Download applikasi baca novel online untuk android disini: DOWNLOAD

Jennings 2

8. RISIKO KEAMANAN

PAK PEMBERTON-OAKES memandang langit-langit gang dengan sikap putus asa. "Anda tadi benar, Carter. Kita ternyata berhasil mengetahuinya dengan segera." Dipandangnya lagi kedua anak yang berdiri dengan gelisah di depannya. "Mestinya aku sudah harus tahu bahwa kedua anak ini - apalagi Jennings - diperkirakan akan bisa memberi penjelasan mengenai kejadian misterius itu."

Pak Pemberton-Oakes adalah orang yang berpikiran lapang. Ia membanggakan dirinya, bahwa ia menganut gagasan-gagasan modern mengenai pendidikan. Meski begitu, perasaannya tetap saja tersinggung. Bahkan guru yang paling lunak sikapnya pun pasti tidak senang melihat tanaman mawarnya tercabut akar-akarnya, kegiatan rutinnya terganggu, dan rumput lapangan cricket kelihatan seperti dibersihkan dari gulma, tapi dengan bor.

Ia masuk ke ruang kerjanya, diikuti oleh Pak Carter dan kedua anak yang bersalah itu. Kemudian ia mulai mengajukan pertanyaan-pertanyaan.

Fakta-faktanya dengan cepat sudah diceritakan semua, lalu hukuman pun dijatuhkan, meski sudah diperlunak oleh sikap mau mengampuni. Hal yang menimbulkan kemarahan Kepala Sekolah bukan ketidakpatuhan pada instruksinya kemarin siang, melainkan lebih banyak kekacauan dan kerusakan yang terjadi sebagai akibatnya.

Karena itu, sebagai bagian dari hukuman yang dikenakan terhadap mereka, Jennings dan Darbishire terpaksa tidak bisa menikmati rekreasi mereka pada saat petang selama dua minggu. Sebagai pengganti, mereka diharuskan menanam kembali tanaman yang tercabut akarnya tapi masih bisa diselamatkan. Sebagai tambahan, saat istirahat pada pagi hari selama masa hukuman berlaku harus dipergunakan untuk meratakan padang rumput tempat bermain cricket yang tercabik-cabik oleh kuku-kuku babi kecil itu dengan menggunakan alat giling. Persoalan selanjutnya yang akan dibicarakan adalah penyingkiran babi kecil itu dari kompleks sekolah.

"Kalian boleh pergi sekarang. Kurasa aku dan Pak Carter tidak memerlukan bantuan kalian dalam menentukan apa yang harus dilakukan."

Pak Pemberton-Oakes memberi isyarat dengan tangannya kepada Jenning dan Darbishire agar keluar. Setelah itu ia berpaling pada asistennya.

"Sebaiknya saya telepon saja Pak Arrowsmith. Saya rasa dia pasti mau menerima binatang itu."

Jennings, yang saat itu telah sampai di ambang pintu, berbalik dengan cepat. "Aduh, jangan, Pak! Sungguh, itu jangan dilakukan. Jangan Pak Arrowsmith, Pak."

Kepala Sekolah benar-benar kaget. Ia tidak biasa dibantah keputusannya oleh anak berumur sebelas tahun dari Kelas Tiga. Dengan nada kaku ia mengatakan, "Jennings, kau tadi sudah kusuruh meninggalkan ruangan."

"Ya, saya tahu, Pak, tapi saya harus memperingatkan Anda. Ini penting sekali. Soalnya, ada sesuatu yang tidak Anda ketahui."

Dalam pengakuannya tadi tentang kejadian kemarin siang dan sore itu, Jennings tidak menyertakan peristiwa tidak enak yang terjadi di Pertanian Kettlebridge, karena urusan itu tidak ada pengaruhnya terhadap kejadian-kejadian selanjutnya. Kini ia bergegas-gegas menceritakan peristiwa itu. "...Jadi dia pasti marah sekali, Pak, jika ada yang menanyakan kemungkinan itu lagi," katanya mengakhiri. "Ia menyuruh kami pergi saat itu juga."

"Ayo pergi, Jennings," kata Pak Pemberton-Oakes dengan sebal.

Begitu kedua anak itu sudah pergi, telepon berdering. Peneleponnya adalah Nyonya Thorpe. Ia hendak mengucapkan selamat kepada Pak Pemberton-Oakes, karena di antara murid-muridnya ada anak-anak yang begitu ringan tangan, senang membantu-bantu seperti kedua anak yang ikut datang ke pesta untuk mengatur kursi-kursi.

"Mereka benar-benar sangat berguna," kata wanita itu dengan suaranya yang seperti burung bunyinya. "Anda pantas merasa bangga terhadap mereka. Keduanya berulang kali datang menanyakan apakah masih ada lagi yang bisa mereka kerjakan."

Kepala Sekolah mengernyitkan wajahnya. Untuk menenangkan perasaan, ia menggenderangkan jari-jarinya ke daun meja yang beralas kulit.

"Mereka tadi melakukan sesuatu yang tidak bisa dikatakan berguna," katanya, begitu mendapat kesempatan bicara di sela cerocosan Bu Thorpe. "Mereka pulang membawa babi."

Bu Thorpe heran mendengarnya. "0 ya? Padahal kami kemarin membawanya ke Pertanian Kettlebridge, untuk dihadiahkan kepada Pak Arrowsmith."

"Begitulah yang saya dengar. Tapi sayangnya, pemberian itu tidak dihargai."

"Aduh, sayang! Bagaimanapun juga, babi cilik itu lucu. Saya rasa Anda semua akan sayang padanya, apabila sudah mengenal tingkah lakunya."

Sekali ini Kepala Sekolah begitu keras mengernyitkan mukanya, sehingga nyaris saja bunyinya terdengar oleh Bu Thorpe di ujung sana.

"Bu Thorpe," katanya dengan sopan tapi tegas, "saya sudah sempat mengetahui tingkah lakunya. Dengan mengecualikan gempa bumi, sambaran petir, atau letusan gunung api, saya tidak bisa membayangkan sesuatu yang dalam waktu dua puluh menit bisa menimbulkan kekacauan yang begitu besar dalam kegiatan rutin sekolah serta mengakibatkan begitu banyak kerusakan, seperti makhluk yang dengan begitu ramah Anda sebut sebagai babi cilik yang lucu."

Pak Carter memandang ke luar jendela, agar senyumannya tidak terlihat oleh Kepala Sekolah. Dari tempat dia duduk saat itu nampak Pak Wilkins, dengan dibantu setengah lusin anak-anak, masih sibuk berusaha memasang kembali jaring cricket di ujung lapangan. Wilkins yang malang! katanya dalam hati. Aneh, kenapa kejadian-kejadian semacam itu selalu saja terjadi jika dia yang sedang bertugas sebagai pengawas!

Sementara itu Pak Pemberton-Oakes berkata lewat telepon. "Anda tidak perlu minta maaf, Bu Thorpe. Kesalahan itu sepenuhnya dilakukan oleh kedua anak itu. Saya tidak menyalahkan Anda. Tapi mengingat Anda adalah sekretaris panitia pesta yang menyelenggarakan perlombaan itu, saya ingin bertanya apakah Anda barangkali bisa menemukan seseorang lain yang layak menerima hadiah yang... eh... berharga itu?" Ia mendengarkan, sementara Bu Thorpe menjawab dengan panjang lebar. Setelah pembicaraan selesai, Pak Pemberton-Oakes mengembalikan gagang telepon ke tempatnya.

"Bu Thorpe akan mengusahakan penampungan lain baginya," katanya pada Pak Carter. "Sekarang tinggal kita saja yang harus menyiapkannya untuk dibawa pergi."

Sambil berkata begitu Kepala Sekolah keluar dari ruang kerjanya untuk mencari pesuruh sekolah. Orang itu ditemukannya sedang membaca koran terbitan hari Minggu di kebun kecil yang ada di belakang pondoknya. Bisakah Robinson mencarikan sebuah karung? tanya Kepala Sekolah pada orang itu. Sebuah karung yang besar dan tanpa lubang, cocok untuk membawa seekor babi kecil di bagian belakang mobil. Selain itu, dimintanya agar Robinson nanti memberi makan tamu yang akan dibawa pergi itu dan memasukkannya ke dalam karung lalu ditaruh di mobil.

Menurut Pak Robinson, rasanya ia mampu memenuhi segala permintaan itu. Walau hari Minggu biasanya merupakan waktu beristirahat, ia bersedia mengorbankan waktu istirahatnya apabila ada tugas memanggil.

Bu Thorpe datang dengan mobilnya ketika sudah hampir saatnya lonceng asrama dibunyikan. Pak Carter pergi ke lapangan bermain untuk menyambutnya. "Anda berhasil?" tanyanya.

"0 ya, akhirnya berhasil juga," kicau Bu Thorpe dengan gembira. "Saya berhasil mengetahui bahwa pemenang hadiah kedua dalam perlombaan boling itu adalah Pak P. Nutt dari East Brinkington."

"Bagus! Dan Anda rasa Pak Peanut itu mau menerima babi kita?"

"Bukan Peanut namanya. Itu kan kacang! Namanya Nutt-dengan inisial P, singkatan dari Peter, di depannya: Peter Nutt."

"Wah, maaf!"

"Ah, itu tidak apa! Sementara itu saya sudah ke East Brinkington, dan orangnya ternyata mau menolong. Soalnya, ia memelihara beberapa ekor babi di pekarangan belakang rumahnya. Dan lain halnya dengan Pak Arrowsmith yang begitu rewel, Pak Nutt nampaknya tidak peduli bagaimana bentuk babi itu, pokoknya asal kakinya ada empat."

Sepuluh menit kemudian Bu Thorpe sudah pergi lagi melakukan tugasnya, dan babi kecil itu dimasukkan di bagian belakang mobilnya. Pak Carter masuk lagi ke dalam, di sana ia berjumpa dengan Darbishire yang hendak menaiki tangga untuk pergi ke kamar tidur.

"Ada kabar baru tentang babi itu, Pak?" tanya anak itu dengan cemas. Wajahnya langsung nampak berseri ketika Pak Carter mengatakan bahwa semuanya sudah beres.

"Wah, syukurlah kalau begitu, Pak. Saya senang sekali mendengar bahwa Anda berhasil menemukan penampungan yang baik baginya."

Nada suara Darbishire terdengar begitu lega, seakan ia terbebas dari beban berat. "Babi itu pasti merasa sedih dan tidak disukai, karena semua mengatakan sama sekali tidak mau menerimanya." Sambil tersenyum ia berbalik untuk menaiki tangga. "Terima kasih banyak, Pak. Saya dan Jennings sekarang tidak perlu bingung lagi, karena tahu dia akan diurus oleh seseorang yang menginginkannya tanpa ada alasan-alasan yang macam-macam."

Selama dua minggu selanjutnya, Jennings dan Darbishire sedikit sekali mempunyai waktu luang untuk mereka manfaatkan sendiri. Saat istirahat pagi hari diisi dengan tugas meratakan rumput di lapangan cricket, sedang istirahat petang mereka merapikan tanaman mawar yang berantakan dilanda babi cilik. Lalu pada saat-saat mereka berhasil memperoleh sedikit waktu luang untuk mereka sendiri, mereka melakukan kesibukan-kesibukan yang tenang dan biasa-biasa saja, yang pasti takkan menyebabkan mereka terlibat kesulitan dengan para guru.

Begitulah, mereka antara lain mengisi waktu luang yang hanya sedikit itu dengan kesibukan mengatur kembali album-album prangko mereka, sambil membicarakan cara-cara untuk menambah koleksi mereka. Seperti sudah pernah dikatakan oleh Jennings, prangko-prangko terbitan yang akan datang, yang merupakan peringatan seabad penemuan ilmiah, akan memberikan peluang besar bagi mereka untuk mengungguli teman-teman yang juga mengumpulkan prangko. Andaikan mereka berhasil memperoleh beberapa buah prangko baru yang tidak bisa didapat siapa pun juga, koleksi mereka pasti akan menimbulkan rasa iri teman-teman dari Kelas Tiga.

Dan siasat inilah yang hendak mereka lakukan.

"Prangko-prangko itu bisa dengan gampang kita usahakan agar dicap pada hari pertama peredarannya dengan jalan mengalamatkan sampulnya pada kita sendiri," kata Darbishire di ruang belajar bersama seusai waktu sekolah pagi pada hari Rabu. "Masalahnya sekarang adalah memperoleh prangko-prangko itu untuk ditempelkan pada sampul surat."

Jennings mengangguk sambil berpikir keras. Ada dua hal yang perlu dipikirkan, yaitu waktu dan peluang. Besar sekali kemungkinannya kantor pos kecil di toko yang bernama Linbury General Stores hanya memiliki sedikit persediaan saja, dan persediaan itu kemungkinannya akan sudah habis terjual pada jam pertama penjualannya.

"Kita tidak bisa minta tolong pada salah seorang guru untuk membelikannya; mereka selalu saja sibuk sekali, sehingga tidak mungkin sempat cepat-cepat pergi ke desa sebelum waktu sekolah pagi dimulai," kata Darbishire menyambung. "Dan andaikan ada yang sempat, kemungkinannya sesampai di sana antrean sudah seratus mil panjangnya. Lagi pula, mereka pasti takkan mau tiba terlambat di kelas."

Jennings menghentikan renungannya. "Kita bisa minta tolong pada Pettigrew. Ia selalu melewati kantor pos itu setiap pagi, dalam perjalanan ke sekolah."

"Wow! Ya, tentu saja. Itu ide yang hebat sekali," kata Darbishire.

Anak yang bernama Pettigrew itu bertubuh montok dan berwajah penuh bintik, dan tinggal di sebuah rumah di jalan yang menuju Dunhambury. Setiap hari ia bersepeda ke sekolah. Kebetulan dia bukan penggemar prangko, jadi takkan mungkin tergiur untuk membeli prangko terbitan baru itu untuk dirinya sendiri, yang akan mengakibatkan posisi monopoli yang diharapkan oleh Jennings dan Darbishire menjadi rusak.

"Tapi sebelumnya dia perlu kita teliti dulu, demi keamanan," kata Jennings. "Jika hal ini sampai bocor, anak-anak lain pasti ingin ikut minta dibelikan, sehingga segala-galanya menjadi percuma saja." Jennings berpikir lagi sesaat lalu menambahkan. "Masih ada satu hal lagi- sebaiknya kausobek saja halaman yang memuat informasi tentang prangko terbitan baru itu dari majalah filatelimu, karena siapa tahu ada anak yang ingin meminjam majalah itu."

"Ya, itu akan kulakukan. Kita memang harus berhati-hati," kata Darbishire sependapat.

Seusai sekolah, Jennings menyapa Pettigrew di gudang tempat penyimpanan sepeda, ketika anak itu sedang bersiap-siap untuk pulang.

"Coba dengar sebentar, Petters," sapa Jennings.

Petters itu nama julukan Pettigrew. "Aku dan Darbi ingin minta tolong. Bisakah kau membelikan beberapa lembar prangko di kantor pos pada hari Senin nanti. Prangko-prangko itu terbitan baru - Penemuan-penemuan ilmiah Abad Kedua Puluh."

"Bisa saja - itu kalau aku ingat," jawab Pettigrew secara sambil lalu.

"Tapi ini penting sekali. Dan juga rahasia. Seluruh operasi ini sangat kami rahasiakan, agar anak-anak lain tidak sampai tahu mengenainya," kata Jennings menjelaskan. "Itu berarti kami harus tahu sebelumnya risiko keamanannya padamu, sebelum aku minta padamu apakah kau mau menolong kami."

"Kalau begitu sudah terlambat, karena kau sudah minta tolong padaku," kata anak yang dianggap mungkin merupakan risiko keamanan itu.

"Yah, pokoknya kau mengerti maksudku," kata Jennings sambil mengangkat bahu. "Nah, yang harus kaulakukan hari Senin itu adalah berangkat agak lebih pagi dari rumah. Katakanlah kantor pos itu buka pukul setengah sembilan," sambungnya. Dianggapnya saja hal yang belum tentu benar itu sebagai kenyataan. "Jika kau tiba di situ lima menit sebelumnya, kau akan berada di posisi terdepan dalam antrean, lalu masih bisa tiba di sekolah pukul sembilan kurang seperempat."

Permintaan itu rasanya tidak berlebihan. Karenanya Pettigrew setuju saja, dengan syarat bahwa uang yang diperlukan untuk membeli prangko-prangko itu sudah lebih dulu diberikan padanya. "Aku tidak mau menunggu berbulan-bulan sementara kalian menyimpan prangko-prangko itu, dengan harapan harganya di pasaran akan menanjak," katanya sambil mendorong sepeda keluar dari tempat penyimpanan.

Jennings tersinggung mendengarnya. "Kami tidak berniat menjualnya. Kami cuma merencanakan hendak membelinya lalu minta agar distempel, sehingga yang anak-anak yang lain merasa sebal karena tidak terpikir untuk melakukannya juga."

Pada hari Kamis, ketika Jennings masuk ke ruang Kelas Tiga bersama Darbishire beberapa saat sebelum pelajaran dimulai, ia menemukan sebuah sampul surat di atas mejanya. Surat itu dialamatkan kepada Tuan-tuan Jennings dan Darbishire, ditulis dengan huruf-huruf besar yang tidak rapi. Di dalamnya ada selembar kertas yang rupanya disobek dari buku tulis sekolah. Di atas kertas itu tertulis:

“Tuan-tuan Jennings dan Darbishire yang terhormat,

Kurasa mentang-mentang kalian senior kami karena duduk di Kelas Tiga kalian bisa berbuat seenaknya saja, tapi kalian keliru jadi Hati-hati Saja!

Karena kesalahan kalian kami kehilangan 73 potong dari teka-teki gambar kami jadinya kuda-kuda tidak punya kaki dan dinding kastil tergantung di udara dan tidak ada tanah di bawahnya.

Babi konyol kalian itu yang membuat kerusakan itu dan kami bilang Darbishire berengsek dan Jennings lebih berengsek lagi lalu kalian mau apa?

Hormat kami,

Binns dan Blotwell.”

Jennings bingung membaca isi surat itu, tapi Darbishire bisa memberikan penjelasan.

"Aku diberitahu oleh Venables bahwa babi kita pada hari Minggu itu mengobrak-abrik teka-teki gambar mereka," katanya. "Aku tidak mengerti kenapa mereka jadi ribut begini. Jika kita sedang menyusun teka-teki gambar dengan hasil beberapa bagian dari kaki kuda-kuda tidak ada, rasanya kita malah akan tertawa geli."

Jennings kebetulan menoleh ke pintu dan melihat para penulis surat itu berdiri di luar. Nampak bahwa mereka ingin sekali melihat bagaimana tanggapan terhadap surat mereka itu. Jennings memanggil mereka masuk ke ruang kelas.

"Apakah kalian berdua ini penguasa alam?" tanyanya. "Pangeran Binns dan Pangeran Blotwell?"

Kedua anak yang ditanya membantah bahwa mereka keturunan bangsawan. "Tidak. Kenapa?"

"Karena hanya bangsawan saja yang menandatangani surat-surat mereka hanya dengan nama keluarga. Apakah kalian ini tidak diajar apa-apa di Kelas Satu?" Nada Jennings yang sombong menyembunyikan kenyataan bahwa ia sendiri baru mengetahui soal itu sehari sebelumnya, yaitu ketika dibetulkan oleh Pak Carter karena membuat kesalahan serupa. "Orang biasa seperti kita-kita ini harus menyertakan nama depan atau inisial mereka, seperti misalnya, Hormat kami, Obadiah Binns, atau X.Y.Z. Blotwell."

"Tapi namaku bukan Obadiah," bantah Binns.

"Dan kalau inisialku betul X.Y.Z., kepanjangannya lalu apa?" tanya Blotwell ingin tahu.

Jennings tidak mengacuhkan gangguan itu. "Dan apa-apaan ini, aku dan Darbi dibilang berengsek. Kalau berongsong, aku tahu, tapi berengsek... ?"

"Mungkin yang mereka maksudkan beringas, Jen! Kita kan bisa beringas kalau ada yang mengganggu!"

"Ah, kalian saja yang tidak bisa membaca dengan benar. Itu kan maksudnya brengsek," kata Binns menjelaskan. "Lagi pula, mentang-mentang Jennings..."

"Tuan Jennings, ya! Dan Tuan Darbishire. Pada kalimat pertama surat kalian ini, kalian sendiri mengakui bahwa begitulah sepatutnya kalau menyapa kami."

Kedua anak yang menulis surat itu berpandang-pandangan dengan sikap bingung. "Yuk, Binns, kita buang-buang waktu saja bicara dengan mereka ini," kata Blotwell sambil menuju ke pintu. "Mereka ini sinting. Anak-anak Kelas Tiga memang sinting semuanya."

Jennings memanggilnya agar kembali, "Katakanlah, kalian tidak kehilangan potongan-potongan itu," katanya. "Kalian pasti akan sudah menyelesaikan gambar itu sekarang. Lalu apa yang akan kalian lakukan hari Minggu siang nanti?"

"Tidak berbuat apa-apa, barangkali," jawab Blotwell sambil mengangkat bahu.

"Nah, itulah!" kata Jennings dengan nada yakin. "Pak Wilkie selalu marah-marah apabila ada anak mengatakan padanya bahwa mereka tidak punya kesibukan sama sekali. Lalu dia akan menyuruh kalian berkeliaran memunguti kertas bekas pembungkus permen atau pekerjaan menjijikkan lainnya. Jadi kalian mestinya malah berterima kasih pada kami."

"Berterima kasih? Tapi kami masih tetap tidak punya kesibukan nantinya, jika tidak bisa menyelesaikan teka-teki gambar itu."

"0 ya, kalian akan punya kesibukan. Kalian kan bisa mencari potongan-potongan yang hilang itu."

Menurut perasaan Blotwell, ada sesuatu yang tidak benar dalam pernyataan Jennings itu. Tapi ia tidak tahu apa tepatnya.

Dengan perasaan sebal, kedua penggemar teka-teki gambar itu pergi ke gang. Mereka hendak berunding, apakah mereka bukan korban dari suatu tipuan yang licik.

Binns menggeleng dengan sedih sambil berkata, "Ck, Selalu saja begini hasilnya. Kita takkan pernah bisa menang, menghadapi orang seperti anak-anak dari Kelas Tiga itu."

"Orang?! Anak-anak Kelas Tiga tidak bisa disebut orang--setidak-tidaknya bukan manusia beradab seperti kita," tukas Blotwell. Sementara itu lonceng berbunyi, menyuruh anak-anak berkumpul. "Anak-anak Kelas Satu, mereka tentu saja baik-baik semuanya. Anak-anak Kelas Dua masih lumayan apabila tidak suka mencampuri urusan orang lain, tapi yang selebihnya..." ia mengernyit sebal, "...yang selebihnya busuk semua. Jika kau ingin tahu pendapatku, anak-anak Kelas Tiga pada umumnya - apalagi Jennings - adalah wujud paling hina dari alam hewan, yang pernah dikenal di dunia ilmu pengetahuan."

9. KECEMASAN TANPA ALASAN

PAK CARTER tidak mengajar pada jam pelajaran terakhir hari Jumat. Ia memanfaatkan waktu luangnya itu di ruang guru, menyusun regu-regu untuk pertandingan cricket siang itu.

Ketika lonceng berbunyi tanda Jam pelajaran berakhir, pintu terbuka dan seorang wanita muda berwajah menarik, mengenakan seragam perawat, masuk sambil mendorong'meja dorong berisi Perlengkapan untuk minum teh.

"Anda menyelamatkan nyawa saya, Matron,” katanya menyambut kedatangan wanita itu. "Saya memang sudah kepingin sekali minum teh."

"Saya tidak yakin apakah Anda pantas diberi secangkir," jawab Matron bercanda. "Enak-enak duduk di sini, sementara Pak Wilkins yang malang kerepotan di Kelas Tiga."

Pak Carter tertawa. "Jangan lupa, saya pun kadang-kadang berurusan dengan mereka!"

Matron mendorong meja dorong dengan perangkat untuk minum teh itu ke dekat jendela lalu memandang ke luar. Saat itu sebuah mobil pertanian yang sudah tua dan penyok-penyok muncul di lapangan bermain lalu berhenti di situ bersamaan dengan bunyi rem mendecit-decit. "Bu Thorpe datang lagi," katanya.

Pak Carter menepuk keningnya dengan perasaan cemas. "Aduh, jangan-jangan babi itu dibawanya lagi kemari!"

"Kelihatannya bukan babi karena terlalu kecil, tapi yang jelas ia membawa sesuatu."

Pak Carter menghampiri Matron. Mereka berdua mengamati sementara Bu Thorpe turun dari mobilnya, memegang sebuah benda pendek berbentuk silinder yang terbungkus kertas berwarna coklat. Ia memandang berkeliling, mencari orang yang bisa membantu. Kemudian ia menggamit, memanggil Rumbelow yang saat itu muncul dari pintu samping, hendak menuju ke lapangan bermain.

Rumbelow berlari-lari kecil mendatangi tamu itu. Anak itu berdiri sambil mendengar dan mengangguk-angguk sementara Bu Thorpe berbicara panjang lebar pada anak itu. Kata-kata yang diucapkannya tidak bisa didengar oleh kedua orang yang mengamati di ruang guru. Tapi nampaknya Bu Thorpe memberikan instruksi-instruksi, karena akhirnya benda berbungkus kertas coklat itu disodorkannya pada Rumbelow. Setelah itu ia masuk lagi ke mobilnya, lalu pergi.

"Hadiah untuk seseorang?" Pak Carter mencoba menebak. "Mungkin untuk Anda, Matron."

"Mana mungkin? Saya tidak bisa membayangkan ada orang hendak memberikan hadiah pada saya!" Ia berpaling untuk menuangkan teh ke cangkir-cangkir, sementara Pak Carter mengambil daftar regu-regu cricket yang sudah selesai disusun lalu berjalan ke pintu.

Di gang sebelah luar ruang guru, terdengar bunyi gemuruh seperti ada sekawanan bison berlari menuju kubangan tempat minum. Bunyi itu menandakan bahwa anak-anak Kelas Tiga sedang menuruni tangga, untuk menyiapkan diri bermain cricket. Pak Carter membuka pintu dan menahan bison yang pertama-tama dilihatnya.

"Ini, ada tugas untukmu, Venables," katanya sambil menyerahkan daftar yang sudah disusunnya ke tangan anak itu. "Pasang daftar ini di papan pengumuman di ruang ganti, sekarang ini juga."

"Ya, Pak, beres, Pak."

"Dan kau berjalan turun ke ruang ganti itu. Usahakanlah untuk ingat bahwa tangga bukan tempat pemain ski bertanding lompat jauh."

"Ya, Pak, tentu saja, Pak." Venables memandang lembaran-lembaran kertas yang ada di tangannya sekilas. "Bolehkah saya minta beberapa paku payung untuk memasangkannya di papan, Pak? Selalu saja tidak ada yang tersisa di situ apabila diperlukan."

Pak Carter mengeluarkan empat buah paku payung kuningan dari kotak yang terletak di atas rak pendiangan. "Ini, tiap lembar kaupasang dengan satu paku. Tapi hati-hati, jangan sampai tercecer di tengah jalan."

Sewaktu Venables sampai di ruang tempat ganti pakaian, anak-anak sudah berkerumun di sekeliling papan pengumuman, menunggu daftar regu-regu yang akan dipasang.

"Minggir! Minggir!" seru Venables dengan suara keras sambil menerobos kerumunan itu. "Dan jangan mendorong-dorong. Bagaimana aku bisa memasangnya jika aku kalian desak kian kemari!"

Papan pengumuman itu dipasang agak tinggi di dinding, sehingga Venables mengalami kesulitan untuk memakukan daftar-daftar itu dengan baik. Ia memandang berkeliling, mencari-cari sesuatu yang bisa dipakai sebagai landasan berdiri. Ia melihat sebuah bangku di dekat jendela. Bangku itu diseretnya ke dinding tempat papan pengumuman, untuk dijadikan tempat berpijak.

Ia baru saja hendak naik ke atas bangku untuk memulai tugasnya, ketika terjadi sesuatu yang mengalihkan perhatian anak-anak. Rumbelow masuk ke ruangan itu sambil mengacung-acungkan sebuah benda pendek berbentuk silinder yang dibungkus kertas berwarna coklat. Ia mendesak maju sampai ke bangku sambil berseru-seru, "Jennings! Jennings! Ada yang melihat Jennings?"

Anak yang dipanggil beringsut maju, menerobos kerumunan anak-anak. "Aku di sini. Kenapa kaupanggil-panggil?"

"Aku baru saja berjumpa dengan Bu... siapa sih, namanya? Itu, kau tahu, kan, yang kemari hari Minggu yang lalu," kata Rumbelow. "Ia menyuruh aku untuk mengatakan padamu bahwa orang yang memenangkan hadiah kedua dalam perlombaan bolingmu yang termasyhur itu memberikan hadiah yang diperolehnya sebagai pengganti babimu yang diberikan padanya."

"Memang begitu seharusnya," kata Temple yang berdiri di belakang Rumbelow. "Memang tidak pantas jika kedua hadiah tersebut diambil oleh juara dua, sementara juara pertamanya tidak mendapat apa-apa."

"Itulah yang dikatakan oleh nyonya itu tadi - kurang lebih," kata Rumbelow. Disodorkannya bingkisan itu kepada Jennings. "Nih, ambil!"

Andaikan Jennings masih ingat apa wujud hadiah kedua itu, ia pasti akan mencari tempat yang lebih sepi sebelum membuka bungkusan itu. Tapi karena sudah lupa (itu pun kalau ia pernah ingat apa itu), dibukanya bungkusan itu dengan perasaan gembira.

Tentu saja ia teringat lagi begitu melihat botol berisi kristal-kristal pengharum air mandi itu. Tapi sudah terlambat, karena anak-anak yang lain juga sudah sempat melihat benda apa yang ada dalam bungkusan itu.

Tidak ada yang lucu tentang kristal pengharum air mandi yang sangat wangi, apabila itu dipandang sebagai bahan pembersih tubuh. Tapi bagi keempat puluh enam murid kelas-kelas rendah yang berdesak-desak di sekeliling papan pengumuman, gagasan untuk menghadiahkan bahan mandi yang pantasnya untuk wanita kepada seorang anak bertangan kotor yang menjadi juara dalam perlombaan boling dengan hadiah babi, itu dianggap sangat menggelikan.

Terdengar suara tertawa geli ketika Jennings merobek kertas pembungkus. Suara tertawa geli itu menanjak menjadi teriakan-teriakan histeris sewaktu anak-anak membaca label yang dilekatkan pada botol berisi kristal-kristal itu.

PESONA, begitulah yang tertulis pada label itu: Kristal Mandi Baru Segar dan Eksotis Menawan. Diramu Khusus untuk Gadis-gadis Modern.

“Jennings, gadis pesona!" seru anak-anak. Mereka sangat geli. "Jennings, gadis modern yang diramu khusus! ...Nona Jennings, Ratu Kecantikan yang segar dan menawan dari Kelas Tiga... Pilihlah Jennings untuk menjadi Gadis Tercantik Sejagat!"

Anak-anak membentuk lingkaran lalu menari-nari mengelilingi dengan langkah berjingkat-jingkat, menirukan rombongan penari balet.

Suara tertawa geli berubah menjadi pekik jerit melengking seperti anak-anak perempuan ketika salah seorang anak merampas botol itu dari tangan Jennings dan membuka sumbatnya. Seketika itu juga seluruh ruangan sudah penuh dengan bau wangi bunga verbena. Beberapa di antara penari-penari langsung roboh ke lantai pura-pura pingsan, menirukan gaya gadis-gadis abad yang lalu ketika mengendus bau yang amat wangi itu. Sedang anak-anak yang lain menutup hidung mereka rapat-rapat sambil mengibas-ngibaskan tangan untuk menyingkirkan bau itu.

"Wow! Uap beracun!" kata mereka dengan napas sesak. "Bau memuakkan! ...Wewangian untuk Jennings Mandi Malam Hari!"

Jennings berdiri saja di tengah kerumunan anak-anak dengan sikap seakan tidak peduli. Para penari meningkatkan aksi gangguan mereka, berharap Jennings akan terdorong untuk melakukan pembalasan.

Suara mereka berisik sekali, memekakkan telinga. Sewaktu mereka sedang ribut-ributnya, Pak Hind masuk untuk melihat apakah anak-anak sudah siap untuk pergi bermain cricket.

"Diam! Di-am!" seru guru itu sekuat-kuatnya.

Para penari berhenti menandak-nandak, suara-suara ejekan langsung terputus.

"Keterlaluan! Kalian kira kalian ini sedang main apa?" kata Pak Hind marah-marah. "Kenapa kalian semua belum berganti pakaian?"

"Kami masih menunggu Venables memasang daftar regu-regu yang akan main, Pak," kata Bromwich, seakan itulah yang menyebabkan keributan itu.

Venables masih berdiri di atas bangku dengan paku-paku payung di tangan yang satu dan lembaran-lembaran daftar di tangan yang lain. Ia berbalik, menghadap ke papan pengumuman., Secara tak disengaja ia menjatuhkan paku-paku payung yang ada dalam genggamannya, sehingga jatuh berceceran di lantai.

"Maaf, Pak," katanya sambil melompat turun untuk mengambil paku-paku itu. "Ada yang menyenggol bangku."

Tiga buah paku ditemukannya kembali dengan cepat, tapi yang keempat seakan lenyap tak berbekas. "Maaf, Pak," katanya berulang kali setiap lima detik, sementara ia meneliti celah-celah di sela papan lantai. "Rupanya menggelinding entah ke mana."

Pak Hind mengetuk-ngetukkan telapak sepatunya ke lantai dengan sikap kurang sabar. "Astaga, kau ini bagaimana?! Kalau begini caranya, waktu mengadakan undian kalian masih juga belum mulai berganti pakaian." Diambilnya lembaran-lembaran daftar itu dari tangan Venables. Tiga di antaranya dipasangnya di papan pengumuman dengan ketiga paku payung yang ada.

Daftar keempat dibacakannya dengan lantang, sehingga anak-anak yang disebut namanya tahu mereka dipilih untuk main dalam regu yang mana.

Sementara itu Jennings mengambil kembali benda miliknya yang tidak diingininya itu. Botol berisi kristal-kristal untuk mandi itu terletak di atas bangku tempat Venables masih berdiri, sedang sumbatnya yang terbuat dari gelas tergeletak di lantai. Begitu Pak Hind selesai membacakan isi daftar lembar keempat, Jennings bergegas meninggalkan ruangan. Ia menyembunyikan hadiah yang membuatnya malu itu di dalam kotak bekal makanan kecilnya. Ia menaruhnya di bawah sekali. Benda itu hendak dibiarkannya berada di situ terus, sampai ia sudah mengambil keputusan mengenainya.

Darbishire mengajukan saran yang masuk akal. "Kalau aku, akan kuberikan saja pada Matron," katanya, sewaktu ia masuk lagi bersama Jennings sehabis bermain cricket. "Wanita pasti suka kristal pengharum air mandi. Mereka kelihatannya senang saja badannya. menghamburkan bau wangi seperti pabrik parfum."

Sebenarnya Matron tidak menyukai bau kristal mandi dengan parfum bunga verbena. Tapi ia terlalu sopan untuk mengatakannya berterus terang, sewaktu Jennings datang ke klinik menjelang saat tidur malam itu. Anak itu sudah memakai piama. Ia membawa benda berbentuk silinder dan dibungkus kertas koran. Bungkusan itu disodorkannya pada Matron, diiringi senyuman berseri-seri.

"Untuk aku? Wah, ini benar-benar kejutan namanya," katanya lalu mengucapkan terima kasih. "Tadi siang aku masih berkata pada Pak Carter, tidak bisa kubayangkan ada orang memberikan hadiah padaku."

"0, saya sebenarnya tidak bermaksud memberi Anda hadiah, Matron. Saya tidak membelinya untuk dihadiahkan pada Anda." Jennings tidak melanjutkan kalimatnya. Keningnya berkerut.

Kata-katanya tadi tidak bisa dibilang halus, katanya dalam hati. Karenanya ia lantas menyambung, "Maksud saya, teman-teman semua sependapat bahwa Anda sangat baik hati, jadi timbul pikiran saya bahwa Anda mungkin suka menerima suatu hadiah sebagai buktinya. Soalnya, merknya Pesona, Matron. Untuk Cadis Modern. Ini, tertulis pada label ini."

"Kau benar-benar baik hati, Jennings." Untuk menunjukkan penghargaannya, Matron membuka sumbat botol itu dan mengendus isinya. Ia cepat-cepat menarik kepalanya ke belakang, begitu tercium bau yang begitu wangi. Sambil memaksa dirinya tersenyum, ia menambahkan,

"Sekarang aku tidak punya waktu untuk mencobanya, karena diundang makan malam di luar. Tapi nanti sebelum masuk ke tempat tidur, aku mesti mandi. Ya, kan?"

Jennings kembali ke asrama. Ia merasa senang sekali, karena berhasil menyingkirkan hadiah yang tidak diingininya itu dengan cara yang menyenangkan orang lain. Mendingan begitu daripada mencampakkan botol itu ke bak sampah, katanya dalam hati. Ia merasa yakin, Matron pasti senang sekali menerima hadiah itu. Itu memang sudah sepantasnya, karena tidak setiap hari ada orang datang memberikan ramuan parfum mahal yang diramu khusus untuk Gadis Modern!

Anak-anak yang lain sudah berada di tempat tidur masing-masing ketika Jennings tiba di Ruang Tidur Empat. Sementara itu kejadian di ruang ganti pakaian tinggal merupakan lelucon yang sudah basi. Walau begitu, Temple tidak bisa menahan diri. Ia berkata, "Halo, Jen! Kau baru mandi eksotis segar menawan di bak mandi?"

Jennings, menoleh ke arahnya sambil nyengir.

"Mana mungkin?! Aku tidak pernah memakai yang macam-macam seperti itu," katanya sambil meloncat ke ranjangnya. "Aku sudah berhasil menyingkirkannya."

Venables menegakkan tubuhnya, duduk di ranjangnya yang terletak di seberang ruangan. Ia berkata, "Untung saja kaubuang. Botol itu berbahaya. Ada paku payung di dalamnya."

Jennings bingung. "Paku payung yang mana?"

"Itu, yang terlepas dari tanganku di papan pengumuman. Jatuhnya ke botolmu yang berisi kristal untuk mandi itu."

"Apa?"

"Ya, itu kuingat kemudian, setelah aku tidak bisa menemukannya di lantai. Aku kan berdiri di atas bangku, dengan botolmu itu di bawah kakiku. Sumbatnya kan dibuka, jadi mestinya sewaktu jatuh paku itu langsung masuk ke situ."

"Kau yakin? Barangkali terguling ke tempat lain."

"Tidak mungkin. Aku sudah memeriksa seluruh lantai, sesudah yang lain-lainnya pada pergi semua. Aku dibantu oleh Bromwich, dan kami berdua sama sekali tidak menemukan paku payung di mana pun juga. Jadi sudah jelas apa yang terjadi. Tapi itu tidak penting. Paku payung kan murah harganya, tapi aku cuma..."

Venables tidak menyelesaikan kalimatnya, karena melihat Jennings menatapnya dengan wajah seseorang yang menggigit kentang yang tidak tahunya masih sangat panas. "Ada apa, Jen? Kenapa kau begitu?"

Wajah Jennings tetap nampak seperti kesakitan.

"Ada apa?" katanya mengulangi. "Sesuatu yang gawat-itulah yang terjadi! Aku baru saja memberikan botol itu kepada Matron! Bukan itu saja, ia berniat hendak menuangkan isinya ke dalam air mandinya apabila hendak tidur nanti malam."

Anak-anak yang lain memerlukan waktu beberapa saat untuk menyadari makna ucapan Jennings. Kemudian seisi Ruang Tidur Empat itu bangkit dengan cepat, terduduk di tempat tidur masing-masing.

"Ya, aku mengerti maksudmu," kata Venables. "Apakah yang akan terjadi apabila dia nanti duduk di bak mandinya?"

"Ada paku payung di situ! Wow! Itu sama gawatnya seperti ada kepiting di kolam renang pada bagian yang dangkal," kata Temple.

"Bahkan lebih gawat lagi," kata Darbishire. "Kristal-kristal itu akan menyebabkan air mandi menjadi tidak jernih lagi. Jadi Matron takkan melihat adanya bahaya itu, sampai ia mendudukinya."

"Ia pasti akan menyangka kau sengaja melakukannya," kata Atkinson menimbrung. "Bisa saja ia kemudian menganggapnya sebagai lelucon. Tapi lebih besar kemungkinannya ia berpendapat bahwa itu tindakan sabotase. Pembalasanmu yang kejam untuk omelannya kemarin malam karena kau menghilangkan pasta gigimu."

Jennings benar-benar bingung saat itu. Kalau dianggap lelucon, pasti merupakan lelucon yang tidak lucu. Lebih gawat lagi kalau itu dianggap sebagai pembalasan! Kalau Matron beranggapan begitu, akan rusaklah suasana ram'ah yang selalu ada apabila ia mampir sebentar di klinik untuk mengobrol. Matron takkan pernah mau mempercayainya lagi. Bukan itu saja, ia pasti akan melaporkannya kepada Kepala Sekolah, karena berbuat nakal yang keterlaluan!

"Aku harus segera memberitahukan padanya!" serunya sambil meloncat turun dari ranjang dan mengenakan sandalnya. Ia bergegas keluar, menuruni tangga lalu menyusuri gang menuju ke klinik.

Sewaktu ia sudah hampir sampai di pintu, Pak Wilkins muncul dari balik sudut gang. Ia hendak mendatangi kamar-kamar tidur di lantai paling atas, untuk menyuruh anak-anak tidur.

"Jennings! Kenapa kau keluar lagi? Ayo, segera kembali ke kamarmu!" perintahnya.

"Aduh, Pak, saya perlu bertemu sebentar dengan Matron. Urusan penting!"

"Tidak bisa. Klinik sudah ditutup lima menit yang lalu. Lagi pula, Matron tidak ada. Dia diundang makan malam di luar. Baru larut malam nanti ia pulang."

Jennings mendekapkan tangannya ke mulut, karena tiba-tiba ia teringat lagi. Ya, betul, Matron tadi memang mengatakan bahwa ia akan keluar malam itu! Jadi apa yang harus dilakukan sekarang?

"Untuk apa kau ingin bertemu dengan dia?" tanya guru itu dengan ketus.

Sesaat Jennings sudah hendak menjelaskan masalah yang dihadapinya. Tapi begitu melihat air muka Pak Wilkins yang galak, ia langsung berubah pikiran. Pak Wilkins takkan mungkin percaya bahwa hal itu terjadi secara tak disengaja! Kejadiannya begitu tidak masuk di akal, sehingga kemungkinannya seribu banding satu bahwa guru galak itu akan berpendapat, bahwa ada rencana jahat yang saat itu hendak dilakukan Jennings.

Kalau pada Pak Carter, atau bahkan Pak Hind, Jennings jelas mau memaparkan masalahnya. Tapi tidak pada Pak Wilkins. Pak Wilkie bukan tipe orang yang bisa bersimpati dengan anak Kelas Tiga yang memberikan botol berisi kristal-kristal mandi yang isinya sangat menyakitkan.

"Kalau begitu sudahlah, Pak. Tidak jadi soal," gumam Jennings. Ia berbalik, lalu berjalan kembali menyusuri gang. Keningnya berkerut.

"Apa yang terjadi?" tanya teman-temannya, ketika ia sampai di kamar tidurnya.

"Aku terlambat, dia sudah tidak ada lagi di sana. Habislah riwayatku sekarang, berkat kau, Venables, anak kikuk berkaki kidal. Tanganmu kenapa sih, memegang paku payung saja tidak bisa ?!"

Jennings melepaskan sandalnya dengan marah, lalu naik ke atas ranjangnya. Sebenarnya ia masih hendak berbicara, tapi itu tidak dimungkinkan oleh kedatangan guru pengawas yang berkeliling mendatangi kamar-kamar tidur.

Selama beberapa waktu setelah Pak Wilkins pergi, mata Jennings masih belum bisa terpejam. Ia berbaring dengan gelisah, sementara otaknya bekerja keras memikirkan jalan keluar dari kesulitan yang dihadapi. Mungkin ada baiknya ia menulis surat peringatan dan menyelipkannya ke bawah pintu kamar Matron, dengan harapan surat itu akan dilihatnya sewaktu ia pulang nanti. Tapi berbahaya untuk pergi ke bawah mencari alat-alat tulis sementara guru pengawas masih berkeliaran di lingkungan asrama; ia harus menunggu sampai lampu-lampu malam sudah dinyalakan di tangga, dan langkah-langkah Pak Wilkins yang berat sudah tidak terdengar lagi menggema sepanjang gang.

Sementara itu banyak yang perlu dipikirkan. Selama dua puluh menit selanjutnya, pikiran Jennings sibuk menyusun isi surat yang cocok. Ia akan membukanya dengan tulisan: PERINGATAN! HATI-HATI TERHADAP KRISTAL MANDI! Tentu saja dengan huruf-huruf besar. Kemudian, di bawahnya: Jangan dipakai, juga dalam keadaan mendesak, karena ada Bahaya di Dalamnya. Jennings merasa puas dengan perumusan yang terakhir itu. Kalimat itu diulang-ulangnya dalam hati, sementara memikirkan apa yang perlu dituliskan lagi. Ia bisa menambahkan: Di dalamnya ada paku payung, jadi harap jangan duduk atau berdiri, tapi ini bukan sabotase seperti yang mungkin Anda kira. Atau ia bisa juga tidak memberi tambahan itu, tapi menulis: Saya akan ke tempat Anda besok pagi untuk menjelaskan segala-galanya. Atau bisa juga ia menulis...

Sementara masih mencari-cari perumusan yang terbaik untuk isi surat yang akan ditulisnya, Jennings tertidur.

Pukul tujuh keesokan paginya ia terbangun oleh bunyi bel untuk membangunkan seisi asrama. Ia langsung duduk lurus-lurus di ranjangnya, sementara pikirannya sudah terpusat kembali pada kejadian-kejadian malam sebelumnya. Aduh, kenapa ia sampai tertidur pada saat ia sebenarnya harus siap untuk bertindak?

Jennings begitu jengkel, kepingin rasanya menendang dirinya sendiri! Dan Venables pun sebenarnya juga perlu ikut ditendang karena kekikukannya, kata Jennings dalam hati, sementara ia memandang berkeliling kamar ke arah keempat temannya yang saat itu nampak bangun dengan susah payah.

Saat itu sudah terlambat untuk mendatangi Matron guna memberikan penjelasan, apabila ia tadi malam sudah sempat mandi berendam dalam bak. Ia tentu saja masih bisa minta maaf. Tapi kecelakaan sudah terjadi, dan pada saat sarapan nanti Pak Pemberton-Oakes pasti sudah mendengarnya.

Dalam pikirannya, Jennings bisa membayangkan adegan pada saat murid-murid nanti berkumpul di aula: Kepala Sekolah di belakang mimbar, jangkung dan galak; dengan mata yang menatap dengan pandangan menusuk ia akan berkata, "Berdiri, anak yang mencampurkan paku payung ke dalam kristal-kristal mandi."

Karena ngeri membayangkan kemungkinan itu, Jennings berseru pada Venables, "He, Venables! Kau nanti kan mau membela aku, ya? Kau akan berdiri dan menjelaskan kepada Kepala Sekolah bahwa itu terjadi tanpa disengaja?"

Venables, yang masih setengah tidur, tidak langsung mengerti. Ketika akhirnya ia sudah cukup sadar untuk mengingat kembali kejadian malam sebelumnya, ia berkata, "Aku tidak melihat apa hubungannya dengan aku. Kan kau yang memberinya kristal-kristal untuk mandi itu - bukan aku."

"Memang, tapi kan kau yang menjatuhkan paku payung itu ke dalam botol."

"Tapi bagaimana aku bisa tahu apa yang kemudian kaulakukan dengannya? Jika kau ingin tahu pendapatku..."

"Begini sajalah," kata Jennings buru-buru memotong. "Kita cepat-cepat berpakaian lalu pergi melihat apakah kita bisa menemui Matron sebelum dia melaporkan kepada Kepala Sekolah. Jika kita buru-buru, mungkin saja masih sempat."

Jennings bergegas turun dari ranjangnya lalu dengan secepat-cepatnya mengenakan pakaian sekolah. "Tidak ada waktu untuk mencuci badan,” gumamnya sambil mengenakan kemeja. Ia begitu terburu-buru, sehingga kedua kakinya dimasukkan dalam satu lubang celana dalamnya. Terbuanglah waktu beberapa detik sementara ia membetulkan kekeliruannya itu.

Akhirnya ia selesai berpakaian. "Ayo!" serunya sambil memandang ke seberang kamar. Dilihatnya Venables masih tetap duduk di ranjangnya. Ia masih memakai celana piamanya.

"Aduh, ampun, Ven!" seru Jennings. "Kusangka kau hendak menolong aku."

Venables menggeliat, menguap, bangkit dari ranjang, lalu meraih ke kolong untuk mengambil sepatunya. "Baiklah, tapi jangan kausuruh buru-buru. Aku belum benar-benar bangun."

"Tapi sudah tidak ada waktu lagi," Jennings menandak-nandak karena tidak sabar. "Matron pasti sangat marah pagi ini, setelah kejadian yang dialaminya tadi malam. Bisa juga ia bahkan..."

Tapi Venables tidak mendengarkan. Ia berdiri di samping ranjangnya. Dengan penuh minat diperhatikannya sol sepatunya. Kemudian ia mengangkat kepalanya dan berkata, "He, ini lucu! Benar-benar aneh!"

"Huh! Aku senang mendengar kau mengatakan ada yang lucu, karena aku tidak berpendapat begitu," kata Jennings sambil mendengus.

"Aku terbenam dalam kesulitan, tapi kau..."

"Tapi ini memang lucu dan aneh. Aku baru saja menemukan sesuatu," kata Venables memotong. "Paku payung itu ternyata tidak tercemplung ke dalam botol berisi kristal-kristal mandi itu. Aku baru saja menemukannya, tercocok ke sol sepatuku!"

"Apa?"

"Sungguh, ini dia, lihatlah!" Venables mencongkel paku payung itu dengan kuku-kukunya, lalu memperhatikannya seakan benda itu permata bernilai tinggi. "Rupanya paku ini jatuh ke lantai dengan ujungnya yang tajam menghadap ke atas. Lalu ketika aku meloncat turun dari atas bangku, aku menginjaknya. Dan sejak itu aku berjalan dengan paku ini tercocok ke sol sepatuku. Pantas aku tidak bisa menemukannya!"

Terdengar bunyi anak-anak tertawa di ketiga ranjang yang lain. Darbishire, Temple, dan Atkinson geli mendengar kejadian yang lucu itu.

Jennings tidak ikut tertawa. Kepalanya pusing karena kaget. Segala kecemasannya mengingat keselamatan Matron; berguling-guling dengan gelisah di tempat tidur sampai akhirnya tertidur; segala perkiraan menyeramkan mengenai hal yang akan dialami pada saat berkumpul nanti. Padahal semuanya itu ternyata tidak akan terjadi!

Jennings pergi ke tempat baskom-baskom yang berisi air, dipilihnya sepon yang paling besar, lalu dibasahinya dengan air dari keran.

"Harus kauakui, kejadian ini ada segi lucunya, Jen," kata Temple yang masih terus tertawa-tawa sambil membereskan tempat tidurnya.

"0 ya, memang sangat lucu!" jawab Jennings dengan suara tegang.

Kemudian dilemparkannya sepon yang basah ke arah Venables, tepat mengenai hidung anak itu. Venables megap-megap, menyambar handuk, sementara air dingin mengucur ke bawah membasahi bagian atas celana piamanya. '

"Sangat lucu, ya!" kata Jennings mengulangi. "Tapi tidak selucu tampang Venables sekarang," sambungnya sambil berjalan ke pintu.

10. PERUBAHAN RENCANA

AKHIR minggu berikutnya, barulah Jennings dan Darbishire dibebaskan dari tugas meratakan rumput lapangan cricket dan merapikan kebun Kepala Sekolah.

"Syukur lelucon ini hampir berakhir," kata Jennings pada Darbishire ketika untuk terakhir kalinya mereka menarik alat giling perata rumput pada hari Sabtu pagi. "Aku rasanya sampai kenal semua lembar rumput di lapangan ini, dari ujung ke ujung. Dan alat giling brengsek yang berdentang-dentang di belakang kita seperti bunyi besi tua satu truk penuh, aku nyaris bisa mendengarnya dalam tidur."

"Mestinya kau mencoba tidak memikirkannya," kata Darbishire menasihati. "Cobalah berbuat seperti aku, pikirkan hal-hal yang lain. Itu membuat waktu berjalan lebih cepat."

"Hal-hal lain seperti apa?"

"Hal-hal yang akan datang, yang menyenangkan. Seperti misalnya saja sesaat yang lalu, aku berpikir jika Pettigrew sudah melakukan tugasnya Senin lusa, hari Selasa-nya kita akan bisa mengadakan pameran prangko, di mana semuanya antre untuk melihat Penemuan-penemuan Ilmiah Abad Kedua Puluh yang baru, dengan seizin Tuan-tuan Jennings dan Darbishire."

"Wow! Ya, tentu saja-hari Senin! Aku sampai lupa, itu sudah sebentar lagi," kata Jennings. "Aku berjanji akan memberikan uang pada Pettigrew, sebelum ia pulang hari ini. Sudah kau siapkan uangmu?"

Mulanya mereka dengan enteng berbicara tentang niat mereka hendak membeli seluruh seri prangko baru itu pada hari pertama penjualannya. Tapi pada babak masa sekolah saat itu uang simpanan mereka sudah begitu susut, sehingga rencana semula terpaksa dilepaskan. Mereka terpaksa harus puas dengan selembar prangko kelas satu untuk masing-masing.

"Sebenarnya ini malah akan membuat prangko-prangko itu menjadi semakin langka," kata Jennings menjelaskan, ketika menyadari mereka harus mengubah rencana mereka yang semula hebat karena kondisi keuangan yang payah. "Aku membaca sebuah artikel dalam majalah prangkomu mengenai kolektor-kolektor cerdik yang memusnahkan prangko-prangko asli yang langka, dengan maksud agar yang tersisa menjadi bertambah langka."

"Tapi yang sekarang ini takkan bisa menjadi benar-benar langka, karena siapa saja bisa membelinya," bantah Darbishire.

"Kecuali anak-anak Kelas Tiga. Setidak-tidaknya, pada saat mereka nanti bisa membeli, akan sudah terlambat untuk mendapat cap pos hari Senin - dan cap yang dibubuhkan setelah hari itu akan mengakibatkan, nilai prangkonya takkan tinggi."

Meski bersedia membantu, Pettigrew enggan mengalami kesulitan ketika Jennings menyerahkan uang untuk membeli prangko-prangko itu padanya sehabis bersekolah pagi itu.

"Asal aku tidak sampai terlambat," katanya sambil memasukkan uang itu ke dalam sakunya. "Aku ingin tiba di sini pukul sembilan kurang dua puluh, sehingga masih punya waktu untuk main cricket di lapangan bermain sebelum saat kita harus berkumpul."

"Pasti masih banyak waktu tersisa untuk itu," kata Jennings menenangkan. "Usahakan agar kau sudah ada di depan pintu pukul setengah sembilan, pada saat kantor pos dibuka. Naik sepeda dari sana kemari hanya makan waktu lima menit saja. Kau pasti masih sempat main cricket sepuas-puas hatimu sebelum lonceng berbunyi pukul sembilan kurang sepuluh."

Hari Minggu berlalu tanpa ada kejadian yang istimewa. Pada hari Senin pagi Jennings bangun dengan perasaan gembira.

Tapi Darbishire tidak! Ia bangun dengan kepala yang terasa agak pusing. "Kurasa sebaiknya kudatangi saja Matron sehabis sarapan pagi, untuk minta obat sakit kepala," katanya pada Jennings ketika mereka berdiri berdampingan menghadapi baskom-baskom tempat mencuci badan, segera setelah lonceng untuk membangunkan anak-anak berbunyi.

"Tidak bisa, karena kita harus melihat dulu prangko-prangko kita yang baru," kata Jennings. Ia bisa berkata begitu, karena dia sendiri segar bugar saat itu. "Setelah itu kau boleh pergi ke klinik. Kan masih banyak waktu untuk itu. Matron melayani permintaan obat dan macam-macam lagi sampai saat jam pelajaran pertama dimulai - kadang-kadang bahkan melampaui batas waktu itu."

"Makin siang makin baik, jika ada kesempatan untuk menghindari jam pelajaran pertama," kata Darbishire. "Pagi ini Pak Wilkins akan mengadakan ulangan matematika, dan kurasa anak yang sakit kepala seharusnya tidak diperbolehkan ikut."

Ia setuju untuk mengundurkan kepergiannya mendatangi Matron, karena seperti Jennings, dia juga ingin sekali melihat prangko terbitan baru itu. Segera setelah anak-anak selesai sarapan pagi, kedua penggemar prangko itu pergi ke tempat penyimpanan sepeda, menunggu kedatangan Pettigrew yang dititipi untuk membelikan prangko.

Mereka tidak perlu menunggu terlalu lama. Pukul delapan lewat tiga puluh dua menit terdengar bunyi sepeda direm di atas kerikil. Pengendara sepeda yang ditunggu-tunggu itu menghentikan kendaraan roda duanya lalu turun dekat pintu.

"Berhasil?" tanya Jennings bersemangat.

Pettigrew menggeleng. "Dinas intelijen kalian agak meleset rupanya,” katanya. "Kau waktu itu mengatakan, kantor pos buka setengah sembilan."

"Lalu?"

"Itu tidak benar. Bukanya pukul sembilan kurang seperempat. Cukup lama aku menunggu di sana, sampai akhirnya ada orang lewat dan memberi tahu."

Jennings sangat kaget mendengar rencananya gagal. "Tidak bisakah kau menunggu?" serunya.

"Coba kau tetap di sana sampai saatnya buka, kau pasti akan sudah bisa sampai di sini sebelum saat kita harus berkumpul, jika kau bergegas-gegas mengayuh sepedamu." '

Menurut pendapat Pettigrew itu merupakan permintaan yang keterlaluan. Dan itu juga dikatakan olehnya pada Jennings. Setelah mau mengalah dan meninggalkan rumah lebih pagi dari biasanya, ia tidak bersedia disuruh mengalah lagi dan datang terlambat di sekolah. Yah, yang jelas tidak untuk sesuatu seperti dua lembar prangko yang sepele, katanya. Karena ia sendiri tidak suka mengumpulkan prangko, ia benar-benar tidak bisa mengerti kenapa ada orang yang bisa begitu ribut tentang soal kecil seperti itu. Bagaimanapun, prangko-prangko itu bahkan bukan dari luar negeri; setiap orang bisa membelinya di kantor pos yang mana. pun juga. Selain itu, sambungnya, ia ingin cepat-cepat tiba di sekolah pagi itu karena...

Tapi Jennings tidak tertarik mendengar alasan-alasan Pettigrew, begitu pula pandangannya mengenai filateli. Satu-satunya yang ada dalam pikirannya saat itu adalah bahwa seluruh rencananya yang hebat berantakan.

"Yuk, Darbi!" katanya sambil mendengus kesal. "Mestinya kita harus sudah tahu bahwa kita tidak bisa mengharapkan pertolongan dari anak konyol berotak udang dan sinting seperti Petters. Dia begitu goblok, sehingga tidak bisa membedakan sisi yang satu pada prangko luar negeri dari sisi lainnya."

Pettigrew menanggapi penghinaan itu dengan senyuman ramah. "Filateli itu tidak ada gunanya," katanya dengan nada membujuk.

"Kenapa begitu? Tentu saja ada gunanya! Dengan mengumpulkan prangko, kita bisa menambah pengetahuan tentang..."

"Ah, sudahlah," kata Petigrew dengan nada pasrah. "Aku tadi kan cuma bercanda, cuma kau saja yang begitu tolol sehingga tidak mengerti. Ada dua orang Cina penggemar filateli, dan filatelis yang satu memuji-muji yang satu lagi. Tapi dia tidak bisa menyebutkan huruf r dengan benar. Jadi ketika filatelis yang pertama hendak mengatakan..."

"Ah, sudahlah, diam kau," potong Jennings. "Ini bukan waktunya menceritakan lelucon konyol, sementara kau baru saja merusak kesenangan kami hari ini." Ia berbalik dengan cepat lalu pergi sambil marah-marah, diikuti oleh Darbishire.

Jennings begitu kecewa, sehingga ia tidak mau berbicara tentang soal itu ketika mereka sudah ada di dalam. "Jadi begitulah," katanya sambil mengangkat bahu. "Kau boleh pergi mendatangi Matron sekarang dan minta kepalamu dikerutkan menjadi kecil, atau entah apa maumu tadi."

"Sebenarnya sakit kepalaku sudah agak berkurang sekarang," kata Darbishire mengaku.

"Setidak-tidaknya begitu keadaannya, sampai kita mendengar bahwa Pettigrew tidak menepati janjinya pada kita. Itu membuat aku sangat marah, sehingga sekarang aku mungkin terserang tekanan darah tinggi,"

"Sebaiknya kaudatangi saja Matron," kata Jennings menyarankan. "Jika kau mujur, mungkin dia akan memutuskan bahwa kau benar-benar sakit, sehingga tidak bisa ikut ulangan matematika yang akan diadakan Pak Wilkie. Kau masih ingat Bromo waktu itu?"

Darbishire mengangguk. Beberapa minggu sebelumnya, Bromwich, setelah mengaku kepada teman-temannya bahwa ia tidak sempat melihat pekerjaannya yang harus dibetulkan, kemudian pergi ke klinik dengan alasan sakit yang tidak jelas di mana, tepat pada saat Pak Wilkins berniat untuk menguji pengetahuan anak-anak Kelas Tiga tentang verba bahasa Prancis. Alih-alih disuruh kembali ke kelas, Matron mengizinkan anak yang mengaku sakit itu duduk dengan tenang di sebuah kursi yang nyaman sampai waktu bersekolah pagi selesai.

Perawatan itu benar-benar ajaib hasilnya. Karena begitu lonceng berbunyi tanda waktu bersekolah pagi selesai, si sakit bangkit dengan cepat dan mengatakan bahwa pengobatan itu benar-benar hebat, sehingga ia kini merasa segar bugar lagi. Sebagai buktinya, Bromwich pergi ke ruang makan di bawah, makan sekenyang-kenyangnya dan mencatat prestasi empat puluh tiga angka untuk regunya dalam permainan cricket siang itu.

"Jika Bromo bisa melakukannya, kau pasti juga bisa," kata Jennings.

Darbishire terkejut sekali mendengar saran yang begitu tidak pantas. "Wah, aku tak mau berbuat semacam itu, hanya agar tidak usah ikut ulangan," katanya memprotes. "Kasusku lain sama sekali! Aku menderita sakit kepala yang asli, dan luar biasa - setidak-tidaknya itu menurut perasaanku!"

Ia mencoba menggeleng-gelengkan kepala, lalu menarik napas kesakitan. "Tentu saja jika urusannya terserah padaku, aku akan merasakan sakit ini tanpa mengatakan apa-apa. Tapi sebaiknya aku pergi saja melapor pada Matron, karena kau mendesak-desak terus."

Ia menuju ke tangga dan menaikinya dengan langkah pelan dan berhati-hati, seperti pasien yang diperingatkan agar jangan terlalu banyak mengerahkan tenaga.

Jennings pergi ke arah yang berlawanan. Sambil membisu direnungkannya dengan sedih bencana yang terjadi pagi itu, sambil berusaha memutuskan bentuk siksaan kuno mana yang cukup mengerikan untuk dilakukan terhadap Pettigrew, sebagai pembalasan atas kelakuannya yang melanggar janji.

Sewaktu ia lewat di depan ruang guru, pintu dibuka dari dalam. Pak Wilkins menjenguk ke luar.

"Ah, Jennings! Bisakah kau kuandalkan untuk melakukan tugas yang sangat sederhana tapi penting tanpa mengacaukannya?" tanya guru itu dengan nada bercanda.

"Ya, Pak. Tentu saja bisa, Pak."

Pak Wilkins menyodorkan sebuah sampul surat yang dibubuhi prangko, jadi tinggal diposkan saja. "Aku ingin surat ini dengan segera diposkan," katanya.

Pak Wilkins menutup pintu lagi, meninggalkan Jennings di gang. Anak itu berdiri di situ dengan sampul surat di tangan. Keningnya berkerut.

Urusan mengeposkan surat di Sekolah Linbury Court sudah diketahui oleh semua yang berkepentingan. Apabila sudah dibubuhi prangko, surat-surat diletakkan di keranjang kawat yang terdapat di serambi depan. Setiap hari, pukul lima, Robinson mengambil surat-surat yang ditaruh di situ dan membawanya ke kantor pos bantu di desa, pada waktunya untuk jemputan sore hari. Itu merupakan cara yang normal, dan sudah jelas bahwa cara itulah yang dimaksudkan oleh Pak Wilkins. Tapi kadang-kadang, apabila keranjang surat sudah diambil isinya oleh Robinson, bisa juga terjadi ada guru yang menyuruh salah seorang anak pergi langsung ke kantor pos untuk mengeposkan surat.

Pak Wilkins tadi mengatakan bahwa ia ingin surat itu diposkan, kata Jennings pada dirinya sendiri, dan dia juga mengatakan bahwa itu harus dilakukan dengan segera... Yah, kenapa tidak? Dengan berlagak salah menangkap maksud guru itu ia bisa mengeposkannya ke kantor pos, dan sekaligus memanfaatkan peluang itu untuk membeli prangko-prangko baru yang diinginkannya.

Kening Jennings semakin berkerut. Pasti nanti akan terjadi keributan jika ia sampai ketahuan - meski Pak Wilkins secara tidak sadar memberikan alasan padanya. Tapi cukup kuatkah alasan itu untuk menyelamatkan dirinya jika nanti ternyata perlu? Itulah yang sangat menentukan!

Jennings melirik jam tangannya. Kantor pos akan dibuka lima menit lagi, dan lonceng memanggil anak-anak berkumpul, sepuluh menit lagi. Jika ia tidak hadir di aula, ada kemungkinan ia diduga ada di atas, antre di depan klinik Matron untuk... untuk... yah, untuk berbagai macam keperluan, mulai dari obat batuk sampai tali sepatu yang baru, sebagai penjelasan kenapa seorang anak bisa harus mendatangi Matron pada saat berkumpul sebelum sekolah dimulai.

Ulangan akan dimulai pukul sembilan, apabila anak-anak sudah masuk ke kelas dan diabsen. Jika sampai saat itu ia belum juga kembali, ketidakhadirannya pasti akan ketahuan...Dan ia takkan mungkin menempuh perjalanan pergi-pulang ke kantor pos, ditambah lagi membeli prangko-prangko yang diingini dalam batas waktu yang tersedia. Itu takkan mungkin, biarpun ia menempuh perjalanan itu dengan lari secepat mungkin.

Jadi gagasan itu takkan mungkin bisa dilakukan! Kecuali... kecuali... mata Jennings bersinar-sinar, karena ia mendapat akal. Kenapa harus berjalan kaki, apabila sepeda Pettigrew ada di tempat penyimpanan yang letaknya tidak jauh dari pintu samping! Kalau diingat bahwa anak itu telah mengecewakan mereka pada saat bantuannya benar-benar diharapkan, kata Jennings menimbang, sudah selayaknya jika sebagai gantinya Pettigrew memberikan sumbangannya demi tugas yang harus dilakukannya saat itu.

Dengan menggunakan sepeda anak itu, Jennings bisa menghemat sepuluh menit dari waktu perjalanan. Minta izin untuk meminjamnya bisa dilakukan nanti, jika ia sudah kembali. Saat ini ia tidak sempat mencari-cari anak itu, karena waktunya sudah terlalu mendesak.

Jennings membulatkan tekadnya: ia akan berangkat dengan segera, keluar dan nanti masuk lagi lewat pintu gerbang di ujung lapangan yang jarang dilewati orang. Jika ia mengambil jalan itu, kecil kemungkinannya ada guru yang melihatnya. Lagi pula jalan menuju ke situ tersamar oleh semak-semak, hampir sepanjang lintasannya.

Perlukah ia memberi tahu Darbi tentang niatnya itu? Tidak, tidak ada waktu lagi! Jennings menyelipkan sampul surat Pak Wilkins ke saku jasnya, sambil bergegas-gegas keluar lewat pintu samping. Sambil berjalan, pikirannya sibuk menyusun jadwal operasi:

8.45 Bersepeda ke kantor pos, lewat gerbang belakang.

8.50 Tiba di kantor pos. Mengeposkan surat dan membeli prangko-prangko baru itu, Pergi lagi dari kantor pos.

8.55 Kembali ke sekolah.

9.00 Menggabungkan diri dengan barisan anak-anak Kelas Tiga yang saat itu keluar dari aula.

Kedengarannya begitu gampang. Takkan mungkin meleset, dengan adanya rencana hebat seperti itu dalam otaknya.

Pettigrew menaruh sepedanya di rak sepeda dekat pintu. Jennings mendorongnya ke luar, lalu menuntunnya sampai melewati jalan masuk ke pekarangan dapur. Ia melihat Robinson di gudang peralatan, sedang sibuk melakukan sesuatu dengan segulung jaring kawat. Orang itu begitu sibuk bekerja, sehingga tidak melihat Jennings sewaktu anak itu lewat agak jauh di depan matanya.

Setelah memandang berkeliling dengan hati-hati untuk terakhir kali, Jennings lari sambil masih mendorong sepeda, lalu naik ke sadel dan mengayuh kendaraan beroda dua itu menyusuri jalan yang berdebu dengan sekuat tenaga.

Tidak ada siapa-siapa di kJinik ketika Darbishire tiba di situ. Matanya langsung melihat sejumlah kecil alat termometer yang ditaruh dalam gelas yang terletak di atas meja layan beroda.

Kalau Matron ada saat itu, ia pasti akan mengukur panas badannya, kata Darbishire dalam hati. Dan jika ia terserang sakit kepala, mestinya ia juga harus merasa demam, karena kalau tidak Matron pasti menyangka bahwa ia hanya hendak mangkir dari sekolah. Panaskah badannya? Darbishire tidak tahu pasti, namun jika tidak, Matron pasti akan menyuruhnya kembali ke kelas. Jadi sebaiknya ia harus mengusahakan agar suhu badannya tinggi.

Diambilnya salah satu termometer dari gelas, lalu ia pergi ke bak tempat cuci tangan. Dibukanya keran air panas, dan disodorkannya ujung termometer selama beberapa detik di bawah air panas yang mengucur, Dilihatnya lajur air raksa - atau mercury - yang ada dalam tabung termometer itu bergerak naik. Disodorkannya pengukur suhu badan itu selama beberapa saat lagi di bawah air panas, supaya aman. Kemudian didengarnya langkah orang menghampiri pintu. Karena itu ia lantas bergegas ke seberang ruangan lalu duduk di situ.

Sewaktu Matron masuk beberapa saat kemudian, dijumpainya pasiennya duduk dengan termometer terselip ke mulut, sementara wajah anak itu menampakkan bahwa ia sangat menderita.

"Halo, Darbishire. Kenapa kau?" sapa Matron.

"Saya sakit kepala, Matron," jawab Darbishire menggumam.

"Kasihan! Cuma itu saja?"

"Yah, saya... eh... saya rasanya juga agak demam."

"Kita lihat saja sebentar." Matron mengambil termometer dari mulut anak itu lalu mengamatinya. Kemudian ia mengatakan, "Hm! Aku ragu, apakah kau perlu dikirim ke dokter hewan, atau langsung ke tukang kubur."

Pasiennya meneguk ludah karena kaget. "Apa maksud Anda, Matron?" tanyanya tergagap.

"Yah, menurutku naga yang napasnya menyemburkan api dan biasa makan batu belerang mungkin bisa darahnya sepanas ini; tapi tidak ada manusia dengan suhu badan empat puluh tiga derajat masih bisa hidup lama lagi."

Darbishire menunduk, memandangi ujung sepatunya. Empat puluh tiga! Hancur rencananya, karena perbuatannya sendiri! "Yah... saya... eh...," katanya dengan bingung.

"Jangan repot-repot berusaha menjelaskan. Aku sudah cukup sering menghadapi siasat ini." Matron menunjuk ke bak cuci tangan di seberang ruangan. "Lagi pula, kau tadi lupa menutup keran air panas setelah kau selesai memanaskan termometer ini."

Darbishire merasa sangat malu. Ia menggumam, "Ya, Matron. Maaf, Matron. Saya sebenarnya sungguh-sungguh menderita sakit kepala tapi saya tidak bisa membuktikannya, jadi saya lantas..."

"Kau tidak perlu membuktikannya," kata Matron memotong. "Aku bisa melihat bahwa mukamu agak pucat pagi ini, dan aku yang paling bisa menentukan apa yang harus dilakukan mengenainya."

Matron mengukur suhu badan Darbishire sekali lagi, yang ternyata normal. Anak itu diberinya obat sakit kepala, lalu disuruhnya duduk diam-diam di ruang sakit sampai saat istirahat pagi.

"Menurut Anda, tidak perlukah saya diperiksa dokter juga, Matron?" tanya Darbishire berharap. "Dia kan datang setiap Senin pagi?"

"Betul, tapi sakitmu tidak seberapa, jadi tidak perlu kita membuang-buang waktu Dr. Furnival," kata Matron.

Darbishire nampak merasa tidak enak. "Saya tahu, Matron, cuma soalnya apabila saya kembali ke kelas nanti, teman-teman mungkin beranggapan bahwa saya cuma berpura-pura saja, jika sakit saya ini tidak cukup serius untuk diperiksa dokter, karena kami ada ulangan matematika pagi ini dan..."

Darbishire tidak bisa melanjutkan alasannya, karena terpotong oleh tawa Matron. "Jangan keterlaluan menguji kesabaranku, karena nanti aku bisa berubah pikiran dan menyuruhmu kembali ke kelas pada saat Pak Wilkins mulai aktif."

Darbishire memaksa diri tersenyum lesu, lalu pergi ke ruang sakit. Ia berjalan dengan langkah tabah seseorang yang sakit parah tapi bertekad hendak mempertahankannya nyawa, dengan bantuan sedikit obat sakit kepala.

11. BERBAGAI KEJADIAN BERUNTUN

PUKUL sembilan kurang sepuluh menit, ketika lonceng berbunyi memanggil anak-anak berkumpul dan Darbishire sedang duduk tenang di ruang sakit, Jennings sedang mengayuh sepeda dengan cepat menyusuri jalan di desa. Ia menghentikan kendaraan roda duanya itu di depan toko yang bernama Linbury General Stores dan merangkap sebagai kantor pos bantu. Sepeda Pettigrew disandarkannya ke dinding toko itu.

Sejauh itu, ia masih sesuai dengan jadwal yang diaturnya tadi; dan asal saja tidak ada antrean di kantor pos, ia berharap akan sudah bisa berangkat lagi pulang ke sekolah dalam waktu beberapa menit.

Jennings melangkah ke pintu toko. Tiba-tiba ia terhenti, karena saat itu dokter setempat yang masih muda orangnya muncul dari toko dan masuk ke dalam mobilnya.

Jennings berpaling dengan cepat, dan pura-pura sedang asyik mengamati barang-barang yang dipajang di balik kaca jendela. Dr. Furnival mempunyai tempat praktek di desa itu. Selain itu ia juga dokter Sekolah Linbury Court. Sebenarnya mungkin tidak ada risikonya untuk mengucapkan selamat pagi kepadanya, karena dokter itu hanya samar-samar saja mengenal aturan sehari-hari di sekolah. Lagi pula, jika ia sampai menanyakan kenapa Jennings ada di situ, kan ada surat Pak Wilkins di saku jasnya sebagai alasan.

Tapi di pihak lain, mendingan jangan menarik perhatian dokter itu kepadanya. Dr. Furnival akan datang ke sekolah pagi itu seperti biasanya setiap hari Senin, dan ada kemungkinan dia nanti mengobrol sebentar dengan Kepala Sekolah. Apabila ia secara sambil lalu mengatakan melihat salah seorang murid di desa, itu akan bisa memberi suatu petunjuk yang sebaiknya jangan sampai diketahui.

Ternyata bahaya itu dengan cepat berlalu, karena Dr. Furnival langsung menjalankan mobilnya tanpa sekali pun menoleh ke belakang. Dan begitu dia sudah pergi, Jennings pun bergegas masuk ke dalam toko.

Kantor pos bantu terletak di ujung seberang. Untuk sampai di situ harus melewati dulu tempat penjualan bahan-bahan perbekalan dan makanan dalam kaleng yang ada di sebelah kiri, lalu jebakan tikus, plester untuk menghilangkan mata ikan di kaki, serta alat pengocok telur yang terdapat di sisi yang satu lagi.

Setiba di tempat yang merupakan kantor pos bantu, ternyata sudah ada sekitar enam orang yang antre untuk membeli prangko terbitan baru. Tapi karena antrean itu kelihatannya bergerak maju dengan cepat, Jennings tidak begitu merasa khawatir. Ia menggabungkan diri di belakang barisan orang-orang itu, sambil merogoh saku untuk mengambil uangnya.

Ia terkejut! Sakunya kosong! Ia tadi lupa meminta kembali uang itu dari Pettigrew yang tidak bisa diandalkan itu!

Selama beberapa detik Jennings berdiri di ujung belakang antrean, sambil mengumpat-umpat dalam hati, menyalahkan dirinya sendiri. Dia rupanya sudah sinting, katanya dalam hati! Otaknya perlu diperiksa! Sebagai perencana yang hebat, ia ternyata sama tidak bergunanya seperti tongkat hoki untuk orang kidal! Bagaimana mungkin, ia sampai bisa melupakan hal terpenting dalam rencananya itu?

Ia mencari-cari dalam saku-sakunya yang lain, meski sebelumnya pun ia sudah tahu bahwa ia takkan menemukan uang di situ. Tapi di antara bulu-bulu kelabu yang terlepas dari kain jas serta kertas-kertas bekas pembungkus permen ditemukannya prangko yang sudah renyuk. Prangko itu disimpannya untuk lain kali, jika ia menulis surat lagi kepada Bibi Angela. Prangko itu dilicinkannya dengan jari, dibersihkannya dari bulu-bulu yang melekat, lalu ditelitinya dengan saksama. Tidak banyak lagi lem yang ada di sisi belakangnya, tapi mungkin masih cukup untuk membuatnya melekat ke sampul. Lagi pula, jelas bahwa yang ada di tangannya itu prangko asli kelas satu yang belum dipakai. Mungkinkah petugas kantor pos nanti mau menukarnya dengan sebuah prangko terbitan baru yang sama nilainya? Yah, sebaiknya dicoba saja!

Sementara itu orang antre langsung di depannya sudah pergi. Kini Jennings yang paling depan. Dengan agak malu-malu diletakkannya prangkonya di atas meja layan sambil mengatakan, "Selamat pagi. Sudikah Anda menukar ini dengan prangko kelas satu dari seri Penemuan-penemuan Ilmiah Abad Kedua Puluh?"

"Kau bercanda, ya?" kata wanita muda yang melayani.

"Tidak, saya bersungguh-sungguh! Soalnya, uang saya tertinggal di rumah--sebetulnya bukan tertinggal, tapi saya menyerahkannya pada seseorang yang sekarang masih memegang uang itu, karena saya lupa memintanya kembali. Dan prangko ini masih laku, karena belum pernah dipakai."

Wanita muda itu menyodorkan prangko itu kembali ke arah Jennings. "Maaf, tapi tidak bisa."

"Aduh, tapi mestinya..." Jennings berusaha mendesak. "Ini penting sekali. Sebetulnya saya ingin membeli dua prangko terbitan baru itu, satu untuk saya sendiri dan satu lagi untuk seorang teman, tapi apabila kami hanya bisa mendapat satu saja, itu sudah lebih baik dari pada tidak mendapat apa-apa karena..."

Orang-orang yang antre di belakangnya mulai gelisah, dan wanita muda itu berkata, "Kau cuma buang-buang waktu saja, Nak, dan aku ini sibuk. Masih ada selusin orang yang menunggu dilayani - orang-orang yang tidak lupa membawa uang."

Akhirnya Jennings menyerah. Dipungutnya prangkonya, lalu ia berbalik untuk pergi ke luar.

Sejak kedatangannya tadi antrean sudah menjadi bertambah panjang. Ia melihat Bu Thorpe berdiri di ujung belakang antrean itu, menunggu saat dilayani.

"Selamat pagi! Selamat pagi," katanya dengan suara seperti kicauan burung murai menyambut kedatangan pagi. "Kabar bagus tentang babi itu, ya? Dia senang sekali di East Brinkington. Pak Nutt memperlakukannya sebagai anggota keluarga."

Jennings tersenyum, menggumamkan salam dengan sopan dan sudah hendak lewat, tapi saat itu Bu Thorpe rupanya sedang ingin mengobrol. "Aku tidak mengerti kenapa kantor pos begini penuh pada saat sepagi ini," kicaunya. "Biasanya jika aku datang pada waktu seperti sekarang ini, tidak ada siapa-siapa di sini."

"Soalnya karena Penemuan-penemuan Ilmiah A1Jad Kedua Puluh," kata Jennings memberi tahu.

"Penemuan ilmiah apa dari abad kedua puluh? Toko itu kan sudah cukup lengkap, ada mesin penyayat daging asap, ada lemari es. Masih kurang apa lagi? Jangan-jangan nanti rekening kita dibuat dengan komputer!"

Jennings menjelaskan dengan sabar. "Itu adalah prangko-prangko terbitan baru yang baru mulai dijual hari ini. Orang-orang yang di depan itu membelinya, agar bisa diberi cap pos dengan tanggal hari ini."

"Astaga, macam-macam saja!" Ada satu persamaan antara Bu Thorpe dan Pettigrew si tampang bintik: kedua-duanya tidak berminat mengoleksi prangko. "Merepotkan saja, harus antre seperti begini. Tapi bagaimana coba, jika otomat penjual prangko kebetulan sedang kosong?" kata wanita itu menggerutu. "Dan sementara ini aku pasti akan terlambat datang di Kelompok Bermain, padahal kini giliranku untuk mengeluarkan perlengkapan; tapi surat ini harus kuposkan sekarang, agar masih bisa ikut dengan jemputan pagi." Ia melambai-lambaikan sepucuk sampul surat untuk menunjukkan. '

Itu merupakan peluang yang baik, dan Jennings langsung menyambarnya. "Anda ingin membeli prangko? Prangko yang biasa?"

"Ya, tentu saja. Aku tidak peduli biasa atau tidak prangko itu, pokoknya aku tidak perlu antre sampai menjelang tengah hari untuk membelinya."

Jennings menyodorkan prangkonya yang renyuk. "Lem di sisi belakangnya tinggal sedikit, tapi pasti mau menempel jika Anda cukup kuat menekannya."

Bu Thorpe senang sekali mendapat tawaran itu. Diberikannya uang yang sudah disiapkannya di tangan, diambilnya prangko yang disodorkan Jennings, lalu ia bergegas mengeposkan suratnya.

Jennings ikut berbaris lagi dalam antrean, dan lima menit kemudian ia sudah berhadapan kembali dengan wanita muda yang melayani penjualan prangko.

Wanita itu heran melihat Jennings muncul lagi di depannya. "Kau lagi!? Menang lotre, atau habis merampok bank?" tanya wanita itu bercanda, sementara tangannya mengambil keping-keping mata uang yang diserahkan dan menyodorkan prangko seri baru pada Jennings.

Coba uangnya cukup untuk membeli dua buah, katanya dalam hati sambil meninggalkan meja layan! Bu Thorpe kemungkinan akan dengan senang hati meminjamkan uang yang diperlukan. Tapi ketika teringat akan kemungkinan itu, sudah terlambat. Jadi bagaimana dengan Darbishire? Kan tidak bisa satu prangko dimasukkan ke dalam dua buah album! Apakah sebaiknya diundi saja, siapa yang akan memperolehnya?

Saat itu terlihat olehnya jam yang terpasang di dinding kantor pos. Seketika itu juga ia melupakan segala-galanya, kecuali bahwa ia harus kembali ke sekolah tanpa menyia-nyiakan waktu satu detik pun.

Saat itu sudah pukul sembilan lewat hampir lima menit. Saat menentukan sudah lewat, dan ia masih berada setengah mil dari sekolah. Jennings bergegas keluar dari toko, memasukkan surat Pak Wilkins ke dalam kotak surat, menyambar sepeda, dan mengayuhnya secepat-cepatnya menyusuri jalan desa.

Mereka kini pasti sudah ada di kelas semuanya, katanya mengingatkan diri sendiri, sementara ia melesat lewat di depan pekarangan rumah pendeta. Pak Wilkins pasti sudah mengabsen murid-murid dan mengetahui siapa yang tidak hadir; jadi pasti nanti akan terjadi keributan lagi.

Pettigrew brengsek! kata Jennings dalam hati, sementara pedal-pedal sepeda berputar semakin cepat. Dan aku juga goblok, tambahnya dalam hati, ketika teringat bahwa uangnya masih ada di saku anak itu pada saat ia sangat membutuhkannya tadi.

Ternyata Pak Wilkins tidak sedang mengabsen murid-murid, ketika Jennings berada dalam perjalanan, pulang. Guru itu masih berdiri di ambang ruang Kelas Tiga, mendengarkan laporan Pettigrew yang mengeluh bahwa sepedanya dicuri.

"Dicuri! Omong kosong, mana mungkin sepedamu itu dicuri?" kata Pak Wilkins dengan nada tidak percaya. "Mungkin kau tadi menaruhnya di tempat lain."

"Tidak, Pak, sungguh!" Terdengar jelas kegugupan dalam suara anak itu. "Saya menaruhnya di rak dalam sepeda sebelum saya pergi kelapangan, bermain; lalu sewaktu saya kembali untuk mengambil buku-buku saya dari tas, tahu-tahu sepeda itu sudah tidak ada lagi di situ."

"Betul, Pak. Saya saksinya," kata Marshall menimbrung. Dia juga anak yang tak tinggal di asrama, yang tiba dengan sepedanya di sekolah, tidak lama setelah Pettigrew datang. "Ketika saya tiba tadi, Pettigrew sedang bercakap-cakap dengan Jennings dan Darbishire di luar tempat penyimpanan sepeda. Dan saat itu sepedanya masih ada di dalam. Saya tahu betul, karena pedal sepeda saya tersangkut ke ruji-ruji sepedanya sewaktu saya hendak lewat."

Pak Wilkins gelisah. Ia merasa tidak sabar, karena ingin mulai memberikan soal-soal ulangan matematika. "Kau datang saja padaku nanti, pada saat istirahat. Akan kuminta beberapa orang anak membantumu mencarinya," katanya.

"Wah, Pak!" Pettigrew sudah nyaris menangis karena bingung. "Saat itu pasti sudah terlambat. Pencurinya pasti sudah jauh."

"Tapi pencuri itu tidak ada, anak konyol! Sepedamu itu cuma dipindahkan saja tempatnya oleh seseorang. Bagaimana bisa orang mencurinya dari dalam tempat penyimpanan tanpa terlihat?"

Anak-anak Kelas Tiga, yang duduk di bangku masing-masing dengan penuh perhatian, bergegas-gegas mengajukan berbagai teori mengenai apa yang mungkin terjadi dengan sepeda itu.

"Bisa saja ada orang menyelinap masuk sementara kita semua sedang berkumpul di aula, Pak," kata Atkinson.

"Ya, betul, Pak. Bisa saja orang itu pura-pura berjualan sikat atau hendak melihat meteran gas, atau salah satu siasat seperti itu," kata Martin-Jones, yang menyukai misteri yang serumit mungkin. "Orang itu menyamar dengan memakai jenggot palsu dan berkacamata gelap. Atau bisa juga dengan topi tua yang pinggirannya lebar dan terkulai menutupi mata, pura-pura hendak menjual tali sepatu."

"Dan ada mobil yang laju larinya, menunggu di luar, untuk dipakainya minggat," kata Rumbelow.

"Untuk apa mobil itu, kan ada sepeda," kata Bromwich mengetengahkan pendapatnya.

"Baiklah... kalau begitu sepeda yang laju larinya," kata Rumbelow. "Dan polisi dibuatnya melacak jejak yang keliru, dengan cara mencampakkan topi tuanya..."

"Diam!" bentak Pak Wilkins. Sudah cukup banyak yang perlu dipikirkannya, tanpa harus mendengarkan teori-teori luar biasa tentang tukang periksa meteran gas dengan topi berpinggiran lebar yang naik sepeda yang laju larinya, serta tali sepatu ditarik ke bawah sehingga menutupi mata - pokoknya entah apa saja yang diocehkan anak-anak konyol itu.

Menurut pendapatnya, kecil sekali kemungkinannya sepeda itu dicuri orang. Tapi jika nanti terbukti bahwa memang ada yang mencurinya, itu perlu dengan segera dilaporkan ke polisi. Pertama-tama ia harus memastikan fakta-faktanya. Ia berkata pada anak-anak yang duduk di kelas, "Kalian teruskan menyiapkan diri untuk ulangan matematika, sampai aku kembali nanti. Ayo, ikut aku, Pettigrew," katanya sambil berjalan dengan cepat meninggalkan kelas. "Tunjukkan di mana tepatnya sepedamu tadi berada, ketika terakhir kalinya kau melihatnya."

Saat itu sudah pukul sembilan lewat dua belas menit. Ketika guru dan murid itu sampai di lantai dua dan melintasi serambi di situ, mereka berpapasan dengan Jennings yang bergegas-gegas ke arah yang berlawanan. Secara otomatis Pak Wilkins berkata, "Ayo cepat, Jennings! Kau terlambat!"

"Ya, Pak! Saya sedang menuju ke sana, Pak." Pak Wilkins dengan segera melupakan perjumpaan itu, karena ada hal-hal lain yang sedang dipikirkan. Dengan langkah-langkah cepat ia mendului pergi ke luar lewat pintu samping, dan beberapa saat kemudian mereka sampai di tempat penyimpanan sepeda, dan... yang pertama-tama mereka lihat adalah sepeda Pettigrew, ditaruh rapi di rak sepeda.

Pemilik sepeda itu gembira melihatnya. "Wah, Pak, lihatlah, Pak! Sepeda saya sudah kembali. Hebat!" Ia menandak-nandak untuk menunjukkan kelegaan dan kegembiraannya. Tapi Pak Wilkins tidak ikut bergembira.

"Inikah sepeda yang tadi kaulaporkan hilang?" tanya guru itu dengan nada curiga.

"Betul, Pak. Ini sepeda saya." Pettigrew menepuk-nepuk sadel, untuk membuktikan bahwa dialah pemiliknya. "Saya tidak mengerti, apa sebetulnya yang terjadi tadi. Saya tahu betul tadi tidak ada di sini, sewaktu saya melihat kemari setelah acara di aula selesai."

"Jangan macam-macam. Sepeda ini pasti ada di sini sejak tadi. Sepeda kan tidak bisa berjalan sendiri."

"Ya, saya juga tahu, Pak. Tapi saya tidak bisa menjelaskan kenapa tadi tidak ada. Kalau Anda ingin tahu pendapat saya, ini merupakan misteri besar, Pak."

Pak Wilkins tidak ingin membuang-buang waktu di tempat penyimpanan sepeda untuk menyelidiki bermacam-macam misteri, sementara anak-anak Kelas Tiga, karena tidak ada guru yang mengawasi, pasti saat itu asyik mengobrol sambil melempar-lempar pelor kertas ke segala arah.

"Ayo naik ke atas!" perintahnya dengan ketus. "Nanti kita bereskan soal ini, jika sudah sampai di kelas."

12. IKTIKAD BAlK

JENNINGS sudah duduk dengan tenang di bangkunya ketika Pak Wilkins kembali ke kelas bersama Pettigrew. Saat itu sudah pukul sembilan lewat lima belas menit. Jennings merasa lega ketika mendengar bahwa Pak Wilkins belum mengabsen mereka, karena itu berarti ia tidak perlu mengemukakan alasan yang sudah disiapkan untuk menjelaskan ketidakhadirannya.

Tapi meski Jennings duduk dengan tenang, tidak begitu dengan teman-temannya yang lain, ketika guru memasuki ruangan, didengarnya suara anak-anak bercakap-cakap disertai bunyi kaki-kaki yang bergegas kembali ke tempat duduk masing-masing. Anak-anak Kelas Tiga tadi menikmati waktu luang yang timbul secara tiba-tiba itu. Mereka merasa sayang, ternyata waktu luang itu hanya sebentar saja.

"Anda berhasil menangkap pencurinya, Pak?" tanya Atkinson sambil cekikikan.

"Itu tidak mungkin, karena sepedanya ada di situ sejak tadi," tukas Pak Wilkins.

"Wah, hebat, Pak! Meski begitu ada juga gunanya pergi ke bawah untuk memeriksa, kan?"

Anggukan dan senyuman setuju yang nampak pada wajah anak-anak itu menunjukkan bahwa kesibukan membuang-buang waktu seperti apa pun mereka tanggapi dengan senang, asal bisa menyebabkan mundurnya pelajaran pagi itu. Pak Wilkins merengut. "Ini bukan urusan yang lucu. Berkat kegoblokan luar biasa dari Pettigrew, kita kehilangan waktu dua puluh menit dari ulangan matematika kita."

"Hebat kau, Petters," kata Martin-Jones berbisik pelan-tapi tidak cukup pelan, sehingga sampai di telinga Pak Wilkins yang memang tajam pendengarannya.

Dan itu berbahaya!

"Baiklah! Karena kelas ini nampaknya menyetujui siasat Pettigrew untuk mengulur-ulur waktu dengan jalan memancing aku datang ke tempat penyimpanan sepeda dengan alasan yang dibuat-buat, ulangan matematika itu akan kita adakan siang ini, sebagai ganti bermain cricket."

Pettigrew yang semula dianggap pahlawan, tiba-tiba menjadi orang yang jahat dalam kejadian itu.

"Pettigrew! Kau brengsek, Pettigrew," ejek anak-anak dengan bisikan pelan. "Bayangkan, mempermainkan Pak Wilkins yang baik hati! ...Sekarang kami yang harus menderita! ...Kami tidak ingin tidak bisa main cricket nanti hanya karena perbuatanmu."

Pettigrew merasa terpukul oleh ketidakadilan serangan teman-temannya sekelas. "Tapi, Pak, itu tadi bukan salah saya, sungguh!" katanya memprotes. "Saya benar-benar mengira sepeda saya dicuri orang."

"Omong kosong," kata Pak Wilkins. "Semuanya tadi itu merupakan persekongkolan yang disengaja."

"Tidak, Pak. Anda tidak mengerti maksud saya, saya yang tidak mengerti bagaimana itu bisa terjadi. Benar-benar misterius karena..." Pettigrew tidak bisa meneruskan kata-katanya. Jennings, yang duduk di barisan belakang, saat itu memutuskan bahwa demi keadilan penyebab misteri itu perlu dibeberkan. Tidak adil rasanya membiarkan Pettigrew menanggung akibat dari sesuatu yang bukan merupakan kesalahannya, meskipun dia - J.C.T. Jennings - nanti akan terpaksa menghadapi berbagai pertanyaan yang memojokkan dan harus dijawab. Nampaknya alasan yang sudah disiapkan tapi sebenarnya lemah itu harus dikemukakannya juga.

Ia mengacungkan tangannya lalu berkata, "Pak, maaf, saya tadi yang mengeluarkan sepeda Pettigrew sebelum kami harus berkumpul di aula, Pak. Dan saya yang kemudian mengembalikannya ke tempat semula."

Pak Wilkins langsung marah. "Kenapa itu kau lakukan? Hendak mempermainkan Pettigrew, ya?"

"Tidak, Pak, saya meminjamnya untuk pergi ke desa."

"Kau berbuat apa?" Guru itu memandang Jennings dengan heran bercampur bingung. "Dan bolehkah aku bertanya siapa yang-demi geledek-memberimu izin untuk pergi bersepeda ke desa pada saat berkumpul?"

"Anda, Pak."

"Aku yang mengizinkan? Jangan macam-macam, ya. Itu tidak pernah kulakukan. Jika ini merupakan suatu siasat lagi untuk..."

"Tapi sungguh, Pak, Anda tadi yang menyuruh," kata Jennings memotong. "Anda menyerahkan sepucuk surat pada saya dan mengatakan bahwa saya harus dengan segera mengeposkannya. Saya cuma meminjam sepeda Pettigrew agar bisa kembali pada waktunya untuk mengikuti ulangan matematika, Pak."

Pak Wilkins menepuk keningnya. "Tapi kau... kau, anak konyol, Jennings, maksudku tadi bukan menyuruhmu mengeposkannya di kantor pos! Aku memintamu menaruhnya ke dalam keranjang di serambi."

Di wajah Jennings nampak reaksi yang menunjukkan bahwa dengan pelan ia mulai mengerti. "0, begitu maksud Anda tadi rupanya, Pak! Ya, sekarang saya baru mengerti. Dasar saya ini yang goblok!" Ia menggeleng-geleng, menyesali dirinya sendiri. "Tapi walau begitu, Anda mengatakan tadi bahwa Anda ingin surat itu diposkan dengan segera. Urusan penting, kata Anda. Jika saya tidak membawanya ke kantor pos, pasti sekarang masih ada di dalam keranjang sampai pukul lima nanti sore. Ya kan, Pak?"

Suasana sunyi sesaat, sementara Pak Wilkins mencernakan penjelasan itu. Pada hakikatnya ia memang harus berterima kasih pada Jennings, karena memang penting surat itu dikirimkan dengan segera. Sebenarnya, jika tadi masih ada waktu sebelum saat murid-murid harus berkumpul di aula, ia sendiri sudah berniat hendak pergi ke kantor pos agar suratnya masih sempat dibawa oleh jemputan pagi. Kini, berkat bakat anak itu untuk salah menafsirkan instruksi, surat itu mestinya akan sudah sampai di alamat yang dituju besok pagi.

Pak Wilkins tidak mengatakan apa-apa lagi, sampai sudah selesai mengabsen murid-murid. Kemudian diletakkannya pena lalu berkata, "Setelah kupikir-pikir, aku cenderung berpendapat bahwa aku akan bersikap tidak adil jika seluruh kelas kuhukum karena kesalahan yang kusangka Pettigrew-lah penyebabnya. Begitu pula tidak adil jika Pettigrew yang dihukum, karena sekarang diakui oleh Jennings bahwa itu merupakan kesalahannya. Dengan pertimbangan yang sama, juga tidak adil bila Jennings dihukum, setelah aku tahu bahwa karena salah mengerti dia berusaha melaksanakan instruksiku dengan sepenuh kemampuannya yang terbatas."

Sementara itu anak-anak Kelas Tiga sudah benar-benar bingung, siapa yang bertanggung jawab untuk perbuatan yang mana.

"Apakah itu berarti kami tidak harus ulangan matematika sebagai ganti main cricket siang ini?" tanya Atkinson berharap.

"Tepat," kata Pak Wilkins. "Karena sudah begini banyak waktu yang hilang sekarang, ulangan itu kita undurkan sampai minggu depan, pada waktu yang sama. Ini mestinya akan menyebabkan semua merasa senang, kecuali, mungkin..." Ia memandang daftar absen sebentar, dan melihat bahwa hanya seorang murid saja yang tidak hadir. "Kecuali, barangkali, Darbishire. Ia kemungkinannya akan kecewa apabila mendengar, sekembalinya dari ruang sakit, bahwa ia ternyata tidak berhasil menghindari ulangan itu."

Masih ada waktu sedikit sebelum jam pelajaran itu berakhir. Pak Wilkins tidak ingin melihat waktu itu terbuang begitu saja.

"Karena masih ada waktu beberapa menit, mari kita tengok Teori Pythagoras," katanya sambil mengambil kapur tulis. "Teori itu merupakan bagian dari i1mu ukur yang sangat berguna dan praktis. Jadi kalian salin saja diagram yang akan kugambar ini di buku catatan kalian."

Pak Wilkins menggambar sebuah segi tiga siku-siku di papan tulis, dan membubuhkan gambar segi empat pada ketiga sisi segi tiga itu. Ia sedang menambahkan garis-garis selanjutnya ketika Temple bertanya padanya, "Apa maksud Anda dengan mengatakan itu berguna, Pak? Menurut saya, kelihatannya seperti baling-baling kincir angin yang mencong, Pak."

Pak Wilkins menyelesaikan diagram yang digambarnya, lalu berdiri membelakangi papan tulis. "Ini sebuah segi tiga dengan sudut siku-siku di puncaknya," katanya menjelaskan. "Persegi empat yang kubuat pada sisi yang berhadapan dengan sudut siku-siku ini, yaitu yang disebut hipotenusa, sama besarnya dengan jumlah kedua segi empat lebih kecil yang kubuat pada kedua sisi yang lain."

Temple masih saja nampak tidak mengerti.

"Tapi tadi Anda mengatakan berguna, Pak," katanya berkeras. "Saya tidak mengerti, bisa dipakai untuk apa?"

Dengan sabar Pak Wilkins menjelaskan, "Kukatakan berguna, Temple, karena jika kau memahami prinsip yang mendasari teori ini, kau akan bisa-misalnya saja-membuat batas-batas lapangan tenis atau lapangan sepak bola dan tahu pasti bahwa sudut-sudutnya benar, tidak melenceng." Pak Wilkins melirik arlojinya: sudah hampir saatnya bel dibunyikan. "Ayo, semuanya menulis di bawah diagram yang baru saja kalian buat: Teori Pythagoras..."

"Bolehkah kami membuatnya secara kasarnya saja, Pak?" tanya Atkinson.

"Kalian jangan sekali-kali melakukan apa pun secara kasarnya saja," kata guru itu mengecam. "Tapi kal1an boleh menyingkat, karena waktu kita tidak banyak lagi." Dengan cepat ia mendiktekan, "Pada sebuah segi tiga siku-siku, kuadrat hipotenusa sama dengan jumlah kuadrat kedua sisi yang lain."

Tepat pada saat itu lonceng berbunyi.

"Semua sudah mencatatnya?" kata Pak Wilkins, Suaranya yang lantang mengalahkah bunyi lonceng. "Besok siang akan kuteruskan. Sementara itu kalian pelajari saja malam ini. Coba kalian selidiki sendiri makna kalimat tadi."

Jam pelajaran berikut adalah bahasa Inggris dengan Pak Carter. Tapi pikiran Jennings saat itu tidak terarah pada pelajaran. la duduk sambil menatap kosong ke arah buku yang ada di depannya, sementara pikirannya melayang pada hal-hal yang lain.

Ia sudah berhasil menghindari kemarahan Pak Wilkins tentang kepergiannya ke desa; bahkan dengan hasil yang lebih baik daripada yang berani diharapkannya - dan terus terang saja, jauh lebih baik dari yang sepantasnya. Ia merasa bernasib baik, apalagi karena ia sekarang sudah menjadi pemilik selembar prangko yang diperolehnya dengan segala kerepotan. Tapi bagaimana dengan Darbishire yang menderita di ruang sakit, tanpa ada prangko yang akan diperolehnya apabila ia turun nanti? Kasihan Darbi, kata Jennings dalam hati. Anak itu belum tahu bahwa temannya, meski menghadapi kemungkinan yang begitu kecil, ternyata berhasil memperoleh selembar prangko terbitan baru itu. Ia juga belum tahu tentang segala keributan yang terjadi selama dia tidak ada upaya Jennings mengejar waktu, bencana yang nyaris terjadi ketika ia menyadari bahwa ia tidak membawa uang, sepeda yang dikira hilang karena dicuri orang, dan akhirnya kemurahan hati Pak Wilkins, yang tidak terlalu banyak mengajukan pertanyaan yang sukar dijawab. Nasib mujur dan Pak Wilkins yang baik hati!

Jennings merasakan hangatnya kebahagiaan dalam hatinya. Dengan tiba-tiba saja ia memutuskan untuk memberikan prangko kelas satu seri Penemuan-penemuan Ilmiah Abad Kedua Puluh itu kepada Darbishire.

Ya, kenapa tidak? pikir Jennings, yang masih terus menikmati kebahagiaannya. Tentu saja itu berarti pengorbanan, tanda adanya iktikad baik. Darbi nanti pasti sangat terharu. Dan berbicara mengenai kejutan, dia nanti mungkin bahkan...

"Jennings! Apa yang baru saja kukatakan?" Suara Pak Carter menyebabkan Jennings tergugah dengan cepat dari lamunannya.

"Eh... maksud Anda baru-baru ini, atau baru saja, Pak?" tanyanya untuk mengulur waktu.

"Tentu saja yang kumaksudkan baru saja, berapa detik yang lalu! Kurasa sangat diharapkan dari Kelas Tiga ini - apalagi Jennings - untuk masih ingat apa yang pernah kukatakan pada kalian pada masa sekolah yang lalu."

Jennings nampak seperti memusatkan pikiran.

"0 ya, saya tadi mendengarkan, Pak, tapi kebetulan saya tidak menangkap kata-kata Anda yang terakhir."

"Aku tidak heran! Selama sepuluh menit yang lalu, kau kelihatan seperti dihipnotis." Pak Carter mendesah. "Supaya kau tahu, Jennings, aku tadi sedang membacakan sepotong kutipan dari sebuah syair gubahan Wordsworth tentang tugas dan pengorbanan."

Jennings menatap Pak Carter dengan senyuman menawan. Senyumannya itu dimaksudkan untuk mengatakan bahwa tidak banyak tentang tugas dan pengorbanan yang bisa diajarkan oleh penyair yang bernama Wordsworth itu kepada seseorang yang baru saja memutuskan untuk memberikan miliknya yang terbaru dan sangat disayanginya kepada temannya.

Darbishire turun dari ruang sakit pada saat istirahat pagi. Sakit kepalanya sudah lenyap sama sekali. Jennings berpapasan dengan anak itu di pintu samping, ketika hendak menuju ke lapangan bermain.

"Halo, Darbi! Bagaimana, sudah sembuh?" Jennings merogoh sakunya, lalu mengeluarkan sebuah kotak korek api yang diperolehnya dari Pak Carter. "Aku punya sesuatu untukmu di dalam kotak ini. Hadiah!"

"Untuk aku?" tanya Darbishire bernada heran. Hadiah dari Jennings - itu merupakan kejadian langka! "Aneh, kau mengatakan begitu, karena aku punya hadiah untukmu."

"Sungguh?"

"Ya, tentu saja." Dari sakunya, Darbishire mengeluarkan selembar kertas yang terlipat. Kertas itu disobeknya dari buku catatan nomor telepon di klinik. "Sesuatu yang pasti akan menyebabkan kau benar-benar senang!"

"Hadiah untukmu juga begitu," kata Jennings membalas. "Dan kau takkan bisa menebak, apa benda itu. Biar sampai sejuta tahun pun, kau takkan mungkin bisa menebaknya. Kau akan mengatakan, ini mustahil! Ini bisa dibilang semacam pengorbanan dariku."

Dengan wajah berseri-seri, Jennings dan Darbishire saling bertukar hadiah. Kedua anak itu melihat ke dalam tempat hadiah masing-masing dan mengeluarkan hadiah itu.

Kemudian mereka saling berpandangan, terheran-heran. Masing-masing anak memegang sebuah prangko dari seri Penemuan-penemuan Ilmiah Abad Kedua Puluh yang belum dipakai.

Darbishire yang lebih dulu pulih dari kekagetannya.

"Dari mana kau mendapatnya?" tanyanya.

Jennings mengibaskan tangannya. "Ceritanya panjang, nanti sajalah kuceritakan. Dan kau, dari mana kau mendapatkannya?"

"Dari Dr. Furnival. Ketika waktu sedang duduk di ruang sakit, ia lewat bersama Matron. Ia bertanya padaku, apakah aku mengoleksi prangko. Ketika kuiakan, ia lantas mengatakan bahwa ia baru saja membeli beberapa lembar terbitan baru."

"0, begitu!" Jadi untuk itulah Dr. Furnival tadi datang ke kantor pos! "Lalu kau diberinya selembar, untuk mengobati sakit kepalamu?"

"Bukan begitu, tapi pokoknya aku diberinya selembar. Dia baik hati, ya?"

Jennings mendesah. Dia sampai begitu repot untuk memperoleh prangkonya, sementara Darbi cuma duduk-duduk saja di kursi empuk, dan tanpa berbuat apa-apa ia mendapat prangko juga!

Ck! Memang ada orang yang selalu saja mujur!

"Lalu kemudian kupikir sebaiknya aku berbaik hati dan menghadiahkannya padamu, karena kau tidak punya kesempatan untuk memperolehnya," sambung Darbishire. "Padahal, ternyata aku tidak perlu berbuat begitu. Ini edan sebenarnya, karena kita bisa saja tetap mempertahankan prangko kita masing-masing, dan keadaannya masih akan tetap sama."

"Wah, tidak!" kata Jennings sambil menggeleng. "Dengan cara begini jauh lebih baik. Jika kita berbuat seperti yang kaukatakan itu, kan tidak ada pengorbanan-seperti yang diocehkan oleh Wordsworth."

"Oleh siapa?"

"Pak Carter tadi membacakan salah satu syairnya dalam bahasa Inggris," kata Jennings menjelaskan.

"Aku tidak tahu Pak Carter pernah menulis syair dalam bahasa Inggris."

"Bukan syair karangan Pak Carter, goblok - karangan Wordsworth. Dan aku juga tidak mengatakan sebuah syair dalam bahasa Inggris."

"Tidak? Kalau begitu ia menulisnya dalam bahasa apa?"

Jennings menggertakkan gerahamnya karena kesal. Sungguh, Darbi ini bisa goblok sekali kalau dia sedang mau begitu! Dengan sabar dijelaskannya, "Pada jam pelajaran bahasa Inggris, Pak Carter membacakan sebuah syair yang dikarang oleh orang yang bernama Wordsworth itu, mengenai tugas dan pengorbanan, dan betapa mulianya kedua hal itu. Jadi kini kita berdua sudah saling memberikan satu-satunya prangko terbitan baru yang kita miliki, tanpa tahu bahwa kita akan mendapat kembali sebuah prangko yang serupa. Itu berarti kita sama-sama sudah melakukan semacam pengorbanan."

Darbishire mengangguk. "Wordsworth pasti senang kalau ia mendengarnya."

"Tapi tidak sesenang aku," kata Jennings. "Ketika kau tadi pergi ke klinik, kita sama sekali tidak punya harapan untuk memperoleh selembar pun. Kini kita punya dua, berkat pengorbanan kita. Yuk, kita cari sampul surat lalu kita tuliskan alamat kita sendiri di situ dan kita lekatkan prangko-prangko kita."

Lonceng tanda saat istirahat berakhir berbunyi, sementara kedua anak itu masih mengacak-acak meja masing-masing mencari bloknot mereka. Dan baru pada saat istirahat di perpustakaan seusai makan siang, mereka punya waktu untuk menangani urusan filateli yang penting itu.

Sampul surat Jennings dialamatkan kepada :

J.C.T. Jennings, Sekolah Linbury Court, Linbury, Sussex, Inggris, lalu prangko terbitan baru itu dilekatkannya di sudut kanan atas.

"Rasanya aneh, mengirimkan sampul surat kosong lewat pos," katanya. "Membuang-buang uang saja."

"Pendapatku juga begitu, kata Darbishire yang duduk di meja sebelah. "Karenanya aku sudah menulis surat padaku sendiri, untuk kumasukkan ke dalamnya. Tapi suratku itu pendek saja."

Ia membacakannya: Charles yang baik, mudah-mudahan kau sehat-sehat saja. Salam dari Charles.

"Lumayan, kan, daripada sampul yang kosong," katanya.

Jennings mengangguk. "Selama tiga minggu belakangan ini aku sebenarnya berniat hendak menulis surat kepada Bibi Angela, tapi belum sempat. Kurasa sekarang saja surat itu kutulis; kalau besok datang kembali, suratnya bisa kukeluarkan dari sampul ini lalu kumasukkan ke sampul lain, habis perkara!"

Isi surat-surat Jennings kepada bibinya yang bernama Angela itu selalu didasarkan pada kebenaran semata-mata; tapi pemilihan kata-katanya selalu begitu rupa sehingga orang yang membacanya memperoleh kesan bahwa penulisnya dengan sepenuh hati ikut membantu agar kegiatan sekolah berjalan lebih lancar. Sekali ini suratnya berbunyi begini:

“Bibi Angela yang baik hati,

Aku sebenarnya sudah lama berniat akan menulis surat pada Anda, tapi selama ini aku sibuk membantu Kepala Sekolah menanam kembali tanaman mawarnya dalam waktu luangku, dan juga melakukan pekerjaan berguna seperti misalnya meratakan rumput lapangan cricket dengan alat giling.

Anak-anak kelas rendah belum lama ini piknik beramai-ramai, tapi aku dan Darbi pergi ke sebuah pesta untuk membantu-bantu di sana. Acaranya menarik sekali. Kami menolong seekor babi, dan memberi Matron sebotol kristal pengharum air mandi.

Banyak sekali yang kami lakukan untuk sekolah, seperti misalnya kami menemukan beberapa buah bola yang hilang lalu memberikannya kepada teman-teman, dan semua mengatakan aku mempunyai peluang besar untuk memenangkan lomba lari dalam karung pada Hari Olahraga, karena sudah berpengalaman.

Darbishire pernah sakit kepala tapi sekarang dia sudah sembuh, jadi sekian saja surat ini.

Salam manis,

John.”

Ketika masa istirahat di perpustakaan berakhir, kedua anak itu bergegas turun untuk menaruh sampul surat mereka yang sudah diberi alamat dan dibubuhi prangko ke dalam keranjang kawat di serambi. Itu merupakan langkah terakhir dari suatu rencana yang pelaksanaannya begitu banyak menimbulkan kesulitan.

Besok mereka akan memetik hasilnya: besok, hanya mereka berdua saja yang memiliki prangko seri baru Penemuan-penemuan Ilmiah Abad Kedua Puluh, yang sudah dicap dengan tanggal yang begitu penting artinya, yaitu 16 Juni.

Pukul lima sore Pak Robinson datang untuk mengambil surat-surat yang akan dijemput petugas pos sore itu. Kedua sampul surat yang dilihatnya dialamatkan kepada J.C.T. Jennings dan C.E.J. Darbishire di Sekolah Linbury Court.

Pasti ada kekeliruan di sini, kata pesuruh itu dalam hati, karena tidak ada gunanya membuang-buang uang, mengirim surat lewat pos, apabila yang menerimanya berada tidak jauh dari tempat pengumpulan surat itu.

Kedua sampul surat itu disisihkannya. Kemudian, setelah ia kembali dari desa dan kiriman pos terakhir sudah dijemput petugas pos, kedua sampul itu diberikannya kepada Jennings, sewaktu anak itu hendak masuk setelah istirahat sore.

"Ini, ada surat untukmu dan satu lagi untuk temanmu," kata orang itu.

Jennings menatap kedua sampul itu dengan perasaan kecut. Tidak ada cap posnya-dan kini sudah terlambat untuk melakukan sesuatu mengenainya!

"Tapi ini maksudnya untuk dikoleksi!" katanya memprotes. "Seharusnya ikut dikirim dengan pos malam ini."

"Tidak perlu diposkan, cuma buang-buang uang saja," kata Pak Robinson. "Selain itu, dengan cara begini kan lebih cepat, langsung diantar."

Jennings mengibaskan tangannya dengan kesal.

"Anda tidak mengerti! Ini bukan surat-surat biasa, yang dikirim orang pada kami. Aku dan Darbishire sendiri yang mengirimkannya."

"Kalian sendiri yang mengirim?" kata Pak Robinson mengulangi terheran-heran. Ia sudah terbiasa menghadapi bermacam-macam perbuatan anak-anak, tapi ini merupakan sesuatu yang tidak bisa diterima oleh akalnya, dari segi mana pun ia melihatnya. "Sudah cukup payah jika menghadapi orang yang bicara pada dirinya sendiri," katanya. "Tapi jika ada orang yang menulis surat yang ditujukan pada dirinya sendiri, maka sudah waktunya otak orang itu diperiksa dokter."

Jennings sudah malas menanggapinya lagi. Diambilnya kedua sampul surat itu, lalu pergi mencari Darbishire untuk memberi tahu tentang kegagalan rencana mereka. Hari itu memang aneh, katanya dalam hati: berbagai orang secara tak terduga menggerakkan harapan mereka turun naik seperti papan jungkat-jungkit - mula-mula Pettigrew, lalu Pak Wilkins, Bu Thorpe, lalu Dr. Furnival - dan sekarang, sebagai penutup, Pak Robo menjungkitkan papan harapan mereka itu ke bawah dengan sekeras-kerasnya!

Tapi apalah yang bisa diharapkan dari orang-orang yang tidak tahu prangko-prangko terbitan baru yang sangat menarik, bahkan sekalipun bila prangko-prangko itu disodorkan pada mereka di atas baki dengan hiasan serangkaian dedaunan penghias suasana Natal di atasnya!

13.WANITA INDIAN MENUNGGANG KUDA NIL

PAK CARTER berjalan dengan santai berkeliling ruang makan pada saat sarapan pagi hari Selasa, membagi-bagikan surat-surat yang tiba pagi itu. Ia sampai di meja anak-anak Kelas Tiga dan dengan penuh minat memperhatikan salah satu sampul surat yang dipisahkannya dari tumpukan surat lain.

"Kau mujur, Jennings!" katanya, sambil menyerahkan sampul surat itu kepada anak itu.

"Ada yang mengirimimu salah satu prangko baru yang mulai diedarkan kemarin."

Jenning merasa sulit mempercayai nasib baiknya. Dari tulisan tangan pada sampul itu diketahuinya bahwa pengirimnya Bibi Angela, dan prangko yang dilekatkan di sudut nampak jelas cap posnya, bertanggal sehari sebelumnya. "Bibi Angela memang baik hati!" serunya dengan gembira. Sampul surat itu diacungkan ke atas, untuk diperlihatkan pada anak-anak yang lain. Dengan segera terdengar suara anak-anak yang ingin melihat dari dekat. Karenanya, sampul yang belum dibuka itu disodorkan kepada anak yang duduk paling dekat. Tapi Jennings tidak mengizinkan, ketika sampul itu hendak diteruskan pada anak-anak yang duduk lebih jauh.

"Kalian semua bisa melihatnya nanti," katanya. "Aku dan Darbi akan mengadakan pameran khusus di ruang tempat penyimpanan perbekalan kita, sesudah makan siang."

"Tidak dipungut bayaran. Semua boleh datang, tapi harus antre tanpa berdorong-dorong- an," kata Darbishire menambahkan.

"Sebenarnya aku benar-benar mujur, mendapat prangko ini dengan cap bertanggal seperti yang kuinginkan," kata Jennings kepada teman-temannya ketika sampul surat itu dikembalikan kepadanya, agak kotor karena ada bekas-bekas lemak daging asap dan selai. "Bibiku itu tidak tahu apa-apa tentang prangko. Ia tidak mungkin tahu bahwa ada prangko seri baru diterbitkan kemarin, apalagi khusus antre untuk memperolehnya. Aku berani bertaruh, ia pergi begitu saja ke kantor pos untuk membeli prangko, lalu prangko ini diberikan tanpa ia memintanya."

Darbishire menggeleng-geleng sambil meminum tehnya. "Begitulah orang dewasa," katanya dengan suara bernada iri. "Padahal kemarin kita sampai begitu repot mengusahakan agar prangko kita dicap dengan tanggal kemarin-tapi semuanya sia-sia. Orang dewasa selalu saja bernasib mujur."

Jennings membuka sampul itu, mengeluarkan kertas surat dari dalamnya lalu dengan sepintas lalu membaca isinya. "Tidak ada kabar penting," katanya mengomentari. "Bibi cuma ingin tahu apa sebabnya aku tidak menjawab suratnya yang terakhir. Kalau begitu sebaiknya kuposkan saja surat yang kutulis padanya kemarin."

"Tidak bisa," kata Darbishire. "Kaukatakan padaku kemarin, prangko untuk surat ke Bibi Angela itu kaujual pada Bu Thorpe agar kau bisa membeli salah satu prangko dari seri terbitan baru itu; dan kau kan tidak berniat memakai prangko yang itu untuk surat pada bibimu, kan?"

Nampaknya surat yang sudah ditulis untuk Bibi Angela itu takkan bisa diposkan dengan segera - sampai Jennings teringat bahwa uangnya dan uang Darbishire untuk membeli dua prangko kelas satu masih ada pada Pettigrew.

Jadi setelah selesai sarapan pagi ia menambahkan catatan pada surat untuk Bibi Angela, sambil menunggu anak yang tinggal di luar asrama.

Catatan tambahan itu berbunyi begini:

“Terima kasih, Bibi menulis surat untuk menanyakan apa sebabnya aku tidak menjawab surat Bibi. Sebabnya karena aku terpaksa menjual prangko untuk surat ke Bibi yang belum dipakai kepada seseorang untuk membeli prangko baru yang belum dipakai, tapi karena Bibi mengirimi sebuah prangko baru maka aku akan memperoleh uangku kembali dari seseorang dan dengannya membeli prangko lama untuk dibubuhkan pada surat pada Bibi, jadi soalnya beres.

Bibi Angela kemudian sampai berulang-ulang membaca catatan tambahan itu, tapi ia tetap saja tidak bisa memahami maksud Jennings.

Sementara Jennings sibuk menulis tambahan pada surat untuk bibinya di ruang belajar bersama, Darbishire mendengarkan kata-kata Pak Wilkins yang menyapanya ketika anak itu lewat di depan ruang guru yang kebetulan terbuka pintunya.

"Kau tidak mengikuti pelajaran matematika yang kuberikan kemarin pagi, karena saat itu kau berada di ruang sakit, kata Pak Wilkins. "Demi kepentinganmu sendiri, kurasa sebaiknya kau mengejar ketinggalan itu dalam waktu luangmu. Kalau tidak, kau akan tidak mengerti apa-apa jika aku melanjutkannya di kelas siang ini."

"Baik, Pak. Saya tidak ingin sampai tidak tahu apa-apa, Pak," kata Darbishire sependapat.

"Betul! Kautanyakan saja pada salah seorang temanmu dari Kelas Tiga untuk meminjamkan buku matematikanya, lalu kausalin apa yang sudah kuterangkan pada mereka tentang Teori Pythagoras. Coba kauselidiki sendiri maknanya. Teori-teori seperti itu perlu diketahui apabila kau hendak membuat garis-garis batas lapangan tenis atau sepak bola!"

Darbishire pergi ke ruang Kelas Tiga. Hanya Bromwich yang ada di situ. Anak itu sedang mengacak-acak isi laci mejanya, mencari bola cricket.

"He, Bromo, bisakah aku meminjam buku catatan matematikamu sebentar?" tanya Darbishire. "Pak Wilkie tadi menyuruh aku menyalin pelajaran yang dijelaskan pada kalian kemarin."

"Yang tentang membuat garis-garis pinggir lapangan tenis itu?" Bromwich mengacak-acak isi lacinya lagi, lalu melemparkan sebuah buku catatan ke atas meja Darbishire. "Itu! Mudah-mudahan saja kau bisa membacanya. Aku kemarin terpaksa mencatatnya secara singkat saja karena lonceng sudah berbunyi."

Darbishire membuka buku catatan itu dan memperhatikan diagram yang digambar oleh Bromwich pada salah satu halamannya. "Tidak kelihatan seperti lapangan tenis, kalau menu rut pendapatku - dan juga tidak mirip lapangan sepak bola. Lebih mirip tumpukan kotak-kotak yang miring ke sana-sini. Lagi pula, untuk membuat garis pembatas itu rasanya kita perlu kapur atau cat, kan?"

"Bukan begitu maksud Pak Wilkie. Maksudnya - yah, terus terang saja, aku tidak mengerti apa yang dimaksudkannya, karena saat itu aku tidak mendengarkan. Tapi kausalin sajalah, mungkin kau nanti bisa memahami maksudnya. Itu kalau kau mujur!"

Bromwich menemukan bola cricket yang dicari-cari lalu bergegas keluar, meninggalkan Darbishire seorang diri di situ, sedang berusaha memahami tulisan Bromwich yang disingkat itu.

Gambar diagramnya bisa disalin dengan cukup mudah oleh Darbishire, tapi tulisan di bawahnya menyebabkan anak itu bingung.

Pada sebuah sk-sk, begitulah ditulis oleh Bromwich, kudr dari hipo = jumlah kudr kedua sisi yang lain.

Apa arti kalimat itu? Darbishire menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Kebingungan Darbishire akan semakin bisa dimengerti, jika kita membaca tulisan Bromwich dalam bahasa aslinya, yaitu bahasa Inggris. Mereka kan anak-anak Inggris dan bersekolah di Inggris. Jadi tentu saja pelajaran apa pun, termasuk matematika, diberikan dalam bahasa Inggris. Dan beginilah yang ditulis oleh Bromwich dalam bahasa itu:

In a rt angled , the squar on the hippo = sum of the squars on the other 2 sides.

Darbishire bingung. Mana ada kata dalam bahasa Inggris yang ditulis squar. Jangan-jangan yang dimaksudkannya squad, 'regu'! Atau squat, yang berarti 'jongkok'? Squaw, 'wanita Indian'? Wanita Indian pada hipo? Dalam pikirannya, Darbishire membayangkan istri seorang kepala suku bangsa Indian, lengkap dengan hiasan kepala yang terbuat dari bulu-bulu burung elang atau rajawali, dengan. sikap gagah menunggang kuda Nil milik sukunya. Darbishire tidak tahu bahwa hipo itu singkatan dari hipotenusa atau sisi miring. Dikiranya itu berarti hippopotamus, yang berarti 'kuda Nil'!

Tapi mana mungkin wanita Indian itu sama dengan wanita-wanita Indian yang ada pada kedua sisi binatang itu! Sama berat tubuhnya? Atau tingginya? Atau martabatnya? Darbishire terus menatap gambar diagram itu, sambil menduga-duga apakah yang dimaksudkan adalah kuda Nil yang bersisi tiga. Tapi tidak gampang membayangkan bagaimana wujud binatang seperti itu dalam kenyataannya.

Ia mencoba lagi, karena ingin menyenangkan hati Pak Wilkins. Mungkin yang dimaksudkan adalah bahwa dia sama beratnya? Bayangkan saja ada wanita Indian yang sangat gemuk, yang berat tubuhnya katakan saja hampir seratus kilogram; lalu masing-masing wanita Indian bertubuh lebih kurus yang duduk di kedua sisi

yang lain dari punggung binatang itu, berat badannya katakanlah sekitar lima puluh lima dan empat puluh lima kilogram. Kalau begitu, bagaimana?

Mata Darbishire bersinar gembira. Ia berhasil menemukan jawabannya! Lima puluh lima ditambah empat puluh lima, itu kan sama dengan seratus. Jadi wanita Indian yang duduk di satu sisi punggung kuda Nil itu sama berat badannya dengan jumlah berat badan kedua wanita Indian yang berada di kedua sisi lainnya. Itu berarti ada keseimbangan di atas punggung kuda Nil itu, dan binatang itu takkan terguling.

Geometri ternyata merupakan hal yang aneh, kata Darbishire menarik kesimpulan. Ia tidak bisa membayangkan, bagaimana dengannya bisa diselesaikan berbagai persoalan. Pada awalnya memang agak membingungkan, tapi siapa pun juga yang memiliki kecerdasan di bidang matematika pasti bisa melihat apa sebetulnya yang dimaksudkan oleh Pythagoras itu. Disalinnya kata-kata yang ditulis oleh Bromwich di bawah gambar diagramnya. Ia merasa yakin, Pak Wilkins akan terkesan melihat kemajuan' yang dicapai muridnya yang ini dalam waktu luangnya.

Beberapa saat sebelum waktu bersekolah siang itu dimulai, di ruang tempat penyimpanan kotak-kotak perbekalan makanan kecil dilangsungkan pameran filateli yang kecil-kecilan tapi eksklusif. Hanya ada tiga prangko yang dipamerkan - satu sudah dibubuhi cap pos, dan dua lagi yang belum terpakai. Prangko-prangko baru seri Penemuan-penemuan Ilmiah Abad Kedua Puluh itu direkatkan pada sampul-sampul kosong. Pada salah satu sampul itu nampak cap pos yang asli, bertanggal 16 Juni. Kelangkaan benda-benda yang dipamerkan menimbulkan rasa iri dan kekaguman di kalangan anak-anak yang datang melihat.

"Bagaimana kalau kita saling bertukar, Jen?" kata Venables mengusulkan. "Kau kuberi dua dari seri prangko Italia-ku yang baru sebagai penukar prangko Penemuan-Penemuan Ilmiah-mu yang belum dipakai."

"Yang benar saja!" tukas Jennings dengan nada merendahkan. "Prangkoku jauh lebih tinggi nilainya dari prangko-prangko baru Italia-mu yang tidak menarik itu."

"Yah..." Venables berpikir-pikir, mencari apa yang bisa ditambahkan. "Begini sajalah. Sebagai tambahan, kau kuberi dua pak permen karet."

"Permen karet? Cih, terima kasih, tapi tidak bisa."

"Tapi permen karet ini kualitas nomor satu, pembagian di pesawat terbang," kata Venables mendesak. "Pamanku yang memperolehnya, sewaktu ia terbang ke New York. Para penumpang diberi permen karet agar telinga mereka tidak terasa sakit pada saat pesawat terbang lepas landas."

Darbishire tertarik mendengarnya. "Tapi bagaimana mereka mengeluarkannya lagi dari dalam lubang telinga sewaktu pesawat mendarat?" katanya ingin tahu.

Penawaran Venables akhirnya ditolak. Gengsi kedua penggemar filateli itu menjulang tinggi, sementara anak-anak yang ingin melihat berjalan beriringan melewati prangko-prangko yang diletakkan di ambang jendela. Mereka masih terus saja antre setelah lonceng berbunyi tanda waktu bersekolah siang dimulai. Pak Wilkins, yang saat itu lewat dalam perjalanan ke kelas yang akan diajarnya masuk untuk melihat ada apa di situ.

"Apa yang kalian lakukan di sini?" tanyanya dengan suara membentak pada anak-anak. "Lonceng sudah berbunyi dua menit yang lalu. Cepat, naik ke atas, ke kelas kalian."

Anak-anak bergegas meninggalkan ruangan itu. Tapi Jennings dan Darbishire enggan pergi tanpa membawa prangko-prangko mereka. Malang bagi mereka, Pak Wilkins berdiri di depan jendela, sehingga mereka tidak bisa mengambil milik mereka itu tanpa mendorongnya ke samping.

“Ayo cepat, kalian berdua. Cepat, kataku!"

"Tapi saya ingin mengambil sesuatu dulu, Pak," kata Jennings dengan nada memohon.

"Tidak ada waktu lagi! Banyak yang harus kita kerjakan dalam jam pelajaran sekarang ini," tukas Pak Wilkins. "Urusanmu itu harus menunggu sampai setelah jam pelajaran selesai."

"Tapi, Pak, prangko-prangko yang dipamerkan itu langka."

"Aku percaya, tapi takkan terjadi apa-apa dengannya di sini. Takkan ada yang mencurinya, dan prangko tidak bisa berjalan sendiri."

Protes Jennings tidak diacuhkan. Sampul-sampul berprangko itu ditinggal menghadapi nasibnya sendiri di ambang jendela, sementara kedua anak itu digiring supaya cepat naik ke atas, ke ruang Kelas Tiga.

Sekali ini Darbishire menghadapi saat pelajaran matematika dengan perasaan gembira. Ia sudah bersusah-susah mempelajari Teori Pythagoras dalam waktu luangnya, dan kini ingin memamerkan pengetahuannya.

Pak Wilkins menggambar sebuah segi tiga siku-siku di papan tulis, lalu membuat tiga buah segi empat bujur sangkar pada ketiga sisinya.

"ah... aku tahu bahwa aku tidak sempat menjelaskannya secara lengkap pada jam pelajaran yang lalu," katanya mengingatkan anak-anak. "Tapi kalian kusuruh menggunakan otak kalian untuk membahas soal itu dan melihat apa hasilnya."

Dengan pandangan berharap, matanya menyusuri anak-anak yang duduk di barisan paling depan. Diharapkannya ada satu di antaranya yang bangkit dari tempat duduknya lalu menjelaskan makna dalil itu.

Tapi reaksi anak-anak mengecewakannya!

Temple mengatakan, baginya diagram itu masih saja kelihatan seperti baling-baling kincir angin yang miring, sementara Bromwich menambahkan bahwa menurutnya itu ada hubungannya dengan pembuatan sudut-sudut lapangan bola yang lurus. Tapi hanya itu saja yang bisa dikatakannya.

Pak Wilkins sudah nyaris menyerah, ketika dilihatnya ada tangan berkibar-kibar seperti serbet yang tergantung pada tali jemuran. Tangan yang bergerak-gerak itu dimaksudkan untuk memperoleh perhatiannya.

"Nah, Darbishire, berhasilkah kau mengolah sendiri makna dari bujur sangkar pada hipotenusa itu?"

"Ya, saya rasa bisa, Pak, meski agak rumit juga," kata jago matematika itu. "Sejauh yang bisa saya pahami, soalnya bersangkutan dengan penyebaran posisi beban, agar tidak berat sebelah."

Pak Wilkins bingung mendengar penjelasan itu. "Teruskan," katanya dengan waswas.

"Begini, Pak! Kita katakan saja ada seorang kepala suku Indian yang punya tiga orang istri, dan ia hendak membawa mereka bepergian. Menurut Pythagoras, kepala suku itu harus menempatkan istrinya yang bertubuh gemuk di depan, sedang keduanya lagi yang kurus-kurus disuruh duduk di dekat ekor, agar kuda Nil itu tidak terbalik." Darbishire berhenti sebentar. Keningnya berkerut, untuk menunjukkan bahwa ia sedang berpikir. "Tapi saya masih tetap belum bisa mengerti, bagaimana dalil itu bisa membantu membuat garis-garis batas lapangan tenis!"

Seisi kelas bungkam karena bingung, ketika Darbishire sudah selesai menyampaikan penjelasannya tentang Teori Pythagoras. Teman-temannya semua memandang ke arahnya sambil melongo. Pak Wilkins duduk di tempatnya dengan kedua tangan menutupi wajah. Dalam hati ia bertanya, untuk apa sebenarnya ia repot-repot berusaha mengajarkan matematika kepada anak-anak Kelas Tiga. Pasti ada cara-cara yang lebih mudah untuk mencari nafkah, pikirnya.

Ia memerlukan waktu sampai akhir jam pelajaran itu untuk meyakinkan Darbishire bahwa dalil itu tidak ada urusannya dengan wanita-wanita Indian di atas punggung hippopotamus, atau kuda Nil. Tapi akhirnya ia mengaku bahwa ia pun mungkin akan salah mengerti kalau membaca catatan Bromwich yang penuh dengan singkatan itu.

Meski demikian Darbishire enggan melepaskan penjelasannya mengenai teori itu, karena baginya itu masuk akal.

"Orang yang bernama Pythagoras itu, Pak, pada tahun kapan dia hidup, Pak?" tanyanya pada Pak Wilkins, sesaat sebelum jam pelajaran berakhir.

Pak Wilkins menaksir sebentar. "Yah, sekitar dua ribu lima ratus tahun yang lalu, kurang lebih."

"Nah, itu dia, Pak!" kata Darbishire bernada menang. "Pada waktu itu permainan sepak bola kan sama sekali belum diciptakan, jadi bagaimana mungkin Pythagoras bisa mengembangkan suatu cara untuk membuat garis-garis batas lapangan permainan?"

Begitu waktu bersekolah siang sudah selesai, Jennings dan Darbishire bergegas ke ruang tempat penyimpanan kotak-kotak bekal makanan kecil untuk mengambil prangko-prangko mereka.

Tapi mereka tidak bisa masuk ke situ. Pak Robinson sedang menyapu lantai di dalamnya, dan pesuruh sekolah itu telah menemukan cara yang menjamin bahwa selama dia sedang bekerja di situ tidak ada anak-anak yang datang mengganggu, Pintu ruangan itu selalu dikuncinya dari dalam.

"Percuma, dia pasti takkan mengizinkan kita masuk. Ia belum pernah mau membukakan pintu jika sedang bekerja di dalam," kata Darbishire, ketika gedoran di pintu yang dilakukan oleh Jennings tidak menghasilkan apa-apa. "Kita terpaksa meninggalkan sampul-sampul kita di dalam sampai sesudah kita selesai main cricket. Pak Robo pasti akan menyimpannya untuk kita, apabila ia menemukannya. Dia biasanya bisa diandalkan, kalau urusan seperti ini."

Dengan perasaan gelisah, Jennings dan Darbishire pergi menyiapkan diri untuk bermain cricket; dan sewaktu mereka masuk ke ruangan itu beberapa saat sebelum waktu makan sore, mereka menjumpai tempat itu dalam keadaan bersih dan rapi. Tapi ketiga sampul berprangko yang mereka tinggalkan di ambang jendela sudah tidak ada lagi!

"Mana Pak Robo? Kita harus menemukannya dengan segera!" seru Jennings panik.

"Dia pasti sudah berangkat ke desa, membawa surat-surat yang harus diposkan," kata Rumbelow, yang mencari-cari sesuatu dalam kotak perbekalannya. "Aku tadi melihatnya pergi, sewaktu aku mewasiti permainan kita."

“Wah, gawat-tapi itu belum tentu berarti bencana! "Kalau begitu kita datangi dia sehabis makan sore," kata Jennings memutuskan. "Mudah-mudahan saja milik kita itu ditaruhnya di tempat yang aman,"

Pak Robinson masih belum nampak ketika anak-anak sudah selesai makan sore, karena setelah kembali dari desa pesuruh itu pergi ke pondoknya untuk beristirahat. Ia baru keluar lagi dari situ menjelang malam, pada saat anak-anak berbondong-bondong menuju ke lapangan bermain, untuk memanfaatkan waktu luang selama satu jam sebelum lonceng asrama berbunyi.

Jennings menemukan orang itu di tempat penyimpanan peralatan, dan langsung mengatakan maksud kedatangannya.

"Maaf, tapi Anda tadi siang kan membersihkan ruang tempat penyimpanan kotak-kotak perbekalan kami," kata Jennings, "apakah saat itu Anda menemukan tiga sampul surat yang terletak di ambang jendela?"

Pak Robinson mengangguk. Diletakkannya pahat yang sedang diasahnya. "Betul. Dua di antaranya kelihatan persis sama seperti yang kukembalikan pada kalian kemarin petang."

"Ya, memang sampul-sampul yang itu. Anda menyimpannya di mana?"

Pak Robinson merogoh saku jaketnya yang tergantung pada daun pintu sebelah dalam, dan mengeluarkan dua buah sampul surat. Ia menuding ke prangko-prangko yang belum ada cap kantor posnya. "Karena belum dicap, kalian bisa melepaskannya dengan uap air, supaya bisa dipakai untuk surat yang lain."

"Tapi ini hendak kami masukkan dalam album-album prangko kami, bukan untuk dipakai mengirim surat, karena kami tidak bisa mendapat cap pos dengan tanggal yang kami ingini." Jennings menerima kedua sampul yang disodorkan dan mengantonginya. "Mana yang satu lagi?" tanyanya.

"Yang satu lagi?" Pak Robinson bingung. "Tidak ada gunanya menyimpan yang itu, karena kulihat sudah terpakai." Ia berbalik, menghadap ke bangku kerjanya lagi. "Sudah kubuang, bersama sampah yang lain-lainnya."

Jennings menatap orang itu dengan perasaan kecut, sementara matanya terbelalak. "Tapi justru yang itu yang paling berharga!" serunya.

"Itu satu-satunya yang kami peroleh dengan cap pos bertanggal hari pertama peredarannya."

Pak Henry Robinson bukan penggemar prangko. "Yah, mana aku tahu?" katanya membela diri. Diambilnya pahat yang tadi, lalu ia mulai mengasahnya kembali. Kemudian, dengan segan-segan ia menambahkan, "Jika itu memang sangat penting bagi kalian, pergilah mencarinya di tumpukan sampah. Aku baru saja menyalakannya. Angin saat ini bertiup dari arah barat daya. Jadi ada kemungkinan tumpukan sampah hari ini dalam waktu sejam belum terbakar habis."

14. KEMBALI SEPERTI SEMULA

JENNINGS bergegas meninggalkan Pak Robinson, lalu lari secepat-cepatnya ke belakang rumah kaca, tempat Pak Robinson membakar tumpukan sampah. Dalam perjalanan ke situ ia berpapasan dengan serombongan anak Kelas Tiga yang hendak mencari dedaunan segar untuk makanan ulat-ulat bulu yang mereka pelihara.

"Ke tempat pembakaran sampah!" serunya sambil menuding ke depan. "Keadaan darurat merah! Semua ikut membantu! Salah seorang dari kalian tolong cari Darbishire, suruh dia datang!"

Nada suaranya begitu panik, sehingga para pencari makanan untuk ulat-ulat bulu itu berhenti mencari dan lari mengikutinya dengan perasaan ingin tahu. Dengan menghindari wilayah kebun sayur yang tidak boleh mereka masuki, anak-anak itu lari menyusuri jalan setapak menuju ke persimpangan dekat bangunan tempat pot. Di situ jalan setapak itu bercabang, menuju ke jalan masuk ke kompleks sekolah di sebelah belakang. Di sisi kiri jalan itu ada sebuah rumah kaca dan sekumpulan bangunan lain. Di belakangnya nampak asap tipis mengepul, menunjukkan tempat Pak Robinson membakar sampah sekali seminggu.

Jennings lebih dulu sampai di situ. Ia berhenti sejenak sambil memandang berkeliling. Ia berpikir, di mana ia harus mulai mencari.

Tumpukan sampah yang dibakar itu tidak banyak, terdiri atas sedikit dedaunan dengan kertas-kertas dari berbagai keranjang sampah. Kadang-kadang onggokan sampah itu terbakar, tapi kadang-kadang tidak; dan sementara semakin banyak saja sampah yang ditumpukkan di atasnya, lapisan yang lebih bawah berubah menjadi kompos yang agak hangus. Kompos itu makin lama makin tebal sepanjang satu masa bersekolah. Baru pada waktu liburan Pak Robinson benar-benar melakukan tugas membersihkan tempat itu dengan kobaran api yang besar, sehingga tempat itu sudah siap lagi untuk sampah yang akan ditumpukkan di situ pada masa bersekolah berikutnya.

Jennings bergegas menghampiri kepulan asap yang terdekat. la sedang dengan berhati-hati menyerakkan sampah yang sudah mulai terbakar dengan ujung sepatunya, ketika anak-anak yang berlari menyusul tiba.

"Kenapa kau begitu ribut?" tanya Martin-Jones.

"Sampul suratku yang ada prangko istimewanya itu dibuang." Paling tidak ada tiga nyala api yang membara di sisi atas onggokan sampah itu. Jennings mendesak teman-temannya yang membantu agar jangan membuang-buang waktu. "Aku akan mencari-cari di tumpukan sini. Kalian memeriksa tumpukan-tumpukan yang lain. Dan periksa juga bagian-bagian yang belum mulai terbakar. Sampul itu bisa berada di mana saja."

Anak-anak yang membantu tahu apa yang dicari, karena mereka menghadiri pameran prangko eksklusif yang diadakan tadi. Jadi mereka lantas memencar, mencungkil-cungkil kompos dengan ranting-ranting, menggeser-geser abu dengan sepatu mereka dan menggaruk-garuk bagian onggokan yang terbakar dengan alat apa saja yang ada.

Tidak lama kemudian Darbishire tiba di situ. Ia berlari menghampiri Jennings yang saat itu sedang berjalan di tengah tumpukan kotak bekas tempat cornflakes--semacam keripik jagung -yang sudah sempat terbakar sedikit. "Ada apa?" tanya Darbishire dengan suara bernada tegang.

Jennings menggerakkan tangannya kian kemari, menunjuk onggokan sampah yang sebagian sudah hangus terbakar. "Pak Robo... dia membuang prangko kita!"

"Hih, jahatnya!" kata Darbishire yang langsung marah.

"Ia tak sengaja melakukannya, tapi hanya karena tidak tahu saja," kata Jennings menjelaskan.

"Ia tidak mengerti untuk apa sampul bekas disimpan. Lebih baik kau segera saja ikut mencari, sampul itu pasti ada di sekitar sini-itu kalau belum terbakar."

Selama beberapa saat usaha pencarian itu nampaknya akan sia-sia saja; tapi kemudian, ketika Jennings merogoh agak lebih masuk ke dalam setumpuk kertas bekas, ia melihat tulisan tangan Bibi Angela pada sepucuk sampul yang belum tersentuh api.

"Hore! Berhasil! Berhasil!" teriaknya sambil melambai-lambaikan sampul itu. "Kalian boleh berhenti mencari, karena aku sudah menemukannya!"

Beberapa di antara anak-anak yang mencari itu menegakkan tubuh mereka sambil membersihkan kotoran dan abu dari kaus kaki dan sepatu mereka. Tapi yang lain-lainnya terus saja mencari, terdorong oleh harapan akan menemukan harta yang tanpa diduga-duga ada di bawah kaki mereka.

Atkinson menemukan sebuah mainan mobil pengangkut semen milik Rumbelow; Bromwich menemukan kaca pembesar milik Temple yang sudah lama hilang; dan Martin-Jones menemukan tiga potong teka-teki gambar milik Binns dan Blotwell yang berantakan akibat babi kecil yang lari di atas gambar yang sedang disusun.

Tapi penemuan Venables yang paling menarik. Sekitar lima belas senti di bawah permukaan ditemukannya sebuah kantong kecil. Ia berhasil mengeluarkannya setelah menarik-narik benda tersebut. Ia mengernyitkan hidung karena kaget bercampur heran; kantong itu penuh dengan benda-benda bulat dan lunak, yang mulanya dikira kentang.

"He! Kemarilah semua, dan lihat harta bajak laut ini," serunya. Kantong itu dijungkirkannya.

Tapi yang bergulingan keluar ternyata bukan kentang, tapi bermacam-macam bola: bola tenis dan bola cricket.

"Ini kan bola-bola tua yang dilemparkan oleh Jen dan Darbi dari atap ruang senam waktu itu."

"Ya, betul," kata Martin-Jones membenarkan. "Pak Wilkie waktu itu mengatakan bahwa ia akan membuang bola-bola yang berhasil disita olehnya - dan ini dia bola-bola itu."

Temple mengambil sebuah di antaranya. "Ini bola yang dilemparkan oleh Darbi lalu kupukul sampai ke atap," katanya dengan bangga. "Masih ingat pertandingan kita yang termasyhur waktu itu - Bumi lawan Angkasa Luar? Sayangnya, kita hanya bisa sebentar saja bermain."

"Kita bisa meneruskannya kalau mau," kata Atkinson mengajak. "Setidak-tidaknya, kita kini punya beberapa bola cadangan."

Jennings sudah bisa bergembira lagi, karena ketiga sampul surat berprangko itu sudah diamankannya di dalam saku jasnya

"Ayo, kalau begitu! Angkasa Luar menantang Bumi!" serunya dengan lantang. "Regu-regunya
sama seperti waktu itu. Kita lanjutkan dengan Darbi melemparkan bola pada Temple, saat permainan waktu itu terputus."

Masih ada waktu lebih dari setengah jam sebelum istirahat sore berakhir. Venables memungut kantong yang sudah mulai lapuk itu, lalu anak-anak bergegas menuju ke lapangan berlapis aspal di luar ruang olahraga.

Gambar wicket masih ada di dinding tempat penyimpanan sepeda. Seorang anak menaruh jasnya di aspal, sebagai tanda tempat melemparkan bola. Temple melangkah ke depan wicket dengan tongkat pemukulnya yang sudah tidak baru lagi. Para pemain yang harus menangkap bola menempati posisi masing-masing, lalu permainan dimulai.

Bola pertama yang dilempar oleh Darbishire mengarah ke kaki Temple. Anak itu melangkah maju dan memukul bola itu dengan sekuat tenaga. Bola melambung melampaui kepala anak-anak yang menjaga di lapangan. Bola itu terus saja melayang, membentur tembok rendah di atap ruang olahraga lalu berguling di atap.

"Bola melewati batas lapangan, angka enam! Hebat, Bumi!" kata Temple dengan nada puas, sambil tertawa nyengir pada kapten regu lawan.

"He, Jennings, bagaimana jika kau dan Darbi naik ke atas untuk mengambilnya?"

"Tidak mau!" kata pemain dari Planet Mars itu.

"Tapi waktu itu kau melakukannya."

"Betul, tapi kau tahu sendiri bagaimana akibatnya!'!

Jennings mengernyitkan mukanya, karena terbayang dalam ingatannya segala kejadian yang menyusul setelah ia naik ke atas atap untuk mengambil bola.

"Keadaannya kembali seperti waktu itu," katanya kemudian. "Biarkan saja bola itu di sana. Masih banyak bola cadangan."

Tapi ketika permainan dilanjutkan, bola-bola cadangan itu ternyata menimbulkan berbagai masalah. Karena sudah berbulan-bulan tergeletak di atas atap, disusul dengan empat minggu terbenam dalam tumpukan sampah, keadaan bola-bola itu sudah begitu rusak sehingga kalau ada yang masih cukup baik untuk dipakai bermain, sewaktu dipukul tahu-tahu bagian intinya terpental ke satu arah dan kulit luarnya melayang ke arah lain.

Ada pula yang langsung pecah dua begitu dipukul; yang lain-lainnya hancur berantakan sewaktu melayang setelah dipukul, berpencaran seperti pecahan roket yang kembali memasuki atmosfer bumi. Bola-bola tenis lebih kuat dan bisa bertahan lebih lama. Tapi bola-bola itu sudah tidak memiliki daya lenting lagi, sehingga harus dilempar sekuat tenaga agar bisa sampai di tempat anak yang harus memukulnya.

Dengan keadaan seperti itu tidaklah mengherankan bahwa Temple, pemukul pertama Regu Bumi mengalami nasib yang bermacam-macam.

Pada gilirannya yang kedua untuk memukul, ia nyaris saja "mati" karena bola yang dipukulnya tertangkap oleh Atkinson. Tapi begitu dipegang, bola itu hancur berantakan. Pada giliran selanjutnya ia "mati", karena sebuah bola plastik yang lonjong berbentuk telur meledak dengan bunyi keras ketika mengenai tulang keringnya.

"Ini sudah keterlaluan," kata Venables memprotes, setelah puas tertawa melihat tampang Temple yang bingung. "Kita tidak bisa begini terus, Jen. Kita terpaksa mengubah aturan permainan."

"Kenapa tidak," kata Darbishire menyetujui. "Bagaimanapun juga, kita kan menjadi regu dari angkasa luar yang datang untuk bertanding di bumi. Siapa tahu, aturan permainan cricket di Pluto dan planet-planet lainnya berbeda sekali dari peraturan yang berlaku di sini," Ia berpikir sebentar, lalu menyambung, "Katakanlah di planet asalmu tidak ada gaya gravitasi. Nah, kalau begitu, bola yang dipukul ke atas takkan pernah turun lagi ke tanah, kan?"

"Seperti bola kita tadi, ketika dipukul dan jatuh di atas atap," kata Jennings. Matanya berkilat-kilat. Rupanya ia mendapat ilham. "Ya, itulah yang akan kita lakukan! Pertandingan menurut aturan permainan angkasa luar! Semuanya kebalikan dari yang berlaku di bumi, dan angka hanya bisa diraih dengan cara memukul bola ke orbit sehingga tidak bisa kembali lagi ke bumi!"

Tidak seorang pun yang memahami maksud Jennings, sehingga Jennings memerlukan waktu beberapa menit untuk menjelaskan perbedaan antara permainan cricket tanpa gaya gravitasi dan aturan yang lazim di bumi. Tujuan permainan bukan meraih angka, tapi menghilangkan bola sebanyak mungkin, dengan cara memukulnya ke angkasa sehingga tidak kembali lagi. Dengan menggunakan atap datar dari ruang olahraga sebagai ganti medan tanpa gravitasi, anak yang memukul harus berusaha memukul bola melewati tembok rendah di pinggiran atap itu sehingga jatuh di atas atap.

Untuk mencapai kemungkinan itu, pelempar dan pemukul harus bekerja sama, jadi tidak lagi berhadap-hadapan sebagai lawan. Jika bola yang dipukul jatuh ke atap, mereka berdua mendapat kesempatan untuk mencoba sekali lagi. Tapi jika gagal, mereka digantikan oleh pasangan yang berikut.

"Dengan lain perkataan, setiap pasangan harus berusaha meraih enam angka dalam pertandingan cricket yang paling sinting dalam sejarah," kata penganjur aturan permainan baru itu.

"Yuk, kita mulai saja sekarang. Sambil bermain, kita buat aturan-aturan baru yang selanjutnya."

Pada waktu sejam sebelum bel asrama dibunyikan itu, Pak Carter berjalan-jalan dengan Pak Wilkins di dalam kompleks sekolah. Hawa yang masih panas saat itu merupakan pertanda bahwa keesokan harinya besar kemungkinannya cuaca akan bagus lagi. Di mana-mana kelihatan bahwa baik para murid maupun para guru Sekolah Linbury Court memanfaatkan istirahat petang itu.

Pak Hind sedang melatih serombongan anak-anak bermain tenis. Kepala Sekolah berlatih melempar bola di depan jaring Kesebelasan Utama. Paterson sedang meminyaki tongkat pemukulnya di tribun; Thompson melatih keterampilannya bermain gitar, sementara Binns dan Blotwell mulai meletakkan potongan-potongan teka-teki gambar yang baru di atas selembar papan persegi empat. Teka-teki baru itu juga terdiri atas lima ratus potongan.

Tapi walau di mana-mana nampak aktivitas yang ada tujuannya, Pak Wilkins tetap saja berperasaan suram. Dengan suara bernada murung, ia berbicara mengenai pokok persoalan yang jarang tidak menyibukkan pikirannya.

"Yah, begitulah, Carter, anak-anak Kelas Tiga itu benar-benar merupakan masalah. Apalagi Jennings," katanya berkeluh kesah, sementara mereka melintasi lapangan tempat bermain. "Sama sekali tidak punya rasa tanggung jawab! Jika dipikir bahwa beberapa tahun lagi anak-anak kecil yang konyol itu akan sudah bekerja atau melanjutkan pendidikan mereka, cemas rasanya hatiku."

Ia berhenti sebentar, lalu melanjutkan, "Misalnya saja Darbishire. Beberapa waktu yang lalu ia mengatakan, kalau sudah besar nanti ia ingin menjadi ilmuwan. Bagaimana mungkin kita bisa mendidik anak yang mengira bahwa kuadrat hipotenusa ada hubungannya dengan orang Indian yang menunggang kuda Nil menjadi ilmuwan?"

Saat itu terdengar suara tertawa-tawa dan bersorak-sorak. Datangnya dari arah belakang ruang olahraga.

"Kedengarannya seperti ada perayaan di sana," kata Pak Carter mengomentari sambil mengangkat alis.

"Kalau menurutku, lebih mirip huru-hara!" tukas rekannya. "Sebaiknya kita ke sana saja untuk memeriksa."

Ketika kedua guru itu sampai di lapangan cricket darurat di dekat tempat penyimpanan sepeda, mereka menjumpai sekelompok anak Kelas Tiga sedang berkerumun membentuk lingkaran. Dari lutut ke bawah, tungkai mereka berlumur abu dari tempat pembakaran sampah. Kebanyakan muka dan tangan mereka juga berlumur abu.

Di pinggir lingkaran itu, Venables berdiri dengan setumpuk kecil bola di depan kakinya. Sebuah kantong kotor bekas tempat kentang tersampir di bahunya. Di tengah-tengah nampak Jennings memegang tongkat pemukul cricket, berhadapan dengan Darbishire. Di tangan anak itu ada bola karet yang sudah rusak.

Sementara kedua guru itu datang menghampiri, Darbishire melambungkan bola dengan pelan ke arah Jennings. Jennings membidik, lalu memukul bola itu ke atas, setinggi ruang olahraga. Bola itu membentur tembok rendah pinggiran atap dengan bunyi seperti buah jeruk yang sudah terlalu ranum. Bola itu pecah berantakan, dan berguling ke atas atap sehingga tak terlihat lagi.

Sekali lagi terdengar sorak-sorai kelompok anak-anak yang berlumur abu itu. "Hore! ...Enam angka untuk Mars dan Pluto... Sebuah Benda Terbang melesat lagi dari landasan luncurnya!"

Pak Wilkins mendului masuk ke dalam lingkaran yang dibentuk oleh anak-anak. "Demi geledek, kalian ini sedang bermain apa?" tanyanya.

Jennings berpaling, menghadapi kedua guru itu sambil tersenyum menyambut kedatangan mereka. "Halo, Pak! Kami sedang bermain cricket."

"Bermain apa?" Pak Wilkins, yang gemar berolahraga, tersinggung melihat permainan cricket dijadikan lelucon. "Begini ini kalian sebut cricket?"

"Kami bermain dengan aturan antar planet yang baru, Pak! Khusus diadakan untuk pertandingan-pertandingan dalam sistem tata surya dan di tempat-tempat yang tidak ada gaya tariknya," kata Jennings menjelaskan. "Tentu saja, peraturan baru ini boleh disahkan oleh Persatuan Cricket Nasional."

Darbishire melangkah maju, untuk menambahkan. "Bola-bola itu UFO, Pak, benda-benda terbang tak dikenal," katanya menjelaskan. "Dan alih-alih meraih angka dengan cara biasa, kami harus meluncurkan benda-benda itu ke orbitnya, sehingga tidak kembali lagi ke bumi."

"Permainan yang mahal," kata Pak Carter mengomentari. "Harga bola-bola yang baru pasti tidak sedikit."

"Ya, mungkin saja bagi orang lain, Pak. Tapi kami beruntung karena punya persediaan khusus, benda-benda terbang yang tidak sayang kalaupun hilang."

Pandangan Pak Wilkins berkeliling, menelusuri kelompok pemain cricket angkasa luar yang nampak kumal, dan akhirnya berhenti pada tumpukan benda terbang yang bisa dibuang, yang terdapat di depan kaki Venables. Sambil mengerutkan kening ia berkata, "Bukankah itu bola-bola yang kusita sebulan yang lalu? Siapa yang mengatakan pada kalian bahwa kalian boleh mengambilnya? Kalian tidak berhak menyentuhnya!"

Para pemain menggeser-geser kaki dengan perasaan kikuk. Sekali lagi penjelasan mengenainya diserahkan pada Jennings. "Begini, Pak, kami ini sebenarnya cuma melaksanakan kemauan Anda saja."

Pak Wilkins tercengang. "Keinginanku?"

"Ya, sedikit-banyak begitulah, Pak. Soalnya, saya teringat sewaktu saya dan Darbishire yang bisa dibilang tanpa berpikir melempar-lemparkan bola-bola dari atas atap waktu itu, Anda kedengaran agak... eh... yah, agak kesal menanggapi perbuatan kami itu," kata Jennings menjelaskan dengan tampang polos, seakan sedikit pun tidak merasa bersalah. "Jadi ketika kami tadi menemukan bola-bola ini di tumpukan sampah sehingga tempat itu nampak tidak rapi, kami lantas berpendapat bahwa sebaiknya kami menolong Anda dengan mengirimkan semuanya kembali ke tempat asalnya. Kami kira Anda akan senang, Pak."

"Doh! Anak-anak konyol! Seumur hidupku belum pernah kudengar alasan yang begitu..."

Ia tidak melanjutkan omelannya, karena saat itu terdengar bunyi peluit yang ditiup Pak Hind, tanda bahwa istirahat petang itu sudah berakhir.

"Bawa bola-bola yang masih tersisa ke tumpukan sampah yang sedang dibakar, lalu kalian bersihkan badan masing-masing," bentak Pak Wilkins. "Kalian tidak bisa masuk ke ruang makan dalam keadaan begitu. Kelihatannya seperti gerombolan orang-orangan pengejut burung."

Dengan demikian berakhirlah pertandingan yang pertama (dan satu-satunya) yang dimainkan menurut aturan antar planet yang baru, antara manusia dan makhluk-makhluk dari kawasan pinggir sistem tata surya.

Para pemain tamu dari Yupiter, Venus, Pluto, dan Mars mengibas-ngibaskan abu yang melekat pada kaki, tangan, dan muka mereka, lalu bersama regu lawan dari Bumi masuk untuk minum susu dan makan biskuit sebelum lonceng asrama berbunyi.

Pak Wilkins menggeleng-geleng dengan sikap putus asa, sambil memperhatikan anak-anak pergi. "Bukankah itu tadi merupakan bukti dari apa yang kukatakan tadi tentang anak-anak Kelas Tiga, khususnya tentang Jennings?" katanya pada Pak Carter, sementara kelompok anak-anak itu menghilang di balik sudut gedung utama. "Kita menyuruh mereka pergi ke lapangan bermain untuk berlatih main cricket, mereka bukannya berusaha memperbaiki teknik permainan, tapi malah mengubah permainan itu menjadi suatu kesintingan yang luar biasa."

"Ah, nanti kalau sudah agak lebih dewasa, mereka pasti takkan melakukannya lagi," kata Pak Carter menenangkan.

"Moga-moga saja kata-kata Anda itu benar, Carter, tapi saat ini aku tidak melihat adanya tanda-tanda ke arah itu." Pak Wilkins mendesah dengan perasaan putus asa bercampur sebal.

"Apakah yang akan terjadi beberapa tahun lagi, apabila mereka nanti tidak lagi disuruh keluar ke lapangan bermain, melainkan memasuki dunia kehidupan yang keras?"

Pak Carter hanya mengangkat bahu saja, menanggapi pertanyaan itu. "Anda tidak usah cemas, Wilkins," katanya dengan tenang. "Bahkan anak-anak Kelas Tiga pun nanti akan tumbuh menjadi orang dewasa!"

SELESAI

0 Response to "Jennings 2"

Post a Comment

Translate

English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified