Download applikasi baca novel online untuk android disini: DOWNLOAD

Jennings 1

Apalagi Jennings

Anthony Buckeridge

www.ac-zzz.blogspot.com

1. ATAP GEDUNG

WICKET, yaitu gawang permainan cricket, itu terdiri atas tiga garis tegak lurus yang dibuat dengan kapur tulis di dinding gudang sepeda, Tempat pelemparan bola, yang disebut pitch, terdapat di ujung seberang lintasan ditandai dengan selembar sweter yang digeletakkan di atas aspal. Pangkal tongkat pemukul sudah pecah berjumbai-jumbai seperti kuas usang. Dan bola tenis tua yang dipakai sebagai pengganti bola cricket sudah tidak memiliki daya lenting lagi, setelah selama empat masa pelajaran tersuruk di tengah rumput tinggi di belakang ruang olahraga.

Perlengkapan permainannya memang seadanya saja. Tapi di gelanggang permainan, suasana tegang. Untuk pertama kalinya dalam sejarah, Kesebelasan Cricket Bumi bertanding melawan sebuah regu dari Angkasa Luar.

Kalau dilihat sepintas lalu, sebenarnya sedikit sekali perbedaan antara manusia-manusia pemain regu bumi dan tamu-tamu mereka yang datang dari planet lain itu. Jumlah kaki dan tangan mereka seperti lazimnya, masing-masing dua. Semua berbicara dalam bahasa sama, dengan kelantangan yang serupa. Kalau ada orang luar kebetulan melihat, pasti mengira sekelompok murid kelas tiga Sekolah Linbury Court sedang asyik bermain cricket sebentar selama setengah jam sebelum saat lonceng asrama berbunyi.

Tapi orang bisa saja keliru. Jika dilihat lebih teliti, penonton yang cermat mungkin akan melihat beberapa hal tertentu yang membedakan para pemain bumi dari makhluk-makhluk yang datang dari planet luar. Jennings misalnya, yang bermain untuk regu makhluk angkasa luar, bisa saja dikira murid sekolah Inggris yang periang dan berumur sebelas tahun. Tapi jika dilihat dua bolpoin yang mencuat ke atas dari keningnya dan dijepitkan ke kepala dengan gelang karet, barulah kita sadar bahwa dia sebenarnya makhluk yang berasal dari Planet Mars!

Atau Darbishire yang berdiri di tempat melempar bola, membersihkan lensa kacamatanya dengan selembar daun sambil menunggu saat permainan dimulai - dia itu benar-benar nampak seperti manusia biasa, dengan rambutnya yang pirang, mata biru pucat, dan gerak-geriknya yang agak serba ragu. Tapi ia memakai semacam baskom tempat mencuci sayuran yang terbuat dari plastik hijau. Tidak salah lagi, itu merupakan petunjuk tentang siapa dirinya. Dia sendiri kalau ditanya akan dengan segera menjelaskan: siapa pun yang tahu bahwa baskom plastik seperti itu merupakan penutup kepala yang lazim dipakai di kawasan pinggiran sistem matahari, pasti akan langsung dapat menebak bahwa pemakainya berasal dari Planet Pluto.

Atkinson (dari Yupiter) dan Venables (dari Venus) melengkapi regu Angkasa Luar, yang terdiri atas empat anak-eh, bukan, makhluk. Di kening Atkinson ada mata ketiga, yang digambar di situ dengan crayon berwarna biru. Sementara Venables tidak menyandang tanda-tanda pengenal bahwa ia berasal dari luar bumi. Untuk membuktikan bahwa ia berasal dari Planet Venus, ia berbicara dengan logat aneh, seperti orang Indian dalam film koboi kuno.

"Aku pelempar ulung angkasa luar. Aku lempar tonggak tengah Regu Bumi dengan Benda Terbang Bobrok," katanya, ketika Temple maju ke depan wicket, siap melempar bola untuk Regu Bumi.

Tapi Jennings, kapten regu lawan, mempunyai gagasan lain. "Kau tidak bisa menjadi pemukul pertama," katanya kepada pemain dari Venus. "Aku hendak memasang Darbishire."

"Darbishire! Kau sudah sinting rupanya, ya!" Venables begitu marah mendengar pilihan itu, sehingga ia memprotes dalam bahasa Inggris biasa. "Si Darbi, lemparannya pasti melenceng seratus mil dari wicket."

"Dia tadi sudah mengatakan lebih dulu ingin menjadi pelempar pertama, ketika aku memenangkan undian. Nanti jika ia ternyata ngaco, kan gampang kita tukar," kata Jennings menjelaskan.

"Aku takkan meleset," kata Darbishire dengan gaya yakin. Ia sudah selesai menggosok lensa kacamatanya. Kini ia menggosok-gosok permukaan bola tenis yang sudah lembek itu. Ia berharap, jika dilempar bola itu akan berputar-putar. "Kami, para pemain angkasa luar mengenal segala teknik pelemparan! Kami selalu mengikuti laporan pandangan mata yang disiarkan Radio BBC, sejak ada radio teleskop."

Sambil berkata begitu jago dari Pluto itu berseru "Play!", yang berarti permainan dimulai. Ia lari enam langkah ke depan, untuk melemparkan bola pertama dalam pertandingan luar biasa ini. Tapi ketika lengannya yang memegang bola diayunkan ke atas, baskom penutup kepalanya tergeser ke depan, menutupi matanya. Bola yang dilempar melenceng, mengenai bahu Atkinson yang sudah siap menangkap bola pada posisi kedua di sebelah kiri Temple.

Temple, yang sudah siap untuk memukul bola, mengendurkan sikap siaganya. "Wide!'" serunya. Padahal semua juga melihatnya.

"Sori, Temple," kata Darbishire. "Masalahnya gaya tarik di Bumi sini, lain dari tempat asalku. Kacau lemparanku jadinya!"

Makhluk Pluto itu melepaskan helm plastiknya yang hijau, lalu del1gan sepenuhnya memanfaatkan gaya tarik bumi, melepaskan lemparan berikut. Sekali ini kakinya menyandung sweter yang menandai batas tempat melempar. Akibatnya, lemparan kedua itu juga melenceng jauh.

"Wide!" kata Temple lagi, sementara Atkinson mengambil bola yang jatuh ke tengah sebuah semak berduri gatal. Temple mengomentari lagi,

"Jika begini terus, kami bisa mencapai angka seratus tanpa pernah menyentuh bola."

"Ini kesalahan Jennings – karena menempatkan Darbi sebagai pelempar pertama," keluh Venables. "Semuanya tahu, permainan Darbi payah, seperti permainan burung jalak bertelapak datar."

Kata-katanya itu tidak didasarkan pada pengamatan pribadi. Rasanya tidak mungkin Venables pernah melihat burung-burung jalak bermain cricket; dan andaikan pernah, rasanya pantas disangsikan apakah ia bisa mengenali kemiripan kemampuan Darbishire bermain cricket dengan salah satu anggota tim satwa bersayap itu yang kebetulan telapak kakinya datar.

Meski begitu, ada benarnya juga kritik yang diucapkannya. Itu harus diakui oleh Jennings. "Baiklah, ia akan kutarik pada akhir seri lemparan ini, apabila lemparannya masih tetap tidak bisa lurus," katanya menyetujui.

Tapi itu ternyata tidak perlu. Semua tercengang melihat lemparannya yang ketiga. Lemparan itu lurus, menuju ke wicket. Temple maju selangkah dan memukul bola dengan sekuat tenaga.

Pukulan itu bagus sekali. Bola melambung jauh ke atas kepala para pemain yang siap menangkap di lapangan, makin lama makin tinggi. Sesaat kelihatannya seperti akan melewati atap ruang olahraga, yang dindingnya merupakan batas kiri lapangan. Tapi ternyata bola itu mengenai tembok sebelah atas talang, lalu melenting dan jatuh di atap yang datar.

Pertandingan seketika itu juga terhenti.

"Hore! Enam angka, karena bola melewati batas lapangan!" seru Temple. Ia memutar-mutar tongkat pemukul di atas kepalanya, seperti orang Indian dengan kapak perangnya.

"Tidak, tidak, kau mati! Jika bola jatuh ke atas atap, itu berarti bola mati," bantah Atkinson.

"Mana mungkin! Bola kan tidak langsung jatuh ke atas atap, tapi sebelumnya mengenai anunya talang."

"Ya, tapi tidak jatuh lagi ke bawah. Itu artinya bola hilang."

"Itu buktinya bahwa aku benar," kata Temple ngotot. "Periksa saja peraturan permainan cricket. Untuk bola hilang, regu yang memukul selalu mendapat enam angka."

"Itu hanya kalau ada bola lain sebagai pengganti,” kata Jennings tidak mau kalah. "Kau boleh saja dapat enam angka, tapi cuma itu saja. Permainan selesai, kecuali jika ada yang punya bola serep."

Nampaknya itu merupakan akhir yang mengecewakan dari pertandingan yang diawali dengan begitu bersemangat, tidak lebih dua menit yang lalu. Karena tidak ada bola cadangan, sudah sewajarnya jika beberapa pemain mengomel-omel.

"Ini semua kesalahan Jennings. Selalu saja membuat kacau," kata Atkinson. "Katanya ini pertandingan terpenting dalam sejarah sistem matahari..."

Jennings langsung memotong. "Ya, tapi semua kan tahu bahwa sebenarnya tidak ada pemain-pemain cricket dari Venus, Mars, dan planet-planet lainnya."

"Sekarang memang belum, tapi siapa tahu pada suatu hari nanti! Bayangkan apa yang akan terjadi jika kau yang saat itu diserahi tugas mengatur permainan," kata Atkinson lagi, sementara dalam pikirannya 'muncul berbagai kemungkinan baru.

"Bayangkan, jika dua puluh tahun lagi Klub MCC mengundang pemain-pemain angkasa luar terkenal dari berbagai tempat yang jauhnya sekian tahun cahaya dari sini, bertanding di Lapangan Lords. Kan tidak mungkin pertandingan terhenti sementara babak pertama sedang berjalan, hanya karena tidak seorang pun di bumi ingat untuk menyediakan bola cricket cadangan."

"Itu kan edan," kata Darbishire membela sahabatnya. "Kita bahkan tidak tahu apakah ada makhluk hidup di planet-planet lain. Apalagi apakah mereka juga mengenal permainan cricket."

Atkinson menuding baskom tempat sayuran yang tergeletak di aspal. "Nah-kalau begitu, Darbi, untuk apa kaupakai barang itu di kepalamu? Kau yang tadi mengatakan, makhluk-makhluk di Pluto memakai helm angkasa luar seperti itu."

"Tapi itu kan tadi, sewaktu kita cuma pura-pura. Masa kau tidak bisa membedakan...?" Darbi mendecak-decakkan lidah sambil menggeleng-geleng. Ia merasa tidak ada gunanya melanjutkan. Kebetulan saat itu Martin-Jones, pemain Regu Bumi yang kalau permainan bisa diteruskan akan mendapat giliran terakhir sebagai batsman - pemukul bola - muncul dari balik ruang olahraga. Ia tadi pergi ke kebun sayur yang ada di situ, untuk memeriksa situasi sebentar.

"Ada kemungkinan bola bisa kita ambil, jika kita cepat-cepat," katanya melaporkan. "Tadi kukira menggelinding ke seberang, lalu aku ke sana untuk melihat."

"Lalu, jatuh ke sanakah bola itu?"

"Tidak, mestinya masih ada di atas. Pak Robo baru saja mengecat pipa saluran air di pojok itu, saat ini ia sedang tidak ada, dan tangga dibiarkannya tersandar di sana."

Itu merupakan peluang yang sangat baik, sayang kalau tidak dimanfaatkan. Anak-anak tahu, mestinya banyak bola berada di atap datar ruang olahraga. Biasanya, satu-satunya cara naik ke atap itu adalah lewat sebuah jendela di ruang loteng. Tapi pintu ruangan itu dikunci dan anak-anak dilarang masuk ke situ. Jadi selama ini tidak ada kemungkinan mengambil bola yang jatuh ke atap lewat jalan itu. Tapi jika Robinson, orang yang bertugas membersihkan sekolah dan melakukan berbagai pekerjaan kecil lainnya dan yang oleh anak-anak disingkat namanya menjadi Pak Robo, pergi dengan meninggalkan tangga di sana, bodoh namanya jika kesempatan baik itu disia-siakan!

Tapi mereka harus hati-hati. Memanjat-manjat, baik itu tangga atau atap, jelas merupakan perbuatan terlarang menurut peraturan sekolah. Selain itu, dinding terujung dari ruang olahraga merupakan batas kebun sayur milik sekolah. Dan kebun itu juga tidak boleh dimasuki anak-anak, karena mereka memang tidak ada urusan di sana.

"Kalau begitu, ayo," kata Venables, "tunggu apa lagi?"

Anak-anak mulai bergerak menuju bangunan tempat berolahraga itu, tapi Jennings berseru menahan mereka.

"Jangan semuanya," katanya. "Pak Wilkie saat ini ada di lapangan tenis. Ia pasti langsung curiga, jika kita semua tahu-tahu menghilang."

Ia memandang berkeliling. "Aku dan Temple saja yang naik, sementara kalian pura-pura masih terus bermain cricket."

"Kenapa aku?" tanya Temple.

"Karena kau yang tadi memukul bola itu."

"Justru karena itu mestinya anak lain yang mengambil. Masa, regu yang sedang mendapat giliran memukul, harus mengambil bola. Tugas regumu mencari bola yang hilang setelah dipukul."

"Ya, betul," kata Martin-Jones sependapat. "Suruh saja Darbi yang naik. Kan salah dia tadi, melempar bola yang begitu mudah dipukul oleh Temple."

"Eh, enak saja!" kata Darbi memprotes. "Hanya karena aku melakukan lemparan yang bagus dan lurus..."

"Sudahlah, jangan membantah lagi, Darbi! Mendingan kita berdua saja," kata Jennings memotong.

Jennings dan Darbishire bersahabat karib. Padahal baik dari penampilan maupun watak kedua anak itu begitu berbeda. Jennings suka bertindak tanpa berpikir dulu. Ia selalu ingin tahu dan gemar berperan sebagai pemimpin dalam kehidupan sekolah yang seperti apa pun juga, yang sedang dianggapnya menarik. Darbishire, sebaliknya, ia sudah puas menjadi penonton saja. Tapi karena sering mendampingi Jennings yang lincah itu, Darbi sering terlibat dalam berbagai aktivitas temannya itu. Sudah berapa kali saja ia terjebak dalam situasi-situasi yang sebenarnya tidak disenanginya, mengingat wataknya yang selalu berhati-hati.

Salah satu situasi seperti itu adalah yang dihadapinya sekarang.

"Risikonya besar, jika kita naik ke atap tanpa minta izin dulu," katanya dengan nada segan, sementara Jennings sudah mendului menuju pojok ruang olahraga. "Pak Wilkie itu, matanya tajam sekali. Sekilas saja ia memandang ke arah sini, nah..."

"Biar tajam, takkan mungkin bisa menembus dinding bata," kata Jennings. "Untung bagi kita, Pak Robo mengecat yang sebelah sana dulu."

Ruang olahraga di Sekolah Linbury Court itu merupakan sebuah bangunan tersendiri. Letaknya di belakang bangunan utama sekolah. Kedua bangunan itu dihubungkan oleh sebuah lorong beratap. Sebagian besar dari bangunan tempat berolahraga ih1 terdiri atas satu lantai saja. Tapi pada satu ujungnya ada tangga menanjak, menuju sebuah gang yang berakhir pada sebuah pintu. Dan di balik pintu itu ada gudang kecil dengan sebuah jendela kaca di langit-langit. Jika jendela itu dibuka, orang bisa naik ke atas atap.

Begitu sudah melewati pojok pertama, Jennings dan Darbi sudah tidak bisa dilihat lagi oleh guru yang saat itu bertugas mengawasi. Tapi kedua anak itu masih harus melewati kebun sayur dulu untuk mencapai tangga, yang seperti dikatakan Martin-Jones tadi memang terjulur sampai ke atap. Kelihatan Pak Robinson sedang mengecat talang dan pipa-pipa saluran air. Nampak dari catnya yang masih basah. Tapi orang itu sendiri tidak nampak. Begitu pula segala perlengkapannya, seperti kaleng-kaleng cat serta kuas. Jadi cukup aman untuk memperkirakan bahwa ia sudah selesai bekerja untuk hari itu.

Jennings bergegas menghampiri tangga lalu memanjatnya. Gerakannya cekatan, seperti monyet saja. Darbishire menyusul, dengan berhati-hati. Ia tidak suka memanjat-manjat. Ketika sudah setengah jalan, ia memandang ke bawah. Tanaman kubis di kebun sayur menurut penglihatannya seperti jauh sekali di bawah. Ia berhenti sebentar memanjat, karena merasa pusing.

"Ayo, jangan berhenti di tengah-tengah! Seperti kentang setengah matang saja," seru Jennings yang sudah sampai di atas. "Dan hati-hati, jangan sampai kena cat basah pada saat melangkahi talang. Kemejaku sempat kena, lumayan besar bekasnya."

Darbishire memegang anak tangga kuat-kuat. Takkan apa-apa asal tidak melihat ke bawah, katanya pada diri sendiri. Atau jika tidak melihat ke atas? Ah, mendingan jangan melihat ke mana-mana! Dengan memaksa diri ia mulai memanjat lagi. Matanya menatap lurus ke dinding bangunan yang ada di depannya. Ia bergerak seperti robot, tanpa berpikir.

Perasaannya menjadi lebih enak ketika sudah sampai di atas dan Jennings menolongnya melangkah dari anak tangga teratas ke atap. "Lama sekali kau memanjatnya," kata temannya itu tidak sabaran.

Darbishire mengangguk. Ia tidak mau mengaku bahwa ia tadi sangat gugup. "Aku tadi... eh... menikmati pemandangan," katanya.

"Jangan pedulikan pemandangan, kita masih ada tugas." Jennings berbalik, membelakangi pemandangan. Matanya langsung terbelalak karena kagum. "Wow! Coba lihat ini, Darbi. Seperti tempat penyimpanan harta karun bajak laut saja!"

Atap datar ruang olahraga itu kelihatan seperti tempat penimbunan bola yang hilang. Berlusin-lusin banyaknya, tergeletak di atas seng yang melapisi permukaan atap itu: bola tenis, bola cricket, bola karet, bola golf - bahkan ada satu atau dua bola untuk permainan sepak bola. Beberapa di antaranya mestinya sudah bertahun-tahun ada di situ, kalau melihat keadaannya.

Jennings mengumpulkan bola-bola itu sebanyak setengah lusin dan menjejalkan semuanya ke balik kemejanya. Setelah itu ia menuju ke tepi atap yang menghadap ke lapangan tempat bermain-main. Ia bisa melihat teman-teman di bawah. Semua mendongak dengan wajah harap-harap cemas.

"Ketemu?" seru Temple bertanya.

Sebagai ganti jawaban, Jennings melemparkan bola-bola tenis tadi ke bawah. Ia nyengir senang, sementara anak-anak yang di bawah berebutan bola.

Darbishire datang membawa dua bola cricket dan sebuah bola sepak bola yang kempis, sementara Jennings kembali ke bagian tengah atap untuk mengambil bola-bola lagi. Kemudian, selama beberapa menit mereka asyik melempari teman-teman mereka dengan segala macam benda yang ditemukan di atap. Selain bola, mereka menemukan pula dua layang-layang berbentuk kotak, lima buah model pesawat luncur, dan sebuah sepatu untuk senam yang sudah tua.

Tidak satu pun benda itu masih ada gunanya, karena sudah begitu lama terkena pengaruh cuaca. Tapi bagi kedua anak yang ada di atap, asyik rasanya melemparkan benda-benda itu ke arah teman-teman mereka di bawah; memperhatikan mereka berusaha melindungi diri sewaktu benda-benda itu dilemparkan dari atas, lalu bergegas mengambil bola yang sudah tidak ada anginnya lagi atau pesawat luncur yang sudah rusak.

Dengan segera sudah tidak ada lagi sampah di atas atap, sementara saku anak-anak yang berada di lapangan di bawah penuh dengan berbagai benda yang mereka ambil.

"Itulah semuanya," seru Jennings ke bawah. "Sekarang kita punya cukup banyak bola untuk melakukan lima puluh ribu pertandingan." Ia berpaling. Tepat pada saat itu terdengar bunyi peluit ditiup di kejauhan. Begitu mendengarnya, Jennings langsung berlutut di balik tembok rendah yang membatasi pinggiran atap. Darbishire ditariknya, agar ikut bersembunyi!

Pak Wilkins yang mendapat giliran mengawasi petang itu. Dan bunyi peluit yang ditiupnya menandakan bahwa saat istirahat sudah habis. Karena keasyikan melempari teman-temannya tadi, Jennings sampai sama sekali melupakan guru itu. Mungkinkah Pak Wilkins melihat mereka dari lapangan tenis? Mestinya mereka terlihat jelas, berdiri di atas atap seperti tadi. Itu kalau Pak Wilkins kebetulan memandang ke arah situ.

"Dia melihat kita atau tidak, menurutmu?" tanya Darbi dengan suara gemetar.

Jennings mengangkat bahu. "Itu akan kita ketahui sebentar lagi. Ia akan kemari, untuk menggiring teman-teman ke dalam. Kita memang sinting tadi, berdiri di pinggir atap!"

"Kita harus buru-buru turun! Lima menit lagi lonceng asrama akan dibunyikan," kata Darbishire. Ia mulai menyeberangi atap dengan merangkak, tapi Jennings menahannya.

“Sudah terlambat! Jika kita turun lewat tangga tadi, ada kemungkinan kelihatan oleh Pak Wilkie. Sebaiknya kita tunggu saja di sini sampai semua sudah masuk, lalu cepat-cepat menyusul mereka lewat jendela ruang ganti pakaian."

Darbi tidak bersemangat mendengar rencana terbaik temannya itu. Baginya sudah cukup gawat, harus menuruni tangga lagi, juga apabila saat itu tidak ketahuan oleh Pak Wilkins. Apalagi jika sesudah itu masih harus memanjat-manjat masuk lewat jendela, semen tara terus berjaga-jaga jangan sampai tepergok guru pengawas bermata tajam itu. Hihh, mengerikan!

"Aku menyesal, kenapa ikut naik kemari tadi," gumamnya. "Coba kita biarkan saja bola sialan itu hilang, tergeletak di sini."

"Ssst! Jangan mengeluh terus, Darbi, nanti terdengar oleh Pak Wilkie. Ia sudah menuju kemari, kalau mendengar suaranya."

Suara guru yang bertugas mengawasi hari itu memang sangat lantang. Terdengar jelas kata-katanya berseru-seru sambil berkeliling di lapangan tempat bermain.

"Ayo, Anak-anak, cepat masuk!" katanya sambil melintasi gelanggang pertandingan antar planet yang tadi terpaksa dihentikan.

Jennings dan Darbishire merunduk semakin rendah, mendengar suaranya yang melambung sampai ke atas. "Ayo cepat, Venables! Apa saja itu yang kaumasukkan ke dalam swetermu?"

"Cuma beberapa bola yang tadinya hilang, Pak," terdengar jawaban Venables.

Jennings langsung tegang, khawatir kalau Pak Wilkins meminta penjelasan lebih jauh. Tapi guru pengawas itu cuma mendengus sambil berkata, "Ayo keluarkan, taruh di tempat lain. Rusak nanti potongan pakaianmu karenanya." Sesaat tidak terdengar apa-apa, lalu Pak Wilkins berkata lagi, "Apa itu yang mengotori keningmu, Atkinson?"

"Mata saya yang ketiga, Pak," Jawab Atkinson bangga. "Kami tadi mengadakan pertandingan antar planet yang terkenal, dan saya jadi monster mata melotot dari Yupiter. Di Yupiter, semuanya memiliki tiga mata, Pak - sejauh yang kami ketahui."

"Begitu, ya!" Terdengar jelas dari nada suaranya bahwa guru pengawas itu tidak berminat pada pemain-pemain cricket bermata melotot yang berasal dari planet yang jauh. "Yah, pokoknya jangan sampai lupa mencuci coreng-moreng di mukamu itu, begitu masuk ke kamar tidur."

Suara-suara di bawah semakin melemah kedengarannya, sementara anak-anak masuk ke dalam gedung bersama guru pengawas mereka.

Ketika sudah benar-benar sunyi, Jennings bangkit dan berkata, "Ayo, sekarang sudah aman. Jika kita bergegas, mungkin masih sempat menyelinap ke dalam sebelum pintu dikunci."

Darbishire menelan ludah.

"Kau dulu, Jen," bisiknya, sementara mereka berdua menuju ke tempat. tangga tadi tersandar.

"Kupegangi tangga sementara kau turun, lalu kau nanti berdiri di anak tangga paling bawah, untuk membantu aku melangkah turun."

"Baiklah!" Jennings sudah lebih dulu sampai di tembok rendah pinggiran atap. "Tapi nanti jangan berlama-lama lagi melihat pemandangan. Kita cuma punya waktu untuk..."

Jennings terdiam. Ketika bicara lagi, suaranya meninggi karena kaget. "Cepat kemari, Darbi! Lihatlah, apa yang terjadi!"

Darbishire bergegas menghampiri, sambil terus memikirkan cara terbaik menuruni tangga. Ketika ia memandang ke balik tembok, dilihatnya bahwa masalah itu tidak berlaku lagi baginya.

Tangga tadi sudah tidak ada lagi di situ!

2. TERJEBAK

PENJELASANNYA sederhana saja. Pak Henry Robinson, yang oleh anak-anak dijuluki Robo -tentu saja itu tidak boleh sampai terdengar oleh orangnya - sudah cukup lama bekerja di Sekolah Linbury Court. Jadi sudah berpengalaman bahwa anak-anak adalah makhluk-makhluk yang harus dihadapi dengan sikap curiga.

Mereka dengan seenaknya saja berjalan di atas lantai yang baru saja dipolesnya sampai mengkilat, meninggalkan jejak basah dan kotor karena air yang menetes dari kaleng-kaleng cat air yang mereka bawa. Mereka memasukkan kecebong-kecebong yang masih hidup ke dalam baskom-baskom tempat air pencuci badan, atau ular yang sudah mati ke dalam sepatu lars karet milik orang lain. Mereka menjejalkan kaus-kaus kaki basah di balik kisi-kisi alat pemanas ruangan, atau menyumbat lubang semprot alat pemadam api dengan permen yang lengket. Tentu saja tidak pernah dengan sengaja, begitu kata mereka kepadanya: segala perbuatan yang menurut mereka wajar saja itu merupakan akibat sedang linglung, atau karena ingin tahu. Semuanya itu menyebabkan Robo selalu waswas pada dalam menghadapi anak-anak.

Contohnya adalah tangga itu. Pak Robinson baru saja selesai melakukan pekerjaan mengecat untuk hari itu, ketika anak-anak muncul di lapangan bermain pada saat istirahat petang hari. Pak Robinson pergi untuk membersihkan kuas-kuas dan menyimpan kaleng-kaleng catnya. Ketika hendak duduk untuk makan malam, barulah ia teringat bahwa ia meninggalkan tangga masih dalam keadaan tersandar pada dinding ruang olahraga.

Mestinya tangga itu aman-aman saja jika dibiarkan di situ sampai besok, katanya dalam hati, karena tidak kelihatan dan berada di tempat yang tidak boleh didatangi anak-anak. Tapi kemudian hati kecilnya yang selalu waspada mengingatkan bahwa ia sedikit pun tidak boleh lengah. Lebih baik aman daripada menyesal nanti!

Jadi ia kembali ke tempat kerjanya tadi dan menyingkirkan tangga untuk disimpan. Pada waktu itu Jennings dan Darbi sedang asyik-asyiknya menghujani teman-teman mereka di bawah dengan bola-bola tenis dari sisi lain atap.

Tindakan berjaga-jaga yang dilakukan oleh Pak Robinson itu tidak menghibur perasaan kedua anak yang berada di atas atap, sementara mereka memandang lewat sisi atas tembok rendah ke bawah, memandang tanah yang terbentang sepuluh meter di bawah mereka.

"Apa yang terjadi? Apa yang kita lakukan sekarang?" keluh Darbishire.

"Kalau tentang apa yang terjadi, itu sudah jelas," tukas Jennings dengan sebal. "Sekarang kita terpaksa berteriak minta tolong. Moga-moga saja ada yang mendengar."

"Tapi itu berarti kita akan ketahuan. Dan jika Pak Wilkie sampai tahu bahwa kita naik kemari tanpa izin..."

"Dia pasti akan tahu juga - kalau tidak sekarang, pasti besok pagi!"

"Besok pagi!" Darbishire merasa seram membayangkan kemungkinan itu. "Maksudmu, kita harus gemetar semalaman di atas atap ini?!"

"Ya, kecuali jika kita berteriak minta tolong. Sepanjang yang bisa kulihat, tidak ada cara lain bagi kita untuk bisa turun."

Keduanya lantas berseru-seru minta tolong. Mereka berseru sekuat tenaga, tapi tidak ada yang mendengar. Saat itu seisi sekolah sudah berada di dalam, minum susu dan makan biskuit di ruang makan yang letaknya di ujung paling jauh gedung utama. Dan setelah itu anak-anak akan naik ke ruang tidur mereka. Jennings dan Darbi takkan kelihatan dari sana, dan suara mereka pun tidak mungkin bisa terdengar. Jadi kecil sekali kemungkinannya akan ada yang datang menyelamatkan!

Tiba-tiba Jennings berkata, "He, Darbi! Bagaimana dengan jendela kaca yang di langit-langit gudang? Mungkin kita bisa masuk lewat situ."

Darbishire menggeleng. "Kita kan dilarang memasuki gudang," katanya.

"Tapi naik ke atap juga tidak boleh. Jadi sama saja, di mana pun kita berada."

"Ya, tapi pintunya kan terkunci. Jika kita berhasil masuk lewat jendela itu, kita masih saja tidak bisa keluar dari ruangan itu."

"Dari mana kau tahu bahwa pintunya terkunci? Kau pernah memeriksanya sendiri?" kata Jennings. Semangatnya bangkit lagi. "Siapa tahu cuma digerendel saja! Kalau kita berhasil masuk, lalu tinggal menggeser gerendelnya saja, lalu..."

"Baiklah, kalau begitu kita coba saja."

Mereka bergegas ke jendela itu, yang letaknya di ujung atap. Ketika baru setengah jalan, Darbishire melihat cacat dalam pertimbangan temannya.

"He, tunggu dulu, Jen," katanya sambil berhenti berjalan. "Jika digerendel, pasti dari luar! Bagaimana kita mau menggesernya?"

"Ah, jangan cerewet, Darbi," potong Jennings dengan nada tidak sabaran. "Saat ini kita tidak tahu apakah pintu gudang itu dikunci, digerendel, ditutup palang, atau dijaga anjing herder! Itu baru akan kita ketahui nanti, jika sudah berhasil masuk ke situ. Siapa tahu, mungkin sama sekali tidak dikunci! Kan konyol, jika kita tetap saja di sini - padahal pintu itu bisa dibuka."

Ia mendului ke jendela kaca kabur itu. Ukurannya satu meter persegi, dengan bingkai kayu agak menonjol ke atas, lebih tinggi sedikit dari seng pelapis atap di sekelilingnya.

Jennings mencengkeram bingkai bawah jendela itu lalu menariknya. Ternyata bergerak sedikit. Jennings langsung gembira. Tapi ia sendiri tidak mampu menarik jendela itu sampai tegak lurus.

"Pegang sudut sebelah sana itu, lalu ikut tarik!" katanya pada Darbishire.

Dengan tenaga mereka berdua, jendela kaca itu berhasil mereka buka lebih lebar. Saat itu barulah Jennings melihat bahwa kait pengancing yang ada di sebelah dalam ternyata sudah patah karena dimakan karat. "Kita mujur!" katanya sambil menganggukkan kepala ke arah kait yang patah itu. "Coba tidak patah, takkan mungkin kita bisa membukanya."

"Mujur?" kata Darbi menanggapi dengan wajah lesu. "Kita baru bisa bicara tentang mujur apabila sudah berhasil selamat dari kesulitan besar ini!"

Kedua anak itu menjengukkan kepala mereka lewat lubang jendela. Mereka melihat lantai papan ruangan gudang itu, tiga meter di bawah mereka. Jennings yang lebih dulu turun. Ia memerosotkan tubuhnya sampai akhirnya bergelantungan dengan kedua tangan memegang pinggiran lubang jendela. Setelah itu ia menjatuhkan diri dengan enteng ke lantai.

Darbishire kalah jauh kemampuannya dari Jennings, di segi ketangkasan. Jennings membantunya turun dengan memegangi kedua kakinya. Kemudian mereka bergegas ke pintu. Jennings memegang tombol pintu dan memutarnya.

Percuma saja, pintu itu dikunci.

"Aduh, pancing peot, payah ini," keluh Darbishire. "Di dalam sini, lebih-lebih tidak ada gunanya lagi berteriak-teriak minta tolong!"

Wajah Jennings membayangkan kegelisahan. Ia berpaling, mendongak ke arah jendela yang ada di langit-langit ruangan. "Barangkali sebaiknya kita naik saja kembali ke atas atap, dan dari sana mencoba lagi berteriak minta tolong...."

Saat itu di atas kepala mereka terdengar bunyi yang keras sekali, menggema dalam ruangan sempit itu. Jendela berat yang tadi mereka biarkan berada dalam posisi tegak lurus, jatuh kembali ke posisi semula. Tadi sewaktu membukanya, kedua anak itu harus mengerahkan segenap tenaga mereka. Lagi pula, saat itu mereka bisa bergerak dengan leluasa. Kini, salah satu dari mereka mencoba membukanya kembali sambil berdiri dengan sikap goyah di atas bahu temannya - itu merupakan percobaan yang mustahil bisa berhasil.

"Yah, beginilah keadaannya," kata Jennings. Suaranya datar, bernada pasrah. "Kita harus tetap di sini sampai ada yang datang."

Gudang tempat mereka terkurung itu merupakan tempat menyimpan perlengkapan berkemah pasukan pramuka sekolah itu. Di dinding dipajang bendera-bendera dan emblem regu-regu, poster-poster berwarna dengan gambar burung-burung yang hidup di alam bebas, serta sebuah diagram yang menunjukkan berbagai teknik pembuatan simpul. Pada daun pintu digantungkan semboyan pramuka Inggris, Be Prepared, yang kurang lebih berarti Siaplah Selalu. Ada pula Peraturan Pramuka yang ditulis besar-besar dengan huruf emas pada selembar papan hijau. Dalam ruangan itu ada tenda-tenda dan macam-macam lagi, pokoknya semua yang diperlukan untuk berkemah. Tapi gudang sempit dan sumpek itu bukan tempat berkemah yang nyaman. Apalagi di situ banyak sekali sarang labah-labah.

"Kita tidak bisa di sini terus sepanjang malam," kata Darbishire menyatakan keberatannya. "Selain itu, apa kata Pak Wilkie nanti jika mengetahui bahwa kita tidak ada di ruang tidur bersama teman-teman?"

Kedua anak itu membicarakan kesulitan mereka saat itu, sambil duduk di atas dua buah ember yang dibalikkan. Kecemasan mereka yang terbesar adalah bahwa tidak ada yang tahu di mana mereka berada. Venables dan kawan-kawan mereka yang selebihnya tadi tidak tahu bahwa tangga dibawa pergi oleh Pak Robinson. Jadi pasti mereka mengira kedua teman bermain cricket itu sudah turun dan masuk ke gedung bersama anak-anak yang lain. Bahkan apabila mereka kemudian tidak muncul di ruang tidur, kenyataan itu pasti disembunyikan selama mungkin agar tidak ketahuan oleh guru pengawas. Soalnya, teman-teman itu pasti berpikir bahwa kedua anak yang belum muncul itu tentu sedang melakukan salah satu kesibukan yang terlarang.

Dan akan tahukah Pak Wilkins bahwa Jennings dan Darbi tidak hadir? Bisa saja ia mengira pada saat masuk ke Ruang Empat untuk mengucapkan selamat tidur dan jangan berisik lagi, bahwa kedua anak itu sedang pergi ke Matron untuk minta perawatan karena digigit nyamuk atau tumit yang melepuh! Jika itu yang terjadi, kemungkinan mereka diselamatkan sebelum besok pagi memang sangat kecil.... Tidak ada hidangan susu dan biskuit malam ini; tidak ada ranjang berkasur empuk; bahkan mungkin juga tidak ada sarapan keesokan paginya. Hukuman apa pun yang pada akhirnya akan dijatuhkan, merupakan hal sepele kalau dibandingkan dengan penderitaan yang harus mereka alami sebelum dibebaskan dari kurungan itu.

Akhirnya Jennings membuka mulut. "Tidak ada gunanya panik! Jika kita terpaksa tinggal di lubang gelap ini sepanjang malam, sebaiknya kita atur saja agar bisa senyaman mungkin."

Ia bangkit dari ember yang diduduki, lalu pergi memeriksa perlengkapan berkemah yang ditaruh di atas papan-papan rak. Pada papan paling atas ditemukannya sebuah kantong tidur berwarna hijau dan sisi dalamnya dilapisi bahan yang hangat. Kantong tidur itu dilengkapi dengan kancing tarik. Jennings menurunkannya, lalu menggelarnya di lantai.

"Setidak-tidaknya aku nanti takkan kedinginan," katanya. "Kau juga sebaiknya mencari sesuatu yang bisa dipakai untuk membungkus tubuhmu. Pukul tiga dini hari nanti di sini dinginnya pasti seperti dalam lemari es."

Darbishire memilih beberapa lembar selimut tentara yang sudah berlubang-lubang dimakan ngengat. Ia mencari-cari bantal di antara perlengkapan perkemahan itu. Tapi ternyata tidak ada. Akhirnya ia mengambil sebuah ember dari kain kanvas kedap air, untuk dijadikan pengganti bantal.

"Boleh dibilang segala macam barang ada di sini, tapi tidak ada gunanya bagi kita!" katanya dengan sebal, sambil menggerakkan tangan ke arah rak yang ada di belakangnya. "Lihat saja - sebuah lampu minyak, tapi tidak ada korek api; sebuah panci penggorengan, tapi tidak ada daging untuk digoreng. Bahkan kompas pun ada untuk menemukan jalan kembali ke tempat yang didiami orang - tapi kita tidak bisa melewati pintu itu!"

Jennings berusaha membangkitkan semangat Darbishire.

"He, coba lihat ini," katanya sambil mengambil sebuah topi pelaut yang sudah usang, terbuat dari kain terpal kedap air. Dipakainya topi itu. Kedua bolpoin yang terpasang di keningnya dengan diikat gelang karet sudah lama dilepaskannya, karena ia sudah tidak lagi berperan sebagai makhluk Planet Mars. "Pantas tidak ini, untuk meluncurkan sekoci penolong?"

Tapi percobaannya untuk melucu tidak ditanggapi.

"Ah, diam kau," kata Darbi dengan kesal, lalu membungkuk untuk menggelar selimut-selimutnya. "Kita saat ini terjebak dalam kesulitan yang paling payah sejak pertempuran di Hastings, tapi kau masih sempat-sempatnya membuat lelucon seperti anak kelas satu."

"Mendingan begitu, daripada berkeluh kesah," jawab Jennings sambil mengangkat bahu. Topi pelaut itu terlalu besar baginya, sehingga pinggir tudungnya yang sebelah depan terjuntai menutupi matanya. "Dengan ini kepalaku akan tetap kering, jika atap ternyata bocor," katanya sambil mengikat tali topi itu di bawah dagunya. Kemudian dibukanya kantong tidur, lalu ia menyusup ke dalamnya. Sambil telentang ditariknya ritsleting kantong tidur itu ke atas, sampai menyentuh dagunya.

Beberapa saat kemudian Darbishire mendengar Jennings bergerak-gerak dalam kantong tidur sambil mengomel kesal.

"Ada apa lagi sekarang?" tanya Darbi.

"Ini, ritsleting konyol," keluh Jennings. "Ketika kutarik ke atas tadi, bagian depan kemejaku terjepit. Sekarang aku sama sekali tidak bisa melepaskannya lagi!"

Darbishire mendengus. "Hahh! Cuma itu saja! Kusangka kita sudah cukup repot, tanpa perlu memikirkan ritsleting yang brengsek." Ia sudah capek, lapar, sedih, dan sangat bingung. Hari sudah mulai gelap sekarang, tapi sementara berbaring dalam selimut-selimut yang membungkus tubuhnya, ia masih bisa menyimak semboyan pramuka yang tertulis dengan huruf-huruf emas dan terpasang di daun pintu.

Nasihat itu tidak banyak manfaatnya bagi mereka saat itu, katanya dalam hati, sementara ia menggerak-gerakkan kepalanya yang terletak di atas ember kanvas yang kaku itu. Gampang saja mengatakan Siaplah Selalu, tapi dengan anak kikuk berotak udang seperti Jennings sebagai pemimpin, bagaimana bisa diketahui untuk kejadian apa saja ia harus bersiap?

Ketika mereka sudah mengenakan piama dan bersiap-siap untuk masuk ke tempat tidur, barulah penghuni Ruang Tidur Empat menyadari bahwa dua anak teman sekamar mereka tidak ada.

Venables, yang duduk di ranjangnya sambil mencoba menjerat jari-jari kakinya dengan tali pinggang kimononya, berkata, "Ngomong-ngomong, apa yang terjadi dengan kedua antariksawan terkenal dari Mars dan Pluto? Pak Wilkie pasti akan mengorbit, apabila mereka belum kembali ke Bumi sebelum ia datang untuk menyuruh kita tidur."

Atkinson melonjak-lonjak di ranjangnya, seperti badut di atas trampolin. "Mereka tadi tidak ada sewaktu kita minum susu dan makan biskuit," katanya mengomentari di sela lonjakannya.

"Mungkin mereka pergi ke bawah, mendatangi kotak tempat penyimpanan bekal makanan Jennings," kata Temple menebak. "Atau mungkin mereka tepergok Kepala Sekolah, lalu mereka digiring ke ruang kerjanya untuk diberi perlakuan menyeramkan yang terkenal itu."

"Tapi mungkin juga tidak," tukas Atkinson. "Sebentar lagi mereka pasti muncul. Mereka mestinya ada di sekitar sini."

Saat itu belum ada yang merasa gelisah. Namun ketika Pak Wilkins muncul beberapa menit kemudian dalam perjalanan kelilingnya memeriksa ruang-ruang tidur, keadaan menjadi gawat.

Pak Wilkins itu bertubuh besar. Kelihatannya selalu sibuk, berwatak meledak-ledak dan tidak sabaran. Meski ia sebenarnya suka pada anak-anak didiknya, ia berkeras memandang tingkah laku mereka dengan mata orang dewasa. Sebagai akibatnya, ia tidak pernah bisa memahami keisengan generasi yang sedang dalam pertumbuhan itu.

"Semua sudah di tempat tidur?" katanya dengan suaranya yang lantang, sementara ia melangkah masuk dengan langkah seperti tentara sedang berjalan di tempat. Pandangannya bergerak ke kedua ranjang yang kosong. "Mana Jennings dan Darbishire?" .

Venables, Temple, dan Atkinson memandang ke arahnya dengan heran. Mereka bersikap seolah-olah baru saat itu sadar bahwa teman-teman mereka itu tidak ada di antara mereka. Ketiga anak itu berpandang-pandangan dengan sikap pura-pura tidak tahu apa-apa. Demi kesetiakawanan, mereka harus berusaha melenyapkan kecurigaan Pak Wilkins.

"Jennings dan Darbishire, Pak?" kata Venables mengulangi dengan gaya seperti berusaha mengingat-ingat nama yang rasanya pernah didengar.

"0 ya, mereka... eh... mereka saat ini memang tidak ada di sini, seperti Anda katakan, Pak. Saya rasa mereka barangkali... eh... ada di tempat lain. Pokoknya, begitulah."

Ruang Tidur Empat tidak besar ukurannya. Di dalamnya ada lima buah ranjang, tiga baskom untuk mencuci badan, dan sebuah lemari pakaian. Di situ tidak ada tempat yang bisa dipakai untuk bersembunyi. Tapi meski begitu Atkinson tetap saja melakukan pencarian dengan cermat. Ia bahkan melongok ke kolong ranjang-ranjang dan ke belakang lemari pakaian, sebelum melaporkan hasilnya.

"Tidak, mereka sudah jelas tidak ada di sini, Pak - saya mengeceknya," katanya.

"Aku bisa melihat bahwa mereka tidak ada di sini, anak konyol," tukas Pak Wilkins. "Ayo berdiri, dan langsung masuk ke tempat tidur."

"Mungkin mereka sedang ke klinik, Pak," kata Temple menyampaikan dugaannya. "Matron punya persediaan obat batuk baru yang mujarab, dan..."

"Mereka tidak ada di klinik - aku baru saja ke sana," kata Pak Wilkins memotong. Ia melirik jam tangannya. Sudah hampir tiba saatnya anak-anak harus tidur. "Jika anak-anak konyol itu belum juga ada di ranjang mereka dalam dua menit lagi, aku akan... aku akan... yah, awas mereka nanti."

Ia melangkah pergi dari ruangan itu, untuk melihat apakah kedua anak itu masih keluyuran di lantai bawah. Tapi mereka tidak ada di situ! Demikian pula di kamar mandi, atau di ruang-ruang tidur yang lain. Pak Wilkins mulai gelisah. Ia memperluas pencariannya, ke tempat-tempat persembunyian yang lebih kecil kemungkinannya. Ia memeriksa ke balik lemari-lemari tempat sepatu di ruang tempat penyimpanan bekal makanan kecil milik anak-anak; ia bahkan melongok sebentar ke balik piano di ruang musik, meski akal sehatnya mengatakan tidak mungkin ada anak yang bisa menyusup masuk ke dalam celah sempit yang lebarnya hanya sepuluh senti!

Hampir seperempat jam kemudian ia muncul lagi di Ruang Tidur Empat. Kini ia sudah benar-benar bingung.

"Benar-benar mustahil!" katanya marah-marah. "Mereka sama sekali tidak ada dalam gedung ini. Kalian yakin, tidak tahu ke mana mereka?"

"Tidak, Pak," kata anak-anak penghuni Ruang Tidur Empat serempak. Mereka kini sama bingungnya seperti Pak Wilkins.

"Kalau begitu tinggal satu hal yang bisa dilakukan," kata guru yang bertugas mengawasi itu memutuskan. "Aku terpaksa meminta Kepala Sekolah untuk menelepon polisi, melaporkan bahwa mereka hilang."

Wah, polisi! Venables, Temple, dan Atkinson saling berpandangan dengan gelisah. Kalau polisi akan dipanggil, urusannya menjadi lain. Soalnya sudah bukan permainan lagi seperti tadi, tapi ini sudah serius!

"Begini Pak, kami tahu di mana mereka berada ketika Anda tadi meniup peluit ‘tanda semua masuk'," kata Venables dengan segan-segan. "Mereka ada di... eh... di atap ruang olahraga, Pak."

"Mereka ada di mana?!" Pak Wilkins kaget sekali.

"Tapi kami sangka mereka akan turun lagi. Soalnya, kami tadi sedang bermain cricket..."

"Cricket! Di atas atap?"

"Tidak, Pak, di bawah, di pelataran aspal. Kami sedang mengadakan pertandingan..."

"Bumi lawan Angkasa Luar, Pak," kata Atkinson melengkapi. "Jennings menjadi makhluk Mars yang termasyhur, dan saya makhluk Yupiter bermata tiga, sedang Venables menjadi..."

"Diam!" bentak Pak Wilkins. Meski soal itu mungkin saja menarik pada kesempatan lain, tapi saat itu menurut perasaannya bukan waktunya untuk mendengarkan perincian mengenai pemain-pemain yang datang dari planet-planet lain. "Lalu apa yang mereka lakukan di atas atap itu?"

"Mengambil bola, Pak," kata Venables menjelaskan. "Soalnya, Robinson meninggalkan tangga di sana dan..."

"Begitu, ya? Sekarang aku mengerti." Pak Wilkins menatap ketiga anak itu dengan mata melotot. "Dan kurasa mereka ada di atas sana, tidak jauh dari kepalaku, sewaktu aku menyuruh kalian semua masuk?"

"Ya, Pak."

"Doh!" Pak Wilkins harus memaksa diri agar tetap tenang. "Kenapa tadi tidak kalian katakan padaku?"

"Anda tidak menanyakannya, Pak. Anda berkata, apakah kami tahu di mana mereka berada, dan kami sungguh-sungguh tidak tahu karena mengira mereka pasti akan turun dan..."

"Ya, ya, sudahlah." Karena kini sudah ada petunjuk yang bisa ditelusuri, Pak Wilkins bergegas keluar dan turun ke bawah. Ia bergegas-gegas, dua anak tangga dilewatinya setiap kali ia melangkah. Hari sudah hampir gelap, dan jika anak-anak konyol itu masih tetap terjebak di tempat yang tingginya sepuluh meter dari tanah, mereka harus selekas mungkin diselamatkan.

Tapi untuk itu tentu saja ia memerlukan senter! Baru saja tadi pagi ia menyita senter yang bagus dari Rumbelow, sewaktu anak itu sedang berlatih memberi isyarat Morse di bawah tutup meja tulisnya, sementara menunggu pelajaran matematika dimulai. Pak Wilkins masuk sebentar ke ruang kelas murid-murid Kelas Tiga untuk mengambil senter itu, yang ditaruhnya tadi di meja guru. Kemudian ia pergi ke luar gedung lewat pintu samping, dan melintasi lapangan tempat bermain yang dilapisi aspal, menuju tempat

pertandingan yang hanya berlangsung sebentar tadi siang.

Sambil menyorotkan sinar senter ke atas, ia memandang ke sisi atas dinding ruang olahraga sambil memanggil-manggil, "Jennings! ...Darbishire! Kalian ada di sana?" Tapi jawaban yang terdengar hanya gema suaranya sendiri.

Kemudian Pak Wilkins pergi ke balik bangunan itu. Dilihatnya tangga itu sudah tidak ada lagi di sana. Mungkinkah anak-anak konyol itu masih ada di atas dan bersembunyi? Atau sudah lebih dulu turun ketika tangga diambil? Ia memutuskan untuk segera mencari Robinson, lalu naik ke atas atap untuk memeriksa!

Pak Wilkins melintasi kebun sayuran menuju ke pondok pesuruh sekolah itu. Tapi dalam perjalanan ke situ ia nyaris saja jatuh karena tersandung tangga yang digeletakkan begitu saja di tanah, di dekat dinding gudang peralatan.

Sesaat Pak Wilkins ragu, apakah ia bisa melakukannya sendiri tanpa bantuan. Dan itulah keputusan yang diambilnya, karena ia lihat pondok tempat Robinson gelap.

Pak Wilkins bertubuh kekar. Tangga itu ditegakkannya. Sambil memanggul alat panjat itu ia kembali ke bangunan tempat olahraga dan menyandarkannya ke dinding.

Ketika sudah sampai di atap disorotkannya sinar senter berkeliling. Tapi kedua anak yang dicarinya itu tidak nampak di situ. Juga tidak terdengar suara mereka menjawab ketika ia memanggil-manggil mereka.

Pak Wilkins bingung. Mereka tidak mungkin bisa turun, setelah tangga diambil. Jadi di manakah...?

Kemudian ia teringat pada gudang yang jendela kacanya berada di atap. Ya, tentu saja! Ada kemungkinan mereka hendak turun lewat situ, tapi kemudian menemukan pintu terkunci.

Setelah tahu di mana kedua anak itu berada, ia kini harus memutuskan cara terbaik untuk membebaskan mereka, pikir Pak Wilkins sambil berjalan di atas atap. Menggunakan tangga dalam gelap bisa berbahaya, dan membawa turun anak-anak itu dengan selamat sampai ke bawah bisa merepotkan.

Pak Wilkins tiba di tepi jendela kaca. Dengan tenaganya yang besar ditariknya bingkai jendela itu sehingga terbuka ke atas. "Jennings! ...Darbishire!" serunya sambil melongok ke ruangan gelap yang ada di bawahnya. Tapi tetap tidak terdengar jawaban. Ia merasa heran, lalu menyorotkan sinar senternya ke bawah.

Kemudian, seperti yang terjadi pada Darbishire satu jam sebelumnya, Pak Wilkins menyadari bahwa masalah yang dihadapi ternyata bukanlah yang selama itu menggelisahkan dirinya.

Gudang itu kosong. Kedua anak itu tidak ada di situ!

3. PERTOLONGAN

SEDIKIT pun tidak ada kesangsian bahwa ketiga anak yang berada di Ruang Tidur Empat akan bertindak menolong kedua teman mereka.

Begitu pintu ditutup dengan keras oleh Pak Wilkins setelah ia melangkah ke luar, Atkinson langsung duduk di ranjangnya dan berkata,

"Wow! Kasihan Jen dan Darbi. Mereka takkan punya kesempatan sedikit pun apabila roket-roket Pak Wilkie berdesingan dari tempat peluncurannya. Sayang kita tidak bisa menyelamatkan mereka dari cengkeramannya."

"Mungkin masih bisa, asal kita cepat-cepat," kata Venables menyarankan. "Itu jika mereka masih ada di atas atap. Semua tergantung pada hal itu."

"Bagaimana caranya? Kita tidak punya helikopter," kata Temple.

Tapi rencana Venables tidak memerlukan pengerahan helikopter. Sewaktu masih menjadi kurcaci dalam Regu Peewit, ia sempat beberapa kali masuk ke gudang tempat penyimpanan alat-alat kepanduan. Jadi ia tahu bahwa di situ ada jendela yang membuka ke atap.

"Jika kita masuk ke ruang olahraga lalu naik tangga, kita bisa masuk ke gudang yang ada di sana," katanya menjelaskan. "Lalu kita bisa menolong mereka masuk lewat jendela kaca, dan mereka akan sudah berada di sini sementara Pak Wilkie masih berkeliaran terus mencari-cari mereka."

"Hm. Idemu itu bagus," kata Atkinson. Ia mengerutkan kening, berpikir-pikir. "Tapi pintu kan dikunci?"

"Betul, tapi aku tahu di mana anak kuncinya disimpan," kata Venables memberi tahu. "Aku pernah melihat Pak Carter menaruhnya di lemari yang ada di ujung atas tangga. Itu, setelah kita berada dalam gudang itu untuk membereskan barang-barang perlengkapan."

Temple nyengir. "Kalau begitu, bereslah persoalannya. Aku berani bertaruh, Pak Wilkie pasti tidak tahu di mana anak kunci itu disimpan, karena dia tidak pernah aktif dalam kepramukaan. Ia pasti melongo jika datang kemari lagi nanti dan menemukan mereka berdua sudah berbaring di tempat tidur."

Kelihatannya besar kemungkinannya aksi pertolongan itu akan berhasil. Tapi Temple dan kedua temannya harus buru-buru, jika ingin bisa membuat Pak Wilkins melongo nanti.

Aksi itu dipimpin oleh Venables. Itu sudah dengan sendirinya, karena dialah yang tahu di mana anak kunci itu disimpan. Tapi ia memerlukan bantuan untuk membuka jendela atap itu, demikian pendapatnya. Ia tidak "tahu, apakah jendela itu bisa dibuka dengan gampang atau tidak.

"Aku ikut untuk membantumu membukanya nanti," kata Temple menawarkan diri. "Tapi bagaimana dengan pengamanan? Bagaimana jika kita nanti berjumpa dengan salah seorang guru?"

"Itu takkan terjadi jika sekarang ini juga kita berangkat," kata Venables menenangkan. "Para guru saat ini sedang makan malam - kecuali Pak Wilkie, tentunya." Dan kita harus berjaga-jaga agar jangan sampai tepergok guru pengawas itu, katanya dalam hati. Di mana Pak Wilkins berada saat itu hanya bisa ditebak-tebak saja, dan Venables berharap semoga saja dugaan itu tepat.

"Ayo, kita berangkat," kata Venables lagi, sambil mencari-cari sandalnya di bawah ranjang. "Jika buru-buru, kita akan bisa sudah kembali lagi kemari bersama Jen dan Darbi, sementara Pak Wilkie masih berkeliaran di luar mencari tangga Pak Robo."

Atkinson mengantar kedua anggota regu penolong itu sampai ke ujung atas tangga. "Hati-hati saja," katanya berbisik, sementara kedua temannya berjingkat-jingkat menuruni tangga sambil mengenakan kimono masing-masing. Venables dan Temple tidak berjumpa siapa pun juga sewaktu mereka melintasi serambi bawah dan menyelinap ke luar lewat pintu samping. Keadaan juga tetap aman ketika mereka menyusuri lorong beratap menuju ke ruang olahraga. Mereka tidak tahu bahwa tepat pada saat itu Pak Wilkins nyaris jatuh di dekat gudang tempat penyimpanan peralatan Pak Robinson, karena tersandung tangga yang tergeletak begitu saja di tanah.

Dengan perasaan tegang, kedua anak itu akhirnya tiba di sebelah luar pintu ruang olahraga. Pintu itu tidak pernah berada dalam keadaan terkunci pada waktu seperti saat itu. Soalnya, setelah selesai makan malam dan membaca koran, barulah Pak Robinson berkeliling untuk memeriksa apakah pintu-pintu berbagai bangunan yang ada di kompleks sekolah itu - selain pintu-pintu gedung utama--sudah terkunci semua.

Tangga di sisi ruang olahraga yang menuju ke gudang peralatan pramuka gelap gulita. Venables dan Temple menaikinya sambil meraba-raba. Sesampai di gang yang terdapat di ujung atas tangga, Venables berjalan sambil meraba-raba dinding. Akhirnya ia menyentuh lemari yang ada di situ. Anak kunci gudang disimpan di dalam lemari itu, tergantung pada sebatang paku. Dengan segera jari-jarinya sudah menemukan anak kunci itu. Kedua anak itu meneruskan langkah mereka. Venables berjalan di depan, menuju ke ujung gang.

"Sejauh ini semuanya beres," katanya pada Temple. "Yang sulit nanti, menurunkan Jen dan Darbi dari atap lewat jendela gudang."

Sambil bicara dimasukkannya anak kunci itu ke dalam lubangnya. Tapi sebelum, ia sempat memutarnya, terdengar suara seseorang dari balik pintu.

"He! Siapa di luar itu?"

"Aku-kami," balas Venables dengan suara lirih.

"Siapa itu, aku---kami?"

"Venables dan Temple. Siapa di dalam?"

"Aku-kami. Jennings dan Darbishire."

"Kenapa kalian ada di situ? Mestinya kan masih di atas atap," kata Venables. Ia agak kecewa. "Kami datang untuk menolong kalian. Anak kuncinya sudah kuambil."

"Kalau begitu cepatlah buka, jangan pidato lagi dari balik pintu." Yang berbicara itu Darbishire. Terdengar jelas dari suaranya bahwa ia gugup. "Ayo, cepatlah! Kami sudah tidak tahan lagi, terkurung dalam ruang menyeramkan ini."

Venables membukakan pintu. Saat itu bulan baru saja muncul. Sinarnya yang temaram masuk ke dalam gudang lewat jendela yang ada di langit-langit ruangan. Karena sinar itu, kedua anak yang datang menolong bisa melihat Darbishire menandak-nandak dengan lega. Mula-mula mereka tidak melihat teman mereka yang satu lagi. Baru sesaat kemudian perhatian mereka terarah pada suatu onggokan tak berbentuk dan tak berwajah di ujung ruangan.

Onggokan itu berwujud sesuatu yang terbungkus. Dan bungkusan itu menggeliat-geliat maju. Itu Jennings, yang tidak bisa keluar dari kantong tidur. Mukanya tidak kelihatan karena tertutup topi pelaut.

"Ayo, Jen. Jangan suka iseng, membuang-buang waktu saja," kata Venables cepat-cepat sambil berbisik. "Pak Wilkie saat ini sedang berkeliaran, mencari kalian berdua. Kalian masih sempat masuk ke tempat tidur kalian sebelum mereka menelepon polisi, jika kita kembali sekarang ini juga."

Venables berpaling untuk mendului berjalan menuju ke tangga. Ia diikuti oleh Temple, dan Darbishire menyusul di belakangnya. Tapi Jennings tidak beranjak untuk mengikuti.

"He, jangan tinggalkan aku," terdengar suaranya dari bawah topi pelaut. Nadanya cemas.

Ketiga anak yang sudah berjalan langsung berpaling dengan heran, kecuali Darbishire, tentunya.

"Sudahlah, Jen," kata Temple tidak sabaran lagi. "Ini bukan saatnya membuang-buang waktu. Sedetik pun tidak boleh!"

"Aku bukan hendak membuang-buang waktu," kata Jennings memprotes. "Aku tidak bisa berjalan - itulah sebabnya."

"Tidak bisa berjalan!" Timbul kecemasan dalam hati Temple. "Maksudmu, kakimu patah, atau terkilir, begitu?"

"Bukan begitu, tapi aku tidak bisa keluar dari kantong tidur ini. Aku bahkan tidak bisa membebaskan kedua lenganku. Ritsletingnya macet."

Ketiga temannya kembali untuk menolong. Tapi mereka juga tidak bisa berbuat apa-apa. Sewaktu menarik ritsleting untuk menutup kantong tidur itu sampai ke dagunya, Jennings bukan saja menyebabkan lubang kancing teratas dari kemejanya terjepit, tapi juga tali-tali pengikat topi pelaut yang dipakainya dan tadi disimpulkannya di bawah dagu. Sebagai akibatnya ritsleting itu benar-benar macet. Ditarik atau didorong sekuat apa pun, tetap saja macet.

"Percuma saja," keluh Venables setelah berusaha dengan sia-sia selama setengah menit.

"Kau ini sinting rupanya, Jen. Untuk apa kau melakukannya?"

"Bukan kusengaja," kata Jennings membela diri. "Kausangka aku meringkus diriku sendiri seperti ini karena senang, ya ?!"

"Sudahlah, jangan bertengkar! Sini, biar kucoba," kata Temple. Ditariknya pegangan ritsleting itu dengan sekuat tenaga. Tapi dia pun tidak berhasil. "Tali-tali topi konyol ini yang menyebabkannya macet," katanya menarik kesimpulan. "Barangkali akan lebih besar kemungkinan berhasil membukanya jika yang itu dulu dilepaskan."

Dipegangnya pinggiran topi pelaut itu pada posisi di belakang kain penutup telinga, lalu dicobanya menariknya ke depan. Tapi kembali ia tidak berhasil, karena tali-tali topi itu terikat kencang di bawah dagu Jennings. Akibatnya, topi pelaut itu malah semakin menutupi muka anak itu. Kini Jennings sama sekali tidak bisa melihat apa-apa lagi. Suaranya terdengar samar, di dalam topi.

Venables mencak-mencak dengan gelisah. "Aduh, bagaimana ini! Beberapa saat lagi Pak Wilkie pasti menuju kemari. Cepat atau lambat, pasti akan terpikir olehnya untuk mencari ke gudang ini."

Dugaannya tepat, karena sementara ia sedang mengatakan hal itu, Pak Wilkins sedang menyandarkan ujung atas tangga ke pinggiran atap ruang olahraga.

Tiba-tiba Darbishire membuka mulut.

"Aku tahu bagaimana kita bisa membebaskannya."

Anak-anak yang lain berpaling padanya.

"Bagaimana caranya?" tanya mereka berharap.

"Ambil gunting, lalu kita gunting jahitan..."

"Tapi, di sini kan tidak ada gunting, konyol," kata Temple memotong.

"Ya, memang. Tapi coba kalau ada!"

"Sudah, jangan main kalau-kalau lagi! Kita tidak punya waktu untuk mengambilnya, karena Pak Wilkie tidak tinggal diam saja." Temple berpaling ke temannya yang terbungkus rapat dalam kantong tidur. "Kau terpaksa berusaha sendiri kembali ke kamar kita, Jen! Kalau sudah sampai di sana, nanti kita berusaha membebaskan dirimu."

Perjalanan menuruni tangga, menyusur lorong beratap, masuk ke gedung utama lewat pintu samping lalu naik tangga ke lantai tiga di mana Ruang Tidur Empat terdapat, pasti akan lama sekali, terkenang oleh Jennings.

Siapa pernah ikut perlombaan lari karung pasti tahu bahwa ada dua cara yang diizinkan untuk mencapai garis finis. Cara pertama adalah dengan mengangkangkan kaki sehingga bertumpu pada sudut-sudut sebelah bawah karung, lalu mulai berjalan seperti bebek. Cara kedua adalah merapatkan kedua kaki lalu bergerak maju dengan melonjak-lonjak, sambil berjaga-jaga jangan sampai kaki tersangkut ke kain karung yang terlipat-lipat di sekitar mata kaki.

Tapi tentu saja masih ada cara-cara lainnya lagi, misalnya berbaring lalu berguling-guling seperti batang kayu, atau berbaring menelungkup lalu maju sambil melengkung-lengkungkan badan, seperti cara ulat berjalan. Namun kedua teknik yang belakangan ini tidak lazim dijumpai dalam perlombaan yang diatur secara baik.

Jennings memakai dua cara yang pertama dalam perjalanannya ke Ruang Tidur Empat. Sementara Darbishire dan Venables menopangnya di kedua sisi, ia bergerak maju menyusur gang menuju ke ujung atas tangga. Menuruni tangga merupakan urusan yang sulit, karena dilakukan dalam kegelapan. Jennings menyelesaikan urusan itu dengan cara duduk di anak tangga paling atas, dengan kedua kaki pada anak tangga kedua di sebelah bawah. Dalam posisi begitulah ia melonjak-lonjak turun.

"Huhh, ini sih bukan main-main namanya!" katanya mengeluh ketika mereka sudah keluar dari ruang olahraga yang gelap gulita dan tiba di lorong beratap. Di situ sinar bulan yang temaram menerangi jalan yang harus dilewati, sehingga mempermudah perjalanan.

"Bagaimana jika dia kita gendong saja?" kata Temple mengusulkan.

"Terlalu berat," kata Darbishire. "Dan selain itu juga akan makan waktu lebih lama, karena kita harus silih berganti menggendong. Ck, coba kita punya gerobak atau kursi roda...."

"Ah, diam kau, Darbi! Rupanya otakmu perlu diperiksa. Tadi ingin ada gunting, sekarang kepingin ada gerobak! Kau seperti peri penolong Cinderella saja: nanti akhirnya kau menginginkan kereta dari kaca yang ditarik tikus-tikus putih," kata Venables dengan nada sebal, sementara rombongan itu bergerak menyusur lorong.

"Ayolah, cepatkan langkah kalian. Kalau begini terus, nanti setiba kita di kamar, ternyata Pak Wilkie sudah menunggu di situ. Mungkin saja dia sudah ada di sana sekarang."

Sekali ini dugaan Venables meleset. Tapi melesetnya tidak terlalu jauh. Sementara anak-anak bergegas masuk ke gedung utama lewat pintu samping, guru pengawas itu sedang menyorotkan senternya ke dalam gudang yang baru dua menit empat puluh tiga detik yang lalu mereka tinggalkan.

Perjalanan menaiki tangga ke atas, bagi Jennings beserta ketiga temannya benar-benar merepotkan, meski lampu-lampu di situ menyala sehingga mereka bisa melihat jalan yang harus ditempuh.

Mula-mula Jennings mencoba kebalikan dari cara yang dipakainya menuruni tangga di ruang olahraga: tapi sambil duduk melonjak-lonjak ke atas, ternyata makan waktu lebih lama daripada ketika menuruni tangga. Karenanya pada tangga menuju lantai tiga ia berdiri tegak lalu melompati anak-anak tangga satu demi satu, dengan Darbishire dan Temple memegangi sikunya di sisi kiri dan kanan. Perjalanan menyusur gang lebih mudah, tapi perasaan mereka tetap saja tidak enak karena tidak tahu pasti apakah mereka berhasil mendului Pak Wilkie atau tidak.

Kekhawatiran itu dibuyarkan oleh Atkinson, yang bersandar di pagar pembatas gang. Ia memandang dengan mata melotot karena heran, sementara anak-anak menaiki tangga terakhir.

"Wow, pancing peot! Apa yang kaulakukan dalam kantong tidur itu, Jen?" katanya menyapa.

"Jangan tanya-tanya apa yang kulakukan di dalam sini. Mana Pak Wilkie?" tanya Jennings buru-buru.

"Dia belum muncul lagi."

"Fiuh, untunglah kalau begitu," Jennings sampai di anak tangga paling atas, lalu bergerak beringsut-ingsut menuju ke kamar tidur yang gelap, seperti anjing laut di atas gunung es. Ia merebahkan diri di ranjangnya dengan napas tersengal-sengal, sementara Darbishire menggeledah kantong seponnya dengan diterangi sinar senter, mencari-cari gunting kukunya.

"Apa yang terjadi? Ada apa, sih?" desak Atkinson. Tapi tidak ada yang punya waktu maupun kesabaran untuk memperhatikan segala pertanyaannya itu.

Gunting kuku Darbishire ternyata sangat tumpul, sehingga menembus permukaan kue saja mungkin tidak bisa. Apalagi bahan tebal yang merupakan bagian dari ritsleting kantong tidur itu.

"Aku tidak bisa melihat apa yang kulakukan dengan sinar senter yang lemah ini," keluhnya. "Kita terpaksa menyalakan lampu kamar."

"Itu terlalu besar risikonya, karena pasti akan terlihat oleh Pak Wilkie," kata Venables. "Kita hanya bisa berharap bahwa dia tidak..."

Ia tidak menyelesaikan kalimatnya, karena saat itu terdengar bunyi ditutup dengan keras di serambi bawah, disusul oleh langkah-langkah berat yang bergegas di tangga dan langsung masuk ke kamar lewat pintu yang terbuka. Bunyi langkah itu yang masuk ke kamar, bukan orang yang menyebabkannya.

"Wah, Pak Wilkie sedang melacak!" kata Venables. "Cepat betulkan letakmu berbaring, Jen, lalu tarik selimut ke atas."

"Bagaimana caranya?" bantah Jennings. "Kedua tanganku kan ada di dalam kantong sialan ini!"

"Yah, pokoknya berbuatlah sesuatu. Dan kau, Atki, menyelinaplah ke gang, tahan Pak Wilkie di situ. Katakan padanya, mereka berdua sudah ada di tempat tidur, jadi dia tidak perlu lagi repot-repot masuk kemari."

Biasanya Jennings-lah yang mengatur dalam menghadapi suatu situasi. Jennings yang biasa memberi perintah. Tapi sekali ini hal itu dilakukan oleh Venables. Dan kenyataan ini, bahwa ia bisa mengambil alih komando - meski hanya untuk sementara - tanpa ada protes sama sekali dari anak yang biasanya memimpin, merupakan bukti betapa goyahnya perasaan Jennings saat itu, sebagai akibat kejadian-kejadian selama berapa menit sebelumnya.

Atkinson lari ke gang, lalu sambil menyandar ke pagar pembatas ia berseru ke bawah, "Pak, Pak! Urusannya sudah beres, Pak. Semuanya sudah berhasil dikendalikan."

Langkah-langkah berat tadi berhenti di ujung atas tangga pertama. "Apa maksudmu, 'semuanya sudah berhasil dikendalikan'?"

"Jennings dan Darbishire, Pak. Mereka sudah di tempat tidur, Pak. Sudah masuk di bawah selimut, Pak. Mereka tadi cuma agak terlambat sedikit masuk ke kamar. Cuma itu saja."

"Begitu, ya?!" Dari nada suaranya terdengar jelas bahwa kecil sekali kemungkinannya Pak Wilkins akan membiarkan kedua anak yang terlambat masuk itu tetap berbaring dengan nyaman di ranjang masing-masing.

"Ya, Pak. Mereka tadi... eh... ada halangan sedikit. Tapi Anda tidak perlu repot-repot lagi sekarang, karena keduanya sudah tidur. Atau tepatnya..." Atkinson berusaha sebaik mungkin, tapi ia juga sadar bahwa ia tidak boleh keterlaluan dalam melakukannya. "Sebenarnya mereka belum benar-benar tidur, tapi sudah mengantuk sekali. Jadi jika saya ini Anda, Pak..."

"Bilang pada kedua anak itu, mereka harus dengan segera melapor padaku di ruang guru," kata Pak Wilkins dengan suara menggelegar.

"Tapi, Pak..."

"Dengan segera, kataku. Kaudengar itu? Seketika ini juga! Bilang pada Jennings dan Darbishire, tidak peduli apakah mereka masih bangun atau sudah tidur, jika mereka belum ada di ruang guru satu menit dari sekarang, aku akan... aku akan..." Pak Wilkins menggerak-gerakkan kedua lengannya, mencari-cari ancaman seram yang sesuai untuk situasi saat itu. Akhirnya ia menyambung, "Yah, pokoknya satu menit dari sekarang mereka harus sudah ada di ruang guru. Kalau tidak, tahu sendiri nanti!"

Atkinson kembali ke kamar tidur. "Kalian sudah dengar sendiri, kan?" katanya.

4. HUKUMAN

KETIKA Pak Wilkins memasuki ruang guru beberapa saat kemudian, dilihatnya rekannya, Pak Carter, sedang duduk di sebuah kursi besar dengan sandaran lengan. Pak Carter sedang membaca koran terbitan sore.

Pak Carter, asisten senior Kepala Sekolah, berbeda sekali dari Pak Wilkins. Kalau Pak Wilkins cepat sekali ribut, Pak Carter berwatak tenang dan ramah. Sementara Pak Wilkins selalu bingung menghadapi tingkah laku anak-anak yang sedang tumbuh, Pak Carter sangat memahami segala gerak perasaan mereka. Ia selalu bersedia untuk dengan sikap simpatik menghadapi anak berumur sebelas tahun yang mana pun juga, yang mengalami kesulitan sebagai akibat perbuatan mereka sendiri.

Pak Wilkins memasuki ruang guru dengan cepat, lalu menutup pintu kembali dengan cara membantingnya.

"Aku sudah benar-benar jenuh, direpotkan oleh anak-anak konyol dari Ruang Tidur Empat - apalagi Jennings," keluhnya sambil menghenyakkan tubuhnya ke sebuah kursi besar. "Bayangkan, dia dan Darbishire tadi naik ke atas atap ruang olahraga, mencari bola-bola yang hilang."

"0 ya?" Pak Carter menanggapi dengan nada berminat. "Lalu, ada yang mereka temukan? Mestinya di situ ada berlusin-lusin bola..."

"Aku tidak tahu apakah ada yang mereka temukan, dan aku juga tidak peduli," kata Pak Wilkins memotong dengan kesal. "Bukan itu soalnya. Yang kupersoalkan adalah ketika aku naik ke sana mencari mereka, ternyata mereka tidak ada di situ."

"Lalu di mana mereka?"

"Aku belum tahu, tapi sebentar lagi aku akan tahu," jawab Pak Wilkins. "Aku baru saja memberi waktu enam puluh detik pada Jennings dan Darbishire untuk datang melapor padaku, guna menjelaskan perbuatan mereka."

Ia memandang jam tangannya, Saat itu terdengar bunyi pintu diketuk dari luar. Bunyinya pelan, takut-takut. Pengetuknya pasti seseorang yang tidak ingin menghadapi sambutan yang menunggu di dalam.

"Masuk!" kata Pak Wilkins dengan suara keras.

Pintu terbuka. Nampak Darbishire berdiri dengan sikap gelisah di ambangnya. Ia memakai kimono untuk menutupi pakaian biasanya. Tapi kesan seolah-olah ia baru dibangunkan dari tidurnya dirusak oleh celana dan sepatunya, yang nampak jelas di bawah kimono.

"Anda... eh... Anda menyuruh saya datang untuk melapor kemari, Pak," kata anak itu.

"Aku tadi menyuruh kalian berdua datang melapor padaku," kata Pak Wilkins membetulkan. "Mana Jennings?"

"Dia... eh... saya rasa dia sedang dalam perjalanan kemari, Pak."

Seakan sebagai bukti ucapannya itu, terdengar bunyi berdebum-debum di gang. Datangnya dari arah tangga.

Bunyi itu sulit dikenali. Dari kejauhan terdengar seperti keberisikan di gelanggang boling, yang sedang ramai. Tapi ketika sudah lebih dekat, kedengarannya lebih mirip kanguru yang sedang mengejar entah apa, di daerah gurun Australia.

Pak Wilkins bangkit dengan cepat dari kursinya, seperti roket meninggalkan landasan pel luncuran. "Apa... apa... apa bunyi berisik itu?" tanyanya. Dengan tiga langkah saja ia sudah sampai di pintu. Ia keluar ke gang, melewati Darbishire yang masih terus berdiri di ambang pintu. Pak Carter ikut keluar dengan langkah yang lebih santai.

Kemudian, kedua guru itu memandang dengan mata terbelalak karena heran, memandang sosok yang datang menghampiri; seakan sosok itu suatu makhluk hidup yang selama itu belum dikenal oleh dunia ilmu pengetahuan. Mata dan ubun-ubunnya nampak, tapi bagian bawah mukanya tertutup topi kedap air yang dipakai dengan gaya kantong makanan yang digantungkan di bawah mulut seekor kuda.

Makhluk ajaib itu tidak memiliki lengan dan kaki. Dari leher ke bawah, tubuhnya terbungkus semacam kepompong berwarna hijau. Kepompong yang menyentuh lantai itu berlipat-lipat bagian bawahnya.

Tidak mudah untuk mengatakan, termasuk jenis apa makhluk itu. Kalau ada kemiripannya dengan sesuatu, maka bisa dikatakan mirip mumi Mesir purba yang sedang berlatih lari gawang seratus sepuluh meter.

Dengan wajah mengernyit, Pak Carter berkata, "Aduh, lagi-lagi Jennings!"

Pak Wilkins merasa komentar begitu saja tidak memadai. "Doh! Selama hidupku, belum pernah aku...! Demi guntur, apa yang sedang kaulakukan itu, Jennings? Ayo cepat, keluar dari kantong konyol itu!"

"Tidak bisa, Pak," kata sosok yang terbungkus seperti mumi itu berterus terang. "Ritsletingnya macet."

"Hahh? Macam-macam saja!" Pak Wilkins datang menghampiri dengan cepat. Ditariknya pegangan ritsleting itu kuat-kuat ke bawah. Tapi perbuatannya itu hanya menyebabkan Jennings kehilangan keseimbangannya. Ia terpeleset, lalu jatuh teronggok di lantai.

"Untuk apa kau tadi masuk ke dalamnya?" Sambil marah-marah, guru itu mengangkat Jennings sehingga berdiri lagi. "Tadi kau kusuruh datang melapor padaku, dan kini kau datang melonjak-lonjak menuruni tangga seperti sekarung kentang! Belum pernah seumur hidupku..."

"Pertama-tama yang harus kita lakukan adalah mengeluarkannya dari dalam kantong," kata Pak Carter menyarankan. "Penjelasannya bisa menunggu sampai ia sudah bebas." Diperiksanya ritsleting kantong tidur itu, lalu ia masuk ke ruang guru untuk mencari gunting.

Beberapa menit kemudian, ketika jahitan sudah dibuka dengan gunting dan lubang ritsleting dilepaskan dari tali-tali pengikat topi pelaut, Jennings melangkah keluar dari bungkusannya sambil menarik napas lega. "Terima kasih, Pak. Terima kasih banyak, Pak. Terima kasih banyak-banyak, Pak," katanya pada Pak Carter. "Saya tadi sudah takut saja kalau-kalau saya harus terus mendekam di dalamnya sepanjang malam. Di dalam situ panasnya bukan main sampai saya kira saya akan mendidih atau lumer atau..."

"Diam!" Pak Wilkins tidak berminat mendengar kelegaan hati Jennings, begitu pula tentang reaksi kimia tubuhnya terhadap suhu yang tinggi. "Aku ingin tahu kenapa kalian tadi ada di atas atap ruang olahraga, lalu di mana kalian selama ini dan apa yang lakukan selama itu."

Tapi Pak Carter kembali menengahi. Ia mengajak Pak Wilkins masuk ke ruang guru. Di balik pintu yang ditutup ia mengatakan bahwa rasanya saat itu malam sudah terlalu larut untuk melakukan pemeriksaan tentang kenapa dan untuk apa dari kejadian yang diributkan malam itu. Kedua anak itu tentu saja harus dihukum. Tapi itu kan bisa menunggu sampai besok pagi?

Pak Wilkins setuju, setelah memandang jam tangannya sebentar. Bagaimanapun juga, ia belum sempat makan malam. Ia membuka pintu lalu dengan membentak menyuruh Jennings dan Darbishire dengan segera masuk ke tempat tidur, dan besok sehabis sarapan pagi datang melapor padanya.

Kedua anak itu berpaling lalu pergi ke atas. Jennings berjalan dengan kantong tidur tersampir di pundaknya. Semen tara berjalan, mereka mendengar suara Pak Wilkins mengeluh kepada Pak Carter mengenai kebodohan anak-anak pada umumnya, apalagi Jennings.

"Benar-benar luar biasa! Mereka sudah sinting rupanya," katanya dengan nada kesal. "Setiap kali aku bertugas sebagai pengawas, anak-anak konyol dari Ruang Tidur Empat itu selalu menyebabkan kacau balaunya peraturan sekolah. Terserah Anda mau percaya atau tidak, Carter, tapi aku tadi siang meninggalkan mereka yang sedang bermain cricket dengan biasa-biasa saja di lapangan, tapi tidak sampai setengah jam kemudian..."

Suaranya tidak terdengar lagi, karena saat itu pintu ruang guru ditutupnya dengan keras.

Ada bermacam-macam hukuman yang menunggu Jennings dan Darbishire sewaktu mereka datang melapor pada Pak Wilkins sehabis sarapan keesokan paginya. Di antaranya termasuk kehilangan nilai dan larangan meninggalkan kompleks sekolah selama tiga kali sekolah setengah hari. Hukuman yang terakhir ini dirasakan lebih berat, karena itu berarti mereka berdua tidak bisa ikut piknik bersama anak-anak dari kelas rendah yang menurut rencana akan diadakan hari Sabtu yang akan datang.

Selanjutnya, Pak Wilkins mengatakan bahwa ia berniat untuk menyita semua bola tenis yang diambil dari atas atap dan mencampakkannya ke dalam api pembakaran tumpukan sampah, agar tidak ada yang memperoleh keuntungan dari keisengan mereka naik ke atap itu. Ancaman itu tidak berhasil dilaksanakan, karena dengan segera kabar mengenainya tersebar dan benda-benda yang akan disita itu secara misterius lenyap sebelum sempat dikumpulkan.

"Sialan, nggak bisa piknik, nih," keluh Darbi pada temannya ketika mereka meninggalkan ruang guru setelah Pak Wilkins selesai dengan ceramahnya pada mereka. "Nanti cuma kita berdua saja dari Kelas Tiga yang harus tinggal di sekolah."

"Biar saja. Kita pasti akan menemukan sesuatu yang bisa kita lakukan," kata Jennings. Saat itu ia sendiri belum tahu, apa yang akan terjadi pada hari Sabtu mendatang itu.

Piknik anak-anak kelas rendah yang diadakan pada waktu paro pertama masa sekolah musim panas kali ini akan dipimpin oleh Pak Carter, bersama Pak Wilkins. Kepala Sekolah, Pak Pemberton-Oakes, segan ikut, karena terakhir kalinya ikut piknik ia secara tidak sengaja menduduki sarang semut. Selain itu ia juga merasa terganggu oleh serangga-serangga terbang yang tidak henti-hentinya mendesum di sekitar sandwich yang sedang dimakannya.

"Sebaiknya mereka Anda ajak saja ke tepi sungai dekat Dunhambury, Carter," kata Pak Pemberton-Oakes kepada asisten seniornya itu di ruang guru pada hari Minggu petang, ketika mereka sedang mendiskusikan acara itu. "Saya akan meminta pada Matron agar bekal makanan dan lain-lainnya sudah disiapkan segera setelah sarapan pagi, agar kalian semua bisa berangkat dengan bus yang pukul sepuluh."

Pak Carter menyimak daftar yang telah disusunnya. "Bagaimana dengan Jennings dan Darbishire?" tanyanya. "Wilkins berkeras bahwa mereka tidak boleh ikut, sebagai hukuman."

"0ya, tentu saja, urusan naik ke atas atap itu!" Kepala Sekolah berpikir sebentar lalu berkata lagi, "Saya rasa kedua anak itu takkan menimbulkan masalah. Akan saya usahakan salah satu kesibukan bagi mereka, agar tidak bisa berbuat macam-macam. Sesore bekerja mencabuti gulma di kebunku mungkin akan jadi pelajaran yang bermanfaat untuk menyadari kesalahan mereka."

Hari demi hari berlalu. Saat itu awal bulan Juni. Tapi cuaca sudah nyaman dan hangat. Ketika pagi hari Sabtu menjelang, sinar matahari yang cerah menjanjikan hari yang menyenangkan.

Pukul sepuluh, Jennings dan Darbishire berdiri di balik jendela ruang Kelas Tiga, memandang teman-teman mereka yang lebih mujur berkumpul di tempat bermain, untuk berangkat ke halte bus. Pak Wilkins membebani mereka dengan begitu banyak tugas sehingga mereka sepagi itu pasti akan terus sibuk. Tapi saat itu mereka tidak merasa tertarik untuk mengerjakan soal-soal matematika.

"Akan kusabet saja soal-soal konyol itu secepat mungkin," kata Darbishire. Ia pergi dari jendela dengan perasaan berat. "Lalu, jika masih ada waktu tersisa, aku hendak mengurus prangko-prangkoku." Pagi itu baru saja datang kiriman majalah filateli bulanan edisi terbaru lewat pos, dan Darbi sudah kepingin sekali melihat-lihat isinya.

"Mana mungkin," kata Jennings. "Kita memang terbebas dari Pak Wilkie untuk hari ini, tapi kan masih ada Pak Hind dan guru-guru yang lain - termasuk pula Kepala Sekolah. Aku berani bertaruh, dia saat ini pasti sedang duduk di ruang kerjanya, sibuk merancang salah satu siksaan seram untuk menyibukkan kita sepanjang siang sampai sore.

Pak Pemberton-Oakes memang sedang duduk di ruang kerjanya saat itu. Tapi ia tidak sedang memikirkan persoalan kedua tahanan yang ada di ruang Kelas Tiga. Kepala Sekolah sedang berbicara di telepon. Atau tepatnya, ia sedang mendengarkan Bu Thorpe, seorang wanita ramah yang suaranya mengingatkan pendengarnya kepada burung. Bu Thorpe gemar sekali mensponsori kegiatan-kegiatan berguna di desa Linbury, yang letaknya berdekatan dengan sekolah. Dialah yang mengetuai Institut Wanita, menyelenggarakan pasar amal, mengawasi kelompok-kelompok bermain anak-anak prasekolah, dan menggiring kaum wanita penghuni desa itu masuk ke bus untuk mengunjungi tempat-tempat bersejarah.

Seperti biasanya jika menelepon Kepala Sekolah, Bu Thorpe ingin minta tolong, "...dan seperti Anda ketahui, Pak Oakes, siang ini akan diadakan pesta gereja. Biasanya memang kami selenggarakan pada bulan Juli, tapi tahun ini kami ingin mengadakannya agak lebih cepat, dan karena cuaca hari ini begitu indah....”

Suara Bu Thorpe melengking tinggi, mirip suara burung beo yang pandai berbicara. Kepala Sekolah agak menjauhkan gagang telepon dari telinganya, sementara menunggu permintaan yang dirasanya pasti akan datang. Mudah-mudahan saja wanita itu tidak hendak memintanya untuk membagi-bagikan hadiah lagi, katanya dalam hati. Ia pernah melakukan tugas itu pada pesta jemaah gereja tahun sebelumnya, dan karena Jennings dan Darbishire, kejadian itu masih tetap segar dalam ingatannya.

Tapi permintaan yang diajukan kali ini ternyata sederhana saja.

"Kami memerlukan tambahan tempat duduk untuk orang-orang yang ingin menonton tarian anak-anak Sekolah Dasar," kata Bu Thorpe. "Dan karena saya tahu bahwa di tribun cricket sekolah Anda ada begitu banyak kursi, saya ingin bertanya apakah Anda bersedia meminjamkan satu atau dua lusin untuk nanti siang?"

"0 ya, tentu saja bisa. Dengan senang hati," kata Pak Pemberton-Oakes. Ia merasa lega, karena wanita itu ternyata begitu sepele permintaannya. "Nanti akan saya suruh antarkan ke pekarangan rumah pendeta."

"Terima kasih, Anda benar-benar baik hati, Pak Oakes. Tarian itu akan diadakan setelah acara minum teh, jadi Anda tidak perlu buru-buru. Sekali lagi terima kasih. Anda baik hati, mau menolong kami."

"Ah, itu kan sudah sewajarnya. Saya senang, bisa membantu."

Aku memang berniat pergi ke Dunhambury siang ini, kata Kepala Sekolah mengingatkan dirinya sendiri sambil mengembalikan gagang telepon ke tempatnya. Akan disuruhnya beberapa orang anak mengumpulkan kursi-kursi itu dan memasukkannya ke trailer-nya. Trailer itu nanti akan ditinggalkannya di Linbury pada waktu lewat di situ dalam perjalanan menuju kota. Ia menuliskannya dalam buku catatan, lalu ia kembali ke pekerjaannya semula.

Sejam kemudian Jennings meletakkan penanya lalu berkata, "Nah, kurasa sudah cukup banyak soal yang kukerjakan untuk menyibukkan Pak Wilkie apabila ia pulang petang nanti. Kau bagaimana?"

Darbishire menggeleng sedih. "Aku masih macet pada soal tentang pengendara sepeda yang mengayuh sepedanya dengan kecepatan dua belas kilometer per jam, dan berusaha tiba di kota mendului bus yang berjalan tiga kali lebih cepat."

"Soal itu gila! Jika ia begitu ingin cepat-cepat, mestinya tinggalkan saja sepedanya di tepi jalan lalu ikut dengan bus apabila kendaraan itu menyusulnya." Jennings mengibaskan tangannya, sebagai tanda bahwa dengan begitu selesailah urusan itu. "Yuk, kita melihat-lihat isi majalah prangkomu itu, untuk menghibur diri."

Berita yang paling menggembirakan dalam majalah Junior Philatelic Bulletin itu adalah pengumuman akan diterbitkannya prangko-prangko Inggris, untuk memperingati penemuan-penemuan ilmiah termasyhur pada abad kedua puluh.

"Wow! Aku kepingin punya beberapa dari seri itu." Jennings berdiri di belakang Darbishire, ikut mengagumi gambar-gambar prangko yang terpajang pada halaman pertama. "Kapan penjualannya dimulai?"

Darbishire menyimak tulisan kecil-kecil yang ada di bawah gambar-gambar prangko itu.

"Tanggal 16 Juni," katanya kemudian. "Jika kita bisa membeli beberapa dan minta distempel pada hari pertama, mungkin beberapa tahun lagi nilainya akan bisa menjadi ratusan pound."

"Ratusan pound?" Jennings benar-benar tercengang mendengarnya.

"Yah, mungkin tidak sampai ratusan - tapi pokoknya cukup tinggi. Yang jelas, lebih daripada hanya beberapa penny saja. Tapi prangko-prangko itu harus distempel pada hari pertama penerbitannya. Itu penting, kalau ingin nilainya kemudian menanjak."

Jennings mengeluarkan buku hariannya lalu membalik-balik halamannya. Kemudian ia berkata, "Menurutmu, mungkinkah juga akan dijual di kantor pos kecil, seperti yang di Linbury Stores?"

"Pasti di situ disediakan juga beberapa eksemplar," kata Darbi. "Tentu saja supaya mendapat bagian, kita harus termasuk yang antre paling depan nanti."

"Itulah masalahnya," kata Jennings. "Tanggal 16 Juni itu hari Senin, dan tidak lama setelah kantor pos buka kita akan sudah harus masuk sekolah. Tapi di pihak lain," sambungnya sambil merenung, "di pihak lain, itu berarti anak-anak lain di sekolah ini juga takkan ada yang bisa membeli! Jadi jika kita jalankan rencanaku, prangko-prangko itu akan semakin tinggi nilainya, karena merupakan barang yang sangat langka."

"Rencanamu?" tanya Darbishire dengan nada tidak mengerti. "Maksudmu, kau sudah menemukan cara untuk bisa pergi ke kantor pos sementara yang anak-anak yang lain sedang bersekolah ?"

"Tidak, aku belum punya rencana," kata Jennings mengakui, sambil mengembalikan buku hariannya ke dalam saku. "Tapi aku punya banyak waktu untuk mengaturnya sampai dengan tanggal 16 Juni itu. Aku pasti akan menemukan jalan, Darbi - lihat sajalah nanti!"

5. SASARAN YANG SULIT

MULANYA Pak Pemberton-Oakes bermaksud untuk menyibukkan Jennings dan Darbishire dari siang sampai sore dengan pekerjaan mencabuti tumbuhan liar di kebunnya. Tapi karena teringat akan janjinya pada Bu Thorpe, tidak lama setelah selesai makan siang ia memutuskan untuk menyalurkan energi kedua anak itu untuk keperluan yang lebih mendesak.

Pukul setengah tiga Kepala Sekolah memasuki kebunnya. Saat itu Jennings sedang mengejar-ngejar Darbishire berkeliling petak-petak tanaman bunga mawar, sambil melemparinya dengan gumpalan-gumpalan rumput kering sisa pengguntingan beberapa waktu sebelumnya. Hujan potongan rumput itu terhenti ketika kedua anak itu berpaling dan melihat bahwa mereka tidak sendiri lagi di situ.

"Ayo kemari, kalian berdua," kata Kepala Sekolah, lalu berkata, "Karena nampaknya kalian tidak bisa melaksanakan tugas yang kuberikan tanpa terus-menerus diawasi, sekarang kalian boleh melakukan pekerjaan lain. Selama melakukannya, lebih kecil kemungkinannya kalian akan sempat berbuat macam-macam.”

Kursi-kursi lipat dengan tempat duduk dari kain kanvas itu ada di tribun cricket, katanya pada mereka, dan mobilnya yang sudah digandengkan pada trailer ada di lapangan bermain. Dua lusin kursi harus dikumpulkan lalu dimuat ke trailer itu secara rapi. Karena mestinya mereka bisa menghitung sampai dua puluh empat, begitu kata Kepala Sekolah dengan nada menyindir, apakah ia menuntut terlalu banyak dengan berharap bahwa mereka bisa melakukan tugas sederhana itu tanpa mengakibatkan kerusakan pada trailer, atau meninggalkan tribun dalam keadaan seperti habis kejatuhan bom?

Jennings dan Darbi mengatakan, rasanya itu bisa mereka lakukan. "Ya, Pak. Tentu saja, Pak. Kami akan berhati-hati sekali," kata Jennings berjanji.

Setengah jam kemudian, ketika Kepala Sekolah datang ke lapangan bermain, ia menemukan segala-galanya dalam keadaan beres. Kursi-kursi lipat sudah tersusun rapi di dalam trailer, dan kedua anak yang mengerjakannya berdiri di sampingnya, menunggu instruksi selanjutnya.

Kepala Sekolah berpikir sebentar. Bu Thorpe mungkin akan senang jika ada tenaga tambahan untuk membantu mengatur kursi-kursi itu nanti di pekarangan rumah pendeta. Dia sendiri tidak bisa tinggal untuk melakukannya karena sudah ada janji lain. Tapi itu bukan alasan untuk tidak menugaskan Jennings dan Darbishire untuk terus melakukan pekerjaan yang berguna.

Ia membuka pintu mobil sambil berkata, "Ayo masuk! Kita akan membawa muatan ini ke pesta jemaah gereja."

Kedua anak itu tentu saja mendengarnya. Kelihatannya itu merupakan cara yang lebih baik untuk mengisi waktu siang itu, daripada saling menjejalkan gumpalan rumput kering ke dalam kerah baju masing-masing.

Tapi mereka tentu saja masih menjalani hukuman. Hal itu ditegaskan oleh Kepala Sekolah, sementara ia mengemudikan mobilnya menyusur jalan menuju ke desa. "Nanti sesudah kalian atur kursi-kursi itu dan Bu Thorpe tidak memerlukan kalian lagi, kalian langsung kembali ke sekolah," katanya.

"Maksud Anda kami harus berjalan kaki, Pak?" tanya Jennings.

"Tentu saja! Kau kan tidak mengira aku akan menyewa helikopter, hanya agar kalian tidak perlu berjalan kaki sejauh setengah mil?! Kalian nanti tidak boleh tetap di sana, bersenang-senang, kalian harus kembali ke sekolah dan menonton anak-anak kelas atas main cricket, sampai saat minum teh sore."

Kepala Sekolah membelokkan mobilnya memasuki pekarangan rumah pendeta, lalu turun bersama kedua penumpangnya. Ketika mereka sedang melepaskan trailer dari mobil, Bu Thorpe muncul, dengan langkahnya yang kecil-kecil untuk menyambut mereka.

"Anda begitu baik hati, Pak Oakes," katanya dengan suaranya yang tinggi. "Saya tidak tahu bagaimana harus mengatur tempat duduk nanti kalau tidak ada kursi-kursi tambahan ini."

Pak Pemberton-Oakes tersenyum sopan. "Saya membawa dua tenaga muda untuk membantu-bantu mengatur kursi itu nanti dan... eh... untuk membantu kalau ada tugas-tugas lain," katanya sambil menggerakkan tangannya ke arah Jennings dan Darbi. "Sayangnya, saya tidak bisa lama-lama di sini - saya ada janji di Dunhambury; tapi Anda tidak perlu buru-buru dengan kursi-kursi itu, begitu pula dengan trailer-nya. Besok akan saya suruh orang menjemputnya lagi kemari."

Selama kurang lebih seperempat jam setelah kepergian Kepala Sekolah, Jennings dan Darbishire sibuk bergegas mondar-mandir di bawah sinar matahari yang panas: menurunkan kursi-kursi, menggotongnya melintasi lapangan rumput, dan meletakkannya di ujung sebelah sana dari tenda tempat hidangan.

Ketika kursi terakhir sudah ditaruh di tempatnya, muka kedua anak itu nampak merah padam karena kepanasan. Tubuh mereka basah karena keringat, dan lutut mereka gemetar karena capek.

Bu Thorpe datang menghampiri ketika mereka sedang menyeka keringat yang membasahi dahi. "Astaga, kalian tadi bekerja keras rupanya," kata wanita itu kagum. "Padahal hawa begini panas. Sudah selayaknya kalian mendapat segelas limun dan es krim sebagai imbalannya."

"Terima kasih," kata kedua anak yang memang sudah sangat haus itu.

Bu Thorpe memandang jam tangannya sebentar. "Hidangan akan disajikan pukul empat, jadi jika kalian ingin melihat-lihat berkeli1ing dulu dan kemudian datang ke tenda tempat penyajian hidangan..."

"Asyik!" seru Jennings bergembira. "Dan jika Anda masih punya tugas-tugas lain, dengan senang hati kami akan melakukannya. Sungguh!"

Saat itu tidak ada apa-apa yang bisa mereka kerjakan, kata wanita itu, tapi jika mereka mau menunggu sampai acara tarian' sudah selesai, mereka bisa mengangkut kursi-kursi pinjaman itu kembali ke trailer dan memuatnya ke situ.

"He, Jen, kau yakin tidak akan apa-apa jika kita tetap ada di sini?" kata Darbi dengan nada sangsi, sementara mereka melangkah pergi untuk melihat-lihat atraksi yang ada di pesta itu. "Kepala Sekolah tadi mengatakan kita harus langsung kembali ke sekolah apabila kursi-kursi sudah kita bereskan.”

"Tidak, bukan begitu katanya tadi. Ia mengatakan, kita harus pulang begitu tenaga kita tidak diperlukan lagi oleh Bu Thorpe," kata Jennings membetulkan. Sementara itu sudah terpikir olehnya bahwa hal itu bisa dipakai sebagai alasan yang sangat baik bagi mereka untuk tetap tinggal di situ selama mungkin. "Kepala Sekolah sudah pergi ke Dunhambury, dan Pak Hind tidak tahu kapan kita harus kembali, sementara Bu Thorpe tidak tahu bahwa ini merupakan hukuman bagi kita," sambungnya. "Jika kau ingin tahu pendapatku, kita aman di sini. Tinggal minta saja pada Bu Thorpe untuk memberikan beberapa tugas pada kita, dan kita bisa berlenggang kembali ke sekolah pada saat yang kita kehendaki tanpa ada seorang pun yang bisa mengatakan apa-apa mengenainya."

Jennings merasa puas dengan penjelasannya yang meyakinkan itu. Ia lantas berjalan mendului, kembali ke lapangan rumput untuk melihat hiburan apa saja yang ada pada pasar amal gereja Linbury itu.

Mereka dikecewakan. Ada kios adu ketangkasan melempar gelang, di mana Darbishire menghabiskan uang sepuluh penny tanpa berhasil memenangkan apa-apa; lalu ada pula permainan memancing, di mana Jennings sebal karena yang terkait sebuah bingkisan kecil berisi gelang plastik untuk digigit-gigit bayi yang baru akan tumbuh giginya. Juga ada kios yang menjual baju hangat hasil rajutan untuk dipakai di tempat tidur serta penutup teko teh dari kain laken, serta sebuah kios lagi yang menjual sayuran hasil kebun sendiri dan acar buatan sendiri pula. Ada perlombaan-perlombaan menebak berat sebuah kue dan menebak nama sebuah boneka plastik yang jelek. Segala atraksi itu tidak begitu menarik bagi dua orang anak yang bertekad menikmati waktu sesore dengan melanggar instruksi.

"Benar-benar payah! Mendingan kembali saja ke sekolah nonton permainan cricket, daripada berkeliaran tanpa guna di sini," keluh Darbi setelah mereka mengitari lapangan rumput itu.

"Kita belum bisa pergi sekarang. Bu Thorpe tadi kan berjanji akan memberi es krim dan limun. Kalau kita bernasib mujur, mungkin saja kita akan diberi hidangan makan sore yang lengkap," kata Jennings. Ia melambaikan tangannya menunjuk ke arah ujung pekarangan yang jauh dari tempat mereka berada saat itu. "Yuk, kita melihat ada apa saja di sana.”

Pada sebidang tanah yang ditumbuhi rumput kasar, di luar lapangan rumput yang merupakan pekarangan rumah pendeta, ada sekelompok kecil orang yang sedang sibuk dengan permainan yang dinamakan Boling Memperebutkan Babi. Sarana permainannya sederhana, terdiri atas selembar papan yang dipasang melintang. Papan itu dilengkapi dengan sejumlah lubang. Para pemain harus melemparkan sejumlah bola yang terbuat dari kayu. Di atas lubang-lubang itu ada nomor-nomor, mulai dari satu sampai sepuluh; dan menurut aturan permainan yang tertulis pada selembar kertas yang dipasang di dekat situ, babi akan dihadiahkan pada pemain yang pada akhir acara berhasil mencapai angka tertinggi dengan lemparan enam buah bola berturut-turut.

Sewaktu Jennings dan Darbi tiba di situ, pendeta baru saja selesai melempar. Hasilnya payah: lima angka dari enam puluh yang mungkin bisa dicapai. Tukang pos desa itu, yang mendapat giliran berikutnya, mencapai nilai tidak lebih dari tujuh belas. Ia disusul oleh seorang pemuda yang ternyata adalah kapten tim cricket desa itu. Angka yang dicapainya hanya dua puluh satu.

"Rupanya permainan ini tidak segampang kelihatannya," kata Darbishire menarik kesimpulan.

"Tidak, bukan sulit - mereka saja yang tidak pandai menggelindingkan bola," kata Jennings sambil mendengus. "Seperti kau, sewaktu menjadi pelempar pertama untuk Kesebelasan Angkasa Luar."

Darbi berlagak tidak mendengar penghinaan itu. Ia berkata, "Huh, aku kepingin lihat, apakah kau bisa mencapai angka lebih tinggi!"

"Aku mau saja! Mau taruhan apa, bahwa aku tidak bisa mencapai angka sebanyak orang yang terakhir melempar?"

Darbi berpikir-pikir sebentar. Pembayarannya sepuluh penny untuk enam bola. "Aku tidak mau bertaruh, tapi aku mentraktirmu untuk ikut dalam permainan ini, asal kau mentraktirku untuk mencoba lagi di kios permainan lempar gelang."

"Setuju!" Jennings langsung ikut antre untuk menunggu giliran. Tidak lama kemudian ia sudah berdiri pada posisi paling depan, dengan enam bola kayu di depan kakinya.

Dua lemparannya yang pertama mengenai papan dan terpantul kembali. Ia tidak mendapat angka untuk itu, Dengan lemparan ketiga ia memperoleh angka satu; lemparan keempat meleset lagi, sementara lemparannya yang kelima melewati lubang yang memberikannya tiga angka.

Darbishire tertawa terpingkal-pingkal. "Hah, lihat si Kepala Besar!" ejeknya. "Tidak bisa mengenai tumpukan jerami dengan tomat busuk! Empat - cuma sebegitu saja angka yang kaucapai! Aku bisa mencapai angka lebih dari itu, dengan mata ditutup dan kedua tangan terikat di punggung."

Jennings tidak menanggapinya. Ia kelihatannya seperti sedang sibuk berkonsentrasi. Kemudian diambilnya ancang-ancang dengan bolanya yang terakhir. Bola itu dilempar, dan memasuki lubang di tengah-tengah. Angka maksimum, sepuluh!

"Empat belas!" kata Darbishire. "Kau ternyata tidak lebih baik dari yang lain-lainnya. Itulah, kalau suka membanggakan diri!"

Tapi keberhasilan Jennings dengan lemparan bolanya yang terakhir menimbulkan keyakinan lagi dalam hatinya. Ia berpaling pada temannya. Matanya berkilat-kilat. "Aku sudah menemukan rahasianya, Darbi! Bolaku yang terakhir tadi langsung masuk ke sasaran utama, kan?"

"Memangnya kenapa kalau begitu? Bola-bola yang lain kan tidak!"

"Itu dia persoalannya. Tanah di sini tidak rata, sehingga sulit membidik. Tapi di tengah sebidang kecil rerumputan di depan lubang itu tidak begitu. Jika lemparan diarahkan ke situ, bolanya pasti akan menggelinding masuk. Tidak mungkin meleset! Rahasia itu baru kutemukan ketika bolaku tinggal satu."

"Wow! Kedengarannya kau benar-benar menemukan caranya." Suara Darbi sudah tidak bernada mengejek lagi. "Jadi, apa yang akan kaulakukan sekarang?"

"Mencoba lagi, tentu saja," jawab Jennings bersemangat. "Gila kalau tidak kulakukan, setelah kita menemukan rahasianya."

Sekali lagi ia mendaftarkan diri kepada pemuda berkemeja kotak-kotak dan bercelana jeans, yang bertugas mengawasi permainan itu. Sekali lagi Jennings berlutut, lalu membidikkan bola pertama dari enam buah yang ada di depan kakinya.

Tapi ternyata masih tetap tidak segampang yang diharapkannya. Ia berhasil melemparkan bola ke petak rumput yang ada di depan lubang dengan nomor sepuluh di atasnya. Tapi bolanya tidak menggelinding masuk ke lubang sasaran. Hanya papannya saja yang dikenai, sehingga bola itu terpantul kembali tanpa menghasilkan angka. Dengan lemparan kedua ia berhasil mendapat angka delapan, lalu yang ketiga menghasilkan angka sembilan, karena kedua bola itu melenceng sedikit ke kanan dan ke kiri.

Dua bola berikutnya menyebalkan Jennings, karena nyaris saja masuk. Kedua-duanya menggelinding ke lubang tengah yang diidam-idamkan - tapi kemudian berhenti sebelum sampai masuk.

Jennings mulai putus asa. Lima bola sudah dilemparnya, dan ia baru berhasil meraih tujuh belas angka. Hasil itu tidak lebih baik dari yang dicapai tukang pos, dan jauh lebih buruk dari prestasi kapten regu cricket. Dan kini, ia menghadapi situasi sulit: kedua bola yang nyaris masuk tadi menutupi lubang yang hendak dijadikan sasaran.

"Sial!" Darbi mengomentari. "Sekarang bagaimana?"

Jennings mengangkat bahu. "Payah, ya?"

Tanpa mengharap akan bisa meningkatkan jumlah angka yang sudah dicapai, bola terakhir dilemparkannya ke arah papan tanpa membidik sama sekali. Tahu-tahu terjadi peristiwa yang merupakan kebetulan saja, tapi menguntungkan baginya. Bola yang dilempar mengenai salah satu bola yang menutupi lubang dan berada pada posisi paling dekat dengan tempatnya berdiri. Bola itu menggelinding ke depan, mengenai bola yang ada di depannya.

Hasilnya luar biasa: kedua bola itu melesat lurus ke depan, memasuki lubang sasaran, disusui bola yang dilemparkan. Terdengar suara-suara kaget dan sorak gembira di kalangan kelompok kecil yang menonton.

"Anda lihat itu!? Ia mendapat angka tiga puluh dengan sekali lempar," kata tukang pos pada pendeta.

"Hebat! Hebat!" Pendeta mengucapkan selamat pada Jennings dengan wajah berseri-seri. "Prestasi yang bagus, anak muda! Sangat baik!"

"Itu tadi cuma kebetulan saja sebenarnya," kata Jennings merendah, tapi tanpa berhasil mengendalikan suaranya yang bernada bangga.

Kapten regu cricket bertanya kepada pemuda yang menyelenggarakan permainan itu. "Berapa jumlah angka keseluruhannya?"

Pemuda berkemeja kotak-kotak itu menghitung-hitung angka yang tercatat dalam buku notesnya. "Delapan tambah sembilan ditambah lagi dengan tiga puluh, jadi empat puluh tujuh. Angka tertinggi sejauh ini, tapi kautunggu saja sampai Clive mendapat giliran melempar. Dia selalu mencapai angka melebihi lima puluh. Kalau kondisinya sedang sempurna, lemparannya tidak pernah meleset."

"Kalau begitu kau tidak jadi menang, Jen," kata Darbishire menyimpulkan sambil mengernyit. "Kecuali jika juga disediakan hadiah kedua, tentu saja. Untuk hadiah itu, kau punya harapan memenangkannya." Darbi berpaling untuk membaca aturan permainan yang tertulis pada selembar kertas yang terpasang di dekatnya, Begitu selesai membaca, ia tertawa lebar.

"Bagaimana dengan hadiah yang ini, Jen? Hadiah kedua, sebotol kristal pengharum air mandi!"

"Aku tidak pernah memakainya," tukas Jennings tegas. "Lagi pula, aku memang tidak berniat memenangkan hadiah. Aku cuma ingin menunjukkan padamu bahwa lemparanku tidak sepayah yang kaubayangkan."

Saat itu sudah lewat pukul empat. Lewat alat pengeras suara terdengar pengumuman bahwa hidangan sudah bisa diambil di tenda tempat makanan dan minuman. Dengan rasa haus dan penuh harap, Jennings dan Darbi mendatangi tenda itu, dengan keyakinan bahwa Bu Thorpe tidak melupakan undangannya kepada kedua anak yang tadi sudah begitu rajin menata kursi-kursi.

Ternyata wanita itu memang tidak lupa. Meski banyak orang berkerumun dalam tenda, ia menyediakan tempat bagi Jennings dan Darbishire di sudut yang jauh di belakang tempat teh. Kedua anak itu duduk di situ sambil makan sandwich, kue-kue, dan es krim, serta minum limun. Hanya karena mengingat tata kesopanan saja mereka akhirnya menolak ketika ditawari apakah mau tambah lagi.

"Wuah! Kalau diingat bahwa kita ini sebenarnya sedang dihukum, lumayan juga keadaan kita saat ini, ya?" kata Jennings sambil menghabiskan porsi es krimnya yang ketiga. "Jauh lebih enak daripada ikut piknik bulukan itu, bersama Pak Wilkie!"

Darbishire masih saja cenderung merasa cemas mengenai cara mereka menafsirkan instruksi Kepala Sekolah tadi. "Kita sudah lebih dari satu jam berada di sini," katanya. "Apakah nanti tidak terjadi apa-apa?"

"Ah, apalah yang mungkin bisa terjadi?!" tukas Jennings. "Kita berbuat persis seperti yang disuruh Kepala Sekolah, yaitu membantu Bu Thorpe. Nanti sekitar setengah enam barulah kita pergi dari sini dan tiba di sekolah tepat pada waktunya untuk makan sore lagi pukul enam."

Mereka tidak menonton anak-anak sekolah rendah menari. Uang mereka menyusut sepuluh penny lagi di kios adu ketangkasan lempar gelang. Mereka juga menonton sebentar, melihat serombongan pekerja pertanian yang kekar-kekar mencoba melemparkan sebuah karung berisi jerami melewati sebatang tiang yang dipasang melintang seperti palang gawang, lima meter di atas tanah. Ketika tari-tarian sudah selesai, mereka mengambil kursi-kursi lipat, menggotongnya melintasi pekarangan, dan menumpukkannya dengan rapi di dalam trailer.

Sementara itu pesta sudah mendekati akhirnya. Satu demi satu, para pemilik kios mengemasi barang-barang mereka, sementara para pengunjung mulai beranjak pergi. Kesibukan pesta sudah berakhir. Lewat alat pengeras suara terdengar pengumuman nama-nama para pemenang tebakan berat kue, nama boneka, dan permainan boling dengan hadiah babi. Tapi alat itu tidak disetel dengan baik, sehingga suara yang keluar tidak jelas terdengar.

"Kita pamitan saja pada Bu Thorpe sekarang, lalu pulang," kata Jennings. "Jangan lama-lama lagi tetap di sini, karena nanti tahu-tahu kita diminta membantu mencuci piring dan gelas, atau melakukan tugas-tugas lain semacam itu."

Keduanya sedang berjalan di lapangan rumput menuju ke tenda tempat makanan dan minuman, ketika ada yang memanggil mereka dari belakang. Jennings dan Darbi berpaling. Mereka melihat pemuda berkemeja kotak-kotak yang menjaga tempat permainan boling tadi bergegas-gegas ke arah mereka.

"He! Namamu Jennings, kan?" tanyanya ketika kedua anak itu sudah tersusul.

Jennings mengakuinya dengan anggukan. "Ya, itu saya. Kenapa?"

"Kau tidak mendengar namamu dipanggil lewat alat pengeras suara?"

"Saya cuma mendengar suara keras saja, tanpa bisa menangkap kata-katanya." Tiba-tiba Jennings merasa gelisah. Jika namanya dipanggil, itu hanya mungkin berarti bahwa tahu-tahu Kepala Sekolah sudah kembali untuk membawa mereka pulang ke sekolah. Mereka memang punya alasan kenapa sampai terus berada di situ. Tapi alasan itu tidaklah sebegitu kokoh, sehingga kalau Pak Pemberton-Oakes mau, dengan gampang ia bisa membuyarkannya dengan berapa pertanyaan yang memojokkan.

Jennings bertanya kepada pemuda itu, "Anda barangkali kebetulan tahu, kenapa saya dicari?"

Pemuda berkemeja kotak-kotak itu mengangguk dengan ramah, sambil mengeluarkan buku notesnya.

"Angka tertinggi, empat puluh tujuh... Kau memenangkan babi itu," katanya.

6. ADA BABI GENTAYANGAN

JENNINGS begitu kaget mendengarnya. Ia terhuyung ke belakang, dengan mata terbelalak dan mulut ternganga.

"Memenangkan hadiah babi itu? Tidak mungkin!" serunya cemas. "Saya bahkan sedikit pun tidak berniat memenangkannya. Berusaha saja tidak!"

Tidak aneh jika ia sangat kaget, karena alasannya ikut dalam perlombaan itu semata-mata untuk membuat Darbishire kagum melihat keterampilannya melempar bola, lebih lurus daripada pendeta, tukang pos, atau kapten regu cricket setempat. Prestasi yang dicapainya sudah merupakan hadiah baginya. Jadi ia sama sekali tidak memikirkan apa yang akan terjadi sesudah itu.

Kini, untuk pertama kalinya ia menghadapi kenyataan bahwa babi itu benar-benar ada, seekor makhluk hidup yang perlu diberi makan dan tempat tinggal, dan dia - J.C.T. Jennings - kini harus bertanggung jawab atas kesejahteraan binatang itu.

"Ini edan!" protesnya. "Anda harus mengusahakan agar orang lain saja yang memperolehnya."

Pemuda bercelana jeans itu nampak bingung. Jarang dialaminya ada pemenang hadiah yang begitu ribut mempersoalkan hasil kemenangannya.

"Babi itu kini menjadi milikmu, sobat. Aku tidak ada urusan sama sekali dengannya," jawab pemuda itu. "Kalau tidak ingin memenangkannya, seharusnya kau tidak ikut tadi."

"Tadi tidak ke situ pikiran saya. Lagi pula, Anda tadi mengatakan ada orang lain yang pasti akan menang. Saya mendengarnya dengan jelas,"

"Ya, betul," kata Darbishire menandaskan, membela temannya. "Orang itu yang selalu mencapai angka lima puluh. Kalau sudah membidik tidak pernah meleset, demikian kata Anda tadi pada kami."

"Maksud kalian Clive?"

"Ya, itu dia orangnya. 'Tunggu saja sampai ia mendapat giliran,' kata Anda. Kenapa bukan dia yang menang?"

"Dia sama sekali tidak muncul."

Jennings mengibaskan tangannya dengan kesal. "Kalau begitu bagaimana dengan orang yang menjadi pemenang kedua? Saya mau menukar babi saya dengan kristal pengharum air mandi yang dimenangkannya."

Pemuda penyelenggara perlombaan itu menggeleng. "Sudah terlambat, sobat. Orangnya sudah pergi dengan sepeda motornya, sepuluh menit yang lalu. Sekarang pasti sudah setengah jalan ke East Brinkington."

Situasi saat itu gawat. Di segala arah nampak orang-orang berjalan meninggalkan pekarangan rumah pendeta untuk pulang ke rumah masing-masing. Orang-orang yang berbahagia, bebas karena tidak direpotkan oleh urusan babi yang tidak diingini, berbagai peraturan sekolah yang merepotkan saja, serta Kepala Sekolah yang pasti tidak mau mengerti. Dengan perasaan bingung, Jennings berkata lagi pada pemuda itu,

"Kalau begitu, maukah Anda memilikinya? Anda boleh ambil, saya hadiahkan!"

"Kau bercanda, ya?" Pemuda itu nyengir. "Aku tinggal di sebuah flat kecil, di arah ke Dunhambury. Memelihara burung kenari saja para tetangga sudah pada ribut. Bisa kubayangkan apa kata mereka nanti jika aku membuat kandang babi di gang lantai paling atas!" Ia menepuk bahu Jennings dengan maksud menenangkan. "Jangan bingung, sobat. Kau pasti bisa menemukan tempat penampungan yang baik bagi babi itu dalam sehari-dua ini. Sekarang kuambilkan saja untukmu. Busku sepuluh menit lagi datang."

Pemuda itu pergi ke ujung pekarangan, di mana hadiah hidup itu melewatkan waktu sesiang itu di dalam sebuah kandang yang teduh, di balik semak-semak berbunga.

Jennigs dan Darbishire memandang kepergian pemuda itu dengan mata masih tetap terbelalak karena kaget. "Enak saja mengatakan kita akan menemukan tempat penampungan dalam sehari-dua ini," kata Jennings. Suaranya terdengar getir. "Kita harus menemukan tempat penampungan baginya sekarang ini juga, sebelum kita pulang ke sekolah."

Sambil memonyongkan mulutnya, Darbi berkata, "Bagaimana jika untuk sementara kita bawa saja pulang? Bagaimanapun, tidak ada peraturan sekolah yang mengatakan tentang memelihara babi di kompleks sekolah, kan?"

Jennings mendengus. "Otakmu perlu diperiksa! Kalau bicara soal itu, juga tidak ada peraturan sekolah yang melarang pemeliharaan sekawanan ubur-ubur di kolam renang, tapi pasti kau akan didamprat jika mencobanya. Selain itu," sambungnya, untuk lebih menjelaskan lagi kegawatan masalah yang dihadapi, "selain itu, ini sepuluh kali lebih gawat daripada muncul di sekolah dengan sembarangan babi pemberian orang. Hal yang rupanya tidak kausadari adalah bahwa kita takkan memenangkan binatang sialan itu, jika kita tidak melanggar instruksi Kepala Sekolah tadi."

Keduanya terdiam, mencari-cari alasan yang bisa dikemukakan nanti. Kepala Sekolah tadi jelas mengatakan bahwa mereka harus membantu Bu Thorpe selama tenaga mereka diperlukan, tapi ia juga melarang mereka ikut mengambil bagian dalam acara hiburan siang itu. Pasti sulit baginya untuk bisa menerima bahwa ikut bermain boling untuk memenangkan babi merupakan bagian dari tugas mereka mengatur dan membereskan kursi-kursi lipat.

Saat itu Bu Thorpe muncul dari tenda makanan dan minuman. "Kalian sudah mau pulang?" tanyanya dengan wajah berseri-seri. "Tolong sampaikan pada Pak Oakes nanti bahwa kalian anak-anak yang rajin."

"Baik, nanti kami sampaikan," kata Jennings. "Tapi masalahnya sekarang, kami saat ini belum bisa pulang ke sekolah karena... eh... karena ada sesuatu yang terjadi. Sesuatu yang merepotkan."

Bu Thorpe mendengarkan dengan penuh perhatian, semen tara Jennings menceritakan masalahnya dengan babi itu. Meski wanita itu tidak tahu apa-apa tentang instruksi Kepala Sekolah, ia bisa menerima penjelasan bahwa sekolah yang teratur baik mungkin tidak punya kemungkinan yang layak untuk memelihara ternak. Ia tidak tahu siapa yang memberikan babi yang dijadikan hadiah itu kepada panitia pesta, katanya. Lagi pula, rasanya tidak pantas apabila hadiah itu dikembalikan pada penyumbangnya, karena bisa saja orang itu akan menganggap pemberiannya tidak dihargai.

"Kita harus mencari penampungan yang lain untuknya," kata Bu Thorpe memutuskan. "Pasti banyak orang yang..." Ia berhenti sebentar, sementara matanya bersinar-sinar. Rupanya ia menemukan jalan. "Ya, tentu saja. Pak Arrowsmith, pemilik 'Pertanian Kettlebridge’. Dia punya peternakan babi. Kurasa ia pasti mau menerima seekor tamu cilik, jika kalian menanyakan kemungkinan itu dengan sopan."

Jennings dan Darbishire mengenal baik pertanian itu, karena jalan setapak yang ada dari kompleks sekolah ke desa Linbury melintasi ladang-ladang dan padang rumput yang dimiliki oleh Pak Arrowsmith, Tapi petaninya sendiri tidak begitu mereka kenai, meski--seperti semua teman sekolah mereka - keduanya selalu memberi hormat dengan sopan apabila kebetulan berjumpa dengan orang itu di tengah jalan.

Jennings dan Darbishire menyambut usul Bu Thorpe itu dengan gembira. Nampaknya itulah jalan terbaik untuk mengatasi kesulitan yang dihadapi.

"Taruh dia di belakang mobilku, Ronnie," kata Bu Thorpe pada pemuda berkemeja kotak-kotak, yang ketika itu muncul lagi dengan karung yang berisi sesuatu yang sangat kecil tapi tidak henti-hentinya bergerak. Kemudian Bu Thorpe berkata lagi pada kedua anak itu, "Kalian ikut saja dengan aku sekarang. Kuantar kalian ke tempat pertanian itu. Nanti kalian jelaskan saja duduk perkaranya kepada Pak Arrowsmith. Aku yakin, dia pasti mau menolong."

Kendaraan Bu Thorpe ternyata merupakan mobil yang biasa dipakai di tempat pertanian. Keadaannya sudah begitu tua dan, lusuh, sehingga adanya seekor babi kecil di tempat barang sama sekali tidak nampak aneh. Jennings dan Darbishire duduk di depan babi itu. Bu Thorpe sendiri yang mengemudikan mobil itu. Nyaris saja ia menyerempet trailer Kepala Sekolah sewaktu hendak melewati gerbang pekarangan rumah pendeta. Kemudian diambilnya jalan yang menuju ke Pertanian Kettlebridge.

Dalam waktu lima menit mereka sudah tiba di sana. Tidak nampak seorang pun di situ ketika mobil meluncur masuk, melewati tempat pemerahan sapi dan akhirnya berhenti di depan pintu kandang babi yang tempatnya seratus meter lebih jauh.

"Kita cari dulu tempat untuk menaruhnya, lalu kalian pergi ke rumah petani itu untuk menjelaskan," kata Bu Thorpe, sementara mereka semua turun dari mobil.

Darbishire nampak gelisah. "Anda tidak mau ikut untuk menanyakan?" desaknya pada Bu Thorpe. "Mungkin kedengarannya lebih enak jika yang menanyakan seorang dewasa."

Bu Thorpe tertawa geli. "Omong kosong! Pak Arrowsmith takkan memakan kalian. Lagi pula, aku saat ini tidak ada waktu, karena harus buru-buru kembali ke rumah pendeta untuk mengawasi orang-orang yang membersihkan tempat itu."

Suara berisik babi kecil itu mengganggu ketenangan suasana sore itu, semen tara mereka bertiga mencari-cari tempat penampungan sementara bagi penumpang dalam karun,g yang masih tetap berada di bak tempat barang. Di sebelah kanan mereka terdapat bangunan tempat babi-babi betina melahirkan, dan di kiri nampak sederetan kandang babi yang dibuat dari batu bata. Tiap kandang terdiri atas ruang dalam yang terletak di sebelah belakang, sementara di depannya ada semacam serambi terbuka berlantai beton, dengan pagar yang terbuat dari batang-batang besi.

Sebagian besar kandang-kandang itu ada isinya: babi-babi betina yang tidur-tiduran di serambi depan kandang masing-masing, sementara anak-anak mereka lari keluar masuk ruang tempat tinggal yang di sebelah belakang.

"Sebaiknya dia jangan kita masukkan ke salah satu kandang ini, karena nanti terjadi perkelahian," kata Jennings, sementara mereka berjalan lewat di depan kandang-kandang berisi anak-anak babi yang ribut menguik-uik itu. Tapi sesampai di ujung deretan kandang itu mereka menjumpai kandang yang serambi depannya kosong. Di dalam kelihatannya juga tidak ada penghuninya.

"Bagaimana kalau di sini saja? Kita masukkan saja kemari, untuk sementara," kata Jennings. Bu Thorpe kembali ke mobilnya, untuk membawa kendaraan itu ke depan kandang yang nampak kosong itu agar anak-anak tidak terlalu repot.

Sebenarnya, meski kelihatan lengang, kandang itu ada isinya. Penghuni itu sedang tidur di ruang belakang. Namanya megah, yaitu Kettlebridge Susannah Kedelapan, babi betina jenis Landrace terbagus yang pernah dibesarkan oleh Pak Arrowsmith selama sekian tahun pengalamannya sebagai peternak babi. Nama itu memang cocok dengan penampilan Susannah. Penampilannya agung, memiliki segala ciri yang baik dari jenisnya, dan dikembangkan hingga mencapai kesempurnaan. Dua minggu lagi babi betina itu akan diperagakan dalam Pameran Pertanian Daerah. Pemiliknya yang membanggakan babi-babinya itu sedikit pun tidak merasa sangsi bahwa Susannah nanti bukan saja memenangkan hadiah pertama dalam kelasnya, tapi juga akan meraih kehormatan sebagai juara pertama untuk seluruh kawasan East Sussex.

Saat itu Susannah Kedelapan, babi kebanggaan peternakan Kettlebridge, sedang berbaring di atas hamparan jerami sambil mendengkur pelan, tanpa menyadari adanya suatu rencana yang akan mengganggu kesendiriannya di dalam kandang pribadinya.

Jennings membuka pintu belakang mobil. Lalu, dibantu Darbishire, diangkatnya kantong yang isinya bergerak-gerak terus itu dari bak belakang, diletakkannya pelan-pelan di lantai beton berukuran tiga meter persegi yang terdapat di balik pagar. Setelah itu dibukanya tali pengikat karung, dan dengan pelan pula dikeluarkannya babi kecil itu dari dalamnya.

Kemudian, untuk pertama kali ia bisa melihat dengan jelas hadiah yang dimenangkannya tanpa niat itu. Darbishire ikut melihat, bersama Bu Thorpe: ketiga-tiganya langsung mengernyitkan muka, menarik napas dalam-dalam lalu menggeleng-geleng sedih, karena melihat apa yang nampak di depan mata mereka.

Pada kebanyakan anak babi seperindukan, selalu ada seekor di antaranya yang tidak memenuhi harapan; anak babi yang begitu lemah dan kurus, begitu kikuk dan jelek, sehingga setiap petani yang punya harga diri pasti akan senang apabila bisa menyingkirkannya.

Hadiah yang dimenangkan Jennings merupakan contoh babi yang takkan membanggakan siapa pun yang menjadi pemiliknya. Penampilannya kerdil dan tidak mengenakkan mata: kaki-kaki belakangnya bengkok, dan kaki-kaki depannya pengkor; telinga terkulai, punggungnya melengkung ke bawah, dan ekornya tergantung lurus ke bawah seperti sepotong tali; matanya tidak bersinar, dan kulitnya kedodoran seperti pakaian yang satu nomor lebih besar dari seharusnya. Sudah jelas, babi itu merupakan ternak yang penampilannya sangat menyedihkan!

"Hm! Dia takkan pernah bisa memenangkan hadiah di Pameran Daerah," kata Bu Thorpe.

Selama beberapa saat babi kecil itu tetap berdiri di tempat Jennings meletakkannya tadi. Ia memandang berkeliling dengan sikap ragu dan lesu. Kemudian, ketika menyadari bahwa ia berada di lingkungan asing, babi itu lari masuk ke ruang dalam, lalu meringkuk di atas jerami di salah satu sudut yang gelap.

Kettlebridge Susannah Kedelapan tidur terus, sedikit pun tak merasa terganggu oleh endusan babi kecil yang diindekoskan di dalam kandangnya.

"Nah... sekarang sebaiknya aku buru-buru saja kembali ke rumah pendeta." Bu Thorpe membuka pintu mobilnya. "Dia akan aman di situ, sementara kalian berdua pergi mencari Pak Arrowsmith."

"Kami akan melakukannya dengan segera," kata Jennings berjanji. "Dan terima kasih banyak atas bantuan Anda."

Mobil Bu Thorpe berjalan mundur melewati kandang-kandang babi, lalu menghilang di balik tempat babi-babi betina melahirkan. Jennings dan Darbishire berlari-lari kecil ke arah berlawanan, menuju ke rumah petani yang terletak di atas tanah yang agak tinggi, agak jauh di sebelah kanan.

Ketika sudah menempuh jarak sekitar dua ratus meter, tiba-tiba Darbishire berkata, "Mudah-mudahan saja orangnya ada di rumah. Kita harus sudah kembali ke sekolah sebelum Pak Wilkie dengan rombongan pikniknya pulang, kalau tidak ingin didamprat habis-habisan."

"Kita pasti bisa. Jangan panik." Jennings sudah merasa riang lagi, karena beranggapan bahwa kesulitannya sebentar lagi pasti akan sudah berakhir. "Aku cukup senang dengan kesibukan kita siang ini - tentu saja kecuali memenangkan babi itu," katanya. "Aku bahkan berpendapat, tidak diizinkan ikut piknik tadi merupakan salah satu hukuman paling enak yang pernah kualami sejak sekian waktu."

Sementara itu mereka sudah sampai di pintu pagar pekarangan rumah petani itu. Saat itu secara kebetulan saja Jennings menoleh ke belakang, memandang ke arah bangunan-bangunan di kaki lereng yang baru saja mereka tinggalkan.

"He, itu dia Pak Arrowsmith! Di sana, dekat tempat ternak babi," katanya. "Kita ternyata buang-buang waktu saja kemari untuk melihat apakah dia ada di rumah."

Darbishire mengikuti arah acungan jari Jennings. Dilihatnya dua orang bertubuh besar muncul dari balik sudut bangunan tempat babi-babi betina melahirkan. "Ya, itu Pak Arrowsmith," katanya sependapat. "Tapi siapa yang satu lagi itu, yang bercakap-cakap dengan dia? Pasti bukan orang sini, karena aku belum pernah melihatnya di sekitar sini."

"Memangnya kenapa?" kata Jennings sambil mengangkat bahu tanda tak peduli. "Pak Arrowsmith kan tidak perlu minta izin padamu dulu sebelum ia mengajak orang melihat-lihat peternakannya?" Jennings berpaling, lalu menuruni jalan setapak yang baru saja mereka daki.

"Yuk, Darbi, kita datangi mereka sebelum mereka pergi lagi."

Sebetulnya tidak ada misteri mengenai identitas pria asing bertubuh jangkung dengan setelan kain tweed tipis yang diajak berkeliling peternakan untuk melihat-lihat oleh pemilik tempat itu. Namanya Tom Weston, dan seperti temannya Jim Arrowsmith, ia juga seorang petani yang beternak babi-babi jenis Landrace. Tempat pertaniannya terletak beberapa mil dari Linbury. Ia datang dengan mobilnya sore itu untuk melihat Kettlebridge Susannah Kedelapan dan memberikan pendapat mengenai peluang babi itu dalam Pameran Daerah. Sebelumnya kedua pria itu mampir dulu di tempat pemerahan sapi untuk melihat beberapa mesin yang baru. Ketika mereka sedang di situlah Bu Thorpe datang bersama Jennings dan Darbishire. Jadi keduanya sama sekali tidak tahu bahwa sementara itu telah terjadi sesuatu yang luar biasa. Kini, sementara keduanya berjalan menuju ke tempat pemeliharaan babi, wajah Pak Arrowsmith berseri-seri, membayangkan reaksi temannya nanti. Atraksi terbesar untuk sore itu sengaja disimpannya sampai saat terakhir.

"Yuk, kau harus melihatnya, Tom," katanya sambil mengajak temannya bergegas lewat di depan kandang-kandang yang penuh dengan anak babi yang menguik-uik. "Dia benar-benar indah. Aku mengurus babi betina itu seolah-olah dia anakku sendiri."

"Begitu, ya?!" Pak Weston tidak berniat untuk terlalu memuji-muji nanti. Meski bersahabat, ia merupakan saingan sengit Pak Arrowsmith dalam kompetisi babi jenis Landrace. "Jadi menurutmu, dia punya peluang untuk menang?"

"Peluang untuk menang?" Pak Arrowsmith tersinggung mendengar ucapan temannya yang bernada meremehkan. "Kau rupanya asal ngomong saja, Tom. Dia pasti menang! Susannah adalah babi betina terbagus yang pernah dibiakkan selama sekian tahun di kawasan sini. Tunggu saja sampai kau melihatnya nanti!"

Sambil mengucapkan kata-kata penuh keyakinan itu Jim Arrowsmith berjalan mendului, menuju kandang terakhir di deretan itu. Sewaktu keduanya datang menghampiri, ruang luar kelihatan kosong. Petani pemilik peternakan itu mengejapkan mata ke arah temannya sambil bercanda, menyikut rusuk orang itu.

"Kau pasti akan tercengang melihatnya, Tom. Aku berani bertaruh, kau pasti seumur hidupmu belum pernah melihat babi betina seperti dia."

Peternak yang bangga itu berseru memanggil-manggil, "Kemarilah, Susannah! Ayo keluar, Susannah!"

Terdengar bunyi gemerisik hamparan jerami di ruang tidur, sementara sesuatu berkaki empat muncul di serambi depan. Sesuatu itu seekor babi, atau tepatnya karikatur yang keterlaluan dari seekor babi: kerdil, jelek dengan punggung melengkung ke bawah, kaki-kaki belakang bengkok, lutut kaki-kaki depan saling bersentuhan, ekor lurus, mata berair, dan kulit berwarna kelabu kusam.

Babi kecil itu maju beberapa langkah lalu terbatuk pelan, seakan akut mengganggu Kettlebridge Susannah Kedelapan yang masih enak-enak tidur di ruang belakang yang sempit.

Pak Arrowsmith nyaris saja mengalami serangan jantung.

"Apa-apaan ini, ha? Apa ini!" serunya. Ia berpaling ke temannya yang terpingkal-pingkal. Begitu gelinya Tom Weston, sampai air matanya bercucuran. Ia terbungkuk-bungkuk tertawa, sambil berpegangan pada dinding kandang agar tidak jatuh.

"Jadi dia ini babi betinamu yang termasyhur itu ya, Jim?" katanya dengan suara putus-putus di sela tawanya yang belum juga habis. "Kau pasti akan memenangkan hadiah pertama dengannya! Hadiah pertama untuk kelas babi berpunggung seperti unta, bertelinga seperti anjing spanil, berekor seperti tikus! Jenis Landrace yang dikawinsilangkan dengan trenggiling." Ia menyeka air matanya yang membasahi pipi. "Benar-benar lelucon yang bagus. Kau berhasil mempermainkan aku, sungguh!"

Pak Arrowsmith tersinggung, dan berpaling memandang temannya dengan sengit. "Lelucon! Apa maksudmu, lelucon?"

"Menipu aku, bahwa kau membiakkan babi calon juara dan menyebabkan aku datang sejauh lima mil untuk melihatnya."

"Tapi aku sungguh-sungguh punya juara! Babi betina terbagus di kawasan sini! Kalau aku berhasil membekuk badut yang memasukkan makhluk jelek ini ke dalam kandang Susannah, dia akan ku... akan ku..."

Pak Arrowsmith tidak meneruskan kalimatnya, karena saat itu dilihatnya dua anak lelaki datang berlari-lari ke arahnya. Anak yang lebih jangkung, yang bergegas mendului temannya, menghentikan larinya di samping kandang itu lalu memandang petani yang marah-marah itu sambil tersenyum polos.

"Selamat sore, Pak Arrowsmith," kata anak itu dengan sopan, "kami punya kabar baik untuk Anda... kami membawakan seekor babi kecil yang manis untuk Anda, sebagai penambah koleksi."

Untuk kedua kalinya dalam waktu tidak sampai semenit Pak Arrowsmith harus memaksa diri untuk mengendalikan perasaannya.

"Kau yang melakukan ini?!" katanya berteriak. "Kau yang memasukkan binatang jelek ini sekandang dengan babi betina juaraku?!"

Kedua anak itu nampak heran mendengarnya. "Kami sangka tadi, kandang ini kosong," kata Jennings membela diri.

"0, jadi begitu sangkamu, ya? Nah, sangkaanmu itu keliru!"

Seakan hendak menegaskan kebenaran ucapannya itu, seekor babi lagi muncul di ambang jalan masuk ke ruang belakang yang sempit seekor babi jenis Landrace yang bagus sekali potongannya: berpunggung lurus, mata bersinar cerah, ekor melingkar, dan telinga menjorok ke depan. Itulah Kettlebrdge Susannah Kedelapan, yang terbangun mendengar suara keras tuannya, lalu pergi ke luar untuk melihat kenapa ada keributan di situ.

Tom Weston bersiul kagum sewaktu melihat babi betina itu.

"Huih! Kalau dia ini memang pasti bisa menang, Jim. Babi terbagus yang pernah kulihat selama bertahun-tahun belakangan ini!"

Tapi saat itu bukan waktu yang tepat untuk menilai kehebatan babi itu, karena saat itu pula Susannah melihat tamu tak diundang yang mengendus-endus dekat palung tempat makanannya.

Susannah menyerbu ke depan untuk menyerang. Pak Arrowsmith cepat-cepat meloncat masuk ke kandang sambil berteriak kaget. Disambarnya kaki-kaki belakang babi kecil itu dan ditariknya cepat-cepat untuk dijauhkan dari Susannah.

"Hebat, Pak Arrowsmith! Anda berani," kata Darbishire memuji, sementara petani itu keluar lagi dengan melangkahi dinding sambil memegang erat kaki-kaki belakang babi kecil yang menggeliat-geliat. "Binatang besar gendut itu nyaris saja mencincang si kecil ini kalau Anda tidak cepat-cepat menyelamatkannya."

Jim Arrowsmith mendengus sebal. "Bagiku, masa bodoh apa yang terjadi dengan si kerdil jelek ini. Yang kucemaskan adalah Susannah. Bayangkan jika kulitnya sampai tergores!" Ia bergidik membayangkan kemungkinan itu.

"Mau apa kalian sebenarnya? Berani-beraninya mempermainkan aku!" tukasnya marah-marah.

"Kami sama sekali tidak bermaksud melucu. Sungguh! Soalnya begini - saya memenangkan babi ini di pesta gereja Linbury, dan kami berharap..."

"Di mana katamu, kau memenangkannya?" tanya Tom Weston.

"Di pesta gereja. Saya menang dalam permainan boling dengan babi kecil itu sebagai hadiahnya. Kenapa?"

"Ah, tidak, tidak apa-apa, aku cuma ingin tahu saja." Pria jangkung kekar itu berpaling, pura-pura mengagumi pemandangan. Padahal ia hendak menyembunyikan senyumannya.

Tapi Pak Arrowsmith sama sekali tidak geli. Ia juga tidak tersenyum. "Ini perbuatan yang tidak pantas! Mengganggu ketenangan babi betinaku, merusak peluangnya, dan menimbulkan risiko terhadap kesehatannya; binatang jelek ini mengembuskan kuman-

-kuman ke palung tempat makanan." Disodorkannya babi kecil itu ke dalam pelukan Jennings. "Bawa dia pergi, saat ini juga! Aku tidak mau dia bersentuhan dengan babi-babiku."

"Tapi, Pak Arrowsmith..."

"Saat ini juga, kataku! Kau dengar tidak?! Jauhkan dia dari mataku sebelum 'aku..." Petani itu tidak bisa melanjutkan kalimatnya, karena sudah terlalu marah.

Jennings pasti sudah meremas-remas tangannya karena bingung, jika ia saat itu tidak menggendong babi kecil yang menggeliat-geliat. "Tapi saya tidak bisa membawanya pergi dari sini. Menggendongnya saja, saya tidak mampu. Dia tidak mau diam, sih!"

Saat itu sebuah traktor yang menghela sebuah gerobak lewat dengan suara berisik di sebelah ujung tempat peternakan babi itu, menuju pintu pagar luar. Pak Arrowsmith memanggil pengemudinya dan menyuruhnya datang.

"Aku punya pekerjaan untukmu," katanya kepada pekerja yang mengemudikan traktor itu.

"Bawa kedua anak ini - dan babi jelek mereka - ke sekolah dan tinggalkan mereka di sana."

"Tapi kami tidak diperbolehkan memelihara babi di sekolah!" seru Darbishire cemas. "Apa yang harus kami katakan nanti kepada Kepala Sekolah?"

"Itu urusan kalian! Mestinya itu sudah kalian pikirkan tadi! Aku sudah bosan melihat kalian dan babi kalian itu!"

Pak Arrowsmith mengayunkan lengannya, menaruh babi itu di dalam gerobak yang kosong, lalu membantu anak-anak menyusul naik. Kemudian diberinya isyarat kepada pengemudi traktor untuk berangkat. Petani itu berdiri sambil memandang terus, sementara kedua penumpang yang sedih beserta babi mereka yang jelek itu terlambung-lambung dalam gerobak ketika traktor dikemudikan kembali menuju pintu pagar luar.

Ketika mereka sudah pergi, Jim Arrowsmith berpaling pada temannya. "Sekarang kita bisa melihat Susannah dengan tenang. Ck! Seenaknya saja, memasukkan binatang kerdil itu ke dalam kandangnya."

Pak Weston merenung sambil mengusap-usap dagu. "Aneh, tentang babi tadi itu," katanya. "Begitu anak itu mengatakan di mana ia memperolehnya, aku langsung menebak bahwa itu pasti salah satu babi milikku."

"Milikmu?!"

"Ya. Ada seseorang dari panitia pesta gereja menelepon aku untuk meminta seekor babi guna disediakan sebagai hadiah. Yah, aku tentu saja tidak mau memberi babi yang bagus, jadi kukatakan saja pada pekerja yang mengurus babi-babiku untuk memilih salah satu yang paling jelek dan mengirimnya ke Linbury,"

Alis Pak Arrowsmith terangkat karena heran, "Kenapa tidak kaukatakan tadi kalau begitu? Kenapa tidak kauambil kembali ketika mereka mengatakan tidak menginginkannya?"

Pelan-pelan muncul senyuman kecil di wajah Pak Weston, menyebabkan ujung-ujung bibirnya berkerut sedikit. "Kaukira aku ini siapa?! Apabila ada seekor babi kerdil lahir seperindukan, tindakan yang paling baik adalah cepat-cepat menyingkirkannya, tanpa berpikir panjang lagi."

Ia kembali mengarahkan perhatiannya ke dalam kandang. "Nah, Jim, tentang babi betinamu...”

7. BABI DI SEKOLAH

ROMBONGAN anak-anak yang berpiknik pulang pukul setengah tujuh malam. Mereka turun dari bus yang berhenti di depan jalan masuk sebelah belakang pekarangan sekolah. Mereka kepanasan, capek, tapi bergembira. Mereka melangkah dengan gontai di jalan berdebu, lewat di sisi kolam yang terdapat di ujung lapangan bermain.

Venables, Temple, dan Atkinson berjalan paling belakang, agak jauh dari teman-teman lainnya. Saat itu mereka melihat sebuah traktor yang menghela gerobak kosong berjalan ke arah mereka, hendak keluar lewat belakang.

"Salah satu milik Pak Arrowsmith," kata Temple, sementara kendaraan itu menderu diselubungi debu berkepul-kepul. "Kenapa keluarnya lewat belakang? Debunya menyebabkan napas sesak saja. Padahal mereka selalu masuk lewat depan, apabila datang mengambil sisa-sisa makanan untuk diberikan pada babi."

"Dia tidak datang untuk mengambil sisa makanan, karena gerobak di belakangnya kosong," kata Atkinson. "Lagi pula, bukan urusannya dia mau keluar lewat mana. Ini kan negara bebas."

Mereka lantas melupakan kejadian itu, sampai mereka tiba dekat sekelompok rumah kaca dan beberapa bangunan tambahan di dekat kebun Kepala Sekolah; dari situ ada jalan utama yang langsung menuju ke gedung sekolah, dan sebuah lorong kecil yang bercabang dari situ ke arah kebun sayur.

Di situ mereka menjumpai Darbishire. Anak itu sedang berjongkok di balik sebuah tong tempat penampungan air hujan sambil mengintip ke luar. Ketika ketiga temannya yang baru pulang dari piknik sudah sampai di dekatnya, ia bangkit dan meninggalkan tempat persembunyiannya itu.

"Untung cuma kalian," kata Darbi menyambut mereka. "Aku tadi harus cepat-cepat sembunyi sewaktu Pak Carter lewat bersama Pak Wilkins. Tapi kurasa kini sudah aman, jadi aku bisa keluar."

"Kenapa? Apa yang terjadi? Kusangka kau seharusnya tidak boleh keluar dari gedung," kata Venables.

Darbishire menepuk-nepuk sisi hidungnya dengan jari, sebagai isyarat bahwa ada rahasia. "Aku sedang menjaga keamanan. Aku menunggu di sini untuk buru-buru memberi tahu Jennings, apabila ada guru lewat. Dia sedang ke kebun sayur untuk mengambil makanan babi segerobak."

Tentu saja Venables beserta kedua temannya langsung ingin tahu apa yang telah terjadi. Darbishire lantas menceritakan segala pengalaman sial mereka sore itu.

"Kami minta pada orang yang membawa traktor agar masuk lewat belakang, supaya tidak berjumpa siapa-siapa," katanya mengakhiri ceritanya. "Orang itu baik hati, mau saja menolong. Dia menolong memasukkan babi itu ke dalam bangunan tempat memindahkan tanaman muda ke dalam pot. Dia juga mengatakan makanan apa yang harus diberikan pada binatang itu."

"Tapi dia kan tidak bisa dibiarkan terus berada dalam bangunan itu," kata. Atkinson mengomentari.

"Ya, itu juga kami tahu. Saat ini kami belum tahu apa yang harus dilakukan selanjutnya."

"Tapi apa kata Kepala Sekolah nanti, jika ia mengetahui bahwa kalian..." Kalimat Atkinson terputus, karena saat itu Jennings yang datang dari kebun sayur muncul dari balik sudut bangunan. Ia mendorong gerobak berisi daun-daun kubis, kulit roti yang keras, kulit kentang, dan sisa-sisa bubur dari tujuh puluh sembilan piring yang disajikan untuk sarapan murid-murid pagi tadi.

Darbi, sebagai petugas keamanan, melambaikan tangan menyuruhnya terus. "Keadaan aman!" katanya pada Jennings. Lalu ia berbalik kembali kepada ketiga temannya. "Jika kalian ingin membantu, tolong jaga pintu sementara Jen membawa makanan itu masuk. Jangan sampai babi itu lari!"

Jennings menghentikan gerobak yang didorongnya di luar bangunan tempat babi disembunyikan. Venables, Temple, dan Atkinson merunduk di depan pintu masuk dengan kedua lengan terbentang, siap untuk menangkap. Darbishire membuka pintu bangunan itu sedikit saja, cukup untuk bisa dilewati Jennings dengan gerobaknya.

"Dia memakannya," kata peternak amatir itu ketika ia keluar lagi beberapa menit kemudian. "Wah, rakusnya bukan main." Ia masuk ke rumah kaca yang paling dekat, lalu keluar lagi dengan membawa ember berisi air yang diambilnya dari tong air. Sekali lagi pintu bangunan tempat babi dibuka secelah, lalu ember berisi air minum itu didorong masuk.

"Yuk! Kita tidak boleh lebih lama lagi berada di sini, karena nanti pasti ada guru yang ribut-ribut," Jennings berbalik, lalu mendului berjalan menyusur jalan tanah menuju lapangan bermain. Saat itu Pak Hind yang bertugas mengawasi di situ. Ketika melihat Jennings dan Darbishire, digamitnya kedua anak itu agar mendekat, sementara yang lain-lain disuruhnya terus.

"Ke mana saja kalian selama ini?" tanya guru itu. "Kudengar dari Kepala Sekolah bahwa kalian harus datang untuk menonton permainan cricket anak-anak kelas atas, apabila tugas yang diberikan olehnya sudah selesai kalian kerjakan." Pak Hind masih muda, bertubuh jangkung, dan berwajah pucat. Ia mengajar kesenian dan musik di semua kelas.

Otak Jennings bekerja keras. Pak Hind nampaknya tidak terlalu mempedulikan kepergian mereka yang begitu lama. Jadi ada kemungkinan, dia hanya secara samar-samar saja mengetahui maksud Kepala Sekolah.

"Begini, Pak, Kepala Sekolah membawa kami ke pesta jemaah gereja di desa itu untuk mengatur kursi-kursi di sana dan membantu-bantu Bu Thorpe," katanya menjelaskan. "Lalu karena satu dan lain hal kami-yah, bisa dibilang-kami tertahan di sana."

"Begitu, ya ?!"

"Betul, Pak, tapi sekarang kami sudah kembali... eh... jadi..." Jennings tidak meneruskan kalimatnya, karena teringat pada babi yang ada di dalam bangunan tadi. "Anda mungkin tahu apakah Kepala Sekolah juga sudah kembali, Pak? Ada sesuatu yang menyebabkan saya mungkin perlu bicara dengan dia."

"Malam ini pasti tidak bisa, karena saat ia pulang nanti kalian pasti sudah di tempat tidur," kata Pak Hind. Ia menuding dengan tegas ke arah ruang makan. "Sana, masuklah! Sudah waktunya bagi kalian untuk mendapat susu dan biskuit."

Kesulitan pertama teratasi: Jennings dan Darbi telah berhasil mengelakkan diri dari Pak Hind, tapi itu tidak menghibur perasaan mereka, karena ada masalah lebih serius yang masih harus dihadapi.

Apa yang bisa dilakukan dengan babi itu? Ketika sudah berada di ruang tidur malam itu Jennings dan Darbishire membicarakan masalah mereka dengan ketiga teman lainnya, dengan harapan akan bisa menemukan jalan keluar. Tapi jalan keluar itu tidak ada. Akhirnya semua terpaksa sepakat bahwa satu-satunya yang bisa dilakukan adalah kedua pemeran utama dalam kejadian itu harus selekas mungkin menghadap Pak Pemberton-Oakes dan mengakui kesalahan mereka.

"Usahakan agar kalian menyampaikannya dengan hati-hati," kata Venables menasihati. "Jangan dikatakan, 'Pak, ada babi di bangunan tempat pemindahan tanaman ke dalam pot, karena kami melanggar instruksi Anda!' Kalian harus bijaksana, Bumbui dengan basa-basi tentang ingin berbuat baik pada binatang yang malang, atau kurang lebih begitulah."

"Tidak bisakah urusan ini kita undurkan dulu sampai suatu saat minggu depan?" kata Darbishire dengan nada cemas. "Siapa tahu, mungkin saja kita bisa menemukan seseorang yang mau mengambil alih babi itu, jika kita berpikir-pikir selama satu-dua hari."

Temple menggeleng. "Terlalu riskan! Kalian harus memberinya makan dua kali sehari. Kapan-kapan pasti akan ada yang melihat kau atau Jen mengacak-acak tempat sampah. Kalau sudah begitu, kalian mau bilang apa?"

"Mereka bisa bilang bahwa mereka lapar," kata Atkinson. Ia bisa saja mengajukan saran-saran secara bercanda, karena ia secara pribadi tidak terlibat dalam urusan itu. Tapi kemudian ia melanjutkan dengan lebih serius, "Semakin lama kalian mengundurkannya, semakin bertambah besar pula kemungkinannya Kepala Sekolah masuk ke bangunan itu, untuk mengambil sekop kecil atau entah apa."

Jennings mengangguk sebagai pernyataan bahwa ia sependapat. Mendingan mengaku saja secara sukarela, daripada kemudian ketahuan.

"Kita akan mengatakannya padanya besok, Darbi. Langsung setelah selesai sarapan pagi," katanya memutuskan.

Keesokan harinya adalah hari Minggu. Pada pagi yang sejuk dan cerah itu, gagasan untuk pergi menghadap Pak Pemberton-Oakes terasa semakin tidak menyenangkan saja.

Mungkin saat setelah acara ke gereja merupakan waktu yang lebih tepat, kata Jennings dalam hati, sementara ia menikmati hidangan telur rebus matang di meja sarapan. Mungkin saat itu Pak Pemberton-Oakes mau lebih bermurah hati, setelah menyanyikan mazmur-mazmur tentang belas kasihan dan pengampunan. Tapi pengunduran ternyata fatal akibatnya.

Selesai acara kebaktian, Pak Pemberton-Oakes keluar lewat pintu yang satu sementara anak-anak disuruh keluar melewati pintu yang lain. Pak Wilkins, yang saat itu bertugas sebagai pengawas, tidak mau mendengarkan Jennings yang memohon-mohon: Anak itu disuruhnya langsung masuk ke ruang kelasnya, untuk menulis surat kepada orang tuanya yang biasa dilakukan seminggu sekali.

Selesai menulis surat, sudah tiba lagi waktu untuk makan siang; setelah selesai makan siang dan acara-acara untuk siang itu diumumkan, barulah Jennings dan Darbishire menemukan peluang untuk menyelinap pergi, menuju ke ruang kerja Kepala Sekolah.

Acara siang itu ada pengaruhnya terhadap kejadian-kejadian yang menyusul setelah itu; jadi mungkin tidak ada salahnya jika acara itu dipaparkan di sini.

Biasanya, seluruh sekolah pergi berjalan-jalan pada Minggu siang. Tapi pada waktu menjelang pertengahan musim panas, saat hawa sudah terlalu panas untuk melakukan kegiatan jasmani, acara jalan-jalan itu dibatalkan. Sebagai pengganti, murid-murid disuruh ke lapangan bermain dengan membawa buku bacaan, album prangko, atau berbagai alat permainan dalam rumah, dan di situ menyibukkan diri mereka selama satu jam dengan rekreasi yang tenang.

Itulah acara untuk siang itu. Dan pukul setengah tiga anak-anak pergi ke luar untuk membaca buku atau menyibukkan diri dengan hobi mereka di bagian yang teduh dari lapangan bermain.

Venables membawa buku yang dipinjamnya dari perpustakaan, Bromwich menenteng kamera fotonya, sementara Temple dan Martin-Jones menenteng bloknot. Mereka hendak bermain cricket di luar. Rumbelow dan Atkinson membawa papan catur, sementara Binns dan Blotwell, kedua murid termuda di sekolah itu, membawa papan besar dengan teka-teki menyusun gambar yang terdiri atas lima ratus keping potongan gambar. Kalau sudah selesai disusun secara benar, akan diperoleh gambar yang menampakkan satria-satria berselubungkan baju besi sedang menyerbu sebuah kastil Abad Pertengahan. Kedua anak itu sudah mulai dengan penyusunannya sejak hari pertama masa sekolah musim panas dimulai.

Mereka sudah berhasil menyusun empat ratus lima puluh enam potongan, dan mereka berharap akan sudah bisa menyelesaikannya pada saat mereka harus masuk lagi satu jam kemudian. Kedua anak itu berjalan membawa papan dengan teka-teki itu dengan hati-hati sekali.

Mereka khawatir, gerakan yang agak mengejut atau tabrakan dengan anak lain akan menyebabkan papan lebar persegi empat berisi hasil kerajinan mereka yang sudah hampir selesai itu akan berantakan lagi.

Pukul tiga kurang seperempat, tujuh puluh tujuh dari ketujuh puluh sembilan murid penghuni sekolah Linbury Court yang dilengkapi dengan asrama itu sudah menyebar di sekeliling lapangan, sibuk dengan rekreasi masing-masing.

Penghuni yang dua lagi-yang terdaftar sebagai Jennings, J.C.T. dan Darbishire, C.E.J.-berdiri di luar ruang kerja Kepala Sekolah, menunggu jawaban atas ketukan di pintu yang dilakukan oleh Jennings.

Tapi tidak terdengar jawaban dari dalam. Lima menit sebelum itu, Pak Pemberton-Oakes keluar untuk pergi ke kebunnya, menikmati kehangatan sinar matahari sambil mengagumi tanaman mawarnya. Hawa saat itu begitu panas, sehingga ia memutuskan untuk mengisi waktu siang itu dengan membaca sambil duduk di kursi malas. Tapi sebelum melakukannya, ia masih hendak berjalan-jalan sebentar sampai ke lapangan bermain, melihat bagaimana anak-anak menikmati acara Minggu siang itu.

Sewaktu sedang lewat di depan bangunan tempat memindahkan tanaman ke dalam pot, didengarnya ada bunyi gemerisik. Datangnya dari dalam bangunan itu. Jangan-jangan ada tikus di situ! Atau mungkin seorang anak yang hendak berbuat iseng?

Kepala Sekolah berseru dengan galak, "Siapa itu di dalam? Ayo cepat keluar, siapa pun yang berada di dalam bangunan ini!"

Tidak terdengar suara anak menjawab, tapi bunyi gemerisik tadi masih terdengar terus. Pak Pemberton-Oakes mendatangi bangunan itu dengan perasaan heran. Diangkatnya palang pintu, lalu dibukanya pintu lebar-lebar. Saat itu juga sesuatu yang kecil dan berkaki empat melesat ke luar, lewat di antara kedua kaki Kepala Sekolah. Makhluk kecil itu lari terus, secepat-cepatnya.

Kepala Sekolah memandangnya dengan heran. Kenapa ada babi di sini? tanyanya pada diri sendiri. Binatang itu harus dengan segera ditangkap, sebelum sempat menimbulkan kerusakan! Ia bergegas mengejar dengan langkah-langkah kecil seperti selayaknya dilakukan Kepala Sekolah.

Membicarakan tentang kerusakan, babi kecil itu sudah meninggalkan bekas kekacauan karena ulahnya. Mula-mula ia lari masuk ke kebun Kepala Sekolah, menerobos petak-petak bunga sehingga banyak tanaman yang tercabut sampai ke akar-akarnya dan terpental ke segala arah. Kemudian diterobosnya pagar tanaman. Ia lari menuju lapangan bermain. Benda pertama yang dijumpainya adalah papan lebar yang di atasnya ada teka-teki gambar yang terdiri atas lima ratus potongan.

Binns dan Blotwell meloncat karena kaget ketika babi itu lari di antara mereka, terpeleset-peleset melewati papan dan menceraiberaikan empat ratus lima puluh enam potongan gambar yang sudah tersusun rapi.

Dua detik kemudian babi itu melesat ke bawah kursi lipat yang saat itu sedang diduduki Pak Wilkins. Ia menabrak kaki-kaki penyangga kursi itu, sehingga guru itu jatuh telentang.

Di sekeliling lapangan, anak-anak bangkit dengan cepat lalu memburu makhluk kecil itu, dengan harapan akan bisa menangkapnya. Tapi usaha mereka sia-sia. Manusia, yang berkaki dua, kecil kemungkinannya bisa mengejar binatang lincah berkaki empat; dan babi itu, meski kerdil, lincahnya bukan main. Ia lari bolak-balik di lapangan, sementara anak-anak ramai mengejar. Tiga kali nampaknya ia hampir tertangkap, tapi setiap kali ia masih berhasil menggeliat sehingga terlepas lagi.

"Ini sudah keterlaluan," kata Kepala Sekolah mengomel pada Pak Wilkins, sementara mereka menonton keributan itu. Saat itu babi kecil itu sudah sampai di lapangan cricket, di mana kuku-kukunya mencabik-cabik rumput yang terpelihara rapi setiap kali ia mengubah arahnya.

"Lihatlah, kerusakan yang ditimbulkannya di lapangan Kesebelasan Utama! Jika dia tidak dengan segera ditangkap, kita terpaksa akan membatalkan semua pertandingan yang masih akan dilangsungkan selama masa sekolah sekarang ini.”

Saat itu Pak Carter muncul, karena mendengar keributan yang bunyinya sampai ke ruang guru lewat jendela yang terbuka. Dengan sekilas pandang saja ia sudah mengetahui apa yang harus dilakukan. "Pertama-tama anak-anak harus disuruh berhenti mengejar," katanya. "Mereka malah menambah kacau keadaan. Babi itu begitu ketakutan, sehingga tidak tahu lagi apa yang harus dilakukan."

"Kalau begitu, apa saran Anda?" tanya Kepala Sekolah.

Pak Carter kini memimpin operasi. Pertama-tama disuruhnya anak-anak semuanya mundur ke tepi lapangan, lalu membentuk lingkaran dengan babi kecil itu di tengah-tengah. Pada suatu tempat di dalam lingkaran itu ada jaring cricket. Rencana Pak Carter adalah agar anak-anak dengan pelan-pelan memperkecil lingkaran, dan dengan cara begitu menggiring babi kecil itu ke dalam jaring. Ia menempatkan seorang anak pada setiap tali penopang tiang-tiang jaring dengan instruksi untuk mengendurkan tali-tali penopang itu begitu ia memberi isyarat. Kemudian operasi penangkapan babi dimulai, dalam suasana sunyi, tanpa ada ribut-ribut.

Babi kecil itu, yang masih tetap lincah meski tidak lagi panik seperti tadi, cenderung lari ke depan sementara lingkaran yang dibentuk oleh anak-anak semakin mengecil. Setelah beberapa kali babi itu nyaris berhasil meloloskan diri, dengan pelan ia digiring menuju sebelah pinggir jebakan. Di situ ia berhenti, hampir selama setengah menit. Akhirnya ia berbalik dan berusaha lari ke luar lagi.

Saat itu benar-benar menegangkan. Jika babi itu berhasil lari dengan menerobos lingkaran anak-anak, rencana itu akan gagal. Pak Wilkins melihat adanya bahaya itu. Ia meninggalkan lingkaran lalu lari menyerbu ke depan dengan secepat-cepatnya, menggiring babi itu kembali dan masuk ke jaring. Sementara yang dikejar dan yang mengejar lari terus menuju sisi belakang jebakan itu, Pak Carter berseru, "Lepaskan!"

Anak-anak yang memegang tali-tali penopang melepaskan tali-tali itu. Tiang-tiang penyangga jaring roboh ke depan dan jaring cricket yang berukuran seratus meter persegi ambruk, mengurung sasaran perburuan itu di dalamnya.

Lingkaran anak-anak yang menjadi penghalau bersorak gembira. Kemudian mereka memandang sekali lagi dan melihat bahwa yang tertangkap bukan satu, tapi dua! Pak Wilkins terbungkus jaring dekat ujungnya yang terbuka, seperti barang belanjaan dalam tas rajutan. Ternyata ia tidak sempat menghentikan larinya sewaktu jaring tadi ambruk di atas kepalanya.

Selama beberapa saat guru itu kelabakan. Kemudian ia merangkak menuju ke tepi jala, lalu keluar.

Babi itu ada di ujung sebelah belakang. Mulanya ia masih meronta-ronta. Tapi akhirnya menyerah, dan diam saja ketika Pak Carter membebaskannya dari jaring yang membungkus tubuhnya.

"Harus saya taruh di mana ini?" tanya Pak Carter kepada Kepala Sekolah, sambil memegang kaki-kaki belakang dan telinga babi kecil itu kuat-kuat.

"Kembali di bangunan tempat pot, untuk sementara - sampai saya sudah tahu siapa pemiliknya. Lebih baik saya ikut saja untuk membantu. Sudah cukup keributan yang terjadi untuk siang ini."

Mereka pergi dengan babi itu, meninggalkan anak-anak yang kembali ke kesibukan mereka yang terganggu tadi. Tidak lama kemudian keadaan di lapangan bermain sudah tenang lagi. Hanya Binns dan Blotwell saja yang berkeluh kesah, karena harus menemukan lima ratus potongan gambar kecil-kecil yang terbuat dari papan lapis. Banyak di antaranya yang terpental masuk ke dalam semak jelatang yang daun dan batangnya berbulu, yang menimbulkan rasa gatal jika disentuh.

"Saya benar-benar tidak bisa mengerti, bagaimana binatang sialan itu bisa mengurung dirinya sendiri di dalam bangunan itu," kata Kepala Sekolah ketika tangkapan mereka sudah dimasukkan kembali ke tempat semula dan pintu bangunan dikunci dengan palang. "Saya rasa sebaiknya dengan segera saja saya menelepon polisi. Barangkali mereka sudah menerima laporan dari orang yang kehilangan babi itu."

"Dia tidak secara kebetulan saja masuk ke situ," kata Pak Carter, sementara mereka berjalan melintasi kebun dalam perjalanan kembali ke gedung utama. "Kalau melihat sisa-sisa daun kubis dan kulit roti basi yang berserakan di lantai, sudah jelas ada orang yang memberinya makan."

"Jadi menurut Anda, ada seseorang di sekolah ini yang bertanggung jawab atas kejadian ini? Siapa yang berbuat seperti itu?"

"Saya rasa masih pada hari ini juga kita akan sudah mengetahuinya," kata Pak Carter.

Sementara itu Jennings dan Darbishire masih terus menunggu di gang, di depan pintu ruang kerja Kepala Sekolah. Sudah lama sekali mereka menunggu. Tapi mereka tidak berani pergi, karena takut tidak berjumpa dengan Pak Pemberton-Oakes apabila dia datang lagi nanti. Lebih dari setengah jam lamanya mereka berdiri saja di gang, tanpa menyadari adanya adegan-adegan kacau dan penangkapan yang terjadi di luar, di lapangan bermain.

Kini, mereka berdiri tegak ketika Kepala Sekolah muncul bersama Pak Carter. "Pak, maaf, Pak," kala Jennings. "Bisakah kami bicara dengan Anda sebentar? Urusannya sangat mendesak. Ada sesuatu yang perlu kami laporkan pada Anda."

"Urusan apa?" tanya Kepala Sekolah sambil mengangguk.

"Tidak begitu mudah menjelaskannya, Pak," sambung Jennings dengan nada ragu. Kini, setelah tiba saat pengakuan, disadarinya bahwa saran Venables untuk "menyampaikannya dengan diselubungi basa-basi", ternyata sulit dipraktekkan. "Begini, Pak. Soalnya begini. Atau lebih baik dengan kata-kata lain-begitulah-dengan lain kata..." Jennings tergagap, lalu berhenti bicara. Ia tidak bisa menemukan kata-kata yang tepat.

"Ucapanmu sama sekali tidak jelas," kata Kepala Sekolah sambil berpandang-pandangan dengan Pak Carter. "Tolong betulkan jika aku keliru, Jennings, tapi mungkin kau hendak melaporkan bahwa ada babi di bangunan tempat pot?"

"Betul, Pak, itu betul, tapi... tapi..." Jennings memandang Kepala Sekolah dengan heran, "bagaimana Anda bisa tahu apa yang hendak saya laporkan?"




0 Response to "Jennings 1"

Post a Comment