus.

Aku mengambil kembali ranselku dari Grover dan melihat ke dalamnya. Petir asali masih ada di situ. Betapa kecilnya benda yang nyaris menyebabkan Perang Dunia III ini.

"Kita harus kembali ke New York," kataku. "Sebelum malam ini."

"Tapi itu mustahil," kata Annabeth, "kecuali kalau kita—"

"Terbang," aku menyetujui.

Dia menatapku. "Terbang, maksudmu naik pesawat, sesuatu yang telah diperingatkan agar jangan pernah kamu lakukan, kalau-kalau Zeus menendangmu dari langit, SAMBIL membawa senjata yang memiliki kekuatan penghancur lebih besar daripada bom nuklir?"

"Ya," kataku. "Kira-kira begitu. Ayo."

21. Aku Membereskan Utang-Piutang

Lucu juga bagaimana otak manusia dapat menalarkan segala sesuatu dan mencocokkannya dengan versi realitas mereka. Dulu sekali Chiron sudah memberitahuku soal itu. Seperti biasa, aku baru memahami kebenarannya lama kemudian.

Menurut berita L.A., ledakan di pantai Santa Monica terjadi ketika seorang penculik gila menembakkan senapan ke mobil polisi. Secara tak sengaja dia mengenai pipa utama gas, yang pecah selagi gempa bumi.

Si penculik gila ini (alias Ares) adalah lelaki yang menculikku dan dua remaja lain di New York dan membawa kami menyeberangi Amerika dalam perjalanan sepuluh hari yang mengerikan.

Percy Jackson cilik yang malang ternyata bukan penjahat internasional. Dia membuat onar di bus Greyhound di New Jersey karena sedang berusaha melarikan diri dari si penculik (dan setelahnya, para saksi bahkan bersumpah bahwa mereka melihat seorang lelaki berbaju kulit di bus— "Kenapa-sebelumnya aku tidak ingat dia, ya?".

Si lelaki gila itulah yang menyebabkan ledakan di Gateway Arch di St. Louis. Lagi pula, tak mungkin seorang anak kecil bisa melakukan itu. Seorang pelayan yang cemas di Denver melihat lelaki itu mengancam para korbannya di luar restoran, menyuruh seorang teman memfotonya, dan melapor ke polisi. Akhirnya, Percy Jackson si pemberani (aku mulai menyukai anak ini) mencuri senapan dari penculiknya di Los Angeles dan bertempur adu senapan dengannya di pantai. Polisi tiba pada waktu yang tepat. Tapi, dalam ledakan hebat itu, lima mobil polisi hancur dan si penculik melarikan diri. Tidak ada korban jiwa. Percy Jackson dan kedua temannya kini aman dalam perlindungan polisi.

Para wartawan menceritakan seluruh kisah ini kepada kami. Kami hanya mengangguk dan berpura-pura menangis dan lelah (tidak sulit dilakukan), dan berpura-pura menjadi korban untuk kamera.

"Aku cuma ingin," kataku, sambil menahan air mata, "bertemu lagi dengan ayah tiriku yang pengasih. Setiap kali aku melihat dia di televisi, menyebutku anak nakal yang ingusan, aku tahu... entah bagaimana... bahwa kami akan baik-baik saja. Dan aku tahu dia pasti ingin memberi hadiah kepada setiap warga di kota indah Los Angeles ini dengan peralatan rumah tangga dari tokonya secara gratis. Ini nomor teleponnya."

Polisi dan wartawan merasa begitu terharu, sehingga mereka mengedarkan kotak sumbangan dan menggalang dana untuk membeli tiga tiket pesawat berikutnya ke New York. Aku tahu tak ada pilihan selain terbang. Aku berharap Zeus bersikap lunak kepadaku, mempertimbangkan situasinya.

Tetapi, tetap sulit bagiku untuk memaksa diri menaiki pesawat. Lepas landasnya seperti mimpi buruk. Setiap turbulensi terasa lebih mengerikan daripada monster Yunani. Aku baru melepaskan cengkeraman pada lengan kursi saat kami mendarat dengan aman di Bandara La Guardia. Pers setempat menunggu kami di luar pos satpam, tetapi kami berhasil menghindari mereka berkat Annabeth, yang berseru memancing mereka sambil memakai topi Yankees halimunan, "Mereka di dekat yoghurt beku! Ayo!" lalu bergabung kembali dengan kami di pengambilan bagasi.

Kami berpisah di halte taksi. Aku menyuruh Annabeth dan Grover kembali ke Bukit Blasteran dan memberi tahu Chiron apa yang terjadi. Mereka memprotes, dan sulit rasanya melepaskan mereka pergi setelah segala yang kami alami, tetapi aku tahu aku harus melakukan bagian terakhir misi ini sendirian. Jika timbul masalah, jika para dewa tak memercayaiku ... aku ingin Annabeth dan Grover masih hidup dan bisa memberitahukan kebenaran kepada Chiron.

Aku naik ke taksi dan menuju Manhattan.

Tiga puluh menit kemudian, aku masuk ke lobi Empire State Building.

Aku pasti seperti anak gelandangan, dengan pakaian compang-camping dan wajah luka-luka. Aku belum tidur setidaknya dua puluh empat jam.

Aku menghampiri satpam di meja depan dan berkata, "Lantai enam ratus."

Dia sedang membaca buku tebal yang sampulnya bergambar seorang penyihir. Aku tidak terlalu menyukai novel fantasi, tetapi buku itu sepertinya seru, karena si satpam baru mengangkat pandangan setelah agak lama. "Tak ada lantai enam ratus di sini, Nak."

"Aku perlu bertemu dengan Zeus."

Dia memberiku senyum hampa. "Maaf?"

"Kau dengar aku."

Aku sudah hampir menyimpulkan bahwa orang ini cuma manusia biasa, dan sebaiknya aku kabur sebelum dia menelepon rumah sakit jiwa, ketika dia berkata, "Tak ada janji bertemu, tak boleh bertemu, Nak. Dewa Zeus tidak mau menemui siapa pun tanpa pemberitahuan."

"Oh, kurasa dia akan membuat pengecualian." Aku menurunkan ransel dan membuka ritsletingnya.

Si satpam melihat silinder logam di dalamnya, dan selama beberapa detik tak mengerti apa benda itu. Lalu, wajahnya memucat. "Itu bukan ...."

"Benar itu," aku berjanji. "Kau ingin aku mengeluarkannya dan—"

"Jangan! Jangan!" Dia buru-buru turun dari kursi, mencari-cari kartu kunci di meja, dan menyerahkannya kepadaku. "Masukkan ini ke slot keamanan. Pastikan tak ada orang lain bersamamu di dalam lift."

Aku mengikuti petunjuknya. Begitu pintu lift tertutup, aku menyelipkan kunci itu ke dalam slot. Kartu itu menghilang dan tombol baru muncul di panel, warna merah yang bertulisan 600. Aku menekannya dan menunggu, dan menunggu. Terdengar musik santai. "Tetes hujan turun menimpa kepalaku ...."

Akhirnya, DING. Pintu terbuka. Aku melangkah keluar dan hampir kena serangan jantung. Aku berdiri di jembatan batu sempit di tengah-tengah udara. Di bawahku Manhattan, dari ketinggian pesawat terbang.

Di depanku, tangga marmer putih memutari tiang awan, ke langit. Mataku mengikuti tangga itu sampai ke ujung, sampai ke tempat yang tak dapat diterima otakku.

Lihat lagi, kata otakku.

Kami melihat, mataku bersikeras. Benar-benar ada.

Dari atas awan, sebuah puncak gunung menjulang, puncaknya terpotong dan berselimut salju. Di lerengnya bertengger belasan istana bertingkat—kota yang berisi rumah-rumah mewah—semuanya memiliki serambi berpilar putih, teras bersepuh emas, anglo perunggu yang bersinar dengan seribu api. Jalan-jalan melingkar liar ke puncak, tempat istana yang terbesar bersinar dengan latar salju. Taman-taman yang bertengger penuh dengan pohon zaitun dan semak mawar yang bermekaran. Aku dapat melihat pasar terbuka yang dipenuhi tenda warna-warni, amfiteater batu yang dibangun di satu lereng gunung, lapangan pacuan kuda dan stadion di sisi lereng lain. Ini kota Yunani Kuno, tetapi tidak berbentuk puing-puing. Kota itu baru, dan bersih, dan warna-warni, sebagaimana penampilan kota Athena dua ribu lima ratus tahun yang lalu.

Tempat ini tak mungkin ada sini, kataku dalam hati. Puncak gunung menggantung di atas Kota New York seperti asteroid seberat satu miliar ton? Bagaimana sesuatu seperti itu bisa tertambat di atas Empire State Building, di depan mata jutaan orang, dan tidak disadari keberadaannya?

Tetapi, tempat itu ada. Dan di situlah aku berada.

Aku memasuki Olympus dengan linglung. Aku melewati beberapa peri hutan yang cekikikan, melempariku dengan zaitun dari taman mereka. Penjaja di pasar menawarkan jualan es lilin ambrosia, dan perisai baru, dan replika Bulu Emas yang berkilauan, seperti yang terlihat di TV Hephaestus. Kesembilan Mousai—dewi-dewi musik, lagu, dan tarian—sedang menyetem alat musik untuk konser di taman, mulai dikerumuni beberapa orang—satir dan naiad dan sekelompok remaja rupawan yang mungkin adalah dewa-dewi minor. Tak ada yang tampak mencemaskan tentang perang saudara yang akan terjadi. Bahkan, semua orang tampaknya sedang bersukaria. Beberapa di antaranya menoleh untuk mengamatiku lewat, dan berbisik-bisik sendiri.

Aku mendaki jalan utama, menuju istana besar di puncak. Istana itu tepat kebalikan istana Dunia Bawah. Di sana, segala sesuatu berwarna hitam dan perunggu. Di sini, semuanya berkilauan putih dan perak.

Kusadari bahwa Hades tentu membangun istananya agar mirip dengan yang ini. Dia tidak boleh datang ke Olympus kecuali pada titik balik matahari musim dingin, jadi dia membangun Olympus-nya sendiri di bawah tanah. Meskipun aku berpengalaman buruk dengannya, aku merasa sedikit kasihan. Dibuang dari tempat ini pasti terasa tak adil. Siapa pun pasti menjadi getir kalau mengalaminya.

Undakan itu berujung di sebuah halaman tengah. Setelah itu, ruangan singgasana.

RUANGAN sebenarnya bukan kata yang tepat. Dibandingkan dengan tempat itu, Stasiun KA Grand Central jadi seperti lemari sapu. Tiang-tiang besar menjulang hingga ke langit-langit berkubah, yang disepuh dengan rasi-rasi bintang yang bergerak.

Dua belas singgasana, dibangun untuk sosok sebesar Hades, tertata dalam bentuk U terbalik, persis seperti pondok di Perkemahan Blasteran. Api unggun raksasa berderak-derak di lubang perapian di tengah. Semua singgasana itu kosong, kecuali dua yang di ujung: singgasana utama di sebelah kanan, dan singgasana yang persis di sebelahnya. Aku tak perlu diberi tahu siapa kedua dewa yang sedang duduk di sana, menungguku mendekat. Aku menghampiri mereka, dengan kaki gemetar.

Kedua dewa itu berbentuk manusia raksasa, seperti Hades waktu itu, tetapi setiap kali melihat mereka tubuhku terasa kesemutan, seolah-olah mulai terbakar. Zeus, Pemimpin Para Dewa, mengenakan setelan jas biru tua bergaris-garis. Dia duduk di singgasana sederhana yang terbuat dari platinum padat. Janggutnya tercukur rapi, berwarna abu-abu bercampur hitam seperti awan badai. Wajahnya angkuh dan tampan dan suram, matanya abu-abu hujan. Sementara aku berjalan mendekat, udara berderak dan berbau ozon.

Dewa yang duduk di sebelahnya sudah pasti kakaknya, tetapi pakaiannya sangat berbeda.

Dia mengingatkanku pada gelandangan pantai dari Key West. Dia memakai sendal kulit, celana pendek bermuda warna khaki, dan kemeja bertema tropis yang bercorak kelapa dan burung beo. Kulitnya terbakar cokelat, tangannya penuh bekas luka seperti nelayan kawakan. Rambutnya hitam, seperti rambutku. Wajahnya memiliki tampang merajuk yang selalu membuatku dicap pembangkang. Tetapi, matanya, yang berwarna hijau laut sepertiku, dikelilingi keriput matahari yang menyiratkan bahwa dia juga sering tersenyum.

Singgasananya adalah kursi nelayan laut. Jenisnya kursi sederhana yang bisa berputar, dengan dudukan kulit hitam dan lubang untuk menyimpan joran. Alih-alih joran, tempat itu dipakai untuk menyimpan trisula perunggu, ujungnya berkilauan dengan cahaya hijau.

Para dewa tidak bergerak atau berbicara, tetapi ada ketegangan di udara, seolah-olah mereka baru saja selesai bertengkar.

Aku menghampiri singgasana si nelayan dan berlutut di depan kakinya. "Ayah."

Aku tak berani mengangkat kepala. Jantungku berpacu. Terasa energi terpancar dari kedua dewa itu. Kalau aku salah bicara, aku yakin mereka bisa menghancurkanku menjadi debu.

Di sebelah kiriku, Zeus berbicara. "Bukankah seharusnya kau menyapa tuan rumah lebih dulu, Bocah?"

Aku terus menunduk, dan menunggu.

"Sabar, Dik," Poseidon akhirnya berbicara. Suaranya membangkitkan kenangan lamaku: pendar hangat yang kuingat sewaktu bayi, sentuhan tangan dewa ini di keningku. "Anak ini berbakti pada ayahnya. Ini memang seharusnya."

"Kau masih mengakuinya sebagai anakmu, kalau begitu?" tanya Zeus, penuh ancaman. "Kau mengakui anak ini, yang kaumiliki dengan melanggar sumpah suci kita?"

"Aku mengakui kesalahanku," kata Poseidon. "Sekarang aku berkenan mendengarnya berbicara."

Kesalahan. Ganjalan membengkak di tenggorokanku. Apakah aku hanya itu? Kesalahan? Hasil dari kekeliruan seorang dewa?

"Aku sudah satu kali mengampuni jiwanya," gerutu Zeus. "Berani terbang melalui wilayahku ... bah! Semestinya kuledakkan dia dari langitku untuk kelancangannya itu."

"Dan mengambil risiko menghancurkan petir asali milikmu sendiri?" tanya Poseidon kalem. "Mari kita dengar dia, Adikku."

Zeus menggerutu lagi.

"Akan kudengar," dia memutuskan. "Lalu, akan kuputuskan apakah bocah ini akan kulemparkan dari Olympus.

"Perseus," kata Poseidon. "Lihat aku."

Aku menurut, dan aku tak yakin apa yang kulihat di wajahnya. Tak ada pertanda cinta atau restu yang jelas. Tak ada yang bisa menyemangatiku. Seperti melihat samudra: kadang-kadang kita bisa tahu suasana hatinya. Namun, biasanya, samudra itu tak terbaca, misterius.

Aku mendapat firasat bahwa Poseidon benar-benar tidak tahu harus berpikir apa tentangku. Dia tidak tahu apakah dia sendiri senang memiliki aku sebagai anaknya atau tidak. Anehnya, aku lega bahwa Poseidon begitu berjarak. Andai dia berusaha meminta maaf, atau mengatakan bahwa dia mencintaiku, atau bahkan tersenyum, itu pasti terasa palsu. Seperti seorang ayah manusia, membuat dalih yang payah untuk menjelaskan ketidakhadirannya.

Aku bisa menerima sikapnya yang sekarang. Lagi pula, aku juga belum tahu pasti apa perasaanku tentang dia.

"Bicaralah kepada Dewa Zeus, Nak," kata Poseidon kepadaku. "Sampaikan kisahmu."

Jadi, aku menceritakan segalanya kepada Zeus, persis seperti kejadiannya. Aku mengeluarkan silinder logam itu, yang mulai berkilauan dalam kehadiran sang Dewa Langit, dan meletakkannya di kakinya.

Lalu, hening panjang, yang hanya disela oleh derak api di pendiangan.

Zeus membuka telapak tangan. Petir itu terbang ke dalamnya. Saat dia mengepal, ujung-ujung logam itu menyala dengan listrik, sampai benda itu berubah menjadi sesuatu yang lebih mirip dengan petir biasa, lembing energi sepanjang enam meter yang melengkung dan berdesis, membuat bulu kudukku berdiri.

"Aku merasakan bahwa bocah ini berkata jujur," gumam Zeus. "Tetapi, bahwa Ares tega melakukan hal seperti itu ... itu tidak sesuai dengan wataknya."

"Dia angkuh dan impulsif," kata Poseidon. "Sudah keturunan."

"Tuan-tuan?" tanyaku. Mereka berdua berkata,

"Ya?"

"Ares tidak bertindak sendirian. Ada orang lain— makhluk lain—yang melontarkan gagasan itu."

Aku menggambarkan mimpi-mimpiku, dan perasaan yang kualami di pantai, sekilas napas jahat yang terasa seolah-olah menghentikan dunia, dan mencegah Ares membunuhku.

"Dalam mimpi-mimpi itu," kataku, "suara itu menyuruh saya membawa petir ke Dunia Bawah. Ares menyiratkan bahwa selama ini dia juga bermimpi. Kurasa dia dimanfaatkan, sama seperti saya, untuk memulai perang."

"Jadi, kau tetap menuduh Hades?" tanya Zeus.

"Bukan," kataku. "Maksud saya, Dewa Zeus, saya sudah pernah menghadap Hades. Perasaan di pantai ini berbeda. Rasanya sama seperti yang saya rasakan ketika mendekati lubang itu. Itu pintu masuk ke Tartarus, ya? Sesuatu yang kuat dan jahat sedang beranjak di sana ... sesuatu yang bahkan lebih tua daripada dewa-dewa."

Poseidon dan Zeus saling memandang. Mereka berdiskusi seru dan cepat dalam bahasa Yunani Kuno. Aku cuma menangkap satu kata. AYAH.

Poseidon menyampaikan suatu dugaan, tetapi Zeus menyelanya. Poseidon berusaha mendebat. Zeus mengaku Membereskan Utang-piutang angkat tangan dengan marah. "Kita tak akan membicarakan ini lagi,” kata Zeus. "Aku harus menyucikan petir ini sendiri di air Lemnos, untuk menghilangkan noda manusia dari logamnya."

Dia bangkit dan memandangku. Air mukanya melunak sepersekian derajat. "Kau telah berjasa kepadaku, Bocah. Tidak banyak pahlawan yang bisa melakukan itu."

"Saya dibantu teman, Dewa Zeus," kataku. "Grover Underwood dan Annabeth Chase—"

"Untuk menunjukkan rasa terima kasihku, jiwamu kuampuni. Aku tidak memercayaimu, Perseus Jackson. Aku tak menyukai makna kehadiranmu bagi masa depan Olympus. Tetapi, demi kedamaian dalam keluarga ini, aku akan membiarkanmu hidup."

"Eh ... terima kasih, Dewa Zeus."

"Jangan berani-berani terbang lagi. Jangan sampai aku menemukanmu di sini saat aku kembali. Kalau tidak, kau akan mencicipi petir ini. Dan itulah yang akan terakhir kaurasakan."

Guntur mengguncang istana. Disertai denyar petir yang menyilaukan, Zeus menghilang. Aku tinggal berdua dengan ayahku di ruang singgasana.

"Pamanmu," Poseidon menghela napas, "memang jago pergi secara dramatis. Kurasa dia bisa sukses sebagai Dewa Teater."

Keheningan yang kikuk. "Ayah," kataku, "makhluk apakah yang berada di lubang itu?"

Poseidon memandangku. "Kau belum bisa menebak?"

"Kronos," kataku. "Raja bangsa Titan."

Bahkan di ruang singgasana Olympus, jauh dari Tartarus, nama KRONOS membuat ruangan menjadi gelap, membuat api pendiangan tidak terlalu hangat lagi di punggungku.

Poseidon mencengkeram trisulanya. "Dalam Perang Pertama, Percy, Zeus memotong-motong ayah kami, Kronos, menjadi seribu keping, sebagaimana yang dilakukan Kronos sendiri kepada ayahnya sendiri, Ouranos. Zeus membuang jenazah Kronos ke dalam lubang tergelap yang bernama Tartarus. Pasukan Titan tercerai berai, benteng gunung mereka di Etna hancur, sekutu monster mereka terusir ke sudut-sudut pelosok bumi. Namun, bangsa Titan tak bisa mati, sama seperti kami para dewa. Apa pun yang tersisa dari Kronos tetap hidup dalam cara yang mengerikan, masih sadar dalam nyeri abadinya, masih haus kekuasaan."

"Dia sedang sembuh," kataku. "Dia akan kembali."

Poseidon menggeleng. "Dari waktu ke waktu, selama sekian abad, Kronos bergerak. Dia memasuki mimpi buruk manusia dan mengembuskan pikiran jahat. Dia membangkitkan monster-monster gelisah dari kedalaman. Tetapi, menyatakan bahwa dia dapat naik dari lubang, itu berbeda lagi."

"Itu yang diniatkannya, Ayah. Itu yang dia katakan."

Poseidon lama terdiam. "Dewa Zeus telah menutup pembahasan masalah ini. Dia tak mengizinkan pembicaraan tentang Kronos. Kau telah menuntaskan misimu, Nak. Hanya itu yang perlu kaulakukan."

"Tapi—" Aku menahan diri. Tak ada gunanya berdebat. Sangat mungkin, aku malah akan membuat marah satu-satunya dewa yang memihakku. "Ba ... baik, Ayah."

Senyum samar bermain di bibirnya. "Bersikap patuh itu tidak mudah bagimu, ya?"

"Tidak ... Ayah."

"Kukira, aku ikut bersalah membentuk watak itu. Laut tidak suka dikekang."

Dia bangkit hingga tinggi menjulang dan mengambil trisulanya. Lalu, tubuhnya bergetar dan menyusut menjadi ukuran manusia biasa, berdiri tepat di depanku. "Kau harus pergi, Nak. Tapi pertama-tama, ketahuilah bahwa ibumu telah kembali."

Aku menatapnya dengan tercengang. "Ibuku?"

"Kau akan menemukannya di rumah. Hades mengirimnya saat kau menemukan helmnya. Penguasa Maut sekalipun harus melunasi utangnya."

Jantungku memukul-mukul. Aku tak percaya. "Apakah Ayah ... maukah Ayah...”

Aku ingin bertanya apakah Poseidon mau ikut denganku untuk menemui ibuku, tetapi kemudian kusadari bahwa itu konyol. Aku membayangkan memasukkan sang Dewa Laut ke dalam taksi dan membawanya ke Upper East Side. Andai dia ingin bertemu dengan ibuku selama sekian tahun ini, dia tentu sudah menemuinya. Lalu, masih ada urusan Gabe si Bau. Mata Poseidon tampak sedikit sedih.

"Setelah kau pulang nanti, Percy, kau harus membuat pilihan penting. Akan ada sebuah paket yang menunggu di kamarmu."

"Paket?"

"Kau akan mengerti saat melihatnya. Tak ada yang bisa memilihkan jalanmu, Percy. Kau yang harus memutuskan."

Aku mengangguk, meskipun aku tak tahu apa yang dia maksud.

"Ibumu adalah ratu di antara wanita," kata Poseidon sendu. "Aku belum pernah bertemu wanita manusia seperti itu dalam seribu tahun. Tapi... aku menyesal kau terlahir, Nak. Aku menimpakan nasib seorang pahlawan padamu, dan nasib pahlawan tak pernah bahagia. Nasib pahlawan selalu tragis."

Aku berusaha tidak merasa sakit. Ini ayahku sendiri, mengatakan bahwa dia menyesal bahwa aku dilahirkan.

"Aku tak keberatan, Ayah."

"Mungkin belum," katanya. "Belum. Tapi ini kesalahanku yang tak termaafkan."

"Aku mohon diri, kalau begitu." Aku membungkuk dengan kikuk. "Aku—aku tak akan mengganggumu lagi."

Aku sudah lima langkah dari situ saat dia memanggil, "Perseus."

Aku menoleh.

Ada cahaya lain di matanya, jenis kebanggaan yang berapi-api.

"Kau melaksanakan misimu dengan baik, Perseus. Jangan salah paham padaku. Apa pun yang kaulakukan, ketahuilah bahwa kau anakku. Kau adalah putra sejati Dewa Laut."

Saat aku kembali berjalan di kota, semua percakapan berhenti. Para Mousai menghentikan konser. Manusia dan satir dan naiad semua menoleh kepadaku, wajah mereka penuh rasa hormat dan syukur. Saat aku lewat, mereka berlutut, seolah-olah aku ini semacam pahlawan.

Lima belas menit kemudian, masih dengan pikiran nanar, aku kembali menyusuri jalan Manhattan. Aku naik taksi ke apartemen ibuku, membunyikan bel, dan di sanalah dia—ibuku yang cantik, yang wangi PEPPERMINT dan akar manis, rasa lelah dan cemas menguap dari wajahnya begitu dia melihatku.

"Percy! Oh, syukurlah. Oh, Sayangku."

Dia memelukku hingga aku tak bisa bernapas. Kami berdiri di lorong sementara dia menangis dan membelai rambutku.

Harus kuakui—mataku juga sedikit berkaca-kaca. Tubuhku berguncang, saking lega bertemu dengannya.

Dia memberitahuku bahwa dia tahu-tahu saja muncul di apartemen tadi pagi, membuat Gabe kaget setengah mati. Dia tidak ingat apa-apa sejak peristiwa Minotaurus itu, dan tidak percaya saat Gabe memberitahunya bahwa aku penjahat yang buron, menyeberangi Amerika, meledakkan monumen nasional. Ibuku cemas setengah mati seharian karena dia tidak menonton berita. Gabe memaksanya kembali bekerja. Kata Gabe, ibuku harus menutupi gaji sebulan yang hilang dan sebaiknya dia cepat-cepat memulai.

Aku menelan amarahku dan menceritakan kisahku sendiri. Aku berusaha membuat cerita itu tidak semenakutkan kejadian sebenarnya, tetapi itu tidak mudah. Aku baru saja mulai bercerita tentang pertempuran dengan Ares, ketika suara Gabe mengganggu dari ruang tamu.

"Hei, Sally! Daging panggangnya sudah selesai, belum?"

Ibuku memejamkan mata. "Dia tak akan senang bertemu denganmu, Percy. Tokonya mendapat setengah juta telepon hari ini dari Los Angeles... sesuatu tentang peralatan gratis."

"Oh iya. Soal itu ...."

Ibuku berhasil tersenyum lelah. "Pokoknya jangan membuat dia tambah marah, ya? Ayo."

Selama sebulan aku pergi, apartemen itu telah menjadi Negeri Gabe. Sampah menumpuk setinggi pergelangan kaki di atas karpet. Sofa telah dilapisi dengan kaleng bir. Kaus kaki dan celana dalam kotor bergantungan di tudung lampu.

Gabe dan ketiga teman gilanya sedang bermain poker di meja.

Ketika Gabe melihatku, cerutunya jatuh dari bibir. Mukanya menjadi lebih merah daripada lava. "Berani-beraninya kau datang ke sini, Anak Ingusan. Kusangka polisi—"

"Dia ternyata bukan buronan," sela ibuku. "Bagus kan, Gabe?"

Gabe memandang bolak-balik di antara kami. Tampaknya dia tidak merasa kepulanganku sebagus itu.

"Sudah cukup jelek aku harus mengembalikan uang asuransi jiwamu, Sally," dia menggeram. “Ambilkan telepon. Aku mau menghubungi polisi."

"Gabe, jangan!"

Dia mengangkat alis. "Barusan kau bilang 'JANGAN'? Kaupikir aku mau menoleransi bocah ingusan ini lagi? Aku masih bisa menuntutnya karena merusak Camaroku." Tapi—

Gabe mengangkat tangan, dan ibuku berjengit.

Untuk pertama kalinya, aku menyadari sesuatu. Gabe sudah pernah memukul ibuku. Aku tak tahu kapan, atau seberapa sering. Tetapi, aku yakin dia pernah memukul. Mungkin telah terjadi bertahun-tahun, saat aku tidak di rumah. Gelembung amarah mulai mengembang di dalam dadaku. Aku menghampiri Gabe, secara naluriah mengambil pena dari saku. Dia hanya tertawa.

"Apa, Bocah? Kau mau menulisiku? Kalau berani sentuh, kau akan masuk penjara selamanya, mengerti?"

"Hei, Gabe," sela temannya Eddie. "Dia cuma anak-anak."

Gabe menatapnya dengan sebal dan meniru suara temannya yang cempreng: "CUMA ANAK-ANAK."

Teman-temannya yang lain tertawa seperti orang tolol. "Aku akan bersikap baik padamu, Bocah Ingusan." Gabe memperlihatkan giginya yang bernoda tembakau. "Kau akan kuberi waktu lima menit untuk mengambil barang-barangmu dan pergi. Setelah itu, aku akan memanggil polisi."

"Gabe!" ibuku memohon.

"Dia minggat," kata Gabe. "Biar saja dia minggat terus."

Aku gatal ingin membuka tutup Riptide, tapi andai kubuka pun, pedang itu tak bisa menyakiti manusia. Dan Gabe, dengan definisi terlonggar pun, adalah manusia.

Ibuku memegang lenganku. "Tolong, Percy. Ayo. Kita ke kamarmu."

Aku membiarkan ibuku menarikku menjauh, tanganku masih gemetar dengan amarah. Kamarku telah penuh berisi rongsokan Gabe. Ada tumpukan aki mobil bekas, sebuah karangan bunga berduka cita yang sudah membusuk, disertai kartunya, dari seseorang yang menonton wawancara Gabe dengan Barbara Walters.

"Gabe cuma bingung, Sayang," kata ibuku. "Nanti Ibu bicara lagi dengannya. Ibu yakin segalanya akan beres."

"Bu, keadaan nggak akan pernah beres. Selama Gabe masih berada di sini."

Ibuku meremas-remas tangannya dengan gugup. "Ibu bisa ... Ibu bisa membawamu ke tempat kerja selama sisa musim panas ini. Pada musim gugur, mungkin ada sekolah asrama lain—"

"Bu."

Dia menurunkan pandangan. "Ibu berusaha, Percy. Ibu cuma ... Ibu perlu waktu."

Sebuah paket muncul di tempat tidurku. Setidaknya, aku berani sumpah paket itu tadinya tidak berada di situ.

Sebuah kotak kardus penyok yang ukurannya pas untuk muat bola basket. Alamat di label suratnya adalah tulisan tanganku sendiri: PARA DEWA GUNUNG OLYMPUS LANTAI 600 EMPIRE STATE BUILDING NEW YORK, NY SALAM MANIS, PERCY JACKSON

Di bagian atasnya, tulisan lelaki berupa huruf cetak yang jelas dan tegas, ditulis dengan spidol hitam, adalah alamat apartemen kami, dan kata-kata: KEMBALIKAN KE PENGIRIM.

Tiba-tiba aku memahami perkataan Poseidon di Olympus.

Paket Keputusan.

APA PUN YANG KAULAKUKAN, KETAHUILAH BAHWA KAU ANAKKU. KAU ADALAH PUTRA SEJATI SANG DEWA LAUT.

Aku menatap ibuku. "Bu, apakah Ibu ingin Gabe dienyahkan?"

"Percy, masalahnya tak sesederhana itu. Ibu—"

"Bu, bilang saja. Bajingan itu suka memukuli Ibu. Ibu mau dia pergi atau tidak?"

Ibuku ragu, lalu mengangguk sedikit sekali. "Ya, Percy. Ibu mau. Dan Ibu sedang berusaha mengumpulkan keberanian untuk memberitahunya. Tapi kau jangan melakukan ini demi Ibu. Kau tak bisa menyelesaikan masalah Ibu."

Aku menatap kotak itu. Aku BISA menyelesaikan masalah Ibu. Aku ingin mengiris paket itu terbuka, meletakkannya di meja poker, dan mengeluarkan isinya. Aku bisa mulai membuat taman patung sendiri, tepat di ruang tamu. Itulah yang dilakukan pahlawan Yunani di cerita-cerita, pikirku. Itulah yang layak diterima Gabe.

Tetapi, kisah pahlawan selalu berakhir dengan tragedi. Poseidon memberitahuku itu. Aku ingat Dunia Bawah. Aku membayangkan arwah Gabe melayang selamanya di Padang Asphodel, atau dihukum dengan siksaan mengerikan di balik kawat berduri Padang Hukuman—selamanya bermain poker sambil duduk di dalam minyak mendidih sedalam pinggang, mendengarkan musik opera. Apakah aku berhak mengirim seseorang ke sana? Gabe sekalipun? Sebulan yang lalu, aku tentu tak akan ragu. Sekarang....

"Aku bisa," kataku kepada ibuku. "Sekali lihat ke dalam kotak ini, dan dia nggak akan mengganggu Ibu lagi."

Ibuku melirik paket itu, dan tampaknya langsung memahami.

"Tidak, Percy," katanya sambil melangkah menjauh. "Kau tak bisa."

"Poseidon menyebut Ibu seorang ratu," kataku. "Katanya, dia belum pernah bertemu perempuan seperti Ibu selama seribu tahun."

Pipinya merona. "Percy—"

"Ibu berhak menerima lebih daripada ini. Ibu harus kuliah, meraih gelar sarjana. Ibu bisa menulis novel, mungkin bertemu lelaki yang baik, tinggal di rumah bagus. Ibu nggak perlu melindungiku lagi dengan tetap menjadf istri Gabe. Biar kusingkirkan dia."

Ibuku menghapus air mata dari pipi. "Bicaramu mirip sekali ayahmu," katanya. "Dia pernah menawarkan untuk menghentikan air pasang bagi Ibu. Dia menawarkan membangunkan istana untuk Ibu di dasar laut. Dipikirnya dia bisa menyelesaikan semua masalah Ibu dengan melambaikan tangan."

"Apa salahnya?"

Matanya yang warna-warni tampak menjelajahi hatiku. "Ibu rasa kautahu, Percy. Ibu rasa kau cukup mirip dengan Ibu, dan mengerti. Agar hidup Ibu berarti, Ibu harus menjalaninya sendiri. Ibu tak bisa membiarkan semua masalah Ibu diurus oleh seorang dewa... ataupun oleh anak sendiri. Ibu harus ... menemukan keberanian sendiri. Misimu mengingatkan Ibu tentang itu."

Terdengar suara keping poker dan umpatan, ESPN dari televisi ruang tamu.

"Kotak ini kutinggalkan," kataku. "Kalau dia mengancam Ibu...”

Ibuku tampak pucat, tetapi dia mengangguk. "Kau mau ke mana, Percy?"

"Bukit Blasteran."

"Selama musim panas... atau selamanya?"

"Kayaknya itu tergantung."

Kami bertemu mata, dan aku merasa kami mencapai kesepakatan. Kami akan menunggu perkembangan situasi hingga akhir musim panas. Dia mengecup keningku.

"Kau akan menjadi pahlawan, Percy Kau akan menjadi pahlawan terhebat."

Aku mengedarkan pandangan ke sekeliling kamarku terakhir kali. Aku merasa tak akan pernah melihatnya lagi. Lalu, aku berjalan bersama ibuku ke pintu depan.

"Kok buru-buru pergi, Anak Ingusan?" seru Gabe kepadaku. "Enyahlah."

Aku merasa ragu sekali lagi. Bagaimana aku bisa menolak peluang sempurna untuk membalas dendam kepadanya? Aku malah meninggalkan tempat ini tanpa menyelamatkan ibuku.

"Hei, Sally," teriak Gabe. "Mana daging panggangnya?”

Tatapan amarah sekeras baja berkobar di mata ibuku, dan kupikir, mungkin saja aku meninggalkan ibuku di tangan yang tepat. Tangannya sendiri.

"Daging panggangnya sebentar lagi siap, Sayang," katanya kepada Gabe. "Daging panggang kejutan."

Dia menoleh kepadaku, dan mengedipkan mata.

Hal terakhir yang kulihat saat pintu itu berayun tertutup adalah ibuku menatap Gabe, seolah-olah mempertimbangkan bagaimana kira-kira penampilan suaminya sebagai patung taman.

22. Ramalan Itu Terjadi

Kami adalah pahlawan pertama yang kembali hidup-hidup ke Bukit Blasteran sejak Luke, jadi tentu saja semua orang memperlakukan kami seolah-olah kami baru memenangkan sayembara televisi. Menurut tradisi perkemahan, kami memakai mahkota daun dafnah untuk menghadiri perjamuan besar yang diadakan untuk menghormati kami, lalu memimpin arak-arakan ke api unggun, dan di sana kami boleh membakar kain kafan yang dibuatkan pondok masing-masing selagi kami pergi.

Kain kafan Annabeth sangat indah—sutra abu-abu bersulam burung hantu—kubilang padanya, sayang juga dia tidak dikuburkan dengan itu. Dia menonjokku dan menyuruhku tutup mulut.

Sebagai putra Poseidon, aku tak punya teman sepondok, jadi anak-anak pondok Ares secara sukarela membuatkan kain kafanku. Mereka menggunakan seprai tua dan melukis tepinya dengan wajah senyum bermata X, dan kata PECUNDANG yang dicat besar-besar di tengah.

Nikmat rasanya membakar itu.

Sementara pondok Apollo memimpin acara bernyanyi dan membagikan S'MORE, aku dikelilingi teman-teman lamaku dari pondok Hermes, teman-teman Annabeth dari pondok Athena, dan sobat-sobat satir Grover, yang mengagumi izin pencari baru yang diterimanya dari Dewan Tetua Berkuku Belah. Dewan itu menyebut penampilan Grover dalam misi ini "Berani sampai mengakibatkan sakit perut. Setanduk-dan-sejanggut lebih tinggi daripada apa yang pernah kami lihat di masa lalu."

Satu-satunya kelompok anak yang tidak berselera berpesta adalah Clarisse dan teman-teman pondoknya. Tatapan beracun mereka memberitahuku bahwa mereka tak akan pernah memaafkanku karena telah mempermalukan ayah mereka. Aku sih oke-oke saja.

Bahkan pidato sambutan Dionysus tidak cukup untuk meredam semangatku. "Iya deh, benar, anak manja itu tidak terbunuh dan sekarang dia akan semakin besar kepala. Hore. Pengumuman lainnya, lomba kano Sabtu ini DITIADAKAN ...."

Aku pindah kembali ke pondok tiga, tetapi sekarang tidak terasa terlalu sepi. Aku punya teman berlatih pada siang hari. Pada malam hari, aku berbaring terjaga dan mendengarkan lautan, tahu bahwa ayahku berada di luar sana. Mungkin dia belum terlalu yakin soal aku, mungkin dia bahkan tak menginginkan aku lahir, tetapi dia mengamatiku. Dan sejauh ini, dia bangga akan sepak-terjangku.

Dan soal ibuku, dia punya peluang meraih hidup baru. Suratnya tiba seminggu setelah aku sampai di perkemahan. Dia memberitahuku bahwa Gabe pergi secara misterius—bahkan menghilang dari muka bumi. Ibuku melaporkan kehilangan Gabe kepada polisi, tetapi dia mendapat firasat bahwa polisi tak akan pernah berhasil menemukan suaminya itu.

Pada topik yang sama sekali tak berkaitan, ibuku menjual patung beton pertamanya yang sebesar manusia sungguhan, yang berjudul SI PEMAIN POKER, kepada seorang kolektor melalui galeri seni di Soho. Dia mendapat banyak sekali uang dari hasil penjualan itu, dan membayar uang kuliah semester pertamanya di NYU. Galeri Soho dengan bersemangat meminta karyanya lagi, yang mereka sebut sebagai "langkah besar dalam néoréalisme super-jelek."

TAPI, JANGAN KHAWATIR, tulis ibuku. IBU TAK AKAN BERURUSAN LAGI DENGAN PATUNG. IBU SUDAH MEMBUANG KOTAK PERALATAN YANG KAU TINGGALKAN. SUDAH WAKTUNYA IBU KEMBALI KE PENULISAN.

Di akhir surat, dia menulis:

N.B.: PERCY, IBU MENEMUKAN SEKOLAH SWASTA YANG BAGUS DI DALAM KOTA. IBU TELAH MEMBAYAR UANG MUKA UNTUK MEMESAN TEMPAT UNTUKMU, KALAU-KALAU KAU INGIN MENDAFTAR UNTUK KELAS TUJUH. KAU BISA TINGGAL DI RUMAH. TAPI KALAU KAU MAU TINGGAL SEPANJANG TAHUN DI BUKIT BLASTERAN, IBU MENGERTI.

Surat itu kulipat dengan hati-hati dan kuletakkan di meja samping meja. Setiap malam sebelum tidur, aku membacanya lagi, dan berusaha memutuskan bagaimana membalasnya.

Pada tanggal empat Juli, hari kemerdekaan Amerika Serikat, semua anggota perkemahan berkumpul di pantai untuk menonton kembang api yang dibuat pondok sembilan. Sebagai anak-anak Hephaestus, mereka tidak puas hanya dengan ledakan merah-putih-biru yang basi. Mereka menambatkan sebuah kapal di lepas pantai dan memuatinya dengan roket sebesar misil Patriot. Menurut Annabeth, yang sudah pernah melihat pertunjukan ini tahun lalu, ledakannya demikian beruntun, sehingga terlihat seperti gambar animasi di langit. Katanya, acara puncaknya berupa sepasang pendekar Sparta setinggi tiga puluh meter, yang akan berderak-derak hidup di atas samudra, bertempur, lalu meledak menjadi sejuta warna.

Sementara aku dan Annabeth menghamparkan selimut piknik, Grover muncul untuk mengucapkan selamat tinggal. Dia berpakaian seperti biasa, jins dan kaus dan sepatu kets, tetapi dalam beberapa minggu terakhir dia mulai tampak lebih tua, hampir seusia anak SMA. Janggutnya menebal. Berat tubuhnya bertambah. Tanduknya tumbuh paling sedikit dua sentimeter, sehingga sekarang dia harus memakai topi RASTA sepanjang waktu agar tetap mirip manusia.

"Aku berangkat," katanya. "Aku mampir cuma untuk bilang ... yah, kau tahu."

Aku berusaha merasa bahagia untuknya. Kan tidak setiap hari seorang satir mendapat izin untuk mencari dewa besar Pan. Tetapi, mengucap selamat jalan itu susah. Aku baru kenal Grover setahun, tetapi dia teman terlamaku.

Annabeth memeluknya. Dia menyuruh Grover untuk tetap memakai kaki palsu, dan berjaga-jaga. Aku bertanya di mana dia akan pertama mencari.

"Itu agak rahasia," katanya, tampak malu. "Aku ingin sekali kalian bisa ikut denganku, teman-teman, tetapi manusia dan Pan ...."

"Kami mengerti," kata Annabeth. "Sudah ada cukup persediaan kaleng timah untuk perjalanan ini?"

"Iya."

"Dan serulingmu nggak lupa dibawa?"

"Ya ampun, Annabeth," gerutu Grover. "Kau seperti ibu-ibu kambing saja." Tetapi, nada suaranya tidak terlalu kesal.

Dia menggenggam tongkat berjalan dan menyandang ransel. Dia mirip pejalan kaki yang meminta tumpangan yang sering terlihat di jalan raya Amerika—sama sekali tak mirip bocah kontet yang dulu sering kubela dari anak penindas di Akademi Yancy.

"Yah," katanya, "mudah-mudahan aku berhasil."

Dia memeluk Annabeth lagi. Dia menepuk bahuku, lalu berjalan kembali menuju bukit pasir.

Kembang api meledak di langit: Hercules membunuh si singa Nemeas, Artemis mengejar celeng. George Washington (omong-omong, dia putra Athena) menyeberangi Sungai Delaware.

"Hei, Grover," seruku. Dia berbalik di tepi hutan. "Ke mana pun kau pergi—mudah-mudahan di sana ada ENCHILADA yang enak."

Grover menyeringai, lalu dia pergi, pepohonan menutup di belakangnya.

"Kita pasti bertemu lagi dengannya," kata Annabeth.

Aku berusaha meyakini itu. Kenyataan bahwa tak ada pencari yang pernah kembali selama dua ribu tahun... yah, kuputuskan aku tak mau memikirkan itu. Grover akan menjadi yang pertama.

Harus.

Juli berlalu.

Aku menghabiskan hari-hariku menyusun strategi baru untuk permainan tangkap-bendera dan membuat persekutuan dengan pondok-pondok lain agar bendara itu tidak jatuh ke tangan pondok Ares.

Aku akhirnya berhasil mencapai puncak tembok panjat tanpa terbakar lava. Kadang-kadang aku melewati Rumah Besar, melirik ke jendela loteng, dan memikirkan si Peramal. Aku berusaha meyakinkan diriku bahwa ramalannya telah tuntas.

Kau akan pergi ke barat, dan menghadapi sang dewa yang berkhianat. Sudah ke sana, sudah melakukan itu—meskipun si dewa pengkhianat itu ternyata Ares, bukan Hades.

Kau akan menemukan yang dicuri, dan mengembalikannya dengan selamat. Beres. Satu petir asali sudah diantarkan. Satu helm kegelapan kembali di kepala berminyak Hades.

Kau akan dikhianati oleh orang yang menyebutmu teman. Baris ini masih mengusikku. Ares pernah berpura-pura menjadi temanku, lalu mengkhianatiku. Pasti itu yang dimaksud sang Peramal ...

Dan pada akhirnya kau akan gagal menyelamatkan yang terpenting. Aku memang gagal menyelamatkan ibuku, tetapi hanya karena aku membiarkannya menyelamatkan diri sendiri, dan aku tahu itu keputusan yang tepat.

Jadi, kenapa aku masih resah?

Malam terakhir sesi musim panas datang terlalu cepat.

Para pekemah bersantap malam bersama untuk terakhir kali. Kami membakar sebagian makanan untuk para dewa. Di api unggun, para pembina senior menghadiahkan manik-manik akhir musim panas.

Aku mendapat kalung kulit punyaku sendiri. Untunglah cahaya api menutupi rona pipiku saat aku melihat manik-manik untuk musim panasku yang pertama. Desainnya hitam jelaga, dengan trisula hijau laut berkilauan di tengah-tengah.

"Itu dipilih dengan suara bulat," Luke mengumumkan. "Manik-manik ini memperingati Putra Dewa Laut pertama di perkemahan ini, dan misi yang diembannya ke bagian tergelap Dunia Bawah untuk menghentikan perang!"

Seluruh perkemahan berdiri dan bersorak-sorai. Bahkan pondok Ares merasa wajib berdiri. Pondok Athena mendorong Annabeth ke depan supaya dia dapat ikut menikmati tepuk tangan.

Rasanya aku belum pernah merasa sebahagia atau sesedih seperti yang kurasakan saat itu. Aku akhirnya menemukan sebuah keluarga, orang-orang yang peduli padaku dan menganggapku pernah melakukan sesuatu dengan benar. Dan esok paginya, sebagian besar orang-orang itu akan pergi selama setahun.

Keesokan harinya aku menemukan surat standar di meja samping tempat tidur. Aku tahu pasti Dionysus yang mengisinya, karena dia selalu bersikeras salah menyebut namaku:

Kepada Peter Johnson,

Jika Anda berniat tinggal di Perkemahan Blaster selama setahun, Anda harus memberi tahu Rumah Besar sebelum tengah hari ini. Jika Anda tidak menyatakan niat, kami akan berasumsi bahwa Anda telah meninggalkan pondok atau mati secara mengerikan. Para harpy pembersih akan mulai bekerja saat matahari terbenam. Semua barang pribadi yang ditinggalkan akan dibakai di lubang lava.

Semoga hari Anda menyenangkan!

Pak D. (Dionysus)

Direktur Perkemahan, Dewan Olympia #12

Itulah salah satu masalah lain akibat GPPH. Tenggat tidak terasa nyata bagiku hingga sudah sampai di depan mata. Musim panas sudah berakhir, dan aku masih belum juga membalas surat ibuku, atau perkemahan, tentang apakah aku akan tetap di sini. Sekarang aku hanya punya waktu beberapa jam untuk memutuskan.

Keputusan itu semestinya mudah. Maksudku, sembilan bulan pelatihan pahlawan atau sembilan bulan duduk di ruang kelas—jelas dong.

Tetapi, ibuku harus dipertimbangkan. Untuk pertama kalinya, aku punya kesempatan tinggal bersamanya selama setahun penuh, tanpa Gabe. Aku punya kesempatan tinggal di rumah dan berkeliling kota di waktu luang. Aku ingat perkataan Annabeth selagi mengemban misi, dulu sekali: DI DUNIA NYATALAH MONSTER BERADA. DI SANALAH KAU TAHU APAKAH KAU BERGUNA ATAU TIDAK.

Aku teringat nasib Thalia, putri Zeus. Aku bertanya-tanya berapa banyak monster yang akan menyerangku kalau aku meninggalkan Bukit Blasteran. Kalau aku tinggal di satu tempat selama setahun ajaran penuh, tanpa dibantu Chiron atau teman-teman, apakah aku dan ibuku masih bisa hidup sampai musim panas berikutnya? Itu dengan asumsi bahwa aku tidak mati duluan akibat ujian mengeja dan esai lima paragraf.

Aku memutuskan untuk turun ke arena dan berlatih pedang sebentar. Mungkin itu akan membantu menjernihkan pikiran.

Sebagian besar tanah perkemahan lengang, berkemendang dalam panas Agustus. Semua pekemah berada di pondok, berkemas, atau berlari-lari membawa sapu dan pel, bersiap-siap untuk pemeriksaan terakhir. Argus membantu beberapa anak Aphrodite menggotong koper Gucci dan kotak rias menaiki bukit. Di sanalah bus perkemahan akan menanti untuk mengantar mereka ke bandara.

Jangan pikirkan soal pergi dulu, kataku dalam hati. Berlatih saja dulu. Aku sampai di arena ahli pedang dan menemukan bahwa Luke berpikiran sama. Tas olahraganya teronggok di tepi panggung. Dia sedang berlatih sendirian, memukuli boneka target dengan pedang yang belum pernah kulihat. Pedang itu tentunya pedang baja biasa, karena dia memenggal kepala-kepala boneka itu, menusuk perut jerami mereka. Kemeja pembinanya yang berwarna Jingga itu menetes-neteskan keringat. Raut wajahnya begitu serius, seolah-olah hidupnya memang terancam bahaya. Aku menonton dengan kagum, sementara dia merusak perut sebaris boneka, memotong tangan dan kaki dan menjadikan mereka setumpuk jerami dan baju zirah. Mereka hanya boneka, tetapi aku tetap terkagum-kagum pada keterampilan Luke. Dia petarung yang hebat. Lagi-lagi aku merasa heran, bagaimana dia bisa sampai gagal dalam misinya.

Akhirnya dia melihatku, dan berhenti di tengah-tengah gerakannya. "Percy."

"Eh, maaf," kataku, malu. "Aku cuma—"

"Nggak apa-apa," katanya sambil menurunkan pedang. "Cuma berlatih terakhir kali."

"Boneka-boneka itu tak akan mengganggu orang lagi."

Luke mengangkat bahu. "Bata membuat boneka baru setiap musim panas."

Karena sekarang pedangnya tidak berputar-putar, aku bisa melihat keanehannya. Pedang itu terdiri atas dua jenis logam—satu matanya terbuat dari perunggu, satu lagi baja.

Luke memerhatikan aku menatap pedang itu. "Oh, ini? Mainan baru. Ini Backbiter—Pemfitnah."

"Backbiter?"

Luke memutar pedang itu dalam cahaya sehingga berkilap jahat. "Satu sisi terbuat dari perunggu langit. Sisi lain baja tempaan. Bisa untuk melawan manusia maupun dewa."

Aku teringat perkataan Chiron saat aku memulai misi—bahwa seorang pahlawan tak boleh mencederai manusia kecuali benar-benar perlu.

"Aku baru tahu senjata seperti bisa dibuat."

"Mungkin biasanya tak bisa," Luke sepakat. "Ini langka."

Dia tersenyum kecil, lalu menyarungkan pedang. "Dengar, kebetulan tadi aku mau mencarimu. Kita ke hutan sekali lagi yuk, mencari makhluk untuk lawan."

Aku tak tahu kenapa aku ragu. Semestinya aku merasa lega bahwa Luke bersikap begitu ramah. Sejak aku kembali dari misi, dia agak berjarak. Aku cemas dia membenciku gara-gara semua perhatian yang kuperoleh.

"Kayaknya sebaiknya jangan deh," tanyaku. "Maksudku—"

"Ayolah." Dia menggeledah tas olahraganya dan mengeluarkan setengah lusin Coke. "Minumnya aku yang traktir."

Aku menatap Coke itu, bertanya-tanya dari mana dia mendapatkannya. Tak ada soda manusia biasa di toko perkemahan. Tak mungkin diselundupkan, kecuali mungkin kalau bagi satir. Tentu saja gelas minum ajaib bisa diisi apa saja dengan yang kauinginkan, tetapi rasanya tetap tak sama dengan Coke betulan yang diminum langsung dari kalengnya. Gula dan kafein. Kekuatan tekadku runtuh.

"Oke," kuputuskan. "Kenapa nggak? Kami berjalan ke hutan dan mencari-cari monster untuk dilawan, tetapi hawa terlalu panas. Semua monster yang punya otak pasti sedang tidur sore di gua yang sejuk.

Kami menemukan tempat teduh di pinggir sungai, tempat aku mematahkan tombak Clarisse pada permainan tangkap-bendera pertamaku. Kami duduk di atas batu besar, minum Coke, dan menonton cahaya matahari di hutan.

Setelah beberapa lama, Luke berkata, "Apa kau rindu mengemban misi?"

"Diserang moster setiap satu meter? Kau bercanda?"

Luke menaikkan sebelah alis.

"Iya, rindu juga," aku mengakui. "Kau?"

Bayang-bayang melintasi wajahnya. Aku terbiasa mendengar soal betapa tampannya Luke dari para cewek, tetapi saat itu dia tampak lelah, dan marah, dan sama sekali tidak tampan. Rambut pirangnya terlihat abu-abu dalam cahaya matahari. Codet di mukanya tampak lebih dalam dari biasanya. Aku dapat membayang mukanya kalau dia tua nanti.

"Aku tinggal sepanjang tahun di Bukit Blasteran sejak umur empat belas," dia bercerita. "Sejak Thalia ... yah, kau tahu. Aku berlatih, dan berlatih, dan berlatih. Aku tak pernah mendapat kesempatan menjadi remaja normal, di luar sana di dunia nyata. Lalu, mereka memberiku misi, dan sewaktu aku pulang, sikap mereka seolah-olah, ‘Oke, main-mainnya sudah selesai. Selamat menjalankan sisa hidupmu’."

Dia meremas kaleng Coke dan melemparkannya ke dalam sungai, sesuatu yang benar-benar membuatku terperanjat. Salah satu hal pertama yang dipelajari di Perkemahan Blasteran adalah: Jangan membuang sampah sembarangan. Nanti diomeli dari kaum peri dan naiad. Mereka akan membalas. Kau akan merangkak ke tempat tidur suatu malam dan mendapati sepraimu diisi lipan dan lumpur.

"Persetan dengan mahkota daun dafnah," kata Luke. "Aku tak mau menjadi piala berdebu di loteng Rumah Besar."

"Kau bicara seolah-olah kau mau pergi."

Luke tersenyum miring. "Memang benar, aku mau pergi, Percy. Aku mengajakmu ke sini untuk berpamitan."

Dia menjentikkan jari. Sebuah api kecil membakar lubang di tanah di dekat kakiku. Sesuatu yang hitam berkilauan merayap keluar, kira-kira sebesar tanganku. Kalajengking. Aku bergerak meraih pena.

"Jangan," Luke memperingatkan. "Kalajengking lubang dapat melompat hingga lima meter. Sengatnya dapat menembus pakaian. Kau pasti mati dalam enam puluh detik."

"Luke, apa—"

Lalu, aku tersadar. Kau akan dikhianati oleh orang yang menyebutmu teman.

"Kau," kataku.

Dia berdiri dengan tenang dan mengusap-usap jinsnya.

Kalajengking itu tak memedulikannya. Dia terus menatapku dengan mata manik hitamnya, mengatup-ngatupkan capit sampil merayap ke sepatuku.

"Aku melihat banyak hal di dunia luar, Percy," kata Luke. "Apa kau tak merasakannya—kegelapan yang berkumpul, monster yang semakin kuat? Apa kau tak menyadari betapa sia-sia semuanya? Semua kepahlawanan—menjadi pion para dewa. Mereka semestinya sudah digulingkan ribuan tahun lalu, tetapi mereka bertahan, berkat kita anak-anak blasteran."

Aku tak percaya ini terjadi. "Luke ... kau bicara soal orangtua kita," kataku.

Dia tertawa. "Apakah karena itu aku harus mencintai mereka? 'Peradaban Barat' yang mereka cintai itu penyakit, Percy. Peradaban itu membunuh dunia. Satu-satunya cara menghentikannya adalah membakarnya sampai habis, mulai lagi dengan sesuatu yang lebih jujur."

"Kau sama gilanya dengan Ares."

Matanya menyala. "Ares itu tolol. Dia tak pernah menyadari siapa majikan sejatinya. Andai aku punya waktu, Percy, aku bisa menjelaskan. Tapi sayangnya, kau tak akan hidup selama itu."

Kalajengking itu merayap ke celanaku. Pasti ada jalan keluar dari situasi ini. Aku perlu waktu berpikir.

"Kronos," kataku. "Dia majikanmu."

Udara menjadi lebih dingin.

"Kau sebaiknya berhati-hati menyebut nama," Luke memperingatkan.

"Kronos menyuruhmu mencuri petir asali dan helm. Dia berbicara kepadamu dalam mimpi."

Mata Luke berkedut. "Dia juga berbicara kepadamu, Percy. Semestinya kau menyimak."

"Dia mencuci otakmu, Luke."

"Kau salah. Dia menunjukkan bahwa bakatku disia-siakan. Kau tahu apa misiku dua tahun yang lalu, Percy? Ayahku, Hermes, ingin aku mencuri apel emas dari Taman Hesperides dan mengembalikannya ke Olympus. Setelah semua pelatihan yang kutempuh, ITU misi terbaik yang terpikir olehnya.

"Misimu nggak gampang," kataku. "Hercules juga melakukan itu."

"Persis," kata Luke. "Apa hebatnya mengulang misi yang pernah dilakukan orang lain? Dewa-dewa cuma tahu cara mengulang masa lalu mereka. Aku tak bersemangat mengerjakannya. Naga di taman itu memberiku ini"—dia menunjuk codetnya dengan marah—"dan saat aku kembali, aku cuma dikasihani. Aku ingin meruntuhkan Olympus batu demi batu saat itu juga, tetapi aku bersabar. Aku mulai bermimpi tentang Kronos. Dia meyakinkan aku untuk mencuri sesuatu yang layak, sesuatu yang tak berani diambil pahlawan mana pun. Ketika kami berkaryawisata saat titik balik matahari musim dingin, sementara pekemah lain tidur, aku menyelinap ke ruang singgasana dan mengambil petir asali Zeus langsung dari kursinya. Helm kegelapan Hades juga. Kau pasti tak percaya betapa mudahnya melakukan itu. Para dewa Olympia begitu pongah; mereka tak pernah bermimpi bahwa ada yang berani mencuri dari mereka. Keamanan mereka parah. Aku sudah setengah jalan melintasi New Jersey saat aku mendengar badai menggemuruh, dan aku tahu mereka telah menyadari pencurianku."

Kalajengking itu sekarang duduk di lututku, menatapku dengan mata berkilauan. Aku berusaha mendatarkan suaraku. "Jadi, kenapa kau tak membawa kedua barang itu ke Kronos?"

Senyum Luke goyah. "Aku ... aku terlalu percaya diri. Zeus mengirimkan putra-putrinya untuk mencari petir yang dicuri—Artemis, Apollo, ayahku Hermes. Tapi, Ares-lah yang berhasil menangkapku. Semestinya aku bisa mengalahkannya, tetapi aku kurang berhati-hati. Dia membuatku kehilangan senjata, mengambil benda-benda ajaib itu, mengancam akan mengembalikannya ke Olympus dan membakarku hidup-hidup. Lalu, suara Kronos mendatangiku dan memberitahuku harus berkata apa. Aku mengusulkan kepada Ares tentang perang besar antara dewa-dewa. Kukatakan, dia hanya perlu menyembunyikan kedua benda itu beberapa lama dan menyaksikan yang lain bertengkar. Mata Ares bersinar jahat. Aku tahu dia terpikat. Dia melepaskanku, dan aku kembali ke Olympus sebelum ada yang menyadari aku menghilang."

Luke menghunus pedang barunya. Jempolnya mengusap badan pedang, seolah-olah dia terhipnotis oleh keindahannya. "Setelah itu, Penguasa Kaum Titan... dia-dia menghukumku dengan mimpi buruk. Aku bersumpah tak akan gagal lagi. Setelah kembali di Perkemahan Blasteran, dalam mimpiku, aku diberi tahu bahwa pahlawan kedua akan datang, yang dapat ditipu agar membawa petir dan helm itu sepanjang sisa perjalanan—dari Ares ke Tartarus."

"KAU yang memanggil anjing neraka, di hutan malam itu."

"Kami harus membuat Chiron berpikir bahwa perkemahan ini nggak aman untukmu, supaya dia akan memberimu misi. Kami harus memperkuat kecemasannya bahwa Hades mengincarmu. Dan kami berhasil."

"Sepatu terbang itu dikutuk," kataku. "Sepatu itu semestinya menyeretku dan ransel itu ke dalam Tartarus."

"Dan tentu berhasil, andai kau memakainya. Tapi kau malah memberikannya kepada si satir. Itu tidak termasuk rencana kami. Grover mengacaukan segala sesuatu yang disentuhnya. Dia bahkan membingungkan kutukan."

Luke menatap kalajengking itu, yang sekarang duduk di pahaku. "Kau semestinya mati di Tartarus, Percy. Tapi jangan khawatir, akan kutinggalkan kau bersama teman kecilku untuk mengoreksi situasi ini."

"Thalia mengorbankan nyawanya demi menyelamatkanmu," kataku sambil mengertakkan gigi. "Kau malah membalasnya dengan cara ini?"

"Jangan bicara soal Thalia!" teriaknya. "Para dewa MEMBIARKAN dia mati! Itu salah satu dari banyak hal yang harus mereka bayar."

"Kau dimanfaatkan, Luke. Kau maupun Ares. Jangan dengarkan Kronos."

"AKU dimanfaatkan?" Suara Luke menjadi melengking. "Lihat dirimu sendiri. Apa yang pernah dilakukan ayahmu untukmu? Kronos akan bangkit. Kau hanya memperlambat rencananya. Dia akan melemparkan dewa-dewi Olympia ke dalam Tartarus dan menggiring umat manusia kembali ke gua-gua. Semua, kecuali yang terkuat—yang akan melayani dia."

"Hentikan serangga ini," kataku. "Kalau kau memang kuat, lawan aku sendiri."

Luke tersenyum. "Usahamu bagus, Percy. Tapi, aku bukan Ares. Kau tak bisa memancingku. Majikanku menunggu, dan dia punya banyak misi yang bisa kulaksanakan."

"Luke—"

"Selamat tinggal, Percy. Ada Zaman Emas baru yang akan datang. Kau tak akan menikmatinya."

Dia mengayunkan pedang dengan gerak melengkung dan menghilang dalam riak kegelapan. Kalajengking itu melompat. Aku menepisnya dengan tangan dan membuka tutup pedangku. Hewan itu melompat ke arahku dan kubelah dua di tengah udara. Aku baru saja akan mengucapkan selamat kepada diriku sendiri, tetapi aku melihat tanganku. Ada bilur merah besar di telapak tanganku, lendir kuning menetes dan asap keluar dari situ. Rupanya hewan itu berhasil menyengatku.

Telingaku berdentum-dentum. Penglihatanku berkabut. Air, pikirku. Air pernah menyembuhkanku. Aku berjalan sempoyongan ke sungai dan membenamkan tanganku, tetapi tak ada yang terjadi. Racunnya terlalu kuat. Penglihatanku mulai gelap. Aku hampir tak bisa berdiri.

ENAM PULUH DETIK, kata Luke tadi.

Aku harus kembali ke perkemahan. Kalau aku pingsan di sini, tubuhku akan menjadi makan malam monster. Tak ada yang akan tahu apa yang terjadi. Kakiku berat. Keningku panas. Aku terhuyung-huyung menuju perkemahan, dan kaum peri terusik dari pohon mereka.

"Tolong," kataku parau. "Tolong ..."

Dua peri memegang tanganku, memapahku. Aku ingat sampai ke lapangan, seorang pembina berteriak minta bantuan, seekor centaurus meniup trompet kerang.

Lalu, segalanya menghitam.

Aku terbangun dengan sedotan di mulut. Aku sedang menyedot sesuatu yang rasanya seperti kue serpih cokelat yang cair. Nektar.

Aku membuka mata.

Aku bersandar di tempat tidur di ruang rawat di Rumah Besar, tanganku dibalut seperti gada. Argus berjaga di sudut. Annabeth duduk di sampingku, memegangi gelas nektar dan mengusapkan waslap di keningku. "Kita di sini lagi deh," kataku.

"Dasar tolol," kata Annabeth, jadi aku tahu bahwa dia gembira melihatku siuman. "Kau sudah berwarna hijau dan hampir abu-abu saat ditemukan. Andai bukan berkat penyembuhan Chiron ...."

"Nah, nah," kata suara Chiron. "Kondisi fisik Percy yang bagus juga ikut mempercepat penyembuhan."

Dia duduk di dekat kaki tempat tidurku dalam bentuk manusia, dan itulah sebabnya tadi aku tak menyadari kehadirannya. Bagian bawah tubuhnya secara ajaib dipadatkan ke dalam kursi roda, bagian atas tubuhnya berpakaian jas dan dasi. Dia tersenyum, tetapi wajahnya tampak lelah dan pucat, seperti yang selalu terjadi kalau dia begadang menilai ujian bahasa Latin.

"Bagaimana perasaanmu?" tanyanya.

"Seperti bagian dalam tubuhku dibekukan, lalu dimasukkan ke MICROWAVE."

"Cocok, mengingat bahwa kamu terkena racun kalajengking lubang. Sekarang kamu harus menceritakan, kalau bisa, apa persisnya yang terjadi."

Sembari menghirup nektar, aku bercerita kepada mereka. Ruangan itu hening lama sekali.

"Aku nggak bisa percaya kalau Luke ...." Suara Annabeth menghilang. Air mukanya marah dan sedih. "Ya. Ya, aku BISA percaya. Semoga dewa-dewa mengutuknya... Dia memang nggak pernah sama sejak misinya."

"Ini harus dilaporkan ke Olympus," gumam Chiron. "Aku akan segera berangkat."

"Luke ada di luar sana sekarang," kataku. "Aku harus mengejarnya."

Chiron menggeleng. "Tidak, Percy. Para dewa—"

"Bahkan tak mau MEMBICARAKAN Kronos," sergahku. "Zeus menyatakan masalah ini ditutup!"

"Percy, aku tahu ini sulit. Tapi kau tak boleh tergesa-gesa keluar untuk membalas dendam. Kau belum siap."

Aku tidak suka, tapi sebagian diriku merasa bahwa Chiron benar. Sekali melihat tanganku, aku langsung tahu aku belum bisa bermain pedang lagi dalam waktu dekat. "Pak Chiron... ramalan Bapak dari si Oracle... tentang Kronos ya? Apakah saya disebut dalam ramalan itu? Dan Annabeth?"

Chiron melirik langit-langit dengan gugup. "Percy, tidak pada tempatnya aku—"

"Bapak diperintahkan agar jangan membicarakannya dengan saya ya?"

Matanya bersimpati, tetapi sedih. "Kau akan menjadi pahlawan besar, Nak. Aku akan berusaha sebaik-baiknya mempersiapkanmu. Tetapi, kalau aku benar tentang jalan di hadapanmu...”

Guntur menggelegar di langit, menggetarkan jendela.

"Baiklah!" teriak Chiron. "Baik!"

Dia menghela napas frustrasi. "Para dewa punya alasannya sendiri, Percy. Mengetahui terlalu banyak tentang masa depanmu tak pernah berbuah baik."

"Kita tak bisa cuma berpangku tangan," kataku.

"KITA tak akan berpangku tangan,” janji Chiron. "Tapi, KAU harus berhati-hati. Kronos menginginkanmu dicincang. Dia ingin hidupmu rusak, pikiranmu diselubungi rasa takut dan marah. Jangan sampai kau memenuhi keinginannya. Berlatihlah dengan sabar. Waktumu akan tiba."

"Kalau aku masih hidup."

Chiron meletakkan tangan di pergelangan kakiku. "Kau harus percaya padaku, Percy. Kau akan hidup. Tapi, pertama-tama kau harus memutuskan jalanmu untuk tahun mendatang. Aku tak bisa memberitahumu pilihan yang benar ..."

Aku mendapat firasat bahwa dia punya pendapat yang sangat jelas, dan perlu menahan diri sekuat tenaga agar tak memberiku nasihat. "Tapi kau harus memutuskan, apakah mau tinggal di Perkemahan Blasteran sepanjang tahun, atau kembali ke dunia manusia untuk menempuh kelas tujuh dan menjadi pekemah musim panas saja. Pikirkan itu. Setelah aku kembali dari Olympus, kau harus memberitahuku keputusanmu."

Aku ingin memprotes. Aku ingin bertanya lagi. Tetapi, air mukanya menyatakan bahwa diskusi sudah berakhir; dia sudah mengatakan sebanyak yang bisa dikatakannya.

"Aku akan kembali secepatnya," janji Chiron. "Argus akan menjagamu." Dia melirik kepada Annabeth. "Oh, dan Manis ... kapan pun kau siap, mereka sudah sampai ke di sini."

"Siapa yang sampai ke sini?" tanyaku.

Tak ada yang menjawab. Chiron menggulirkan kursi keluar kamar. Aku mendengar roda kursinya berderap berhati-hati menuruni tangga depan, dua-dua.

Annabeth memerhatikan es di dalam minumanku.

"Ada apa?" tanyaku.

"Nggak."

Dia meletakkan gelas itu di meja. "Aku ... cuma menuruti nasihatmu tentang sesuatu. Kau ... eh ... perlu apa?"

"Ya. Bantu aku bangun. Aku mau keluar."

"Percy, sebaiknya jangan."

Aku menggeser kaki turun dari tempat tidur. Annabeth menangkapku sebelum aku ambruk ke lantai. Rasa mual melandaku. Annabeth berkata, "Sudah kubilang...”

"Aku nggak apa-apa," aku bersikeras. Aku tak ingin berbaring di tempat tidur seperti orang cacat sementara Luke berada di luar sana, berencana menghancurkan dunia Barat. Aku berhasil maju selangkah. Lalu selangkah lagi, sambil bersandar pada Annabeth. Argus mengikuti kami keluar, tetapi menjaga jarak.

Saat kami mencapai beranda, wajahku sudah bersimbah keringat. Perutku melilit-lilit. Tetapi, aku berhasil berjalan sampai ke langkan.

Hari senja. Perkemahan tampak lengang. Pondok-pondok gelap dan lapangan voli sunyi. Tak ada kano yang membelah permukaan danau. Di seberang pohon dan ladang stroberi, Selat Long Island berkilauan dengan cahaya terakhir matahari.

"Kau akan bagaimana?" tanya Annabeth.

"Nggak tahu."

Aku memberitahunya bahwa aku mendapat perasaan bahwa Chiron ingin aku tinggal sepanjang tahun, untuk menambah waktu pelatihan pribadi, tetapi aku tak yakin apakah itu yang kuinginkan. Aku mengakui aku merasa tak enak meninggalkan Annabeth sendirian, hanya ditemani Clarisse...

Annabeth meruncingkan bibir, lalu berkata lirih, "Aku akan pulang tahun ini, Percy."

Aku menatapnya. "Maksudmu, ke rumah ayahmu?"

Dia menunjuk ke puncak Bukit Blasteran. Di sebelah pohon pinus Thalia, di tepi perbatasan ajaib perkemahan, sebuah keluarga berdiri dalam siluet—dua anak kecil, seorang perempuan, dan seorang lelaki jangkung berambut pirang. Mereka tampaknya sedang menunggu. Lelaki itu memegang ransel yang mirip dengan ransel yang diambil Annabeth dari Waterland di Denver.

"Aku menyuratinya setelah kita pulang," kata Annabeth. "Seperti saranmu. Aku berkata... aku minta maaf. Aku mau pulang untuk tahun ajaran ini kalau dia masih menginginkanku. Dia langsung membalas. Kami memutuskan... kami akan mencoba sekali lagi."

"Itu tindakan berani."

Dia meruncingkan bibir. "Kau nggak akan mencoba melakukan hal bodoh sepanjang tahun ajaran ini, kan? Setidaknya... tanpa mengirimiku pesan-Iris?"

Aku berhasil tersenyum. "Aku nggak akan mencari-cari masalah. Biasanya juga nggak perlu dicari."

"Saat aku kembali musim panas depan," katanya, "kita akan memburu Luke. Kita akan meminta misi. Tapi kalau kita tidak diizinkan, kita akan menyelinap keluar dan tetap melakukannya. Sepakat?"

"Sepertinya rencana yang layak bagi Athena."

Dia mengulurkan tangan. Aku menjabatnya.

"Hati-hati, Otak Ganggang," kata Annabeth. "Tetap waspada, ya."

"Kamu juga, Nona Genius."

Aku mengamatinya berjalan menaiki bukit dan bergabung dengan keluarganya. Dia memeluk ayahnya dengan kikuk, dan menoleh lagi ke lembah untuk terakhir kali. Dia menyentuh pohon pinus Thalia, lalu membiarkan dirinya dituntun menuruni puncak dan memasuki dunia manusia.

Untuk pertama kalinya di perkemahan, aku merasa benar-benar sendirian. Aku memandang Selat Long Island, dan aku ingat ayahku berkata, LAUT TAK SUKA DIKEKANG.

Aku membuat keputusan.

Aku bertanya-tanya, jika Poseidon mengamati, apakah dia menyetujui pilihanku?

"Aku akan kembali musim panas berikut," aku berjanji kepadanya. "Aku akan bertahan hidup sampai saat itu. Toh aku ini anakmu."

Aku meminta Argus membawaku turun ke pondok tiga, supaya aku dapat berkemas untuk pulang,..............

Selesai

0 Response to "PERCY JACKSON & THE OLYMPIANS 6"

Post a Comment

Translate

English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified