Download applikasi baca novel online untuk android disini: DOWNLOAD

G I R I 2

G I R I 2

SUATU LEDAKAN BALAS DENDAM MELANJUTKAN YANG

DITINGGALKAN OLEH PARA NINJA

Marc Olden

B A S S A I

Kata karate, atau bentuk karate, yang Menyangkut pergantian lengan lengan penghadang secara berulang, yang menunjukkan perubahan dari posisi leaah ke posisi kuat. Dalam melakukan kata ini, seseorang menyasar pada suatu kehendak yang sama seperti yang diperlukan untuk merusak binasakan suatu benteng musuh.

DATANG KE LAS VEGAS merupakan suatu tindakan amat berbahaya bagi Dorian Raymond.

Betapa tidak? Ia kini berada di suatu kota, di mana dalam beberapa jam lagi, Robbie Ambrose mungkin sekali akan memper-kosa dan membunuh seorang wanita, sebelum naik ke atas gelanggang sebuah hotel di pusat kota, untuk melawan juara karate kelas berat dari meksiko. Setelah mendapatkan kamar di sebuah hotel, tetapi merasa terlalu gelisah untuk berdiam terus di dalam kamarnya, Dorian keluar. Setelah menimbang nimbang pro dan kontra, Dorian memanggil taxi dan meminta pengemudi mengantarkan dirinya ke markas besar kepolisian kota itu.

Dorian merasa resah mengenai Robbie.

Keseretan keuangannya 'memaksa' Dorian mempertimbangkan segala kemungkinan: melaporkan atau menarik keuntungan sendiri dari penge-

tahuannya tentang Robbie Ambrose itu

Masuk ke dalam markas kepolisian itu agak membangkitkan keriangan Dorian. Di mana mana polisi adalah polisi; selalu ada saling bantu. Polisi Las Vegas ramah sekali,menyambut dan melayani Dorian, seorang detektif New York, sebagai seorang tokoh termashur yang sedang datang berkunjung.

Seakan akan dalam diri Dorian berkumpul bersatu Kojak, Colombo dan Dirty Harry

Dorian tidak merasa sendirian dan kesepian lagi. Seseorang mendapatkan sebotol Wild Turkey, dan dua jam kemudian, Dorian, dengan jas dilepaskan, tertawa dan bergurau dengan rekan rekan baru itu. Namun begitu, Dorian tidak sebentar pun lupa untuk keperluan apa ia berada di Las Vegas itu.

Dorian berkata, "Masih berlakukah ungkapan, bahwa pelacur pelacur tercantik di dunia adalah di kota ini?"

Seorang letnan menjawab, "Kau mengharap seorang yang sudah beristeri menjawab pertanyaanmu itu?"

Semua tertawa.

Diperlukan beberapa gelas minuman lagi, sebelum Dorian mendapat tahu, bahwa sudah sebulan lamanya di Las Vegas tidak terjadi peristiwa perkosaan-pembunuhan. Medan bagi

Robbie agaknya bersih

Ah, sudah waktunya untuk pergi. Dalam keadaan agak mabok, Dorian merasa sedih harus berpisah dari teman teman baru itu. Ia kembali sendirian. Sekarang cuma ada dirinya dan Robbie. Satu lawan satu, dan tidak boleh ada kesalahan sedikit pun!

Dua orang polisi mengantar Dorian ke hotelnya, mendesak agar Dorian selalu menghubungi mereka selama ia berada di kota itu. Sempurna! Mereka mengetahui bahwa ia, Dorian Raymond berada di kota itu, dan pasti akan melindungi dirinya.

ROBBIE DIHAJAR DAN MENDEKATI KEKALAHAN, situasi yang sungguh, mengecewakan Dorian, yang mengharapkan lebih banyak dari Robbie.

Di depan Dorian, yang berada di bagian paling belakang arena pertandingan yang penuh sesak itu, ada sekelompok orang meksiko yang ramai ramai minum bir, melambai lambaikan bendera bendera kecil merah, putih dan hijau dan hingga serak berteriak teriak ketika Hector Quintero melemparkan Robbie ke tambang tambang dengan serentetan tendangan tendangan ganas. Quintero itu berlengan panjang dan berperawakan jangkung, tatapan mata tajam dan berberewok. Ia memiliki pukulan pukulan jab kiri yang dahsyat dan secepat kilat serta kakinya panjang, yang dipergunakannya dengan mahir sekali. Strategi yang dipakai Quintero adalah tanpa mengendor menyerang dan mendesak terus. Menyerang dari suatu jarak. Mempergunakan jab jab dan tendangan tendangan mencegah Robbie mendekat. Tendangan tendangan jago meksiko itu mengerikan.

Quintero mendaratkan dua pukulan di atas perut Robbie, kemudian berputar dan menghantam dan mengenai bagian atas pipi Robbie dengan ayunan balik tinjunya, merobohkan bekas anggota SEAL itu ke atas lutut sebelah. Penonton penonton yang orang meksiko melompat berdiri dari kursi kursi mereka dan menjerit jerit, "Quin-tero! Quintero!"

Robbie melompat berdiri seketika. Namun wasit memaksanya dalam keadaan berdiri menerima hitungan hingga delapan.

Gong berbunyi, mengakhiri ronde keempat. Dengan hitungan tadi, jago meksiko itu memenangkan dua ronde, Robbie satu ronde, sedangkan satu ronde lagi berakhir seri.

Untuk pertama kalinya, Dorian mulai menjadi sangsi mengenai Robbie dan perkosaan-pembunuhan perkosaan-pembunuhan

itu. Ketika ia menelefon polisi Las Vegas sebelum masuk ruangan arena pertandingan itu, Dorian telah mendapat keterangan bahwa tidak ada laporan perkosaan-pembunuhan yang dilaporkan Sia sia saja ia membuang waktu? Begitu banyak yang tergantung pada dibunuhnya seorang wanita oleh Robbie di Las Vegas itu!

Dorian menginginkan sesuatu yang dapat ditimpahkannya pada Robbie, dan denqan itu barangkali, —ya, barangkali— bisa diperolehnya sesuatu dari Sparrowhawk. Dan semua itu untuk keuntungan dirinya. Dan semakin ia memikirkan hal itu, semakin kecewa dan jengkellah Dorian kalau kalau Robbie ternyata sama sekali bukanlah

pembunuh yang dibayangkannya itu

Sialan kau, Rpbbie. Dorian memutuskan untuk bergabung pada orang orang meksiko itu dan memasang tarohan atas kemenangan Quintero.

Ronde ke lima.

Robbie, dalam celana gi satin warna kuning, dengan sabuk hitam pada pinggangnya, bergerak maju lebih lambat daripada di ronde ronde sebelumnya. Bagi Dorian, sikap Robbie itu seperti suatu keengganan untuk terlalu dekat pada lawannya. Quintero, sebaliknya, maju dengan beringas, langsung melemparkan tendangan, jab, uppercut uppercut ganas yang pasti menciderai Robbie seandaikan mengenai sasaran.Tetapi, entah bagaimana, tidak satu pun serangan Quintero itu berhasil mendarat.

Robbie berkelit, merunduk, melangkah ke samping, dengan berdaya hasil menghindari jangkauan. Namun, Robbie tidak mencoba melakukan serangan. Reaksi Quintero yalah menjadi lebih agresif, melemparkan pukulan dan tendangan secara lebih buas lagi. Seluruh penonton, yang lebih lima ribu orang banyaknya itu, bersorak sorak memberi semangat kepada Quintero. Kaki maupun tinju dan tangan jago meksiko itu memegang nyaris mengenai, tetapi cuma menyerempet muka dan perut Robbie. Dengan segala dukungan penonton, Quintero tidak berhasil menyentuh Robbie.

Kemudian terjadilah clinch itu. Dengan sikap mencemooh, Quintero mendorong Robbie melepaskan diri dari clinch itu tanpa menunggu perintah wasit. Lalu jago meksiko itu dengan kedua tangannya memberi isyarat agar Robbie maju lagi untuk bertarung. Sorakan sorakan dari penonton. Siulan siulan mengejek yang ditujukan kepada Robbie, disertai teriakan teriakan, "Ambrose mengisap. Ambrose banci." Dorian mendengar seseorang berkata: "Banci pantai timur sialan, cuma itu belaka. Pesolek tanpa pelir. Tidak mempunyai buah pelir!"

Yah, yang di atas ring itu bukanlah Robbie yang dikenal Dorian. Hingga saat itu, cuma orang meksiko itu yang bergaya, menghajar Robbie.

Dorian bergeser ke kanan agar dapat melihat dengan lebih jelas. Menonton dengan berdiri saja sudah harus membayar tigapuluh dollar. Pertarungan paling hebat sejak pertandingan kejuaraan musim panas yang lalu di Las Vegas itu. Pada saat itu, di atas ring, seperti Quintero yang mendikte pertandingan. Mendesak Robbie ke sudut yang satu, kemudian ke sudut yang lain, Quintero terus berusaha mendekat untuk melancarkan serangan yang akan mendatangkan kemenangan dengan KO bagi dirinya.

Itu terjadi kira kira pada pertengahan ronde itu.

Dorian, seumur hidup, tidak akan melupakan yang disaksikannya itu. Sesaat adalah Robbie yang melangkah mundur dan disoraki penonton. Siulan, ejekan, caci maki. Dan kemudian Robbie mengangkat lutut kanannya hingga ke dada, suatu persiapan bagi tendangan lurus ke depan. Quintero, dengan kedua tangan merendah, berhenti; bercondong ke belakang, menjauhkan diri dari tendangan yang akan dilancarkan Robbie itu. Tetapi tendangan itu tidak terjadi. Gantinya itu Robbie dengan lutut masih terangkat itu melesat maju bagaikan seorang pemain anggar, mendaratkan sebuah jab keras ke atas muka Quintero.

Sebuah kiri menyilang secepat kilat menyusul, mengenai kening Quintero. Sedemikian keras pukulan itu, sehingga jago meksiko itu memutar dengan mata kabur dan bersempoyong-an. Dan rentan. Robbie menghujamkan suatu pukul kiri yang ganas ke ginjal Quintero, membuat orang meksiko itu terangkat hingga berjinjit. Quintero kini terhuyung ke depan dan berpaling untuk menghadap ke arah Robbie, tepat pada saatnya untuk menerima tendangan dengan berputar membalik dari Robbie, yang tepat mengenai perut Quintero dan melipatkan tubuhnya. Dua uppercut secepat kilat menyusul dan Quintero ambruk ke atas kanvas.

Di depan Dorian itu, orang orang meksiko itu terdiam. Tidak demikian halnya dengan penonton selebihnya. Mereka melompat berdiri dari tempat duduk masing masing dan bersorak sorak menyambut berbaliknya situasi di atas ring itu.

Lengan wasit naik dan turun bersama hitungan. Pembantu pembantu Quintero melompat ke atas ring, menyeret Quintero kembali ke sudutnya.Seseorang memecahkan sebuah kapsul di bawah hidung orang meksiko itu dan Quintero bergerak. Kaki kirinya mulai menyentak nyentak tidak terkendali.

Robbie, dengan kedua tangan diangkat sebagai tanda kemenangan, menghadap pada dua kamera televisi, sedangkan seluruh ruangan itu mulai berteriak seirama.

"Robbie!" "Rob-Bie!" "Rob-Bie!"

Sesuatu dalam adegan di sekeliling dirinya itu menakutkan Dorian. Orang banyak itu, teriakan teriakan itu, pemusnahan

Quintero secara tiba tiba oleh Robbie

Robbie telah membunuh seseorang di Las Vegas. Dorian tidak bisa mengatakan siapa dan kapan, tetapi ia yakin itu telah terjadi. Pertarungan itu tadi telah meyakinkannya. Robbie telah berpura pura di atas ring tadi, selama pertandingan itu ia mengendalikan diri, memancing jago meksiko

itu sampai diketemukannya kelemahan Quintero

itu. Robbie yang licik. Anak haram jadah itu!

Dorian cepat cepat meninggalkan arena dan hotel itu, khawatir kalau Robbie akan melihat dirinya. Dorian juga membutuhkan

segelas minuman dan.... sebuah pesawat tele-fon. Di manakah ia, Robbie? Di manakah wanita yang telah kaubunuh, yang darahnya memberimu kekuatan untuk melakukan yang baru saja kaulakukan atas diri Victor Quintero itu?

Akan kucari hingga ketemu, Robbie. Kaulihat saja. Akan kudapatkan, Robbie.

LAKE MEAD, tempat peristirahatan tiga puluh mil sebelah timur Las Vegas dan di perbatasan Arizona-Nevada.

Di sebuah kabin berkamar dua di dekat serumpun pohon pinus, Christina Cholles memberi sentuhan sentuhan terakhir pada lukisan yang menggambarkan pemandangan lereng lereng batu karang terjal itu.

Sejak pagi telah turun hujan, dan Christina telah menutup rapat rapat pintu dan jendela jendela kabin itu. Sebentar lagi lukisan itu sudah akan rampung. Sementara itu, hujan merembes turun dari suatu kebocoran di atap kabin itu, membasahi tempat tidur. Ya, Williamn terpaksa harus membetulkan atap itu.

Christina Cholles berusia duapuluh tujuh tahun, seorang wanita berambut merah, berwajah kurus, dan sepasang mata yang biru itulah kecantikan satu satunya yang dimilikinya. Christina dan William sama sama bekerja pada sebuah bank di San Francisco dan mereka berdua sama sama menyukai ketenangan Arizona dan Nevada. Itu adalah liburan mereka bersama yang kedua, dan, walaupun menikmati kebersamaan itu, Christina semakin hari semakin tidak menyukai pekerjaannya.

Christina seorang wakil manager dan itu sudah puncak karir bagi dirinya. Dalam liburan kali ini, ia dan William akan ada kesempatan untuk membicarakan hari depan mereka dan tentang suatu pekerjaan lain bagi Christina.

Terdengar ketukan di atas pintu kabin itu. Mula mula, Christina mengira itu adalah William yang kembali lebih dini dari Las Vegas. "William?"

"Bukan, ma'am. Polisi."

Christina menegang. "Polisi? Ada apakah?" Adakah sesuatu telah terjadi atas diri William?

Aku telah terbang kemari dari San Francisco untuk mengajukan beberapa pertanyaan kepada anda mengenai pria yang bekerja sama dengan anda."

Christina menarik nafas lega. William tidak apa apa. Urusan bank.

Christina membukakan pintu. Ah, kasihan orang itu. Basah kuyup, mantelnya, topinya. Kedua tangan pria itu di dalam sakunya. Pria itu tersenyum dan memperlihatkan lencana nya. Christina seketika memastikan bahwa pria itu bersahabat, dan tampaknya agak kikuk.

Pria itu berdiri saja dan menunggu, hingga Christina mengundangnya masuk.

Mereka tersenyum satu sama lain. "Seseorang di bank kembali mengutik utik komputer," kata pria itu. "Menyangkut uang beberapa juta. Dengan uang sebanyak itu , orang tidak bisa pergi ke, tempat lain kecuali ke Las Vegas. Maksudku, di manakah ada keramaian yang berlangsung selama duapuluh empat jam, terus menerus?"

Tiba tiba timbul pikiran itu pada Christina, apakah pria itu berbicara tentang William?

Detektif itu mengeluarkan tangan sebelah dari sakunya dan melepaskan topinya. Ketika tangan itu keluar dari saku, secarik kertas ikut keluar dan jatuh ke atas* lantai. Christina membungkuk, memungut kertas itu. Ia sudah mau mengulurkannya kepada pria itu, tetapi berhenti. Seperti sudah dikenalnya. Dan sudah terlipat lipat.

Ya dewa, itu surat yang dikirim kepada dirinya oleh bank mengenai suatu program baru komputer. Mengapa detektif itu mengambilnya dari tempat sampah? Detektif itu mengikuti dirinya?

Dari secarik kertas itu Christina memandang pada detektif itu. Pria itu tersenyum menyeringai, sambil bermain main dengan

sebuah pentol emas kecil yang tersemat pada cuping telinganya. Pria itu bersarung tangan.

Ketika dengan kakinya, pria itu menendang pintu hingga tertutup kembali, Christina menggerenyit. Beberapa detik berlalu sebelum Christina dapat berbicara, "Aku Aku tidak mengerti "

Pria itu melangkah mendekat. "Tidak menjadi soal. Sungguh sungguh tidak menjadi soal."

ADA MASANYA ketika Robbie Ambrose belum bushi, ketika ia bukan seorang yudawan dan tidak terkalahkan. Ketika itu ia lemah dan wanita wanita berusaha menghancurkan dirinya. Tetapi pada akhirnya ia berhasil meloloskan diri dari kelaliman mereka.

Keluarga Robbie di Westwood, Los Angeles, telah dikuasai oleh tiga orang wanita-; ibunya, dua orang bibi dan.... kakak perempuan Robbie. Yang pria dalam keluarga itu hanya Robbie dan ayahnya, seorang profesor sejarah yang selalu ketakutan. Selama sepuluh tahun sejak lahirnya, Robbie, yang seorang anak berambut pirang dan manis, dipaksa memakai pakaian perempuan oleh seorang ibu yang secara terang terangan lebih menyukai anak perempuannya, dan memutuskan tidak akan mempunyai anak lagi; melahirkan anak itu penuh kesakitan. Ibu Robbie juga menolak sex. Sejak itulah ibu dan bapak tidak tidur bersama. Ibu Robbie dan kedua saudaranya yang tidak kawin itu juga secara terang terangan menyatakan lebih menyukai rumah tangga tanpa pria. Dalam kata kata bibinya, Robbie adalah suatu kekeliruan yang tidak dikehendaki.

Pada usia duabelas tahun, Robbie atas desakan dan paksaan kakak perempuannya, mempunyai hubungan sex dengan kakaknya itu.

Rasa bersalah dan ketakutan jauh melebihi kesenangan yang didapatkan; kakaknya selalu mengejek dan menertawakan kegugupan dan kecanggungannya, namun terus memaksa dengan mengancam akan memberitahukan kepada ibu mereka mengenai yang mereka lakukan itu. Ketika seorang bibinya memergoki mereka, Robbie yang dihajar habis habisan oleh ketiga wanita tua itu, sedemikian ganas Robbie dihajar sehingga selama berminggu minggu ia tidak bisa turun dari tempat tidur. Dalam trauma itu, selama setahun Robbie tidak berbicara.

Ketika berusia limabelas tahun, Robbie mengunjungi ayahnya di kampus UCLA, dan bersama sama mereka menyaksikan sebuah pameran sejarah dan kebudayaan Jepang. Pada kesempatan itulah Robbie dengan terpukau menyaksikan suatu demonstrasi karate. Pria seperti karateka karateka itulah di mata Robbie tampak sebagai dewa dewa. Betapa besar kekuasaan yang mereka miliki dengan mempunyai keakhlian seperti itu!

Dengan bantuan ayahnya Robbie mendapatkan buku buku tentang karate dan seni bela diri lainnya, dan tentang Jepang. Dan Robbie mempelajari semua itu dengan sepenuh hati. Berjam jam lamanya ia berlatih sendiri, melahap lembar demi lembar pelajaran dan petunjuk dalam buku buku itu. Dan ketika seorang pemuda lebih besar dan lebih tua mengganggu dirinya, Robbie menendang pemuda itu pada rahangnya.

Seorang staf sekolahan itu merampas buku buku Robbie itu, dan Robbie membakar kamar orang itu untuk mendapatkan kembali buku

bukunya. Diperlukan empat orang staf sekolahan untuk secara fisikal menundukkan Robbie. Dan itu pun dengan dua orang dari mereka telah dicederai sedemikian rupa oleh Robbie, sehingga mereka terpaksa dirawat dirumah sakit. Pada hari berikutnya, orang tuaRobbie diberitahu tentang pengusiran atas diri Robbie

Setelah kembali di rumah, terjadilah pergeseran hubungan hubungan. Robbie kini lebih besar, lebih kuat dan lebih percaya pada diri sendiri. Para wanita dalam sekejap belajar merasa takut pada Robbie.

Sekolah dianggap tidak penting oleh Robbie, ia cuma berpikir tentang karate, yudo, kendo, berkelahi dengan tongkat. Ia mylai berlatih di dojo dojo kecil dan di klub klub di Los Angeles..

Pada usia tujuhbelas, Robbie berhak memakai sabuk hitam, ikut bertanding dalam turnamen turnamen. Robbie sering didiskualifikasi karena sering menggunakan kekerasan yang tidak pada tempatnya dan karena sering tidak bisa mengendalikan diri .

Namun, ia jarang dikalahkan. Dan ia kini mampu melindungi ayahnya dari teror para wanita di rumah.

Suatu ketika, sewaktu ibunya dalam keadaan mata gelap melempar sebuah naskah sejarah yang dengan susah payah disiapkan oleh ayannya, Robbie menamparnya sedemikian keras, sehingga rahang ibunya itu keluar dari mangkokannya. Seorang dari bibinya, yang usil menggeledah kamar Robbie mengalami patah lengan. Hanya kakak Robbie yang lebih sulit diatasi. Ketika kakaknya itu pulang dari sekolah tinggi, kakaknya memang pada Robbie tidak sebagai seorang adik, tetapi sebagai seorang pria. Seorang pria yang menarik. Dari sorot mata kakaknya, Robbie melihat bahwa kakaknya masih ingat pada masa lampau itu. Robbie melihat itu dari cara kakaknya'memancing dirinya dengan kata kata, dari cara kakaknya itu memperagakan tubuh dan buah dada yang menggiurkan, dari cara kakaknya menyentuh dirinya. Dari senyumnya.

Dan kejadian itu berlangsung beberapa waktu sesudah ulang tahun Robbie yang ke duapuluh. Kakaknya menunggu hingga rumah itu kosong. Kemudian datanglah ia ke kamar Robbie, membawakan Imagawayaki, kue Jepang kesukaan Robbie. Juga ganja dan minuman. Robbie kemudian tidak ingat lagi bagaimana semua itu terjadi, tetapi itu memang terjadi. Mereka berdua, telanjang bulat, saling menghasratkan, rasa bersalah dan ketakutan timbul kembali, dan di atas segala galanya: kenikmatan itu.

Kemudian kakaknya duduk di atas tempat tidur dan mulai mengejek, menertawakan dan mengancam, seperti yang dilakukannya lama berselang. Hanya, kali itu, tuduhannya adalah pemerkosaan dan tidak sekedar asrama bagi Robbie, tetapi penjara. Para wanita itu, ibunya, kedua bibinya dan kakaknya telah merancang tindakan itu: agar untuk selamanya bebas dari Robbie dan kembali menguasai rumah itu. Dan tidak ada yang dapat dilakukan Robbie untuk mencegah mereka.

Robbie, dalam kabut ganja dan minuman keras dan merasa dicekam kembali oleh ketakutan, bangkit dari tempat tidur itu, menangkup dagu kakaknya dengan tangan kanan, lalu meletakkan tangan kiri di atas kepala kakaknya dan dengan suatu sentakan keras memutar kepala itu, mematahkan leher

Tidak ada keragu raguan mengenai yang harus dilakukan selanjutnya. Tubuh telanjang yang lemas itu dibawa Robbie ke kamar mandi, didudukkan di dalam bak mandi. Dimandikannya. Robbie berlari ke kamar kakaknya, menyambar jubah mandi dan pakaian dalam kakaknya, kembali ke kamar mandi dan meletakkan barang barang itu di dekat bak mandi. Setelah menyabun dan mencuci tubuh itu, didudukkannya di atas lantai, dengan punggung bersandar pada bak mandi itu. Kemudian, dengan menangkup kepala kakaknya yang basah itu dengan kedua tangannya, Robbie menghantamkannya dengan sekuat tenaga pada pinggiran bak mandi itu.

Kematian kakak Robbie itu dinyatakan sebagai akibat suatu kecelakaan, akibat terjatuh ketika keluar dari bak mandi. Tanda tanda ganja dan alkohol yang diketemukan dalam tubuh gadis malang itu memperkuat kesimpulan itu. Namun begitu, Robbie menganggap adalah lebih aman untuk meninggalkan California, pergi sejauh mungkin dari wanita wanita itu. Vietnam adalah jawaban yang bertepatan dengan kebutuhannya. Dari 250 orang, Robbie termasuk seorang dari 6 orang yang diterima untuk pendidikan SEAL.

Di Vietnam, Robbie melakukan pembunuhan pembunuhan atas perintah. Ia dengan team SEAL bekerja sama dengan CIA, membunuh pemimpin pemimpin vietcong, merebut senjata dan catatan catatan dan menghancurkan tempat tempat persembunyian perbekalan. Seperti serdadu serdadu lainnya, setiapkali keluar bertugas, Robbie menggunakan obat obat bius, ganja, heroin, apa saja. Obat obat itu membuatnya siaga dan senang dan membunuh setiap perasaan yang mungkin akan melemahkan diri.

Robbie telah menelan emphetamine dan Dexedrine pada hari ia memperkosa seorang wanita Vietnam dan, masih berada dalam tubuh wanita itu, digoroknya leher wanita itu dengan pisau komandonya. Robbie tidak pernah melupakan hari dan peristiwa itu, karena pada hari itu juga tujuh orang kawannya dalam SEAL tewas dalam suatu penghadangan yang dilakukan oleh vietcong. Hanya Robbie seorang yang masih hidup. Dan malam itu, mimpinya yang bersumber dari obat obat bius itu bukanlah mengenai kawan kawannya yang tewas, melainkan mengenai diri sendiri dan Hachiman Dai-Bosatsu, dewa perang. Impian itu mengubah kehidupan Robbie untuk selamanya.

"Berikan korbanan seorang wanita kepadaku," dewa perang itu berkata. "Dan kau tidak akan pernah dikalahkan dalam pertempuran. Kau akan hidup selamanya dan menjadi buahi, Kau akan menjadi tidak terkalahkan."

Kebenaran impian itu tidak bisa disangkal.

Dengan membunuh kakaknya dan menteror wanita wanita dalam keluarganya, ia —Robbie— dapat bertahan hidup. Dan menghindari penjara. Dan ia telah datang ke Vietnam, dan bertemu dengan mayor Sparrowhawk, orang inggris yang menjadi ayah kuat yang didambakan Robbie Segala sesuatu yang baik dalam hidupnya berasal dari penguasaan dan penghancuran. atas kaum wanita

Bahkan setelah meninggalkan Vietnam dan pergi ke New York bersama mayor itu, Robbie terus mendengar suara dewa perang itu. Ganja, heroin, morfin dan obat obat bius itu

membantu. Membawa dirinya kembali pada Hachiman, kembali pada kekuatan dan kemenangan. Mengetahui dan bertindak sebagai seorang dan tunggal. Pengetahuan, pengetahuan 8ejati, hanya datang dari Hachiman.

Robbie percaya. Dan percaya berarti hidup sesuai kepercayaan itu. Robbie tidak membenci wanita wanita yang dibunuhnya. Ia memerlukan mereka.Bersama sama mereka disatukan dalam Chi-matsuri, ritus darah yang diminta Hachiman. Karena mereka itulah Robbie dapat mengalahkan siapa saja.

Robbie berlutut di samping mayat Christina Cholles dan mencium bibir yang masih hangat itu. Kemudian ia berdiri, merapihkan pakaiannya dan mengenakan mantel dan topi basah itu sebelum keluar ke dalam hujan. Ia menjadi bertambah kuat dengan setiap langkah kaki1 ki-nya, energinya mulai memuai.

Kemudian didengarnya itu. Suara desis metal atas metal ketika Hachiman mencabut pedangnya dan sinar rembulan memantul atas senjata perkasa itu. Bersinar begitu menyilaukan, hingga hanya seorang yudawan sejati yang sanggup menatap pada sinar itu dengan mata telanjang.

Di bawah hujan deras itu, Robbie berdiri tegak dan memandang pada sinar menakjubkan itu.

LECLAIR BERKATA KEPADA DECKER, "Besok, kalau kau keluar ke Long Island, kau akan siap dalam segala hal.Surat perintah, apa saja yang kauperlukan. Kalau hakim melakukan tugasnya, mungkin tidak akan kauperlukan semua itu. Kita sedang melakukan yang benar, kita bertiga: kau, aku, nyonya Raymond. Tuan Manfred, jangan sampai tidak kauberikan kepada wanita itu segala yang diperlukannya." LeClair melirik pada Decker.

"Dan ia tetap belum mengetahui bahwa dirimu seorang polisi?" tanyanya.

Decker memejamkan mata. "Tidak." "tuan Manfred, kau memang seorang iblis berlidah perak," LeClair bersandar ke belakang di kursinya, matanya menatap tajam. "Kau memang pandai menyembunyikan diri dari orang lain. Ya, dalam hal itu kau memang hebat."

Sebelum berangkat ke Long Island, Decker telah melewatkan malamnya dengan Michi di apartemen Michi. Ya, ia telah menyembunyikan sebagian dirinya dari Michi, bagian dirinya dengan Romaine itu. Itu bisa dilemparkan kepada LeClair. Malam itu ia berniat berbahagia, tanpa perduli biayanya. Tidak ada yang boleh merusak malamnya bersama Michi.

Untuk makan malam, Michi menghidangkan fugu. Daya tarik fugu terletak pada bahayanya. Seseorang yang telah makan fugu menjadi anggota dari suatu kultus misterius dan eksotik. Ada daftar khusus dari orang orang terkenal yang mati selagi makan fugu itu.

Terkilas dalam pikiran Decker, bahwa Michi mungkin sekali bermaksud menguji dirinya, mau mengetahui hingga sejauh mana ia bersedia masuk lebih dalam lagi dalam dunia Michi.

Decker menyesap Suntory, wiski jepang. "Sesudah ini," Decker berkata, "besok tidak akan terasa begitu berbahaya."

"Besok?"

Decker menceritakan tentang oditorium baru Paul Molise dan kecurangan yang berlangsung di sana.

. "Kau akan menangkap Molise?" Michi bertanya.

"Terlebih dulu kami akan menangkap pengacara pengacaranya —merekalah yang menyusun rencana itu— dan kami akan menguras keterangan dari mereka. Itu tugas LeClair, dan LeClair jagoan dalam hal itu.

Pengacara pengacara hidup enak. Mereka tidak mau masuk penjara. Kadang kadang, kalau kami mau membuat seorang terdakwa mengaku, kami

menciduknya pada suatu hari jumaat "

"Menciduk?"

"Menangkapnya."

"Oh, begitu."

"Kami menangkapnya pada hari jumaat, setelah hari sudah sore, sehingga ia akan harus tinggal di penjara selama akhir pekan. Pengadilan tutup pada hari jumaat, sehingga tidak dapat burung kami itu dilepaskan dengan membayar uang jaminan. Nah, cuma dua atau tiga hari, dan pada hari senin sudah siaplah tahanan itu mengungkapkan yang ingin kami ketahui. Seburuk itulah berada dalam penjara itu...."

Michi mengulurkan cangkirnya dan Decker menuangkan sake. Michi berkata, "Paul Molise telah berhasil menghindari penjara penjara

amerika. Dan bahkan kalau ia dinyatakan bersalah sebagai penjahat,ia masih mempunyai teman teman yang sangat berkuasa. Telah kauceritakan padaku mengenai senator Dent dan aku mengetahui tentang orang orang militer dan intelijen amerika yang menjadi teman temannya di Saigon. Kau benar benar yakin bahwa sesuatu yang buruk dapat menimpa diri Paul Molise?"

Decker menghela nafas. "Kami cuma dapat berusaha. Tidak dapat berbuat lain kecuali itu." Decker meletakkan gelas berisi wiskinya, memegang tangan Michi dan mencium telapaknya. "Malam ini kucoba fugu itu karena kau."

"Aku tahu," Michi tampak senang sekali.

Dan Decker melihat bahwa nyaris saja Michi mengatakan sesuatu. Apakah Michi bermaksud mengatakan sesuatu mengenai enam tahun perpisahan itu?

Decker berkata, "Telah banyak kesalahan yang kulakukan dalam hidupku, tetapi sama sekali bukan kesalahan mencintai dirimu. Coba katakan padaku, apakah aku membohongi diriku sendiri?"

Michi memandang padanya. Ada kesedihan di wajah lembut itu, namun muncullah senyum itu dan ia berkata, "Tidak. Dari lubuk hatiku kukatakan ini."

Mata Michi berkaca kaca dan dipegangnya tangan Decker, diletakkan di atas dadanya. "Shinju," ia berbisik.

Shinju, kalaupun dadaku disobek, hanya cinta dan kesetiaan yang akan ditemukan di dalam dadanya itu. Kata shinju juga menyebut pada bunuh diri bersama dua orang kekasih. Yaitu yang kadang kadang mengikatkan seutas tali merah pada kedua tubuh mereka sebelum menceburkan diri ke dalam laut.

Namun, Michi tidak berbicara tentang maut. Ia mengatakan kepada Decker bahwa ia mencintai Decker dengan sepenuh hati.

"Shinju," Michi mengulangi. Decker bercondong kepadanya dan mencium mata dan kemudian mulut Michi, sebelum Michi dapat berbicara lagi.

DI LONG ISLAND, Decker menjalankan rencana 210

LeClair dengan sepenuhnya. Ia tiba di sana sekitar waktu makan siang. Kemudian ia menelefon LeClair dan setelah menunggu kira kira sepuluh menit pergi ke gedung yang menyimpan peta tempat duduk oditorium itu. Para pekerja di gedung itu hampir semuanya keluar makan siang.Pegawai yang dinas dengan mudah diintimidasi dengan telefon dari hakim federal yang memerintahkan penyerahan peta peta itu kepada Decker. Decker menyimpan peta peta itu dalam sebuah envelop, memasukkannya ke dalam saku jasnya.

Seorang wanita dengan kaca mata tebal dan mantel kulit yang panjangnya hingga ke tanah muncul memasuki kantor itu ketika Decker dalam perjalanan keluar. Pegawai itu segera mendatangi wanita itu dan dengan menunjuk pada Decker yang sedang pergi, mulai berbisik bisik ke dalam telinga wanita itu.

WANITA itu menggigit bibirnya dan dengan tidak sabaran menunggu jawaban dari seberang sana telefon.Sialan! Dimitrios memang dungu sekali: menyerahkan peta peta itu kepada lelaki keparat itu tadi. Pasti akan ributlah urusan oditorium itu.

"Hello, siapakah ini?."

"Livingstone Quarrels."

"Oh, syukurlah. Memang yang kuperlukan. Di sini nyonya Kuhn di kantor oditorium. Ada persoalan yang harus anda ketahui."

Beberapa menit kemudian, Livingstone Quarrels menelefon» Constantine Pangalos di Manhattan.

"Sungguh sulit dipercaya," bekas jaksa itu berkata, "Orang orang dungu yang kaupekerjakan di sana! Peta peta itu dapat menjebeloskan kita semua ke dalam penjara, apakah kau tidak mengerti?"

Quarrels meninggalkan mejanya dan per

gi ke jendela, memandang keluar ke atas tem-

pat parkir, "Connie, aku tidak "

"Yeah, yeah. Bukan kau, bukan aku, tidak ada yang melakukan itu. Ya, dewa...."

"Connie "

"Moskowitz, coba kau berhenti merengek. Aku mencoba mencari akal."

Moskowitz. Pangalos hanya memanggil Quarrels pada nama itu kalau sedang kesal.

Di depan jendela itu, Quarrels berkata, "Hai, nanti dulu. Aku melihat ada orang di tempat parkir di bawah sana. Ia sedang memandang ke arah gedung." Quarrels melangkah ke samping, agar tidak terlihat oleh orang di bawah itu. Dengan mencengkeram gagang telefon itu ia berbisik. "Kau pikir itu orangnya, yang mengambil peta tempat duduk itu?"

"Sialan, kau yang berada disana, bukan? Sedangkan aku ada di sini. Kaupikir aku ini apa? Orang yang bisa melihat dari jauh? Seperti apakah orang itu?"

Quarrels mengintip lagi. "Sulit dikatakan.

Topinya menutupi mukanya Ah,itu topinya keterjang angin ia mengejarnya. Orang itu berkumis, langsing " ,

"Aku berani bertaroh bahwa itu bukan lain adalah Decker. Ada telefon dari seorang hakim federal, dan seorang detektif New York muncul dengan menunjukkan surat perintahnya. Itu; adalah kelakuan gugus tugas dan seorang sersan detektif gugus tugas yang berkumis berarti Decker. Sialan! Kita tidak dapat membiarkannya pergi dengan rencana tempat duduk itu. Coba kau melihat, apakah Buscaglia masih ada di situ?"

"Ya. Sejak pagi ia di sini dengan beberapa orang penjaga keamanan dari MSC. Ia mengadakan peninjauan, menunjukkan situasi gedung kepada mereka itu. Lagi pula, ia dan aku masih harus membicarakan urusan pensiun para pekerja itu."

"Suruhlah Buscaglia menunda dulu urussn berapa banyak ia mau mencuri dari dana pensiun dan iuran serikat buruh itu. Sekarang ini detektif keparat itu yang siap menggagalkan penghasilsn seperti itu. Maka segera kauhubungi Buscaglia. Aku menghendaki peta peta dan rencana tempat duduk itu kembali, secepatnya."

Ada peluh di atas bibir Quarrels. "Connie, orang itu polisi. Kita tidak dapat.... "

"Moskowitz, kau tutuplah bacotmu sebelum kubuang air seni ke dalam alat telefon ini dan itu mengalir ke dalam mulutmu! Kau ingin meringkuk di dalam penjara karena melakukan penipuan?"

DI DALAM MOBIL MERCEDES ITU, Decker menghidupkan alat pemanas dan meniup ke dalam tangannya yang bersarung itu. Setelah terasa hangat di dalam mobil itu, Decker menghidupkan mesin, tetapi sebelum ia sempat meninggalkan tempat parkir itu, dua buah mobil muncul entah dari mana dan segera menghalangi jalan bagi Mercedes itu.

Pintu pintu mobil dibuka, orang orang berlari lari ke arah Decker. Dua di antara orang orang itu menggenggam senjata api.

Yang seorang, dengan peci merah dan jaket kulit, mengetuk ke atas kaca jendela mobil Mercedes Decker itu dengan gagang sepucuk .357 Magnum. "Jari jari tanganmu di atas rambutmu," katanya geram. "Kau berbuat sesuatu yang bodoh dan akan kulepaskan cuma satu tembakan peringatan menembus dahimu yang dungu itu."

Decker melihat ke arah sebelah kanannya. Penggenggam pistol kedua itu, berberewok, kekar, berlutut dan memegang sepucuk .22 dengan kedua tangannya. Arahnya pada telinga Decker.

"Hai, goblok!" berkata yang berpeci merah itu. "Kataku, turun dari mobilmu!"

"Aku seorang polisi. Lencanaku dalam saku jasku. Ada surat surat perintah federal padaku "

"Yang kaudapatkan adalah kesulitan," orang itu membidikkan Magnum itu pada kening kiri Decker.

Decker menggunakan tangan sebelah. Membuka pintu itu pelan pelan, lalu dengan kaki sebelah mendorong terbuka pintu itu. Decker turun dari mobil, kedua tangannya di atas kepala.

Yang berpeci merah itu melangkah mundur, pistol tidak berubah arah. "Lucuti,"

Seorang pria ketiga, yang memakai rompi abu abu, berjalan mendekati Decker, menarik mantel dan jas Decker hingga terbuka dengan terlepasnya kancing kancing, kemudian mencabut sepucuk .38 Smith & Wesson milik detektif itu. Orang itu memasukkan pistol itu ke dalam sakunya sendiri dan bergerak mundur.

Pria berpeci merah itu juga memasukkan Magnum itu ke dalam saku. "Nah, kita bereskan sekarang, dungu. Terserah padamu untuk mempersulit dirimu sendiri atau tidak.' Decker tidak melihat alasan untuk berpura pura tidak mengerti. Ia menyadari dirinya telah dilihat dari gedung itu.

"Saku kanan mantel," Decker berkata.

'Peci Merah' mencibirkan bibir. Ia sudah siap menangani seorang pembohong, bukan seorang yang begitu gampang menyerah. Tetapi, masih ada kesempatan bersenang-senang. 'Peci Merah' melangkah ke depan, mendapatkan envelop itu, dan melangkah mundur lagi. Melihat sekilas ke dalam envelop itu sudah cukup. Peta dan rencana penyusunan tempat tempat duduk dalam oditorium itu.Dengan perasaan puas, 'Peci Merah' menutup kembali envelop itu, memasukkannya ke dalam saku jasnya. Dari saku lainnya, 'Peci Merah' mengeluarkan sebuah alat radio tangan. Dipanjangkannya antena pesawat kecil itu.

"Frank di sini. Sudah mendapatkannya.-Ganti."

"Bagus." Terdengar suara dari pesawat kecil itu. "Bingkisan itu?"

"Sudah diamankan. Ganti."

Terdengar kini suara itu dingin dan keras. "Kalian mengetahui apa yang harus dilakukan. Bereskan secara tuntas."

"Oke. Ganti dan habis."

Frank, si 'Peci Merah' itu, memendekkan kembali antena dan pesawat itu dimasukkannya kembali ke dalam saku. Ketika ia melangkah mendekat lagi pada Decker, ketiga orang lainnya mengikutinya, membentuk sebuah setengah lingkaran di depan Decker, yang berdiri dengan membelakangi mobil Mercedes itu.

Frank mengangkat tangan, berhenti. "Simpan pistol itu, Richie. Kita tidak usah bertindak gila. Jangan terlalu menarik perhatian."

Senjata api itu tentu saja mengubah seluruh situasi. Namun, airmuka Decker sedikitpun tidak menunjukkan perubahan, ketika pistol itu menghilang ke dalam saku 'Richie' itu. Decker menarik nafas dalam dalam, menghitung hingga tiga sebelum menghembuskannya pelan pelan keluar.

Siap.

Frank mengeluarkan sepasang sarung tangan dari kulit, memakainya. "Sungguh memalukan, sersan detektif! Dihajar di sebuah kota sekecil ini. Menyedihkan. Kecurian pistolmu, lencanamu, dompet dan mobil. Ditinggalkan terkapar di tempat parkir. Kami telah menjadi saksi. Banyak saksi lainnya. Kami melihat orang orang yang melakukannya. Pemuda pemuda belasan tahun yang sudah sinting. Ketika kami datang, sudah terlambat. Anak anak muda itu sudah pergi dengan berpencar. Yang lebih menyedihkan lagi, kami tidak berhasil mengetahui identitas anak anak itu. Ya, sungguh menyedihkan, tetapi apakah yang dapat kami lakukan, eh?"

Frank yang menyeringai mengejek itu berpaling memandang pada teman temannya, kemudian memandang kembali pada Decker, yang masih dengan kedua tangan di atas kepala,

kini bergerak dengan secepat kilat. Kaki Decker melesat, menendang Frank itu di sulbinya, kaki, lutut dan otot pahanya menghantam tempat empuk itu sehingga Frank menekuk terlipat dengan mata melotot kesakitan.

Dengan satu gerakan, Decker melepas topi dan dihantamkannya dengan gerak balik itu ke muka pria berberewok, menghentikan gerak maju orang itu, lalu melangkah ke belakang pintu terbuka mobil itu dan menghantamkan pintu itu pada pria yang telah pertama kali menyerang dirinya.Orang itu menubruk mobil itu dan terkulai ke atas tanah dengan pergelangan dan empat jari tangannya patah. Dari dua orang penyerang yang masih sisa, yang kedua duanya berberewok, yang bertubuh tinggi besar, menyerbu maju, merangkul Decker. Nafas orang itu berbau bir dan permen. "Babi keparat, giliranmu sekarang!"

Decker menyerang dengan lututnya, dan ketika orang itu melepaskannya, Decker menyambar kepala orang itu dengan kedua tangannya dan menggempurkannya ke atas lututnya yang sudah terangkat itu, meremukkan hidung, gigi, rahang orang itu. Orang itu, dengan berewoknya basah dengan darahnya sendiri, roboh ke atas tanah, menggeliat geliat dan mengerang erang.

Tinggal seorang. Si berewok kedua. Orang itu memukul mukulkan besi pelepas ban ke telapak tangannya yang bersarung, bergerak

memutar ke sebelah kanan Decker. Detektif i-tu pelan pelan melepaskan mantelnya, matanya sebentar pun tidak melepaskan orang

itu.

Orang itu berhenti. Matanya melesat ke tiga temannya yang tergeletak di atas tanah; yang seorang dengan tangan cidera itu duduk bersandar pada Mercedes itu. 'Peci Merah' mencoba merangkak. Yang ketiga tidak bergerak. Pria dengan besi pelepas ban itu ragu. Serang. Atau lari. Decker bergerak maju. Zanshin. Berkonsentrasi.

Decker melemparkan mantelnya ke orang itu. Mendarat, menutupi kepala dan bahu. Orang itu berteriak, kedua tangannya bergerak gerak gugup.

Decker menyerang. Kiai. Teriakan Decker itu memecah kesunyian di tempat parkir itu. Sambil berteriak itu dilancarkannya pukulan kiri kanan ke arah kepala di bawah mantel itu. Konsentrasi penuh. Seluruh sumber mental, emosional dan fisikal dikerahkan dan dilepaskan pada titik dampak itu.

Hasilnya adalah kekuatan maksimal.

Orang berewok itu roboh ke belakang, kedua lengan terentang lebar, kepala dan bahu masih terbungkus dalam mantel itu. Ia tergeletak tanpa bergerak lagi, kaki sebelah tertarik naik melindungi sulbi dan tangan sebelah di dekat pantat 'Peci Merah'.

Decker, siaga, tenang, memperhatikan keadaan di depan dirinya itu. Ia harus berbicara dengan Frank, si 'Peci Merah', yang tampaknya pemimpin penyerangan itu.

Decker berlutut di belakang Frank, mendudukkannya. Kemudian dilepaskannya sepatu Frank itu, dan dengan memukul mukul tumit kaki orang itu, membuatnya siuman kembali.

Wajah Frank pelan pelan mulai berwarna normal kembali. Decker melepas peci merah itu, menggunakan itu untuk mengusap peluh dingin dari wajah orang itu. "Nah, tundukkan kepalamu. Ya, begitu. Kini tariklah nafas dalam dalam, tahan hingga hitungan lima, lalu keluarkan dengan pelan pelan. Bagus. Kau sekarang bisa berdiri?"

"Oke. Ya dewa, dari mana kau belajar menghantam orang seperti yang kaulakukan tadi?

Decker mencabut Magnum itu dari saku Frank, mengambil kembali envelop dan ,38-nya sendiri. Juga diambilnya .22 dari pria berewok yang. satu itu. "Kau berlompat lompatlah di tempat, beberapa kali," Decker berkata pada Frank yang telah berdiri.

Frank melakukan yang dianjurkan Decker

itu.

Decker berkata, "Itu akan melepaskan kembali buah buah pelirmu. Agar kembali ke tempat semula."

"Syukurlah. Ya dewa, rasanya aku ingin mati saja ketika kau menendangku tadi."

Decker memperlihatkan lencana kepada Frank. "Sersan detektif Decker, dan aku dalam gugus tugas federal." Decker menyentakkan kepala ke arah gedung oditorium itu. "Siapakah yang menyuruhmu menyerang diriku?"

Frank yang sudah jerah itu mengusap usap sulbinya. "Yah, kaulah yang menang. Buscaglia. Ia saat ini mungkin sekali sedang menonton dari jendela kantornya di atas sana. Haram jadah itu semestinya turun sendiri kemari,"

"Ia mengatakan mengapa begitu diinginkannya envelop ini?"

"Bukan Buscaglia yang menghendaki itu. Pengacara yang bernama Pangalos itulah yang menghendakinya.Ialah, Pangalos, yang kalap karena kau memegang envelop itu."

"Frank, kaubantulah aku. Kau hubungi Buscaglia dengan radiomu itu."

Frank mengeluar pesawat kecil itu, menghidupkannya dan memanggil Buscaglia.

Tidak ada jawaban. Frank seperti orang yang dikhianati.

Decker kini mengulurkan tangannya. "Kucoba, boleh?"

Dengan pesawat kecil itu di tangan, Decker berjalan ke mobil Mercedes dan lewat atap mobil itu memandang ke arah gedung oditorium itu. Didekatkannya pesawat radio itu pada mulutnya. "Buscaglia, di sini sersan detektif Decker. Kau kuberi tigapou-luh detik untuk datang kemari."

Tidak ada jawaban.

Decker berbicara lagi. "Sal, aku menghendakimu keluar. Sekarang juga. Kalau kau tidak keluar, aku akan datang mengambilmu. Kau tidak mempunyai pengawal cukup banyak untuk menghalangi diriku. Nah, berpikirlah yang sehat dan keluarlah."

Tidak ada jawaban.

Decker sudah mau berputar dan memungut mantelnya, ketika ia melihat seseorang menuruni tangga marmer dan berhenti di kaki tangga itu. Pria yang sudah mulai botak itu dan dengan memakai kaca mata hitam dan mantel kulit onta yang tampak mahal itu, mengangkat tangan yang memegang sebuah pesawat radio kecil juga itu ke mulutnya.

"Aku sudah keluar. Lalu?"

"Berjalanlah kemari."

Sal Buscaglia tidak beranjak dari tempat

itu.

Decker menyeringai dan menoleh pada Frank, kemudian balik pada Buscaglia. Inilah kesenangannya menjadi polisi. Menguasai nyawa orang. Buscaglia sudah dipaksa hingga sejauh itu.

Pemimpin serikat buruh itu turun dari tangga itu, mulai melangkah ke arah tempat parkir itu. Tanpa melihat kepada Frank, Decker berkata, "Frank, kauambilkan mantel dan topiku, tolong. Agar penampilanku layak jika menemui Sal."

Frank mengulurkan yang diminta itu kepada Decker.

"Frank, kurasa temanmu yang duduk bersandar pada mobil, sudah dapat berjalan. Kukira kedua tangannya hancur. Tolonglah kau pindahkan dia dari mobil. Dan jangan lupa membawa orang orangmu itu ke klinik untuk dirawat. Aku yakin Sal akan menanggung

ongkos ongkos pengobatan mereka. Ah itu

dia, sahabat kita Sal. Sepatu suede? Dalam salju begini? Oh, Sal, kau memang hebat!"

Setelah tiba di dekat Mercedes itu, Sal Buscaglia berhenti di dekat bagian belakang mobil itu. Berwajah muram.

"Katakan yang menjadi gugatanmu. Tuduhanmu. Knlau kau mau menangkap diriku, katakan dulu apa kesalahanku."

Decker memberi isyarat dengan kepala, "Ayo, naiklah ke dalam mobil, Sal."

Sal Buscaglia menggelengkan kepala.

Dengan tersenyum, Decker naik ke dalam mobil, membanting pintu. Ia maupun Sal mengetahui bagaimana permainan harus dimainkan. Bagaimana pun, Sal Buscaglia tidak mau dipermalukan begitu saja di depan orang orangnya.

Buscaglia melangkah maju dan naik ke dalam mobil Mercedes itu, duduk di samping Decker. Dua kali ia menoleh ke arah gedung oditorium itu, seakan akan mengharapkan bantuan datang dari sana. Selama dalam perjalanan ke Manhattan, Sal Buscaglia satu kali pun tidak membuka mulutnya.

MURAKAMI ELECTRONICS bagi Ushiro Kanai adalah seluruh hidupnya.

Cepat atau lambat, Marybelle dan Pangalos akan meminta suatu jawaban mengenai investasi modal dalam Golden Horizon itu. Namun, tidak akan ada suatu investasi sebesar dua juta dollar di Atlantic City oleh Murakami, sebelum Kanai membicarakan pembunuhan Alan Baksted dengan Decker. Pengusaha yang membuat kesalahan kesalahan senilai dua juta dollar tidak akan menjadi presiden perusahaan perusahaan multi nasional.

Sekretares Kanai ada di telefon. "Tuan, telah kuhubungi markas distrik kepolisian , tetapi detektif Decker tidak berada di tempat. Seorang detektif wanita, Spiceland, yang menjawab. Katanya, ia adalah rekan kerja tuan Decker."

Kanai memejamkan mata dalam kekecewaan., Ia perlu berbicara dengan Decker-san secepat

mungkin. Tetapi barangkali detektif

wanita itu dapat menolongnya. Ia masih ingat akan detektif wanita itu. Bersama Decker, wanita itu telah datang di kantornya, sehari setelah Yoshi, menantunya, ditikam orang.

"Aku akan berbicara dengan detektif Spiceland itu."

Kanai, dengan gagang telefon pada

telinganya, menjura sopan. "Detektif Spiceland, Kanai di sini."

"Oh, ya. Aku ikut berduka dengan wafatnya tuan Tada. Kalau aku tidak salah mendengar, anda telah berada di Jepang beberapa waktu lamanya akhir akhir ini."

"Betul. Pemakaman itu. Dan juga ada bis-bis untuk perusahaan kami." Kanai membalik balik guntingan guntingan koran mengenai pembunuhan Baksted di atas mejanya. "Aku ingin meminta bantuan anda untuk dapat berhubungan dengan Decker-san. Aku tidak ingin mengganggu anda, tetapi aku perlu sekali menghubungi Decker-san."

"Aku ingin sekali dapat membantu anda. Tetapi sungguh sayang, Decker saat ini berada —kalau aku tidak keliru— di Federal Plaza, membereskan suatu urusan yang telah mengambil waktu sehari penuh di Long Island."

Kembali kekecewaan itu.

Mata Kanai mengikuti kalimat kalimat dalam guntingan koran itu, dan menangkap sesuatu yang sebelumnya telah diabaikannya. Suatu paragraf kecil dengan bertanggal Ocean City menulis tentang seorang wanita yang telah diperkosa dan dibunuh pada malam sama Baksted ditembak mati.

Sesuatu mengenai kematian wanita itu seperti sudah pernah dilihat atau dibacanya. Kematian yang mungkin karena pukulan seorang

pria yang sangat kuat. Hai, ya. Bulan lalu seorang wanita telah mati dalam keadaan serupa di Fifth Avenue. Dan pembunuhan pembunuhan itu menyerupai pembunuhan seorang wanita di San Francisco dan seorang wanita lain lagi di Dallas, setiap pembunuhan itu terjadi selagi Kanai berada di kota kota itu dalam suatu bisnis.Hanya ia seorang yang melihat adanya kesamaan kesamaan dalam pembunuhan pembunuhan itu?

"Ah, ya. Maafkan aku. Aku sedang membaca sesuatu yang menarik perhatian. Maafkan aku."

"Tuan Kanai, aku baru teringat bahwa malam ini akan dilangsungkan pembukaan pameran lukisan pertama suamiku di New York. Dilangsungkan di Cleveland Gallery di East Fifty-seventh Street. Mungkin sekali anda dapat menemui Manny di sana, karena ia telah berjanji padaku akan datang khusus menghadiri pembukaan pameran itu."

Kanai menjawab. "Aku akan merasa mendapat kehormatan besar jika dapat menghadiri pembukaan pameran itu."

"Baiklah kalau begitu," Spiceland tertawa. "Aku sendiri akan menyambut anda di pintu galeri."

Ada alasan lain ia akan menghadiri pembukaan pameran itu: mengetahui efek Decker-san, pembunuhan atas diri Baksted dan Marybelle Corporation, atas Murakami.

Decker-san, yang seorang karateka. Hai.

Decker-san pasti dapat menempatkan diri dalam pikiran orang gila yang melakukan pembunuhan pembunuhan ritual itu, pembunuh gila yang adalah juga seorang karateka.

Kanai yakin bahwa pembunuhan pembunuhan itu pekerjaan satu orang.

Hai.Kanai telah memberikan sebuah nama pada pembunuh itu. Kaishaku. Pelaksana hukuman yang istimewa. Decker-san pasti mengerti. Hanya, akankah Decker-san bertindak? Dapatkah Decker-san mendesak adanya tindakan sebelum lebih banyak lagi wanita yang dibunuh? Kanai, seperti semua orang jepang lainnya, ngeri melihat angka pembunuhan dan kejahatan yang tinggi di amerika. Kematian Yoko, menantunya, di tangan seseorang seperti kaishaku itu bisa menghancurkan dirinya.

Ushiro Kanai memilih tiga guntingan koran yang memuat pembunuhan Baksted dan disertai berita mengenai pembunuhan wanita di Ocean City itu. Memasukkannya ke dalam saku jasnya. Kanai bertanya dalam hati

apakah Decker atau orang lain dapat menghadapi pembunuh itu

PADA SAAT Ushiro Kanai bersiap siap meninggalkan kantornya untuk pergi ke Cleveland Gallery, Paul Molise keluar dari gedung kantornya di Park Avenue. Dengan bahu membungkuk ia berjalan ke arah sebuah mobil yang diparkir di sudut jalan. Connie Pangalos. Sal Buscaglia. Kedua duanya orang orang dungu!

Urusan di Long Island hari itu, dengan polisi gugus tugas dan penjaga penjaga keamanan Buscaglia itu tidak hanya salah, itu suatu kebodohan. Bukan kesalahan Buscaglia. Buscaglia cuma melakukan yang diperintahkan kepadanya.

Kesulitan yang timbul di Long Island itu ditimbulkan oleh Constantine Pangalos. Padahal Pangalos mesti mengerti. Maka, kini Decker yang memegang peta dan rencana itu. Ada jalan dan cara untuk mengatasi hal itu. Justru untuk itulah ada Sparrowhawk dan Management Systems Consultants.

Menghadapi orang orang seperti Manny Decker haruslah dipakai cara cara halus. Biarkan orang itu menyangka dirinya yang menang, lalu perlihatkan bahwa ia cuma berlari lari di tempat. Untuk itu, pergunakan uang, otak, koneksi. Kini bukan itu yang terjadi. Kini Pangalos merusak segala galanya dan peta dan rencana itu bersama Buscaglia berada di Federal Plaza, dalam tangan Charles LeClair.

Kesulitan yang timbul di oditorium itu telah menghasilkan suatu rapat kilat di kamar belakang sebuah klub sosial di Mulberry Street, di 'Little Itali', antara Molise, ayahnya yang disebut Don Molise dan Giovanni Gran Sasso, Johnny Sass, consigliere , penasehat itu. Constantine Pangalos yang sangat gelisah juga hadir dalam pertemuan itu, dipaksa ikut duduk di dalam ruangan gundul itu dan tidak ikut berbicara sementara ketiga orang sisilia itu berbicara dalam itali dan mengambil keputusan keputusan mengenai nasib Pangalos.

Setelah berunding lama, ketiga orang itu memberitahukan kepada Pangalos bahwa ia telah berbuat dungu sekali dan mulai saat itu harus diam tidak berbuat apa pun sebelum mereka mengatakannya padanya. Keempat penjaga yang mengalami cidera itu akan mengadukan Manny Decker. Agar pada akhirnya tuntutan terhadap Buscaglia pada waktunya akan dicabut kembali.

"Kalau kau tidur, maka itu tidur bagi dirimu sendiri," Johnny Sass berkata pada Pangalos. "Sedangkan kalau kau bekerja, maka kau bekerja untuk kami. Yang berarti bahwa kau harus menutup mulut, dan tidak boleh membuat satu pun kesalahan."

Sedangkan yang harus bertanggung jawab

atas kecurangan mengenai tempat duduk oditorium itu adalah Pangalos dan Quarrels, orang yunani dan orang yahudi itu. Kalau mereka ditangkap, mereka akan mendapatkan pembela pembela yang paling hebat, dan don Molise menjamin bahwa perkara itu akan diadili oleh hakim yang 'tepat'. Berkas berkas akan dicuri, dihancurkan atau di'rawat' sehingga akan menolong mereka. Itu dapat diserahkan kepada Sparrowhawk dan MSC.

Dengan mendekatkan mukanya pada muka Pangalos, Johnny Sass mendesiskan kata kata agar Pangalos jangan membuat kesulitan lagi. Pangalos menyadari bahwa dirinya telah dijatuhi hukuman, dan bahwa maut sudah dekat.Johnny Sass tidak pernah menyukai Pangalos. Sebagai jaksa, Pangalos telah menghukum sejumlah teman consigliere itu.

Di sudut jalan dekat mobil Molise diparkir itu, seorang dalam kostum santa claus membunyikan genta, menganjurkan orang yang berlalu lalang di situ memberi sumbangan. Molise yang sudah kesal merasa bertambah kesal. Baru minggu pertama bulan desember dan santa claus hari natal sudah beroperasi merogo saku orang.

Molise naik ke dalam mobil, dan Aldo menutup pintu mobil itu, kemudian memutari kendaraan itu untuk sendiri naik di belakang stir mobil itu. Molise sedang bertanya dalam hati apakah tidak sebaiknya ia langsung menemui isterinya di sekolah anaknya. Anak mereka, Tricia, hari itu akan naik pentas,

menari ballet. Siapa tahu, barangkali Tricia

akan menjadi seorang primadonna

Pikiran itu membuat Molise santai. Dengan mata dipejamkan,Molise bersandar ke belakang di tempat duduknya. Dan tidak melihat Aldo mati.

Sesosok tubuh langsing dalam pakaian berwarna kelam, dengan wajah tersembunyi di bawah topi yang pinggirannya lemas sekali, melepaskan diri dari orang banyak yang menyeberangi jalan di depan mobil yang diparkir itu, dan berjalan ke jendela terbuka di samping pengemudi. Setelah memastikan bahwa tidak ada orang melihat, orang itu mengulurkan tangan dari dalam lengan baju, tangan itu melesat lewat jendela terbuka itu dan memotong leher Aldo dengan sebuah pisau. Sebilah kai-ken.

Suatu dorongan.... dan sopir yang sekarat itu terjungkal ke lantai bangku depan mobil itu. Tidak tampak lagi.

Orang misterius itu menarik kembali kedua tangan dari dalam mobil itu, menyimpan pisau itu dalam saku dan melihat ke sekeliling dirinya. Tidak ada orang yang melihat.

Molise, yang matanya tertutup, merasa hembusan udara dingin ketika pintu di samping dirinya dibuka dan seseorang naik dan duduk di tempat di samping dirinya. Sialan. Molise mengerutkan dahi. Semestinya

Aldo, yang juga pengawal pribadinya itu, bersikap lebih waspada.

Michi melepaskan syal yang setengah menutupi wajahnya, membiarkan Molise melihat mukanya. Kemudian dilepaskannya pula topi yang dipakainya itu, dan Molise melihat hachimaki, ikat kepala dengan huruf huruf Jinrai Butai, dan sebuah bulatan merah yang melambangkan matahari terbit: ikat kepala yang dulu milik ayah Michi.

Molise berkata, "Hai, aku ini harus buru buru pulang. Apakah yang kauinginkan? Dorian yang menyuruhmu? Begitu?"

Michi berkata, "Kataki-uchi."

"Nona, aku sedikit pun tidak mengerti yang kaukatakan itu, Kataki ... apa?"

"Hutang darah dibayar dengan darah. Pembalasan."

Molise bercondong ke bangku depan.

"Hai, Aldo, kau singkirkanlah lonte sinting

ini. Aku tidak mempunyai waktu untuk "

Michi, yang duduk di sebelah kiri Molise, menghujamkan pinggiran kakinya yang bersepatu bot itu ke atas pergelangan kaki Molise, membuat Molise berteriak kesakitan dan membungkuk memegang tempat yang nyeri melemaskan itu. Ketika Molise bergerak membungkuk itu, Michi membungkuk pula di atas pria itu, dan menghujamkan sikunya ke atas kepala, tepat di belakang telinga Molise, yang berakibat terjungkalnya Molise ke atas lantai mobil itu.

Rasa nyeri itu seakan akan membelah kepalanya dan Molise bertanya dalam hati dengan apa gerangan wanita itu telah menghantam kepalanya. Molise bergulat agar tetap pada kesadaran, berusaha bangkit, berpegangan pada tempat duduk dan mendorong diri agar bisa duduk, tetapi ia tidak mampu. Wanita Jepang itu kini duduk di atas dadanya, kedua lutut menekan kedua lengannya. Lonte gila! Apakah yang pernah dilakukannya atas diri wanita itu?

Tuhan dan pedosa pedosa berdamai.

Kataki-uchi. Keadilan. Pembalasan. Dengan tangannya. Keadilan amerika Manny Decker tidak akan memuaskan leluhur Michi.

Tangan Michi mencabut sesuatu dari bagian atas sepatu botnya. Sebuah jarum baja, panjang empat setengah inci, ujungnya sedemikian tajam, sehingga suatu sentuhan ringan saja menghasilkan lubang berdarah.

Michi memegangnya dengan kedua tangan, menempatkan ujungnya di bawah rahang Molise, hanya ragu sepecahan detik, dan kemudian menekan jarum itu menembus rahang, lidah dan ke dalam langit langit mulut. Molise

bergidik, mengerang, mencoba melempar Michi dari atas dirinya dan gagal

Ya Tuhan, sakitnya! Molise bergulat , tetapi wanita itu sepenuhnya mengungguli dirinya. Pukulan di belakang telinga itu telah melemaskannya dan rasa nyeri di dalam mulutnya dan kepala itu mengerikan sekali.

Jarum itu. Mengeluarkan suara sedikit saja, dan lidah akan sobek.

Ada sebatang jarum lagi di dalam tangan wanita itu, dan yang dipegang sedemikian rupa sehingga Molise dapat melihatnya dengan jelas. Michi menusukkan jarum itu menembus mata kanan dan ke dalam otak, dan Molise tidak mengeluarkan sv.ara sedikit pun. Membuat darah menyembur dari mulutnya.

Ah, ia harus melempar wanita itu dari atas dadanya, tetapi semua mulai menjadi gelap dan ia tidak mempunyai tenaga untuk melakukan itu.

Mulutnya telah penuh dengan darahnya sendiri dan ia ingin menelannya, tetapi itu berarti lebih banyak kenyerian, karena jarum yang menembus lidahnya.

Paulie Molise tidak pernah melihat jarum yang ketiga itu. Ia hanya merasakannya.

Masuk ke dalam mata kirinya, menembus terus ke dalam otaknya. Molise mengerang, mengejang dan menjadi lemas.

Dan mati.

Michi mencabut jarum jarum yang basah dengan darah itu, menyimpannya kembali di-dalam saku mantel kulit dan ia bersandar ke belakang di tempat duduk mobil itu. Matanya menatap pada Molise. Michi membisikkan nama nama mereka: ayahnya, ibunya, kakaknya. Memejamkan mata, menundukkan kepala. Ren-chi-shin, rasa malu yang dapat dihapuskan jika orang yang bersalah telah dilenyapkan. Darah harus dibersihkan dengan darah.

Michi mengenakan kembali topi, menutup mukanya dengan syal itu, turun dari mobil ke sebelah jalanan dan dalam beberapa detik sudah ditelan oleh orang banyak yang berlalu lalang itu.

DECKER pelan pelan meniup shakuha-chi, sebuah seruling kayu yang merupakan hadiah dari Michi pada dirinya. Dari Michi, yang kini bergayut pada lengannya selagi mereka berdiri di Japanese Garden, bagian dari Brooklyn Botanic Gardens yang hampir duapuluh lima hektar luasnya itu.

Decker berhenti meniup seruling itu dan memandang pada Michi. Mata Michi ditujukan pada tempat keramat itu, dan Decker mengetahui, bahwa Michi sedang memikirkan agama tua itu. Shinto adalah pemujaan alam. Kami-nya, dewa dewanya, tidak hanya manusia, leluhur, kaisar kaisar, tetapi juga hewan, batu karang, pohon, sungai, burung, gunung. Shinto adalah juga pensucian dengan angin dan air. Mulut dan tangan harus dibasuh sebelum memasuki sebuah tempat keramat,suatu peringatan simbolik pada zaman seseorang tidak akan diperkenankan memasuki sebuah tempat suci tanpa lebih dulu direndam di dalam sungai atau laut.

Decker tidak jadi meniup seruling lagi, memasukkan seruling itu ke dalam sakunya. Biarkanlah Michi berdoa untuk yang telah meninggalkannya dalam kedamaian.

Ya, apakah kata Kanai beberapa malam yang lalu di Cleveland Gallery itu?

"Kalian di barat sini takut bahwa dewa kalian akan mendapati kalian bersalah melakukan dosa. Kami, orang Jepang, berusaha keras menghindari penghinaan dan dipermalukan orang. Itu berarti bahwa kami harus menjaga kehormatan kami, memenuhi yang diharapkan o-rang dari diri kami. Kami tidak dapat hidup untuk diri sendiri semata. Itulah sebabnya kami bekerja keras dalam bisnis, menghindari dipermalukan oleh orang."

Menghindari dipermalukan orang. Kemudian, "Menurut surat surat kabar kalian, pembunuhan atas Alan Baksted masih belum terpecahkan."

"Itu agaknya pekerjaan seorang pembunuh profesional. Malangnya, jika pihak polisi tidak berhasil memecahkan suatu pembunuhan dalam waktu tujuhpuluh dua jam, pembunuhan itu lazimnya menjadi suatu kasus terbuka. Artinya, kami tidak mempunyai saksi saksi, motif motif, petunjuk petunjuk, dan barangkali tidak akan mendapatkannya juga."

"Ada uang kertas limapuluhan dollar yang disobek menjadi dua diketemukan di atas mayat tuan Baksted."

"Kukira ia telah mengambil sesuatu yang bukan miliknya."

"Aku telah menerima surat surat dan pesan lewat telefon dari wakil wakil Mary-belle Corporation. Aku diberitahu bahwa aku kini dapat melihat daftar penjudi penjudi, yang anda namakan 'daftar umpan' itu."

Giliran Decker.

LeClair telah melarang Decker mengatakan sesuatu kepada Kanai itu mengenai Baksted, Golden Horizon atau mengenai pembunuhan atas diri Paul Molise Junior.

Kanai sendiri sedang menanti mendengar efek, kalau ada, dari dua pembunuhan itu atas sesuatu investasi yang mungkin akan dilakukannya dalam Golden Horizon.

"Secara resmi, aku tidak dapat berkomentar mengenai kasus itu, Kanai-san. Aku mengharap anda dapat mengerti."

"Hai. Kewajiban, Decker-san. Maafkan kalau aku mendesak anda mengungkapkan sesuatu yang semestinya rahasia anda dan atasan anda. Anda katakan saja rahasia rahasia anda kepada angin dan angin akan menceritakannya kepada pohon pohon."

Decker teringat pada perlakuan LeClair terhadap Benitez dan DeMain, dan betapa LeClair mencemooh orang orang yang disingkirkannya.

Decker berkata» "Kanai-san, apakah anda bermaksud membeli salah sebuah lukisan dalam pameran ini?"

"Pelukisnya berbakat. Sebuah atau dua dari lukisan lukisan yang dipamerkan di sini mengesankan sekali. Ya, kurasa aku akan membeli sebagai suatu dorongan pada pelukis itu."

Decker menatap pada Kanai. "Dewasa ini orang membeli barang seni sebagai suatu investasi. Suatu perlindungan terhadap inflasi. Mereka juga membeli barang barang yang dapat di'pungut'. Namun, anda tentu mengerti bahwa orang harus berhati hati terhadap barang barang yang dapat 'dipungut' tertentu."

Decker menyesap minumannya. "Aku sendiri misalnya, akan ragu kalau itu menyangkut barang yang dapat 'dipungut' seharga, katakanlah, dua juta dollar."

Decker memiringkan kepala, dan menambahkan, "Takai desu. Hai, takai desu." Terlalu mahal.

Decker memandang pada Kanai, dan masih sempat melihat orang jepang itu secara hampir tidak kentara menjura pada dirinya.

"Domo arigato gozai mashite,

Decker-san.' .

Decker membalas menjura, sama hampir tidak kentara.

Di depan torii, di Japanese Garden itu, Michi dengan mata tertutup menjura dalam, kemudian membuka mata dan tersenyum pada Decker. Decker mencium bibir Michi, dan mereka mulai berjalan lagi, menikmati hari cerah dan udara bersih dan dingin itu.

Ketika mereka berhenti untuk melihat tempat penghidangan teh secara tradisional, Michi berkata, "Aku berdoa bagi ayahku, ibuku dan kakakku."

"Ah, aku ketinggalan," Decker berkata,

"Semestinya aku juga berdoa, berdoa bahwa kau akan kembali padaku dari perjalananmu ke eropa."

Michi mencengkeram lengan Decker. "Untuk itu kau tidak perlu berdoa. Aku akan kembali padamu, aku berjanji."

"Beritahukan padaku waktu pesawatmu mendarat. Aku akan berusaha menjemputmu, kalau dapat.Oh ya, pada dewa yang manakah kau berdoa, atau ... itu suatu rahasia?"

Michi tertawa. "Tidak, itu bukan suatu rahasia. Aku telah berdoa pada dewa setempat, kami setempat, pada dewa yang mana saja yang tinggal di tempat suci tadi.

Setiap desa, setiap kota mempunyai dewanya masing masing, maka telah kuminta pada dewa Brooklyn "

Decker menyeringai, "Apa?"

Michi berkata dengan khidmat, "Aku telah meminta perlindungan dewa Brooklyn dan aku dapat berusaha dalam semua hal, agar aku ulet dalam usahaku dan pantang mundur dalam menunaikan tugasku. Aku juga meminta kekuatan untuk dapat mengabdi pada kehendak dewata dan, tentu saja, aku memujinya, sesuai kebiasaan kami."

Decker memandang ke langit. "Dewa Brooklyn. Ada lima distrik di sini. Apakah itu berarti masing masing mempunyai dewanya sendiri?"

Michi mengangguk, tetap serius. "Dan setiap tempat dalam lima distrik itu, setiap lingkungan, setiap desa, mempunyai dewa dewa masing masing, banyak dewanya."

"Aku percaya kalau kau yang mengatakan begitu."

"Masih ada lagi doaku. Aku telah berdoa untukmu, agar kau selamat dalam pekerjaanmu, agar kau tidak menderita cidera."

Decker meraih Michi kepada dirinya. "Yang kumohon dari para dewa adalah agar penerbanganmu selamat, penerbangan pergi dan penerbangan pulang. Yang selanjutnya dapatlah kuhadapi sendiri."

Michi menundukkan kepala. "Dengan Paul Molise sudah mati, urusan tidak menjadi lebih mudah bagimu?"

Decker menggelengkan kepala dan mereka mulai berjalan lagi. "Betapa menyenangkan seandainya begitu. Malangnya, urusan itu masih ruwet. Gerombolan itu itu juga, hanya yang seorang itu, Molise, akan digantikan oleh seseorang lain yang belum kami kenal atau ketahui, yang kebiasaan kebiasaannya sangat misterius. Yang harus segera kami ketahui kalau mau mempunyai peluang terhadapnya. Artinya, semua itu mulai dari awal lagi. Keluarga Molise masih di dalam bisnis itu, demikian pula Management Systems Consultations. Seorang pemain hilang, seorang pengganti muncul dan permainan,berjalan terus." Decker diam sejenak, kemudian, "Begini, Michi, kami sudah dekat sekali mencapai Molise. Pangalos mestinya dapat kami

sudutkan, namun kini, dengan Molise sudah mati, menjadi lain keadaannya. Pangalos, sekurang kurangnya, sudah menghadapi akhir karirnya.Jadi semuanya menjadi bahkan lebih ruwet.Kami memerlukan Molise yang hidup, tidak mati. Dan aku tidak bisa mengambil resiko dengan membuat kesalahan terhadap LeClair.

LeClair pada saat itu berada di Washington, untuk suatu konferensi dengan departemen kehakiman, untuk menilai apakah kematian Molise akan disusul dengan suatu suatu peperangan di antara gang gang kejahatan terorganisasi. LeClair sendiri tidak mengetahui apa jawaban atas pertanyaan itu. Juga Decker tidak tahu. Jika kematian Paul Molise junior itu suatu tindakan dari gang lain, maka perang antar gang pastilah akan pecah di antara kelima keluarga mafia di New York.

Pengawal Molise dipotong lehernya. Kematiannya tidak menimbulkan teka teki. Namun Molise lain lagi soalnya. Sebab kematian adalah sejenis benda metalik, sesuatu yang panjang dan tajam. Apapun senjata yang dipakai, pembunuhan itu dilakukan dengan cara berdarah dingin.

Apakah Molise dibunuh sebagai suatu peringatan bagi seseorang lain? Adakah Molise dihukum oleh seseorang lain dari dunia hitam? Molise senior telah bersumpah akan membunuh orang atau orang orang yang te

lah membunuh putera yang sangat dicintainya Di Japanese Garden itu, Decker dan Michi berhenti untuk mengagumi sebuah lampu Kasuga.

Tidaklah layak berpikir tentang kekerasan di tempat yang damai itu, tetapi Decker tidak bisa menghindari itu. Di Celveland Gallery, Kanai telah menyebut tentang kaishaku pada Decker dan Ellen Spiceland*. Seorang karateka yang memperkosa dan membunuh. Ellen telah mendengarkan dengan penuh perhatian, dan Decker melihat dari wajahnya, bahwa Ellen akan melakukan segala sesuatu untuk menyelidik lebih dalam perihal kaishaku itu.

Sementara itu, Decker sendiri banyak kesibukan. Gugus tugas itu. Kasus kasus yang harus ditanganinya bersama Ellen. Lalu tugasnya sebagai pengawas lapangan.

Kaishaku.

Dalam perjalanan ke Instruction Building Brooklyn Botanic Garden itu, Decker menyinggung soal kaishaku itu pada Michi. Selagi mendengarkan, Michi mencengkeram lengan Decker. "Itu kedengarannya seperti yang dilakukan serdadu serdadu amerika di Vietnam."

Decker mendadak berhenti. "Ya dewa, kau benar! 'Veteran Dobel', itulah namanya. Tetapi, apakah kaishaku tidak berbeda?"

Mereka melanjutkan berjalan. "Ya," Michi berkata. "Kaishaku adalah seperti seorang pendamping bagi seseorang yang akan melakukan seppuku. Bagi samurai, seppuku adalah kematian yang paling terhormat. Hanya seorang yang sangat dihormati, diperbolehkan melakukan itu. Ia harus mempunyai seorang kaishaku, seorang teman yang akhli pedang, dan yang berdiri di dekatnya, yang membantunya membebaskan diri dari penderitaan jika kenyerian tidak tertanggungkan lagi. Kau mengetahui bagaimana seppuku dilakukan." "Ya."

"Menimbulkan kenyerian yang sangat," Michi berkata pelan. "Harus dimengerti bahwa seseorang bisa kehilangan ketabahan dan tidak bisa melakukan yang harus dilakukannya untuk menjaga kehormatan. Atau ia bisa mencoba melarikan diri. Untuk membebaskannya dari kenyerian dan kehilangan muka, kaishaku itulah yang menggunakan pedangnya, memenggal leher orang itu. Bagi kami itu adalah perbuatan pertolongan bagi yang melakukan seppuku. Kaum wanita melakukan seppuku dengan suatu cara lain."

"Bagaimana?"

Michi berhenti dan berbalik mengarahkan wajah ke tempat suci di atas bukit di belakang mereka. "Sebuah nadi di sini." Michi menyentuh sisi lehernya.

Michi lalu berpaling dengan mata basah kepada Decker. "Itu suatu kematian terhormat bagi orang orang terhormat. Jika seseorang tidak mau dihina atau dipermalukan oleh

musuh musuhnya "

Michi tidak sanggup meneruskan kata katanya. Decker meraihnya ke dalam pelukan. Anak anak seperti Michi dan kakaknya dibesarkan dengan pengetahuan mengenai seppuku; itu masalah kehormatan bagi mereka.

Peranan apakah yang dimainkan oleh ide itu dalam kehidupan Michi selama enam tahun terakhir? Decker ingin mengetahui lebih banyak. Namun Decker diam saja, mendekap saja Michi dalam pelukannya.

Sekalipun anak perempuannya sudah berada di jepang kembali, Kanai masih hendak melihat kaishaku itu ditangkap. "Aku seorang di antara pendukung pendukung turnamen suibin di Paris bulan Januari mendatang," Kanai telah berkata.

"Ah, aku tidak mengetahui itu," Decker telah menjawab. "Itu suatu peristiwa besar."

"Hai.Namun akan sangat memalukan sekali kalau kaishaku itu ada di antara yang bertanding. Aku sangat khawatir bahwa ia akan ikut serta. Ia seorang yudawan yang akhli, seorang yang mungkin bersambut pada tantangan yang timbul dalam suatu turnamen seperti itu."

"Bagaimana anda dapat mencegahnya ikut dalam turnamen itu? Maksudku, bagaimana anda dapat memeriksa latar belakang setiap petanding itu? Yang akan ikut serta akan ratusan banyaknya dari seluruh dunia."

"Akan merupakan suatu kebaikan besar bagi seni bela diri kalau kami dapat mencegahnya atau kalau ia dapat ditangkap sebelum berlangsungnya turnamen itu," Kanai berkata dengan tarikan nafas dalam. "Tidak akan mudah melakukan itu, namun bukan tidak mungkin."

Tidak olehku, pikir Decker. Aku masih banyak persoalan dengan LeClair.

Di bagian latihan Botanic Garden itu, Decker dan Michi meninjau kursus kursus yang diselenggarakan disitu mengenai kebudayaan jepang. Di suatu bagian, Decker mendesak Michi memperlihatkan cara membuat binatang binatang dari kertas. Sesudah ragu sejenak, Michi melakukan itu. Di depan pengurus dan murid muridnya, Michi bekerja cepat. Bekerja penuh konsentrasi. Dan baru setelah selesai, ia mengangkat kepala, rikuh melihat semua dalam kelas itu mengerumuni dirinya.

Ada air mata dalam mata pengursus itu ketika berkata, "Belum pernah aku melihat karya seindah itu."

Dengan membungkuk, pengursus itu mencium Michi dan para murid itu bertepuk tangan.

Pengursus itu memegang kujang kertasbuatan Michi itu, "Bolehkah 'aku menyimpan ini, nona ?"

Michi memandang pada Decker, "Asama. Michelle Asama."

"Nona Asama."

"Ya, tentu saja boleh."

Mereka kembali ke Manhattan dengan mobil Mercedes, kendaraan pinjaman dari gugus tugas itu.

Di apartemennya, Michi bercinta dengan Decker dengan kegairahan yang hampir mengejutkan Decker. Seakan akan lebih menyerupai suatu pergulatan daripada cinta, hampir hampir seperti yang bergolak dalam pikiran Michi ketika Decker menyebut seppuku pada Michi . Namun sesaat kemudian Decker pun terseret dalam pusaran bercinta itu, dan Decker tidak bisa berpikir tentang yang lain lainnya. Ia hanya merasa. Ia mengalami.

Mereka bercinta di dalam bak mandi. Michi mengguyur Decker dengan air panas, pensucian, kata Michi. Shinto. Dan kemudian, setelah mereka saling menyabuni dari kepala hingga kaki, Michi membimbing Decker ke atas lantai, ke semua tikar di samping t>ak mandi itu, dan memijatnya. Michi merebahkan diri di atas tubuh Decker, menggosok gosokkan tubuhnya sendiri di atas tubuh Decker, pelan pelan, dan sekali pun Decker menjadi sepenuhnya bergairah dan bernafsu, Michi menolak Decker menyetubuhinya. "Tunggu," ia berbisik. "Tunggu."

Michi berdiri di atas punggung Decker, berjalan di atas tubuh Decker itu. Kemudian ia berlutut di atas tubuh Decker, 'berjalan' di atas lututnya dari bahu hingga betis Decker. Kenikmatan itu terasa tajam,

yang berbatasan pada kenyerian. Decker mengerang. Kenyerian paling manis yang pernah dialaminya.

Michi kini merebahkan diri di atas tubuh Decker, melakukan masase itu dengan buah

dadanya Ah, sialan! Decker tidak bisa

menahan diri lebih lama lagi. Ia mengejang, bergerak gerak di atas tikar basah dan berbusa itu dan melepaskan kendali atas dirinya. Michi tidak berhenti. Dengan duduk di atas betis Decker, pantatnya yang telanjang meluncur di atas daging Decker. Michi mengangkat kaki sebelah Decker dan menggosok gosokkan itu pada buah dadanya dan ia pun mengerang. Decker merasa dirinya bernafsu dan mengeras kembali.

Michi memberi isyarat agar Decker berbalik, telentang. Michi mulai meluncurkan kembali tubuhnya di atas tubuh Decker, mendesak dan menggeliat padanya, dengan mata terpejam karena rasa kenikmatan. Michi duduk dan mulai memukuli tubuh Decker dengan pinggiran tangan, dari bahu hingga paha, menyakiti namun sekali gus merangsang Decker. Decker mengkhayalkannya, atau ia benar benar meledak lagi? Ya, pada saat saat seperti itu, siapakah yang mengetahui secara presis?

Michi membimbing Decker ke bak mandi itu, dan bersama sama mereka berendam. Setelah sabun dibersihkan, mereka mengganti air dalam bak itu duduk kembali dan bercinta

248 lagi, dengan Michi menunggangi Decker, bergayut pada Decker, bergerak gerak pelan di atas paha Decker, dengan musik dari koto dari pengeras suara yang terpasang tinggi di atas dinding; dan Decker begitu tenggelam dalam cinta, diayun kenikmatan, dalam kebahagiaan dan sepenuhnya menjadi taklukan Michi.

Decker merasa mengantuk. Siap untuk tidur.Dalam keadaan setengah sadar,ia merasa Michi menjilat darah dari mulutnya, darah

yang keluar dari gigitan gigitan Michi

dan kemudian, lidah Decker bertemu dengan lidah Michi dan ada rasa darah bercampur dengan kelembutan manis mulut Michi itu. Decker menyadari bahwa selama Michi mencintai dirinya, ia akan menyerah pada apa saja yang diminta Michi dari dirinya. Penyerahan diri Decker memang sepenuhnya dan selengkapnya.

"Kau," Decker berbisik, dan dalam kata yang hanya sebuah itu adalah seluruh dirinya, dan seluruhnya itu pula yang dipersembahkannya kepada Michi.

PROBLEMNYA, sebagaimana Ellen Spiceland melihatnya, adalah, bahwa kaishaku itu berpindah pindah dari kota satu ke kota lainnya.Maka ia, Ellen Spiceland, harus berbicara dengan Manny, yang adalah seorang karateka.

Telefon di dapur itu berdering dan Ellen

mengangkatnya, tidak mau suara itu membangunkan Henri, suaminya. "Hello?"

"Ellen? Manny di sini."

"Ah, presis orang yang kuperlukari. Bagaimana keadaan di sana?"

"Repot dengan tuduhan tuduhan penyerangan dari penjaga penjaga Buscaglia. LeClair tidak menghendaki aku membuang buang waktu dengan urusan itu di pengadilan. Yang terpenting adalah rencana tempat duduk di oditorium itu. Bukti kami terhadap Pangalos dan Quarrels."

"Ada bahan baru mengenai siapa pembunuh Molise?"

"Kosong. Tidak ada tanda tanda perang gang. Tidak ada petunjuk datangnya pembunuh sewaan dari kota lain. Tidak ada tanda keributan dalam keluarga Molise. Barangkali Molise dan pengawalnya itu secara kebetulan saja berada di tempat salah pada saat yang salah pula."

"Siapakah yang akan menggantikan Paul Molise junior itu?"

"Entah. Untuk sementara ini Gran Sasso, Johnny Sass mengoper pimpinan. Paul senior belum pulih dari goncangan. Siapa pun yang akan menggantikan junior, tugasnya yang pertama adalah soal pembunuh Paulie itu. Ada apakah dengan Raoul dan perempuannya?"

Raol adalah calo dominika yang menikam Yoshi Tada hingga mati.

"Cuma tuduhan penganiayaan,"

"Suatu lelucon.Hakim hakim tolol."

"Kau belum mendengar semuanya. Bambi, perempuan Raoul itu, sekurang kurangnya kena dua jenis penyakit kelamin. Seandainya Tada masih hidup, ia sudah kejangkitan sifilis atau herpes."

"Ah, apa betul?"

"Aku mengira kau akan menganggapnya lucu."

"Kita harus sanggup menerima dunia sebagaimana adanya."

"Aku tahu. Tetapi, begini, Manny. Menge-

nai soal kaishaku

Decker mengeluh. "Ah, sudah kuduga. Sudah kuduga."

"Aku tidak bisa melepaskan itu begitu saja."

"Aku tahu. Oke, bagaimana soal itu?" "Kauberitahukanlah padaku bagaimana aku dapat menjangkaunya."

"Sialan! Cuma itu yang mau kau ketahui?

Bagaimana menangkap seorang sinting yang berkeliaran memperkosa dan membunuh dan memukuli wanita hingga mati dengan kedua tangan telanjang? Begini, Ellen, bagaimana kalau Kanai itu keliru? Bagaimana kalau bukan seorang, tetapi serentetan kejadian kebetulan?"

"Manny, jangan kaucoba memadamkan semangatku! Kita sama sama mengetahui bahwa Kanai tidak mencapai kedudukannya yang sekarang dengan ketololan. Maka kita mulai saja dengan anggapan bahwa ia mempunyai penglihatan yang tajam."

"Kalau kau anggap begitu, oke. Sesungguhnyalah, kau memang tidak keliru. Kanai bukan seorang yang dungu. Tetapi, hai.... aku menelefonmu cuma untuk menceritakan tentang pengadilan hari ini. Jangan kau tonjok tonjok mataku."

"Tolonglah, Manny."

Decker menghela nafas. "Oke, oke."

"Bagaimana caranya aku dapat menjangkau jahanam itu? Di manakah aku harus memulai? Maksudku, ia ada di mana mana. Aku telah berbicara dengan kapten dan aku diijinkan mengumpulkan keterangan. Pertama, karena seorang wanita telah terbunuh di New York, dan kedua, karena aku seorang wanita, dan kapten tidak ingin kalau aku berteriak teriak tentang diskriminasi atau sexisme atau yang sejenisnya."

"Aha, pemerasan."

"Sialan. Tetapi, bagaimanapun, aku tidak dapat terus menerus memerasnya. Kalau aku tidak menemukan akal, segera, maka akan 'selamat tinggal' kaishaku, dan aku akan harus kembali ke dunia nyata."

"Kanai bilang, orang itu seorang karateka, dan ia berkeliling. Mungkin saja seorang salesman. Tetapi, Kanai juga mengatakan bahwa orang itu pasti hebat, akhli benar. Sehingga kecil kemungkinannya cuma seorang salesman."

"Mengapa?"

Decker berkata, "Seorang salesman tidak akan mempunyai waktu untuk berlatih. Dan itu satu satunya cara untuk menjaga kondisi. Mungkin ia seorang pekerja, yang berpindah pindah tugas. Maka, beginilah kau memulai.... Garaplah kota kota yang telah disebutkan Kanai itu......"

Ellen berkata, "New York, Atlantic City, Dallas, San Francisco. Hai, tunggu dulu, bukan Atlantic City, tetapi suatu kota di luar Atlantic City. Kota kecil sekali. Aku lupa namanya, tetapi ada catatanku di kantor."

"Tidak menjadi soal., Te.... Hai, kemarin seorang teman mengingatkan padaku mengenai veteran dobel, serdadu serdadu amerika yang memperkosa dan membunuh wanita wanita di Vietnam."

"Hebat benar amerika kita ini!"

"Ya, aku tahu. Bagaimana pun, kumpulkan alamat dojo dojo di kota kota itu. Klub klub karate. Dapatkan daftar daftar anggotanya.Itu tidak akan gampang, dan bisa kaudapatkan nama segudang. Dalam klubku saja ada seratus dua puluh orang anggota."

"Ya, dewa."

Ellen berhenti mencatat. "Manny, kau bilang klub klub karate. Bagaimana dengan judo?"

"Judo itu teknik melempar, bukan memukul. Sedang jahanam kita itu seorang yudawan. Menggunakan kedua tangannya. Hai...hai...."

"Ada apa, Manny?"

"Oh, tidak apa apa., Aku cuma teringat akan sesuatu yang dikatakan Kanai. Katanya, ia tidak menghendaki bedebah itu ikut dalam turnamen di Paris yang akan dilangsungkan bulan Januari mendatang. Sedangkan kaishaku itu seorang yudawan dan mungkin saja ikut serta dalam pertandingan itu. Turnamen, ya dewa, mengapa tidak kulihat sebelumnya?"

"Melihat apa, Manny?"

"Yudawan yang berpindah pindah tempat. Turnamen. Pertandingan. Kompetisi. Di situ lah kau memulai!"

Mata Ellen berkilat kilat. "Manny, kau memang seorang pria manis. Kedengarannya kena sekali. Bagus sekali. Aku tidak mengetahui apa apa mengenai seni bela diri itu, kecuali bahwa orang memakai piyama kalau melakukannya."

"Itu gi, ngawur! Bukan piyama."

"Oke, oke. Jadi, menurutmu, orang kita itu berkeliling, berpindah pindah melakukan pertandingan pertandingan?"

Decker menahan Ellen. "Sabar, Ellen. Jangan terlalu terbawa oleh harapan. Ini cuma sebuah teori."

"Tidakkah pekerjaan kita memang menyusun nyusun teori?"

"Kau mesti mencari tahu apakah ada suatu

pertandingan di kota kota itu pada sekitar waktu seorang wanita terbunuh. Kauhubungilah penerbitan penerbitan mengenai seni bela diri."

Decker memberikan delapan nama penerbitan itu, tiga buah di antaranya di Los Angeles.

"Daftar yang bertanding pada setiap pertandingan itu," Ellen menulis dalam buku catatannya.

"Ellen, kini telah kaubangkitkan

minatku. Kalau kaudapatkan nama nama itu, kauperlihatkanlah padaku. Siapa tahu? Barangkali dapat kuperiksa dengan komputer mentalku yang sudah tua ini."

"Manny, aku tidak perduli apa kata orang tentang dirimu, aku mencintaimu. 0 ya, segala sesuatu beres?"

Decker bercerita kepada Ellen tentang Michi. Tidak seluruhnya, bahkan tidak sebagian besar. Hanya, bahwa kini ada seseorang istimewa dalam hidupnya, seseorang yang lama berselang telah ditemukannya dan kini bertemu kembali. Dan bahwa mereka berjalan bersama tanpa tergesa gesa. Penuh harapan.

"Ia selalu bepergian mengurus bisnisnya. Ia berjanji akan kembali," Decker berkata.

"Sebaiknya itu ia lakukan, Kalau ia sampai menyakiti hatimu, akan kuhajar pantatnya yang putih hingga biru kehitam hitaman."

"Ia seorang Jepang."

"Apa pun. Manny, terima kasih, ya? Aku bersungguh sungguh. Manny."

"Kau tidak usah berterima kasih padaku. Kau yang benar. Bedebah itu, siapa pun ia, memang sepatutnya mampus. Barangkali kita akan mujur dan sekurang kurangnya menyingkirkannya dari jalanan jalanan."

"Ya, bisa terjadi pada siapa pun, Manny. Diriku. Bahkan pacarmu, siapa pun ia itu."

Decker diam saja.

Kemudian, "Ya, bahkan ia. Tetapi tahukah kau, apa yang akan kulakukan kalau itu terjadi? Akan kubunuh bedebah itu. Aku bersumpah bahwa akan kubunuh ia. Tidak perduli ia itu siapa, di mana ia bersembunyi atau disembunyikan atau berapa lama diperlukan waktu untuk menemukannya, aku akan menemukannya dan membunuhnya."

TREVOR SPARROWHAWK memandang dengan puas keluar jendela rumahnya di Connecticut.

Berapa besarkah kekuasaan yang telah diberikannya kepada Giovanni Gran Grasso dan Alphonse Giulia, keponakan Don Molise itu?

Beberapa hari yang lalu, setelah Paul Molise junior dibaringkan untuk selamanya dalam sebuah kuburan di Long Island, telah di adakan suatu pertemuan dengan Gran Sasso dan Giulia di tempat duduk belakang yang luas dan mewah dari sebuah mobil panjang, selama perjalanan kembali ke Manhattan. Hanya Sparrowhawk seorang yang menghadiri pertemuan itu. Hingga saat itu, Sparrowhawk hanya berurusan dengan Paul junior, yang, bagaimana pun masih dapat diajak berbicara, tak seperti anggota anggota keluarga Molise lainnya yang lebih keras kepala. Nampaknya kekuasaan lama harus mengalah pada kekuasaan baru; dan yang baru itu, Sparrowhawk khawatir, akan lebih sulit dihadapi.

Gran Sasso dan Giula merupakan pasangan yang tidak suka pada kompromi. Gran Sasso, Johnny Sass, berusia enampuluh lebih, mendekati tujuhpuluh, berambut putih dan sangat mengagumi Mussolini. Keakhliannya adalah dalam korupsi , dan dalam penyogokan hakim hakim, pembesar pengadilan, kaum politik

dan kepolisian. Satu satunya anggota keluarga Molise yang dalam perasaan Sparrowhawk merupakan tandingan intelektual bagi dirinya —dan bahkan mungkin lebih unggul— adalah consigliere itu yang paling ditakutinya.

Alphonso Giulia, juga dipanggil Allie Boy, berusia empatpuluhan. Ia yang menangani kepentingan kepentingan keluarga Molise di bidang narkotika.

Di mata Sparrowhawk, Allie Boy adalah seorang pemurung, kasar dan tidak bijaksana dalam kata kata dan kelakuan, serta selalu penuh curiga.

Nah, keluarga gang Molise, yang tidak pernah pandai dalam diplomasi, memperagakan bahwa merekalah yang berkuasa. Dan Sparrowhawk sebaiknya mengikuti kemauan mereka kalau ia tidak mau disingkirkan.

Gran Sasso memandang keluar jendela mobil itu. "Satu urusan yang harus kaulakukan, yaitu menemukan pembunuh Paulie. Tidak usah kau membantah dengan mengatakan bahwa kau tidak melibatkan diri dalam kegiatan dan bidang tertentu, bagaimana kau mau tanganmu selalu bersih. Kaulupakanlah citra perusahaanmu itu. Yang harus kaupikirkan adalah mengenai Paulie. Ia mati."

"Paulie seorang yang baik," Allie Boy berkata dengan suara melengking tinggi. "Tidak ada istirahat sebelum kita mendapatkan orang yang membunuh Paulie. Nah, kau kerjakanlah itu. Serahkan anjing itu pada kami. Akan kita bikin sehingga ia menyesal telah dilahirkan.";

Sparrowhawk meluruskan lipatan jas berduka yang dipakainya itu. "Aku percaya. Tetapi kalian tentu mengetahui bahwa hingga sekarang tidak ada petunjuk petunjuk apapun yang d^apat dipakai sebagai pegangan."

Michelle Asama menyelinap ke dalam pikirann Sparrowhawk. Tetapi, tentu saja akan gila sekali kalau itu disebutkannya pada kedua gembong mafia itu.

Sparrowhawk memang menaroh kecurigaan kecurigaan tertentu pada wanita itu, namun itu pun harus diperiksa dan dicocokkan.

Andaikan, bahwa nona Asama itu mempunyai hubungan keluarga dengan almarhum George Chihara. Kehadiran wanita itu di New York bisa berarti sesuatu yang amat buruk bagi orang orang yang bertanggung jawab atas kematian Chihara. Orang orang itu adalah ia sendiri, Sparrowhawk, kemudian: Robbie, Dorian. Dan Paul Molise. Mungkinkah ada wanita yang seberbahaya itu?

Bayangan akan kehilangan nyawa bukanlah sesuatu yang menarik bagi Sparrowhawk.

Gran Sassc menekan sebuah tombol, dan kaca penyekat antara tempat duduk belakang dan tempat duduk depan naik secara otomatikal. Gran Sasso bercondong ke arah Sparrowhawk dan berkata, "Akan kuberikan suatu ide padamu, dimana kau dapat memulai pelacakanmu. Saigon. Mulailah dari Saigon."

Sambil menggaruk perutnya, Sparrowhawk merasa kepastian bahwa dirinya akan mencapai usia tua menjadi rapuh.

SPARROWHAWK menyeberangi kamar kerja yang penuh dengan buku itu dan membuka pintu. "Unity, sayang, mereka sudah datang. Bawalah keju dan biskuit ke dalam kamar kerjaku. Kopi untuk Dorian. Robbie minum yang menjadi kebiasaannya."

"Baiklah, sayang."

Rumah yang dihuni Sparrowhawk bersama isteri dan anak perempuan mereka, berasal dari abad ke tujuhbelas. Rumah itu dikawal ketat. Dan hubungan Sparrowhawk dengan polisi setempat baik sekali.

Yang berkeliaran di atas tanah milik itu adalah juga tiga ekor anjing jaga alsatian yang terlatih. Salah satu senjata yang selalu siap ditembakkan dan disembunyikan di tempat tempat stategik di rumah itu, dan yang paling dahsyat, adalah sebuah senapan laser setengah otomatik buatan amerika, yang menembakkan tigapuluh butir peluru kaliber .22 per detik, dengan kekuatan menembus dinding atau memotong batang pohon.

Seluruh sistem keamanan di rumah Sparrowhawk adalah yang paling mutakhir. Dalam keadaan terkurung orang masih dapat

bertahan tanpa menderita kelaparan selama berhari hari lamanya.

Pada usia duapuluh satu tahun, anak perempuan Sparrowhawk, Valerie, adalah seorang wanita yang cantik, intelijen dan berdisiplin, dengan rasa humor dan mempunyai pikiran yang bebas. Valerie berperawakan tinggi, sekali pun tidak setinggiibunya, dengan rambut pirang, mata biru dan berkulit mulus sekali. VaLerie mempunyai banyak kepandaian, seorang sarjana yang cemerlang, dan pada tahun terakhir di Yale University.

Yang paling menyenangkan Sparrowhawk adalah, bahwa Valerie tidak sok dan tidak tergila gila pada kecantikan dirinya. Dan Valerie mengharapkan dari kehidupan apa yang mampu dicapainya. Bagi Sparrowhawk, tidak ada pujian yang lebih tinggi daripada sifat sifat anak perempuannya itu.

"Ayah?"

Valerie berdiri di pintu kamar kerja itu , bertelanjang kaki dalam celana jeans dan kemeja kaos universitas, menggendong setumpukan buku. Boadicea, seekor kera kecil peliharaan, duduk di atas bahu Valerie.

"Aku mesti belajar," Valerie berbicara dengan suara hampir tanpa logat inggris setelah enam tahun di amerika. "Akan kutinggalkkan ayah dengan kawan kawan ayah untuk menentukan nasib peradaban barat."

Valerie tidak menaroh perhatian sedikit pun pada Dorian atau Robbie. Bagi Valerie, Dorian adalah seorang yang aneh. Tentang Robbie ia tidak berbicara banyak, hanya menyatakan bahwa ia menganggap Robbie menyeramkan, namun tidak mengetahui presis bagaimana atau di mana letak keseraman itu. Sparrowhawk pernah berharap bahwa kedua anak muda itu dapat saling cinta mencintai dan kemudian barangkali menjadi suami isteri, tetapi Valerie sama sekali tidak berkecenderungan ke arah situ. Mereka cuma saling mengucap 'hello', tidak lebih dari itu. Unity yang akhirnya memberitahukan kepada suaminya. "Valerie tidak suka pada Robbie; tidak akan pernah menyukainya. Valerie akan mencintai seorang pria yang cocok dan layak bagi dirinya, tidak asal sembarang pria. Dan Robbie bukanlah pria itu, Trevor, dan kurasa kita berdua 6ama sama mengetahui akan hal itu."

Tentu saja Unity benar. Bukannya bahwa Valerie kekurangan pria yang menaroh minat pada dirinya. Bahkan pernah pria terkaya di Waterbury, seorang tua bangka dengan pacu jantung, pernah menawarkan duapuluh lima hektar tanah real estate kelas satu di Connecticut kalau Valerie mau kawin dengannya. Puteri Sparrowhawk tidak menaroh minat sedikit pun.

Kini ia melambaikan tangannya kepada Sparrowhawk sambil meninggalkan kamar kerja itu. Ah, sayang bahwa Robbie bukan orangnya, pikir Sparrowhawk. Namun, hal hal seperti itu tidak dapat dipaksakan, teristimewa dengan seorang gadis muda yang begitu berpikiran tidak tergantung. Sparrowhawk cuma dapat bertanya tanya, siapakah gerangan pria yang cocok bagi Valerie itu kelak. Sebab, Valerie Leslie Judith Sparrowhawk memang seorang gadis yang berpribadi.

"SEPERTI KALIAN SUDAH MENGETAHUINYA, TEMAN TEMAN ITALI KITA SEPENUHNYA GADUH BERKENAAN DENGAN PEMBUNUHAN PAULIE," Sparrowhawk berkata kepada Robbie dan Dorian yang duduk di atas sofa kulit itu. "Yang tidak kalian ketahui adalah, bahwa Gran Sasso dan Alphonse, dengan kebijaksanaan mereka yang maha hebat, telah mendekretkan bahwa MSC harus memainkan peranan utama dalam pelacakan pelaku kejahatan itu."

Dorian berhenti menyesap kopinya. "Sialan. Jadi, kita berkumpul di tempat anda ini karena tempat ini aman, karena pada saat ini polisi dan gugus tugas itu menyelidiki semua orang Molise dan setiap orang yang mendekati mereka itu. Kalau kita mengorek ngorek perkara Paulie itu, maka itu sama saja dengan mengatakan bahwa MSC adalah mafia pula."

"Kau benar sekali," kata Sparrowhawk.

"Itu memang akan melenyapkan segala yang telah kuusahakan bagi MSC. Yang mau diketahui oleh kekuatan kekuatan hukum dan ketertiban umum adalah, siapa yang akan mengisi tempat yang ditinggalkan kosong oleh Paulie itu.Bahkan saat ini informasi mengenai itu mungkin sudah beredar luas."

"Allie Boy dan Johnny Sass," Robbie ber-

kata. "Padahal Allie Boy itu wah! Ia

mempunyai seorang gadis kuba di Long Island

City. Ia tidak mau ,ke tempat wanita itu,

tidak mau membawanya ke sebuah motel.

Khawatir kalau ada pemasangan alat mata mata atau sejenisnya. Ia begitu ketakutan diawasi atau dimata matai, sehingga digarapnya, wanita itu di bangku belakang sebuah station-wagon. Setiap kali Allie Boy-meninggalkan tempatnya dengan station wagon itu, sudah bisa dipastikan ke mana ia akan pergi dan apa yang akan dilakukannya."

"Aha, siapa bilang romans sudah mati?" Kata Sparrowhawk. "Namun begitu, Dorian memang benar mengenai pengawasan atas diri kita itu. Biarpun begitu, aku diharuskan memeriksa masa Paulie di Saigon. Alphonse dan tuan Gran Sasso mau mempunyai gambaran terperinci dari apa yang dikerjakan Pauli di sana."

Dorian mengangkat bahu. "Yah, mengapa tidak Saigon. Harus dimulai di sesuatu tempat, bukan? Ada petunjuk petunjuk?"

"Pada saat ini tidak ada sesuatu secara

pasti. MSC sedang mengerjakan itu. Saigon, Hongkong, Macao, kampuchia, thailan." Kemudian ditambahkan oleh Sparrowhawk, "Tokyo."

Sparrowhawk memandang pada Dorian. "Itu tempat tempat Paulie mempunyai bisnis. Dan, tentu saja, orang orang di tempat tempat itu yang mempunyai bisnis dengan Paulie."

"Bagaimana dengan kepulauan cayman?: Dorian bertanya. "Paul ada mendaftarkan perusahaan perusahaan di sana, dan di Delaware. Juga di New Jersey."

Sparrowhawk mengangat alis. "Itu info

penting juga, Dorian. Dan kami mempu-

nyai sumber sumber kami sendiri dari depar-

temen kepolisian. Namun begitu, kami

menghargai sekali kalau kau selalu memberi

informasi kepada kami mengenai apa saja yang

kau dengar, baik itu dari distrikmu atau

distrik distrik lainnya."

"Oke."

"Bagus. Masih ada satu lagi. Keluarga Molise itu merasa bahwa Pangalos dan Quarrels mungkin akan disekap. Dikirim untuk menemani Jimmy Hoffa, begitulah kira kira."

"Serangan rangkap?" tanya Dorian.

"Gran Sasso merasa kedua orang itu tidak mau dipenjarakan. Kurasa ada betulnya juga. I'nngalos sudah dua kali bertemu dengan IfiClair mengenai rencana kursi oditorium Itu. Aku yakin bahwa LeClair tidak setengah

setengah dalam mengancam. Kalian bisa membayangkan bagaimana kehidupan di dalam penjara bagi seorang bekas jaksa, dan jaksa federal lagi pula?"

Sparrowhawk menyesap tehnya. "Para nara pidana akan menyobek nyobeknya. Mungkin sekali akan membunuhnya.Sedangkan mengenai Quarrels, biar ia seorang pengacara yang pandai, ia seorang tidak bertulang punggung. Kematian Paulie, dapat dikatakan, membuat kedua orang itu tanpa pelindung. Gran Sasso tidak pernah menyukai Pangalos. Gran Sasso hanya menenggang rasa dikarenakan Paul dan pengaruh Paul atas Don Molise. Quarrels juga boleh dicoret. Dan semua itu karena rencana tempat duduk di oditorium itu!"

Robbie berkata,"Lemparkan kesalahan Decker."

:"Ya dan tidak. Memang Decker yang mencuri rencana itu. Yang penting, bagaimana Decker bisa mengetahui akan adanya peta dan rencana itu?"

Dorian dan Robbie terdiam.

Dorian yang akhirnya berbicara. "Ada rencana atau tidak ada, kurasa tidak tepat untuk justru pada saat ini membunuhi orang. Apa lagi Paulie masih menjadi berita."

"Sependapat. Hanya, di dunia ini kekuasaanlah yang menentukan benar dan salah. Gran Sasso dan Alphonse harus menegakkan kewibawaan mereka dengan tiadanya wibawa lain. Jadi, tidak ada lain cara lebih baik, daripada melemparkan seluruh kesalahan pada kedua pengacara itu. Paul pasti akar, menghadapi masalah seperti ini dengan cara lain, tetapi Paul sudah tidak ada."

Dorian mendengus. "Maka disingkirkanlah mereka itu."

"Begitulah agaknya yang menjadi rencana. Aku memahami keenggananmu, tetapi itu tidak akan berpengaruh atas kedua jendral baru kita itu. Maka, cukuplah dengan bersiap sedia melakukan tugas sesuai perintah. Aku akan mengatakan kapannya."

Dorian berkata, "Asal kau atur mereka berdua di satu tempat pada saat bersamaan. Aku tidak mau kembali untuk melakukannya dua kali. Tetapi, yah sialan, aku masih beranggapan itu bukan cara yang tepat!"

Sparrowhawk mengacungkan jari tangan. "0 ya, masih ada satu hal lagi. Suatu sebab lain mengapa Gran Sasso berpikiran menyingkirkan Pangalos dan Quarrels adalah untuk melindungi yang terhormat senator Terence Dent. Tuan Sasso tidak menghendaki senator kita itu diseret ke dalam sekandal oditorium itu — yang bisa terjadi karena Dent mempunyai kepentingan pula dalam proyek itu. Dent adalah seorang penting bagi kepentingan kepentingan Molise. Ya, tidak saban hari orang bisa mempunyai seorang senatornya sendiri."

Dorian menuding pada Sparrowhawk, "Kau katakanlah pada Johnny Sass bahwa aku menun-

tut bayaran tinggi untuk pekerjaan ini. Ia menginginkan aku menyingkirkan kedua orang itu, biar ia membayar dengan betul. Ya dewa, memikirkannya saja sudah menggerogoti lapisan perutku. Di manakah toilet?"

"0, di ujung koridor itu."

Ketika Dorian sudah meninggalkan ruangan itu, Sparrowhawk menutup pintu dan berdiri berhadapan dengan Robbie.

"Robbie, dengarkan dengan cermat. Bisa saja terjadi bahwa Dorian merupakan problem yang tidak kalah berengseknya dengan Pangalos. Aku berbicara tentang wanita Jepang itu, nona Asama. Mungkin saja wanita itu mempunyai hubungan dengan George Chihara. Bahkan mungkin keluarga, aku tidak mengetahui pasti."

"Sialan ! "

"Ya. Tetapi jangan singgung singgung hal ini pada Dorian."

"Ah, mayor, hal itu tidak perlu kaukatakan padaku."

"Bagus. Nah, aku kini sedang melakukan penyelidikan intensif atas seluruh latar belakang wanita itu. Aku belum berniat menyerahkan informasi itu kepada Gran Sasso atau Alphonse. Belum ada bukti jelas ia mempunyai hubungan dengan Chihara. Tetapi dari suatu sumber, yang celakanya kini sulit dihubungi, aku mendapat info bahwa ada seorang wanita mencoba menyelamatkan Chihara — kurasa nona Asama."

Robbie menggaruk leher, "Kaupikir ia yang menghabisi Paulie? Wah, hebat betul, kalau memang begitu. Seorang wanita lawan dua orang pria."

"Kalau memang wanita itu, maka ia

berada di sini untuk " Sparrowhawk menun-

juk dan berbisik, untuk berbuat

sesuatu terhadap dirimu dan aku. Dan juga

terhadap Dorian."

Robbie diam sejenak, kemudian mendengus, "Kalau ia bermaksud sesuatu terhadap diriku, sebaiknya ia melakukannya dengan sehebat hebatnya."

Sparrowhawk meletakkan tangan di atas bahu Robbie. "Kalau aku mengatakannya dan jangan sebelumnya, mengerti?"

"Kaulah yang memimpin semua ini, mayor. Kaupikir Dorian bersama wanita itu melawan kita?"

"Tidak. Dorian bersama kita ketika kita mengambil Chihara. Kalau wanita itu samurai, maka tidak akan ada ampun. Dorian akan harus membayar atas dosa dosa yang dilakukannya, seperti juga kita. Tetapi, jangan cemas, ini cuma perkiraan, kalau betul wanita itu malaikat pembalas dendam. Saat ini ia keluar negeri, flatnya kusuruh geledah dan aku sudah menugaskan seorang agar secara khusus membuntutinya. Pokoknya, orang yang bisa menyingkirkan Paulie dengan cara seperti yang telah terjadi, tidak boleh diremehkan."

"Mayor, bagaimana kalau seandainya

benar wanita itu "

"Aku ada sebuah rencana: menyerahkan nona Asama kepada mafia itu, sekalian juga Dorian. Soalnya mereka berdua sahabat akrab. Kita lemparkan kekhilafan ke atas bahu Dorian." Sparrowhawk berbicara cepat, mengetahui bahwa setiap saat Dorian akan kembali. "Aku ada juga sebuah rencana alternatif. Ada kemungkinan kita harus menyingkirkan sendiri nona Asama itu, dan akan menguntungkan sekali kalau itu kita tangani tanpa ramai ramai. Aku tidak pernah meminta dirimu melakukan sesuatu pembunuhan sejak kau kembali di negeri ini. Dan sekarang aku menyiagakan dirimu, kalau kalau...."

Robbie tersenyum menyeringai. Tampak sepuluh tahun lebih mudah. "Mayor, kau menghendakinya, kau mendapatkannya. Kalau kau berkata ia harus lenyap, maka ia akan lenyap."

"Hanya sekali ini, Robbie. Setelah ini, tidak lagi. Aku berjanji."

"Hai, jangan cemas. Ia sudah lenyap." Robbie meletikkan jari tangan, "seperti ini."

Pintu kamar kerja itu dibuka dan Dorian masuk. "Hai, aku ketinggalan sesuatu?"

Sparrowhawk berkata, "Kami membicarakan pertarungan Robbie yang akan datang.

Kapankah itu, Robbie?"

"Beberapa minggu lagi. Boston."

Sparrowhawk menepuk bahu Robbie. "Baik sekali bagi perusahaan dengan adanya Robbie ikut bertanding dan menang terus. Itu promosi top. Mengesankan sekali bagi para klien."

Karena sedang membelakangi kedua orang itu, mengambil minuman, Dorian tidak melihat Sparrowhawk dan Robbie saling pandang.

Bersambung ke 4

EMPAT

Y O I N

Suara genta setelah dipukul;

suatu kenangan yang tidak dapat hapus.

LECLAIR BERKATA, "Tuan Manfred, berkat peta dan rencana kecurangan di oditorium itu, kita kini mempunyai cengkeraman kuat atas Pangalos dan Quarrels. Sekarang saatnya untuk menggencet. Pemalsuan pajak, persekongkolan, penipuan,, apa saja. Quarrels sudah bersedia berunding. Sudah diberikannya bukti yang diharapkan olehnya akan menyelamatkan dirinya dari hukuman." "Misalnya?"

"Nama nama perusahaan Delaware yang dipakai Paul Molise untuk memutihkan uang yang dibawa masuk kemari dari kepulauan cayman. Ia juga menyinggung satu dua hal mengenai Marybelle Corporation."

LeClair sibuk membersihkan kuku. "Kata Quarrels, temanmu Kanai menarik diri dari Golden Horizon."

Decker memandang pada LeClair, "Sudah kujanjikan padamu, dan aku tidak melanggarnya. Tidak sepatah kata pun kukatakan pada Kanai mengenai kasino atau o-rang orang dibelakang kasino itu atau tentang pembunuhan atas diri Baksted. Seperti sudah kauketahui, bahkan sebelum kematian Baksted, Kanai sudah menaroh curiga."

"Itu betul, itu betul."

Mereka berdua sama sama tertawa. Decker berdiri dan mau meninggalkan kamar itu. LeClair berkata, "Satu hal lagi, tuan Manfred.

Decker berhenti, berpaling pada jaksa itu. "Jangan terlalu sering meninggalkan nyonya Raymond sendirian, tuan Manfred."

Decker berpaling lagi. Dan ia tidak juga menjawab. Dengan tenang ia berjalan ke pintu.

Sialan, pikirnya. LeClair mengetahui tentang Michi.

DECKER MEMUTAR KUNCI, mendorong pintu itu dan masuk ke dalam apartemen Michi. Setelah menutup kembali pintu itu, ia berjalan ke ruangan duduk. Bau asap cerutu itu masih segar. Dan pintu kamar tidur yang telah ditutup rapat —kemarin— oleh Decker, kini sedikit terbuka.Decker berkonsentrasi. Ia agaknya memergoki seseorang.

Pelan pelan ia menyeberangi ruangan duduk itu dan bergerak menuju ke kamar tidur itu. Tetapi, sebelum ia sampai, pintu kamar tidur itu dibuka lebar dari dalam dan seorang pria dalam mantel kulit yang panjangnya mencapai lutut keluar dari situ. Kedua tangan pria itu ada di dalam saku.

Kedua tangan itu pelan dikeluarkannya. Yang sebelah kosong, yang sebelah lagi memegang sebuah lencana polisi.

"Polisi. Kami ingin melihat identifikasi diri anda."

"Kami?"

"Partnerku. Di belakang anda."

Decker berpaling. Seorang pria lain keluar dari kamar mandi. Masih muda, tidak sampai tigapuluh dan berbadan tegap dan kuat. Orang itu mendekati Decker sambil memukul mukulkan telapak tangan sebelah dan dengan sebuah obeng. Decker mencium bahaya.

Decker berpaling kembali pada pria bermantel kulit yang harganya paling murah delapanratus dollar itu. "Polisi, katamu. Bolehkah aku melihat lagi lencana itu?"

"Baru saja kuperlihatkan lencanaku, tuan "

"Namaku Decker."

"0. Decker. Kami berada di sini dalam tugas."

"Oh? Coba perlihatkan potsi itu?" 'Mantel Kulit' mengarahkan telinga pada Decker, seakan akan ia tidak mendengar jelas.

"Ya, potsi," kata Decker, menarik mantelnya sendiri dari atas tangan yang memegang pistolnya, sepucuk .38. "Potsi artinya lencana. Seorang polisi mengenal istilah itu."

Decker mengambil lencana dan kartu identitasnya sendiri dari saku jas, memperlihatkannya. Dengan pistolnya ia memberi isyarat kepada pria yang seorang lagi agar maju mendekat. "Kalian memang

hebat. Dua kunci kelas satu pada pintu itu dan kalian bisa langsung masuk. Tetapi, mungkin kalian tidak lewat pintu depan, eh? Lewat manakah kalian? Lift angkutan barang? Garasi bawa tanah?"

'Mantel Kulit1 menghembuskan nafas panjang, "Whoooo! Horoskopku memang mengatakan agar aku hari ini berhati hati bertemu dengan orang."

Decker memalingkan kepala ke arah kanan dan menghindari obeng yang dilemparkan ke arah kepalanya. Tetapi ia terlambat menghindari hantaman di atas tulang pipinya. Dalam suatu gerakan lincah, pria yang berkaos hangat menjatuhkan diri ke atas lantai dan dengan kaki kirinya menendang tangan Decker yang memegang pistol .38 itu. Pistol itu melayang di udara. 'Kaos Hangat' beralasan kalau optimis. Ia berlatih seni bela diri, dan ia memang lumayan.

Tendangan itu membuat Decker merasa lengannya mati rasa. Tetapi, ketika ia melihat 'Mantel Kulit' membungkuk mau memungut pistol yang jatuh ke atas lantai, Decker tidak menghiraukan rasa nyeri dan melompat maju dan menendang 'Mantel Kulit' pada iganya, sekali, dua kali, mengangkatnya dari atas lantai dan melemparkannya menubruk dinding.

Decker berbalik menghadapi 'Kaos Hangat', tepat pada waktunya. Pria itu bergerak penuh kewaspadaan, mata tak sekejap-

pun meninggalkan wajah Decker. Pria itu melangkah panjang, kemudian melompat miring tinggi di udara, kakinya ditarik hingga merapat pantatnya. Di udara itu ia meluncurkan kaki itu, sepatu bot itu mau menjangkau wajah Decker.

Decker merasa serbuan angin ketika kaki itu melesat lewat beberapa inci dari kepalanya, dan ketika ia berputar, dilihatnya pria kokoh dan besar itu mendarat indah di atas lantai, diluar jangkauannya. Pria itu seketika sudah menghadap pada Decker, berdiri miring, bergeser maju.

'Kaos Hangat' mengarahkan tendangan pada sulbi Decker, kemudian cepat berputar, membelakangi Decker, dan melemparkan sebuah tendangan tinggi ke arah kepala Decker. Decker melangkah mundur, memijat mijat lengan kanannya. Merasa kekuatan kembali.

Kini Decker yang melancarkan dua tendangan, mengarah rendah, mengarah lutut dan pergelangan kaki 'Kaos Hangat'. Orang itu mundur, tetapi tidak jauh, cuma diluar jangkauan Decker.

Tetapi ia tidak memperhitungkan temannya. Di belakang 'Kaos Hangat' itu, 'Mantel Kulit' berusaha berdiri, menggerenyit merasakan sakit pada iganya. Ia sudah setengah berdiri, bersandar pada dinding, ketika ia mengumpat, "Sialan," dan terkulai kembali, tetapi dengan roboh kearah temannya, jatuh ke atas temannya dari belakang, menubruk pergelangan kaki temannya.

Kehilangan keseimbangan dan dengan kedua lengan mencari cari pegangan di udara, 'Kaos Hangat' melihat ke bawah pada temannya, membelakangi Decker. Itulah kesempatan bagi Decker. Dengan kaki kanan menghantam belakang lutut pria tinggi besar itu, dirobohkannya lawan itu.

Decker bergerak secepat kilat, melingkarkan lengannya pada leher 'Kaos Hangat' mencekiknya, sedangkan tangan kiri lewat bawah ketiak pria itu memegang bahu kirinya, Decker melemparkan diri ke belakang, membawa serta pria itu. Decker kemudian melingkarkan kedua kaki pada pinggul dan paha pria itu, memperkeras cekikannya.

Itu dilakukan Decker secukupnya saja, tanpa niat mengubah lawannya itu menjadi sayuran. Lawan itu berlawan, menggeliat, mencakar cakar pada lengan Decker. Kemudian melemas. Ketika merasa lawannya mengendor, Decker melepaskannya, mendorong pria yang pingsan itu ke samping dan memungut pistolnya.Ia kemudian membungkuk, memeriksa saku saku'Mantel Kulit'. Tidak ada senjata. Tetapi membawa kartu identitas yang menarik.

Nama 'Mantel Kulit' adalah Jay Pearlman.

Decker bertanya. "Kalian berdua bekerja pada Management Systems Consultants?"

Pearlman, dengan mata tertutup dan kedua tangan pada sisi kanan tubuhnya, menggerutu, "Ya."

"Di manakah ia?" Decker bertanya.

"Siapa?" Pearlman bertanya. "Sialan, ra sanya ada tulang tulangku yang patah."

"Otaknya ini. Sapi yang seorang itu bukan tipe yang memimpin. Dan kau juga tidak merokok cerutu."

"Sialan, apakah maksudmu?"

"Kau ingin aku menendang sebuah lubang pada sisi badanmu yang lain? Jangan berpura pura tolol. Yang kumaksudkan adalah pria yang merokok cerutu mahal yang tercium baunya ini. Bah, siapakah yang mengisap cerutu kuba dan sekali gus penyadap terbaik di Manhattan?"

Decker kini berpaling ke arah kamar tidur itu. "Oye, Felix, kaubawalah pantatmu kemari."

Pintu kamar tidur itu dibuka lagi dan seorang kuba berperawakan kecil, mengisap cerutu, keluar. Berpakaian perlente, membawa tas atase. "Ah, Decker sahabatku. Como esta? Bagaimana kabarnya?"

"Felix."

Mereka memang saling mengenal. Felix Betancourt, limapuluh tahun, dan dijuluki Elegante karena gaya gayanya. Seorang genius elektronika. Berperan dalam peristiwa Teluk Babi, skandal Watergate dan sejumlah skandal politik lainnya. Pernah bekerja untuk CIA, FBI, Departemen Luar Negeri, kedua partai politik utama di amerika dan korporasi korporasi multi nasional raksasa. MSC membayarnya suatu jumlah berangka enam. Pada saat informasi merupakan 'mata uang' paling mahal, Felix Betancourt adalah seorang raja.

Biarpun kelakuan dan pembawaan dirinya penuh gaya, Felix sepenuhnya seorang tanpa moral. Namun begitu, Decker menyukainya.

"Wah, dasimu bagus sekali, Felix."

"Duaratus dollar. Sutera istimewa." Felix melihat ke arah 'Kaos Hangat' yang masih terkapar tidak sadarkan diri itu. "Sudah kukatakan padanya bahwa kau tidak bisa dibuat main main, tetapi ia tidak percaya. Katanya dapat meringkus dirimu dengan mata tertutup."

"Matanya sekarang memang tertutup."

Felix menyeringai. "Kau benar sekali, sahabat. Toby.... itu namanya, katanya berlatih dengan Robbie Ambrose, yang adalah seorang juara."

"Ada apa dalam tas atasemu itu, Felix?"

Orang kuba itu mengangkat bahu.

Decker berkata, "Tuangkan isinya ke atas meja kopi itu, dan setelah kau selesai, kau dan teman temanmu itu boleh membongkar kembali semua alat penyadap yang telah kalian pasang di sini. Sebaiknya jangan sampai ada yang kelewatan, sebab besok akan kuundang sainganmu untuk menyapu tempat ini.

Dan kalau ia sampai menemukan seutas kawat

saja "

Felix tersenyum. "Decker, sahabatku, aku

mengetahui kapan waktunya aku harus mundur.

Kita ini, kau dan aku, adalah pekerja

pekerja profesional. Akan kubongkar

semuanya» Jangan khawatir."

Pria di atas lantai itu mengerang, bergerak.

Felix berkata, "Aku tidak bermaksud menyelidik, sahabat. Tetapi kau mempunyai kunci apartemen ini. Apakah itu berarti bahwa nona itu seorang temanmu? Seandainya aku tahu, tidak akan kuterima pekerjaan ini."

"Felix, makam kristus pun akan kausadap seandainya kau dibayar untuk melakukan itu."

DUAPULUH MENIT KEMUDIAN, Decker sendirian saja dalam apartemen Michi itu. Mencoba menilai situasi. Orang orang Holise semuanya dikerahkan untuk menangkap orang yang telah membunuh Paul junior. Pada saat ini hanya itu yang mereka kerjakan. Juga Msc pasti dikerahkan untuk itu.

Untuk melindungi Michi, ia telah membiarkan Felix dan teman temannya itu 'berjalan'. Tidak ada perlunya menarik perhatian lebih besar pada Michi. Felix telah mengambil beberapa dari surat surat pribadi Michi, sebuah paspor, berkas perusahaan.

Ya, ini pasti pekerjaan Sparrowhawk. Namun, kepada Sparrowhawk ditugaskan mencari pembunuh Paulie, hanya itu. Apakah Sparrowhawk dan keluarga Molise mengira ada sangkut paut antara Michi dan pembunuhan Paulie itu? Decker bergidik. Dapatkah ia melindungi Michi, kalau Sparrowhawk dan mafia itu menghendaki kepala Michi?

Dengan kembalinya Michi, ia, Decker, telah mulai hidup lagi. Ia telah menjadi rentan. Ia telah mengikatkan diri. Komitmen. Bersama Michi, harapan harapan ada di depannya. Juga bisa kehilangan segala galanya.

Decker duduk di dalam apartemen itu hingga kegelapan dini hari hari bulan desember turun. Pikirannya mengejar bayangan bayangan, bergulat dengan rasa kengerian.

PADA PUKUL 5:32 petang itu, Sparrowhawk dan Robbie berjalan menuju mobil sedan yang akan menurunkan Robbie di pusat kota dan membawa pulang Sparrowhawk ke Connecticut. Robbie yang paling dulu melihat pria yang berdiri di samping pengemudi sedan itu.

Kemudian Sparrowhawk. Ya dewa, Decker. Suatu kejutan.

Decker berkata, "Jangan ganggu Michelle Asama. Jangan menyadap apartemennya, jangan sentuh dan jangan membuka surat menyuratnya. Jangan mendekat padanya."

Mata Sparrowhawk menyempit. "Bolehkah a ku bertanya ini sifatnya resmi atau tidak?"

"Ini tidak resmi." "Sudah kukira begitu. Oh ya, aku mendengar bahwa kau telah menciderai dua dari orang orangku hari ini. Apakah kau tidak terlalu membanggakan kehebatanmu?"

"Seorang dari orang orangmu itu mencoba mencukil mataku dengan sebuah obeng."

"Ah, sayang. Dan kau bahkan tidak menahan mereka," Sparrowhawk memandang ke arah Robbie. "Coba, bayangkan itu. Ada orang mencoba mencukil matanya, dan ia tidak menangkap orang itu." Sparrowhawk berpaling kembali kepada Decker. "Nah, biar kulempangkan ini. Setiap keterlibatan dengan nona Asama adalah sepenuhnya tidak resmi, tidak menjadi bagian tugas profesionalmu."

Decker mulai merasa menyesal telah datang berkonfrontasi.

Sparrowhawk menangkap kegelisahan Decker itu. "Dan karena ini bersifat tidak resmi,

sersan detektif "

"Pribadi," sesaat ia mengucapkannya, Decker menyadari bahwa ia telah membuat suatu kesalahan.

Sparrowhawk mengangkat alisnya.

"Pribadi, eh? Ah, kalau begitu menjadi lainlah soalnya. Pribadi, Robbie. Kau mendengar itu?"

"Ya. Aku mendengarnya, mayor."

"Coba katakan, sersan detektif, apakah ini berarti bahwa aku tidak perlu menerimanya dengan cara sungguh sungguh? Yah, ada apakah di antara dirimu dan kami yang dapat disebut 'pribadi'? Nah, Robbie ini yang menangani semua konfrontasi pribadiku. Betul tidak, Robbie?"

"Ya, kapan saja, mayor. Kapan saja. Aku dan sersan detektif Decker.... kami sudah beberapa kali bertemu secara pribadi."

Sparrowhawk menggosok dagu. "Ah, betul. Dan aku masih ingat pada dua pertemuan di antaranya. Ya. aku ingat kembali itu."

Decker memandang pada Robbie. Pria yang telah menggoncangkan kepercayaan akan diri sendiri. Pria yang mendepak dirinya keluar dari pertandingan pertandingan karate. Tiba tiba luka luka dari kedua kekalahan yang dideritanya melawan pria itu., terbuka kembali, rasa nyeri dan penderitaan timbul kembali. Dan Decker kini menyadari bahwa rasa takut itu belum sepenuhnya hilang dari dirinya.

Decker memaksa dirinya berkata. "Kau telah mendengar aku mengatakannya. Jangan mengganggu nona Asama."

Sparrowhawk berkata, "Bolehkah aku naik ke dalam mobilku?"

Decker melangkah ke samping dan pengemudi membuka pintu. Sparrowhawk naik lebih ulu. Robbie, yang berada tepat di belakang mayor itu, meletakkan kaki ke dalam mobil, berhenti dan, berpaling pada Decker, menggelengkan kepala dengan sedih, mengetahui bahwa ia tidak perlu mengancam Decker atau menantangnya.

Karena Robbie lebih hebat. Sederhana saja.

Robbie menyentuh pentolan emas pada telinga dan naik ke dalam mobil sedan itu.

Ketika mobil itu meluncur pergi, Decker menyadari bahwa suatu kesalahan besar telah dibuatnya. Ia telah memperingatkan mereka. Kemungkinan suatu kejutan kini sudah tertutup. Ia sendiri telah memberitahukan kepada mereka, bahwa ia akan datang. Dungu.

Lambat atau cepat, ia akan harus membayar untuk kesalahan itu. Juga Michi.

ALPHONSE GIULIA berkata, "Aku bertanya tanya sendiri, apakah yang akan dilakukan senator Dent keparat itu, kalau ia mengetahui rencana kita untuk kedua orang itu."

Gran Sasso berkata, "Orang menutupi mata dengan tangannya sendiri, lalu mengeluh mengapa semuanya gelap. Ia tahu, tetapi tidak mau tahu. Tujuhpuluh lima ribu kita bayar pada polisi itu untuk membereskan urusan itu. Polisi itu mengatakan kepada Sparrowhawk bahwa ia tidak mau melakukannya untuk kurang dari itu."

"Tetapi ia hebat, polisi itu. Tidakkah ia menghendaki kedua orang itu di tempat sama, pada waktu yang sama? Itu tidak akan mudah."

Consigliere itu berkata, "Sebaliknya, sahabatku. Itu justru bagian yang paling gampang."

Memang lucu, pikirnya. Ia lebih tua dari Pangalos dan Quarrels, namun ia masih akan hidup kalau mereka mati. Esok hari, pada jam seperti saat ia kini berada, kedua pengacara itu sudah akan mati.

CONSTANTINE PANGALOS duduk di atas tempat tidurnya, jengkel. Dipindahkannya gagang telefon ke telinga kiri, jauh dari isterinya

yang terbaring tidur di sampingnya. "Busca-glia, kau tahu pukul berapa sekarang ini? Ini tengah malam buta!"

Connie, kau tidak mendengar yang kukatakan! Kataku, aku dapat membereskan soal peta dan rencana tempat duduk oditorium itu, membuatmu berjalan keluar dari Federal Plaza sebagai orang bebas sepenuhnya. Satu satunya copy itu. Satu satunya bukti yang mereka miliki untuk menuntut dirimu dan Quarrels."

Pangalos turun dari tempat tidur dan berbisik serak, "Kau tidak bermain main?

Kalau sampai "

"Main main bagaimana? Tetapi ini akan mahal sekali bagimu. Lima untukku dan sepuluh untuk orang yang mengambil berkas itu. Tidak bisa ditawar tawar lagi."

"Sialan. Agaknya tidak ada pilihan lain bagiku. Satu satunya jalan untuk mengatakan 'persetan!1 kepada LeClair itu."

"Aku sudah berbicara dengan Quarrels, dan ia langsung melompat kegirangan dan lega. Di antara kalian berdua tentu tidak ada kesulitan mengumpulkan uang itu."

"Uangnya aku ada. Sia.... siapakah kontakmu di Federal Plaza itu?"

Buscaglia mendengus. "Kau pikir aku ini apa? Itu urusanku. Pokoknya, kau mau lolos dari cengkeraman LeClair atau tidak?"

Pangalos tertawa. "Bah, LeClair.... akan kuhajar orang itu."

Buscaglia berkata, "Itulah sebabnya aku yang datang padamu, dan bukan MSC. Aku juga mau uang, eh?"

"Sal, kau telah menyelamatkan diriku. Dan aku tidak akan pernah melupakan yang kaulakukan untukku ini. Kapankah urusan ini bisa dibereskan?"

"Segera. Tidak lama lagi. Dan.... o, ya, sebelum aku lupa, kita ini berbicara tunai, oke? Tunai dan bukan cek."

"Oke, oke. Tunai. Quarrels "

"Ia sudah setuju, seperti kukatakan tadi. Katanya fifty-fifty. Masing masing tujuhribu lima ratus. Untuk itu kaudapatkan peta itu kembali dan juga berkasmu yang berisi segala yang dikatakan LeClair mengenai kalian. Perlihatkan peta itu kepada Johnny Sass dan Allie Boy dan kau sudah kembali di tengah tengah kami."

"Oke, oke. Kapan kita bisa bertemu, Quarrels dan orangmu itu?"

"Besok hari terakhir kesempatan mengambil berkas itu. Kita selesaikan urusan ini besok malam, kalau kau setuju."

Duapuluh dua jam kemudian, di sebuah blok yang sepi di dekat Forty-eighth Street dan Ileventh Avenue, Pangalos turun dari sebuah taxi dan setelah taxi itu menghilang, berjalan ke sebuah mobil yang diparkir di neberang pekarangan sebuah sekolahan.

Tiba tiba, Pangalos merasa gelisah dan ia mempercepat langkah kakinya. Ia membawa hampir delapan ribu dollar dan memakai jam tangan yang harganya lima ribu dollar. Ia tidak ingin berakhir di situ, dihadang sembarang pecandu atau perampok kecil.

Setibanya di mobil itu, Pangalos melihat ke sekeliling dirinya, melihat sebuah mobil lain meluncur mendatang dan ia ragu. Tetapi mobil itu lewat dan sesampainya di ujung jalanan itu membelok ke arah Eleventh Avenue. Pangalos menunggu hingga debar jantungnya tenang kembali, membuka pintu mobil itu dan duduk di bangku depan di sebelah Livingston Quarrels. Pintu ditutupnya kembali.

Quarrels berpaling padanya, wajahnya coreng moreng karena air mata.

"Hai, kau kelihatan seperti baru memergoki isterimu dimakan tukang antar susu. Manakah Buscaglia dan temannya?

Quarrels berkata dengan suara bergemetar , "Connie, aku sungguh sungguh tidak mengerti ada apa ini. Buscaglia cuma menyuruh aku datang ke sini dan menunggu. Aku cuma melakukan yang dimintanya." Pangalos mengerutkan dahi. Dan di belakangnya, Dorian Raymond, yang bersembunyi dengan merunduk di bangku belakang, kini duduk tegak, menekankan moncong sebuah .22 dengan peredam pada kening Pangalos dan ditariknya pelatuk pistol itu. Terdengar suara plop , kepala pria yunani itu tersentak ke satu sisi dan Pangalos terkulai di atas tempat duduknya.

Quarrels menjauhkan diri dari mayat Pangalos itu dalam ketakutan, memandang liar dari mayat itu kepada DoriBh.

"Dorian, aku telah melakukannya. Melakukannya seperti yang kauminta. Katamu aku boleh bebas. Aku sekarang mau pulang ke isteriku."

Dengan berbicara, Dorian pikir, kau bahkan memperburuk keadaan. Yang dapat ia lakukan bagi Quarrels yalah agar akhir itu tidak berkelamaan. Dorian menembak dua kali, tembakan kepala, sebutir peluru menembus tulang pipi kanan dan sebutir lagi menembus mata. Quarrels terkulai.

Dengan memejamkan mata, Dorian menundukkan kepala. Yang sekali ini menyakitkan. Ia mengenal kedua orang itu sejak bertahun tahun yang lalu, dan menghabisi mereka ternyata lebih meresahkan dirinya daripada yang dikira sebelumnya. Dan ia belum selesai pula. Johnny Sass menghendaki ditinggalkan suatu pesan di situ. Bercondong ke bangku depan itu, Dorian memasukkan ujung pistol beralat peredam itu ke dalam mulut Quarrels, dan menembakkannya Liga kali. Dorian kemudian mendorong mayat Pangalos, dengan menjambak rambut menghentak kepala orang yunani itu ke belakang,

kemudian menembakkan pistol itu dua kali di dalam mulut Pangalos.

Pesannya adalah, bahwa kedua pengacara itu telah berbicara terlalu banyak

Dorian melepaskan alat peredam itu,memasukkannya ke dalam saku, kemudian memasukkan pistol .22 itu ke dalam saku lainnya.

Dorian mungkin bukan orang paling pandai di dunia, tetapi ia tidak perlu diberitahu, bahwa kini waktunya untuk berhenti. Baksted, Quarrels, Pangalos. Teman temannya. Dan ialah yang membunuh mereka.

Berhenti! akhiri semua itu. Ia kini mempunyai uang. Tujuhpuluh lima, ditambah yang disimpan di bank. Duapuluh. Hampir seratus ribu dollar. Dan copy daftar itu, 'daftar umpan'.Itu bisa dijadikan uang berjuta. Cukup bagi dirinya dan Romaine untuk selama hidup mereka.

Uang akan mendamaikan Romaine. Ia yakin. Romaine satu satunya wanita yang cocok bagi dirinya. Yang diperlukannya hanyalah suatu kesempatan baru. Satu saja. Akan dibuktikannya bahwa ia bisa mengurus dan memperhatikan Romaine.

Dan sekarang, yang mau dilakukannya, adalah ke sebuah bar di Eighth Avenue, minum beberapa sloki dan memikirkan cara menangani masalah Robbie itu. Sesudah Quarrels, ia tidak mau lagi memandang pada wajah seorang teman yang diketahuinya tidak lama lagi akan mati.

Di sebuah bar di Eighth Avenue dan Forty-ninth Street, duduk di antara orang orang tidak berwajah dalam mantel dan memakai topi, minum wiski dan bersumpah pada diri sendiri, bahwa masa lalunya tidak akan dijadikan masa depannya. Mengambil uang itu

dan lari. Membawa Romaine bersama dirinya dan menghilang

Dorian lama sekali berada di bar itu, karena ia tidak mau pulang dan bermimpi tentang orang orang yang baru saja dibunuhnya itu.

BERADA DI RIJKSMUSEUM di Amsterdam itu, Michi tidak menunjukkan tanda tanda bahwa ia mengetahui dirinya sedang dibuntuti dan diawasi seseorang.

Ketika berada di pasar Albert Cuyp, ia duduk di meja luar sebuah restoran kecil, memesan sepiring ikan haring mentah. Ya, orang itu ada di antara orang banyak itu, seorang pria berwajah bulat dalam anorak hijau, memakai kaca mata berbentuk pesegi dan memakai alat pendengar.

Michi mengetahui dirinya dibuntuti orang sejak berada di London. Sebelum meninggalkan kamar di hotelnya di London, sengaja diletakkannya sebutir berlian di atas lantai. Sekalipun bagus, berlian itu cacat.

Sekembalinya di kamarnya itu, Michi mendapatkan berlian itu sudah lenyap, kamarnya tampak tidak disentuh orang. Seandainya orang atau orang orang yang mengawasi dirinya itu tidak serakah, Michi tidak akan mengetahui bahwa dirinya dibuntuti.

Sejak membunuh Paul Molise dan sopirnya, Michi telah mengambil semua tindakan pengamanan. Telah disembunyikan kai-ken itu dan surat surat tertentu. Pokoknya tidak akan ada apa pun yang dapat menyingkapkan i-dentitas atau tujuan sebenarnya ia datang ke amerika.

Tetapi, agaknya jelas bahwa ia telah melakukan sesuatu kesalahan. Entah di mana, entah kapan, entah bagaimana. Ya, mengapa dua pemuda amerika itu masuk ke dalam toilet wanita? Mungkin juga bukan itu; mungkin ada orang yang mengungkapkan identitasnya. Atau sesuatu olehnya sendiri, sepatah kata, barangkali. Atau ia telah dikenali oleh seseorang?

Kalau ia kembali ke amerika, akan diungkapkannya semuanya kepada Manny. Mereka saling mencintai, namun Michi mengetahui bahwa cintanya itu tidak akan mengenal kedamaian sebelum ia melakukan kewajibannya terhadap keluarganya. Michi telah bersumpah akan membunuh orang orang yang terlibat dalam penyelidikan yang dilakukan Manny. Adakah cinta Manny cukup kuat untuk membuatnya mengerti?

Michi tidak langsung kembali ke hotel, ia masuk ke dalam sebuah cafe, memesan gin dengan seiris jeruk. Ia dapat melihat keluar dan pintu cafe itu. Tidak ada tanda tanda pria yang mengikuti dirinya itu. Tetapi itu tidak berarti bahwa dirinya sudah tidak diikuti lagi.

Michi pergi ke kotak telefon yang berada di ruangan bawah cafe itu.

"Hello?"

"Manny, kaukah itu?"

Suara Manny, yang mula mula waspada, kini terdengar santai. "Michi. Dari manakah kau menelefon?"

"Amsterdam. Bagaimana kau?"

"Bagus. Bagus. Aku rindu padamu. Kapankah kau kembali?"

"Aku masih ada bisnis di sini, lalu masih harus ke Paris. Betul betul segala sesuatunya beres? Kedengarannya kau tegang sekali."

Decker tertawa. "Aku selalu tegang kalau ada orang menelefon sepagi ini, teristimewa jika menelefon diriku di dojo. Aku lebih suka berlatih sendiri. Tetapi kau dapat menelefon aku di sini setiap saat."

Michi tersenyum. "Terima kasih. Aku cuma mau mengatakan bahwa sekembaliku, kau dan aku akan berbicara. Akan kuceritakan semuanya kepadamu. Semuanya. Kau mengerti?"

Suara Decker lembut. "Apa saja yang kau mau kuketahui, itu sudah cukup."

"Manny, katakan padaku,mengapa kau sudah berada di dojo sepagi ini? Pada hari minggu, lagi pula.Aku cuma mengikut perasaanku bahwa mungkin kau di situ, tetapi terasa aneh sekali bahwa kau sudah keluar sepagi ini."

"Tidak begitu aneh kalau kau mengetahui yang telah terjadi di sini. Kemarin ada dua pembunuhan. Dua orang pengacara. Atasanku di gugus tugas itu marah sekali atas kejadian itu. Pukul sembilan hari minggu diseretnya kami semua menghadiri suatu rapat. Kami kira kami mengetahui siapa yang melakukan pembunuhan pembunuhan itu. Seseorang yang kita sama sama kenal. Dorian Raymond."

Senyum itu lenyap dari wajah Michi. "Kau akan menangkapnya?"

"Belum ada bukti bukti kuat. Hanya sebuah teori. Itu memang bidangnya. Kaiiber Tembakan di kepala. Dan ia mengenal korban korbannya itu. Mungkin sekali kami akan menginterogasi dan menakut nakutinya sehingga ia mau mengungkapkan sesuatu. Kalau betul ia yang melakukan pembunuhan pembunuhan itu, itu dilakukannya untuk mencegah kedua pengacara itu menjadi saksi terhadap Management Systems Consultations, Sparrowhawk dan keluarga Molise. Kini hilanglah dua sumber informasi kami."

Michi berkata. "Kalau begitu ia akan segera dimasukkan penjara?"

"Siapa tahu? Tergantung ia dapat atau tidak dapat dibujuk. Menjebloskannya ke dalam penjara tidak akan memberikan kepada kami tiga orang yang kami kehendaki . Tetapi kami akan berusaha keras.Sialan, buat apa kita membicarakan pekerjaanku? Kau cepatlaL menyelesaikan jual beli berlianmu itu, dar cepatlah kembali padaku."

"Ah, maksudmu sang pendekar terikat pada nesuatu lainnya kecuali karate?"

"Kau kembalilah dan akan kutunjukkan pndamu."

"Begitu banyak yang harus kukatakan padamu, Manny."

"Kali ini akan kauceritakan semuanya padaku?"

Michi memejamkan mata. "Hai. Akan kuceritakan padamu segala yang terjadi selama tahun tahun kita terpisah satu sama lain. Akan kuceritakan apa yang telah terjadi dengan keluargaku dan mengapa aku datang ke amerika.Oh, Manny, jangan sampai ada sesuatu yang timbul di antara kita. Berjanjilah bahwa itu tidak akan kaubiarkan."

"Aku berjanji. Kukira itu akan mendekatkan kita, sekurang kurangnya begitulah harapanku. Kita coba, oke? Jangan kita lewatkan lagi enam tahun tanpa kita berusaha. Ah, betapa inginnya aku bahwa kau pulang dengan pesawat berikutnya."

Belum habis kata kata itu diucapkan oleh Manny, ketika terkilas ide itu dalam pikiran Michi. Hai. Pulang dengan pesawat berikutnya ke New York. Dan habisi Dorian Raymond.

Itu akan berbahaya sekali. Akan harus dihindarinya pria yang menguntit dirinya itu, kemudian terbang ke New York dan tanpa diketahui oleh Manny atau siapa pun, membunuh Dorian Raymond, dan terbang kembali ke eropa. Untuk melakukan semua itu akan memerlukan seluruh kebisaannya, akalnya. Konsentrasi pikirannya.Dan berkat para dew dan leluhurnya.

"Pesawat berikutnya," Michi berbisik.

"Ah, seandainya dapat," Manny berkata.

Michi tersentak dari lamunannya. "Terima kasih."

"Terima kasih? Untuk apa?"

"Karena mencintai diriku. Aku bergayut pada itu. Itu segala galanya yang kumiliki. Cintailah diriku, Manny," Mata Michi menjadi basah. "Oh, cintailah aku."

Michi tiba tiba memutuskan hubungan itu.

Tigaribu limaratus mil dari situ, Manny berteriak, "Aku mencintaimu! Aku cinta padamu. Aku cinta padamu!"

Decker diam. "Michi? Michi? Hello? Hello?"

Bunyi nama Michi itu bergema dalam dojo yang kosong kecuali adanya Manny Decker itu.

DUABELAS JAM KEMUDIAN, setelah berbicara dengan Michi, Decker menekan tombol di gedung apartemen Romaine itu. Tempat tinggal Romaine itu berada di Eighty-fourth Street, dekat Riverside Drive dan cuma beberapa jarak jauhnya dari Henry Hudson River.

Decker sesungguhnya tidak bernafsu menemui Romaine. Namun ia terpaksa melakukan kunjungan itu.

"Aku berani bertaroh bahwa Dorian yang

melakukan pembunuhan demi pembunuhan itu," LeClair telah berkata. "Kalau bukan Dorian, siapa lagi?"

Decker mengangkat bahu. "Aku pun ingin mengetahui siapa orangnya."

"Ya, aku juga mengharap kau mengetahuinya.Maka itu, sebaiknya kau tinggalkan semua pekerjaan lain, sampai kita membereskan urusan yang satu ini, sampai kita dapat mengajukan sesuatu yang jelas kepada departemen kehakiman. Mulai saat ini kautekuni isteri Dorian itu. Jangan sampai aku mendengar bahwa kau bermain main di tempat lain. Aku mau mengetahui di mana Dorian semalam berada. Dan, aku juga mau mengetahui, kau sendiri di mana semalam?"

"Hai, apakah kau mau melemparkan kesalahan kepadaku karena kedua orang itu dibunuh?"

"Kata kata antara dirimu dan diriku sekarang tidak ada gunanya. Yang penting kau beri sesuatu padaku, tuan Manfred. Beri sesuatu padaku pada jam ini esok pagi."

Dan LeClair menambahkan,. "Maka lupakan wanita Jepang itu."

Decker tidak bernafsu bertemu dengan Romaine, namun LeClair tidak memberi pilihan lain pada dirinya. Memainkan permainan LeClair adalah satu satunya jalan agar LeClair tidak menganggu Michi. Decker puri bertanya dalam hati berapa banyak kiranya yang sudah diketahui oleh LeClair mengenai Michi.

Setibanya di depan pintu apartemen Romaine, Decker ragu sejenak. Kemudian membunyikan bel.

Romaine habis menangis. Ia melangkah ke samping tanpa mengatakan sepatah kata pun. Tiada ciuman, tiada sambutan. Decker merasa sesuatu yang dingin merambati tulang punggungnya. Romaine menutup kembali pintu, mengusap matanya, kemudian berpaling dari Decker. Romaine berkata, "Seandainya kau mempercayai diriku, kau akan mengetahui bahwa bagiku itu tidak ada bedanya. Cukup jika kau mengatakannya kepadaku."

"Mengatakan apa kepadamu?" Tetapi Decker mengetahui yang dimaksudkan Romaine itu. Namun peranan telah terlalu lama dimainkannya, sehingga tidaklah

mudah melepaskannya begitu saja.

Romaine berputar. "Kau seorang polisi. Kau tidak pernah menaroh perhatian pada diriku. Yang mau kauketahui adalah tentang Dorian, bukan?"

Decker melangkah maju, kedua tangannya diulurkan kepada Romaine, tetapi Romaine menghentikannya dengan suatu gelengan kepala.

"Dorian," kata Romaine, "Itulah soalnya nejak awal."

Decker menundukkan kepala.

"Kami tidak pernah mendapatkan peluang," Romaine berkata. "Orang orang seperti dirimu tidak pernah bermain dengan jujur."

"Aku menyesal, Romaine," Decker berkata. "Sesungguhnyalah, aku sayang padamu. Benar. Menyakiti dirimu sama sekali bukan bagian dari rencana."

"Aku dapat mengatakan ini, Manny: kau memegang teguh janji janjimu. Kau tidak menjanjikan sesuatu kepadaku dan memang itulah yang kudapatkan."

Hanya sekali, Manny membalas tatapan mata Romaine. Kemudian, dengan suatu angkatan bahu, ia berjalan kembali ke pintu.

Setelah Decker pergi, Romaine pelan pelan menutup pintu dan bersandar pada pintu itu. Tubuhnya bergemetar. Kemudian pintu kamar tidur dibuka dan Dorian keluar dari situ. Berjalan kepada isterinya dan meraihnya ke dalam pelukan.

"Sudahlah," kata Dorian. "Sudahlah. Mulai saat ini adalah kau dan aku. Seperti yang telah kukatakan. Aku akan mempunyai cukup uang. Lebih daripada yang dapat kita habiskan. Yang mesti kulakukan hanyalah menjual daftar yang kuperlihatkan padamu i^u. Kau dan aku, kita akan pergi ke tempat yang banyak matahari."

Dorian mencium kepala Romaine, membelai

nya. "Beri aku suatu kesempatan lagi, manis. Aku mencintaimu. Romaine, mari kita coba sekali lagi."

Kedua lengan Romaine melingkar pada pinggang pria itu, mula mula lembut, dan kemudian semakin kencang dan semakin kencang. Dan Romaine bergayut pada pria itu dan untuk pertama kali sejak bertahun tahun, Dorian menangis. "Kita akan berhasil. Pasti." katanya. "Aku yakin kita akan berhasil."

"LECLAIR. SIAPAKAH INI?"

"Decker. Aku baru saja meninggalkan Romaine Raymond. Aku menelefon dari sebuah telefon umum tidak jauh dari apartemennya."

"Sialan. Kedengarannya wanita itu hilang cintanya, eh? Apakah yang telah terjadi? Bertengkar? Bagaimana ia mengetahui bahwa kau menipu dirinya dengan seorang wanita lain?"

"Aku sudah mengetahui di mana Dorian Raymond berada."

"Nah, itu baru kabar baik. Itulah yang kuingin dengar darimu. Di mana?"

Decker memandang ke langit. "Tempat terakhir yang dapat kaubayangkan. Ia bersama isterinya."

teClair tertawa. "Hai, kau bermain main denganku? Bersama isterinya? Wah, perempuan

hebat! Bersama isterinya. Dan kau berada di' sana pada waktu bersamaan." LeClair tertawa lebih keras lagi.

Dan Decker semakin membencinya.

"Tuan Manfred," jaksa itu berkata, "pernahkah orang mengatakan padamu, betapa menarik sekali kehidupanmu?"

SPARROWHAWK menarik satu satunya kesimpulan yang mungkin: keberadaan Michelle Asama berarti bahaya bagi hidup Sparrowhawk sendiri.

"Lihatlah ini, Robbie, daftar nama nama ini. Tiga orang, yang masing masing ada hubungannya dengan nona Asama. Tuan Kenji Daigo, tuan Noboru Abe, tuan Shigeji Shina. Orang orang penting di Jepang. Yang dua terdahulu ada bankir bankir, dihormati dan makmur, berkuasa. Yang ketiga, tuan Shina, neorang tokoh dalam intelijen militer jepang. Seorang yang cemerlang di bidangnya. Sekarang kita lanjutkan ke halaman berikutnya, yang satu ini. Tuan Tettsuo Ishino. Seorang pedagang intan terkemuka di Amsterdam. Dan apakah kesamaan yang terdapat di antara keempat tuan itu? Mnsing masing adalah anggota Jinrai Butai, ntau korps Halilintar Suci."

Rpbbie berkata, "Pilot pilot kamikaze."

"Presis. Dan keempat tuan itu sama sama dalam unit kamikaze dengan George Chihara."

"Wow!"

"Ya!"

Robbie menggelengkan kepala. "Tetapi, mayor, itu mustahil. Kau mau mengatakan Imhwa Michelle Asama sekeluarga dengan Chi-hnra, bahkan mungkin keluarga dari seorang dari keempat tuan itu dan Michelle kini mau membalas dendam atas yang kita lakukan pada] keluarganya enam tahun yang lalu di Saigon j itu. Satu hal yang mayor lupakan. Tidakkah I telah kita habisi semua orang di dalam rumah itu?"

Sparrowhawk mengangkat tangannya, "Ah, betulkah itu? Berpikirlah. Kauingat mobil yang mendekati rumah itu dan kemudian meluncur pergi? Ingatkah kau usaha kita agar tuan Chihara mengatakan siapa yang berada di ] dalam mobil itu?"

Robbie menyeringai, "Tentu saja aku masih ingat.Orang yang tidak sampai masuk, j Tetapi tidakkah |

"Kita waktu itu cuma menduga duga, menyangka. Kita cuma menganggap bahwa itulah keluarga Chihara. Tetapi tidak pernah kita j periksa dengan teliti, bukan?"

Robbie mengangguk membenarkan. "Nah, jadi apakah yang kita hadapi sekarang? Suatu jaringan pilot kamikaze yang; entah bagaimana berhasil mengumpulkan uang dan kekuasaan, dan yang —aku yakin— siap sedia membantu anak perempuan atau keluarga seorang kawan lama. Para bankir itu j menyediakan uangnya, sedangkan tuan dalam intelijen itu memberikan yang paling berharga: informasi."

"Hei, mayor, tidakkah Chihara mengirim sejumlah besar intan keluar negeri itu selama bulan bulan terakhir ia berada di Saigon?"

"Aku memang mau sampai ke situ. Menurut informasiku, kedua bankir dan tuan Ishiro adalah rekan rekan bisnis Chihara selama ia berada di asia tenggara. Sepanjang waktu itu, tuan Ishiro ada bisnis intan dengan Chihara. Para bankir itu yang mengurus uang tunai, investasi, pinjaman dan segala urusan keuangan Chihara. Bagi nona Michelle tidak ada kesulitan keuangan sedikit pun."

"Kecuali sering bepergian, dan seperti kali ini berkeliling di eropa membeli berlian hingga sejuta dollar lebih, apakah yang dilakukan nona Asama di waktu luangnya?"

"Selama di London tiada. Di Amsterdam dilewatkannya waktu senggang bersama tuan Ishino dan keluarga. Tidak ada kegiatan kegiatan yang aneh aneh."

"Dan di sini ia menguasai Decker dan Dorian "

Sparrowhawk menyentuh rambutnya yang putih perak. "Nah, justru yang itulah layak kita teliti. Michelle Asama dan sersan detektif Decker. Bagaimana itu terjadi dan kapan? Aku dapat membayangkan wanita itu bersama Decker, itu lebih mudah diterima daripada keakrabannya dengan Dorian."

Sparrowhawk menggelengkan kepalanya.

"Mengenai Dorian itu. Aku sebenarnya mengharapkan Gran Sasso dan Allie Boy ragu menghabisi Pangalos dan Quarrels. Ternyata tidak. Mudah mudahan heboh pers mengenai itu akan reda. Sementara itu, pers kini penuh dengan 'pembunuhan pembunuhan West Side' itu. Baiklah kita tidak mengatakan apa apa mengenai laporan tentang nona Asama ini. Setahu Gran Sasso kita masih sibuk menggarap kontak kontak Paulie di Saigon dulu. Belum ada yang pasti."

"Mayor, di Saigon dulu, segera setelah kukalahkan Decker pertama kalinya, ia cepat cepat pergi ke Jepang. Seingatku ia ke sana belajar dan memperdalam ilmu karatenya. Tetapi keterangan yang kuperoleh ketika itu adalah, bahwa ia ke Tokyo untuk menemui seorang gadis. Kukira seorang gadis Jepang. Ada yang mengatakan bahwa gadis itu berasal dari Saigon, hanya aku ketika itu tidak begitu menaroh perhatian hingga tidak kuperiksa lebih jauh."

"Ia biasa ke Jepang menemui gadis gadis?"

"Maksudmu gadis gadis yang datang dari amerika? Tidak, kalau itu ia pasti menemui mereka di Hawaii."

Kecuali jika gadis itu seorang Jepang."

"Kecuali kalau seorang gadis Jepang."

"Ya, itu patut kita selidiki." Sparro-hawk melihat jam tangan. "Aku masih ada pe-kerjaan. Dan, o ya, selamat atas kemenanganmu semalam di Boston. KO ronde pertama, kudengar."

Robbie menyeringai. "Karena aku ingin kembali dengan pesawat pertama yang ke New York."

"Aku sungguh tidak mengerti bagaimana kau melakukannya. Berlatih keras setiap hari, bertahun tahun. Namun agaknya memberi hasil bagus. Sepertinya kau tidak akan bisa kalah."

"Aku melakukan yang harus kulakukan, mayor. Segala yang harus kulakukan sebelum pertandingan, kulakukan."

"Disiplin, latihan, diet, pengendalian diri dalam segala hal. Pengorbanan."

Robbie memberi salut militer. "Sepanjang waktu, mayor. Selalu."

LECLAIR mengetuk ngetukkan jari jari tangannya di atas meja Dorian Raymond duduk di depannya, seorang tersangka dalam enam pembunuhan yang bersangkut paut dengan dunia mafia.

LeClair bersandar ke belakang di kursinya. "Aku menghendakimu, tuan Raymond.. Dan aku akan mendapatkanmu. Kau akan menjalani hukumanmu."

Dorian memandang ke langit langit. "Sudikah membacakan kembali tuduhan tuduhannya?"

"Ah, kau mau melucu, eh?" Tetapi Dorian mengetahui bahwa tidak ada tuduhan tuduhan formal. Ia cuma dipanggil untuk ditanyai.

Dan Decker mengetahui bahwa Dorian cukup pintar untuk menyadari satu hal. Tidak ada tuduhan berarti tidak ada bukti bukti kuat. Namun LeClair juga tidak bodoh. Ia mengetahui di mana mesti menikamkan dan memutar pisau belati itu.

Aku dapat memenjarakan isterimu," LeClair berkata.

"Persetanlah kau." Dorian berkata.

"Tidak, detektif Raymond. Yang harus kaubayangkan adalah seorang menggiurkan seperti Romaine Raymond dalam tahanan."

"Tidak ada kemungkinan kau menyentuhnya.

Tidak mungkin. Apapun yang kautuduhkan padaku, tidak ada sangkut pautnya dengan Romaine. Ia cuma seorang penari."

"Kau melupakan satu hal. Kami menemukan dirimu di apartemennya. Kalau itu kusiarkan, maka ia akan diseret kemari, digeledah, ditelanjangi dan ditahan untuk sehari atau dua, barangkali lebih lama. Ia sudah akan kacau balau. Biarkan setengah losin orang tahan menemukannya sendirian di kamar mandi "

Dorian melompat berdiri, "Kau, bedebah!' Decker berdiri pula, siap turun tangan. Dengan keengganan. Sebab ia akan senang sekali seandainya dapat menyaksikan Dorian mencukil keluar mata LeClair. Dengan jari telunjuknya, LeClair menunjuk pada kehadiran Decker di situ kepada Dorian. Yang melempar pandang sekilas pada sesama detektifnya, lalu pelan pelan duduk kembali.

LeClair berkata, "Yang kuinginkan yalah agar kau mengatakan padaku segala yang kauketahui mengenai Management Systems Tonsultants. Dan yang kauketahui tentang hubungan senator Terry Dent dengan keluarga Mnlise itu. Dan yang kauketahui mengenai lcluarga Molise itu, yang sama sama kita ke-l ahui telah memerintahkan dibunuhnya l'nngalos dan Quarrels."

Dorian membuang muka.

Suara LeClair melunak. "Itu tidak akan

ringan, aku mengerti. Kau bersaksi terhadap mereka, seumur hidup kau harus hidup bersembunyi. Tetapi itu lebih baik daripada meringkuk dalam penjara federal. Kau tidak akan bertahan sebulan di Atlanta atau Leavenworth, dan kau mengetahui itu. Seorang polisi adalah daging mati di dalam penjara."

LeClair menggerakkan kedua tangan. "Hai, mengapa aku harus berkepanjangan seperti ini? Mungkin pula tidak ada sesuatu yang istimewa yang dapat kudengar darimu."

Dorian menyalakan sebatang rokok lagi. Decker melihat bahwa semangat perwira sepekerjaannya itu telah merosot. Tetapi Dorian belum sepenuhnya ditundukkan.

Dorian berkata, "Pertama, biar kutegaskan bahwa aku tidak mengakui apa pun. Kalau harus kukeluarkan sesuatu pernyataan, maka itu hanya dilakukan dengan hadirnya pengacaraku. Kedua, urusan yang mau kurundingkan tidak ada sangkut paut dengan MSC atau Molise. Yang mau kubicarakan adalah tentang seseorang yang telah membunuh banyak orang. Banyak sekali."

LeClair bertanya, "Berapakah 'banyak' itu?"

Dorian mengangkat mukanya. "Tigapuluh. Barangkali lebih. Semuanya wanita."

LeClair mendengus. "Oke, jadi kau terlalu takut untuk membongkar Molise. Oke Tetapi, sialan, kau tidak usah mengarangj

yang bukan bukan. Tiga puluh orang wanita. Bah!"

"Aku tidak omong kosong. Kataku tigapuluh, dan memang benar benar tigapuluh. Orang itu memperkosa mereka lalu membunuhnya. Menggunakan karate."

Decker memiringkan kepala, mendengarkan lebih teliti.

LeClair berkata, "Dan kau mengetahui siapa karateka pembunuh itu?" Dorian mengangguk.

"Hei, Decker, kau mendengar itu?"

"Ya, aku mendengar."

"Nah, sersan Raymond,katamu kau mengetahui siapa orang itu, namun begitu kau hingga kini belum juga melaporkan hal itu. Mengapa?"

"Buat apa? Hingga kini tidak ada apa apanya bagiku. Kita bisa berunding atau tidak?"

"Siapakah orang itu?"

Dorian menggelengkan kepala. "Tidak bisa. Lebih dulu aku mau mendapat kepastian bahwa kita merundingkan hal itu. Aku menghendakinya dinyatakan dengan jelas. Kuberikan orang itu padamu, dan kau batalkan negala tuduhanmu terhadapku. Dan isteriku. .lika kau tangkap orang itu, banyak kasus di banyak kota telah dapat kausudahi. Yeah, aku mengenal orang itu. Kami pernah bersama sama di Vietnam. Ketika aku mengetahui bahwa ia pembunuh itu, aku sendiri keluar."

Kepingan kepingan itu berputar dan berputar dalam benak Decker, kemudian berkumpul menjadi satu dengan suatu ceklikan final. Mau rasanya ia melompat dan berteriak. Decker telah berdiri. "Maafkan aku sebentar, aku segera akan kembali." Decker meninggalkan ruangan itu tanpa menunggu reaksi LeClair.

Decker cepat cepat meninggalkan gedung itu, mencari sebuah telefon umum.

Jangan sampai telefon sedang sibuk! Diputarnya nomor markas distriknya.

Ayo, ayo..

"Detektif Spiceland. Manhattan barat."

"Ellen, Decker di sini. Urusan kaishaku itu. Apakah yang sudah kaudapatkan? Cepat, aku harus segera kembali ke LeClair."

"Manny, dua gagang telefon di tanganku."

"Taroh dulu yang lainnya. Biar menunggu. Ini penting. Percayalah."

"Oke, oke. Sabarlah."

Ellen pergi sejenak, mengambil catatan agaknya.

"Hello? Manny?" Ellen telah kembali.

"Aku di sini. Aku disini."

"Oke. Telah kudapatkan tanggal tanggal dilangsungkannya pertandingan pertandingan, juga nama nama para petandingnya dalam turnamen turnamen itu. Kuhabiskan waktu banyak mencocokkan adanya wanita diperkosa dan dibunuh pada waktu turnamen berlangsung.

Jawabannya 'ya'. Terjadi di dalam kota atau sedikit di luar kota bersangkutan. Sudah pasti bahwa turnamen dan pembunuhan itu terjadi pada malam yang sama."

"Berapa turnamen yang telah kauperiksa hingga kini?"

"Sembilan. Juga telah kuhubungi departemen kepolisian kota kota itu. Sembilan korban wanita pula. Tidak ada tipe menentu. Kaukasia, hitam, hispanik."

"Oke. Sekarang kaudengar dengan teliti. Majalah majalah itu ada di dekatmu?"

"Ya."

Decker memejamkan mata. "Nah, bukalah pada halamar, yang memuat turnamen turnamen yang telah kauperiksa. Hanya turnamen turnamen itu."

"Maksudmu cocokkan nama nama yang ikut bertanding?"

"Ellen, lakukan saja yang kukatakan. Oke?"

"Jangan berteriak. Aku sudah melihat, aku sudah melihat."

"Coba periksa berapa kali nama Robbie Ambrose muncul."

"Tolong kaueja nama itu."

»R_0-B-B-I-E A-M-B-R-O-S-E. Ayo, cepatlah!" >

"Ya dewa, mengapa kau hari ini, Manny? Aku. akan merasa lega sekali kalau pacarmu kembali dari eropa. Ah, inilah dia. Denver. Bulan april tahun ini. Pemenang dengan KO,

Robbie Ambrose. Sekarang daftarku. Seorang wanita diperkosa dan dibunuh di Denver pada malam bersamaan. Majalah baru: Dallas Challenge Pro-Am. Pemenang dengan KO, tuan Ambrose. Seorang wanita diperkosa dan dibunuh malam itu juga di Dallas. Sekarang pertandingan yang dinamakan "Pertempuran Seattle". Robbie Ambrose. KO pada ronde ketiga. Seorang wanita diperkosa dan dibunuh di Seattle kira kira sejam sebelum dimulainya pertandingan itu."

"Kaulanjutkan penelitian dan pencocokan itu." Decker berkata.

Beberapa menit kemudian, Ellen Spiceland yang tercekam sekali berbisik, "Ya, dewa! Manny, bisa kaubayangkan apakah artinya ini?"

"Berarti bahwa kita telah menemukan kaishaku itu. Berarti bahwa kita ketahui identitas seseorang yang mungkin telah mem-perkosa dan membunuh sekurang kurangnya tigapuluh orang wanita. Berarti bahwa Robbie Ambroise itulah kaishaku itu."

DARI JENDELA APARTEMENNYA, Dorian melihat ke atas Cathedral of St John teh Divine, yang sepuluh lantai di bawah sana itu.

Sigaret. Sialan, manakah rokoknya? Ah, ia masih ada rokok ganja itu. Di kamar mandi. Ganja selalu membangkitkan nafsu birahinya. Barangkali terlalu dini untuk mendekati Romaine, tetapi ia harus mencoba.

Robbie. Sialan, mengapa ia sekarang mesti teringat lagi pada Robbie?

Robbie. LeClair mula mula tidak berminat. "Yang kukehendaki adalah

Management Systems Consultants," LeClair telah berkata. "Itulah sebabnya kau berada di sini. Kau tahu, bukan?"

Decker belum kembali ketika Dorian mengatakan, "Ini hari mujurmu, LeClair, tuan jaksa. Karena orang yang kita bicarakan itu kebetulan bekerja di MSC."

LeClair tidak segera menjawab. "Sersan, aku akan menghargainya jika kau menyimpan masalah ini di antara kita berdua. Aku tidak ingin sersan Decker mengetahui yang baru aaja kausampaikan padaku ini."

"Jangan khawatir. Pada saat ini Decker bukan favoritku."

Dorian tidak bodoh. LeClair baru saja mengadakan perubahan sikap 360 derajat. Kini secara tiba tiba menaroh perhatian besar

pada Robbie Ambrose. Sangat menaroh minat. Dan Dorian memanfaatkan hal itu. Ia berdiri.

"Kau mengetahui di mana dapat menemuiku. Jika kau sudah siap, dapat kita lanjutkan pembicaraan ini. Satu hal: kalau jadi, maka yang kuminta adalah kekebalan total, tertulis. Romaine termasuk. Kalau setuju, maka jangan kauganggu Romaine."

Di apartemennya itu, Dorian mengisap rokok ganjanya, dalam dalam. Memejamkan mata. Panama Red. Yang terbaik.

Bel pintu depan berbunyi.

"Yeah?"

Berdering kembali.

"Oke, oke." Pintu apartemennya.

Buzzzzzz ,

"Sialan, aku datang. Aku datang." Dorian berdiri. Terhuyung. Ia tertawa kecil. Di depan pintu itu ia menarik nafas dalam, beberapa kali. Kemudian mengintip dari lubang mengintai. Ya dewa!

Dorian membuka pintu.

Michi berjalan masuk.

Dengan tertawa cabul, Dorian menutup kembali pintu itu, bersandar. "Hei, Michelle. Oke. Kapan kau kembali? Kukira kau akan pergi selama sepuluh hari." Ya dewa, ia merasa bernafsu sekali.

Dorian mulai bergerak mendekat, rokok ganja di antara ibu jari dan jari telunjuknya.

Michi berkata, "Kau sendirian?"

Dorian melihat ke sekeliling. "Kurasa begitulah. Yeah. Aku sendirian."

Ah, tentu saja Michelle itu mau bersenang senang. Buat apa lagi kalau tidak untuk itu... Dorian merasa dirinya telah menjadi keras. Sekali untuk perjalanan. Yang terakhir kalinya dengan Michelle. Sesudah malam ini, hanya ada dirinya dan Romaine.

Dorian berkata. "Mari kita ke kamar tidur."

"Tolong padamkan lampu lampu."

"Di kamar tidur kita dapat "

"Lampu lampu itu, tolong padamkan."

Dorian mengerutkan dahi. Oke, oke.

Dorian melihat Michi memandang ke arah jendela yang menghadap ke arah jalanan. "Hei, mama-san, jangan khawatir mengenai tetangga. Yang ada di luar sana cuma 'Big John'."

Dorian tertawa. Memadamkan lampu lampu, dan kemudian, sambil berputar untuk menawarkan minuman pada Michelle, dirasakannya rahangnya meledak dengan kenyerian sangat itu.

Michi telah menghantamnya di bawah dagu dengan sikunya, menyentak kepala Dorian ke belakang dan memaksanya menggigit lidahnya oedemikian keras sehingga putus ujungnya. Ketika kedua tangan Dorian melesat ke mulutnya, Michi menghantamkan siku itu juga ke

dalam uluhatinya. Dan ketika kedua tangan i-tu terkulai ke bawah, jari jari tangan kiri Michi melesat bagaikan lidah seekor ular, menusuk kedua mata Dorian, membutakannya.

Dorian terengah engah bergulat menghirup udara, mencoba berteriak, tetapi tidak dapat.

Michi menyerang rendah, menggunakan kakinya untuk menyapu pada pergelangan kaki Dorian, merobohkannya ke atas lantai. Dorian mendarat berat ke atas lantai, dan sebelum dapat mengeluarkan suara, Michi menghujamkan tumit tajam sepatu botnya ke leher Dorian.

Dorian tergeletak tercekik di atas lantai, kedua tangan pada lehernya, tubuhnya yang besar berguling guling. Michi berpaling dan berjalan ke jendela. Mengintip keluar, ke jalanan di bawah itu. Sepuluh tingkat. Hai. Michi membuka tirai jendela itu, membuka jendela itu. Udara dingin menghantam wajahnya, membuat matanya berairmata.

Michi berjalan kembali kepada Dorian, dan dengan tangan pada ketiak pria itu, menyeretnya ke jendela itu. Mengangkat tubuh berat itu ke atas bingkai jendela tidaklah ringan, tetapi ia melakukannya. Tubuh Dorian kini setengah di dalam dan setengah di luar, tepat di atas payon beton di atas pintu gerbang masuk gedung apartemen itu.

Michi menundukkan kepala pada kenangan leluhurnya, keluarganya, lalu melepaskan topi coklat tua yang menyembunyikan rambutnya dan hachimaki yang dipakainya pada dahi dan keningnya. Dirangkulnya paha Dorian lalu didorongnya tubuh itu keluar jendela itu, dan bersandarlah ia ke kanan agar tidak terlihat dari bawah sana.

Michi membiarkan jendela itu terbuka.

Setelah memungut topinya, Michi menyeberangi kamar, mengintip keluar lewat lubang pegintai. Lorong luar apartemen itu kosong.Beberapa detik kemudian ia sudah meninggalkan apartemen itu dan menuruni tangga tangga gedung itu, yakin akan menjumpai kerumunan orang banyak kalau ia mencapai lantai dasar. Ternyata jalanan hampir kosong. Dengan bingung, Michi yang memakai syal dan kaca mata hitam, ragu sejenak lamanya. Kemudian melihat ke atas. Dorian telah mendarat di atas payon beton itu, dan tidak ada orang yang mengetahui adanya mayat di atas itu,.

Di seberang jalan,pintu pintu besar dari katedral dibuka. Berbondong bondong orang mulai keluar dari gereja itu. Michi bergegas pergi dari situ.

DELAPAN JAM KEMUDIAN, Michi dibangunkan oleh neorang pramugari Air France. Penerbangan itu mendahului jadwalnya. Karena banyak

angin dari belakang, maka pesawat itu akan mendarat di Charles de Gaulle Airport setengah jam lebih dini.

Bersamaan dengan pesawat terbang itu menyentuh landasan, jantung Michi berdebar semakin keras. Bagian paling berbahaya dari rencaaanya adalah di depannya.

Tidak ada hambatan apa pun di bagian pabean. Juga paspor palsunya sebagai seorang amerika. Setelah menelefon, Michi mendapatkan sebuah taxi.

Dalam perjalanan ke kota Paris, Michi mengingatkan diri sendiri bahwa kini tinggal dua orang yang harus ia bereskan, dan kemudian akan bebaslah ia dan berbahagia bersama Manny.

Michi terbangun ketika taxi itu memasuki Place de la Concorde. Michi mengeluarkan sebuah kedok ski, mengenakannya.

"Froid," ia berkata. Dingin. Ia bukanlah wanita pertama yang dilihat oleh sopir taxi itu mengenakan kedok ski dalam cuaca seperti itu.

Taxi itu membelok memasuki rue de Faubourg St-Honore, jalanan butik butik paling bergaya di Paris. Tujuan Michi adalah butik Yves St. Laurent.

Tetapi, sebelum taxi itu tiba di sana, sebuah taxi lain dari arah berlawanan mencapai butik itu terlebih dulu. Taxi Michi minggir dan berhenti di sejajar trotoar, dan menunggu, mesin tidak dimatikan.

Dari taxi kedua yang tiba duluan itu, seorang wanita dalam mantel kulit berbulu putih, bersepatu bot dan topi hitam lemas, dengan wajah dilindungi kaca mata hitam dan syal hitam pula, turun dan masuk ke dalam butik St Laurent itu. Michi membayar taxinya dan ketika berjalan menuju butik itu, dilihatnya mobil Renault itu. Berhenti di belakang taxi kedua dan seorang pria dalam anorak hijau tua dan kacamata berbingkai pesegi turun.Setelah menyentuh alat penolong pendengaran, pria itu menyeberangi jalanan itu, masuk ke dalam sebuah cafe.

Lima belas menit kemudian, seorang wanita yang memakai mantel, topi dan kedok ski Michi meninggalkan butik itu dan naik ke dalam sebuah taxi yang baru saja menurunkan seorang penumpang. Michi, tersembunyi di dalam butik itu, melihat taxi itu meluncur pergi. Namun tidak ada yang mengikuti taxi itu. Orang dalam anorak hijau itu tidak, mobil Renault itu juga tidak. Michi menundukkan kepala, berterima kasih pada para dewa. Ia telah berhasil.

Ketika ia keluar dari butik itu, Michi memakai mantel kulit berbulu putih, topi lemas dan kaca mata hitam. Syal itu kini melilit pada lehernya, tidak menutupi wajahnya.

Ia berjalan sepanjang rue de Faubourg St-Honore, melihat lihat etalase.

Sejam kemudian, Michi memanggil sebuah taxi dan minta diantar ke Hotel Richelieu tidak jauh dari Etoile di ujung Champs Elysees. Di hotel itu, dalam suite dengan balkon yang berpemandangan atas pekarangan dalam, Michi mandi berendam, kemudian memeriksa kamar apakah telah datang tamu tamu tidak diundang. Tidak ada. Setelah menelefon beberapa relasi bisnis, ia memasang pesan agar dibangunkan pada pukul tiga siang dan kemudian berbaring tidur.

Pada pukul 4.15 sore, Michi keluar dari hotel itu dan naik ke dalam sebuah taxi.

Ketika taxi itu meluncur pergi, mobil Renault dengan pria berpakaian anorak hijau

itu meninggalkan tempat parkir di depan hotel itu, mengikuti taxi itu

AGEN FBI itu keluar dari kamar tidur dan berjalan ke jendela depan, berdiri di samping Decker.

Bersama sama mereka melihat ke bawah pada mayat Dorian Raymond di atas marquee pintu hotel, sepuluh lantai di bawah itu.

Decker berpaling pada agen FBI yang juga anggota gugus tugas LeClair itu. "Apakah yang kaudapatkan?"

Agen itu mengerutkan bibir. "Kosong. Tidak ada tanda tanda orang masuk dengan paksa. Tidak ada tanda tanda bekas pergumulan. Jendela tidak pecah. Sidik sidik jari cuma punyanya sendiri. Tetangga tidak mendengar apa pun."

Decker berkata, "LeClair tidak menyukai

ini.

"LeClair tidak pernah menyukai sesuatu."

"Kopernya tidak mengatakan apa apa? Isterinya bilang bahwa Raymond berkemas kemas untuk pindah kembali ke tempatnya. Jadi, mengapa membunuh diri?"

Beberapa saat kemudian pintu apartemen itu dibuka dan Decker melihat mereka itu. Orang orang dengan kamera, orang orang membawa lampu lampu sorot, yang membawa alat perekam, yang membawa mikrofon. Penonton penonton suatu pesta pora. Siap mengarang sebuah teori yang kiranya dapat membikin laris surat kabar masing masing.

Sialan, apakah kerjanya ia sendiri di situ? Ia berada di situ karena LeClair naik pitam, naik pitam karena urusannya dengan Dorian Raymond menjadi berantakan, terkatung katung. Dan bagaimana pengaruh kematian Dorian itu atas Romaine? Decker bertanya dalam hati apakah benar Dorian berniat kembali pada Romaine.

Decker berjalan masuk ke dalam kamar tidur itu. Petugas petugas sidik jari, tukang foto kepolisian dan detektif detektif pemeriksa telah selesai untuk sementara itu. Decker seorang diri saja dalam kamar itu.

Decker, dengan kedua tangan dalam saku saku mantel, duduk di atas tempat tidur itu. Bunuh diri atau dibunuh oleh keluarga Molise. Apa pun alasannya, tidak pernah menguntungkan bagi mafia membunuh seorang anggota kepolisian.

Decker sudah mau berdiri dari tempat tidur itu, ketika matanya menangkap sesuatu di bawah kaki sebuah meja dalam kamar itu. Decker bergerak, tangannya menjangkau benda itu. Dan jantungnya hampir berhenti berdetak. Decker menoleh, melihat apakah ia benar benar sendiri saja di situ. Kemudian dipandangnya benda dalam tangannya itu. Sebuah kijang kecil sekali, sebuah contoh indah dari margasatwa origami.

Decker memasukkannya ke dalam saku, lalu

berdiri. Ia merasa mual, panas, berpeluh. Ia memerlukan udara segar. Decker bergegas keluar dari kamar tidur itu, menyeberangi ruangan duduk, kemudian membuka pintu, menembus kerumunan wartawan itu sampai ia mencapai tangga. Decker membuka pintu darurat, keluar.

Decker menarik nafas dalam dalam, menyedot udara lewat mulutnya, kemudian pelan pelan menuruni tangga. Di dalam sakunya itu, kijang kecil itu seakan akan membakar menembus kulit. Decker berjalan terus memasuki kegelapan pekat , tanpa mengetahui dan tanpa perduli ke mana ia pergi.

Setibanya di tangga berikutnya, Decker berhenti dan muntah muntah.

Bersambung ke Lima

C H A N B A R A

Drama tradisional Jepang yang melibatkan permainan pedang, dengan pilihannya antara giri, kewajiban, dan ninjo, perasaan atau kecenderungan.

SELAMA DUA HARI sejak kematian Dorian Raymond, Sparrowhawk hanya tidur enam jam. Yang membuatnya tidak bisa tidur adalah kebohongan besar, bahwa Dorian Raymond telah membunuh diri.

Sparrowhawk juga bingung. Michelle Asama telah menggali lubang, dan Sparrowhawk menyadari kalau ia tidak mendorong wanita itu ke dalam lubang galiannya sendiri itu, maka ia sendiri, Sparrowhawk, yang akan didorong ke dalam lubang itu.

Sparrowhawk saat itu duduk di dalam kantornya di MSC, Robbie Ambrose duduk di sebelah kirinya. Mereka sedang mendengarkan laporan dari seseorang yang menelefon dari Paris.

"Jadi, selama tinggal di Paris nona Asama selalu dalam pengawasan?"

"Ya. Kami mempunyai orang di lobby selama duapuluh empat jam. Kami mengetahui apa yang dilakukan nona Asama di dalam hotelnya."

"0, ya? Apa yang dilakukannya?"

"Bisnis. Tidak ada telefon, ia menulis surat surat."

"Dan kepada siapa surat surat itu ditujukan?"

"Itu tidak dapat kami ketahui. Ia mengeposkannya sendiri. Kemarin, ketika ia berbelanja."

Sparrowhawk memukul meja. "Sialan! Ia seorang wanita bisnis yang sangat berhati hati, atau ia mengetahui bahwa dirinya diawasi. Jadi, kau dapat memastikan bahwa ia tidak pernah meninggalkan Paris sejak tiba di sana?"

"Pasti. Ia masih berada di sini, mengurus bisnis di luar hotelnya."

Sparrowhawk berbicara lagi. "Dan kau sendiri melihatnya meninggalkan hotel untuk pertama kali sejak tiba di sana, dan menuju langsung ke butik St Laurent itu?"

"Ya. Dua orang kami yang mengikutinya. Kedua orang melihatnya. Pakaiannya. Bermantel kulit bulu putih, topi besar, kacamata hitam dan syal menutupi mulutnya."

Robbie yang sejak tadi memijat mijat sebuah bola karet, melemparkan bola itu ke atas untuk ditangkapnya kembali. "Siapakah orang berkedok itu?" Ia bergurau/.

Sparrowhawk melemparkan sekilas pandang marah ke arah Robbie. Bergurau! Sparrowhawk nyaris berbicara lagi, ketika kepalanya tiba tiba menyetak ke arah Robbie. "Apa katamu?"

"Aku?" Suara di seberang sana bertanya heran, "Aku tidak mengatakan apa apa."

"Bukan kau, yang kumaksudkan Robbie. Rob bie, apakah yang baru saja kaukatakan itu?"

"Aku cuma bergurau, mayor. Sorry."

"Tidak apa apa, Robbie. Ulangi saja kata katamu tadi."

Robbie mengangkat bahu. "Aku cuma mengatakan 'siapakah orang berkedok itu"'

Sparrowhawk kembali pada telefon itu. "Dieter, maafkan aku. Kau tadi melaporkan tentang keluarga tuan Ishino, teman nona Asama itu. Tolong kau jelaskan lagi mengenai keluarga itu."

"Yah.... tuan Tetsuo Ishino mempunyai tiga orang anak. Dua anak lelaki dan seorang anak perempuan."

Sparrowhawk melihat kepada Robbie. "Coba terangkan mengenai anak perempuannya itu."

"Kami tidak mempunyai fotonya, tetapi itu bisa diatur. Kudengar ia cantik sekali. Berusia duapuluh sembilan. Mempunyai dua orang anak, seorang anak laki laki dan seorang anak perempuan."

"Duapuluh sembilan, katamu. Muda. Kira kira seusia nona Asama."

Robbie tiba tiba berhenti bermain dengan bola karet itu. Sparrowhawk terus memandang pada Robbie. "Dieter, kau tidak sampai mengikuti nona Asama masuk ke dalam butik itu, bukan?"

"Tentu saja tidak. Akan terlalu menarik perhatian. Itu tempat wanita melulu. Kami menunggu di luar. Kami melihatnya masuk, kami melihatnya keluar."

"Kau melihat seseorang masuk, kau melihat seseorang keluar."

"Aku tidak mengerti "

Sparrowhawk memijat mijat lehernya yang tegang. "Luar biasa. Sungguh luar biasa. Oke, laporanmu kuterima, Dieter. Kirimkanlah rekening langsung atas namaku."

"Baik. Terima kasih."

"Aku yang berterima kasih padamu. Sampai jumpa lagi, Dieter." "Au revoir, monsieur, sampai ketemu lagi, tuan."

Setelah meletakkan pesawat itu, Sparrowhawk berkata kepada Robbie, "Ia melakukan pergantian itu di Amsterdam. Anak perempuan Ishino memakai pakaian Michelle Asama, kemudian naik pesawat pribadi ayahnya, memancing orang orang Dieter melakukan pengejaran sia sia. Sementara itu, Michelle Asama tanpa diketahui orang kembali ke New York, menyingkirkan Dorian, dan berangkat kembali ke Paris. Di sana ia berganti lagi, menjadi Michelle Asama kembali setelah meng'aplos1 nona Ishino itu."

Robbie berkata. "Orang orang Dieter yang merusaknya. Wanita itu mengetahui dirinya diawasi."

"Itu sekurang kurangnya. Satu hal yang jelas: sasarannya adalah kita berempat. Dirimu, diriku, Dorian dan Paul Molise. Dorian dan Paulie sudah mampus."

"Decker. Kaupikir ia bersama wanita itu dalam urusan ini?"

Sparrowhawk menggelengkan kepala. "Negatif."

"Bagaimana kau dapat memastikan itu?"

"Sederhana. Ketika Dorian menghadap pada penciptanya, Decker mengajar karate di West Side. Ada lebih dari duapuluh saksi mata. Ketika Dorian terjun dari jendela kamarnya, Decker sibuk di markas distriknya. Dan akhir nya, jika Decker mau menyingkirkan kita, maka itu sudah dilakukannya lama sebelumnya."

"Jadi, kau berpikir wanita itu keluarga George Cnihara."

"Perbuatan perbuatannya akhir akhir ini menunjuk kearah itu.Maka sampailah kita pada kenyataan yang lebih keras lagi. Kalau kita tidak menyingkirkan nona Asama itu, maka pada waktunya ialah yang akan menyingkirkan kita."

Sparrowhawk dan Robbie saling pandang. "Aku mengatakan ini dengan keengganan, Robbie.Kau mengetahui bahwa aku telah berjanji tidak akan memintamu mengotori tanganmu dengan pekerjaan macam ini, kecuali kalau memang perlu sekali. Agaknya sudah pasti bahwa nona Asama itulah orang misterius yang datang dengan mobil ke tempat Chihara, enam l.nhun berselang dan yang pada waktunya diberi peringatan sehingga ia langsung menghilang pergi. Selama enam tahun ini ia mempersiapkan diri untuk bertindak."

"Kita tidak akan menyerahkannya kepada Gran Sasso?"

"Robbie, pikiran Paul Molise senior tidak bisa bekerja rasional sejak kematian anaknya. Keadaannya berganti ganti antara kesedihan sangat dan teriakan akan darah. Kau melihat sendiri bagaimana Pangalos dan Quarrels tanpa banyak pikir disingkirkan."

Sparrowhawk menyalakan sebatang sigaret turki. "Kalau Michelle Asama sampai berbicara pada orang orang mafia itu, kurasa kitalah, dirimu dan diriku, yang akan dirugikan. Kitalah yang bertanggung jawab atas yang terjadi atas diri Paulie. Paul senior dalam keadaannya sekarang, mungkin sekali akan menarik kesimpulan itu. Begitu juga Gran Sasso dan Allie Boy. Dan kalau diketahui bahwa nona Asama mendapat bantuan dari tuan tuan Jepang tertentu, aku tidak akan heran kalau Molise cs akan memutuskan untuk menyingkirkan kita sebagai jalan terbaik untuk menghindari kesulitan dari orang orang Jepang itu di masa datang."

Sparrowhawk menghembuskan asap biru dari mulutnya. "Tidak, Robbie, lebih baik kalau kita yang menyingkirkan nona Asama itu."

Robbie mencengkeram bola karet itu. "Kapankah aku berangkat ke Paris?"

"Segera." Sparrowhawk berkata tanpa ragu ragu. "Dan barangkali kau ingin berlibur beberapa hari lamanya di Paris?"

Robbie menggelengkan kepala. Tidak, tetapi terima kasih, mayor. Aku harus segera kembali. Ada beberapa pertandingan yang harus kuikuti. Kemudian aku harus memusatkan diri pada turnamen suibin bulan Januari itu. Pada waktu itulah aku dapat menikmati kota Paris."

"Terserah kaulah. Decker tidak berminat mengikuti turnamen di Paris itu, eh?"

Robbie mendengus. "Kau bergurau? Ia sudah tidak mempunyai keberanian itu."

"Sayang. Aku ingin melihatnya dirobohkan. Tetapi, oke, kau segera berangkat. Dan berhati hatilah. Harus kauingat, bahwa sudah tiga orang yang kita ketahui telah dibunuh oleh wanita itu. Dengan tangannya sendiri. Jangan semberonp atau terlalu meremehkannya." Menertawakan,' pikir Sparrowhawk. Takut pada seorang wanita. Tetapi, Michelle Asama bukan seorang wanita biasa.

Robbie melemparkan bola itu, menangkapnya kembali. Aku tidak meremehkan nya, mayor. Tetapi sudah memastikannya. Wanita itu sudah tidak ada."

PADA PUKUL 7:00 petang, Michi berdiri di atas balkon kamar hotel itu, memandang ke seberang, lewat atap atap rumah, ke arah menara Eifel.

Sesaat kemudian ia masuk kembali ke dalam kamar tidurnya, melepaskan semua pakaiannya, dan mandi. Setelah memakai kimono sutera, ia duduk mengatur jadwalnya untuk hari esok. Esok hari akan merupakan hari yang sibuk. Adalah sebaiknya ia tidur tidak terlalu larut malam.

Terdengar ketukan atas pintu kamarnya. Pelayan hotel, pikir Michi, tetapi sesaat kemudian menyimpulkan bahwa itu tidak mungkin.

Michi berdiri dari kursinya, "Siapakah itu?"

"Manny."

Tangan Michi melesat ke dada, ke atas jantungnya. Ia begitu bergairah sehingga geraknya menggulingkan sebuah kursi. Dengan hati bahagia ia berlari ke pintu, membukanya dan melemparkan dirinya ke dalam pelukan Decker.

Merupakan suatu kejutan bagi Michi ketika disadarinya bahwa sikap Manny sangat bercadang. Bahkan berusaha melepaskan diri dari pegangannya. Michi menatap pada Manny.

Manny mengelak membalas tatapan mata Michi. Manny tampak lelah, kurus, seperti terkuras secara emosional. Ada sesuatu yang meresahkan Manny.

"Di dalam," Manny berkata, suara dan nadanya formal.

Michi melangkah mundur, membiarkan Manny masuk, dan menutup pintu.

Michi berkata, "Ada apa, Manny? Katakanlah padaku."

Decker memandang pada Michi, lama. Kemudian mengeluarkan tangan dari saku mantelnya Mata Michi melesat ke kijang kertas lavender yang di telapak tangan Manny yang diulurkan padanya.

"Aku menemukannya di apartemen Dorian," Decker berkata. "Dan, o ya, ia sudah mati."

Dengan lembut, Decker meletakkan kijang kertas itu di atas meja kopi, lalu melepaskan topi. "Terjadi kemarin dulu malam. Keluar jendela dan sepuluh tingkat ke bawah."

Decker memandang pada Michi, dan Michi melihat kesedihan di dalam mata Manny. Ia melihat keletihan dan ia melihat ketakutan Decker pada pengkhianatan yang mengapung di udara.Namun Manny tidak akan mau pergi iiebelum mengetahui semuanya.

Decker berkata. "Kau telah tidur dengannya?"

Michi menggigil dan menundukkan kepala.

Ketika Decker berbicara, suaranya serak karena kepedihan. "Bolehkah aku duduk? Lututku agak menggangguku. Biasanya begitu kalau udara lembab."

Michi memalingkan muka. "Kau datang untuk menangkap diriku?"

Decker melihat pada kijang kertas itu. "Entahlah. Sialan, aku tidak tahu. Aku datang untuk mendapatkan jawaban jawaban. Kini kudapatkan sebuah. Aku telah berharap harap bahwa itu tidak benar." Decker memejamkan mata. "Ya dewa, mengapa kau kembali dalam kehidupanku kalau kau tidak mencintaiku?"

Mata Michi penuh airmata. "Aku mencintaimu. Aku tidak pernah berhenti mencintaimu. Tidak akan pernah berhenti' mencintaimu. Kalau kau keluar dari kamar ini dan tidak akan menemuiku lagi, aku masih akan mencintaimu. Hanya dirimu."

"Barangkali aku memang tidak semodern] sebagaimana mestinya, tetapi kalau kau] mencintai diriku, ya dewa, mengapa kau membuka kakimu untuk Dorian?"

Kata kata itu dimaksud menyakiti, dart

memang demikianlah hasilnya. "Oh, janganlahJ

Manny. Ia tidak berarti apa apa bagiku.

Jangan "

"Jangan apa? Jangan menderita jikd seseorang menikam diriku dari belakang?"

"Aku cuma memperalat Dorian. Cuma itu saja artinya bagiku."

Decker berkata, "Kalau begitu dua dengan diriku yang telah kauperalat."

Michi berkata, "Kau tidak datang kemari hanya untuk menanyakan hal hubunganku dengan Dorian."

"Berita yang tersiar adalah," Decker berkata, "satu satunya urusan yang harus dikerjakan Sparrowhawk sekarang ini yalah menemukan pembunuh Paul Molise. Selagi kau bepergian, beberapa orang dari MSC menggeledah apartemenmu. Aku tidak bisa tidak bertanya tanya apakah tidak ada sesuatu sangkut paut. Laporan otopsi menyatakan bahwa Molise dibunuh dengan senjata senjata berbentuk jarum atau sesuatu yang mirip pisau akhli bedah."

Untuk pertama kalinya, Decker kini memandang pada Michi. "Tidak ada orang yang bertanya padaku, maka tidak kukatakan bahwa itu mungkin sebuah jarum panjang, jenis yang mungkin diajarkan pemakaiannya dalam latihan ninja . Banyak dinas rahasia dewasa ini memakai teknik teknik ninja. CIA, KGB, MI-6, SAS, SEALS dan Baret Hijau memakainya. Dan, tentu saja, dinas rahasia Jepang."

Decker mulai memijat mijat lututnya.

"Kalau ada orang yang dapat melacaki dirimu sebagai anak perempuan George Chihara, maka orang itu adalah Sparrowhawk. In sangat intelijen dan seorang yang kejam. Kalau ia sudah bertekad mengetahui tentang

dirimu, ia akan mendapatkan semua keterangan yang dibutuhkannya. Dan setelah itu cuma tinggal soal waktu untuk "

Decker terus memijat mijat lututnya. Michi berkata, "Untuk apa?"

"Menggunakan yang diketahuinya itu terhadap dirimu."

"Aku tidak memperalat dirimu, Manny." .

"Benar. Aku memberitahukan padamu rencana kami untuk menangkap Dorian, dan tidak lama sesudah percakapan kita itu, Dorian mampus. Ada bukti bahwa kau telah berada di dalam apartemen Dorian, dalam kamar tidurnya, dan kurasa kita berdua sama sama mengetahui bahwa ada alasannya kau menghendaki kematiannya. Itulah cara samurai, bukan?"

"Aku tidak pernah satu kali pun berbohong padamu.Mungkin telah kusembunyikan hal hal tertentu, tetapi aku tidak berbohong."

Decker berdiri, kedua tangan dalam saku mantelnya. "Kalau dijelaskan perbedaan antara dua hal itu padaku, barangkali aku akan mengerti."

"Dan kau sendiri," kata Michi. "Apakah telah kaukatakan pada orang orang di dalam kehidupanmu, segala galanya mengenai dirimu?"

Kata kata itu mengena betul. Decker memandang pada Michi dengan mata yang hampir tertutup rapat.

"Ya, Manny," Michi berkata. "Kau memang menyembunyikan juga hal hal tertentu."

"Kauhilang kau tidak berbohong padaku. Kalau begitu, coba katakan: telah kaubunuh Paul Molise dan Dorian Raymond?"

Michi berputar, membelakangi Decker, diam sejenak lamanya, kemudian mengangguk dan berkata, "Ya."

Michi berbalik dan melihat Decker mengkeret putus asa. "Adalah menjadi kewajibanku, membunuh mereka," kata Michi. "Aku samurai."

"Ya, dewa."

Michi menegakkan diri. "Akan kubunuh pula Sparrowhawk, dan juga Robbie Ambrose."

Decker berdiri, berjalan menjauhi Michi, berhenti, kemudian berbalik dan menuding ke arah kepala Michi. "Dan apakah yang mesti kulakukan selagi kau membunuh

Orang orang itu. Duduk dalam mobil di luar, dengah mesin tidak dimatikan? Aku ini

seorang polisi, kau ingat? Dan kau melibatkan diriku "

"Dirimu tidak terlibat. Kau mempunyai tugasmu. Aku mempunyai kewajibanku. Tidak ada dua orang yang melihat dunia . secara nama."

"Bagus. Hebat. Kalau departemen kepolisian di New York tidak mengganggu kita, masih ada keluarga Molise, Sparrowhawk, Robbie, dan tidak mustahil suatu gugus tugas federal."

"Mereka tidak dapat membunuh diriku."

"Oh, ya? Tetapi mereka akan berusaha keras."

Michi melangkah mendekat dan ketika berbicara, kata katanya pelan, tetapi dengan kedahsyatan, "Aku ini sudah mati. Cara samurai adalah kematian."

Michi berjalan ke sofa, duduk, memandang lurus ke depan. "Bagi samurai adalah penting untuk mati dengan cara yang baik. Kami harus berpikir tentang kematian, setiap ' hari, setiap saat.Hanya dengan cara itulah kami akan cukup kuat untuk melakukan tugas kami dengan baik. Aku hanya dapat hidup jika menghadapi kematian, manakala aku benar benar bersedia dan siap untuk mati."

Michi mengangkat muka, memandang pada Decker. "Aku melihat bagaimana kalian di barat mempraktekkan seni bela diri. Bagi kalian itu adalah bermain main dengan gagasan kematian tanpa mati benar benar. Bagiku, maknanya lebih jauh."

Decker berkata, "Kau tidak dapat kembali ke amerika. Bahkan jika aku tidak melaporkanmu, nyawamu dalam bahaya. Pada suatu hari Paul Molise akan mengetahui yang telah kaulakukan atas anaknya. Ia pasti akan membunuhmu. Ia akan dengan sabar mencarimu, membunuhmu. Dan hanya Tuhan mengetahui apa yang akan dilakukan LeClair padamu. Dan jangan melupakan Sparrowhawk. Ia dan Robbie mengetahui atau tidaklama lagi akan mengetahui bahwa kau memburu mereka. Kembalilah ke Jepang, Michi. Berangkatlah, malam ini juga."

Michi menggelengkan kepala. "Sialan," Decker berkata, "Yang dapat kulakukan untukmu hanyalah memalingkan muka selagi kau melarikan diri."

Decker merasa menyesal seketika kata kata itu diucapkannya.

"Aku ada komitmen pada keluargaku," Michi berkata. "Seseorang haruslah setia pada sesuatu."

Kata kata itu membuat Decker bertambah herang. Michi juga mengetahui bahwa Manny cemburu akan Dorian, dan mau menyakiti dirinya karena itu. "Sialan, sialan!" kata Decker, "Giri atau bukan giri, ini tidak pntut dibela. Ayahmu sudah matii Kau tidak tliipat menolongnya lagi."

"Menurut kepercayaanku, aku dapat monolong. Aku dapat membantu ayahku, ibuku, ilnn kakakku. Aku dapat mendatangkan keadilan hiigi mereka. Aku dapat mendatangkan kodamaian bagi roh mereka. Telah kukatakan imliwa akan kuceritakan semuanya kepadamu."

Dan Michi menceritakan tentang malam di tiiiigon itu, ketika Sparrowhawk, Robbie dan Durian, atas perintah Paul Molise, telah ntnndatangi villa Chihara dan memaksa ibu, lniknk dan teman baik Michi melakukan seppuku. Seorang agen CIA, Ruttencutter juga ikut terlibat.

Michi berkata, "Ruttencutter dan Paul Molise mengambil emas, berlian dan narkotika ayahku, kemudian menyerahkan ayahku kepada vietcong. Ayahku samurai. Ditangkap dan kemudian dihina oleh musuh musuh adalah lebih buruk daripada kematian.Jauh lebi buruk. Selama tiga tahun aku berjuang membebaskannya. Aku menggunakan uang, ak memohon dan aku mengemis pada orang oran yang berkuasa. Aku tidur dengan orang oran itu, yang kukira dapat membebaskan ayahku Itu kewajibanku.

Selama tiga tahun aku mempunya pengharapan akan membebaskan ayahku Kemudian adalah kunjunganku terakhir pad ayahku itu. Seorang samurai hanya takut pad dua jenis kematian. Dipenggal dan disalib Dan mereka, yang menahannya itu, mengetahu akan hal itu. Maka mereka menyuruhk menyaksikan bagaimana mereka memengga kepala ayahku. Coba, katakan padaku, Manny siapakah yang harus membayar atas cara koto dan cara kejam dan mesum ayahku menemu ajalnya itu?"

Decker berkata, "Entahlah."

"Tetapi aku tahu. Dan teman teman ayahk dalam Jinrai Butai, mereka juga mengetahui. Mereka adalah orang orang dengan kesetiaan yang kuat, orang orang dengan ide jelai

mengenai kewajiban.

Teman teman ayahku tidak memaksa diriku melakukan apa pun. Mereka hanya mengingatkan padaku bahwa aku adalah samurai, Aku tidak pernah lupa akan hal itu. Merekalah yang mengatur sehingga uang ayahku dikirim padaku. Uang dari bank bank di Tokyo, Hongkong, Macao, swis. Uang dan berlian. Aku kaya raya, tak usah bekerja. Namun aku harus dapat hidup dengan diriku sendiri, dan kalau aku mati aku harus menghadap pada ayahku, ibuku, kakakku."

Michi berdiri dari sofa itu. "Orang orang dari Jinrai Butai membayar hutang mereka dengan membantu diriku. Selama tiga tahun mereka mengawasi latihan latihanku. Aku belajar bertempur. Dan aku belajar menghadapi maut. Aku berlatih di dojo dojo rahasia. Aku belajar mengetahui bahwa tanganku yang harus menjangkui keadilan bagi keluargaku. Bahwa itu kewajibanku, bukan kewajiban orang lain.

Kemudian adalah persiapan persiapan yang harus kubuat. Dan tahun ini, ketika aku sudah siap, setelah informasi secukupnya telah dikumpulkan mengenai orang orang yang menyerahkan ayahku kepada vietcong, aku berangkat ke amerika untuk mencari keadilan, liukan membalas dendam, Manny. Keadilan."

Decker berkata, "Kau mencoba menarikku mendekat. Fugu itu. Kau menyuruhku mengawasi menyesal dan rasa malu karena telah menampar dirinya."Aku harus menghirup udara segar," Manny berkata. "Aku akan keluar sebentar, berjalan memutari blok ini. Melempangkan pikiranku. Aku menyesal, sungguh menyesal. Aku tidak sadar melakukan itu tadi."

Decker berbalik dan bergegas ke pintu.

Decker sudah pergi sebelum Michi dapat mengatakan kepadanya bahwa tamparan itu tidak berarti sama sekali, bahwa ia, Michi, telah mengalami yang beribu kali lebih hebat dari itu selama enam tahun yang lalu itu, dan bahwa ialah, Michi, yang telah menyakiti Manny, yang disesalkannya lebih daripada apa pun yang pernah dilakukannya.

DICEKAM KEKESALAN karena selalu sendiri, karena kengerian, karena harus hidup sebagai samurai dan takut bahwa dirinya kehilangan Manny untuk selamanya, Michi meletakkan kepala di atas meja dan menangis.

Yang manakah yang lebih buruk: kepedihan cinta atau kehilangan kepedihan itu? Michi tidak tahu jawabannya.

HOTEL Michi sudah' dua mil di belakangnya. Namun Decker tidak tahu ke mana ia menuju, dan ia juga tidak perduli. Ia kini sudah lebih tenang. Syukurlah. Dan merasa menyesal karena telah menampar Michi.

Decker berbalik, memandang ke arah ia datang. Ia yang bersalah. Michi yang benar. Tidak ada dua orang yang melihat dunia secara sama.Michi mempunyai kewajibannya, kebenarannya, dan ia, Decker, tidak berhak memaksakan pendiriannya kepada Michi. Michi juga tidak memaksakan pendirian kepada dirinya. Michi hanya mengungkapkan kebenaran tentang dirinya, dan memberi pilihan kepadanya. Entah bagaimana, tetapi Decker merasa bahwa ia telah melakukan pilihan yang salah. Atau, barangkali, tidak melakukan pilihan sama sekali. Ia harus membetulkan itu. Sekarang. Malam itu juga. Enam tahun

terpisah sudahlah cukup.

Yang jelas: ia tidak akan melaporkan hal Michi itu. Dan ia sendiri tidak akan dapat dituntut karena tidak melaporkan perbuatan perbuatan Michi yang diketahuinya itu. Membuktikan sesuatu pada zaman sekarang sunqquh sulit. Lihat saja betapa sulitnya membuktikan bahwa Robbie seorang pembunuh.

Sebelum pergi ke Paris, Decker telah berkata kepada LeClair. "Robbie Ambrose. I-tulah nama yang mau disebutkan Dorian kepadamu itu."

"Kau yakin ?"

"Itulah sebabnya aku meninggalkan kalian berdua ketika kau menanyai Dorian itu. Partnerku dan aku sedang menggarap urusan terhadap Robbie Ambrose itu. Seperti kau ketahui, kami bertiga berada di Vietnam pada waktu bersamaan. Dorian, Robbie dan diriku. Di sana sudah tersiar bahwa Robbie seorang veteran rangkap, orang yang memperkosa wanita wanita Vietnam, lalu membunuhnya. Sinting. Partnerku sudah jauh dalam penyelidikannya. Kami sudah mempunyai awal, cuma belum cukup untuk diajukan ke pengadilan."

"Ah, begitu. Dan kau yakin benar mengenai nama itu?"

"Aku yakin."

LeClair bertanya, "Liburan pendekmu ini, akan ke mana kau?"

"Tiada tempat khusus yang kutuju."

Decker tidak berniat menyebutkan Paris .

"Bon voyage, selamat jalan. Melaporlah kalau kau sudah kembali."

Decker kini meninggalkan arkade di rue de Rivoli itu dan menghentikan sebuah taxi. Ia harus kembali ke hotel itu. Kembali pada Michi. Giri. Tidak mungkin orang hidup tanpa itu. Cepat atau lambat, setiap orang harus menunaikan tugas dan bertanggung jawab. Decker teringat akan wajah Michi, harapan dan kekecewaan ketika ia, Decker, tidak menegaskan komitmen dirinya pada Michi.

Decker merasa mual karena rasa salah. Ia akan melempangkan hal itu. Dan Michi akan senang mendengar bahwa ia, Decker, akan selalu berada di samping Michi, apa pun yang terjadi. Sudah waktunya bagi dirinya menyatakan kesetiaan pada satu satunya wanita yang pernah dicintainya.

TIBA DI LANTAI KAMAR Michelle Asama di hotel Richelieu itu, Robbie Ambrose lewat sebuah pintu darurat menyelinap ke dalam sebuah lorong keluar. Pintu itu ditutupnya dan ia bersandar pada pintu itu. Butir butir amphetamine itu berpindah dari telapak tangan bersarung ke dalam mulutnya. Robbie menelan. Dan mulai merasa satu dengan dewa perang.

Berbalik, ia membuka kembali pintu itu. Pernafasannya merata dan panca inderanya menjadi tajam sekali. Kekuatan mengalir ke dalam semua ototnya. Sesudah enam-tahun, ia akan menangkap hantu. Hantu yang mengancam keselamatan temannya, Sparrowhawk.

Sekarang tiba saatnya untuk membereskan urusan itu.

Robbie keluar dari lorong itu dan masuk ke ruangan depan. Tidak ada orang. Tanpa mengeluarkan suara didekatinya pintu kamar Michelle Asama,

Jangan beri peringatan. Cari peluang dan sambar itu.

Setibanya di pintu, diangkatnya tasj atase itu menutupi wajahnya. Hachiman Dai-Bosatsu. Bodhisatva Agung, dewa perang. Pedang yang ditempa dari keempat unsur -metal dan air, kayu dan api.

Robbie mengetuk pada pintu itu. Pelan

Ia siap untuk berbohong, mengatakan bahwa ia mau menyerahkan karangan bunga atau apa saja. Namun Robbie menjadi heran sekali. Ia tidak berbohong.

Ia mendengar langkah langkah kaki berlari ke pintu. Nalurinya, yang ditajamkan oleh obat bius dan kekuatan Hachiman, mengatakan bahwa pintu akan dibuka tan; pertanyaan.

Dan benar. Dibuka lebar.

Michi dengan tersenyum dan airmuka masih basah karena airmata berkata, "Manny "'

Robbie melemparkan tas atase itu ke muka Michi dan kakinya bergerak menendang ke| perut, menghantam Michi ke belakang ke dalam kamar. Robbie menyerbu masuk, membanting pintu tertutup dan tanpa memberi kesempatan kepada Michi untuk menguasai diri kembali, Robbie menyerang. Michi yang tubuhnya melipat, dalam kesakitan dan bergulat untuk bernafas, melakukan perlawanan dengan gagah berani. Ketika Robbie sudah hampir berada di atas dirinya, Michi menendang rendah, mengarahkan serangan pada pergelangan kaki pria itu.

Tetapi Robbie cepat. Ia berhenti, kemudian dalam suatu gerakan itu juga melangkah ke samping. Tendangan Michi cuma menyerempet pergelangan kaki itu. Hampir tidak menyakiti sama sekali. Dan tidak memperlambat gerakan Robbie sendiri.

Dengan terengah engah dan pusing, Michi memegang perutnya, bergerak mundur dari penyerangnya. Robbie mengejarnya. Dengan tangan kanan, Robbie berpura pura menyerang kepala, dan ketika tangan kanan Michi diangkat untuk menangkis, sisi kanan iganya terbuka. Robbie mengarahkan tendangan kaki kirinya ke situ. Michi yang sudah banyak dilemahkan, beraksi secara naluriah. Tangan kanannya turun untuk menahan tendangan itu, namun tenaganya kecil dan memakai bakiak jepang itu berakibat hilangnya keseimbangan. Tangkisan Michi itu lemah dan tidak efektif.

Tendangan Robbie itu menerjang pertahanan dan menghantam iga iga, merobohkan Michi ke atas lantai dan membuat wajahnya mengerut kesakitan. Robbie nyaris menendang wajah Michi itu, ketika ia teringat pada sesuatu. Wajah wanita itu tidak boleh cacat, tidak boleh bertanda cidera. Maka yang dilakukan Robbie beralih pada dua tendangan lagi ke perut wanita yang sudah roboh itu. Michi mengeluarkan suara pelan dan mulutnya terbuka selebar mungkin, namun daya perlawanan Michi sudah habis.

Michi bermandi keringat, hampir tidak sadarkan diri dan tidak merupakan bahaya bagi pria itu.

Robbie membungkuk dan mengangkat tubuh Michi, mencium bau parfum dan merasakan kehangatan tubuh itu. Dibawanya Michi ke kamar tidur, membaringkannya selembut mungkin, dan kemudian kembali ke ruangan duduk itu. Robbie mencari sebuah alat pembuka surat, tetapi mendapatkan yang lebih baik: pisau pemotong daging.

Kembali ke dalam kamar tidur itu, pisau itu diletakkan di atas meja di samping tempat tidur, lalu dengan berhati hati membuka kimono Michi, melihat tubuh telanjang itu. Indah. Yang seorang ini istimewa. Telah lolos dari tangannya, enam tahun yang lalu. Michi mengerang, membuka mata dan dengan sekuat tenaga mencoba mengangkat kepala. Robbie belum pernah terangsang secara sexual seperti pada saat itu.

Michi menyadari bahwa ia akan mati. Tetapi ia menguatkan kemauan untuk berlawan, untuk tidak menutup matanya. Jangan. Belum.

Robbie merasa mencintai sekali wanita itu. Ya, ia mencintai mereka semua, setiap wanita yang dipeluk, digauli dan dibunuhnya itu.Tetapi yang seorang ini betul betul istimewa, sebab yang satu itu seorang pendekar, seorang yang patut dihormati dan mendapatkan seluruh rasa cinta yang ada pada dirinya. Robbie membungkuk untuk mencium wanita itu.

Michi bergulat untuk dapat mengangkat bahunya dari tempat tidur itu. Rasa nyeri meledak dalam seluruh tubuhnya. Memuai, surut, kemudian memuai kembali. Michi bergeser mendekat pada penyerangnya, menyadari yang hendak dilakukan pria itu. Ketika bibir Robbie menyentuh bibirnya, Michi membalas ciuman itu, menyentuh nyentuh bibir pria itu dengan ujung lidahnya, menggoda, mengundangnya merapat. Robbie bersantai, kini mengetahui bahwa wanita itu membalas cintanya. Lidah wanita itu pelan pelan mendesak masuk ke dalam mulutnya, dan Robbie dengan suka hati memberikan dirinya, membuka mulutnya, mencari lidah perempuan itu, rohnya

Rasa kesakitan itu sedemikian rupa menggoncang diri Robbie, sehingga kaki sebelahnya menjejak dan merobohkan meja di samping tempat tidur itu. Anak haram jadah! Anjing betina!

Michi telah menggigit dengan sekuat tenaga, menggigit ke dalam bibir bawah dan lidah pria itu. Dan dengan kuku kuku tangan kanan, Michi mencakar dan menggaruk sisi kiri wajah pria itu. Membuka luka luka menganga dari tulang pipi hingga rahang. Michi bergayut pada daging pria itu dengan sisa tenaga yang semakin habis. Michi merasakan darah pria itu di dalam mulutnya. Dan ia merasa bahagia.

Robbie menghantam dada Michi dua kali, keras. Dan Michi terjatuh kembali ke atas tempat tidur itu. Dada Michi naik turun bersama siksaan usahanya mencari udara. Matanya menyala nyala penuh kebencian. Dari semua wanita yang telah dibunuhnya, yang seorang ini adalah yang pertama yang tidak memperlihatkan ketakutan. Robbie cepat cepat menjangkau ke sebuah kotak berisi kertas tisyu, menarik beberapa lembar dan menekanka nya pada mulutnya yang berdarah. Dengan menggunakan tangan satunya yang bebas, Robbie mengambil lagi kertas tisyu dari kotak itu, memakainya untuk mengusap darahnya dari mulut Michi. Michi mencoba mendorongnya pergi, tetapi Michi terlalu lemah.

Setelah mnemasukkan kertas tisyu yang dipakai untuk membersihkan mulut Michi itu ke dalam saku jasnya, dan masih menempelkan kertas tisyu pada mulutnya sendiri, Robbie mengambil lagi kertas tisyu, kali ini untuk luka luka cakaran di atas mukanya itu.

Luka luka yang menimbulkan rasa pedas. Kalau wanita itu telah membikin cacat wajahnya, maka wanita itu harus mati.

Robbie meninggalkan tempat tidur itu, pergi ke ruangan duduk dan memungut sebotol berisi sampanye. Masih ada isi sepertiganya. Robbie kembali ke kamar tidur, bercondong di atas Michi dan menuangkan sisa sampanye itu ke dalam mulut wanita itu.

Robbie meletakkan botol itu di atas lantai, dan ia berdiri dan melepaskan ikat pinggang celananya. Ia sebenarnya tidak bermaksud menyetubuhi wanita itu. Tetapi wanita itu telah menggigit dan mencakarnya. Tidak ada yang dapat menghalanginya menyetubuhi wanita itu.

Cepat sekali. Robbie hampir tidak dapat menahan diri. Selesai dalam beberapa detik. Kenikmatan yang didapatkan Robbie sedemikian tajam, sehingga sesaat hampirlah ia lupa diri.

Setelah selesai, Robbie berdiri, menutup celananya, dan dengan tangan sebelah mengenakan kembali kimono itu pada Michi yang cuma setengah sadarkan diri. Oh, betapa ia mencintai wanita yang seorang ini!

Michi membuka mata. "Manny Manny."

Robbie menggelengkan kepala. Bukan Manny. Robbie memegang tangan kanan Michi, dan menggenggamkannya pada pisau potong daging itu, kemudian menempelkan sisi tajam pisau itu pada sisi kiri leher Michi. Hachiman. Robbie memotong nadi leher itu. Michi mengejang. Darah menyembur ke atas kimono itu dan ke atas seprei putih tempat tidur. Robbie melepaskan tangan Michi. Sidik jari jari Michi kini ada pada gagang pisau itu.

Yang selebih mudah sekali. Robbie menempelkan mata pisau itu pada sisi kanan leher wanita itu, mengiris dalam. Michi mengerang, mencoba bangun. Robbie meletakkan tinju bersarung di atas dada wanita itu, menahannya. Selama kurang lebih semenit, Robbie menyaksikan darah itu mengalir keluar dari kedua sisi, leher itu. Kemudian dijatuhkannya pisau itu di samping tempat tidur itu dan ia mengganti kertas kertas tisyu yang ditempelkannya pada mulutnya itu, sebelum berjalan ke lemari Michi. Robbie mengeluarkan ebuah ikat pinggang, kembali ke tempat tidur itu dan mengikatkan ikat pinggang itu pada kedua pergelangan kaki wanita itu.

Setelah merapihkan kimono, Robbie memandang pada wanita dalam sekarat itu, ,merasa lega.

Robbie keluar dari kamar tidur itu. Setelah mengintip keluar dan melihat bahwa tidak ada orang di ruangan depan di luar pintu kamar itu, Robbie melangkah keluar,

menutup pintu.

Robbie mendengar lift yang sedang naik. Bahaya. Robbie berlari ke pintu darurat yang tadi itu, menyelinap ke dalam lorong keluar darurat itu. Robbie tidak menutup rapat pintu itu. Ia mengintip, dan melihat yah, dewa! Decker.

Detektif itu lewat tepat di dekat pintu darurat itu, berhenti di depan pintu kamar Michelle Asama dan mengetuk. Robbie tersenyum menyeringai.

Mulutnya terasa sakit,namun begitu Robbie tidak bisa menahan dirinya menyeringai puas, sebab segala sesuatu telah berjalan dengan lancar, dan kembali ia telah

mengungguli Manfred Decker

Robbie berbalik dan sesaat kemudian menuruni tangga darurat hotel itu. Kertas kertas tisyu itu masih ditekankannya pada mulutnya, tetapi perasaannya riang dan puas.

DI KENNEDY INTERNATIONAL AIRPORT, Ellen Spi-celand langsung menuju ke tempat pemeriksaan bea cukai. Ellen Spiceland membenci lapangan lapangan terbang. Satu satunya alasan ia berada di situ yalah untuk menyambut dan memperingatkan Manny.

Ya, pikir Ellen, betapa besar penderitaan Manny, ketika pacarnya mati sepuluh hari yang lalu.

Ellen dengan berjinjit jinjit mencari dan akhirnya melihat Manny Decker. Ellen melambaikan tangan, tetapi Manny tidak melihatnya. Ellen memanggil namanya, dan pada kali ketiga, barulah Manny menoleh dan melihatnya. Melihat Manny, tangan Ellen melesat ke mulut, terkejut. Penampilan Manny sungguh mengagetkan.

Berat badan Manny jelas telah banyak turun, dan ada lingkaran lingkaran hitam

pada sekeliling matanya yang tampak merah.

Decker seperti di dalam keadaan terlengar. Ketika bagasinya selesai diperiksa dan

Decker menutup kopernya, Ellen menyerbu kepadanya. Decker melingkarkan lengannya pada bahu Ellen.

Ellen bersandar ke belakang, mengusap air mata. "Ya dewa, Manny! Mengapa kau?"

Ellen memeluknya lagi, dan dengan memegang lengan Manny, membawanya keluar dari terminal itu. "Mereka di Jepang sana tidak memberimu makan?"

Decker mencoba tersenyum. "Oh, mereka memberi makan. Mereka merawat diriku dengan sempurna."

"Kelihatannya sebaliknya."

Mereka naik ke dalam sebuah taxi, dan setelah kendaraan itu meluncur, Ellen memijat tangan Decker. "Kau tidak usah berbicara kalau tidak ingin. Ada datang menjemputmu karena ada yang harus kusampaikan padamu. Aku tidak ingin kau menerimanya sebagai suatu tamparan di markas distrik."

Decker menatap pada Ellen. Menunggu. Ellen menindas airmata. "LeClair melepaskan dirimu dari gugus tugas federal itu."

Decker mengeluh, tetapi tidak tampak heran.

Ellen berkata, "Keadaan semakin buruk. Informasi yang kita kumpulkan mengenai kaishaku itu? LeClair memerintahkan kami menyerahkan semuanya kepadanya. Daftar turnamen, tanggal tanggal pembunuhan, latar belakang Robbie Ambrose. Semuanya sekarang di tangan LeClair."

Ellen menguatkan diri menanti reaksi Decker. Tidak ada.

"Aku sudah mendengarnya di Tokyo," Decker berkata. "Seorang bernama Shigeji Shina memberitahukannya kepadaku. Ia dari intelijens militer Jepang."

"Temanmu?" Ellen terkesan sekali. "Teman Michi. Bersama ayah Michi dalam perang dunia kedua. Di Tokyo, ia yang mengurus diriku. Aku tinggal di tempatnya. Ia yang membawa diriku ke kelenteng shinto untuk upacara penguburan, memperkenalkan diriku pada sejumlah orang. "Dan ia mengetahui tentang LeClair, tentang yang dilakukan LeClair terhadap dirimu?"

Ada sesuatu yang aneh pada Manny. Di satu pihak tampak dalam goncangan hebat. Di lain pihak tampak sepenuhnya menguasai diri.

Ellen berkata, "Kau semestinya berlibur. Beristirahat. Makan. Memulihkan dirimu. Kau berhak berlibur."

"Bulan depan akan kuambil liburanku. Sejauh yang kudengar, kematian Michi telah diberitakan hingga di sini."

"Ya. Pers menyebut namanya Michelle Asama." Ellen ragu sejenak. "Menurut surat kabar mungkin ia telah membunuh diri karena bersedih atas Dorian Raymond."

Decker memandang keluar jendela taxi. "Tidak soal apa yang mereka katakan. Barangkali ada baiknya juga. Yang tidak mereka ketahui tidak akan menyakitinya. Telah kauselidiki Robbie Ambrose seperti yang kuminta padamu?"

"Lebih dari itu yang kulakukan. Tetapi sebelumnya, ada tindakan dari LeClair itu. Decker menatap pada Ellen.

Ellen berkata,"LeClair mengumumkan bahwa kau dan aku dan siapa saja dilarang menyentuh Robbie Ambrose. Mulai sekarang, tuan Ambrose adalah kepunyaan tuan LeClair, untuk dimanfaatkan sesuka hatinya."

"Berarti bahwa LeClair sedang menggarapnya. LeClair akan memeras Robbie dengan pembunuhan pembunuhan itu agar menjadi informan terhadap MSC dan Dent dan mafia itu."

Keparat! Membiarkan orang yang telah membunuh tigapuluh orang wanita, karena itu dapat membantu karirnya."

"Itu telah dilakukan sebelumnya. Kau juga tahu. Entah berapa kali aku telah memalingkan muka ketika seorang jaksa atau penuntut federal berdamai dengan pembunuh pembunuh untuk mendapatkan informasi."

Ellen menggelengkan kepala. "Biar begitu, Robbie Ambrose adalah seorang yang ingin kulihat dalam kuburnya."

"Katamu kaukerjakan juga yang kuminta itu."

"Ya. Pertama tama kami mengecek pada Interpol dan Bea Cukai amerika. Robbie Ambrose telah pergi ke Paris, minggu yang lalu. Sehari kemudian tuan Ambrose kembali ke New York. Dan hari itu juga terbang ke New Orleans untuk suatu pertandingn karate. Menang seperti biasa. Hingga sejauh ini belum ada dilaporkan perkosaan dan pembunuhan seorang wanita di kota itu, tetapi kami masih mengadakan penyelidikan."

Untuk pertama kali sejak meninggalkan lapangan terbang, Ellen melihat getar emosi di atas wajah Decker. Dan ketika berbicara, suara Decker keras. "Ia tidak perlu membunuh seorang di New Orleans. Sudah terpenuhi syarat itu sebelum ia tiba di sana. Bagaimana, ada tanda tanda luka luka itu pada wajannya?"

Ellen tersenyum. "Itu bagianku sendiri., Ketika ia terbang kembali dari New Orleans, aku menunggunya di Kennedy Airport. Kuawasi dari jauh, tentu saja. Orang itu punya cidera cidera muka. Cakaran di atas pipi kiri dan ada sesuatu yang telah terjadi dengan mulutnya, jahitan pada bibirnya. Jahitan itu mungkin saja dari pertandingan itu, tetapi luka cakaran itu bukan. Mereka bertanding dengan memakai sarung tangan."

"Jahitan jahitan itu juga bukan dari pertandingan itu," Decker berkata. "Para patologis perancis menyatakan Michi telah melakukan bunuh diri. Ada sedikit alkohol dalam peredaran darahnya. Bukti adanya sanggama menandakan bahwa ia mungkin bunuh diri setelah bertengkar dengan kekasihnya. Para patologis perancis itu tidak mempunyai keterangan atas jejas jejas dalam tubuhnya."

Ellen berkata, "Cuma itu saja? Mereka tidak memeriksa lebih jauh?"

Decker memasukkan kedua tangan dalam saku saku mantelnya, bersandar pada sandaran tempat duduk. "Shigeji Shina yang kusebutkan tadi. Seorang yang pandai. Ia mempunyai seorang teman, Ishino, namanya, yang adalah seorang pedagang berlian di Amsterdam. Shina dan Ishino sama sama bersama ayah Michi dalam perang dunia kedua itu."

"Kau selalu memanggilnya 'Michi*. Surat surat kabar menyebut namanya Michelle Asama. Michi itu singkatan untuk Michelle?"

Decker mengangkat bahu. "Itu tidak penting. Nah, Ishino itu memiliki sebuah pesawat terbang pribadi. Ia dan Shina berhasil membujuk pihak perancis menyerahkan jenazah Michi dan kami menerbangkannya ke Tokyo dengan pesawat Ishino itu. Di Tokyo, Shina mengerahkan akhli akhli patologinya sendiri. Dan mereka berhasil mendapatkan informasi mengenai kematian Michi. Pertama, luka luka dalam Michi bukan disebabkan karena ia terjatuh, tetapi jejas jejas itu jejas jejas karate. Lain hal lagi, aku sendiri mengetahui bahwa Michi tidak dalam suasana hati atau pikiran untuk bersanggama. Ia telah diperkosa."

Ellen berbisik. "Robbie Ambrose. Ya dewa Manny, sekarang kufahami sikapmu."

Decker berkata. "Siapa pun yang menendangnya di perutnya dan iganya, telah sangat menyakitinya. Barangkali telah menyergapnya tanpa diduga duga oleh Michi. Keparat itu kuat, kuat sekali. Kukira Michi membukakan pintu kamar hotelnya itu menyangka bahwa akulah yang kembali padanya, dan jahanam itu menyerangnya. Dan masih ada bukti bukti lain," Decker melanjutkan dengan suara datar, "Akhli patologi Shina itu menemukan potongan potongan kulit manusia pada gigi dan kuku kuku Michi. Juga menemukan contoh darah di bawah kukunya yang bukan tipe darah Michi." Decker memandang pada Ellen. "Michi telah melakukan perlawanan. Melawan hingga mati."

Ellen menyentuh paha Decker. "Manny, orang itu di tangan kita. Jika tipe darah itu cocok, dan jika contoh kulit itu cocok, maka bedebah haram jadah itu dapat kita bekuk."

"LeClair akan melindunginya."

"Tidak."

"Akan."

Ellen menatap pada Decker. "Manny, kita ini berbicara tentang seekor binatang, seseorang yang telah membunuh wanita wanita karena ia suka melakukan itu."

"Tetapi kita juga berbicara tentang dunia nyata, tentang penegakan hukum. Orang tidak memperkarakan informan informan dan LeClair kini memusatkan diri pada satu perkara, mempunyai satu sasaran, yaitu MSC dan Dent. Menjebloskan Robbie ke dalam penjara tidak akan mendatangkan kejayaan yang dikejar LeClair. Itulah sebabnya ia melepaskan diriku dari gugus tugas itu. Itulah sebabnya ia tidak menghendaki aku mendekati Robbie. Robbie tidak akan masuk penjara sebelum LeClair selesai dengannya. Dan itu pun kalau Robbie diseret ke pengadilan."

"Tetapi, sebentar. Sebentar. Temanmu Shina itu. Kita bisa mendapatkan laporan akhli patologi itu."

Decker menggelengkan kepala. "Tidak. Shina tidak akan mengumumkan itu."

"Mengapa?"

"Tidak akan diumumkannya itu. Tidak seorang pun di negeri ini mengetahui tentang itu, kecuali dirimu dan diriku. Dan aku tidak menghendaki kau menyinggung nyinggung hal itu pada siapa pun."

"Tetapi ini mustahil! Kau mendapat kesempatan untuk menghentikan Robbie Ambrose dan"

"Kaupikir apakah yang akan dilakukan LeClair dengan laporan itu?"

Ellen diam.

"Akan dilemari-eskannya itu. Ia akan mengatakan bahwa penyelidikannya atas MSC dan Dent telah lebih dulu dalam acara."

Mata Ellen berkaca kaca. "Ini tidak benar. Ini tidak adil! Ya, aku tahu, beginilah dunia yang nyata. Tetapi itu tetap tidaklah adil!"

Decker memegang tangan Ellen. "Aku ingin

kau melakukan beberapa hal untukku. Oke?" "Oke."

"Kita harus berhenti di sesuatu tempat sebelum ke tempatku. Berhenti di kantor Kanai. Aku ada formulir untuk diserahkan kepadanya.Ia menantikannya. Katakan padanya bahwa akan kukirim ceknya secepat mungkin."

"Formulir?"

"Untuk mengikuti turnamen karate di Paris bulan depan."

Ellen bergeser menjauh. "Kau sudah sinting? Yang kauperlukan adalah beristirahat. Memulihkan dirimu."

"Aku mengetahui yang kulakukan. Kau serahkan saja formulir ini kepada Kanai. Shina mengatakan bahwa Kanai dapat memrosesnya segera, karena ia salah seorang organisator turnamen itu. Ini sudah betul, Ellen, percayalah."

Beberapa saat kemudian Manny berpaling pada Ellen, matanya penuh airmata. Dengan suara tercekik, Manny bergulat mengucapkannya.

"Kami telah bertengkar. Aku meninggalkannya. Sialan, Ellen, seandainya aku ada disana, seandainya "

Decker berhenti, menelan, bergulat menguasai diri. Kemudian, "Ia berkata, seseorang haruslah setia pada sesuatu. Ia sendiri begitu. Kepada keluarganya dan sejauh jauh yang mungkin baginya, ia setia padaku."

Decker mengusap airmata dari mukanya. "Sekarang sudah terlambat aku menarik kata kata tak patut padanya itu. Yang telah kukatakan, yang telah kulakukan. Dan aku kini menghendaki janjimu. Jangan sekata patah pun mengenai laporan itu. Tolonglah, Ellen."

Ellen Spiceland mengangguk. Namun ia tetap tidak sepenuhnya mengerti.

Decker berkata. "Michi berkata, seseorang harus siap untuk mati, maka akan bereslah segalanya. Kalau sudah begitu maka amanlah. Kini aku mengerti yang dikatakannya itu. Yang dimaksudkannya.Seandainya aku berada di kamar itu ketika jahanam itu datang "

Decker menghela nafas. "Kami berdua akan berada di Paris, bulan depan. Kami berdua."

"Siapa? Siapakah 'kami berdua' itu?

"Robbie Ambrose dan aku."

Decker merogo ke dalam sakunya, mengeluarkan sesuatu seperti sehelai saputangan di mata Ellen. Decker menggelarnya di atas lutunya.

"Apakah itu?" Ellen bertanya.

"Hachimaki. Ikat kepala Jepang. Dulu kepunyaan ayah Michi. Diwariskan kepada Michi. Shina memberikannya padaku. Ini dipakai pada peristiwa peristiwa penting saja.

"Peristiwa peristiwa penting apa?"

"Kalau mau berangkat perang."

Ellen menjauh ketakutan ketika Decker tersenyum dingin. Di dalam mata Manny itu, Ellen Spiceland melihat maut.

Kepala Decker bersandar kembali pada punggung tempat duduk itu. "Orang haruslah setia pada sesuatu di dalam dunia ini."

Beberapa detik kemudian, Manny Decker sudah tertidur.

LECLAIR memperhatikan Robbie menyentuh bekas luka luka segar pada sisi kiri wajahnya, kemudian tangan Robbie itu bergerak ke luka pada bibir itu. Ketika kedua pria itu bertemu pertama kalinya beberapa hari yang lalu, luka pada bibir Robbie itu menunjukkan jahitan jahitan. Jahitan jahitan itu kini sudah hilang.

LeClair berkata,"Kurasa sebaiknya kita membicarakan masa depanmu. Kau masih percaya bahwa tidak seorang pun di MSC mengetahui bahwa kau bekerja sama dengan kami?"

"Tidak ada, kecuali kalau kau memberitahu mereka.Kau menangkap diriku di tengah malam buta di apartemenku, menyeret diriku kemari dan melemparkan tuduhan tuduhan ngawur bahwa aku telah membunuh wanita wanita yang mengenalnya saja aku tidak!"

"Tidak usah mengenal mereka untuk membunuh mereka."

"Lalu kau mengancam diriku dengan penjara atau rumah sakit gila kecuali kalau aku mau bekerja sama denganmu."

"Dan kau memang bersedia bekerja sama, Robbie."

"Hanya sekedar untuk melemparkanmu dari punggungku. Itu tidak berarti bahwa aku bersalah."

"Oke, oke, Robbie. Tidak ada problem." LeClair berkata. "Cuma ini saja yang mau kuminta darimu, coba kaudengarkan rekaman ini." LeClair membuka sebuah tas atase. Mengeluarkan sebuah alat perekam kecil. "Kau duduklah, Robbie. Ini tidak akan lama. Salah satu info yang kauberikan pada kami adalah lokasi tiga telefon umum yang biasa dipakai Sparrowhawk untuk menghubungi orang orang Molise itu. Nah, ini salah satu hasil penyadapan yang kami lakukan.."

Robbie mengerutkan dahi. "Yeah, tetapi aku tidak mengatakan sesuatu apa pun yang memburukkan mayor itu, dan aku juga tidak akan melakukannya."

dengan tersenyum, LeClair menekan beberapa tombol alat perekam itu, menghidupkannya.

Bunyi diputarnya sebuah nomor telefon. Tiga kali bunyi dering.

Gran Sasso berkata, "Yeah?"

"Sparrowhawk di sini. Telah kuterima pesanmu. Ada problem apa?"

"Kami telah berbicara. Alphonse dan aku. Dan kami sampai pada suatu keputusan."

"Yaitu?"

"Telah kami periksa tuduhan tuduhan yang dilancarkan pada senator itu. Dan kami sampai pada kesimpulan bahwa seseorang yang kita semua kenal telah membuka tentang senator itu. Seseorang dalam organisasi maha hebat yang semestinya kaujalankan untuk kami."

"Itu sama saja dengan menuduh diriku. Aku tidak menyukai itu."

"Sebabnya kita sekarang bicara secara tidak langsung ini adalah karena kami khawatir seseorang dalam kantormu melaporkan setiap langkahmu kepada pihak federal."

"Sudikah kau menjelaskan tuduhanmu itu?" Sparrowhawk mulai jengkel.

"Aku mau menegaskan bahwa seseorang yang dekat sekali dengan dirimu telah membongkar mengenai senator itu. Kaudengar ini?"

Suara Sparrowhawk menjadi melengking.

"Kau mau mengatakan bahwa sekretaresku "

"Kau, dungu!" Nada Gran Sasso itu mematikan. "Jangan kau coba coba menghina

aku. Sekali lagi kau bersikap seperti itu "

"Baiklah, aku mengerti."-

"Nah, dengarkan! Aku berbicara tentang temanmu yang muda itu, Robbiemu itu. Urusan urusan dengan senator yang justru dikerjakan olehnya, atas perintahmu, itulah yang ternyata dibongkar pada pihak sana."

Sparrowhawk kini memohon. "Anak itu seperti anakku sendiri. Jangan kau meminta aku mencelakakannya. Aku tidak dapat. Tidak dapat."

"Pokoknya, kita menghadapi suatu problem dan problem itu tidak akan lenyap dengan sendirinya. Yang kami minta darimu adalah membantu kami menyingkirkan problem itu."

"Bagaimana?"

"Teman mudamu itu mempercayai dirimu. Kaulah jalannya untuk membantu kami mendekatinya."

Hening.

Kemudian Sparrowhawk berbicara lagi. "Bukan mendekati. Membunuh. Kau menghendaki aku membantu kalian membunuhnya."

"Kau mempunyai rumah bagus, pekerjaan bagus, keluarga baik baik. Kuberi pilihan padamu. Kau boleh mempertahankan semua itu, atau kau tidak akan mempunyai apa apa. Kau bantu kami membereskan urusan dengan temanmu yang muda itu, atau kami akan menyuruh orang lain melakukan pekerjaan itu. Dan kau tidak akan bisa bekerja lagi di amerika. Kau tidak akan bisa tinggal di amerika. Kau datang ke negeri ini tanpa apa apa, kau pergi tanpa apa apa pula."

Suara Sparrowhawk patah. "Jangan kalian meminta aku melakukan itu. Jangan. Aku memohon pada kalian."

"Kaulah yang membawanya pada kami. Itu menjadikan dirimu sebagian dari problem itu. Hei, kaukira aku tidak mempunyai orang orangku dalam kantormu mengawasi dirimu?"

"Memata matai diriku? Kurang ajar!"

Aku mengetahui bahwa telah kaukirim teman mudamu itu ke Paris, dan selagi ia di sana, seorang.wanita telah mati."

Sparrowehawk meludahkan kata itu, "Haram jadah! Telah kausadap kantorku. Telah kausadap juga rumahku?"

Hening Bunyi pita yang berputar.

Kemudian Gran Sasso berkata, "Kalau sekali lagi kau berbicara seperti itu padaku, maka sebelum matahari tenggelam kau sudah mati. Sebelum matahari tenggelam."

Hening.

Gran Sasso: "Barangkali semua ini ada hubungannya dengan Paulie. Entahlah. Tetapi akan kami ketahui.Percayalah, akan kami ketahui. Urusan Paulie adalah pekerjaan yang kuserahkan padamu untuk diselidiki hingga tuntas, tetapi aku tidak pernah menerima jawaban darimu. Aku kini bertanya tanya sendiri: mengapa? Telah kuminta kau membereskan urusan itu."

"Itu bukan pekerjaan sederhana," Kata Spoarrowhawk, kini merendah. "Kami masih terus mengerjakan itu."

"Mengerjakan itu! Tetapi sekarang kau garaplah teman mudamu itu. Kau mau membantu kami: ya atau tidak?"

ROBBIE AMBROSE melompat dari kursinya, menyambar alat rekaman itu, melemparkannya ke dinding ruangan itu.

LeClair, masih duduk di kursinya, tidak mengangkat kepalanya. "Jawabannya adalah 'ya’."

Robbie mulai terisak isak.

LeClair kini berdiri, mendekat pada Robbie. Menepuk punggung Robbie. "Jangan terlalu menyalahkannya. Sparrowhawk. Ia mempunyai keluarga, isteri dan anak perempuanya. Ia telah mencoba melindungimu, bukan?"

Robbie menghela nafas.

LeClair berkata lagi» "Seorang seperti dirimu semestinya bergerak bebas di luar, berlatih. Tetapi untuk bisa begitu kau harus tetap hidup. Kurasa kau haruslah ditarbh di bawah perlindungan."

"Tidak bisa. Aku mengetahui yang terjadi atas orang orang dalam program saksi saksi federal. Mereka menjadi gila."

:Robbie, kau mendengar sendiri rekaman itu."

"Yeah, telah kudengar rekaman itu. Tetapi jangan taroh diriku di bawah perlindungan, jangan pula penjara. Teristimewa, jangan penjara. Kaubunuh saja aku, sekarang. Asal aku tidak dikurung. Aku harus bertanding. Harus ke Paris bulan Januari untuk turnamen suibin itu."

"Robbie, mari kita bicarakan ini. Oke, bukan perlindungan, bukan penjara. Bagaimana kalau kita sediakan dojo-mu sendiri, klub karatemu sendiri di suatu kota lain. Nama lain, dan uang sebanyak yang kauperlukan. Tanpa penjara. Bagaimana?"

"Aku mau bertanding di Paris. Kaubiarkan aku melakukan itu, dan aku akan bekerja sama seperti yang kauinginkan. Aku mau memenangkan suibin itu, dan membuktikan bahwa akulah yang terbaik di dunia."

LeClair menggigit bibir. Memberi dan menerima. "Kapankah pertandingn itu?"

"Mulai minggu kedua bulan Januari. Pertandingan penyisihan akan berlangsung lima atau enam hari, kemudian babak babak berikutnya hingga ke final. Dua orang. Tiada bandingannya. Pertandingan terbesar!"

LeClair membalikkan telapak tangan ke atas. "Oke. Pertandingan terakhir. Kemudian kau dan aku akan membereskan urusan kita di sini."

Robbie tersenyum, walaupun dalam hati menderita. "Jangan khawatir, aku akan memenuhi bagianku. Aku boleh pergi sekarang?"

"Asal kau berhati hati. Kau mendengar sendiri rekaman itu. Mereka sudah mengetahui. Sparrowhawk kini ada di pihak mereka. Bukan di pihakmu."

"Aku akan berhati hati. Mereka akan menunggu Sparrowhawk sebelum bisa bertindak terhadapku. Selama Sparrowhawk tidak mencoba sesuatu, aku aman."

Setelah Robbie pergi- dua orana FBT yang setengahnya hadir di situ untuk mengawal dan melindungi LeClair, berkata, "Benar benar membiarkannya pergi ke Paris?"

"Terpaksa. Ia bukan tipe yang gampang ditakut takuti. Barangkali akan kukirimkan beberapa orang mengawalnya. Sesudah Paris pastilah akan lebih mudah meyakinkannya."

Dalam lift yang menuju ke lobby, LeClair sejenak berpikir tentang kemungkinan Robbie membunuh seorang wanita lain menjelang turnamen itu. Begitulah pola Robbie, menurut Decker. Jaksa itu melihat pada surat kabar yang dibawanya, surat kabar yang menyiarkan berita ke dunia mengenai Charles Fletcher Maceo LeClair yang telah menjatuhkan senator Terence J. Dent.

Sebelum lift itu tiba di lantai bawah dan lobby itu, LeClair sudah melupakan kemungkinan Robbie Ambrose memperkosa dan membunuh wanita….

VALERIE SPARROWHAWK yang sedang cemas, berlutut di samping kursi ayahnya. "Ayah, kurasa kau sudah cukup banyak minum. Dan ini sudah larut malam. Mengapa kau tidak tidur saja?"

Sparrowhawk menuding pada anaknya, "Hei, nona muda, akulah yang orang tua di sini." Sparrowhawk memandang ke langit langit. "Kuda pucat. Maut. Dimulai dulu itu di Saigon keparat. Dorian, Robbie, Molise, diriku sendiri. Juga Decker. Tuan Decker dan kekasihnya, kau mau lebih tepat."

"Decker itu adalah polisi yang katamu mengejar ayah dan perusahaan ayah."

"Ah, tetapi ia masih harus menangkap kami," Sparrowhawk tampak sedih. "Seorang lain yang menangkap kami. Robbie, Robbie, Robbie. Ya dewa, apakah yang harus kuperbuat denganmu? Ya, apaT Apa?"

Valerie memalingkan muka. "Robbie."

Sparrowhawk berpaling pada anaknya. "Kau tidak pernah mengatakan padaku mengapa kau tidak menyukainya."

Valerie berdiri. Tidak menjawab ayahnya. Telefon berdering. "Ah> ibumu yang akan menerima itu. Aku tidak bisa bergerak. Kau cemas mengenai ayahmu yang tua ini, eh?"

Valerie membungkuk, mencium rambut ayahnya yang putih perak. "Kau adalah ayah terbaik yang dapat dipunyai seorang gadis."

Unity Sparrowhawk muncul di pintu. "Dari Washington. Tuan Ruttencutter."

"Katakan padanya aku akan segera datang."

"Baiklah sayang.'"

Tanpa kritik. Tanpa pertanyaan. Sparrowhawk meniupkan sebuah ciuman ke arah isterinya.Valerie berkata,"Kita ketemu lagi pada waktu makan malam. Jangan minum lagi, ya?'

Setelah Valerie pergi, Sparrowhawk berhasil turun dari sofa itu dan berdiri, menyeberangi ruangan itu ke mejanya.

"Oke, manisku," Sparrowhawk berkata pada isterinya, "Sudah kuangkat." Kemudian ke dalam corong telefon itu, "Hello, hello. Tuan Ruttencutter, eh?"

"Kedengarannya kau mabok. Aku menelefonmu tentang tiga orang mati itu. Paul Molise, Dorian Raymond dan Michelle Asama."

"Jangan omong kosong. Namanya bukan Michelle Asama, dan kau mengetahui betul hal itu."

"Aku menelefonmu karena aku telah bertanya tanya pada diri sendiri mengenai peristiwa peristiwa pada akhir akhir ini."

"Ya dewa, mulai berbicara pada diri sendiri, eh? Sebentar lagi kau akan mendengar suara suara kecil di telingamu."

"Hmmm. Dorian Raymond, Paul Molise, dan kini anak perempuan George Chihara. Apakah maknanya itu?"

"Kalau yang kaumaksudkan adalah peristiwa peristiwa enam tahun yang lalu, yang terjadi pada suatu malam lembab di negeri keparat itu, aku sudah melihat hubungannya. Siapakah yang berbisik bisik di telingamu?"

"Perusahaan pengacaraku mewakili sejumlah perusahaan raksasa Jepang yang berusaha di negeri ini. Aku mempunyai hubungan dengan Tokyo. Aku ingin mengetahui hingga berapa jauh persoalan ini akan berlanjut."

Sparrowhawk tertawa gelak. "Kalau kau khawatir akan dirimu, maka lupakan saja itu. Tidak akan berlanjut lagi. Anak perempuan Chihara itu yang terakhir dan ia sudah mati. Agaknya ia satu satunya anggota dari keluarga itu yang terlewatkan pada malam jahanam itu. Setelah ia tidak di antara orang hidup, kukira kau boleh bernafas lega."

Ruttencutter memane/menarik nafas lega.

"Ya, sudah cukup membikin gila: melakukan bisnis dalam kota gila kekuasaan ini tanpa merasa resah kalau kalau ada orang berkeliaran di belakang dirimu."

"Hmmm."

Sparrowhawk kesal sekali dengan lawan bicaranya itu. "Kudengar isteriku memanggilku untuk makan malam. Terima kasih atas perhatianmu."

"Hei, kau mempunyai nomor telefonku. Kalau kau mendengar sesuatu, kau hubungi diriku, eh?"

"Tentu, tentu. Ciao." Sparrowhawk tersenyum. Dan mendengar gelas pecah di dapur, kaca jendela; di luar ada anjing anjing jaganya menyalak, galak, menandakan adanya orang yang masuk.

Sparrowhawk seketika bangkit berdiri, menyambar sebuah Magnum dari laci mejanya. Tenang. Waspada.

"Daddy, apakah itu tadi?"

Sparrowhawk sudah berlari menuju ke dapur. "Entah. Di manakah kau?"

"Kamar makan, menata meja. Ibu?"

Sparrowhawk lebih dulu sampai di dapur. Dan ia melihat sesuatu yang membuat dirinya roboh menubruk bingkai pintu, pistolnya terkulai tanpa guna pada sisi badannya. "Ya dewa, tidak!"

Unity Sparrowhawk tergeletak berlumuran darah di atas lantai dapur itu, matanya memandang buta ke langit langit. Sebuah panah, dengan hiasan bulu biru dan putih, telah masuk dari sisi satu lehernya dan keluar pada sisi lainnya.

Valerie menyerbu masuk melewati ayahnya, memandang, dan kemudian dengan terisak isak melemparkan dirinya ke atas lantai di samping ibunya. "Ibu? Ibu? Oh, Tuhan, jawablah, ibu!" Valerie mengangkat kepala memandang pada ayahnya.

"Kita harus membawa ibu ke rumah sakit. Bantulah aku. Kita harus berbuat sesuatu."

Terlengar, Sparrowhawk menggelengkan kepala. "Sudah terlambat."

Pelan pelan ia menyeret anaknya berdiri. "Ibumu sudah tiada lagi. Ibumu sudah tiada."

Valerie yang nyaris dalam histeri, menjerit, "Ayah keliru. Kita harus membawanya "

Dan hanya sampai di situ, Valerie melemparkan dirinya ke dalam pelukan ayahnya. Sparrowhawk menekankan kepala anaknya pada bahunya. Airmatanya sendiri terasa panas di-atas wajahnya dan ia merasakan sesuatu yang dingin penuh kekosongan menembus ke dalam hatinya. Ia mengetahui, tetapi tidak dapat — tidak mau — percaya.

Sparrowhawk mengangkat kepala dan berteriak, "Unity!" dan bergayut erat erat pada anaknya. Dengan suara yang hampir tidak terdengar oleh Valerie, Sparrowhawk berbisik, "Mengapa, Robbie, mengapa?"

"AKU IKUT BERDUKA CITA MENDENGAR TENTANG IBU ANDA, NONA SPARROWHAWK," Decker berkata.

"Valerie." Gadis itu berkata.

Saat itu menjelang natal, dan Decker sudah siap meninggalkan markas distrik itu. Yaitu sebelum Valerie Sparrowhawk, yang dua kali telah berbicara dengan Decker lewat telefon, menelefon kembali dan meminta bertemu. Ibu Valerie terbunuh sepuluh hari berselang oleh sebatang panah berujung baja. Pihak berwajib menduga seorang pemburu rusa telah melepaskan panah itu dan panah itu telah melenceng. Hingga saat itu belum ada penangkapan, belum ada orang yang dicurigai sebagai pelaku itu.

Valerie berkata, "Terima kasih atas kesediaan anda menemui diriku secara mendadak begini."

"Aku senang dapat melayani anda," Gadis itu cantik. Dan tampak jelas berada dalam tekanan ketegangan.

"Ayahku tidak mau berbicara tentang itu,"Valerie berkata, "Ayahku mencurigai Robbie Ambrose;telah menyebut nama orang itu segera setelah ibuku meninggal. Kemudian tidak pernah lagi. Aku menyangka sekembali kami dari penguburan ibu di inggris, ayah akan mengungkapkan lebih lanjut. Tetapi " Valerie mengangkat

bahunya. "Soalnya, karena ini mengenai ibuku. Aku harus mengetahui mengapa seorang pria tega melakukan itu pada ibuku.

Seseorang harus mengatakannya padaku. Aku menaroh harapan bahwa anda "

Decker berkata, "Maksudmu karena kami semua berada di Saigon pada waktu bersamaan?"

"Ayahku sekali atau dua menyebut namamu.

Katanya, kau sedang menyelidiki perusahaannya."

"Sedianya. Aku sekarang dilepas dari tugas itu. Mengenai Robbie, yang dapat kukatakan mungkin sudah kau ketahui. Robbie tidak menyukai wanita."

"Itu sudah kuketahui sejak lama, sekalipun ia mencoba menyembunyikan hal itu. Kalau Robbie yang membunuh ibuku, maka itu dilakukannya dengan sengaja."

Decker mengangguk. "Yeah. Itu cara Robbie membalas dendam pada ayahmu. Kurasa ada hubungan dengan kenyataan bahwa Robbie telah menjadi seorang informan federal.

Namun, ia kini dilindungi, dan tidak ada orang yang dapat menyentuhnya. Ia akan muncul dalam suatu turnamen karate bulan depan di Paris, dan sesudah itu "

Valerie berkata, "Coba katakan, setelah Robbie menjadi informan federal, itu berarti ia akan dibebaskan dari tanggung jawab atas

pembunuhan itu?"

"Aku akan berterus terang padamu. Kalau pembesar pembesar federal sangat memerlukannya, ia bisa dibebaskan dari apa pun."

"Dan itu tidak menggugah dirimu, adanya seorang seperti Robbie berkeliaran bebas? Tidakkah kau semestinya mengurus orang orang seperti Robbie itu?"

"Ya. Dan percayalah, aku telah berusaha."

"Dan kau telah menyerah kalah. Oh, maafkan aku, tidak layak aku berkata begitu."

"Tidak apa apa, kau berhak sepenuhnya berkata begitu. Teristimewa sekarang. Tetapi, aku belum menyerah kalah."

Valerie menghela nafas. "Pada saat itu aku tidak perduli siapa pun yang mengurus hal ini, selama masih ada orang yang melakukannya. "

Decker berdiri dan mengambil jasnya dari kursi. "Apa pun dapat terjadi. Hei, ini malam menjelang natal dan tidak ada orang menemani diriku merayakannya. Bolehkah aku mengundang dirimu minum bersamaku?"

Valerie memandang pada Decker, melihat kesedihan di mata pria itu. "Ya, bukan saat baik bagi seseorang untuk bersendirian, eh?" Valerie berdiri. "Oke, segelas. Barangkali dua. Aku pun memerlukannya."

SUDAH PUKUL SETENGAH SEBELAS malam menjelang natal itu. Siapa lagi yang datang berkunjung ke dojo itu?

Setelah menarik nafas dalam dalam Decker, dalam gi-nya, menyeberangi lantai itu dan berhenti di pintu. "Ya?" "LeClair."

LeClair sendirian. "Aku tidak akan lama. Ada sopir menungguku di bawah dan ia juga ingin segera pulang.Bolehkah aku masuk? Belum pernah datang ke sebuah dojo."

LeClair melangkah masuk dan lewat bahu Decker melihat kedua orang Jepang yang berdiri di tengah ruangan itu, tanpa senyum di wajah masing masing.

"Ah....Mereka kelihatan seperti berita buruk. Mereka hebat?"

Decker melihat ke arah dua orang Jepang itu. "Boleh dikatakan begitu." Kedua orang jepang itu adalah orang orang Shina, khusus diterbangkan dari jepang untuk melatih Decker dua kali dalam sehari, setiap hari selama tiga minggu.

Decker berkata, "Mereka tidak lama lagi harus kembali ke jepang. Masih banyak tugas pekerjaannya."

"Oh, pekerjaan apa?"

"Melatih orang."

"Misalnya?"

"Oh, orang orang seperti pengawal pengawal keluarga kaiser jepang, pengawal pengawal pengusaha pengusaha top jepang. Mereka juga bekerja dengan intelijens militer Jepang."

LeClair merogo ke dalam saku mantelnya, mengeluarkan seberkas kertas. "Yah.... Robbie Ambrose akan ke Paris bulan depan, mengikuti turnamen suibin itu. Peristiwa besar, eh? Namun, tentu saja kami harus mengambil langkah langkah pengamanan. Dan.

ya dewa, apakah yang kami dapatkan ketika memeriksa daftar peserta turnamen itu? Nama seorang peserta: Manfred Decker." LeClair memasukkan kembali berkas kertas itu ke dalam saku. "Kau sedang melakukan suatu permainan terhadapku, tuan Manfred, dan aku ingin mengetahui apa permainanmu itu. "

Decker menggelengkan kepala. "Ya dan tidak."

"Maksudmu, kau dan kedua temanmu itu bermaksud menghantam orangku itu?"

"Itu suatu ide. Tetapi tidak, yang kumaksudkan adalah mulai satu Januari aku bukan polisi lagi. Sudah kuajukan permintaan berhenti."

"Ah, jadi kau akan ikut dalam turnamen itu. Dan kedua orang itu membantumu dalam latihan mempersiapkan dirimu."

Decker menggaruk kepala. "Yah, tanpa membanggakan diri, aku sudah dalam kondisi bagus. Cuma memerlukan penggosokan saja,"

LeClair berdiri dari bangku. "Menjadi tua, tuan Manfred. Menjadi tua. Bagaimana pun, tiga pukulan dan habislah 'kondisi'mu."

"Maksudmu, dua kali Robbie telah mengalahkan diriku dan kau pikir itu akan dilakukannya lagi. Mengalahkan diriku."

"Ada sesuatu yang mengatakan bahwa kau mengira Robbie ada sangkut paut dengan kematian pacarmu di Paris beberapa minggu yang lalu itu."

"Kau dan aku sama sama mengetahui bahwa memang demikianlah halnya."

LeClair berkata, "Semestinya kau mengetahui bagaimana segala sesuatu itu berlangsung.Informan, menyiapkan perkara, dan keberengsekan lainnya. Kau sendiri seorang yang mengetahui urusan dalam itu. Kau mestinya mengerti."

Decker berkata, "Kalau kau berjumpa dengan Robbie, tolong sampaikan sebuah pesanku padanya. Katakan padanya sutemi. Cuma satu kata itu. Sutemi."

"Sutemi. Apakah artinya itu?"

Decker merentangkan diri. "Kalau kau berlama lama, sopirmu' akan habis kesabarannya."

LeClair berkata, "Telah kulihat Robbie berlatih. Dengan Seth Robinson, yang pernah menangani tiga juara tinju kelas berat. Harus kukatakan padamu, tuan Manfred. Kau tidak ada kemungkinan mengalahkan Ambrose."

"Kalau begitu, maka tidak ada yang perlu kaucemaskan, bukan? Informanmu mengenai MSC dalam keadaan aman, eh? Nah, selamat natal."

"Aku cuma mau mengatakan bahwa aku memerlukannya."

"Kau menghendakinya. Ada bedanya. Tetapi, sudahlah. Sutemi. Ia akan mengerti."

SETELAH berada di dalam mobilnya, LeClair memakai telefon mobil membangunkan Robbie, yang berada di sebuah rumah pengamanan di Village. Robbie tertawa. "Woah, itukah yang ia katakan?" "Ya."

"Bukan main. Katakan padanya, itu hebat. Aku mengerti., Katakan padanya bahwa aku benar benar berharap kami akan bertemu, final, penyisihan, apa saja. Sutemi, huh?" Robbie tertawa lagi.

Sesudah natal, LeClair menyuruh seorang sekretaresnya mencari arti kata itu.

Sutemi berarti hingga mati.

Minggu Kedua bulan Januari

DI SEBUAH HOTEL di belakang katedral Notre Dame yang menghadap pada sungai Seine, Decker sedang menjahit. Jas putih gi karate ada di pangkuan, jas gi kedua digantung pada besi melintang ranjangnya. Decker mengulurkan tangan mengambil sebuah envelop biru di atas ranjang itu, mengeluarkan sejumlah butir beras dan sepotong kain abu abu berukuran dua inci persegi dari envelop itu. Butir butir beras itu diletakkannya di sebelah dalam gi itu, di dekat bagian jantung, kemudian ditutupi dengan kain abu abu' itu, dan dijahitnya kain itu pada gi itu.

Kain abu abu itu dipotong dari kimono yang dipakai Michi pada malam ia dibunuh. Beras itu adalah semmai, beras yang dicuci khusus untuk sajian pada para dewa dalam upacara penguburan Shinto, ketika Decker bersumpah akan membunuh Robbie Ambrose, bahkan kalau itu berarti ia sendiri mati da lam usaha itu. Akil sudah mati, Michi telah berkata. Sejak kematian Michi, kebenaran kata kata itu berlaku pula bagi Decker.

Decker berpikir tentang Robbie Ambrose. memerlukannya."

"Kau menghendakinya. Ada bedanya. Tetapi, sudahlah. Sutemi. Ia akan mengerti."

SETELAH berada di dalam mobilnya, LeClair memakai telefon mobil membangunkan Robbie, yang berada di sebuah rumah pengamanan di Village. Robbie tertawa. "Woah, itukah yang ia katakan?" "Ya."

"Bukan main. Katakan padanya, itu hebat. Aku mengerti., Katakan padanya bahwa aku benar benar berharap kami akan bertemu, final, penyisihan, apa saja. Sutemi, huh?" Robbie tertawa lagi.

Sesudah natal, LeClair menyuruh seorang sekretaresnya mencari arti kata itu.

Sutemi berarti hingga mati.

Minggu Kedua bulan Januari

DI SEBUAH HOTEL di belakang katedral Notre Dame yang menghadap pada sungai Seine, Decker sedang menjahit. Jas putih gi karate ada di pangkuan, jas gi kedua digantung pada besi melintang ranjangnya. Decker mengulurkan tangan mengambil sebuah envelop biru di atas ranjang itu, mengeluarkan sejumlah butir beras dan sepotong kain abu abu berukuran dua inci persegi dari envelop itu. Butir butir beras itu diletakkannya di sebelah dalam gi itu, di dekat bagian jantung, kemudian ditutupi dengan kain abu abu1 itu, dan dijahitnya kain itu pada gi itu.

Kain abu abu itu dipotong dari kimono yang dipakai Michi pada malam ia dibunuh. Beras itu adalah semmai, beras yang dicuci khusus untuk sajian pada para dewa dalam upacara penguburan Shinto, ketika Decker bersumpah akan membunuh Robbie Ambrose, bahkan kalau itu berarti ia sendiri mati da lam usaha itu. Aku sudah mati, Michi telah berkata. Sejak kematian Michi, kebenaran kata kata itu berlaku pula bagi Decker.

Decker berpikir tentang Robbie Ambrose.

Sejam yang lalu, mereka berdua telah berhadap hadapan muka. Hanya sebentar.

Decker berlari lari pagi, dan di dekat Place du Carrousel, Decker telah membelok minggir, memberi jalan kepada tiga pelari pagi yang datang dari arah berlawanan. Yang seorang berlari di depan, merapatkan jarak antara dirinya dan Decker. Robbie Ambrose.

Pengawal keamanan Robbie Ambrose yang seorang membuat corong dengan kedua tangan, dan berteriak, "Kudengar pesanmu." Robbie berlari terus. Decker melambatkan ayunan kaki, berpaling dan melihat Robbie yang telah lewat itu. Kedua agen gugus tugas yang dikenali oleh Decker itu juga melambatkan lari mereka, memandang pada Decker. Tidak seorang pun berbicara. Dan kemudian, kabut pagi yang tebal itu menelan Robbie yang terus berlari itu.

Sekembalinya di hotel, Decker melihat lihat foto foto yang telah diambil dari dirinya bersama Michi. Bergandengan tangan di Brooklyn Gardens. Pandangan Decker beralih pada sebuah boneka kecil sekali di atas meja di samping ranjangnya. Boneka itu milik Shigeji Shina, orang kedua dalam intelijens militer jepang. Boneka itu telah dijahitkan pada jubah pemakaman yang akan dipakai oleh Shina pada penerbangan kamikaze.

Permintaan Decker akan hachimaki Michi telah meyakinkan Shina pada tekad Decker untuk melakukan pembalasan dendam atas kematian Michi. Sepatah kata pun tidak diucapkan mengenai niat Decker akan membunuh Robbie Ambrose. Maka, Decker terbang kembali dari jepang ke amerika disertai dua instructor seni bela diri yang paling top dari orang orang Shina.

Kedua instruktor itu tidak mengenal ampun dalam melatih dan meningkatkan kemahiran kemahiran Decker.

Setelah latihan terakhir berakhir, kedua instruktor itu langsung berganti pakaian di dojo itu dan bersiap berangkat ke lapangan terbang untuk pulang ke jepang. Yang lebih tua, Daigo, menyerahkan boneka dari Shina itu kepada Decker, dan untuk pertama kalinya, Daigo itu tersenyum. Dengan sangat terharu, Decker telah membungkukkan badan, menjura. Ia telah menerima pujian tertinggi yang dapat diberikan seorang samurai.

DI KAMAR HOTEL itu, Decker memungut boneka itu dan memeriksanya dengan teliti, mengaguminya. Pikirannya haruslah dalam keadaan mushin, bebas, jernih, siap bersambut pada setiap serangan tanpa secara sadar berpikir tentang itu, tidak terikat pada sesuatu teknik apa pun. Shiki soku se ku, ku soku ze shiki. Bentuk menjadi kekosongan, kekosongan menjadi bentuk.

Telefon berdering. Decker tidak menghiraukannya.

Ia meninggalkan kamarnya, pergi makan siang.

Setelah makan dan berjalan jalan sejenak, Decker kembali ke hotel, mendatangi meja resepsi dan diberitahu bahwa yang telah menelefon dirinya itu adalah Valerie Sparrowhawk, yang memujikan kemenangan bagi

dirinya dalam pertandingan

Ada pula sebuah telegram dari Ellen Spiceland, juga memujikan kemenangan. Ellen sudah menduga duga yang direncanakan partnernya itu, tetapi tidak berbicara mengenai itu dengan Decker. Ellen cuma

memeluknya dan menangis dan berkata, "Lakukanlah yang harus kaulakukan. Hanya....hanya "

Dan Ellen tidak berkata kata lagi.

AGEN LECLAIR yang ditugaskan mengawal Robbie itu berkata dengan nada memprotes, "Kami cuma melakukan tugas. Kau telah lari meninggalkan kami ketika kami berhenti mengawasi Decker, dan selama sejam kami tidak melihatmu."

"Aku telah pergi makan. Aku bermaksud menunggu, tetapi kalian tidak muncul muncul. Padahal aku sudah lapar sekali. Ayo, kita sekarang turun minum minum dulu, oke?"

Di dalam lift yang membawa mereka ke bawah, Robbie menyentuh pentol emas pada daun telinga dan melayangkan pikiran pada wanita pelacur yang beberapa saat yang lalu telah dibunuhnya. Berambut pirang, muda, mengemudikan mobilnya sendiri. Mayat wanita itu masih berada di dalam mobilnya itu, diparkir di Bois de Boulogne. Ya... wanita itu kini bukan milik calonya lagi. Wanita itu kini milik Hachiman Dai-Bosatsu, Bodhisatva agung, dewa peperangan.

DI MALAM DINGIN ITU, Decker berdiri di seberang hotel Richelieu, dan selama hampir sejam lamanya berdiri memandang ke arah hotel itu. Dalam pikiran didengarnya bunyi lembut alat musik koto itu.

Tokyo. Tempat suci Yasukuni.

"Bahkan jika kita mati terpisah, kita akan bertemu lagi dan mekar di taman ini, yang adalah suatu tempat berlindung bagi semua bunga ."

"Kita akan bertemu di sini sesudah mati, Michi. Aku berjanji."

Pada pukul tujuh, Decker kembali ke hotel. Ia berbaring di atas tempat tidurnya.

Dan menangis hingga tidur membawa kegelapan yang menyudahi rasa pedih itu

8:05 esok harinya

Hari Pertama Turnamen Suibin

PENYISIHAN PENYISIHAN PENDAHULUAN akan dimulai tepat pukul 8:30 tepat. Esok hari sekurang kurangnya separoh jumlah atlet sudah akan disisihkan. Semi final dan final akan dilangsungkan pada hari jumaat, hari terakhir.

Suara seorang wanita terdengar lewat pengeras suara."Perhatian, perhatian. Diharap memperhatikan panggilan nama anda. Nama nama berikut ini diharap melapor ke lapangan satu. Lapangan Satu." Pengumuman ictJ diulangi dalam jepang, perancis, Jerman, sepanyol. Decker memejamkan mata. Ini bagian paling buruk. Menunggu. Pada pukul 8:45, ketika nama Decker dipanggil, pertandingan pertandingan sudah dimulai di dua lapangan. Sejumlah orang dirawat oleh dokter dokter. Tiga orang telah i digotong keluar lapangan. Decker ditunjuk ke lapangan tiga.

Decker menarik nafas dalam dalam. Ketika mendengar namanya dipanggil, dikenakannya hachimaki Michi pada kepalanya, dan dengan alat penguat dan balut balut lutut di ta ngannya, ia menuruni tangga ke lantai pertandingan yang dari kayu itu.

Lewat pengeras suara terdengar suara seorang pria mengumumkan, "Dan nama nama yang akan kami sebutkan ini dipersilahkan menuju ke lapangan empat. Ambrose. Robbie Ambrose."

Decker berjalan terus, tanpa berhenti.

Januari, Jumaat Kedua Turnamen Suibin, Hari Terakhir

SPARROWHAWK dalam keadaan mabok.

Bersama Valerie di sampingnya, Sparrowhawk duduk di barisan paling atas dari bangku bangku Arene des Sports yang penuh sesak itu.

Robbie, anakku. Pembunuh isteriku. Kawan seperjuangan yang menyelamatkan jiwaku di Vietnam; yang berubah menjadi informan polisi, untuk menghindari penjara karena telah membunuh entah berapa banyak wanita; yang kupercayai dengan jiwaku; yang hampir kukhianati; dan yang mengetahui tentang ancaman pengkhianatan itu dan membalas dendam dirinya dengan membunuh bagian terpenting diriku.

Ketika menjadi jelas, bahwa Robbie dan Decker akan mencapai hari final, Sparrowhawk menelefon orangnya di perancis agar disediakan tiket.

"Dua lembar tiket," Valerie berkata. "Ia adalah ibuku."

"Apakah maksudmu dengan berkata begitu?"

"Partner Manny, Ellen Spiceland, mengatakan bahwa Manny mempunyai alasan alasannya untuk berhadapan dengan Robbie dalam turnamen itu. Kurasa kau mengetahui apakah alasan alasannya itu. Aku minta ayah mengatakannya padaku."

Dalam penerbangan dari New York ke Paris, Sparrowhawk menjelaskan semuanya, dengan menutup keterlibatannya sendiri dalam pembunuhan Michi.

Valerie berkata, "Dan kepala gugus tugas itu mengetahui hal hal itu?"

"Ya. Tetapi Robbie tidak akan diseret ke penqadilan atas pembunuhan pembunuhan itu. Robbie terlalu berharga . LeClair memerlukan Robbie untuk menjatuhkan MSC dan senator Terry Dent. Dan diriku, tentu saja."

Hampir saja Spoarrowhawk mengatakan yang sebenarnya kepada anaknya. Melihat airmuka anaknya itu. Tetapi ia diam ketika Valerie berkata, "Satu satunya orang yang dapat membereskan Robbie, benar benar membereskannya, adalah Manny Decker. Kalau tidak, maka kematian ibu "

Valerie memalingkan muka, tangan yang dikepalkan pada bibirnya.

DI ARENE DES SPORTS penonton bersorak sorak. Valerie menunjuk ke arah kiri. Sparrowhawk mengangguk. Dari kamar ganti pakaian, tampak empat orang karateka keluar dan menuju ke pentas di tengah arena itu.

Decker dan Robbie adalah dua dari para semi finalis. Decker berhadapan dengan seorang karateka Jerman, sedangkan Robbie berhadapan dengan seorang yang dipandang favorit juara dalam turnamen , seorang karateka jepang dengan kecepatan luar biasa.

Valerie menyelipkan tangannya ke dalam genggaman tangan ayahnya. Sparrowhawk cuma melihat Unity. Dan bertanya di dalam hati, apakah orang yang benar yang akan menang.

LECLAIR bersama tiga anggota gugus tugas itu, duduk di atas lantai arena. Ia memperhatikan karateka Jerman yang jangkung itu mengendapi Decker. Pertandingan empat menit, tiga point. Keadaan dua-dua. Karateka Jerman itu hebat. Namun Decker lebih menimbulkan kekaguman LeClair. Decker tampak jelas sudah cidera. Pincang. Pergelangan kaki kanan dalam balutan, demikian pula kedua pergelangan tangannya. Tampak ada darah di atas gi Decker, dan LeClair mengetahui tentang lutut Decker yang cacat itu. Namun begitu, Decker berkelahi dengan tenang dan pandai. Senjata senjata utama Decker adalah sapuan kaki dan kecepatan kedua tangannya. Tuan Manfred memang hebat, tidak dapat disangsikan lagi. Bahkan, mungkin terlalu hebat.

Ide, bahwa Decker akan mencapai final dan akan menciderai Robbie lebih dari sekedar mencemaskan LeClair. Dan lebih mencemaskan lagi adalah pengetahuan bahwa Decker bermaksud membunuh Robbie. Sutemi. Bagi LeClair itu tidak boleh terjadi, selagi ia sudah begitu dekat dengan tujuannya: menggulung MSC.

LeClair telah berniat berbicara dengan tuan Manfred, bahkan.... kalau perlu menahan Decker hingga berakhirnya turnamen itu.

Tetapi tuan Manfred telah menghilang dari hotelnya. Agaknya, Decker sudah menduga akan adanya suatu tindakan atau usaha LeClair. Kini sudah terlambat untuk mencegah terjadinya malapetaka.

LeClair menoleh. Ah.... partner Decker, Ellen Spiceland, bersama suaminya, juga berada di situ.

Sorak sorai membuat LeClair mengarahkan perhatian pada arena pertandingan. Sialan, ia tidak melihat terjadinya itu. Karateka jerman itu sudah tergeletak di atas lantai, dengan tinju Decker cuma seinci dari keningnya.

Ippon. Point ketiga. Decker pemenangnya.

Sialan! LeClair menggelengkan kepala. Ia melihat Decker dengan terpincang pincang meninggalkan tengah arena itu, mengusap darah dari mulut dengan tangannya. Sekarang tergantung padamu sendiri, Robbie. Sutemi. Kalau memang itu yang harus terjadi, maka terjadilah. Asal kau pastikan bahwa orang yang tepat yang berakhir dengan label diikatkan pada jari kakinya.

BERAPA KALI IA TELAH BERTANDING? Decker sudah tidak ingat lagi dengan presis. Sepuluh, barangkali selosin. Ia cuma mengetahui bahwa setiap pertandingan telah menjadi semakin berat, penuh tantangan. Namun, ia mempunyai sebuah rahasia. Ia sudah mati. Ia telah menerima jalan samurai dan siap mati di dalam arena pertandingan itu. Telah diserahkannya tubuh, pikiran; yang dapat dilakukannya dengan jiwanya hanyalah mendatangkan keadilan bagi roh Michi. Ketenangan pada roh Michi.

Dalam keadaan itu, dengan pikiran dibersihkan dari segala ketakutan, ia memperhatikan perkelahian Robbie melawan karateka Jepang itu. Kau harus menang, Robbie. Harus.

Pertandingan empat menit. Tiga point.

"Reil" Saling memberi hormat.

"Hajime!" Mulai.

Dalam waktu kurang dari satu menit, karateka Jepang yang gerakan gerakannya secepat kilat itu telah memperoleh dua angka. Penonton bersorak sorak. Decker tidak. "Ayo, ayo!" gumamnya. "Ayo, menangkan pertandingan itu, haram jadah!" Decker mengerahkan seluruh kehendaknya agar Robbie mendengarnya, bereaksi, berkelahi.

"Ayo, berlawan dan seranglah!" Decker berbisik. "Ayo, balas!"

Dan kemudian, hampir hampir bagaikan suatu mujijat, Robbie bereaksi. Senjata Robbie yang paling hebat adalah tendangan balik sambil berputar, dan itu dipergunakannya dengan tepat. Robbie meraih satu angka penuh, dan dengan cuma beberapa detik sisa waktu ia mengenai karateka Jepang yang sedang menyerang itu dengan suatu pukulan di wajahnya, yang membuat karateka jepang itu terhuyung huyung. Tetapi pukulan itu dihitung kebetulan. Ketika ronde itu berakhir, keadaan adalah dua-dua.

Perpanjangan dua menit diumumkan. Pihak yang lebih dulu memperoleh angka yang dinyatakan sebagai pemenang. Decker menahan nafas.

Dan seakan akan Robbie telah membaca pikiran karateka Jepang itu. Sedetik setelah saling memberi hormat, orang Jepang yang selalu agresif itu melompat ke arah Robbie, yang melancarkan tendangan" baliknya dengan tepat sekali pada waktunya, mengenai orang jepang itu tepat di perutnya, menghentikannya setengah di udara. Empat bendera merah diangkat serentak. Decker, dengan semangat meledak dan merasa lega, seakan akan memimpin sorak sorai pada si pemenang.

Dari meja para ofisial di depan platform pertandingan, suatu suara berlogat perancis berkata dalam inggris, "Tuan tuan dan nyonya nyonya, jangan meninggalkan tempat duduk. Sesudah acara demonstrasi, serentetan kata dengan senjata oleh sebuah team dari Hongkong, kita akan melanjutkan pertandingan final memperebutkan kejuaraan dalam turnamen suibin ini. Pertandingan final itu merupakan pertandingan empat point, enam menit, antara tuan Manfred Decker dari amerika serikat dan tuan Robbie Ambrose, juga dari amerika serikat. Pemenang akan menerima trophy suibin."

Penonton bersorak sorak dan bertepuk tangan.

Kedua karateka yang telah kalah, yang jerman dan yang jepang, mendatangi dan mengucapkan selamat kepada Decker dan Robbie sebelum meninggalkan gelanggang.

Kedua finalis itu meninggalkan platform tetapi tetap di tempat masing masing.

Decker merenung tentang Michi, tentang maut, tentang cinta dan tentang kewajiban.

Decker dan Robbie naik ke atas platform.

Decker melonggarkan alat penguat lutut, menggerak gerakkan lututnya. Ia duduk dan melepas balut pada pergelangan kaki, mengencangkannya kembali.Juga balut balut pada kedua pergelangan tangannya, dan ketika ia memandang ke seberang platform itu, dilihatnya Robbie menatap pada dirinya.

Sutemi.

Tiada kata itu diucapkan, namun tergantung di udara di antara mereka berdua. Suatu peringatan bahwa seorang di antara mereka cuma akan hidup beberapa menit lagi.

Wasit naik ke atas platform. Di keempat sudut, para juri berunding dan mengambil tempat masing masing. Di sebelah kanan, para dokter dan juru rawat mendekatkan kursi kursi ke arah platform itu. Juru foto dan juru kamera sibuk pula mengabadikan saat saat sebelum pertandingan besar dimulai, Mengabadikan kedua calon juara

Decker menyentuh hidung dan telinga. Tidak ada darah. Ada rasa nyeri tajam pada iganya, cidera yang sudah dilupakannya. Disingkirkannya itu dari pikiran.

Wasit memberi isyarat, dan kedua karateka berdiri berhadap hadapan, dalam jarak empat kaki satu sama lain. Mereka saling pandang. Decker melihat Michi, mendengar suaranya, mendengar Michi memanggil namanya.

Rei!" Mereka saling membungkuk memberi hormat. Kata tetap beradu.

Decker menyentuh hachimaki. Aku sudah mati.

Decker menggigit pelindung mulut. Robbie berbuat sama. Sutemi. "Hajime!"

Robbie menyerang lebih dulu. Bergeser maju, tiba tiba digerakkannya tangan dalam sebuah jab kiri, disusul pukulan silang kanan. Kedua duanya tidak mengenai. Memang itu maksudnya. Tendangan balik sambil berputar itulah senjata Robbie. Keras dan cepat. Mengenai iga iga Decker yang sudah terasa sakit.

"Ippon!" Satu point. Robbie.

Dengan sekuat tenaga Decker menahan diri tidak menyentuh tempat yang terkena itu. Ia tidak boleh memperlihatkan kepada Robbie bahwa ia terluka.

Wasit menunjuk ke pada titik tempat masing masing. "Rei!" "Hajime!"

Decker menyerang rendah, menggunakan kaki kiri dalam gerak sapuan, kemudian berputar dan mengarahkan pukulan tinju balik ke kepala Robbie. Robbie melangkah mundur, merunduk dan membalas dengan tinju kanan ke arah hati Decker. Decker berkelit, kemudian melancarkan tendangan samping ke perut Robbie.Robbie bergerak menghindar. Namun, sebelum Decker dapat melanjutkan tendangan itu, Robbie mengganjal pergelangan kaki Decker yang cidera itu.

Dengan terpincang pincang Decker bergerak mundur dan Robbie memutarinya, berhenti, berganti haluan, berhenti lagi. Menunggu. Tiba tiba Robbie melompat ke arah Decker dan melancarkan tendang menyamping, -ke arah iga cidera itu. Rasa nyeri dirasakan Decker seperti membelah tubuhnya.

"Ippon!" Point kedua. Robbie.

Dan pada saat itulah Decker melihat yang dilakukan Robbie. Dalam suatu pertandingan empat point, Robbie lebih dulu harus menunjukkan keunggulan. Akan direbutnya tiga Point. Point keempat adalah kematian Decker.

Aku sudah mati.

Tanpa akan kehilangan apa apa, Decker berjudi. Tangan kanan menyerang muka Robbie sebagai pengalih perhatian, menyapukan kaki kanan ke arah pergelangan kaki kiri. Secepat kilat, Robbie mengangkat tinggi tinggi kaki kirinya. Tetapi ia bukannya mundur, diturunkannya kaki kiri itu dan dengan kaki kanan menendang dua kali ke arah sisi tubuh Decker, landasan kaki kanan itu menghantam lengan bawah Decker yang sebelah kiri. Tendangan tendangan itu melemparkan Decker ke atas lantai.

Penonton bersorak sorai dan berdiri dari tempat duduk.

Lengan kiri Decker seperti terbakar. Ia menyadari bahwa lengan kirinya itu sudah tidak bisa digunakannya lagi. Dengan menggendong lengan kiri itu dengan tangan kanan, ia mencoba berdiri, tetapi roboh kembali.

"Tidak ada Point!" Wasit berseru dan mengisyaratkan habis waktu.

Dengan tenang, Robbie berjalan kembali ke tempatnya, sikapnya seperti orang yang merasa jemu. Ia sudah mengetahui bagaimana

pertandingan itu akan berakhir. Akan berakhir seperti yang di masa lalu. Dengan satu perbedaan. Decker tidak hanya akan dikalahkannya. Decker akan mampus.

Kepala pusing karena kesakitan, Decker memerlukan bantuan wasit untuk berdiri dan pergi ke tempatnya.

Disaksikan oleh ribuan pasang mata, seorang dokter perancis memeriksa lengan kiri Decker, kemudian dokter itu berkata, "Lengan anda patah, monsieur. Kurasa anda tidak dapat melanjutkan pertandingan ini."

Decker menggelengkan kepala.

Selagi dokter dan kedua jururawat berunding dalam bahasa perancis, wasit dan beberapa ofisial jepang mendatangi Decker. Decker bangkit berdiri. Lututnya semakin buruk. "Ikatkan lenganku pada perutku," Decker berkata.

"Aku tidak bisa memperkenankan itu," kata dokter itu. "Ini bukan suatu pertandingan lagi, monsieur. Dengan hanya lengan sebelah, anda pasti akan celaka, bahkan mungkin luka fatal, mati. Tidak, aku tidak bisa memperkenankan anda bertanding terus."

Ushiro Kanai melangkah maju dari rombongan ofisial itu. Decker dan Kanai saling pandang, kemudian Kanai berkata, "Bagaimana pun ini adalah suatu pertandingan kejuaraan. Tujuannya adalah mengingatkan dunia pada semangat samurai. Semangat samurai tidak menerima kekalahan. Jika tuan Decker merasa ia dapat melanjutkan pertandingan, kami harus menghormati keinginannya."

Giri. Kanai melunasi kewajibannya pada Decker.

"Fou," dokter itu berkata. iSinting.

Lengan yang patah itu dimasukkan ke bawah gi Decker dan diikatkan pada perutnya, di pergelangan tangan dan lengan bawahnya. Decker menolak pengobatan. Obat obat hanya akan meredupkan reaksi reaksinya.

Ketika Decker naik kembali ke atas platform, pincang dan berlengan satu dalam gi yang kepercikan darah, seluruh ruangan arena itu bangkit berdiri dan bertepuk tangan. Sparrowhawk berdiri. LeClair yang khidmat, berdiri.

Wasit mendekati Robbie, memperingatkan terhadap permainan kasar. Robbie membungkukkan badan. Kemudian berjalan mendekati Decker, mengulurkan tangannya. Decker menerima uluran tangan itu tanpa berbicara. Seluruh penonton bersorak sorak.

"Tuan tuan dan nyonya nyonya, silahkan duduk kembali. Perkenankan kami melanjutkan pertandingan ini. Hanya tinggal satu menit. Hanya enampuluh detik. Tuan Ambrose memimpin dengan tiga angka lawan nol."

Satu menit. Enam puluh detik untuk membunuh Robbie. Atau akan kehilangan untuk selama lamanya peluang itu. Decker berseru pada kami-nya, pada Michi. Bantulah aku.

Bantulah aku

"Rei!"

"Hajime!"

Robbie menyerang, kemudian berhenti. Sesuatu di wajah Decker itu mengganggunya. Dan pada saat itulah Hachiman berkata pada Robbie.Kau tidak bisa membunuh seseorang yang sudah mati. Tidak ada apa pun yang dapat menghancurkan seseorang yang sudah menerima cara samurai. Ia juga dilindungi oleh dewa yang paling perkasa, dewa yang lebih kuat dari aku, dewa yang dulu adalah Michi, wanita itu. Dewa cinta, dewa yang bahkan peperangan dan kematian tidak dapat menundukkannya, mengalahkannya.

Robbie merasa takut. Hachiman selamanya menjadi dewa terkuat. Tidak mengenal kekalahan. Tidak ada dewa lain kecuali Hachiman. Namun, selagi kata kata itu terkilas dalam pikiran Robbie, ia merasa dewa perang itu menjauhi dirinya. Menjauhi dirinya.

Cepat cepat membunuh Decker. Ya, itulah yang harus dilakukannya. Bunuh Decker sebelum Hachiman menghilang. Bunuhlah yang terakhir dari hantu hantu Saigon itu, dan menjadilah bushi segala zaman.

Dengan menggunakan kaki kanan, Robbie melakukan suatu tendangan keras lurus ke depan, kemudian menarik kaki itu dan dengan seluruh kekuatan yang ada pada dirinya mengayunkan pukulan silang kanan pada kepala Decker, dan berteriak, "Hachimannnnnnn!"

Bagi Decker, semua rasa takut telah lenyap. Ia akan bertemu lagi dengan Michi, bertemu dengan Michi di Yasakuni, di tempat suci di Tokyo itu. Hai, akan indah sekali untuk mati.

Bilamana dua ekor harimau berkelahi, seekor luka, seekor mati.

Decker menyerang. Dan tidak pernah menv a dari bahwa dirinya menyerang. Ia tidak mem hendakkan aksi itu, tidak mengambil sesuatu keputusan apa pun.

Decker merunduk di bawah pukulan kanan menyilang itu, bercondong mendekat dan dalam suatu serangan balasan, melancarkan suatu uppercut kanan ke dalam leher Robbie. Pukulan itu meremukkan lekum, meremukkan semua tulang tulang rawan. Seketika itu juga, Decker membuka tinjunya, membalikkan tangan dengan telapak ke atas dan memukul lagi, menyerang tenggorokan itu sekali lagi, dan kali itu dengan sisi ibujari telapak tangan itu.

Robbie, dengan mata melotot dan kedua tangan pada lehernya, terhuyung huyung ke belakang. Kiai yang keluar dari mulut Decker itu mendirikan bulu kuduk, dan keluar dari lubuk dirinya dan melengarkan penonton sehingga sunyi senyap seluruh ruangan raksasa itu. Dan sambil berteriak itu, Decker menyapu pada kedua kaki Robbie. Selama sedetik, Robbie, dengan wajah yang sudah sepenuhnya berubah warna, seperti tergantung di udara, tenggelam tercekik dalam darahnya sendiri, dan kemudian jatuh ke atas lantai dengan suara yang membangkitkan mual orang.

Empat bendera putih diangkat tinggi tinggi dan penonton yang bersorak sorak melompat berdiri.

Seruan seruan berirama itu mulai. "Decker. Decker." Tepuk tangan dan sorak sorai itu tidak mau berhenti.

Hanya para ofisial yang naik ke atae platform, bersama dengan dokter perancis itu, yang mungkin menduga bahwa Robbif Ambrose sudah mati.

E P I L O G

Maret

DECKER masuk ke dalam kamar mandi, membuka keranjang pakaian dan meletakkan kai-ken Michi di dasar keranjang itu.

Kai-ken itu telah dibungkusnya dalam senfelai handuk.

Decker sudah mau sikat gigi dan ke tempat tidur ketika telefon berdering. Ia berlari ke kamar duduk. "Ya?"

"Bagaimana perjalananmu?"

"Memberiku kesempatan untuk

beristirahat. Valerie yang melakukan semua pakerjaan. Ia harus melakukan riset di Smithsonian, Folger Shakespeare Library dan Library of Congress. Artinya, aku dibiarkan sfendiri, tetapi aku tidak mengeluh. Kami m lewatkan sepuluh hari yang menyenangkan bc5rsama."

"Aku senang mendengar itu," Raphael

erkata. "Kau memang memerlukan istirahat

etelah yang telah kaulalui itu. Nah, apakah

au sudah mengambil suatu keputusan?."

"Kuterima pekerjaan itu."

"Bagus. Bagus! Hei, aku sungguh sungguh perasa senang. Orang nomor dua di MSC. Wah, menggemparkan!"

Decker memandang ke arah kamar tidur. "Sparrowhawk tidak akan menyukai itu, tetapi kukira itu tidak bisa lain."

"Bukan Sparrowhawk yang memimpin gugus tugas itu," Raphael berkata. "Aku yang memimpin. Dan, o ya, LeClair tidak mempuriyai pekerjaan lagi. Perusahaan pengacara itu melepaskannya. LeClair belum mengetahuinya, tetapi ia akan mendengarnya minggu ini."

"Mengapa?" Decker tidak perduli, tetapi ia ingin tahu.

"Robbie Ambrose, apa lagi kalau bukan itu. Isteri isteri dari dua klien penting menolak menerima LeClair ke dalam rumph mereka karena caranya LeClair menangantai urusan Ambrose itu."

"Permainannya itu, maksudmu."

"Dan berbicara mengenai menghancurkan diri sendiri, keadaan Sparrowhawk kinli semakin buruk. Tidak berhenti hentinya minulii dan yang kuasa tidak menyukai itu."

"Itulah sebabnya mereka menawarkan kedudukan Nomor-Dua itu."

"Ada lagi satu hal yang tidak akan menyenangkan Sparrowhawk. Hari ini kamj mendapatkan berita itu. Temannya, Ruttencutter.":

Decker duduk dan melilit lilitkan tali telefon pada pergelangan tangannya yang masih terasa nyeri. "Mengapa dengari Ruttencutter itu?"

"Mayatnya diketemukan pagi ini. Ia sudah dinyatakan hilang selama beberapa hari.

Ternyata ia ke villanya di Maryland, dia kukira ia mempersiapkan tempat itu untuk musim semi. tidak jauh dari Washington Tetapi, yah, mereka telah menemukannya dengan lehernya digorok. Sepertinya

perampokan, tetapi tidak ada barangnya yang hilang. Tidak ada petunjuk apa pum Sparrowhawk dan Ruttencutter berada di Saigon pada waktu bersamaan di waktu lalu."

Decker berkata, "Aku tahu."

Raphael berkata, "Kau mengenal Lorjigffltn dan Davison, dua agen yang kami kn Lili mengawal Robbie itu, mereka hingga kini masih tidak habis membicarakan pertanclinqiin itu. Longman kini mengikuti latihan karut n. Kata mereka, pertandingan antara knliun berdua itu pertandingan terbaik yang pernah mereka saksikan, termasuk pertandingan tinju selama sepuluh tahun terakhir."

"Aku terkena diskualifikasi," Decker berkata. "Hampir berakibat diriku manuk penjara. Syukur ada orang orang jepang LtU yang berhasil membicarakan peristiwa LtU dengan pihak perancis."

Raphael ragu sejenak. Kemudian, "Nuh, tidak akan kita bicarakan hal itu. Beqim, aku harus berterus terang padamu. Kuini senang mempunyai orang dalam di dalam MSC, tetapi nyawamu dalam bahaya. Kau harun menyadari hal itu. Kalau Gran Sasso sampai mengetahui bahwa kau masih bekerja untuk gugus tugas itu, maka kau akan dibakarnya hidup hidup." "Aku tahu."

"Terus terang saja, aku tidak mengerti mengapa kau masih mau kembali dalam pekerjaan keparat ini. Kau sudah bebas dari itu. Setiap perusahaan keamanan akan bersedia membayar tinggi untuk mendapatkan seorang seperti dirimu. Mengapa kau mau kembali juga?"

Decker berpikir tentang Michi. Dan tentang Sparrowhawk.

"Giri," Decker berkata. "Dan jangan kau menelefon lewat nomor ini lagi. Gran Sasso pastilah memata matai diriku dengan ketat. Mulai sekarang, akulah yang akan menelefon padamu dan padamu saja. Jangan ada orang yang menelefon diriku, termasuk dirimu. Kalau aku ada sesuatu, akulah yang bertindak dulu. Cuma itu syaratku."

"Oke. 0, ya..... apakah urusan giri itu?"

Decker menghela nafas. "Kami telah melakukan perjalanan panjang dari Washington hari ini. Aku sudah lelah sekali. Dan agaknya aku kena selesma. Bulan Maret tidak pernah menjadi bulan kesayanganku. Akan kuhubungi dirimu." Decker memutus hubungan itu.

Decker kembali ke kamar mandi, menyikat gigi, kemudian berjalan ke kamar tidurnya. Setelah melepaskan semua pakaian, ia me nyelipkan tubuhnya ke bawah selimut di samping Valerie Sparrowhawk.

Hai. Akan diterimanya pekerjaan itu. Dan Valerie akan dapat dimanfaatkan melawan ayahnya. Decker akan menemukan jalan. Ia selalu bisa mencari jalan.

Decker terbaring di dalam kegelapan kamar itu, membelakangi Valerie.

Kalau ia, Manny Decker, mendengarkandengan teliti, maka ada waktu waktunya lahampir dapat memastikan telah mendengarsuara lembut alat musik koto dibawa anginbulan maret yang memukul mukul jendela kamar tidur itu ………..

TAMAT

0 Response to "G I R I 2"

Post a Comment