HOME

Wednesday, September 21, 2011

Penakluk Ujung Dunia 1

Oleh: Bokor Hutasuhut

Hak Pengarang dilindungi undangundang

Desain Kulit: Sriwidodo

Cetakan Pertama 1964 PT Pembangunan-Jakarta Cetakan

Kedua 1988

Penerbit: PT Pustaka Karya Grafika Utama Jakarta

Sekilas Pengarang:

BOKOR HUTASUHUT, lahir di Balige, Tanah Batak, Sumatra

Utara 2 Juni 1934. Dalam catatan masuk HIS, hari lahir itu

berubah menjadi 2 Juni 1933. Menurut ayahnya, H.A.M.

Mangaraja Gende Hutasuhut, perubahan itu perlu jika ingin

sekolah. Dalam catatan itu juga tercatat nama benar Buchari

Hutasuhut agar kelak menjadi pengarang tafsir Quran.

Sejak 1953 sudah menulis cerita pendek ke berbagai

majalah sastera dan media budaya. Selain buku ini, juga

sudah terbit buku "Tanah Kesayangan" dan "Datang Malam".

Kini berdomisili di Medan.

Kata Pengantar

Bokor Hutasuhut punya gaya bercerita yang merupakan

gabungan sifat formal dan bebas. Formalitasnya, formalitas

tutur kata bahasa lisan menurut tradisi Batak. Sedangkan

kebebasannya, kebebasan penghayatan kebudayaan modem

dari tradisi sastra modern.

Ia sangat sadar bahwa ia sedang menyelami dan

melukiskan kehidupan masyarakat Batak yang unik tradisional

kepada pembaca sastra modern pada umumnya. Ketelitiannya

di dalam melukiskan detail-detail ia gabungkan dengan rasa

harmoni seni dalam bercerita mengenai watak manusia, plot,

segi memandang persoalan sebagai sastrawan modern.

Sehingga hasilnya bukanlah sekedar laporan anthropolis -

akademis, tetapi suatu karya sastra segar dengan latar

belakang pengaruh tradisi kebudayaan Batak. Begitulah ia

muncul sebagai sastrawan dengan gaya yang unik di antara

sastraivan modern yang lain di Indonesia.

Ia bukan photo copy kebudayaan Batak, tetapi orang Batak

tulen yang menjadi sastrawan Indonesia. Ia telah selesai

melakukan wawancara dengan tradisinya dan dengan

dinamika modern dari Indonesia Raya, lalu duduk dan menulis

novel ini. Alangkah hidup detail-detail dari lukisannya. Satu

pertanda bahwa ia mengerti betul-betul apa yang ia tuliskan.

Marilah kita sekarang menikmatinya.

Rendra

1

Satu-satu para lelaki keluar rumah, memenuhi panggilan

suara gong yang dipalu sesekali dekat unggun api yang ada di

halaman perkampungan. Wajah para lelaki yang bermunculan

di mulut pintu, memancarkan rasa marah dan mendendam.

Senja baru saja berlalu. Di langit bintang gemerlapan. Tapi,

tidak ada bulan. Hingga cahaya unggun api yang samar,

cukup punya arti. Nyalanya meliuk ditiup angin. Para lelaki itu

membentuk lingkaran seputar unggun api. Tapi, di sebelah

hulu, belum seorang pun mengambil tempat. Sengaja

dikosongkan.

Angin pegunungan berhembus. Lebih dulu meliukkan pucuk

bambu duri yang ditanam orang sekitar kampung, langsung

menjadi pagar kampung. Bambu duri itu, ditanam melingkar.

Mengikuti lingkaran rumah dan di tengah dikosongkan.

Halaman kampung menjadi luas, tempat penghuni kampung

selalu berkumpul di saat yang perlu. Di saat Kerajaan Marga

yang mendiami kampung itu mengadakan musyawarah.

Wajah para lelaki tambah jelas kelihatan, setelah cukup

dekat unggun api. Wajah yang cukup matang dan keras, yang

dimasak kerasnya hidup sehari-hari, wajah yang menampung

sinar matahari penuh. Dan, memecahkan tanah batu untuk

dijadikan persawahan.

Gong masih dipalu sesekali. Para lelaki tambah banyak

berkumpul. Tapi, satu sama lain, tampaknya saling diam. Dari

jauh kedengaran suara ratap para perempuan. Kemudian

kelompok manusia itu menjadi tambah hening, tidak ada yang

berkerisik, sewaktu enam orang lagi lelaki datang mendekat.

Salah seorang di antaranya menyandang ulos-batak ragihidup,

kepalanya dibeliti bolat-an berwarna tiga jalin-menjalin:

merah, putih, dan hitam. Tangan kanan memegang

tungkotpanaluan, yang hulunya berukirkan wajah dan kepala

manusia, serta dihiasi rambut manusia. Di pinggang, terselip

pisau gajah-dompak. Pertanda dia Raja Panggonggom, yang

memegang kekuasaan adat dan hukum tertinggi di

perkampungan itu, di marga yang mendiami kampung itu.

Yang berjalan di sebelah kanannya, memakai bolatan juga.

Tapi, warnanya hanya merah dan putih berjalinan, pertanda

dia Raja Ni Huta. Juga dia menyandang ulos-batak, tapi

raginya berbeda dengan yang dipakai oleh Raja

Panggonggom. Raja Ni Huta yang memakai bolatan ini,

pengerah tenaga rakyat, dan langsung memimpin para Raja Ni

Huta dari kampung lain, yang masih semarga dengan mereka.

Di sebelah kiri Raja Panggonggom, berjalan seseorang yang

memakai bolatan warna merah saja, pertanda dia Raja

Nabegu, pemegang pimpinan para panglima dan para

hulubalang perkasa. Dia juga menyandang ulos-batak, tapi

raginya berbeda dengan ragi yang disandang fyaja

Panggonggom dan Raja Ni Huta. Sedang di tangannya,

tergenggam tombak yang hulunya berukirkan kepala manusia.

Di belakang mereka bertiga, mengiring pula Raja Partahi,

Raja Namora, dan Datu Bolon Gelar Guru Mafla-sak. Raja

Partahi dan Raja Namora, memakai bolatan warna putih,

pertanda mereka pemegang perbekalan marga. Sedang Datu

Bolon Gelar Guru Marlasak menyandang kulit monyet yang

sudah kering, sedang mulutnya terus-terusan menguyah sirih

dan meludah. Mereka mengambil tempat di sebelah hulu,

yang sejak tadi dikosongkan. Tempat mereka lebih tinggi dari

yang lain. Di tangan kiri Raja Panggonggom, tergenggam

sebilah pisau yang ujungnya berlumur darah merah. Sebelum

duduk, lebih dahulu dia menancapkan tungkotpanaluan ke

tanah. Semua mata diarahkan padanya berusaha mengikuti

gerak-geriknya. Kuping sudah, siap mendengar yang hendak

diucapkannya.

Setelah mengangkat tangan kanan, dia mengaju tanya,

"Apakah sudah semua lelaki hadir di sini?"

Setiap suku kata ditekankan kuat-kuat. Suaranya yang

beruntum keluar dengan cepat, pewarta bahwa dia sedang

marah. Matanya merah nyala. Sedang dari kejauhan, tetap

kedengaran sesayup sampai ratap perempuan, yang meratap

kan kepiluan hati, hati yang berduka. Ratap inilah yang.

membuat wajah para lelaki itu bermuraman, muram

mengandung marah yang menuntut dibalaskan. Cepat saja

diketahui bahwa tidak seorang pun perempuan hadir di antara

para lelaki yang mengitari unggun api itu.

"Sudah semua," sahut seseorang, yang langsung berdiri

dari duduknya, kepalanya memakai bolatan warna hitan,

tangannya menggenggam tombak berukirkan kepala manusia,

tapi tidak berhiaskan rambut, pertanda dia panglima marga

atau hulubalang marga.

"Apakah sudah berkumpul semua pemuda di sini?"

tanyanya pula melanjut.

"Belum," sahut seseorang, yang juga memakai bolatan

warna hitam, dan menggenggam sebuah tombak, tapi

bolatannya lebih kecil dari orang pertama. Pertanda dia,

hulubalang muda.

"Siapa yang belum hadir?" tanya raja.

"Si Ronggur."

"Si Ronggur belum hadir? Ke mana dia pergi?"

Tidak ada yang menyahut. Raja Panggonggom lalu

mengatakan, "Ayoh, pergilah salah seorang dari kamu

memanggilnya. Apakah harus aku yang pergi memanggilnya?"

Hulubalang Muda cepat berdiri. Terus pergi melaksanakan

perintah. Dia berlari dengan langkah yang panjang dan cepat.

Kembali Raja Panggonggom duduk. Tongkat panaluan,

pusaka nenek moyang turun-temurun dielusnya seketika.

Tubuhnya yang sudah tua itu masih membayangkan bekas

bentuk tubuh yang tegap di masa muda, disaputi kulit hitam

yang cukup matang. Wajahnya yang berkerut-kerut,

keningnya yang lebar, dan sinar matanya masih tetap

bercahaya, bernadakan kepercayaan akan diri sendiri.

Para lelaki yang duduk di sampingnya, juga sudah agak

tua. Di hadapannya, para lelaki yang masih muda, punya otot

tubuh yang tegap dan masih berada di puncak kekuatan.

Walau ada di antara mereka yang agak kecil, namun garis di

wajahnya, ototnya, kulitnya yang hitam, segumpal daging

yang dapat dipercaya kesehatan dan kekuatan yang

terkandung di dalamnya. Sedang para pemuda, yang

tubuhnya setiap hari masih terus membentuk sebuah tubuh

yang wajar, dan dari wajahnya memancar kebeningan tapi

bercampur-baur dengan kematangan, sesuatu pertanda

ketangkasan.

Sambil duduk, Raja Panggonggom menggerutu, "Kita harus

menunggu anak itu lagi."

Tidak seorang pun yang berani menambahi cakapnya. Tapi,

wajah Raja Nabegu, yang duduk sejajar dengannya, menjadi

merah padam, seperti merasakan sesuatu kesalahan, kenapa

Ronggur tidak bisa hadir sebelum golongan raja hadir di sana.

Dari jauh kelihatan dua orang pemuda mendekat.

"Apakah kau tidak mendengar gong dipalu? Apakah kau

tidak mengetahui, apa arti gong yang dipalu dengan pukulan

satu-satu? Apakah kau harus diajar untuk mendengar dan

mengartikannya lagi? Bukankah kau sudah diajari Raja

Nabegu?" tanya Raja Panggonggom cepat, ma-nyambut

kehadiran mereka.

"Aku dapat mendengar dan mengartikannya, Paduka Raja,"

jawab pemuda itu.

"Kenapa kau tidak terus mematuhi panggilan? Kenapa kau

melalaikannya? Apakah tubuhmu itu tidak dialiri darah merah

yang diwariskan Almarhum ayahmu lagi?"

"Masih, Paduka Raja."

"Tahukah kau bahwa ayahmu tidak pernah mengabaikan

panggilan gong pusaka ini? Terlebih bila gong dipalu satusatu?

Ataukah dengan sengaja kau melambatkan

kedatanganmu karena kau bukan seorang lelaki? Jawab

pertanyaanku dengan jujur. Supaya para arwah nenek

moyang dan dewata tidak marah."

"Paduka Raja, dalam tubuhku mengalir darah yang

diwariskan ayahanda almarhum. Kupingku mendengarkan

suara gong pusaka, malah langsung membakar semangatku."

"Kalau begitu, kenapa kau terlambat datang? Atau, kau

memang sengaja mengabaikan panggilannya?"

"Aku tidak mengabaikannya, Paduka Raja. Tapi, aku

sedang memikirkan, bagaimana aku harus melaksanakan

perintah yang akan ditugaskan padaku. Dan apa yang harus

kuucapkan dalam pertemuan ini, bila saat musyawarah

diadakan."

"Nah, kalau begitu dengar dulu kataku."

Raja Panggonggom menebarkan pandang ke sekitar.

Menatap wajah demi wajah dengan pandang tajam, lalu,

"Semua lelaki yang ada di hadapanku, yang pada tiap

tubuhmu mengalir darah merah warisan nenek moyang,

merahnya, api semangat yang tidak boleh dipadamkan.

Barulah kau dapat dikatakan seorang lelaki yang menghormati

nama baik nenek moyangmu, nama baik rajamu, nama baik

kampung, margamu, dan marga kita. Dan, barulah pula kau

wajar dihormati sebagai seorang lelaki."

Orang terdiam mendengarkan. Pada tiap wajah makin jelas

kelihatan pancaran sesuatu cahaya yang tidak mau

dipadamkan. Mata tiap orang menjadi merah dan gusar.

Tubuh mereka berkeringat olehnya. Otot yang tegap itu

menjadi mengencang, dibakar perasaan dalam hati.

"Pada tangan sebelah kiriku," lanjut Raja Panggonggom,

"tergenggam sebilah pisau, yang tadi pagi sengaja ditusukkan

orang, orang dari marga lain, ke dada salah seorang dari

antara kamu, dari antara kita, sehingga dia meninggal.

Mayatnya sekarang terlentang kaku di Sopo Bolon. Sekitar

mayatnya duduk melingkar para perempuan. Meratap

berkepanjangan. Tentu kamu turut mendengar ratap mereka,

ratap yang menangiskan sebuah perpisahan, perpisahan yang

timbul karena perbuatan orang lain. Para perempuan itu

berduka. Tapi, bagi kita para lelaki, tidak saja kepiluan

mendatangi diri. Yang menekan hati, lebih berat mendatang

dari penghinaan yang dengan sengaja diarahkan marga lain

yang membunuh Ama ni Boltung itu. Penghinaan yang harus

ditantang dengan sikap jantan, dengan darah merah yang

memancarkan cahaya semangat yang tak akan padam pada

tiap wajah kita. Ketahuilah, ratap para perempuan itu, sesuatu

yang mengharapkan penuntutan balas. Kita terkutuk, bila kita

tidak menuntut balas. Dan, kita tidak berhak lagi disebut dan

dihormati sebagai lelaki, bila penghinaan yang sangat nista ini

kita terima begitu saja."

Suara mendengung pada kelompok yang ada di depan raja.

Berakhir dengan meledaknya ucapan, "Perintahkan dengan

cepat, apa yang harus kami perbuat. Sebuah penghinaan

harus segera dilenyapkan. Supaya orang lain tidak berani

mengulanginya terhadap marga kita!"

"Ya, memang untuk itu kita berkumpul malam ini."

Ronggur berdiri. Matanya dilayangkan pada kelompok

pemuda, kemudian pada kelompok para lelaki. Lalu tertumpu

akhirnya ke tempat para raja.

"Ada yang hendak kau katakan?" tanya Raja

Panggonggom.

"Ya. Kalau paduka raja mengijinkan aku berbicara,"

suaranya tegas dan pasti. Kuat meledak. "Bicaralah____"

"Paduka Raja, dapatkah Paduka Raja menceritakan pada

kami, kenapa marga lain itu menancapkan ujung pisaunya ke

dada Ama ni Boltung?"

"Pisau itu mereka tancapkan ke dada Ama ni Boltung,

karena persoalan pembagian air yang harus dialirkan ke

sawah. Juga karena pertengkaran mengenai perbatasan

sawah. Yang menyerang Ama ni Boltung, tidak seorang saja.

Tidak kurang dari lima orang malah. Mereka menyerang

sekaligus, hingga Ama ni Boltung yang sudah kita kenal

keberanian dan ketangkasannya berkelahi, rubuh ke atas

tanah. Tapi, janganlah kita beranggapan bahwa Ama ni

Boltung terlalu lalai menghadapi musuhnya. Dia masih sempat

membawa korban. Tidak kurang dari dua orang yang

menyerang dirubuhkannya, dicabutnya nyawa mereka dengan

ujung pisau. Dan, seorang lagi luka pada tangannya.

Arwahnya tentu ditempatkan para dewata di tempat para

hulubalang perkasa, tempat terhormat."

"Kuhormati kepahlawanan Ama ni Boltung," sahut Ronggur,

"tapi yang paling perlu kita pikirkan sekarang, mula atau

sebab timbulnya perkelahian itu. Dari keterangan Paduka

Raja, dapatlah diketahui bahwa soalnya timbul karena

pembagian air dan perbatasan sawah. Soal yang sudah terlalu

sering menimbulkan pertengkaran, yang sudah terlalu sering

mengakibatkan pecahnya perang antara satu marga dengan

marga lain, antara satu lu hak dengan luhak lain. Yang

menjadi pokok persoalan sekarang menurut pendapatku,

hendaknya kita menelaah, kenapa persoalan begitu rupa

tambah sering kita hadapi. Tambah sering mengganggu

ketenteraman hidup? Mengganggu kerukunan hidup di pantai

Danau Toba ini?" Semua terdiam. Juga raja.

Ronggur melanjutkan, "Soalnya, karena semakin sempitnya

tanah yang dapat kita garap. Tadi siang, aku jalan-jalan

sampai ke kaki bukit, yang tanahnya bercampur batu. Sudah

sampai ke sana perluasan sawah. Tanah batu yang cukup

keras itu mereka pecahkan dengan cangkul yang diayunkan

kedua tangan mereka. Mereka melinggis pinggiran gunung

batu, membangun sebuah parit saluran air. Lihatlah, betapa

sungguhnya tiap orang dan marga yang ada di sekitar danau

ini mempertahankan hidupnya. Mereka orang yang berani

hidup. Yang taat melaksanakan pesan nenek moyang masingmasing,

melanjutkan hidup keluarga dan marga."

"Cukup," kata raja, "kami juga sudah mengetahui itu. Kami

juga turut bekerja. Tangan kami juga turut lecet karena

mengayun pacul ke tanah berbatu. Keringat kami juga turut

membasahi tanah batu, supaya batu menjadi lumat agar bisa

menghasilkan padi."

"Paduka Raja," kata Ronggur pula tak mau henti, "jadi, soal

sebenarnya sudah kita ketahui. Tanah yang dapat kita

kerjakan masih tanah yang dulu juga. Tidak bertambah luas.

Tapi, tiap suku tambah berkembang biak. Berarti, tambah

banyak mulut yang harus diberi makan dari hasil tanah yang

itu juga. Ini sudah terang menambah kesulitan hidup. Karena

itulah, setiap orang menggunakan akal licik untuk memperoleh

setapak tanah. Orang tambah berebut pada air parit yang

dangkal agar sawahnya lebih dan dapat lebih banyak

menghasilkan padi. Inilah mula persoalan! Harus awal soal ini

yang diatasi agar hal yang bisa menimbulkan perkelahian dan

peperangan yang menumbuhkan luka dan duka di tiap hati

dapat dihilangkan."

"Apa maksudmu?" tanya Raja Panggonggom.

"Kita harus mencari - ya, mencari daerah baru tempat

perluasan marga."

Dengungan suara pun bangkit di tengah orang banyak.

"Usulmu memang bagus," sahut Raja Panggonggom

mengatasi dengung suara itu. "Tapi, ke mana kita harus

mencari tanah garapan baru? Sekitar kita, melingkar gunung

batu yang tandus lagi tinggi. Kita tidak tahu, berakhir di mana

gunung ini. Kita tidak dapat tahu, apakah masih ada tanah

datar di seberang pegunungan ini. Pegunungan ini berlapislapis,

pagar alam yang sengaja dibuat para dewata, supaya

kita tidak melintasi dan melewatinya. Tiap puncak dijaga para

dewata, yang menjelma menjadi binatang buas. Penjaga ini

tidak senang pada orang yang berani melintas di sana, karena

mengganggu ketenteraman para dewata yang tidak tampak

oleh mata kita. Binatang buas akan membunuh tiap orang

tanpa ampun. Siapa yang mau membunuh diri dengan

pekerjaan sia-sia itu? Karena itu, bagaimanapun, kita harus

mempertahankan tiap jengkal dan tiap tapak tanah yang kita

pusakai dan kuasai. Dan, harus berusaha pula meluaskannya.

Caranya terserah pada kekuatan kita. Habis perkara."

Ronggur tidak langsung menyahut, namun sinar wajahnya

masih tetap memancarkan sikap keyakinan. Lebih dulu

ditatapinya wajah para raja, kemudian wajah para lelaki,

beralih pula pada wajah pemuda sebayanya. Lalu katanya

dengan suara perlahan tapi pasti: "Menurut cerita nenek

moyang, yang dituliskan pada pustaka, setiap sungai akan

bermuara ke tanah landai. Karena itu, kita akan mengikuti

sungai."

"Sungai mana?" cepat Raja Panggonggom memotong.

"Sungai Titian Dewata, yang bermula dari salah satu teluk

danau."

Dengung suara bangkit di tengah kelompok lebih gemuruh

dari tadi. Wajah Raja Panggonggom memancarkan sinar

kemarahan, apalagi orang tua yang duduk di belakangnya

yang menyandang kulit kera yang sudah dikeringkan. Dan,

yang juga sejak tadi terus-menerus mengunyah sirih. Sambil

meludah merasa jijik atas ucapan Ronggur, dikenal bernama

Datu Bolon Gelar Guru Marla-sak. Setiap orang jadi

merasakan, telah dipermainkan Ronggur. Tapi, Datu Bolon itu

lebih merasakan, Ronggur sudah memancing kemarahan para

dewata. Kutuk dewata akan tiba.

Tapi, dengan sikap bijaksana yang melekat pada Raja

Panggonggom, dia dapat mengatasi luapan marahnya, lalu

mengatakan:

"Ronggur, kau masih terlalu muda, Anakku! Sungai Titian

Dewata itu lain dari sungai biasa. Sungai Titian Dewata,

berakhir di ujung dunia. Sengaja diciptakan dewata untuk

Titian Para Dewata menuju matahari, tempat Mula Jadi Na

Bolon bersemayam. Jadi, kita tidak dapat mengikuti Sungai

Titian Dewata bila hendak mencapai tanah landai. Sungai

Titian Dewata, jalan arwah kita kelak ke dunia lain, ke hidup

lain, di mana para dewata dan arwah nenek moyang

bersemayam di sekita/ Mula Jadi Na Bolon. Tempat terhormat.

Hendaknya, semua rakyatku, tiba ke sana, agar hidupnya di

dunia lain itu berbahagia."

Sikap Ronggur masih mau berbicara lagi. Tapi, Raja

Panggonggom memberi isarat, agar dia duduk. Tidak memberi

kesempatan bicara lagi. Orang tambah merasa dipermainkan

Ronggur. Karena perintah itu, Ronggur harus duduk,

memendam semua yang ada di dalam hati. Gong sudah tidak

dipalu orang lagi sehingga ratap perempuan dari Sopo Bolo

tambah jelas kedengaran.

Raja Panggonggom kembali berbicara, "Kita tadi dengan

sengaja telah membuka satu percakapan yang cukup panjang.

Tapi, percakapan itu tidak langsung penyebab kita kumpul di

sini, saat ini. Lihat, pisau yang tergenggam di tangan kiriku ini.

Darah Ama ni Boltung masih melekat di sini, masih basah

malah. Alangkah sia-sia, suatu kemurtadan, kalau kita tidak

menuntut balas, kalau kita tidak menghapus corengan arang

yang di buat orang di wajah marga kita. Karena kita tidak mau

disebut orang murtad, orang yang dikutuk arwah nenek

moyang, terutama pula setelah suruhan kita diusir oleh marga

yang membunuh Ama ni Boltung itu, sidang kerajaan hari ini

memutuskan: mengumumkan perang dengan marga yang

membunuh Ama ni Boltung!"

"Huraa . . . .!" para lelaki dan pemuda bertempik sorak

menyambut putusan raja, sehingga suara ratap perempuan

tenggelam.

"Apakah seluruh rakyatku, seluruh hulubalangku, dapat

menerima dan mendukung putusan ini?"

"Kami akan laksanakan dengan gigih," jawab serentak.

Setelah Raja Panggonggom duduk, Raja Nabegu berdiri.

Wajahnya lebih tegas dan ganas dari Raja Panggonggom.

Sewaktu dia berbicara, wajahnya menjadi merah dan matanya

menyinarkan cahaya marah yang tidak terpadam-kan.

Suaranya deras mengalir dan mengguntur:

"Para hulubalang, pendukung kehormatan marga. Padamu

sekarang terletak tugas untuk menghapus corengan arang dari

wajah kita masing-masing. Tunjukkanlah kebe-ranianmu,

tunjukkanlah kehulubalanganmu. Rapat kerajaan hari ini, Raja

Partahi, Raja Namora, dan Raja Ni Huta, akan membantu para

hulubalang marga dari bidang masing-masing. Janganlah siasiakan

segala bantuan ini! Jadi, mulai malam ini, diumumkan

awal peperangan dengan marga yang sangat angkuh itu.

Tangkaplah mereka di mana saja berjumpa. Bunuh kalau

melawan. Musnahkan kampungnya, rampas, lalu jadikan

kampung perluasan bagi marga kita! Tawan rajanya! Jadikan

budak setiap keturunannya . . . .!" Kelompok kembali

bersorak.

"Para perempuan." kata Raja Nabegu selanjutnya, "setelah

mengebumikan mayat Ama ni Boltung besok pagi, akan

dikerahkan Raja Ni Huta menyediakan batu sungai peluru

ambalangmu. Raja Namora, akan menyediakan makanan

bagimu. Raja Partahi, akan menyediakan alat peperangan

untukmu. Sedang Raja ni Huta, dari kampung sekitar,

kampung yang didiami marga kita juga sebagai kampung

perluasan, sebentar lagi akan berkumpul di sini. Mereka

sekarang sedang menyiapkan segala sesuatu mengumpulkan

pasukan untuk membantu kita. Mereka, adik-adik kita yang

setia."

Kelompok kembali bersorak dan bertepuk tangan.

"Ada di antara kalian yang tidak setuju dengan perintah ini,

dengan putusan sidang kerajaan ini?"

Tidak ada sahutan. Ronggur menundukkan kepala. Pada

bayang pandangnya, sudah tergambar darah merah basah

menetes dari tiap tubuh, beberapa mayat bergelimpangan di

tanah.

"Kau Ronggur!" tegur Raja Nagebu, "masihkah kau seorang

pemuda?"

"Seperti tampak Paduka Tuan."

"Kalau kau pemuda, tentu kau akan melaksanakan tugas

pemuda."

"Ya. Walaupun usulku ditolak, sebagai pemuda marga, aku

akan turut melaksanakan tugas. Apa sekalipun!"

"Bagus, bagus, asahlah kapakmu! Tajamkan mata

tombakmu! Perkuat tali ambalangmu. Perbaiki perisaimu!"

Lalu, dia kembali duduk.

Raja Panggonggom kembali berdiri. Menatap bala tentara

yang sudah penuh semangat. Raja Partahi dan Raja Namora

sudah menyisih dari khalayak ramai. Pergi menyembelih

beberapa ekor babi dan mengeluarkan alat perang dari tempat

simpanan. Sedang Raja Ni Huta telah menyediakan peralatan

gondang, lengkap dengan pemain. Raja Panggonggom lalu

mengatakan:

"Bapa Paru Bolon Gelar Guru Marlasak. Tenunglah dengan

kekuatan batinmu! Panggillah para arwah nenek moyang

melalui kekuatan sihirmu agar mereka membantu kita dalam

peperangan. Panggillah para dewata agar memberkati seluruh

laskar kita. Supaya kita berada di pihak yang menang, bisa

mengalahkan musuh, dan supaya semangat terus mengapi

tanpa mau padam sebelum musuh ditundukkan, dijadikan

budak belian."

Datu Bolon Gelar Guru Marlasak berdiri. Maju ke tengah

khalayak dan di sana membuka parhalaan. Kemudian

bersemadi entah beberapa lama, duduk bersila di atas tanah.

Kemudian, ludahnya yang merah karena mengunyah sirih,

disemburkan ke sekitar. Kemudian membaca jampi-jampi,

mulutnya bergerak-gerak.

Di saat itu, Raja Partahi, Raja Namora, dan Raja Ni Huta,

telah kembali duduk di tempat semula.

Setelah memberikan tanda, mulai berdiri, Datu Bolon

meneriakkan dengan suaranya parau:

mahluk halus penjaga rumah,

mahluk halus penjaga tanah

yang tidak dapat dilihat mata

semangat poyang tujuh keturunan

kupanggil kau, datanglah bersama kami

bapak pargaul pargonci,

palulah gondang somba-somba

Gondang pun dipalu, gondang somba-somba. Orang pada

berdiri, bersiap-siap mau manortor. Di belakang Datu Bolon,

tempat kerajaan baru khalayak ramai. Kepala mereka

menunduk-nunduk, memberi hormat pada arwah halus yang

tadi dipanggil, Datu Bolon menemani mereka membasmi

musuh. Tangan yang dua, dirapatkan dikening, bersujud.

Habis itu, Datu Bolon meminta agar dimainkan pula

gondang Mula jadi na Bolon sebagai penghormatan yang

mutlak terhadap pencipta asal kehidupan dan yang kepadanya

akan kembali segala yang hidup. Cepat pula diiringi Gondang

Bataraguru, agar Dewata Bataraguru memberi kekuatan jiwa

bagi mereka dalam menghadapi musuh, kekuatan jiwa dalam

menghadapi saat yang genting, sehingga mereka tidak

mengenal menyerah. Lalu menyusul Gondang Balabulan, agar

Dewata Balabulan, memurkai dan mengutuk musuh.

Melumpuhkan semangat musuh agar tidak berani menghadapi

laskar mereka. Lalu Gondang Debata Sori mengikutinya agar

dewata Sori memberi kebijaksanaan bagi para hulubalang

dalam menyusun strategi perang. Dan, memberi keselamatan

bagi mereka semua. Habis itu, menyusul Gondang Habonaran,

yaitu yang menunjukkan bahwa mereka memang

berada di pihak yang benar. Setiap yang berpihak pada

kebenaran, pasti akan menang. Gondang Sitio-tio, memohon

pada seluruh dewata, agar merahmati mereka, baik dalam

pertempuran, begitu pula untuk selanjutnya. Sebagai penutup,

dimainkan Gondang Husahatan, supaya tiba ke tempat yang

dicitakan, sampai kepada kemenangan akhir.

Datu Bolon mengakhiri tortor itu dengan menjampikan

pantun kemenangan:

Mendaratlah perahu meniti ombak ketanah landai

berangkat kita ke medan perang pantang pulang sebelum

menang Semua, baik kerajaan, begitu pula para hulubalang,

dan laskar menyambut dengan sorak-sorai dan gemuruh.

Orang kembali duduk ke tempat masing-masing. Tapi, Datu

Bolon masih di tengah lingkaran, kemudian mengatakan,

"Bawalah ke mari seekor ayam jantan putih yang sudah

bertaji."

Raja Ni Huta cepat memberikan yang diminta Datu Bolon.

Datu Bolon langsung menjampi ayam itu. Kemudian,

dipulasnya leher itu, sehingga menitikkan darah. Cepat-cepat

dia mendekati kelompok kerajaan, lalu menyuruh mereka

mereguk darah ayam yang masih mentah itu, langsung dari

leher ayam yang dipulasnya. Kembali sorak-sorai.

Bangkai ayam diletakkan di tengah kelompok. Kembali dia

bersemadi, entah berapa lama. Dalam saat begitu, gondang

dipalu orang perlahan-lahan, hampir tidak kedengaran. Di saat

begitu ratap perempuan dari Sopo Bolon kembali terdengar.

Meratapi mayat Ama ni Boltung.

Seperti tidak tersangkakan, Datu Bolon meloncat dari

jongkoknya sambil berteriak dan memekik. Kemudian berdiri

tegak lurus, lalu mengatakan:

"Besok pagi bila fajar pertama terbit, serbulah musuh.

Seranglah mereka dari segala arah. Desak mereka sampai ke

tepi kampung induk marganya. Kamu bisa menerobos

pertahanan kampung induknya dari arah timur. Di sana bambu

duri pagar desa, masih muda. Kamu bisa menyusup dari sana

ke tengah kampung tanpa dihalangi duri bambu yang rapat

dan keras. Kucar-kacirkanlah mereka! Tawan setiap lelakinya

yang masih hidup! Begitu pula para perempuan, jadikanlah

budak belian. Bunuh kalau melawan atau berusaha melarikan

diri!" Orang kembali bertempik sorak.

Ayam jantan putih tadi, mereka bakar langsung dengan

bulunya sekali ke dalam api unggun. Di saat dagingnya belum

masak benar, Datu Bolon telah membagikannya pada

golongan raja, sebagai wakil para dewata memakan daging

sembahan.

Pada tengah malam, Raja Ni Huta dari kampung sekitar

yang masuk pangkat adik, lengkap dengan pasukan, telah tiba

di sana. Raja Panggonggom menyambut mereka, dengan

basa-basi kerajaan.

Raja Ni Huta yang pangkat adik itu, kemudian melaporkan

bahwa mereka sudah siap sedia melaksanakan perinlah dan

pangkat abang mereka. Lalu mereka mengambil tempat. Para

laskarnya bersatu dengan laskar yang sejak tadi ada di sana.

Raja Ni Huta yang tujuh orang itu, yang berarti ada tujuh

kampung lagi masuk lingkungan kerajaan marga itu, duduk

dekat raja, di tengah lingkaran. Setiap Raja Ni Huta pangkat

adik itu, memakai bolatan juga, tapi warna putihnya lebih kecil

dari Raja Ni Huta yang berdiam di induk kampung marga.

Lalu, kedengaran Raja Panggonggom berkata:

Rotan ras rotan singorong mengikat keutuhan marga

bersatu raja dan hulubalang menjunjung martabat marga Raja

Ni Huta yang tertua menyahut: Berbaris kami seperti gajah di

hutan balantara perintah raja menjadi suluh kami abdi abadi '.

Raja Panggonggom melanjutkan:

Tujuh sisiku

menghadap tiap penjuru

indah mimpiku

hulubalang perkasa punyaku

Khalayak ramai serentak menyahut:

Kami genggam tombak

tombak pusaka godang

bila raja bersama khalayak

bahagia rakyatnya

Lalu gondang pun kembali dipalu. Raja Ni Huta yang tujuh

orang itu manortor bersama, yang diiringi oleh seluruh rakyat

yang mereka bawa. Tortor yang menunjukkan kesetiaan. Lalu,

Raja Panggonggom turun dari tempatnya, menyelempangkan

ulos-batak ke tiap pundak Raja Ni Huta yang tujuh itu.

Pertemuan itu tidak bubar sampai pagi hari. Mereka terus

margondang dan terus manortor. Para hulubalang, bersama

Raja Nagebu, telah selesai menyusun strategi dan taktik

peperangan sesuai dengan petunjuk Datu Bolon. Tuak dan

daging babi terus dihidangkan sampai hampir setiap orang

sempoyongan. Dalam bergembira itu, terlupa terjun besok

pagi ke kancah pertempuran.

Ronggur selalu menyisih dan meminum tuak seperlunya

saja, menghalau dingin dari tubuh sehingga keseimbangan

pikirannya tetap terpelihara. Dia melihat orang yang sedang

menari, orang yang sedang bernyanyi, orang yang sedang

dibius semangat, untuk memasuki nasib yang tidak terduga.

Dia tahu pasti, beberapa orang di antara mereka akan jatuh

menjadi korban dalam peperangan. Mati! Semua bayangan

kemungkinan ini mempengaruhi pikiran dan perasaannya.

Tapi, semua itu harus ditekan. Dia harus turut, malah

menjunjung putusan kerajaan. Usulnya ditolak! Tapi,

semangat usul itu tetap berakar dalam hati.

Bersama terbitnya fajar pagi yang memancar dari balik

puncak Dolok Simanuk-manuk, para lelaki yang marah itu,

yang sudah dibius semangat itu, bergerak menuju sasaran,

memusnahkan musuh. Sambil bertempik dan bersorak. Di

depan sekali berjalan para hulubalang. Kemudian kerajaan. Di

sayap kanan dan kiri para laskar. Mengisi seluruh lapangan

terbuka, yang punya tanah tipis dan di bawahnya batu alam

yang keras. Kemudian menurun ke sawah yang baru dibajak.

Mereka dihadang musuh pada sebuah sungai kecil. Pasukan

dari marga lain itu, juga membawa senjata seperti yang

mereka bawa. Jarak antara kedua pasukan itu dipisah sebuah

sungai kecil yang airnya dangkal. Kerajaan dari marga lain itu,

turut bersama laskarnya. Tak ubah seperti kerajaan marga

mereka sendiri. Lengkap dengan Datu Bolonnya. Manusia di

seberang kali sana pun bertempik sorak. Mengacungacungkan

senjata tajam. Wajah manusia itu tak ubah seperti

wajah mereka sendiri, marah, mendendam.

Batu yang dilemparkan ambalang, berterbangan di udara.

Kemudian jatuh mencari sasaran, kepala manusia. Dari segala

arah kedengaran pekik dan jeritan, hardik dan hasutan.

Bercampur baur dengan udara yang terik. Seolah matahari

mau membakar setiap tubuh manusia dan bumi. Debu

mengepul ke udara di tempat kering. Lumpur berhamburan

lalu mengotori wajah manusia di tempat basah. Tempik dan

sorak, pekik, hardik, dan hasutan terus menerus bergema.

Pasukan kedua marga yang sedang marah itu, sorongmenyorong.

Tidak ada yang mau kalah. Jarak antara

keduanya bertambah dekat. Ambalang tidak digunakan lagi.

Langsung tombak, panggada, dan kampak dipukulkan dan

ditangkis perisai. Siapa yang jatuh, jatuh tersungkur tanpa

diperdulikan, malah menimbulkan kegembiraan bagi orang

yang dapat merubuhkannya. Kedua pasukan marga itu sudah

sama-sama terjun ke dalam sungai. Di sana mereka

bersicucukan, bersihantaman, dan bersipu-kulan dengan

segala macam taktik dan cara. Matahari terus bersinar terik.

Pasukan kedua marga itu sama banyak, sama kuat, dan sama

berani.

Sehari itu keadaan pertempuran tidak berobah. Beberapa

orang yang luka di bawa ke garis belakang oleh para

perempuan. Beberapa-orang yang mati dibawa ke garis

belakang juga, tapi tidak sempat ditangisi. Anak-anak pun

sudah turut serta. Mengumpulkan batu, yang segera diberikan

pada para lelaki pemegang ambalang. Tapi, batu itu tidak

sempat lagi dilemparkan dengan ambalang, langsung

dilemparkan tangan. Dan terkadang tidak jarang, anak itu

turut terjun ke tengah pertempuran untuk memukul atau

dipukul.

Bila senja tiba, kedua pasukan marga itu saling

meninggalkan daerah pertempuran. Mereka disambut gendang

dan tortor para orang tua, para perempuan, para gadis di

induk kampung. Daging babi, tuak, terus diedarkan membakar

semangat bertempur. Datu Bolon terus-menerus menjampi.

Lalu, memberi nasihat baru.

Dan, bila fajar terbit lagi, mereka kembali terjun ke daerah

pertempuran. Di tengahnya, Ronggur mengamuk ke kiri dan

ke kanan. Ronggur bersama beberapa pemuda menyusup ke

depan, berusaha mengkucar-kacirkan daerah musuh. Susupan

mereka ini cepat diikuti gelombang kedua, ketiga, dan

keempat, yang membuat pertahanan musuh tembus. Musuh

kelabakan. Tapi, yang hendak dikucar-kacirkan itu, tidak mau

menyerah begitu saja. Mereka juga mengadakan perbaikan

pada pertahanannya dengan cepat. Lalu mengadakan pukulan

balasan. Tapi, pasukan marga Ronggur mengadakan desakan

yang terus-menerus, bertubi-tubi, sehingga garis pertahanan

musuh mulai dipukul mundur. Sampai akhirnya mendekat ke

kampung musuh.

Malam itu pasukan marga Ronggur tidak kembali ke induk

kampung. Mereka terus mengepung induk kampung musuh.

Pagi berikutnya pasukan marga Ronggur menyerbu induk

kampung musuh dari sebelah timur, seperti yang dinasihatkan

Datu Bolon. Melalui bambu duri yang masih muda, mereka

menerjang ke tengah kampung, dengan pekikan yang

melengking.

Dengan segala tenaga yang ada, marga yang diserbu itu

mengadakan perlawanan. Ikut sudah para perempuan, baik

yang tua begitu pula yang masih gadis. Tampaknya tidak akan

habis perlawanan itu sebelum mereka mati semua. Mampus

semua.

Dari tempat ketinggian, sekali waktu Ronggur melihat, anak

gadis Raja Nabegu kampung yang mereka serbu, turut

mengadakan perlawanan. Rambutnya yang panjang terurai

lepas. Dibasahi oleh keringat. Dilihat biji mata Ronggur sendiri,

sudah ada dua tiga orang pasukan marganya ditumbangkan

anak gadis itu. Dengan satu loncatan jarak jauh, Ronggur

sudah berada di hadapan perempuan itu. Mata perempuan itu

memancarkan sinar merah, mengapi, hendak menelan

Ronggur bulat-bulat. Perempuan itu memukulkan penggada ke

arah Ronggur. Tapi, Ronggur mengelak dengan melompat,

dan peng-gadanya sendiri mengenai tengkuk perempuan itu

sampai jatuh ke tanah. Dalam hati Ronggur berucap

“Sungguh perempuan pemberani!"

Juga, sekali waktu menumbangkan seseorang yang sedang

membidikkan tombaknya ke arah Raja Panggonggom

marganya. Sewaktu Raja Panggonggom dan pengawalnya ke

arah lain. Cepat Ronggur menyergap orang itu. Tapi,

tangannya sendiri, lengannya, luka. Namun musuhnya dapat

ditumbangkannya dengan menghantamkan penggada ke

kepala musuh. Otak meleleh dari luka. Raja Panggonggom

melihat ini semua.

Luka di lengannya cepat dibalut Ronggur. Lalu terjun lagi

ke tengah pertempuran yang dahsyat itu.

Asap pun mulai mengepul. Rumah sudah mulai dibakar.

Padi dari lumbung desa diangkut, juga harta rampasan

perang. Para lelaki yang belum mati, begitu pula para

perempuan yang belum mati, ditawan. Untuk dijadikan budak

belian. Yang sampai keturunannya kelak akan tetap dan tidak

bisa terangkat dari martabat budak. Tidak akan berhak lagi

mengadakan pekerjaan adat. Harus patuh setiap saat

mengerjakan apa saja yang diperintahkan tuannya.

Kampung berdekatan dengan induk kampung itu sudah

dibakar. Perang sudah berakhir. Kekalahan dipihak marga

yang diserbu. Para rakyatnya yang masih hidup sudah

ditawan, dirantai.

Ronggur teringat pada perempuan yang ditumbangkannya.

Cepat dia menuju ke sana. Keringat melelehi seluruh

tubuhnya. Entah kenapa hatinya mengharapkan agar

pukulannya hendaknya tidak terlalu keras. Dia mengharapkan,

hendaknya perempuan itu masih hidup. Dia mau

menawannya.

Merasa bersyukur dia, perempuan itu masih merintih. Cepat

dia mengambil air lalu diusapnya wajah perempuan itu dengan

air. Kemudian diberinya minum. Didengarnya suara gadis itu

perlahan mengatakan:

"Aku harus bersama kalian, hai lelaki margaku.

Pertahankan martabat marga kita. Sampai mati!"

Ronggur tersenyum mendengar rintihan itu. Dia dapat

menghargai keberanian dan semangat perlawanan yang

dipunyai perempuan itu.

Matahari sore dengan lembut memancarkan sinar, seperti

sudah turut lesu menyaksikan peperangan yang baru saja

berakhir dan banyak menimbulkan korban. Menjadi sumber

rintihan, air mata, dan dendam. Dengan pekik kemenangan

pasukan laskar marga Ronggur menuju pulang ke induk

perkampungan. Sambil melangkah mereka lagukan nyanyi

kemenangan. Tangan menarik para tawanan. Sebagian

disuruh mengangkut harta rampasan.

Nanti akan dibagi-bagikan pada tiap keluarga, terutama

pada keluarga yang suaminya atau anak lelakinya jatuh

sebagai pahlawan di medan laga. Lebihnya akan dimasukkan

ke dalam lumbung desa.

Ronggur menarik tali yang mengikat perempuan yang

ditawannya. Perempuan itu selalu meronta dan ingin

melepaskan diri. Ronggur tersenyum saja dan terus menarik

tali dengan tabah.

Di gerbang kampung, para perempuan, lelaki yang sudah

tua, dan lelaki yang luka menyambut mereka. Begitu pula

anak-anak yang masih digendong, disuruh ibunya

melambaikan tangan ke arah ayah, abang mereka yang

pulang dari peperangan sebagai pemenang. Sedang para

perempuan yang tidak dikunjungi suaminya lagi, tidak

dikunjungi anak lelakinya lagi, karena mati dalam

pertempuran, pergi bersama ke Sopo Bolon mengasingkan diri

dari orang yang sedang bergembira. Di sana mereka meratap

dengan lemah. Diusahakan agar tidak mengganggu

kegembiraan para pahlawan yang menang perang. Agar tidak

mengotori rasa gembira pada Mula Jadi Na Bolon dan seluruh

para dewata serta arwah nenek moyang, karena mereka telah

dipilihnya menjadi pemenang, yang dengan sendirinya

mengangkat martabat marga dan raja mereka. Sendirinya pula

daerah taklukan mereka bertambah luas. Kampung marga

yang mereka kalahkan, akan dijadikan kampung perluasan

bagi marga mereka. Sawahnya akan diambil dan dibagibagikan.

Upacara kemenangan pun diadakan. .Beberapa ekor babi

dipotong lagi dan darahnya diminum bersama. Gondang dipalu

dan tortor kemenangan ditarikan orang bersama-sama.

Sebagai penutup upacara Raja Panggonggom mengucapkan

terima kasih pada seluruh laskarnya. Baik yang sudah mati

begitu pula pada yang masih hidup. Harta rampasan dibagi.

Tanah persawahan rampasan juga ditentukan jatuh ke tangan

siapa. Pun, dengan suka rela dimintakan pada setiap orang

yang mau pindah ke kampung yang ditaklukkan itu. Diizinkan

mereka mendirikan rumah di situ. Jadilah kemudian kampung

itu menjadi kampung perluasan marga. Yang harus tunduk ke

induk kampung. Pada tiap kampung sebagai pelaksana adat

dan penyelenggara hukum, ditunjuk beberapa orang yang

cukup berjasa menjadi Raja Ni Huta. Raja Panggonggom

melirik secara khusus pada Ronggur, lalu, "Ronggur, dalam

pertempuran kau telah menyelamatkan nyawa kami. Sekarang

giliran kami membalas jasamu yang besar itu. Katakanlah,

kehendakmu!"

Ronggur memohonkan agar padanya diberi kekuasaan

untuk terus menawan tawanannya, menjadikannya sebagai

budak untuk membantu ibunya yang sudah tua mengerjakan

urusan rumah, mencabuti rumput sawah bila saatnya tiba.

Justru karena Ronggur tidak punya adik perempuan. Dia anak

tunggal.

Permintaan itu dikabulkan. Dikatakan pula, Raja Ni Huta

induk kampung musuh yang ditaklukkan itu, dikuasakan pada

Ronggur. Tapi, karena dia belum berumah tangga, jadi belum

cukup dewasa dalam peralatan adat dan hukum, ditunjuk

seseorang menjadi walinya, yang disetujui Ronggur sendiri.

Sawahnya yang ada dekat induk kampung marganya

diserahkan pada kerajaan. Sebagai gantinya diberikan

kepadanya sawah yang dulu dimiliki Raja Nabegu dari marga

yang mereka kalahkan.

Sejak hari itu, Ronggur dikenal orang sebagai Raja Ni Huta

Muda merangkap Hulubalang Muda.

Untuk beberapa hari, orang masih tetap dipengaruhi

suasana kegembiraan menang perang. Pesta kemenangan

dilangsungkan tiga hari tiga malam. Walaupun pesta sudah

selesai, ingatan orang masih tetap terpaut ke sana. Di sana

sini Ronggur mendengar orang mengatakan:

"Dengan cara beginilah kita harus menguasai tanah

persawahan subur yang ada di sekitar danau untuk

melanjutkan keturunan."

Beberapa orang ampangardang, baik dari marga sendiri

begitu pula dari marga lain yang masih banyak bertabur di

sekitar danau, menghapal jalannya pertempuran lalu

memindahkannya ke bentuk yang dapat dinyanyikan. Mereka

tebarkan dari mulut ke mulut sambil memetik kecapi.

Beberapa nama pahlawan timbul, menjadi tokoh keberanian

dan ketangkasan serta kesetiaan termasuk nama Ronggur

sendiri.

Tapi, Ronggur sendiri, sehabis pesta kemenangan itu cepatcepat

mengerahkan rakyat yang suka rela pindah ke induk

kampung musuh yang dikuasakan padanya. Membangun

perumahan baru di atas puing-puing reruntuhan. Oleh tugas

yang banyak dan memang dia sendiri ingin cepat melupakan

saat menanjakkan marganya ke tingkat yang lebih tinggi dan

meningkatkan kedudukan dirinya sendiri, cepat dilupakannya.

Memang dia sudah menjadi Raja Ni Huta Muda dan

Hulubalang Muda, orang tidak berani lagi atau tidak wajar lagi

menyebut nama kecilnya. Orang selalu menyebut atau

memanggilnya dengan Raja Ni Huta Muda dan Hulubalang

Muda.

2

Rumah baru sudah berdiri pengganti rumah yang dulu

terbakar. Darah yang tercecer ke lumpur sawah sudah

bercampur baur dengan tanah menjadi pupuk di musim

mendatang. Tidak tampak lagi warna merahnya. Kuburan

yang digali tempat abadi bagi orang yang mati, sudah

ditumbuhi rerumputan hijau. Padi di sawah sudah bunting.

Masa merumputi sudah lewat. Pekerjaan orang kembali

senggang. Saat yang baik bagi pemuda pergi martandang ke

kampung paman mencari jodoh.

Anak-anak sudah ada berlahiran, pengganti yang mati

dalam peperangan. Jumlahnya lebih banyak malah. Para gadis

belajar memintal benang dan bertenun. Bila bulan purnama,

menumbuk padi di halaman perkampungan sambil bernyanyi,

dan menerima datangnya partandang. Anak lelaki diajar

membaca dan menulis huruf Batak. Cerita kepahlawanan

disampaikan pada mereka. Juga mereka diajari memanjat

pepohonan tinggi supaya tidak gamang. Yang agak besar,

diajari menggunakan senjata.

Lambat-laun kehidupan kembali tenang. Yang membuat

ingatan orang sudah menipis pada peperangan yang baru

lewat. Tapi, pada mereka sampai juga berita dari sekitar

danau: marga anu berperang dengan marga satu lagi. Lu hak

anu berperang dengan luhak satu lagi. Sumber malapetaka

tetap sama: air parit dan batas tanah. Orang yang kalah

dijadikan budak. Tapi, yang sempat melarikan diri,

memencilkan diri ke tanah tandus di kaki bukit, menjadi orang

buruan. Orang buruan ini membuat rumahnya di dinding bukit

dan gua.

Jadi, bagi Ronggur, ketenangan yang sekarang dikecap

marganya masih tetap mengandung sesuatu kemungkinan

yang menakutkan. Setiap warta pecahnya perang antara satu

marga dengan marga lain selalu membuatnya berduka. Karena

itu, dia lebih banyak menyendiri. Bila temannya sebaya sudah

banyak berumah tangga, dia belum. Walau sudah sering

diminta ibunya, dia masih tetap menampik.

Perlakuannya pada wanita tawanannya berbeda dengan

perlakuan orang lain yang punya budak terhadap budak

masing-masing. Dia masih tetap memandang dan

memperlakukannya sebagai manusia yang punya hak. Tapi,

keyakinan yang digenggamnya ini belum berani dia

menyampaikannya pada orang lain. Masih merasa takut dia,

masih merasa kecil dia menurut anggapannya, melawan

tradisi yang sudah tertanam dan berurat akar di hati manusia

yang ada di sekitarnya.

Karena memperoleh perlakuan yang baik itu, akhirnya Tio,

wanita tawanan itu, merasa senang juga. Padanya tetap

diberikan Ronggur kebebasan bergerak. Dia boleh pergi ke

padang-padang luas, mengembara, dan berburu bersama

anjingnya si belang. Tak ubah seperti kebebasan yang ada

pada orang merdeka.

Dan, Ronggur tidak merasa kuatir kalau budaknya itu

melarikan diri. Dia yakin kalau memperoleh perlakuan yang

baik budak itu tidak akan melarikan diri.

Namun perasaan terpencil tetap menguasai diri Tio, justru

karena gadis yang sebaya dengannya dari suku Ronggur tidak

mengawaninya. Ini jugalah yang mendesaknya agar setiap

hari pergi jauh dari kampung ke tempat terpencil yang jarang

dikunjungi orang. Di sana dia menghabiskan hari.

Tio menyendiri sampai ke kaki bukit. Dari situ dia dapat

melihat danau di bawah. Dan, sesuatu keinginan selalu timbul

di dadanya, ingin pergi jauh. Namun keluh akhirnya

mematikan keinginan itu. Dia dibenturkan kembali pada

kenyataan bahwa dia bukan orang merdeka. Kalau lari saja?

Ronggur sudah berbuat baik terhadapnya. Merasa kurang

enak baginya untuk menghianati seseorang yang

menghormati dirinya'dengan sewajarnya. Lagi pula kalau dia

lari, Ronggur lelaki yang paling jahanam, akan mengejarnya

ke mana saja. Dia akan dapat ditangkap Ronggur.

Berburu bisa membuat Tio asyik. Atas bantuan si belang,

Tio dapat mengetahui tempat seekor pelanduk bersembunyi,

tempat kawanan burung berondok. Dengan mata tombaknya

yang pasti arahnya, dengan lemparan ambalanganya yang

deras, dia bisa membunuh binatang buruan itu. Kemudian

membawanya pulang.

Ronggur selalu tertawa lebar bila dia pulang dengan hasil

buruan. Ronggur tidak segan-segan melemparkan pujian yang

menurut perasaan Tio terkadang terlalu menyanjung. Dengan

lahap Ronggur akan memakan daging binatang buruan itu,

yang dibakar dan dipanggang.

Hari itu, Tio sedang mengikuti arah seekor elang terbang,

setelah menyambar seekor induk ayam dari kampung.

Terkadang harus berlari kecil mengikuti elang yang terbang di

atas. Matanya terus-menerus menangkap elang hitam yang

terbang, lalu terus mengikuti arah elang itu pergi. Di hatinya

timbul niat, dia harus membunuh elang yang seekor itu, yang

sudah banyak menyambar ayam kampung. Pertanda elang itu

akan hinggap belum ada walau mendekat ke kaki bukit.

Seolah elang itu datang dari balik gunung dan hendak kembali

ke balik gunung, yang belum pernah ditempuh manusia.

Di saat putus asa mulai mencekam hati, elang itu

mengadakan putaran. Berkeliling pada satu lingkaran.

Pertanda elang itu mau hinggap. Dapat dipastikan Tio bahwa

pohon yang tinggi lagi rimbun dedaunannya, pada salah satu

dahannya, di situlah sarang elang itu. Elang itu mengarah ke

lembah, di mana batang pohon besar itu tertancap ke tanah.

Tio terus mendekat menuruni jenjang lembah.

Si belang sudah mengerti bahwa mereka sedang

mengadakan perburuan. Elang itu cepat menukik ke bawah

setelah mengadakan putaran entah beberapa lama. Dan,

waktu itulah, kepaknya mengenai salah satu dahan,

sambarannya jatuh ke tanah. Elang itu mengikutkan

sambarannya ke bawah. Saat yang baik itu tidak dilewatkan

Tio. Cepat dia mengayun ambalangnya. Lalu melepaskan

peluru. Seketika napasnya serasa terhenti melihat peluru

ambalangnya mengenai sasaran atau tidak.

Sayang sekali peluru ambalangnya hanya mengenai buntut

elang. Karena terkejut elang itu buru-buru mengepakkan

sayapnya. Mau terbang. Tapi, dari arah lain sebuah tombak

terbang cepat. Langsung tertancap ke dada elang. Elang itu

jatuh ke tanah bersama gelepar lemah, gelepar akhir. Wajah

Tio menjadi merah padam dan merasa kesal bercampur malu,

kenapa peluru ambalangnya tidak mengenai dada elang jtu.

Atau, kenapa dia tidak menggunakan tombaknya? Sebuah

tawa meledak di antara rimbunan ilalang. Si belang berlari

cepat ke tempat suara itu bersumber. Lalu, Ronggur sudah

ada di hadapan Tio.

Bersama senyum kemenangan, Ronggur berkata: "Sudah

mampus penyambar ayam yang paling jahanam ini."

Tio masih terpaku pada tempatnya. Merasa malu akan

ketololannya. Ronggur memanggilnya agar datang mendekat.

Baru dia bergerak.

"Lihat," kata Ronggur. "Muncung tombakku tertancap di

dadanya."

"Aku tahu, Hulubalang Muda," sahut Tio. Suaranya halus

dan menggetar.

Ronggur menatapi Tio lama-lama hingga Tio menundukkan

kepala menatap tanah.

"Tapi, peluru ambalangmu sangat deras dan bagus

arahnya. Buntut elang kena membuat elang tidak bisa cepat

terbang. Di saat itulah aku mengayunkan tombakku. Kalau

buntutnya tidak kena ambalangmu, belum tentu muncung

tombakku bisa tertancap di dadanya."

"Hulubalang Muda terlalu melebih-lebihkannya," sahut Tio.

"Itu yang sebenarnya. Dan, kau Tio," mata Ronggur lama

menatap wajah gadis itu, matanya, lalu, "maukah kau berjanji

akan melaksanakan permintaanku?"

"Aku sudah ditakdirkan akan melaksanakan sebaik mungkin

segala perintah Hulubalang Muda."

"Dengarkan baik-baik," kata Ronggur seraya memegang

bahu anak gadis itu, "sejak saat ini kuminta, agar kau tidak

memanggil aku dengan sebutan Hulubalang Muda atau Raja

Ni Huta Muda lagi. Sebutlah namaku. Ronggur. Cukup begitu."

Pundak Tio cepat turun naik, tapi masih diusahakannya

mengatakan, "Bukankah itu menurunkan derajat Hulubalang

Muda?"

"Sama sekali tidak! Kau harus melaksanakannya!"

"Bagaimana nanti kalau didengar orang kampung dan ibu?"

"Peduli apa dengan mereka? Sebut namaku, habis perkara.

Kalau mereka menegur kau, katakan aku yang menyuruhmu.

Yang mengurus mereka ialah aku."

Tio tambah tertunduk. Wajahnya memerah. Ronggur

menjauh. Walau sesuatu rasa menggelusak dalam dada.

Si belang sudah memagut tubuh elang dengan

muncungnya. Membawanya ke dekat mereka berdua. Si

belang kembali menjauh. Lalu, si belang memagut ayam yang

disambar elang tadi dan membawanya ke dekat Ronggur dan

Tio. Lalu, menjauh lagi.

"Tio, keluarkanlah isi perut elang dan ayam ini. Biar

kunyalakan api. Dagingnya tentu enak dimakan."

Tio berlari kecil membawa elang dan ayam itu ke parit kecil

dekat situ yang mengalirkan air pegunungan yang jernih.

Dibersihkannya perut kedua binatang itu. Kemudian

dibawanya ke tempat Ronggur menghidupkan api. Lalu, mulai

membakarnya lengkap bersama bulu-bulunya.

Ronggur menelentangkan tubuh di atas tanah batu yang

cukup keras, di bawah pohon yang rindang. Perutnya terasa

kenyang. Si belang masih mengunyah tulang belulang elang

dan ayam yang diberikan kepadanya. Mata Ronggur agak

mengantuk. Matahari bersinar keras. Cukup terik. Tidak jauh

darinya, Tio duduk melihat si belang. Yang kemudian

mendekat kepadanya sambil mengibaskan ekor. Tidur di ujung

kakinya. Tio mengelus leher si belang dengan lembut. Lalu,

mulutnya tidak dapat lagi dikuasainya untuk tidak

menyanyikan sebuah lagu, berpantun:

Sanduduk di kaki bukit

di atas batu

ditimpa sinar matahari

itulah siang melilit bumi

sanduduk di kaki bukit

di atas batu

ditimpa sinar rembulan itulah malam, redup mengalun

saat siang dan malam

antara terik dan nyaman

mentari dan gemintang

bagi beta tidak berbeda

karena hatiku

terkenang padamu

Ronggur membiarkan Tio menyanyi walau hatinya merasa

rawan. Tentu, pikir Ronggur, Tio teringat pada masa

kemerdekaannya. Matahari tambah lama jadi melemah. Di

bawah mereka melalui tingkat tanah yang terus menurun,

perkampungan demi perkampungan dan berakhir pada tepian

danau.

Oleh nyanyi Tio kembali Ronggur teringat akan permintaan

ibunya, begitu pula atas usul Raja Panggonggom, agar dia

berumah tangga. Agar langsung memegang Raja Ni Huta di

kampungnya, agar nama Muda dari belakang Hulubalangnya

dihilangkan. Dia disuruh ibunya pergi ke Samosir, ke kampung

paman.

Tetapi, cepat pula ingatan itu dibarengi bahwa kalau dia

berumah tangga, itu berarti istrinya nanti akan melahirkan

anak. Kemudian anak ini akan menjadi dewasa, lalu kawin

lagi. Untuk melahirkan anak lagi. Dalam tiga keturunan saja,

jumlah keturunannya bisa berlipat ganda. Tentu hasil yang

dapat diberikan tanahnya akan terasa kurang menghidupi

keturunannya.

Dia merasa takut. Bila persoalan yang mencekamnya itu

diluaskan pada keadaan sekitarnya dan dia tambah merasakan

marabahaya yang sedang menantikan, yang mengintai dengan

taringnya yang tajam, meruntuhkan kerukunan kehidupan

mereka di tepi danau. Pada suatu saat, pikirnya, akan tiba

saat itu, yaitu orang bertambah banyak sedangkan tanah yang

dapat digarap masih tetap itu juga. Hasilnya akan terasa atau

memang kurang untuk membekali orang yang hidup di sekitar

danau. Hal begitu sudah tentu akan lebih banyak

mengobarkan perkelahian, peperangan, dan sendirinya pula

akan lebih banyak kepiluan dan dendam bersarang di hati

manusia. Dia menakutkan masa itu.

Dia selalu memikirkan, apa usaha yang dapat ditempuh

untuk melenyapkan ancaman dari masa itu? Ronggur cepat

bangun dari goleknya. Tio menatap ke arahnya. Ronggur

menundukkan kepala. Tapi, dari mulutnya lalu meledak kata,

"Tio, kenapa kau tidak belajar memintal benang dan

bertenun? Kau sudah harus mengurangi kegemaranmu pergi

mengembara. Kau harus belajar memintal dan bertenun,

seperti gadis lain."

Warna duka membayang di wajah Tio. Yang tidak disangka

Ronggur mulanya.

"Ada yang salah?" tanya Ronggur pula.

Tio tetap terdiam dan tertunduk.

Barulah Ronggur sadar bahwa seorang gadis yang

berderajat budak tidak dibolehkan belajar memintal dan

bertenun. Menenun ulos-batak ialah pekerjaan para gadis

yang merdeka. Perlahan-lahan, tapi pasti, Ronggur

mengatakan, "Tio, kau harus belajar memintal dan bertenun

Aku akan meminta izin pada Raja Panggonggom”

Pada biji mata Tio menyinar cahaya kegembiraan. Lalu,

"Betul kau bolehkan aku memintal dan bertenun? Betul kau

akan meminta izin pada Raja Panggonggom? Aku akan

bertenun seperti gadis lain dari margamu ?"

"Ya, akan kuusahakan sampai dapat”

Karena gembira, tidak disadari Tio, dia memeluk Ronggur

sambil mengatakan dengan kegembiraan. “Ah, betapa

bersyukur aku. Betapa berbahagia. Aku.. aku akan menenun

ulos untukmu. Ulos yang paling halus raginya. Yang paling

baik campuran warnanya”

Ronggur membiarkan Tio begitu. Sampai akhirnya Tio sadar

sendiri. Lalu, melepaskan pelukannya perlahan-lahan. Kembali

dia dihadapkan pada kenyataan. Ronggur diam saja melihat

perubahan kelakuan Tio itu. Sedang matanya dengan mesra

menancap ke biji mata Tio. Tio menundukkan kepala

perlahan-lahan. Begitu pula akhirnya Ronggur. Beberapa saat

terdiam.

Matahari bertambah lemah sinarnya. Tidak terik lagi.

Ronggur menatap ke sekitar, lalu dengan suara pasti dia

mengatakan, "Tio, mari ke pundak bukit pertama. Ada yang

hendak kutunjukkan padamu."

Mereka mendaki tanjakan bukit sampai tiba ke pundak

pertama. Dari sana jelas tampak oleh mereka lengkungan

tepian danau. Pada salah sebuah teluk dapat diketahui

Ronggur bahwa di situlah bermula sungai Titian Dewata.

Telunjuknya mengarah ke teluk itu sambil mulutnya

mengatakan, "Tio, di sanalah bermula sungai Titian Dewata."

"Aku tahu," kata T io, "aku sudah pernah dibawa almarhum

ayah dan ibu ke sana."

"Garis putih yang membelah dada persawahan yang sedang

menghijau, lalu menghilang atau seperti masuk menyusup ke

perut pegunungan sebelah timur, itulah jaluran sungai. Dapat

kau lihat dan perhatikan garis putih itu?" tanya Ronggur.

"Dapat."

"Menurut cerita orang tua, sungai itu berakhir ke ujung

dunia. Barang siapa yang berani melayari sungai ke muara

atau berusaha mencapai muara, tidak akan kembali lagi.

Karena jatuh ke tebing ujung dunia. Arwahnya akan dikutuki

dewata. Tapi, sungai itu jalan arwah kita kelak, menuju

tempat Mula jadi Na Bolon."

"Tahu juga aku," sahut Tio.

Ronggur diam seketika. Terus menatap ke arah sungai.

Sedang Tio melirik ke biji mata Ronggur yang menyinarkan

sesuatu arti. Ronggur mengaju tanya padanya:

"Apakah kau juga sependapat dengan mereka bahwa

sungai itu berakhir di ujung dunia itu?"

"Begitulah kata mereka. Ada apa kiranya?"

"Apakah kau tidak bisa punya pendapat sendiri?"

"Apa maksudmu?"

"Apakah kau tidak sering membaca pustaka di rumah

ayahmu dulu?"

"Sering. Sering sekali. Aku bisa membaca dan menulis

dengan baik."

"Menurut cerita yang ada di sana, setiap sungai menuju

tanah landai dan subur."

"Ya, memang begitu."

"Entah bagaimana, aku berpendapat bahwa sungai itu pun

akan tiba ke tanah landai yang subur, juga sudah kuselidiki

dalam pustaka yang tua bahwa sungai itu tidak ada dikatakan

berujung di akhir dunia."

"Kepercayaan yang diwariskan kepada kita mengatakan,

sungai Titian Dewata berakhir ke ujung dunia. Buktinya

sampai sekarang tidak ada orang yang berani melintasi daerah

yang telah ditentukan, sampai ke mana bisa seseorang

nelayan menangkap ikan. juga sungai ini, lain dari sungai yang

lain."

"Kalau begitu, kau pun sependapat dengan mereka."

"Begitu menurut cerita mereka. Aku tidak dapat

mengatakan yang lain. janganlah marah padaku."

Ronggur terdiam. Keheningan mengambang di antara

mereka. Tidak ada yang berkata. Angin turun, angin sore yang

nyaman.

"Tapi, timbul bisikan dalam hatiku, sungai itu pun sama

dengan sungai yang lain," kata Ronggur;

"Kenapa kau beranggapan bahwa sungai ini lain?" tanya Tio

memecah sunyi, "apakah kau berniat hendak melayarinya

membuktikan kebenaranmu?"

Tapi, Tio menjadi takut pada ucapannya itu. Dia takut kalau

Ronggur benar-benar melayari sungai itu. Yang berarti bunuh

diri. Dia akan tinggal di dunia ini. Dia akan jatuh ke tangan

orang lain yang pasti akan memperlakukannya sebagai budak

biasa. Kebebasan akan benar-benar direnggutkan orang.

"Ya, aku memang mau melayarinya," sahut Ronggur tanpa

memperhatikan wajah Tio yang menjadi pucat. "Sudah lama

niat ini menguasai dadaku," lanjutnya pula, "tapi, aku

melayarinya bukan bermaksud untuk membuktikan bahwa aku

berada di pihak yang benar. Aku mau berusaha mencari tanah

garapan baru, daerah perluasan, tanah hubungkasan."

"Itu berarti bunuh diri. Arwahmu akan tidak diterima

dewata," potong Tio.

Perasaan takutnya tambah mencekam. Dia mengharap

dapat menggagalkan maksud Ronggur dengan ancaman

begitu. Tapi, Ronggur cepat pula mengatakan:

"Dengar dulu yang kumaksud. Tahukah kau Tio bahwa

tanah selingkar danau ialah tanah subur? Tahukah kau, setiap

tahunnya manusia yang hidup di sini yang memerlukan tanah

garapan bertambah banyak juga? Akhirnya tanah yang tadinya

terasa luas, setiap tahunnya bertambah sempit. Dan, akan

terus bertambah sempit. Akibatnya akan bertambah banyak

pertengkaran yang memungkinkan pecahnya peperangan.

Seperti perang antara margamu dengan margaku."

Tio tertunduk. Wajahnya menjadi muram dan sedih.

"Janganlah bersedih. Aku tidak bermaksud membongkar

yang sudah lewat. Tidak bermaksud aku mengingatkanmu ke

saat kejatuhan margamu. Tidak! Tapi, aku mau mengatakan,

karena kurasa kau dapat merasakannya, yang akan menimpa

manusia yang hidup di sekitar danau di hari mendatang, bila

tanah habungkasan tidak ditemui. Pertengkaran karena

setapak tanah, karena setitik air parit, akan tambah banyak

terjadi. Ini sudah pasti. Cobalah turut mendengar berita

bahwa setelah perang antara margamu dengan margaku

selesai, sudah berapa kali lagi peperangan terjadi di antara

marga? Kalau tidak salah, sudah ada tiga gelombang

peperangan antara marga satu dengan, marga lain. Dan,

peperangan itu akan bertambah banyak lagi timbul di masa

mendatang. Jadi, sebelum saat itu tiba, harus ada usaha

mencari tanah habungkasan. Orang yang berani dan

bertanggung jawab akan masa datang, harus mulai sekarang

memulai kerja ke arah itu, merintis jalan, dengan berani

menantang segala aral-melintang, berani menantang segala

cerita yang bersifat menakut-nakuti. Berani menantang

sesuatu yang dirasakan ialah satu kepercayaan bagi

kebanyakan orang. Karena aku merasakan persoalan itu,

kupikir, aku harus turut memikul bebannya, walaupun

nyawaku sendiri menjadi taruhannya."

Seketika Ronggur berhenti. Tio tidak membumbuhi cakap

Ronggur yang panjang itu. Dibiarkannya Ronggur

meneruskan:

"Sudah sering Tio, aku diganggu mimpi. Mimpi

menghimbau aku selalu dari tempat jauh, dengan suaranya

yang nyaring. Mengajak aku memulai perjalanan mengikuti

sungai. Sampai ke mana dia tiba. Dalam mimpi itu selalu aku

dibawanya ke suatu tempat yang teduh. Penuh pepohonan

dan tanahnya begitu landai. Dan, dalam mimpi itu, aku

menemui sebuah danau yang sangat luas, jauh lebih luas dari

Danau Toba yang kita kenal ini. Tanah yang kutemui dalam

mimpi itu begitu gemburnya. Tidak seperti tanah di s ini, tanah

tipis yang menyaputi batu alam yang keras. Itu yang selalu

menemani tidurku. Merangsangku di saat jaga."

Wajah Tio bertambah pucat. Dengan suara tersengalsengal,

dia mengatakan:

"Barangkali itu godaan setan jahat. Kau perlu berobat pada

dukun. Berobatlah cepat-cepat. Jangan sampai kekuasaan

setan tertanam didirimu."

"Tidak Tio. Wajah orang yang melambai aku dalam mimpi

itu dan menuntun jalanku mirip sekali dengan wajahku. Kata

orang, wajah almarhum ayah, mirip sekali dengan wajahku.

Apakah tidak mungkin, arwah almarhum ayah yang datang

padaku, memanggil aku, menunjuk tanah habungkasan yang

subur padaku?"

"Ronggur," untuk pertama kalinya Tio menyebutnya hingga

Ronggur merasakan satu desiran menyinggung hatinya,

"barangkali, itu setan yang menyaru."

"Tidak Tio. Orang yang digoda setan, akan merasakan

tubuhnya kurang sehat. Aku kau lihat sendiri, tetap sehat dan

pikiranku tetap waras."

"Ronggur," kata Tio lagi, "aku merasa takut! Aku takut!"

"Janganlah takut, selagi aku di dekatmu."

"Aku takut mendengar ceritamu. Cerita itu, mula duka

cerita yang akan mendatangi diriku."

"Jangan berkata begitu."

Tio begitu saja menyandarkan kepalanya yang terhisak ke

bahu Ronggur, menelungkup di sana. Dibiarkan Ronggur, Tio

berbuat begitu. Entah berapa lama.

Sore dengan perlahan beralih pada senja. Pada mulanya

warna Jingga, kemudian bertambah merah, lembayung

tambah jelas. Tari warna bermain di wajah danau, di riak

danau. Angin tambah lemah. Mereka menuju pulang.

Orang yang berpapasan dengan mereka tidak berapa

mereka perdulikan. Tio mengikuti langkah Ronggur yang

panjang dan cepat diayunkan. Si belang kadang berlari di

depan mereka. Kemudian berlari lagi ke belakang. Sambil

menggonggong.

Dan, hati Ronggur tambah digoda perjalanan yang harus

dimulainya. Dia sudah harus mengadakan persiapan untuk

perjalanan itu. Pada pikirannya, dia sudah memilih teman

yang akan diajak turut serta. Yang sendirinya menantang dan

menghadapi segala kemungkinan. Meruntuhkan satu

kepercayaan. Tapi, mungkin juga satu perjalanan yang akan

mengakhiri hidupnya sendiri. Tapi, mungkin juga mula

kelanjutan hidup keturunan, bermarga.

Ibunya menyambut kedatangan mereka berdua di ambang

pintu. Mereka sudah sering pulang terlambat. Dengan cepat

ibunya menyediakan makanan dan Tio membantu. Mereka

makan bersama. Jadi pada rumah itu, tidak terdapat atau

dengan sengaja diadakan keharusan bahwa seorang budak

harus belakangan makan, yaitu memakan sisa tuannya.

Ronggur tidak mau begitu. Sedang ibunya tidak berdaya

melawan kehendak Ronggur, walaupun itu bertentangan

dengan adat. Ibunya pun merasa senang pada kelakuan Tio,

yang menurul pertimbangannya masih tetap membawakan

sifat dan kelakuan sebagai anak raja.

"Ibu," kata Ronggur sesudah makin seraya melap mulut.

"Ceritalah kembali ibu, di mana sebenarnya ayah dikuburkan.

Ceritalah karena apa ayah meninggal dulu. Karena sakit,

karena kecelakaan dalam perburuan atau .... Dalam mimpiku,

selalu aku bertemu dengan seseorang yang wajahnya mirip

benar dengan wajahku. Orang itu selalu mengajak aku agar

memulai suatu perjalanan. Mengikutkan arus Sungai Titian

Dewata sampai ke muara. Bukankah ibu mengatakan bahwa

wa|ahku mirip benar dengan wajah almarhum ayah?"

Ibunya tak langsung menyahut, lerpaku mendengarkan.

Dengan mata terbelalak akhirnya dia mengatakan, "Apa

katamu, Ronggur? Apa katamu?"

"Orang itu selalu mengajak aku, agar memulai perjalanan

mengikuti arus Sungai Titian Dewata sampai ke muara. Bila

aku katanya tidak mau melaksanakan permintaannya. dia

akan selalu berduka. Kerja yang dimulai di masa hidupnya,

katanya akan sia-sia."

"Jangan lagi berkata begitu, Anakku. Jangan lagi. Ibu takut

mendengarnya. Dan, ibu sudah tua."

"Ibu, ceritalah. Di mana sebenarnya kubur ayah? Sampai

begini besarku, ibu tidak mau mengatakan dan aku belum

pernah berziarah ke kuburnya untuk meminta doa restu.

Bukankah aku bisa dikatakan orang, dikatakan para arwah,

anak durhaka, karena tidak pernah menziarahi kubur

ayahnya?"

Wajah ibunya tambah jelas memancarkan perasaan

ketakutan. Keheningan menguasai ruang. Tarikan napas

ibunya yang satu-satu lagi dalam jelas kedengaran. Tarikan

napas yang terputus-putus.

"Ibu, ceritalah. Kalau tidak, aku akan pergi mencari

sendiri."

Ibunya mengangkat wajah. Tegak. Tapi, melesu lagi, lalu:

"Anakku, aku juga tidak tahu pasti, di mana sebenarnya

kuburan almarhum ayahmu. Pergilah tanya bekas Datu Bolon

Gelar Guru Marsait Lipan. Dia yang tahu! Dialah teman

ayahmu yang terakhir pergi jauh dari kampung kita ini. Dan,

yang pulang kemudian, hanya bekas Datu Bolon Guru Marsait

Lipan. Ayahmu tidak pernah lagi pulang. Kau tentu tahu,

tempat tinggal Datu Bolon itu sekarang."

Cepat Ronggur bangkit dari duduknya. Setelah

membelitkan ulos ke lehernya, dia terus berangkat. Ibunya

dan Tio melihat saja. Kemudian ibu Ronggur menatap Tio,

yang juga pada wajahnya bergantungan sesuatu ragam

perasaan.

"Ibu, aku juga turut merasakan yang Ibu rasakan. Tadi

dikatakannya padaku, dia akan pergi memenuhi panggilan

mimpinya, panggilan negeri jauh. Aku sudah berusaha

mencegah. Tapi, Ibu tentu lebih tahu dariku bahwa dia tidak

dapat dihalangi. Bukankah sudah sifat Ronggur begitu?"

"Apa katamu? Kau sebut namanya? Nama Hulubalang Muda

kau sebut?"

Tio terkejut. Dia sadar bahwa yang dihadapinya ialah ibu

Ronggur. Dia tertunduk. Dihempaskan kembali pada derajat

yang tidak berharga, yang tidak boleh menyebut nama

tuannya. Didengarnya perempuan itu menghardik setelah

lebih dulu menarik napas yang panjang lagi dalam:

"Berani kau menyebut namanya? Apa kau pikir dia sama

derajat dengan kau?"

Seolah orang tua itu, perempuan itu, karena marah sudah

lupa pada masalah yang sebenarnya dihadapi.

Tio menggerutu pada diri sendiri. Kenapa lidahnya terus

sefasih itu menyebut nama Ronggur. Dari tunduknya dia

menyahut:

"Dia yang menyuruh aku, memaksa aku harus menyebut

namanya, Bu. Tidak mau dan tidak dibolehkannya aku

memanggilnya dengan Raja Ni Huta atau Hulubalang Muda."

"Dia menyuruhmu menyebut namanya? Itu kau

katakan?"

"Benar, Bu. Bukan keinginanku."

"Benar begitu?"

"Benar, Bu."

"Tentu Ronggur sudah digoda setan. Sudah diizinkannya

seorang budak belian makan bersama, sekarang diberinya

pula keizinan pada seorang budak belian menyebut namanya.

Apakah dia tidak .tahu tentang martabatnya yang begitu

tinggi? O, Mula jadi Na Bolon, lindungilah anakku dari godaan

setan."

Perempuan tua itu serasa dipukul kepalanya dan ulu

hatinya. Napasnya sesak. Tapi, dengan tersengal-sengal dan

berusaha mengangkat kepala, dia menatap Tio, lalu:

"Aku tahu bahwa perangaimu baik, Tio. Tapi, kau tidak

sepantasnya menyebut namanya. Jangan lagi sebut namanya.

Penuhilah permintaanku ini. Bagaimana kalau tetangga

mendengar kau menyebut namanya di depanku? Maukah kau

memenuhi permintaanku ini?"

"Akan kuusahakan, Bu."

"Berjanjilah demi dewata."

"Aku berjanji."

Baru kembali ibu yang sudah tua itu teringat akan masalah

yang sebenarnya dihadapinya. Perasaan marah kembali

mencair, lalu perasaan takut mencekam dadanya.

Ronggur sudah melintasi halaman perkampungan.

Menerobos gerbang perkampungan. Di pematang sawah yang

kecil lagi licin dia melompat-lompat memilih jalan yang baik.

Dia kenal pada jalan itu. Dia tak perlu takut karena tergelincir.

Langsung dia menuju dangau kecil yang terpencil di satu

ladang. Tanpa dipanggil, si belang mengikutinya. Tidak

disuruhnya supaya si belang pulang. Dibiarkannya si belang

mengikuti. Gelap malam tidak diperdulikan.

Setelah melompati sebuah parit yang agak lebar, kemudian

menyuruh si belang melompatinya, mereka sudah berada di

tanah perladangan yang di petak-petaki tanah yang

ditinggikan sebagai batas dan langsung pula menjadi pagar.

Supaya kerbau tidak merusakkan tanaman yang ada di ladang.

Dilompatinya pula tanah tinggi itu. Dikejauhan sudah kelihatan

cahaya pelita yang menerobos dari celah dinding. Tempat

tujuan. Dia tambah menegaskan langkah.

Tangannya mengetuk pintu dengan lemah. Suara parau

menyuruhnya masuk ke ruang dangau. Ruang tengahnya

begitu kecil. Orang tua itu sedang mengunyah sirih. Di sebelah

kanannya, terletak tempat sirih yang terbuat dari kulit kera. Di

depannya lesung pelumat sirih. Pada kedua lengan tangannya

membelit kayu hitam, akar kayu yang dihitamkan dengan

segala macam minyak dan lemak, beru kirkan bentuk ular

sedang menjalar. Diberi pula berhiasan suatu benda

mengkilat, seperti matanya. Bercahaya ditimpa sinar pelita

yang lemah.

‘Pakaian datu’, pikir Ronggur. Pakaian itu tidak

ditanggalkannya walaupun orang tidak pernah lagi datang

padanya minta diobati, minta pertolongan melihat nasib,

meminta agar arwah nenek moyang dipanggil melindungi

orang yang meminta tolong padanya. Juga kerajaan tidak

pernah lagi memintanya untuk menenung sesuatu maksud

kerajaan, apakah berhasil baik atau tidak.

Mata orang tua itu tajam menumpu ke wajah Ronggur.

Pada dadanya, kemudian diketahui Ronggur, bergantungan

potongan gading gajah, taring, dan kuku harimau. Yang

pernah dibunuhnya. Baik dalam suatu perkelahian, begitu pula

dalam perburuan.

Setelah memberi salam, Ronggur duduk di lantai seperti

orang tua itu sendiri, berhadap-hadapan.

"Ada apa, Anakku?" tanya orang tua itu.

"Bapak, izinkanlah aku mengajukan beberapa pertanyaan,"

kata Ronggur.

"Silakan, Nak. Bapak akan menolongmu sebisa mungkin."

"Kata ibu, kalau aku mau tahu kubur almarhum ayah, dan

kenapa almarhum ayah menemui saat meninggalnya, aku

harus menanyakannya pada Bapak. Hanya Bapak kata ibu

yang mengetahui dengan pasti. Orang lain tidak. Ibu sendiri

pun tidak."

Orang tua itu menegakkan kepala, tidak menyangka

pertanyaan begitu. Lalu kembali dia mengaju tanya:

"Ibumu menyuruh kau datang padaku?"

"Ya, Bapak. Ibu menyuruh aku menemui Bapak."

"Ibumu tidak pernah menceritakannya padamu?"

"Tidak, tidak pernah."

Orang tua itu menarik napas yang dalam.

"Anakku, selama ini kupikir, ibumu mendendam padaku.

Lalu mengalirkan dendam itu ke tubuhmu. Kemudian kau

membenci aku, atau berusaha untuk menuntut balas. Kiranya,

ibumu tidak mau menceritakan. Dan, tidak menanam dendam

ke dadamu. Maafkan kesalahanku itu."

"Apa maksud Bapak?" tanya Ronggur pula.

Orang tua itu memperbaiki duduknya.

"Anakku, kalau dikatakan bahwa kecelakaan itu punya mula

dan sebab, maka mula dan sebab kecelakaan itu harus

diletakkan di pundakku. Aku juga harus mendukungnya. Dan,

bila sesuatu hukuman yang harus ditimpakan pada orang yang

memulai malapetaka itu, maka hukuman itu pun seharusnya

ditimpakan padaku."

"Kenapa Bapak berkata begitu?"

Lebih dulu orang tua itu menumpukan pandang ke mata

Ronggur. Begitu dalam.

"Bapak juga sudah lama memikirkan bahwa pada satu saat,

mulut manusia yang harus kita beri makan akan bertambah

banyak. Sehingga hasil yang dapat diberikan tanah yang ada

di sekitar kita tidak akan mencukupi. Begitulah bapak memulai

pertenungan. Menanyakan arwah gaib yang tidak dapat dilihat

mata. Bapak menanyakan pada mereka di mana dapat ditemui

tanah habungkasan yang subur. Agar pertengkaran karena

setapak tanah dan yang bisa meledakkan satu peperangan

bisa diatasi. Hasil tenung itu mengatakan pada bapak, ikutilah

Sungai Titian Dewata."

Orang tua itu terbatuk sebentar. Setelah mengunyah sirih

lalu meludah dari celah lantai, dia melanjutkan.

"Hasil pertenungan itu kuceritakan pada ayahmu. Dia juga

sepakat denganku. Tanah perluasan harus dicari dan

ditemukan. Ayahmu begitu percaya akan hasil pertenungan

bapak dan begitu percaya akan kekuatan gaibku. Maka kami

pun mulai mengadakan perjalanan mengikuti Sungai Titian

Dewata tanpa memperoleh halangan dari kerajaan. Waktu itu

bapak masih memegang kekuasaan mutlak sebagai Datu

Bolon Kerajaan. Dan, bapakmu hulubalang yang dihormati

kerajaan karena keberaniannya. Kami pun memulai

perjalanan, mengikuti jalur sungai. Tapi, apa yang kami

temui? Pada suatu tempat tertentu, setelah berhari-hari

berkayu, di kiri kanan kami hanyalah batu alam melulu, di

tengahnya air sungai mengalir. Bertambah hari bertambah

deras. Air seperti mau membulat. Hingga akhirnya biduk yang

kami tumpangi tidak terkendalikan. Sebuah terowongan batu,

semacam gua, air menuju ke sana. Mulut gua itu menganga

seperti mau menelan. Karena tidak tahan menerima kenyataan

ini, yang berbeda dengan hasil tenungku, bapak cepat

melompat ke pinggir sungai sambil berteriak: 'Ama ni

Ronggur, cepat tinggalkan biduk'. Tapi, sewaktu bapak

melompat itu keseimbangan biduk hilang. Bapakmu dan biduk

lalu dihanyutkan arus yang menggila. Dihantamkan ke dinding

batu yang keras. Pecah di sana. Sebuah lengkingan yang

panjang menggema. Itulah lengkingan yang paling akhir. Yang

bapak rasakan menyuruh bapak cepat meninggalkan tempat

itu. Namun bapak masih menantikan ayahmu untuk beberapa

hari. Tapi, dia tidak pernah lagi muncul. Tidak pernah lagi

kembali. Suara air yang bertemparasan ke dinding sungai

yang terbuat dari batu alam yang hitam, berkerisik dan kuat,

menyanyikan kemenangannya dan kegagalan serta kekalahan

kami”

Orang tua terdiam sebentar. Seperti berusaha mengingat

sesuatu. Sedang Ronggur khusuk mendengarkan.

"Akhirnya bapak percaya bahwa ayahmu sudah menjadi

korban atas kemurkaan dewata. Tenungku salah, Anakku.

Tafsir tenungku tidak benar. Membuat salah seorang

sahabatku menjadi korban."

Suara orang tua itu menjadi tambah parau. Dari matanya

meleleh titikan air bening. Kerongkongannya tersendat. Di

antara isaknya dia masih mengatakan dengan suara parau:

"Maafkanlah kesalahanku, Anakku. Dan, sejak itulah bapak

tidak pernah lagi dipanggil kerajaan mengadakan

pertenungan. Tidak pernah lagi orang datang meminta

bantuan. Bapak disisihkan dari pergaulan sehari-hari. Bapak

terpencil. Tapi, pada upacara besar yang dilangsungkan di

halaman perkampungan, bapak tetap juga mengikutinya. Tapi,

tempat bapak di tengah rimbunan bambu duri agar orang

tidak melihat bapak. Dari tempatku yang tersembunyi itulah

bapak melihat dan mendengar usulmu, agar orang mencari

tanah habungkasan mengikuti arus Sungai Titian Dewata.

Bapak mendengar usulmu, Anakku."

Orang tua itu menundukkan kepala.

Wajah Ronggur di samping merasakan perasaan duka, tapi

bercampur baur dengan perasaan bangga dan gembira. Justru

karena ada juga orang yang bisa atau turut merasakan apa

yang dirasakannya. Turut memikirkan apa yang dipikirkannya.

Dan, berusaha mencari tanah habungkasan. Memang mereka

menemui kegagalan. Tapi, apakah satu kegagalan harus

dihukum dengan kutuk dan dendam?

‘Tidak’, sahut Rongur sendiri atas segala pertanyaan yang

timbul dalam dirinya. Segala percobaan yang berusaha

mendekati kebaikan dan mengupas kebenaran, walau

menemui kegagalan sekali, lalu menimbulkan korban yang

tidak kecil harus dihormati. Setelah memperoleh kesimpulan

ini, Ronggur mengatakan:

”Bapak, jadi bapak mendengar usulku? Dan, telah lebih

dulu memikirkannya bersama almarhum ayah?"

“Benar. Aku mendengar usulmu. Ah, yang tampak oleh

mataku, waktu kau berbicara itu dengan suara yang lantang

berani, seperti almarhum ayahmu sendiri, waktu dia dulu turut

membela hasil tenungku. Agar kerajaan tidak menghalangi

keberangkatan kami."

"Bapak, aku menghormati pendapat bapak tentang

perlunya tanah habungkasan. Kegagalan yang ditemui bapak,

darinya atau padanya tidak sewajarnya dialamatkan dendam.

Malah kegagalan itu harus dibuat menjadi batu loncatan.

Ditoleh sedemikian rupa sehingga sumber kegagalan pertama

dapat dilintasi. Sampai ditemui satu kemenangan."

"Seharusnya begitu, Anakku. Tapi, orang yang ada di

sekitar kita, yang punya kepercayaan bahwa Titian Dewata

sungai dewata, kemudian mengetahui kegagalanku dan

meninggalnya ayahmu, kepercayaan mereka tambah menebal

juga. Malah bapak sendiri lalu disisihkan dari pergaulan. Hasil

tenungku tidak diperlukan orang lagi."

"Itu risiko, Bapak. Risiko yang harus kita terima. Tapi,

janganlah karena itu kita lantas menanggalkan satu cita yang

tumbuh dalam dada kita. Cita yang baik."

"Apa maksudmu, Anakku?"

Ronggur menarik napas yang dalam. Lalu, dengan suara

pasti dia mengatakan, "Sudah tiba saatnya, aku harus

melanjutkan pekerjaan yang gagal itu. Aku harus dapat

mengatasinya. Aku harus melanjutkannya."

Orang tua itu menatapi dan membiarkan Ronggur

berbicara.

"Kata Bapak, melayari sungai dengan biduk?"

"Ya."

"Kalau begitu harus diusahakan melayarinya dengan

perahu. Yang lebih besar dari biduk. Dasar perahu harus agak

luas dibuat agar tidak mudah terbalik waktu melawan arus

atau melalui arus."

"Pikiran yang baik," kata orang tua itu. "Tapi, ada baiknya

kau pikirkan bahwa sesuatu sungai biasa, pada pangkalnya

mempunyai arus yang kencang. Tapi, sungai ini lain. Pada

pangkalnya tidak berapa deras arusnya. Tapi, lambat laun

tambah ke hilir, menjadi deras arusnya. Bukankah itu pertanda

bahwa sungai itu memang lain dari sungai biasa?"

Ronggur terdiam.

"Arus itu," kata orang tua itu pula, "dapat dikatakan cukup

menggila. Dinding batunya begitu keras. Kalau perahu

terhantam ke sana pasti pecah. Dan, penumpangnya akan

dihanyutkan arus tanpa ampun. Tidak sempat berenang ke

tepian. Bukankah arus menggila itu memang satu pertanda

bahwa sungai akhirnya memang jatuh ke satu tempat yang

maha dalam, yang menurut kata orang di sekitar ialah ujung

dunia?"

Ronggur masih terdiam. Keningnya berkerut. Lalu, dia

mengaju tanya pula: "Jadi, apakah menurut pendapat bapak,

setelah mengalami kegagalan bahwa Sungai Titian Dewata

memang jatuh ke ujung dunia?"

Orang tua itu mendongakkan kepala.

"Tidak dapat kupastikan, Anakku. Karena hasil tenungku

sampai saat ini tetap berpendapat bahwa sungai itu tidak

jatuh ke ujung dunia. Karena pendapat ini jugalah membuat

bapak disisihkan orang. Tapi, kenyataan keadaan sungai itu

tidak dapat dipungkiri."

"Nah, kalau begitu yang kita hadapi hanyalah arus sungai

yang menggila. Boleh jadi arus menggila karena sungai

melalui riam yang banyak ditemui pada sesuatu sungai."

"Juga tidak dapat bapak jawab. Karena arus sesuatu riam

tidak akan begitu kencang dan begitu menggila."

"Boleh jadi riamnya lebih dalam."

"Boleh saja kita berpendapat begitu."

"Karena itulah, aku harus melayarinya dengan perahu yang

jauh lebih besar dari biduk. Dan, sewaktu melintasi arus

sungai harus menggunakan tenaga pembantu. Tidak cukup

kemudi saja menahan kencangnya perahu. Tapi, harus

menggunakan batu pemberat."

"Maksudmu?"

"Batu sebesar kepala manusia atau sebesar kepala kerbau

kita ikat. Talinya kita ikatkan pada buritan perahu. Setiap

melintasi arus yang tambah kencang, setiap itu pula batu itu

kita jatuhkan ke dalam air sebagai penahan. Agar perahu tidak

dihanyutkan arus dengan sesuka hatinya."

Orang tua itu menundukkan kepala. Mengiakan lalu

mulutnya mengatakan: "Satu pikiran yang baik."

"Nah, dengan akal begitulah aku bermaksud melayari

Sungai Titian Dewata sampai ke muara. Dan, darimu,

kumohonkan doa restu. Agar kami direstui dan diberkati para

dewata dan arwah nenek moyang, begitu pula arwah

almarhum ayah."

"Bapak akan membantumu, Anakku," kata orang tua itu

seraya pundak Ronggur ditepuk-tepuk.

"Anakku, perjalanan ini tidak mudah. Kau akan menghadapi

rintangan kepercayaan orang yang ada di sekitarmu. Karena

itu kekuatan jiwa dan tekad yang padu harus kau punyai dan

kau pupuk selalu dalam hati."

"Baik, Bapak. Tapi, doakanlah agar anakmu ini selamat

dalam perjalanan."

Orang tua itu merasa gembira bercampur bangga karena

ada orang yang sependapat dengan dia. Karena, untuk

pertama kali setelah bertahun-tahun ada orang meminta

pertolongan doa restunya. Tenaga gaib yang dipunyainya.

Matanya bersinar. Dadanya diangkat, sedang mulutnya

mengatakan dengan suara pasti:

"Anakku, beritahukan pada bapak kelak, kapan kau hendak

memulai perjalanan itu. Ah, kalaulah bapak masih muda,

masih punya tenaga yang kuat, bapak akan turut

bersamamu."

"Doa Bapak yang akan mengiringi langkahku, kurasa lebih

besar manfaatnya dari apa saja." kata Ronggur. "Dan, aku

mau mempersiapkan peralatan yang kuperlukan dulu. Sebuah

perahu yang agak besar, yang punya dasar yang lebih datar

dari perahu biasa. Beberapa gulungan tali ijuk yang kuat.

Sesudah ini s iap semua, perjalanan itu akan kumulai. Dan, aku

akan datang memberitahukannya pada Bapak."

Ronggur meminta diri. Orang tua itu melepaskannya

menerjang kelam malam yang pekat. Mata orang tua

menyinarkan cahaya kemenangan, berusaha menembus

segala kegelapan yang menyungkup keadaan sekitar.

Si belang berlari-lari di samping Ronggur, sambil

mengibaskan ekor.

Malam sudah jauh, dibaliknya pagi.

3

Kabut pagi masih rendah menyungkup tanah. Ronggur

sudah berada di halaman bersama Tio dan si belang. Tangan

kanan Ronggur menggemggam kampak, tangan kirinya

menggenggam tombak. Di tubuhnya membelit tali ambalang.

Di pundaknya disandangkan sumpit bertali, yang berisikan alat

kecil.

Pundak Tio juga menyandang sumpit bertali yang berisikan

beras. Tangannya juga menggenggam kampak dan tombak.

Matanya sering tertumpu ke pinggang Ronggur yang

menyelipkan panggada. Mereka tampaknya akan mengadakan

perjalanan yang tidak dapat dikatakan pendek masanya.

Ronggur melangkah cepat, panjang, dan menembus kabut.

Tio tetap mengiring dari belakang bersama si belang. Si

belang sering menggonggong, meregangkan tubuh seperti

mengendorkan urat yang dibekukan dingin pagi berkabut

rendah. Tapi, tampaknya, dari gerak-geriknya si belang

gembira. Karena seperti tahu bahwa mereka akan

mengadakan perjalanan yang lama dan jauh dari lingkungan

perkampungan. Orang tidak ada di halaman.

Langsung rombongan kecil itu mengarah ke kaki bukit

sebelah barat. Jalanan terus menanjak. Perkampungan

tambah tertinggal di bawah. Masih juga dibalut kabut, tapi

sudah tambah menipis dengan bertambah tingginya hari.

Lewat perkampungan danau, kabut di sana lebih tebal,

lebih kental, dan rendah. Air yang biru tidak dapat dilihat

pandang, begitu pula Pulau Samosir dan Tuktuk Sigaol. Semua

teggelam ke perut kabut. Mereka terus melangkah. Bergegas.

Kabut yang rendah tambah terangkat. Untuk kemudian

secara perlahan mulai menyisih dari tanah. Matahari memberi

sinar, suluh abadi yang dikenal mereka sejak masa kanak.

Permukaan danau, secara berangsur perlahan, tepian Pulau

Samosir dan Tuktuk Sigaol, bertambah lama bertambah jelas

tampak. Akhirnya keputihan yang pekat tadi yang merupakan

satu bundaran yang tidak berujud, sekarang sudah tampak

isinya.

Air danau biru tenang di pagi hari tanpa angin. Samosir dan

Tuktuk Sigaol berhadapan. Di sebelah lain Tuktuk Tarabunga

menjulur ke depan, seperti hendak menjangkau Samosir. Ini

semua dapat dilihat setelah melalui tingkatan sawah yang

padinya sedang bunting, dedaunan padi yang menghijau.

Pada tempat tertentu tampak tumpukan bambu duri yang

melingkar. Pertanda perkampungan. Asap sudah mengepul

dari kampung itu, pertanda pengisi kampung sudah bangun

dari tidurnya. Satu dua biduk berlayar di permukaan danau,

penangkap ikan yang bekerja semalaman mengayuh menuju

pantai.

Mereka meneruskan langkah, jalanan menanjak. Setiap

saat, tambah jauh mereka di atas, dan perkampungan serta

danau, tambah jauh berada di bawah. Langkah mereka begitu

cepat diayunkan. Tergesa tampaknya. Karena ingin cepat tiba

ke tempat yang dituju. Tidak banyak mereka mengeluarkan

kata.

Matahari tambah tinggi berlayar di langit dan sinarnya terus

menerus tambah terik. Angin yang berdesir di lidah ilalang

yang tinggi, lalu ilalang itu bergoyangan, sudah mulai bangkit.

Lidah ilalang yang bergoyangan, terkadang menyayati daging

mereka dengan tipis. Terasa pedih juga bila sayatan kecil itu

dibasahi keringat. Terkadang mereka seperti tenggelam di

padang ilalang yang cukup tinggi. Untuk tampak kembali pada

tempat di mana ilalang agak rendah. Biasanya, si raja hutan,

bersembunyi di sana menanti mangsa. Itu yang membuat

Ronggur tetap was-was. Di tangannya terus tergenggam

tombak dan kampak, siap sedia dipergunakan.

"Sebelum matahari condong ke barat, kita sudah harus

menuruni lembah berhutan yang ada di salah satu lekuk

danau. Agar kita tidak kemalaman mencari tempat bermalam,"

kata Ronggur. "juga untuk memilih dahan pohon yang baik

untuk tempat tidur."

Tio tidak menyahut. Langkahnya tambah dipercepat dan

diperpanjang, dilincahkan sebagai sahutan.

Matahari terus berlayar di langit dan mereka terus

melangkah di bumi. Lidah si belang terjulur merah dan

berbuih. Dia tidak menggonggong lagi, tapi terus mengikuti

tuannya.

Dari tempat ketinggian, mereka menatap ke sekitar.

Pandang bebas diarahkan ke mana suka, hanya ke arah

belakang yang kandas pada pegunungan. Barat, melalui

tingkatan dinding teluk, didasarnya hutan yang mereka tuju.

Utara, danau yang biru. Beriak-riak. Dari sana tampak lebih

jelas lagi, di teluk di mana Sungai Titian Dewata bermula.

Mata Ronggur lama tertancap ke sana. Alis matanya

terangkat. Dalam hati terucap kata: akan kutembus kau

sampai ke muara. Melihat Ronggur bersikap begitu, dada Tio

bernadakan lagu lain, ketakutan bercampur baur dengan

penyesalan, kenapa sungai itu harus diadakan dewata.

Kelompok bambu duri pertanda perkampungan tambah

banyak dapat mereka lihat dari sana. Tercecer bertumpuk di

sana sini. Bermula dari pantai danau, berakhir ke kaki bukit.

Sawah menghijau oleh dedaunan padi yang sudah panjang

dan sudah bunting.

Mereka menuruni lembah berhutan yang tidak berapa luas.

Tapi, cukup hijau. Mereka sudah dapat mencium bau

dedaunan yang segar, berair, dan teduh. Dedaunan yang

rapat didukung pepohonan yang tumbuh di sana, menampung

sinar matahari, hingga tanahnya tetap teduh dan berair.

Dedaunan gugur melapisi permukaan tanah. Jaringan dahan

dan rantingnya, mendukung dedaunan, permadani yang

lembut, buatan alam.

Tapi, Ronggur sudah tahu bahwa mulai panen tahun muka,

kerajaan marganya sudah memutuskan membuka hutan itu

untuk dijadikan tanah persawahan. Tapi, bersamaan dengan

niat itu kerajaan marga lain juga telah memutuskan untuk

membuka hutan itu untuk dijadikan tanah persawahan

marganya. Kerajaan marga lain yang juga mendengar berita

itu dengan tandas pula menyatakan maksud masing-masing.

Untuk membuka hutan itu lalu membagi-bagikan tanahnya

bagi warga marganya. Akhirnya setiap kerajaan marga yang

berdekatan, harus mengadakan pertemuan kerajaan, untuk

membicarakan masalah hutan itu. Sampai sekarang memang

belum ada satu marga pun yang mempunyainya. Tapi, setiap

marga merasakan bahwa kerajaannya punya hak atas hutan

itu. Kalau hutan itu dibuka, marganya harus memperoleh

bagian.

Begitulah, sudah beberapa kali dilangsungkan sidang

kerajaan dengan kerajaan. Di induk kampung marga Ronggur

juga sudah pernah diadakan pertemuan. Tapi, hasilnya masih

tetap sama: belum memperoleh kata mupakat. Satu marga

mengusulkan, boleh marganya tidak memperoleh tanah

bagian, tapi sebagai pembayar bagiannya kerajaan lain harus

memberikan kerbau pada kerajaannya. Masalah itu memang

hangat dibicarakan. tapi, belum sampai ke taraf yang

menentukan. Yang bisa membuat satu luhak berkelahi dengan

luhak lain. Bila satu luhak telah menang, yang di tempati

beberapa marga, antara marga sendiri pun akan ada

pertengkaran. Yang mungkin pula menimbulkan peperangan

marga.

Jadi, dari tanah hutan yang tidak seberapa luas itu, bisa

saja timbul peperangan yang berturut-turut. Pada mulanya

peperangan luhak, lalu melanjut pada yang lebih kecil,

peperangan kerajaan marga.

Suatu kerajaan yang memperolehnya, akhirnya dapat

memindahkan beberapa keluarga ke sana. Tanah perluasan

buat sementara. Karena luasnya tidak seberapa. Hanyalah

tempat singgahan sementara sebelum tiba ke saat yang

ditakutkan Ronggur. Namun untuk merebutnya, kemungkinan

pecahnya peperangan begitu besar. Dan, atas putusan

kerajaan Ronggur, untuk membuka hutan itu, tanpa

memperdulikan kepentingan kerajaan marga lain, sudah jelas

garisnya: peperangan tidak terelakkan lagi, bila marga lain itu

tetap merasakan bahwa kerajaannya punya hak juga atas

hutan itu. Hendaknya, pikir Ronggur, dia bisa lebih dulu

menemui tanah habungkasan, sebelum peperangan dari

perebutan hutan itu meledak.

Mereka menurun ke lembah berhutan dielus angin sore

yang nyaman.

Tepi hutan. Kesejukannya telah memberikan kesegaran

bagi mereka yang sehari penuh dipanggang sinar matahari.

Ronggur duduk melepas lelah pada teduhan sebuah pohon.

Menelentangkan diri. Menutup mata. Memperbaiki jalan

pernapasan. Si belang, mendudukkan diri tidak jauh darinya.

Lidahnya terjulur ke luar. Berbuih. Ronggur kembali duduk,

lantas mengatakan:

"Tolong berikan padaku nasi yang kau bawa itu

sebungkus."

Tio cepat memberikan. Diambilnya sebungkus untuknya.

Memberi beberapa jemput untuk si belang.

"Bila selesai makan, kumpulkanlah ranting kering. Untuk

bahan bakar api unggun malam hari," kata Ronggur lagi.

Tio mengiakan.

"Hari sudah sore. Sebentar lagi matahari akan tenggelam.

Di sini cepat gelap. Sebaliknya," kata Ronggur pula, "kita

memilih dahan tempat bermalam. Agar terhindar dari

gangguan binatang buas. Membuat lobang pada salah satu sisi

jurang tidak sempat lagi."

Lagi-lagi Tio mengiakan.

Ronggur memilih dahan yang baik untuk tempat tidur, yang

bercabang dua, cukup besar, dan tidak vertikal, tapi mendatar.

Tidak terlalu bulat. Agak gepeng sedikit. Di mana tubuh enak

ditelentangkan. Di bawah dahan mereka bakar api unggun,

agar nyamuk tidak banyak mengganggu. Juga bisa mengusir

dingin malam. Dahan yang dipilih Ronggur untuknya dan

untuk Tio tidak berjauhan.

"Si belang di mana tidur?" tanya Tio.

"Biarlah di tanah. Penciumannya cukup tajam. Bila bahaya

datang, dia sudah dapat mencium dari jarak jauh. Dia akan

terus menggonggong lalu membuat kita bangun. Lantas

memberi bantuan."

Begitu tergesa mereka menyiapkan sesuatunya. Tio tidak

hanya mengumpulkan reranting. Dahan yang patah dari

sesuatu pohon dipotong, lalu dibawanya ke bawah pohon

tempat mereka bermalam.

Ronggur pergi menyusuri tepian hutan. Ditatapi Tio terus

sampai Ronggur hilang ke antara pepohonan atau tenggelam

kerimbunan rerumputan yang tinggi. Baru Tio memulai

mengonggokkan ranting di lapisan bawah diatasnya dahan.

Dihidupkannya api. Mula-mula dibakar ranting. Potongan

dahan kayu yang sebesar betisnya dionggokkannya kenyala

api menjilam. Tidak sekali banyak. Tapi, sedikit demi sedikit

supaya api tidak mati. Dan tetap ada nyala menjilam. Bara

memanas di bawah bila sudah ada dahan sebesar betis yang

habis dimakan api.

Ya, pikirnya. Ronggur dapat diibaratkan seperti api unggun.

Tingkah lakunya yang dapat dilihat atau yang muncul

kepenglihatan, yang dikatakan sikap jantan yang berani,

masih menyimpan bara kehidupan yang cukup besar

didasarnya. Sehingga apa yang dilihat itulah, sesuatu yang

dipikirnya dan dirasakannya punya kebenaran, tak seorang

pun dapat menghalanginya untuk mengerjakannya.

Begitu pula dengan tekad perjalanannya yang akan

menempuh Sungai Titian Dewata tak satu pun kekuatan baik

melalui kemesraan dan kasih, baik melalui ancaman bahaya

yang mungkin ditemuinya, yang dapat mencegahnya,

mengendorkan maksudnya. Walaupun itu berarti dia akan

merombak kepercayaan yang sudah tertanam di dasar hati

penduduk turun-temurun, atau dia sendiri akan musnah.

Seperti api unggun itu sendiri, bila hendak memadaminya,

harus turut baranya dipadamkan baru tidak mengandung

panas lagi, mengandung bahaya lagi yang bisa membakar dan

menghanguskan.

Dari jauh sudah kedengaran siulan Ronggur datang

mendekat. Ronggur melihat api yang sudah menyala dan

memberi kilatan cahaya pada sekitar, yang cepat menjadi

kelam. Dedaunan yang merimbun menampung cahaya

matahari yang sudah lemah, senja. Sambil tersenyum Ronggur

berkata:

"Kau pandai menyalakan api. Di tikungan jalan tikus

menanjak sana, sudah kutemui kumpulan pohon maranti batu.

Tapi, belum kutemui maranti batu yang cukup tua, yang baik

dijadikan perahu. Pohon yang kuperlukan harus cukup tua lagi

besar. Sedang panjang batangnya yang lurus hendaknya

melebihi tiga depa. Tapi, bagaimanapun kumpulan pohon

maranti batu yang masih muda itu, sudah menjadi pertanda

bahwa di hutan ini akan kutemui pohon yang kuperlukan."

“Harus pohon maranti batu?" tanya Tio menyeling.

“Ya. Semua perahu yang baik dibuat dari jenis kayu itu.

walau susah mengerjakannya karena kayunya cukup keras.

Tapi meranti batu tidak mudah busuk walau direndam dalam

air dan dipanggang terik matahari. Lagi, daya apungnya

sangat baik."

Kemudian Tio terdiam. Matanya seperti bermimpi. Menatap

entah ke mana saja. Dan, Ronggur melanjutkan:

“Sewaktu aku meneruskan perjalananku lebih ke atas,

kutemui pula parit kecil. Airnya bening. Di tepi parit banyak

kulihat bekas jejak binatang buruan. Jadi, kita tidak akan

kekurangan daging di sini. Tahukah kau di sebelah hulu parit,

banyak pohon aren liar tumbuh. Sudah ada yang tua. Kau

harus menebang pohon aren yang sudah tua itu. Memintal

ijuknya menjadi tali. Harus cukup besar, kalau bisa sebesar

pergelangan tangan. Harus pula panjang. Sangat kuperlukan

nanti dalam perjalanan. Itulah kerjamu."

“Aku akan mengerjakan," sahut Tio. Dalam hati selalu

mengiring tanya, kuperlukan dalam perjalanan. Apakah

Ronggur pergi sendiri, tidak mengajaknya? Betapa pun

ancaman yang tumbuh dari maksud perjalanan itu, namun Tio

bila memang Ronggur harus berangkat juga, dia ingin ikut.

“Besok pagi benar, bangunlah. Kita harus mengadakan

pengintaian. Membunuh beberapa ekor binatang itu, agar ada

daging persediaan. Jangan lebih dulu menebang kayu. Suara

kampak yang berlaga dengan pohon kayu bisa menakutkan

binatang. Binatang akan pergi menjauh."

Tio mendengarkan. Begitu yakin dia bahwa kemana pun dia

pergi, bila bersama Ronggur, mereka tidak akan mati

kelaparan. Keberaniannya, akalnya yang cukup banyak,

kekuatan tubuhnya memberi jaminan.

Tapi, bila diingatnya bahwa Ronggur akan menyusuri

sungai Titian Dewata mencapai muara, maka itu sangat lain

soalnya. Walaupun tubuh Ronggur cukup tegap menyimpan

tenaga yang kuat, akalnya banyak, namun untuk menghadapi

ketentuan dewata, semuanya itu tidak berarti. Kalau dewata

berkehendak, apalagi kalau dilanggar ketentuannya, siapa

pula dapat menantangnya?

Entah kenapa perasaan takut itu tambah hari tambah

dalam mencekam di hatinya. Namun dia tidak mengatakan.

Kurang wajar rasanya dia menasihati perjalanan yang sudah

diputuskan Ronggur harus ditempuh. Tapi, apakah Ronggur

tidak dapat membaca apa yang tersirat dicerlang matanya?

Malam hari. Binatang rimba mulai bernyanyi. Jengkrik

dengan kerisiknyayang nyaring dan di kejauhan gonggong dan

salak anjing liar selalu membuat si belang mendongakkan

kepala. Mendengarkan dan meraba sumber suara itu.

Ronggur menyuruh Tio mengikatkan tubuh ke dahan kayu

yang bercabang, berbentuk gepeng, agar tidak jatuh sewaktu

diri lelap tidur. Tapi, ikatannya jangan dipintal mati. Harus bisa

dibuka dengan cepat. Karena mungkin saja diperlukan pada

saat tertentu,. Ronggur juga mengikatkan tubuhnya ke dahan

tempatnya tidur. Si belang di bawah, dekat unggun api.

Dalam hayalnya Ronggur sudah menggambarkan bentuk

perahu yang hendak dibuatnya. Sudah di reka-rekanya bahwa

dasar perahu harus mendatar, jangan melancip.

Biarlah tidak bisa dikayuh cepat. Biarlah perahu agak

lamban jalannya. Tapi, bisa mengikuti arus sungai walau

melalui riam. Dinding perahu harus agak tinggi agar tidak

dimasuki temperasan air yang memercik. Ya, pikirnya,

penimba air harus dibawa serta. Yang dibuat dari bambu.

Malam begitu dekatnya. Nyala menjilam dari unggun api.

Tambah jauh malam nyala itu tambah mengecil. Ronggur

turun ke bawah. Menimpakan beberapa potong lagi

dedahanan ke atas api. Hingga jilam yang mau padam tadi,

lalu tampak bara membara, kembali menyala. Jilam-nya begitu

tinggi. Sekitar menjadi terang dan panas. Si belang duduk di

tanah dekat api melihat jilam api yang terkadang meliuk ditiup

angin lalu.

"Perahu yang kubuat," lanjut Ronggur berbicara pada diri

sendiri setelah dia kembali meletakkan diri dan mengikat

tubuhnya ke dahan kayu itu. Harus bisa memuat penumpang

sebanyak tujuh orang paling sedikit. Dasar perahu harus lebih

lebar dari perahu biasa, agar tidak mudah oleng waktu

melintasi riam sungai. Juga agar mudah menjaga

keseimbangan. Sudah dibayangkan, siapa yang akan

diajaknya serta. Akan diminta kesediaan mereka

menemaninya. Dan, ke dalam yang tujuh orang itu, tidak

termasuk Tio.

Perjalanan yang menanggung risiko begitu berat, bukanlah

pekerjaan perempuan. Lagi, Tio perlu dekat ibu. Membantu

mengerjakan sawah bila saat panen tiba. Siapa ttliu, boleh jadi

perjalanan itu sangat panjang.

Dikiranya pula, bila setiap hari dia mengerjakan perahu,

dalam dua kali purnama tenggelam dan terbit lagi sudah bisa

selesai. Berarti sepulangnya dari hutan itu, padi telah

menguning di sawah. Sehabis panen, dia akan memulai

perjalanan itu. Seketika, teringat dia atas maksud kerajaan

marganya untuk membuka hutan itu menjadi tanah

persawahan.

"Ah," pikirnya pula, "dari orang yang sangat dekat dengan

Raja Panggonggom, diperolehnya keterangan bahwa s iasat itu

baru gertakan saja pada kerajaan marga sekitar. Untuk

menduga sampai di mana kesungguhan kerajaan marga lain

itu untuk menguasai hutan itu.

"Tapi, betapa pun," pikirnya pula, "hutan itu akan dibuka

orang juga. Dan, darinya timbul satu ancaman pada

ketenteraman hidup. Karena setiap kerajaan marga

merasakan sama-sama berhak atas hutan yang kecil itu."

"Tio, kau sudah tidur?" tanyanya. Tidak ada sahutan. "Ah,"

pikirnya, "Tio sudah tidur."

Dan, dia masih belum bisa memejamkan mata. Pikirannya

terus berbicara dan bercerita dan mereka-reka bentuk masa

datang. Dia tidak tahu pasti, kapan dia jatuh tertidur. Kokok

ayam hutan membangunkan mereka. Cepat Ronggur turun

dari dahan. Begitu pula Tio. Setelah meregangkan tubuh

beberapa saat, menguapkan mulut. "Enak tidurmu malam

tadi?" tanya Ronggur.

Tio hanya menundukkan kepala. Sekitar masih remang.

Masih pagi benar. Tapi, bila mereka pergi ke pinggir hutan,

tahulah mereka bahwa matahari sebenarnya sudah muncul di

atas pundak Dolok Simanuk-manuk yang dapat mereka tatap

dari mulut teluk. Dedaunan yang rimbun menghalangi sinar

matahari jatuh menimpa wajah mereka. Cepat-cepat Ronggur

mengajak Tio mendekat ke parit yang dikatakannya semalam.

Perlahan-lahan mereka mendekat, seolah-olah tidak

menimbulkan bunyi. Walau melalui ranting-ranting kering yang

berserakan di atas tanah.

Ronggur menunjukkan sekumpulan pelanduk yang sedang

minum dan bermain-main di parit kecil itu.

"Lihat," bisik Ronggur. "Bidiklah yang sebelah sana, yang

kepalanya berbelang putih. Aku membidik yang kakinya

berbelang."

Tio mengiakan dengan anggukan. Bersama mereka

mengayunkan tombak yang cepat melayang. Lalu, tertancap

ke sasaran. Karena terkejut, pelanduk lain melarikan diri.

Sedang pelanduk yang dikenai tombak melengking dan

berusaha melarikan diri beberapa jauh, membawa luka di

tubuh yang mengucurkan darah. Untuk itu, si belang cepat

bangkit dan mengadakan pengejaran. Digigitnya kaki pelanduk

itu sampai tidak berdaya. Sampai rubuh ke tanah. Kemudian si

belang menggonggong, mewartakan kepada tuannya di mana

pelanduk tergeletak.

Ronggur dan Tio cepat mendekat. Mereka kuliti binatang

itu. Dagingnya mereka potong tipis-tipis. Mereka jemur di atas

batu yang langsung menampung sinar matahari penuh tanpa

dihalangi dedaunan. Sehari itu, si belang disuruh menjaga

agar tidak dicuri burung gagak.

Rongur memilih dinding jurang yang baik digali untuk

membuat lubang perlindungan, tidak jauh dari parit kecil agar

mudah mengambil air. Berdua mereka menggali. Mulut lubang

dibuat besar, hingga bisa masuk dengan leluasa. Sedang

ruang dalam agak luas. Mereka bisa menyangkutkan ulosbatak

sebagai batas tempat tidur masing-masing. Sampai jauh

malam mereka mengerjakan lubang itu. Peralatan mereka

simpan di sana. Begitu pula dengan daging hasil pemburuan

tadi pagi yang harus dijemur besok harinya, karena belum

cukup kering untuk disimpan.

Mereka gembira karena sudah memperoleh daging yang

dibutuhkan dan sudah punya lubang perlindungan. Ronggur

bisa tidur nyenyak malam itu, begitu pula Tio. Di mulut lubang

si belang tidur-tiduran. Seperti menjaga kemungkinan adanya

gangguan binatang buas.

Pagi itu, Ronggur melanjutkan mencari kayu. Dia

menyuruk-nyuruk di bawah rerantingan, menyibak rerumputan

yang terkadang berduri dan melukai tubuhnya dengan garisgaris

kecil. Tapi sudah dapat menitikkan darah untuk

kemudian membeku

Agak jauh di tengah hutan, baru ditemui pohon yang dicari.

Besar batang pohon, tiga kali pelukannya. Panjang batang

pohon yang tegak lurus, sekira tiga depa. Diperiksanya batang

pohon itu baik-baik, hingga dia yakin bahwa pohon itu sudah

cukup tua. Dikulitinya batang pohon sekira sejengkal, lalu

tampak kayu yang sudah berminyak. Kemudian dipanjatnya.

Diperiksa, apakah tidak terlalu banyak mata kayunya. Tahulah

dia bahwa kayu itu cukup baik dijadikan perahu. Langsung

saja Ronggur mulai mendahaninya, agar waktu tumbang nanti

tidak menyangkut pada pepohonan lain yang bisa

menimbulkan cacat pada pohon itu. Tanah di sekitar pohon itu

dibersihkan.

Sesudah selesai menjemur daging hasil buruan semalam

dan menyuruh si belang menjaga, Tio langsung menebang

aren yang sudah tua. Batangnya dibelah. Umbi aren

diasingkan untuk ditumbuk, kemudian direndam dengan air,

lalu ditapis untuk diasingkan tepungnya Yang baik, dimakan

pengganti beras. Belahan pohon aren dijemur di bawah terik

matahari, di tanah yang tidak terlindung. Ijuknya cepat

berlepasan satu sama lain bila pohonnya sudah kering. Ijuk

yang berlepasan itu bisa dipintal menjadi tali yang cukup kuat.

Begitulah mereka saling mengerjakan tugas masingmasing.

Bila daging sudah mulai habis, kembali mereka

mengadakan pemburuan. Sedang persediaan beras

tampaknya tidak berkurang-kurang karena persediaan tepung

umbi aren.

Dari dedahanan kayu yang ditebang Ronggur, yang

panjang lagi kurus, dua tiga biji dipilihnya untuk dijadikan

galah. Katanya sekali waktu pada Tio, galah itu sangat

diperlukan dalam melayari sungai. Bila air sungai tidak berapa

dalam bisa digunakan membantu jalannya perahu, dengan

mencucukkan galah ke dasar sungai lalu menyorongkan. Atau,

mendorongkan perahu yang mau terhempas ke tepian berbatu

dengan menjolokkan galah ke pinggir sungai berbatu.

Dua biji lagi kayu yang tidak berapa besar ditebang

Ronggur. Batang pohon itu dipotong. Ujungnya dilancipkan

kemudian dipacakkan ke tanah. Bersilangan.

Persilangan itu diikat dengan rotan kuat-kuat. Dibuatnya

pula pacakan begitu dua lagi. Sedang batang pohon maranti

batu yang sudah tumbang itu, diukurnya. Tepat sepanjang

yang diperlukannya. Lebihnya dibuang. Dengan dibantu Tio,

Ronggur menaikkan batang pohon maranti batu itu ke atas

pacakan yang berupa galangan itu. Di sana batang pohon itu

dikulitinya, ditelanjangi.

Di atas pacakan itu Ronggur mulai membuat perahu. Di

atas pacakan, batang pohon itu bisa dibalik-balikkan. Ronggur

harus hati-hati memilih, bagian batang mana yang harus

dijadikan dasar perahu. Dari sebelah mana harus dimulai

penukilan membentuk semacam lobang di batang kayu itu.

Dia harus memilih dasar perahu yang terbuat dari bagian

batang yang tidak banyak mata kayunya. Mata kayu biasanya

mudah lepas dari kesatuan kayu dan bila sudah lepas, perahu

akan bocor.

Bentuk lobang yang dibuat Ronggur di batang kayu itu,

yang nanti menjadi tempat pemenumpang, pada bagian hulu

dan buritan tidak berapa dalam. Tapi, di bagian perut lebih

dalam dan luas. Setelah bentuk lobang itu agak nyata,

Ronggur beralih pula menukil bagian luar. Membentuk

semacam dinding yang baik, mengambil tuntutan dari bagian

dalam perahu. Dasarnya sengaja diperluas.

Bila dasar perahu dan dinding perahu bertambah terbentuk,

kapak tidak berapa dipergunakan Ronggur lagi.

Dikeluarkannya tuhil, alat yang yang terbuat dari batu yang

tajam muncungnya. Dengan tuhil Ronggur melanjutkan

membentuk lobang atau memperhalus bekas makanan

kampak. Tuhil itu ditancapkan lebih dulu, kemudian hulunya

diketok perlahan. Dia harus memperhatikan benar, berhatihati,

agar dinding perahu tidak terlalu tipis lalu mudah pecah.

Begitu pula dasarnya. Tapi, tidak pula boleh terlalu tebal.

Agar perahu tidak berat atau agar daya apung perahu cukup

baik dan punya keseimbangan. Karena itu, tebal kedua sisi

dinding perahu, diusahakan agar sama. Pada bagian buritan

dan hulu perahu, dipahatnya semacam ukiran,

menggambarkan kepala harimau. Satu menghadap ke depan,

satu lagi menghadap ke belakang. Langsung bersatu dengan

tubuh perahu.

Buritan dan hulu perahu, dindingnya tebal dibuat di sana,

justru karena di buritan dan di hulu perahulah terletak tenaga

sesuatu perahu tersimpan. Bila buritan dan hulu perahu retak

atau pecah, sendirinya saja bagian perut perahu akan pecah.

Waktu saat memintal ijuk tiba, setelah pohon aren yang tua

habis ditumbangkan Tio di tempat itu, tahulah Tio, betapa

susahnya memintal ijuk pohon aren. Ijuk yang keras sering

menusuk kulit telapak tangan, sehingga bisa mengucurkan

darah. Kulit telapak tangan berlecetan di sana-sini. Kemudian

melahirkan kulit baru yang lebih tebal dan lebih tahan

menghadapi ijuk. Tapi, kasar.

Alat pemintal, ialah dua potong kayu sebesar pergelangan

tangan. Dibuat bersilang. Kayu bersilang itu diputarkan pada

tumpukan ijuk yang dicerai-beraikan. Dan, sudah kering

sehingga ijuk mengikut pada putaran kayu itu. Ijuk yang

mengikut itu, yang diusahakan sebesar yang dikehendaki dan

sudah cukup panjang diikatkan pada pepohonan yang ada di

sekitarnya. Lalu dimulainya memutar-mutarkan kayu bersilang

tadi ke tumpukan ijuk. Ijuk yang memanjang, yang sudah dua

jalur itu, disatukan. Dipilin tangan demikian rupa sehingga

berbentuk tali yang jalin-menjalin, hitam, dan kokoh. Tahan

air. Tahan panas matahari, asal saja jangan dibakar api.

Tio harus mencari pohon aren baru untuk ditebang. Dia

harus menyusur lebih ke hulu parit lagi. Pohon aren yang

setumpuk itu sudah pada tumbang. Dan, ijuknya sudah

dipintal menjadi tali. Tapi, Ronggur mengatakan tali yang

dipintalnya masih kurang banyak. Karena itu, dia harus

mencari pohon aren lagi. Menebang. Membelahnya.

Menjemur. Menyisihkan umbinya. Merendam ke air. Menapis

agar diperoleh tepungnya. Bila batang aren sudah kering,

melepaskan ijuknya dari batangnya. Mencerai-beraikan.

Kemudian memintalnya menjadi tali.

Tio menyuruki rimbunan kekayuan yang agak rendah,

mencari pohon aren. Dari jauh sudah terlihat daun aren yang

panjang itu. Ke sana dia menuju.

Setiba di bawah pohon aren itu, betapa gembira dia karena

dia menemui sarang babi hutan. Anak babi hutan lima ekor,

matanya masih sipit. Dielusnya perlahan tubuh anak babi yang

masih lembut. Yang masih punya bulu begitu halus dan

menggelikan telapak tangan.

Tiba-tiba dia sadar bahwa menemui sarang babi hutan

yang mempunyai anak yang masih kecil, juga mengandung

mara bahaya yang mengancam di samping kegembiraan.

Induk babi yang baru melahirkan dan masih menyusukan

tentu cukup galak dan tetap diiringi jantannya.

Waktu dia berpaling, didengarnya dengusan babi dari

semak yang ada di atasnya. Sadarlah dia, itu dengusan induk

babi. Dilihatnya keadaan sekitar, tidak menguntungkan. Tidak

ada batang kayu yang dekat yang bisa dipanjat untuk

menghindar bila babi itu menyerang. Sebelah kanannya, jalan

tikus yang sempit. Sebelah kedua sisinya, belukar. Dari

depannya, suara dengusan babi.

Tapi, masih ada semacam dinding tanah sebelum

menembus ke jalan tikus itu. Bila dia mundur ke sana dan

mengadakan pertahanan, yang harus dihadapinya hanyalah

satu arah saja, yaitu depannya. Padahal babi hanya bisa

menyerang dari satu arah. Dengusan napas babi tambah

mendekat.

Dibulatkannya tekad, dia harus menghadapi segala

kemungkinan. Dia harus menghadapi serangan babi itu. Jalan

menyingkir sudah tidak ada. Walau dia tahu seekor babi hutan

tidak akan terus jatuh ketika pukulan pertama mengenai

tubuh atau kepalanya. Babi itu akan menyeruduk maju ke

depan, menyerang sampai mangsanya terjepit. Muncungnya

yang panjang kemudian akan ditusukkan ke bagian tubuh

yang lunak. Dan, bila babi jantan itu sudah bertaring,

taringnya akan digunakan mencabik-cabik daging mangsanya.

Menggigil juga dia.

Sambil mundur perlahan, matanya tetap awas dan terus

diarahkan ke sumber dengusan. Tapi, pikirannya masih dapat

mengingat bahwa bila babi menyerang selalu membabi buta.

Langsung saja menyergap ke depan tanpa rem. Dalam saat

begitu, seseorang yang lincah dan tidak gugup, dengan

meloncat ke kiri atau ke kanan, bisa mengelak serangan. Bisa

mengelak serangan babi sambil menggunakan kesempatan itu

menghantamkan panggada atau kampak yang ada di tangan.

Tiba-tiba si belang menggonggong. Begitu nyaring

suaranya. Taringnya ditunjukkan, putih tajam dan kukuh.

Dalam hati, Tio mengharap Ronggur dapat mendengar dan

mengerti maksud gonggongan si belang. Dua ekor babi

sekaligus sudah berada di hadapannya, di tempat terbuka

yang sempit.

Seekor dari babi itu sudah bertaring, yang jantan. Mata

kedua babi itu merah menyala. Keduanya mengais-ngais

tanah, bergaya, mengambil ancang-ancang memulai

serangan. Tio terus mundur sampai mendekat ke satu sudut

tanah tinggi yang keras. Matanya terus awas, mengikuti sikap

dan gerak-gerik babi yang dua ekor itu. Bila babi menyeruduk

maju tanpa rem, di saat dia harus melompat ke kiri atau ke

kanan, dia harus terus cepat pula mengayunkan kampak yang

ada di tangannya, sambil harus terus awas menantikan

serangan babi yang seekor lagi.

Si belang masih terus menggonggong dengan nyaring dan

bersikap menanti. Karena itu, babi itu belum menyerang.

Gonggong si belang cepat berhenti karena babi jantan

menyerang si belang. Si belang melompat ke samping. Babi

jantan terdorong ke depan. Si belang cepat melompat ke

punggung babi itu. Si belang sudah berada di punggung babi.

Tapi, sebelum si belang memperoleh posisi yang baik, babi

itu masih sempat mempergunakan taringnya sehingga leher si

belang kena dan mengeluarkan darah. Tapi, si belang tidak

lagi melepaskan pundak babi jantan itu. T aringnya yang tajam

dan kukuh ditancapkan ke bagian punggung leher babi. Babi

itu menggelepar dan berlari dengan berputar untuk

menjatuhkan si belang dari pundaknya. Namun si belang tidak

melepaskan gigitannya lagi. Darah babi muncrat. Namun,

belum ada pertanda babi itu mau mengalah. Akhirnya, babi itu

berlari ke satu batang pohon yang besar, mendorongkan

pundaknya agar si belang terjepit. Dengan kaki belakangnya,

si belang menahan dorongan itu. Taringnya tambah dalam

ditancapkan ke daging babi.

Babi betina melihat babi jantan dalam keadaan payah mulai

mengambil ancang-ancang akan menyerang. Waktu itu,

secepat kilat tangan Tio mengayunkan kampak, berusaha

menghantamkan ke bagian punggung leher babi. Tapi, yang

kena bagian punggung belakang saja.

Babi itu cepat berpaling. Panggada yang ada di tangan Tio

diayunkan beruntun, menghantam kepala babi itu. Tapi, babi

itu terus maju mendorong, mendesak Tio ke sisi tanah tinggi.

Terkadang didorong ke rimbunan lalang yang ada di sekitar.

Tio tetap berusaha menjaga arah mundur. Tapi, justru karena

serangan babi itu yang terkadang berubah arah, sekali waktu

dia tergelincir juga. Dia tersandar ke pohon aren yang berduri

tajam. Duri pohon aren menusuk punggungnya. Terasa sakit.

Cepat babi itu mundur ke belakang dan cepat pula

melompat ke depan bermaksud menjepit Tio ke batang pohon

aren. Tapi, secepat itu pula Tio mengelak. Namun, betisnya

sempat disambar babi dengan muncungnya. Luka menggaris,

darah mengucur.

Tio memperbaiki posisi sambil menghantamkan panggada

ke sana ke mari, menghalangi jalan maju babi itu. Sekarang,

Tio sudah bersandar ke dinding tanah tinggi yang keras.

Kembali babi itu mengambil ancang-ancang mundur beberapa

langkah. Tio berhenti mengayunkan panggada. Seperti

melengah.

Dan, saat ini dipergunakan babi dengan menyeruduk cepat

ke depan. Saat genting. Dan, Tio cepat mengelak ke samping.

Kepala babi terhantam ke dinding tanah tinggi yang keras.

Kampak yang tadi tertancap di pundak babi menjadi lepas.

Cepat dipungut Tio, lalu menghantamkan kampak ke leher

babi yang belum sempat berpaling. Akhirnya babi itu tidak

berdaya sama sekali. Tergeletak di tanah dengan mata yang

masih memancarkan sinar kemarahan.

Kaki belakang si belang semakin lemah menahan dorongan

babi jantan. Pantatnya sudah mulai kena ke batang pohon. Tio

masih begitu payah. Napasnya satu-satu dan tubuhnya mandi

keringat. Betisnya terasa pedih mengucur darah. Hingga dia

untuk beberapa saat tinggal melihat saja. Napasnya tersengal.

Urat sarafnya begitu tergoncang.

Dan, secara perlahan diketahuinya, si belang sedang

berada dalam keadaan yang tidak menguntungkan bersamaan

dengan mengendornya urat saraf itu. Bersikap mengayun

kampak, Tio maju perlahan. Tapi, waktu itulah sebuah tombak

yang sudah cukup dikenalnya tertancap ke perut babi.

Ronggur telah ada di sana dengan tubuh berkeringat.

Matanya menyala marah. Ototnya mengencang. Ujung tombak

satu lagi dipegang Ronggur kuat-kuat, hingga mata tombak

tambah dalam tertanam ke perut babi. Kemudian Ronggur

memerintahkan agar si belang melompat dari pundak babi.

Begitu si belang melompat menjauh, secepat itu pundak babi

dihantam Ronggur dengan kampak. Babi itu akhirnya rubuh ke

tanah. Tergeletak di tanah dengan gelepar lemah.

Ronggur melihat Tio terduduk di tanah dengan napas

tersengal. Di dekat seekor babi betina yang terkapar. Si

belang masih menggonggong babi yang tidak berdaya itu

dengan moncong berlumur merah darah babi. Tapi, lehernya

luka kena taring babi.

Dengan senyum, Ronggur mendekati Tio. Lalu tahulah dia,

betis Tio luka, punggungnya bergaris-garis bekas tusukan duri.

Tanpa diminta Ronggur, Tio terus saja menceritakan mula

perkelahian dengan babi itu.

"Kau telah mengadakan perlawanan yang cukup berani dan

berarti. Di saat kita kehabisan daging, di situ pula kau

merubuhkan babi yang dagingnya enak. Tapi, lukamu perlu

cepat diobati. Begitu juga luka s i belang," ucap Ronggur.

Tio masih tetap terduduk. Masih merasa capek. Dan,

merasa malu dia dilihat Ronggur dalam kepayahan.

Ronggur mengangkat dagunya perlahan. Mata mereka

bertemu. Ronggur kembali menghadiahkan senyum. Hanya

begitu.

Cepat Ronggur menjauh. Mencari dedaunan untuk ramuan

mengobati luka Tio dan si belang. Ramuan dedaunan itu

dilekatkannya ke luka Tio dan si belang. Seketika terasa mulut

luka itu perih hingga Tio harus menjerit kecil, sedang si belang

melengking perlahan. Ronggur mengelus punggung si belang

agar tabah, sedang pada Tio dihadiahkan senyum manis.

"Tidak berapa lama akan tidak terasa apa-apa. Lukamu

akan cepat sembuh. Ramuan itu membunuh bisa. Lagi pula

lukamu tidak berapa dalam, juga luka si belang."

Cepat Ronggur menghidupkan api. Kedua ekor babi itu

dibakar sampai kulitnya hangus. Kemudian isi perut babi itu

dibuang. Baru kemudian daging babi itu dipotong kecil-kecil.

Dijemur di panas matahari supaya kering dan tahan disimpan.

Sedang anak babi yang lima ekor itu akan mereka bawa

pulang ke kampung, dipelihara menjadi babi peliharaan yang

jinak. Tio menjalin rotan, membuat sarang babi yang sekaligus

menjadi kurungan bagi anak babi itu.

Malam harinya, mereka lanjutkan memanggang daging babi

itu dalam gua. Sepotong paha diberikan kepada si belang

sebagai hadiah, la asik menyabik-nyabiknya di mulut lobang

perlindungan.

Perahu yang dikerjakan Ronggur tambah berbentuk dan

mulai mengarah ke tarap penyelesaian. Tali yang dipintal Tio

sudah beberapa depa dan sudah ada lima gulungan besar

yang selesai. Kulit binatang buruan sudah pada mengering.

Hendak mereka bawa pulang. Begitu pula anak babi yang lima

ekor itu sudah punya bulu yang agak kasar, matanya sudah

terbuka, dan jinak. Bila Tio bermain dengan anak babi itu,

tidak diingatnya lagi betapa perasaannya waktu menghadapi

kedua ekor induk binatang itu.

Sedang luka di betisnya sudah sembuh, hanya tinggal

bekas kecil saja. Begitu pula luka di leher si belang, tinggal

segaris saja, tapi tidak, ditumbuhi bulu lagi.

Ronggur sudah selesai menghaluskan bekas tuhilannya.

Pada penglihatan mata, kedua sisi dinding perahu, begitu pula

perbandingan berat hulu perahu dan buritan perahu, sudah

sama. Perahu yang cukup besar yang bisa memuat tujuh

orang penumpang bersama peralatan. Dengan tali yang

dipintal Tio, Ronggur mengikat perahu itu pada hulunya.

Batang pohon maranti batu yang dulu begitu berat, sekarang

sudah ringan. Ronggur dan Tio menurunkan perahu itu dari

galangan.

Kemudian mereka menarik tali itu dan terseretlah perahu.

Di dalam perahu, semua peralatan bersama kelima anak babi

dimuat. Karena jalanan menurun dan dedaunan membusuk di

lapisan tanah, mereka tidak menakutkan dasar perahu bolong

dibuat batu. Tanah begitu lembut dan berair. Si belang

mengikut dan menggonggong. Mereka langsung menuju

tepian danau yang ada di mulut teluk, jadi, mereka tidak

pulang melalui jalan darat.

Setiba di tepi danau, Ronggur dan Tio mengosongkan

perahu. Mereka harus menguji keseimbangan perahu dulu

dengan mengapungkan di permukaan danau. Dan, tahulah

dia, apa yang bagi penglihatan mata sudah punya

keseimbangan yang sama, setelah diuji masih mempunyai

perbedaan. Haluan perahu terlalu berat. Walaupun Ronggur

sudah duduk di buritan perahu, haluan itu masih bergaya mau

tenggelam. Perahu yang begitu rupa, tidak baik dibawa

berlayar.

Ronggur menipiskan bahagian haluan lagi. Membuang

bagian yang tidak berguna. Setelah itu selesai, perahu kembali

diapungkan. Tahu pulalah dia bahwa bagian sisi kanan

perahu, lebih berat dari sisi kiri, sehingga perahu selalu oleng

ke kanan. Kembali perahu didaratkan. Sisi kanan perahu harus

lebih direndahkan dan ditipiskan pada bahagiannya yang

masih tebal. Sampai tercapai keseimbangan. Jadi, mereka

harus bermalam lagi untuk beberapa malam di tepi danau,

sebelum perahu rampung benar. Juga mata kayu yang ada di

dasar perahu yang tidak dapat dielakkan sejak mula, ternyata

dapat ditembus air. Ronggur lalu merekatnya dengan getah

pohon damar.

Bila keseimbangan perahu telah diperoleh, kembali segala

peralatan dimuat ke dalam perahu, bersama kelima ekor anak

babi itu, juga si belang. Mereka menuju pulang.

Mereka berkayuh dan berkayuh. Karena dasar perahu agak

luas terasa pendayungan agak berat. Tapi, tidak dihiraukan.

Senja hari. Tari warna bermain di riak danau. Ronggur

mencampakkan pandang jauh, ke teluk di mana bermula

Sungai Titian Dewata sudah ada. Tapi, bagi Tio sendiri setelah

mengayuh perahu di permukaan danau, kembali dia teringat

bahwa saat berpisah dengan Ronggur sudah semakin dekat.

Apakah Ronggur akan kembali lagi? Walau dia tahu bahwa

sesuatu ancaman sedang menanti Ronggur, namun dia masih

mengharapkan, hendaknya Ronggur dapat kembali dengan

selamat.

Bila lekuk teluk telah dilewati, mereka telah berada di

danau bebas, malam sudah melingkup segala. Ronggur

menyuruh Tio agar duduk di haluan perahu, memperhatikan

jalan, apakah ada perahu lain yang bersilangan dengan

mereka. Sepanjang malam mereka terus berkayuh di

permukaan danau yang tenang dan tidur. Bintang gemerlapan

di langit. Bulan mencurah cahaya. Permukaan danau kembali

memantulkannya ke langit. Suasana yang romantis.

Tapi, antara mereka berdua, kebisuan yang meraja. Tio

lebih banyak diam dan tenggelam ke dasar perasaannya:

bagaimana kelak kalau Ronggur sudah berangkat? Apakah

orang masih memperlakukannya dengan baik? Sedang

Ronggur diamuk satu kepercayaan bahwa dia akan

menaklukkan Sungai Titian Dewata bahwa dia yakin, Sungai

Titian Dewata akan membawanya ke tanah landai lagi subur.

Tanah yang diimpikan setiap orang.

Bertambah larut malam, secara berangsur, perlahan, bulan

semakin mengundurkan diri. Maka sekitar diselubungi

kegelapan. Tapi, kemudian di ufuk timur, menggaris cahaya

putih. Subuh baru telah lahir bersamanya lahir hari baru

dengan harapan baru. Sinar matahari telah meng-kuakkan

tabir kegelapan, maka terhamparlah depan mereka

persawahan yang bermula dari tepian danau, berakhir pada

kaki pegunungan batu.

"Tio, padi telah menguning di sawah. Kita tidak punya

waktu mengasuh lagi. Harus terus turun ke sawah memotong

padi," kata Ronggur.

"Ya, aku tahu."

"Dan, sehabis memotong padi, saatku berangkat tiba.

Mardege, ada baiknya diserahkan saja pada orang lain. Aku

tidak bisa lagi berlama-lama mengundurkan saat

keberangkatanku."

Tio hanya menundukkan kepala.

Perahu terus dikayuh. Menari bersama riak danau. Bila

gelombang membesar, Ronggur tinggal tersenyum karena

gelombang danau tidak dapat mengolengkan perahunya. Dan,

serpihan air yang dilemparkan ombak tidak dapat memasuki

perahu.

Belum siang benar, mereka telah tiba ke tepian danau

perkampungan. Orang mencampak pandang pada mereka.

Para penangkap ikan melihat mereka. Ronggur belum dapat

mengartikan, kenapa mereka pada membisu, tidak gembira

menyambut kedatangannya bersama perahu yang dibuatnya

sendiri. Kalau tidak ditegor lebih dulu, itupun

4

Hari itu juga, sebelum Ronggur sempat mengasuh, utusan

kerajaan datang, menyuruh Ronggur menghadap ke Sopo

Bolon. Ibunya melepaskan dengan tatapan pilu, begitu pula

Tio. Ronggur melangkah dengan dada diangkat. Orang sudah

banyak memanen padi di sawah. Dia lalu di sana. Menyapa di

sana-sini, dan memperoleh jawaban sekedarnya saja. Tidak

seorang pun menanya tentang perahunya dan kapan dia

berangkat. Tampaknya setiap orang enggan bersapaan

dengan Ronggur.

Tapi, semua itu tidak berapa diacuhkan Ronggur, atau

memang dia belum tahu sebabnya.

Selagi Ronggur dan Tio membuat perahu di hutan, orang

sudah saling berbisik membicarakan maksud Ronggur hendak

melayari Sungai Titian Dewata mencapai muara. Pada

umumnya orang tak dapat menyetujui maksud itu. Tapi,

sebagian besar, terutama rakyat yang langsung berada di

bawah lindungannya sebagai Raja Ni Huta, tidak ada yang

berani terang-terangan mengeluarkan pendapat. Sebagian

lagi, ada yang mengejek, walaupun tidak secara terangterangan,

masih sembunyi.

Satu sama lain saling mengeluarkan pendapat bahwa

Sungai Titian Dewata, menuju matahari terbit. Tempat para

dewata dan arwah menghadap Mula jadi Na Bolon. Bila

seseorang berani melewati batas yang sudah ditentukan

sampai di mana boleh seseorang berlayar, itu berarti sudah

melanggar ketentuan dewata. Dewata akan murka dan

menghancurkan orang yang berani melanggar peraturannya.

Matahari, tempat Mula jadi Na Bolon mengedari dunia setiap

saat, untuk melihat manusia yang mengerjakan hal yang baik,

begitu pula dari matahari Mula jadi Na Bolon, melihat orang

jahat membuat kejahatan untuk diganjar kelak di hidup lain.

Dan, karena maksud perjalanan itu menantang

kepercayaan rakyat yang sudah tertanam turun-temurun,

sebagian merasa kasihan melihat Ronggur, tapi sebagian lagi

merasa terhina. Karena ada seorang manusia yang hendak

meruntuhkan atau sama sekali tidak mengindahkan

kepercayaan yang mereka anut. Kasihan dan ejek.

Di Sopo Bolon, Ronggur telah dinantikan kerajaan yang

lengkap. Segala Raja Ni Huta dari tiap kampung yang didiami

marga mereka telah ada di sana. Dia terus tahu, sidang

kerajaan akan diadakan hari itu. Raja Panggonggom sudah

duduk di tempat dengan wajah murung, pertanda warta yang

kurang baik. Di kiri kanan Raja panggonggom, duduk berjajar

Raja Partahi, Raja Namora, Raja Nabegu. Di belakang mereka,

duduk para Raja Ni Huta. Hanya Raja Ni Huta dari induk

kampung marga yang duduk sejajar dengan Raja

Panggonggom. Pada tempat tertentu, hadir pula Datu Bolon

Gelar Guru Marlasak. Diapit oleh para tua kampung, yang

selalu dipanggil menghadiri sidang kerajaan, bila yang hendak

dibahas hal penting.

Ronggur duduk di barisan Raja Ni Huta. Orang pada diam

sewaktu Ronggur memasuki ruang Sopo Bolon. Semua mata

diarahkan padanya. Mulut tidak mengucapkan sepatah kata.

Memperoleh lalapan dari tiap mata itu, membuat Ronggur

agak kaku juga sikapnya. Tapi, sewaktu matanya tertumpu

pada orang tua yang duduk di sudut yang agak remang itu,

yaitu bekas Datu Gelar Guru Marsait Lipan, perasaan kaku itu

berangsur menghilang dari tubuhnya. Orang tua itu

menyambutnya dengan senyum yang dibalasnya selintasan.

Untuk pertama kalinya orang tua itu menghadiri sidang

kerajaan dengan terang-terangan. Dari suasana dalam Sopo

Bolon, tahulah Ronggur bahwa sidang akan membahas

sesuatu hal yang sangat penting tampaknya.

Ruangan tetap hening. Sewaktu Ronggur mengalih

pandang tahulah dia bahwa Raja Panggonggom terus menerus

menancapkan pandang ke arahnya. Memperhatikan gerakgeriknya.

Lalu Raja Panggonggom mengangkat tangan yang

sebelah kanan, menjemput tongkat panaluan dari tempatnya.

Tongkat itu digenggam, dito-pangkan agar berdiri tegak lurus.

Pertanda pertemuan dimulai.

"Semua kerajaan, pagar kesatuan marga, orang tua yang

bijaksana, yang bertanggung jawab akan kelanjutan hidup

marga dan keturunan kita kelak, kami undang hari ini

menghadiri pertemuan kerajaan di Sopo Bolon ini. Karena, ada

sesuatu hal yang sangat penting kita bicarakan dan bahas

bersama."

Hadirin pada diam semua. Menyimak yang diucapkan Raja

Panggonggom. Terutama Ronggur.

"Hal itu," lanjut Raja Panggonggom, "tampaknya

mengancam, dan bermaksud merubuhkan sesuatu yang kita

percayai. Yang bisa menimbulkan kegaduhan yang tidak kecil

di kalangan rakyat. Malah menurut sebagian orang, akan

mendatangkan mara bahaya pada seluruh rakyat dan

kerajaan."

Melalui ucapan Raja Panggonggom sebagai kata

pembukaan rapat, tahulah Ronggur bahwa hal yang akan

dibicarakan bersangkut-paut dengan maksud perjalanannya

menembus Sungai Titian Dewata. Karena itu, hatinya tambah

gedebak-gedebuk, menantikan putusan rapat. Atau, jalannya

pertemuan itu. Apakah ada orang yang bisa diharapkannya

untuk membela maksud perjalanannya itu, lalu

menyokongnya? Apakah mereka semua akan menjadi musuh,

yang menantang maksud perjalanan itu?

"Karena hal ini sangat menentukan," lanjut Raja

Panggonggom, "kami berpendapat harus melalui musyawarah

lengkap yang boleh mengambil putusan tertentu terhadapnya,

sehingga putusan itu nanti menjadi pendapat kita yang

mutlak, yang tidak dapat ditawar-tawar lagi. Camkanlah baikbaik

pentingnya maksud pertemuan ini."

Raja Panggonggom berhenti sebentar. Dia menarik napas.

Setelah mencampakkan pandang pada Ronggur, dia

melanjutkan:

"Ronggur, kami dengar kabar kau sudah menyelesaikan

perahu yang akan kau pergunakan menyusuri Sungai Titian

Dewata untuk mencapai muara. Karena kau bermaksud akan

mencapai tanah habungkasan. Apakah berita itu benar?"

"Benar, Paduka Raja," sahut Ronggur.

"Nah, sidang yang terhormat, yang disampaikan orang itu

ternyata benar. Ronggur sudah mengakui terus terang

sehingga jalan rapat tidak terlalu repot dan berbelit. Untuk itu,

kita harus mengucapkan terimakasih padanya. Ronggur, coba

ceritakan pada kami, kenapa kau begitu bernafsu hendak

mencari Sungai Titian Dewata?"

Ronggur disuruh berdiri. Dan, setelah mencampakkan

pandang ke sekitar, dia lalu membeberkan hal yang kan

dialami marga mereka kelak bila tanah habungkasan tidak

ditemui. Karena itu, dia berpendapat, tanah habungkasan itu

harus dicari. Dia yakin, katanya selanjutnya, seseorang yang

berani melayari Sungai Titian Dewata sampai ke muara berarti

akan sampai ke tanah landai yang subur. Tanah yang

dimimpikan tiap orang. Karena itu, dia mengharap agar

kerajaan memberi izin padanya untuk menyusuri sungai itu

sampai ke muara dan membolehkan beberapa orang menjadi

kawannya. Sungai Titian Dewata tidak berakhir di ujung dunia,

katanya tegas.

Seketika Ronggur berhenti. Rapat hening. Hanya wajah

Datu Bolon Gelar Guru Marlasak yang menjadi merah padam

mendengar semua omongannya. Dari s ikapnya tampak bahwa

dia sama sekali tidak mengingini mendengarkan ucapan

Ronggur.

Ronggur melanjutkan, "Aku telah memilih kayu yang paling

baik jenisnya. Daya apung perahu sangat baik. Dasarnya lebih

lebar dari perahu biasa. Tidak mudah oleng waktu melalui

arus riam sungai. Percikan air tidak mudah masuk ke perahu

karena dinding perahu kubuat agak tinggi."

"Sudah siap semua yang ingin kau ucapkan?" tanya Raja

Panggonggom.

"Sudah, Paduka Raja!" jawab Ronggur lalu kembali duduk

bersila di lantai.

"Ronggur, tahukah kau bahwa perjalananmu itu sangat

berbahaya?"

"Benar Paduka Raja!" sahut Ronggur. "Perjalanan ini

menghadapi risiko yang tidak kecil. Tapi, seseorang yang

berusaha mencapai sesuatu kebajikan akan selalu menghadapi

risiko. Tak ubah seperti mengerjakan sawah. Pada mulanya

kita harus berani membuang tenaga dan waktu untuk

mencangkul tanah. Lama sesudah itu baru tanah memberi

hasil pada kita."

Dalam hati kecilnya Raja Panggonggom menghormati sikap

terus terang dan keberanian yang dimiliki Ronggur. Tapi,

karena maksud perjalanan itu sendirinya pula membelakangi

kepercayaan rakyat dan kepercayaan sendiri, maka soalnya

menjadi lain.

"Ronggur, maksudku tidak di situ saja. Tidakkah kau tahu

bahwa Sungai Titian Dewata itu sungai yang jatuh ke ujung

dunia? Sungai Titian Dewata jalan para dewata dan arwah

menghadap Mula Jadi Na Bolon."

"Paduka Raja, memang padaku diajarkan kepercayaan

begitu rupa. Tapi, karena maksud perjalanan ini tidaklah untuk

kesenangan perseorangan saja, tapi bertujuan untuk

kepentingan bersama, izinkanlah aku untuk memikul segala

risiko itu bila yang kurasakan dan kupikirkan itu salah!"

"Bagaimana pendapatmu tentang Sungai Titian Dewata?"

"Paduka Raja, aku selalu digoda mimpi. Mimpi itu selalu

mengajak aku agar memulai satu perjalanan, yaitu menyusuri

Sungai Titian Dewata. Mimpi itu mewartakan bahwa bila aku

melayarinya, aku akan tiba ke tanah landai di muara sungai.

Tanah landai itu begitu luas. Bisa menampung kebutuhan kita

dan keturunan kita kelak akan persawahan. Turun temurun.

Selanjutnya mimpi itu selalu mengatakan padaku, bila aku

tidak memulai perjalanan itu, aku seorang manusia yang telah

menyia-nyiakan satu kesempatan. Aku orang yang tidak dapat

dikatakan seorang lelaki."

"Apakah kau tidak mungkin digoda setan?" potong Raja

Panggonggom.

"Paduka Raja, bila warta mimpi itu tidak dapat kutunjukkan

dalam kenyataan, berartilah aku digoda setan. Tapi, berilah

kesempatan padaku untuk membuktikannya atau aku sendiri

akan musnah. Aku telah rela menerima dan memikul segala

risiko itu."

Datu Bolon Gelar Guru Marlasak cepat berdiri. Dadanya

naik turun dengan cepat. Wajahnya memancarkan sinar

kemarahan. Mulutnya cepat-cepat mengeluarkan kata:

"Ronggur! Menurut kepercayaan kami, menurut hukum yang

diwariskan kepada kami, kau pasti akan mendapat bencana.

Jadi, sebelum bencana itu menimpa dirimu, ada baiknya kau

mengurungkan niat itu. Tapi, kau juga harus tahu karena yang

kau tantang itu hukum dewata. Kemarahan dewata tidak saja

menimpa dirimu, tapi semua marga akan dikutuknya.

Kerukunan keluarga akan hancur. Padi di sawah akan tidak

menjadi. Kalau cuma kau yang dikutuk dewata tidaklah

menjadi soal besar. Tapi, ini menyangkut seluruh marga kita.

Kerajaan kita akan berakhir pada suatu yang menyedihkan,

justru karena keinginanmu untuk mengharungi Sungai Titian

Dewata. Tidakkah dapat kau rasakan ancaman mara bahaya

yang akan timbul dan menimpa warga marga itu?"

"Datu Bolon Gelar Guru Marlasak, yang kuhormati

kebenaran tenungnya. Yang kuhormati arwah halus penjaga

diri dan yang dapat dipanggilnya untuk membisikkan sesuatu

pendengarannya. Aku selalu memperhitungkan dan tetap

merasakan, bencana yang mungkin meruntuhh-an

kelangsungan hidup marga. Justru karena memperhitungkan

hal itulah aku mengambil kesimpulan, tanah habungkasan

perlu dicari. Diusahakan menemukan. Aku percaya bahwa

Datu Bolon pun memikirkan hal itu. Soalnya bila Datu Bolon

meninjau dari sudut gaib, aku melihat dari kenyataan sesuatu

perhitungan yang hasilnya pasti tiba."

"Kalau begitu, tidak ada lagi sesuatu hal yang bisa

mengurungkan niatmu," kata Datu Bolon menyindir.

"Begitulah rasanya," jawab Ronggur dengan tabah dan

tenang. "Seperti tidak ada sesuatu kekuatan yang dapat

menghentikan orang mengisi perutnya," sindirnya pula dengan

halus dan tenang.

"Ronggur," tiba-tiba suara Raja Nagebu meninggi, dengan

hentakan kasar mengatakan, "Apa yang menggoda hatimu?

Apakah kau dengan perjalananmu yang akan menimbulkan

bencana dan yang telah menimbulkan huru-hara terpendam di

kalangan rakyat dan para hulubalang, yang menanti saat

meledak sehingga ketenteraman hidup terganggu dan kucarkacir,

masih kau katakan untuk memperjuangkan kelanjutan

hidup marga dan keturunan? Atau, kau memang sengaja

mencari nama, menunjukkan bahwa kau lebih berani dari

setiap hulubalang kita, sehingga patentengan menantang

hukum dewata? Ronggur menantang hukum dewata bukanlah

keberanian, tapi ketololan."

Seketika dia diam. Wajahnya bertambah merah. Lalu

melanjutkan, "Ronggur, bidang sawah yang diserahkan atau

dipercayakan kerajaan padamu cukup luas lagi subur. Biar kau

mengambil seorang istri atau lebih, kemudian istrimu itu

melahirkan anak banyak, kau belum perlu menguatirkan

makanan untuk mereka. Hasil sawahmu memberi jaminan.

Jelaslah sebenarmya kau mengimpikan sesuatu yang maha

mulia dialamatkan pada dirimu."

"Paduka Raja Nagebu, pemegang tampuk dan penggerak

para hulubalang perkasa. Maksudku jauh dari dugaan tuanku.

Kalaulah yang kuimpikan bisa nyata dalam kenyataan tidak

bermaksud aku disebut penemunya. Sekali-kali tidak. Juga aku

tahu, bila untukku sendiri dan jaluran keturunanku langsung,

sawah yang dikuasakan padaku memang cukup memberi

nafkah. Belum perlu menguatirkannya. Tapi, pokok persoalan

sekarang di sini bukanlah aku, tapi kita semua. Marga kita.

Tahukah paduka raja bahwa banyak dari marga ya'ng hanya

punya tanah beberapa bidang dan hanya dapat menghasilkan

padi yang cukup untuk makanan sekedarnya saja? Dan

mereka terus saja melahirkan anak, anak yang perlu kita beri

makan. Dan tahulah paduka raja bahwa permintaan bantuan

dari lumbung desa setiap tahunnya bertambah banyak juga?

Sehingga kita tidak bisa lagi mengadakan pesta pujaan

terhadap Mula Jadi Na Bolon dengan besar-besaran? Inilah

semua yang jadi persoalan. Jadi, bukan diriku dan bukan pula

hanya diri tuanku saja."

Keadaan menjadi sunyi. Dalam saat itu, Raja Panggonggom

mengadakan sidang kecil dengan para Raja Partahi, Raja

Nagebu, Raja Namora, dan Raja Ni Huta dari induk kampung.

Kemudian mereka panggil pula Datu Bolon Gelar Guru

Marlasak. Mereka berbicara perlahan, tapi dari tiap wajah

memancar kesungguhan. Jelas tampak mereka sedang

mengambil ketentuan dan keputusan rapat, yang akan

diumumkan pada seluruh marga, sebagai undang-undang

kerajaan yang tidak boleh dibantah.

Tiba-tiba saja Panggonggom menyuruh bekas Datu Bolon

Gelar Guru Marsait Lipan, berbicara pada hadirin,

menceritakan kegagalannya dulu mengharungi Sungai Titian

Dewata.

"Bapak bekas Datu Bolon, yang pernah meminta izin pada

almarhum ayah kami, yang mewariskan kedudukan Raja

Panggonggom pada kami, untuk mengharungi Sungai Titian

Dewata. Menurut pustaka kerajaan, almarhum ayah kami

memberi izin pada bapak untuk mengharungi sungai tersebut.

Bagaimanakah hasilnya?"

Orang tua itu berbicara perlahan, "Memang benar Paduka

Raja bahwa aku pernah meminta agar diberi izin mengharungi

Sungai Titian Dewata. Tapi, yang kutemui berbeda dengan

hasil tenungku. Kami mengalami kegagalan."

"Selanjutnya, bagaimana?" tanya Raja Panggonggom.

"Ayah Ronggur memperoleh cedera dalam perjalanan itu.

Dia temanku. Dia tidak pernah lagi pulang."

"Sesudah itu?"

"Aku sendiri pulang ke mari. Karena almarhum ayah paduka

raja, sabahat karibku, tetap juga menerimaku kembali. Tapi,

tidak lama kemudian kami mengadakan pemburuan. Di s itulah

mendapat kenahasan. Almarhum ayah paduka raja diserang

seekor harimau dengan tiba-tiba, sehingga beliau memperoleh

luka yang mengakibatkan kewafatannya. Dalam igaunya selalu

mengatakan, "Pembalasan dewata telah datang. Pembalasan

dewata telah datang!"

"Apakah tidak mungkin, apa yang dimaksudkannya itu

karena mengizinkan bapak mengharungi Sungai Titian Dewata

dan menerima bapak pulang kembali?"

"Tidak dapat kupastikan. Tapi, boleh juga begitu

maksudnya."

"Hadirin semua, terutama kau Ronggur, telah

mendengarkan satu pengakuan dari seseorang yang pernah

mengharungi Sungai Titian Dewata, yang menimbulkan

kemarahan para dewata. Apakah setelah mendengar

pengakuan ini kau masih bermaksud meneruskan niatmu?

Berilah jawaban, Ronggur!"

Ronggur terdiam beberapa saat. Dia dihadapkan sudah

pada saat yang menentukan. Bintikan keringat melebihi

keningnya. Akhirnya dia mengatakan:

"Paduka yang bijaksana, apakah karena satu kegagalan,

sesuatu maksud baik harus dibatalkan? Apakah tidak hanya

satu kebetulan saja hal nahas itu mendatang?"

"Kutanya padamu, Ronggur, apakah kau masih bermaksud

meneruskan niatmu atau mengurungkan setelah mendengar

pengakuan bekas Datu Bolon yang sudah disisihkan orang dari

kehidupan ramai? Lain tidak! Dia membawa kenahasan bagi

kerajaan."

Ronggur terdiam. Belum memberi sesuatu pilihan yang

menentukan. Golongan raja kembali mengadakan sidang kilat.

Lalu sebelum Ronggur memberi keputusan, Raja

Panggonggom mengatakan:

"Kita telah sama mendengarkan cerita bahwa Ronggur

hendak mengharungi Sungai Titian Dewata untuk mencari

tanah habungkasan. Maksud yang baik. Tapi, Ronggur telah

melupakan riwayat nenek moyang dan berusaha merombak

kepercayaan yang kita anut atau menurut kata Datu Bolon

Gelar Guru Marlasak, telah menghina kepercayaan yang kita

anut." Hening sejenak.

"Saran yang dapat kami ajukan pada Ronggur, dan menjadi

undang-undang bagi kita semua, ialah bila Ronggur

meneruskan niat itu, tidak seorang pun dari warga yang

dibolehkan mengikuti dan membantu perjalanannya. Bila dia

mulai melangkah dari gerbang kampung memulai perjalanan,

maka dia tidak berhak lagi mencantumkan marga kita di

belakang namanya. Begitu pula gelar Raja Ni Huta Muda, gelar

Hulubalang Muda dicabut kembali!"

"Dia tidak boleh memakai nama kerajaan kita untuk

melindungi diri dari kutukan dewata, dari gangguan setan, dan

dari gangguan perampok di tengah jalan. Kalau ada orang

yang membunuhnya dalam perjalanan, marga kita tidak akan

menganggap serangan itu serangan yang langsung pada

marga kita. Ronggur sendiri yang harus memikul risikonya.

Sawah yang telah dipercayakan padanya disita kerajaan.

Ibunya yang sudah tua akan dibelanjai langsung oleh lumbung

desa. Dirangsum ala kadarnya!"

"Syarat ini kami ajukan justru karena kami berpegang pada

satu kepercayaan: siapa saja yang mengikuti perjalanan

Ronggur, siapa saja yang membantunya mengharungi Sungai

Titian Dewata, jalan para dewata dan para arwah menuju

matahari terbit tempat Mula Jadi Na Bolon bersemayam, akan

turut dikutuk oleh dewata. Biarlah kami dan marga kita

disebut pengecut, namun melawan dewata kita tidak mau.

"Jadi kami umumkan pada semua Raja Ni Huta, agar tidak

membolehkan rakyat yang ada dikampungnya membantu dan

mengikuti perjalanan Ronggur. Kalau kau Ronggur tidak dapat

menerima syarat ini, hendaknya urungkan dan batalkan

niatmu sebelum terlambat. Bila kau mengalami kegagalan

kemudian kau pulang ke kampung ini, kau akan tidak

dianggap anggota marga lagi. Kau akan ditangkap dan

dijadikan budak belian. Kami tidak mau mengulangi kenahasan

yang pernah menimpa almarhum ayah kami, untuk menimpa

diri kami sendiri. Pikirkan baik-baik Ronggur. Dan, berilah

jawaban di tempat ini juga."

Keadaan menjadi hening. Pada kening Ronggur menitik

keringat. Bekas Datu Bolon Gelar Guru Marsait Lipan

menundukkan kepala. Tidak sanggup mengangkat kepala. Di

wajah Datu Bolon Gelar Guru Marlasak dan Raja Nagebu

membayang kepuasan. Para Raja Ni Huta lain dengan takjim

menerima undang-undang Raja Panggonggom. Pada wajah

dan sikapnya tergambar bahwa mereka akan

melaksanakannya sebaik mungkin.

Sejak tadi di luar Sopo Bolon, hujan turun menderu.

Bersabung dengan petir dan kilat.

"Ronggur, katakanlah pilihanmu, biar kami tahu mengambil

sikap," kata Raja Panggonggom memecah kesepian.

Ronggur masih tertunduk juga. Belum berdiri untuk

menyatakan pilihan.

"Ronggur, kau tidak dapat memberikan keputusan? Kau

merasa takut dan bimbang? Karena itu kami sarankan,

janganlah sekali-kali mencoba untuk menentang kepercayaan

yang kita anut bersama, janganlah menghina diri sendiri," kata

Datu Bolon Gelar Guru Marlasak. Nada suaranya mengejek.

Membakar dada Ronggur. Dengan wajah merah serta sinar

mata yang manyala, akhirnya Ronggur berdiri dengan

menghentak: "Semua pertaruhan yang dibebankan ke

pundakku aku terima. Aku, ibuku, tidak berhak lagi memanen

padi dari sawahku yang sedang menguning. Karena itu,

secepat mungkin aku akan berangkat. Dengan satu janji, bila

aku menemui tanah habungkasan yang landai lagi subur, hasil

penemuan itu akan tetap kuhadiahkan bagi margaku, bagi

kalian semua."

Suaranya mengguntur mengalahkan suara petir yang

bersabung di luar Sopo Bolon. Orang semua mengangkat

kepala dibuatnya. Dan, sehabis mengucapkan pilihan itu,

Ronggur terus meninggalkan ruang Sopo Bolon. Perasaannya

terbakar, dadanya panas, walau udara begitu dingin. Dia

menerjang ke tengah hujan, angin, dan halilintar yang

bersabung dengan petir.

Terus melangkah melewati sawah yang pematangnya

menjadi licin, mencapai kampung di mana dia sebelum itu

memegang tampuk Raja Ni Huta Muda dan Hulubalang Muda.

Tapi, dia tidak memperdulikan keadaan alam itu, dia terus

melangkah cepat di atas pematang yang licin. Tidak mau

berteduh ke dangau yang ada di tengah sawah. Orang yang

berhenti memotong padi dan berteduh di dangau melihatnya

begitu saja.

Gonggong si belang menyambut di tangga rumah. Pintu

rumah cepat dibuka Tio. Dilihatnya Ronggur basah kuyup.

Ibunya cepat mengangkat wajah, menatap padanya. Otot

Ronggur mengeras, wajahnya memerah. Pertanda berita yang

kurang baik.

Sebelum ditanya Ronggur dengan suara lantang karena

masih marah, menceritakan semua keputusan rapat dan

pilihannya sendiri. Ibunya jadi kaku tegang, seperti patung

tanpa nyawa. Tangan, kaki, tubuh Ronggur masih menggetar

tidak karena merasa dingin, tapi karena marah.

Tapi, sewaktu matanya tertumpu ke biji mata ibunya yang

berseri, yang mulai digenangi air bening tipis, dia sadar bahwa

orang tua itu telah dihadapkannya pada satu kenyataan, yaitu

kepahitan dan kegetiran hidup di saat hari tuanya. Yang

sepantasnya tidak wajar lagi hidupnya disusahi. Cepat

Ronggur mendekat, lalu menyembah sujud di kaki perempuan

tua itu. Di antara isaknya sendiri dia mengatakan:

"Maafkanlah aku, Bu. Maafkan anakmu ini. Aku telah

mempersusah hidupmu. Katakanlah Bu, aku tidak boleh pergi.

Aku harus menggagalkan niat perjalananku itu. Aku akan

menuruti ibu. Aku akan minta maaf pada kerajaan atas

kelancanganku. Katakanlah, apa yang harus kuperbuatl"

Perasaan marahnya telah mencair, menghadapi wajah dan

mata ibunya yang bersedih. Segala tekad menjadi kendur,

demi hasrat diri yang tidak mau melihat ibu kandung yang

sudah tua mengalami kesusahan. Tidak cepat ibunya

menyahut. Tangan ibunya yang sudah mengkerut, membelai

kepalanya yang masih basah. Mengusap perlahan sambil lalu

mengeringkannya. Kemudian mengatakan perlahan-lahan:

"Ronggur, kau tidak boleh mengurungkan niatmu lagi. Kau

tidak boleh membatalkan yang telah kau pilih. Kau telah

mengatakan dalam pertemuan raja dengan berani. Kau harus

meneruskannya, walau apa yang akan terjadi."

Seketika ibu tua berhenti, tapi disambung pula, suaranya

sudah tambah jelas dan tabah:

"Seperti terbangnya burung ambaroba, mengitari tebing

curam, mengikuti lingkaran pegunungan, mencari mata air

yang bening, tanpa memperdulikan arti haus dan dahaga,

karena anaknya di sarang, menginginkan setetes dua air

melalui kerongkongan kering. Harus begitu kau. Seorang lelaki

yang berani mengatakan maksudnya, tapi dapat disebut

jantan, bila berani tidak mengingkari janji. Jadilah, anakku

sulung anakku bungsu, seorang lelaki berhati jantanl Ibumu

ini, tidak mau anak lelaki berhati betina."

Perempuan tua itu tidak mengucurkan air mata lagi.

Perempuan tua itu tidak mengisak lagi. Telah tabah menerima

segala yang tiba. Telah rela melepas anaknya sulung, anaknya

bungsu, untuk pergi selamanya, mempertaruhkan keyakinan

diri. Segala air mata telah dihamburkan dari dasarnya sampai

kering.

Keheningan merayap di ruang mereka berada. Sendu. Tapi

dipecahkan suara halus yang bermula dari Tio, "Bawalah daku

bersamamu. Bawalah daku, jangan tinggalkan daku."

Sambil berkata Tio mendekat, lalu duduk di sisi anak

beranak itu.

Perlahan, ibu Ronggur merenggangkan pelukannya dari

tubuh Ronggur. Perlahan pula, Ronggur melepaskan diri dari

pelukan ibunya. Lalu menatap dalam ke biji mata Tio, yang

tertancap ke biji matanya tanpa mengedip.

"Tio, dapatkah kau menduga kemungkinan yang bisa saja

menimpa diriku dalam perjalanan? Tahukah kau, apa yang

akan kutemui bila tafsiran mimpiku meleset?"

"Aku sudah tahu. Aku sudah maklum. Bila kelak kita tidak

bisa kembali lagi agar Mula Jadi Na Bolon tidak murka

padamu, katakanlah bahwa arwahku kau bawa serta sebagai

sembahanmu padanya."

Lama Ronggur menatapi wajah Tio yang sudah punya

kepastian sinarnya. Olehnya tekad Ronggur kembali pada

pijakan semula begitu kokoh. Tidak ada lagi satu kekuatan

yang dapat menghalangi maksudnya.

Angin di luar tambah kencang, hujan rasanya tidak akan

henti. Halilintar dan guruh terus bersabung. Angin melanggari

pucuk dan batang bambu duri, berkerisik dan bunyinya begitu

ngilu pada pendengaran. Di rumah itu orang terus sibuk.

Menyiapkan yang perlu mereka bawa. Bila fajar pagi terbit

pertanda hari baru tiba mereka sudah harus berangkat.

Ibunya menyelipkan pisau gajah lompak ke pinggang

Ronggur, pisau pusaka turun-temurun. Yang berukirkan kakek

kesatuan keturunan mereka yang langsung. Di tengah malam

buta, Datu Bolon Gelar Guru Marsait Lipan datang ke sana. Dia

menjampi Ronggur dan Tio, agar selamat dalam perjalanan.

Supaya terhindar dari godaan setan. Kemudian pada Ronggur

diberikannya ajimat yang terbuat dari besi putih, diukir dengan

huruf Batak. Juga pada Tio diberinya ajimat, terbuat dari

jalinan benang berwarna tujuh.

Mereka menyongsong terbitnya fajar.




Cara Cepat Hamil

Members

Translate

English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified