HOME

Wednesday, September 21, 2011

Penakluk Ujung Dunia 2

5

Masih pagi benar. Udara cukup dingin. Tanah lembab

pertinggal hujan semalam. Dua tiga biji bambu duri

terbelintang di tengah jalan, tumbang. Di darat kabut tipis

saja. Hijaunya dedaunan dapat juga dilihat pandang.

Bertambah segar karena mengandung butir air. Tapi,

permukaan danau, jika bertambah jauh ke tengah, kabut

mengental. Beberapa depa saja dapat ditembus pandang.

Pulau Samosir Tuktuk Sigaol tidak tampak. Air danau alangkah

dinginnya.

Ronggur, Tio, dan si belang sudah berada dalam perahu.

Tempat begitu lapang. Pengayuh, galah, penimba air, sudah di

tempatnya. Tombak, kampak, panggada, ambalang, dan

sesumpit batu sungai yang keras. Beras sesumpit. Disumpit

lain daging kering. Juga mereka bawa mata pancing serta

talinya.

Pada leher Ronggur membelit ulos batak ragi purada yang

dibelitkan ibunya. Begitu juga pada leher Tio, dibelitkan ulos

batak ragi purada yang diiringi kata, "Belitkanlah pada

tubuhmu, di kala dingin mencekam. Pengganti tangan bunda .

. .." Hanya perempuan tua itu dan bekas Datu Bolon di tepian

danau mengantar mereka. Orang lain sudah dilarang untuk

mengantarkan mereka. Ronggur menatap pada ibunya,

sebelum perahu hilang ditelan kabut. Lalu pada orang tua itu,

melalui renggangan batang bambu duri, dicampakkan

pandang ke tengah kampung. Mencari bekas kehidupan masa

lalu di sana. Tingkah lakunya yang sopan serta ramah-tamah,

keberanian yang tidak gentar menghadapi sesuatu soal pada

saatnya, memikat hati orang di sekitarnya. Karena itu dia

banyak mempunyai teman.

Tapi, di saat dia harus meninggalkan perkampungan itu

untuk satu perjalanan yang belum tentu akhirnya, tak terduga

nasibnya, tidak seorang pun dari temannya yang dibolehkan

mengantarkan. Melepasnya. Tahulah dia, betapa pahit

perasaan mencekam hati untuk meninggalkan tanah tempat

lahir, dibesarkan, dan diasuh, punya teman, tapi tidak boleh

pamitan.

Di sebelah haluan perahu, Tio berdiri. Matanya jauh

mengedari tanah yang sudah cukup dikenalnya. Di mana dia

pernah disanjung puja, selagi martabat marganya belum

runtuh. Teringat pula saat kejatuhan marganya dan dia

sendiri, harus menjadi budak belian. Temannya sebaya banyak

yang mati di saat itu. Setetes dua air-mata membasahi pipi.

Cepat dihapus agar tidak sempat dilihat Ronggur.

Perahu bergerak perlahan meninggalkan tepian. Tangan

mereka membalas lambaian kedua orang tua yang

mengantarkan mereka. Sebelum pferahu ditelan kabut, tidak

hentinya lambaian dilepaskan dari tepian, tinggi melengking.

Si belang pun seperti tahu, perjalanan mereka sekali ini amat

panjang. Perlahan perahu memasuki daerah yang dilingkungi

kabut tebal. Perlahan pula tepian menghilang dari

pemandangan. Untuk digantikan warna putih saja pada

akhirnya. Tangan terkulai tak ada lagi yang hendak dilambai.

Tidak dilihat Ronggur lagi, ibunya mencampakkan diri ke

pohon hariara yang besar itu. Tersedu di sana. Meratap

panjang. Bekas Datu Bolon menyabari. Kemudian

menuntunnya pulang ke rumah.

"Mereka akan berhasil, mereka akan pulang membawa

berita baik dan menggembirakan," bujuk bekas Datu Bolon.

"Semua yang dikorbankan Ronggur untuk perjalanan ini akan

kembali padanya, malah lebih dari itu akan dipunyainya."

Perempuan tua itu menundukkan kepala, mengiakan, walau

sebenarnya dia tidak dapat meyakini bujukan itu.

Bila sinar matahari pagi telah muncul dari puncak Dolok

Simanuk-manuk, kabut tambah menipis lalu menghilang.

Kerajaan sudah tahu bahwa Ronggur bersama Tio telah

berangkat, maka Raja Panggonggom mencoret nama Ronggur

dari silsilah keturunan marga. Ronggur telah dianggap mati.

Riwayat Ronggur berakhir di s itu saja.

Perahu yang dikayuh Ronggur dan Tio maju perlahan. Tio

mendayung ke hulu. Ronggur di buritan langsung menjadi

pengemudi. Beberapa biji mata pancing yang sudah diumpani

dijatuhkan Tio ke danau. Sambil berkayuh, mereka

mengharapkan dapat pula sambil lalu menangkap beberapa

ekor ikan. Mereka berdua terus mengkayuh. Antara keduanya

belum mengucap sesuatu kata.

Perahu terasa berat dikayuh. Karena dasarnya agak lebar.

Haluannya tumpul. Menahan air atau menghempang kelajuan

perahu. Tapi, mereka masing-masing melaksanakan tugas,

walau perahu agak susah dikayuh dan walau hati masingmasing

masih diselubungi sakitnya perpisahan dengan kaum

kerabat, dengan tanah tempat dibesarkan, tanpa pamit.

Walaupun Tio tetap merasakan bahwa dia akan aman selalu

bila berdekatan dengan Ronggur, yang mempunyai otot yang

tegap, tekad hati yang bulat, keberanian yang jantan, sikap

ramah tamah, dan sopan santun yang manis, namun pada

saat itu, setiap perahu tambah jauh dikayuh, hatinya merasa

kecut juga mendatangi ajal yang ada di depan.

Tapi, dihiburnya diri, kalau dia tidak ikut, bukankah itu

berarti memberikan tubuhnya, hidupnya ke tangan nasib yang

telah tertentu belangnya, yaitu menjadi budak belian orang,

yang akan memperlakukannya seperti memperlakukan hewan.

Bukankah itu berarti penghinaan akan martabat diri, tidak

tahu menghargai diri sebagai manusia yang dapat

membedakan arti dan hakikat manusia merdeka dengan

budak belian?

Ah, katanya dalam hati sendiri, bila diri tahu perbedaan

antara menjadi seorang budak belian dengan manusia

merdeka dan diri tidak berpihak kemerdekaan itu, seseorang

yang tidak dapat mengucapkan terima kasih pada Mula Jadi

Na Bolon, yang telah menciptakannya menjadi manusia. Tidak

menciptakannya menjadi hewan.

Satu keuntungan bagi tiap manusia, yang bisa

mempergunakan tiap kesempatan yang ada, untuk

membebaskan diri dari belenggu yang menindas harga diri itu.

Dan, kata Tio selanjutnya pada diri sendiri, kesempatan,

kupikir dan kurasakan, ada bila aku bersama Ronggur. Bila

aku memilih jalan yang ditempuhnya. Walau apa bentuk nasib

yang menanti di depan. Itulah risiko.

Manusia lahiratau dilahirkan memang untuk menghadapi

risiko, mengatasinya, lalU tercapailah idaman hati. Atau,

memang diri mampus karena tidak dapat mengatasi risiko itu.

Tapi, diri telah melaksanakan tugas kehidupan sebaik-baiknya.

Dan, itulah kehidupan. Kabut sudah terangkat, matahari

leluasa melemparkan sinarnya.

"Sentak pancing yang ada di sebelah kananmu!" teriak

Ronggur yang sekaligus membangunkan Tio dari renungan.

Tangannya cepat menggapai tali pancing. Tidak lama

kemudian, seekor ikan mas yang sudah cukup besar,

menggelepar di permukaan air.

"Tangkap dengan jaring," kata Ronggur pula.

Tio mengikuti petunjuk itu. Dengan sebuah pukulan

panggada pada kepala, ikan itu melepaskan gelepar akhirnya.

Isi perutnya dibuang Tio. Disisikinya. Lalu dia bertanya pada

Ronggur:

"Kita apakan ikan ini? Kita ura?"

"Ya, ura saja. Banyak bikin asamnya. Biar cepat masak.

Tapi, harus rata. Biar masaknya rata pula."

Dengan sedih akhirnya Tio mengatakan, "Tapi, daun

pembungkusnya tidak ada."

Ronggur mencampak pandang ke pinggir danau. Cepat dia

menujukan haluan perahu ke tepian. Lalu melompat dari

perahu ke tepian berpasir basah, langsung memanjat sebuah

pohon berdaun lebar. Beberapa tangkai dedaunan yang cukup

lebar dijatuhkan ke tanah. Cepat dipungut Tio. Ikan diasami.

Lalu dibaluri dengan kunyit. Kemudian dibungkus baik-baik.

Seolah tidak tertembus hawa.

Mereka melanjutkan perjalanan. Mereka tidak memenggal

perjalanan melalui tengah danau. Selalu mengikuti pantai.

Hingga perjalanan menjadi bertambah jauh. Beberapa kali

mereka berpapasan dengan penangkap ikan. Tapi, tidak

seorang pun dari penangkap ikan yang melambaikan tangan

dan menyapa mereka. Para penangkap ikan itu menatap

dengan dungu ke arah mereka. Lalu, cepat mengkayuh

sampan masing-masing, agar cepat jauh dari manusia yang

sudah digoda setan jahat itu. Sekarang Ronggur sudah dapat

mengartikan, kenapa orang tidak menegurnya dengan ramah

lagi.

Matahari tambah tinggi dan terik. Gelombang mulai

menggila. Perahu mulaii menunduk nunduk mengikuti alun

gelombang. Sampan penangkap ikan sudah sunyi dari danau.

Ronggur mengkayuh melalui ke tepian. Tepian yang dipilih

ialah lepian yang jauh dan kampung yang banyak bertebar

sepanjang pantai danau. Di sana mereka memasak nasi lalu

makan siang. Daging kering masih ada. Sedang ikan yang

diura itu, baru bebeiapa hari kemudian dapat dibuka dari

bungkusannya untuk dimakan.

Bila sinar matahari sudah tidak terik lagi, kembali mereka

melanjutkan perjalanan. Matahari leluasa melemparkan

sinarnya dan membakar mereka berdua, turut si belang, justru

karena perahu mereka tidak punya atap. Si belang tidak sering

lagi menggonggong, sudah lebih banyak diam dan tiduran di

perut perahu. Pada mulanya dia selalu menggonggong perahu

dan sampan yang berpapasan dengan mereka, tapi karena

orang yang ada dalam sampan atau perahu yang

digonggongnya tidak melambaikan tangan, membalas

gonggongnya, akhirnya si belang sendiri pun tinggal diam saja

melihat mereka, sambil menjulurkan lidah.

Setelah dua hari berkayuh, tepian danau kembali dirimbuni

rumpun bambu duri dengan rapat. Pertanda perkampungan.

Titik putih yang besar itu, dapat mereka terka bahwa itu

kuburan nenek moyang yang pertama merambah mendirikan

perkampungan. Dapat mereka tentukan melalui titik putih itu

bahwa itulah gerbang perkampungan. Kuburan nenek moyang

yang pertama membuka satu perkampungan, selalu

dikebumikan di gerbang kampung. Titik kecil yang

bermunculan di sana menatap ke arah mereka, ada yang

menuding. Tapi, tidak ada yang melambaikan tangan.

Tio tidak memikirkan itu. Tapi, pada pikirannya mendatang

pengenalan bahwa mereka telah memasuki lekuk danau yang

pada salah satu tepiannya, bermula Sungai Titian Dewata. Dia

menarik napas yang dalam. Sedang Ronggur memperhatikan

permukaan air dengan awas. Meneliti awal sungai.

Pada mulut sungai banyak terdapat gugusan pasir hidup.

Perahu dan sampan nelayan yang terdampar ke sana karena

tidak hati-hati, secara perlahan-lahan akan ditelan pasir hidup

itu. Orangnya bisa selamat kalau pandai berenang. Pasir hidup

selalu berpindah tempat, bergerak dibawa arus. Jadi orang

yang berlayar di sana harus hati-hati. Tanda pasir hidup dapat

diketahui dari permukaan air danau yang agak memutih,

bercampur keruh, dan beriak.

"Percepatlah mengayuh Tio," kata Ronggur. "Sebelum sore

benar, kita sudah harus memasuki mulut sungai. Biar kita

dapat terus menyusuri sungai sampai ke tempat yang jarang

perkampungannya. Juga agar dapat kita bedakan, antara

permukaan air yang aman dan jebakan pasir hidup. Kita tak

dapat menepi di sini. Terlalu rapat perkampungannya. Siapa

tahu, di antara mereka ada yang bermaksud jahat pada kita."

Tio mempercepat kayuhannya. Si belang kalau sudah capek

duduk, terkadang berjalan hilir mudik dalam perahu.

Mengibaskan ekor pada punggung Tio, begitu pula pada kaki

Ronggur. Tampaknya si belang seperti menyesal, karena tidak

dapat membantu tuannya.

Cahaya senja sudah bermain di permukaan air yang beriak.

Riak yang seperti disorong ke satu arah, punya arus, tapi

masih perlahan. Mula sungai. Riak itu, walau masih perlahan,

tetap bergerak, tetap disorong sesuatu tenaga untuk ditibakan

ke satu tempat.

Pada kedua tepian pangkal sungai, banyak orang berdiri.

Melihat mereka dengan dungu. Dari sekian banyak orang,

yang diketahui Ronggur sudah lain dari kesatuan marganya,

seorang pun tidak ada yang menyapa mereka. Tapi, orang

mencampak pandang ke arah mereka. Menonton tanpa

menggunakan perasaan. Oleh tatapan itu, oleh kebisuan itu,

Tio menjadi gelisah.

Si belang sudah pernah menggonggong ke arah mereka,

seperti menjenggak. Tapi, orang itu tetap juga di tempatnya.

Si belang akhirnya capek sendiri. Tio bolak-balik melihat pada

orang banyak, kemudian pada Ronggur yang terus mengayuh

dan menjaga kemudi dengan hati-hati.

"Ronggur, kau lihat mereka itu?"

"Ya, kulihat. Teruslah mengayuh, jangan ambil perduli."

"Tidak seorang pun dari mereka yang mengaju tanya pada

kita. Sedang mereka sudah berbeda marganya dari margamu.

Apakah mereka tidak bisa mengucapkan sepatah kata?"

"Kepercayaan mereka sama dengan yang dianut margaku.

Tidak mengapa. Teruskan mengayuh. Kepercayaan itu yang

melarang mereka untuk bercakap dengan kita. Atau,

kepercayaan itu membuat mereka bisu. Perasaan mereka

tumpul dibuatnya. Teruslah mengayuh. Sebelum jauh malam,

hendaknya kita sudah sampai ke tempat yang cukup jauh dari

perkampungan mereka."

"Mata mereka tidak bercahaya. Seperti mata ikan yang

mati. Aku ngeri melihatnya dan merasa terpukau berhadapan

dengan manusia yang begitu banyak, tapi yang begitu diam

dan bisu, seperti patung. Tidak berkerisik."

"Teruslah berkayuh, Tio. Biar cepat kita jauh dari tatapan

mereka. Agar godaan darinya tidak lama mempengaruhi tekad

diri."

Tio meneruskan mengayuh. Untuk akhir kalinya, si belang

sekali lagi menggonggong ke arah tumpukan orang yang diam

bisu itu, sebelum mereka menjauh benar. Arus sungai masih

lemah. Belum bisa menghayutkan perahu. Mereka masih harus

mengayuh kuat-kuat, agar perahu melaju.

Senja di langit bertambah tua. Merahnya mewarnai segala.

Dan, dari satu tempat yang ketinggian lagi sunyi, seseorang

memanggil nama Ronggur. Mulanya begitu lemah dan jauh.

Seperti suara setan yang bangkit dari dunia jauh. Ronggur

mendongakkan kepala, mencari dari mana suara itu datang. Si

belang mempertajam penciuman. Menggonggong. Disuruh Tio

diam. Si belang mengikut.

Seseorang berlari di pematang sawah sambil melambaikan

tangan. Ronggur berhenti berkayuh. Diikuti Tio. Orang itu

sudah berada di tepian sungai. Setelah beberapa hari tidak

mendengar suara orang lain yang mencakapkan mereka,

rasanya, suara orang itu seperti hadiah yang besar, hadiah

yang membuat mereka gugup.

"Ronggur," kata orang itu, napasnya masih tersengal,

"bawalah aku bersama kalian. Aku mau turut."

Ronggur tambah terdiam. Hampir tidak dapat mempercayai

pendengarannya.

"Ronggur, kau dengarkah aku? Aku si Lolom. Kawanmu

sejak kecil. Aku mau turut."

"Kudengar kau, Lolom. Kudengar kau. Apa maksudmu?"

tanya Ronggur kembali. Dia belum yakin benar akan

pendengarannya.

"Bawalah aku bersama kalian. Aku mau turut. Tidak

bermaksud jahat aku. Bawalah aku."

Ronggur dan Tio tambah terdiam mendengarkan

permohonan orang itu, permohonan yang tidak diduga sama

sekali. Di saat mereka disisihkan dari sekitar, dari alam

kehidupan mereka sehari-hari, di saat itu pula seseorang dari

anggota masyarakat yang menyisihkan itu memohon pada

mereka, agar dibolehkan turut serta. Membuat Ronggur ingin

tahu, kenapa orang itu mau turut.

"Kenapa kau harus ikut?" tanya Ronggur.

"Aku tahu perjalananmu mendatangkan ajal. Tapi, aku

tidak perduli. Aku mau ikut. Karena aku memang dengan

sengaja mencari kecelakaan pada diri sial ini. Bawalah aku,

Ronggur. Sungguh sial nasib menimpa diriku. Aku kalah

berjudi. Sawahku sudah tergadai. Namun hutangku masih

bertumpuk."

"Jadi kau sengaja mau mencari malapetaka?"

"Ya, seperti kalian. Seperti kau. Tepikanlah perahu itu biar

masuk aku. Daripada aku membunuh diri, gantung diri, lebih

baik kurasa, lebih tenteram kurasa hati, bila ada teman samasama

mati. Karena aku takut sendirian menuju negeri jauh itu.

Bawalah aku, biar aku tidak merasakan kesunyian di saat

nyawa berpisah dari tubuh. Justru karena tahu ada teman

sama-sama mati."

"Kau pikir kami sengaja mencari kematian dengan melayari

sungai ini? Atau, sengaja mendatangi kecelakaan yang bisa

mengakibatkan kematian?" tanya Ronggur pula. Sinar

matanya memancarkan cahaya benci.

"Apa maksudmu?" kembali Lolom bertanya. "Bukankah kau

dengan sengaja mencari sumber malapetaka dengan melayari

Sungai Titian Dewata ini?"

"Tidak. Kami mau mencari penghidupan yang lebih

sempurna. Mencapai tanah luas tempat habungkasan," jawab

Ronggur tegas.

"Ah, jangan bersilat kata, Kawan. Kau sengaja mencari

kecelakaan, kematian, dan aku mau turut. Habis perkara,"

suara si Lolom mulai ringan dan lincah, tidak seperti semula

lagi.

"Kenapa kau berkata begitu, Lolom?"

"Karena kau Ronggur, jatuh cinta pada budakmu. Memang

budakmu itu manis. Bukankah karena tidak tahan

menanggung malu di dunia ini, kau melarikan diri dari

kehidupan ini dengan dalih mencari tanah habungkasan

bersama budakmu itu? Bawalah aku. Aku tidak bermaksud

mempengaruhi perasaan cinta yang tumbuh di hati kalian

berdua. Itu soalmu. Aku akan menutup mata dan mulut, di

saat kalian bercumbuan. Percayalah. Bawalah aku Ronggur.

Biar ada temanmu sama-sama mati. Biar ada pula temanku

sama-sama mati. Walaupun sebab kita berbeda. Kau karena

menyintai seorang budak. Aku karena kalah berjudi. Dari kita

sebenarnya sama sialnya."

Dengan hentakan kasar, Tio membenamkan pengayuh ke

air hingga air muncrat ke atas, lalu mulai mendayung.

"Perjalanan kami tidak wajar dikotori seorang penjudi yang

mau bunuh diri," jawab Tio kasar. "Perjalanan yang menuju

atau mencari tanah habungkasan."

Wajahnya memerah. Dan, ia tidak tahu, kenapa dia harus

mengatakannya. Sebenarnya dia sendiri memang sependapat

dengan orang lain, dengan Lolom bahwa perjalanan itu akan

kandas di karang kecelakaan. Tapi, biarpun begitu, tidak wajar

rasanya, perjalanan yang bermaksud baik itu dikotori

seseorang yang memang sengaja mau bunuh diri.

"Apa kau katakan budak manis? Apakah kau tidak dengan

sengaja mengotori hidup si Ronggur? Dengan wajahmu yang

manis, kau telah menggoda dan menjerumuskan seorang

sahabatku ke lembah kehinaan. Jatuh cinta pada seorang

budak, karena setiap saat kau menggodanya dan kata orang,

kau sedang bunting. Kalian telah bersetubuh sebelum

meminta izin dari Mula Jadi Na Bolon, dari para orang tua, dari

kerajaan, dan datu bolon. tanganlah berkata aku membawa

sial padamu. Nasibmu jauh lebih celaka dari nasib kita semua.

Aku kalah berjudi, Ronggur jatuh cinta, kau penggoda

keparat."

"Siapa mengatakan itu padamu, Lolom?" tanya Ronggur

keras

“Kau masih bertanya. Itulah berita yang tersiar luas di

antara penduduk. Lain tidak. Aku juga mempercayainya. Aku

juga tidak dapat mempercayai bila seseorang yang melayari

sungai ini, masih mengatakan akan mencari tanah

habungkasan. Bagiku itu omong kosong dan dusta paling

besar. Karena itu, marilah sama-sama mati, kawan. Bawalah

aku. Aku yang mau bunuh diri."

Seketika Ronggur terdiam. Tidak menyahut. Kemudian

Lolom melanjutkan, "Kenapa kau diam, Ronggur? Karena

tepat apa yang kukatakan?"

Ronggur masih diam. Lolom terkekeh lupa akan

masalahnya sendiri. Tio sudah hendak mendayung perahu,

tapi dicegah Ronggur dengan membenamkan kemudi ke air.

Akhirnya Ronggur mengatakan:

"Lolom, sayang sekali apa sebabnya kau mau ikut dengan

kami. Kalau alasanmu berbeda dari alasan yang kau katakan

itu, betapa gembira hatiku menerima kehadiranmu. Betapa

aku berterima kasih karena kau mau menemani aku seraya

bersedia memikul segala akibatnya."

Lolom masih tertawa di pinggir sungai. Kemudian Ronggur

melanjutkan:

"Aku mau buktikan Lolom bahwa yang kuimpikan atau yang

diwartakan mimpiku padaku, benar. Aku akan menemui tanah

habungkasan. Sungai ini akan membawaku ke tanah landai

yang subur. Sendirinya pula aku akan buktikan bahwa

kepercayaan yang tertanam di hati kita selama ini mengenai

sungai ini salah."

"Jangan mencari dalih lagi," kata Lolom menghentak.

"Sudah kukatakan aku tidak dapat mempercayainya, walau

kau kawanku. Kita akan sama-sama mati bila kita sama-sama

melayari sungai ini. Yang kuminta padamu, bawalah aku biar

ada temanku sama-sama mati. Aku takut mati sendiri. Itu saja

soalnya."

"Tapi, aku tidak mencari kematian dengan sengaja," jawab

Ronggur dengan suara kuat. "Perjalanan yang kumulai ini

bertujuan baik. Hasilnya kelak akan kuserahkan pada semua

orang, agar semua orang terlepas dari ancaman yang selalu

mengikuti hidupnya, berperang karena setapak tanah,

bersibunuhan karena setetes air parit. Karena itu dan karena

aku tahu pepatah lama, seseorang penjudi yang kalah, dialah

yang bernasib sial. Seseorang yang dengan sengaja mau

bunuh diri padanya akan datang malapetaka. Karena aku tidak

mau bunuh diri, karena aku tidak mau mencari malapetaka,

tapi sebaliknya, sewajarnya pula aku menolak permohonanmu.

Agar nasib sialmu, agar kutukan dewata padamu karena kau

mau bunuh diri tidak turut menimpa kami. Kami masih tetap

mengharapkan dan memohon agar dewata menunjuki jalan

kami. Yang kelak hasilnya akan dikecap setiap orang. Tidak

wajar mengorbankan nasib orang yang begitu banyak, masa

datang orang banyak, karena kau seorang. Karena itu, carilah,

tempuhlah sendiri, dan datangilah sendiri ajal yang akan

merenggutkanmu dari kehidupan ini!"

Sambil tertawa dan perutnya berguncang-guncang, Lolom

mengatakan:

"Ronggur, ke mana perginya akal sehatmu yang selama ini

kau punyai? Ya, memang kau masih menggunakan akal sehat

itu. Yaitu, menerjunkan diri ke ujung dunia agar bangkai

kalian tidak dapat dikuburkan. Agar kubur kalian tidak ada jadi

pertinggal di dunia ini. Nah, aku pun bermaksud begitu.

Penjudi yang kalah main, kalau mati tidak wajar menunjukkan

kuburnya agar tidak ada lagi tempat bagi mengunjungnya,

menagih hutang. Begitu pula agar tidak ada tempat bagi

sanak saudara, bagi anak yang masih kecil, tempat

mencampakkan segala penjelasan di atas pusaraku, karena

aku segala penjudi yang kalah, membuat hidup mereka

menjadi morat-marit." Waktu Lolom berkata, perahu sudah

mulai dikayuh

Ronggur dan Tio. Dan, waktu Lolom sadar bahwa kencang

perahu tambah tak dapat diikutinya lagi, walau dia sudah

berlari-lari di tepian, dengan pengap-pengap dia memohon:

"Ronggur, apa yang harus kuperbuat? Aku takut mati kalau

aku sendiri yang menghadapinya. Dan, kalian tidak mau pula

membawa aku serta, aku yang sudah rela mati. Hendak

mereka jadikan aku budak. Ronggur, kau dengarkah aku?"

ratapnya mulai meninggi, "sampai hatikah kau melihat aku

manjadi budak?"

Ratapan si Lolom yang tambah meninggi, membuat

Ronggur tertegun. Kembali dia berhenti mendayung.

Menyuruh Tio berhenti pula mendayung. Dia mencampak

pandang ke daratan. Matanya menyala merah. Tapi, dia

berusaha agar marahnya tidak meledak. Lalu, dia berkata

dengan kuat lagi tajam:

"Lolom, kau kawanku sejak kecil. Kau telah menghina aku.

Tapi, bagiku itu tidak mengapa. Untuk ikut serta dalam

perjalanan ini kau tidak boleh. Aku tidak bersedia

mengorbankan perjalanan ini pada nasib sial yang akan

menimpamu. Karena kau memang sengaja mencari kematian."

"Lantas, apa yang harus kuperbuat?" tanya Lolom pula

melanjut dan memotong cakap Ronggur.

"Kalau berjudi bagimu sangat baik. Agar kau tahu dan

menyadari bahaya main judi. Pesanku padamu, janganlah dulu

bunuh diri. Kelak aku akan membawa berita padamu bahwa

tanah habungkasan telah kutemui. Kau boleh pindah ke sana

dan kau kembali menjadi orang merdeka. Sekarang biarlah

dulu kau rasakan betapa sakitnya menjadi budak orang lain.

Agar kau tahu betapa nikmatnya mimpi akan kemerdekaan.

Dan, agar kau tahu, betapa berharganya sebuah

kemerdekaan, sehingga kau tidak mau lagi

mempermainkannya di perjudian."

"Begitu percaya kau Ronggur bahwa kau akan menemui

tanah habungkasan."

"Mimpiku telah mewartakan padaku. Dan perasaanku

selama ini, yang turut merasakan pahitnya derita seorang

budak, pahitnya perasaan diri sendiri justru harus membunuh

orang lain, karena orang lain itu pun ingin hidup lalu berusaha

menguasai setapak tanah, mempunyai setetes air parit telah

memaksa aku harus mencapai tanah habungkasan. Untuk bisa

terlepas dari belenggu itu, dari penjara perasaan yang

meracuni diri sendiri, semua terletak pada hasil perjalanan

ini."

"Dan, bila kau pun nanti turut menanggungnya, merasakan

pahitnya menjadi seorang budak, maka kau pun akan

mendoakan agar perjalanan ini memperoleh hasil seperti yang

diharapkan. Harapanmu terletak pada hasil perjalanan ini.

Agar kau bisa kembali menjadi seorang yang merdeka.

Bertobatkah, karena doa seorang yang tobat, sangat

didengarkan Mula Jadi Na Bolon."

Sebelum Lolom sempat mengatakan sesuatu, Ronggur

telah melanjutkan:

"Di samping itu, bila kau memang ingin berbakti,

wartakanlah pada orang semargamu bahwa anggapan mereka

akan perjalanan kami ini tidak benar sama sekali. Suruhlah

mereka bersiap menerima sebuah warta kebenaran. Yang

mungkin berbeda malah menantang kepercayaan yang

mereka anut selama ini. Agar tidak terguncang perasaan

mereka bila kelak menerima warta penemuanku atas tanah

habungkasan."

Ronggur dan Tio kembali mendayung. Dengan tercengang

Lolom melepas mereka. Dan, sesudah dia sadar bahwa perahu

Ronggur sudah menjauh dan melaju, kembali dia meratap dan

menangis. Tapi, disela tangis itu dia mengharapkan, agar

Ronggur dan Tio berhasil, sehingga dia bisa kembali menjadi

orang merdeka. Harapan masih ada walau masih begitu

samar, karenanya dia belum mau mati.

Perahu terus melancar. Bulan mulai memancar di langit

mencurahkan sinar ke bumi. Menjadi suluh bagi Ronggur dan

Tio mengikuti jalur sungai. Secara perlahan arus sungai mulai

terasa. Tanah datar yang terdiri dari tanah batu di kiri-kanan

sungai. Hanya satu-satu pepohonan tumbuh di tepian. Tidak

berdaun rindang. Meranggas.

Setelah merasakan bahwa mereka sudah cukup jauh dari

perkampungan, Ronggur mendaratkan perahu. Memilih

tempat bermalam. Si belang disuruh berjaga. Perahu

ditambatkan. Memang begitu selalu, selagi perahu dikayuh, si

belang kebanyakan tiduran. Kalau malam, dia yang berjaga, di

saat Ronggur dan Tio melepas lelah. Dan, bila pagi terbit lagi,

mereka akan melanjutkan perjalanan itu.

Setiap hari arus sungai tambah terasa. Dan, tetap

diperhatikan dan dipelajari Ronggur. Menurut keterangan

bekas Datu Bolon, bila arus bertambah deras, dia harus

bertambah hati-hati. Bila suara gemuruh air sungai berbantingan

ke dinding batu mulai kedengaran, dia harus mulai

mencari mulut gua yang diceritakan Datu Bolon, yang

menganga bergaya mau menelan.

Tekadnya harus bertambah bulat dan kukuh memasukinya.

Atau, memulai jalan darat. Karena itu, tidak jarang Ronggur

melengketkan telinga ke permukaan air, untuk merasakan

getar air. Dan, setiap Ronggur mengerjakannya sambil

memejamkan mata, setiap itu pula Tio memperhatikan dengan

sungguh-sungguh. Dan, hatinya bergoncang dalam dada. Bila

Ronggur kembali mengangkat kepala, Tio akan menarik napas

yang panjang, tapi diusahakan agar tidak kedengaran pada

Ronggur.

Pada hari selanjutnya, mereka telah tiba ke batas yang

boleh ditempuh manusia. Walau matahari tidak terik, dan

masing-siang, namun Ronggur mendaratkan perahu ke pinggir

sungai. Lalu menyuruh Tio menghidupkan api. Pertanda

mereka akan bermalam di sana.

Dia pergi ke tempat ketinggian, mendaki sebuah pundak

bukit, mengadakan peninjauan. Sejauh mata memandang

yang dilihat hanya batu padas saja. Sedang sungai seolah

terus menuju satu arah yang jauh, menerjang terus ke perut

bukit. Menembus bukit. Itulah mula gua yang diceritakan

bekas Datu Bolon. Arus sungai sudah cukup deras. Satu dua

batu jangkar sudah dijatuhkan Ronggur, agar kelajuan perahu

dapat dikendalikan.

Kembali dia ke tempat Tio, yang mencampakkan pandang

padanya, pandang yang meminta penjelasan. Tapi, Ronggur

tidak mengucapkan, sepatah kata. Kediam-diaman. Perasaan

masing-masing saling mengajuk nasib yang menanti mereka,

bila mereka mulai melewati batas itu besok pagi.

Ronggur dan Tio, pada pagi berikut melihat matahari

muncul dari satu kekosongan, tepat dari belahan jalur sungai.

Jadi tidak dari pundak Dolok Simanuk-manuk lagi, seperti yang

mereka kenal. Namun mereka meneruskan perjalanan juga.

Mulut tambah terkatup. Terus saja Ronggur mencampakkan

pandang ke kejauhan. Tetap meneliti keadaan. Wajahnya

bersikap menantang dan begitu tegang. Tangannya pasti

menggenggam ulu kemudi.

Mereka tidak perlu lagi mengayuh. Arus sungai sudah dapat

menghanyutkan perahu malah terlalu liar. Hingga batu jangkar

sudah tiga biji dijatuhkan. Telapak tangan Tio yang sudah

lecet dan keputihan, susut karana terus-terusan direndam air,

sekarang bisa mengasoh. Tangannya mengelus leher si belang

yang duduk di sampingnya. Dia mencari kekuatan hati dari

elusan itu. Atau, melontarkan perasaan yang tertekan.

Tapi, hari itu mereka tidak menemui sesuatu. Hanya arus

sungai yang bertambah kencang. Mereka masih selamat.

Walau sudah jauh melewati batas yang boleh didatangi

manusia.

Dikejauhan, bila diperhatikan benar, desiran arus sungai

kedengaran bangkit, mendesis. Dari jalur sungai dikejauhan,

bulan muncul. Menyinari kiri-kanan sungai yang tidak punya

tanda kehidupan. Tandus dan kosong. Bila mereka mendarat

ke pinggiran lagi, mereka temui sebuah lobang alam pada sisi

sungai yang agak tinggi, terbuat dari batu alam. Lobang yang

bersisi berlantai dan beratap batu. Dalam lobang, tidak seperti

lobang alam yang pernah mereka temui, tidak ada sepenggal

kayu atau bekas api. Tidak pernah didatangi manusia

layaknya. Dingin. Buru-buru Tio menghidupkan api. Beberapa

potong kayu diangkutnya dari perahu. Nyala api menari-nari di

dinding batu, di atap batu.

Tengah malam. Awan hitam merayap dan menjalar, lalu

menutupi wajah bulan. Keadaan sekitar menjadi pekat. Angin

kencang datang dari hulu sungai. Membangkitkan riak yang

tidak dapat dikatakan kecil, cukup gelisah permukaan sungai.

Satu-satu halilintar mengkilap membelah bumi. Diiringi suara

guntur yang mau memecahkan segala, menyengkak. Si belang

mendekat pada Tio. Memanaskan diri dekat api. Bersabung

halilintar dan guruh, hujan turun seperti dicurahkan dari

langit. Permukaan sungai naik. Riak sungai menjadi besar dan

tambah gelisah. Seperti marah karena ada orang yang berani

berlayar melewati batas yang sudah ditentukan.

Dalam saat begitu, perubahan alam begitu rupa

menimbulkan prasangka dalam diri, yang menumbuhkan

berbagai ragam anggapan, pertanda mula kecelakaan yang

akan menimpa diri. Semuanya serba asing dan menakutkan,

atau semua serba seperti menakut-nakuti. Ronggur pergi ke

tepian sungai memperkokoh ikatan tambatan perahu. Lantas

pergi ke atas gua alam itu, menatap ke sekitar. Kepekatan

menyeluruh menelan segala. Kekelaman yang abadi. Baru

beberapa saat yang lalu, keadaan udara cukup terang

benderang oleh sinar bulan yang nyaman.

Begitu cepat suasana alam berubah. Beberapa saat dia

berdiri di sana, memperhatikan sekitar dan mempelajari arah

dan mata angin yang menggalau. Tio yang tepat berada di

bawahnya, tidak mengetahui bahwa Ronggur tepat berada di

atasnya. Dipisah langit-langit gua yang terbuat dari batu alam.

Kulit tangannya masih tetap pucat dan menyusut.

Selagi Ronggur tidak ada dekatnya, dia merasa sepi atau

merasa takut. Dia selalu begitu, walau dia tahu Ronggur tidak

pergi jauh. Dia merasa lebih tenteram bila Ronggur di

dekatnya, walau tidak mengatakan sesuatu, selain hai yang

penting saja. Seperti: "Besok pagi kita melanjutkan perjalanan

sebelum matahari terbit. Tidurlah, selimuti dirimu dengan kulit

binatang berbulu. Biar terasa panas."

Mendengar cakap yang sepenggal itu saja, sudah

melonggarkan perasaan tertekan. Dan, dia tidak akan

menyahut, tapi melaksanakan yang dimaksudkan Ronggur.

Malam itu Ronggur agak lama baru kembali. Perasaan sak

wasangka tambah mencekam diri, karena dia tahu bahwa

mereka sudah berada di daerah yang berbahaya, daerah yang

belum pernah dimasuki manusia. Tio bangkit dari duduknya.

Dengan membungkuk dia menuju mulut gua. Hendak melihat

ke mana Ronggur pergi atau di mana Ronggur berada. Tapi,

ketika itu juga, tubuhnya tertumbuk ke tubuh Ronggur yang

berdada telanjang. T io terpekik karena terkejut. Lalu mundur.

Ronggur tersenyum, lalu mengatakan, "Pergilah tidur. Tidak

apa-apa. Besok, bila badai telah teduh, kita akan meneruskan

perjalanan."

Tio malu akan ketololan dan ketakutannya. Dia menyesali

diri kenapa dia harus terpekik. Dari goleknya dia melihat

Ronggur mengeringkan tubuh. Telapak tangan ditelempapkan

ke tubuh, lalu dikaiskan. Butiran air berjatuhan. Kemudian

Ronggur berjongkok dekat api. Mendekatkan telapak tangan

ke jilaman api. Begitu dekat hingga Tio yang melihatnya

merasa ngeri, kalau tangan itu akan hangus terbakar. Tidak

disadarinya matanya dapat ditangkap pandangan Ronggur.

Sambil memalingkan pandang Ronggur berkata, "Kau belum

tidur juga? Belum mengantuk?"

Tio menyurukkan kepala ke bawah kulit binatang. Dalam

hatinya dia merasa geli atas kelakuan Ronggur, Sedang

Ronggur merasa geli pula atas kelakuan Tio yang

menyurukkan kepala ke bawah selimut buru-buru, yang

dengan sendirinya kakinya menjadi telanjang. Kulit binatang

itu tidak cukup panjang untuk menyelimuti tubuhnya

sekaligus. Ronggur tersenyum, seperti Tio sendiri, tersenyum

di bawah selimut kulit berbulu.

Di luar hujan, angin, kilat, dan guruh masih bersabung. Si

belang sekali ini sudah tertidur. Permukaan sungai menaik,

riak sudah membesar sudah menyerupai ombak danau.

Namun perasaan keadaan sekitar, dia tahu, air tidak mungkin

menggenangi mulut gua di mana mereka berada. Dia

menggolekkan diri. Suara mendesis yang bersumber dari

sungai itu sangat menyayat atau menyengat pendengaran.

Suara yang timbul atau seolah datang dari dunia jauh, dunia

lain. Ronggur menutup kedua belah kupingnya, memejamkan

mata dengan paksa.

Cahaya putih sudah menerobos dari mulut lobang waktu

Ronggur membuka mata kembali. Api sudah padam. Dalam

gua menjadi dingin kembali, angin yang bersabung dan hujan

yang menderu di luar belum henti.

Tapi, sudah mulai melemah. Desis lidah air masih terus

mengganggu pendengaran. Waktu kepalanya dijulurkan dari

mulut lobang untuk mengetahui keadaan cuaca, dia pun tahu,

bahwa cuaca masih tetap seburuk kemaren. Walau matahari

sudah terbit dan agak tinggi, namun bias cahayanya tidak

dapat menembus awan yang bergumpal dengan sempurna.

Dengan malas Ronggur kembali masuk ke dalam lobang.

Membaringkan diri. Tio belum bangun. Juga si belang. Malah

menggulungkan tubuhnya sampai bengkok untuk melawan

dingin. Didengarnya kelepak lemah di langit-langit gua.

Tambah lama tambah banyak. Matanya diliarkan menatap

langit-langit. Kelepak itu berasal dari lobang-lobang kecil yang

banyak di langit-langit gua. Perlahan dia bangkit, takut kalau

kelepak lemah itu henti. Dia mendekati salah satu lobang

kecil.

Heh, pikirnya. Di sini banyak kampret. Enak dimakan. Lalu

dia mengambil sebatang kayu. Dengan kayu itu, dicoloknya

tiap lobang. Kampret berjatuhan. Patah sayap. Asik dia

dengan pekerjaannya. Merasa bersyukur, justru karena dia

tahu, daging kampret enak dimakan.

Di samping itu, lalu dia dapat memastikan bahwa sesuatu

yang bernyawa masih ada di sana. Kampret itu ditumpukkan.

Tidak tahu dia Tio sudah bangun. Terus menghidupkan api.

Menjerangkan air yang ditampung dari pinggir sungai. Waktu

nyala api meloncat-loncat dan menari-nari di dinding gua,

Ronggur berpaling. Tio tersenyum tapi tertunduk.

Disambutnya juga senyum itu, lalu: "Di sini banyak kampret.

Bakarlah. Enak juga dimakan."

Kampret itu mereka panggang, langsung dengan bulunya.

Cepat benar sudah masak. Sambil meneguk air simar palia

yang pahit kental lagi panas, rasa dingin dan kantuk cepat

menghilang, mulut mengunyah daging kampret yang manis.

Bila angin dan hujan reda, mereka akan meneruskan

perjalanan. Yang terasa tidak punya akhir dan ujung.

Ingatan Ronggur cepat meloncat. Cepat dia mengaju

tanya: "Tio, di mana kau bikin pundi-pundi tempat bibit itu?

Sudah berapa hari tidak kulihat."

Tio memegang pinggangnya yang agak menonjol. Pundipundi

itu diikatkan di pinggangnya. Tio menjaga bibit itu

dengan baik. Bibit pertama yang akan mereka tanam di tanah

habungkasan. Atau, padi yang bisa mengurangi rasa laparnya

bila mereka memang jatuh ke ujung dunia. Jajan arwahnya

dalam perjalanan menghadap Mula Jadi Na Bolon.

"Kau menjaganya dengan baik kalau begitu." kata Ronggur.

Tio menundukkan kepala, Ronggur menyambung: "Teruskan

jaga baik-baik. Bila angin dan hujan teduh, kita meneruskan

perjalanan. Di tanah habungkasan yang kita tuju, bibit itu

sangat penting dan perlu bagi kita. Jangan sia-siakan.

Teruslah jaga baik-baik."

Cakapnya punya kepastian seolah mereka akan menemui

tanah habungkasan yang dimimpikan. Tio diam saja

mendengarkan. Padanya, menemui tanah habungkasan atau

menemui ajal, sekarang telah menjadi sama. Dia telah

menunjukkan kesetiaan sebagai budak pada tuannya. Atau,

dia sebagai perempuan, telah menunjukkan kesetiaan hingga

berani pergi ke mana saja, bersama seorang lelaki yang

dipercayainya kejujuran dan keberaniannya. Dan, dia telah

berani memilih perjalanan tanpa nasib, meninggalkan nasib

yang malarig di belakang. Itu saja pun baginya cukuplah.

Karena itu dia hanya menelan air liur mendengar omongan

Ronggur yang punya kepastian itu.

Cahaya yang menerobos ke dalam gua tambah terang juga,

berangsur secara perlahan. Angin tambah melemah dan hujan

sudah mulai teduh. Tapi, desis air yang menyayat

pendengaran itu tetap juga. Ronggur dan Tio bersama si

belang cepat-cepat meninggalkan gua, lalu memulai

perjalanan lagi. Menyusuri sungai. Si belang menggoyangkan

tubuh, membuang butir-butir air yang melengket pada

bulunya. Dia melengking kecil, atau suara lengkingan itu

tersekat dalam kerongkongan.

Perubahan pada kedua tepi sungai tambah nyata, tambah

beda dengan tepian sungai yang sudah mereka lewati. Air

sungai terus menerus mengarah ke satu bukit yang seolah

tegak berdiri, terhunjam ke dada bumi, menghadang sungai.

Tapi, air terus menerobos.

Tepian sungai menjadi tambah tinggi juga, terbuat dari

batu alam yang hitam. Tambah lama tambah berbentuk

semacam terowongan. Itulah gunung Batu yang diterobos air

sungai yang arusnya bertambah deras. Air yang

bertemperasan ke dinding tepian batu, berdesis dan muncrat

ke sana kemari. Gelisah tidak pernah henti. Sudah lebih dari

lima batu jangkar dijatuhkan Ronggur, namun kelajuan perahu

terus bertambah kencang. Seperti tidak terkendalikan.

Pendengaran terus dipertajam Ronggur, namun suara

gemuruh belum ada kedengaran. Karena, pikir Ronggur, bila

air sungai jatuh ke akhir dunia, tentunya menimbulkan suara

gemuruh yang dahsyat. Karena itulah, dia masih meneruskan

penyusuran itu. Bahaya, atau ujung dunia, masih jauh. Atau,

mula dari impiannya, tanah subur yang landai.

Batu jangkar sudah tujuh buah dijatuhkannya. Tali

temalinya bertegangan diseret perahu. Dan, kelajuan perahu

terus bertambah. Tapi, dapat dikuasai karena dibantu batu

jangkar itu. Bila arus bertambah kencang, batu jangkar terus

dijatuhkan. Begitu seterusnya. Melanjutkan perlawanan

terhadap arus sungai yang setiap saat bertambah kencang

juga.

Pancing yang diumpankan Tio tidak pernah lagi mengenal

Ikan bertambah jarang atau memang tidak ada sama sekali.

Ronggur hanya tinggal menunggui kemudi. Kelokan sungai

yaitu patah tambah sering mereka temui. Dan pada setiap

akhir kelokan riam sungai teap ditemui. Pada tiap riam, air

sungai gelisah warna putih melambung ke atas. Pada riam

yang lebih curam, walau dinding perahu sudah tinggi dibuat,

bisa juga temperasan masuk ke dalam perahu. Tio cepat

menimbanya, membuangnya kembalinya ke sungai. Dan,

terkadang wajah Ronggur sendiri disembur air, yang terus

memegang kemudi, tanpa mau melepaskan seketika saja pun

selagi perahu terus berlari dibawa arus.

Tepian sungai yang terbuat dari batu alam bertambah

tinggi juga. Pada puncaknya yang masih bisa dijangkau mata

tidak ada sesuatu yang tumbuh, selain dari tumbuhan kerdil

yang tidak berdaun hijau. Begitu curam dinding batu itu. Ada

kalanya sinar matahari seperti tidak sampai pada permukaan

sungai karena disungkup kedua dinding batu yang bertemu

puncaknya. Air sungai menjadi lebih dingin dan hitam. Sekitar

menjadi taram-temaram.

Mereka tidak bisa lagi dengan leluasa melihat matahari.

Membuat mereka terkadang tidak dapat mengetahui

peredaran waktu dengan pasti. Dan, keadaan begitu

bertambah jauh menyusuri sungai, bertambah memanjang.

Namun mereka tetap berlayar. Sebuah kata pun tidak ada

yang diucapkan. Mata terus-terusan ditancapkan ke depan.

Segala perasaan dikerahkan meraba yang menanti di

depan. Air yang bertemperasan pada dinding batu tambah

mendesis dan menyayat pendengaran. Tahulah Ronggur suara

desisan air yang menyayat pendengaran itu, bermula dari air

yang bertemperasan ke sisi sungai dan lebih hebat pada salah

satu tikungan. Celah dinding sungai di atas bertambah kecil

juga. Seperti mereka berada dalam satu lembah yang sempit

diapit kedua sisinya yang tinggi.

Arus sungai terus menerus bertambah kencang dan tambah

menggila. Air membiru sudah seperti menghitam. Sudah lebih

sepuluh batu jangkar yang mereka jatuhkan. Kelanjutan

perahu terus juga menggila. Air seperti membulat. Dari warna

biru permukaan yang sudah menghitam itu, tahulah Ronggur

bahwa sungai amat dalam.

Suara air yang bertemperasan ke dinding batu, terus

menerus mengisi pendengaran, terasa sangat membosankan.

Terlebih pula tidak ada yang menyelingi. Begitu menyiksa

terasa. Biarpun dia tahu bahwa sungai sangat dalam, tapi

pada tikungan yang dilalui terkadang ada juga batu muncul ke

permukaan air, menghadang. Mereka harus hati-hati

melewatinya. Bila terdampar ke sana, perahu akan pecah

remuk, dan nasib sudah teraba bentuknya. Air yang

bertumbukan dengan batu mencuat itu menjadi gelisah dan

liar. Bertemperasan. Tidak sedikit terlempar ke dalam perahu.

Perut perahu menjadi tergenang air. Tio harus cepat

menimbanya. Peralatan mereka menjadi basah. Dada dipukul

detak hati yang tambah mengencang. Tapi, wajah Ronggur

terus menantang ke depan. Meneliti dan menduga sesuatu

yang sedang menanti.

Mereka tidak ada lagi menemui gua alam. Begitu pula

tepian sungai yang landai, jadi, kalau cahaya yang menerobos

dari celah dinding sungai di atas itu melemah, mereka hanya

bisa menambatkan perahu ke salah satu tungkul batu yang

mencuat. Mereka lalu tidur dalam perahu tanpa unggun api.

Selain kayu bakar tidak ada, menghidupkan api dalam perahu

berarti bunuh diri. Karena itu, mereka harus menahan dingin

malam yang menyiksa.

Tio di hulu perahu Ronggur di buritan, di tengah si belang.

Dalam saat begitu, pandang mereka sering ketemu. Cepat

dipalingkan. Tidak mereguk air panas lagi di pagi hari. Hanya

air sungai yang dingin diteguk sehabis cuci muka. Tio

menyelimuti diri dan juga si belang, yang selalu mendekat

padanya dengan lengkingnya yang tersekat dalam

kerongkongan.

Dan, mereka akan meneruskan perjalanan lagi, menempuh

jalur sungai yang tidak dapat teraba, ke mana diri akan

dibawanya, bila utusan cahaya kembali menerobos celah

dinding sungai di atas itu.

Bila temperasan air yang melemparkan air ke perut perahu

tidak ada, yang berarti pekerjaan Tio tidak ada, dia selalu

melemparkan pandang ke depan dan menggunakan segala

perasaan. Begitu pula Ronggur yang berada di buritan perahu.

Tikungan bertambah sering ditemui. Arus sungai tambah

menggila. Dinding sungai bertambah tinggi dan tandus.

Suasana tambah menekan. Jiwa tambah terasa dihantam

habis-habisan.

Tio tidak terus-terusan atau tidak tekun lagi menatap ke

depan saja. Sudah sering dia berpaling ke belakang menatapi,

Ronggur. Tapi, Ronggur seperti tidak melihatnya. Mata

Ronggur terus memandang ke depan. Walau terkadang hanya

tertumpu ke dinding batu pertanda sebuah tikungan.

Terkadang Tio berdiri meregangkan tubuh yang kaku, tapi

cepat saja Ronggur menyuruhnya agar duduk kembali. Agar

tatapannya tidak terhalang. Atau, agar kepala Tio tidak

tersangkut pada salah satu lingkungan dinding sungai yang

terkadang begitu rendah.

Mulanya sangat lemah sekali. Tambah lama tambah nyata.

Wajah Ronggur agak pucat juga dibuatnya. Bibirnya

gemetaran. Tio tertunduk. Arus sungai menggila Batu jangkar

sudah lebih duapuluh biji dijatuhkan. Namun perahu seperti

diseret dan dilarikan setan saja kencang nya. Suara yang

lemah itu, yang bangkit di depan itu, tambah nyala:

mengguruh. Mengancam nadanya, mengancam siapa saja

yang berani mendekat. Namun Ronggur belum mendaratkan

perahu. Dia masih meneruskan pelayaran.

Urat saraf Tio seperti lumpuh karena terus-terusan ditekan

suasana ketegangan. Walau air tidak tertumpuk pada salah

satu batu yang mencuat di permukaan sungai, namun riak air

sudah seperti gelombang. Pecah. Memercik ke sana ke mari.

Banyak terlempar ke dalam perahu. Tapi, Tio tidak bisa lagi

menimbanya. Perahu terangguk-angguk dan tergoncang.

Tiba-tiba saja biasan cahaya mencurah ruah, celah dinding

melebar di atas. Tapi, tingginya alangkah jauh lagi curam.

Seperti tidak terdaki layaknya. Ronggur menatap ke depan

dan pendengarannya terus dipertajam. Suara gemuruh di

depan tambah jelas. Tiba-tiba saja Tio menghantamkan

tangan ke haluan perahu, sambil berteriak:

"Ronggur, mendaratlah. Apakah kau mau bunuh diri?"

Berbaur akhirnya dengan suara gemuruh di depan dan

desis air dan suara riak sungai yang menari gila. Namun

Ronggur tidak memperdulikan atau tidak mendengarkan.

Matanya sebentar melihat ke kiri dan ke kanan, cepat bertukar

tempat. Lalu terus ke depan. Begitu liar. Suara gemuruh itu

seperti suara dari sesuatu benda yang jatuh ke satu tempat

yang amat dalam.

"Ronggur, kau tidak mendengarkan aku? Mendaratlah ke

tepi. Jangan teruskan lagi mengikuti sungai. Tidak dengar

suara gemuruh yang mengancam itu?"

Masih tidak diperdulikannya. Tio terus menjerit,

melengking. Dalam jeritannya sering dia memanggil nama

almarhum ayah bundanya. Sering dia menyebut nama dewata,

memohonkan ampun atas keangkuhan mereka berdua. Yang

telah berani menantang ketentuan dewata. Dengan tidak

berapa dikuasaiya pula, meledak teriakan panjang dari

mulutnya:

"Ronggur, dengarlah aku. Aku cinta padamu . . . ." lalu

tangisnya berkepanjangan, "Ronggur, jagalah dirimu, diri kita

berdua . . . ."

Perahu tambah dalam dan kuat anggukannya. Dan,

Ronggur mengangkat kepala mendengar jeritan Tio itu, yang

meledak dari dasar hatinya.

Air sungai tambah membulat dan berlari kencang, dulu

mendahului riaknya. Tiba-tiba saja tangan Ronggur

mengayunkan tali ke dinding sebelah kanan. Talinya tetap

sangkut pada sebuah gundukan batu yang mencuat agak

panjang dan besar, kokoh tertanam. Dapat dipercaya. Dinding

sungai agak landai tapi tetap mendaki ke atas.

Sewaktu Tio merasakan bahwa perahu mereka tergoncang

kuat karena ada yang menarik dan ada yang menahan, dia

mengangkat kepala. Kedua pelupuk matanya, pipinya basah

kuyup oleh air mata. Perahu sudah tertambat dan sudah

terhenti walau arus sungai berusaha melarikannya. Dia

menatapi Ronggur dengan biji mata yang tergenang air mata,

isaknya belum henti.

"Hapuslah mata dan pipimu," kata Ronggur. "Keringkanlah.

Aku tidak sanggup melihat mata yang digenangi air

mata yang bening. Kita masih harus menempuh perjalanan

yang jauh. Kau lihat dinding sebelah kanan itu? Kita harus

mendakinya ke atas. Supaya kita dapat tahu yang ada di

depan. Kita harus meninjau dari sana. Tapi, sebelum itu,

kuatkan dulu hatimu bahwa kau sanggup mendakinya. Marilah

dulu makan daging kering. Biar kita punya tenaga. Kemudian

bambu itu isilah dengan air. kita memerlukan air barangkali di

atas sana. Mungkin tidak ada air di sana."

Tio mengerjakan semua yang dimaksud Ronggur. Sedang

Ronggur tambah memperkuat tambatan mengikat

pinggangnya dengan tali, sedang ujung satu lagi dibebaskan,

dan sebuah gulungan lagi disandang, dia mulai mendaki. Tapi,

cepat dihentikan Tio dengan teguran, "Si belang bagaimana?"

"Biarlah tinggal dulu di perahu. Kita perlu mengadakan

peninjauan. Atau, kita memang sudah harus mendarat di sini.

Kau perlu turut ke atas agar ada nanti yang menarik

peralatan-peralatan kecil ke atas. Aku akan turun lagi.

Mengikat peralatan itu dan membawa si belang ke atas."

Di pinggangnya diselipkan penggada dan kampak

digenggam. Tio membelitkan bungkusan yang berisikan bekal.

Lebih dulu dielusnya leher si belang, baru dia mendarat.

Tajam lidah batu alam seperti menusuk telapak kakinya, yang

sudah beberapa hari basah saja. Si belang menggonggong

kecil, lehernya digoyang-goyangkan.

Ronggur maju menanjak sambil terus membuat semacam

anak tangga pada batu padas. Tidak vertikal. Agak mencong

jalannya tapi terus mendaki setapak demi setapak. Tio

memegang ujung tali satu lagi yang ujungnya dikaitkan pada

pinggang Ronggur sebagai pegangan. Supaya ada tempatnya

bergantung kalau dia tergelincir. Atau, tali itu bisa ditahannya

kalau Ronggur sendiri yang tergelincir. Tangga demi tangga

dibuat Ronggur dan didaki, yang terus diikuti Tio. Suara yang

menakutkan dan mengancam itu terus bergema. Terkadang

Tio menatap ke bawah melihat perahu mereka yang

terangguk-angguk, di perutnya si belang menatap ke arah

mereka sambil menjulur lidah.

Kemajuan pendakian itu lambat sekali. Namun tetap pasti.

Mereka sudah di pertengahan pendakian. Dari sana sudah

dapat kembali mereka tatap keluasan langit, yang untuk

beberapa hari lamanya tidak mereka lihat. Tak ubahnya

mereka seperti baru keluar dari satu lobang alam yang kelam

lagi sunyi, yang tidak memberi kesempatan pada mereka

untuk menatap keluasan langit. Walau sinar matahari

melemah, namun merasa lemah juga mata menatap yang

sudah sering ditatap tapi yang buat beberapa hari tidak

ditatap. Tapi, keadaan tetap sunyi. Tidak ada pertanda

kehidupan.

Yang ada hanya gemuruh yang menakutkan, yang

mengancam, tidak memberi kegembiraan. Dan arah matahari

dan lemahnya sinar, Ronggur tahu, hari sudah sore. Sebelum

gelap mereka sudah harus sampai di puncak. Karena itu, dia

sering membesarkan hati Tio, agar bisa lebih mendaki

tanjakan.

"Sebentar lagi, sebentar lagi," selalu katanya, "kita sudah

sampai ke atas. Tidak jauh lagi. Teruslah mendaki. Tapi, hatihati,

agak licin di sini."

Mereka harus bercakap kuat-kuat. Tidak bisa perlahanlahan,

agar dapat ditangkap pendengaran. Keringat meleleh

dari tubuh masing-masing. Seperti memancur. Sudah cukup

haus Tio, namun Ronggur melarang meminum air sekali

banyak-banyak.

Betapa bersukur hati Ronggur, waktu tangannya sudah

dapat menggapai puncak yang dituju. Tapi, perasaan lega itu

tidak lama mengisi ruang dada.

Setiba di puncak, tahulah mereka yang ditemui, hanya

sejalur batu tandus dan di sana-sini berlidah tajam. Di kanan,

lembah putih, seperti diselaputi sesuatu dan tidak punya dasar

tampaknya. Di sebelah kiri, lembah yang dasarnya sungai

yang menggila arusnya. Ke arah depan dan belakang, jaluran

batu padas yang lebarnya hanyalah barang sedepa. Tidak

lebih.

Itu pun tidak jauh-jauh ditatap, karena ada sesuatu yng

menyungkap, putih kental seperti kabut. Atau, awan rendah.

Tidak bertepi dan tidak bermula. Angin meniup. Penemuan ini

membuat hati terpukau. Di depan sekali suara mengguruh itu

menanti.

Matahari memancarkan sinar kemerahan yang lemah, tidak

mampu menembus keputihan yang mengental.

Tidak ada satu suara pertanda kehidupan, tapi suara yang

mengancam kehidupan dengan liar mengguruh di depan.

Berlagak mau melumpuhkan dan mematikan tekad hati yang

sepadu-padunya.

Tio lantas saja memeluk tubuh Ronggur dengan gemetar.

Gigi gemelatukan. Tubuh menggigil. Ronggur membiarkan.

Karena dia pun seperti kehilangan semangat. Tekad hati yang

padu menjadi cair. Satu sama lain tidak bisa mengeluarkan

pendapat. Bisu. Senja tambah samar, cepat kelam. Tidak

berapa lama tari warnanya menghias langit.

"Kita akan mati lemas di sini," kata Tio pelan sekali.

Ronggur menoleh kepadanya seenak tanpa mengatakan

sesuatu. Pada sinar matanya, tidak ada lagi sinar cahaya

percaya diri. Mati. Namun tanpa bicara, dia membimbing

tangan Tio, bergerak ke depan perlahan-lahan. Geraknya

seperti gerakan yang bermula dari kedalaman. Melangkah

begitu saja, sempoyongan, tanpa percaya diri. Melangkah

berserah diri.

Sesekali mereka hendak tergelincir jatuh ke bawah, ke

jurang tanpa dasar. Karena, jalannya begitu licin. Ronggur

berjalan di depan. Tio di belakang, menggenggam tali lebih

kuat dan begitu dekat di belakang Ronggur. Dia gamang.

Lidah batu yang tajam menusuk telapak kaki. Terasa ngilu.

Mereka terus melangkah.

Sesayup sampai, salak si belang dari dasar sebelah kiri

kedengaran. Seperti mengantar mereka ke tempat tujuan

akhir. Dapat juga mereka temui tempat yang agak luas sedikit,

sekira tiga empat depa luas jaluran di sana. Mereka

memutuskan untuk bermalam di sana. Tidak ada yang dapat

dibakar. Sekeliling begitu dingin membeku. Tio tidak berani

jauh-jauh dari Ronggur.

Sebelah atas mereka, awan rendah menyungkap. Mereka

rasakan langit begitu dekat. Tidak tampak bintang atau bulan.

Awan rendah menyungkap semua atau memang langit begitu

rendah. Tambah lama menjadi hitam. Kental. Berlagak mau

menyelimuti segala. Sampai payah bernapas. Ronggur tidak

dapat tidur walau tubuh cukup capek dan payah. Semalaman

matanya terus terbuka.

Pada satu saat angin bertiup dari arah depan. Butiran air

halus memerciki tubuh mereka, dipikirnya hujan turun. Suara

gemuruh, desis air sungai yang bertemperasan ke dinding

sungai, lagu tunggal yang abadi, tapi menakutkan.

Melumpuhkan perasaan yang ada dalam diri. Lagu kematian

yang hendak mengantarkan para arwah ke tempat abadi,

dunia jauh lagi as ing.

"Apakah hujan?" tanya Tio.

"Aku tidak tahu. Tapi, kita sudah basah. Air begitu tipis.

Tidak pernah hujan begini tipis."

Kembali mereka diam. Akhirnya dapat diketahui Ronggur,

Tio jatuh tertidur sambil menggulungkan atau melipatkan

kakinya dekat ke dadanya, melingkar.

Ronggur terus membuka mata. Berusaha mengikuti

perobahan alam kalau memang perobahan itu ada. Lama-lama

hitam pekat itu beralih pula. Seperti ada utasan cahaya putih,

tapi begitu lemah. Sekitar, sekira empat lima depa, dapat

kembali ditatap. Tapi, sampai di situ saja. Lagi-lagi Tio

mengaju tanya, "Apakah sudah pagi?"

"Aku tidak tahu, Tio. Tapi, kepekatan yang menghitam itu

sudah kembali agak memutih. Namun mata hanya dapat

menembus sekira empat lima depa saja."

"Barangkali kita sudah terjebak," kata Tio pula.

"janganlah berkata begitu. Tapi, tetaplah waspada,"

katanya menasihati walau diri sendiri bimbang. Ada juga

dirasakannya kebenaran yang diucapkan Tio itu.

"Ke mana lagi kita harus pergi?" tanya Tio pula.

"Tabahlah," sahut Ronggur. "Sekalipun kita harus kembali

ke tempat asal, ke tempat Mula jadi Na Bolon, tapi marilah

dengan tabah mendekatinya."

Tio terdiam. Sedang Ronggur setelah dicekam habishabisan

oleh perasaan takut, akhirnya muncul kembali, secara

berangsur, kepercayaan akan diri sendiri. Kemurnian cita yang

digenggam kembali memberi suluh pada keyakinan. Bilapun

Mula Jadi Na Bolon murka, tapi dengan alasan kenapa dia

harus mengarungi Sungai Titian Dewata, tentu dapat

melembutkan hati Mula Jadi Na Bolon yang pengasih

penyayang itu, pikir Ronggur.

"Kalau kita surut, tentu tidak bisa melawan arus yang

menggila," kata Tio pula.

"Ya, aku tahu," sahut Ronggur, "kita tidak bisa lagi

menempuh jalan sungai."

"Kita terjebak di s ini."

"Tidak terjebak. Tapi, kita telah melaksanakan tugas

kehidupan. Marilah tabah menerima upahnya, ganjarannya,"

bujuk Ronggur.

Tio terdiam. Beberapa saat kembali hening. Ronggur

mencampak pandang ke sebelah kiri, mencari tangga yang

dibuatnya semalam. Kembali dia teringat pada si belang, pada

perahu, pada peralatan yang masih tinggal di sana. Lalu

diputuskan, dia harus menjemput si belang dan peralatan

serta perahu itu kembali.

Kalaupun ajal tiba, dia mau menghembuskan napas dengan

tenang di perut perahu itu. Perahu itu seperti rumah dan

tempatnya terakhir. Dengan perahu itu dia akan mendatangi

tempat Mula Jadi Na Bolon. Semua peralatan itu akan menjadi

saksi di depan Mula Jadi Na Bolon, tentang tujuan citanya.

Dia mulai menuruni anak tangga yang dibuatnya semalam.

Tio memegang ujung tali di atas. Bila perintah datang, melalui

goyangan tali yang digoncang Ronggur, Tio mengulurkan tali

lebih panjang. Sesampai di bawah, Ronggur mengikat

peralatan kecil. Dengan berteriak sekuatnya, sekerasnya,

disuruhnya agar Tio menarik.

Tio menarik. Kemudian menjatuhkan tali lagi ke bawah.

Ronggur mengikat perahu baik-baik. Mengisi air pada bambu

tempat air yang dilobangi ruasnya, tapi ruas sebelah bawah

tidak dilobangi. Air bisa tersimpan baik di sana. Kemudian

dituntunnya si belang. Kembali dia mendekat ke atas. Merabaraba.

Terkadang harus digendongnya si belang. Si belang

seperti tahu marabahaya yang sedang mereka hadapi. Dia

menuruti segala petunjuk Ronggur dengan baik.

Setiba dipuncak, bersama dengan Tio, ditarik mereka

perahu ke atas. Perlahan-lahan agar tidak terbanting ke tebing

bukit batu, yang bisa membuat perahu pecah. Mereka

masukkan semua barang bawaan ke perut perahu. Tapi,

kampak terus digenggam, sedang di pinggang menyelip

panggada. Dia tambah yakin lagi pada diri sendiri. Perjalanan

itu tidak boleh surut dan tidak boleh henti. Harus terus maju.

Sampai tiba ke tempat yang menentukan.

Diputuskan akan terus mengikuti jaluran batu yang tidak

berapa luas itu ke depan. Ronggur di depan. Tio di belakang.

Mereka pikul perahu, jalan sempit terkadang, luas terkadang.

Keadaan masih tetap sama. Hanya beberapa depa dapat

ditembus pandang. Kabut tebal atau awan rendah

menyungkup segala dengan putihnya yang padu.

Tambah maju ke depan, suara gemuruh itu bertambah

jelas. Dan, alas yang mereka pijak seperti mempunyai getaran

kecil. Digoncang sesuatg tenaga yang maha kuat dan dahsyat.

Membuat hati kembali tertekan. Namun dengan tabah serta

keberanian yang bangkit perlahan-lahan, Ronggur terus

memelopori perjalanan rombongan yang kecil itu. Menuju

tempat yang menentukan, mimpinya benar atau memang

mimpi itu godaan setan jahat. Si belang mengikuti langkah

Ronggur, dekat sekali di belakangnya. Si belang tidak berani

mendahului ke depan. Tidak menggonggong. Hanya

melengking kecil.

Cahaya putih yang lemah itu menjadi tambah lemah lagi.

Keadaan sekitar kembali menghitam. Ruang hampa. Kembali

mereka mencari tempat istirahat. Air tipis halus itu, sudah

terus-terusan menghambur dari asalnya yang tidak tahu di

mana.

Ronggur mengosongkan peralatan mereka dari perut

perahu. Kemudian, perahu dibalikkan. Disuruhnya Tio dan si

belang berondok ke sana, agar tidak terus-menerus diperciki

air tipis. Dia sendiri tetap di luar. Tidak hentinya melihat

sekitar, walau yang dapat ditembus pandang hanya beberapa

depa saja.

Dingin mencekam. Ronggur tidak tahu, Tio menggigil juga

dalam sungkupan perahu, kedinginan. Wajah dan bibirnya

menjadi pucat. Tapi, Tio tidak mau mengatakan. Tidak ada

sumber panas yang bisa menyamankan sedikit.

Kembali warna putih yang lemah itu mendatang dari segala

arah. Tapi, begitu lemah. Kembali mereka melanjutkan

perjalanan, mengikuti jaluran setapak itu. Keadaan cuaca

masih tetap seperti semula. Terkadang jaluran itu mendaki,

tapi terkadang menurun, untuk mendatar lagi. Jalanan

bergelombang. Terkadang melurus, tapi tidak jarang

memenggok ke kiri dan ke kanan.

Mereka mengikutinya dengan tabah. Tapi, harus lebih hatihati,

jalanan bertambah licin. Air tipis tambah tetap

berhamburan dari sumbernya. Suara gemuruh di depan yang

membosankan itu, tetap mengguruh. Si belang tidak berani

lagi berjalan sendiri. Dia harus dimasukkan ke perut perahu,

didukung. Beban bertambah berat. Di saat tubuh mulai

melesu. Di saat kepercayaan terakhir mulai merenggang dari

tubuh Tio.

Sambil mengisak, Tio meminta, agar mereka menghentikan

perjalanan. Dia mendudukkan diri begitu saja. Tempat itu

agak luas sedikit. Sehingga mereka bisa agak leluasa sedikit

bergerak. Namun harus tetap hati-hati. Karena basah, licin.

"Ada apa Tio?" tanya Ronggur sambil mendekat. Tio

menundukkan kepala. Mengisak terus. Wajahnya memucat.

Bibirnya gemetar. Dingin. Sambil duduk di depan Tio, Ronggur

mencari dagunya. Diangkatnya perlahan dengan telapak

tangan yang menggetar juga karena basah. Ditatapnya wajah,

bibir, dan mata Tio yang memucat sayu

"Kau capek Tio?" Belum ada sahutan.

"Katakanlah."

"Katakanlah."

Tapi, begitu bening dan terasa agung. Ronggur tidak dapat

memancarkan sinar merah lagi di matanya.

"Marilah menanti hari esok di s ini, bila hari esok masih ada.

Marilah menanti apa saja di sini, apa saja," Tio lalu

menundukkan kepala. Melepaskan dagunya dari telapak

tangan Ronggur. Air berhamburan terus, membasahi tubuh

mereka. Tio mulai menggigil. Si belang juga. Terus

membulatkan tubuh dalam perahu, tidak berani turun.

"Katakanlah, apa yang harus kita kerjakan lagi Tio," kata

Ronggur melemah. "Aku telah membawamu ke tempat yang

hampa ini. Apakah kita harus pulang ke kampung halaman,

yang telah melemparkan aku, yang tidak menerima aku lagi

menjadi warganya? Nasib telah tertentu di sana, nasib yang

malang menanti diri. Katakanlah Tio, aku akan mengikutinya.”

"Marilah berhenti di sini," sahut Tio akhirnya. "Kupikir tidak

ada lagi gunanya kita meneruskan perjalanan ini. Marilah

pasrah di s ini. Berserah dengan hati bulat ke tangan Mula Jadi

Na Bolon. Bawalah daku padanya sebagai sembahanmu, agar

Mula Jadi Na Bolon tidak marah padamu." Suaranya begitu

lemah.

Tio menjatuhkan diri ke ujung kaki Ronggur. Sambil

mengisak dia mengatakan, "Janganlah kembali ke sana. Walau

apa yang telah kita temui. Marilah berpasrah diri di depan

Mula Jadi Na Bolon. Barangkali, ya barangkali, aku yang

membawa kenahasan ini padamu. Maafkanlah aku, Ronggur."

Perlahan, kembali Ronggur mengangkat dagu Tio.

Mendudukkannya. Ditatapnya lama biji mata yang sayu itu.

Jari jemarinya meraba pergelangan Tio. Lalu dengan hentakan

kasar, direnggutkannya gelang yang dipakai Tio, pertanda dia

seorang budak belian. Gelang itu dicampakkan Ronggur

sekuat tenaga. Jauh-jauh. Tio sudah merdeka kembali.

Berhadapan dengan kenyataan ini hatinya jadi bersorak

gembira. Air mata yang menggenangi pelupuk matanya tidak

bersumber dari kepiluan dan ketakutan lagi. Tapi, bermula

dari perasaan gembira.

"Kau merdekakan aku, Ronggur? Sungguh?"

"Ya, seperti kau lihat. Tidak ada sembahan kubawa ke

hadapan Mula jadi Na Bolon, selain diri sendiri."

Tio terdiam. Lalu dilanjutkan Ronggur, "Kalaupun kita mati,

mati bersama, sebagai orang yang sama hak, sama-sama

orang merdeka."

Arwah nenek moyang Tio akan menerima arwahnya di

tempat yang baik. Matinya, mati seorang manusia yang

merdeka, terhormat. Dia tambah mendekatkan bibirnya ke

bibir Ronggur. Sesuatu benda hangat tapi lembut menyentuh

bibirnya, melengket di sana beberapa saat. Lupa kepahitan,

lupa siksaan, lupa hal yang menghadang di depan. Terayun

dan dibuai sebuah lagu yang selama ini terpendam di

dasarnya. Sekarang berlomba bermunculan, membuai mereka

berdua.

"Ronggur," kata Tio dengan tegas, "marilah melanjutkan

perjalanan. Kita tidak boleh pulang. Kita harus maju. Sampai

tahu kepastian yang akan kita temui."

Ronggur tersenyum. Lalu, "Kita harus istirahat dulu di sini.

Sudah terlalu kelam untuk melanjutkan perjalanan. Lagi pula

kita telah menemui yang kita cari di sini. Boleh jadi, di sini

akhirnya."

"Tidak, tidak ada akhir," kata Tio tegas, "semuanya,

permulaan yang tidak punya akhir. Hanya permulaan."

Ronggur tersenyum. Tio tersenyum. Telapak tangan Tio

masih terus mengelus rambut Ronggur yang basah, dari

mulutnya keluar kata, "Aku cinta padamu . . .."

"Tio," bisik Ronggur, "maukah kau, bila kita mati, aku akan

mengatakan pada Mula Jadi Na Bolon bahwa arwahmu

bukanlah sembahanku. Tapi, istriku. Istri yang paling setia.

Yang tabah bersama suami mengarungi kehidupan, karena

ada cita tergenggam di tangan dan di hati. Berani mengarungi

segala kemungkinan, karena mau turut mempertaruhkan

keyakinan suaminya."

Tio menangkap leher Ronggur, lalu menciumi bibir Ronggur

lagi dengan bertubi-tubi.

"Marilah bersujud ke hadapan Mula Jadi Na Bolon.

Memohon ampun atas keangkuhanku, yang telah

membawamu ke tempat ini. Ke tempat para dewata

bersemayam." Tio memperbaiki duduknya. Ronggur

memimpin doa:

Mula Jadi Na Bolon

Asal mula dari segala kehidupan

Padanya kembali karena dia yang punya

Terimalah kedatangan kami

Hambamu

Karena keangkuhan yang berbenah dalam diri

Kami telah tiba di s ini Melanggar peraturanmu!

Ronggur menggenggam tangan Tio, lalu dilanjutkan:

Karena darimu mula cinta

Napasmu sangkala cinta

Satukanlah aku dan Tio

Suami isteri yang dihidupi api cinta

Tebarkanlah api cinta

Tiuplah api cinta

Membakar dada kami

Dari saat ke saat tanpa akhir!

Kembali mereka berdua berdekapan, seperti tidak mau

dipisah lagi, baik ruang, baik waktu. Dan, air tipis itu, terusterusan

berhamburan. Sekitar menjadi kelam kembali.

Bersama mereka menyuruk ke perut perahu yang dibalikkan.

Karena cinta telah punya laut dan pelabuhan, batas ruang

dan waktu tidak berarti lagi. Si belang keluar dari sungkupan

perahu. Berjaga di luar perahu.

6

Ronggur terbangun. Menggigil kedinginan, walau dia dan

Tio berpelukan di bawah telungkupan perahu. Perlahan

diungkapnya pinggir perahu, lalu dijulurkannya kepala melalui

celah, yang sudah ditopang oleh batu yang diganjalkan.

Dia telah mengenal kabut pegunungan dan danau sejak

kecil. Tapi, kabut yang begini rupa tebalnya dan lamanya

belum pernah ditemui sebelum itu. Atau, awan rendah belum

pernah melingkupi tanah serendah itu. Langit seperti di atas

kepala saja dan dapat dijangkau tangan. Tapi, bila tangan

digapaikan ke atas, yang ada hanyalah kehampaan yang tidak

bertepi.

Perlahan melepaskan pelukan Tio. Waktu itulah Tio

bangun. Bermalas-malas. Kembali tangannya dilingkarkan di

leher Ronggur, lalu seperti! anak kecil, dia menciumi pundak

Ronggur. Dari mulutnya perlahan berbisik, "Kenapa kau buruburu

bangun? Apalagi yang mengejarmu? Bukankah sudah

semua kita lalui dan sekarang kita hanya tinggal menantikan

yang akan terjadi, permulaan dari segalanya?"

Ucapan manja bercampur kekanakan, membangkitkan iba

Ronggur. Tapi, dengan tegas dia menyahut, "Semalam atau ya

saat lalu, kita sudah berpendapat bahwa kita tidak akan

melihat dan mengecap saat lain lagi. Kita sudah beranggapan

bahwa tidak ada lagi hari, tapi sampai kini masih hidup dan

mengenal hari."

"Apa sudah pagi?" tanya Tio.

"Aku tidak tahu. Tapi, katakanlah dulu sudah pagi. Hingga

waktu lewat, hari lalu, dan waktu kini, hari yang kita nantikan

kemaren. Hari yang kita harapkan membawa perobahan pada

nasib yang mendatangi diri. Atau, perobahan pada yang

hendak kita temui. Lihatlah sekitar. Masih disungkup kabut

atau awan rendah yang masih tebal. Cahaya putih yang lemah

sudah ada lagi, hanya masih begitu lemah. Masih seperti saat

lalu."

"Wajahmu capek kelihatan," kata Tio.

"Tidak mengapa. Dibaliknya terkandung kegembiraan dan

harapan selalu."

"Kita masih mengharapkan?"

"Selalu. Harapan, satu-satunya api yang dapat membakar

semangat hidup. Tapi, janganlah pergunakan harapan untuk

harapan saja. Harapan harus dapat melahirkan sesuatu yang

berwujud dalam kenyataan kerja."

"Cakapmu tidak dapat kuartikan," kata Tio. Tapi, Tio

tersenyum. Merapatkan kepalanya ke pundak Ronggur.

Mereka mencuci muka dengan melapkan tangan saja

karena wajah mereka tetap basah. Dengan mengulurkan lidah,

beberapa titik air dapat ditelan sebagai sarapan pagi.

Ronggur berusaha menatap sekitar, namun pandangnya

masih tetap disungkup diputihan. Perlahan dirasakannya angin

bangkit. Di arah darimana bermula angin itu. Tio terus

merapatkan tubuhnya ke tubuh Ronggur, karena dia tetap

kedinginan yang tambah lama tambah bermaksud

membekukan diri. Panas tubuh mereka berdua yang merapat,

bisa sebagai bedeng, bisa menimbulkan panas.

"Lihat," kata Ronggur kemudian, "apa kau pikir itu?"

"Apa maksudmu?" tanya Tio.

"Lihat. Tidak kau lihat? Lihat ke bawah sana. Lurus ke

depan."

Tampak oleh mereka berdua sebuah benda putih yang kecil

tapi bundar, putih dan lebih putih dari semua, bergerak

dengan lamban seperti bermalas-malas. Namun tetap naik

atau berusaha naik ke atas, mengatasi segalanya. Begitu putih

hingga memijarkan sinar, tapi sinar lemah. Sinar yang

dipancarkannya sedang mengadakan perlawanan atau

berusaha menghancurkan kabut putih atau awan rendah itu.

Untuk menyingkirkannya. Agar bisa dapat dilihat mata apa

sebenarnya yang ada di sana, seperti itulah gayanya. Deru

yang terus menderu di depan memberi gendang layaknya.

Tidak mati-mati. Biar sesaat pun. Kuping benda bundar putih

tidak memperdulikannya.

Benda putih bundar itu merangkak perlahan, mendaki ke

ketinggian. Mata mereka terus mengikuti gerak malas dari

benda putih yang bundar itu. Hati mereka menjadi tambah

menduga. Mereka belum pernah melihat tamasya alam begitu

rupa. Sesuatu benda putih yang bundar mengadakan

perlawanan terhadap sesuatu yang melingkupi segala dengan

warna putih, tapi tidak berwujud. Bundarnya, hampir

menyerupai bundar matahari yang mereka kenal, sewaktu

ditutupi awan di langit. Tapi, mereka tahu, matahari tetap

berada di atas.

Mereka tidak pernah memikirkan bahwa pada satu saat dan

tempat yang berobah, rnatahari bisa dilihat seperti berada di

bawah. Namun mata mereka terus mengikuti gerak lamban

dan malas dari benda putih yang semakin tinggi itu. Mulut

mereka ternganga. Bila butiran air tambah menebal melengket

di wajah, di rambut hingga menyusahkan mata untuk

menatap, sekali hapus saja akan hilang tapi cepat melengket

di sana butir air yang lain. Mulanya tipis. Lama kelamaan

menjadi tebal. Dan, bila sudah menebal, dihapus dengan

telapak tangan.

Tidak disadari mereka, entah berapa lama mereka

tenggelam dalam keadaan begitu. Tidak disadari mereka,

kenapa pandang mereka terpaut mengikuti gerak perlahan

yang menanjak itu. Mereka belum dapat menduga, warta yang

akan timbul darinya. Mereka memang tidak tahu lagi, apalagi

yang harus mereka hadapi. Hati berdenyut juga walau sudah

punya tekad, bersedia menerima segala tiba.

Detak hati yang menandakan diri anak manusia biasa. Dari

tubuh Ronggur sendiri, segala perasaan mencurah keluar,

mengikuti perjalanan benda bundar yang lemah itu. Dalam

saat begitu rupa, dia memerlukan kelembutan yang bermula

dari tubuh Tio. Dia tambah mengeratkan pelukannya ke

pinggang Tio. Kalau mati, marilah mati berpelukan, kata

hatinya ke diri sendiri. Dia tidak mau mengatakannya pada

Tio, takut kalau Tio menjadi takut, dan merasa ngeri. Tio

mendekatkan pipinya ke pipi Ronggur. Mata mereka terus

mengikuti gerak perlahan yang terus menanjak di depan

bermalas-malas, dengan tidak mau tahu pada mereka berdua

yang mengikuti geraknya terus menerus.

Perlahan sekali sehingga tidak terasa, sungkupan awan

rendah bercampur kabut tambah menipis juga dari sekitar.

Perobahan yang tidak tersadari. Mulut jurang sungai tambah

berbentuk. Begitu pula mulut jurang di sebelah kanan. Si

belang turut duduk dekat mereka, tidak bergerak. Melihat ke

arah yang mereka tatap. Lidahnya dijulurkan. Seperti menanti

sesuatu yang menentukan akan tiba.

Tebing jurang tambah menghitam, namun dasarnya belum

tampak atau memang tidak punya dasar. Apakah benda putih

itu akan menyuluh jurang yang tidak berdasar? Pandang

sudah bisa mereka campakkan barang sepuluh depa ke

depan, ke samping dan ke sekitar. Tambah jauh jarak yang

dapat ditangkap pandang.

Bila cuaca bertambah terang, si belang mulai sering

melangkah ke depan dan ke belakang, seperti melemaskan

otot. Tapi, cepat Tio memanggil kembali, takut kalau si belang

terjerumus ke mulut jurang yang belum tampak dasarnya.

Benda bundar yang putih itu bertambah tinggi juga.

Bertambah garang cahaya yang memancar darinya. Mereka

ikuti terus dengan tabah. Jarak yang dapat ditangkap pandang

bertambah jauh dan luas. Jauh ke belakang dapat dilihat

Ronggur, di sana tebing tidak berapa curam. Bisa dituruni, bila

hendak turun ke lembah di seberang kanan. Tapi, dasarnya

belum tampak sama sekali. Tapi, suatu harapan telah

menggeliat dalam hatinya. Tebing yang tidak berapa curam itu

menurut perhitungannya, bisa dituruni secara perlahan. Tidak

berapa sulit malah.

"Ronggur," pekik Tio meninggi sambil mempererat

pelukannya ke pinggang Ronggur, "itu matahari! Itu matahari!

Mula hidup! Itu matahari!"

Cepat Ronggur berpaling. Terbelalak mata mereka melihat

sinar yang tambah terang. Sungkupan kabut dan awan rendah

tambah menipis dan terangkat.

"Dan, - dan —" dengan gugup, gugup sekali, karena tidak

menduga walau itu yang dicari dan diharapkan, karena

dengan itu mereka telah dibebaskan dari kungkungan yang

mencekam dan mengancam. Karena dengan itu, mereka telah

menemui, jauh di bawah, melalui tingkatan pundak bukit,

terhempang kehijauan yang sangat luas. Kehijauan yang

maha lebat lagi datar.

Dapat ditangkap dengan pandang sekarang, itu dedaunan

dari pucuk pepohonan yang tinggi. Pucuk dedaunan itu seperti

berombak ditiup angin lalu, angin pagi. Angin pegunungan.

Sejauh mata memandang, yang dapat dilihat kehijauan yang

merata, lebat berimbun.

"Ronggur, itulah tanahmu. Ronggur, itulah tanah

habungkasanmu. Ronggur, itulah yang ditunjukkan mimpi dan

perkataan gaib dalam mimpimu. Dia telah membawamu ke

tanah habungkasan yang maha luas."

Ronggur gugup. Tidak dapat menyahut dengan segera.

Matanya menitikkan air bening. Semangatnya kembali hidup

secara perlahan. Api dalam dirinya kembali menyala atau bara

yang untuk beberapa saat tertimbun oleh debu, sekarang

debu itu telah menyisih sehingga merahnya bara kembali

rrienjilamkan panas menyala, membuat suhu tubuhnya

menjadi naik. Dapat dirasakan Tio. Lalu dia mengatakan

perlahan:

"Tio, tidak tanah itu saja yang ditunjukkan mimpi padaku.

Tidak tanah habungkasan itu saja."

"Apa lagi?" tanya Tio terbodoh.

Lama Ronggur menumpa pandang ke biji matanya, lalu,

"Juga kau. Kau, sayang!"

Pandang lama bertemu, lalu Ronggur melingkarkan

tangannya ke tubuh Tio dengan ketat, yang sekarang, sudah

bisa pula melemas.

"Tio, marilah mengucapkan sukur pada Mula Jadi Na Bolon,

yang telah mengirim matahari untuk kita, yang membuat kita

dapat melihat tanah habungkasan yang dijanjikannya dan

membuat aku dapat dengan jelas melihat wajahmu,

menanamkan pandang ke dasar bening matamu."

Mereka bersujud ke arah matahari. Perlahan, Ronggur

menegakkan Tio dari sujudnya. Setelah memberi kecupan

pada bibirnya, dia mengatakan pula, "Itu bukan tanahku,

Istriku. Tapi, juga tanahmu. Tanah kita berdua. Tanah anak

kita. Tanah keturunan kita, yang pasti banyak dan akan terus

berkembang. Tapi, juga tanah orang lain, yang mau bungkas

ke sana."

Beberapa saat keduanya terdiam. Tapi, kata Ronggur

kemudian, "Perjalanan kita masih jauh. Kita harus menyelidiki

keadaan tanah di sana. Apakah baik dijadikan tanah

persawahan. Apakah hutannya banyak menyimpan binatang

buruan. Tapi, sebelum itu, sebelum kita memulai perjalanan

ke sana, izinkanlah aku mengatakan sesuatu kata yang telah

lama terpendam di hati, "aku cinta padamu Tio."

Tio menggigit bibir. Matanya menitikkan air bening. Sambil

tersedu karena terharu, dia menelungkupkan kepala ke dada

Ronggur yang bidang. Ronggur membiarkannya begitu

beberapa saat. Tidak mengganggu. Tangannya terus menerus

mengelus rambut Tio yang panjang lagi lembut dan lemas,

tapi basah.

"Kita akan terus mengikuti aliran sungai menuju tanah

landai," kata Ronggur kemudian, "lihat terus ke sebelah timur

sana, sesuatu garis putih yang membelah kehijauan, ialah

terusan Sungai Titian Dewata."

Tio mengikuti arah yang dimaksudkan Ronggur. Melalui

dinding batu yang tidak berapa curam, mereka dapat melihat

gundukan perbukitan di sebelah kanan.

"Itulah jalan yang baik ditempuh," kata Ronggur.

Lalu dia mengikat pinggangnya dengan tali. Dia turun

sendirian ke gundukan tanah pertama. Membuat anak tangga.

Jalan ke gundukan pertama, agak curam. Tapi, dari sana, dia

ketahui, menurun ke gundukan kedua, lebih landai. Begitu

seterusnya, sampai tiba ke tanah datar di bawah. Kembali dia

memanjat. Lalu menyuruh Tio turun, sedang ia memegang

ujung tali, ujung yang lain diikatkan ke pinggang Tio.

Kemudian diturunkannya satu-satu peralatan, Tio menerima di

bawah, sampai akhirnya perahu sendiri. Kemudian dia sendiri

turun sambil menuntun si belang.

Mereka sudah sama berada di gundukan pertama, yang

mempunyai tanah, tapi masih begitu tipis, tanah melapisi

batu. Untuk pertama kali kembali mereka lengkap bersama

alatnya, termasuk si belang, memijak tanah, setelah beberapa

hari terendam di air, kemudian terdampar ke batu padas,

dibasahi titikan air yang terus menghujani mereka. Serpihan

air tipis yang menghujani itu tidak sampai lagi ke sana. Sudah

bisa mereka berjemur di sana, mengeringkan tubuh dan

memanaskan tubuh. Si belang menggoncangkan tubuh,

mengibaskan ekor biar cepat kering. Mereka tentukan untuk

bermalam di sana. Hari sudah sore.

Rumput kering, dijalin begitu rupa, hingga agak besar. Lalu

dibakar menghidupkan api. Betapa nikmatnya panas jilam api,

setelah beberapa lama tidak merasainya.

Malam itu keinginan Ronggur untuk meniup seruling

memuncak. Lagu yang mesra ditiupnya perlahan. Gemuruh air

dibalik bedeng terus kedengaran, sekarang seperti melengkapi

irama seruling yang ditiup Ronggur. Tidak menakutkan dan

mengancam lagi. Malah seperti menjadi pertanda. Agar

seseorang yang menyusuri sungai jangan meneruskan

penyusuran lagi, tapi agar memulai menempuh jalan darat.

Kemudian Tio mengiringi tiupan seruling itu dengan nyanyi:

Bila bulan di awan purnama

Di tepi danau aku menanti

Wajahmu menghias tanda masa

Mengajak daku ke dunia mimpi

Ronggur berhenti meniup seruling, dia melanjutkan

nyanyian itu:

Pohon aren di belah dua

Tempat berayun monyet berdua

Janji telah memadu

Pinang sebelah dibagi dua

Lalu berdua mereka melanjutkan:

Terbang engkau elang

Hinggap di kayu rindang

Ke mana engkau sayang

Kasihku tetap mendendang

Kemudian hanya Tio melanjutkan sedang Ronggur kembali

meniup seruling:

Kalaulah benar warta impian

Ditimang beta dengan sayang

Sinar purnama empuk menayang

Haribaanmu lagu impian

Tio meletakkan kepala ke pangkuan Ronggur. Memejamkan

mata dengan manja. Api unggun yang kecil itu terus menari

dan menari. Si belang duduk menjauh, memaling pandang.

Malam terus melanjut.

Pagi terbit lagi. Pemandangan seperti pagi kemaren. Bola

putih itu pada mulanya lemah sinarnya dan berada seperti di

bawah mereka. Kemudian secara berangsur perlahan,

keadaan sekitar bertambah terang.

Sehabis sarapan pagi mereka melanjutkan perjalanan.

Seperti taktik kemaren juga. Begitulah secara perlahan dan

hati-hati, akhirnya sampai juga mereka ke tanah landai di

bawah. Di atas kepala, memayung dedaunan hijau, sedang

kemaren dedaunan itu masih berada di bawah mereka,

perobahan tempat mengadakan perbedaan.

Sinar matahari hanya dari celah dedaunan saja sampai ke

tanah. Tanah cukup lembab dan basah. Dilapisi dedaunan

yang gugur sudah membusuk. Membentuk lapisan tanah yang

lembut dan berair. Kaki mereka terbenam sampai ke lutut

terkadang. Membuat mereka agak susah bergerak. Tapi, di

sana bisa mereka tarik perahu bersama peralatan lain, tanpa

takut dasar perahu bolong.

Mereka meneruskan perjalanan yang agak melingkar,

karena suara gemuruh bertambah hebat dan terasa

menggoncangkan. Berpedoman pada ingatan pemandangan

kemaren sore di mana terusan sungai berada, agar kembali

tiba ke sungai. Si belang berlari ke sana ke mari dan

menggonggong. Kekayuan yang tinggi dan besar batangnya

seperti tiang abadi yang bergaya mendukung langit, agar tidak

runtuh lalu menimpa bumi serta penghuninya. Getaran bumi

tambah terasa. Tergoncang.

Di satu tempat di arah depan, sinar matahari lebih leluasa

tiba ke tanah. Ke sana mereka menuju, walau suara gemuruh

tambah jelas dan memekakkan telinga. Dan, betapa ternganga

mulut mereka melihat benda itu. Sesuatu benda putih

mengapas putih melambung ke atas. Kemudian jatuh ke

bawah bergulung-gulung, itulah air terjun yang tidak hentinya

menerjunkan diri. Membuat dedaunan sekitarnya

bergoyangan, membentuk telaga yang agak luas pada tempat

jatuhnya, tapi airnya berputar dengan cepat. Di sana-sini

terbentuk curup di lingkungan yang gelisah itu yang bisa

menenggelamkan apa saja yang jatuh ke tengah curup itu.

Tio merapatkan tubuhnya pada Ronggur. Tapi, mata terus

ditancapkan pada benda jatuh itu. Kala di bawah arusnya

melingkar dan membikin kepala pusing bila lama-lama

menatapnya, la mengalir dengan besarnya ke arah timur.

Itulah kelanjutan sungai.

Mereka menyisih cepat dari sana. Merasa takut kalau batu

yang membentuk jaluran kejatuhan air itu akan runtuh lalu

menimpa mereka. Jalanan terus menurun.

Seperti menuruni pundak perbukitan, tapi sudah ditumbuhi

kekayuan yang tua. Di sana-sini dedaunan gugur membentuk

lapisan tanah yang lembut.

Di arah depan kembali kedengaran suara gemuruh, tapi

tidak sekuat yang tadi lagi. Arus sungai kembali menggila,

membuat mereka tidak langsung berkayuh melalui sungai.

Tapi, tetap mengikut pinggiran sungai. Kembali mereka temui

air terjun, jarak jatuhnya lebih pendek dan lebih landai dari

yang pertama. Sehingga busa air tidak terlalu hebat sewaktu

jatuh.

Dengan memilih jalan agak melingkar mereka menurun

terus ke bawah. Sampai akhirnya berada di tempat jatuhnya

air kedua. Mereka menatap ke atas, benda putih mengkabut

bermula dari air jatuh pertama. Terus mereka menghilir

mengikuti tepian sungai. Sampai akhirnya arus sungai tidak

beriam lagi. Menurut perhitungan Ronggur sudah dapat

memulai pelajaran dari sana. Tapi, karena hari sudah agak

sore, mereka memutuskan untuk bermalam di sana.

Si belang melompat ke depan. Masuk semak. Biarpun Tio

memanggilnya. Beberapa saat kemudian, si belang keluar dari

semak mengejar seekor kijang, la meloncat ke depan. Dan,

tercengang melihat Tio dan Ronggur. Ronggur tidak

melewatkan kesempatan baik itu. Dengan tombaknya cepat

dia membunuh kijang yang tercengang itu. Kijang terguling ke

tanah, ujung tombak tertancap di dadanya.

Sambil menguliti, Ronggur mengatakan, "Kalau begitu, di

sini banyak binatang buruan. Kita tidak menguatirkan mati

kelaparan. Lagi masih begitu jinak binatang itu. Tidak punya

prasangka pada manusia yang memburunya "

"Lihat," kata Tio pula. "Itu pohon aren. Umbinya bisa kita

jadikan bahan makanan. Pengganti beras. Bila beras habis."

Tambah tahulah mereka tanah yang mereka temui itu,

mempunyai tumbuhan yang bersamaan dengan tumbuhan

yang ada di bidang tanah yang mereka tinggalkan.

Binatangnya juga begitu. Mereka tebang beberapa pohon

aren. Mereka ambil umbinya. Lalu mereka jemur, dan tumbuk

lalu direndam lagi kemudian ditapis untuk mengambil

tepungnya. Untuk beberapa hari mereka tinggal di situ.

Walaupun sudah menghilir arus sungai masih kencang.

Sungai terus menerus membelah hutan belantara. Terkadang

sungai seperti ditutupi dedaunan hijau yang merimbun di

atasnya. Sehingga sinar matahari tidak sampai ke permukaan

sungai.

Dan, mereka harus lebih hati-hati menjaga kemudi. Tidak

bisa berdiri dengan leluasa. Dedahanan terlalu rendah

terkadang. Beberapa buah batu jangkar masih dijatuhkan,

menjaga keseimbangan kelajuan perahu. Tio lebih banyak

memperhatikan sekitar, karena dia belum perlu mengkayuh.

Tapi, biarpun begitu perasaan Ronggur begitu pasti bahwa

mereka akan tiba ke tanah yang lebih landai dan lebih baik.

Dengan melampaui riak air yang terkadang menghempas

ke batu yang muncul di sana-sini, melalui riam yang liar di

tikungan sungai yang patah. Tapi, sekitar mereka sekarang

berwarna hijau dan tanah mengambangkan bau kesuburan.

Dari celah renggangan dedaunan, sinar matahari terus

memberi suluh abadi. Bila cahaya itu melemah, tahulah

mereka, hari sudah mengarah sore. Cepat mereka

meminggirkan perahu. Memilih dahan kayu yang baik untuk

tempat bermalam. Mereka tidak menguatirkan kehabisan

bahan bakar. Di sana-sini berletakan ranting kering,

bergeletakan dahan kering yang patah dari batangnya. Untuk

digantikan dahan lain mendukung dedaunan yang lebih hijau,

segar lagi lebat.

Kemana saja mata diarahkan, tetap tertumpu pada pohon

yang besar lagi tinggi, seperti raksasa dalam dongeng,

menjelma kepada penglihatan, ibarat penopang langit agar

tidak jatuh ke atas tanah. Ronggur dapat merasakan bahwa

batang kayu yang besar itu dapat digunakan selanjutnya

untuk kepentingan kehidupan.

Perjalanan diteruskan menuju ke timur, menghilir sungai.

Perasaan dalam dada masing-masing, seperti berlomba keluar

untuk disuarakan, meneriakkan kegembiraan. Untuk mencari

bentuk kata, kata yang paling sesuai diucapkan dengan yang

dirasakan dalam hati, yang ditiupkan musik alam ke dalam diri

atau untuk menyiutkan nada musik yang memadat dalam

rongga dada. Arus sungai tambah perlahan. Beberapa buah

batu jangkar sudah diangkat ke atas. Tapi, masih ada juga

dijatuhkan.

Ronggur selalu menghirup udara dalam-dalam. Ingin dia

menghirup habis segala kebebasan yang diberikan alam

padanya, namun dia tidak sanggup menghabiskannya. Bila

mereka menemui gua alam di tepi sungai, dan bila mereka

bermalam di sana dan biasanya lebih lama daripada bila

mereka tidur di dahan, Ronggur meniup seruling dan Tio

bernyanyi. Sedang si belang berlari kian kemari,

menggonggong dan menyalak, memelopori sebuah perburuan

bila fajar pagi tiba.

7

Bertambah hari, mereka menghilir sungai. Arus sungai

tambah perlahan. Batu jangkar sudah diangkat. Luas sungai

tambah lebar. Tapi, mereka belum perlu mengayuh. Arus

masih dapat menghanyutkan perahu walau dengan perlahan.

Ronggur selalu mengukur dalamnya sungai dengan tali

yang di ujungnya diikat batu sebagai pemberat. Di depannya

tali yang terbenam, itulah dalam sungai. Bila mereka bosan

dengan sungai, mereka mendarat ke tepian.

Sering Ronggur memanjat kayu yang tinggi, menatap dari

arah mana mereka datang dan menduga hendak ke mana

mereka dibawa sungai yang diikuti itu. Pundak pegunungan

bertambah jauh di belakang sudah membiru. Melalui

pengenalan akan pundak pegunungan, Ronggur dapat

menduga bahwa di balik pegunungan yang semakin menjauh

itu, di situlah kampung halamannya.

Bila mereka hendak pulang ke sana melalui jalan darat,

mereka harus menaklukkan pundak bukit itu, atau menembus

celah pegunungan yang terdapat pada pertemuan bukit yang

memanjang. Lalu menatap ke arah hilir sungai, hutan lebat

hijau di mana-mana menampung penglihatan.

Selalu dibuatnya tanda pada pohon kayu yang dipanjatnya.

Di garis batangnya melingkar. Sedang pada tepi sungai,

ditanamnya batu besar dan disambungkannya pada salah satu

bagiannya.

Pancing yang diumpankan Tio selalu mengena. Pancing

tidak perlu berlama diumpankan. Dalam waktu singkat ikan

sudah ada yang menyambar. Ikan yang cukup besar. Bila

dipanggang bara api bisa padam. Karena lemaknya.

Terkadang sampai berhari-hari mereka mengadakan

pemburuan, bila bosan dengan ikan sungai. Binatang buruan

begitu banyak dan jinak. Si belang sudah mulai gemuk.

Bulunya tebal berlinang. T api, satu hal makin mereka rasakan,

udara bertambah panas. Walau mereka berada di naungan

pepohonan rindang, udara panas itu tetap mengganggu,

membuat Ronggur tidak kerasan memakai sehelai kain atau

kulit binatang di bagian dadanya. Dibiarkannya dada

telanjang.

Setiap hari tepian sungai bertambah luas. Pepohonan tidak

lagi di tepian sungai seperti di hulu. Sudah agak menjauh.

Tanah luas yang berlumpur semakin lebar mengikuti jalur

sungai. Arus sungai tambah perlahan. Membuat mereka harus

mengayuh terkadang.

Dan, tanah berlumpur yang mengiring jaluran sungai,

tambah luas. Ronggur selalu menelitinya dengan seksama.

Digenggamnya tanah itu. Diperhatikan lunaknya. Terkadang

diciumnya dengan hidung, apakah bau lumpurnya sama

dengan bau lumpur yang ada di kampung halaman. Tapi, dari

lumut lumpur dia tahu bahwa tanah yang mereka temui itu

lebih lemak dan subur dari tanah di kampung halaman.

Sedang di hutan yang semakin menjauh dari tepian sungai

itu, mereka temui pohon yang berbuah. Buahnya lain dari

buah mangga yang mereka kenal di kampung halaman. Lebih

enak dan lezat. Membuat mereka terkadang seharian hanya

memakan buahan saja.

Hanya udara yang bertambah panas itu saja yang membuat

mereka agak merasa tidak senang. Udara seperti itu tidak

pernah mereka temui di sekitar kampung halaman, walaupun

matahari cukup terik. Ini tidak. Walau terkadang matahari

dilindungi awan, panas itu masih tetap terasa. Membuat tubuh

mereka selalu berkeringat, tapi cepat kering disapu angin lalu.

Tubuh seperti berminyak jadinya. Lengket dan tidak

mengenakkan perasaan. Membuat mereka sering terjun ke

dalam sungai, berenang, dan menyelam, agar keringat

melengket itu bisa menghilang untuk datang dan untuk

dihilangkan lagi.

Alangkah terkejutnya mereka, pada suatu hari, sewaktu

Ronggur berenang mengikuti perahu yang menghilir,

sekelompok binatang yang sedang berendam di tanah lumpur,

bergerak, lalu mengejar. Cepat Tio mengatakan, "Ronggur,

awas. Cepatlah ke perahu."

Ronggur berenang sekuat tenaga. Binatang itu memburu.

Perahu agak oleng sewaktu Ronggur menaikinya dari satu sisi.

Lalu terus mengayuh. Binatang itu terus mengejar. Jalan satusatunya

untuk mempertahankan diri, Ronggur menyuruh Tio

terus mengayuh, sedang dia, dengan mempergunakan

kampak, tombak, memukuli setiap ada binatang datang

mendekat ke perahu, mencucuknya. Panggada juga turut

digunakan.

Satu dua ada yang mati di antara binatang itu. Terapung.

Binatang itu belum pernah mereka lihat. Begitu pandai

berenang. Mulutnya menganga lebar hendak menelan saja.

Ekornya bergerigi dan begitu keras tampak. Walaupun belum

pernah mengenalnya namun naluri mereka dapat memastikan

bahwa binatang itu binatang air yang membahayakan.

Binatang yang mati dan dihanyutkan arus mereka tangkap.

Dagingnya kurang enak dimakan. Karena itu daging binatang

itu mereka biarkan saja membusuk. Tapi, kulitnya cepat kering

dan dapat dilipat, begitu halus. Karena itu kulit binatang itu

mereka bawa. Bisa dibuat menjadi kantong tempat

menyimpan alat. Bila digantungkan di pinggang

kelembutannya selalu mengikutkan gerak-gerik pinggang.

Ronggur tetap memperhatikan dan mempelajari perobahan

bentuk tepi sungai. Air sungai tidak sebening di hulu lagi.

Sudah mulai keruh dan kotor. Tidak tahu mereka dari mana

datangnya air keruh itu. Kenapa air yang tadinya begitu

bening, bisa berobah menjadi keruh.

Pepohonan semakin jauh dari tepian sungai. Digantikan

gelagah dan daun nipah. Lumpurnya bertambah lembut dan

bertambah dalam dasarnya. Bertambah ke hilir bertambah

banyak anak sungai bersatu dengan sungai itu.

Bila mereka terus melalui tanah lumpur itu mendekat ke

tepian hutan yang semakin jauh, sebelum tiba ke tepi hutan,

lebih dulu ada tanah yang hanya ditumbuhi ilalang. Tanah

juga lembut. Gembur, bagus untuk ditanami.

"Inilah dia," kata Ronggur. "Inilah tanah yang kita cari.

Tanah landai yang sudah lama kumimpikan. Lihat, tepi hutan

tidak berapa lebat. Bisa ditebang pohonnya untuk dijadikan

persawahan."

"Apakah kita sampai di sini saja?" tanya Tio.

"Tidak," sahut Ronggur. "Kita harus meneruskan

perjalanan. Menyusuri sungai. Kita harus tahu, sampai ke

mana sungai ini. di mana muaranya. Itu sangat penting. Di

muara tanah landai akan tambah lebar lagi."

"Biasanya," kata Tio, "sungai yang ada di kampung

halaman, yang tidak sebesar sungai ini, bermula dari kaki

bukit. Untuk bermuara ke danau. Apakah sungai ini juga akan

bermuara ke danau?"

"Danau apa?" tanya Ronggur pula.

"Aku hanya bertanya."

"Kebiasaan memang begitu. Tapi, belum dapat kupastikan

mengenai sungai ini,"' jawab Ronggur.

Lalu mereka meneruskan penyusuran. Bertambah ke hilir,

di samping arus semakin perlahan, ada semacam getaran

mengganggu jalan perahu. Ada kalanya perahu tidak dapat

laju biar setapak pun ke depan. Walau mereka mengayuh

sekuat tenaga. Ada semacam tenaga menahan.

Dan, di saat itu, permukaan sungai naik. Air menjadi sangat

keruh dan asin. Tanah lumpur dan tumbuhannya, gelagah dan

daun nipah menjadi tergenang. Terkadang sampai ke pucuk

digenangi air. Ronggur memperhatikan ini semua. Lalu dapat

memastikan bahwa tanah lumpur yang di tepian sungai benar,

tidak baik dijadikan persawahan. Karena sering tergenang.

Bisa membuat padi busuk. Harus lebih ke atas lagi, ke tempat

yang tidak dapat memastikan, dari mana air itu datang.

Kenapa permukaan sungai menaik. Dan, sungai menjadi

menggeliat. Berombak. Membuat mereka takut pada mulanya.

Sehingga mereka harus buru-buru mendarat ke tepi. Langsung

mencari tanah yang agak tiriggi. Di sana mereka harus

menggali tanah membuat sumur. Supaya ada air tawar.

Sambil terus memperhatikan perobahan pada permukaan air.

Dan, setelah beberapa lama, air sungai susut lagi. Di saat

begitu arus sungai mengencang ke hilir. Sehingga enak

berlayar. Tidak perlu mendayung. Arus menghanyutkan

perahu. Untuk tiba pula pada keadaan, arus mati. Kemudian

datang pula saat permukaan air sungai naik. Perahu tidak bisa

dikayuh. Malah hendak disorong ke belakang, kembali ke hulu.

Berhadapan dengan keadaan baru ini, Ronggur bertambah

was-was. Saat sungai menaik permukaannya dan saat sungai

kembali ke tarap biasa, diperhatikan dan disesuaikan

waktunya. Dicocokkan dengan waktu peredaran bulan dan

bintang. Kemudian diputuskannya untuk terus melayari

sungai. Biar permukaan sungai menaik atau menyusut. Agar

tahu dengan pasti, apa sebabnya dan apa akibatnya pada

orang yang berlayar di saat begitu.

Mereka terus berlayar. Dan, saat permukaan sungai naik

telah tiba. Mereka harus mengayuh dengan sekuat tenaga.

Gelombang sungai mulai menggeliat. Tapi, terus mereka

lawan. Berkayuh dan berkayuh. Walau tidak ada ditemui

kemajuan. Malah mereka seperti disorong ke belakang.

Mereka terus melawan. Arus sungai menyongsong dengan

kuat. Perahu seperti dihanyutkan kembali ke hulu. Walau

mereka sudah berkayuh dengan sekuat tenaga. Tapi, mereka

berdua terus berkayuh melawan air yang menyongsong itu.

Walau malam sudah bertambah jauh, mereka terus di dalam

perahu dan terus mengayuh.

Menjelang subuh, terasalah permukaan sungai kembali

menyusut. Sehingga perahu mereka begitu lajunya

dihanyutkan kembali ke hilir. Di saat begitu, mereka dapat

melepas lelah. Sambil Tio berkata, "Apa lagi yang akan terjadi,

dan apa lagi yang akan ditemui pada perobahan sungai?"

"Justru, itu yang perlu kita ketahui," jawab Ronggur.

Karena begitu capek, mereka tertidur. Kantuk telah

membawa mereka ke alam tidur, di mana keadaan sekitar dan

kejadian dapat dilupakan. Perahu terus dihanyutkan arus

sungai.

Sinar matahari sudah kembali menampari wajah alam dan

wajah mereka sendiri yang tertidur di perut perahu. Si belang

berada di haluan perahu, mencerminkan mukanya ke

permukaan air. Lalu menggonggong panjang, melihat

keluasan yang terhampar di depannya. Di sekitarnya.

Karena silau dan karena gonggong si belang, mereka

terbangun. Pada penciuman terasa keluasan dan kebebasan

udara. Tidak terkungkung sedikit pun. Alangkah terbelalaknya

mata Ronggur sewaktu di hadapannya, di sekitarnya, air yang

maha luas mengitari mereka, perahunya terapung dan

mengangguk-angguk dipermainkan riak. Pada sisi kanan, kiri

dan di hadapan, air itu bertemu dengan kaki langit demi kaki

langit. Di bagian punggung, jauh sudah, tepian, atau daratan

yang hijau. Buru-buru Ronggur menyuruh Tio duduk, lalu:

"Lihat, lihat Tio. Kita menemui danau. Tapi, danau yang

maha luas. Airnya, alangkah asin. Tidak bisa diminum."

Tio memilin mata. Membelalakkan pandang. Sinar matahari

mencurah ruah. Kemudian dipantulkan air ke atas kembali.

Sehingga lebih silau.

"Danau, tapi danau yang sangat luas," akhirnya Tio

mengatakan dengan kagum. "Danau apa ini?"

"Aku tidak tahu."

"Marilah ke tepi. Kita tidak tahu ke mana berakhir air yang

maha luas ini," ajak Tio.

Cepat mereka mengayuh ke tepian. Tepian memutih

ditimpa sinar matahari penuh. Agak jauh kedalam bermula

jajaran pohon kurus panjang dan hanya di bagian puncaknya

ada daun kelapa. Nyiur. Berjajar memagar pantai.

Cepat Ronggur dan Tio mengayuh. Benda ditepian yang

menerima sinar matahari seperti menyala itu, pasir putih.

Beda dengan pasir pantai danau yang mereka kenal di

kampung halaman. Mereka mendaratkan perahu jauh ke

darat. Menambatkannya pada pokok kelapa. Tambah siang

ombak tambah membesar. Ronggur memanjat kelapa lalu

memetik buahnya yang masih muda.

Mereka minum air kelapa muda. Diseling Tio, "Di sini kelapa

tidak akan habis. Sekuat kita memakainya, putiknya akan

cepat mendatang lagi dan berlipat ganda banyaknya."

Sambil menatap keluasan air. Yang bergelung-gelung

ombaknya dan memecah di pantai, dengan lagunya sendiri.

Berdesir angin yang melewati atau membuat daun nyiur

melambai. Burung putih berterbangan ke sana ke mari, menari

dengan gaya yang bagus dan begitu jinak. Tidak punya

prasangka pada Ronggur dan Tio. Sehingga sambil bermalasmalas,

Ronggur dapat melemparnya. Beberapa ekor kena dan

jatuh ke tanah. Si belang menjemputnya. Dengan

moncongnya si belang menggigit dan membawa ke tempat

mereka berdua duduk.

Pada tanah lumpur sekitar muara sungai, bertambah

rimbun pohon gelagah dan daun nipah, diselang seling pohon

bakau. Walaupun daun nipah sudah kering, namun tetap kuat

dan tampak berminyak. Dengan daun nipah itulah, mereka

buat atap sebuah dangau. Tiangnya agak tinggi dibuat dari

pohon bakau yang panjang dan lurus lagi kuat. jendelanya

jauh lebih besar dari jendela rumah yang ada di kampung

halaman. Karena udara panas.

Sekarang mereka sudah punya rumah kembali. Sekarang

mereka sudah punya danau yang sangat luas malah.

Walaupun airnya asin, namun sangat banyak mengandung

ikan. Ikan yang besar. Mereka lalu kenal juga binatang laut

yang ada di tepian yang juga enak dimakan. Sedang pada

hutan di sebelah punggung mereka, dan di tanah yang

ditumbuhi ilalang sebagai pinggiran hutan, banyak menyimpan

binatang buruan. Mulai dari burung, ayam hutan, kijang

sampai pada binatang buas yang ditakutkan: Harimau, gajah,

beruang, dan di tepian sungai berpaya, binatang air itu,

buaya.

Pada hari pertama Ronggur tetap memperhatikan mula dan

arah angin. Akhirnya dapat mereka ketahui, pasang air sungai

yang membuat permukaan sungai naik dan sungai punya arus

ke hulu, tidak menetap saatnya. Tergantung pada hari bulan.

Begitu pula saat sungai surut kembali.

Bila air sungai pasang, perahu agak tertahan menuju

muara. Tapi, bila air sungai surut perahu dilarikan arus ke

tengah danau yang maha luas itu. Waktu siang hari angin dari

arah danau luas bertiup ke darat. Waktu itu bila berkayuh

menuju tepian dari tengah, sangat baik. Arus ombak

menghanyutkan perahu ke tepian. Sedang waktu malam hari,

menjelang dini hari, angin daratyang bermula dari hutan di

punggung mereka, bertiup ke arah danau luas itu.

Waktu itu sangat baik untuk memulai pelayaran ke tengah

danau luas itu. Dan, bila pasang naik tanah lumpur itu

tergenang, terkadang sampai sedalam dada. Bila air surut

permukaan sungai merendah. Tanah lumpur itu, rawa itu

kembali tampak. Tapi, walaupun tanahnya lumpur dan lembut

karena selalu tergenang, tidak baik dijadikan persawahan.

Bila mereka hendak membuka sawah percobaan, harus

memilih tempat yang agak tinggi dan jauh dari pantai, jauh

dari tepi sungai, agak menusuk ke tengah hutan. Mereka

harus merambah hutan belukar agak ke pedalaman.

Mereka cari tumpukan tanah yang agak datar di hutan dan

ditumbuhi ilalang. Agar lebih mudah mengerjakan sawah

percobaan itu. Kemudian dari hulu sungai yang belum asin

airnya, dibuka aliran parit. Sehingga ada pengairan ke sawah

itu, di samping air hujan. Dekat sawah itu mereka dirikan

dangau, tempat istirahat atau bermalam, bila merasa malas

pulang ke rumah di tepi pantai.

Persemaian telah digarap. Tanahnya cepat lembut. Setelah

beberapa lama tanah yang digarap itu digenangi air yang

dialirkan ke sana, tanah itu cepat menghitam,

mengambangkan kesuburan. Beberapa bidang lagi tanah telah

diolah menjadi sawah percobaan.

Waktu menancapkan cangkul ke dada tanah, tahulah

Ronggur dan Tio, tanah itu tidak melapisi batu. Tanah itu

begitu gembur. Cepat lunak dan cepat menjadi lumpur hitam

yang lembut, bila telah digenangi air. Tidak tersangkakan,

walau itu yang diharapkan, tanah begitu cepat menerima

taburan bibit. Kemudian bermunculan di atas tanah batang

padi yang gemuk hijau, menjanjikan akan mendukung bulir

padi yang bernas. Merunduk ke tanah karena berisi.

Usaha percobaan itu terus diluaskan ke tanah yang lebih

tinggi dan agak susah didatangi air parit. Di sana juga tanah

dengan cepat menerima taburan bibit. Walau tidak punya air

selain air hujan dan yang dikandung tanah. Itulah ladang,

huma, sawah kering. Ini semua menanam harapan yang lebih

sempurna dalam dada.

Tanah yang mereka temui tanah yang dimimpikan setiap

orang di kampung halaman, yang dapat mengurangi

pertentangan yang bisa timbul antara kaum semarga, antara

marga, antara suku dan antara luhak. Perang yang bisa terjadi

di antara mereka, yang mengakibatkan kematian dan

kemelaratan, bisa dihilangkan, bila tanah habungkasan ini

ditunjukkan pada mereka.

Bila batang padi telah bertumbuhan di sawah, di ladang

dengan hijau gemuk, kerja Ronggur dan Tio tinggal mencabuti

rerumputan, agar pertumbuhan batang padi tidak terganggu.

Pada malam hari, mengadakan penjagaan yang dibantu si

belang, agar rombongan babi hutan tidak turun dari hutan

merusak sawah dan ladang percobaan itu.

Kemudian batang padi yang hijau gemuk itu, telah dihiasi

bulir padi dengan mencuat ke atas tegak lurus. Ditiup angin

terkadang, dan bulir yang belum berisi itu bergoyangan

perlahan, tangkainya kokoh mendukung. Kemudian bulir itu

semakin merunduk ke tanah, merunduk menguning kemudian

dipanen. Saat mardege tiba. Lalu hasil panen itu disimpan ke

dalam lumbung, yang didirikan tidak jauh dari sawah

percobaan itu.

Ronggur dan Tio harus memperbesar dangau kecil itu. Mau

dijadikan lumbung padi. Kekayuannya mereka ambil dari

hutan sekitar yang begitu dekat. Atap daun nipah yang tidak

mudah bocor, yang banyak ditemui di muara sungai. Padi

yang menguning, kemudian dipanen. Saat mardege tiba. Lalu

hasil panen itu disimpan ke dalam lumbung, yang didirikan

tidak jauh dari sawah percobaan itu.

Mereka tahu, hasil panen percobaan itu tidak akan habis

mereka makan sampai tiga kali jangka musim panen, bila

untuk mereka berdua saja. Lagi pula, musim panen lebih

pendek masanya di tanah habungkasan itu dari yang mereka

kenal di kampung halaman.

Ronggur dan Tio, sambil melepas lelah dari kerja berat di

sawah semusim panen itu, seharian mengadakan perjalanan

menyusuri tepi pantai. Setiap tambah jauh mereka berkayuh,

setiap itu pula, malah berlipat ganda luas air yang mereka

temui. Tidak bertepi dan tidak berujung. Bermula dari

keluasan dan berakhir pada keluasan. Membuat perasaan

lebih kagum lagi atas ciptaan alam yang hebat dan sempurna

itu.

Ciptaan Mula Jadi Na Bolon, dan hati tambah berterima

kasih atas tuntunan Mula Jadi Na Bolon, hingga mereka bisa

tiba ke sana. Dan, Ronggur tahu, bila luas danau begitu rupa

dihadiahkan pada orang di kampungnya, mereka tidak perlu

lagi mengadakan pancang sebagai batas di danau, sebagai

pertanda bahwa pancang itu perbatasan antara satu marga

dengan marga lain tepi danau mana yang boleh di tempati

suatu marga menangkap ikan. Juga pelanggaran perbatasan

di danau di kampung halaman, sering menimbulkan

perselisihan dan pertengkaran, yang bisa menimbulkan

sesuatu peperangan.

Di danau yang maha luas itu, setiap orang dari setiap

marga mana saja pun, boleh pergi ke mana suka. Menangkap

ikan sekuat tenaga. Modal yang pokok hanya satu, kemauan

bekerja. Sekitar yang bermula dari keluasan itu dan berakhir

pada keluasan itu, menjanjikan kebahagiaan pada setiap

orang, melanjutkan hidup berkeluarga dan keturunan.

Rangsang lain mulai mempengaruhi pikiran Ronggur. Janji

harus ditepati, katanya selalu. Janji yang selalu mengingatkan

kampung halaman, yang mempertajam perasaannya akan

bahaya yang mengancam kerukunan hidup di kampung

halaman. Rindu pada ibu, pada bekas Datu-Bolon yang sudah

tua itu, keinginan untuk melepaskan mereka dari berbagai

rupa ancaman.

Dia harus mewartakan berita penemuannya itu ke tengah

keluarganya, ke tengah marganya yang sudah mencoret

namanya dari silsilah marga, karena itu janji. Pada

pendengarannya, tambah sering mendengung suara bekas

Datu Bolon yang sudah tua itu, "Anakku, bapak yakin, kalian

akan menemui tanah habungkasan. Walau begitu pahitnya

penerimaan orang di sekitarmu atas cita-citamu, janganlah

kau berkecil hati. Seorang manusia yang ditunjuk dewata

menemui kebenaran, harus dengan tabah pula menyampaikan

warta kebenaran itu pada orang yang ada di sekitarnya. Agar

manusia itu dapat pula mencicipi nikmatnya. Walau pada

mulanya mereka menentangnya, dan menganggap diri yang

dikurnia dewata seorang gila. Mereka tidak perlu dihancurkan,

tapi perlu diinsafkan agar mereka tahu, lalu dapat merasakan

kenikmatan yang terkandung dalam kebenaran itu. Untuk

kelanjutan hidupnya, kelanjutan keluarganya, hingga akhirnya

turut merasa syukur atas nikmat yang diberikan oleh

kebenaran itu. Karena itu anakku, bila kau menemui tanah

habungkasan di rantau, kau harus kembali kemari membawa

berita ria itu. Berjanjilah anakku, janji seorang lelaki. Karena

janji yang dibuat lelaki, janji yang akan tetap ditepati."

"Aku berjanji, Bapak."

"Terima kasih, Anakku," kata orang tua itu, lalu

melanjutkan, "Anakku, sesuatu penemuan yang bisa membuat

orang gembira dan berbahagia, bila keserakahan diri atau

dendam yang bersarang dalam dada, memaksa dan membuat

orang yang menemui itu tidak mewartakan-nya pada orang

lain, yang memerlukannya, sehingga orang lain tidak dapat

menikmati arti dan nilai penemuan itu akan berkurang, malah

beralih pada penemuan itu akan mengutuki diri. Karena itu,

agar kerjamu tidak sia-sia, janji yang kau buat sebagai lelaki,

penuhilah pula sebagai lelaki yang berhati jantan."

"Aku bapak," katanya. Lantas selanjutnya dia mengatakan,

"Doakanlah aku bapak, agar anakmu ini dilindungi Mula Jadi

Na Bolon."

"Doa dan restuku akan selalu mengiringi perjalananmu."

Dengungan percakapan itu tambah nyata dan jelas.

Memaksanya harus kembali ke kampung halaman,

mewartakan penemuan itu. Harus kembali mengarungi sungai

ke hulu, melawan arus. tapi, telah dapat diduganya, untuk

terus melawan arus, sangat susah.

Karena itu, dia sudah membayangkan bahwa mereka akan

menembus jalan darat. Dari pengenalan akan pundak bukit,

dan usaha menaklukkannya, dari pengenalan akan celah

pertemuan bukit dan usaha untuk menembusnya, dia sudah

dapat menggambarkan suasana perjalanan itu dalam kepala.

Perjalanan yang tentunya memayahkan, tapi perjalanan untuk

memenuhi janji yang dibuhul sebagai lelaki bersikap jantan.

Ronggur telah menentukan kapan mereka memulai

perjalanan pulang itu. Tio diam saja mendengarkan sambil

menundukkan kepala. Berhadapan dengan kebisuan Tio, yang

tidak menyahut itu, Ronggur lalu berkata, "Apakah kau tidak

ingin mewartakan berita ini pada sanak keluarga? Pada setiap

orang, yang selalu diancam bahaya di kampung halaman?

Agar mereka dapat bebas dari ancaman yang selalu menakutnakuti

mereka itu?"

"Bukan itu alasannya. Bukan itu," sahut Tio.

Wajah Tio agak pucat waktu tengadah padanya. Darah

Ronggur tersirap dibuatnya.

"Tio, wajahmu pucat. Seperti orang sakit. Kau sakit?"

"Tidak. Tidak sakit."

"Kenapa wajahmu sepucat itu? Apa yang terjadi?" Wajah

Tio seperti menanggungkan sesuatu. Bibirnya gemetaran. Tio

merasakan sesuatu menggeliat dalam perutnya. Tambah lama

tambah sering dan menimbulkan perasaan nyeri. Sesuatu

tekanan mendesak hendak melalui kerongkongan, berupa

rintihan dan jeritan. Tapi, ditahan. Namun, sesuatu rintihan

lepas juga dari celah bibir yang dikatupkan, digigit oleh gigi

sendiri. Tapi, masih tetap berusaha tersenyum, bila

pandangnya bertemu dengan pandang Ronggur.

Akhirnya Ronggur tahu, sesuatu akan terjadi. Barulah sadar

arti perobahan bentuk tubuh istrinya, yang akhir-akhir ini

begitu nyata dan jelas. Sambil tersenyum dan duduk dekat

Tio, Ronggur mengatakan, "Kita memang masih belum bisa

memulai perjalanan pulang. Kita harus menanti di sini. Biarlah

perjalanan pulang ditangguhkan untuk beberapa lama."

Cepat Ronggur pergi memetik daun ampapaga, yang

banyak tumbuh di pematang sawah di antara rerumputan.

Daun ampapaga itu di dikeringkan di panas matahari. Bila

sudah kering, direbus, airnya sangat baik buat minuman

seorang ibu yang hendak dan baru melahirkan. Dan, dingindingin

ditelempapkan ke perut Tio dan kening. Dijerangkan

terus menerus air panas dalam periuk tanah. Dan, dia tidak

mau lagi pergi jauh-jauh dari dekat Tio, walau Tio selalu

mengatakan, "Aku tidak apa-apa. Tidak usah repot. Pergilah

berburu, atau menangkap ikan."

Ronggur pura-pura tidak mendengarkan. Disunggingkan

senyum sebagai sahutan. Dalam kepala terbayang seorang

anak lelaki yang sehat. Lelaki yang kelak sanggup mengolah

tanah yang bidang menjadi persawahan. Lelaki yang dapat

memelopori orang menjelajah hutan belantara yang abadi itu.

Hendaknya kehijauan daun padi dapat mengimbangi hijaunya

daun pepohonan, agar orang tidak takut kelaparan, juga

diharapkan agar anaknya seorang lelaki yang sanggup meniti

gelombang yang besar di danau luas itu. Mencapai daerah

baru.

Saat kelahiran semakin dekat, dan perasaan nyeri tambah

memaksa Tio merintih, sering juga membuat Ronggur harus

mengatakan dalam kebingungan, "Apa yang harus kuperbuat?

ke mana harus kucari dukun?"

Dari sela rintihannya, Tio menyahut, "jangan repot.

Semuanya akan menjadi beres, berjalan dengan baik." Balik

Tio yang menasihati dan menenteramkan hati Ronggur.

Setelah melengkingkan sebuah pekikan yang panjang lagi

nyaring, Tio lalu memelas, dan segumpal daging telah

ditayang Ronggur dengan hati-hati. Dipotongnya jabang bayi

dengan bambu yang ditajamkan pada kedua sisinya. Bayi

dimandikan. Tio diberinya minum air ampapaga. Kening Tio

yang berkeringat, dilap Ronggur dengan sayang. Anak lelaki

meneriakkan suaranya pertama, seperti warta pada dunia

bahwa dia telah lahir. Tak lama kemudian, Tio sudah dapat

senyum. Menoleh ke bayi yang baru dilahirkannya, seorang

lelaki, cukup umur, cukup merah. Begitu sehat. Tangisnya

pertama menantang gemuruh ombak yang memecah di

pantai. Atau, ombak itu menggamitnya, agar memulai

perjalanan, meniti ombak demi ombak yang begitu besar.

Hari berikutnya, anak kecil itu sudah digendong Ronggur

sambil dinyanyikannya. Tidak jarang, Tio harus senyum pada

Ronggur dalam saat begitu bahagia. Kekerabatan dan

keakraban berumah tangga tambah terjalin. Tio sudah

menjadi seorang ibu, Ronggur sudah menjadi seorang ayah,

ibu dan ayah dari anak lelaki yang sehat. Bergaya seorang

yang akan cukup kuat dan punya ketahanan serta keberanian.

Bertambah hari, dan bertambah usia si anak, Ronggur

sudah menggendong si anak ke tepi pantai bersama Tio.

Ronggur selalu mengatakan, "Tataplah dengan mata

kanakmu, luasnya danau yang ada di depanmu, yang menanti

dayungmu berkayuh di permukaannya, meniti ombak demi

ombak yang bergulung-gulung memecah di pantai, mencapai

pantai lain. Tio, katanya, anak kita akan menjadi seorang

pengarung danau yang maha luas ini kelak."

Bila telah dua kali purnama timbul dan tenggelam, maka

Ronggur pun kembali mengatakan, "Tio, sudah waktunya kita

memulai perjalanan kembali ke kampung halaman.

Memberitakan dan mewartakan, akan penemuan-tanah

habungkasan, dan danau yang maha luas ini."

Tio tidak membantah. Dia akan tetap mendampingi

Ronggur, ke mana saja pun. Bermulalah perjalanan itu.

Mulanya menyusuri sungai ke hulu . . ..

8

Setelah menyediakan segala sesuatu yang perlu dalam

perjalanan, mereka pun memulai perjalanan pulang. Tiga

pundi padi yang bernas dibawa serta, akan mereka tunjukkan

sebagai bukti pada orang di kampung halaman. Bahwa padi

yang mereka bawa sepundi dulu sudah menjadi tiga pundi.

Sedang yang ditinggalkan di tanah habungkasan masih banyak

benar. T idak habis dimakan sekeluarga dalam jangka tiga kali

panen.

Beberapa potong kulit binatang buruan yang halus hulunya

dan sudah dikeringkan dibawa serta. Mereka berusaha, agar

yang dibawa, seringan mungkin dan yang perlu saja dalam

perjalanan. Tio, selalu menggendong anaknya di punggung.

Mulanya mereka menyusuri sungai ke hulu. Sampai tiba ke

lempat arus mulai menderas dan susah dikayuh. Baru mereka

mulai menempuh jalan darat. Memenggal-meng-gal hutan

belantara, yang dilingkungi hamparan dedaunan hijau lebat,

permadani alam yang tebal lagi abadi. Jadi, perjalanan pulang

itu pun, sendirinya pula usaha merintis jalan darat, yang kelak

dapat digunakan jalan pulang pergi antara kampung halaman

dan tanah habungkasan, dan lebih aman daripada menyusuri

Sungai Titian Dewata.

Mereka sering berhenti di satu tempat sampai dua tiga hari,

mempelajari pintasan jalan yang lebih mudah ditempuh.

Begitu pula mengadakan tanda tertentu pada sesuatu pohon,

yang dipanjat Ronggur untuk menentukan arah tempuh.

Mempelajari jalur lembah dangkal yang banyak dalam hutan,

dan memilih tanjakan yang tidak menaik untuk didaki.

Tambah jauh mereka menyusup ke pedalaman hutan, bukit

dan lembah tambah banyak mereka temui. Lembahnya

tambah dalam dan perbukitannya tambah tinggi. Tanah di

lembah dipelajari Ronggur baik-baik. Melalui pengenalannya

akan tanah, tahulah dia, tanah itu sangat baik dijadikan

perladangan atau persawahan, bila kekayuan hutan sudah

ditebang. Sedang pundak perbukitan yang juga ditumbuhi

kekayuan tua, bukanlah bukit batu seperti bukit tandus di

kampung halaman. Tapi, bukit tanah yang gembur, hitam

mengandung kesuburan. Tidak tanah tipis melapisi batu alam.

Tidak jarang pula mereka temui parit kecil yang bermula

dari sesuatu dinding bukit yang bercelah. Airnya begitu bening

dan dingin. Sejuk. Pada sesuatu mata air begitu, Ronggur

selalu mengadakan tanda.

Dalam merintis jalan itu, Ronggur selalu berusaha agar

mereka dapat tiba kembali ke tempat air terjun itu. Tapi, di

tengah hutan tidak jarang mereka bertemu dengan kumpulan

binatang buruan yang enak dagingnya. Dan, tidak jarang pula

mereka harus mempertahankan diri dari serangan binatang

buas: harimau, beruang, dan kelompok gajah. Penciuman si

belang banyak membantu keselamatan rombongan kecil itu.

Bila si belang meringis dan mengarahkan penciumannya ke

satu arah terus-terusan, cepat mereka mengalih langkah.

Menyisih dari tempat sesuatu binatang buas, sarang binatang.

Tapi, tidak jarang Ronggur dengan dibantu si belang, harus

mengadakan perlawanan mempertahankan diri, kalau

kepergok. Dalam saat begitu, Tio memeluk anaknya, sambil

berjaga.

Mereka terus menyuruk di bawah hamparan dedaunan

hijau yang abadi itu. Terus berusaha mengarahkan langkah ke

tempat air terjun itu. Dari sana baru mereka tentukan, pundak

bukit yang memanjang sebagai pagar dan batas tanah dataran

tinggi kampung halaman dengan tanah habungkasan, yang

harus ditaklukkan. Atau, celah bukit mana yang harus

diterobos menuju kampung halaman. Dedahanan kekayuan

yang berjalinan mendukung dedaunan lebat, menghambat

sinar matahari menimpa tanah. Sehingga terasa, jangka siang

hari, agak pendek di bawah naungan yang tebal itu.

Anak mereka yang sudah mendekat ketiga purnama

usianya, dan sudah dapat melempar senyum di saat dia

merasa senang, tidak dapat melempar senyum, sebaik dia

turut mendengar suara air terjun yang mengguruh.

Tapi, bila lama-lama mereka berada di sana dan tidak ada

sesuatu yang menyakiti tubuhnya, dia tersenyum kembali.

Sedang Ronggur mengarahkan tatapan si anak ke air terjun

yang memutih kapas itu.

Apa yang ditakutkan Ronggur pada mulanya masih tetap

tidak terjadi. Batu jaluran yang ditembus air sungai yang

terjun, masih tetap kokoh pada tempatnya. Tidak terjadi

reruntuhan. Tapi, gemuruhnya tetap menderu. Dan, benda

putih diambangkan ke atas terus menerus. Bila lama kelamaan

ditatapi jatuhnya air itu dan kuping biasa kembali mendengar

suara mengguruh itu, yang menyerupai aum harimau, mereka

namakan air terjun itu, Sampuran Harimau.

"Tio," kata Ronggur, setelah beberapa lama mereka

terpukau di tempatnya tegak.

Tio memaling wajah pada Ronggur tanpa sahutan.

"Kita istirahat di sini untuk beberapa hari. Melepas lelah.

Dari sini kita akan mulai mendaki kaki pegunungan,

menaklukkan pundak demi pundak bukit, dan berusaha

menerobos celah bukit. Jalan memotong ke kampung

halaman. Perjalanan begitu tentu berat. Karena itu, perlu kita

istirahat untuk beberapa hari. Agar tenaga kita pulih kembali."

"Harus di sini kita istirahat?" tanya Tio.

"Ya, agar mudah kita memperoleh air. Lagi pula dinding

bukit sebelah sana, terdiri dari batu alam yang tidak keras.

Mudah digali. Untuk dijadikan lobang perlindungan. Aku akan

memburu binatang buruan, agar cukup daging untuk dimakan

nanti dalam perjalanan. Di pundak bukit gundul itu, payah

ditemui binatang buruan."

Mereka menggali lobang perlindungan yang agak luas. Agar

memberi ruang yang lapang bagi mereka. Ronggur dan Tio

bekerja sama menggalinya. Anak mereka ditidurkan di tanah

beralaskan kulit binatang buruan yang lembut. Di sampingnya

duduk si belang seperti menjaga. Ekornya dikibaskan, agar

tidak ada serangga hinggap ke wajah anak yang sedang tidur

nyenyak itu. Menjelang senja Ronggur dan Tio berhenti

menggali lobang. Mata mereka patok menatapi permainan

warna pelangi aneka rupa berpadu dengan air yang memutih

kapas. Sambil menggendong anaknya, Ronggur mengatakan,

"Lihat, lihat Tio. Betapa indah. Tari warna yang sempurna.

Begitu indah kalau hujan tidak turun atau kalau kabut tidak

menyungkup."

Tio mengikuti telunjuk jari Ronggur.

Nanar mereka menatapi tari warna pelangi yang aneka

ragam itu, mengagumi lukisan alam yang sempurna. Beberapa

ekor burung terbang di udara, menuju hutan belantara luas,

mencapai sarang. Sayang sekali, cicitnya tenggelam ditelan

gemuruh air terjun yang jatuh, tidak kedengaran.

Pada hari berikutnya, tinggal Tio saja yang meluaskan

mulut lobang perlindungan dan memperluas ruang dalam.

Ronggur sudah pergi berburu bersama si belang. Bila anaknya

haus, meminta ditetekkan, dia duduk berjuntai di mulut gua.

Mencampakkan pandang ke sekitar, di bawahnya tanah

habungkasan yang mereka temui. Oi sebelah kanan, air

terjun, dan mengitari itu semua, kaki bukit memanjang lagi

tinggi, bukit gundul.

Sejak lahir anak itu sudah disusukannya dan sudah berapa

lama itu berlangsung. Tapi, bila saat menyusukan tiba, dan

mulut anak itu sudah mengisap-isap muncung buah dadanya,

sesuatu perasaan selalu menggeliat dalam dada, rasa keibuan,

sumber kasih sayang abadi bagi seorang anak yang lahir dari

rahimnya. Tahulah dia, kenapa ada nyanyian alam terpendam

pada dedaunan yang berdesir bila disentuh angin lalu, tahulah

dia, kenapa pekikan keras lagi sakit waktu melahirkan sang

anak bercampur nikmat. Tidak jarang dalam saat begitu, dia

memicingkan mata menikmati kesempurnaan rasa bahagia di

saat mulut anaknya mengisap muncung buah dadanya.

Sedang mulutnya akan mendendangkan lagu seorang ibu,

lagu yang menyuarakan perasaan kasih sayang:

Pejamlah mata sayang seorang

kenapa harus kerisik seperti

dedaunan berhalau ditiup angin lalu

dunia terhampar di ujung kakimu

Pejamlah mata anakku seorang

menanti bapak kembali pulang

dari tengah hutan belantara

binatang buruan tersandung dibahu

Pejamlah mata intanku sayang

bila malam jatuh, bulan gemintang

kudekap kau pelukanku hangat

Pejamlah mata buah hati bunda

subuh tiba mula hari baru

berjuta utasan cahaya matahari

menyinari padang kembaramu

Tidak jarang Ronggur pergi berburu seharian. Dia sangat

giat mengumpulkan daging binatang buruan. Sesekali

dijinjingnya ikan yang dipancingnya. Sedang mulutnya akan

cepat mengatakan, "kita harus banyak menyediakan daging.

Boleh jadi di pundak pegunungan gundul sana, payah

dijumpai binatang buruan."

Mereka potong tipis daging binatang buruan itu. Kemudian

mereka panggang di atas bara sampai kering. Sedang di siang

hari, Tio menjemurnya di bawah sinar matahari, agar cukup

kering dan tahan lama.

Bila Ronggur tidak pergi berburu, dia tambah sering

mencampak pandang ke air terjun itu dengan berlama-lama.

Begitu tekun. Suatu perasaan merangsang dirinya, terbayang

di wajahnya. Dia tidak dapat mengucapkan melalui bentuk

kata yang cukup tepat. Tapi, dia telah merasakan. Tio selalu

memperhatikannya di saat begitu. Dan, Ronggur merasakan,

alangkah susahnya dia untuk mengucapkan yang sedang

bergolak di dadanya, yang ditimbulkan air terjun itu. Sekali

waktu Tio mengganggunya dari menung menatapi air terjun

itu, "Bertambah hari, kulihat abang bertambah tekun

melihatnya. Tak bosan."

Sambil mengalih pandang pada Tio yaYig berdiri dekatnya,

Ronggur menyahut, "memang benar dugaanmu, Tio."

"Tapi, aku merasa takut digertak suaranya yang terus

menerus mengguruh itu. Kalau tidak bersama abang, aku

tidak kerasan di s ini."

Lama Ronggur menumpu pandang ke mata Tio. Lama

bibirnya bergerak-gerak, namun seucap kata belum melepas

dari bibirnya.

"Ada apa Bang?" tanya Tio. Membangunkan Ronggur dari

kebisuannya.

"Aku tidak tahu Tio," sahutnya. "Ada sesuatu yang

kurasakan. Yang timbul dari air terjun ini. Perasaan itu

melumpuhkan segala ketakutanku pada air terjun itu. Malah

dibuatnya sesuatu rasa bersyukur."

"Kenapa begitu?"

"Perasaan itu seperti membisikkan padaku bahwa air terjun

ini mengandung suatu manfaat. Menjanjikan sesuatu

kebahagiaan pada manusia."

"Manfaat apa?" tanya Tio terbodoh.

"Manfaat bagi kehidupan manusia."

Seketika mereka bertatapan tanpa mengucapkan kata. Biji

mata Tio begitu bening tapi jelas tampak tidak mengandung

pengertian akan apa yang diucapkan Ronggur. Sedang

Ronggur kemudian mengalih pandang ke air terjun itu, sambil

mengatakan, "kurasakan, justru karena adanya air terjun ini,

membuat arus sangat deras. Karena tempat jatuhnya begitu

tinggi dan curam, binatang air yang menakutkan dan buas itu

tidak bisa datang ke Danau Toba."

"Itu boleh jadi," sahut Tio berusaha mengerti. "Di samping

itu, masih ada manfaat lain dikandung air terjun ini."

"Apa lagi?" tanya Tio mendesak. Akhirnya dia sendiri ingin

mendengarkan yang dirasakan Ronggur.

"Kurasakan air terjun ini mempunyai suatu tenaga yang

sangat besar dan kuat. Selalu perasaanku berkata begitu.

Dan, bila tenaga yang terkandung di air terjun ini digunakan

manusia untuk kehidupannya, maka hidup manusia akan lebih

berbahagia. Orang kelak akan dapat menggunakannya untuk

kehidupannya. Sekarang memang yang kita lihat, darinya

timbul bencana saja. Coba kalau diri diterjunkan bersama air

terjun pasti lumat. Darinya timbul anggapan selama ini,

Sungai Titian Dewata jatuh ke ujung dunia. Hingga tak

seorang pun selama ini berani menyusurinya untuk mencapai

tanah habungkasan. Tapi, nanti, entah kapan, bila orang

menggunakan tenaga yang terkandung di air terjun ini, maka

tenaga yang disimpan air terjun ini bisa memberi arti yang

bernilai bagi -kehidupan manusia."

Tidak dapat Tio membumbui cakap Ronggur. Namun dia

tidak membantah seperti kebiasaannya yang tidak mau

membantah cakap Ronggur, walau dia tidak dapat

mengartikannya.

"Karena itu," kata Ronggur selanjutnya, “jangan lagi takut

padanya. Jangan lagi kutuk dia. Tapi, haruslah merasa

bersukur karena dia ada. Bersukurlah, karena dia menjanjikan

sesuatu kebahagiaan bagi kehidupan manusia di masa

datang."

Tio mencampak pandang ke tempat air terjun itu jatuh. Air

yang jatuh berputar pada lingkaran berbentuk kolam, arusnya

gelisah membentuk suatu pusingan yang cepat, yang bisa

menenggelamkan lalu menghancurkan sesuatu yang jatuh ke

sana. Tio merasa ngeri melihatnya. Tio takut dibuatnya. Tapi,

semua perasaan itu ditekannya habis-habis, agar dia tidak

membantah yang dikatakan dan dirasakan Ronggur. Malah dia

ingin turut merasakan yang dirasakan Ronggur, tapi

perasaannya belum juga merasakannya.

Setelah beberapa hari istirahat dan tenaga mereka sudah

pulih kembali, mereka melanjutkan perjalanan pulang. Jalanan

yang harus ditempuh, langsung mendaki bukit. Sesekali

menyusur di tebingnya, mencapai sesuatu celah, lalu

menembusnya untuk kemudian terus lagi mendaki sampai

pundak bukit ditaklukkan. Perjalanan yang memayahkan.

Perjalanan mereka agak lambat. Dalam sehari, terkadang

hanya sepundak atau dua pundak bukit saja yang dapat

mereka taklukkan. Ronggur selalu memilih celah bukit tempat

bermalam, agar terlindung dari serangan angin yang cukup

kuat. Tio menggendong anak mereka. Sedang Ronggur

memikul peralatan. Si belang mengikut di belakang, atau

terkadang berlari di depan. Menggonggong dan menggunakan

penciumannya.

Dengan mengenali pundak bukit mencari celah pertemuan

bukit, rombongan kecil itu terus mendaki pundak demi pundak

bukit yang berlapis-lapis, menuruni lembah batas perbukitan

yang berlapis-lapis itu untuk mendaki lagi. Tidak mengenal

lelah, tidak mau henti sebelum matahari tenggelam. Dan,

akhirnya lapisan bukit itu dapat ditaklukkan. Lalu lembah

dataran tinggi, yang dilingkari lapisan bukit demi bukit

melingkar dan memanjang, lembah kampung halaman, telah

berada kembali di hadapan pandang. Di tengahnya, tenang,

bersama kebiruannya yang damai, danau kesayangan,

mengitari Pulau Samosir. Di sekitar tepian danau, bertumpuk

rimbunan bambu duri, pertanda perkampungan.

Mereka bertatapan untuk kembali mencampak pandang ke

lembah perkampungan yang sudah sekian lama ditinggalkan.

Ronggur mengambil anak mereka dari gendongan Tio. Tangan

anak itu dituntunnya menunjuk ke arah perkampungan sambil

mulut Ronggur berkata, "Itulah kampung nenek moyangmu,

ananda."

Mereka menarik napas lega, terutama Tio. Dan, karena

udara kembali dingin, mereka telah memakai kulit binatang

buruan yang halus bulunya. Terlebih anak mereka. Diselimuti

baik-baik sehingga tidak merasakan udara dingin. Dalam

hayalnya Tio telah mengatakan pada diri sendiri bahwa dia

akan membawa sisa anggota keluarga marganya ke tanah

habungkasan, agar bisa bebas dari nasib jelek yang menimpa

marga. Dia membayangkan betapa bahagia keluarga

marganya, mengecap nikmat udara kemerdekaan, setelah

sekian lama harus menjadi budak orang lain.

Tiba-tiba saja Ronggur memecah kesunyian itu, "Tio, satu

perjalanan panjang, menembus Sungai Titian Dewata,

mengarungi rimba alam abadi, telah kita laksanakan dengan

berhasil. Walaupun dengan susah payah. Tapi, di hadapan

kita, menanti tugas baru. Kita harus menaklukkan dan

menguasai alam pikiran orang di kampung halaman, yang

mempercayai bahwa Sungai Titian Dewata berakhir ke ujung

dunia. Bila hasil perjalanan ini kita sampaikan pada mereka,

maka sendi kepercayaan mereka berarti digoyang. Pekerjaan

begitu tidak akan mudah. Merombak keyakinan seseorang,

menggantinya dengan kepercayaan baru tidaklah kerja

mudah. Akan jauh lebih payah daripada menaklukkan pundak

bukit yang cukup tinggi. Karena itu, kau harus tabah nanti

menerima segala sikap yang mengejek dan menantang. Yang

mungkin menyakitkan hati, atau membahayakan jiwa. Tapi,

ketahuilah Tio, aku cinta padamu. Kaulah seorang perempuan

yang telah berani menemani aku menempuh satu perjalanan

yang menantang keyakinan orang sekitar yang telah turun

temurun menguasai alam pikiran mereka. Kau telah

mengorbankan alam pikiranmu sendiiri untuk mengikuti

jejakku. Aku berhutang budi padamu dan aku cinta padamu."

Lama Tio terdiam. Kemudian dengan tidak dapat

dilawannya, dia telah menyandarkan kepala ke bahu Ronggur.

Dia mengisak di sana. Tanpa mengatakan sesuatu. Ronggur

mengelus rambutnya dengan sebelah tangan, sedang tangan

sebelah lagi, menggendong anaknya.

Perlahan Tio mengangkat kepalanya. Bertatapan dengan

Ronggur. Kemudian sama-sama mereka mencampak pandang

ke lembah di bawah, lembah perkampungan. Tangan kiri

Ronggur menggendong anaknya, tangan kanannya memeluk

pinggang Tio. Oi ujung kaki duduk si belang menjulurkan

lidah, menatap ke arah yang sama.

"Ronggur," kata Tio, “maukah kau membawa sisa warga

margamu ke tanah habungkasan?"

"Tentu, sudah tentu," jawab Ronggur, "mereka anak

manusia seperti kita. Mendambakan bahagia dalam hidupnya.

Dan di samping itu, mereka jaluran paman anakku. Jaluran

famili yang harus kuhormati, apalagi anakku."

Orang di kampung halaman sebenarnya telah lama

melupakan mereka berdua. Tidak menjadi bahan percakapan

lagi. Kenangan terhadap mereka bertambah tipis lalu

menghilang bersama bertukarnya penanggalan hari,

tenggelam, dan timbulnya kembali purnama. Orang

melupakan mereka dengan ucapan yang tumbuh dari

kepercayaan mereka:

"Dikutuk dewata dan para arwah. Matinya, mati terkutuk.

Arwahnya akan disumpahi Mula jadi Na Bolon."

Sedang ibu Ronggur, karena terus menerus menanggung

rindu dan tidak tahan mendengar ejekan yang diarahkan pada

anaknya dan padanya sendiri, karena dia seorang ibu yang

melahirkan anak durhaka, tidak berapa lama setelah Ronggur

dan Tio berangkat dulu, pulang ke tempat asalnya, ke

hadapan Mula Jadi Na Bolon.

Pada mulutnya, ibu tua itu masih mengharapkan anaknya

cepat kembali. Tapi, setelah beberapa kali purnama tenggelam

dan terbit lagi, dan anaknya tidak pulang juga, membuat

kemauan hidup melemah. Lalu, berakhirlah hidupnya.

Orang percaya, arwahnya akan tidak diterima Mula Jadi Na

Bolon dengan baik. Di saat mati, dia tidak punya apa-apa.

Hingga dia dikebumikan tanpa upacara dan gondang. Para

dewata tidak akan datang menjemput arwahnya ke tempat

yang baik melalui Sungai Titian Dewata. Karena para dewata

tidak diberi tahu atas kematiannya, melalui pukulan gondang

yang dipalu dan mengorbankan beberapa ekor babi serta

ayam putih.

Tapi, bekas Datu Bolon Gelar Guru Marsait Lipan, tidak

bosannya, setiap hari mencampakkan pandang ke arah

matahari terbit. Meneliti pundak bukit dan celah bukit yang

ada di sebelah timur. Dia masih tetap percaya, Ronggur dan

Tio akan kembali membawa berita ria. Pertanyaan yang

sebenarnya berupa ejekan yang diajukan orang padanya,

selalu disahutnya dengan baik.

"Sudah pulangkah Ronggur dari tanah habungkasan?

Sudah ditemuinya tanah habungkasan yang dijanjikan setan

itu? Kapan pulang, si anak durhaka itu?"

"Dia akan pulang membawa berita ria bahwa tanah

habungkasan yang dijanjikan para dewata telah ditemuinya.

Ronggur anak yang memperoleh petunjuk secara langsung

dari dewata. Dia anak yang berbahagia."

"Apa kau katakan? Para dewata mengganti setan? Patutlah

ramalan tenungmu tidak ada yang benar."

"Bukan setan yang menggoda. Tapi, dia telah dilahirkan

untuk menyampaikan kehendak dan pesan dewata."

Orang lalu tertawa. Kemudian orang itu melanjutkan,

"Bukankah kau yang membuat ayah si Ronggur menemui ajal,

karena kau ajak dia menyusuri Sungai Titian Dewata?"

“Kami mengalami kegagalan yang mengakibatkan

kecelakaan itu. Aku akui, tekadku kurang kokoh waktu itu. Aku

meloncat dari biduk membuat keseimbangan biduk hilang.

Ayah Ronggur menemui ajal karena kecelakaan itu."

Mendengar sahutan begitu, orang menjadi ramai tertawa

lalu pergi sambil berkata, "Orang gila. Si tua gila."

Tapi, lama kelamaan orang tidak mau lagi mengganggu,

mencakapinya. Orang membiarkan menatap ke arah matahari

terbit setiap pagi. Orang tidak mengacuhkannya lagi. Malah

orang sudah sependapat, dia seperti tidak ada lagi. Orang

tidak memanggilnya ke pertemuan marga dan ke sidang

kerajaan marga.

Berita yang datang dari kampung sekitar, baik mengenai

perdamaian, begitu pula mengenai peperangan yang terusmenerus

meletus, antara satu marga dengan marga lain,

antara satu suku dengan suku lain, dan antara satu lunak

dengan luhak lain tidak disampaikan orang padanya.

Malah waktu marganya sendiri harus berperang karena

memperebutkan hutan di teluk danau itu, yang berakhir atas

kemenangan marganya, waktu itu pun, tenaganya tidak

diminta orang membantu marga. Marga yang dikalahkan

marganya itu, akhirnya harus membayar upeti pada kerajaan

marga. Membuat marga mereka menjadi lebih berkuasa, kuat,

dan kaya. Persawahan dan perkampungan tambah banyak

mereka kuasai. Orang yang kalah, yang dapat dihancurkan

kerajaan marganya, bila tertangkap, dijadikan budak belian.

Sedang yang sempat melarikan diri, pergi ke kaki bukit

terpencil, ke tanah batu yang sama sekali tidak baik dijadikan

persawahan, menjadi orang buruan. Sedang kerajaan marga

yang tidak sempat dihancurkan, lalu meminta damai setelah

melepaskan haknya atas apa yang diperebutkan, harus pula

membayar upeti pada kerajaan marga mereka.

Orang tua itu membiarkan rambutnya panjang. Sehingga

sudah sampai di pundak. Memutih uban. Pipinya cekung.

Wajahnya bertambah lancip. Tapi, sinar matanya tetap

mengandung sinar kepercayaan. Tidak melesu. Dan, pagi itu

sinar mata tambah bening dan bersinar. Dijauhan ada tiga

benda kecil dilihatnya bergerak-gerak di kaki bukit sebelah

timur. Setiap saat benda yang bergerak itu mendekat atau

menurun ke lembah perkampungan mereka.

Matahari bersinar terang. Tidak ada awan di langit. Tanpa

disadarinya dia bertempik dan berlari ke tengah kampung,

sampai orang pada tercengang. Terlebih karena dia

meneriakkan, "Mereka telah kembali. Ronggur telah kembali

dari tanah habungkasan. Mereka sedang menuruni kaki

gunung sebelah timur."

Orang bertemperasan ke luar rumah lalu terus pergi ke

gerbang kampung sebelah timur. Menatap dengan patok ke

arah yang dimaksud orang tua itu. Mereka juga memang

melihat ketiga titik yang bergerak itu. Belum pernah seorang

manusia pergi ke sana. Karena gunung itu gunung angker

menurut kepercayaan mereka. Apalagi bila orang menurun

dari pundaknya, tempat matahari muncul.

Pagi itu juga kerajaan marga mengadakan sidang.

Diputuskan untuk mengirim kurir penunggang kuda,

menyelidiki keadaan sebenarnya. Kalau memang itu

rombongan Ronggur supaya dibawa pulang.

Sebanyak tiga orang penunggang kuda bergerak. Mereka

bawa juga dua ekor lagi kuda, yang tidak punya beban. Hati

tiap orang tambah gemuruh. Setiap orang melahirkan

anggapan dan duga demi duga. Apa yang akan terjadi. Atau

apa yang telah terjadi? Warta apa yang akan datang?

Datu Bolon Gelar Guru Marlasak, masih mengatakan bahwa

itu bukan rombongan Ronggur. Tapi, binatang liar lagi buas.

Percakapan menjadi simpang siur. Namun setiap orang lebih

menginginkan bersikap menanti, apa yang akan disampaikan

penyelidik yang sudah dikirim kerajaan.

Sampai sore orang semua tinggal menanti. Tidak ada yang

turun ke sawah. Tidak ada yang turun ke danau. Tiap orang

seperti terpacak di tempat masing-masing.

Bila senja telah mulai memerah di langit, mencampakkan

sinar yang beraneka warna ke permukaan danau, mereka

sudah dapat melihat kepulan debu mengepul ke udara.

Penyelidik penunggang kuda sudah pulang. Kuda yang dua

ekor lagi sudah ada penunggangnya. Tambah lama, bersama

dengan bertambah merahnya warna senja, rombongan itu

bertambah dekat. Orang terus saja dapat mengenali bahwa

penunggang kuda yang keempat, Ronggur. Di belakangnya

Tio menggendong bayi. Sedang dipangkuan Ronggur, si

belang menjulurkan lidah.

Suasana tambah tertekan. Setiap orang terdiam. Setiap hati

tambah bertanya. Anak yang sudah disangka mati dikutuk

dewata, telah kembali ke tengah mereka. Anak yang dikenal

kecakapan, ketabahan, keberanian, dan kekuatan serta

keuletannya, tapi sayangnya pula anak yang telah dicoret dari

silsilah marga karena digoda setan, dan berusaha

meruntuhkan kepercayaan mereka yang bisa membuat

dewata marah, telah kembali di tengah mereka. Tanpa kurang

sesuatu.

Ronggur melompat dari punggung kuda. Setelah menuntun

Tio turun dari pundak kuda, lalu terus mendekat ke orang

banyak. Dia tidak langsung menuju ke tempat raja yang juga

hadir di sana. Tapi, mendekat pada orang tua yang berambut

panjang putih itu. Mereka memberi sembah. Lalu dari mulut

Ronggur keluar kata:

"Bapak, Datu Bolon Gelar Guru Marsait Lipan, yang tidak

pernah salah tafsir tenungnya. Dengan bantuan doa Bapak,

anakmu ini telah menemukan tanah habungkasan yang sangat

luas lagi landai, juga menemui sebuah danau yang tidak

bertepi tapi airnya asin. Namun sangat banyak ikan. Dataran

yang landai, ditumbuhi pohon kelapa berjajar, seperti pagar

tepian danau. Di punggungnya, hutan belantara yang sangat

hijau lagi luas, memberi imbangan akan luasnya danau yang

ada di depannya. Tanah di sana sangat baik dijadikan

persawahan. Bukan tanah tipis menyaputi batu alam. Hutan

menyimpan binatang buruan yang jinak. Orang yang pergi ke

sana, tidak perlu takut kehabisan makanan. Orang yang pergi

ke sana, tidak perlu berkelahi karena setitik air parit. Di sana

kedamaian akan tercipta, karena setiap orang rajin bisa

membuka tanah persawahan sesuka hatinya. Lagi pula, apa

yang kita takutkan bahwa penduduk akan sangat padat

sedangkan tanah begitu sempitnya karena penemuan tanah

habungkasan ini tidak jadi persoalan lagi. Setiap orang bisa

punya anak berpuluh-puluh, namun tidak perlu takut

kekurangan tanah. Tanah, alangkah gembur dan subur.”

"Di manakah itu, Anakku?" tanya orang tua itu ber-napsu.

"Di seberang ujung dunia. Sebenarnya bukan ujung dunia,

Bapak. Sungai Titian Dewata pada salah satu tempat, memang

mempunyai arus yang sangat deras. Karena ada air terjun, air

harus menuruni sebuah lembah yang sangat curam. Tapi,

itulah pula mula tanah landai, tanah habungkasan. jadi,

Sungai Titian Dewata tidak pernah putus. Setelah air terjun,

Sungai Titian Dewata terus mengalir, membelah dada hutan

belantara yang sangat lebat dan rimbun itu."

"Anakku, berapa keluarga yang dapat di tampung tanah

habungkasan yang kau temui itu?"

"Berapa keluarga? Ah, cobalah bapak bayangkan, sejauh

mata memandang hanya tanah yang landai yang tampak,

tanah yang hijau tidak bertepi. Sampai bertemu dengan kaki

langit. Jadi aku tidak dapat mengatakan berapa keluarga.

Tapi, semua keturunan si Raja Batak dapat di tampungnya

sekaligus dan bersama keturunan yang akan datang tanpa

menakutkan bahwa tanah garapan akan habis. Tanah di sana

tidak akan habis."

Sambil menitikkan air mata bening karena gembira, orang

tua itu lalu mengatakan:

"Anakku, kau telah melaksanakan petunjuk dewata,

sehingga lahir dalam melaksanakan petunjuk dewata,

sehingga lahir dalam kenyataan. Setiap orang seharusnya

mengucapkan terima kasih padamu dan pada Mula Jadi Na

Bolon yang telah menciptakan tanah habungkasan itu.

Pertempuran yang sering terjadi antara satu marga dengan

marga lain atau antara satu luhak dengan luhak lain, yang

kemudian menimbulkan luka serta duka yang dalam dan lebih

kejam lagi yang menimbulkan kemelaratan dan golongan

tertindas, akan tidak perlu berulang. Setiap orang akan

memperoleh kebebasannya kembali mengerjakan tanah,

bukankah begitu, Anakku?"

"Ya, Bapak."

"Terimalah ucapan terima kasihku padamu, Anakku."

Orang banyak, baik penduduk biasa, pun kerajaan,

semuanya terdiam mendengarkan percakapan itu. Tapi, dari

mata Datu Bolon Gelar Guru Marlasak, memancar sinar

kebencian dan dendam. Tiba-tiba saja dia berkata, suaranya

terus lantang:

"Ronggur, kau telah mengatakan segala dusta. Apakah

buktinya bahwa kau telah menemukan tanah habungkasan

seperti yang kau dustakan?"

Ronggur mengeluarkan pundi yang tiga itu, yang padinya

begitu bernas, lalu, "Waktu aku berangkat dulu dari sini,

hanya sepundi kubawa. Sekarang aku bawa tiga pundi padi

yang bernas. Sebenarnya hendak kubawa lebih banyak. Tapi,

karena perjalanan begitu jauh, lagi pula harus melalui pundak

bukit dan celah bukit, aku memutuskan membawa tiga pundi

saja sebagai bukti. Tapi, di tanah habungkasan, kutinggalkan

padi bagi keperluan orang yang mau pindah ke sana dalam

taraf pertama. Menjamin keperluan mereka sebelum saat

panen tiba. Saat panen lebih pendek di sana daripada di sini.

Padi lebih cepat matang. Lihatlah, betapa bernasnya padi ini."

'Ke mana pergi gelang yang dipakai si Tio pertanda dia

budak?. Dan, anak siapa yang digendongnya itu? Anakmu?

Kau mengawini atau memilih seorang budak menjadi ibu

anakmu?"

Datu Bolon Gelar Guru Marlasak tersenyum mengejek.

Wajah Ronggur memerah padam. Dengan suara menghentak,

"Tio telah menjadi isteriku, perempuan yang paling setia dan

tabah. Kami telah dipersatukan Mula Jadi Na Bolon secara

langsung, sewaktu kami tiba ke tempat jatuhnya air Titian

Dewata untuk pertama kalinya. Demi menghormati kesetiaan

dan ketabahannya, aku jadikan dia istriku. Dialah isteri paling

setia. Dia telah kubebaskan. Dia tidak akan pernah menjadi

budak lagi."

"Aku tidak mempercayai cakapmu. Tiga pundi soal

gampang. Bisa saja kau curi dari lumbung orang. Tapi, kau

telah mengatakan bahwa Sungai Titian Dewata tidak jatuh ke

ujung dunia, jadi persoalan. Kau telah menghancurkan

kepercayaan kami. Kau telah mengawini seorang budak belian

yang diharamjadahkan orang merdeka. Kau telah membuat

segala pekerjaan keji dan mengatakan kata yang keji. Inilah

persoalan yang sangat berat. Pada orang yang melakukannya,

dapat dijatuhkan hukuman. Dan, itu semua, kutuduhkan

padamu dan aku meminta pertimbangan khalayak dan

kerajaan, agar memilih bentuk hukuman yang pantas

ditimpakan padamu. Kalau tidak, para dewata akan murka.

Dan, mengutuk marga ini. Marga yang kuat perkasa lagi kaya

ini, marga yang dikurnia oleh dewata."

Kerajaan yang lengkap cepat saja mengadakan sidang.

Dalamm rapat kerajaan, suara Datu Bolon memegang peranan

yang penting. Karena persoalan, soal kepercayaan.

“Kita akan dikutuk para dewata dan arwah nenek moyang,

bila kita mau mendengar cakap dusta ini. Kita dulu

memutuskan, akan menangkap si Ronggur, akan

menjadikannya budak belian, bila dia kembali ke kampung

halaman ini. Tapi, sekarang tuntutanku tidak sampai di situ.

Karena dia telah mendustai kita dan dia telah membebaskan

seorang budak marga tanpa persetujuan sidang kerajaan,

tuntutanku:

Menangkap dan menghukum si Ronggur bersama budak

belian itu. Hukum mati. Ini perlu, agar para dewata yang telah

melindungi kita, yang telah membuat kita menang dalam

peperangan tidak memurkai kita. Bukankah kita sudah harus

bersyukur pada para dewata dan arwah nenek moyang,

karena sebaik kita mencoret nama Ronggur dari silsilah

marga, dan tak mau mendengarkan cakapnya, telah dua kali

marga kita mengalahkan marga lain dalam peperangan?

Hingga marga kita menjadi marga yang berkuasa, kuat, kaya,

dan dihormati setiap marga? Dan, luhak kita, menjadi daerah

taklukan kita?"

Segala saran yang dilancarkan Datu Bolon gelar Guru

Marlasak, mempengaruhi keputusan kerajaan. Lalu

mengeluarkan perintah, menangkap Ronggur dan Tio. Telah

diputuskan pula, besok pagi, akan dipalu canang ke tiap

kampung yang dikuasai marga itu, untuk mengumpulkan

mereka, lalu sama menyaksikan hukuman mati yang harus

dijalani Ronggur bersama Tio, karena mereka telah menghina

kepercayaan. Agar pengaruh yang dibiuskan Ronggur tidak

mempengaruhi orang untuk seterusnya.

Ronggur dan Tio diikat pada batang pohon mangga yang

besar. Bayi diletakkan di depan, mereka, langsung di atas

tanah. Dekatnya si belang. Apak kecil itu menangis sejadinya.

Tapi, tak seorang pun dibolehkan menyentuhnya.

Mendengar tangis bayi kecil itu, tidak saja perasaan Tio dan

Ronggur serasa disayat. Turut si belang menitikkan butir air

dari matanya. Tambah lama, suara anak menjadi parau. Si

belang mendekatkan moncongnya ke mulut anak itu. Lalu

lidahnya dijulurkan si belang. Disapukannya ke bibir anak.

Sampai basah. Lalu lidah anak itu menjilat bibirnya. Kemudian

lidah anak itu secara langsung disapu lidah si belang.

Sehingga air dari lidah si belang berpindah ke lidah anak itu.

Tangis anak itu mereda. Si belang meringis kecil, merasa

gembira dapat mendiamkan tangis anak itu. Bila matanya

dicampakkan ke arah Tio dan Ronggur, si belang memperoleh

senyum terima kasih dari tuannya.

Segala alat yang dibawa oleh Ronggur dan Tio

ditumpukkan depan mereka, juga ketiga pundi padi itu. Semua

akan dibakar. Supaya bekas dari kejadian itu tidak tinggal

sedikit pun.

Tidak berapa lama setelah senja berganti malam, Raja

Panggonggom bersama pengiringnya, masih datang menemui

Ronggur, mengusulkan agar Ronggur mencabut kembali

semua yang telah diucapkannya.

Hukuman bisa dientengkan, tak perlu hukum mati, asal dia

mau. Tapi, Ronggur harus bersedia menjadi budak, begitu

pula Tio dan anaknya. Ronggur menolak sarat itu. Malah

dikatakannya:

"Aku tidak dapat membenarkan yang salah, begitu pula

sebaliknya. Yang benar harus kukatakan benar. Percayalah

padaku, Paduka Raja."

Tapi, Raja Panggonggom tidak mendengarkan. Bila fajar

pagi terbit hukuman mati itu akan dilangsungkan.

Cepat saja berita yang dibawa Ronggur dan Tio menjalar ke

mana-mana. Sampai ke kaki bukit tempat orang melarat,

tempat orang yang tidak berpunya, dan tempat

persembunyian orang buruan. Mereka menegakkan kepala

mendengar berita itu. Terutama setelah mereka memperoleh

penjelasan langsung dari bekas Datu Bolon, setelah saran

Ronggur ditolak kerajaan marga mereka.

Bekas Datu Bolon itu mengatakan pada mereka bahwa

yang mengetahui jalan ke tanah habungkasan itu hanyalah

Ronggur. Bila Ronggur mati dibunuh orang yang tidak dapat

mendengarkan penemuannya, maka tanah habungkasan itu

akan kembali hilang. Mereka semua akan menjadi orang yang

sia-sia turun-temurun. Mereka harus membela Ronggur dan

Tio, harus melepaskan mereka dari ancaman maut itu.

Orang melarat dan orang buruan yang tinggal di gua kaki

bukit itu akan selalu lari ke mana saja berpencar bila tentara

kerajaan marga Ronggur datang menangkap mereka, akhirnya

memutuskan:

Daripada mati dibunuh dan diburu di dada tanah batu yang

gersang, lebih baik mati menempuh jalan menuju ke tanah

habungkasan. Malam itu juga, sepuluh orang lelaki yang kuat

tubuhnya, menyelusup ke induk kampung marga Ronggur.

Lengkap dengan senjata masing-masing. Dari celah bambu

duri, mereka dapat melihat di mana Ronggur dan Tio diikat,

dijaga tiga orang pengawal. Unggun api sudah mulai

mengecil. Keadaan sunyi. Malam sudah jauh. Tiba-tiba saja si

belang menggonggong. Karena mencium bau orang yang

datang mendekat. Membuat ketiga pengawal itu terjaga.

Setelah mengitari kampung dan meneliti, akhirnya mereka

kembali tidur sambil menyepak si belang. Seseorang terus

mendekat ke tempat Ronggur, lalu membisikkan, "Ronggur,

suruh si belang diam."

Ronggur memberi isarat. Sehingga si belang duduk dekat

kakinya dan diam. Dan, sekali sergap saja, ketiga pengawal

yang sedang mengantuk itu tidak berdaya lagi. Mati terbunuh.

Tali temali yang mengikat Ronggur dan Tio, mereka putuskan.

Mereka gendong bayi lalu mereka melarikan diri. Orang yang

tidak berpunya dan orang buruan telah menantikan mereka,

bersama bekas Datu Bolon di kaki bukit. Setelah mengucapkan

terima kasih, Ronggur bertanya, "Apa. yang harus kita

perbuat?"

Datu Bolon Gelar Guru Marsait Lipan»berkata, "Berita yang

diturunkan para dewata padamu, harus kau sampaikan pada

setiap orang. Tanpa memandang dari marga mana mereka,

dari golongan mana mereka. Kalau sebagian orang tidak mau

merasakan arti yang dikandungnya, tidak dapat menerima

kebenarannya, maka orang yang mau mendengarlah yang

berhak menerima berkat darinya. Mereka inilah orang yang

tidak berpunya, orang buruan ini karena kalah perang, yang

mau mendengarkan berita penemuanmu. Merekalah yang

berhak menerima berkah darinya. Bawalah mereka ke tanah

habungkasan. Sehingga mereka dapat kembali mengecap

alam kebebasan. Dan, otot mereka yang kencang itu dapat

kembali digunakan mengolah tanah."

"Bapak juga harus ikut," kata Ronggur. "Bila mereka

menemui Bapak, Bapak juga hendak mereka tangkap dan

bunuh."

"Ya, Bapak akan ikut. Bapak juga walau dengan berjingkat,

ingin melihat tanah habungkasan dalam kenyataan, karena

aku sudah sering melihatnya dalam mimpiku. Aku ingin

melihat apa yang dibisikkan para dewata padaku."

Bergeraklah mereka malam itu juga. Memegang obor.

Menyuluh jalan jurang dan lembah dalam. Sedang di induk

kampung marga Ronggur, dipalu gong. Membangunkan setiap

orang. Mereka sudah tahu, Ronggur dan Tio bersama anaknya

dan si belang sudah lari. Sidang kerajaan dengan

berangsangan, belum pernah marga kita dihina orang begini

rupa. Ayo, tangkap mereka, bunuh setiap orang yang memberi

bantuan padanya.

Raja Nabegu memerintahkan Hulubalang yang terkemuka,

yang dipercayai beserta laskarnya yang terkenal keberanian

dan kekuatannya, mengejar dan menangkap Ronggur dan Tio

kembali. Membunuh setiap orang yang memberi bantuan pada

Ronggur dan Tio.

Sedang Raja Panggonggom, memerintahkan anak lelakinya

yang sulung, anak lelaki Raja Nabegu dan Raja Ni Huta, turut

serta dalam rombongan yang harus menangkap Ronggur dan

Tio serta membunuh setiap orang yang memberi bantuan

padanya.

Datu Bolon Gelar Guru Marlasak, cepat mengusung bangkai

laskar marga yang telah mati ke Sopo Bolon. Di sana

disembayangkan, agar arwah laskar yang wafat itu mengutuk

perbuatan Ronggur dan Tio. Malah dimintanya, agar

mencelakakan Ronggur dan Tio bersama rombongannya.

Kepada ketiga anak raja itu, Raja Panggonggom memesankan

dan mengingatkan bahwa Ronggur punya cukup akal yang

licik. Dia harus diimbangi dengan kelicikan pula. Yang

diharapkan dipunyai oleh anaknya, yang kelak menggantikan

sebagai Raja Panggonggom bila dia wafat.

Di kala fajar pagi pertama menyingsing, bergeraklah orang

yang bertugas memburu rombongan Ronggur. Sedang

Ronggur, tetap menyuruh agar mengadakan tanda, jalan

mana mereka tempuh. Supaya orang yang memburu dapat

mengikuti jejak dan jalan mereka tempuh.

Rombongan terus bergerak. Orang yang memburu juga

terus bergerak. Tempik dan sorak, kemarahan dan hasutan,

dialamatkan pada rombongan Ronggur. Mereka harus

membunuh setiap anggota rombongan Ronggur dan menawan

Ronggur hidup-hidup, untuk dihadiahkan pada sidang

kerajaan. Untuk sama-sama dibunuh oleh tiap warga marga.

Matahari semakin tinggi. Pundak bukit pertama telah

ditaklukkan. Di sana mereka istirahat. Malah bermalam. Pada

pagi berikutnya, rombongan yang memburu telah tampak di

kaki bukit yang mereka taklukkan. Ronggur menyuruh, agar

orang menghidupkan api, mengepulkan asap. Menandakan

pada yang memburu bahwa mereka ada di sana.

Rombongannya merasa aneh juga terhadap tindakan begitu.

Maunya mereka menghilangkan jejak. Ini tidak. Malah

memberitahukan pada musuh di mana mereka berada. Tapi,

karena Ronggur sungguh-sungguh menyuruh, mereka

laksanakan juga dengan sebaik mungkin.

Bila rombongan yang memburu mulai mendaki bukit,

mereka pun mulai bergerak. Tanpa menjatuhkan batu untuk

menghancurkan yang memburu itu. Bila rombongan yang

memburu sudah berada di pundak bukit pertama, rombongan

Ronggur sudah kembali mendaki ke pundak bukit kedua.

Kedua rombongan dapat bertatapan, tapi dipisah lembah yang

dalam.

Matahari kembali melemah. Senja memerah. Kemudian

malam. Rombongan Ronggur istirahat. Begitu pula rombongan

yang memburu. Tidak ada yang berani melanjutkan perjalanan

di malam hari. Takut jatuh ke jurang dalam. Rombongan

Ronggur menghidupkan api unggun. Begitu pula rombongan

yang memburu. Dendam kesumat pada rombongan yang

memburu tambah menghebat, karena merasa dipermainkan.

Sedang Ronggur hanya tersenyum saja.

Bila fajar kembali terbit, rombongan yang diburu dan

memburu kembali bergerak. Begitu terus menerus. Tapi,

Ronggur tetap mengusahakan, agar kedua rombongan selalu

dipisah lembah. Juga diusahakan, agar rombongannya tidak

berada di dasar lembah, bila musuhnya berada di pundak

bukit, hingga musuhnya dapat menjatuhkan batu untuk

membunuh mereka. Begitu terus-menerus. Terkadang antara

kedua rombongan terjadi saling panggil-memanggil. Sambil

hasut menghasut.

Pada hari ketujuh, rombongan Ronggur telah melewati

celah pertemuan bukit, yang merupakan pintu ke tanah

habungkasan. Dari baliknya, dapat dilihat, di bawah melalui

pundak bukit yang menurun tanah habungkasan.

Setiba di balik bukit terus jurang dalam. Lapangan datar

hanya beberapa depa saja. Bermula terus jurang. Harus

memenggok ke kiri, beberapa jauh harus melalui di satu jalan

sempit, yang diapit oleh bukit dan dinantikan mulut jurang

menganga. Baru tiba kembali ke jalan yang agak luas, mula

jalan menurun yang baik menuju tanah habungkasan. Juga

dari sana dapat ditatap air terjun yang memutih. Setiap

anggota rombongan Ronggur kagum menatap tanah datar

yang luas dan hijau di bawah mereka. Setiap orang ternganga

melihat putihnya air terjun yang menerobos bukit sebelah

timur. Lalu setiap orang mengucapkan rasa terima kasihnya.

Dan, setiap orang yang memakai gelang pertanda budak,

disuruh Ronggur membuangnya dan menyampakkannya jauhjauh.

Ke jurang dalam.

Ronggur menyuruh tiap orang berondok ke sisi bukit.

Mendaki sedikit ke atas. Tiap orang disuruhnya menyiapkan

senjata yang ada di tangan masing-masing. Kemudian orang

yang tidak bersenjata, disuruhnya memilih batu alam, yang

bisa digulingkan. Sedang dua tiga orang, disuruhnya pergi ke

mulut celah bukit. Menantikan rombongan yang memburu.

Memberi tanda pada mereka, agar rombongan yang memburu

itu mendatangi celah bukit.

Semua orang mengerjakan perintah Ronggur. Setiap orang,

baik perempuan. Lengkap senjata terhunus di tangan.

Rombongan yang memburu terus saja mengejar dengan

semangat meluap. Melewati celah bukit. Dan, mereka telah

ada di bawah rombongan Ronggur, pada satu tempat yang

tidak menguntungkan. Mereka terjebak sudah. Dengan

lantang, Ronggur berteriak, "Letakkan senjatamu. Kalau tidak

kamu sekalian akan kami bunuh. Di depanmu jurang dalam.

Boleh pilih, menyerah atau mati."

Rombongan yang memburu mengutuk pada diri sendiri.

Dengan terpaksa harus membuang senjata yang ada di

tangannya. Tapi, di saat begitu, anak Raja Ni Huta, mengambil

kesempatan. Cepat berpaling dan melayangkan tombaknya ke

arah Ronggur. Ronggur cepat berondok ke balik batu alam.

Dan, sebuah tombak balasan melayang ke bawah mengenai

anak Raja Ni Huta, yang lalu jatuh ke mulut jurang dengan

pekikan meninggi. Sekali lagi Ronggur berteriak, "Pilih antara

dua, menyerah atau mati. Kalian semua berada di tempat

yang tidak menguntungkan."

Anggota rombongan yang memburu itu, dengan terpaksa

mencampakkan semua senjatanya ke mulut jurang. Mereka

disuruh Ronggur menghadap ke arah jurang. Lalu kedengaran

suaranya meninggi:

"Kau para lelaki yang kuat. Tapi, yang tidak punya

kekuatan untuk menerima sesuatu warta kebenaran. Justru

karena warta itu bertentangan dengan kepercayaan yang kau

anut selama ini. Lihatlah sekarang dengan mala kepalamu

sendiri, di depanmu jauh di bawah sana, luasnya tanah hijau

yang landai, seperti yang kuceritakan padamu. Dan, di sebelah

kananmu itulah air terjun yang kukatakan."

“Lihatlah, apakah Sungai Titian Dewata berakhir ke ujung

dunia? Dan, benda memutih dikejauhan yang terus menerobos

ke timur, membelah kehijauan hutan belantara itu, kelanjutan

Sungai Titian Dewata, merambah jalan ke danau yang maha

luas, yang airnya asin, tapi banyak ikannya. Pergunakanlah

mata kepalamu. Dengarlah dengan kupingmu sendiri, derum

air terjun yang jatuh, warta dari mula kehidupan. Apakah

kalian masih belum percaya?”

Orang yang memburu pada terdiam dan tercengang.

Sekarang mereka dengan mata kepala sendiri, telah

menyaksikan kebenaran cerita Ronggur, di saat mereka

terjebak pula. Harus tunduk pada Ronggur. Mulut mereka

ternganga.

Hulubalang yang memimpin rombongan itu, berpaling ke

arah Ronggur. Setelah menundukkan kepala tanda memberi

hormat, dia mengatakan:

"Ronggur, kalau kau sekarang mau membunuh kami, kau

telah bisa melakukannya tanpa sesuatu halangan. Dan, itu

memang hakmu. Tapi matiku telah merasa senang. Justru

karena aku telah melihat kebenaran ceritamu. Aku akan tidak

menyangsikan hidup anakku lagi. Tanah luas masih tersedia

untuk mereka walaupun aku mati. Tanah habungkasanmu,

Ronggur."

Ronggur membiarkan Hulubalang itu terus berkata. Yang

melanjut dengan, "Kami telah melihat air terjun yang kau

ceritakan. Ujung dunia yang kami sangka selama ini, mula

tanah datar yang maha luas. Hijaunya telah kutatap, dan bau

kesuburan yang mengambang darinya telah kuhirup. Kami

telah mengikuti ajaran yang salah, dan kami tidak punya

kelapangan hati mendengar warta kebenaran darimu. Untuk

itu kami sewajarnya menerima hukuman. Akulah yang

pertama harus kau bunuh. Aku pemimpin rombongan yang

mengejarmu ini."

Seketika keadaan hening. Lama Ronggur menatap

tawanannya yang hendak menangkap pada mulanya. Yang

sebenarnya juga anggota keluarganya. Sesuatu perasaan yang

bertentangan tumbuh dalam dada, sebagian ingin menuntut

balas, tapi sebagian lagi memberi pertimbangan lain. Dalam

keadaan begitulah Ronggur memanggil orang tua, bekas Datu

Bolon Gelar Guru Marsait Lipan ke dekatnya.

"Bapak," katanya, "apa yang harus kuperbuat sekarang?"

Lama orang tua itu terdiam. Baru mulutnya mengatakan,

"Nasib mereka berada di tanganmu. Kau bisa menentukan,

apakah mereka masih berhak hidup atau mati. Tapi, bagi

Bapak, ada sesuatu hal yang menguntungkan dalam saat ini.

Kau telah gagal mewartakan berita penemuanmu secara

langsung. Tapi, sekarang kau memperoleh jalan lain untuk

mewartakannya kepada orang lain di kampung halaman.

Dengan sendirinya pula mewartakan kepada kelompok marga

lain, marga yang masih merdeka."

"Bagaimana caranya, Bapak?"

"Tawanlah anak Raja Panggonggom, anak Raja Nabegu.

Kemudian suruh pulang Hulubalang itu dengan pengiring kecil.

Tugaskan padanya agar dia mewartakan pada kerajaan marga

atas kebenaran ceritamu, kebenaran penemuanmu. Bila

mereka tidak juga mempercayainya, maka nasib anak Raja

Panggonggom dan anak Raja Nabegu, akan sama dengan

nasib Raja Ni Huta."

Tersenyum Ronggur memperoleh saran itu. Lalu

disambutnya, "Saran yang baik. Dan akan kutambahkan

bahwa tidak marga kita saja yang berhak datang ke tanah

habungkasan. Semua marga berhak. Semua orang berhak.

Tidak memandang apakah dia seorang budak, raja atau apa

saja. Semua orang berhak memperoleh tanah, seluas dan

selebar yang sanggup dia kerjakan."

Orang tua itu menundukkan kepala mengiakan.

"Di samping itu," kata Ronggur pula, "aku harus menuntut

pada kerajaan marga, agar mengembalikan tanah

persawahanku, yang dulu disita kerajaan dariku. Itu sangat

penting. Karena bagaimanapun seperti adat kita, sejauh kita

merantau, namun bona nipasogit, tidak boleh dilupakan.

Sesuatu harta pusaka turun-temurun yang mulanya dirambah

nenek moyang, harus dijaga dan dipelihara. Juga segala harta

milik Bapak yang disita dulu, harus dikembalikan. Dan, Bapak

tahu aku telah mengambil Tio menjadi istriku."

"Ya, Bapak tahu," sahut orang tua itu cepat. "Dan, itu

sangat baik."

"Karena itu, kesatuan marga Tio sudah menjadi moraku.

Mora yang harus kuhormati."

"Ya, memang begitu menurut adat kita."

"Lalu, aku harus menuntut pula bahwa semua keturunan

marga Tio, harus dibebaskan dari perbudakan. Siapa saja di

antara mereka yang punya hasrat pindah ke tanah

habungkasan harus dibolehkan. Tidak boleh dihalangi. Sedang

orang yang tidak bisa pindah karena sudah tua atau karena

alasan lain, harus dibebaskan dari perbudakan."

Orang tua itu tersenyum. Mengiakan.

Segala hasil pembicaraan disampaikan Ronggur dengan

suara lantang pada Hulubalang. Itulah sarat yang harus

disampaikan Hulubalang pada kerajaan marga. Yang

ditambahnya pula:

"Dalam jangka dua purnama, utusan kerajaan sudah harus

ada yang datang menemui mereka ke tanah habungkasan.

Mewartakan, apakah saran itu diterima atau tidak. Utusan

kerajaan marga, boleh kelak menempuh jalan yang mereka

tandai."

Hulubalang itu menyanggupi akan menyampaikan pesan.

Malah dengan sadar dia menambahkan, "Karena aku sendiri

telah melihat kebenaran ceritamu, kebenaran penemuanmu,

tanpa sarat itu pun, aku akan bekerja keras menginsafkan

orang. Berilah kesempatan padaku, untuk berbakti."

Lima orang dari anggota yang memburu itu, ditunjuk

Ronggur mengiringi Hulubalang menuju kampung halaman.

Yang lima orang itu pun telah bersedia menjadi saksi atas

kebenaran penemuan Ronggur. Sedang rombongan Ronggur,

ditambah pasukan kerajaan marga yang sudah insaf menuju

ke timur, ke tanah habungkasan.

Kemudian rombongan lain bertambah banyak menuju

tanah habungkasan. Selalu mereka mengadakan upacara di

pangkal sungai, mempertebal keyakinan bahwa mereka akan

dituntun para dewata dan arwah nenek moyang ke tanah

habungkasan. Baik melalui sungai atau jalan darat. Sejak itu,

nama tempat itu mereka sebut Porsea.

Jalan tempuhan, tambah lama, tidak hanya yang dirintis

Ronggur saja yang mereka kenal. Tapi, telah terbuka

tembusan jalan baru. Daerah lain tambah banyak ditemui. Bila

mereka sudah sampai di tempat yang mereka namakan

Parhitean, mereka terus pergi ke arah timur, akan tiba ke

tanah habungkasan yang ditemui Ronggur, di mana

rombongan Ronggur membuka perkampungan.

Bila mereka dari Parhitean menuju ke utara, mereka akan

tiba ke Daerah Tangga. Dari sana dapat mereka tatap pundak

bukit yang tiga, lalu mereka namakan itu Tiga Dolok. Dari

sana terus menembus ke daerah Simalungun. Bila terus

menyusur bukit sebelah barat, bisa mereka buka dua

persimpangan. Satu menuju Tanah Karo, satu lagi menuju

Dairi-Pakpak. Dari Dairi, bisa turun kembali ke Pulau Samosir.

Dari Tiga Dolok, dapat mereka kenal pundak bukit yang ada di

bagian pundak mereka, pundak bukit di lingkungan Danau

Parapat. jadi bila mereka menuju ke sana, kembali tiba ke

lingkungan Danau Parapat.

Dari Parhitean, bila mereka memenggok ke selatan, mereka

akan tiba ke Parsoburan. Terus ke selatan, sampai ke daerah

perbatasan Sumatera Barat, yaitu Rao-Rao. Bila mereka

meneruskan perjalanan, tiba ke dataran tinggi Bonjol. Sedang

bila kembali ke arah utara dari Rao-Rao, berarti turun ke

daerah Mandailing Raja. Menembus terus ke daerah Angkola-

Sipirok-Pahae dan tembus ke Silindung, Tarutung. Lalu bisa

kembali ke Toba.

Dari Mandailing, bila mereka terus menurun, mereka

menemui pula sebuah danau yang luas, airnya asin, berteluk

indah, pesisir Sibolga. Di sini mereka bertemu dengan

rombongan yang sejak Parsoburon terus mengarah Barat.

Dan, telah menaklukkan pegunungan Pangaribuan, menurun

ke pesisir Barus. Sedang rombongan yang berangkat dari

Pangoruran Samosir, bila menuju ke arah barat, akan

menaklukkan pegunungan sebelah barat. Mereka tiba ke

Pangkat, terus menurun dari sana ke pesisir Barus.

Dari pesisir Sibolga, bila mereka kembali mendaki

pegunungan utara, tembus pula ke Rura Silindung, Tarutung.

Dari sana, pundak pegunungan Toba telah dapat mereka tatap

dan kenal kembali. Dari Angkola, yaitu dari Tor Simago-mago,

bila menembus ke selatan teru s, akan tiba ke daerah dataran

yang luas. Padang Lawas. Terus ke selatan, mereka bisa

bertemu dengan orang yang berangkat menuju tanah

habungkasan yang ditemui Ranggur, daerah Asahan-Labuhan

Batu.

Kemauan mempertahankan dan melanjutkan kehidupan,

sampai bersedia mengorbankan pertarungan demi

peperangan, yang tidak sedikit mengorbankan nyawa, telah

dialihkan semangatnya untuk menaklukkan pundak demi

pundak bukit. Menerobos celah pertemuan bukit memanjang,

merambah jalan di bawah naungan dedaunan belantara yang

menghijau lebat, untuk menemui dataran luas, dataran lain,

berhutan subur, dan punya binatang buruan yang jinak lagi

banyak. Untuk menemui danau yang maha luas, yang

menyimpan ikan banyak. Airnya asin mengandung garam.

Semuanya untuk kelanjutan kehidupan dan

mengembangkannya.

Tamat

5

Masih pagi benar. Udara cukup dingin. Tanah lembab

pertinggal hujan semalam. Dua tiga biji bambu duri

terbelintang di tengah jalan, tumbang. Di darat kabut tipis

saja. Hijaunya dedaunan dapat juga dilihat pandang.

Bertambah segar karena mengandung butir air. Tapi,

permukaan danau, jika bertambah jauh ke tengah, kabut

mengental. Beberapa depa saja dapat ditembus pandang.

Pulau Samosir Tuktuk Sigaol tidak tampak. Air danau alangkah

dinginnya.

Ronggur, Tio, dan si belang sudah berada dalam perahu.

Tempat begitu lapang. Pengayuh, galah, penimba air, sudah di

tempatnya. Tombak, kampak, panggada, ambalang, dan

sesumpit batu sungai yang keras. Beras sesumpit. Disumpit

lain daging kering. Juga mereka bawa mata pancing serta

talinya.

Pada leher Ronggur membelit ulos batak ragi purada yang

dibelitkan ibunya. Begitu juga pada leher Tio, dibelitkan ulos

batak ragi purada yang diiringi kata, "Belitkanlah pada

tubuhmu, di kala dingin mencekam. Pengganti tangan bunda .

. .." Hanya perempuan tua itu dan bekas Datu Bolon di tepian

danau mengantar mereka. Orang lain sudah dilarang untuk

mengantarkan mereka. Ronggur menatap pada ibunya,

sebelum perahu hilang ditelan kabut. Lalu pada orang tua itu,

melalui renggangan batang bambu duri, dicampakkan

pandang ke tengah kampung. Mencari bekas kehidupan masa

lalu di sana. Tingkah lakunya yang sopan serta ramah-tamah,

keberanian yang tidak gentar menghadapi sesuatu soal pada

saatnya, memikat hati orang di sekitarnya. Karena itu dia

banyak mempunyai teman.

Tapi, di saat dia harus meninggalkan perkampungan itu

untuk satu perjalanan yang belum tentu akhirnya, tak terduga

nasibnya, tidak seorang pun dari temannya yang dibolehkan

mengantarkan. Melepasnya. Tahulah dia, betapa pahit

perasaan mencekam hati untuk meninggalkan tanah tempat

lahir, dibesarkan, dan diasuh, punya teman, tapi tidak boleh

pamitan.

Di sebelah haluan perahu, Tio berdiri. Matanya jauh

mengedari tanah yang sudah cukup dikenalnya. Di mana dia

pernah disanjung puja, selagi martabat marganya belum

runtuh. Teringat pula saat kejatuhan marganya dan dia

sendiri, harus menjadi budak belian. Temannya sebaya banyak

yang mati di saat itu. Setetes dua air-mata membasahi pipi.

Cepat dihapus agar tidak sempat dilihat Ronggur.

Perahu bergerak perlahan meninggalkan tepian. Tangan

mereka membalas lambaian kedua orang tua yang

mengantarkan mereka. Sebelum pferahu ditelan kabut, tidak

hentinya lambaian dilepaskan dari tepian, tinggi melengking.

Si belang pun seperti tahu, perjalanan mereka sekali ini amat

panjang. Perlahan perahu memasuki daerah yang dilingkungi

kabut tebal. Perlahan pula tepian menghilang dari

pemandangan. Untuk digantikan warna putih saja pada

akhirnya. Tangan terkulai tak ada lagi yang hendak dilambai.

Tidak dilihat Ronggur lagi, ibunya mencampakkan diri ke

pohon hariara yang besar itu. Tersedu di sana. Meratap

panjang. Bekas Datu Bolon menyabari. Kemudian

menuntunnya pulang ke rumah.

"Mereka akan berhasil, mereka akan pulang membawa

berita baik dan menggembirakan," bujuk bekas Datu Bolon.

"Semua yang dikorbankan Ronggur untuk perjalanan ini akan

kembali padanya, malah lebih dari itu akan dipunyainya."

Perempuan tua itu menundukkan kepala, mengiakan, walau

sebenarnya dia tidak dapat meyakini bujukan itu.

Bila sinar matahari pagi telah muncul dari puncak Dolok

Simanuk-manuk, kabut tambah menipis lalu menghilang.

Kerajaan sudah tahu bahwa Ronggur bersama Tio telah

berangkat, maka Raja Panggonggom mencoret nama Ronggur

dari silsilah keturunan marga. Ronggur telah dianggap mati.

Riwayat Ronggur berakhir di s itu saja.

Perahu yang dikayuh Ronggur dan Tio maju perlahan. Tio

mendayung ke hulu. Ronggur di buritan langsung menjadi

pengemudi. Beberapa biji mata pancing yang sudah diumpani

dijatuhkan Tio ke danau. Sambil berkayuh, mereka

mengharapkan dapat pula sambil lalu menangkap beberapa

ekor ikan. Mereka berdua terus mengkayuh. Antara keduanya

belum mengucap sesuatu kata.

Perahu terasa berat dikayuh. Karena dasarnya agak lebar.

Haluannya tumpul. Menahan air atau menghempang kelajuan

perahu. Tapi, mereka masing-masing melaksanakan tugas,

walau perahu agak susah dikayuh dan walau hati masingmasing

masih diselubungi sakitnya perpisahan dengan kaum

kerabat, dengan tanah tempat dibesarkan, tanpa pamit.

Walaupun Tio tetap merasakan bahwa dia akan aman selalu

bila berdekatan dengan Ronggur, yang mempunyai otot yang

tegap, tekad hati yang bulat, keberanian yang jantan, sikap

ramah tamah, dan sopan santun yang manis, namun pada

saat itu, setiap perahu tambah jauh dikayuh, hatinya merasa

kecut juga mendatangi ajal yang ada di depan.

Tapi, dihiburnya diri, kalau dia tidak ikut, bukankah itu

berarti memberikan tubuhnya, hidupnya ke tangan nasib yang

telah tertentu belangnya, yaitu menjadi budak belian orang,

yang akan memperlakukannya seperti memperlakukan hewan.

Bukankah itu berarti penghinaan akan martabat diri, tidak

tahu menghargai diri sebagai manusia yang dapat

membedakan arti dan hakikat manusia merdeka dengan

budak belian?

Ah, katanya dalam hati sendiri, bila diri tahu perbedaan

antara menjadi seorang budak belian dengan manusia

merdeka dan diri tidak berpihak kemerdekaan itu, seseorang

yang tidak dapat mengucapkan terima kasih pada Mula Jadi

Na Bolon, yang telah menciptakannya menjadi manusia. Tidak

menciptakannya menjadi hewan.

Satu keuntungan bagi tiap manusia, yang bisa

mempergunakan tiap kesempatan yang ada, untuk

membebaskan diri dari belenggu yang menindas harga diri itu.

Dan, kata Tio selanjutnya pada diri sendiri, kesempatan,

kupikir dan kurasakan, ada bila aku bersama Ronggur. Bila

aku memilih jalan yang ditempuhnya. Walau apa bentuk nasib

yang menanti di depan. Itulah risiko.

Manusia lahiratau dilahirkan memang untuk menghadapi

risiko, mengatasinya, lalU tercapailah idaman hati. Atau,

memang diri mampus karena tidak dapat mengatasi risiko itu.

Tapi, diri telah melaksanakan tugas kehidupan sebaik-baiknya.

Dan, itulah kehidupan. Kabut sudah terangkat, matahari

leluasa melemparkan sinarnya.

"Sentak pancing yang ada di sebelah kananmu!" teriak

Ronggur yang sekaligus membangunkan Tio dari renungan.

Tangannya cepat menggapai tali pancing. Tidak lama

kemudian, seekor ikan mas yang sudah cukup besar,

menggelepar di permukaan air.

"Tangkap dengan jaring," kata Ronggur pula.

Tio mengikuti petunjuk itu. Dengan sebuah pukulan

panggada pada kepala, ikan itu melepaskan gelepar akhirnya.

Isi perutnya dibuang Tio. Disisikinya. Lalu dia bertanya pada

Ronggur:

"Kita apakan ikan ini? Kita ura?"

"Ya, ura saja. Banyak bikin asamnya. Biar cepat masak.

Tapi, harus rata. Biar masaknya rata pula."

Dengan sedih akhirnya Tio mengatakan, "Tapi, daun

pembungkusnya tidak ada."

Ronggur mencampak pandang ke pinggir danau. Cepat dia

menujukan haluan perahu ke tepian. Lalu melompat dari

perahu ke tepian berpasir basah, langsung memanjat sebuah

pohon berdaun lebar. Beberapa tangkai dedaunan yang cukup

lebar dijatuhkan ke tanah. Cepat dipungut Tio. Ikan diasami.

Lalu dibaluri dengan kunyit. Kemudian dibungkus baik-baik.

Seolah tidak tertembus hawa.

Mereka melanjutkan perjalanan. Mereka tidak memenggal

perjalanan melalui tengah danau. Selalu mengikuti pantai.

Hingga perjalanan menjadi bertambah jauh. Beberapa kali

mereka berpapasan dengan penangkap ikan. Tapi, tidak

seorang pun dari penangkap ikan yang melambaikan tangan

dan menyapa mereka. Para penangkap ikan itu menatap

dengan dungu ke arah mereka. Lalu, cepat mengkayuh

sampan masing-masing, agar cepat jauh dari manusia yang

sudah digoda setan jahat itu. Sekarang Ronggur sudah dapat

mengartikan, kenapa orang tidak menegurnya dengan ramah

lagi.

Matahari tambah tinggi dan terik. Gelombang mulai

menggila. Perahu mulaii menunduk nunduk mengikuti alun

gelombang. Sampan penangkap ikan sudah sunyi dari danau.

Ronggur mengkayuh melalui ke tepian. Tepian yang dipilih

ialah lepian yang jauh dan kampung yang banyak bertebar

sepanjang pantai danau. Di sana mereka memasak nasi lalu

makan siang. Daging kering masih ada. Sedang ikan yang

diura itu, baru bebeiapa hari kemudian dapat dibuka dari

bungkusannya untuk dimakan.

Bila sinar matahari sudah tidak terik lagi, kembali mereka

melanjutkan perjalanan. Matahari leluasa melemparkan

sinarnya dan membakar mereka berdua, turut si belang, justru

karena perahu mereka tidak punya atap. Si belang tidak sering

lagi menggonggong, sudah lebih banyak diam dan tiduran di

perut perahu. Pada mulanya dia selalu menggonggong perahu

dan sampan yang berpapasan dengan mereka, tapi karena

orang yang ada dalam sampan atau perahu yang

digonggongnya tidak melambaikan tangan, membalas

gonggongnya, akhirnya si belang sendiri pun tinggal diam saja

melihat mereka, sambil menjulurkan lidah.

Setelah dua hari berkayuh, tepian danau kembali dirimbuni

rumpun bambu duri dengan rapat. Pertanda perkampungan.

Titik putih yang besar itu, dapat mereka terka bahwa itu

kuburan nenek moyang yang pertama merambah mendirikan

perkampungan. Dapat mereka tentukan melalui titik putih itu

bahwa itulah gerbang perkampungan. Kuburan nenek moyang

yang pertama membuka satu perkampungan, selalu

dikebumikan di gerbang kampung. Titik kecil yang

bermunculan di sana menatap ke arah mereka, ada yang

menuding. Tapi, tidak ada yang melambaikan tangan.

Tio tidak memikirkan itu. Tapi, pada pikirannya mendatang

pengenalan bahwa mereka telah memasuki lekuk danau yang

pada salah satu tepiannya, bermula Sungai Titian Dewata. Dia

menarik napas yang dalam. Sedang Ronggur memperhatikan

permukaan air dengan awas. Meneliti awal sungai.

Pada mulut sungai banyak terdapat gugusan pasir hidup.

Perahu dan sampan nelayan yang terdampar ke sana karena

tidak hati-hati, secara perlahan-lahan akan ditelan pasir hidup

itu. Orangnya bisa selamat kalau pandai berenang. Pasir hidup

selalu berpindah tempat, bergerak dibawa arus. Jadi orang

yang berlayar di sana harus hati-hati. Tanda pasir hidup dapat

diketahui dari permukaan air danau yang agak memutih,

bercampur keruh, dan beriak.

"Percepatlah mengayuh Tio," kata Ronggur. "Sebelum sore

benar, kita sudah harus memasuki mulut sungai. Biar kita

dapat terus menyusuri sungai sampai ke tempat yang jarang

perkampungannya. Juga agar dapat kita bedakan, antara

permukaan air yang aman dan jebakan pasir hidup. Kita tak

dapat menepi di sini. Terlalu rapat perkampungannya. Siapa

tahu, di antara mereka ada yang bermaksud jahat pada kita."

Tio mempercepat kayuhannya. Si belang kalau sudah capek

duduk, terkadang berjalan hilir mudik dalam perahu.

Mengibaskan ekor pada punggung Tio, begitu pula pada kaki

Ronggur. Tampaknya si belang seperti menyesal, karena tidak

dapat membantu tuannya.

Cahaya senja sudah bermain di permukaan air yang beriak.

Riak yang seperti disorong ke satu arah, punya arus, tapi

masih perlahan. Mula sungai. Riak itu, walau masih perlahan,

tetap bergerak, tetap disorong sesuatu tenaga untuk ditibakan

ke satu tempat.

Pada kedua tepian pangkal sungai, banyak orang berdiri.

Melihat mereka dengan dungu. Dari sekian banyak orang,

yang diketahui Ronggur sudah lain dari kesatuan marganya,

seorang pun tidak ada yang menyapa mereka. Tapi, orang

mencampak pandang ke arah mereka. Menonton tanpa

menggunakan perasaan. Oleh tatapan itu, oleh kebisuan itu,

Tio menjadi gelisah.

Si belang sudah pernah menggonggong ke arah mereka,

seperti menjenggak. Tapi, orang itu tetap juga di tempatnya.

Si belang akhirnya capek sendiri. Tio bolak-balik melihat pada

orang banyak, kemudian pada Ronggur yang terus mengayuh

dan menjaga kemudi dengan hati-hati.

"Ronggur, kau lihat mereka itu?"

"Ya, kulihat. Teruslah mengayuh, jangan ambil perduli."

"Tidak seorang pun dari mereka yang mengaju tanya pada

kita. Sedang mereka sudah berbeda marganya dari margamu.

Apakah mereka tidak bisa mengucapkan sepatah kata?"

"Kepercayaan mereka sama dengan yang dianut margaku.

Tidak mengapa. Teruskan mengayuh. Kepercayaan itu yang

melarang mereka untuk bercakap dengan kita. Atau,

kepercayaan itu membuat mereka bisu. Perasaan mereka

tumpul dibuatnya. Teruslah mengayuh. Sebelum jauh malam,

hendaknya kita sudah sampai ke tempat yang cukup jauh dari

perkampungan mereka."

"Mata mereka tidak bercahaya. Seperti mata ikan yang

mati. Aku ngeri melihatnya dan merasa terpukau berhadapan

dengan manusia yang begitu banyak, tapi yang begitu diam

dan bisu, seperti patung. Tidak berkerisik."

"Teruslah berkayuh, Tio. Biar cepat kita jauh dari tatapan

mereka. Agar godaan darinya tidak lama mempengaruhi tekad

diri."

Tio meneruskan mengayuh. Untuk akhir kalinya, si belang

sekali lagi menggonggong ke arah tumpukan orang yang diam

bisu itu, sebelum mereka menjauh benar. Arus sungai masih

lemah. Belum bisa menghayutkan perahu. Mereka masih harus

mengayuh kuat-kuat, agar perahu melaju.

Senja di langit bertambah tua. Merahnya mewarnai segala.

Dan, dari satu tempat yang ketinggian lagi sunyi, seseorang

memanggil nama Ronggur. Mulanya begitu lemah dan jauh.

Seperti suara setan yang bangkit dari dunia jauh. Ronggur

mendongakkan kepala, mencari dari mana suara itu datang. Si

belang mempertajam penciuman. Menggonggong. Disuruh Tio

diam. Si belang mengikut.

Seseorang berlari di pematang sawah sambil melambaikan

tangan. Ronggur berhenti berkayuh. Diikuti Tio. Orang itu

sudah berada di tepian sungai. Setelah beberapa hari tidak

mendengar suara orang lain yang mencakapkan mereka,

rasanya, suara orang itu seperti hadiah yang besar, hadiah

yang membuat mereka gugup.

"Ronggur," kata orang itu, napasnya masih tersengal,

"bawalah aku bersama kalian. Aku mau turut."

Ronggur tambah terdiam. Hampir tidak dapat mempercayai

pendengarannya.

"Ronggur, kau dengarkah aku? Aku si Lolom. Kawanmu

sejak kecil. Aku mau turut."

"Kudengar kau, Lolom. Kudengar kau. Apa maksudmu?"

tanya Ronggur kembali. Dia belum yakin benar akan

pendengarannya.

"Bawalah aku bersama kalian. Aku mau turut. Tidak

bermaksud jahat aku. Bawalah aku."

Ronggur dan Tio tambah terdiam mendengarkan

permohonan orang itu, permohonan yang tidak diduga sama

sekali. Di saat mereka disisihkan dari sekitar, dari alam

kehidupan mereka sehari-hari, di saat itu pula seseorang dari

anggota masyarakat yang menyisihkan itu memohon pada

mereka, agar dibolehkan turut serta. Membuat Ronggur ingin

tahu, kenapa orang itu mau turut.

"Kenapa kau harus ikut?" tanya Ronggur.

"Aku tahu perjalananmu mendatangkan ajal. Tapi, aku

tidak perduli. Aku mau ikut. Karena aku memang dengan

sengaja mencari kecelakaan pada diri sial ini. Bawalah aku,

Ronggur. Sungguh sial nasib menimpa diriku. Aku kalah

berjudi. Sawahku sudah tergadai. Namun hutangku masih

bertumpuk."

"Jadi kau sengaja mau mencari malapetaka?"

"Ya, seperti kalian. Seperti kau. Tepikanlah perahu itu biar

masuk aku. Daripada aku membunuh diri, gantung diri, lebih

baik kurasa, lebih tenteram kurasa hati, bila ada teman samasama

mati. Karena aku takut sendirian menuju negeri jauh itu.

Bawalah aku, biar aku tidak merasakan kesunyian di saat

nyawa berpisah dari tubuh. Justru karena tahu ada teman

sama-sama mati."

"Kau pikir kami sengaja mencari kematian dengan melayari

sungai ini? Atau, sengaja mendatangi kecelakaan yang bisa

mengakibatkan kematian?" tanya Ronggur pula. Sinar

matanya memancarkan cahaya benci.

"Apa maksudmu?" kembali Lolom bertanya. "Bukankah kau

dengan sengaja mencari sumber malapetaka dengan melayari

Sungai Titian Dewata ini?"

"Tidak. Kami mau mencari penghidupan yang lebih

sempurna. Mencapai tanah luas tempat habungkasan," jawab

Ronggur tegas.

"Ah, jangan bersilat kata, Kawan. Kau sengaja mencari

kecelakaan, kematian, dan aku mau turut. Habis perkara,"

suara si Lolom mulai ringan dan lincah, tidak seperti semula

lagi.

"Kenapa kau berkata begitu, Lolom?"

"Karena kau Ronggur, jatuh cinta pada budakmu. Memang

budakmu itu manis. Bukankah karena tidak tahan

menanggung malu di dunia ini, kau melarikan diri dari

kehidupan ini dengan dalih mencari tanah habungkasan

bersama budakmu itu? Bawalah aku. Aku tidak bermaksud

mempengaruhi perasaan cinta yang tumbuh di hati kalian

berdua. Itu soalmu. Aku akan menutup mata dan mulut, di

saat kalian bercumbuan. Percayalah. Bawalah aku Ronggur.

Biar ada temanmu sama-sama mati. Biar ada pula temanku

sama-sama mati. Walaupun sebab kita berbeda. Kau karena

menyintai seorang budak. Aku karena kalah berjudi. Dari kita

sebenarnya sama sialnya."

Dengan hentakan kasar, Tio membenamkan pengayuh ke

air hingga air muncrat ke atas, lalu mulai mendayung.

"Perjalanan kami tidak wajar dikotori seorang penjudi yang

mau bunuh diri," jawab Tio kasar. "Perjalanan yang menuju

atau mencari tanah habungkasan."

Wajahnya memerah. Dan, ia tidak tahu, kenapa dia harus

mengatakannya. Sebenarnya dia sendiri memang sependapat

dengan orang lain, dengan Lolom bahwa perjalanan itu akan

kandas di karang kecelakaan. Tapi, biarpun begitu, tidak wajar

rasanya, perjalanan yang bermaksud baik itu dikotori

seseorang yang memang sengaja mau bunuh diri.

"Apa kau katakan budak manis? Apakah kau tidak dengan

sengaja mengotori hidup si Ronggur? Dengan wajahmu yang

manis, kau telah menggoda dan menjerumuskan seorang

sahabatku ke lembah kehinaan. Jatuh cinta pada seorang

budak, karena setiap saat kau menggodanya dan kata orang,

kau sedang bunting. Kalian telah bersetubuh sebelum

meminta izin dari Mula Jadi Na Bolon, dari para orang tua, dari

kerajaan, dan datu bolon. tanganlah berkata aku membawa

sial padamu. Nasibmu jauh lebih celaka dari nasib kita semua.

Aku kalah berjudi, Ronggur jatuh cinta, kau penggoda

keparat."

"Siapa mengatakan itu padamu, Lolom?" tanya Ronggur

keras

“Kau masih bertanya. Itulah berita yang tersiar luas di

antara penduduk. Lain tidak. Aku juga mempercayainya. Aku

juga tidak dapat mempercayai bila seseorang yang melayari

sungai ini, masih mengatakan akan mencari tanah

habungkasan. Bagiku itu omong kosong dan dusta paling

besar. Karena itu, marilah sama-sama mati, kawan. Bawalah

aku. Aku yang mau bunuh diri."

Seketika Ronggur terdiam. Tidak menyahut. Kemudian

Lolom melanjutkan, "Kenapa kau diam, Ronggur? Karena

tepat apa yang kukatakan?"

Ronggur masih diam. Lolom terkekeh lupa akan

masalahnya sendiri. Tio sudah hendak mendayung perahu,

tapi dicegah Ronggur dengan membenamkan kemudi ke air.

Akhirnya Ronggur mengatakan:

"Lolom, sayang sekali apa sebabnya kau mau ikut dengan

kami. Kalau alasanmu berbeda dari alasan yang kau katakan

itu, betapa gembira hatiku menerima kehadiranmu. Betapa

aku berterima kasih karena kau mau menemani aku seraya

bersedia memikul segala akibatnya."

Lolom masih tertawa di pinggir sungai. Kemudian Ronggur

melanjutkan:

"Aku mau buktikan Lolom bahwa yang kuimpikan atau yang

diwartakan mimpiku padaku, benar. Aku akan menemui tanah

habungkasan. Sungai ini akan membawaku ke tanah landai

yang subur. Sendirinya pula aku akan buktikan bahwa

kepercayaan yang tertanam di hati kita selama ini mengenai

sungai ini salah."

"Jangan mencari dalih lagi," kata Lolom menghentak.

"Sudah kukatakan aku tidak dapat mempercayainya, walau

kau kawanku. Kita akan sama-sama mati bila kita sama-sama

melayari sungai ini. Yang kuminta padamu, bawalah aku biar

ada temanku sama-sama mati. Aku takut mati sendiri. Itu saja

soalnya."

"Tapi, aku tidak mencari kematian dengan sengaja," jawab

Ronggur dengan suara kuat. "Perjalanan yang kumulai ini

bertujuan baik. Hasilnya kelak akan kuserahkan pada semua

orang, agar semua orang terlepas dari ancaman yang selalu

mengikuti hidupnya, berperang karena setapak tanah,

bersibunuhan karena setetes air parit. Karena itu dan karena

aku tahu pepatah lama, seseorang penjudi yang kalah, dialah

yang bernasib sial. Seseorang yang dengan sengaja mau

bunuh diri padanya akan datang malapetaka. Karena aku tidak

mau bunuh diri, karena aku tidak mau mencari malapetaka,

tapi sebaliknya, sewajarnya pula aku menolak permohonanmu.

Agar nasib sialmu, agar kutukan dewata padamu karena kau

mau bunuh diri tidak turut menimpa kami. Kami masih tetap

mengharapkan dan memohon agar dewata menunjuki jalan

kami. Yang kelak hasilnya akan dikecap setiap orang. Tidak

wajar mengorbankan nasib orang yang begitu banyak, masa

datang orang banyak, karena kau seorang. Karena itu, carilah,

tempuhlah sendiri, dan datangilah sendiri ajal yang akan

merenggutkanmu dari kehidupan ini!"

Sambil tertawa dan perutnya berguncang-guncang, Lolom

mengatakan:

"Ronggur, ke mana perginya akal sehatmu yang selama ini

kau punyai? Ya, memang kau masih menggunakan akal sehat

itu. Yaitu, menerjunkan diri ke ujung dunia agar bangkai

kalian tidak dapat dikuburkan. Agar kubur kalian tidak ada jadi

pertinggal di dunia ini. Nah, aku pun bermaksud begitu.

Penjudi yang kalah main, kalau mati tidak wajar menunjukkan

kuburnya agar tidak ada lagi tempat bagi mengunjungnya,

menagih hutang. Begitu pula agar tidak ada tempat bagi

sanak saudara, bagi anak yang masih kecil, tempat

mencampakkan segala penjelasan di atas pusaraku, karena

aku segala penjudi yang kalah, membuat hidup mereka

menjadi morat-marit." Waktu Lolom berkata, perahu sudah

mulai dikayuh

Ronggur dan Tio. Dan, waktu Lolom sadar bahwa kencang

perahu tambah tak dapat diikutinya lagi, walau dia sudah

berlari-lari di tepian, dengan pengap-pengap dia memohon:

"Ronggur, apa yang harus kuperbuat? Aku takut mati kalau

aku sendiri yang menghadapinya. Dan, kalian tidak mau pula

membawa aku serta, aku yang sudah rela mati. Hendak

mereka jadikan aku budak. Ronggur, kau dengarkah aku?"

ratapnya mulai meninggi, "sampai hatikah kau melihat aku

manjadi budak?"

Ratapan si Lolom yang tambah meninggi, membuat

Ronggur tertegun. Kembali dia berhenti mendayung.

Menyuruh Tio berhenti pula mendayung. Dia mencampak

pandang ke daratan. Matanya menyala merah. Tapi, dia

berusaha agar marahnya tidak meledak. Lalu, dia berkata

dengan kuat lagi tajam:

"Lolom, kau kawanku sejak kecil. Kau telah menghina aku.

Tapi, bagiku itu tidak mengapa. Untuk ikut serta dalam

perjalanan ini kau tidak boleh. Aku tidak bersedia

mengorbankan perjalanan ini pada nasib sial yang akan

menimpamu. Karena kau memang sengaja mencari kematian."

"Lantas, apa yang harus kuperbuat?" tanya Lolom pula

melanjut dan memotong cakap Ronggur.

"Kalau berjudi bagimu sangat baik. Agar kau tahu dan

menyadari bahaya main judi. Pesanku padamu, janganlah dulu

bunuh diri. Kelak aku akan membawa berita padamu bahwa

tanah habungkasan telah kutemui. Kau boleh pindah ke sana

dan kau kembali menjadi orang merdeka. Sekarang biarlah

dulu kau rasakan betapa sakitnya menjadi budak orang lain.

Agar kau tahu betapa nikmatnya mimpi akan kemerdekaan.

Dan, agar kau tahu, betapa berharganya sebuah

kemerdekaan, sehingga kau tidak mau lagi

mempermainkannya di perjudian."

"Begitu percaya kau Ronggur bahwa kau akan menemui

tanah habungkasan."

"Mimpiku telah mewartakan padaku. Dan perasaanku

selama ini, yang turut merasakan pahitnya derita seorang

budak, pahitnya perasaan diri sendiri justru harus membunuh

orang lain, karena orang lain itu pun ingin hidup lalu berusaha

menguasai setapak tanah, mempunyai setetes air parit telah

memaksa aku harus mencapai tanah habungkasan. Untuk bisa

terlepas dari belenggu itu, dari penjara perasaan yang

meracuni diri sendiri, semua terletak pada hasil perjalanan

ini."

"Dan, bila kau pun nanti turut menanggungnya, merasakan

pahitnya menjadi seorang budak, maka kau pun akan

mendoakan agar perjalanan ini memperoleh hasil seperti yang

diharapkan. Harapanmu terletak pada hasil perjalanan ini.

Agar kau bisa kembali menjadi seorang yang merdeka.

Bertobatkah, karena doa seorang yang tobat, sangat

didengarkan Mula Jadi Na Bolon."

Sebelum Lolom sempat mengatakan sesuatu, Ronggur

telah melanjutkan:

"Di samping itu, bila kau memang ingin berbakti,

wartakanlah pada orang semargamu bahwa anggapan mereka

akan perjalanan kami ini tidak benar sama sekali. Suruhlah

mereka bersiap menerima sebuah warta kebenaran. Yang

mungkin berbeda malah menantang kepercayaan yang

mereka anut selama ini. Agar tidak terguncang perasaan

mereka bila kelak menerima warta penemuanku atas tanah

habungkasan."

Ronggur dan Tio kembali mendayung. Dengan tercengang

Lolom melepas mereka. Dan, sesudah dia sadar bahwa perahu

Ronggur sudah menjauh dan melaju, kembali dia meratap dan

menangis. Tapi, disela tangis itu dia mengharapkan, agar

Ronggur dan Tio berhasil, sehingga dia bisa kembali menjadi

orang merdeka. Harapan masih ada walau masih begitu

samar, karenanya dia belum mau mati.

Perahu terus melancar. Bulan mulai memancar di langit

mencurahkan sinar ke bumi. Menjadi suluh bagi Ronggur dan

Tio mengikuti jalur sungai. Secara perlahan arus sungai mulai

terasa. Tanah datar yang terdiri dari tanah batu di kiri-kanan

sungai. Hanya satu-satu pepohonan tumbuh di tepian. Tidak

berdaun rindang. Meranggas.

Setelah merasakan bahwa mereka sudah cukup jauh dari

perkampungan, Ronggur mendaratkan perahu. Memilih

tempat bermalam. Si belang disuruh berjaga. Perahu

ditambatkan. Memang begitu selalu, selagi perahu dikayuh, si

belang kebanyakan tiduran. Kalau malam, dia yang berjaga, di

saat Ronggur dan Tio melepas lelah. Dan, bila pagi terbit lagi,

mereka akan melanjutkan perjalanan itu.

Setiap hari arus sungai tambah terasa. Dan, tetap

diperhatikan dan dipelajari Ronggur. Menurut keterangan

bekas Datu Bolon, bila arus bertambah deras, dia harus

bertambah hati-hati. Bila suara gemuruh air sungai berbantingan

ke dinding batu mulai kedengaran, dia harus mulai

mencari mulut gua yang diceritakan Datu Bolon, yang

menganga bergaya mau menelan.

Tekadnya harus bertambah bulat dan kukuh memasukinya.

Atau, memulai jalan darat. Karena itu, tidak jarang Ronggur

melengketkan telinga ke permukaan air, untuk merasakan

getar air. Dan, setiap Ronggur mengerjakannya sambil

memejamkan mata, setiap itu pula Tio memperhatikan dengan

sungguh-sungguh. Dan, hatinya bergoncang dalam dada. Bila

Ronggur kembali mengangkat kepala, Tio akan menarik napas

yang panjang, tapi diusahakan agar tidak kedengaran pada

Ronggur.

Pada hari selanjutnya, mereka telah tiba ke batas yang

boleh ditempuh manusia. Walau matahari tidak terik, dan

masing-siang, namun Ronggur mendaratkan perahu ke pinggir

sungai. Lalu menyuruh Tio menghidupkan api. Pertanda

mereka akan bermalam di sana.

Dia pergi ke tempat ketinggian, mendaki sebuah pundak

bukit, mengadakan peninjauan. Sejauh mata memandang

yang dilihat hanya batu padas saja. Sedang sungai seolah

terus menuju satu arah yang jauh, menerjang terus ke perut

bukit. Menembus bukit. Itulah mula gua yang diceritakan

bekas Datu Bolon. Arus sungai sudah cukup deras. Satu dua

batu jangkar sudah dijatuhkan Ronggur, agar kelajuan perahu

dapat dikendalikan.

Kembali dia ke tempat Tio, yang mencampakkan pandang

padanya, pandang yang meminta penjelasan. Tapi, Ronggur

tidak mengucapkan, sepatah kata. Kediam-diaman. Perasaan

masing-masing saling mengajuk nasib yang menanti mereka,

bila mereka mulai melewati batas itu besok pagi.

Ronggur dan Tio, pada pagi berikut melihat matahari

muncul dari satu kekosongan, tepat dari belahan jalur sungai.

Jadi tidak dari pundak Dolok Simanuk-manuk lagi, seperti yang

mereka kenal. Namun mereka meneruskan perjalanan juga.

Mulut tambah terkatup. Terus saja Ronggur mencampakkan

pandang ke kejauhan. Tetap meneliti keadaan. Wajahnya

bersikap menantang dan begitu tegang. Tangannya pasti

menggenggam ulu kemudi.

Mereka tidak perlu lagi mengayuh. Arus sungai sudah dapat

menghanyutkan perahu malah terlalu liar. Hingga batu jangkar

sudah tiga biji dijatuhkan. Telapak tangan Tio yang sudah

lecet dan keputihan, susut karana terus-terusan direndam air,

sekarang bisa mengasoh. Tangannya mengelus leher si belang

yang duduk di sampingnya. Dia mencari kekuatan hati dari

elusan itu. Atau, melontarkan perasaan yang tertekan.

Tapi, hari itu mereka tidak menemui sesuatu. Hanya arus

sungai yang bertambah kencang. Mereka masih selamat.

Walau sudah jauh melewati batas yang boleh didatangi

manusia.

Dikejauhan, bila diperhatikan benar, desiran arus sungai

kedengaran bangkit, mendesis. Dari jalur sungai dikejauhan,

bulan muncul. Menyinari kiri-kanan sungai yang tidak punya

tanda kehidupan. Tandus dan kosong. Bila mereka mendarat

ke pinggiran lagi, mereka temui sebuah lobang alam pada sisi

sungai yang agak tinggi, terbuat dari batu alam. Lobang yang

bersisi berlantai dan beratap batu. Dalam lobang, tidak seperti

lobang alam yang pernah mereka temui, tidak ada sepenggal

kayu atau bekas api. Tidak pernah didatangi manusia

layaknya. Dingin. Buru-buru Tio menghidupkan api. Beberapa

potong kayu diangkutnya dari perahu. Nyala api menari-nari di

dinding batu, di atap batu.

Tengah malam. Awan hitam merayap dan menjalar, lalu

menutupi wajah bulan. Keadaan sekitar menjadi pekat. Angin

kencang datang dari hulu sungai. Membangkitkan riak yang

tidak dapat dikatakan kecil, cukup gelisah permukaan sungai.

Satu-satu halilintar mengkilap membelah bumi. Diiringi suara

guntur yang mau memecahkan segala, menyengkak. Si belang

mendekat pada Tio. Memanaskan diri dekat api. Bersabung

halilintar dan guruh, hujan turun seperti dicurahkan dari

langit. Permukaan sungai naik. Riak sungai menjadi besar dan

tambah gelisah. Seperti marah karena ada orang yang berani

berlayar melewati batas yang sudah ditentukan.

Dalam saat begitu, perubahan alam begitu rupa

menimbulkan prasangka dalam diri, yang menumbuhkan

berbagai ragam anggapan, pertanda mula kecelakaan yang

akan menimpa diri. Semuanya serba asing dan menakutkan,

atau semua serba seperti menakut-nakuti. Ronggur pergi ke

tepian sungai memperkokoh ikatan tambatan perahu. Lantas

pergi ke atas gua alam itu, menatap ke sekitar. Kepekatan

menyeluruh menelan segala. Kekelaman yang abadi. Baru

beberapa saat yang lalu, keadaan udara cukup terang

benderang oleh sinar bulan yang nyaman.

Begitu cepat suasana alam berubah. Beberapa saat dia

berdiri di sana, memperhatikan sekitar dan mempelajari arah

dan mata angin yang menggalau. Tio yang tepat berada di

bawahnya, tidak mengetahui bahwa Ronggur tepat berada di

atasnya. Dipisah langit-langit gua yang terbuat dari batu alam.

Kulit tangannya masih tetap pucat dan menyusut.

Selagi Ronggur tidak ada dekatnya, dia merasa sepi atau

merasa takut. Dia selalu begitu, walau dia tahu Ronggur tidak

pergi jauh. Dia merasa lebih tenteram bila Ronggur di

dekatnya, walau tidak mengatakan sesuatu, selain hai yang

penting saja. Seperti: "Besok pagi kita melanjutkan perjalanan

sebelum matahari terbit. Tidurlah, selimuti dirimu dengan kulit

binatang berbulu. Biar terasa panas."

Mendengar cakap yang sepenggal itu saja, sudah

melonggarkan perasaan tertekan. Dan, dia tidak akan

menyahut, tapi melaksanakan yang dimaksudkan Ronggur.

Malam itu Ronggur agak lama baru kembali. Perasaan sak

wasangka tambah mencekam diri, karena dia tahu bahwa

mereka sudah berada di daerah yang berbahaya, daerah yang

belum pernah dimasuki manusia. Tio bangkit dari duduknya.

Dengan membungkuk dia menuju mulut gua. Hendak melihat

ke mana Ronggur pergi atau di mana Ronggur berada. Tapi,

ketika itu juga, tubuhnya tertumbuk ke tubuh Ronggur yang

berdada telanjang. T io terpekik karena terkejut. Lalu mundur.

Ronggur tersenyum, lalu mengatakan, "Pergilah tidur. Tidak

apa-apa. Besok, bila badai telah teduh, kita akan meneruskan

perjalanan."

Tio malu akan ketololan dan ketakutannya. Dia menyesali

diri kenapa dia harus terpekik. Dari goleknya dia melihat

Ronggur mengeringkan tubuh. Telapak tangan ditelempapkan

ke tubuh, lalu dikaiskan. Butiran air berjatuhan. Kemudian

Ronggur berjongkok dekat api. Mendekatkan telapak tangan

ke jilaman api. Begitu dekat hingga Tio yang melihatnya

merasa ngeri, kalau tangan itu akan hangus terbakar. Tidak

disadarinya matanya dapat ditangkap pandangan Ronggur.

Sambil memalingkan pandang Ronggur berkata, "Kau belum

tidur juga? Belum mengantuk?"

Tio menyurukkan kepala ke bawah kulit binatang. Dalam

hatinya dia merasa geli atas kelakuan Ronggur, Sedang

Ronggur merasa geli pula atas kelakuan Tio yang

menyurukkan kepala ke bawah selimut buru-buru, yang

dengan sendirinya kakinya menjadi telanjang. Kulit binatang

itu tidak cukup panjang untuk menyelimuti tubuhnya

sekaligus. Ronggur tersenyum, seperti Tio sendiri, tersenyum

di bawah selimut kulit berbulu.

Di luar hujan, angin, kilat, dan guruh masih bersabung. Si

belang sekali ini sudah tertidur. Permukaan sungai menaik,

riak sudah membesar sudah menyerupai ombak danau.

Namun perasaan keadaan sekitar, dia tahu, air tidak mungkin

menggenangi mulut gua di mana mereka berada. Dia

menggolekkan diri. Suara mendesis yang bersumber dari

sungai itu sangat menyayat atau menyengat pendengaran.

Suara yang timbul atau seolah datang dari dunia jauh, dunia

lain. Ronggur menutup kedua belah kupingnya, memejamkan

mata dengan paksa.

Cahaya putih sudah menerobos dari mulut lobang waktu

Ronggur membuka mata kembali. Api sudah padam. Dalam

gua menjadi dingin kembali, angin yang bersabung dan hujan

yang menderu di luar belum henti.

Tapi, sudah mulai melemah. Desis lidah air masih terus

mengganggu pendengaran. Waktu kepalanya dijulurkan dari

mulut lobang untuk mengetahui keadaan cuaca, dia pun tahu,

bahwa cuaca masih tetap seburuk kemaren. Walau matahari

sudah terbit dan agak tinggi, namun bias cahayanya tidak

dapat menembus awan yang bergumpal dengan sempurna.

Dengan malas Ronggur kembali masuk ke dalam lobang.

Membaringkan diri. Tio belum bangun. Juga si belang. Malah

menggulungkan tubuhnya sampai bengkok untuk melawan

dingin. Didengarnya kelepak lemah di langit-langit gua.

Tambah lama tambah banyak. Matanya diliarkan menatap

langit-langit. Kelepak itu berasal dari lobang-lobang kecil yang

banyak di langit-langit gua. Perlahan dia bangkit, takut kalau

kelepak lemah itu henti. Dia mendekati salah satu lobang

kecil.

Heh, pikirnya. Di sini banyak kampret. Enak dimakan. Lalu

dia mengambil sebatang kayu. Dengan kayu itu, dicoloknya

tiap lobang. Kampret berjatuhan. Patah sayap. Asik dia

dengan pekerjaannya. Merasa bersyukur, justru karena dia

tahu, daging kampret enak dimakan.

Di samping itu, lalu dia dapat memastikan bahwa sesuatu

yang bernyawa masih ada di sana. Kampret itu ditumpukkan.

Tidak tahu dia Tio sudah bangun. Terus menghidupkan api.

Menjerangkan air yang ditampung dari pinggir sungai. Waktu

nyala api meloncat-loncat dan menari-nari di dinding gua,

Ronggur berpaling. Tio tersenyum tapi tertunduk.

Disambutnya juga senyum itu, lalu: "Di sini banyak kampret.

Bakarlah. Enak juga dimakan."

Kampret itu mereka panggang, langsung dengan bulunya.

Cepat benar sudah masak. Sambil meneguk air simar palia

yang pahit kental lagi panas, rasa dingin dan kantuk cepat

menghilang, mulut mengunyah daging kampret yang manis.

Bila angin dan hujan reda, mereka akan meneruskan

perjalanan. Yang terasa tidak punya akhir dan ujung.

Ingatan Ronggur cepat meloncat. Cepat dia mengaju

tanya: "Tio, di mana kau bikin pundi-pundi tempat bibit itu?

Sudah berapa hari tidak kulihat."

Tio memegang pinggangnya yang agak menonjol. Pundipundi

itu diikatkan di pinggangnya. Tio menjaga bibit itu

dengan baik. Bibit pertama yang akan mereka tanam di tanah

habungkasan. Atau, padi yang bisa mengurangi rasa laparnya

bila mereka memang jatuh ke ujung dunia. Jajan arwahnya

dalam perjalanan menghadap Mula Jadi Na Bolon.

"Kau menjaganya dengan baik kalau begitu." kata Ronggur.

Tio menundukkan kepala, Ronggur menyambung: "Teruskan

jaga baik-baik. Bila angin dan hujan teduh, kita meneruskan

perjalanan. Di tanah habungkasan yang kita tuju, bibit itu

sangat penting dan perlu bagi kita. Jangan sia-siakan.

Teruslah jaga baik-baik."

Cakapnya punya kepastian seolah mereka akan menemui

tanah habungkasan yang dimimpikan. Tio diam saja

mendengarkan. Padanya, menemui tanah habungkasan atau

menemui ajal, sekarang telah menjadi sama. Dia telah

menunjukkan kesetiaan sebagai budak pada tuannya. Atau,

dia sebagai perempuan, telah menunjukkan kesetiaan hingga

berani pergi ke mana saja, bersama seorang lelaki yang

dipercayainya kejujuran dan keberaniannya. Dan, dia telah

berani memilih perjalanan tanpa nasib, meninggalkan nasib

yang malarig di belakang. Itu saja pun baginya cukuplah.

Karena itu dia hanya menelan air liur mendengar omongan

Ronggur yang punya kepastian itu.

Cahaya yang menerobos ke dalam gua tambah terang juga,

berangsur secara perlahan. Angin tambah melemah dan hujan

sudah mulai teduh. Tapi, desis air yang menyayat

pendengaran itu tetap juga. Ronggur dan Tio bersama si

belang cepat-cepat meninggalkan gua, lalu memulai

perjalanan lagi. Menyusuri sungai. Si belang menggoyangkan

tubuh, membuang butir-butir air yang melengket pada

bulunya. Dia melengking kecil, atau suara lengkingan itu

tersekat dalam kerongkongan.

Perubahan pada kedua tepi sungai tambah nyata, tambah

beda dengan tepian sungai yang sudah mereka lewati. Air

sungai terus menerus mengarah ke satu bukit yang seolah

tegak berdiri, terhunjam ke dada bumi, menghadang sungai.

Tapi, air terus menerobos.

Tepian sungai menjadi tambah tinggi juga, terbuat dari

batu alam yang hitam. Tambah lama tambah berbentuk

semacam terowongan. Itulah gunung Batu yang diterobos air

sungai yang arusnya bertambah deras. Air yang

bertemperasan ke dinding tepian batu, berdesis dan muncrat

ke sana kemari. Gelisah tidak pernah henti. Sudah lebih dari

lima batu jangkar dijatuhkan Ronggur, namun kelajuan perahu

terus bertambah kencang. Seperti tidak terkendalikan.

Pendengaran terus dipertajam Ronggur, namun suara

gemuruh belum ada kedengaran. Karena, pikir Ronggur, bila

air sungai jatuh ke akhir dunia, tentunya menimbulkan suara

gemuruh yang dahsyat. Karena itulah, dia masih meneruskan

penyusuran itu. Bahaya, atau ujung dunia, masih jauh. Atau,

mula dari impiannya, tanah subur yang landai.

Batu jangkar sudah tujuh buah dijatuhkannya. Tali

temalinya bertegangan diseret perahu. Dan, kelajuan perahu

terus bertambah. Tapi, dapat dikuasai karena dibantu batu

jangkar itu. Bila arus bertambah kencang, batu jangkar terus

dijatuhkan. Begitu seterusnya. Melanjutkan perlawanan

terhadap arus sungai yang setiap saat bertambah kencang

juga.

Pancing yang diumpankan Tio tidak pernah lagi mengenal

Ikan bertambah jarang atau memang tidak ada sama sekali.

Ronggur hanya tinggal menunggui kemudi. Kelokan sungai

yaitu patah tambah sering mereka temui. Dan pada setiap

akhir kelokan riam sungai teap ditemui. Pada tiap riam, air

sungai gelisah warna putih melambung ke atas. Pada riam

yang lebih curam, walau dinding perahu sudah tinggi dibuat,

bisa juga temperasan masuk ke dalam perahu. Tio cepat

menimbanya, membuangnya kembalinya ke sungai. Dan,

terkadang wajah Ronggur sendiri disembur air, yang terus

memegang kemudi, tanpa mau melepaskan seketika saja pun

selagi perahu terus berlari dibawa arus.

Tepian sungai yang terbuat dari batu alam bertambah

tinggi juga. Pada puncaknya yang masih bisa dijangkau mata

tidak ada sesuatu yang tumbuh, selain dari tumbuhan kerdil

yang tidak berdaun hijau. Begitu curam dinding batu itu. Ada

kalanya sinar matahari seperti tidak sampai pada permukaan

sungai karena disungkup kedua dinding batu yang bertemu

puncaknya. Air sungai menjadi lebih dingin dan hitam. Sekitar

menjadi taram-temaram.

Mereka tidak bisa lagi dengan leluasa melihat matahari.

Membuat mereka terkadang tidak dapat mengetahui

peredaran waktu dengan pasti. Dan, keadaan begitu

bertambah jauh menyusuri sungai, bertambah memanjang.

Namun mereka tetap berlayar. Sebuah kata pun tidak ada

yang diucapkan. Mata terus-terusan ditancapkan ke depan.

Segala perasaan dikerahkan meraba yang menanti di

depan. Air yang bertemperasan pada dinding batu tambah

mendesis dan menyayat pendengaran. Tahulah Ronggur suara

desisan air yang menyayat pendengaran itu, bermula dari air

yang bertemperasan ke sisi sungai dan lebih hebat pada salah

satu tikungan. Celah dinding sungai di atas bertambah kecil

juga. Seperti mereka berada dalam satu lembah yang sempit

diapit kedua sisinya yang tinggi.

Arus sungai terus menerus bertambah kencang dan tambah

menggila. Air membiru sudah seperti menghitam. Sudah lebih

sepuluh batu jangkar yang mereka jatuhkan. Kelanjutan

perahu terus juga menggila. Air seperti membulat. Dari warna

biru permukaan yang sudah menghitam itu, tahulah Ronggur

bahwa sungai amat dalam.

Suara air yang bertemperasan ke dinding batu, terus

menerus mengisi pendengaran, terasa sangat membosankan.

Terlebih pula tidak ada yang menyelingi. Begitu menyiksa

terasa. Biarpun dia tahu bahwa sungai sangat dalam, tapi

pada tikungan yang dilalui terkadang ada juga batu muncul ke

permukaan air, menghadang. Mereka harus hati-hati

melewatinya. Bila terdampar ke sana, perahu akan pecah

remuk, dan nasib sudah teraba bentuknya. Air yang

bertumbukan dengan batu mencuat itu menjadi gelisah dan

liar. Bertemperasan. Tidak sedikit terlempar ke dalam perahu.

Perut perahu menjadi tergenang air. Tio harus cepat

menimbanya. Peralatan mereka menjadi basah. Dada dipukul

detak hati yang tambah mengencang. Tapi, wajah Ronggur

terus menantang ke depan. Meneliti dan menduga sesuatu

yang sedang menanti.

Mereka tidak ada lagi menemui gua alam. Begitu pula

tepian sungai yang landai, jadi, kalau cahaya yang menerobos

dari celah dinding sungai di atas itu melemah, mereka hanya

bisa menambatkan perahu ke salah satu tungkul batu yang

mencuat. Mereka lalu tidur dalam perahu tanpa unggun api.

Selain kayu bakar tidak ada, menghidupkan api dalam perahu

berarti bunuh diri. Karena itu, mereka harus menahan dingin

malam yang menyiksa.

Tio di hulu perahu Ronggur di buritan, di tengah si belang.

Dalam saat begitu, pandang mereka sering ketemu. Cepat

dipalingkan. Tidak mereguk air panas lagi di pagi hari. Hanya

air sungai yang dingin diteguk sehabis cuci muka. Tio

menyelimuti diri dan juga si belang, yang selalu mendekat

padanya dengan lengkingnya yang tersekat dalam

kerongkongan.

Dan, mereka akan meneruskan perjalanan lagi, menempuh

jalur sungai yang tidak dapat teraba, ke mana diri akan

dibawanya, bila utusan cahaya kembali menerobos celah

dinding sungai di atas itu.

Bila temperasan air yang melemparkan air ke perut perahu

tidak ada, yang berarti pekerjaan Tio tidak ada, dia selalu

melemparkan pandang ke depan dan menggunakan segala

perasaan. Begitu pula Ronggur yang berada di buritan perahu.

Tikungan bertambah sering ditemui. Arus sungai tambah

menggila. Dinding sungai bertambah tinggi dan tandus.

Suasana tambah menekan. Jiwa tambah terasa dihantam

habis-habisan.

Tio tidak terus-terusan atau tidak tekun lagi menatap ke

depan saja. Sudah sering dia berpaling ke belakang menatapi,

Ronggur. Tapi, Ronggur seperti tidak melihatnya. Mata

Ronggur terus memandang ke depan. Walau terkadang hanya

tertumpu ke dinding batu pertanda sebuah tikungan.

Terkadang Tio berdiri meregangkan tubuh yang kaku, tapi

cepat saja Ronggur menyuruhnya agar duduk kembali. Agar

tatapannya tidak terhalang. Atau, agar kepala Tio tidak

tersangkut pada salah satu lingkungan dinding sungai yang

terkadang begitu rendah.

Mulanya sangat lemah sekali. Tambah lama tambah nyata.

Wajah Ronggur agak pucat juga dibuatnya. Bibirnya

gemetaran. Tio tertunduk. Arus sungai menggila Batu jangkar

sudah lebih duapuluh biji dijatuhkan. Namun perahu seperti

diseret dan dilarikan setan saja kencang nya. Suara yang

lemah itu, yang bangkit di depan itu, tambah nyala:

mengguruh. Mengancam nadanya, mengancam siapa saja

yang berani mendekat. Namun Ronggur belum mendaratkan

perahu. Dia masih meneruskan pelayaran.

Urat saraf Tio seperti lumpuh karena terus-terusan ditekan

suasana ketegangan. Walau air tidak tertumpuk pada salah

satu batu yang mencuat di permukaan sungai, namun riak air

sudah seperti gelombang. Pecah. Memercik ke sana ke mari.

Banyak terlempar ke dalam perahu. Tapi, Tio tidak bisa lagi

menimbanya. Perahu terangguk-angguk dan tergoncang.

Tiba-tiba saja biasan cahaya mencurah ruah, celah dinding

melebar di atas. Tapi, tingginya alangkah jauh lagi curam.

Seperti tidak terdaki layaknya. Ronggur menatap ke depan

dan pendengarannya terus dipertajam. Suara gemuruh di

depan tambah jelas. Tiba-tiba saja Tio menghantamkan

tangan ke haluan perahu, sambil berteriak:

"Ronggur, mendaratlah. Apakah kau mau bunuh diri?"

Berbaur akhirnya dengan suara gemuruh di depan dan

desis air dan suara riak sungai yang menari gila. Namun

Ronggur tidak memperdulikan atau tidak mendengarkan.

Matanya sebentar melihat ke kiri dan ke kanan, cepat bertukar

tempat. Lalu terus ke depan. Begitu liar. Suara gemuruh itu

seperti suara dari sesuatu benda yang jatuh ke satu tempat

yang amat dalam.

"Ronggur, kau tidak mendengarkan aku? Mendaratlah ke

tepi. Jangan teruskan lagi mengikuti sungai. Tidak dengar

suara gemuruh yang mengancam itu?"

Masih tidak diperdulikannya. Tio terus menjerit,

melengking. Dalam jeritannya sering dia memanggil nama

almarhum ayah bundanya. Sering dia menyebut nama dewata,

memohonkan ampun atas keangkuhan mereka berdua. Yang

telah berani menantang ketentuan dewata. Dengan tidak

berapa dikuasaiya pula, meledak teriakan panjang dari

mulutnya:

"Ronggur, dengarlah aku. Aku cinta padamu . . . ." lalu

tangisnya berkepanjangan, "Ronggur, jagalah dirimu, diri kita

berdua . . . ."

Perahu tambah dalam dan kuat anggukannya. Dan,

Ronggur mengangkat kepala mendengar jeritan Tio itu, yang

meledak dari dasar hatinya.

Air sungai tambah membulat dan berlari kencang, dulu

mendahului riaknya. Tiba-tiba saja tangan Ronggur

mengayunkan tali ke dinding sebelah kanan. Talinya tetap

sangkut pada sebuah gundukan batu yang mencuat agak

panjang dan besar, kokoh tertanam. Dapat dipercaya. Dinding

sungai agak landai tapi tetap mendaki ke atas.

Sewaktu Tio merasakan bahwa perahu mereka tergoncang

kuat karena ada yang menarik dan ada yang menahan, dia

mengangkat kepala. Kedua pelupuk matanya, pipinya basah

kuyup oleh air mata. Perahu sudah tertambat dan sudah

terhenti walau arus sungai berusaha melarikannya. Dia

menatapi Ronggur dengan biji mata yang tergenang air mata,

isaknya belum henti.

"Hapuslah mata dan pipimu," kata Ronggur. "Keringkanlah.

Aku tidak sanggup melihat mata yang digenangi air

mata yang bening. Kita masih harus menempuh perjalanan

yang jauh. Kau lihat dinding sebelah kanan itu? Kita harus

mendakinya ke atas. Supaya kita dapat tahu yang ada di

depan. Kita harus meninjau dari sana. Tapi, sebelum itu,

kuatkan dulu hatimu bahwa kau sanggup mendakinya. Marilah

dulu makan daging kering. Biar kita punya tenaga. Kemudian

bambu itu isilah dengan air. kita memerlukan air barangkali di

atas sana. Mungkin tidak ada air di sana."

Tio mengerjakan semua yang dimaksud Ronggur. Sedang

Ronggur tambah memperkuat tambatan mengikat

pinggangnya dengan tali, sedang ujung satu lagi dibebaskan,

dan sebuah gulungan lagi disandang, dia mulai mendaki. Tapi,

cepat dihentikan Tio dengan teguran, "Si belang bagaimana?"

"Biarlah tinggal dulu di perahu. Kita perlu mengadakan

peninjauan. Atau, kita memang sudah harus mendarat di sini.

Kau perlu turut ke atas agar ada nanti yang menarik

peralatan-peralatan kecil ke atas. Aku akan turun lagi.

Mengikat peralatan itu dan membawa si belang ke atas."

Di pinggangnya diselipkan penggada dan kampak

digenggam. Tio membelitkan bungkusan yang berisikan bekal.

Lebih dulu dielusnya leher si belang, baru dia mendarat.

Tajam lidah batu alam seperti menusuk telapak kakinya, yang

sudah beberapa hari basah saja. Si belang menggonggong

kecil, lehernya digoyang-goyangkan.

Ronggur maju menanjak sambil terus membuat semacam

anak tangga pada batu padas. Tidak vertikal. Agak mencong

jalannya tapi terus mendaki setapak demi setapak. Tio

memegang ujung tali satu lagi yang ujungnya dikaitkan pada

pinggang Ronggur sebagai pegangan. Supaya ada tempatnya

bergantung kalau dia tergelincir. Atau, tali itu bisa ditahannya

kalau Ronggur sendiri yang tergelincir. Tangga demi tangga

dibuat Ronggur dan didaki, yang terus diikuti Tio. Suara yang

menakutkan dan mengancam itu terus bergema. Terkadang

Tio menatap ke bawah melihat perahu mereka yang

terangguk-angguk, di perutnya si belang menatap ke arah

mereka sambil menjulur lidah.

Kemajuan pendakian itu lambat sekali. Namun tetap pasti.

Mereka sudah di pertengahan pendakian. Dari sana sudah

dapat kembali mereka tatap keluasan langit, yang untuk

beberapa hari lamanya tidak mereka lihat. Tak ubahnya

mereka seperti baru keluar dari satu lobang alam yang kelam

lagi sunyi, yang tidak memberi kesempatan pada mereka

untuk menatap keluasan langit. Walau sinar matahari

melemah, namun merasa lemah juga mata menatap yang

sudah sering ditatap tapi yang buat beberapa hari tidak

ditatap. Tapi, keadaan tetap sunyi. Tidak ada pertanda

kehidupan.

Yang ada hanya gemuruh yang menakutkan, yang

mengancam, tidak memberi kegembiraan. Dan arah matahari

dan lemahnya sinar, Ronggur tahu, hari sudah sore. Sebelum

gelap mereka sudah harus sampai di puncak. Karena itu, dia

sering membesarkan hati Tio, agar bisa lebih mendaki

tanjakan.

"Sebentar lagi, sebentar lagi," selalu katanya, "kita sudah

sampai ke atas. Tidak jauh lagi. Teruslah mendaki. Tapi, hatihati,

agak licin di sini."

Mereka harus bercakap kuat-kuat. Tidak bisa perlahanlahan,

agar dapat ditangkap pendengaran. Keringat meleleh

dari tubuh masing-masing. Seperti memancur. Sudah cukup

haus Tio, namun Ronggur melarang meminum air sekali

banyak-banyak.

Betapa bersukur hati Ronggur, waktu tangannya sudah

dapat menggapai puncak yang dituju. Tapi, perasaan lega itu

tidak lama mengisi ruang dada.

Setiba di puncak, tahulah mereka yang ditemui, hanya

sejalur batu tandus dan di sana-sini berlidah tajam. Di kanan,

lembah putih, seperti diselaputi sesuatu dan tidak punya dasar

tampaknya. Di sebelah kiri, lembah yang dasarnya sungai

yang menggila arusnya. Ke arah depan dan belakang, jaluran

batu padas yang lebarnya hanyalah barang sedepa. Tidak

lebih.

Itu pun tidak jauh-jauh ditatap, karena ada sesuatu yng

menyungkap, putih kental seperti kabut. Atau, awan rendah.

Tidak bertepi dan tidak bermula. Angin meniup. Penemuan ini

membuat hati terpukau. Di depan sekali suara mengguruh itu

menanti.

Matahari memancarkan sinar kemerahan yang lemah, tidak

mampu menembus keputihan yang mengental.

Tidak ada satu suara pertanda kehidupan, tapi suara yang

mengancam kehidupan dengan liar mengguruh di depan.

Berlagak mau melumpuhkan dan mematikan tekad hati yang

sepadu-padunya.

Tio lantas saja memeluk tubuh Ronggur dengan gemetar.

Gigi gemelatukan. Tubuh menggigil. Ronggur membiarkan.

Karena dia pun seperti kehilangan semangat. Tekad hati yang

padu menjadi cair. Satu sama lain tidak bisa mengeluarkan

pendapat. Bisu. Senja tambah samar, cepat kelam. Tidak

berapa lama tari warnanya menghias langit.

"Kita akan mati lemas di sini," kata Tio pelan sekali.

Ronggur menoleh kepadanya seenak tanpa mengatakan

sesuatu. Pada sinar matanya, tidak ada lagi sinar cahaya

percaya diri. Mati. Namun tanpa bicara, dia membimbing

tangan Tio, bergerak ke depan perlahan-lahan. Geraknya

seperti gerakan yang bermula dari kedalaman. Melangkah

begitu saja, sempoyongan, tanpa percaya diri. Melangkah

berserah diri.

Sesekali mereka hendak tergelincir jatuh ke bawah, ke

jurang tanpa dasar. Karena, jalannya begitu licin. Ronggur

berjalan di depan. Tio di belakang, menggenggam tali lebih

kuat dan begitu dekat di belakang Ronggur. Dia gamang.

Lidah batu yang tajam menusuk telapak kaki. Terasa ngilu.

Mereka terus melangkah.

Sesayup sampai, salak si belang dari dasar sebelah kiri

kedengaran. Seperti mengantar mereka ke tempat tujuan

akhir. Dapat juga mereka temui tempat yang agak luas sedikit,

sekira tiga empat depa luas jaluran di sana. Mereka

memutuskan untuk bermalam di sana. Tidak ada yang dapat

dibakar. Sekeliling begitu dingin membeku. Tio tidak berani

jauh-jauh dari Ronggur.

Sebelah atas mereka, awan rendah menyungkap. Mereka

rasakan langit begitu dekat. Tidak tampak bintang atau bulan.

Awan rendah menyungkap semua atau memang langit begitu

rendah. Tambah lama menjadi hitam. Kental. Berlagak mau

menyelimuti segala. Sampai payah bernapas. Ronggur tidak

dapat tidur walau tubuh cukup capek dan payah. Semalaman

matanya terus terbuka.

Pada satu saat angin bertiup dari arah depan. Butiran air

halus memerciki tubuh mereka, dipikirnya hujan turun. Suara

gemuruh, desis air sungai yang bertemperasan ke dinding

sungai, lagu tunggal yang abadi, tapi menakutkan.

Melumpuhkan perasaan yang ada dalam diri. Lagu kematian

yang hendak mengantarkan para arwah ke tempat abadi,

dunia jauh lagi as ing.

"Apakah hujan?" tanya Tio.

"Aku tidak tahu. Tapi, kita sudah basah. Air begitu tipis.

Tidak pernah hujan begini tipis."

Kembali mereka diam. Akhirnya dapat diketahui Ronggur,

Tio jatuh tertidur sambil menggulungkan atau melipatkan

kakinya dekat ke dadanya, melingkar.

Ronggur terus membuka mata. Berusaha mengikuti

perobahan alam kalau memang perobahan itu ada. Lama-lama

hitam pekat itu beralih pula. Seperti ada utasan cahaya putih,

tapi begitu lemah. Sekitar, sekira empat lima depa, dapat

kembali ditatap. Tapi, sampai di situ saja. Lagi-lagi Tio

mengaju tanya, "Apakah sudah pagi?"

"Aku tidak tahu, Tio. Tapi, kepekatan yang menghitam itu

sudah kembali agak memutih. Namun mata hanya dapat

menembus sekira empat lima depa saja."

"Barangkali kita sudah terjebak," kata Tio pula.

"janganlah berkata begitu. Tapi, tetaplah waspada,"

katanya menasihati walau diri sendiri bimbang. Ada juga

dirasakannya kebenaran yang diucapkan Tio itu.

"Ke mana lagi kita harus pergi?" tanya Tio pula.

"Tabahlah," sahut Ronggur. "Sekalipun kita harus kembali

ke tempat asal, ke tempat Mula jadi Na Bolon, tapi marilah

dengan tabah mendekatinya."

Tio terdiam. Sedang Ronggur setelah dicekam habishabisan

oleh perasaan takut, akhirnya muncul kembali, secara

berangsur, kepercayaan akan diri sendiri. Kemurnian cita yang

digenggam kembali memberi suluh pada keyakinan. Bilapun

Mula Jadi Na Bolon murka, tapi dengan alasan kenapa dia

harus mengarungi Sungai Titian Dewata, tentu dapat

melembutkan hati Mula Jadi Na Bolon yang pengasih

penyayang itu, pikir Ronggur.

"Kalau kita surut, tentu tidak bisa melawan arus yang

menggila," kata Tio pula.

"Ya, aku tahu," sahut Ronggur, "kita tidak bisa lagi

menempuh jalan sungai."

"Kita terjebak di s ini."

"Tidak terjebak. Tapi, kita telah melaksanakan tugas

kehidupan. Marilah tabah menerima upahnya, ganjarannya,"

bujuk Ronggur.

Tio terdiam. Beberapa saat kembali hening. Ronggur

mencampak pandang ke sebelah kiri, mencari tangga yang

dibuatnya semalam. Kembali dia teringat pada si belang, pada

perahu, pada peralatan yang masih tinggal di sana. Lalu

diputuskan, dia harus menjemput si belang dan peralatan

serta perahu itu kembali.

Kalaupun ajal tiba, dia mau menghembuskan napas dengan

tenang di perut perahu itu. Perahu itu seperti rumah dan

tempatnya terakhir. Dengan perahu itu dia akan mendatangi

tempat Mula Jadi Na Bolon. Semua peralatan itu akan menjadi

saksi di depan Mula Jadi Na Bolon, tentang tujuan citanya.

Dia mulai menuruni anak tangga yang dibuatnya semalam.

Tio memegang ujung tali di atas. Bila perintah datang, melalui

goyangan tali yang digoncang Ronggur, Tio mengulurkan tali

lebih panjang. Sesampai di bawah, Ronggur mengikat

peralatan kecil. Dengan berteriak sekuatnya, sekerasnya,

disuruhnya agar Tio menarik.

Tio menarik. Kemudian menjatuhkan tali lagi ke bawah.

Ronggur mengikat perahu baik-baik. Mengisi air pada bambu

tempat air yang dilobangi ruasnya, tapi ruas sebelah bawah

tidak dilobangi. Air bisa tersimpan baik di sana. Kemudian

dituntunnya si belang. Kembali dia mendekat ke atas. Merabaraba.

Terkadang harus digendongnya si belang. Si belang

seperti tahu marabahaya yang sedang mereka hadapi. Dia

menuruti segala petunjuk Ronggur dengan baik.

Setiba dipuncak, bersama dengan Tio, ditarik mereka

perahu ke atas. Perlahan-lahan agar tidak terbanting ke tebing

bukit batu, yang bisa membuat perahu pecah. Mereka

masukkan semua barang bawaan ke perut perahu. Tapi,

kampak terus digenggam, sedang di pinggang menyelip

panggada. Dia tambah yakin lagi pada diri sendiri. Perjalanan

itu tidak boleh surut dan tidak boleh henti. Harus terus maju.

Sampai tiba ke tempat yang menentukan.

Diputuskan akan terus mengikuti jaluran batu yang tidak

berapa luas itu ke depan. Ronggur di depan. Tio di belakang.

Mereka pikul perahu, jalan sempit terkadang, luas terkadang.

Keadaan masih tetap sama. Hanya beberapa depa dapat

ditembus pandang. Kabut tebal atau awan rendah

menyungkup segala dengan putihnya yang padu.

Tambah maju ke depan, suara gemuruh itu bertambah

jelas. Dan, alas yang mereka pijak seperti mempunyai getaran

kecil. Digoncang sesuatg tenaga yang maha kuat dan dahsyat.

Membuat hati kembali tertekan. Namun dengan tabah serta

keberanian yang bangkit perlahan-lahan, Ronggur terus

memelopori perjalanan rombongan yang kecil itu. Menuju

tempat yang menentukan, mimpinya benar atau memang

mimpi itu godaan setan jahat. Si belang mengikuti langkah

Ronggur, dekat sekali di belakangnya. Si belang tidak berani

mendahului ke depan. Tidak menggonggong. Hanya

melengking kecil.

Cahaya putih yang lemah itu menjadi tambah lemah lagi.

Keadaan sekitar kembali menghitam. Ruang hampa. Kembali

mereka mencari tempat istirahat. Air tipis halus itu, sudah

terus-terusan menghambur dari asalnya yang tidak tahu di

mana.

Ronggur mengosongkan peralatan mereka dari perut

perahu. Kemudian, perahu dibalikkan. Disuruhnya Tio dan si

belang berondok ke sana, agar tidak terus-menerus diperciki

air tipis. Dia sendiri tetap di luar. Tidak hentinya melihat

sekitar, walau yang dapat ditembus pandang hanya beberapa

depa saja.

Dingin mencekam. Ronggur tidak tahu, Tio menggigil juga

dalam sungkupan perahu, kedinginan. Wajah dan bibirnya

menjadi pucat. Tapi, Tio tidak mau mengatakan. Tidak ada

sumber panas yang bisa menyamankan sedikit.

Kembali warna putih yang lemah itu mendatang dari segala

arah. Tapi, begitu lemah. Kembali mereka melanjutkan

perjalanan, mengikuti jaluran setapak itu. Keadaan cuaca

masih tetap seperti semula. Terkadang jaluran itu mendaki,

tapi terkadang menurun, untuk mendatar lagi. Jalanan

bergelombang. Terkadang melurus, tapi tidak jarang

memenggok ke kiri dan ke kanan.

Mereka mengikutinya dengan tabah. Tapi, harus lebih hatihati,

jalanan bertambah licin. Air tipis tambah tetap

berhamburan dari sumbernya. Suara gemuruh di depan yang

membosankan itu, tetap mengguruh. Si belang tidak berani

lagi berjalan sendiri. Dia harus dimasukkan ke perut perahu,

didukung. Beban bertambah berat. Di saat tubuh mulai

melesu. Di saat kepercayaan terakhir mulai merenggang dari

tubuh Tio.

Sambil mengisak, Tio meminta, agar mereka menghentikan

perjalanan. Dia mendudukkan diri begitu saja. Tempat itu

agak luas sedikit. Sehingga mereka bisa agak leluasa sedikit

bergerak. Namun harus tetap hati-hati. Karena basah, licin.

"Ada apa Tio?" tanya Ronggur sambil mendekat. Tio

menundukkan kepala. Mengisak terus. Wajahnya memucat.

Bibirnya gemetar. Dingin. Sambil duduk di depan Tio, Ronggur

mencari dagunya. Diangkatnya perlahan dengan telapak

tangan yang menggetar juga karena basah. Ditatapnya wajah,

bibir, dan mata Tio yang memucat sayu

"Kau capek Tio?" Belum ada sahutan.

"Katakanlah."

"Katakanlah."

Tapi, begitu bening dan terasa agung. Ronggur tidak dapat

memancarkan sinar merah lagi di matanya.

"Marilah menanti hari esok di s ini, bila hari esok masih ada.

Marilah menanti apa saja di sini, apa saja," Tio lalu

menundukkan kepala. Melepaskan dagunya dari telapak

tangan Ronggur. Air berhamburan terus, membasahi tubuh

mereka. Tio mulai menggigil. Si belang juga. Terus

membulatkan tubuh dalam perahu, tidak berani turun.

"Katakanlah, apa yang harus kita kerjakan lagi Tio," kata

Ronggur melemah. "Aku telah membawamu ke tempat yang

hampa ini. Apakah kita harus pulang ke kampung halaman,

yang telah melemparkan aku, yang tidak menerima aku lagi

menjadi warganya? Nasib telah tertentu di sana, nasib yang

malang menanti diri. Katakanlah Tio, aku akan mengikutinya.”

"Marilah berhenti di sini," sahut Tio akhirnya. "Kupikir tidak

ada lagi gunanya kita meneruskan perjalanan ini. Marilah

pasrah di s ini. Berserah dengan hati bulat ke tangan Mula Jadi

Na Bolon. Bawalah daku padanya sebagai sembahanmu, agar

Mula Jadi Na Bolon tidak marah padamu." Suaranya begitu

lemah.

Tio menjatuhkan diri ke ujung kaki Ronggur. Sambil

mengisak dia mengatakan, "Janganlah kembali ke sana. Walau

apa yang telah kita temui. Marilah berpasrah diri di depan

Mula Jadi Na Bolon. Barangkali, ya barangkali, aku yang

membawa kenahasan ini padamu. Maafkanlah aku, Ronggur."

Perlahan, kembali Ronggur mengangkat dagu Tio.

Mendudukkannya. Ditatapnya lama biji mata yang sayu itu.

Jari jemarinya meraba pergelangan Tio. Lalu dengan hentakan

kasar, direnggutkannya gelang yang dipakai Tio, pertanda dia

seorang budak belian. Gelang itu dicampakkan Ronggur

sekuat tenaga. Jauh-jauh. Tio sudah merdeka kembali.

Berhadapan dengan kenyataan ini hatinya jadi bersorak

gembira. Air mata yang menggenangi pelupuk matanya tidak

bersumber dari kepiluan dan ketakutan lagi. Tapi, bermula

dari perasaan gembira.

"Kau merdekakan aku, Ronggur? Sungguh?"

"Ya, seperti kau lihat. Tidak ada sembahan kubawa ke

hadapan Mula jadi Na Bolon, selain diri sendiri."

Tio terdiam. Lalu dilanjutkan Ronggur, "Kalaupun kita mati,

mati bersama, sebagai orang yang sama hak, sama-sama

orang merdeka."

Arwah nenek moyang Tio akan menerima arwahnya di

tempat yang baik. Matinya, mati seorang manusia yang

merdeka, terhormat. Dia tambah mendekatkan bibirnya ke

bibir Ronggur. Sesuatu benda hangat tapi lembut menyentuh

bibirnya, melengket di sana beberapa saat. Lupa kepahitan,

lupa siksaan, lupa hal yang menghadang di depan. Terayun

dan dibuai sebuah lagu yang selama ini terpendam di

dasarnya. Sekarang berlomba bermunculan, membuai mereka

berdua.

"Ronggur," kata Tio dengan tegas, "marilah melanjutkan

perjalanan. Kita tidak boleh pulang. Kita harus maju. Sampai

tahu kepastian yang akan kita temui."

Ronggur tersenyum. Lalu, "Kita harus istirahat dulu di sini.

Sudah terlalu kelam untuk melanjutkan perjalanan. Lagi pula

kita telah menemui yang kita cari di sini. Boleh jadi, di sini

akhirnya."

"Tidak, tidak ada akhir," kata Tio tegas, "semuanya,

permulaan yang tidak punya akhir. Hanya permulaan."

Ronggur tersenyum. Tio tersenyum. Telapak tangan Tio

masih terus mengelus rambut Ronggur yang basah, dari

mulutnya keluar kata, "Aku cinta padamu . . .."

"Tio," bisik Ronggur, "maukah kau, bila kita mati, aku akan

mengatakan pada Mula Jadi Na Bolon bahwa arwahmu

bukanlah sembahanku. Tapi, istriku. Istri yang paling setia.

Yang tabah bersama suami mengarungi kehidupan, karena

ada cita tergenggam di tangan dan di hati. Berani mengarungi

segala kemungkinan, karena mau turut mempertaruhkan

keyakinan suaminya."

Tio menangkap leher Ronggur, lalu menciumi bibir Ronggur

lagi dengan bertubi-tubi.

"Marilah bersujud ke hadapan Mula Jadi Na Bolon.

Memohon ampun atas keangkuhanku, yang telah

membawamu ke tempat ini. Ke tempat para dewata

bersemayam." Tio memperbaiki duduknya. Ronggur

memimpin doa:

Mula Jadi Na Bolon

Asal mula dari segala kehidupan

Padanya kembali karena dia yang punya

Terimalah kedatangan kami

Hambamu

Karena keangkuhan yang berbenah dalam diri

Kami telah tiba di s ini Melanggar peraturanmu!

Ronggur menggenggam tangan Tio, lalu dilanjutkan:

Karena darimu mula cinta

Napasmu sangkala cinta

Satukanlah aku dan Tio

Suami isteri yang dihidupi api cinta

Tebarkanlah api cinta

Tiuplah api cinta

Membakar dada kami

Dari saat ke saat tanpa akhir!

Kembali mereka berdua berdekapan, seperti tidak mau

dipisah lagi, baik ruang, baik waktu. Dan, air tipis itu, terusterusan

berhamburan. Sekitar menjadi kelam kembali.

Bersama mereka menyuruk ke perut perahu yang dibalikkan.

Karena cinta telah punya laut dan pelabuhan, batas ruang

dan waktu tidak berarti lagi. Si belang keluar dari sungkupan

perahu. Berjaga di luar perahu.

6

Ronggur terbangun. Menggigil kedinginan, walau dia dan

Tio berpelukan di bawah telungkupan perahu. Perlahan

diungkapnya pinggir perahu, lalu dijulurkannya kepala melalui

celah, yang sudah ditopang oleh batu yang diganjalkan.

Dia telah mengenal kabut pegunungan dan danau sejak

kecil. Tapi, kabut yang begini rupa tebalnya dan lamanya

belum pernah ditemui sebelum itu. Atau, awan rendah belum

pernah melingkupi tanah serendah itu. Langit seperti di atas

kepala saja dan dapat dijangkau tangan. Tapi, bila tangan

digapaikan ke atas, yang ada hanyalah kehampaan yang tidak

bertepi.

Perlahan melepaskan pelukan Tio. Waktu itulah Tio

bangun. Bermalas-malas. Kembali tangannya dilingkarkan di

leher Ronggur, lalu seperti! anak kecil, dia menciumi pundak

Ronggur. Dari mulutnya perlahan berbisik, "Kenapa kau buruburu

bangun? Apalagi yang mengejarmu? Bukankah sudah

semua kita lalui dan sekarang kita hanya tinggal menantikan

yang akan terjadi, permulaan dari segalanya?"

Ucapan manja bercampur kekanakan, membangkitkan iba

Ronggur. Tapi, dengan tegas dia menyahut, "Semalam atau ya

saat lalu, kita sudah berpendapat bahwa kita tidak akan

melihat dan mengecap saat lain lagi. Kita sudah beranggapan

bahwa tidak ada lagi hari, tapi sampai kini masih hidup dan

mengenal hari."

"Apa sudah pagi?" tanya Tio.

"Aku tidak tahu. Tapi, katakanlah dulu sudah pagi. Hingga

waktu lewat, hari lalu, dan waktu kini, hari yang kita nantikan

kemaren. Hari yang kita harapkan membawa perobahan pada

nasib yang mendatangi diri. Atau, perobahan pada yang

hendak kita temui. Lihatlah sekitar. Masih disungkup kabut

atau awan rendah yang masih tebal. Cahaya putih yang lemah

sudah ada lagi, hanya masih begitu lemah. Masih seperti saat

lalu."

"Wajahmu capek kelihatan," kata Tio.

"Tidak mengapa. Dibaliknya terkandung kegembiraan dan

harapan selalu."

"Kita masih mengharapkan?"

"Selalu. Harapan, satu-satunya api yang dapat membakar

semangat hidup. Tapi, janganlah pergunakan harapan untuk

harapan saja. Harapan harus dapat melahirkan sesuatu yang

berwujud dalam kenyataan kerja."

"Cakapmu tidak dapat kuartikan," kata Tio. Tapi, Tio

tersenyum. Merapatkan kepalanya ke pundak Ronggur.

Mereka mencuci muka dengan melapkan tangan saja

karena wajah mereka tetap basah. Dengan mengulurkan lidah,

beberapa titik air dapat ditelan sebagai sarapan pagi.

Ronggur berusaha menatap sekitar, namun pandangnya

masih tetap disungkup diputihan. Perlahan dirasakannya angin

bangkit. Di arah darimana bermula angin itu. Tio terus

merapatkan tubuhnya ke tubuh Ronggur, karena dia tetap

kedinginan yang tambah lama tambah bermaksud

membekukan diri. Panas tubuh mereka berdua yang merapat,

bisa sebagai bedeng, bisa menimbulkan panas.

"Lihat," kata Ronggur kemudian, "apa kau pikir itu?"

"Apa maksudmu?" tanya Tio.

"Lihat. Tidak kau lihat? Lihat ke bawah sana. Lurus ke

depan."

Tampak oleh mereka berdua sebuah benda putih yang kecil

tapi bundar, putih dan lebih putih dari semua, bergerak

dengan lamban seperti bermalas-malas. Namun tetap naik

atau berusaha naik ke atas, mengatasi segalanya. Begitu putih

hingga memijarkan sinar, tapi sinar lemah. Sinar yang

dipancarkannya sedang mengadakan perlawanan atau

berusaha menghancurkan kabut putih atau awan rendah itu.

Untuk menyingkirkannya. Agar bisa dapat dilihat mata apa

sebenarnya yang ada di sana, seperti itulah gayanya. Deru

yang terus menderu di depan memberi gendang layaknya.

Tidak mati-mati. Biar sesaat pun. Kuping benda bundar putih

tidak memperdulikannya.

Benda putih bundar itu merangkak perlahan, mendaki ke

ketinggian. Mata mereka terus mengikuti gerak malas dari

benda putih yang bundar itu. Hati mereka menjadi tambah

menduga. Mereka belum pernah melihat tamasya alam begitu

rupa. Sesuatu benda putih yang bundar mengadakan

perlawanan terhadap sesuatu yang melingkupi segala dengan

warna putih, tapi tidak berwujud. Bundarnya, hampir

menyerupai bundar matahari yang mereka kenal, sewaktu

ditutupi awan di langit. Tapi, mereka tahu, matahari tetap

berada di atas.

Mereka tidak pernah memikirkan bahwa pada satu saat dan

tempat yang berobah, rnatahari bisa dilihat seperti berada di

bawah. Namun mata mereka terus mengikuti gerak lamban

dan malas dari benda putih yang semakin tinggi itu. Mulut

mereka ternganga. Bila butiran air tambah menebal melengket

di wajah, di rambut hingga menyusahkan mata untuk

menatap, sekali hapus saja akan hilang tapi cepat melengket

di sana butir air yang lain. Mulanya tipis. Lama kelamaan

menjadi tebal. Dan, bila sudah menebal, dihapus dengan

telapak tangan.

Tidak disadari mereka, entah berapa lama mereka

tenggelam dalam keadaan begitu. Tidak disadari mereka,

kenapa pandang mereka terpaut mengikuti gerak perlahan

yang menanjak itu. Mereka belum dapat menduga, warta yang

akan timbul darinya. Mereka memang tidak tahu lagi, apalagi

yang harus mereka hadapi. Hati berdenyut juga walau sudah

punya tekad, bersedia menerima segala tiba.

Detak hati yang menandakan diri anak manusia biasa. Dari

tubuh Ronggur sendiri, segala perasaan mencurah keluar,

mengikuti perjalanan benda bundar yang lemah itu. Dalam

saat begitu rupa, dia memerlukan kelembutan yang bermula

dari tubuh Tio. Dia tambah mengeratkan pelukannya ke

pinggang Tio. Kalau mati, marilah mati berpelukan, kata

hatinya ke diri sendiri. Dia tidak mau mengatakannya pada

Tio, takut kalau Tio menjadi takut, dan merasa ngeri. Tio

mendekatkan pipinya ke pipi Ronggur. Mata mereka terus

mengikuti gerak perlahan yang terus menanjak di depan

bermalas-malas, dengan tidak mau tahu pada mereka berdua

yang mengikuti geraknya terus menerus.

Perlahan sekali sehingga tidak terasa, sungkupan awan

rendah bercampur kabut tambah menipis juga dari sekitar.

Perobahan yang tidak tersadari. Mulut jurang sungai tambah

berbentuk. Begitu pula mulut jurang di sebelah kanan. Si

belang turut duduk dekat mereka, tidak bergerak. Melihat ke

arah yang mereka tatap. Lidahnya dijulurkan. Seperti menanti

sesuatu yang menentukan akan tiba.

Tebing jurang tambah menghitam, namun dasarnya belum

tampak atau memang tidak punya dasar. Apakah benda putih

itu akan menyuluh jurang yang tidak berdasar? Pandang

sudah bisa mereka campakkan barang sepuluh depa ke

depan, ke samping dan ke sekitar. Tambah jauh jarak yang

dapat ditangkap pandang.

Bila cuaca bertambah terang, si belang mulai sering

melangkah ke depan dan ke belakang, seperti melemaskan

otot. Tapi, cepat Tio memanggil kembali, takut kalau si belang

terjerumus ke mulut jurang yang belum tampak dasarnya.

Benda bundar yang putih itu bertambah tinggi juga.

Bertambah garang cahaya yang memancar darinya. Mereka

ikuti terus dengan tabah. Jarak yang dapat ditangkap pandang

bertambah jauh dan luas. Jauh ke belakang dapat dilihat

Ronggur, di sana tebing tidak berapa curam. Bisa dituruni, bila

hendak turun ke lembah di seberang kanan. Tapi, dasarnya

belum tampak sama sekali. Tapi, suatu harapan telah

menggeliat dalam hatinya. Tebing yang tidak berapa curam itu

menurut perhitungannya, bisa dituruni secara perlahan. Tidak

berapa sulit malah.

"Ronggur," pekik Tio meninggi sambil mempererat

pelukannya ke pinggang Ronggur, "itu matahari! Itu matahari!

Mula hidup! Itu matahari!"

Cepat Ronggur berpaling. Terbelalak mata mereka melihat

sinar yang tambah terang. Sungkupan kabut dan awan rendah

tambah menipis dan terangkat.

"Dan, - dan —" dengan gugup, gugup sekali, karena tidak

menduga walau itu yang dicari dan diharapkan, karena

dengan itu mereka telah dibebaskan dari kungkungan yang

mencekam dan mengancam. Karena dengan itu, mereka telah

menemui, jauh di bawah, melalui tingkatan pundak bukit,

terhempang kehijauan yang sangat luas. Kehijauan yang

maha lebat lagi datar.

Dapat ditangkap dengan pandang sekarang, itu dedaunan

dari pucuk pepohonan yang tinggi. Pucuk dedaunan itu seperti

berombak ditiup angin lalu, angin pagi. Angin pegunungan.

Sejauh mata memandang, yang dapat dilihat kehijauan yang

merata, lebat berimbun.

"Ronggur, itulah tanahmu. Ronggur, itulah tanah

habungkasanmu. Ronggur, itulah yang ditunjukkan mimpi dan

perkataan gaib dalam mimpimu. Dia telah membawamu ke

tanah habungkasan yang maha luas."

Ronggur gugup. Tidak dapat menyahut dengan segera.

Matanya menitikkan air bening. Semangatnya kembali hidup

secara perlahan. Api dalam dirinya kembali menyala atau bara

yang untuk beberapa saat tertimbun oleh debu, sekarang

debu itu telah menyisih sehingga merahnya bara kembali

rrienjilamkan panas menyala, membuat suhu tubuhnya

menjadi naik. Dapat dirasakan Tio. Lalu dia mengatakan

perlahan:

"Tio, tidak tanah itu saja yang ditunjukkan mimpi padaku.

Tidak tanah habungkasan itu saja."

"Apa lagi?" tanya Tio terbodoh.

Lama Ronggur menumpa pandang ke biji matanya, lalu,

"Juga kau. Kau, sayang!"

Pandang lama bertemu, lalu Ronggur melingkarkan

tangannya ke tubuh Tio dengan ketat, yang sekarang, sudah

bisa pula melemas.

"Tio, marilah mengucapkan sukur pada Mula Jadi Na Bolon,

yang telah mengirim matahari untuk kita, yang membuat kita

dapat melihat tanah habungkasan yang dijanjikannya dan

membuat aku dapat dengan jelas melihat wajahmu,

menanamkan pandang ke dasar bening matamu."

Mereka bersujud ke arah matahari. Perlahan, Ronggur

menegakkan Tio dari sujudnya. Setelah memberi kecupan

pada bibirnya, dia mengatakan pula, "Itu bukan tanahku,

Istriku. Tapi, juga tanahmu. Tanah kita berdua. Tanah anak

kita. Tanah keturunan kita, yang pasti banyak dan akan terus

berkembang. Tapi, juga tanah orang lain, yang mau bungkas

ke sana."

Beberapa saat keduanya terdiam. Tapi, kata Ronggur

kemudian, "Perjalanan kita masih jauh. Kita harus menyelidiki

keadaan tanah di sana. Apakah baik dijadikan tanah

persawahan. Apakah hutannya banyak menyimpan binatang

buruan. Tapi, sebelum itu, sebelum kita memulai perjalanan

ke sana, izinkanlah aku mengatakan sesuatu kata yang telah

lama terpendam di hati, "aku cinta padamu Tio."

Tio menggigit bibir. Matanya menitikkan air bening. Sambil

tersedu karena terharu, dia menelungkupkan kepala ke dada

Ronggur yang bidang. Ronggur membiarkannya begitu

beberapa saat. Tidak mengganggu. Tangannya terus menerus

mengelus rambut Tio yang panjang lagi lembut dan lemas,

tapi basah.

"Kita akan terus mengikuti aliran sungai menuju tanah

landai," kata Ronggur kemudian, "lihat terus ke sebelah timur

sana, sesuatu garis putih yang membelah kehijauan, ialah

terusan Sungai Titian Dewata."

Tio mengikuti arah yang dimaksudkan Ronggur. Melalui

dinding batu yang tidak berapa curam, mereka dapat melihat

gundukan perbukitan di sebelah kanan.

"Itulah jalan yang baik ditempuh," kata Ronggur.

Lalu dia mengikat pinggangnya dengan tali. Dia turun

sendirian ke gundukan tanah pertama. Membuat anak tangga.

Jalan ke gundukan pertama, agak curam. Tapi, dari sana, dia

ketahui, menurun ke gundukan kedua, lebih landai. Begitu

seterusnya, sampai tiba ke tanah datar di bawah. Kembali dia

memanjat. Lalu menyuruh Tio turun, sedang ia memegang

ujung tali, ujung yang lain diikatkan ke pinggang Tio.

Kemudian diturunkannya satu-satu peralatan, Tio menerima di

bawah, sampai akhirnya perahu sendiri. Kemudian dia sendiri

turun sambil menuntun si belang.

Mereka sudah sama berada di gundukan pertama, yang

mempunyai tanah, tapi masih begitu tipis, tanah melapisi

batu. Untuk pertama kali kembali mereka lengkap bersama

alatnya, termasuk si belang, memijak tanah, setelah beberapa

hari terendam di air, kemudian terdampar ke batu padas,

dibasahi titikan air yang terus menghujani mereka. Serpihan

air tipis yang menghujani itu tidak sampai lagi ke sana. Sudah

bisa mereka berjemur di sana, mengeringkan tubuh dan

memanaskan tubuh. Si belang menggoncangkan tubuh,

mengibaskan ekor biar cepat kering. Mereka tentukan untuk

bermalam di sana. Hari sudah sore.

Rumput kering, dijalin begitu rupa, hingga agak besar. Lalu

dibakar menghidupkan api. Betapa nikmatnya panas jilam api,

setelah beberapa lama tidak merasainya.

Malam itu keinginan Ronggur untuk meniup seruling

memuncak. Lagu yang mesra ditiupnya perlahan. Gemuruh air

dibalik bedeng terus kedengaran, sekarang seperti melengkapi

irama seruling yang ditiup Ronggur. Tidak menakutkan dan

mengancam lagi. Malah seperti menjadi pertanda. Agar

seseorang yang menyusuri sungai jangan meneruskan

penyusuran lagi, tapi agar memulai menempuh jalan darat.

Kemudian Tio mengiringi tiupan seruling itu dengan nyanyi:

Bila bulan di awan purnama

Di tepi danau aku menanti

Wajahmu menghias tanda masa

Mengajak daku ke dunia mimpi

Ronggur berhenti meniup seruling, dia melanjutkan

nyanyian itu:

Pohon aren di belah dua

Tempat berayun monyet berdua

Janji telah memadu

Pinang sebelah dibagi dua

Lalu berdua mereka melanjutkan:

Terbang engkau elang

Hinggap di kayu rindang

Ke mana engkau sayang

Kasihku tetap mendendang

Kemudian hanya Tio melanjutkan sedang Ronggur kembali

meniup seruling:

Kalaulah benar warta impian

Ditimang beta dengan sayang

Sinar purnama empuk menayang

Haribaanmu lagu impian

Tio meletakkan kepala ke pangkuan Ronggur. Memejamkan

mata dengan manja. Api unggun yang kecil itu terus menari

dan menari. Si belang duduk menjauh, memaling pandang.

Malam terus melanjut.

Pagi terbit lagi. Pemandangan seperti pagi kemaren. Bola

putih itu pada mulanya lemah sinarnya dan berada seperti di

bawah mereka. Kemudian secara berangsur perlahan,

keadaan sekitar bertambah terang.

Sehabis sarapan pagi mereka melanjutkan perjalanan.

Seperti taktik kemaren juga. Begitulah secara perlahan dan

hati-hati, akhirnya sampai juga mereka ke tanah landai di

bawah. Di atas kepala, memayung dedaunan hijau, sedang

kemaren dedaunan itu masih berada di bawah mereka,

perobahan tempat mengadakan perbedaan.

Sinar matahari hanya dari celah dedaunan saja sampai ke

tanah. Tanah cukup lembab dan basah. Dilapisi dedaunan

yang gugur sudah membusuk. Membentuk lapisan tanah yang

lembut dan berair. Kaki mereka terbenam sampai ke lutut

terkadang. Membuat mereka agak susah bergerak. Tapi, di

sana bisa mereka tarik perahu bersama peralatan lain, tanpa

takut dasar perahu bolong.

Mereka meneruskan perjalanan yang agak melingkar,

karena suara gemuruh bertambah hebat dan terasa

menggoncangkan. Berpedoman pada ingatan pemandangan

kemaren sore di mana terusan sungai berada, agar kembali

tiba ke sungai. Si belang berlari ke sana ke mari dan

menggonggong. Kekayuan yang tinggi dan besar batangnya

seperti tiang abadi yang bergaya mendukung langit, agar tidak

runtuh lalu menimpa bumi serta penghuninya. Getaran bumi

tambah terasa. Tergoncang.

Di satu tempat di arah depan, sinar matahari lebih leluasa

tiba ke tanah. Ke sana mereka menuju, walau suara gemuruh

tambah jelas dan memekakkan telinga. Dan, betapa ternganga

mulut mereka melihat benda itu. Sesuatu benda putih

mengapas putih melambung ke atas. Kemudian jatuh ke

bawah bergulung-gulung, itulah air terjun yang tidak hentinya

menerjunkan diri. Membuat dedaunan sekitarnya

bergoyangan, membentuk telaga yang agak luas pada tempat

jatuhnya, tapi airnya berputar dengan cepat. Di sana-sini

terbentuk curup di lingkungan yang gelisah itu yang bisa

menenggelamkan apa saja yang jatuh ke tengah curup itu.

Tio merapatkan tubuhnya pada Ronggur. Tapi, mata terus

ditancapkan pada benda jatuh itu. Kala di bawah arusnya

melingkar dan membikin kepala pusing bila lama-lama

menatapnya, la mengalir dengan besarnya ke arah timur.

Itulah kelanjutan sungai.

Mereka menyisih cepat dari sana. Merasa takut kalau batu

yang membentuk jaluran kejatuhan air itu akan runtuh lalu

menimpa mereka. Jalanan terus menurun.

Seperti menuruni pundak perbukitan, tapi sudah ditumbuhi

kekayuan yang tua. Di sana-sini dedaunan gugur membentuk

lapisan tanah yang lembut.

Di arah depan kembali kedengaran suara gemuruh, tapi

tidak sekuat yang tadi lagi. Arus sungai kembali menggila,

membuat mereka tidak langsung berkayuh melalui sungai.

Tapi, tetap mengikut pinggiran sungai. Kembali mereka temui

air terjun, jarak jatuhnya lebih pendek dan lebih landai dari

yang pertama. Sehingga busa air tidak terlalu hebat sewaktu

jatuh.

Dengan memilih jalan agak melingkar mereka menurun

terus ke bawah. Sampai akhirnya berada di tempat jatuhnya

air kedua. Mereka menatap ke atas, benda putih mengkabut

bermula dari air jatuh pertama. Terus mereka menghilir

mengikuti tepian sungai. Sampai akhirnya arus sungai tidak

beriam lagi. Menurut perhitungan Ronggur sudah dapat

memulai pelajaran dari sana. Tapi, karena hari sudah agak

sore, mereka memutuskan untuk bermalam di sana.

Si belang melompat ke depan. Masuk semak. Biarpun Tio

memanggilnya. Beberapa saat kemudian, si belang keluar dari

semak mengejar seekor kijang, la meloncat ke depan. Dan,

tercengang melihat Tio dan Ronggur. Ronggur tidak

melewatkan kesempatan baik itu. Dengan tombaknya cepat

dia membunuh kijang yang tercengang itu. Kijang terguling ke

tanah, ujung tombak tertancap di dadanya.

Sambil menguliti, Ronggur mengatakan, "Kalau begitu, di

sini banyak binatang buruan. Kita tidak menguatirkan mati

kelaparan. Lagi masih begitu jinak binatang itu. Tidak punya

prasangka pada manusia yang memburunya "

"Lihat," kata Tio pula. "Itu pohon aren. Umbinya bisa kita

jadikan bahan makanan. Pengganti beras. Bila beras habis."

Tambah tahulah mereka tanah yang mereka temui itu,

mempunyai tumbuhan yang bersamaan dengan tumbuhan

yang ada di bidang tanah yang mereka tinggalkan.

Binatangnya juga begitu. Mereka tebang beberapa pohon

aren. Mereka ambil umbinya. Lalu mereka jemur, dan tumbuk

lalu direndam lagi kemudian ditapis untuk mengambil

tepungnya. Untuk beberapa hari mereka tinggal di situ.

Walaupun sudah menghilir arus sungai masih kencang.

Sungai terus menerus membelah hutan belantara. Terkadang

sungai seperti ditutupi dedaunan hijau yang merimbun di

atasnya. Sehingga sinar matahari tidak sampai ke permukaan

sungai.

Dan, mereka harus lebih hati-hati menjaga kemudi. Tidak

bisa berdiri dengan leluasa. Dedahanan terlalu rendah

terkadang. Beberapa buah batu jangkar masih dijatuhkan,

menjaga keseimbangan kelajuan perahu. Tio lebih banyak

memperhatikan sekitar, karena dia belum perlu mengkayuh.

Tapi, biarpun begitu perasaan Ronggur begitu pasti bahwa

mereka akan tiba ke tanah yang lebih landai dan lebih baik.

Dengan melampaui riak air yang terkadang menghempas

ke batu yang muncul di sana-sini, melalui riam yang liar di

tikungan sungai yang patah. Tapi, sekitar mereka sekarang

berwarna hijau dan tanah mengambangkan bau kesuburan.

Dari celah renggangan dedaunan, sinar matahari terus

memberi suluh abadi. Bila cahaya itu melemah, tahulah

mereka, hari sudah mengarah sore. Cepat mereka

meminggirkan perahu. Memilih dahan kayu yang baik untuk

tempat bermalam. Mereka tidak menguatirkan kehabisan

bahan bakar. Di sana-sini berletakan ranting kering,

bergeletakan dahan kering yang patah dari batangnya. Untuk

digantikan dahan lain mendukung dedaunan yang lebih hijau,

segar lagi lebat.

Kemana saja mata diarahkan, tetap tertumpu pada pohon

yang besar lagi tinggi, seperti raksasa dalam dongeng,

menjelma kepada penglihatan, ibarat penopang langit agar

tidak jatuh ke atas tanah. Ronggur dapat merasakan bahwa

batang kayu yang besar itu dapat digunakan selanjutnya

untuk kepentingan kehidupan.

Perjalanan diteruskan menuju ke timur, menghilir sungai.

Perasaan dalam dada masing-masing, seperti berlomba keluar

untuk disuarakan, meneriakkan kegembiraan. Untuk mencari

bentuk kata, kata yang paling sesuai diucapkan dengan yang

dirasakan dalam hati, yang ditiupkan musik alam ke dalam diri

atau untuk menyiutkan nada musik yang memadat dalam

rongga dada. Arus sungai tambah perlahan. Beberapa buah

batu jangkar sudah diangkat ke atas. Tapi, masih ada juga

dijatuhkan.

Ronggur selalu menghirup udara dalam-dalam. Ingin dia

menghirup habis segala kebebasan yang diberikan alam

padanya, namun dia tidak sanggup menghabiskannya. Bila

mereka menemui gua alam di tepi sungai, dan bila mereka

bermalam di sana dan biasanya lebih lama daripada bila

mereka tidur di dahan, Ronggur meniup seruling dan Tio

bernyanyi. Sedang si belang berlari kian kemari,

menggonggong dan menyalak, memelopori sebuah perburuan

bila fajar pagi tiba.

7

Bertambah hari, mereka menghilir sungai. Arus sungai

tambah perlahan. Batu jangkar sudah diangkat. Luas sungai

tambah lebar. Tapi, mereka belum perlu mengayuh. Arus

masih dapat menghanyutkan perahu walau dengan perlahan.

Ronggur selalu mengukur dalamnya sungai dengan tali

yang di ujungnya diikat batu sebagai pemberat. Di depannya

tali yang terbenam, itulah dalam sungai. Bila mereka bosan

dengan sungai, mereka mendarat ke tepian.

Sering Ronggur memanjat kayu yang tinggi, menatap dari

arah mana mereka datang dan menduga hendak ke mana

mereka dibawa sungai yang diikuti itu. Pundak pegunungan

bertambah jauh di belakang sudah membiru. Melalui

pengenalan akan pundak pegunungan, Ronggur dapat

menduga bahwa di balik pegunungan yang semakin menjauh

itu, di situlah kampung halamannya.

Bila mereka hendak pulang ke sana melalui jalan darat,

mereka harus menaklukkan pundak bukit itu, atau menembus

celah pegunungan yang terdapat pada pertemuan bukit yang

memanjang. Lalu menatap ke arah hilir sungai, hutan lebat

hijau di mana-mana menampung penglihatan.

Selalu dibuatnya tanda pada pohon kayu yang dipanjatnya.

Di garis batangnya melingkar. Sedang pada tepi sungai,

ditanamnya batu besar dan disambungkannya pada salah satu

bagiannya.

Pancing yang diumpankan Tio selalu mengena. Pancing

tidak perlu berlama diumpankan. Dalam waktu singkat ikan

sudah ada yang menyambar. Ikan yang cukup besar. Bila

dipanggang bara api bisa padam. Karena lemaknya.

Terkadang sampai berhari-hari mereka mengadakan

pemburuan, bila bosan dengan ikan sungai. Binatang buruan

begitu banyak dan jinak. Si belang sudah mulai gemuk.

Bulunya tebal berlinang. T api, satu hal makin mereka rasakan,

udara bertambah panas. Walau mereka berada di naungan

pepohonan rindang, udara panas itu tetap mengganggu,

membuat Ronggur tidak kerasan memakai sehelai kain atau

kulit binatang di bagian dadanya. Dibiarkannya dada

telanjang.

Setiap hari tepian sungai bertambah luas. Pepohonan tidak

lagi di tepian sungai seperti di hulu. Sudah agak menjauh.

Tanah luas yang berlumpur semakin lebar mengikuti jalur

sungai. Arus sungai tambah perlahan. Membuat mereka harus

mengayuh terkadang.

Dan, tanah berlumpur yang mengiring jaluran sungai,

tambah luas. Ronggur selalu menelitinya dengan seksama.

Digenggamnya tanah itu. Diperhatikan lunaknya. Terkadang

diciumnya dengan hidung, apakah bau lumpurnya sama

dengan bau lumpur yang ada di kampung halaman. Tapi, dari

lumut lumpur dia tahu bahwa tanah yang mereka temui itu

lebih lemak dan subur dari tanah di kampung halaman.

Sedang di hutan yang semakin menjauh dari tepian sungai

itu, mereka temui pohon yang berbuah. Buahnya lain dari

buah mangga yang mereka kenal di kampung halaman. Lebih

enak dan lezat. Membuat mereka terkadang seharian hanya

memakan buahan saja.

Hanya udara yang bertambah panas itu saja yang membuat

mereka agak merasa tidak senang. Udara seperti itu tidak

pernah mereka temui di sekitar kampung halaman, walaupun

matahari cukup terik. Ini tidak. Walau terkadang matahari

dilindungi awan, panas itu masih tetap terasa. Membuat tubuh

mereka selalu berkeringat, tapi cepat kering disapu angin lalu.

Tubuh seperti berminyak jadinya. Lengket dan tidak

mengenakkan perasaan. Membuat mereka sering terjun ke

dalam sungai, berenang, dan menyelam, agar keringat

melengket itu bisa menghilang untuk datang dan untuk

dihilangkan lagi.

Alangkah terkejutnya mereka, pada suatu hari, sewaktu

Ronggur berenang mengikuti perahu yang menghilir,

sekelompok binatang yang sedang berendam di tanah lumpur,

bergerak, lalu mengejar. Cepat Tio mengatakan, "Ronggur,

awas. Cepatlah ke perahu."

Ronggur berenang sekuat tenaga. Binatang itu memburu.

Perahu agak oleng sewaktu Ronggur menaikinya dari satu sisi.

Lalu terus mengayuh. Binatang itu terus mengejar. Jalan satusatunya

untuk mempertahankan diri, Ronggur menyuruh Tio

terus mengayuh, sedang dia, dengan mempergunakan

kampak, tombak, memukuli setiap ada binatang datang

mendekat ke perahu, mencucuknya. Panggada juga turut

digunakan.

Satu dua ada yang mati di antara binatang itu. Terapung.

Binatang itu belum pernah mereka lihat. Begitu pandai

berenang. Mulutnya menganga lebar hendak menelan saja.

Ekornya bergerigi dan begitu keras tampak. Walaupun belum

pernah mengenalnya namun naluri mereka dapat memastikan

bahwa binatang itu binatang air yang membahayakan.

Binatang yang mati dan dihanyutkan arus mereka tangkap.

Dagingnya kurang enak dimakan. Karena itu daging binatang

itu mereka biarkan saja membusuk. Tapi, kulitnya cepat kering

dan dapat dilipat, begitu halus. Karena itu kulit binatang itu

mereka bawa. Bisa dibuat menjadi kantong tempat

menyimpan alat. Bila digantungkan di pinggang

kelembutannya selalu mengikutkan gerak-gerik pinggang.

Ronggur tetap memperhatikan dan mempelajari perobahan

bentuk tepi sungai. Air sungai tidak sebening di hulu lagi.

Sudah mulai keruh dan kotor. Tidak tahu mereka dari mana

datangnya air keruh itu. Kenapa air yang tadinya begitu

bening, bisa berobah menjadi keruh.

Pepohonan semakin jauh dari tepian sungai. Digantikan

gelagah dan daun nipah. Lumpurnya bertambah lembut dan

bertambah dalam dasarnya. Bertambah ke hilir bertambah

banyak anak sungai bersatu dengan sungai itu.

Bila mereka terus melalui tanah lumpur itu mendekat ke

tepian hutan yang semakin jauh, sebelum tiba ke tepi hutan,

lebih dulu ada tanah yang hanya ditumbuhi ilalang. Tanah

juga lembut. Gembur, bagus untuk ditanami.

"Inilah dia," kata Ronggur. "Inilah tanah yang kita cari.

Tanah landai yang sudah lama kumimpikan. Lihat, tepi hutan

tidak berapa lebat. Bisa ditebang pohonnya untuk dijadikan

persawahan."

"Apakah kita sampai di sini saja?" tanya Tio.

"Tidak," sahut Ronggur. "Kita harus meneruskan

perjalanan. Menyusuri sungai. Kita harus tahu, sampai ke

mana sungai ini. di mana muaranya. Itu sangat penting. Di

muara tanah landai akan tambah lebar lagi."

"Biasanya," kata Tio, "sungai yang ada di kampung

halaman, yang tidak sebesar sungai ini, bermula dari kaki

bukit. Untuk bermuara ke danau. Apakah sungai ini juga akan

bermuara ke danau?"

"Danau apa?" tanya Ronggur pula.

"Aku hanya bertanya."

"Kebiasaan memang begitu. Tapi, belum dapat kupastikan

mengenai sungai ini,"' jawab Ronggur.

Lalu mereka meneruskan penyusuran. Bertambah ke hilir,

di samping arus semakin perlahan, ada semacam getaran

mengganggu jalan perahu. Ada kalanya perahu tidak dapat

laju biar setapak pun ke depan. Walau mereka mengayuh

sekuat tenaga. Ada semacam tenaga menahan.

Dan, di saat itu, permukaan sungai naik. Air menjadi sangat

keruh dan asin. Tanah lumpur dan tumbuhannya, gelagah dan

daun nipah menjadi tergenang. Terkadang sampai ke pucuk

digenangi air. Ronggur memperhatikan ini semua. Lalu dapat

memastikan bahwa tanah lumpur yang di tepian sungai benar,

tidak baik dijadikan persawahan. Karena sering tergenang.

Bisa membuat padi busuk. Harus lebih ke atas lagi, ke tempat

yang tidak dapat memastikan, dari mana air itu datang.

Kenapa permukaan sungai menaik. Dan, sungai menjadi

menggeliat. Berombak. Membuat mereka takut pada mulanya.

Sehingga mereka harus buru-buru mendarat ke tepi. Langsung

mencari tanah yang agak tiriggi. Di sana mereka harus

menggali tanah membuat sumur. Supaya ada air tawar.

Sambil terus memperhatikan perobahan pada permukaan air.

Dan, setelah beberapa lama, air sungai susut lagi. Di saat

begitu arus sungai mengencang ke hilir. Sehingga enak

berlayar. Tidak perlu mendayung. Arus menghanyutkan

perahu. Untuk tiba pula pada keadaan, arus mati. Kemudian

datang pula saat permukaan air sungai naik. Perahu tidak bisa

dikayuh. Malah hendak disorong ke belakang, kembali ke hulu.

Berhadapan dengan keadaan baru ini, Ronggur bertambah

was-was. Saat sungai menaik permukaannya dan saat sungai

kembali ke tarap biasa, diperhatikan dan disesuaikan

waktunya. Dicocokkan dengan waktu peredaran bulan dan

bintang. Kemudian diputuskannya untuk terus melayari

sungai. Biar permukaan sungai menaik atau menyusut. Agar

tahu dengan pasti, apa sebabnya dan apa akibatnya pada

orang yang berlayar di saat begitu.

Mereka terus berlayar. Dan, saat permukaan sungai naik

telah tiba. Mereka harus mengayuh dengan sekuat tenaga.

Gelombang sungai mulai menggeliat. Tapi, terus mereka

lawan. Berkayuh dan berkayuh. Walau tidak ada ditemui

kemajuan. Malah mereka seperti disorong ke belakang.

Mereka terus melawan. Arus sungai menyongsong dengan

kuat. Perahu seperti dihanyutkan kembali ke hulu. Walau

mereka sudah berkayuh dengan sekuat tenaga. Tapi, mereka

berdua terus berkayuh melawan air yang menyongsong itu.

Walau malam sudah bertambah jauh, mereka terus di dalam

perahu dan terus mengayuh.

Menjelang subuh, terasalah permukaan sungai kembali

menyusut. Sehingga perahu mereka begitu lajunya

dihanyutkan kembali ke hilir. Di saat begitu, mereka dapat

melepas lelah. Sambil Tio berkata, "Apa lagi yang akan terjadi,

dan apa lagi yang akan ditemui pada perobahan sungai?"

"Justru, itu yang perlu kita ketahui," jawab Ronggur.

Karena begitu capek, mereka tertidur. Kantuk telah

membawa mereka ke alam tidur, di mana keadaan sekitar dan

kejadian dapat dilupakan. Perahu terus dihanyutkan arus

sungai.

Sinar matahari sudah kembali menampari wajah alam dan

wajah mereka sendiri yang tertidur di perut perahu. Si belang

berada di haluan perahu, mencerminkan mukanya ke

permukaan air. Lalu menggonggong panjang, melihat

keluasan yang terhampar di depannya. Di sekitarnya.

Karena silau dan karena gonggong si belang, mereka

terbangun. Pada penciuman terasa keluasan dan kebebasan

udara. Tidak terkungkung sedikit pun. Alangkah terbelalaknya

mata Ronggur sewaktu di hadapannya, di sekitarnya, air yang

maha luas mengitari mereka, perahunya terapung dan

mengangguk-angguk dipermainkan riak. Pada sisi kanan, kiri

dan di hadapan, air itu bertemu dengan kaki langit demi kaki

langit. Di bagian punggung, jauh sudah, tepian, atau daratan

yang hijau. Buru-buru Ronggur menyuruh Tio duduk, lalu:

"Lihat, lihat Tio. Kita menemui danau. Tapi, danau yang

maha luas. Airnya, alangkah asin. Tidak bisa diminum."

Tio memilin mata. Membelalakkan pandang. Sinar matahari

mencurah ruah. Kemudian dipantulkan air ke atas kembali.

Sehingga lebih silau.

"Danau, tapi danau yang sangat luas," akhirnya Tio

mengatakan dengan kagum. "Danau apa ini?"

"Aku tidak tahu."

"Marilah ke tepi. Kita tidak tahu ke mana berakhir air yang

maha luas ini," ajak Tio.

Cepat mereka mengayuh ke tepian. Tepian memutih

ditimpa sinar matahari penuh. Agak jauh kedalam bermula

jajaran pohon kurus panjang dan hanya di bagian puncaknya

ada daun kelapa. Nyiur. Berjajar memagar pantai.

Cepat Ronggur dan Tio mengayuh. Benda ditepian yang

menerima sinar matahari seperti menyala itu, pasir putih.

Beda dengan pasir pantai danau yang mereka kenal di

kampung halaman. Mereka mendaratkan perahu jauh ke

darat. Menambatkannya pada pokok kelapa. Tambah siang

ombak tambah membesar. Ronggur memanjat kelapa lalu

memetik buahnya yang masih muda.

Mereka minum air kelapa muda. Diseling Tio, "Di sini kelapa

tidak akan habis. Sekuat kita memakainya, putiknya akan

cepat mendatang lagi dan berlipat ganda banyaknya."

Sambil menatap keluasan air. Yang bergelung-gelung

ombaknya dan memecah di pantai, dengan lagunya sendiri.

Berdesir angin yang melewati atau membuat daun nyiur

melambai. Burung putih berterbangan ke sana ke mari, menari

dengan gaya yang bagus dan begitu jinak. Tidak punya

prasangka pada Ronggur dan Tio. Sehingga sambil bermalasmalas,

Ronggur dapat melemparnya. Beberapa ekor kena dan

jatuh ke tanah. Si belang menjemputnya. Dengan

moncongnya si belang menggigit dan membawa ke tempat

mereka berdua duduk.

Pada tanah lumpur sekitar muara sungai, bertambah

rimbun pohon gelagah dan daun nipah, diselang seling pohon

bakau. Walaupun daun nipah sudah kering, namun tetap kuat

dan tampak berminyak. Dengan daun nipah itulah, mereka

buat atap sebuah dangau. Tiangnya agak tinggi dibuat dari

pohon bakau yang panjang dan lurus lagi kuat. jendelanya

jauh lebih besar dari jendela rumah yang ada di kampung

halaman. Karena udara panas.

Sekarang mereka sudah punya rumah kembali. Sekarang

mereka sudah punya danau yang sangat luas malah.

Walaupun airnya asin, namun sangat banyak mengandung

ikan. Ikan yang besar. Mereka lalu kenal juga binatang laut

yang ada di tepian yang juga enak dimakan. Sedang pada

hutan di sebelah punggung mereka, dan di tanah yang

ditumbuhi ilalang sebagai pinggiran hutan, banyak menyimpan

binatang buruan. Mulai dari burung, ayam hutan, kijang

sampai pada binatang buas yang ditakutkan: Harimau, gajah,

beruang, dan di tepian sungai berpaya, binatang air itu,

buaya.

Pada hari pertama Ronggur tetap memperhatikan mula dan

arah angin. Akhirnya dapat mereka ketahui, pasang air sungai

yang membuat permukaan sungai naik dan sungai punya arus

ke hulu, tidak menetap saatnya. Tergantung pada hari bulan.

Begitu pula saat sungai surut kembali.

Bila air sungai pasang, perahu agak tertahan menuju

muara. Tapi, bila air sungai surut perahu dilarikan arus ke

tengah danau yang maha luas itu. Waktu siang hari angin dari

arah danau luas bertiup ke darat. Waktu itu bila berkayuh

menuju tepian dari tengah, sangat baik. Arus ombak

menghanyutkan perahu ke tepian. Sedang waktu malam hari,

menjelang dini hari, angin daratyang bermula dari hutan di

punggung mereka, bertiup ke arah danau luas itu.

Waktu itu sangat baik untuk memulai pelayaran ke tengah

danau luas itu. Dan, bila pasang naik tanah lumpur itu

tergenang, terkadang sampai sedalam dada. Bila air surut

permukaan sungai merendah. Tanah lumpur itu, rawa itu

kembali tampak. Tapi, walaupun tanahnya lumpur dan lembut

karena selalu tergenang, tidak baik dijadikan persawahan.

Bila mereka hendak membuka sawah percobaan, harus

memilih tempat yang agak tinggi dan jauh dari pantai, jauh

dari tepi sungai, agak menusuk ke tengah hutan. Mereka

harus merambah hutan belukar agak ke pedalaman.

Mereka cari tumpukan tanah yang agak datar di hutan dan

ditumbuhi ilalang. Agar lebih mudah mengerjakan sawah

percobaan itu. Kemudian dari hulu sungai yang belum asin

airnya, dibuka aliran parit. Sehingga ada pengairan ke sawah

itu, di samping air hujan. Dekat sawah itu mereka dirikan

dangau, tempat istirahat atau bermalam, bila merasa malas

pulang ke rumah di tepi pantai.

Persemaian telah digarap. Tanahnya cepat lembut. Setelah

beberapa lama tanah yang digarap itu digenangi air yang

dialirkan ke sana, tanah itu cepat menghitam,

mengambangkan kesuburan. Beberapa bidang lagi tanah telah

diolah menjadi sawah percobaan.

Waktu menancapkan cangkul ke dada tanah, tahulah

Ronggur dan Tio, tanah itu tidak melapisi batu. Tanah itu

begitu gembur. Cepat lunak dan cepat menjadi lumpur hitam

yang lembut, bila telah digenangi air. Tidak tersangkakan,

walau itu yang diharapkan, tanah begitu cepat menerima

taburan bibit. Kemudian bermunculan di atas tanah batang

padi yang gemuk hijau, menjanjikan akan mendukung bulir

padi yang bernas. Merunduk ke tanah karena berisi.

Usaha percobaan itu terus diluaskan ke tanah yang lebih

tinggi dan agak susah didatangi air parit. Di sana juga tanah

dengan cepat menerima taburan bibit. Walau tidak punya air

selain air hujan dan yang dikandung tanah. Itulah ladang,

huma, sawah kering. Ini semua menanam harapan yang lebih

sempurna dalam dada.

Tanah yang mereka temui tanah yang dimimpikan setiap

orang di kampung halaman, yang dapat mengurangi

pertentangan yang bisa timbul antara kaum semarga, antara

marga, antara suku dan antara luhak. Perang yang bisa terjadi

di antara mereka, yang mengakibatkan kematian dan

kemelaratan, bisa dihilangkan, bila tanah habungkasan ini

ditunjukkan pada mereka.

Bila batang padi telah bertumbuhan di sawah, di ladang

dengan hijau gemuk, kerja Ronggur dan Tio tinggal mencabuti

rerumputan, agar pertumbuhan batang padi tidak terganggu.

Pada malam hari, mengadakan penjagaan yang dibantu si

belang, agar rombongan babi hutan tidak turun dari hutan

merusak sawah dan ladang percobaan itu.

Kemudian batang padi yang hijau gemuk itu, telah dihiasi

bulir padi dengan mencuat ke atas tegak lurus. Ditiup angin

terkadang, dan bulir yang belum berisi itu bergoyangan

perlahan, tangkainya kokoh mendukung. Kemudian bulir itu

semakin merunduk ke tanah, merunduk menguning kemudian

dipanen. Saat mardege tiba. Lalu hasil panen itu disimpan ke

dalam lumbung, yang didirikan tidak jauh dari sawah

percobaan itu.

Ronggur dan Tio harus memperbesar dangau kecil itu. Mau

dijadikan lumbung padi. Kekayuannya mereka ambil dari

hutan sekitar yang begitu dekat. Atap daun nipah yang tidak

mudah bocor, yang banyak ditemui di muara sungai. Padi

yang menguning, kemudian dipanen. Saat mardege tiba. Lalu

hasil panen itu disimpan ke dalam lumbung, yang didirikan

tidak jauh dari sawah percobaan itu.

Mereka tahu, hasil panen percobaan itu tidak akan habis

mereka makan sampai tiga kali jangka musim panen, bila

untuk mereka berdua saja. Lagi pula, musim panen lebih

pendek masanya di tanah habungkasan itu dari yang mereka

kenal di kampung halaman.

Ronggur dan Tio, sambil melepas lelah dari kerja berat di

sawah semusim panen itu, seharian mengadakan perjalanan

menyusuri tepi pantai. Setiap tambah jauh mereka berkayuh,

setiap itu pula, malah berlipat ganda luas air yang mereka

temui. Tidak bertepi dan tidak berujung. Bermula dari

keluasan dan berakhir pada keluasan. Membuat perasaan

lebih kagum lagi atas ciptaan alam yang hebat dan sempurna

itu.

Ciptaan Mula Jadi Na Bolon, dan hati tambah berterima

kasih atas tuntunan Mula Jadi Na Bolon, hingga mereka bisa

tiba ke sana. Dan, Ronggur tahu, bila luas danau begitu rupa

dihadiahkan pada orang di kampungnya, mereka tidak perlu

lagi mengadakan pancang sebagai batas di danau, sebagai

pertanda bahwa pancang itu perbatasan antara satu marga

dengan marga lain tepi danau mana yang boleh di tempati

suatu marga menangkap ikan. Juga pelanggaran perbatasan

di danau di kampung halaman, sering menimbulkan

perselisihan dan pertengkaran, yang bisa menimbulkan

sesuatu peperangan.

Di danau yang maha luas itu, setiap orang dari setiap

marga mana saja pun, boleh pergi ke mana suka. Menangkap

ikan sekuat tenaga. Modal yang pokok hanya satu, kemauan

bekerja. Sekitar yang bermula dari keluasan itu dan berakhir

pada keluasan itu, menjanjikan kebahagiaan pada setiap

orang, melanjutkan hidup berkeluarga dan keturunan.

Rangsang lain mulai mempengaruhi pikiran Ronggur. Janji

harus ditepati, katanya selalu. Janji yang selalu mengingatkan

kampung halaman, yang mempertajam perasaannya akan

bahaya yang mengancam kerukunan hidup di kampung

halaman. Rindu pada ibu, pada bekas Datu-Bolon yang sudah

tua itu, keinginan untuk melepaskan mereka dari berbagai

rupa ancaman.

Dia harus mewartakan berita penemuannya itu ke tengah

keluarganya, ke tengah marganya yang sudah mencoret

namanya dari silsilah marga, karena itu janji. Pada

pendengarannya, tambah sering mendengung suara bekas

Datu Bolon yang sudah tua itu, "Anakku, bapak yakin, kalian

akan menemui tanah habungkasan. Walau begitu pahitnya

penerimaan orang di sekitarmu atas cita-citamu, janganlah

kau berkecil hati. Seorang manusia yang ditunjuk dewata

menemui kebenaran, harus dengan tabah pula menyampaikan

warta kebenaran itu pada orang yang ada di sekitarnya. Agar

manusia itu dapat pula mencicipi nikmatnya. Walau pada

mulanya mereka menentangnya, dan menganggap diri yang

dikurnia dewata seorang gila. Mereka tidak perlu dihancurkan,

tapi perlu diinsafkan agar mereka tahu, lalu dapat merasakan

kenikmatan yang terkandung dalam kebenaran itu. Untuk

kelanjutan hidupnya, kelanjutan keluarganya, hingga akhirnya

turut merasa syukur atas nikmat yang diberikan oleh

kebenaran itu. Karena itu anakku, bila kau menemui tanah

habungkasan di rantau, kau harus kembali kemari membawa

berita ria itu. Berjanjilah anakku, janji seorang lelaki. Karena

janji yang dibuat lelaki, janji yang akan tetap ditepati."

"Aku berjanji, Bapak."

"Terima kasih, Anakku," kata orang tua itu, lalu

melanjutkan, "Anakku, sesuatu penemuan yang bisa membuat

orang gembira dan berbahagia, bila keserakahan diri atau

dendam yang bersarang dalam dada, memaksa dan membuat

orang yang menemui itu tidak mewartakan-nya pada orang

lain, yang memerlukannya, sehingga orang lain tidak dapat

menikmati arti dan nilai penemuan itu akan berkurang, malah

beralih pada penemuan itu akan mengutuki diri. Karena itu,

agar kerjamu tidak sia-sia, janji yang kau buat sebagai lelaki,

penuhilah pula sebagai lelaki yang berhati jantan."

"Aku bapak," katanya. Lantas selanjutnya dia mengatakan,

"Doakanlah aku bapak, agar anakmu ini dilindungi Mula Jadi

Na Bolon."

"Doa dan restuku akan selalu mengiringi perjalananmu."

Dengungan percakapan itu tambah nyata dan jelas.

Memaksanya harus kembali ke kampung halaman,

mewartakan penemuan itu. Harus kembali mengarungi sungai

ke hulu, melawan arus. tapi, telah dapat diduganya, untuk

terus melawan arus, sangat susah.

Karena itu, dia sudah membayangkan bahwa mereka akan

menembus jalan darat. Dari pengenalan akan pundak bukit,

dan usaha menaklukkannya, dari pengenalan akan celah

pertemuan bukit dan usaha untuk menembusnya, dia sudah

dapat menggambarkan suasana perjalanan itu dalam kepala.

Perjalanan yang tentunya memayahkan, tapi perjalanan untuk

memenuhi janji yang dibuhul sebagai lelaki bersikap jantan.

Ronggur telah menentukan kapan mereka memulai

perjalanan pulang itu. Tio diam saja mendengarkan sambil

menundukkan kepala. Berhadapan dengan kebisuan Tio, yang

tidak menyahut itu, Ronggur lalu berkata, "Apakah kau tidak

ingin mewartakan berita ini pada sanak keluarga? Pada setiap

orang, yang selalu diancam bahaya di kampung halaman?

Agar mereka dapat bebas dari ancaman yang selalu menakutnakuti

mereka itu?"

"Bukan itu alasannya. Bukan itu," sahut Tio.

Wajah Tio agak pucat waktu tengadah padanya. Darah

Ronggur tersirap dibuatnya.

"Tio, wajahmu pucat. Seperti orang sakit. Kau sakit?"

"Tidak. Tidak sakit."

"Kenapa wajahmu sepucat itu? Apa yang terjadi?" Wajah

Tio seperti menanggungkan sesuatu. Bibirnya gemetaran. Tio

merasakan sesuatu menggeliat dalam perutnya. Tambah lama

tambah sering dan menimbulkan perasaan nyeri. Sesuatu

tekanan mendesak hendak melalui kerongkongan, berupa

rintihan dan jeritan. Tapi, ditahan. Namun, sesuatu rintihan

lepas juga dari celah bibir yang dikatupkan, digigit oleh gigi

sendiri. Tapi, masih tetap berusaha tersenyum, bila

pandangnya bertemu dengan pandang Ronggur.

Akhirnya Ronggur tahu, sesuatu akan terjadi. Barulah sadar

arti perobahan bentuk tubuh istrinya, yang akhir-akhir ini

begitu nyata dan jelas. Sambil tersenyum dan duduk dekat

Tio, Ronggur mengatakan, "Kita memang masih belum bisa

memulai perjalanan pulang. Kita harus menanti di sini. Biarlah

perjalanan pulang ditangguhkan untuk beberapa lama."

Cepat Ronggur pergi memetik daun ampapaga, yang

banyak tumbuh di pematang sawah di antara rerumputan.

Daun ampapaga itu di dikeringkan di panas matahari. Bila

sudah kering, direbus, airnya sangat baik buat minuman

seorang ibu yang hendak dan baru melahirkan. Dan, dingindingin

ditelempapkan ke perut Tio dan kening. Dijerangkan

terus menerus air panas dalam periuk tanah. Dan, dia tidak

mau lagi pergi jauh-jauh dari dekat Tio, walau Tio selalu

mengatakan, "Aku tidak apa-apa. Tidak usah repot. Pergilah

berburu, atau menangkap ikan."

Ronggur pura-pura tidak mendengarkan. Disunggingkan

senyum sebagai sahutan. Dalam kepala terbayang seorang

anak lelaki yang sehat. Lelaki yang kelak sanggup mengolah

tanah yang bidang menjadi persawahan. Lelaki yang dapat

memelopori orang menjelajah hutan belantara yang abadi itu.

Hendaknya kehijauan daun padi dapat mengimbangi hijaunya

daun pepohonan, agar orang tidak takut kelaparan, juga

diharapkan agar anaknya seorang lelaki yang sanggup meniti

gelombang yang besar di danau luas itu. Mencapai daerah

baru.

Saat kelahiran semakin dekat, dan perasaan nyeri tambah

memaksa Tio merintih, sering juga membuat Ronggur harus

mengatakan dalam kebingungan, "Apa yang harus kuperbuat?

ke mana harus kucari dukun?"

Dari sela rintihannya, Tio menyahut, "jangan repot.

Semuanya akan menjadi beres, berjalan dengan baik." Balik

Tio yang menasihati dan menenteramkan hati Ronggur.

Setelah melengkingkan sebuah pekikan yang panjang lagi

nyaring, Tio lalu memelas, dan segumpal daging telah

ditayang Ronggur dengan hati-hati. Dipotongnya jabang bayi

dengan bambu yang ditajamkan pada kedua sisinya. Bayi

dimandikan. Tio diberinya minum air ampapaga. Kening Tio

yang berkeringat, dilap Ronggur dengan sayang. Anak lelaki

meneriakkan suaranya pertama, seperti warta pada dunia

bahwa dia telah lahir. Tak lama kemudian, Tio sudah dapat

senyum. Menoleh ke bayi yang baru dilahirkannya, seorang

lelaki, cukup umur, cukup merah. Begitu sehat. Tangisnya

pertama menantang gemuruh ombak yang memecah di

pantai. Atau, ombak itu menggamitnya, agar memulai

perjalanan, meniti ombak demi ombak yang begitu besar.

Hari berikutnya, anak kecil itu sudah digendong Ronggur

sambil dinyanyikannya. Tidak jarang, Tio harus senyum pada

Ronggur dalam saat begitu bahagia. Kekerabatan dan

keakraban berumah tangga tambah terjalin. Tio sudah

menjadi seorang ibu, Ronggur sudah menjadi seorang ayah,

ibu dan ayah dari anak lelaki yang sehat. Bergaya seorang

yang akan cukup kuat dan punya ketahanan serta keberanian.

Bertambah hari, dan bertambah usia si anak, Ronggur

sudah menggendong si anak ke tepi pantai bersama Tio.

Ronggur selalu mengatakan, "Tataplah dengan mata

kanakmu, luasnya danau yang ada di depanmu, yang menanti

dayungmu berkayuh di permukaannya, meniti ombak demi

ombak yang bergulung-gulung memecah di pantai, mencapai

pantai lain. Tio, katanya, anak kita akan menjadi seorang

pengarung danau yang maha luas ini kelak."

Bila telah dua kali purnama timbul dan tenggelam, maka

Ronggur pun kembali mengatakan, "Tio, sudah waktunya kita

memulai perjalanan kembali ke kampung halaman.

Memberitakan dan mewartakan, akan penemuan-tanah

habungkasan, dan danau yang maha luas ini."

Tio tidak membantah. Dia akan tetap mendampingi

Ronggur, ke mana saja pun. Bermulalah perjalanan itu.

Mulanya menyusuri sungai ke hulu . . ..

8

Setelah menyediakan segala sesuatu yang perlu dalam

perjalanan, mereka pun memulai perjalanan pulang. Tiga

pundi padi yang bernas dibawa serta, akan mereka tunjukkan

sebagai bukti pada orang di kampung halaman. Bahwa padi

yang mereka bawa sepundi dulu sudah menjadi tiga pundi.

Sedang yang ditinggalkan di tanah habungkasan masih banyak

benar. T idak habis dimakan sekeluarga dalam jangka tiga kali

panen.

Beberapa potong kulit binatang buruan yang halus hulunya

dan sudah dikeringkan dibawa serta. Mereka berusaha, agar

yang dibawa, seringan mungkin dan yang perlu saja dalam

perjalanan. Tio, selalu menggendong anaknya di punggung.

Mulanya mereka menyusuri sungai ke hulu. Sampai tiba ke

lempat arus mulai menderas dan susah dikayuh. Baru mereka

mulai menempuh jalan darat. Memenggal-meng-gal hutan

belantara, yang dilingkungi hamparan dedaunan hijau lebat,

permadani alam yang tebal lagi abadi. Jadi, perjalanan pulang

itu pun, sendirinya pula usaha merintis jalan darat, yang kelak

dapat digunakan jalan pulang pergi antara kampung halaman

dan tanah habungkasan, dan lebih aman daripada menyusuri

Sungai Titian Dewata.

Mereka sering berhenti di satu tempat sampai dua tiga hari,

mempelajari pintasan jalan yang lebih mudah ditempuh.

Begitu pula mengadakan tanda tertentu pada sesuatu pohon,

yang dipanjat Ronggur untuk menentukan arah tempuh.

Mempelajari jalur lembah dangkal yang banyak dalam hutan,

dan memilih tanjakan yang tidak menaik untuk didaki.

Tambah jauh mereka menyusup ke pedalaman hutan, bukit

dan lembah tambah banyak mereka temui. Lembahnya

tambah dalam dan perbukitannya tambah tinggi. Tanah di

lembah dipelajari Ronggur baik-baik. Melalui pengenalannya

akan tanah, tahulah dia, tanah itu sangat baik dijadikan

perladangan atau persawahan, bila kekayuan hutan sudah

ditebang. Sedang pundak perbukitan yang juga ditumbuhi

kekayuan tua, bukanlah bukit batu seperti bukit tandus di

kampung halaman. Tapi, bukit tanah yang gembur, hitam

mengandung kesuburan. Tidak tanah tipis melapisi batu alam.

Tidak jarang pula mereka temui parit kecil yang bermula

dari sesuatu dinding bukit yang bercelah. Airnya begitu bening

dan dingin. Sejuk. Pada sesuatu mata air begitu, Ronggur

selalu mengadakan tanda.

Dalam merintis jalan itu, Ronggur selalu berusaha agar

mereka dapat tiba kembali ke tempat air terjun itu. Tapi, di

tengah hutan tidak jarang mereka bertemu dengan kumpulan

binatang buruan yang enak dagingnya. Dan, tidak jarang pula

mereka harus mempertahankan diri dari serangan binatang

buas: harimau, beruang, dan kelompok gajah. Penciuman si

belang banyak membantu keselamatan rombongan kecil itu.

Bila si belang meringis dan mengarahkan penciumannya ke

satu arah terus-terusan, cepat mereka mengalih langkah.

Menyisih dari tempat sesuatu binatang buas, sarang binatang.

Tapi, tidak jarang Ronggur dengan dibantu si belang, harus

mengadakan perlawanan mempertahankan diri, kalau

kepergok. Dalam saat begitu, Tio memeluk anaknya, sambil

berjaga.

Mereka terus menyuruk di bawah hamparan dedaunan

hijau yang abadi itu. Terus berusaha mengarahkan langkah ke

tempat air terjun itu. Dari sana baru mereka tentukan, pundak

bukit yang memanjang sebagai pagar dan batas tanah dataran

tinggi kampung halaman dengan tanah habungkasan, yang

harus ditaklukkan. Atau, celah bukit mana yang harus

diterobos menuju kampung halaman. Dedahanan kekayuan

yang berjalinan mendukung dedaunan lebat, menghambat

sinar matahari menimpa tanah. Sehingga terasa, jangka siang

hari, agak pendek di bawah naungan yang tebal itu.

Anak mereka yang sudah mendekat ketiga purnama

usianya, dan sudah dapat melempar senyum di saat dia

merasa senang, tidak dapat melempar senyum, sebaik dia

turut mendengar suara air terjun yang mengguruh.

Tapi, bila lama-lama mereka berada di sana dan tidak ada

sesuatu yang menyakiti tubuhnya, dia tersenyum kembali.

Sedang Ronggur mengarahkan tatapan si anak ke air terjun

yang memutih kapas itu.

Apa yang ditakutkan Ronggur pada mulanya masih tetap

tidak terjadi. Batu jaluran yang ditembus air sungai yang

terjun, masih tetap kokoh pada tempatnya. Tidak terjadi

reruntuhan. Tapi, gemuruhnya tetap menderu. Dan, benda

putih diambangkan ke atas terus menerus. Bila lama kelamaan

ditatapi jatuhnya air itu dan kuping biasa kembali mendengar

suara mengguruh itu, yang menyerupai aum harimau, mereka

namakan air terjun itu, Sampuran Harimau.

"Tio," kata Ronggur, setelah beberapa lama mereka

terpukau di tempatnya tegak.

Tio memaling wajah pada Ronggur tanpa sahutan.

"Kita istirahat di sini untuk beberapa hari. Melepas lelah.

Dari sini kita akan mulai mendaki kaki pegunungan,

menaklukkan pundak demi pundak bukit, dan berusaha

menerobos celah bukit. Jalan memotong ke kampung

halaman. Perjalanan begitu tentu berat. Karena itu, perlu kita

istirahat untuk beberapa hari. Agar tenaga kita pulih kembali."

"Harus di sini kita istirahat?" tanya Tio.

"Ya, agar mudah kita memperoleh air. Lagi pula dinding

bukit sebelah sana, terdiri dari batu alam yang tidak keras.

Mudah digali. Untuk dijadikan lobang perlindungan. Aku akan

memburu binatang buruan, agar cukup daging untuk dimakan

nanti dalam perjalanan. Di pundak bukit gundul itu, payah

ditemui binatang buruan."

Mereka menggali lobang perlindungan yang agak luas. Agar

memberi ruang yang lapang bagi mereka. Ronggur dan Tio

bekerja sama menggalinya. Anak mereka ditidurkan di tanah

beralaskan kulit binatang buruan yang lembut. Di sampingnya

duduk si belang seperti menjaga. Ekornya dikibaskan, agar

tidak ada serangga hinggap ke wajah anak yang sedang tidur

nyenyak itu. Menjelang senja Ronggur dan Tio berhenti

menggali lobang. Mata mereka patok menatapi permainan

warna pelangi aneka rupa berpadu dengan air yang memutih

kapas. Sambil menggendong anaknya, Ronggur mengatakan,

"Lihat, lihat Tio. Betapa indah. Tari warna yang sempurna.

Begitu indah kalau hujan tidak turun atau kalau kabut tidak

menyungkup."

Tio mengikuti telunjuk jari Ronggur.

Nanar mereka menatapi tari warna pelangi yang aneka

ragam itu, mengagumi lukisan alam yang sempurna. Beberapa

ekor burung terbang di udara, menuju hutan belantara luas,

mencapai sarang. Sayang sekali, cicitnya tenggelam ditelan

gemuruh air terjun yang jatuh, tidak kedengaran.

Pada hari berikutnya, tinggal Tio saja yang meluaskan

mulut lobang perlindungan dan memperluas ruang dalam.

Ronggur sudah pergi berburu bersama si belang. Bila anaknya

haus, meminta ditetekkan, dia duduk berjuntai di mulut gua.

Mencampakkan pandang ke sekitar, di bawahnya tanah

habungkasan yang mereka temui. Oi sebelah kanan, air

terjun, dan mengitari itu semua, kaki bukit memanjang lagi

tinggi, bukit gundul.

Sejak lahir anak itu sudah disusukannya dan sudah berapa

lama itu berlangsung. Tapi, bila saat menyusukan tiba, dan

mulut anak itu sudah mengisap-isap muncung buah dadanya,

sesuatu perasaan selalu menggeliat dalam dada, rasa keibuan,

sumber kasih sayang abadi bagi seorang anak yang lahir dari

rahimnya. Tahulah dia, kenapa ada nyanyian alam terpendam

pada dedaunan yang berdesir bila disentuh angin lalu, tahulah

dia, kenapa pekikan keras lagi sakit waktu melahirkan sang

anak bercampur nikmat. Tidak jarang dalam saat begitu, dia

memicingkan mata menikmati kesempurnaan rasa bahagia di

saat mulut anaknya mengisap muncung buah dadanya.

Sedang mulutnya akan mendendangkan lagu seorang ibu,

lagu yang menyuarakan perasaan kasih sayang:

Pejamlah mata sayang seorang

kenapa harus kerisik seperti

dedaunan berhalau ditiup angin lalu

dunia terhampar di ujung kakimu

Pejamlah mata anakku seorang

menanti bapak kembali pulang

dari tengah hutan belantara

binatang buruan tersandung dibahu

Pejamlah mata intanku sayang

bila malam jatuh, bulan gemintang

kudekap kau pelukanku hangat

Pejamlah mata buah hati bunda

subuh tiba mula hari baru

berjuta utasan cahaya matahari

menyinari padang kembaramu

Tidak jarang Ronggur pergi berburu seharian. Dia sangat

giat mengumpulkan daging binatang buruan. Sesekali

dijinjingnya ikan yang dipancingnya. Sedang mulutnya akan

cepat mengatakan, "kita harus banyak menyediakan daging.

Boleh jadi di pundak pegunungan gundul sana, payah

dijumpai binatang buruan."

Mereka potong tipis daging binatang buruan itu. Kemudian

mereka panggang di atas bara sampai kering. Sedang di siang

hari, Tio menjemurnya di bawah sinar matahari, agar cukup

kering dan tahan lama.

Bila Ronggur tidak pergi berburu, dia tambah sering

mencampak pandang ke air terjun itu dengan berlama-lama.

Begitu tekun. Suatu perasaan merangsang dirinya, terbayang

di wajahnya. Dia tidak dapat mengucapkan melalui bentuk

kata yang cukup tepat. Tapi, dia telah merasakan. Tio selalu

memperhatikannya di saat begitu. Dan, Ronggur merasakan,

alangkah susahnya dia untuk mengucapkan yang sedang

bergolak di dadanya, yang ditimbulkan air terjun itu. Sekali

waktu Tio mengganggunya dari menung menatapi air terjun

itu, "Bertambah hari, kulihat abang bertambah tekun

melihatnya. Tak bosan."

Sambil mengalih pandang pada Tio yaYig berdiri dekatnya,

Ronggur menyahut, "memang benar dugaanmu, Tio."

"Tapi, aku merasa takut digertak suaranya yang terus

menerus mengguruh itu. Kalau tidak bersama abang, aku

tidak kerasan di s ini."

Lama Ronggur menumpu pandang ke mata Tio. Lama

bibirnya bergerak-gerak, namun seucap kata belum melepas

dari bibirnya.

"Ada apa Bang?" tanya Tio. Membangunkan Ronggur dari

kebisuannya.

"Aku tidak tahu Tio," sahutnya. "Ada sesuatu yang

kurasakan. Yang timbul dari air terjun ini. Perasaan itu

melumpuhkan segala ketakutanku pada air terjun itu. Malah

dibuatnya sesuatu rasa bersyukur."

"Kenapa begitu?"

"Perasaan itu seperti membisikkan padaku bahwa air terjun

ini mengandung suatu manfaat. Menjanjikan sesuatu

kebahagiaan pada manusia."

"Manfaat apa?" tanya Tio terbodoh.

"Manfaat bagi kehidupan manusia."

Seketika mereka bertatapan tanpa mengucapkan kata. Biji

mata Tio begitu bening tapi jelas tampak tidak mengandung

pengertian akan apa yang diucapkan Ronggur. Sedang

Ronggur kemudian mengalih pandang ke air terjun itu, sambil

mengatakan, "kurasakan, justru karena adanya air terjun ini,

membuat arus sangat deras. Karena tempat jatuhnya begitu

tinggi dan curam, binatang air yang menakutkan dan buas itu

tidak bisa datang ke Danau Toba."

"Itu boleh jadi," sahut Tio berusaha mengerti. "Di samping

itu, masih ada manfaat lain dikandung air terjun ini."

"Apa lagi?" tanya Tio mendesak. Akhirnya dia sendiri ingin

mendengarkan yang dirasakan Ronggur.

"Kurasakan air terjun ini mempunyai suatu tenaga yang

sangat besar dan kuat. Selalu perasaanku berkata begitu.

Dan, bila tenaga yang terkandung di air terjun ini digunakan

manusia untuk kehidupannya, maka hidup manusia akan lebih

berbahagia. Orang kelak akan dapat menggunakannya untuk

kehidupannya. Sekarang memang yang kita lihat, darinya

timbul bencana saja. Coba kalau diri diterjunkan bersama air

terjun pasti lumat. Darinya timbul anggapan selama ini,

Sungai Titian Dewata jatuh ke ujung dunia. Hingga tak

seorang pun selama ini berani menyusurinya untuk mencapai

tanah habungkasan. Tapi, nanti, entah kapan, bila orang

menggunakan tenaga yang terkandung di air terjun ini, maka

tenaga yang disimpan air terjun ini bisa memberi arti yang

bernilai bagi -kehidupan manusia."

Tidak dapat Tio membumbui cakap Ronggur. Namun dia

tidak membantah seperti kebiasaannya yang tidak mau

membantah cakap Ronggur, walau dia tidak dapat

mengartikannya.

"Karena itu," kata Ronggur selanjutnya, “jangan lagi takut

padanya. Jangan lagi kutuk dia. Tapi, haruslah merasa

bersukur karena dia ada. Bersukurlah, karena dia menjanjikan

sesuatu kebahagiaan bagi kehidupan manusia di masa

datang."

Tio mencampak pandang ke tempat air terjun itu jatuh. Air

yang jatuh berputar pada lingkaran berbentuk kolam, arusnya

gelisah membentuk suatu pusingan yang cepat, yang bisa

menenggelamkan lalu menghancurkan sesuatu yang jatuh ke

sana. Tio merasa ngeri melihatnya. Tio takut dibuatnya. Tapi,

semua perasaan itu ditekannya habis-habis, agar dia tidak

membantah yang dikatakan dan dirasakan Ronggur. Malah dia

ingin turut merasakan yang dirasakan Ronggur, tapi

perasaannya belum juga merasakannya.

Setelah beberapa hari istirahat dan tenaga mereka sudah

pulih kembali, mereka melanjutkan perjalanan pulang. Jalanan

yang harus ditempuh, langsung mendaki bukit. Sesekali

menyusur di tebingnya, mencapai sesuatu celah, lalu

menembusnya untuk kemudian terus lagi mendaki sampai

pundak bukit ditaklukkan. Perjalanan yang memayahkan.

Perjalanan mereka agak lambat. Dalam sehari, terkadang

hanya sepundak atau dua pundak bukit saja yang dapat

mereka taklukkan. Ronggur selalu memilih celah bukit tempat

bermalam, agar terlindung dari serangan angin yang cukup

kuat. Tio menggendong anak mereka. Sedang Ronggur

memikul peralatan. Si belang mengikut di belakang, atau

terkadang berlari di depan. Menggonggong dan menggunakan

penciumannya.

Dengan mengenali pundak bukit mencari celah pertemuan

bukit, rombongan kecil itu terus mendaki pundak demi pundak

bukit yang berlapis-lapis, menuruni lembah batas perbukitan

yang berlapis-lapis itu untuk mendaki lagi. Tidak mengenal

lelah, tidak mau henti sebelum matahari tenggelam. Dan,

akhirnya lapisan bukit itu dapat ditaklukkan. Lalu lembah

dataran tinggi, yang dilingkari lapisan bukit demi bukit

melingkar dan memanjang, lembah kampung halaman, telah

berada kembali di hadapan pandang. Di tengahnya, tenang,

bersama kebiruannya yang damai, danau kesayangan,

mengitari Pulau Samosir. Di sekitar tepian danau, bertumpuk

rimbunan bambu duri, pertanda perkampungan.

Mereka bertatapan untuk kembali mencampak pandang ke

lembah perkampungan yang sudah sekian lama ditinggalkan.

Ronggur mengambil anak mereka dari gendongan Tio. Tangan

anak itu dituntunnya menunjuk ke arah perkampungan sambil

mulut Ronggur berkata, "Itulah kampung nenek moyangmu,

ananda."

Mereka menarik napas lega, terutama Tio. Dan, karena

udara kembali dingin, mereka telah memakai kulit binatang

buruan yang halus bulunya. Terlebih anak mereka. Diselimuti

baik-baik sehingga tidak merasakan udara dingin. Dalam

hayalnya Tio telah mengatakan pada diri sendiri bahwa dia

akan membawa sisa anggota keluarga marganya ke tanah

habungkasan, agar bisa bebas dari nasib jelek yang menimpa

marga. Dia membayangkan betapa bahagia keluarga

marganya, mengecap nikmat udara kemerdekaan, setelah

sekian lama harus menjadi budak orang lain.

Tiba-tiba saja Ronggur memecah kesunyian itu, "Tio, satu

perjalanan panjang, menembus Sungai Titian Dewata,

mengarungi rimba alam abadi, telah kita laksanakan dengan

berhasil. Walaupun dengan susah payah. Tapi, di hadapan

kita, menanti tugas baru. Kita harus menaklukkan dan

menguasai alam pikiran orang di kampung halaman, yang

mempercayai bahwa Sungai Titian Dewata berakhir ke ujung

dunia. Bila hasil perjalanan ini kita sampaikan pada mereka,

maka sendi kepercayaan mereka berarti digoyang. Pekerjaan

begitu tidak akan mudah. Merombak keyakinan seseorang,

menggantinya dengan kepercayaan baru tidaklah kerja

mudah. Akan jauh lebih payah daripada menaklukkan pundak

bukit yang cukup tinggi. Karena itu, kau harus tabah nanti

menerima segala sikap yang mengejek dan menantang. Yang

mungkin menyakitkan hati, atau membahayakan jiwa. Tapi,

ketahuilah Tio, aku cinta padamu. Kaulah seorang perempuan

yang telah berani menemani aku menempuh satu perjalanan

yang menantang keyakinan orang sekitar yang telah turun

temurun menguasai alam pikiran mereka. Kau telah

mengorbankan alam pikiranmu sendiiri untuk mengikuti

jejakku. Aku berhutang budi padamu dan aku cinta padamu."

Lama Tio terdiam. Kemudian dengan tidak dapat

dilawannya, dia telah menyandarkan kepala ke bahu Ronggur.

Dia mengisak di sana. Tanpa mengatakan sesuatu. Ronggur

mengelus rambutnya dengan sebelah tangan, sedang tangan

sebelah lagi, menggendong anaknya.

Perlahan Tio mengangkat kepalanya. Bertatapan dengan

Ronggur. Kemudian sama-sama mereka mencampak pandang

ke lembah di bawah, lembah perkampungan. Tangan kiri

Ronggur menggendong anaknya, tangan kanannya memeluk

pinggang Tio. Oi ujung kaki duduk si belang menjulurkan

lidah, menatap ke arah yang sama.

"Ronggur," kata Tio, “maukah kau membawa sisa warga

margamu ke tanah habungkasan?"

"Tentu, sudah tentu," jawab Ronggur, "mereka anak

manusia seperti kita. Mendambakan bahagia dalam hidupnya.

Dan di samping itu, mereka jaluran paman anakku. Jaluran

famili yang harus kuhormati, apalagi anakku."

Orang di kampung halaman sebenarnya telah lama

melupakan mereka berdua. Tidak menjadi bahan percakapan

lagi. Kenangan terhadap mereka bertambah tipis lalu

menghilang bersama bertukarnya penanggalan hari,

tenggelam, dan timbulnya kembali purnama. Orang

melupakan mereka dengan ucapan yang tumbuh dari

kepercayaan mereka:

"Dikutuk dewata dan para arwah. Matinya, mati terkutuk.

Arwahnya akan disumpahi Mula jadi Na Bolon."

Sedang ibu Ronggur, karena terus menerus menanggung

rindu dan tidak tahan mendengar ejekan yang diarahkan pada

anaknya dan padanya sendiri, karena dia seorang ibu yang

melahirkan anak durhaka, tidak berapa lama setelah Ronggur

dan Tio berangkat dulu, pulang ke tempat asalnya, ke

hadapan Mula Jadi Na Bolon.

Pada mulutnya, ibu tua itu masih mengharapkan anaknya

cepat kembali. Tapi, setelah beberapa kali purnama tenggelam

dan terbit lagi, dan anaknya tidak pulang juga, membuat

kemauan hidup melemah. Lalu, berakhirlah hidupnya.

Orang percaya, arwahnya akan tidak diterima Mula Jadi Na

Bolon dengan baik. Di saat mati, dia tidak punya apa-apa.

Hingga dia dikebumikan tanpa upacara dan gondang. Para

dewata tidak akan datang menjemput arwahnya ke tempat

yang baik melalui Sungai Titian Dewata. Karena para dewata

tidak diberi tahu atas kematiannya, melalui pukulan gondang

yang dipalu dan mengorbankan beberapa ekor babi serta

ayam putih.

Tapi, bekas Datu Bolon Gelar Guru Marsait Lipan, tidak

bosannya, setiap hari mencampakkan pandang ke arah

matahari terbit. Meneliti pundak bukit dan celah bukit yang

ada di sebelah timur. Dia masih tetap percaya, Ronggur dan

Tio akan kembali membawa berita ria. Pertanyaan yang

sebenarnya berupa ejekan yang diajukan orang padanya,

selalu disahutnya dengan baik.

"Sudah pulangkah Ronggur dari tanah habungkasan?

Sudah ditemuinya tanah habungkasan yang dijanjikan setan

itu? Kapan pulang, si anak durhaka itu?"

"Dia akan pulang membawa berita ria bahwa tanah

habungkasan yang dijanjikan para dewata telah ditemuinya.

Ronggur anak yang memperoleh petunjuk secara langsung

dari dewata. Dia anak yang berbahagia."

"Apa kau katakan? Para dewata mengganti setan? Patutlah

ramalan tenungmu tidak ada yang benar."

"Bukan setan yang menggoda. Tapi, dia telah dilahirkan

untuk menyampaikan kehendak dan pesan dewata."

Orang lalu tertawa. Kemudian orang itu melanjutkan,

"Bukankah kau yang membuat ayah si Ronggur menemui ajal,

karena kau ajak dia menyusuri Sungai Titian Dewata?"

“Kami mengalami kegagalan yang mengakibatkan

kecelakaan itu. Aku akui, tekadku kurang kokoh waktu itu. Aku

meloncat dari biduk membuat keseimbangan biduk hilang.

Ayah Ronggur menemui ajal karena kecelakaan itu."

Mendengar sahutan begitu, orang menjadi ramai tertawa

lalu pergi sambil berkata, "Orang gila. Si tua gila."

Tapi, lama kelamaan orang tidak mau lagi mengganggu,

mencakapinya. Orang membiarkan menatap ke arah matahari

terbit setiap pagi. Orang tidak mengacuhkannya lagi. Malah

orang sudah sependapat, dia seperti tidak ada lagi. Orang

tidak memanggilnya ke pertemuan marga dan ke sidang

kerajaan marga.

Berita yang datang dari kampung sekitar, baik mengenai

perdamaian, begitu pula mengenai peperangan yang terusmenerus

meletus, antara satu marga dengan marga lain,

antara satu suku dengan suku lain, dan antara satu lunak

dengan luhak lain tidak disampaikan orang padanya.

Malah waktu marganya sendiri harus berperang karena

memperebutkan hutan di teluk danau itu, yang berakhir atas

kemenangan marganya, waktu itu pun, tenaganya tidak

diminta orang membantu marga. Marga yang dikalahkan

marganya itu, akhirnya harus membayar upeti pada kerajaan

marga. Membuat marga mereka menjadi lebih berkuasa, kuat,

dan kaya. Persawahan dan perkampungan tambah banyak

mereka kuasai. Orang yang kalah, yang dapat dihancurkan

kerajaan marganya, bila tertangkap, dijadikan budak belian.

Sedang yang sempat melarikan diri, pergi ke kaki bukit

terpencil, ke tanah batu yang sama sekali tidak baik dijadikan

persawahan, menjadi orang buruan. Sedang kerajaan marga

yang tidak sempat dihancurkan, lalu meminta damai setelah

melepaskan haknya atas apa yang diperebutkan, harus pula

membayar upeti pada kerajaan marga mereka.

Orang tua itu membiarkan rambutnya panjang. Sehingga

sudah sampai di pundak. Memutih uban. Pipinya cekung.

Wajahnya bertambah lancip. Tapi, sinar matanya tetap

mengandung sinar kepercayaan. Tidak melesu. Dan, pagi itu

sinar mata tambah bening dan bersinar. Dijauhan ada tiga

benda kecil dilihatnya bergerak-gerak di kaki bukit sebelah

timur. Setiap saat benda yang bergerak itu mendekat atau

menurun ke lembah perkampungan mereka.

Matahari bersinar terang. Tidak ada awan di langit. Tanpa

disadarinya dia bertempik dan berlari ke tengah kampung,

sampai orang pada tercengang. Terlebih karena dia

meneriakkan, "Mereka telah kembali. Ronggur telah kembali

dari tanah habungkasan. Mereka sedang menuruni kaki

gunung sebelah timur."

Orang bertemperasan ke luar rumah lalu terus pergi ke

gerbang kampung sebelah timur. Menatap dengan patok ke

arah yang dimaksud orang tua itu. Mereka juga memang

melihat ketiga titik yang bergerak itu. Belum pernah seorang

manusia pergi ke sana. Karena gunung itu gunung angker

menurut kepercayaan mereka. Apalagi bila orang menurun

dari pundaknya, tempat matahari muncul.

Pagi itu juga kerajaan marga mengadakan sidang.

Diputuskan untuk mengirim kurir penunggang kuda,

menyelidiki keadaan sebenarnya. Kalau memang itu

rombongan Ronggur supaya dibawa pulang.

Sebanyak tiga orang penunggang kuda bergerak. Mereka

bawa juga dua ekor lagi kuda, yang tidak punya beban. Hati

tiap orang tambah gemuruh. Setiap orang melahirkan

anggapan dan duga demi duga. Apa yang akan terjadi. Atau

apa yang telah terjadi? Warta apa yang akan datang?

Datu Bolon Gelar Guru Marlasak, masih mengatakan bahwa

itu bukan rombongan Ronggur. Tapi, binatang liar lagi buas.

Percakapan menjadi simpang siur. Namun setiap orang lebih

menginginkan bersikap menanti, apa yang akan disampaikan

penyelidik yang sudah dikirim kerajaan.

Sampai sore orang semua tinggal menanti. Tidak ada yang

turun ke sawah. Tidak ada yang turun ke danau. Tiap orang

seperti terpacak di tempat masing-masing.

Bila senja telah mulai memerah di langit, mencampakkan

sinar yang beraneka warna ke permukaan danau, mereka

sudah dapat melihat kepulan debu mengepul ke udara.

Penyelidik penunggang kuda sudah pulang. Kuda yang dua

ekor lagi sudah ada penunggangnya. Tambah lama, bersama

dengan bertambah merahnya warna senja, rombongan itu

bertambah dekat. Orang terus saja dapat mengenali bahwa

penunggang kuda yang keempat, Ronggur. Di belakangnya

Tio menggendong bayi. Sedang dipangkuan Ronggur, si

belang menjulurkan lidah.

Suasana tambah tertekan. Setiap orang terdiam. Setiap hati

tambah bertanya. Anak yang sudah disangka mati dikutuk

dewata, telah kembali ke tengah mereka. Anak yang dikenal

kecakapan, ketabahan, keberanian, dan kekuatan serta

keuletannya, tapi sayangnya pula anak yang telah dicoret dari

silsilah marga karena digoda setan, dan berusaha

meruntuhkan kepercayaan mereka yang bisa membuat

dewata marah, telah kembali di tengah mereka. Tanpa kurang

sesuatu.

Ronggur melompat dari punggung kuda. Setelah menuntun

Tio turun dari pundak kuda, lalu terus mendekat ke orang

banyak. Dia tidak langsung menuju ke tempat raja yang juga

hadir di sana. Tapi, mendekat pada orang tua yang berambut

panjang putih itu. Mereka memberi sembah. Lalu dari mulut

Ronggur keluar kata:

"Bapak, Datu Bolon Gelar Guru Marsait Lipan, yang tidak

pernah salah tafsir tenungnya. Dengan bantuan doa Bapak,

anakmu ini telah menemukan tanah habungkasan yang sangat

luas lagi landai, juga menemui sebuah danau yang tidak

bertepi tapi airnya asin. Namun sangat banyak ikan. Dataran

yang landai, ditumbuhi pohon kelapa berjajar, seperti pagar

tepian danau. Di punggungnya, hutan belantara yang sangat

hijau lagi luas, memberi imbangan akan luasnya danau yang

ada di depannya. Tanah di sana sangat baik dijadikan

persawahan. Bukan tanah tipis menyaputi batu alam. Hutan

menyimpan binatang buruan yang jinak. Orang yang pergi ke

sana, tidak perlu takut kehabisan makanan. Orang yang pergi

ke sana, tidak perlu berkelahi karena setitik air parit. Di sana

kedamaian akan tercipta, karena setiap orang rajin bisa

membuka tanah persawahan sesuka hatinya. Lagi pula, apa

yang kita takutkan bahwa penduduk akan sangat padat

sedangkan tanah begitu sempitnya karena penemuan tanah

habungkasan ini tidak jadi persoalan lagi. Setiap orang bisa

punya anak berpuluh-puluh, namun tidak perlu takut

kekurangan tanah. Tanah, alangkah gembur dan subur.”

"Di manakah itu, Anakku?" tanya orang tua itu ber-napsu.

"Di seberang ujung dunia. Sebenarnya bukan ujung dunia,

Bapak. Sungai Titian Dewata pada salah satu tempat, memang

mempunyai arus yang sangat deras. Karena ada air terjun, air

harus menuruni sebuah lembah yang sangat curam. Tapi,

itulah pula mula tanah landai, tanah habungkasan. jadi,

Sungai Titian Dewata tidak pernah putus. Setelah air terjun,

Sungai Titian Dewata terus mengalir, membelah dada hutan

belantara yang sangat lebat dan rimbun itu."

"Anakku, berapa keluarga yang dapat di tampung tanah

habungkasan yang kau temui itu?"

"Berapa keluarga? Ah, cobalah bapak bayangkan, sejauh

mata memandang hanya tanah yang landai yang tampak,

tanah yang hijau tidak bertepi. Sampai bertemu dengan kaki

langit. Jadi aku tidak dapat mengatakan berapa keluarga.

Tapi, semua keturunan si Raja Batak dapat di tampungnya

sekaligus dan bersama keturunan yang akan datang tanpa

menakutkan bahwa tanah garapan akan habis. Tanah di sana

tidak akan habis."

Sambil menitikkan air mata bening karena gembira, orang

tua itu lalu mengatakan:

"Anakku, kau telah melaksanakan petunjuk dewata,

sehingga lahir dalam melaksanakan petunjuk dewata,

sehingga lahir dalam kenyataan. Setiap orang seharusnya

mengucapkan terima kasih padamu dan pada Mula Jadi Na

Bolon yang telah menciptakan tanah habungkasan itu.

Pertempuran yang sering terjadi antara satu marga dengan

marga lain atau antara satu luhak dengan luhak lain, yang

kemudian menimbulkan luka serta duka yang dalam dan lebih

kejam lagi yang menimbulkan kemelaratan dan golongan

tertindas, akan tidak perlu berulang. Setiap orang akan

memperoleh kebebasannya kembali mengerjakan tanah,

bukankah begitu, Anakku?"

"Ya, Bapak."

"Terimalah ucapan terima kasihku padamu, Anakku."

Orang banyak, baik penduduk biasa, pun kerajaan,

semuanya terdiam mendengarkan percakapan itu. Tapi, dari

mata Datu Bolon Gelar Guru Marlasak, memancar sinar

kebencian dan dendam. Tiba-tiba saja dia berkata, suaranya

terus lantang:

"Ronggur, kau telah mengatakan segala dusta. Apakah

buktinya bahwa kau telah menemukan tanah habungkasan

seperti yang kau dustakan?"

Ronggur mengeluarkan pundi yang tiga itu, yang padinya

begitu bernas, lalu, "Waktu aku berangkat dulu dari sini,

hanya sepundi kubawa. Sekarang aku bawa tiga pundi padi

yang bernas. Sebenarnya hendak kubawa lebih banyak. Tapi,

karena perjalanan begitu jauh, lagi pula harus melalui pundak

bukit dan celah bukit, aku memutuskan membawa tiga pundi

saja sebagai bukti. Tapi, di tanah habungkasan, kutinggalkan

padi bagi keperluan orang yang mau pindah ke sana dalam

taraf pertama. Menjamin keperluan mereka sebelum saat

panen tiba. Saat panen lebih pendek di sana daripada di sini.

Padi lebih cepat matang. Lihatlah, betapa bernasnya padi ini."

'Ke mana pergi gelang yang dipakai si Tio pertanda dia

budak?. Dan, anak siapa yang digendongnya itu? Anakmu?

Kau mengawini atau memilih seorang budak menjadi ibu

anakmu?"

Datu Bolon Gelar Guru Marlasak tersenyum mengejek.

Wajah Ronggur memerah padam. Dengan suara menghentak,

"Tio telah menjadi isteriku, perempuan yang paling setia dan

tabah. Kami telah dipersatukan Mula Jadi Na Bolon secara

langsung, sewaktu kami tiba ke tempat jatuhnya air Titian

Dewata untuk pertama kalinya. Demi menghormati kesetiaan

dan ketabahannya, aku jadikan dia istriku. Dialah isteri paling

setia. Dia telah kubebaskan. Dia tidak akan pernah menjadi

budak lagi."

"Aku tidak mempercayai cakapmu. Tiga pundi soal

gampang. Bisa saja kau curi dari lumbung orang. Tapi, kau

telah mengatakan bahwa Sungai Titian Dewata tidak jatuh ke

ujung dunia, jadi persoalan. Kau telah menghancurkan

kepercayaan kami. Kau telah mengawini seorang budak belian

yang diharamjadahkan orang merdeka. Kau telah membuat

segala pekerjaan keji dan mengatakan kata yang keji. Inilah

persoalan yang sangat berat. Pada orang yang melakukannya,

dapat dijatuhkan hukuman. Dan, itu semua, kutuduhkan

padamu dan aku meminta pertimbangan khalayak dan

kerajaan, agar memilih bentuk hukuman yang pantas

ditimpakan padamu. Kalau tidak, para dewata akan murka.

Dan, mengutuk marga ini. Marga yang kuat perkasa lagi kaya

ini, marga yang dikurnia oleh dewata."

Kerajaan yang lengkap cepat saja mengadakan sidang.

Dalamm rapat kerajaan, suara Datu Bolon memegang peranan

yang penting. Karena persoalan, soal kepercayaan.

“Kita akan dikutuk para dewata dan arwah nenek moyang,

bila kita mau mendengar cakap dusta ini. Kita dulu

memutuskan, akan menangkap si Ronggur, akan

menjadikannya budak belian, bila dia kembali ke kampung

halaman ini. Tapi, sekarang tuntutanku tidak sampai di situ.

Karena dia telah mendustai kita dan dia telah membebaskan

seorang budak marga tanpa persetujuan sidang kerajaan,

tuntutanku:

Menangkap dan menghukum si Ronggur bersama budak

belian itu. Hukum mati. Ini perlu, agar para dewata yang telah

melindungi kita, yang telah membuat kita menang dalam

peperangan tidak memurkai kita. Bukankah kita sudah harus

bersyukur pada para dewata dan arwah nenek moyang,

karena sebaik kita mencoret nama Ronggur dari silsilah

marga, dan tak mau mendengarkan cakapnya, telah dua kali

marga kita mengalahkan marga lain dalam peperangan?

Hingga marga kita menjadi marga yang berkuasa, kuat, kaya,

dan dihormati setiap marga? Dan, luhak kita, menjadi daerah

taklukan kita?"

Segala saran yang dilancarkan Datu Bolon gelar Guru

Marlasak, mempengaruhi keputusan kerajaan. Lalu

mengeluarkan perintah, menangkap Ronggur dan Tio. Telah

diputuskan pula, besok pagi, akan dipalu canang ke tiap

kampung yang dikuasai marga itu, untuk mengumpulkan

mereka, lalu sama menyaksikan hukuman mati yang harus

dijalani Ronggur bersama Tio, karena mereka telah menghina

kepercayaan. Agar pengaruh yang dibiuskan Ronggur tidak

mempengaruhi orang untuk seterusnya.

Ronggur dan Tio diikat pada batang pohon mangga yang

besar. Bayi diletakkan di depan, mereka, langsung di atas

tanah. Dekatnya si belang. Apak kecil itu menangis sejadinya.

Tapi, tak seorang pun dibolehkan menyentuhnya.

Mendengar tangis bayi kecil itu, tidak saja perasaan Tio dan

Ronggur serasa disayat. Turut si belang menitikkan butir air

dari matanya. Tambah lama, suara anak menjadi parau. Si

belang mendekatkan moncongnya ke mulut anak itu. Lalu

lidahnya dijulurkan si belang. Disapukannya ke bibir anak.

Sampai basah. Lalu lidah anak itu menjilat bibirnya. Kemudian

lidah anak itu secara langsung disapu lidah si belang.

Sehingga air dari lidah si belang berpindah ke lidah anak itu.

Tangis anak itu mereda. Si belang meringis kecil, merasa

gembira dapat mendiamkan tangis anak itu. Bila matanya

dicampakkan ke arah Tio dan Ronggur, si belang memperoleh

senyum terima kasih dari tuannya.

Segala alat yang dibawa oleh Ronggur dan Tio

ditumpukkan depan mereka, juga ketiga pundi padi itu. Semua

akan dibakar. Supaya bekas dari kejadian itu tidak tinggal

sedikit pun.

Tidak berapa lama setelah senja berganti malam, Raja

Panggonggom bersama pengiringnya, masih datang menemui

Ronggur, mengusulkan agar Ronggur mencabut kembali

semua yang telah diucapkannya.

Hukuman bisa dientengkan, tak perlu hukum mati, asal dia

mau. Tapi, Ronggur harus bersedia menjadi budak, begitu

pula Tio dan anaknya. Ronggur menolak sarat itu. Malah

dikatakannya:

"Aku tidak dapat membenarkan yang salah, begitu pula

sebaliknya. Yang benar harus kukatakan benar. Percayalah

padaku, Paduka Raja."

Tapi, Raja Panggonggom tidak mendengarkan. Bila fajar

pagi terbit hukuman mati itu akan dilangsungkan.

Cepat saja berita yang dibawa Ronggur dan Tio menjalar ke

mana-mana. Sampai ke kaki bukit tempat orang melarat,

tempat orang yang tidak berpunya, dan tempat

persembunyian orang buruan. Mereka menegakkan kepala

mendengar berita itu. Terutama setelah mereka memperoleh

penjelasan langsung dari bekas Datu Bolon, setelah saran

Ronggur ditolak kerajaan marga mereka.

Bekas Datu Bolon itu mengatakan pada mereka bahwa

yang mengetahui jalan ke tanah habungkasan itu hanyalah

Ronggur. Bila Ronggur mati dibunuh orang yang tidak dapat

mendengarkan penemuannya, maka tanah habungkasan itu

akan kembali hilang. Mereka semua akan menjadi orang yang

sia-sia turun-temurun. Mereka harus membela Ronggur dan

Tio, harus melepaskan mereka dari ancaman maut itu.

Orang melarat dan orang buruan yang tinggal di gua kaki

bukit itu akan selalu lari ke mana saja berpencar bila tentara

kerajaan marga Ronggur datang menangkap mereka, akhirnya

memutuskan:

Daripada mati dibunuh dan diburu di dada tanah batu yang

gersang, lebih baik mati menempuh jalan menuju ke tanah

habungkasan. Malam itu juga, sepuluh orang lelaki yang kuat

tubuhnya, menyelusup ke induk kampung marga Ronggur.

Lengkap dengan senjata masing-masing. Dari celah bambu

duri, mereka dapat melihat di mana Ronggur dan Tio diikat,

dijaga tiga orang pengawal. Unggun api sudah mulai

mengecil. Keadaan sunyi. Malam sudah jauh. Tiba-tiba saja si

belang menggonggong. Karena mencium bau orang yang

datang mendekat. Membuat ketiga pengawal itu terjaga.

Setelah mengitari kampung dan meneliti, akhirnya mereka

kembali tidur sambil menyepak si belang. Seseorang terus

mendekat ke tempat Ronggur, lalu membisikkan, "Ronggur,

suruh si belang diam."

Ronggur memberi isarat. Sehingga si belang duduk dekat

kakinya dan diam. Dan, sekali sergap saja, ketiga pengawal

yang sedang mengantuk itu tidak berdaya lagi. Mati terbunuh.

Tali temali yang mengikat Ronggur dan Tio, mereka putuskan.

Mereka gendong bayi lalu mereka melarikan diri. Orang yang

tidak berpunya dan orang buruan telah menantikan mereka,

bersama bekas Datu Bolon di kaki bukit. Setelah mengucapkan

terima kasih, Ronggur bertanya, "Apa. yang harus kita

perbuat?"

Datu Bolon Gelar Guru Marsait Lipan»berkata, "Berita yang

diturunkan para dewata padamu, harus kau sampaikan pada

setiap orang. Tanpa memandang dari marga mana mereka,

dari golongan mana mereka. Kalau sebagian orang tidak mau

merasakan arti yang dikandungnya, tidak dapat menerima

kebenarannya, maka orang yang mau mendengarlah yang

berhak menerima berkat darinya. Mereka inilah orang yang

tidak berpunya, orang buruan ini karena kalah perang, yang

mau mendengarkan berita penemuanmu. Merekalah yang

berhak menerima berkah darinya. Bawalah mereka ke tanah

habungkasan. Sehingga mereka dapat kembali mengecap

alam kebebasan. Dan, otot mereka yang kencang itu dapat

kembali digunakan mengolah tanah."

"Bapak juga harus ikut," kata Ronggur. "Bila mereka

menemui Bapak, Bapak juga hendak mereka tangkap dan

bunuh."

"Ya, Bapak akan ikut. Bapak juga walau dengan berjingkat,

ingin melihat tanah habungkasan dalam kenyataan, karena

aku sudah sering melihatnya dalam mimpiku. Aku ingin

melihat apa yang dibisikkan para dewata padaku."

Bergeraklah mereka malam itu juga. Memegang obor.

Menyuluh jalan jurang dan lembah dalam. Sedang di induk

kampung marga Ronggur, dipalu gong. Membangunkan setiap

orang. Mereka sudah tahu, Ronggur dan Tio bersama anaknya

dan si belang sudah lari. Sidang kerajaan dengan

berangsangan, belum pernah marga kita dihina orang begini

rupa. Ayo, tangkap mereka, bunuh setiap orang yang memberi

bantuan padanya.

Raja Nabegu memerintahkan Hulubalang yang terkemuka,

yang dipercayai beserta laskarnya yang terkenal keberanian

dan kekuatannya, mengejar dan menangkap Ronggur dan Tio

kembali. Membunuh setiap orang yang memberi bantuan pada

Ronggur dan Tio.

Sedang Raja Panggonggom, memerintahkan anak lelakinya

yang sulung, anak lelaki Raja Nabegu dan Raja Ni Huta, turut

serta dalam rombongan yang harus menangkap Ronggur dan

Tio serta membunuh setiap orang yang memberi bantuan

padanya.

Datu Bolon Gelar Guru Marlasak, cepat mengusung bangkai

laskar marga yang telah mati ke Sopo Bolon. Di sana

disembayangkan, agar arwah laskar yang wafat itu mengutuk

perbuatan Ronggur dan Tio. Malah dimintanya, agar

mencelakakan Ronggur dan Tio bersama rombongannya.

Kepada ketiga anak raja itu, Raja Panggonggom memesankan

dan mengingatkan bahwa Ronggur punya cukup akal yang

licik. Dia harus diimbangi dengan kelicikan pula. Yang

diharapkan dipunyai oleh anaknya, yang kelak menggantikan

sebagai Raja Panggonggom bila dia wafat.

Di kala fajar pagi pertama menyingsing, bergeraklah orang

yang bertugas memburu rombongan Ronggur. Sedang

Ronggur, tetap menyuruh agar mengadakan tanda, jalan

mana mereka tempuh. Supaya orang yang memburu dapat

mengikuti jejak dan jalan mereka tempuh.

Rombongan terus bergerak. Orang yang memburu juga

terus bergerak. Tempik dan sorak, kemarahan dan hasutan,

dialamatkan pada rombongan Ronggur. Mereka harus

membunuh setiap anggota rombongan Ronggur dan menawan

Ronggur hidup-hidup, untuk dihadiahkan pada sidang

kerajaan. Untuk sama-sama dibunuh oleh tiap warga marga.

Matahari semakin tinggi. Pundak bukit pertama telah

ditaklukkan. Di sana mereka istirahat. Malah bermalam. Pada

pagi berikutnya, rombongan yang memburu telah tampak di

kaki bukit yang mereka taklukkan. Ronggur menyuruh, agar

orang menghidupkan api, mengepulkan asap. Menandakan

pada yang memburu bahwa mereka ada di sana.

Rombongannya merasa aneh juga terhadap tindakan begitu.

Maunya mereka menghilangkan jejak. Ini tidak. Malah

memberitahukan pada musuh di mana mereka berada. Tapi,

karena Ronggur sungguh-sungguh menyuruh, mereka

laksanakan juga dengan sebaik mungkin.

Bila rombongan yang memburu mulai mendaki bukit,

mereka pun mulai bergerak. Tanpa menjatuhkan batu untuk

menghancurkan yang memburu itu. Bila rombongan yang

memburu sudah berada di pundak bukit pertama, rombongan

Ronggur sudah kembali mendaki ke pundak bukit kedua.

Kedua rombongan dapat bertatapan, tapi dipisah lembah yang

dalam.

Matahari kembali melemah. Senja memerah. Kemudian

malam. Rombongan Ronggur istirahat. Begitu pula rombongan

yang memburu. Tidak ada yang berani melanjutkan perjalanan

di malam hari. Takut jatuh ke jurang dalam. Rombongan

Ronggur menghidupkan api unggun. Begitu pula rombongan

yang memburu. Dendam kesumat pada rombongan yang

memburu tambah menghebat, karena merasa dipermainkan.

Sedang Ronggur hanya tersenyum saja.

Bila fajar kembali terbit, rombongan yang diburu dan

memburu kembali bergerak. Begitu terus menerus. Tapi,

Ronggur tetap mengusahakan, agar kedua rombongan selalu

dipisah lembah. Juga diusahakan, agar rombongannya tidak

berada di dasar lembah, bila musuhnya berada di pundak

bukit, hingga musuhnya dapat menjatuhkan batu untuk

membunuh mereka. Begitu terus-menerus. Terkadang antara

kedua rombongan terjadi saling panggil-memanggil. Sambil

hasut menghasut.

Pada hari ketujuh, rombongan Ronggur telah melewati

celah pertemuan bukit, yang merupakan pintu ke tanah

habungkasan. Dari baliknya, dapat dilihat, di bawah melalui

pundak bukit yang menurun tanah habungkasan.

Setiba di balik bukit terus jurang dalam. Lapangan datar

hanya beberapa depa saja. Bermula terus jurang. Harus

memenggok ke kiri, beberapa jauh harus melalui di satu jalan

sempit, yang diapit oleh bukit dan dinantikan mulut jurang

menganga. Baru tiba kembali ke jalan yang agak luas, mula

jalan menurun yang baik menuju tanah habungkasan. Juga

dari sana dapat ditatap air terjun yang memutih. Setiap

anggota rombongan Ronggur kagum menatap tanah datar

yang luas dan hijau di bawah mereka. Setiap orang ternganga

melihat putihnya air terjun yang menerobos bukit sebelah

timur. Lalu setiap orang mengucapkan rasa terima kasihnya.

Dan, setiap orang yang memakai gelang pertanda budak,

disuruh Ronggur membuangnya dan menyampakkannya jauhjauh.

Ke jurang dalam.

Ronggur menyuruh tiap orang berondok ke sisi bukit.

Mendaki sedikit ke atas. Tiap orang disuruhnya menyiapkan

senjata yang ada di tangan masing-masing. Kemudian orang

yang tidak bersenjata, disuruhnya memilih batu alam, yang

bisa digulingkan. Sedang dua tiga orang, disuruhnya pergi ke

mulut celah bukit. Menantikan rombongan yang memburu.

Memberi tanda pada mereka, agar rombongan yang memburu

itu mendatangi celah bukit.

Semua orang mengerjakan perintah Ronggur. Setiap orang,

baik perempuan. Lengkap senjata terhunus di tangan.

Rombongan yang memburu terus saja mengejar dengan

semangat meluap. Melewati celah bukit. Dan, mereka telah

ada di bawah rombongan Ronggur, pada satu tempat yang

tidak menguntungkan. Mereka terjebak sudah. Dengan

lantang, Ronggur berteriak, "Letakkan senjatamu. Kalau tidak

kamu sekalian akan kami bunuh. Di depanmu jurang dalam.

Boleh pilih, menyerah atau mati."

Rombongan yang memburu mengutuk pada diri sendiri.

Dengan terpaksa harus membuang senjata yang ada di

tangannya. Tapi, di saat begitu, anak Raja Ni Huta, mengambil

kesempatan. Cepat berpaling dan melayangkan tombaknya ke

arah Ronggur. Ronggur cepat berondok ke balik batu alam.

Dan, sebuah tombak balasan melayang ke bawah mengenai

anak Raja Ni Huta, yang lalu jatuh ke mulut jurang dengan

pekikan meninggi. Sekali lagi Ronggur berteriak, "Pilih antara

dua, menyerah atau mati. Kalian semua berada di tempat

yang tidak menguntungkan."

Anggota rombongan yang memburu itu, dengan terpaksa

mencampakkan semua senjatanya ke mulut jurang. Mereka

disuruh Ronggur menghadap ke arah jurang. Lalu kedengaran

suaranya meninggi:

"Kau para lelaki yang kuat. Tapi, yang tidak punya

kekuatan untuk menerima sesuatu warta kebenaran. Justru

karena warta itu bertentangan dengan kepercayaan yang kau

anut selama ini. Lihatlah sekarang dengan mala kepalamu

sendiri, di depanmu jauh di bawah sana, luasnya tanah hijau

yang landai, seperti yang kuceritakan padamu. Dan, di sebelah

kananmu itulah air terjun yang kukatakan."

“Lihatlah, apakah Sungai Titian Dewata berakhir ke ujung

dunia? Dan, benda memutih dikejauhan yang terus menerobos

ke timur, membelah kehijauan hutan belantara itu, kelanjutan

Sungai Titian Dewata, merambah jalan ke danau yang maha

luas, yang airnya asin, tapi banyak ikannya. Pergunakanlah

mata kepalamu. Dengarlah dengan kupingmu sendiri, derum

air terjun yang jatuh, warta dari mula kehidupan. Apakah

kalian masih belum percaya?”

Orang yang memburu pada terdiam dan tercengang.

Sekarang mereka dengan mata kepala sendiri, telah

menyaksikan kebenaran cerita Ronggur, di saat mereka

terjebak pula. Harus tunduk pada Ronggur. Mulut mereka

ternganga.

Hulubalang yang memimpin rombongan itu, berpaling ke

arah Ronggur. Setelah menundukkan kepala tanda memberi

hormat, dia mengatakan:

"Ronggur, kalau kau sekarang mau membunuh kami, kau

telah bisa melakukannya tanpa sesuatu halangan. Dan, itu

memang hakmu. Tapi matiku telah merasa senang. Justru

karena aku telah melihat kebenaran ceritamu. Aku akan tidak

menyangsikan hidup anakku lagi. Tanah luas masih tersedia

untuk mereka walaupun aku mati. Tanah habungkasanmu,

Ronggur."

Ronggur membiarkan Hulubalang itu terus berkata. Yang

melanjut dengan, "Kami telah melihat air terjun yang kau

ceritakan. Ujung dunia yang kami sangka selama ini, mula

tanah datar yang maha luas. Hijaunya telah kutatap, dan bau

kesuburan yang mengambang darinya telah kuhirup. Kami

telah mengikuti ajaran yang salah, dan kami tidak punya

kelapangan hati mendengar warta kebenaran darimu. Untuk

itu kami sewajarnya menerima hukuman. Akulah yang

pertama harus kau bunuh. Aku pemimpin rombongan yang

mengejarmu ini."

Seketika keadaan hening. Lama Ronggur menatap

tawanannya yang hendak menangkap pada mulanya. Yang

sebenarnya juga anggota keluarganya. Sesuatu perasaan yang

bertentangan tumbuh dalam dada, sebagian ingin menuntut

balas, tapi sebagian lagi memberi pertimbangan lain. Dalam

keadaan begitulah Ronggur memanggil orang tua, bekas Datu

Bolon Gelar Guru Marsait Lipan ke dekatnya.

"Bapak," katanya, "apa yang harus kuperbuat sekarang?"

Lama orang tua itu terdiam. Baru mulutnya mengatakan,

"Nasib mereka berada di tanganmu. Kau bisa menentukan,

apakah mereka masih berhak hidup atau mati. Tapi, bagi

Bapak, ada sesuatu hal yang menguntungkan dalam saat ini.

Kau telah gagal mewartakan berita penemuanmu secara

langsung. Tapi, sekarang kau memperoleh jalan lain untuk

mewartakannya kepada orang lain di kampung halaman.

Dengan sendirinya pula mewartakan kepada kelompok marga

lain, marga yang masih merdeka."

"Bagaimana caranya, Bapak?"

"Tawanlah anak Raja Panggonggom, anak Raja Nabegu.

Kemudian suruh pulang Hulubalang itu dengan pengiring kecil.

Tugaskan padanya agar dia mewartakan pada kerajaan marga

atas kebenaran ceritamu, kebenaran penemuanmu. Bila

mereka tidak juga mempercayainya, maka nasib anak Raja

Panggonggom dan anak Raja Nabegu, akan sama dengan

nasib Raja Ni Huta."

Tersenyum Ronggur memperoleh saran itu. Lalu

disambutnya, "Saran yang baik. Dan akan kutambahkan

bahwa tidak marga kita saja yang berhak datang ke tanah

habungkasan. Semua marga berhak. Semua orang berhak.

Tidak memandang apakah dia seorang budak, raja atau apa

saja. Semua orang berhak memperoleh tanah, seluas dan

selebar yang sanggup dia kerjakan."

Orang tua itu menundukkan kepala mengiakan.

"Di samping itu," kata Ronggur pula, "aku harus menuntut

pada kerajaan marga, agar mengembalikan tanah

persawahanku, yang dulu disita kerajaan dariku. Itu sangat

penting. Karena bagaimanapun seperti adat kita, sejauh kita

merantau, namun bona nipasogit, tidak boleh dilupakan.

Sesuatu harta pusaka turun-temurun yang mulanya dirambah

nenek moyang, harus dijaga dan dipelihara. Juga segala harta

milik Bapak yang disita dulu, harus dikembalikan. Dan, Bapak

tahu aku telah mengambil Tio menjadi istriku."

"Ya, Bapak tahu," sahut orang tua itu cepat. "Dan, itu

sangat baik."

"Karena itu, kesatuan marga Tio sudah menjadi moraku.

Mora yang harus kuhormati."

"Ya, memang begitu menurut adat kita."

"Lalu, aku harus menuntut pula bahwa semua keturunan

marga Tio, harus dibebaskan dari perbudakan. Siapa saja di

antara mereka yang punya hasrat pindah ke tanah

habungkasan harus dibolehkan. Tidak boleh dihalangi. Sedang

orang yang tidak bisa pindah karena sudah tua atau karena

alasan lain, harus dibebaskan dari perbudakan."

Orang tua itu tersenyum. Mengiakan.

Segala hasil pembicaraan disampaikan Ronggur dengan

suara lantang pada Hulubalang. Itulah sarat yang harus

disampaikan Hulubalang pada kerajaan marga. Yang

ditambahnya pula:

"Dalam jangka dua purnama, utusan kerajaan sudah harus

ada yang datang menemui mereka ke tanah habungkasan.

Mewartakan, apakah saran itu diterima atau tidak. Utusan

kerajaan marga, boleh kelak menempuh jalan yang mereka

tandai."

Hulubalang itu menyanggupi akan menyampaikan pesan.

Malah dengan sadar dia menambahkan, "Karena aku sendiri

telah melihat kebenaran ceritamu, kebenaran penemuanmu,

tanpa sarat itu pun, aku akan bekerja keras menginsafkan

orang. Berilah kesempatan padaku, untuk berbakti."

Lima orang dari anggota yang memburu itu, ditunjuk

Ronggur mengiringi Hulubalang menuju kampung halaman.

Yang lima orang itu pun telah bersedia menjadi saksi atas

kebenaran penemuan Ronggur. Sedang rombongan Ronggur,

ditambah pasukan kerajaan marga yang sudah insaf menuju

ke timur, ke tanah habungkasan.

Kemudian rombongan lain bertambah banyak menuju

tanah habungkasan. Selalu mereka mengadakan upacara di

pangkal sungai, mempertebal keyakinan bahwa mereka akan

dituntun para dewata dan arwah nenek moyang ke tanah

habungkasan. Baik melalui sungai atau jalan darat. Sejak itu,

nama tempat itu mereka sebut Porsea.

Jalan tempuhan, tambah lama, tidak hanya yang dirintis

Ronggur saja yang mereka kenal. Tapi, telah terbuka

tembusan jalan baru. Daerah lain tambah banyak ditemui. Bila

mereka sudah sampai di tempat yang mereka namakan

Parhitean, mereka terus pergi ke arah timur, akan tiba ke

tanah habungkasan yang ditemui Ronggur, di mana

rombongan Ronggur membuka perkampungan.

Bila mereka dari Parhitean menuju ke utara, mereka akan

tiba ke Daerah Tangga. Dari sana dapat mereka tatap pundak

bukit yang tiga, lalu mereka namakan itu Tiga Dolok. Dari

sana terus menembus ke daerah Simalungun. Bila terus

menyusur bukit sebelah barat, bisa mereka buka dua

persimpangan. Satu menuju Tanah Karo, satu lagi menuju

Dairi-Pakpak. Dari Dairi, bisa turun kembali ke Pulau Samosir.

Dari Tiga Dolok, dapat mereka kenal pundak bukit yang ada di

bagian pundak mereka, pundak bukit di lingkungan Danau

Parapat. jadi bila mereka menuju ke sana, kembali tiba ke

lingkungan Danau Parapat.

Dari Parhitean, bila mereka memenggok ke selatan, mereka

akan tiba ke Parsoburan. Terus ke selatan, sampai ke daerah

perbatasan Sumatera Barat, yaitu Rao-Rao. Bila mereka

meneruskan perjalanan, tiba ke dataran tinggi Bonjol. Sedang

bila kembali ke arah utara dari Rao-Rao, berarti turun ke

daerah Mandailing Raja. Menembus terus ke daerah Angkola-

Sipirok-Pahae dan tembus ke Silindung, Tarutung. Lalu bisa

kembali ke Toba.

Dari Mandailing, bila mereka terus menurun, mereka

menemui pula sebuah danau yang luas, airnya asin, berteluk

indah, pesisir Sibolga. Di sini mereka bertemu dengan

rombongan yang sejak Parsoburon terus mengarah Barat.

Dan, telah menaklukkan pegunungan Pangaribuan, menurun

ke pesisir Barus. Sedang rombongan yang berangkat dari

Pangoruran Samosir, bila menuju ke arah barat, akan

menaklukkan pegunungan sebelah barat. Mereka tiba ke

Pangkat, terus menurun dari sana ke pesisir Barus.

Dari pesisir Sibolga, bila mereka kembali mendaki

pegunungan utara, tembus pula ke Rura Silindung, Tarutung.

Dari sana, pundak pegunungan Toba telah dapat mereka tatap

dan kenal kembali. Dari Angkola, yaitu dari Tor Simago-mago,

bila menembus ke selatan teru s, akan tiba ke daerah dataran

yang luas. Padang Lawas. Terus ke selatan, mereka bisa

bertemu dengan orang yang berangkat menuju tanah

habungkasan yang ditemui Ranggur, daerah Asahan-Labuhan

Batu.

Kemauan mempertahankan dan melanjutkan kehidupan,

sampai bersedia mengorbankan pertarungan demi

peperangan, yang tidak sedikit mengorbankan nyawa, telah

dialihkan semangatnya untuk menaklukkan pundak demi

pundak bukit. Menerobos celah pertemuan bukit memanjang,

merambah jalan di bawah naungan dedaunan belantara yang

menghijau lebat, untuk menemui dataran luas, dataran lain,

berhutan subur, dan punya binatang buruan yang jinak lagi

banyak. Untuk menemui danau yang maha luas, yang

menyimpan ikan banyak. Airnya asin mengandung garam.

Semuanya untuk kelanjutan kehidupan dan

mengembangkannya.

Tamat

Members

Translate

English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified