Download applikasi baca novel online untuk android disini: DOWNLOAD

Kelas Dua di Malory Towers 2

13. KASIHAN ELLEN!

"Wah! Sungguh tak punya sopan santun!" kata Daphne saat Ellen keluar dan membanting pintu. "Kenapa sih dia?"

Tak ada yang tahu. Tak ada yang tahu bahwa Ellen makin lama makin khawatir dengan hasil pelajarannya, ia tahu sebentar lagi ulangan akhir semester akan dimulai, dan ia ingin mencapai hasil yang baik. Ia harus! Karena itulah ia selalu belajar dan belajar terus, ia mulai merasa bahwa ia bisa menghadapi ulangan akhir itu dengan baik.

Tetapi sore itu badannya merasa tak enak. Tenggorokannya sakit. Matanya juga terasa sakit, terutama bila digerakkan. Dan ia mulai batuk.

Apakah ia akan sakit? Kalau ia sakit, maka ia pasti akan ketinggalan pelajaran. Ini tak boleh terjadi. Karena itu Ellen mengulum pastiles obat batuk banyak-banyak, dan diam-diam memakai obat kumur di kamar mandi, berharap mudah-mudahan Ibu Asrama tak melihatnya.

Malam itu matanya terasa panas. Pipinya merah padam. Dan pada waktu belajar malam ia terbatuk-batuk. Nona Potts yang mengawasi belajar malam itu menoleh padanya.

"Ada apa, Ellen?" tanyanya.

"Oh. tak apa-apa. Nona Potts," jawab Ellen berdusta, ia menunduk menekuni bukunya. Tetapi kemudian ia terbatuk lagi.

"Aku tak suka mendengar batuk seperti itu," kata Nona Potts. "Mungkin kau harus menemui..."

"Oh, Nona Potts, hanya gatal sedikit di kerongkonganku," kata Ellen hampir putus asa. Mungkin dengan minum sedikit akan hilang."

"Kalau begitu cepatlah minum," kata Nona Potts. masih belum yakin akan kebenaran kata-kata Ellen.

Ellen cepat-cepat ke luar ruangan. Di ruang penyimpanan pakaian luar ia berhenti, menyandarkan kepalanya pada dinding ruangan yang dingin itu. Alangkah senangnya bila ia punya sahabat yang bisa diajaknya berbicara tentang kesulitan yang sedang dihadapinya. Tetapi kekasarannya telah menjauhkan semua teman sekelasnya! Bahkan Jean juga. Jean telah mencoba untuk bersikap manis padanya, tetapi ia mengambil uang iuran saja tak sempat.

"Entah kenapa aku ini," pikirnya. "Dulu aku tidak seperti ini. Kawanku banyak di sekolahku dulu. Alangkah senangnya kalau aku tak usah meninggalkan sekolahku itu. Alangkah senangnya kalau aku tak memenangkan bea siswa kemari."

Ia harus kembali ke ruang belajar. Tenggorokannya masih terasa sakit. Dikulumnya sebutir pastiles obat batuk. Kemudian ia kembali ke ruang belajar dengan mencoba berjalan tegap, walaupun kakinya terasa begitu lemas.

Suhu badannya naik, dan mestinya ia langsung saja ke tempat tidur. Tetapi ia tak mau menyerah, ia harus belajar terus, ia tak boleh tertinggal, ia harus berhasil baik dalam ulangan akhir, apa pun yang terjadi.

Ia mencoba menghafalkan sebuah sajak Prancis. Tetapi telinganya berdengung terus. Dan ia mulai batuk lagi.

"Oh, tutup mulut!" desis Alicia. "Kau hanya pura-pura agar dikasihani Potty!"

Begitulah sifat Alicia. Ia tak suka anak yang batuk, menyedot hidung, karena pilek, atau berkeluh kesah, ia tak bisa merasa iba pada anak yang sesungguhnya harus dikasihaninya. Ia kuat, sehat, dan pandai, ia tak pernah sakit sekali pun. Karenanya ia sangat memandang rendah pada anak yang bodoh, lemah, atau yang mendapat kesulitan. Hatinya begitu keras dan tak pernah terpikir olehnya untuk berbaik hati pada yang memerlukannya. Sering Darrell merasa heran sendiri, mengapa dulu sewaktu ia baru masuk ke Malory Towers, ia begitu ingin menjadi sahabat Alicia!

Ellen memandang Alicia dengan marah. "Aku tidak berpura-pura!" katanya. Dan ia bersin. Alicia berseru jijik,

"Jangan bersin di sini! Kalau kau memang sakit, pergi tidur sana!" desisnya.

"Diam!" kata Nona Potts terganggu. Alicia tidak berbicara lagi. Ellen mengeluh dan mencoba memusatkan perhatian pada buku di depannya. Ia gembira ketika lonceng waktu belajar malam habis berbunyi. Badannya terasa panas dan ia sedikit gemetar. Oh, sialan! Masa ia akan terkena demam? Mungkin besok keadaannya akan membaik.

Ia berusaha keras untuk makan banyak waktu makan malam itu. Ia takut kalau berkurangnya napsu makannya diperhatikan oleh Nona Parker. Tetapi sesungguhnya Nona Parker jarang memperhatikan Ellen yang biasanya pendiam dan terkenal buruk adatnya. Hanya satu hal yang menarik perhatian Nona Parker, yaitu mengapa nilai pelajaran Ellen tak pernah membaik.

Sally-lah yang memperhatikan bahwa Ellen sakit malam itu. Ia mendengar suara napas Ellen yang serak, cepat, dan ia teringat batuk-batuk Ellen di ruang belajar tadi. Ellen yang malang. Apakah anak itu sesungguhnya sakit tetapi tak ingin orang lain tahu?

Sally hatinya lembut dan berpikiran cerdas. Dipegangnya tangan Ellen dan ia merasakan betapa panasnya tangan tersebut. "Ellen, kau sakit! Mari kuantar ke Ibu Asrama sekarang juga!"

Kebaikan Sally ini membuat Ellen terharu, dan hampir ia meruntuhkan air mata. Tetapi dengan gusar ia menggelengkan kepala.

"Aku tak apa-apa! Biarkan aku! Hanya pusing sedikit!"

"Kasihan kau, Ellen," kata Sally. "Kau pasti tidak hanya pusing. Ayolah pergi ke Ibu Asrama. Kau harus istirahat!"

Tetapi Ellen tak mau pergi. Baru beberapa lama kemudian sewaktu Jean datang dan menanyainya, ia tak tahan lagi. Ia mengaku dirinya sakit, tetapi ia tak mau istirahat sebab ulangan akhir semakin dekat "Aku harus berhasil dengan baik," katanya pada Jean. "Aku harus!" Air mata mengalir di pipinya, dan badannya gemetar.

"Kau takkan bisa mencapai hasil yang baik bila memaksa diri seperti ini," kata Jean. "Ayolah menghadap Ibu Asrama. Aku berjanji akan memberimu semua catatan pelajaran-pelajaran yang tidak kauikuti."

"Oh, betulkah?" tanya Ellen, batuk. "Baiklah. Tapi kau harus berjanji untuk mencatat pelajaran itu, ya? Ayolah menghadap Ibu Asrama. Mungkin istirahat satu hari saja aku akan sembuh."

Tetapi ternyata menurut pemeriksaan Ellen harus istirahat lebih dari satu hari! Sakitnya cukup parah, sehingga Ibu Asrama langsung mengirimkannya ke san., sanatorium, tempat anak-anak yang sakit di sekolah itu dirawat. Ellen sesungguhnya bersyukur bisa beristirahat dengan baik di situ. Ia begitu terharu hingga menangis. Sesungguhnya malu juga menangis, tapi air matanya tak tertahankan lagi.

"Sudahlah, jangan khawatir," kata jururawat "Kalau melihat keadaanmu, mestinya sudah beberapa hari yang lalu kau berada di san. ini. Anak tolol, kini istirahatlah, dan tenang-tenang sajalah selama seminggu ini."

Seminggu! Ellen terbelalak ketakutan. Ia tak bisa meninggalkan pelajaran selama seminggu! Dengan cepat ia bangkit untuk membantah, tetapi jururawat mendorongnya hingga berbaring kembali.

"Jangan begitu ketakutan! Kau akan senang tinggal di sini. Dan segera setelah sakitmu mendingan, setelah kau tidak akan menularkan penyakit lagi, kau boleh memilih seseorang teman untuk mengunjungimu."

"Kasihan Ellen! Dia betul-betul sakit," kata Jean pada yang lain setelah ia kembali dari tempat Ibu Asrama. "Tak tahu aku berapa derajat panas tubuhnya, tetapi kulihat tadi jururawat tampak terkejut membaca temperaturnya. Pastilah sangat tinggi."

“Ia tadi terbatuk-batuk sewaktu belajar," kata Sally. "Memang kasihan dia."

"Hanya Alicia yang tak merasa kasihan padanya," kata Gwen licik. "Tadi ia membentaknya. Sungguh baik hati Alicia!"

Alicia melotot pada Gwen. Biasanya dialah yang mengejek Gwen, tetapi kini Gwen berhasil membuatnya tersudut!

"Oh, tetapi kita kan tahu bahwa Alicia memang tak pernah merasa kasihan pada siapa pun," kata Darrell tanpa berpikir panjang, ia memang agak kesal pada Alicia akhir-akhir ini, sebab Alicia sering mengejek Sally. Lagi pula ia merasa mestinya Alicia harus bersikap berani dan mengaku bahwa dialah i yang menjadi biang keladi peristiwa yang menggusarkan Mam'zelle Rougier dulu itu, sebab sesungguhnya dialah yang tahu bahwa yang akan datang' bukanlah Mam'zelle Dupont tetapi Mam'zelle Rougier. Alicia tak minta maaf pada Belinda yang waktu itu jadi ketakutan setengah mati.

Sesungguhnya dalam hati Alicia memang merasa malu pada peranannya di peristiwa itu. Tetapi ia merasa tak ada gunanya minta maaf lagi, kan perkaranya sudah selesai. Tetapi bila teringat akan hal itu, tak habis-habisnya ia menyesali dirinya.

Ia pun menyesal dalam hati telah berlaku kasar terhadap Ellen — tetapi bagaimana ia tahu bahwa anak itu betul-betul sakit? Tetapi ia tak begitu peduli. Untuk apa ia mengurus Ellen yang selalu membentaki orang dan selalu marah-marah itu? Biarlah dia sakit! Malah kebetulan, agar suasana kelas sedikit lebih menyenangkan tanpa dia!

Empat hari sakit Ellen cukup parah. Kemudian demamnya mulai berkurang. Tetapi dengan berkurangnya sakitnya, kekhawatirannya tentang pelajaran mulai datang lagi.

Ulangan-ulangan itu! Ia tahu bahwa hasil ulangan tersebut akan menentukan urutan kedudukannya di kelas. Dan sangatlah penting bahwa ia harus berada di puncak atau dekat dengan puncak. Ayah dan ibunya telah begitu bangga karena ia berhasil memenangkan bea siswa di sekolah sebaik Malory Towers ini. Mereka tak begitu kecukupan, tetapi mereka telah berjanji untuk bekerja keras mempertahankan Ellen di sekolah itu karena Ellen sendiri telah bekerja keras untuk bisa memasukinya.

Uang seragam cukup tinggi. Bahkan karcis kereta apinya cukup mahal. Untunglah Ellen bisa menumpang pada mobil seorang kenalan ayah-ibunya. Dan Ibu telah membeli kopor besar baru serta tas baru. Uang lagi. Ya, ampun! Apakah ada untungnya memenangkan bea siswa ke sekolah jemahal Malory Towers ini kalau ternyata mereka kemudian harus begitu payah mencari uang guna mempertahankannya di sana? Mungkin juga lebih baik tidak kemari saja.

Kemudian terpikir pula olehnya sesuatu — ongkos dokter! Satu lagi yang pasti terpaksa dibayar oleh ayah-ibunya. Dan sementara itu pelajarannya mundur serta mendapat nilai buruk di semester pertama. Ayah-ibunya pastilah sangat kecewa!

Begitulah. Kekhawatiran Ellen makin lama makin berat. Ibu Asrama dan jururawat tak mengerti mengapa penyakit anak ini tak segera enyap seperti perkiraan mereka. Tiap hari Ellen minta agar ia diperbolehkan meninggalkan san., tetapi jururawat terpaksa berkata, "Tak bisa, Sayang, kau belum cukup kuat. Tapi kalau kau ingin dikunjungi seseorang, kau sudah boleh menerimanya. Siapa yang kaupilih?"

"Oh, ya, tolong minta agar Jean mengunjungiku," kata Ellen segera. Jean telah berjanji akan mencatatkan semua pelajaran yang tak diikutinya, dan Jean bisa diandalkan.

Maka Jean pun mengunjunginya, membawa sebotol madu. Tetapi Ellen sama sekali tak tertarik pada madu itu.

"Kaubawa catatan yang kaujanjikan itu, Jean?" tanyanya harap-harap cemas. 'Oh, Jean, kaubawa tidak?"

"Ya, ampun! Untuk apa kau memerlukan catatan pelajaran sekarang?" tanya Jean heran. "Kau bahkan belum boleh bangun!"

"Tapi, Jean, kau telah berjanji!" kata Ellen. "Kalau kau berkunjung lagi kau harus membawanya. Kini ceritakan saja apa yang telah kaupelajari."

Jean mengerutkan kening, mencoba mengingat-ingat. Baginya aneh juga Ellen ingin membicarakan pelajaran dan bukannya ingin bermain-main.

'Di matematika, kita sudah mulai mengerjakan soal-soal baru itu. Besok akan kubawa beberapa soal untukmu. Dan bahasa Prancis kita sudah sampai pada sajak panjang di halaman enam. puluh empat itu. Bisa kuhapalkan di sini nanti. Di ilmu bumi kita belajar..."

"Jean!" tiba-tiba Ibu Asrama muncul dan menegur Jean. "Ellen sama sekali belum boleh mendengar apa pun tentang pelajaran, ia tak boleh memberatkan pikirannya dengan memikirkan pelajaran. Nona Parker dan Mam'zelle akan mengerti mengapa ia tertinggal dan tak akan menegurnya."

"Tetapi, Ibu, aku harus mengetahuinya!" kata Ellen putus asa. "Aku harus! Oh, biarkan Jean bercerita terus padaku. Dan biarkan dia membawa catatan pelajaran untukku!"

"Tidak boleh! Aku melarangnya!" kata Ibu Asrama tegas. Dan itu tak bisa diubah lagi. Ellen tak lagi tertarik pada cerita-cerita Jean. Ia berbaring dengan putus asa. Pastilah ia akan turun ke kedudukan yang paling bawah di kelas! Betapa sialnya!


14. ELLEN PUNYA PIKIRAN BURUK

Tak banyak yang merasa kehilangan Ellen. Ia tak begitu menonjol seperti Darrell yang menonjol karena periang serta bersahabat, Alicia karena nakal dan lucu — bahkan Mary-Lou cukup menonjol karena pemalu, penakut, serta pendiam.

"Kalau Mary-Lou ada, maka kita tak pernah memperhatikannya. Tetapi begitu ia tak ada, maka kita merasa ada sesuatu yang kurang," kata Darrell saatu saat. Dan itu memang benar.

Akhir-akhir ini Darrell merasa sering kehilangan Mary-Lou. Mary-Lou hampir selalu mengikuti Daphne. Tak seorang pun mengerti akan persahabatan aneh itu. Tak seorang pun percaya bahwa Daphne menginginkan Mary-Lou sebagai sahabatnya — ia hanya ingin Mary-Lou membantunya dalam bahasa Prancis. Darrell sudah menunjukkan pada Mary-Lou bahwa apa yang dilakukannya sebetulnya suatu kecurangan, mengerjakan pekerjaan rumah Daphne. Tetapi Mary-Lou tak mau mendengarkannya.

"Aku tak bisa membantu siapa pun," kata Mary-Lou. "Hanya dalam bahasa Prancis aku pandai. Dan sungguh menyenangkan untuk bisa membantu seseorang. Lagi pula... Daphne betul-betul menyukaiku, Darrell."

"Begitu juga aku, dan Sally," kata Darrell, agak kesal karena Mary-Lou bergaul rapat dengan anak bermuka dua seperti Daphne itu.

"Ya, aku tahu. Tetapi kau menyukaiku hanya karena kau baik hati," kata Mary-Lou. "Kau telah punya sahabat, Sally. Kau membiarkan aku mengikuti kalian berdua, tetapi sesungguhnya kau tak menginginkan aku ikut. Lagi pula aku tak bisa membantumu apa pun, jadi kau tak memerlukan diriku. Sementara itu aku bisa membantu Daphne — dan walaupun kau bilang ia hanya memperalat aku untuk membantunya dalam bahasa Prancis, aku yakin bukan itu alasannya menyukaiku."

Darrell merasa yakin bahwa Daphne pura-pura saja baik terhadap Mary-Lou karena bahasa Prancisnya. Tetapi sesungguhnya dugaannya ini tak begitu tepat. Kini Daphne betul-betul menyukai Mary-Lou. Ia sendiri tak tahu kenapa, sebab tak pernah ia sampai begitu suka pada seseorang. Mungkin karena Mary-Lou tak pernah menonjolkan diri, selalu mengalah padanya, selalu ingin membantunya, “Ia bagaikan seekor tikus peliharaan yang ingin kita lindungi dan merawatnya," pikir Daphne.

Ia sering bercerita tentang kekayaan keluarganya pada Mary-Lou. Mary-Lou mendengarkan dengan perasaan kagum. Gadis cilik itu bangga bahwa seseorang yang begitu agung seperti Daphne mau memperhatikannya dan menceritakan begitu banyak tentang keluarganya.

Ellen tak masuk sekolah selama sebelas hari. Enam hari di antaranya penuh dengan rasa khawatir karena Jean dilarang membawa catatan apa pun sewaktu mengunjunginya. Ketika ia sudah boleh mengikuti pelajaran lagi, maka ia tampak begitu pucat, lebih kurus tetapi dengan pandangan mata yang menggambarkan tekad mantap, ia harus bisa mengejar pelajarannya! Tak peduli untuk itu ia harus bangun jam enam pagi dan belajar di bawah selimutnya dengan memakai senter, misalnya!

Ia minta pada Nona Parker untuk diberi pelajaran tambahan. Tetapi dengan lembut Nona Parker menolak permintaan itu.

"Tidak, Ellen. Kau belum cukup kuat untuk pelajaran sehari-harimu, apalagi ditambah pelajaran tambahan. Tak apa bila kau tertinggal dan memperoleh nilai rendah. Kami semua mengerti bahwa kau baru sakit. Tak usah khawatir akan hal itu."

Ellen menemui Mam'zelle Dupont, dan bahkan kemudian ia menemui Mam'zelle Rougier. "Aku ingin sekali mengetahui apa saja yang telah terlewat olehku agar aku bisa mengejarnya," katanya. "Sudikah Anda memberi pelajaran tambahan?"

Tetapi kedua mam'zelle itu menolaknya. "Kau belum cukup kuat, Anakku," kata Mam'zelle Dupont. "Tak usah khawatir tentang ketinggalanmu. Tak seorang pun meminta kau berbuat cemerlang semester ini. Santai sajalah!"

Ellen begitu putus asa. Tak seorang pun mau menolongnya! Semua agaknya memusuhinya — Ibu Asrama, dokter, Nona Parker, dan kedua mam'zelle itu.

Dan sepuluh hari lagi ulangan akhir semester akan dimulai! Ellen biasanya menyukai ulangan. Tetapi kali ini ia malah sangat ketakutan, ia tak mengerti bagaimana anak-anak lain malah bercanda tentang ulangan-ulangan itu!

Kemudian muncul suatu pikiran di benak Ellen — pikiran buruk. Mula-mula pikiran tersebut langsung dibuangnya jauh-jauh. Tetapi muncul lagi dan muncul lagi, membisikkan suatu jalan agar ia bisa berhasil baik dalam ulangannya.

"Kalau kau bisa melihat kertas-kertas ulangan itu sebelum dibagikan, maka kau bisa mempersiapkan diri dengan lebih baik!" Begitulah, bisikan itu selalu terngiang-ngiang di telinganya.

Ellen tak pernah berbuat curang selama ini. Ia tak perlu berbuat curang sebab otaknya cemerlang dan ia tekun belajar.

Curang dalam ulangan hanya dilakukan oleh mereka yang tak siap, dan itu takkan dilakukan oleh mereka yang tanpa kecurangan pun bisa memperoleh nilai cemerlang! Tetapi bila kita tidak siap, bila sesuatu terjadi sehingga kita tak menguasai pelajaran — apakah kecurangan itu akan kita lakukan jika itu satu-satunya jalan untuk memperoleh nilai yang baik?

Pertanyaan seperti itu sangat jarang muncul di hati seorang anak yang biasanya berotak cemerlang, yang biasanya sangat membenci kecurangan dalam pelajaran. Tetapi kini pertanyaan itu dihadapkan pada Ellen. Mudah saja untuk tidak berbuat curang kalau memang tak perlu berbuat curang. Tetapi apakah mudah pula untuk tidak berbuat curang kalau memang itu satu-satunya cara untuk memperoleh nilai baik? Pertanyaan seperti inilah yang menentukan apakah pribadi kita lemah, kuat, jujur, ataukah memang bengkok.

Ellen tak lagi bisa mengusir pikiran buruk tadi dari otaknya. Pikiran tadi terus mendesaknya. Dan suatu hari ia berada di kamar Nona Parker serta melihat di meja guru itu sesuatu yang mirip kertas ulangan. Nona Parker tak ada di situ. Tak memakan waktu untuk mendekat dan mencuri lihat.

Dengan cepat Ellen membaca pertanyaan-pertanyaan yang ada di kertas itu. Betapa mudahnya! Tetapi dengan terkejut ia baru melihat bahwa itu ulangan untuk kelas satu. Hatinya runtuh seketika.

Belum sempat ia mencari kertas ulangan kelas dua, terdengar suara sepatu Nona Parker dari arah gang. Ellen cepat-cepat menyelinap keluar lewat pintu lain. Tak boleh ada yang tahu apa yang dilakukannya!

Sejak saat itu Ellen sering sekali menyelinap masuk ke kamar Nona Parker atau Nona Potts. Ia memilih saat-saat kedua guru itu tak ada di tempat.

Ia bahkan pernah menyelinap ke ruang guru-guru dan mencari-cari kertas ulangan di meja Nona Parker.

Alicia memergokinya di tempat itu dan tampak heran. "Apa yang kaulakukan itu?" tanya Alicia. "Kau tahu kita tak boleh masuk ke situ!"

"Pulpenku hilang," Ellen kebingungan asal menjawab. "Mungkin Nona Parker telah menemukannya dan..."

"Walaupun misalnya Nona Parker menyimpan pulpenmu, kan kau tak boleh masuk sesuka hatimu ke situ," kata Alicia.

Di saat lain Darrell melihat Ellen berdiri di dekat meja Mam'zelle di dalam kamar Nona Potts, sedang mencari-cari di antara kertas-kertas di meja itu. Darrell tertegun melihatnya.

"Er... oh! Mam'zelle menyuruhku mengambil sebuah bukunya di sini," kata Ellen dan ia merasa terkejut sendiri, ia pernah mendengar bahwa satu kejahatan akan membuahkan kejahatan lainnya. Dan kini ia tahu bahwa hal itu benar, ia mencoba untuk berbuat curang dalam ulangan dan kini ia malah berdusta! Entah apa lagi yang akan dilakukannya kelak.

"Agaknya Ellen semakin hebat setelah istirahat dua minggu," kata Betty suatu sore di ruang rekreasi saat Ellen membentak seseorang dan kemudian dengan berang pergi. "Ia kini semakin galak! Dan agaknya ia belum begitu sembuh!"

"Sakitnya mungkin takkan bisa sembuh, yaitu sakit mudah marah!" kata Alicia. "Aku sudah muak padanya. Selalu mengerutkan kening, selalu mengeluh, selalu tampak dalam kesulitan."

Gwendoline masuk, tampaknya bingung. "Ada yang melihat dompetku?" tanyanya. "Aku yakin aku telah menaruhnya di mejaku, tetapi kini tak ada. Padahal pagi tadi baru kumasuki uang sepuluh shilling, karena aku ingin membeli sesuatu."

"Mari kubantu kau mencarinya," kata Daphne serta-merta. "Aku yakin masih ada di dalam laci mejamu itu."

Tetapi dompet itu tak bisa ditemukan. Sungguh mengesalkan. Gwendoline mengerutkan kening mencoba untuk mengingat-ingat.

"Tidak, aku merasa pasti tak menaruhnya di tempat lain," katanya akhirnya. "Oh, betapa menjengkelkan! Bisakah kau meminjamiku uang, Daphne?"

"Tentu saja. Dompetku ada di sakuku, dan memang aku bermaksud membayar hutangku padamu," kata Daphne, memasukkan tangannya ke sakunya. "Aku baru saja mendapat kiriman dari pamanku."

Tiba-tiba ia tertegun, mukanya memberi kesan kaget.

"Sial! Dompetku hilang! Ada lubang di sakuku... wah, jatuh di mana ya dompet itu?"

"Wah, kalian ini memang pasangan yang cocok!" kata Alicia. "Dua-duanya kehilangan dompet yang penuh berisi uang! Kalian lebih buruk dari Belinda atau Irene!"

Sehari sebelumnya, Belinda kehilangan uang setengah crown!

Ia telah merangkak-rangkak ke seluruh lantai di kelasnya hingga membuat Mam'zelle terheran-heran. Ia tak berhasil menemukan uang tersebut dan minta agar Jean mengembalikan uang iurannya. Jean tak mau mengembalikan uang tersebut, sebab semua iuran sudah disetorkannya pada ketua seksi olahraga.

Kedua dompet yang hilang tadi tak bisa ditemukan. Sungguh mengherankan. Dua buah dompet — penuh uang! Gwendoline berbisik pada Daphne, "Kaupikir... mungkinkah ada seseorang yang mengambil dompet kita itu? Rasanya tak mungkin ada anak di kelas kita yang sampai berbuat seperti itu!"

Alicia juga sangat heran akan dompet tadi. Dan terbayang olehnya Ellen yang dipergokinya di dekat meja guru. Untuk apa ia berada di tempat itu? Ia berkata pulpennya hilang, tetapi itu pasti dusta, sebab kemudian Alicia melihatnya memakai pulpen tersebut! Kalau begitu...

Alicia memutuskan untuk terus mengawasi Ellen. Kalau ia berbuat sesuatu yang tidak jujur atau menyalahi peraturan, ia akan terpaksa melaporkannya pada Sally. Tetapi enak sekali Sally! Sebagai ketua kelas, Sally punya hak untuk mendengarkan apa saja yang ingin dikeluhkan oleh teman-temannya, kemudian memutuskan apakah perkara itu diselesaikan sendiri di antara mereka ataukah dibawa ke Nona Parker. Alicia selalu merasa iri setiap kali memikirkan bahwa Sally-lah yang menjadi ketua kelasnya.

Ellen tak tahu bahwa ia selalu diawasi Alicia. Yang ia tahu adalah tiba-tiba saja sulit untuk bisa menyendiri atau memasuki kamar guru-guru atau memasuki ruang kelas pada waktu tak ada pelajaran. Selalu saja Alicia muncul dan berkata, "Halo, Ellen! Mencari siapa? Bisa kubantu?"

Seperti biasa Daphne berhutang lagi entah pada siapa. Gwendoline tak mau berhutang, ia telah dididik untuk tidak berhutang. Maka untuk keperluan selanjutnya ia berkirim surat pada ibunya minta dikirimi uang lagi. Daphne berhutang pada Mary-Lou serta menawarkan separuh dari jumlah uang yang diterimanya itu pada Gwendoline.

"Oh, tidak!" kata Gwendoline terkejut. "Jangan meminjamkan uang orang lain padaku, Daphne. Aku tahu kau meminjamnya dari Mary-Lou. Mengapa kau tak melakukan seperti aku, berkirim surat ke rumah minta tambahan uang? Kukira itulah akibatnya bila kau terlalu kaya — pastilah kau sesungguhnya tak bisa mengerti bagaimana nilai uang sebenarnya!"

Daphne tampak heran. Inilah pertama kali ia mendapat teguran dari Gwendoline yang setia itu. Kemudian digandengnya lengan sahabatnya tersebut.

"Kau benar juga!" katanya. "Aku selalu punya uang tak terhitung jumlahnya hingga aku tak tahu nilai uang sebenarnya! Yah, begitulah kalau terlalu dimanja, kukira. Jangan marah, Gwen."

"Entah bagaimana jadinya kalau kau betul-betul sedang memerlukan uang!" kata Gwendoline.. "Pastilah kau sangat sengsara tak bisa menikmati kapal pesiarmu, mobil-mobilmu, pelayan-pelayanmu, dan rumahmu yang begitu indah! Oh! Alangkah senangnya bila aku bisa melihat semua itu!"

Tetapi Daphne tidak menyambuti kata-kata Gwen itu dengan ajakan 'Ikut saja denganku dalam liburan ini, tinggallah di rumahku!' yang ditunggu-tunggunya itu. Tampaknya Gwendoline tak akan mendapat kesempatan berlibur dengan sahabatnya yang kaya raya tadi di libur Matai ini, tak ada kesempatan baginya untuk diajak ke pesta atau ke gedung pertunjukan. Tampaknya liburan ini sekali lagi ia akan terpaksa tinggal saja di rumahnya sendiri, ditemani oleh ibu yang mencintainya dan guru pribadi yang memujanya itu.


15. MALAM YANG MURAM

Besok ulangan akan dimulai. Beberapa orang anak susah payah belajar, menyesal selama ini tidak mempergunakan waktu mereka sebaik-baiknya. Betty Hill bagaikan terpaku pada bukunya. Begitu juga Gwendoline. Dan seperti biasa Ellen terbenam di halaman-halaman bukunya, ia mencoba memaksakan apa yang seharusnya secara perlahan-lahan masuk dalam otaknya dalam waktu yang singkat.

Nona Parker sangat mengkhawatirkan Ellen. Anak itu jelas memberi kesan sangat memperhatikan di kelas. Tetapi hasilnya sebegitu jauh hanyalah biasa-biasa saja. Itu bukan karena malas, Nona Parker tahu. Mungkin juga karena Ellen baru saja sakit, sehingga belum pulih daya pikirnya.

Ellen tahu bahwa soal-soal ulangan sudah selesai dibuat, ia pernah mendengar Nona Parker membicarakannya. Dan Mam'zelle Dupont seperti biasa menggoda anak-anak dengan mengibarkan soal ulangan tersebut di depan kelas, berkata, "Ah, pasti kalian ingin tahu apa yang kubuat untuk menguji kepandaian kalian, bukan? Pasti kalian ingin tahu apa saja yang akan kutanyakan. Semuanya sulit! Dengarkan saja, pertanyaan pertama yang berbunyi..."

Tetapi kalimat itu tak pernah diselesaikannya dan seisi kelas tertawa. Betapapun Mam'zelle Dupont tidak terlalu keras dalam membuat ulangan, tidak seperti Mam'zelle Rougier yang membuat soal-soal sulit yang harus dijawab dengan tepat — tetapi selalu berkeluh kesah karena ternyata hampir semua muridnya tak ada yang memperoleh angka tinggi!

Hari itu adalah hari terakhir, kesempatan terakhir bagi Ellen untuk mencuri lihat soal-soal ulangan tersebut. Kalau saja Alicia yang menjengkelkan itu tidak selalu muncul pada saat-saat yang genting — hei, mungkinkah Alicia memang memata-matainya? Tapi untuk apa? Tak seorang pun tahu bahwa ia akan mencuri lihat soal-soal ulangan itu.

Malam itu ia berdiri atau duduk di gang di luar kamar Nona Parker. Tetapi ternyata sama sekali tak ada kesempatan untuk menyelinap masuk! Rasanya selalu saja ada anak yang lewat. Heran juga, begitu banyak yang memakai gang tersebut.

Lebih mengesalkan lagi, pada waktu gang tersebut sepi, ternyata Nona Parker datang. Bersama Nona Potts ia masuk ke dalam kamarnya. Ellen mendekati pintu, menundukkan badan seolah-olah membetulkan tali sepatunya dan ia mendengar pembicaraan kedua guru tersebut.

"Semester ini kelas dua tak begitu buruk hasilnya," ia mendengar Nona Parker berkata pada Nona Potts. "Agaknya mereka mendapat pelajaran banyak dari masa mereka berada di bawah asuhan Anda. Hampir semua bisa menggunakan otak mereka dengan baik! Sungguh luar biasa!"

"Kuharap saja mereka berhasil baik di ulangan akhir semester ini," kata Nona Potts. "Aku selalu tertarik pada hasil ulangan mereka di semester pertama bila mereka berada di kelas dua untuk pertama kalinya. Dengan mengasuh mereka selama tiga atau empat semester, rasanya sulit untuk langsung melepaskan mereka begitu saja. Kukira kali ini Alicia atau Irene, atau Darrell akan berada di puncak kelas. Mereka bertiga berotak sangat cerdas."

"Coba lihat soal-soal ini," kata Nona Parker. Dan Ellen mendengar suara kertas gemersik berpindah tangan! Oh! Alangkah senangnya bila bisa melihat kertas-kertas itu!

Beberapa saat hening, mungkin Nona Potts sedang meneliti kertas-kertas ulangan tersebut. "Ya, satu-dua agak berat, tetapi bila anak-anak itu belajar dengan baik, rasanya mereka akan dapat mengerjakannya dengan mudah. Bagaimana dengan ulangan bahasa Prancis?"

"Mam'zelle menyimpannya di kamarnya," kata Nona Parker. "Aku akan membawa semua ini padanya, ia akan menjaga kelas dua pada jam pertama besok pagi, maka ia sekalian bisa membawakan kertas-kertas ini."

Hati Ellen melonjak. Kini ia tahu di mana soal-soal itu akan disimpan. Di ruang kerja Mam'zelle! Dan itu tak terlalu jauh dari kamar tidurnya. Beranikah dia... dapatkah dia... bangun tengah malam dan mencoba melihat kertas-kertas itu?

Seseorang mendatangi dari tikungan gang dan hampir menubruk Ellen. Alicia.

"Ya, ampun! Kau Ellen?" tanya Alicia heran. "Kau berada di sini sewaktu aku tadi naik, dan kau masih ada di sini sekarang! Kau sedang apa?"

"Bukan urusanmu!" tukas Ellen dan pergi menuju kamar rekreasi, ia memikirkan apa yang akan dilakukannya. Beranikah dia keluar malam-malam dan mencari kertas-kertas ulangan itu? Itu memang suatu perbuatan yang sangat buruk. Kalau saja semester ini ia tidak sakit dan bisa menggunakan otaknya dengan baik. dengan mudah ia bisa menjadi juara kelas, atau dekat dengan puncak urutan juara. Sesungguhnya bukan salahnyalah nilainya begitu buruk.

Ia mencoba mempertimbangkan apa yang akan dilakukannya, dan setiap kali ia membujuk dirinya sendiri dengan mengatakan bahwa rencananya tidaklah seburuk yang dipikirkannya, ia melakukannya untuk mencegah agar orang tuanya tidak kecewa. Ia tak boleh mengecewakan mereka! Kasihan Ellen! Tak pernah terpikir olehnya bahwa kedua orang tuanya pasti lebih suka melihat ia di tingkat terbawah tetapi berbuat jujur daripada melihat dia menjadi juara dengan jalan curang!

Sementara itu Alicia kini semakin yakin bahwa Ellen-lah yang mengambil uang teman-temannya.

Kalau tidak, mengapa ia selalu menyelinap-nyelinap seorang diri, mengintip-intip di pintu, dan melakukan hal-hal yang aneh itu? Dompet-dompet yang hilang tak ketemu, begitu juga uang Belinda. Kemudian ada dompet lagi yang hilang. Juga uang. Disusul oleh Emily yang melapor bahwa bros emas pemberian ibu baptisnya semester lalu juga lenyap.

Emily selalu rapi dan hati-hati, tak pernah kehilangan suatu pun seperti Belinda atau Irene. Ketika Alicia mendengar bahwa ia kehilangan bros emasnya di ruang rekreasi, Alicia memutuskan untuk mengatakan kecurigaannya pada teman-temannya. Seperti biasa Ellen tak ada di ruang itu. Pasti sedang mengintip-intip di pintu seseorang," pikir Alicia.

"Begini," kata Alicia memperkeras suaranya, "Sally, ada yang ingin kukatakan. Tentang kehilangan-kehilangan yang terjadi akhir-akhir ini. Aku tak ingin menuduh seseorang — tetapi terus terang saja aku telah mengawasi seseorang, dan ternyata orang itu memang sangat mencurigakan."

Semua anak yang ada di ruang itu tertegun heran. Sally melihat berkeliling. "Apakah kita semua hadir?" tanyanya. "Hal itu harus kita bicarakan bersama. Tunggu... Ellen tidak ada. Tolong panggilkan!"

"Tidak. Lebih baik jangan," kata Alicia.

"Apa maksudmu?" Sally heran. Kemudian matanya membelalak "Oh... kaumaksud... tidak, Alicia, kau pasti tidak bermaksud mengatakan bahwa Ellen yang kaucurigai, bukan? Perbuatan aneh apa yang dilakukannya?"

Alicia bercerita bagaimana ia selalu memata-matai Ellen dan bagaimana Ellen didapatinya sering berada di gang tanpa pekerjaan tertentu, agaknya menunggu untuk masuk ke suatu kamar yang kosong. Diceritakannya bagaimana ia memergoki Ellen di dekat meja Nona Parker. Semua mendengarkan dengan terheran-heran.

"Rasanya tak mungkin!" kata Daphne dengan nada geram. "Sungguh memalukan perbuatannya itu! Aku memang tak pernah suka padanya. Tak ragu lagi, pasti dialah yang mengambil dompetku. Dan dompet Gwen, bros Emily, dan entah apa lagi.:."

"Kau tak boleh berkata begitu sebelum kita berhasil membuktikannya," tukas Sally tajam. "Kita belum punya bukti, dan agaknya hanya Alicia yang melihat Ellen memasuki atau mencoba masuk ke kamar-kamar itu...."

"Mmmh," Darrell ragu-ragu sejenak, "Sally, aku pernah melihatnya sekali. Ellen di kamar Nona Potts, sedang mencari-cari sesuatu di mejanya."

"Sungguh menjijikkan!" kata Daphne, yang langsung diulang oleh Gwen. Jean tak berkata sepatah pun. Ia lebih dekat dengan Ellen daripada anak-anak lain. Dan walaupun ia tak bisa menyukai anak itu, tapi agaknya sangat sulit untuk menerima bahwa Ellen bisa mencuri. Mencuri! Betapa buruknya kata itu terdengar. Jean mengerutkan kening. Tak mungkin Ellen berbuat itu!

"Aku tak percaya," katanya perlahan dengan logat Skotnya yang jelas, “Ia memang aneh, tetapi keanehannya tidaklah seburuk itu!"

"Aku yakin dia tidak memberikan iuran olahraganya," kata Alicia teringat saat Ellen menolak untuk mengambil uang iuran olahraga itu.

"Dia sudah memberikan iurannya saat aku memintanya lagi," kata Jean.

"Ya, dan aku yakin itu setelah salah satu dompet tadi hilang," kata Betty. Jean terdiam. Memang betul. Ellen baru memberikan iurannya setelah dompet Gwen dan Daphne hilang. Agaknya sungguh buruk keadaan Ellen.

"Apa yang akan kita lakukan?" tanya Darrell. "Sally, kau ketua kelas. Apa yang akan kaulakukan?"

"Harus kupikirkan lebih dulu," kata Sally. "Tak bisa kuputuskan sekarang juga!"

"Tak ada yang harus diputuskan," kata Alicia dengan nada mengejek. "Dialah pencurinya. Sudah jelas itu. Kita tanyakan saja langsung padanya sampai dia mengaku. Kalau kau tak mau melakukannya, biarlah aku yang menanyainya."

"Tidak! Jangan!" tukas Sally segera. "Dengarkan. Tak seorang pun di antara kita yang betul-betul punya bukti. Dan sangatlah tidak baik untuk menuduh seseorang tanpa bukti nyata. Kau tak boleh berkata sepatah pun tentang ini padanya, Alicia. Sebagai ketua kelas, aku melarangmu!"

Mata Alicia bersinar menantang. "Tunggu saja nanti!" katanya. Tepat saat itu pintu terbuka, dan Ellen masuk, ia langsung merasakan bahwa suasana di ruang itu sedang panas, dan ia melihat berkeliling setengah ketakutan.

Anak-anak memandang padanya dengan diam, agak terkejut oleh kemunculannya yang tiba-tiba. Kemudian Sally mulai bercakap-cakap dengan Darrell, Jean berpaling pada Emily. Tetapi Alicia tak mau mengalihkan pembicaraan. Dan ia tak mau diperintah oleh Sally.

"Ellen!" katanya dengan suara keras dan jelas. "Apa yang kaucari jika kau menyelinap masuk ke kamar-kamar kosong serta menggeledah mejanya?"

Ellen langsung pucat, ia terpaku di tempatnya, matanya menatap Alicia. "Apa... apa maksudmu?" ia tergagap. Tak mungkin ada yang mencurigainya bahwa ia mencari kertas-kertas ulangan itu!

"Tutup mulut, Alicia!" tukas Sally. "Kau tahu apa yang kukatakan tadi!"

Alicia tak memperhatikannya. "Kau tahu apa yang kumaksud, kan?" tanyanya pada Ellen dengan nada dingin. "Kau tahu apa yang kauambil saat kau masuk ke kamar kosong, atau membuka laci anak lain, atau menggeledah mejanya, lemarinya! Bukankah begitu?"

"Aku tak pernah mengambil apa pun!" seru Ellen dengan mata ketakutan. "Apa yang kuambil?"

"Oh, mungkin dompet dengan uang di dalamnya. Atau bros, atau... yah, sebangsa itulah!" kata Alicia mengejek. "Ayolah, Ellen, mengakulah! Kau sudah tampak begitu berdosa, untuk apa lagi mengingkarinya?"

Ellen membelalakkan mata tak percaya. Kemudian ia memandang berkeliling. Semua diam. Beberapa orang tak berani menatap matanya. Mary-Lou menangis, sebab ia tak pernah menyukai pertengkaran. Sally tampak marah dan geram pada Alicia. Ia tahu ia takkan bisa membendung Alicia lagi. Berani betul Alicia melanggar perintahnya!

Darrell juga marah, tetapi sebagian marahnya tertuju pada Ellen yang pada pandangan matanya memang menunjukkan orang yang berdosa. Ia juga marah pada Alicia yang telah menentang Sally, ketua kelas. Tetapi, ya. ada benarnya juga Alicia. Kalau Ellen memang bersalah, mengapa tidak segera saja dibereskan perkaranya?

"Kaumaksud... kaupikir aku mencuri barang-barang itu?" tanya Ellen akhirnya setelah berusaha keras. "Jangan sembarangan!"

"Memang, itulah maksud kami," kata Alicia tegas. "Untuk apa lagi kau mengintip-intip kamar kosong? Mengapa kau mencari sesuatu di meja Nona Parker? Bisakah kauterangkan itu semua?"

Tidak. Ellen takkan dapat mengatakan bahwa sebetulnya ia mencari kertas-kertas ulangan itu, bahwa ia akan berbuat curang. Oh, memang kalau sekali kita berbuat salah maka takkan berakhir di satu kali itu saja kesalahan kita. Selalu berlarut-larut! Ditutupnya mukanya dengan kedua belah tangannya.

"Aku tak bisa mengatakan apa pun padamu!" katanya. Air mata membuat jari-jarinya basah. "Tetapi aku tidak mencuri barang-barang kalian. Tidak!"

"Kau mencurinya!" kata Alicia kejam. "Kau penakut dan pencuri! Kau tak berani mengaku dan tak bisa mengembalikan apa yang kauambil!"

Ellen terhuyung ke luar kamar itu. Pintu dihempaskannya tertutup. Mary-Lou terisak sedih. "Aku kasihan sekali padanya," katanya. "Apa pun yang dilakukannya, aku kasihan padanya!"


16. DI TENGAH MALAM

Sunyi. Hanya terdengar isakan tangis Mary-Lou. Hampir semua gelisah dan gusar. Alicia tampak seakan puas akan dirinya. Sally tampak marah. Alicia memandang padanya dan tersenyum mengejek.

"Maafkan aku membuatmu marah, Sally," kata Alicia. "Tetapi aku yakin inilah saatnya kita menanggulangi Ellen. Dan sebagai ketua kelas, mestinya kau yang melakukannya. Dan karena kau tak bertindak, telah kuwakili kau."

"Aku tidak menyuruhmu berbuat seperti itu!" tukas Sally. "Aku larang kau berkata apa pun. Kita tak boleh berkata atau menuduh Ellen sebelum ada bukti yang nyata! Dan aku sedang memikirkan cara terbaik untuk menyelesaikan peristiwa ini — yang jelas hal itu tak akan kulakukan di depan semua anak seperti ini!"

Darrell semakin gelisah. Kini ia merasa yakin bahwa Sally benar. Alangkah baiknya bila mereka menunggu dulu beberapa lama, memikirkan cara yang terbaik, dan kemudian Sally membicarakannya empat mata dengan Ellen. Kini sudah terlanjur.

Semua anak tahu. Dan entah apa yang akan dilakukan Ellen nanti.

"Paling tidak aku bersyukur bahwa Alicia telah membuat jelas perkara ini," kata Daphne sambil mengibaskan rambutnya yang indah kemilau. "Paling tidak Ellen tahu bahwa semua anak tahu. Karenanya milik kita akan aman kini."

"Mestinya kau menuruti kata-kata Sally dan bukannya Alicia!" kata Darrell marah.

"Sudahlah. Tak usah kita bicarakan lagi hal ini," kata Sally. "Sudah terlanjur. Sayang sekali. Nah, itu lonceng makan. Ayo, semua ke ruang makan!"

Tanpa bersuara mereka duduk di meja makan. Ellen tak tampak. Jean berkata pada Nona Parker, "Bolehkah aku menjemput Ellen, Nona Parker?"

"Tak usah. Ia sakit kepala dan pergi tidur lebih awal," jawab Nona Parker. Anak-anak itu saling pandang. Jadi Ellen tak berani menghadapi mereka!

"Pasti merasa berdosa," bisik Alicia pada Betty, cukup keras hingga bisa terdengar oleh Sally dan Darrell.

Ellen sudah berbaring di tempat tidur sewaktu anak-anak kelas dua itu pergi tidur, ia berbaring miring, dengan muka dibenamkan ke bantalnya, tak bergerak

"Pura-pura tidur, tuh!" kata Alicia.

"Tutup mulut!" desis Jean tiba-tiba. "Kau telah cukup membuat onar, Alicia Johns! Tak usah mengejek lagi. Tutup mulutmu!"

Alicia tertegun, memandang berang pada Jean. Tetapi Jean tak mau kalah, melotot padanya. Alicia tak berbicara lagi. Tak lama semua anak-anak itu sudah berada di tempat tidur dan lampu dimatikan. Sally menekankan bahwa mereka harus mengikuti peraturan dan anak-anak itu mematuhi perintahnya.

Satu per satu mereka tertidur. Daphne adalah salah satu yang tertidur belakangan. Tetapi akhirnya ia pun tertidur. Tinggal seorang lagi yang masih belum tidur. Ellen.

Ia telah masuk kamar tidur lebih dulu karena tiga alasan. Pertama adalah karena ia memang sakit kepala. Kedua karena ia tak mau berhadapan dengan teman-temannya yang telah menuduhnya mencuri. Dan ketiga ia memerlukan waktu untuk berpikir.

Ia hampir tak percaya bahwa dirinya betul-betul dituduh mencuri. Ellen tak pernah mengambil barang apa pun. Dalam hal ini ia betul-betul jujur. Betapa pun ia ingin mencuri lihat soal-soal ulangan, tak pernah terpikir olehnya untuk mencuri. Pencuri! Alicia telah menuduhnya seperti itu di hadapan anak banyak. Ini tidak adil. Ini kejam dan tidak adil! Dan tak beralasan sama sekali!

Tetapi betulkah tak beralasan? Toh paling tidak ada dua orang anak yang melihatnya menyelinap ke ruang Nona Parker dan ruang Nona Potts. Sudah pasti kelakuannya itu diartikan mereka sebagai sesuatu yang patut dicurigai — dan memang ini berarti ia tidak Jujur, walaupun tak seperti yang mereka tuduhkan.

"Mengapa aku begini? Mengapa aku tergoda untuk berbuat curang? Mengapa aku melakukan hal-hal yang memalukan ini?" Dalam hati Ellen menangis. "Entah apa kata Ibu bila mengetahui perbuatanku. Tetapi, Ibu, karena Ibu dan Ayah-lah aku ingin sekali berhasil dengan baik di sekolah! Ini semua kulakukan bukan untukku sendiri! Bukankah tak terlalu salah aku bila aku hanya ingin menyenangkan orang tuaku, dan bukan hanya menyenangkan diriku sendiri?"

"Salah!" kata hati nuraninya. "Kau tahu perbuatanmu itu salah! Lihat, bagaimana makin lama kau makin terseret ke dalam kesulitan! Kau telah dituduh dengan tuduhan yang sangat berat! Hanya karena kau ingin melakukan sesuatu yang keliru, belum melakukannya, baru ingin saja!"

"Aku takkan berbuat curang!" Ellen memutuskan dalam hati. "Aku takkan memikirkan hal itu lagi. Mungkin ulanganku buruk, tetapi biarlah. Bisa kuterangkan pada Ibu sebabnya."

Kemudian teman-temannya datang, serta didengarnya kata-kata Alicia yang begitu menyakitkan hati, "Pura-pura tidur, tuh!" Sekejap teringat lagi olehnya tuduhan yang baginya begitu tak adil itu, ejekan Alicia, dan teringat betapa anak-anak lain sebagian besar tampak percaya bahwa ia memang telah berbuat sangat buruk.

Ellen jadi sangat marah. Bagaimana mereka bisa menuduhnya tanpa suatu alasan apa pun?

Mereka semua telah menganggapnya bertabiat buruk. Bagaimanapun mereka tak akan bisa percaya bila ia menyanggah tuduhan itu. Baiklah kalau begitu, ia akan betul-betul berbuat buruk! Ia akan berlaku curang! Nanti malam ia akan bangun dan mencari kertas-kertas ulangan itu. Ia tahu kini di mana soal-soal ulangan tersebut disimpan. Di kamar kerja Mam'zelle.

Ellen berbaring di kegelapan. Pikirannya berputar-putar memikirkan hal yang sama terus. Kini ia merasa keras kepala dan sakit hati. Ia telah dianggap 'jahat' oleh teman-temannya. Ia akan betul-betul menjadi jahat! Ia suka menjadi jahat! Akan dipelajarinya soal-soal ulangan itu, dan akan dibuatnya semua orang tercengang dengan meraih nilai-nilai yang hampir sempurna. Itulah balasan yang telak bagi mereka!

Tak sulit baginya untuk tidak tidur, begitu banyak yang dipikirkannya. Waktu untuk tidur bagi semua karyawan telah tiba. Mata Ellen masih terbuka lebar menatap kegelapan. Kepalanya terasa sangat panas. Ia mengepalkan tinju, geram setiap kali teringat kata-kata Alicia.

Akhirnya ia berpendapat sudah aman baginya untuk bangkit, ia duduk di tempat tidurnya, melihat berkeliling. Tak ada yang bergerak sedikit pun. Yang terdengar hanyalah suara napas teratur teman-temannya. Ia meluncur turun dari tempat tidur. Kakinya menyentuh sandal, dan ia memakai gaun kamarnya. Dadanya berdebar begitu keras!

Tak bersuara ia meraba-raba ke pintu. Sekali ia terantuk pada sebuah tempat tidur, ia menahan napas, kalau-kalau pemilik tempat tidur itu terbangun. Tetapi masih tak terdengar gerakan sedikit pun.

Ia sudah berjalan di gang yang diterangi sinar rembulan, ia menuruni tangga, menuju kamar-kamar tempat tinggal Nona Potts dan Mam'zelle. Dicapainya kamar kerja Mam'zelle. Gelap sekali. Mam'zelle telah pergi tidur lama sekali.

Ellen masuk. Diperiksanya apakah tirai di jendela" sudah tertutup rapat, ia tak ingin ada cahaya dari dalam kamar kerja itu yang memancar ke luar. Tirai jendela tadi tebal, dan telah tertutup rapat, sehinggga cahaya rembulan tak bisa masuk ke dalam. Puas akan hal ini, barulah Ellen menyalakan lampu.

Ia langsung ke meja Mam'zelle. Seperti biasa, meja itu tak keruan, buku dan kertas berantakan di atasnya. Ellen mulai dengan cepat memeriksa kertas-kertas di meja tersebut.

Dua kali diperiksanya. Kertas ulangan itu tak ada! Jantungnya serasa beku. Bagaimana mungkin? Pasti ada di sini! Mungkin ada di dalam lemari kecil meja itu. Mudah-mudahan tak dikunci, pikir Ellen yang pernah melihat Mam'zelle mengunci lemari kecil tersebut.

Ditariknya daun pintu lemari kecil tersebut. Dan, ya. Terkunci! Sialan! Ia sudah merasa pasti kertas yang dicarinya ada di dalam! Ellen lemas terduduk. Lututnya gemetar. Kemudian pandangan matanya jatuh pada sebuah kunci yang tergeletak di tempat pena. Cepat diambilnya, dicobanya dimasukkannya ke lubang kunci lemari kecil tadi. Dan ya, cocok! Dasar Mam'zelle! Pintu lemari kecil itu dikunci baik-baik tetapi kuncinya dibiarkan tergeletak begitu saja!

Dengan tangan gemetar Ellen memeriksa kertas-kertas yang ada di dalamnya. Di sudut, diikat dengan rapi oleh Nona Parker, adalah bundel kertas-kertas ulangan untuk kelas dua!

Bernapas lega Ellen mengambil bundel tadi. I'an ia sudah akan membaca isinya saat tiba-tiba ia mendengar suatu suara. Jantungnya beku seketika. Dan secepat kilat ia melesat ke pintu, mematikan lampu. Kemudian perlahan ia menutup lemari meja dan kembali ke pintu memasang telinga.

Suara itu terdengar lagi. Suara apakah? Apakah seseorang sedang berjalan? Ia harus hati-hati. Dimasukkannya bundel kertas-kertas ulangan tadi ke dalam gaun kamarnya, ia harus segera keluar dari kamar Mam'zelle itu. Sungguh celaka bila ada seseorang memergokinya di dalam kamar tersebut!

Sementara itu, begitu Ellen keluar dari kamar tidur tadi, Darrell terbangun. Tempat tidurnyalah yang tadi tersinggung oleh Ellen. Ia tidak langsung terbangun waktu itu. Tetapi setengah menit kemudian, ketika Ellen sudah keluar, ia terjaga, merasa heran apa yang telah membuatnya terbangun.

Ia sudah hampir tidur lagi saat dilihatnya tempat tidur Ellen kosong. Cahaya rembulan masuk menembus jendela dan mengenai tempat tidur itu, dan tak terlihat gundukan di dalam tempat tidur itu yang menunjukkan bahwa Ellen sedang tidur. Tempat tidur itu kosong!

Darrell tertegun. Di mana Ellen? Apakah ia sakit lagi? Atau... mungkinkah ia mulai mencari-cari barang-barang yang bisa dicurinya lagi?

Darrell memandang ke arah tempat tidur Sally. Mestinya ia harus membangunkan Sally, agar Sally bisa mengerti harus berbuat apa. Ia tak mau ambil tindakan sendiri. Bisa-bisa ia keliru bertindak seperti Alicia tadi. Baiklah ditunggunya sebentar. Kalau Ellen tak segera kembali, ia akan segera membangunkan Sally.

Ellen tidak kembali. Dengan tak sabar Darrell menunggu terus. Akhirnya ia memutuskan untuk mencari Ellen. Ia tak akan membangunkan Sally dulu. Ia begitu ingin tahu dan ingin mengikuti Ellen sendiri. Rasanya sungguh menggairahkan melakukan pekerjaan 'mata-mata' di tengah malam seperti ini.

Darrell memakai sandal dan gaun kamarnya. Hati-hati ia ke luar kamar. Mungkin Ellen sedang menggeledah meja-meja anak-anak kelas dua. Bahkan mungkin sekali ia memasuki kamar-kamar kelas satu! Darrell menuruni tangga, ia sampai ke kamar anak-anak kelas satu. Dibukanya pintunya. Tetapi di dalam kamar itu gelap gulita.

Darrell menutup kembali pintu itu. Terdengar bunyi klik'.

Ia pergi ke ruang kelas dua. Dibukanya pintunya. Seperti ada suatu suara di situ. Dinyalakannya lampu. Tidak. Ruang itu kosong. Dipadamkannya lampu dan ia sudah akan menutup pintu lagi ketika sekali lagi ia mendengar suatu suara. Cepat dinyalakannya lampu lagi. Dan ia melihat suatu gerakan dari lemari besar. Seolah-olah pintunya baru tertutup!

Dada Darrell berdebar keras. Apakah Ellen ada di dalam lemari besar itu? Bagaimana kalau bukan Ellen yang ada di dalamnya, tetapi seorang pencuri? Tapi tak mungkin. Pasti itu Ellen. Sebab sekian lama ia belum melihat anak itu. Pastilah ia bersembunyi di dalam lemari itu!

Darrell cepat mendekati lemari tadi dan dengan gerakan kuat dihentakkannya pintunya. Betul juga! Ellen tampak meringkuk ketakutan di dalam lemari! Ia telah menyelinap keluar dari kamar Mam'zelle dan masuk ke dalam ruang kelas dua itu ketika didengarnya Darrell datang, ia gugup, masuk ke dalam lemari.

“Beberapa saat Darrell tak bisa bicara. "Keluar!" katanya akhirnya. "Kau jahat sekali, Ellen! Apakah kau mencuri sesuatu lagi?"

"Tidak," kata Ellen, keluar. Dipegangnya kertas-kertas ulangan di sakunya. Darrell melihat gerakan tangannya tersebut.

"Apa yang kausembunyikan itu?" tanyanya. "Tunjukkan! Cepat! Kau menyembunyikan sesuatu!"

"Tidak! Tidak!" teriak Ellen. Ia lupa bahwa hari-, telah larut malam. Darrell mencoba merenggut tangan Ellen dari saku gaunnya, dan Ellen karena takut ketahuan memukul Darrell dengan tangannya yang bebas. Tepat kena muka Darrell!

Darrell tak bisa menguasai diri lagi. Dicengkeramnya Ellen, diguncangkannya anak itu keras-keras dan ditamparnya pipinya! Mereka bergulat beberapa saat. Tapi Darrell lebih kuat. Dipukulinya Ellen keras-keras. "Kau jahat!" teriak Darrell. "Kau mencuri! Ayo, kembalikan yang kauambil!"

Ellen tiba-tiba merasa lemas, ia tak melawan lagi. Darrell menariknya berdiri, menyingkirkan tangan yang melindungi saku itu. Direbutnya bundel kertas di dalam saku Ellen. Ikatannya terbuka dan kertas-kertas ulangan bertebaran jatuh ke lantai! Ellen menutupi mukanya dengan tangannya dan mulai menangis.

Darrell ternganga melihat kertas-kertas itu. Diperiksanya satu-dua. "Oh, kau juga berbuat curang, ya?" katanya marah. "Soal ulangan untuk besok! Ellen Wilson, kau ini anak macam apakah? Pencuri dan curang dalam pelajaran! Bagaimana kau begitu berani datang ke Malory Towers ini?"

"Oh, kumpulkan kertas itu, jangan sampai ada yang tahu!" Ellen tersedu-sedu. "Jangan bilang pada anak lain!"

"Aku memang akan mengembalikan kertas ini," kata Darrell geram. "Tetapi sungguh tak mungkin aku tak menceritakan hal ini pada orang lain!"

Diseretnya Ellen ke pintu. "Dari mana kauambil kertas-kertas ini? Dari meja Mam'zelle? Baik, akan kita kembalikan ke sana."

Darrell mengembalikan kertas-kertas tadi ke tempat semula, kemudian dengan tangan gemetar Ellen mengunci pintu lemari meja itu. Berdua mereka kembali ke kamar tidur. Anak-anak lain masih tidur nyenyak.

"Besok aku akan melaporkan hal ini pada Sally, Ellen," kata Darrell. "Dan ia akan memutuskan akan diapakan kau ini. Aku yakin kau akan dikeluarkan dari sekolah ini. Kini pergilah tidur!"


17. DESAS DESUS DAN KASAK-KUSUK

Tak seorang pun mendengar kedua anak itu kembali ke tempat tidur masing-masing. Tak ada yang tahu bahwa Ellen dan Darrell telah keluar kemudian kembali lagi. Darrell yang marah dan gusar tak bisa tidur untuk beberapa saat, memikirkan apakah membangunkan Sally atau tidak.

"Ah, biarlah besok saja," akhirnya ia memutuskan. "Bila kubangunkan sekarang, yang lain akan terbangun juga. Biarlah besok aku akan berbicara hanya padanya saja."

Dan tiba-tiba ia tertidur, begitu lelah oleh pengalamannya tadi. Tetapi Ellen sama sekali tak bisa tidur, dan hal ini bukanlah kali pertama untuknya. Sering kali ia baru bisa tidur menjelang pagi, dan kini pikirannya begitu gempar oleh kejadian yang baru dialaminya. Tapi lama-kelamaan ia tidak memikirkan lagi persoalan itu sebab ada persoalan yang lebih berat: sakit kepalanya terasa lagi, kini semakin hebat, serasa kepalanya itu hampir pecah! Palu merah panas bagaikan menghantami kepalanya dari dalam, dan lama-kelamaan Ellen jadi sangat ketakutan.

Apa yang terjadi? Apakah ia akan jadi gila? Beginikah rasanya kalau akan gila? Ia memejamkan mata, berharap rasa sakitnya berkurang. Tapi tidak. Semakin sakit terasa.

Begitu sakit sehingga akhirnya ia perlahan merintih. Teringat olehnya Ibu Asrama yang begitu lembut dan baik hati. Ibu Asrama! Ibu Asrama telah begitu baik merawatnya. Pasti sekarang pun ia masih baik hati. Ellen merasa kalau sedikit saja ia merasakan ada yang baik padanya, pastilah rasa sakitnya hilang.

Dengan susah payah ia berdiri. Kepalanya serasa berputar cepat. Bulan kini semakin terang cahayanya. Ellen bisa melihat teman-temannya tidur dalam berbagai gaya. Semua tidur nyenyak.

Perlahan Ellen bangkit dan turun, ia tak berani bergerak cepat. Setiap gerakan membuat kepalanya sangat sakit! Ia lupa untuk memakai sandal dan gaun kamarnya. Perlahan ia berjalan menuju pintu, bagaikan berjalan dalam mimpi saja. Ia menyelinap ke luar, seperti hantu memakai piyama.

Ia tak pernah ingat bagaimana ia bisa mencapai kamar Ibu Asrama. Tiba-tiba saja Ibu Asrama terbangun oleh ketukan lembut di pintunya, ketukan yang terus-menerus dan tak berhenti-henti.

"Masuklah!" ia berteriak. "Siapa itu?" Dinyatakannya lampu. Tetapi tak ada yang masuk. Ketukan tadi terus terdengar. Lemah. Ibu Asrama begitu heran. Dan sedikit takut.

"Masuklah!" teriaknya lagi. Tetapi tak ada yang masuk. Ibu Asrama melompat turun dari tempat tidur, pergi ke pintu. Tubuhnya yang besar itu tampak lebih besar dengan pakaian tidur yang longgar berkibar-kibar. Dibukanya pintu — dan di depannya berdiri Ellen yang malang, lemas hampir roboh, dan tangannya terus saja terayun untuk mengetuk pintu.

"Ellen! Kenapa kau, Nak?" seru Ibu Asrama khawatir. "Kau sakit?" Dibimbingnya anak itu masuk.

"Kepalaku," bisik Ellen lemah. "Rasanya akan pecah, Ibu!"

Ibu Asrama melihat bahwa Ellen betul-betul sedang kesakitan, dan ia hampir tak bisa membuka matanya. Cepat-cepat dibawanya anak itu ke tempat tidur di kamar kecil yang berhubungan dengan kamarnya sendiri. Dibaringkannya Ellen di tempat tidur yang hangat dan nyaman. Diberinya minuman hangat serta obat. Dikompresnya pula dengan air panas. Ibu Asrama memperlakukan Ellen dengan penuh kasih sayang serta berbicara dengan lembut agar tidak membuat Ellen semakin sakit.

"Kini tidurlah," katanya. "Kau pasti sembuh besok pagi."

Ellen memang tertidur. Ibu Asrama menungguinya, memperhatikannya, ia heran. Ada yang tak beres dengan anak ini. Agaknya secara diam-diam ia mengkhawatirkan sesuatu. Dan sebelum ini, sewaktu ia dirawat di sana, ia juga mengkhawatirkan sesuatu sehingga tak bisa segera sembuh. Mungkin lebih baik bila ia diperkenankan pulang. Mungkin istirahat di antara keluarganya akan sangat membantunya.

Pagi harinya, Darrell bangun bersama anak-anak yang lain pada saat lonceng bangun pagi berbunyi. Beberapa saat ia termenung, mengingat perkelahiannya tadi malam dengan Ellen. Ia berpaling pada Sally. Sally harus diberi tahu, tetapi yang lain tak boleh dengar lebih dulu.

Kemudian terdengar Sally berseru, "Di mana Ellen? Tempat tidurnya kosong!"

Semua berpaling ke arah tempat tidur Ellen. "Mungkin ia bangun lebih pagi," kata Emily. "Pasti nanti ia sudah berada di ruang makan lebih dulu."

Darrell merasa khawatir. Apakah Ellen bangun lebih dulu? Di mana dia?

Ellen tentu saja tidak ada sewaktu makan pagi. Anak-anak itu heran melihat tempatnya yang kosong. Darrell mulai gelisah. Apakah... apakah Ellen melarikan diri? Mam'zelle muncul untuk sarapan.

"Di mana Ellen, Mam'zelle?" tanya Darrell.

“Ia tak bisa ikut sarapan," jawab Mam'zelle. Tetapi ia tak tahu lagi lebih dari itu. Nona Parker tadi telah memberi tahukan padanya sekilas ketika mereka berpapasan di gang. "Aku tak tahu kenapa. Mungkin sakit."

Kini Alicia mulai gelisah juga. Ia ingat betapa ia menuduh Ellen begitu kejam kemarin. Di mana Ellen kini? Ia juga mulai memikirkan kemungkinan bahwa Ellen melarikan diri. Dengan susah payah ia menelan buburnya.

Berita selanjutnya datang dari seorang anak kelas satu, Katie. Ia mendengar Nona Parker berkata pada Nona Potts tentang Ellen.

"Hei. kenapa Ellen?" tanya Katie pada anak-anak Kelas dua. "Kudengar si Hidung Panjang berkata pada Potty bahwa Ellen akan dipulangkan. Kenapa?"

Dipulangkan! Anak-anak kelas dua saling pandang. Apakah itu berarti Dewan Guru telah mengetahui tentang Ellen, bahwa ia mencuri? Kemudian ia dipulangkan, dikeluarkan? Ya, ampun!

"Mungkin ia ketahuan atau mengakui kesalahannya," kata Alicia akhirnya. "Lebih baik kita tidak membicarakan lagi apa yang kita ketahui. Sungguh memalukan sekolah kita. Dan aku yakin peristiwa ini juga akan dirahasiakan."

"Kaumaksud... Ellen betul-betul dipulangkan, dikeluarkan dari sekolah ini hanya karena ia mencuri barang-barang itu?" tanya Daphne, tiba-tiba pucat. "Rasanya tak mungkin."

"Kenapa tidak?" sahut Betty dengan suara tajam sehingga Daphne terkejut. "Dan memang sudah pantas! Anak semacam dia sama sekali tak boleh ada di Malory Towers ini!"

Darrell sungguh bingung oleh jalur peristiwa yang terjadi. Kini ia tak tahu harus melaporkan kejadian tadi malam ataukah tidak. Kalau Ellen dipulangkan karena mencuri, maka tak ada gunanya ia melaporkan bahwa ia memergoki Ellen mencoba untuk melihat soal-soal ulangan! Sebab Ellen toh takkan bisa mengikuti ulangan kini, mengapa membuat namanya lebih buruk lagi? Dan lagi bukankah penderitaannya sudah cukup dengan diusir dari sekolah itu?

Darrell seorang yang murah hati. Bahkan' terhadap mereka yang dianggapnya musuh, ia teringat tadi malam. Rasanya sudah cukup banyak hukuman yang ditimpakannya pada Ellen. Malu juga ia bila mengingat betapa ia menampar muka Ellen, memukulinya hingga terjatuh. Kembali ia telah tak bisa menguasai kemarahannya lagi. Sally takkan mungkin berlaku seperti dia. Sally akan bisa menyelesaikan perkara yang dihadapinya dengan cara yang tenang. Sally akan dapat membuat Ellen menunjukkan kertas ulangan yang diambilnya tanpa harus berlaku kasar.

"Agaknya aku memang tak bisa melakukan beberapa hal dengan baik," kata Darrell dalam hatinya, mengusap hidungnya. "Aku selalu bertindak terburu-buru. Selalu aku meledak marah, dan kemudian menyesal. Nah, soalnya kini, apakah akan kukatakan pada Sally kejadian tadi malam?"

Akhirnya ia memutuskan untuk tidak bercerita pada Sally. Rasanya tak ada gunanya lagi untuk menunjukkan kesalahan Ellen, membuatnya lebih buruk lagi. Karena itu Darrell tutup mulut tentang Ellen ini, sesuatu yang mungkin sulit untuk dilakukan anak kelas dua lainnya, sebab mereka semua sangat senang berbisik-bisik tentang Ellen kini.

Begitu banyak desas-desus tentang Ellen di kelas dua. Agaknya semua berpendapat bahwa Ellen telah ketahuan mencuri dompet, uang, bros, dan mungkin sekali beberapa barang lainnya. Dan arenanya Ellen telah dikeluarkan dari sekolah.

Sungguh aneh, anak yang sangat gelisah tentang hal ini ternyata adalah Daphne. "Masa ia dikeluarkan tanpa bukti sama sekali?" berulang kali ia bertanya. "Darrell, Sally, kalian berkata pada Alicia kemarin bahwa tak ada bukti nyata Ellen melakukan pencurian itu. Apa yang terjadi dengan Ellen? Mungkinkah ia bisa diterima di sekolah lain?"

"Tak tahulah," kata Alicia. "Kurasa tak akan ada yang mau menerimanya. Habis sudah kesempatannya untuk bersekolah. Hukuman yang layak baginya!"

"Jangan begitu kejam," kata Jean. "Bukannya aku membela dia, tetapi kau selalu keras dan kejam pada semua orang, Alicia."

"Tetapi aku kan bertindak benar kemarin, dengan menuduhnya secara langsung," kata Alicia. "Kalian terlalu lemah, tak berani menuduhnya langsung. Kalau aku tidak bertindak, persoalan ini tak akan segera selesai."

Anak-anak kelas dua memutuskan untuk tidak mengatakan apa pun tentang Ellen kepada guru-guru. Kalau Nona Grayling ingin mengeluarkan Ellen secara diam-diam, ya mereka pun akan diam juga. Makin sedikit yang diketahui guru-guru, makin baik.

Maka Nona Parker cukup heran saat tak seorang pun bertanya tentang Ellen. "Heran, mengapa mereka tak punya perhatian sedikit pun pada Ellen?" pikirnya. Tetapi ia tak mengatakan apa-apa tentang ini. Anak-anak tak ada yang tahu kapan atau bagaimana Ellen pulang. Tetapi suatu desas-desus mengatakan ada sebuah mobil muncul di halaman depan pagi itu. Mungkin untuk menjemput Ellen.

Sesungguhnya tidak begitu. Mobil tadi adalah mobil dokter yang dipanggil untuk memeriksa Ellen. Dan dokter itu dengan bersungguh-sungguh berkata pada Nona Grayling, "Ada sesuatu yang tak bisa kumengerti pada anak ini. Apakah ia sedang mengkhawatirkan sesuatu? Adakah sesuatu yang terjadi di rumahnya? Atau mungkin di kelasnya?"

Baik Ibu Asrama maupun Kepala Sekolah tak bisa menjawab pertanyaan dokter itu. Sepanjang yang mereka ketahui tak ada berita buruk dari rumah Ellen. Dan juga tak ada peristiwa yang mengganggu di kelasnya. Nona Parker dipanggil, dan ia juga memberi keterangan tak ada kejadian apa pun di kelasnya, kecuali beberapa teguran ringan karena hasil belajar Ellen agak di bawah rata-rata.

Ketika dokter telah pergi, Nona Grayling berkata lembut pada Ellen, "Ellen, kami kira lebih baik kau pulang saja dulu bila kau telah cukup kuat. Kami rasa dengan berada di rumah, keadaanmu akan cepat pulih."

Tanggapan Ellen sungguh sangat membuat Nona Grayling terkejut. Anak itu langsung bangkit dari tidurnya, dan berkata gugup serta putus asa, "Oh, tidak, Nona Grayling! Jangan aku dikeluarkan! Jangan!"

"Mengeluarkan kau?" tanya Nona Grayling tercengang. "Untuk apa? Apa maksudmu?"

Ellen tak menjawab, ia menangis terisak-isak. Ibu Asrama segera datang dan memberi, isyarat agar Nona Grayling meninggalkan Ellen. "Ia tak boleh terguncang hatinya," bisiknya pada kepala sekolah itu. "Maaf, Nona Grayling. Kukira lebih baik Anda meninggalkannya dulu. Biarlah kuurus dia."

Sambil masih terus bertanya-tanya dalam hati, Nona Grayling meninggalkan ruangan itu. Mengapa Ellen berpikir bahwa ia akan dikeluarkan? Ada sesuatu yang tak beres di sini.

Lama sekali baru Ellen bisa tenang kembali. Ia betul-betul mengira bahwa usul Nona Grayling untuk mengirimkannya pulang adalah berarti ia akan diusir dari sekolah, dikeluarkan secara tidak hormat. Mungkin Darrell telah melaporkan bahwa ia berbuat curang. Mungkin Alicia telah melaporkan mereka semua percaya Ellen mencuri barang-barang mereka. Ellen tak tahu. Ia mulai mengkhawatirkan lagi semua kemungkinan itu dan jururawat tercengang melihat suhu badannya naik secara tajam.

Beberapa anak kelas dua merasa menyesal tak bisa bertemu dengan Ellen sebelum teman mereka itu pergi. Mary-Lou bahkan merasa sangat sedih, ia tak pernah menyukai Ellen, namun iba juga hatinya. Di waktu istirahat ia berkata pada Daphne, "Mengerikan ya nasib Ellen? Apa katanya nanti pada kedua orang tuanya? Apakah ia harus berkata sendiri pada mereka bahwa ia dikeluarkan dari sekolah karena mencuri?"

"Oh, jangan membicarakan hal itu lagi, Mary-Lou!" kata Daphne, seolah ketakutan. "Coba lihat, kita masih punya waktu sepuluh menit, ya? Ada sebuah bungkusan penting yang harus segera kukirimkan pagi ini. Tetapi aku tak punya tali untuk mengikatnya. Tolong carikan tali kecil, sementara aku akan mencari kertas pembungkus."

Mary-Lou segera berangkat, sambil berpikir-pikir apa gerangan isi bungkusan penting itu. Dan walaupun ia berusaha keras, ia tak berhasil mencari seutas tali kecil pun untuk mengikat bungkusan Daphne itu! Heran! Ketika ia kembali lagi ke Daphne, waktu istirahat telah habis.

"Kau tak bisa menemukan tali sedikit pun?" tanya Daphne kecewa. "Oh, sialan! Biarlah nanti_ setelah pelajaran pagi habis akan kucari lagi. Dan aku akan membawanya ke kantor pos. Ada waktu setengah jam bagiku sebelum pelajaran sore dimulai, sebab guru musikku agaknya takkan datang hari ini."

"Apakah bungkusan itu sangat penting?" tanya Mary-Lou. "Kalau kau mengizinkan, aku bisa membawakannya ke kantor pos untukmu."

"Tak usah. Kau takkan bisa menempuh jarak itu pulang-pergi dan tiba kembali ke sekolah sebelum pelajaran dimulai," kata Daphne. "Terlalu jauh jaraknya lewat jalan yang berputar. Menyusuri tepi rantai memang lebih dekat, tetapi angin bertiup keras sekali, bisa-bisa kau terlempar ke laut nanti. Biarlah aku sendiri yang pergi sebelum pelajaran sore."

Tetapi ternyata waktu yang setengah jam itu pun tak bisa digunakannya, sebab ternyata guru musiknya datang. Daphne terpaksa mengikuti pelajaran itu hingga bungkusannya tak jadi dikirimkannya.

"Sialan," kata Daphne pada Gwendoline dan Mary-Lou saat mereka istirahat untuk minum teh sore itu. "Bungkusan itu mestinya sudah harus kukirimkan! Dan ternyata pelajaran musik itu ada! Dan habis ini aku harus menghadap Nona Parker, setelah itu aku harus mengikuti latihan sandiwara Prancis itu!"

"Mengapa sih bungkusan itu harus segera kaukirim?" tanya Gwen. "Ulang tahun seseorang?"

Daphne ragu-ragu sesaat. "Ah, ya!" katanya kemudian. "Benar. Kalau tidak segera berangkat, maka bungkusan tadi tak akan tiba pada waktunya."

"Kukira kau terpaksa harus mengeposkannya besok," kata Gwen. Mary-Lou memperhatikan wajah Daphne. Wajah cantik itu tampak sangat khawatir. Sayang sekali ia tak bisa membawakan bungkusan tadi. Ia begitu senang melakukan apa saja untuk Daphne, ia begitu senang menerima senyuman manis itu sebagai upahnya.

Mary-Lou mulai berpikir-pikir, bagaimana ia bisa membantu Daphne. "Aku bebas nanti jam tujuh, setelah belajar malam," pikirnya. "Ada waktu setengah jam sebelum makan malam. Aku takkan bisa pergi ke kantor pos dan pulang lagi dalam waktu setengah jam bila aku memakai jalan darat itu. Kalau aku jalan menyusuri pantai, mungkin bisa. Tapi beranikah aku? Pastilah sangat gelap. Dan bagaimana kalau hujan?

Ia memikirkan hal itu terus selama pelajaran sore. "Kurasa kita harus berkorban untuk kepentingan seorang sahabat," pikir Mary-Lou. "Untuk seorang sahabat, kita harus berani melakukan apa pun. Daphne akan sangat gembira bila aku bisa mengirimkan bungkusan ulang tahun itu untuknya. Betapa baik hatinya, mengirimi seseorang hadiah ulang tahun dan ingin agar hadiah tadi datang tepat pada waktunya. Tapi Daphne memang selalu baik hati. Baiklah. Kalau hari tak terlalu gelap dan tak terlalu mengerikan, aku akan mengirimkan bungkusan itu untuknya malam ini. Tapi jangan sampai ada anak lain yang tahu, sebab itu menyalahi peraturan. Lagi pula bila Sally tahu, pasti ia akan menahanku."

Begitulah. Si Kecil pemalu dan biasanya penakut itu memutuskan untuk melakukan sesuatu yang mungkin anak-anak yang lebih besar darinya takkan berani melakukannya — menempuh jalan pantai di atas tebing, di dalam gelap, dan saat angin bertiup kencang serta liar!


18. MARY-LOU

Selesai waktu belajar malam itu, Mary-Lou bergegas kembali ke ruang kelas dua. Ruang itu kosong. Hanya ada Gwendoline, yang sedang berkemas-kemas di mejanya.

Mary-Lou langsung menuju meja Daphne. Dengan rasa iri Gwendoline memperhatikannya. "Apa yang kaucari di meja Daphne? Bisa kuambilkan apa saja yang tertinggal olehnya. Kuharap kau tidak begitu menjilat padanya, May-Lou."

"Tidak," kata Mary-Lou. Dibukanya laci meja Daphne, diambilnya bungkusan kertas coklat yang kini telah rapi diikat dengan tali itu. "Aku akan pergi ke kantor pos, mengeposkan ini untuk Daphne. Harap jangan mengatakan kepergianku ini pada siapa pun, Gwen. Aku tahu itu melanggar peraturan."

Gwendoline ternganga. "Kau! Kau melanggar peraturan!" katanya tercengang. "Aku yakin tak pernah sekali pun kau melanggar peraturan. Kau gila bila kaupikir kau bisa mencapai kantor pos dan kembali sebelum makan malam."

"Kenapa tidak. Aku akan lewat jalan pantai," kata Mary-Lou dengan gagah, walaupun hatinya sedikit takut juga. "Lewat jalan pantai hanya memakan waktu sepuluh menit."

"Mary-Lou! Sinting kau!" kata Gwendoline. .. Angin keras bertiup di pantai. Gelap lagi. Kau pasti akan terlempar ke laut!"

"Tak mungkin," kata Mary-Lou tegas, walaupun sekali lagi hatinya semakin takut. "Lagi pula ini hanyalah suatu hal kecil yang bisa kulakukan untuk sahabatku. Aku yakin Daphne sangat menginginkan bungkusan ini segera dikirimkan."

"Daphne bukan sahabatmu!" tukas Gwendoline, rasa irinya menjadi-jadi.

"Siapa bilang?" tanya Mary-Lou, membuat Gwendoline gusar.

"Dasar anak ingusan!" dengus Gwen. "Kau begitu tolol hingga tak mengerti bahwa dirimu hanya diperalat Daphne. Daphne hanya menginginkan kepandaianmu dalam bahasa Prancis! Itulah satu-satunya alasan mengapa ia mau kaudekati. Ia telah mengatakan hal itu padaku!"

Tertegun Mary-Lou memperhatikan Gwendoline, dengan bungkusan itu di tangannya. Tiba-tiba ia merasa hatinya begitu kosong. "Tak benar itu," •ratanya. "Hanya karanganmu saja!"

"Tidak!" kata Gwendoline. "Daphne mengatakan padaku tentang itu berulang kali. Apa yang dicari oleh seorang anak seperti Daphne pada seseorang seperti kau? Hanya karena kau berguna bagi dirinyalah! Dan kalau kau tidak begitu besar kepala, pastilah kau bisa merasakan hal itu sendiri!"

Mary-Lou memang bisa merasakan bahwa hal itu benar. Lagi pula Gwendoline tak akan berkata begitu berapi-api kalau apa yang dikatakannya tidak benar. Tetapi diambilnya juga bungkusan itu, dengan bibir gemetar. Ia berpaling untuk berangkat.

"Mary-Lou! Masa kau masih mau pergi juga dengan bungkusan itu setelah mendengar apa yang kukatakan padamu?" tanya Gwendoline. "Jangan terlalu tolol!"

"Aku lakukan ini untuk Daphne karena aku sahabatnya," kata Mary-Lou, suaranya gemetar. 'Mungkin ia tak menganggap aku sahabatnya, tapi tak apalah bila aku menganggap dia sahabatku. Aku akan rela melakukan apa saja untuknya."

"Keledai tolol!" kata Gwendoline. Tetapi Mary-Lou telah keluar, meninggalkannya sendiri. Gwendoline membanting-banting buku ke rak buku hingga menimbulkan kepulan debu kapur.

Ia tak berkata pada Daphne bahwa Mary-Lou telah berangkat membawa bungkusannya, ia agak malu karena ternyata kalah omong melawan Mary-Lou. Daphne akan lebih menyukai Mary-Lou kalau tahu nanti. Tetapi sebentar lagi semester akan berakhir dan untuk waktu yang lama Daphne tak akan bertemu dengan Mary-Lou. Lagi pula kini Daphne tak akan memerlukan Mary-Lou lagi, sebab untuk beberapa lama ia tak akan memerlukan bahasa Prancis lagi.

Setengah delapan. Lonceng makan malam berbunyi. Anak-anak berhamburan dari berbagai arah menuju ruang makan. "Oooh! Malam ini ada kopi! Asyiiik! Dan roti selai, daging bumbu, serta roti tawar!"

Semua duduk dan mulai makan dengan lahap. Sambil menuangkan kopi untuk anak-anak kelas dua, Nona Parker melihat berkeliling dan berkata, Dua kursi kosong! Siapa yang tak ada? Oh, Ellen tentu. Siapa lagi?"

"Mary-Lou," kata Sally. "Aku melihatnya tadi sesudah jam belajar. Mungkin ia segera datang, Nona Parker."

Tetapi lima menit, sepuluh menit lewat. Dan Mary-Lou tidak juga muncul. Nona Parker mengerutkan kening.

Tak mungkin ia tak mendengar lonceng makan. Coba tolong cari dia sebentar, Sally!

Sally bergegas pergi. Tapi ia segera kembali dengan laporan bahwa ia tak bisa menemukan Mary-Lou. Gwendoline bingung kini. Hanya dia sajalah yang tahu ke mana Mary-Lou pergi. Tetapi bila dikatakannya, Mary-Lou pasti akan mendapat hukuman berat. Pasti ia segera datang, pikir Gwendoline. Mungkin anak itu harus menunggu di kantor pos.

Tiba-tiba ia terkejut sendiri, teringat sesuatu. Kantor pos tutup jam tujuh! Tak mungkin Mary-Lou bisa. mengeposkan bungkusan itu, sebab pastilah kantor pos itu sudah tutup saat ia tiba di sana. Mengapa ia tak memikirkan hal ini tadi? Lalu ke mana Mary-Lou?

Ketakutan mencekam hati Gwendoline. Bagaimana Kalau Mary-Lou terlempar ke laut oleh angin ribut? Bagaimana kalau saat itu juga Mary-Lou sedang berbaring di antara batu karang, luka parah, atau mungkin sudah tewas? Begitu mengerikan pikiran tadi, sehingga roti yang ditelannya tiba-tiba tersangkut di kerongkongannya. Gwendoline terbatuk-batuk, sesak napas.

Daphne memukul punggungnya hingga roti tadi terlepas. Gwendoline berbisik pada Daphne dengan suara bersungguh-sungguh,

"Daphne! Aku ingin mengatakan sesuatu padamu, setelah makan ini. Sangat penting. Pergilah nanti ke ruang latihan musik."

Daphne tampak ketakutan. Tetapi ia mengangguk juga. Begitu makan selesai, keduanya pergi ke ruangan latihan, masuk ke sebuah bilik latihan dan menyalakan lampunya. "Ada apa?" tanya Daphne pada Gwendoline. "Kau seperti baru saja melihat hantu!"

"Mary-Lou. Aku tahu ke mana dia pergi!" bisik Gwendoline.

"Mengapa tak kaukatakan pada Nona Parker?" tanya Daphne gusar. "Untuk apa kaukatakan padaku?"

"Daphne, ia membawa bungkusanmu, yang kaukatakan sangat penting itu. Ia akan membawanya ke kantor pos. Ia berangkat tadi tepat sesudah jam tujuh. Ia lewat jalan tepi pantai. Apakah kira-kira ia celaka?"

Sulit rasanya bagi Daphne untuk mencerna ini semua. "Ia mengambil bungkusanku? Untuk apa? Malam-malam begini, iagi."

"Sikapnya cengeng sekali. Katanya ini dilakukannya untukmu, ia tak peduli badai dan gelap, dilakukannya juga karena ia menganggapmu sahabatnya!"

"Kau tolol, mengapa tak kaularang dia pergi?" tanya Daphne gusar.

"Sudah kucoba," kata Gwendoline. "Aku bahkan berkata padanya bahwa kau bukan sahabatnya, bahwa kau hanya memperalat dia untuk bahasa Prancisnya seperti yang sering kaukatakan padaku. Mestinya dengan begitu ia tak akan jadi berangkat menempuh malam gelap dan angin badai, kan?"

"Dan bagaimana dia?" tanya Daphne dengan suara aneh.

"Dia berangkat juga. Ia berkata ia melakukan itu karena merasa bahwa ia adalah sahabatmu!" kata Gwendoline dengan nada mengejek. "Dia berkata mungkin kau merasa ia bukan sahabatmu, tapi ia tak peduli, asal ia merasa bahwa kau sahabatnya. Dan karena itu ia akan rela melakukan apa saja untukmu."

Gwendoline tercengang ketika melihat air mata di mata Daphne. Daphne tak pernah menangis! "Ada apa?" tanyanya heran.

"Kau tak akan mengerti," kata Daphne mengejap-ngejapkan matanya. "Ya, ampun! Keluar di malam seperti ini, lewat jalan pantai lagi, hanya karena ingin melakukan sesuatu untukku! Dan bahkan kantor pos itu pastilah sudah tutup! Kasihan sekali Mary-Lou. Apa yang terjadi padanya?"

"Mungkinkah ia terjatuh dari tebing?" tanya Gwendoline.

Daphne sangat pucat. "Tidak. Jangan berkata begitu," katanya. 'Betapa mengerikan! Aku tak akan mengampuni diriku."

"Bukankah kau tak bersalah apa-apa dalam hal ini?" kata Gwendoline, heran mengapa Daphne begitu ribut.

"Kesalahankulah yang menyebabkannya! Oh, kau takkan mengerti," kata Daphne. "Mary-Lou yang malang. Dan kau membuatnya pergi dengan pikiran bahwa aku tak menyukainya! Ia pergi dengan mengira bahwa aku hanya memperalat dia! Aku sangat menyukainya. Aku menyukainya sepuluh kali lebih besar daripada aku menyukaimu! Ia begitu baik hati, murah hati, tak pernah memikirkan dirinya sendiri. Memang mula-mula mula aku memperalat dia, menerimanya karena ia bisa menolongku, tetapi lama-lama aku betul suka padanya. Ia memberikan segalanya tanpa mengharapkan apa-apa!"

"Tetapi... kau selalu berkata padaku bahwa kau hanya memperalat dia!" kata Gwendoline tergagap, sama sekali tak menduga akan begitu jadinya. Runtuh kesombongannya.

"Memang. Dan betapa kejinya aku mengatakan hal itu. Tapi itu cara termudah bagiku agar kau tak selalu menggangguku tentang Mary-Lou. Oh, aku takkan bisa memaafkan diriku bila terjadi apa-apa dengannya! Aku akan menyusulnya. Akan kucari dia!"

"Jangan!" seru Gwendoline ketakutan. "Dengarkan deru angin itu. Makin lama makin mengerikan!"

"Kalau Mary-Lou berani keluar hanya untuk mengeposkan bungkusan terkutuk itu, mengapa aku tak berani keluar untuk mencarinya?" kata Daphne. Sesuatu tampak di wajahnya yang cantik dan pucat itu, sesuatu yang belum pernah disaksikan Gwendoline — suatu perasaan bahwa ia harus melakukan apa yang dianggapnya benar, sesuatu yang memberi wajah itu suatu kepribadian yang belum pernah muncul.

"Tetapi, Daphne," kata Gwendoline lemah, kemudian ia tak melanjutkan kata-katanya. Daphne telah meninggalkan ruang latihan musik, berlari ke kamarnya. Diambilnya jas hujan, topi hujan, dan ia lari lagi ke ruang penyimpanan pakaian luar. Dipakainya sepatu karet tingginya. Tak seorang pun melihatnya. Tanpa ragu-ragu ia pun memasuki malam yang gelap dan ribut itu, dengan membawa senter untuk menerangi jalannya.

Angin bertiup begitu keras, begitu ribut. Sesak napas Daphne saat ia mulai jalan di jalan pantai.

Makin jauh ia berjalan, makin keras angin bertiup. Bisa-bisa ia terlempar ke laut!

Ia menyorotkan senternya ke sana kemari. Tak ada yang bisa dilihatnya, kecuali semak-semak yang bungkuk oleh angin, basah oleh hujan.

Ia berjalan terus, berteriak-teriak putus asa memanggil Mary-Lou,

"Mary-Lou! MARY-LOU! Di mana kau?"

Angin bagaikan merenggut kata-kata yang keluar dari mulutnya, ia berteriak lagi dengan memakai telapak tangannya sebagai corong, "Mary-Lou! MARY-LOU! MARY-LOU!"

Dan beberapa saat kemudian terdengar sayup-sayup sebuah jawaban, "Di sini! Aku di sini! Tolong! Tolong!"


19. PAHLAWAN!

Daphne tertegun diam mendengarkan. Teriakan itu terdengar lagi dibawa angin. Sangat lemah. "Di sini! Tolong!"

Agaknya datang dari arah depan. Daphne berjalan maju melawan angin, dan sampai ke tempat di mana tebing menekuk ke arah daratan, ia mengikuti tepi tebing dengan sangat hati-hati, tak berani terlalu ke tepi karena angin sangat kuat. Untunglah, agaknya angin pun mulai sedikit lebih lemah, walau ia masih terpaksa sedikit membungkuk untuk bisa terus maju.

Tiba-tiba didengarnya suara Mary-Lou lebih dekat, lebih jelas, "Tolong! Tolong!"

Daphne begitu takut akan tertiup terlempar ke laut bila ia terlalu dekat ke tepi tebing. Tetapi suara tadi agaknya datang dari tepi tebing, entah di mana. Daphne duduk di tanah yang basah, sebab dengan begitu ia merasa angin takkan begitu mudah membuat dirinya terlempar. Dan sambil merangkak, memegang rumput-rumput di sana-sini, ia maju lagi.

Ia sampai di tempat di mana tepi tebing runtuh sebagian, sehingga membuat telundakan menurun ke tebing itu, curam sekali ke arah laut sana. Ia merangkak ke tempat itu, kini bahkan merayap rapat di tanah karena begitu takut, sambil sekali-sekali menyorotkan senternya.

Dan di tebing yang runtuh itu, sekitar beberapa meter di bawahnya, terlihat Mary-Lou bergantung pada beberapa tonjolan tanah, mukanya begitu pucat ketakutan di sinar lampu senter.

"Tolong!" serunya lemah, menatap senter itu. "Oh, tolonglah! Aku tak kuat berpegangan lagi!"

Daphne tersirap darahnya, ia segera melihat bahwa begitu Mary-Lou melepaskan pegangannya yang tak seberapa itu, ia akan jatuh dan terhempas ke batu-batu karang jauh di bawah sana! Jantungnya seakan tak bisa berdetak. Apa yang akan dilakukannya?

"Aku di sini, Mary-Lou!" teriaknya. "Tahan dulu! Aku akan minta pertolongan!"

"Oh, Daphne! Kaukah itu? Jangan pergi! Aku akan jatuh nanti. Tolong, Daphne!" teriak Mary-Lou.

Daphne memandang ke bawah, ke Mary-Lou. Rasanya memang akan berbahaya bila Mary-Lou ditinggalkan. Setiap saat ia bisa terjatuh! Tidak! Ia tak boleh pergi minta tolong. Harus dicarinya sendiri jalan untuk menolong Mary-Lou. Dan ia harus melakukannya sekarang juga!

Terpikir olehnya ikat pinggang jas hujannya. Kemudian ikat pinggang seragam sekolahnya. Jika keduanya disambung, dan diulurkan pada Mary-Lou, mungkin Mary-Lou bisa memegangnya dan kemudian merayap ke atas. Tetapi apakah kedua ikat pinggang itu bisa mencapai Mary-Lou?

Dilepaskannya ikat pinggang jas hujannya, kemudian ikat pinggang seragamnya dengan jari-jarinya yang hampir beku karena kedinginan dan ketakutan. Rasanya sulit sekali, dan sementara itu ia terus menghibur Mary-Lou di bawahnya.

"Akan kutolong kau, Mary-Lou, jangan khawatir! Kau pasti akan segera berada di atas sini. Aku sedang menyambung kedua ikat pinggangku. Dan akan kuulurkan ke bawah. Tahan, Mary-Lou, tahan! Kau pasti selamat!"

Terhibur oleh kata-kata Daphne, Mary-Lou bertahan, fa ketakutan sekali tadi ketika tiba-tiba sebuah hembusan angin yang sangat kuat membuatnya terguling ke tepi tebing dan jatuh. Entah bagaimana ia bisa meraih dan mencengkeram serumpun rumput yang tumbuh di tebing itu, dan karenanya jiwanya tertolong — untuk sementara. Rasanya sudah berabad-abad baru didengarnya suara Daphne. Kini Daphne telah datang. Ia pasti akan menolongnya. Apa pun kata Gwendoline, ia yakin Daphne sahabatnya.

Daphne berbaring lagi, rapat di tanah. Kakinya dikaitkannya pada sebuah semak-semak kuat di belakangnya. Tak menghiraukan tusukan duri-duri yang ada di batang semak-semak berdahan lebat itu, ia melingkarkan kakinya sedemikian rupa sehingga takkan mungkin ia tertarik ke bawah oleh berat badan Mary-Lou.

Suara Mary-Lou terdengar tergopoh dan ketakutan, "Daphne! Rumput yang kupegang hampir copot! Aku akan jatuh! Cepat!"

Daphne bergegas menurunkan kedua ikat pinggang yang telah disambungnya itu. Mary-Lou menangkapnya dengan sebelah tangan, melibatkan pergelangan tangannya, dan Daphne merasa betapa ia mulai ditarik ke bawah oleh berat badan Mary-Lou.

"Bagaimana? Apakah kau merasa akan jatuh?" teriak Daphne.

"Tidak," sahut Mary-Lou. "Kini kakiku mendapat tempat berpijak yang kuat!" Kini Mary-Lou agaknya merasa lebih yakin dengan adanya ujung ikat pinggang yang melibat pergelangan tangannya itu. "Aku takkan menarikmu jatuh, kan?"

"Tidak Tapi kurasa aku takkan cukup kuat untuk menarikmu naik," kata Daphne, putus asa. "Dan ikat pinggangku mungkin takkan begitu kuat untuk waktu yang lama. Kurasa kita takkan bisa berbuat apa-apa sampai seseorang menemukan kita!"

"Kasihan kau, Daphne, pasti kau sungguh tersiksa!" kata Mary-Lou. "Alangkah baiknya bila tadi aku tak pergi dengan membawa bungkusan itu."

"Kau sungguh baik hati," kata Daphne, tak tahu apa yang harus dikatakannya. "Tetapi kau memang selalu baik hati, Mary-Lou. Dan Mary-Lou, aku sahabatmu. Kau tahu itu, kan? Gwen mengatakan hal yang tidak-tidak padamu. Ia menceritakannya sendiri padaku. Tapi itu semua tidak benar. Aku anggap kau yang paling baik di antara semua temanku. Tak pernah aku menyukai anak lain seperti aku menyukaimu."

"Aku tahu bahwa Gwen tak berkata benar begitu kudengar tadi suaramu mencari aku," kata Mary-Lou dari kegelapan. "Aku anggap kau sebagai pahlawan penyelamatku, Daphne."

"Aku bukan pahlawan!" sahut Daphne. "Aku seorang anak yang berhati keji. Kau tak tahu betapa jahatnya aku."

"Lucu juga ya, dalam keadaan sangat berbahaya seperti ini kita berbicara seperti itu," kata Mary-Lou, mencoba untuk bersikap riang. "Ampun! Aku menyesal telah membuatmu terancam bahaya juga, Daphne. Kira-kira kapan kita akan dicari orang?"

"Hanya Gwen yang tahu kepergianku," kata Daphne. "Kalau aku tak segera kembali, mestinya ia akan lapor ke si Hidung Panjang. Dan kita pasti akan dicari. Kuharap saja Gwen cukup punya otak untuk mengatakan hal ini pada orang lain."

Dan memang itulah yang dilakukan Gwendoline. Ia sangat khawatir, mula-mula tentang Mary-Lou, dan kemudian tentang Daphne. Ketika Daphne tak juga kembali setelah pergi sekitar setengah jam, Gwendoline menghadap Nona Parker. Diceritakannya ke mana Mary-Lou pergi dan bahwa Daphne telah menyusulnya.

"Apa? Berjalan di jalan pai.tai di malam seperti ini? Dalam cuaca seperti ini? Ini gila-gilaan!" seru Nona Parker yang segera berlari ke ruang Nona Grayling.

Dua-tiga menit kemudian sebuah regu pencari berangkat, membawa lentera, tali, dan termos berisi coklat susu panas. Dan tak lama kedua anak itu sudah ditemukan. Nona Grayling berseru terkejut melihat keadaan mereka. "Sungguh berbahaya!" serunya.

Lengan Daphne sudah begitu kaku ketika regu pencari itu tiba. Mereka melihatnya tengkurap di tanah, dengan kaki membelit semak-semak berduri, sementara kedua tangannya memegang seutas ikat pinggang — dan di balik tebing, di bawahnya, tergantung Mary-Lou, sementara jauh-di bawahnya lagi menanti laut serta batu-batu karang.

Tali segera diturunkan, menjerat Mary-Lou, mengikat lengan dan bahunya. Seutas tali lain mengikat pinggangnya. Dan dengan bantuan kedua tali tadi, Daphne bisa melepaskan pegangannya atas ikat pinggangnya. Ia bangkit, hampir roboh karena kakinya sudah begitu kaku. Nona Grayling langsung merangkulnya. "Peganglah aku," katanya.

Tukang kebun sekolah menarik Mary-Lou ke atas, dan Mary-Lou roboh ke tanah, menangis tersedu-sedu lega. Tukang kebun itu melepaskan ikatannya dan mengangkat anak bertubuh kecil itu.

"Biar kubopong dia," katanya. "Beri dia minuman panas. Agaknya dia sudah beku sekali."

Kedua anak itu dengan girang menerima coklat susu hangat. Kemudian sambil terus berpegangan pada Nona Grayling, Daphne terhuyung berjalan pulang, diikuti oleh tukang kebun dan anggota regu penolong lainnya.

"Tidurkan anak-anak ini," kata Nona Grayling pada Ibu Asrama. "Mereka baru saja mengalami bencana. Mudah-mudahan mereka tak kena pneumonia. Daphne, kau telah menyelamatkan jiwa Mary-Lou. Aku sungguh bangga akan kau."

Daphne tak berkata sepatah pun. Dan dengan heran Nona Grayling melihat anak itu menundukkan kepala dan pergi. Tetapi ia tak sempat memikirkan hal ini, sebab ia kemudian ikut sibuk membuka pakaian Mary-Lou dan menidurkannya. Kedua anak itu segera saja berbaring di tempat tidur hangat dengan perut berisi makanan dan minuman panas. Mereka memang sangat lelah, hingga tak lama mereka pun tertidur dengan nyenyak.

Sementara itu anak-anak kelas dua juga sudah berada di tempat tidur, khawatir dan gelisah setelah mendengar cerita Gwendoline. Mereka juga tahu bahwa regu penolong telah berangkat mencari Mary-Lou dan Daphne. Berbagai bayangan buruk tergambar di pikiran mereka yang berbaring gelisah di tempat tidur masing-masing, sementara di luar angin masih menderu-deru seru.

Mereka bahkan memberanikan diri untuk berbicara walaupun lampu telah dimatikan. Sally tidak melarang hal ini. Ia merasa bahwa malam ini malam perkecualian. Malam penuh kekhawatiran. Dan dengan bercakap-cakap, maka rasa khawatir itu bisa sedikit diperingan.

Kemudian, setelah waktu yang sangat lama terasa, terdengar suara langkah Nona Parker di gang depan kamar. Berita! Mereka langsung duduk.

Nona Parker masuk, menyalakan lampu dan menatap muka tujuh orang anak yang gelisah menanti itu. Kemudian diceritakannya bagaimana Mary-Lou dan Daphne telah ditemukan, bagaimana Daphne dengan akalnya telah menyelamatkan Mary-Lou dari bahaya maut. Digambarkannya tentang Daphne yang tengkurap di tanah basah, membelitkan kaki di semak berduri, menahan Mary-Lou dengan ikat pinggangnya sampai pertolongan tiba.

"Daphne seorang pahlawan!" seru Darrell. "Aku tak pernah menyukainya — tapi Nona Parker, ia betul-betul luar biasa, bukan? Ia seorang pahlawan!"

"Betul," kata Nona Parker. "Aku juga tak mengira ia bisa berbuat seperti itu. Kini ia tidur, di san. Tetapi aku yakin, ia segera akan dapat masuk ke kelas. Aku mengusulkan untuk memberinya sorakan tiga kali bila ia masuk."

Nona Parker mematikan lampu dan mengucapkan selamat malam. Anak-anak itu bercakap-cakap lagi beberapa menit, bersyukur bahwa Daphne dan Mary-Lou selamat. Heran juga, Daphne sampai berani bertindak seperti itu! Dan untuk Mary-Lou, iagi! Padahal Gwen selalu berkata bahwa Daphne hanya memperalat Mary-Lou, tidak betul-betul menyukainya.

"Daphne pastilah sangat menyukai Mary-Lou," kata Darrell menyuarakan apa yang dipikirkan oleh anak-anak lainnya. "Aku senang kalau memang begitu keadaannya. Aku selalu merasa bahwa selama ini Daphne licik sekali, memperalat Mary-Lou hanya untuk kepandaian bahasa Prancisnya."

"Entah apa yang terjadi dengan bungkusan yang tampaknya sangat berharga itu," kata Belinda. "Mary-Lou pastilah tak jadi mengeposkannya, sebab kantor pos telah tutup. Aku yakin tak ada yang memperhatikan bungkusan itu."

"Besok kita cari," kata Sally. "Wah, sungguh sedikit rasanya kita saat ini. Ellen pergi, Daphne dan Mary-Lou di san... tapi syukurlah mereka tidak berada di luar sana, di atas tebing."

Angin bertiup menghebat lagi, meraung-raung sekeliling Menara Utara. Anak-anak meringkuk mencari kehangatan. "Aku betul-betul berpendapat bahwa Daphne sangat gagah berani," kata Darrell. "Dan tak bisa kubayangkan bagaimana si Penakut Mary-Lou itu berani keluar melawan badai! Mary-Lou! Bayangkan saja!"

Memang manusia itu aneh," kata Irene. "Kita sama sekali tak bisa menduga apa yang akan dilakukan seseorang."

"Tepat sekali, Irene." Darrell tertawa. "Hari ini. misalnya, kau telah menyimpan buku bahasa Prancismu di lemari olahraga, dan kemudian memaksa memasukkan tongkat lacrosse-mu ke dalam laci di kelas — memang kita tak bisa menduga apa yang akan kaulakukan!"


20. BUNGKUSAN ANEH

Rasanya sulit sekali mengerjakan pekerjaan ulangan. Begitu menegangkan kisah Mary-Lou dan Daphne. Seisi sekolah tahu semua, dan semua membicarakannya. Hari itu kedua anak tersebut tidak diperkenankan masuk sekolah oleh Ibu Asrama. Mereka tidak sakit, hanya harus beristirahat penuh.

Sebelum jam pelajaran sore, Darrell, Sally, Irene, dan Belinda berangkat menyusuri jalan tepi tebing untuk mencari bungkusan Daphne. Angin tak lagi bertiup. Cuaca begitu indah. Laut biru membayangkan kecerahan kebiruan langit, dan pemandangan sangatlah indah.

"Lihat, itu pasti tempat Mary-Lou tertiup jatuh," kata Darrell, menunjuk bagian tebing yang runtuh. "Dan, ya, lihat, pasti itulah semak-semak tempat Daphne mengaitkan kakinya! Wah, pasti hancur kakinya kena duri-duri itu!"

Anak-anak itu memperhatikan tempat Mary-Lou dan Daphne mengalami kejadian mengerikan itu. Tak terasa Sally menggeletar ngeri, membayangkan kejadian yang terjadi di malam gelap itu.

Dengan angin meraung-raung, dan ombak menghempas ganas di bawah.

"Sungguh mengerikan," katanya. "Ayolah, mari kita cari bungkusan itu. Mary-Lou mungkin telah menjatuhkan di sekitar sini."

Mereka mulai mencari-cari. Darrell yang akhirnya menemukannya. Tergeletak di rumput basah, bungkusnya koyak, agak jauh dari tempat Mary-Lou jatuh.

"Itu dia!" kata Darrell, berlari mengambil bungkusan itu. "Oh, koyak-koyak, dan hampir hancur kena hujan!"

"Lebih baik buka saja bungkusnya, dan kita bawa isinya," kata Sally. Darrell membuang kertas-kertas koyak basah pembungkus bungkusan itu dan mengeluarkan isinya. Dan anak-anak itu tertegun.

Isi bungkusan tersebut jatuh ke rumput. Empat buah dompet dan berbagai ukuran. Tiga buah kotak tempat bros atau tempat perhiasan seperti yang biasa dijual di toko-toko perhiasan — kotak dari kulit yang kancingnya terbuka bila dipijit.

Darrell mengambil satu, dipijitnya terbuka. Sebuah bros emas gemilang di dalamnya. Tercengang Darrell memberikan bros itu pada Sally.

"Bukankah ini punya Emily... yang hilang?" tanyanya.

"Punya Emily ada namanya," kata Sally ragu-ragu, membalikkan bros tersebut. Sesaat ia terdiam.

"Ya," katanya kemudian, "ini punya Emily. Namanya tertulis di sini."

Sally membuka lagi kotak lainnya. Di situ tersimpan seuntai kalung emas. Kecil, sederhana.

"Ini punya Katie!" kata Irene. "Pernah kulihat dia memakainya. Ya, ampun! Bagaimana benda-benda ini ada di dalam bungkusan ini? Apakah ini betul-betul bungkusan yang dibawa Mary-Lou?"

Sally mengambil barang-barang tadi, mukanya tampak bersungguh-sungguh, "Kurasa ini memang bungkusan yang dibawa Mary-Lou. Tapi, lihat. Ini punya orang-orang yang kita ketahui. Ini dompet Gwen. Ini dompet Mary-Lou. Dan ini punya Betty."

Dengan perasaan tegang keempat anak itu saling pandang.

"Kalau ini memang bungkusan yang akan diposkan Mary-Lou untuk Daphne, bagaimana barang-barang ini bisa berada di dalamnya?" tanya Sally, menyatakan apa yang dipikirkan oleh kawan-kawannya.

"Mungkinkah ia memperolehnya dari Ellen?" tanya Darrell bingung. "Kita semua tahu bahwa Ellen yang mengambil benda-benda itu. Dari mana Daphne memperolehnya? Apakah ia berusaha untuk menutup-nutupi Ellen?"

"Kita harus mengetahuinya," kata Irene. "Sally, lebih baik kita bawa semua ini kepada Nona Grayling. Kita tak boleh menyimpannya."

"Memang," kata Sally. "Mari cepat kembali ke sekolah."

Mereka kembali ke sekolah. Tak banyak berbicara. Bingung dan diam. Mereka membawa barang-barang curian. Mereka telah menuduh Ellen sebagai pencurinya. Daphne entah bagaimana telah menyimpan barang-barang itu. Dan Mary-Lou hampir celaka karena akan mengeposkannya. Tetapi ia kemudian ditolong Daphne! Sungguh rumit.

"Peristiwa ini begitu sulit untuk dimengerti," kata Belinda. "Aku tak bisa memikirkannya. Sayang sekali Ellen sudah dikeluarkan. Kalau tidak, bisa kita tunjukkan padanya barang-barang yang kita temukan ini."

Mereka sama sekali tak tahu bahwa Ellen masih ada di Malory Towers. Dengan begitu banyak desas-desus, maka mereka yakin bahwa Ellen telah dipulangkan.

Ketika mereka sampai di halaman sekolah, lonceng berbunyi tanda waktu pelajaran sore dimulai. Mereka menemui Nona Parker dan minta izin untuk menghadap Nona Grayling.

"Kami menemukan bungkusan yang akan diposkan oleh Mary-Lou," kata Sally. "Kami akan menyampaikan pada Nona Grayling."

"Baiklah, tapi jangan terlalu lama," kata Nona Parker. Keempat anak itu menuju kamar kerja Nona Grayling, mengetuk pintunya.

"Masuklah," sahut suara perlahan dari dalam. Mereka membuka pintu dan masuk. Kepala sekolah itu sedang sendirian. Beliau mengangkat muka sewaktu keempat anak tadi masuk. Dan tersenyum, ia menyukai keempatnya, termasuk Belinda yang pelupa itu.

"Maafkan kami, Nona Grayling," Sally maju. "Kami menemukan bungkusan yang akan diposkan oleh Mary-Lou untuk Daphne. Dan inilah barang-barang di dalamnya. Bungkusnya sendiri hancur terkena air hujan, sehingga terpaksa kami buka dan buang."

Sally meletakkan semua benda yang ditemukannya di meja Nona Grayling. Nona Grayling melihat itu semua dengan heran. "Semua ini ada di dalam bungkusan itu?" tanyanya. "Lalu... apakah semua ini milik Daphne? Bukankah bungkusan itu milik Daphne?"

Kikuk sejenak. Anak-anak itu ragu-ragu menjawab. Kemudian Sally berkata, "Begini, Nona Grayling. Barang-barang ini punya beberapa orang dari kami. Beberapa waktu yang lalu barang-barang ini hilang. Dan dompet-dompet ini ada uangnya pada waktu hilang itu. Kini kosong semua."

Nona Grayling berubah air mukanya. Suatu pandangan dingin terpancar di matanya. Dan ia duduk begitu tegak.

"Kau harus memberi keterangan lebih baik dari itu, Sally," katanya. "Jadi... barang-barang ini pernah dicuri dari kalian atau kawan-kawan kalian, entah kapan, tetapi di semester ini?"

"Benar, Nona Grayling," Sally menyahut, dan yang lain mengangguk.

"Kalian mengira Daphne mengambilnya?" tanya Nona Grayling setelah terdiam beberapa saat. Anak-anak itu saling pandang.

"Kami... kami pikir Ellen yang mengambilnya," kata Sally akhirnya. "Tapi karena dia telah dikeluarkan dari sekolah ini dan dipulangkan, maka..."

"Tunggu!" tukas Nona Grayling dengan suara yang begitu tajam sehingga keempat anak itu terkejut. "Ellen dikeluarkan? Apa maksud kalian? Ia berada di san.! Dua malam yang lalu ia dibawa ke san. oleh Ibu Asrama karena sakit kepalanya yang begitu hebat. Dan kini ia sedang dirawat serta diperiksa apa penyebab sakitnya itu."'

Anak-anak itu ternganga. Muka Sally merah padam. Mestinya ia tak boleh begitu saja mempercayai desas-desus yang ada! Ia percaya pada desas-desus itu karena ia tidak menyukai Ellen!

Nona Grayling menatap mereka dengan pandangan mata tajam. "Ini sungguh keterlaluan!" katanya. "Aku sama sekali tak bisa mengerti. Mengapa kalian mengira Ellen dikeluarkan? Mengapa kalian mengira ia yang mengambil barang-barang ini? Mestinya kalian bisa mengetahui bahwa bukan macam itulah Ellen itu. Kalian tahu, ia masuk ke Malory Towers karena memenangkan bea siswa yang dicapainya dengan bekerja keras dan tekun belajar, ia masuk kemari dengan disertai surat keterangan tentang pribadi dan kelakuannya, yang menyatakan ia sangat baik. dari sekolahnya yang terdahulu!"

"Kami... kami kira dia yang mengambilnya," Sally berkata gagap. "Paling tidak... aku telah berusaha meyakinkan kawan-kawan bahwa kami tak boleh menuduh tanpa bukti tetapi... tetapi..."

"Aku mengerti kini. Jadi kau terang-terangan telah menuduh anak malang itu? Kapan itu?"

"Dua malam yang lalu, Nona Grayling," kata Sally, mencoba untuk menghindari pandangan mata begitu tajam dan dingin dari Nona Grayling.

"Dua malam yang lalu!" kata Nona Grayling. "Ah, kalau begitu memang cocok. Mungkin karena itulah hati Ellen terguncang, dan sakit kepalanya yang begitu hebat kambuh, ia pergi ke Ibu Asrama. Dan entah bagaimana kau mengira ia telah dikeluarkan! Entah kenapa kalian bisa berpikir seperti itu. Aku yakin kalian mempercayai desas-desus yang tidak benar karena kalian memang ingin kalau perkiraan kalian itu terjadi betul! Bisa-bisa kalian telah membuat suatu kerusakan berat dalam pribadi seorang anak yang sebenarnya tak berdosa!"

Darrell beberapa kali menelan ludah. Teringat olehnya pergulatannya malam itu melawan Ellen. Jelas Ellen berbuat curang dalam pelajaran. Tetapi Darrell telah mengata-ngatainya 'pencuri' dan beberapa kata yang takkan bisa dimaafkan lagi. Ia memandang Nona Grayling dan merasa bahwa ia harus menceritakan apa yang terjadi malam itu. Ia yakin karena peristiwa itulah Ellen sakit. Ya, ampun! Betapa semua jadi tak keruan bila kita mulai bertindak tanpa berpikir!

"Bolehkah aku berbicara sendirian saja dengan Anda, Nona Grayling?" Darrell memberanikan diri. "Aku ingin mengatakan sesuatu yang belum pernah diketahui anak lain, dan ingin kukatakan pada Anda, untuk minta pertimbangan Anda."

"Tunggu di luar sebentar." Nona Grayling mengangguk pada Sally, Belinda, dan Irene. "Setelah Darell berbicara nanti kalian masuk lagi."

Ketiga anak itu keluar, menutup pintu, merasa heran. Apa yang akan dibicarakan Darrell? Mengapa ia tak bercerita pada mereka lebih dulu?

Darrell menceritakan dengan teliti bagaimana ia mengikuti Ellen malam itu dan memergokinya mengambil kertas ulangan dari lemari Mam'zelle.

"Dan kutuduh dia berbuat curang, yang aku yakin memang sudah tepat," kata Darrell, "dan kukatakan juga dia itu pencuri, dan aku berkata aku akan mengadukannya pada Sally dan peristiwa itu pasti akan dilaporkan pada guru-guru dengan akibat ia pasti akan dikeluarkan. Kukira karena peristiwa itulah ia jadi sangat sakit kepalanya dan pergi ke Ibu Asrama. Kami tak mengetahui hal itu. Kami semua berpikir bahwa ia memang dikeluarkan karena entah bagaimana Anda mengetahui bahwa ia mencuri. Kami kira Anda mengeluarkan dia secara diam-diam agar nama sekolah kita terjaga."

"Sungguh keterlaluan!" kata Nona Grayling setelah cerita Darrell selesai. "Banyak sekali peristiwa yang terjadi di sekolah dan ternyata tak kuketahui! Sungguh tak masuk akal. Apakah betul katamu, Darrell, bahwa kau dan Ellen berkelahi di ruang kelas dua di tengah malam? Itu bukannya sesuatu yang bisa dibanggakan sekolah kita!"

"Aku tahu, dan aku sangat menyesal karenanya," kata Darrell. "Tetapi aku betul-betul tak tahan melihat ada anak berbuat curang, Nona Grayling. dan aku tak bisa mengendalikan diri lagi."

"Sungguh aneh," kata Nona Grayling termenung. "Ellen adalah seorang anak bea siswa. Dan biasanya anak seperti itu tak pernah akan merasa perlu untuk berbuat curang dalam pelajaran. Kalaupun itu dilakukannya, pastilah ada suatu alasan yang kuat baginya. Apakah tak ada yang menyukai Ellen, Darrell?"

Darrell ragu-ragu sesaat. "Dia... dia begitu penggugup, suka membentak, serta mudah sekali marah, Nona Grayling. Ia membentak bila mejanya tersentuh, ia menjerit bila kita menyela saat ia membaca, ia sangat mudah marah. Kukira hanya Jean yang suka padanya, ia begitu sabar menghadapi Ellen."

"Alangkah baiknya bila hal ini kuketahui sebelumnya," kata Nona Grayling. "Kini aku tahu mengapa Ellen begitu gugup sewaktu kusarankan agar ia beristirahat di rumah. Kupikir ia akan lebih merasa tenang di antara keluarganya, ia pasti mengira aku telah mengusirnya karena seseorang telah datang padaku, mengadu bahwa ia mencuri atau berbuat curang. Kasihan Ellen. Kukira ia terlalu berat membebani otaknya, dan inilah akibatnya."

Darrell termangu, ia merasa bahwa Nona Grayling gusar terhadap kelakuannya. "Aku sangat menyesal akan apa yang pernah kulakukan." Darrell mengerjapkan mata agar air matanya tak keluar. "Aku tahu bahwa aku selalu mengatakan aku akan menguasai sifat marahku, dan ternyata suatu saat aku selalu begitu marah hingga aku tak bisa menguasai diri lagi. Anda pasti sudah tak percaya lagi padaku, Nona Grayling."

"Aku akan tetap mempercayaimu, mempercayaimu kapan saja," kata Nona Grayling. Matanya yang biru kini tampak begitu hangat dan sabar, dan kini ia tersenyum. "Dan suatu hari aku percaya kau akan menepati janjimu itu, Darrell. Mungkin bila kau berada di kelas enam. Nah, panggillah teman-temanmu."

Sally, Belinda, dan Irene masuk. Nona Grayling berkata bersungguh-sungguh pada mereka, "Apa yang telah dikatakan Darrell padaku kurasa lebih baik tak kuulangi pada kalian. Dan kurasa Darrell juga tak boleh mengatakan lagi peristiwa yang dialaminya kepada siapa pun. Aku hanya ingin berkata bahwa Ellen bukanlah pencuri seperti yang kalian tuduhkan. Ontuk hal ini aku merasa sangat yakin."

"Bukan pencurinya!" kata Sally. "Tetapi kami pikir dia... dan Alicia telah menuduhnya terang-terangan!"

Sally tak sengaja mengucapkan nama Alicia. Nona Grayling termenung, mengetuk-ngetuk meja dengari pensilnya. "Oh, jadi Alicia yang menuduhnya, ya?" tanyanya. "Maka kukira ia pasti akan sangat menyesal nanti. Aku yakin tuduhan terbuka itulah yang membuat Ellen tak tahan lagi. Sally, kau ketua kelas. Aku- menyerahkan padamu tugas untuk membuat Alicia berhati lebih lembut, lebih kasih terhadap teman-temannya. Sifat-sifat seperti itulah yang lebih dikagumi oleh aku, kau, dan semua orang."

"Baik, Nona Grayling," kata Sally, yang juga merasa sangat ikut berdosa kini. "Tetapi, Nona Grayling, ialu siapa pencurinya?"

"Rasanya tak mungkin Daphne," kata Irene. "Tak mungkin anak yang begitu berani dan tak memikirkan dirinya sendiri seperti Daphne semalam bisa berbuat begitu buruk! Daphne seorang pahlawan! Semua orang mengatakannya begitu!"

"Apakah kau berpikir bahwa bila seseorang tiba-tiba bisa berlaku begitu berani dan baik, maka tak mungkin ia pernah berbuat jahat?" tanya Nona Grayling. "Kau keliru, Irene. Semua orang punya sifat baik dan buruk dan kita semua harus berusaha keras untuk menekan sifat buruk kita, dan berbuat hanya yang baik saja. Kita takkan pernah sempurna. Sekali-sekali kita akan berbuat baik, sekali-sekali kita akan berbuat buruk. Yang bisa kita lakukan hanyalah berusaha melenyapkan perbuatan buruk kita dengan berbuat kebaikan. Daphne memang sudah melakukan sesuatu yang mungkin bisa melenyapkan perbuatan buruknya. Tetapi itu tak berarti bahwa ia tak pernah berbuat sesuatu yang buruk."

"Apakah ia pencurinya?" tanya Sally tak percaya.

"Itulah yang akan kuselidiki," kata Nona Grayling. "Kalau benar ia pencurinya, maka ia akan datang sendiri mengatakannya pada kalian, dan kalian sendiri yang akan menentukan tentang dia. Kini kembalilah ke kelas. Aku akan menjenguk Daphne dan Ellen di san. Oh, ya. Hari ini Ellen boleh menerima tamu. Bagaimana kalau kalian menyuruh Jean mengunjunginya? Darrell bilang hanya Jean yang suka pada Ellen. Mintalah agar ia mengunjungi Ellen setelah minum teh dan menghiburnya."

"Apakah ia boleh berkata pada Ellen bahwa kami sekarang tahu dia bukan pencurinya?" tanya Darrell. "Dan oh, Nona Grayling, bolehkah aku juga mengunjunginya? Sebentar saja?"

"Ya," kata Nona Grayling. "Tapi jagalah jangan berkelahi dengannya lagi. Aku yakin jururawat akan langsung meringkusmu!"


21. DAPHNE, ELLEN — DAN NONA GRAYLING

Nona Grayling pergi ke san. Ia berbicara sebentar dengan jururawat yang mengangguk dan berkata, "Ya, Daphne sudah cukup kuat. Ia baru saja bangun."

Kepala sekolah itu minta agar Daphne dibawa ke kamar sebelah di mana mereka bisa berbicara berdua saja. Dengan dibantu jururawat, Daphne masuk dan duduk di kursi. Melihat wajah Nona Grayling yang bersungguh-sungguh, was-was juga hati Daphne.

“Daphne," kata Nona Grayling, "barang-barang ini ditemukan di dalam bungkusan yang akan diposkan Mary-Lou untukmu. Kau sendirilah yang membungkus barang-barang itu. Dari mana kaudapat barang-barang tersebut? Dan mengapa akan kaukirimkan entah ke mana?"

Nona Grayling meletakkan dompet dan barang-barang lainnya ke pangkuan Daphne. Daphne terbelalak ketakutan. Wajahnya jadi pucat sekali, ia membuka mulut untuk menjawab, tetapi tak sepatah kata pun keluar.

"Bolehkah kukatakan dari mana barang-barang ini kaudapat?" tanya Nona Grayling. "Kau telah mengambilnya dari meja, laci, dan lemari teman-temanmu. Kauhabiskan uangnya. Daphne, kaulakukan di sini apa yang pernah kaulakukan di dua sekolahmu yang terdahulu. Kedua sekolah itu secara halus telah minta pada kedua orang tuamu untuk mengambilmu kembali, tanpa menyatakan apa sebenarnya yang jadi penyebabnya."

"Bagaimana Anda tahu itu?" bisik Daphne, wajahnya yang biasa cantik itu tampak begitu merana.

"Sudah menjadi kebiasaan Malory Towers untuk minta laporan khusus dari sekolah dari mana seorang murid datang. Terutama tentang kepribadian anak itu. Kalau bisa, Daphne, kami tak mau menerima anak-anak yang kelakuannya buruk."

"Lalu, mengapa Anda menerima aku?" tanya Daphne, tak berani menatap pandangan kepala sekolah itu.

"Sebab, Daphne, kepala sekolahmu yang terakhir menyatakan bahwa sesungguhnya sifatmu tidaklah seluruhnya buruk," kata Nona Grayling. "Beliau berkata mungkin di sekolah seperti Malory Towers ini kau bisa berubah menjadi baik, sebab Malory Towers terkenal sebagai sekolah yang mengutamakan pendidikan tentang keadilan, kebaikan hati, dan kejujuran. Mungkin dengan pendidikan di Malory Towers, sifat baikmu bisa mengganti sifat burukmu. Dan aku suka memberi seseorang kesempatan untuk menjadi baik lagi."

"Begitu..." kata Daphne. "Tetapi ternyata aku di sini semakin buruk, Nona Grayling. Aku tidak saja mencuri, tetapi juga berdusta. Aku berkata aku tak pernah bersekolah, sebab aku takut kalau teman-teman tahu aku sudah dua kali dikeluarkan dari sekolahku. Aku juga pura-pura kaya. Aku... aku pasang potret seorang wanita kaya dan cantik di mejaku, dan kukatakan bahwa wanita itu ibuku... padahal bukan."

"Aku tahu. Semua guru telah diberi tahu tentang kau. Tetapi murid-murid tak ada yang tahu. Banyak yang kudengar tentang dirimu, Daphne, yang membuat aku sedih, membuat aku berpikir bahwa tak sepantasnya kau diberi kesempatan lagi. Kelemahanmu yang terbesar adalah kecantikanmu. Kau ingin agar semua orang mengagumimu, mengira kau datang dari keluarga kaya raya dengan ayah-ibu yang tampan terhormat — kau ingin orang lain kagum dan iri padamu, bukan? Dan karena orang tuamu tidak sekaya yang kaukhayalkan, dan tak bisa memberimu uang saku serta barang-barang seperti anak-anak lain, maka kauambil saja apa yang kauinginkan — kau mencuri."

"Aku memang buruk, sangat buruk sifatku," kata Daphne, menundukkan kepala.

"Tetapi ternyata kau telah melakukan sesuatu yang sangat berani, sangat luar biasa," kata Nona Grayling. "Pandanglah aku, Daphne. Hari ini semua murid Malory Towers mengagumimu. Teman-temanmu mengatakan kau seorang pahlawan.

Mereka ingin menyambutmu dengan meriah. Mereka bangga akan dirimu. Sesungguhnya banyak sifat baikmu yang terpendam."

Daphne telah mengangkat muka dan memandang Nona Grayling. Merah mukanya. "Tapi sesungguhnya akulah penyebab kecelakaan yang terjadi pada Mary-Lou," katanya. "Ketika kudengar bahwa Ellen telah dikeluarkan dari sekolah karena tuduhan mencuri barang-barang yang sebenarnya kucuri, aku jadi sangat takut. Aku begitu penakut sehingga tak berani mengaku. Dan kupikir kalau barang-barang yang kucuri itu ditemukan, dan diperiksa sidik jarinya, aku akan ketahuan. Maka aku berpikir untuk mengirimnya jauh-jauh, dengan pos, ke sebuah alamat palsu. Ternyata Mary-Lou sangat ingin untuk membantu mengeposkan bungkusan itu. Karena itulah ia mendapat kecelakaan."

"Begitu," kata Nona Grayling. "Aku tadinya tak mengerti mengapa kaukirimkan barang-barang itu, Daphne. Sungguh untung kau akhirnya bisa menemukan Mary-Lou. Kalau tidak, kesalahanmu akan bisa menimbulkan suatu kecelakaan hebat!"

"Mungkin Anda akan menyuruhku pulang kini, Nona Grayling," kata Daphne setelah terdiam sejenak. "Kedua orang tuaku kini akan tahu kenapa. Mereka setidak-tidaknya akan menduga-duga bahwa suatu persoalan besar sedang kuhadapi. Anda tahu bukan mereka yang membayar uang sekolahku, mereka tak mampu. Ibu baptisku yang membayar. Dan bila ia tahu tentang perbuatanku, ia pasti menghentikan bantuannya padaku. Aku tak akan bisa menikmati pendidikan lagi. Apakah aku akan Anda suruh pulang, Nona Grayling?"

"Aku akan memberi kesempatan pada teman-teman sekelasmu untuk menentukan hal itu," kata Nona Grayling bersungguh-sungguh. "Itu kalau kau cukup berani untuk menghadapi mereka, dan menerima keputusan mereka, Daphne. Aku ingin kau menemui mereka, dan menceritakan apa yang kauperbuat. Semuanya. Dan kemudian terserah pada pendapat mereka."

"Oh, aku takkan bisa!" kata Daphne, menutup mukanya dengan tangan. "Begitu banyak bualku pada mereka! Aku tak bisa!"

"Kau punya pilihan," kata Nona Grayling, berdiri. "Kau dikeluarkan tanpa banyak urusan lagi, atau kauserahkan nasibmu pada keputusan teman-temanmu. Memang sangat berat, tetapi kalau kau memang ingin mengubah sifatmu, pasti bisa kaulakukan. Aku tahu banyak sifat baikmu yang terpendam. Kinilah saatnya kautunjukkan, walaupun itu berarti kau harus punya keberanian—jauh lebih besar dari keberanian yang kautunjukkan tadi malam."

Ditinggalkannya Daphne dan ia pun pergi menemui Ellen. Kepala sekolah itu duduk di pinggir tempat tidur anak tersebut. "Ellen," katanya, "Daphne sedang menghadapi kesulitan besar. Anak-anak lain akan segera tahu dan aku datang untuk memberi tahu engkau. Telah ditemukan bahwa Daphne-lah yang ternyata mengambil uang dan beberapa perhiasan yang hilang."

Beberapa saat Ellen tak bisa mengerti. Betulkah yang didengarnya? Kemudian ia cepat bangkit. "Daphne!" katanya. "Tetapi semua kawanku berkata bahwa akulah yang mengambil barang-barang itu! Mereka menuduhku terang-terangan. Mereka tak akan percaya bahwa Daphne yang berbuat."

"Mereka pasti akan percaya, sebab Daphne sendiri yang akan bercerita pada mereka. Dan kini, Ellen, coba katakan padaku, mengapa kau mencoba mengambil kertas-kertas ulangan itu? Kau seorang anak yang dibiayai bea siswa. Mestinya kau pandai. Tak perlu bagimu untuk berbuat curang."

Ellen lemas berbaring lagi. Ia sangat malu. Bagaimana Nona Grayling bisa tahu? Apakah Darrell telah memberitahukan pada semua anak? Tentu. Pasti dia yang berbicara!

"Tak ada yang tahu tentang ini kecuali aku dan Darrell," kata Nona Grayling. "Darrell telah mengatakannya padaku, tetapi tidak pada anak lain, dan kularang ia bercerita pada anak lain. Jadi kau tak perlu khawatir. Tapi aku ingin tahu, mengapa itu kaulakukan. Ada sesuatu yang membuatmu khawatir terus, Ellen. Dan sakit kepalamu takkan bisa sembuh bila kau tak melenyapkan rasa khawatir itu."

"Aku memang perlu untuk berbuat curang," kata Ellen lemah. "Otakku tak bisa bekerja dengan baik lagi. Dan kemudian aku sakit kepala. Aku yakin aku takkan bisa berhasil dengan baik dalam ulangan, kemudian malam itu teman-teman menuduhku pencuri, padahal aku tak tahu apa-apa. Aku begitu putus asa, hingga akhirnya aku berpendapat lebih baik berbuat curang sekalian, kalau semua anak menuduhku pencuri."

"Lalu... kenapa otakmu tak bisa bekerja dengan baik?" tanya Nona Grayling.

"Aku tak tahu. Mungkin juga karena aku bekerja terlalu keras sewaktu akan minta bea siswa itu. Anda pasti tahu, sebetulnya aku tak begitu cemerlang. Aku memperoleh nilai-nilai terbaik karena aku begitu tekun belajar, terus-menerus tanpa hentinya. Seorang anak bea siswa, dengan mudah akan bisa mencapai hasil yang baik, tanpa belajar terlalu keras. Masa liburan aku juga belajar. Aku capai sekali sewaktu pertama kali datang kemari — dan aku ingin nilaiku paling tidak termasuk paling baik."

"Apakah itu sangat perlu bagimu?" tanya Nona Grayling lembut.

"Ya, aku tak mau kedua orang tuaku kecewa," jawab Ellen. "Mereka harus membayar lebih dari batas kemampuan mereka untuk pakaian seragam dan yang lain-lainnya. Mereka begitu bangga padaku. Aku harus berhasil. Dan kini aku telah menghancurkan semuanya."

"Tidak semuanya," kata Nona Grayling, merasa lega karena ternyata yang jadi pokok kekhawatiran Ellen adalah pikiran tentang keluarganya dan penyebab kelemahannya dalam belajar hanyalah karena terlalu banyak belajar sehingga otaknya lelah. "Aku akan menulis surat pada ayah-ibumu, bahwa kau telah belajar dengan giat dan hasilnya cukup baik, tetapi kau telah terlalu lelah belajar, sehingga harus betul-betul istirahat di liburan mendatang. Dengan begitu semester yang akan datang kau akan segar kembali, kau akan lupa persoalanmu sekarang ini dan siap lagi untuk melaju ke puncak tertinggi di kelasmu."

Ellen tersenyum dan garis kekhawatiran di dahinya lenyap seketika. "Terima kasih," katanya. "Aku ingin berkata lebih dari itu, tetapi aku tak bisa.”

Nona Grayling kemudian berbicara sebentar dengan Mary-Lou sebelum kembali ke ruang kerjanya. Begitu banyak, murid, dengan berbagai persoalan — begitu besar tanggung jawabnya untuk membetulkan yang salah, serta membuat yang terbaik dari tiap murid yang menonjol. Tak heran bila Nona Grayling cepat sekali penuh uban kepalanya, lebih dari yang semestinya dimilikinya.


22. DAPHNE MENGAKU — AKHIR SEMESTER

Sehabis minum teh hari itu, anak-anak kelas dua disuruh Nona Parker berkumpul di ruang rekreasi mereka dan menunggu di sana.

"Untuk apa?" tanya Belinda heran.

"Tunggu saja di sana," kata Nona Parker. "Sudahlah. Pergilah. Ada seseorang yang menunggu kalian di sana."

Semua berebut pulang ke ruang rekreasi mereka, bertanya-tanya dalam hati, apa gerangan yang akan terjadi. Mary-Lou telah menunggu mereka, tampak kecil dan ketakutan, memakai, gaun kamar. Ibu Asrama telah mendukungnya turun ke tempat itu.

Dan Daphne juga ada di situ. Berpakaian lengkap! Anak-anak itu langsung mengerumuninya dan ribut berkata, "Daphne! Kau hebat sekali! Kau pahlawan! Daphne! Bagus sekali! Kau telah menyelamatkan nyawa Mary-Lou!"

Daphne tidak menjawab. Ia duduk saja dan menatap mereka dengan wajah pucat. Ia bahkan tidak tersenyum.

"Ada apa?" tanya Gwendoline.

"Duduklah," kata Daphne. "Ada yang ingin kukatakan. Kemudian aku akan pergi. Kalian takkan melihat aku lagi."

"Ya, ampun! Ada apa sih begini seram?" tanya Jean, heran mendengar nada bicara Daphne yang begitu sedih.

"Dengar, kalian dengarkan dulu," kata Daphne. "Akulah yang mencuri barang-barang kalian. Aku telah dikeluarkan dari dua sekolahku yang terdahulu karena persoalan yang sama. Nona Grayling tahu hal itu, tetapi beliau bersedia memberiku kesempatan untuk memperbaiki diri di sini. Karenanya aku diterima di sini. Aku banyak sekali berdusta pada kalian — terutama pada Gwen. Kami tidak punya kapal pesiar. Kami tidak punya mobil tiga atau empat buah. Kukatakan pada kalian bahwa aku belum pernah bersekolah sebab aku tak ingin ada di antara kalian kemudian mendengar bahwa aku pernah dikeluarkan. Aku tak punya cukup uang untuk membayar beberapa iuran. Jean menagih iuran itu, dan tentu saja aku tak bisa menolak karena kalian mengira ayahku jutawan. Karena itu aku mengambil uang dan dompet kalian. Dan aku juga suka pada perhiasan sebab aku senang pada benda-benda yang indah tapi aku tak punya."

Ia berhenti sejenak. Wajah-wajah di sekelilingnya tampak terkejut dan ngeri. Gwendoline tampak bagaikan akan pingsan. Temannya si anak jutawan ini! Tak heran kini, mengapa Daphne tak pernah mengundangnya berlibur bersama. Semuanya hanyalah dusta!

"Kalian tampak sangat terkejut. Sudah kuduga. Nona Grayling berkata bahwa aku harus menceritakan ini semua pada kalian. Kemudian kalian boleh menentukan apa yang akan kalian lakukan padaku. Kalian boleh mengadiliku. Aku mengerti, dalam hati kalian telah memutuskan betapa buruknya aku ini. Aku tak menyalahkan kalian. Aku sendiri sudah menilai diriku. Dan aku jadi membenci diriku. Aku membuat kalian menuduh Ellen. Aku...'"

"Dan aku terjebak, aku telah menuduh Ellen secara terus terang!" kata Alicia dengan suara getir. "Kau sungguh keji, Daphne. Mestinya kaucegah aku berbuat itu. Aku takkan bisa memaafkan diriku karena membuat Ellen begitu sengsara!"

Hening lagi. Kali ini agak lama. Kemudian Sally bertanya, "Sudah selesaikah bicaramu, Daphne?"

"Apakah itu belum cukup?" tanya Daphne sedih. "Mungkin kalian ingin tahu mengapa aku merasa ketakutan dan mengirim barang-barang itu lewat pos? Yang kemudian menyebabkan Mary-Lou hampir celaka? Aku mendengar desas-desus bahwa Ellen telah dikeluarkan karena dituduh mencuri. Aku sangat takut kalau-kalau polisi akan mengadakan penyelidikan, kemudian akan melihat sidik jari pada barang-barang itu. Karenanya aku memutuskan untuk mengirimkannya ke suatu alamat palsu. Takkan bisa dilacak padaku bila kelak bungkusan itu ditemukan, sebab alamat pengirimnya juga palsu. Tetapi karena pikiran tolol itu hampir saja Mary-Lou celaka!"

"Dan karena kau khawatir akan hal itu, kau telah menyusulku. Tanpa mempedulikan bahaya yang juga mengancam dirimu, kau berusaha menyelamatkanku," kata Mary-Lou dengan suara lembutnya, ia kemudian berdiri dan mendampingi Daphne. "Aku tak peduli apa kata anak-anak lainnya. Aku akan tetap percaya padamu, Daphne. Aku tak ingin kau meninggalkan sekolah ini. Aku yakin kau tak akan berbuat seburuk itu lagi. Aku yakin sifat baikmu lebih banyak daripada sifat burukmu."

"Kalau aku, aku tak mau lagi berteman dengan dia," kata Gwendoline dengan nada jijik. "Kalau ibuku tahu bahwa..."

"Tutup mulut, Gwendoline!" tukas Darrell. "Aku juga setuju Daphne tak usah pergi dari sini. Aku sendiri sudah melakukan beberapa kelakuan yang jauh dari membanggakan, walaupun tak bisa kukatakan pada kalian apa kelakuanku itu. Dan aku pikir apa yang diperbuat oleh Daphne dalam semester ini, yang buruk-buruk, telah terhapus sama sekali oleh perbuatannya yang tak mementingkan dirinya sendiri tadi malam. Kita semua sepakat bahwa tindakannya tadi malam gagah berani, mulia — dan apa yang baru saja dikatakannya takkan mengurangi pendapat kita tersebut."

"Benar," kata Sally. “Ia telah menghapus keburukannya dengan suatu kebaikan yang luar biasa. Dan lebih dari itu. sangatlah memerlukan keberanian untuk menghadapi kita semua dan menceritakan ini semua. Kau punya keberanian, Daphne. Kalau kami setuju untuk menerimamu di antara kami, apakah kau akan menggunakan keberanianmu itu untuk tidak lagi berbuat hal-hal buruk seperti yang kaulakukan sebelumnya?"

"Apakah kau betul-betul mau menerimaku kembali?" tanya Daphne, suatu harapan terpancar di wajahnya. "Tapi bagaimana dengan yang lain?"

"Aku setuju dengan Sally dan Darrell," kata Jean.

"Aku juga," kata Belinda. Dan Irene mengangguk. Emily berpikir, sesaat kemudian menyatakan bisa menerima kehadiran Daphne.

"Ya, aku setuju," katanya. "Aku tahu kau telah berbuat sangat buruk, Daphne, tetapi kau juga berbuat sangat baik. Betapapun aku yakin kau pantas diberi kesempatan untuk menjadi baik."

"Kau, Alicia?" tanya Sally. Alicia diam saja sejak tadi, begitu menyesal ia karena sembarangan menuduh Ellen. Ia mengangkat muka.

"Ya, rasanya seperti juga Daphne, aku merasa aku juga harus diberi kesempatan untuk menjadi lebih baik," katanya dengan perasaan menyesal. "Kukira aku juga punya sifat-sifat buruk."

"Kau begitu keras dan tak bisa memaafkan," kata Sally. "Kau selalu mengejek aku yang ingin mencari bukti lebih dulu sebelum menuduh, karena aku ingin selalu adil dan bersikap lembut — tetapi kukira sifatmu itu bisa kautinggalkan."

"Memang," kata Alicia. "Maafkan aku. Aku benci padamu karena kau yang terpilih menjadi ketua kelas semester ini, Sally. Aku betul-betul tolol. Aku tak berhak mengadili Daphne. Aku akan selalu mengikuti keputusanmu."

"Kalau begitu tinggal Gwendoline yang belum setuju," kata Sally, berpaling pada anak yang tunduk cemberut itu. "Kasihan sekali Gwendoline. Ia telah kehilangan temannya yang agung itu dan tak bisa mengatasi kekecewaannya. Baiklah. Kita akan menghadap Nona Grayling dan berkata bahwa semua setuju Daphne tetap berada di sini, kecuali Gwendoline. Kita setuju akan memberi Daphne kesempatan sekali lagi."

"Tidak, tidak, jangan berkata begitu pada Nona Grayling," kata Gwendoline cepat-cepat. Takut apa pendapat Nona Grayling tentang dirinya. "Aku juga setuju."

"Dan kau. Daphne, apakah kau juga setuju?" tanya Sally pada anak yang duduk murung di kursinya itu.

"Oh, terima kasih, Sally. Aku setuju sepenuh hatiku," kata Daphne, memalingkan kepala agar tak ada yang melihat air matanya. Ini suatu titik yang sangat penting baginya. Kini terserah padanya untuk menjadi baik ataukah menjadi buruk, ia harus cukup kuat untuk tidak menyia-nyiakan kepercayaan teman-temannya ini.

Sebuah tangan kecil menyentuh tangannya. Mary-Lou. 'Ayo, kita kembali ke san.," kata Mary-Lou. "Ibu Asrama berkata kita harus segera kembali ke sana begitu pertemuan ini selesai. Akan kubantu kau menaiki tangga."

Untuk pertama kalinya Daphne tersenyum lagi. Dan kali ini senyum yang tulus, bukan yang dibuatnya hanya untuk memikat perhatian orang lain. "Kaulah yang harus dibantu," katanya. "Ayolah. Kalau tidak. Ibu Asrama akan mengusir kita dari sini."

Jean mengunjungi Ellen — yang sekarang sudah sangat berubah. Agaknya semua kekhawatirannya telah lenyap. "Aku merasa sangat lega kini," katanya pada Jean. "Aku takkan mengerjakan pelajaran lagi di akhir semester ini. Jean. Santai-santai saja. Juga di liburan nanti aku akan betul-betul beristirahat. Aku takkan membentak dan menyantap lagi seperti dulu. Sakit kepalaku juga sudah lenyap. Sungguh aneh cara Nona Grayling menyembuhkan aku."

"Kau sungguh beruntung boleh tinggal di tempat tidur terus," kata Jean. "Ulangan matematika sangat sulit! Aku paling-paling hanya bisa mengerjakan separuhnya. Apa lagi ulangan Prancis dari Mam'zelle Dupont! Wah! Ajaib bila bisa mendapat nilai baik!"

Minggu-minggu ulangan lewat dengan cepat. Tahu-tahu minggu terakhir semester itu tiba. Guru-guru mulai tampak tertekan oleh waktu — memeriksa ulangan, memberi nilai, mengumpulkan nilai-nilai, membuat laporan — tugas mereka makin hari makin berat. Mam'zelle Dupont sampai bagaikan gila, apalagi ketika ternyata daftar nilai yang telah dibuatnya hilang, ia minta tolong agar Nona Parker membuatkannya lagi.

Tentu saja Nona Parker tak mau melakukan itu. "Aku banyak pekerjaan, Mam'zelle," katanya. "Anda ini sungguh mirip Belinda. Entah bagaimana, dalam ulangan ilmu bumi ternyata ia mengerjakan ulangan sejarah! Anak itu betul-betul tak keruan otaknya! Aku tak mengerti bagaimana ia bisa menerima soal ulangan sejarah, padahal yang kubagikan adalah kertas ulangan ilmu bumi!"

"Tetapi apakah ia tidak menanyakan hal itu pada Anda?" tanya Mam'zelle heran.

"Katanya ia tak sadar bahwa pertanyaan-pertanyaan yang dijawabnya adalah pertanyaan sejarah!" keluh Nona Parker. "Anak-anak ini sungguh membuat umurku cepat tua! Untung tinggal dua-tiga hari lagi semester ini berakhir."

Tinggal dua hari lagi. Tetapi alangkah ributnya! Anak-anak mulai berkemas-kemas, membersihkan lemari, menyusun kembali buku-buku, membersihkan ruangan... hal-hal kecil yang membuat akhir semester selalu terasa sibuk, ditambah perasaan senang karena akan pulang bertemu dengan ayah-ibu lagi.

"Semester ini agak aneh ya?" kata Darrell pada Sally. "Aku tak begitu puas dengan hasil yang kucapai dan tindakan yang kulakukan. Tidak seperti kau. Kau tak pernah berbuat salah!"

"Omong kosong!" tukas Sally. "Kau tak tahu betapa dalam hati aku sangat membenci Alicia karena ia selalu menghalang-halangiku. Tak banyak yang kauketahui tentang diriku!"

"Tetapi senang juga aku pada semester ini," kata Darrell, mengenangkan segala kejadian yang ada. "Sungguh menarik. Ellen yang suka tersinggung itu, dan desas-desus tentang dirinya. Kini semuanya beres dan Ellen jadi sangat berubah, ia dan Jean kini rapat hubungannya, selalu kasak-kusuk berdua saja, bagaikan dua orang pencuri!"

"Dan Daphne juga berubah," kata Sally. Kata 'pencuri' selalu mengingatkan dia pada Daphne. "Peristiwanya sungguh sangat luar biasa. Aku senang bahwa akhirnya kita memberinya kesempatan sekali lagi. Aneh ya, bagaimana ia langsung mengambil Mary-Lou sebagai sahabatnya dan tak lagi memperhatikan Gwendoline Mary?"

"Tetapi tindakannya itu tepat," kata Darrell. "Mary-Lou memang pemalu dan pendiam, tetapi hatinya keras. Kurasa lebih baik bila ia punya sahabat sendiri daripada terus mengikuti kita saja. Tetapi aku akan tetap menyukai Mary-Lou."

"Gwendoline tampak masam saja akhir-akhir ini," kata Sally, menggamit sahabatnya itu, menunjukkan Gwendoline yang sedang lewat. "Kini ia tak ada yang menyayangi lagi."

"Tak apa," kata Darrell sedikit kejam. "Sebentar lagi ia akan jadi kesayangan Ibu dan kesayangan Nona Winter. Sebentar lagi segala pekerjaannya akan dilakukan orang lain untuknya. Kasihan Gwendoline Mary. Ia yang paling menderita dalam peristiwa Daphne ini."

"Ya. Mudah-mudahan semester mendatang ia lebih baik," kata Sally agak ragu-ragu. "Ya, ampun. Apa yang dilakukan Belinda itu?"

Belinda bergegas kian kemari dengan membawa keranjang jahitan. Dari keranjang itu terguling segulung benang wol. Benangnya tercecer membelit kaki anak-anak di ruang tersebut

"Jangan injak benangku!" Malah Belinda yang marah. "Aku tak bisa bergerak ini!"

"Oh, Belinda, kau memang tolol!" seru Darrell, melepaskan belitan benang di kakinya. "Pergilah! Akulah yang kautahan! Sudah, pulang sana! Dan jangan lupa membawa gambar-gambar lucu!"

"Tentu!" sahut Belinda menyeringai. "Dan Alicia harus merancang lelucon yang sangat lucu untuk semester yang akan datang. Hai, Alicia! Ada pekerjaan rumah untukmu selama liburan ini! Kau harus merancang berbagai muslihat yang hebat untuk semester depan!"

"Oy? Apa itu Oy?" tanya Mam'zelle Dupont yang kebetulan lewat. "Sebuah Oy di belakangku? Apa yang kaulakukan padaku?"

"Jangan khawatir!" teriak Alicia. "Pasti! Dan pasti jauh lebih lucu dari sebuah OY! di belakang Mam'zelle seperti yang kaubuat itu, Darrell!"

Mam'zelle memutar-mutar diri mencoba untuk melihat punggungnya sendiri. Anak-anak tertawa terbahak-bahak.

"Punggung Anda tak apa-apa, Mam'zelle. Oy-nya sudah hilang!"

"Tetapi Oy itu apa?" tanya Mam'zelle. "Akan kutanyakan pada Nona Parker."

Tetapi Nona Parker tak tertarik pada Oy Mam'zelle. Ia lebih tertarik memberangkatkan anak-anak untuk liburan. Bila mereka semua sudah berangkat, maka ia bisa beristirahat dengan tenang.

Dan akhirnya mereka memang berangkat semua. Mobil-mobil menderu meninggalkan halaman sekolah. Bis-bis yang mengangkut anak-anak ke stasiun juga berangkat, dengan membawa anak-anak yang riuh-rendah bernyanyi. Belinda melompat turun sebentar dari bis untuk menyambar tasnya yang seperti biasa tertinggal.

"Selamat tinggal, Malory Towers!" teriak anak-anak itu. "Selamat tinggal, Potty! Selamat tinggal Hidung Panjang! Selamat tinggal, Mam'zelle Oy!"

"Mereka pergi sudah," kata Mam'zelle. "Ah, anak-anak yang baik, betapa senangnya aku melihat mereka datang — dan betapa senangnya aku melihat mereka cepat-cepat pergi. Nona Parker, apakah Oy itu? Aku belum pernah mendengarnya."

"Lihat saja di kamus," kata Nona Parker, seolah-olah berkata pada muridnya. "Empat minggu penuh damai, empat minggu kita bisa beristirahat tenang! Hampir tak bisa dipercaya!"

"Mereka pasti akan segera kembali, anak-anak nakal ini!" kata Mam'zelle. Dan ia benar. Mereka pasti kembali.

TAMAT


0 Response to "Kelas Dua di Malory Towers 2"

Post a Comment

Translate

English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified