Download applikasi baca novel online untuk android disini: DOWNLOAD

Kepala Kepala Yang Hilang

KEPALA-KEPALA YANG HILANG

CerpenBudiP.Hatees

SEMBILAN warga Madura diselamatkan dan dievakuasi Brimob dari tengah hutan yang berdekatan dengan Kota Sampit, Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah. Ke-19 warga tersebut berasal dari Desa Handilsohor, Kecamatan Samuda, langsung diangkut dengan dua gelombang evakuasi ke tempat penampungan sementara di kantor DPRD Sampit.

"Mereka semua mengaku kehilangan kepala meskipun memilikinya. Mereka meminta kami agar mencarikan kepalanya." Sahnan menelan air ludah yang terasa pahit. Disedotnya rokok kretek hingga asap mengebul di ruangan itu. Enam rekan-rekannya sesama petugas namun tidak ikut dalam penyelamatan itu tampak sangat berharap agar dia melanjutkan ceritanya.

"Lihatlah mereka. Semuanya seperti benar-benar kehilangan kepala," kata Sahnan sambil menunjuk ke-19 warga Madura yang terduduk dengan tatapan kosong. Sejak dievakuasi dari hutan, mereka tidak pernah berbicara selain meminta semua orang yang mengajak bicara agar mencarikan kepala mereka yang hilang.

"Kalian mencarikan kepala untuk mereka," kata salah seorang.

"Bagaimana mungkin mencari sesuatu yang tidak hilang."

"Mereka memang kehilangan kepalanya."

"Maksudmu!?"

"Sepanjang jalan dari hutan menuju ke mari, kami bertemu potongan-potongan tubuh berserakan. Mereka minta berhenti dan memastikan kepala demi kepala yang menyerak sebagai kepala mereka atau bukan."

"Memastikan?"

"Mereka mencocok-cocokkannya dengan lehernya seolah-olah tidak ada kepala di leher itu."

Semua yang mendengar bergidik. Sahnan kembali diam, menghabiskan isapan terakhir rokok kreteknya. Tiba-tiba mereka dikagetkan kemunculan salah seorang dari ke-19 warga Madura itu. "Tolong carikan kepala saya, Pak," kata laki-laki berkepala itu dengan mimik wajah berduka.

Mereka saling tatap.

"Saya kehilangan kepala," kata laki-laki berkepala itu sambil duduk di hadapan mereka . Sekali-sekali dia menebar tatapan ke setiap sudut tempat seperti seseorang sedang mencari sesuatu yang sangat dihargainya. Saya juga ikut-ikutan melihat ke arah yang dilihatnya sampai saya sadari betapa perbuatan itu sangat tolol.

"Saya sudah mencarinya kemana-mana. Tolonglah saya, Pak!"

***

KAWAN-KAWAN sekantor menyimpulkan, keberangkatannya ke Kota Sampit sama persis seperti seseorang yang menari dengan kematian. Ia meledek mereka dengan mengaku seperti Cavin Costner dalam Dance with Wolfes. Ia bilang, jika Cavin sudah tahu bahaya yang pasti akan dihadapinya dengan memutuskan tinggal dalam pos penjaga di dekat perkampungan suku Indian yang barbar itu, maka ia juga sudah menyadari hanya kematian yang akan dihadapi di Sampit.

"Saya tidak perduli, karena saya tidak tahu kapan harus mati dan kapan harus hidup seribu tahun lagi," katanya, tetap dengan maksud untuk bercanda.

"Kau gila." Yulianti, perempuan yang duduk di meja sekitar dua meter sebelah timur mejanya, mendadak buka mulut. Sangat mengherankan jika si pendiam yang selama ini dikenal punya pendiarian untuk tidak ikut campur segala urusan orang lain, tiba-tiba saja melunturkan prinsipnya hanya untuk mengomentari pendiriannya soal keberangkatan ke Kota Sampit.

"Tahu kenapa Yulianti sampai bersikap," kata Tasman menebak jalan pikirannya. "Dia mencintaimu, tetapi kau sangat tolol sebagai laki-laki hingga tidak bisa menangkap perhatian sekecil apapun dari seseorang yang menaruh perhatian begitu dalam kepadamu."

"Terima kasih Kalian sudah sangat membantu. Saya jadi tahu bagaimana perasaan Kalian."

"Kami hanya memikirkan Yulianti, atau orang-orang yang ada di dekatmu. Kalau terjadi apa-apa di Kota Sampit, merekalah yang akan sangat menderita."

"Sudah, sudah...!" Yulianti berteriak, lalu keluar ruangan dengan kulit wajah yang memerah. Sebelum perempuan itu menghilang di balik pintu, Tasman memberi isyarat agar ia mendekati gadis itu. Tentu saja ia menolak karena sedikitpun tidak punya perasaan apapun kepadanya, juga kepada perempuan-perempuan lain yang ada di kantor itu.

Ia tersenyum kalau mengingat sikap kawan-kawan itu. Tetapi tekadnya sudah bulat, dan tidak seorang pun bisa menghalangi.

Dalam perjalanan dengan pesawat dari Jakarta ke Palangkaraya, pikirannya selalu dipenuhi wajah Yulianti. Tiba-tiba ia merasa sangat dekat kepada perempuan itu, seolah-olah ada di hadapannya dan mengajaknya bercakap-cakap tentang hal-hal formal menyangkut pekerjaan seperti selama ini mereka lakukan. Sebagai rekan kerja, ia tidak punya perasaan lain kepadanya, apalagi untuk berpikir tentang hal-hal yang romantis akan terjadi di antara kami. Sebagai perempuan, baginya Yulianti sangat kaku, tidak cocok dengan tife perempuan yang selama ini diidambakan dan belum pernah bertemu hingga hari ini sehingga ia tetap sendiri meskipun usia sudah 33 tahun.

Ia tidak terlalu memikirkan itu. Makanya, begitu tiba di Kota Sampit dan berhasil mendapatkan kamar di sebuah hotel yang sepi karena pengunjungnya banyak yang terseret ke dalam gelombang pengungsian manusia yang dilecut rasa takut kehilangan nyawa, ia segera melupakan soal Yulianti. Ia rebahkan tubuh dan berharap besok pagi bangun tidur dalam kondisi yang segar-bugar.

Tetapi beberapa menit kemudian, ia dibangunkan bunyi aipon dari resepsionis yang mengabarkan ada seorang laki-laki di lobi yang ingin bertemu dengannya. "Laki-laki ini aneh dan mengaku sangat mengenali Bung. Saya tahu ia bohong, dan saya curiga ia justru berniat buruk ingin mencelakai Bung seperti yang terjadi di hotel ini dalam satu pekan terakhir," kata resepsionis dengan nada suara yang begitu pelan. Mungkin, resepsionis itu takut tamu itu mendengar omongannya, sehingga ia harus berbisik-bisik.

Didorong rasa ingin tahu, ia temui laki-laki itu di lobbi. Ia memang tidak mengenalnya dan yakin tidak pernah bertemu dengannya sebelum ini.

"Maaf, saya terpaksa berdusta. Saya tidak mengenali Anda, tetapi mengaku mengenal Anda. Saya terpaksa melakukannya untuk bisa bertemu dengan Anda," katanya.

"Untuk apa?"

"Tolong carikan kepala saya!" katanya, lalu bercerita tentang sekelompok laki-laki yang membawa mandau masuk ke rumahnya pada suatu malam dan menyeretnya ke halaman rumahnya. Begitu tiba di halaman, ia dihentakkan hingga terjerembab di atas tanah becek bekas hujan seharian. Lalu ia dengar salah seorang berteriak seperti memerintahkan orang-orang yang ada di sekitarnya untuk melakukan sesuatu, lantas mereka menari dengan cara berputar-putar. Tiba-tiba ia dengar suara ledakan seperti letusan senapan bersamaan dengan kilatan senjata tajam, lalu semua yang ada di sekitarnya menjadi gelap.

"Tidak ada setitik cahaya pun," katanya, berhenti sambil menenangkan degup jantungnya. "Saya tidak tahu apa yang terjadi hingga suatu ketika saya terbangun sudah berada di rumah sakit. Tetapi saya merasa ada yang hilang dari diri. Begitu saya perhatikan, ternyata kepala saya sudah tidak ada lagi di tempatnya."

"Tidak ada lagi?"

Laki-laki itu diam seperti kembali menenangkan degupan dalam dadanya, yang mendadak memburu seolah-olah sedang dikejar-kejar sesuatu. "Hilang sama-sekali."

Ketika ia jelaskan bahwa ia baru saja tiba dari Jakarta dan butuh istirahat secepatnya, laki-laki itu tampak tidak paham dan terus berbicara tentang kepalanya yang hilang. Ia pun tidak mau laki-laki itu mendominasi keadaan, lalu dijanjikannya akan membantu mencarikan kepalanya setelah bangun esok pagi.

"Baiklah. Besok pagi saya ke mari lagi," katanya. Laki-laki itu minta maaf karena telah menyusahkannya. Ia bilang tidak apa-apa. Laki-laki itu berpamit setelah menegaskan bahwa ia akan kembali esok pagi.

Buru-buru ia kembali ke kamar, berharap dapat terlelap secepatnya. Namun, sampai pagi ia tidak bisa memicingkan mata. Ia bangkit dengan tulang-belulang yang seolah remuk ketika terdengar suara gaduh langkah orang berlari di luar. Menyusul suara jeritan yang bagai ledakan dan meruntuhkan dinding-dinding kamar hotel.

Ia khawatir telah terjadi sesuatu seperti kebakaran di salah satu kamar hotel atau semacamnya yang membuat orang-orang itu panik. Buru-buru saya keluar dan hampir bertabrakan dengan seorang laki-laki di depan pintu kamar.

"Ada apa, Mas?"

"Ada orang mati di halaman samping. Kepalanya putus."

Ia buru-buru masuk dan mengambil kamera. Ia pikir ini suatu kebetulan. Ia akan abadikan gambar itu. Lalu berlari sambil menenteng kamera ke halaman samping dan hampir saja menendang sepotong kepala yang tergeletak di atas batu-batu koral. Tidak jauh dari kepala itu mencecer darah segar, dan seonggok tubuh tanpa kepala tergeletak.

Hampir saja seluruh isi perutnya keluar kalau tidak cepat-cepat menyadari posisinya sebagai seorang jurnalis. Ia siapkan kamera dan mulai membidik sebutir kepala yang tergeletak itu. Tapi, ia tidak jadi menjepretnya begitu memperhatikan kepala itu lebih dekat melalui lensa kamera. Ia teringat kepada laki-laki yang menemuinya kemarin, yang mengaku kehilangan kepala meskipun memilikinya.

Kamera nyaris terlepas dari tangannya. Buru-buru ia tinggalkan tempat itu dan mengemas barang-barangnya dari hotel. Hari itu juga, ia pesan tiket ke Jakarta.

***

PAGI itu, beberapa anggota dewan dan petugas yang berjaga-jaga di kamp pengungsian di halaman kantor DPRD itu tidak percaya dengan apa yang mereka lihat. Begitu memeriksa ke tenda-tenda ke-19 warga Madura yang diselamatkan dari hutan itu, ternyata tidak seorang pun dari mereka yang masih memiliki kepala.

Satu per satu para pengungsi itu keluar dari tenda, berjalan dengan gontai mencari kesibukan. Tubuh mereka yang tidak berkepala itu melakukan kesibukan masing-masing seperti menanak nasi, mencuci wajah meskipun tak ada lagi, dan duduk-duduk di bawah pohon.

Terdengar suara mereka bercakap-cakap antara satu dengan yang lainnya tentang bahan makanan yang tidak ada, WC yang tidak ada, dan beberapa di antara mereka yang terserang penyakit. Beberapa orang malah mendatangi para anggota dewan dan aparat yang berdiri terbengong, lalu menanyakan mengapa jatah makan mereka belum juga dikirimkan.

Tidak seorang pun yang menjawab. Tidak seorang pun....

CintaKedua

CerpenHilda W.

Aku menikah dengannya, pria yang usianya sepuluh tahun lebih tua dariku. Saat itu statusnya sudah pernah menikah alias duda cerai. Dia punya satu anak dari perkawinannya yang terdahulu.

Sewaktu aku memutuskan untuk menikah dengannya, atas dasar cinta tentunya, orang-orang disekelilingku tak percaya. Tapi keputusanku sudah bulat, tak ada yang bisa menawarnya.

"Kamu cari masalah,"kata Ari teman sekantorku.

"Cari masalah? Apa maksudmu?" tanyaku.

"Jangan enak-enakan menikah dengan seorang duda. Jangan enak-enakan menjadi cinta kedua. Kamu mesti siap untuk dibayang-bayangin oleh mantan isterinya, Apa lagi mantan isterinya belum juga menikah, mereka punya anak lagi. Nggak ada lho yang namanya bekas anak, anak ya anak.Tarolah sekarang mantan isterinya tidak mempermasalahkan hak pengasuhan atas anaknya. Tapi nanti saat ia datang kembali bisa jadi dia menuntut hak asuh atas anaknya. Semulah hak asuh atas anaknya, kemudian hak asuh atas mantan suaminya ....," Ari mengutarakan argumentasinya. Tapi aku tak ingin mendengarnya. Lagi pula, mana ada tuntutan hak asuh atas mantan suami. Ada-ada saja.

Maka menikahlah kami. Pada bulan-bulan pertama sampai tahun pertama tak ada masalah yang berarti. Kalaupun ada itu hanya perselisihan kecil yang dapat segera diselesaikan. Rumah tangga yang normal, sama halnya dengan rumah tangga lain pada umumnya.

Hubunganku dengan Bimo, anaknya, juga baik-baik saja. Bahkan aku sangat menyayanginya. Bimo pun juga sayang dan sangat manja kepadaku. Mungkin karena aku belum juga hamil sampai pada tahun pertama pernikahan kami. Maka perhatianku sangat besar terhadap bocah kecil itu. Dan pada dasarnya aku memang sangat menyukai anak-anak.

Tak lama kemudian, aku mendengar berita bahwa mantan isteri suamiku itu pulang ke kotanya. Dia masih sendiri, belum menikah lagi. Dan rupanya ia tidak diberi tahu bahwa mantan suaminya telah menikah, ia juga belum tahu kalau anaknya tinggal bersama kami. Wanita itu benar-benar marah. Dini, adik iparku, menelfon memberitahukanku. Agar aku siap jika kehilangan Bimo. Menurutnya, saat wanita itu diberi tahu tentang pernikahan mantan suaminya, dan juga tentang anaknya, ia berniat segera menyusul untuk menjemput anaknya.

"Aku beritahukan ini agar mbak Ning tidak terlalu shock nantinya," begitu katanya.

Hatiku gelisah, perasaanku tertekan, aku takut kehilangan Bimo. Aku telah jatuh hati pada bocah itu. Tapi aku tak bisa berbuat apa-apa. Aku tak memiliki hak.

Aku bisa sedikit merasa tenang, karena wanita itu tidak segera datang ke rumah kami untuk menjemput Bimo. Itu artinya aku masih punya waktu lebih lama untuk tinggal bersamanya. Bocah balita yang mewarisi tujuh pululh persen diri suamiku, foto suamiku.

Sejak itu, telepon di rumah sering berdering. Mereka biasanya dari keluarga mantan isteri suamiku. Seperti yang terjadi malam itu. Suamiku berbicara berjam-jam di telepon. Tak biasanya dia seperti itu. Sepertinya ada sesuatu yang serius, dibalik percakapannya.

Usai menerima telepon, aku bisa melihat kekusutan di wajahnya. Ia duduk disampingku di depan televisi, seolah ada yang hendak dikatakannya. Aku menunggu kata-kata darinya cukup lama, tapi dia tak juga berbicara. Ketka aku bermaksud untuk beranjak ke kamar, ia menahan tanganku.

"Ning, besok aku dan Bimo akan pulang," katanya dengan menyebutkan nama kota tempat mertuaku dan juga mantan isterinya tinggal.

"Berapa hari?" tanyaku.

"Aku langsung pulang, nggak akan bermalam," sahutnya tanpa melihat ke arahku.

"Bagaimana dengan Bimo? Kalau langsung pulang, ia akan kecapekan. Kasihan dia," kataku.

"Biar Bimo tinggal barang beberapa hari di sana," katanya tanpa memberitahuku bahwa ada ibu Bimo di sana. Seolah dia tak perlu memberitahuku tentang kedatangan mantan isterinya. Mungkin dia tak ingin menyakitiku, tak ingin membuat aku cemburu. Atau mungkin yang terbaik baginya adalah dengan tidak mengatakannya padaku..

Keesokan paginya, mereka pun berangkat. Aku antar mereka sampai pintu pagar, dengan rasa khawatir dan cemburu yang tak mungkin kutunjukkan. Kulepas mereka dengan do’a "Tuhan, kembalikan mereka padaku..."

Ternyata suamiku tak bisa langsung pulang sperti yang dikatakannya. Dia menelponku, dia bilang bahwa ada beberapa hal yang harus diselesaikannya. Aku coba untuk mengerti, walau ada ketakutan yang tak bisa diceritakan. Kuhibur diriku dengan mengatakan pada hatiku bahwa pertemuan mereka adalah takdir, yang tak bisa dihindari. Apa pun yang terjadi adalah kehendak-Nya. Aku mencoba untuk pasrah.

Hingga akhir kisah yang kudapat dan yang harus kuterima dengan lapang dada. Adalah pada kenyataannya, cinta kedua tak bisa menuntut perolehan kadar cinta yang sebanding dengan cinta yang pertama. Cinta suamiku yang cenderung mendua, tak bisa jujur padaku bahwa cinta pertamanya terlalu besar dan kuat dibanding cintanya terhadapku.

Tuhan tak mengembalikan mereka dalam pelukanku. Tuhan hanya meminjamkan mereka untukku. Walai hanya sebentar, tapi memori tentang mereka terus hidup dalam hatiku. Aku tak hendak menghancurkan kenangan itu.

Walau hatiku sedang diterkam duka, sesungguhnya aku tak sedang mengadu. Karena ada kenikmatan dalam kehancuran hatiku, yaitu saat aku memikirkan mereka, merindukan dan mengharapkan kehadiran mereka.

Andai aku bisa mengendalikan kejap mataku, tak ingin kubuka kecuali melihat mereka berdua bersamaku.

BUNGA SURGA KAK FARAH

Cerpen Maharani Venayaksa

Anak kurang ajar! tak tahu diri! Perempuan macam apa kamu ini heh!? Memalukan! teriakan-teriakan itu datang dari kamar kakakku Farah, yang letaknya tak jauh dari kamarku. Aku yang saat itu sedang tertidur , terbangun karena kaget.

Ya Allah , ada apa ini? tanyaku dalam hati.

Siapa bapak anak haram yang sedang kamu kandung itu heh? siapa? itu suara Bapak, Bapak yang penuh amarah.

Ya Allah, ternyata kak Farah aku tak sanggup lagi meneruskan ucapan lirihku, yang aku lakukan hanya menangis, menangis, dan menangis.

Ya Allah, cobaan apa yang sedang kau timpakan pada kami?

*** *** ***

1 minggu yang lalu

Ku hampiri kak Farah yang terbaring lemah dikasurnya.

Kenapa Kak? Sakit ya? tanyaku cemas.

Iya, sepertinya maag Kakak kambuh, perut kakak mual, kepala pusing! Jawab kak Farah, lemah sekali suaranya waktu itu.

Ke dokter ya Kak? tanyaku cemas.

Nggak usah Fa, Kakak udah agak mendingan kok! jawabnya lirih.

Mama sama papa tahu Kak?

Nggak, jangan kasih tahu mereka yach? Kak nggak mau mereka cemas, lagian besok mereka sudah pulang kan?jawab Kak Fara. Ya, waktu itu Mama sama Papa memang sedang pergi ke luar kota, biasa bisnis! Hal yang selalu dinomorsatukan papa dan mama dibandingkan kami. Meskipun ya, kami telah dewasa tapi sebenarnya kami masih membutuhkan mereka, perhatian, dan bimbingan mereka.

Fa! sapa kak Farah membuyarkan lamunanku.

Ya? jawabku.

Apakah Allah akan memaafkan hambanya yang telah berbuat dosa besar? sesaat aku terpana, merasa heran mendengar pertanyaan kak Fara beribu prasangka bersarang di benakku, tapi segera kutepis prasangka-prasangka itu.

Tentu saja Kak, Allah itu kan Maha Pengasih dan Maha Penyayang, Maha Pengampun! Asalkan kita memang benar-benar mau bertobat dan memperbaiki kesalahan kita, Allah pasti memaafkan. Kenapa sih Kak, nanyanya kok gitu? tanyaku.

Tanpa menjawab pertanyaanku, kak Fara bertanya lagi.

Fa, bagaimana menurutmu tentang seseorang yang hamil di luar nikah?

Astagfirullah, apakah? hentikan pikiran-pikiran burukmu Farhah! Dosa bersyu`udzhon terhadap orang lain! bisik sisi lain hatiku, mengingatkan!

Ya jelas sekali itu dosa Kak, berzina itu kan dosa besar, bukankah allah menghendaki adanya pernikahan untuk menghindari hal itu? Makanya dalam agama Islam itu nggak ada yang namanya pacaran! sekilas aku mencoba menangkap ekspresi wajahnya yang menatap hampa langit-langit kamar.Seperti ada beban berat di wajah ayu itu. Ah Kakak ada apa denganmu? Jangan membuatku takut.

Lalu, bagaimana dengan anak yang dikandungannya, apakah ia anak haram? Apakah ia akan ikut menanggung dosa ibunya? tanyanya lagi tanpa menatapku, tatapannya tetap lurus, hampa!

Tidak Kak! Seorang bayi yang lahir dari rahim seorang pelacur sekalipun! Ia tetap lahir dalam keadaan suci, tanpa dosa. Dia tidak akan ikut menanggung dosa ibunya, dosa ibunya adalah untuk ibunya. Hanya saja,mungkin karena caranya yang haram, sehingga terkadang si bayi itu seperti terbelenggu dalam kata-kata itu. Aku jawab saja pertanyaan kak Fara semampuku dan setahuku.

Aduh, kak Fara kok nanyain hal ginian sih! Aku kan kurang faham tentang hal-hal seperti itu.

Tapi masyarakat luar biasanya, belum selesai ucapan kak Fara, aku langsung memotongnya.

Allah Maha mengetehaui, walau masyarakat mencap bayi itu anak haram, tetapi dia tetap bayi mungil yang tak berdosa, dia hanya korban kesalahan orang tuanya.

Ada apa sih Kak? Kok nanyain yang kayak gitu sih, jadinya aja Fa kayak yang sok tau banget? tanyaku.

Nggak Fa, kak Fara Cuma pengen nanya aja kok! Sebenarnya kamu beruntung sekali dititipkan sama nenek, Fa!

Lho!? tanyaku heran.

Ya, disana kamu lebih diperhatikan, nenek pasti menggemblengmu dengan nila-nilai agama yang kuat, buktinya kamu sudah mau berjilbab sekarang, satu hal yang mama dan kak Fara belum lakukan. Sedang kakak ucapannya terputus, sesaat terlihat kakak menarik nafasnya berat, kulihat mata yang lelah dan sarat akan beban itu mulai berkaca-kaca.

Kakak di sini seperti sendirian, mama dan papa jarang sekali ada di rumah, mereka seperti tidak menyadari masih ada kakak di sini yang membutuhkan mereka, perhatian dan bimbingan mereka. Kakak melanjutkan ucapannya diantara isak tangisnya.

Aku tertunduk mendengar pernyataan kakak, benarkah aku lebih beruntung dibandingkan kak Fara? Padahal sebenarnya aku justru merasa terbuang, tersisihkan! Sejak kecil aku diasuh nenek karena mama merasa kelahiranku akan menyebabkan kariernya terganggu,bahkan mama sempat akan menggugurkanku waktu itu tetapi nenek melarangnya dan berjanji untuk mengurusku.Aku juga yakin waktu itu, kak Fara pasti lebih sering diurus oleh mbok Iyah dibandingkan mama. Dan papa? Papa malahan mendukung karier mama waktu itu, bukannyamengingatkan mama akan kewajibannya yang lebih penting.

Aku jadi teringat kata-kata nenek yang bijak dan penuh kasih sayang menyadarkanku apabila aku mulai bersyu`udzhon pada mama dan papa.

Mungkin mata dan hati kedua orangtuamu masih dibutakan oleh hal-hal yang bersifat duniawi, bersabarlah dan jangan pernah lelah untuk berdoa agar hidayah Allah datang membukakan mata dan hati orang tuamu Fa! bijak sekali kata-kata nenek waktu itu.

Ah, nenek yang baik bahkan Allahpun menyayangimu sehingga Dia memanggilmu untuk kembali padanya dan aku kembali pada mamaku, beberapa bulan yang lalu.

Plak!! Ya, Allah aku tersentak dari lamunanku, kakak! Aku berlari menuju kamar kakaku, kulihat kakak duduk bersimpuh di lantai dengan berurai airmata, dari sudut bibirnya mengucur darah. Sedangkan aku hanya bisa mematung di sisi pintu tanpa bisa berbuat apa-apa dan sepertinya mereka tidak menyadari kehadiranku.

Gugurkan kandungan itu, Fara! Jangan bikin Mama dan Papa malu! bentak papa.

Jangan Mah, Pah! Fara mohon, Fara mengaku salah, Fara menyesal! Tapi, jangan menyuruh Fara menggugurkan kandungan ini ,Fara mohon, jangan biarkan Fara terjerumus dalam dosa yang lebih besar!pinta kakakku memelas, wajahnya pucat sekali.

Tahu apa kamu tentang dosa? Anak durhaka! plak!! kali ini mama yang melayangkan tamparannya.

Cukup Ma, Pa! Jangan bersikap tidak adil! Walau bagaimanapun anak yang dikandung kak Fara adalah darah daging mama dan papa juga, berbelas kasihanlah kak Fara telah menyesali perbuatannya! Ucapku sambil menangis.

Fa, kamu mama sepertinya kaget melihatku, tapi kemudian melanjutkan ucapannya ke kak Fara Baiklah, m mungkin ini juga kesalahan kami karena kurang memperhatikanmu, tapi ingat! Kalau anak itu lahir, masukkan ia ke panti asuhan, atau bagaimanapun caranya papa sama mama nggak mau tahu!ucapan mama sudah mulai melunak tapi sikap keras kepala dan angkuhnya belum hilang.

Ya! Sama seperti yang mama dan papa lakukan ke Fa! kata-kata itu terlontar begitu saja.

Apa maksudmu Fa? tanya mama kaget mendengar ucapanku.

Ups! ya allah, kenapa kata-kata itu terlontar begitu saja? Terlanjur, lebih baik kuteruskan saja ucapanku mudah-mudahan papa dan mama mau mengerti.

Ya! menitipkan Fa ke nenek, bukankah itu secara tidak langsung menunjukkan kalau Mama tidak pernah menginginkan Fa, Mama menganggap kelahiran Fa akan menghambat karier Mama, dan Papa? Papa malahan mendukung Mama. Dimana Papa dan Mama saat Fa butuh mama, butuh Papa!? Apa yang harus Fa jawab saat teman-teman Fa menanyakan kenapa Fa tidak tinggal dengan orangtua Fa? Aku tak bisa menahan diriku lagi, tangiskupun meledak.

Kakak menghampiri dan memelukku, kami berdua salin bertangisan. Mama dan papa terdiam membisu, entah apa yang ada dalam benak mereka saat itu. Ketika emosi dan tangisku mulai mereda, aku melanjutkan ucapanku.

Maafin Fa sudah mengucapkan kata-kata yang kasar, Fa yakin sebenarnya Papa dan Mama sayang sama Fa, buktinya Papa dan Mama tidak menitipkan Fa ke panti asuhan tetapi menitipkan Fa ke nenek, orang yang begitu baik dan bijak, yang mengajari Fa tentang banyak hal. Mama dan Papa juga selalu mengirimi uang untuk kebutuhan Fa, menengok Fa , walaupun itu hanya lebaran waktu lebaran saja..Tapi, bukan itu yang Fa inginkan, yang Fa inginkan waktu itu Mama, Papa dan kak Farah! ucapku, kutatap dua orang yang kukasihi itu. Mereka tetap diam, lalu papa meninggalkan kami tanpa sepatah katapun diikuti mama.

Tinggallah aku dan ka Fara di kamar itu, kuhapus airmata kak Fara, ku obati luka di bibirnya.

Jangan takut kak, Fa akan selalu sayang sama Kakak ! ucapku.

Kak Fara tersenyum menatapku terima kasih Fa, maafkan Kakak! ucapnya lirih, dipeluknya aku dengan penuh kasih. Ya Allah, berilah kami kekuatan untuk menghadapi cobaan ini.

*** *** ***

6 bulan telah berlalu, kandungan kak Fara sekarang sudah memasuki bulannya. Kak Fara sendiri terlihat lebih dewasa sekarang, dia tampak begitu tegar menghadapi gunjingan orang-orang tentangnya, apalagi setelah mas Andra orang yang menghamilinya lepas dari tanggung jawab dengan alas an ingin menyelesaikan kuliahnya ke luar negeri.Huh! pengecut sekali dia, dia menyampaikan keputusannya tersebut hanya melalui sepucuk surat tanpa alamat, mas Andra menghilang tanpa kabar berita. Papa dan mama pasrah , mereka tidak berusaha mencari tahu alamat mas Andra melalui kedua orangtuanya karena kak Fara melarangnya. Kak Fara sudah pasrah, biarlah ketulusan dan kesadaran yang akan membawa mas Andra kembali pulang. Jawabnya, ketika mama dan papa menanyakan alasannya.

Banyak makna yang lahir dari peristiwa ini, sepertinya Allah memberikan hidayah-Nya kepada mama dan papa melalui peristiwa ini.Ah, tiba-tiba saja aku jadi teringat kata-kata nenek tentang hidayah Allah. Inikah jawaban Allah atas doa-doaku?

Hidayah itu datang Nek, meski melalui airmata dan amarah.

Sekarang mama dan papa sudah mulai bisa menerima kenyataan, mereka tampak tabah sekaliu dengan gunjingan-gunjingan orang-orang di sekitar mereka. Mamapun dengan ikhlas memutuskan unutuk menghentikan kariernya manajer pada sebuah perusahaan swasta dan lebih memilih tinggal di rumah merawat kak Fara dan kandungannya yang sudah besar. Tak jarang kulihat mama dan papa menangis setelah shalat berjamaah. Tak jarang pula aku melihat kak Fara dengan kandungannya yang besar menangis diatas sajadah diantara shalat malamnya.

Terdengar lantunan ayat suci Al-Qur’an dari kamar kak Fara, sebenarnya kak Fara pintar sekali mengajinya, mbok Yah selalu mengajarinya sejak kecil. Tapi tunggu dulu sepertinya itu ya! Itu surat Maryam, jangan-jangan aku tersenyum, pasti seorang bidadari yang akan lahir di rumah ini. Karena semasa kehamilannya, kak Fara sering sekali melantunkan surat itu, mungkin saja itu suatu pertand. Ah, entahlah karena hanya Engkau yang Maha Mengetahiu segalanya.

Tok!tok!tok! aku mengetuk pintu kamar kak Fara.

Masuk! suara dari dalam menyahut ketukanku.

Assalamu’alaikum? sapaku sembari melongokkan kepalaku dari balik pintu.

Wa’alaikumsalam! jawab kak Fara, kak Fara terlihat cantik sekali dalam balutan mukenanya itu. Akupun masuk dan duduk di sampingnya.

Sudah selesai, kak? tanyaku.

Sudah! jawabnya.

Fa!

Ya kak! jawabku.

Benarkah apabila seseorang meninggal ketika ia melahirkan , itu syahid? aku ternganga mendengar pertanyaannya.

Fa! sapa kak Fara lagi, mengagetkanku yang masih keheranan mendengar pertanyaanya.

Ehiya, kak?tanyaku.

Kok, kayak yang heran gitu sih? Pertanyaan kakaknya jawab dong! seru kak Fara sembari tersenyum.

Eh, maaf kak! Habis kakak nanyanya gitu sih! sahutku, tapi kemudian akupun melanjutkan ucapanku untuk menjawab pertanyaan kak Fara, ya, itu memang benar sekali kak!

Meskipun orang itu tidak bersuami? tanyanya lagi. Aku semakin keheranan mendengar pertanyaan seperti itu, tapi segera saja ku jawab pertanyaan itu.

Percayalah kak, Allah itu Maha Mengetahui, lautan ampunan bagi orang-orang yang benar-benar mau bertobatjawabku.

Kakak tersenyum mendengar jawabanku, Ia menghampiri, memeluk dan mencium keningku.

Seminggu kemudian, kak Fara melahirkan bayi perempuan yang cantik.Namun karena perdarahan yang hebat, kak Fara meninggal setelah dirawat di rumah sakit selama beberapa hari. Sebelum meninggal kak Fara sempat mengucapkan beberapa patah kata.

Zahrah Nurjanah namanya, semoga ia menjadi bunga dan cahaya surga bagi rumah kita. Fara titip Zahrah Mah, Pah dan Fa, jadilah umi bagi Zahrah! Maafkan Fara ya Mah, Pah, Fa setelah mengucapkan dua kalimat syahadat kak Fara menghembuskan nafasnya yang terakhir diiringi isak tangisku, Mama, dan Papa.

Selamat jalan kak Fara, semoga Allah SWT menerima kakak di sisi-Nya.

*** *** ***

5 tahun kemudian

Ummi!

Aku menoleh, sesosok tubuh munggil berdiri di belakangku.

Ya, sayang?sahutku

Zahra lapar! rengeknya manja.

Aku tersenyum, kuhampiri ia, kupeluk erat tubuh mungil itu, kutatap wajahnya yang bersih. Ia mirip sekali denganmu, kak!.

Ketika Zahrah berumur dua tahun, mas Andra datang. Ia begitu menyesali perbuatannya apalagi setelah mengetahui kakak talah meninggal, ia terlihat begitu menyesal.Lalu dia meminta izin untuk merawat Zahrah tetapi mama dan papa tidak mengizinkannya. Apalagi saat itu Zahra kecil terlanjur menganggap akulah uminya, ia tidak akan mau dijauhkan dariku.

Entahlah, mungkin inilah yang disebut kebesaran Allah, 1 minggu setelah kedatangannya yang pertama, ia datang lagi dengan kedua orangtuannya. Dan dia, dia melamarku kak! Ya Allah, aku kaget sekali waktu itu, waktu itu umurku baru 20 tahun! Masih semester lima!Namun setelah berunding dan shalat istikharah akhirnya aku menerima lamaran itu, tanpa harus menghentikan kuliahku. Meskipun sebenarnya, masih ada ganjalan dibenakku apabila mengingat apa yang telah diperbuat mas Andra terhadap kakak, tapi mungkin inilah jalan yang diberikan Allah untuk kebaikan Zahrah dan masa depannya, inilah cara Allah untuk mendekatkan Zahrah dengan ayah kandungnya. Mudah-mudahan ini adalah pertanda bahwa Allah telah benar-benar menerima permohonan kakak, mengampuni kakak.

Sekarang sudah 3 tahun aku berumah tangga dengan mas Andra, dan baru saja menyelesaikan kuliahku. Alhamdulillah, meskipun tidak cum laude, karena hampir seluruh waktuku adalah untuk si kecil dan kehidupan rumah tanggaku.

Mas Andra juga sudah banyak berubah, sekarang ia tampak lebih dewasa, bahkan dia telah banyak membimbingku dalam berbagai hal. Mungkin ia telah banyak belajar dari pengalamannya, dia benar-benar melakukan peranannya sebagai ayah dan suami yang bertanggung jawab.

InsyaAllah, kami berdua akan merawat dan menjaga Zahrah dengan baik, kak!

Kututup diaryku, ku tatap dua orang kesayanganku yang sedang tertidur pulas di sampingku.Subhanallah, Maha Besar Allah semoga ini adalah untuk selamanya. Aku beranjak dari tempatku untuk mengambil air wudhu, untuk menutup sebagian malamku dengan shalat.

Demi semesta, puisi siapa ini?

Cerpen Pinang

Maka dengan kekecewaan yang bertubi-tubi karena mendapati pintu-pintu kuil tak mau membuka diri untuknya, akhirnya rahib muda itu memutuskan untuk bersamadi di sebuah gua kecil tak jauh dari sebuah kuil yang amat megah.

Hiruk-pikuknya terdengar jelas dari gua tempat sang rahib menekur batin. Lalu mulai dibayangkannya seorang Chinmi, tokoh rahib rekaan di buku komik yang sering dibacanya. Direka-rekanya sendiri gerak-gerik, direka-rekanya sendiri jurus-jurus. Teriakan-teriakan dan terkadang gerakan-gerakan para biksu sakti di kuil itu yang sesekali diintipnya dikala senggang, diterjemahkannya sendiri dengan kamus yang disusunnya sendiri. Namun sakit hatinya tak kunjung reda juga.

"Ah biarlah sakit kecewa ini menjadi sarapanku setiap pagi, obatku ketika luka, dan selimut tidur malamku," rahib muda itu selalu menghibur diri, saat ubun-ubunnya terbakar kompor, saat kecemburuan tak lagi dapat ditanggungnya terhadap rahib-rahib lain yang begitu mudah menemukan sang guru.

Maka rahib itu pun tertidur. Tak nyenyak pula. Bergeragap beberapa kali ia, terbangun oleh kata-kata yang tiba-tiba meledak-ledak tak terkendali. Satu atau dua saja setiap kali. Antara sadar dan tidak, diraihnya sebatang arang dan ditoreh-torehkan kata-kata itu di dinding gua. Hingga suara ayam hutan melengking (ayam hutan tidak berkokok melainkan melengking seperti jeritan gajah, atau angsa putih, dengan lengkingan panjang) membangunkannya.

Terkejut matanya melihat dinding guanya tiba-tiba terpampang sebuah puisi.

"Demi semesta, puisi siapa ini?"

Lalu samar-samar ingatannya mulai berkumpul. Maka seuntai senyum mulai tercoret di garis mulutnya, setelah sekian lama. Tak sabar ingin ditunjukkannya karya besarnya yang pertama itu (coretan-coretan sampah yang lalu telah dibersihkannya dari dinding gua) kepada biksu kepala di kuil.

Berhari-hari berkali-kali dibujuknya tukang sapu kuil agar mau menyampaikan suratnya kepada biksu kepala. Dan setiap kali pula dia bertanya, "Sudahkah sang biksu ada waktu untukku?" Dan gelengan tukang sapu itu pun menarikan kekecewaan baru.

Dalam lapar dan kesepian ia pulang ke gua. Terkejut dia melihat sepucuk surat di atas lempeng batu, perabot satu-satunya di gua itu, tempat ia biasa menulis-nulis dengan arang kayu, makan, tidur, bersamadi, dan berlatih olah gerak. Surat itu bersampul kertas mahal dari serat jerami nomor satu lengkap dengan stempel emas sebagai segelnya. Tertulis di sana, "Kepada Rahib Muda di Gua Kecil Sebelah Kuil---Dari Semesta."

Tak sabar dibukanya sampul itu dan selembar kertas wangi melambai keluar. Dibacanya surat satu lembar itu.

Kosong.

Kamar Dekat Jemuran Handuk

Cerpen Dewabrata

Jonathan keluar dari kamarnya, dengan mata yang tidak pernah tersapu cahaya selama 9 jam. Ia berjalan menuju kamar mandi, yang kebetulan tidak jauh, dengan langkah gontai.‘Oh, matahari! Mengapa engkau sudah siap meneriakkan terikmu? Aku masih lelah,’begitu kesah Jonathan dalam hati. Ungkapan yang keluar atas desakan keluhnya.

Menuju kamar mandi, ia melewati ruang dimana seorang perempuan dewasa menyajikan hidangan cepat untuk dinikmati orang-orang seisi rumah. Jonathan tidak terlalu memperhatikan wanita itu. Ia sedang berusaha keras membuat keluhnya terdiam.

Jon, habis mandi kamu makan yah! Tante sudah menyiapkan nasi goreng buat kamu, ucap wanita.

Ah, tante! Tante memang tiap pagi masak nasi goreng, balas Jonathan. Ia seperti sudah terbiasa dengan basa-basi tantenya.

Sebelum ke kamar mandi, Jonathan mengambil handuk yang dijemur sedikit di luar ruangan, tidak jauh dari kamar mandi. Ketika hendak mengambil, tiba-tiba ia terhenyak. Matanya agak terbelalak, bukan karena apa yang ia lihat, tetapi karena apa yang ia dengus. Anyir yang menerabas bulu-bulu hidungnya, dengan kasar mengusik pernafasannya. Bau yang sangat menyiksa. Jonathan lantas memberi kesimpulan bau itu dari ruangan tidak jauh dari situ. Ruangan yang dimaksud memang terkunci sejak sekian lama. Dulu itu pernah digunakan, entah untuk apa.

Jon, gantian mandinya!

Iya! ucap Jonathan singkat. Jonathan menjawab ucapan seorang pria berusia 40 tahunan. Pria itu adalah suami perempuan yang sekarang sudah selesai menyajikan sarapan.

Jon, sepertinya kamu nanti pulang lebih awal. Dosen-dosen mau rapat siang nanti. Kamu nanti ada mata kuliah tante kan? ucap perempuan di seberang Jonathan. Tiga orang penghuni rumah kini sedang menyantap sarapan, menyerap energi untuk tubuh mereka masing-masing. Bibi Jonathan adalah dosen di tempat ia kuliah. Dan perkembangan yang terjadi selalu dibicarakan kepada Jonathan.

Eee ... ya. Wah, asik pulang cepat, ucap Jonathan sedikit girang. Oyah, tadi waktu aku mengambil handuk, aku diganggu bau bangkai. Ahh ... gak tahan deh! Ntar, aku cari deh dan aku buang sekalian.

Oh, itu. Mungkin dari gudang. Udah, paling bangkai tikus. Kamu biarin aja biar tante yang buang nanti.

Udah, biar aku aja gak apa-apa kok, ucap Jonathan hendak menawarkan kesediaan.

Sudahlah, kamu santai saja. Nanti tante bisa suruh Mang Dayat, balasnya. Mang Dayat adalah tukang kebun di rumah itu. Keluh di hati Jonathan seperi kegirangan mendengar ini. Baginya akan ada waktu lebih untuknya bermalas-malasan.

Oya yah, Mang Dayat ke mana sih? Udah tiga hari nggak masuk, ucap pria di sebelah wanita.

Katanya sih sakit. Nggak tahu sakit apa, jawab istrinya.

Mereka melanjutkan santap pagi mereka. Obrolan-obrolan berlangsung dengan ringan, demi membunuh kesunyian pagi di kala mereka makan. Sebuah pemandangan yang begitu biasanya terjadi di tengah penghuni rumah ini. Setelah makan, dan semua beres mereka meninggalkan rumah dalam keadaan kosong, menuju lahan mereka masing-masing.

***

Kunci pintu depan terlepas. Seseorang telah tiba mengisi kehidupan di rumah yang beberapa waktu lalu sunyi. Yang datang adalah penghuni termuda. Ia masuk rumah dengan gerakan cepat, seperti ada sesuatu yang ingin cepat dilakukan. Dering telepon yang membuat tubuhnya bergerak dengan tergesa.

Halo!

Jon, ini tante. Kamu sudah pulang yah? Bisa tolong tante gak? suara bibinya.

Tolong apa?

Eee ... di meja depan televisi ada segerendel kunci. Tolong kamu antar ke sini yah! Tante, masih ada rapat ni.

Ya, tunggu saja, jawab Jonathan.Ia sudah dua tahun tinggal di rumah ini. Berkat‘jasa’tantenya ia bisa diterima di universitas pilihannya. Dan ia memutuskan tinggal bersama tantenya, menurutnya lebih hemat. Kebetulan juga universitas itu tidak jauh. Bisa dicapai dalam waktu lima belas menit kalau berjalan kaki.

Belum lama telepon ditutup, telepon itu berdering lagi. Sejenak Jonathan mengira itu bibinya lagi, mengungkapkan sesuatu yang terlupa. Namun mendengar suara laki-laki di seberang sana, Jonathan berpikiran lain.

Jon, kayaknya ada masalah ...

Bim, kabar lo gimana?Lomaungomonginuang yah?

Iya Jon, begini ...

Kos kamu nggak jauh kan? Kamu datang aja. Nggak perlu lewat telepon ngasitaunya. Oke?

Tapi .... dan ia tidak sempat melanjutkan. Jonathan tahu bahwa ada yang tidak beres. Oya, ada yang terlupakan. Jonathan biasa menambah uang sakunya dengan menjual narkotik. Bisnis gelap. Dan pemuda sebayanya yang bernama Bimo adalah salah satu‘pasien’, yang kelihatannya punya masalah dengan Jonathan.

Tidak lama berselang sang‘pasien’datang. Jonathan menyambut dengan senyuman, meski ia sudah menangkap sinyal ketidakberesan. Di tangannya tergenggam secangkir kopi yang sudah mau habis.

Oh, gimana Bim? Pertanyaan singkat namun membuat hati Bimo seakan habis dikagetkan guntur.

Mmm ... anu ... aku belum bisa bayar. Ada masalah keuangan kampus. Lagipula bapakku ...

Udah ... kamu nggak perlu nerangin apa-apa, potong Jonathan. Gak ada gunanya, toh kamu tetap belum bisa bayar. Gini aja ... kita bicarain gimana kamu ngelunasinya. Masuk aja dulu!

Sang’pasian’masuk dengan hati diliputi awan kekhawatiran. Sikap santai sang‘dokter’tidak mengurangi kengeriannya. Ia kenal Jonathan. Selalu santai, tetapi ia seperti memendam neraka di hatinya dan sewaktu-waktu neraka itu akan pindah ke dirinya.

Sang‘pasien’terduduk dengan galau masih merangkulnya erat. Sang‘dokter’menghirup, menghabiskan kopi dan menaruh cangkir itu di atas meja tamu. Tiba-tiba dengan gerakan yang sangat cepat ia meraih kepala pasiennya dan membenturkan dengan keras ke meja jati di depannya. Darah mengucur deras, kekhawatiran yang beralasan. Sang‘pasien’memegangi hidungnya, dan bergerak entah untuk apa. Kegalauan makin memeluknya dengan sangat erat. Ia panik dan tidak tahu bagaimana mengusirnya. Bayangan demi bayangan melintas, bayangan akan sebuah mimpi buruk.

Kapan kamu mau bayar, heh? ucap sang‘dokter’sambil melayangkan kakinya ke perut sang‘pasien’.

Degup jantung pemuda bernama Bimo makin lama makin kencang, memaksa nafasnya makin keras. Kepanikan ditambah kegalauan yang mencengkram memaksanya melakukan. Lama-kelamaan nafasnya makin tidak teratur. Ia mengambil sesuatu dari kantong celananya. Dengan cepat Jonathan merebutnya.

Oh, kamu asma. Hmm ... kamu sadar gak si kalau drugs gak bagus buat penyakitmu? jawab Jonathan santai, tidak peduli bahawa inhaler itu sangat dibutuhkan Bimo.

Jonathan mengambil cangkir yang sudah tidak menyisakan apa-apa dan menuju dapur. Sementara inhaler tetap ia bawa. Bimo bernafas seperti orang yang dilelapkan di bak penuh air, dan Jonathan sama sekali tidak peduli. Ia memang dengan sengaja menyiksanya.

Oya, karena kamu belum bisa ngomong, nanti kamu kasi tahu kapan kamu bayar ya? ucap Jonathan sejenak menghentikan langkahnya menuju dapur.

Jonathan menuju kran tempat mencuci sebelum meracik kopi. Ia membersihkan ampas-ampas sisa kopi yang tadi. Dengan santai Jonathan membuka toples berisi kopi. Satu sendok cukup. Ia lalu mencampurnya dengan lima sendok gula. Uap lalu mengepul ketika ia membuka thermos. Dan yang paling Jonathan suka adalah saat ia menuangkan air panas ke dalam cangkir. Ia senang melihat kopi gula yang larut begitu cepat ketika air panas itu membasahinya. Setelah Jonathan menuang air dingin, ia mengaduk lalu menghirup perlahan.

Bimo tampak tidak bergerak. Dokternya datang, berniat mendiagnosa lagi.

Oh, kayaknya kamu sudah bisa ngomong, ucap Jonathan sambil perlahan menghirup kopinya. Tidak lama ia melempar inhaler dan jatuh tepat di tubuh Bimo. Ia menghirup lagi kopinya.

Jadi kapan kamu mau bayar? Bimo tidak menjawab. Okelah, gini aja ... sampai minggu depan kamu nggak bayar, kamu bisa membayarnya untuk rumah sakit. Setuju gak? Sekali lagi Bimo tidak menjawab.

Setuju gak? Jonathan berteriak lebih keras. Tidak dijawab, ia kesal. Lalu ia menaruh cangkirnya di meja dan mecengkram tubuh Bimo. Namun ketika melihat wajah Bimo, ia seperti menatap cahaya yang sangat menyilaukan. Ia ingin terpejam, namun syarafnya tidak menginginkan. Kegagetannya memaksa untuk tetap mendelik, melihat kenyataan yang terjadi.

Wajah Bimo tidak lagi memancarkan aura kehidupan. Ia mati dengan mata terbelalak. Asmanya sudah pada tingkat yang mengkhawatirkan hingga kejadian tadi membuatnya tidak bisa bertahan. Melihat Bimo tidak bernyawa, Jonathan lemas. Ia membaringkan tubuhnya sejajar dengan Bimo. Ia pucat pasi, sekilas orang yang sempat melihat ini seperti melihat dua mayat yang terbujur lunglai.

***

Menit demi menit terbuang. Sementara itu Jonathan masih lemas. Lalu ia terbangun. Pelan-pelan ia berdiri, menatap mahakaryanya yang sayu tanpa jiwa.

Dewa kematian, ternyata engkau tadi datang tanpa kuundang. Seharusnya engkau berterima kasih padaku telah menjadi sabitmu, mencabut nyawa anak malang ini, Jonathan berucap seolah ada yang mendengarnya.

Jonathan lalu sadar bahwa pamannya akan pulang dalam waktu tidak lama. Tentu ia tidak ingin melihat mayat Bimo.

Oh panik, bisakah kau diam! Aku ingin bertindak tenang tanpa kau usik. Sekejap matanya menangkap sebuah benda yang teronggok di atas meja depan televisi. Segrendel kunci yang seharusnya ia beri ke tantenya. Sekarang ia ingat. Setahunya kunci itu pernah dipakai tantenya untuk membuka kamar di dekat jemuran handuk. Ini tidak mungkin salah. Otaknya memberinya ide untuk menyembunyikan Bimo malang ke dalam situ sementara.

Oke Bimo, kamu tidur di tempat lain saja, ucapnya. Ia lalu mengambil segrendel kunci itu lalu mencengkram kedua tangan mayat itu dan menyeretnya.

Di depan kamar, tiba-tiba Jonathan ingat lagi akan anyir yang menyengat yang keluar dari kamar itu dengan beringas hendak menggangu nafasnya. Jonathan menutup hidungnya dengan kerah kemejanya. Tangan kanannya merogoh saku celananya, mengambil segrendel kunci. Satu persatu kunci dicoba dan benar dugaannya. Salah satunya mampu melepas kunci kamar itu. Ketika dibuka, bau busuk itu semakin menggila. Dan selain bau, udara yang sangat pengap dari kamar itu juga membuat mata Jonathan perih. Ia tidak tahu dan tidak mau tahu apa yang membuat anyir ini begitu kuat.

Jonathan menyeret masuk tubuh tak bernyawa. Ia tidak bisa membayangkan apa jadinya kamar ini ditambah mayat baru ini. Makin lama Jonathan makin tidak tahan. Ia melepas seretannya dan cepat-cepat keluar. Tidak tahan dengan rasa mual itu, ia muntah begitu saja, sementara mayat itu masih setengah masuk. Dengan deras apa yang telah disantapnya dan sempat berdiang di lambungnya keluar melewati mulutnya.

Selesai muntah, ia berjalan menjauh dan terduduk lesu. Ia benar-benar tidak mau tahu asal bau busuk itu. Wajahnya pucat dan matanya sayu. Kesegaran seolah telah terkuras keluar bersama dengan muntahannya.

Jon, om pulang! suara pria dari kejauhan mengagetkan Jonathan. Pertama ia menganggap itu biasa, namun melihat mayat masih setengah masuk, ia panik. Dengan sisa-sisa tenaga yang ada ia berlari ke kamar itu. Tanpa peduli ia menembus kabut anyir yang menyelimuti kelam di depannya. Ia mendorong kaki Bimo, namun seperti tertahan sesuatu. Lalu dengan paksa ia menutup pintu, dan ia berhasil. Entah bagaimana posisi Bimo di dalam sana.

Jon, kamu sedang apa?

Enggak, cuma lewat doang. Pintu sudah tertutup ketika Jonathan mengatakannya. Om pulang lebih cepat.

Lho, memang saya biasa pulang jam berapa?

Basa-basi Jonathan dibalas mentah, seperti yang sering ia lakukan setiap kali paman dan bibinya berbasa-basi. Ia lalu meninggalkan kamar itu, menjauh dari sengatan anyir.

Jon, itu apa?

Jonathan sontak kaget. Perasaannya mengatakan bahwa kamar sudah tertutup, bagaimana pamannya bisa melihat. Kontan ia bergerak menuju kamar, mencoba menghalangi pamannya mendekati kamar. Lanjutnya, Nggak, ini kan ...

Itu apa di depan pintu ... kamu habis muntah ya?

Oh, iya ... sejenak Jonathan lega. Iya, tadi aku tidak tahan sama bau ini.

Kamu bersihin sana!

Iya ... iya! Jonathan bergegas mengambil pel. Belum sempat ia menuju tempat muntahan,seseorang memanggilnya.

Jon, kunci yang tante minta mana?

Suara itu bagai petir menggelegar. Ia lupa sesuatu. Tentu semua yang memahami masalah ini dan mendukung Jonathan tidak menganjurkannya untuk memberikan kunci yang dimaksud.

Tan, aduh tadi Jon cari di mana-mana nggak ada tuh.

Lho, bukannya ada di meja depan televisi?

Iyah, nggak ada juga. Tante nggak rapat?

Istirahat setengah jam. Nanti dimulai lagi. Ya udah kalo gitu. Tadinya tante mau mencari bangkai di kamar itu sore ini. Tapi ya sudahlah, besok saja. Kalau tidak ketemu, yah buka paksa saja, ucapnya santai. Kalau gitu tante pergi lagi ke kampus.

Oke, jawab Jonathan. Ia punya waktu satu hari untuk membereskan kecerobohannya. Melihat bibinya pergi, Jonathan bergegas menuju kamar dimana Bimo berdiang. Ia hendak menguncinya, karena ia sadar itu belum terkunci, setelah ia mnegepel muntahannya.

Jonathan mencoba menguncinya, tetapi mengalami kesulitan dengan itu. Ia merasa ada yang mengganjal, mayat Bimo pada posisi yang tidak benar. Jonathan lalu membuka pintu dan kembali merasa sangat tersiksa dengan anyir yang makin merebak.

Jonathan menggantung kerah kemeja di hidungnya, sementara tangannya mereposisi mayat Bimo. Selagi melakukannya, ia menemukan sesuatu. Sebuah karung goni yang sesak entah oleh apa. Jonathan melihat benda itu sepertinya penyebab bau yang menyengat. Jonathan penasaran. Ketika mendekati karung itu, ia yakin bahwa inilah yang membuat isi lambungnya lari dari tempatnya berdiang. Baunya semakin menusuk, ia terpaksa menggunakan tangan kanannya untuk menutup hidungnya.

Jonathan melihat darah, yang sudah tidak segar lagi menempel di karung itu. Tangannya meraba karung itu, mencoba membukanya. Ketika jawaban akan didapat, tiba-tiba ia merasa seolah palu godam menimpa lehernya. Hentakan yang sangat keras hingga begitu saja dunia mimpi menghampirinya. Di tengah buaiannya ini, pikiran Jonathan otomatis memberitahunya bahwa kiprahnya berakhir.

***

Apa yang Ibu lakukan adalah tindakan benar, ucap seorang pria berbadan tegap. Ia adalah seorang polisi. Dari kantornya bisa dilihat bahwa ia adalah seorang perwira yang memiliki kuasa di tempat itu.

Tadi saya kaget karena keponakan saya sibuk dengan orang yang terbaring di depannya. Saya curiga, lalu saya perhatikan dari jauh, ternyata itu sebuah mayat. Saya takut, lalu ia saya pukul dari belakang dengan sapu sampai pingsan, ucap perempuan yang duduk di seberang polisi itu. Perempuan itu adalah bibi Jonathan, dan pamannya duduk di sampingnya. Sedangkan Jonathan sendiri ditahan di tempat lain.

Saya tidak menyangka keponakan saya bisa bertindak seperti itu, ucap paman Jonathan. Perasaannya sejak mengetahui kejadain ini selalu dilingkupi keheranan.

Iya,memang kadang ada orang yang di depan kerabatnya tidak menunjukkan bahwa ia adalah kriminal, ucap polisi itu seolah menyadarkan paman Jonathan.

Lalu bagaimana masa depannya? tanya bibi Jonathan.

Oh, itu. Itu nanti diputuskan pengadilan. Tetapi melihat bukti yang ada ia tidak mungkin lepas dari jerat hukum, jawab polisi itu. Lanjutnya, Yah, tetapi sangat disayangkan anak semuda itu akan mendekam lama di penjara. Apalagi setelah ditemukannya karung yang isinya sisa mutilasi. Tadi ada laporan bahwa karung itu berisi anggota tubuh dari lima orang yang berbeda. Kami sedang menyelidiki keberadaan potongan lainnya dari keponakan anda. Yah, kalian beruntung tidak menjadi sasarannya.

Bibi dan paman Jonathan sejenak lega dengan kalimat akhir polisi itu, namun sepertinya terlihat bahwa mereka khawatir dengan masa depan Jonathan. Bisa saja keponakan mereka divonis penjara seumur hidup, atau lebih mengerikan lagi, hukuman mati.

Gadisku Yang Kampungan

Cerpen Rini

Kopi panas terhidang cepat di hadapanku. Uapnya mengepul menghantam hidungku. Panas, tapi harum. Kusambar sepotong bakwan dari piring tak jauh dariku. Pancaran petromaks semakin samar. Tidak biasanya warung kopi ini begini sepi. Hanya ada aku dan seorang laki-laki berwajah lelah yang masih tekun menyantap indomie rebusnya.

Alunan suara Iis Dahlia terdengar lamat-lamat dari radio tua sang empunya warung kopi. Lirik-lirik sendu menghujat cinta itu kudengar dengan sabar. Begitu pahitkah cinta? Kuseruput kopi panas itu perlahan. Aromanya menusuk hidung. Masih panas.

Angin menghembus pelan. Dingin. Kurapatkan kemeja flanel tebalku. Beberapa malam ini memang dingin sekali. Hujan datang tak pernah permisi. Kunyalakan rokok untuk mengusir dingin. Angin masih saja berhembus pelan tapi dingin. Bapak tua sang empunya warung memompa petromaks yang sinarnya semakin temaram. Sebentar kemudian petromaks itu langsung menyala terang sekali. Aku memicingkan mata tidak siap menerima sinar petromaks. Tapi toh lampu petromaks itu cukup membuat warung kopi ini agak hangat.

Kulihatjamdidindingwarkop .Setengah sebelas. Sudah setengah jam aku disini. Dia belum datang juga. Tanpa sadar aku sudah menghabiskan tiga batang rokok. Kemana dia? Kucoba buang waktu mendengarkan lirik-lirik kepasrahan luar biasa dari radio tua itu. Cinta masih sangat pahit.

Kudengar suara tawa dari kejauhan. Makin lama makin dekat. Ramai sekali. Tak lama muncullah dia dari gelap jalan setapak di dekat warkop itu, bersama tiga orang yang lain.

Senyumku mengembang. Dia langsung menghampiriku dan memelukku dari belakang. Manja. "Udah lama ya, Bang?" tanyanya dengan suara manja yang sangat dibuat-buat, tapi aku suka. Aku hanya mengangguk sambil mengecup lengannya yang melingkar di pundakku. "Maaf ya, Bang. Habis si Umar pakai acara ke rumah ceweknya dulu sebentar," ujarnya langsung memberikan argumentasi. Aku hanya bisa tersenyum lagi. Tak masalah untuk aku sebenarnya. Tiga orang yang lainnya menyapaku ramah dan langsung mengambil tempat berjajar denganku lalu memesan kopi dan teh hangat.

Dia duduk di sampingku. Tangannya tidak pernah lepas dari pundakku. Sejenak kemudian warkop ini langsung ramai oleh tawa empat orang itu. Entah apa saja yang diobrolkan. Yang jelas seru sekali. Dan sekarang aku tidak kedinginan lagi. Dia merapatkan duduknya ke badanku. Dipeluknya aku erat-erat, hangat. Suara radio mendadak makin keras. Dia menggoyangkan tubuhnya

mengikuti alunan lagu. Kali ini tak ada lirik menghujat cinta. Ternyata cinta tidak selalu pahit.

Kutatap wajah di sebelahku ini. Kelihatan sekali bedaknya yang tebal, gincu merah menyala yang aku yakin dipulas berkali-kali, eye shadow mengkilat di matanya, alis yang dilukis ulang serupa rembulan. Harum badannya menyengat hidungku, mengalahkan aroma kopi panas di sekitar warkop. Sesekali ia juga menatapku malu-malu, lalu tertawa genit sambil mencubit pinggangku. "Ngapain sih lihat-lihat? Naksir ya?" tanyanya manja. Aku mengangguk cepat kalau ia bertanya seperti itu. Kemudian tawanya berderai dari bibir merahnya. Ramai. Ribuan cubitan lainnya langsung mendarat di badanku. Aku terbang.

Kupeluk dia erat-erat selama perjalanan pulang. Tiga temannya tadi memisahkan diri. Jalan gelap itu membuatku semakin mempererat pelukan. Aroma tubuhnya menempel di badanku. Tapi tak apa, aku belom mandi sore tadi. Sampai di pertigaan jalan yang sepi, ia mengajak berhenti. Dia bilang capek. Aku tak percaya sebenarnya, toh kami belum berjalan jauh. Tapi aku turuti saja, tidak ada ruginya. Hari juga belum berganti.

Ia mengajakku duduk di bawah pohon tak jauh dari pinggir jalan. Dia langsung memelukku erat sesampainya disana. Aku tidak berpura-pura bodoh. Kuciumi wajahnya, lalu bibirnya. Gincunya belepotan di bibirku. Dia membantuku menghapus gincu merah di bibirku dengan tissue yang dibawanya. Lalu kami berciuman lagi. Tanganku tak pernah berhenti meraba tubuhnya, mengusap rambutnya. Sesekali kuremas buah dadanya yang montok itu. Ia hanya bisa merintih pelan. Betapa aku senang mendengar rintihannya. Angin membawanya berlari. Alunan lirik-lirik yang menghujat cinta masih terngiang di telingaku. Cinta memang tidak selalu pahit.

Bulan berdarah masih menggantung di sana. Kupejamkan mataku dengan paksa. Tapi kelebat di bawah pohon itu masih terus melintas di otakku. Hari ini memang menyebalkan. Tadi siang aku bertemu lagi dengannya. Dia menungguku di depan gerbang kampus. Riasan tebal di wajahnya tidak bisa menyembunyikan luka. Masih terbayang lebam biru di dekat sudut matanya. Dia hanya menangis ketika aku tanya mengapa. Aku tidak menghiraukan tatapan aneh teman-temanku yang melihat aku memeluknya. Dia menangis di dadaku.

"Bapak tahu tentang kita, Bang." Kata-katanya tersendat-sendat dibalik tangisannya. Aku hanya bisa membisu. "Kata Bapak, aku nggak boleh lagi berani

ketemu Abang." Dia menangis terus di pelukanku. "Kata Bapak, aku nggak pantas buat Abang." Aku bisa rasakan gemuruh di dadaku. Entah apa. Dan gemuruh itu makin menjadi ketika sepasang mata mengawasi dari kejauhan. Aku mengenali mata itu. Mata seorang gadis di masa lalu. Aku tak bisa menahan gemuruh itu. Aku ajak dia pulang.

"Teganya kamu, Yo. Aku nggak pernah menyangka kamu bisa begini. Kurang apa sih aku, Yo? Apa sih yang dia lakukan terhadap kamu sampai kamu bisa seperti ini? Apa, Yo? Kamu dipelet ya?" Dan sebuah tamparan selanjutnya mendarat di mukaku ketika aku jawab kalau aku mencintainya.

"Nemu di mana tuh, Yo?" sebuah pertanyaan hinggap padaku suatu hari dari seorang teman. Aku hanya menjawab dengan senyum. Dan aku hanya bisa menerima tampang-tampang heran mereka.

"Sorry ya, Yo. Tapi kok selera lu tambah parah sih sekarang?"

"Serius tuh, Yo? Itu cewek lu yang baru?"

"Hmm...gimana ya, Yo. Gue nggak tega ngomongnya, tapi ini harus gue bilang juga sama elu. Cewek baru lu kampungan banget sih, Yo? Sorry banget deh kalau gue ngomong begini. Gue cuman mau jujur aja sama lu. Kan lu minta pendapat gue."

Bulan berdarah mulai meleleh. Mataku masih saja tidak bisa terpejam. Semuanya berkelebat cepat. Gemuruh masih ada di dadaku. Tangisan gadisku masih jelas di kepalaku. Gadisku memang kampungan. Dandanannya yang tebal sebenarnya membuat kepalaku pusing waktu pertama kali aku berjumpa dengannya. Derai tawanya yang terlalu ramai dan suara manjanya yang terlalu dibuat-buat. Dia memang jauh berbeda dengan Siska, gadisku yang dulu. Siska yang cerdas, cantik alami tanpa perlu make-up, dan cenderung pendiam tak banyak bicara. Entah mengapa aku berpaling darinya.

Gadisku yang kampungan itu...ah...entah mengapa aku tertarik padanya. Sejak bertemu di warkop dekat rumahku. Lirikannya, senyuman genitnya, perhatiannya. Dan tak ada yang lebih hebat dari ciumannya, rintihannya dan gerakan tubuhnya. Alunan suaranya saat menyanyikan lirik-lirik yang menghujat cinta bisa membuatku terdiam tanpa bisa berbuat apa-apa selain menatap matanya dengan eye shadow mengkilat itu.

Gadisku yang kampungan, yang memujaku seperti pangeran yang jatuh dari bulan. Gadisku yang kampungan, yang sedang berbaring di sampingku dengan tubuhnya yang telanjang, tertidur lelap. Kutatap wajahnya yang polos, tanpa make-up. Dan aku membodohi diriku sendiri ketika aku ingat kalau aku tidak pernah mengatakan padanya kalau aku mencintainya. Kupeluk tubuhnya erat-erat. Kuusap perutnya lembut, tempat benih cintaku dan cintanya sedang bertumbuh. Gadisku memang kampungan, tapi apa bedanya kalau ia mencintaiku?

HINGGA BATU BICARA

Cerpen Helvy Tiana Rosa

"Biarkan aku!" seru gadis itu sekali lagi sambil menatapku tajam.

Aku memandangnya lama, tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Ini ketiga kalinya ia berada di tempat ini. Melakukan hal yang sangat tidak wajar. Ia bicara pada batu-batu! Ya, pada batu! Ia bisa tampak serius, lalu tiba-tiba tertawa atau menangis sendiri. Ia membelai batu-batu. Menggendongnya seperti menggendong bayi, memasukkan batu-batu tersebut ke dalam tas kainnya yang kusam.

"Bukankah kalian telah merampas semua? Sekarang, biarkan aku bicara pada batu-batu itu!"teriaknya lagi.

Dan seperti hari-hari kemarin, aku pun berlalu begitu saja dari hadapan gadis itu sambil membetulkan letak senapan laras panjang yang kusandang. Namun sampai di pos penjagaan, beberapa meter dari tempat perempuan itu berada, mataku masih lekat padanya.

Aku tak tahu siapa perempuan itu. Diakah? Sejak pindah tugas bulan lalu dari Tel Aviv ke tanah kelahiranku, Yerusalem, tepatnya di sekitar Al-Aqsha dan Dinding Ratapan ini, hampir setiap hari aku, juga tentara yang lain melihatnya.

"Suatu hari aku akan bersenang-senang dengannya!"ujar David, teman bertugasku di sini yang senantiasa memproklamirkan dirinya sebagai Lohamei Herut Israel sejati. Ia menyeringai, menampakkan gigi-giginya yang kecoklatan. "Lihat saja nanti!" serunya.

"Ya, setelah itu kita akan menghabisi perempuan gila itu!"sambung Goldstein, temanku yang lain dengan nada dingin, sambil melipat koran Yediot Aharonot, yang sejak tadi dibacanya.

Perempuan itu memang masih muda. Mungkin usianya sekitar dua puluh sampai dua puluh lima tahun. Wajahnya cantik, seperti kebanyakan gadis Palestina, hanya sedikit lebih runcing. Matanya kelabu, bulat dan bening. Kedua alisnya yang hitam dan tebal hampir menyatu di atas hidung yang mencuat. Ia tinggi namun sangat kurus dan tampak semakin tenggelam dalam abaya dan kerudung hitamnya yang besar, longgar dan lusuh. Dari jauh sosoknya mengingatkanku pada tiang-tiang abu-abu dan hitam yang sering kami pancangkan di perbatasan daerah pemukiman.

"Apa yang dibicarakannya dengan," David tak sanggup menahan tawa," Batu-batu itu?"

Aku mengangkat bahu. Membuka helm 'perang' dengan kaca plastik yang kerap menutupi wajahku. Kini aku dapat memandang gadis itu lebih jelas. Wajah pasinya tak wajar. Kulihat ia komat kamit, berbicara pada batu-batu itu. Tangannya cekatan menyusun bebatuan tersebut dalam satu barisan panjang. Lalu ia memberi aba-aba, layaknya seorang komandan mempersiapkan para prajuritnya. Perempuan itu menghentak-hentakkan kaki ke bumi, berjalan di tempat, berulangkali. Wajahnya lurus ke depan, tepat ke arah kami. Namun pandangannya kosong. Beberapa saat kemudian ia sudah duduk begitu saja di tanah. Menyusun batu-batu lain, menumpukkannya ke atas dan tersenyum-senyum sendiri. Pernah pula aku melihatnya sedang melakukan gerakan-gerakan sembahyang. Sementara batu-batu besar dan kecil berjajar rapi di belakangnya.

Gila, batinku. Dan sama gilanya bila aku masih memperhatikannya.

"Selama ia cuma bicara pada batu, biarkan saja. Kita juga butuh hiburan kan?" Goldstein mendengus, kemudian meludah.

***

"Kau tak akan percaya, tetapi batu-batu ini memang bicara padaku!" Gadis itu berusaha meyakinkanku. "Kau mau tahu apa katanya?"

Aku mengangguk bodoh.

Mata gadis itu berubah liar. Bibirnya melengkung ke bawah. Penuh keyakinan ia berkata, "Mereka, batu-batu itu akan membinasakan kalian, sebagaimana kalian membinasakan bangsa kami!" Ia tertawa-tawa, sambil mengusap batu-batu itu. Makin lama makin keras. Mengikik, menukik-nukik. Menyeramkan. Lalu tiba-tiba dingin. Angin! Tawa itu menjelma angin puyuh yang berputar, terus berputar menggulungku, lalu menghempaskanku ke sebuah tepian.

Tiba-tiba saja aku telah berada di tempat lain. Sekelilingku gelap. Aku berada dalam lorong panjang yang pekat. Bulu kudukku berdiri. Aku merasakan tangan dan kakiku dingin, namun hawa panas juga menyergapku. Keringat menetes, membasahi baju seragamku.

Hati-hati sekali aku berjalan. Aku tersesat dalam labirin sunyi tanpa nama. Aku meraba-raba mencari cahaya. Tertatih-tatih. Rasanya aku telah berjalan beratus-ratus jam, sampai kulihat setitik sinar.

Detak jantungku makin keras. Setengah memicingkan mata, perlahan aku menghampiri sumber cahaya tersebut. Tiba-tiba kudengar suara-suara isakan. Erangan-erangan yang memenuhi segenap ruangan. Lalu tangisan, jerit kesakitan dan teriakan histeris yang tak putus-putus.

Danaku nyaris terpekik. Aku biasa melihat mayat, namun tak sebanyak ini! Di hadapanku kini kulihat ratusan mayat bergelimpangan. Semakin lama semakin banyak. Menjadi ribuan dan terus bertambah lagi. Mayat-mayat itu berjejalan, seperti ikan-ikan sardin dalam kaleng. Darah terus menetes-netes dari tubuh-tubuh itu. Anyir. Mengental, menganak sungai. Beberapa kali aku terpeleset, dan jatuh di atas mayat-mayat itu.

"Negeri kami! Di mana negeri kami?"

"Tanah, kembalikan tanah kami!"

Suara-suara itu menggema, bergelombang, berulang-ulang. Meninggalkan pedih. Seperti pisau yang mengerat-ngerat sanubari. Badanku gemetar, menggigil. Kepalaku pening. Rasanya aku akan pingsan, saat sayup-sayup kudengar suara ayah, "Ingat Jhosua I,3: Setiap tempat yang akan kami injakkan dengan telapak kakimu, sudah Aku berikan padamu."

Suara ayah, para rabbi dan erangan-erangan tadi seperti berebutan menarik-narik kedua kupingku. Aku merasa kupingku meleleh. Pandanganku kabur.

Samar, kulihat gadis itu. Wajahnya beku. Ia tak bicara. Hanya buliran bening di matanya jatuh menetes membasahi tanah dan batu-batu di sekitar yang telah meresap darah.

Aku mengucek kedua mataku. Apa aku tak salah lihat?

Batu-batu itu! Batu-batu itu bergerak, perlahan membumbung ke atas. Aku terperanjat! Batu-batu itu beterbangan! Mereka menuju ke arahku! Mereka berlomba-lomba mengejarku. Aku berlari di atas mayat dan tulang-tulang berserakan. Tenagaku tinggal sisa-sisa. Kakiku perlahan membeku. Semakin kaku. Aku terjatuh. Terjerembab di atas mayat para kanak-kanak yang membusuk. Dan sebuah batu yang paling besar sekonyong-konyong akan menimpa kepalaku. Aku terbelalak. Tak percaya, kulihat kedua mata yang tiba-tiba tampak pada batu itu. Mata! Batu itu punya mata! Juga mulut! Ia bahkan bersuara! Ia terus memanggil-manggil namaku.

"Aaaaaaaaaaaa!"

Aku berteriak sekeras-kerasnya!

Aku terbangun! Sekujur tubuhku peluh. Penuh ngilu.

Belum pukul dua dini hari. Gadis itu. Gadis yang berbicara dengan batu-batu. Mengapa aku memimpikannya? Aku mengusap peluh di dahi. Mimpi-mimpi seram telah memilihku menjadi tempat persemayaman sejak aku berada di tanah ini dan semakin menjadi-jadi sejak aku mulai bertugas lima tahun lalu. Sungguh, kami telah begitu karib. Tak pernah ada hal buruk yang terjadi padaku sesudah mimpi-mimpi seram itu datang. Jadi, secara logika, aku harus meneruskan tidurku. Meneruskan hidupku.

Namun gadis itudan batu-batu yang berterbangan, kini berpindah dari dalam mimpi ke langit-langit kamarku. Membentuk bayang-bayang aneh bersama lambaian pepohonan yang dibawa cahya rembulan masuk, melalui celah jendela.

Aku terjaga. Aku terus berjaga!

"Kami tak dapat menjagamu lagi, Hanan."

Aku melihat seorang lelaki bersimbah darah, merangkak tertatih mendekati mayat seorang perempuan sebayanya. Di sisi mayat perempuan tersebut, seorang gadis kecil seusiaku menangis sesenggukan. Ia membuang boneka kain yang sejak tadi bersamanya dan memeluk jasad ibunya yang kaku dengan segenap jiwa. Lalu ia menatap ayahnya, meratap parau.

"Jangan menangis, Hanan? Janganmenangis, kau masih ingat cerita ayah tentang batu-batuitu?" Lelaki itu berusaha tersenyum sambil terus merayap. Perlahan ia menjatuhkan badannya di samping mayat istrinya. Sebelah tangannya menggenggam tangan sang istri. Sebelah lagi, yang luka dan berlumuran darah membelai wajah gadis kecil bernama Hanan itu.

"Rasulullah sudah mengatakannya, bannatii, kiamat tak akan datang sampai tiba pertempuran kita dengan mereka. Hinggaseluruh batu berbicara dan memberitahu kita: ya hamba Allah, ini Yahudi di belakangku!* Mereka tak akanbisa sembunyi, nak. Batu-batu dan semua tentara Allah di alam ini akan membantu kaum Muslimin. Rasulullah telah bersaksi."

"Abi!!"

"Jaga dirimu baik-baik."

Dari balik pintu kayu yang rapuh, aku melihat lelaki itu tak bergerak lagi. Dan Gadis delapan tahunan itu menjatuhkan kepalanya di dada ayahnya.

"Yatom! Yatom!"

Aku terperanjat. Lututku gemeretak. Sekilas kulihat gadis itu memandang ke arah pintu dan menemukan wajahku di sana. Matanya sembab. Kedua pipinya yang merah jambu, kini benar-benar merona darah ayahnya.

"Anak nakal!" Suara ayah menggelegar. Ia menjewer dan nyaris menendangku dengan sepatu larsnya.

"Tapi ayah,"aku mengusap keringat dingin di dahiku. Sementara gadis kecil itu menatap kami dengan pandangan penuh tanya yang menusuk.

"Setelah dibersihkan, besok rumah ini bisa kita tempati. Ayo, beritahu ibumu!"seru ayah tak peduli.

Aku menatap gadis itu lagi dan menemukan diriku yang masih gemetar, tenggelam dalam bulat matanya. Dan wajah runcing kanak-kanaknya memperlihatkan garis-garis tegar, tarikan-tarikan keras. Aku merasa nyeri dan teriris-iris. Betapa pedih ditinggal ayah dan ibu. Bahkan bila kau tak menyukai mereka!

Ya, aku menyaksikan sendiri! Ayahku telah membunuh ayah gadis itu! Teman-teman ayahku menelanjangi sebelum membongkar tubuh ibunya, hingga darah bercipratan di mana-mana dan tentara yang lain, dengan ekspresi batu, mengobrak abrik tempat ini.

"Mengapa kita harus tinggal di sini, ayah?" tanyaku ketika berlalu. Ah, aku selalu gagap bila berbicara dengan ayah.

"Sebab ini tanah yang dijanjikan untuk kita dan besokrumah ini menjadi milik kita, " Ayah mengusap kumisnya yang lebat. "Yatom, apa pun yang terjadi kau harus jadi seperti aku dan membela tanah ini. Sekarang coba sebutkan Satanim atau harar!" perintahnya.

"Aaatakkim,shada,parokim ,libarim,babill ,onan ,,protokolat,aagorgah,plotisme ,qornun."

Ayah terbahak-bahak. Menyentak-nyentak. "Hilangkan gagapmu!" serunya kemudian, masih menggelegar. "Aku tak suka mendengarnya!"

Aku menunduk. Mengangguk-angguk.

Setiap kali bicara, ayah selalu menjelma raksasa yang menelanku bulat-bulat. Ketika aku menjadi tentara lima tahun lalu, ia masih seorang raksasa. Hingga kini. Bagiku, tak seorang pun mampu menghadapinya!

Keluargaku mulai menempati rumah itu dua hari kemudian. Kami membuat rumah tersebut tampak lebih bagus dan nyaman. Pintu kayu yang rapuh itu telah berganti dengan pintu baru yang kokoh. Ibu menghias semua ruangan, di antaranya dengan perabotan yang diplitur mengkilap. Tetapi tetap saja aku sering bergidik membayangkan bahwa pernah ada mayat yang terkapar di sana.

Sementara itu si gadis kecil entah ke mana. Aku menemukan boneka kainnya dalam keadaan kotor dan lapuk, di samping rumah. Beberapa kali, kala senja, aku memergokinya tengah memandangi tempat tinggal kami dari jauh. Ia tampak kurus, kumuh dan tak terurus. Bajunya compang camping, wajahnya penuh debu. Samar, kulihat sebongkah batu dalam genggaman tangannya yang mungil.

Cipayung, 1999

• dari Hadits Rasulullah saw, riwayat sahih Bukhari dan Muslim

• bannatii: anakku

• Lohemei Herut Israel: Pejuang-pejuang kemerdekaan Israel

• Satanim/harar: sepuluh program freemansory Yahudi Internasional, berlambangkan gurita berkaki sepuluh, ular berbisa berkepala sepuluh dan hantu penerkam berkuku baja.

Kekasih Himiko

Cerpen Kenzaburo Oe

LARUT malam itu, dalam posisi lamban yang membuat beban tubuh mereka berkurang, Bird dan Himiko bercinta dalam kegelapan yang lembab selama sejam tanpa terputus.

Bagaikan binatang yang sedang melakukan pembuahan, mereka melakukannya dalam keheningan hingga selesai. Lagi dan lagi Himiko terpekik saat mencapai puncak, dengan selang waktu pendek diselingi jeda yang meletihkan.

Bird setiap kali teringat pada sensasi menerbangkan sebuah pesawat terbang mainan pada senja hari di lapangan permainan sekolahnya. Himiko melengkungkan tubuhnya sehingga membentuk lingkaran lebar, bergetar dan mengerang saat meniti jalan ke langit bagaikan sebuah pesawat terbang mainan yang bekerja oleh sebuah motor yang terbebani. Lalu dia turun kembali ke landasan pacu tempat Bird telah menunggu, dan saat hening yang berulang pun tercipta.

Seks bagi mereka kini telah berakar dalam sensasi ketenangan sehari-hari. Bird merasa seolah-olah telah bercinta dengan gadis itu selama lebih dari seratus tahun. Seks kini terasa begitu sederhana, dan tentunya, tak lagi menyembunyikan kecurigaan atas ketakutan-ketakutannya yang paling mendasar.

Baginya, kini tubuh Himiko adalah kesederhanaan itu sendiri, sekantong damar buatan yang lembut. Dia amat merasa damai, karena Himiko secara terbuka dan tanpa syarat membatasi hubungan seksual mereka hanya untuk objek kesenangan belaka.

Bird teringat bagaimana rasanya saat dia melakukan dengan isterinya dan perasaan-perasaan ketakutan mereka. Bahkan kini, setelah bertahun-tahun perkawinan, mereka terperosok pada perasaan muram setiap kali begituan. Kaki dan tangan Bird akan mendesak tubuh istinya, layu dan kaku dalam pertarungan mengatasi rasa jijik dan istrinya menerima sebagai sebuah serangan.

Lalu dengan merasa marah, dia akan memaki Bird, bahkan mencoba untuk balas menyerang. Akhirnya, ujungnya selalu sama: dia akan terlibat dalam sebuah pertengkaran tak berarti, menarik diri dari tubuh istrinya dan terus menjauh hingga sepanjang malam, atau dia menyelesaikan ketergesaannya dengan sebuah kepahitan.

Bird sempat menggantungkan harapan akan terjadinya revolusi dalam kehidupan seks mereka setelah kelahiran seorang anak dan....

Karena Himiko secara berulang mencumbu Bird dengan keterampilan yang luar biasa, Bird memilih puncak paling bernafsu Himiko sebagai momen yang tepat bagi dirinya sendiri. Tapi ketakutan pada malam panjang yang mengikuti setiap akhir persetubuhan, mereka terus menahannya. Dengan dungu Bird bermimpi tentang tidur yang paling melenakan, menggapai lekukan lembut menuju puncak kenikmatan.

Tapi Himiko terus terbang, jatuh menukik ke landasan dalam sebuah liukan lembut dan tiba-tiba menari kembali ke angkasa bagaikan layang-layang yang terperangkap. Saat kembali mendarat di landasan yang salah, Bird mendengar bunyi telepon berdering. Dia mencoba bangkit, tapi Himiko menjepitkan tangannya melingkari punggungnya. "Teruskan, Bird,'' katanya sesaat kemudian, seraya mengendorkan pelukan.

Bird melompat ke arah telepon yang masih berdering di ruang tengah. Terdengar suara lelaki muda menanyakan ayah seorang bayi yang sedang dirawat di rumah sakit universitas. Bird mengejang, menjawab dengan suara seperti dengungan nyamuk. Telepon itu membawa pesan dari dokter.

"Maaf, kami terlambat memberitahu, tapi kami sangat sibuk di sini,'' kata suara itu dari kejauhan. "Saya meminta Anda untuk hadir pada pembedahan otak jam sebelas besok pagi. Ini dari kantor Asisten Direktur. Dokter bermaksud menelepon Anda secara langsung, tapi dia berhalangan. Kami sangat sibuk sehingga terlambat memberi tahu!''

Bird menarik napas panjang dan berpikir: bayi itu mati, Asisten Direktur akan melakukan otopsi.

"Aku paham. Aku akan datang besok jam sebelas. Terima kasih.''

Bayi itu makin lemah dan mati! Bird berkata pada dirinya sendiri saat meletakkan kembali gagang telepon. Tapi kunjungan macam apa yang dilakukan oleh maut pada bayi itu sehingga dokter perlu memperingatkan terlebih dulu? Bird merasakan pahitnya empedu yang meluap dari perutnya. Sesuatu yang besar dan luar biasa menatap padanya dari kegelapan tepat di hadapan matanya. Seperti seorang entomolog yang terperangkap di dalam sebuah gua hidup-hidup dengan seekor kalajengking, Bird berjingkat ke ranjang, gemetar dari ujung kepala hingga ujung kaki. Ranjang itu, sebuah sarang yang aman: dalam hening Bird terus gemetar. Lalu, seolah-olah berusaha menggali kepuasan di kedalaman sarang itu, dia mencoba memasuki tubuh Himiko. Dengan tak sabar ia mengulangi kegagalannya dan hanya separuh semangat. Jari-jemari Himiko membimbing Bird. Dengan cepat rangsangannya membangkitkan gerakan binal gadis itu. Pada saat pasangannya mencapai klimaks, Bird mundur dan terpuruk dalam masturbasi hampa. Menyadari pukulan godam di belakang dadanya sebagai rasa sakit, Bird tergeletak lunglai di samping Himiko dan merasa percaya tanpa alasan bahwa suatu hari dia akan mati karena serangan jantung.

"Bird, kamu benar-benar tampak ngeri,'' kata Himiko, mengeluh seraya menatap aneh wajah Bird melalui kegelapan.

"Ah, maafkan aku.''

"Bayi itu?''

"Ya,'' sahut Bird, ketakutan.

"Apakah itu tentang kantor Asisten Direktur?''

"Mereka ingin aku ada di sana besok pagi.''

"Sebaiknya kamu minum pil tidur dengan wiski lalu tidur, kamu tak perlu menunggu telepon itu berdering lagi.'' Suara Himiko terdengar lembut.

Saat Himiko hendak menyalakan lampu di sisi ranjang dan pergi ke dapur, Bird menutup matanya untuk menghindari cahaya lampu, menghalanginya dengan tangannya dan mencoba menyingkirkan kerikil tajam yang menancap di otaknya - mengapa bayi sekarat itu membuat dokter sibuk hingga selarut ini? Tapi Bird segera diserang oleh rasa takut. Dengan membuka sedikit matanya, dia meraih gelas dari tangan Himiko yang sepertiganya berisi wiski dan memungut beberapa butir pil tidur, menelan dalam sekali helaan, dan kembali memejamkan matanya.

"Itu bagianku juga,'' kata Himiko.

"Ah, maafkan aku,'' ulang Bird dengan tolol.

"Bird?'' Himiko berbaring di atas ranjang dengan mengambil jarak dari sisi Bird.

"Ya?''

"Aku akan menceritakan padamu sebuah dongeng sampai wiski dan pil itu bekerja - satu bagian dari sebuah novel Afrika. Apakah kamu pernah membaca tentang hantu perompak?''

Bird menggelengkan kepalanya dalam kegelapan.

"Ketika seorang perempuan mengandung, hantu perompak memilih salah satu di antara mereka untuk menyelinap ke rumah perempuan itu. Sepanjang malam, hantu ini mengganyang janin yang sesungguhnya dan masuk ke dalam rahim. Saat hari kelahiran, hantu itu lahir ke dunia sebagai janin yang tak berdosa...''

Bird mendengarkan dalam hening. Sejak dulu kala, banyak bayi yang terserang penyakit. Saat ibu mereka memberi sesajen dan berharap dapat menolong anaknya, hantu perompak diam-diam menyembunyikan diri dalam lubang rahasia. Bayi-bayi ini tak akan pernah sembuh. Apabila bayi itu mati dan tiba saatnya untuk dikubur, hantu itu kembali ke ujud asalnya dan kabur dari kuburan, kembali ke sarang para hantu perompak dengan membawa serta sesajen dari lubang persembunyiannya.

"... janin itu lahir sebagai bayi yang lucu sehingga membuat ibunya jatuh hati dan tak ragu-ragu memberikan semua yang dia minta. Orang-orang Afrika menamakan bayi-bayi itu 'anak-anak yang lahir ke dunia untuk mati', tapi bukankah indah sekali membayangkan betapa lucunya mereka, bahkan bayi-bayi mungil sekalipun!''

Barangkali Bird akan menceritakan kisah itu pada istrinya. Bird lantas berpikir, "Dan karena bayi kami dilahirkan untuk mati, perempuan itu akan membayangkan sebagai seorang bayi yang amat cantik. Aku bahkan akan meralat memoriku sendiri. Dan itu akan menjadi penipuan terbesar seumur hidupku. Bayiku yang aneh mati tanpa perbaikan pada kepala kembarnya yang buruk, bayiku adalah seorang bayi yang aneh dengan dua buah kepala hingga waktu tak berbatas setelah kematiannya. Dan jika ada sesosok raksasa muncul sebagai algojo pada saat itu, bayi dengan dua kepala itu pasti akan terlihat olehnya, dan ayah bayi itu juga.''

Merasakan perutnya mual, Bird membenamkan diri dalam tidurnya seperti sebuah pesawat terbang yang jatuh dari angkasa, tidur bisa membuat kita tertutup dengan cahaya impian. Dalam sisa-sisa ingatan kesadarannya, Bird mendengar bayang-bayang suara mendiang ibunya berbisik: "Bird, kau benar-benar akan merasa ngeri!'' Bird melemparkan tubuhnya ke belakang seolah-olah sebuah beban berat tergantung di kepalanya dan, seraya mencoba menutup kedua lubang telinganya dengan ibu jari, dia membenturkan sikunya pada mulut Himiko. Dengan meneteskan air mata karena kesakitan, Himiko menatap melalui kegelapan pada kawan tidurnya yang mengejang tak wajar. Himiko bertanya-tanya apakah Bird telah salah menafsirkan telepon dari rumah sakit. Mungkin bayi itu telah benar-benar mati; lagi pula, bagaimana mungkin dia menyembuhkan dengan hanya memberi susu terus-menerus? Dan tidakkah mereka ingin agar Bird ada di rumah sakit untuk merundingkan soal operasi?

Kawannya tertidur di sampingnya dengan tubuh terlentang tak nyaman bagaikan seekor orang utan di kandang. Bau wiski yang menyengat tercium dari dengus napasnya, terasa konyol dan menyedihkan bagi Himiko. Tapi tidur akan menjadi istirahat sejenak sebelum kehebohan esok pagi. Himiko bangkit dari ranjang dan menyentakkan tangan dan kaki Bird; dia begitu berat seperti raksasa, tapi tubuh itu tak melawan. Ketika Bird terbaring terlentang dengan leluasa di atas ranjang sehingga dia bisa tidur lebih nyaman, Himiko menyelimuti dirinya dengan sehelai seprei dengan gaya seperti seorang filsuf Yunani dan beranjak ke ruang tengah. Dia hendak mempelajari peta Afrika hingga saat matahari terbit. (tt)

* * *

Kenzaburo Oe, dilahirkan di Shikoku pada tahun 1935. Dia adalah peraih Hadiah Nobel Sastra tahun 1994. Pengarang Jepang ini mempublikasikan cerpen pertamanya pada saat masih kuliah dan kariernya terus melesat dari tahun ke tahun.BeberapakaryapentingnyaantaralainThe Catch (1958) yangmemenangkanAkutagawa Prize, A Personal Matter (1963)dan Football in the First Year ofMannen (1967) yangmemenangkanTanizaki Prize.CerpendiatasditerjemahkanolehAntonKurniadari A Personal Notedalambuku A Personal Note; Groove Press,New York, 1995,halaman 132-136.Cerpen ini diterjemahkan dari bahasa Inggris oleh Anton Kurnia.

P U T R I

Cerpen Ismaily Bungsu

Hari itu tanggal 15 November tahun 1999 dan Putri seharusnya tahu bahawa secara ilmiah, nyawa saya sebenarnya sudah melayang alias tercopot atas sebab usus saya yang diserang oleh yang namanya kanser dan nyatanya saya saat ini masih ada dan berdiri di sini dan keadaannya sebenarnya belum pun bisa sembuh sepenuhnya yang terkadang datang sakitnya secara tiba-tiba yang lalu menyebabkan saya pengsan dan terlantar di ranjang untuk beberapa waktu lamanya dan memang begitulah keadaan saya.

Seharusnya demikianlah yang telah dijadualkan seperti yang diperkatakan oleh Dr. Hilmi yang merawat penyakit saya sejak beberapa tahun yang dilewati, tapi Putri tentunya tahu/malah amat tahu yang saya sememangnya selalu saja yakin sangat dan percaya benar bahawa yang namanya Tuhan jualah yang menentukan segala apa pun bentuk kehidupan yang bakal saya hadapi nantinya disamping saya berusaha dan terus selalu berdoa kepada Dia Yang Maha Berkuasa segala.

Saya ulangi sekali lagi bahawa yang jelas dan pasti sangat seperti yang saya nyatakan bahawa Tuhan jua yang menentukan panjangnya umur saya yang ternyata hingga sampai ke saat ini dan tentunya keadaan sedemikian berlaku jua akibat doa dan restu kawan-kawan yang cukup baik sekali terhadap saya alias selalu atau seringkali saja memberikan saya perangsang atau semangat untuk melawan kanser yang sudah sekian lama menyerang dan mendiami usus saya tanpa keizinan sememangnya.

Sekarang ini saya kembali lagi ke sini. Iya, saya kembali lagi ke sini yang keadaannya semacam penjara besi melulu yang cukup merisaukan dan menakutkan saya secara total pada hakikatnya dan untuk makluman Putri bahawa saya dihantar ke sini pun tanpa saya sedari langsung dan bila saya sedar tau-tau saya sudah berada di ranjang dan saya sendiri dimaklumkan yang saya dihantar kala sakit usus saya semakin menekan yang menyebabkan saya biasanya pengsan dan kala itu saya selalu tidak ingat apa-apa langsung yang berlaku di sekeliling saya dan sekarang yang pasti keadaannya benar-benar menjadikan saya tidak menentu disamping saya sebenarnya langsung tidak punya kemampuan untuk menahan sakit yang selalu menekan-nekan apa lagi mahu melawannya alias menyingkirkannya untuk maksud tidak mendekati saya.

Putri tahu bahawa terasakan sangat yang seluruh isi perut saya agak memulas-mulas yang semacam mahu keluar. Iya terus memulas-mulas yang semacam ada peperangan yang maha mengerunkan di dalamnya. Sakit dan amat sakit sekali bagai mahu tercabut nyawa saya dibuatnya. Rasanya tak dapat diperkatakan bagaikan keadaannya dan tidak bisa dibayangkan langsung sakit yang dimaksudkan.

Iya, sakitnya bukan main hebat yang terkadang menyebabkan saya berpeluh dan berpeluh yang terkadang jua langsung saja tidak sedarkan diri sambil mengeletar dan terkapar. Mengeletar dan terkapar yang lalu atau akhirnya seluruh badan saya selalunya menjadi lemah dan tak termaya langsung, apa lagi untuk bergerak seperti yang orang lain lakukan saban waktu.

Putri tahukah bahawa saya sekarang ini harus berjuang untuk menghadapi hidup yang sisa ini? Iya harus berjuang sangat. Berjuang untuk melawan maut yang terasakan ada di mana-mana akibat kanser yang tidak pernah sedikitpun mahu menjauhkan diri dari saya, apa lagi mahu meninggalkan usus saya? maut yang kata doktor bakal mendekat selalu membayang yang menyebabkan semua orang bermuka tegang, ngeri, pilu yang amat sangat melihat saya sedemikian rupa kelihatannya.

Saya sebenarnya semacam tidak terdaya lagi melawannya, malah akan mudah menyerah kalah dan memangnya tidak terdaya melawannya dan selalu saja saya berfikir dan bertanya bahawa kenapa saja Tuhan Yang Maha Berkuasa itu tidak mengambil nyawa saya tanpa menyakitkan saya sebegini rupa dan bukankah kalau-kalau nyawa saya Ia copotkan yang tentu saja sakitnya hanya sekali saja dan kapan saya nyatakan hal ini kepada putri, rupanya Putri amat memarahi saya dan mengatakan bahawa saya kononnya suka sangat menyerah kalah tanpa mahu melawan dan yang paling tidak saya ingini bahawa Putri mengatakan yang saya ini seorang karyawan yang maha pengecut sangat. Astaga, apakah memangnya saya ini maha pengecut sangat seperti yang diperkatakan oleh Putri?

Kata-kata Putri itu sebenarnya tidak benar dan kelihatannya ia punya maksud sesuatu yang lain. Memangnya tidak benar dan saya tahu bahawa Putri sengaja memperkatakan kenyataan itu dengan harapan saya bakal marah dan kapan nantinya saya marah, maka diharapkannya saya bakal berusaha untuk membuktikan yang saya bukanlah memiliki sikap seperti yang dinyatakannya oleh Putri. Saya tahu sangat tujuan Putri berkata sedemikian. Ah, lupakan saja hal itu.

Iya, sekarang inipun saya terus saja bergulatan dengan segala macam kesakitan yang amat sangat sambil saya pegangi perut saya yang sakitnya selalu saja ada di mana-mana. Secara naluriah saya selalu saja meraba-raba dan kemudian mencari benjolan yang selalu saja saya rasakan ada. Iya, memangnya ada. Sekejap ada dan sekejap pula tidak ada. Begitulah.

Kadang-kadang terasakan sangat ia ada dan kadang-kadang tidak ada. Sekejap ada dan sekejap tidak ada. Sekejap menghilang yang entah ke mana perginya. Kemudian selalu saya menekan-tekan dengan harapan yang sakit itu dan pedihnya berkurangan. Terkadang saya tekan ke kanan sedikit dari pusar, kalau saya tekan serasa semakin sakit, semakin pedih, semakin ngilu. Iya semakin sakit sangat. Sakit sangat. Teramat sakit.

Memang sakitnya semakin menjadi-jadi. Terus semakin sakit dan sakitnya amat menggigit, sakitnya terlalu menyeksakan, pedihnya terasakan semacam membawa kepada kematian/kematian yang tentu saja belum sangat saya inginkan kala memikirkan masih banyak yang perlu dan belum terlaksanakan.

Barangkali perlu sangat saya jelaskan kepada Putri bahawa semalaman ini saya sebenarnya tidak bisa tidur kerana bukan saja akibat sakit yang saya deritai, malah terlalu banyak yang harus saya fikir-fikirkan sangat yang tentunya ada beribu macam atau bermacam-macam dan tentunya tidak pernah difikirkan orang, meskipun Dr. Hilmi sendiri sudah memberikan saya pil penenang untuk maksudnya supaya saya sesegeranya lena tidur yang membolehkan saya dapat menghimpunkan sedikit tenaga saya yang sisa dan memang sekarang ini saya agak lemah dan teramat lemah sekali, tapi tidak pula sedemikian jadinya. Ah, entahlah apa lagi yang harus saya lakukan untuk menghilangkan rasa sakit yang selalu menekan-nekan yang menyebabkan saya seringkali saja tidak bisa langsung untuk menahannya yang terasa sangat semacam nyawa saya bakal melayang.

Sekarang ini saya memang bersendirian di sini. Iya, memangnya bersendirian di sini tanpa sesiapapun. Di sini ini keadaannya saya anggap sebagai penjara yang memang tidak saya sukai langsung, tapi terkadang ada kalanya saya suka sangat. Kala tidak suka bilamana keadaan saya semacam diganggu sangat terutama sekali kala ramai sangat yang mahu datang dan bertanya hal-hal yang bukan-bukan terhadap saya yang tentunya pertanyaan yang tidak saya sukai bakal menambahkan berat beban yang saya tanggung segala. Itulah yang tidak saya suka dan saya menjadi suka pula kapan kehadiran saya di sini tanpa sesiapa yang mahu melihat saya atau saya suka kala saya dibiarkan sendirian yang ertinya tidak diganggu oleh sesiapapun dan tentunya tidur saya akan pasti tenang-tenang saja.

Kamu bukannya tidak tahu Putri bahawa saya sendiri tidak mahu sesiapapun untuk datang melihat saya sedemikian. Memang begitulah sejak dulu, apa lagi melayan saya sebagai orang yang amat sakit atau melayan saya sebagai si tua renta yang menunggu saatnya untuk mati. Iya, meskipun pada hakikatnya saya merasakan amat sunyi dan sepi sekali di sini, tapi saya cukup merasa berbahagia sangat di sini kecuali/saya ulangi lagi yang saya tidak suka sangat kerana dilayan sebagai orang sakit yang ada bermacam larangan dan segala macam pantang dan kalau memang Tuhan berkehendakkan saya sekarang ini untuk hadir di sisi-Nya, maka saya rela dan mengizinkan sangat untuk menyerahkan nyawa saya kepada Dia.

Rasa sunyi yang mengelilingi saya pada saat ini cukup mengingatkan saya tentang kematian yang tentunya setiap orang bakal menghadapi hakikat kematian itu secara sendiri tanpa ditemani oleh sesiapapun/baik mereka yang selalu berjanji untuk sehidup semati yang sebenarnya/padahal selalunya janji yang diperkatakan diikat dan disimpul mati selalu saja tidak menjadi kenyataan. Ah, kan semua yang dinyatakan sekadar permainan kata-kata dan bukankah Putri pernah menyatakan sebegini:Indahnya sangat bahasa, seindah niatkah? hati-hati kerana sehari pahitnya berpanjangan Apa maksudnya duhai Putri? Yalah tu..he..he. Masih ingatkah kamu duhai Putri?

Iya, memangnya keadaan di sini benar-benar teramat sunyi sekali yang semacam kala berada di dalam hutan bambu kala malam nun jauh di kampung halaman Pak Karno di Pedalaman. Iya terlalu sunyi sekali dan memang saya sendiri tidak mahu seorangpun datang untuk melihat saya/meskipun anak-anak saya yang cukup baik kepada saya sejak dulu hingga sekarang. Bukan kerana apa-apaan, tapi memangnya saya sendiri tidak mahu menyusahkan mereka. Iya, saya amat kesihan sangat kepada mereka yang belum tahu apa-apa lagi kecuali yang sudah cukup dewasa dan tahu sangat akan keadaan saya sejak sekian lama.

Putri tahu kenapa saya berbuat dan memutuskan hal sedemikian? Iya, memang terkadang saya sendiri tidak berniat untuk menyatakannya, tapi sesungguhnya saya tidak mahu melihat anak-anak saya hidup dalam keadaan yang tertekan dan tertekan alias susah hati atau tidak tenang dan biasanya kalau mereka hadirpun saya sebenarnya selalu berusaha sangat untuk kembali membangunkan semangat saya yang telah hilang dengan harapan mereka semuanya tidak terlalu runsing sangat terhadap diri saya, apa lagi keadaan saya sejak

kebelakangan ini.

Saya rasakan jururawat yang bernama Siah itu memangnya agak semalaman tidak bisa tidur atau melelapkan matanya kerana asyik menjaga dan memerhatikan saya yang memang sudah sekian lama terlantar di ranjang. Siah memang sudah mengenali saya dan suatu waktu ia menyatakan sudah lama mengenali saya atas sebab sesuatu yang saya hasilkan selama ini. Tentu saja Siah selalu membaca apa saja yang saya tulis. Begitukah?

Siah memangnya jururawat yang baik sekali dan secara kebetulan memangnya antara saya dan dia berjiran. Itulah yang menyebabkan ia terlalu banyak berbudi kepada saya atau mengambil perhatian yang lebih sedikit dari para pesakit lain. Sebenarnya saya sendiri mengharapkan sangat agar ia tidak usah terlalu sangat menyusahkan dirinya akibat memerhati dan menjaga saya. Saya selalu saja memperkatakan bahawa saya sememangnya tidak mahu dilayan seperti orang yang sakit alias mahu mati.

Siah memang terlalu baik kepada saya. Sesungguhnya ia punya hati yang cukup mulia dan tidak ada lagi yang baik sangat selain dia yang namanya Siah yang saya kenali itu kecuali Putri yang hadir dalam hidup saya sejak bertahun-tahun lamanya.

Meskipun Putri tidak selalu menghubungi abang lantaran yang kita punya tugas masing-masing yang harus selalu saja diselesaikan, tapi perkembangan dunia abang selalu saja saya ikuti dan tanya-tanyakan kepada kawan-kawan yang terdekat Tulis Putri kepada saya dua bulan lalu yang dikirim lewat email. Iya, di mana kamu sekarang duhai Putri?

Siah yang sejak sekian lama dekat saya kemudiannya memegang tangan saya dan sesudah itu ia mengusap-usap dahi saya yang selalu dirasakanya amat dingin dan terkadang berpeluh. Siah kira saya sedang asyik tidur ketika itu dan saya sendiri bisa merasakan sentuhan tangannya dan saya tahu sangat bahawa subuh tadi dia bersembahyang yang tentu saja asyik mendoakan saya melulu walaupun dia sendiri tidak pernah menyatakannya kepada saya.

Saya kira kalau saya tidak silap bahawa hal doa Siah terhadap saya pernah suatu siang dibisikkan oleh Dr. Hilmi ke telinga saya sambil menyatakan yang Siah terlalu menyukai apa saja yang saya tulis dan saya ketika itu hanya diam mendengar kenyatan Dr. Hilmi sambil tidak berkata apa-apa pun, tapi saya tahu mereka hanya mahu menyenangkan hati saya melulu dan kata-kata itu sebenarnya memang menyebabkan saya punya keinginan sangat untuk terus hidup sebab kehadiran saya semacam dihargai dan secara tidak langsung penghargaan itu kian memperkuatkan semangat saya untuk terus melawan maut yang selalu membayang dalam fikiran saya sejak sekian lama.

Sesekali saya bisa menangis yang semacam anak kecil yang dimarahi oleh ibunya kapan mengenangkan hal saya yang sekian lama terlantar di ranjang tanpa sesiapa pun yang hadir di sisi saya dan kemudian begitu senang pula air mata saya keluar yang bukan kerana apa-apa, tapi terasakan sangat bahawa betapa sia-sianya hidup saya yang sekian lama saya lewati selama ini tanpa apa-apa kerana selalu saja melupakan adanya Dia dan saya berusaha sangat untuk maksud menahan deras air mata saya agar nantinya bisa mengelakkan ia dari terus dilihat oleh yang nantinya datang untuk menemui saya.

Kenapa Putri begitu baik kepada saya sehingga Putri berusaha memohon kepada Tuhan agar malaikat Izrail tidak mencabut nyawa saya? kata saya kala saya bersendirian dan saya sendiri memang selalu saja membisikkan kepada Tuhan supaya memberikan saya kesempatan yang banyak untuk memperbaiki semangat saya termasuk laluan yang jauh sangat tersesat di persimpangan jalan untuk maksud bersembahyang lebih banyak, kerana biasanya kala sesiapapun sembuh terutama sekali seperti saya ini akan pasti selalu saja lupa tentang adanya Dia Yang Maha Berkuasa segala. Jadi, saya berjanji bahawa saya akan melakukan sesuatu yang terbaik dalam hidup saya sebelum saya mati nantinya.

Saya lihat Putri yang tiba-tiba ada dekat saya masih menundukkan kepalanya dan asyik terus menatap wajah saya yang tentunya agak pucat dan lemah. Pucat dan lemah. Iya, kapan Putri sampai di dekat saya? Tanya saya kepada Putri dan saya kira tentunya Putri tidak bisa mendengar apa saja yang saya tanyakan. Apakah memangnya saya bertanya?

Saya lihat kepalanya semacam bergoyang ke kiri dan ke kanan menurut irama zikirnya yang menyebabkan saya tersangat malu kepada Putri yang dulunya ia adalah seorang guru yang beragama kristian yang amat taat dan tiba-tiba dapat menjadi seorang muslim yang sedar dan penuh keinsafan, sedang saya pula entah susah sangat mahu diperkatakan/walaupun saya dilahirkan dan dibesarkan dalam lingkungan keluarga yang beragama/tetapi yang jelas saya sendiri seringkali saja lupa tentang adanya Tuhan Yang Esa jika selalu saja bergelimang dengan kesenangan yang berlebih-lebihan. Inilah akibatnya kalau Tuhan selalu memberikan kesenangan yang tidak sepatutnya saya dapatkan. Aduh, kenapa saya jadi sedemikian?

Tiba-tiba entah bagaimana dalam keadaan sedar dan sesekali tidak sedar, saya bisa takut sangat akan saat kematian saya seperti yang dijanjikan/seperti yang dijelaskan oleh Dr. Hilmi yang merawat saya sejak sekian lama. Saya pada hakikatnya sememangnya tidak mahu mati dan saya memangnya tidak mahu sendiri di dalam kubur nantinya, apa lagi tanpa Putri yang cukup saya ingati selalu/saya memang tidak mahu dihantar ke kubur yang tentunya bakal dingin dan sepi. Sepi dan dingin. Dingin dan sepi sekali. Sempit sekali.

Ketahuilah Putri bahawa saya sememangnya amat takut sekali. tersangat takut untuk maksudnya dioperasi dan memang saya tidak mahu dioperasi sebab setahu saya operasi merupakan jalan terakhir yang biasanya terpaksa kemudiannya bakal menghadapi kematian. Itu kata kawan-kawan saya yang asyik menasihati saya supaya membatalkan saja operasi itu sebab kira-kira seminggu lalu Pak Suki sendiri menjadi mangsa operasi dan terpaksa menemui ajalnya, padahal sebelumnya ia begitu bersemangat sangat kala berbicara dengan saya pada suatu sore tentang seni muzik biola yang selalu menemani hidupnya yang tinggal sisa.

Manalah tahu kalau memang dijadualkan untuk saya dioperasi esok hari dimana dengan secara tiba-tiba saya langsung saja mati meski pun secara terpaksa/ketika dibius misalnya dan tentunya tidak bisa menyebut yang namanya Tuhan, apa lagi untuk menyebut kalimah yang harus saya ucapkan sebelum saya mati nantinya. Iya, rasanya saya semacam diburu sangat oleh bayang-bayang kematian yang menyebabkan saya amat ketakutan sekali. Iya, amat takut sekali. Bantulah saya Putri!

Iya, sebaiknya saya minta Putri datanglah dan bantulah saya untuk menyatakan kepada Dr. Hilmi supaya saya tidak dioperasi. Tolong katakanlah segera bahawa saya sememangnya berkeberatan sangat untuk dioperasi kerana terasakan sangat yang saya semacam mahu mati.

Ah, tapi yang jelas Putri sekarang ini sedang berada di sisi saya. Iya, Putri memang berada di sisi saya. Kapan Putri datang? Kenapa tidak Putri beritahukan saya sebelum datang? Apakah memangnya Putri yang sekarang duduk dekat saya? Saya lihat Putri terus menatap wajah saya tanpa bicara apa-apa tapi saya lihat Putri terus saja berdoa dan mengharap sangat sesuatu untuk maksud saya segera sembuh seperti sebelumnya. Begitukah Putri? Iya tentu sekali.

Saya memangnya semacam merasakan sedang berlari tunggang-langgang akibat dikejar oleh malaikat maut yang galak matanya dan ganas sangat wajahnya serta amat menakutkan saya yang selalu saja mengekori saya ke mana saja saya berpergian. Kenapa kamu harus mengekori saya duhai sang Malaikat Maut? Kamu jelasnya membikin saya dalam dunia ketakutan yang amat sangat dan kemudian akibat ketakutan itulah saya langsung saja melanggar apa saja yang ada di depan saya untuk maksudnya saya menyelamatkan diri saya dari yang namanya kematian dan akhirnya saya menjerit sekeras-kerasnya yang lalu segera pula meloncat dari tempat tidur dan tiba-tiba saya tersentak kala Putri memegang tangan saya dan kemudian mengusap-usap dahi saya yang berpeluh-peluh dan dingin sekali. Kamukah Putri yang ada dekat saya sekarang ini? Bukankah Putri lagi kuliah dan bakal selesai dalam waktu yang terdekat ini? Putri tidak menjawab pertanyaan saya? Kenapa? Apakah Putri mendengar yang saya ini bertanya?

Tiba-tiba semua yang saya lihat menjadi kabur dan berkunang-kunang. Kabur dan berkunang-kunang. Saya terus saja membuka mata, tapi semacam tidak terdaya langsung/ sesekali bisa saya dibuka, tapi memangnya amat kabur sekali kelihatannya. Rasanya saya sedang melihat Putri duduk di dekat saya/di pinggir ranjang dan saya melihat ada beberapa orang doktor yang saya sendiri sudah lupa namanya kecuali Dr. Hilmi dan jururawat yang namanya Siah itu.

Kemudian saya melihat ada beberapa orang teman-teman saya mengelilingi saya sambil membaca sesuatu yang entah apa dan mulut mereka terkumat kamit. Apa yang mereka baca dan apa yang mereka doakan untuk saya? Iya, saya ingat mereka semacam membaca surah yasin yang memang selalu dibaca kala seseorang tengah berhadapan dengan maut seperti saya. Apakah saya memang berhadapan dengan maut? Saya tidak tahu, tapi memang malaikat maut itu selalu membayangi hidup saya.

Kemudian saya langsung saja mendengar suara lembut Putri yang saya kenal sejak sekian tahun dulu/kala ia masih belajar di Maktab Perguruan di pedalaman. Iya, kenapa tiba-tiba Putri datang dalam saat-saat saya sedemikian jadinya? Apa yang Putri mahu perkatakan kepada saya? Apa? Saya tidak mendengar dan kata-kata Putri memang kurang jelas. Maafkan saya Putri. Maafkan saya. Dan apakah Putri memangnya berkata-kata?

Putri telah datang dalam hidup saya. Kenapa Putri harus datang? Iya, memang Putri yang datang dalam hidup saya. Benarkah atau saya sekadar bermimpi? Saya tiba-tiba jadi sedih, pilu dan kemudian segera pula menangis. Saya menangis bukan kerana apa-apa, tapi pada saat-saat semacam ini tiba-tiba Putri datang dan memang ia selalu datang bila mana saya seringkali dalam kesusahan. Memang Putri terlalu baik. Iya, terlalu baik. Memangnya yang sekarang dekat saya adalah yang namanya Putri. Memang dan saya pasti sangat. Bukan bermimpi.

Putri benar-benar datang dan sedang menghadapi saya sekarang ini. Kononnya telah dikatakan sendiri yang Putri telah bermimpi minggu lalu yang saya sedang sakit tenat tanpa sesiapa di samping saya dan tanpa sesiapa yang memperdulikan saya dan memangnya sedemikian kenyataannya sebab saya sendiri memang tidak mahu memberitahukan kepada sesiapapun kala saya dihantar di tempat yang memang tidak saya sukai.

Wadoh, rupanya Tuhan telah membicarakan keadaan saya lewat mimpi kepada Putri. Tuhan memang terlalu baik kepada saya hingga saya sendiri masih bisa hidup sekalipun telah ditentukan yang saya seharusnya sudah mati pada November tahun lalu. Terima kasih duhai Tuhan!

Putri terus berkata-kata dan nyatanya tidak henti-henti membicarakan tentang mimpinya yang rupanya menjadi kenyataan. Saya terus saja menangis dan terus menangis. Bukan kerana sedih atau atas sebab saya terlantar di ranjang, tapi atas sebab terlalu terharu akan kebaikan yang diperlihatkan oleh teman-teman lain selain Putri dan Siah, apa lagi kala saya menghadapi keadaan semacam seperti sekarang ini.

Putri bertanya tentang kawan-kawan saya yang dulunya selalu bersama saya dan sekarang diberitahukan kepadanya asyik sangat menjauhkan diri dari saya, apa lagi kala kematian saya kian hampir dan semakin mendekat. Ah, saya tidak mahu menjawab pertanyaan itu sebab tidaklah penting sangat. Saya diam saja dan kerana mimpi yang ngeri itulah Putri segera datang mendekati saya dan sanggup pula meninggalkan kuliahnya sekadar mahu menjenguk saya yang entah bakal hidup atau bakal mati nantinya.

Iya, memang tak siapa yang tahu kapan saya kembali kepada-Nya dan memang secara kebetulan yang saya sedang melawan maut alias berhadapan dengan maut yang tentu saja akan hadir pada bila-bila masa saja atas perintah Yang Maha Berkuasa. Ah, bagaimana pula kalau memangnya saya segera menemui Dia?

Kehadiran Putri sekarang ini cukup bermakna bagi saya dan sekarang saya amat takut sekali kalau saya nantinya mati akibat dioperasi. Saya takut dioperasi dan saya tidak mahu sama sekali Kata saya dalam keadaan sedar dan sesekali tidak sedar. Apakah Putri mendengar kata-kata saya?

Tenang-tenanglah saja.. Tidak usah takut kerana kan putri sudah berada di sisi kata Putri selamba. Iya kata-kata Putri benar-benar memberikan semangat kepada saya untuk terus hidup dan memang saya berusaha untuk terus hidup dan menikmati makna/erti kehidupan ini bersama Putri seperti yang pernah dijanjikan sepuluh tahun yang dulu. Putri tentunya amat tahu segalanya. Putri ingatkah itu?

Tidurlah sambung Putri lagi sambil ia pegang tangan kiri saya. Terasakan pegangannya amat perlahan sekali yang tentu saja ditakutinya pegangan itu mengganggu tidur saya. Iya, saya amat merasakan pegangan itu. Memang jelas yang ada dekat saya ialah yang namanya Putri, bukan orang lain. Memangnya dia adalah Putri. Iya, alangkah bahagianya saya.

Tidurlah? pinta Putri lagi.

Tidak usah saya disuruh tidur dan nyatanya saya tidak akan tidur. Saya takut sekali ketika nantinya saya tidur kelak saya didorong pula ke kamar operasi. Demi Tuhan dan ketahuilah Putri bahawa yang saya langsung tidak mahu dioperasiKata saya serius. Putri tidak menjawab, tapi terus saja melihat wajah saya. Yang pasti Putri amat merasa serba salah segala.

Demi putri dan kawan-kawan yang masih sayangkan abang, lebih baik saja dioperasi dan saya yakin bakal tidak ada apa-apa, lagipun saya sudah minta izin pada Dr. Hilmi yang saya akan menunggu abang di dalam kamar nantinya, jadi abang tidak usah khuatir sangat saya lihat Putri semacam menggeleng-gelengkan kepalanya yang lalu terdengarlah nasihat para doktor yang merawat saya sejak minggu lalu untuk maksud segera minta izin untuk melakukan operasi dan tidak lama kemudian/maksudnya sesudah itu saya tidak lagi mendengar apa-apa selain pasti bahawa kalaulah saya dioperasi, maka saya akan pasti mati. Iya akan pasti mati.

Saya memang menolak untuk dioperasi dan kerana itu kapan saja dimasukkan ke rumah sakit, saya akan segera mengharapkan sangat diizinkan untuk pulang segera kerana rumah sakit sebenarnya menjadikan saya semakin bertambah sakit. Rumah sakit bukan maksud mahu menyembuhkan saya dari sakit, tapi rumah sakit sebenarnya dirasakan semakin menambahkan saya bertambah sakit dan segera kambuh semula. Iya, itulah tolakan yang muktamad dan tolakan itu merupakan kemestian yang harus dipatuhi oleh semua orang.

Saya memang takut sangat dan terasakan kalau nantinya dioperasi saya bakal mati. Berulangkali saya rasakan keadaan yang bakal terjadi. Memang saya amat takut sangat. Saya berusaha memegang tangan putri erat-erat dan putri hanya mendiamkan diri sama seperti sepuluh tahun yang lalu kala pertemuan pertama yang tentunya Putri sendiri tahu.

Iya, cuba saja Putri ingat-ingatkan peristiwa itu seperti yang selalu saya perkatakan. Ah, saya lihat Putri agak malu yang menyebabkan tidak mahu berkata apa-apa kecuali menyatakan yang cerita itu terlalu syok untuk dikenang kembali, tapi saya lihat dalam matanya ada rasa sayu, ada sedih yang amat sangat dan tiba-tiba hening seketika. Kenapa Putri jadi sedemikian?

Saya sayangkan kamu Putri sebab kamu terlalu baik sangat dan kerana itu saya tidak mahu dioperasi sebab kalau dioperasi tentunya saya akan mati dan bila saya mati, tentunya saya dan Putri bakal berpisah dan saya tidak mahu perpisahan antara kita terjadi lagi sebab perpisahan bermakna kematian Putri terdiam, sedih, terharu dan tiba-tiba saya lihat putri menangis. Kenapa Putri menangis? tapi saya rasa Putri semacam sengaja mahu menyembunyikan rasa sedihnya dan sempat menyatakan bahawa katanya hidup ini terlalu sengkat untuk dimengerti. Iya, kata-kata itulah yang selalu dicatatkan dalam surat-surat Putri sebelum ini. Apa maksudnya?

Saya yang sejak tadi asyik memerhatikan Putri secara tiba-tiba ikut menangis/menangis bukan kerana apa, tapi kerana mereka yang ada di sekeliling saya terlalu baik sangat kepada saya. Kenapa mereka baik sangat kepada saya? Iya, kebaikan semacam inilah yang selalu menjadikan saya tidak tenang sebab selalu saja semacam berat membawa beban budi, tapi Tuhan selalu saya harapkan akan memberikan berjuta rahmat kepada mereka yang terus mengasihi saya.

Saya tahu yang abang tidak tenang sekarang ini dan sebaiknya abang tidur saja tanpa memikirkan apa-apa yang menyebabkan sakit abang semakin bertambah dan percayalah saya tidak akan ke mana-mana, malah saya akan terus menjaga abang dan mempastikan yang abang kembali sihat seperti sepuluh tahu dulu Kata-kata Putri semacam bermain-main di telinga saya. Iya, saya ingat sangat akan kata-katanya itu. Memangnya itulah suara Putri, bukan suara orang lain. Memang suara Putri. Amat pasti segala. Saya tidak salah lagi. Memang pasti sangat.

Saya tidak mahu tidur Putri dan tidak akan tidur. Demi Tuhan, batalkan saja operasi itu. Rasanya esok adalah hari nahas saya. Kalau Putri memang mahu membunuh saya, maka lakukan saja operasi itu, tapi yakinlah bahawa kalau memang dilakukan jua, itu bermakna pertemuan kita akan berakhir di sini Putri bingung. Benar-benar binggung. Amat binggung sekali dan saya memang terisak-isak menangis yang semacam anak-anak yang kehilangan sesuatu.

Saya merasakan ada tangan lain yang mengusap air mata saya dan saya kenal benar tangan itu. Iya saya kenal benar dan menurut Putri kakak saya yang baru saja tiba dari Sembulan sedang menghadapi saya bersama dua orang putera saya yang cukup baik kepada saya. Benarkah kedua-dua putera saya hadir sama? Ah, yang pasti saya tidak dapat melihat mereka kerana yang jelas yang saya lihat agak kabur sekali alias berkunang-kunang.

Iya, saya tahu tangan yang mengusap itu milik kakak saya dan yang menghampiri saya pula adalah jua adik kesayangan saya yang satu-satunya itu. Kenapa yang lain tidak hadir sama? Ke mana dia sekarang ini? Siapa dia yang saya maksudkan? Entahlah dan kenapa jadi demikian?. Tak apalah, saya sendiri tidak mahu menyusahkan orang lain, apa lagi untuk melihat saya yang terlantar di sini. Tak apalah Putri.

Tidak apalah kerana saya sendiri tidak memerlukan sangat kehadiran yang lainnya sebab saya sendiri lebih tidak suka didatangi oleh sesiapapun kala menghadapi saat sedemikian rupa dan kerana itulah tahun lalu ketika saya dimasukkan ke tempat sama telah saya pesan kepada Siah supaya tidak diberi tahukan kepada sesiapapun yang saya ditahan di tempat sama dan hampir 10 hari saya terlantar tanpa sesiapa dekat saya kecuali Siah yang memang terlalu baik terhadap saya. Terima kasih banyak Siah!

Iya, sekarang saya semakin lemah. Benar-benar lemah. Sakit terasakan di mana-mana. Menusuk, menikam dan menusuk luati. Darah semacam terhenti mengalir ke mana-mana. Jantung semakin guyah dan terasakan semacam enggan berdegup. Degupnya sesekali terasakan terstop secara mendadak. Payah sangat untuk saya mencari nafas yang hilang. Iya, kenapa saya sedemikian jadinya? Apa yang telah terjadi dalam diri saya ini?

Saya rasakan dunia ini semacam menghilang. Saya rasa dunia semacam tidak mahu menerima kehadiran saya. Sakit semakin menikam. Iya, semakin menikam dan terus saja menikam. Bisanya tidak pernah saya rasakan sebelum ini dan saya benar-benar jadi lemah. Lemah yang tidak bermaya langsung. Benar-benar lemah. Lemah sangat hingga saya tidak bisa berkata apa-apa lagi. Mulut terasa berat untuk berkata-kata. Memang tersangat berat untuk berkata-kata. Maha berat segala.

Nafas saya semakin sukar sangat didapatkan. Semakin hilang.Iya,semakinhilang .Hilangentahkemana.Sesekali ada dan sesekali tidak ada. Sesekali ada dan sesekali hilang terbang melayang. Sesekali datang dan sesekali menghilang dan akhirnya saya hilang ingatan dan ubat bius rupanya menjalar ke mana-mana. Menjalar ke otak saya, menjalar ke jantung saya, menjalar ke mata saya dan sesudah itu saya merasakan sangat bahawa saya sudah berada di pangkuan malaikat Izrail yang entah mahu ke mana saya dibawanya segala.

Selamat tinggal kakak, selamat tinggal duhai kedua-dua putera saya. Selamat tinggal Dr. Hilmi yang baik. Selamat tinggal Siah yang berbudi dan semuanya akan menjadi teman baik seumur hidup saya dan saya tidak akan lupa sebab saya bukanlah orangnya yang tidak mengenang budi langsung seperti orang lain.

Terima kasih segalanya dan rasanya kalian tidak usah ragu dan khuatir sangat bahawa saya akan terus memperjuangkan hidup saya seperti yang diinginkan oleh Putri dan kawan-kawan terdekat. Saya akan memohon terus kepada Tuhan supaya nyawa saya tidak usah diambil atau segera membatalkan untuk mencopot nyawa saya yang satu-satunya ini.

Saya sebenarnya mahu ke luar daerah. Jauh mengembara. Mengembara di daerah yang terakhir dikunjungi. Saya mahu pindah. Pindah ke suatu daerah yang nantinya semua orang bakal ke sana. Iya, saya mahu pindah ke mana saja/asal tidak di tempat sekarang ini.

Saya mahu berjalan ke mana-mana saja. Saya mahu menikmati udara yang dingin. Saya mahu merasakan tiupan angin senja yang lembut dan menyenangkan saya. Saya mahu menyusuri pinggir pantai sambil berjalan melihat matahari senja yang terbenam lewat di sebalik perbukitan dan sekaligus melihat cahaya kemerah-merahan yang selalu saja berlari di permukaan ombak kala senja tiba.

Kamu tahu Putri bahawa sebenarnya saya kepingin sangat mahu berpergian bersama kamu melihat pantai, melihat kerikil-kerikil tajam, melihat ombak yang bermain di gigian pantai dan menikmati angin senja dan kemudian memutuskan untuk tidak mengizinkan perpisahan ada dalam diari kehidupan kita yang sisa.

Waktu yang kita lewati telah memberikan kesan kepada diri kita. Iya, memang saya mahu pergi bersama Putri sebab Putri adalah sama seperti matahari yang terbit di ufuk timur kala pagi menjelma dan tentunya kehadiran Putri membawa sinar yang sama sekali berbeda dalam hidup saya yang terlalu banyak sia-sianya.

Ah, mana mungkin ini bisa terjadi kala kita berada dalam dunia yang berbeda. Maafkan saya Putri. Saya sesungguhnya tidak terdaya melawan takdir yang ditentukan. Takdir yang ditentukan oleh Yang Maha Berkuasa. Maafkan saya Putri. Iya, maafkan saya. Maafkan saya. Saya mohon sangat. Mohon. Saya memangnya tidak terdaya. Saya lemah dan terlalu lemah. Benar-benar Lemah. Amat lemah sekali. Iya lemah sekali. Di mana saya sekarang ini? Di mana iya? Entahlah!___________________(22/1/2001 jam 01:30 am)

Cerpen Firman Venayaksa**

Para Penyair (yang isi syairnya mencela nabi dan kaum muslimin) itu, diturut (dianut) oleh orang-orang yang sesat. Apakah engkau dapat melihat, bahwa penyair itu mengembara di lembah-lembah khayalan. Dan sesungguhnya mereka tidak perbuat. Kecuali (para penyair) yang beriman dan beramal saleh dan banyak mengingat Allah (dalam syairnya) dan membela diri sesudah didzalimi. Dan orang-orang yang dzalim akan tahu ke tempat terakhir yang manakah mereka akan kembali. (Quran, 26: 224-227)

Satu, dua, tiga. Kubuat nadi-nadi melumat air mataku.

Saya tahu benar kelakuan mereka, kegiatan absurd. Telah lama Saya menatap kesedihan di dalam komunitas itu. Kesedihan absurd. Kacau. Itu yang biasa mereka katakan.

Pagi-pagi sekali mereka terbangun. Membidik matahari. Atau mungkin juga menancapkan bendera komunitasnya di kegamangan alam yang baru menitipkan cuaca pada mereka. Bersatu membabad kata-kata, melukiskan kehebatan pemikiran masing-masing. Katanya ingin menggenggam dunia. Walau pada kenyataannya mereka tak mempunyai kemampuan sedikitpun dalam memporakporandakan puisi Chairil Anwar, Sutardji, apalagi Rendra. Namun tekad mereka sudah bulat. Menggenggam dunia.

Sudah lama saya meratapi air mata di komunitas itu. Hari-hari yang jelita, nampak begitu sedih ketika melihat mereka, merobek beberapa hati yang dulu sempat terbuai oleh kata-kata manis Gibran. Tapi yang katanya sastrawan adalah penjelmaan para nabi. Benar, tapi juga banyak salahnya. Ketika berbicara benar, mereka mengupas humanistik, tentang kehidupan yang tentunya mereka bicarakan dalam puisi-puisi mereka. Banyak salahnya, karena kegiatan mereka yang absurd, tidak menghiraukan dirinya sendiri. Mereka terlalu senang beronani, terlalu berambisi untuk menguasai dunia.

Apakah mereka itu suka sembahyang? Tak tahu juga. Yang pasti mereka tidak pernah ingkar terhadap Tuhan. Selalu mengingatnya, bahkan setiap kali mau berdiskusi mereka berdzikir dulu untuk selalu mengimani puisi Tuhan.

Seperti biasa kegiatan kami yang tak henti-hentinya kami lakukan adalah berdiskusi, karena kami tahu betul kegunaan bersilaturahmi pemikiran ini. Banyak manusia yang telah menggengam dunia dimulai dengan diskusi kecil-kecilan, lima sampai sepuluh orang, atau mungkin sedikit lebih. Kami biasa berdiskusi di tempat biasa, bangunan kecil. Dulunya adalah sebuah WC, tetapi karena tidak berfungsi, maka kami bersepakat untuk menjadikannya sebagai sebuah markas.

Lukman Asya, atau lebih dikenal dengan nama Ki Gendeng–karena dia dikenal gendeng dalam membuat puisi dahsyat--memulai percakapannya,

Baiklah, kali ini kita berbicara tentang manusia. Sebagai seorang manusia, saya akan bicara tentang mereka. Manusia itu adalah manusia, bukan binatang, bukan tumbuhan, bukan juga angin, laut, langit dan sebagainya. Jadi manusia ya manusia saja.

Tunggu dulu. Sebelum membicarakan manusia, kita harus mempunyai batasan yang jelas tentang manusia itu sendiri. Kacau kalau tidak ada batasannya. Ujianto Sadewa sedikit menginterupsi.

Begini saja, kalau memang ingin batasan yang jelas, lihat saja kerbau. Manusia itu tak ubahnya seperti kerbau. Saya pernah melihat bahwa banyak manusia yang ditindik hidungnya, kemudian dituntun kemana saja mereka mau. Bahkan dikorbankan juga, mereka tidak pernah berargumen. Jadi kesimpulan saya menyatakan bahwa manusia itu kerbau.

Loh, katanya manusia itu ya, manusia saja. Kok tiba-tiba mengatakan bahwa manusia itu kerbau. Wah pemikiran yang kacau itu, absurd sekali.

Nah, mungkin lebih tepat jika manusia adalah absurditas itu sendiri, karena pada kenyataannya manusia bisa menjadi apa saja, bahkan ya menjadi kerbau tadi. Arip Senjaya ikut berbicara.

Betul saya sepakat. Bahkan saya pernah melihat manusia bertubuh manusia, tetapi berwajah srigala. Saya tidak berbohong loh, ini serius. Ketika saya sedang menikmati kehidupan di dekat sebuah bangunan yang begitu megah, saya melihat hal yang ganjil. Ya itu tadi yang saya sebutkan, berbadan manusia tapi berwajah srigala. Saya penasaran, sangat penasaran. Lalu aku kuntit orang itu. Kalau dilihat dari belakang, jelas bahwa orang itu adalah wanita yang sudah termakan usia. Jalannya begitu sungsang. Sampailah disuatu ruangan yang sangat megah. Pintunya saja terbuat dari emas. Belum lagi kalau melihat tata ruang yang begitu dahsyat, Gila, sungguh fantastis! Dan sebelum dia masuk, dia menoleh dan tersenyum kepadaku.

Mari masuk nak, ayo, jangan malu-malu. Saking takutnya, aku lari terbirit-birit. Buku-buku puisi yang berserakan tak aku ambil lagi, aku begitu takut. Dadan Sepultura mengeluarkan kegelisahannya dengan mimik yang serius.

Wah, penakut sekali kau? Sadewa mengejek.

Begini saja, kalau kalian ingin menyaksikan, kita sama-sama kesana. Aku jadi ingin tahu reaksi kalian kalau melihat wanita itu. Dadan mengajak.

Saya kira semua akan ikut kesana bukan? Senjaya berkata dengan nada berani.

Saya kira, saya akan disini saja. Terus terang saya tidak mau berresiko melihat wanita berkepala srigala itu.

Rupanya ada manusia pengecut disini, hah. Sudah kau keluar saja dari komunitas ini, dan jadilah gelandangan miskin. Ki Gendeng menatap sinis.

Jadi manusia itu sebenarnya apa? Saya berusaha meneruskan diskusi yang telah keluar batas ini. Saya dibuat pusing oleh mereka. Padahal tak seharusnya diskusi ini membicarakan manusia, karena walau bagaimanapun manusia adalah diri kita. Tak perlu dinobatkan bahwa manusia adalah kerbau atau srigala.

Kita kan tahu bahwa diskusi ini untuk mencari kesimpulan, agar semuanya bersepakat kita harus mempunyai titik temu, agar nantinya tidak salah kaprah tentang keberadaan manusia. Bahasa yang konkret lah. sebenarnya manusia itu adalah anu, gitu loh!

Loh, kok dimentahkan lagi. Saya tegaskan sekali lagi bahwa manusia itu manusia, tetapi dengan sifat yang absurd, mengerti?

Baik, baik, saya mengerti. Padahal saya sama sekali tidak mengerti apa yang mereka simpulkan.

Untuk sekarang, saya kira diskusi ini harus kita hentikan. Saya yakin pembicaraan yang telah kita lakukan ini akan menjadi bahan kontemplasi, dan semoga jiwa-jiwa kita menjadi jiwa yang manusiawi, tidak seperti si Venayaksa yang kelewat pengecut ini. Besok kita ke rumah wanita itu. Dan buat kamu Venayaksa, jangan lagi datang ke tempat ini, mengerti? Ki Gendeng mengakhiri pembicaraan kami tentang manusia yang tak tuntas.

*****

12 Syawal. Kematian komunitas kami, mereka tiba tiba menghilang entah kemana. Tak ada lagi diskusi dan membaca puisi keras-keras. WC yang dulu menjadi tempat kami bersenggama, kini lengang tak ada nafas sastra. Tak ada yang berdebat tentang siapa manusia, bagaimana wajah Tuhan, dan segumpal pertanyaan yang tak layak dibicarakan manusia-manusia serius.

*****

Saya tinggal di tempat yang begitu sesak. Rumah-rumah kecil yang kumuh, disanalah saya bermukim dari sengatan matahari dan centilnya angin malam—setelah tak ada lagi orang-orang di markas-- Setidaknya tidak ada lagi kegaduhan, begitu tenang. Aku tak habis mengerti mengapa ditempat yang begitu banyak penduduknya, tetapi aku tak pernah melihat anak-anak yang bermain, tak nampak pemuda yang nongkrong untuk bermain gitar atau begadang main gapleh. Semuanya begitu sistematis apatis.

Tetapi suatu ketika, seorang wanita tua aneh, yang biasa dipanggil Mak Jenat; meninggal dunia. Disanalah mulai terjadi perubahan yang dramatis. Semua penduduk mulai keluar, tak ada lagi kelengangan. Dengan pakaian serba putih, mereka berbondong pergi ke rumah Mak Jenat untuk melayat, melihatnya untuk yang terakhir kali. Yang laki-laki membawa linggis, pacul dan seabreg peralatan penggalian kubur; sedangkan para wanita sibuk memikul beras, sayurmayur, daging, bahkan ada juga yang membawa kompor gas. Mereka bergegas menuju ruang dapur untuk memasak apa saja.

Hari kala itu begitu cerah, mak Jenatpun dikuburkan. Semua bersorak sorai. Saya tak habis mengerti, mengapa orang yang mati malah menjadi pesta bagi masyarakat disini. Penasaran-pun menjadi hukuman buat otak saya. Akhirnya saya bertanya kepada ibu kos.

Sebetulnya Mak Jenat itu orang yang baik. Dia selalu menolong orang-orang kampung. Kalau ada kegiatan pengajian, dia selalu membawa makanan yang banyak, untuk diberikan kepada orang-orang miskin. Tapi sayangnya.... Ibu Kos diam sebentar. Dia menengok ke luar jendela, seperti maling yang takut ketahuan pemilik rumah yang akan diganyangnya.

Tapi sayangnya apa Bu? Saya penasaran.

Tapi sayangnya, dia ternyata mempunyai ilmu hitam.

Ilmu hitam? saya terperanjat keheranan. Maksud Ibu ilmu hitam seperti santet?

Ya, seperti itulah. Katanya sih, dia belajar dari Tubagus Madroi, sesepuh Banten dari Gunung Karang.

Tapi mengapa dia ingin belajar ilmu seperti itu, bukankah kekayaannya begitu melimpah?

Betul, tapi ada satu hal yang tidak dia punyai, yaitu kekayaan batiniah. Dia ingin mempunyai suami. Sayangnya tak ada satupun pemuda di kampung ini yang mau dengannya. Bukankah kau melihat sendiri bagaimana struktur wajahnya itu, seperti Nini Lampir. Hi..Hi..Hi..

Kasihan sekali dia. Jadi karena itukah dia berguru ke Tubagus Madroi?

Ya...mungkin. Yang pasti selama satu tahun dia pergi tanpa kabar berita. Rumahnya ya, ibu yang jaga. Setelah satu tahun itu, tiba-tiba dia datang dengan empat orang pemuda ganteng dan membawa setumpuk kitab-kitab. Setiap malam mereka selalu membacanya. Ibu tidak mengerti dengan bahasanya, mungkin mantra. Yang ibu ingat hanya‘izukalizu’kayak gitulah. Izukalizu, sepertinya saya pernah mendengar kata-kata itu.

Lalu bagaimana reaksi dari warga kampung ini, Bu?

Pertamanya sih biasa-biasa saja. Hingga pada suatu saat ada kejadian yang sangat mengherankan. Si Opik, pemuda ganteng, anaknya Pak Lurah, tiba-tiba terkena penyakit yang aneh.

Aneh bagaimana, Bu?

Semua tubuhnya mengeluarkan nanah yang menjijikan. Pak Lurah segera membawa anaknya ke rumah sakit. Tapi setelah di periksa oleh Dokter, katanya sih tidak terdete..terdes...

Tidak terdeteksi maksud Ibu.

Nah, ya itu maksud ibu, tidak terdesteski. Saya tersenyum kecil. Akhirnya Pak Lurah membawa Si Opik ke orang pinter. Ternyata setelah diperiksa, Si Embah itu mengatakan bahwa ada yang menyantetnya.

Si Embah tahu siapa yang menyantetnya?

Ya, dia langsung mengatakan bahwa yang menyantet Si Opik adalah Mak Jenat itu. Semua warga benar-benar tidak menyangka. Mak Jenat yang sangat ramah dan suka menolong itu ternyata seorang tukang santet. Akhirnya dia menjadi pembicaraan tak henti-hentinya. Beritapun sampai juga ke telinga Mak Jenat.

Lalu bagaimana reaksinya?

Adem ayem. Dia sama sekali tidak menghiraukannya. Tapi semenjak itu, dia tak lagi nampak. Dia selalu mengurung dirumahnya, mungkin sedang bersenggama dengan empat pemuda itu.

Hus, ibu ada-ada saja.

Lantas tentang Si Opik itu bagaimana, Bu?

Tidak berapa lama akhirnya Si Opik meninggal. Pak Lurah benar-benar berduka. Akhirnya dia‘menghasut’masyarakat untuk membakar rumah Mak Jenat.

Kesampean?

Tidak. Pak Lurah meninggal pada malam harinya. Para warga yakin bahwa kematian Pak Lurah tidak wajar. Semenjak itu semua warga tidak mau membicarakan tentang Mak Jenat lagi.

Lalu mengapa Mak Jenat meninggal?

Nah kalau tentang ini, Ibu menyaksikannya dengan jelas, ngintip sih. Kejadiannya tepat ketika malam Jum’at. Seperti biasa Mak jenat membacakan mantranya, yang‘izukalizu’itu. Tiba-tiba Keempat pemuda ganteng itu, dari arah belakang mengayunkan sebuah balok besar, detik itu Mak Jenat terbujur di lantai. Mereka segera mendekati Mak Jenat, sekedar memastikan apakah dia sudah mati atau belum. Mereka sama-sama memegang Mak Jenat, mungkin mau menguburnya. Tapi begitu mereka memegang jasadnya, tiba-tiba mereka berteriak histeris.

Lalu apa yang terjadi, Bu?

Tiba-tiba seluruh tubuh mereka berubah menjadi tubuh binatang. Ada yang bertubuh kerbau, babi, keledai bahkan kucing. Lalu semua berteriak membaca mantra yang biasa di ucapkan oleh Mak Jenat,‘izukalizu’itu.

Terus?

Terus keajaiban datang. Mereka berubah kembali seperti manusia. Akhirnya mereka pergi entah kemana. Mereka meninggalkan Mak Jenat yang terbujur kaku.

Wah ajaib sekali.

*****

Saya rindu dengan markas yang telah lama saya tinggalkan. Akhirnya saya kembali kesana. Ternyata mereka: Sadewa, Senjaya, Sepultura, dan Ki Gendeng telah berada di markas itu. Samar-samar terdengar seperti sebuah puisi dibacakan. Izukalizu....

Tanah Air, 2000

*) Izukalizu...Terdapat dalam Puisinya Sutardji Coulzum Bachri.

**Penulis adalah mahasiswa Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Pendidikan Indonesia. Tergabung di Arena Studi dan Apresiasi Sastra, sebagai Ketua Divisi Pengkajian Sastra ketika Universitas Pendidikan Indonesia masih dalam kandungan. Kini Penulis berdomisili di Jalan Cilimus No. 07 Bandung 40154.

MATA SEORANG IBU

Cerpen Budi P. Hatees

Ketika para perempuan di bagian Barat negeri itu sudah boleh bicara tentang hak asasi manusia sambil berarak-arak dan teriak-teriak di sepanjang kota, kepadanya justru datang seorang laki-laki yang lantas memperkosanya. Tidak ada suara teriakan, hanya angin malam yang dingin masuk dari pintu yang terbuka dan terasa bagai sebilah belati mengiris-iris tubuhnya bersama rasa sakit yang tidak terkatakan dio bagian mana dari jiwanya setelah lelaki itu pergi.

Sembilan bulan kemudian ia melahirkan seorang bayi laki-laki tanpa pertolongan siapa pun di bekas kandang kuda, tempat dia dikucilkan keluarganya karena aib yang tumbuh di dalam rahimnya itu. Di tumpukan jerami kering dan bau amis kecing dan kotoran kuda, di sampingnya puluhan tikus berselewiran sambil mencericit mencium amis darah ketubannya, bayi merah itu dipeluknya erat-erat.

Sebulan kemudian segerombolan laki-laki bertubuh kekar datang bersama kuda mereka dan mendobrak pintu kandang kuda tempat ia dikucilkan, lantas meraih bayi yang sedang berbaring di dadanya. Seperti sebelumnya, ia hanya diam dan baru menangis tanpa suara ketika gerombolan berkuda itu pergi membawa anaknya.

Sembilan belas tahun kemudian, ketika ia sedang di beranda rumah memandang jauh ke hutan belantara yang menyembunyikan sebuah perkampungan para pemberontak di dalamnya, tiba-tiba seorang pemuda -- mengaku bernama Pedro -- muncul di hadapannya. Kemudian berteriak memanggil ibu kepadanya, sambil berlutut di kakinya. Seperti sebelumnya, ia diam saja dan seolah-olah tidak terpengaruh dengan kehadiran pemuda itu. Matanya lurus ke depan, memandang hutan belantara di kejauhan yang menyembunyikan perkampungan para pemberontak itu.

"Aku Pedro, Ma. Akulah anak yang direbut dari pelukanmu belasan tahun lalu. Aku baru tahu soal ini, lantas kabur dari perkampungan mereka." Pemuda itu diam sebentar, melihat reaksi perempuan itu. "Ma, aku anakmu. Anakmu, Ma. Aku menyesali semua masa lalumu, aku akan menjagamu, Ma."

Perempuan itu tetap diam, tapi bola matanya yang basah mulai menatap pemuda itu. Tiba-tiba saja sebuah senyuman terbentuk di bibirnya yang keriput, lantas meminta pemuda itu agar berdiri. Kemudian dipeluknya tanpa sepatah kata pun, hanya air matanya yang mengucur begitu deras. Mengalir di garis-garis ketuaan yang terbentuk pada kulit wajahnya, dan menetes dari dagu sampai di ubun-ubun pemuda itu.

Pemuda itu tersenyum dalam pelukan perempuan tua itu. Dari balik pinggang ia keluarkan sebilah belati, lalu menancapkannya di punggung perempuan itu, yang lantas tersentak kaget. "Kau..." Perempuan tua itu rubuh dengan sorot mata yang menyimpan rasa iba. Pemuda itu lantas tertawa, tapi mendadak terdiam begitu mendengar rintih terakhir perempuan itu. "Kau... Kau..., anakku."

Tubuh pemuda itu bergetar. Belati di tangannya mendadak terlepas, jatuh tepat di ujung sepatunya. Tiba-tiba saja ia bertriak histeris, menyentakkan puluhan lelaki berkuda yang mendadak keluar dari persembunyiannya di balik rumah penduduk. Seseorang mendekatinya kemudian, lantas menepuk pundaknya. "Mari kita pulang, Pedro. Tugasmu sudah selesai," katanya.

***

Menjelamg malam, rombongan Pedro tiba di perkampungan para pemberontak. Puluhan orang bersenjata menyambutnya dengan suka cita, menggiring kudanya ke tempat penambatan. Tapi Pedro diam saja, bahkan ketika Gustamego muncul bersama Alberto -- para pemimpin pemberontak yang sangat dihormati di perkampungan ini -- dan, Eduardom -- pemimpin lain yang selama ini banyak tinggal di luar negeri.

"Kau sudah melaksanakan tugasmu, Nak," kata Gustamego sambil membimbingnya ke sebuah kemah yang paling besar dari sekitar lima belas kemah di perkampungan itu.

Pedro tetap diam, mengikuti langkah Gustamego -- orang yang selama ini selalu dipanggilnya ayah. Alberto, Eduardo, dan beberapa orang lainnya mengikuti dari belakang, berkumpul dalam kemah itu. Mendadak muncul Sandra, satu-satunya perempuan di perkampungan itu, sambil membawa minuman. Satu per satu gelas dituangi, satu per satu tangan terjulur meraih, kecuali Pedro.

Pemuda itu justru terkenang pada sorot mata perempuan yang baru dibunuhnya. Entah mengapa, Pedro merasakan sesuatu yang hangat memancar dari bola mata itu, yang membuat tubuhnya mendadak begitu tenang. Dan kini, tubuh Pedro gemetar amat hebat, lalu menatap tajam satu per satu orang yang berkumpul dalam kemah itu.

"Jujurlah padaku, Papa. Siapa perempuan itu sebetulnya?" tiba-tiba saja pertanyaan itu diajukan Pedro, membuat suasana jadi hening. Semua mata menatap Gustamego, kemudian menatap Pedro silih-berganti.

Gustamego tersentak dan merasa dipojokkan, lantas mendamprat Pedro. "Tidak seorang pun di sini boleh tahu siapa yang menjadi korbannya, tapi hanya boleh melaksanakan tugasnya. Ini sudah peraturan, siapa pun tidak boleh mendebat," tegas Gustamego, kemudian diam. Menahan gejolak dalam dadanya, yang seketika bergemuruh begitu hebat.

"Aku melihat matanya sebelum meninggal. Aku menemukan kehangatan pandangan seorang ibu di sana."

"Kau tahu apa soal ibu. Tidak seorang pun di sini yang punya ibu."

"Aku manusia, Papa."

"Semua orang di sini manusia."

"Tidak. Bukan manusia kalau tidak merasakan hangatnya tatapan seorang ibu."

"Tutup mulutmu."

"Aku tidak mau lagi di sini. Aku muak dengan siatuasi seperti ini."

"Lantas mau apa?"

"Aku keluar dari situasi ini."

Pedro berdiri, keluar dari kemah. Teriakan Gustamego menyuruhnya berhenti tidak diperdulikannya. Pedro tetap berlari menuju tempat penambatan kuda. Tapi, dua orang lantas menahannya. Mengacungkan moncong senapan ke arahnya. Pedro mendelik, menepis moncong senjata itu. Salah satu direbutnya, tapi moncong senjata satunya lagi mengarah ke punggungnya. Pedro membalik, menghantam orang itu dengan popor senapan. Tapi orang itu mengelak, memberikan perlawan. Perdro makin marah, lantas menembaknya.

"Bangsat kau, Pedro!" teriak Gustamego, dan berlari menyongsongnya.

"Berhenti, atau kutembak!" Pedro mengacungkan senjatanya.

Gustamego tidak perduli, tetap mengejarnya. Tiba-tiba saja senapan di tangan Pedro meledak, tubuh Gustamego terjungkal. Sebutir peluruh tembus di dadanya.

Melihat hal itu, para pemberontak mengokang senapan dan menembak Pedro. Sebutir peluruh tembus di lengannya. Tapi Pemuda tidak gentar, lantas berlari mencapai kudanya. Para pemberontak memberondonginya dengan peluiruh ketika Pedro berhasil memacu kudanya keluar dari hutan.

***

Malam telah tiba. Kuda Pedro merobek kegelapan. Luka pada lengan Pedro makin banyak mengucurkan darah. Puluhan orang di belakangnya terus mengejar. Pedro memacu kudanya lebih cepat. Tujuan Pedro satu, keluar dari kawasan hutan. Memasuki perkampungan, dan mendatangi perkemahan tentara pemerintah.

Tapi, kegelapan membuat Pedro tidak bisa melihat dengan jelas. Tiba-tiba Pedro terjatuh setelah menabrak sesuatu. Pedro merasakan sakit yang sangat pada dadanya. Kepalanya pusing. Dilihatnya kudanya terus berlari.

Rombongan yang mengejarnya makin mendekat. Pedro bersembunyi di balik semak belukar sambil menyiapkan senapan di tangan. Rombongan pengejar lebih dekat, lantas lewat mengejar kudanya. Pedro menghela nafas lega, lalu merayap ke pusat kota. Mendatangi perkemahan tentara pusat.

Sudah bulat tekadnya menyerahkan diri. Daripada dikejar-kejar bayangan tatapan mata perempuan itu. Tapi, begitu Pedro memasuki wilayah perkemahan tentara pusat, tiba-tiba seseorang membentaknya.

"Siapa?"

"Pedro. Aku mau menyerahkan diri."

"Pedro!?" Orang itu tidak percaya. "Pedro, komandan tempur pemberontak itu?"

"Ya. Aku mau menyerahkan diri. Aku khilaf selama ini."

Orang itu tersenyum. Tiba-tiba dia diam sebentar, lantas menyeret Pedro ke semak-belukar. Pedro tidak bisa melawan, tubuhnya lemah kehabisan darah. Bahkan ketika orang itu mengacungkan moncong senapan ke arah dadanya, Pedro hanya bisa memejamkan mata. Mendadak ia lihat wajah perempuan itu berkelebat. Ia lihat mata yang berair itu, tertuju kepadanya. Dan, ketika senapa itu pun meledak, Pedro tersenyum sambil menutup mata.

Puluhan tentara pusat keluar dari kemah, tiarap di sekitar kemahnya sambil mengarahkan moncong senapan ke arah suara ledakan. Orang itu pun muncul menyeret menyeret mayat Pedro dari kegelapan semak-belukar.

"Aku telah membunuhnya. Aku pergoki ia mengendap-endap di sekitar perkemahan kita."

"Siapa itu?" tanya Letnan Jumadi, komandan regu.

"Pedro. Aku mengenali betul sosoknya dalam kegelapan."

Para tentara pusat mendekat. Memastikan mayat orang yang mereka buru selama ini. Dan orang itu disanjung-sanjung, diarak di wilayah perkemahan. Besoknya, Letnan Jumadi mengumumkan akan memberinya kenaikan pangkat.

Dua hari kemudian, berita kematian Pedro -- komandan tempur pemberontak -- masuk dalam surat kabar pusat. Gustamego membacanya, ketika salah seorang pemberontak yang disusupkan ke pemerintah pusat datang membawa koran tersebut, dan termenung. Dia teringat kejadian puluhan tahun lalu, perempuan yang diperkosanya, sampai pada Pedro. Air matanya mengalir deras.

***

RENDEZVOUS

Cerpen Firman Venayaksa

Barang siapa mencintai dunianya,iapun membahayakan akhiratnya, dan siapa mencintai akhiratnya, ia pun membahayakan dunianya, maka utamakanlah yang kekal daripada yang fana (musnah)

(Al-Hadist)

Ide tersebut muncul mendadak. Seperti ribuan kutu di bulu kelinci putih. Ya, mungkin juga seperti bayi kecil yang tiba-tiba menelan pil koplo. Bisa juga seperti angin yang mendadak menampar pipi hutan. Ide gila!

Vladimir mendatangi sebuah telaga di dekat rumahnya. Wajahnya mendongak, dia berkaca di air yang jernih mengkristal. Sepertinya berkomunikasi dengan bayangan yang tercermin di air tenang itu.

Bagaimana kalau kita sama-sama mati? Tidur damai di dalam tanah pekat. Kematian tidak menakutkanku, sebab selama aku ada, kematian tidak bersamaku, dan ketika ia datang, kita tidak ada lagi.

Itu bisa diatur. Asal ada maksud dan tujuan, aku bisa menentukan takdir.

Ya, aku hanya ingin kesunyian. Velitsa itu lho?

Wanita mana lagi?

Ketika aku membaca sebuah novel di taman Epicurus, tiba-tiba terdengar iringan sayatan lirih menggembalakan imajinasiku. Aku mencari asal muasal suara itu. Sampai akhirnya aku melihat sesosok wanita muda yang sedang menarikan jari jemarinya yang lentik diatas himpitan senar-senar. Dia sama sekali tak menghiraukan keadaan di sekelilingnya, sepertinya dia sedang mengembara ke suatu alam yang hening namun menyejukkan. Lalu wanita itu menghentikan permainannya. Dengan mengikuti ke-penasaranpengertian-ku, aku berusaha untuk berkenalan dengannya. Ternyata dia mengetahui bahwa ada yang sedang mengamatinya. Dia menyodorkan tangannya dan berbicara dengan penuh kelembutan.

Namaku Velitsa, kau Vladimir bukan? Hatiku terpagut, aku kikuk. Sebelum sempat menjawab dan menikmati keelokan matanya, dia pergi diiringi lembayung senja. Aku tetap mematung.

Jadi kau suka kepadanya. Ha..ha dasar binatang cinta.

Bukan, bukan tentang wanitanya, tapi tentang sayatan kesunyian, tentang benda empat senar itu.

Biola?

Ya, biola yang firdaus. Gelombang allegro yang dia tanam diantara rimbunan rerumputan. Begitu menyayat ujung sukmaku. Aku memang tak mengenal nada-nada, benar-benar buta. Tapi ketika telingaku berpapasan dengan sayatan itu, tiba-tiba aku merasakan kesejukan yang tak sempat aku nikmati sebelumnya, kehampaan; seperti samudra yang lelap tertidur di lautan.

Lalu apa yang bisa aku lakukan?

Membawakukealammimpi!

Apa,mimpi ?

ya,akuinginmemimpikannya ,walaupunakutakutjikaimpiankuterwujudmakaakutakpunyalagialasanuntukhidup .Kau tahu, jika aku bermimpi tentangnya, maka aku akan memberanikan diri mengambil dan memeluk biola itu. Ijinkan aku barang sebentar saja mengecup dahi empat senar itu.

Bagaimana dengan Velitsa? Dia pasti akan kesunyian dan tak akan ada lagi sayatan-sayatan kehidupan.

Betul juga. Lho bukannya kita berada di dunia maya, seperti yang kamu katakan tempo hari. Apa yang kita rasakan oleh pengindraan kita adalah ilusi semata. Segala sesuatu berubah; tak ada yang permanen. Di dalam dunia indra ini tak ada sesuatu yang selalu ada, yang ada hanyalah sesuatu yang datang dan pergi1). Ini semua hanyalah fenomena. Ini hanyalah bayang-bayang dari dunia mimpi. Jadi ijinkan aku pergi ke dunia mimpi, yang mengenainya kita dapat memiliki pengetahuan sejati.

Kau memang murid yang cerdas. Lalu apa yang akan kau lakukan di dunia mimpi?

Mencari sayatan biola Velitsa. Ayolah dewaku, carikan jalannya untukku.

Jangan kau sebut nama itu. Aku telah katakan dari dulu bahwa aku bukanlah dewa. Aku hanyalah seorang utusan. Aku adalah iblis, iblis yang bertobat, aku adalah bayanganmu. Sebut saja namaku Hermes.

Baiklah, Hermes. Jika benar kau utusan para dewa maka carikan jalan agar aku bisa masuk ke dunia ide.

Gunakan akalmu.

Akal?

Ya, akal. Berpikirlah. Orang yang tak pernah belajar dari masa tiga ribu tahun berarti dia tak memanfaatkan akalnya2). Manusia adalah binatang yang berpikir. Jika kau tak mau berpikir, maka kau bukanlah manusia sungguhan. Kau benar-benar menjadi binatang; mungkin tikus got, atau....

Sudahlah, tak perlu kau teruskan. Terimakasih atas sanjungan tak beradab itu. Aku akan berpikir. Tapi apa yang harus aku pikirkan? Otakku resah, aku tak mampu berpikir.

Baguslah kalau kau merasakan keresahan, karena keresahan adalah bukti bahwa manusia berpikir.

Tiba-tiba percakapan mati, hening; tak ada pertempuran kata.

***

Vladimir mengerutkan dahi, tapi dia tak pernah memahami sedikitpun tentang apa-apa yang dipikirkannya. Yang bertengger di benaknya hanyalah kerumunan nada-nada biola yang digesek oleh wanita muda; Velitsa.

Velitsa adalah seorang wanita yang paling dia kagumi, walaupun baru pertama kali bertemu. Permainan biolanya yang begitu fantastis, membuat bulu kuduk Vladimir berdiri. Jika mendengarkan sayatan nada-nada empat senar itu, pikirannya mengembara begitu bebas. Keinginan untuk mati, keinginan berkeheningan, begitu menjejali otak bekunya.

Malam itu Vladimir tak bisa tidur. Dia rindu nada-nada itu.

Mengapa aku begitu merindukan keheningan, tapi apakah benar aku ingin mati? Aku harus bertemu dengannya malam ini. Gumamnya dikala keresahan otak semakin menjalar.

Tapi kemana aku harus menemuinya? Oh ya, dia biasa menyendiri di taman Epicurus. Aku harus segera kesana, sebelum kabut berkembang menyelimuti tanah.

Bulan menggantung di langit, bintang mengedipkan matanya, genit sungguh, angin mematuk dedaunan. Vladimir berjalan sungsang menurutkan kakinya melangkah. Ditempat yang ditujunya, dia menemukan sebuah biola biru tua merebah diatas rerumputan.

Bukannya ini milik Velitsa. Tapi dimana dia? Apa yang harus aku lakukan dengan biola ini? Betul, aku ingin memiliki biola ini, tapi jika tak ada yang memainkannya, mana mungkin aku dapat menikmati kehalusan nada-nada biola ini? Aku harus menemukan Velitsa!

Vladimir berjalan dengan cepat, sambil meneriakkan nama Velitsa.

Velitsa, dimana kamu? Aku ingin kau memainkan biola ini barang sejenak. Aku rindu nada-nada yang kau lantunkan itu.

Tak ada sambutan kata. Malam semakin larut. Embun mulai turun ke bumi.

Oh, dimana ini? Aku tersesat!

Tidak, kau tidak tersesat. Dari arah hutan siprus, terdengarlah suara misterius itu, suara indah, yang bisa membangunkan empati manusia dari ke-taksadaran-nya.

Siapa kamu?

Aku Velitsa, wanita yang kau cari. Bukannya itu yang kau inginkan? Sambil menunjuk ke arah biola yang sedang dipeluk Vladimir.

Demi Tuhan, sebenarnya bukan ini yang aku inginkan. Aku hanya ingin mendengarkan sayatan nada-nadanya saja. Pertamanya memang aku menginginkan biola ini. Aku iri padamu. Tapi setelah aku memeluk biola ini, ternyata tak ada sambutan yang menghangatkan. Biola ini begitu dingin, seperti lautan antartika.

Vladimir bergegas mendekati Velitsa dan memberikan biolanya.

Aku ingin bertanya satu hal. Mengapa senar biola tidak sama?

Yesus dan Sokrates mati dibunuh. Nietsze dan Sartre menemukan kegilaannya. Plato dan Sokrates memiliki jalan yang berbeda dalam memperdalam pikirannya. Mereka semua tidak sama, tapi sekaligus sama. Mereka berpegang pada idealisnya masing-masing. Begitu juga dengan biola ini. Mereka tidak sama, tapi berpijak pada satu tempat. Mereka saling meneriakkan suaranya, sehingga menjadi harmoni yang utuh; saling mengisi kekosongan; saling mengisi apa yang tidak mereka punyai. Vladimir mengerutkan dahinya, dia berpikir serius.

Dan mengapa melodi yang harmoni itu membutakan akalku? Ketika aku mendengarkannya, keinginan untuk mati begitu menjelma.

Betulkah akalmu yang berbicara?

Tentu!

Aku rasa tidak. Velitsa menyatakan dengan penuh ketegasan. Vladimir semakin bingung.

Yang berbicara bukanlah akalmu, tetapi perasaan. Menginginkan kematian, keheningan, merasakan kebosanan dunia dan merindukan tempat tinggal yang pernah kita tinggalkan, itulah perasaan. Sedangkan ketika kamu mengambil biola yang aku baringkan diatas rerumputan dan berusaha mencari pemiliknya, akal-lah yang bicara.

Vladimir mematung. Akalnya membenarkan kebenaran yang dibenarkan Velitsa, ataukah justru perasaan?

Jadi ketika aku menginginkan kematian, itu adalah kematian yang utuh. Bagaimana jika aku menginginkan kehidupan yang tak pernah berkenalan dengan kematian?

Vladimir, kehidupan adalah bayangan yang berjalan. Apakah kamu ingin selalu menjadi bayangan? Tidak inginkah kau menjadi dirimu sendiri?

Aku hanyalah seorang anak kecil yang sedang menikmati hujan deras, menari bersama tamparan angin. Aku tak mau mengerti apakah sakit itu. Walaupun setelah bermain dengan hujan ternyata aku mengalami influenza juga. Aku ingin mengembara ke negri kematian, tapi sekaligus ingin menikmati kehidupan ini, walau nisbi sekalipun.

Menurutku lebih baik‘hidup’di alam kematian daripada mati di alam kehidupan. Sudahlah Vladimir, kita akhiri percakapan sampai disini. Kalau kau masih penasaran untuk meneruskan perbincangan ini, aku harap kau mau bertamu ke rumahku—aku akan menunggumu, andai kau tahu maksudku. Muka dunia sudah merangkak murtad. Di rumahku, kita akan berdiskusi sepanjang waktu. Tak akan ada jarak lagi yang akan memisahkan kita. Aku tunggu kedatanganmu!

Velitsa memainkan biolanya; Fur Elise3). Bibir Vladimir membeku!

***

Diserambi malam yang hanya di sinari cahaya bulan, Vladimir bergegas menuju telaga. Aku harus bertemu dengan Hermes Gumamnya. Dia mulai menundukan wajahnya, menatap air dengan serius. Terlihatlah wajahnya yang samar-samar.

Hermes, aku butuh bantuanmu lagi.

Ada apa? Bukannya kau telah bertemu dengan Velitsa?

Betul. Aku berbicara panjang dengannya. Sekarang aku ingin kembali menemuinya. Setelah aku berpikir dan menelanjangi otakku, rasa-rasanya aku siap hidup di‘tanah’sekarang.

Kau pikir itu cara terbaik?

Terbaik atau tidak, itu adalah keputusanku. Aku akan memagut semua keraguan yang berterbangan.

Artinya kau akan berhadapan dengan wujudku yang sesungguhnya. Lalu kau akan menyatu dalam diriku. Bermetamorfosis!

Takdir tergantung padamu, Hermes. Aku tak berapa-apa, segalaku untukmu. Cuma saja...

Dengan mengatakan cuma saja, berarti kau belum siap bermetamorfosis denganku. Dasar gelandangan linglung.

Dengarkan aku dulu, Hermes. Jika kau menjadi aku dan aku menjadi kau, maka keberadaan aku dan kau berubah menjadi keberadaan kita. Kau separuh dewa, sedangkan aku separuh Dajjal. Bagaimana itu bisa terjadi?

Vladimir. Kau pernah melihat api yang dipadamkan air?

Ya, lalu?

Apa yang terjadi kemudian?

Api padam dan air merembes ke tanah. Yang ada hanya gumapalan asap yang membumbung ke angkasa.

Ya, kita akan menjadi asap, kita akan menjadi asap yang lepas dari segala bentuk.

Sungguh tidak terpikirkan olehku sebelumnya.

Artinya kau siap menjadi kita?

Ya. Tapi apa yang harus aku lakukan sekarang?

Mari, ikuti aku Vladimir.

Bayangan yang ada didalam air itu mendadak merangkak ke tengah-tengah. Cuaca lengang. Vladimir terkesima melihat fenomena tersebut.

Jangan takut Vladimir, mari menyatu dengan air, menikmati kedinginan yang suci, bersama keheningan abadi. Buang rasa takut itu. Kita akan menuju kerajaan langit.

Vladimir mulai meluruskan tubuhnya. Kakinya berjingkat menjamah air. Sesaat dia termangu, lalu bergerak tertatih. Sekaki, selutut, sebadan, sebahu, seleher, sekepala, serambut—lalu hilang--. Dirinya menyatu dengan air, bersama sukma alam.

Vladimir tergeletak diatas hamparan rerumputan hijau. Dia mulai membuka mata. Sesaat dia menyimak keadaan sekeliling. Semuanya begitu bercahaya. Danau yang tenang terbentang dihadapannya.

Dimana aku?

Lalu Vladimir terinterupsi oleh suatu benda bercahaya yang tertidur tak jauh dari tempatnya.

Biola siapa ini?

Tanah Air, 2001

1) Filsafat Plato

2) Pemikiran Goethe

3) Judul Musik Instrumental karya Ludwig Van Beethoven.

*) Penulis adalah Mahasiswa Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Pendidikan Indonesia. Bergabung di Arena Studi dan Apresiasi Sastra, semenjak UPI masih dalam kandungan.

0 Response to "Kepala Kepala Yang Hilang"

Post a Comment

Translate

English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified