Download applikasi baca novel online untuk android disini: DOWNLOAD

ave maju selangkah, menempelkan telapak tangannya ke dada laki-laki itu, dan mendorong. Bencong itu terantuk trotoar dan jatuh terduduk dengan keras.

“Auuu!” Ia menudingkan sepatu tumit tingginya yang terbuat dari kulit imitasi mengilat. Satu tumit sepanjang dua belas senti copot. “Lihat apa yang kaulakukan, binatang! Sepatu ini harganya empat puluh dolar di Frederick’s! Ditambah ongkos kirim dan pengepakan!” Ia mulai mengomel.

Wah, wah. Kita berubah jadi pemukul bencong, kan?

Dave meringis. Yang baru saja dilakukannya adalah gerakan wajar, terdorong naluri—sama seperti 25 tahun lalu. Ada masalah? Tidak jadi soal. Cukup kunci dan isi, Sobat, dan tak lama kemudian segala kerumitan hidup akan disederhanakan. Dan jangan lupa, siapa pun yang sedikit berbeda, siapa saja yang tak sama denganmu, beginilah, Nak, dalam Angkatan Bersenjata kita sebut orang macam itu sebagai “sasaran”.

Dave mengenakkan gigi dan mulai menyusun permintaan maaf.

Sebuah suara muncul dari kegelapan, “Kimberly, kau tak apa-apa, Nak?” Satu pelacur lain dengan pakaian yang menyeramkan muncul. Yang ini tampak seperti wanita (atau setidaknya kelihatan berpakaian lebih asli). Ia memakai rok cire hitam yang hampir tak menyembunyikan celana dalamnya, penutup dada

281merah darah model Victoria dan sepatu yang sama tingginya seperti milik Kimberly.

Astaga, dari mana saja orang-orang ini?

“Ohhh, Charlene, dia memukulku.” ‘Ucapan ini berasal dari bencong yang menangis.

“Tidak. Aku cuma…”

Charlene mendekati Dave. “Kau mau main kasar, hah? Memukul banci yang tak berdaya? Itu maumu, ya, memukuli mereka? Kimberly bocah paling manis di dunia, Mister. Dia tak butuh bisnis dari orang semacam kau.”

Dave melangkah mundur. “Dengar, lady…”

“Aku bukan lady. Aku pelacur.” Sesuatu yang mengilat dan tajam berdetak membuka dalam genggamannya. “Dan pelacur saling menjaga teman.”

5.

Dave melihat sekelilingnya dengan cemas. Tak ada taksi. Tak ada mobil polisi. Sebuah Toyota melaju kencang di Park Avenue menuju ke utara. Pengemudinya melihat sepintas ke arahnya, berpaling, dan menambah kecepatan. Banci bernama Kimberly itu berjalan tertatih-tatih. Matanya menyala kelaparan liar.

Charlene membungkuk, mengitari Dave. Benda di tangannya itu sebilah pisau lurus, dan ia memegangnya dengan gaya berpengalaman.

“Coba dengar…”

Kimberly mendesak temannya. “Potong dia, Charlene.”

“Ya, iris dia!” Suara lainnya. “Potong bolanya!” Dan suara lain lagi.

282

Mereka segerombolan. Tujuh atau delapan orang. Hitam dan putih. Berpakaian mencolok, dan tampak seperti gerombolan kucing liar dalam perburuan. Daging!

Mata Charlene berkilauan. Pupilnya melebar. Dave menduga ia tentu sedang melambung karena obat bius. “Kulit putih, kau akan merasakan pengalaman paling buruk dalam hidupmu.”

Sepucuk pistol akan menyelesaikan persoalan. Yang harus dilakukannya hanyalah mencabutnya dari balik kemeja. Memperlihatkannya mungkin akan membereskan persoalan.

Tapi kalau tidak…?

Kalau tidak, itu hanya akan membuat urusan jadi makin parah. Dan bila urusan jadi makin parah, ia akan terpaksa memakainya.

Pisau Charlene mengiris udara di samping pipinya. Ia berkelit ke kiri. Charlene sedikit kehilangan keseimbangan. Seharusnya ia bisa membereskannya dengan mudah.

Kemudian kau akan berhadapan dengan mereka semua. Biarkan dia. Yang lain takkan bergerak selama mereka merasa ia bisa menanganimu.

Charlene mendesis. “Kau bergerak cukup cepat untuk banci.” Ia mendatangi lagi. Dave merasakan anginnya ketika pisau itu melewatinya sejajar mata.

Tidak jelek, dia hampir saja mengenalmu kali ini.

Perempuan ini tangkas. Ia harus berbuat sesuatu untuk menanganinya.

Pisau itu terayun dan berkelebat. Sebuah irisan sepanjang tujuh setengah senti terbuka pada kemejanya.

283Ia tidak bisa menempuh risiko dengan mencabut ” pistol. Bila banci ini memaksanya menembak, ia tidak akan bisa masuk ke gedung itu. Persimpangan Fiftieth Street dan Park Avenue telah menjadi pusat segala macam keramaian hari ini—ancaman peledakan bom, perampokan di lantai 12, bunuh diri Bernie. Satu insiden lagi, dan polisi akan muncul di segala penjuru.

Meskipun orang-orang New York City bersedia melupakan banyak hal, sesosok mayat tercabik-cabik peluru di Park Avenue biasanya akan mendapatkan perhatian mereka.

Dave mundur, perlahan-lahan memancing Charlene untuk maju. Ia mendengar langkah kaki di dekatnya. Seseorang sedang bersiap membantu Charlene.

Sekarang atau tak pernah selamanya.

Ia bergerak tiba-tiba ke kiri, seolah mencoba kabur. Charlene menyergap dengan keanggunan dan kecepatan penari tango. Pisau itu meliuk ke bawah, berkilauan diterpa cahaya lampu jalan, hendak mengiris wajahnya. Ia menyelinap ke bawah lengan Charlene. Pergelangan tangan bencong itu memukul pundaknya. Pisau itu jatuh berdenting di trotoar.

Gerakanmu selanjutnya harus cepat, sungguh-sungguh menyenangkan orang banyak.

Dave merunduk. Momentum gerakan Charlene membawanya ke pundak Dave. Dave mengaitkan kaki kanan ke belakang pergelangan kaki Charlene, menendangnya ke depan seraya mendorong tubuhnya ke atas. Kaki Charlene meninggalkan tanah. Ia mulai terguling. Dave menarik lengannya dan memutarnya, menambahkan kecepatan.

Bantingan yang sempurna. Spektakuler. Charlene

284

berputar seperti baling-baling, jungkir balik 270 derajat di udara, dan menghunjamkan wajah ke trotoar. Ia mengangkat kepala, meludahkan darah.

Dave lari. Gerombolan di belakangnya melolong.

Ia berlari kencang menyeberangi Park Avenue, mencapai mediannya sebelum teman-teman Charlene mengerahkan keberanian untuk mengejar. Seseorang melemparkan kaleng ke arahnya. Kaleng itu terpantul di pinggulnya dan berkelontangan di aspal. Dave terus berlari.

Sungguh menyebalkan bagi industri konstruksi dan pengembang, New York City menuntut agar gedung-gedung pencakar langit memiliki tempat luas terbuka untuk umum. Karena alasan inilah, di bagian depan gedung Dave ada plaza terbuka. Plaza itu dikelilingi tempat tanaman berlapis pualam. Sekali-sekali pemilik-gedung itu mencoba menanam tumbuhan di dalamnya. Tanaman-tanaman itu mati, teracuni udara dan tercekik sampah.

Dave melompati pot tanaman dan berlari ke pintu masuk.

Di sana ada—dulu pernah ada—sepasang air mancur di masing-masing sisi plaza. Tapi, pada akhir dasawarsa delapan puluhan, populasi tunawisma kota itu mulai memperlakukan sarana dekoratif itu sebagai kamar mandi terbuka. Manajemen gedung mengeringkannya, dan mendirikan pagar rantai mengitari batasnya.

Di belakangnya seseorang terantuk pada pagar itu. Dave berlari kencang menuju anak tangga, melewatinya dengan sekali lompat, dan menabrak jendela. Dilihatnya satpam jaga malam di dalam mengangkat

285muka mendengar bunyi itu. Orang itu berdiri dari mejanya.

Dalam evakuasi pagi tadi ada dua jendela pecah. Keduanya sudah diganti dengan kayu lapis. Dave berlari melewatinya. Di depan ada pintu putar. Yang pertama tutup, seutas pita pengaman kuning memagari bagian depannya. Dave melemparkan tubuh ke pintu kedua.

Ia mendorong. Tak ada yang terjadi. Di tengah kaca itu tertulis: HARAP PAKAI PINTU TENGAH UNTUK MASUK SESUDAH PUKUL 21.00.

Dave meluncur pergi. Gerombolan itu sudah dekat. Seorang wanita maju di depan yang lain. Ia mengacung-acungkan botol pecah, dan berteriak-teriak seperti kuntilanak.

Dave membuka pintu tengah. Penjaga tadi sudah berdiri. Tangannya memegang radio. Salah satu radio Ransome, dan penjaga itu salah satu anak buah Ransome.

Dave meninggikan suaranya dalam ketakutan. Itu tidak sulit. “Tolong! Aku di…” Ia berlari menuju ke tempat penjagaan.

Ia menoleh. Mereka lebih dari selusin sekarang. Mereka memburu ke dalam lobi di belakangnya.

Dave merogoh-rogoh mencari dompetnya, membukanya di depan si penjaga. “Tolonglah! Aku bekerja di sini! Aku harus bertugas sekarang! Binatang-binatang itu mau membunuhku!”

Mata si penjaga beralih dari wajah Dave ke gerombolan yang sedang mendekat. Ketika melihat Dave, ia tidak suka dengan apa yang dilihatnya. Ketika melihat gerombolan itu, ia lebih tidak suka lagi. Ia meraih ke bawah mejanya. Tangannya muncul me—

286

megang senapan, sepucuk autoloader dengan choke berbentuk aneh.

Ithaca model 37. Lengkap dengan duckbill choke. Sudah lama tidak ketemu, teman lama.

Senjata yang populer di Vietnam. Full automatic. Memasukkan dan mengeluarkan peluru dari port yang sama di bagian bawah. Model duckbill itu menyebarkan tembakan secara horisontal, membentuk lengkungan lebar. Bila ada orang yang bersembunyi dalam semak-semak, yang harus kaulakukan hanyalah membidik ke arah itu. Rentetan tembakan nomor 4 akan membereskan sisanya. Mereka yang membawa senapan itu menyebutnya “Hamburger helper”.

Tentu saja bila ada awak kamera di sana, kau akan . menyembunyikan senapan Ithaca-mu. Sanak saudara di rumah tidak boleh tahu bahwa anak-anak mereka menggendong-gendong pencincang daging besar seperti itu.

Penjaga itu mengarahkan senapan pada gerombolan tersebut. Segalanya jadi sunyi.

“Penyapu jalan,” seseorang menggumam, memakai nama julukan Tactical Police Force untuk senapan duckbill kaliber 12.

Suara dalam diri Dave mendesak, Berpura-puralah, Sobat. Berpura-puralah.

Ia menuruti nasihat itu. “Aduh! Terima kasih, Pak Polisi! Makhluk-makhluk itu mau mencabik-cabikku!”

Si penjaga memelototi Dave, wajahnya bak topeng kebencian terhadap homoseks. Seketika itu juga, dan untuk pertama kali dalam hidup, David Elliot tahu bagaimana rasanya dibenci bukan sebagai individu, melainkan sebagai anggota golongan.

287”Jangan dengarkan banci itu!” Seorang wanita Spanyol dengan perawakan tinggi maju ke depan.

Penjaga itu menggeram, “Apa keluhanmu, ladyV

“Dia memukuli orang. Dia baru saja memukuli temanku Charlene dan waria lain.”

Si penjaga memandang Dave dengan tatapan muak, matanya panas dengan perasaan jijik terhadap kaum homoseks. Dave memainkan kejijikan laki-laki tersebut, itulah satu-satunya yang bisa dilakukannya. “Mereka mencoba mencuri dompetkul Aku mendorongnya. Aku tak ingin menyakiti siapa pun\ Apa aku kelihatan cuma begituT Ia merogoh saku jaket untuk mengambil rokok dan dengan resah menyalakan sebatang.

Penjaga itu menatap tajam pada bungkusan rokok itu. Virginia Slims. Itu menjelaskan duduk persoalannya. “Tidak, Mister…” Ia melirik kartu identitas palsu Dave. “Mister Cohen, sama sekali tidak.” Ia menoleh pada gerombolan itu. “Kalian keluarlah dari sini. Kembalilah ke tempat kalian di jalanan.”

Perempuan Spanyol itu menoleh ke belakang. Beberapa rekannya mengangguk memberikan dorongan, la berbalik menghadap si penjaga sambil berteriak, “Kami akan membunuhmu, bajingan! Kau dan pacarmu yang homoseks!”

Wajah penjaga itu menjadi merah padam. Ia menopangkan senapan itu ke pundak. “Orang-orang macam kalian jangan sebut aku homoseks.”

Oh, Tuhan! Dia adalah Mullins yang lain. Almarhum Sersan Satu itu pernah meretakkan rahang sersan yang dengan bercanda menyebutnya “homo”. Terlalu banyak tentara karier memiliki sikap demikian.

288

Kita jelas tak membutuhkan pembantaian dengan senjata api.

“Homoseks! Banci!” Gerombolan itu tidak membantu menyelesaikan persoalan.

Dave memaksa mengubah suaranya jadi tawa yang melengking tinggi—Norman Bates bergurau dengan ibunya. “Bunuh mereka! Pelacur busuk!” Ia maju dua langkah ke arah gerombolan itu. “Dia akan mencincang kalian untuk daging di Gaines Burger, pelacurV Perempuan Spanyol itu langsung berhenti, menurunkan tangan, dan menggeleng. Dave memutar badan menghadap si penjaga. Ia membelalakkan mata lebar-lebar, sambil berharap matanya menunjukkan kilatan sinting. “Nah, lakukanlah]”

Pandangan si penjaga berpindah dari kiri ke kanan antara Dave dan gerombolan tersebut. Dave mengusap bibirnya, seolah menyeka air liur. Ia menggerak-gerakkan kaki dengan tak sabar, berbalik dan melangkah mundur ke meja si penjaga.

Seseorang di belakangnya menggumam, “Oh, sialan. Semua ini tak ada perlunya.”

Sikap tubuh si penjaga berubah sedikit. Cukup. Ia mulai tenang. “Aku akan menghitung sampai sepuluh.”

Sekarang, sementara perhatiannya teralih…

Dave mundur selangkah lagi, keluar dari bidang pandangan si penjaga, mengulurkan tangannya ke tempat radio laki-laki itu tergeletak.

“Dia tak bisa menghitung sampai 21. Jarinya tak cukup.” Pelacur-pelacur itu mulai tertawa. Si penjaga mendengus. Masalah sudah selesai.

Tidak. Masalah itu baru saja mulai.

289BAB 8

SALAH SATU DI ANTARA KITA

1.

Dave kembali ke ruang komputer American Interdyne. Tadi ia merasa tergoda untuk mampir lebih dulu ke lantai 31, tempat semua lampu menyala dan semua tirai ditarik tertutup. Bila Ransome benar-benar telah menahan Marge Cohen, di tempat itulah ia akan menyekapnya.

Namun Ransome tidak menahan Marge. Dave yakin akan hal itu.

Nyaris yakin.

Di samping itu, bila lantai 31 adalah pangkalan operasi Ransome, tentu akan ada penjaga di lift dan pengintai di -setiap ruang tangga. Terlalu riskan untuk mencoba menerobos, dan itu takkan menghasilkan apa pun baginya.

Dan lagi pula, ada pekerjaan yang harus disele—

290

saikannya di American Interdyne. Ia ingat pernah melihat terminal Mead Data Services Nexis tepat di samping komputer mainframe AIW. Mungkin itulah yang dibutuhkannya.

Mead, seperti Dow Jones dan beberapa lainnya, menyimpan database on-line mengenai segala artikel, ringkasan, dan fakta yang dikumpulkan dari berbagai sumber. Dengan tarif tertentu, siapa pun bisa menghubungi dan mendapatkan informasi tentang hampir segala topik. Yang diperlukan hanyalah nomor telepon, identitas, dan password.

Konsisten dengan standar tertinggi dalam pengamanan komputer perusahaan, seseorang dari American Interdyne telah menempelkan nomor TymeNet, kode ID pemakai, dan password-ny& pada keyboard terminal Nexis.

Dave mengulurkan jemarinya dan menekan tombol untuk log on. Ia belum pernah melakukan sendiri pengambilan data seperti ini. Itu pekerjaan yang dide-legasikannya kepada anak buah. Namun demikian, ia pikir itu tidak sulit.

Sederet huruf pelan-pelan tercetak pada layar. Bekerja dengan kecepatan 1.200 baud, terminal itu, seperti semua benda lain di ruang komputer AIW, adalah benda kuno. Dave membaca cepat instruksi yang muncul, memasukkan ID dan password American Interdyne di tempat yang semestinya.

Menu sistem itu muncul, menawarkan sejumlah pilihan topik: berita umum, berita bisnis, database ilmiah, statistik finansial, dan setengah lusin kategori lain. Pilihan menu terakhir berbunyi, “RLL” Itulah yang diinginkannya.

291Berikutnya, terminal itu menanyakan selang berapa, lama yang ingin dicarinya. Dave mengetikkan “20-yERRS.”

TOLD PRRRDETER. TRy RGRIN” “10 yERRS.” Itu berhasil.

Sistem tersebut bertanya: KEyUORD OR 5ERRCH RRGUnENT?”

Dave mengetik, “LOChyERR.” dan menekan tombol “enter”.

Mesin itu sedang bekerja. Beberapa saat kemudian di layar muncul, “12 “RRTCHES FOUMD. USE TO REMEU. USE (DELETE) TO CHRNGE SERRCH CRITERIR.”—Ditemukan 12 nama yang sama. Gunakan untuk memeriksa. Gunakan untuk mengubah kriteria pencarian.

Dave menekan kembali tombol “enter”.

“FULL OR RBSTRRCT ?”—Seluruhnya atau ringkasan?

Dave menekan tombol “A”.

Empat berita pertama adalah artikel baru dari The New York Times, The Wall Street Journal, Business Week, dan Newsday mengenai akuisisi Lockyear oleh Senterex. Dave tidak mau repot mengambil berita lengkapnya. Ia sudah pernah melihatnya.

Ringkasan kelima berbunyi, “LOChyERR rEMDfiPRThRTI PRTEM LTITUh OBRT D-RECEPTOR RMTI-lfWE.” Dave menekan tombol “F”. Seluruh ceritanya bergulir di layar. Tidak banyak isinya. Begitu pula cerita keenam, ketujuh, kedelapan, atau kesembilan. Namun, yang kesepuluhlah yang sedang dicarinya:

RRTO0LPH LOChyERR OBTURRy. C-hEU yORh TDES. P/TH/Rl PRGE C22.U/PH0T0G2T0 UORDS

292

? HERDLIT1E: Randolph Ś J. LockLjear. ilmuwan peneliti, meninggal pada usia IH.

I Or. Randolph J. LockLjear. ahli riset kedokteran dan pemimpin Lockyear Laboratories perusahaan Ljang didirikannua. meninggal hari ini di rumahriLja di Long Island. Juru bicara perusahaan melaporkan bahwa sudah beberapa lama Dr. LockLjear menderita sokit. Penyebab kematiannLja adalah gagal jantung I kongestiF.

Dr. LockLjear lahir di Pars’ppani_|. M. J.. pada tanggal 11 Rei 1SR la kuliah di Dartmouth dan memperoleh gelar kedok terannuo di Columbia School oF dedicine. Selama Perang Dunia II ia menjoloni dinas oktiF di PasiFfc. Pada tahun TRHl. Jenderal Douglas RacRrthur menunjuk Dr. LockLjear sebagai penasihat medis untuk homisi Sekutu di Jepang. Dr. LockLjear keluar dari dinas militer pada tahun 1SHR.

Pada tahun TR50. ia mendirikan perusahaan memakai namanuo sendiri. berpusat d dekat Patchogue. Long Island Sebagai perusahaan swasta. LockLjear Laboratories merupakan organisasi penelitian dan pengembangan obat independen. Perusahaan ini salah satu dari beberapa perusahaan pertama Ljang menenrna paten untuk pembuatan zat biokimia sintetis. Sejak tahun lRBO-an. perusahaan tersebut kerap disebut sebagai salah satu pelopor dalam penelitian mengenai sistem kekebalan.

Pada tahun TRbH. Dr. LockLjear dipilih sebagal anggota Dewan Direksi hitsune Ltd.. konglomerat dan perusahaan Farmasi besar Jepang. la juga menjadi anggota Dewan Direksi Men—Beca Pharmoceu—

293heals and Gure R.G.. pabrik perala+an laboratorium Swiss, riulai +ahun ISbS sampai WB. ia menjadi penasiho+ khusus tenteng aba+~oba+an tropis bagi hepob 5+af Gabungan Poda +ohun-+ahun beriku+nuo. Presden Reagan mensponsori pengongka+an Dr. LockLjear sebogai ke+ua Pane! Penasihat “Ten+ong Pent_joki+ Pandemi PBB.

la meninggalkan seorang pu+ra. Douglas D. Locki_|ear. dan seorang pu+ri. Ph&ppa LockLjear Kiincaid. Upacara pemakaman djjadwalkan akan diselenggarakan di rumah keluarga pada hari 5ab+u.

Obituari itu. singkat, paling hanya empat atau lima kolom. Tidak bercerita banyak, tetapi malah membangkitkan pertanyaan.

Seperti apa?

Bagaimana dia jadi pembantu MacArthur? Waktu itu umurnya tidak mungkin lebih dari 33 atau 34 tahun. Kau tentu mengira orang seperti MacArthur pasti menginginkan orang yang lebih senior.

Itu zaman perang, Sobat. Kau ingat bagaimana keadaannya. Semuanya muda kecuali jenderal-jenderalnya.

Ia anggota dewan direksi perusahaan Jepang. Orang Jepang tidak mengundang orang asing untuk duduk dalam dewan direksi mereka.

Mungkin itu pertukaran. Semacam transaksi alih teknologi. Lockyear memberi mereka beberapa hak paten, mereka memberinya tempat duduk dalam dewan direksi. Bukan masalah.

Dan ia punya koneksi dengan pemerintah. Dengan kalangan tinggi.

294

Siapa yang tidak? Begitu kau mencapai senioritas tertentu, kau mendapat tawaran-tawaran macam itu. Hah, Dr. Sandberg sudah pernah duduk dalam selusin panel pemerintah.

Ya, tapi…

“Myna, di sini Robin. Mana laporanmu tiap seperempat jam?” Ransome terdengar terkendali dan singkat seperti semula.

Radio itu berdesis. “Maaf, Robin.” Suara itu milik penjaga di lobi. “Radio ini brengsek. Kodenya hilang dan aku harus meresetnya. Ditambah lagi aku ada tamu.”

Dave menjilat bibirnya. Menukar radio sebenarnya adalah langkah yang penuh risiko. Kalau penjaga itu memperhatikan…

“Tamu? Ceritakan.”

“Ada orang sinting bikin keributan dengan segerombol pelacur. Mereka…” “Siapa orang itu?”

Dave melihat sisa ringkasan di terminal Nexis itu. Beberapa berita lain mengenai paten. Tidak ada yang bisa diceritakan kepadanya. Ia mematikan mesin itu.

“Cuma teknisi komputer. Bekerja di American Interdyne. Dia…”

“Namanya?”

“Eh…”

“Lihat di buku pengunjung, Myna.”

Sesaat berlangsung keheningan yang menjengahkan. Penjaga itu akhirnya menggumam, “Wah, emm, dengan segala keributan tadi, aku lupa memintanya menandatangani buku. Tapi, aku ingat… ya. Itu… aku melihat kartu identitasnya… sialan, aku lupa.”

295Ransome menggeram, “Lantai 14?”

“Bukan, 12. Itu ruang komputer. Aku sudah periksa. Dengar, Robin, dia pegawai biasa. Tak cocok dengan deskripsi subjek, dan…”

“Snipe, kau mendengarkan ini?”

“Afirmatif.”

‘Turunlah ke lantai 12. Periksa dia. Pertahankan hubungan radio.”

“Sekarang juga aku ke sana, Robin.”

Dave sudah memperkirakannya. Ia sudah menyalakan setengah lusin monitor, dan menggelar lembaran-lembaran printout di atas salah satu meja kerja di ruang komputer itu. Ia melonggarkan dasi, dan berusaha kelihatan sibuk melacak sederet kode program dengan pena merah.

“Myna.”

“Ya, Sir.”

“Coba ceritakan secara terperinci.”

“Ya, Sir. Kejadiannya tak lama sesudah aku bertugas. Kulihat banci itu berlari ke pintu masuk. Separo pelacur New York sedang mengejarnya. Dia masuk. Mereka mengikuti. Dia bilang mereka mencoba menggarongnya. Kurasa dia benar. Waria-waria itu mengejar untuk membunuh.”

“Apa dalih mereka?”

“Kata mereka dia memukul salah satu dari mereka. Tak mungkin, Sir. Laki-laki itu banci. Kalau dia mencoba pura-pura, aku berani berta^*vŤ.”

“Tak perlu editorial.”

“Ya, Sir. Nah, mereka berteriak-teriak dan ribut. Jadi kuperlihatkan senjata pada mereka. Mereka mundur. Selesai.”

296

“Dan banci itu?”

“Gemas pada mereka, Sir. Senjataku membuatnya senang. Dia ingin aku menembaki para pelacur itu. Ketika dia pergi, aku melihat monitor lift. Dia langsung ke lantai 12 seperti yang dikatakannya.’

Sebaiknya hati-hati saat berpindah tempat, Bung, mereka melacak setiap gerakan lift.

“Deskripsi.”

“Eh… tinggi dan kurus. Setengah botak dengan rambut pirang. Anda tahu, model rambut aneh itu, dipangkas pendek dan disisir ke depan. Bisa kubilang rambutnya tentu dicat, Sir. Matanya seperti Bambi, besar dan basah.”

Mata seperti Bambi, eh? Aku suka itu.

“Snipe, bagaimana statusmu?”

“Di lantai 12, Sir. Ruang komputer ada di depan.”

“Biarkan radio tetap hidup.”

Dave mematikan radionya dan memasukkannya ke laci meja. Sesaat kemudian terdengar ketukan pada pintu ruang komputer. Ia berseru, “Pintunya terbuka.”

Laki-laki bernama Snipe itu melangkah masuk. Ia masih muda dan terbuat dari bahan yang sama seperti semua anak buah Ransome—gempal, berotot, dan tatapan keras. Ia memakai seragam polisi biru. Seragam itu terlalu ketat di bagian pundak.

“Selamat malam, Sir.”

Dave mengangkat muka. Ia sudah menemukan kacamata berbi™1-”’ kawat. Ia melihat dari atasnya, matanya terbuka lebar dan mudah-mudahan kelihatan seperti Bambi. “Well, halo. Mau menemani saya, Pak Polisi?”

Snipe mengamatinya, tidak menemukan hubungan

297antara deskripsi David Elliot dan laki-laki kenes di depannya. ‘Tidak, Sir,” ia menggeram. “Saya hanya memeriksa. Anda bekerja larut sekali.”

Dave mengangguk. “Saya tahu. Sungguh membosankan. Saya baru saja pulang dari Village ketika mereka menghubungi saya. Padahal di sana… saya baru saja bertemu seseorang…”

Kaki tangan Ransome itu merapatkan bibir dan melontarkan tatapan kecut pada Dave. “Em.”

Dave mengeluh. “Malam hari kami diperbudak pusat DP perusahaan di Missouri. Ada kerusakan sistem. Minggu ini saya dinas malam, jadi mereka menghubungi saya. Begitu sajalah kehidupan seks saya.” Ia berhenti dua hitungan, tersenyum simpul, dan bertanya, “Bagaimana dengan AndaV

Laki-laki itu memelototinya, wajahnya merah padam.

Dave menggoyangkan penanya di atas printout. “Ah, saya sebenarnya suka duduk di sini dan mengobrol dengan Anda, tapi…”

Si penjaga mengangguk, menggumam, “Selamat malam,” dan berbalik untuk pergi.

“Selamat malam juga. Tapi mengapa Anda tak mampir sekitar sejam lagi. Saat itu saya tentu sudah selesai. Akan saya seduhkan herbal tea, dan kita bisa ngobrol sedikit.”

“Saya peminum kopi.” Pintu terempas menutup.

Dave mengeluarkan radio dari laci dan menghidupkannya, volumenya diatur rendah.

“…mengerti, Robin?”

“Afirmatif. Mengapa tak kauperiksa kartu identitasnya?”

298

“Tadi pagi aku di lobi, Sir. Aku melihat subjek. Orang ini bukan dia.”

Dave bersandar dan mengembuskan napas.

“Oke, Snipe. Sebaiknya kau tahu apa yang kaukerjakan. Robin selesai.”

“Sir?”

“Ada apa, Snipe?”

“Sir, apakah Anda yakin dia akan kembali? Maksudku sekarang sudah hampir jam 02.30 dan…”

“Dia akan ke sini. Tak ada tempat lain baginya. Dia akan ke sini. Dan kita akan mendapatkannya.”

“Dengan segala hormat, Sir, kita sudah mengatakannya…”

Suara Ransome berubah. Ia terdengar letih. “Aku tahu, Snipe. Tuhan tahu, kita sudah mengatakannya seharian.” Ransome berhenti seolah memikirkan sesuatu. Kemudian, dengan cukup tenang ia meneruskan, “Coba dengar: lebih dari sekali hari ini aku bimbang mengenai subjek. Aku bertanya dalam hati mengenai catatannya, mengenai yang dilakukannya di ‘Nam. Kebanyakan orang akan mengatakan perbuatannya itu pengecut. Tapi kau bisa melihatnya dengan cara lain. Kau bisa mengatakan laki-laki ini punya nyali. Perbuatannya itu membutuhkan keberanian—jenis keberanian yang lain,,tapi toh tetap keberanian.”

“Apa, Sir?”

“Itu informasi rahasia. Tapi, begini, bila dia melakukan perbuatannya itu karena dia pemberani dan bukan pengecut, maka selama ini aku bekerja dengan kesan keliru. Dan, Saudara-saudara, aku berniat meluruskan kesalahan kesan ini.”

Ransome ragu-ragu. Dave mendengar bunyi korek

299api. Ransome menyedot, lalu mengembus. “Pengalaman, itulah kuncinya. Subjek itu punya pengalaman, terlalu berpengalaman untuk manuver-manuver yang kita coba terapkan padanya. Dengar, Snipe. Dengar, kalian semua. Selama ini kita memperlakukan Mr. Elliot seperti salah satu subjek kita biasanya. Nah, dia bukan salah satu di antara mereka, sedikit pun tak mirip. Sama seperti kau dan aku, laki-laki ini sudah pernah sampai di ujung tongkat yang kotor, pernah berada di ujung garis komando. Dia pernah melihat kehidupan sejati dari dekat dan tidak berangan-angan kosong. Oh, Snipe, biar kujelaskan padamu siapa orang ini: laki-laki ini, dia salah satu di antara kita, dia salah satu di antara kita.”

Kita sudah menemukan musuh dan dia salah satu di antara kita.

Ransome diam kembali. Dave mendengar ia menyedot rokok. “Di sinilah kekeliruannya. Sesuai perintah, kita telah memperlakukan dia seperti salah satu dari mereka daripada salah satu dari kita. Sasaran empuk. Prosedur biasa. Dan bila pertama kali tadi dia beruntung, yang harus kita lakukan adalah melancarkan perang urat saraf. Bawa istrinya, anaknya, teman-temannya. Guncang dia. Kendurkan dia. Buat dia jadi sasaran empuk.”

Ia mendengus. “Brengsek! …Semuanya lewat begitu saja. Aku bisa memasang ibunya sebagai umpan, dan ia hanya akan angkat pundak dan membunuh beberapa orang lagi. Kubilang prosedur biasa takkan berhasil terhadap subjek ini. Pemecahan biasa tak bisa menyelesaikan masalah luar biasa. Butuh sesuatu yang istimewa.”

300

“Sir?”

“Aku sedang merancangnya sekarang. Ini akan menjebloskannya, Snipe. Yang lain tak bisa, tapi yang ini akan berhasil.”

“Apa, Sir?”

Keletihan menghilang dari suara Ransome. Nada kemenangan mengambil alih. “Kutafsirkan kembali perintah kita, Snipe. Kau tak ingin tahu bagaimana. Cukup kukatakan yang ini karya agung, piece de resistance ciptaanku. Mereka akan mencantumkan gagasan ini dalam buku teks, berani kujamin. Kujamin kali ini adalah yang terakhir. Mr. David Elliot akan hancur dengan cara ini. Sebelum kuhabisi, subjek akan memohon-mohon agar kubunuh!”

Ransome tertawa. Inilah untuk pertama kali Dave mendengarnya tertawa. Ia tidak menyukai tawa itu.

2.

Showtime!

Dave belum merencanakan mengambil tindakan. Tapi ucapan Ransome telah mengubah keadaan. Penjaganya ada di bawah, dan apa pun perangkap maut yang sedang disiapkannya itu telah membuatnya puas dan terlalu percaya diri.

Istilah “sasaran peluang” terlintas dalam pikiran. Demikian pula istilah “hitung ayammu sebelum dierami”.

Dave melepaskan sepatu dan berlari keluar dari ruang komputer.

Koridor itu panjang, tanpa nama, dari atas diterangi dengan lampu neon. Beberapa poster seni murahan

301digantung di sepanjang dindingnya yang berwarna krem. Kaki Dave yang terbungkus kaus tidak menimbulkan suara ketika ia berlari ke arah lift.

Snipe sedang berdiri di lobi lift, memunggungi. Jarinya ditempelkan ke tombol lift, tidak sabar menunggu kedatangannya.

Dave menerjang. Snipe merasa ada sesuatu yang tidak beres, dan hendak membalik. Terlambat. Dave mendorongnya ke dinding dan menodongkan ujung pistol ke lehernya. Darah mengalir di plester semen; terjangan Dave telah mematahkan hidung Snipe yang membentur dinding.

Dave memutar pistol itu ke kiri dan ke kanan, menghunjamkan moncongnya ke daging laki-laki itu. “Di lantai 31, kan?”

“Uh…”

“Jangan macam-macam denganku, Sobat. Ingat apa yang dikatakan Ransome padamu. Aku bukan warga sipil biasa. Aku bisa membunuhmu dengan mudah. Sekarang katakan, pangkalanmu di lantai 31, kan?”

“Yakh, Thir.” Dave mencengkeram rambut laki-laki itu, menarik kepalanya ke belakang. “Lagi.”

“Ya, Sir.”

“Seluruh lantai itu?” “Sisi Park Avenue.” “Berapa orang?” “Uh…”

“Sudah berapa lama kau masuk dinas, Nak?” “Uh, empat tahun, uh…”

“Mereka takkan memberi tunjangan kematian penuh kecuali sudah berdinas enam tahun.”

Sesuatu dalam suara Dave mendorong Snipe untuk

302

bicara. Snipe tahu Dave serius. Ia melolong. “Aku tak tahu! Mungkin 20 atau 25!”

“‘Mungkin’ tak cukup bagus.”

Snipe tak lebih hanyalah pemuda, terlalu muda Ś untuk pekerjaan Ransome, dan jauh lebih lembek daripada tampangnya. Ia berteriak, “Aduh! Jangan tembak! Aku sungguh tak tahu!”

Pemuda itu menggigil ngeri. Dave memutar lagi pistol itu. “Oke, pertanyaan berikutnya. Mengapa kalian semua memburuku?”

“Oh, Tuhan! Mereka tak memberitahu orang-orang seperti aku, Mister! Aku cuma pelaksana! Robin dan Partridge—mereka tahu, tapi mereka tak mengatakannya, takkan memberitahu orang lain.”

“Apa yang mereka katakan pada kalian?”

Snipe mengoceh sekarang, “Tak ada apa-apa. Demi ibuku, sama sekali tak ada! Cuma bahwa kau harus… uh… mati. Secepatnya. Dan bila kami… ahh… seperti, kau tahu… kalau kami membereskanmu, kami tak boleh menyentuh tubuhmu kecuali kami pakai, ahh… kau tahu… sarung tangan karet.”

Dave mengenakkan gigi. Makin lama makin parah.

“Di mana Ransome?”

“Empat puluh lima! Dia di kantor orang yang mati itu, Levy!”

“Apa yang dikerjakannya di sana?”

“Tak tahu! Demi Tuhan, aku tak tahu! Aku tak pernah ke atas sana! Aku cuma…”

“Terka.” Dave merasa dingin, dingin mematikan.

“Demi Tuhan, aku tak tahu! Sungguh tak tahu! Ketika kami menjemput perempuan Yahudi…”

Dave membenturkan wajah Snipe ke dinding. Ia

303melakukannya lebih dari sekali. Tak dihitungnya berapa kali.

“Bicara padaku. Nak. Ceritakan tentang ‘perempuan Yahudi’ itu.”

Darah yang berbuih-buih menyembur dari bibir laki-laki itu. “Oh, aduh! Oh, brengsek!”

Dave melakukannya lagi. “Bicara, aku tak bisa mendengarmu.”

“Perempuan Cohen itu. Dia akan kabur. Kami memergokinya—aku dan Bobby dan Georgo—tepat saat ia sedang meninggalkan tempat tinggalnya. Dia benar-benar binatang. Dia gigit hidung Bobby sampai copot. Seluruhnya. Bangsat malang itu akan pakai plastik seumur hidup.”

“Lalu?” Dave sedingin es.

“Tak ada yang menyakitinya, man. Tidak parah. Cuma…” Dave benar-benar gusar.

Dibenturkannya lagi wajah Snipe ke dinding. “Seberapa parah?”

“Memar-memar. Itu saja. Aku sumpah!” “Di mana dia sekarang?”

“Itu yang mau kubilang. Kami menahannya di lantai 31. Lalu Ransome membawanya ke lantai 45. Aku tak tahu, mungkin 15, mungkin 20 menit yang lalu.”

Tubuh Dave bergetar karena amarah. Pesan yang ditinggalkan Ransome di mesin penjawab Marge tidak bohong. Dan bila Dave lebih dulu pergi ke lantai 31 dan bukan ke ruang komputer AIW…

“Apa lagi, bangsat kecil? Ceritakan seluruhnya.”

“Itu saja yang kutahu. Demi Tuhan, itu saja yang kuketahui.”

304

Dave berkata lembut, “Sebut lagi.” “Uh… apa? Sebut apa?”

“Nama Tuhan. Kau tentu mau mati dengan kata itu di bibirmu.”

“Hah? Apa? Oh, sialan, tidak, man, jangan…!”

Dave menjatuhkannya, mundur tiga langkah untuk menghindari percikan, membidikkan pistolnya ke kepala laki-laki itu.

Beginilah cara semestinya, hah?

Beginilah caranya.

Sampai sejauh ini hanya tindakan bela diri. Kecuali terhadap orang yang kauhancurkan mata kakinya.

Perlawanan pasif berhasil sangat baik hari ini.

Dan di samping itu, kau tak pernah benar-benar mengidentifikasikan diri dengan Gandhi.

Tak pernah. Juga tak suka filmnya.

Snipe telungkup bertumpu tangan dan lutut. Ia menoleh pada Dave sambil merengek. “Jangan, oh, Tuhan, jangan…”

Dave menarik picu. Plesteran dinding meledak. Snipe tersungkur. Wajahnya sepucat kapur. Ia pingsan.

3.

Tidak, Ransome, aku bukan salah satu di antara kalian, meskipun aku mungkin pernah demikian. Itu seharusnya tidak sulit. Bahkan mudah. Itu salah satu dan banyak hal yang bisa kaubiarkan terjadi begitu saja. Tanpa usaha keras. Tanpa perlawanan. Yang harus kaulakukan hanyalah mengangkat pundak dan tersenyum pada mayat-mayat itu dan berkata, “Maaf atas kejadian ini.”

305Dan, makin banyak kau mengangkat pundak pada mereka, makin mudahlah jadinya. Sesudah beberapa lama, melihat darah tidaklah terlalu mengusik hatimu. Yang dulu kauanggap sebagai orang mati mengalami perubahan besar-besaran, dan kini mereka hanya sekadar daging. Kau tidak menyebut mereka manusia, kau menyebut mereka gook, slope, rice head, Victor Charlie, chopstick Charlie. Yang laki-laki dink dan yang perempuan slant, dan satu-satunya alasan mengapa Tuhan menciptakan mereka adalah supaya kau bisa bermain-main dengan sasaran yang bergerak di daerah bebas tembak. Lihat binatang-binatang ini. Kau bilang mereka “hidup”? Bukan. Kau menolong mereka bila kau meledakkan mereka. Mereka lebih baik mati, lebih baik mati daripada jadi merah. Semudah itu, Ransome, benar-benar mudah. Kau berhenti berpikir bahwa kau prajurit, profesi yang terhormat. Sebagai gantinya kau hanya alat mekanis, sesuatu yang tidak terhormat. Itulah aku dulu, Ransome, atau aku nyaris jadi begitu. Di daerah liar segalanya mulai berubah jadi sangat sederhana, sangat jelas. Segalanya berubah jadi fisika— lengkung lintasan peluru, kalkulus balistik, persamaan dari akibat tenaga dan massa pada jarak tertentu terhadap objek fisik yang kebetulan memiliki kaki. Itu bukan tentang perang, bukan politik, bukan tentang sekutu kita yang baik dan membendung gelombang pasang komunisme ateis. Itu tentang latihan menembak sasaran. Ketika aku pergi ke sana, kupikir perang ini Benar dengan “B” kapital. Mungkin aku tidak lagi berpikir demikian, tapi bukan itu pokok persoalannya. Pokok persoalannya, Ransome, kau dan orang-orang semacammu sama sekali tidak peduli. Dan kau juga tidak ingin

306

kami semua peduli. Kau ingin kami jadi mesin. Itu saja, cuma mesin. Kau hampir melakukannya terhadapku. Aku bisa saja melangkah melewati garis batas, Ransome, ke pihakmu. Satu kakiku sudah ke sana. Tapi suatu hari Jack Kreuter melakukan sesuatu, dan mendadak sontak aku melihat di mana aku berada, dan melihat bahwa aku terpaksa melangkah mundur dari garis itu. Aku melihat bahwa manusia adalah manusia, dan kau bisa membunuh mereka bila terpaksa, tapi kau tidak bisa membunuh mereka karena itu menyenangkan. Itulah saat untuk berhenti, Ransome. Begitu kau mulai menikmati pekerjaanmu, kau harus berhenti. Bila tidak, kau berubah jadi seseorang seperti kau, dan dunia akan jadi tempal yang lebih baik seandainya kau mati sejak lahir. Itulah sebabnya aku tidak membunuh bocah malang yang kaunamakan Snipe ini. Sebab aku adalah aku, bukan kau. Kaukatakan aku-salah satu di antara kalian, Ransome. Seharian kaukatakan hal itu. Dave Elliot salah satu dari kita. Dia adalah kita. Di balik kulit, kita bersaudara. Nah, Ransome, aku punya pendapat mengenai itu. Ini dia: Kiss my ass.

Godaan itu begitu memikat. Serangan frontal penuh. Tembakan, darah, dan kepuasan yang ditimbulkan dari melihat musuh mati. Seharusnya ia bisa melakukan hal itu. Ransome tidak siaga. Anak buahnya santai. Tak seorang pun tahu sasaran mereka berada di dalam gedung. Unsur kejutan ada di pihak Dave. Ia tentu bisa menghabisi setengah dari mereka sebelum mereka tahu apa yang terjadi. L

Itu tentu memuaskan, harus kauakui.

Itu juga tolol. Sumber daya musuh-musuhnya

307sungguh tak ada habisnya. Tak peduli bagaimana keras ia memukul mereka, ada yang akan hidup cukup lama untuk memakai radio dan memanggil pasukan. Lebih banyak lagi. Cukup untuk melakukan penyapuan lantai demi lantai.

Ia yang berbalik dan lari akan hidup untuk bertempur lagi kelak.

Ia tidak bisa lari. Ia harus mendapatkan jawaban, dan hanya ada satu tempat di mana ia bisa menemukannya—di dalam lemari arsip Bernie, dalam berkas bertuliskan “Lockyear Laboratories”. Namun itu berarti harus pergi ke lantai 45, langsung masuk ke perangkap yang disiapkan Ransome dengan penuh kebanggaan.

Berkas-berkas itu—arsip Bernie—tak ada cara lain untuk mengambilnya selain melewati Ransome. Atau mengitarinya.

Atau mengitarinya. Benar. Mungkin ada jalan putar untuk mengitarinya. Memang ini gila luar biasa, tapi bisa dilakukan.

Bagian yang terberat adalah Marge Cohen. Ransome menahannya di sana, dan apa pun yang dirancangnya untuk wanita itu tentu tidak menyenangkan. Marge kini telah menjadi bagian dari permainan Ransome. Ia sudah memakai istri dan putra Dave sebagai senjata psikologis. Ia akan memakai Marge dengan cara sama. Ransome akan melakukan segala yang bisa dilakukannya untuk menyiksa Dave, apa pun untuk mengacaukan pikirannya dan apa pun untuk memancing kemarahannya. “Akhirnya, Saudara-saudara, jelas lebih memuaskan menghancurkan semangat musuh daripada menghancurkan tubuh musuh.”

308

Di samping itu, sesudah kau menghancurkan pikiran lawanmu, menghancurkan kepalanya sama sekali bukan pekerjaan berat.

Ia tidak bisa mencoba menolong Marge. Itulah yang diharapkan Ransome. Orang itu tentu mengerahkan segenap kekuatan. Setiap rute masuk dan rute keluar dari lantai 45 sudah dijaga. Segenap kekuatannya tentu difokuskan hanya pada satu titik. Mencarinya berarti menjemput ajal. Bahkan memikirkan hal itu saja sudah merupakan ketololan. Di samping itu, Dave hanya melewatkan tak lebih dari dua jam bersama wanita itu. Ia tak kenal Marge. Ia tak berutang apa pun padanya. Mengapa ia harus peduli pada apa yang dirancang Ransome bagi seseorang seperti itu. Memikirkannya saja sudah merupakan kebodohan. Perempuan itu bukan apa-apa baginya, sama sekali bukan apa-apa, dan akan tetap demikian. Ransome sama sekali salah bila mengira bisa memakai wanita yang baru saja ditemui Dave sebagai umpan. Dave bukan orang tolol, dan hanya orang tolol yang teperdaya dengan umpan seperti itu.

Tak sangsi lagi. Ia akan menolong Marge.

4.

Dave melihat jam dinding: pukul 03.03. Semua sudah pada tempatnya. Nitrogen triiodida yang diendapkannya siang tadi sudah mengering dengan baik. Ia menyaring cairan itu dengan kertas filter—kertas yang dipakai pada mesin kopi American Interdyne—dan meninggalkan kristal itu mengering di ruang telepon American Interdyne. Ia memiliki sekitar dua puluh ons bahan

Ť309peledak. Tidak banyak, tapi cukup untuk membereskan pekerjaan. Di dalam tempat tertutup, jumlah itu sudah pasti cukup.

Triiodida itu bukan satu-satunya lelucon yang disiapkannya. Ia sudah menghabiskan setengah jam terakhir di ruang tangga barat dan selatan—lantai 45 sampai 50—memasang ranjau-ranjau baru untuk menggantikan yang sudah dijinakkan anak buah Ransome. Karena kebutuhan, ranjau-ranjau baru ini lebih kasar daripada yang dipasangnya dengan susah payah siang tadi. Agak terburu-buru, pikirnya.

Sekarang, ia sudah kembali di ruang komputer American Interdyne. Ia menunggu Ransome kembali berbicara di radio. Begitu Ransome selesai menggelar perangkapnya—apa pun perangkap itu—ia akan memerintahkan anak buahnya bersiaga di tempat masing-masing. Mereka akan lengah saat berusaha menduduki posisi masing-masing. Saat itulah Dave akan bergerak.

Tetapi pertama-tama, ada yang harus dikerjakannya. Tak mungkin menghindarinya, betapapun menyakitkan hal itu. Ia meringis memikirkannya, tapi toh itu harus dilakukan. Bila ada orang di dunia yang mungkin bisa memberitahu Dave mengenai Lockyear atau John Ransome, orang itu adalah Mamba Jack Kreuter.

Ia mengulurkan tangan meraih telepon. Dilihatnya tangannya gemetar. Ia berhenti, mengeluarkan sebatang rokok dari bungkus, dan menyalakannya. Tangannya masih gemetar. Tak mudah bicara dengan Jack. Laki-laki itu takkan memaafkan atau melupakannya. Jack Kreuter bukan pemaaf. Ia pasti membenci Dave lebih daripada siapa pun di dunia ini.

310

Dave menghirup satu sedotan lagi. Nikotin tidak menolong.

Meneleponnya akan jadi hal terberat yang pernah dilakukan dalam hidupnya.

Letnan David Elliot mencintai Kolonel Jack Kreuter. Letnan David Elliot mengkhianati Kolonel Jack Kreuter.

Prajurit melakukannya—jatuh cinta satu sama lain. Hal itu tak ada kaitannya dengan seks. Daya tarik seksual adalah imitasi murahan dari cinta yang dirasakan prajurit terhadap rekannya. Emosi-emosi itu jauh lebih dalam daripada antara ayah dan anak, antara saudara, antara suami dan istri. Ikatan yang terbentuk, prajurit dengan prajurit, merupakan sesuatu yang sangat primitif—amat sangat kuno, naluri evolusi awal, dorongan manusia purba untuk bergerombol bersama, semua untuk satu, satu untuk semua. Naluri itu sudah ada dalam darah, dan tak dapat dikekang.

Orang bisa berbohong, menipu, mencuri, dan membunuh, serta bisa melakukannya tanpa terusik hati nuraninya. David Elliot tidak menyangsikan bahwa John Ransome, sebagai salah satu contoh, bisa tidur nyenyak malam hari, dan tidak terusik mimpi buruk. Siapa pun bisa melanggar peraturan, semuanya, dan sedikit pun tak merasa bersalah. Tidak ada kebejatan moral dan dosa yang begitu hebatnya sehingga seseorang, dengan waktu yang memadai dan sikap yang tepat, tidak dapat memaafkan diri sendiri—tak ada yang akhirnya tidak bisa dimaafkan orang… kecuali satu hal, satu-satunya pelanggaran yang takkan pernah dimaafkan, takkan pernah dilupakan. Tak seorang prajurit pun akan memaafkan rekan seperjuangan yang mengkhianatinya.

311Tak seorang pengkhianat pun akan memaafkan diri sendiri.

David Elliot memaksakan diri mengangkat telepon. Tidak mudah.

Ia menekan angka “9” untuk mendapatkan sambungan keluar dan menekan “001” untuk ^sambungan internasional AT&T. Telepon itu berbunyi klik dan berdering tiga kali. “Masukkan kode ID sekarang.”

Apa?

Ia meletakkan telepon dan mencoba lagi. Kejadian yang sama terulang. American Interdyne rupanya sudah memasang teknologi modern yang lebih menyebalkan, sistem telepon yang meminta kode identifikasi setiap orang untuk sambungan langsung jarak jauh. Saudara Besar hidup dan segar bugar serta tinggal di perusahaan telepon.

Dave membanting telepon, dan mengumpat.

Ia menyedot untuk terakhir kali dan mematikannya. Ia harus menelepon, segera. Ia harus menemukan pesawat telepon lain.

5.

Dave membanting telepon dan mengumpat.

Ia marah dengan teknologi itu dan juga pada diri sendiri. Dengan segala risiko yang telah diambilnya, akhirnya ia mendapatkan sistem telepon terbatas yang sama seperti di American Interdyne.

Ia telah bertindak ceroboh—lebih parah lagi, tanpa pikir. Begitu perlu menemukan telepon yang bisa dipakai, ia meninggalkan ruang komputer American Interdyne, berlari menuruni satu tingkat tangga,

312

membuka kunci pintu darurat, dan mulai mencari kantor yang terbuka.

Kau badut. Apakah otakmu sudah mati?

Ia sudah melupakan yang dilihatnya dari jalan— lantai 11 adalah yang paling terang benderang di gedung itu. Bagian merger dan akuisisi Lee, Bach & Wachnutt tidak pernah tidur. Selalu ada orang di sana. Tiga kali ia dihadang dan ditanyai. Tiap kali ia dipaksa masuk lebih jauh ke kantor bankir investasi, dan kian menjauhi tangga darurat serta lift.

Pengalaman itu seperti mimpi buruk.

“Maaf, ada yang bisa saya bantu?” tanya seorang laki-laki pendek pucat dengan setelan jas mahal. Ia berkumis jarang dan berparas pucat seperti dempul, serta bicara dengan aksen Inggris agak cadel. Seketika itu juga Dave langsung tak menyukainya.

“Ah, ya,” sahut Dave terbata-bata, “saya dari printer.”

“Benar,” kata laki-laki Inggris itu. “Tentu tim I.P.O. yang Anda cari. Mereka ada Red Herring yang harus selesai besok.”

Dave mengangguk cepat. “S.E.C. membutuhkannya sebelum tengah hari, saya kira.” Rupanya penting memamerkan pemahaman akan bahasa khusus mereka. Financial printer mana pun akan tahu luar-dalam mengenai Initial Public Offerings, dan betapa pentingnya Red Hening—prospektus penawaran saham pendahuluan—sesuai dengan persyaratan Securities and Exchange Commission.

Orang Inggris itu menjawab, “Benar.” Ia menunjuk sebuah lorong dan menyuruh Dave untuk belok ke kiri. Ia mengawasi ketika Dave pergi.

313Dave meyakinkan orang, berikutnya yang ia temui, laki-laki berperawakan tinggi dengan tampang lesu dan memakai suspender bermotif bunga yang menyeramkan, bahwa ia kurir biro hukum. Kepada orang ketiga ia mengatakan bahwa ia teknisi servis network ya

dipanggil untuk membereskan masalah-pada Ethernet.

Semua pertemuan itu menuntunnya ke lingkaran luar kantor tersebut, dan menjauh dari keamanan jantung gedung itu, dari lift dan tangga darurat. Ia sudah siap berteriak frustrasi.

Akhirnya ia mendapati dirinya digiring melewati koridor gelap yang menuju ke timur laut. Ia menoleh ke belakang, memastikan tak ada orang yang mengawasi, lalu menyelinap masuk.

Lorong itu buntu sampai ke kantor sekretaris. Tidak, tak sepenuhnya buntu. Ada satu pintu terakhir di sebelah meja kerja sekretaris. Dave memutar pegangan pintu. Pintu itu terbuka ke kantor yang gelap. Pantulan cahaya lampu jalan dari Park Avenue menunjukkan ukuran kantor tersebut—sangat luas, jauh lebih luas daripada kantor Bernie.

Dave melihat meja kerja di ujung jauh. Ia melangkah ke sana, tulang kering kirinya terbentur meja pendek. Ia mengumpat dan menggosok kakinya. Beberapa langkah selanjutnya dilakukannya dengan hati-hati.

Di atas meja itu ada lampu Stiffel dari kuningan. Dave menyalakannya. Secercah cahaya bundar kecil terbayang pada meja dan menyinari pesawat telepon multiline besar. Ia mengangkat gagangnya dan menekan nomor. Telepon itu berbunyi, dan memintanya, “Masukkan kode otorisasi sekarang.”

314

. Sialan. Ia membanting gagang telepon itu ke tempatnya.

Duduklah, Sobat. Istirahatlah. Pikirkan. Jangan buat kesalahan konyol lagi.

Nasihat bagus. Ia mematuhinya, duduk, menyalakan sebatang rokok, melihat sekeliling. Cahaya redup lampu meja itu cukup baginya untuk melihat perabotan I di sana. Ia tercengang.

ť Meja di depannya itu terbuat dari kayu mahoni utuh yang mengilat dan ditutup dengan marmer putih. l(Ujung-ujungnya membentuk lengkungan yang anggun, dan disangga enam pilar silinder yang simetris. Dave fyakin meja ini buatan Duncan Phyfe, dan harganya tak kurang dari $75.000. Di seberang meja itu ada empat kursi malas Federal dengan sandaran melengkung—masing-masing $6.000. Sebuah lemari dari kayu cherywood dengan laci-laci terletak dekat dinding, tepat di samping pintu. Lemari itu harganya $50.000 kalau memang merek Chippendale, dan Dave cukup yakin demikian. Sebuah jam dengan kotak dari kayu mahoni berdiri tinggi di seberang lemari itu— jam Manheim, Dave menduga, buatan awal tahun 1800-an. Orang harus membayar $35.000 untuk memilikinya.

Dan masih ada lagi lainnya, lebih banyak. Isi kantor itu akan membuat pedagang barang antik meneteskan air mata. Seluruhnya mungkin bernilai satu juta dolar, atau mendekati angka itu.

Aneh, ia merenung, bagaimana perusahaan-perusahaan yang paling sedikit memberikan nilai tambah pada perekonomian nasional malahan mengumpulkan uang paling banyak pada dasawarsa terakhir ini.

315Bukan perusahaan-perusahaan yang memproduksi barang yang jadi kaya, bukan pembuat mobil, bukan pabrik peralatan, bukan pula organisasi industri lainnya. Kalau ditinjau lagi, mereka jadi lebih miskin. Sebaliknya para predator itulah yang jadi makmur, para pialang, para pedagang, para pengedar saham sampah, seniman pengambilalihan dan perebut perusahaan. Orang-orang seperti Bernie Levy dan Scott Thatcher takkan menghamburkan sejuta dolar untuk perabotan kantor mereka. Tetapi orang-orang seperti Lee, Bach & Wachnutt…

Dari sudut matanya ia melihat telepon kedua. Pesawat itu bertengger di’ atas meja kecil mengilat di belakang meja kerja. Telepon hitam biasa, dan Dave mengenali apa barang itu—saluran telepon pribadi yang tidak melewati switchboard. Bernie punya satu dan juga selusin eksekutif lain yang Dave kenal. Telepon itu lebih dari sekadar simbol status—itu alat yang memungkinkan pemiliknya mengirim dan menerima pesan telepon yang sangat rahasia tanpa khawatir operator switchboard ikut mendengarkan.

Dave memutar kursinya, dan mengangkat gagang telepon itu. Nada panggil. Ia menekan nomor untuk operator sambungan internasional. ‘Terima kasih Anda telah menelepon AT&T International. Di sini Suzanne. Bagaimana saya bisa membantu Anda?”

Berhasil!

Dave meminta operator itu menyambungkan telepon perorangan.

“Siapa nama yang hendak dihubungi?” “Mam… Mr. Kreuter. Mr. Jack Kreuter.” “Rumah atau kantor?”

316

“Kantor.” “Dan nama Anda, Sir?” “David Elliot.”

Suara seorang laki-laki di belakangnya bergema, “David Elliot. Benar.”

6.

Setiap saraf di tubuh Dave menjerit, memerintahkan agar ia melemparkan tubuh untuk berlindung dan mulai menembak. Ia tak melakukannya. Sebaliknya ia meletakkan kembali gagang telepon itu, dan bersandar, memutar kursinya.

Laki-laki itu membentuk siluet di ambang pintu. Setelan jas yang bagus membungkus tubuhnya yang tinggi, ramping. Satu tangannya disisipkan dengan santai ke dalam saku celana. Ia memberi isyarat dengan tangan yang lain. “Kendali diri yang mencengangkan. Orang yang lebih lemah mungkin sudah pingsan. Bahkan yang paling tabah pun tentu sudah melompat. Atau setidaknya begitu menurut perkiraan orang. Saya sangat terkesan.”

Dave hanya menatapnya.

“Boleh saya masuk? Ini kantor saya, Anda tahu.” Suaranya bariton, bernada sempurna, dan merdu seperti milik penyanyi opera.

“Tentu,” jawab Dave. Punggungnya sudah berbalik. Laki-laki itu tentu sudah beberapa lama berdiri di sana. Seharusnya ia bisa dengan mudah menyelinap pergi untuk memanggil bantuan. Ia tak melakukannya. Siapa pun dia, dia bukanlah bahaya—setidaknya bukan bahaya dalam arti konvensional. “Silakan tutup pintu di belakang Anda.”

317”Tentu. Omong-omong, bila lain kali Anda ingin memakai kantor saya lagi, dan ingin sendiri tanpa diganggu, yang Anda perlukan adalah memutar tuas ini.” Ia memutar tuas. “Pengamanan yang sempurna. Sistem deadbolt. Dalam bisnis saya, kita butuh ini. Pengaman yang sempurna, maksud saya.” Ia melangkah maju ke lingkaran cahaya.

Dave mengamati parasnya. Laki-laki itu tampak seperti sang iblis sendiri, tampan menyeramkan bak Lucifer Morningstar. Dengan keanggunan kucing pemburu, ia duduk di salah satu kursi malas dan tersenyum. “Perkenalkan diri saya.” Senyumnya melebar. Giginya terlihat. “Tiap kali saya memulai satu kalimat perkenalan, saya hampir selalu merasa wajib untuk menambahkan bahwa saya orang kaya dan seterusnya. Saya Nicholas Lee. Panggil saja Nick.”

Pemimpin Lee, Bach & Wachnutt. Dave belum pernah berjumpa dengannya, namun ia mengenali nama dan wajah itu. Terutama wajah itu—ia telah menghiasi sampul majalah Institutional Investor, Business Week, Fortune, dan setengah lusin majalah lain selama tahun 1980-an. Namun pada tahun 1990-an wajah itu lebih sering ditemukan di halaman depan bagian bisnis The New York Times, biasanya di bawah judul yang berisi kata-kata “Gugatan Federal”.

“Dave Elliot.”

“Itulah dugaan saya, dan harus saya katakan bahwa saya terpesona sekaligus senang bertemu dengan Anda.”

Dave mengangkat sebelah alis bertanya-tanya. “Ah, orang selalu merasakan getaran tertentu saat berjumpa dengan tokoh selebriti, bukan?”

318

‘ Apakah saya terkenal?”

“Sudah tentu. Kemasyhuran dalam lima belas menit dengan Mr. Warhol sudah pasti Anda miliki. Bahkan sekarang, edisi buldog semua tabloid memampangkan foto Anda. Bukan berarti satu orang dalam seribu akan mengenali Anda. Perubahan yang Anda buat pada penampilan Anda sangat mencengangkan. Omong-omong, tabloid-tabloid itu menjuluki Anda ‘Amok Exec’, julukan yang kurang merdu, kalau Anda setuju. Lebih dari itu, beberapa sumber tertentu yang saya bayar melaporkan bahwa Wall Street Journal terbitan besok akan memajang wajah Anda dalam gambar puji-pujian yang begitu disukai editornya. Judul beritanya, saya khawatir, tak begitu. Maksud saya, tak begitu memuji.”

Dave merintih. “Apa tuduhan mereka terhadap saya?”

“Tuduhan, tak ada. Keterlibatan, banyak. Dalam era ini para ahli hukum tukang fitnah jadi kaya raya, tak ada penerbit dengan otak waras menuduh siapa pun. Sebagai gantinya, mereka mengajukan pertanyaan, merancang hipotesis, dan menghiasi kalimat mereka dengan kata-kata seperti ‘diduga keras’, ‘menurut perkiraan’, dan ‘diperkirakan’. Sebagai contoh, diduga keras Anda melemparkan Direktur Senterex yang tidak berbahagia dari jendela 45 tingkat dari tanah. Diperkirakan Anda melakukannya karena dia melihat jejak Anda di dekat penyelewengan keuangan. Menurut perkiraan, Anda melakukan kenakalan dalam transaksi keuangan perusahaan. Begitulah biasanya, bukan? Transaksi keuangan yang meragukan, maksud saya.”

819”Biasanya.”

“Nah, coba ceritakan pada saya, apakah Anda melakukannya? Mengakali dolar, maksud saya. Tidak perlu malu. Kita adalah sahabat di sini, dan saya terbiasa memegang rahasia. Katakanlah pada saya, berapa banyak yang Anda serobot, dan mengapa? Apakah karena satu dari tiga R? Rum, redhead, dan racehorse, maksud saya. Ayolah, krisis usia paro baya menimpa kita semua. Jangan malu mengakuinya. Anda bisa menceritakannya pada saya. Saya akan menjaga rahasia rapat-rapat.”

Mata Lee yang hitam pekat berkilau. Kulitnya menyala. Ia, pikir Dave, terlalu tertarik.

“Itu tidak penting sekarang.”

Nick Lee mencondongkan badan ke depan. Dave melihat sederet titik keringat di bibir atasnya. “Memang tidak. Saya hanya merasa ingin tahu. Meskipun demikian, saya anggap sebagai kebaikan bila Anda mau memuaskannya. Maksud saya, rasa ingin tahu saya.”

Dave menggeleng. Ia baru saja mengambil kesimpulan mengapa Lee begitu tertarik pada urusannya dan Senterex. Sekarang ia berniat main-main.

Lee tersenyum simpul. “Mungkin kita bisa bertransaksi. Apalagi profesi saya memang berdagang. Orang membeli; menjual; berharap mendapatkan laba yang memadai. Itulah jiwa kapitalisme. Berdagang, maksud saya. Jadi, bila Anda mau memberi saya satu-dua petunjuk mengenai faktor-faktor yang mendasari situasi Anda sekarang, saya mungkin bisa memberikan sedikit bantuan kecil pada Anda.”

“Bantuan itu harus agak besar.”

320

Lee mengacungkan jarinya. “Ah, Anda sungguh cerdik. Anda mengerti.”

“Tentu saja. Besok pagi saham Senterex akan jatuh. Kabar kematian Bernie dan desas-desus penyelewengan finansial akan menyulut hal itu. Dan bila saya…” Suara batinnya menawarkan nasihat, Pasang umpannya. “Bila saya atau orang lain…”—Lee menjilat bibirnya—”…bermain cepat dan leluasa dengan uang Senterex, saham perusahaan itu akan terjerembap lebih dalam. Sebaliknya, bila segalanya beres—atau kerusakannya hanya sedikit—saham itu akan naik lagi. Bagaimanapun, orang yang tahu kejadian sebenarnya akan berada dalam posisi bagus untuk mengambil tindakan mematikan.”

Lee terpancing. Dave khawatir laki-laki ini akan meneteskan air liur, “Begitulah. Menanam dan memetik—pengaruh dalam option trading begitu menarik.”

“Orang yang punya informasi dalam bisa meraup $5 untuk setiap $1 yang ditanamkannya.”

Lee menghirup napas. “Saya cenderung berpikir untuk mendapatkan $5 juta untuk setiap $1 juta yang ditanamkan.”

“Terserah.”

“Nah, apakah Anda mau membuat kesepakatan dengan saya? Sekarang sudah larut. Tak lama lagi bursa di London, Frankfurt, Amsterdam, Zurich, dan Milan akan mulai. Bila kita mau bertransaksi, mari kita selesaikan sekarang supaya saya bisa membereskan urusan saya.”

“Apa tawaran Anda?”

“Saya berikan yang terbaik untuk Anda. Beberapa

321rekan saya seperti Messrs. Boesky, Keating, Levine, Milken, dan lain-lain telah membujuk saya agar membuat persiapan untuk bepergian dengan cepat bila diperlukan. Kita tak bisa tahu kita perlu pergi ke suatu tempat segera. Karena itu, di seberang Hudson di Bandara Teterboro, saya menyediakan pesawat Gulfstream dengan bahan bakar penuh dan selalu siap. Pesawat itu dilengkapi dengan semua yang diperlukan, termasuk, bisa saya tambahkan, beberapa tumpuk mark Jerman, franc Swiss, yen, pound sterling, dan kalau ingatan saya benar, satu atau dua Kruger-rand. Jet itu memiliki jarak jelajah cukup sehingga Anda bisa memilih tempat perlindungan Anda mulai dari tempat-tempat tradisional di Amerika Selatan, atau bila Anda mau, dan menurut rekomendasi saya, Spanyol yang bermandi matahari, Portugal yang hangat, atau bahkan Yunani yang santai. Di tempat-tempat itu biaya hidupnya rendah, cuacanya lembut, dan pihak yang berwajib bisa ditenangkan tanpa biaya besar. Limusin saya diparkir di Fiftieth Street. Sopirnya menunggu. Dalam sejam Anda sudah bisa terbang, dan segala masalah Anda tinggalkan. Apa pendapat Anda?”

“Anda akan menyerahkan saya pada yang berwajib segera setelah saya keluar dari kantor Anda.” Dave mengarahkan pistol ke dada Lee. “Menurut surat kabar, Anda sedang menghadapi gugatan untuk semua pelanggaran yang ada dalam buku. Anda akan menawarkan saya pada mereka sebagai imbalan agar beberapa tuduhan dicabut. Anda pialang, Mr. Lee, pedagang. Anda sendiri sudah mengatakannya. Anda tak bisa bertransaksi seperti itu.”

322

Wajah Lee berubah. “Tidak, sungguh, saya tidak…”

“Tutup mulut. Ada dua hal yang hendak saya katakan pada Anda. Yang pertama, saya tak menjarah harta perusahaan Senterex. Paling tidak tak sendirian. Bernie ikut dengan saya. Bahkan sebetulnya ini gagasannya. Kami mengambil dana pensiun, ESOP, dan uang kas. Dan kami mendapatkan semuanya. Tak ada sepeser pun yang tersisa. Senterex sudah bangkrut. Bernie tak kuat dengan tekanan ini. Itulah sebabnya dia melompat dari jendela. “

Lee mengangguk bersemangat, matanya menyala-nyala dengan keserakahan. “Ya, oh, ya!”

“Yang kedua adalah ini: Anda akan tidur.”

Kepala Lee tersentak. “Oh, tidak. Anda tak bisa. Bursa luar negeri akan buka setiap saat sekarang. Saya tak bisa menjual…”

“Sayang. Tapi jangan khawatir, saya yakin Anda akan bangun saat bursa New York mulai.”

“Jangan,” rengeknya. “Jangan. Setidaknya biarkan saya menelepon Frankfurt…”

“Well…” Dave berdiri. Lee mengangkat muka dengan penuh harap. Ia meraih teleponnya. Dave menyukai posisi dagunya. Lee melihat sorot matanya dan menjerit, “Jangan pukul saya! Saya akan memar! Di kamar mandi saya. Dalam lemari. Obat. Penenang. Pil tidur. Saya punya chloral hydrate. Tapi jangan pukul saya!”

Berat jam tangan emas Nicholas Lee terasa nyaman di pergelangan tangannya. Dave butuh arloji, dan sungguh senang hatinya ternyata Lee memakai Rolex berat seperti miliknya.

323Di lain pihak, dompet Nick Lee ternyata tak berguna. Yang ia bawa dalam dompet itu hanyalah kartu kredit. Tapi ada penjepit uang Tiffany 18 karat di saku celananya. Di situ ada beberapa lembar $20, $50, dan $100. Yang terbagus, di sana ada beberapa lembar pecahan $500. Ternyata jumlahnya cukup banyak.

Pertama kau menjejalinya dengan informasi beracun mengenai bursa saham, lalu kau mengambil semua uang dalam sakunya. Aku suka caramu.

Dave mengganjalkan bantal di bawah kepala Lee. Paling tidak itulah yang bisa dilakukannya.

Radio di sakunya berbunyi. Suara Ransome terdengar. “Oke, semuanya, saat untuk rock and roli.”

di-scan dan di-djvu-kan untuk dimhader (dimhad.co.cc oleh:

OBI

Salam buat dimhad-pangcu, suhu bbsc, kang zusi sekeluarga, otoy dengan kameranya, syauqy_arr dengan lianaoki.wordpress.com -nya, grafity, dan semua dimhader

Dilarang meiig-komersil-kan atau kesialan , menimpa anda.

324

BAB 9

JACK

1.

Unit tempur dalam keadaan terlemah ketika bergerak ke posisinya. Beberapa saat anak buah Ransome akan lengah dan tidak bersiaga saat mereka menaiki tangga, membuka pintu-pintu, dan mencari tempat berlindung. Dave punya keuntungan.

“Myna, aku sudah mengirim beberapa lagi ke lobi.”.

“Mereka ada di sini.”

Beberapa menit kekacauan—ia tidak bisa membiarkan peluang ini lolos. Ia harus mencapai lantai 45— ke lemari arsip Bernie dan Marge Cohen—lebih cepat daripada mereka.

“Cukup bagus. Aku ingin mereka tersembunyi, dan aku ingin mereka waspada penuh.”

“Kami siap, Robin.”

325Lift-lift itu tak perlu dipertimbangkan lagi. Ada dua deret yang terpisah, satu untuk 25 lantai pertama, dan satu untuk 25 lantai teratas. Ia tidak bisa memakai lift ke Senterex tanpa lebih dulu kembali ke lobi. Laki-laki yang dipanggil Myna itu tentu memantau panel kontrol lift. Begitu Dave menekan tombol ke lantai 45, Myna akan segera tahu.

“Regu Alpha. Partridge, kau pegang komando. Jangan kecewakan aku.”

“Afirmatif, Robin.”

Satu-satunya cara adalah berlari naik. Mendaki 34 tingkat tangga.

“Parrot, kau pimpin regu B. Ini tugas cadangan untukmu. Lantai 43 di luar pintu darurat sebelah selatan.”

“Aye, aye, Robin. Kami akan sampai di pos dalam tiga menit.”

Tapi Dave belum menelepon Kreuter. Ia melihat telepon pribadi Lee. Ia maju selangkah menghampirinya.

“Pigeon, kau pimpin regu D. Kingfisher, kau dan regu C bersamaku.”

“Aw, Bos, I’s regurgitated. Sapphires mama done…”

“Sekali lagi lelucon Amos dan Andy, Kingfisher, dan tugasmu berikutnya adalah ke Antartika.”

Dave berhenti dan menggeleng. Kreuter takkan mau bicara dengannya. Berusaha meneleponnya hanyalah membuang-buang waktu.

“Sekarang kalian semua, dengarkan. Menjauhlah dari titik-titik masuk. Aku tak ingin seorang pun terlihat dekat tangga atau lift. Satu-satunya peluang

326

cara ini berhasil adalah membiarkan sasaran masuk dengan mudah.” “Motel kecoak?”

“Benar, Pigeon. Dia check’ in, tapi tidak check out”

Dave berbalik ke arah pintu. Ia berhenti, dan melihat telepon. Ia tidak tahu apa yang harus dikerjakannya.

“Satu hal terakhir. Aku lebih suka bila subjek tidak dibunuh. Kuanggap sebagai bantuan pribadi bila kalian membidik kakinya. Hentikan dia. Silakan menghancurkannya. Tapi jangan membunuhnya kecuali kalian tak punya alternatif lain.”

Dave mengernyit. Perintah Ransome sungguh mengherankan. Apakah situasinya sudah berubah, atau…

Laki-laki yang dipanggil sebagai Kingfisher itu berbicara lagi, “Apa rencana Anda, Chief?”

“Baru saja masuk revisi untuk perintah-perintah siang tadi. Kita diinstruksikan untuk merendam subjek dalam asam saat kita selesai. Tapi dalam perintah ini tak ada syarat dia harus mati saat kita melakukannya.”

“Mengerti, Chief.” .

Dave meringis. Mengerti, Ransome.

“Siap ke tempat masing-masing.”

Dave melihat ke pintu, la melihat ke telepon. Ia harus memutuskan.

2.

“Bitte?”

Dave ingin mencabut telepon itu dari soketnya. Perempuan keparat ini tidak bisa bicara bahasa

327Inggris. “Kreuter,” ia mendesis. “Saya ingin bicara dengan Mr. Jack Kreuter. Kreuter. Tolong.”

Untuk ketika kalinya wanita itu menjawab, “Nein, nein, ich verstehe nicht.”

Sungguh menggemaskan. Detik demi detik berlalu, dan perempuan keparat ini tak mau memahaminya. Bagaimana mungkin ia tidak mengerti nama Kreuter? Terkutuklah ia sampai ke neraka!

Orang Swiss seharusnya mampu menguasai dua bahasa. Dave mencoba bahasa Prancis patah-patah, “Mademoiselle, je desire a parler avec monsieur Kreuter, votre president.”

“Bitte?”

Dave merah padam karena marah. “Kreuter. Kreuter. Kau kraut tolol, apakah kau tak tahu nama bosmu sendiri.”

Perempuan itu menjawab dengan sopan, “Eins augenblick, bitte,” dan Dave menunggu.

Beberapa detik kemudian suara wanita lain muncul di saluran. Ia bicara dengan aksen berirama naik-turun yang lazim pada perempuan-perempuan Jerman yang berbahasa Inggris, “Ya. Di sini Solvig. Ada yang bisa saya bantu?”

Terima kasih, Tuhan! “Saya mau bicara dengan Kolonel Kreuter.”

“Ah.” Dave tahu bahwa perempuan itu menutupi gagang teleponnya dengan tangan. Ia mendengarnya berceloteh dalam bahasa Jerman. Lalu perempuan itu berbicara lagi kepadanya, “Maaf atas kekacauan tadi. Kami mengucapkan ‘crew-TER’ dan Anda mengucapkan ‘CROY-ter\ Maaf.”

Dave mengenakkan gigi. Perempuan itu menerus—

328

kan, “Herr Kreuter belum tiba di biiro, bagaimana Anda mengucapkannya, di kantor. Saya kira sebentar lagi dia akan datang. Boleh saya catat pesan Anda supaya dia bisa menelepon Anda kembali?”

“Saya tidak bisa dihubungi. Saya akan menelepon lagi. Katakan padanya bahwa Dave Elliot menelepon, dan saya akan menelepon kembali…”

Telepon berbunyi klik. Jantung Dave runtuh. “Halo!” teriaknya. “Halo! Kau masih di sana?”

Sesudah hening sesaat, terdengar suara yang diseret lamban, “Well, pindahkan. Sambungkan aku dan gelitiki pantatku dengan bulu.”

“Uh, apakah ini…” Dave tergagap-gagap. Ia tahu siapa orang ini.

“Nak, sungguh lama kau menunda meneleponku. Aku sampai sudah berhenti berharap.” Sambungan antara New York dan Basel sungguh jelas dan sempurna. Kedengarannya seperti telepon lokal.

Jack sepertinya sudah cukup siap untuk berbicara dengannya. Namun bukan begitu reaksi yang diperkirakan Dave. Ia tidak tahu bagaimana menangani situasi ini. “Well… kau tahu… uh…”

“Tentu. Ya, tentu. Seharusnya aku yang meneleponmu, tapi kupikir pilihan ada di pihakmu.”

Ia tidak tahu pasti bagaimana menafsirkan kata-kata Jack. Ia tergagap-gagap lemas, “Jadi, em… Jack, apa kabar?”

“Sebagian besar tak berubah, Nak. Tuhan rupanya menganggap aku layak menerima kesehatan dan mempertahankan rambutku. Tak bisa minta lebih dari itu. Dan bagaimana denganmu? Kau baik-baik dan sehat?”

329”Sama-sama.”

“Dan keluargamu. Bagaimana dengan si pirang yang fotonya selalu kaubawa?”

“Annie. Baik, tapi kami… Ah, aku sudah punya istri baru sekarang.”

“Yah, bukankah kita semua begitu. Omong-omong, aku sendiri sudah ganti enam kali. Seperti kata orang, nasib buruk bisa saja terjadi. Jadi bagaimana dengan kariermu? Kau baik-baik—jadi pengacara hebat dan meraup banyak uang?”

“Aku tidak kuliah di fakultas hukum. Aku cuma usahawan New York biasa. Tapi ya, kurasa aku baik-baik saja. Atau setidaknya dulu. Aku… ah… boleh kausebut kehilangan pekerjaan.”

“Aku ikut menyesal, Nak. Benar-benar menyesal. Sekarang aku juga berbisnis. Perusahaan lama yang kumiliki di sini, pabrik uang. Terhebat yang pernah kausaksikan. Aku akan terpaksa membuat gudang uang besar seperti Gober Bebek. Mungkin menurutmu jiwa tempur, prajurit terhormat tak bisa menghasilkan laba, tapi nyatanya bisa. Nak, dengar kataku, tentara bayaran dan perdagangan senjata adalah bisnis yang berkembang untuk tahun ‘90-an.”

“Aku ikut senang, Jack.”

“Tadi kau bilang kau baru saja kehilangan pekerjaan, kan?” “Yah…”

“Persetan, Nak, mengapa kau tak naik burung perak besar, dan terbang ke sini. Kita bisa ngobrol. Mungkin aku punya lowongan di suatu tempat.”

“Uh…”

“Ayolah, Nak. Kau selamanya favoritku, kau tahu

330

itu. Aku tak pernah bertemu dengan siapa pun yang lebih baik darimu.”

“Jack, aku… oh, aduh, Jack…” Tidak, bukan ini yang diharapkannya. Mirip pun tidak.

“Oh, sudahlah, Nak. Ada apa? Apakah kau masih diberati kejadian di ‘Nam dulu?”

“Bukan itu.” Karena alasan yang aneh, Dave merasa matanya berkedut-kedut. “Atau mungkin itu. Tapi, aduh, Jack, aku yang melaporkanmu!”

“Ya, lalu kenapa?” Jawaban yang keliru. Bukan itu yang ingin didengar Dave.

“Kau diadili di mahkamah militer.”

“Lalu kenapa lagi?”

Tak sanggup berbicara, Dave menggerakkan rahangnya maju-mundur.

“Diadili di mahkamah militer bukan harga yang terlalu mahal untuk dibayar. Mereka orang-orang jahat dan perlu dibunuh, dan ketika mereka lenyap, bumi ini jadi tempat yang agak lebih baik.”

Dave hampir tak bisa mengeluarkan kata-katanya, “Jack, aku yang meniup peluit melaporkanmu.”

“Oh, sialan, gara-gara itulah rupanya selama bertahun-tahun ini kau tak mau meneleponku. Kaupikir aku masih marah atau apa. Tolol, Nak, itu benar-benar tolol. Aku tak pernah marah padamu kecuali mungkin agak kesal. Apalagi kau cuma melakukan yang benar. Nah, Nak, pernahkah kau melihatku mengeluh tentang orang yang berbuat benar? Tidak, bukan begitu watakku. Memang, aku agak mencemaskan pengadilan itu. Tapi tidak terlalu. Kurasa mereka tak punya keberanian untuk memasukkanku ke penjara dengan semua yang kuketahui. Dan mereka tak

331melakukannya. Jadi persetan, mereka menendangku keluar dari Angkatan Bersenjata. Sekarang aku punya rekening gemuk di bank Swiss, dan aku naik Mercedes besar. Waktu aku mengendarainya mereka mengirim pesuruh-pesuruh mereka berlarian untuk membuka pintu bagiku. Heh! Coba katakan padaku, Nak, coba katakan, untuk apa aku harus marah padamu?”

Dua puluh lima tahun dihabiskan David Elliot dengan menghukum diri sendiri karena sesuatu yang dianggapnya sebagai dosa. Namun ternyata si korban tidak menyalahkannya. Si korban justru berterima kasih. Itu lebih parah daripada pengampunan.

Ia memukulkan tinjunya ke dinding.

“Kau masih di sana, Nak?”

“Aku di sini.” Dave melirik tangannya. Darah merembes di buku jarinya.

“Nah, sekarang. Pasti—apa?—sekitar pukul 03.00 di situ. Kukira kau tak menelepon sekadar untuk basa-basi.”

“Benar.” Ia mengibaskan rasa sakit dari jemarinya. Rasa sakit itu biasa saja.

“Oke, kalau begitu kau mau mengatakan apa yang ada dalam pikiranmu?”

Dave hendak mengucapkan sesuatu. Ia menggigit lidahnya, menarik napas dalam, dan mulai bicara. “Jack, apakah kau kenal… apakah kau pernah dengar seseorang bernama John Ransome?”

Suara Kreuter jadi bersemangat. “Johnny Ransome? Tentu saja aku tahu. Dia sersan di unit itu, oh, coba kuingat-ingat, mungkin delapan atau sembilan bulan sebelum kau datang.”

Jantung Dave berdebar-debar. Ransome pernah jadi

332

salah satu anak buah Kreuter. Mungkin mereka berdua masih berhubungan. “Di mana dia sekarang?”

“Tidak ke mana-mana, kecuali namanya yang terpampang pada dinding hitam yang mereka dirikan di Washington.”

“Mati?” Dave menggigit bibirnya.

“Benar. Menginjak ranjau. Akulah yang memasukkannya ke kantong dan mengidentifikasinya. Mengapa kau tanya?”

“Ada orang yang memakai namanya. Katanya dia pernah bertugas bersamamu.”

“Banyak yang pernah melakukannya. Bagaimana tampangnya?”

“Besar, gempal, sangat berotot. Rambut kelabu pasir. Wajah persegi. Tingginya 175 atau 180 senti. Aksen Appalachian, kedengaran seperti… orang yang kita kenal.”

“Bisa salah satu dari selusin orang yang berlainan. Apa lagi yang bisa kauceritakan tentang dia?”

“Tak banyak. Kecuali… mungkin, hanya mungkin nama aslinya Donald. Kudengar…”

“Wah, wah. Dulu ada dua Donald dalam unit itu pada saat yang sama dengan Sersan Johnny. Yang satu letnan dua, yang lain kapten. Orang-orang memanggil letnan itu Tceman’, sedang yang satunya ‘Captain Cold’—mereka berdua orang-orang busuk seperti kau.”

“Aku bukan orang busuk.”

Jack menyeret umpatan itu, “Bulllll-sheeeeet! Satu-satunya perbedaan antara kau dan mereka berdua adalah kau punya selera humor.”

Uh-uh, pikir Dave. Tidak. Tidak benar. Aku tidak

333sama dengan mereka, tidak pernah, dan takkan pernah…

“Jadi bagaimana, Nak, apa lagi yang bisa kauceritakan padaku tentang Donald-keparat-Donald-mu ini?”

“Dia punya banyak kartu identitas. Salah satu menyebutkan dia bekerja di Departemen Veteran. Satu lainnya menyebutkan dia bekerja untuk sesuatu yang disebut The Specialist Consulting Group.”

Dave mendengar Jack menarik napas keras. “Apa urusanmu dengan mereka?”

Dave tak menghiraukan pertanyaan itu. “Siapakah mereka, Jack?”

Suara Kreuter bernada tidak setuju. “Kontraktor. Pembunuh bayaran. Jenis yang takkan disentuh orang-orang seperti aku dengan garu sampah sekalipun.”

“Apa…”

Kreuter mendengus. “Kurasa aku kedengaran sok suci. Sama seperti lelucon tentang pengacara dan penyelundup perempuan dari Tijuana itu. Standar profesional dan lain-lain. Tapi, tidak, mereka melakukan pekerjaan yang sama sekali takkan kukerjakan. Specialist Consultin’, entah apa, rasanya tak punya nilai moral. Setidaknya, setahuku.”

“Untuk siapa mereka bekerja?”

“Siapa saja yang punya uang. Siapa saja yang ingin orang lain menyelesaikan pekerjaan kotor mereka, dan bersedia membayarnya.”

“Pemerintah?”

“Tidak belakangan ini, itu pasti. Specialist Consultin’ sudah lama tidak dipakai untuk pekerjaan Pemerintah AS. Sekitar dua puluh tahun lebih. Di

334

Washington tak bakal ada yang menyentuh mereka. Bukan berarti mereka sama sekali tak punya satu-dua hubungan, entah di mana, entah bagaimana. Bukan hubungan langsung, bukan sebagai kontraktor utama dan bukan pula sebagai subkontraktor. Mungkin sub-subkontraktor atau sesuatu seperti itu. Mereka sudah ada sejak dulu, sejak ayahku pulang dari perangnya. Jadi beralasan kalau mereka punya teman. Nah, sekarang apakah kau akan menceritakan padaku mengapa kau bertanya-tanya tentang mereka? Terus terang itu bukan pertanyaan yang akan diajukan warga negara baik-baik.”

“Aku punya alasan sendiri. Ceritakanlah padaku tentang mereka, Jack. Siapa mereka dan apa yang mereka kerjakan?”

“Oh, aku tak kenal mereka. Juga tak ingin kenal. Dan mengenai apa yang mereka kerjakan, well, umumnya kelompok seperti Specialist itu terlibat dalam segala macam bisnis. Intelijen dan analisis, menyuap dan membujuk perwira asing, menjadi subkontraktor operasi, pekerjaan kotor R&D, penjualan senjata, plus menyelundup dan masuk dan menyadap tempat orang lain serta berbagai pekerjaan kotor lain.”

“Pekerjaan kotor R&D?”

“Ya, pekerjaan iblis yang hanya terpikir oleh pikiran bawah sadarmu yang paling kotor.” “Maksudmu…”

“Nak, aku tak suka berlarut-larut membicarakan hal ini.”

Dave menghela napas dalam. “Jack, aku harus tahu. Harus!”

Kreuter mengeluh. “Yang kuketahui tak lebih dari

335spekulasi. Aku cuma bisa bilang padamu bahwa desas-desus sudah beredar lama—selama yang kuingat. Di akhir Perang Dunia II, pihak Rooskie menduduki Jerman bagian timur tempat para Kraut itu paling banyak membangun kamp kematian, dan paling banyak, dalam tanda kutip, melakukan eksperimen medis. Menguasainya, bisa kaubayangkan Joe Stalin, yang gila seperti tikus kakus, tentu mendapatkan segala kebusukan yang sedang digarap para Kraut itu. Dan kaupikir sendiri begitu orang-orang kita tahu, mereka mengatakan bila pihak Rusia punya barang itu, kita harus punya juga.” “Barang, Jack?”

“Bibit penyakit, Nak, bibit penyakit. Penyakit menular. Kuman dan virus dan senjata biologi. Menurut desas-desus banyak ilmuwan musuh yang waktu itu mengembangkannya. Menurut desas-desus masih ada yang melakukannya.”

Mereka terdiam lama, Dave menyalakan sebatang rokok.

“Kau diam saja, Nak.” Suara Jack jadi lembut. Dalam ucapannya tersimpan keprihatinan. “Cuma berpikir, Jack.” “Berpikir apa?”

“Apa yang akan terjadi bila lima puluh tahun lalu seseorang, katakan saja dokter Angkatan Bersenjata dalam staf MacArthur, kebetulan menemukan fasilitas riset senjata biologi Jepang.”

“Pertanyaan mudah, Nak. Barang-barang itu dikemas dan dikirim pulang. Sama seperti yang mereka lakukan dengan semua lab roket Nazi, serta orang-orangnya.”

336

“Lalu apa?”

“Kau harus ingat, senjata biologis sangat ilegal. Dilarang oleh Kongres dan dikutuk oleh perjanjian bersama. Jadi mereka akan melakukan apa saja untuk menjaga kerahasiaannya. Misalnya mereka takkan mensubkontrakkannya pada orang luar—mungkin pada teman-temanmu dari Specialist Consultin’ atau orang-orang seperti mereka. Dan beberapa orang yang perlu tahu mengenai hal itu akan diberitahu bahwa semua itu sekadar untuk riset—sekadar agar. tak ketinggalan dari apa yang dikerjakan Rusia. Orang-orang Rusia itu punya sesuatu yang dinamakan Biopreparat untuk diujicobakan di pulau di Laut Aral. Tak seorang pun diizinkan pergi ke pulau itu. Mereka yang pergi tak pernah kembali. Jadi bisa kaubayangkan bila pihak Rusia melakukan kegiatan R&D haram, tentu pihak Yankee juga. Dan tentu saja bila mereka—pihak kita atau pihak mereka—merasa seseorang akan membuka rahasia mereka, mereka akan melakukan apa yang secara teknis disebut ‘appropriate sanction1, istilah yang definisinya mencantumkan juga langkah-langkah yang patut disesalkan namun perlu, langkah-langkah yang sudah kita kenal dengan sedih.”

“Satu pertanyaan terakhir, Jack. Apa yang akan terjadi pada seseorang yang terinfeksi oleh salah satu senjata itu?”

“Nak, kemungkinan besar akan mati.”

Monyet itu. Monyet tolol keparat itu.

Ia sudah curiga sejak kucing Marge waspada terhadapnya, sudah tahu sejak ia melihat bagian dalam akuisisi terakhir Bernie Levy, dan sejak itu meng—

337habiskan setiap detik dengan berdoa mudah-mudahan ia keliru.

Lockyear menjadi kedok untuk laboratorium riset senjata biologis. Lab yang sudah ada sejak akhir Perang Dunia II. Lab yang didirikan oleh laki-laki yang merasa pantas berpose dengan seragam militer berusia lima puluh tahun untuk potretnya.

Laboratorium senjata. Dari luarnya lab itu seperti perusahaan bioteknologi biasa. Tetapi di bagian dalamnya—di dalam Lab nomor lima—tempat itu jauh daripada sekadar biasa. Monyet itu pun bukan binatang lab biasa. Monyet itu telah terinfeksi zat uji coba. Dan monyet itu lepas dan menggigit…

David Elliot almarhum.

Bernie telah dibujuk agar membeli Lockyear. Siapa yang tahu bagaimana atau mengapa? Mungkin Harry Halliwell, si pialang jujur, menangani transaksi itu. Mungkin orang lain. Itu tidak penting. Yang penting adalah mereka telah menarik rasa tanggung jawab dalam diri Bernie. Ia jatuh ke dalam kebohongan yang mereka ceritakan padanya. Itulah sebabnya ia bersedia melakukannya. Itu mestinya tak jadi masalah baginya. Tidak bila mereka mengungkit rasa patriotismenya. Semper Fidelis.

Bernie yang malang. Ia tidak tahu yang sebenarnya tentang Lockyear. Mereka tidak bercerita padanya. Tidak sampai…

Ia menugaskan mantan tukang mengadu untuk menangani transaksi ini. Dan tukang mengadu itu terinfeksi.

Cepat atau lambat Dave akan mulai memperlihatkan gejala. Ia akan pergi menemui dokter. Lalu menjalani

338

beberapa tes. Tes itu akan mengungkapkan sesuatu yang tak dapat dijelaskan. Dan masalah pun akan meledak.

Panggilan ke Pusat Pengawasan Penyakit. Konsultasi dengan Organisasi Kesehatan Dunia. Pertanyaan, pertanyaan, dan lebih banyak pertanyaan.

Pertapaan diajukan kepada orang-orang yang tidak suka pertanyaan.

Penyakit ini menular, kau tahu. Benar-benar amat menular.

Dave menuang kopi untuk diminumnya sendiri ketika ia berada di kantor Bernie. Bernie minum dari cangkir yang sama. Kemudian ia bunuh diri. “Bernie Levy hanya menyalahkan Bernie Levy. Itu lelucon yang menggelikan, Davy. Berbalik adalah permainan yang adil…”

Ia membawa cangkir itu bersamanya. Empat puluh lima tingkat dari tanah.

Apa pun yang menimpa Dave, infeksi itu tentu sangat hebat sehingga Bernie lebih suka bunuh diri daripada menanggungnya. Dan Ketika Partridge mengira Dave telah kabur dari gedung itu, ia berkata, “Matilah kita semua.”

Marge.

Itulah sebabnya mereka melakukan vaginal smear dan mengambil sampel darah. Mereka khawatir Dave telah…

Andai kata kau sampai menciumnya saja. Apa pun penyakit yang ia dapatkan dari monyet itu tentulah lebih dari sekadar serius. Kaupikir bisa diobati?

Bila obatnya ada, mengapa mereka tidak memberikan saja obat itu kepadanya?

339Lebih mudah membunuhmu dan urusan selesai. Kau tukang tiup peluit, ingat? Misalkan mereka memberimu obat. Apakah kau akan menunjukkan terima kasih yang sepantasnya dan menutup mulut besarmu itu? Atau apakah kau akan go public? Dan seandainya kau mereka, orang busuk seperti kau ini, apakah kau bersedia mengambil riMko?

Di ujung seberang sambungan telepon sejauh 6.400 kilometer itu, Mamba Jack Kreuter bertanya, “Kau sudah menyimpulkan situasimu, Nak?”

“Begitulah, Jack.” .

“Kau mau menceritakannya padaku?”

Dave mengembuskan napas panjang. “Terima kasih, Jack. Tapi sebaiknya tidak.”

“Rasanya bisa kukatakan aku mengerti. Seorang pendeta Jerman yang kukenal di sini memberikan kata yang tepat untuk itu. Lima suku kata, yaitu: ‘eskatologi’. Itulah yang kita bicarakan selama ini, eskatologi. Tapi bagaimanapun, bila ada yang bisa kukerjakan…”

“Kau sudah cukup membantu. Kau sudah menceritakan apa yang perlu kuketahui. Dan aku berterima kasih.”

“Tak jadi soal. Dan dengar, bila kau berhasil lolos dari masalah-masalahmu ini, kau harus meneleponku. Aduh, kita dulu bersahabat, dan kita seharusnya tetap bersahabat.”

“Aku akan melakukannya bila bisa, Jack.”

“Nah, Nak, aku sungguh berharap kau akan melakukannya.”

“Oke. Dengar, Jack. Aku harus pergi.”

340

“Baiklah. Tapi sekarang dengarkan, singkirkanlah urusan di ‘Nam dari benakmu. Itu sudah sangat lama, dan tak berguna memikirkannya terus.”

“Baiklah, Jack.”

“Dan tetaplah pakai otakmu, kaudengar?” “Ya.”

“Sayonara, Nak.” “Sayonara, Jack.”

3.

Senjata biologis. Tanpa suara, tak kasatmata, dan mematikan. Suatu benda dari mimpi buruk dan novel-novel Stephen King. Bukan jenis senjata yang kaupakai untuk membunuh seorang musuh, bahkan bukan untuk membunuh satu resimen. Kau bahkan tidak memakainya untuk membunuh seluruh tentara musuh. Hanya ada satu penggunaan untuk senjata macam itu—membunuh seluruh negeri.

Sekarang senjata itu lepas berkeliaran dalam tubuhnya.

Dan ia lepas berkeliaran di New York. Tak heran mereka memburunya. Dan tak heran Ransome berpikir Dave-lah pihak yang jahat. Memang!

Ia harus lari. Mereka tidak tahu ia ada di dalam gedung itu. Ransome sudah memerintahkan orang-orangnya untuk menjauh dari tangga dan lift. Laki-laki yang disebut Myna, yang bertanggung jawab di lobi, mengira ia pekerja komputer dari American Interdyne Worldwide. Dave bisa melewatinya.

341Bila lari, ia akan selamat. Sekali ia berada di jalan ia bisa kabur ke… ke… ke mana pun yang diinginkannya. Takkan sulit. Ia akan memanggil taksi dan meminta si sopir membawanya menyeberangi Sungai Hudson menuju ke New Jersey. Stasiun kereta api Newark merupakan tempat yang sama baiknya seperti tempat mana pun. Dari sana, ia bisa naik Amtrak Express ke Philadephia atau Washington. Kemudian ia bisa naik pesawat. Ia sudah mencuri cukup uang untuk terbang ke tempat mana pun di dunia.

Begitu sampai di tempat persembunyian, ia akan menelepon beberapa orang. Departemen Kesehatan. Pers. Bahkan mungkin satu atau dua anggota Kongres.

Bila ada obat untuk apa yang telah mereka berikan kepadanya, publisitas itu akan memaksa mereka untuk memberikannya. Dan bila tidak ada… ia akan menyeberangi jembatan itu bila sampai di sana.

Ia harus lari. Tidak ada alasan untuk tetap tinggal. Apalagi alasan untuk melangkah dalam baku tembak.

Ah, mungkin ada satu alasan.

Marge.

Mungkin dua alasan.

Ransome. Sudah saatnya melunasi utang-piutang. 4.

Pukul 03.36—satu setengah jam sebelum cahaya redup pertama datangnya pagi di timur; tiga jam sebelum matahari terbit.

Dave memandang langit berlama-lama untuk terakhir kali. Di dekat cakrawala, langit tampak pucat,

342

warna biru muda, dan bintang-bintang terhapus sinarnya oleh berpendarnya jutaan lampu jalan. Lebih tinggi lagi, beberapa bintang, hanya yang paling terang, terbakar menembus kabut kota. Namun tepat di atas kepala, malam masih hitam dan pekat, bintang-bintang tampak tajam, bercahaya terang bericlerang— Perseus untuk selamanya mengejar Andromeda, yang harus diselamatkannya; Orion menguntit gugusan Great Bear sepanjang masa; Pleiades menari-nari di belakang cadar biru cerah.

Betapa indahnya langit malam, betapa menyedihkan lampu-lampu listrik membutakan mata penghuni kota terhadap keagungannya. Kapankah terakhir kali ia melihat bintang-bintang itu, benar-benar melihatnya? Sudah begitu lama… berkemah di bawah tenda mereka di ketinggian Sierra, Taffy mendengkur mabuk, Dave terjaga dan memandang terpesona ke atas pada… Kita makin suka berfilsafat, kan? Dave mendesah. Ah, setidaknya langit cerah. Diramalkan akan terjadi hujan badai—Dave mendengar prakiraan cuaca dari radio mobil sewaan itu. Tapi, badai itu tidak datang, setidaknya belum. Terima kasih, Tuhan, atas berkat-berkat kecil. Di sekelilingnya pemandangan kota itu tenang. Di kejauhan, di selatan Battery dan di balik pelabuhan, ia bisa melihat cahaya lampu dari Jembatan Verrazano. Mendadak disadarinya bahwa belum pernah sekali pun ia sampai ke jembatan itu. Sudah lebih dari dua puluh tahun ia habiskan di kota New York dan ia belum pernah menginjakkan kaki di Pulau Staten. Aneh— pulau itu merupakan bagian kota ini. Orang-orang tinggal di sana. Pulau itu punya restoran, teater, dan

343bahkan mungkin satu-dua museum. Namun ia tak pernah ke sana. Pernah terlintas gagasan untuk pergi ke sana. Kini, di saat dan di tempat seperti ini, ia bertanya-tanya dalam hati seperti apakah tempat itu.

Memang aneh hal-hal yang lewat dalam pikiranmu bila kau”akan mati.

Satu hal ganjil lainnya adalah selama bertahun-tahun bekerja di Senterex, ia belum pernah sekali pun sampai di atap gedung ini. Atap gedung-gedung lain, ya. Ada kebun di atap gedung apartemennya; di musim panas, pada pagi hari Minggu, ia suka pergi ke sana untuk membaca The New York Times. Helen menggelar resepsi pernikahan mereka rli atas gedung lain—suatu tempat di pusat kota; barangkali ia bisa melihatnya dari tempatnya berdiri bila ia tahu ke mana harus memandang. Dan juga atap-atap lain. Namun ia belum pernah ke atap gedung ini.

Tempat itu penuh sesak. Bagian tengahnya dipenuhi dengan sistem pengatur udara gedung itu, mesin raksasa berwarna kelabu. Bahkan pada malam selarut ini, disetel rendah, mesin itu bergemuruh bising. Di bagian lain ada pipa-pia, tandon air darurat untuk fire sprinkler gedung tersebut, segala macam saluran, dan tentu saja, blockhouse semen tempat tangga darurat berakhir.

Generasi-generasi mendatang akan menyebut blockhouse itu sebagai “tempat pertahanan terakhir Elliot”. Bahkan mereka mungkin akan memasang tanda peringatan, sama seperti untuk Custer.

Dua deret susuran besi mengitari tepi atap itu. Pagar itu kokoh dan tertanam kuat. Ia memeriksa kekuatannya dan memeriksanya kembali sebelum memutuskan untuk memakainya.

344

Ia membungkuk ke balik susuran itu dan melihat ke bawah. Jalan raya jauh di bawah. Setitik aspal lebih gelap dari lainnya.

Bernie.

Ia tidak mau memikirkan hal itu. Tidak dengan apa yang hendak dilakukannya. Di samping itu, sudah saatnya menyelesaikan urusan ini.

Ia menarik kabel coaxial itu—sama seperti kabel yang menyelamatkan nyawanya siang tadi. Ia menemukan lagi gulungan kabel seperti itu sepanjang 75 meter di salah satu ruang telepon. Kabel itu kuat; ia tahu kabel itu lebih dari cukup untuk menahan bobotnya. Sayangnya kabel itu berlapis karet—terlalu licin dan terlalu tipis sebagai tali yang tepat untuk panjat-memanjat. Tapi, itu saja yang dipunyainya, jadi dengan mengorbankan lebih banyak waktu dan kejengkelan, dengan hati-hati ia merangkapnya, dan mengikatkan simpul-simpul besar setiap semeter. Simpul-simpul itu bisa jadi pegangannya.

Ia memakai sarung tangan tukang reparasi telepon, mengencangkan lilitan tali pada pahanya, dan mencoba kekuatan kabel itu untuk terakhir kali, lalu melangkahi susuran pagar itu.

Ia menunggu suara dari dalam pikirannya. Tidak ada. Malaikat pelindung Dave sama sekali bungkam. Seolah tertegun dengan apa yang akan dilakukannya sehingga lupa berkomentar.

Ayolah, katakan sesuatu.

Kau akan mati.

Lalu kenapa?

Kau akan membawaku bersamamu. Itulah hidup, Sobat.

345Ia menggoyang kabel itu. Rasanya kendur, bebas dari kekusutan. Saat pergi.

Ia mencengkam kabel itu, menapakkan kaki di pinggir atap, meregangkan kabel itu dengan bobotnya. Satu kaki di bawah yang lain, satu tangan di atas yang lain, satu simpul sekali jalan. David Elliot mulai berjalan mundur menuruni dinding lantai 50.

Dua puluh lima tahun lalu ia pernah melakukan perbuatan ini. Di Fort Bragg, mereka memerintahkan semua peserta latihan memanjat cerobong asap setinggi 45 meter, lalu turun dengan tali. Dua orang dalam unit pelatihan Dave menolak. Orang ketiga berhasil sampai ke puncak dan kemudian tak mampu bergerak. Mereka bertiga dicoret. Tidak ada baret hijau untuk mereka. Dave bergabung dengan yang lain menertawakan kepengecutan mereka.

Kita tak bisa tertawa sekarang, kan?

Tali dari kabel itu mengiris pahanya dengan kejam. Bila ia tidak turun dengan cepat, ikatan itu akan mengakibatkan kakinya mati rasa.

Di antara jendela-jendela gedung itu ada lapisan lembaran batu granit. Dave menapakkan kakinya ke sana. Sepatunya disisipkannya di sabuk. Batu granit itu kasar dan tajam, serta terasa dingin menembus kaus kakinya.

Gedung itu didirikan pada awal dasawarsa 1960-an. Kini, sesudah tiga puluh tahun ditempa angin, cuaca, dan polusi, batu itu mulai aus. Beberapa retakannya cukup besar untuk dimasuki pensil. Takkan makan waktu lama lagi, paling banyak beberapa tahun, lapisan batu itu akan runtuh. Kemudian

346

kepingan-kepingan batu akan mulai menghujani jalan. Dalam hati Dave bertanya-tanya ada berapa gedung lain di New York yang berkondisi sama seperti ini.

Ia melewati lantai 50. Lampu-lampu di sana mati. Seharusnya ia memeriksa lampu-lampu itu sebelum turun. Tidak lucu bila ada pekerja malam yang menengok ke luar jendelanya dan melihat seorang laki-laki dengan sepasang pistol tersarung di pinggangnya bergelantungan 50 lantai di atas jalan.

Ia melihat ke bawah. Tidak ada lampu hingga lantai 45. Ia aman.

Kabel coaxial }tu tidak cocok untuk menggantikan tali tambang. Kabel itu licin; dan tangannya letih mencengkeram tali tipis itu. Lebih lama lagi dan tangannya akan kejang. Dan itu akan jadi masalah.

Antara lantai 47 dan 46, tumit Dave menyentuh sekeping granit yang lepas dari permukaan gedung. Enam detik kemudian kepingan batu itu meledak menimpa tong sampah hijau, menimbulkan bunyi yang terdengar seperti ledakan mortir. Tentu saja Myna, penjaga lobi tadi, akan mengirim orang untuk memeriksa, kecuali ia benar-benar tolol.

Di lain pihak, New York memang penuh dengan suara-suara aneh dan tak dapat dijelaskan. Setiap saat sepanjang hari terdengar geraman dan lolongan serta kadang-kadang seperti ledakan bom. Orang jadi terbiasa dengan itu. Mungkin Myna mengabaikan bunyi itu.

Sudah hampir sampai ke lantai 45. Perhentian terakhir—terakhir dalam banyak arti bila Ransome dan anak buahnya ada di kantor Bernie.

Ia meninggalkan atap gedung dekat sudut timur

347laut. Ketika mencapai lantai 45, ia berada di sebelah kiri jendela yang dipecah Bernie.

Mereka tentu sudah menutup jendela itu. Manajemen gedung tentu bersikeras menutupnya, demikian pula pihak polisi. Dengan prakiraan cuaca menyatakan datangnya hujan badai, tak seorang pun ingin ada kantor yang terbuka untuk dirusak air. Satu-satunya pertanyaan adalah apakah mereka memakai kanvas atau—seperti yang mereka pakai untuk menutupi jendela lobi yang pecah—plywood.

Jendela yang pecah di bawah sana—itulah yang memberimu gagasan ini, kan? Kau tahu kau tak bisa melewati Ransome. Kau harus mengitarinya. Dan ya, aku setuju. Gagasan ini gila luar biasa.

Ia turun sejajar dengan jendela. Jendela itu ditutup dengan kanvas.

Ia keliru memperhitungkan panjang kabel yang dibutuhkannya. Ada tiga atau empat meter yang terkatung-katung di bawahnya. Itu bisa berbahaya seandainya ia terpaksa meninggalkan kantor Bernie dengan terburu-buru.

Dave menapakkan kakinya pada batu dan memutar lengan kanannya sehingga terlilit kabel. Satu, dua, tiga lilitan. Ia melepaskan pegangan tangan kiri. Kabel itu mengiris ke dalam daging. Sambil meringis, ia menggulung naik beberapa meter yang tergantung di bawahnya, mengikatnya, dan kemudian melepaskan lilitan tangan kanannya.

Dan sekarang bersiaga untuk sesuatu yang benar-benar berbahaya. Ia menanyai suara dalam benaknya, apakah kau siap untuk ini?

Mengapa kau tak membuat tali jerat dan gantung diri saja?

348

Empat puluh lima lantai dari atas jalan—tapi hanya butuh enam detik untuk jatuh sejauh itu—David Elliot mendorong tubuhnya menjauh dari sisi gedung dan berayun ke arah jendela bertutup kanvas itu. Di puncak ayunan, ia merebahkan tubuh ke belakang, meregangkan kaki, dan menggenjot seperti anak di ayunan.

Ia^berayun menjauh dari jendela tertutup itu, menggenjot lagi, dan berayun kembali. Kabel itu berkeriat-keriut. Dalam hati ia bertanya-tanya seberapa besar daya regang kabel itu.

Apakah tidak terlambat mengajukan pertanyaan itu di tengah permainan seperti ini?

Ia berayun-ayun seperti pendulum. Lengkung lintasan ayunan itu membawanya melewati jendela bertutup kanvas tersebut. Ia hampir mencapai jendela kaca di sebelahnya. Hampir, tapi belum. Ia berayun kembali.

Jendela-jendela itu bertutup curtainwall aluminium—dinding luar tanpa fungsi struktural. Curtainwall… Selama sembilan jam yang membosankan, lima hari seminggu, setiap minggu sepanjang masa kuliah, ia bekerja di pabrik pengolahan aluminium, dibayar 75 sen per jam, membuat curtainwall. Mungkin orang-orang yang membangun gedung ini duki membeli curtainwall dari pabrik tempat ia bekerja. Waktunya kira-kira sama. Bukankah itu kebetulan?

Ia mencapai puncak ayunan ke belakang. Ia menarik dan menggenjot serta mulai turun kembali.

Kali ini ia akan berhasil. Curtainwall itu menonjol lima senti dari lapisan batu granit. Ia tentu bisa

349mengaitkan jari pada logam itu, menghentikan ayunan, dan mendorong tubuh ke depan. Kemudian ia bisa melihat ke balik jendela. Bila Ransome benar meninggalkan kejutan di kantor Bernie, ia tentu bisa melihatnya.

Pinggir jendela kaca berangka itu semakin dekat. Dave meraihnya, mencengkeramkan jari-jarinya. Momentum ayunannya mengempas kembali. Tenaganya nyaris melepaskan cengkeramannya. Ia mencengkeram erat-erat sambil mengenakkan gigi.

Keliru. Kau memendekkan kabel itu terlalu banyak.

Ia berhasil. Ia menegang, menarik badan ke depan, hampir ke sana, jari-jarinya licin karena keringat, tumitnya berusaha mencari pijakan pada granit, kabel tipis itu mengiris otot pahanya.

Ia sampai di sana—berpegangan pada ambang jendela yang sempit, merapatkan tubuh pada jendela kaca, melihat ke dalam kantor Bernie.

Lampu-lampunya menyala. Apa yang ditinggalkan Ransome untuknya bisa terlihat jelas. Dan ya, tepat seperti itulah yang disebut Ransome sebagai mahakarya.

Jemari Dave lepas dari curtainwall itu. Ia terguling dari jendela. Beberapa lama ia terayun maju-mundur sampai gerakan itu reda.

Tidak sepenuhnya sadar, David Elliot tergantung lemas dan tak berdaya di atas jalan.

5.

Hijau zamrud.

Dengan mata merah delima.

350

Seekor lipan bak permata.

Di atas sehelai daun bak batu kemala.

Ia mendengar bunyi berdesing membelah langit. Ia mengenal bunyi itu. Roket RPG-7 buatan Soviet^ Ia memejamkan mata.

Roket itu meledak. Ia membuka mata. Daun itu bergetar. Lipan itu seperti tak mempan oleh pemboman itu. Ia terus makan.

Seseorang meneriakkan perintah. Perintah yang tak masuk akal.

Lipan itu berbisa. Dalam pelatihan survival, mereka mengajarimu serangga mana yang bisa kaumakan dan mana yang tidak. Yang ini akan membuatmu kejang-kejang.

Lagi pula ia tidak lapar.

Sepucuk AK-47 mengosongkan magasinnya. Peluru melecut semak-semak. Beberapa berdetak pada pohon di dekatnya. Seseorang berteriak, “Mundur!” Itu Kreuter. Apa yang dikatakannya masuk akal juga.

Itu bukan Vietcong, bukan pasukan patroli. Siapa pun yang mengatakan itu pasukan patroli pasti tidak tahu apa yang dikatakannya. Itu dua brigade penuh pasukan Vietnam Utara. Mereka punya kendaraan lapis baja dan punya artileri. Ini bagian dari serbuan besar. Bukan yang ingin dihadapi oleh tiga regu yang kekurangan orang.

“Mundur! Mundur!”

Mundur bukanlah yang dikehendaki. Lari terbirit-biritlah yang diperlukan.

Senapannya tergeletak di dalam lumpur. Ia mengulurkan tangan kanan untuk mengambilnya. Ia tidak bisa memegangnya. Senapan tergelincir dari

351jarinya. Itu aneh. Rasanya ada yang tidak beres dengan tangannya. Mungkin ada hubungannya dengan potongan logam yang menonjol keluar dari lengan atasnya. Potongan besi itu sepanjang paku bantalan kereta api, tapi lebih pipih dan melengkung. Sepertinya benda itu masuk ke satu sisi dan keluar dari sisi lainnya. Tidak ada banyak darah.

Dengan memakai lengan kanannya, ia mengambil senapan itu, sepucuk CAR-15, dan mendorong tubuh untuk berdiri. Ia gemetar dan nyaris jatuh.

Di sebelah kirinya, dua orang sedang tertatih-tatih menerobos semak belukar. Ia tidak bisa memfokuskan pandangan pada mereka. Oh, sekarang ia melihat siapa mereka. Latourneau dan Pasceault. Mereka mendaftar bersama di kota kecil di New Hampshire, dan mereka bersahabat karib. Latourneau seperti sedang membantu Pasceault, yang sulit berjalan. Kaki kanannya hilang. Itulah sebabnya ia tidak bisa berjalan dengan baik.

Pijar yang sangat terang membutakan Dave. Ketika ia” bisa melihat lagi, Latourneau dan Pasceault sudah lenyap. Hanya ada kawah berlumpur, dan asap.

“Berbaris! Mundur!”

Itu lucu. Orang yang baru saja melangkah ke dalam gilingan daging tidak mungkin mundur dengan teratur.

Ia terantuk-antuk ke arah suara Kreuter.

Bunyi yang ditimbulkan Kalashnikov AK-47 cukup istimewa. Kau takkan pernah melupakannya. Beberapa prajurit Vietnam Utara itu tampaknya membawa modifikasi Tipe 56 dengan magasin berisi 40 peluru. Senapan itu bisa menembakkan 350 peluru per menit. Banyak sekali timah di udara.

352

Sparky Henderson berteriak-teriak di radio meminta bantuan dari udara*. Kreuter merenggutkan handset itu dari jarinya dan dengan tenang memberikan koordinat mereka. Dave terantuk.

Jack menariknya. “Perlu medis?”

“Tidak sakit rasanya.” Tepat seperti yang mereka ceritakan kepadamu. Bisa berjam-jam lagi sebelum luka itu terasa sakit.

Jack, Sparky, dan Dave berlari.

Langit di atas mereka penuh dengan deruan ombak gemuruh. Hutan di belakang mereka tertelan kobaran api. Gemuruh petir dan halilintar dari Tuhan. Serangan udara sedang berlangsung.

Kepala Dave sudah hampir jernih sekarang. Ia tahu sedang berada di mana, apa yang terjadi, dan ke mana ia akan pergi. Akan ada evakuasi udara dekat desa yang mereka lewati siang tadi. Hanya di tempat itulah helikopter bisa mendarat. Heli itu dijadwalkan tiba pukul 19.15.

Ia menerobos semak belukar. Dedaunan hijau itu berat dan basah. Akar-akaran melilit kakinya. Ia sudah jauh dari pertempuran. Lengking pesawat pem-bom terdengar jauh, bunyi ledakan hanya seperti ketukan.

Ia berhasil memisahkan diri dari yang lain. Atau, mungkin mereka berhasil memisahkan diri darinya. Mana pun kejadiannya, penarikan mundur ini tidak dilakukan dengan ketepatan militer. Gerakan mundur kacau-balau. Semua orang lari dalam kepanikan. Kreuter tentu akan marah.

Semua itu karena kejutan dan hebatnya serangan

353dari pihak Vietnam. Pasukan patroli itu terjeblos langsung ke tengahnya. Musuh sedang menunggu, menjepit dalam posisi bagus, sergapan yang diperhitungkan untuk menghabisi.

Mereka sudah tahu ada regu patroli Amerika mendatangi.

Dave berhenti dan melihat lengannya. Mulai sakit sekarang. Akan ada bekas luka besar dan mungkin kerusakan otot. Untuk sementara waktu ia akan masuk dalam daftar nontempur.

Dengan hati-hati ia mengeluarkan kotak plastik dari saku kemejanya. Di dalamnya ada sebungkus rokok Winstons dan korek api butana. Ia membuka kotak itu dengan mulut, menarik sebatang rokok dengan bibir, dan menyalakannya. Nikotin itu menolong.

Ia menutup kotak itu dengan hati-hati dan menyelipkannya kembali ke dalam seragam.

Di dalam saku kirinya ada kompas. Tangan kirinya tak dapat ia pakai. Butuh beberapa lama baginya untuk mengeluarkan kompas itu. Ia membuka tutupnya, membacanya, dan menyesuaikan kembali arahnya. Pikirnya ia punya sekitar sejam lagi. Ia punya banyak waktu.

Ia keluar dari hutan di tepi sawah padi. Desa itu ada di sana, di sebelah kanannya, terpisah sekitar dua ratus meter. Ia bisa mendengar ratap tangis dari desa itu. Tak bisa dibayangkannya apa yang menyebabkan ratap tangis itu.

Ia melihat arloji. $12 dari PX di Cam Ranch Bay. $12 harus dikeluarkannya sesudah arlojinya yang lama dihancurkannya berkeping-keping. Ia ingin menghan—

354

curkan arloji ini juga. Pukul 18.30. Masih ada 45 menit lagi sebelum helikopter-helikopter itu tiba di - tempat pendaratan.

Jerit tangis itu naik-turun bagaikan lolong serigala. Dave bertanya-tanya dalam hati apa yang sedang terjadi. Mungkin ada orang melukai sapi dengan granat pecah. Ia mulai merencah sawah, menuju ke desa itu.

Ia sampai ke tempat itu dari selatan. Semua tangis dan jeritan itu berasal dari ujung utara.

Senapannya tergantung di pundak. Toh ia tak bisa memakainya, tidak mungkin dengan lengan kiri terluka. Ia mencabut pistolnya dari sarung, model standar kaliber .45 untuk tentara.

Ia melewati gubuk-gubuk itu. Dengan sangat hati-hati, ia mengintip dari pojok gubuk terakhir. Tempat yang bisa disebut sebagai alun-alun kota itu tepat di depannya. Namun yang ia saksikan tak sepenuhnya ia pahami.

Di belakangnya ada suara berbisik, Hei, Sobat, kalau jadi kau, aku akan berbalik dan pergi ke arah lain.

Dave memutar tubuh. Tak ada siapa pun di sana. Ia menggeleng. Pasti karena guncangan. Mendengar suara-suara.

Ia berbalik kembali untuk melihat lapangan desa itu.

Ia masih tetap tak memahami apa yang dilihatnya. Keletihan. Kebingungan. Gemetar di dalam jiwa akibat pertempuran belum lagi terwujud dalam penampilan luar. Ia kembali menggeleng, mencoba menjernihkan otak.

Sersan Mullins ada di sana, dan beberapa laki-laki. Kreuter dan sebagian besar unit itu belum datang.

355Sedetik itu, ia bertanya pada diri sendiri apa arti sebagian besar unit itu belakangan ini. Berapa korban yang tewas di belakang sana?

Ia melihat lebih cermat. Penduduk desa itu berkerumun di sisi pematang. Dua prajurit Amerika memegang senapan mereka, menjaga mereka, menahan mereka di tempat. Bukan hanya penduduk dusun itu yang mereka jaga. Ada selusin GI Amerika yang berdiri bersama mereka. Senjata mereka sudah lenyap dan tangan mereka terangkat ke udara.

Aneh.

Mullins sedang melakukan sesuatu. Ia berlutut di tanah memunggungi Dave. Tiga laki-laki bersamanya, dua merangkak, dan satu berdiri.

Mullins menggerakkan tangannya maju-mundur. Penduduk desa itu melolong.

Mullins berdiri. Ada sesuatu di tangannya. Ia berjalan ke arah kerumunan itu.

Di sana ada beberapa tonggak tertancap ke tanah, tepat di depan pematang. Beberapa di antaranya berujung runcing. Yang lainnya tidak. Tetapi ada beberapa benda duduk di atasnya.

Bukan, bukan duduk. “Duduk” adalah kata yang salah. Kata yang tepat adalah “terpancang”.

Mullins menancapkan satu kepala perempuan lagi pada sebatang tonggak.

6.

Ransome, karena tidak punya tonggak runcing dan tanah gembur untuk menancapkannya, telah memakai tripod—yang disimpan Bernie di lemarinya.

356

Cara mengirisnya pun lebih rapi, nyaris seperti pembedahan, sama sekali tidak mirip dengan cara menjagal serampangan yang dilakukan Sersan Mullins dengan pisau K-Bar-nya yang andal. Bagaimanapun, Ransome telah menyelesaikan pekerjaan yang rapi dan bersih, tepat seperti yang diharapkan dari orang profesional dengan keterampilan tinggi.

Ransome tentu saja memancangnya menghadap ke pintu. Cara itu akan menghasilkan efek terbaik.

Bahkan ia mungkin sudah menjahit kelopak mata itu agar terbuka.

Marge Cohen dengan mata membelalak. Itu karya yang bagus.

Itu tentu akan membuat Dave menjerit.

7.

Dave menjerit.

Mullins berputar. Orang-orang yang bersamanya jatuh bertiarap. Dave membidikkan pistolnya ke dada Mullins. Mullins maju ke arahnya. Dave meneriakkan sesuatu kepadanya, ia tidak tahu pasti entah apa. Mullins maju, langsung ke moncong pistol Dave. Dave menekan picu. Tempat pelurunya kosong. Dengan tangan hancur ia tidak bisa menarik pengokang. Ia meneriakkan sesuatu. Entah apa, ia tidak tahu pasti. Mungkin sama sekali bukan kata-kata.

Mullins merenggut pistol itu darinya, dan menampar wajahnya. “Tutup mulutmu! Tutup mulut, kau mahasiswa banci keparat!”

Dua laki-laki memeganginya dan membantingnya ke atas tanah. Mullins berdiri di atasnya dengan

357pisaunya. “Kau banci keparat, kau mau menembakku! Benar, mahasiswa? Benar, kan? Menembak rekanmu sendiri, kau bajingan!”

Mullins kelihatan seperti binatang gila. Bibirnya miring dan bergetar. Matanya berkedip kadang terfokus kadang tidak. Butir-butir air liur bepercikan dari mulutnya.

Mullins jongkok. Ia mendorong ujung pisaunya ke leher Dave. “Tujuannya, bajingan, adalah membunuh musuh terkutuk! Semuanya. Termasuk orang-orang keparat yang membantu musuh keparat. Kau bunuh mereka, dan kau bunuh perempuan mereka, dan kau bunuh anak-anak mereka, dan kemudian sesudah mereka semua mampus, semua orang akan senang kecuali mereka yang sudah mati dan tak ada yang peduli, dan kita semua akan pulang. Itulah tujuannya, kau bangsat kecil. Kau ingat itu, ingatlah baik-baik, dan kau takkan pernah lagi menodongkan pistol ke arahku.” Ia menoleh kepada yang lain dan menggeram, “Bawa bangsat ini bersama bangsat-bangsat lainnya. Aku akan berurusan dengan mereka sesudah selesai dengan bajingan-bajingan itu.”

Ia dan anak buahnya menarik seorang wanita lain dari gerombolan penduduk desa yang sedang menangis. Mullins melirik ke arah Dave. “Yang kita perlihatkan ini pelajaran langsung, demi Tuhan, pelajaran langsung.”

Mereka mendorong perempuan itu ke bawah dan memeganginya. Ia telentang diam sementara Mullins menggorok lehernya. Pancuran darah muncrat satu hingga satu setengah meter ke udara, menyembur ke lumpur sejauh tiga atau tiga setengah meter dari




0 Response to " "

Post a Comment

Translate

English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified