Download applikasi baca novel online untuk android disini: DOWNLOAD

Niken dan Pandu

“Pelajaran kosong”. Tanyakan pada pelajar SMA manapun, kata-kata ini nilainya tinggi sekali, jauh lebih tinggi daripada “batal ulangan” sekalipun. Mungkin kata-kata yang bisa menandingi nilai “pelajaran kosong” hanyalah “dua jam pelajaran kosong”. Itulah sebabnya suasana kelas hari ini ramai sekali. Keramaian ini dimulai saat mereka mendengar bahwa guru biologi, Bu Tanti, tidak bisa mengajar hari ini karena sakit. Itu berarti, dua pelajaran penuh, dua kali 45 menit, mereka bebas dari pengawasan guru. Guru-guru yang lain sibuk mengajar. Bu Tanti memberikan tugas meringkas dua bab dari buku diktat. Tapi rasanya murid-murid tidak ada yang menganggap penting tugas itu sekarang. Yang penting sekarang adalah pelajaran kosong, dan ini harus dimanfaatkan sebaik-baiknya.

”Kalian bisa diam, tidak?” tiba-tiba saja Bu Mirna, yang sedang mengajar ekonomi di kelas sebelah, masuk ke dalam kelas. Murid-murid cepat-cepat kembali ke tempat duduknya masing-masing. Bertepatan dengan itu, Pak Yusril, kepala sekolah SMA Antonius mengetuk pintu kelas.

“Terima kasih, Bu Mirna. Saya akan jaga di kelas ini,” kata Pak Yusril.

Ada seorang laki-laki yang membuntutinya.

“Anak-anak, ini Pandu. Mulai hari ini dia akan menjadi anggota kelas 2C ini. Tolong perlakukan dia dengan baik. Pandu, ceritakan sedikit tentang dirimu sehingga teman-teman barumu bisa mengenalmu lebih baik,” kata Pak Yusril.

“Nama saya Pandu. Pandu Prasetya. Saya pindahan dari SMA Mataram di Yogyakarta. Ayah saya polisi, baru saja selesai tugasnya di Yogya, dan dipindah ke Semarang ini. Saya anak bungsu dari 5 bersaudara, kakak saya laki-laki semua. Pasti ada yang bertanya-tanya kenapa ayah saya memberi nama Pandu padahal saya anak bungsu? Kakak-kakak saya semua bernama Pandu. Jadi kalo ada yang naksir saya, mau telepon ke rumah, carinya Pandu Prasetya. Kalo nggak nanti pada bingung Pandu yang mana.” kata Pandu tanpa malu-malu dengan gaya yang ramah dan kocak

“Huh,” gersah Niken yang duduk di samping jendela, “Pe-de benar cowok satu ini. Lagaknya sok ganteng”, batinnya.

“Nik, cakep yach tu cowok,” Wulan yang duduk di sebelahnya berbisik.

“Cakep apanya, ah?”

“Bagaimana sih kamu? Perawakannya tegap, tinggi lagi. Rambutnya keren. Ketahuan lah kalau bapaknya polisi. Matanya seperti mata elang…” bisik Wulan, mulai berandai-andai.

“Seperti mata jangkrik.” sahut Niken asal-asalan.

“Niken!” panggil Pak Yusril.

“Ya Pak!” Mendengar namanya dipanggil, Niken sontak berdiri. “Aduh, jangan-jangan Pak Yusril mendengar percakapanku dengan Wulan?”

“Kamu ketua kelas, saya ingin kamu duduk dengan Pandu. Wulan, kamu pindah di samping Arya. Pandu, kamu duduk di samping Niken.”

“Baik, Pak.” sahut Wulan dan Pandu hampir bersamaan.

“Duh, sial! Kenapa pula si jangkrik itu musti duduk di sebelahku? Benar-benar sial.” gerutu Niken dalam hati sambil duduk kembali.

“Kamu beruntung sekali bisa duduk di sebelah si mata elang.” bisik Wulan sebelum berdiri.

“Kalau saja aku bisa bertukar tempat dengan kamu sekarang, aku bakal merasa sangat beruntung.” Niken balas berbisik. Dia tidak menyangka Pandu sudah berdiri di sebelahnya. Tapi dia tidak berkata apa-apa, hanya menebar senyum lalu duduk.

“Niken, tugas apa yang diberikan Bu Tanti?” tanya Pak Yusril.

“Meringkas bab 3 dan bab 4 dari buku paket, Pak.” jawab Niken.

“Bagus. Sekarang kalian duduk manis dan meringkas. Saya akan duduk di sini, menonton kalian meringkas.” kata Pak Yusril sambil duduk di depan, di kursi guru.

Anak-anak terlihat kecewa. Hilanglah harapan mereka untuk bersenang-senang selama 2 jam pelajaran. Seandainya saja bukan Pak Yusril, sedikit-banyak mereka pasti protes. Mereka sangat menghormati Pak Yusril. Bukan karena dia galak, melainkan justru karena Pak Yusril tidak pernah marah, tapi penuh wibawa. Jadi sekarang mereka terpaksa diam dan meringkas.

“Niken, aku boleh ikut lihat buku diktatnya? Aku belum punya buku itu.” tanya Pandu.

Niken berpikir sejenak, lalu menjawab, “Nih, pinjam saja. Aku sudah selesai meringkas. Kemarin malam aku nggak ada kerjaan, jadi aku sudah meringkas separuh. Pas anak-anak ramai tadi aku terusin meringkas yang separuhnya. Jadi kamu boleh pinjam, nih,” kata Niken sambil mendorongkan buku itu ke arah Pandu. Sebetulnya Niken belum selesai, kurang satu sub-bab lagi, tapi dia malas sharing satu buku dengan Pandu. Lagipula Pandu perlu mulai dari awal, sedangkan Niken sudah hampir selesai, tinggal halaman terakhir.

“Terima kasih,” kata Pandu, lalu mulai menulis.

Niken mengambil buku kecil dari tasnya, menyobek secarik kertas dari situ, lalu sibuk menulis pula.

“Kamu lantas menulis apa?” bisik Pandu.

Niken diam saja. Malas dia menjawab cowok yang satu ini.

“Niken?”

“Bukan urusanmu. Kamu meringkas saja, sana…”

“Iiih… galaknya nona ketua kelas.” kata Pandu, lalu meneruskan ringkasannya.

Diam-diam Pandu mencoba membaca yang Niken tulis. Cuma ingin tahu saja. Sekilas empat baris terbaca.

Berat memikul dunia

Malu menyandang nama

Iblis bertopeng cinta

Maut perangkap asmara

Pandu tercenung. Pandu bisa melihat gadis yang satu ini sangat berbeda dari gadis kebanyakan. Sorot matanya tajam. Dia terlihat begitu cerdas dan dapat dipastikan dia penuh percaya diri. Ketua kelas pula. Makhluk hidup dari mana pula ini? Pandu bertekad untuk mengetahui lebih banyak tentang gadis misterius yang galak tapi teramat manis ini.

Berkat kelincahannya dalam bermain basket, sebentar saja Pandu mendapat banyak teman. Cewek-cewek juga sering berlama-lama di dekat Pandu, maklum, Pandu memang ganteng dan gagah. Niken yang duduk di sebelahnya jadi enggan tinggal di kelas tiap jam istirahat. Karena tiap istirahat, mejanya pasti dikerumuni banyak cewek ceriwis dan centil. Niken lebih suka ngobrol dengan Wulan di kantin.

Di pihak lain, Pandu sudah berhasil mendapatkan banyak informasi tentang Niken. Tidak sulit untuk memperoleh keterangan sebanyak mungkin, karena hampir semua orang mengenal Niken. Niken yang manis, Niken yang galak, Niken yang pandai dan selalu menjadi juara kelas. Keterlibatannya di organisasi sekolah juga sangat besar. Boleh dibilang, Niken adalah orang nomer satu se-angkatan. Selain cerdas, Niken rupanya juga pandai bergaul. Pergaulannya cukup luas. Pantas saja semua orang mengenalnya. Dari cowok yang berkacamata tebal yang selalu menyibukkan diri di laboratorium fisika, sampai cowok gondrong yang kerjaannya tiap hari hanya menenteng-nenteng gitarnya, mereka semua kenal Niken. Kesan yang didapat dari masing-masing pun sangat baik terhadap Niken. Teman ceweknya pun banyak, bahkan cewek-cewek itu sengaja membuntuti dan meniru-niru Niken ke mana-mana. Singkat cerita, Niken itu benar-benar idola di kalangan murid-murid.

Nilai sempurna diberikannya untuk Niken, karena disamping semua kelebihan di atas, sahabat Niken yang paling dekat, Wulan, adalah anak pembantu rumah tangga. Ini cukup menarik, mengingat Niken itu anak konglomerat. Papanya yang keturunan Cina, pemegang saham cukup tinggi di Pertamina, perusahaan minyak nasional di Indonesia. Selain itu, papanya adalah direktur dari bermacam-macam perusahaan besar di berbagai tempat di Jawa. Benar-benar gadis yang beruntung. Rumahnya megah, seperti Gedung Putih. Di kawasan elite pula. Menurut anak-anak yang sudah pernah ke rumahnya, rumah Niken itu seandainya nasi goreng, komplit pake telor. Ada fasilitas gym’nya, ada kolam renang, sauna, ruang karaoke, ruang bilyar, lapangan tenis, wah, pokoknya katanya segala ada deh.

Meski sudah mengetahui banyak tentang Niken, tetap saja dia terlihat misterius. Misalnya, konon sampai sekarang ini Niken belum pernah pacaran. Ini sangat aneh, mengingat Pandu banyak mendengar pengakuan bisik-bisik dari teman-teman cowoknya, kalo mereka naksir Niken. Tak satupun dari mereka yang berhasil mengambil hatinya. Apa dia tidak doyan cowok? Rasanya koq tidak mungkin. Empat baris puisi yang sekilas dilihatnya senantiasa terbayang-bayang di ingatannya. Niken bicara tentang asmara di puisinya. Jadi dia pasti pernah jatuh cinta, Pandu menyimpulkan. Tapi dengan siapa? Di mana dia sekarang? Puisi itu sendiri begitu misterius, susah menyimpulkan begitu saja dari empat baris puisi itu.

“Aku harus berhasil mendapatkan kertas kecil itu, itu satu-satunya cara untuk mengetahui lebih banyak tentang Niken.”

*

Sepi…

Kau, mungkin telah membusuk

Tapi tidak lebih busuk

dari si busuk penyamun itu

Suci cintamu

Pedih deritamu

Berat memikul dunia

Malu menyandang nama

Iblis bertopeng cinta

Maut perangkap asmara

Kau, tinggal kenangan

Pahit kekecewaan

Memberi seribu teladan

Kau, mewangi sepanjang hari

Mekar di dalam hati

“Huh?! Tetap saja tidak mengerti.” keluh Pandu. Dia berhasil mencuri lihat buku mungil itu dari tas Niken. Dibacanya berulang kali. Tetap saja penuh misteri. Siapa yang dimaksud ‘penyamun’ itu? Siapa yang tinggal di hatinya? “Ah, benar-benar bikin penasaran cewek yang satu ini,” gumamnya, sambil meletakkan kertas itu di atas meja.

Budi, teman sekelas, sekaligus teman main basketnya, menepuk pundaknya.

“Hey, Ndu! Tumben kamu enggak dikerumuni cewek hari ini? Macam James Bond saja kamu.”

“Tadi aku bilang sama mereka, aku belum buat pe-er. Jadi mereka menyingkir.”

“Apaan nich?” tanya Budi mengambil kertas itu dari meja.

“Eh… jangan…” cegah Pandu. Tapi terlambat. Secarik kertas itu sudah berada di tangan Budi.

“Ini tulisan tangan si Niken, kan?” Budi mengenali tulisan Niken. Pandu diam saja.

“Iya niiiih… Wah Niken bisa puitis juga, yach?” kata Budi sambil tertawa. Lalu membacanya keras-keras.

Teman-teman yang lain tertarik, lalu mulai berkerumun di situ.

Budi bak seorang penyair, berdiri atas meja Niken dan mulai membaca puisinya, berulang-ulang.

Bel tanda istirahat selesai sudah berbunyi beberapa saat yang lalu, tapi anak-anak masih berkerumun di sekitar situ sambil tertawa-tawa melihat gaya Budi yang kocak.

Niken yang hendak masuk kelas cuma bisa berdiri kaku di depan pintu. Malu sekali rasanya. Dengan mata geram ditatapnya Budi lekat-lekat. Yang lain berhenti tertawa, dan bubar jalan, menyadari Niken sudah berada di situ. Budi pelan-pelan turun dari atas meja, lalu mengembalikan kertas itu pada Pandu, sambil tersenyum, “Terima kasih, kamu benar-benar ahli bikin ketawa.”

Niken tidak berkata apa-apa waktu duduk. Pandu tak sanggup menatap wajahnya. Dingin sekali tatapan matanya. Tapi dia merasa harus meminta maaf. Biar bagaimana kejadian tadi gara-gara dia.

“Sorry, Niken. Aku nggak berniat…”

“Sudah puas kamu sekarang?” serobot Niken.

Percakapan mereka terhenti karena Bu Santi, guru matematika, sudah masuk ke kelas. Pandu sempat melihat setitik air mata di sudut mata Niken. Dia menyesal sekali.

Niken, di lain pihak, cuma satu kata yang ada di otaknya sekarang. “Perang!”

*

Siang itu juga, setelah bel pulang sekolah berbunyi, Pandu berusaha menjelaskan apa yang terjadi.

“Niken, aku serius tidak memberikan kertas itu pada Budi. Sumpah! Memang aku yang mengambil kertas itu dari tasmu, tapi itu cuma untuk memuaskan rasa ingin tahuku saja. Aku memang salah, aku seharusnya mencegah Budi membaca puisi itu. Maafin aku, ya?” kata Pandu tulus.

“Kalau tujuanmu ingin mempermalukan aku, kenapa pakai menyewa Budi sebagai aktor? Kenapa nggak kamu lakukan sendiri?” jawab Niken sinis, sambil memberesi buku-bukunya dari laci.

“Sudah kubilang, aku sama sekali nggak berniat mempermalukan kamu. Aku cuma ingin baca, terus aku kembalikan lagi. Budi datang pada saat yang salah.”

“Jadi kamu menimpakan kesalahan padanya? Nol rasa tanggung jawabmu, ya? Bapakmu yang polisi pasti bangga.”

Pandu menelan ludahnya. “Maafkan aku, Niken. Aku memang salah. Aku tapi sama sekali nggak bermaksud untuk bikin kamu malu. Sumpah! Lagipula, kenapa kamu mesti marah-marah begini, sih? Puisi kamu itu bagus sekali lho… Kenapa kamu mesti malu?”

“Aku nggak butuh penilaianmu. Terserah aku dong mau marah atau bangga. Sekarang ini aku malu dan marah. Kamu mau apa?”

“Ya sudah, ya sudah… Maaf dong…”

Niken merengut. “Permisi, aku musti pulang sekarang.” katanya kemudian, karena Pandu masih duduk di sebelahnya, menghalangi jalan keluarnya. Pandu berdiri dan mempersilahkannya untuk lewat. Niken bergegas keluar menenteng tasnya.

Pandu mengejarnya. “Sudah dimaafin belum nich aku?” teriaknya.

Niken berlari menjauh, ke arah pintu gerbang luar. Malas meladeninya. Cowok sialan. Serasa ingin menangis kalo mengingat kejadian yang tadi. Benar-benar memalukan. Puisi tadi adalah ungkapan isi hatinya. Bagaimana dia tidak marah? Enak saja Pandu bilang kenapa mesti malu. Niken tidak pernah mengungkapkan emosinya pada orang-orang, jadi ini adalah pengalaman pertamanya. Ya gara-gara si mata jangkrik itu. “Suatu saat pasti aku balas!” janji Niken pada diri sendiri.

Untuk melakukan aksi balas dendamnya, Niken harus menggali lebih dalam tentang cowok yang dibencinya itu. Agak susah, karena dia anak baru pindahan dari luar kota, tidak banyak orang yang mengenalnya dengan dekat.

Berdasarkan keterangan yang diperolehnya dari anak-anak basket dan cewek-cewek yang sering mengerumuninya, Pandu yang orang Jawa asli itu tinggal di rumah kontrakan di daerah Manyaran. Jabatan ayahnya di Polri tidak begitu tinggi, jadi ibunya harus ikut menopang keluarga dengan membuka usaha jahit pakaian. Kakaknya empat orang, laki-laki semua. Tapi hanya Pandu yang masih tinggal bersama orang-tuanya. Hidupnya penuh kesederhanaan, tapi kelihatannya bahagia. Kemana-mana Pandu naik sepeda bututnya. Selain main basket, dia hobi main piano rupanya. Cuma itu keterangan yang berhasil didapatnya dalam waktu singkat. Kurang kuat untuk melancarkan aksi balas dendam. Niken harus mengetahui lebih banyak tentang pribadinya. After all, this is a personal war!

Maka dari itu, Niken mengurungkan niatnya untuk pindah tempat duduk. Dengan duduk di sebelah Pandu, semakin mudah menyusun siasat untuk balas dendam, bukan?

Tapi ke mana anak itu hari ini? Ini sudah jam tujuh kurang tiga menit. Bel pertama sudah bunyi dua menit yang lalu. 3 menit lagi pelajaran mulai. Pandu biasanya tidak pernah terlambat.

Tuh, bel sudah berbunyi lagi. Kemana dia? Mata Niken jelalatan ke luar kelas mencari sesosok Pandu.

Bu Tanti sudah masuk kelas, langsung memperingatkan murid-murid untuk menyusun buku catatannya, karena ringkasan mereka akan diperiksa. Beberapa anak panik mencari buku catatannya di dalam tas dan di laci. Beberapa lemas karena belum selesai meringkas. Yang nekad langsung antri lapor tidak membawa buku. Niken tenang-tenang saja. Ringkasannya sudah selesai dua hari yang lalu. Malah dia sudah mulai meringkas bab berikutnya.

Niken melongok ke arah luar jendela. Itu dia si mata jangkrik! Dia dihukum lari keliling lapangan tengah karena terlambat. “Hihi.. sukurin.”

“Maaf Bu, saya terlambat.” kata Pandu saat masuk kelas.

“Kamu anak baru, ya?”

“Betul, Bu. Saya Pandu.”

“Baiklah, Pandu. Silahkan duduk. Kamu sudah selesai meringkas? Bawa kemari buku catatanmu.”

“Sudah, Bu.” Pandu lalu mencari-cari buku catatan biologi dari tas kumalnya, lalu diletakkan di atas tumpukan buku di meja guru.

“Kenapa kamu terlambat?” tanya Niken, iseng.

“Bukan urusanmu.” jawab Pandu singkat.

“Iiih… galaknya. Ya sudah. Aku kan tanya baik-baik.”

“Aku musti mengantar ibu beli kain di pasar. Biasanya juga begitu sih, tapi tadi sial, ban sepedaku kena paku di tengah jalan dari rumah kemari. Makanya lama. Kamu tumben tanya-tanya?” Pandu heran. Selama ini Niken jarang buka mulut. Paling-paling cuma bilang permisi kalau mau lewat.

“Nggak boleh tanya-tanya?”

“Boleh, tapi nanti yah. Soalnya Bu Tanti meperhatikan kamu terus tuh.” bisik Pandu menunjuk ke arah depan.

Oh, baik juga dia, memperingatkan dia sebelum Bu Tanti menyemprotnya. Juga mengantar ibunya ke pasar sampai rela terlambat. Tapi itu tak cukup untuk mengurangi rasa bencinya.

“Jadi, kamu setiap hari mengantar ibumu ke pasar?” tanya Niken penuh selidik.

Ini jam istirahat, jadi dia bebas bertanya sekarang.

“Nggak. Cuma kalo ibu dapet orderan aja.”

“Pagi, Niken,” Jimmy mengagetkannya dari jendela. “Nih aku beliin sate telor dari kantin buat kamu,”

“Aku nggak lapar.” jawab Niken singkat.

“Aku punya aqua juga.” tawar Jimmy sambil mengacungkan segelas aqua.

“Enggak haus.”

Merasa kehadirannya tidak diinginkan, Jimmy pun berlalu.

“Jimmy itu anak 2A kan?” tanya Pandu hati-hati, takut kalau macan betina ini mengaum lagi seperti hari itu.

“He eh.”

“Kamu koq ketus amat sama dia?”

“Aku nggak akan ketus sama dia kalau dia tidak berniat mau pacarin aku. Dia terang-terangan bilang suka sama aku seminggu yang lalu.”

“Kenapa? Nggak suka sama dia?”

“Aku nggak ada niat untuk pacaran. Aku nggak punya waktu buat semua itu.”

“Trus, kenapa kamu mesti ketus sama dia?” Pandu masih tidak mengerti.

“Karena dia tidak mau menyerah. Kalau aku bersikap baik-baik sama dia, nanti aku dikiranya memberi angin. Blo’on bener sih kamu?”

“Oooh… Kamu nggak boleh atau nggak ingin pacaran?”

“Nggak boleh?? Maksudmu?”

“Nggak boleh sama ortu,… biasanya anak cewek kan nggak boleh pacaran sama ortunya.”

“Itu juga sih. Tapi aku memang sama sekali nggak ada keinginan untuk pacaran. Apalagi sama Jimmy.”

“Apa sih jeleknya Jimmy?” pancing Pandu.

”Okay, Pandu. Kamu benar-benar usil deh. Rasa ingin tahumu itu benar-benar segede gajah.”

Pandu ketawa. “Baiklah. Aku nggak akan tanya-tanya lagi tentang Jimmy.” lanjutnya. Pandu membesarkan hatinya, “Pelan-pelan aku pasti bisa mengerti. Sabar…”

Niken gantian bertanya, “Ganti topik. Yang agak asyik sedikit. Mmmm… Siapa tokoh idolamu?”

“Wah, pertanyaanmu seperti pertanyaan buat finalis kontestan Miss World deh.” Pandu ketawa lagi. “Okay, biasanya kalo aku bilang nama tokoh idolaku, orang-orang pasti bilang ‘Siapa?’, jadi aku bilang Ibu Teresa saja.”

“Jadi siapa sebenarnya tokoh idolamu itu? Pamela Lee Anderson?” goda Niken.

“Kamu bisa becanda juga ternyata.” Pandu terheran-heran.

Niken tersenyum. “Oh, ternyata dia manis sekali kalau tersenyum.” batin Pandu.

“Siapa dong?” desak Niken lagi.

“Sun Tzu”.

“Siapa?” kata Niken, bercanda. Tentu saja dia tau siapa Sun Tzu, karena Sun Tzu juga salah satu idolanya.

“Tuh kan…” kata Pandu lagi.

“Sun Tzu Wu, jendral Cina yang mengarang Ping Fa, seni siasat perang Cina itu? Atau kamu kenal Sun Tzu yang laen?” tanya Niken iseng.

“Jadi kamu tahu Sun Tzu?” Pandu terheran-heran.

“Kamu heran? Aku yang seharusnya lebih heran. Kamu koq bisa kenal Sun Tzu? Satu, tampang kamu enggak ada Chinesenya sama sekali. Nggak sipit seperti aku. Rasanya lebih wajar kalo aku lebih tahu tentang Sun Tzu daripada kamu.” jawab Niken geli.

“Tidak ada orang yang tahu tentang pribadi Sun Tzu, karena dia sangat misterius. Seperti yang dilukiskan dalam kutipan yang terkenal dari bukunya, ‘Bergeraklah samar sehingga kau tak kasat mata. Selimuti dirimu dengan misteri sehingga kau tak tersentuh…’” Pandu belum sempat menyelesaikan kutipannya, Niken sudah menyeletuk.

“Maka digenggamanmulah nasib lawan-lawanmu.”

“Kamu?!…” Pandu terperanjat. “Jadi kamu bener-bener tau Sun Tzu?”

“Eeeh… dibilangin… Aku juga lagi heran tentang hal yang sama. Aku sih punya bukunya, ‘The art of war’, dalam bahasa Inggris. Sudah aku lalap habis. Dari mana kamu tahu tentang dia?”

“Aku nggak sengaja pinjam bukunya di perpustakaan waktu masih SMP. Buku itu benar-benar bagus. Aku baca terjemahannya dalam bahasa Indonesia, sih. Judulnya Falsafah Perang Sun Tzu. Karena bagus sekali sampai aku fotocopy lho…” Pandu mengaku.

“Kalau kamu memang suka, besok aku bisa bawakan bukuku. Kamu boleh pinjam kalu mau. Asal kamu nggak keberatan baca buku berbahasa Inggris.”

“Wah, terima kasih sekali, Niken. Baru kali ini ada orang yang bisa menanggapi omonganku tentang Sun Tzu.”

“Sama, aku sendiri sengaja nggak pernah bilang-bilang kalo suka Sun Tzu, takut dikira licik, padahal memang iya!” jawab Niken tergelak-gelak.

Pandu melihat kilau indah di mata Niken saat Niken tertawa. Gadis ini benar-benar mempesonanya. Nilai plus lagi untuk pengetahuannya tentang Sun Tzu. Kalau dihitung-hitung, berapa nilai Niken sekarang ya? Dalam skala satu sampai sepuluh, mungkin sudah sebelas nilainya.

“Kamu sendiri, selain Sun Tzu, siapa tokoh idolamu?” gantian Pandu yang tanya.

“Ya Sun Tzu itu doang.” jawab Niken, seperti menutup-nutupi sesuatu.

Pandu mendesak, “Ayo dong, aku sudah jujur sama kamu tadi. Gantian dong…”

Niken menggeleng. Untung saja bel segera berbunyi. Pak Heri, guru bahasa Indonesia, sudah berdiri di depan pintu.

Pandu buru-buru menyobek kertas dari buku tulisnya, “Dilanjutin nanti pulang sekolah yah!”

Niken merebut kertas itu dari tangan Pandu, lalu menulis, “Nggak ada yang perlu dilanjutin.”

Pandu mengambil kertas itu kembali ke tangannya, “Please, tinggal sebentar siang ini di kelas.”

Belum sempat Niken mengambil kertas itu kembali, tiba-tiba kertas itu sudah diserobot seseorang dari belakang. dari belakang. Keduanya terperanjat. Pak Heri! Guru yang terkenal killer itu membaca yang baru saja ditulis Niken dan Pandu.

“Kalian berdua, nanti pulang sekolah tinggal di kelas selama satu jam.” kata Pak Heri, sambil membuang kertas itu ke tempat sampah.

Jam dua siang. Bel pulang sekolah baru saja berbunyi. Pak Heri sudah menunggu di depan pintu kelas 2C.

“Pak, maafkan kami.” kata Pandu memelas.

“Kamu kan yang ingin bercakap-cakap? Sekarang saya berikan kesempatan sepuas-puasnya, satu jam. Silahkan. Pintu saya tutup. Satu jam dari sekarang, cari saya di ruang guru. Awas kalo berani keluar sebelum satu jam.” jawab Pak Heri sambil menutup pintu.

“Sial!” gerutu Niken dalam hati, sambil menghentakkan kakinya ke lantai.

“Kamu! Selalu saja cari gara-gara.” tuduh Niken sambil menudingkan jarinya ke arah Pandu.

“Hey, jangan bilang begitu. Kita cuma sedang bernasib jelek. Sekarang kita enjoy saja.”

“Enjoy bagaimana? Aku baru kali ini dihukum guru. Ini gara-gara kamu.” Niken menggerutu.

“Jadi kamu murid alim ya? Ketua kelas, panutan semua orang? Kelihatannya kamu begitu sempurna.” jawab Pandu dengan nada sinis.

Niken diam saja. Dia masih jengkel. Dia ada les bahasa Inggris jam setengah 3 siang ini.

“Kamu lagi mikir apa?” tanya Pandu.

“Aku ada les jam setengah 3. Sekarang aku harus kelaparan sampai jam setengah 4 karena aku mesti les dari jam setengah 3 sampe jam setengah 4. Sudah terlambat les, masih nggak sempat makan dulu. Aku benci kamu.”

“Ya sudah… ya sudah… Aku yang salah. Oke? Sekarang pertanyaanku dijawab dong… Siapa tokoh idolamu?”

“Sudah kubilang, Sun Tzu. Seandainya saja kamu tadi percaya, ini semua nggak akan terjadi.” Niken menggerutu lagi.

“Sayang sekali aku bukan orang yang mudah ditipu. Kamu bisa menipu semua orang, tapi kamu nggak bisa nipu aku.”

“Omong kosong apa lagi nich?”

“Baiklah kalo kamu memang nggak mau jawab. Aku tanya yang laen. Kamu bilang kamu nggak mau pacaran, tapi kamu menyebut-nyebut tentang asmara di puisi kamu. Apa maksudmu? Berarti kamu pernah jatuh cinta dong?”

“Sok tau kamu. Sekadar informasi, orang tidak perlu mengalami untuk menyelami perasaan. Belajar dari pengalaman orang lain itu terkadang lebih baik daripada harus mengalami sendiri.”

“Jadi bukan kamu yang jatuh di perangkap cinta?” tanya Pandu, masih penasaran.

“Bukan.”

“Lalu siapa dong?”

“Aku nggak suka kamu tanya-tanya melulu. Aku nggak akan jawab.” kata Niken ketus.

“Jadi ini yang kamu dapat setelah baca falsafah perang Sun Tzu? Sok misterius.” sindir Pandu.

Niken diam saja. Dia seperti ingin berpegang teguh pada prinsipnya, untuk tidak membuka dirinya, terutama pada orang asing.

Berlama-lama mereka mengacuhkan satu sama lain. Pandu sendiri sudah tidak bersemangat lagi untuk mengorek keterangan lebih lanjut. Gadis yang satu ini benar-benar susah dimengerti.

Lama sekali menunggu satu jam usai. Ini bahkan baru lewat sepuluh menit.

Pandu mengambil walkman dari tasnya, lalu mulai memutar kasetnya sambil manggut-manggut.

“Lagu apa sih?” tanya Niken, memecah kesunyian.

Pandu tidak mendengarnya, karena volume walkmannya yang keras.

Niken lalu menyenggol kakinya. Pandu melepas salah satu ear piece-nya.

“Ada apa lagi?” tanya Pandu.

“Lagu apa?”

“Ini? Kamu gak bakal suka lah. Ini Metallica, Enter Sandman” kata Pandu.

“Aku boleh ikut dengerin?” tanya Niken.

Heran, tapi dengan sopan Pandu memberikan ear piece yang dipegangnya ke Niken.

Niken ikut menyanyi…

Something’s wrong, shut the light

Heavy thoughts tonight and they aren’t of snow white

Dreams of war, dreams of liars, dreams of dragon’s fire

And of things that will bite

Sleep with one eye open, gripping your pillow tight…

“Heh? Kamu tahu juga lagu ini?” Pandu tak percaya. Setiap tingkah gadis ini benar-benar membuat dia surprise.

Niken pura-pura tak mendengar yang barusan Pandu bilang. Dia asyik dengan lagunya.

“Hey? Kamu suka Metallica juga?” tanya Pandu lagi, kali ini lebih keras, memastikan Niken mendengarnya.

“Kamu akhir-akhir ini sering tanya-tanya ke orang-orang tentang aku kan? Masa’ belum dengar kalo aku itu satu-satunya cewek anggota rock band kampus? Kita sering manggung di acara-acara radio.”

Pandu meringis. “Ketahuan deh. Darimana Niken bisa tahu kalau Pandu belakangan ini menyelediki latar belakangnya? Pasti Wulan yang melapor saat Pandu tanya-tanya tentang Niken beberapa waktu yang lalu.” kutuknya dalam hati.

“Nggak tuh. Nggak ada yang bilang. Kamu anggota rock band?” Pandu semakin tak percaya. Apa sih yang tidak disukai gadis ini?

Niken mengangguk. Dari tadi dia memang sudah mengangguk-angguk mengikuti irama lagu rock itu.

“Aku boleh ikut main band?” tanya Pandu. “Aku bisa main key board, kalau kalian masih butuh pemain. Tapi aku nggak punya key board. Aku cuma punya piano usang di rumah.”

“Eh, kebetulan kita memang sedang seleksi anggota baru, karena sebagian anggota band sudah kelas tiga, mereka ingin lebih banyak konsentrasi ke pelajaran. Termasuk Ronny, pemain keyboard kita. Kalo kamu emang suka musik rock, kamu boleh ikut seleksi” kata Niken menawarkan dengan gaya profesionalnya.

“Kapan seleksinya?”

“Rencananya sih minggu depan, hari Selasa abis pulang sekolah.”

“Aku pasti datang. Kamu pegang instrumen apa sih?” tanya Pandu. Kali ini dia sudah siap mental dengan apapun jawaban Niken. Dia tak bakal kaget kalau jawabannya ‘bass gitar’ sekalipun.

“Drummer. Merangkap backing vocal dan kadang-kadang solo. Tergantung lagunya.”

Tuh, kan, benar… harus siap mental. Niken bisa nge-drum juga!

“Kamu bisa main musik? Maksudku selain drum.” tanya Pandu lagi. Mengorek keterangan lebih lanjut tak ada salahnya, kan?

“Aku bisa main piano, gitar, harmonica, saxophone, trompet.” Nah lho… bisa mati terkejut kalau nggak siap mental.

“Wah, Nik, jadi kamu bisa main band seorangan dong? Kamu bisa main bass gitar, melodi gitar, ngedrum, main keyboard, dan vocalist. Bikin solo-band saja, lah.” goda Pandu.

“Hey, baru kali ini kamu panggil aku Nik.” kata Niken. “Cuma Wulan yang panggil aku Nik.”

“Mama papa kamu manggil apa?”

Niken diam sejenak, lalu menjawab, “Niken, dong.”

“Bohong. Kamu kenapa sih mesti bohong sama aku?” tanya Pandu. Dia ahli mencium kebohongan, rupanya.

“Aku dipanggil Fei Fei di rumah.” Niken mengaku.

Pandu tersenyum. Puas dia bisa mengetahui sedikit rahasia Niken.

“Koq Fei Fei?” tanya Pandu.

“Namaku Niken Tjakrawibawa. Alias Tjan Siang Fei. Awas kamu kalo sampe ada yang tahu tentang ini. Aku harus bunuh kamu.”

“Tenang aja. Swear. Aku boleh panggil kamu Fei dong?” tanya Pandu nakal.

“Nggak. Yang lain bakal curiga dong.”

“Baiklah, kalau sendirian, aku boleh panggil Fei?” tawar Pandu.

Setelah berpikir sebentar, Niken mengangguk.

“Kamu sendiri? Kamu waktu itu bilang serumah namanya Pandu semua. Nggak kreatif yah ayahmu?”

“Bukan begitu. Emang sudah turun-temurun begitu. Ayahku juga Pandu. Kakekku pun juga Pandu. Pandu laen-laen. Aku Pandu Prasetya. Mereka kalo di rumah panggil aku Pras. Tapi di luaran namaku Pandu. Kakak-kakakku juga begitu semua.”

“Oh… Enak dong punya kakak cowok semua.” kata Niken, mengambang.

“Kata ‘enak’ rasanya terlalu rendah untuk menggambarkan betapa enaknya. Kita kompak, lima bersaudara. Ngirit, juga. Bajuku ya hampir semua baju lungsuran kakak-kakakku. Aku nggak keberatan. Masih bagus-bagus, koq. Tapi mereka di luar kota semua sekarang. Tiga di Yogya, sudah menikah. Satu masih kuliah di Jakarta. Kamu sendiri, punya saudara? Sori, aku belum sempat mendapat keterangan tentang kakak atau adikmu. Researchku belum selesai.” kata Pandu tersenyum.

“Aku punya seorang kakak perempuan. Dulu… Sekarang sudah meninggal.” kata Niken menerawang.

“Oh… sori… aku tidak bermaksud…”

“Nggak papa… Wajar kalo kamu tanya koq.”

Mereka terdiam sesaat. Tak tahu harus berkata apa.

“Kenapa kakakmu meninggal? Kecelakaan?” tanya Pandu. Dia benar-benar cocok jadi detektif. Pertanyaannya mendetail.

Niken diam saja. Mendadak kepalanya jadi pusing, ia lalu memijit-mijit pelipisnya.

“Pusing?” tanya Pandu.

“Iya.” jawab Niken singkat.

“Kamu pasti lapar. Sorry yah gara-gara aku, kamu ikut dihukum Pak Heri.” kata Pandu penuh penyesalan.

“Nggak papa. Kamu juga belum makan. Sama kan? Jadi kamu nggak layak mengasihani aku. Soal kakakku…”

“Sudahlah,” cegah Pandu. “Nanti kamu tambah pusing.”

“Dia meninggal bunuh diri.” lanjut Niken.

Pandu terdiam. Sekarang ada titik terang. Berarti puisi Niken itu…

Seolah tahu yang dipikirkan Pandu, Niken melanjutkan, “Puisiku, itu tentang cici ku. Dia meninggal tiga tahun yang lalu, saat aku masih kelas 2 SMP. Dia masih kelas 2 SMA waktu itu, seumur aku sekarang. Dia pacaran sama anak pejabat. Sombong sekali tu anak. Aku benci sama dia. Aku masih ingat, hari-hari terakhir sebelum kakak meninggal, dia menangis terus di kamar. Tiap aku dekati selalu marah-marah. Baru setelah dia meninggal aku baru tahu, ternyata dia hamil, dan cowok bangsat itu tidak mau mengakui perbuatannya. Sejak itu aku berjanji tidak akan jatuh cinta, nggak akan pacaran. Papa malah punya ide bagus. Dia bilang, kalau sudah saatnya aku menikah nanti, dia akan mencarikan jodoh untukku. Aku setuju saja. Itu lebih baik daripada pacaran.”

Kali ini Pandu betul-betul terperanjat. Benar-benar kaget. Ear piece yang di telinga kirinya dilepas. Walkmannya dimatiin. Ini kasus berat, pikirnya.

“Kamu tau, nggak semua cowok itu jahat.” Tidak ada yang bisa dia bilang kecuali itu.

“Aku nggak percaya itu. Kak Tasya bukan cewek yang nakal. Jadi dia pasti benar-benar jatuh cinta, sampai seperti itu. Aku nggak mau jadi seperti dia. Karena itu aku menghindar setiap ada cowok yang suka sama aku. Jimmy misalnya. Untunglah aku sendiri juga bukan orang yang mudah jatuh cinta. Jadi aku nggak tersiksa, sama sekali.”

“Oke lah kalo kamu memang bahagia seperti ini. Aku sendiri nggak bisa memberikan pendapat tentang cinta. Semua kakak-kakakku menikah atas dasar cinta. Aku sih ingin seperti mereka. Tapi aku sendiri belum pernah jatuh cinta. Belum pernah pacaran. Jadi aku nggak bisa memberikan nasehat.” kata Pandu jujur.

“Kamu belum pernah pacaran?!” tanya Niken tidak percaya.

“Kenapa? Apa susah dipercaya?”

“Tentu saja. Kamu tau berapa biji cewek yang nempel kamu kayak perangko? Lebih dari sepuluh. Itu yang jelas-jelas nekad. Yang nggak nekad tapi menyimpan hasrat pun banyak. Aku yakin di Yogya kamu pasti juga punya banyak penggemar.”

“Ya memang tuh. Nggak tau kenapa bisa begitu. Kata Ibu itu kutukan.” kata Pandu sambil ketawa lepas. “Kakak-kakakku juga mengalami kutukan yang sama. Tapi Ibu selalu wanti-wanti, cinta itu nggak boleh dibuat mainan. Kamu harus bener-bener yakin, baru boleh pacaran. Berhubung aku belum pernah merasa cocok sama satupun dari mereka, yah, aku nggak pernah pacaran.”

Niken manggut-manggut.

“Ada kutukan lain di keluarga Pandu. Masing-masing kakakku punya cita-cita menikah dengan wanita kaya, untuk mengangkat derajat keluarga. Nggak serius tentu, itu muncul kalo pas lagi waktu bercandaan aja. Ibu yang mewejangi untuk menomersatukan cinta, diatas segalanya. Kekayaan itu tidak menjamin kebahagiaan. Walhasil, kakak-kakakku yang sudah menikah ya menikah dengan gadis biasa-biasa saja. Walaupun mereka dikelilingi gadis-gadis cantik waktu bujangan, gadis yang dinikahi pada akhirnya nggak terlalu cantik. Tapi kakak-kakak iparku itu luar biasa baek dan sabar.”

“Jadi seperti apa sih cewek yang kamu idam-idamkan?”

“Yang seperti ibuku. Sederhana, sabar, bijaksana… ngg… nggak tau ah, Fei! Nanti kalo aku udah nemu pasti aku kasih tahu.” kata Pandu malu.

“Aku sih nggak punya tipe cowok idaman. Rasanya itu bakal ditentuin Papa.” kata Niken.

“Aku masih nggak percaya cewek mandiri dan terpelajar seperti kamu masih percaya perjodohan.” sahut Pandu terlihat kecewa. “Tapi aku hargai pendirianmu. Aku ingin berteman denganmu, kalau boleh.”

“Kita cocok omong-omongan. Aku merasa klop terutama setelah ngomongin Sun Tzu tadi.” kata Niken tersenyum.

“Tapi… terus terang saja aku masih dendam sama kamu karena kejadian puisiku waktu itu.” lanjutnya.

“Aku udah minta maaf. Kamu mau apa lagi?”

Niken berpikir keras. Lalu tersenyum licik. Niken membisikkan sesuatu ke telinga Pandu.

Pandu menggeleng-gelengkan kepalanya.

Niken mengangguk-angguk. Pandu menggeleng-gelengkan kepalanya lagi tanda tidak setuju.

“Ayolah,” kata Niken. “Kamu harus buktikan kalo kamu memang serius dan tulus ingin berteman denganku. Nggak mudah mendapat kepercayaan dariku.”

“Baiklah, kalau itu memang harga yang harus aku tebus. Tapi kita berteman mulai saat ini? Tak ada lagi dendam?” tanya Pandu akhirnya.

“Janji.” sahut Niken mantap.

Pagi itu, Niken spesial angkut-angkut podium dan microphone ke lapangan tengah. Anak-anak sound system diam saja. Niken kalau sudah ada maunya memang nggak ada yang bisa mencegah. Semua anak berkumpul di lapangan tengah, sambil bertanya-tanya satu sama lain, apa hari ini ada upacara mendadak. Ada apa pula ini? Termasuk guru-guru tidak ada yang tahu. Mereka semua berkumpul di lapangan, seperti prajurit menunggu komando dari jendral.

Tiba-tiba Pandu muncul dari kerumunan, menuju ke arah podium.

“Test, test… 1, 2, 3.” katanya sambil mengetuk-ngetuk microphone di hadapannya.

“Guru-guru dan rekan-rekan sekalian,” lanjutnya, “Yang belum kenal saya, nama saya Pandu Prasetya, dari kelas 2C. Saya ingin membacakan sesuatu yang penting. Buat yang merasa, yah dihayati saja.”

Yayangku,…

Paras wajahmu, gerak-gerikmu, selalu terbayang di mataku.

Kamu membuat aku gelisah tiap malam, tidak bisa tidur. Aku jadi nggak doyan makan gara-gara mikirin kamu.

Yayangku yang manis, aku cinta kamu. Aku tidak akan pernah berhenti mencintaimu.

Aku nggak tau mesti gimana kalo aku nggak lihat wajahmu barang sehari saja.

Kau begitu lincah, senyummu begitu menggoda.

Suaramu, indah bagaikan tiupan angin malam.

Akan aku lakukan apa saja untuk mendapatkan cintamu.

Jangan buat aku patah hati. Terimalah segala rasa cintaku.

Yang sangat mencintaimu, selamanya.

Pandu.

Semua tertawa. Terutama anak-anak cowok. Sinting benar ini anak menyatakan cinta di depan umum, tak tahu malu. Walaupun ketawa-ketiwi, harus diakui, gadis-gadis yang berkumpul di situ, termasuk guru-guru wanita, sangat mengharapkan surat itu ditujukan untuk salah satu diantara mereka. Niken ketawa di ujung koridor. Cuma dia yang tahu bahwa surat itu sesungguhnya ditujukan untuk anjing mungil Pandu yang memang bernama Yayang. Walaupun malu setengah mati, Pandu merasa lega. Hari ini dia sudah berdamai dengan gadis yang bakal jadi teman sejatinya. Dia yakin itu.

Berminggu-minggu Pandu mendapat ledekan dari teman-temannya gara-gara proklamasi cintanya itu. Cewek-cewekpun banyak yang nggodain, bertanya-tanya, apakah surat itu ditujukan untuk mereka. Niken puas sekali dengan aksi balas dendamnya. Beberapa gadis jadi mundur teratur, merasa Pandu sudah memilih salah seorang dari mereka. Namun beberapa justru tambah getol mendekati Pandu, termasuk Ratna, cewek cantik dari kelas 1D. Banyak cowok yang mengejarnya, tapi kelihatannya Ratna lebih memilih untuk mendapatkan Pandu. Banyak yang meramalkan, pasangan Pandu-Ratna kalau benar-benar jadi bakal bikin sensasi. Cowoknya cakep, ceweknya cantik kayak bidadari. ‘Princess’, demikian julukan yang diberikan oleh teman-temannya.

Sementara itu, nama besar Pandu jadi semakin melejit – walaupun melejitnya diawali dengan tragedi proklamasi cinta, tapi semakin menjadi-jadi setelah Pandu lolos seleksi menjadi anggota band di mana Niken juga bergabung. Penggemarnya jadi bertambah banyak. Termasuk cewek-cewek dari SMA-SMA lain, karena band mereka sering manggung di acara-acara yang diselenggarakan oleh stasiun radio. Seperti hari ini, mereka manggung di pelataran Universitas Diponegoro, sebagai bagian dari acara unjuk band yang diadakan oleh Boss FM. Mereka melakukan tour band ini karena hobi dan untuk cari pengalaman saja. Mumpung masih muda ini.

Tinggal satu jam lagi sebelum mereka manggung. Aneh, Niken belum datang. Anak-anak pada gelisah. Mereka tidak bisa tampil tanpa drummer. Apalagi hari ini Niken bakal jadi vocalist utama di salah satu lagu mereka. Hendro, yang pegang melodi gitar, sekaligus penanggung jawab band, berusaha mengontak Niken ke nomer rumahnya, tapi dijawab tidak ada di rumah. Kemana pula anak satu ini?

Mendengar Hendro ribut-ribut mencari Niken, Pandu diam-diam menghilang. Lho? Dia berusaha mencari telepon umum. Dia tahu nomer telepon yang ada di kamar Niken. Niken yang kasih. Tapi dia sudah disumpah untuk tidak memberitahukan nomer itu ke siapapun. Cuma Wulan dan Pandu yang tahu.

“Fei?”

“Pandu, aku sudah tunggu-tunggu telfon kamu dari tadi. Aku nggak bisa keluar. Mama curiga kalau aku mau pergi main band. Aku sudah dilarang dari dulu-dulu, tapi tetep aja nekad. Mama tahu dari Jimmy, sialan bener tu anak pake acara lapor-lapor ke mama segala. Kunci mobilku disita, ada di kamar mama nih. Kamu bisa jemput aku?” Niken sepertinya lega sekali mendengar Pandu meneleponnya.

“Jemput kamu? Jemput pake apa?” Pandu bingung.

“Kamu kan punya sepeda. Tolong dong, aku nggak enak sama yang laen. Aku kepengen banget manggung hari ini.” desak Niken.

“Gimana caranya kamu keluar?”

“Ngg… aku bisa keluar lewat jendela. Tepat seperempat jam lagi, aku tunggu kamu di ujung jalan Merdeka, tau kan? Yang ada warung baksonya? Aku bakal ada di sekitar situ. Makanya kamu cepetan jalan sekarang.”

“Oke deh. Kamu hati-hati yah…”

Jantung Niken berdebar keras. Belum pernah dia mau melarikan diri dari rumah seperti ini. Pelan-pelan dibukanya jendela kamarnya yang menuju ke arah luar. Dengan berhati-hati, kakinya satu per satu keluar dari jendela. “Huh,” gerutunya. “Mau main band saja susah amat!”

Dia tidak bisa keluar lewat pintu gerbang, karena satpam selalu jaga di pintu depan, dia bakal ketahuan, dong. Niken harus melompat pagar samping.

“Tinggi juga, oi…” katanya dalam hati. Setelah berdoa singkat komat-kamit, Niken mulai memanjat pagar yang tingginya dua kali lipat tingi badannya itu.

“Sukses!” serunya dalam hati waktu melompat di atas kedua kakinya di tanah lagi. Lari, Niken! Lari!

Belum sampai di ujung jalan, Niken sudah bisa melihat Pandu duduk di atas sepedanya. Lega sekali dia melihat Pandu hari ini.

Pandu mengayuh sepedanya ke arah Niken. Niken langsung melompat ke atas boncengannya waktu Pandu mendekat.

“Kita nggak punya banyak waktu. Ayo.” ajak Niken.

“Kamu nggak pernah bilang kalo kamu nggak diijinin nge-band sama ortu kamu?” tanya Pandu heran.

“Wah, dari awal aku memang nggak bilang kalo aku ikut nge-band. Mereka bisa bunuh diri kalo tau aku sudah setahun nge-band.” jawab Niken, masih terengah-engah.

“Lantas, kenapa kamu nekad?”

“Entahlah. Mungkin karena kutukan. Boleh dibilang aku sebenarnya tipe pemberontak. Aku benar-benar bisa enjoy dan lepas saat main band. Nggak salah, kan? Nggak ngerti deh, kenapa mereka larang-larang aku begitu. Aku tahu mana yang benar, mana yang salah. Menurutku, main band bukan hal yang jelek. Makanya aku tetap lakukan walaupun tahu mereka bakal marah besar.”

“Kamu kelihatannya diproteksi ketat sama mama-papa kamu ya?”

“Ya. Tapi sebenarnya papa-mama nggak ada di rumah tadi. Tapi rumah dijaga ketat. Persis seperti penjara. Mama pergi sama temannya, nggak tau ke mana, setengah jam yang lalu dia berangkat. Papa sih memang selalu pergi ke luar kota, ngurus bisnis.”

“Kamu tau kan kalo kamu boleh telfon aku kapan aja kalo kamu kesepian?” tanya Pandu memastikan.

“Tahu, tahu… Cepetan ah, jangan sama ngobrol melulu. Nggak sampai-sampai nanti.”

“Kalo gitu, pegangan yang erat. Aku mau ngebut.” kata Pandu seraya mengayuh sepedanya lebih kencang.

Niken pegangan di besi boncengan sepeda Pandu. Tapi tetap berasa mau jatuh. Saat benar-benar mau jatuh, Niken meraih pinggang Pandu, dan memegangnya erat-erat.

Pandu yang duduk di sadel cuma senyum-senyum saja.

“Belum pernah bonceng sepeda yah?” tanya Pandu geli.

“Belum. Aku bisa naik sepeda, tapi belum pernah bonceng. Apalagi bonceng orang usil seperti kamu.”

“Aku sudah bilang tadi, pegangan yang erat. Kamu malah nggak pegangan koq. Salah sendiri.”

“Aku nggak tahu kalau maksud kamu pegangan itu pegangan pinggang kamu.” bela Niken.

“Mau pegang apa lagi selain pinggangku?” tanya Pandu tambah geli.

Niken diam saja. Dia sudah cukup malu dengan memegang pinggang Pandu. Tapi dengan begitu dia merasa nyaman sekarang, tidak berasa mau jatuh lagi.

“Kamu udah sering boncengin cewek yah?” tanya Niken penuh selidik.

“Sering sekali.” kata Pandu ketawa.

“Siapa aja?” tanya Niken.

“Ibuku.”

Niken bermaksud menjitak kepala Pandu, kalau saja ia tak berasa mau jatuh lagi karena lepas satu tangan dari pinggang Pandu. Buru-buru didekapnya lagi pinggang Pandu erat-erat. “Sialan kamu Pandu!” teriaknya.

*

Acara band tadi berlangsung dengan sukses. Mbak Merlina, salah satu penyiar radio Boss FM yang sudah lama Niken kenal yang bilang. Hari ini mereka luber pengunjung, band yang bersedia tampil juga banyak. Tiga jam mendengarkan musik rock benar-benar memuaskan hati. Sekarang ini masalah yang ada buat Niken tinggal bagaimana caranya pulang. Pasti orang rumah sudah pada menyadari bahwa Niken raib dari rumah. Mereka pasti juga sudah lapor ke Mama. Bukan tidak mungkin mama sekarang ada di kamarnya, menunggunya pulang dengan penuh amarah.

“Nik, apa kamu bakal nggak nge-band lagi setelah ini?” tanya Pandu.

“Nggak dong. Aku cuma harus ekstra hati-hati mulai dari sekarang. Masalahnya sekarang aku harus pulang.”

“Aku nggak masalah mengantar kamu pulang, Niken” kata Pandu menjelaskan. “Tapi kamu mesti siap mental dimarahin. Walaupun seharusnya kamu sudah siap mental dari waktu minggat tadi.”

“Iya. Kayaknya nggak ada jalan lain.” kata Niken masih berusaha berpikir keras.

“Aku punya akal!” kata Niken tiba-tiba. “Antarkan aku pulang.” katanya seraya memegangi boncengan sepeda Pandu, siap-siap untuk naik.

“Baiklah,” kata Pandu. “Apa rencanamu?” katanya sambil mulai mengayuh sepedanya.

“Mereka nggak mungkin mencari di seluruh pelosok rumah. Aku akan ke rumah tetangga sebelah, aku kenal baik sama mereka. Mereka baik sekali. Dari tetangga sebelah, aku bisa panjat ke atap rumahku. Dari atap, aku bisa turun lewat tangga belakang. Kalau ditanya dari mana, aku jawab, dari atap. Merenung, cari inspirasi buat bikin puisi. Mereka pasti percaya, deh.”

“Kamu memang gila, Fei!”

“Niken, ini buku catatan sejarahmu yang aku pinjam…” kata Jimmy dari luar jendela, sambil menyodorkan buku catatan Niken. Setelah Niken menerimanya, Jimmy cepat-cepat pergi.

“Aneh. Baru kali ini dia nggak berusaha berlama-lama di dekatmu, Niken. Kamu nggak merasa aneh?” tanya Wulan. Pandu mengiyakan.

“Pasti ada apa-apanya,” kata Pandu. “Coba dilihat bukumu.”

Niken membuka bukunya. Tidak ada apa-apa. Aman-aman saja. Eh… tunggu… ada amplop biru yang diselipkan di sampul mikanya.

“Nah… betul kan sangkaanku?” kata Pandu berbangga hati.

Masih bingung, Niken membuka amplop kecil itu. Ada secarik kertas di dalamnya. Dibuka dan dibacanya pelan-pelan.

Niken, kamu cantik sekali hari ini.

“Apa katanya?” tanya Wulan tidak sabar.

“Cuma sebaris” kata Niken sambil menunjukkan isi surat itu kepada Wulan. Pandu ikut mengintip. Ditatapnya wajah Niken dengan serius dan seksama.

“Apa-apaan kamu, Ndu?” tanya Niken jengah.

“Memastikan si Jimmy bener apa salah. Aku lihat hari ini kamu biasa-biasa saja. Sama seperti kemarin. Wajah manis, rambut dikuncir satu, rapi di belakang, dengan pita kuning. Baju kamu juga biasa aja. Wah, sepertinya dia salah tuh…” kata Pandu bercanda.

“Dasar mata jangkrik!” kata Niken menggerutu.

“Mata jangkrik?” tanya Pandu bingung.

Wulan tertawa terbahak-bahak. Pandu tambah bingung.

“Siapa mata jangkrik? Aku?” tanya Pandu.

“Nggak merasa tho?” tanya Niken acuh.

“Seperti apa sih mata jangkrik itu?” tanya Pandu.

“Seperti yang kamu punya!” kata Niken sambil menjitak kepala Pandu.

“Kamu masih marah sama Jimmy, Nik?” tanya Pandu kemudian, sambil mengusap-usap kepalanya yang sebetulnya tidak begitu sakit itu.

“Nggak koq. Mama bilang, aku nggak boleh marah sama dia, karena ada kemungkinan, kemungkinan besar malah, papa berniat menjodohkan aku dengan Jimmy. Jimmy itu anak salah satu partner bisnis papa.”

Pandu terkejut. Wulan juga.

“Kamu suka sama Jimmy, Nik?” tanya Wulan.

Niken mengangkat bahu. “Nggak tau. Kata mama, aku musti mendekatkan diri padanya. Nggak harus pacaran, cuma mengenalnya lebih dekat. Biar bagaimana dia bakal jadi calon suamiku.”

Pandu cuma bisa menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Pandu,” Percakapan mereka terhenti karena sapaan dari luar jendela. Semua menoleh. Ratna rupanya.

“Aku boleh minta tolong sama kamu, Ndu?” tanya Ratna dengan nada super-manjanya.

“Kalo aku memang bisa bantu, aku pasti bantu.” jawab Pandu ramah.

“Tolong ajari aku kalkulus dong, aku sama sekali nggak ngerti. Besok Kamis ada ulangan matematika kalkulus.”

“Boleh,” kata Pandu yang memang jago matematika. “Di mana?”

“Aku bisa datang ke rumahmu, supaya kamu nggak usah susah-susah ke rumahku. Sore ini bagaimana?”

“Baiklah. Jam tiga?”

“Oke. Sampai ketemu nanti sore.” kata Ratna centil, sambil berlalu.

“Ndu, ini sudah ketiga kalinya aku dengar Ratna minta tolong tentang kalkulus. Memangnya dia benar-benar bodoh?” tanya Niken.

“Dia memang selalu begitu kalau mau ulangan. Jadi lupa semua, harus diulang kembali. Setiap ada bahan baru juga begitu.” kata Pandu menjelaskan.

“Cantik-cantik tapi bodoh…” kata Wulan geli.

“Kalo aku bilang, dia nggak bodoh koq. Aku pernah ambil dia di panitia acara seminarku. Dia cukup berpotensi. Otaknya jalan. Feelingku sih ini cuma cara dia untuk mengambil hatimu aja Ndu.” kata Niken.

“Apapun alasannya, aku cuma berbaik hati menolong dia. Aku nggak ada maksud-maksud lain.” kata Pandu tegas.

“Aku tau kamu nggak ada maksud-maksud lain. Siapa yang nuduh? Aku bilang, dia yang punya maksud terselubung.” kata Niken.

Pandu hanya diam saja. Kata-kata Niken masuk akal. Tapi dia tidak mungkin menolak menolong teman. “Kata Bapak, kalau kita punya kelebihan, kita harus menggunakan kelebihan itu untuk menolong sesama.” demikian kata Pandu kemudian.

Hari masih pagi. Pandu bersiul-siul sambil mengayuh sepedanya dengan riang melintasi pintu gerbang timur sekolah. Melihat Wulan berdiri di pintu gerbang, dia mengerem sepedanya.

Wulan setengah berlari ke arah Pandu.

“Ada apa Wulan?”

“Niken. Dia meneleponku tadi malam. Katanya mulai hari ini dia bakal diantar-jemput Jimmy. Setiap hari. Termasuk ke kegiatan-kegiatan sekolah. Termasuk latihan band katanya.”

“Bukannya papa-mama Niken nggak setuju dia nge-band?” tanya Pandu heran.

“Iya. Tapi sekarang mereka mengijinkan dengan syarat Jimmy harus ikut kemana pun Niken pergi.”

“Oooh…” desah Pandu. “Niken yang malang. Seandainya saja aku bisa menolongnya.”

“Salah. Aku juga tadinya berpendapat begitu. Niken ternyata sama sekali nggak ingin aku membantunya. Dia menuruti keinginan ortu-nya itu dengan senang hati. Aku berkali-kali tanya, apa dia suka sama Jimmy. Jawabnya selalu nggak.”

Pandu menimpali, “Aku nggak ngerti gimana cewek sepandai Niken bisa jadi bodoh sekali dalam masalah seperti ini. Seakan-akan dia sama sekali tidak ingin mengenal dan merasakan apa itu cinta. Aku sendiri memang belum pernah, tapi aku ingin sekali mengenal dan merasakan apa itu cinta.”

“Ndu, aku memberitahumu, cuma sekedar memperingatkan, jangan sekali-sekali kamu menentang atau mempermasalahkan hal ini di depan Niken. Aku sudah mencoba semalaman kemarin meyakinkan dia, buntut-buntutnya dia malah marah-marah. Ya sudah, aku akhirnya menyerah.”

“Baiklah. Kita harus dukung Niken. Walaupun aku masih tetap merasa keyakinan Niken ini perlu diluruskan. Kalau dia memang bahagia seperti itu, yah kita mau nggak mau sebagai temannya harus dukung dia, kan?”

“Itu dia mobil Jimmy, Ndu.” kata Wulan sambil menunjuk ke arah luar gerbang.

Benar saja, Niken ikut turun dari mobil itu setelah diparkir tidak jauh dari gerbang timur itu.

Melihat kedua temannya ngumpul di dekat situ, Niken berlari kecil ke arah mereka.

“Hallo friends…” sapa Niken.

“Punya bodyguard baru kamu yah?” Pandu meledek.

“Mama yang suruh. Mama bilang, Jimmy bisa dipercaya. Perjanjiannya, aku tetep nggak mau pacaran. Cuma aku harus mau membiasakan diri dengan Jimmy.”

“Jadi kamu sudah pasti akan kawin sama Jimmy?” tanya Pandu.

Niken mengangguk pelan.

Pandu berkata lagi, “Aku masih nggak mengerti…”

Wulan langsung menyeletuk, mengingatkan pembicaraan mereka barusan, “Pandu…”

“Nggak papa, Ndu, kamu mau ngomong apa?” tanya Niken.

“Aku nggak mengerti. Kamu udah pasti kawin sama Jimmy, tapi kamu nggak mau pacaran sama dia. Apa maksudmu?”

“Aku nggak cinta sama dia. Kenapa mesti pacaran sama dia? Karena pada akhirnya aku bakal kawin sama Jimmy, aku harus mulai membiasakan diri sama dia. Kawin kan gak harus saling mencintai.”

Pandu baru saja mau bilang, “Harus, dong!”, tapi Wulan sudah duluan menonjok perut Pandu dengan sikunya.

“Sudah bikin pe-er Pak Heri, Nik?” tanya Wulan mengalihkan bahan pembicaraan.

“Pe-er yang mana?” tanya Niken.

“Bikin essay tentang biografi seorang pahlawan?” Pandu mengingatkan.

“Aduh! Iya! Aku lupa. Mati aku. Koq bisa pikun begini sih? Gimana nich?” kata Niken panik.

“Tenang, tenang, Nik…” kata Pandu. “Pelajaran bahasa masih jam ke lima. Kamu masih ada waktu untuk bikin essay itu.”

“Dapat biografi pahlawan-nya dari mana dong?” kata Niken hampir putus asa.

“Begini saja deh. Aku kebetulan punya ide lain untuk bikin essay. Kamu boleh menyalin essayku, aku buat baru lagi dengan tokoh yang lain.” kata Pandu menyarankan.

“Kamu baek sekali, Ndu! Kebetulan gaya nulis kamu sama Niken hampir sama. Pasti tidak akan ketahuan. Ide bagus tuh, Nik” kata Wulan.

“Aku nggak enak, Ndu. Kamu musti nulis ulang lagi,” kata Niken.

“Ide sudah ada di kepala. Sementara kamu nyalin essayku, essay baruku pasti sudah selesai.” kata Pandu mantap.

“Tunggu apa lagi?” tanya Wulan. “Mumpung belum bel masuk nih, cepetan gih, bikin!”

“Pandu Prasetya, kemari!” panggil Pak Heri dengan nada galak.

“Saya, Pak.” jawab Pandu sambil melangkahkan kaki menuju ke depan kelas.

“Aku suruh kamu mengarang tentang pahlawan, kenapa kamu mengarang tentang ibumu?” bentak Pak Heri.

Niken menggigit bibirnya. Dia merasa bersalah sekali sudah mengambil essay Pangeran Diponegoro-nya Pandu. Sudah terlambat sekarang. Tapi mengapa Pandu terlihat tenang-tenang saja?

“Bapak nggak bilang kan, pahlawan-nya harus sudah mati apa masih hidup. Ibu itu pahlawan saya. Kalau bapak baca lebih jauh, bapak bisa merasakan jiwa kepahlawanan ibu saya. Ibu yang melahirkan saya dan ke-empat kakak laki-laki saya. Ibu yang dengan penuh jerih-payah membesarkan kami, dengan uang gaji bapak yang pas-pasan. Waktu saya masih kelas satu SD, saya sering mengomel karena baju seragam saya jelek sekali, karena lungsuran dari kakak saya yang nomer tiga. Setiap pulang sekolah, selalu saja ada tambahan lubang di baju seragam saya. Ibu selalu dengan hati-hati menambal lubang itu. Suatu hari, ibu mengejutkan saya dengan membelikan baju seragam baru. Saya sangat senang sekali. Saya tidak tahu kalau ibu menabung selama enam bulan hanya untuk membeli baju seragam saya itu. Sekarang bapak bilang, kalau bukan jiwa pahlawan, kata apa yang cocok untuk diberikan pada ibu saya itu?” pertanyaan retorik Pandu itu menyudahi kotbah panjang-lebarnya.

Pak Heri mengangguk-angguk puas. Ia bahkan bertepuk tangan, diikuti oleh teman-teman sekelasnya. Niken yang paling keras tepuk tangannya. Pandu sahabatnya ini memang tidak hanya rupawan, tapi manis juga hatinya.

Acara Gelar Seni merupakan event tahunan yang sudah dilangsungkan sejak jaman dahulu kala di SMA Antonius. Tahun lalu, waktu kelas satu, Niken dipilih menjadi salah satu anggota panitia bidang acara panggung. Tahun ini dia terpilih menjadi koordinator bidang yang sama. Pandu jadi salah satu anggota tim perlengkapan, atau dalam bahasa lain, tim angkut-angkut barang.

Niken mendapat banyak bantuan, terutama dalam hal promosi acara, dari Mbak Merlina dan kawan-kawan penyiar radio Boss. Anak-anak radio Boss 'rame-rame'. Dulu, waktu Niken masih boleh pergi keluar sendiri naik mobil, dia sering mampir malam-malam kumpul di radio Boss. Kadang-kadang malah jadi penyiar dadakan, kalau kebetulan ada yang sedang sakit. Akhir-akhir ini Niken merasa kegiatannya jadi dibatasi lantaran kemana-mana harus membawa Jimmy. Seperti tuyul saja tu anak mengikutinya ke mana-mana. Walaupun Jimmy sering bilang, dia kapan aja, ke mana pun, jam berapa pun, mau menemani Niken, tapi sungkan juga mengajak-ajak Jimmy keluar malam ke radio Boss, misalnya. Makanya, kalo mama-papa lagi keluar kota, Niken curi-curi pergi jalan-jalan sendiri ke luar. Refreshing. Seperti hari Sabtu malam ini. Dia janji akan menjemput Pandu ke radio Boss malam ini. Wulan sebetulnya mau ikut, tapi ibunya sedang sakit flu, jadi dia mesti menjaga dua adik kecilnya di rumah.

Jam delapan malam. Dengan alasan mau fotocopy, Niken sukses mengelabui satpam yang berjaga di pintu gerbang. Lolos! Niken cepat-cepat tancap gas sebelum satpam berkumis yang galak itu berubah pikiran. Niken belum pernah ke rumah Pandu, tapi Pandu sudah berkali-kali memberi tahunya, pakai acara menggambar peta pula. Lagipula Pandu bilang, dia akan menunggunya di depan rumah, jadi tidak susah kan semestinya untuk menemukan anak jangkrik di gelap malam begini?

Begitu Pandu masuk mobil, langsung kena damprat.

“Sial lo Pandu ya! Masa’ kamu kasih petunjuk lewat jalan satu arah, aku disuruh lewat arah yang berlawanan, gimana sih?”

Pandu bingung. Ngomong apaan sih Niken ini?

Niken masih ribut-ribut, “Ini jalan depan rumahmu, kan satu arah. Kamu kasih petunjuk aku masuk dari arah gang yang salah! Tu di mulut gang ada tanda dilarang masuk!”

“Oooooooooooooh…” Pandu menepuk dahinya. “Sori, Fei. Aku kan biasanya naik sepeda, jadi itu route terdekat, begitu. Aku lupa kalo gang ini arahnya dari sebelah sono,” kata Pandu geli melihat Niken komat-kamit terus.

“Ah blo’on amat kamu, kasih petunjuk ke rumah sendiri saja salah.” Niken masih mengomel.

“Yang penting kan sampai, ya kan? Nanti pulangnya aku lewatin jalan mobil deh.” kata Pandu yang tak sanggup menahan gelinya melihat Niken sewot begitu.

“Kamu punya kaset yang laen?” tanya Pandu, mendengar lagu pop slow yang diputar Niken.

“Protes melulu sih?!”

“Ngantuk dong, dengerin lagu slow begini. Ini lagu apaan sih?” tanya Pandu.

“John Denver. Annie’s song. Aku suka. Jangan diganti.”

“Gak punya kaset yang lain?”

“Nggak.” jawab Niken singkat.

“Ah masa?!”

“Bener. Orang ini CD-player. Kamu masukin kaset yah nggak cocok lubangnya” kata Niken geli.

“CD yang laen dong!” Pandu tak kalah protesnya.

“Ribut amat sih? Dinikmati gitu lho…”

“Aku kirain kamu suka lagu-lagu rock. Ternyata lagu cengeng begini kamu juga suka, ya?”

“Aku suka apa saja yang berbau musik.” kata Niken cuek sambil nyanyi.

You fill up my senses

Like a night in a forest

Like a mountain in springtime

Like a walk in the rain

Like a storm in the desert

Like a sleepy blue ocean

You fill up my senses

Come fill me again…

Diam-diam Pandu mengamati cerianya wajah Niken malam ini. Enak juga ternyata lagunya, walaupun slow begini, apalagi kalo Niken ikut nyanyi. Suara Niken empuk sekali, bak bantal dari busa. Makanya kontras sekali kalo dia menyanyi lagu-lagu rock. Kontras bukan berarti jelek. Kombinasi yang bagus. Suara lembut dan musik kasar. Niken memang punya bakat besar di bidang musik. Dia sering melihat Niken saat latihan bareng Hendro dan Bram, mengarahkan melodi gitar mereka. Dia pribadi juga sering mendapat masukan positif dari Niken buat variasi keyboardnya. Dengan hobinya menulis puisi, Niken pasti bisa jadi komposer lagu tenar. Apalagi dengan suara dan wajahnya yang saingan manisnya.

“Sori… kamu ngantuk ya dengerin lagu slow begini?” tanya Niken yang jadi merasa berdosa melihat Pandu terbengong-bengong.

“Nggak. Aku ternyata bisa enjoy koq. Masih punya banyak lagu slow?” tantang Pandu.

“Kalo mau dengerin lagu rock, lebih baik sekarang saja. Di Boss Radio, mereka seringnya putar lagu-lagu cengeng lewat jam 9 malam.”

“Nggak masalah. Aku pengen tau gimana kehidupan penyiar yang sebenarnya. Makanya aku langsung mau waktu kamu ajakin. Eh, ngomong-ngomong mana bodyguard kamu?” goda Pandu.

“Jimmy? Aku bosan ngeliat dia terus. Sudah lama aku puasa nggak ke radio Boss karena dia.” gerutu Niken.

“Nggak boleh bosan dong. Nanti kalo udah kawin musti liat dia tiap hari, 24 jam lagi!” kata Pandu geli.

“Kawin? Siapa yang mau kawin?”

“Ya kamu, dong… Aku calon saja belum ada. Kamu kan yang katanya sudah pasti kawin sama si Jimmy?”

“Iya, tapi kan nggak dalam waktu dekat ini. Paling-paling lima belas tahun lagi.” kata Niken dengan gaya super cueknya.

“Lima belas tahun?! Wah… semoga aja si Jimmy tahan bantingan, mau nunggu kamu selama itu.” kata Pandu kaget. Lima belas tahun, berarti mereka bakal berumur 32 tahun dong!

“Biarin. Nggak kawin juga nggak papa. Eehh… yang jual martabak sukaanku masih buka. Mampir sebentar beli martabak yah…” kata Niken sambil meminggirkan Honda civicnya.

Sebentar kemudian Niken sudah kembali dengan membawa dua plastik besar penuh martabak.

“Banyak bener kamu belinya, Fei?” tanya Pandu heran.

“Buat anak-anak radio Boss. Kamu gak mau?”

“Mau juga sih…” Mata Pandu berbinar-binar melihat martabak. Hidungnya peka sekali kalo mencium bau makanan enak.

Niken lalu membuka satu bungkus martabak. Di baginya menjadi dua, separuh diberikan ke Pandu, yang separuh langsung masuk ke mulutnya.

“Kamu jago makan juga yah?” tanya Pandu dengan mulut penuh martabak.

Niken cuma mengangguk-angguk. Mulutnya juga penuh makanan, tidak bisa menjawab.

Tangannya yang satu di kemudi, yang satu memegang martabak.

“Persneleng tiga,” perintah Niken.

“Hah? Apa?”

“Blo’on, pindahin ke persneleng tiga, sekarang.” kata Niken.

Pandu cepat-cepat memindah persneleng dari gigi dua ke gigi tiga.

“Wah… bahaya nich sopir lagi asyik makan martabak!” kata Pandu setelah shocknya reda.

“Gigi empat.” sahut Niken tanpa menanggapi komentar usil Pandu.

Pandu menuruti saja perintah Niken. Sebenarnya ada sesuatu yang ingin dia tanyakan pada Niken, tapi lebih baik tidak usah saja, pikirnya.

“Mbak Merlina baik yach, tadi kita dikenalin sama Jabrique, grup rock lokal yang lumayan tenar. Gelar Seni kali ini bakal meriah banget karena Jabrique janji mau muncul.” kata Niken sepulangnya dari Radio Boss. Dia kelihatan girang sekali.

Pandu sibuk menggeledah semua CD koleksi Niken. Gila koleksinya dari Mozart sampe metal ada semua.

“Setel yang ini dong…” kata Pandu sambil mengacungkan cover CD Bryan Adams.

“Sorry, Ndu, itu covernya doang. CD-nya ada di kamarku. Kamu mau nggak mau mesti dengerin lagu2 yang ada di jukeboxku. Ada 5 cd koq, kamu pencet-pencet aja tombol ini sendiri, sampe nemu CD yang kamu suka.” kata Niken sambil memencet satu tombol di car stereonya.

“Yak ini aja deh!” kata Pandu waktu mendengar intro lagu Nirvana, Come as you are.”

“Fei…”

“Apa?”

“Aku baru aja denger tadi sore, katanya papa kamu punya simpanan di Malang yah?”

“Ah, kalo itu aku sudah tahu dari dulu koq. Kamu baru tahu sekarang yah?” kata Niken seakan tak peduli.

“Iya. Nggak sedih?”

Niken mendesah. “Kamu sungguh-sungguh ingin tahu?”

“Ya sungguhan dong, aku kan temen kamu. Kalo kamu sedih, aku pengen hibur kamu…”

“Aku nggak papa koq. Awalnya sih terang sedih. Aku sudah tahu sekitar empat tahun yang lalu, lebih malah. Sudah lama kan? Sebelum cici ku meninggal. Cici yang bilang ke aku. Dia marah besar waktu itu. Semua hadiah miliknya yang dari papa dibuang ke lantai. Yang barang pecah belah ya jelas pecah. Ribut sekali rumah waktu itu. Trus dia minggat sebulan gak balik-balik. Ya gara-gara minggat itu dia kenal sama si Edi, anak pejabat itu. Waktu itu aku nggak sesedih cici. Cuma kecewa saja, koq papa tega berbuat begitu. Kasian mama. Dia kuatir sekali waktu cici minggat.”

Niken menghela napas panjang. “Tadinya aku benci sama si wanita lain itu. Koq jahat, sudah tahu papaku sudah menikah, sudah punya anak dua, koq ya nekad aja. Usut punya usut, ternyata wanita itu juga sama-sama nggak tahu kalo papaku itu sudah punya keluarga. Jadi sama-sama dibohongin, gitu. Yang jahat memang papaku.”

“Kamu hebat, Fei, bisa kuat begitu. Kalau saja hal seperti itu terjadi di keluargaku, aku bisa gila.” kata Pandu jujur.

“Ya, karena kamu dibesarkan di keluarga yang harmonis. Tuhan nggak akan kasih salib yang nggak bisa dijalani, Ndu. Sejak kecil, aku jarang ketemu papa. Mama sih tadinya selalu di rumah. Sejak empat tahun yang lalu itu, mama jadi jarang ada di rumah juga. Mungkin itu juga yang bikin cici jadi gak betah di rumah, trus main sama Edi jelek itu.”

Pandu menatap mata Niken lekat-lekat. “Kamu sendiri?”

“Sejak cici meninggal, aku jadi tau kalo cici udah milih jalan yang salah. Aku nggak mau seperti dia. Sedih itu bisa dilampiaskan ke hal-hal yang laen. Belajar, misalnya, dengerin musik, berenang, jogging, nge-band...” kata Niken sambil senyum.

“Aku nggak bisa bayangin betapa bosannya kamu di rumah. Abis pindah Semarang, aku juga kesepian banget. Setidaknya aku masih ada ibu…” kata Pandu menerawang.

Tiba-tiba ada nada bersemangat di kalimat Pandu, “Kamu ada acara apa Jum’at tanggal 14 bulan depan?”

“Gak ada acara apa-apa. Emang kenapa?” tanya Niken.

“Hari Jum’at tanggal 14 bulan depan, ibuku ulang tahun. Kakak-kakakku mau datang semua dari luar kota. Daripada bengong di rumah, kenapa kamu nggak ikut ngerayain ulang tahun ibuku? Ibu belum punya banyak teman di Semarang, jadi bakal cuma acara keluarga aja. Mau ya?” tanya Pandu menawarkan.

“Makasih, Ndu. Kamu baek. Aku tau niatmu baik, pengen menghibur aku, biar aku nggak kesepian. Tapi nggak usah, ah.” tolak Niken baik-baik.

”Kenapa nggak?”

“Ndak enak dong, aku nanti ngabis-abisin makanan lho?” goda Niken.

“Nggak papa. Ayolah…” ajak Pandu setengah memaksa.

“Baiklah.” kata Niken akhirnya. “Jam berapa aku harus sampe sana?”

“Jam 6 bagaimana? Kamu bisa ikut bantu-bantu nyapu, ngepel, masak-masak dulu?” kata Pandu dengan senyumnya yang nakal.

“Serius nich…”

“Fei, kamu musti mikir, gimana kamu bisa keluar rumah tanpa Jimmy?” tanya Pandu mengingatkan.

“Oh… iya! Aduh, anak jelek itu lagi.” keluh Niken.

“Gini deh… Aku ada akal.” kata Pandu sambil tersenyum licik. “Kali ini kita harus jahat sedikit. Jum’at pagi itu, aku bisa bawa mobil kakakku ke sekolah. Aku kerjain mobil Jimmy siang itu sebelum pulang sekolah, jadi aku bakal anterin kamu dan Jimmy pulang. Aku akan pura-pura nggak begitu bisa nyetir, apalagi ke daerah atas, jadi aku akan suruh Jimmy nyetir mobilku sampe ke rumahmu.”

“Oh… pinter juga kamu, Ndu! Jadi satpam bakal mengira itu mobil Jimmy, dan sorenya kamu bisa jemput aku pake mobil yang sama. Aku bakal siap di depan pintu gerbang, jadi kamu nggak usah turun mobil. Aduh, Pandu baek, deh!” kata Niken langsung mengerti rencana licik Pandu, sambil mencubit pipi Pandu gemas.

“Namanya juga Pandu…” kata Pandu sambil menepuk dadanya.

Siang itu, rencana bulus mereka berjalan dengan mulus. Jimmy sama sekali tidak menaruh curiga. Satpam apalagi. Sorenya, satpam yang mengenali mobil yang tadi siang, membiarkan saja Niken pergi, mengira Jimmy yang datang menjemputnya. Begitu Niken masuk mobil, Niken dan Pandu nggak bisa menahan ketawa.

“Aduh, aku udah deg-degan terus nungguin kamu…” kata Niken.

“Aku malah santai saja. Lebih deg-degan waktu jemput kamu nge-band itu.” kata Pandu sambil melirik Niken. Sekilas dia bisa melihat Niken pake rok. Apa? Niken pake rok? Penasaran, kali ini dia nggak melirik lagi, tapi menatap dengan jelas, sambil mengucek-ucek mata. Dia nggak salah lihat. Niken sore ini pake rok katun biru muda sederhana, rambutnya dikepang tempel di belakang. Rapi sekali. Wajahnya tampak polos sekali dan cantik sekali walaupun tanpa make-up.

“Aku bawa kado buat ibumu” kata Niken mengagetkan lamunannya.

“Ah, kamu ngado segala. Mestinya nggak usah, Fei.”

“Nggak papa. Nggak repot koq. Cuma kain.”

“Hey, jangan gigit-gigit jari gitu dong… jelek…” kata Pandu sambil berusaha menyingkirkan jemari Niken jauh dari mulutnya.

“Sorry… aku memang begini kalo nervous.” Niken mengaku.

“Nervous??”

“Iya… aku belum pernah ketemu ibumu, sekarang aku malah bakal ketemu seluruh keluargamu. Gile…”

“Alaaa… mau ketemu ibuku aja nervous. Malu-maluin. Eh,aku kasih tahu nih, untung kamu bukan pacarku. Pasti kamu bakal disorot habis-habisan kalo kamu memang pacarku. Itu udah dialami oleh semua kakak-kakak iparku. Jadi kamu santai saja. Ibu tahu kalau kamu cuma teman koq.”

“Iya. Kenapa sih mesti nervous begini? Kayak mau ketemu camer saja. Padahal waktu aku pertama kali mau ketemu camer malah nggak nervous kayak gini.” kata Niken ketawa ngikik.

“Emang kamu udah pernah ketemu camer?”

“Udah. Mama-papanya Jimmy maksud kamu kan? Sudah dong. Mereka datang ke rumah. Aku sama sekali nggak nervous. Cuek saja. Pada dasarnya karena aku nggak respek sama papanya Jimmy, maupun sama mamanya. Itu keluarga jauh lebih hancur-hancuran daripada keluargaku.”

“Nah… kita udah nyampe. Turun yuk.” ajak Pandu sambil turun dari mobil.

Rupanya Niken masih belum ilang nervousnya. Pandu lalu membuka pintu dari luar.

“Hoi, manja sekali minta dibukain pintu segala, tuan putri? Minta dituntun masuk juga nih?” Pandu meledeknya.

“Enak saja. Aku bisa jalan sendiri.”

Pandu meraih lengan Niken, mencegahnya untuk terus jalan.

“Tunggu. Sebelum kamu masuk ke rumahku, kamu mesti maklum, rumahku ini nggak rumah gedongan kayak rumahmu…”

“Kamu lebih baik berhenti ngomong, sebelum kamu bikin aku tersinggung.” kata Niken.

“Aku nggak bermaksud begitu. Maksudku…”

“Aku tau koq maksudmu. Aku yakin rumahmu ini jauh lebih indah daripada rumah gedonganku. Kamu nggak usah takut lah. Aku udah sering ke tempat yang jauh lebih buruk dari ini, rumah Wulan misalnya. Aku malah sering nginep sana dulu. Jadi kamu nggak usah takut aku bakal merasa nggak nyaman.”

Pandu takjub mendengar jawaban Niken yang begitu tegas.

Belum sampe di pintu depan, ibu Pandu sudah menjemput keluar.

“Silahkan masuk, wah, senang sekali kita kedatangan tamu.” sambutnya ramah.

“Kenalin, bu. Ini Niken, teman Pandu. Nik, ini ibuku.” kata Pandu.

“Panggil saja ibu. Nama saya Sulastri.” kata ibunya Pandu menjabat tangan Niken.

“Selamat ulang tahun, Bu.” kata Niken sambil menyerahkan kadonya.

“Waduh, repot-repot lho, nak Niken ini. Ayo Pandu, diajak masuk dong.”

Pandu lalu mengenalkan satu-per-satu anggota keluarganya yang lagi berkumpul di situ semua.

Ayah Pandu, Pandu Pahlawan. Kakaknya yang nomer satu, Pandu Darmawan, dan istrinya, Sandra. Yang nomer dua, Pandu Sanjaya, dan istrinya Marini. Kakaknya yang nomer tiga, yang minjemin mobil, Pandu Wardhana, dan istrinya Adriana. Yang nomer empat Pandu Aditya belum menikah dan belum punya pacar.

Kakak-kakak Pandu semua ganteng-ganteng. Terutama yang nomer satu. Katanya dia pernah menang lomba wajah di majalah Mode. Nggak mengherankan. Memang ganteng sih. Alisnya tebal dan tajam, tulang rahang dan pipinya yang menonjol memberi aksen gagah di wajahnya. Itu semua pasti didapat dari ayah Pandu yang memang gagah, dan ibunya yang lembut dan melankolis.

Susah juga menghafal nama mereka, terutama karena namanya Pandu semua! Kakaknya yang nomer satu sudah punya anak, masih umur dua tahun, nggak bosen-bosen berceloteh, ngajak omong Niken. Lagi in the mood kali. Namanya Yunita. Sebentar saja Niken sudah akrab dengan Yunita. Rupanya Yunita sangat tertarik dengan pita rambut Niken. Niken lalu melepas pitanya, dan Yunita menerimanya dengan senang hati. Niken malah lalu iseng menguncir rambut Yunita dengan pitanya.

Makanan malam itu sederhana, sayur lodeh, goreng-gorengan, dan ca kangkung. Niken sudah tambah ca kangkung dua kali. Dia sangat menikmati suasana rumah Pandu malam itu. Mungkin karena di rumah dia jarang, atau boleh dibilang hampir nggak pernah ada acara makan malam bareng. Apalagi karena keluarga Pandu begitu ramah menerima Niken. Mereka seolah-olah tidak menganggap Niken sebagai tamu, melainkan seperti kedatangan teman lama. Melihat keluarga Pandu begitu harmonis, Niken sebetulnya merasa rendah diri. Tapi sebentar saja rasa rendah diri itu hilang, karena asyik mengobrol dengan Pandu dan kakak-kakaknya.

Kalau sedang bersenang-senang memang waktu tidak terasa jadi berjalan begitu cepat. Tahu-tahu saja sudah jam setengah sepuluh malam. Niken harus pulang sekarang. Kalau tidak kereta kencananya akan berubah menjadi labu!

Setelah berpamitan, termasuk sama si kecil Yunita, Niken dan Pandu undur diri.

“Makasih Ndu, kamu bener-bener bikin aku seneng malam ini. Aku udah lupa kapan terakhir kali aku merasa seperti ini.” kata Niken. Hatinya berbunga-bunga.

“Aku juga terima kasih kamu mau datang. Suasana rumahku jadi tambah meriah ada kamu.”

Waktu mereka sampai di depan pintu gerbang rumah Niken, Niken terpekik kaget.

“Kenapa, Fei?”

“Tuh… papa ada di teras depan.” kata Niken menunjuk ke arah teras rumahnya.

“Mati deh aku. Gimana nih?” lanjut Niken, seakan tidak mau turun. Seandainya saja waktu bisa berhenti pada saat ini, berhentilah!

Papanya berdiri, menuju ke arah pintu gerbang.

“Ayo turun, Fei. Aku temeni.” kata Pandu berusaha membesarkan hati Niken.

Keduanya lalu turun dari mobil.

“Niken! Masuk!” bentak papa Niken galak.

“Selamat malam Pak Tjakrawibawa. Hari ini ibu saya ulang tahun. Niken saya undang karena Niken satu-satunya teman baik saya di sekolah.” kata Pandu tanpa rasa takut.

“Hmm… Niken, masuk!” ulang papa Niken dengan nada yang sama.

“Pak, tolong jangan marahi Niken. Ini semua ide saya.” kata Pandu.

“Niken, kamu sudah lupa janji kamu untuk nggak pacaran?!”

“Nggak Pa. Kami nggak pacaran koq. Pandu cuma temen baek. Bener Pa!” kata Niken membela diri.

“Sudah, nggak usah banyak omong. Masuk!”

Niken lalu cepat-cepat masuk.

“Selamat malam, permisi Pak.” Pandu pamitan dengan sopan.

“Jangan pernah datang-datang lagi ke sini. Niken nggak pantas sama laki-laki seperti kamu.”

Pandu diam saja, lalu pergi.

Sampai di rumah, keluarga Pandu sudah tidak sabar menunggu Pandu pulang. Mereka sudah ingin berkomentar tentang cewek yang baru saja bertandang di rumah mereka.

“Ndu,” kata kakaknya begitu Pandu melewati ruang tengah. “Manis sekali Niken itu.”

“Manis, tapi papanya galak banget.” keluh Pandu.

“Kenapa emangnya?”

“Tadi aku ketemu papanya, aku diusir, coba. Katanya, aku nggak pantas buat Niken. Aku rasanya marah sekali sekarang. Pertama, aku kasian sama Niken tertekan sekali di rumah. Kedua, Niken berhak menentukan pasangannya sendiri, walaupun tololnya Niken sendiri nggak tau itu. Ketiga, aku bukan pacarnya Niken, meski aku yakin, beruntung sekali orang yang bisa pacaran sama orang seperti Niken.” jawab Pandu geram.

Ibunya menimpali, seolah tak mendengar keluh kesah Pandu yang barusan. “Niken lain sekali dengan Ratna, cewek yang sering kemari itu, Ndu.”

“Ibuuu….!” Pandu merengek. “Sudah aku bilang berkali-kali, Niken itu bukan pacarku, dan dia nggak ada niatan untuk pacaran sama aku, atau sama siapapun.”

"Ibu hanya berkomentar koq,” kata ibunya membela diri. “Ratna itu orangnya lemah lembut, nggak penuh gairah hidup seperti Niken. Hal yang paling aku suka dari Niken, dia rendah hati walaupun anak orang kaya. Malahan, hari ini dia nggak keliatan seperti anak orang kaya. Satu hal yang aku nggak suka dari Ratna, dia suka sekali merayu kamu. Niken sama sekali nggak.”

“Ya jelas aja, karena Niken nggak suka hal-hal yang berbau pacaran.” jawab Pandu.

“Kalau begitu Ratna itu pacarmu?” tanya bapaknya.

“Bukan juga. Aduh… koq jadi pada tanya yang aneh-aneh sih?” Pandu merasa jengah.

“Kenapa kamu koq nggak suka Ratna?” tanya bapaknya lagi.

“Yah… nggak tau ya… Ratna itu, terlalu dependen sama orang. Dia nggak pernah bisa mandiri. Lagian aku memang nggak sreg sama dia. Udah ah, tanya-tanya melulu, orang lagi kesel abis ketemu papanya Niken itu lho!”

“Kalo kamu nggak berani pacaran sama Niken, aku boleh nyoba?” goda Aditya.

Semua pada ketawa. “Aku sudah bilang, Niken itu orang yang unik. Dia nggak percaya sama yang namanya pacaran. Dia sudah dijodohin koq sama papanya.” kata Pandu sambil melepas sandalnya.

“Hah? Dan Niken menurut saja?” tanya kakak-kakak iparnya hampir berbarengan.

“Iya. Kakaknya meninggal, bunuh diri, gara-gara pacaran terlalu bebas. Semenjak itu dia jadi antipati sama kata ‘cinta’.”

“Lha kamu sendiri suka nggak sama Niken?” tanya bapaknya ingin tahu.

“Nggak tau ya, aku selama ini nggak pernah ngeliat Niken sebagai orang yang bisa aku pacari, jadinya ya rasa sayang nggak pernah tercetus.”

“Wah, sayang lho… padahal Niken itu maniiiiis sekali. Mungil. Matanya sipit, mungil. Mulutnya mungil. Idungnya juga mungil. Aku suka deh yang mungil-mungil begitu.” kata Aditya bercanda.

“Aku juga…” gumam Pandu tanpa sadar.

“Ha ha… ! Jadi kamu suka sama Niken dong…!” Aditya menggoda adiknya.

“Ah! Dasar! Aku capek nih. Hatiku gerah sekali rasanya. Aku mau tidur aja.” kata Pandu menuju ke kamarnya dengan langkah gontai. Tiba-tiba terlintas dalam pikirannya, sedang apa ya Fei Fei sekarang?

Dia lalu balik lagi ke ruang tengah, mengambil sandalnya, terus keluar lagi.

“Ndu, mau ke mana kamu?” tanya bapaknya.

“Mau ke wartel di ujung jalan.” jawabnya sambil terus berjalan.

"Ada apa ke wartel?" tanya bapaknya lagi.

"Telepon." jawab Pandu singkat.

“Koq nggak pake telfon rumah aja?” tanya ibunya.

“Nggak, ah. Nanti aku digodain terus.”

Yang lain lalu tambah cekikikan. Sudah jam setengah 11 malam, tapi rumah Pandu masih ramai sekali seperti pasar malam. Telepon ada di ruang tengah. Bisa tidak dengar apa-apa kalo telepon Niken dari rumah.

“Fei Fei?” Pandu menelepon telepon kamar Niken.

“Ndu…” suara Niken kedengaran seperti barusan menangis.

“Kamu habis dimarahi ya? Sorry ya Fei… gara-gara aku, kamu jadi disemprot papa kamu.”

“Nggak Ndu. Aku senang koq malam ini. Aku malah yang mau minta maaf, papaku kasar sekali sama kamu tadi.”

“Udahlah, Fei. Aku udah biasa koq. Kamu jangan nangis dong… Aku belum pernah melihat kamu nangis seperti ini. Aku jadi merasa bersalah, kamu menangis karena aku.”

“Aku nangis karena aku baru sadar, koq bahagia tu susah amat dapatnya. Untuk senang-senang barang semalam aja, aku mesti berbohong, mesti dimarahi habis-habisan sama papa. Kamu beruntung sekali, Ndu.”

“Kamu welcome kapan aja ke rumahku, Fei.”

Niken terdiam. “Aku dilarang keras ke rumahmu. Papa ngancam, kalo sampe kejadian malam ini terulang lagi, aku bakal dimasukin ke sekolah asrama. Mending mati aku daripada masuk asrama. Jadi malam ini adalah yang terakhir kali kamu melihat aku di rumahmu. Aku nggak berani lagi. Terima kasih buat malam yang indah tadi, Ndu. Aku nggak akan pernah lupa.” kata Niken setengah terisak.

“Sudah… jangan nangis lagi, dong. Fei, aku percaya, di mana ada kemauan, pasti ada jalan. Kamu harus yang sabar. Percaya deh, banyak jalan untuk meraih kebahagiaan. Tinggal kita mau ambil kesempatan yang ada atau nggak. Aku pasti bantu kamu, kapan saja.”

Mendengar itu, Niken seperti mendapat separuh kekuatannya kembali. “Benar juga yang kamu bilang, Ndu. Setidaknya aku masih punya kamu.”

“Nah… gitu dong. Supaya kamu lega, sepertinya aku musti bilang sesuatu. Tadi, begitu aku pulang, aku langsung diinterogasi. Kayak kamu tu pacarku aja, Fei. Semua bilang kamu cantik. Malah Mas Adit bilang dia naksir kamu. Tapi kamu tadi memang manis deh, keliatan laen dari biasanya. Mungkin karena kamu pakai rok. Gimana? Sudah tambah oke sekarang?” tanya Pandu yang kata-katanya selalu terdengar manis di telinga Niken.

Niken tertawa kecil. “Ada-ada saja, ah. Tapi makasih Ndu. Aku udah nggak sedih lagi koq.”

“Sungguh, nih?”

“Iya iya… Jangan kuatir. Bukan Niken namanya kalau nggak tahan banting.”

“Ya udah, kalo gitu aku udahan dulu. Ngantuk nih… Aku mesti pulang trus langsung bobok.”

“Pulang? Emangnya kamu ini di mana?” tanya Niken bingung.

“Di wartel non! Cari mati deh kalo aku telfon dari rumah. Rumah masih ramai sekali, lagi. Aku bisa habis digodain mereka seperti tadi. Mending jalan sedikit ke wartel.” gerutu Pandu.

“Ya sudah, pulang sana. Makasih sekali lagi Ndu, dan maaf atas sikap papaku tadi.”

“Nggak aku masukin hati koq. Selamat tidur, Fei Fei”

Siang itu, saat jam pulang sekolah, Wulan terengah-engah menghampiri Niken yang sedang sibuk di theatre, mengurus gladi bersih buat acara panggung Gelar Seni besok.

“Nik! Niken!!” panggil Wulan sambil berlari menuju panggung.

“Ada apa, sih?”

Wulan sibuk mengatur nafasnya. Niken mengisyaratkan pada anak-anak soundsystem untuk istirahat sejenak.

“Pandu, Nik! Dia sama Jimmy ada di halaman parkir belakang, berantem kata anak-anak. Mereka pada ramai-ramai mau nonton di sana. Cepetan dong!”

“Hah?!” Niken spontan menaruh mapnya di tangga panggung, langsung lari menuju ke halaman parkir motor dan sepeda di belakang sekolah.

Belum sampai halaman parkir, dari jauh sudah terdengar suara ribut-ribut.

Niken mempercepat larinya. Wulan yang sudah kelelahan cuma bisa mengikutinya dari belakang.

Sesampai di situ, Niken tidak bisa melihat apa-apa, karena banyak orang berkerumun di situ. Susah payah dia berusaha menembus kerumunan ke arah tengah.

Benar saja, Pandu dan Jimmy ada di tengah-tengah kerumunan. Pipi Pandu merah kena jotosan. Ada darah di sudut bibirnya. Baju mereka kotor dan amburadul. Rambut keduanya acak-acakan.

”Stop, stop! Apa-apaan sih kalian ini?” teriak Niken, karena suasana masih begitu bising.

“Dia yang mulai.” Telunjuk Pandu mengarah ke Jimmy.

“Aku nggak mau tau siapa yang mulai. Sudah, ayo ikut aku ke UKS.”

Keduanya tidak ada yang beranjak dari tempat mereka berdiri masing-masing. Niken mengulangi lagi, “Mau ikut aku ke UKS apa nggak?”

“Aku nggak akan pergi dari sini sebelum masalah ini diselesaikan.” kata Jimmy ngotot.

“Masalah apa? Dan bisakah itu diselesaikan dengan cara kayak gini?” tanya Niken.

“Kamu masalahnya!” tuding Jimmy. Niken tersontak kaget.

“Aku?” tanya Niken.

“Iya. Kamu, Niken. Dia menuduh aku yang enggak-enggak sama kamu kemarin malam. Katanya aku ngerebut pacarnya. Dia bilang, Niken itu hak miliknya dia. Nggak ada orang lain yang boleh sentuh dia. Aku bilang, Niken itu bukan hak milik siapa-siapa. Dan lagi, aku sama Niken cuma berteman. Eh… dia nggak percaya malah nantang.” jawab Pandu emosi.

“Aku cuma bilang, kamu harus menjauhi Niken, dia milikku. Kamu ngotot nggak mau koq. Siapa yang nggak emosi?” balas Jimmy.

“Stop. Sudah cukup. Muak aku mendengarkan argumen kalian. Jimmy, Pandu benar. Aku sama dia cuma teman, dan aku belum menjadi hak milik kamu. Aku juga nggak mau Pandu jauhi aku.” kata Niken membela Pandu, setelah mengetahui duduk permasalahannya.

“Ya sudah kalo memang maumu begitu. Tapi aku nggak berani tanggung-jawab kalo papamu sampai tahu kamu belain Pandu dalam masalah ini.” kata Jimmy setengah mengancam.

“Tunggu!” kata Pandu. “Jangan bawa-bawa papa Niken di sini. Ini masalah antara kita. Kamu nggak boleh campur aduk begitu, dong!”

Anak-anak masih ribut. Niken merasa jengkel sekali. Apalagi setelah mendengar ancaman Jimmy tadi.

“Bubar! Semuanya bubar!” kata Niken dengan suara lantang.

Mereka semua lalu bubar jalan, Niken kalo sudah marah gempar, deh. Tinggal Jimmy, Pandu dan Niken yang ada di situ.

Niken merogoh saku bawahannya, lalu memberikan tissue, satu buat Pandu, satu buat Jimmy.

“Jim, aku bener nggak ada apa-apa sama Pandu. Kita cuma teman baik. Aku nggak pernah larang kamu bergaul dengan siapapun, kan? Kenapa kamu nggak beri aku kebebasan yang sama?”

“Niken, akuilah. Kita pun nggak pacaran. Status kita cuma sedikit lebih baik dari kamu dan Pandu. Kamu bisa bilang kamu nggak ada apa-apa sama Pandu. Tapi kamu juga bisa bilang kamu nggak ada apa-apa sama aku. Aku cuma ingin kamu hargai aku sedikit.”

“Apa yang kamu mau? Pacaran sama aku? Aku udah bilang, aku nggak bisa pacaran sama kamu, karena aku nggak cinta sama kamu.”

“Itu karena kamu nggak pernah mau berusaha untuk itu.” sanggah Jimmy.

Niken diam saja. Demikian juga Pandu.

“Kamu sama sekali nggak pernah tersenyum kalo ketemu aku. Apapun yang aku lakukan, kamu nggak pernah terhibur. Belakangan ini aku perhatikan, kamu selalu ceria setiap ketemu Pandu. Siapa yang nggak jengkel?”

“Kami punya banyak kesamaan,…”

Belum sempat Niken melanjutkan kata-katanya, Jimmy sudah menyerobot. “Apa katamu? Banyak kesamaan? Yang aku lihat justru banyak perbedaan. Dia anak Jawa, Niken. Bukan chinese seperti kita.”

Muka Niken memerah. Telinganya memanas.

Niken nggak bisa bilang apa-apa karena jengkel sekali, sekaligus malu sama Pandu.

Pandu yang lalu menyahut, “Benar sekali kamu, Jim. Kamu cuma punya satu kesamaan sama Niken. Sama-sama bermata sipit. Lain dari itu tidak. Niken berjiwa besar, berhati mulia, temannya banyak. Kamu? Jiwamu kerdil, hatimu busuk, temanmu cuma sebatas orang yang ingin memanfaatkan kekayaanmu!”

Kata-kata Pandu tadi walaupun memang benar adanya, terdengar begitu pedas di telinga. Jimmy mulai bergerak mendekati Pandu, bermaksud menjotosnya lagi.

Niken mencegahnya. “Jimmy, sudahlah. Rasanya kita berdua nggak ada harapan lagi. Aku akan minta mama untuk membatalkan semuanya.”

“Niken? Jangan bilang begitu dong. Maafin aku, aku tadi termakan emosi. Kamu boleh berteman dengan Pandu, ayolah. Maafkan aku.” bujuk Pandu yang kaget mendengar kata-kata Niken.

“Pergilah, Jimmy. Sudah nggak ada apa-apa antara kita.” Muak sekali Niken melihat wajah Jimmy.

Merasa sudah nggak bisa berbuat apa-apa lagi, Jimmy lalu berkata, “Baiklah, Niken. Tapi aku nggak akan pergi sebelum bilang sesuatu yang aku mau bilang dari dulu. Kamu perlu belajar mencintai orang, Niken. Kalau nggak, kamu nggak akan pernah bahagia.”

Setelah Jimmy pergi, Pandu duduk di trotoar dekat Niken. “Kamu nggak papa, Fei?”

Niken diam saja. Dia masih memikirkan kata-kata Jimmy barusan.

“Fei!”

“Hah? Apa? Kamu ngaget-ngagetin aku aja, Ndu!” Niken terkaget dari lamunannya.

“Kamu nggak papa, kan?” Pandu mengulangi pertanyaannya.

“Yang papa tu kamu. Tuh liat, bibirmu berdarah gitu. Nggak sakit, apa?” kata Niken sambil mengambil tissue satu lagi dari sakunya. Pelan-pelan luka di bibir Pandu dia bersihkan dengan tissuenya.

“Aduuh…!” Pandu mengerang kesakitan.

“Sakit ya? Salah sendiri, kenapa mesti berantem sama Jimmy? Sekarang yang sisa tinggal sakitnya, kan?”

“Pelan-pelan dong!” Pandu masih mengaduh-aduh.

“Ya ini udah pelan-pelan, tahu? Kamu tahan sedikit lah. Manja bener.”

Baru kali ini Pandu melihat wajah Niken begitu dekat. Dari dekat gini jadi tambah jelas manisnya. Wajah Niken bersih tanpa noda sedikitpun. Nggak ada jerawat, bisul, atau kurap.

Niken jadi sadar Pandu dari tadi memperhatikannya.

“Kenapa?” tanyanya.

“Jujur aja, kamu manis sekali, Fei. Cowok yang berhasil dapetin kamu bakal beruntung banget. Aku juga nggak nolak kalo diberi koq.”

“Heh! Kalo ngomong yang bener!”

“Duh! Jangan kasar gitu dong, perih nih!” kata Pandu memegangi dagunya.

“Makanya jangan macem-macem.” kata Niken mengancam.

“Aduh, iya deh… Iya…” Pandu pasrah sambil memonyongkan bibirnya untuk dibersihkan lukanya.

Niken tiba-tiba teringat sesuatu, “Oh! Iya! Aku musti segera kembali ke theatre. Aku belum selesai ngatur gladi bersih buat besok. Aku mesti double cek ke Jabrique apa mereka jadi tampil. Kemarin sih mereka bilang jadi.”

“Aku boleh ikut lihat gladi bersihnya?”

“Lihat nggak boleh. Harus ikut bantu angkut-angkut.”

“Kalau nggak males, ya...” katanya sambil mengikuti Niken ke theatre.

Untung anak-anak masih sabar nunggu di dekat panggung. Juned, salah satu anak yang tugas MC besok, melapor. “Niken, anak dekorasi hari ini mau ngelembur sampe malem. Speaker-speaker ini mau ditaruh dimana?”

“Ditaruh di belakang panggung aja, jadi besok gampang ngeluarinnya lagi. Kamu udah latihan sama Heni?”

“Tuh di belakang panggung. Dia grogi banget, dia maunya semua naskah ditulis, katanya mau dihafalin di rumah. Aku udah bilang, itu nggak baik. Lupa satu nanti lupa semua. Mending rileks aja. Coba deh kamu yang ngomongin.”

“Ya kamu yang sabar ngelatih dia. Maklum lah, dia kan masih kelas satu, baru pertama kali ini dia MC di panggung. Aku nggak akan pilih dia kalo aku nggak yakin dia mampu. Kamu mesti bisa bikin dia nyante, lebih percaya diri. Oke?”

“Oke deh.” kata Juned menuju ke belakang panggung.

“Mber!” panggil Niken. Yang dia maksud Hengki, yang panggilan akrabnya memang ‘comberan’. Itu gara-gara waktu perploncoan awal masuk SMA dulu, dia memaki diri sendiri waktu jatuh di comberan. Kebetulan salah satu orator berdiri di dekatnya. Dengan alesan itu comberan di SMA Antonius, termasuk barang langka, harus dicintai. Terus dia disuruh duduk di comberan, sambil minta maaf karena sudah memaki-maki comberan. Sejak itu dia dipanggil comberan.

Hengki itu yang dia tugaskan penanggung jawab tim dekorasi panggung.

“Mber, kata Juned, anak-anak dekor mau ngelembur yah? Kamu yakin betul mereka mau ngelembur? Aku nggak mau mereka nanti mengomel di belakang lho…”

“Bener koq, Niken. Mereka malah merasa nggak enak sendiri karena belum selesai sampe hari H minus satu. Mereka yang minta untuk diijinkan kerja sampe selesai. Tapi kayaknya nggak bakal sampe malem, koq. Paling sore nanti udah kelar semua.”

“Baiklah kalo gitu. Aku nanti bilang Mas Manto, yang jaga sekolah.”

“O, iya, Niken. Sandra baru aja pulang. Dia kan kamu tugasi mengatur jalannya acara gladi bersih hari ini. Baru aja selesai setengah jam yang lalu. Dia pesan ke aku, dia harus pulang cepetan. Tapi pelaksanaan nggak jauh beda dari jadwal. Nggak molor-molor. Semua band pendukung termasuk Jabrique juga sudah dia hubungi. Semua oke.”

“Bagus. Endang jadi menari besok?”

“Wah, nggak tau. Sandra nggak bilang. Aku sih denger kalo dia sakit. Eh, Wulan tadi pesan, dia mau beli makanan buat anak-anak, nanti balik kemari lagi. Tanya ke dia deh, mungkin dia tau.”

“Oke. Aku nanti pulangnya sesudah anak dekor kelar, koq.”

“Nggak usah, Niken. Kamu pulang aja. Kamu dari pagi tadi udah di sini terus. Suara kamu aja udah serak-serak banjir begitu. Ntar besok nggak layak tampil lho…”

“Nggak papa. Aku nggak bisa tenang sebelum segalanya selesai. Kalo pulang bisa-bisa aku balik ke sini lagi. Lagian aku kan bisa bantu-bantu.”

“Silahkan aja. Eh, Ndu. Kita butuh tambahan tenaga dari regu perlengkapan. Kita lagi dalam rangka mau mindah-mindahin perlengkapan band dari panggung, biar anak-anak dekor kerjanya lebih leluasa.”

“Siap boss. Ruangan ini juga perlu dibersihin, apalagi sesudah kalian selesai ndekor nanti pasti tambah banyak sampahnya. Aku siap bantu sampai kelar nanti.”

“Makan makaaaaaaann…” teriak Wulan. Dengar kata makan, anak-anak menghambur ke arah Wulan dan dengan suka rela membawakan kantong-kantong plastiknya berisikan nasi goreng itu.

“Nggak salah kamu di seksi konsumsi, Wulan. Kamu nggak pernah biarin kita-kita ini kelaparan…” puji Pandu.

Wulan menyeret Niken menjauh dari yang lain. “Nik, si Endang gak jadi nari besok. Acaranya diganti Sulis yang setelah dipaksa-paksa mau juga manggung komedi sendirian.”

“Oh… ya sudah… Sebenere nggak usah diganti juga kita udah cukup punya banyak acara koq.”

“Nik, tadi Jimmy sama Pandu gimana? Sudah gencatan senjata?” tanya Wulan dengan nada kuatir.

“Ruwet dah, Lan. Jimmy keterlaluan banget. Akhirnya aku suruh dia pergi. Acara perjodohan akan aku batalkan.”

“Separah itu, heh?”

Niken mengangguk.

“Si Pandu suka sama kamu?”

“Nggak. Siapa yang bilang?” tanya Niken heran.

“Lha tadi, kenapa mereka berkelahi?”

“Itu mah karena Jimmy yang kelewat cemburu aja.”

“Nik, kalo misalnya, ini cuma misalnya lho ya. Misalnya Pandu suka sama kamu, kamu mau nggak sama dia?”

“Nggak. Aku kan udah bilang, aku nggak mau pacaran.”

“Sungguh, nih?” tanya Wulan.

“Sungguhan. Kenapa sih? Kamu naksir dia yah…? Aaah… Wulan naksir Pandu rupanya yah?” goda Niken.

“Bukan aku. Ratna. Dia tadi nangis waktu dengar Pandu berantem sama Jimmy gara-gara kamu. Tau sendiri lah si Ratna. Cengengnya minta ampun. Dia pake acara mendekam di kapel segala lho. Nangis sehabis-habisnya di situ. Sampe romo sama koster yang lagi bersih-bersih di sakristi jadi bingung dibuatnya. Kalo kamu nggak keberatan, aku mau kamu ngomongin Pandu soal Ratna. Soalnya dia kayaknya masih di kapel sekarang ini. Nggak mau keluar-keluar. Nggak mau makan segala. Siapa tau Pandu bisa bujuk dia… Tolong Nik…”

“Kenapa kamu nggak bilang ke Pandu sendiri?”

“Ayolah, gampangan kamu yang bilang ke dia. Dia pasti menurut sama kamu.” bujuk Wulan.

“Iya deh, nanti aku bilangin. Tapi dia harus angkut-angkut speaker gede-gede itu dulu sama anak-anak. Abis itu ya…”

“Ndu…” sapa Niken waktu Pandu baru saja selesai angkut-angkut, sambil menyodorkan tissue untuk mengelap keringatnya.

“Kamu hari ini promosi tissue apa gimana sih? Aku udah ngabisin tiga tissuemu hari ini.”

“Kayaknya kamu butuh satu lagi deh.” kata Niken sambil menyodorkan satu tissue lagi. “Tapi yang ini buat Ratna.”

“Ratna?” tanya Pandu bingung.

“He’eh. Dia nangis sesiangan di kapel tuh.”

“Trus apa hubungannya sama aku?”

“Erat sekali. Dia nangis lantaran tau kamu berantem sama Jimmy tadi, dan dia tau itu gara-gara aku. Sama seperti Jimmy, dia pasti merasa sedikit banyak cemburu. Banyak, mungkin.”

“Lantas, aku bisa apa?” tanya Pandu masih tak mengerti.

“Tu anak belum makan siang, dari tadi menangis terus, bikin bingung orang. Kalo nggak cepat-cepat ditolong, dia bisa pingsan, kehabisan tenaga karena belum makan, atau lebih parah, kehabisan air mata.”

“Aku nggak berminat meladeni dia hari ini. Capek.” jawab Pandu ogah-ogahan.

“Ayo, dong. Aku juga merasa bersalah, nih. Paling nggak, temui dia. Jelasin kalo nggak ada apa-apa antara kita. Jadi dia nggak salah paham, dan yang penting nggak menangis terus.”

“Kamu sungguh-sungguh ingin aku deketi dia, Fei?”

“Kata Wulan sih, dia cinta sama kamu. Nggak tau gimana koq dia bisa cinta sama orang konyol kayak kamu, tapi kenyataannya emang iya. Ratna cantik, lembut. Itu kan kriteria cewek idamanmu, kalo nggak salah. Kenapa nggak diembat aja?”

“Baiklah. Aku akan bujuk dia untuk pulang dan nggak nangis lagi. Rasanya nggak bakal susah sih. Nanti aku balik ke sini lagi.”

“Ndu, nggak usah cepat-cepat kembali kesini juga nggak papa. Kamu bakal aku butuhin lagi nanti kalo anak-anak dekor selesai.”

Pandu mengangguk ragu, lalu berlalu dari situ, menuju ke arah kapel di depan.

Ini hari Minggu sore, hampir malam. Gelar Seni sudah secara resmi dibuka tadi pagi. Niken seharian tadi sudah banjir keringat karena dari tadi sibuk mondar-mandir, lari kesana kemari. Rambutnya dikuncir ekor kuda di belakang, jadi tidak mengganggu. Dari tadi siang dia tidak sempat pulang. Niken sengaja bawa baju ganti, jadi dia tadi bisa mandi dan ganti baju di kamar mandi sekolah, untuk acara band nanti malam. Bandnya akan menjadi acara pembukaan pentas band malam ini. Acara puncaknya sih Jabrique band.

“Niken, si Heni demam panggung, tuh, aku udah berusaha nenangin dia, tapi kayaknya gagal total. Tolong dong…” keluh Juned. Niken mengangguk mengerti, lalu menghampiri Heni yang duduk di belakang panggung yang sedang komat-kamit menghafal naskahnya, seperti sedang menghafal mantera saja.

Melihat Niken datang menghampirinya, Heni langsung berdiri dan mengeluh, “Niken, kamu gantiin aku jadi MC hari ini ya. Aku nggak sanggup. Aku takut…”

“Kenapa mesti takut?” Niken memegangi tangan Heni. Dingin sekali tangannya. Keringat dinginnya sudah membuat kertas naskah yang dipegangnya jadi bergelombang dan kucel. “Aku udah bilang sama Juned, aku nggak mungkin milih kamu jadi MC kalo aku nggak yakin sama kemampuanmu. Aku tahu kamu bisa, Heni!” lanjut Niken dengan nada mantap.

“Kamu sepertinya sudah salah pilih, Niken. Aku nggak bisa....”

“Kamulah yang nggak sadar sama kemampuanmu sendiri, Hen. Buang deh itu naskah. Kamu mesti ngomong dari dalam hati kamu.”

Pandu yang juga berdiri di dekat situ, sedang mempersiapkan diri untuk manggung di acara pertama, membisikkan sesuatu pada Niken. Lalu dia berlalu.

Sebentar saja dia datang lagi, membawa Galih. Tanpa ba bi bu, Galih mencium pipi Heni, lalu cuma menganggukkan kepala, terus pergi lagi.

Niken bengong. Heni apalagi. Tapi kemudian, Heni meremas kertas naskahnya, lalu berkata, “Ayo, aku udah siap. Mana Juned?”

Niken tambah bengong. Semenit kemudian, Heni dan Juned sudah asyik bercuap-cuap di atas panggung. Niken yang menonton dari pinggir panggung masih terbengong-bengong.

“Itu yang namanya kekuatan cinta.” bisik Pandu.

Niken masih bengong, menatap wajah Pandu, meminta penjelasan.

“Aku tau Heni sudah lama naksir Galih. Galih juga suka sama Heni, tapi nggak tau kalo Heni naksir dia, jadi nggak berani ngomong. Hari ini aku sudah jadi mak comblang yang baik kan?” kata Pandu sambil mengedipkan sebelah matanya.

Niken lalu tertawa terbahak-bahak. “Terus kenapa Galih nggak bilang apa-apa sama Heni?”

“Cinta nggak butuh kata-kata, Fei. Heni tahu sekarang kalo Galih juga cinta sama dia. Itu saja cukup.”

Niken kembali ke kebengongannya. Pandu mau tidak mau harus mengagetkannya, karena Heni dan Juned sudah menyebut-nyebut band mereka.

“Hoi! Mau manggung sekarang apa tahun depan?”

“Oh…! Ya sekarang dong!” kata Niken menyambar stick drum-nya di meja.

Baru aja Niken keluar dari panggung, Sandra dengan wajah pucat sudah menyambutnya dengan berita buruk.

“Niken, aku baru aja dikontak manager Jabrique. Mereka nggak bisa manggung malam ini karena ada komitmen lain. Bull shit, lah. Gimana nih? Padahal Jabrique udah dijadwalkan nyanyi 2 lagu malam ini. Gimana dong, Niken?!”

Kepala Niken jadi pusing mendadak. Seperti drum yang dipukul-pukul rasanya, tapi tanpa ritme yang jelas. “Kasih aku waktu buat mikir, San. Aku keluar panggung dulu. Sumpek.”

Niken keluar lewat pintu panggung belakang. Pandu mengikutinya.

“Koq Jabrique nggak bertanggung jawab begitu, sih?” Pandu mengomel.

“Ini salahku. Mestinya aku punya back-up plan buat ini. Seharusnya aku tahu mereka bisa membatalkan sewaktu-waktu. Mereka kan band terkenal. Teman-teman pasti kecewa semua. Aduh, kepalaku jadi pusing deh. Aku nggak tau mesti gimana.” sahut Niken jujur.

Baru kali ini Pandu mendengar Niken nggak tahu harus berbuat apa. Biasanya Niken pasti punya jalan keluar.

“Rileks, Fei. Kalo rileks kita pasti nemuin jalan keluar.” kata Pandu berusaha menghibur, sambil mendekat ke arah Niken. Kedua tangannya diletakkan di bahu Niken, kiri dan kanan, lalu mulai memijit-mijit bahu Niken.

Niken memejamkan matanya. Enak sekali dipijit begini. Apalagi kalau sedang pusing seperti sekarang. Angin malam semilir membantu menenangkan suasana hatinya. Pikirannya melayang ke ciuman Galih tadi.

Pandu ikut memejamkan matanya, ikut berpikir, sementara tangannya masih memijit bahu Niken. Kasihan Fei Fei, dia pasti capek seharian sibuk terus, kata Pandu dalam hati. Hari ini dia melihat sisi lain dari Niken. Niken bisa juga merasa tak berdaya. Entah setan dari mana, tiba-tiba saja dia bisa merasakan sesuatu yang harusnya dia ketahui sejak pertama ketemu Niken. Cinta!

“Kenapa aku baru menyadarinya sekarang?” Pandu mengutuk dirinya dalam hati. Walaupun belum pernah merasakan ini sebelumnya, dia yakin ini tak lain dan tak bukan adalah cinta. Ibunya benar, cinta itu datangnya nggak terduga-duga, dan kalau sudah datang tak bisa diusir-usir. Kalau saja ibu ada di sini sekarang, ibu pasti tahu apa yang harus dilakukannya. Haruskah dia bilang terus terang sama Niken? Dengan resiko berat harus kehilangan persahabatannya? Atau tidak usah bilang, dengan resiko kehilangan kesempatan memperoleh cinta sejati?

Aduh, kepala Pandu jadi ikut pusing.

“Ndu, kamu udah menemukan jalan keluar belum?” Niken membuyarkan angan-angannya.

“Belum.” sahut Pandu singkat. “Tapi aku sudah menemukan yang lain,” serunya dalam hati.

“Kita punya waktu sekitar satu jam sebelum jadwal manggung buat Jabrique. Ide apapun aku bakal pertimbangkan deh, karena aku sama sekali blank, aku nggak punya ide sama sekali.”

“Sssh… jangan berpikir yang buruk-buruk dulu. Cobalah menikmati suasana malam ini.” kata Pandu masih memejamkan matanya.

“Ndu, jangan tidur kamu ya!” ancam Niken.

“Nggak nggak… jangan kuatir. Aku sedang ikut berpikir koq. Kamu coba tenang dulu, lah.”

Setelah diam selama kurang lebih lima menit, Pandu membuka matanya.

“Aku ada ide! Fei, apapun yang terjadi, percaya deh sama kata-kataku. Aku bakal kembali tepat di saat yang ditentukan, dengan solusiku. Aku sekarang harus pergi dulu. Kamu tunggu di sini.”

“Hey… tunggu. Aku ikut dong.”

”Kamu di sini aja. Anak-anak di sini butuh dukunganmu. Percaya deh. Aku sudah punya solusi yang tepat. Kamu nggak usah kuatir, ok?” kata Pandu sambil berlari ke arah depan.

*

Sudah saatnya. "Mata jangkrik itu di mana sih?" gerutu Niken.

“Niken, liat tuh Pandu manggung.” kata Sandra menunjuk ke arah panggung.

Benar katanya. Dia muncul dari depan panggung dengan menenteng keyboard.

“Gila tu anak. Tampil tanpa persiapan lagi. Moga-moga aja nggak kacau-balau.”

Well it’s been building up inside of me for oh, I don’t know how long

I don’t know why but I keep thinking something’s bound to go wrong…

Don’t worry baby… Don’t worry baby…

…But I can’t back down now because I pushed the other guys too far…

Don’t worry baby… Don’t worry baby…

Dari samping panggung Niken dapat mendengar jelas suara Pandu. Maklum, speaker ada di dekat situ. Suaranya begitu jernih, Niken jadi merasa tenang sekarang. Sepertinya Pandu sudah menyelamatkan shownya malam ini. Tanggapan anak-anak yang nonton di depan panggung pun sangat positif. Histeris, malah.

Selama menyanyi, Pandu sesekali menoleh ke arah Niken berdiri. Niken selalu tersenyum manis setiap tahu Pandu menoleh ke arahnya.

Nggak cuma itu, karena Pandu tau Jabrique dijadwalkan nyanyi dua lagu malam ini, dia menyanyi lagi setelah lagu itu selesai, kali ini lagu REO Speedwagon. Pandu sangat ahli memainkan keyboardnya.

I can’t fight this feeling any longer

And yet I’m still afraid to let it flow

What started out as friendship has grown stronger

I only wish I had the strength to let it show

I tell my self that I can’t hold out forever

I said there is no reason for my fear

‘Cause I feel so secure when we’re together

You give my life direction

You make everything so clear

And even as I wander

I’m keeping you in sight

You’re a candle in the window

On a cold, dark winter’s night

And I’m getting closer than I ever thought I might

And I can’t fight this feeling anymore

I’ve forgotten what I started fighting for

It’s time to bring this ship into the shore

And throw away the oars, forever

‘Cause I can’t fight this feeling anymore

I’ve forgotten what I started fighting for

And if I have to crawl upon the floor

Come crushing through your door

Baby, I can’t fight this feeling anymore…

Seusai lagu itu, dia membungkuk memberi hormat dan menebar ciuman pada penonton dengan tangannya. Sambutan penonton begitu meriah, semua tersepona oleh lagu-lagu Pandu tadi. Niken dari belakang panggung lega sekali.

Begitu Pandu sampai di belakang panggung, langsung dipeluknya.

“Terima kasih, Ndu, showmu bener-bener sudah menyelamatkan malam ini. Aku nggak tau mesti bilang apa. Aku lega sekali.” kata Niken sambil berteriak-teriak histeris.

“Jangan senang-senang dulu. Aku musti ngomong sesuatu sama kamu. Keluar yuk.” ajak Pandu, yang walaupun senang dipeluk Niken harus dengan berat melepasnya.

“Ada apa sih, Ndu? Kamu boleh ngomong apa aja deh. Aku bener-bener ngerasa bersyukur punya kamu.”

“Lagu tadi… Aku sungguh-sungguh menyanyikannya.” kata Pandu.

“Lalu? Maksudmu? Hmm.. Aku nggak ngerti maksud kamu.” Wajah Niken yang tak berdosa benar-benar menggambarkan kebingungan.

“Aku sayang kamu, Fei. Sebelum kamu protes, aku mesti bilang, aku juga baru menyadarinya sejam yang lalu.” kata Pandu mengungkapkan isi hatinya. Nah, segalanya sudah terucap.

“Ndu, kamu mestinya kenal sifatku lebih dari ini. Kamu tau sendiri aku…”

“Aku tahu. Kamu sering bilang. Kamu nggak percaya sama yang namanya cinta atau pacaran atau apapun sinonimnya, dan segala tetek bengeknya. Aku sangat paham. Makanya aku juga baru nyadar sekarang, karena mungkin aku nggak pernah berpikir ke situ juga. Tapi aku juga tau, orang sebaik kamu layak dicintai, dan layak untuk berbahagia. Aku cuma ingin dapat mencintaimu, dapat bikin kamu bahagia...”

“Stop, Pandu. Aku nggak mau denger lagi.” kata Niken sambil menutup kedua telinganya.

Pandu memegang kedua tangan Niken, menjauhkannya dari telinganya.

“Kamu harus mau dengar, Fei. Bahkan Jimmy pun bisa bilang, kamu harus mau belajar mencintai. Membuka dirimu. Kamu berhak dan sangat layak dicintai, Fei.”

“Aku nggak bisa percaya sama diriku sendiri. Selama ini aku bisa jaga diriku sendiri baik-baik. Cinta bakal merusak segalanya. Termasuk persahabatan kita. Ayolah, Ndu, tarik kembali kata-katamu.” pinta Niken dengan memelas.

”Aku bisa saja menarik kata-kataku. Tapi aku nggak bisa menipu diriku sendiri, Fei. Aku cinta sama kamu. Maksudku cinta, adalah selamanya, Fei. Aku belum pernah merasa seperti ini. Aku merasa seperti mati-hidupku ada di tanganmu sekarang.”

Niken menengadah ke arah langit. Pandu jadi tahu apa yang ada di otak kecil Niken sekarang.

“Kamu berpikir tentang kejadian buruk yang menimpa kakakmu? Kamu harusnya tahu, aku bukan cowok semacam itu.”

“Bagaimana aku bisa tahu? Aku yakin cici waktu itu juga mengira pacarnya yang brengsek itu sangat mencintainya.” Harus diakui Niken cukup kaget karena Pandu sanggup membaca pikirannya.

“Baiklah. Bagaimana kalo aku berjanji nggak akan pernah menyentuhmu. Aku nggak perlu itu untuk mengungkapkan cintaku, Fei. Aku bilang ini dengan tulus hati. Kamu bisa percaya sama aku, Fei. Aku nggak pernah mengecewakan kamu kan?”

“Kalo kamu butuh cinta, kenapa nggak ambil yang available saja. Ratna misalnya.”

“Kamu nggak paham-paham juga, ya, Fei? Aku nggak cinta sama Ratna. Aku cintanya sama kamu. Cinta itu nggak bisa dipaksain. Fei, aku nggak minta kamu jawab sekarang. Aku tahu kamu belum siap, karena kamu belum pernah mengenal apa itu cinta. Aku berharap, mungkin, dengan melihat caraku mencintaimu, kamu bisa melihat bahwa ada cinta yang suci, yang layak diperjuangkan. Aku cuma ingin kamu nggak menolak aku sekarang ini.”

“Aku nggak tau mesti bilang apa, Ndu. Kamu seharusnya nggak bilang begini. Kamu merusak segala-galanya. Aku kira kamu temanku. Ternyata kamu menusukku dari belakang dengan embel-embel cintamu.” kata Niken sambil berlari berlalu dari situ.

Pandu cuma bisa menggeleng-gelengkan kepalanya. Mengikuti Niken saat ini juga percuma, dia yakin tidak akan bisa meyakinkan gadis yang teramat keras kepala ini. Wulan yang baru mau menyelamati Niken atas suksesnya acara mereka malam itu, melihat Niken berlari keluar jadi mengurungkan niatnya. Dia menatap Pandu yang masih berdiri terpaku di belakang panggung. Pasti ini ulah Pandu, pikirnya.

“Kamu apain dia, Ndu?” tuduh Wulan.

“Aku cuma berusaha jujur sama dia, kalo aku sayang sama dia…” kata Pandu masih menatap Niken yang bayangannya semakin kecil menjauh.

“Kamu cinta sama Niken? Aduh, Ndu… kamu koq nambah-nambahin masalah sih?” keluh Wulan. “Kamu udah pernah diceritain Niken tentang kakaknya? Tentang niat perjodohannya?”

“Sudah, sudah. Sudah semua. Aku nggak bisa mencegah semua itu terjadi, Wulan. Aku…”

“Seandainya Niken cinta sama kamu pun, dia nggak akan berani melawan papanya. Papanya bisa shock kalo tau hal ini.”

Pandu diam saja. Dia masih bingung. Bukan bingung akan perasaan cintanya, itu dia sudah yakin. Bingung mesti berbuat apa. Musti bersikap bagaimana terhadap Niken.

“Wulan, kamu pernah bilang, kamu nggak yakin Niken benar dalam prinsipnya yang nggak mau menerima cinta. Aku benar-benar cinta sama dia, Wulan. Boleh percaya boleh nggak, tapi aku belum pernah jatuh cinta, dan belum pernah pacaran. Mungkin itu juga sebabnya dia nggak bereaksi tadi, karena aku nggak tau bagaimana caranya merayu cewek… Aku butuh bantuanmu…”

“Tunggu. Kamu bilang apa tadi? Kamu belum pernah pacaran?” tanya Wulan berusaha mengoreksi.

“Kamu boleh tanya sama ibuku, sama siapa saja yang pernah kenal aku. Aku belum pernah jatuh cinta. Persahabatanku sama Niken itu hubungan terdekatku dengan seorang cewek. Itu juga lantaran aku nggak sadar aku sudah jatuh cinta sama dia sejak awal jumpa. Sekarang aku baru sadar, dan perasaan itu sungguh indah, tapi sangat menusuk, sakit sekali. Apalagi kalau memikirkan dia bakal menjauhi aku. Oh, Wulan, kamu harus bantu aku.”

“Aku nggak tau mesti bantuin gimana. Niken itu orang yang susah di hal-hal seperti ini. Aku nggak bisa bantuin kamu sebelum aku yakin Niken juga cinta sama kamu.”

“Aku cuma butuh kamu bantuin aku untuk meyakinkan dia untuk mau membuka dirinya. Kalau pada akhirnya terbukti bahwa dia nggak mencintaiku, akan ada seorang cowok yang beruntung yang bisa memilikinya, membahagiakan dia. Kamu percaya Niken layak mendapatkan itu kan?”

“Iya sih. Baiklah. Aku nggak berani janji apa-apa, melihat kondisinya seperti ini sekarang. Kata-katamu tu selalu meyakinkan. Aku nggak tahu kenapa Niken nggak mau percaya sama kamu. Semoga saja kamu nggak bohongin aku.”

“Aku nggak akan pernah main-main sama yang namanya cinta. Dosa kata ibuku. Kamu bisa percaya deh sama aku tentang yang satu ini.”

“Duh, Gusti, kamu punya banyak pilihan, kenapa juga hatimu mesti memilih jatuh cinta sama orang yang sulit, Pandu?”

Pandu hanya bisa membisu. Campur aduk perasaannya saat ini. Bahagia, karena baru saja menyadari perasaan hatinya. Berbunga-bunga, penuh rasa cinta. Di saat yang sama juga merasa sedih, karena tidak bisa mengungkapkan rasa sayangnya yang meluap-luap itu pada gadis yang dicintainya. Juga bingung, karena mungkin rasa cintanya ini bakal membuat gadis itu menderita.

Malam itu juga, Pandu menceritakan segala-galanya pada ibunya. Ibunya sabar, diam mendengarkan. Di tengah-tengah keputusasaannya, Pandu bahkan sempat menangis. Terakhir kali ibunya melihat Pandu menangis waktu kelas 1 SD, waktu kakeknya meninggal. Pasti Pandu sangat mencintai gadis ini.

“Ibu nggak heran kamu jatuh cinta sama Niken.” kata ibunya kemudian.

“Ibu nggak keberatan, walaupun Niken bukan gadis Jawa?” tanya Pandu.

“Tentu saja nggak. Kamu sudah Ibu besarkan, Ibu didik dengan pengertian bahwa semua manusia itu sama di mata Tuhan. Ibu bangga, kamu bisa melihat jati diri Niken dari balik perbedaan kulitnya. Ibu pun bisa melihat Niken sebagai seorang gadis yang teramat cantik, karena kecantikan dari dalam dirinya.”

“Bagaimana aku bisa yakin kalau ini benar-benar cinta, Bu? Bukan sekadar perasaan sementara saja?” tanya Pandu.

“Itu kamu harus bisa merasakannya sendiri. Ibu nggak bisa menilai. Ibu cuma bisa menyarankan, ikuti kata hatimu.”

Ibunya lalu menghibur Pandu dengan bercerita tentang jaman ibu pacaran sama bapak dulu, cerita-cerita cinta kakak-kakaknya, dengan segala perjuangannya masing-masing. Dengan mendengarkan cerita ibunya, Pandu jadi semakin yakin dia perlu memperjuangkan cintanya, karena cinta itu hal yang paling mulia di dunia ini, yang layak untuk dipertaruhkan.

Hari Senin, tanggal 17. Anak-anak bersiap-siap untuk mengikuti upacara bulanan yang selalu diadakan tiap tanggal 17. Niken tadi sudah sampai sekolah jam setengah tujuh kurang, tapi lupa kalau hari ini tanggal 17, jadi tadi tidak memakai seragam upacara. Lantas pulang lagi, ngebut, ganti baju seragam lalu kembali ke sekolah lagi. Sampai sekolah jam tujuh kurang lima menit, bertepatan dengan bel pertama masuk. Pintu gerbang hampir saja ditutup. Niken cepat-cepat lari ke dalam kelas, untuk menaruh tas sekolahnya. Dari jauh dilihatnya koridor sudah sepi, semua anak sudah mulai berbaris di lapangan, rupanya. Setelah menaruh tasnya dari luar jendela, dia berbalik ke arah lapangan. Dilihatnya Pandu baru saja keluar dari WC putra. Berusaha menghindar, dia balik kanan, masuk ke dalam kelas lagi. Rupanya Pandu cukup awas matanya. Maklum, mata elang ini.

“Fei," panggil Pandu cepat. "Untung ada kamu. Tolongin dong aku dari tadi di WC berusaha pake dasi ini nggak bisa-bisa.” kata Pandu dengan nada putus asa.

Niken ragu-ragu mendekat. Dia lalu tersenyum geli melihat dasi Pandu yang kucel karena terlalu banyak dilipat-lipat.

“Kenapa nggak dipakai dari rumah dasinya? Kan bisa minta tolong ibumu?” tanya Niken sambil menerima dasi dari tangan Pandu.

“Panas dong pake dasi dari rumah, apalagi aku naik sepeda.” kilah Pandu.

Niken yang sedari kecil sering melihat papanya memakai dasi, ilmu pasang dasi bukanlah hal yang baru untuknya.

Niken lalu menaikkan kerah baju Pandu. Sekilas, tak sengaja ditatapnya wajah Pandu. Alisnya yang tebal, mata coklatnya benar-benar menawan. “Aduh, kenapa jadi deg-degan begini, sih?” keluhnya dalam hati, lalu memusatkan perhatiannya pada dasi yang menggantung di leher Pandu.

“Malu-maluin ah, cowok nggak bisa pakai dasi.” kata Niken, matanya masih tertumbu pada dasi Pandu.

“Emang cowok harus bisa pake dasi? Aku belum pernah ke acara di mana aku harus pake dasi koq.” bela Pandu.

“Nih… sudah jadi. Gimana? Bagus nggak?” tanya Niken sambil merapikan hasil karyanya.

“Perfect. Makasih ya Fei. Oh ya… tentang kemarin…”

“Tolong jangan sebut-sebut tentang kemarin, Ndu. Please.”

“Aku cuma mau minta maaf, kalau aku sudah sakiti hati kamu kemarin. Tapi aku benar-benar serius, Fei.” lanjutnya.

Niken diam saja, membeku.

“Keluar, yuk. Upacara sudah hampir mulai, tuh!” kata Pandu mengingatkan.

Selesai upacara, seisi sekolah jadi gempar karena Ratna kehilangan gelang emasnya yang dia tinggal di laci mejanya. Bodoh benar Ratna, dia memang sering menaruh barang-barang berharga di laci. Uang, gelang, dan lain-lain.

Kepala sekolah mengumumkan akan mengadakan penggeledahan segera. Dari kelas satu sampai kelas tiga. Semua kelas akan digeledah total sampai gelang Ratna ketemu.

Anak-anak berkumpul di depan kelasnya masing-masing. Niken melihat Jimmy lewat. Jimmy yang juga melihatnya memandang Niken dengan tampang licik. Niken mengernyitkan dahinya. Instingnya langsung bekerja.

“Pandu!” Niken memanggil Pandu yang berdiri tidak jauh dari situ.

“Perasaanku nggak enak. Bisa jadi ini adalah akal-akalannya Jimmy. Coba cek tas kamu, Ndu.” kata Niken mengajak Pandu masuk kelas, ke arah meja mereka.

Pandu mengecek seisi tasnya. Tidak ada apa-apa. Tak ada satupun barang yang hilang, maupun barang yang mencurigakan.

“Cek ulang,” perintah Niken. “Aku nggak mungkin salah.” gumamnya. “Pasti ada apa-apanya, nih.”

Niken lalu melongok ke laci meja Pandu.

“Astaga, Pandu!”

Pandu terkejut, ikut melongok ke arah lacinya. Tidak cuma gelang Ratna yang ada di situ. Uang dalam jumlah besar juga ada di situ. Pandu dan Niken saling menatap, tidak percaya.

“Fei, aku nggak pernah…” kata Pandu bingung.

“Aku percaya. Kamu nggak akan mencuri. Sekarang bagaimana kita menghapus bukti ini, dan cepat!” kata Niken panik.

“Ndu, pindahin semua uang ke laciku. Aku bisa mengaku itu uangku. Ayo cepat.” katanya.

Good idea. Selesai memindahkan semua uang kertas itu ke laci Niken, mereka baru nyadar.

“Gelangnya?!” kata mereka hampir bersamaan.

“Taruh di laciku aja, Ndu. Siapa tau mereka percaya bahwa itu gelangku.” kata Niken.

“Nggak. Aku nggak akan lakukan itu. Terlalu beresiko, Fei.” kata Pandu sambil memegangi gelangnya.

“Lebih beresiko kalo ada di lacimu, Ndu. Ayo dong, berikan padaku.”

“Jangan!”

“Nggak usah berebut, serahkan pada saya.” tiba-tiba Pak Yusril sudah berada di ruang kelas.

Seperti tercekik, mereka tak bisa berkata apa-apa. Pandu menyerahkan gelang itu pada Pak Yusril dengan gemetaran.

“Kalian berdua, ikut saya ke kantor.”

Dengan langkah lunglai dan kepala tertunduk, mereka berdua mengikuti Pak Yusril ke kantor kepala sekolah.

“Niken, kamu tunggu di luar. Saya mau bicara dengan Pandu dulu.”

Niken lalu duduk di kursi di luar kantor kepala sekolah dengan cemas. Dari luar tidak terdengar apa-apa. Setidaknya Pandu tidak dibentak-bentak, pikirnya. Kalau dibentak pasti terdengar dari luar ruangan. "Kasihan Pandu. Jimmy kurang ajar," pikir Niken geram. Setengah jam kemudian, pintu terbuka kembali.

“Pandu, kamu tunggu di luar. Niken, masuk.”

Setelah menutup pintu, Niken duduk di depan meja Pak Yusril.

“Ceritakan apa yang kamu tahu.” kata Pak Yusril.

“Ini semua ulah Jimmy, Pak. Dia yang memfitnah Pandu. Saya nggak punya buktinya sekarang, tapi Pandu nggak bersalah.”

“Benarkah itu? Kenapa Jimmy mau memfitnah Pandu?” tanya Pak Yusril.

“Karena Jimmy cemburu sama Pandu. Ceritanya panjang, Pak. Mereka hari Sabtu kemarin berkelahi di lapangan parkir setelah pulang sekolah. Ini pasti akal-akalannya Jimmy, Pak. Saya tidak mencuri gelang itu. Pandu juga tidak mungkin.”

“Aneh sekali.” kata Pak Yusril kemudian. “Karena Pandu baru saja mengakui semua perbuatannya.”

“Apa?!”

“Pandu bilang, kamu tidak ada sangkut pautnya dengan hal ini. Kamu cuma berusaha menyadarkan dia bahwa mencuri itu salah. Dia yang melakukan semua ini. Dia pun sama sekali tidak menyebut nama Jimmy. Dia mencuri gelang itu waktu anak-anak sudah keluar semua ke lapangan pagi tadi.”

“Dia bohong, Pak. Saya bersama dia tadi sebelum upacara. Di kelas 2C. Waktu saya masuk, dia dari WC putra, dan dia mengaku sudah lama di WC karena nggak bisa pake dasi. Terus saya yang memakaikan dasinya. Dia ke lapangan bersama saya, Pak.”

“Kamu tahu hukuman apa yang harus saya berikan untuk pencuri?” Pak Yusril bertanya lagi.

Niken menggeleng lemah.

“Skors seminggu untuk pertama kali ketahuan. Kedua kali dikeluarkan.” jawab Pak Yusril tegas.

“Pak, ini masalah serius. Saya belum pernah berbohong, terutama dalam masalah kritis seperti ini. Saya tidak akan membela Pandu jika saya yakin Pandu bersalah. Ini hampir ujian naik kelas, Pak. Kalau diskors, Pandu…”

“Pandu sudah mengakui perbuatannya, Niken. Kalau kamu bisa menunjukkan bukti-bukti bahwa dia bukan pencurinya, saya bersedia mencabut hukuman itu.”

“Saya tahu Jimmy pencurinya. Tapi saya tidak punya bukti apa-apa sekarang.” kata Niken lemas.

“Saya tidak ada jalan lain, Niken. Hukuman Pandu mulai besok pagi. Kalian berdua kembali ke kelas.”

Di luar pintu, Niken melihat Pandu duduk tertunduk di kursi.

“Ndu, kenapa kamu bilang begitu sama Pak Yusril? Kenapa kamu mengaku bersalah kalau kamu nggak berdosa?”

Pandu diam saja. Dia lalu melangkah menuju ke kelas.

“Pandu. Jawab dong. Kita bisa sama-sama mencari bukti bahwa Jimmy pencurinya. Kamu nggak perlu mengakui sesuatu yang bukan kesalahanmu.” kata Niken sambil berusaha mengikuti langkah Pandu.

“Fei, dengar. Pikir dong. Kalau aku nggak akui ini, masalah ini bakal diekspose besar-besaran. Besar kemungkinannya kamu ikut diskors. Kita cuma bisa lebih hati-hati di lain waktu, jadi tidak terjebak seperti ini lagi. Yang sudah terjadi ya sudah. Jimmy pasti sudah memikirkan segala-galanya. Bagaimana kamu bisa menemukan bukti bahwa dia yang mencuri? Kamu nggak punya bukti apapun untuk memulai tuduhanmu. Semua bukti mengarah ke aku. Ini jalan keluar terbaik, percayalah, Fei. Jangan perpanjang masalah ini.”

“Kamu bisa minta waktu untuk membuktikan ketidakbersalahanmu, Ndu. Aku pasti akan bantu.” cegah Niken.

“Berapa lama, Fei? Seminggu, sebulan, dua bulan? Pak Yusril tidak akan setuju. Dia pasti menganggap aku pencuri yang berusaha melepaskan diri dari hukuman, dan kamu berusaha menolong pelarianku. Sudahlah, Fei. Lupakan saja.”

Niken terpana. Dari kata-kata Pandu, Niken bisa jelas menangkap bahwa Pandu mengaku cuma dengan maksud untuk melindunginya. Kenapa dia harus berbuat seperti itu?

“Ndu, tunggu!” kata Niken mengikuti Pandu. “Aku bisa melindungi diriku sendiri. Aku nggak butuh pertolonganmu untuk membelaku, Ndu. Kamu nggak perlu berkorban seperti ini.”

“Fei, aku nggak akan bisa memaafkan diriku sendiri jika kamu sampai ikut diskors. Aku melihat ini satu-satunya cara untuk melepaskan kamu dari segala tuduhan. Sudahlah, Fei, kamu nggak akan pernah mengerti.”

“Karena yang kamu bilang kemarin, karena kamu sayang sama aku?” tanya Niken lagi.

Pandu menatap wajah Niken lekat-lekat. Wajah yang begitu polos dan tanpa dosa. Digenggamnya kedua lengan Niken dengan kedua tangannya.

“Aku pun nggak tahu, Fei, kenapa aku berbuat seperti ini. Kamu boleh bilang aku gila. Memang kenyataannya begitu. Kamu satu-satunya cewek yang bikin aku seperti ini, Fei. Aku mengerti kamu nggak mau tahu. Tapi aku nggak akan pernah menyesali keputusanku ini. Suatu saat aku akan membuatmu percaya, cinta suci itu ada, dan layak diperjuangkan.”

Sesudah berkata-kata, Pandu cepat-cepat berlalu ke kelas. Niken mengikutinya dengan langkah pelan-pelan di belakang. Ada perasaan asing menyelimuti hatinya waktu Pandu ngomong tadi. Belum pernah ada orang yang rela berkorban buat dia seperti ini. Dia dibesarkan di lingkungan yang kurang toleransi, dimana tiap orang harus berjuang untuk kepentingannya sendiri. Lingkungan yang memproteksi dirinya dari luar, sehingga dia tak pernah merasa kecewa, tak pernah merasa kekurangan, selalu berkecukupan, tapi di lain pihak haus akan kebebasan dan kebahagiaan yang tidak pernah didapatnya dari pojok manapun di rumahnya. Dalam waktu berbulan-bulan belakangan ini, Pandu secara tidak langsung telah mengajarkannya untuk menghargai hal-hal kecil yang menyentuh hatinya. Pandu telah mengenalkannya pada sisi lain di dunia ini yang membuatnya bahagia. Pandu tadi bilang, dia satu-satunya cewek yang bikin Pandu seperti itu, otak Niken menganalisa, Pandu juga satu-satunya orang yang bikin Niken jadi seperti ini. Pandu yang baik, Pandu yang ganteng, Pandu yang… mata elang?

Siang itu Niken mengajak Wulan main ke rumahnya, seperti biasanya. Ngobrol-ngobrol di kamar, Wulan suka sekali membaca puisi-puisi Niken. Terutama akhir-akhir ini, setelah kenal Pandu, Niken lebih sering menulis puisi-puisi ringan yang riang, dibanding puisi-puisinya terdahulu yang membuat orang sedih saja.

“Wulan, kamu sudah pernah jatuh cinta? Jatuh cinta tu rasanya seperti apa sih?” tanya Niken.

“Kamu nggak pernah ngomong seperti ini, Nik. Tumben. Kesambet apa sih?” Wulan balas bertanya.

Niken diam saja, tapi wajahnya memelas, seakan berkata, “Jawab dong…”

“Sama seperti kamu, aku juga belum pernah jatuh cinta. Naksir sering, tapi jatuh cinta... sepertinya belum pernah. Kenapa sih tanya-tanya?”

“Emang apa bedanya naksir sama jatuh cinta?” Niken tidak mau menjawab, malah bertanya lagi.

“Blo’on benar ini anak. Naksir tu cuma sekadar suka karena dia ganteng, atau karena salah satu kelebihan di dirinya. Biasanya ya karena ganteng itu tadi. Misalnya, aku naksir Brad Pitt, gitu. Nggak berarti aku pengen pacaran sama dia. Brad Pitt kayaknya contoh kejauhan deh. Misalnya Mas Bayu, tetangga sebelah rumahku. Kalo ngeliat dia rasanya gimanaaa gitu. Tapi ya cuma sebatas itu aja. Nggak ada niatan untuk menyayang atau disayang sama dia.”

“Trus kalo cinta yang kayak gimana?”

“Reaksi orang terhadap cinta tu lain-lain, Nik. Ada yang nggak suka makan, nggak bisa tidur, mikirin si jantung hati. Ada yang malah makan terus, tidur juga pulas, karena mimpiin si jantung hati. Jadi aku nggak bisa jelasin definisinya, karena terlalu abstrak dan tiap orang lain-lain reaksinya.”

“Oke… Kasih contoh cinta jadi aku bisa ngerti dong.” kata Niken.

“Banyak dong… Romeo and Juliet, yang paling terkenal. Mati demi membela cinta. Cinta yang aku pernah rasakan adalah cinta ibuku. Aku nggak pernah ketemu bapakku. Tapi ibu mencurahkan segala cintanya pada aku dan adikku. Ibuku yang seorang diri menjadi ibu dan bapakku sekaligus. Masih banyak contoh-contoh lain, Nik. Yang pasangan-pasangan terkenal legendaris biasanya karena mereka mati tragis membela cinta. Ya seperti Sam Pek dan Eng Tay, Roro Mendut dan Pronocitro. Cinta yang paling terkenal, cinta Yesus yang rela mati menebus dosa manusia, makhluk yang dicintainya.”

“Hmm…” Niken cuma menggumam.

“Mereka terkenal karena seakan-akan mereka telah menjadi pahlawan cinta. Memperjuangkan cinta mereka sampai titik darah terakhir. Membuktikan bahwa cinta sejati itu benar-benar ada dan mereka nggak segan-segan mempertaruhkan nyawa untuk memperolehnya.”

“Jadi yang dialami kakakku, itu bukan cinta?” tanya Niken ragu-ragu.

“Menurutku itu cinta juga. Sepihak tapinya. Kakakmu benar-benar cinta mati sama cowok itu, tapi si cowok bajingan itu cuma mempermainkan dia aja. Kalo kamu mau cerita yang sebenarnya, kenapa nggak tanya saja sama itu cowok? Dia kan saksi hidup. Kenapa kamu nggak tanya ke dia?” Wulan menyarankan.

“Kenapa aku nggak pernah mikir itu, Wulan? Pinter juga kamu.” Niken mengacungkan jempolnya.

“Wulaaan…” kata Wulan sambil menepuk dadanya.

“Aku telfon dia sekarang yah…” kata Niken.

“Silahkan saja. Aku perlu keluar?” tanya Wulan.

“Nggak usah. Kamu di sini aja, kalo ngantuk tidur aja, Wulan.” saran Niken. “Aku ke kamar cici dulu, pasti nggak susah untuk menemukan nomor telepon Edi.” lanjutnya.

Memang tidak susah mencari nomer telepon Edi di kamar Tasya, kakak Niken. Namanya jelas ada di address book Tasya, di baris nomor satu, pula. Setelah mendapatkan nomer teleponnya, Niken balik lagi ke kamarnya, lalu mengambil gagang telepon wireless di kamarnya.

“Hallo, bisa bicara dengan Edi?”

“Ya, ini Edi. Ini siapa yah?” tanya Edi. Jelas saja itu Edi, orang Niken menelepon nomor telepon genggamnya.

“Namaku Niken.” kata Niken. Dia ingin tahu apakah Edi mengenal namanya.

“Niken… adiknya Tasya?” tanya Edi. Halus sekali suaranya waktu menyebut nama Tasya.

“Betul.”

“Apa yang bisa aku bantu, Niken?” tanya Edi sopan. Niken tidak menyangka Edi bisa sesopan ini. Terakhir kali bertemu Edi, dia tidak seperti ini. Sombong sekali.

“Aku ingin keterangan darimu. Aku ingin tahu, apakah cici itu benar-benar cinta sama kamu, dan apakah kamu nggak cinta sama cici, sampai dia mati bunuh diri?” tanya Niken to the point.

“Tasya… dia sangat mencintai aku. Rasanya aku nggak akan mungkin bisa menemukan orang yang mencintai aku seperti dia. Aku… walaupun malu, aku harus mau mengakui, aku nggak menganggap serius Tasya waktu itu. Aku terlalu bejat. Aku menganggap Tasya terlalu naif, mengumbar kata-kata cinta. Aku sendiri nggak pernah mengerti apa sebenarnya cinta, dan belum pernah merasakannya, sampai saat sudah terlambat.” kata Edi pelan.

“Lantas kenapa kamu bunuh dia secara nggak langsung? Dia hamil, Edi, kamu tau kan?” tuding Niken emosi.

“Aku tahu. Aku memang benar-benar bajingan. Nggak seharusnya aku mempermainkan cintanya. Aku yang memaksa dia untuk menyerahkan kehormatannya padaku. Yang ada di kepalaku waktu itu cuma kenikmatan seksual belaka, sementara dia mengira aku mencintainya. Waktu aku tahu dia hamil, aku tahu nggak mungkin ada orang lain yang bisa menghamili dia selain aku. Aku panik. Aku nggak mau mengorbankan masa depanku. Tasya sendiri malah sudah siap untuk menikah, dan lain-lain. Aku egois sekali. Aku usir dia dari rumahku, aku nggak mau mengakui perbuatanku. Dia menangis memohon-mohon malam itu.”

“Kamu nggak berperasaan, Edi.”

“Benar. Aku memang jahat. Mungkin kamu nggak tau, tapi dia jatuh di depan rumahku malam itu. Hujan deras. Dia keguguran. Aku bawa dia ke rumah sakit. Ada sedikit perasaan lega waktu itu, mengetahui bahwa aku nggak harus bertanggung-jawab…”

“Keguguran? Jadi kenapa dia bunuh diri?” Niken bingung.

“Dia sakit hati karena perlakuanku. Dia berkali-kali bilang dia mencintaiku. Aku bilang, aku nggak sanggup mencintainya, apalagi menikahinya. Aku sakiti perasaannya lagi. Aku bahkan bilang, aku hanya mempermainkannya. Terakhir kali aku bertemu dia ya di rumah sakit itu. Aku pergi, meninggalkan dia sendirian di kamar. Aku nggak tahu bagaimana dia bisa pulang ke rumah malam itu. Naik taksi, mungkin.”

Edi lalu melanjutkan, “Aku shock waktu mendengar Tasya bunuh diri. Aku nggak menyangka dia benar-benar mencintaiku. Saat itu aku baru sadar bahwa aku juga mencintainya. Tapi sudah terlambat. Aku sudah mengecewakannya dengan keegoisanku. Sepeninggal Tasya, aku sama sekali nggak pernah pacaran apalagi menyentuh cewek lagi. Aku selalu ingat kekejamanku padanya. Di setiap cewek yang kutemui, aku bisa melihat mata Tasya yang penuh cinta, yang kecewa, yang mau mengorbankan segala-galanya untukku. Walaupun kamu bukan orang yang tepat, aku ingin meminta maaf, Niken. Maaf aku merenggut nyawanya. Aku seharusnya melindunginya, bukan melukainya.” kata Edi penuh rasa penyesalan.

Niken jadi bingung. Dia nggak mengharapkan jawaban seperti ini dari Edi.

“Seandainya cici masih hidup sekarang, apa yang bakal kamu lakukan?” tanya Niken kemudian.

“Oh, Niken, seandainya saja aku dapat kesempatan kedua, aku akan bilang bahwa aku juga mencintainya sepenuh hatiku, aku akan minta ampun, telah menyakiti hatinya. Tau nggak, Niken? Aku hampir saja ikut bunuh diri seminggu setelah Tasya dikubur, setelah aku menyadari bahwa aku juga mencintainya. Terus kakakku yang menyadari ada yang nggak beres, aku masuk terapi. Terapi itu benar-benar menolongku, lah. Sekarang aku bisa hidup normal lagi. Aku sekarang banyak mendekatkan diri pada Tuhan. Banyak orang yang datang padaku minta nasehat. Setiap kali ada yang meminta nasehat tentang cinta, aku selalu mengatakan, kesempatan itu datang hanya sekali. Renggut kesempatan itu dan jangan lepaskan lagi.” jawab Edi mantap.

“Edi, aku yakin cici bahagia di alam sana melihat kamu sudah berubah. Cintanya juga telah kau balas. Rasanya kamu sudah cukup meminta maaf. Sorry anggapanku tentang kamu selama ini begitu jelek.”

“Wajar aja, Niken. Aku sangat mengerti, koq. Aku memang bajingan, bejat dan tidak tahu diri. Semua kata-kata jelek lah. Cocok buat aku. Aku bahkan nggak mengerti kenapa gadis semanis Tasya bisa mencintai bajingan seperti aku. Aku benar-benar merasa beruntung pernah merasakan cinta tulus Tasya.”

“Baiklah, Edi. Rasanya udah cukup keterangan yang aku perlukan dari kamu.” kata Niken lega.

“Niken, makasih kamu mau meneleponku. Aku sudah lama menunggu kabar dari keluarga Tasya. Aku sudah lama ingin minta maaf. Pernah aku datang ke rumahmu, belum sempat bilang apa-apa, sudah diusir satpam. Kalo kamu butuh bantuanku, apa saja, aku pasti dengan senang hati membantumu, Niken.” janjinya.

“Nggak perlu, Edi. Kata-katamu tadi sudah sangat membantuku keluar dari kepompongku. Terima kasih, Edi. Selamat siang.”

Di kamarnya, Niken tidak bisa tidur malam itu. Dia sibuk memutar otaknya, bagaimana cara membuktikan bahwa Jimmy-lah pelaku pencurian gelang itu. Dia harus bisa membuktikan bahwa Pandu tidak bersalah. Tapi bagaimana caranya?

Kalau Jimmy pelakunya, berarti Jimmy ada di kelas 1D pada saat anak-anak sudah berkumpul di lapangan. Untuk balik lagi ke lapangan, Jimmy harus melewati kelas 2C, di mana Pandu dan Niken berada sebelum upacara mulai. Kapan dia menaruh gelang dan uang itu di laci Pandu?

Niken berpikir lagi, mereka adalah dua orang terakhir yang memasuki lapangan, karena segera sesudah mereka masuk ke barisan, upacara segera dimulai. Niken nggak memperhatikan apakah Jimmy ada di lapangan waktu itu. Tapi yang jelas, Jimmy tidak mungkin sempat mengambil gelang di kelas 1D, lantas ke kelas 2C, menaruh gelang dan uang di laci Pandu, sebelum Niken masuk ke kelas 2C. Jam tujuh kurang 5 menit dia sampai sekolah. Anak-anak baru saja mulai berbaris karena bel baru saja berbunyi. Kalau asumsinya betul, Jimmy pasti ada di kelas 1D waktu Niken menaruh tasnya. Waktu akan menaruh gelang dan uang di laci Pandu, Jimmy pasti melihat Niken dan Pandu di kelas. Jadi dia mengurungkan niatnya. Dia baru bisa menaruh uang itu setelah Niken dan Pandu keluar dari kelas. Karena pintu besar ke arah lapangan dari arah 2C ditutup segera sesudah Niken dan Pandu lewat, Jimmy harus lewat pintu kecil samping kantin.

Bingo! Ya. Besok dia harus bertanya sama ibu yang jaga kantin, apa dia melihat Jimmy lewat situ setelah upacara dimulai.

“Jadi ibu tidak melihat Jimmy, anak kelas 2A itu lewat sini?” tanya Niken menegaskan.

Ibu kantin menggeleng. Niken memutar otaknya lagi. Bagaimana mungkin? Apa teorinya salah?

“Tolong diingat-ingat lagi, Bu. Ibu tahu Jimmy, yang tinggi, kulitnya putih, kurus, sipit, kan?”

“Iya. Ibu sering lihat dia beli makanan di kantin.”

“Dan dia nggak lewat sini kemarin pagi?”

“Endak.”

“Ibu yakin?” tanya Niken sekali lagi.

“Yakin. Mata ibu masih awas.” Ibu kantin terlihat jengkel karena Niken berkali-kali menanyakan hal yang sama.

“Sayang sekali. Ibu kenal Pandu? Pandu diskors gara-gara tingkah Jimmy.” keluh Niken.

“Pandu yang ganteng itu? Pandu yang pernah pidato di lapangan tentang cinta itu? Dia anak yang baik sekali, satu-satunya anak yang sering beri persenan, padahal ibu tahu dia bukan dari golongan orang kaya.”

“Iya. Pandu yang ganteng itu.” kata Niken tersenyum, ingat efek aksi balas dendamnya. “Pandu, dia difitnah sama Jimmy, dijebak seakan-akan dia mencuri gelang.”

Ibu kantin menggeleng-geleng. “Astaga-naga… Anak sebaik Pandu tidak mungkin mencuri gelang.”

“Itu juga keyakinan saya, Bu. Saya tahu Pandu tidak bersalah. Tapi saya nggak punya bukti untuk melepaskan Pandu dari hukumannya.”

“Kalau Jimmy lewat sini, memangnya bisa membantu Pandu?”

“Bisa sekali. Karena itu berarti membuktikan teori saya bahwa Jimmy terlambat mengikuti upacara, dan dia orang terakhir yang masuk lapangan upacara dari arah gedung kelas. Padahal saya tau persis, Jimmy nggak terlambat datang, malah dia datang pagi-pagi, karena saya papasan dengan dia jam setengah tujuh kurang.”

“Sebetulnya,… Jimmy memang lewat sini…” kata ibu kantin ragu-ragu.

“Dua kali malah. Dia lewat sekali, lalu balik lagi, memberi sejumlah uang, lalu memaksa saya untuk berjanji tidak mengatakan kepada siapa-siapa kalau dia datang terlambat. Katanya, dia bisa dihukum kepala sekolah kalau ketahuan terlambat.” lanjut ibu kantin.

“Jadi benar Bu? Jimmy betul-betul lewat sini?”

“Iya. Saya nggak berani bilang karena Jimmy sudah memberi banyak uang. Seratus ribu rupiah.” kata ibu kantin jujur.

Niken lalu merogoh sakunya. Dia cuma punya punya dua puluh ribu rupiah hari itu.

“Ini Bu…” kata Niken seraya memberikan uang itu pada ibu kantin.

“Jangan,…” ibu kantin menolak. “Saya cuma ingin menolong Pandu. Dia anak baik. Tolong kalau ketemu Jimmy, kembalikan uang ini.” kata ibu kantin malah memberikan uang seratus ribu pada Niken.

“Jangan, Bu. Jimmy punya banyak uang di gudangnya. Saya ingin ibu terima uang ini juga. Saya cuma bawa segini hari ini…”

Ibu kantin menatap mata Niken. Niken mengangguk-angguk.

“Salam buat Pandu kalau ketemu, yah? Semoga keterangan dari saya membantu.”

“Saya usahakan, Bu.”

Niken pagi itu juga menemui Pak Yusril. Setelah berbincang-bincang lama sekali, memanggil ibu kantin segala, setelah ditimbang-timbang, Pak Yusril akhirnya percaya bahwa Jimmy yang memfitnah Pandu, dan Pandu tidak bersalah. Pagi itu juga Jimmy dipanggil Pak Yusril, dan dipaksa mengaku. Rupanya karena bukti-bukti cukup kuat menuduhnya, juga takut pada Pak Yusril, Jimmy mengakui perbuatannya. Surat skors langsung keluar. Besok pagi Jimmy bakal memulai masa hukuman skorsnya. Tiga minggu. Seminggu karena telah mencuri gelang Ratna, seminggu karena memfitnah Pandu, dan seminggu lagi karena telah menyuap ibu kantin untuk mengubur dosa-dosanya.

Niken tersenyum puas. Usaha detektif kecil-kecilannya berhasil dengan gemilang.

Surat pembatalan skors Pandu sudah ada di tangannya. Nanti siang dia akan menyampaikannya sendiri ke rumah Pandu.

Seharian ini dia sama sekali tidak bisa konsentrasi ke pelajaran. Apalagi kalau menyadari bangku kosong Pandu di sebelahnya. Jadi kangen sama Pandu. Kangen celotehnya, candanya yang ceplas-ceplos. Baru sehari Pandu tidak masuk sudah kangen. Bagaimana jadinya kalau sampai seminggu. Bu Tanti yang lagi menjelaskan ‘Mitosis’ nggak menarik lagi buatnya. Lagu “Fallen” yang didengarnya tadi pagi di radio terngiang-ngiang terus di telinganya.

I can’t believe it…

You’re a dream coming true

I can’t believe how

I have fallen for you

And I was not looking,

was content to remain

And it’s ironic

To be back in the game

You are the one who’s led me to the sun

How could I know that I was lost without you

And I want to tell you

You control my brain

And you should know that

You are life in my veins

“Niken!” suara Bu Tanti mengagetkannya.

“Ya Bu?”

“Kamu belum menjawab pertanyaan saya.”

“Mati aku!” seru Niken dalam hati. “Tanya apa sih dia, aku koq nggak denger sama sekali?” bisik Niken ke Memed, yang duduk di depannya. Memed nggak dengar-dengar.

“Maaf, Bu, saya tadi tidak mendengar, mohon diulangi lagi pertanyaannya.” akhirnya Niken harus mengakui ketuliannya.

“Saya tadi tanya, kamu sedang memikirkan sebelah kamu yang hilang ya?” tanya Bu Tanti sambil tersenyum geli.

Sekelas langsung riuh-rendah. Waktu Bu Tanti tanya pertama kali tadi, mereka sudah cekikikan. Eh, Niken malah pakai acara tanya lagi. Dua kali ketawa, deh. Niken memang konyol.

Biarkan saja. Baru kali ini jatuh cinta, sih. Mohon maklum, saudara-saudara.

Pandu sedang suntuk sendirian di kamarnya. Acara radio tidak ada yang menarik. Lagu-lagu yang diputar lagu cengeng semua. "Talk show murahan yang sering diadakan beberapa stasiun radio benar-benar membuat perut mulas", gerutu Pandu sambil mematikan radionya. Kamar dikuncinya dari dalam. Ibunya sudah memanggil-manggil sejak setengah jam yang lalu untuk makan siang, tapi dia selalu menjawab belum lapar. Memang belum lapar, koq.

Di ranjangnya tersebar foto-foto Niken. Iya. Foto Niken waktu acara ulang tahun ibunya. Baru saja diafdruk, selesai kemarin sore. Ditatapnya sekali lagi salah satu foto di mana Niken terlihat jelas. Niken dengan senyumnya yang manis. Dia kelihatan feminin sekali. Semakin lama melihat fotonya, dia semakin suka. Semakin batinnya tersiksa. “Aaaah, Fei Fei… kenapa kamu begini mempesona?”

“Hey, suara apa itu?” pikir Pandu dalam hati. Ada yang bermain piano. Seingat Pandu, di rumah ini tidak ada yang bisa main piano selain dirinya sendiri. "Siapa pula yang main piano?" Tertarik, dia lalu keluar kamar, menuju ke ruang tengah.

Alangkah terkejutnya Pandu melihat Niken sedang asyik memainkan jari-jemarinya yang lentik di piano usang miliknya. Niken pun mulai menyanyi.

I only see things black and white, never shades of grey

My eyes don’t work that way, no…

I can’t imagine fantasies, they never cross my mind

Could be why I’m lonely time to time

Only you, if only you could reach me now

Can you teach me how

Teach me how to dream, help me make a wish

If I wish for you, will you make my wish come true?

I’m a stranger here, stranger than it may seem

Take me by the heart…

Teach me how to dream

You lift me up and give me hope every single day

I never dream that I could feel this way

When I’m down I know where I’m gonna turn

Oh, I’ve got so much to learn…

When I turn out the light, I turn to you for my inspiration

As long as we’re together, you and me, we’re gonna dream forever…

Pandu menunggu dengan sabar sampai Niken selesai memainkan seluruh lagu, baru dia mendekatinya. “Kamu… ngapain sih ke mari? Katanya nggak boleh ke sini lagi?”

“Aku bilang mau ke rumah Wulan.” jawab Niken. “Aku ada hal penting yang harus aku katakan langsung padamu.” Niken lalu menelan ludahnya. “Pandu,... rasanya... aku.. juga sayang kamu...”

Pandu tidak semudah itu percaya kata-kata Niken. Dia tersenyum, lalu menggeleng-geleng.

“Jebakan apa lagi nih?” tanyanya.

“Lho? Bagaimana sih? Nih, aku bawa surat dari kepala sekolah. Surat pembatalan skorsmu. Aku berhasil buktikan bahwa Jimmy biang keladinya. Dia diskors tiga minggu, Ndu. Tiga minggu!” kata Niken jingkrak-jingkrak kegirangan.

“Koq bisa?” Pandu masih terheran-heran sambil membaca surat yang dibawa Niken.

“Nikeeenn… detektif ulung” kata Niken bangga.

“Makasih Fei.” kata Pandu kemudian.

“Tapi aku tidak mengharapkan terima kasih. Aku pengen kamu minta maaf.” kata Niken pasang tampang serius.

“Salah apa lagi aku sekarang?” tanya Pandu.

“Kamu sudah berikan perasaan asing yang aneh yang aku nggak pernah rasakan sebelumnya. Aku nggak tau cara mengontrolnya.”

“Kalau kamu bilang itu kesalahan, rasanya itu kesalahan bersama, Fei. Kamu juga berikan perasaan yang sama duluan ke aku. Jadi aku nggak perlu minta maaf, kecuali kamu minta maaf dulu ke aku.” kata Pandu tersenyum.

“Aku takut, Ndu…” kata Niken sambil menundukkan kepalanya.

Pandu lalu lebih mendekat sampai bisa memegang dagu mungil Niken. Diangkatnya wajah Niken pelan-pelan dengan tangannya.

“Yang kamu bilang tadi.. kamu... serius mencintaiku, Fei?”

Niken mengangguk pelan, berusaha menunduk lagi. Pandu cepat-cepat mengangkat wajah Niken lagi.

“Kalau begitu kamu nggak perlu takut, Fei. Yang kita rasakan ini sesuatu yang teramat indah. Aku nggak takut. Fei, apapun yang terjadi, aku nggak akan pernah berhenti mencintaimu. Aku nggak akan pernah menyerah. Percayalah.”

Niken menatap mata elang Pandu yang menyorot tegas. Ada keteduhan di sana. Dia yakin, seandainya dia ditakdirkan untuk mencintai satu orang saja di dunia ini, dia tidak akan pernah menyesal memilih Pandu.

“Aku percaya koq. Kalo nggak percaya, aku nggak mungkin datang kemari hari ini. Oh iya, Ndu. Berhubung aku belum pernah jatuh cinta, bahkan tadinya aku tidak pernah bermaksud untuk jatuh cinta, ini semua terjadi begitu saja di luar kendaliku, pasti aku bakal berbuat banyak kesalahan. Aku mungkin orang yang paling bodoh tentang hal-hal yang berkaitan dengan perasaan. Kalo aku salah, tolong jangan marah, ya…”

Pandu tersenyum lebar. “Gadis bodoh. Aku juga belum pernah jatuh cinta. Kita belajar sama-sama. Cuma satu langkah awal yang harus kamu ingat. Jangan tutup pintu hatimu. Maka segalanya akan berjalan dengan natural, asal kamu mengikuti kata hatimu.”

“Ndu, kamu bisa jelasin, bagaimana aku bisa jatuh cinta sama kamu?” tanya Niken.

“Koq kamu malah tanya aku? Aku juga heran. Masuk akal buat aku untuk jatuh cinta sama kamu. Tapi kamu jatuh cinta sama aku? Suatu hal yang aku pikir tadinya impossible. Aku seperti mimpi saja.”

“Hey? Kenapa masuk akal buat kamu untuk jatuh cinta sama aku, tapi nggak buat aku?” tanya Niken heran.

“Karena kamu punya pendirian yang kukuh, bahwa seumur idup kamu gak bakal jatuh cinta. Rasanya itu sudah harga mati yang gak bisa ditawar-tawar lagi. Sedangkan aku memang dari kecil punya impian untuk menemukan cinta sejatiku. Seperti Sang Pangeran di cerita Cinderella.”

“Yep. Salah satu cerita yang aku paling benci.” kata Niken.

“Lho? Semua orang suka Cinderella. Baru kali ini aku denger ada orang benci Cinderella. Emangnya kenapa?” Pandu menyatakan keheranannya.

“Keenakan pangerannya. Masa’ dia boleh milih dari sekian banyak cewek se-kerajaannya untuk dijadiin istri? Wah, kalo aku hidup di jaman itu, pasti aku boikot nggak mau datang. Enak saja. Kayak mau beli baju aja. Dicoba-coba dulu, dansa-dansa dulu. Makanya aku gak suka cerita model-model seperti itu. Kayak cerita Ande-ande lumut. Wah. Itu juga pelanggaran hak asasi wanita tuh!” Niken protes.

“Hmm… kalo aku pangerannya, dan kamu Cinderella-nya, biar kamu boikot nggak mau datang pun aku akan cari kamu sampe dapat.” kata Pandu sambil ketawa. Mau tak mau Niken jadi tersipu-sipu mendengar kalimat Pandu barusan.

Lalu dia meneruskan, “Gini lho, moral cerita Cinderella itu, dari sekian banyak cewek cantik yang bisa saja dipilih Pangeran, Pangeran cuma milih Cinderella, atas dasar cinta. Hampir sama moral ceritanya dengan Ande-ande Lumut.” Pandu mencoba menjelaskan. Dia tidak terima begitu saja cerita Cinderella-nya diprotes oleh Niken.

Niken masih kurang puas. “Ya, tapi kan nggak perlu pake cara seperti itu. Lihat cerita Putri Salju. Pangerannya yang datang ke hutan, mencari-cari Putri Salju, mencari cintanya. Itu baru namanya cinta sejati.”

“Hmm… tapi kayaknya kamu lebih cocok jadi Cinderella.” kata Pandu.

“Kenapa?”

“Karena ukuran kaki kamu kecil sekali. Pangeran jadi mudah mencarimu.” kata Pandu sambil tertawa lepas.

“Tapi kamu nggak cocok tuh jadi pangerannya.”

“Kenapa?” Pandu curiga, Niken pasti bermaksud membalas ejekannya.

“Karena kamu lebih cocok jadi tikus dapur. Nakal, usil, licik, bau lagi!” Niken gantian yang tertawa terbahak-bahak.

“Tertawanya berhenti dulu...” Ibu Pandu menengahi. “Pandu belum makan siang tuh. Dari tadi disuruh makan jawabannya 'ogaaah' melulu” lanjut Ibu Pandu.

“Oh iya. Sampe lupa nggak tanya. Kalo belum makan, makan di sini saja, Fei.” kata Pandu menawarkan.

“Tapi Ibu cuma masak kering tempe lho…” Ibu Pandu setengah berbisik.

“Niken juga belum makan, sih. Niken tapi belum pernah makan kering tempe. Sering dengar, tapi belum pernah makan.”

“Kalau lapar ya makan saja dulu. Siapa tau suka.” kata Ibu Pandu.

“Wah, Bu. Mestinya jangan ditawari. Niken itu apa-apa suka. Ngabis-ngabisi malah, kalo udah suka.” ledek Pandu.

“Nggak papa diabisin kalo suka ya malah bagus” kata Ibu Pandu.

Niken cuma mesam-mesem sambil bilang terima kasih.

Setelah secicip, ternyata Niken suka sekali kering tempe. Entah karena Ibu Pandu yang jago masak, atau karena memang pada dasarnya Niken rakus, pokoknya yang jelas siang itu Niken makan kenyang.

“Pandu… tunggu dong!” teriak Ratna menyusul Pandu yang sedang berjalan membarengi Niken ke kantin saat istirahat pertama.

Mereka berdua berhenti dan menoleh.

“Ada apa, Ratna?” tanya Pandu setelah dekat.

“Besok aku ada ulangan matematika lagi. Ulangan yang lalu aku dapet jelek. Tolong dong, Pandu…” rengek Ratna manja.

“Sudah dua kali ulangan matematika ini kamu dapat jelek, Ratna. Aku bukannya nggak mau menolong, tapi apa gunanya pertolonganku kalo kamu tetap saja dapat nilai jelek?” tanya Pandu.

“Aku nggak punya orang lain yang sanggup membantu aku. Please…”

“Ratna, tujuan kamu minta tolong aku kan supaya dapet bagus, ya kan? Aku sudah berusaha semampuku untuk mengajari kamu, tapi nyatanya nggak ada hasilnya koq. Ini mungkin salahku, aku yang nggak sanggup mengajari kamu, Ratna.” jawab Pandu.

“Ayo, dong. Aku berjanji akan lebih berkonsentrasi. Bagaimana?”

“Kamu minta tolong Bu Lidya, guru matematika-mu, deh. Mungkin dia punya solusi yang lebih baik buat kamu. Siapa tahu dia mau meluangkan waktu untuk mengajari kamu?” saran Pandu.

“Nggak mau. Bu Lidya galak dan benci sama aku. Dia kasih nilai jelek terus. Tolong aku, dong Pandu…” rengek Ratna lagi.

“Tolongin dia, lah, Ndu.” jawab Niken yang jadi jengah melihat Ratna merengek melulu.

“Aku bukannya nggak mau menolong, Niken. Tapi aku merasa usahaku bantuin dia selama ini nggak ada hasilnya.” keluh Pandu.

Setelah diam sesaat, Pandu berkata lagi, “Aku ada jalan lain. Niken juga pandai matematika. Siang ini kamu ada acara apa, Niken?” tanya Pandu.

“Hah?” Niken kaget. “Aku… ada acara apa yah? Aku ada extra badminton di lapangan indoor belakang jam tiga sore. Emangnya kenapa?” tanya Niken curiga.

“Nah, aku juga ada basket jam tiga di lapangan luar. Kita kumpul di rumahku, sekalian makan siang, jam setengah tiga semuanya harus sudah kelar. Kamu pulang, aku sama Niken kembali ke sekolah. Gimana?”

“Ide jelek.” kata Niken.

“Lho? Jelek gimana?” tanya Pandu.

“Aku harus pulang dulu.” kata Niken. Aku kan nggak bisa latihan badminton pake baju begini. Lagipula, raketku juga di rumah. Mau main badminton pakai tangan kosong?” tanya Niken geli.

“Tuh, kan… Niken nggak bisa. Kamu saja, Ndu. Yaaa?” bujuk Ratna.

“Tunggu. Nik, kamu abis badminton ngapain?” tanya Pandu.

“Pulang.” jawab Niken singkat.

“Ya tau, pulang. Maksudku ada acara apa gitu?”

“Gak ada acara apa-apa.”

“Sama dong. Mau nge-date sama aku, Neng?” tanya Pandu becanda.

Niken tertawa kecil. Dasar Pandu usil.

Pandu melanjutkan, “Begini,... maksudku, Ratna bisa ke sekolah atau ke rumahku, terserah dia, sesudah jam setengah enam. Kamu selesai badminton jam 5 kan, Nik?”

Niken mengangguk. “Iya.”

“Setuju, Ratna?” tawar Pandu.

“Baiklah. Aku nggak punya pilihan lain, kan?” tanya Ratna.

Pandu mengangguk. “Bu Lidya.” Pandu lalu ketawa. Gimana nggak ketawa melihat wajah Ratna seperti habis menggigit cabe rawit.

“Jadi nanti sore jam setengah enam aku ke rumahmu yah. Makasih Pandu…” kata Ratna manja sambil nyelonong pergi.

Setelah Ratna berlalu, Niken memukul bahu Pandu.

“Apa-apaan sih, Ndu, mengajak aku ikut-ikutan mengajari si cengeng itu?” tanya Niken.

“Aku capek mengajari dia, Fei. Aku harus terus-menerus mengulang yang aku ajarkan minggu-minggu sebelumnya. Begitu terus. Lumayan kalo dia lantas mendapat nilai bagus, gitu, paling tidak kan aku jadi merasa berjasa. Ini nggak. Jadi aku merasa buang-buang waktu saja.”

“Sudah tahu begitu koq malah ajak-ajak aku.” Niken merengut.

“Memangnya kamu nggak cemburu ngeliat Ratna seminggu sekali datang ke rumahku? Frekuensinya lebih pasti dan lebih sering daripada kamu ke rumahku lho…” goda Pandu.

“Nggak tuh.” jawab Niken sambil mengambil segelas es teh manis di meja kantin, lalu menyerahkan uang dua ratus perak ke ibu kantin sambil tersenyum.

“Masa nggak, sih? Gimana kalau nanti kamu nggak usah ikut ke rumahku, nanti aku mau boncengin Ratna ke toko buku, beli buku matematika, trus pulangnya beli es krim?” goda Pandu lagi. Masih kurang puas dia rupanya.

“Berani?!” ancam Niken sambil melotot.

“Sarana transportku cuma sepeda, jadi mau nggak mau aku harus boncengin dia kalau mau ke toko buku. Beli es krim kan karena ada toko es krim di sebelah toko buku.”

Niken merengut lagi. “Kamu sungguh-sungguh mau ke toko buku?” tanya Niken kemudian.

Pandu tidak tahan lagi menahan tertawanya. “Nggak dong. Aku cuma becanda, Fei. Kamu lucu deh.”

Niken tambah cemberut.

“Sorry… sorry…” kata Pandu masih menebar senyum-senyum nakalnya. “Sebagai permintaan maaf, nanti sore setelah pulang badminton kita mampir beli es krim sebelum pulang. Aku boncengin. Mau?”

Niken tersenyum lebar. Tentu saja dia mau.

*

“Bagaimana tadi latihan badmintonnya?” tanya Pandu sambil menuntun sepedanya.

“Aku single lawan Yeni, menang. Double sama Jeremy, kalah tipis sama Septi dan Komang. Aku emang nggak pernah sukses kalo suruh main double. Apalagi kalo lawan cowoknya cepat kayak Komang. Komang jago di double.” keluh Niken.

“Pak Mahmud tadi melatih three-on-three. Lebih asyik daripada main basket biasa. Lebih cepat.” kata Pandu sambil mengelap keringatnya.

“Mobilku aku tinggal di sini saja yah?” tanya Niken.

“Iya. Nanti aku anterin kamu balik ke sini lagi dari rumahku. Paling jam tujuh udah selesai.” kata Pandu.

Sepanjang perjalanan dari sekolah ke kedai es krim mereka terus mengobrol.

“Kamu masih sering bikin puisi, Fei?” tanya Pandu.

“Iya. Tiap malam sebelum tidur.”

“Memangnya kalau nggak bikin puisi nggak bisa tidur?”

“Bisa. Cuma seringnya belum mengantuk, jadi daripada nganggur ya bikin puisi.”

“Kamu koq bisa yah bikin puisi gitu. Bagus-bagus lagi puisimu. Setidaknya satu yang pernah aku baca itu. Aku dulu waktu di SMP pernah disuruh bikin puisi sebagai salah satu tugas untuk pelajaran bahasa Indonesia. Gagal total. Aku disuruh bikin puisi tentang pemandangan. Berhubung waktu itu aku sedang di rumah saja, dan rumahku itu dekat pasar, jadi pemandangan yang aku lihat ya pemandangan pasar. Seperti ini nih kira-kira.”

“Pasar Bringharjo yang bau

Banyak sapi-sapi bau

Daging-daging bau

Laler hinggap di tempat-tempat bau

Tak heran rumahku jadi ikut bau”

Niken ketawa. Lucu sekali Pandu berteriak-teriak bau.

“Aku masih ingat betul ekspresi guru bahasa Indonesia-ku waktu itu. Bu Rosiana. Aku langsung dikasih nilai lima. Untungnya cuma sekali itu aku disuruh bikin puisi. Benar-benar perjuangan berat deh bikin satu puisi seperti itu saja.”

“Aku bikin puisi tu cuma menulis apa yang terlintas di otak. Nggak harus dengan kata-kata yang indah. Yang penting bermakna dalam.” kata Niken.

“Fei, apa sih yang kamu nggak bisa? Kamu tuh apa-apa bisa. Aku nggak bisa bikin puisi, nggak bisa njahit, nggak bisa masak. Kayaknya kamu tuh segala bisa.”

“Hmm… apa yah yang aku nggak bisa? Tadinya aku kirain aku nggak bisa pacaran. Tapi kamu udah buktiin bahwa aku salah. Aku cuma nggak mau nyoba aja.” Niken berpikir sejenak.

“Kamu bisa berenang?” tanya Pandu.

“Bisa. Waktu kecil aku les berenang. Di rumah ada kolam renang. Harus bisa renang, dong. Gimana kalau nggak sengaja kecebur?”

“Kamu bisa menggambar?”

“Nggak ahli kayak Pablo Picasso, tapi kalo cuma bikin wajah orang gitu aja sih bisa.”

“Bisa masak?”

“Masak yang dimasak pembantuku, aku bisa semua, karena kalo liburan aku sering nganggur, jadi terus ke dapur, ngeliat mereka masak, terus ikut bantu-bantuin. Masakan favoritku, sup bakso soun.”

“Menjahit?”

“Waktu SMP kan ada pelajaran menjahit. Tadinya ya nggak bisa. Terus gara-gara harus bisa pas SMP itu, aku akhirnya bisa juga. Wulan yang ngajari.”

“Ah… aku tahu yang kamu nggak bisa. Kamu bisa ngomong Jawa?”

Niken tersenyum. “Ampun ngenyek nggih, Mas. Kulo laer ing tanah Jawa, kudu saged ngomong Jawa. Panjenengan saged nulis ngangge aksara Jawa? (=Aku lahirnya di Jawa, harus bisa ngomong Jawa. Kamu bisa nulis pakai huruf Jawa?)” Aksen bahasa Jawa Niken pun walaupun agak kaku tapi nggak begitu jelek.

Pandu tercengang.

“Kamu bisa nulis Jawa juga? Trus apa dong yang nggak bisa?”

“Oh, ya. Aku nggak bisa ngganti ban serep mobilku. Pernah ban mobilku bocor di sekolah, aku harus minta tolong bapak tukang parkir untuk bantuin aku ganti ban serep.”

“Kalau itu wajar lah karena kamu perempuan. Yang kamu nggak bisa, tapi nggak membutuhkan tenaga cowok, apa dong?”

“Oh. Aku tahu. Tapi jangan diketawain yah. Aku nggak bisa dandan. Sama sekali nggak bisa. Aku tahu hasil akhirnya harus seperti bagaimana, tapi aku nggak tahu gimana caranya menuju ke hasil akhir itu. Pernah aku coba iseng-iseng, waktu pesta ulang tahun mama, sekitar 2 tahun yang lalu. Pakai segala macam peralatan make-up mama. Coreng-moreng persis pemain opera Cina. Putus asa, aku nggak pernah berusaha mencoba lagi. Aku bahkan nggak punya satupun peralatan make-up sendiri. Lipstik sekalipun.”

“Memangnya Mama kamu nggak pernah ngajarin?”

“Nggak. Tapi Mama punya ide bagus. Tiap kali mau ke pesta yang butuh make-up, aku ke salon. Masalah selesai, kan?”

“Wah. Aku nggak bisa bantuin kamu, deh. Aku bahkan nggak punya kakak perempuan yang bisa aku tanyain. Ibu juga nggak pernah pake make-up. Sorry deh.”

“Nggak masalah. Aku nggak merasa rendah diri koq. Seperti yang aku bilang, aku sudah punya solusinya.”

“Bagaimana kalau kamu nggak punya banyak duit, jadi nggak bisa ke salon tiap kali mau ke pesta?”

“Nggak tiap pesta aku ke salon koq. Cuma kalau pesta besar-besaran. Paling setahun satu-dua kali. Kalo aku emang dilahirkan di keluarga yang lain, yang nggak punya banyak duit, pasti sekarang ini aku bisa dandan. Memang nasibku harus begini, Ndu.”

“Kamu koq kesannya merana karena punya banyak duit. Orang tu biasanya sedih karena nggak punya duit. Kamu yang punya banyak duit malah sedih.”

“Kenyataannya, aku selalu bisa menemukan jawaban dari “tapi seandainya aku tidak kaya” setiap aku menemukan keberuntunganku karena jadi anak orang kaya.”

“Misalnya?”

“Oke. Sebutkan keuntungan jadi orang kaya. Apa saja lah yang terlintas di otakmu sekarang.”

“Kamu punya rumah besar dengan fasilitas yang komplit?”

“Rumah besar bener-bener bikin aku merasa kesepian. Fasilitas yang komplit, itu memang membantu aku untuk melepaskan diri dari kesepian. Kembali ke pertanyaan semula, seandainya, sendainya saja aku tidak kaya, aku nggak butuh rumah besar, apalagi fasilitas yang komplit itu, karena aku nggak bakal kesepian.”

“Oke, oke. Kamu jadi sedih kan? Aku nggak pengen bikin kamu jadi sedih.”

“Aku nggak sedih koq. Karena sekarang aku sudah ada kamu.” kata Niken sambil memeluk pinggang Pandu dari boncengannya.

Kebetulan dua detik kemudian, mereka pas sampai di depan rumah Pandu. Ratna sudah menunggu di teras depan. Melihat Pandu dan Niken berboncengan, apalagi pegangan Niken di pinggang Pandu begitu kencang, hati Ratna terbakar api cemburu. Rupanya dia belum sempat mendengar berita bahwa Pandu sudah jadian sama Niken. Cepat-cepat dia keluar lagi, ke arah mobilnya, bermaksud ingin pulang.

“Lho, lho, lho… Ratna, kamu mau ke mana?” tanya Pandu heran.

“Pulang.” jawab Ratna singkat.

“Sorry kita dateng terlambat. Tapi cuma telat lima menit saja koq.” kata Pandu bingung sambil melirik jam tangannya.

“Jadi kamu sekarang pacaran sama Niken?” tuding Ratna tanpa basa-basi.

Walaupun heran akan reaksi Ratna, Pandu mengangguk-angguk.

“Niken, kamu tuh nggak boleh pacaran kan sama papa-mama kamu? Mereka tahu kamu pacaran?” Ratna berbalik menuding Niken. Gosip yang didengarnya cukup up-to-date juga ternyata.

“Ratna, kami belum lama pacaran koq. Baru dua minggu. Papa-mama Niken belum tahu tentang ini. Ratna, tolong jangan bikin gara-gara.” Pandu yang menjawab.

“Aku nggak akan bikin gara-gara. Tapi lambat laun mereka pasti tahu. Lagipula mereka berhak untuk tahu. Tapi sekarang aku mau pulang. Aku nggak peduli mau dapet berapa ulangan matematika besok, tapi aku mau pulang sekarang.”

Pandu cuma bisa mendesah menatap mobil Ratna yang melaju terburu-buru. Dia lalu menggenggam jemari Niken. “Kamu nggak papa kan, Fei?”

Niken menggeleng. “Aku juga mau pulang, Ndu. Capek. Karena aku nggak perlu ngelesin si Ratna, anterin aku balik ke sekolah dong…”

“Oke. Yuk naik.” ajak Pandu. Dari suaranya sama sekali tidak terdengar nada keberatan karena harus bolak-balik dari sekolah, ke rumahnya, lalu balik lagi ke sekolah lagi tanpa istirahat.

“Kamu suka es krim vanilla ya, Fei?” tanya Pandu memecah kesunyian. Niken dari rumahnya tadi sudah lima menit tak melontarkan sepatah kata pun.

“Nggak juga. Aku suka es krim apa aja kecuali strawberry. Cie Tasya cuma suka mocha. Sampe bosan aku melihat es krim mocha di lemari es. Besok hari ulang tahun Cie Tasya. Tadi pagi mama sudah beli es krim mocha satu dus. Bunga matahari kesukaan cie Tasya juga sudah dipesan. Aku yakin rumahku pasti sore ini sudah penuh bunga matahari. Terutama kamar cie Tasya…”

“Ulang tahun yang keberapa, Fei?”

“Dua puluh satu.”

Setelah diam lagi sejenak, Niken tiba-tiba berseru, “Oh, aku ingin mengundang Edi, bekas pacar kak Tasya itu untuk datang ke rumah besok!”

“Hah?” Pandu jadi kaget. “Gila kamu, Fei? Kamu bercanda kan?”

“Nggak. Aku yakin sekali Edi sudah berubah, berubah menjadi cowok yang diinginkan kak Tasya. Nanti sampai di rumah aku akan telepon dia.”

Pandu menggeleng-gelengkan kepalanya. Cewek yang satu ini kalo sudah ada maunya, susah diberitahu. Tapi kekeras-kepalaannya inilah salah satu di antara jutaan sisi menarik Niken.

“Kalo terjadi perang gimana?” tanya Pandu berusaha menakut-nakuti.

“Ya biar aja. Sudah lama nggak ada perang di rumah. Biar ramai.” ujar Niken cuek.

“Terserah kamu, lah. Asal kamu jangan undang aku aja.”

“Kenapa? Takut nih ye… Mana bisa praktek siasat perang Sun Tzu kalo nggak pernah maju ke medan perang?” ejek Niken.

“Tapi yang bakal terjadi besok di rumahmu itu bukan perang beneran. Perang mulut. Idih! Aku nggak mau ikut campur lah.”

“Bagaimana kalo aku undang? Masa’ kamu menolak undanganku? Kamu kan belum pernah masuk ke rumahku?” ledek Niken. Dia sebetulnya juga tidak sungguh-sungguh berniat mengundang Pandu. Cari maut namanya.

“Aku akan datang kalau kamu undang. Kapan aja aku siap. Kamu kan yang belum siap mengenalkan aku sebagai pacar ke keluargamu?” Sebenarnya Pandu gentar juga, sih. Tapi nggak mau kalah, dong.

“Oke. You’re officially invited. Besok datang jam tujuh malam. Aku akan suruh Edi jemput kamu.”

Pandu langsung menghentikan sepedanya.

“Serius nih?” tanyanya sambil memegang bahu Niken.

Niken mengangguk ragu. Pandu langsung menjitak kepalanya pelan. “Jangan ngomong sesuatu yang kamu tahu bakal kamu sesali di kemudian hari, Fei.”

“Ndu, yang dibilang Ratna tadi benar juga. Cepat atau lambat papa-mama pasti tahu. Teman-temannya banyak. Lebih baik tahu dari aku langsung, daripada dari gosip orang lain.” kata Niken.

“Kalau kamu memang siap, aku juga siap, Fei.” kata Pandu yakin.

“Sungguh, Ndu? Bagaimana kalau kamu diusir lagi sama papa?”

“Diusir ya pulang, dong. Itu kan rumahnya dia. Aku bisa apa coba?”

“Aku pokoknya bakal belain kamu, Ndu. Aku nggak akan ijinkan papa ngusir kamu lagi. Kamu bakal makan malam di rumahku. That’s final. Tapi papaku bisa benar-benar kejam, kata-katanya bisa jadi begitu menyakitkan. Aku takut kamu sakit hati, trus nggak mau ketemu aku lagi.”

“Aku nggak akan menyerah kalau selama kamu nggak menyerah, Fei.”

“Fei Fei!!” Suara itu terdengar begitu familiar di telinga Niken.

“Mama…?” Niken terkejut sekali melihat mamanya naik mobil BMW-nya lewat di dekat sekolahnya. “Oh, tentu saja!” seru Niken dalam hati, menyadari kebodohannya. “Salon mama kan dekat sini.”

“Masuk ke mobil, sekarang!” bentak mama sambil membuka pintu mobil dari dalam.

“Ma, mobilku di lapangan parkir, tinggal dekat situ.” kata Niken menunjuk ke arah lapangan parkir.

“Nanti biar diambil Pak Isyur. Pak Isyur, nanti ambil kunci mobil dari non Niken.” kata mama ke Pak Isyur, salah satu sopir keluarganya. “Ayo, masuk.” desak mama.

Niken menatap wajah Pandu sekilas sebelum masuk ke mobil. Walaupun wajah itu begitu diliputi ketegangan, tetap saja berusaha tersenyum untuk membesarkan hati Niken tanpa berkata-kata.

Mama langsung membentak Niken begitu pintu mobil ditutup.

“Itu cowok yang diusir papa kapan hari ya?”

Niken mengangguk lemah. "Diadili lagi deh," pikirnya.

“Kamu sudah lupa, janji-janji sendiri nggak mau pacaran? Kamu apa-apaan boncengan sama cowok dekil itu? Nggak tahu malu!”

“Namanya Pandu, Ma. Bukan cowok dekil.” bela Niken.

“Kamu sudah lupa apa yang terjadi pada kakakmu?”

“Gimana bisa lupa, sih Ma? Tapi mama tau nggak, Edi pacar cici tu sekarang sudah berubah jadi anak baik-baik, sejak cie Tasya meninggal. Dia benar-benar berubah, Ma. Cinta Cie Tasya yang merubah Edi.”

“Mau berubah kek, mau mati kek, mama nggak urusan. Penyesalannya nggak bisa mengembalikan Tasya, kan?” jawab mama sinis.

“Ma, rasanya sudah waktunya kita maafin Edi. Edi memang salah besar dulu. Tapi aku sangat berterima kasih sama Edi, karena dia sudah membuka mataku, bahwa cinta itu memang ada. Cie Tasya benar-benar cinta sama Edi, dan sekarang cintanya sudah bersemi.”

“Sudah mulai bisa ngomong cinta-cintaan kamu sekarang, ya? Lantas mau menasehati orang tua?”

“Bukan begitu maksud Fei Fei, Ma. Fei sayang banget sama Pandu. Fei cuma pengen mama bisa ngerti. Percaya deh, Ma. Fei nggak akan berbuat kesalahan yang sama seperti cici.”

“Mestinya kamu sudah bisa mengerti sekarang, cinta itu nggak ada gunanya. Lihat cicimu, lihat mama. Pokoknya kamu nggak boleh pacaran, apalagi sama anak dekil itu.”

“Kenapa memangnya koq terutama Pandu?” desak Niken.

“Dia bukan dari golongan kita, Fei Fei. Apa kamu tidak sadar? Kamu cuma bakal menderita kalau sama dia. Tidak ada bibit, bebet ataupun bobot yang bisa dipandang. Kamu bisa pilih cowok yang lebih baik, yang dari golongan kita.”

“Golongan kita? Golongan apa yang mama maksud? Golongan yang mendewakan materi? Golongan orang-orang berduit dan berdasi? Golongan yang memandang rendah golongan lain karena merasa golongannya yang terbaik? Atau cuma semata-mata karena Pandu orang Jawa, Ma?” tanya Fei Fei emosi. Sudah lama dia ingin mengungkapkan perasaan muaknya terhadap aksi penggolong-golongan ini.

“Fei Fei! Mama sudah cukup toleran membiarkan kamu bergaul dengan Wulan anak pembantu itu. Seharusnya mama tahu, dia cuma membawa dampak buruk buat kamu. Kamu sekarang berani melawan orang tua, ya?!”

Mereka terus perang mulut sampai depan garasi. Masuk ke rumah, kebetulan ada Papa di rumah, sedang membaca koran di ruang tengah. Maklum, besok ulang tahun Tasya. Biasanya Papa memang selalu ada di rumah setiap hari ulang tahun Tasya. Tasya itu adalah anak kesayangan Papa. Papa nggak pernah memarahi Tasya. Kesalahan apapun yang Tasya buat, Papa selalu belain.

Mama langsung melapor tentang kejadian barusan. Papa langsung naik pitam.

“Seingat Papa, Papa sudah memperingatkan kamu untuk tidak dekat-dekat sama cowok berandal itu.” kata Papa. “Kamu sengaja mau melawan orang tua ya?!” Papa membentak.

Niken tersentak kaget.

“Dia bukan cowok berandal, Pa. Bukan juga cowok dekil, Ma. Namanya Pandu. Fei sayang sama dia, Pa, Ma…”

“Sayang,.. sayang…? Memangnya anak sehijau kamu tahu arti kata sayang?” tanya Papa sinis.

Niken jengkel sekali diperlakukan seperti ini. Seperti anak kecil saja.

Niken lalu menjawab, “Tentu saja tahu. Fei sudah besar, Pa. Tahu mana yang benar, mana yang salah. Apapun arti kata sayang atau cinta itu, Fei nggak pernah dapat dari Papa. Rasanya Papa yang perlu bertanya pada diri sendiri, apa arti cinta itu. Cinta itu personal. Cinta berarti setia. Nggak mungkin bisa yang tadinya cinta terus lama-lama nggak cinta. Apalagi mencintai orang lain dan membuat orang yang dicintai luka. Fei yakin itu bukan cinta, ya kan Pa?”

Papa geram. Ditamparnya pipi Niken.

“Kamu sudah berani mengkuliahi orang-tua, ya?!”

“Berani karena aku tahu aku benar. Selama ini aku diam saja, tidak pernah berkomentar apalagi protes tentang Tante Mia, simpanan papa yang sering kemari itu. Diam bukan berarti aku nggak bisa menilai. Karena Papa nggak tahu apa artinya cinta, Papa nggak berhak melarang atau menceramahi aku untuk nggak pacaran sama Pandu.” kata Niken sambil menangis lalu lari masuk kamarnya dan mengunci pintu dari dalam. Perih sekali pipinya. Dia masuk kamar bukan cuma karena ingin menangis, tapi juga karena mendengar sayup-sayup bunyi telepon di kamarnya.

“Fei?” Sudah bisa ditebaknya, Pandu.

Niken tidak bisa menjawab karena sibuk mengatur napasnya. Pandu bisa mendengar isak tangis Niken lewat telepon.

“Sudah… cup… jangan menangis, sayang. Seperti habis digebukin saja, Fei.” kata Pandu berusaha bercanda untuk membuat Niken tertawa. Tapi Niken malah tambah kencang menangisnya.

“Hey, Fei? Kamu nggak diapa-apain kan sama Mama kamu?” tanya Pandu heran. Dia belum pernah mendengar Niken menangis seperti ini.

“Nggak.”

“Sungguh?”

“Hmm… Cuma ditampar sama Papa. Sekali.”

“Ya ampun…” Pandu mengelus dadanya. Kasihan sekali Fei Fei, katanya dalam hati.

“Fei,… kalau kamu nggak kuat, kapan saja kamu boleh menyerah. Kamu tinggal bilang terus terang. Aku sangat mengerti koq.”

Niken menggeleng-gelengkan kepalanya. Tiba-tiba dia sadar, dengan menggelengkan kepalanya, bagaimana Pandu bisa tahu? Dia lalu tertawa sendiri.

“Koq ketawa sih?” Pandu jadi tambah bingung.

“Nggak. Aku barusan geleng-geleng. Trus aku mikir, bagaimana kamu bisa tahu kalo aku geleng-geleng, kalo aku nggak sambil ngomong?” katanya geli. “Aku belum mau menyerah koq, Ndu. Doain semoga aku bisa kuat ya, Ndu. Aku nggak ingin menyerah sampai kapanpun. Ingat nggak, Ndu, aku pernah bilang, mau hepi itu susah buat aku. Butuh banyak pengorbanan. Kamu juga mesti sabar, yah?”

“Fei, kamu pernah tanya, seperti apa sih tipe cewek idamanku. Sekarang aku tahu. Yang persis seperti kamu, Fei. Semuanya yang ada di dalam dirimu aku suka. Aku sanggup menunggu kamu selama apapun. Untuk mendapatkan yang terbaik, orang mesti sabar.”

Niken tersenyum puas. Lega sekali rasanya.

“Ndu, kamu tetap datang besok sore, yah? Aku belum sempat telepon Edi, sih. Setelah ini nanti aku telfon dia.”

“Kamu yang undang, aku pasti datang.”

“Aku cuma pesan sekali lagi, kamu mesti ekstra sabar. Tadi saja di depanku mama sudah ceramah tentang golongan. Besok sore bisa tambah ganas, Ndu.”

“Aku heran gimana cewek sebaik kamu bisa lahir dari lingkungan rasialis seperti itu. Kamu pasti anak pungut, Fei.” goda Pandu.

“Iya. Anak keluarga Pandu.”

“Huh. Kamu nggak mirip papa-mamaku sama sekali. Nggak mungkin, lah. Lagipula, kalo kamu anak keluarga Pandu, berarti kita saudara, dong. Mana boleh pacaran. Ngaco kamu, Fei!”

“Ya sudah deh. Aku mau telepon Edi. Jangan lupa berdoa malam ini. Kalo perlu berdoa novena.”

“Iya deh, nanti aku minta ibuku ikut berdoa. Biasanya doa ibuku tu selalu terkabul.”

Niken lalu menutup teleponnya. Lalu menelepon Edi. Edi senang sekali Niken mau mengundangnya datang untuk merayakan hari ulang tahun Tasya. Niken sudah memperingatkan bahwa orangtuanya masih menyimpan dendam kesumat padanya, dan Niken tidak akan menyalahkan kalau Edi tidak bersedia datang. Edi sepertinya tidak perduli. Dia berjanji datang besok sore, setelah menjemput Pandu.

Seraya meletakkan gagang telepon, Niken menatap cermin di hadapannya. Pipinya masih merah. Dipegangnya pelan-pelan. “Aduh!”

Dia lalu menghempaskan tubuhnya ke ranjang empuknya.

Kelelahan, Niken ketiduran.

*

Niken terbangun karena teleponnya berbunyi lagi.

“Hallo?” kata Niken sambil menoleh ke arah jam weker di sebelah tempat tidurnya. Jam setengah dua belas malam.

“Fei!” Suara Pandu masih kedengaran segar-bugar.

“Ini sudah hampir tengah malam, yo. Kamu nggak bobok?” tanya Niken.

“Kangen. Aku lagi dengerin radio, dengerin lagu trus jadi inget kamu. Sampe aku rekam di kaset lagunya. Nih dengerin…”

My heart is filled with so much love

And I need someone I can call my own

To fall in love that’s what everyone’s dreaming of

I hold this feeling, oh so strong

Life is too short to live alone without someone to call my own

I will care for you, you will care for me

Our love will live forever

Shower me with your love…

I close my eyes and pray all my wishes come true

Every night I go to sleep

Until you’re mine I’ll wait for you endlessly

Can’t you see

Fairy tales, they do sometimes come true

If you believe, it could happen to you

Like the stars that shine, way up in the sky

Our love will live forever

“Fei, karena aku, kamu ditampar papa kamu. Aku janji, aku nggak akan pernah sakitin kamu.”

“Yah nggak sakitin tapi bangunin orang lagi tidur nyenyak.” gerutu Niken.

“Aku gak bisa bobok… Inget kamu…”

“Lha aku udah bobok, nih.”

“Mimpiin aku nggak?”

“Nggak.”

“Makanya aku telfon. Aku harus memastikan kamu mimpiin aku.”

“Iya… iya… lagipula kamu koq tumben senang dengerin lagu melankolis begini sih?”

“Gara-gara kamu.”

“Koq?”

“Semenjak kenal kamu aku jadi suka dengerin lagu-lagu cengeng begini. Cocok sama suasana hati. Nggak tau kenapa.”

Niken cekikikan.

“Sudah berdoa?” tanya Pandu.

“Oh, iya belum. Aku ketiduran setelah telepon Edi tadi. Besok sore kamu bakal dijemput dia. Jadi siap-siap saja.”

“Tuh kan.. untung kan aku telepon, mengingatkan kamu untuk berdoa. Udah berdoa sana, trus bobok. Met bobok, sayang…”

“Centil ah sayang-sayangan segala.” Niken tersipu malu.

“Memang sayang koq.”

Dari pulang sekolah sampai sore ini, Pandu sibuk membongkar lemari pakaiannya. Tidak puas, dia mengobrak-abrik lemari bapaknya juga. Tujuannya cuma satu. Menemukan pakaian yang pantas untuk dipakai ke rumah Niken malam ini. Sebetulnya banyak pilihan. Cuma karena bingung dan senewen, rasanya dari tadi tidak ada yang pas. Ibunya sampai ikut-ikutan pusing memilihkan ini-itu. Lebih pusing lagi melihat kamarnya yang ikut berantakan. Kakak-kakaknya selama ini jatuh cinta ya jatuh cinta, tapi tidak pakai acara membongkar seisi rumah seperti ini.

“Pras, ini bagus nih…” kata ibu menunjuk hem biru muda lengan panjang dari timbunan celana-celana panjang.

“Nggak… jelek ah, Bu.” Pandu menolak.

“Bagaimaina dengan yang ini?”

Pandu menoleh lagi. Hem batik biru lengan panjang yang ada di tangan ibu itu keren juga. Tapi apakah cukup keren untuk acara malam ini?

Pandu menggeleng ragu.

“Pras, sudahlah. Capek sudah ibu melihat kamu bongkar-bongkar begini. Nanti pasti ibu juga yang beres-beres. Lagipula, Niken juga pasti tidak menginginkan kamu datang sebagai orang lain. Tunjukkan jati dirimu, Pras, jati diri yang dicintai Niken. Supaya papa-mamanya Niken bisa melihat seperti apa Pandu yang diidolakan anaknya itu.”

“Begitu ya, Bu? Jadi batik ini bagus ya, Bu?” tanya Pandu masih bingung.

Ibunya tersenyum. “Tentu saja. Itu yang ibu berusaha bilang dari satu jam yang lalu.” Lalu ibu meneruskan, “Ini sudah jam lima, lho. Kamu lebih baik mandi dulu. Percuma pakai baju bagus-bagus kalo bau kecut.”

“Oh, ya.” Pandu lalu berdiri. Lututnya terasa kaku setelah hampir dua jam penuh duduk di lantai. “Edi tadi telfon bilang mau jemput jam lima.”

Sementara itu, di rumahnya, Niken pun sedari tadi mendekam di kamarnya. Hatinya deg-degan. Sudah dari tadi deg-degannya. Semakin mendekati jam tujuh, semakin kencang debar jantungnya. Sambil menyisir rapi poni di dahinya, komat-kamit Niken melontarkan doa. “Biarlah malam ini terjadi sesuai keinginanmu, Tuhan.”

Jam tujuh kurang seperempat. Pelan-pelan Niken keluar kamarnya setelah melongok terlebih dahulu. Merasa aman, dia lalu melangkah ke ruang tengah.

“Oma…!!” Begitu melihat neneknya di ruang tengah, Niken langsung lari memeluk nenek tercintanya itu.

Oma Lilian itu mama-nya papa. Satu-satunya anggota keluarganya yang bisa dikategorikan ‘manusiawi’. Sayang sekali Oma kena stroke tahun lalu, jadi sekarang dia harus menghabiskan sisa hidupnya di atas kursi roda. Sayang sekali Oma ini terkenal dengan sikap keras kepalanya. Sudah berkali-kali papa dan mama memaksa Oma untuk tinggal bersama mereka, tapi Oma tidak pernah mau. Oma lebih suka tinggal di rumah kecilnya di Kudus. Dan Oma bisa marah besar kalau ada yang menyinggung-nyinggung untuk menjual saja rumah Kudus. Di surat wasiatnya, Oma sudah menulis, rumahnya di Kudus itu sampai kapan pun tidak boleh dijual. Nanti kalo Oma wafat, rumah itu boleh dipakai untuk tujuan sosial. Pokoknya rumah itu tidak boleh dijual.

Di Kudus Oma punya taman bunga anggrek. Walaupun sekarang sudah agak susah untuknya merawat bunga-bunga anggreknya, Oma masih selalu menyempatkan diri merapikan tamannya setiap hari. Niken sering ke Kudus kalau liburan. Daripada menganggur di rumah. Dari kecil Niken selalu dekat dengan Omanya. Tasya juga dulu dekat sama Oma.

“Kapan datang, Oma?” tanya Niken.

“Tadi siang, dijemput papamu. Rumahmu hari ini semarak sekali, Fei Fei. Kuning-kuning bunga matahari. Kamu juga memakai baju kuning-kuning. Kamu memang manis…” kata Oma sambil mencubit pipi Niken dengan sayang.

“Oma, aku hari ini mengundang dua orang yang sangat dibenci papa-mama. Oma bantuin Fei Fei ya…” pinta Niken manja.

“Tergantung, siapa dulu orangnya.”

Ragu-ragu, Niken cerita ke neneknya, “Orang yang pertama, namanya Edi.”

“Edi yang pacarnya Tasya?” tanya Oma langsung bisa menebak.

Niken mengangguk.

“Yang kedua?” tanya Oma.

“Oma koq nggak tanya, kenapa Niken mau mengundang Edi?” Niken heran.

Omanya tersenyum lebar. “Edi anak yang baik. Oma sering bertemu dengannya di kuburan Tasya. Dia sering berlama-lama di situ. Kita sering bicara dari hati ke hati. Bukannya kamu dulu yang benci sekali sama dia?” tanya Oma.

“Itu dulu. Sebelum Fei tau kalo Edi itu sudah berubah jadi orang yang baik. Rasanya sudah waktunya kita memaafkannya.”

“Bagus. Oma tidak pernah bilang sama kamu, karena Oma tahu kamu dulu dendam kesumat sama dia. Oma bangga punya cucu seperti kamu, Fei. Oke, sekarang siapa yang kedua?” tanya Omanya lagi.

Niken gantian yang tersenyum tersipu-sipu. Melihat gelagat, Oma langsung menebak, “Pacar kamu ya?”

Lagi-lagi Niken cuma bisa mengangguk-angguk.

“Papa-mama tahu?” bisik Oma.

“Dua-dua sudah pernah melihat orangnya, sih. Namanya Pandu, Oma. Pandu Prasetya.”

“Orang Jawa yah?” tanya Oma.

“Koq Oma tahu?” Niken mengkerutkan wajahnya. Oma hari ini seperti tukang ramal saja.

“Nebak aja, dari namanya. Trus gimana?”

“Ya Oma pasti tau lah cerita selanjutnya. Papa sama Mama nggak ada yang setuju Fei pacaran sama Pandu. Padahal Fei sayang banget sama Pandu. Pandu juga sayang sama Fei koq.”

Oma tersenyum lagi. Agak aneh juga mendengar cucunya yang keras kepala ini jatuh cinta. Pasalnya, Niken dari kecil selalu benci sama anak laki-laki, apalagi anak laki-laki yang sok jagoan. Waktu kecil pun Niken sering berkelahi dengan anak laki-laki. Berkali-kali Mamanya dipanggil guru SD Niken. Ini mungkin salah satu sebab Papa lebih menyukai Tasya yang pendiam dan tidak pernah membuat onar. Tapi dari kecil Oma bisa melihat Niken itu orang yang kuat, dan selalu berpegang teguh pada prinsipnya. Sayang sekali beda umur Tasya dan Niken cukup banyak, empat tahun. Seandainya saja cuma beda setahun, misalnya, Niken pasti bisa melindungi Tasya. Kekeras-kepalaannya sudah terkenal seantero jagat. Niken paling benci ikut acara-acara keluarga. Oma pernah tanya kenapa, dan jawabannya sangat memuaskan. Waktu itu Niken masih berumur sepuluh tahun. Prestasinya di kelas sangat membanggakan, di bidang apapun. Jawaban yang membuat Oma tertarik waktu itu, adalah “Acara keluarga seperti ini cuma dijadikan ajang unjuk diri. Unjuk keluarga. Ini lho aku yang terbaik. Anakku masuk ke sekolah favorit, universitas favorit. Anakku menikah dengan konglomerat kelas kakap. Memuakkan.” Sejak saat itu, Oma tahu bahwa Niken itu punya pribadi yang lain dari orang kebanyakan. Sungguh mengherankan mengingat Niken dimanjakan dari bayi.

“Kamu sudah pikirkan baik-baik, Fei?” tanya Oma.

Niken mengangguk tanpa ragu.

“Baiklah, kalau kamu memang mantap, Oma pasti dukung. Jadi penasaran, seperti apa sih, orang yang berhasil mengambil hati cucuku yang konon tidak pernah jatuh cinta ini?” goda Omanya.

Niken tertawa kecil. Senang sekali mendapat dukungan tulus dari Oma. Lega sekali Niken, setidaknya dia masih punya Oma yang mau mengerti.

“Non, ada tamu buat non Fei Fei.” lapor salah satu pembantu rumah tangganya.

Niken tersenyum menatap Omanya, lalu mendorong kursi rodanya ke arah ruang tamu.

Pandu melangkah ragu-ragu masuk ke ruang tamu dari pintu luar.

Rumah Niken benar-benar besar dan megah. Atau dengan kata lain, mewah. Isi ruang tamu ini mungkin kalau dikalkulasi ada berpuluh-puluh juta rupiah. Lampu kristal chandelier yang menggantung manis di tengah-tengah ruang tamu dengan cahaya lampunya yang redup benar-benar terlihat… mahal. Vas antik di pojok ruangan itu pasti harganya mahal sekali. Ubinnya dari marmer, mengkilap, sampai-sampai Pandu bisa melihat bayangan wajahnya sendiri di lantai. Kursi sofanya yang berwarna hitam terlihat begitu empuk. Bisa tertidur kalau duduk di situ barang lima menit.

“Ndu!” sapaan ramah itu terdengar begitu melegakan di telinganya.

“Fei Fei… Ini buat kamu… Hadiah buat kamu karena hari ini kamu keliatan cantik banget.” kata Pandu sambil menyerahkan serangkaian bunga ke tangan Niken.

“Sudah sempat research dia rupanya,” bisik Oma sambil menyenggol siku Niken setelah melihat bunga yang diberikan Pandu itu lily putih.

Niken tersipu malu. Iya, bagaimana Pandu bisa tahu kalau dia suka bunga lily putih?

Pandu mendengar bisikan Oma tadi. Dia lalu ikut berbisik, “Aku dapat bocoran dari Wulan.”

Tapi dari mana dia tahu kalo Niken bakal terlihat cantik malam ini? Mudah saja, Niken kan memang selalu terlihat cantik.

“Ndu, kenalin, ini Omaku. Oma, ini Pandu yang tadi Fei bilang.”

Pandu lalu menjabat tangan Oma. Tangan Pandu dingin sekali. Maklum, nervous, mau ketemu camer.

“Papa-mamanya Niken itu cuma manusia, bukan macan. Jadi kamu nggak usah takut.” saran Oma yang bisa mencium kegugupan Pandu.

Pandu mengangguk.

“Dan ini Edi. Oma rupanya sudah kenal baik sama Edi. Ce-es malah.” gurau Niken.

“Mari masuk.” ajak Oma.

Niken lalu mendorong kembali kursi roda Oma masuk ke ruang tengah. Rupanya Papa dan Mama sudah ada di ruang tengah.

“Ma, Pa, kenalkan ini Pandu…”

“Siapa yang suruh kamu undang dia? Dan cowok tengik itu?” kata Papa sambil menunjuk ke arah Pandu dan Edi.

“Aku yang undang mereka.” Oma menjawab dengan tegas. “Suka atau tidak suka, hari ini mereka akan makan malam bersama kita. Kamu berdua tinggal pilih. Makan malam dengan tampang cemberut seperti itu sepanjang malam, atau berusaha untuk tersenyum sesekali.”

“Tapi mam…” sahut Papa protes.

“Aku ingin makan malam dengan tenang. Jadi sebaiknya kalian jaga kelakuan masing-masing.” Oma memperingatkan sekali lagi.

Nggak punya pilihan lain, Papa cuma diam saja. “Cuma makan malam. Sesudah itu aku nggak janji apa-apa.” kata Papa kemudian.

“Kalau begitu ayo kita mulai makan sekarang.” ajak Mama. Rasanya Mama juga sudah tidak sabar menanti makan malam selesai.

Menu masakan malam ini masakan kesukaan Tasya semua. Sup kepiting, bakmi goreng, kodok goreng mentega, dan bu yung hai. Melihat sup kepiting di hadapannya, Edi jadi teringat Tasya. Dari tadi dia masih belum bisa menghabiskan sendokan keduanya.

“Nggak suka sup kepitingnya, Edi?” tanya Niken.

“Suka… suka koq. Permisi, aku mau ngecek mobilku…” Alasan rendahan. Semua orang juga tahu kalau Edi nggak betul-betul berniat ngecek mobilnya. Niken baru saja mau beranjak mengikuti Edi, kalau saja Oma nggak memperingatkan dengan tatapannya yang bilang ‘jangan’. Oma yang lalu memutar kursi rodanya menuju ke arah luar.

“Pura-pura saja.” umpat Papa.

“Pa, ayolah. Masa’ Papa nggak melihat perubahan Edi yang drastis? Dia nggak lagi sombong seperti dulu. Edi yang sekarang benar-benar simpatik. Bahkan Oma pun bilang begitu.”

“Aku tidak tahu bagaimana caranya Oma bisa mendukung kamu, tapi Mama tetap nggak bisa maafin Edi, dan sebelum kamu lebih jauh, lebih baik kamu lupakan saja rencana pacaranmu itu.” kata Mama.

“Tante, saya bisa mengerti sikap proteksi Tante dan Oom terhadap Fei Fei. Menurut saya wajar saja, mengingat kejadian tragis yang menimpa Tasya. Tapi Fei Fei bukan Tasya, dan saya juga bukan Edi. Fei Fei cewek pertama, dan bukan tidak mungkin bakal jadi yang terakhir, yang saya cintai. Yang kami perlukan saat ini cuma sedikit kelonggaran waktu untuk membuktikan bahwa cinta kami layak untuk dihargai.”

“Omong kosong!” Papa menggebrak meja makan. Niken kaget sekali. Piring-piring di dekat Papa sampai ikut meloncat. Ikut kaget juga, mungkin.

“Kamu cuma ingin mengeruk kekayaan keluarga kami, kan? Karena Fei Fei anak kami satu-satunya, dia ahli waris tunggal. Seperti mendapat durian runtuh, kan?” ejek Papa dengan nada yang teramat sinis.

Pandu sudah siap dengan hinaan seperti itu. Bahkan tadi dia sudah mempersiapkan diri untuk hinaan yang lebih jelek dari itu. Ini belum seberapa.

“Papa, sudah cukup!” Niken tidak terima Pandu diejek seperti itu.

“Saya nggak butuh kekayaan Niken. Saya yakin bisa berhasil dengan usaha saya sendiri. Saya punya modal yang cukup untuk itu. Otak, kemauan, dan kemampuan. Kalau memang membantu, saya bersedia tanda tangan hitam di atas putih, menyatakan bahwa saya nggak akan memperoleh duit sepeser pun dari Fei Fei, bahkan misalnya kami menikah nanti, justru saya yang akan memberi uang pada Fei Fei, bukan menerima. Bagaimana, Oom?” kata Pandu menawarkan, masih dengan nada sopan.

“Muluk-muluk.” kata Papa. “Apa kerjaan ayahmu?” tanya Papa.

“Polisi.”

“Salah, saya sudah cek. Polisi rendahan, dengan gaji pas-pasan.”

Pandu diam saja. Memang kenyataannya begitu. Mau apa?

“Kamu ke sekolah naik apa?” tanya Papa lagi.

“Sepeda.”

“Kalo sepeda rusak, naik apa?”

“Ya dibikin betul. Kalo tidak bisa ya jalan. Dianugerahi kaki sama Tuhan, sayang kalau tidak digunakan.”

“Fei Fei dari kecil selalu naik mobil ke mana-mana. Tidak pernah hidup kekurangan. Kamu tidak akan bisa membahagiakan dia.”

“Papa! Papa nggak tanya, apa selama ini Fei bahagia? Nggak pernah hidup kekurangan bukan berarti bahagia, Pa!” protes Niken.

Pandu lalu menengahi, “Terlalu dini untuk menilai apakah saya bisa membahagiakan Fei Fei apa nggak.”

“Betul, Pa. Pandu itu termasuk orang pandai di sekolah. Nggak pernah mengalami kesulitan di bidang studi apapun. Dia punya masa depan yang cerah.” kata Niken seperti orang jual jamu.

“Sekarang jawab pertanyaanku. Sesudah SMA, kamu mau melanjutkan kuliah di mana?” tanya Papa lagi.

“Dari kecil saya ingin masuk ITB. Kalau bisa saya ingin mendapat beasiswa untuk kuliah di sana, jadi tidak merepotkan ibu sama bapak.” jawab Pandu jujur.

“Nah, Fei Fei itu bakal sekolah di luar negeri. Amerika.” kata Papa.

“Oh ya?!” tanya Niken terkejut. “Siapa yang bilang? Koq aku malah belum tahu? Apa aku nggak berhak untuk memutuskan di mana aku mau kuliah?” Pertanyaan Niken keluar bertubi-tubi.

“Mama yang bilang. Kamu bakal masuk Universitas di Amerika. Titik.” kata Mama.

“Nggak. Fei nggak mau. Apa enaknya kuliah di Amerika? Dari dulu Fei nggak pernah mimpi ingin kuliah di luar negeri koq.” Seperti biasanya, Niken dan kemauannya yang keras.

“Ini demi masa depanmu, Fei.” kata Mama lagi.

Niken cemberut. Segala sesuatu selalu sudah diputuskan tanpa didiskusikan terlebih dahulu dengan yang bersangkutan. Dirinya!

“Kalau kamu memang mencintai Fei Fei, kamu mestinya mendukung dia untuk kuliah di Amerika demi masa depannya.” kata Papa kepada Pandu.

Pandu terdiam. Kata-kata Papa Niken ada benarnya. Apalagi kalau Niken tidak mau kuliah di Amerika cuma karena demi dia. Tidak adil buat Niken. Dia cewek yang cemerlang. Dia harus mendapat kesempatan meniti karier setinggi mungkin.

“Fei, yang dibilang papa kamu benar juga. Aku nggak berhak berdiri di tengah jalan, menghalang-halangimu.” Pandu lalu berdiri. “Selamat malam. Terima kasih atas undangan makan malamnya. Selamat tinggal, Niken.”

“Tunggu, Pandu…” Niken mengikuti Pandu yang sudah sampai di ruang tamu.

Merasa diacuhkan, Niken lalu memegang lengan Pandu.

“Ndu. Dengerin aku dulu, kenapa sih? Sampai dua menit yang lalu, aku nggak tahu kalau aku bakal kuliah di Amerika. Nggak pernah ingin, nggak pernah terpikir pula. Selama ini aku selalu memikirkan kuliah di UI. Ambil kedokteran. Dari kecil aku cuma ingin jadi dokter. Kamu nggak berdiri di tengah jalanku, Ndu. Kalau kamu pergi, kamu justru membawa pergi impianku.”

“Fei, coba pikirkan. Aku nggak ingin suatu saat aku, atau kamu, bertanya-tanya, seandainya saja waktu itu Niken kuliah di Amerika….”

“Aku nggak akan pernah begitu, dan nggak akan pernah membuat kamu merasa seperti itu. Jujur saja aku nggak suka mendengar ide kuliah di Amerika. Sama sekali nggak ingin. Sama sekali bukan karena kamu, juga. Percaya deh, aku cukup keras kepala. Kamu pun tahu. Kalau aku memang ingin kuliah di Amerika, nggak ada seorangpun atau apapun yang bisa mencegahku.” jawab Niken tegas.

“Fei, ini kesempatan bagus buat kamu, buat masa depan kamu. Aku nggak mau jadi penghalang. Kamu bisa bilang nggak menyesal sekarang, tapi nanti-nanti? Aku yang bakal menyesal, pasti. Menyesal karena orang yang penuh bakat seperti kamu nggak berusaha sebisa mungkin untuk mengembangkan kemampuanmu.”

“Kenapa orang-orang selalu ingin memutuskan perkara untukku? Apa aku nggak bisa mengambil keputusan sendiri? Apa orang lain, termasuk kamu, tahu apa yang terbaik untukku?”

“Dalam hal ini, ya. Saat ini aku bisa melihat, kuliah di Amerika adalah yang terbaik untukmu. Seandainya aku ada di posisimu sekarang, aku pasti mengambil kesempatan itu tanpa pikir panjang. Sorry, Fei. Aku mesti pulang sekarang. Terima kasih makan malamnya. Good night…”

Edi dan Oma rupanya mendengarkan percakapan barusan, karena mereka tepat berada di luar ruang tamu.

“Aku antar, Pandu. Aku juga ingin pulang.” kata Edi.

“Nggak usah, Edi. Aku nggak ingin mengacaukan kesempatanmu untuk menjalin hubungan baik dengan keluarga Tasya.”

“Aku sudah punya hubungan baik dengan Oma dan adiknya Tasya. Itu sudah cukup buatku. Aku ternyata belum cukup kuat untuk melepas Tasya.” Jelas sekali Edi barusan menangis. Matanya merah.

“Ayolah, aku antar pulang sekarang.” lanjut Edi lagi. “Permisi, Oma, Niken. Sup kepitingnya enak sekali. Terima kasih sudah memberiku kesempatan.”

“Selamat malam, Oma.” kata Pandu berpamitan. “Senang sekali ketemu Oma. Sekarang saya tahu dari mana Niken mendapat segala kualitas baiknya.”

“Ndu,…” Niken nggak tau lagi mesti ngomong apa. Sepertinya Pandu sudah yakin sekali pada keputusannya. Niken jadi berasa ingin menangis. Cengeng sekali, kutuknya dalam hati. Niken lalu berlari ke kamarnya.

Pandu menoleh mendengar langkah lari Niken. Ditatapnya sampai bayangan Niken menghilang.

“Fei Fei…” Oma mengetuk pintu kamar Niken. Niken sudah dua jam tidak keluar kamar. Dari luar, terlihat lampu di kamarnya masih terang-benderang.

Niken mengusap air matanya yang sedari tadi mengalir terus tanpa henti. "Tidak ada salahnya membuka pintu buat Oma", pikirnya.

Masih memeluk boneka Sylvester-nya yang besarnya setengah badannya, Niken memutar kunci pintu kamarnya.

Begitu Oma masuk, buru-buru dikuncinya lagi pintu itu.

“Wah… kasihan tuh Sylvester jadi basah…” kata Oma berusaha menghibur cucu tersayangnya itu saat melihat wajah Niken yang basah air mata dan bibir mungilnya cemberut. Dari kecil kalau marah Niken selalu memonyongkan bibirnya yang memang merah itu.

“Oma, mestinya aku tahu aku bakal sakit begini kalau jatuh cinta. Ini semua salahku sendiri. Aku bodoh sekali.”

“Yang Oma tahu, Pandu tadi pasti benar-benar sayang sama kamu. Dia mau datang ke rumahmu walaupun tahu dia bakal dicaci-maki habis-habisan. Itu berarti cintanya untukmu lebih berharga buatnya daripada harga dirinya. Sesuatu yang untuk cowok biasanya sangat dia junjung tinggi.”

Niken masih diam saja, memikirkan baik-baik kata-kata yang barusan Oma bilang.

Oma melanjutkan, “Dia bahkan rela melepaskan sesuatu yang sangat berharga buat dia itu, cintanya, demi masa depanmu. Demi yang dia pikir terbaik untukmu. Jadi dia pergi itu bukan karena dia berhenti mencintaimu, tapi karena dia teramat sangat mencintaimu, Fei Fei. Kamu mestinya tidak boleh bersedih.”

“Tapi Fei nggak pengen koq kuliah di luar negeri. Fei pengen masuk fakultas kedokteran di UI. Fei kan juga sudah sering bilang sama Oma, kan? Papa pasti juga tahu kalau selama ini mendengarkan apa yang Niken katakan. Selama ini Fei berusaha keras susah-susah mengumpulkan nilai-nilai bagus cuma untuk masuk UI. Katanya susah banget masuk UI kalo nggak benar-benar siswa teladan. Fei nggak bisa berubah arah begitu saja. Papa memang selalu begitu.” Niken mengomel panjang lebar.

“Oma tahu. Dari dulu kamu selalu bilang ingin masuk FKUI. Papamu mungkin nggak tahu, karena dia tidak pernah di rumah. Saran Oma, kamu lakukan apa yang kamu inginkan. Ambil keputusan terbaik yang kamu bisa, sesudah itu, jalani keputusan itu dengan sepenuh hati.”

“Bagaimana dengan Pandu?”

“Oma lihat, Papa dan Mamamu benar-benar tidak setuju saat ini melihat kamu dan Pandu pacaran. Selama kamu masih sama Pandu, Papamu pasti berusaha untuk melepaskan kamu dari dia. Mungkin akibatnya akan fatal. Terutama buat Pandu. Papamu bisa saja menghalalkan segala cara untuk memisahkan kamu dan Pandu. Kamu mungkin bakal menyesal kalau meneruskan hubungan kamu sama Pandu sekarang. Mungkin ini yang terbaik. Kita lihat saja bagaimana nanti. Oma janji akan bantu kamu. Kamu tenang saja.”

“Janji Oma?”

“Ya, janji. Yang jelas nanti Oma akan lapor ke papamu bahwa kamu sudah putus hubungan sama Pandu. Jadi keadaan aman terjamin dulu. Oma belum punya ide sekarang ini bagaimana caranya membantumu. Tapi pasti beres deh…”

Ada sedikit kelegaan di hati Niken.

“Lagipula,” lanjut Oma lagi. “Oma lihat Pandu begitu mencintaimu. Rasa sayang itu tidak bisa cepat hilang seperti ditiup angin. Kalau memang jodoh nanti pasti kembali lagi.”

“Fei juga sayang sama Pandu. Kenapa sih susah amat sudah sama-sama sayang tidak bisa bersatu?” keluh Niken.

Oma tersenyum sambil mengelus-elus rambut Niken.

“Mau denger cerita cinta Oma?”

Niken mengangguk, tertarik.

“Kamu tahu kan kalau Oma itu juga anak orang kaya, walaupun nggak sekaya kamu sekarang?”

Niken bingung. “Tapi kata Papa, waktu Papa masih kecil, papa nggak punya duit, makanya Papa bisa berhasil seperti sekarang ini karena gemblengan dari Opa?”

“Iya. Tunggu dulu. Oma belum selesai cerita, kan. Baru saja dimulai. Oma itu anak saudagar kaya di Pati. Opa itu cinta pertama Oma. Oma ketemu dia tahun 1943, waktu Oma masih umur enam belas tahun. Dia anak pengusaha saingan ayah Oma. Karena tahu bakal dilarang pacaran, terutama karena waktu itu jarang orang pacaran. Oma bahkan sudah dijodohkan sama anak seorang juragan beras yang kaya dari Juana.”

“Wah… Oma pacaran juga, yah? Terus, bagaimana jadinya?” Niken tambah tertarik.

“Waktu itu jaman perang. Tiga tahun kami pacaran sembunyi-sembunyi, tidak ada orang yang tahu. Tahun 1946, rumah dan pabrik ayah Opamu yang memang letaknya bersebelahan, terbakar habis. Sejak saat itu, Oma nggak pernah dengar lagi kabar Opa selama setahun lebih. Sementara itu, Oma sudah hampir dinikahkan sama pria Juana itu. Mendadak sebulan sebelum pesta pernikahan, Opamu muncul di rumah. Sehat walafiat.”

“Lalu?” tanya Niken.

“Lalu, dia melamar Oma. Tentu saja tidak diperbolehkan. Apalagi semua tahu kalau Opa-mu bukan lagi anak orang kaya, karena ayahnya sudah bangkrut karena kebakaran itu. Opamu rupanya selama setahun bekerja memeras keringat sampai bisa membeli rumah kecil di Kudus itu. Baru dia berani melamar Oma. Oma tidak peduli tidak direstui orang tua, besoknya Oma sama Opa menikah catatan sipil. Karena peristiwa itu, Oma sama sekali tidak mendapat hak warisan keluarga. Oma tidak peduli. Oma tidak butuh warisan.”

“Ooh… pantesan Oma ngotot nggak mau jual rumah Kudus. Rupanya rumah bersejarah, ya?”

“Jadi kamu dengar sendiri, Oma juga pernah mengalami seperti yang kamu alami sekarang. Mencintai tapi tida memiliki. Oma bahkan tidak tahu Opamu masih hidup selama setahun lebih. Tapi kami berdua sama-sama mencintai, jadi bisa bersatu lagi.”

Niken nggak percaya ternyata Oma-nya ini punya kisah cinta yang seru.

“Melihat kamu sekarang, Fei, Oma jadi seperti melihat diri Oma sendiri waktu Oma masih muda. Kamu mesti yakin sama keinginanmu sendiri. Pasti kamu dapat jalan. Kamu boleh percaya deh kata-kata Oma. Lihat Oma. Saksi hidup bahwa cinta itu ada.”

“Terus cowok Juana itu bagaimana nasibnya, Oma?” tanya Niken geli.

“Oh, dia juga nggak betul-betul ingin menikahi Oma. Dia juga terpaksa koq dijodohkan. Sesudah Oma menikah sama Opamu, dia pernah datang ke rumah, berterima kasih.”

“Wah, jadi pada jaman orang pada dijodohin, Oma sudah berani pacaran. Oma pasti nakal sekali yah…” goda Niken. “Tapi Oma hebat deh, pacaran backstreet 3 tahun nggak ketahuan. Oma top deh.” kata Niken sambil mengacungkan jempolnya.

“Ada-ada saja kamu ini, Fei.”

“Makasih ya Oma, Fei jadi terhibur abis denger cerita Oma. Sekarang Oma pasti capek. Oma tidur sama Fei Fei ya malam ini. Biar Sylvester tidur di lantai.”

“Kasian, sudah basah masih tidur di lantai lagi. Masuk angin dia nanti…” gurau Oma.

“Ndu!” panggil Wulan saat istirahat pertama.

“Kalau kamu mau mengkuliahi aku tentang Niken, urungkan saja niatmu, Wulan. Aku lagi nggak mood.” kata Pandu.

“Nggak. Aku ke sini disuruh Niken.”

“Disuruh Niken? Kemana dia? Koq hari ini nggak masuk?” kata Pandu sambil menunjuk kursi di sebelahnya.

“Dia masuk koq pagi-pagi tadi. Trus dipanggil Pak Yusril, katanya kita mau ikut ambil bagian di acara festival di Universitas Diponegoro tahun ini, kayaknya masih 10 bulan lagi sih. Bakal jadi acara besar-besaran, kayaknya. Ini dia keluar, ke Undip, mengurus pendaftaran dan tetek bengeknya. Aku cuma disuruh kasih ini ke kamu.” kata Wulan sambil menyodorkan sepucuk surat.

Wulan terus berdiri di depannya selama Pandu membaca yang ditulis Niken. Rupanya bukan surat, tapi puisi.

Tangan-tangan kecil kita

Berusaha menggapai dunia

Bukan salah siapa-siapa

Dunia tak tergenggam

Melati di taman hati

Akan terus bersemi

Dengan sabar menanti

Sentuhan lembut penuh kasih

Sepercik gerimis pemuas dahaga

Cukup untuk melati selamanya

Jika kita tak putus sabar

Di hari mendatang

Dunia pasti ‘kan tergenggam

Tangan-tangan kecil kita

“Apa katanya?” tanya Wulan.

“Kenapa?” tanya Pandu. “Dia bilang apa ke kamu?”

“Aku tahu semalam kamu diundang makan malam. Aku pernah diundang makan malam, suasananya benar-benar nggak enak. Makanya belakangan aku nggak pernah mau datang kalau ada papa-mamanya. Kemarin kamu dibantai ya?”

“Nggak.” jawab Pandu singkat. “Memangnya Niken bilang apa ke kamu?”

“Pagi tadi dia cerita panjang lebar tentang kisah cinta neneknya. Dengan wajah ceria dia meyakinkanku bahwa cinta sejati itu bener-bener ada, dan dia nggak akan berhenti sampai dia berhasil mendapatkannya kembali. Aku sama sekali nggak ngerti maksudnya. Makanya aku tanya ke kamu ini.”

“Dia… Wulan, aku juga jadi nggak mengerti sekarang.” Pandu jadi ikutan bingung. “Kemarin malam, aku sudah ucapkan selamat tinggal ke dia. Koq sekarang…?”

“Selamat tinggal? Maksudmu?”

“Gini deh. Kemarin, satu-satunya alesan yang berhasil membuat aku pulang cuma karena Niken mau disekolahkan di luar negeri. Dan aku merasa bakal jadi penghalang prestasi Niken kalau aku terus pacaran sama dia. Jadi aku pulang, dan aku lepaskan dia. Semalaman aku nggak bisa tidur. Aku bahkan menangis kemarin malam, karena nggak tahu aku mesti sedih atau gembira.”

“Kalau kemarin dia putus sama kamu, kenapa dia nggak keliatan seperti orang habis putus?” tanya Wulan.

“Itu dia yang bikin aku bingung. Jangan-jangan dia nggak mengerti maksudku. Tapi setahuku dia paham betul koq. Terakhir kali aku tinggal juga nangis koq. Bukannya aku ingin dia menangis, tapi koq dia masih bicara tentang cinta sih?” kata Pandu seakan-akan bertanya pada diri sendiri.

“Lantas, dia bilang apa di suratnya?” tanya Wulan tambah bingung.

“Bukan surat, tapi puisi. Nih, baca aja sendiri. Pasti tambah pusing seperti aku setelah baca deh.”

Wulan lalu membaca puisi yang ditulis Niken kemarin malam.

Dia lalu mengernyitkan dahinya. Alisnya naik turun.

“Ndu, sungguh tadi pagi dia itu kelihatan hepi koq. Puisinya juga nggak menunjukkan tanda-tanda kesedihan. Sejak kenal kamu, puisi Niken memang selalu bernada hepi. Tidak terkecuali yang ini. Eh, itu dia datang.” kata Wulan sambil menunjuk ke arah luar gerbang. Niken sedang berjalan masuk membawa setumpuk map di tangannya.

“Gimana Nik?” tanya Wulan datang menghampiri Niken di luar kelas.

“Bagus, kita bisa ikutan di acara festival. Universitas dan sekolah dari luar Jawa juga bakal ikut ambil bagian, lho. Pasti ramai nih. Temanya ‘Generasi Muda dalam Pembangunan’. Aku nggak tau kapan susunan panitia harus final, tapi yang jelas nggak dalam waktu dekat ini lah. Karena kan minggu depan udah mulai test kenaikan kelas.” lapor Niken berapi-api.

“Maksudku bukan itu. Maksudku dia…” kata Wulan sambil menunjuk ke arah Pandu.

“Lha bagaimana? Udah kamu sampaikan yang aku pesan?” tanya Niken.

“Ya sudah. Makanya itu aku bingung.”

“Ya sudah kalau sudah. Berarti sudah beres. Makasih ya Wulan.” Niken tersenyum.

Wulan cuma menggeleng-gelengkan kepalanya. Niken nggak sempat ngomong apa-apa ke Pandu karena bel sudah berbunyi.

Setelah bel pulang sekolah, Pandu tidak tahan lagi untuk tidak angkat bicara.

“Fei, kamu bisa tinggal di kelas sebentar?”

“Bisa saja. Apalagi kalo kamu nggak berdiri-berdiri begini kan aku juga nggak bisa lewat.” kata Niken geli.

“Kamu ini bagaimana, sih? Tersambar geledek tadi malam? Kena amnesia?”

“Kamu sudah baca yang aku tulis semalam?” tanya Niken seperti nggak mendengar yang barusan Pandu bilang.

“Itu yang aku ingin ngomong.” jawab Pandu.

“Sudah apa belum?” tanya Niken lagi.

“Sudah dong. Tapi aku nggak mengerti maksudmu. Lebih baik kamu bicara pakai bahasa yang bisa aku mengerti saja, deh.”

“Wah, nggak seru, dong, kalau aku mesti menjelaskan segala-galanya. Apa tujuannya aku menulis puisi coba? Dianalisa sendiri lah…” kata Niken geli, dan berusaha mengelak.

“Oke, nih aku baca lagi. Sekaligus aku berikan analisaku. Kalau salah jangan marah ya, kamu tahu sendiri bakat puisiku minus.”

“Mulai sana.”

Pandu membuka lagi kertas yang dilipat empat itu.

Tangan-tangan kecil kita

Berusaha menggapai dunia

Bukan salah siapa-siapa

Dunia tak tergenggam

“Kita itu maksudnya kamu sama aku kan?” tanya Pandu memastikan.

“Aduh pinteeeeeerrr… Kalau sudah besar mau jadi penerbang ya?” ledek Niken.

Pandu tersenyum geli. "Memang gila ini anak", batinnya.

“Kita, menggapai dunia, tapi dunia tak tergapai, bukan salah siapa-siapa… Hmm… Kayaknya ini aku bisa menangkap. Kamu bilang, kemarin kita putus tapi kamu nggak nyalahin siapa-siapa, gitu kan?”

“Kira-kira begitu intinya. Tapi nggak cuma itu. Tangan-tangan kecil kita, kata ‘kecil’ di situ menunjukkan fakta bahwa tangan kita masih terlalu kecil untuk menggapai ‘dunia’ saat ini.”

“Jadi?”

“Jadi, aku sayang kamu, kamu sayang aku. Tapi ada hal-hal lain yang di luar jangkauan kita yang nggak memungkinkan kita untuk bersatu saat ini.”

“Aku mengerti sekarang. Aku lanjutin ya…”

Melati di taman hati

Akan terus bersemi

Dengan sabar menanti

Sentuhan lembut penuh kasih

“Awas kamu kalo tanya ‘Melati itu siapa?’!” ancam Niken.

“Nggak. Aku ngerti koq. Yang kamu maksudkan di sini cinta kan? Tapi yang aku nggak mengerti adalah apa maksud kamu bilang sabar menanti?”

“Aduh… bener-bener blo’on deh. Perasaan aku menulis puisi itu pakai bahasa Indonesia. Apa sebegitu susah dimengerti sih?”

“Oke-oke. Aku mikir lagi.” kata Pandu sambil memutar otaknya. Payah, seperti ujian bahasa Indonesia saja.

“Gabungin sekalian sama dua baris di bawahnya.” kata Niken memberi petunjuk.

Sepercik gerimis pemuas dahaga

Cukup untuk melati selamanya

“Nyerah deh, Fei. Aku sepertinya mengerti maksud kamu, tapi nggak sesuai dengan kenyataan bahwa kita sekarang udah nggak pacaran.”

“Kamu udah ada di arah yang bener. Kamu tadi bilang kamu mengerti maksudku, apa yang kamu mengerti?”

“Kamu berusaha bilang, kamu bakal tetap sayang sama aku, dan mau menungguku. Aku nggak ngerti dua baris selanjutnya, tapi itu kan kira-kira intinya?”

“Ah, susah deh main teka-teki sama kamu. Aku jelasin saja deh.”

“Puji Tuhan!” kata Pandu menghela napas lega.

Niken tertawa.

“Setelah kamu pulang, aku menangis terus. Aku nggak tau berapa lama aku menangis, tapi sampe agak larut sih. Aku berusaha menenangkan diri dengan menulis puisi, tapi nggak ada kata-kata yang keluar. Semakin aku berusaha melupakan kesedihanku dengan memikirkan sesuatu, semakin aku teringat kamu.”

“Sejauh ini masih bisa aku mengerti, karena aku juga mengalami hal yang sama. Lantas?”

“Waktu itu aku memikirkan, betapa jelek nasibku, sangat ironis sekali. Aku yang nggak pernah ingin jatuh cinta, yang tahu apa akibatnya kalau aku jatuh cinta, akhirnya jatuh cinta juga, dan segera sesudah aku memberikan hatiku, aku mengalami akibat yang aku sudah tahu sebelumnya.”

“Fei… Maaf kalau aku melukaimu. Aku nggak pernah bermaksud seperti itu. Aku benar-benar sayang sama kamu. Aku tahu kamu mungkin nggak akan pernah percaya lagi sama aku abis kejadian semalam.”

“Aku tahu itu. Aku baru sadar setelah Oma masuk. Justru karena kamu sayang sama aku, maka kamu ambil keputusan semalam. Aku sangat menghargai pengorbananmu, Ndu. Dan itu bukan membuat aku jadi patah hati, tapi justru bangga, dan aku jadi tambah sayang sama kamu.”

“Tapi aku nggak pengen kamu tambah sayang sama aku, karena kamu bakal tambah kecewa dan susah melupakanku.”

“Kamu nggak bisa mencegah itu. Aku sendiri juga nggak bisa. Kamu tahu burung albatross nggak, Ndu?”

“Tahu. Yang tinggalnya di daerah dingin.”

“Burung albatross itu seumur idup cuma satu pasangannya. Mereka menunggu sampai menemukan pasangannya, trus abis itu hidup berdua selama-lamanya. Sebelum yang cewek datang, yang cowok bikin sarang dulu, terus memanggil ceweknya untuk datang, untuk tinggal di sarang yang baru saja dia buat. Bahkan bila terbang berdua pun, harmonis sekali. Kalau yang satu berubah arah 10 derajat, yang satu mengikuti arahnya, seperti dua garis sejajar di angkasa.”

Pandu masih diam saja mendengarkan Niken ngomong dengan matanya yang berbinar-binar.

“Aku pengen seperti burung albatross itu. Aku sudah menemukan cinta sejatiku. Aku nggak perlu harus memilikinya sekarang, kalau sekarang memang bukan waktu yang tepat. Aku mau menunggu sampai saat yang tepat itu datang. Sampai kita bisa bersama lagi.”

“Jadi kamu nggak bermaksud ngelupain aku?” tanya Pandu.

Niken menggeleng. “Sama sekali nggak. Baca bait selanjutnya.”

Pandu menurut.

Jika kita tak putus sabar

Di hari mendatang

Dunia pasti ‘kan tergenggam

Tangan-tangan kecil kita

“Kamu bilang, suatu saat nanti kita pasti bersama lagi, begitu?”

“Tepatnya, aku cuma ingin bilang, aku akan terus mencintaimu. Kamu sudah berhasil menunjukkan padaku betapa kamu sayang aku. Tangan-tangan kita tetap kecil, nggak berubah. Tapi dengan kesabaran, suatu saat nanti pasti kita bisa raih apa yang kita mau.”

“Kamu mau terus mencintaiku sampai kapan? Bagaimana kalau kita nggak akan pernah punya kesempatan untuk bersama lagi?”

“Seperti burung albatross tadi, selamanya. Kalau aku nggak punya kesempatan untuk bersama lagi, setidaknya aku sudah puas sudah menemukan cinta sejatiku.”

Pandu tertegun. Dia tidak menyangka Niken sekuat ini.

“Fei, kamu pernah bilang, kamu bakal jadi orang yang terbodoh dalam masalah cinta? Kamu salah, Fei. Aku belum pernah denger orang bilang begini. Di film-film sekalipun. Baiklah kalau kamu memang yakin. Aku pun akan menyimpan segala rasa cintaku untukmu selamanya. Kamu baru saja memberikan aku kekuatan untuk itu.”

“Nah, sudah mengerti, kan? Aku boleh pulang sekarang? Nanti orang-orang mengira kita pacaran lho…” goda Niken.

“Oh ya… Kita nggak mau itu terjadi. Ya kan?” kata Pandu yang berdiri bersandarkan meja sambil mengedipkan sebelah matanya.

“Fei…” kata Pandu pelan waktu Niken lewat di hadapannya.

“Apa lagi?” tanya Niken.

Pandu lalu dengan sigap meletakkan tangan kanannya di punggung Niken dan mendorong punggung Niken ke arahnya. Kurang dari sedetik kemudian, wajah Niken sudah berhadap-hadapan dengannya. Ditatapnya lekat-lekat sepasang mata yang membuatnya jatuh cinta itu. Lalu pelan-pelan Pandu mendekatkan bibirnya ke pipi Niken. Niken sama sekali nggak bisa bergerak atau berkata apapun. Dia cuma bisa memejamkan matanya sambil tersenyum. Sebuah ciuman manis yang menggetarkan hati. Ciuman pertama buat keduanya.

Niken masih memejamkan matanya waktu Pandu menarik kembali bibirnya dari pipi Niken tiga detik kemudian. Dia baru membuka matanya saat Pandu memegang dagunya.

“Sayang sekali kamu tadi nggak bisa merasakan gimana rasanya dicium kamu.” kata Niken kemudian sambil tersenyum manis.

Niken lalu pelan-pelan mencium pipi kanan Pandu sambil agak jinjit. Bibir mungilnya sudah mendaratkan ciuman tipis yang di pipi Pandu terasa hangat dan lembut.

“Aku yakin nggak semanis ciuman kamu barusan.” jawab Pandu setelah Niken selesai.

“Aku kan cuma menirukan yang kamu lakukan. Pembalasan namanya.” jawab Niken.

“Nah, sekarang, kalau ada yang melihat kita, pasti kita benar-benar dikira pacaran.” kata Pandu tersenyum lebar.

“Oh ya, lupa. Terus bagaimana, dong?”

“Ya kamu pulang dong, cepetan kabur sana.” kata Pandu sambil ketawa.

“Oke, aku pulang dulu yah, my friend.” kata Niken tersenyum, lalu mencium pipi Pandu yang kiri, lalu berkata “Yang sebelah sini iri nanti.”

Niken baru saja membalikkan badannya saat Pandu menariknya kembali.

“Bilang aja kamu minta dicium lagi.” katanya. Niken ketawa.

Pandu lalu mencium pipinya lagi. Kali ini sedikit lebih lama dari yang tadi.

“Ndu, kita ini jadinya pacaran lagi apa nggak sih?” tanya Niken.

“Nggak. Kita cuma saling cinta.”

Kuyakin dalam hatiku kau satu yang ku perlu

Kurasa hanya dirimu yang membuatku rindu

Bila saat nanti kau milikku,

Kuyakin cintamu takkan terbagi takkan berpaling

Karena ku tahu engkau begitu…

Hingga ku pasti menunggu selama apapun itu

Demi cinta yang kurasakan, yang hanyalah kepadamu

Percayalah ku sungguh-sungguh mengatakan semua

Yakinkan hatimu kau milikku

Karena ku tahu engkau begitu…

*

Selama berbulan-bulan, Niken dan Pandu sama-sama sabar memendam impian mereka untuk bersama. Sekarang mereka telah naik ke kelas tiga. Seharusnya anak kelas tiga tidak boleh punya menghabiskan banyak waktu di luar pelajaran, termasuk kegiatan organisasi sekalipun. Walaupun begitu, Niken mendapat sedikit dispensasi, karena dia jadi ketua panitia acara festival akbar di Universitas Diponegoro. Lagipula nilai-nilai Niken tidak sedikitpun terpengaruh dengan kegiatan-kegiatan ekstranya. Waktu naik kelas yang lalu, Niken meraih ranking pertama, Pandu cuma terpaut tipis di belakangnya, ranking dua. Acara puncak festival kali ini adalah pawai bunga. Peserta festival harus mendekor kendaraan berangkaikan bunga. Acara-acara lain yang berlangsung selama seminggu penuh itu antara lain lomba memasak, lomba matematika, fisika, kimia, komputer, lomba band, acapella, adu-debat, dan masih banyak lagi.

Festivalnya tinggal dua hari lagi. Semua sudah siap. Rancangan dekor untuk kendaraan bunga juga sudah siap. Kendaraan bunga harus didekor di lapangan pada satu hari sebelum hari terakhir festival, karena pawai bunganya di hari terakhir festival, maklum acara puncak.

Ujian kelulusan nasional tinggal tiga bulan lagi. Menjelang ujian, hampir setiap hari ada test atau ulangan. Sebagai persiapan ujian. Sampai rasanya sudah hafal semua bahan pelajaran dari kelas satu sampai kelas tiga. Untung sekali kegiatan di sekolah begitu banyak menyita waktu Niken dan Pandu sehari-hari, jadi keduanya sama-sama tidak begitu memikirkan masalah mereka. Papa dan Mama pun sepertinya percaya akan kata-kata Oma, sehingga sama sekali tidak pernah menyinggung-nyinggung nama Pandu lagi.

Niken bahkan menurut saja mengisi formulir-formulir pendaftaran untuk berbagai universitas di Amerika. Namun tekadnya sudah bulat, dia cuma ingin masuk fakultas kedokteran di Universitas Indonesia, di Jakarta. Pandu pun tidak tahu rencana Niken ini, karena Niken yakin, seandainya dia bilang ke Pandu, Pandu pasti akan memaksa-maksa dia lagi untuk ke Amerika saja. Niken merasa keputusan yang diambilnya ini adalah yang terbaik, dan tanpa desakan atau paksaan pihak manapun. Keberadaan Pandu pun tidak masuk dalam pertimbangannya dalam mengambil keputusan. Ini adalah impiannya dari kecil, dan siapapun tidak bisa menghalanginya.

Sore ini adalah latihan terakhir buat band yang akan tampil, termasuk band dadakan yang dibentuk Pandu dan kawan-kawan khusus buat acara festival kali ini.

Niken sebagai ketua panitia harus melihat seluruh acara latihan terakhir, termasuk band Pandu ini.

Ada tiga band yang akan tampil dari SMA Antonius.

Niken kali ini tidak mengambil bagian sama sekali di lomba band, karena dia lebih ingin berkonsentrasi di lomba kimianya. Lagipula dia tidak punya banyak waktu untuk latihan, karena mengorganisasi seluruh acara festival benar-benar sudah menyita banyak waktunya. Belum lagi harus belajar untuk ujian.

Hari ini Niken bisa lebih relaks, karena tugasnya hari ini cuma menonton latihan terakhir. Banyak sekali anak-anak yang supportif hadir sore ini, terutama karena mereka ingin melihat band sekolah mereka sebelum tampil di lomba. Pandu sengaja tidak membentuk band dengan keyboad, karena dia sendiri juga tidak punya banyak waktu untuk latihan. Pandu sebenarnya juga tidak ingin ikut andil di band, karena dia juga mengikuti lomba matematika dan adu-argumentasi. Tapi akhirnya setelah dipaksa-paksa, dia mau jadi vokalis utama.

Niken yang duduk di baris paling depan tak bisa melepaskan perhatiannya dari Pandu di panggung theatre yang terlihat manis sekali. Kocak sekali gaya Pandu di panggung, sesuai dengan lagu yang dinyanyikannya.

Sambil terus menyanyi, Pandu berjalan turun panggung ke arah Niken, lalu menyanyi di depannya, sambil menyambut tangan kanan Niken sambil tersenyum. Niken malu sekali, apalagi anak-anak yang lain bersorak-sorai semua. Dasar Pandu tidak tahu malu. Pandu terus menyanyi sambil menarik tangan Niken untuk berdiri. Niken menggeleng-geleng sambil melotot. Tapi karena didorong-dorong teman-teman kiri-kanan dan belakangnya, mau tak mau Niken berdiri juga. Pandu menuntunnya sampai kira-kira dua langkah dari kursi tempat Niken duduk. Niken jadi geli melihat Pandu yang menyanyi tepat di hadapannya sambil menggoyang-goyangkan pinggulnya.

Anak-anak spontan tepuk tangan dan bersuit-suit setelah Pandu selesai menyanyi. Niken kembali duduk. Mukanya merah padam karena malu. Untung sekali lagu Pandu tadi mengakhiri acara latihan terakhir band sore ini. Jadi anak-anak lalu bubar jalan.

“Kamu payah tadi, Ndu…” kata Niken setelah agak sepi.

“Payah bagaimana? Jelek nyanyinya?”

“Bagus koq nyanyinya. Tapi nanti kita dikirain pacaran lagi…”

“Nggak lah… Kamu nggak sadar kamu satu-satunya cewek yang duduk di baris paling depan tadi? Tenang saja… Mereka pasti nggak curiga.”

“Sudah siap lomba matematikanya, Ndu?” tanya Niken.

“Yah mau dipersiapkan seperti apa lagi? Hampir tiap hari ada ulangan matematika. Itu sudah bisa dibuat persiapan kan? Kamu sendiri bagaimana?”

“Aku ditraining terus sama Bu Ndari di lab kimia. Lombanya kan teori dan praktek. Teori sih jauh lebih mudah daripada praktek. Tapi sepertinya aku sudah cukup menguasai bahan lah… Waktu ujian praktikum kimia kemarin aku dapat nilai bagus koq.”

“Iya, aku juga denger. Selamet yah. Aku denger kamu dapet nilai tertinggi seangkatan buat ujian praktikum kimia sekaligus biologi. Yang kimia terutama, kamu nomer satu, sementara nomer duanya nilainya lumayan jauh di bawahmu. Aku doain semoga sukses lah lombanya.”

“Lomba argumentasimu tiap hari ya, Ndu?”

“Iya, soalnya pesertanya banyak, dan pake sistem gugur. Lumayan deg-degan juga, soalnya topiknya bakal ditentukan saat session itu, dan juga diundi pro atau kontranya. Semoga aja nggak dapet bahan yang aneh-aneh. Aku sudah rajin baca koran dan dengerin berita di teve setiap hari sih.”

“Wah, dengerin berita akhir-akhir ini justru bikin aku deg-degan. Bagaimana tidak? Demo di mana-mana. Suasananya tambah hari tambah panas deh. Untung Semarang nggak pernah ada demo yang pake acara bakar-bakaran. Kantor papa yang di Solo kena korban bakar-bakaran massal lho.”

“Oh ya? Fei… aku juga jadi kuatir, karena target mereka tuh terutama orang keturunan Cina. Kamu jelas-jelas kelihatan kalo keturunan Cina. Aku takut kalau…”

“Heh… jangan ngomong yang nggak-nggak, dong. Aku bisa jaga diri sendiri. Kamu tahu nggak kalo aku bisa karate? Nggak ahli sih, tapi pernah belajar sama Opa waktu kecil.”

“Kamu belajar karate waktu kecil? Kamu nakal ya waktu kecil?” tanya Pandu heran.

“Wah, nakal sekali. Lawanku cowok berbadan besar-besar. Semakin besar badannya, apalagi yang gendut-gendut, semakin aku tertarik untuk menjatuhkan. Tapi aku nggak asal bertarung. Aku cuma melawan kalo dilawan duluan. Itu prinsip yang diajarkan Opa.”

“Hah? Kamu jago berkelahi?”

“Pertamanya nggak. Aku masih inget, waktu itu di SD ada anak cowok sombong sekali, dia selalu iri karena aku dapat nilai bagus. Terus suatu hari, buku catatanku yang di meja disobek-sobek sama dia. Aku marah, tapi nggak bisa apa-apa karena dia berbadan besar. Trus aku lapor sama Opa. Lalu aku diajari karate itu tadi.”

“Trus besoknya kamu pukuli dia?” tanya Pandu tertarik akan cerita Niken yang seru.

“Wah, nggak. Aku kan sudah janji sama Opa untuk nggak memulai perkelahian. Kira-kira seminggu setelah kejadian buku sobek itu, dia mengganggu salah satu teman cewekku sampai temanku menangis. Trus aku belain temanku itu. Trus dia tantang aku. Ya aku jawab tantangannya. Trus udah deh, berkelahi, ditonton anak banyak. Ada rasa puas waktu itu karena aku berhasil bikin biru matanya.”

“Kamu menakutkan juga ya, Fei. Aku aja waktu SD nggak pernah berkelahi.”

“Aku sering sekali. Tiap sehabis berkelahi aku pasti masuk ruang guru. Dinasehati untuk tidak berkelahi. Aku nggak pernah merasa bersalah karena aku nggak pernah yang memulai. Mama pasti marah-marah abis itu karena dia jadi sering dipanggil guru.” kata Niken mengenang masa kecilnya yang heboh.

“Trus kapan kamu berhenti berkelahi?”

“Sampai semua anak cowok sombong yang di sekolah satu-satu sudah bertarung denganku, dan semua kapok untuk memulai lagi. Akhirnya keadaan aman dan damai.” kata Niken sambil tertawa terbahak-bahak.

“Kamu pasti ditakuti cowok-cowok di sekolahmu yah…?” tanya Pandu geli. Kalimat Niken tadi berkesan seakan-akan Niken seorang pahlawan pembela kebenaran dan keadilan.

“Kira-kira begitulah.”

“Cicimu juga jago berkelahi?” tanya Pandu.

“Nggak. Cici tu pendiam. Kalem sekali dari kecil. Bisa jadi waktu dilahirkan nggak menangis juga. Kalo nggak disapa nggak akan bicara duluan. Pemalu sekali. Papa selalu bilang, koq aku nggak bisa seperti cici. Aku selalu saja buat onar. Bikin malu keluarga. Pokoknya aku sama cici tu bertolak belakang sekali, lah. Cici nggak begitu pandai di sekolah. Kasihan sekali dia dari kecil hari-harinya penuh acara les.”

“Memangnya kamu nggak?”

“Nggak. Aku dari kecil suka memberontak. Aku nggak mau les kalo merasa nggak ada gunanya. Aku lebih suka belajar sendiri. Akhirnya aku cuma les Inggris dari kecil, karena aku merasa butuh seorang guru untuk latihan conversation. Selebihnya aku les bidang-bidang yang aku sukai, termasuk renang, piano, saxophone, nge-drum, dan lain-lain. Itu pun aku daftar-daftar sendiri di sekolah musik. Tadinya mama cuma suruh aku les piano di sekolah musik. Trus setelah itu aku yang daftar-daftar sendiri.”

“Aku nggak pernah les piano, lho…” kata Pandu mengaku.

“Trus kamu bisa canggih main piano dari mana?” tanya Niken keheranan.

“Waktu masih kecil di Yogya, aku tetanggaan sama Mas Baron Kanginan.”

“Baron Kanginan yang pemain piano klasik yang sering main di konser nasional itu?” tanya Niken kaget.

“Iya. Waktu aku kecil dulu, Mas Baron belum ngetop. Dia cuma ikut ngeband kecil-kecilan di kampusnya. Aku sering mendengar dan melihat dia main piano dari jendela kamarku yang berhadap-hadapan dengan kamarnya. Suatu hari dia memanggilku. Trus dia menawari aku untuk mengajari aku main piano. Tentu saja aku mau sekali.”

“Wah… beruntung amat kamu bisa diajari langsung sama Baron Kanginan. Pantas saja kamu punya gaya main piano yang lain dari orang kebanyakan. Baron Kanginan kan unik sekali.”

“Piano yang di rumah itu juga pemberian Mas Baron sebelum dia pindah ke Jakarta. Dia bilang waktu itu dapat tawaran konser. Dia nggak bakal sanggup memindah piano seberat itu ke Jakarta, makanya dia hadiahkan ke aku.”

“Kamu masih sering kontak sama dia?”

“Masih. Kadang-kadang dia masih kangen Yogya, terus ya menginap di rumahku. Sejak pindah ke Semarang, aku belum pernah bertemu dia lagi. Tapi dia tahu koq kalau kita pindah Semarang. Dia kan hampir seumur sama kak Darmawan yang di Jakarta. Mereka masih sering kumpul-kumpul katanya.”

Niken cuma manggut-manggut.

“Manggut-manggut seperti burung pelatuk saja kamu, Fei. Sudah sore lho. Nanti kamu dicariin mama kamu, lho…” kata Pandu mengingatkan.

“Aku musti di sini sampai anak-anak perlengkapan selesai memindahkan alat-alat ke gudang.”

“Biar aku aja. Nanti aku laporan ke kamu. Kamu capek kan dari tadi siang belum pulang rumah?”

“Nggak. Ini tanggung jawabku, Ndu. Mana bisa aku serahkan ke kamu?”

“Ya sudah. Aku temani.” Pandu yakin tidak akan bisa melawan kehendak tuan putrinya ini.

“Niken, kunci gudangnya kamu yang tanggung jawab, kan?” tanya Rudi.

“Iya. Sudah selesai semua ya?”

“Sudah barusan. Anak-anak sudah pada mau pulang. Ini kuncinya. Aku pulang duluan ya…” kata Rudi sambil menyerahkan kunci ke Niken.

“Iya. Makasih ya Rud.” kata Niken sambil memutar-mutar kunci itu di jarinya.

“Fei, ikut aku yuk…”

“Mau ngapain?”

“Ikut aja…” kata Pandu sambil menggandeng tangan Niken.

“Iya,… iya…” kata Niken sambil melepaskan gandengan Pandu, takut ada orang yang melihat, lalu mengikuti langkah Pandu.

Rupanya Pandu berjalan menuju ruang musik lewat belakang.

Lalu dia duduk di kursi piano. Pelan-pelan dibukanya penutup piano itu.

“Besok kamu ulang tahun kan?”

Niken mengangguk. Tujuh belas tahun. Sudah sebulan ini dia bertengkar dengan Papa karena menolak merayakan ulang tahunnya secara besar-besaran seperti anak-anak gadis yang lain. Akhirnya Papa nggak bisa apa-apa karena Niken mengancam untuk nggak akan datang kalau Papa nekad mengadakan pesta apapun untuknya. Niken cuma ingin makan di rumah saja, mengundang Oma dari Kudus.

“Besok hari Minggu, kita mungkin nggak bakal sempet ketemu. Aku ingin ngasih kado hari ini. Boleh kan?”

Niken mengangguk lagi.

Pandu lalu mulai sibuk dengan pianonya. Mendengar intro lagu yang sangat dikenalnya, Niken lalu ikut duduk di kursi piano yang memang cukup panjang untuk buat berdua itu. Tangan kanannya ikut memainkan variasi melodi. Pandu lalu menyanyi. Niken tidak ikut menyanyi karena suaranya tidak pas dengan tangga suara yang dipilih Pandu. Terlalu rendah untuknya. Dia lebih suka menikmati suara empuk Pandu sambil ikut iseng memainkan piano bagian kanan. Tangan kanan dan kiri Pandu begitu lincah di atas piano. Pasti dia sudah latihan dahulu. Susah memainkan lagu Guns ‘n Roses ini dengan piano, lebih gampang memainkannya dengan gitar.

Shed a tear ‘cause I’m missin’ you

I’m still alright to smile

Girl, I think about you every day now

Was a time when I wasn’t sure

But you set my mind at ease

There is no doubt you’re in my heart now

Said, woman, take it slow, it’ll work itself out fine

All we need is just a little patience

Said, sugar, make it slow and we come together fine

All we need is just a little patience

I sit here on the stairs ‘cause I’d rather be alone

If I can’t have you right now, I’ll wait, dear

Sometimes I get so tensed but I can’t speed up the time

But you know, love, there’s one more thing to consider

Said, woman, take it slow and things will be just fine

You and I’ll just use a little patience

Said, sugar, take the time ‘cause the lights are shining bright

You and I’ve got what it takes to make it…

“Makasih Ndu…” kata Niken saat Pandu selesai memainkan seluruh lagu. “Ini hadiah ulang tahun terindah yang aku terima.”

“Tunggu. Aku masih punya satu lagi.” kata Pandu. “Copot sepatumu.”

Walaupun keheranan, Niken menurut juga, lalu mencopot sepatunya.

“Kaos kakinya juga.”

“Kamu mau apa sih, Ndu?” tanya Niken heran.

Pandu yang tidak sabar lalu berlutut di bawah kaki Niken, sambil mencopot kaos kaki Niken sendiri.

Lalu dia merogoh saku celananya, sebentuk cincin ada di tangannya. Niken masih tak mengerti.

Pandu lalu memakaikan cincin itu di jari telunjuk kaki Niken.

“Oh..!” Niken terpekik. “Toe ring…” kata Niken setelah mengerti.

“Kalau aku kasih cincin di tangan kan aneh, kita kan nggak pacaran. Makanya aku kasih cincin buat kaki aja. Orang-orang juga jarang melihiat. Jadi nggak akan ada yang tanya.” kata Pandu menjelaskan.

“Makasih sekali lagi, Ndu… Nggak akan aku copot dari jari kakiku.” kata Niken.

“Selamat ulang tahun, Fei Fei.” kata Pandu sambil mencium pipi kiri Niken. Ini ketiga kalinya Pandu mencium pipi Niken. Dua kali waktu di kelas 2C. Niken masih belum lupa bagaimana rasanya yang pertama dan kedua dulu. Niken memejamkan kedua matanya. Rasanya persis sama seperti yang kali ketiga ini.

Pandu masih menatap wajah Niken yang begitu halus. Mata Niken masih terpejam erat. Wajahnya terlihat begitu polos. Pandu baru ragu-ragu ingin mencium bibir mungil Niken, saat Niken membuka matanya. Sadar bahwa Pandu hendak menciumnya, Niken malah mencium Pandu duluan. Walaupun agak kaget, Pandu pun balas menciumnya.

Sepuluh detik kemudian, Pandu melepaskan ciumannya.

“Fei,… Kamu nggak perlu menciumku untuk bilang kamu sayang aku. Aku juga nggak harus. Maksudku, jangan merasa terpaksa karena kamu takut aku nanti bilang kamu nggak sayang aku kalau kamu nggak mau cium aku. Aku akui aku tadi memang ingin mencium kamu, tapi aku takut kamu bakal bereaksi lain.”

“Terpaksa? Koq kamu bisa bilang begitu?”

“Kamu kan tadinya anti cowok, lagipula aku waktu itu pernah menawarkan untuk nggak pernah menyentuhmu. Ini berarti aku melanggar tawaranku sendiri.”

“Apa aku pernah menerima tawaranmu itu, Ndu? Kamu nggak melanggar apa-apa koq. Lagipula yang kita lakukan sekarang ini cuma mengungkapkan rasa sayang kita satu sama lain. Dan aku tahu kita berdua sama-sama tahu batas-batas koq. Aku tapi benar-benar menikmati perasaan dicium kamu. Rasanya damai, dan aku seperti lupa segalanya. Bahkan lupa bahwa sekarang ini kita nggak berstatus pacaran.”

“Jadi kamu suka?”

“Ah, sudah diam, sekarang cium aku lagi. Nanti kamu bakal tahu sendiri aku suka apa nggak.”

Dan Pandu pun melakukan apa yang Niken bilang.

*

Perhaps I had a wicked childhood

Perhaps I had a miserable youth

But somewherein my wicked, miserable past

There must’ve been a moment of truth

For here you are, standing here, loving me

Whether or not you should

So, somewhere in my youth or childhood

I must have done something good

Nothing comes from nothing

Nothing ever could

So, somewhere in my youth or childhood

I must have done something good…

Ini hari ulang tahun Niken. Tapi Niken sibuk mengepak pakaian dan barang-barangnya ke koper sambil marah-marah. Ada apa gerangan? Oma pun tak kuasa menahan Niken untuk tidak pergi. Niken sudah membulatkan tekadnya untuk tinggal di rumah lamanya, yang memang tidak dijual karena biasanya disewakan. Tapi kebetulan sudah dua bulan ini tidak ada yang menempati.

Kembali ke persoalan mengapa Niken marah. Pasalnya, Papa baru saja mengumumkan akan menikahi Tante Mia. Itu sama sekali tidak berarti menceraikan Mama. Jadi Tante Mia mulai hari ini bakal tinggal di rumah. Niken marah besar. Satu, ini semua terjadi secara tiba-tiba. Tidak ada yang merencanakan Tante Mia bakal tinggal di rumah ini sampai hari kemarin. Kedua, waktu ditanya Tante Mia bakal tidur di kamar mana, Papa juga masih bingung. Jawabnya, mungkin di kamar Tasya. Apa-apaan? Hal yang paling menjengkelkan, Papa tahu betul Niken benci setengah mati sama Tante Mia. Apakah Papa nggak bisa cari hari lain yang lebih pantas untuk mengumumkan berita seperti ini, mengingat ini hari ulang tahunnya?

“Fei Fei, ayolah jangan marah-marah begitu…” bujuk mamanya. Oma masih menghalang-halangi di pintu dengan kursi rodanya.

“Ma, mama juga mestinya marah dong. Sejak kapan mama kehilangan semangat untuk mempertahankan keluarga ini? Kenapa mama seperti menyerah begitu saja? Apa sih istimewanya Tante Mia? Biasanya yang Fei denger tu oom-oom serong sama cewek-cewek ABG, atau tante-tante yang lebih muda. Tante Mia cuma beda umur 2 tahun sama Mama. Malah Tante Mia tu keliatan lebih tua dari Mama. Fei benar-benar nggak mengerti.” Niken masih mengomel sambil terus memindahkan barang-barangnya dari lemari ke koper.

“Ceritanya panjang, Fei.” Oma yang jawab. “Oma akan ceritakan semuanya kalau kamu berjanji untuk tinggal.”

Niken berpikir sejenak sambil menatap omanya. “Oma, sebenarnya Fei nggak sungguh-sungguh ingin tahu. Fei sudah muak. Papa mau berbuat apa saja aku sudah nggak peduli lagi.” katanya kemudian sambil terus mengepak pakaiannya ke dua buah kopernya.

“Fei, seandainya saja kamu anak laki-laki…” keluh mamanya pelan.

Niken tersentak. “Memangnya kenapa, Ma?” katanya, menghentikan proses memasuk-masukkan barang-barangnya.

“Cerita singkatnya begini. Sesudah kamu lahir, mamamu sempat keguguran sekali. Sesudah itu dokter bilang, mamamu sudah tidak mungkin bisa punya anak lagi. Papamu kecewa sekali karena dia sangat menginginkan anak laki-laki untuk meneruskan usahanya.” kata Omanya menjelaskan.

“Terus memangnya kenapa?” tanya Niken lagi, mengulangi pertanyaannya.

“Lalu Papamu jengkel, sering uring-uringan dan mulai jarang pulang. Ternyata dia diam-diam menikahi Tante Mia, karena yakin kalau terus terang sama Mama, Mama pasti tidak setuju. Kejadian ini sudah bertahun-tahun yang lalu. Kamu bahkan sudah punya adik laki-laki sekitar tiga tahun lebih muda, Fei.” lanjut Mama. “Mama pun baru tahu sekitar lima tahun yang lalu, saat semuanya sudah terlambat.” kata Mamanya menambahkan.

“Papa begitu pandai menyimpan kebusukannya.” kata Niken geram. “Ayolah, Mama. Ikut aku pergi dari rumah ini. Rumah ini bakal terasa asing dengan adanya Tante Mia di sini.”

“Nggak bisa begitu, Fei. Biar bagaimanapun Papamu itu suami Mama. Mama harus tetap tinggal di sini.” kata Mama.

“Walaupun Papa sudah mengkhianati Mama seperti ini?” tanya Niken.

Mama mengangguk pelan.

Niken menggeleng-gelengkan kepalanya. “Ma, tapi Fei Fei harus pergi. Rumah ini sudah bukan rumah Fei lagi. Kalau boleh, Fei untuk sementara ingin tinggal di rumah Jalan Kenanga. Boleh, Ma? Kalau nggak boleh, Fei akan ke rumah Wulan.”

“Fei, Mama butuh kamu di sini. Cuma kamu satu-satunya yang Mama miliki saat ini.”

Niken lalu memeluk mamanya. Ini pelukan pertamanya setelah sekian lama. Niken sudah lupa kapan terakhir dipeluk atau memeluk mamanya. Mungkin waktu masih kecil dulu.

“Ma, Mama tahu sendiri Fei orangnya seperti apa. Setiap hari bisa bentrok sama Tante Mia kalau Fei di sini. Suasana bakal tambah kacau. Buat Fei Fei apalagi. Bentar lagi udah mau ujian. Fei harus pergi.” jawab Niken mantap.

“Baiklah. Kamu benar juga. Mama jadi ingat, rumah di Jalan Kenanga itu atas nama Mama. Nanti Mama akan ke notaris, menghibahkan rumah itu ke kamu. Mama takut kalau rumah itu bakal dipindahtangankan secara paksa ke Tante Mia sebagai cara Papamu untuk memaksamu pulang.”

“Terserah mama. Pokoknya Fei butuh tempat tinggal sampai lulus SMA nanti. Dan Fei nggak mau tinggal di rumah ini.”

“Pamit sama Papa dulu, Fei…” saran Omanya sewaktu Niken sudah siap akan berangkat.

“Males ah…” jawab Niken ogah-ogahan.

“Ayolah, Fei. Bilang saja nanti sesudah ujian kamu pulang kemari lagi. Nanti Mama yang jelaskan ke Papa, supaya Papa nggak marah sama kamu.” bujuk Mama.

Dengan wajah cemberut, Niken akhirnya setuju untuk berpamitan dengan Papa.

“Fei pergi dulu untuk sementara ya, Pa. Sampai kelar ujian nanti.”

“Baiklah,” kata Papa mengijinkan. “Tante Mia koq nggak dipamitin?” tanya Papa melihat Niken langsung nyelonong pergi.

Niken pura-pura tidak dengar, dan berjalan menuju garasi. Dibukanya bagasi mobilnya. Kedua koper besar-besar itu ditaruhnya di bagasi. Lalu cepat-cepat menstater mobilnya pergi.

Hari keenam festival akbar. Besok pemenang lomba selama festival akan diumumkan. Sore ini banyak sekali anak-anak di lapangan dan gedung kampus Universitas Diponegoro, mempersiapkan acara puncak besok. Kontingen dari masing-masing sekolah sibuk mendekor kendaraan bunganya masing-masing. Kampus universitas jadi bau wangi. Macam-macam bunga ada di situ. Jadi walaupun lelah, semua kelihatan bersemangat. Terutama Niken. Di hari ketiga, dia lolos ke babak praktek lomba kimia. Entah bagaimana nanti hasil akhirnya, tapi menurutnya sendiri sih lumayan. Pandu tidak berhasil lolos masuk final adu debat, tapi kelihatannya dia bakal sukses di lomba matematika tingkat SMA. Keduanya sama-sama menjadi anggota pendekor kendaraan bunga buat pawai besok. Sayang sekali Niken tidak sempat melihat Pandu manggung saat lomba band kemarin lusa, karena bertepatan waktunya dengan babak praktek lomba kimianya.

“Niken!!”

Niken menoleh mendengar ada yang memanggil namanya. Jimmy rupanya. Lari-lari dari jauh menghampirinya.

Spontan Niken berdiri.

“Ada apa, Jimmy? Koq kamu kayak dikejar-kejar setan begitu?” tanya Niken.

“Pucat sekali mukamu, Jim,” kata Wulan yang duduk di sebelah Niken.

Jimmy lalu menarik Niken agak menjauh dari kerumunan anak-anak. Pandu yang kebetulan melihat ikut mendekat.

“Niken, aku baru saja ditelepon Mama. Kompleks rumah kita di Kinanti diserbu massa demonstran. Mama sempat lari lewat belakang. Waktu lewat rumahmu, katanya rumahmu sudah dibakar massa. Mama pesan aku untuk memberitahu kamu untuk jangan pulang ke rumah.” Jimmy memaksudkan rumah gedongan Niken yang memang satu kompleks dengan rumah tinggal Jimmy.

Niken kaget sekali mendengar berita buruk Jimmy. Gunting yang dipegangnya jatuh ke tanah. Untung tidak mengenai kakinya.

“Sudah, gitu dulu yah. Aku diajak mengungsi ke Bali sama Mama. Aku mau ke airport ketemu Mama sekarang. Bye Niken…” kata Jimmy lalu cepat-cepat lari.

Niken masih terbengong-bengong menatap Jimmy dari kejauhan. Galau sekali hatinya.

Lalu dia mulai berjalan menuju arah Jimmy lari.

“Hey, mau ke mana kamu, Fei?” cegah Pandu sambil meraih lengan Niken. Langkah Niken terhenti.

“Aku mau ke Kinanti, Ndu.”

“Ngapain ke sana? Jimmy spesial kemari bilang kamu jangan ke sana koq, kamu malah mau ke sana, gimana sih?”

“Mama, Oma, Papa, semua ada di sana, Ndu. Aku harus ke sana.” jawab Niken emosi.

“Trus kamu kalo ke sana lantas bisa apa, Fei? Mau cari mati?” balas Pandu ikutan emosi.

“Lalu bagaimana dong? Aku nggak bisa diam saja di sini, kan?!”

“Tunggu sampai keadaan tenang, nanti aku temani kamu ke sana. Gimana?” Pandu berusaha menyarankan.

“Nanti-nanti bisa terlambat.” Niken masih ngotot.

“Kamu bahkan nggak tau apa mereka berhasil melarikan diri sebelum demonstran masuk. Kamu kan yang bilang sendiri Papa-Mamamu jarang di rumah? Omamu mungkin sekarang sudah ada di Kudus. Kamu nggak tau kan? Yang penting kamu tenang dulu. Kalo sudah tenang kan bisa berpikir jernih…”

Pandu belum selesai ngomong saat tiba-tiba saja mereka dikagetkan oleh suara tembakan. Spontan anak-anak yang berdiri termasuk Pandu dan Niken langsung tiarap di tanah. Suara tembakan itu terus dar-der-dor berkali-kali. Keras sekali. Pasti sumbernya tidak jauh dari sini.

“Ada apa ini, Ndu?” tanya Niken bingung.

“Entahlah.”

Sebentar kemudian mereka mendengar suara ibu-ibu, mungkin salah satu dosen di kampus itu, dari atas podium, “Anak-anak, lari semua, lari selamatkan diri masing-masing…!” Suaranya terhenti bersamaan dengan bunyi dor yang keras.

Dikomando begitu, semua anak-anak di lapangan lari menuju pintu gerbang. Tapi ternyata justru massa demonstran ada di pintu gerbang, siap masuk ke arah dalam. Semua lalu lari terbirit-birit masuk kembali ke lapangan, tanpa tahu arah.

“Ayo Fei, ikut aku!” ajak Pandu sambil menggandeng tangan Niken.

Mereka lalu lari ke arah pintu gerbang parkir belakang, satu-satunya pintu keluar lain yang Pandu tahu, karena dia selalu masuk lewat situ dengan sepedanya.

Mereka sudah hampir sampai ke pintu gerbang saat mereka mendengar suara lantang yang menyuruh semua tiarap. Pandu dan Niken sama-sama tidak mempedulikannya.

Tiba-tiba lengan Niken dicekal dari samping.

“Mau lari ke mana, nona manis?” Suara laki-laki bertubuh tegap yang membawa gobang itu sungguh sangat menyeramkan.

“Dia mau lari lewat pintu belakang.” jawab Pandu dengan nada galak. Niken bingung menatap wajah Pandu. Pandu pura-pura tidak tahu Niken menatapnya. “Untung saya menangkapnya.” lanjut Pandu lagi.

“Baiklah. Bawa dia ke bangsal utama tempat semua gadis-gadis.” suruh laki-laki itu.

"Dia cantik, kamu beruntung sekali", kata laki-laki garang itu mengedipkan matanya ke arah Pandu.

Pandu lalu mencekal lengan Niken, balik kanan, lalu membawanya menuju ke bangsal.

“Apa-apaan, Ndu?” bisik Niken.

“Sssh… Diam saja. Aku akan pikirkan bagaimana caranya menyelamatkan kamu. Sepertinya aku aman di sini.” kata Pandu.

“Hey, terus jalan, jangan berhenti.” seru laki-laki itu galak melihat Pandu dan Niken berjalan pelan-pelan.

“Fei, di hitungan ke tiga, kamu lari ke arah pintu gerbang belakang itu. Kayaknya yang jaga cuma si galak itu. Aku pasti bisa lari dari sini. Percayalah.” bisik Pandu.

“Kamu bermaksud ingin berkelahi dengan si galak itu, lebih baik jangan. Jangan nekad, Ndu. Apa yang membuat kamu mengira kamu bakal menang melawan dia?” jawab Niken balas berbisik.

“Sudahlah, ini bukan waktu yang tepat untuk berdebat. Lakukan saja apa yang aku bilang tadi. Kita nggak punya banyak waktu, dan nggak punya pilihan lain. Oke?”

“Baiklah.”

“Satu, dua, tiga!”

Niken cepat-cepat balik kanan lalu lari menuju ke arah pintu gerbang.

Pandu pelan-pelan lari, pura-pura mengejarnya. Di luar dugaannya, ternyata lumayan banyak penjaga di pintu gerbang belakang. Tidak cuma satu si galak itu.

“Berhenti!” teriak Pandu. Salah seorang penjaga menangkap Niken. Pandu lalu menghampirinya lagi.

“Terima kasih. Dia akan saya bawa ke bangsal sekarang.” kata Pandu sambil membawa Niken kembali. Untung tidak ada yang curiga. Mereka pasti mengira Niken ingin melarikan diri dan Pandu mengejarnya.

“Fei, banyak sekali orang di sini. Rasanya kita nggak mungkin bisa lari dari tempat ini.” bisik Pandu dengan nada kuatir setelah agak jauh dari pintu gerbang.

“Ndu, selamatkan saja dirimu. Pergi dari sini sebelum mereka tahu bahwa kamu bukan salah satu dari mereka. Jangan berusaha menyelamatkanku. Aku yakin aku bakal baik-baik saja.” Niken balas berbisik. Baik Niken maupun Pandu tahu bahwa kata-kata Niken tadi sama sekali tidak berdasar pada kenyataan.

Semakin dekat ke arah bangsal, suasana semakin terasa mencekam. Jeritan terdengar menggaung dari arah dalam bangsal. Hati Pandu terasa tersayat-sayat mendengarnya, terutama memikirkan bahwa salah satu dari jeritan itu mungkin saja bakal keluar dari mulut Niken.

“Fei, aku akan tetap tinggal di sini. Akan aku pikirkan bagaimana cara menyelamatkanmu. Jangan putus harapan, ya…” katanya sambil mengantar Niken masuk ke dalam bangsal.

Niken terpekik saat pintu bangsal terbuka. “Ndu, aku takut…” bisiknya sambil menyembunyikan kepalanya di dada Pandu. Pandu merasa bersalah karena tak berdaya, tak bisa berbuat apa-apa. Dilihatnya sekeliling. Di bangsal kotor itu banyak baju-baju kotor berserakan, berlumuran darah. Banyak mayat gadis-gadis telanjang, sepertinya mereka habis diperkosa, lalu dibunuh. Ada banyak juga yang masih hidup, tapi melihat kondisi mereka, sepertinya mereka lebih memilih mati.

“Fei, aku nggak sanggup meninggalkan kamu di sini. Kita keluar sama-sama, atau mati sama-sama. Aku nggak akan keluar tanpa kamu."

Niken masih tak bisa berkata apa-apa. Yang dilihatnya barusan adalah pemandangan yang paling mengerikan dalam sejarah hidupnya. Jauh melebihi adegan film-film horor sekalipun. Ini begitu nyata, begitu dekat di pelupuk mata.

"Aku ada akal. Ikut aku.” kata Pandu tiba-tiba, sambil menarik lengan Niken untuk bergerak menjauhi tempat mengerikan itu. Niken yang kepalanya masih sempoyongan karena shock cuma bisa mengikuti Pandu yang menggandeng tangannya.

Sambil berjalan, Pandu berbisik menjelaskan, “Aku ingat waktu lomba debat, dari jendela ruang kelas yang dibuat debat aku bisa melihat jalan ke luar. Dan ruang kelas itu kalo nggak salah, nggak jauh dari bangsal ini. Kita mungkin bisa keluar lewat jendela. Ayo!” Setengah berlari, setengah berjingkat-jingkat, Niken mengikuti langkah Pandu. Mereka tak ingin gerak-gerik mereka terdengar siapapun, karena itu berarti "skak-mat".

“Sial! Ruangannya dikunci!” keluh Pandu saat sampai di depan ruang kelas itu. Dipukulnya daun pintu ruangan itu dengan kesal.

“Minggir, Fei.” katanya kemudian.

Niken mundur selangkah.

Pandu berlutut, lalu membenturkan sikunya di kaca pintu bawah. Kaca gelas itu langsung berhamburan. Suara pecahnya kaca begitu keras, pasti menarik perhatian orang.

“Cepat masuk!” Pandu membantu Niken masuk lewat pintu kaca yang sekarang sudah pecah bagian bawahnya. “Lekas buka jendelanya” kata Pandu saat Niken sudah masuk ke dalam ruang kelas.

Pandu lalu masuk juga ke dalam ruang kelas itu, sementara Niken membuka jendela untuk keluar dari tempat berdarah itu.

Jantung mereka berdebar kencang karena mereka dapat mendengar dengan jelas ada suara langkah kaki yang semakin lama semakin keras.

“Loncat, Fei! Keluar! Sekarang!” kata Pandu sambil setengah mengangkat tubuh Niken, membantunya untuk memanjat keluar dari jendela.

Akhirnya Niken berhasil menjejakkan kembali kakinya ke tanah, di luar kelas.

Dari kaca jendela dia bisa melihat sesosok bayangan yang menuju ke arah kelas.

“Awas, Ndu! Ayo cepat!” buru Niken sambil menggapai-gapaikan tangannya ke arah Pandu.

“Lari Fei, pergi ke rumahku. Di sana kamu aman. Aku temui kamu di rumah. Bilang ibu untuk jangan kuatir.” kata Pandu.

Niken cepat-cepat lari. Semenit kemudian dia dikagetkan oleh suara tembakan. Datangnya dari arah ruang kelas. Langkah larinya terhenti. Tapi kemudian dia lari lagi karena melihat ada orang yang keluar dari jendela kelas, siap untuk mengejarnya. Kebetulan Niken menemukan sepeda yang tergeletak di tengah jalan. Diraihnya sepeda itu cepat-cepat, lalu dikayuhnya sekuat tenaga.

*

Sesampainya di rumah Pandu, Niken mengetuk-ngetuk pintu pagar dengan tidak sabar.

Ibu Pandu yang membuka pintu.

“Oh Niken, ayo masuk. Pandu tidak ada di rumah…” katanya sambil membuka pintu.

“Niken tahu. Niken baru saja bersama Pandu…” jawab Niken. Nafasnya masih tak teratur. Jantungnya masih berdegup dengan kencang.

“Ibu nggak dengar ada ramai-ramai di kampus Undip?”

“Masya Allah… Kamu nggak apa-apa, Niken?” tanya Ibu Pandu.

“Pandu yang menolong saya keluar. Katanya saya disuruh kemari, karena saya lebih aman di sini. Dia juga menyuruh saya untuk menyampaikan ke ibu untuk jangan kuatir. Tapi saya pun nggak tahu apakah Pandu bisa selamat apa nggak. Mestinya saya nggak menuruti kata-katanya untuk lari duluan.” kata Niken menyesal, sambil terisak.

Ibu Pandu lalu memeluk Niken. Niken menangis di pelukan Ibu Pandu. Rasanya seluruh tenaganya sudah habis terkuras. Tak sanggup lagi untuk berbuat apa-apa.

“Kamu tenang saja dulu di sini. Ibu yakin, kalau Pandu bilang dia akan baik-baik saja, maka dia akan baik-baik saja.”

Tangis Niken makin keras. Dia teringat suara tembakan terakhir yang didengarnya tadi. Tapi dia menurut saja waktu ibu Pandu menuntunnya masuk ke dalam.

Sebelum sampai di dalam rumah, Niken pingsan.

*

Waktu membuka matanya lagi, Niken terperanjat melihat Pandu duduk di kursi di dekatnya.

“Sudah sadar, Fei?” tanya Pandu sambil tersenyum manis.

“Koq kamu sudah ada di sini?” tanya Niken heran.

“Kenapa? Kirain aku sudah mati ya?” gurau Pandu.

“Nggak lucu ah, ngomong seperti itu.” Niken cemberut.

“Gini lho ceritanya. Persis sesudah kamu pergi, ada dua orang yang masuk ke kelas. Seorang bermaksud menembakku, seorang berusaha melompat jendela untuk mengejarmu. Tapi sebelum dia sempat menembakku, salah seorang anggota aparat polisi sudah ada di depan pintu, menembak orang yang hendak menembakku tadi. Yang melompat jendela akhirnya terkejar setelah beberapa meter, tapi kamu sudah jauh.”

“Tanganmu nggak papa, Ndu?” tanya Niken setelah melihat siku Pandu dibalut perban.

“Nggak papa, koq. Cuma agak perih kena pecahan kaca aja.”

Niken lalu diam saja. Lega sekali rasanya Pandu selamat.

“Kenapa lagi? Kecewa yah aku nggak mati?” kata Pandu bercanda lagi.

“Aku sudah bilang, nggak lucu guyonan seperti ini. Apalagi tadi kita memang benar-benar sudah hampir mati.”

“Maaf, maaf. Tapi asyik juga melihat kamu tiduran di ranjangku begini.” kata Pandu dengan matanya yang nakal.

“Sialan.” kata Niken lalu duduk di ranjang.

“Kamu tahu nggak kita itu beruntung banget? Nggak banyak orang yang selamat dari peristiwa di kampus tadi siang. Korban nyawa banyak sekali. Untunglah Wulan juga selamat. Aku tadi ketemu dia waktu petugas kesehatan membalut lukaku. Dia kena luka bakar, karena sembunyi di salah satu kendaraan bunga buat pawai. Tadinya sih aman-aman saja, sampai saat-saat terakhir ada yang berusaha menyulut api di semua kendaraan bunga. Tapi dia nggak papa koq. Sekarang sudah pulang ke rumah.”

“Syukurlah.” kata Niken.

Pandu tiba-tiba teringat akan sesuatu. “Oh ya, aku juga punya kabar tentang keluargamu, Fei.”

“Bagaimana, Ndu? Apa mereka selamat?”

“Menurut keterangan dari Bapak, tak ada satu orangpun yang berhasil selamat keluar dari rumahmu sebelum rumahmu dibakar habis. Tapi Omamu sudah berhasil dihubungi, dia baik-baik saja di Kudus.”

“Bagaimana dengan Mama dan Papa?” tanya Niken.

“Fei, kamu mesti tabah…”

“Kamu nggak bercanda, Ndu?”

Pandu menggeleng lemah. Niken langsung meledak tangisnya. Pandu mendekat, lalu membiarkan Niken menangis tersedu-sedu di pundaknya.

“Mereka nggak pernah ada di rumah. Kenapa juga mereka mesti ada di rumah saat kejadian naas itu?” kata Niken penuh sesal di sela-sela isak tangisnya.

“Kata Oma, kalau situasi sudah membaik, dia akan datang ke Semarang. Tapi sementara kamu tinggal di sini dulu.” kata Pandu.

“Aku pulang ke Kenanga saja, Ndu. Nggak enak ah tinggal di sini. Ngerepotin.”

“Jangan aneh-aneh kamu. Kalau terjadi apa-apa lagi gimana? Kamu sendirian di sana? Yang bener aja.” kata Pandu tidak setuju. “Tadi Ibu juga menawari kalau kamu mau tinggal di sini sementara, sampai situasi benar-benar aman. Aku bisa tidur di depan teve. Aku kadang-kadang tidur di situ koq.”

“Baiklah. Melihat kamu ngotot begini kayaknya aku nggak punya pilihan lain kecuali melarikan diri dari rumahmu, dan rasanya aku belum cukup sinting.” kata Niken. “Tapi aku butuh barang-barang dari rumahku. Baju, seragam sekolah, dan lain-lain. Kenanga aman nggak sih?” tanya Niken.

“Demonstrasi siang tadi nggak merembet sampai daerah Kenanga koq. Gampang, nanti pas Bapak mau dinas sore, sekitar satu jam lagi, kita bisa dianter ke rumahmu naik mobil, pulangnya naik mobil kamu. Gimana?”

Niken mengangguk setuju. Benar-benar hari yang melelahkan.

*

Sekitar sebulan setelah hari naas itu, suasana di kota Semarang kembali normal. Acara puncak, pawai kendaraan bunga itu tentu saja dibatalkan. Para pemenang lomba diumumkan lewat surat kabar. Sayang sekali acara akhir yang seharusnya mengakhiri sepekan kompetisi yang bagus itu harus menjadi hari kelabu yang penuh duka. Bunga-bunga yang masih segar tidak lagi dijadikan untuk ajang pamer, melainkan untuk mengubur jazad para korban. Yang lebih ironis lagi, sebagian besar para pembuat onar hari itu masih belum berhasil ditangkap pihak yang berwajib, dan sepertinya kasus ini akan ditutup begitu saja karena terlalu banyak tersangka yang buron, dan terlalu susah untuk membuktikan keterlibatan masing-masing dalam peristiwa berdarah itu.

Niken mendapat tempat kedua di lomba kimia, sedangkan Pandu menang lomba matematika. Rasanya menang lomba kali ini sama sekali tidak ada artinya mengingat kenangan pahit yang sampai sekarang masih terus menghantui mimpi Niken di malam hari.

Niken sudah kembali ke rumahnya di Kenanga. Oma sejak minggu lalu datang ke Semarang karena dijadwalkan besok sore untuk ikut hadir dalam pembacaan warisan keluarga Tjakrawibawa. Lumayan sejak ada Oma, Niken jadi tidak merasa kesepian. Lamunannya selalu melayang ke papa-mama, juga cici-nya. Rasa nelangsa karena rasanya sudah tidak punya siapa-siapa lagi, kecuali Oma tersayangnya.

"Niken, lihat siapa yang datang..." suara manis Oma membuyarkan lamunannya.

Pandu melongokkan wajahnya yang kocak dari belakang punggung Oma. Niken tersenyum. Anak ini memang selalu tahu cara membuat orang senang, batinnya.

"Yuk ke teras belakang aja." ajak Niken.

"Kangen tidur di ranjangku nggak?" tanya Pandu iseng.

"Nggak. Ranjang kamu bau." jawab Niken seenaknya.

Pandu melongo. Membelalakkan matanya lebar-lebar. "Bau apa?" tanyanya kemudian.

"Bau... apa ya? Susah menjelaskannya." Niken pura-pura berpikir.

"Ya kalau begitu kamu perlu sering tidur di situ untuk melenyapkan baunya. Mulai besok, bagaimana?" tantang Pandu.

"Boleh..." Niken tidak pernah takut menerima tantangan.

"Oh.." lanjutnya, "Nggak bisa, Ndu. Besok ada hal penting yang harus aku lakukan."

"Hal penting?" Pandu mengernyitkan dahinya.

"Iya. Pembacaan warisan. Aku sebetulnya sama sekali nggak tertarik untuk datang. Pengacara Papa, Pak Suyudi itu yang memaksa semua orang yang tercantum namanya di dalam daftar warisan harus datang."

"Kenapa kamu nggak mau datang?" tanya Pandu lagi.

Niken diam saja. Dia juga tidak tahu jawabannya. Malas? Seharusnya tidak. Ini mungkin kewajiban terakhir yang harus dilakukannya sebagai anak papanya. Masih sakit hati? Sakit hati apa? Semua itu sudah jauh dari benaknya. Tidak perlu diusir juga sudah pergi sendiri. Yang ada sekarang hanya perasaan bersalah, karena selama ini sebagai anak dia merasa tidak pernah dekat dengan papa maupun mamanya. Tidak sempat menunjukkan pengabdiannya sebagai anak. Dan sekarang sudah terlambat.

Seakan tahu yang dipikirkan Niken, Pandu menepuk-nepuk punggung Niken dengan halus. Tanpa sadar air mata Niken mengalir ke pipi.

"Sudahlah Fei. Kamu pasti mikir, aku ini arogan sekali ya? Tadi kamu sudah bisa tertawa-tawa. Sekarang aku datang, kamu malah nangis. Aku memang nggak berguna. Sssh.. sudah.. jangan menangis lagi."

Niken masih sesenggukan. Kalau sudah menangis begini jadi susah berkata-kata.

"Fei," kata Pandu sambil masih menepuk-nepuk punggung Niken. "Papi dan mami kamu pasti juga merasa bersalah meninggalkan kamu sendirian seperti ini. Jangan menambah rasa bersalah mereka dengan terus-menerus larut dalam kesedihanmu. Kamu musti bangkit. Kamu musti kuat."

Niken mendongakkan kepalanya. Ditatapnya wajah Pandu yang duduk di sampingnya. Pandangan mata Pandu begitu teduh, begitu nyaman. Seolah menghipnotisnya dengan kata-kata "Semuanya akan baik-baik saja." Pelan-pelan isaknya berhenti.

"Lagipula, seperti yang aku sudah bilang dari dulu-dulu, kamu masih ada aku. Selamanya. Kamu usir aku sekalipun, aku akan tetap setia menjagamu. Aku nggak akan ke mana-mana."

Tersenyum, Niken memeluk Pandu. Hangat sekali rasanya dalam pelukan Pandu. Kalau kata-kata Pandu tadi benar, dunianya bakal sempurna sekali, selamanya.

"Memangnya kamu kira aku mau ke mana?" tanya Niken blo'on.

"Nggak tahu. Tapi aku harap juga nggak kemana-mana." sahut Pandu.

"Gimana kalau aku mau pipis? Kan musti ke WC. Masa' suruh di sini terus?" Niken tambah menjadi-jadi pura-pura blo'onnya.

"Niken!!!!" Niken yang sekarang sudah hafal, kalau Pandu memanggilnya 'Fei' itu berarti situasi biasa dan aman-aman saja. Kalau dia panggil "Niken", itu berarti situasi sudah memanas.

"Kamu nakal ya? Sebentar nangis, sebentar godain. Minta dicium apa?" kata Pandu sambil memegang dagu Niken dan memonyongkan mulutnya.

"Hus Pandu..." kata Niken menyingkirkan tangan Pandu dari dagunya, walaupun dengan setengah hati. "Ingat status kita sekarang apa? Aku bukan pacarmu. Nggak boleh cium-cium!"

"Memangnya kenapa?" tanya Pandu. Setelah menepiskan tangan Niken, dipegangnya lagi dagu mungil itu. "Nggak ada yang tahu ini. Selama nggak ada yang lihat, kita aman kan?" lanjutnya dengan nada nakal.

"Kan ada.."

"Oma?" Belum sempat Niken menjawab, Pandu sudah menyahut. "Oma kan merestui kita. Dia senang malah kalau kita jadian."

"Pandu!!!" Gantian Niken yang teriak. Ternyata Pandu itu cepat sekali geraknya. Terutama kalo soal mencuri ciuman. Secepat kilat bibirnya sudah menyentuh bibir Niken. Di luar dugaannya, Niken spontan menjauhkan tubuhnya.

"Jangan, Ndu." sahut Niken tertunduk.

"Kenapa?" tanya Pandu hati-hati.

"Aku nggak tahu." Niken menggeleng-gelengkan kepalanya yang kelihatan berat sekali itu.

"Jangan bohong." sahut Pandu. Diangkatnya dagu Niken supaya dia bisa menatap wajahnya. "Kalaupun kita nggak pacaran, kita bersahabat. Kamu kan bisa bilang apa saja yang kamu mau. Jangan kuatir aku nggak akan tersinggung."

Niken terdiam.

"Sungguh, Pandu. Aku juga masih belum tahu jelas perasaanku. Yang jelas, semenjak papa-mama meninggal, aku jadi sering berpikir, aku ini anak yang nggak berbakti. Kalau aku bisa memutar ulang kejadian hari itu, aku mungkin akan berkata lain."

"Semuanya sudah ..."

"Aku belum selesai." Sebelum Pandu selesai bicara, Niken sudah memotongnya.

"Aku mungkin akan berkata: Papa, Fei akan belajar mencintai Tante Mia seperti keluarga sendiri, kalau itu yang Papa mau. Fei akan pergi ke Amerika kalau itu yang papa mau..."

"Fei nggak akan lagi ketemu Pandu kalau itu yang papa mau?" sahut Pandu menebak arah jalan otak Niken.

Niken sudah akan menundukkan kepalanya kalau saja Pandu tidak menahan dagu Niken dengan tangannya.

Keduanya sama-sama tidak berkata apa-apa sesudah itu. Niken tidak bisa berkata apa-apa karena jujur saja memang kata-kata Pandu itu persis yang akan dia katakan. Walaupun dia tahu untuk melupakan Pandu, akan membutuhkan seluruh masa kehidupannya di dunia ini. Pertemuan mereka begitu singkat, kurang lebih setahun, tapi sudah menorehkan makna yang sangat tajam di hatinya.

Sedangkan Pandu, dia masih terkejut akan kata-kata Niken tadi. Dia tak menyangka Niken sanggup bilang begitu. Walaupun memang secara de facto selama ini mereka tidak pernah pacaran, tapi dia tahu persis Niken sayang dia, dan Niken pun sudah paham betul akan perasaannya. Selama ini yang menjadi kendala hanya orang tua Niken yang tidak menyetujui hubungan mereka. Setelah melalui berbagai peristiwa, sekarang justru setelah orang tuanya meninggal, Niken malah berubah arah. "Benar-benar memusingkan!" batin Pandu.

"Aku sudah bilang, aku nggak tahu. Kamu yang memaksa." kata Niken kemudian, setelah keduanya terdiam beberapa lama.

Pandu tidak menjawab. Dilepaskannya dagu Niken, dan beranjak pergi.

"Ndu!" panggil Niken sambil mengikutinya. "Jangan pergi dulu. Aku ingin tahu apa yang kau pikirkan."

"Aku yakin kamu sudah tahu persis apa yang kupikirkan. Aku pulang dulu." jawab Pandu singkat, dan meninggalkan Niken sendirian di ruang tengah.

Limbung, Niken terduduk di kursi. Pikirannya kembali melayang ke papa-mamanya. Peristiwa setragis ini, biasanya cuma ada di tv, batinnya berteriak, "Aku pasti berdosa besar sampai dihukum seperti ini!"

"Wulan, ada yang nyari tuh!" ibu Wulan mengetuk kamarnya. Wulan yang sedang mengerjakan soal-soal kimia sambil mendengarkan radio, jadi bingung. "Siapa, Bu? Malam-malam begini?"

"Cowok. Ganteng. Cepet temuin sana." goda ibunya.

"Oooh.. Kamu toh, Pandu! Ada apa malam-malam mencariku?" Walaupun Wulan lega yang mencarinya ternyata cuma Pandu, heran juga melihat Pandu ada di rumahnya malam ini.

"Lagi bingung, nih." kata Pandu sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.

"Bingung apa? Ujian kimia besok ya? Mustinya kamu ke rumah Niken, dia kan yang jago kimia." tebak Wulan.

"Aku bahkan tidak bisa konsentrasi untuk belajar. Ini lebih serius dari ujian kimia." jawab Pandu masih dengan tampang bingungnya.

"Lalu?"

"Kamu sering ngobrol sama dia akhir-akhir ini?" tanya Pandu.

"Semenjak EBTANAS mulai awal minggu ini sih nggak. Memangnya ada apa? Niken kenapa?"

"Dia nggak papa, kayaknya. Aku nggak tahu. Dia sepertinya paling ahli bikin orang patah hati." jawab Pandu dengan nada sinis.

"Patah hati? Aduh,... ada apa pula ini? Setahuku Niken bukan tipe orang yang suka menyakiti hati orang. Lagipula, terakhir aku cek, dia bukannya masih cinta mati sama kamu?"

"Terakhir aku ketemu dia, dia bilang ga mau ketemu aku lagi tuh." keluh Pandu.

"Ha? Kenapa dia bisa berubah drastis begitu?"

Pandu mengangkat bahunya. Pandangan matanya kosong menatap ke arah pintu depan. Wulan menggoyang-goyangkan tangannya persis di depan wajah Pandu.

"Malah melamun!" ujarnya kemudian.

Pandu tersontak kaget. "Sorry.." Cuma itu saja yang terucap dari bibirnya, lalu seakan-akan hendak kembali lagi ke lamunannya.

"Jadi tujuan kamu kemari cuma mau melamun? Kalau begitu aku tinggal masuk ya, masih banyak soal-soal kimia yang masih ingin aku kerjakan," desak Wulan, dengan harapan dengan begitu Pandu akan mengatakan apa sebenarnya tujuan dia ke rumahnya malam ini.

"Aku nggak tahu lagi musti berbuat apa, Wulan." Pandu mendesah panjang. "Sepertinya dia sudah nggak butuh seorang Pandu lagi. Rasanya aku ini hanya beban untuknya. Seolah-olah hubunganku dengannya adalah dosa yang menyebabkan terenggutnya nyawa orang-tuanya."

"Astaga, Pandu! Koq kamu bisa berpikiran buruk seperti ini sih? Dapat dari mana pikiran sejelek ini?"

"Dari Niken. Dia sendiri yang bilang..."

"Nggak mungkin. Nggak mungkin Niken bilang begitu. Nggak mung..."

Pandu menyela, "Aku juga nggak akan percaya kalau nggak mendengarnya sendiri, Wulan. Sungguh, ini kata-kata Niken sendiri."

Wulan terdiam. "Memang akhir-akhir ini Niken terlalu larut dalam kesedihannya," pikirnya dalam hati.

"Ndu.." kata Wulan setelah berpikir beberapa saat. "Orang yang sedang galau pikirannya seperti Niken ini, omongannya sering yang nggak-nggak. Ditelan mentah-mentah dulu lah, Pandu. Beri dia waktu. Aku saja nggak bisa membayangkan bagaimana rasanya ditinggal kedua orang tua sekaligus. Aku masih ada ibuku. Di saat-saat seperti ini, dia butuh kamu sebagai tiang sandaran, Ndu. Cobalah untuk menahan emosi. Aku yakin Niken sama sekali tidak bermaksud menyakiti perasaanmu."

Menghadapi wajah putus-asa Pandu, Wulan jadi tidak yakin lagi akan yang kata-kata yang baru saja diucapkannya sendiri. Rasanya terlalu berat untuk membiarkan Pandu sakit hati seperti ini terus-terusan. Tapi di lain pihak dia juga yakin Niken pasti merasakan hal yang sama.

Pelan-pelan Pandu mencerna kata-kata Wulan yang masih terngiang-ngiang di telinganya. Direkam dan diputarnya di otak perlahan-lahan, berkali-kali. Wulan masih terdiam, tidak berani mengganggu Pandu bahasa tubuhnya seperti orang yang sedang khusuk bermeditasi.

"Baiklah Wulan. Aku permisi pulang dulu." kata Pandu sambil berdiri.

"Lho?" ujar Wulan bingung.

"Oh ya, terima kasih. Rasanya kata-katamu itu pas sekali. Aku mungkin tadi cuma butuh orang untuk menyadarkanku akan hal ini." kata Pandu kemudian.

"Ooh..." Wulan menghela napas lega. "Syukurlah kalau aku tadi mengatakan hal yang benar." batinnya.

"Terima kasih sekali lagi, Wulan. Maaf sudah mengganggu jam belajarmu."

"Jangan sungkan-sungkan begitu, Ndu. Aku yakin kalau aku punya masalah kamu pasti juga akan meluangkan waktumu untuk menolongku sebisamu, kan?"

Pandu mengangguk sambil tersenyum. Semakin lega Wulan melihat senyum di wajah Pandu.

Setelah Pandu lenyap dari pandangannya, Wulan mengutuki sahabatnya itu dalam hati "Aduh Niken! Ada apa denganmu kali ini?!"

Sudah lima menit Niken menunggu di dalam ruangan ber-AC ini. Ada seorang anak laki-laki seumurnya yang dari tadi menatapnya dengan penuh rasa benci.

“Siapa sih itu, Oma? Koq pandangan matanya nggak enak begitu?” bisik Niken ke Oma yang duduk di sebelahnya.

“Itu anak Papamu sama Tante Mia. Anak yang paling besar. Ada dua lagi adiknya, perempuan semua. Kayaknya tidak dijadwalkan untuk hadir, karena dianggap masih terlalu kecil.”

Niken lalu berpikir sebentar, lalu melangkahkan kakinya dan duduk di sebelah anak laki-laki itu.

“Hallo, siapa namamu?” tanya Niken ramah.

Anak laki-laki itu diam saja. Tidak berniat sama sekali untuk menjawab, malah melengos.

Tidak putus asa, Niken pindah ke kursi sebelah satunya. “Namaku Niken. Keluargaku biasa panggil aku Fei Fei. Kamu boleh panggil aku apa aja.” kata Niken sambil menyodorkan tangannya untuk berkenalan.

Diliriknya Oma yang memperhatikannya terus. Niken lalu tersenyum.

Melihat senyum Niken yang begitu ramah, akhirnya anak itu membuka mulutnya.

“Namaku Hendri. Keluargaku biasa panggil aku Hendri. Kamu boleh panggil aku Hendri.”

“Kocak juga kamu rupanya.” kata Niken tersenyum lebar.

“Aku sebenarnya ingin menemuimu setelah pemakaman sebulan yang lalu.” lanjut Niken. “Tapi kamu sepertinya menghindariku terus. Enggak jadi deh akhirnya. Aku cuma ingin mengucapkan bela sungkawa karena kamu kehilangan kedua orangtuamu, sama seperti aku. Cuma aku yang bisa mengerti persis bagaimana perasaanmu, harus kehilangan kedua orang-tuamu.”

“Kamu nggak tau gimana rasanya. Aku nggak pernah dekat sama Mami apalagi Papi. Aku nggak begitu sedih koq.”

“Kalau begitu aku benar-benar tahu persis perasaanmu. Karena aku juga nggak pernah dekat sama Papa Mama. Tapi aku tetap saja sedih, terutama kalau mengingat kata terakhir yang aku ucapkan pada Papa adalah selamat tinggal untuk sementara. Menyesal sekali kata terakhir itu aku ucapkan dengan penuh kebencian, lebih tepatnya kekecewaan. Lebih menyesal lagi karena aku tidak sempat berbaikan kembali. Aku yakin kamu pasti merasa hal yang sama, ya kan?”

“Aku dari awal memang nggak suka rencana Mami mau tinggal di Semarang. Makanya aku nggak ikut ke Semarang. Mami duluan yang ke Semarang. Rencananya sesudah naik kelas nanti aku bakal dipindah ke Semarang. Aku masih ngotot nggak mau. Sejak Mami pergi dari Malang, aku sama sekali nggak mau ngomong sama Mami. Aku masih marah.”

“Dan waktu kamu dengar kejadian naas itu, rasanya menyesal sekali kamu nggak sempat minta maaf sama Mami kan? Banyak hal yang aku sesali, Hendri. Aku bahkan menyesal tidak memberikan kesempatan buat diriku sendiri untuk lebih mengenal Tante Mia. Aku benci sekali sama Tante Mia karena telah menghancurkan keharmonisan rumah tangga keluargaku. Walaupun aku juga sadar, keharmonisan itu pasti sebetulnya sudah hancur sebelum ada Tante Mia.”

“Kamu tahu? Aku juga benci sama Papi, setelah tahu bahwa ternyata Papi itu punya istri pertama. Aku baru tahu nggak lama sebelum Mami mau pindah ke Semarang. Sejak itu aku benci Papi dan segala sesuatu yang berbau Tjakrawibawa, termasuk kamu, saat aku mendengar bahwa Papi punya anak perempuan dengan istri pertamanya. Rasanya kebencianku itu nggak beralasan. Maafin aku, ya. Eh, aku boleh panggil kamu cici?” tanya Hendri, yang ternyata memanggil papa Niken "papi".

Niken heran. Kenapa Hendri mau manggil dia cici? Baru saja dia akan bertanya “Kenapa?” sebelum akhirnya sadar bahwa status Hendri itu termasuk adiknya. "Telat mikir. Bodoh sekali".

“Tentu saja boleh. Belum pernah ada yang memanggilku cici sebelum ini.”

“Hendri, dengerin aku. Seandainya Papa mewariskan apapun padaku, aku akan berikan padamu. Aku nggak butuh apapun dari Papa. Rumah di Jalan Kenanga itu punya Mama, dan kebetulan sudah jadi hak milikku. Itu sudah lebih dari cukup buatku.”

“Cie, aku juga baru mau mengatakan hal yang sama. Aku nggak ingin pindah dari Malang. Di Malang aku tinggal sama Oma dan Opa dari Mami. Uang tabungan Mami cukup-cukup sekali buat menghidupi seratus anak. Jadi aku bermaksud menolak warisan apapun dari Papi. Jangan berikan padaku. Aku nggak mau.”

“Nah lho… bagaimana ini?” tanya Niken bingung.

“Dilihat aja nanti. Belum tentu diwarisi juga.” kata Hendri tersenyum.

Niken jadi teringat Omanya yang duduk sendirian. Niken lalu berjalan ke arah Oma, mendorong kursi rodanya jadi Oma bisa duduk di sebelah Hendri juga.

“Oma, ini Hendri.” kata Niken mengenalkan.

“Bagaimana sih kamu, Fei? Oma tuh sudah kenal. Tadi Oma juga sudah bilang…” kata Oma geli.

“Oh, iya. Lupa.” kata Niken sambil menepuk dahinya.

Kebetulan yang dijadwalkan untuk hadir sudah hadir semua. Lalu acara pembacaan warisan dimulai. Dimulai dari warisan Papa, lalu Mama, lalu Tante Mia. Seperti dugaan Niken, semua milik Mama diwariskan untuknya, kecuali rumah tinggalnya di Kebumen yang memang sudah dihuni oleh Oom Yongki, adik mama. Mobil BMW yang memang diatasnamakan Mama, jadi milik Niken. Juga harta benda Mama di bank termasuk deposito, tabungan dan simpanan emas. Niken bahkan tidak tahu bahwa Mama memegang polis asuransi jiwa, jadi Niken sebagai ahli waris mamanya mendapat hak penuh atas asuransi jiwanya.

Semua harta millik Tante Mia tidak semua diwariskan ke Hendri, melainkan dibagi tiga. Sesudah adik-adiknya besar, baru mereka berhak mendapatkan warisannya masing-masing. Tapi sepertiganya langsung diberikan pada Hendri. Termasuk dua rumah di Surabaya dan beberapa mobil mewah.

Sampai saat pembacaan warisan Papa, tidak ada satupun orang yang protes.

Papa mewariskan banyak hal ke banyak orang. Sepertinya seluruh keluarganya mendapat jatah yang adil. Untuk adik-adiknya, untuk Oma, bahkan teman-temannya. Barang-barang yang diwariskan termasuk saham-saham miliknya, tanah di beberapa tempat termasuk apartemennya yang di Jakarta, uang, dan masih banyak lagi barang kecil-kecil yang sayangnya sudah hangus bersama terbakarnya rumah Kinanti.

Untuk Niken, Papa memberikan rumah Kinanti, yang sekarang tinggal berharga tanah. Papa lebih banyak memberikan warisannya pada Hendri, termasuk uang tabungan pribadinya, karena dia anak laki-laki satu-satunya. Niken merasa lega. Dia sudah punya rencana bagus untuk memanfaatkan warisan Papa. Tanah Kinanti akan dia jual dan uangnya akan dia gunakan untuk menolong korban demonstran di hari naas itu. Walaupun uang mungkin tidak akan cukup untuk melupakan dan menebus kejadian naas itu, tapi pasti sedikit banyak akan membantu meringankan beban banyak orang.

Warisan Mama yang jumlahnya tidak sebanyak warisan Papa, akan digunakannya untuk membiayai kuliah kedokterannya sampai selesai. Beres, kan?

Segera setelah selesai pembacaan warisan, Hendri langsung maju ke depan dan berbisik-bisik pada bapak Notaris. Setelah itu dia duduk kembali.

“Kenapa, Hen?” tanya Niken.

“Aku ingin mewariskan warisan Papa itu untuk dibagi rata buat kedua adikku setelah besar nanti. Biar mereka nanti yang memutuskan kegunaan warisan Papa itu.” kata Hendri.

“Benar-benar ironis…” gumam Oma.

“Maksud Oma?” tanya Niken.

“Papamu itu dari muda ingin punya anak laki-laki untuk diwarisi kalau dia sudah meninggal. Sesudah dia tidak ada, anak laki-laki satu-satunya malah tidak mau diwarisi. Apa bukan ironis namanya?”

“Warisan Papi untuk kamu mau diapain, cie?” tanya Hendri.

“Oh, aku sudah putuskan untuk menghabiskan semuanya untuk korban demonstran waktu lalu. Rasanya lebih tepat untuk itu.” kata Niken.

“Oma bangga sekali punya cucu-cucu seperti kalian. Hendri, kamu harus mengajari adik-adikmu supaya bisa seperti kamu.” kata Oma sambil memeluk kedua cucunya.

Sabtu kemarin adalah hari terakhir ujian nasional. Hari ini hari Senin. Murid-murid kelas tiga terlihat begitu ogah-ogahan datang ke sekolah. Bahkan daftar murid terlambat hari ini mendadak berlipat ganda dari hari-hari biasanya. Sepertinya energi mereka sudah terkuras habis minggu lalu. Beberapa anak bahkan tak terlihat batang hidungnya. Gedung kelas tiga terpisah dari gedung induk SMA Antonius. Hari ini murid-murid diharuskan datang karena ada acara kerja bakti membersihkan kampus selama tiga hari berturut-turut. Dari tadi pagi anak-anak kelas tiga terlihat menggerutu sambil mengutuki orang-orang yang bertanggungjawab atas ide gila kerja bakti ini. Untunglah tak satupun dari mereka yang mengetahui siapa otak dibalik ide gila tersebut. Kalau sampai ada yang tahu, pasti saat ini orang tersebut sudah lari pontang-panting dikejar-kejar anak seangkatan. Atau mungkin juga tidak. Tak terlihat ada satupun anak yang mempunyai energi cadangan untuk mengejar kambing sekalipun.

Kecuali Pandu. Anak itu dari tadi sibuk mondar-mandir dari ruang soundsystem ke ruang musik. Kegiatan anehnya ini luput dari perhatian semua orang, karena semua anak sedang sibuk, atau pura-pura sibuk bekerja bakti membersihkan ruang-ruang kelas.

Tiba-tiba....

"Test... test.. Dengar semua suara saya?" Suara Pandu terdengar dari seluruh loudspeaker yang ada di gedung kelas tiga, yang memang biasanya digunakan untuk pengumuman.

Kegiatan kerja bakti jadi mendadak berhenti total. Mendengarkan pengumuman jauh lebih menarik daripada kerja bakti. Beberapa anak berdoa komat-kamit agar pengumuman itu akan berbunyi "Anak-anak kelas tiga boleh pulang sekarang".

"Rekan-rekan Antonians, hari ini saya Pandu, dengan seijin kepala sekolah, akan menjadi radio DJ dadakan untuk menemani teman-teman yang sedang sibuk bekerja bakti dengan alunan musik. Maaf untuk sementara tidak bisa menerima request lagu, berhubung kompilasi lagu yang ada saat ini sangat terbatas jumlahnya. Akan tetapi jangan kuatir, selera teman-teman pasti terpenuhi. Di sini saya sudah sedia tembang-tembang instrumental, jazz, pop, rock, klasik, dan dangdut. Lagu pertama yang akan saya putar ini adalah rekaman suara saya sendiri. Jangan takut, cuma satu lagu ini saja yang belum dirilis ke publik. Saya harus mengucapkan terima kasih pada Mas Baron Kanginan yang mengiringi lagu ini dengan alunan pianonya, juga membantu merekam ke kaset. Lagu ini saya persembahkan untuk orang yang selama ini memenuhi otak dan hati saya, meski waktu mengerjakan soal-soal ujian. Fei, lagu ini buat kamu.."

Niken yang sedang berdiri di atas meja membersihkan kaca jendela, tersontak kaget. Walaupun tidak ada anak yang tahu 'Fei' itu namanya, tapi dia tahu. Dua tiga detik setelah Pandu selesai berbicara, jantung Niken berdebar keras berusaha menduga-duga lagu apa kiranya yang akan dimainkan anak nekad ini. Begitu Niken mendengar intronya yang dimainkan dengan piano, Niken tercenung. Lagu ini lagu kesayangan papanya! Dan sangat dikenalnya.. Tapi... bagaimana mungkin... Pandu kan tidak bisa bahasa...??

mo ming wo jiu xi huan ni

shen shen de ai shang ni

mei you li you mei you yuan yin

mo ming wo jiu xi huan ni

shen shen de ai shang ni

cong jian dao ni de na yi tian qi

ni zhi dao wo zai deng ni ma

ni ru guo zhen de zai hu wo

you zen hui rang wu jing de ye pei wo du guo

ni zhi dao wo zai deng ni ma

ni ru guo zhen de zai hu wo

you zen hui rang wo hua zhe shou zai feng zhong chan dou

mo ming wo jiu xi huan ni

shen shen de ai shang ni

zai hei ye li qing ting ni de sheng yin

Walaupun semenjak kecil Niken biasa mendengar papa-mamanya bercakap-cakap dalam bahasa Mandarin, Niken tidak pernah benar-benar berusaha belajar dan mengerti artinya. Butuh konsentrasi penuh untuk menghayati lirik lagu tersebut dan memahami maksudnya. Sulit, tapi bukan di luar jangkauan kemampuannya.

Aku tak mengerti mengapa kusuka kamu

mencintaimu sedalam dalamnya

tanpa alasan, tanpa sebab

Aku tak mengerti mengapa kusuka kamu

mencintaimu sedalam dalamnya

Sejak hari pertama ku berjumpa denganmu

Tahukah kau, aku menantikanmu

Jika kau memang peduli padaku

bagaimana bisa kau biarkan malam tak berujung menemaniku

Tahukah kamu, aku menantikanmu

Jika kau memang peduli padaku

bagaimana bisa kau biarkan tanganku gemetar mengayuh di tengah2 angin

Aku tak mengerti mengapa kusuka kamu

mencintaimu sedalam dalamnya

di kegelapan malam kudengar suaramu

Campur aduk perasaannya saat ini. Niken jadi menyadari betapa kangen dirinya untuk dipeluk papanya. Meskipun Niken tak pernah merasa dekat secara pribadi dengan papanya, papanya tetap papanya. Niken tak menyangka bahkan suara papanya pun masih dapat diingatnya dengan jelas. Suara serak dan batuk-batuknya di pagi hari, siulan dan senandung kecil papanya dari dalam kamar mandi tiap pagi dan sore bila suasana hatinya sedang enak. Mamanya sebaliknya bersuara sumbang dan tidak bisa mengikuti ritme, tidak hobi menyanyi seperti papanya. Sewaktu kecil, Niken pernah melihat mamanya berdiri terpaku di depan kamar mandi selagi papanya menyanyi-nyanyi kecil di “studio mini”nya itu. Seperti apa wajah mama waktu itu jadi tergambar jelas di ingatannya sekarang. Wajah yang mendambakan kehangatan dan memimpikan lagu-lagu yang dinyanyikan suaminya itu ditujukan untuknya. Niken baru menyadari sekarang bahwa sejauh-jauhnya hatinya dari orang-tuanya, banyak hal dari mereka yang secara tidak langsung berimbas besar di dirinya. Heran bercampur bangga pada dirinya sendiri karena dia sanggup mengingat hal-hal kecil seperti itu, hanya dengan mendengarkan sebuah lagu yang dinyanyikan oleh Pandu. “Pandu!” serunya dalam hati. Bahkan beberapa saat dalam lamunannya tadi dia lupa bahwa suara yang sedang mengalun lembut dari loudspeaker murahan itu adalah suara yang paling dikangeninya saat ini.

“Terima kasih, Pandu…” batinnya lagi. Tak disadarinya air matanya mengalir pelan di pipinya. Didengarkannya lagi lagu itu dengan sepenuh hatinya dengan mata berkaca-kaca. “Pandu pasti sudah latihan mati-matian sebelumnya”, pikirnya. Pasti sulit menyanyikan lagu ini dengan lafal yang benar, terutama buat orang seperti Pandu yang sama sekali tidak bisa mengucapkan sepatah katapun dalam bahasa Mandarin. Entah dia belajar dari siapa. Yang jelas bukan darinya. Niken pasrah, membiarkan perasaannya larut dibuai oleh lagu romantis Pandu. Perasaan yang sudah lama ditekan dan dihalang-halanginya untuk muncul ke permukaan, kali ini dibiarkannya lepas, liar tanpa kontrol. Dan harus diakuinya, perasaan ini indah dan sangat memanjakan dirinya.

Sendirian di dalam ruang soundsystem, Pandu memejamkan matanya untuk menenangkan debar jantungnya. “Kira-kira Niken sedang apa sekarang, ya?” Jantungnya yang berdegup keras ini bukan karena grogi suaranya terdengar di seluruh pelosok gedung kelas tiga, tapi karena lagu ini adalah cerminan murni dari suara hatinya yang menginginkan hanya seorang. Niken. Dia sudah membayangkan kemungkinan terburuknya. Niken tambah benci padanya dan tak ingin mengenalnya lagi. Sepertinya itu resiko yang harus diambilnya, untuk membuat gadis bodoh yang amat dicintainya itu mengerti akan perasaannya. Bahwa dia tidak akan gentar mencintai Niken sampai kapanpun, sampai Niken berhenti mencintainya sekalipun. Tapi tentu saja dia mengharapkan reaksi positif dari Niken. Tidak harus sekarang, asalkan suatu saat dalam masa hidupnya.

Larut dalam lamunannya, Pandu tak menyadari lagu itu sudah selesai sekitar semenit yang lalu. Keheningan itu memecahkan lamunannya.

Cepat-cepat memencet tombol ‘stop’ untuk menghentikan putaran kasetnya, Pandu mulai bercuap-cuap lagi.

“Demikianlah maestro yang memang karyanya sudah tak asing lagi di telinga rekan-rekan sekalian. Maksud saya tentunya Mas Baron Kanginan. Malu sebenarnya suara saya diiringi Mas Baron. Tapi apa boleh buat, untuk menyanyikan lagu dalam bahasa asing saja sudah sulit, apalagi latihan pianonya. Untung ada Mas Baron yang mau membantu. Maaf tadi sunyi senyap setelah lagu selesai. Maklum DJ masih belum profesional. Baiklah! Tanpa panjang lebar lagi, saya putar lagu kedua, ini Aerosmith, Crazy....” Tangan Pandu sibuk menempatkan kaset pada slotnya, lalu menekan tombol ‘play’.

Niken sudah lama berdiri di luar ruang soundsystem sambil mengetuk-ngetuk pintu kayu itu. Sepertinya suara di dalam soundsystem terlalu keras sehingga ketukannya tak terdengar oleh Pandu. Tak sabar, digedornya pintu itu dengan kedua tinju tangannya. Mendengar gedoran pintu, Pandu meloncat dari kursinya dan membuka pintu.

Begitu pintu terbuka, Niken langsung memberikan senyumannya yang terlebar untuk Pandu. Seperti terhipnotis, Pandu pun ikut tersenyum lebar.

Ketika dua detik kemudian senyum lebar Niken yang manis berubah menjadi tertawa kecil, Pandu tergelitik untuk bertanya “Koq malah tertawa?”

“Habis kamu lucu sekali.” sahut Niken masih tergelak.

“Lucu bagaimana?” Pandu mengerutkan alisnya.

“Ya yang tadi itu. Kamu lucu bisa nyanyi lagu mandarin segala. Dari semua kegilaanmu selama ini, rasanya yang kali ini bisa meraih penghargaan tertinggi. Ngomong-ngomong, aku boleh masuk nggak?” tanya Niken sambil melirik ke dalam ruang soundsystem.

Setelah dipersilahkan masuk dan Pandu menutup pintunya kembali, Niken menatap Pandu yang masih menyandarkan punggungnya di pintu. Membaca wajah Pandu yang penuh tanda tanya, Niken tersenyum lagi, berusaha menghapus kegugupan dari wajah Pandu. Tapi ternyata tak semudah itu melenyapkan ketegangan itu hanya dengan sebuah senyuman.

“Bagus tadi lagunya, Ndu” Suara Niken memecah kesunyian.

“Terima kasih, Fei. Tapi kita berdua sama-sama tahu, bukan tanggapan seperti itu yang ingin kudengar darimu.”

“Kamu tahu arti lagu tadi?” Pertanyaan bodoh, Niken! serunya dalam hati.

Pandu melongo. “Tentu saja aku tahu arti lagu itu luar kepala. Buat apa aku nyanyi kalau nggak tahu artinya?”

“Maaf,.. Bukan itu sebenarnya yang hendak aku katakan. Entah kenapa yang keluar di mulut jadi lain..” keluh Niken.

Perhatian Pandu mendadak terpusat ke arah putaran kasetnya. Mengikuti arah pandangan Pandu, Niken hendak mengingatkan Pandu bahwa lagu Aerosmith ini sebentar lagi selesai. Pandu langsung mengetahui apa yang hendak Niken katakan. “Tenang saja. Kaset itu isinya lagu-lagu kompilasi. Biarkan saja berputar sampai habis. Sekarang aku lebih tertarik ingin mendengar apa yang ingin kau katakan.”

“Kamu tahu? Lagu tadi... Papa sering mendendangkannya...”

Deg! Sesaat Pandu limbung mendengar kata-kata Niken. Tanggapan Niken ini jauh di luar dugaannya.

“Fei...” Pandu mendekat. “Sama sekali aku tak bermaksud mengkorek lukamu...”

“Kamu selalu begitu. Tidak pernah membiarkan aku selesai bicara. Aku juga tidak bilang kamu mengkorek luka, koq.”

Pandu membisu. Dibiarkannya Niken menyelesaikan kata-katanya kali ini.

“Mendengarkan lagumu tadi, aku jadi menyadari dua hal penting. Pertama, bahwa Papa dan Mama justru sekarang malah tambah dekat di hatiku. Aku bukan anak yang tak berbakti. Sampai kapanpun mereka tetap papa-mamaku, yang memang jauh dari sempurna. Seperti aku pun yang tak sempurna. Tapi aku harus menemukan jati diriku sendiri, kemauanku sendiri. Aku tak pernah ingin hidup di bawah bayang-bayang mereka selama mereka hidup, dan aku tidak ingin memulainya sekarang.”

Wajah Pandu berubah cerah. Di luar perkiraannya, lagu tadi sudah menyelamatkannya lebih dari yang dia harapkan.

“Yang kedua?” tanya Pandu kemudian.

“Aku jadi menyadari betapa sulit mengenyahkanmu dari hidupku. Apapun yang kulakukan, sepertinya tak membuatmu menjauhiku. Justru sebaliknya. Benar-benar mengesalkan!”

Pandu menatap mata bening Niken. Rasanya tak salah bila dia menyimpulkan bahwa di situ ditemukannya penyesalan, kepercayaan dan harapan. Penyesalan akan keraguan dan sikapnya sendiri, kepercayaan akan cinta Pandu, dan harapan akan kebahagiaannya bersama Pandu. Ditemukannya pula jawaban atas semua pertanyaannya.

Secara refleks, Pandu menarik pinggang Niken ke arahnya bak penari salsa. Ingin rasanya memeluk dan mencium Niken saat itu juga. Untung dia ingat ini di ruang sound system, di sekolah, pada jam pelajaran pula. Bisa berabe kalau sampai ada orang tahu. Mereka bisa dikeluarkan dari sekolah sebelum hasil ujian diumumkan!

Dengan berat hati dilepaskannya pinggang Niken dari pegangannya.

“Sebetulnya aku datang kemari cuma ingin berkomentar satu hal. Kenapa jadi berlarut-larut dan melenceng dari tujuan awal begini?” Niken menepuk dahinya.

“Komentar apa?” tanya Pandu tertarik.

“Di kegelapan malam kamu sering mendengar suaraku?” tanya Niken sambil tertawa keras sekali. “Menakutkan sekali! Kalau aku jadi kamu, aku akan bawa-bawa pisau dapur tiap mau tidur! Kamu kira aku tuyul?!”

“Mari masuk Niken. Pandu lagi tidur siang tuh. Katanya capek setelah tiga hari kerja bakti di sekolah. Dibangunkan saja. Sudah jam setengah lima sore ini.” kata Ibu Pandu saat melihat Niken datang.

“Hei, bangun, jangan ngorok terus!” kata Niken, mengagetkan Pandu yang sedang tidur dengan pulas.

Niken lalu menyalakan lampu kamar Pandu.

“Kamu kejam deh. Masih pegal-pegal nih!” Pandu mengomel. Sepertinya dia belum betul-betul bangun.

“Jalan-jalan yuk.” ajak Niken.

“Malas ah…” kata Pandu bersiap-siap mau bobok lagi.

Niken cepat-cepat menarik bantalnya. Buk! Kepala Pandu membentur kasur.

“Apa-apaan sih kamu, Fei? Aku ngantuk nih…” kata Pandu sambil memohon-mohon Niken untuk mengembalikan bantalnya.

“Ayo lah… aku sudah sampai di sini masa’ diusir sih? Cuaca di luar cerah tuh. Ayo keluar yuk…” ajak Niken lagi.

“Ah, kamu memang kalo udah ada maunya…” Pandu mengomel sambil beranjak berdiri.

“Oke, aku mandi dulu, kamu baca-baca majalah tuh” lanjut Pandu sambil menunjuk tumpukan majalah di lemari bukunya.

Setelah Pandu keluar kamar, Niken mengamati kamar Pandu dengan cermat. Nggak banyak berubah sejak terakhir dia kemari. Kamar kecil Pandu ini nggak begitu rapi, tapi nggak acak-acakan. Paling mejanya aja yang penuh buku, sampai nggak ada tempat lagi untuk menulis. Wajar saja karena baru saja selesai musim ujian. Tapi diluar itu semuanya rapi. Tidak ada pakaian kotor di lantai, tidak ada makanan atau minuman di kamarnya. Eh, ada juga foto Niken di meja kecil dekat tempat tidurnya. Niken tersenyum sambil menyambar salah satu majalah yang tadi ditunjuk Pandu.

“Kamu keluar dulu, gih.” kata Pandu mengagetkan Niken.

“Kamu koq kilat mandinya?” tanya Niken.

“Ya ini udah selesai. Sekarang aku mesti ganti baju. Makanya kamu keluar dulu deh.” kata Pandu sambil mengusir-usir Niken keluar dari kamarnya. Tadi dia lupa membawa pakaiannya ke kamar mandi, seperti biasanya, jadi sekarang dia cuma membalutkan handuk di pinggangnya. Rambutnya basah habis keramas.

Diam-diam Niken mengamati Pandu yang bertelanjang dada. Seksi juga, berotot lagi. “Hihi…” Niken tertawa dalam hati.

“Eh… cepetan dong. Kamu koq malah bengong?” kata Pandu lagi.

“Iya iyaa… Galak amat! Ini aku keluar.” kata Niken keluar kamar sambil masih tertawa-tawa.

Begitu Pandu keluar kamar, Niken yang tak sabar langsung menggandengnya keluar rumah.

“Pamitan sama ibumu, cepat. Aku tadi sudah.”

Sambil jalan, karena masih ditarik-tarik dengan paksa oleh Niken, Pandu berpamitan “Bye Bu… doakan aku kembali utuh ya…” gurau Pandu. Habisnya Niken seperti menarik-narik kambing ke balai penyembelihan binatang.

“Ada apa sih?” tanya Pandu saat mereka sudah ada di mobil Niken.

“Nih… baca nih…” kata Niken menunjukkan sepucuk surat berkop Universitas Indonesia.

Pandu lalu membaca surat itu dengan cermat. Sampai di alinea terakhir, dia lalu tersenyum.

“Wah… selamat, Fei, kamu lolos PPKB! Nggak usah ikut UMPTN! Hebat. Jarang lho orang yang lulus PPKB buat FKUI!” kata Pandu berteriak-teriak.

“Makanya itu aku pengen merayakan hari bersejarah ini. Catat, ini tanggal 15 Mei.”

“Nggak cuma kamu lho yang lolos PPKB.” kata Pandu serius.

“Siapa lagi?” tanya Niken.

“Aku.” kata Pandu sambil menunjuk dirinya sendiri.

“Kamu? Yang benar, Ndu?” tanya Niken nggak percaya.

“Eh, nggak percaya. Aku juga baru mendapat suratnya kemarin. Mau aku ambilkan di rumah?” tanya Pandu. “Aku malah mendapat keringanan uang SPP untuk tahun pertama dari Depdikbud. Nanti tahun kedua tergantung evaluasi prestasiku di tahun pertama di ITB, begitu katanya.”

“Wah… selamat yah… Ini betul-betul perlu dirayakan. Kamu mau ke mana? Ada ide?” tanya Niken.

“Kamu kan yang dari tadi teriak-teriak ingin jalan-jalan. Aku kirain kamu sudah ada rencana mau ke mana?” tanya Pandu geli.

“Aku kan cuma tanya kamu ingin ke mana. Siapa tahu kamu punya ide lebih baik. Kan baik aku menawarkan, kan? Kalo nggak ada ide ya aku kembali ke rencanaku semula.”

“Memangnya menurut rencana jahatmu semula kamu mau ke mana?”

“Jahat? Ada deh…” kata Niken sambil mengedipkan sebelah matanya.

“Oke lah. Aku ikut saja.” kata Pandu lalu memejamkan matanya.

“Sialan, kamu malah bobok lagi… Dasar tukang ngorok!” Niken mulai mengomel lagi.

“Memangnya aku tadi ngorok?” tanya Pandu serius.

“Wah, keras sekali…” kata Niken sambil tertawa geli.

“Seriusss??!” tanya Pandu lagi.

“Serius!” jawab Niken ikut-ikutan pasang tampang serius.

Pandu lalu diam saja. Malu, dong.

“Memangnya kenapa sih kalo ngorok?” tanya Niken.

“Nggak enak saja. Selama ini kan aku bobok sendirian, jadi ngorok juga nggak masalah. Tapi misalnya aku menginap di tempat orang, atau kalau udah kawin nanti, kan kasihan istriku kalau aku ngorok setiap malam. Bisa nggak bisa bobok dia.”

Niken tambah kencang ketawanya.

“Culun sekali kamu, Ndu. Kamu pasti tadi capek aja, jadi mengorok. Waktu sebulan aku di rumahmu aku kadang-kadang keluar kamar ambil minum, kamu juga tenang-tenang saja koq tidurnya. Lagipula, kurasa kau butuh istri yang seperti aku…” kata Niken sambil tersenyum.

“Kenapa?”

“Begitu kepalaku menempel bantal, aku pasti langsung tertidur. Makanya sebelum menyentuh bantal aku pasti bikin puisi dulu. Kalo nggak bisa-bisa batal nggak bikin puisi melulu setiap hari.”

“Tapi bagaimana bisa kawin sama kamu? Kita pacaran saja nggak…” kata Pandu.

“Lho? Kita tu nggak pacaran tho?” tanya Niken bengong.

“Bagaimana sih? Kan kamu dulu yang bilang nggak mau pacaran dulu.”

“Lha trus yang kemarin di ruang soundsystem, kamu kira aku ngapain?”

“Kamu kan cuma datang mengomentari laguku...”

“Ah, Pandu, kamu emang bodoh sekali! Kamu nggak mau ya pacaran sama aku?”

“Lho? Apa aku pernah bilang nggak mau? Aku justru yang selama ini bilang cinta ! Ingat laguku kemarin lusa ?”

Niken lalu terdiam. Pas dia lagi mau berbicara sepatah kata, kebetulan Pandu juga mau mengatakan sesuatu.

“Kamu duluan, deh.” kata Niken sambil mengganti persneleng empat.

“Nggak. Kamu saja duluan.”

“Aku sudah nggak punya siapa-siapa lagi kecuali kamu, Ndu. Akhir-akhir ini aku sering merasa kesepian banget di rumah. Jadi inget cici, mama, papa. Aku merasa beruntung masih punya kamu. Rasanya Tuhan mengirimkan kamu pada saat yang tepat…”

“Fei… awas sepeda motor!” teriak Pandu. Niken kaget. Rupanya dia tak sadar melamun.

“Kamu melamun ya?” tanya Pandu setelah Niken meminggirkan mobilnya.

Niken menggaruk-garuk kepalanya yang nggak gatal.

“Bahaya nich… Kamu berhenti dulu lah kalo mau ngobrol. Atau aku yang nyetir ya? Kamu mau ke mana sih?” usul Pandu.

“Yah sudah, kita berhenti di sini dulu aja. Mumpung di bawah pohon rindang. Angin semilir lagi. Wah. Seandainya aku bawa buku puisiku, bisa bikin puisi nih…” gumam Niken melantur.

“Fei, kamu pakai parfum ya?” tanya Pandu.

“Nggak.” kata Niken sambil mencium-cium bajunya. “Kenapa memangnya?”

“Wangi.”

“Wangi? Swear deh aku nggak pake parfum.”

“Nah kan,... kamu nggak bisa bilang kita selama ini pacaran, karena aku saja nggak tahu bahwa tanpa parfum tu kamu wangi sekali. Aku baru tahu sekarang. Dan aku suka sekali. Aku ingin tahu hal-hal kecil seperti ini yang aku belum tahu. Misalnya, apa film kesukaanmu, apa makanan kesukaanmu, siapa cinta pertamamu, dan bahkan kamu belum sempat menjawab pertanyaanku yang dulu, siapa tokoh idolamu selain Sun Tzu.”

“Aku juga nggak tahu banyak tentang kamu di hal-hal yang kecil seperti itu, rasanya kita cuma perlu lebih banyak meluangkan waktu berdua. Seperti sekarang ini. Atau seperti waktu di dalam ruang soundsystem. Bicara dari hati ke hati. Itu kan yang namanya pacaran? Tapi, kalo kamu cuma ingin tahu aja, film kesukaanku ‘Gone with the wind’, makanan favoritku bakmi, tokoh idolaku selain Sun Tzu adalah cici, dan cinta pertamaku, tentu saja kamu. Pakai acara tanya segala.”

“Memangnya kamu nggak pernah naksir siapa-siapa sebelum aku?” tanya Pandu.

“Nggak.” Niken menggeleng mantap. “Kamu pernah naksir cewek ya?” tanya Niken.

Pandu mengangguk. “Bu Fani, guruku waktu SD kelas dua.”

“Hah?! Guru SD? Ah, kamu yang benar saja?”

“Bener! Bu Fani tu sabaaarrr sekali. Aku inget aku sempat sering datang ke sekolah pagi-pagi sekali, sengaja cuma ingin membersihkan kelas, demi ingin mendapat pujian Bu Fani sewaktu dia masuk ke kelas. Tapi cuma sebentar saja sih naksirnya, karena terus aku tahu Bu Fani sudah punya suami. Kalau aku ingat-ingat lagi, bodoh sekali aku. Seandainya saja waktu itu dia belum punya suami, trus memangnya aku bisa apa? Akunya masih anak kelas 2 SD!”

“Wah… kamu centil juga ya kelas 2 SD sudah pakai acara naksir-naksiran segala? Aku waktu SD kan masih benci sekali sama semua cowok di sekolahku”.

“Masa’ nggak pernah ada satupun orang yang kamu kagumi, Fei? Seperti Bu Fani-ku gitu?”

Niken berpikir sebentar. “Nggak. Kamu yang pertama kali bikin aku seperti ini.” jawabnya mantap.

“Kamu nggak keberatan pacaran sama aku, Fei?”

“Memangnya kenapa, Ndu?”

“Kamu nggak pernah merasa, sering kali pas aku boncengin kamu naik sepeda, atau kita jalan-jalan berdua, selalu saja dapat tatapan aneh dari orang-orang? Mereka seperti melihat ikan pacaran sama burung, yang nggak punya tempat di mana-mana untuk bersama. Ikannya nggak bisa tinggal di udara, burung nggak bisa tinggal di air.”

“Jadi kamu merasa nggak nyaman jalan sama aku?” tanya Niken.

“Bukan begitu maksudku.”

“Lalu?”

Pandu bingung mesti menjawab bagaimana tanpa menyinggung perasaan Niken. Memang nyata-nyata perbedaan kulit mereka begitu jelas.

“Baiklah, Ndu. Aku mengerti.” kata Niken sambil hendak menstater mobilnya lagi.

“Lho, tunggu dulu.” kata Pandu merebut kunci mobil dari tangan Niken. “Sabar dong, non. Aku masih bingung mau ngomong apa.”

“Kenapa mesti bingung? Tinggal ngomong saja. Bilang saja, Fei, aku nggak nyaman pacaran sama kamu.” Niken cemberut.

“Aku nggak bisa bilang begitu karena aku belum pernah benar-benar pacaran sama kamu. Lagian aku sudah bilang, bukan begitu maksudku. Aku cuma pengen kamu jujur sama aku. Kalo aku jawab duluan, apa aku merasa nyaman, kalau kamu merasa nggak nyaman, nantinya kamu nggak enak bilang terang-terangan, karena aku sudah duluan bilang nggak papa.”

“Jadi kamu nggak papa?”

“Pandangan orang-orang itu sesuatu yang nggak bisa dihindari, kemana pun kita pergi. Aku sih selalu merasa nyaman, karena aku tahu persis cewek yang aku boncengin atau yang jalan bareng aku ini manis sekali, dan orang-orang itu cuma iri karena nggak bisa boncengin atau jalan bareng cewek semanis kamu.”

“Ah, gombal!” Jawaban Pandu tadi cukup untuk membuat pipi Niken panas karena malu.

“Lho? Kamu tadi kan tanya, tuh sudah aku jawab. Koq malah aku dibilang gombal, ya sudah deh.”

“Jadi menurutmu aku ini manis?” tanya Niken lagi. Rupanya masih belum puas dipuji dia. Ingin pipinya tambah merah.

“Memangnya nggak pernah ada orang yang bilang kamu itu manis sekali?” tanya Pandu.

Niken menggeleng.

“Yah sekarang aku kasih tahu. Waktu pertama kali aku melihatmu, dengan tampangmu yang sok judes di kelas waktu itu, kamu sudah keliatan manis. Makin aku mengenalmu, kamu terlihat semakin manis di mataku.”

“Ngomong-ngomong soal mata, pertama kali lihat kamu di kelas waktu itu, satu-satunya yang menarik perhatianku cuma matamu. Wulan waktu itu bilang mata kamu tajam kayak mata elang. Lalu aku perhatikan, memang iya. Sorot matamu tajam sekali, tapi kalau kamu memandangku terlihat begitu lembut.”

“Koq setelah itu kamu sering panggil aku mata jangkrik? Memangnya matanya jangkrik seperti mata elang?”

“Naaaah… aku nggak mau mengakui kalo matamu tu yang terindah yang pernah aku lihat. Terutama sama Wulan. Gengsi dong.”

“Jadi kamu juga cuek dengan pandangan aneh orang-orang itu?”

“Aku sudah biasa koq. Kalo jalan-jalan sama Wulan juga begitu. Kalau lagi iseng, aku kagetin mereka, ‘Ngapain lihat-lihat?!’ Lagipula mereka pasti melihat kita begitu serasi, Ndu, makanya mereka seperti itu. Mereka iri melihat pundakmu yang pas sekali buat kepalaku. Juga tanganku yang pas sekali melingkar di pinggangmu kalau kamu boncengin.” kata Niken tersenyum.

“Fei, diinget-inget yah, ini tanggal 15 Mei, tanggal yang bersejarah. Karena mulai hari ini, Fei Fei resmi jadi calon istri Pandu.”

“Apa?! Calon istri?!”

“Nggak mau?”

“Aaa… aku… Tapi…” Niken gelagapan.

Pandu ketawa sekeras-kerasnya. Niken jadi bingung. Dipukul-pukulnya pundak Pandu.

“Awas kamu ya Ndu. Kamu mempermainkan aku!”

“Nggak, aku nggak akan pernah mempermainkan kamu. Aku serius koq. Aku pacaran cuma ingin sekali. Kamu sudah pas sekali buatku, Fei. Kamu bahkan jauh lebih bagus dari kriteria cewek yang selama ini aku dambakan. Aku nggak ingin kehilangan kamu.” kata Pandu sambil menepiskan poni di dahi Niken.

“Aku bersyukur kamu masuk dalam hidupku, Ndu. Kamu memperkenalkan sisi lain di diriku yang aku sendiri tadinya nggak kenal. Kalau nggak ada kamu, mungkin aku bener-bener bakal kawin sama si Jimmy. Aku nggak akan dapat kesempatan untuk mengenal apa itu cinta, dan betapa indahnya saat-saat bersamamu seperti ini.”

“Bagus kalau begini...” kata Pandu lagi. “Malam-malam nanti aku nggak akan lagi dengar suara tuyul!” goda Pandu teringat akan komentar sadis Niken kemarin lusa.

Niken tersenyum. “Kamu yang tuyul, perampok!”

“Koq bisa?”

“Merampok semua isi hatiku. Nggak tersisa sedikitpun. Padahal waktu pertama kali aku lihat kamu tuh kesannya kamu cowok playboy, yang punya banyak cewek di mana-mana.”

“Hah? Playboy? Jadi aku punya tampang playboy?”

“Iya.”

“Huh. Tampang ganteng-ganteng begini dibilang tampang playboy.”

“Lha… justru karena ganteng itu…”

“Jadi kamu setuju dong kalo aku ganteng?” goda Pandu.

“Nggak tau, ah. Kamu suka sekali memutar-balikkan kata-kataku.”

“Ya sudah deh kalo emang aku punya tampang playboy. Tapi aku nggak lho. Kamu saja beruntung bisa jadi pacar pertamaku lho. Dan yang terakhir, I hope…”

“Oke, sudah cukup rayuan gombalnya. Sekarang aku harus ngebut karena kalau tidak kita akan terlambat.” kata Niken sambil menstater mobilnya lagi setelah merebut kunci kontaknya dari tangan Pandu.

“Mau ke mana sih kita?”

“Sudah aku bilang, liat saja nanti.”

Ternyata tadi Niken mengajak Pandu ke gereja. Misa Sabtu sore. Ada-ada saja Niken. Pakai acara rahasia-rahasiaan segala tadi. Cuma mau ke gereja saja.

“Mau ke mana nih? Sekarang aku nggak ada rencana mau ke mana-mana lagi. Mau makan di mana?” tanya Niken.

“Kamu mau ke gereja saja pake mengedipkan mata segala. Dasar. Aku kirain mau ke mana. Pantas kamu rapi sekali. Untung aku juga pakai baju rapi.” Pandu setengah mengomel.

“Ya kalo kamu tadi aku liat nggak pakai baju yang rapi ya aku suruh ganti lagi dong. Ayo nih, ke kiri atau ke kanan? Mau ke mana kita?” kata Niken sampai di ujung Jalan Pemuda.

“Makan nasi goreng babat suka?” tanya Pandu.

“Suka dong… tapi mampir ke Kenanga yah, aku mau ganti sandal saja. Nggak enak pakai sepatu begini. Panas.”

Pandu mengangguk.

Sambil membuka pintu rumahnya, Niken berkata, “Kamu duduk di sofa ruang tengah sana. Empuk.”

“Fei, aku boleh pinjam telfonnya?” tanya Pandu.

“Boleh aja. Itu wireless di meja.” tunjuk Niken. “Aku tinggal masuk kamar dulu ya…” lanjut Niken.

“Sudah selesai telefonnya?” kata Niken saat keluar kamar lagi.

“Sudah. Makasih ya.”

“Dengerin radio saja ya, bosan aku dengerin CD kamu.” pinta Pandu waktu mereka sudah di mobil lagi.

“Bagus juga, ini Boss FM jam segini biasanya adanya acara kuis. Aku sering iseng ikutan jawab sendiri, tapi nggak pernah ikutan telefon. Males. Aku bisa diledekin anak-anak Boss kalo salah jawab.”

“… Acara kuis hari ini kita tunda lima menit, karena permintaan dari sohib karib kita. Niken, kalo kamu dengerin, yang satu ini buat kamu.”

“Hah? Koq bisa begini?” batin Niken bingung sambil mengeraskan volume radionya. “Itu suara Mbak Merlina. Biasanya dia kan nggak memandu acara kuis. Lagian apa-apaan kasih salam ke aku, tumben amat? Koq tahu bisa kalo aku bakal dengerin radio malam ini?”

Dia langsung sadar. “Pasti Pandu!” katanya sambil menatap wajah cowok yang duduk di sampingnya itu.

Pandu sedang asyik menikmati lagu “Nothing else matters”-nya Metallica itu sambil ikut nyanyi.

“Hey,” kata Niken sambil menguncang-guncangkan tubuh Pandu. “Ini kerjaan kamu yah?” tuduhnya.

“Yee… ge-er amat. Yang namanya Niken kan nggak cuma kamu. Tapi ini lagu bagus, jangan dipindah channelnya.” kata Pandu.

Niken mengerutkan keningnya. “Kalau bukan Pandu, lalu siapa? Yah mungkin saja Niken yang lain", pikirnya.

So close no matter how far

Couldn’t be much more from the heart

Forever trusting who we are

And nothing else matters

Never opened myself this way

Life is ours, we live it our way

All these words I don’t just say

And nothing else matters

“Niken sayang,” Suara Pandu muncul dari radio!, pekik Niken dalam hati. Nah! Dia lalu menatap tajam mata Pandu yang tersenyum-senyum aneh.

“Inget waktu aku proklamasi cinta di tengah lapangan, kira-kira setahun yang lalu? Aku masih menyimpan kertasnya. Sekarang aku akan proklamasi sekali lagi, kali ini aku serius, dan ini untukmu. Oh, ya. Lagu Metallica yang di background ini juga requestku.”

Yayangku,…

Paras wajahmu, gerak-gerikmu, selalu terbayang di mataku.

Kamu membuat aku gelisah tiap malam, tidak bisa tidur. Aku jadi nggak doyan makan gara-gara mikirin kamu.

Yayangku yang manis, aku cinta kamu. Aku tidak akan pernah berhenti mencintaimu.

Aku nggak tau mesti gimana kalo aku nggak lihat wajahmu barang sehari saja.

Kau begitu lincah, senyummu begitu menggoda.

Suaramu, indah bagaikan tiupan angin malam.

Akan aku lakukan apa saja untuk mendapatkan cintamu.

Jangan buat aku patah hati. Terimalah segala rasa cintaku.

Yang sangat mencintaimu, selamanya.

Pandu.

Niken masih ternganga. Masih belum hilang shocknya.

“Niken, kita dari Boss FM, mau ngucapin selamat. Pandu sayang sekali sama kamu. Mbak Merlin sampai terharu waktu dia telepon barusan, minta suaranya direkam per telepon.” terdengar suara Mbak Merlina dari radio. “Buat Pandu, good luck! You’ve inspired all of us in Boss FM radio station! Oke, kita nggak mau bikin para penggemar kuis menunggu-nunggu lebih lama lagi. Kuis malam hari ini…”

“I love you, Fei, and nothing else matters.” kata Pandu. Kali ini nggak dari dalam radio. Pandu mengecilkan volume radio.

“Gila kamu, Ndu.” Cuma itu yang bisa keluar dari mulutnya.

Pandu diam saja, sambil memainkan jari-jemari Niken.

“Kenapa mesti lewat radio?” tanya Niken kemudian.

“Aku pasti nggak sanggup lah ngomong langsung di depanmu. Pasti kamu ketawa keras-keras sebelum aku selesai.”

“Tahu nggak, aku tadi kaget setengah mati waktu denger suara kamu di radio, Ndu. Kamu memang sinting.”

“Aku cuma mau bilang, aku cinta sekali sama kamu. Kamu sudah merubah definisi kata ‘cantik’ di duniaku. Karena hanya kamu yang cantik di mataku.”

Pandu baru akan mencium pipi Niken, waktu suara Mbak Merlina mengagetkan mereka berdua.

“Hallo Niken, Pandu, kalo kalian masih di situ, selamat menikmati malam yang indah ini. Lagu ini milik kalian. Nggak gangguin lagi deh... Selamat malam…”

From my youngest years to this moment here

I’ve never seen such a lovely queen

From the skies above to the deepest love

I’ve never felt crazy like this before

Paint my love, you should paint my love

It’s the picture of a thousand sunsets

It’s the freedom of a thousand doves

Baby, you should paint my love…

“Aku jadi pengen bikin puisi, Ndu.” kata Niken habis Pandu menciumnya.

“Ya bikin saja.” kata Pandu.

“Bikin gimana? Aku nggak punya bolpen dan kertas.”

“Ngomong saja. Seperti deklamasi gitu.”

“Nggak ah.” Niken menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Ayo lah. Buat aku ini.” bujuk Pandu.

“Baiklah.” kata Niken akhirnya.

Hati ini

Ingin jadi milikmu

Pahami tiap bilik sanubarimu

Jiwa ini

Ingin berkelana, mengembara bersamamu

Jalan seiiring alunan langkahmu

Diri ini

Ingin jadi permaisurimu

Bertahta membangun dinasti yang agung di istanamu

Cinta ini

Ingin selamanya kuberikan untukmu

Menembus segala ruang dan waktu

Untukmu Pandu,

Pahlawanku, kekasih hatiku,

Mata Elang ku.

***

THE END!!!!!!!!

0 Response to "Niken dan Pandu"

Post a Comment