Download applikasi baca novel online untuk android disini: DOWNLOAD

Jalan Sunyi

Jalan Sunyi

Penulis: Sanie B. Kuncoro

Semua persiapan pernikahan itu sudah hampir selesai, sampai sedetail-detailnya. Tapi, Puan melupakan satu persiapan penting: mentalnya.

Suatu hari di sebuah gerai perhiasan.

Limar menggenggam jemari Puan, meremasnya lembut.

“Bagaimana, sudah menentukan pilihan?” tanyanya dengan mata menyimpan cahaya. “Model mana yang kau pilih?”

“Aku bingung. Modelnya bagus-bagus. Sulit menentukan pilihan,” Puan merajuk manja. “Menurutmu, sebaiknya aku pilih yang mana?”

“Begini saja, pilih beberapa model yang kau suka. Dari beberapa pilihan itu, kita pilih lagi bersama-sama,” Limar menyarankan.

Puan tersenyum. “Solusi yang baik. Kau selalu punya saran terbaik untuk setiap masalah yang kita hadapi.”

Limar menatapnya dengan penuh cinta. “Masa, sih?”

Puan mengangguk yakin. “Iya. Kau tahu, sering kali aku berpikir kau adalah hal terbaik yang pernah aku miliki.”

“Terima kasih. Aku senang kau berpikir begitu. Semoga selamanya aku bisa melakukan yang terbaik untukmu,” kata Limar, menyimpan harapan.

“Tepatnya untuk kita. Jangan untukku saja. Bukankah kita akan hidup berdua. Apa gunanya aku mendapatkan semua yang terbaik, bila kau tidak?” kata Puan.

“Sesungguhnya, apa yang terbaik bagimu, itulah yang kuinginkan. Kebahagiaanmu adalah kebahagiaanku juga,” kata Limar, sambil menatap mata Puan dalam-dalam.

Puan terharu. Kalimat itu. Alangkah menyentuh hati. Bila orang lain yang mengucapkannya, ia pasti berpikir semua itu hanyalah rayuan. Tapi, kini Limar yang mengatakannya. Dan, dia telah mengenal Limar dengan baik. Sangat baik. Limar bukanlah pendusta, bahkan dalam hal terkecil sekalipun. Limar bukanlah orang yang mengenakan basa-basi sebagai aksesori diri. Apa pun yang dikatakan Limar adalah kejujuran. Tanpa polesan, tanpa hiasan. Sesuatu yang berasal dari hati.

“Terima kasih, Limar. Semoga aku bisa melakukan hal serupa untukmu,” sahut Puan.

“Ah, sudahlah. Kita seperti mengucapkan janji pernikahan saja. Padahal, hari itu kan masih lima bulan lagi,” bisik Limar. Matanya bersinar jenaka.

Puan menahan senyum. “Barangkali, kita terbawa suasana tempat ini. Penataannya begitu romantis, membuatku ingin melamunkan sesuatu.”

“Melamunkan hari itu?” tanya Limar, sambil tersenyum.

Puan tersipu. Rona merah dadu membias ranum pada pipinya. Sesaat kemudian disentuhkannya bahu pada lengan Limar.

“Sudahlah, jangan menggodaku lagi. Ayo, kita pilih cincinnya. Yang mana yang paling indah, ya?”

Puan pun kembali memilih. Diamatinya setiap model cincin pernikahan yang terpampang di depannya. Semuanya menarik. Masing-masing memiliki ciri khas tertentu. Ada emas putih, ada berlian, ada yang berukir, dan ada juga yang polos sederhana.

Cincin itulah yang terpilih. Sebuah cincin sederhana dengan ukiran daun dan sulur anggur melingkar di sekeliling cincin. Batang dan sulur anggur tumbuh menjalar dan saling mengikat. “Semoga kita akan hidup seperti itu, tumbuh bersama selamanya.” Begitu Puan mengungkapkan alasannya memilih cincin sederhana itu.

“Filosofi yang bagus. Aku setuju,” Limar mengangguk. “Ayo, tuliskan nama kita supaya mereka bisa mengukir nama kita pada cincin itu dengan benar. Mereka bilang, bulan depan cincin akan siap diambil.”

“Tidak masalah. Kita masih punya waktu lima bulan, bukan?”

“Ya, waktu yang sebenarnya panjang. Tapi, bisa relatif menjadi pendek bila diterjemahkan pada situasi kita saat ini.”

“Persiapan ini-itu yang ribet banget. Apa lagi yang harus kita lakukan sesudah ini?”

“Memesan gedung untuk resepsi.”

“Gedung sudah dipesan. Kita hanya perlu menyetor uang tanda jadi.”

“Jangan lupa, lusa ada tes menu.”

“Soal menu itu, biar ibumu dan ibuku saja yang mengambil keputusan. Mereka berdua kan lebih ahli dalam hal semacam itu.”

“Boleh saja. Jadi, ke mana kita sekarang?”

“Konsultasi desain kartu undangan dan dekorasi.”

“Kita pilih yang sederhana saja. Kartu tidak perlu besar, ukuran mungil cukuplah. Asal desainnya unik, pasti kartu itu akan berkesan.”

“Oke. Besok bisa mengantarku ke desainer?” tanya Puan kemudian.

“Untuk apa?” Limar heran. Seingatnya, jadwal ke desainer tidak ada dalam agendanya.

“Memilih gaun pengantin.”

“Bukannya kau sudah ke sana bersama Ibu?”

“Memang, tapi ada dua pilihan. Dan, aku ingin kau membantuku menentukannya. Yang satu model bahu terbuka. Kesannya seksi. Tapi, aku khawatir kau tidak suka. Yang satu lagi desainnya bagus, tapi cenderung membuatku tampak lebih gemuk.”

Limar melirik menahan senyum. “Kau sama sekali tidak gemuk. Lihatlah, lenganmu hanya sekecil ini. Kau saja yang terlalu sensitif soal berat badan. Jadi, kukira, kau akan lebih nyaman dengan gaun yang seksi itu.”

“Tapi….”

“Tapi, apakah dengan tampil seksi kau akan lebih menarik perhatian? Sama sekali tak masalah bagiku. Pada kenyataannya, hari itu semua perhatian akan terpusat pada kita. Jika penampilanmu yang seksi akan membuat para tamu pria patah hati dan menatapmu tanpa kedip, bukankah itu justru membuktikan bahwa pilihanku padamu tidak salah?” kata Limar, menghentikan keraguan Puan.

“Bukan begitu. Lebih baik kau lihat dulu gaun pengantinnya.”

Limar menggeleng. “Tidak, aku tidak akan melakukannya.”

Puan terkejut. “Mengapa?”

Limar terdiam sesaat. “Barangkali ini suatu hal yang kuno. Dan, mungkin tidak ada lagi yang memercayai, apalagi memedulikannya. Tapi, aku ingin melakukannya untuk diriku sendiri,” katanya, dengan nada hati-hati.

“Apa itu?” Puan ingin tahu.

“Kata orang, pengantin hanya boleh satu kali mengenakan gaun pengantinnya. Karena itu, aku ingin hanya sekali saja melihatmu mengenakan gaun pengantin itu. Di hari pernikahan kita. Bukan saat fitting atau kapan pun.”

“Begitukah?”

“Selain itu, seandainya sekarang aku melihat gaun pengantin itu, di hari pernikahan nanti aku akan kehilangan kejutan, dong. Jadi, please, untuk yang satu itu, jangan libatkan aku. Apa pun pilihanmu, itu akan menjadi kejutan terindah bagiku. Aku ingin melihatmu sebagai pengantinku pada hari itu dengan hati yang murni. Bukan dari bayangan atau daya khayal yang terbentuk dari hari-hari sebelumnya. Kau maklum, bukan?” kata Limar, menjelaskan.

Puan mengerjapkan mata. Di depannya Limar menatapnya dengan mata tulus menyimpan harapan. Harapan yang sederhana, yang sangat tidak layak untuk ditolak.

“Baiklah,” bisik Puan, yang memenuhi harapan itu. Dengan lembut ditatapnya Limar. “Tunggulah. Aku akan menjadi pengantin tercantik untukmu.”

Limar mengangguk. Dengan penuh rasa bahagia, direngkuhnya bahu kekasihnya, calon pengantinnya.

Puan mengamati foto-foto contoh dekorasi gedung. Ada banyak album foto contoh dekorasi, lengkap dengan desain kartu undangan, cendera mata, dan bunga pengantin. Namun, hingga album terakhir, ia belum juga bisa menentukan pilihan.

“Tidak ada yang sesuai dengan keinginanku,” katanya.

“Apa yang kau inginkan?” tanya Limar, sabar.

Puan memejamkan mata. Sesaat kemudian, ia bergumam, “Aku ingin suasana musim gugur. Ada ranting-ranting kering, helai daun menguning berjatuhan….”

“Musim gugur? Tidakkah akan terkesan muram?”

Mata Puan terbuka, “Harus disiasati sedemikian rupa sehingga tidak tampak muram, melainkan menjadi suasana romantis.”

Limar menatap penata dekorasi, “Bisakah Anda melakukan itu?”

“Saya sedang berusaha menangkap imaji itu. Musim gugur yang romantis? Mengapa tidak? Kesan muram ranting kering akan saya redam dengan taburan kelopak bunga warna merah jambu. Pada beberapa sudut akan ditempatkan beberapa burung dara. Akan kita siasati dengan teknik tertentu agar burung dara itu tidak bisa terbang jauh. Pelaminan akan dihiasi tirai atau selendang putih transparan, dilengkapi kupu-kupu hias dan lilin-lilin putih beraroma rempah. Nyala lilin akan menimbulkan suasana eksotis. Bagaimana?”

“Bagus sekali. Lebih indah daripada yang kubayangkan. Kau setuju, Limar?” kata Puan, gembira.

“Mengapa tidak? Idemu unik. Kita bertemu dengan ahli yang tepat, yang bisa merepresentasikan imajinasimu dengan lebih baik.”

Penata dekor itu tersenyum lega. “Terima kasih. Sudah merupakan tugas kami untuk mewujudkan impian klien semampu kami.”

“Jadi, kamu sudah yakin pada pilihan dekorasi musim gugur itu?” Limar mencoba memastikan.

“Ya,” Puan mengangguk, yakin.

“Kalau begitu, kami akan membuat rancangan detail serta perhitungan anggarannya,” sambung si penata dekorasi.

“Baik, kami tunggu.”

Sesaat kemudian Limar dan Puan mohon diri.

“Lalu, kita sekarang akan ke mana?” tanya Puan, ketika Limar membuka pintu mobil untuknya.

“Makan. Ini sudah menjelang sore. Harusnya, sih, kita merasa lapar. Tapi, karena terlalu bersemangat, kita sampai lupa makan siang.”

Puan tertawa. “Terutama karena aku terhanyut pada imajinasi musim gugur itu. Kau tahu, foto pengantin kita nanti pasti unik. Ada ranting, burung, dan kupu-kupu. Apalagi kalau foto itu berwarna hitam-putih atau kecokelatan seperti foto kuno. Pasti sangat unik dan menarik. Aku ingin foto seperti itu.”

“Catat saja, lusa kita berkonsultasi dengan fotografer. Beberapa hari lalu dia bertanya, apakah kita akan melakukan pemotretan untuk pre-wedding?”

“Pre-wedding?”

Limar menggangguk. “Kalau ya, kita bisa melakukannya se kitar 1 bulan sebelum kita menikah. Atau, jika kita melakukannya lebih awal, hasil fotonya bisa kita pergunakan untuk mempercantik undangan atau tambahan dekorasi untuk ruang resepsi.”

“Aku justru ingin memasangnya di kamar pengantin. Atau, kita pilih pemotretan outdoor saja. Lokasinya rumah tua atau bangunan kuno. Gayanya natural, tak perlu pakaian formal,” kata Puan, menuangkan ide-idenya.

“Boleh saja. Kalau perlu, kita ikut mencari lokasi agar bisa mendapatkan lokasi yang benar-benar sesuai dengan keinginan kita.”

Puan mengangguk puas. “Setuju.”

Mereka terus membicarakan urusan pernikahan mereka, sambil menyantap menu pilihan hingga tandas. Nasi putih hangat, empal empuk, sambal pedas, dan semangkuk soto betawi.

Tiba-tiba Puan terdiam sesaat. Ia berpikir serius. “Kita mempersiapkan banyak hal. Segala pernak-pernik dari A sampai Z. Tapi, ada satu hal penting yang justru kita abaikan,” katanya, sungguh-sungguh.

Limar tampak terkejut. Ia menatap Puan dengan pandangan bertanya.

“Mental,” sambung Puan, mantap.

“Maksudmu?”

“Aku memikirkan apa yang akan terjadi sesudah hari itu.”

Limar tersenyum “Hari bahagia, tentunya. Aku suamimu dan kau istriku. Kita hidup bersama dan saling memiliki secara utuh. Kita bisa saling memeluk sepanjang hari.”

Pipi Puan kembali merona “Apakah itu berarti kita harus selalu berdua ke mana pun kita pergi?”

“Paling tidak, begitulah.”

“Lalu, bagaimana dengan teman-temanku? Selama ini aku mengalami banyak hal yang menyenangkan bersama mereka. Cerita ini-itu, belanja, mencari restoran baru….”

“Tentu kau tetap akan bisa menikmati hal-hal itu bersama mereka. Pernikahan bukan berarti membuat hidup kita terisolasi dari orang lain. Kahlil Gibran mengatakan: “Bernyanyi dan menarilah bersama dalam segala sukacita. Hanya, biarkanlah masing-masing menghayati ketunggalannya.”

Limar meneguk es teh tawar, lalu melanjutkan, “Jadi, meskipun hidup bersama, kita harus tetap memiliki waktu untuk diri sendiri. Kita masing-masing tetap melakukan kegiatan favorit, sesuai pilihan masing-masing. Aku akan tetap bermain basket dan memancing, sementara kau melukis dan berkumpul dengan teman-temanmu, tanpa harus kudampingi. Hanya, waktu dan porsinya saja yang perlu disesuaikan.”

“Misalnya?”

“Clubbing jangan sampai lewat tengah malam dan jangan terlalu sering. Akhir pekan khusus untuk kita berdua.”

“Tiga kali seminggu clubbing, bagaimana?”

“Bagaimana kalau satu kali?” Limar menawar.

“Cuma satu kali? Kita ambil jalan tengah, deh. Dua?“ Puan juga menawar.

Limar mengangguk. “Awal yang baik. Kita telah belajar untuk menyelesaikan masalah dengan kompromi. Untuk selanjutnya, kompromi semacam ini harus banyak kita lakukan, ditambah dengan kejujuran dan toleransi.“

Puan menghela napas. Kekawatiran mendadak menerpanya. Baru ia sadari bahwa apa yang dikatakannya memang benar. Ia memang telah mempersiapkan segala macam. Tapi, semua itu hanya bersifat fisik. Ia justru melupakan apa yang ada di dalam dirinya.

“Apakah aku siap?” bisiknya, ragu.

“Maksudmu?” Limar meneliti tingkah Puan. Ia baru tersadar bahwa Puan tampak gelisah.

“Menjadi seorang istri…,” sambung Puan, bergumam.

“Tentu siap, mengapa tidak?”

Puan menghela napas, berkata hati-hati, “Aku khawatir, apakah mampu menjalani peran itu. Hidupku pasti akan sangat berubah. Aku bukan lagi seorang yang bebas. Artinya, aku bukan lagi menjadi seseorang yang berdiri sendiri, melainkan seorang istri yang mendampingi suami. Karena itu, apa yang ada padaku harus kubagi denganmu. Kebahagiaan dan juga kesedihan. Dan, setiap kali akan melakukan sesuatu, aku harus memperhitungkan keberadaanmu. Aku tak bisa lagi hanya mementingkan egoku.”

“Kau merasa kesulitan melakukan itu?” kata Limar, sambil menatap tepat di manik mata Puan.

“Aku….” Puan ragu-ragu.

Limar meraih jemari Puan. Dengan lembut ia menggenggam jemari itu, seolah menyalurkan ketenangan.

“Memang benar. Hidup kita akan mengalami perubahan besar. Tapi, kau kan tidak akan sendirian menghadapinya. Aku akan selalu bersamamu menghadapi ini semua.”

“Kita akan saling belajar menjalani perubahan itu. Dan, karena kita adalah dua pribadi yang berbeda, jadi yang kita perlukan adalah toleransi. Dalam proses belajar ini akan terjadi banyak kealpaan. Ada banyak kebiasaan dalam diri kita yang mungkin kita lakukan begitu saja, yang mungkin tidak sesuai dengan pasangan kita. Di sinilah toleransi diperlukan. Kita harus selalu sadar bahwa ada faktor alpa sehingga kita perlu saling mengingatkan, bukannya terbawa alpa dan emosi masing-masing.”

“Kau tahu, aku punya banyak kebiasaan buruk,” sela Puan mulai tenang, “tidak bisa bangun pagi, tidak bisa memasak….”

“Takut gelap, malas sikat gigi,” sambung Limar.

“Ssst, sudah, nanti orang lain tahu,“ Puan mencubit lengan Limar.

“Biar saja,“ Limar tertawa. “Biar dunia tahu, betapa baik hatinya aku, sudi mencintai seorang gadis cantik yang malas sikat gigi.”

Puan manyun dan menyimpan tawanya.

“Mungkin, kau mengalami depresi,” kata Limar dalam perjalanan pulang. “Kesibukan mempersiapkan segala sesuatu untuk pernikahan kita, mungkin memunculkan banyak tekanan dalam dirimu.”

“Mungkin. Entahlah,” kata Puan, sambil angkat bahu.

“Barangkali, ada baiknya kau beristirahat. Lupakan dulu semua persiapan ini. Biar kuambil alih saja. Atau, bisa juga kita istirahat sejenak. Toh, waktunya relatif panjang,” Limar mengajukan usul.

“Jangan, persiapan sudah hampir tuntas! Aku akan baik-baik saja. Barangkali, aku hanya kelelahan atau stres.”

“Puan, stres yang berkepanjangan bisa berbahaya.”

“Kau keberatan memiliki calon istri yang agak sinting?”

“Sangat.”

“Baiklah, aku akan spa sehari penuh. Dipijat, mandi bunga, makan enak. Kalau perlu, plus melamun. Sesudah itu, aku jamin, aku tidak akan stres lagi. Bagaimana?”

“Kau yakin cukup dengan itu?”

Sambil tersenyum, Puan mengangguk pasti.

Musik mengalun merdu. Entah apa lagunya. Barangkali, judul tidak terlalu penting. Yang jelas, denting piano dipadu dengan petikan gitar dan alunan alat musik lain yang berpadu serasi. Menciptakan keindahan yang membelai hati, mengalirkan rasa damai yang nyaman.

Puan menghirup napas. Wangi bunga memenuhi rongga paru-paru, mengalirkan kesegaran pada seluruh ruang tubuh. Begitu segar oksigen wangi itu membuat tubuhnya ringan seperti melayang.

Apalagi, ditambah dengan pijatan di seluruh bagian tubuh, termasuk bahu, leher, punggung, kaki, dan lengan. Mengendurkan segala otot yang meregang, melenturkan segala persendian. Yang muncul kemudian adalah rasa nyaman luar biasa. Lalu, berendam di dalam air hangat bertabur bunga adalah penuntasan yang sempurna.

Puan menikmati setiap tahap ritual spa dengan sepenuh hati. Dia berharap, proses itu akan membantu melarutkan segala beban hati dan kepenatan tubuh. Berharap bahwa ia akan mendapatkan energi baru untuk melanjutkan persiapannya menuju hari barunya sebagai mempelai untuk Limar.

“Lihat, aku telah bugar kembali,” seru Puan, antusias, ketika Jingga, sahabatnya, menjemput di ambang pintu. “Sekarang, ayo, kita makan enak. Lupakan diet, abaikan berat badan.”

“Kurasa, ini tidak cukup untukmu,” Jingga menatapnya.

“Maksudmu?”

“Program spa ini hanya efektif menyegarkan tubuhmu. Kalau saat ini kau merasa beban hatimu menghilang, itu karena efek kebugaran tubuhmu yang bersifat sementara, paling-paling hanya akan dalam hitungan hari.”

“Lalu, sesudah itu, aku akan gelisah lagi? Begitu maksudmu?”

Jingga mengangguk.

“Mengapa kau berpikir begitu?” tanya Puan mendesak.

“Kuduga, kau mengalami semacam sindrom. Barangkali, ini mirip sindrom Baby Blues yang dialami wanita pascamelahirkan. Padamu adalah sindrom pra-nikah. Kau gelisah karena memikirkan pernikahanmu, memunculkan berbagai pikiran negatif, dan akhirnya membuatmu merasa tidak siap.”

“Persis seperti itu. Aku jadi waswas dan ketakutan akan apa yang terjadi nanti. Aku mendadak khawatir hidupku akan terkekang, lalu kehilangan teman. Aku bahkan meragukan kemampuanku untuk menjadi istri yang baik bagi Limar.”

“Ketakutan yang tidak semestinya.”

“Itulah. Aku juga bingung mengapa begitu?”

Jingga menghela napas. “Kasus semacam ini sepantasnya hanya terjadi pada pasangan yang dijodohkan sehingga mereka belum sempat mengenali karakter masing-masing. Atau, strata sosial yang berbeda akan membuat gaya hidup mereka tidak seimbang.”

Puan tercenung. Ya, sesungguhnya memang tidak layak kalau dia mengalami sindrom ini. Limar adalah pilihannya sendiri. Mereka sudah bertahun-tahun menjalin hubungan. Rentang waktu itu membuktikan bahwa Limar adalah pilihan terbaik untuknya. Jadi, mengapa harus muncul segala kegelisahan ini?

“Aku…,” kalimat Puan tersendat, tertekan rasa putus asa.

“Itulah yang namanya sindrom. Datang seperti virus, tanpa bisa dicegah. Tapi, jangan khawatir. Ayo, kita cari solusinya bersama-sama,” kata Jingga, berusaha menenangkan.

“Apa yang harus kulakukan?” tanya Puan, pasrah.

Jingga berpikir sesaat.

“Rasanya, kau perlu refreshing beberapa hari. Liburkan dirimu dari rutinitas, kosongkan pikiran, dan lupakan segala urusan. Kau bisa pergi ke suatu tempat yang belum pernah kau kunjungi dan lakukan apa pun yang kau sukai,” kata Jingga, memberi saran.

Puan tampak bingung. Tak yakin pada pilihan yang diberikan Jingga.

“Coba saja. Paling tidak satu minggu. Lakukan dengan maksimal. Bebaskan hatimu dari segala beban. Bila mungkin, lupakan kami semua untuk sementara. Putuskan kontak, termasuk dengan Limar.”

“Kau yakin itu semua akan berhasil?”

“Abaikan berbagai kemungkinan tentang hasilnya. Itu juga termasuk beban yang bisa mengganggu. Yang penting, bebaskan hati, jalani hari seperti air mengalir….”

“Masalahnya, aku harus pergi ke mana?”

“Pilih sesuka hatimu: Bali, Kampung Sampireun, atau Danau Toba? Semua terserah kamu.”

Puan menggeleng. “Aku tidak mau tinggal di hotel sendirian. Tapi, tempat wisata yang terlalu ramai juga akan mengganggu.”

“Jadi, tempat macam apa yang kau inginkan?”

Puan mengerjapkan mata. “Suatu tempat yang sunyi. Ada banyak pohon hijau, seperti desa atau hutan. Aku akan melukis di antara keteduhan pohon-pohon itu.”

“Ha, aku tahu!” seru Jingga, seolah baru menemukan sesuatu. “Kamu ke desa nenekku saja.”

“Di mana?” Puan antusias.

“Tanah Bumi. Sebuah kampung kecil yang penuh hutan karet, ladang cokelat, dan sungai di lembah. Tempat yang sangat inspiratif untukmu.”

Mata Puan membesar, menyiratkan imajinasi yang berkelana.

“Kalau begitu, antar aku, dong, ke sana.”

“Tidak! Sudak kukatakan, proses ini akan memberikan hal baru untukmu. Karenanya, jangan melibatkan lingkungan lama dalam proses ini. Petualangan sudah akan dimulai sejak menit pertama keberangkatanmu.”

“Tapi, nenekmu kan tidak mengenal aku.”

“Sudah. Aku sering bercerita tentang teman-temanku padanya. Jadi, kamu tak perlu khawatir. Nanti akan kukirim kabar padanya.”

“Lalu, bagaimana caranya aku pergi ke sana?”

“Gampang, naik pesawat saja sampai di ibu kota provinsi, lalu disambung dengan kereta api. Turunlah di stasiun Tanah Bumi. Dari stasiun ada bendi yang bisa mengantarmu sampai di rumah Nenek. Asyik, ‘kan?”

Skema perjalanan yang sangat menjanjikan. Menggambarkan petualangan baru yang unik. Tak bisa tidak, Puan merasa harus segera berangkat. Bisa jadi, ini akan menjadi petualangan menarik di hari-hari akhirnya sebagai wanita lajang. Sebelum dia berubah status menjadi Nyonya Limar!

Semua persiapan pernikahan itu sudah hampir selesai, sampai sedetail-detailnya. Tapi, Puan melupakan satu persiapan penting: mentalnya.

Mereka sudah bertahun-tahun menjalin hubungan. Rentang waktu itu membuktikan bahwa Limar adalah pilihan terbaik untuknya. Jadi, mengapa harus muncul segala kegelisahan ini?

“Aku…,” kalimat Puan tersendat, tertekan rasa putus asa.

“Itulah yang namanya sindrom. Datang seperti virus, tanpa bisa dicegah. Tapi, jangan khawatir. Ayo, kita cari solusinya bersama-sama,” kata Jingga, berusaha menenangkan.

“Apa yang harus kulakukan?” tanya Puan, pasrah.

Jingga berpikir sesaat.

“Rasanya, kau perlu refreshing beberapa hari. Liburkan dirimu dari rutinitas, kosongkan pikiran, dan lupakan segala urusan. Kau bisa pergi ke suatu tempat yang belum pernah kau kunjungi dan lakukan apa pun yang kau sukai,” kata Jingga, memberi saran.

Puan agak bingung. Tidak yakin pada pilihan yang diberikan Jingga.

“Coba saja. Paling tidak satu minggu. Lakukan dengan maksimal. Bebaskan hatimu dari segala beban. Bila mungkin, lupakan kami semua untuk sementara. Putuskan kontak, termasuk dengan Limar.”

“Kau yakin itu semua akan berhasil?”

“Abaikan berbagai kemungkinan tentang hasilnya. Itu juga termasuk beban yang bisa mengganggu. Yang penting, bebaskan hati, jalani hari seperti air mengalir….”

“Masalahnya, aku harus pergi ke mana?”

“Pilih sesuka hatimu: Bali, Kampung Sampireun, atau Danau Toba? Semua terserah kamu.”

Puan menggeleng. “Aku tidak mau tinggal di hotel sendirian. Tapi, tempat wisata yang terlalu ramai juga akan mengganggu.”

“Jadi, tempat macam apa yang kau inginkan?”

Puan mengerjapkan mata. “Suatu tempat yang sunyi. Ada banyak pohon hijau, seperti desa atau hutan. Aku akan melukis di antara keteduhan pohon-pohon itu.”

“Ha, aku tahu!” seru Jingga, seolah baru menemukan sesuatu. “Kamu ke desa nenekku saja.”

“Di mana?” Puan antusias.

“Tanah Bumi. Sebuah kampung kecil yang penuh hutan karet, ladang cokelat, dan sungai di lembah. Tempat yang sangat inspiratif untukmu.”

Mata Puan membesar, menyiratkan imajinasi yang berkelana.

“Kalau begitu, antar aku, dong, ke sana.”

“Tidak! Sudah kukatakan, proses ini akan memberikan hal baru untukmu. Jangan melibatkan lingkungan lama. Petualangan akan dimulai sejak menit pertama keberangkatanmu.”

“Tapi, nenekmu kan tidak mengenal aku.”

“Sudah. Aku sering bercerita tentang teman-temanku padanya. Jadi, tak perlu khawatir. Nanti akan kukirim kabar padanya.”

“Lalu, bagaimana caranya aku pergi ke sana?”

“Gampang, naik pesawat saja sampai di ibu kota provinsi, lalu disambung dengan kereta api. Turunlah di Stasiun Tanah Bumi. Dari stasiun ada bendi yang bisa mengantarmu sampai di rumah Nenek. Asyik, ‘kan?”

Skema perjalanan yang sangat menjanjikan. Menggambarkan petualangan baru yang unik. Tak bisa tidak, Puan merasa harus segera berangkat. Bisa jadi, ini akan menjadi petualangan menarik di hari-hari akhirnya sebagai wanita lajang. Sebelum dia berubah status menjadi Nyonya Limar!

Kereta berderak-derak, mengalun seirama laju roda di atas rel kereta tak berujung. Rel besi itu membujur panjang, membelah sawah, melintas sungai, melewati tepian kampung, dan sesekali melintas di jalan raya. Rute terpanjang adalah lintasan di persawahan. Padi hijau, sebagian menguning, terhampar luas bagai permadani. Dilengkapi langit biru cerah serta bayangan gunung di kaki langit, merupakan lukisan alam yang begitu menakjubkan. Sama persis dengan yang ditemukan pada pelajaran menggambar semasa SD.

Dari balik kaca jendela kereta, areal persawahan melintas cepat, berkelebat menampakkan hamparan hijau berganti-ganti. Puan mengerjapkan mata, menikmati pemandangan yang menyentuh hati itu. Hijau segar, kuning menyejukkan.

Puan teringat sesuatu dan tersenyum. Dulu, pada masa kanak-kanak, bakat melukisnya pertama kali ditemukan Ibu melalui lukisan sawah yang dibuatnya.

“Coretan garismu tajam sekali, Nak,” gumam Ibu, meneliti buku gambarnya. “Kau mencontoh buku lain?”

Puan kecil tertawa sembari menunjuk kalender di dinding. Ibu tercengang. Di kalender dinding itu terdapat foto pemandangan. Puan kecil memindahkannya pada kertas gambar. Coretan khas anak-anak yang menggunakan pensil. Tapi, coretan itu begitu hidup, menunjukkan talenta khusus pembuatnya.

Tangisan seorang anak membuyarkan lamunan Puan. Refleks dicarinya sumber suara itu. Pada bangku di deret seberang seorang balita merengek di pangkuan ibunya. Barangkali, anak itu lapar atau haus. Tapi, rupanya ibunya hanya berbekal sebotol air mineral yang tidak memuaskan hatinya.

Puan membuka tas. Ada beberapa potong cokelat dan wafer dalam kotak bekalnya. Diulurkannya kotak bekal itu dan mempersilakan anak itu memilih.

Sang ibu bergerak akan menolak, tapi anaknya lebih sigap. Matanya seketika bercahaya ketika meraih cokelat.

“Terima kasih. Turun di mana?” tanya si ibu.

“Tanah Bumi.”

“Stasiun kecil itu?”

Puan mengangguk.

“Tumben, tidak biasanya orang kota turun di sana. Berarti, kau harus turun dengan cepat. Kereta berhenti hanya beberapa menit,” kata si ibu, memberi saran.

Benar apa yang dikatakan ibu itu. Kereta berhenti sangat sebentar. Baru saja Puan selesai menurunkan tas perlengkapan lukisnya, kereta telah bergerak melanjutkan perjalanan. Untung saja seorang bapak sigap meraih tasnya.

“Terima kasih,” kata Puan.

“Neng Puan? Dari kota?” tanya bapak itu.

Puan terkejut. “Bagaimana Bapak tahu?”

“Nenek Umi mengutus saya untuk menjemput Neng. Ini musim panen. Jadi, banyak sais bendi pergi ke ladang. Nenek Umi khawatir Neng Puan kesulitan mencari bendi.“

Puan meneliti sekeliling. Stasiun Tanah Bumi ini begitu kecil, hanya berupa bangunan tua yang sederhana. Bangunan tua yang kusam dan sunyi. Sesaat Puan tersadar, dia satu-satunya penumpang yang turun di stasiun itu. Dan, bendi? Hanya ada satu bendi yang parkir di halaman. Tentulah itu bendi utusan Nenek Umi. Beruntung betul Nenek Umi mengutus bendi itu. Bila tidak? Puan tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi padanya. Memang benar ia mengharapkan petualangan baru. Tapi, bukan bermalam sendirian di stasiun terpencil nan sunyi.

“Ayo, Neng. Sebentar lagi sore. Bendi ini tidak berlampu. Kita harus melewati hutan karet sebelum petang,” Bapak sais bergegas mengajaknya berangkat.

Puan mengikuti langkahnya.

Beruntung senja turun lebih lambat sehingga hutan karet terlewati dengan lancar. Bendi berhenti tepat di depan rumah Nenek Umi saat gelap menjelang. Di beranda rumah panggung Nenek Umi sudah menunggu.

“Bagaimana perjalanannya? Menyenangkan?” Nenek Umi menyambut salam Puan.

Puan mengangguk. “Mendebarkan. Hutan karet sangat rimbun. Jika terlambat sedikit saja, pasti kami harus berjalan dalam gelap.”

Nenek Umi tersenyum. “Ini malam purnama. Cahaya bulan akan menolong dan memberikan pemandangan malam yang indah.”

Puan bergidik. “Tapi, saya tidak cukup berani untuk itu. Gelap di kamar sendiri saja saya takut, apalagi malam gelap di hutan karet.”

Nenek tertawa. “Apakah kau memang benar-benar penakut?”

Puan mengangguk, menyimpan malu.

“Sayang sekali, rasa takut itu tidak mungkin kau manjakan di sini. Di sini segala sesuatunya serba terbatas. Tidak ada PLN atau PAM yang tersedia 24 jam sehari. Listrik menyala hanya sampai pukul 9 malam. Sesudah itu yang ada hanya lampu minyak. Kau harus belajar tidur dalam gelap karena Nenek tidak ingin lampu minyak menyala sewaktu tidur. Terlalu riskan. Rumah panggung kayu sangat sensitif terhadap api.”

Puan tertegun. Hal-hal semacam itu di luar perhitungannya. Ia terlalu terobsesi pada faktor petualangan baru sehingga melewatkan hal-hal sepele. Puan melirik ponsel di dalam tas. Tadi sudah ditelitinya, tidak ada sinyal! Barangkali, sudah terlambat untuk minta pertolongan Limar atau siapa pun. Kaki sudah melangkah. Detik awal petualangan sudah dimulai. Malam sudah turun dan gelap menghadang di segala sudut. Dia tidak bisa lagi mengurungkan niat. Jadi, apa boleh buat? Langkah ini harus diteruskan hingga selesai, apa pun yang terjadi. Benar kata Nenek Umi. Ia harus belajar berhenti memanjakan rasa takut. Dimulai malam ini, dengan tidur dalam gelap.

Pagi hari, Puan dibangunkan oleh suara ayam berkokok. Astaga, suara kokok ayam itu, sudah berapa tahun tidak didengarnya? Suara yang sangat langka untuk wilayah perkotaan. Seingatnya, ia terbiasa mendengar suara itu ketika masa anak-anak dulu. Dulu sekali.

Suara kokok ayam jantan itu terus terdengar. Sesudah itu disusul oleh suara kotek ayam betina dan ciap-ciap anak ayam. Paduan suara yang riuh itu memecah keheningan pagi.

Puan membuka mata. Sesungguhnya, dia masih mengantuk. Pagi begitu dingin. Pasti nyaman melanjutkan tidur dalam balutan selimut hangat. Tapi, alam tidak pernah menunggu. Kokok ayam telah membangunkan segala sesuatu. Langit mulai terang. Kicau burung bersahutan di dahan. Paduan keindahan yang langka, yang selama ini hanya Puan temukan pada buku dongeng. Pada kehidupan nyata, yang membangunkannya setiap pagi adalah jam weker dan pekikan klakson, serta deru mobil lalu-lalang di seputar rumah.

Jadi, Puan tidak memiliki alasan yang signifikan untuk melanjutkan tidur. Pagi yang luar biasa telah hadir mengawali hari. Segera dibukanya selimut.

“Tidur nyenyak?” sambut Nenek Umi di ambang pintu.

“Sangat pulas,” kata Puan, tersipu.

“Tidak takut gelap?”

“Awalnya berdebar, tapi cahaya bulan sangat membantu. Jadi, kubuka tirai jendela. Cahaya bulan begitu terang bagai lampu pijar menerangi kamar.”

“Apakah di kota kau juga bangun sepagi ini?”

“Tidak, tapi suara ayam tak bisa membuatku tidur lagi.”

“Itu si Burik. Dia selalu gaduh tiap pagi. Ayo, sarapan.”

Nenek Umi menuangkan teh. Hmm, aroma wangi berbaur sepat terasa menggoda. Pasti teh hangat manis itu sangat sedap rasanya. Puan menghirup teh sambil meneliti menu sarapan. Ketan putih, kelapa parut, bubuk kedelai, serta cairan kental gula merah. Menu sarapan yang tidak biasa.

“Jingga bilang, kau tidak perlu mendapatkan perlakuan istimewa. Apa adanya saja sesuai kebiasaan di rumah ini,” Nenek Umi membaca pikiran Puan.

“Betul, Nek, memang itu yang saya perlukan. Menjalani sesuatu apa adanya, tanpa beban apa pun juga.”

“Jalani hidup seperti air, Nak. Hidup akan mengalir sesuai takdirmu. Ikuti kata hatimu, pergilah ke mana ia membawamu.”

“Seperti judul novel.”

Puan menyimpan senyum. Nenek yang hebat. Pantas bisa kompak dengan cucunya. Sesaat kemudian Puan menikmati sarapannya. Ketan putih yang legit ditambah kelapa parut gurih, manis gula merah, dan bubuk kedelai. Hmm, sedap.

Di pasar tradisional dekat tempat tinggal Nenek Umi, Puan berdiri di ambang gapura. Di hadapannya berjajar pedagang yang menggelar barang dagangan dengan peralatan seadanya. Tikar, meja kayu sederhana, wadah bambu, besek, dan karung goni. Lokasinya di alam terbuka. Jenis dagangannya beraneka ragam, mulai dari sayuran, buah-buahan, jajan pasar, hingga peralatan masak tradisional.

Puan mengedarkan pandangan. Nenek Umi bilang, pasar hanya ada lima hari sekali sesuai hari pada penanggalan Jawa, yaitu Pon, Wage, Kliwon, Legi, dan Pahing. Entah ini hari apa. Puan tidak paham. Dia hanya ingin melihat-lihat. Siapa tahu ada yang menarik hati.

Puan berjalan berkeliling. Ternyata, ia menemukan banyak hal menarik. Komunikasi antara para pedagang dan pembeli yang menggunakan bahasa daerah, tidak semua bisa dipahaminya. Tapi, hatinya terhibur mendengar logat dan gaya mereka yang khas. Lalu, dilihatnya buah itu. Bulat, kuning kehijauan, bertabur tepung putih serupa bedak. Kesemek. Sudah lama sekali tak dilihatnya buah itu.

“Berapa?” tanya Puan.

Tahu calon pembelinya adalah seorang pendatang, penjual itu langsung memanfaatkan situasi. Ia menyebutkan sebuah harga.

Puan menghela napas. Dia tahu, itu harga rekayasa. Puan baru akan mengajukan penawaran ketika mendadak datang seseorang.

“Satu kilo,” seru pembeli baru itu.

Penjual dengan sigap segera menimbang.

“Berapa?” tanyanya, sambil menerima buah kesemeknya.

Sang penjual dengan senyum kemenangan memamerkan uang pembayaran itu pada Puan. Secara demonstratif, seakan menunjukkan bahwa harga dagangannya adalah harga yang pantas.

Puan terperangah. Sikap demonstratif itu mendadak memicu kemarahannya. Ia menatap si pembeli kurang ajar yang menyerobot peluangnya menawar harga itu dengan sengit. Pembeli itu adalah seorang pria jangkung berambut ekor kuda, mengenakan jins, t-shirt putih, dan sepatu kanvas. Kostum yang sangat kota. Menunjukkan dengan jelas bahwa dia bukan penduduk setempat. Sosok itu sudah berjalan menjauh.

Puan mengejar langkahnya. Perasaan sebagai sesama pendatang, mendorongnya untuk memberikan sedikit teguran. Kalau bus kota saja punya aturan untuk tidak saling mendahului, setidaknya etika sejenis juga berlaku untuk sesama pendatang.

“Mestinya, kau bisa lebih sopan sedikit!” tegur Puan secara langsung ketika berhasil mengejar pria kota itu.

Langkah pria itu terhenti. Ditatapnya Puan dengan heran.

“Maaf, kau sedang bicara padaku? Ada apa?” tanyanya.

Ada apa? Astaga, dia bahkan tidak tahu apa yang dilakukannya. Sungguh terlalu. Puan menahan kegeraman hatinya.

“Kau bahkan tak tahu apa yang kau lakukan?” serunya, marah.

Pria itu menggeleng. Tatap matanya begitu polos.

“Apa yang kulakukan? Seingatku, aku tidak melakukan apa-apa. Bangun pagi seperti biasa, mandi, dan pergi ke pasar membeli buah ini. Itu saja. Kalau terjadi hal lain selain yang kuingat itu, berarti aku mengalami amnesia.”

Mata Puan menajam. Sikap main-main pria itu sungguh menjengkelkannya. Hampir saja kemarahannya memuncak. Tapi, pada detik yang sama disadarinya bahwa sikap itu bisa berlanjut. Dan, bila itu ditanggapinya, sungguh tidak sepadan dengan apa yang sedang diperjuangkannya. Apa yang diperjuangkannya adalah harga rekayasa, yang sesungguhnya sangat sepele. Jadi, sangat tidak layak bila kasus ini dilanjutkan lebih lama lagi.

Jadi, sudahlah. Gumam Puan dalam hati, melangkah pergi.

“Hei, tunggu. Jadi, bagaimana?” seru pria itu masih heran.

Puan tetap meneruskan langkahnya seakan tak mendengar.

“Tunggu! Katakan dulu, ada apa?” pria itu mengejar Puan.

“Tidak perlu. Nikmati saja amnesiamu,” sahut Puan, ketus.

“Karena amnesia, Matt Damon sebagai Jason Bourne mengalami petualangan yang menantang. Tapi, aku di Tanah Bumi ini, petualangan macam apa yang akan kualami?”

“Apa peduliku?”

“Tapi, kau harus!” pria itu menghadang langkah Puan. “Kau yang tiba-tiba memberikan tanda tanya besar ini. Katakan, apa yang terjadi? Apa yang kulakukan?”

Langkah puan terhenti. Tatap matanya tajam menyambar. Baru disadarinya bahwa mata pria itu polos bernada tanya. Jadi, benar bahwa dia tidak tahu apa yang telah dilakukannya?

“Aku sedang menawar buah kesemek itu. Tapi, kau mendadak membayar. Itu artinya, kau menggagalkan penawaranku. Sungguh tidak sopan.”

“Oh, itu. Jadi, soal buah ini? Apa namanya? Kesemek?”

Mendadak pria itu terbahak, tertawa lepas.

“Aku bahkan tidak tahu nama buah ini. Apalagi harganya.”

“Itulah, bukannya menunggu aku menawar, kau malah langsung membayar,” seru Puan, jengkel.

“Sorry, aku tidak tahu bahwa kau sedang menawar. Aku hanya menginginkan buah ini. Jadi, langsung saja kubayar. Selesai.“

“Itu harga yang terlalu mahal untuk buah kesemek!”

“Maaf, aku betul-betul tidak tahu,” pria itu angkat bahu.

“Seharusnya, cuma....”

“Apalah artinya?” Pria itu menghentikan kegusaran Puan. “Semahal apa pun harga buah ini, angkanya hanya berkisar empat digit saja. Artinya, tetap di bawah sepuluh ribu rupiah. Angka yang relatif kecil untuk orang kota sepertimu. Bahkan pita rambutmu pasti lebih mahal dari itu.”

Puan tertegun. Sesaat disadarinya bahwa dia baru saja melakukan sesuatu yang tak layak, tepatnya memperjuangkan kepelitan. Menghabiskan energi untuk menentang harga yang tidak seberapa.

“Benar juga,” gumam Puan, menyadari diri. “Tidak setiap hari dia bertemu pembeli seperti kita, bukan?”

“Itulah. Bisa bertemu kita hari ini adalah keberuntungan pedagang itu. Dan, kalau kita berkesempatan untuk menjadi saluran berkat bagi rezeki orang lain, itu adalah anugerah istimewa buat kita.”

Puan tersenyum. “Kalimat yang bijak. Dapat dari mana?”

“Entahlah, kuingat begitu saja. Hmm, aku Darga.”

Puan menyambut uluran jabat tangan itu. Jemari Darga terasa liat sekaligus lunak dalam genggamannya.

“Apa yang sedang kau lakukan di sini?” tanya Darga kemudian.

Puan berpikir sesaat. Apa yang harus dikatakannya? Haruskah diceritakannya tentang kegelisahan hati itu?

“Sekadar berlibur?” Darga mendesak.

“Ya... barangkali semacam itu.”

“Atau, melarikan diri dari sesuatu?”

Puan mengangkat kepala. Pertanyaan Darga mulai menyudutkannya. Refleks, gerak pertahanan dirinya mulai bereaksi.

“Mengapa kau berpikir begitu?”

“Kau menjawab dengan tidak jelas. Tapi, tidak ada indikasi berbohong. Kulihat, kau bahkan tidak tahu apa yang kau inginkan. Jadi, kurasa kau hanya ingin melakukan pelepasan dari sesuatu. Begitu?”

Puan terpana. Darga sungguh menyudutkannya.

“Apakah kau selalu ingin tahu urusan orang lain?” serunya, tajam.

“Tidak. Tapi, kalau sekarang kulakukan, aku punya alasan! Aku sedang melakukan peninjauan awal sebuah proyek di kawasan ini. Ini proyek bisnis yang melibatkan orang-orang tertentu. Karena itu, kehadiran orang lain, membuat kami waspada. Bisnis selalu penuh risiko. Kami harus selalu berhati-hati. Itu alasanku.”

Puan manggut-manggut. “Tenang saja. Aku bukan siapa-siapa. Aku pengangguran yang tidak berkaitan dengan institusi mana pun, apalagi investor pesaing atau apa pun yang semacam itu.”

Darga menatap gadis itu. Tatapannya begitu dalam, seakan masuk begitu jauh menjelajah segala sudut hati. Puan mendadak berdebar. Mata itu sangat mendebarkan. Sensasi yang belum pernah dialaminya.

Apakah ini termasuk pengalaman baru yang dijanjikan Jingga?

“Oke, aku percaya, paling tidak untuk sementara,” kata Darga, menghentikan tatapannya.

Puan mengangguk tanpa suara. Dia tidak tahu harus berkata apa.

“Aku tinggal di lembah selatan. Kalau kau menyusuri sungai, pada satu tepiannya kau akan menemukan pohon tumbang dan pondok kayu bekas peti kemas. Aku tinggal di situ.”

“Memang kau pikir aku akan mengunjungimu?”

“Mungkin saja. Untuk seseorang yang tidak tahu akan melakukan apa, hari-hari di sini akan terasa panjang. Tidak ada alat bantu untuk menemanimu membunuh waktu. Jadi, tak ada pilihan lain bagimu, selain berteman denganku.”

Senyum Darga mengembang. “Kalau kau tidak datang, aku yang akan mencarimu.”

“Tidak akan kukatakan tempat aku tinggal,” tantang Puan.

“Apa susahnya? Tidak ada hotel di sini. Jadi, kau pasti tinggal di rumah penduduk.”

Puan kehilangan selera untuk membantah.

Darga melangkah pergi. Langkahnya ringan, namun tegap, menampakkan ketangguhan. Samar terdengar siulan mengiringi langkahnya.

Kalimatnya indah. Tatap matanya menggetarkan hati. Bahkan, Limar pun tak pernah memandangnya begitu tajam, tak pernah mengucapkan kata-kata seindah itu....

Suatu petang Darga membuktikan janjinya. Dia menemukan Puan di antara jajaran pohon karet. Siang itu agak panas sehingga Puan bermaksud menikmati keteduhan di sana. Dibawanya perangkat lukis, berharap akan menemukan objek yang menarik. Tapi, bukannya ide yang datang, justru kantuk yang membuai. Puan bersandar pada sebatang pohon dan tertidur.

Beberapa saat kemudian helaian kelopak bunga jatuh menyentuh pipinya. Puan membuka mata. Astaga, Darga sedang berjongkok di sampingnya.

“Kau mengagetkan aku. Ngapain di sini?”

Darga tersenyum. “Menunggumu bangun.”

“Anginnya sangat nyaman. Mengapa kau membangunkan aku?”

“Harus. Sebentar lagi gelap. Apalagi di hutan seperti ini. Gelap lebih cepat datang, juga binatang malam.”

Refleks Puan melompat dan berdiri.

“Tidak perlu tergesa, ini masih petang, masih ada waktu. Jadi, kau pelukis? Tapi, kanvasmu masih kosong. Belum menemukan ide?” tanya Darga, sambil menunjuk alat-alat lukisnya.

Puan menggeleng. Darga meraih tangannya dan membawa gadis itu mengikuti langkahnya. “Kutunjukkan sesuatu yang inspiratif.”

Darga membawa Puan pada sebuah tempat di ketinggian. Di bawahnya terhampar sebuah lembah. Lembah di kaki gunung dengan alur sungai berkelok-kelok, berair bening, membelah hutan pinus dan hutan karet pada kedua sisinya.

“Lembah yang cantik,” gumam Puan, takjub.

“Tunggulah, sebentar lagi efek matahari tenggelam akan memunculkan kesan magis yang unik.”

Benar. Sesaat kemudian, ketika matahari mulai bersembunyi di balik bukit, sisa sinarnya memunculkan semburat cahaya jingga. Dari tempatnya berdiri, Puan melihat jelas pergerakan cahaya melewati daun-daun. Hutan bagai berlapis warna, ada semburat cahaya kuning, jingga, dan merah saga.

“Luar biasa. Indah sekali,” Puan kehilangan kata-kata.

“Rekam dalam benakmu. Perhatikan sedetail mungkin dan besok pindahkan ke kanvasmu,” bisik Darga.

Saran yang baik.

“Menakjubkan, bukan? Aku melihatnya hampir setiap hari. Itu salah satu yang membuatku betah di sini,” kata Darga.

“Salah satu? Berarti ada yang lain?”

“Tentu saja. Ada hutan karet yang menidurkanmu tadi, aliran sungai, dan bulan purnama di tebing ini. Kalau beruntung, seusai hujan terkadang muncul pelangi di sini.”

“Sungguh? Aku sudah lama tidak melihat pelangi.”

“Kalau begitu, berdoalah minta hujan di siang hari. Siapa tahun Tuhan bermurah hati memunculkan pelangi untukmu. Sekarang, ayo, kuantar pulang.” Darga mengulurkan tangan.

“Kau pasti ingin tahu di mana aku tinggal,” kata Puan.

“Aku sudah tahu. Rumah Nenek Umi, ‘kan?”

Puan mengerling. “Lalu, untuk apa mengantarku? Malam baru mulai. Aku bisa pulang sendiri.”

“Di kota, malam seperti ini memang masih dini. Di sini pun kondisi sosial relatif aman. Tapi, ingat, ini hutan karet. Kau tak berbekal cahaya. Ada beberapa binatang malam yang terkadang muncul begitu saja. Meski tidak menyerang, akan cukup mengagetkan dan pasti membuatmu panik. Aku tidak yakin kau mampu mengatasinya sendirian.”

Puan terenyak. Ia baru ingat harus melewati hutan karet.

“Oke, kalau kau keberatan, begini saja, aku akan berjalan beberapa meter di belakangmu. Sampai di batas perkampungan, kau bisa pulang sendiri. Bagaimana?”

Puan menunduk. “Lebih baik kita berjalan bersama-sama saja.”

Darga mengangkat alis, matanya tertawa menggoda. “Yakin?”

Pipi Puan merona dadu. Dianggukkannya kepala, mencoba menyembunyikan rona wajahnya. Tapi, Darga telanjur melihatnya. Cahaya bulan membantu pria itu melihat ranum dadu di pipi Puan.

Siang sudah terik ketika Puan menyudahi lukisannya. Lukisan tentang senja eksotis di lembah yang dilihatnya kemarin. Lukisan itu belum selesai, masih memerlukan penyempurnaan. Puan tidak membawa semua perlengkapan lukisnya. Tapi, sebagai sketsa awal, cukuplah. Puan ingin menunjukkannya pada Darga.

Ragu-ragu Puan menghentikan langkah. Pondok kayu yang dicarinya ada di bantaran sungai. Pondok itu sederhana, hanya berhias pintu dan jendela tanpa tirai yang terbuka lebar. Diketuknya pintu.

Suara Darga menjawab ketukan. Setengah menit kemudian Darga muncul di ambang pintu dan mengajaknya masuk.

Puan ragu-ragu. Nalurinya mengatakan, Darga sedang melakukan sesuatu. Gerakannya tampak terburu-buru. Anehnya, ada semacam tepung putih pada hidung dan lengannya.

“Sedang sibuk?” tanya Puan.

“Tidak, masuklah.” Darga membuka pintu lebih lebar.

“Tapi, ada tepung menempel,” Puan memberikan isyarat.

Darga mengusap hidung dengan lengannya.

“Kau sedang melakukan sesuatu. Lebih baik tidak kuganggu. Lain kali aku datang lagi.” Puan beranjak pergi.

“Tunggu, aku sama sekali tidak terganggu. Aku sedang memasak.”

Mata Puan membesar. Darga mengajak Puan mengikuti langkahnya.

“Masak apa?” tanya Puan, heran.

“Tumis sawi dan bakwan kampung.”

“Kau pandai memasak?”

“Apa susahnya? Tumis sawi cuma memerlukan bawang putih dan garam. Untuk bakwan, campur saja semua bahan: terigu, telur, wortel, taoge, beri air sedikit, dan digoreng kecil-kecil. Sangat gampang.”

Puan takjub. Darga menjelaskan semua itu dengan lancar. Gerakan tangannya saat memotong sayuran dan mengaduk adonan juga sangat luwes. Sungguh tidak terduga. Sama sekali tidak terlintas di benaknya bahwa teman barunya ini mampu menguasai dapur dengan sangat baik.

“Belajar dari mana?” Puan tak mampu menahan rasa ingin tahu.

“Ibuku. Ayah meninggal sejak aku balita. Jadi, kami banyak melakukan hal bersama, termasuk memasak.”

“Tapi, kau tetap maskulin.”

Darga tergelak. “Sekarang, ayo, makan. Kau harus mencicipi hasil karyaku.”

Di lantai kayu Darga menggelar tikar pandan. Dihidangkannya hasil masakannya: nasi putih hangat, tumis sayur sawi hijau, bakwan goreng, dan cabe rawit. Makan siang yang istimewa.

Puan menatap Darga. Dia seorang pria yang berteladan pada ibunya. Jadi, ia memperlakukan wanita lain seperti menjaga ibunya sendiri. Tipe pelindung sekaligus pintar memasak. Perpaduan yang unik.

“Mengapa tidak menyempurnakan lukisanmu dengan warna yang ada. Maksimalkan saja warna yang ada. Kalau ternyata warna itu tidak sesuai dengan objek aslinya, apa salahnya? Kau bukan pelukis potret. Objek yang ada hanya sekadar inspirasi, selanjutnya kemampuan kreatifmulah yang menentukan jiwa lukisanmu.”

“Tapi, aku ingin memindahkan senja yang indah itu ke kanvas.”

“Boleh saja. Tapi, jangan memasung jiwa dalam lukisanmu. Kalau hanya memindahkan objek, kamera digital mampu melakukannya dengan lebih baik. Tapi, lukisan membawa sesuatu yang berbeda, coretanmu berjiwa, merepresentasikan apa yang ada dalam dirimu.”

Puan tercenung. Dalam diam ditatapnya Darga, nyaris tanpa kedip. Ia telah membuat banyak lukisan selama ini. Diterimanya beberapa kritik dan ulasan. Tapi, baru kali ini didengarnya analisis yang sedemikian dalam.

“Filsuf Alfred Tonele mengatakan, ‘The artist does not see things as they are, but as he is.’ Seorang seniman tidak melihat sesuatu sebagaimana adanya, melainkan sebagaimana dia kehendaki. Bukankah begitu?” tanya Darga, serius.

Puan kehilangan kata-kata. Sosok Darga terlalu banyak memberi kejutan.

Hari berikutnya Puan kembali ke tebing. Analisis Darga menantangnya untuk menyelesaikan sketsa awalnya menjadi lukisan yang lebih baik, tanpa terhalang oleh koleksi warna cat airnya yang tidak lengkap. Puan ingin membebaskan dirinya menggunakan warna yang ada.

Menjelang tengah hari, matahari hampir mencapai titik kulminasinya. Panasnya bersinar dengan kekuatan penuh. Puan yang sedang asyik dengan kuas dan kanvasnya seakan terlena, tak menyadari bahwa sinar ultraviolet sedang menyerap energinya.

Sesaat kemudian serangan awal mulai menampakkan gejalanya. Pandangan Puan mulai berkunang-kunang, diikuti keringat dingin dan sesak napas, ditambah nyeri perut bawah seakan terpelintir.

Tertatih Puan mencari tempat berteduh dan bersandar di batang pohon. Perlahan diaturnya napas, meredakan sesak di dada. Diusapnya peluh di dahi, sembari menahan nyeri perutnya. Puan tahu, ia mengalami gejala awal proses pingsan. Puan memerlukan sesuatu untuk menghentikan gejala itu. Tapi, rumah Nenek Umi terlalu jauh. Ia tidak akan bertahan berjalan sejauh itu. Lokasi terdekat adalah pondok Darga.

Puan menghimpun tenaga untuk berjalan ke pondok Darga, mencari pertolongan pertama. Dengan pandangan nyaris kabur dan sisa tenaga, akhirnya Puan mampu mencapai pondok itu. Gadis itu tersungkur di beranda kayu, menimbulkan suara berdebam. Suara yang memanggil pemilik rumah.

Darga membuka pintu dan terkejut.

“Kau pucat sekali. Ada apa?” seru Darga, sambil meraih Puan.

“Tolong, lukisanku masih di tebing,” gumam Puan, kehabisan napas.

“Nanti kuambil. Yang penting, sekarang kau sembuh dulu,” kata Darga, sambil memapah gadis itu masuk pondok dan membaringkannya. Dengan cepat disiapkannya teh manis.

“Minumlah, kau hampir pingsan. Apa kau tidak sarapan?”

Puan meneguk habis teh manis itu. Cairan yang melegakan dan memberikan energi baru untuknya.

“Sudah, tapi sedikit.”

Darga menyeka peluh di dahi gadis itu. “Mungkin, kau anemia atau tekanan darahmu turun.”

Puan memejamkan mata. Nyeri perutnya makin melilit.

“Perutku sakit sekali. Ada obat gosok?”

“Tidak ada, tapi tunggu sebentar.” Darga segera beranjak.

Beberapa saat kemudian ia kembali dengan botol kecil berisi air panas yang dibalut sapu tangan.

“Taruh ini di perutmu. Gulingkan perlahan. Pasti sakitnya akan mereda.”

Puan tampak ragu.

“Coba saja. Ibuku dulu juga melakukannya. Aku sering membantunya menggulingkan botol di perutnya.”

Puan mengangguk. “Tolong, dong, segera ambil lukisanku di tebing. Kau harus cari sampai ketemu,” kata Puan.

Darga mengangguk. “Cobalah untuk tidur sebentar supaya tensimu normal.”

Puan mengangguk.

Menjelang sore, Puan baru bangun. Begitu pulas tidurnya sehingga dia nyaris lupa berada di mana. Dia berbaring pada sebuah kasur busa tanpa dipan. Perlahan diamatinya sekeliling. Dia terbangun di sebuah ruangan sederhana yang berisi seperangkat meja gambar, gulungan kertas kalkir rancang bangun di sudut ruang, tumpukan buku arsitektur, dan CD. Di sudut meja lukisan senjanya tersandar di dinding.

Perlahan kemudian kesadarannya muncul. Detik berikutnya dirasakannya perutnya hangat. Botol berisi air itu masih menempel di perutnya. Sudah sesore ini, mana mungkin botol itu tetap panas sejak tadi siang? Pasti air panas di dalamnya sudah diperbarui. Itu berarti, Darga sudah melihat perut dan pusarnya.

Puan jengah. Dengan cepat dia bangun dan melangkah keluar. Sungguh tidak nyaman menyadari diri berada di kamar seorang pria asing. Ia bahkan belum pernah masuk ke kamar Limar.

Darga ditemukannya di tengah ruangan. Tampak sedang melakukan sesuatu pada gambar rancang bangunnya yang terhampar di lantai kayu.

“Hai, sudah sehat?” sapa Darga menyambut.

Puan mengangguk, lalu bersimpuh di lantai, mengamati kertas gambar. “Jadi, kau arsitek?”

Darga mengangguk dan menerangkan tentang proyek resor yang sedang dikerjakannya.

“Kau mengingatkanku pada Lee Jung Jae. Seorang aktor Korea.”

“Aku tidak tahu. Hanya satu kali kulihat film Korea. Itu pun bukan untuk melihat filmnya, melainkan untuk melihat karya arsitektur yang dipakai sebagai lokasi. Rancangan itu bagus. Sebuah rumah yang dibangun di atas laut atau danau, yang di musim tertentu airnya mengering. Rumah yang setiap pergantian musim menampilkan pemandangan berbeda.”

“Apakah rumah itu berdermaga panjang dengan kotak surat di ujung dermaga?” sambung Puan.

“Ya, kotak surat ajaib yang mempertemukan dua dimensi waktu.”

Puan mengangguk. “Lee Jung Jae adalah si pemilik rumah berdermaga itu.”

Darga menghentikan gerakannya. Diangkatnya mata dan ditatapnya Puan lurus.

“Kurasa, aku sama sekali tidak mirip dengannya.”

“Mengingatkan tidak harus berarti mirip. Kau hanya serupa. Tidak cakep, tapi menarik.”

“Dengan kata lain, kau mengatakan bahwa aku menarik?”

“Tidak, bukan begitu maksudku,” bantah Puan, jengah. “Aku lapar. Lebih baik aku pulang,” sambungnya, sambil berpamitan.

“Tunggu, aku punya sesuatu untukmu. Kau beruntung, aku punya sepotong ayam hari ini.” Darga menghidangkan semangkuk bubur. “Kumasak bubur ayam. Memang tidak lengkap karena tidak ada cakue dan emping, kuganti dengan dadar iris dan bawang goreng. Makanlah, pasti enak selagi hangat begini.”

Puan tertegun. Apa yang dilakukan Darga, untuk kesekian kali, sungguh tidak terduga. Hal-hal tidak terduga yang menyentuh hati. Darga sungguh membuat hatinya bergetar.

“Terima kasih.” Puan menerima uluran itu. “Apakah kau selalu sebaik ini?”

“Tentu tidak. Hanya karena kau sedang sakit saja.”

“Karena itu mengingatkanmu pada ibumu?”

Darga mengangguk.

“Di mana ibumu sekarang?” tanya Puan.

“Di rumah.”

“Aku rasa, kau sedang merindukannya.”

Darga terdiam. Sejurus ditatapnya Puan. Tatapan itu begitu dalam, begitu jauh. Seakan menjelajah sudut hati Puan. Hati Puan bergetar hebat. Tatapan itu sangat menggetarkan hati. Bahkan, tatapan Limar pun tidak pernah memberikan getar sedahsyat ini. Dengan susah payah digerakkannya tangan untuk menyuap bubur, sambil meredakan getar hatinya. Rasa gurih dan lembut bubur menyentuh lidah. Sama sekali tak mampu mengangkat matanya. Nalurinya mengatakan, mata Darga masih menatapnya lekat.

Puan menikmati makan malam dengan Nenek Umi. Sebenarnya, Puan tidak merasa lapar karena perutnya masih berisi bubur ayam buatan Darga. Tapi, Puan tidak ingin memunculkan pertanyaan di benak Nenek Umi. Hatinya mengatakan, apa yang terjadi hari ini lebih baik disimpannya sendiri. Tapi, menutupi sesuatu ternyata tidak mudah.

“Kau sedang tak selera makan. Bukan karena makanan ini tak sesuai selera, tapi karena kau sedang gelisah,” kata Nenek Umi.

Puan menghentikan suapannya. Diteguknya air putih. Sungguh tidak diduganya Nenek Umi akan menebak setepat ini.

“Entah apa yang membuat saya gelisah. Saya merasa ada yang mengganggu hati. Tapi, saya memang sedang menstruasi.”

“Semoga itu bagian dari perubahan hormon yang tidak selalu bisa dipahami. Usahakan menikmatinya. Apa boleh buat, itu ritual kita sebagai perempuan.”

Puan mengangguk.

“Perutmu masih sakit. Nenek punya balsem.”

“Nanti diseka dengan botol air hangat saja, lebih nyaman.”

Nenek Umi terheran. “Jadi, selama ini kau juga memakai cara tradisional itu?”

Puan terenyak. Nyaris digelengkannya kepala. Tapi, sesuatu menghentikannya. Entah mengapa, ia ingin menyamarkan Darga.

Gelisah bukan sesuatu yang menyenangkan untuk dinikmati. Justru sebaliknya, gelisah bisa membuat segala sesuatu menjadi tidak nyaman. Langit malam yang cerah, cahaya kemilau menjelang purnama, dan embusan angin sejuk sangat menyenangkan untuk dinikmati. Tapi, kegelisahan mengalahkan semua itu dan mengubahnya menjadi sesuatu yang menyesakkan.

Puan tidak bisa tidur. Berkali-kali diubahnya posisi tidur, tapi tak juga ditemukan kenyamanan. Tak tahan lagi, sesaat kemudian Puan membuka jendela, berharap aliran udara malam bisa membantunya mengusir kegelisahan. Saat jendela terbuka, gadis itu terkejut. Sesosok bayangan orang berdiri di halaman. Bayangan itu melangkah perlahan, dalam gerakan kegelisahan.

Jantung Puan berdegup. Nalurinya mengatakan sesuatu tentang bayangan itu. Sesaat kemudian cahaya bulan memberikan jawaban. Bayangan itu datang dari sosok Darga.

Gerak bayangan itu terhenti. Lurus berhadapan dengan jendela. Dalam remang cahaya bulan, tatap mata keduanya bertemu.

“Ada apa?” tanya Puan, dengan suara berbisik.

Darga menggeleng, terdiam sesaat. “Hanya ingin melihatmu.”

Puan tercenung. Nada kalimat itu seakan membawa nada kegelisahan yang sama seperti dalam benaknya. Puan kemudian keluar dan duduk di beranda rumah panggung.

“Mengapa ingin melihatku?” dicobanya mencari jawaban.

Mata Darga menatap gelisah. “Entahlah.”

Puan menghela napas. Ada apa ini, pikirnya. Mengapa kami ada dalam kegelisahan yang sama? Akukah yang ada dalam kegelisahannya?

Sesaat keduanya terdiam.

“Begini saja, anggaplah aku hanya ingin memastikan bahwa kau sudah sehat dan baik-baik saja,” kata Darga, dengan nada aneh.

Puan mengangguk. Lalu, suasana kembali hening.

“Aku tidak bisa tidur,” gumam Puan.

“Gelisah? Memikirkan seseorang?” tanya Darga.

Puan tidak menjawab. Matanya menatap bulan di langit. Bulan redup sesaat terlewati awan yang bergerak perlahan. Siapakah yang kupikirkan? Mungkin, seharusnya aku berpikir tentang Limar. Tapi, mengapa sosoknya tidak pernah terlintas?

“Aku memikirkanmu,” kata Darga, menjawab pertanyaannya sendiri.

Puan terenyak. Pernyataan itu, meski sudah diduganya, tetap mengejutkan.

“Aku baik-baik saja. Tidak perlu kau pikirkan,” Puan berusaha tetap tenang. Nalurinya mengatakan situasi ini tidak bisa dibiarkan berkembang makin jauh, harus dilakukan sesuatu untuk menghentikannya.

“Sudah larut. Pulanglah,” katanya.

Darga diam, tatap matanya lurus, menyiratkan sesuatu.

“Apakah aku boleh memelukmu?” tanya Darga hati-hati, hingga nyaris tak terdengar.

Puan berdiri, mundur selangkah. “Tidak... tidak boleh.”

“Mengapa?” desak Darga. Matanya tajam, menuntut jawaban.

Puan kehilangan kata-kata. Sesaat diaturnya napas dan dikendalikannya diri.

“Karena, aku bukan seorang yang bebas. Aku adalah calon pengantin yang akan menikah beberapa bulan lagi,” katanya, tenang.

Darga terdiam. “Lalu, mengapa kau datang kemari?”

“Aku tidak melarikan diri dari sesuatu. Persiapan proses pernikahan membuatku tertekan, sehingga aku memerlukan semacam pelepasan. Aku datang untuk mencari energi baru untuk pemulihan batinku.”

“Calon suamimu membiarkanmu pergi sendirian?”

“Aku yang meminta.”

“Dia setuju?”

“Mengapa tidak?”

“Andai aku di posisinya, tidak akan kubiarkan kau melakukan ini.”

Darga menatap Puan, tepat di manik mata.

“Karena, aku akan terlalu mencintaimu sehingga tidak akan sanggup membiarkanmu pergi sejauh ini,” lanjutnya.

Puan terkesima. Tatapan mata itu begitu menghanyutkan. Kalimat itu sangat menggetarkan hati. Sangat tak terduga. Limar tidak pernah mengucapkan kalimat seindah ini.

Puan mendadak kehilangan daya sehingga tidak tahu harus melakukan apa. Yang tersisa hanyalah kepasrahan belaka. Ketika Darga melangkah mendekat dan merangkumnya dalam pelukan, Puan tak lagi memiliki penolakan. Juga ketika bibir Darga menyentuh bibirnya dengan lembut. Yang ada dalam dirinya hanyalah sensasi kepasrahan total. Tiada hasrat untuk melawan. Puan terhanyut.

Namun, beberapa saat kemudian, kesadaran datang. Sesuatu mengentakkan hati dan membangunkan gadis itu dari mimpi. Bagai terhenti dari laju kereta, bagai terempas dari pusaran angin. Puan bergerak cepat, melepaskan diri dari pelukan dan melangkah mundur menjauh dari jangkauan Darga.

“Mengapa melakukan ini padaku?” seru Puan.

“Naluri,” suara Darga bergetar.

“Ini tidak pantas,” emosi Puan terguncang.

Darga terdiam. Matanya dingin, sarat perasaan tak terungkap. Tapi, mata itu begitu menjerat, dengan tatapan yang dalam bagai lautan yang menenggelamkan.

Puan menghindar dari mata itu. Melindungi diri dari jerat yang bisa jadi tak terelakkan.

“Pergilah,” pinta Puan, nyaris tak terdengar.

Darga tak bergerak.

“Please...,” lanjut Puan. Perih suara itu.

Darga sungguh tak ingin pergi. Dia ingin tinggal dan mempertahankan gadis itu. Dia merasa masih ada kesempatan untuk itu. Janur belum melengkung, rumah belum berhias bunga pengantin. Artinya, sang putri calon pengantin masih bisa diperebutkan. Darga merasa memiliki kekuatan penuh untuk melakukan perjuangan itu.

Tapi, suara sarat kepedihan itu menghadang langkahnya. Tampak jelas gadis itu bergumul melawan dirinya sendiri. Pergumulan yang hebat dalam usaha untuk menghindar dari jangkauannya. Haruskah dipaksakannya kehendak itu dan membuat gadis itu makin tersudut? Atau, mungkin justru di situlah peluangnya untuk meraih kesempatan? Darga menghela napas panjang.

Ia undur diri. Tanpa suara, dia berbalik, menuruni tangga beranda dan melangkah pergi dalam gelap malam.

Puan tertegun gamang. Nanar ditatapnya bayang itu menjauh. Punggung itu melangkah pergi. Perlahan, selangkah demi selangkah kegelapan malam merangkumnya sehingga tak lagi tergapai cahaya bulan. Puan memejamkan mata. Bayang punggung itu mengabur dalam genangan air matanya.

Lalu gelap. Lalu sunyi. Pedih menekan ulu hati. Darga sudah pergi.

Kalimatnya indah. Tatap matanya menggetarkan hati. Bahkan, Limar pun tak pernah memandangnya begitu tajam, tak pernah mengucapkan kata-kata seindah itu....

aya akan pulang, Nek,” kata Puan.

“Sepagi ini? Ada masalah, Nak?” Nenek Umi menyentuh bahunya.

“Saya tak bisa menjelaskan. Tapi, saya harus pergi secepatnya.”

“Kalau itu yang terbaik, lakukanlah,” kata Nenek Umi.

“Terima kasih. Akan ada seseorang yang datang mencari saya. Tolong, berikan lukisan ini padanya. Dia akan mengerti,” kata Puan, sambil mengulurkan lukisannya.

Nenek Umi mengangguk tanpa suara.

Puan menggigit bibir. Lukisan senja dalam tatapannya perlahan mengabur. Dia ingat senja itu. Senja saga di tebing Tanah Bumi.

Puan sedang melukis di beranda belakang ketika bel pintu berbunyi. Ia mengamati hasil karyanya. Lukisan setengah jadi. Lukisan hitam-putih dengan medium pensil. Teknik melukis yang sudah lama tidak ia gunakan. Ia menghela napas panjang, lalu menutup lukisan itu dengan selendang.

“Sedang sibuk?” Limar menyapanya di ambang pintu.

Puan menggeleng, sambil tersenyum.

“Gerai perhiasan menelepon, cincin kita sudah siap. Kita ambil sekarang? Kita kan harus mencoba cincin itu. Mungkin saja tidak pas.”

Cincin itu sudah telanjur jadi. Sekalipun tidak nyaman di jari, tindakan apa yang bisa dilakukan untuk mengubahnya?

Limar mengamati perangkat lukis yang bertebaran. “Kau sedang melukis rupanya. Kalau begitu, kita ambil cincin itu lain hari. Mood seniman tidak selalu datang setiap saat, bukan? Melukis apa?”

Puan terdiam. Ia tak ingin menjawab pertanyaan itu. Ia ingin menyembunyikan sesuatu. Entah apa. Sebelum menjawab, Limar telah menarik selendang penyelubung lukisan. Lukisan setengah jadi itu tampak jelas. Lukisan tentang bayangan seorang laki-laki tanpa wajah. Tampak postur dari belakang, memperlihatkan punggung dengan rambut sebahu sedang melangkah menjauh.

Limar menatap lukisan itu. “Kau memakai pensil. Sudah lama kau tidak melukis dengan pensil. Siapa dia?”

Puan terkejut. “Bukan siapa-siapa. Waktu di Tanah Bumi, aku sering duduk di beranda. Banyak pejalan kaki melintas di depan rumah Nenek Umi. Bagiku, mereka fenomena menarik. Karena aku tidak mengenal mereka, aku tidak menampakkan wajah mereka. Sebab, menggambar wajah memerlukan pendalaman karakter. Jadi, kupilih menggambar punggung mereka.”

“Sudut pandang yang menarik. Tapi, kalau boleh kukatakan, karakter punggung ini terlalu bergaya ‘kota’. Dia mengenakan T-shirt dan jins. Seragam anak muda perkotaan.”

“Tanah Bumi bukan pedalaman. Ada angkutan kereta api yang memungkinkan alur kehidupan kota memengaruhi gaya hidup mereka. Yuk, kita pergi,” kata Puan, mengalihkan pembicaraan.

“Nanti pulangnya diantar sopir, ya. Sore nanti aku harus presentasi,” kata Limar, sambil membuka pintu mobil.

Puan tertegun. Limar membiarkan dia pulang sendiri. Padahal, di suatu tempat, seseorang begitu peduli padanya, bahkan bersedia berjalan di belakangnya, untuk mengantarnya melewati hutan.

Puan mematut diri di depan cermin. Berbalut gaun putih selutut, rambut ditata rapi dengan sematan bunga putih. Pantulan wajahnya begitu cantik. Serupa peri bunga di buku dongeng.

“Sudah siap? Fotografer sudah menunggu,” kata Limar.

Puan beranjak. Sekilas ditatapnya cermin untuk melihat bayang dirinya. Ia terkejut saat menyadari bahwa di dalam cermin bayangan dirinya tidak sendirian lagi. Limar mendampinginya. Seorang pria gagah berjas kasual. Wajahnya bersih menyimpan senyum. Matanya menyorot tajam, menyiratkan ketakjuban. Mereka bertemu pandang lewat pantulan cermin.

“Akan kulakukan apa pun untukmu. Tidak akan pernah kau temukan cinta lain seindah yang aku miliki untukmu,” kata Limar.

Puan memejamkan mata. Benarkah tiada cinta seindah cinta Limar padanya? Lalu, bagaimana dengan cinta Darga? Dua cinta yang indah. Manakah yang lebih indah?

Ketika pemotretan, Puan tampak selalu gugup dan salah tingkah sehingga berkali-kali ia ditegur oleh sang pengarah gaya.

“Apakah kau baik-baik saja?” tanya Limar, seusai sesi foto.

Puan mengeluh, “Aku tidak pernah merasa nyaman difoto.”

“Kau tampak gelisah, seperti memikirkan sesuatu,“ kata Limar, sambil menggenggam jemari Puan. “Tak usah terlalu memikirkan hari pernikahan kita. Kau hanya perlu mempersiapkan dirimu sebaik mungkin untuk menjadi pengantinku yang tercantik.“

Puan tercenung. Itu impian Limar. Sanggupkah diwujudkannya mimpi itu untuk Limar? Sementara, dirinya kini adalah diri yang terbelah, yang menyimpan bayang pria lain di sudut hati.

Limar dan Puan bersama mengamati foto-foto pranikah mereka. Sebagian besar foto hitam-putih, merefleksikan diri mereka dalam berbagai gaya. Ada yang tampak romantis, ada yang tidak.

Puan tertegun. Seolah ia terlempar pada suatu waktu. Pada sebuah malam, pada sebuah beranda. Ketika sebuah bayang merangkumnya dalam pelukan dan memberinya sebuah kecupan menggetarkan. Getaran yang masih tersisa hingga hari ini. Jantung Puan berdegup keras, hingga mengucurkan keringat dingin di tengkuknya.

“Kau pucat sekali. Ada apa?“ seru Limar.

Puan mengatur napas, lalu mengerjapkan mata. Di depannya sepasang mata tampak menyimpan kecemasan. Cemas yang berasal dari cinta yang begitu besar. Cinta Limar untuknya. Tapi, apa yang dilakukannya untuk membalas cinta itu?

Puan menghindar dari tatapan itu, tanpa mampu menyembunyikan gelisah. “Kita pergi, yuk,” katanya, sambil beranjak.

Limar menghentikan gerak gadis itu. Matanya menatap tajam penuh selidik. “Ada apa?” tanyanya, lebih tegas.

Puan terdiam. Dia benar-benar tersudut, tiada celah untuk berkelit.

“Aku tidak siap,” katanya, pelan.

“Apa maksudmu? Kau tidak siap menikah denganku?” tanya Limar.

Anggukan pelan Puan membuat Limar terkesiap.

“Apa artinya? Kita sudah sejauh ini dan kau bilang tidak siap? Apa yang sebenarnya terjadi?” Suara Limar gemetar.

Bibir Puan bergetar. Bagaimana menjelaskan apa yang terjadi bila dirinya sendiri juga tidak paham akan apa yang ada dalam benaknya?

Hening. Waktu berlalu dalam diam. Entah berapa lama. Sesaat kemudian terdengar helaan napas panjang. Napas Limar.

“Aku merasa, kau sedang memikirkan orang lain. Apakah ia pemilik punggung dalam lukisanmu?” gumam Limar, dingin.

Sunyi. Tidak ada suara dan gerak apa pun juga. Hampa. Puan tahu, inilah akhirnya. Dia telah sampai pada suatu jalan. Jalan buntu.

Ditutupnya wajah dengan seluruh jemarinya. Bukan untuk menahan air mata, tapi untuk menyembunyikan diri. Tak mampu dia berdiri di hadapan Limar, apalagi bersanding di pelaminan. Adakah yang lebih hina daripada yang dilakukannya saat ini? Adakah yang lebih memalukan daripada apa yang terjadi padanya saat ini? Dia, seorang calon pengantin, menyimpan bayang lelaki lain dalam benaknya.

“Maaf...,” gumam Puan.

Limar menggigit bibir, gigitan keras yang menimbulkan luka. Pedih, tapi tak sebanding dengan kepedihan di hati.

“Jangan katakan apa pun. Kita sama-sama sedang emosi. Yang perlu kita lakukan saat ini adalah pulang. Lalu, kita akan bertemu lagi, sesudah kau dan aku siap untuk itu,” kata Limar. Kalimat itu begitu dingin, lurus, datar, dan tak terbantah.

suatu pagi Limar datang. Bibirnya tersenyum. Matanya tidak.

“Kau marah padaku?” tanya Puan, ragu.

Limar terdiam sesaat, lalu menggeleng.

“Benci?” tanya Puan lagi.

“Tidak. Hanya, aku merasa tidak mengenalmu. Kebersamaan kita yang sekian lama itu ternyata tidak berarti.”

Puan menunduk. Rasa bersalah menyudutkannya.

Limar menyentuh bahunya. Tatap matanya lembut “Seharusnya, aku yang shock. Tapi, mengapa sepertinya kau yang lebih tertekan?”

Kelembutan Limar sesungguhnya sangat menyentuh hati. Tapi, bagi Puan, kelembutan itu justru lebih tajam dari pisau mana pun juga. Andai boleh memilih, Puan lebih siap menerima kemarahan.

“Aku bersalah padamu,” bisik Puan, bergetar.

Limar menghela napas panjang. “Beberapa hari ini aku merenung. Bukan hal mudah menentukan sebuah keputusan. Tapi, ini tak bisa dihindari. Apa pun alasannya, kita harus bersama menghadapinya. Merenung membuatku menemukan satu hal, yaitu bahwa cinta seharusnya bukanlah sesuatu yang egois. Kebahagiaan terbesar dalam proses mencintai seseorang adalah membuatnya bahagia. Begitu juga aku. Aku sangat mencintaimu. Tapi, aku bukan manusia yang sempurna sehingga cinta yang kupunya tak cukup membahagiakanmu.”

“Limar, bukan itu....”

“Karena itu, aku tidak akan membuat diriku menjadi duri dalam daging bagi hidupmu. Malapetaka terbesarku adalah jika cintaku mengikatmu dan membuatmu kehilangan kesempatan untuk meraih kebahagiaanmu. Dia, si pemilik punggung itu, barangkali mempunyai sesuatu yang tak kupunya. Sesuatu yang membuat hatimu terbelah. Jangan mengingkari hatimu sendiri. Yang penting, temukan kebahagiaanmu. Selama itu akan membahagiakanmu, aku rela melepasmu.”

Puan terpana, sungguh tak terduga. “Jadi?”

“Terserah padamu. Aku tak punya hak mengendalikan hidupmu. Kita masing-masing berhak atas hidup kita sendiri. Aku bisa memaksamu melakukan itu. Tapi, apakah itu layak kulakukan? Apakah bisa hatimu kurebut dengan paksaan? Tidak, aku tidak akan pernah melakukan itu. Aku akan mendapat cintamu bila memang hatimu menginginkan itu. Bukan karena alasan lain. Jadi, jangan menipu aku atau dirimu sendiri.”

Puan menatap mata Limar. Tampak bening, tapi tidak bercahaya. Mata itu menyimpan kepedihan, memohon kejujuran. Permohonan yang harus dihargai, meski berarti menambah kepedihan.

Puan menghentikan langkah. Pondok kayu di bantaran sungai itu masih sama seperti saat ditinggalkannya beberapa bulan lalu.

Sesaat kemudian Puan membuka pintu pondok untuk mendapatkan jawaban. Ruang berlantai kayu yang dulu rapi, kini sangat berantakan. Gulungan kertas kalkir, tumpukan buku, aneka botol minuman, kertas bungkus makanan. Asap tipis beraroma tembakau bakar menebar di segala ruang. Puan melangkah mencari sumber asap. Asap itu berasal dari seseorang yang sedang menekuni meja gambar. Sebatang rokok terselip di antara jarinya.

“Darga?” desis Puan, ragu.

Sosok itu terkejut. Sosok itu bagai seorang asing yang sama sekali tidak dikenalnya. Di hadapannya kini adalah seorang berambut panjang tidak rapi dengan pipi dan dagu penuh rambut tak rata.

“Apa yang terjadi?” tanya Puan.

“Aku yang seharusnya menanyakan itu. Mengapa datang?” Tajam mata Darga menyambar gadis itu.

Puan mundur. Ketajaman mata Darga membuatnya jengah. Tapi, tatap mata yang sama menyiratkan luapan rindu yang menggetarkan.

“Ada apa?” tanya Puan. Darga mendekat, tanpa melepaskan tatapan.

“Tidak terjadi apa-apa. Proyek berjalan lancar dan aku masih di pondok ini, seperti yang kau lihat,” kata Darga, enteng.

“Lalu, bagaimana dengan ruangan berantakan ini?”

“Itu biasa. Tidak semua orang harus rapi, bukan? Anggap saja aku sedang malas. Apa susahnya?”

“Kurasa, suasana hatimu sedang tidak enak. Aku pulang saja,” kata Puan, beranjak pergi.

Suara Darga menghentikan langkah Puan. “Sesudah kau pergi, aku tidak ingin melakukan apa pun.”

“Kau pikir hidup berhenti?”

“Kau yang menghentikannya bagiku.”

Puan mengerjap. Kalimat yang menyentuh, nyaris memabukkan.

Darga menatap gadis itu. “Apa yang terjadi?”

“Dia merasa telah terjadi sesuatu padaku. Lalu, ia memintaku untuk bersikap jujur. Dan, dia membebaskanku untuk memilih.”

“Dan, kau meninggalkannya?” tanya Darga.

Puan mengangguk. “Baginya, mencintai seseorang berarti memberikan kebahagiaan karena cinta yang dia miliki adalah cinta yang membebaskan, bukan cinta egois yang mengikat.”

“Mungkin, dia juga belum siap menikah. Aku bukannya berprasangka, tapi rasanya dia terlalu mudah melepasmu.”

Puan menggeleng. “Aku mengenal Limar dengan sangat baik. Dia selalu bersungguh-sungguh dengan apa yang dikatakannya.”

Darga berpikir sesaat. “Apakah dia mencintaimu?”

“Mungkin.”

“Mungkin? Sekian lama bersamanya, kau tidak yakin akan kadar cintanya? Katamu, kau mengenalnya dengan sangat baik.”

“Itu sudah berlalu. Tidak nyaman lagi membicarakannya.”

“Jadi, dia mencintaimu?” tanya Darga lagi.

Mata Puan membesar. “Ya, amat sangat. Puas?”

“Lalu, mengapa memilihku?”

Puan angkat bahu. “Entahlah. Apakah selalu perlu alasan untuk menolak atau memilih sesuatu atau seseorang?”

Puan mengisyaratkan tidak ingin membahas lebih jauh.

“Segeralah mandi dan cuci rambutmu. Lalu, masakkan sesuatu untukku. Sesudah itu, kau boleh memelukku,” kata Puan.

Aroma sabun mandi segar menebar ketika Darga muncul dengan rambut basah. Dia tampil sangat rapi. Ruangan juga telah rapi. Gulungan kertas rancang gambar tersusun di sudut ruang. Tatami terhampar di tempatnya. Tidak ada lagi ceceran sampah.

“Apa yang akan kau masak untukku?” tanya Puan.

“Aku tidak akan memasak apa pun. Aku akan mengantarmu pulang.” Nada suara Darga terdengar dingin.

Puan terkejut. “Mengapa?”

“Aku adalah tipe pejuang. Yang menarik bagiku adalah proses perjuangan untuk mencapai sesuatu. Dalam cinta, yang kunikmati adalah proses meraih cinta itu. Melakukan strategi untuk menarik simpati sasaran adalah dinamika yang sangat menarik. Dan, ketika sasaran takluk, tujuanku berakhir.”

Puan terenyak. Nyaris tidak percaya.

“Jadi, keliru jika kau memilihku. Apa yang kau harapkan? Aku tidak akan berhenti, apalagi mengikatkan diri pada seseorang. Betapapun menariknya tempat ini, aku akan pergi sesudah menyelesaikan resor ini. Salah besar jika kau meninggalkan kekasihmu dan memilihku. Kau berharap aku menjadi pengantinmu? Maaf, tidak bisa kulakukan itu. Aku tidak pernah berpikir untuk berkomitmen apa pun juga.”

Kata-kata Darga bagai petir menyambar, mengempaskan dan membuat dirinya menjadi serpihan retak. Puan melihat betapa remuk serpihan itu. Nyaris tanpa bentuk. Puan terbawa pada satu kesadaran. Dia salah jalan. Dia berbelok di tikungan yang hampa.

Darga mengulurkan tangan. “Kuantar pulang. Hampir malam.”

“Jangan ulurkan apa pun padaku!” serunya, setajam pisau. Kalimatnya terhenti. Tidak ada satu kata pun yang sepadan untuk mengungkapkan kemarahan dan kepedihan hatinya pada Darga. Puan membuka pintu dan melangkah pergi.

Puan duduk tercenung. Tepat di hadapannya sepasang cincin berukir nama tergeletak menunggu keputusan akhirnya. Nama Puan dan Limar yang terukir. Tidak mungkin cincin itu berpindah tangan. Sepasang cincin itu harus dilebur untuk menghilangkan segala goresan dan memisahkan kandungan logam campurannya, sehingga menjadi lelehan emas murni.

“Puan, apakah kita jadi melebur cincin itu?” tanya Limar.

Mengapa kau ingin aku yang menentukan jawaban untuk cincin ini? Kau memberiku kesempatan untuk memilih, untuk menentukan kata akhir, untuk ‘menyelesaikan’ dan bukan ‘diselesaikan’, untuk memosisikan aku, bukan sebagai seseorang yang tersingkirkan. Begitulah kau menghargai perasaanku. Bagaimana bila aku menjawab ‘tidak’? Mungkinkah cincin ini akan tetap utuh untuk kita kenakan pada hari perkawinan kita? Apakah itu mungkin?

Puan menghela napas. Dikendalikannya emosi diri.

“Kita akan meleburnya,” katanya, tanpa emosi.

Limar menatapnya dengan ketenangan yang sama. Cahaya matanya meredup. “Yakin?”

Puan mengangguk, lalu berpaling, menyembunyikan bening di sudut mata. Seribu belati bagai menghujam ulu hatinya.

Dan, sepasang cincin itu menerima hari akhirnya. Perjalanannya telah usai, bahkan sebelum sempat dimulai.

Menjelang pulang, langkah Puan terhenti di ambang pintu. Digenggamnya jemari Limar, lalu dikecupnya lembut.

“Terima kasih, kau selalu baik padaku. Salam perpisahan yang lazim adalah sampai bertemu kembali. Tapi, rasanya kita lebih pantas mengucapkan selamat tinggal.”

Limar tercenung. Aliran darahnya bagai membeku. Dipeluknya Puan. Puan tergetar dalam pelukan itu. Sesaat serasa dimilikinya kembali hari-hari itu. Ketika kebahagiaan ada dalam genggaman. Ketika hari-hari begitu sempurna bagai mimpi tanpa akhir. Namun, hanya sesaat. Ia sadar, hari-hari itu telah lewat menjadi sebuah masa lalu. Yang tertinggal kini hanyalah kenangan. Kenangan yang terlalu indah untuk dilupakan, tapi juga terlalu pedih untuk dikenang.

Puan melepas pelukan. “Selamat tinggal,” katanya, lalu berbalik cepat dan melangkah menjauh. Meninggalkan Limar dalam keheningan panjang.

“Ya, selamat tinggal,” jawab Limar, nyaris tanpa suara. Langkah Puan telah jauh. Limar menghela napas. Sendirian.

Darga

Melihatmu kembali adalah kejutan tak terlukiskan. Seperti musafir menemukan oase, seperti daun kering menemukan tetes embun. Seperti pertanyaan yang menemukan jawaban. Ketika kau pergi, aku berharap ada kesempatan untuk memiliki seseorang sepertimu. Hanya seseorang sepertimu, bukan dirimu.

Ketika kau datang lagi padaku, kusadari, aku tak mampu menerimamu. Bukan karena aku tidak mencintaimu, tapi karena aku tidak cukup layak untuk menggantikan kekasihmu. Cinta kekasihmu terlalu sempurna. Apa yang kupunya tidak akan cukup menjadi pengganti dari apa yang kekasihmu persembahkan untukmu.

Sesuatu akan mengecewakanmu suatu hari nanti. Ketika itu terjadi, segala sesuatunya sudah terlambat. Aku tidak ingin itu terjadi. Aku harus membuatmu kembali pada kekasihmu sekarang juga.

Jalan kekasihmu akan memberikan banyak hal. Ke sanalah seharusnya kau melangkah. Jangan bawa langkahmu pada jalanku karena jalanku tidak menjanjikan apa pun. Aku tidak memiliki pijar cahaya seperti yang dimiliki kekasihmu untukmu. Jalanku barangkali hanya kesunyian semata.

Puan

Sesungguhnya aku tidak sedang melamun. Aku hanya sedang berharap hari itu tidak pernah ada. Aku berharap, sepasang cincin itu akan tetap menunaikan tugasnya pada hari yang terpilih itu. Aku berharap, cincin itu akan menjadi milik kita bersama, selamanya sesuai janji kudus yang akan kita ikrarkan.

Tapi, kau menyerahkan pertanyaan itu padaku. Kamulah yang berhak menjawab pertanyaan itu. Tapi, dengan kemurahan hatimu, kau memberikan hak jawab itu padaku. Begitulah kau menjaga perasaanku, agar bukan aku yang menerima penolakan itu, melainkan dirimu. Dan, begitulah adanya. Aku meninggalkanmu. Kulepaskan gaun pengantin, kulebur cincin, dan kutoreh luka di hatimu. Demi mengejar sesuatu yang ternyata tidak ada.

Ketika hak menjawab itu kau berikan padaku, sesungguhnya masih tersisa satu harapan untuk melanjutkan mimpi yang terpenggal. Cahaya matamu masih menyiratkan cinta untukku. Hatimu sangat baik. Aku yakin, kau akan memberiku peluang untuk kembali.

Tapi, aku tidak punya keberanian untuk kembali. Aku tidak punya pengampunan untuk memaafkan diri sendiri. Jadi, jawaban itulah yang harus kupilih, melebur cincin. Jawaban yang membawaku pada sebuah jalan sunyi, yang entah berujung di mana.

Limar

Melihatmu melangkah pergi adalah kepedihan tak tersembuhkan. Aku ingin menghentikan langkahmu, meraihmu, dan memintamu kembali padaku. Aku ingin. Tapi, apakah itu mungkin?

Ruang hatimu telah dimiliki orang lain. Tak tersisa sedikit celah pun untukku. Segala cinta yang kupunya tak mampu menghadirkan celah itu. Segala cinta yang kuberikan selama ini ternyata tak sanggup untuk mengikat hatimu. Tak juga cukup untuk membuat hatimu nyaman berada dalam duniaku. Lalu, apa lagi yang bisa kulakukan untukmu?

Dulu, kita telah sampai pada sebuah jalan. Jalan yang telah kita rancang dengan segala angan masa depan, yang kita yakin akan terlalui dengan sukacita. Namun, sekarang? Bayangmu pergi menjauh. Langkahmu tak terhenti. Maka hanya tersisa satu hal yang bisa kulakukan, yaitu merelakanmu. Dan, akan kususuri jalan sunyiku, sendirian.

Tamat

0 Response to "Jalan Sunyi"

Post a Comment

Translate

English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified