Download applikasi baca novel online untuk android disini: DOWNLOAD

PERCY JACKSON & THE OLYMPIANS 5

Kami diam selama beberapa kilometer, terambul-ambul di karung pakan. Si zebra mengunyah lobak. Si singa menjilat sisa daging hamburger dari bibirnya dan menatapku penuh harap.

Annabeth menggosok-gosok kalungnya, seolah-olah sedang memikirkan strategi yang mendalam.

"Manik pohon pinus itu," kataku. "Itu dari tahun pertamamu?"

Dia melihat. Dia baru sadar bahwa dia memegang manik-manik itu.

"Iya," katanya. "Setiap bulan Agustus para pembina memilih peristiwa terpenting pada musim panas itu, dan melukisnya di manik-manik tahun itu. Aku mendapat pohon pinus Thalia, perahu Yunani yang terbakar, centaurus bergaun pesta prom—nah yang itu musim panas yang aneh.”

"Dan cincin universitas itu punya ayahmu?"

"Bukan urusan—" Dia menahan diri. "Ya. Punya ayahku."

"Kau tak perlu cerita."

"Nggak ... nggak apa-apa."

Dia menghela napas dengan gemetar. "Ayahku mengirim cincin ini terlipat dalam surat, dua musim panas yang lalu. Cincin ini semacam kenang-kenangan terbesar dari Athena yang dia miliki. Dia nggak mungkin berhasil menempuh program doktornya di Harvard tanpa Athena.... Ceritanya panjang. Pokoknya, dia bilang dia ingin aku yang menyimpannya. Dia minta maaf karena bersikap berengsek selama ini, katanya dia mencintaiku dan merindukanku. Dia ingin aku pulang dan tinggal bersamanya."

"Kedengarannya tidak buruk."

"Yah... masalahnya, aku percaya padanya. Aku mencoba pulang tahun ajaran itu, tetapi ibu tiriku sama saja seperti dulu. Dia nggak ingin anak-anaknya terancam bahaya gara-gara tinggal bersama orang aneh. Ada monster menyerang. Kami bertengkar. Monster menyerang. Kami bertengkar. Aku bahkan nggak bertahan sampai libur musim dingin. Aku menelepon Chiron dan langsung pulang ke Perkemahan Blasteran."

"Apa menurutmu kau akan mencoba lagi tinggal bersama ayahmu?"

Dia tak menemui mataku. "Nggaklah. Aku nggak suka menyakiti diri sendiri."

"Sebaiknya kau jangan menyerah," kataku. "Surati ayahmu atau apa."

"Terima kasih untuk nasihatnya," katanya dingin, "tetapi ayahku sudah memilih dengan siapa dia ingin tinggal."

Kami melalui beberapa kilometer lagi dalam diam.

"Jadi, kalau dewa bertempur," kataku, "apakah peta kekuatannya akan sama seperti Perang Troya? Apakah Athena akan melawan Poseidon?"

Dia meletakkan kepalanya pada ransel pemberian Athena, dan memejamkan mata.

"Aku nggak tahu apa yang akan dilakukan Ibuku. Aku cuma tahu aku akan bertempur di sampingmu."

"Kenapa?"

"Karena kau temanku, Otak Ganggang. Ada pertanyaan bodoh lain?"

Aku tak terpikir jawaban untuk itu. Untungnya, tak perlu kucari. Annabeth sudah tidur. Aku kesulitan ikut tidur, karena Grover mendengkur dan si singa albino menatapku dengan lapar, tetapi akhirnya aku memejamkan mata.

Mimpi burukku dimulai seperti mimpi yang sudah pernah kualami sejuta kali sebelumnya: aku dipaksa mengerjakan tes standar sambil memakai jaket pengaman. Semua anak lain sedang beristirahat, dan si guru terus berkata, Ayo, Percy. Kau tidak bodoh, kan? Ambil pensilmu.

Lalu, mimpi itu menyimpang dari yang biasa.

Aku menoleh ke bangku ke sebelah dan melihat seorang gadis duduk di situ, juga mengenakan jaket pengaman. Dia seumur denganku, rambut hitamnya bergaya punk yang acak-acakan, matanya yang berwarna hijau badai dihias dengan pensil mata hitam, dan hidungnya berbintik-bintik. Entah bagaimana, aku tahu siapa dia. Thalia, putri Zeus.

Dia meronta melawan jaket pengamannya, mendelik ke arahku dengan frustrasi, dan membentak, Bagaimana, Otak Ganggang? Salah satu dari kita harus keluar dari sini.

Dia benar, pikirku dalam mimpi. Aku akan kembali ke gua itu. Aku akan melabrak Hades.

Jaket pengaman itu mencair dari tubuhku. Aku jatuh menembus lantai ruang kelas. Suara si guru berubah hingga terdengar dingin dan jahat, menggema dari kedalaman jurang besar.

Percy Jackson, katanya. Ya, kulihat pertukaran itu berlangsung lancar.

Aku kembali berada di gua yang gelap itu, sementara arwah orang mati melayang-layang di sekitarku.

Monster itu berbicara dari dalam lubang yang tak bisa kulihat, tetapi kali ini bukan kepadaku. Kekuatan melumpuhkan milik suara itu tampaknya diarahkan ke tempat lain.

Dan dia tak mencurigai apa-apa? tanyanya.

Suara lain, yang hampir kukenali, menjawab di balik bahuku. Tidak, tuanku. Dia tak menyadarinya, sama seperti yang lain.

Aku menoleh, tetapi tak ada siapa-siapa di situ. Si pembicara tak terlihat.

Tipuan demi tipuan, makhluk di lubang itu berkomentar. Bagus.

Sungguh, tuanku, kata suara di sebelahku, engkau sesuai dengan nama Si Menyimpang. Tapi apakah itu benar-benar perlu? Aku bisa saja membawakanmu curianku secara langsung—

Kau? kata si monster dengan mencemooh. Kau sudah menunjukkan batas kemampuanmu. Kau tentu sudah gagal sama sekali, andai aku tak turut campur.

Tapi, tuanku—

Diam, budak kecil. Enam bulan ini kita telah memperoleh banyak hal. Amarah Zeus sudah membesar. Poseidon telah memainkan kartunya yang terakhir. Sekarang kita akan menggunakannya untuk merugikan dirinya. Tak lama lagi, kau akan mendapat hadiah yang kauinginkan, dan pembalasan dendammu. Begitu kedua benda itu dibawa ke tanganku... tapi tunggu. Dia ada di sini.

Apa? Si hamba yang tak terlihat tiba-tiba terdengar tegang. Engkau memanggilnya, tuanku?

Tidak. Kekuatan penuh perhatian si monster sekarang tertuang padaku, membuatku terpaku di tempat. Terkutuklah darah ayahnya—dia terlalu mudah berubah, terlalu tak bisa diduga. Anak itu yang membawa dirinya sendiri ke sini.

Mustahil, seru si hamba.

Mungkin mustahil untuk orang lemah sepertimu, suara itu mengejek. Lalu kekuatan dinginnya kembali beralih kepadaku. Jadi ... kau ingin bermimpi tentang misimu, blasteran muda? Aku akan memenuhi keinginanmu.

Pemandangan berubah.

Aku berdiri di ruang singgasana yang luas, bertembok marmer hitam dan berlantai perunggu. Singgasana mengerikan yang kosong itu dibuat dari tulang manusia yang dipadukan. Di kaki mimbar berdirilah ibuku, beku dalam cahaya emas berkilauan, tangannya terjulur. Aku mencoba melangkah mendekati, tetapi kakiku tak mau bergerak. Aku meraihnya, tetapi menyadari bahwa tanganku layu hingga ke tulang. Kerangka tulang yang menyeringai dalam baju zirah Yunani mengerumuni-ku, menyampirkan jubah sutra pada tubuhku, menghiasi kepalaku dengan mahkota daun dafnah yang diasapi dengan racun Chimera, membakar kulit kepalaku.

Suara jahat itu mulai tertawa. Hormat kepada sang pahlawan penakluk!

Aku tersentak bangun.

Grover mengguncang bahuku. "Truknya berhenti," katanya. "Kami rasa mereka akan datang untuk memeriksa hewan."

"Sembunyi!" desis Annabeth.

Dia sih gampang. Tinggal memakai topi ajaib, langsung menghilang. Aku dan Grover harus melompat ke balik karung pakan dan berharap kami terlihat mirip lobak.

Pintu truk berderit terbuka. Cahaya matahari dan udara panas mengalir masuk.

"Sial!" kata salah seorang sopir itu, melambaikan tangan di depan hidungnya yang jelek. "Lebih enak mengangkut peralatan rumah." Dia memanjat masuk dan menuangkan air dari kendi ke piring hewan-hewan itu.

"Kepanasan, jagoan?" tanyanya kepada si singa, lalu melemparkan sisa air tepat di wajah si singa. Singa itu mengaum marah.

"Ya, ya, ya," kata lelaki itu.

Di sebelahku, di bawah karung lobak, Grover menegang. Sebagai pemakan sayur yang cinta damai, dia tampak segarang pembunuh.

Si sopir melempar kantong makanan yang penyek kepada si antelop. Dia menyeringai kepada si zebra. "Apa kabar, Belang? Setidaknya kau akan disingkirkan di perhentian ini. Suka acara sulap, nggak? Kau pasti suka yang satu ini. Kau akan digergaji menjadi dua!"

Si zebra, dengan mata liar ketakutan, menatap lurus kepadaku. Tak ada suara, tetapi sejernih kristal, kudengar ia berkata: Bebaskan aku, Tuan. Tolong.

Aku terlalu tertegun, sehingga tak langsung bereaksi.

Terdengar duk-duk-duk keras dari sisi truk.

Si sopir yang berada di dalam bersama kami berteriak, "Apa maumu, Eddie?"

Suara di luar—suara Eddie tentunya—balas berteriak. "Maurice? Kau bilang apa?"

"Kenapa kau menggedor-gedor?"

Duk-duk-duk.

Di luar, Eddie berteriak, "Menggedor apa?"

Teman kita Maurice memutar mata dan keluar lagi, sambil mengumpat Eddie karena tolol.

Sedetik kemudian, Annabeth muncul di sebelahku. Pasti dia yang menggedor-gedor agar Maurice keluar dari truk.

Katanya, "Usaha transportasi ini pasti ilegal."

"Jelas," kata Grover. Dia berhenti sejenak, seolah mendengarkan. "Kata si singa, orang-orang ini penyelundup hewan!"

Benar, kata suara zebra di otakku.

"Kita harus membebaskan mereka!" kata Grover. Dia dan Annabeth memandangku, menunggu pimpinanku.

Aku mendengar zebra itu berbicara, tetapi tidak si singa. Kenapa? Mungkin satu lagi cacat belajar yang kuidap... aku cuma bisa memahami zebra? Lalu kupikir: kuda. Apa kata Annabeth soal Poseidon menciptakan kuda? Apakah zebra cukup dekat dengan kuda? Apakah karena itu aku bisa memahami perkataannya?

Kata si zebra, Buka kerangkengku, Tuan. Tolong. Aku akan baik-baik saja setelah itu.

Di luar, Eddie dan Maurice masih saling membentak, tetapi aku tahu mereka akan masuk untuk menyiksa hewan-hewan ini lagi kapan saja.

Aku menyambar Riptide dan membacok gembok dari kerangkeng zebra. Zebra itu melompat keluar. Ia berputar menghadapku dan menunduk. Terima kasih, Tuan.

Grover mengangkat tangannya dan mengatakan sesuatu kepada si zebra dalam bahasa kambing, seperti pemberkatan.

Persis ketika Maurice melongokkan kepala lagi ke dalam untuk memeriksa sumber keributan, si zebra melompatinya dan masuk ke jalan. Terdengar teriakan dan jeritan dan klakson mobil.

Kami bergegas ke pintu truk dan melihat si zebra berlari di jalan lebar yang diapit dua deret hotel dan kasino dan tanda neon.

Kami baru saja membebaskan seekor zebra di Las Vegas.

Maurice dan Eddie berlari mengejarnya, diikuti beberapa polisi yang berteriak, "Hei! Kalian perlu izin untuk itu!"

"Sekarang waktu yang tepat untuk pergi," kata Annabeth.

"Hewan yang lain dulu," kata Grover.

Aku memotong gembok dengan pedang. Grover mengangkat tangannya dan mengucapkan pemberkatan kambing yang sama dengan yang diberikannya kepada si zebra.

"Selamat berjuang," kataku kepada hewan-hewan itu.

Si antelop dan si singa keluar dari kerangkeng mereka dan pergi bersama-sama ke jalan. Beberapa wisatawan menjerit. Sebagian besar hanya mundur dan memotret, mungkin menyangka ini semacam pertunjukan dari salah satu kasino.

"Apakah hewan-hewan itu akan baik-baik saja?" tanyaku kepada Grover. "Maksudku, padang pasir dan—“.

"Nggak usah khawatir," katanya. "Aku memberikan perlindungan satir kepada mereka."

"Maksudnya?"

"Maksudnya, mereka akan mencapai alam liar dengan selamat," katanya. "Mereka akan menemukan air, makanan, naungan, apa pun yang mereka butuhkan, sampai mereka menemukan tempat tinggal yang aman."

"Kenapa kau nggak bisa memberkati kita seperti itu?" tanyaku.

"Cuma bisa buat hewan liar."

"Jadi, cuma Percy yang akan terpengaruh," Annabeth menyimpulkan.

"Hei!" protesku.

"Bercanda," katanya. "Ayo. Kita keluar dari truk jorok ini.”

Kami disambut sore padang pasir. Udaranya paling sedikit 43 derajat Celsius, dan kami pasti kelihatan seperti gelandangan yang digoreng, tetapi semua orang terlalu tertarik pada hewan liar, sehingga tak terlalu memerhatikan kami.

Kami melewati Monte Carlo dan MGM. Kami melewati piramida, kapal bajak laut, Patung Liberty, replika yang cukup kecil, tetapi tetap membuatku rindu rumah. Aku tak yakin apa yang kami cari. Mungkin cuma tempat untuk berlindung dari panas selama beberapa menit, mencari roti lapis dan limun, membuat rencana baru untuk menuju ke barat.

Kami sepertinya salah membelok, karena kami ternyata menemui jalan buntu, berdiri di depan Hotel dan Kasino Teratai. Pintu masuknya berupa bunga neon raksasa, kelopaknya menyala dan berkedip-kedip. Tak ada orang yang masuk atau keluar, tetapi pintu krom yang gemerlap itu terbuka, menumpahkan udara AC yang beraroma bunga—kembang teratai, mungkin. Aku belum pernah mencium bau teratai, jadi aku tak yakin.

Si penjaga pintu tersenyum kepada kami. "Hei, anak-anak. Kalian kelihatan capek. Mau masuk dan duduk dulu?"

Aku sudah belajar bercuriga setelah seminggu terakhir ini. Aku menyimpulkan siapa pun bisa menjadi monster atau dewa. Sulit membedakannya. Tetapi, lelaki ini normal. Sekali lihat saja, aku bisa membedakan. Lagi pula, aku begitu lega mendengar seseorang yang terdengar begitu simpatik, sehingga aku mengangguk dan berkata kami ingin masuk. Di dalam, kami mengedarkan pandangan sekali, dan Grover berkata, "Wah."

Seluruh lobi itu merupakan ruangan permainan raksasa. Dan maksudku bukan mesin judi atau permainan Pac-Man kuno yang norak. Ada perosotan air dalam ruangan yang bagaikan ular memutari lift kaca, yang menjulang setinggi paling sedikit empat puluh lantai. Ada tembok panjat di satu sisi gedung, dan jembatan lompat-bungee dalam ruangan. Ada pakaian realitas-virtual beserta senapan laser yang berfungsi. Dan ratusan game video, masing-masing sebesar televisi layar lebar. Pokoknya, kau tinggal sebut mainan apa pun, tempat ini pasti punya. Ada beberapa anak lain yang bermain, tapi tidak terlalu banyak. Tak perlu menunggu giliran untuk permainan apa pun. Ada pelayan dan gerai camilan di semua tempat, menyajikan setiap macam makanan yang dapat kau bayangkan.

"Hei!" kata seorang pelayan. Setidaknya, kuduga dia seorang pelayan. Dia mengenakan kemeja Hawaii putih-kuning yang bercorak teratai, celana pendek, dan sandal jepit. "Selamat datang di Kasino Teratai. Ini kunci kamar kalian."

Aku terbata-bata, "Eh, tapi ...."

"Tenang, tenang," katanya sambil tertawa. "Tagihannya sudah diurus. Tak ada biaya tambahan, tak perlu memberi tip. Langsung saja naik ke lantai atas, kamar 4001. Kalau perlu apa-apa, misalnya sabun busa tambahan untuk bak mandi air panas, atau target tanah liat untuk arena tembak, atau apa pun, hubungi saja meja depan. Ini kartu Tunai-Teratai. Bisa dipakai di restoran dan di semua permainan dan wahana."

Dia memberi kami kartu kredit plastik warna hijau masing-masing satu. Aku yakin pasti ada kekeliruan. Jelas dia menganggap kami anak seorang jutawan. Tetapi, kuterima kartu itu dan berkata,- "Berapa besar nilainya?"

Alisnya bertaut. "Maksudnya?"


"Maksudku, kapan nilai tunainya habis?"

Dia tertawa. "Oh, kau sedang bercanda. Boleh juga. Nikmati kunjungan kalian."

Kami naik lift ke lantai atas dan memeriksa kamar kami. Ternyata kamarnya mewah, terdiri atas tiga kamar tidur dan bar yang diisi permen, soda, dan keripik. Sambungan telepon langsung ke bagian layanan kamar. Handuk empuk dan kasur air serta bantal bulu. Televisi layar besar yang dilengkapi parabola dan internet berkecepatan tinggi. Balkonnya memiliki bak mandi air panas sendiri, dan benar saja, ada mesin pelontar target dan senapan, jadi kita bisa meluncurkan burung dara tanah liat langsung ke atas langit Las Vegas dan menembaknya dengan senapan. Aku merasa itu tak mungkin legal, tapi kupikir cukup keren. Pemandangan menghadap ke daerah Strip dan padang pasirnya sangat indah, meskipun aku ragu kami akan sempat melihat pemandangan, kalau kamarnya seperti ini.

"Wah, asyik," kata Annabeth.

"Tempat ini Asyik," kata Grover. "Benar-benar asyik."

Ada pakaian di lemari, dan ukurannya pas. Aku mengerutkan kening, merasa ini agak aneh. Kulemparkan ransel Ares ke keranjang sampah. Tak diperlukan lagi. Saat kami pergi nanti, aku tinggal menagihkan ransel baru di toko hotel.

Aku mandi. Segar sekali rasanya, setelah seminggu bepergian dengan tubuh kotor. Aku bertukar pakaian, makan sekantong keripik, minum tiga Coke, dan setelannya merasa lebih baik daripada yang kurasakan beberapa hari ini.

Di sudut benakku ada masalah kecil yang terus mengusik. Aku bermimpi atau apa... aku perlu berbicara dengan teman-temanku. Tetapi, aku yakin itu bisa menunggu.

Aku keluar dari kamar tidur dan mendapati bahwa Annabeth dan Grover juga sudah mandi dan berganti pakaian. Grover sedang makan keripik kentang sepuasnya, sementara Annabeth menyalakan saluran National Geographic di televisi.

"Tersedia segala macam stasiun di situ," kataku kepadanya, "kau malah menyalakan National Geographic. Sudah gila, ya?"

"Acaranya kan menarik."

"Aku merasa enak," kata Grover. "Aku suka tempat ini.” Tanpa ia sadari, sayap tumbuh dari sepatunya dan mengangkatnya 30 cm dari lantai, lalu turun lagi.

"Jadi, sekarang apa?" tanya Annabeth. "Tidur?"

Aku dan Grover bertukar pandang dan menyeringai. Kami berdua mengangkat kartu plastik Tunai-Teratai kami yang berwarna hijau itu.

"Waktunya bermain," kataku.

Aku tak ingat kapan terakhir kali aku asyik bermain seperti itu. Aku berasal dari keluarga yang relatif miskin. Berfoya-foya ala kami adalah keluar makan di Burger King dan menyewa video. Hotel bintang lima di Vegas? Mana mungkin.

Aku melompat bungee dari lobi lima atau enam kali, meluncur di perosotan air, berselancar salju di turunan ski tiruan, dan bermain kucing-kucingan laser realitas-virtual, dan permainan penembak jitu FBI.

Aku melihat Grover beberapa kali, berpindah-pindah permainan. Dia benar-benar menyukai permainan pemburu terbalik—yaitu rusa keluar dan menembaki pemburu. Kulihat Annabeth bermain game tanya-jawab dan permainan otak lainnya. Di sana ada permainan simulasi 3-D raksasa, dan kita bisa membangun kota sendiri, dan benar-benar bisa melihat gedung hologram mencuat pada papan tampilan. Aku tak terlalu terkesan, tetapi Annabeth suka sekali.

Aku tak tahu kapan persisnya aku pertama kali menyadari ada yang aneh. Mungkin saat aku memerhatikan seorang pemuda berdiri di sampingku di penembak jitu VR. Umurnya sekitar tiga belas tahun, kira-kira, tapi pakaiannya aneh. Aku menyangka dia anak seorang peniru Elvis. Dia memakai jins cutbrai dan kemeja merah berlengan hitam, dan rambutnya dikeriting dan diminyaki seperti rambut anak perempuan New Jersey pada malam pesta.

Kami bermain penembak-jitu bersama dan dia berkata, "Aduhai, sobat. Aku baru dua minggu di sini, dan permainannya makin lama makin keren."

Aduhai?

Kemudian, saat kami mengobrol, aku mengomentari sesuatu sebagai "gue banget", dan dia menatapku agak heran, seolah-olah belum pernah mendengar kata itu digunakan seperti itu sebelumnya.

Katanya namanya Darrin, tetapi begitu aku mulai banyak bertanya, dia bosan denganku dan mulai kembali ke layar komputer.

Kataku, "Hei, Darrin?"

"Apa?"

"Sekarang tahun berapa?"

Dia merengut kepadaku. "Di dalam game?"

"Bukan. Di dunia nyata."

Dia harus mengingat-ingat. "1977."

"Masa," kataku, merasa agak takut. "Sungguh?"

"Hei, bung. Pemali. Aku lagi main."

Setelah itu, dia benar-benar tidak menggubrisku. Aku mulai mengajak bicara beberapa orang, dan ternyata tak mudah. Mereka lengket ke layar televisi, atau layar video, atau makanan, atau apa pun. Aku menemukan seorang pemuda yang mengatakan bahwa sekarang tahun 1985. Seorang lagi mengatakan sekarang tahun 1993. Mereka semua mengaku belum terlalu lama berada di sini, beberapa hari, paling lama beberapa minggu. Mereka tidak tahu persis dan mereka tidak peduli.

Lalu, terpikir olehku, sudah berapa lama aku berada di sini? Rasanya baru beberapa jam, tetapi apa benar? Aku berusaha mengingat mengapa kami berada di sini. Kami sedang menuju Los Angeles. Kami semestinya mencari pintu masuk ke Dunia Bawah. Ibuku...

Selama satu detik yang mengerikan, aku kesulitan mengingat namanya. Sally. Sally Jackson. Aku harus mencarinya. Aku harus menghentikan Hades memicu Perang Dunia III.

Kutemukan Annabeth masih membangun kota. "Ayo," kataku. "Kita harus pergi."

Tak ada tanggapan. Kuguncang dia. "Annabeth?"

Dia mengangkat kepala, kesal. "Apa?"

"Kita harus pergi."

"Pergi? Kau bicara apa sih? Aku baru saja membangun menara—"

"Tempat ini jebakan."

Dia tidak menjawab sampai kuguncang lagi. "Apa?"

"Dengar. Dunia Bawah. Misi kita!"

"Oh, ayolah, Percy. Beberapa menit lagi."

"Annabeth, ada orang-orang yang sudah berada di sini sejak tahun 1977. Anak-anak yang nggak pernah bertambah tua. Begitu masuk, kita akan tinggal selamanya."

"Lalu?" tanyanya.

"Bisakah kau membayangkan tempat yang lebih asyik?" Aku mencengkeram pergelangan tangannya dan menyentakkannya dari permainan itu.

"Hei!" Dia menjerit dan memukulku, tetapi orang lain bahkan tak mau repot menoleh. Mereka terlalu sibuk. Aku memaksanya menatap mataku langsung. Kataku,

"Laba-laba. Laba-laba besar yang berbulu."

Itu menyentakkannya. Penglihatannya menjernih. "Demi dewa-dewa," katanya. "Berapa lama kita—"

"Nggak tahu, tapi kita harus mencari Grover."

Kami mencari, dan menemukan dia masih bermain Rusa Pemburu Virtual.

"Grover!" kami berdua berteriak.

Dia berkata, "Matilah, manusia! Matilah, pencemar jahat yang bodoh!"

"Grover!"

Dia mengarahkan senapan plastik itu kepadaku dan mulai menembak, seolah-olah aku hanya salah satu gambar di layar. Aku menoleh kepada Annabeth, dan kami bersama-sama memegang lengan Grover dan menyeret dia pergi. Sepatu terbangnya menjadi aktif dan mulai menarik-narik kakinya ke arah lain sementara dia berteriak, "Nggak mau! Aku baru sampai ke level baru! Nggak!"

Si pelayan Teratai bergegas menghampiri. "Wah, apakah kalian siap untuk kartu platinum?"

"Kami mau pergi," kataku.

"Sayang sekali," katanya, dan aku merasa dia memang sungguh-sungguh, bahwa kami akan membuatnya patah hati kalau kami pergi.

"Kami baru saja menambah satu lantai penuh yang berisi permainan untuk anggota pemilik kartu platinum." Dia menyodorkan kartunya, dan aku ingin satu. Aku tahu bahwa kalau aku mengambil satu, aku tak akan pernah pergi. Aku akan tinggal di sini, bahagia selamanya, bermain game selamanya, dan tak lama kemudian melupakan ibuku, misiku, bahkan mungkin namaku sendiri. Aku akan bermain penembak virtual bersama Darrin Disco yang aduhai itu selamanya.

Grover meraih kartu itu, tetapi Annabeth menarik tangannya dan berkata, "Tidak, terima kasih."

Kami berjalan ke arah pintu, dan sementara kami berjalan, aroma makanan dan bunyi permainan terasa semakin mengundang. Aku teringat kamar kami di lantai atas. Kami bisa saja menginap hanya satu malam, tidur di tempat tidur betulan sekali ini....

Lalu, kami melewati pintu Kasino Teratai dan berlari menyusuri trotoar. Sepertinya hari sedang sore, kira-kira waktu yang sama seperti saat kami masuk ke kasino, tetapi ada yang aneh. Cuacanya telah berubah sama sekali. Ada badai, dengan petir panas menyambar-nyambar di padang pasir.

Ransel Ares tersampir di bahuku. Aneh. Aku yakin ransel itu sudah kubuang di keranjang sampah di kamar 4001, tetapi saat itu ada masalah lain yang harus kucemaskan.

Aku berlari ke kios koran terdekat dan membaca tahunnya dulu. Untunglah, tahunnya masih sama dengan tahun kami masuk. Lalu, aku membaca tanggalnya: dua puluh Juni.

Kami berada di dalam Kasino Teratai selama lima hari.

Kami hanya punya sisa waktu satu hari sebelum titik balik matahari musim panas. Satu hari untuk menuntaskan misi kami.

17. Kami Berbelanja Kasur Air

Ini ide Annabeth.

Dia menyuruh kami masuk ke kursi belakang sebuah taksi Vegas seolah-olah kami punya uang, dan berkata kepada si sopir, "Los Angeles."

Si sopir mengunyah cerutunya dan menilai penampilan kami. "Jaraknya hampir lima ratus kilometer. Untuk itu, kalian harus bayar di muka."

"Terima kartu debit kasino, nggak?" tanya Annabeth.

Dia mengangkat bahu. "Beberapa. Sama seperti kartu kredit. Harus kugesek dulu."

Annabeth memberinya kartu Tunai-Teratai hijau itu. Si sopir memandangnya kurang percaya.

"Gesek saja," desak Annabeth.

Si sopir menggeseknya. Argonya mulai berderak. Lampu berkedip-kedip. Akhirnya lambang tak-terhingga muncul di sebelah tanda dolar. Cerutu itu jatuh dari bibir si sopir. Dia menoleh kepada kami dengan mata terbeliak. "Los Angeles sebelah mana... eh, Yang Mulia?"

"Dermaga Santa Monica." Annabeth duduk lebih tegak. Aku tahu dia menyukai sebutan "Yang Mulia" itu.

"Kalau bisa mengantar kami ke sana dengan cepat, kau boleh menyimpan kembaliannya."

Mungkin Annabeth semestinya tidak bilang begitu. Spidometer taksi itu tak pernah turun di bawah 150 km per jam di sepanjang perjalanan menyeberangi Padang Pasir Mojave. Di jalan, kami punya banyak waktu untuk mengobrol. Aku menceritakan mimpi terbaruku kepada Annabeth dan Grover, tetapi semakin aku berusaha mengingatnya, perinciannya semakin kabur. Kasino Teratai itu sepertinya membuat ingatanku korsleting. Aku tak bisa ingat suara si pelayan tak kasat mata itu, meskipun aku yakin orang itu kukenal. Si pelayan menyebut monster di lubang itu dengan gelar selain "tuanku" ... nama atau gelar khusus...

"Sang Bisu?" usul Annabeth. "Sang Kaya? Keduanya julukan untuk Hades."

"Mungkin ..." kataku, meskipun keduanya terasa tidak pas.

"Ruang singgasana itu kedengarannya seperti ruang milik Hades," kata Grover. "Biasanya ruangan itu digambarkan seperti itu."

Aku menggeleng. "Ada yang aneh. Ruang singgasana itu bukan bagian utama mimpi itu. Dan suara dari lubang itu... entahlah. Cuma nggak terasa seperti suara dewa."

Mata Annabeth melebar.

"Apa?" tanyaku. "Eh ... nggak. Aku cuma—Nggak, itu pasti Hades. Mungkin dia mengutus pencuri ini, orang yang nggak kelihatan ini, untuk mengambil petir asali, lalu timbul masalah—"

"Apa misalnya?"

"Nggak—nggak tahu," katanya. "Tapi, kalau dia mencuri lambang kekuatan Zeus dari Olympus, dan para dewa memburunya, banyak masalah yang bisa timbul, kan? Jadi, pencuri ini terpaksa menyembunyikan petir itu, atau entah bagaimana dia kehilangan barangnya. Pokoknya, dia gagal membawanya ke Hades. Itu yang dibilang suara di dalam mimpimu kan? Orang itu gagal. Itu bisa menjelaskan apa yang dicari Erinyes saat mereka menyerang kita di bus. Mungkin mereka menyangka kita sudah mengambil petir itu."

Aku heran Annabeth punya masalah apa. Dia tampak pucat.

"Tapi, kalau aku sudah mengambil petir itu," kataku, "buat apa aku pergi ke Dunia Bawah?"

"Untuk mengancam Hades," usul Grover. "Untuk menyogok atau memerasnya demi mendapatkan kembali ibumu."

Aku bersiul. "Pikiranmu licik juga, untuk ukuran kambing."

"Wah, terima kasih."

"Tapi, makhluk di lubang itu berkata, dia menunggu dua benda," kataku. "Kalau petir asali itu satu, satu lagi apa?”

Grover menggeleng, jelas bingung. Annabeth menatapku seolah-olah dia tahu pertanyaanku berikutnya, dan diam-diam berharap agar aku tidak bertanya.

"Kau punya dugaan soal makhluk apa yang berada di lubang itu, ya?" tanyaku kepadanya. "Maksudku, kalau itu bukan Hades?"

"Percy... jangan bicarakan itu. Karena kalau bukan Hades... Tidak. Pasti Hades."

Tanah gersang bergerak lewat. Kami melewati tanda yang bertulisan PERBATASAN NEGARA BAGIAN CALIFORNIA, 19 KM.

Aku merasa bahwa ada satu keping informasi yang penting tapi sederhana, yang luput dari perhatianku. Rasanya seperti saat aku menatap sebuah kata umum yang semestinya kukenal, tetapi aku tak bisa memahaminya karena satu-dua hurufnya melayang-layang. Semakin kupikirkan misiku, semakin aku yakin bahwa mengonfrontasi Hades bukanlah jawaban yang tepat. Ada hal lain yang sedang terjadi, sesuatu yang jauh lebih berbahaya. Masalahnya: kami melaju menuju Dunia Bawah dengan kecepatan 150 km per jam, bertaruh bahwa Hades memegang petir asali itu.

Kalau kami sampai di sana dan menemukan bahwa kami salah, kami tak akan punya waktu untuk memperbaikinya. Tenggat titik balik matahari musim panas akan berlalu dan perang akan dimulai.

"Jawabannya berada di Dunia Bawah," Annabeth meyakinkanku. "Kau melihat arwah orang mati, Percy. Itu hanya mungkin ada di satu tempat. Yang kita lakukan ini sudah benar."

Dia berusaha membangkitkan semangat kami dengan mengusulkan berbagai strategi cerdik untuk masuk ke Negeri Orang Mati, tetapi hatiku tidak berselera. Terlalu banyak faktor yang tak diketahui. Rasanya seperti mengebut belajar untuk suatu ujian tanpa tahu topiknya. Dan percayalah, itu sih sudah cukup sering kulakukan.

Taksi itu melaju ke barat. Setiap tiupan angin melalui Death Valley terdengar seperti arwah orang mati. Setiap kali rem sebuah truk berdesis, aku teringat pada suara reptil Echidna.

Pada saat matahari terbenam, taksi menurunkan kami di pantai di Santa Monica. Pemandangannya persis seperti pantai L.A. di film-film, tetapi lebih bau. Ada wahana karnaval di sepanjang Dermaga, pohon kelapa di sepanjang trotoar, gelandangan tidur di bukit pasir, dan cowok peselancar yang menunggu ombak yang sempurna.

Aku, Grover, dan Annabeth menyusuri tepi pantai.

"Sekarang bagaimana?" tanya Annabeth.

Samudra Pasifik menjadi emas akibat matahari terbenam. Aku memikirkan sudah berapa lama waktu berlalu sejak aku berdiri di pantai di Montauk, di seberang negara ini, memandang samudra yang lain.

Bagaimana mungkin ada seorang dewa yang mampu mengendalikan semua itu? Apa kata guru IPA-ku dulu— dua per tiga permukaan bumi diliputi air? Bagaimana mungkin aku ini putra seseorang yang seberkuasa itu?

Aku melangkah ke ombak.

"Percy?" kata Annabeth. "Kau mau apa?"

Aku terus berjalan, hingga air sepinggang, lalu sedada. Annabeth berseru kepadaku, "Kau tahu sekotor apa air itu? Ada segala macam racun—"

Pada saat itulah kepalaku masuk ke air. Pertama-tama aku menahan napas. Sulit rasanya memaksa diri mengisap napas. Akhirnya, aku tak tahan lagi. Aku menarik napas. Benar saja, aku bisa bernapas dengan normal. Aku berjalan turun ke dasar pasir. Semestinya aku tak bisa melihat di air keruh, tapi entah bagaimana aku bisa tahu letak segala sesuatu.

Aku dapat merasakan tekstur dasar yang beralun. Aku dapat melihat koloni sand-dollar yang bertebaran di gunung pasir. Aku bahkan bisa melihat arus, aliran panas dan dingin berpusaran bersama. Aku merasakan sesuatu menggesek kakiku. Aku melihat ke bawah dan hampir terlompat dari air seperti peluru. Di sebelahku meluncur hiu mako sepanjang satu setengah meter. Tetapi, hewan itu tidak menyerang. Ia menggosokkan hidung padaku. Mengekor seperti anjing. Dengan ragu 3 Hewan laut berbentuk bulat pipih seperti koin besar berwarna hitam dan jika mati warnanya berubah menjadi putih kehijauan.

Kusentuh sirip punggungnya. Hiu itu melonjak sedikit, seolah-olah memintaku memegang lebih erat. Aku memegang sirip itu dengan kedua tangan. Hiu itu melesat, menarikku bersamanya.

Ia membawaku turun ke kegelapan. Ia menurunkanku di tepi laut dalam, di tempat bukit pasir menurun menjadi jurang luas. Rasanya seperti berdiri di tepi Grand Canyon pada tengah malam, tak bisa melihat banyak, tetapi tahu lubang itu ada di sana.

Permukaan laut tampak berkilauan sekitar 45 meter di atas sana. Aku tahu aku semestinya hancur oleh tekanan air. Tetapi, aku juga semestinya tak bisa bernapas. Aku bertanya-tanya apakah ada batas kedalaman yang bisa kuturuni, apakah aku bisa tenggelam ke dasar Samudra Pasifik.

Lalu, aku melihat sesuatu berkilauan dalam kegelapan di bawah, yang naik ke arahku dan tampak semakin besar dan terang. Sebuah suara perempuan, seperti suara ibuku, memanggil: "Percy Jackson."

Sementara dia mendekat, bentuknya semakin jelas. Rambutnya hitam berombak, pakaiannya terbuat dari sutra hijau. Cahaya berkelap-kelip di sekelilingnya, dan matanya begitu indah, sampai-sampai aku hampir tak memerhatikan kuda laut sebesar kuda yang ditungganginya.

Wanita itu turun. Si kuda laut dan si hiu mako melesat pergi dan mulai bermain, sepertinya main kucing-kucingan.

Si wanita bawah air tersenyum kepadaku. "Kau telah menempuh jarak yang jauh, Percy Jackson. Hebat."

Aku tak yakin apa yang harus dilakukan, jadi aku membungkuk. "Kau wanita yang berbicara kepadaku di Sungai Mississippi."

"Benar, Nak. Aku Nereid, arwah laut. Tidak mudah bagiku, muncul begitu jauh di hulu sungai, tetapi kaum naiad, sepupu air tawarku, membantu mempertahankan kekuatan nyawaku. Mereka menghormati Tuan Poseidon, meskipun mereka bukan anggota istananya."

"Dan... kau anggota istana Poseidon?"

Dia mengangguk. "Sudah bertahun-tahun tak ada putra Dewa Laut yang lahir. Kami mengamatimu dengan minat besar."

Tiba-tiba aku teringat wajah-wajah dalam ombak di lepas Pantai Montauk sewaktu aku masih kecil, bayangan wanita-wanita yang tersenyum. Sebagaimana begitu banyak hal aneh dalam hidupku, aku tak pernah terlalu memikirkannya sebelum ini.

"Kalau ayahku begitu tertarik padaku," kataku, "kenapa dia tidak ke sini? Kenapa dia tak bicara kepadaku?"

Arus dingin naik dari kedalaman. "Jangan terlalu keras menilai sang Penguasa Lautan," kata si Nereid. "Dia sedang berdiri di ambang perang yang tak diinginkan. Banyak hal menyita waktunya. Lagi pula, dia dilarang membantumu secara langsung. Dewa tak boleh terlihat pilih kasih."

"Bahkan pada anak-anaknya sendiri?"

"Terutama pada mereka. Dewa hanya bisa bekerja dengan pengaruh tak langsung. Itu sebabnya aku memberimu peringatan, dan hadiah."

Dia mengulurkan tangan. Di telapak tangannya, tiga butir mutiara putih bersinar. "Aku tahu kau akan pergi ke wilayah Hades," katanya. "Hanya sedikit manusia yang pernah melakukan ini dan berhasil keluar hidup-hidup: Orpheus, yang memiliki keterampilan musik yang hebat; Hercules, yang memiliki kekuatan besar; Houdini, yang bisa melepaskan diri bahkan dari kedalaman Tartarus. Apakah kau memiliki bakat-bakat ini?"

"Eh ... tidak, sih."

"Ah, tapi kau memiliki hal lain, Percy. Kau memiliki banyak bakat yang baru mulai kaukenal. Para oracle telah meramalkan masa depan yang besar dan hebat untukmu, jika kau bertahan hidup hingga dewasa. Poseidon tak ingin kau mati sebelum waktumu. Karena itu, ambillah ini. Saat kau membutuhkan bantuan, bantinglah sebutir mutiara ke dekat kakimu."

"Apa yang akan terjadi?"

"Itu," katanya, "tergantung pada kebutuhanmu. Tapi ingat: apa yang dimiliki laut akan selalu kembali ke laut."

"Peringatannya apa?"

Matanya berbinar-binar dengan cahaya hijau. "Ikuti kata hatimu, atau kau akan kehilangan semuanya. Hades semakin kuat dengan adanya keraguan dan keputusasaan. Dia akan mengelabuimu jika dia bisa, membuatmu tak memercayai pikiranmu sendiri. Begitu kau berada di dunianya, dia tak akan pernah membiarkanmu pergi dengan sukarela. Kuatkan hatimu. Semoga berhasil, Percy Jackson."

Dia memanggil kuda lautnya dan menungganginya ke arah kehampaan.

"Tunggu!" panggilku. "Di sungai waktu itu, kau bilang, jangan percaya pada hadiah. Hadiah apa?"

"Selamat tinggal, Pahlawan Muda," serunya kembali, suaranya semakin samar ke dalam kegelapan. "Kau harus mendengarkan kata hatimu."

Dia menjadi titik hijau bersinar, lalu dia menghilang. Aku ingin mengikutinya turun ke kegelapan.

Aku ingin melihat istana Poseidon. Tetapi, aku melihat ke atas, pada matahari terbenam yang semakin gelap di permukaan. Teman-temanku menunggu. Waktu kami sedikit sekali....

Aku menolakkan tubuh ke arah pantai. Sesampainya aku di pantai, pakaianku langsung kering. Aku menceritakan apa yang terjadi kepada Grover dan Annabeth, dan menunjukkan mutiara itu kepada mereka. Annabeth meringis.

"Tak ada hadiah tanpa biaya."

"Yang ini gratis."

"Tidak." Annabeth menggeleng. "Tak ada yang namanya ‘makan gratis'. Itu peribahasa Yunani kuno yang cocok dengan kehidupan Amerika. Akan ada biayanya. Lihat saja."

Dengan pikiran ceria itu, kami berbalik meninggalkan laut. Dengan uang receh dari ransel Ares, kami naik bus ke Hollywood Barat. Kepada sopir kutunjukkan alamat Dunia Bawah yang kuambil dari Pusat Belanja Taman Patung Bibi Em, tetapi dia belum pernah mendengar tentang Studio Rekaman DOA.

"Kau mengingatkanku pada seseorang yang kulihat di televisi," katanya. "Kau ini aktor anak-anak atau apa?"

"Eh ... aku pemeran pengganti ... untuk banyak aktor anak-anak."

"Oh! Pantas."

Kami berterima kasih kepadanya dan cepat-cepat turun di halte berikutnya. Kami luntang-lantung selama berkilo-kilometer, mencari DOA. Tampaknya tak ada orang yang tahu di mana letaknya. Tempat itu tidak ada di buku telepon. Dua kali kami menyusup ke gang untuk menghindari mobil polisi.

Aku terpaku di depan jendela toko peralatan rumah karena sebuah televisi menyiarkan wawancara dengan seseorang yang tampak sangat akrab—ayah tiriku, Gabe si Bau. Dia sedang berbicara dengan Barbara Walters— seolah-olah dia semacam selebriti besar. Barbara mewawancarainya di apartemen kami, di tengah-tengah permainan poker, dan ada seorang gadis pirang yang duduk di sebelahnya, menepuk-nepuk tangannya. Air mata palsu berkilauan di pipinya. Dia berkata, "Jujur, Nona Walters, andai bukan berkat Sugar, konselor menghadapi duka, aku pasti hancur. Anak tiriku merenggut segala sesuatu yang kupedulikan. Istriku... Camaroku... Ma-maaf. Aku sulit membicarakan hal ini."

"Demikianlah, Amerika." Barbara Walters menoleh ke kamera. "Seorang pria yang terkoyak. Seorang remaja laki-laki yang bermasalah serius. Mari saya tunjukkan lagi, foto terakhir pelarian muda yang bermasalah ini, diambil seminggu yang lalu di Denver."

Layar beralih ke foto kabur yang berisi aku, Annabeth, dan Grover, berdiri di luar restoran Colorado, berbicara kepada Ares. "Siapakah anak-anak lain dalam foto ini?" Barbara Walters bertanya dengan dramatis. "Siapa lelaki yang bersama mereka itu? Apakah Percy Jackson seorang remaja nakal, teroris, atau mungkin korban cuci otak dalam kultus baru yang mengerikan? Setelah pesan-pesan berikut, kita akan berbincang dengan psikolog anak terkemuka. Jangan ke mana-mana, Amerika."

"Ayo," kata Grover kepadaku. Dia menarikku menjauh sebelum aku sempat menonjok dan melubangi jendela toko peralatan itu.

Hari menjadi gelap, dan orang-orang yang tampak kelaparan mulai keluar ke jalan untuk bermain. Nah, jangan salah paham, ya. Aku ini orang New York. Aku tak mudah takut. Tapi, suasana L.A. berbeda sama sekali dengan New York.

Di rumah, segala sesuatu terasa dekat. Sebesar apa pun kota itu, orang bisa berjalan ke mana pun tanpa tersesat. Pola jalan dan kereta bawah tanahnya mudah dipahami. Segalanya membentuk suatu sistem. Seorang anak bisa aman asalkan dia tidak bodoh.

L.A. tidak seperti itu. Kota itu luas, kacau-balau, dan sulit dijelajahi. Mengingatkanku pada Ares. L.A. itu bukan hanya luas; ia juga harus membuktikan kebesarannya dengan berisik dan aneh dan sulit dijelajahi. Aku tak tahu bagaimana kami bisa menemukan pintu masuk ke Dunia Bawah sebelum besok, titik balik matahari musim panas.

Kami berjalan melewati anggota geng, gelandangan, dan pedagang kaki lima, yang menatap kami seolah-olah berusaha menimbang apakah mereka mau repot-repot merampok kami.

Saat kami bergegas melewati pintu masuk sebuah gang, sebuah suara dari kegelapan berkata, "Hei, kalian."

Seperti orang tolol, aku berhenti. Tahu-tahu saja kami dikepung. Segerombolan anak mengelilingi kami. Seluruhnya ada enam orang—anak kulit putih yang berpakaian mahal dan berwajah kejam. Seperti anak-anak di Akademi Yancy: anak kaya dan manja yang bermain-main menjadi anak nakal.

Secara naluriah, aku membuka tutup Riptide. Ketika pedang itu muncul begitu saja, anak-anak itu mundur, tetapi pemimpinnya entah sangat bodoh atau sangat pemberani, karena dia terus merangsek dengan pisau lipat.

Aku keliru bertindak, malah mengayun pedang.

Anak itu memekik. Tetapi, dia rupanya seratus persen manusia, karena pedang itu menembus dadanya tanpa melukai. Dia melihat ke bawah. "Apa-apaan...”

Kusimpulkan aku punya waktu tiga detik sebelum rasa kagetnya berubah menjadi amarah.

"Lari!" teriakku kepada Annabeth dan Grover. Kami mendorong dua anak yang menghalangi dan berlari, tak tahu hendak ke mana. Kami membelok tajam.

"Di sana!" seru Annabeth. Di blok itu hanya ada satu toko yang tampaknya masih buka, jendelanya mencorong dengan neon. Tanda di atas pintu bertulisan kira-kira STIANA KASRU ARI CRSTUY.

"Istana Kasur Air Crusty?" Grover menerjemahkan.

Sepertinya bukan tempat yang ingin kukunjungi kecuali dalam keadaan darurat, tetapi saat ini jelas memenuhi syarat sebagai keadaan darurat. Kami menerjang pintu, berlari ke balik kasur air, dan menunduk. Sedetik kemudian, anak-anak geng berlari lewat di luar.

"Kayaknya kita lolos," kata Grover, terengah-engah.

Sebuah suara di belakang kami menggelegar, "Lolos dari apa?"

Kami semua terlompat.

Di belakang kami, berdiri seorang pria yang mirip burung pemangsa dalam setelan jas santai. Tingginya paling sedikit 210 cm, kepalanya tak berambut sama sekali. Kulitnya abu-abu seperti kulit samak, matanya berkelopak tebal, senyumnya dingin mirip reptil. Dia menghampiri kami perlahan-lahan, tetapi aku merasa bahwa dia mampu bergerak cepat jika perlu.

Pakaiannya mirip-mirip seragam Kasino Teratai. Jelas-jelas berasal dari era. tujuh puluhan. Kemejanya terbuat dari bahan sutra bercorak, tak terkancing hingga setengah dadanya yang tak berbulu. Kelepak jas beledunya selebar landasan pesawat. Kalung rantai perak di lehernya— jumlahnya tak terhitung olehku.

"Aku Crusty," katanya, dengan senyum kuning-tartar.

Aku menahan desakan hati untuk berkata, Benar sekali.

"Maaf, kami masuk tanpa permisi," katanya. "Kami cuma, eh, melihat-lihat."

"Maksudmu, bersembunyi dari anak-anak nakal tadi," gerutunya. "Mereka berkeliaran setiap malam. Aku jadi dapat banyak pengunjung, berkat mereka. Nah, kalian ingin melihat-lihat kasur air?"

Aku baru akan berkata, Tidak terima kasih, tetapi dia meletakkan tangannya yang besar di bahuku dan mengarahkanku memasuki ruang pameran. Ada segala jenis kasur air yang bisa kaubayangkan: bermacam-macam kayu, bermacam-macam pola seprai; ukuran Queen, King, bahkan Emperor.

"Ini model yang paling populer." Crusty melebarkan tangannya dengan bangga di atas sebuah tempat tidur yang tertutup seprai satin hitam, dengan Lampu Lava yang dibangun langsung di papan di ujung tempat tidur. Kasur itu bergetar, sehingga mirip agar-agar rasa minyak.

"Pijat sejuta tangan," kata Crusty. "Ayo, coba saja. Malah, sekalian saja tidur di situ. Aku tak keberatan. Toh hari ini belum ada pelanggan."

"Eh," kataku, "saya tidak..."

"Pijat sejuta tangan!" seru Grover, dan melompat naik. "Oh, teman-teman! Ini keren."

"Hmm," kata Crusty sambil membelai dagunya yang berkulit samak. "Hampir, hampir."

"Hampir apa?" tanyaku.

Dia menoleh ke Annabeth. "Tolonglah aku dan coba yang di sini, Sayang. Mungkin cocok."

Annabeth berkata, "Tapi apa—"

Lelaki itu menepuk bahu Annabeth untuk menenangkan hatinya, dan mengajaknya ke model Deluxe Safari, yang ranjangnya diukir singa kayu jati dan selimutnya berpola macan tutul.

Ketika Annabeth tak ingin berbaring, Crusty mendorongnya. Crusty menjentikkan jari. "Ergo!"

Tali muncul dari sisi-sisi kasur, mengikat Annabeth, menahannya pada kasur. Grover berusaha bangkit, tetapi tali juga keluar dari kasur satin hitamnya, dan mengikatnya.

"Ng-nggak k-k-keren!" teriaknya, suaranya bergetar akibat pijatan sejuta tangan. "Ng-nggak k-keren s-sama sesekali!"

Si raksasa memandang Annabeth, lalu menoleh kepadaku dan menyeringai. "Hampir, sialan."

Aku berusaha menyingkir, tetapi tangannya terjulur dan mencengkeram tengkukku. "Hei, Nak. jangan khawatir. Sebentar saja pasti ketemu yang cocok untukmu."

"Lepaskan teman-temanku."

"Nanti juga kulepaskan. Tapi aku harus mencocokkan mereka dulu."

"Apa maksudmu?"

"Panjang semua kasur di sini tepat 180 cm, begitu. Teman-temanmu terlalu pendek. Harus dijadikan muat."

Annabeth dan Grover terus meronta.

"Paling tak tahan, melihat ukuran yang tak sempurna," gerutu Crusty. "Ergo!"

Tali-tali baru melompat keluar dari bagian atas dan bawah tempat tidur, membelit pergelangan kaki Grover dan Annabeth, lalu di sekeliling ketiak mereka. Tali itu mulai bertambah erat, menarik teman-temanku dari kedua ujung.

"Jangan khawatir," kata Crusty kepadaku. "Ini kegiatan peregangan. Tambahan sekitar tujuh sentimeter pada tulang punggung. Bahkan mungkin mereka bisa hidup. Nah, mari kita cari kasur yang kau suka, ya?"

"Percy!" teriak Grover. Benakku berpacu. Aku tahu aku tak mampu melawan penjual kasur air raksasa ini sendirian. Dia bisa mematahkan leherku sebelum aku sempat mengeluarkan pedang.

"Nama aslimu bukan Crusty, ya?" tanyaku.

"Secara sah, namaku Procrustes," dia mengakui.

"Si Peregang," kataku. Aku ingat ceritanya: raksasa yang berusaha membunuh Theseus dengan keramahan berlebihan, dalam perjalanan Theseus ke Athens.

"Ya," kata si penjual. "Tapi siapa yang bisa mengucapkan Procrustes? Tidak bagus untuk bisnis. Nah, 'Crusty', semua orang bisa mengucapkannya."

"Kau benar. Kedengarannya lebih enak."

Matanya berbinar. "Menurutmu begitu?"

"Oh, benar sekali," kataku. "Dan pengerjaan tempat tidur ini? Bagus sekali!"

Dia menyeringai lebar, tetapi jarinya di leherku tidak melonggar. "Aku selalu bilang begitu kepada semua pelanggan. Setiap kali. Tak ada yang mau repot-repot memerhatikan pengerjaannya. Berapa banyak kepala ranjang berisi Lampu Lava yang pernah kaulihat?"

"Nggak terlalu banyak."

"Benar sekali!"

"Percy!" teriak Annabeth. "Kau mau apa?"

"Jangan hiraukan dia,” kataku kepada Procrustes. "Dia memang merepotkan."

Si raksasa tertawa. "Semua pelangganku memang begitu. Tak ada yang tepat 180 cm. Tak ada tenggang rasa. Lalu, mereka malah mengeluh soal pencocokan itu."

"Apa yang kau lakukan kalau pelanggan lebih tinggi daripada 180 cm?"

"Oh, itu sering terjadi. Perbaikannya mudah." Dia melepaskan leherku, tetapi sebelum aku sempat bereaksi, dia meraih ke belakang meja kasir di dekat situ dan mengeluarkan kapak kuningan raksasa bermata dua.

Katanya, "Aku tinggal meletakkan subjek di tengah-tengah dan memotong apa pun yang menjuntai di kedua ujung.

"Ah," kataku, sambil menelan keras. "Masuk akal."

"Aku senang bisa bertemu pelanggan yang cerdas!"

Tali itu sekarang sudah benar-benar meregangkan teman-temanku. Annabeth memucat. Grover membuat suara-suara menggelegak, seperti angsa yang dicekik.

"Jadi, Crusty ..." kataku, berusaha meringankan suara. Aku melirik label harga di kasur Bulan Madu Istimewa yang berbentuk hati. "Apakah yang ini benar-benar memiliki stabilisator dinamis yang menghentikan gerak ombak?"

"Benar. Coba saja."

"Iya, mungkin aku akan coba. Tapi, apakah tetap berfungsi untuk orang besar sepertimu? Tak ada ombak sama sekali?"

"Dijamin."

"Masa, sih."

"Betulan."

"Coba tunjukkan."

Dia duduk di tempat tidur itu dengan bersemangat, sambil menepuk kasurnya. "Tak ada gelombang. Lihat kan?"

Aku menjentikkan jari. "Ergo." Tali membelit tubuh Crusty dan meratakannya pada kasur.

"Hei!" teriaknya.

"Letakkan dia di tengah-tengah," kataku. Tali itu menyesuaikan diri atas perintahku. Seluruh kepala Crusty menonjol di atas. Kakinya menjuntai di bawah.

"Jangan!" katanya. "Tunggu! Ini cuma peragaan."

Aku membuka tutup Riptide. "Sedikit penyesuaian..."

Aku tak ragu soal apa yang akan kulakukan. Andai Crusty itu manusia, toh aku tak bisa melukainya. Kalau dia memang monster, dia layak dijadikan debu beberapa lama.

"Tawar-menawarmu hebat," katanya. "Kuberi diskon tiga puluh persen untuk beberapa model pajangan!"

"Kurasa akan kumulai di atas." Aku mengangkat pedang.

"Tak perlu uang muka! Tak ada bunga selama enam bulan!"

Aku mengayunkan pedang. Crusty berhenti membuat tawaran. Aku memotong tali di kasur-kasur lain. Annabeth dan Grover berdiri, mengerang dan meringis dan mengutukku banyak-banyak.

"Sepertinya kau tambah jangkung," kataku.

"Lucu sekali," kata Annabeth. "Lain kali, lebih cepatlah."

Aku melihat papan pengumuman di balik meja kasir Crusty. Ada iklan untuk Jasa Pengantaran Hermes, dan satu lagi untuk Kompendium Monster di Area LA. yang Serba-Baru —"Satu-satunya Buku Alamat Monster yang Anda perlukan!"

Di bawah itu, brosur Jingga cerah untuk Studio Rekaman DOA, menawarkan komisi untuk jiwa pahlawan. "Kami selalu mencari bakat baru!" Alamat DOA tercantum tepat di bawahnya, disertai peta.

"Ayo," kataku kepada teman-teman.

"Tunggu sebentar dong," keluh Grover. "Kami kan hampir diregangkan sampai mati!"

"Kalau begitu, kau siap untuk Dunia Bawah," kataku. "Cuma satu blok dari sini."

18. Annabeth Pakar Sekolah Kepatuhan

Kami berdiri dalam bayangan Valencia Boulevard, menatap huruf-huruf emas yang diukir dalam marmer hitam: STUDIO REKAMAN DOA.

Di bawahnya, distensil pada pintu kaca: DILARANG MEMINTA SUMBANGAN. DILARANG BUANG SAMPAH. MAKHLUK HIDUP DILARANG MASUK.

Sudah hampir tengah malam, tetapi lobi terang-benderang dan penuh orang. Di balik meja satpam, duduk seorang satpam tangguh yang memakai kacamata hitam dan earpiece.

Aku menoleh kepada teman-temanku. "Oke. Kalian ingat rencananya."

"Rencana," kata Grover sambil menelan ludah. "Ya. Aku suka rencana itu."

Annabeth berkata, "Bagaimana kalau rencananya gagal?"

"Jangan berpikiran negatif."

"Baik," katanya. "Kita mau memasuki Negeri Orang Mati, tapi aku nggak boleh berpikiran negatif."

Aku mengambil mutiara dari saku, tiga bola warna susu pemberian Nereid di Santa Monica. Mutiara itu sepertinya tak akan memberi bantuan yang bagus, kalau terjadi apa-apa.

Annabeth meletakkan tangan di bahuku. "Maaf, Percy. Kau benar, kita pasti berhasil. Segalanya akan lancar." Dia menyikut Grover.

"Iya, betul!" dia menceletuk. "Kita sudah sampai sejauh ini. Kita pasti berhasil mencari petir asali dan menyelamatkan ibumu. Enteng."

Aku memandang mereka berdua, dan merasa sangat bersyukur. Baru saja beberapa menit sebelumnya aku hampir membiarkan mereka teregang sampai mati pada kasur air mewah, tetapi sekarang mereka malah berusaha tabah demi aku, berusaha menghiburku. Aku memasukkan kembali mutiara itu ke dalam saku.

"Mari kita menghajar Dunia Bawah."

Ketika masuk ke lobi DOA. Musik instrumental lembut beralun dari speaker tersembunyi. Karpet dan dinding berwarna abu-abu baja. Kaktus pensil tumbuh di pojok-pojok seperti tulang kerangka tangan. Perabotnya terbuat dari kulit hitam, dan setiap tempat sudah diduduki. Ada orang yang duduk di sofa, ada yang berdiri, ada yang menatap keluar jendela, atau menunggu lift. Tak ada yang bergerak, atau berbicara, atau melakukan apa pun. Dari sudut mata, aku bisa melihat mereka semua dengan baik, tetapi jika aku berfokus hanya pada salah satu, mereka mulai tampak... tembus pandang. Aku bisa melihat menembus tubuh mereka.

Meja satpam itu berupa podium tinggi, jadi kami harus mendongak untuk melihat si satpam. Dia jangkung dan anggun, kulitnya berwarna cokelat dan rambutnya yang berwarna pirang putih dipotong model tentara. Dia mengenakan kacamata hitam cangkang kura-kura dan setelan jas sutra Italia yang serasi dengan rambutnya. Mawar hitam disematkan di kelepak di bawah kartu nama perak.

Aku membaca kartu nama itu, lalu menatapnya bingung. "Namamu Chiron?"

Dia membungkuk di atas meja. Aku tak bisa melihat apa-apa di kacamatanya kecuali bayanganku sendiri, tetapi senyumnya manis dan dingin, seperti senyum ular piton, sesaat sebelum ia memakanmu.

"Bocah yang manis." Dia memiliki aksen aneh—aksen Inggris mungkin, tetapi seolah-olah juga dia belajar bahasa Inggris sebagai bahasa asing. "Katakan, sobat, apakah aku mirip centaurus?"

"Ti-tidak."

"Pak," tambahnya mulus.

"Pak," kataku.

Dia menjepit kartu nama itu dan menunjuk huruf-hurufnya. "Kau bisa membaca ini, Bung? Tulisannya C-H-A-I-R-0-N. Ikuti aku, baca: KE-RON."

"Charon."

"Luar biasa! Sekarang: Pak Charon."

"Pak Charon," kataku.

"Bagus."

Dia bersandar. "Aku benci disangka manusia-kuda tua itu. Nah, ada yang bisa kubantu, anak-anak mati?"

Pertanyaannya menghantam perutku seperti lemparan bola. Aku menoleh kepada Annabeth, meminta bantuan.

"Kami ingin ke Dunia Bawah," katanya.

Mulut Charon berkedut. "Wah, baru sekarang ada yang begini."

"Oh ya?" tanya Annabeth.

"Jujur dan langsung. Tidak menjerit-jerit. Tidak berkata 'Ini pasti keliru, Pak Charon,'" Dia mengamati kami. "Bagaimana cara kalian mati?"

Aku menyikut Grover.

"Oh," katanya. "Eh... tenggelam... di bak mandi."

"Kalian bertiga?" tanya Charon.

Kami mengangguk. "Bak mandinya besar sekali."

Charon tampak sedikit terkesan. "Saya kira, kalian pasti belum punya koin untuk tarif penumpang. Biasanya, untuk orang dewasa, misalnya, aku bisa menagih kartu kredit American Express, atau menambahkan ongkos feri ke tagihan kabel terakhir. Tapi untuk anak-anak... sayangnya, kalian biasanya tidak siap mati. Sepertinya kalian harus duduk selama beberapa abad."

"Kami punya koin kok." Aku meletakkan tiga drachma emas di meja, sebagian uang yang kutemukan di meja kantor Crusty.

"Wah..." Charon membasahi bibir. "Drachma betulan. Drachma emas betulan. Sudah lama aku tidak melihat ini.”

Jemarinya melayang tamak di atas koin. Kami nyaris berhasil. Lalu, Charon menatapku. Tatapan dingin di belakang kacamata itu seolah-olah mengebor lubang di dadaku.

"Tunggu," katanya. "Kau tak bisa membaca namaku dengan benar. Kau disleksia, Nak?"

"Tidak," kataku. "Aku sudah mati."

Charon memajukan tubuh dan mengendus. "Kau belum mati. Semestinya sudah kuduga. Kau anak dewa."

"Kami harus ke Dunia Bawah," aku bersikeras.

Charon menggeram, jauh di dalam tenggorokannya. Langsung saja semua orang di ruang tunggu itu bangkit dan mulai mondar-mandir, gelisah, menyalakan rokok, menyugar rambut, atau memeriksa arloji.

"Pergilah kalian, selagi masih bisa," kata Charon kepada kami. "Biar yang ini kuambil, dan aku akan melupakan pernah melihatmu."

Dia bergerak meraih koin itu, tetapi aku menyambarnya kembali. "Tak ada layanan, tak ada tip."

Aku berusaha terdengar lebih pemberani daripada yang kurasakan. Charon menggeram lagi—suara yang berat dan membekukan darah. Arwah orang mati mulai menggedor-gedor pintu lift.

"Sayang," aku menghela napas. "Padahal persediaan koinnya masih banyak."

Aku mengangkat satu kantong penuh dari simpanan Crusty. Aku mengeluarkan segenggam drachma dan membiarkan koin itu terjatuh melalui jemariku. Geraman Charon berubah menjadi bunyi yang lebih mirip dengkuran singa.

"Kau pikir saya bisa dibeli, anak dewa? Eh ... sekadar ingin tahu, berapa banyak isi di kantong itu?"

"Banyak," kataku. "Pasti gajimu dari Hades tidak cukup untuk kerja keras seperti ini."

"Soal gaji sih belum seberapa. Coba saja kau urus arwah-arwah ini sepanjang hari. Selalu berisik, 'Tolong jangan biarkan aku mati' atau Tolong bantu aku menyeberang gratis.' Gajiku tak pernah dinaikkan selama tiga ribu tahun. Kau pikir setelan seperti ini murah?"

"Bapak layak mendapatkan lebih," aku sepakat. "Sedikit penghargaan. Penghormatan. Gaji tinggi."

Dengan setiap kata, aku menumpuk satu koin emas lagi di meja.

Charon melirik jas sutra Italia-nya, seolah-olah membayangkan dirinya memakai setelan yang lebih bagus lagi. "Harus kubilang, Nak, bicaramu sekarang sedikit masuk akal. Sedikit."

Aku menumpuk beberapa koin lagi. "Saya bisa menyinggung soal kenaikan gaji saat saya berbicara dengan Hades."

Dia menghela napas. "Perahunya kebetulan hampir penuh. Biarlah kutambahkan kalian bertiga supaya bisa berangkat."

Dia berdiri, meraup uang kami, dan berkata, "Ikut aku."

Kami menyeruak di antara kerumunan arwah yang menunggu, yang mulai menggapai-gapai pakaian kami seperti angin, suara mereka membisikkan hal-hal yang tak bisa kupahami.

Charon mendorong mereka ke samping, menggerutu, "Benalu."

Dia menemani kami ke lift, yang sudah dipenuhi jiwa orang mati, masing-masing memegang karcis hijau. Charon menyambar dua arwah yang berusaha naik bersama kami dan mendorong mereka kembali ke lobi.

"Bagus. Nah, jangan macam-macam selama aku pergi," katanya kepada ruang tunggu. "Dan kalau ada yang mengubah setelan radio dari stasiun easy-listening lagi, akan kupastikan kalian berada di sini seribu tahun lagi. Mengerti?"

Dia menutup pintu. Dia memasukkan kartu kunci di celah di panel lift dan kami mulai turun.

"Apa yang terjadi pada arwah yang menunggu di lobi?" tanya Annabeth.

"Tak ada," kata Charon.

"Sampai berapa lama?" "Selamanya, atau sampai aku ingin bermurah hati."

"Oh," kata Annabeth. "Itu... adil."

Charon mengangkat alis. "Siapa bilang kematian itu adil, Nona Muda? Tunggu saja sampai giliranmu tiba. Kalian pasti segera mati, kalau menuju tempat yang kalian tuju."

"Kami akan keluar hidup-hidup," kataku.

"Ha."

Aku tiba-tiba merasa pusing. Kami sudah tidak lagi bergerak turun, tetapi maju. Udaranya menjadi berkabut. Arwah-arwah di sekitarku mulai berubah. Pakaian modern mereka berkedip-kedip, berubah menjadi jubah bertudung warna abu-abu. Lantai lift mulai berayun.

Aku mengerjap-ngerjapkan mata. Saat aku membuka mata, setelan Italia warna krem milik Charon sudah berganti menjadi jubah hitam panjang. Kacamata cangkang kura-kura hilang. Di tempat yang semestinya ditempati matanya, hanya ada lubang kosong—seperti mata Ares, tetapi mata Charon benar-benar gelap, penuh dengan malam, kematian, dan keputusasaan.

Dia melihatku menatap dan berkata, "Apa?"

"Tidak," aku berhasil berkata. Aku merasa dia menyeringai, tetapi tidak persis itu. Daging wajahnya menjadi tembus pandang, sehingga tengkoraknya terlihat. Lantai terus berayun.

Kata Grover, "Kayaknya aku mulai mabuk laut."

Ketika aku berkedip lagi, lift itu bukan lift lagi. Kami berdiri di atas perahu kayu. Charon sedang bergalah, membawa kami menyeberangi sungai gelap yang berminyak, berputar-putar dengan tulang, ikan mati, dan hal-hal lain yang lebih aneh—boneka plastik, bunga anyelir yang hancur, ijazah bertepi emas yang basah.

"Demi Sungai Styx," gumam Annabeth. "Sungai ini begitu ...."

"Tercemar," kata Charon. "Selama ribuan tahun, kalian manusia telah melemparkan segala hal ke sungai ini saat menyeberang—harapan, impian, hasrat yang tak pernah terwujud. Pengelolaan limbah yang tak bertanggung jawab, menurutku sih."

Kabut mengepul dari air kotor. Di atas kami atap stalaktit nyaris tak terlihat dalam kekelaman. Di depan, pesisir seberang berkilauan dengan cahaya kehijauan, warna racun.

Panik mencekik tenggorokanku. Sedang apa aku di sini? Orang-orang di sekitarku ... mereka sudah mati. Annabeth menggenggam tanganku. Dalam situasi biasa, ini pasti membuatku jengah, tetapi aku memahami perasaan gadis itu. Dia ingin diyakinkan bahwa ada orang lain yang hidup di perahu ini.

Aku mendapati diriku menggumamkan doa, meskipun aku tak yakin berdoa kepada siapa. Di bawah sini, hanya satu dewa yang penting, dan untuk menghadapi dialah aku datang.

Tepi pantai Dunia Bawah mulai tampak. Bebatuan bergerigi dan pasir gunung api hitam membentang ke dalam pulau sekitar seratus meter, hingga ke dasar sebuah tembok batu tinggi, yang membentang ke kedua arah, sepanjang yang terlihat.

Sebuah bunyi datang dari suatu tempat di dekat situ dalam kekelaman hijau, menggaung dari bebatuan—lolongan seekor hewan besar.

"Si Tua Bermuka Tiga sedang lapar," kata Charon. Senyumnya menjadi tengkorak dalam cahaya kehijauan. "Nasib sial buat kalian, anak-anak dewa."

Dasar perahu kami menyusup ke atas pasir hitam. Kaum mati mulai turun. Seorang wanita memegang tangan anak perempuan. Sepasang kakek dan nenek tertatih-tatih sambil bertautan lengan. Seorang bocah, yang tidak lebih tua dariku, menyeret kaki tanpa suara di dalam jubah kelabunya.

Kata Charon, "Aku ingin mengucapkan semoga beruntung, Bung, tapi di sini tidak ada kemujuran. Ingat, jangan lupa menyinggung kenaikan gajiku."

Dia memasukkan koin emas kami ke dompetnya sambil dihitung, lalu mengambil galahnya. Dia menyanyikan lagu yang mirip-mirip lagu Barry Manilow, sambil mengayuh perahu kosong itu kembali menyeberangi sungai.

Kami mengikuti para arwah di jalan yang sering dilalui itu.

Aku tak yakin apa yang kuharapkan—Gerbang Mutiara, atau pintu besi yang hitam dan besar, atau sesuatu. Namun, pintu masuk ke Dunia Bawah seperti perpaduan antara keamanan bandara dan pintu tol.

Ada tiga pintu masuk di bawah sebuah gerbang hitam raksasa yang bertanda ANDA MEMASUKI KAWASAN EREBUS. Setiap pintu masuk memiliki pintu detektor logam, yang di atasnya dipasangi kamera keamanan. Setelahnya, ada kios-kios tol yang dijaga oleh siluman berjubah hitam seperti Charon.

Lolongan hewan kelaparan itu sekarang sangat lantang, dan aku tak bisa melihat dari mana asalnya. Si anjing berkepala tiga, Cerberus, yang semestinya menjaga pintu Hades, tidak terlihat di mana pun.

Kaum mati mengantre dalam tiga baris, dua bertandakan ADA PETUGAS, dan satu yang bertandakan KEMATIAN MUDAH. Antrean KEMATIAN MUDAH bergerak dengan cepat. Yang dua lagi merayap.

"Bagaimana menurutmu?" tanyaku kepada Annabeth.

"Antrean yang lancar pasti langsung menuju Padang Asphodel," katanya. "Tanpa sanggahan. Mereka tak ingin mengambil risiko menghadapi penghakiman dari pengadilan, karena mungkin saja keputusannya tidak memihak mereka."

"Ada pengadilan untuk orang mati?"

"Ya. Tiga hakim. Pemegang jabatan itu berganti-ganti. Raja Minos, Thomas Jefferson, Shakespeare—orang-orang seperti itu. Kadang-kadang mereka melihat suatu kehidupan dan memutuskan bahwa orang itu layak diberi hadiah istimewa—Padang Elysium. Kadang-kadang mereka memutuskan hukuman. Tetapi, sebagian besar orang, ya, mereka cuma menjalani hidup. Tak ada yang istimewa, baik ataupun buruk. Jadi, mereka masuk ke Padang Asphodel."

"Lalu, melakukan apa?" Kata Grover,

"Bayangkan berdiri di ladang gandum di Kansas. Selamanya."

"Gawat," kataku.

"Tidak segawat itu," gumam Grover. "Lihat."

Beberapa siluman berjubah hitam menarik seorang arwah ke samping dan menggeledahnya di meja keamanan. Wajah orang mati itu tampak tak asing.

"Itu pendeta yang masuk berita, kan?" tanya Grover.

"Oh, iya." Sekarang aku ingat. Kami pernah melihatnya di televisi beberapa kali di asrama Akademi Yancy. Dia penginjil televisi dari New York utara yang menyebalkan, menggalang dana jutaan dolar untuk rumah-rumah yatim piatu, lalu tertangkap memakai uang itu untuk barang-barang di rumah mewahnya, seperti dudukan toilet berlapis emas, dan lapangan golf mini dalam ruangan. Dia mati saat dikejar polisi, ketika "Lamborghini untuk Tuhan"-nya terjun ke jurang.

Kataku," Apa yang mereka lakukan padanya?"

"Hukuman khusus dari Hades," tebak Grover. "Orang yang benar-benar jahat mendapat perhatian pribadi darinya begitu mereka tiba. Para Erin—Makhluk Baik akan menyiapkan siksa abadi baginya."

Membayangkan Erinyes membuatku menggigil. Kusadari bahwa aku sedang berada di wilayah mereka sekarang. Bu Dodds tua akan menjilat-jilat bibir dengan bersemangat.

"Tapi, kalau dia pendeta," kataku, "dan dia meyakini neraka yang berbeda.”

Grover mengangkat bahu. "Siapa yang tahu, apakah dia melihat tempat ini seperti yang kita lihat sekarang. Manusia melihat apa yang mereka ingin lihat. Kalian sangat keras kepala—eh, gigih, dalam hal itu."

Kami semakin mendekati gerbang. Lolongan itu kini begitu keras sehingga mengguncang tanah di bahwa kakiku, tetapi aku masih belum bisa menyimpulkan dari mana asalnya. Lalu, sekitar lima belas meter di depan kami, kabut hijau bergetar. Di tempat jalan itu bercabang menjadi tiga, berdirilah seekor monster raksasa yang tampak berbayang.

Tadi aku tak melihatnya karena monster itu setengah tembus-pandang, seperti kaum mati. Kalau tidak bergerak, makhluk itu menyatu dengan apa pun yang berada di belakangnya. Hanya mata dan giginya yang tampak padat. Dan mata itu menatap lurus-lurus kepadaku.

Rahangku membuka. Aku cuma bisa berkata, "Itu anjing Rottweiler."

Sejak dulu aku membayangkan Cerberus sebagai anjing mastiff besar berbulu hitam. Tapi, dia jelas-jelas murni Rottweiler, tetapi tentu saja ukurannya dua kali lipat mamut, nyaris tembus pandang, dan memiliki tiga kepala.

Kaum mati berjalan tepat ke arahnya—tidak takut sama sekali. Baris-baris ADA PETUGAS bercabang di sebelah kiri dan kanan anjing itu. Arwah KEMATIAN MUDAH berjalan tepat di antara kaki depannya dan di bawah perutnya, yang dapat mereka lakukan tanpa membungkuk sedikit pun.

"Aku mulai bisa melihatnya dengan lebih jelas," gumamku. "Kenapa ya?"

"Kurasa ..." Annabeth membasahi bibir. "Aku khawatir, itu karena kita semakin dekat dengan kematian."

Kepala tengah si anjing menjulur ke arah kami. Ia mengendus udara dan menggeram.

"Ia bisa mencium bau orang hidup," kataku.

"Tapi, nggak masalah," kata Grover, gemetar di sebelahku. "Karena kita punya rencana."

"Benar," kata Annabeth. Aku belum pernah mendengar suaranya begitu lirih. "Rencana."

Kami bergerak ke arah monster itu.

Si kepala tengah menggeram kepada kami, lalu menggonggong begitu lantang sehingga bola mataku bergetar.

"Kau bisa memahami dia?" tanyaku kepada Grover.

"Bisa sekali," katanya. "Aku bisa mengerti."

"Apa katanya?"

"Menurutku, tak ada kata empat-huruf dalam bahasa manusia yang bisa dijadikan terjemahan perkataannya."

Aku mengambil sebatang tongkat besar dari ransel— tiang tempat tidur yang kupatahkan dari kasur Deluxe Safari Crusty. Aku mengangkatnya, dan berusaha memancarkan bayangan anjing yang menyenangkan ke arah Cerberus—iklan makanan anjing, anak anjing kecil yang lucu-lucu, hidran kebakaran. Aku berusaha tersenyum, seolah-olah aku belum akan mati sebentar lagi.

"Hei, Sobat Besar," panggilku. "Pasti kau jarang diajak bermain."

"GRRRRRRRRRR!"

"Anjing pintar," kataku lemah. Aku mengayun-ayunkan tongkat itu. Kepala tengah anjing itu mengikuti gerakannya. Kedua kepala yang lain memasang mata kepadaku, tak menghiraukan para arwah sama sekali. Aku mendapat perhatian penuh Cerberus. Aku tak yakin itu hal yang bagus.

"Ambil!" Aku melemparkan tongkat itu ke dalam gelap, lemparan yang kuat dan jauh. Kudengar tongkat itu tercemplung ke dalam Sungai Styx. Cerberus mendelik kepadaku, tak terkesan. Matanya bengis dan dingin. Gagal deh rencananya.

Cerberus kini membuat geraman jenis baru, lebih dalam di ketiga tenggorokannya.

"Eh," kata Grover. "Percy?"

"Ya?"

"Barangkali kau ingin tahu."

"Ya?"

"Cerberus? Dia bilang kita punya waktu sepuluh detik untuk berdoa kepada dewa pilihan kita. Setelah itu ... yah ... dia lapar."

"Tunggul" kata Annabeth. Dia mulai menggeledah ranselnya.

Gawat, pikirku.

"Lima detik," kata Grover. "Kita lari saja sekarang?"

Annabeth mengeluarkan bola karet merah seukuran jeruk bali. Bola itu bertulisan WATERLAND, DENVER, CO.

Sebelum aku sempat menghentikannya, dia mengangkat bola itu dan berderap lurus ke Cerberus. Dia berteriak, "Lihat bola ini? Kau mau bolanya, Cerberus? Duduk!"

Cerberus tampak tertegun, sama seperti kami. Ketiga kepalanya ditelengkan. Enam lubang hidung melebar.

"Duduk!" seru Annabeth lagi.

Aku yakin bahwa sebentar lagi dia akan menjadi biskuit anjing terbesar di dunia. Namun, Cerberus malah menjilat tiga pasang bibirnya, menurunkan kaki belakang, dan duduk, langsung saja meremukkan belasan arwah yang sedang lewat di kolong tubuhnya dalam barisan KEMATIAN MUDAH. Arwah-arwah mendesis saat tubuhnya membuyar, seperti udara yang keluar dari ban.

Annabeth berkata, "Anjing pintar!" Dia melemparkan bola itu kepada Cerberus.

Anjing itu menangkapnya dengan mulut tengah. Bola itu agak terlalu kecil untuk dikunyahnya, dan kedua kepala lain mulai menggigit-gigit ke arah si kepala tengah, berusaha mendapatkan mainan baru itu.

"Lepaskan!" perintah Annabeth.

Kepala-kepala Cerberus berhenti berkelahi dan menatapnya. Bola itu terselip antara dua giginya seperti sepotong permen karet kecil. Dia merintih keras dengan nada ketakutan, lalu melepaskan bola itu, yang sekarang berlendir dan nyaris tergigit jadi dua, di kaki Annabeth.

"Anjing pintar." Dia memungut bola itu, tak memedulikan ludah si monster yang mengotorinya. Dia menoleh kepada kami. "Pergi sekarang. Baris KEMATIAN MUDAH—lebih cepat."

Kataku, "Tapi—"

"Sekarang!" Perintahnya, dengan nada seperti yang digunakannya pada si anjing.

Aku dan Grover beringsut maju dengan hati-hati. Cerberus mulai menggeram. "Tetap di tempat!" perintah Annabeth kepada si monster. "Kalau kau mau bola, tetap di tempat!"

Cerberus merintih, tetapi dia tetap di tempat.

"Kau bagaimana?" tanyaku pada Annabeth saat kami melewatinya.

"Aku tahu harus bagaimana, Percy," gumamnya. "Setidaknya, aku cukup yakin ...."

Aku dan Grover berjalan di antara kaki monster itu.

Tolong, Annabeth, aku berdoa. Jangan menyuruhnya duduk lagi. Kami berhasil lewat. Cerberus tetap saja menyeramkannya meskipun dilihat dari belakang.

Kata Annabeth, "Anjing baik!" Dia mengangkat bola merah yang koyak itu, dan mungkin menyimpulkan hal yang sepertiku—jika dia memberi hadiah kepada Cerberus, tak ada yang tersisa untuk membuat tipuan lain. Annabeth tetap melempar bola itu. Mulut kiri si monster segera menangkapnya, dan langsung diserang oleh kepala tengah, sementara kepala kanan mengerang protes.

Sementara perhatian si monster tersita, Annabeth berjalan cepat di kolong perutnya dan bergabung dengan kami di detektor logam.

"Kok kau bisa begitu sih?" tanyaku kagum.

"Sekolah kepatuhan," katanya terengah-engah, dan aku kaget melihat ada air di matanya. "Waktu aku masih kecil, di rumah ayahku, kami punya seekor Doberman ...."

"Itu nggak penting," kata Grover sambil menyentakkan kemejaku. "Ayo!"

Kami baru saja akan melesat di barisan KEMATIAN MUDAH ketika Cerberus mengerang dengan mengenaskan dari ketiga mulutnya. Annabeth berhenti. Dia berbalik untuk menghadap anjing itu, yang telah berputar 180 derajat untuk melihat kami. Cerberus terengah-engah penuh harap, bola merahnya yang kecil itu tercabik-cabik dalam genangan air liur di kakinya.

"Anjing baik," kata Annabeth, tetapi suaranya terdengar sedih dan ragu. Kepala-kepala monster itu dimiringkan, seolah-olah mencemaskan Annabeth.

"Nanti kubawakan bola lagi," janji Annabeth samar. "Kau mau, kan?"

Monster itu merintih. Aku tidak perlu menguasai bahasa anjing untuk mengetahui bahwa Cerberus masih menunggu bola itu. "Anjing pintar. Aku akan segera berkunjung lagi. Aku—aku berjanji."

Annabeth menoleh kepada kami. "Ayo."

Aku dan Grover melewati detektor logam, yang langsung saja menjerit dan menyalakan lampu merah yang berdenyar-denyar "Benda tanpa izin! Sihir terdeteksi!"

Cerberus mulai menggonggong.

Kami cepat-cepat melewati gerbang KEMATIAN MUDAH, yang memicu alarm lain lagi, dan berlari ke Dunia Bawah.

Beberapa menit kemudian, kami sedang bersembunyi di atas batang busuk sebuah pohon hitam raksasa, kehabisan napas, sementara siluman keamanan berlari lewat, berteriak meminta bala bantuan dari para Erinyes.

Grover menggumam, "Nah, Percy, apa pelajaran kita hari ini?"

"Bahwa anjing berkepala tiga lebih suka bola karet merah daripada tongkat?"

"Bukan," kataku kepadanya. "Kita belajar bahwa rencanamu benar-benar menggigit!"

Aku tidak yakin soal itu. Kupikir, mungkin aku dan Annabeth memiliki pikiran yang benar. Bahkan di sini, di Dunia Bawah, semua makhluk—bahkan monster— memerlukan sedikit perhatian sekali-sekali.

Aku memikirkan hal itu sambil menunggu para siluman lewat. Aku berpura-pura tak melihat Annabeth mengusap air mata dari pipinya saat dia mendengar lolongan sedih Cerberus di kejauhan, merindukan teman barunya.

19. Kami Mengetahui Keadaan Sesungguhnya, Kira-Kira

Bayangkan keramaian penonton konser terbesar yang pernah kaulihat, lapangan stadion yang disesaki jutaan penggemar.

Sekarang bayangkan lapangan yang berjuta kali lipat lebih besar, dijejali dengan orang, dan bayangkan listrik sedang mati, dan tak ada bunyi, tak ada cahaya, tak ada bola pantai yang terambul-ambul di antara keramaian. Telah terjadi peristiwa yang tragis di belakang panggung. Kelompok-kelompok orang berbisik-bisik hanya luntang-lantung dalam bayangan, menunggu konser yang tak akan pernah dimulai.

Kalau bisa membayangkan itu, kau mengetahui kira-kira seperti apa Padang Asphodel itu. Rumput hitam telah diinjak-injak oleh jutaan kaki mati. Angin hangat dan lembab bertiup seperti bau rawa-rawa. Pohon-pohon hitam—kata Grover, itu pohon poplar—tumbuh berkelompok di sana-sini.

Langit-langit gua sangat tinggi di atas kami, mirip kumpulan awan badai, tetapi ada stalaktitnya, yang bersinar abu-abu samar dan tampak sangat runcing. Aku berusaha tidak membayangkan bahwa stalaktit itu bisa jatuh menimpa kami kapan saja, tetapi di seluruh lapangan memang ada beberapa yang telah jatuh dan menancap di rumput hitam. Barangkali kaum mati tidak perlu mencemaskan bahaya-bahaya kecil seperti tertusuk stalaktit seukuran roket peluncur.

Aku, Annabeth, dan Grover berusaha menyatu dengan orang ramai, memasang mata kalau-kalau ada siluman satpam. Mau tak mau aku mencari wajah yang kukenal di antara para arwah Asphodel, tetapi orang mati sulit dilihat. Wajahnya bergetar. Semuanya tampak sedikit marah atau bingung. Mereka mendatangi kami untuk berbicara, tetapi suaranya terdengar seperti ocehan, seperti kelelawar terbang. Begitu dia menyadari kami tidak memahami perkataannya, dia merengut dan pergi.

Kaum mati tidak menakutkan. Hanya menyedihkan.

Kami berjalan perlahan-lahan, mengikut baris pendatang baru yang berkelok-kelok dari gerbang utama menuju paviliun bertenda hitam yang dipasangi bendera yang bertulisan: PENGHAKIMAN UNTUK ELYSIUM DAN KUTUKAN ABADI Selamat Datang, Orang Mati Baru!

Dari belakang tenda, keluar dua baris yang jauh lebih kecil.

Di sebelah kiri, arwah yang diapit satpam siluman digiring menuruni jalan berbatu-batu menuju Padang Hukuman yang berpendar dan berasap di kejauhan, tanah gersang luas yang retak-retak, berisi sungai lava dan ladang ranjau dan berkilometer-kilometer kawat berduri yang memisahkan berbagai daerah siksaan. Dari jauh pun, terlihat orang dikejar-kejar anjing neraka, dibakar di tiang, dipaksa berlari telanjang melalui kumpulan kaktus, atau mendengarkan musik opera. Aku dapat melihat sebuah bukit kecil, dengan sosok Sisyphus yang seukuran semut, berusaha mendorong batu besar ke puncak. Dan aku juga melihat banyak siksaan yang lebih buruk—hal-hal yang tak ingin kugambarkan.

Barisan yang keluar di sebelah kanan paviliun penghakiman jauh lebih baik. Yang ini turun menuju sebuah lembah kecil yang dikelilingi tembok—komunitas kompleks perumahan, yang tampaknya merupakan satu-satunya bagian yang menyenangkan di Dunia Bawah. Di balik gerbang satpam, ada beberapa kelompok rumah indah dari setiap zaman dalam sejarah, vila Romawi dan istana abad pertengahan, dan rumah besar bergaya Victoria. Bunga perak dan emas bermekaran di pekarangan. Rumput bergelombang dalam warna-warni pelangi.

Terdengar tawa dan tercium bau masakan daging panggang.

Elysium.

Di tengah-tengah lembah itu terdapat sebuah danau biru berkilauan, serta tiga pulau kecil seperti sanggraloka liburan di Kepulauan Bahama. Kepulauan Kaum Diberkahi, untuk orang-orang yang telah memilih dilahirkan kembali tiga kali, dan tiga kali mencapai Elysium. Aku langsung tahu bahwa di sanalah aku ingin tinggal saat aku mati nanti.

"Itulah inti semua ini,” kata Annabeth, seolah-olah membaca pikiranku. "Itulah tempat bagi pahlawan."

Namun, aku memikirkan betapa sedikitnya orang yang masuk ke Elysium, betapa kecilnya jika dibandingkan dengan Padang Asphodel atau bahkan Padang Hukuman. Begitu sedikit orang yang menjalani hidupnya dengan baik. Bikin depresi saja.

Kami meninggalkan paviliun penghakiman dan semakin dalam memasuki Padang Asphodel. Suasana semakin gelap. Warna-warni pudar dari pakaian kami. Kerumunan arwah yang mengoceh mulai menipis.

Setelah berjalan beberapa kilometer, kami mulai mendengar pekik yang tak asing lagi di kejauhan. Membayangi cakrawala adalah istana dari obsidian hitam berkilauan. Di atas tembok, berputaran tiga makhluk hitam seperti kelelawar: Erinyes. Aku mendapat perasaan bahwa mereka menanti kami.

"Sekarang sudah terlambat untuk berbalik, ya?" kata Grover penuh harap.

"Kita akan baik-baik saja." Aku berusaha terdengar percaya diri.

"Mungkin sebaiknya kita mencari di tempat lain dulu," usul Grover. "Misalnya, Elysium.”

"Ayo, anak kambing," Annabeth memegang lengan Grover.

Grover memekik. Sepatunya memunculkan sayap dari kakinya melesat ke depan, menariknya dari Annabeth. Dia terjengkang di rumput.

"Grover," tegur Annabeth. "Jangan main-main."

"Tapi aku nggak—" Dia memekik lagi.

Sepatunya mengepak-ngepak, seolah-olah sudah gila. Mereka naik dari atas tanah dan mulai menyeretnya menjauhi kami.

"Maia!" dia berteriak, tetapi kata sihir itu tampaknya tidak berpengaruh. "Maia dong! Polisi! Tolong!"

Aku pulih dari rasa tercengang dan meraih tangan Grover, tetapi terlambat. Dia semakin cepat, menuruni bukit seperti dalam kereta luncur.

Kami berlari mengejarnya. Annabeth berteriak, "Buka tali sepatunya!"

Gagasan yang cerdas, tetapi sepertinya tidak mudah dilakukan, kalau sepatumu sedang menarikmu dengan kecepatan penuh. Grover berusaha duduk, tetapi dia tak berhasil mendekati tali sepatu. Kami terus mengejarnya, berusaha tetap melihatnya sementara dia melaju di antara kaki para arwah yang mengoceh kepadanya dengan sebal.

Aku yakin Grover akan menerjang gerbang istana Hades, tetapi sepatunya membelok ke kanan dengan tajam dan menyeretnya ke arah yang berlawanan.

Turunan semakin terjal. Grover semakin melesat. Aku dan Annabeth harus berlari untuk mengejarnya. Tembok gua menyempit di kedua sisi, dan kusadari bahwa kami memasuki semacam terowongan samping. Sekarang tidak ada rumput hitam atau pohon, hanya ada batu di bawah kaki, dan cahaya temaram dari stalaktit di atas.

"Grover!" teriakku, suaraku menggema. "Berpegangan pada sesuatu!"

"Apa?" dia balas berteriak.

Dia menyambar kerikil, tetapi tak ada yang cukup besar untuk memperlambat laju tubuhnya. Terowongan semakin gelap dan dingin. Bulu tanganku merinding. Baunya jahat di bawah sini.

Aku jadi memikirkan hal-hal yang semestinya tak kuketahui—darah yang tertumpah di altar batu kuno, napas busuk seorang pembunuh.

Lalu, aku melihat apa yang ada di hadapan kami, dan aku berhenti total di tengah jalan. Terowongan itu melebar menjadi gua gelap raksasa, dan di tengah-tengahnya ada jurang sebesar blok kota. Grover meluncur lurus ke tepi jurang.

"Ayo, Percy!" teriak Annabeth, menarik pergelangan tanganku. "Tapi itu—"

"Aku tahu!" teriak Annabeth. "Tempat yang kau gambarkan di mimpimu. Tapi Grover akan jatuh kalau kita tak menangkapnya."

Dia benar, tentu saja. Kesulitan Grover mendorongku bergerak lagi. Dia berteriak, mencakar-cakar tanah, tetapi sepatu bersayap itu terus menyeretnya ke arah lubang, dan tampaknya kami tak mungkin mencapai dirinya tepat waktu.

Yang menyelamatkannya adalah kaki kambingnya. Sepatu terbang itu sejak dulu memang longgar di kakinya, dan akhirnya Grover menabrak batu besar dan sepatu kirinya pun terbang lepas. Sepatu itu melaju ke kegelapan, masuk ke jurang. Sepatu kanannya terus menarik, tetapi tidak secepat sebelumnya. Grover mampu memperlambat lajunya dengan memegang batu besar itu dan menggunakannya sebagai jangkar.

Dia berjarak tiga meter dari tepi lubang ketika kami menangkapnya dan menariknya menaiki tanjakan. Sepatu bersayap yang satu lagi menarik diri hingga lepas, berputar-putar mengelilingi kami dengan marah dan menendangi kepala kami untuk memprotes, sebelum terbang ke dalam jurang untuk bergabung dengan kembarannya.

Kami semua ambruk, lelah, di atas kerikil obsidian. Tangan dan kakiku terasa seperti timah. Bahkan ranselku terasa lebih berat, seolah-olah diisi dengan batu.

Grover luka-luka cukup parah. Tangannya berdarah. Pupil matanya menjadi pipih, seperti kambing, seperti yang selalu terjadi setiap kali dia ketakutan.

"Aku nggak tahu bagaimana ..." dia terengah-engah. "Aku nggak..”

"Tunggu," kataku. "Dengar."

Terdengar sesuatu—bisik berat dalam gelap. Beberapa detik kemudian, Annabeth berkata,

"Percy, tempat ini—"

"Sst."

Aku berdiri. Bunyi itu semakin keras, suara jahat yang bergumam, dari jauh, jauh di bawah kami. Berasal dari lubang.

Grover duduk tegak. "Bu—bunyi apa itu?"

Annabeth juga mendengarnya sekarang. Terlihat di matanya. "Tartarus. Pintu masuk ke Tartarus."

Aku membuka tutup Anaklusmos. Pedang perunggu itu membesar, bersinar dalam kegelapan, dan suara jahat itu tampaknya ragu, sesaat saja, sebelum melanjutkan celotehnya. Aku hampir bisa menangkap kata-katanya sekarang, kata yang sangat kuno, bahkan lebih kuno daripada bahasa Yunani. Seolah-olah ....

"Sihir," kataku.

"Kita harus keluar dari sini," kata Annabeth.

Bersama-sama kami menyeret Grover berdiri dan mulai mundur menyusuri terowongan. Kakiku terasa lambat sekali. Ranselku memberatiku. Suara itu semakin lantang dan marah di belakang kami, dan kami pun berlari.

Waktunya tepat sekali. Tiupan angin dingin menarik punggung kami, seolah-olah seluruh lubang itu sedang mengisap napas. Selama satu detik yang mengerikan, aku terpeleset, kakiku tergelincir di kerikil. Andai kami lebih dekat ke tepi, kami pasti sudah tersedot masuk.

Kami terus berjuang maju, dan akhirnya mencapai puncak terowongan, dan gua itu melebar ke Padang Asphodel. Angin itu berhenti. Lolongan murka menggema dari kejauhan terowongan. Sesuatu merasa tidak senang bahwa kami lolos.

"Apa sih itu tadi?" Grover terengah-engah, saat kami ambruk dalam keamanan relatif sekelompok poplar hitam. "Salah satu piaraan Hades?"

Aku dan Annabeth saling pandang. Aku tahu dia sedang menimbang-nimbang suatu pikiran, mungkin pikiran yang sama dengan yang diperolehnya dalam perjalanan taksi ke LA., tetapi dia terlalu takut untuk menceritakannya. Itu saja sudah cukup untuk membuatku ngeri.

Aku menutup pedang, memasukkan pena itu kembali ke saku. "Mari kita lanjut."

Aku menatap Grover. "Kau bisa berjalan?"

Dia menelan ludah. "Iya, tentu. Dari dulu juga aku nggak suka sepatu itu."

Dia berusaha terdengar tabah, tetapi dia gemetar sama parahnya dengan aku dan Annabeth. Apa pun yang berada di lubang itu bukan piaraan siapa pun. Dia sangat tua dan kuat. Echidna sekalipun tidak menimbulkan perasaan seperti itu. Aku hampir merasa lega memunggungi terowongan itu dan menuju istana Hades.

Hampir.

Para Erinyes mengitari kota mara, tinggi di dalam kekelamn. Tembok luar benteng itu berkilauan hitam, dan gerbang perunggu setinggi dua lantai itu terbuka lebar.

Setelah dekat, kulihat bahwa ukiran pada gerbang itu adalah adegan-adegan kematian. Beberapa berasal dari zaman modern—bom atom yang meledak di sebuah kota, parit yang berisi tentara bertopeng gas, antrean korban kelaparan Afrika yang menunggu sambil membawa mangkuk kosong—tetapi semua adegan itu sepertinya diukir pada perunggu itu ribuan tahun yang lalu. Aku bertanya-tanya apakah aku sedang melihat ramalan yang telah terjadi.

Di dalam pekarangan, ada taman teraneh yang pernah kulihat. Jamur warna-warni, semak beracun/ dan tanaman bercahaya ajaib yang tumbuh tanpa sinar matahari. Permata mulia mengimbangi ketiadaan bunga, tumpukan batu mirah delima sebesar-besar kepalanku, tumpukan intan mentah. Di sana-sini, berdiri patung-patung taman Medusa seperti tamu pesta yang membeku—anak-anak, satir, dan centaurus yang dijadikan batu—semuanya tersenyum mengerikan.

Di tengah-tengah taman terdapat kebun pohon delima, bunga Jingganya cerah seperti neon dalam gelap. "Kebun Persephone," kata Annabeth. "Terus berjalan."

Aku mengerti mengapa dia ingin cepat-cepat lewat. Bau kecut delima itu sangat santer. Aku tiba-tiba ingin melahapnya, tetapi lalu aku ingat kisah Persephone. Segigit makanan Dunia Bawah, dan kami tak akan pernah bisa pergi. Aku menarik Grover menjauh agar dia tidak memetik sebutir delima besar yang merekah basah.

Kami menaiki tangga ke istana, di antara tiang hitam, melalui serambi marmer hitam, dan memasuki rumah Hades. Aula masuknya berlantai perunggu berkilat, yang seakan-akan mendidih dalam cahaya obor yang terpantul. Tak ada langit-langit, hanya atap gua, jauh di atas. Kukira mereka tak pernah harus mencemaskan hujan di bawah sini.

Setiap pintu samping dijaga oleh satu kerangka yang berpakaian militer. Beberapa memakai baju zirah Yunani, beberapa seragam jaket merah Inggris, sebagian baju loreng tentara dengan bendera Amerika yang koyak di bahu. Mereka membawa tombak atau senapan atau M-16. Tak ada yang mengganggu kami, tetapi lubang mata mereka yang hampa itu mengikuti kami berjalan di aula, menuju sepasang pintu besar di ujung seberang.

Dua kerangka Marinir A.S. menjaga pintu. Mereka menyeringai kepada kami, sambil memegang peluncur RPG di depan dada.

"Eh," gumam Grover, "pasti Hades tak pernah diganggu wiraniaga yang datang ke rumah."

Ranselku terasa seberat satu ton sekarang. Aku tak tahu kenapa. Aku ingin membukanya, memeriksa apakah aku entah bagaimana ditumpangi bola boling yang tersesat, tetapi sekarang bukan waktunya.

"Nah, teman-teman," kataku. "Barangkali sebaiknya kita ... mengetuk?"

Angin panas bertiup di koridor, dan pintu itu berayun terbuka. Kedua penjaga itu melangkah ke samping.

"Kukira itu berarti silakan masuk," kata Annabeth.

Ruangan di dalam mirip dengan ruangan di mimpiku, tetapi kali ini singgasana Hades diduduki. Dia dewa ketiga yang pernah kutemui, tetapi dewa pertama yang benar-benar tampak seperti dewa bagiku. Tinggi tubuhnya saja paling sedikit tiga meter, dan dia berpakaian jubah sutra hitam dan mahkota emas berjalin. Kulitnya putih albino, rambutnya sebahu dan hitam legam. Dia tidak berotot seperti Ares, tetapi memancarkan aura kekuasaan. Dia duduk santai di atas singgasananya yang terbuat dari paduan tulang manusia, tampak lentur, anggun, dan berbahaya seperti macan kumbang. Aku langsung merasa seperti dia semestinya memberi titah. Dia lebih tahu daripada aku. Dia semestinya menjadi majikanku. Lalu, aku menyuruh diriku agar sadar.

Aura Hades memengaruhiku, sama seperti aura Ares waktu itu. Sang Penguasa Orang Mati mirip dengan gambar-gambar Adolf Hitler, atau Napoleon, atau pemimpin teroris yang mengarahkan pengebom bunuh diri. Hades memiliki mata sengit yang sama, karisma jahat memukau yang sama.

"Kau pemberani, telah datang ke sini, Putra Poseidon," katanya dengan suara licin. "Setelah melakukan perbuatanmu, benar-benar sangat berani. Atau mungkin kau hanya sangat bodoh."

Rasa kebas merayapi sendi-sendiku, menggodaku untuk berbaring dan tidur sebentar di kaki Hades. Meringkuk di sini dan tidur selamanya.

Kulawan perasaan itu dan aku melangkah maju. Aku tahu apa yang harus kukatakan. "Dewa dan Paman, aku datang membawa dua permintaan."

Hades mengangkat sebelah alis. Dia memajukan tubuh di atas singgasananya, wajah-wajah berbayang muncul dalam lipatan jubah hitamnya, wajah-wajah tersiksa, seolah-olah kain itu dijahit dari jiwa-jiwa terperangkap di Padang Hukuman, berusaha keluar. Bagian GPPH dalam diriku bertanya-tanya, tak ada hubungannya dengan situasi saat ini, apakah semua pakaian Hades dibuat dengan cara yang sama. Hal-hal mengerikan apa yang harus dilakukan orang dalam hidupnya supaya dapat dianyam menjadi celana dalam Hades?

"Hanya dua permintaan?" kata Hades. "Anak pongah. Seolah-olah yang kauambil belum cukup. Bicaralah. Aku belum berkenan membunuhmu."

Aku menelan ludah. Ini berjalan selancar yang kutakutkan. Aku melirik ke singgasana kosong yang lebih kecil di sebelah Hades. Bentuknya seperti bunga hitam, bersepuh emas. Andai saja Ratu Persephone ada di sini. Aku ingat dalam mitos, bahwa dia dapat menenangkan suasana hati suaminya. Tetapi, sekarang sedang musim panas. Tentu saja Persephone berada di atas, di dalam dunia cahaya bersama ibunya, dewi pertanian, Demeter. Kunjungan Persephonelah, bukan kemiringan planet, yang menciptakan musim. Annabeth berdeham. Jarinya menyodok punggungku.

"Dewa Hades," kataku. "Dengar, di antara dewa tak boleh ada perang. Kalau terjadi, pasti ... buruk hasilnya."

"Sangat buruk," tambah Grover membantu.

"Kembalikanlah petir asali milik Zeus kepadaku," kataku. "Tolong, Paman. Biarlah kubawa ke Olympus."

Mata Hades tahu-tahu berbinar berbahaya. "Kau berani terus berpura-pura ya, setelah melakukan perbuatanmu.”

Aku melirik teman-temanku. Mereka tampak sama bingungnya denganku.

"Eh ... Paman," kataku. "Paman terus berkata 'setelah melakukan perbuatanmu'. Apa persisnya yang telah kuperbuat?"

Ruangan singgasana berguncang dengan getaran yang sangat kuat, pasti terasa sampai ke Los Angeles. Puing-puing jatuh dari langit-langit gua. Pintu terempas terbuka di sepanjang tembok, dan pendekar tengkorak berderap masuk, ratusan jumlahnya, dari setiap zaman dan bangsa dalam peradaban Barat. Mereka mengelilingi ruangan, menghadang semua jalan keluar.

Hades berteriak, "Kaupikir aku ingin perang, anak dewa?" Aku ingin berkata, Yah, orang-orang ini bukan tipe aktivis perdamaian, kan? Tetapi, kupikir jawaban itu mungkin berbahaya.

"Kau Penguasa Orang Mati," kataku dengan hati-hati. "Perang akan memperluas kerajaanmu, bukan?"

"Khas perkataan kakak-adikku! Kau pikir aku perlu bawahan lebih banyak? Apakah kau tidak melihat luasnya Padang Asphodel?"

"Yah ...."

"Apakah terbayang olehmu seberapa besar pembengkakan kerajaanku selama abad terakhir ini saja, berapa banyak subdivisi yang terpaksa kubuka selama ini?"

Aku membuka mulut untuk menjawab, tetapi Hades sedang panas sekarang.

"Tambahan satpam siluman," erangnya. "Masalah kemacetan di paviliun penghakiman. Uang lembur berlipat untuk staf. Dulu aku ini dewa yang kaya-raya, Percy Jackson. Aku mengendalikan semua logam mulia di bawah bumi. Tapi pengeluaranku!"

"Charon ingin kenaikan gaji," cetusku, baru saja teringat hal itu. Begitu aku mengatakannya, aku ingin sekali bisa menjahit mulutku.

"Jangan sampai aku mulai mengeluh tentang Charon!" bentak Hades. "Dia rewel sejak menemukan setelan jas Italia! Masalah di mana-mana, dan semuanya harus langsung kutangani sendiri. Lamanya pulang-pergi dari istana ke gerbang saja sudah cukup untuk membuatku gila! Dan kaum mati terus saja berdatangan. Tidak, anak dewa. Aku tak perlu bantuan memperoleh bawahan! Bukan aku yang meminta perang ini."

"Tapi kau mengambil petir asali milik Zeus."

"Dusta!"



0 Response to "PERCY JACKSON & THE OLYMPIANS 5"

Post a Comment

Translate

English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified