Download applikasi baca novel online untuk android disini: DOWNLOAD

PERCY JACKSON & THE OLYMPIANS

Aku mencari-cari di belakang gudang sampai menemukan kantor Medusa. Pembukuannya menampilkan enam penjualan terakhirnya, semua kiriman ke Dunia Bawah untuk menghiasi taman Hades dan Persephone. Menurut salah satu tagihan pengangkutan, alamat penagihan Dunia Bawah adalah DOA Recording Studios, West Hollywood, California. Kulipat tagihan itu dan kujejalkan di saku.

Di mesin kasir aku menemukan beberapa lembar dua puluh dolar, beberapa drachma emas, dan beberapa label kemasan untuk Titipan Kilat Semalam Hermes, masing-masing disertai kantong kulit kecil untuk diisi koin. Aku menggeledah sisa kantor sampai menemukan kotak yang berukuran pas.

Aku kembali ke meja piknik, mengemas kepala Medusa, dan mengisi label pengiriman:

Para Dewa Gunung Olympus Lantai 600 Empire State Building New York, NY

Salam manis, PERCY JACKSON

"Mereka nggak akan suka itu," Grover memperingatkan. "Mereka akan menganggapmu kurang ajar."

Aku menuangkan beberapa drachma emas ke dalam kantong kecil. Begitu kututup, terdengar bunyi seperti mesin kasir. Paket itu melayang dari atas meja dan lenyap dengan bunyi popi

"Aku memang kurang ajar," kataku.

Aku menatap Annabeth, menunggu dia mengkritikku.

Dia diam. Sepertinya dia sudah pasrah bahwa aku punya bakat besar membuat marah para dewa. "Ayo," gumamnya. "Kita perlu rencana baru."

12. Kami Mendapat Nasihat dari Anjing Pudel

Kami cukup sengsara malam itu.

Kami berkemah di hutan, seratus meter dari jalan utama, di lapangan berawa-rawa yang sepertinya digunakan anak-anak setempat untuk berpesta. Kaleng soda gepeng dan bungkus makanan cepat-saji berserakan di tanah.

Kami membawa makanan dan selimut dari tempat Bibi Em, tetapi kami tak berani menyalakan api untuk mengeringkan pakaian yang lembap. Dengan Erinyes dan Medusa, cukuplah kesibukan untuk sehari itu. Kami tak ingin menarik perhatian makhluk lain.

Kami memutuskan untuk tidur bergiliran. Aku sukarela mengambil giliran jaga pertama.

Annabeth meringkuk di selimut dan langsung mendengkur begitu kepalanya menyentuh tanah. Grover melayang-layang dengan sepatu terbang ke dahan pohon terendah, bersandar pada batang, dan menatap langit malam.

"Kau tidur saja," kataku. "Nanti kubangunkan kalau ada masalah."

Dia mengangguk, tapi tidak memejamkan mata. "Aku jadi sedih, Percy."

"Sedih kenapa? Karena kau ikut dalam misi ini?"

"Bukan. Ini yang membuatku sedih." Dia menunjuk semua sampah di tanah. "Dan langit. Bintang saja nggak kelihatan. Mereka mencemari langit. Ini masa yang buruk untuk hidup sebagai satir."

"Benar sekali. Kau cocok jadi pejuang lingkungan."

Dia mendelik kepadaku. "Cuma manusia yang nggak mau menjadi pejuang lingkungan. Spesiesmu menjejali bumi begitu cepat ... ah, lupakan. Nggak ada gunanya menceramahi manusia. Kalau begini terus, aku nggak akan pernah menemukan Pan."

"Pam? Air leding?"

"Pan!" serunya tersinggung. "P-A-N. Dewa besar Pan. Memangnya kau pikir, buat apa aku ingin mendapat izin pencari?"

Semilir aneh berkeresek di lapangan, sesaat mengalahkan bau sampah dan becek. Angin itu membawa bau berry dan bunga liar dan air hujan bersih, hal-hal yang mungkin dulu ada di hutan ini. Tiba-tiba aku merindukan sesuatu yang tak pernah kukenal.

"Ceritakanlah soal pencarian itu," kataku.

Grover melirikku dengan hati-hati, seolah-olah takut aku cuma mengolok-olok. "Dewa Alam Liar menghilang dua ribu tahun yang lalu," katanya. "Seorang pelaut dari lepas pantai Efesus mendengar sebuah suara misterius berseru dari pantai, 'Beri tahu mereka bahwa dewa besar Pan sudah mati!' Ketika manusia mendengar berita itu, mereka percaya. Sejak saat itu mereka menjarah kerajaan Pan. Tetapi, bagi bangsa satir, Pan adalah pemimpin dan majikan kami. Dia melindungi kami dan tempat-tempat liar di bumi. Kami tak mau percaya dia sudah mati. Di setiap generasi, para satir yang paling pemberani berikrar akan mengabdikan hidupnya untuk mencari Pan. Mereka mencari di bumi ini, menjelajahi semua tempat terliar, berharap menemukan tempat dia bersembunyi, dan membangunkannya dari tidurnya."

"Dan kau ingin jadi pencari."

"Itu impian hidupku," katanya. "Ayahku pencari. Dan Paman Ferdinand ... patung yang kau lihat di sana—"

"Oh iya, ikut sedih."

Grover menggeleng. "Paman Ferdinand tahu risikonya. Ayahku juga. Tapi aku pasti berhasil. Aku akan menjadi pencari pertama yang pulang hidup-hidup."

"Tunggu—yang pertama?"

Grover mengeluarkan seruling dari saku. "Belum pernah ada pencari yang pulang. Setelah berangkat, mereka menghilang. Mereka tak pernah lagi terlihat hidup-hidup."

"Tak sekali pun dalam dua ribu tahun?"

"Tidak."

"Dan ayahmu? Kau tak tahu apa yang terjadi padanya?"

"Nggak."

"Tapi kau tetap ingin berangkat," kataku heran. "Maksudku, kau benar-benar merasa kaulah yang akan menemukan Pan?"

"Aku harus percaya itu, Percy. Semua pencari juga begitu. Itu satu-satunya hal yang membuat kami tak putus asa saat melihat apa yang dilakukan manusia pada dunia. Aku harus percaya bahwa Pan masih bisa dibangunkan."

Aku menatap kabut Jingga di langit dan berusaha memahami bagaimana Grover mau mengejar impian yang tampak begitu sia-sia. Tapi, kalau dipikir-pikir, apa bedanya dengan aku?

"Bagaimana cara kita masuk ke Dunia Bawah?" tanyaku. "Maksudku, apa mungkin kita bisa melawan seorang dewa?"

"Nggak tahu," dia mengakui. "Tapi, di tempat Medusa tadi, waktu kau menggeledah kantornya? Annabeth memberitahuku—"

"Iya, ya, aku lupa. Annabeth pasti punya rencana."

"Jangan terlalu galak sama dia, Percy. Hidupnya sulit, tapi dia anak baik. Lagi pula, dia memaafkan aku ..." Suaranya menghilang.

"Apa maksudmu?" tanyaku. "Memaafkanmu untuk apa?”

Tiba-tiba Grover tampak sangat berminat memainkan nada di serulingnya.

"Tunggu sebentar," kataku. "Tugas penjagamu yang pertama itu lima tahun lalu. Annabeth sudah lima tahun tinggal di perkemahan. Dia bukan ... maksudku, tugas pertamamu yang bermasalah—"

"Aku nggak boleh membicarakan itu," kata Grover. Bibir bawahnya yang bergetar menandakan bahwa dia pasti menangis kalau kudesak. "Tapi seperti yang kubilang, tadi di tempat Medusa, aku dan Annabeth sepakat bahwa ada yang aneh soal misi ini. Ada sesuatu yang tidak sesuai dengan kenyataannya."

"Itu sih jelas. Aku kan difitnah mencuri petir yang diambil Hades."

"Maksudku bukan itu," kata Grover. "Para Erin—Si Baik agak menahan diri. Seperti Bu Dodds di Akademi Yancy ... kenapa dia menunggu lama, baru mencoba membunuhmu? Lalu di bus, mereka tidak seagresif yang mereka bisa."

"Bagiku, kayaknya mereka cukup agresif."

Grover menggeleng. "Mereka memekik kepada kami: ‘Di mana itu? Di mana?'”

"Menanyakan aku," kataku.

"Mungkin ... tapi aku dan Annabeth mendapat firasat, mereka bukan menanyakan orang. Mereka bilang 'Di mana itu?' Mereka sepertinya menanyakan barang."

"Itu nggak masuk akal."

"Aku tahu. Tapi, kalau kita salah memahami sesuatu tentang misi ini, dan kita cuma punya waktu sembilan hari untuk menemukan petir asali ...." Dia menatapku seolah-olah mengharapkan jawaban, tapi aku tak punya jawaban apa-apa.

Aku teringat perkataan Medusa: aku dimanfaatkan oleh para dewa. Hal yang menanti di depan itu jauh lebih buruk daripada dijadikan patung.

"Selama ini aku nggak jujur padamu," kataku kepada Grover. " Aku nggak peduli pada petir asali. Aku mau pergi ke Dunia Bawah supaya aku bisa membawa pulang ibuku."

Grover meniupkan nada lembut di serulingnya. "Aku tahu itu, Percy. Tapi apa kau yakin itu satu-satunya alasan?"

"Ini kulakukan bukan untuk menolong ayahku. Dia nggak peduli padaku. Aku nggak peduli padanya."

Grover memandang ke bawah dari dahan pohon. "Dengar, Percy, aku nggak sepintar Annabeth. Aku nggak sepemberani dirimu. Tapi aku cukup pandai membaca emosi. Kau senang ayahmu masih hidup. Kau gembira dia mengakuimu, dan sebagian dirimu ingin membuatnya bangga. Itu sebabnya kau mengirimkan kepala Medusa ke Olympus. Kau ingin dia memerhatikan keberhasilanmu."

"Ngawur. Barangkali saja emosi satir berbeda dengan emosi manusia. Karena kau salah. Aku nggak peduli bagaimana pendapatnya."

Grover menaikkan kaki ke atas dahan. "Iya deh. terserah."

"Lagi pula, aku belum melakukan apa-apa yang layak disombongkan. Kita nyaris tak bisa keluar dari New York City kita terperangkap di sini tanpa uang dan tak tahu cara agar sampai ke barat."

Grover menatap langit malam, seolah-olah merenungkan masalah itu. "Bagaimana kalau aku saja yang berjaga pertama? Kau tidurlah."

Aku ingin memprotes, tetapi dia mulai memainkan Mozart, lembut dan manis, dan aku berpaling, mataku pedih. Setelah beberapa irama Piano Concerto no. 12, aku tidur. Dalam mimpiku, aku berdiri di sebuah gua gelap, di depan lubang yang menganga. Makhluk-makhluk kabut kelabu bergolak di sekelilingku, rumbai-rumbai asap berbisik, yang entah bagaimana kutahu adalah arwah orang mati. Mereka menarik-narik bajuku, berusaha menarikku mundur, tetapi aku merasa harus berjalan maju ke tepi jurang itu.

Melihat ke bawah membuatku gamang.

Lubang itu menganga begitu lebar dan begitu gelap, aku pun tahu bahwa lubang itu tak berdasar. Namun, aku mendapat perasaan bahwa ada sesuatu yang sedang berusaha naik dari jurang, sesuatu yang besar dan jahat.

“Si pahlawan kecil,” sebuah suara geli menggema jauh di dalam kegelapan. “Terlalu lemah, terlalu muda, tapi mungkin kau memadai.”

Suara itu terasa purba—dingin dan berat. Suara itu membungkusku seperti lembar-lembar timah.

“Mereka menyesatkanmu, Bocah,” katanya. “Barterlah denganku. Aku akan memberikan yang kau inginkan.”

Suatu citra bergetar-getar melayang di atas kehampaan: ibuku, tubuhnya beku dalam pose seperti saat dia larut dalam rintik emas. Wajahnya meringis kesakitan, seolah-olah si Minotaurus masih mencekik lehernya. Matanya menatapku lurus-lurus, memohon: Pergi!

Aku berusaha berseru, tetapi suaraku tak mau keluar.

Tawa dingin menggema dari jurang.

Suatu kekuatan tak kasat mata menarikku maju. Aku bisa terseret ke dalam lubang, kalau tidak berdiri kukuh.

“Bantu aku bangkit, Bocah.” Suara itu kian lapar. “Bawakan petir itu kepadaku. Serang para dewa yang pengkhianat".

Arwah orang mati berbisik di sekelilingku, Jangan, Bangun!. Citra ibuku mulai memudar. Makhluk di dalam lubang mempererat cengkeraman tak kasat matanya padaku. Kusadari bahwa ia tak berminat menarikku masuk. Dia menggunakan aku untuk menghela dirinya keluar. Bagus, gumamnya. Bagus. Bangun!. Orang-orang mati berbisik. Bangun!.

Ada yang mengguncangku. Mataku terbuka, dan hari sudah terang.

"Nah," kata Annabeth, "si mayat hidup masih bisa bangun."

Tubuhku gemetar gara-gara mimpi itu. Cengkeraman si monster jurang masih terasa di sekeliling dadaku. "Berapa lama aku tidur?"

"Cukup lama, aku sempat memasak sarapan." Annabeth melemparkan kepadaku sekantong keripik jagung rasa nacho dari kedai camilan Bibi Em. "Dan tadi Grover pergi menjelajah. Lihat, dia menemukan teman."

Mataku sulit berfokus.

Grover sedang duduk bersila di atas selimut, memangku sesuatu yang berbulu, sebuah boneka binatang dengan warna merah jambu yang dekil dan tak alami.

Bukan. Itu bukan boneka. Itu anjing pudel merah jambu.

Pudel itu menyalak kepadaku dengan curiga. Kata Grover, "Nggak, dia nggak begitu."

Aku mengerjapkan mata. "Kau ... sedang bicara dengan benda itu?"

Pudel itu menggeram.

"Benda ini," Grover memperingatkan, "adalah karcis kita ke Barat. Baik-baiklah padanya."

"Kau bisa bicara dengan binatang?"

Grover tak menggubris pertanyaan itu. "Percy, ini Gladiola. Gladiola, Percy."

Aku menatap Annabeth, menyangka dia akan tertawa karena lelucon yang ditujukan kepadaku ini, tetapi dia tampak serius.

"Aku nggak mau menyapa seekor pudel merah jambu," kataku. "Lupakan saja."

"Percy," kata Annabeth. "Tadi aku menyapa pudel itu. Kau juga harus."

Si pudel menggeram.

Aku menyapa pudel itu.

Grover menjelaskan bahwa dia bertemu dengan Gladiola di hutan dan mereka mengobrol.

Pudel itu kabur dari sebuah keluarga kaya setempat, yang menawarkan hadiah $200 jika orang mengembalikannya. Gladiola sebenarnya tidak ingin kembali ke keluarga itu, tetapi dia bersedia melakukannya jika itu bisa membantu Grover.

"Bagaimana Gladiola bisa tahu soal hadiah itu?" tanyaku.

"Ya dia baca di posternya dong," kata Grover. "Bego."

"Iya," kataku. "Aku yang bego."

"Jadi, Gladiola kita kembalikan," Annabeth menjelaskan dalam suara strategi terbaiknya, "kita dapat uang, dan kita beli karcis ke Los Angeles. Sederhana."

Aku teringat mimpiku—bisikan suara arwah, makhluk di dalam jurang, dan wajah ibuku, bergetar sambil melarut menjadi emas. Semua hal yang mungkin menantiku di Barat.

"Jangan bus lagi," kataku curiga.

"Setuju," kata Annabeth.

Dia menunjuk ke bawah bukit, ke arah rel kereta yang tak terlihat tadi malam karena gelap.

"Ada stasiun kereta Amtrak tujuh ratus meter ke arah sana. Menurut Gladiola, kereta tujuan Barat berangkat pada tengah hari."

13. Aku Terjun Menuju Kematian

Kami melewatkan waktu dua hari di kereta api Amtrak, menuju Barat dengan menembus perbukitan, menyeberangi sungai, melewati ladang gandum yang berombak merah.

Kami tidak diserang sekali pun, tetapi aku tak bisa tenang. Aku merasa seakan kami bergerak di dalam lemari pajangan, diamati dari atas dan mungkin dari bawah, sementara sesuatu sedang menunggu peluang yang tepat.

Aku berusaha tidak menarik perhatian orang karena nama dan fotoku tersebar di halaman depan beberapa koran Pantai Timur. Trenton Register-News menampilkan foto yang diambil seorang wisatawan ketika aku turun dari bus Greyhound. Tatapan mataku tampak liar. Pedang di tanganku seperti logam yang tampak kabur. Bisa saja dikiri pemukul bisbol atau tongkat lacrosse.

Keterangan gambar itu berbunyi:

Percy Jackson, dua belas tahun, yang sedang dicari polisi untuk ditanyai tentang ibunya yang menghilang dua minggu lalu di Long Island, terlihat di sini kabur dari bus, tempat dia menyerang beberapa nenek-nenek yang jadi penumpang. Bus itu meledak di tepi jalan New Jersey Timur tak lama setelah Jackson kabur dari sana. Berdasarkan laporan saksi mata, polisi meyakini anak itu ditemani dua kaki-tangan remaja. Ayah tirinya, Gabe Ugliano, menawarkan hadiah uang tunai untuk informasi yang membantu penangkapan Jackson.

"Jangan khawatir," kata Annabeth.

"Polisi manusia tak mungkin bisa menemukan kita." Namun, suaranya tidak terlalu yakin.

Sepanjang sisa hari itu aku gonta-ganti antara mondar-mandir di sepanjang kereta api (karena aku benar-benar kesulitan duduk diam) dan menatap keluar jendela.

Sekali waktu aku melihat sekeluarga centaurus. Mereka berlari melintasi padang gandum, dengan busur laga, berburu makan siang. Seorang bocah centaurus, yang berukuran sebesar anak kelas dua yang menunggang kuda poni, menangkap mataku dan melambaikan tangan. Aku melihat ke sekeliling gerbong, tetapi tak ada orang lain yang memerhatikan. Semua penumpang dewasa sedang membenamkan wajah di laptop atau majalah. Kali lain, menjelang malam, aku melihat suatu benda yang bergerak menembus hutan. Aku berani sumpah bila itu seekor singa, tetapi di Amerika tidak ada singa liar, dan hewan ini seukuran truk Hummer. Bulunya berkilauan emas dalam cahaya senja. Lalu, ia melompat menembus pepohonan dan menghilang.

Uang hadiah yang kami terima karena mengembalikan Gladiola si pudel hanya cukup untuk membeli karcis hingga ke Denver. Kami tak berhasil mendapat tempat di gerbong tidur, jadi kami tidur di kursi masing-masing. Leherku menjadi kaku. Aku berusaha tidak mengiler saat tidur, karena Annabeth duduk tepat di sebelahku.

Grover terus mendengkur dan mengembik, membuatku terbangun. Sekali waktu dia lasak dan kaki palsunya jatuh. Aku dan Annabeth harus memasangkannya lagi sebelum ada penumpang lain yang memerhatikan.

"Jadi," tanya Annabeth kepadaku, setelah kami menyesuaikan sepatu Grover. "Siapa yang meminta bantuanmu?"

"Apa maksudmu?"

"Barusan, waktu kau tidur, kau mengigau, ‘Aku tak mau membantumu.' Kau bermimpi tentang siapa?"

Aku enggan berkata apa-apa. Ini kedua kalinya aku bermimpi tentang suara jahat dari lubang. Tapi mimpi itu sangat menggangguku, jadi akhirnya kuceritakan kepada Annabeth.

Gadis itu diam lama sekali.

"Kedengarannya tak seperti Hades. Dia selalu tampil di atas singgasana hitam, dan dia tak pernah tertawa."

"Dia menawarkan ibuku sebagai imbalan. Siapa lagi yang bisa berbuat begitu?"

"Ya mungkin juga sih... kalau dia bermaksud, 'Bantu aku naik dari Dunia Bawah'. Benar-benar ingin berperang dengan para dewa Olympia. Tapi, buat apa memintamu membawakan petir kalau dia sudah memegangnya?"

Aku menggeleng, menyayangkan bahwa aku tak tahu jawabannya. Aku memikirkan cerita Grover, bahwa para Erinyes sepertinya sedang mencari sesuatu di bus. Di mana itu? Di mana? Mungkin Grover merasakan emosiku. Dia mendengus dalam tidurnya, mengigaukan sesuatu tentang sayur, dan berpaling.

Annabeth membetulkan letak topinya agar menutupi tanduk. "Percy, Hades itu nggak bisa diajak tawar-menawar. Kau tahu, kan? Dia penipu, kejam, dan tamak. Aku nggak peduli bahwa Makhluk Baik bawahannya kali ini tidak terlalu agresif—"

"Kali ini?" tanyaku. "Maksudmu, kau pernah bertemu mereka?"

Tangan Annabeth naik ke leher. Dia memainkan manik-manik putih berglasir yang dilukis gambar pohon pinus, salah satu tanda akhir kemah musim panas yang terbuat dari tanah liat.

"Pokoknya, aku nggak suka si Penguasa Orang Mati. Kau jangan sampai tergoda membuat perjanjian demi ibumu."

"Kau sendiri bakal berbuat apa, andai ayahmu yang dalam posisi itu?"

"Itu gampang," katanya. "Kubiarkan saja dia membusuk."

"Kau tak serius, kan?"

Mata kelabu Annabeth menatapku lekat-lekat. Air mukanya sama seperti yang tampak di hutan di perkemahan, ketika dia menghunus pedang melawan si anjing neraka.

"Ayahku membenciku sejak aku lahir, Percy," katanya. "Dia nggak ingin punya anak. Sewaktu mendapatkan aku, dia meminta Athena mengambilku kembali dan membesarkanku di Olympus karena dia terlalu sibuk dengan pekerjaan. Athena nggak terlalu senang dengan permintaan itu. Dia memberi tahu ayahku bahwa pahlawan harus dibesarkan oleh orangtua manusianya."

"Tapi bagaimana... maksudku, kau tentu nggak dilahirkan di rumah sakit "

Aku muncul di depan pintu rumah ayahku, dalam buaian emas, dibawa turun dari Olympus oleh Zephyr si Angin Barat. Kau pasti mengira ayahku mengenang itu sebagai mukjizat kan? Barangkali dia mengambil foto digital atau apa kek. Tapi dia selalu membicarakan kedatanganku seolah-olah itu hal yang paling merepotkan yang pernah terjadi padanya. Waktu aku berumur lima tahun, dia menikah dan melupakan Athena sama sekali. Dia mendapat istri manusia 'biasa', dan punya dua anak manusia 'biasa', dan berusaha berpura-pura aku nggak ada."

Aku menatap keluar jendela kereta api. Lampu sebuah kota yang lelap merayap lewat. Aku ingin menghibur Annabeth, tapi tak tahu caranya.

"Ibuku menikahi lelaki yang benar-benar menyebal kan," aku bercerita. "Kata Grover, dia melakukan itu untuk melindungiku, untuk menyembunyikanku dalam bau keluarga manusia. Mungkin itu yang dipikirkan ayahmu."

Annabeth terus memain-mainkan kalung. Dia menjepit cincin emas universitas yang tergantung bersama manik-manik. Terpikir olehku bahwa cincin itu pasti milik ayahnya. Aku heran juga, kenapa dia memakainya kalau dia begitu membenci ayahnya.

"Dia nggak peduli padaku," katanya. "Istrinya—ibu tiriku—memperlakukanku seperti anak aneh. Dia nggak memperbolehkan aku bermain dengan anak-anaknya. Ayahku menurut saja. Setiap kali terjadi sesuatu yang berbahaya—kau tahu, sesuatu yang berkaitan dengan monster—mereka berdua menatapku dengan sebal, seolah-olah berkata, 'Berani-beraninya kau membahayakan keluarga kami.' Akhirnya, aku paham. Aku tidak diinginkan. Aku minggat."

"Berapa umurmu waktu itu?"

"Sama seperti saat aku mulai masuk perkemahan. Tujuh."

"Tapi ... kau tak mungkin bisa sampai jauh-jauh ke Bukit Blasteran sendirian."

"Aku memang nggak sendirian. Athena mengawasiku, Membimbingku ke orang yang menolong. Aku mendapatkan teman tak terduga yang mengurusku, setidaknya tidak sementara waktu."

Aku ingin menanyakan apa yang terjadi, tapi Annabeth nampaknya tenggelam dalam kenangan duka. Jadi, aku mendengarkan suara Grover mendengkur dan memandang keluar jendela kereta, sementara padang-padang gelap Ohio melaju lewat.

Menjelang akhir hari kedua kami di kereta api, 13 Juni, delapan hari sebelum titik balik matahari musim panas, kami melewati beberapa bukit keemasan dan menyeberangi Sungai Mississippi, memasuki St. Louis.

Annabeth menjulurkan leher untuk melihat Gateway Arch, yang bagiku mirip pegangan tas belanja raksasa yang menempel pada kota itu.

"Aku ingin melakukan itu," Annabeth menghela napas.

"Apa?" tanyaku.

"Membangun sesuatu seperti itu. Kau pernah melihat Parthenon, Percy?"

"Cuma di foto."

"Kapan-kapan aku akan melihatnya langsung. Aku akan membangun monumen terbesar bagi dewa-dewa. Sesuatu yang bertahan seribu tahun."

Aku tertawa. "Kau? Jadi arsitek?"

Entah kenapa, aku merasa itu lucu. Membayangkan Annabeth berusaha duduk diam dan menggambar seharian. Pipinya merona.

"Iya, jadi arsitek. Athena mengharapkan anak-anaknya mencipta, bukan hanya menghancurkan seperti seorang dewa gempa bumi yang bisa kusebutkan namanya."

Aku mengamati air cokelat Sungai Mississippi yang bergolak di bawah.

"Maaf," kata Annabeth. "Aku jahat barusan."

"Apa kita nggak bisa bekerja sama?" aku memohon. "Maksudku, apakah Athena dan Poseidon nggak pernah bekerja sama?"

Annabeth harus mengingat-ingat. "Pernah sih ... kereta perang," dia berkata hati-hati. "Ibuku menciptakannya, tetapi Poseidon yang menciptakan kuda dari puncak ombak. Jadi, mereka harus bekerja sama untuk menjadikannya lengkap."


"Berarti, kita juga bisa bekerja sama. Iya, kan?"

Kami melaju memasuki kota, sementara Annabeth mengamati Gateway Arch menghilang di belakang sebuah hotel.

"Barangkali bisa juga," katanya akhirnya.

Kami masuk ke stasiun Amtrak di tengah kota. Menurut interkom, kami punya waktu singgah tiga jam sebelum berangkat ke Denver.

Grover menggeliat. Bahkan sebelum benar-benar sadar, dia berkata, "Makanan."

"Ayo, Bocah Kambing," kata Annabeth. "Ayo kita cuci mata."

"Cuci mata?"

"Gateway Arch," katanya.

"Ini mungkin satu-satunya kesempatanku naik ke puncak. Kau mau ikut, nggak?"

Aku dan Grover bertukar pandang. Aku ingin menolak, tetapi kupikir kalau Annabeth mau ke sana, kami jelas tidak mungkin membiarkan dia pergi sendirian. Grover mengangkat bahu.

"Asalkan di sana ada toko camilan tanpa monster."

Gateway Arch terletak sekitar satu setengah kilometer dari stasiun kereta api. Sore hari begitu, antrean masuknya tidak terlalu panjang. Kami berselap-selip melalui museum bawah tanah, melihat-lihat pedati beratap dan rongsokan lain dari tahun 1800-an. Tidak terlalu mengasyikkan, tetapi Annabeth terus menceritakan berbagai fakta menarik tentang cara Gateway Arch dibangun, dan Grover terus memberiku permen jelly bean, jadi aku cukup menikmati.

Namun, aku terus mengedarkan pandangan, memerhatikan orang-orang yang mengantre. "Kau mencium sesuatu?" bisikku kepada Grover.

Dia mengeluarkan hidungnya dari kantong permen jelly bean cukup lama untuk mengendus.

"Bawah tanah," katanya jijik. "Udara bawah tanah selalu berbau seperti monster. Mungkin tak berarti apa-apa."

Tetapi, ada yang terasa aneh bagiku. Aku mendapat firasat, kami sebaiknya tidak berada di sini.

"Teman-teman," kataku. "Kalian tahu kan lambang-lambang kekuasaan dewa?"

Annabeth sedang membaca alat konstruksi yang digunakan untuk membangun Gateway Arch, tetapi dia menoleh. "Iya, kenapa?"

"Nah, Hades—"

Grover berdeham. "Kita sedang berada di tempat umum.... Pasti yang kaumaksud adalah teman kita di lantai bawah?"

"Eh, iya," kataku. "Teman kita di lantai jauh di bawah. Bukankah dia punya topi seperti topi Annabeth?"

"Maksudmu, Helm Kegelapan," kata Annabeth. "Iya, itu lambang kekuasaannya. Aku melihat helm itu di sebelah kursinya pada rapat dewan titik balik matahari musim dingin."

"Dia hadir di sana?" tanyaku.

Annabeth mengangguk. "Satu-satunya waktu dia diperbolehkan berkunjung ke Olympus—hari tergelap setiap tahun. Tapi, helmnya jauh lebih sakti daripada topi tak kasat mataku, kalau yang kudengar benar ..."

"Dengan helm itu, dia bisa menjadi kegelapan," Grover membenarkan. "Dia bisa meleleh ke dalam bayangan atau menembus tembok. Dia tak bisa disentuh, atau dilihat, atau didengar. Dan dia bisa memancarkan rasa takut yang begitu kuat, sampai-sampai kau bisa menjadi gila atau jantungmu berhenti. Menurutmu, kenapa semua makhluk rasional takut pada kegelapan?"

"Tapi, kalau begitu... bagaimana caranya kita bisa tahu, bahwa dia sekarang nggak berada di sini, mengamati kita?" tanyaku.

Annabeth dan Grover bertukar pandang.

"Kita nggak mungkin tahu," kata Grover.

"Trims, sangat menghibur," kataku. "Masih punya permen biru?"

Aku sudah hampir berhasil menguasai rasa gugup ketika kulihat lift kecil mungil yang akan kami tumpangi ke puncak Gateway Arch. Gawat, pikirku. Aku benci tempat sempit. Aku bisa gila.

Kami terjepit di dalam lift oleh seorang wanita gembrot dan anjingnya, seekor Chihuahua berkalung batu diamante. Kusimpulkan bahwa anjing itu mungkin Chihuahua yang membantu orang buta, karena para penjaga tidak menyinggungnya sama sekali. Kami mulai naik, di dalam Gateway Arch. Aku belum pernah naik lift yang bergerak melengkung, dan perutku tak terlalu menyukainya.

"Tidak bersama orangtua?" tanya perempuan gembrot itu.

Matanya seperti manik-manik; giginya runcing-runcing dan bernoda kopi; topi jinsnya berkelepai, dan pakaian jinsnya yang begitu berlekuk-lekuk, sehingga dia mirip balon jins biru.

"Mereka di bawah," kata Annabeth. "Takut ketinggian."

"Oh, kasihan."

Chihuahua itu. menggeram. Kata perempuan itu, "Bocah, jangan nakal."

Anjing itu bermata manik-manik seperti pemiliknya, cerdas dan jahat.

Kataku, "Bocah. Itu namanya?"

"Bukan," kata perempuan itu. Dia tersenyum, seolah-olah itu menjelaskan segalanya.

Di puncak Gateway Arch, dek observasi mengingatkanku pada kaleng timah yang diberi karpet. Berbaris-baris jendela kecil di satu sisi menghadap ke kota dan di sisi lain menghadap sungai. Pemandangannya lumayan, tetapi kalau ada yang lebih tidak kusukai daripada tempat sempit, itu adalah tempat sempit setinggi 180 meter. Sebentar saja, aku sudah ingin pulang, Annabeth terus berbicara soal penopang struktur, dan bahwa dia lebih suka kalau jendelanya lebih besar, dan ingin merancang lantai tembus pandang. Dia mungkin bisa sampai berjam-jam di sini, tapi untungnya si penjaga mengumumkan bahwa dek observasi akan ditutup beberapa menit lagi.

Aku menggiring Grover dan Annabeth ke pintu keluar, memasukkan mereka ke dalam lift. Aku sendiri baru akan masuk ketika kusadari sudah ada dua wisatawan lain di dalam. Tak ada tempat buatku.

Si penjaga berkata, "Lift berikutnya, Nak."

"Kami saja yang keluar," kata Annabeth. "Kami akan menemanimu menunggu."

Tetapi, itu akan mengacaukan semua orang dan membuang waktu lebih banyak lagi, jadi kukatakan, "Nggak apa-apa kok. Sampai ketemu di bawah."

Grover dan Annabeth tampak gugup, tetapi mereka membiarkan pintu lift bergeser tertutup. Lift mereka menghilang menuruni lengkungan. Sekarang yang masih berada di dek observasi tinggal aku, seorang bocah bersama orangtuanya, si penjaga, dan si wanita gembrot yang membawa Chihuahua.

Aku tersenyum kikuk kepada si wanita gembrot. Dia balas tersenyum, lidahnya yang bercabang bergerak-gerak di antara gigi.

Tunggu sebentar. Lidah bercabang?

Sebelum aku sempat memutuskan apakah barusan aku benar-benar melihat itu, Chihuahua-nya melompat turun dan mulai menyalak kepadaku.

"Nah-nah, Anak Manis," kata wanita itu. "Ini kan bukan waktu yang tepat? Di sini ada orang-orang baik."

"Anjing!" kata si anak kecil. "Lihat, ada anjing!"

Orangtuanya menahannya. Chihuahua itu memamerkan gigi kepadaku, buih menetes-netes dari bibirnya yang hitam.

"Baiklah, Nak," kata wanita gembrot itu sambil menghela napas. "Kalau kau bersikeras."

Es mulai terbentuk di perutku. "Eh, Ibu baru menyebut Chihuahua itu anak?"

"Chimera, Sayang," si wanita gembrot itu mengoreksi. "Bukan Chihuahua. Memang mudah tertukar."

Dia menggulung lengan baju jins, menyingkapkan kulit lengannya yang berwarna hijau bersisik. Ketika dia tersenyum, kulihat bahwa giginya taring semua. Pupil matanya merupakan celah pipih, seperti mata reptil. Chihuahua itu menggonggong lebih keras, dan dengan setiap gonggongan, tubuhnya membesar. Pertama hingga sebesar anjing Doberman, lalu sebesar singa. Gonggongan itu menjadi auman.

Bocah kecil itu menjerit. Orangtuanya menariknya ke arah pintu keluar, langsung ke arah si penjaga, yang berdiri mematung, menganga melihat monster itu.

Chimera itu sekarang begitu besar, sehingga punggungnya menyentuh atap. Ia memiliki kepala singa dengan surai yang bermandikan darah, tubuh dan kaki kambing raksasa, ekor berupa ular derik diamondback sepanjang tiga meter yang tumbuh dari pantatnya. Kalung anjing diamante masih tergantung di lehernya, dan peneng anjing yang sebesar piring sekarang mudah dibaca: CHIMERA— BUAS, BERNAPAS API, BERACUN—JIKA DITEMUKAN, HUBUNGI TARTARUS—PESAWAT 954.

Kusadari bahwa aku bahkan belum membuka tutup pedangku. Tanganku mati rasa. Aku berdiri sejauh tiga meter dari moncong Chimera yang berdarah-darah. Aku tahu bahwa begitu aku bergerak, makhluk itu akan menerkam. Si wanita ular berdesis, mungkin sebenarnya suara tawa.

"Kau semestinya merasa tersanjung, Percy Jackson. Raja Zeus jarang mengizinkanku menguji seorang pahlawan dengan salah satu anakku. Karena akulah Induk Monster, Echidna yang mengerikan!"

Aku menatapnya. Yang terpikir olehku hanyalah mengatakan: "Bukannya echidna itu nama semacam pemakan semut?"

Dia melolong, wajah reptilnya menjadi cokelat dan hijau karena marah. "Aku paling sebal kalau orang bilang begitu! Aku benci Australia! Menamai hewan konyol itu dengan namaku. Untuk hinaan itu, Percy Jackson, anakku akan menghancurkanmu!"

Chimera itu menyerang, gigi singanya beradu. Aku berhasil melompat ke samping dan menghindari gigitan. Aku mendarat di dekat keluarga itu dan si penjaga, yang semuanya sekarang menjerit-jerit sambil berusaha membuka pintu keluar darurat.

Aku tak bisa membiarkan mereka terluka. Aku membuka tutup pedangku, berlari ke seberang dek, dan berseru, "Hei, Chihuahua!"

Chimera itu berputar lebih cepat daripada yang kukira. Sebelum aku sempat mengayunkan pedang, Chimera membuka mulut, mengeluarkan bau seperti lubang panggangan terbesar di dunia, dan menembakkan kolom api tepat ke arahku. Aku melompat menembus ledakan. Karpet terbakar; panasnya begitu tinggi, sampai-sampai alisku hampir terbakar. Di tempatku berdiri tadi, ada lubang bergerigi di dinding Gateway Arch. Di sekeliling tepi lubang itu, logam meleleh sambil mengepulkan asap.

Bagus, pikirku. Kami baru saja mengelas sebuah monumen nasional.

Riptide sekarang sudah membentuk pedang perunggu bersinar di tanganku, dan saat Chimera berputar, aku menyabet lehernya.

Itu kesalahan fatal. Pedang itu terpantul kalung anjing tanpa melukai. Aku berusaha berdiri tegak kembali, tetapi aku begitu cemas memikirkan cara membela diri dari mulut berapi si singa, aku lupa sama sekali soal ekor ularnya sampai ular itu berputar dan menghunjamkan taringnya pada betisku. Seluruh kakiku terasa terbakar. Aku berusaha menikamkan Riptide ke dalam mulut Chimera, tetapi ekor ular itu membelit pergelangan kakiku dan menarikku hingga jatuh. Pedangku terlontar dari tangan, berputar-putar keluar dari lubang di Gateway Arch dan jatuh ke Sungai Mississippi.

Aku berhasil berdiri, tetapi aku tahu aku sudah kalah. Aku tak bersenjata. Terasa olehku racun maut yang berpacu ke dada. Aku ingat Chiron berkata bahwa Anaklusmos akan selalu kembali kepadaku, tetapi di sakuku tak ada pena. Mungkin jatuhnya terlalu jauh. Mungkin hanya kembali kalau sedang berbentuk pena. Aku tak tahu, dan aku tak akan hidup cukup lama untuk mengetahuinya.

Aku mundur ke arah lubang di dinding. Chimera itu maju, menggeram, asap mengepul dari bibirnya. Si wanita ular, Echidna, terkekeh-kekeh. "Pahlawan zaman sekarang tak sehebat dulu, ya, Nak?"

Monster itu menggeram. Tampaknya ia sudah tak tergesa-gesa lagi menghabisiku, karena aku sudah kalah.

Aku melirik si penjaga dan keluarga itu. Bocah kecil itu bersembunyi di balik kaki ayahnya. Aku harus melindungi orang-orang ini. Aku tak bisa cuma... mati. Aku berusaha berpikir, tetapi seluruh tubuhku terasa terbakar. Kepalaku pusing. Aku tak punya pedang. Aku sedang menghadapi seekor monster raksasa yang bernapas api dan ibunya. Dan aku takut.

Aku tak bisa ke mana-mana lagi, jadi aku melangkah ke tepi lubang. Jauh, jauh di bawah, sungai tampak berkilap-kilap.

Kalau aku mati, apakah monster-monster itu akan pergi? Apakah mereka tak akan mengganggu manusia-manusia itu?

"Kalau kau anak Poseidon," desis Echidna, "kau tak akan takut air. Lompatlah, Percy Jackson. Tunjukkan bahwa air tak akan menyakitimu. Lompat dan ambil pedangmu. Buktikan garis darahmu."

Enak saja, pikirku. Aku pernah membaca di suatu tempat bahwa melompat ke air dari ketinggian puluhan lantai itu sama seperti melompat ke aspal. Dari sini, aku pasti mati saat terbanting.

Mulut Chimera berpendar merah, pemanasan untuk menembak lagi.

"Kau tak punya iman," kata Echidna. "Kau tak memercayai para dewa. Aku tak bisa menyalahkanmu, Pengecut Kecil. Lebih baik kau mati sekarang. Para dewa tak bisa dipercaya. Racun itu berada di hatimu."

Dia benar: aku sudah sekarat. Aku dapat merasakan napasku melambat. Tak ada yang bisa menyelamatkanku, dewa juga tidak. Aku mundur dan melihat ke air di bawah. Aku ingat pendar hangat senyuman ayahku sewaktu aku masih bayi. Dia pasti pernah menengokku. Dia pasti pernah mengunjungiku saat aku masih dalam buaian.

Aku ingat trisula hijau berputar-putar yang muncul di atas kepalaku pada malam permainan tangkap bendera, ketika Poseidon mengakuiku sebagai anaknya.

Tapi ini bukan laut. Ini Sungai Mississippi, tepat di tengah-tengah Amerika Serikat. Tak ada Dewa Laut di sini.

"Matilah, orang yang tak percaya," kata Echidna parau, dan Chimera menembakkan kolom api ke mukaku.

"Ayah, tolong aku," aku berdoa.

Aku berbalik dan melompat. Dengan pakaian terbakar dan racun menyebar dalam pembuluh darah, aku terjun ke arah sungai.

14. Aku Menjadi Pelarian Terkenal

Maunya sih aku bisa menyombongkan bahwa aku mendapat semacam wahyu agung dalam perjalananku ke bawah, bahwa aku berdamai dengan kefanaanku sendiri, tertawa menghadapi maut, dan seterusnya.

Tapi sebenarnya? Satu-satunya pikiranku cuma: Aaaaakkkhhhhhh!

Sungai berpacu ke arahku secepat truk. Angin merenggut napas dari paru-paruku. Menara dan gedung pencakar langit dan jembatan berguling masuk-keluar pandanganku.

Lalu: Pias!

Awan gelembung udara. Aku tenggelam dalam air keruh, yakin bahwa aku akan terbenam dalam tiga puluh meter lumpur dan hilang selamanya.

Tetapi, perbenturanku dengan air tidak sakit. Aku sekarang jatuh dengan lambat, gelembung air melayang naik melalui jemariku. Aku mendarat di dasar sungai tanpa suara. Seekor ikan lele sebesar ayah tiriku tiba-tiba menghilang ke dalam kelam. Awan pasir dan sampah menjijikkan—botol bir, sepatu tua, kantong plastik— berputar-putar di sekelilingku.

Saat itu aku menyadari beberapa hal: pertama, aku tidak gepeng seperti martabak. Aku tidak terpanggang. Aku bahkan tak bisa lagi merasakan racun Chimera mendidih dalam pembuluh darahku. Aku masih hidup, itu bagus.

Ha! kedua yang kusadari: aku tidak basah. Maksudku, aku dapat merasakan dinginnya air. Aku dapat melihat tempat-tempat api yang dipadamkan di pakaianku. Tetapi, ketika kemejaku sendiri kusentuh, rasanya kering. Aku memandangi sampah yang melayang lewat dan menyambar sebuah pemantik api tua.

Mustahil, pikirku.

Aku menekan tombol nyala. Pemantik itu nyala. Api kecil muncul, di dasar Sungai Mississippi. Aku menyambar bungkus hamburger basah dari arus dan langsung saja kertas itu menjadi kering. Aku berhasil membakarnya tanpa kesulitan. Begitu kulepaskan, apinya padam. Bungkus kertas itu kembali menjadi carik berlumut.

Aneh.

Tapi, pikiran teraneh baru terlintas di benakku terakhir: Aku bernapas. Aku berada dalam air, tetapi aku bernapas secara normal.

Aku berdiri, terbenam lumpur hingga ke paha. Kakiku merasa goyah. Tanganku gemetar. Semestinya aku sudah mati. Kenyataan bahwa aku tidak mati terasa seperti ... yah, mukjizat.

Aku membayangkan suara seorang wanita, suara yang agak mirip ibuku: Percy, harus bilang apa?

"Eh ... terima kasih." Di dalam air, suaraku seperti suara yang direkam, seperti anak yang jauh lebih tua. "Terima kasih ... Ayah."

Tak ada jawaban. Hanya arus sampah gelap ke hilir, si ikan lele raksasa meluncur lewat, kilas cahaya matahari terbenam di permukaan air jauh di atas, mengubah segalanya menjadi warna selai kacang.

Kenapa Poseidon menyelamatkanku? Semakin kupikirkan, aku semakin malu. Beberapa kali sebelumnya aku kebetulan saja mujur. Melawan makhluk seperti Chimera, aku tak punya peluang menang. Orang-orang malang di Gateway Arch pasti sudah menjadi panggangan. Aku tak bisa melindungi mereka. Aku bukan pahlawan. Mungkin sebaiknya aku tinggal di bawah sini saja bersama si ikan lele, bergabung dengan pemakan dasar sungai.

Bam-bam-bam. Roda lambung kapal sungai berputar di atasku, mengaduk-aduk pasir.

Di sana, tak sampai dua meter di depanku, ada pedangku, gagang perunggunya yang berkilauan mencuat dari lumpur.

Aku mendengar suara wanita itu lagi: Percy, ambillah pedang itu. Ayahmu meyakini kemampuanmu.

Kali ini aku tahu suara itu bukan khayalanku saja. Aku tidak mengada-ada. Suaranya seolah-olah datang dari semua tempat, beriak melalui air seperti sonar lumba-lumba.

"Kau di mana?" seruku keras-keras.

Lalu, melalui kekelaman, kulihat dia—wanita yang sewarna dengan air, hantu dalam arus, melayang tepat di atas pedang. Rambutnya panjang melayang-layang, dan matanya, yang nyaris tak terlihat, berwarna hijau seperti mataku. Ganjalan terbentuk di leherku.

Kataku, "Ibu?"

Bukan, Nak, hanya utusan, meskipun nasib ibumu belum seburuk yang kau yakini. Pergilah ke pantai di Santa Monica.

"Apa?"

Itu kehendak ayahmu. Sebelum turun ke Dunia Bawah, kau harus pergi ke Santa Monica. Tolong, Percy, aku tak bisa lama-lama. Sungai di sini terlalu kotor bagi kehadiranku.

"Tapi ..." Aku yakin perempuan ini ibuku, atau setidaknya bayangannya. "Siapa—bagaimana kau—"

Tapi, begitu banyak yang ingin kutanyakan, kata-katanya tersumbat di tenggorokanku.

Aku harus pergi, sang pemberani, kata wanita itu. Dia mengulurkan tangan, dan kurasakan arus air mengusap wajahku seperti belaian. Kau harus ke Santa Monica! Dan Percy, jangan percayai hadiah.... Suaranya menghilang.

"Hadiah?" tanyaku. "Hadiah apa? Tunggu!"

Dia mencoba berbicara sekali lagi, tetapi suaranya hilang. Sosoknya lenyap. Kalau itu ibuku, aku kehilangan dia lagi. Aku merasa ingin menenggelamkan diri. Satu-satunya masalah: Aku tak bisa tenggelam. Ayahmu meyakini kemampuanmu, kata wanita itu. Dia juga menyebutku pemberani ... kecuali kalau dia tadi berbicara dengan si ikan lele.

Aku mengarung ke arah Riptide dan mencengkeram gagangnya. Chimera mungkin masih berada di atas sana bersama ibu ularnya yang gembrot, menunggu menghabisiku.

Setidaknya polisi manusia akan datang, berusaha menyelidiki siapa yang melubangi Gateway Arch. Kalau mereka menemukanku, mereka pasti punya banyak pertanyaan.

Aku menutup pedang, memasukkan pena ke saku. "Terima kasih, Ayah," kataku lagi kepada air gelap.

Lalu, aku menolakkan tubuh pada lumpur dan berenang ke permukaan.

Aku mendarat di sebelah McDonald's terapung.

Satu blok dari situ, semua kendaraan darurat di St. Louis mengelilingi Gateway Arch. Beberapa helikopter polisi berputar-putar di udara. Kerumunan penonton yang penuh sesak mengingatkanku pada Times Square pada malam Tahun Baru.

Seorang anak perempuan berkata, "Mama! Anak itu berjalan keluar dari sungai."

"Bagus, Sayang," kata ibunya, yang menjulurkan leher untuk menonton ambulans.

"Tapi dia kering!"

"Bagus, Sayang."

Seorang penyiar perempuan berbicara di depan kamera: "Kami diberi tahu bahwa ini mungkin bukan serangan teroris, tetapi penyelidikan saat ini masih pada tahap yang sangat awal. Seperti yang Anda lihat, kerusakannya parah. Kami berusaha mendekati beberapa orang yang selamat, untuk menanyai mereka mengenai laporan saksi tentang seseorang yang jatuh dari Gateway Arch."

Orang yang selamat. Aku merasa lonjakan rasa lega. Mungkin si penjaga dan keluarga itu keluar dengan selamat. Kuharap Annabeth dan Grover baik-baik saja.

Aku berusaha menembus keramaian untuk melihat apa yang terjadi di dalam pita polisi.

"...remaja lelaki," seorang wartawan lain berkata. "Saluran Lima mendapat informasi bahwa kamera pengintai menunjukkan seorang remaja lelaki tiba-tiba mengamuk di dek observasi, lalu entah bagaimana memicu ledakan aneh ini. Sulit dipercaya, John, tetapi itulah yang kami dengar. Sekali lagi, tak ada korban jiwa..."

Aku mundur, berusaha menunduk. Aku harus mengambil jalan memutar ke sekeliling batas polisi. Polisi berseragam dan wartawan ada di mana-mana.

Aku hampir putus asa bisa menemukan Annabeth dan Grover, ketika sebuah suara akrab mengembik, "Perrr-cy!"

Aku berputar dan dihantam oleh pelukan erat Grover. Katanya, "Kami sangka kau sudah pergi ke Hades lewat jalan pintas!"

Annabeth berdiri di belakangnya, berusaha tampak marah, tetapi dia pun kelihatan lega bertemu denganku. "Kau ini memang nggak bisa ditinggal, biar cuma lima menit! Apa yang terjadi?"

"Aku jatuh."

"Percy! Dua ratus meter?"

Di belakang kami, seorang polisi berseru, "Buka jalani"

Orang membuka jalan, dan beberapa paramedis bergegas keluar, mendorong seorang wanita dalam usungan. Aku segera mengenalinya sebagai ibu si bocah kecil di dek observasi. Katanya, "Lalu ada anjing raksasa, Chihuahua raksasa yang bernapas api—"

"Oke, Bu," kata si paramedis. "Tenang dulu. Keluarga Ibu baik-baik saja. Obat itu mulai bekerja."

"Saya tidak gila! Anak itu melompat keluar lewat lubang dan monster itu menghilang." Lalu dia melihatku. "Itu dia! Itu anaknya!"

Aku cepat-cepat berbalik dan menarik Annabeth dan Grover bersamaku. Kami menghilang ke dalam keramaian.

"Ada apa sih?" tanya Annabeth. "Yang dia maksud itu, Chihuahua dalam lift tadi?"

Aku menceritakan semuanya tentang Chimera, Echidna, terjun bebasku, dan pesan dari wanita bawah air.

"Wah," kata Grover. "Kita harus cepat-cepat ke Santa Monica! Kau tak boleh mengabaikan panggilan dari ayahmu."

Sebelum Annabeth sempat menanggapi, kami melewati seorang wartawan lain yang memberitakan peristiwa ini, dan aku hampir terpaku di tengah jalan ketika dia berkata, "Percy Jackson. Benar, Dan. Saluran Dua Belas mendapat tahu bahwa anak yang mungkin menyebabkan ledakan ini memiliki ciri-ciri yang sesuai dengan remaja yang dicari polisi untuk kecelakaan bus yang parah di New Jersey tiga hari lalu. Dan anak itu diyakini bergerak ke arah Barat. Untuk pemirsa di rumah, inilah foto Percy Jackson."

Kami menunduk mengitari van berita dan menyelinap ke dalam gang.

"Yang paling penting dulu," kataku kepada Grover. "Kita harus keluar dari kota ini!"

Entah bagaimana, kami berhasil kembali ke stasiun Amtrak tanpa dikenali. Kami naik kereta api persis sebelum kereta itu berangkat menuju Denver. Kereta itu meluncur ke Barat sementara kegelapan tiba, lampu polisi masih berdenyar-denyar dengan latar pemandangan kota St. Louis di belakang kami.

15. Seorang Dewa Mentraktir Kami Cheeseburger

Sore berikutnya, tanggal 14 Juni, tujuh hari sebelum titik balik matahari, kereta kami memasuki Denver. Kami belum makan sejak malam sebelumnya di gerbong restoran, di suatu tempat di Kansas. Kami belum mandi sejak dari Bukit Blasteran, dan aku yakin itu terlihat dari penampilan kami.

"Ayo kita coba hubungi Chiron," kata Annabeth. "Aku ingin menceritakan pembicaraanmu dengan arwah air itu."

"Kita nggak bisa memakai telepon, kan?"

"Maksudku bukan dengan telepon."

Kami keluyuran di alun-alun sekitar setengah jam, meskipun aku tak tahu apa yang dicari Annabeth. Udara kering dan panas, yang terasa aneh setelah kelembapan St. Louis. Ke mana pun kami membelok, Pegunungan Rocky seolah-olah menatapku, bagaikan ombak pasang yang akan berdebur ke kota.

Akhirnya, kami menemukan tempat cuci mobil swalayan. Kami membelok ke bilik yang terjauh dari jalan, sambil memasang mata kalau-kalau ada mobil patroli. Kami tiga remaja yang luntang-lantung di tempat cuci mobil tanpa mobil; polisi mana pun yang cukup pintar tentu menyimpulkan bahwa kami sedang membuat onar.

"Apa persisnya yang akan kita lakukan?" tanyaku, sementara Grover mengambil semprotan.

"Tujuh puluh lima sen," gerutunya. "Aku cuma punya dua keping 25 sen. Annabeth?"

"Jangan lihat aku," katanya. "Gerbong restoran meludeskan uangku."

Aku merogoh uang receh yang terakhir dan memberikan 25 sen kepada Grover. Itu menyisakan dua keping 10 sen dan satu drachma dari tempat Medusa.

"Bagus," kata Grover. "Ini bisa kita lakukan dengan botol semprot, tentu saja, tetapi koneksinya tidak terlalu bagus, dan tanganku capek memompa."

"Kau bicara apa sih?"

Dia memasukkan koin dan menyetel tombol ke KABUT HALUS. "I-M" "Instant messaging?"

"Iris-Messaging," Annabeth mengoreksi. "Dewi Pelangi Iris membawa pesan kepada para dewa. Kalau kita tahu cara memintanya, dan dia tak terlalu sibuk, dia juga mau membawa pesan untuk blasteran."

"Kau memanggil dewi dengan semprotan air?"

Grover mengarahkan semprotan ke udara dan air mendesis keluar menjadi kabut putih yang tebal. "Kecuali kau tahu cara yang lebih mudah untuk membuat pelangi."

Benar saja, cahaya sore tersaring melalui uap dan terurai menjadi warna-warni.

Annabeth menyodorkan tangan kepadaku. "Minta drachmanya."

Aku menyerahkannya.

Dia mengangkat koin itu ke atas kepala. "Wahai dewi, terimalah persembahan kami."

Dia melemparkan drachma itu ke pelangi. Koin itu menghilang dalam pendar keemasan.

"Bukit Blasteran," Annabeth meminta.

Sesaat, tak terjadi apa-apa. Lalu, aku melihat ladang stroberi melalui kabut itu, dan Selat Long Island di kejauhan. Kami tampaknya berada di teras Rumah Besar. Di langkan, seorang pemuda berdiri memunggungi kami, pemuda yang berambut warna pasir, bercelana pendek, dan berkemeja Jingga. Dia memegang pedang perunggu dan tampaknya sedang menatap sesuatu di padang rumput lekat-lekat. "Luke!" panggilku.

Dia berbalik, dengan mata membelalak. Aku berani sumpah dia berdiri satu meter di depanku melalui tabir kabut, tetapi aku hanya bisa melihat bagian tubuhnya yang tampak dalam pelangi.

"Percy!" Wajah bercodetnya menyeringai. "Apa itu Annabeth juga? Terpujilah dewa-dewa! Kalian nggak apa-apa?"

"Kami ... eh ... baik," Annabeth terbata-bata. Dia sibuk merapikan kemejanya yang kotor, berusaha menyisir rambut kusut dari wajahnya. "Kami pikir—Chiron— maksudku—"

"Dia sedang di pondok." Senyum Luke memudar. "Sedang ada masalah dengan pekemah. Dengar, apakah semua baik-baik saja? Grover baik?"

"Aku di sini," seru Grover. Dia memegang semprotan ke satu sisi dan melangkah ke dalam garis pandang Luke.

"Masalah apa?"

Saat itu sebuah mobil Lincoln Continental masuk ke tempat cuci mobil, stereonya memperdengarkan lagu hip-hop bersuara nyaring. Sementara mobil itu masuk ke bilik sebelah, bas dari subwoofer-nya bergetar keras, sampai-sampai trotoar berguncang.

"Chiron harus—suara berisik apa itu?" teriak Luke.

"Biar kubereskan!" Annabeth balas berteriak, tampak sangat lega karena punya alasan untuk keluar dari pandangan. "Grover, ayo!"

"Apa?" kata Grover. "Tapi—"

"Berikan semprotan itu kepada Percy dan ayo!" perintahnya. Grover menggerutu soal anak perempuan lebih sulit dipahami daripada sang Oracle di Delphi, lalu dia menyerahkan semprotan kepadaku dan mengikuti Annabeth.

Aku menyesuaikan slang, supaya aku dapat mempertahankan pelangi sambil tetap bisa melihat Luke.

"Chiron harus melerai perkelahian," teriak Luke kepadaku mengatasi bunyi musik. "Keadaannya cukup tegang di sini, Percy. Kabar bocor tentang perselisihan Zeus-Poseidon. Kami masih belum tahu bagaimana caranya—mungkin bajingan yang memanggil anjing neraka itu. Sekarang pekemah mulai berpihak. Sepertinya bakal seperti Perang Troya lagi. Aphrodite, Ares, dan Apollo mendukung Poseidon, kurang-lebih. Athena mendukung Zeus."

Aku menggigil, membayangkan pondok Clarisse akan memihak ayahku dalam hal apa pun. Di bilik sebelah, terdengar Annabeth dan seorang lelaki bertengkar, lalu volume musik mengecil secara drastis.

"Jadi, bagaimana status misimu?" Luke bertanya. "Chiron pasti menyesal, tak sempat mengobrol denganmu sekarang."

Aku menceritakan hampir semuanya, termasuk mimpiku. Senang sekali rasanya melihat dia, merasa seperti aku kembali di perkemahan meskipun hanya beberapa menit. Aku sampai tak merasa berapa lama aku berbicara sampai alarm berbunyi di mesin semprot. Kusadari aku hanya punya waktu satu menit sebelum air mati.

"Andai aku bisa di sana," kata Luke. "Sayang, kami tak bisa banyak membantu dari sini, tetapi dengar ... pasti Hades yang mencuri petir asali itu. Dia hadir di Olympus pada titik balik matahari musim dingin. Aku yang memandu karyawisata dan kami melihat dia."

"Tapi kata Chiron, dewa tak bisa mengambil benda ajaib dewa lain secara langsung."

"Benar juga," kata Luke, tampak risau. "Tapi... Hades punya helm kegelapan. Bagaimana mungkin orang lain bisa menyelinap ke ruang singgasana dan mencuri petir asali? Orangnya harus tidak kelihatan."

Kami berdua diam, sampai Luke tampaknya menyadari perkataannya. "Eh," dia memprotes. "Maksudku bukan Annabeth. Dia dan aku sudah lama kenal. Dia tak mungkin ... Maksudku, dia sudah seperti adik bagiku."

Aku bertanya-tanya apakah Annabeth menyukai sebutan adik itu. Di bilik di sebelah kami, musik berhenti sama sekali. Seorang lelaki menjerit ketakutan, pintu-pintu mobil dibanting, dan mobil Lincoln itu keluar dari tempat cuci mobil.

"Sebaiknya kau periksa ada masalah apa itu," kata Luke. "Eh, kau memakai sepatu terbang itu, kan? Perasaanku lebih enak kalau aku tahu sepatu itu bermanfaat bagimu."

"Oh ... eh, iya!" Aku berusaha tidak terdengar seperti pembohong yang bersalah. "Ya, sepatunya bermanfaat."

"Benar?" Dia menyeringai. "Ukurannya pas?"

Airnya mati. Kabut mulai menguap.

"Jaga dirimu di Denver," kata Luke, suaranya semakin sayup. "Dan bilang pada Grover, kali ini akan lebih baik! Tak akan ada yang berubah menjadi pohon pinus asalkan dia—"

Tetapi, kabut itu hilang, dan bayangan Luke memudar hingga hilang. Aku berdiri sendirian di bilik cuci mobil yang kosong dan basah.

Annabeth dan Grover muncul dari tikungan sambil tertawa, tetapi berhenti ketika melihat wajahku. Senyum Annabeth memudar. "Apa yang terjadi, Percy? Apa kata Luke?"

"Nggak banyak," aku berbohong, perutku terasa sekosong pondok Tiga Besar. "Ayo, kita cari makan."

Beberapa menit kemudian kami sudah duduk di sebuah bilik di restoran krom yang berkilap. Di sekeliling kami, ‘keluarga-keluarga' menyantap burger dan minum susu, serta soda.

Akhirnya si pelayan datang. Dia mengangkat alis dengan skeptis. "Bagaimana?"

Kataku, "Kami, eh, mau memesan makanan."

"Kalian anak-anak punya uang untuk membayar?"

Bibir bawah Grover gemetar. Aku khawatir dia akan mulai mengembik, atau lebih buruk lagi, mulai mengunyah linoleum. Annabeth kelihatannya sudah hampir pingsan kelaparan.

Aku berusaha memikirkan kisah memelas untuk si pelayan, ketika suara gemuruh mengguncang seluruh bangunan; sebuah sepeda motor sebesar bayi gajah masuk ke tempat parkir. Semua percakapan di restoran itu berhenti. Lampu depan motor itu menyala merah. Tangki gasnya dicat gambar api, dan sarung senapan dipasang di kedua sisi, lengkap dengan senapannya. Sadelnya terbuat dari kulit— tetapi kulit yang mirip ... yah, kulit manusia kulit putih. Lelaki di atas motor itu bisa membuat para pegulat profesional kabur berlindung di ketiak ibu mereka. Dia memakai kaus merah tanpa lengan, jins hitam, dan jaket kulit hitam, sementara pisau berburu terikat pada pahanya. Dia mengenakan kacamata gaya warna merah, dan dia memiliki wajah paling brutal dan paling kejam yang pernah kulihat—tampan juga, barangkali, tapi jahat—dengan rambut krukat hitam berminyak dan pipi bercodet dari sangat banyak perkelahian. Anehnya, aku merasa pernah melihat wajahnya di suatu tempat.

Saat dia masuk ke restoran, angin kering dan panas bertiup ke semua tempat. Semua orang bangkit, seolah-olah dihipnotis, tetapi si pengendara motor melambaikan tangan mengabaikan dan mereka semua duduk lagi.

Semua orang kembali mengobrol. Si pelayan mengerjapkan mata, seolah-olah ada yang menekan tombol rewind di otaknya. Dia menanyai kami lagi, "Kalian anak-anak punya uang untuk membayarnya?"

Si pengendara motor berkata, "Aku yang bayar."

Dia menyelinap masuk ke bilik kami, yang terlalu kecil baginya, dan mendesak Annabeth ke jendela. Dia menatap si pelayan, yang terbeliak memandangnya, dan berkata, "Kau masih di sini?"

Dia menunjuk si pelayan, dan tubuh perempuan itu pun menjadi kaku. Dia berbalik seolah-olah tubuhnya diputar, lalu berderap kembali ke dapur.

Si pengendara motor menatapku. Aku tak bisa melihat matanya di balik kacamata merah, tetapi firasat buruk mulai bergolak di perutku. Amarah, benci, getir. Aku ingin menonjok tembok. Aku ingin mengajak orang berkelahi. Memangnya orang ini pikir dia siapa? Dia menyeringai jail kepadaku.

"Jadi kau anak si Ganggang tua ya?"

Semestinya aku kaget, atau takut, tetapi aku malah merasa seolah-olah sedang menatap ayah tiriku, Gabe. Aku ingin mencabut kepala orang ini.

"Memangnya apa urusanmu?"

Mata Annabeth memancarkan peringatan kepadaku. "Percy, ini—"

Si pengendara motor mengangkat tangan. "Nggak apa-apa," katanya. "Aku nggak keberatan dengan sikap kurang ajar sedikit. Asalkan kau ingat siapa yang berkuasa di sini. Kau tahu siapa aku, Sepupu Cilik?"

Lalu, aku teringat mengapa orang ini tampak tak asing lagi. Dia memiliki seringai jahat yang sama dengan beberapa anak di Perkemahan Blaster, anak-anak yang berasal dari pondok lima.

"Kau ayah Clarisse," kataku. "Ares, Dewa Perang."

Ares menyeringai dan mencopot kacamatanya. Di tempat yang semestinya ditempati matanya, hanya ada api, lubang kosong yang menyala dengan ledakan-ledakan nuklir mini.

"Benar, Anak Ingusan. Kudengar kau mematahkan tombak Clarisse."

"Dia yang mencari gara-gara."

"Mungkin. Keren juga. Aku tak mau mewakili anak-anakku berkelahi, kau tahu? Aku di sini karena—kudengar kau sedang di sini. Aku ada tawaran kecil untukmu."

Si pelayan kembali membawa nampan berisi penuh tumpukan makanan—cheeseburger, kentang goreng, cincin bawang bombai, dan milkshake cokelat.

Ares memberikan beberapa drachma emas kepadanya. Si pelayan menatap koin itu dengan gugup.

"Tapi, ini bukan ..."

Ares menghunus sebilah belati besar dan mulai membersihkan kuku jari. "Ada masalah, Manis?"

Si pelayan menelan ludah, lalu pergi membawa emas itu.

"Kau tak boleh begitu," kataku kepada Ares. "Kau tak boleh mengancam orang dengan pisau begitu saja."

Ares tertawa. "Kau bercanda, ya? Aku suka negara ini. Tempat terbaik sejak Sparta. Kau tak bawa senjata, Bocah Ingusan? Mestinya bawa. Dunia ini berbahaya. Dan kembali lagi ke tawaranku. Aku perlu bantuanmu."

"Bantuan apa yang bisa kulakukan untuk seorang dewa?"

"Sesuatu yang tak sempat dikerjakan dewa seorang diri. Nggak susah kok. Aku meninggalkan perisaiku di taman air terbengkalai di kota ini. Tadi aku sedang... berkencan dengan pacarku. Kami diganggu. Perisaiku tertinggal. Aku ingin kau mengambilkannya untukku."

"Kenapa tak kauambil sendiri saja?"

Api di lubang matanya menyala lebih panas. "Kenapa nggak kuubah saja kau menjadi anjing padang rumput dan menggilasmu dengan Harleyku? Karena aku sedang malas saja. Seorang dewa sedang memberimu penang untuk membuktikan diri, Percy Jackson. Apakah kau akan membuktikan bahwa kau pengecut?"

Dia memajukan tubuh. "Atau mungkin kau cuma berani bertempur kalau bisa terjun ke sungai, supaya ayahmu bisa melindungimu?"

Aku ingin menonjok orang ini, tetapi entah bagaimana, aku tahu dia menantikan itu.

Kekuatan Areslah yang menyebabkan amarahku. Dia senang kalau aku menyerang. Aku tak mau membuatnya puas.

"Kami nggak tertarik," kataku. "Kami sudah punya misi."

Mata berapi Ares membuatku melihat hal-hal yang tak ingin kulihat—darah dan asap dan mayat-mayat di arena peperangan.

"Aku tahu persis soal misimu, Bocah. Saat barang itu pertama kali dicuri, Zeus mengutus bawahan terbaiknya untuk mencarinya: Apollo, Athena, Artemis, dan tentu saja aku. Kalau aku tak bisa mengendus senjata sekuat itu ...." Dia menjilat bibir, seolah-olah bayangan petir asali itu saja sudah membuatnya haus. "Nah ... kalau aku saja tak bisa mencarinya, kau mana ada harapan. Meskipun begitu, aku berusaha membiarkanmu membuktikan diri. Aku dan ayahmu sudah lama berteman. Lagi pula, akulah yang memberi tahu dia tentang kecurigaanku soal si Napas Bangkai Tua itu."

"Kau yang memberi tahu dia bahwa Hades yang mencuri petir?"

"Tentu saja. Memfitnah orang untuk memicu perang. Tipuan lama. Aku langsung mengenalinya. Boleh dibilang, kau harus berterima kasih kepadaku atas misi itu."

"Trims," gerutuku.

"Hei, aku ini murah hati. Kau lakukan saja tugas kecil dariku ini, maka aku akan membantu perjalananmu. Aku akan mengurus tumpangan ke barat untukmu dan teman-temanmu."

"Kami baik-baik saja sendiri."

"Betul. Tak ada uang. Tak ada kendaraan. Tak punya gambaran soal apa yang kalian hadapi. Bantulah aku, mungkin aku bisa memberitahumu sesuatu yang perlu kalian ketahui. Sesuatu tentang ibumu."

"Ibuku?"

Dia menyeringai. "Nah, begitu dong. Jadi, taman air itu satu setengah kilometer di sebelah barat Delancy. Tak mungkin terlewat. Cari wahana Terowongan Cinta."

"Apa yang mengganggu kencanmu?" tanyaku. "Ada yang membuatmu ketakutan?"

Ares memamerkan giginya, tetapi aku sudah pernah melihat tampang mengancam seperti itu pada wajah Clarisse. Ada yang palsu dalam tampang itu, hampir seolah-olah dia gugup.

"Kau beruntung bertemu denganku, Bocah, dan bukan para dewa Olympia yang lain. Mereka tidak terlalu toleran pada kekurangajaran seperti aku. Kita bertemu lagi di sini setelah kau selesai. Jangan kecewakan aku."

Setelah itu sepertinya aku pingsan, atau trance, karena saat aku membuka mata lagi, Ares sudah menghilang. Aku ingin saja menganggap percakapan itu cuma mimpi, tetapi air muka Annabeth dan Grover menyatakan itu bukan mimpi.

"Nggak bagus," kata Grover. "Ares mencarimu, Percy. Ini nggak bagus."

Aku menatap keluar jendela. Motor itu sudah menghilang. Apakah Ares benar-benar tahu sesuatu tentang ibuku, atau dia cuma mempermainkanku saja? Sekarang, setelah dia pergi, seluruh amarah surut dari diriku. Aku menyadari bahwa Ares pasti senang mengacaukan emosi orang. Itulah kekuatannya—mendongkrak perasaan menjadi begitu buruk, sehingga mengaburkan kemampuan kita berpikir.

"Ini mungkin semacam jebakan," kataku. "Lupakan Ares. Kita pergi saja."

"Kita nggak bisa begitu," kata Annabeth. "Aku juga membenci Ares, sama seperti orang lain, tapi dewa nggak bisa diabaikan, kecuali kau ingin tertimpa nasib buruk. Dia nggak main-main soal mengubahmu menjadi binatang pengerat."

Aku menatap cheeseburger-ku, yang tiba-tiba tak terlalu lezat lagi. "Kenapa dia memerlukan kita?"

"Mungkin masalahnya perlu dipecahkan pakai otak," kata Annabeth. "Ares memiliki kekuatan. Cuma itu yang dia punya. Kekuatan pun kadang harus tunduk pada kearifan."

"Tapi, taman air ini... tingkahnya hampir seperti dia ketakutan. Apa yang menyebabkan seorang dewa perang kabur seperti itu?"

Annabeth dan Grover saling melirik dengan gugup. Kata Annabeth, "Sialnya, kita harus mencari tahu."

Matahari sudah mulai terbenam di belakang pegunungan saat kami menemukan taman air itu. Menilai dari plangnya, taman itu dulu bernama WATERLAND, tetapi beberapa hurufnya sekarang sudah hancur, sehingga menjadi WAT R A D.

Gerbang utamanya digembok dan bagian atasnya dipasangi kawat berduri. Di dalam, luncuran air dan tabung serta pipa raksasa yang kini kering meliuk-liuk di mana-mana, menuju ke kolam-kolam kosong. Tiket dan iklan lama beterbangan di atas aspal. Dengan malam yang menjelang, tempat itu tampak sedih dan menyeramkan.

"Kalau Ares membawa pacarnya ke sini untuk berkencan," kataku sambil menatap kawat berduri, "aku benar-benar nggak ingin lihat seperti apa tampang pacarnya itu."

"Percy," Annabeth memperingatkan. "Bersikaplah lebih hormat."

"Kenapa? Bukannya kau membenci Ares?"

"Tetap saja dia itu dewa. Dan pacarnya sangat pemarah."

"Jangan menghina penampilannya," tambah Grover.

"Memangnya siapa pacarnya? Echidna?"

"Bukan, Aphrodite," kata Grover, sedikit mendamba. "Dewi Cinta."

"Bukannya dia sudah punya suami?" kataku. "Hephaestus."

"Memangnya kenapa?" tanya Grover.

"Oh." Tiba-tiba aku merasa perlu mengubah topik. "Jadi, bagaimana caranya kita masuk?"

"Maia!"

Sepatu Grover mengeluarkan sayap. Dia terbang melewati pagar, tanpa sengaja bersalto di lengah udara, lalu terhuyung-huyung saat mendarat di seberang pagar. Dia menepiskan debu dari celana jins, seolah-olah memang sudah merencanakan semua itu. "Kalian ikut?"

Aku dan Annabeth harus memanjat dengan cara kuno, memegangi kawat berduri sementara yang satu memanjat melewatinya.

Bayangan semakin panjang sementara kami berjalan di taman itu, melihat-lihat segala wahana. Ada Pulau Penggigit Pergelangan Kaki, Celana Di Atas Kepala, dan Bung, Mana Baju Renangku?

Tak ada monster yang datang menyerang. Tak ada yang berbunyi sedikit pun.

Kami menemukan toko cendera mata yang dibiarkan terbuka. Dagangan masih mengisi rak: bola kaca berisi salju, pensil, kartu pos, dan beberapa rak— "Baju," kata Annabeth. "Baju bersih."

"Ya," kataku. "Tapi kita nggak boleh—"

"Bisa saja."

Dia menyambar sebaris pakaian dari rak dan menghilang ke ruang pas. Beberapa menit kemudian, dia keluar mengenakan celana pendek bercorak bunga Waterland, kaus Waterland merah besar, dan sepatu selancar Waterland edisi kenang-kenangan. Di bahunya tersandang ransel Waterland, jelas diisi dengan barang lain.

"Ya sudahlah."

Grover mengangkat bahu. Tak lama kemudian, kami bertiga berhias seperti iklan berjalan untuk taman bermain almarhum itu. Kami terus mencari Terowongan Asmara. Aku mendapat firasat bahwa seluruh taman sedang menahan napas.

"Jadi, Ares dan Aphrodite," kataku, agar tak memikirkan kegelapan yang semakin pekat, "mereka pacaran?"

"Itu gosip lama, Percy," kata Annabeth. "Gosip berusia tiga ribu tahun."

"Bagaimana dengan suami Aphrodite?"

"Ya, kau tahu," katanya. "Hephaestus. Si pandai besi. Dia menjadi cacat sewaktu bayi, karena dilempar Zeus dari Gunung Olympus. Jadi, dia nggak terlalu ganteng. Tangannya memang terampil, tetapi Aphrodite bukan tipe orang yang menghargai otak dan bakat, gitu."

"Tapi kok suka pengendara motor."

"Ya gitu deh."

"Hephaestus tahu?"

"Tentu saja tahu," kata Annabeth. "Dia pernah memergoki mereka berdua. Maksudku, benar-benar menangkap mereka, dalam jala emas, dan mengundang semua dewa datang dan menertawakan mereka. Hephaestus selalu berusaha mempermalukan mereka. Itu sebabnya mereka bertemu di tempat-tempat terpencil, seperti...” Dia berhenti, menatap lurus ke depan. "Seperti itu." Di depan kami terdapat kolam kosong yang pasti asyik dipakai main skateboard. Lebarnya paling sedikit 50 meter dan berbentuk seperti mangkuk. Di sekitar tepinya, selusin patung perunggu Cupid berjaga dengan sayap terbuka dan busur siap menembak. Di seberang kami, terbuka sebuah terowongan, mungkin dimasuki aliran air mengalir saat kolam itu penuh. Papan di atasnya berbunyi, WAHANA ASMARA ASYIK: INI BUKAN TEROWONGAN ASMARA KUNO!

Grover merayap ke tepi. "Teman-teman, lihat."

Di dasar kolam terdampar sebuah perahu yang berisi dua kursi berwarna putih-merah jambu. Bagian atasnya dihiasi kanopi dan seluruh permukaannya dicat hati kecil-kecil. Di kursi kiri ada perisai Ares, lingkaran perunggu yang dipoles, berkilauan dalam cahaya yang memudar.

"Ini terlalu gampang," kataku. "Jadi, kita tinggal berjalan turun ke situ dan mengambilnya?"

Annabeth mengusap dasar patung Cupid terdekat. "Ada huruf Yunani yang terukir di sini," katanya. "Huruf eta. Aku jadi ingin tahu..."

"Grover," kataku, "kau mencium bau monster?"

Dia mengendus angin. "Nggak ada."

"Nggak ada—maksudnya seperti di Gateway Arch dan kau nggak bisa mencium Echidna, atau benar-benar nggak ada?"

Grover tampak tersinggung. "Sudah kubilang, itu di bawah tanah."

"Oke, maaf." Aku menghela napas dalam-dalam. "Aku mau turun."

"Aku ikut." Grover terdengar tidak terlalu bersemangat, tetapi aku merasa dia berusaha menebus untuk peristiwa di St. Louis.

"Jangan," kataku. "Aku ingin kau tetap di atas, memakai sepatu terbang. Kau Superman, si jago terbang, ingat? Aku akan mengandalkanmu sebagai bala bantuan, kalau-kalau ada masalah."

Grover membusungkan dada sedikit. "Tentu. Tapi, masalah apa yang mungkin terjadi?"

"Nggak tahu. Cuma firasat. Annabeth, ikut aku—"

"Kau bercanda?" Dia menatapku seolah-olah aku baru jatuh dari bulan. Pipinya merah cerah.

"Ada apa lagi?" tanyaku.

"Aku, ikut kau ke ... ke 'Wahana Asmara Asyik'? Malu, tahu. Bagaimana kalau ada yang lihat?"

"Siapa yang bakal lihat?" Tapi sekarang mukaku juga terbakar. Cewek memang jago memperumit masalah. "Baiklah," kataku. "Aku sendirian saja."

Tetapi, ketika aku mulai menuruni sisi kolam, dia mengikutiku sambil menggerutu bahwa cowok selalu mengacaukan situasi. Kami sampai di perahu. Perisai itu disandarkan pada satu kursi, dan di sebelahnya ada selendang sutra perempuan. Aku berusaha membayangkan Ares dan Aphrodite di sini, sepasang dewa-dewi yang bertemu di wahana taman bermain yang bobrok. Kenapa?

Lalu, aku memerhatikan sesuatu yang tak terlihat dari atas: cermin di seluruh dinding kolam, menghadap ke tempat ini. Kami dapat melihat bayangan kami ke mana pun kami memandang. Pasti karena ini. Sementara Ares dan Aphrodite bermesraan, mereka dapat melihat idola mereka: diri mereka sendiri.

Aku memungut selendang itu. Warnanya berkilau-kilau merah jambu, dan parfumnya tak tergambarkan— mawar, atau kalmia. Bau yang enak. Aku tersenyum, agak termimpi-mimpi, dan hendak menggosokkan selendang itu pada pipi ketika Annabeth merebutnya dari tanganku dan menjejalkannya ke dalam saku. "Nggak boleh. Jangan dekat-dekat sihir cinta itu."

"Apa?"

"Ambil saja perisainya, Otak Ganggang, lalu kita keluar."

Begitu perisai itu kusentuh, aku langsung tahu kami bermasalah. Tanganku memutuskan sesuatu yang menghubungkan perisai itu pada perahu. Jaring laba-laba, pikirku, tetapi lalu kulihat seutas benda itu pada telapak tangan dan ternyata benda itu semacam benang logam, begitu halus sehingga hampir tak terlihat. Kawat jebakan.

"Tunggu," kata Annabeth.

"Terlambat."

"Ada huruf Yunani lain di sisi perahu, huruf eta lagi. Ini perangkap."

Bunyi meletus di sekeliling kami, bunyi sejuta gigi-gigi berputar, seolah-olah seluruh kolam berubah menjadi satu mesin raksasa.

Grover berteriak, "Teman-teman!!"

Di atas tepi kolam, patung-patung Cupid menarik busur ke posisi tembak. Sebelum aku sempat mengusulkan untuk berlindung, mereka memanah, tetapi tidak ke arah kami. Mereka saling memanah, melintasi tepi kolam. Kabel-kabel bagai sutra mengikuti panah, melengkung di atas kolam dan menjadi jangkar di tempat menancapnya, sehingga membentuk bintang emas raksasa. Lalu, benang-benang logam yang lebih kecil mulai menganyam di antara benang-benang utama, membentuk jaring.

"Kita harus keluar," kataku.

"Ya iyalah!" kata Annabeth.

Aku menyambar perisai itu dan kami berlari, tetapi menaiki tanjakan kolam tidak semudah menuruninya.

"Ayo!" teriak Grover. Dia berusaha membuka satu bagian jaring untuk kami, tetapi di mana pun ia menyentuhnya, benang-benang emas itu mulai membelit tangannya. Kepala-kepala Cupid membuka. Keluarlah kamera-kamera video. Lampu sorot keluar di sekeliling kolam renang, terang menyilaukan, dan suara loudspeaker bergemuruh:

"Siaran langsung ke Olympus satu menit lagi ... Lima puluh sembilan detik, lima puluh delapan..”

"Hephaestus!" jerit Annabeth. "Bodoh sekali aku! Huruf eta itu huruf 'H'. Dia membuat jebakan ini untuk memergoki istrinya dengan Ares. Sekarang kita akan disiarkan langsung ke Olympus dan tampak seperti orang bodoh!"

Kami hampir mencapai tepi ketika baris cermin itu membuka seperti tingkap dan ribuan ... benda logam kecil mengalir keluar. Annabeth menjerit. Pasukan serangga yang bisa diputar: tubuh perunggu bergigi, kaki kerempeng, mulut bercapit kecil, semuanya merayap ke arah kami, dalam gelombang logam yang berderak dan berputar.

"Laba-laba!" kata Annabeth. "La—la—aaaah!"

Aku belum pernah melihatnya seperti ini. Dia terjengkang ketakutan dan hampir dikerubungi robot laba-laba itu sebelum aku menariknya berdiri dan menyeretnya kembali ke arah perahu. Benda-benda itu keluar dari seluruh dinding kolam sekarang, jutaan, membanjir ke tengah kolam, benar-benar mengepung kami.

Aku menghibur diri, bahwa mereka mungkin tidak diprogram untuk membunuh, hanya mengepung kami dan menggigit kami dan membuat kami tampak bodoh. Tetapi, kalau dipikir lagi, jebakan ini dimaksudkan untuk dewa-dewa. Dan kami bukan dewa.

Aku dan Annabeth memanjat masuk ke dalam perahu. Aku mulai menendangi laba-laba yang berbondong-bondong naik. Aku berteriak kepada Annabeth agar membantuku, tetapi dia terlalu lumpuh untuk melakukan apa-apa selain menjerit.

"Tiga puluh, dua puluh sembilan," kata speaker. Laba-laba mulai meludahkan helai-helai benang logam, berusaha mengikat kami. Benang itu cukup mudah diputuskan pada mulanya, tetapi jumlahnya begitu banyak, dan laba-laba itu terus berdatangan. Aku menendang satu dari kaki Annabeth dan capitnya memotong sedikit sepatu selancarku yang baru.

Grover melayang-layang di atas kolam renang dengan sepatu terbang, berusaha menarik lepas jaring itu, tetapi jaring itu tak bergeming.

Pikir, kataku dalam hati. Pikir. Pintu masuk Terowongan Asmara berada di bawah jaring. Kami bisa menggunakannya sebagai jalan keluar, tetapi terowongan itu dihalangi sejuta laba-laba robot.

"Lima belas, empat belas," kata speaker.

Air, pikirku. Dari mana asal air wahana ini? Lalu kulihat semua: pipa-pipa air raksasa di belakang cermin, tempat semua laba-laba ini berasal. Dan di atas jaring, di sebelah salah satu Cupid, bilik berjendela kaca yang pasti merupakan posisi pengendali.

"Grover!" teriakku. "Masuk ke bilik itu! Cari tombol ‘nyala'!"

"Tapi—"

"Cepat!"

Ini harapan gila, tetapi satu-satunya peluang kami. Laba-laba itu sekarang menutupi haluan kapal. Annabeth menjerit-jerit. Aku harus membawa kami keluar dari sini.

Grover sekarang sudah berada di bilik pengendali, menghantam-hantam tombol.

"Lima, empat—"

Grover menatapku putus asa, mengangkat tangan. Dia memberitahuku bahwa dia telah menekan setiap tombol, tetapi tetap tak terjadi apa-apa. Aku memejamkan mata, dan berpikir tentang ombak, air melanda, Sungai Mississippi. Aku merasakan sentakan akrab di perutku. Aku berusaha membayangkan bahwa aku menyeret samudra sampai ke Denver.

"Dua, satu, nol!"

Air meledak keluar dari pipa. Air itu bergemuruh ke dalam kolam, menyapu semua laba-laba. Aku menarik Annabeth ke kursi di sebelahku dan mengencangkan sabuk pengamannya sementara ombak pasang menghantam perahu kami, menaikinya, menyapu semua laba-laba dan membuat kami basah kuyup, tetapi tidak menggulingkan kami. Perahu itu berputar, terangkat dalam banjir, dan berputar-putar di pusaran.

Air itu penuh dengan laba-laba yang korsleting, sebagian dari mereka menabrak tembok beton kolam dengan begitu kuat, sehingga meledak.

Lampu sorot menerangi kami. Kamera Cupid sudah berputar, siaran langsung ke Olympus. Tetapi, aku hanya bisa berkonsentrasi pada mengendalikan perahu. Aku menyuruhnya mengikuti arus, menjauhi tembok. Mungkin hanya imajinasiku, tetapi perahu itu tampaknya menanggapi. Setidaknya, perahu itu tidak hancur berkeping-keping. Kami berputar sekali lagi, tingkat air sekarang hampir cukup tinggi untuk mencacah kami pada jaring logam. Lalu, hidung perahu membelok ke arah terowongan dan kami melaju ke kegelapan.

Aku dan Annabeth berpegangan erat, menjerit, sementara perahu itu melesat di belokan dan menyerempet tikungan dan menukik 45 derajat melewati gambar-gambar Romeo dan Juliet serta banyak hal yang berkaitan dengan Hari Valentine.

Lalu, kami keluar dari terowongan, udara malam bersiul melalui rambut kami sementara perahu menerjang lurus ke pintu keluar.

Jika wahana ini berfungsi, kami semestinya meluncur keluar dari turunan, ke antara Gerbang Asmara Emas dan mendarat aman di kolam keluar. Tetapi, ada masalah. Gerbang Asmara dirantai. Dua perahu yang terhanyut keluar dari terowongan sebelum kami sekarang menumpuk pada barikade itu—satu tenggelam, satu terbelah dua.

"Buka sabuk pengaman," teriakku kepada Annabeth.

"Kau gila?"

"Kecuali kau mau mati hancur." Aku mengikatkan perisai Ares ke lenganku. "Kita harus melompat."

Gagasanku sederhana dan gila. Saat perahu menabrak, kami akan menggunakan kekuatannya sebagai papan tolakan untuk melompati gerbang. Aku pernah mendengar orang selamat dari kecelakaan mobil dengan cara itu, terlempar 10-15 meter dari kecelakaan. Kalau beruntung, kami akan mendarat di kolam.

Annabeth tampaknya mengerti. Dia mencengkeram tanganku sementara gerbang semakin dekat.

"Ikuti aba-abaku," kataku.

"Tidak! Aba-abaku!"

"Apa?"

"Fisika sederhana!" teriaknya. "Gaya kali sudut trayek—"

"Baik!" teriakku. "Ikut aba-aba-mu!"

Dia ragu ... ragu ... lalu berteriak, "Sekarang!"

Krak! Annabeth benar. Andaikan kami melompat menuruti pikiranku, kami tentu menabrak gerbang. Dia memungkinkan kami mendapat tolakan maksimum.

Sayangnya, lebih besar daripada yang kami perlukan. Perahu kami menabrak ke tumpukan dan kami terlontar ke udara, lurus melewati gerbang, melewati kolam, dan turun menuju aspal keras.

Sesuatu menangkapku dari belakang.

Annabeth berteriak, "Aduh!"

Grover! Di tengah udara, dia menyambar kemejaku dan lengan Annabeth, dan berusaha menarik kami agar tidak terbanting, tetapi aku dan Annabeth memiliki momentum.

"Kalian terlalu berat!" kata Grover. "Kita akan terbanting!”

Kami berputar-putar ke tanah, Grover berupaya sekuat tenaga untuk memperlambat jatuh. Kami menabrak papan foto. Kepala Grover masuk langsung ke lubang di tempat wisatawan menempatkan kepala, berpura-pura menjadi Nu-Nu si Paus Ramah. Annabeth dan aku terguling ke tangah, memar tetapi hidup. Perisai Ares masih terikat di lenganku.

Setelah kami mengatur napas, aku dan Annabeth mengeluarkan Grover dari papan foto dan berterima kasih kepadanya karena menyelamatkan nyawa kami. Aku menoleh kembali ke Wahana Asmara.

Airnya sedang menyurut. Perahu kami yang menabrak gerbang hancur berkeping-keping. Seratus meter dari situ, di kolam masuk, Para Cupid masih memfilmkan kejadian ini. Patung-patung itu berputar sehingga kameranya menyorot langsung kepada kami, lampu sorot menyorot wajah kami.

"Pertunjukan selesai!" teriakku. "Terima kasih! Selamat malam!"

Para Cupid berbalik ke posisi mereka semula. Lampu mati. Taman itu sunyi dan gelap lagi, kecuali cucuran kecil air ke kolam-keluar Wahana Asmara. Aku bertanya-tanya apakah Olympus sekarang menonton iklan, atau apakah peringkat penonton kami tinggi atau tidak.

Aku benci digoda. Aku benci dikelabui. Dan aku punya banyak pengalaman menghadapi penindas yang senang berbuat begitu kepadaku. Aku mengangkat perisai di lenganku dan menoleh kepada teman-temanku. "Kita perlu bicara sedikit dengan Ares."

16. Kami Membawa Zebra ke Vegas

Sang dewa perang menunggu kami di lapangan parkir restoran.

"Wah, wah," katanya. "Kalian tidak terbunuh."

"Kau sudah tahu di sana ada jebakan," kataku.

Ares menyeringai jail. "Pasti si pandai besi cacat itu kaget sewaktu dia menjaring sepasang anak bodoh. Kalian tampak bagus di televisi."

Aku menyorongkan perisai kepadanya. "Dasar berengsek."

Annabeth dan Grover menahan napas.

Ares menyambar perisai itu dan memutarnya di udara seperti adonan pizza. Perisai itu berubah bentuk, meleleh menjadi rompi tahan peluru. Dia menyampirkannya di punggung.

"Lihat truk yang di sana?" Dia menunjuk truk delapan belas roda yang diparkir di seberang jalan restoran. "Itu tumpanganmu. Membawamu langsung ke L.A., dengan singgah sekali di Vegas."

Truk beroda delapan belas itu memasang tanda di belakang, yang bisa kubaca hanya karena dicetak dengan huruf putih berlatar hitam, kombinasi yang baik untuk pengidap disleksia: WELAS ASIH INTERNASIONAL: TRANSPORTASI KEBUN BINATANG YANG MANUSIAWI. AWAS: HEWAN LIAR HIDUP.

Kataku, "Kau pasti bercanda."

Ares menjentikkan jari. Kunci pintu belakang truk itu terbuka. "Tumpangan gratis ke Barat, Bocah. Berhenti mengeluh. Dan ini sedikit hadiah untuk mengerjakan tugas dariku."

Dia mengambil ransel nilon biru dari setang motornya dan melemparkannya kepadaku. Di dalamnya ada pakaian bersih untuk kami semua, uang tunai dua puluh dolar, dan sekantong penuh drachma emas, dan sekantong Oreo Isi Dobel.

Kataku, "Aku nggak mau rongsok—"

"Terima kasih, Tuan Ares," sela Grover, sambil memberiku tatapan peringatan terbaiknya. "Terima kasih banyak."

Aku menggertakkan gigi. Menolak pemberian dewa mungkin merupakan hinaan yang membawa maut, tetapi aku tak menginginkan apa pun yang pernah disentuh Ares. Dengan enggan, kusandang ransel itu di bahu. Aku tahu amarahku disebabkan oleh kehadiran si dewa perang, tetapi aku gatal ingin menonjok hidungnya. Dia mengingatkanku akan semua penindas yang pernah kuhadapi: Nancy Bobofit, Clarisse, Gabe si Bau, guru-guru sarkastis—setiap orang berengsek yang pernah mengataiku bodoh di sekolah atau menertawakanku saat aku dikeluarkan.

Aku menoleh ke restoran, yang sekarang hanya berisi beberapa pelanggan. Si pelayan yang menyajikan makanan kami memandang gugup keluar jendela, seolah-olah dia cemas Ares akan menyakiti kami. Dia menyeret si koki penggoreng dari dapur untuk melihat. Dia mengatakan sesuatu kepada si koki. Koki itu mengangguk, mengangkat kamera sekali-pakai yang kecil dan memotret kami.

Bagus, pikirku. Besok masuk koran lagi deh.

Aku membayangkan judul beritanya: PELARIAN DUA BELAS TAHUN MEMUKULI PENGENDARA MOTOR YANG TAK BERDAYA.

"Kau berutang satu hal lagi padaku," kataku kepada Ares, sambil berusaha menjaga agar suaraku tetap datar. "Kau menjanjikan informasi tentang ibuku."

"Kau yakin kuat mendengar beritanya?" Dia menstarter motornya. "Dia belum mati."

Bumi terasa berputar di kakiku. "Apa maksudmu?"

"Maksudku, dia diambil dari si Minotaurus sebelum dia sempat mati. Dia diubah menjadi air mancur emas, kan? Itu metamorfosis. Bukan kematian. Dia ditahan."

"Ditahan. Kenapa?"

"Kau perlu belajar tentang perang, Bocah. Sandera. Orang ditahan untuk mengendalikan orang lain."

"Nggak ada orang yang mengendalikan aku."

Dia tertawa. "Begitu, ya? Sampai ketemu, Nak."

Aku mengepalkan tangan. "Kau sok sekali, Tuan Ares, untuk seseorang yang melarikan diri dari patung Cupid."

Di balik kacamatanya, api berkobar. Terasa angin panas di rambutku. "Kita akan bertemu lagi, Percy Jackson. Lain kali kalau kau berkelahi, berhati-hatilah."

Dia membunyikan Harley-nya, lalu menderu menyusuri jalan Delancy.

Kata Annabeth, "Itu bukan tindakan cerdas, Percy."

"Biarin."

"Jangan cari musuh dengan dewa. Terutama dengan dewa yang itu."

"Hei, teman-teman," kata Grover. "Aku nggak ingin menyela, tetapi ...."

Dia menunjuk ke restoran. Di kasir, kedua pelanggan terakhir membayar bon, dua lelaki berbaju monyet hitam yang seragam, dengan logo putih di punggung yang sama dengan logo di truk WELAS ASIH INTERNASIONAL.

"Kalau kita mau menumpang truk kebun binatang kilat," kata Grover, "kita harus buru-buru."

Aku tak menyukainya, tetapi kami tak ada pilihan yang lebih baik. Lagi pula, aku sudah kenyang melihat Denver.

Kami berlari menyeberangi jalan dan memanjat bagian belakang truk besar itu, lalu menutup pintunya.

Hal pertama yang terasa adalah baunya. Seperti kotak pasir kotoran kucing terbesar di dunia.

Bagian dalam truk itu gelap, sampai aku membuka tutup Anaklusmos. Bilahnya menerangi pemandangan yang sangat memilukan dengan cahaya perunggu samar.

Dalam sebaris kerangkeng logam kotor, duduklah tiga hewan kebun binatang yang paling mengenaskan yang pernah kulihat: zebra, singa albino jantan, dan semacam antelop aneh yang aku tak tahu namanya.

Seseorang telah melempar sekarung lobak cina kepada si singa. Hewan itu jelas tak mau memakannya. Zebra dan antelop mendapat masing-masing satu nampan gabus yang berisi daging hamburger. Surai si zebra lengket karena permen karet, seolah-olah ada yang iseng meludahinya pada waktu luang. Salah satu tanduk si antelop diikatkan balon ulang tahun perak yang konyol, bertulisan SUDAH GAEK!

Rupanya, tak ada yang ingin mendekati si singa untuk mempermainkannya, tetapi hewan malang itu mondar-mandir di atas selimut kotor, di ruangan yang terlalu kecil baginya, terengah-engah karena udara panas dan pengap truk itu. Lalat mengerubungi matanya yang merah jambu, dan tulang iganya tampak menonjol pada bulunya yang putih.

"Ini welas asih?" teriak Grover. "Transportasi kebun binatang manusiawi?"

Dia mungkin ingin keluar lagi dan memukuli kedua sopir truk itu dengan seruling, dan aku ingin membantunya, tetapi saat itu mesin truk menggerung menyala, truk mulai berguncang, dan kami terpaksa duduk kalau tidak mau jatuh.

Kami berkumpul di pojok, di atas karung pakan yang berjamur, berusaha mengabaikan bau dan panas dan lalat.

Grover berbicara kepada hewan-hewan itu dengan serentetan embik kambing, tetapi mereka hanya menatapnya sedih. Annabeth ingin merusak kerangkeng dan membebaskan mereka saat itu juga, tetapi kuingatkan bahwa hal itu tak ada gunanya sampai truk berhenti bergerak. Lagi pula, aku mendapat perasaan bahwa, bagi si singa, kami mungkin tampak lebih lezat daripada lobak itu.

Aku menemukan kendi air dan mengisi mangkuk mereka, lalu menggunakan Anaklusmos untuk menyeret makanan yang tak cocok itu dari dalam kerangkeng. Kuberikan daging kepada si singa dan lobak kepada si zebra dan si antelop.

Grover menenangkan si antelop, sementara Annabeth menggunakan pisaunya untuk memotong balon dari tanduknya. Gadis itu juga ingin memotong permen karet dari surai kuda, tetapi kami memutuskan bahwa itu terlalu berisiko di dalam truk yang berguncang-guncang. Kami meminta Grover berjanji kepada hewan-hewan itu, bahwa kami akan membantu mereka lagi pagi-pagi, lalu kami bersiap tidur malam itu.

Grover meringkuk di atas karung lobak; Annabeth membuka kantong Oreo Isi Dobel dan menggigiti sekeping biskuit dengan setengah hati; aku berusaha menghibur diri dengan berkonsentrasi pada kenyataan bahwa kami sudah setengah jalan ke Los Angeles. Setengah jalan ke tujuan kami. Baru tanggal 14 Juni. Titik balik matahari masih tanggal 21. Kami masih punya banyak waktu.

Di lain pihak, aku tak tahu sama sekali apa yang akan terjadi berikutnya. Para dewa terus mempermainkanku. Setidaknya, Hephaestus cukup berbudi, sehingga jujur ketika melakukannya—dia memasang kamera dan mengiklankan aku sebagai hiburan. Tapi, bahkan saat kamera tidak berputar, aku merasa misiku sedang diamati. Aku menjadi sumber hiburan bagi para dewa.

"Eh," kata Annabeth, "maaf ya, tadi aku panik di taman air, Percy."

"Nggak apa-apa." "Soalnya ...." Dia menggigil. "Laba-laba."

"Gara-gara cerita Arachne itu, ya," tebakku.

"Dia diubah menjadi laba-laba karena menantang ibumu berlomba menganyam, ya?"

Annabeth mengangguk. "Sejak itu anak-anak Arachne membalas dendam kepada anak-anak Athena. Kalau ada laba-laba dalam jarak 1 kilometer dariku, pasti dia bisa menemukanku. Aku benci makhluk kecil yang merayap-rayap. Yang pasti, aku berutang budi padamu."

"Kita satu tim, kan?" kataku. "Lagi pula, Grover yang terbang dengan hebat."

Kusangka Grover sudah tidur, tetapi dia menggumam dari sudut, "Aku memang cukup hebat, ya?"

Aku dan Annabeth tertawa.

Dia membelah sebuah Oreo, dan memberikan setengahnya kepadaku. "Dalam pesan Iris ... apakah Luke benar-benar nggak berkata apa-apa?"

Aku mengunyah kue dan memikirkan cara menjawab pertanyaan itu. Percakapan via pelangi itu menggangguku sepanjang sore. "Kata Luke, kau dan dia sudah lama berteman. Dia juga berkata bahwa kali ini Grover nggak akan gagal. Nggak ada yang akan berubah menjadi pohon pinus."

Dalam cahaya perunggu remang-remang dari mata pedang, sulit membaca raut muka mereka. Grover mengembik nelangsa.

"Semestinya sejak awal aku memberitahumu yang sebenarnya." Suaranya gemetar. "Kupikir, kalau kau tahu seberapa besar kegagalanku, kau nggak akan mau aku ikut."

"Kau satir yang berusaha menyelamatkan Thalia, putri Zeus." Dia mengangguk suram. "Dan kedua anak blasteran yang menemani Thalia, yang sampai ke perkemahan dengan selamat ...."

Aku menatap Annabeth. "Itu kau dan Luke, ya?"

Dia meletakkan Oreo, tanpa dimakan. "Seperti yang kau bilang, Percy, seorang anak blasteran berumur tujuh tahun nggak mungkin bisa berjalan sejauh itu kalau hanya sendirian. Athena membimbingku ke orang yang dapat membantu. Thalia dua belas tahun. Luke empat belas. Mereka berdua kabur dari rumah, sama sepertiku. Mereka dengan senang hati mengajakku. Mereka... petarung monster yang hebat, bahkan tanpa pelatihan. Kami menuju utara dari Virginia tanpa rencana jelas, menghalau monster selama sekitar dua minggu sebelum Grover menemukan kami."

"Aku ditugasi mengiringi Thalia ke perkemahan," katanya sambil terisak-isak. "Cuma Thalia. Aku mendapat perintah tegas dari Chiron: jangan melakukan apa pun yang memperlambat penyelamatan. Soalnya, kami tahu Hades mengincar Thalia, tapi aku nggak tega meninggalkan Luke dan Annabeth berdua saja. Kupikir ... kupikir aku bisa membimbing ketiga-tiganya hingga selamat. Karena kesalahankulah Makhluk Baik itu bisa mengejar kami. Aku terpaku. Aku ketakutan dalam perjalanan kembali ke perkemahan dan beberapa kali salah belok. Andai saja aku lebih cepat..."

"Hentikan," kata Annabeth. "Nggak ada yang menyalahkanmu. Thalia juga nggak menyalahkanmu."

"Dia mengorbankan diri demi menyelamatkan kita," kata Grover merana. "Dia mati gara-gara aku. Dewan Tetua Berkuku Belah juga bilang begitu."

"Karena kau tak mau meninggalkan kedua anak blasteran yang lain?" kataku. "Itu nggak adil."

"Percy benar," kata Annabeth. "Aku nggak mungkin masih hidup sekarang, kalau bukan berkat dirimu, Grover. Luke juga. Kami nggak peduli apa kata dewan."

Grover terus terisak-isak dalam gelap. "Peruntunganku memang begitu. Aku satir paling payah sepanjang zaman, tapi malah menemukan dua anak blasteran terkuat abad ini, Thalia dan Percy."

"Kau tidak payah," Annabeth bersikeras. "Kau lebih pemberani daripada satir mana pun yang pernah kutemui. Coba sebutkan satu satir lain yang berani pergi ke Dunia Bawah. Aku yakin Percy sangat senang kau sekarang berada di sini."

Dia menendang tulang keringku.

"Iya," kataku, yang memang akan kukatakan sekalipun tidak ditendang. "Bukan karena peruntungan, kau menemukan Thalia dan aku, Grover. Kau punya hati terbesar di antara semua satir. Kau pencari yang alami. Itu sebabnya kaulah yang akan menemukan Pan."

Aku mendengar helaan napas puas yang dalam. Aku menunggu Grover mengatakan sesuatu, tetapi napasnya malah bertambah berat. Ketika bunyinya berubah menjadi dengkur, kusadari dia sudah tidur.

"Bagaimana sih dia bisa begitu?" aku terheran-heran.

"Nggak tahu," kata Annabeth. "Tapi, baik sekali perkataanmu untuknya barusan."

"Aku sungguh-sungguh."




0 Response to "PERCY JACKSON & THE OLYMPIANS"

Post a Comment

Translate

English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified