Download applikasi baca novel online untuk android disini: DOWNLOAD

Kelas Dua di Malory Towers 1

KELAS DUA DI MALORY TOWERS

Enid Blyton

Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama Jakarta, 2004

SECOND FORM AT MALORY TOWERS

by Enid Blyton Copyright © Enid Blyton Ltd. AM rights reserved

Alih bahasa: Djokolelono GM 321 99.293 Hak cipta terjemahan Indonesia Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama Jl. Palmerah Barat 33—37, Jakarta 10270 Diterbitkan pertama kali oleh Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama, anggota IKAPI, Jakarta, Juli 1984

Cetakan ketiga: Mei 1999

Cetakan keempat: November 2001

Cetakan kelima: Juli 2004

Perpustakaan Nasional: Katalog Dalam Terbitan (KDT)

BLYTON, Enid

Kelas Dua Di Malory Towers/ Enid Blyton alih bahasa, Djokolelono —Jakarta: Gramedia Pustaka

Utama, 1984

256 hlm.; 18 cm

Judul asli: Second Form At Malory Towers ISBN 979 - 655 - 293 - 0

I. Judul II. Djokolelono III. Seri

813K

Dicetak oleh Percetakan Duta Prima, Jakarta

Isi di luar tanggung jawab percetakan


Pengantar :

Ini adalah buku kedua tentang Malory Towers. Darrell, Sally, Gwendoline, Mary-Lou, dan beberapa temannya yang diceritakan dalam Semester Pertama di Malory Towers kini telah naik ke kelas dua. Di sini dikisahkan kegembiraan mereka, gaya bercanda mereka, pertengkaran mereka, belajar, bermain, ulangan... semuanya begitu hidup seperti dalam buku pertama. Sebuah cerita tentang kehidupan di sekolah berasrama, dengan kisah-kisah lucu dan pribadi-pribadi menarik. Mam'zelle Dupont masih muncul di sini, mencoba untuk bertindak tegas. Alicia tampil dengan muslihat kapur ajaibnya. Gwendoline dan Daphne terlibat keruwetan. Secara keseluruhan, semester yang diceritakan sungguh penuh gairah kegembiraan!


1. KEMBALI KE MALORY TOWERS

"Aku sungguh menikmati liburan ini," kata Darrell saat ia memasuki mobil ayahnya, siap untuk berangkat ke sekolahnya kembali. "Tetapi aku gembira waktu sekolah sudah tiba. Bayangkan, dua minggu aku telah meninggalkannya!"

"Wah, wah, wah, terlalu lama, ya? Ibumu terlambat lagi!" kata ayahnya. "Sudah siap atau belumkah dia? Apakah harus kubunyikan klakson? Aneh, bukan? Kalau waktu berangkat ke sekolah, selalu aku saja yang pertama kali siap. Ah, itu dia!"

Nyonya Rivers bergegas menuruni tangga. "Oh, maaf, tadi ada telepon!" katanya. "Dari ibu Sally Hope, Darrell. Ia bertanya kapan kita akan menjemput Sally."

Sally Hope adalah sahabat terdekat Darrell. Pak Rivers, ayah Darrell, akan membawa keduanya dengan mobil menuju Malory Towers, sekolah berasrama mereka di daerah Cornwall. Mereka merencanakan untuk berangkat seawal mungkin, agar bisa mencapai tempat itu sebelum gelap.

Sedih juga meninggalkan rumah, tetapi aku gembira sekali kembali ke sekolah," kata Darrell.

"Ini semester kelimaku di Malory Towers, Ibu, dan aku akan berada di kelas dua. Wah, alangkah gagah rasanya aku!"

"Ya, tetapi itu wajar. Sekarang kau berumur tiga belas tahun, jadi kalau kau tidak naik ke kelas dua itu aneh namanya," kata ibunya, masuk ke mobil. "Kau pasti akan memandang rendah anak-anak kelas satu, ya? Pasti mereka kauanggap bayi saja semua."

"Mungkin juga," kata Darrell, tertawa. "Kan anak-anak kelas tiga juga memandang rendah pada kami. Jadi ya, sama-samalah!"

"Itu adikmu melambaikan tangan padamu," kata Pak Rivers. Ia nanti akan sangat rindu padamu, Darrell."

Darrell melambaikan tangannya dengan bersemangat. "Selamat tinggal, Felicity!" serunya. "Kau harus menyusulku kelak, kalau sudah besar, ke Malory Towers. Jadi kita bisa bersekolah bersama!"

Mobil meninggalkan halaman dan memasuki jalan. Untuk terakhir kalinya Darrell memandang ke rumahnya. Selama tiga bulan mendatang ia tak akan melihat lagi rumah itu. Ia merasa sedih sesaat. Tetapi dengan cepat ia mengalihkan pikirannya ke sekolahnya, dan rasa sedihnya hilang, ia begitu mencintai sekolahnya, ia bangga menjadi murid sekolah itu. Empat semester telah dilewatinya di kelas satu dengan Nona Potts, dan kini ia harus melewati setahun lagi di kelas dua. Setahun yang pasti menyenangkan baginya.

Satu jam kemudian mereka sampai di rumah Sally Hope. Sally sudah siap. Kopor besarnya dan tas kecilnya berdiri di tangga rumah. Di samping Sally berdiri ibunya, dan di dekat keduanya berdiri seorang anak kecil berumur sekitar satu setengah tahun yang memegang tangan Sally erat-erat.

"Halo, Sally! Halo, Daffy!" teriak Darrell. "Bagus, kau sudah siap!"

Kopor besar Sally dimasukkan ke tempat barang di mobil, tas kecil diikatkan di rak di atap mobil. Tongkat lacrosse (permainan bola dengan menggunakan tongkat hampir mirip hockey) diselipkan di antara berbagai barang, dan Sally siap sudah untuk berangkat.

"Ikut!" jerit Daffy dengan mata tergenang air mata saat ia sadar bahwa Sally yang dicintainya akan pergi.

"Selamat tinggal, Ibu! Aku akan segera kirim surat!" seru Sally. "Selamat tinggal, Daffy sayang!"

Mobil berangkat lagi. Daffy mulai menangis. Sally agak gelisah. "Berat rasanya meninggalkan Ibu," katanya. "Dan kini berat bagiku untuk meninggalkan Daffy. Ia lucu sekali kini, bisa berlarian ke sana kemari dan kata-katanya sungguh lucu!"

"Padahal dulu kau membencinya, waktu ia masih bayi," kata Darrell. "Kini aku yakin kau takkan bisa berpisah terlalu lama dengannya. Menyenangkan kan punya adik?"

"Ya, dan memang aku dulu sungguh jahat padanya," kata Sally. "Sungguh tak menyenangkan semester pertamaku di Malory Towers itu. Aku begitu sedih. Kukira aku sudah tak dikehendaki ibu lagi di rumah, hingga aku dikirim ke sekolah berasrama. Kukira ibuku tak menyukai aku lagi, karena Daffy sudah lahir. Wah, saat itu aku bahkan benci padamu, Darrell! Aneh, ya?"

"Dan kini kita bersahabat baik!" kata Darrell, tertawa. "Oh, ya, siapa kira-kira yang akan jadi ketua kelas di kelas dua nanti? Katherine kini sudah naik ke kelas tiga. Ia takkan mungkin jadi ketua kelas dua. Harus diganti."

"Mungkin Alicia," kata Sally. “Ia yang tertua."

"Aku tahu. Tapi coba pikir, apakah ia akan menjadi ketua yang baik? Aku tahu ia pintar, cerdas, angkanya selalu terbaik. Tetapi bukankah ia terlalu suka bercanda?"

"Mungkin ia akan menghentikan kegemarannya itu bila sudah menjadi ketua kelas," kata Sally. "Apa yang diperlukan Alicia adalah sedikit tanggung jawab. Begitulah pendapatku. Selama ini ia tak mau menerima tanggung jawab. Kau ingat Perjalanan Ilmiah di semester yang lalu? Ia dipilih menjadi pimpinan, tetapi ia menolak. Tetapi kurasa ada alasan lain yang membuatnya tidak cocok untuk menjadi ketua!"

"Apa?" tanya Darrell, menyukai gunjingan tentang kawan-kawan sekelasnya itu.

"Sifatnya yang terlalu keras," kata Sally. “Ia tak pernah peduli bila ada anak lain menderita kesulitan, ia tak pernah berusaha untuk punya hati yang pemurah. Kalau ia jadi ketua kelas, maka ia akan hanya memberi perintah dan menghendaki perintah itu dilaksanakan, tanpa memikirkan perasaan anak-anak lain. Kau takkan mau punya ketua kelas seperti itu, kan?"

"Lalu siapa yang kaupikir cocok untuk jadi ketua kelas?" tanya Darrell. "Bagaimana kalau kau sendiri? Kau pandai sekali menyelami jiwa orang lain. Kau senang sekali membantu orang lain. Dan kau... kau begitu mantap, tak pernah tak bisa menguasai diri seperti aku, atau tak pernah terlalu gusar pada sesuatu yang tak perlu. Aku akan senang bila kau jadi ketua kelas."

"Aku tak ingin jadi ketua kelas," kata Sally. "Dan lagi pula, takkan mungkin aku jadi ketua kelas. Aku rasa kaulah yang tepat untuk jadi ketua kelas, Darrell. Semua menyukaimu dan mempercayaimu."

Sesaat Darrell memikirkan, apakah memang mungkin baginya untuk menjadi ketua kelas. Memang benar bahwa semua anak, kecuali satu-dua orang, suka padanya.

"Tetapi aku suka marah," kata Darrell, dengan rasa sesal. "Lihat, bagaimana aku meledak semester yang lalu, ketika Marigold memarahiku di lapangan tenis — hanya karena ia keliru mengenaliku, dikiranya aku anak lain. Tentu saja saat itu aku tak tahu bahwa ia keliru, dan langsung saja aku menjerit-jerit padanya, membanting raketku, dan menghentak-hentakkan kaki. Aku sama sekali tak sadar akan apa yang kulakukan!"

"Oh, hari itu agaknya kau terlalu banyak terkena sinar matahari, hingga mudah meledak," kata Sally, tertawa. "Kan biasanya kau tak sembarangan marah besar. Kau telah belajar menguasai rasa marahmu hanya untuk hal-hal yang perlu saja. Untuk menghadapi si Tolol Gwendoline Mary itu, misalnya."

Darrell ikut tertawa. "Ya. Ia memang keterlaluan, ya? Kau ingat, bagaimana tergila-gilanya ia pada Nona Terry, guru menyanyi yang menggantikan Pak Young selama dua bulan itu? Dan betapa tololnya Nona Terry, mau meladeni rayuan anak manja itu!"

"Oh, Gwendoline akan selalu tergila-gila pada seseorang," kata Sally. “Ia memang bersifat begitu. Aku yakin semester ini ia juga akan memilih seseorang kemudian merapatinya, memujanya, mengikutinya terus ke mana pun ia pergi. Untunglah takkan mungkin Gwendoline tergila-gila padaku."

"Mudah-mudahan ada murid baru," kata Darrell. "Senang ya bila ada pribadi baru dan kita harus mulai mempelajarinya lagi?"

"Pasti ada murid baru," Sally mengangguk. "Hei, akan sangat lucu sekali kalau Mary-Lou yang terpilih menjadi ketua kelas!"

Kedua anak itu tertawa tergelak-gelak. Mary-Lou sangat menyukai baik Sally maupun Darrell — walaupun sesungguhnya Darrell-lah yang sangat dipujanya bagaikan seorang pahlawan. Sally serta Darrell juga sangat menyukai anak ini. Mary-Lou seorang anak yang pemalu, penakut, selalu mencoba menghindar dari bentuk pertanggungjawaban apa pun. Pastilah sangat lucu untuk melihat wajahnya bila ia diserahi tugas menjadi ketua kelas.

"Bisa pingsan dia," kata Darrell. "Tetapi kurasa sekarang ia jauh lebih baik, Sally. Kau ingat, betapa kakinya selalu gemetar bila ketakutan? Kini hal itu jarang sekali terjadi. Kita telah bersikap menghargainya, hingga rasa takutnya mulai lenyap, ia mulai punya rasa kepercayaan pada diri sendiri, ia telah berubah. Takkan seperti dulu lagi."

Perjalanan ke Cornwall sungguh jauh. Beberapa kali mereka berhenti di pinggir jalan, makan dan minum, duduk di rerumputan. Dan sekali-sekali Nyonya Rivers menggantikan suaminya memegang kemudi mobil. Darrell dan Sally yang duduk di belakang kadang-kadang ribut bercakap-cakap, kadang-kadang hampir tertidur lelap.

"Sudah hampir sampai," kata Pak Rivers akhirnya. "Sebentar lagi kita pasti akan melihat mobil-mobil yang juga membawa murid-murid Malory Towers. Cobalah pasang mata."

Benar juga. Segera mereka melihat sebuah mobil rendah, merah. Milik keluarga Irene. Irene yang duduk di belakang melambaikan tangan begitu bersemangat, sehingga hampir membuat kaca mata ayahnya terlontar jatuh. Hampir saja mobil itu keluar dari jalanan.

"Sungguh khas Irene," kata Sally, tertawa. "Hei, Irene! Bagaimana liburanmu?"

Untuk beberapa saat kedua mobil itu berdampingan. Sally dan Darrell gembira sekali melihat Irene yang berwajah ria itu. Mereka menyukai anak itu. Irene seorang anak yang sangat pandai, terutama dalam bidang musik, tetapi ia sangat pelupa. Selalu saja ia kehilangan sesuatu. Tetapi ia sangat periang, hingga jarang ada yang merasa gusar terhadapnya.

"Itu ada mobil lagi! Punya siapa, ya?" kata Sally. Sebuah mobil muncul dari jalan kecil, dan di bagasinya tampak kopor dengan tanda sekolah mereka. Mobil itu kini berada di depan mobil mereka.

"Mungkin milik anak di kelas atas," kata Darrell. "Tampaknya Georgina Thomas. Entah siapa yang akan menjadi ketua umum nanti, ya? Pamela sudah lulus. Kuharap bukan Georgina yang menggantikannya, ia terlalu suka memerintah!"

Mereka telah dekat sekali dengan Malory Towers. Satu tikungan lagi dan muncullah sekolah itu di hadapan mereka. Kedua anak itu sesaat terdiam. Mereka sangat mencintai sekolah itu dan sangat bangga. Bangunan kelabu, besar, dan megah, dengan keempat menara berbentuk silinder — Menara Utara, Menara Selatan, Menara Timur, dan Menara Barat. Beberapa tanaman sulur-suluran yang kini mulai berwarna merah merambat sampai ke atap.

"Itulah puri kita," kata Darrell bangga. "Malory Towers. Sekolah terbaik di dunia!"

Tak lama mobil telah memasuki halamannya yang luas, berhenti di depan pintu gedung yang besar serta bertelundakan melengkung itu. Beberapa mobil sudah berada di tempat itu. Anak-anak berkelompok-kelompok berceloteh ramai. Saling panggil dengan suara gembira terdengar.

"Halo, Lucy! Hei, itu Freda! Wah, coklat benar kulitnya! Senang liburan, Freda? Agaknya kau tinggal terus di dalam air, ya? Kulitmu coklat sekali!"

"Halo, Jenny! Kau terima suratku? Kau tak pernah membalas! Sialan! Hei, jangan injak tasku!"

"Selamat jalan, Ibu! Selamat jalan, Ayah! Aku akan segera menulis surat. Jangan lupa memberi makan tikusku!"

"Hei, minggir! Ada mobil! Oh, itu Betty Hill. Betty! Betty! Kau bawa lelucon apa lagi?"

Mata Betty yang licik menjenguk ke luar mobil, dengan dahi hampir tertutup oleh segulung rambut. "Pasti ada!" katanya, sambil keluar. "Kau pasti takkan menduganya. Ada yang lihat Alicia? Atau, apakah ia belum datang?"

"Kereta api belum datang. Seperti biasanya, terlambat."

"Darrell! Darrell Rivers! Halo! Dan Sally juga! Ayo cepat, kita cari kamar kita! Ayo!"

Betapa ributnya. Hiruk-pikuk! Darrell merasa berkobar semangatnya. Sungguh menyenangkan kembali ke sekolah. Ke Malory Towers.


2. TIGA ANAK BARU

Darrell mengucapkan selamat jalan pada kedua orang tuanya dan mereka segera meninggalkan sekolah itu. Darrell selalu gembira bahwa ayah dan ibunya selalu bersikap wajar bila mereka berpisah. Tidak seperti ibu Gwendoline yang selalu menangis tak keruan bila berpisah dengan putrinya. Ayah-ibu Darrell tetap saja berbicara dan bercanda dengan dia sebelum meninggalkannya, berjanji akan datang lagi di hari libur tengah semester. Dan mereka berangkat sambil melambaikan tangan dengan gembira.

Tak lama ia dan Sally telah masuk ke dalam gedung besar itu, membawa tas kecil mereka dan tongkat-tongkat lacrosse yang begitu sering mengenai kaki-kaki anak-anak di sekitar mereka.

Di ruang utama Nona Potts menunggu, ia adalah wali kelas mereka ketika di kelas satu. Dan ia masih menjadi ketua asrama, sedang baik Sally maupun Darrell masih tinggal di asrama Menara Utara. Semua murid tinggal di asrama-asrama yang masing-masing berada di menara-menara sekolah itu, dinamai menurut nama menaranya, dan tiap asrama diketuai oleh seorang guru dan diurus oleh seorang ibu asrama.

Nona Potts melihat Sally dan Darrell, dan segera memanggil mereka. "Sally! Darrell. Bantu aku mengurus murid baru ini. Ia akan masuk kelas dua seperti kalian, dan akan tinggal di asrama kalian. Bawalah dia ke Ibu Asrama."

Darrell melihat seorang anak bertubuh tinggi kurus di samping Nona Potts, tampak gugup dan takut. Darrell ingat betapa gugupnya ia dulu sewaktu pertama kali datang ke Malory Towers. Ia kasihan pada anak baru itu. Didekatinya dia, dengan Sally mengikuti di belakangnya.

"Halo, mari ikut kami. Akan kami tunjukkan apa-apa yang harus kauketahui. Siapa namamu?"

"Ellen Wilson," kata anak itu. Wajahnya sangat pucat, tampak lelah. Di tengah dahinya terdapat suatu garis dalam, hampir tepat di antara kedua alisnya, hingga tampak seolah-olah ia selalu mengernyitkan kening. Darrell tak begitu menyukai wajah anak ini. Tetapi ia tetap juga tersenyum ramah.

"Pastilah kau kebingungan oleh hiruk-pikuk ini," kata Darrell. "Aku merasa begitu juga tahun lalu. Namaku Darrell Rivers. Dan ini sahabatku, Sally Hope."

Ellen tersenyum sopan, kemudian tanpa bersuara ia mengikuti Darrell dan Sally. Bertiga mereka berusaha menembus kerumunan anak-anak itu.

"Hei, itu Mary-Lou!" tiba-tiba Darrell berseru. "Halo, Mary-Lou! Wah, kau masih bisa tumbuh, ya?"

Mary-Lou tersenyum. "Mudah-mudahan begitu," katanya. "Aku sudah bosan menjadi anak terkecil di kelas. Siapa ini?"

"Ellen Wilson. Anak baru. Kelas dua," kata Darrell.

"Tinggal di asrama kita," tambah Sally. "Kami akan membawanya menghadap Ibu Asrama. Hai, itu Irene. Irene! Kami lihat kau tadi menampar kaca mata ayahmu hingga hampir terjatuh waktu kau melambai pada kami."

Irene tertawa. "Ya, itu ketiga kalinya. Ayah sudah bosan padaku. Kalian akan menemui Ibu Asrama?"

"Kau sudah siap dengan surat doktermu?" tanya Sally menahan tawa. Irene selalu jadi bahan tertawaan bila mereka kembali ke sekolah. Irene selalu lupa membawa surat dokter, tak peduli bagaimanapun ibunya menaruh surat tersebut baik-baik di tas kecilnya, atau menaruhnya dalam amplop serta dimasukkan ke saku Irene agar ia tak lupa.

"Kau bawa?" Darrell bertanya pada Ellen Wilson. "Kita harus segera memberikannya pada Ibu Asrama. Dan celakalah anak yang kena suatu penyakit padahal ia baru saja menyerahkan surat dokter dan yakin tak pernah dekat dengan orang sakit sekali pun. Hei, Irene! Masa kau lupa lagi?"

Irene sedang sibuk mencari-cari di saku bajunya. Mukanya tampak lucu-lucu bingung. "Wah, di mana, ya?" katanya. "Mungkin di tas kecilku. Tetapi tidak. Kata Ibu tadi, beliau tak akan menaruh lagi surat dokter di dalam tas, sebab di situ surat tersebut selalu lenyap. Sialan!"

"Ibu Asrama berjanji akan mengucilkanmu bila kau berani datang tanpa bawa surat dokter," kata Sally. "Kau akan terpaksa harus tinggal di sana selama dua hari sampai ibumu bisa mengirimkan lagi selembar surat dokter. Kau sungguh keterlaluan, Irene!"

Sambil terus mencari-cari di seluruh saku-sakunya, Irene mengikuti Sally, Darrell, dan Ellen ke Menara Utara. Kamar untuk kelas dua tak jauh dari kamar untuk kelas satu dulu. Letaknya di tingkat dua. Sebuah kamar yang indah rapi dengan sepuluh tempat tidur yang masing-masing ditutup dengan selimut bulu angsa.

Anak-anak melontarkan tas-tas kecil mereka di kamar dan kini mereka pergi untuk mencari ibu asrama mereka. Ah, itu dia, sedang mendorong masuk seorang anak baru lagi. Darrell memperhatikan anak itu. Umurnya agaknya seumur dengan Darrell, rambutnya sama — hitam pendek berombak, pendek sekali sehingga mirip rambut anak lelaki. Anak itu tampak tak begitu rapi dan kotor. Tetapi senyumnya begitu menarik, matanya berseri saat ia menoleh pada Darrell dan kawan-kawannya, ia sama sekali tidak tampak kebingungan dalam hiruk-pikuk itu. Tidak seperti Ellen.

"Ah, Sally, Darrell. Ini ada anak baru lagi," kata Ibu Asrama. "Tolong urus. Namanya Belinda Morris. Kalian semua sudah bawa tas tempat keperluan sehari-hari? Dan surat dokter?"

"Tas-tas kami ada di sana." Darrel menunjuk ke tempat mereka tadi melemparkan tas-tas di lantai. "Dan ini surat dokterku, Ibu."

"Di mana tasku?" tanya Belinda tiba-tiba.

"Kan baru saja kaupegang?" Ibu Asrama melihat berkeliling. "Pokoknya berikan dulu surat doktermu, nanti kau bisa mencari tas itu."

"Tetapi surat itu ada di dalam tas." Belinda melihat ke sana kemari.

"Paling-paling kau menaruh tas itu di gang, hingga tertendang oleh semua orang!" kata Ibu Asrama. "Yang lain dulu! Terima kasih, Darrell. Dan ini punya Sally... ini punya Mary-Lou... ini punya El'en. Bagaimana kau, Irene?"

"Aneh sekali, Ibu," kata Irene, mulai mencari-cari di saku-sakunya lagi. "Aku yakin aku membawanya waktu aku berangkat pagi tadi. Aku ingat ibuku berkata..."

Ibu Asrama ternganga memperhatikan Irene. "Irene! Jangan kau nekat mengatakan bahwa kau tak membawa surat dokter lagi! Kau tahu apa yang kukatakan semester yang lalu. Anak yang tidak membawa surat dokter akan di karantina sampai surat itu ada! Aku belum pernah melakukan peraturan itu, tetapi dalam hal dirimu ini kukira..."

"Oh, Ibu, jangan tempatkan aku di pengasingan!" pinta Irene, sambil mengambil tasnya dan membongkar semua isinya. "Aku pasti akan menemukannya!"

Anak-anak yang lain tertawa menonton ulah Irene. Irene sangat lucu tingkahnya bila kehilangan sesuatu. Ibu Asrama menunggu dengan wajah kaku. Irene membungkuk untuk memeriksa isi tasnya lebih teliti. Dan tiba-tiba ia berseru kesakitan, memegang dadanya.

"Oh, ada yang menusuk dadaku. Apa, ya? Tajam sekali," katanya, menggosok-gosok dadanya. Dibukanya kancing depan jaketnya — dan anak-anak tertawa terpingkal-pingkal!

"Irene! Keledai kau! Surat doktermu kaupenitikan di dadamu! Jadi takkan mungkin hilang walaupun kau berniat untuk menghilangkannya!"

Irene lega kembali. "Oh, tentu saja!" Ia membuka peniti yang melekatkan surat dokter tadi. "Aku ingat kini. Aku tahu bahwa pasti aku akan menghilangkan surat ini, jadi kupenitikan di sini. Nih, Ibu. Anda tak usah mengasingkan aku."

Ibu Asrama menerima surat tadi dan mengumpulkannya dengan surat-surat dokter yang lain. "Hampir saja, Irene," katanya. Wajahnya yang gemuk tersenyum. "Kau membuatku semakin tua di tiap awal semester. Nah, Anak-anak, kalian boleh membongkar isi tas-tas kalian. Kopor besar baru akan dibuka besok dan kemudian kalian harus memeriksa daftar pakaian yang kalian bawa."

Ibu Asrama pergi meninggalkan mereka, menemui anak-anak lain, mengumpulkan surat dokter, menenangkan keributan di sana-sini, menyambut kedatangan sekitar enam puluh orang anak yang akan menjadi penghuni Menara Utara itu. Di menara-menara lain ibu-ibu asrama juga melakukan hal yang sama. Sungguh tugas berat untuk menyambut kedatangan sekitar dua ratus lima puluh orang anak dengan berbagai tingkah dan bawaan itu!

Belinda telah pergi untuk mencari tasnya. Sementara yang lain telah mengeluarkan dan mengatur kembali isi tas masing-masing, Belinda datang membawa sebuah tas berwarna coklat. Dibukanya tas itu dan dikeluarkannya selembar piyama, ia mengamat-amati piyama itu dengan keheranan.

"Hei, aku tak tahu aku punya piyama seperti ini!" katanya. "Dan sandal ini... wah, bagusnya! Mungkin ibuku diam-diam memasukkannya ke dalam tasku. Untuk kejutan!"

Darrell memperhatikan tas Belinda dan ia tertawa. "Kau akan mendapat kesulitan kalau kauteruskan mengeluarkan barang-barang di tas itu, Belinda," katanya. "Itu milik Georgina Thomas! Ia pasti marah besar kalau tahu kau membuka tasnya. Mungkin saat ini ia sedang mencari tas ini. Tak dapatkah kau membaca, Belinda?"

Darrell menunjuk nama yang disulamkan di leher piyama itu. Di situ tertulis, 'Georgina Thomas'.

"Ya, ampun! Aku sungguh keledai!" seru Belinda, cepat-cepat memasukkan apa yang telah dikeluarkannya kembali ke dalam tas itu sembarangan saja. "Aku kira ini tasku!"

Ia berlari ke luar kamar dengan tas tersebut. Darrell tertawa pada Irene.

"Entah apa jadinya sekarang, dengan dua orang anak pelupa seperti kau, Irene," katanya. "Satu saja sudah tak keruan, apalagi dua! Berdua kalian akan membuat Mam'zelle gila! Dan wali kelas kita, Nona Parker... Yah, kau tahu ia itu bagaimana. Sama sekali tak mau mengampuni siapa pun yang kurang teliti! Kita pasti akan menyaksikan berbagai peristiwa meriah dengan adanya kalian berdua di kelas!"

Irene tidak marah digoda seperti itu. Ia seorang anak yang sangat pandai dan sabar. Cemerlang dalam pelajaran, tetapi begitu pelupa dalam kehidupan sehari-hari. Tak ada anak yang begitu sering kehilangan buku, begitu sering keliru masuk kelas kecuali Irene. Dan kini datang Belinda, yang nampaknya mempunyai sifat seperti Irene. Irene senang pada tingkah Belinda itu dan memutuskan untuk menjadikannya sahabatnya nanti.

Belinda segera muncul, kali ini membawa tasnya sendiri. Ditumpahkannya semua isinya, dan kemudian mulai mengatur isi tas tadi seperti yang dilakukan anak-anak lain. Piyama di bawah bantal, sikat gigi, kain pembasuh, pasta gigi, spon di rak di ujung kamar dekat tempat basuh muka. Kemudian tas yang telah kosong diletakkannya di gang di luar kamar, untuk nanti dikumpulkan dan dibawa ke gudang tas.

Terdengar keributan di tangga dan anak-anak itu mengangkat kepala. "Anak-anak kereta api telah datang! Wah! Terlambat sekali!"

Kembali asrama itu diserbu oleh kedatangan banyak sekali anak-anak, kembali saling teriak terdengar lagi.

Alicia Johns bergegas masuk dengan mata bersinar-sinar. Di belakangnya tampak Jean, anak Skot yang biasa berbicara terus terang itu. Kemudian muncul Emily, anak pendiam yang agaknya hanya tertarik pada jahit-menjahit dan sulam-menyulam.

"Satu, dua, tiga, empat, lima, enam, tujuh, delapan," Darrell menghitung. "Tinggal dua lagi. Siapa, ya?"

"Yang satu Gwendoline Mary, kukira," kata Irene, mencibir. "Gwendoline Mary Sayang. Aku yakin saat ini ibunya masih menangis tersedu-sedu di stasiun. Siapa yang kesepuluh?"

"Itu dia Gwendoline!" kata Darrell. Mereka mendengar suara melengking yang sangat mereka kenal. Gwendoline Mary seorang anak manja. Dan walaupun Malory Towers sudah banyak memperbaiki pribadinya, namun setiap sehabis liburan ia selalu kembali dengan tingkah seperti semula.

Ia masuk, menggandeng anak yang kesepuluh. Gwendoline memperkenalkan anak itu. "Halo, semuanya! Ini Daphne Millicent Turner, anak baru. Ia akan sekelas dengan kita, dan juga sekamar. Tadi kami segerbong. Aku yakin kita semua akan segera suka padanya!”


3. HARI PERTAMA

Itu tentu saja suatu cara yang aneh untuk memperkenalkan seorang anak baru. Apalagi karena anak-anak yang mendengarkan pengumuman' Gwendoline itu langsung mengerti bahwa anak baru itu akan sangat disukai olehnya — dan barang siapa yang disukai Gwendoline, hampir bisa dipastikan tak akan disukai anak-anak lain. Tapi mereka semua tersenyum sopan pada anak baru itu, sambil diam-diam memperhatikannya.

Anak itu sangat cantik. Rambutnya yang keemasan ikal di dahinya, dan matanya jauh lebih biru daripada mata Gwendoline. Tetapi kedua matanya lebih berdekatan sehingga memberi kesan sifat licik pada wajahnya. Giginya putih bersih dan senyumnya menawan.

Senyum itu digunakannya sebaik-baiknya. "Aku senang sekali bisa datang ke Malory Towers ini," katanya. "Aku belum pernah bersekolah selama ini!" (Anak-anak orang kaya biasa belajar di rumah dengan guru pribadi).

"Dalam hal itu kita berdua sama," kata Gwendoline dengan lagu lega. "Aku juga tak pernah bersekolah sebelum masuk kemari."

"Sesungguhnya lebih baik bagimu kalau sebelum kemari kau pernah bersekolah," kata Alicia pada Gwendoline. "Begitu banyak yang harus kaupelajari agar kau di sini bisa berlaku seperti seorang anak yang betul-betul waras. Aku yakin selama liburan ini kau dimanjakan oleh- guru pribadimu dan ibumu yang memuji-mujimu sebagai anak yang paling luar biasa di dunia, ya?"

"Kurasa kau tak perlu langsung begitu tak sopan padaku, Alicia, segera setelah baru saja kau bertemu denganku," kata Gwendoline gusar. "Ayo, Daphne, kutunjukkan apa saja yang harus kaulakukan, dan tempat-tempat yang harus kauketahui. Aku tahu bagaimana perasaan seseorang yang baru saja sampai di tempat ini."

Daphne tampaknya sangat berterima kasih. Tingkah lakunya sopan. Dengan manis ia mengucapkan terima kasih pada siapa pun yang telah membantunya menunjukkan sesuatu. Begitu cantik dan " anggun. Jelas bahwa Gwendoline agaknya telah memilih Daphne ini untuk sahabat karibnya kelak.

"Betul juga kan kataku?" kata Sally pada Darrell. "Ia pasti akan tergila-gila pada seseorang. Yah, biarlah ia menjadi sahabat Daphne. Anak baru itu terlalu banyak tingkah yang dibuat-buat kulihat."

"Kata Gwendoline, ayah Daphne seorang jutawan," kata Darrell. Kedua anak itu sedang turun ke lantai bawah untuk makan malam. "Katanya Daphne punya jururawat sendiri, guru pribadi, dan pelayan khusus untuknya di rumahnya."

"Oh, mungkin karena itu Gwendoline sangat tertarik padanya," kata Sally. "Aku sudah merasa, pasti ada sesuatu yang menarik perhatiannya. Hei, Irene, kau masih memakai topi! Apakah kau ingin memakainya terus? Juga waktu makan malam?"

"Ya, ampun!" seru Irene, menanggalkan topinya. "Aku lupa kalau aku memakai topi! Mengapa tak kauingatkan aku, Belinda?"

Belinda menyeringai. "Aku sih tak yakin, apakah memang sudah adat di sini memakai topi pada waktu makan malam," katanya.

"Banyak sekali hal yang aneh di sini. Tambah satu keanehan kukira tak apa."

"Kalian berdua sungguh pasangan yang cocok," kata Sally. "Ayo, Darrell, Mary-Lou... kita harus bergegas!"

Malam itu semua anak merasa sangat lelah. Anak-anak kelas dua begitu lega ketika waktu tidur sudah tiba. Gwendoline telah memilih tempat tidur yang bersebelahan dengan tempat tidur Daphne. "Kalau kau merasa sedih kesepian, bilang saja padaku," katanya pada Daphne yang tampak sangat cantik dalam piyama biru dengan rambut tergerai ke bahunya. Rambutnya kuning keemasan bagai rambut Gwendoline, tetapi rambut Gwendoline lurus, sedangkan rambut Daphne ikal indah. Ini membuat Gwendoline sedikit iri.

"Aku memang akan merasa sedikit kesepian," kata Daphne. "Biasanya banyak orang yang mengantarkan aku tidur.... Ibuku mengucapkan selamat malam, guru pribadiku memeriksa apakah tidurku nyaman, dan pelayanku membereskan semua barangku. Aku akan..."

"Harap diam semua," kata Sally tiba-tiba.

Gwendoline langsung bangkit duduk. "Kau kan bukan ketua kelas, Sally," katanya. "Kau tak berhak memerintah!"

"Memang," kata Sally. "Tetapi kau tahu peraturan di sini, Gwendoiine. Aku hanya mengingatkanmu."

Gwendoline berbaring lagi, dan mulai berbisik-bisik dengan Daphne. Sally jadi gusar.

"Tutup mulut, Gwendoline. Sudah lewat waktu tidur! Kita semua ingin tidur!"

"Tunggu saja sampai kau jadi ketua, baru nanti aku akan mengikuti perintahmu," kata Gwendoline, ingin pamer pada kawan barunya bahwa ia tak sudi diperintah oleh siapa pun. "Besok baru kita tahu siapa yang akan jadi ketua!"

"Yang pasti bukan kau!" kata Alicia mengejek dari ujung ruangan.

"Sssst!" kata Darrell, mendengar suara langkah kaki di gang. Ternyata Ibu Asrama yang hampir tak bersuara memasuki ruangan itu. Melihat beberapa orang belum tidur, ia berkata lembut, "Belum tidur? Cepatlah! Jangan berbicara lagi. Selamat tidur."

Ibu Asrama keluar! Gwendoline berpikir-pikir, berbisik-bisik lagi atau tidak. Tetapi dengkur lembut dari arah Daphne menyatakan bahwa anak itu telah tidur. Tak ada gunanya mengganggu Sally dengan berbisik-bisik, sebab Daphne tak akan menjawab bisikan itu.

Tak lama semua anak kelas dua di kamar itu telah tidur nyenyak. Mereka tak mendengar Nona Potts masuk untuk melihat-lihat. Mereka tak mendengar anak-anak kelas enam agak ribut berjalan di depan kamar mereka untuk pergi tidur. Mereka lelah sekali.

Lonceng bangun pagi membuat semua terlompat terkejut. Beberapa saat Sally tak tahu di mana dia berada. Tetapi kemudian ia tertawa sendiri. "Oh, itu tadi lonceng sekolah!" katanya. "Kukira tadi apa!"

Hari pertama selalu menggembirakan. Tidak ada pelajaran yang sesungguhnya, walaupun kelas-kelas sudah dimulai. Ulangan diberikan untuk mengetahui tingkat pelajaran anak-anak baru. Buku, pensil, dan alat-alat sekolah lainnya dibagikan. Daftar tugas disusun. Tiap anak akan mempunyai tugas-tugas tertentu, bergantian setiap minggunya.

Anak-anak baru dibawa menghadap Nona Grayling, kepala sekolah yang bersuara lembut tapi berwibawa. Kepala Sekolah berbicara pada anak-anak itu tentang apa yang diharapkannya dari mereka, seperti yang dulu pernah dikatakannya pada Darrell sewaktu ia baru masuk. "Kalian akan memperoleh pelajaran banyak dari Malory Towers, jadi kuharap kalian juga mau berbuat banyak untuknya dengan menjadi salah satu murid yang berhasil. Yang aku anggap murid yang berhasil adalah mereka yang kelak meninggalkan sekolah ini sebagai seorang yang cerdas, bertanggung jawab, berhati lembut, dapat dipercaya, dan berpikiran terang — seseorang yang bisa diandalkan oleh masyarakat sekelilingnya kelak. Bagi kami, kegagalan adalah mereka yang tidak berhasil mempelajari apa saja yang diajarkan di sini."

Daphne, Ellen, dan Belinda serta anak-anak baru di kelas-kelas lain memperoleh nasihat yang sama. Semua mendengarkan dengan teliti. Semuanya terkesan. Ada yang ingat terus kata-kata tadi, sehingga biasanya mereka menjadi murid yang berhasil. Ketiga anak dari kelas dua itu mendengarkan dengan penuh perhatian, terutama Daphne. Nona Grayling menatap pandangan anak itu tanpa mengundang perhatian si anak. Ia tahu banyak tentang Daphne Millicent Turner.

Daphne melihat pandangan kepala sekolah itu, dan ia mencoba memikat mata Nona Grayling dengan matanya yang biru, menunjukkan bahwa ia sangat bersungguh-sungguh mendengarkan petuah kepala sekolah tersebut, ia bahkan mencoba untuk tersenyum semanis mungkin. Tetapi Nona Grayling tidak membalas senyum itu. Ia melanjutkan nasihat-nasihatnya, kemudian menyuruh anak-anak itu meninggalkan ruangannya.

"Sungguh hebat ya dia?" kata Daphne setelah berada di luar ruang Kepala Sekolah. "Gwendoline berkata bahwa petuah Kepala Sekolah pasti akan membuat kesan yang mendalam. Betul juga katanya!"

Tetapi tak ada yang tertarik pada kenyataan apakah Daphne terkesan atau tidak. Anak-anak itu berpisah untuk menuju kelas masing-masing.

Darrell dan Sally melewati ruang kelas satu tempat mereka dulu belajar. Pintu ruang itu terbuka dan terlihat keributan anak-anak kelas satu, berebut tempat duduk.

"Dasar bayi!" kata Darrell angkuh. "Anak-anak ingusan yang mungkin perkalian dua belas saja belum hafal."

Dua orang anak kelas tiga yang baru saja naik dari kelas dua bertemu dengan mereka di gang. "Halo, Anak-anak," salah seorang di antaranya menggoda Darrell dan Sally, "hati-hati terhadap si Hidung Panjang. Dia sangat jahat pada anak yang terlalu banyak berbuat salah dalam mengeja."

Hidung Panjang adalah julukan untuk wali kelas dua, Nona Parker. Ia memang punya hidung yang lebih panjang dari hidung yang wajar, tetapi julukan itu lebih diartikan pada kiasannya — suka menyelidiki apa saja sampai tuntas atas dasar suatu kecurigaan yang sedikit sekali, ia tak akan puas bertanya ini dan itu, sampai ia tahu semua persoalan.

Nona Parker memang tegas. Tetapi sering secara tiba-tiba ia termenung dan melamun di kelasnya. Inilah kejadian yang sangat didambakan oleh murid-muridnya, dan mereka menggunakan kesempatan itu sebaik-baiknya. Darrell merasa yakin ia tak akan begitu menyukai Nona Parker, ia lebih menyukai ketegasan Potty, wali kelasnya di kelas satu dulu.

Belinda dan Ellen tampak sangat bersemangat untuk mengetahui secara mendalam tentang semua guru. Darrell dan Sally dengan gembira memenuhi permintaan keduanya. Daphne tentu saja lebih banyak bertanya pada Gwendoline.

"Kalian harus sangat berhati-hati pada kedua Mam'zelle," kata Darrell, "terutama pada Mam'zelle Rougier, yang jangkung kurus itu. Keduanya suka marah, tetapi marah Mam'zelle Dupont biasanya pendek saja, sementara Mam'zelle Rougier bisa berkepanjangan."

"Dan hati-hati terhadap Nona Carton, guru sejarah," kata Alicia. "Sebab bila kau tak suka sejarah, maka kau akan selalu menjadi sasaran lidahnya yang tajam. Aku sih suka sejarah, jadi tak ada persoalan bagiku. Tetapi kalau kau tak suka sejarah, ya hati-hati saja!"

Hari pertama mereka lewati dengan lancar. Anak-anak baru dibawa berkeliling untuk lebih mengenali sekolah mereka, tempat bermain tenis, dan taman-tamannya. Mereka tercengang melihat kolam renang yang begitu besar dan dibuat di pantai batu karang dengan air laut yang bisa keluar-masuk ke dalamnya.

"Aku yakin kau pandai berenang," kata Daphne pada Gwendoline. Gwendoline tertegun sesaat, melihat berkeliling dulu sebelum menjawab, ia telah membual cukup banyak juga pada Daphne, di luar pendengaran anak-anak yang lain. Kini Darrell ternyata berada di dekat mereka dan pasti akan bisa mendengarnya bila ia mengatakan sesuatu yang tak benar.

"Yah... begitulah, sama dengan yang lain," kata Gwendoline.

"Aku yakin kau bisa mengalahkan semua anak dalam renang," kata Daphne. "Kau terlalu rendah hati."

Darrell tertawa terkikik-kikik. Bayangkan, Gwendoline dikatakan rendah hati! Ia seorang pembual yang paling hebat di sekolah dan bahkan tak bisa membedakan antara membual dan berdusta.

Ellen berkata bahwa ia tak bisa berenang. "Aku tak pernah berolahraga," katanya. "Tetapi kalau ada kesempatan pasti aku suka mengikutinya. Aku selalu harus terus belajar."

"Kau pastilah sangat pandai," kata Mary-Lou. "Kau datang ke Malory Towers ini karena memenangkan bea siswa, kan?"

"Ya, tetapi kukira sesungguhnya aku tidak pandai," jawab Ellen, kerut di dahinya tampak semakin dalam. "Maksudku... aku harus belajar terus, harus bersusah payah belajar, agar aku bisa mengikuti pelajaran dengan baik. Tidak seperti anak yang betul-betul berbakat pandai. Tak usah belajar pun mereka selalu mencapai nilai-nilai tinggi. Tetapi aku harus betul-betul memeras tenaga untuk bisa menguasai pelajaranku. Tapi kurasa susah payahku itu tak sia-sia. Aku memang ingin sekali bersekolah di Malory Towers ini."

"Coba saja untuk mempelajari berbagai jenis olahraga setekun kau belajar," kata Sally yang harus banyak belajar juga dalam hal olahraga. Kau tahu apa kata orang... 'Belajar terus tanpa permainan...'"

"Akan membuat Ellen sangat membosankan," sahut Ellen, tertawa kecil. "Ya, begitulah kukira. Cukup membosankan."

Belinda menyukai semua hal tentang Malory Towers. Irene yang agaknya langsung lekat padanya seperti Gwendoline lekat pada Daphne, begitu gembira melihat Belinda terpesona pada semua yang dilihatnya.

"Oh, lihat pemandangannya! Lihat lautnya!" seru Belinda. "Lihat warna kolam renang itu! Mana kotak lukisku, cepat!"

Dan saat itulah, untuk pertama kalinya, anak-anak tahu akan bakat Belinda yang luar biasa. Ia dapat menggambar dan melukis dengan sangat baik! Lebih dari itu, Belinda dapat membuat karikatur semua orang. Dengan goresan pensil atau konte yang tajam, Belinda berhasil membuat wajah-wajah yang langsung bisa mereka kenal, dengan menonjolkan kelucuan wajah tersebut.

Semua tertawa tergelak-gelak melihat hasil coretan Belinda.

"Wah, kita pasti senang dengan adanya kau, Belinda," kata Irene. "Kau bisa membuat gambar si Hidung Panjang, atau Mam'zelle — keduanya — dan Ibu Asrama, dan... semuanya! Aku gembira bisa berteman denganmu! Pasti hari-hari kita akan. lebih meriah!"


4. MINGGU PERTAMA

Pada hari pertama semester itu, Nona Parker mengumumkan siapa yang akan jadi ketua kelas. Saat itu kelas sunyi senyap. Semua menunggu dengan berdebar-debar sementara Nona Parker sibuk membolak-balik kertas dan mencari pensilnya.

"Kalian semua pasti ingin tahu siapa yang terpilih menjadi ketua kelas semester ini," katanya kemudian. "Baiklah, akan segera kukatakan. Setelah pembicaraan dengan guru-guru lain, maka untuk kelas dua telah kami pilih... Sally Hope!"

Semua bertepuk tangan. Muka Sally jadi merah padam, ia gembira, tetapi malu. Nona Parker melihat catatannya.

"Mungkin kalian ingin tahu siapa saja yang kami pertimbangkan untuk kedudukan itu," katanya. "Pertama, Darrell Rivers. Kedua, Jean MacDonald. Ketiga, Winnie Toms. Jadi empat orang dengan Sally Hope. Dan Sally terpilih."

Semua mengira bahwa nama Alicia juga akan disebut sebagai salah satu calon. Atau Irene. Tetapi ternyata kedua nama itu tidak disebut. Irene tak berkeberatan, ia tahu ia pelupa dan ia memang tak punya keinginan untuk jadi ketua kelas. Asalkan dia bisa main musik, ia sudah puas. Menjadi ketua kelas mungkin berarti ia harus melepaskan beberapa waktunya untuk berlatih.

Sebaliknya, di dalam hati Alicia merasa sangat tersinggung, ia selalu berada di tempat tertinggi dalam pencapaian nilai pelajaran. Otaknya cemerlang, daya ingatnya hebat Walaupun ia tidak begitu tekun belajar, toh ia bisa mencapai nilai terbaik... dan ternyata menjadi calon saja namanya tidak disebut! Dengan geram Alicia menggigit bibir, berusaha agar perasaan hatinya tidak tampak.

"Wah, ini pasti karena Sally jadi anak emas guru-guru.... Sungguh tidak adil!" pikir Alicia. "Hanya karena aku beberapa kali mengganggu beberapa orang guru, maka mereka sama sekali tak mencalonkan aku! Sungguh pendendam mereka. Sungguh tak adil!"

Tetapi sesungguhnya pikiran Alicia keliru. Bukannya karena ia suka mengganggu guru-guru maka ia tak terpilih sebagai calon, tetapi karena suatu hal lain. Hal tersebut adalah: kekerasan Alicia pada anak yang tak disukainya, ia senang sekali mengejek mereka yang tak begitu pandai, mereka yang sesungguhnya lebih memerlukan bantuannya, dan bukan ejekannya. Guru-guru diam-diam senang akan lelucon serta ulah Alicia di kelas, walaupun di kelas mereka tampak marah. Mereka sering membicarakan ulah Alicia itu serta tertawa tergelak-gelak. Bukan kenakalan itulah yang membuat mereka tidak memilih Alicia. Tetapi idahnya yang tajam serta tak kenal ampun itu!

Alicia pasti akan selalu dikagumi dan diirikan oleh anak lain," kata Nona Grayling di rapat guru. Tetapi ia tak akan bisa merebut rasa sayang dan persahabatan sejati dari kawan-kawannya. Tentang Betty, yang selama ini dekat dengannya, memang pandai juga. Tetapi dibanding Alicia, otaknya kosong. Otak Alicia sungguh cemerlang, dan tak pelak lagi, salah satu yang terbaik di sekolah ini. Tetapi hatinya adalah salah satu yang terburuk."

Begitulah. Pilihan dijatuhkan pada Sally Hope yang dinilai berpribadi mantap, setia, berhati lembut, dan adil. Sally, sahabat Darrell. Mungkin saja Sally tak bisa menjadi yang terpandai di kelasnya, tetapi ia selalu bersedia untuk menolong siapa saja yang memerlukan bantuan. Mungkin saja Sally tidak akan secemerlang Alicia dalam ujian, tetapi ia akan siap membantu anak lain yang lemah dalam olahraga maupun pelajaran, ia berhati jujur dan adil. Ia berkemauan keras. Ia akan patuh pada semua peraturan.

Anak-anak kelas dua tahu bahwa pilihan atas Sally sungguh tepat. Memang ada beberapa yang lebih menginginkan suatu pilihan yang tak begitu baik, asal yang jadi ketua bukan Sally. Gwendoline, misalnya, ia sangat gusar. Juga Betty, yang ingin agar Alicia terpilih. Juga beberapa teman Betty yang lain, yang tidak seasrama dengan Sally.

Darrell meremas tangan Sally. "Bagus sekali," bisiknya. "Aku sangat gembira. Ibumu pasti senang, Sally! Dan kau akan jadi ketua kamar pula! Wah, bisa pingsan Gwendoline!"

Memang, Gwendoline sangat gusar malam itu, saat Sally sudah jadi ketua kelas sekaligus ketua kamar tempat mereka tidur. Sally sebetulnya tak ingin memamerkan kekuasaannya sebagai ketua, tetapi ia tahu bahwa ia harus memperlihatkan kekuasaan itu kalau Gwendoline berbuat menyalahi peraturan. Menghadapi Gwendoline ia harus bersikap tegas dan keras, sebab kelembutan dianggap kelemahan oleh Gwendoline.

Maka begitu terdengar bisik-bisik lagi sewaktu lampu sudah padam, Sally berkata tegas, "Gwendoline, kemarin aku menyuruhmu tutup mulut Saat itu kaujawab bahwa aku bukan ketua kelas, bukan ketua kamar. Nah, aku kini keduanya. Maka kau harus diam bila kusuruh diam!"

"Daphne sedang sedih, rindu akan rumahnya," kata Gwendoline.

“Ia takkan bertambah lebih baik bila kaubisikkan omong kosongmu ke telinganya," kata Sally.

Sesaat sunyi. Kemudian terdengar suara Belinda dalam kegelapan itu, bertanya,

"Sally! Apa yang terjadi bila kami terus berbisik-bisik, walaupun ketua kamar telah mengatakan tak boleh berbuat itu?"

"Hal itu belum pernah terjadi," kata Sally tegas. "Tetapi seingatku ada peraturan tak tertulis di Malory Towers ini. Kalau ada seseorang yang mengganggu waktu tidur, maka akan dipilih sebuah sikat yang terbesar untuk menampari anak Itu."

"Oh!" seru Belinda, kemudian cepat menyembunyikan dirinya di bawah selimut, menyeringai. Biar kini Gwendoline mengerti apa yang akan terjadi bila ia membandel terus. Apakah ia berani menentang Sally?

Gwendoline tadinya sudah akan membuka mulut untuk berbicara dengan Daphne, agar semua tahu bahwa ia tak mau diperintah Sally. Tetapi setelah mendengar pertanyaan Belinda dan jawaban Sally, ia tertegun. Mana mungkin hukuman seperti itu dijatuhkan pada seorang anak kelas dua! Lama ia berpikir-pikir apakah Sally benar-benar akan melakukan hukuman itu ataukah hanya untuk menakut-nakutinya. Tetapi bila teringat suara Sally yang tegas, maka ia mengambil keputusan untuk tidak mencobanya. Sungguh sangat memalukan bila ternyata Sally memang berani melaksanakan hukuman itu! Daphne pastilah tak akan menghormatinya lagi.

Maka tenanglah di kamar itu. Ketika Ibu Asrama datang menjenguk, yang terdengar hanyalah napas teratur anak-anak itu. Delapan orang anak tidur nyenyak. Tetapi dua orang sesungguhnya masih bangun.

Yang satu adalah Gwendoline. Yang lainnya, Ellen. Gwendoline karena merasa gusar, dan itu selalu membuatnya susah tidur. Ellen memikirkan tentang pekerjaannya. Pagi tadi sewaktu diuji ia memang lulus. Tetapi nilainya biasa saja, tak begitu cemerlang. Apakah ia bisa mengikuti pelajaran kelas dua di sini? Oh, ya. Ia memang telah memenangkan bea siswa, tetapi itu karena ia belajar dan belajar dan belajar lagi begitu keras. Apakah di sekolah ini ia bisa belajar cukup keras untuk mengikuti yang lain? Otaknya serasa tak begitu cerah tadi. Dan Ellen sangat khawatir. Bahkan setelah Gwendoline tertidur Ellen masih saja terjaga.

Anak-anak baru memerlukan waktu beberapa hari untuk menyesuaikan diri. Ellen dan Daphne cukup cepat menghafal tempat-tempat di sekolah itu. Tidak seperti Belinda yang begitu sering salah masuk kelas. Beberapa kali ia salah masuk ke kelas satu, sampai akhirnya Nona Potts jadi gusar sekali sewaktu suatu kali ia muncul di kelas Nona Potts itu.

"Belinda! Jangan bilang kau tersesat lagi!" kata Nona Potts. "Apakah kau sesungguhnya lebih senang berada di kelas satu? Baiklah, kalau kau berpendapat bahwa pelajaran di kelas dua terlalu..."

Belinda telah meninggalkan tempat itu, menggumamkan permintaan maaf, bergegas mencari kelasnya yang benar. Ia kemudian muncul di kelasnya, terlambat satu atau dua menit, sambil menahan tawa.

"Maafkan, aku terlambat, Nona Parker," ia berkata sambil duduk di kursinya.

Biarlah untuk selanjutnya ia kuantarkan, Nona Parker," kata Irene. Tetapi Nona Parker langsung memutuskan pembicaraan Irene.

Paling-paling itu akan membuat kalian berdua salah masuk kelas," kata Nona Parker. "Misalnya kalian berdua sibuk berada di kolam renang sana, menunggu pelajaran loncat indah, padahal sesungguhnya jam itu jam matematika. Sudah, borkan Belinda mengatur dirinya sendiri. Toh selama tiga hari ini ia sudah berusaha keras untuk

Baik, Nona Parker," kata Belinda lemah, langsung membuat gambar sketsa di buku sketsanya, gambar Nona Parker. Buku sketsa kecil selalu berada di sakunya. Setiap saat buku itu bisa keluar, diisinya dengan gambar yang kebetulan disukainya dan ada di tempat itu saat itu, misalnya: teman-teman sekelasnya, bunga-bunga di jendela, pemandangan di luar jendela, pokoknya apa saja yang tertangkap oleh matanya.

Mam'zelle Dupont yang pendek, gemuk, bermata kecil, serta berkaca mata dengan gagang pegangan, paling disukai Belinda sebab paling mudah digambar. Kini hampir semua anak di kelas dua punya gambar Mam'zelle Dupont untuk batas halaman buku tatabahasa bahasa Prancis mereka. Anak-anak itu malahan ingin agar mereka memiliki batas halaman buku yang bergambar semua guru, sesuai dengan buku yang bersangkutan — misalnya gambar Nona Carton untuk buku sejarah, gambar Nona Grayling untuk pelajaran agama, gambar Pak Young untuk buku musik, dan seterusnya.

Belinda telah berjanji akan membuatkan teman-temannya gambar-gambar tersebut, dengan imbalan mereka harus merapikan lemari dan mejanya, serta mengingatkannya apa-apa yang terlupa olehnya.

"Aku selalu melupakan sesuatu," katanya. "Aku lebih pelupa daripada Irene. Kalau aku dimarahi, aku begitu tegang sehingga tak bisa menggambar."

"Jangan khawatir. Akan kami bantu kau," kata Alicia, sambil dengan gembira melihat hasil karya Belinda, gambar lucu Pak Young, guru menyanyi mereka. Di situ terlihat Pak Young, digambar sangat tepat, dengan kumisnya yang kecil lucu mencuat ke atas, kepalanya yang botak dengan tiga-empat helai rambut yang melekat rapi, leher baju yang terlalu tinggi, dan mata yang sangat besar di balik kaca matanya.

"Kau sungguh luar biasa, Belinda," kata Betty, melihat gambar tadi dari balik punggung Alicia. "Apa yang akan kaugambar untukku bila aku berjanji mengambil alih tugasmu membersihkan kelas minggu depan?"

Begitulah. Belinda melakukan tawar-menawar di sana-sini dan berhasil lolos dari berbagai tugas yang tak disukainya! Nona Parker sangat heran melihat betapa anak-anak banyak sekali mau berkorban untuk Belinda. Belinda yang selalu membuatnya kesal karena tak punya tanggung jawab itu! Entah kenapa tampaknya ia begitu disukai teman-temannya!

"Aneh sekali," ia berkata pada Mam'zelle, anak-anak itu tak pernah berbuat seperti itu pada Irene, yang juga sangat pelupa tetapi sangat pandai. Mengapa mereka lebih menyukai Belinda? Aku tak mengerti bagaimana anak setolol itu begitu dimanjakan oleh teman-temannya. Coba, tadi pagi bahkan kulihat Gwendoline merapikan meja Belinda dan tidak beristirahat sewaktu jam istirahat!"

"Ah, Belinda memiliki selera seniman," kata Mam'zelle. “Ia tak punya waktu untuk melakukan hal-hal yang begitu remeh seperti merapikan meja, tempat tidur, atau menyapu kelas. Aku juga punya selera seni. Tetapi di sekolah Inggris ini, hal itu malah kalian anggap suatu sifat buruk. Sungguh orang-orang Inggris tak bisa menghargai seni!"

"Tentu saja tidak kalau selera seni tersebut seperti yang biasa Anda lakukan," kata Nona Parker, ia tahu benar apa yang disebut selera seni Mam'zelle Dupont. Biasanya itu terwujud dalam hal berkeluh kesah tentang pekerjaan yang harus dibuat, mempersiapkan pelajaran, bekerja di kamar, dan sebagainya. Selera seni Mam'zelle selalu bertempur dengan tugas-tugasnya sehari-hari, ia selalu mencoba mengalihkan tugas tersebut pada orang-orang lain yang dianggapnya tak berselera seni, seperti Nona Potts dan Nona Parker.

"Kita harus bersabar dengan anak seperti Belinda itu," kata Mam'zelle. "Betapa aku sering merasa tertekan karena..."

"Kalau begitu Belinda harus kita tekan pula agar membuang sifat-sifat buruknya," kata Nona Parker tegas. "Aku tahu benar betapa sulitnya Nona Potts harus menanggulangi Irene tahun lalu. Untunglah Nona Potts berhasil menanamkan sedikit kesadaran pada Irene, hingga tahun ini agak mudah tugasku. Belinda juga harus dipaksa untuk mengikuti peraturan yang ada. Sayang sekali anak-anak itu tampaknya sangat senang padanya."

Tak ada yang bercerita pada Nona Parker sebab sebenarnya dari sikap anak-anak itu terhadap Belinda. Dan walaupun Nona Parker berusaha keras, ia tak bisa membongkar rahasia yang satu ini. Tak seorang pun menunjukkan hasil karya Belinda pada Nona Parker. Pensil Belinda kadang-kadang sangat kejam menggambarkan apa yang ingin digambarnya. Misalnya saja, hidung Nona Parker selalu tampak lebih besar daripada ukuran sebenarnya. Mam'zelle Rougier selalu tampak lebih kurus. Mam'zelle Dupont lebih gemuk dan bulat. Tidak. Anak-anak itu tak ingin guru-guru mereka melihat gambar-gambar lucu ini.

Satu-satunya guru yang menyukai Belinda hanyalah Nona Linnie, guru kesenian. Nona Linnie masih sangat muda, periang, dan suka bercanda. Ia segera mengetahui bakat Belinda dan selalu mendorongnya untuk berkarya lebih baik.

"Sungguh menyenangkan di sini," kata Belinda pada Irene. "Nona Linnie begitu bersemangat membantuku. Dan semua pekerjaan yang kubenci tak usah kulakukan! Emily bahkan berjanji untuk menjahitkan kaus kakiku."

"Kau sungguh beruntung," kata Irene iri. "Aku tak keberatan memberikan karangan musikku pada seseorang kalau saja ia mau melakukan beberapa pekerjaan untukku. Tetapi tak seorang pun berminat pada musikku. Mereka tergila-gila pada lukisanmu!"


5. MENYESUAIKAN DIRI

Minggu pertama terasa lambat berlalu. Memang selalu begitu, untuk kemudian minggu-minggu berikutnya terasa begitu cepat lewat. Anak-anak itu mulai bisa menyesuaikan diri dengan kehidupan di sekolah dan mulai menyukai sekolah mereka.

Cuaca baik dan hangat, dan bagi yang menginginkan, kolam renang telah dibuka. Lapangan tenis juga masih digunakan, walaupun lacrosse, yang sesungguhnya olahraga musim dingin, sudah mulai juga dimainkan. Maka terasa begitu banyak yang bisa mereka lakukan di waktu-waktu terluang mereka.

Gwendoline dan Daphne telah menjadi sahabat erat. Sebelum ini, di tahun pertama ia di Malory Towers, Gwendoline boleh dikata tak punya seorang sahabat, ia sangat gembira punya sahabat seperti Daphne yang begitu cantik, anggun, dan mewah cerita-ceritanya.

Kedua anak itu banyak mempunyai kemiripan. Misalnya saja, keduanya tak suka air, dan sangat sulit untuk mengajak mereka bermain di kolam renang.

"Kita sudah cukup banyak berenang di musim panas," kata Gwendoline saat beberapa orang anak mengajaknya berenang. "Kita kan tidak diharuskan berenang di semester ini, dan karenanya aku tak mau. Lagi pula kalian mengajakku berenang hanya untuk mendorongku masuk ke dalam kolam secara tiba-tiba!"

"Bukan begitu," kata Alicia. "Kami ingin melihatmu menggeletar kedinginan agar bisa dilukis oleh Belinda. Pasti akan menjadi gambar yang sangat lucu bagi kelas kita, Gwendoline."

"Sialan!" seru Gwendoline yang tak suka diolok-olokkan. Ia meninggalkan tempat itu bersama Daphne. "Hanya karena mereka suka hal-hal kasar seperti berenang, tenis, dan lainnya, mereka mengira semua orang juga harus melakukan hal itu," katanya pada Daphne. "Lagi pula, kau dan aku belum pernah bersekolah sebelumnya, dan karenanya kita berdua takkan pernah bisa terbiasa dengan kebiasaan mereka yang gila-gilaan itu. Alangkah senangnya kalau aku lahir di Prancis. Dengan begitu takkan ada yang memaksaku berenang bila aku tak suka, atau memaksaku bercapai-lelah memukuli bola melewati net!"

"Kami punya tiga buah lapangan tenis di rumah," kata Daphne. "Dua lapangan keras, satu lapangan rumput. Kau harus tahu, Ibu sangat suka mengadakan pesta sambil main tenis. Banyak yang diundangnya. Tetapi orang-orang paling suka bila diundang ibuku untuk berpesta di kapal pesiar milik Ayah."

Gwendoline belum pernah mendengar Daphne bercerita tentang kapal pesiar sebelumnya. Dengan rasa iri dipandangnya sahabatnya itu. Mungkin libur musim panas kelak Daphne mau mengundangnya untuk berlibur di kapal pesiar itu. Betapa girangnya ibunya nanti kalau tahu bahwa ia punya sahabat yang begitu kaya!

"Pastilah kau sangat tidak suka datang ke sekolah ini, Daphne," kata Gwendoline. "Banyak kemewahan yang harus kautinggalkan. Bagimu tinggal di sekolah ini pastilah seperti tinggal di kandang babi saja. Aku yakin kau tak pernah merapikan tempat tidurmu sendiri sebelum ini."

"Tentu saja tidak," kata Daphne, mengibaskan rambutnya yang indah. "Tetapi kau pasti juga tak pernah."

"Memang," kata Gwendoline. "Guru pribadiku, Nona Winters, yang melakukan pekerjaan semacam itu untukku. Bahkan kini bila aku sedang berlibur, ia juga yang melakukan tugas-tugasku di rumah, ia seorang tua yang tolol, dan tak begitu pandai mengajar, tetapi sangat berguna dalam hal membantuku menyelesaikan berbagai tugas. Aku sangat ketinggalan saat pertama kali aku di sini."

Sekarang pun Gwendoline masih ketinggalan. Dia agaknya lebih suka pamer dan bermalas-malasan daripada belajar tekun dan bekerja keras. Jadi sedikit sekali kemajuannya. Kedua orang tuanya sudah terbiasa dengan catatan di rapotnya: Cukup, bisa lebih baik kalau mau belajar';. Buruk sekali, tak pernah memakai otaknya': Paling buruk, tak mau berusaha'.

Ayahnya selalu memarahinya, tetapi ibunya malah membelanya, menghiburnya. Jadi kata-kata tajam ayahnya akhirnya tak berbekas pada Gwendoline. Paling-paling membuat Gwendoline menangis, dan harus dihibur oleh ibunya serta Nona Winters. Gwendoline tahu benar cara menggunakan air matanya.

Dan Daphne tahu benar cara mempergunakan senyum manisnya. Senyum manis tersebut begitu sering menolongnya dari bahaya kemarahan guru-guru, terutama dengan Mam'zelle Dupont, Nona Linnie, dan Pak Young.

Mam'zelle sama sekali tak bisa bertahan bila terkena senyum itu. Senyum Daphne bisa memberi kesan manis, sedih, bersemangat, atau hangat — luar biasa sekali kemampuannya memberi kesan pada suatu senyum!

Bila Daphne tak bisa mengerjakan pekerjaan rumah bahasa Prancisnya, maka ia tersenyum sewaktu menyerahkan buku pekerjaan rumah itu pada Mam'zelle. Mam'zelle merasa cair hatinya. Betapa manisnya anak ini!

"Aku telah berusaha keras, Mam'zelle," kata Daphne sambil terus tersenyum. "Tetapi sayang sekali aku belum begitu menguasai pelajaran ini. Anda tahu, sebelum ini aku tak pernah bersekolah, jadi cara-caranya aku tak mengerti."

Senyum tadi berubah menjadi senyum penyesalan sedemikian dalam, sehingga Mam'zelle jadi terharu. Dibelainya tangan Daphne dan berkata, "Aku tahu kau sudah berusaha keras, mon enfant, Anakku! Aku tahu kau takkan bisa berbuat lebih dari itu. Bagaimana kalau kau datang seusai sekolah nanti ke kamarku, akan kuberi kau pelajaran tambahan."

Bagi Mam'zelle tawaran itu sudah menggambarkan betapa baik hatinya pada anak yang menarik ini. Tetapi Daphne tahu bahwa tawaran tadi akan membuat bebannya semakin bertambah. Maka dengan air muka sangat menyesal ia menggelengkan kepala sambil berkata bahwa ia telah punya pelajaran tambahan dengan guru lain. Kemudian senyumnya muncul kembali, matanya yang biru indah menatap mengharap pada Mam'zelle.

"Tolong jangan suruh aku mengerjakan soal ini lagi, Mam'zelle," katanya. "Begitu banyak pekerjaanku untuk mengejar ketinggalanku dari anak-anak lain."

Dan tak peduli anak lain harus mengerjakan kembali pekerjaan rumah mereka, Daphne tak pernah menerima hukuman seperti itu. Ia bisa membujuk Mam'zelle untuk melakukan apa saja yang diingininya dengan senyumnya yang memikat itu.

Sayang sekali senyum itu tak berguna bagi Nona Parker, Nona Potts, dan Mam'zelle Rougier — terutama Mam'zelle Rougier yang terbiasa untuk membenci siapa saja yang disukai Mam'zelle Dupont dan menyukai siapa saja yang dibenci rekannya itu.

Mam'zelle Rougier sangat keras terhadap Daphne, hingga akhirnya anak itu sama sekali tak bisa tersenyum padanya. Mereka agaknya saling membenci. Kalau saja tak ada seseorang yang membantu Daphne, pastilah Daphne selalu mendapat kesulitan di kelas Mam'zelle Rougier dan semua pekerjaannya dikembalikan.

Sungguh tak disangka, orang yang membantu Daphne itu adalah Mary-Lou! Kini Mary-Lou telah pandai sekaji berbahasa Prancis, sebab di rumah ibunya telah menggaji seorang anak Prancis untuk menemaninya selama liburan. Kini Mary-Lou sangat lancar berbahasa Prancis, selancar bahasa Inggrisnya, sehingga kedua Mam'zelle sangat menyukainya.

Mary-Lou berpendapat Daphne sangatlah cantik. Rasanya tak puas-puasnya ia memandang anak itu. Tentu saja ia tidak akan menyukai Daphne seperti ia menyukai Darrell dan Sally, tetapi mau tak mau ia merasa sayang juga pada wajah yang begitu cantik serta tingkah laku yang begitu manis.

Suatu hari ia melihat Daphne hampir menangis karena pekerjaan rumahnya dikembalikan oleh Mam'zelle Rougier. Mam'zelle Rougier mengancam Daphne untuk mengembalikan lagi pekerjaan tersebut bila belum juga betul semua. Mary-Lou mendekati Daphne.

"Apakah Gwendoline tak bisa membantumu?" tanyanya malu-malu. "Dia kan sedang tidak sibuk. Bagaimana kalau ia kupanggil dan kuminta membantumu?"

Daphne mengusap air matanya dan berpaling dengan senyum sedih pada Mary-Lou. "Tak ada gunanya minta bantuan Gwen," katanya. "Ia pasti mau membantuku. Tetapi ia tak lebih baik dariku dalam bahasa Prancis."

"Yah... sayang sekali. Dan mungkin kau tak mau bila kubantu, ya? Kalau bisa sih, aku mau membantumu."

"Oh, terima kasih banyak!" kata Daphne kegirangan. "Kau memang sangat pandai dalam bahasa Prancis. Betul-betul luar biasa. Coba lihat, di manakah kesalahanku?"

Daphne menunjukkan pekerjaannya. Dan dengan gembira Mary-Lou duduk di sampingnya, mulai menerangkan beberapa hal. Tanpa disadarinya, ia telah mengerjakan kembali semua pekerjaan Daphne. Dan Daphne tersenyum dalam hati saat ia berterima kasih pada Mary-Lou.

"Oh, tak apa," kata Mary-Lou malu, sementara ia memandang rambut keemasan Daphne. "Rambutmu indah sekali."

Daphne seperti Gwen. Ia suka sekali pada orang yang memuja dirinya dan mengatakan hal-hal yang menyenangkan. Dipandangnya si Kecil Mary-Lou itu. Ia bisa menyukai anak ini, dan pastilah sangat berguna bersahabat dengan Mary-Lou yang begitu pandai dalam bahasa Prancis.

"Kapan-kapan kau bisa membantuku lagi dalam bahasa Prancis, kan?" katanya pada Mary-Lou. Aku tak ingin mendapat pelajaran tambahan dari Mam'zelle. Kau jauh lebih jelas dalam menerangkan berbagai soal daripada kedua mam'zelle itu."

Belum pernah ada yang minta bantuan Mary-Lou dengan cara yang begitu manis, bukanya jadi merah dan napasnya sesak.

"Oh, kalau kau mau kubantu, tentu saja aku sangat gembira," katanya. "Aneh juga, padahal biasanya akulah yang minta bantuan anak-anak lain. Aku senang sekali bisa membantumu, Daphne."

Begitulah. Anak-anak kelas dua itu cukup heran sewaktu kemudian mereka melihat si Kecil Mary-Lou duduk di samping Daphne tiap malam di ruang rekreasi, menerangkan pelajaran bahasa Prancis yang mereka dapat pagi harinya.

“Ia bahkan mengerjakan pekerjaan rumah Daphne!" kata Darrell gusar, ia tak suka melihat Mary-Lou yang setia itu rapat dengan anak lain. Padahal semester demi semester biasanya Mary-Lou selalu mengikuti Darrell dan Sally! Tak mungkin rasanya kini Mary-Lou akan berganti sahabat. Dengan Daphne lagi.

"Biarkan saja," kata Sally yang berpandangan jernih. "Kalau Mary-Lou ingin membantu Daphne, apa salahnya? Daphne begitu buruk dalam bahasa Prancis, dan aku tak menyalahkannya kalau ia menolak pelajaran tambahan dari kedua mam'zelle itu. Kau tahu betapa pemarahnya Mam'zelle Rougier bila harus mengajar malam-malam, dan betapa lamanya Mam'zelle Dupont menahanmu bila ia memberi pelajaran tambahan. Waktu satu jam bisa jadi dua jam!"

"Mudah-mudahan saja Daphne tidak menulari Mary-Lou dengan sikapnya yang memuakkan itu," kata Darrell.

"Mudah-mudahan Mary-Lou menularkan kepandaiannya pada Daphne," kata Sally. "Aku tahu kau ingin turun tangan, Darrell, tetapi lebih baik jangan."

Anak-anak itu mulai menyesuaikan diri dengan lingkungan dan teman-temannya. Masing-masing memilih kawan-kawan yang kira-kira cocok dengan dirinya. Memang menyenangkan mempunyai seorang sahabat khusus, yang bisa diajak berbicara dari hati ke hati.

Sally memilih Darrell dan Darrell memilih Sally untuk itu. Irene punya Belinda. Kedua anak itu kini sulit dipisahkan, dan keduanya sama-sama tak bisa saling membantu! Kalau yang satu lupa, maka yang satu tidak ingat. Agaknya mereka saling membuat salah satu di antara mereka semakin pelupa. Tetapi mereka saling menyukai!

Alicia tentu saja memilih Betty. Alicia kini tidak begitu penyabar dan periang seperti dulu. Ia masih sakit hati karena tidak terpilih menjadi ketua kelas. Sering ia tidak begitu manis menghadapi Sally, dan tidak begitu akrab lagi dengannya. Sally tak mempedulikan hal itu, walaupun dalam hati ia menyayangkannya.

Gwen punya Daphne, tentu saja. Dan kini acaknya Mary-Lou juga menghendaki Daphne! Bagaimana perasaan Gwen tentang hal itu?

"Kau tak usah khawatir," kata Daphne pada Gwen. "Aku hanya memperalat dia, si Tolol itu! Tentu saja aku akan terpaksa mengajaknya bermain-main bila kau sedang sibuk, agar ia tak tahu bahwa yang aku ingini darinya hanyalah kepandaiannya dalam bahasa Prancis. Kau juga bisa memperalat dia, Gwen. Kau bisa mencontoh pekerjaanku setelah dibuatkan oleh Mary-Lou."

Maka Gwendoline terpaksa menerima kehadiran Mary-Lou dan tak keberatan bila Daphne meninggalkannya untuk berjalan-jalan dengan Mary-Lou. Apa salahnya? Kan Daphne hanya memperalat rak itu.

Tetapi lama-kelamaan Daphne lebih suka pada Mary-Lou yang begitu baik hati dan pandai itu. Sungguh berbeda rasanya jalan-jalan bersama Mary-Lou, dibandingkan dengan jalan-jalan bersama Gwendoline yang berotak kosong itu.


6. KAPUR AJAIB

Setelah beberapa minggu, Alicia jadi gelisah. "Sudah waktunya kita membuat ramai-ramai," katanya pada Betty. "Aku tahu kita kini sudah kelas dua dan sebagainya, tetapi tak ada alasan mengapa kita tak boleh bersenang-senang sedikit. Sally sungguh membosankan, tak pernah bercanda, tak pernah melucu!"

"Apa yang akan kita lakukan?" tanya Betty, matanya yang hitam bersinar-sinar "Aku punya kapur ajaib. Mula-mula tak terlihat kemudian memberi bekas merah. Kau punya apa?"

"Kapur ajaib? Kau belum pernah mengatakannya padaku!" Wajah Alicia juga berseri-seri seketika. "Coba lihat!"

Kedua anak itu pergi ke ruang rekreasi. Betty membuka lacinya, mengeluarkan sebuah kotak logam. Di dalamnya, terbungkus rapi oleh kertas, terlihat sebatang kapur merah muda.

"Kelihatannya tak begitu ajaib!" kata Alicia.

"Begini. Kalau kapur ini kita goreskan di kursi, maka bekasnya tak terlihat," kata Betty. "Tetapi kalau ada orang duduk di kursi itu dan membuatnya hangat, maka kapur tadi akan membekas di bajunya, memberi warna merah muda!"

"O, begitu!" Alicia mengangguk-anggukkan kepalanya. "Kalau begitu mari kita goreskan kapur itu di kursi guru-guru di kelas kita — mungkin saat Mam'zelle Rougier mengajar!"

"Begini saja. Kita goreskan di kursi Pak Young bila ia mengajar kita menyanyi nanti!" kata Betty. Di kursi pianonya! Dia akan lama duduk dikursi tersebut, sebab ia harus mengiringi nyanyian kita dengan piano itu. Dan kemudian bila ia berdiri untuk menulis sesuatu di papan tulis... wah! Betapa lucunya!"

Alicia tertawa keras-keras. "Ya, lebih baik mempermainkan Pak Young daripada si Hidung Panjang atau Mam'zelle... ia tak akan curiga sedikit pun! Lagi pula akan banyak yang menikmati lelucon itu, sebab anak-anak kelas satu akan digabung dengan kita!"

Alicia tampak lebih cerah kini. Ia dan Betty mencoba kapur ajaib itu dengan hati-hati dan ternyata hasilnya sangat memuaskan.

Betty mengambil sebuah kursi kayu dan digosokkannya kapur ajaibnya berkali-kali pada tempat duduknya. "Lihat, sama sekali tak tampak, kan?" tanyanya pada Alicia.

Alicia memeriksa kursi tersebut dengan sangat teliti. "Bagus sekali!" akhirnya ia berkata. "Sama sekali tak terlihat. Sungguh kapur ajaib, kaugosokkan dan tak terlihat bekasnya. Nah, sekarang duduklah, dan kita lihat hasilnya."

Betty duduk untuk beberapa lama. Kapur itu tak bisa bekerja kalau tidak dihangati oleh panas badan orang yang mendudukinya. Saat Betty duduk diam-diam di kursi itu dengan Alicia yang memperhatikannya terus, Gwendoline menjengukkan kepala, mencari Daphne. Ia heran melihat tingkah kedua anak itu, Betty diam dan Alicia memperhatikan.

"Apa yang kalian lakukan?" tanyanya heran. "Apa yang sedang terjadi?"

"Tak apa-apa!" kata Alicia. "Pergilah, Daphne tak ada di sini."

"Tetapi apa yang kalian lakukan?" Gwendoline mendesak. "Untuk apa Betty duduk di kursi yang keras itu di tengah kamar?"

"Alicia! Kau dipanggil si Hidung Panjang!" tiba-tiba terdengar seseorang berseru dari luar. Jean menjenguk ke dalam. "Cepatlah! Agaknya ia sedang gusar! Mungkin tentang pekerjaan matematikamu!"

"Sialan!" seru Alicia dan berlari ke luar. "Tunggu sebentar, Betty!" teriaknya dari luar. Jean dengan heran memperhatikan Betty yang duduk sendirian di tengah ruangan.

"Capai?" tanyanya. Betty cemberut, ia merasa kikuk. Ingin sekali ia mengambil buku dan melempar kepala keemasan Gwendoline. Tetapi ia tak berani berdiri untuk mengambil buku, takut kalau Jean dan Gwendoline melihat bekas kapur di bajunya, ia tak ingin ada yang mengetahui tentang tipu muslihat itu.

"Kasihan sekali Betty, mungkin ia lumpuh," kata Gwendoline. "Mungkin ia rematik."

Untung juga akhirnya Gwendoline bosan terus menggoda Betty. Ia keluar untuk mencari Daphne. Jean menyeringai dan pergi juga. Betty bangkit, melihat bagian belakang dirinya sendiri. Dan ia tertawa sendiri. Di roknya tergambar coretan kapur berwarna merah muda cerah. Betapa ajaibnya kapur ajaib itu bila sudah dipanasi.

Alicia berlari masuk. "Bagaimana?" tanyanya. Dan ia pun tertawa terpingkal-pingkal waktu Betty menunjukkan roknya. "Wah, bagus sekali!" kata Alicia. "Besok akan kita coba pada Pak Young."

"Apakah akan kita beri tahu yang lain?" tanya Betty.

"Tidak," kata Alicia. "Pasti nanti ada yang membuka rahasia, dengan tertawa terkikik-kikik sebelum Pak Young berdiri. Tidak. Biarlah Pak Young sendiri yang membuat kejutan."

Baik Betty maupun Alicia tak banyak bisa melakukan pekerjaan malam itu, saat mereka mengerjakan pekerjaan rumah. Nona Potts yang mengawasi kelas mereka jadi curiga. Ia bisa menduga bahwa kedua anak itu sedang memikirkan sesuatu yang lebih menyenangkan mereka daripada mengerjakan pekerjaan rumah.

Potty tahu benar gerak-gerik murid-murid asuhannya dulu itu. Ia memberi peringatan pada Nona Parker. "Hati-hati terhadap Alicia dan Betty.

Agaknya mereka sedang merancang sesuatu. Mungkin besok Anda akan harus berurusan dengan bau aneh, suara ganjil, atau buku-buku yang tiba-tiba saja berjatuhan."

"Terima kasih," kata Nona Parker. "Akan kuawasi keduanya."

Tetapi keesokan harinya di jam pelajaran pertama tak ada yang mencurigakan. Juga di jam pelajaran kedua. Hanya Alicia dan Betty memang tampak gelisah. Tetapi itu tak terlalu luar biasa, terutama pada Alicia yang sering kesal karena anak lain begitu lambat mengerti tentang suatu pelajaran.

Pelajaran sebelum waktu istirahat adalah pelajaran menyanyi. Tepat beberapa saat sebelum jam pelajaran kedua selesai, Betty mengacungkan tangan dan berkata "Maaf, Nona Parker, hari ini giliranku menyiapkan kelas untuk Pak Young di ruang menyanyi. Bolehkah aku keluar?"

Nona Parker melirik jam dan mengangguk. "Ya. Kau punya waktu sekitar empat menit."

Betty sesaat menyeringai cepat pada Alicia kemudian dengan langkah tenang ia keluar. Begitu berada di luar pintu, ia berlari cepat menuju ruang menyanyi. Tak ada orang di situ. Untung, Pak Young selalu terlambat dua atau tiga menit.

Betty cepat mendekati kursi piano, kursi dengan tempat duduk bulat dari kulit, dan bisa diputar-putar untuk menambah atau mengurangi tingginya. Dikeluarkannya kapur ajaibnya, dan digoreskannya hingga merata di tempat duduk itu. Ia yakin tak ada satu tempat pun yang terlewat, walaupun ia tak bisa melihat hasil goresannya. Sungguh kapur ajaib!

Kemudian diputarnya tempat duduk itu hingga terlalu rendah pagi Pak Young. Pak Young punya kebiasaan untuk menduduki dulu kursi itu dan baru memutarnya untuk mencari tinggi yang tepat baginya, bukannya memutar dulu baru mendudukinya. Kalau kali ini ia melakukan kebiasaan itu, maka kapur tadi akan bisa bekerja telak sekali padanya.

Betty menumpuk kertas-kertas musik dan membersihkan papan tulis. Kemudian terdengar derap langkah anak-anak kelas satu mendatangi. Mereka masuk dengan diantar oleh Nona Potts.

Dan setelah itu muncul anak-anak kelas dua. Mata Alicia bersinar-sinar. Betty menyeringai dan mengerdipkan mata padanya. Kemudian ia membukakan pintu, mempersilakan Nona Potts dan Nona Parker keluar, sementara Pak Young masuk.

Pak Young bertubuh kecil, berpakaian lengkap, rapi dan bersih, dengan leher baju terlalu tinggi. Dipelintirnya kumisnya dan ia membungkuk pada semua murid.

"Selamat pagi, Nona-nona!"

"Selamat pagi, Pak Young," serentak anak-anak itu menjawab, dan kemudian bergemersik suara kertas-kertas nyanyian mereka. Pelajaran dimulai. Pak Young memberi beberapa latihan dari papan tulis untuk selama lima menit, memberi keterangan tentang berbagai tanda musik yang ada. Setelah itu ia pergi ke piano.

Betty menggamit Alicia dan menahan napas. Tetapi ternyata Pak Young tidak duduk di kursi piano itu. Ia hanya memukul beberapa nada dengan satu tangan, menghadap ke murid-muridnya, sementara tangan yang lain memegang tongkat irama.

"Sekarang latihan suara," kata Pak Young. "Aku ingin kalian membuka mulut lebar-lebar, aku ingin suara kalian datang dari pangkal tenggorokan!"

Pak Young sangat percaya bahwa suara yang indah hanya bisa keluar kalau semua suara dikeluarkan dari 'pangkal tenggorokan'. Latihan apa pun, selalu 'pangkal tenggorokan' keluar.

Dan kini ia berdiri, tidak duduk di kursi piano, untuk memimpin latihan. Alicia kecewa sekali. Bagaimana kalau Pak Young tidak duduk sama sekali? Mungkin orang yang akan duduk nanti adalah pemain piano yang biasa menyertai pelajaran dansa nanti. Dan biasanya pemain piano itu memakai pakaian yang berwarna cemerlang, jadi kapur itu mungkin tak akan terlihat! Sayang sekali.

Tetapi akhirnya Pak Young duduk juga. Ada lagu baru yang akan diajarkannya, dan seperti biasanya ia memainkan lagu tersebut dua-tiga kali agar anak-anak itu bisa menangkap iramanya.

Ia duduk. Aha! Sekali lagi ternyata kursi piano terlalu rendah baginya. Pak Young memutar diri di atas kursi tersebut, cepat sekali, sampai akhirnya mencapai tinggi yang dikehendakinya. Anak-anak tertawa kecil. Pak Young seakan tak pernah merasa bahwa sungguh lucu dirinya berputar-putar di kursi tersebut.

"Kini aku akan mengajarkan sebuah lagu baru," katanya. "Kalian dengarkan baik-baik. Kalian bisa mendengarkan di mana bagian ulangan masuk, sebab aku akan menyanyikannya."

Dan mulailah ia bermain piano. Jari-jarinya bergerak lincah sekali di tuts piano, kemudian suaranya ikut mengiringi lagu itu. Alicia dan Betty saling mengerjapkan mata. Pastilah kini kapur itu sudah bekerja!

Tiga kali Pak Young memainkan lagu tadi, kemudian ia berdiri. "Bagaimana? Bagus bukan lagunya?" tanyanya pada anak-anak. "Bagus, Pak Guru!" sahut anak-anak serempak.

Pak Young pergi ke papan tulis, mengambil sebatang kapur. Dan saat itulah semua anak melihat betapa bagian belakang celananya tergores warna merah muda yang sangat cemerlang! Beberapa saat anak-anak ternganga.

"Lihat Pak Young itu! Dia tadi terkena apa? Lihatlah!"

Tak lama semua anak sudah tertawa terkikik-kikik, dan Pak Young agak bingung berpaling, berseru, "Harap diam!"

Sesaat diam. Tetapi begitu guru musik itu berpaling ke papan tulis, suara tawa terdengar lagi. Dan Irene mengeluarkan suara tawanya yang meledak luar biasa.

Pak Young berpaling dan membanting kapurnya. Tampaknya ia sangat gusar dan hendak menghentakkan kaki. Tetapi tiba-tiba pintu kelas terbuka dan Nona Grayling muncul bersama seseorang.

"Oh, maaf, aku mengganggu kelas Anda sebentar, Pak Young," kata Nona Grayling. "Tetapi bisakah Anda membicarakan piano kita dengan Pak Lemming ini?"

Pak Young terpaksa menelan kegusarannya dan menerangkan apa yang tidak beres dengan pianonya. Untuk itu ia harus membelakangi Nona Grayling dan Nona Grayling begitu tercengang melihat warna merah muda cemerlang di belakang Pak Young itu. Saat itu anak-anak sudah sunyi senyap. Alicia dan Betty berdebar-debar menunggu.

Nona Grayling berpaling pada Sally, ketua kelas kelas dua. "Tolong ambilkan sikat pakaian di ruang depan," katanya. "Agaknya Pak Young telah terkena sesuatu di pakaiannya."

Sally berlari ke luar mengambil sikat tersebut. Pak Young begitu heran mendengar, kata-kata Nona Grayling. Ia berusaha melihat apa yang terjadi dengan pakaiannya.

"Apakah terkena cat?" katanya khawatir. "Mudah-mudahan tidak! Oh, hanya kapur! Tapi bagaimana aku bisa kena kapur berwarna?"


7. 'OY!'

Segera kapur yang mengotori pakaian Pak Young disikat bersih oleh Pak Lemming yang kemudian duduk di kursi piano itu, untuk mencoba beberapa nada rendah yang diduga salah. Alicia dan Betty menahan napas. Anak-anak lain mengira bahwa suatu tipu muslihat sedang dijalankan. Mereka pun menunggu dengan berdebar-debar.

Mereka semua merasa penantian mereka tak sia-sia saat Pak Lemming berdiri dari kursinya, ia memakai jas panjang dan kini bagian belakang jas tersebut terhias oleh goresan kapur berwarna merah muda menyala! Pak Young tertegun melihatnya.

"Ah, Anda juga kena!" katanya. "Lihatlah, Nona Grayling, Pak Lemming juga terkena sesuatu di pakaiannya. Biar kini aku yang membersihkan dia!"

Walaupun di situ ada Nona Grayling, anak-anak tak bisa menahan tawa mereka. Nona Grayling tampak kebingungan.

"Jas Anda tadi bersih sewaktu datang kemari," katanya pada Pak Lemming. "Kalau Anda tergores sesuatu di luar kelas ini, pastilan aku mengetahuinya. Lagi pula di sini tak ada dinding yang berwarna merah muda begitu! Lalu bagaimana kapur merah muda itu melekat di jas Anda?"

Nona Grayling memeriksa kursi piano itu. Alicia dan Betty tak berani bernapas. Tetapi kapur ajaib itu memang ajaib. Nona Grayling sama sekali tak melihat bekas-bekasnya. Untung tak terpikir olehnya untuk mencoba duduk di kursi itu. Masih terheran-heran ia mengajak Pak Lemming pergi dan pelajaran pun diteruskan lagi.

Menjelang akhir pelajaran Pak Young duduk lagi di kursi piano. Dan ketika ia berdiri lagi, anak-anak terpaksa menyumpalkan sapu tangan ke mulut mereka agar tidak meledak tertawa! Dengan demikian Pak Young tidak curiga ada hal yang aneh pada dirinya. Dengan penuh gaya seperti biasanya, ia berjalan ke pintu, dan membungkuk memberi hormat pada murid-muridnya.

"Selamat pagi, Nona-nona," katanya, berpaling dan berjalan dengan warna begitu menyolok di celananya. Saat itu pula lonceng istirahat berbunyi. Anak-anak berhamburan ke Taman Dalam untuk melepaskan tawa mereka yang sudah tertahan sejak tadi.

"Alicia! Ini pasti hasil ulahmu! Ayo katakan, apa yang terjadi?"

"Oh, sungguh hebat! Waktu ia membelakangi kita... wah hampir mati aku menahan tawa!"

"Betty! Cepat ceritakan! Aparah ini tadi ulahmu? Bagaimana kau melakukannya? Aku periksa kursi itu, tetapi tak ada yang mencurigakan!"

"Wah, ya!" kata Betty pada Alicia. "Kita harus menggosok kursi itu dengan kain basah!" Ia segera pergi mengambil kain basah sementara anak-anak mengerumuni Alicia.

Sementara itu Pak Young berjalan di salah satu gang yang terpanjang, sama sekali tak sadar akan hiasan menyolok di belakangnya. Mam'zelle Dupont secara kebetulan keluar dari salah satu kamar di gang itu dan sesaat ia tertegun melihat bagian belakang guru yang berjalan gagah itu. Ia cepat mengejar Pak Young.

"Monsieur Young! Monsieur Young!" panggilnya.

Pak Young takut pada kedua mam'zelle itu. Ia mempercepat langkahnya, tetapi Mam'zelle juga mempercepat langkah mengejarnya.

"Monsieur, attendez, je vous prie! Tunggu sebentar! Tunggu! Anda tak bisa berkeliaran seperti itu! Sungguh buruk!"

Pak Young terpaksa berpaling, sedikit kesal. "Ada apa? Apa yang buruk?"

"Ini! Ini!" Mam'zelle menepuki tempat yang terkena kapur, yaitu tepat di pantat celana Pak Young. Debu kapur merah muda segera beterbangan, tetapi Pak Young sudah terlanjur sangat terkejut akan tindakan Mam'zelle yang sangat berani itu. Ia mencoba menghindar, namun Mam'zelle yang sangat baik hati itu telah menangkap lengannya. "Biarlah aku akan mengurus Anda, ayolah!"

Mam'zelle setengah menyeret Pak Young ke ruang depan, di mana tersedia sikat-sikat jas dan mantel. Dengan penuh kekuatan ia menyikat kapur dari celana Pak Young.

Bukannya berterima kasih, Pak Young jadi sangat marah, ia sadar apa yang terjadi dan sesungguhnya karena itulah ia marah. "Dua kali hal ini terjadi, pagi ini!" katanya keras pada Mam'zelle sambil mengacungkan tinju, seolah-olah Mam'zelle yang bersalah. Mam'zelle tentu saja ketakutan, mundur selangkah. Pak Young menyambar topinya yang tergantung di dekat tempat itu dan bergegas pergi sambil terus menggumam.

"Sungguh tidak sopan orang itu," kata Mam'zelle pada dirinya sendiri. "Aku bantu dia, tetapi dia mau meninju mukaku! Aku tak sudi berbicara dengannya lagi."

Satu-satunya anak yang melihat adegan di ruang utama ini adalah Darrell. Cepat-cepat ia bergabung dengan teman-temannya untuk menceritakan hal itu. "Aku baru saja lewat di ujung ruang depan," katanya. "Dan kulihat Mam'zelle memukuli pantat Pak Young dengan sikat pakaian! Pak Young begitu marah! Oh, Alicia! Ayo, lakukan lagi muslihatmu itu!"

Sesungguhnya tak baik untuk melakukan suatu muslihat dua kali berturut-turut. Tetapi Alicia tergoda untuk melakukannya pada Mam'zelle Dupont.

"Bagaimana?" tanyanya pada Betty. Betty mengangguk sambil tertawa geli. Anak-anak berkerumun untuk melihat kapur ajaib itu. Mereka masih kegelian bila mengingat apa yang terjadi di kelas nyanyi tadi. Dan anak-anak kelas satu pun mereka beri tahu apa yang terjadi.

Kejadian dengan kapur ajaib itu membuat anak-anak bergairah. Dan mereka menunggu kesempatan kedua untuk menyaksikan kapur tersebut beraksi.

"Siapa yang bisa menggoreskan kapur ini di kursi guru sebelum pelajaran bahasa Prancis sore ini?" tanya Betty. "Alicia dan aku tak mungkin. Kami takkan punya kesempatan untuk memasuki ruang kelas. Siapa petugas kelas?"

"Aku," kata Darrell. "Biarlah aku yang melakukan itu. Mana kapur tadi dan katakan cara penggunaannya."

Sepuluh menit sebelum waktu pelajaran sore hari, Darrell menyelinap masuk ke dalam kelasnya. Hari itu ia memang bertugas untuk merapikan kelas, menyediakan kapur, dan membersihkan papan tulis. Semua itu bisa dilakukannya sekitar satu menit, kemudian ia pergi ke kursi guru, mengeluarkan kapur ajaib tadi dari sakunya, ia sudah akan menggoreskan kapur tersebut ke alas kursi ketika tiba-tiba terpikir sesuatu olehnya.

Bagaimana kalau ia menuliskan suatu kata agar kata tersebut kemudian muncul di rok Mam'zelle? Pasti semua akan tertawa tergelak-gelak melihat itu! Tapi kata itu harus singkat, sebab tempatnya juga tak begitu banyak.

"Aku akan menulis OY," pikir Darrell, geli sendirian. "Akan kutulis terbalik dikursi, sehingga bila nanti menempel di pantat Mam'zelle, akan terbaca seolah-olah pantat itu menjerit riang! Oh, alangkah lucunya!"

Dilaksanakannya pikirannya tersebut. Ditulisnya huruf O dan Y terbalik di kursi. 'OY!' Pasti semua akan tertawa membaca kata seru itu.

Lonceng pelajaran dimulai terdengar. Darrell memasukkan kapur ajaibnya ke saku dan pergi ke tempatnya, ia tertawa terkikik sewaktu kawan-kawannya mulai masuk.

"Sudah kaugoreskan? Masih sempat?" bisik anak-anak. Darrell mengangguk. Kemudian Mam’zelle masuk, agaknya sedang riang hatinya. Pintu pun ditutup.

Mam'zelle langsung duduk. Kakinya kecil, badannya besar. Karena itulah ia tak suka terlalu lama berdiri. Anak-anak berdebar-debar menunggu. Kapankah ia akan berdiri? Darrell tak sabar menanti saat Mam'zelle berdiri dan membelakangi kelas. Apa kata teman-temannya kalau mereka melihat apa yang tertulis di belakang Mam'zelle itu?

Jean dipanggil maju ke papan tulis untuk menuliskan sesuatu. "Tulislah yang keliru," bisik Darrell. "Dengan begitu Mam'zelle akan meninggalkan kursinya untuk membetulkan tulisanmu!"

Begitulah. Heran juga Mam'zelle. Jean yang biasanya begitu teliti dalam bahasa Prancis ternyata hari ini begitu bodoh! Selalu salah apa yang ditulisnya, walaupun telah dituntun oleh Mam'zelle. Akhirnya dengan sangat kesal Mam'zelle bangun dari kursinya dan menyuruh Jean duduk.

Saat itulah seisi kelas melihat apa yang tertulis di bagian belakang Mam'zelle. Tertulis jelas dengan warna merah muda cemerlang di rok yang ketat itu kata 'OY!' Bahkan Darrell sangat terkejut melihat tulisan yang begitu menyolok itu. Ia jadi gelisah. Membuat pakaian seorang guru bernoda merah muda cerah rasanya masih bisa diterangkan karena tidak sengaja. Tetapi menuliskan sesuatu yang begitu jelas, serta di tempat yang begitu khusus, maka itu adalah suatu kekurangajaran yang mungkin tak bisa diampuni!

Seisi kelas ternganga, tak tahu harus tertawa ataukah harus ketakutan.

"Darrell! Kau sungguh gila! Bagaimana kalau dia jalan ke luar dan guru-guru lain melihatnya?" bisik Alicia. "Mestinya kau tahu bahaya tulisanmu itu!"

Benar kata Alicia. Sungguh berbahaya bila guru lain melihat tulisan 'OY!' di pantat Mam'zelle itu. Nona Parker pasti sangat marah, ia pasti menganggapnya suatu kekurangajaran yang kelewat batas terhadap seorang guru.

Tetapi bagaimana menghapusnya? Tulisan OY! merah muda cerah itu seakan-akan melambai-lambai saat Mam'zelle bergantian menulis di papan tulis dan menghadap murid-muridnya.

"Aku akan berkata pada Mam'zelle bahwa roknya terkena debu dan akan kusikat tulisan itu," bisik Darrell berjanji. "Akan kulakukan itu di akhir pelajaran ini."

Tetapi ternyata ia tak punya kesempatan untuk itu. Mam'zelle ternyata segera bergegas pergi, teringat bahwa ia sudah terlambat datang ke kelas berikutnya, kelas satu yang bersebelahan dengan kelas Darrell. Dan anak-anak kelas satu mendapat kejutan terbesar sepanjang hidup mereka saat berulang kali kata 'OY!' berkibar di hadapan mereka, setiap saat Mam'zelle menghadap ke papan tulis.

Mereka tak bisa menahan geli, tertawa terkikik-kikik sehingga Mam'zelle jadi marah. "Apa sih yang lucu?" ia bertanya kesal. "Rambutku tak rapi? Ada arang di wajahku? Sepatuku tidak sepasang?"

"Tidak, Mam'zelle!" jawab anak-anak kelas satu, hampir tak kuat menahan geli.

"Aku tidak lucu dan aku tidak merasa lucu," kata Mam'zelle marah. "Tetapi kalau kalian ribut terus, aku akan membuat suatu kelucuan. Ah, ya! Aku akan segera berkata begini — 'Seratus baris sajak Prancis harus kau, kau, kau, dan kautulis!' Aha! Lucu, bukan?"

Selesai berkata itu sekali lagi ia menghadap papan tulis sehingga tulisan OY! terlihat lagi. Anak-anak kelas satu itu saling berpegangan erat-erat untuk menahan tawa.

Betapapun, mereka merasa bahwa kata OY! itu tak boleh sampai terlihat oleh guru-guru lain. "Kita harus bisa menghapusnya sebelum ia keluar!" kata Hilda. "Kalau tidak, anak-anak kelas dua akan mendapat kesulitan! Aku yakin sesungguhnya mereka bermaksud akan menghapus tulisan tersebut tetapi tidak sempat."

Maka sebelum Mam'zelle meninggalkan ruangan kelas satu, Hilda bergegas menghadangnya dengan sopan menawarkan diri untuk menyikat roknya yang katanya terkena kapur.

"Tiens!" kata Mam'zelle, melihat roknya tetapi tak bisa melihat apa yang tertulis di belakangnya tentu. "Terima kasih! Kapur papan tulis ini sungguh jelek, selalu mengganggu pakaian. Terima kasih, Hilda, vous etes gentille! Kau sungguh baik hati!"

Ia berdiri sabar dan diam, saat Hilda dengan rajin dan keras menyikat semua kapur yang ada di roknya. Dan tulisan OY! merah muda itu pun lenyap. Kemudian ia pergi meninggalkan ruang kelas tersebut. Anak-anak kelas dua yang sudah menyelesaikan pelajaran mereka sudah menunggu Mam'zelle lewat. Mereka berharap akan sempat menyikat tulisan tadi sebelum Mam'zelle pergi ke ruang guru. Dengan perasaan lega mereka melihat bahwa rok Mam'zelle telah bersih. Mereka pun kembali ke dalam kelas dan lemas duduk di kursi masing-masing.

"Cih! Syukurlah!" kata Alicia lega. "Kita bisa-bisa dihukum berat untuk kesalahan seperti itu tadi! Potty atau si Hidung Panjang pastilah akan melapor pada Nona Grayling bila mereka melihat OY! itu.

Kau tahu betapa marahnya guru-guru kalau mereka mengira kita bersikap tak hormat pada mereka, Darrell! Kau sungguh tolol! Aku yakin-Sally-lah yang menyuruhmu berbuat seperti itu! Sungguh ketua kelas yang baik ya dia itu!"

"Tutup mulut!" tukas Darrell, merasa kesal pada dirinya sendiri dan pada anak-anak lainnya. "Sally sama sekali tak tahu apa-apa tentang hal ini. Aku memang kurang berpikir!"


8. SEMESTER BERLANGSUNG TERUS

Peristiwa kapur ajaib itu menjadi bahan pembicaraan selama beberapa hari setelah itu. Beberapa anak dari kelas-kelas tinggi diam-diam ingin sekali bisa ikut menyaksikan tulisan OY! di pantat Mam'zelle itu. Dan mereka yang mengerti latar belakangnya selalu menyeringai geli serta berbisik "OY!" di telinga Darrell setiap kali mereka berpapasan dengannya.

Agaknya semua mengira bahwa kapur ajaib itu khusus ulah Darrell seorang. Alicia dan Betty jadi cukup iri karenanya. Mengapa Darrell sendiri yang jadi pujaan anak-anak di sekolah itu sedang yang dilakukannya sebenarnya hanyalah menuliskan dua huruf itu di rok Mam'zelle dan hampir membuat seluruh kelas celaka?

Keduanya jadi bersikap dingin terhadap Darrell. Dan Darrell membalas dengan mengabaikan mereka kapan saja ia bisa. Ia tahu bahwa Alicia masih sakit hati karena yang terpilih jadi ketua kelas adalah Sally, karenanya setiap kesempatan digunakannya untuk menjelekkan Sally. Darrell yang setia pada sahabatnya tentu saja berkeberatan bila hal itu dilakukan Alicia atau Betty di dekatnya.

Lidah Alicia jadi tajam dan kejam lagi. Darrell tahu bahwa kini Alicia berusaha membuatnya begitu marah hingga tak bisa menahan diri. Namun Darrell berusaha keras untuk selalu bisa mengendalikan amarahnya, walaupun dadanya serasa akan meledak, tak tahan ejekan Alicia. Ia tak boleh marah! Tak boleh! Bila ia marah, ia pasti akan menjerit-jerit atau melempar Alicia dengan sesuatu — dan ini berarti ia berada di pihak yang salah! Kadang-kadang terasa ia hampir tak tahan, tetapi ia terus berusaha.

Dan ini membuatnya berperasaan kesal terus-menerus. Sally mencoba menenangkannya, tetapi ini malah membuat Darrell semakin kesal.

Tak tahukah kau bahwa karena kau adalah sahabatku maka aku begitu gemas terhadap Alicia?" katanya ketus. "Kalau aku yang diolok-oloknya, terserahlah, aku takkan peduli. Tetapi rasanya aku hampir tak bisa menahan diri bila mereka mengejekmu, Sally! Itu dilakukannya arena Alicia iri terhadap dirimu! Ia berbuat begitu Karena tahu aku mudah marah dan merasa pasti aku akan membelamu!"

"Kalau kau sudah tahu, maka jagalah jangan sampai kau terjebak olehnya!" kata Sally dengan bijaksana. "Itu suatu kelakuan yang tolol. Bila kau sampai tak bisa menahan diri, Alicia dan Betty dengan mudah akan membuatmu jadi bahan tertawaan seluruh isi sekolah ini!"

Ini termakan pula oleh Darrell, hingga ia selalu mengatupkan gigi rapat-rapat setiap kali Alicia dan Betty bercakap-cakap, menyindir-nyindir memancing kemarahannya.

"Sally yang tercinta!" Alicia biasa memulai percakapannya dengan Betty. "Begitu baik — tetapi membosankan! Contoh ketua kelas teladan! Bukankah begitu, Betty?"

"Oh, aku sangat setuju pada pendapatmu itu," kata Betty dengan senyum yang membuat darah Darrell menggelegak. "Betapa bagusnya ia memberi contoh pada kita. Penuh kasih, jujur... sering aku jadi malu sendiri akan semua kesalahan yang kubuat setiap kulihat Sally duduk begitu tenang dan rapi di kelas. Tak pernah melucu, tak pernah tersenyum. Sungguh seorang murid teladan!"

"Bayangkan kalau dia tidak ada, kita ini lalu harus menyontoh siapa?" Alicia tertawa, melirik Darrell untuk melihat apakah anak itu sudah hampir meledak. Kalau Darrell meninggalkan tempat itu, maka mereka akan menganggap ia kalah. Tetapi kalau ia tetap tinggal di situ. Darrell merasa ia pasti takkan kuat menahan diri lagi!

Maka di hari-hari itu hati Darrell selalu gelisah dan ingin marah saja. Dan ada anak lain yang merasakan hal serupa, gelisah dan suka marah seperti Darrell, yaitu Ellen.

Pada minggu-minggu pertama Ellen tampak tenang-tenang saja, walaupun tampak selalu khawatir. Kemudian ia berubah menjadi cepat marah. Untuk alasan yang kecil-kecil saja ia sudah membentak tajam, dan kerut di dahinya terlihat semakin dalam, hingga semakin jelas ia tampak selalu mengerutkan kening.

Jean mencoba mencari tahu apa yang menyebabkan perubahan ini. Sally sudah pernah mencobanya. Tetapi Ellen mengira Sally ingin menegurnya, maka ia langsung membentak Sally, melarangnya mencampuri urusannya. Ini tentu saja membuat ketua kelas itu tersinggung dan tak mau membicarakan tentang hal itu lagi.

"Anak aneh," kata Sally pada Darrell. "Aku tak bisa mengerti dirinya, ia memenangkan bea siswa untuk masuk sekolah ini, dan itu berarti ia luar biasa pandainya. Tetapi ternyata walaupun tiap hari ia belajar lebih giat dari kita, ia tak pernah mencapai angka tertinggi di kelas, ia bahkan tak pernah termasuk empat besar! Agaknya karena itulah ia sulit diajak berbicara dan jadi pemarah. Aku tak suka padanya."

"Aku juga," kata Darrell. "Dan tak ada gunanya kau memikirkan dia, Sally. Lebih baik kaubiarkan saja?"

"Oh, kukira tak boleh dia kita biarkan saja," kata Sally. "Semua anak patut kita perhatikan dan bila ada yang bisa kita bantu, maka kita harus membantu. Aku akan minta bantuan Jean untuk berbicara dengannya, ia duduk dekat Ellen di kelas."

Jean seorang anak yang biasanya selalu berterus terang dan melakukan apa saja secara langsung, tanpa tedeng aling-aling. Biasanya bila ia ingin tahu sesuatu, maka ia langsung menanyakan pokok persoalannya, tak peduli caranya itu mungkin bisa membuat orang sakit hati. Tetapi aneh juga bahwa saat ia menghadapi Ellen, maka siasatnya berbeda. Mungkin ini karena ia duduk di samping Ellen di kelas, dan tidur di samping tempat tidur Ellen di kamar. Dia begitu sering mendengar Ellen secara tak sadar berkeluh kesah saat melakukan pekerjaan sekolah atau saat mencoba untuk tidur.

Ia tahu bahwa Ellen sering tak bisa tidur sampai larut malam, ia menarik kesimpulan bahwa anak itu sedang mengkhawatirkan sesuatu. Mungkin bukan pelajarannya — sebab tak mungkin seseorang yang memperoleh bea siswa sampai harus merasa kesulitan tentang pelajaran. Menurut pikiran Jean, semua anak yang mendapat bea siswa pastilah anak yang luar biasa pandainya!

Jean sesungguhnya berhati lembut, walaupun tindak-tanduknya sehari-hari membuatnya kelihatan bertabiat kasar, ia mencoba memikirkan bagaimana untuk mendekati Ellen. Rasanya tak ada jalan lain kecuali bertanya secara langsung persoalan apa yang sedang dihadapi anak itu dan apakah ia bisa membantu pemecahannya.

Tetapi itu takkan mungkin bisa dilakukan. Ellen pasti akan langsung membentaknya seperti yang dilakukannya pada Sally. Maka untuk pertama kalinya Jean menangani suatu persoalan dengan membuat siasat lebih dulu, tidak tergesa-gesa seperti biasanya.

Ellen tak punya sahabat. Ia memang tak mengundang orang lain untuk bersahabat dengannya. Bahkan si Pendiam Emily juga tidak. Jean memutuskan untuk mencoba bersahabat dengan Ellen dengan cara yang tak terlalu menyolok. Ia tahu bahwa ia tak akan bisa secara paksa minta Ellen membuka rahasianya. Tetapi mungkin kalau ia bisa membuat anak itu mempercayainya sebagai seorang sahabat, mungkin Ellen akan mau mengatakan apa yang jadi persoalannya! Ini sungguh suatu yang luar biasa dalam cara berpikir anak skot ini, yang biasanya tak peduli pada apa pendapat orang lain tentang cara-caranya.

Salah satu sebabnya adalah bahwa ia merasa begitu bangga Sally minta bantuannya untuk mencoba menangani Ellen sebab dirinya sendiri telah gagal. Maka tanpa diketahui oleh Ellen, Jean mulai berbuat baik dan memberi bantuan-bantuan kecil kepadanya.

Jean menghabiskan waktu lama sekali untuk membantu Ellen mencari sepatu olahraganya yang hilang, ia menghibur Ellen saat potret ayah-ibu Ellen jatuh dari meja dan bingkainya pecah. Ia bahkan menawarkan diri untuk mencari ganti kaca bingkai itu. ia membantu Ellen mengeringkan rambutnya ketika anak itu selesai keramas. Beberapa bantuan kecil yang tak disadari oleh anak-anak lain, juga Ellen pada mulanya.

Dan memang lambat-laun Ellen tumbuh juga percayanya pada anak Skot yang cerdik ini. Ia mulai mau berkata pada Jean bila ia jedang sakit kepala, walaupun ia menolak tegas usul Jean untuk memeriksakannya pada Ibu Asrama, ia juga tak pernah lagi membentak Jean, walaupun anak-anak lain masih dibentakinya — kecuali Marry-Lou. Dan memang, tentang Mary-Lou, hanya anak yang berhati sangat jahat saja yang tega membentak si Kecil itu.

Ada saat-saat di mana Ellen sangat mengganggu teman-temannya., "Aku yakin ia terkena apa yang dikatakan ibuku 'sakit syaraf," kata Alicia suatu malam. "Sedikit-sedikit terkejut, sedikit-sedikit keliru bertindak, sedikit-sedikit membentak orang — lihat itu, cemberut pada keranjang jahitannya seolah-olah keranjang itu baru menggigitnya!"

Kalau ada seseorang yang lewat terlalu dekat dengannya dan menyinggung lengannya, langsung saja Ellen terlonjak dari tempat duduknya dan membentak "Awas! Tak dapatkah kau melihat ke mana kau pergi?"

Kalau ada seseorang menyela berkata sesuatu padanya saat ia sedang membaca buku, maka dihempaskannya bukunya itu ke meja dan ia melotot marah, membentak, "Tak tahukah kau aku sedang membaca? Apakah di sini tak ada yang bisa diam sedikit pun?"

"Kau kan tak membaca," tukas Darrell. "Kulihat tak sekali pun kau membuka lembaran buku itu sejak kau mengambilnya tadi!"

"Oh, jadi kau mengawasi aku, ya?" tanya Ellen, dan tiba-tiba matanya bergenang air mata, dan dengan geram ia meninggalkan ruangan itu, membanting pintunya.

"Jahat sekali dia! Bagaikan kucing saja, langsung mencakar bila diganggu!"

"Alangkah baiknya bila ia memenangkan bea siswa untuk pergi ke sekolah lainnya saja!"

"Selalu pura-pura membaca dan belajar, tetapi nilainya terus-menerus turun tiap minggu! Munafik!"

"Oh, mungkin ada yang dipikirkannya, mungkin ia tak merasa bahagia di sini, mungkin ia belum bisa menyesuaikan diri dengan keadaan di sini," ini pasti ucapan Jean, dan Sally tersenyum setuju padanya. Jean memang melakukan suatu tugas yang tak mungkin berhasil, tetapi agaknya ia tak kenal putus asa!

Saat itu cuaca memburuk, pertandingan lacrosse terpaksa dibatalkan. Demikian. juga acara jalan-jalan lintas alam, sebab daerah di sekitar sekolah itu telah penuh lumpur. Anak-anak jadi gelisah, begitu lama mereka terkurung di dalam gedung saja. Begitu gelisah anak-anak itu, sehingga akhirnya guru-guru memutuskan untuk melakukan juga jalan-jalan lintas alam tersebut, tak peduli cuaca baik atau buruk, keesokan harinya.

Semua mengeluh. Hujan turun dengan sangat deras. Langit hitam berawan tebal. Lapangan untuk bermain lacrosse separuh terendam di bawah air. Entah bagaimana jalan-jalan setapak yang harus mereka lalui. Lautan mengamuk, angin bertiup begitu kencang di atas tebing, sehingga anak-anak dilarang mendekati tebing itu, takut kalau-kalau terlempar ke laut.

Gwendoline dan Daphne paling keras mengeluh. Gwendoline menyedot-nyedot hidung terus, seolah-olah pilek berat, ia berharap Nona Parker akan mengiranya sakit pilek dan membebaskan dirinya dari acara jalan-jalan itu. Tetapi Nona Parker telah diberi peringatan oleh Potty tentang ulah Gwendoline. Maka ia sama sekali tak tertarik pada anak itu.

"Kalau sekali lagi kau menyedot hidung, maka kau harus keluar dan menyedot hidung sepuasmu di gang," kata Nona Parker. "Aku paling tak tahan mendengar orang menyedot hidung. Menjijikkan, tak ada gunanya, dan pada dirimu, mungkin itu hanya pura-pura saja."

Gwendoline merah mukanya. Mengapa di sini tak ada guru-guru seperti Nona Winters di rumah. Nona Winters selalu langsung mencari termometer begitu Gwendoline terdengar batuk, betapapun lemahnya. Nona Winters pasti tak akan bermimpi untuk menyuruhnya jalan-jalan di cuaca yang begini ganas ini.

Tetapi Gwendoline tak berani menyedot hidung lagi. Gemas sekali ia ketika melihat Darrell menyeringai padanya. Dengan rasa iba Daphne menatap Gwendoline. Sesungguhnya ia tak peduli apa yang terjadi pada Gwendoline. Tetapi ia tahu bahwa hal itu harus dilakukannya. Gwendoline sangat suka bila merasa ada seseorang yang iba pada dirinya.

Daphne sendiri mencoba siasat lain untuk bisa bebas dari tugas jalan-jalan itu. Ia sama sekali tak berminat untuk jalan-jalan sepanjang beberapa kilometer dengan kaki terbenam di lumpur. Karena itu ia pergi ke Mam'zelle Dupont membawa buku pekerjaannya. Ditampilkannya senyumnya yang paling manis saat sore itu ia mengetuk pintu ruang kecil yang menjadi tempat tinggal Nona Potts dan Mam'zelle. Mudah-mudahan Potty sedang tak ada di situ. Potty agaknya selalu merasa terganggu bila Daphne muncul.

Untunglah Potty tak ada. Mam'zelle sendiri yang membukakan pintu. "Ah, ternyata kau, ma petite Daphne!" serunya menyambut kedatangan murid tersayangnya dengan senyum semanis senyum Daphne dan merangkul anak itu. "Ada sesuatu yang ingin kaukatakan padaku? Kau tak mengerti sesuatu, ya?"

"Begini, Mam'zelle, aku sungguh sangat kebingungan mengerjakan kalimat ini," kata Daphne. Rasanya aku memang harus memperoleh pelajaran tambahan. Kalau Anda punya banyak waktu terluang, mungkin Anda mau mengajariku. Aku ingin sekali bisa berbahasa Prancis."

"Tetapi bahasa Prancismu akhir-akhir ini membaik," seru Mam'zelle dengan wajah berseri-seri, tak tahu bahwa sebagian besar tugas Daphne dikerjakan oleh Mary-Lou. "Aku cukup bangga atas kemajuanmu."

Daphne tersenyum lagi dan hati Mam'zelle luluh seketika. Ah, si Cantik Daphne ini! Dipeluknya anak tersebut dan ia berbisik, "Ya, ya, kau pasti bisa memperoleh pelajaran tambahan dariku," katanya. "Kita akan membetulkan kalimat-kalimat ini, bukan? Kau bisa mulai sekarang, Mungil?"

“Sayang sekali tidak, Mam'zelle," kata Daphne. "Tetapi aku bisa melepaskan kesempatan indah untuk jalan-jalan besok itu. Memang sayang sekali kalau kesempatan itu tak kugunakan, tetapi tak apalah demi bahasa Prancisku. Mungkin Anda bisa menerima aku besok? Itulah satu-satunya waktuku yang terluang."

"Oh, baik sekali kau, Anakku. Sampai mengorbankan saat jalan-jalan yang begitu digemari anak-anak Inggris!" seru Mam'zelle yang menganggap semua kegiatan jalan-jalan adalah suatu kegiatan yang tolol. "Ya, baiklah! Aku bisa menerimamu besok. Akan kukatakan pada Nona Parker. Kau sungguh murid yang sangat baik, Daphne. Aku sungguh senang punya murid seperti kau."

"Terima kasih, Mam'zelle," kata Daphne kegirangan, dan tersenyum sangat manis padanya sambil dengan perasaan lega meninggalkan ruangan itu.


9. DAPHNE SANGAT KECEWA

Nona Parker sungguh terkejut dan tersinggung ketika mendengar bahwa Mam'zelle minta agar Daphne tak usah ikut jalan-jalan, dan akan memperoleh pelajaran khusus dalam bahasa Prancis.

'Tetapi mengapa Daphne tiba-tiba sangat tertarik pada bahasa Prancis?" tanyanya gusar pada guru bahasa Prancis itu. “Ia justru memerlukan jalan-jalan, ya, bahkan di jalan yang berlumpur! Dengan begitu mungkin keangkuhan dan gaya nona besarnya bisa sedikit lenyap. Berilah ia pelajaran tambahan lain kali saja, Mam'zelle!"

Tetapi Mam'zelle keras kepala, ia juga tak suka pada Nona Parker yang hidungnya terlalu besar. Dimoncongkannya mulutnya dan ia menggelengkan kepala. "Aku tak bisa menerima Daphne di waktu yang lain," katanya. "Sungguh besar pengorbanannya, tak ikut jalan-jalan untuk memperbaiki bahasa Prancisnya! Bukankah itu suatu hal yang bagus?"

Nona Parker membuat suara yang menyatakan ia tak percaya pada kata-kata Mam'zelle. Ini membuat Mam'zelle makin tak suka padanya. "Dia hanya ingin tak ikut jalan-jalan itu, Mam'zelle," kata Nona Parker. "Sungguh buruk akibatnya bila kita membiarkan saja dia mendapatkan apa yang dimauinya secara itu. Banyak kali ia lolos dari hal-hal yang tak disukainya, dengan cara-cara yang aku sama sekali tak setuju. Cara-cara yang sangat licik!"

Mam'zelle membela anak emasnya mati-matian, dan bahkan mulai melebih-lebihkan. "Nona Parker! Anda mestinya tahu bahwa anak itu sesungguhnya sangat ingin ikut jalan-jalan! Ah, betapa senangnya baginya untuk bisa berjalan-jalan di tanah berlumpur musim gugur! Ah, betapa senangnya bisa menghirup udara laut yang begitu segar setelah sekian lama terkurung! Tetapi Daphne mengorbankan semua kesenangan itu! Mestinya ia dipuji! Bukannya malah ditegur! Ia akan bersusah payah belajar denganku sementara kalian bergembira ria di udara bebas!"

"Yah, ia takkan mungkin begitu mudah menipu Mam'zelle Rougier seperti ia mengelabui Anda!" Nona Parker jadi gusar juga kini. “Ia telah menguasai Anda!"

"Aku harus buat perhitungan dengan Mam'zelle Rougier," kata Mam'zelle Dupont sangat murka. "Bukan hanya sekali, tetapi dua, tiga-empat kali! Aku tak mau ia mengeluarkan laporan yang tidak-tidak tentang Daphne yang kini telah begitu maju dalam bahasa Prancis."

"Sudahlah, tak usah dibicarakan lagi hal ini!" kata Nona Parker akhirnya, begitu bosan ia membicarakan Daphne. "Kalau Anda ingin mengamuk pada Mam'zelle Rougier, silakan. Aku tak peduli. Kecuali bahwa aku yakin ia telah mengelabui kita, maka sesungguhnya aku senang ia tak ikut jalan-jalan. Ia akan merusak suasana dengan keluhannya yang pasti tak akan habis-habisnya!

Daphne tak bisa menahan diri untuk tidak menceritakan bagaimana ia lolos dari keharusan mengikuti jalan-jalan lintas alam itu. Gwendoline begitu iri, menyesal mengapa ia tak punya pikiran untuk berbuat serupa itu. Anak-anak lain terang-terangan merasa jijik oleh siasat licik tersebut.

"Bayangkan sampai berbuat seperti itu hanya untuk bisa tidak ikut jalan-jalan!" kata Darrell. "Padahal akan sangat menyenangkan berjalan mencipratkan lumpur dan air dengan sepatu karet tinggi kita! Yah, kalau kau ingin menghabiskan waktumu mengerjakan kata-kata kerja Prancis, ya terserahlah! Sungguh pantas kalau kau selicik itu, Daphne!"

Tetapi ternyata jalan-jalan lintas alam itu dibatalkan! Angin bertiup jadi badai, dan Nona Parker merasa terlalu berbahaya untuk melanjutkan rencananya. Anak-anak sedang memakai jas hujan serta sepatu karet tinggi mereka saat Nona Parker mendatangi mereka di ruang penyimpanan pakaian luar. Saat itu Daphne sudah berangkat ke tempat Mam'zelle dengan membawa buku-buku Prancisnya.

"Anak-anak, maaf! Tetapi angin telah menjadi badai," kata Nona Parker. "Acara jalan-jalan terpaksa dibatalkan. Sebagai obat kecewa, maka kita semua akan berkumpul di ruang senam. Sore ini akan kita isi dengan berbagai permainan, dan Ibu Asrama akan menyediakan kue-kue dan makanan ringan untuk kita di tempat itu... asal kalian membantunya membawa makanan itu ke sana."

Anak-anak bersorak gembira. Sore yang penuh permainan gembira — lomba lari, pertandingan, tertawa, berteriak-teriak — ditambah dengan makanan-makanan kecil di lantai ruang senam! Sungguh luar biasa!

Ibu Asrama juga membuat suatu kejutan — dua botol madu dan empat kue coklat raksasa sebagai tambahan! Anak-anak begitu gembira!

"Bagaimana dengan Daphne, Nona Parker?" tanya Mary-Lou, teringat bahwa Daphne sedang bersama Mam'zelle. "Bolehkah aku memanggilnya?"

"Tolol!" desis Alicia. "Masa untuk kegembiraan seperti ini teringat pada Daphne. Biar saja dia tak sempat mengikuti ini semua! Awas Mary-Lou nanti!"

Nona Parker memperhatikan muka kecil Mary-Lou yang tampak betul-betul mengkhawatirkan Daphne. Gntuk kesekian kalinya Nona Parker bertanya dalam hati, mengapa Mary-Lou begitu memperhatikan Daphne, padahal ia punya dua orang sahabat seperti Darrell dan Sally.

"Oh, Mary-Lou, kita tak boleh mengganggu Daphne," kata Nona Parker dengan suara nyaring sehingga semua mendengarnya, “Ia sangat ingin memperoleh pelajaran tambahan, begitulah kata Mam'zelle. Ia telah berkorban, tak usah ikut jalan-jalan asal bisa dapat pelajaran tambahan itu. Pastilah ia juga mau mengorbankan kesempatan untuk bermain bersama dan berpiknik, di dalam ruangan ini. Kita tak boleh mengganggunya. Bila ada seorang murid yang serajin itu, maka amatlah sayang kalau kita mengganggunya, bukan?"

Mary-Lou adalah satu-satunya yang tidak mengerti sindiran Nona Parker. Anak-anak lain langsung tertawa keras. Nona Parker juga tersenyum.

"Puas!" kata Alicia. "Setimpal dengan kemalasannya!"

Ramai sekali permainan mereka, sehingga semua merasa lelah dan haus. Kemudian semua istirahat dan makan makanan ringan yang lezat luar biasa. Sekejap saja kue-kue lezat yang terhidang segera lenyap.

Daphne muncul pada saat potongan terakhir kue-kue itu lenyap di dalam mulut seorang anak. Sore itu ia merasa sangat bosan sebab ternyata Mam'zelle menganggapnya betul-betul sangat ingin belajar. Karenanya Mam'zelle memberinya pelajaran yang sangat dalam tentang kata-kata kerja bahasa Prancis. Daphne diharuskannya mengulangi setiap patah kata berulang kali, dibetulkannya setiap pengucapannya dengan sangat teliti, bahkan berulang kali disuruhnya Daphne menuliskan kata-kata tersebut.

Separuh pelajaran Daphne sudah putus asa. Rasanya lebih baik susah payah berjalan-jalan daripada mendapat pelajaran seperti itu. Tadinya dikiranya Mam'zelle hanya akan mengajaknya bercakap-cakap ringan saja, serta enak-enakan duduk-duduk di tempat hangat sambil makan makanan kecil. Tetapi ternyata walaupun Mam'zelle sangat menyukai Daphne, ia bersikeras untuk menjalankan tugasnya sebagai seorang guru yang baik. Maka dipaksanya Daphne belajar terus. Dan ketika dengan lemah Daphne mencoba mengundurkan diri dengan alasan ia sudah cukup lama mengganggu Mam'zelle, maka serta-merta Mam'zelle mengatakan bahwa ia tak merasa diganggu, malah senang sekali memberi pelajaran pada Daphne. Daphne kemudian mengajukan alasan bahwa mungkin anak-anak lain sudah datang, dan Mam'zelle berkata kalau mereka sudah datang, pasti suara mereka terdengar.

"Kita pasti mendengar suara mereka," kata Mam'zelle, sama sekali tak tahu bahwa anak-anak tak jadi jalan-jalan. "Begitu terdengar suara mereka, kau boleh segera bergabung dengan mereka, Sayang. Kau bisa makan dengan mereka di ruang makan. Jika kita sudah selesai mengerjakan sesuatu yang baik, pasti selera makan kita bertambah."

Tetapi setelah menunggu sekian lama, heran juga Mam'zelle karena tak terdengar suara anak-anak kembali. Akhirnya ia menyuruh Daphne untuk menengok apakah kawan-kawannya sudah datang atau belum. Hampir menangis Daphne waktu mengetahui ternyata teman-temannya baru saja selesai bergembira ria, baru saja makan makanan yang enak-enak.

"Kalian jahat sekali!" serunya marah. "Kalian tak jadi jalan-jalan, ya! Dan kalian sudah makan mendului aku!"

"Kami tak berani mengganggu pelajaran bahasa Prancis yang sangat kausukai itu," kata Alicia, menyeringai. "Dan Nona Parker tercinta juga setuju akan hal itu. Ia merasa sayang kalau kau sampai kecewa karena terganggu pelajaran tambahanmu itu."

Dengan marah Daphne menatap Gwendoline. "Mestinya kau bisa menyusulku," katanya. "Kan mudah bagimu untuk menyelinap ke luar dan memberi tahu aku tentang ini."

"Satu-satunya yang teringat untuk memberi tahumu hanyalah Mary-Lou," kata Sally. “Ia bahkan berani minta pada Nona Parker agar kau diberi tahu. Mary-Lou tidak percaya bahwa pelajaran bahasa Prancis lebih menyenangkan daripada jalan-jalan atau bermain-main!"

Daphne berpaling pada Mary-Lou dan merasa sangat berterima kasih pada anak bertubuh kecil itu. Bahkan Gwendoline, sahabatnya, tidak berusaha untuk menjemput dia dari pelajaran bahasa Prancis yang menyebalkan itu. Tetapi Mary-Lou telah berani maju mengusulkannya pada Nona Parker! Betapa setianya Mary-Lou.

"Terima kasih, Mary-Lou," kata Daphne dengan senyum manisnya. "Aku takkan lupa itu. Kau sungguh baik."

Mulai saat itu si Sombong yang selalu mementingkan diri sendiri dan tak bisa dipercaya itu bersikap baik sekali terhadap Mary-Lou. Tidak hanya karena Mary-Lou selalu membantunya dalam bahasa Prancis, tetapi karena Daphne betul-betul menyukai dan mengagumi si Kecil itu! Belum pernah Daphne menyukai seseorang karena sifat baik orang itu.

Mary-Lou tentu saja sangat gembira. Ia betul-betul jatuh dalam pesona Daphne. Pikirannya terlalu sederhana untuk bisa menemukan kesalahan dalam pribadi gadis cantik itu. Ia merasa sangat bahagia bila bisa berada di dekat Daphne, bila bisa memberi bantuan apa saja. Ia bahkan tak melihat bahwa bantuannya pada Daphne sudah menjurus ke kecurangan, sebab sering ia tidak saja membantu, tetapi malah mengerjakan pekerjaan rumah Daphne seluruhnya!

Gwendoline mulai merasa iri pada Mary-Lou sebab ia merasa bahwa Daphne kini betul-betul menyukai anak itu. Tetapi Daphne hanya tertawa bila Gwendoline mengatakan hal ini padanya.

"Kau tahu, aku hanya memperalat dia," kata Daphne. "Jangan tolol, Gwendoline. Kaulah sahabatku dan aku tak akan memilih yang lain. Tak ada yang kusukai dalam diri Mary-Lou. Ia hanyalah anak yang terlalu sederhana dan tolol!"

Untung Mary-Lou tidak mendengar hal ini. Kalau dengar, pastilah sangat sakit hatinya, ia merasa bahagia karena ia merasa Daphne betul-betul menyukainya. Sering ia berbaring di tempat tidur, melamunkan betapa indah rambut Daphne, betapa manis senyumnya. Alangkah senangnya kalau ia bisa secantik itu. Tetapi itu pastilah tidak mungkin.

Daphne tidak bisa memaafkan anak-anak lain yang begitu tega tidak memberitahukan padanya bahwa acara jalan-jalan tidak jadi. Ia bahkan bersikap dingin pada Gwendoline. Gwendoline takut sekali kalau-kalau Daphne meninggalkannya, ia berusaha sekuat tenaga untuk menunjukkan bahwa ia cukup setia pada Daphne, bahwa ia masih suka sekali mendengar cerita-cerita Daphne tentang kekayaan keluarganya yang luar biasa itu.

Sally mendengar salah satu cerita Daphne itu suatu malam. Saat itu ia duduk di dekat tirai di ruang rekreasi, dan Daphne serta Gwendoline tak melihatnya.

"Pernahkah aku bercerita padamu tentang saat Ibu mengadakan pesta di kapal pesiar kami dan aku duduk di samping sang pangeran waktu makan malam?" tanya Daphne.

"Apakah kau diizinkan untuk tidak tidur sampai waktu makan malam?" tanya Gwendoline. "Dan apa yang bisa kaubicarakan dengan sang pangeran?"

"Oh, yah, aku tak bicara banyak — sang pangeran agaknya sangat kagum akan rambutku. Dialah yang bicara banyak tentang itu," kata Daphne, mulai memperindah dongengnya. "Aku terjaga sampai jam satu malam itu. Kapal pesiar kami sangat indah, dihiasi lampu-lampu kecil. Kata orang-orang di daratan, kapal itu sangat mirip kapal dari negeri dongeng!"

"Kau memakai pakaian apa?" tanya Gwendoline.

"Oh, gaun pesta putih, lembut, berkembang lebar dengan taburan mutiara," kata Daphne. "Harganya ratusan poundl"

Gwendoline ternganga. "Di mana gaun itu sekarang?"

"Oh, aku tak boleh membawa barang-barang berharga ke sekolah ini," kata Daphne. "Ibu sangat tegas dalam hal seperti itu. Aku tak bawa barang-barang perhiasan atau gaun-gaun mahal. Seperti kau juga, kan?"

"Ya, benar juga. Ibumu sungguh bijaksana," kata Gwendoline.

Sally begitu mual akan bualan Daphne itu. Ia menyelinap masuk. "Sungguh sayang ibumu tidak membekalimu dengan tongkat lacrosse, Daphne, hingga kau selalu pinjam punya anak lain. Dan kau mestinya bawa sepatu lebih dari sepasang serta bawa kertas surat yang lebih banyak Dengan begitu kau tidak selalu harus pinjam atau minta dari anak-anak lain! Mestinya kau tak usah punya kapal pesiar, tak usah punya terlalu banyak mobil. Aku sudah akan kagum padamu kalau kau punya banyak amplop dan prangko, Daphne!"

Daphne tampak sangat gusar. "Jangan ikut campur urusanku!" katanya. "Aku tak berbicara padamu!"

"Ini urusanku," kata Sally tegas. "Kau selalu meminjam atau minta pada anak-anak lain, dan tak pernah membayar kembali hutang-hutangmu!. Kalau kau begitu kaya, maka lebih baik kaugunakan uang sakumu untuk membeli barang-barang yang kaupinjam itu!"

Sialan!" maki Daphne setelah Sally keluar, ia pasti sangat iri padaku, hanya karena orang tuanya tidak sekaya orang tuaku!"


10. ANTARA DUA MAM'ZELLE

Hari libur tengah semester tiba. Sally dan Darrell pergi bersenang-senang bersama ayah-ibu Darrell sehari itu. Gwendoline sangat kecewa ketika ayah-ibu Daphne tidak datang, jadi tak ada kesempatan untuk makan di restoran besar atau bepergian dengan mobil mewah.

"Aku ingin sekali melihat ibumu," kata Gwendoline. “Ia tampak cantik sekali di potretnya."

Di meja rias Daphne terdapat sebuah potret seorang wanita yang sangat cantik, dengan gaun anggun dan kalung berlian berkilauan di lehernya. Semua anak kagum akan potret itu.

"Kau tampaknya tak mirip dengan ibumu," kata Darrell setelah meneliti potret tersebut. "Mata ibumu agak jauh terpisah, sedang matamu begitu dekat. Dan hidungmu tidak mirip dengan hidungnya."

"Kan tidak semua orang mirip dengan ibunya," kata Daphne. "Aku lebih mirip keluarga ayahku. Aku punya seorang bibi yang sangat-sangat cantik!"

"Dan mungkin kau mengira dirimu sangat mirip dia kan, Daphne?" kata Jean dengan suaranya yang tenang penuh arti. "Bagaimana rasanya punya sanak saudara yang cantik-cantik, ya? Ibuku mukanya biasa saja, tetapi aku rasa dia adalah ibu yang paling pengasih di dunia ini. Dan ayahku lumayan buruknya, bibi-bibiku mirip dengan aku — sederhana semua. Tetapi aku tak peduli. Semua keluargaku periang dan aku mencintai mereka semuanya."

Gwendoline telah minta pada Daphne untuk bersamanya di hari libur tengah semester. Daphne setuju. Dan Nyonya Lacey, ibu Gwendoline, sangat terpesona oleh anak cantik dengan senyum memukau ini. Dan Nona Winters, guru pribadi Gwendoline yang dengan setia selalu mengunjungi murid kesayangannya tiap tengah semester, begitu terpukau pada Daphne sehingga Gwendoline merasa iri dan gusar.

"Sungguh cantik sahabatmu itu," kata Nyonya Lacey pada Gwendoline, "dan begitu manis tingkah lakunya. Pastilah keluarganya sangat kaya, punya kapal pesiar dan begitu ibanyak mobil. Alangkah senangnya kau kalau bisa tinggal dengannya selama liburan yang akan datang."

"Sssh, Ibu," tukas Gwendoline, takut kalau Daphne dengar. Tetapi Daphne sedang sibuk memikat Nona Winters. Ia juga mengangkat-angkat Gwendoline, mengatakan betapa sahabatnya itu sangat pandai di kelas, selalu jadi kesayangan semua guru.

Nyonya Lacey mendengarkan dengan bangga dan gembira. "Wah, kau tak pernah mengatakan semua ini padaku dalam surat-suratmu, Gwen," katanya. "Kau begitu rendah hati!"

Gwendoline malu sendiri dan berharap Daphne tidak keterlaluan memuji-muji dia — ini sangat bahaya bila ia menerima rapor nanti dan ternyata nilainya tidak sesuai dengan apa yang telah dikatakan Daphne.

Belinda dan Irene pergi berdua, keduanya lupa memakai topi dan ketika kembali sama-sama kehilangan sarung tangan. Mereka berdua pergi dengan ayah-ibu Belinda yang ternyata sama pelupanya seperti Belinda — keduanya lupa jalan ke Malory Towers sehingga baru muncul satu jam lewat batas waktu yang telah ditentukan. Nona Parker gusar juga karena hal ini, sebab baginya pembagian waktu sangatlah penting. Tetapi baik Belinda maupun Irene sama sekali tak mengerti bahwa wali kelas mereka merasa gusar. Sambil terus berceloteh gembira, mereka kembali ke asrama.

Alicia dan Betty bepergian bersama tentu, dan mereka kembali sambil terus-menerus tertawa terpingkal-pingkal. Agaknya seorang kakak laki-laki Alicia ikut datang dan banyak bercerita tentang kelucuan di sekolahnya.

Semua merasa heran ketika ternyata Jean mengajak Ellen yang bersifat pemarah itu. Mula-mula dengan kasar Ellen menolak — tetapi kemudian setuju. Tetapi bagi Jean, sertanya Ellen membuat suasana tidak begitu menyenangkan. Ellen tak bisa diajak bercakap-cakap dan bahkan bersikap dingin terhadap ayah-ibu Jean. Jean sangat menyesal telah mengajaknya.

"Paling sedikit kau bisa pura-pura tersenyum, Ellen," kata Jean sewaktu mereka pulang dari jalan-jalan itu. "Kau tak banyak bicara dan bahkan tidak tersenyum sedikit pun, padahal ayahku berusaha keras melucu... dan memang sangat lucu ceritanya!"

"Kalau begitu lain kali jangan ajak aku!" tukas Ellen dan dengan gusar meninggalkan Jean. Sekilas Jean melihat mata Ellen berlinang air mata. Anak aneh. Bicara sedikit saja sudah membuatnya sedemikian tersinggung. Jean merasa bahwa tugasnya untuk berbaik dengan Ellen agaknya tugas yang sangat berat.

"Kini kita tinggal menunggu libur Natal," kata Darrell puas. "Tengah semester sudah lewat."

"Tapi sebelum itu kita harus berjuang keras untuk menguasai kedua drama bahasa Prancis itu," keluh Alicia. "Entah bagaimana kedua mam'zelle kita bisa memilih lakon-lakon yang sangat sulit itu! Dan lagi, siapa yang akan menonton kita memainkan drama berbahasa Prancis?"

Di akhir semester tiap kelas diharuskan mengadakan suatu pertunjukan. Sesuai dengan hasil undian, maka kelas dua ditugaskan untuk mempertunjukkan dua buah drama bahasa Prancis. Satu dipilih oleh Mam'zelle Dupont, satunya oleh Mam'zelle Rougier.

Dalam memilih pemain untuk tokoh-tokoh penting di kedua drama itulah kedua mam'zelle tersebut hampir saja berkelahi.

Di salah satu lakon terdapat putri — Putri Hati Tulus. Di lakon lainnya terdapat tokoh malaikat — Malaikat Kebaikan. Mam'zelle Dupont ingin anak emasnya, Daphne, memainkan kedua peran tersebut, ia membayangkan, betapa anak yang begitu cantik dengan rambut emasnya yang indah akan sangat cocok untuk menjadi seorang putri — ah, pasti mempesona para penonton! Dan sebagai malaikat— rasanya tak akan ada yang lebih cocok daripada Daphne yang memang berwajah malaikat itu.

Tetapi sayang sekali Mam'zelle Rougier berpendapat lain. "Apa? Memilih si Tolol Daphne itu untuk peran-peran besar tersebut?" tukasnya, “Ia pasti takkan bisa mengucapkan satu kalimat pun dengan benar. Ucapan bahasa Prancisnya sungguh memalukan! Kau sendiri tahu hal itu. Aku tak mau anak itu memainkan peran penting apa pun!"

"Ah, tetapi wajahnya sangat cocok untuk kedua peran tersebut!" kata Mam'zelle Dupont sambil melambaikan kedua tangannya untuk memberi tekanan pada kata-katanya. "Ia mirip sekali dengan putri, dan bila ia tersenyum, maka senyumnya mirip senyum malaikat!''-

"Bah!" kata Mam'zelle tak sopan. "Itu karena dia anak emasmu, murid kesayanganmu! Sally yang paling cocok untuk peran itu. Ia bisa mempelajari perannya, dan ucapannya juga baik. Atau Darrell. Atau bahkan si Kecil Mary-Lou! Ia jauh lebih baik daripada Daphne, sebab ia bisa bercakap-cakap dalam bahasa Prancis dengan pengucapan yang tepat dan lancar."

"Anda gila!" seru Mam'zelle Dupont. "Tak seorang pun yang Anda sebutkan tadi yang cocok untuk memainkan peran-peran itu. Aku minta agar Daphne yang dipilih!"

"Kalau begitu aku tak mau ikut campur menyiapkan drama ini!" kata Mam'zelle Rougier dengan tegas. "Tak baik untuk selalu menuruti kehendakmu, Mam'zelle Dupont! Anda selalu main anak-anak emasan. Jangan paksakan itu padaku!"

"Aku tak main anak emas!" seru Mam'zelle Dupont, menghentakkan kaki. "Aku menyukai semua murid, tak pilih kasih!"

Mam'zelle Rougier mendengus marah dan tak percaya. "Kalau begitu hanya Andalah yang berpendapat seperti itu," katanya. "Aku tak mau bicara lagi tentang anak setolol Daphne itu!"

Dengan geram Mam'zelle Rougier meninggalkan tempat itu, berjalan kaku bagaikan tongkat kayu dengan tubuhnya yang tinggi kurus. Mam'zelle Dupont yang pendek gemuk jadi sangat marah. Masa ia dituduh pilih kasih! Berani benar Mam'zelle Rougier berkata seperti itu. Ia takkan mau berbicara dengan Mam'zelle Rougier lagi. Ia akan meninggalkan Malory Towers dan pulang saja ke Prancis yang dicintainya, ia akan menulis di surat kabar tentang perlakuan yang didapatnya di sini. Ia menggeram-geram bagaikan anjing memikirkan itu semua. Dan ini membuat Nona Potts sangat terkejut sewaktu ia masuk ke kamar itu.

"Apakah Anda sakit, Mam'zelle?" tanyanya, agak khawatir melihat mata merah melotot guru bahasa Prancis itu.

"Aku sakit hati! Aku telah dihina!" teriak Mam'zelle Dupont. "Aku tidak boleh memilih sendiri anak-anak yang akan berperan di dramaku! Mam'zelle Rougier tidak setuju kalau aku memilih si Cantik Daphne untuk peran sang putri, ia bahkan melarang aku — Mam'zelle Dupont — untuk memilihnya menjadi Malaikat Kebaikan!"

"Dalam hal itu aku sependapat dengan Mam'zelle Rougier," kata Nona Potts, duduk di mejanya dan mengatur beberapa kertas. "Daphne bagiku memang tampak selalu bermuka dua, jadi tak pantas jadi malaikat."

"Anda juga berkomplot untuk memusuhiku!" seru Mam'zelle Dupont semakin garang. "Anda juga! Ah, orang-orang Inggris ini betul-betul keterlaluan! Tak punya hati, tak punya perasaan!"

Nona Potts sangat gembira ketika mendengar ketukan di pintu, sebab ini mungkin bisa menghindarkannya dari pertengkaran dengan mam'zelle itu. Ternyata yang masuk adalah Ibu Asrama, tersenyum dan berkata, "Bisakah aku bicara sedikit dengan Anda, Mam'zelle?"

"Tidak!" teriak Mam'zelle. "Aku sedang gusar! Jantungku berdebar-debar begitu keras! Tetapi akan kukatakan pada semua orang bahwa aku akan memilih siapa pun yang aku sukai! Ahhhhh!"

Dan sambil menggeram seperti anjing lagi, Mam'zelle Dupont meninggalkan ruang itu dengan marah, membuat Ibu Asrama terpaku heran.

"Apa yang dibicarakannya tadi?" ia bertanya pada Nona Potts.

"Oh, ia sedang bertengkar dengan mam'zelle satunya," kata Nona Potts, mulai memeriksa kertas pekerjaan murid-muridnya. "Mereka memang sering bentrok. Tetapi kali ini agaknya cukup berat juga persoalannya. Mudah-mudahan mereka bisa menyelesaikan sendiri keruwetan ini."

Mam'zelle Dupont dan Mam'zelle Rougier bergantian melatih anak-anak itu untuk drama mereka. Kalau Mam'zelle Dupont yang melatih, maka Daphne memainkan kedua peran utama di kedua drama itu. Daphne cukup bangga karenanya. Tetapi begitu Mam'zelle Rougier memimpin, maka Sally dan Darrell dijadikan peran utama. Sungguh membingungkan!

Tak satu pun di antara kedua mam'zelle itu yang mau mengalah. Pertengkaran kali ini agaknya ^emang sangat serius. Mereka tak mau lagi saling pandang, tak mau lagi berbicara. Anak-anak menganggap keadaan ini sangat lucu, tetapi kebanyakan di antara mereka lebih suka pada Mam'zelle Dupont yang lebih ramah. Mereka memang tak setuju Daphne dipilih menjadi pemain utama, tetapi hal itu tak bisa diubah.

Belinda yang sangat terkesan oleh pertengkaran ini membuat satu seri lukisan karikatur tentang kedua mam'zelle itu. Digambarkannya Mam'zelle Rougier lebih kurus dan lebih tinggi dari ukuran sebenarnya. Digambarkannya guru itu sedang mengendap-endap hendak menyergap Mam'zelle Dupont dengan pisau di tangan. Di gambar lain terlihat Mam'zelle Rougier bersembunyi di balik semak-semak membawa pistol, menunggu Mam'zelle Dupont lewat. Di gambar lain lagi ia menuangkan racun untuk diberikan pada musuhnya. Dan banyak lagi. Anak-anak tertawa terpingkal-pingkal melihat gambar-gambar ini. Alicia, terutama, sangat tertarik. Dan timbul suatu niat jahat di hatinya.

"Belinda! Mam'zelle Dupont pasti sangat menyukai gambar-gambar ini!" katanya. "Kau tahu, sesungguhnya ia sangat gemar akan hal-hal yang lucu. Ia harus melihat ini semua. Taruhlah buku sketsa ini di mejanya besok, sebelum ia memulai pelajaran terjemahan bahasa Prancis di jam pelajaran sore. Lihat saja mukanya kalau ia melihat ini semua!"

"Pasti ia takkan sempat memberi pelajaran!" Belinda tertawa terkikik-kikik. Dan anak-anak lain setuju akan pendapat ini.

Belinda mengumpulkan gambar-gambarnya. Ia tidak menuliskan nama-nama di gambar-gambar tersebut, tetapi gambarannya begitu tepat walaupun dibuat lucu, sehingga semua bisa mengetahui siapa yang digambarkan di situ. "Baiklah, akan kutaruh di meja guru sebelum pelajaran dimulai," kata Belinda. "Tapi kalian harus berjanji untuk membantuku membuat pekerjaan rumah malam ini. Kan besok kalian tak usah repot dengan pelajaran terjemahan itu!"

Alicia membisikkan sesuatu pada Betty. Sesaat Betty tampak terkejut, kemudian ia menyeringai lebar. Alicia baru saja membisikkan padanya sesuatu yang sangat menarik. "Besok jam pelajaran Mam'zelle Dupont akan digantikan dengan jam pelajaran Mam'zelle Rougier! Bisa kaubayangkan hebatnya ledakan yang akan terjadi!"


11. GUNCANGAN UNTUK KELAS DUA

Buku berisi gambar-gambar karikatur itu diletakkan di meja guru pada waktu yang ditentukan. Anak-anak berdebar-debar menunggu kedatangan Mam'zelle. Pastilah Mam'zelle Dupont akan tertawa terbahak-bahak. Betapa senangnya ia menikmati lelucon yang ditujukan pada Mam'zelle Rougier itu!

Alicia bertugas membukakan pintu bagi Mam’zelle. Secara sangat kebetulan ia mengetahui bahwa Mam'zelle Dupont berhalangan sehingga jam pelajaran itu akan digunakan oleh Mam'zelle Rougier. Disimpannya rahasia ini baik-baik, sebab ia yakin ini akan membuat suatu kejutan hebat! Sekalian ia ingin membalas dendam pada Mam'zelle Rougier yang begitu sering menegurnya dengan tajam.

Terdengar langkah-langkah cepat di gang di depan kelas. Anak-anak kaku seketika. Seseorang masuk — dan ternyata bukan Mam'zelle Dupont yang mereka harapkan! Mam'zelle Rougier yang bergegas ke mejanya dan duduk.

"Asseyez-vous, s'il vous plait!" Mam'zelle menyuruh anak-anak duduk.

Beberapa anak sampai tak mendengar perintah itu. Mereka begitu terpaku oleh rasa takut melihat Mam'zelle Rougier duduk dengan buku karikatur di depannya. Mam'zelle mengetuk mejanya.

"Apakah kalian tuli? Duduk!"

Semua duduk. Dengan takut Belinda melihat berkeliling, minta bantuan. Sekilas ia melihat Alicia menyeringai puas. Belinda jadi sangat marah. Jadi Alicia tahu bahwa yang datang adalah Mam'zelle Rougier dan bukannya Mam'zelle Dupont seperti daftar pelajaran seharusnya. Dan ia telah diumpankan oleh Alicia untuk muslihat yang keji ini! Semua orang tahu betapa galaknya Mam'zelle Rougier. Ia pasti akan langsung melaporkan hal ini pada Kepala Sekolah!

Belinda tak tahu harus berbuat apa. Darrell melihat betapa takutnya Belinda dan ia berbuat nekat, ia maju ke meja Mam'zeHe Rougier dan memegang buku gambar Belinda itu.

"Maaf, Mam'zelle, buku ini tertinggal di sini," katanya dengan sopan. Anak-anak menunggu dengan menahan napas. Hampir saja Darrell berhasil membawa pergi buku itu. Tetapi tiba-tiba Mam'zelle Rougier menahannya. "Tunggu," katanya. "Buku yang terletak di meja guru tak bisa diambil begitu saja tanpa izin. Buku apa ini?"

"Oh... hanya buku gambar, Mam'zelle," kata Darrell putus asa. Mam'zelle melihat berkeliling. Mengapa anak-anak yang lain tampak begitu tegang? Pastilah ada sesuatu yang aneh.

Diambilnya buku itu dari tangan Darrell, dan dibukanya. Pandangannya jatuh pada gambar dirinya yang sedang mengendap-endap hendak menyerang Mam'zelle Dupont dengan belati. Hampir tak percaya ia memperhatikan gambar itu. Ya. Ini pasti dirinya. Tinggi, kurus, dan dengan muka yang begitu jahat. Memegang belati lagi!

Dibukanya halaman lain. Wah! Ada lagi gambar dirinya. Kini dengan pistol! Ah, ini sudah keterlaluan! Satu per satu dibukanya halaman buku itu. Selalu ada gambar dirinya yang dengan air muka sangat mengerikan mengejar atau mengancam Mam'zelle Dupont yang tampaknya begitu memelas. Jelas di gambar-gambar itu Mam'zelle Dupont-lah yang menjadi pahlawan, dan Mam'zelle Rougier jadi penjahatnya!

"Ini hampir tak bisa dipercaya!" desisnya geram, lupa bahwa di depannya Darrell berdiri terpaku. Anak-anak lain semakin tegang menunggu. Belinda sangat pucat. Sial sekali! Apa yang akan terjadi kini? Mengapa ia menuruti saja usul tolol Alicia yang keji itu? Mengapa ia terjebak siasat Alicia dan Betty agar mendapat teguran berat dari guru-guru?

Mam'zelle jadi sadar kembali bahwa ia berada di depan kelas, ia membentak Darrell sehingga anak itu terlompat terkejut. "Kembali ke tempatmu!"

Sedikit bersyukur Darrell lari ke mejanya sendiri. Mam'zelle melihat berkeliling dengan mata membara.

"Siapa yang melakukan ini? Siapa yang begitu berani menaruh buku ini di depan mataku?" tanyanya.

Sally segera berdiri menjawab. "Kami semua, Mam'zelle. Tetapi maksud kami buku itu bukan untuk Anda. Kami maksudkan untuk Mam'zelle Dupont. Kami tak tahu bahwa Anda akan menggantikannya hari ini."

Sayang sekali kata-kata Sally ini sangatlah tidak pada tempatnya. Sungguh suatu kesalahan besar untuk mengatakannya pada Mam'zelle Rougier. Mam'zelle langsung berdiri.

"Apa? Jadi kalian bermaksud untuk memberikan ini pada Mam'zelle Dupont! Kalian ingin dia ikut menertawakan aku! Apakah begini selalu kelakuannya di belakangku? Menertawakan aku bersama kalian? Ah, sungguh senang aku kini. Aku tahu bagaimana orang Prancis itu sangat tak tahu malu! Ia harus tahu rasa! Ia harus kulaporkan pada Nona Grayling saat ini juga!"

Seisi kelas terpaku ketakutan. Baru sadar mereka bahwa Mam'zelle Rougier akan merasa sangat tersinggung jika gambar-gambar konyol itu ditunjukkan kepada Mam'zelle Dupont. Belinda merasa akan pingsan.

"Mam'zelle, harap jangan pergi ke Nona Grayling... aku akan..."

Tetapi anak-anak lain tak akan mengizinkan Belinda bertanggung jawab sendiri. Bahkan Alicia kini merasa ketakutan. Hampir semua anak berseru memohon pada Mam'zelle, menenggelamkan suara lemah Belinda.

"Mam'zelle, kami menyesal! Jangan laporkan kami!"

Tetapi Mam'zelle yang telah begitu marah tak mendengar permohonan mereka. Dengan sangat gusar ia meninggalkan kelas itu. Sekali lagi anak-anak itu saling pandang.

"Alicia... kau tahu bahwa Mam'zelle Rougier akan menggantikan Mam'zelle Dupont sore ini!" kata Belinda. "Kulihat kau mengerdipkan mata pada Betty! Kau tahu! Dan kaukorbankan aku untuk muslihatmu yang keji ini! Kau tahu bahwa takkan mungkin aku memperlihatkan gambar-gambar itu pada Mam'zelle Rougier!"

Alicia seorang yang jujur walaupun berhati keji. Ia tak menyangkal tuduhan Belinda itu. "Aku tak menyangka ia akan begitu marah," katanya.

"Alicia, kau kejam sekali!" kata Darrell, merasakan betapa dadanya begitu sesak menahan amarah. "Mestinya kau bisa tahu apa yang akan terjadi, bagaimana Belinda pasti akan menderita karena ini! Kau... kau..."

"Biarlah aku yang mengurus ini." Suara Sally yang tenang menyela Darrell. "Tenanglah, Darrell. Biar aku yang mengurus Alicia!"

"Oh, bisakah kau?" tanya Alicia mengejek. "Tak sudi aku kauurus! Jangan kira kau bisa menghukumku, Nona Ketua Kelas, Nona Sok Alim!"

"Jangan tolol," kata Sally geram. "Entah kenapa kau akhir-akhir ini, Alicia. Kau selalu berusaha mempersulit aku. Aku akan menghadap Kepala Sekolah sekarang juga. Dan kau harus ikut juga, Belinda. Kita akan mencoba menjernihkan perkara ini sebelum berlarut-larut."

"Kau pasti akan menyalahkan aku, tentu," kata Alicia gusar. "Aku tahu kau. Akan kauhapuskan kesalahan Belinda dan menimpakannya padaku!"

"Aku takkan mengatakan apa pun tentang kau," kata Sally. "Aku bukan tukang mengadu! Tetapi aku akan lebih menghargai dirimu kalau kau ikut juga bersama kami untuk menjelaskan perkara ini."

"Aku tak peduli kau menghargai aku atau tidak!" Alicia semakin marah. "Aku tak akan suka rela mengikutimu dan berkata, 'Aku yang melakukan kesalahan.' Kau takkan mungkin bisa menyuruhku mengerjakan apa saja yang tak mau kulakukan!"

"Aku takkan mencobanya," kata Sally. "Ayo, Belinda, mari kita segera menghadap Nona Grayling."

Kasihan sekali Belinda. Begitu lemas dan ketakutan ia mengikuti Sally berjalan di gang, menuruni tangga, dan menyeberangi Taman Dalam menuju kantor Nona Grayling.

"Oh, Sally, aku sungguh takut!" kata Belinda. Lenyap kegembiraan yang biasa ada padanya.

Mam'zelle sangat marah. Dan beberapa gambar itu memang sangat tajam!"

Ketika Sally mengetuk pintu Kepala Sekolah, mereka mendengar suara-suara di dalamnya. Di situ ada Nona Grayling, Mam'zelle Rougier, dan Nona Linnie yang dipanggil untuk mencoba menentukan siapa yang telah begitu pandai menggambar karikatur yang tepat tetapi tajam itu.

"Belinda Morris, pasti!" kata Nona Linnie setelah melihat sekilas. "Tak ada anak lain yang lebih pandai dari dia dalam membuat sketsa. Suatu hari kelak, pastilah ia akan menjadi seorang seniwati terkenal. Wah... ini sungguh-sungguh bagus!"

"Bagus?" santap Mam'zelle. "Tak ada bagusnya gambar-gambar ini. Semuanya kejam. Kurang ajar! Buruk! Jelek! Aku minta Anda menghukum anak itu, Nona Grayling! Aku minta seisi kelas juga ikut dihukum!"

Tepat saat itu Sally mengetuk pintu. "Masuk!" kata Nona Grayling. Kedua anak tersebut masuk.

"Ada apa?" tanya Nona Grayling. Sally menelan ludah. Sulit untuk memulai pembicaraan — terutama karena Mam'zelle melotot garang padanya.

"Nona Grayling," akhirnya Sally mulai, "kami sangat, sangat menyesal atas peristiwa ini."

"Apa hubungannya dengan kau?" tanya Nona Grayling. "Bukankah Belinda yang membuat lukisan-lukisan ini?"

"Memang aku yang melukis, Nona Grayling,". kata Belinda hampir tak terdengar.

"Tetapi seluruh isi kelaslah yang menginginkan untuk menaruh buku ini di meja guru — agar dilihat oleh Mam'zelle Dupont," kata Sally. "Tetapi ternyata Mam'zelle Rougier yang datang. Dan beliau melihatnya. Kami sungguh sangat menyesal."

"Tetapi mengapa di sini digambarkan Mam'zelle Rougier mengejar rekannya dengan sikap yang begitu mengancam?" tanya Kepala Sekolah, membolak-balik lembaran buku itu. "Aku tak mengerti bagaimana gambar-gambar seperti ini bisa menyenangkan hati Mam'zelle Dupont."

Hening sesaat. Kemudian Mam'zelle Rougier berkata kaku, Mam'zelle Dupont bukan rekanku. Dia bukan sahabatku!"

Dan sebelum Nona Grayling bisa menghentikannya, dari mulut Mam'zelle Rougier meluncur keluhan tentang drama-drama bahasa Prancis yang sedang disiapkan. Nona Grayling mendengarkan dengan teliti, kemudian berpaling pada Sally dan Belinda.

"Jadi kalau aku tak salah tangkap, di satu hari peran utama dimainkan oleh Sally dan Darrell, dan keesokan harinya dimainkan oleh Daphne?" ia bertanya.

Sally mengiyakan bahwa memang itulah yang terjadi. Tiba-tiba Mam'zelle Rougier tampak kemalu-maluan. Kini ia sadar, betapa kekanak-kanakan tingkah lakunya dan tingkah laku Mam'zelle Dupont. Betapa tololnya membuat suatu persoalan kecil, mengacaukan drama mereka, dan membuat suasana kikuk bagi murid-muridnya.

Alangkah baiknya kalau ia tidak begitu tergesa-gesa membawa persoalan ini ke Kepala Sekolah. Tak heran bila anak-anak membawa pertengkaran antara kedua guru mereka itu ke dalam gambar-gambar ini. Tetapi mengapa Mam'zelle Dupont yang digambarkan sebagai yang berhati baik? Ini sungguh tidak adil!

"Jadi kau tidak tahu bahwa Mam'zelle Rougier akan menggantikan Mam'zelle Dupont?" tanya Nona Grayling tiba-tiba. Sally tertegun sejenak. Alicia telah tahu akan hal itu. Juga Betty. Tetapi dia sendiri, Sally, tidak tahu. Begitu juga anak-anak lain.

"Aku tidak mengetahuinya, Nona Grayling," katanya.

"Apakah ada anak lain yang tahu?" desak Kepala Sekolah. Sally tak tahu harus menjawab apa. Ia tak ingin mengadu. Tetapi ia juga tak bisa berdiam diri saja. Ternyata Belinda yang menjawab.

"Ya, seseorang di kelas kami telah mengetahui adanya perubahan itu," katanya. "Dan seseorang itu telah mengorbankan aku. Aku takkan berani menunjukkan gambar-gambar tersebut pada Mam'zelle Rougier. Aku tak ingin mengatakan siapa nama anak itu, tetapi harap Anda percaya bahwa aku takkan berani menyakiti hati Mam'zelle Rougier apa pun yang akan terjadi. Bagiku, ini semua hanyalah lelucon."

"Ya, aku tahu itu," kata Nona Grayling. "Sebuah lelucon yang salah alamat, tetapi toh masih suatu lelucon. Kaulihat kini, bila kau tak berhati-hati maka lelucon yang mungkin sangat lucu bisa saja membuat orang marah dan kecewa." Kemudian ia berpaling pada Mam'zelle Rougier yang mukanya kini merah padam. "Tetapi awal segalanya ini ternyata adalah sebuah pertengkaran. Tanpa pertengkaran ini, yang lain tak akan terjadi. Sally dan Belinda, kalian boleh pergi. Aku akan membicarakan dengan Mam'zelle Rougier, hukuman apa yang akan kalian terima."

Tak bersuara Sally dan Belinda keluar dari ruangan itu. Nona Linnie ikut keluar bersama mereka. Mam'zelle Rougier tinggal untuk meneruskan berbicara dengan Nona Grayling.

"Belinda, kelakuanmu ini sungguh sangat tolol," kata Nona Linnie.

"Aku takkan mau menggambar seseorang lagi," kata Belinda sedih.

"Oh, tak usah seperti itu," kata Nona Linnie. "Usahakan saja untuk menggambar dengan suasana hati yang lebih lembut. Jangan menggambar untuk menunjukkan bahwa kau pandai menggambar, Belinda. Hal seperti itu cepat atau lambat akan menyeretmu pada suatu persoalan."


12. MAM'ZELLE DUPONT MENJERNIHKAN SUASANA

Sementara itu di lantai dua terjadi sesuatu. Mam'zelle Dupont kebetulan berjalan melewati ruang kelas dua. Dilihatnya pintu kelas itu terbuka. Dan alangkah herannya ia ketika menjenguk ke dalam dan ternyata tak ada guru di tempat itu. Mam'zelle Rougier telah meninggalkan murid-muridnya — dan lebih aneh lagi: murid-murid itu begitu diam, tak ribut seperti biasanya! Dan mereka tampak sangat sedih.

"Ada apa, mes petites? Anak-anakku?" tanya Mam'zelle, matanya yang bulat kecil menjelajah ke seluruh wajah anak-anak di kelas itu. "Apa yang terjadi?"

Mary-Lou yang sangat terguncang oleh kejadian yang sedang dialaminya tak terasa terisak. Mam'zelle berpaling padanya. Mary-Lou salah seorang murid kesayangannya, sebab anak itu sangat lancar berbahasa Prancis.

"Ayo, katakan padaku, Mary-Lou! Apa yang terjadi? Bukankah aku sahabatmu? Katakanlah!"

"Oh, Mam'zelle, sesuatu yang buruk baru saja terjadi." Mary-Lou tak tahan lagi, menceritakan apa yang terjadi. 'Belinda membuat beberapa gambar tentang Anda dan Mam'zelle Rougier. Gambar yang baik-baik tentang Anda, dan yang tidak baik tentang Mam'zelle Rougier. Kami tak tahu bahwa Mam'zelle Rougier akan menggantikan Anda sore ini. Kami taruh buku gambarnya di meja guru, agar Anda bisa melihatnya. Tetapi ternyata... ternyata..."

"Ah, ternyata Mam'zelle Rougier yang melihatnya, dan mukanya jadi biru, dan ia menyeret Sally dan Belinda untuk menghadap Nona Grayling!" seru Mam'zelle menyelesaikan kalimat Mary-Lou. "Oh, sungguh buruk adat perempuan itu. Ia tak tahu arti sebuah lelucon! Aku, aku sendiri yang akan menghadap Nona Grayling. Akan aku ceritakan padanya banyak hal tentang Mam'zelle Rougier! A-h-h-h!"

Dan berangkatlah Mam'zelle Dupont bergegas bagaikan seekor kelinci terusir dari sarangnya. Anak-anak kembali saling pandang. Alangkah ramainya sore ini!

Mam'zelle Dupont tidak bertemu dengan Sally dan Belinda yang mengambil jalan lain. Pada saat Mam'zelle mencapai ruang kantor Nona Grayling, Sally dan Belinda masuk ke ruang kelas mereka dengan wajah murung. Mereka menceritakan apa yang terjadi.

"Oh, jadinya ternyata kau menimpakan kesalahan padaku juga," kata Alicia mengejek.

"Kami sama sekali tidak menyebutkan namamu, jadi kau tak usah takut, Alicia," kata Belinda.

"Aku tidak takut!" tukas Alicia. Tetapi sesungguhnya ia ketakutan. Akhir-akhir ini cukup-banyak kelakuannya yang pasti tak berkenan pada Kepala Sekolah, ia kini tak mau harus menanggung akibat perbuatannya. Tetapi ia juga tak suka melihat pandangan menuduh anak-anak sekelas.

"Mam'zelle Dupont kini sedang bergabung dengan rekan senegaranya itu," kata Darrell. "Entah apa yang terjadi.'

Mam'zelle Dupont masuk begitu saja ke ruang Nona Grayling, membuat kepala sekolah itu dan Mam'zelle Rougier sangat terkejut. Nona Grayling sedang menelusur pertengkaran yang terjadi di antara kedua mam'zelle tersebut dari Mam'zelle Rougier yang kini semakin merasa malu. Mam'zelle Dupont langsung melihat buku yang ada di meja Nona Grayling dan mengambilnya, memeriksa gambar di dalamnya satu per satu.

"Ah, ia Ia! Belinda ini sungguh seorang anak jenius!" serunya. "Ha ha ha! Lihat Nona Grayling, gambarku ini. Pernahkah Anda melihat kelinci segemuk ini? Dan memang sangat mirip dengan aku! Dan oh, Mam'zelle Rougier, untuk apa Anda membawa belati itu? Sungguh indah, luar biasa! Hei, lihat ini. Aku akan diracun!"

Mam'zelle Dupont tak henti-hentinya tertawa terpingkal-pingkal, sambil sekali-sekali menghapus air matanya. "Apa Anda berdua tak mengerti bagaimana lucunya gambar ini?" Sesaat ia berhenti tertawa dan bertanya pada kedua guru itu, yang memandangnya dengan tercengang.

"Lihat di sini. Aku akan ditembak dengan pistol. Seolah-olah hal itu mungkin terjadi! Padahal Mam'zelle Rougier sahabatku! Ah, kami memang sering bertengkar, dia dan aku. Tapi kami sama-sama wanita Prancis, bukan? Dan kami harus banyak mempertahankan diri terhadap kekurangajaran anak-anak Inggris ini!"

Kekakuan di wajah Mam'zelle Rougier mulai terlihat hilang. Nona Grayling memperhatikan lagi satu-dua gambar di buku itu dan mau tak mau kini ia terpaksa tersenyum. "Yang ini betul-betul lucu, Mam'zelle Dupont," katanya. "Dan yang ini juga. Memang, seluruhnya bisa digolongkan kurang ajar. Dan aku setuju kelas itu harus dihukum, terutama Belinda. Hukumannya kuserahkan pada Anda berdua."

Sesaat hening. Kemudian Mam'zelle Rougiei berkata, "Kurasa... kurasa sesungguhnya Mam'zelle Dupont dan akulah yang bersalah dalam hal ini, Nona Grayling. Pertengkaran kami hanya suatu soal kecil, tak heran bila terlalu mengganggu pikiran anak-anak itu... dan..."

"Ah, ya, Anda benar!" seru Mam'zelle Dupont bersemangat. "Anda sangat benar, Sahabatku! Akulah yang harus disalahkan. Nona Grayling, kami minta Anda tidak memberi hukuman pada anak-anak yang kurang ajar itu. Kami akan mengampuni mereka!"

Mam'zelle Rougier tampak tertegun. Untuk apa Mam'zelle Dupont mengampuni anak-anak itu? Toh memang ia digambarkan baik-baik saja, tidak diperjelek seperti dirinya. Sudah barang tentu dengan mudah Mam'zelle Dupont memberi ampun- Tetapi Mam'zelle Rougier tak sempat menyanggah. Mam'zelle Dupont terus saja berbicara tak putus-putusnya.

"Gambar-gambar ini... lebih banyak lucunya daripada kurangajarnya! Ini semua lelucon, untuk membuat orang tertawa! Kami tak keberatan. Pertengkaran kami yang jadi sumbernya. Tapi kini kita bersahabat bukan, Mam'zelle Rougier?"

Mam'zelle Rougier tak mungkin berkata tidak. Di luar kehendaknya ia mengangguk. Mam'zelle Dupont dengan penuh semangat menciumnya dua kali. Nona Grayling melihat itu semua dengan sangat tertarik.

"Belinda itu!" kata Mam'zelle Dupont memperhatikan gambar-gambar di buku. "Ah, sungguh sangat pandai! Suatu hari, Nona Grayling, mungkin kita akan bangga pada gambar-gambar ini. Kelak kalau Belinda sudah termasyhur! Mam'zelle Rougier dan aku saat itu akan melihat gambar-gambar ini dan berkata, Ah, Belinda yang masyhur itu dulu pernah menggambar kami, saat ia jadi murid kami!' "

Mam'zelle Rougier tak berkata apa-apa. Ia merasa telah terpaksa melakukan banyak hal yang sesungguhnya tak ingin dilakukannya. Tetapi ia tak mungkin mengubah keputusan yang telah dikeluarkannya, tentu.

"Kalau begitu, mungkin Anda bisa kembali ke kelas Anda kini," kata Nona Grayling. "Dan Anda mau bukan untuk mengatakan ini pada anak-anak itu agar mereka tak gelisah lagi? Belinda tentu saja harus minta maaf. Tetapi aku yakin tak usah disuruh ia pasti minta maaf pada Anda berdua."

Kedua mam'zelle itu meninggalkan ruang Mona Grayling dengan bergandengan tangan. Ini membuat siapa saja yang bertemu dengan mereka sangat heran. Semua tahu bahwa selama dua minggu ini kedua mam'zelle tersebut saling membenci. Keduanya memasuki ruang kelas dua yang anak-anaknya langsung berdiri memberi hormat tetapi sunyi senyap semua. Namun ketegangan di hati mereka sedikit lenyap melihat Mam'zelle Dupont begitu cerah mukanya, sementara Mam'zelle Rougier tidak semasam biasanya.

Mam'zelle Dupont membuat seisi kelas bisa bernapas lega kembali. "Kalian semua anak nakal. Sangat kurang ajar! Belinda, kau membuat pensilmu bertingkah tak terkendalikan! Aku sungguh sangat marah!"

Tetapi ia sama sekali tidak tampak marah. Matanya yang hitam bersinar-sinar ramah. Belinda berdiri lagi.

"Aku sangat menyesal, Mam'zelle," katanya. "Aku mohon maaf pada Anda berdua."

Mam'zelle Rougier merasa bahwa sesungguhnya Belinda tak perlu minta maaf pada Mam'zelle Dupont. Tetapi hal itu tak diucapkannya, ia menerima permintaan maaf tersebut setenang mungkin.

"Dan kini, hukuman," kata Mam'zelle Dupont dengan suara keras, tetapi mata tetap gembira. "Sebagai hukuman kalian harus lebih giat lagi belajar bahasa Prancis, jauh lebih giat dari hari-hari sebelum ini! Kalian harus belajar yang baik, menerjemahkan dengan baik, dan menjadi murid-muridku yang terbaik. Kalian mau berjanji?"

"Oh, tentu, Mam'zelle!" serentak anak-anak itu menjawab. Dan paling tidak untuk saat itu mereka betul-betul memutuskan untuk belajar lebih baik dalam hati. Bahkan Daphne dan Gwendoline dalam hati juga bertekad untuk menjadi murid terbaik. Mam'zelle Rougier meninggalkan kelas itu. Mam'zelle Dupont mengambil alih kelas tersebut, walaupun waktunya tinggal lima menit lagi.

"Mam'zelle, bolehkah kami bertanya?" tanya Darrell pada saat pelajaran bahasa Prancis hampir selesai. "Siapakah sebenarnya yang akan memegang peran utama dalam drama kita? Hal itu cukup membingungkan kami. Mungkin Anda dan Mam'zelle Rougier telah mengambil keputusan bagaimana sebaiknya."

"Kami belum mencapai kata sepakat tentang hal itu," kata Mam'zelle Dupont. "Tetapi, aku, aku hari ini merasa sangat baik hati. Aku akan mengalah, agar Mam'zelle Rougier terobati hatinya oleh guncangan yang kalian buat hari ini. Aku akan membatalkan peran Daphne, dan memberikannya pada Sally dan Darrell. Itu pasti akan membuat Mam'zelle Rougier gembira dan karenanya beliau akan tersenyum pada kalian semua."

Daphne tak begitu gembira akan putusan ini. Ia menatap Mam'zelle dengan pandangan tersinggung. Tetapi dalam hati ia sedikit bersyukur. Sebab rasanya tak akan mungkin ia bisa menghafalkan begitu banyak kalimat Prancis yang artinya pun tak begitu ia tahu. Mungkin untung juga ia tak jadi memegang peran utama itu. Tetapi ia harus tampak kecewa, kemudian bersikap merelakan dengan satu senyum manis.

Maka dengan wajah sedikit kaku ia berkata pada Mam'zelle, "Terserah Anda, Mam'zelle. Sesungguhnya aku sudah bersusah payah menyiapkan diri agar Anda puas dengan permainanku — tetapi agar anak lain bisa puas, biarlah aku lepaskan peranan itu."

"Ah, kau sungguh baik hati!" kata Mam'zelle Dupont berseri-seri. Aku akan membalas kebaikan hatimu itu, Daphne. Kita berdua nanti akan bersama-sama membaca sebuah buku Prancis yang sangat kusukai sewaktu aku masih kecil dulu! Pasti itu akan membuatmu gembira, bukan?"

Seisi kelas terpaksa menyembunyikan tawa mereka melihat air muka Daphne. Membaca buku Prancis bersama Mam'zelle! Alangkah mengerikan! Ia harus mencari jalan agar lolos dari bencana itu!

Peristiwa gambar-gambar Belinda itu membawa tiga akibat. Pertama, Alicia jadi semakin cemberut, sebab menurut perasaannya dialah yang paling rugi — anak-anak teman sekelasnya kini tak begitu menghormatinya lagi, karena ternyata bukan saja ia yang sesungguhnya penyebab gara-gara itu, tetapi ternyata ia juga tak berani bertanggung jawab. Kedua, kini Mam'zelle Dupont dan Mam'zelle Rougier jadi bersahabat erat, tidak lagi bermusuhan. Dan ketiga: Daphne hanya kebagian peran yang sangat kecil, tidak lagi sebagai putri cantik, tetapi sebagai seorang pria tua yang harus berkerudung terus hingga tak tampak mukanya, ia sangat kecewa.

"Padahal aku telah menulis surat pada ayah-ibuku tentang peran pentingku itu," keluhnya. Sungguh memalukan!"

"Ya, memang," kata Gwendoline. "Tetapi tak apalah, Daphne. Kau tak usah berusaha keras untuk menghafal bagianmu kini."

Jean datang dengan membawa kotak sumbangan. Diguncangkannya kotak itu di hadapan Gwendoline dan Daphne. "Iuran olahraga. Sudah siap? Hari ini dikumpulkan. Lima shilling seorang!"

"Ini iuranku," Gwendoline mengeluarkan dompetnya.

"Kau, Daphne," kata Jean. Daphne mengeluarkan dompetnya. "Sialan," katanya. "Kukira uangku masih sepuluh shilling. Ternyata tinggal enam pence! Oh, ya! Minggu lalu aku harus membeli hadiah ulang tahun guru pribadiku. Gwen, tolong pinjami aku dulu sampai aku dapat kiriman dari rumah, ya?"

"Dia meminjamimu dua shilling minggu lalu," kata Jean, mengguncangkan kotak iurannya. "Aku yakin kau belum membayarnya kembali. Dan kau pinjam dariku enam pence untuk iuran gereja. Sebaiknya kausiapkan buku kecil untuk mencatat hutang-hutangmu."

"Apa sih arti jumlah seperti itu," kata Daphne, tampak tersinggung. "Aku akan segera menerima uang banyak sekali untuk ulang tahunku nanti. Betapapun, minggu ini pasti kubayar semua. Pamanku akan mengirimiku tiga puluh shilling."

"Baiklah, akan kubayari iuranmu kali ini," kata Gwendoline, memasukkan selembar uang sepuluh shilling ke dalam kotak iuran. Jean berpaling pada Darrell yang memasukkan uang iurannya. Kemudian kotak itu diguncangkannya di depan hidung Ellen.

"Lima shilling, Ellen!"

"Jangan membuatku terkejut!" Ellen terlompat. "Apa yang kauinginkan? Lima shilling? Aku tak punya. Lain kali saja."

"Tapi iuran yang lalu kau juga berkata begitu," kata Jean yang sangat keras kepala kalau mendapat tugas mengumpulkan iuran. "Ayolah, Ellen. Ambil uangmu dan selesai sudah iuran kita."

"Aku sedang belajar!" kata Ellen gusar. "Pergilah! Lain kali saja kuberi iuran itu!"

Jean pergi dengan geram. Daphne berbisik pada Gwendoline, "Aku yakin ia tak punya uang! Ia memang memenangkan bea siswa untuk masuk kemari. Aku yakin keluarganya tak kuat membayar untuk sekolah sebagus ini."

Ellen tak tahu apa yang dibisikkan Daphne, tetapi ia menduga pastilah sesuatu yang buruk tentang dirinya kalau didengar dari nada mengejek Daphne. Ia membantingkan bukunya ke meja dan berkata, "Selalu tak bisa belajar di sini! Jangan berisik, Daphne. Dan jangan tersenyum seperti orang tolol begitu!"




0 Response to "Kelas Dua di Malory Towers 1"

Post a Comment

Translate

English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified