Download applikasi baca novel online untuk android disini: DOWNLOAD

G I R I 1

G I R I 1

SUATU LEDAKAN BALAS DENDAM MELANJUTKAN YANG

DITINGGALKAN OLEH PARA NINJA

Marc Olden

Bagi orang Jepang berarti kewajiban atau kesetiaan: keharusan paling ketat bagi pendekar pendekar samurai.

Tetapi bagi seorang amerika, istilah itu mempunyai arti lain: balas dendam!

Memadukan intrig internasional, filsafat 0riental, kekerasan yang membawa maut dan nafsu menggelora, GIRI merupakan sebuah kisah menggemparkan dari perbenturan dahsyat dunia Timur dengan dunia Barat, dan kode yang berlaku abadi dari si pemburu mela-

wan yang diburu menjalani ujian

SEORANG PEMBUNUH MASSAL menteror New York, korban korbannya menjadi sasaran suatu bentuk korbanan darah gaya Oriental yang membawa maut.

SERSAN DETEKTIF DECKER, seorang polisi yang menguasai ilmu bela diri, ditugaskan melacak pembunuh itu. Seketika terjeratlah ia dalam suatu jaringan pengkhianatan dan tipu muslihat maut yang terentang dari lorong lorong Saigon hingga pusat pasaran intan di Manhattan dan dunia hitam kotaParis.

Harapan satu satunya bagi Decker untuk bertahan hidup adalah di dalam pelukan seorang wanita Jepang yang eksotik dan cantik:

Seorang wanita yang pandai memadukan seni rangkap dari maut dan nafsu Seorang wanita dengan nafsu membara akan, GIRI yang menyeret Decker dalam pengejaran balas dendam yang setajam mata pedang samurai

GIRI

bahasa Jepang, yang berarti kewajiban, kesetiaan, tugas.

Kini benar benar aku tahu Tatkala kita mengatakan 'ingat' dan kita bersumpah begitu, adalah dalam 'akan kita lupakan' pikiran pikiran kita sungguh sungguh saling bertemu.

sebuah tangka, oleh Saigo Hoshi.

Kepemudaan adalah kebenaran dan kekuatan. Kekuatan dirangsang oleh bu (seni bela diri) dan berlimpah menjadi perbuatan perbuatan baik atau kadang kadang perbuatan perbuatan jahat. Maka, jika karate do dijalankan dengan tepat, ia akan menghaluskan watak dan seseorang akan menjunjung tinggi keadilan, sedangkan jika dipakai untuk maksud maksud jahat, ia a-kan merusak masyarakat dan akan bertentangan dengan kemanusiaan.

Gichin Funakoshi,

bapak Karate do modern

New York

SELAMA tiga jam lebih ia mengendapi wanita itu. Dua kali wanita itu telah melewati tempat persembunyiannya, dan ia sebetulnya dapat mengulurkan tangan dan menyentuh wanita itu. Latihannya, namun, telah menekankan wa-zo o hodokoso koki, saat psikologikal dalam melaksanakan sesuatu jurus. Jangan menyerang terlalu cepat atau terlalu lamban. Nantikan peluang, lalu rebutlah itu.

Jika tidak ada peluang itu, ciptakan sebuah. Berpura puralah menyerang. Alihkan perhatian. Lalu serang, cepat, menentukan.

Jangan memberi peringatan. Burung burung buas, jika menyerang, terbang rendah tanpa membentangkan sayap. Binatang yang menyerang selalu merunduk rendah, merapatkan telinga pada kepala. Seseorang yang cerdik, sebelum menyerang, harus menampilkan diri sebagai tidak berbahaya.

Di sebelah sana tembok, hanya satu kaki jauhnya dari tempat ia berada, ada seseorang meninggalkan tempat itu, membanting sebuah pintu kantor, kemudian mencoba kenop pintu, sebelum berjalan menuju lift. Beberapa detik kemudian lift itu tiba, yang berarti bahwa ia dan wanita itu kini berduaan saja di atas lantai itu. Pernafasannya kini lebih cepat dan untuk pertama kali ia bergerak. Gerak-kannya terbatas pada jari jari tangan; kedua tangan bersarung itu ada pada sisi badannya, jari jari terentang, dan dalam keadaan seperti itu selama lima hitungan, sebelum dikepalkan kembali.

Setelah mengangkat tangan kanan ke mulut dan dengan giginya membuka sarung tangan hingga telapak tangan itu telanjang, ia memasukkan butir butir amphetamine itu ke dalam mulutnya.

Dengan mengumpulkan air liurnya ia menelan. Ketika gelora itu bergolak, ia merasakan geletar kenikmatan itu dan sesudah itu datanglah panasnya pusaran dan kemudian kekuatan mutlak di dalam dirinya itu.

TELEGRAM itu menjengkelkan Sheila Eisen kare rena telegram itu memaksa dirinya mengambil sesuatu keputusan yang hendak dielakkannya. Malam itu ia harus memilih di antara kedua pria itu, yang seorang mempunyai kekuasaan memberi kepadanya segala yang diinginkannya, dan yang seorang lagi, pria yang telah mengkhianati dirinya, tetapi yang dicintainya.

Dari kantornya di Fifth Avenue yang menghadap pada Central Park dan Plaza Hotel itu, Sheila melihat ke atas jalanan yang basah karena hujan salju pertama bulan novem-ber dan jari jari tangannya bermain main dengan jam antik dari enamel perancis dan emas yang tergantung pada lehernya. Jam itu suatu pemberian dari pria yang menunggu dirinya di dalam mobil sedan yang diparkir di jalanan di bawah itu; pria yang menjadi kekasihnya, seorang produser film, pemenang Academy A-ward yang usianya duapuluh lima tahun lebih tua dari Sheila dan sudah beristeri pula. Pria itu juga pemegang saham terbesar nomer dua dari sebuah studio terkemuka di Hollywood dan telah menawarkan kedudukan sebagai staf produksi kepada Sheila, asal saja Sheila bersedia pindah ke Los Angeles.

Tetapi, di atas meja di belakang Sheila ada sepucuk telegram dari bekas suaminya.

Semalam, untuk pertama kali sejak perceraian mereka dua tahun berselang, mereka telah tidur bersama dan persetubuhan itu telah membikin lupa daratan dan memuaskan sekali, sehingga membuat Sheila terlalu lemas untuk mengingkari yang diketahuinya sejak dulu, yaitu bahwa ia tidak pernah berhenti mencintai bekas suaminya itu. Siang tadi, pria itu telah mengirim bunga mawar, dan kemudian datanglah telegram itu, yang meminta Sheila agar mau rujuk kembali. Sheila telah meninggalkan kantornya dan berjalan menyeberangi jalan ke Central Park. Di sana ia telah duduk dan menangis. Dalam diri Sheila timbul pertanyaan apakah ia tidak semestinya marah pada pria itu; pria itu yang telah meninggalkan dirinya dan kini pria itu kembali dan melakukan ini pada dirinya.

Sheila berusia tigapuluh lebih, seorang wanita dengan perawakan kecil dan berwajah manis. Pekerjaannya sebagai penyunting cerita bagi kantor cabang Pantai Timur studio kekasihnya, mengharuskan Sheila menunggu di kantor, seorang diri, hingga pukul delapan malam, karena seorang wakil presiden studio itu telah menelefon dari California. Wakil presiden itu lebih suka menelefon pada pukul lima waktu Los Angeles, dan meminta agar Sheila sendiri yang menerima pesan pesannya — tidak mau dilayani oleh seorang sekretaris, dilayani oleh dinas umum.

Jam tangan Sheila menunjuk pukul delapan kurang enam menit. Sheila berbalik dari jendela dan berjalan kembali ke meja yang penuh dengan tumpukan buku dan naskah. Sheila duduk dan menarik pesawat telefon ke arah dirinya. Selama beberapa minggu terakhir, ia cuma menemukan sebuah lakon di luar Broadway yang agak layak untuk difilmkan. Tetapi, jika, studio berminat, maka diperlukan tindakan segera. Produser lakon sandiwara itu berniat mementaskannya di Broadway; dan kalau itu terjadi, maka harga untuk hak membuat film dari lakon itu akan melonjak tiga kali lipat.

Sheila bersandar ke belakang di kursinya. Lakon itu akan merupakan debut yang hebat bagi dirinya sebagai produser film. Sheila tersenyum, bertanya pada diri sendiri apakah hal itu tidak menguatkan suatu pilihan antara bekas suaminya dan kekasihnya.

Suatu ketukan pelan di atas pintu mengagetkan Sheila.

"Ya?"

"Polisi. Sersan detektif Ricks, Manhattan Pusat. Suara itu pelan, kesopanan datar semua polisi New York. "Mudah mudahan aku tidak mengagetkan anda."

Dengan memejamkan mata, Sheila menyentuh dadanya, jantungnya yang berdebar keras itu. "Terus terang saja, anda telah mengejutkan diriku. Aku sedang seorang diri saja di sini; menunggu telefon penting."

"Aku akan berusaha tidak meminta terlalu

banyak dari waktu anda, nona "

Pria itu menunggu.

"Nyonya Eisen. Aku tidak bermaksud bersikap kasar pada anda, tetapi apakah keperluan anda tidak dapat ditunda? Apa pun keperluan anda itu?"

"Kurasa tidak dapat, nyonya Eisen. Markas kami mendapat telefon dari bagian keamanan di lantai dasar tentang seorang yang berkeliaran di dalam gedung ini."

Sheila melompat dari kursinya, ketakutan.

Kami menduga orang itu telah masuk lewat pintu elevator barang di sisi gedung ini di Fifty-eigth Street," petugas kepolisian itu berkata. "Kami memeriksa semua tingkat, toilet toilet, ruangan ruangan perlengkapan dan gudang gudang, pintu pintu darurat, semuanya. Dalam gedung gedung seperti ini ada elevator elevator otomatik dan kadang kadang seorang sinting menyelinap masuk setelah semua orang meninggalkan gedung. Dan kerjanya orang sinting itu naik turun lift menunggu kalau kalau ada wanita yang bekerja seorang diri saja hingga larut malam."

Sheila cepat membuka pintu, membiarkan petugas itu masuk. Seorang pria kurus yang penuh senyum, memakai mantel biru tua dan topi warna abu abu.

Tangannya yang bersarung memegang lencana detektif darimetal.

Pria itu menutup kembali pintu, meletakkan tas atase di atas meja resepsi dan kemudian memperhatikan sekelilingnya. Pria itu mendorong topinya ke belakang, menggaruk dahinya. Gaya Alan Ladd, pikir Sheila.

Pria itu melepaskan kancing kancing mantel, kemudian juga melepaskan topinya, memperlihatkan rambutnya yang pirang, sambil menyapukan mata atas diri Sheila. Tajam me-rikuhkan.

Pria itu paling paling berusia tiga puluh, bersih dan rapih, ciri ciri yang tidak pernah disukai Sheila.

Pria itu dengan topinya menunjuk pada pintu depan kantor itu. "Kunci itu tidak a-man. Setiap orang dapat memakai kartu kredit atau sepotong plastik dan membuka kunbi itu dalam waktu dua detik. Coba kuncilah sekarang, dan kalau aku keluar, akan kuperlihat-kan kepada anda betapa mudahnya membuka kunci itu."

"Ya, ya. Baiklah." Sheila mengunci pintu

itu.

"Memang lucu," kata detektif Ricks itu, "Separoh dari kasus kasus pencurian dengan membobol masuk ke dalam rumah, ternyata tidak menyangkut pembobolan itu sendiri. Pencuri dapat masuk karena ada pintu yang tidak terkunci, sebuah jendela yang terbuka, karena kunci disimpan di bawah keset, hal hal yang semestinya tidak boleh terjadi."

"Jenis kunci apakah yang semestinya kupasang?"

"Kunci berpasak. Namun begitu, harus anda ketahui, bahwa tidak ada kunci yang seratus persen aman. Paling paling yang dapat dicapai adalah mempersulit, memperlambat masuknya pencuri itu. Pencurian pada umumnya adalah suatu tindakan serba kilat. Menghantam dan lari. Suatu kejahatan bera-zaskan oportunitas. Kalau ada kemungkinan akan adanya kesulitan untuk masuk, maka pelaku itu tidak mau mendapat gangguan."

Sersan detektif Ricks menjatuhkan topinya ke atas tas atasenya dan menggerakgerak-kan jari jari tangan dalam sarung itu. Huruf huruf inisial di atas tas itu adalah RA. Itu terlihat oleh Sheila. Ada sesuatu lagi yang istimewa. Detektif Ricks memakai sebuah pentol emas kecil pada telinga kanan.

Telefon di atas meja di belakang Sheila

itu berdering dan Sheila memalingkan kepala

ke arah pesawat itu, kemudian berpaling kem-

bali pada sersan Ricks dan pria itu me-

lihat segala galanya yang terdapat di atas

wajah wanita itu. Kecurigaan. Dan harapan.

Karena telefon itu berdering dan ia, Sheila,

cukup mengangkat gagang telefon itu dan ber-

teriak meminta tolong.

Tsuki no kokoro.

Karena rembulan bersinar rata atas segala sesuatu yang berada di dalam jangkauannya, maka seperti itu pulalah seorang pendekar harus mengembangkan kesadaran yang akan selalu membuat dirinya mengetahui totalitas lawannya dan gerak geriknya.

IA menyerang. Cepat, menentukan.

Tangan kirinya melesat, mata pisau itu meremukkan lekum Sheila dan mengakhiri ke-mampuannya untuk berbicara, namun tidak mem-bunuhnya. Belum. Mata wanita itu melotot.

Ah, ini suatu lelucon tentu; tidak terjadi atas dirinya. Selama beberapa detik, Sheila menjadi penonton dan sekaligus peserta, ber- diri atau berada di luar dirinya sendiri dan menyaksikan pukulan itu, tetapi rasa nyeri yang sangat itu merambat mendekat dan mengi- kuti alurnya adalah kepanikan dan kengerian

yang mempunyai baunya sendiri

Sheila mengangkat kedua tangan ke teng-gorokkannya dan melangkah mundur menjauhi pria itu. Pria itu mengikutinya, dan ketika maai, jarak, telah tepat, pria itu melancarkan pukulan lagi. Ia menghantamkan bagian bawah tangan kanannya pada hidung wanita itu, meremukkannya, dan Sheila terhuyung huyung menubruk meja resepsionis, belum juga menerima kenyataan serangan itu. Namun rasa nyeri itu semakin menjadi jadi; ia tidak dapat bernafas dan kulitnya telah menjadi berpeluh dingin.

Pria itu merapat, menendang wanita itu pada pahanya, mengelukkan kakinya dan merobohkannya ke atas lantai. Tanpa satu pun gerak sia sia, pria itu membungkuk rendah dia-tas Sheila dan secara akhli melancarkan serentetan pukulan ke atas ginjal wanita itu. Suatu bunyi tercekik keluar dari tenggorok Sheila bersamaan dengan mengejangnya tubuh-

nya. Jari jari kedua tangan Sheila menggaruk

garuk dan mencengkeram karpet dan ia mengu-

atkan diri untuk bertahan hidup karena,

tidakkah ia belum membuat pilinannya di antara kedua pria yang mencintai dirinya?

Tiba tiba, pria itu berhenti. Dengan kelembutan mengherankan, ia menyeret Sheila menjauhi meja, dan selagi telefon di atas meja itu berdering terus, pria itu menyingkap rok Sheila, melepaskan celana dalam wanita itu, dan melemparkan benda tipis dan ringan itu ke suatu sudut. Pria itu merenggang kaki Sheila dan ia tersenyum senang, memandang sejenak sebelum melepaskan mantel dan jas dan membuka celananya sendiri. Pria itu menarik nafas dalam dalam, merasakan nikmatnya diri yang sudah terangsang penuh. Ia memasuki tubuh Sheila, dengan menopang diri di atas siku siku dan lutut lututnya, menjaga agar dirinya tidak bersentuhan dengan wajah yang berlumuran darah itu.

Ia menggarap wanita itu dengan tidak mem buang buang waktu, menenggelamkan diri dalam daging wanita itu dan merasa kendali terlepas dari tangannya. Dalam beberapa detik ia sudah mengerang erang, mendesak sedalam dalam mungkin dalam nafsunya mencapai puncak kenikmatan itu, lalu membiarkan dirinya luluh dalam kenikmatan tertinggi, yang hampir menyerupai maut itu sendiri.

Pria itu ambruk di atas karpet di samping Sheila, tergeletak tenang, bernafas lewat mulutnya dan merasakan suatu cinta yang tidak sanggup dinyatakannya dengan kata kata. Mereka berdua telah disatukan dalam Chi-matsuri, ritus darah yang sudah berussia seribu tahun dan yang menentukan bahwa suatu pertempuran harus didahului dengan suatu korbanan manusia kepada dewa perang. Pertempuran.

Pria itu tiba tiba duduk dan melihat pada jam tangannya. Dalam waktu kurang dari satu jam, ia akan berhadapan dengan musuhnya.

Pria itu mendengar orokan sekarat dari tenggorokan wanita itu. Mata Sheila itu memohon belas kasihan, padahal yang dapat diberikannya kepada wanita itu hanyalah pembebasan. Dengan menghantamkan siku kanannya ke kening, pria itu memusnahkan Sheila dengan sekali pukul.

TIGA ORANG PRIA, dua di antaranya bercakap cakap mengenai suatu rencana pemasaran yang telah mereka siapkan selama duabelas jam terakhir, berjalan dari lift menyeberangi lobby kosong itu ke sebuah meja, tempat seorang penjaga keamanan menonton televisi. Ketika ketiga orang pria itu lewat di dekat mejanya, penjaga itu mengangkat kepala sejenak, melihat ketiga orang bermantel yang menjinjing tas atase masing masing itu, dan kembali mencurahkan perhatiannya pada layar televisi itu. Penjaga itu tidak memperhatikan pria yang ketiga, yang memakai syal leher yang hampir menutupi seluruh wajahnya.

Setelah berada di Fifth Avenue, pria ketiga itu menarik syal itu dari wajahnya, menyentuh pentol emas di telinganya itu dan memandang ke atas pada langit yang warnanya seperti merah karat itu. Pria itu merasakan dinginnya serepih serepih salju dan udara dingin menyejukkan kulitnya yang terasa panas itu. Ia merasa dirinya kuat tidak terkalahkan; ki-nya, tenaganya, bertambah terus dan panca inderanya begitu tajam, sehingga ia dapat mendengar angin dan air dari zaman lain» Malam itu, di waktu ia memasuki gelanggang, akan digebrakkan kakinya dan akan digoncangkannya bumi

Dirinya dilindungi

oleh ritus darah itu dan oleh Hachiman Dai Bosatsu,Bodhisatva agung, dewa perang. Dirinya adalah sebilah pedang, yang ditempah oleh keempat unsur: logam, air, kayu dan a-pi.

Ia adalah bushi sejati, seorang pendekar yang tidak terkalahkan.

SATU

G O J O - G Y O K O

Azas dari lima perasaan dan lima nafsu, ciri ciri watak musuh yang harus dimanfaatkan.

KEPULAUAN CAYMAN terletak dalam satu jam terbang dengan pesawat jet di sebelah selatan Miamidan seratus delapan puluh mil di sebelah barat laut dari Jamaica.

Dengan luas yang hanya seratus mil persegi, kepulauan itu mempunyai jumlah penduduk yang duabelas ribu orang banyaknya, keturunan dari petani petani skotlandia, orang orang eropa, orang orang afrika dan perompak perompak laut yang mengalami karam dan yang pernah menteror daerah karibia di bawah pimpinan Sir Francis Drake, Henry Morgan dan Blackbeard. Penduduk kepulauan itu hidup dari menangkap ikan dan mengekspor kulit ikan hiu, barang barang hasil penyu dan kayu pewarna.

Pulau Grand Cayman adalah pulau yang terbesar: seserpih datar dan kurus dari batu koral, pasir putih dan rawa rawa bakau.

Pada tahun 1962, kepulauan cayman, yang merupakan suatu daerah yang tergantung pada Jamaica, tidak mau mengikuti jalan yang ditempuh Jamaica, yaitu dengan menjadi merdeka dari kerajaan inggris. Sebaliknya, ketiga pulau itu — Grand Cayman, Libtle Cayman dan Cayman Brae — mengeluarkan suara untuk tetap sebagai sebuah koloni mahkota inggris, yang memerintah dengan suatu undang undang dasar sendiri; sedangkan politik luar negeri dan pertahanan akan ditetapkan dan diselenggarakan dari London.

Dengan mengikuti contoh kepulauan bahamas, yang telah menjadi makmur dengan menawarkan pembebasan pembebasan perpajakan kepada bank bank asing dan perusahaan perusahaan multi nasional, maka penduduk ke-. pulauan cayman memutuskan untuk mengubah masyarakat mereka yang kecil dan terpencil itu menjadi suatu negeri swiss karibia.

Dengan diberlakukannya suatu undang undang perusahaan baru pada tahun 1966, kepulauan caymanmenjadi suatu pusat keuangan internasional, yang menawarkan kepada perusahaan perusahaan asing suatu medan usaha baru yang bebas pajak dan memperkenankan bank bank dunia bergerak di kepulauan itu dengan jaminan kerahasiaan yang bahkan tidak bisa ditandingi oleh sistem sistem yang berlaku di kepulauan bahama atau bahkan yang berlaku di swiss.

Limabelas tahun kemudian, hampir tigaratus bank dan lebih dari sebelas ribu perusahaan telah terdaftar di Georgetown, ibukota Grand Cayman.

Jumlah bank dan perusahaan itu mewakili beratus ratus milyar dollar.

Seluruhnya bebas dari pajak dan pengawasan.

Dan dari pertanyaan pertanyaan mengenai • asal usul uang sebanyak itu

***********

PENGHITUNGAN UANG ITU HAMPIR SELESAI.

Delapan juta, tiga ratus ribu dollar. Tunai.

Dibawa sendiri dari New York ke Grand Cayman.

Dalam tiga koper dan diletakkan di atas meja seorang manager bank Georgetown yang adalah juga seorang pengacara dan seorang dari tujuh anggota 'dewan eksekutif pulau itu.

Hal itu, kedudukan kedudukan rangkapnya itu, memungkinkan manager bank di Georgetown yang adalah juga seorang pengacara dan seorang anggota 'dewan eksekutif pulau itu — yang adalah juga 'kabinet' pemerintahan di pulau itu — untuk membuat undang undang yang menjamin kemakmuran dan kesejahteraan

bagi dirinya, dan mentercengangkan

saingan saingan dirinya.

Seorang yang ramah, yang menawarkan cerutu kuba dan Vieille Rhum dari kepulauan perancis kepada klien kliennya, dan yang •terpenting: pandai menyimpan rahasia.

Namun, ada petunjuk petunjuk bahwa manager itu tidaklah tanpa * rahasia rahasianya, dan Trevor Sparrowhawk, yang hadirdi situ, melihat akan hal itu. Sesuatu rahasia di antara bankir yang sudah beriste-ri itu dengan sekretaresnya yang jauh lebih muda, seorang wanita Jamaica dengan tubuh menggiurkan, dengan bunga bakung di rambutnya dan jam tangan Lucien Picard pada perge-langan tangannya. Colek colek dan gelitik gelitik, pikir Sparrowhawk.

Sparrowhawk juga mengetahui bahwa gaji

manager itu sebagai bankir, walaupun mem-

berikan segala kemudahan, namun tidak menan-

dingi penghasilannya sebagai pengacara, ka-

rena dalam kedudukan itu ia menerima seribu

dollar untuk setiap pendaftaran sebuah kor-

porasi multi nasional, dan kemudian bahkan

mengangkatnya sebagai anggota dewan direksi

perusahaan tersebut. Selama sepuluh tahun,

manager itu telah mendaftar lebih dari seri-

bu perusahaan Sertifikat sertifikat

berbingkau yang ditata di atas rak buku me-

nyatakan bahwa bankir yang menyandang dasi

perguruan Eton itu juga menjadi anggota ber-

bagai klub bergengsi di London

Dari lima orang di dalam kantor bankir itu, hanya Sparrowhawk seorang yang tidak menghitung uang itu. Sparrowhawk cuma penonton di situ dan sudah merasa jemu sekali dengan harus menunggu berjam jam lamanya. Bagian besar waktunya di situ dilewatkannya dengan memandang keluar dari jendela kantor di lantai dua itu , memandang keluar ke atas pelabuhan Georgetown dan pembongkaran muatan sebuah kapal dari Caracas.

Trevor Wells Sparrowhawk adalah seorang inggris, berwajah merah, berkumis hitam lebat, berperawakan kekar, dan berusia limapu-luh lima tahun. Dengan kesehatan yang prima. Rambutnya yang putih keperak perakan dan masih lebat dan gondrong itu menyembunyikan sisa telinga yang dikoyak seorang suku Simba yang mabok di konggo belgia. Pada kelepai jas tweed tersemat lencana SAS, dengan bangga menyatakan bahwa ia pernah berdinas dalam komando elit inggris itu selama karir militernya yang lama. Dewasa ini Sparrowhawk tinggal dan bekerja di amerika, menjadi kepala operasi dan seorang direktur Management Systems Consultants, sebuah dinas intelijen partikelir.

Di satu sisi meja besar itu, bankir cayman dan dua orang pembantunya berhenti menghitung dan memasukkan hasil hasil kalkulator masing masing ke dalam buku besar yang dipegang oleh bankir itu. Di hadapan mereka, duduk Constantine Pangalos, seorang pengacara New York yang berkedudukan tinggi, yang dengan dikawal oleh Sparrowhawk dan dua pengawalnya telah membawa uang itu dari New York ke St. Petersburg dengan berkendaraan mobil, dan dari sana dengan pesawat jet ke kepulauan Cayman. Usia Pangalos sekitar em-patpuluhan. Kecenderungan Pangalos yang paling terkenal adalah kesukaannya pada isteri isteri orang lain. Pangalos dulunya seorang jaksa federal terkenal, bertanggung jawab a-tas sebuah team yang memeriksa kejahatan terorganisasi. Tetapi kini, Pangalos bekerja untuk kejahatan terorganisasi, yaitu pada keluarga Paul Molise dari New York. Seperti halnya dengan Sparrowhawk.

Sebuah kapal lain telah tiba di pelabuhan.

"Selesai, "

Pangalos yang sudah lelah sekali bersandar ke belakang di kursinya. Pangalos berbicara pada Sparrowhawk — yang tidak disukainya — tanpa memalingkan muka. "Kau dapat menelefon New York. Katakan pada kawan kawan kita itu 'tiga hari1."

Sparrowhawk kini berdiri dari kursinya. Paul Molise, yang junior dan yang senior, akan senang sekali mendengar bahwa mereka akan mendapatkan kembali uang delapan juta itu secepat itu. Sudah diputihkan. Rencana pemutihan itu merupakan buah pemikiran Paul junior, seorang tukang sulap keuangan yang lulus dari HarvardBusinessSchool dan yang bertanggung jawab atas peralihan keluarganya ke dalam investasi investasi syah: klinik klinik bersalin, pusat pusat perbelanjaan, usaha usaha simpan pinjam dan real estate.

Management Systems Consultants juga memutihkan bagiannya dari uang kotor itu, tetapi bukan itu bidang pekerjaannya yang

utama. Di bawah pimpinan Sparrowhawk, perusahaan itu mengumpulkan informasi informasi yang bersifat vital bagi kepentingan kepentingan Molise. Informasi informasi itu datang dari berkas berkas kepolisian, komite komite kongres amerika, rapat rapat dewan perusahaan, dari IRS, FBI, kesaksian kesaksian rahasia di pengadilan, rapat rapat dan perundingan perundingan dengan serikat buruh, dan dari program perlindungan bagi saksi saksi federal. Informasi datang pula dari petugas petugas hukum yang kini bekerja bagi perusahaan Molise dan yang mengerahkan kontak kontak mereka untuk mendapatkan pita pita komputer, informasi bank data dan salinan salinan memo memo, dosir dan laporan laporan.

Sparrowhawk telah- mengubah Management Systems Consultants menjadi sebuah perusahaar yang menguntungkan. Dengan perusahaan perusahaan terkemuka, dari kelompok kelompok hotel hingga restoran restoran 'pelayanan cepat, Sparrowhawk mempunyai kontrak kontrak keamanan. Perusahaannya juga melakukan penyelidikan penyelidikan untuk perusahaan perusahaan pengacara, politikus dan pengusaha luar negeri. Perusahaannya menyediakan pengawal pengawal pribadi, mengatur keamanan bank bank dan pabrik pabrik federal, melakukan pencurian pembicaraan telefon maupun menghalau pencurian pencurian seperti itu, dan melakukan pemeriksaan riwayat pegawai.

Sekali pun didukung oleh Paul Molise dan ayahnya, Management Systems Consultants sepenuhnya dikuasai Sparrowhawk sendiri. Sparrowhawk berkeras agar pekerjaan 'basah1, membunuh, diserahkan pada kelompok kelompok lain, agar MSC tidak menjadi sasaran sorotan pihak berewajib. MSC membatasi pekerjaannya pada pemutihan uang dan pengumpulan intelijens.

"Orang melihat kesalahan bahkan pada yang lurus," Sparrowhawk telah mengatakan kepada Paul Molise, "Pikiran yang curiga hanya memerlukan sedikit saja untuk semakin curiga dan curiga. Pelaksanaan hukum amerika adalah pikiran yang penuh curiga itu. Mereka mengawasi kita berdua, tetapi dirimu lebih lebih dicurigai oleh mereka. Karenanya, jangan memberi bahan kepada mereka untuk menimbulkan kegaduhan di antara dewan direksi kita."

Di kantor bankir di Georgetown itu, Sparrowhawk berkata kepada Pangalos, "Akan kutelefon dari luar. Agar ada kesempatan bagiku merentang kakiku. 0 ya, kalau ada yang bertanya, kapankah harus kukatakan kau akan kembali ke New York?"

"Pada waktunya. Aku masih ada pekerjaan di Miami."

"Oke."

Pangalos memalingkan muka kepada Sparrowhawk. Tatap menatap itu berlangsung hingga Pangalos mengalihkan kembali matanya ke arah bankir itu, dan berkata, "Selesaikanlah segala sesuatunya. Kita sudah selesai dengan menghitung uang itu. Tinggal surat suratnya, bukan?"

"Akan kuajak Robbie,": Sparrowhawk berkata, maksudnya adalah seorang dari kedua pengawal yang menunggu di luar pintu. "Martin biar tinggal di sini. Jika kau memerlukan seorang untuk menyampaikan sesuatu pesan padaku, aku yakin Martin tidak akan mendapatkan kesulitan mencari diriku dalam kota yang cuma sebesar Georgetown ini."

Pangalos mendengus, "Barangkali akan kaudapatkan seorang bimbo untuk duduk di a-tas wajah Robbie."

"Barangkali aku tidak bersamamu, kalau kau sedang mengganggu Robbie lagi."

Sambil mengerutkan dahi, Pangalos teringat pada peristiwa ia lolos dari lubang jarum itu. Hanya berkat Sparrowhawk, Robbie dapat ditenangkan. Suatu ejekan yang dilemparkan Pangalos, bahwa Robbie tidak pernah bersama wanita, hampir saja harus di bayar Pangalos dengan nyawa. Robbie memang seorang yang mematikan.

Robbie seorang akhli Tae Kwon Do dan Okinawa Te, akhli Kung Fu dan Shotokan. Dalam perkelahian dengan menggunakan pisau dan Bo-jitsu, permainan tongkat, Robbie akhli pula. Robbie dan Sparrowhawk pertama kali bertemu di Saigon. Ketika itu Robbie bekerja untuk SEAL dan Sparrowhawk untuk CIA.

Mereka berdua juga bekerja untuk Mafia, yang berhasil menarik keuntungan besar dari perang Vietnam. Di Management Systems Consultants, Robbie yang berusia tigapuluh tahun itu bekerja sebagai pengawal pribadi, sebagai kurir pembawa uang tunai atau suratsurat penting dan sebagai pelatih seni bela diri bagi personel perusahaan. Sparrowhawk merasa bangga bahwa Robbie secara berhasil ikut dalam turnamen turnamen karate terpenting dan menjadi tokoh nasional di bidang i-tu. Karena cuma mempunyai seorang anak — seorang anak perempuan — pada diri Robbie Sparrowhawk melihat anak lelaki yang didambakannya, dan Robbie memperlihatkan sikap menghormati Sparrowhawk dengan memanggilnya dengan sebutan 'mayor'.

Di Saigon, ketika Paul junior dan Sparrowhawk pertama kalinya membicarakan tentang pendirian Management Systems Consultants, Sparrowhawk telah menegaskan bahwa Robbie harus menjadi bagian dari kerja sama itu. Itu bukan sekedar sikap kesetiakawanan; kontrak yang sangat menguntungkan dan kebebasan yang ditawarkan kepada Sparrowhawk itu tidak menutup kemungkinan adanya pengkhianatan dari pihak orang orang itali. Dan dengan Robbie di sampingnya, suatu masalah yang tidak dapat diremehkan telah mendapatkan pemecahannya.

SPARROWHAWK seketika menjadi Waspada. Ada sesuatu yang tidak beres di ujung sana tele-fon di New York itu.

Semestinya Paul Molise yang menjawab. Sedangkan kini, Sparrowhawk mendengar suara lain, sopan berolok olok dan tawa yang hampir tidak diselubungi. Canang berbunyi dalam benak orang inggris itu. Sesuai ketentuan, Sparrowhawk menggunakan telefon umum di Georgetown untuk menghubungi sebuah telefon umum pula di Manhattan, sebuah telefon yang bebas dari bahaya penyadapan. Suara yang menyambut Sparrowhawk itu agaknya sudah mengetahui bahwa ia ada di luar negeri.

"Paulie mengatakan bahwa ia yakin kau telah melakukan pekerjaanmu dengan baik di sana. Ia menghendaki agar kau meneruskan informasimu kepadaku."

Informasi itu. Uang Molise yang delapan juta, yang kini secara tidak dapat dilacak berada didalam sebuah bank cayman, akan kembali ke amerika dalam waktu tiga hari, dalam bentuk pinjaman pinjaman kepada bisnis yang dikuasai Molise. Molise juga akan mendapatkan pengurangan pengurangan pajak atas pembayaran bunga pinjaman pinjaman itu.

Dan lewat telefon lima belas menit yang lalu, Sparrowhawk telah mengatur bahwa seseorang —bukan pegawai Management Systems Consultants — melaksanakan suatu pembunuhan 'kontrtaktual' bagi keluarga Molise, dalam waktu empatpuluh delapan jam lagi.

"Hai, aku mengetahui bahwa kau ada di situ," suara itu berkata. "Aku dapat mendengarmu bernafas."

-Bangsat bangsat itu mengejar ngejar kita, pikir Sparrowhawk. Bangsat yang seorang itu teristimewa.

Sparrowhawk menutupi corong telefon itu dengan tangan dan dengan kepala memberi i-syarat agar Robbie mendekat.

"Mannie Decker,'1 Sparrowhawk berbisik.

Alis Robbie naik. "Ia yang di telefon itu?"

"Sialan, jangan keras keras. Siapa pun yang di sana, ia mencoba menyamarkan suaranya dengan menutup corong telefon dengan saputangan. Tetapi aku berani bertaroh bahwa yang di sana itu Decker."

"Haram jadah. Bagaimana ia bisa mengetahui pesawat yang akan kita hubungi di New York? Bagaimana ia mengetahui kita ada di sini ?"

Sparrowhawk bergulat menahan amarah. Ya dewa, betapa ia membenci menjadi pihak yang diburu.

"Tidak perlu dipersoalkan bagaimana ia dapat mengetahui hal itu. Ia seorang perwira polisi."

"Ayo, ayo...," suara itu mendesak, "waktu terbuang buang. Berikan angka angka, tanggal tanggal, sesuatu untuk disampaikan kepada Paulie."

Seandainya bukan Sparrowhawk, pastilah o rang akan bergidik melihat airmuka Robbie i-tu. Sparrowhawk sudah pernah melihatnya: di Saigon, sesaat sebelum Robbie menyiksa dan membunuh dan pada pertandingan pertandingan karate, sebelum ia memusnahkan lawannya.

Sparrowhawk, dengan tangan masih menutupi corong telefon, menggelengkan kepala. "Dengarkan kata kataku. Telah dua kali kau mencoba Decker. Biarkan hingga di situ. Ini bukan Vietnam, kau mengerti?"

Ditegur begitu, Robbie menundukkan kepala.

Seperti halnya dengan Robbie, Mannie Decker juga saorang karateka yang hebat. Dua kali mereka telah bertemu dalam pertandingan, dan kedua kali itu Robbie yang keluar sebagai pemenang. Dalam pertarungan terakhir, Robbie dengan ganas telah mematahkan lutut detektif New York City itu. Hanya pembedahan akhli dan berbulan bulan latihan khusus telah menyelamatkan Decker dari cacad seumur hidup.

Setelah itu, Decker tidak pernah bertarung lagi dalam turnamen turnamen karate, membuat banyak orang —termasuk Sparowhawk— mengira bahwa Decker takut pada Robbie. Padahal, Decker berlatih dan mengajar terus dan berada dalam kondisi top. Ia hanya menghindari pertandingan pertandingan. Sparrowhawk dan Robbie telah bertemu dengan Mannie Decker di Saigon dan mengetahui betapa efisien Decker dalam semua tindakannya.

Decker ditugaskan pada suatu gugus tugas yang menyelidiki Management Systems Consultants; dan hingga saat itu, penyelidikan itu tidak membuahkan banyak hasil. Tetapi suatu pembunuhan yang dapat ditimpakan ke atas pundak MSC pastilah akan disambut penuh semangat oleh gugus tugas federal itu. Oleh Decker. Teristimewa oleh Decker.

Sialan benar Paul junior itu! Yang pernah menimang nimang gagasan memakai Robbie atau seorang lain dari MSC melaksanakan suatu pembunuhan kontraktual. Tetapi, yah... a-pakah yang dapat diharapkan dari gerombolan gerombolan liar itu, pembunuh pembunuh bayaran, pelahap pelahap spaghetti itu! Mereka itu keranjingan kekuasaan dan kesukaannya memanipulasi setiap orang yang bekerja untuk mereka. Seketika Robbie atau Sparrowhawk atau seseorang dari MSC melakukan pembunuhan atas perintah Molise, orang itali itu akan menggenggam nasib mereka. Sparrowhawk menghendaki orang luar yang melakukan pekerjaan kotor itu dan kalau Paul tidak menyukai pendiriannya itu, yah.... persetan!

Yang paling mendesak saat itu adalah kembali ke bank dan cepat merundingkan dengan Pangalos bagaimana caranya menghubungi Paul junior, kalau pun itu dipandang bijaksana. Yang lebih baik adalah kembali ke New York dan menyampaikan berita itu secara pribadi. Bagaimana pun, Sparrowhawk bermaksud untuk menemui manager bank dan anggota anggota kabinet cayman lainnya, untuk membicarakan tentang pemasangan sistem keamanan baru bagi lapangan terbang Georgetown. Suatu proyek yang berharga sejuta dollar bagi Management Systems Consultants. Itulah sebab lainnya mengapa Sparrowhawk secara pribadi mengawal uang itu ke kepulauan itu.

"Paulie....," suara dari New York itu memulai lagi, tetapi Sparrowhawk sudah memutuskan hubungan. Ia mencurigai suara dari u-jung sana itu, dan tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Sparowhawk meletakkan gagang telefon itu.

SERSAN DETEKTIF MANNIE DECKER keluar dari suatu malam New York yang bersalju itu, dan masuk ke Jepang.

Ia berada di Furin, sebuah club Jepang di East Fifty-sixth street di Manhattan. Gaijin, orang orang luar, tidak disambut baik di daerah itu. Fur in itu tempat o-rang orang Jepang yang kesepian dapat mendengar bahasa mereka dipakai, tempat mereka dapat bercumbu cumbuan dengan pramuria pra-muria Jepang dan amerika yang profesional, tempat minum Awamori, brandi dari ubi manis dari Okinawa, dan membuat transaksi transaksi dengan membubuhi dokumen dokumen dan surat menyurat dengan hanko, tanda cap pribadi.

Decker menyerahkan mantel dan topinya kepada seorang pramuria yang berpakaian kimono,lalu mengikuti kepala pelayan ke bagian restoran yang ditata sebagai suatu taman batu karang, dengan air terjun miniatur dan pohon pohon kerdil. Semua itu, berpadu dengan bau makanan gaya Jepang, mengingatkan Decker kepada Saigon. Pada Michi. Jika kenikmatan cinta mereka cuma sesaat lamanya, kepedihannya menyiksa lebih lama. Michi Chihara sudah mati.

Detektif itu diperhatikan orang, mula mu la oleh para pria di suatu sudut restoran itu, kemudian oleh orang orang yang duduk di bar, yang duduk sambil membaca surat kabar yang setiap hari diterbangkan dari Tokyo a-tau yang menonton kaset video dari pertandingan sumo dari Kokugikan Arena di Tokyo.

Decker tidak merasa terganggu oleh pelo-totan mata mata itu, bahkan mempertimbangkan ikut menonton suatu pertandingan sumo. Lazimnya itu tidak lama, paling lama enampu-luh detik; seorang pegulat sumo yang beratnya 350 kilo tidaklah mempunyai daya tahan, namun begitu, sungguh menakjubkan, pegulat pegulat itu memiliki kelincahan, keseimbangan, kecepatan. Mereka merupakan atlet atlet paling populer di jepang.

Manny Decker tinggi lima kaki sepuluh inci, tampan dengan hidung patahnya dan rambut coklat tua dan berkumis. Usianya tigapuluh tahun, langsing, berotot dan warna matanya hijau laut. Ia menjadi anggota kepolisian sejak keluar dari pasukan komando angkatan laut enam tahun berselang, dan memperoleh lencana emas kedetektivan dalam waktu kurang dari dua tahun. Hidungnya yang patah itu kenangan dari suatu turnamen karate, ketika lawannya yang memakai cincin, gagal melancarkan dan mendaratkan sebuah pukulan ke atas wajahnya.

Decker juga petugas lapangan, pengawas dari bagian Urusan Intern departemen kepolisian. Tugasnya adalah mendeteksi salah ulah polisi dan melaporkannya.

Suatu tugas penuh resiko karena dapat menjadi sasaran kebencian setiap anggota kepolisian. Suatu kehidupan yang banyak menye rempet bahaya. Dan Decker menikmati hidup seperti itu.

Itu tidak berarti bahwa ia semberono di-dalam sikap dan tindakannya.

Di lantai dua Furin itu, pelayan yang mengantar Decker itu berhenti di depan sebuah O-zashiki, sebuah kamar makan perseorangan dengan tatami, tikar jerami yang berbau segar dan manis. Jalan masuk ke dalam kamar itu berpintu sorong berupa sekat shoji dari kertas berwarna krem. Dari dalam kamar itu suatu suara menjawab hai, 'ya', dan detektif itu ditinggalkan oleh pelayan itu.

"Silahkan masuk, sersan Decker."

Decker melepaskan sepatu, menarohnya di atas lantai di samping sepatu Kanai, lalu menyorong pintu itu ke samping.

Ushiro Kanai, dalam setelan jas warna kelam yang disukai oleh semua pengusaha Jepang, duduk berjongkok di depan sebuah meja rendah, memegang secangkir arak beras hangat. Sebagai kepala kantor cabang New York dari Murakami Electronics, yaitu sebuah perusahaan besar multi nasional yang berpangkalan di Tokyo dengan cabang cabang di tiga-puluh satu negeri, Kanai yang tampak muda, masih berusia empat puluhan, sedang dipersiapkan untuk menjadi presiden perusahaan.

Ushiro Kanai adalah seorang yang intelijen dan tidak gampang dijajagi, produk dari suatu masyarakat yang sangat kompetitif.

Ushiro mempersilahkan Decker duduk di seberang meja rendah itu. Lututnya yang cidera menghalanginya duduk berjongkok, sehingga Decker memilih gaya duduk dalam dojo, di atas pantatnya, kaki di depan tetapi rapat pada badannya. Kanai tersenyum pada Decker, suatu senyum keras dan dingin. Senyum yang tiada mengandung makna apa pun. Kanai, lagi pula, sama sekali tidak menyukai New York, dan bertambah kurang kesukaannya pada New York sejak penikaman atas diri anak menantunya, tiga hari yang lalu.

Decker menyerahkan tas atase yang dibawanya itu kepada lelaki Jepang itu dan melihat senyum Kanai itu lenyap dari wajahnya. Sekali itu, untuk pertama kali selama hidup yang berciri pengendalian diri secara ketat itu, Kanai goyah. Mulutnya menganga terbuka. Tetapi ia cepat menguasai diri kembali. Kanai mengenali tas atase itu; itu pemberiannya kepada anak menantunya. Kanai membuka tas itu, mengangkat tutupnya dan dengan cermat memeriksa setiap helai kertas yang terdapat di dalam tas itu. Ketika ia memandang lagi pada Decker, tiada senyum di bibirnya.

Rasa terima kasih.

Kanai menutup tas itu, meletakkan kedua tangan di atas tutup tas itu dan memejamkan

Dariku untukmu, pikir Decker. Telah kukembalikan padamu masa depanmu dan aku mengharapkan pembayaran.

"Domo arigato gozai mashite, Decker-aan," Kanai berkata dengan menjura. Terima kasih banyak.

"Do itashi mashite, Kanai-san," Terima kasih kembali.

"Domo osewasama desu," Aku sangat berhutang budi pada anda.

Decker menyelami maksud Kanai. Tetapi, karena bahasa Jepangnya sangat kurang, kepingan kepingan yang dipungutnya dari lima belas tahun karate dan afair getir getir manis dengan Michi, Decker memutuskan untuk mendapatkan penegasan. Decker menunggu hingga Kanai membuka kembali mata, dan ditatapnya pria jepang tu.

"Giri." Kanai membisikkan kata itu. Sekali pun Decker baru saja mengembalikan suatu laporan yang tercuri, yang dapat merusak Murakami Electronics dan menyeret Kanai dari kedudukannya yang tinggi, pria jepang .itu tidak suka, enggan, harus berhutang budi pada seorang gaijin ,seorang asing. Namun nyatanya ia berhutang budi, dan rasa kehormatan menuntut dirinya membalas budi itu. Merasa senang, Decker melakukan yang patut dilakukannya. Mengikuti adat kebiasaan jepang, dituangkannya arak beras ke dalam cangkir Kanai. Setelah Kanai menyatakan giri itu, tinggallah pada Decker untuk menyatakan dengan cara bagaimana ia minta dibayar. Decker menginginkan pembayaran saat itu juga dan di situ pula. Malam itu.

Tiga hari yang lalu, di sebuah hotel mu-rahan di West Side, seorang pria jepang telah diketemukan dengan luka tikaman yang gawat. Pria itu dirampok uang tunai yang dibawanya, perhiasan pribadinya dan sebuah tas atase berisi suratsurat penting dan berharga. Pria malang itu adalah menantu Ushiro Kanai, seorang akuntan Murakami Electronics, dan yang dibawa dalam tas atase itu adalah dokumen dokumen yang memerinci usul pengoperan sebuah perusahaan elektronik California, sebuah perusahaan yang mempunyai kontrak kontrak di bidang pertahanan amerika serikat.Saran itu ingin dirahasiakan oleh Kanai sebelum ia mengatasi masalah keberatan keberatan Pentagon terhadap pengoperan perusahaan perusahaan yang ada sangkut dengan pertahanan amerika oleh pengusaha pengusaha asing.

Pria pria jepang yang sendirian di New York sulit sekali menemukan orang perempuan. Tidak hanya karena tidak banyak wanita jepang yang masih single, tetapi penghalang bahasa mempersulit pria pria jepang itu bergaul dengan wanita wanita amerika. Maka sebagian orang pria jepang itu pergi pada wanita wanita pelacur, suatu pilihan yang berbahaya.Orang orang jepang itu kadang kadang dirampok, dipukuli, dibunuh.

Anak perempuan Kanai yang cuma seorang sangat membenci amerika. Dipandangnya ame-rika itu kotor dan kasar. Ia juga tidak senang ditinggal sendirian oleh seorang suami yang bekerja hingga jauh malam untuk menyenangkan seorang ayah mertua yang ditakutinya. Ketika sakitnya, entah itu sungguh sungguh atau khayalan belaka, mendorongnya ke tepi keambrukan total, Kanai memerintahkan anak perempuannya itu pulang ke Jepang..Dalam waktu beberapa minggu setelah ditinggalkan isteri, kesepian sang suami tidak tertahankan lagi.

"Sebagaimana telah kukatakan kepada anda lewat telefon," Decker berkata kepada Kanai, "kami melakukan penangkapan penangkapan siang tadi. Tiga orang: pelacur yang bersama tuan Tada, bersama calo dan temannya, yang telah menunggu di kamar hotel itu. Jam tangan yang anda sebutkan padaku dan rekanku tempo hari, telah terlihat di kota. Ban emas, jarum jarumnya bertatah rubi. Calo itu telah memperagakannya di disko disko dan club club malam. Ada nama Yoko pada baliknya."

"Nama anakku. Dan jam itu, di manakah barang itu sekarang?"

"Di bagian barang barang curian di kantor polisi. Anda akan menemukan sebuah surat tanda terima di dalam tas itu. Kami akan memerlukannya sebagai barang bukti terhadap penyerang penyerang tuan Tada.

Akan dikembalikan selekas mungkin. Bagaimanakah keadaan menantu anda?"

"Masih dalam keadaan cukup gawat. Ia masih dalam daftar pasien gawat. Anak perempuanku semalam datang dari Osaka dengan menumpang pesawat terbang. Ia dalam keadaan bingung." Kanai menepuk nepuk tas atase itu. "Mengapakah ini, seperti anda katakan tadi, tidak ditahan sebagai bahan bukti?"

Kini giliran Decker dikejutkan. Ia diam, cangkir berisi sake itu sudah di depan mulutnya, dan dalam hati bertanyalah ia, mengapa telah menyangka bisa bermain main dengan seorang seperti Kanai itu. Kanai seorang yang pandai. Kalau Kanai belum menangkap tanda tanda bahwa ia, Decker, hendak memperalatnya, maka Kanai kini mulai menangkap hal itu. Decker berpikir bahwa ia dapat juga mengatakan yang sebenarnya kepada Kanai, sebab, tidakkah kebenaran selalu unggul? Soalnya, Decker sendiri ingin ia dapat meyakini hal itu.

Decker meletakkan cangkirnya di atas meja rendah itu, menarik nafas dalam dalam dan dipandangnya kakinya sendiri yang berkaos itu.

"Tas ini berada di sini, Kanai-san, karena isinya penting bagi anda dan karena aku ingin menukarkannya dengan sesuatu yang penting bagiku. Sesuatu yang anda miliki." Decker mengangkat mukanya, "Informasi."

Dengan ujung ujung jari jari tangan, Kanai menarik lingkaran lingkaran di atas tutup tas atase itu. "Anda telah membaca yang terdapat di dalam tas ini."

"Betul. Dan tidak ada artinya bagiku,juga bagi kepolisian. Ini sepenuhnya urusan bisnis anda, bagi anda dan pemerintah amerika. Yang ingin kuminta dari anda tidak ada sangkut paut apa pun dengan Murakami Electronics."

"Dan yang hendak anda minta, mempunyai nilai bagi anda, sedemikian bernilai sehingga anda diperkenankan memilih yang akan anda tahan sebagai bahan bukti dan yang akan anda kembalikan pada pemiliknya."

Indah sekali. Pukulan di atas rahang yang mengena. Decker mengangguk, setengahnya karena kekaguman, setengahnya lagi karena merasa rikuh telah kebongkar begitu cepat.

Dan Kanai menunggu.

Orang harus belajar tidak tergesa gesa dalam semua dan setiap persoalan.

Bersabar, kata orang tionghoa, dan daun besaran menjadi gaun sutera.

Decker memijat mijat lututnya yang ci-

dera dan bertanya dalam hati, hingga sejauh

manakah ia dapat mengungkapkan yang sebe-

narnya kepada Kanai

0

SEJAK BULAN OKTOBER, sersan detektif Mannie Decker telah membagi waktunya antara tugas di distrik kepolisian dan tugasnya bersama suatu gugus tugas federal yang menyelidiki Management Systems Consultants, perusahaan intelijen dan keamanan partikelir itu.

Decker ditugaskan pada kasus itu karena dua orang yang telah dikenalnya di Saigon, ketika berdinas di sana sebagai pengawal kedutaan besar, kini menjadi sasaran gugus tugas itu: Trevor Sparrowhawk, orang inggris yang telah mendirikan dan mengepalai MSC; dan Dorian Raymond, seorang detektif New York yang dicurigai telah menyerahkan berkas berkas kepolisian kepada Sparrowhawk. Raymond juga dicurigai dalam hubungan dengan tiga pembunuhan 'kontraktual' yang diperintahkan oleh keluarga penjahat Molise.

Dibiayai oleh Washington, gugus tugas itu terdiri atas dua losin orang, FBI, DEA, IRS, detektif detektif New York City dan penyelidik penyelidik untuk jaksa federal, semuanya di bawah Charles LeClair, yang adalah juga seorang penuntut umum federal. LeClair, yang adalah anak seorang jendral angkatan udara yang berkulit hitam dan seorang aktres Jerman, adalah seorang yang berambisi dan terkenal karena kekerapan dan derajat hukuman hukuman yang dijatuhkannya.

- Di luar LeClair tampak ramah sekali, namun ia seorang akhli mengenai aspek aspek politikal dari pekerjaannya dan seorang pela

ku yang memukau di dalam maupun di luar-ruangan persidangan. Decker sudah mencurigainya sejak pertama kali bertemu.

Decker memiliki suatu kualifikasi lagi yang menarik bagi LeClair: ia tidur dengan isteri Dorian Raymond yang berpisah dari suaminya.

Pada pertemuan mereka yang pertama kali LeClair telah mengatakan kepada Decker, "A-kan kusinggung sepintas lalu hal itu. Aku mengetahui mengenai hubunganmu dengan nyonya Raymond. Dan, seperti tentunya kauketahui juga, wanita itu kadang kadang bertemu dengan suaminya. Sehingga sampailah kita pada 'percakapan di tempat tidur'."

LeClair memperlihatkan kerikuhan, seakan akan enggan. Gayanya hampir meyakinkan.

"Jangan melupakan bahwa kita mempunyai suatu tujuan dengan gugus tugas ini dan selama kita berpedoman pada hal itu, kita bisa berguna dalam pelaksanaan penegakan hukum. Kau mempunyai karirmu, aku mempunyai karir-ku. Kita dapat saling membantu atau mungkin juga tidak dapat saling membantu."

Decker menganggap dirinya telah mendapatkan peringatan. Di dalam penegakan hukum, kekuasaan dan uang ada pada Washington. LeClair adalah Washington. Dan LeClair telah memperingatkan Decker.

Management Systems Consultants disoroti karena telah menyabot suatu penyelidikan atas hubungan hubungan senator Terry Dent , anggota kongres dari New York yang paling kuasa, dengan dunia kejahatan. Jika LeClair berhasil menumbangkan Dent, maka karirnya sendiri sudahlah terjamin; ia dapat melejit ke Washington, pusat perhatian pada pesta pesta kedutaan besar dan sasaran media terus menerus. LeClair juga bertekad menjatuhkan Constantine Pangalos, pengacara Dent, MSC dan keluarga Molise. Ketika Pangalos masih penuntut umum federal dan LeClair seorang anggota stafnya, mereka berdua bersahabat. Sedangkan kini telah tiba saatnya untuk memperlihatkan, siapakah yang terbaik di antara mereka berdua.

LeClair bersandar ke belakang di kursinya. "Bersantailah, Decker. Berkasmu menerangkan bahwa kau seorang karateka. Sejak lama aku sendiri bermaksud mencoba itu. Tetapi tidak pernah terlaksana keinginanku i-tu. Sudah berapa lama kau menguasainya?"

"Sudah limabelas tahun lamanya aku berlatih."

"Kalau begitu harus kuperlakukan dirimu dengan berhati hati. Limabelas tahun. Seka rang pun masih terus berlatih?"

"Aku berlatih dua jam sehari. Setiap hari."

"Wah, bukan main! Bagaimana kau dapat menemukan waktu untuk itu?"

"Waktu kubikin. Aku berlari pada pukul empat di pagi hari atau di tengah malam, atau kapan saja aku sempat.

Seringkali aku berlatih sendiri, lazimnya kalau dojonya kosong."

"Ah, seseorang yang mengibarkan benderanya sendiri. Aku menyukai itu. Pernah kau pergunakan di jalanan?"

"Ya."

LeClair terkesan. Diperhatikannya Decker; keteguhan itu menjadikan detektif itu seorang yang istimewa, seorang dengan kekuatan kekuatan dan kelemahan kelemahan tertentu.LeClair bertekad mengetahui itu semua dan bagaimana memanfaatkannya.

LeClair menjadi lunak. "Maafkan aku yang menyinggung soal nyonya Raymond tadi, namun aku yakin kau sendiri mengetahui bahwa orang orang dalam bertugas seperti kita tidaklah mempunyai suatu kehidupan pribadi. Perkawinan kita, rekening bank kita, kehidupan sex kita, surat menyurat pribadi, semuanya dapat diperiksa oleh inspektor inspektor dan kita tidak bisa berbuat apa pun terhadap itu. Bagaimana pun, Decker, aku berada di sini untuk sebanyak mungkin memberi kemudahan padamu. Aku memerlukanmu dan aku menginginkan a-gar kau bekerja sesenang mungkin."

Decker tersenyum. Namun ia menyadari bahwa LeClair lebih berpeluang memukul dirinya daripada ia dapat memukul LeClair. Dan hal itu sama sama mereka ketahui.

"Kukira sudah sepantasnya, Decker, jika aku mengatakan bahwa kami menuntut kesetiaan darimu. Ini mungkin akan bertentangan dengan yang kauanggap terbaik bagi nyonya Raymond. Orang mengatakan, bahwa jika seseorang mempunyai dua majikan, ia harus berdusta pada yang seorang." Senyum seringai LeClair i-tu ramah. Tetapi sorot matanya tidak. "Kuharap bukan aku yang menjadi majikan yang didustai itu."

DUDUK BERHADAP HADAPAN dengan meja rendah i-tu di antara mereka, Decker mulai berbicara terus terang kepada Ushiro Kanai."Kemarin, ketika rekanku dan aku datang di kantor anda, ada dua orang meninggalkan kantor anda: Constantine Pangalos dan seorang lagi. Sudikah anda memberitahukan nama pria yang seorang lagi itu?"

Lama, pria Jepang itu memandang pada tas atase itu sebelum menjawab, "Ia adalah tuan Buscaglia. Ia presiden sebuah serikat buruh yang mewakili penjaga penjaga keamanan. Tuan Pangalos adalah pengacaranya. Perusahaanku adalah pemilik gedung yang ditempati cabang perusahaan kami di New York dan harus mendapat jaminan keamanan bagi pekerja dan penyewa penyewa kami. Kami berpikiran memakai Management Systems Consultants, yang juga diwakili oleh tuan Pangalos."

Kanai memindahkan tas atase itu dari meja ke atas lantai di samping dirinya. "Akhir akhir ini kami mendapatkan kesulitan, ketika suatu kelompok demonstran beraksi di depan

gedung kami itu. Mereka menyatakan bahwa kami kurang banyak mempekerjakan penjaga penjaga kulit hitam dan puerto rica. Kami mendapatkan kesanggupan tuan Buscaglia untuk mengatasi persoalan itu. Ia bersedia dan berhasil berunding dengan kelompok aksi itu. Orang orang negro dan puerto rica itu pergi. Kami terkesan sekali oleh kemampuan tuan Buscaglia."

Decker menyimpulkan, bahwa seperti umumnya pengusaha pengusaha syah lainnya, ketakutan Kanai pada kejahatan dan hasratnya akan ketenangan kerja telah mendorongnya berkesetiduran dengan kalangan hitam.

"Tuan Buscaglia menawarkan suatu paket yang menarik kepada kami," Kanai melanjutkan, "Penjaga penjaga anggota serikat buruhnya lebih murah, rencana pensiun lebih ringan bagi perusahaan kami dan ia menjamin bahwa tidak akan ada pemogokan selama jangka waktu kontrak itu."

Yah, siapakah yang dapat mempersalahkan

Kanai? Kejahatan dan vandalisme terjadi di-

mana mana, menjadikan bidang keamanan bisnis

ketiga besarnya di amerika serikat. Decker

kini jnendapat sebuah nama baru: Buscaglia,

ditambah dengan serikat buruhnya. Hal itu a-

kan menyenangkan LeClair

"Tuan Pangalos dan aku telah membicarakan suatu bisnis lagi," kata Kanai. "Perusahaan kami telah memulai suatu program diversifikasi di amerika. Kini, kami sudah mempunyai investasi dalam real estate di tiga negara bagian, dan tahun depan kami akan membuka sebuah hotel baru di Hawaii, di pulau Maui.Kami mempunyai rencana akan menanam modal dalam sebuah hotel kasino baru di Atlantic City, yang juga diwakili oleh tuan Pangalos."

Decker menyesap sake-nya sebelum membuka mulut."Dapatkah anda juga memberitahukan kepadaku, tuan Kanai, nama hotel kasino baru yang diwakili oleh tuan Pangalos itu?"

"Namanya Golden Horizon. Pemilik barunya adalah Marybelle Corporation. Kalau aku tidak salah, mereka bergerak di bidang video games, mesin kepik dan komputer rumahan."

"Bolehkah aku mengetahui mengapa perusahaan anda tidak berminat lagi membeli langsung Golden Horizon itu?"

"Sedianya ada suatu persetujuan dalam prinsip untuk membeli sepuluh persen saham dengan suatu harga tertentu. Namun, persetujuan itu berdasarkan pemilikan suatu daftar tertentu dari penjudi penjudi terpenting. Setiap kasino di dunia memiliki sebuah daftar seperti itu."

"'Daftar umpan' namanya." Decker berkata. "Jika sebuah kasino berganti tangan, 'daftar umpan' itu dijual terpisah." Decker mengetahui adanya sebuah daftar seperti itu yang memuat nama tigaratus penjudi dan telah laku dijual untuktiga juta dollar.

"Sebelum menanam modal dalam Golden Horizon," Kanai berkata, "Aku menuntut melihat dulu 'daftar umpan' itu. Aku ingin lebih dulu mengetahui nama nama yang oleh kasino itu dipandang sebagai pengunjung pengunjung tetap yang menguntungkan. Sayangnya, tuan Pangalos dan Marybelle Corporation tidak dapat memperlihatkan daftar seperti itu kepadaku."

Marybelle Corporation dan keluarga Molise tidak akan berhenti sebelum mereka mendapatkan daftar itu, pikir Decker. Tidak a-kan ada investor luar mau menanam sepeser pun dalam Golden Horizon, sebelum melihat daftar sepertiitu, sedangkan hotel kasino memerlukan investor luar agar bisa tampil sebagai suatu perusahaan yang syah.

Keluarga Molise juga tidak akan senang dengan yang telah dilakukan Decker atas diri sersan Aldo LoCicero. LoCicero berbicara si-silia dan telah ditugaskan menterjemahkan sa dapan sadapan atas pembicaraan pembicaraan keluarga Molise. LoCicero tidak menjadi anggota gugus tugas itu. LoCicero adalah petugas kepolisian yang sedistrik dengan Decker.

Pada suatu pagi, secara kebetulan, Decker melihat LoCicero diantar dengan sebuah mobil Chrysler Imperial baru dan mahal, diturunkan beberapa blok jauhnya dari markas kepolisian. Setelah melakukan pengecekan, sehari kemudian, Decker mengetahui bahwa mobil itu dibeli di NassauCounty dan didaftar atas nama nyonya LoCicero, dibeli dengan harga delapan ribu limaratus dollar secara tunai. Suatu jumlah yang merupakan sepertiga gaji suaminya setahun.

Suami isteri LoCicero juga secara tunai telah membayar ongkos liburan dengan berlayar dengan sebuah kapal pesiar itali ke daerah karibia: limaribu tujuhratus dollar. Juga telah menghubungi agen agen real estate mengenai pembelian sebuah rumah baru, jauh di Long Island dan jauh pula dari 'lingkungan mereka yang berubah terus'.

LeClair harus diberi tahu. Namun, Decker tidak mau mengambil resiko memberi suatu peluang kepada LeClair untuk memukul dirinya, kalau penyelidikannya mengenai LoCicero itu salah. Maka di hubunginya 'Ron' kontak rahasia di markas besar kepolisian. 'Ron' setuju. Informasi diteruskan kepade gugus tugas itu melalui Dinas Intern. Dar dugaan Decker mengenai LoCicero ternyata be nar.

LoCicero yang menterjemahkan sadap? pembicaraan pembicaraan keluarga Molist ternyata selalu membuat salinan yang di kirimkannya kepada keluarga penjahat iti Setiap kali memasuki markas besar gugus ti gas di Federal Plaza, LoCicero memasan sebuah rekorder pada badannya, yaitu diples terkan di atas dadanya. Sebuah nomor telefoi yang ditemukan atas dirinya pdalah nomor sebuah telefon umum di Manhattan. Berita penangkapan atas diri LoCicero, namun, segera tersiar luas, sehingga tidak seorang pun dari keluarga Molise akan mendekati telefon umum itu. Decker, dengan dukungan dua agen FBI, baru saja memeriksa tempat itu, ketika pesawat telefon umum di sudut Seventy-second Street dan Columbus Avenue itu berdering dan segera dilayani oleh Decker. Namun, siapa pun yang berada di ujung sana, orang itu tidak mau berbicara dengan seorang asing.

Di dalam ruangan khusus di Furin itu, Kanai berkata kepada Decker, "Di rumah sakit kita sempat berbicara sebentar mengenai ka-rate-do, dan ketika itu aku menyebutkan bahwa anak menantuku pernah berlatih, namun terpaksa berhenti karena banyaknya pekerjaan. Seandainya ia lebih berpengalaman, mungkin ia lebih berhasil menghadapi penyerang penyerangnya itu. Adakah anda belajar bahasa jepang melalui seni bela diri itu?"

"Aku hanya mengerti beberapa kata, Ka-nai-san. Cukup untuk membuatku rikuh sendiri."

"Kami, orang orang jepang, sangat menghargai jika orang berbicara dalam bahasa kami, biarpun cuma sedikit. Kami bersambut hangat pada usaha usaha orang asing, betapa pun kecilnya."

Kanai tampak lebih bersantai. Kewajibannya pada Decker ternyata tidak melibatkan dirinya untuk mengkhianati perusahaannya a-tau dirinya sendiri. Itu sesuatu untuk diingat.

"Aku berharap akan mencapai suatu kesepakatan dengan tuan Buscaglia mengenai penjaga penjaga keamanan baru bagi gedung itu. Memang menyedihkan, tetapi orang tidak dapat hidup di New York tanpa jasa jasa itu. Beberapa hari yang lalu, terjadi suatu pembunuhan mengerikan di Fifth Avenue."

"Aku tahu," Decker berkata. "Seorang wanita yang bekerja hingga malam telah diperkosa dan dibunuh di dalam kantornya."

"Yang sungguh ganjil, suatu pembunuhan serupa telah terjadi di San Francisco dua bulan yang lalu. Aku kebetulan berada di sana menemui arsitek arsitek kami untuk hotel yang kami rencanakan pembangunannya di Hawaii. Seorang wanita yang bekerja hingga malam di sebuah gedung tidak jauh dari tempat kami berada juga telah diserang dan dibunuh dengan cara serupa."

"Pihak kepolisian di sini berpendapat bahwa itu perbuatan seorang maniak. Mereka tidak bisa memastikan apakah penjahat itu mempergunakan senjata."

"Apakah tugas anda tidak meliputi pula bidang pembunuhan?"

"Tidak. Soalnya karena yang terjadi itu tidak dalam distrik kami."

"Oh, begitu. Kalau hanya mengikuti pemberitaan surat kabar, maka hampir dapat dikatakan bahwa orang yang sama yang melakukan kedua pembunuhan itu."

"Maafkan aku, Kanai-san, tetapi kukira itu suatu kebetulan belaka. Suatu kebetulan yang menyedihkan."

Kanai tidak membantah. "Aku lebih suka menamakannya 'nasib', Decker-san, dan nasib adalah hasil total perbuatan perbuatan kita, penjumlahan semua tindakan kita. Nasib adalah hakim yang tidak mengenal ampun. Dapatlah dikatakan bahwa kedua wanita itu telah diadili dan dihukum, yang dilaksanakan —barangkali— oleh pria yang sama. Barangkali. Tetapi baiklah, akan kuterima sebagai kehormatan jika anda sudi makan malam bersama diriku. Akan kuminta disiapkan makanan di dalam kamar ini. Maafkan aku, kalau aku tidak merencanakan hidangan yang lebih sesuai. Aku mengharap anda sudi menerima yang sedikit yang dapat kusajikan secara tergesa gesa ini."

Teringat pada peraturan departemen kepolisian mengenai undangan makan, Decker menggelengkan kepala. Tetapi tanpa menghiraukan penolakan Decker itu, Kanai bangkit berdiri, pergi ke dan mendorong pintu itu. Ia berbicara cepat dalam Jepang, kemudian balik pada detektif itu dan menatap padanya. "Ini kewajibanku, Decker-san."

Giri. Decker yang telah menggerakkan roda itu menggelinding. Undangan makan malam itu adalah hasil dari sesuatu yang telah dilakukannya, suatu akibat tidak bisa dihindarkan lagi dari tindakannya sendiri.

Hasil keseluruhan dari perbuatan perbuatan kita, Kanai tadi berkata, penjumlahan semua tindakan tindakan kita. Meninggalkan kamar itu akan berarti suatu penghinaan, akan mempersulit untuk kembali dan mengajukan pertanyaan pertanyaan tentang Marybelle Corporation, serikat buruh penjaga keamanan Buscaglia, Management Systems Consultants.

Dan sake itu telah membuat Decker merasa lapar.

"Steak Kobe," Kanai berkata. "Khusus disediakan untukku di sini." Decker mengangkat alisnya. Dengan harga $150 per pon, daging Kobe adalah yang paling mahal di dunia. Ternak Kobe, yang diternakkan di jepang barat dan dijual dengan harga $125,000 seekornya, secara khusus diberi minum bir dan setiap hari digosok dengan anggur, yang menurut kepercayaan melunakkan daging. Mulut Decker mulai berliur.

Decker makan.

Di tengah tengah makan itu, Kanai mengatakan bahwa dirinya bersedia berbicara tentang Pangalos dan Buscaglia, kapan saja Decker menghendakinya. Pernyataan itu hampir lewat begitu saja. Namun Decker bukanlah tipe orang yang membiarkan sesuatu lewat begitu saja. Naluri menguasai dirinya. Ia sedang memikirkan yang baru saja didengarnya dari Kanai, dan menyadari betapa pintar Ushiro Kanai itu, dan... disadarinya pula bahwa hidangan itu juga bagian kepintaran Kanai itu.

Kanai menginginkan agar ia, Decker, selalu memberitahukan kepada Kanai kalau perusahaannya terancam bahaya. Menjadilah sifat Kanai untuk mempergunakan, bukan untuk dipergunakan. Sibuk dengan pikirannya sendiri, detektif itu menusukkan sumpitnya ke dalam nasi dalam mangkoknya dan ia tersenyum. Ada orang orang yang memang bijaksana; ada pula orang orang yang penuh kecerdikan. Ushiro Kanai adalah kedua duanya.

Decker mengulurkan tangan untuk mengangkat gelas birnya, dan tiba tiba, seakan akan tertikam dari belakang, Kanai berhenti makan. Matanya melotot. Decker hampir tidak percaya akan yang dilihatnya itu.

Kengerian.

Tangan Kanai menjangkau di atas meja

rendah itu, menyenggol dan menggeser dan

merobohkan piring piring, mangkok mangkok

dan botol botol, dan menyentak sepasang

sumpit Decker dari nasi dalam mangkok itu.

Sepasang sumpit yang terpancang dan berdiri

tegak dalam nasi itu

"Kematian," Kanai berkata dengan terengah engah. "Di jepang, semangkok nasi dengan sepasang sumpit tertancap dan berdiri tegak disajikan kepada anggota keluarga yang sudah mati."

"Sumimasen," berkata Decker yang sadar. "Aku memohon maaf, Kanai-san. Sesuatu yang teramat bodoh telah kulakukan. Aku memohon maaf dari anda." Hening.

Ingin sekali rasanya Decker merangkak pergi dan bersembunyi. Sialan! Di Saigon, Michi telah menceritakan pada dirinya mengenai adat kebiasaan itu, dan ia telah melupakannya! Baka.Dungu.

Terdengar ketukan pelan di atas pintu sorong dari kertas itu. Kanai bangkit berdiri dan membukakan pintu itu. Kepala pelayan. Orang itu dan Kanai berbicara dengan berbisik bisik, dan kemudian pelayan itu menjura dalam, lebih lama daripada kelaziman, sebelum menghilang kembali.

Kanai agak lama berdiri dengan membelakangi Decker, dan ketika ia berputar, suaranya seperti tercekik. "Sumimasen,Decker-san. Aku mesti meminta maaf dari anda, karena aku harus segera pergi. Aku harus pergi ke anak perempuanku. Anak menantuku baru saja meninggal ."

Kanai meninggalkan Decker, yang merasa bersalah dan bingung, seorang diri saja di dalam kamar itu.

KEDINGINAN DAN PANAS HATI, sersan detektif Dorian Raymond tiba di Atlantic City beberapa saat sebelum pukul 8.30 malam. Ia memarkir mobil Chevrolet bekas itu di pinggiran kota peristirahatan di pantai samudera itu, jauh dari pusat kota.

Perjalanan dari Philadelphia itu sangat melelahkan. Dorian telah berangkat dalam kabut, menuju ke selatan dan ke arah laut, dihambat oleh jalan jalan yang ditutupi salju. Sejam kemudian ia terjebak dalam kemacetan lalu lintas, dengan deretan mobil yang hampir satu mil panjangnya. Tetapi Dorian memaksa diri untuk tenang. Ia harus menjaga agar dirinya tidak sampai dikenali orang.

Sebuah trailer dengan muatan mesin mesin jahit telah bertubrukan dengan sebuah bus penuh orang tua. Peristiwa itulah yang menyebabkan kemacetan itu dan menghambat perjalanan Dorian.

Yang menambah kejengkelan Dorian adalah tidak bekerjanya alat pemanas di dalam mobil itu.Hidung Dorian mengeluarkan lendir terus dan tenggorokannya terasa gatal. Memang sialan benar orang di Philadelphia yang menyediakan kendaraan sialan itu!

Walaupun begitu, Dorian tiba di Atlantic

City dengan masih cukup waktu untuk membunuh Alan Baksted.

Mobil Chevrolet itu berhenti di suatu bagian Brigadier Boulevard yang kosong. Dorian melihat lampu lampu yang diredupkan oleh kabut dari Harrah's Marina Hotel Casino di kejauhan itu. Di tempat itu, yang hanya beberapa blok jauhnya dari samudera, kabut lebih tebal dan Dorian terpaksa mengerahkan penyeka kaca. Yang sebuah bekerja, yang sebuah lagi tidak. Indah.... sialan!

Namun, ia masih dapat melihat dengan cukup jelas gedung apartemen di sudut itu. Enam lantai, di sebelah kanan dan berhadapan dengan Harrah's Hotel itu. Mobil Baksted, sebuah Porsche abu abu, tampak menyolok di antara tiga buah mobil yang diparkir di depan gedung itu. Dorian meniupkan nafas hangat ke tangan bersarung yang ditangkup-kannya itu. Mobil bagus, Porsche itu. Cuma, sayang, tidak bisa dibawanya nanti.

Di belakangnya, sebuah bus kota yang setengah kosong muncul dari kabut, sorot lampu lampunya menembus kegelapan, dan kemudian menghilang lagi. Seorang pria yang terbatuk batuk dan meludah ludah lewat, diseret oleh seekor anjing dengan tali leher, menuju ke arah Harrah's Hotel. Beberapa menit kemudian sebuah taxi kosong melesat lewat.

Detektif New York itu meninggalkan mobilnya, menguncinya, kemudian berjalan beberapa yard ke arah mobil Porsche itu.

Dengan menggunakan korek apinya, Dorian memeriksa nomor plat mobil itu. ALAN B, muka dan belakang. Memang menggiurkan bagi cewek cewek.

Dorian berjalan ke depan Porsche itu, melihat ke sekeliling dirinya, memastikan bahwa tidak ada orang mengawasi dirinya, lalu berjongkok di samping ban depan sebelah kiri. Tiga kali ditusuknya ban itu dengan sebuah penusuk es, dan Porsche itu miring ke samping. Dorian bangkit berdiri dan berjalan kembali ke mobilnya sendiri. Sungguh sayang ia tidak dapat melewatkan beberapa waktu di Atlantic City. Kasino kasino belum tutup sebelum pukul 6.00 pagi, padahal ia mengenal beberapa wanita hangat, seorang pegawai

tempat judi berkulit hitam khususnya

Yah, lain kali saja.

Kembali di dalam mobilnya, Dorian menyalakan sebatang sigaret dan memapankan diri, menunggu.

Dorian Raymond berusia tigapuluhan lebih, seorang pria berperawakan tinggi besar. Ia memiliki ketampanan juga dan rambutnya yang merah mulai menipis. Ia memakai kostum berlari, yang adalah suatu lelucon, karena ia membenci olah raga berlari, membenci semua bentuk olah raga. Celananya berwarna kelam. Mata Dorian tajam di balik kaca mata tidak berbingkai itu. Rambutnya tersembunyi di bawah sebuah peci dari wol pemain ski. Sebelum meninggalkan mobilnya la gi,Dorian akan mengganti peci itu dengan kedok ski berwarna hitam dan kuning.

•Di New York, Dorian bekerja dari distrik East Side, tidak jauh dari GracieMansion. Di tempat itu ia kadang kadang bertugas khusus pada upacara upacara resmi. Dorian Raymond adalah seorang pria yang cerdik dan pandai bertahan hidup di dalam suatu dunia yang penuh orang orang lemah. Ia seorang penjudi dan tukang main perempuan, sifat sifat yang mengakhiri perkawinannya dengan wanita yang masih dicintainya.

Sebagai seorang penjudi ia selalu kalah dan hampir tidak pernah tanpa hutang. Bagi seorang yang kecanduan judi seperti Dorian Raymond, menderita kekalahan itu hampir sama memuaskan seperti menang. Dalam segala hal ia hidup dari saat ke saat lain, dan sangat tidak mempercayai hari depan.

Cinta mengerikannya; semakin seseorang mencintai, semakin banyaklah yang dituntut seseorang lain dari dirinya. Padahal 'kehebatannya' dalam hal itu tidaklah besar. Ia khawatir bahwa cepat atau lambat orang akan mengetahui kelemahannya itu. Serentetan afair tanpa arti dimaksudkan untuk menyembunyikan kerentanan itu. Malangnya, itulah yang menghancurkan perkawinannya. Baru di saat terakhir ia telah menyatakan kepada Romaine betapa ia mencintainya.

"Tidak, kau tidak mencintai diriku," Romaine telah berkata, "Kau mencintai versimu tentang diriku."

"Aku tidak berbohong. Versi apakah-

itu?"

"Yang kaudapatkan dengan meniduri setiap wanita yang dapat kaubujuk. Versi yang kau dan semua teman polisimu punyai dari semua wanita. Madona madona atau lonte lonte, tiada yang di antara itu. Yang kumaksudkan adalah versi yang sama sekali tiada secuwil pun kemiripan dengan diriku yang sesungguhnya."

Dorian secara tiba tiba menyadari bahwa yang paling utama pada isterinya adalah justru hal hal yang tidak pernah mau iaketahui atau akui.

Di dalam mobil Chevrolet itu Dorian tersentak cemas. Ia telah lupa bahwa hari itu adalah hari ulang tahun Romaine. Bercerai atau tidak, semestinya ia mengirim kembang, kartu ucapan selamat atau menelefon. Ia kesal dengan diri sendiri karena telah melupakan hal itu. Suatu kesalahan lagi yang harus dibayarnya dengan mahal. Dengan marah dihantamkannya tinju ke atas kemudi mobil itu. Tidakkah kehilangn Romaine merupakan pembayaran penuh atas segala galanya?

Ah, sudahlah. Kini bukan saatnya untuk menangisi hal hal yang sudah lewat itu; ada pekerjaan yang harus dilakukannya.

Dibukanya tas di atas tempat duduk di samping dirinya, mengeluarkan sepasang sepatu jogging dan mengenakannya. Satu nomor terlalu kecil. Tidak menjadi soal. Ia tidak bermaksud lari marathon. Kembali ia merogo ke dalam tas itu, kali ini untuk mengeluarkan sepucuk Hi-Standard .22, salah satu, pistol terkecil dan paling mematikan yang pernah dibuat. Sebutir peluru kaliber .22 melesat dengan kecepatan seribu kaki per detik. Senjata genggam yang paling disukai oleh CIA, juga oleh pembunuh pembunuh profesional. Juga ada peredamnya.

Di dalam tas itu terdapat pula sebuah foto Baksted, tetapi Dorian tidak memerlukan itu. Sudah beberapa kali ia bertemu dengan orang itu di Atlantic City, dan Dorian menyukai Baksted. Baksted memiliki rasa humor, pernah menyediakan beberapa orang penari dari pentas Golden Horizon, dan memberi kredit pada Dorian untuk berjudi di kasinonya. Dorian bahkan pernah makan di rumah Baksted dan bermain dengan anak anaknya. Namun semua itu tidak menghalanginya menerima kontrak tigapuluh ribu dollar untuk membunuh Baksted.

Tampan dan mendekati usia tigapuluh, Baksted sangat serasi dengan bajingan bajingan itali di Philadelphia yang erat digaulinya. Baksted seorang yang lihai, pandai dalam membuat transaksi transaksi. Selalu ada uang mendukung transaksi

transaksinya. Dan tidak pernah berhutang. Baksted juga penuh hormat, yang dihargai sekali oleh 'Mustache Petes,1 'cukong cukong berkumis' sisa sisa tokoh tokoh gang

zaman Capone, Luciano dan Genovese

Baksted suka menolong, tetapi seringkali terlalu serakah bagi keselamatan dirinya. Ia suka bermain perempuan, mempertontonkan ketidak setiaan itu di depan isterinya. Malam itu Baksted bersama seorang penari berusia tujuhbelas tahun dari salah satu resort murahan.

Padahal, Baksted memiliki segala gala-

nya: uang, ketampanan, keluarga, perempuan,

masa depan. Tetapi ia selalu mau lebih ba-

nyak. Dan menjadilah tugas Dorian Raymond

bahwa Baksted tidak akan mendapatkan apa apa

lagi, untuk selama lamanya

"Aku menyangka Alan itu dilindungi," Dorian yang terkejut telah berkata kepada Sparrowhawk, ketika orang inggris itu menelefon dirinya dari kepulauan cayman, memberitahukan tentang kontrak itu. Baksted menjadi perisai bisnis yang syah bagi Carlos Maggiore, pemuka Mafia yang menguasai kegiatan kegiatan kejahatan di Philadelphia dan mempunyai kepentingan kepentingan yang tersebar dari Atlantic City hingga Florida dan kasino kasino di London.

"Tadinya begitu. Tetapi kini tiba waktunya diadakan perhitungan dengannya. Telah tercapai kesepakatan antara faksi faksi Molise dan Maggiore, dan tuan Alan Bak

sted merupakan limpahan berlebih." "Sejak kapan?"

"Dorian, janganlah kau ikut menjadi gaduh. Ini bukanlah kiamatnya dunia. Baksted telah membuat musuh musuh, yang membawa akibat akibat berat bagi dirinya. Upahmu untuk pekerjaan yang satu ini adalah tigapu-luh ribu dollar."

Dorian bersiul. Ia berputar membelakangi orang banyak yang berlalu lalang dengan susah payah mengarungi salju di atas Lexington Avenue itu, dan menutup telinganya yang satu dengan jari tangannya. Ia mendengarkan dengan cermat.

"Aku merasa bahwa kau telah memberikan perhatianmu sepenuhnya," Sparrowhawk berkata, "Oh ya, sambil lalu, bagaimanakah cuaca di situ?"

"Menyebalkan."

"Aha. Nah, di tempatku sekarang berada,

menyenangkan sekali. Matahari, udara asin,

rhum berlimpah limpah. Cuaca disini sungguh

menyenangkan. Tetapi, yah, lebih dulu tuan

Alan Baksted itu, semoga ia mendapat

tempatnya di sisi Tuhan "

Melalui Marybelle Corporation, keluarga Molise telah membeli Golden Horizon dari Alan Baksted dan keenam partnernya, semuanya pengusaha yang syah. Harganya: sedikit di bawah duabelas juta dollar. Baksted memutuskan menahan 'daftar umpan' untuk dirinya sendiri, membiarkan partner partnernya memba

gi yang duabelas juta itu di antara mereka. Ketika mereka mengeluh, Baksted mengancam dengan Carlos Maggiore. Menyebutkan nama itu saja sudahlah cukup.

Baksted lalu bersikap kaku terhadap Paul Molise junior. Untuk menimbulkan kesan baik pada komisi perjudian New Jersey, keluarga Molise menghendaki Marybelle berpartner dengan pengusaha pengusaha bonafide dalam pengelolaan Golden Horizon. Dan di dalam suatu dunia dengan keuangan yang seret, hanya Murakami Electronics yang tampak berminat membeli 10 persen saham kasino itu.

"Namun," Sparrowhawk berkata, "orang orang Jepang itu berkeras mau melihat daftar penjudi royal yang secara tetap berkunjung ke kasino itu, sebelum mereka bersedia menanam satu yen pun."

"Lalu, apa kesulitannya?" Dorian bertanya. "Tinggal Paul membeli daftar itu dari Alan, dan bereslah sudah, bukan?" Logika. Akal sehat.

"Tidak sesederhana itu," kata Sparrowhawk, "Paul menawarkan dua juta pada Baksted, kemudian tiga juta. Alan menerima tiga, tetapi kemudian berubah pikiran. Ia menaikkan harganya menjadi lima juta. Harga mati, katanya. Dan dapat kutambahkan, bahwa nama Don Maggiore telah dibawa bawa pula oleh Baksted untuk menakut nakuti Paul junior."

Dorian bersiul. "Tolol. Tidak tahukah Alan, bahwa ia mengundang perang dengan berbicara seperti itu?"

"Kebodohan itu nekad sifatnya. Kelakuan egoistik tuan Baksted mengancam pembelian suatu kasino besar dan bahkan berhasil menghina sindikat sindikat itu."

"Jadi, itulah sebabnya. Lalu, bagaimana Paulie berhasil membujuk Maggiore untuk menyingkirkan Alan?"

"Sederhana sekali. Auri sacra fames, kata Virgil di dalam Aeneid. Keserakahan terkutuk akan emas."

Sambil memejamkan mata, Dorian mengangguk. Yah, uanglah yang akan menjadi penyebab berakhirnya segala impian Alan Baksted.

Kepada Maggiore akan diberikan saham saham dalam Golder Horizon. Tidak banyak, namun suatu jaminan nyata. Perusahaan perusahaan Maggiore akan memegang asuransi kasino itu, melayani keperluan akan sigaret, tenaga tenaga pekerja tempat judi, dan Maggiore dapat memutihkan uangnya lewat kasino itu. Paul junior akan mendapatkan 'daftar umpan' itu, dengan membayar uang 'imbalan' sebesar satu juta dollar kepada Maggiore. Dan tidak akan ada perang gang di Atlantic City agar tidak membikin keder para turis. Cuma satu pukulan. Sesudah itu bisnis berjalan seperti biasa.

Paul junior memainkan sebuah kartu truf lagi

dan kartu itu yang membulatkan transaksi itu.

"Ada persoalan suatu berkas, tertentu," Sparrowhawk berkata. "Berkas itu berada di kantor sebuah komisi yang diangkat oleh gubernur New Jersey. Berkas itu memuat hasil penyelidikan atas kerajaan gelap Maggiore. Maggiore menginginkan sebuah salinan. Paul junior menjanjikan bahwa Management Systems Consultants akan menyerahkan berkas itu dua hari sesudah tuan Baksted disingkirkan." "Dan dapatkah anda memenuhi janji itu?" "Sahabatku, kami sudah mempunyai berkas itu di dalam bank data kita selama sebulan lebih. Informasi adalah mata uang yang paling berharga, satu hal yang bahkan harus difahami oleh seorang perwira kepolisian."

"Itu tidak dapat kusangkal. Tetapi, bagaimana dengan 'daftar umpan' itu? Anda tentunya menghendaki aku membawanya kembali ke New York."

"Itu sangat kuanjurkan padamu. Tuan Baksted menyimpan itu di badannya."

"Bagaimana anda dapat memastikan itu?" "Dengan menyetujui permintaan tuan Baksted. Dengan mengatur suatu pertemuan yang akan didatangi oleh tuan Baksted, dengan daftar itu di tangannya. Kau akan menghadangnya di dekat rumah kekasihnya yang terakhir dan mencegahnya mencapai tujuan a-khirnya. Orang orang Don Maggiore akan memberikan bantuan mereka. Mobil, senjata, alamat kekasih tuan Baksted itu dan sebagainya dan sebagainya. Kau segera tanganilah urusan itu. Kita tidak menginginkan orang orang jepang itu kehilangan minat mereka, bukan?"

"Tentu saja," Dorian menjawab. "Sungguh menyedihkan. Alan tidaklah begitu buruk."

"Yang sabar akan mewarisi bumi, tetapi tidak mewarisi daftar daftar umpannya. 0 ya, secara kebetulan sekali, Robbie akan bertanding di Atlantic City dalam empat hari lagi. Karate kontak penuh, tanpa pembatasan pembatasan. Pastilah suatu pertandingan hebat. Sayangnya aku sendiri tidak dapat menonton. Ada urusan di Dalas."

"Kalau aku berada di Atlantic City, tentu anda sudi memaafkan aku jika aku tidak menonton pertandingan itu. Banyak orang New York pergi ke sana untuk berjudi dan aku tidak ingin dikenali orang. Aku cuma melaksanakan pembakaran Alan, lalu menghilang lagi dari sana."

"Tentu, tentu saja, Dorian. Presis seperti Vietnam. Lancarkan serangan kilat, lalu meleburlah dengan semak belukar."

"Tolong sampaikan kepada Robbie bahwa aku memujikan ia menang."

Untunglah bahwa Sparrowhawk menjauhkan Robbie dari pembunuhan bayaran. Dorian memerlukan uang itu. Ia mempunyai hutang sebanyak limabelas ribu pada lintah lintah darat itu, belum lagi hutangnya atas minuman minumannya. Tigapuluh ribu dollar untuk me -

nyingkirkan Alan itu akan menarik dirinya keluar dari sebuah lubang dalam.

Membunuh atas perintah, bagi Robbie, sudah pernah dilakukannya di Vietnam, kadang kadang terlalu hebat. Memang dalam keadaan perang, namun Robbie mencurahkan seluruh diri dalam pekerjaan itu, melakukan hal hal yang bahkan Dorian atau Sparrowhawk tidak bersedia melakukannya. Kalau Robbie sampai mulai menghabisi orang orang di amerika serikat sebagaimana yang dilakukannya di Vietnam, akan banyaklah orang yang tidak bisa tidur.

Dorian, yang hampir empat puluh pon lebih berat dari Robbie tidak pernah sekilas pun berpikir atau ingin mencoba coba Robbie. Di sebuah bar di Saigon, Dorian pernah menyaksikan Robbie menghancurkan empat serdadu baret hijau. Dua orang di antaranya bersenjata lengkap: pisau komando segala, dan yang benar benar mengetahui bagaimana mempergunakan senjata itu, atau.... mengira bahwa mereka mampu mempergunakannya. Seorang di antara mereka telah menjadi cacad untuk seumur hidupnya.

Dorian dan Robbie kadang kadang bertemu, namun telah lenyap keakraban di antara orang orang yang bersama dalam pertempuran. Vietnam sudah masa lalu.

Untunglah bahwa dewasa ini Robbie mendapatkan kesenangan dari pertandingan pertandingan karate itu. Ada Sparrowhawk atau tanpa Sparrowhawk, semoga Tuhan melindungi dunia jika Robbie tidak harus melangsungkan suatu peperangan pribadi.

DORIAN RAYMOND berdiri di depan mobil Chevrolet itu, sudah mengenakan kedok pemain ski, pistol .22 itu terselip di pinggangnya, tersembunyi di bawah rompinya. Jam tangannya menunjukkan pukul 9:10; 'perjanjian' Alan adalah pada pukul 9:30 di pusat kota, di sebuah kamar Golden Horizon. Bisnis adalah bisnis, Alan. Jangan dendam.

Dorian mulai berlari lari, tubuhnya yang besar bercondong ke depan. Ia berlari dengan mulut terbuka. Ya, dewa! Satu blok, dan ia sudah kehabisan nafas.

Ia melompat ke atas trotoar, menghindari sebuah truk kecil, kemudian melompat kembali ke atas jalanan. Ya dewa, mengapa orang suka berlari lari! Gerak badan? Bah! Satu blok lagi, hanya satu saja, dan Dorian balik. Baksted ada di mobil Porsche itu. Mesti Baksted, sekali pun dalam kabut itu tidak mungkin melihatnya dengan jelas dalam jarak itu. Bagaimana kalau itu cuma seseorang yang mencoba mendobrak mobil itu, seorang negro yang mencongkel kunci dengan kawat penggantung pakaian? Hebat!

Dorian berlari, kakinya memukul aspal, kabut basah menjilati mukanya. Sebuah mobil datang dari belakangnya, menangkap dirinya dengan sorot lampu lampunya, kemudi-

an lewat dan menerangi Alan Baksted di dekat Porsche itu, yang menendang ban kempes itu dan memaki maki.

Alan Baksted mendengar suara kaki Dorian yang berlari. Alan melambaikan tangannya, ada sehelai envelop coklat di tangannya. "Hai, ban mobilku kempes. Tolong membantu aku, oke?"

Dorian mencabut .22 itu dari bawa rompinya, berhenti berlari, merunduk, memegang gagang pistol itu dengan kedua tangannya, dan dari jarak hanya empat kaki melepaskan tembakan ke arah kepala. Pistol .22 itu mengeluarkan bunyi pop pelan, tidak lebih keras dari suara dibukanya tutup kaleng bir. Alan terbanting dari Porsche itu, roboh dengan kaki sebelah di bawah badannya. Envelop coklat itu terlepas dan tertinggal di atas atap mobil itu.

Dengan tenggorokan terasa terbakar karena berlari tiga blok jauhnya, paruparu terbakar dan adrenalin mengalir deras, Dorian memandang ke bawah pada Alan Baksted. Dorian melepaskan dua tembakan lagi ke arah kepala, kemudian dua lagi ke jantung Alan, sebelum menyelipkan kembali .22 itu pada pinggangnya. Dalam penerangan yang redup itu, darah di atas wajah Alan bagaikan jalur jalur cellophan hitam berkilat.

Tetapi Dorian belum selesai. Ia harus meninggalkan sebuah pesan.

Ia merogoh ke dalam saku kemeja kaosnya, ?

mengeluarkan beberapa lembar uang kertas li-mapuluhan dollar dan menyobek semuanya menjadi dua. Dengan tenang diselipkannya parohan parohan uang kertas itu ke dalam saku jas Alan dan di bawah rantai emas yang meliliti leher Alan itu.

Pesannya jelas. Keserakahan.

Dorian kini berdiri, mengambil envelop coklat dari atas atap mobil Porsche itu dan merasakan bentuk keras sebuah buku catatan di dalam envelop itu. Dorian berusaha tidak mengingat dua anak kembali Alan yang masih berumur lima tahun itu.

BEBERAPA MENIT KEMUDIAN, di OceanCity, Dorian meletakkan gagang telefon itu, keluar dari gardu telefon itu dan mengangkat botol wodka itu ke mulutnya. Kosong. Dengan jengkel dibuangnya botol itu ke arah suatu tebing salju. Romaine telah bersikap sopan, ramah. Mengucapkan terima kasih atas ucapan selamat ulang tahun itu. Namun, Romaine juga terdengar dingin, tertutup, jelas tidak mau disakiti lagi hatinya. Akhirnya Romaine mengatakan bahwa ia sudah harus pergi; ia

sibuk sekali

Dari Atlantic City, Dorian tidak langsung pulang ke New York. Terlebih dulu ia harus berganti kendaraan, yang berarti harus menempuh perjalanan dengan mobil sejauh limabelas menit ke OceanCity itu. Di kota kecil di pantai Jersey itu Dorian

memarkir mobil Chevrolet itu di suatu jalan samping, berganti memakai pakaiannya sendiri, lalu menyeberangi jalan itu ke sebuah mobil Ford hitam. Pistol .22 itu berada di dalam saku mantel, alat peredam di saku lainnya. Biar orang orang Philly yang menyingkirkan mobil Chevrolet itu5 ia sendiri yang akan menyingkirkan pistol itu. Dari dalam mobil Ford itu, Dorian mengawasi seorang pemuda dalam mantel tentara dan peci baseball Phillies keluar dari sebuah restoran, naik ke dalam mobil Chevrolet itu, lalu membawanya pergi. Mobil Chevrolet itu, seperti juga mobil Ford itu, kedua duanya mobil curian dan akan berakhir di bengkel bengkel pemeretelan, dipereteli hingga menjadi losinan potong dan dijual di eropa dan amerika selatan.

Dorian merasakan kebutuhan akan minuman. Ia masuk ke dalam restoran itu. Sialan! OceanCity adalah sebuah kota 'kering'. Dorian harus menyeberangi sebuah jembatan sebelum menemukan sebuah toko yang menjual minuman.

Setelah mendapatkan sebotol minuman, Dorian duduk di dalam mobil di suatu daerah sepi dan mulailah ia minum. Ia berpikir tentang Romaine dan tentang Alan Baksted.

Pria malang dan Dorian menyadari bahwa

ia tidak akan sanggup mengemudikan mobil itu kembali ke New York tanpa berbicara dengan Romaine. Ada sebuah telefon umum di depan toko minuman itu.

Tetapi Romaine telah mengatakan bahwa dirinya sibuk. Mendengar Romaine berkata begitu pada saat ia, Dorian, sungguh sungguh membutuhkannya, adalah seperti ditendang hatinya.

Kembali lagi di dalam mobil Ford itu, Dorian membanting pintu dan nyaris berputar untuk memasukkan kunci starter, ketika di depannya sana ia melihat seorang pria meninggalkan sebuah rumah yang terpencil letaknya dan mulai berlari lari ke arahnya, bergerak gerak masuk dan keluar dari kegelapan dan sinar rembulan. Dorian nyaris tidak memberi perhatian lagi pada orang itu, namun sesuatu pada pria itu menuntut perhatiannya. Pria itu berlari dengan gaya terlatih. Tanpa ketegangan sedikit pun. Dan penampilannya seperti dikenal Dorian, tetapi mungkinkah ia akan bertemu dengan orang itu di tengah ketiadaan seperti itu? Dan pria itu memegang sebuah tas atase.

Robbie.

Terkejut, Dorian bergerak refleksif. Ia bersembunyi, merunduk rendah di tempat duduknya di belakang kemudi mobil itu. Setelah hitungan dua ia duduk tegak kembali, berputar dan matanya mengikuti pelari yang sudah lewat itu. Tidak salah lagi. Robbie.

Tetapi apakah pekerjaan Robbie di daerah

pelabuhan itu, pada saat ia mestinya

bertanding di Atlantic City? Berada di Ocean

City di depan rumah dijual itu?

Atau berlari dari situ agar tidak terlambat di Atlantic City?

Ah, tidak masuk akal. Di sekeliling situ tidak ada apa pun, kecuali rumah rumah yang terletak terpencar, pohon pohon, pantai pasir yang lebar lebar dan di ujung jalan itu, jembatan tadi.

Robbie lazimnya membawa gi-nya dan perlengkapan perlindungan dirinya di dalam tas atase itu; setiap tahun Sparrowhawk membelikan sebuah yang baru dari London, lengkap dengan monogram dan kunci kombinasi.

Dorian Raymond melihat Robbie naik ke dalam sebuah mobil, memutar mobil itu dan kemudian meluncur cepat menuju jembatan ke OceanCity. Dan seterusnya ke Atlantic City, pikir Dorian.

Dorian berputar lagi di tempat duduknya, memandang ke arah rumah kayu berlantai satu yang tadi ditinggalkan Robbie itu. Dorian menggelengkan kepala.

Malam itu suatu malam besar bagi Robbie di Atlantic City.

Lalu, apakah yang dilakukan Robbie di terapat yang terpencil itu?

ATLANTIC CITY

"Robbie!" "Robbie!" "Robbie!"

MEREKA menyerukan namanya dengan berirama, bertepuk tangan pada tiap suku kata dan memenuhi arena itu dengan suara menjerit.

Tapi zanshin,konsentrasi menuntut seorang

pendekar mengawasi musuhnya dengan mata,

pikiran, jiwa, mencari kelemahannya yang dapat

dimanfaatkan. Robbie Ambrose tidak

menyerahkan diri pada beribu ribu orang yang memnyanjung nyanjung dirinya itu. Ia duduk di sudutnya, dengan pernafasan yang rata, dan dengan matanya yang awas memandang ke seberang ring pada Cari Waterling.

Darah keluar dari sebuah luka di atas mata kiri Waterling yang bengkak itu, dan sisi tubuhnya merah memar, sasaran tendangan tendangan Robbie. Seorang dokter membungkuk dan menyentuh tulang tulang iga Waterling. Karateka itu mengejang dan menggerenyit, menarik nafas lewat gigi yang dirapatkan. Pasti kesakitan, pikir Robbie.

Seorang gadis, berambut pirang dan manis, telah naik ke atas ring dan mulai berjalan memutari ring itu dengan kedua lengan ke atas membawa selembar karton

dengan tulisan Ronde Ketiga. Walaupun siulan

siulan dan ucapan ucapan cabul dilemparkan

ke arah gadis itu, gadis itu tersenyum

terus, dan senyumnya khusus kepada Robbie

adalah tulus. "Selamat," bisik gadis itu

kepada Robbie. Dan matanya mengatakan yang

lebih daripada itu

Konsentrasi Robbie demikian kuat ditujukan kepada Waterling, sehingga tidak didengarnya seruan seruan beribu mulut yang meminta segera terjadinya suatu 'knock out'. Yang didengar oleh Robbie bahkan suatu suara lain. Suara yudawan. Narou Amida Hachiman Dei-Bosatsu. Dengarkanlah, o Bodhisatva yang besar, dewa perang. Akulah pedangmu,-kehendakmu, perbuatanmu. Keempat unsur - api dan air, logam dan kayu - ada dalam diriku.

Aku kuat di dalam kekuatanmu.

Telah kulaksanakan Chi-matsuri,ritus darah.

Akulah bushi sejati, samurai yang seribu tahun usianya.

Aku kuat di dalam keperkasaanmu.

?Robbie!"

"Robbie!"

"Robbie!"

Robbie Ambrose mengerjapkan mata, me-

nyingkirkan dari pikirannya apa yang telah

dilakukannya atas wanita di OceanCity

itu

Telah dilaksanakannya ritus darah, ritus pembunuhan yang akan menjamin kemenangannya malam itu. Seperti wanita wanita lainnya dan sebelumnya, wanita itu mudah dikibuli dengan lencana detektif itu dan kesudahannya wanita itu menyerahkan tubuhnya kepada dewa perang.

Robbie berdiri, menanti, adrenaline bergerak di dalam tubuhnya, tinggal beberapa

detik sebelum bel

Yang sedang berlangsung itu adalah karate kontak penuh, suatu olah raga yang berkembang pesat di amerika: suatu kombinasi tinju barat dan teknik teknik karate. Olah raga itu juga disebut tinju tendang, dan sejumlah aturan keselamatan telah ditetapkan: tidak lagi dengan tinju dan kaki telanjang, para petanding memakai sarung tinju dan lapisan karet busa pada kakinya, dan mereka dilarang mengarahkan pukulan dan tendangan pada sulbi, tenggorokan atau sendi sendi.

Serangan dibatasi pada pinggang dan di atasnya, dengan memperbolehkan paha dan betis sebagai sasaran. Setiap ronde berlan-sung dua menit. Penghitungan angka dilakukan seperti dalam tinju barat, dengan k. o, t.k.o. atau keputusan juri.

Pertandingan malam itu bersifat istimewa: antara dua nama paling tersohor dalam karate kontak penuh. Sebelum mengundurkan diri, bekas juara Cari Waterling merupakan satu satunya orang yang pernah mengalahkan Robbie Ambrose, dengan ke menangan angka sangat tipis. Dalam hatinya, Robbie yakin bahwa dirinyalah yang menang. Namun Waterling adalah sang juara dan pertandingan dilangsungkan di 'kandang' Waterling.

Sejak ronde pertama, Robbie melancarkan serangan serangan dengan tendangan tendangan ke arah tubuh Waterling yang sekali besar, sudah tampak mulai lembek. Sebuah tendangan Robbie menghantam bekas juara itu di perutnya, melemparkannya ke tambang tambang. Waterling kembali dengan agak sempoyongan, dan Robbie menyambutnya dengan ayunan tangan kanan ke wajah Waterling, hingga kepala bekas juara itu tersentak ke belakang, dan Robbie menyusulkan sebuah tendangan lurus yang kembali mengenai lambung Waterling. Waterling membalas dengan suatu tendangan berputar, tetapi Robbie telah berhasil menyudutkannya. Suatu kelitan kepala, dua uppercut secepat kilat, dan Waterling terhuyung huyung di sepanjang tambang tambang. Penonton mencium bau darah; melompat berdiri dan bersorak sorak. Waterling membalas pukulan secara naluriah belaka, mengenai Robbie di atas pipi, tetapi tidak telak.Ronde itu berakhir dengan mulut Waterling berdarah .

Dalam ronde kedua, Robbie berhasil dua kali merobohkan lawannya, yang pertama kali dengan tendangan berputar yang mengenai kepala, mengakibatkan luka pecah di atas mata. Waterling dihitung hingga delapan, bangkit kembali dan sering menyelamatkan diri dengan melakukan rangkulan rangkulan. Menjelang akhir ronde itu, Robbie berhasil menghujam-balikkan tinjunya dan kembali menyempoyongkan Waterling, yang akhirnya jatuh terduduk. Wasit menganggap itu suatu knockdown, tetapi sebelum penghitungan dimulai gong berbunyi, menandai akhir ronde itu. Ronde ketiga.

Kedua karateka itu bergerak maju, wajah masing masing dilindungi lengan bawah dan tangan tangan bersarung. Waterling tampak kehabisan nafas. Juga ngeri.

Ichibyoshi. Jika sudah cukup dekat, seranglah secepat kilat, dalam suatu hembusan nafas, tanpa gerak pendahuluan, tanpa pura pura, tanpa keraguan. Serang sebelum musuh lolos.

Robbie memulai dengan tangan kanan, menghantam luka di atas mata Waterling, membuka kembali luka itu. Waterling, yang terlatih dalam Tae Kwon Do, membalas dengan dua tendangan tinggi sesuai gayakorea. Robbie menahan yang sebuah dan menghindari yang kedua dengan merundukkan kepala, dan sebelum Waterling sempat meloloskan diri, Robbie menendangnya pada paha kanannya. Selagi Waterling bergerak mundur, Robbie menendang sebelah dalam betis kiri dan dengan ayunan kaki yang sama menendang Waterling pada iganya.

Kedua tangan Waterling turun untuk melindungi tubuhnya.

Sekarang.

Ni no koshi no hyoshi. Dengan dua gerakan. Ketika musuh mencoba mundur, pura puralah menyerang dan ragu ragu. Musuh akan menegang dan, selama sepecahan detik, akan mengendor. Di saat itulah harus diserang tanpa ditunda tunda lagi.

Dengan mengangkat kaki kanan, Robbie berpura pura menendang ke arah iga, kemudian menurunkan kembali kaki itu. Waterling seakan akan membeku.

Dengan suatu gerakan yang membuat seluruh penonton bangkit berdiri, Robbie melompat tinggi, berputar di udara dan dalam keadaan masih di udara itu menendang ke belakang dengan kaki kiri, mengenai Waterling tepat di atas keningnya. Pengaman gigi Waterling terlempar keluar dari mulutnya dan kedua lengannya terentang keluar. Waterling jatuh ke atas tambang tambang dan terjungkel, jatuh dengan mukanya ke atas kanvas.

Penonton bersorak sorak riuh rendah. Lupa daratan.

Wasit tidak merepotkan diri dengan menghitung Waterling. Selagi para dokter dan pembantu pembantu berlari lari kepada karateka yang tidak sadarkan diri itu, wasit memanggil Robbie ke tengah ring, dan memegang tangan kanan Robbie itu, mengangkatnya tinggi tinggi.

"Pemenang. Dengan tendangan k.o. Ronde ketiga. Robbie Ambrose."

Robbie tersenyum, berputar menghadap ke empat penjuru dan untuk pertama kalinya menerima dan bersambut pada pujaan pujaan orang banyak itu.

BEBERAPA MENIT KEMUDIAN, di kamar ganti pakaian, Robbie melayani pertanyaan pertanyaan dari pers, penggemar penggemar dan pemuja pemuja, dan promotor promotor yang berhasrat menyelenggarakan pertandingan pertandingan berikutnya. Robbie tampak santai, menjawab pertanyaan pertanyaan dengan tenang dan sikap agak malu malu.

"Kapan aku mengetahui bahwa aku akan mengalahkannya? Pada ronde pertama. Aku berterus terang kepada kalian, jika aku mengatakan bahwa ia tidak mempersiapkan diri. Padahal persiapan itu suatu keharusan, orang harus siap berperang. Itulah yang kita hadapi di atas ring, suatu peperangan."

"Robbie, kaupikir Morris menghindari

dirimu? Maksudku, ia yang sekarang menjadi

juara dan "

"Nah, itu! Kaulah yang mengatakan itu, bukan aku. Aku bersedia melawan siapa saja, kapan saja. Mempunyai peringkat ataupun tidak. Itu tidak menjadi soal."

"Betulkah berita, bahwa Waterling mendapatkan bagian besar hasil pertandingan ini, dan kau hanya menerima sisa sisanya?"

Robbie tidak menanggapi pertanyaan itu dengan serius. "Berbicaralah dengan para promotor mengenai uang. Aku mempunyai seorang pengacara di New York yang menangani kontrak kontrak dan urusan uang itu. Kita katakan saja bahwa aku merasa puas dengan penyelenggaraan dan hasil pertandingan ini."

Tawa.

"Robbie, aku mendengar bahwa Mannie Decker masih berlatih. Kata orang, ia berada dalam kondisi hebat. Ada kemungkinan kalian berdua akan bertemu lagi? Ada yang mengatakan bahwa waktu itu merupakan penampilan dirimu yang paling hebat, sampai Decker patah lututnya."

"Itu pertandinganku terakhir dalam karate non-kontak penuh. Decker tidak bertanding dalam karate kontak penuh, sehingga, kurasa, kami tidak akan bertemu lagi. Aku telah mengalahkannya dua kali. Itu sudah cukup menjelaskan kedudukan kami masing masing."

"Robbie, bagaimana dengan Kejuaraan Terbuka Dunia pada bulan Januari mendatang?"

"Maksudmu, untuk memperebutkan trophy suibin itu?"

"Ya."

"Aku akan mengikuti itu. Akan merupakan semacam peperangan juga, itu."

Trophy suibin, hadiah tunggal dalam turnamen paling kesohor yang akan dilangsungkan pada bulan Januari di Paria. Suibin, sebuah replika dari jambang persegi berusia 1.200 tahun yang kini dipamerkan di istana kerajaan jepang. Replika itu dinilai seharga limapuluh ribu dollar.

"Morris, jika kau ikut mendengarkan," Robbie berkata dengan senyum menyeringai, "Aku akan hadir di istana olah raga di Paris pada bulan Januari mendatang."

"Robbie, aku ada sustu janji di Los

Angeles pada bulan Januari, dan aku ingin

mengadu dirimu dengan "

"Sorry, tapi malam ini tidak ada bisnis. Hubungilah Management Systems Consultants di New York. Pengacaraku ada di-sana dan ialah yang menangani kontrak kontrak. Kalau aku kebetulan bebas, barangkali dapat diatur sesuatu."

"Robbie, kau hebat malam ini. Para dokter mengatakan bahwa rahang Waterling patah di tiga tempat dan beberapa tulang iganya retak."

Robbie mengangkat bahu. Saat ini ia tidak menaroh perhatian seujung rambut pun akan Waterling. Orang itu sudah tiada baginya, presis seperti wanita itu, wanita yang dijadikannya korbanan untuk menjamin kemenangannya malam itu.

"Robbie, aku dari suatu jaringan televisi. Kami diberitahu, bahwa tidak kurang dari sepuluh juta pria, wanita dan anak anak di amerika kini berlatih karate."

"Ya, kukira itu benar." "Yang sebagian besar, kukira, adalah untuk keperluan beladiri. Ada pula sekedar sebagai gerak badan atau olah raga. Di manakah letak rahasianya? Bagaimana seseorang harus berusaha dan berlatih untuk menjadi seorang Robbie Ambrose?"

Robbie menggaruk leher belakangnya. "Keyakinan. Maksudku, jangan berpikir bahwa anda akan menang. Anda harus yakin bahwa anda pasti menang. Keakhlian, teknik, pengalaman. Anda harus mencapai derajat keyakinan yang sedemikian tingginya hingga anda tidak ragu sedikitpun bahwa anda akan menang."

"Dan bagaimana seseorang harus berbuat untuk mencapai derajat keyakinan itu?"

"Ah, itu sederhana sekali. Persiapan. Mempersiapkan diri. Menjaga kondisi, uji latih, lari, gerak badan, apa saja. Lakukan itu semua. Dan di atas segala galanya, yakinlah bahwa itu semua ada gunanya."

Pekerja televisi itu mendekatkan tape rekordernya pada mulut Robbie. "Seperti mengembangkan suatu ritus sendiri, begitu?"

Dengan tersenyum menyeringai, Robbie menatap pada orang itu.

Robbie mengangkat dan mengarahkan jari telunjuknya pada dada orang itu, jari tangan itu telah menggaet pita rekorder itu keluar dari alat perekam.

"Presis," Robbie berkata. "Presis."

HARI MASIH GELAP ketika Decker memulai lari pagi di Central Park, tetapi dalam beberapa menit lagi, matahari akan terbit dari belakang gedung gedung pencakar langit di East Side itu. Park itu masih tertutup selama beberapa jam lagi bagi lalu lintas, sehingga Decker dapat berlari lari dengan bebas.

Decker adalah seorang penyendiri, seorang yang tidak sanggup mengikatkan diri pada siapa pun. Bekas isterinya, Maria, pernah mengatakan, "Ya dewa, Mannie, betapa ingin aku mengetahui apakah tembok yang mengelilingi dirimu itu menahan diriku di luar atau dirimu yang ditahannya di dalam."

Hanya akan menyakiti hati Maria, kalau ia, Mannie Decker, memberitahukan bahwa bagi dirinya komitmen, keterikatan adalah Michi, dan Michi sudah mati. Sejak itu, komitmen Decker adalah karate. Karate adalah suatu penguatan jiwa manusia, diperolehnya kepercayaan diri dan ketenangan pikiran, suatu dunia kemana ia dapat berpaling dan mengasingkan semua dunia lainnya. Dengan merendamkan diri di dalamnya, adalah seperti menjadi bagian dari dua kebudayaan, Timur dan Barat, namun tidak sungguh sungguh sebagian dari kedua duanya.

Maka, kehidupan Decker adalah suatu ke -

hidupan tanpa keterikatan. Ia cuma seorang penyimak, seorang penonton, seorang pengembara yang lewat, menggenapi dirinya di dalam dojo, berbahagia karena hidup menyendiri memungkinkan padanya membuat undang undangnya sendiri.

Di Seventy-second Street, Decker berlari mundur sejauh limapuluh yard, kemudian ia berputar dan berlari sejajar dengan sebuah danau beku, yang di atasnya ditebari tanda tanda 'es tipis'. Itulah aku, pikir Decker. Menari di atas es tipis. Aku tidak ingin menyakiti hati Romaine. Tetapi aku juga tidak mau LeClair menyakiti diriku.

Romaine Raymond masih terbaring tidur di apartemen Decker.Sebelum meninggalkan apartemennya, Decker telah sebentar berhenti memandangi penari cantik berusia duapuluh lima tahun itu. Selimut telah turun dari bahu telanjang itu, memperlihatkan lengkung sebuah buah dada. Sikap tidur wanita itu penuh kepolosan dan sensualitas, kedua duanya hakekat Romaine, seorang wanita yang demikian polos terbuka, seorang wanita yang tuntutan sexualnya begitu kuat, sehingga Decker hanya dapat tidur empat jam lamanya malam tadi.

Mereka semalam merayakan ulang tahun Romaine. Ketika pulang ke apartemen Romaine dari makan malam itu, bertepatan pula dengan telefon dari suami Romaine, Dorian. Khawatir bahwa Dorian yang kedengaran mabok itu akan menelefon lagi, Romaine telah meminta agar dirinya dibawa ke apartemen Decker.

Mereka telah duduk di atas lantai apartemen Decker, minum anggur di depan perapian, bercakap cakap dan tertawa, dan beberapa saat kemudian, Romaine menyetel radio, mencari suatu setasiun hispanik. Setelah menemukannya, Romaine melepaskan seluruh pakaiannya hingga cuma memakai celana dalam lavender yang tipis sekali, dan dengan bersepatu bertumit tinggi menarikan salsa untuk Decker. Sebuah tari paling sexy yang pernah disaksikan Decker.

Yang dihasratkan Romaine dari kehidupan hanyalah menari. Selama beberapa minggu a-fairnya dengan Decker, Romaine hanya mengetahui bahwa Decker seorang pelatih karate, yang mempunyai dojo-nya di gedung LincolnCenter yang sama dengan studio menarinya.

Decker telah merahasiakan identitas diri sebagai seorang polisi, dan kini hampir-lah terlambat untuk mengungkapkan hal yang sebenarnya kepada Romaine. Decker khawatir akan penolakan Romaine. Dunia seorang polisi sangatlah sempit dan berbahaya dan hanya sedikitlah wanita yang cukup kuat untuk ikut mengambil bagian di dalamnya. Maria telah mencobanya dan gagal.

V Tarian Romaine telah menggelorakan nafsu birahi Decker, dan Romaine mengetahui akan hal itu. Romaine melepaskan beha,mengungkapkan buah dadanya yang penuh.

Sebelum Decker dapat menyergapnya, Romaine" tertawa dan melompat ke luar jangkauan Decker. Decker mengejar dengan merangkak , menangkap bukulali Romaine, menyeretnya ke atas dirinya. Decker membenamkan muka pada buah dada Romaine, membasahi daging mulus itu dengan lidahnya. Romaine menangkap cuping telinga Decker dengan giginya, kemudian menjilati pinggiran luar telinga Decker itu. Lidah Romaine bagaikan api, menyalakan nafsu.

"Biarkan aku," bisik Romaine. Romaine lebih suka menelanjangi Decker dengan lambat dan sabar. Ketika mereka sama sama telanjang, Romaine yang memimpin, ketika Deck er menungganginya, dengan bertopang pada tangan dan lututnya, dan meletakkan zakarnya di antara buah dada Romaine. Romaine bergemetar, mengerang dan menekankan kedua buah dadanya satu sama lain, menghimpit daging yang terasa panas itu. Decker bergerak ke depan dan ke belakang, dan setiap kali zakarnya mendekat pada mulut Romaine, Romaine menjilatnya dengan serakah.

Sentuhan lidah itu sangat merangsang Decker, yang tiba tiba merasakan betapa kedua tangan Romaine menangkup pantatnya, dengan kuku kukunya dibenamkan ke dalam dagingnya. Romaine menarik Decker maju hingga zakar itu sepenuhnya tertangkap oleh mulutnya, begitu dalam ke dalam mulutnya sehingga Decker tidak sanggup menahan diri lebih lama lagi. Mereka bergulung mendekat pada perapian itu. Romaine mendekap Decker erat erat, tidak mengijinkannya menarik diri, sambil menelan dan mengerang, dan getaran getaran tenggorokannya menggoncang sulbi Decker. Lidah Romaine menyentil nyentil daging yang keras membengkak itu dan Decker menjalani kematian penuh kenikmatan yang adalah jiwa persetubuhan.

Decker ambruk, terkuras habis.

Dan itu baru awalnya. Berjam jam kemudian barulah mereka masuk ke kamar tidur, dan di situ Decker, yang terhanyut dalam nafsu birahi Romaine yang tiada hanya memikirkan diri sendiri, membawa Romaine pada orgasme demi orgasme.. Sebelum tertidur, Romaine berkata, "Aku "dapat mencintaimu, Mannie. Betul betul aku dapat mencintaimu. Kau bisa memberi kesenangan padaku dan kau dapat membuat diriku tertawa dan itu membuat diriku merasa bahwa kau mengasihi diriku. Kalau aku bersamamu, aku merasa aman sekali. Entah mengapa, tetapi aku mengatakan yang sebenarnya. Dan itu bukan karena karatemu itu."

Romaine menyentuh bibir Decker dengan ujung ujung jari jarinya. "Dan janganlah kau khawatir. Aku tidak menuntut agar kau mencintai diriku. Aku bahkan tidak menuntut agar kau baik padaku. Berbuatlah yang sewajarnya saja, hanya itu yang kuminta."

Bagi Decker itu adalah saat yang paling

membuat dirinya merasa tidak enak, saat dirinya diingatkan bahwa ia dalam persembunyian, berpura pura menjadi seorang lain. Di dalam hatinya Decker mengetahui bahwa pada suatu hari akan ketahuanlah yang dilakukannya dan yang akan menderita pada saat itu yalah Romaine yang cantik dan yang begitu percaya.

Ia, Decker, tidak mencintai Romaine. Namun, ia dapat berbuat wajar, baik, pada Romaine.

SUDAHLAH FAJAR, ketika Decker berlari meninggalkan park itu dan melalui Central Park West dan jalan jalan yang masih kosong menuju ke dojo di West Sixty-second. Do jo itu, yang dulu sebuah pabrik topi, adalah sebuah ruangan luas dengan langit langit tinggi, berlantai kayu, satu dindingnya berkaca cermin dan dengan jendela jendela yang memandang keluar ke atas LincolnCenter dan Broadway. Decker kini berada di 'rumah'.

Decker berlutut di depan sebuah foto besar berbingkai dari Gichin Funikoshi, peletak dasar karate modern, orang yang telah mensistematikka'n bentuk perkelahian kuno dan memperkenalkannya kepada jepang dari Okinawa yang menjadi tempat asalnya. Decker memejamkan mata, bermeditasi selama lima menit. Setelah pikirannya tenang dan jernih, ia membuka mata, menjura pada Funikoshi dan berdiri

Selama setengah jam lebih Decker berlatih, memilih Ten No Kata Omote, dimulai dengan lambat dan terus meningkatkan kecepatannya. Tiga kali diulangnya latihan itu dengan kecepatan yang terus meningkat. Kemudian dilakukannya seluruh kata itu dengan kecepatan puncak. Selesai dengan itu, Decker mulai berlatih tendangan tendangan dasar. Yang disusul kemudian dengan latihan empi, pukulan pukulan dengan siku.

Telefon berdering.

Terkejut, Decker berhenti.

Telefon itu berdering lagi, dan Decker cuma bisa mema.idang ke arah pesawat di atas meja itu. Belum pernah ada orang menelefon dirinya di dojo itu. Juga departemen kepolisian tidak pernah.

Telefon itu berdering untuk ketiga kalinya. Decker mengangkat gagang telefon i-tu.

"Aku mengganggumu?" LeClair. Sialan!

Decker, dengan dadanya yang naik turun, menunggu sejenak sebelum menjawab, "Baru saja selesai berlatih."

"Bagus. Legalah aku jadinya. Aku mengerti bahwa sebuah dojo merupakan sebuah tempat keramat. Aku tidak ingin mengganggu seseorang yang sedang berusaha menjangkau yang maha kuasa. Tetapi ada beberapa hal yang perlu kubicarakan denganmu."

"LeClair, pagi ini aku akan hadir di

pengadilan. Akan kami ajukan bukti bukti baru terhadap calo yang menyerang menantu Kanai itu. Tuduhannya kini pembunuhan. Aku diharuskan hadir, karena akulah perwira yang menangkap keparat itu."

"Ya, aku mendengar tentang tuah Tada itu. Sayang. Alan Baksted. Apakah nama itu tidak mengingatkanmu pada seseorang?"

Decker melepaskan sabuk hitamnya. "Menurut Kanai, orang itu seorang partner dalam Golden Horizon."

"Sedianya. Semalam telah tertembak mati di Atlantic City. Seseorang meninggalkan setengah losin uang kertas limapuluh dollar yang disob.ek menjadi dua di atas mayatnya."

Dengan mengerutkan dahi, Decker menggigit bibir bawahnya. "Kasus maut karena keserakahan. Agaknya ia menerima uang dari orang orang yang salah."

"Begitulah kurang lebih, tuan Manfred. Kau dan aku menangkap pesan itu. Yang ingin kuketahui adalah, di manakah gerangan tuan Dorian Raymond semalam. Peristiwa di Atlantic City itu memperlihatkan tanda tanda pekerjaan seorang penembak yang akhli. Seperti sudah kauketahui, tuan Raymond adalah seorang yang perlu kauawasi. Pukul berapakah kau akan berada di pengadilan?"

"Pukul setengah sepuluh."

"Kalau begitu masih ada dua jam "

"Sorry, tetapi agaknya anda melupakan sesuatu. Tidak ada ketentuan bahwa aku hari ini akan menemui anda. Lagi pula, aku ada urusan urusan lain, belum lagi kusebutkan formulir formulir baru yang harus kuisi mengenai almarhum tuan Tada."

LeClair ragu. "Ah, begitu. Beginilah, tuan Manfred, tolong jawab pertanyaanku ini. Kapankah dapat kuharapkan akan menerima berita darimu mengenai tempat beradanya Dorian Raymond semalam?"

Bertahan hidup.

Dan siapakah yang akan dilemparkan kepada serigala serigala? Berbuatlah baik.

Decker memejamkan mata. "Aku mengetahui di mana Dorian semalam berada."

LeClair nenunggu.

"Atlantic City. Menelefon isterinya dari sana antara pukul setengah sepuluh dan sepuluh malam."

"Bagus! Ya, ya, ya. Nah, mari kita tekan dari sebelah lain. Bagaimana kalau kau menghubungi Kanai itu dan mencari tahu apakah ia dihubungi oleh Marybelle agar datang membawa uang bagi suatu saham dalam Golden Horizon itu?"

"Kanai sibuk dengan penguburan anak me-

nantunya, sehingga untuk sementara waktu ti-

dak bisa menolong kita. Penguburan itu me-

nyangkut ritus ritus dan upacara upacara

tertentu. Orang Jepang menganggap kematian

sebagai suatu kesedihan keramat. Kalau Bak-

sted dibunuh karena daftar umpan itu "

"Yang sangat tidak mustahil "

" adalah lebih baik jika kita

menunggu seminggu atau dua sebelum mendekati Kanai."

"Aku bersyukur telah dapat membujuk departemen memberikan tas atase itu kepadamu, Decker."

"Kanai tidak bodoh. Kita akan harus dari waktu ke waktu memberikan sesuatu kepadanya."

"Misalnya?"

LeClair memang bukan tipe orang yang mudah menyerah.

"Informasi," Decker berkata. "Ia mencium ada sesuatu yang tidak beres dengan Marybel-le. Ia mengetahui kalau ada polisi mulai bertanya tanya, sudah waktu baginya "menata kembali segala sesuatunya. Kalau kita mendapatkan bukti bahwa Marybelle itu sebuah perisai Molise, Kanai akan mau mengetahuinya."

"Decker, dalam dunia ini memang ada o-rang orang yang harus menderita dan mereka sebaiknya menerima itu sebagai suatu kenyataan. Nah, sebelum kau mulai mengungkapkan sesuatu kepada Kanai, kau bicarakan dulu denganku. Mengerti?"

"Jelas."

"Bergairahlah sedikit, Decker," LeClair

berkata. Kau dan aku masih harus berjalan jauh. Kalau itu kita lakukan bersama sama, mungkin akan kita selesaikan dalam separoh waktunya. Kebetulan aku ada sesuatu mengenai

Sparrowhawk yang mungkin menarik bagimu. CIA tidak menghendaki kita menyelidiki yang telah dilakukan Sparrowhawk untuk mereka di Saigon. Kami mengetahui bahwa dirinya dipakai CIA sebagai tenaga lepas. Namun tidak seorang pun mau mengatakan apa yang dikerjakannya itu. CIA keparat!"

"Aku hanya dapat mengatakan padamu yang kudengar," Decker berkata. "Aku mendengar bahwa Sparrowhawk membunuh untuk mereka. Begitu pula yang dilakukan Dorian Raymond."

"Itu tidak mengherankan. Kami mengetahui bahwa di Saigon, Sparrowhawk dan Raymond mempunyai kontak dengan seorang jepang bernama George Chihara. Orang jepang itu mempunyai seorang anak perempuan, yang kukira kaukenal."

"Michi. Kami merencanakan akan kawin. Ia mati."

"Menyedihkan." LeClair menunggu selama tiga detik, kemudian berkata lagi, "Serangan roket vietcong atas rumahnya. Mayat mayat diketemukan dan diidentifikasi. Sparrowhawk dan Raymond menyaksikan serangan itu, kalau aku tidak salah mendengar."

Decker mulai melepaskan pembalut dari lututnya. "Ada orang ketiga bersama mereka. Robbie Ambrose."

"Tuan Ambrose. Ya, ya. Kata orang, ia juga seorang karateka. Oke. Kini kita dapati pelaku lain dalam permainan. Paul Molise, Jr., mengenal orang orang mafia yang melihat

peluang untuk menarik keuntungan dari perang, dan muncullah ia di Saigon. Maka lengkaplah. Kita dapatkan sindikat, CIA, personel militer amerika, dan kita dapati seorang bernama Chihara, orang Jepang itu. Belum lagi kita sebutkan seorang inggris, mayor Sparrowhawk. Semuanya berkumpul di sekeliling api unggun itu. Kausimaklah semua itu."

"Bagaimana dengan diriku sendiri? Aku juga berada di sana, ingat? Pada waktu yang sama. Dan aku mengenal mereka semua."

LeClair tertawa dengan mulut tertutup. "Mereka membenci dirimu, Decker, dan kau mengetahui hal itu. Itulah yang menyelamatkan dirimu. Kau berada di pihak yang satu dan mereka berada di pihak lainnya. Kau seorang pengawal pasukan komando A.L., dan seandainya tidak ada kontakmu dengan Michi Chihara, kau tidak akan mempunyai hubungan atau sangkut paut dengan mereka. Kecuali, barangkali, Robbie Ambrose. Ia telah dua kali mengalahkan dirimu, eh?" "Ya."

"Decker, kau tadi mengatakan bahwa kau cuma mendengar tentang gerombolan itu di Saigon. Apakah yang mengumpulkan mereka di sana itu? Apakah yang kaudengar tentang itu?"

"Uang. Narkotika. Uang sogok atas proyek proyek pembangunan Vietnam, penyelundupan berlian, penyelundupan emas, penyelundupan senjata. Segala sesuatu merupakan suatu rahasia umum di Saigon, teristimewa pada zaman gila itu. Teristimewa ketika itu. Di sini, semua diklasifikasikan. Di sana, bahkan kera kera mengetahui apa yang sedang terjadi."

"Hmmrn, kukira akan kucoba CIA lagi. Mengerahkan sedikit pengaruh. Lututmu baik?"

"Tidak bisa menendang."

"Ya dewa, sayang sekali. Nah, harinya a-dalah besok pagi. Di kantorku, pukul setengah sepuluh tepat. Dan yang baik pada nyonya Raymond, Decker. Cobalah dengan sedikit kelembutan. Wanita menyukai itu."

Mannie Decker yang lebih dulu meletakkan gagang telefon.

MALAM ITU, Decker melatih murid muridnya dengan lebih berat dari biasanya, karena ia mau membersihkan dirinya, melupakan yang sedang dilakukannya pada Romaine.

Dojo itu, Manhattan Karate Club, mempunyai lima orang instruktor, empat orang amerika dan seorang Jepang. Dua dari orang o-rang amerika itu, Nick dan Grace Harper, sepasang suami isteri yang mendekati usia

Dua instruktor lainnya adalah Luke, seorang guru berkulit hitam dan berusia tigapuluh tahun, dan Tommy, pemuda Jepang berusia delapan belas tahun, penyandang sabuk hitam,

yang sudah berlatih sejak usia sembilan tahun.

Seperti biasa, ada juga tamu tamu. Ada yang datang menyaksikan dengan maksud akan masuk menjadi anggota. Ada pula yang menunggu isteri, suami, teman yang sedang berlatih di situ. Para tamu itu duduk di atas bangku bangku panjang di dekat pintu keluar, bercakap cakap dengan berbisik bisik atau sama sekali tidak bercakap cakap.

Decker jarang memperhatikan tamu tamu itu, teristimewa kalau ia sendiri sedang mengajar. Tetapi malam itu, Decker melihat perhatian para tamu itu ditujukan pada seorang wanita yang berdiri di lubang pintu. Decker berhenti mondar mandir di atas lantai latihan dan ikut memperhatikan wanita itu. Ua nita itu seorang jepang, kecil, anggun, menarik perhatian. Wanita itu memakai mantel Black Diamond, topi kulit berbulu yang cocok dengan mantel itu. Sepatu bot yang harganya mungkin sebulan gaji Decker. Dengan keengganan Decker berpaling dari wanita itu dan kembali pada murid muridnya. Ketika berjongkok memberi contoh suatu gerakan, Decker kembali melihat ke arah pintu itu. Selama sedetik, Decker menyangka bahwa wanita itu memandang pada dirinya. Namun itu sulit dipastikan dengan kaca mata hitam berbingkai besar yang dipakai wanita jepang itu. Decker berdiri lagi. Melanjutkan latihan itu. Ketika memberi contoh untuk membetulkan si kap pertahanan seorang murid, Decker berdiri sedemikian rupa sehingga ia dapat melihat ke arah pintu itu. Ah, sungguh menarik. Wanita jepang itu memang memandang pada dirinya.

Wanita itu melepaskan kaca mata untuk dapat melihat secara lebih jelas, dan kini mengenakannya kembali ketika Decker melihat ke arahnya. Setengah senyum di atas wajah wanita itu menggemaskan Decker. Tetapi ia berkata pada diri sendiri, sudahlah. Tidaklah patut jika seorang instruktor meninggalkan murid muridnya untuk seorang tamu, betapa pun cantik tamu itu. Tetapi .... ada sesuatu pada wanita itu yang membuat Decker bergerak mendekat. Decker ingin berbicara dengan tamu itu.

Kemudian, wanita itu memiringkan kepala ke arah kiri dan tatapan mata dari balik kacamata hitam itu ditujukan langsung pada Decker. Decker tidak memalingkan mata kalau pun itu mau dilakukannya. Sebab sesuatu pada satu gerak itu, cara wanita itu menggerakkan

kepala, mengingatkan Decker pada

Tetapi tidak, itu mustahil. Decker menggoyangkan kepala, bermaksud menjernihkan pikiran. Mustahil! tetapi semakin berkeras

ia, semakin kuat ide itu menjadi

Tanpa berpikir pikir lagi, Decker menepuk bahu Luke, "Kauambil alih."

Luke melempar pandang sekilas ke arah pintu itu. Ada kekaguman dalam suaranya, "Ah...oke, aku mengerti."

Decker lewat di depan Luke, berjalan ke arah wanita Jepang itu. Yang kini secara terang terangan tersenyum padanya. Kini tidak menyangsikan lagi. Para tamu yang duduk di atas bangku bangku panjang itu tanpa menyembunyikannya memandang pada kedua orang itu: wanita misterius itu dan karateka itu.

Pikiran Decker goncang. Bagian dirinya yang manakah, Decker bertanya dalam hati, yang bertanggung jawab atas yang dilihatnya itu? Matanya? Pikirannya, yang menolak melepaskan masa lalu? Ataukah hatinya, yang tidak bisa berhenti mencintai seorang wanita yang sudah mati?

Decker melangkah maju untuk memeluk khayalan itu.

Dan dunianya berubah untuk selama lamanya.

"Michi?"

"Mannie," Suara wanita itu berbisik. Lirih. Namun suara itu suatu sentakan dahsyat bagi Decker.

wanita itu mengulurkan kedua lengannya padanya, tetapi Decker hanya dari berdiri di situ dan menangis.

emang Michi. Dan Michi masih hidup.

Bersambung ke Dua

DUA

K A I - K E N

Di Jepang zaman feodal, pisau yang dipergunakan kaum wanita untuk membela diri.

DUA JAM SETELAH MENINGGALKAN DOJO ITU, Decker dan Michi berlutut di depan sebuah tokonoma, sebuah ruangan kecil di dalam dinding ruangan duduk apartemen Michi di East-End Avenue. Mereka telah mengenakan kimono sutera hitam dengan roons,lambang keluarga Chihara di punggung lengan kimono masing ma-sing. Lambang dalam emas, perak dan putih itu melukiskan seorang pemanah zaman pertengahan yang membidikkan anak panahnya yang terakhir pada seekor elang yang terbang tinggi. Lukisan itu melambangkan asal usul keluarga Chihara dari klan Minamoto, pemanah pemanah Jepang feodal yang paling tersohor.

Sebuah surat gulungan, ditulis tangan dalam emas,biru, hijau dan putih, tergantung pada dinding ruangan kecil itu. Surat gulungan itu juga memperlihatkan seorang pemanah, tetapi yang seorang itu duduk seorang diri sedang bermeditasi di dekat sebuah sungai di bawah pohon pohon rindang. Yang dilukiskan itu adalah Yoshiiye dari klan Minamoto, pemanah ulung pertama yang tampil dalam buku buku sejarah Jepang. Kemampuannya dengan panah dan busur, dan sebagai seorang akhli strategi perang, telah mendatang gelar Hachiman Taro bagi dirinya, putera tertua dewa perang.

Di atas lantai ruangan kecil itu terdapat dua buah jambang berisi beberapa tangkai bunga mawar kuning yang kecil kecil. Decker

melihat bahwa Michi dengan sengaja telah mengoyak sehelai kelopak dari sekuntum mawar dalam masing masing jambang itu. Furyu.

Suatu peringatan akan ketidak sempurnaan dalam kesempurnaan. Suatu peringatan bahwa alam, seperti segala lainnya, bersifat fana, dan seringkali menyakitkan.

Ketika di dojo tadi, mereka tidak banyak berbicara satu sama lain. Ha, orang Jepang menyebutkannya. Kemampuan untuk menikmati kehadiran sahabat dan orang orang yang dicintai di dalam keheningan.

Tetapi, di dalam taxi, Michi telah berkata, "Aku mencintaimu, Manny. Aku tidak pernah berhenti mencintaimu. Aku, kita, akan mengatakan yang selebihnya pada waktunya."

Dan Decker, karena tidak sanggup mengukur kebahagiaannya, karena tidak menentukan syarat syarat apa pun atas kembalinya Michi di dalam hidupnya, tidak meminta apa apa lagi.

Ia hanya mengatakan bahwa juga dirinya tidak pernah berhenti mencintai Michi.

"Ibu dan kakak perempuanku tewas di Saigon," Michi berkata, "Tetapi ayahku tidak. Ia jatuh ke dalam tangan orang orang Vietnam utara. Bertahun tahun lamanya aku berusaha membebaskannya. Aku tidak ada pilihan lain."

Dan Decker mengetahui yang terjadi selanjutnya. Giri.Keluarga Chihara terkurung oleh tradisi garis darah yang kejur dan tegar, yang didukung oleh suatu masyarakat yang sama tegarnya. Garis darah Chihara, yang dapat dijejaki asal usulnya hingga seribu tahun ke masa lalu, adalah dari samurai yang mengabdi kaisar kaisar dan shogun, pangeran dan pemimpin pemimpin klan. Akhirnya, kaum samurai itu sendiri telah bangkit sebagai suatu golongan elite.

Keluarga Chihara selamanya anggota de-

ngan hak hak istimewa dari golongan militer

jepang yang berkuasa. Dalam perang dunia ke-

dua, ayah Michi, George Chihara, merupakan

samurai teladan, seorang anggota Jinrai

Butai,pasukan halilintar suci, nama julukan

bagi Tokko-tai, pasukan penyerang khusus.

Pilot pilot kamikaze

****** *****

Saigon, 1974.Pertama kali Decker bertemu dengan George Chihara, tidak: lebih tepat dikatakan 'pertama kali melihat George Chihara', dan Decker tidak akan pernah melupakan peristiwa itu.

Tanpa diketahui oleh Chihara, anak perempuannya dan Decker melihat dari sebuah jendela villa Chihara, bagaimana Chihara membasmi hingga habis, berlosin losin anjing cacad, kelaparan dan galak, yang telah dikumpulkan oleh pelayan pelayan Chihara dari jalanan jalanan kota Saigon

Chihara menghabisi anjing sebanyak itu dengan menggunakan senjata panah. Seekor demi seekor dengan sebatang anak panah.

Michi ketika itu memalingkan muka. "Sekali. sebulan ia melakukan itu. Selama beratus ratus tahun, para pemanah berlatih dengan cara itu."

Di luar, di bawah sana, Chihara pemanah, keturunan samurai, melanjutkan pembunuhan anjing anjing malang itu.

Berhati hatilah menghadapi lelaki haram jadah itu, pikir Decker. Sedapat mungkin hindarilah keparat berdarah dingin itu.

SELAMA SERIBU TAHUN keluarga Chihara diajar untuk memilih giri di atas ninjo, perasaan perasaan manusiawi, demi pelestarian kelompok dan kelembagaan di atas perseorangan. Giri adalah kewajiban, kesetiaan, tanggung jawab sosial. Ninjo adalah kekacauan dan kerawanan, tragedi dan kegaduhan. Bagi Michi, jatuh cinta pada Decker memerlukan keberanian dan ketabahan besar, dan Decker bertambah kuat mencintai Michi karenanya. Namun begitu, Michi tidak dapat sepenuhnya melepaskan diri dari beban seribu tahun itu, dan Decker menyadari hal itu. Namun, dalam impian buruk yang bernama 'Vietnam' itu, cinta adalah satu satunya yang menjadi miliknya. Yang tidak akan dilepaskannya.

Cinta yang mempertemukan Michi dengan Decker.Di Saigon mereka bertemu pada Tanabata,pesta Jepang yang merayakan dua kekasih - sepasang bintang yang diberi nama Vega dan Altair, yang menurut legenda bertemu sekali dalam setahun pada bulan Juli, kalau tidak turun hujan. Ketika bertemu Michi di sebuah jalanan di Saigon, Decker yang berusia duapuluh empat tahun tidak membawa persembahan apa pun kecuali sebait syair di sakunya. Gadis Jepang berusia duapuluh dua tahun itu terkejut melihat seorang amerika mengenal adat kebiasaan itu.

"Semakin buruk keadaannya di sini," Decker berkata, "semakin kugantungkan segala sesuatu pada pengharapan. Menulis syair ternyata menenteramkan hati. Entah apa yang mesti kulakukan dengan syairku ini."

Michi, dengan menatap pada Decker, mengulurkan tangannya. Sakaye, kakak perempuan yang menenami Michi ke pesta itu, menyaksikan pria amerika itu memberikan syairnya kepada Michi, melihat tangan mereka bersentuhan dan berlama lama sejenak dalam persentuhan itu. Teringat pada ayah mereka, Sakaye mengetahui bahwa yang baru disaksikannya itu sama berbahayanya dengan NVA, tentera Vietnam utara, yang setiap hari makin mendekati kota Saigon.

Tetapi, bahkan sebelum bertemu dengan Michi, Decker sudah mengetahui tentang ayah» Michi. Salah seorang pengusaha Jepang yang pa

ling kaya di asia tenggara. George Chihara memiliki dua buah perusahaan penerbangan, real estate di Vietnam selatan, laos dan ma-cao, sebuah perusahaan pembangunan, dan pabrik mainan anak anak. Dan karena CIA menempati tiga lantai dari gedung kedutaan besar amerika di Saigon, Decker mengetahui bahwa Chihara mempunyai hubungan dengan CIA, yang memanfaatkan hubungan itu untuk berdagang narkotika dan menyelundupkan emas dan berlian.

Chihara masih mempunyai hubungan pula dengan mafia amerika, keluarga Molise di New York. Di Saigon, sindikat gelap telah menjadi kaya dengan pembangunan militer amerika, dan dalam perdagangan narkotika dan emas itu. Sindikat gelap itu juga mendapat bagian berjuta juta dollar dalam hubungan dengan club club basis basis amerika yang tersebar di seluruh Vietnam selatan. Daya tarik Chihara bagi dunia kejahatan terorganisasi amerika adalah hubungan hubungannya yang 'mahal ' dengan politisi Vietnam yang korup dan jendral jendral amerika tertentu.

Chihara adalah kuromaru yang terkemuka di antara orangorang jepang di Saigon. Diambil dari nama tirai hitam dalam teater kabuki, seorang kuromaru adalah seorang calo kekuasaan dalam dunia gelap bisnis jepang. Chihara telah dijuluki 'si Ular' karena kecepatannya' dalam menyingkirkan saingan saingan dalam bisnis. CIA membutuhkan Chihara.

Dan karena Chihara mengetahui terlalu banyak, ia juga ditakuti oleh CIA.

DI APARTEMEN DUPLEX Michi di Manhattan dan yang berpemandangan atas East River, Michi dan Decker melepaskan pakaian masing masing, kemudian mandi sebelum berendam di dalam bak mandi besar itu. Ada musik pita kaset -koto, harpa bertali tigabelas dan seruling dan juga samisen, sebuah balalaika jepang.

Di dalam ruangan duduk yang besar itu terdapat sebuah perapian, dan pesawat pesawat telefon dengan sambungan langsung dengan Tokyo, sebuah televisi dan sebuah telex yang tersembunyi dibalik sebuah penyekat berwarna hitam dan merah. Uang untuk semua itu berasal dari batu batu intan. Michi memimpin kantor New York 'Pantheon Diamonds' dari Tokyo, dan menjadi seorang eksekutif jepang yang paling dibayar tinggi.

Decker menceritakan tentang pekerjaan dirinya kepada Michi dan bahwa dirinya juga seorang 'petugas lapangan', suatu hal yang tidak diberitahukan Decker pada keluarganya sendiri.

Michi berkata, "Kedengarannya berbahaya. Tidak seorang pun ingin dikhianati." "Aku berhati hati."

"Dan kau senang dengan hidup dalam ketegangan dan menjadi petugas lapangan."

"Seperti biasanya, kau memahami benar di

riku. Mengetahui bahwa ada orang yang mengetahui begitu banyak tentang diriku, mestinya membuatku cemas. Tetapi karena kau orang itu, aku menerimanya."

"Karena aku menerimamu sebagaimana kau adanya. Selalu."

."Di Saigon, aku telah berjanji padamu. Aku telah berjanji akan datang padamu, untuk membawa dirimu pergi bersamaku dengan salah satu penerbangan terakhir yang meninggalkan kota itu. Aku telah datang, Michi. Sungguh, aku telah datang menjemput dirimu."

"Aku tahu. Aku diberitahu bahwa kau memegang janjimu itu."

Decker memejamkan mata. "Tetapi terlambat. Terlalu terlambat. Rumah itu sudah hancur. Roket roket vietcong. Menewaskan keluargamu. Menewaskan dirimu, kusangka."

"Seorang teman, Kiye, yang berada di rumah pada saat itu dan adalah mayatnya yang salah diidentifikasikan sebagai diriku. Katamu mayor Sparrowhawk yang memberitahukan padamu bahwa aku telah mati."

"Ia. Dan Dorian Raymond dan Robbie Ambrose. Mereka mengatakan melihat sendiri rumah itu kena roket. CIA menguatkan kisah mereka. Ya dewa, lama sekali aku membenci Sparrowhawk. Membenci Dorian, membenci Robbie."

Michi memandang lama sekali pada Decker sebelum bertanya, "Mengapa?"

"Beranggapan bahwa mereka semestinya dapat menyelamatkan dirimu. Tetapi, aku memang tidak pernah bisa cocok dengan mereka. Telah beberapa kali berbenturan dengan haram jadah haram jadah itu."

Banyak yang diketahui Decker mengenai permainan kotor yang dilakukan Sparrowhawk, Dorian dan Robbie bersama CIA pada hari hari terakhir sebelum jatuhnya kota Saigon.

"Pada hari terakhir itu," Decker berkata, "Telah kulakukan segala galanya untuk menjemput dirimu. Tetapi sialan, ada saja yang tidak beres. Aku diperintahkan menjemput sejumlah perwira, membawa mereka ke kedutaan besar dan kemudian ke dalam helikopter.Aku diperintahkan mengumpulkan warga negara sivil amerika. Belum pernah aku sesibuk saat itu. Seandainya aku tidak menjalaninya sendiri, aku bisa bersumpah bahwa ada seseorang yang mengatur segala sesuatu sedemikian rupa untuk memisahkan kita berdua satu dari yang lainnya."

Decker tidak melihat Michi mengerjapkan mata. Ketika melihat padanya, Michi menundukkan kepala, memandang pada air di dalam bak mandi itu. Michi bahkan lebih cantik daripada yang diingat oleh Decker. Dengan kulit bagaikan gading murni, dan mata sejernih batu permata kelam. Rambut Michi kini lebih pendek, tetapi tubuhnya masih selangsing dulu, tetap menggiurkan seperti dalam mimpi mimpi Decker.

Setelah keluar dari bak mandi itu, mereka mengeringkan badan dan mengenakan kimono. Setelah berlutut di depan tokonoma mereka bangkit dan masuk ke dapur. Michi membuat teh, dan Decker mengatakan kepada Michi bahwa ia bertugas menyelidiki Sparrowhawk dan Dorian Raymond. Anehnya, Decker merasa bahwa Michi tidak heran mendengar keterangannya itu.

Ketika Michi mengatakan bahwa sejak bulan September ia telah berada di New York, Decker menanyakan mengapa Michi tidak lebih dini menghubungi dirinya.

Michi menuangkan teh. "Aku mesti meminta padamu , Manny, bahwa di antara kita ada keiyaku, ya?"

Decker mengangguk. Kaiyaku adalah suatu kontrak, suatu perjanjian, dengan ruang mengubah persetujuan itu kalau keadaan menghendakinya.

Michi berkata. "Aku meminta agar di depan umum, kau memanggilku Michelle. Aku adalah Michelle Asama, keturunan eurasia."

Decker menantikan penjelasan Michi.

"Seperti sudah kauketahui, di Saigon, ayahku mempunyai urusan urusan yang tidak selalu benar, jujur dan bermoral. Bagian yang itu dari ayahku mau kujauhkan dari diriku. Aku tidak menghendaki perhatian pembesar amerika atau CIA atau orang lain menghubung hubungkan diriku dengan ayahku dan zaman itu. Aku kini mempunyai suatu kehidupan baru."

"Kau tidak menghendaki aku merusakkan itu. Itukah sebabnya kau malam ini datang ke dojo menemui diriku?"

"Aku tidak akan datang seandainya aku sudah tidak mencintaimu, dan kau mengetahui benar, hal itu. Namun betul, aku tidak ingin dicanggungkan oleh suatu .pertemuan yang tidak terduga duga, maka itu aku yang datang padamu. Kadang kadang kepada kami, anak anak samurai diperkenankan hoben no uso, kebenaran sesuai kebutuhan. Yang kalian namakan 'kedustaan yang diperlukan1. Namun padamu tidak kuterapkan itu."

"Aku mempercayaimu. Michelle. Nama bagus. Perancis."

Michi menuangkan teh lagi. "Orang orang perancis masih juga ada di indochina bertahun tahun setelah menderita kekalahan. Kukira yang sama akan terjadi dengan orang orang amerika. Jadi, ada persetujuan itu di-antara kita? Aku adalah Michelle. Di depan umum"

"Kau sudah mengetahui bahwa aku akan menyetujuinya sebelum kau memintanya." "Ya."

Decker memandang kembali pada Michi. Michi sekarang lebih kuat. Lebih berketetapan hati. Pada usia duapuluh delapan tahun, Michi tampak sepuluh tahun lebih muda. Entah bagaimana, Decker merasa bahwa Michi sudah mengetahui banyak tentang dirinya, dan karena itulah Michi tidak menanyakan hal hal yang lazimnya ditanyakan setelah suatu per-

pisahan yang enam tahun lamanya. Decker mengesampingkan pikiran itu. Jangan ada sesuatu yang melintang di antara dirinya dan Michi. Apa pun.

"Ayahmu." Decker berkata.

"Ia telah dijual kepada vietcong. Mereka memasang harga di atas kepalanya. Ada orang yang mau mendapatkan hadiah itu. Jangan menanyakan padaku siapa orang itu. Pada waktunya, Manny, pada waktunya akan kukatakan."

Michi meninggalkan Decker dan pergi ke tokonoma itu, berdiri di situ seakan akan menimba kekuatan dari leluhurnya. Decker menyusul ke situ. Dan untuk kedua kalinya malam itu, Decker menangis. Dan ketika Michi mengulurkan tangan, memegang tangan Decker, Decker teringat akan suatu janji lain di antara mereka. Pada suatu saat lain, dan di sebuah tempat keramat lain.

Tokyo. Mereka tidak terbang dengan pesawat yang sama, untuk sebentar menghindar dari peperangan dan ayah Michi. Tempat suci Yasukuni, salah satu pusat agama paling ter-mashur di Jepang. Michi dan Decker berjalan jalan dengan bergandengan tangan di antara pohon pohon sakura. Minum air suci untuk menyucikan bibir mereka sebelum memasuki gedung gedung keramat itu. Di depan Serambi Pemujaan Utama mereka melemparkan mata uang dalam sebuah kotak, bertepuk tangan membangunkan para dewa yang tidur, kemudian merangkap tangan, menundukkan kepala dan berdoa.

Michi berkata, "Bahkan kalau kita mati secara terpisah, kita akan bertemu lagi dan mekar di dalam taman ini, yang adalah suatu tempat berlindung bagi semua bunga ."

:Kita akan bertemu di sini sesudah mati, Michi. Aku berjanji."

************

DI DEPAN RUANGAN KECIL ITU Michi berkata, "Kau tentu mengerti bahwa kewajibanku terhadap keluargaku, pada ayahku, mendahului segala galanya. Bahkan sebelum dirimu?"

"Aku mengerti." Decker tidak menyukai itu, tetapi ia tidak bisa berbuat apa apa.

Dari ruangan kecil itu, Michi membawa Decker ke kamar tempat tidurnya. Sesuai cara Jepang, Michi tidur di atas futon, kasur yang digelar di atas lantai. Mereka melepaskan kimono masing masing dan Decker mengagumi tubuh indah, berbuah dada kecil itu, teringat dan terkenang, berhasrat. Tetapi tidak perlu ber-senggama dengan Michi. Belum.

Mendekap tubuh Michi sudahlah cukup. Mereka berbaring bersama. Dan, walaupun masih ada pertanyaan pertanyaan timbul dalam pikiran Decker, ia diam, tidak mengajukannya. Decker melawan kantuknya. Ya dewa, ia tidak mempunyai niat memejamkan mata dan mengakhiri itu, bangun dan mendapatkan

Michi, Michelle, tiada di situ lagi. Dan dirinya seorang diri di apartemennya sendiri,

masih dirundung kepedihan karena kehilangan

Michi.

Tetapi Michi mengelus elus wajahnya, ujung ujung t jari lembut itu menggosok gosok bekas luka di atas hidungnya, bibir Michi di atas matanya, dan Michi mengatakan bahwa ia akan berada di samping Decker di pagi hari. Decker menyerah dan tertidur dalam pelukan Michi.

Michi mnendekapnya, membelai rambutnya. Menunggu.

Dan setelah pernafasan Decker rata, Michi mengetahui bahwa ia kini dapat berangkat. Michi meninggalkan futon itu, berlutut di .sampingnya, memandang pada Decker. Decker tidak bergerak. Michi mengetahui bahwa memang harus begitu, karena ia telah

memasukkan obat bius dalam teh yang diminum Decker. Sebutir air mata jatuh dari mata Michi. Di mana ada cinta, di situ ada kepedihan.Michi menekankan kedua tangan yang dikepalkannya pada keningnya. Bernalar mengenai cinta adalah kehilangan nalar itu sendiri.

Manny, kekasih hatiku, maafkan aku.

Michi meninggalkan kamar itu, membiarkan Decker sendiri dengan impian impiannya.

Michi secara khusus mencuci cangkir teh Decker. Ya, ia harus berhati hati jika bersama Decker. Ada pertanyaan harus dijawab.

Kemudian, Michi cepat cepat berpakaian, celana panjang, sepatu bot, baju kaos hangat, dan ia masuk ke dalam ruangan kerja, duduk di meja, menunggu telefon. Ia harus memperhatikan hal hal yang sekecil kecilnya juga. Ditariknya pesawat telefon itu ke arah dirinya,mengangkatnya dan mematikan fungsi bel. Sesaat kemudian, Michi merogo ke bawah map meja dan mengeluarkan sebuah foto yang telah disembunyikannya di situ. Foto itu bisa berarti kematian bagi dirinya.

Foto itu diambil enam tahun yang lalu di sebuah nightclub di Le Loi Boulevard, Saigon. Foto hitam-putih dari lima orang pria yang duduk diseputar sebuah meja. Ayah Michi merupakan orang di tengah. Di sebelah kanannya adalah Paul Molise, Jr. dan Dorian Raymond; di sebelah kirinya, Robbie Ambrose dan Trevor Sparrowhawk. Seolah olah yakin akan pengkhianatan mereka, tidak seorang pun tampak tersenyum.

Dan pengkhianatan telah terjadi. Ayah, ibu dan kakak perempuan Michi telah dihancurkan oleh keempat orang amerika itu. Sebagai satu satunya yang masih hidup, Michi berkewajiban membalas dendam yang mati itu. Balaslah penghinaan dengan keadilan, Confucius berujar. Penghinaan, demikian ujar tradisi samurai, adalah suatu cacad pada sebatang pohon, yang bertumbuh menjadi besar bersama berlalunya waktu. Sesudah enam tahun, kini tiba waktunya bagi Michi untuk membunuh keempat orang amerika itu.

Dari laci meja itu, Michi mengeluarkan sebuah sambo,sebuah penampan putih dari kayu, dan di atas penampan itu terdapat sebilah kai-ken yang terbungkus dalam kertas tisyu. Dengan belati setajam pisau cukur itu, Michi pelan pelan mengiris leher keempat orang a-merika di dalam foto itu. Tangan Michi tidak bergemetar sedikit pun.

Selesai melakukan itu, Michi mengembalikan kai-ken dan sambo itu ke dalam laci dan mengunci kembali laci itu. Kemudian, dengan membawa foto itu, Michi ke ruangan duduk, melempar dan membakar habis foto itu di dalam perapian.

Setelah kembali ke kamar kerjanya, Michi cuma perlu menunggu semenit atau dua sebelum lampu merah di sebelah pesawat telefon itu menyala. Michi mengangkat gagang telefon i-tu. Mendengar sebentar, kemudian berbicara.

"Aku sekarang dapat datang ke tempatmu."

Michi meletakkan kembali gagang telefon itu dan kemudian berjalan ke pintu kamar tempat Decker masih tertidur nyenyak. Cukup besarkah cinta Decker untuk memaafkan dirinya, jika mengetahui yang ia, Michi, telah lakukan? Kalau seseorang dapat memberi maaf, orang itu dapat juga mengutuk.

Michi mengambil mantelnya, dan beberapa detik kemudian sudah berada di luar apartemennya, berjalan ke lift.

APARTEMEN Dorian Raymond di Amsterdam Avenue dan HOth Street di Manhattan menghadap pada katedral gothik terbesar di dunia: Cathedral of St John the Divine. Tetapi katedral itu kemudian dijuluki pula dengan nama St John the Unfinished, yang belum selesai, karena hanya duapertiga bangunan itu yang selesai sejak peletakan batu pertama pada tahun 1892. Apartemen Dorian juga belum selesai.

Perhatikan nunero uno, nomor satu.

Seluruh dekorasi dalam apartemen Dorian itu diperlengkapi oleh pegawai perbekalan kepolisian.

Malam itu Dorian sedang berdandan di depan kaca cermin kamar mandi dan mengingatkan diri sendiri pada sebab ia tidak menyukai kebenaran. Begitu seseorang mengetahui kebenaran itu, orang itu harus melakukan sesuatu. Hari itu ia beberapa kali menelefon, berbohong, mengeluarkan sejumlah uang dan sampai pada suatu teori mengenai Robbie Ambrose. Bahwa Robbie itulah seorang pembunuh sinting, seorang pembunuh-pemerkosa yang menghabisi sejumlah wanita dengan kedua tangannya. Dan zakarnya.

Problem: apakah yang harus dilakukannya dengan berita seperti itu? Menyerahkan Robbie kepada yang berwajib? Atau memanfaatkannya bagi kepentingannya sendiri?

Benar, bahan harus dilengkapkan, sebelum Robbie dapat diseret ke muka pengadilan. -Yang diketahuinya itu masih terlalu lemah. Namun naluri dan pengalaman menyatakan bahwe teorinya benar. Kalau bersangkutan dengar wanita, Robbie memang sebuah kasus besar.

Seorang sinting yang suka membunuh.

Di Vietnam, Dorian sudah mendengar yang macam macam tentang Robbie. Teristimewa pada waktu waktu Robbie bertugas sendiri, atau tidak bersama dirinya, Dorian, atau Sparrowhawk. Bahwa Robbie seorang double veteran, serdadu yang bersenggama dengan seorang wanita Vietnam sebelum memnbunuhnya.

Lalu hari ini, cuma beberapa jam setelah Dorian menyingkirkan Alan Baksted untuk selama lamanya dari bisnis kasino.

Ya, ia telah mencapai halaman depan surat surat kabar. Sebagian besar. Di New York memang cuma dicapainya halaman empat dalam Daily News. Namun ia mendapatkan satu paragraf di halaman pertama New York Times. Tidak jelek, biarpun cuma satu paragraf.

Lalu yang penting itu! Tepat di bawah

berita mengenai Baksted. Ocean City. Seoranc-

wanita diperkosa dan dibunuh. Seorang wanita

yang menjadi pegawai sebuah toko cendera

mata di Atlantic City, yang mempunyai

pekerjaan sampingan sebagai wanita

panggilan, pelacur. Dorian mengerutkan dahi.

Seperti bermimpi saja. Dan mulai bekerja

keraslah otaknya

Sebelum kembali ke markas, Dorian telah membeli seadanya majalah, surat kabar yang mempunyai halaman pemberitaan tentang seni bela diri. Ya, dewa!

Robbie masuk peringkat teratas dalam memperebutkan kejuaraan kelas berat apa yang disebut karate kontak-penuh. Robbie menghiasi sampul tiga buah majalah, menjadi kisah dalam semua majalah itu dan pertandingan pertandingan dengan permunculan Robbie agaknya menarik jumlah penonton paling besar.Seorang superstar. Hampir tigapuluh kemenangan k.o.

Kisah kisah yang meliputi turnamen turnamen melaporkan bertandingnya Robbie di Dallas, Minneapolis, Atlanta, Oklahoma City. Semuanya dimenangkan oleh Robbie dengan KO, tidak ada yang melampaui ronde ke lima! Ya, pikir Dorian, diperlukan sebuah granat di kedua tangan untuk menghentikan Robbie. Setelah kembali di belakang mejanya di markas distrik, Dorian mencatat tanggal tanggal pertandingan pertandingan yang diikuti Robbie. Kemudian sersan detektif Dorian Raymond mengangkat telefon. Dalam waktu kurang dari duapuluh menit telah didapatkan jawaban jawabannya. Menurut kepolisian di empat kota, seorang wanita telah diperkosa dan dibunuh dalam waktu duapuluh empat jam pada hari Robbie bertanding di kota kota itu. Dan, sekalipun ada kemungkinan dipergunakan sebuah senjata, ada keyakinan bahwa dalam bagian besar kasus i-tu, wanita bersangkutan telah dibunuh oleh seseorang yang tahu cara menggunakan kedua tangannya.

Karate? Tinju?

Satu di antaranya.

New York yang terakhir di'sentuh' oleh Dorian. Bingo. Dua minggu yang lalu, seorang wanita yang bekerja sebagai penyunting cerita dari sebuah perusahaan film telah diperkosa dan dibunuh di dalam kantornya di Fifth Avenue. Itu informasi dari daftar hijau. Karena tidak ada majalah olah raga atau seni bela diri yang memuat pertandingan pertandingan yang dilangsungkan dalam bulan itu, Dorian menelefon majalah terbesar di

kantor pusatnya di California dan

ternyata telah dilangsungkan suatu pertandingan karate di Madison Sguare Garden pada malam wanita film itu terbunuh.

Pertandingan utama: Robbie Ambrose versus juara kelas berat canada.

Robbie Ambrose pemenang dengan KO pada ronde kedua.

Hingga di situ, Dorian meninggalkan markas distrik itu, dan berjalan dalam cuaca dingin di luar yang delapan belas derajat, dan ia tidak berhenti berjalan sebelum ditemukakannya sebuah bar dan di situ ia minum dua gelas dobbel. Wiski. Disusul dengan bir.

Lima wanita yang mampus.

Dihabisi seseorang yang pandai menggunakan kedua tangannya, dan setiap kali dibarengi permunculan Robbie yang menang. Ya dewa, apakah yang harus kulakukan? Sparrowhawk. Dorian bersandar bertopang siku di atas meja bar, menekan mata dengan telapak tangan. Sparrowhawk akan menjadi gila kalau mengetahui yang dilakukan Robbie di waktu luangnya itu. Sparrowhawk mencintai haram jadah itu seperti anaknya sendiri. Dan celakalah orang yang berani mencelakakan Robbie!

Tanganilah ini dengan berhati hati, Dorian. Jangan gegabah. Kumpulkan bahan yang lebih lengkap mengenai Robbie, setelah itu barulah memikirkan langkah yang harus diambil. Yang terbaik bagi dirimu.

Suatu pikiran mengerikan terkilas dalam benak Dorian. Robbie membunuh sebelum setiap pertandingan? Ya dewa, kalau betul begitu, maka telah dibunuhnya tigapuluh wanita!

Dorian menundukkan kepala. Seperti sebuah impian buruk saja. Informasi berbahaya untuk dimiliki seseorang, kalau sampai Robbie mengetahui itu.

Di dalam kamar mandinya, Dorian merasakan mulutnya kering. Ia memerlukan minuman. Kemudian terdengarlah dengung bel dari lantai dasar dan Dorian tersenyum menyeringai. Saatnya berpesta. Sekali lagi Dorian memeriksa penampilan dirinya.

Ketika beberapa saat kemudian bel pintu apartemennya berdengung, Dorian merapihkan lagi rambutnya. Ya dewa, mengapa/ rambutnya tidak mau tumbuh kembali? Sungguh tidak adil! Selagi berjalan ke pintu, Dorian memadamkan lampu lampu besar, untuk menyembunyikan kepalanya yang mulai botak itu.

Dorian membuka pintu dan tersenyum. "Ah,

bagus, bagus, bagus "

Wanita itu melangkah masuk dan Dorian menutup kembali pintu itu, menguncinya. Kembali memandang pada wanita itu. Cantik sekali. Lain. Anggun.

Wanita itu bergerak ke dalam pelukan Dorian, yang mendekapnya. Mulut, lidah lidah bertemu. Tangan Dorian menekan pantat wanita itu. Dengan kecepatan yang merupakan rekor baru baginya, Dorian sudah menjadi keras. Wanita itu membantu. Memegang alat Dorian, memencetnya dan Dorian cuma sepecahan detik terpisah dari meledak dalam tangan wanita itu. Gigi wanita itu mencubit. cubit lidah Dorian.

Dorian Raymond mengangkat tubuh Michi dan membawanya ke kamar tidur. *

* ***********

MUDAH SEKALI membuat Dorian membual.

Sex. Kemudian pujian pujian. Michi menyesap minumannya, terus menerus mengisi gelas Dorian. Michi duduk di atas tempat tidur itu, selimut membungkus tubuhnya. Mendengarkan.

Dorian, terlentang, merokok ganja.

"Semua orang terpukau oleh mafia. Sejak 'The Godfather' orang cuma mendengar mafia, mafia, mafia... Segerombolan badut. Seorang tokoh mafia yang kukenal selalu dalam ketakutan bahwa ada orang yang mau membunuh dirinya. Maka setiap pagi disuruhnya isteri keluar menghidupkan mesin mobilnya. Kalau isterinya selemat, barulah haram jadah itu keluar. Bah...."

Dorian tertawa sendiri. "Kalian wanita jepang memang hebat di tempat tidur. Ini kumaksud sebagai pujian."

Michi membelai paha pria itu. "Berceritalah tentang yang hebat itu, tentang Paulie Molise."

Wanita. Timbul birahinya karena kejahatan, oleh bajingan, oleh polisi. Selalu. Dorian tertawa lagi.

"Paulie," ia berkata. "Yeah, Paulie. Paulie, si Paruh, julukannya. Paulie menjadi pintar. Surat surat berharga curian, merampas dana dana pensiun, memalsu pinjaman pinjaman bank. Dan rongsokan. Pornografi, narkotika, pembajakan. Ya dewa, ganja ini dahsyat."

Michi berkata, "Biar kubuatkan sebatang

lagi untukmu." Michi melakukan itu, menjilati ujung ujungnya, memperagakannya pada Dorian.

Dorian menyeringai, ingat.

Michi menyalakan rokok itu untuk Dorian. "Katamu Paul Molise itu pengusaha bonafide."

"Kataku ia berpikir begitu." Dorian menyedot rokok itu. "Ia berpikir begitu. Kantor di Park Avenue, seorang sekretares inggris, komputer, telex. Jam kerja tetap, dari pukul sembilan hingga pukul lima. Bahkan tidak mengibuli isterinya. Pulangnya ke Westchester, seperti pengusaha bursa."

"Mustahil ia tidak mempunyai pengawal pribadi yang bersenjata, yang melindungi dirinya."

Dorian mendengus. "Nah, itulah yang kumaksudkan. Itu omong kosong film. Paulie itu pengusaha bonafide dan berurusan dengan berbagai pengusaha bisnis bonafide juga, dan yang seperti itu tidaklah cocok dengan adanya tukang tukang pukul segala. Itu akan membikin takut orang. Menarik perhatian. Ia mempunyai seorang pengemudi yang juga bertindak sebagai pengawal pribadi. Tetapi orang itu tidak membuntutinya ke mana saja ia pergi. Sopir itu mungkin sekali membawa."

"Membawa?"

"Senjata." Dorian mengangkat tangannya, membidikkan jari telunjuk, seperti sebuah pistol.

"Oh."

"Bagaimana dengan sistem keamananmu?"

Michi menundukkan kepala dan tersenyum. "Domo arigato gozai mashite. Terima kasih banyak."

Seminggu yang lalu, Dorian menerima

telefon ketika berada di markas distrik:

apakah ia dapat melakukan suatu survei

keamanan di 'Pantheon Diamonds' di Madison

Avenue. Dorian melakukannya. Mendatangi

'Pantheon Diamonds'. Memberikan

rekomendasinya. Agar dihubungi Management Systems Consultants untuk mendapatkan alat alat tanda bahaya dan penjaga penjaga keamanan.

Michi, yang dikenalnya sebagai Michelle Asama yang berada di 'Pantheon Diamonds' itu. Cantik. Anggun. Mengingatkan Dorian pada Saigon, hal hal yang baik di sana.

Sesudah survei itu, Michi menelefon ke markas distrik itu, khusus mengucapkan terima kasih kepada Dorian. Mau apa lagi? Dorian mengundang Michi untuk minum. Michelle Asama menerima.

Dorian menyedot rokoknya. Ia mulai merasa mengantuk. "Aku bertemu beberapa erang Jepang di Saigon. Ya dewa, kalian orang orang yang aneh. Tidak pernah mengundang seseorang ke rumah mereka. Kami tidak pernah bertemu dengan keluarga pria jepang yang satu itu. Orang Jepang yang berurusan dagang dengan kami itu." Dorian tam pak ragu ragu. "Ya, tidak pernah bertemu dan

129 melihat mereka kecuali pada saat terakhir."

Michi bercondong ke depan. "Terakhir?"

Mata Dorian diarahkan ke langit langit. Berbicara enggan, tidak mau teringat lagi pada masa lalu itu. "Jatuhnya kota Saigon. Sesaat sebelum kaum komunis menyerbu masuk dan mengambil alih kota itu."

Sesaat sebelum kau mengkhianati mereka, pikir Michi.

Dorian pelan menyentuhnya, dan Michi menggerenyit. Dorian tidak melihat itu.

"Tidak pernah di rumah mereka." Dorian berkata. "Seperti kau."

"Kami memang orang orang yang penyendiri. Kami hidup dalam diri sendiri. Keterangan atas segala sesuatu ada di dalam diri seseorang."

"Hmmm," Dorian mengeringkan gelasnya. Michi mengisinya lagi.

Dorian berkata, "Didalam diri, huh? Tetapi satu satunya 'di dalam' yang kusukai adalah ke dalam dirimu."

Dorian semakin mengantuk, kata katanya sudah tidak jelas lagi, menumpahkan minuman di atas dirinya sendiri dan di atas tempat tidur itu. Michi dengan mudah dapat membunuh pria itu, cepat, dengan kedua tangan telanjang. Michi cukup mahir untuk melakukan itu. Tetapi ia masih memerlukan pria itu. Memerlukan informasi yang dapat diberikan pria itu mengenai tiga orang amerika lainnya itu.

Dorian Raymond merupakan mata rantai terlemah, orang yang lebih mudah diperalat daripada ketiga orang lainnya itu.

"Kau hampir tertidur," Michi berkata.

Dorian tertawa kecil. "Hampir. Itulah nama julukan yang diberikan ayahku pada diriku. 'Pria Hampir'. Aku hampir menjadi pengacara. Berhenti kuliah setahun kemudian. Bosan. Diuji coba dalam baseball melawan Nets. Hampir berhasil. Selalu tergesa gesa, kata ayahku.'Pria Hampir' selalu tergesa gesa,"

Dorian menghela nafas. "Hampir mencapai kelanggengan dalam perkawinan. Hampir. Orang baik, isteriku. Ia patut mendapatkan yang terbaik. Seorang wanita yang manis. Kukira ia kini mendapatkan sesuatu. Seorang lelaki lain. Aku dapat merasakan itu."

Dorian Raymond tertidur.

Michi mengambil sisa rokok ganja itu dari jari jari tangan pria itu, dengan marah mematikannya di dalam asbak. Ia akan mati kalau sudah tepat waktunya.

Michi mengenakan pakaiannya, dan membayangkan betapa menyenangkan kalau ia menghabisi nyawa pria itu.

************

FAJAR. Pagi itu lonceng dalam kepala Decker tidak bekerja dengan mulus, namun -akhirnya-mata sebelah dapat dibuka, lalu satunya.

Tidurnya semalam adalah yang paling nyenyak, yang paling menyegarkan sejak beberapa waktu lamanya. Dan ia tidak bermimpi. Michi terbaring di samping dirinya di atas futo itu, wajahnya lembut dan rentan di dalam tidurnya. Decker bercondong ke arah Michi, mencium baunya, memejamkan mata dengan nikmat. Di dalam tidurnya itu, Michi menjang-kaukan tangan pada Decker, tangannya yang kecil menggenggam ibu jari tangan Decker. Seperti seorang anak kecil. Decker tersenyum, mencium rambut Michi, dan kembali membaringkan diri telentang di samping Michi.

Ketika Michi membuka mata, mereka bercumbu dan bercinta.

Dan mengucapkan janji janji.

GUSAR DAN KEHABISAN KESABARAN, Trevor Sparrowhawk berjalan ke sebuah jendela dan membukanya dengan suatu hentakan jengkel.

Mereka beramai ramai berada di Long Island, menghadiri malam pembukaan sebuah o-ditorium baru, yang melalui perusahaan perusahaan dan orang orang pasangan, merupakan usaha bonafide paling baru dari keluarga Molise.

Sparrowhawk kembali ke kursinya. Memandang pada keempat orang yang mengelilingi satu satunya meja dalam kantor itu.

Yang menjadi tokoh sentral adalah Paul Molise, berkulit kelam, jangkung. Yang duduk paling dekat dengannya adalah Constantine Pangalos. Kemudian adalah Lloyd Shaper, ber-berewok, gemuk, seorang akuntan yang jenius, dan Livingstone Quarrels, berambut pirang dan bermata biru, seorang yahudi yang mengaku dirinya seorang WASP dari Connecticut.

Yang saat itu menjadi persoalan adalah Molise menghendaki sejumlah uang dibawa keluar dari tempat itu.

"Pokoknya, jangan banyak omong kosong, Trevor," Molise berkata. "Kataku panggil empat dari orang orangmu kemari. Aku menghendaki uang ini sekarang juga dibawa keluar dari sini, sebelum ada orang mendengus dengus kemari.Yang kumaksudkan ada lah orang orang pajak itu. Petugas pajak federal, negara bagian, lokal, siapa saja."

"Dan aku mengatakan padamu bahwa tidak ada tenaga yang bebas. Satu malam saja, Paul. Satu malam dapat menjadikan atau menghancurkan oditorium ini. Aku memerlukan setiap orangku di sini. Suatu keributan saja di sini, dan semua pekerjaan selama berbulan bulan boleh dimasukkan ke keranjang sampah. Pers akan mengatakan bahwa kita tidak menyediakan jaminan keamanan yang cukup." Sparrowhawk menjawab dengan tegas.

Paul Molise bersandar ke belakang di kursinya. Mendengarkan.

"Seorang pun tidak bisa kulepaskan. Ah... seorang barangkali. Robbie. Kalau uang itu harus sekarang juga dibawa keluar, biar Robbie saja yang melakukan itu. Ia memegang ijin menyandang senjata dan kau mengetahui bahwa ia dapat diandalkan."

Molise menarik nafas dalam dalam. Mencoba menjelaskan. "Ada masalah arus uang tunai di Golden Horizon. Sekarang ini kuperlukan setiap dollar yang ada. Kita belum berhasil menghubungi orang jepang Kanai sialan itu. Masih menangisi anaknya."

Anak menantunya."

"Persetan. Bahkan kalau aku berhasil membujuknya mengambil sepuluh persen itu, aku masih memerlukan uang lebih banyak untuk renovasi, dua kali lipat dari yang kita rencanakan. Oke, Robbie memang hebat, tetapi hanya seorang diri saja! Aku masih merasa khawatir. Dua orang, oke, tetapi seorang! Aku tidak menyukai itu."

Sparrowhawk memenangkan duel itu. Akhirnya."Dua orang bolehlah. Dan aku ada o-rang keduanya itu. Dorian. Malam ini ia di sini dengan seorang gadis jepang yang cukup menggemparkan. Michelle Asama. Ia seorang klien kita."

Mereka yang berada di dalam ruangan itu mengetahui siapa wanita itu. Dan mereka setuju. Seorang wanita intelijen, berkebudayaan, mampu mengelola suatu bisnis; sebetulnya bukan tipe wanita yang bisa dibayangkan sebagai kencan Dorian Raymond.

Sparrowhawk telah beberapa kali bertemu dengan Michelle Asama. Pertama kali di kantor Madison Avenue itu, secara pribadi memeriksa pemasangan alat alat tanda bahaya, lemari besi baru dan telah memperkenalkan wanita itu kepada penjaga penjaga keamanan yang akan bertugas melindungi 'Pantheon Diamonds'. Dan Sparrowhawk juga beberapa kali bertemu dengan wanita itu sedang bersama Dorian. Sikap Michelle Asama selalu formal, agak terlalu formal, menyapa dengan menekankan kata 'tuan'. Dan, cuma khayalnya belaka atau benar benarkah ia menangkap semacam sikap bermusuhan terhadap dirinya pada wanita itu? Ah, tidak menjadi soal. Wanita itu seorang klien, membayar selalu pada waktunya, dan bagaimana pun jangan mencampur adukkan urusan bisnis dengan bersenang senang. Biarlah wanita itu sedingin es antartika. Sparrowhawk setia pada isterinya, Unity dan sesudah lebih dari duapuluh tahun perkawinan, Sparrowhawk masih lebih suka ditemani Unity daripada wanita yang manapun.

Molise sedang berbicara pada

Sparrowhawk, menyetujui dipakainya Dorian

dan Robbie. Tetapi pria inggris itu cuma

mendengar dengan setengah telinga. Sesuatu

mengenai Michelle Asama yang dijumpai

Sparrowhawk malam itu seperti menari nari di

tepian bawah sadarnya. Sesuatu ketika mereka

tadi berjumpa dan bersalam salaman dan

bercakap cakap sejenak

Duduk di kantor Molise, bersama Panga los, Paulie dan lain lainnya itu, tiba tiba Sparrowhaw ingat.

Mayor. Michelle Asama untuk pertama kali memanggilnya 'mayor1!

Itu belum pernah terjadi sebelumnya. Lebih lebih lagi,Sparrowhawk menyangsikan bahwa wanita itu pernah mendengar Dorian memakai sebutan itu.

Bahkan Molise tidak pernah memakai sebutan itu. Sparrowhawk sendiri tidak memakainya bagi dirinya sendiri. Hanya Robbie yang memakai pangkat itu.

Molise berkata, "Mari kita pergi bersama Dorian dan Robbie sebelum aku berubah pikiranku. Kalau tidak salah, Dorian membawa mobil. Berapakah kita mesti membayarnya?"

136

Sparrowhawk berkata, "Sorry. Sudikah kau mengulangi pertanyaan itu?" "Dorian. Berapa?"

"Seribu kukira cukup. Ia cuma mengemudikan mobil dari sini ke Manhattan. Tidak usah mengetahui berapa banyak yang diangkut ke-sana. Ia bersama gadis Jepang itu."

Molise mengangkat bahu. "Biar gadis itu ikut dengannya. Akan kelihatan wajar, pergi bersama seorang perempuan. Dorian seorang polisi. Ia bisa mengibuli perempuan itu, mengatakan ada panggilan tugas. Hai, coba kaukatakan padaku, bagaimana seorang dungu seperti Dorian bisa mendapatkan seorang wanita dengan kelas seperti itu?"

Pangalos berkata, "Pihak perempuan itu yang kalah perang, maka ia harus membayar."

"Glaukoma," Quarrels berkata. "Coba periksa matanya. Pasti ia sakit glaukoma. Ia mengira Dorian itu Clint Eastwood."

Molise berkata, "Seorang penjilat pantat seperti Dorian masuk ke dalam celana wanita itu. Coba bayangkan!"

APAKAH TELAH DIBUATNYA SESUATU KESALAHAN? Sebagian dirinya mengatakan bahwa yang telah terjadi itu memang tidak dapat dihindarkan. Namun bagian dirinya yang lain memperingatkan: tinggalkan oditorium itu secepat mungkin, sebelum pertanyaan pertanyaan diajukan. Michi menunggu di ruangan masuk itu, di-

depan sebuah pintu tertutup dan seorang penjaga berseragam. Dorian ada di balik pintu itu, dipanggil oleh Sparrowhawk dan Molise. Mereka membicarakan dirinya? Keseleo dalam pembicaraan dan membuka tentang dirinya sendiri? Mereka telah mengetahui tentang peristiwa beberapa menit yang lalu di kamar toilet wanita itu?

Michi memaksa diri agar tetap tenang. Tidak boleh ada rasa takut dalam dirinya; ketakutan melemahkan dan merampas pikiran dari keampuhannya.

Pintu kantor itu dibuka dan Michi melihat keempat orang itu bersama sama — Molise, Ambrose, Dorian dan Sparrowhawk. Michi memalingkan mukanya sebelum mereka dapat melihat kebencian di atas wajahnya. Sesaat kemudian, Dorian sudah melingkarkan lengannya pada bahu Michi. "Oke, manisku. Sudah waktunya kita pulang."

Dorian menjinjing sebuah tas atase.

"Tugas kepolisian," Dorian berkata dengan menyeringai. "Harus kembali ke Manhattan sekarang juga."

Pria itu berbohong, tetapi Michi tidak perduli. Ternyata mereka bukan membicarakan dirinya. Michi memanjatkan ucapan terima kasih kepada para dewa dan leluhurnya. Sebelum ia selesai, keempat orang itu sudah akan mampus. Michi membiarkan Dorian memegang sikunya dan membimbingnya keluar dari gedung itu dan menuju ke tempat parkir.

138

MENGINTEROGASI ORANG merupakan suatu seni yang menjadi keakhlian Sparrowhawk.

Sparrowhawk dan dua orang penjaga berseragam di oditorium itu berada di dalam kantor yang agak. gundul itu bersama tiga gadis yang kini tampak agak menyesal telah melaporkan yang telah mereka alami itu. -Sparrowhawk menyelami keadaan itu.

"Nona nona, kami sangat berterima kasih bahwa anda bertiga secara sukarela datang melapor yang menyangkut keamanan di tempat ini. Tetapi perlu kutekankan dan beri jaminan kepada anda bertiga, bahwa masalah ini tidak kami perlakukan sebagai suatu masalah kepolisian. Kami akan menyelesaikan hingga di sini saja, tanpa melibatkan anda bertiga. Kecuali, tentu, jika kalian menghendaki lain."

Ketiga gadis itu menggelengkan kepala.

"Nah, bagus. Anda bertiga ulangi saja yang telah anda sampaikan kepada para petugas keamanan itu. Sepenuhnya sebagaimana kalian menyaksikan peristiwa itu."

Memasukkan tangan ke dalam laci meja, Sparrowhawk menghidupkan sebuah alat rekor-der tersembunyi di situ. Kemudian dengan tersenyum ia bersandar ke belakang di kursinya.

"Nah, kurasa bisa kita mulai "

Muka muka merah. Senyum. Tawa cekikikan. Dan dua dari ketiga gadis itu mulai berebut berbicara.

139

MICHI TELAH PERGI KE RUANGAN TOILET WANITA,melepaskan diri dari Dorian Raymond, pergi dari hiruk pikuk dalam oditorium itu, pergi dari asap marijuana yang mengapung di atas kepala para pengunjung itu. Di dalam ruangan toilet itu ternyata semakin kuat bau manis memuakkan itu. Lebih banyak asap marijuana. Bau itu mengingatkan Michi pada Dorian dan kalau mereka sedang bersetubuh. Semakin benci dan kesallah itu.

Saat itu, dalam ruangan toilet itu, adalah tiga gadis belasan tahun, yang bersandar pada meja meja cuci dan mengisap ganja dan minum dari sebotol berisi vodka.

Michi mencuci tangan dan setelah mengeringkannya berpaling untuk meninggalkan lagi ruangan itu. Pintu ruangan itu melesat terbuka dan dua pemuda berbadan kekar, pemain pemain rugby sekolah tinggi, masuk. Mereka mabok dan teler karena obat bius. Yang seorang membawa sebuah botol minuman. Dengan ngeri Michi melihat bahwa yang memegang botol itu terbuka kancing celananya dan zakarnya, lembek dan kemerah merahan, tergantung keluar dari celananya itu. Michi memalingkan muka, merasa jijik dan malu.

"Hai, kalian!" berteriak seorang dari gadis gadis itu, "ini ruangan toilet wanita. Enyahlah kalian dari sini sebelum kupanggil penjaga keamanan."

Pemuda yang memakai jaket membentak pada gadis yang membuka mulut itu, "Lonte. Kaubuka lagi mulutmu, dan akan kujejalkan alatku ke dalam mulutmu itu. Sialan, cuma ada babi babi di sini."

"Tidak semuanya babi," kata temannya yang memakai baju kaos pemain rugby. "Tidak semuanya babi, kawan."

Michi memutuskan untuk segera pergi dari situ.

Seorang dari tiga gadis itu maju mendekati kedua pemuda itu. Tetapi sebelum sempat membuka mulut, pemuda berbaju kaos itu telah mendorongnya pada dinding sekat, merapatkan diri dengan sepasang mata yang kabur cuma beberapa inci dari mata gadis itu. "Hai, kalau aku mengatakan kau mempunyai tubuh menggiurkan, apakah kau menjadi marah padaku?"

Michi berjalan ke pintu. Tetapi pemuda yang lebih besar dan berjaket itu menghalang di jalannya. "Hai.... Nyonya dari timur jauh. Bagaimana kabar, nyonya dari timur jauh? Kau suka 'ludes? Pil merah? Jangan khawatir, seluruh dunia di dalam sakuku."

"Sudikah anda membiarkan aku lewat?"

"Coba memohon sekali lagi." "Mohon anda membiarkan aku lewat." Michi menundukkan kepala.

Pemuda di depan Michi itu melihat ke arah temannya. "Ya dewa, kawan, yang satu ini milikku. Ditanggung hebat. Belum pernah kucoba seorang nyonya timur jauh."

Lengan pemuda itu melingkari pinggang Michi, meraihnya merapat pada dirinya.

Mereka bersentuhan pinggul. Pemuda itu kuat dan nafasnya berbau minuman keras. "Kau dan aku, mama kecil. Kau coba sebutir dari 'ludes ini, dan kau akan mencintai diriku sebagaimana aku mencintai dirimu." Tangannya yang satu lagi keluar dari sakunya dengan butir butir Quaaludes.

Michi mengangkat lututnya dan menghujamkan kakinya ke bawah, menginjakkan tumit sepatu botnya ke atas pergelangan kaki pemuda itu.

"Sialan!" Dengan bibir . pucat dan terkatub rapat karena kesakitan, pemuda itu melangkah mundur. Tetapi masih berdiri di antara Michi dan pintu itu.

Di belakang Michi, pemuda yang seorang lagi berkata, "Ho...ho. Itu tidak baik. Sama sekali tidak ramah."

Pemuda berbaju kaos itu berjuntai maju, matanya merah dan setengah tersenyum. Berbahaya.

Michi mendengarnya datang. Ketika menoleh, Michi melihat pemuda itu menjangkau pada dirinya dengan kedua tangan. Michi melakukannya dalam satu gerakan. Ia merunduk, membiarkan kedua lengan pemuda itu lewat di atas dirinya, lalu menghujamkan sikunya ke belakang ke perut pria itu. Pria itu terhenti di tempat, yang tampak dari matanya hanya putihnya, kedua lengannya mendekap perutnya sendiri. Namun ia masih terhuyung ke depan, tangan kirinya mencakar cakar udara. Michi menangkap pergelangan tangan pria itu dalam kedua tangannya yang kecil itu. Tangan kanannya menemukan jari kelingking pria itu. Mencengkeram itu keras keras, Michi menekuknya ke belakang dengan seluruh tenaganya. Secepat kilat. Mematahkannya.

Pemuda itu menjerit, merapatkan tangan yang rusak itu pada dadanya dan bersempoyongan ke samping, membuat gadis gadis itu lari bersemburat menghindar, sebelum pemuda itu menubruk meja cuci dan ambruk ke atas lantai. Dengan telentang, pemuda itu bergulung gulung ke kanan dan ke kiri, mengerang erang, tangan kirinya itu dihimpir di antara pahanya.

"Oh, wow," berseru seorang dari gadis gadis itu, menggelengkan kepala.

Michi berbalik dan melihat pemuda yang seorang lagi itu dengan terpincang pincang bergerak ke arah dirinya. Wajah pemuda itu geram, seram, penuh kebencian.

Kinaku.Semangat. Tidak ada yang lebih penting bagi kemenangan. Dan itu dinyatakan dalam KIAI, teriakan itu.

KiaiMichi itu bukan sekedar suara dari tenggorokan. Kiai itu adalah suatu teriakan yudawan dari dalam dirinya,suatu suara yang dihentak dari darah dan syaraf syarafnya, dari seribu tahun sebagai samurai, dan nyaring lengkingnya mengerikan, bersifat hipnotikal. Bunyi itu menggeletar di dalam ruangan itu, berpantul pantul dari dinding ke dinding, dari lantai ke langit langit.

Pemuda itu memandang ke dalam mata Michi dan yang dilihatnya di situ seakan akan mencabut sukma. Dengan mengerjap ngerjapkan mata, pemuda itu mundur selangkah, kemudian selangkah lagi. Ia mengerutkan dahi, menggigit bibir bawahnya, membungkuk mengusap kakinya yang cidera itu.

Michi memungut dompetnya dari atas lantai dan berjalan lewat dekat pemuda itu, tanpa satu kali pun menoleh ke belakang.

SPARROWHAWK berkata, :Ah, begitu "

Ketiga gadis itu saling berpandang pandangan, kemudian mengangguk. Dan yang seorang berkata, "Ia luar biasa. Seperti Wanita Ajaib! Superwoman."

Sparrowhawk menggerenyit. "Terima kasih, nona nona. Terima kasih."

Setelah ketiga gadis itu pergi, masing masing diberi 'imbalan' berupa karcis undangan untuk menghadiri perayaan natal di oditorium itu, Sparrowhawk berkata kepada penjaga penjaga itu, "Periksalah klinik. Apakah ada pemuda pemuda berobat di sana. Yang kita cari adalah jari patah, kaki cidera. Kalau kalian menemukan pemuda pemuda itu, beritahukan padaku lewat radio. Aku mau berbicara dengan mereka."

"Bagaimana dengan 'wanita ajaib' itu?"

"Serahkan urusan itu padaku. Tugas kalian adalah menemukan kedua badut itu."

Setelah seorang diri lagi di kantor itu

Sparrowhawk mengeluarkan sebuah buku catatan kecil dari saku jasnya dan dengan menggunakan sebuah pena emas ditulisnya nama Michelle Asama di atas sehelai yang putih bersih. Di bawah nama itu lalu ditambahkannya kata mayor. Kemudian kata yudawan, tetapi itu dicoretnya lagi. Gantinya itu ditulisnya pendekar. Itu agaknya lebih cocok.

Sparrowhawk teringat pada pendekar terakhir yang dijumpainya. Itu terjadi di Saigon, dan nama pendekar itu adalah George Chihara.

PASANGAN KERJA Decker di markas distrik adalah seorang polisi wanita negro berkulit langsat, Ellen Spiceland, yang berusia tiga-puluh tiga tahun. Mereka akrab satu sama lain, dengan saling pengertian dan saling membantu.

Dalam suatu kasus bersama mereka yang pertama selama dua tahun berpasangan dalam tugas mereka, Decker dan Ellen Spiceland telah berhasil melacak seorang pemerkosa seorang gadis cilik. Penjahat itu seorang kuba, seorang yang melarikan diri dari kuba Castro, mencari perlindungan dan hidup baru di amerika serikat. Kedua detektif itu telah mengetuk pintu apartemen pemerkosa itu dan dari dalam apartemen terdengar suara memper-silahkan mereka masuk. Dan sesaat kemudian memandang pada sepucuk Browning otomatik. Sebuah tembakan dilepaskan. Decker yang berhadapan paling langsung dan mengira maut bagi dirinya sudah tiba, menegang untuk menerima peluru mematikan itu.

Namun tembakan itu bukan dari pistol penjahat itu. Ellen Spiceland mempunyai kebiasaan untuk selalu memasuki bar bar tertentu, apartemen apartemen tertentu dan club club malam dengan tangannya di dalam tasnya. Kebiasaan itu, hari itu menghasilkan buah. Ellen Spiceland telah menembak dari dalam tasnya dan menyarangkan sebutir peluru .38 satu inci di atas sabuk orang kuba itu. Penjahat itu memerlukan tigapuluh enam jam penuh siksaan untuk akhirnya mati karena luka tembakan itu. Itu pertama kalinya Spiceland menewaskan seorang penjahat; yang di-rayakannya dengan sebotol Dom Perignon yang harganya tigapuluh lima dollar sebotol.

Ellen berkata kepada Decker, "Duapuluh tahun aku menunggu untuk menghabisi bedebah seperti haram jadah itu. Duapuluh tahun!" Ellen menunggu reaksi Decker. Tidak ada.

Tetapi pada hari berikutnya, di atas meja Ellen ada sebuah bingkisan dengan kartu ucapan selamat dari Decker. Dan sebelum minggu itu berlalu, semua petugas markas distrik itu mengikuti contoh Decker, memberi selamat kepada Ellen Spiceland atas keberhasilan itu.

***********

DENGAN MICHI KEMBALI DALAM HIDUPNYA, Decker ingin sekali dapat menyingkirkan Charles Le-Clair segampang Ellen Spiceland menyingkirkan dendam puluhan tahun itu.

LeClair tidak memberi kemungkinan kepada Decker menghentikan afairnya dengan Romaine; jaksa penuntut itu berkeras akan mengganyang senator Terry Dent dan Constantine Pangalos dan Management Systems Consultants, karena seperti banyak jaksa federal lainnya, LeClair ingin melihat namanya dimuat di surat kabar surat kabar. LeClair mencintai kekuasaan dan, seperti kemudian diketahui pula oleh Decker, LeClair termasuk seorang dian-tara sejumlah orang yang sedang dipertimbangkan bagi kedudukan jaksa agung muda, dibantah jaksa agung di departemen kehakiman.

LeClair mempunyai keterangan mengapa ia

terus menekan Decker. "Keharusan tidak mem-

beri pilihan kepada seseorang. Pokoknya, ja-

ngan dulu membiarkan nyonya Raymond menyeli-

nap keluar dari hidupmu "

Selama hampir seminggu sejak kembalinya Michi, Decker mengajukan bermacam macam a-lasan kepada Romaine, mengapa ia tidak datang pada wanita itu. Decker mulai merasa kesal terhadap wanita itu.

Decker menemui Michi jika Michi bebas, jika Michi tidak sibuk dengan 'Pantheon Dia-monda'. Duapertiga bagian perusahaan itu dimiliki sebuah gabungan modal di Tokyo, dengan Michi menguasai yang sepertiga lebihnya. Seperti para eksekutif pria Jepang, Michi bekerja hingga jauh malam; dan Michi juga menjadi pembicara pada seminar seminar perusahaan perusahaan amerika yang berminat mempelajari praktek managerial Jepang. Journalwall Street, Newsweek, ' Times New York, dan tiga buah majalah wanita memuat tulisan tulisan mengenai Michelle Asama, wanita eksekutif bisnis Jepang yang unik.

Adalah LeClair yang membuat Decker tiba tiba bersikap melindungi Michi. Jika jaksa untuk menelefon Decker di dojo, berartilah bahwa LeClair menginginkan sesuatu informasi dengan segera.

"Aku hanya mau mengingatkan dirimu pada pertemuan kita besok," LeClair berkata. "Aku sudah ingin sekali bertemu denganmu." Padahal dua hari berselang mereka telah bertemu. Dan kemarin sudah berbicara pula lewet telefon. LeClair, agaknya, sedang terdesak. "Telah kaudengar sesuatu dari pacarmu?"

"Maksudmu Romaine."

"Bagiku kau cuma mempunyai seorang perempuan. Apakah ada yang lain yang tidak kuketahui?"

"Tidak ada yang perlu kauketahui." "Aku akhir pekan ini akan terbang menemui jaksa agung. Sebetulnya suatu jamuan makan yang diselenggarakannya untuk sejumlah perwira kepolisian brasilia. Kau telah mendengar tentang DeMain dan Benitez."

"Tidak." Kedua orang yang disebut LeClair itu adalah dua orang detektif New York City yang ditugaskan dalam gugus tugas itu.

"Mereka dibebas tugaskan dari gugus tugas," LeClair berkata. "Mereka tidak memenuhi persyaratan."

"Itu akan mempengaruhi karir mereka."

"Itulah yang telah kukatakan juga kepada mereka. Sudahlah, mereka sudah kuperingatkan. Nah, kauuruslah nyonya Raymond itu. Kaucari tahu berita apa yang dapat ditawarkannya kepada kita."

Dan jangan sampai gagal, pikir Decker. Sebab, LeClair tidak akan ragu atau segan mencelakakan siapa pun. Termasuk Michi.

Decker menelefon Romaine dan merasa lega ketika Romaine ternyata tidak di tempatnya. Decker tidak ada janji bertemu Michi malam itu, namun ia juga tidak berhasrat menemui Romaine. Tidak segera. Tidak sebelumnya ia memikirkan suatu cara untuk memperalat Romaine tanpa harus tidur dengannya. Dan itu tidaklah mudah. Hatinya ada dengan Michi. Hada to hada, kata orang jepang. Kulit menempel pada kulit. Kemampuan untuk berkomunikasi dan, di atas segala galanya, kesediaan masing masing pihak untuk memperlihatkan ketulusan masing masing. Hanya dengan Michi ia dapat merasa begitu. Decker memang mengharapkan agar Romaine tidak menjawab telefon itu.

Tetapi setengah jam kemudian,

riang dan bergairah, Romaine menelefon Decker di dojo itu, dan Decker terpaksa berjanji akan menemui Romaine dalam waktu dua jam lagi. Itu semualah yang menimbulkan kekesalan Decker terhadap LeClair.

***********

KETAKUTAN. Karena itulah Decker menyetubuhi Romaine dalam kegelapan, takut melihat wajah wanita itu, dan tidak menginginkan wanita itu melihat wajahnya. Dengan membiarkan Romaine mencintai dirinya, Decker menjadi bertanggung jawab atas diri Romaine. Sex telah mendekatkan dirinya pada Romaine; hasrat Romaine akan cinta telah merumitkan hubungan mereka. Untuk siapa dan apakah sebetulnya 'karunia' sex malam itu? Romaine? Michi? Karir Decker?

Romaine menghasratkan Decker. Tetapi satu satunya yang dipunyainya untuk diberikan, dirinya sendiri, bukan miliknya lagi untuk diberikan. Telah menjadi milik o-rang lain.

Dalam kegelapan kamar itu Romaine berkata, "Mari akhir pekan ini kita pergi. Aku ada uang."

"Aku tidak dapat." Decker berbohong. "Akan ada suatu turnamen. Aku menjadi wasit dan berdemonstrasi."

Oh. Kalau begitu lain akhir pekan."

"Barangkali. Dari manakah kau tiba tiba menjadi kaya?"

"Dorian. Ia memberiku hampir seribu dollar."

"Terus beruntung di Atlantic City?"

Tidak. Kami telah makan siang bersama. Ia menginginkan kami rujuk kembali dan ia mengatakan bahwa sedang mengerjakan suatu

urusan yang akan membuat dirinya kaya seumur hidup."

Decker memegang tangan Romaine, membenci diri sendiri."Urusan apakah yang dapat membuat seseorang kaya seumur hidup?"

"Ia tidak mau mengatakannya. Lazimnya ia suka membual, tetapi sekali ini ia diam saja. Ia cuma bercerita bahwa kemarin malam telah menghadiri pesta pembukaan sesuatu. Sebuah oditorium atau gelanggang di Long Island. Banyak tokoh terkenal."

Romaine duduk di atas tempat tidur itu.

"Kau tidak akan percaya apa yang telah dikatakannya padaku. Katanya, oditorium itu jumlah kursi dalam oditoirium itu tidak benar. Ada seorang pengacara, seorang yunani, muncul dengan suatu gagasan untuk menyebutkan jumlah lebih kecil dari kursi yang tersedia itu, tetapi tidak boleh hal itu diketahui orang. Dorian mengatakan bahwa orang yunani itu sungguh lihai. Banyak akalnya. Dorian memang menyukai orang orang seperti itu. Kalau aku, kurasa kadang kadang orang bisa pintar kebelanjur."

Decker berkata, "Aku setuju denganmu. Memang iblis iblis licin, pengacara pengacara itu. Dan katanya yang seorang itu adalah seorang yunani?"

TREVOR SPARROWHAWK merasa riang gembira, seperti biasanya jika suatu pemburuan sedang berlangsung dengan lancar.

Duapuluh menit yang lalu, nyonya Rose-bery, sekretarisnya, telah menelefon melaporkan tibanya informasi yang diminta Sparrowhawk mengenai diri Michelle Asama.

Trevor bertepuk tangan. Sekarang, beker-

ja!

Duduk di belakang mejanya, Sparrowhawk membaca tentang Michelle Asama. Sumber informasinya: Management Systems Consultant juga! Koneksi koneksi dan komputer komputer penyelidikan yang tersebar di seluruh dunia yang dimilikinya. Dewan direksi MSC terdiri atas bekas akhli akhli penegak hukum. Terutama petugas petugas terasnya. CIA. FBI. Departemen Kehakiman. Departemen kepolisian New York, Surete perancis, divisi keamanan perusahaan perusahaan multi-nasional amerika yang paling top.

Uang memang faktor perayu bagi akhli akhli itu untuk bekerja pada MSC. Sparrowhawk sendiri menerima $750.000 setahun, ditambah segala perongkosan dan bonus bonus. Namun begitu, daya tarik utama bagi bekas polisi, mata mata dan penyelidik penyelidik itu adalah karena sebagian besar orang orang itu adalah pelaku pelaku, orang orang yang sudah kecanduan dengan permainan itu, yang tidak bisa hidup tanpa intrig atau tipu muslihat busuk atau penyelidikan penyelidikan.

Sparrowhawk dengan MSC telah mengumpulkan suatu barisan yang hebat, yang mampu sekali meringankan Michelle Asama atau siapa saja dari beban rahasia yang menekan.

Maka: sekarang tentang Michelle

Asama

Catatan catatan awal kurang sekali. Dilahirkan di Saigon, namun banyak informasi mengenai kehidupannya lenyap dan hancur pada ketika pengambil alihan Saigon oleh kaum komunis di tahun 1975. Tinggal beberapa waktu lamanya di Tokyo, tempat kelahirannya yang sebenarnya pada 29 agustus 1953. Ayahnya seorang pemilik kapal, ibunya anak seorang importir perancis. Orang tuanya itu tewas di sebuah hotel di Singapore ketika Michelle berusia empatbelas tahun.

Pendidikan di Tokyo dan Paris, dengan kursus kursus bisnis di amerika. Belum kawin, tidak mempunyai anak, tidak mempunyai dosir kejahatan. Memiliki sepertiga 'Penthe-on Diamonds', uang peninggalan ayahnya. Sebuah gabungan jepang, memiliki bagian yang duapertiga. Yah, sejauh itu tidak ada yang istimewa pada wanita itu.

Sparrowhawk menyesap tehnya, dan melanjutkan membaca bahan bahan itu.

Perusahaan yang berusia tiga tahun itu sebuah perusahaan pembuat laba dan agaknya penyebabnya adalah nona Michelle Asama; ketajaman bisnisnya. Pengetahuannya yang luas mengenai 'industri' batu permata dan penguasaannya atas pasaran dan pemasarannya. Nona Michelle Asama dibayar sangat tinggi dan bukan sekedar eksekutif boneka. Ia benar benar yang mengelola perusahaan itu.

Wanita itu benar benar seorang genius dalam bisnis, atau ia mempunyai teman teman di lingkungan lingkungan atas.

Dan satu hal yang menarik perhatian Sparrowhawk: Michelle Asama tidak mempunyai kartu kredit pribadi. Tidak satupun.

Namun begitu, catatan catatan tentang

Michelle Asama tidak menunjukkan adanya se-

dikitpun persoalan dengan imigrasi amerika,

perpajakan, kepolisian atau dinas dinas itu

dari negeri asalnya sendiri. Namun

begitu

Mayor.Sebuah kata saja.

Sparrowhawk juga tidak dapat menghapus

lukisan peristiwa yang dilaporkan oleh gadis

gadis belasan tahun itu

"Seorang wanita melawan dua orang pria?" Robbie telah berkata ketika mendengar kisah itu, "Tidak menyangsikan lagi, wanita itu hebat."

"Kalau kau mengatakan 'hebat', berapa tahun latihan itu berati?"

"Yah, mayor, itu berarti sedikitnya lima tahun. Selama itulah yang diperlukan untuk menguasai teknik dasar karate. Dan itu pun jika orang berlatih tiga kali dalam seminggu.Dari kisah itu, kukira wanita itu dapat membunuh kedua badut itu. Namun ia bertindak secukupnya saja. Itu lihai sekali. Betul betul menguasai keadaan."

Robbie diam, kemudian, "Dan kalau betul yang dikatakan ketiga cewek anda itu mengenai kiai itu, maka wanita itu —siapa pun ia— memang benar benar akhli dalam karate."

"Apakah itu berarti ia tergolong.... tergolong pada samurai?"

"Yah, itu mungkin saja. Maksudku anda benar, ia mungkin seorang samurai atau mempunyai hubungan erat dengan seorang samurai. Di masa lalu, Jepang mempunyai tidak sedikit samurai wanita. Mereka juga membunuh. Seperti kaum pria. Kadang kadang bahkan lebih hebat. Dan mereka dapat mencapai seseorang pria yang tidak mungkin dicapai oleh seorang samurai pria. Anda mengerti maksudku?"

"Mengerti."

"Ya, mayor. Orang orang hebat, wanita wanita Jepang itu!"

Benar, pikir Sparrowhawk, teringat cara wanita wanita Chihara itu menemukan ajal, ketika ia, bersama Robbie dan Dorian datang dengan maksud mengambil wanita wanita itu.

Selama hidupnya sebagai tentara, belum pernah ia melihat seseorang, pria atau wanita, mati dengan ketabahan seperti itu. Seorang ibu dan dua anak perempuannya. Siap menemui maut. Kematian selalu datang terlalu dini atau terlalu terlambat. Tetapi datang, itu pasti. Pintu kegelapan itu, rahasia besar itu, faal tragik terakhir itu.

Maut itu selalu datang, pada waktunya.

TREVOR SPARROWHAWK, setelah berusia empatpuluh lebih, dan berpangkat mayor, dibebastugaskan dari dinas aktif dan dipindahkan ke dinas administratif di markas besar SAS, brigade Special Air Service, suatu kesatuan komando yang merupakan korps rahasia dan elite, yang berspesialisasi dalam serangan serangan dadakan dan dalam mengarahkan sasaran sasaran di belakang garis pertahanan musuh bagi pembom pembom RAF. Namun, Sparrowhawk tidak dapat bertahan lama dengan tugas di belakang meja. Ia seorang prajurit; ia mendambakan kegairahan dan kegemparan pertempuran. Padahal pertempuran adalah pekerjaan kaum muda. Sparrowhawk hanya bertahan setahun. Ia mengundurkan diri dan bekerja pada sebuah perusahaan keamanan di London yang terdiri dari bekas orang orang SAS seperti dirinya sendiri.

Namun, perusahaan itu bangkrut. Dan Sparrowhawk yang harus menghidupi keluarganya, terpaksa bekerja dengan menyewakan tenaganya, otot ototnya.

Ia bekerja sebagai pengawal dan tukang pukul pedagang pedagang senjata, syekh syekh arab, bintang bintang film amerika yang sedang melakukan perjalanan, anak anak industrialis industrialis kaya. Beberapa pengusaha inggris meminta nasehatnya mengenai sistem keamanan bagi diri dan perusahaan mereka, dan sekali Sparrowhawk bertindak sebagai seorang perantara dalam suatu penculikan di kota Roma. Ia semakin tua, tetapi tidak semakin kaya.

Untuk membayar perawatan medikal isteri-nya, Unity, Sparrowhawk terpaksa mencuri.

Mencuri rahasia rahasia industri dan benda benda antik gereja, dan surat surat percintaan yang dipakai seorang detektif Scotland Yard untuk memeras seorang anggota parlemen yang homosexual.

Maka, merupakan sesuatu yang melegakan, ketika timbul kesempatan bagi Sparrowhawk 'berjaya' kembali di bidangnya: menjadi serdadu sewaan. Di afrika selatan. Selesai dengan tugasnya dan dari padang semak semak kembali ke Johannesburg, kepada Sparrowhawk ditawarkan lima ribu dollar untuk mengawal seorang pedagang berlian ke Saigon. Pedagang itu bermaksud membeli kumpulan berlian yang dimiliki seorang jendral Vietnam selatan. Pada saat itu keadaan di Vietnam sudah berada pada puncak kegawatan. Tentera Vietnam utara sudah di pintu gerbang Saigon.

Jendral yang didatangi Sparowhawk dan pedagang berlian itu sedang siap siap lari meninggalkan gelanggang, namun tidak berniat pergi dengan tangan kosong. Berlian, seperti emas, merupakan mata uang yang bebas inflasi.

Setelah selesai urusan jual beli berlian itu, kepada Sparrowhawk ditawarkan pekerjaan di Saigon. CIA.

Ruttencutter, seorang pria New York yang menawarkan agar Sparrowhawk bekerja untuk 'badan' itu, berkata, "Kami tidak ada pilihan lain. Yang terbaik adalah tidak mendatangkan lebih banyak lagi orang orang kami ke sini. Maka kami terpaksa menggunakan tenaga yang berdiri sendiri, tenaga tenaga 'free lance' seperti dirimu. Dan ada orang orang yang memuji dan menganjurkan dirimu kepada kami."

"Terima kasih," kata Sparrowhawk, mengutuk udara panas dan lembab itu.

"Tetapi berarti bahwa kau harus menjaga diri tidak terlalu menonjol. Orang orang polandia, perancis, hungaria yang duduk dalam komisi pengawasan internasional di sini bernafsu sekali menuduhkan pelanggaran gencetan senjata ke atas kepala kami. Haram jadah haram jadah itu melewatkan bagian besar waktu mereka dengan pramuria pramuria bar. Semoga mereka mendapatkan sifilis!"

"Tetapi.... apakah yang harus kulakukan dalam suatu peperangan yang tampaknya sudah mendekati akhirnya ini?"

"Oh, macam macam. Yang khususnya? Kita katakan saja kau akan menjadi kurir dari sini ke hongkong, Singapore, thailan, laos. Merantau sebentar ke kampucia. Mengangkut senjata lewat udara dengan perusahaan penerbangan yang ada kepentingan kami di dalamnya. Mengikuti kegiatan teman teman kita di lapangan lapangan terbang kecil di luar

160

Saigon."

"Kedengaran menarik sekali. Tetapi ada sesuatu yang tidak kau singgung singgung." Yaitu?"

"Kaulupa menyebutkan pekerjaan membunuh untuk kalian."

Ruttencutter memalingkan muka. "Apa yang harus terjadi, terjadilah, kata orang." Ia berpaling kembali pada Sparrowhawk. "Sepuluh ribu dollar sebulan. Berminat?"

Sejenak lamanya, Separrowhawk menatap pada orang itu, kemudian berkata, "Kapankah persekutuan kita ini dimulai?"

TUGAS TUGAS KHUSUS. Sekali, ikut mengambil bagian dalam menginterogasi tawanan tawanan vietcong yang diculik dari desa desa atas permintaan CIA dan dilakukan oleh Robbie Ambrose dan Dorian Raymond, dua orang anggota SEALs, yang kadang kadang dikerahkan juga o-leh Ruttencutter.

Terlibat dengan CIA, menghasilkan kontak antara ketiga orang itu dengan George Chihara, seorang pengusaha Jepang yang sangat berpengaruh. Chihara juga seorang yang dipakai oleh CIA; perusahaan penerbangan yang seperti menjadi milik Chihara itu ternyata adalah didukung oleh CIA dan dipakai untuk mengangkut candu yang ditanam oleh suku suku di sebelah utara Saigon, untuk menggendutkan rekening rekening bank politikus politikus

dan jenderal jenderal Vietnam selatan. Membantu perdagangan candu adalah harga yang agaknya bersedia amerika membayarnya demi persekutuan memerangi komunisme.

Chihara juga yang mengatur agar agen

agen CIA dapat menerima kurs gelap dollar

yang tinggi , dan menggunakan pengaruhnya

yang kuat atas politikus politikus Vietnam

selatan jika hal itu diminta oleh pihak

amerika. Semua itu, ditambah usaha usaha

bonafide yang tidak sedikit, membuat Chihara

menjadi kaya sekali. Chihara bahkan menjadi

bertambah kaya lagi dengan bekerja sama

dengan Paul Molise, seorang dari mafia

amerika yang datang ke Saigon untuk

mendapatkan candu. Chihara yang mengurus

sehingga Paul Molise mendapat semua yang

dibutuhkannya

APRIL 1975. Paul Molise bertanya, "Masih berapa lama lagi sebelum kota ini jatuh ke tangan vietcong?"

Sparrowhawk menjawab, "Beberapa jam. Beberapa hari. Yang pasti dalam minggu ini. Akan banjir darah. Banyak orang akan mati, dan kematian dengan siksaan. Pembersihan. Kaum komunis adalah puritan yang fanatik."

"Aku mengundang dirimu dan Robbie dengan suatu maksud." Ketiga orang itu berada di dalam kamar kamar Molise di sebuah hotel di Nguyen Hue Boulevard. Tiga lantai di bawah, di atas jalanan tampak sebuah jeep yang dibalikkan masih menyala di tempat para perampok meninggalkannya dengan pengemudinya yang mati. Asap tebal tampak mengepul ke atas dari gedung kedutaan besar amerika, istana kepresidenan dan sejumlah gedung pemerintahan, tempat dokumen dokumen dibakar agar tidak jatuh ke tangan kaum komunis. Kekuasaan dan ketenangan kini hanya dimiliki oleh orang orang yang telah sanggup membayar ke-berangkatan mereka dari kota yang sudah dipastikan nasibnya itu.

Molise berkata, sAku ingin berbicara tentang George Chihara."

Sparrowhawk memandang pada Robbie. Ya dewa, kita membayar untuk segala sesuatu dalam hidup ini. Molise telah menjanjikan suatu pekerjaan seumur hidup kepada Sparrowhawk; menjadi presiden direktur suatu perusahaan intelijen di New York, dengan gaji yang besarnya tidak pernah diimpikan oleh Sparrowhawk. Malam itu, janji itu telah memberi hak kepada Molise untuk menyeret Sparrowhawk dan Robbie ke jalanan berbahaya di Saigon, sekedar untuk bercakap cakap. Dan sesudah berlaku jam malam!

Molise, Chihara, Ruttencutter, dunia hitam perancis dan politikus politikus Vietnam selatan yang terkemukasudah saling mengenal. Ya, narkotika, demikian disimpulkan oleh Sparrowhawk,bisa mengumpulkan orang!

"Sebelum aku memulai dengan Chihara," kata Molise, "Lebih dulu aku memberitahukan kepadamu," ia menunjuk pada sparrowhawk, "agar kau menunda keberangkatanmu dari Saigon."

? "Apakah kau sudah gila? Aku sudah dicatat akan meninggalkan tempat keparat ini dengan helikopter dalam waktu empatpuluh delapan jam."

"Anggaplah ini sebagai permintaanku secara khusus."

Ah, keparat itu memegang diriku dalam cengkeramannya, pikir Sparrowhawk. Karena pekerjaan di New York itu. Sekarang mesti menari mengikuti serulingnya. Padahal, apakah gunanya janji suatu pekerjaan yang membikin kaya itu bagi seorang yang sudah mampus?

"Aku tidak mempunyai niat untuk membusuk di dalam sel penjara vietcong," Sparrowhawk berkata.

"Limaratus ribu dollar untuk duapuluh empat jam waktumu," Molise berkata. "Uang itu sudah menunggu dirimu jika kau tiba di New York. Atau, aku dapat menempatkannya di bank mana saja menurut keinginanmu."

Mata Sparrowhawk menyempit.

Molise menuang wiski lagi ke dalam gelasnya. "Aku bermaksud pulang dan menghadiahkan transaksi terbesar dalam urusan heroin sejak kita mulai berurusan dengan bangsat bangsat di sini. Tetapi kini itu akan gagal berkat tuan Chihara."

Sparrowhawk mengetahui persoalannya. Dua hari yang lalu, petugas petugas bea cukai Saigon telah menerima pemberitahuan bahwa seseorang bermaksud menyelundupkan 100 kg heroin keluar Vietnam. Lazimnya, petugas pet-tugas itu disogok dan heroin itu akan diloloskan, dan dalam kasus itu ke kanada, dan dari sana ke New York. Seluruh Saigon mengetahui bahwa heroin itu, yang dibeli dengan harga beberapa juta dollar, adalah milik Paul Molise. Dan seluruh kota juga mengetahui bahwa seseorang yang dipercaya Molise telah mengkhianatinya.

"Chihara yang bermain kayu." Molise berkata. "Jangan bertanya bagaimana aku mengetahuinya. Pokoknya, aku tahu. Chihara dan semua orang lain berniat meninggalkan Saigon dengan sebanyak uang yang dapat mereka kumpulkan dan membawanya. Chihara mempunyai o-rang orang yang tidak dapat kusentuh, dan yang kumaksudkan adalah orang orang dari istana kepresidenan. Ini memang zaman edan. Kita semua memainkan perjudian tanpa ada peraturan. Saigon akan menjadi keranjang sampah, dan tidak ada orang yang perduli. Tidak ada lagi seorang pun yang memegang janji."

Molise menggelengkan kepala.

"Uangku, heroinku, dan aku tidak bisa berbuat apa pun. Chihara mengatur suatu transaksi untukku, lalu menjualku, dan aku disuruh pergi dari tempat ini tanpa mengucap

sepatah kata pun." Molise menggumamkan sesuatu dalam itali, matanya penuh kebencian dan dendam.

Membalas dendam.

Sparrowhawk merasa bahwa pada saat itulah kehidupannya akan berubah untuk selamalamanya.

Molise berkata, "Chihara keparat itu menerima sepertiga dari yang diterima bangsat bangsat Vietnam itu dariku. Sejak awal mereka memperdaya diriku. Tetapi bagaimana pun, beberapa hari lagi, Chihara akan mengangkut muatan emas dan berlian terakhir dari Saigon. Bersama bagiannya dari heroinku. Vietcong sudah menduduki lapangan terbang di Bien Hoa. Maka habislah riwayat pesawat pesawat Chihara itu. Ia telah mempersiapkan keberangkatan keluar dari sini dengan kapal, yang saat ini tertambat di sungai Saigon.

Molise bercondong ke depan. "Aku menghendaki agar kaubawa Chihara kepadaku, bersama dengan berlian dan emasnya dan heroinku. Aku tidak akan dapat menghadap pada ayahku kalau tidak kubereskan urusan di sini itu. Aku masih ada orang orang yang akan mengatur keberangkatanku dan barang barang yang dapat kubawa. Tetapi aku tidak mempunyai tenaga yang kuperlukan untuk membereskan Chihara. Tidak mepunyai penembak penembak. Lagi pula, aku tidak menghendaki Chihara dalam keadaan mati. Sekedar mampus tidaklah cukup baginya. Aku menghendaki agar ia menderita. Aku menghendaki Chihara bangun setiap pagi dan mengetahui bahwa yang dideritanya itu adalah karena aku."

Chihara telah menebar duri, pikir Sparrowhawk, maka tidak dapat ia mengharap akan memetik bunga bunga wawar.

Molise berkata. "Aku akan menyerahkannya kepada vietcong. Mereka memasang harga atas kepalanya dan mereka akan senang mendapatkannya. Kalau mereka menanganinya, Chihara akan memohon mohon kematian."

"Ia mempunyai isteri dan dua anak perempuan."

Sparrowhawk berkata.

"Mereka juga harus dibereskan. Tetapi kau kerjainlah mereka. Sesuatu yang istimewa sebelum kau membunuh mereka. Pakailah daya khayalmu. Aku menghendaki agar Chihara menderita dan aku menghendaki ia mengetahui bahwa aku yang melakukannya."

Sparrowhawk kini meneguk brandi. Yah, itu semua sungguh suatu perhitungan lengkap dengan Chihara.Namun, ia —Sparrowhawk— tidak melihat alasan mengapa harus melakukan sesuatu yang istimewa pada isteri dan anak anak perempuan Chihara itu. Kalaupun ia akan menyetujui untuk melakukan pekerjaan kotor itu, para wanita itu akan diperlakukan dengan selayaknya."

"Kurasa dapat kauajak Dorian dalam pekerjaan ini," Molise berkata. "Di manakah

nam yang berkedudukan sangat penting telah menghubungi CIA, dan mengancam akan membongkar rencana itu kecuali jika CIA bersedia membayar, yang mereka namakan, suatu 'pajak1. Mereka mengancam akan menyerahkan daftar itu kepada vietcong."

"Kecuali jika CIA bersedia membayar 'pajak' itu."

Molise mengangguk."Dan itu belum semuanya. Juga ada dikatakan, bahwa orang orang Vietnam selatan memasang mortir dan roket di atas atapatap di dekat kedutaan besar amerika, untuk menyerang kedutaan besar dan helikopter helikopter yang mondar mandir membawa keluar orang orang ke kapal amerika di lepas pantai. Kecuali..... jika CIA membayar 'pajak' itu." Molise menghela nafas. "Sepuluh juta dollar."

"Ya, dewa," Sparrowhawk meneguk lagi wiski.

Robbie bersiul. Sejenak lamanya hening di didalam ruangan itu. Di luar, mulai dapat didengar dentuman dentuman roket dan meriam. Bersama setiap detik, semakin dekatlah vietcong itu.

"Omong kosong tentang 'pajak' itu datang dari pihak Vietnam selatan, tetapi Chihara ada di belakangnya. Chihara yang memberikan daftar agen agen itu dan ialah yang memberikan gagasan agar dilakukan pemerasan itu selagi semua orang dalam kepanikan."

Sparrowhawk memandang tajam pada Molise. "Dan dengan itu, tuan Chihara sebenarnya hidup atas waktu yang dipinjam, yang sepenuhnya terserah penentuannya pada dirimu dan tuan Ruttencutter."

Senyum Molise itu sedingin garis bibirnya yang tipis. "Kadang kadang orang memang mujur sekali dalam hidupnya. Agaknya aku dan Ruttencutter menginginkan hal yang sama pada saat bersamaan pula."

"Dan tidak begitu mujur bagi tuan Chihara, agaknya."

"Tetapi bagi dirimu juga mujur," Molise memandang ke dalam gelas minumannya. "Kau masih menghendaki pekerjaan di New York itu, bukan?"

New York November 1981

DI DALAM KANTORNYA di Management Systems Concultants,, Sparrowhawk selesai membaca halaman terakhir laporan mengenai Michelle Asama itu.

Sparrowhawk tidak jadi memanggil nyonya Rosebery untuk meminta agar dibuatkan lagi secangkir teh. Sparrowhawk masih ingin menyendiri beberapa waktu lagi lamanya, untuk berpikir tentang Saigon, tentang yang telah dilakukannya di sana pada malam terakhir itu.

Villa Chihara. Bau teh, ikan dan kayu manis. Di dalam gedung yang bercat putih dan besar itu: George Chihara tertelungkup di atas tatami yang tergelar di atas lantai ruangan duduk. Robbie, dengan lutut di atas tengkuk Chihara, menyeringai.

Sparrowhawk menekan pergelangan tangan kanan Chihara ke atas tatami itu dan mengarahkan sebuah Colt otomatik .45 pada punggung tangan orang jepang itu dan selagi Robbie tertawa kecil, pria inggris itu menarik pelatuk pistol itu.

Tiada bunyi tembakan. Tiada peluru.

Namun begitu, Chihara merasakan suatu kenyerian yang sangat.

Pistol .45 itu, sebuah senjata CIA telah diubah hingga dapat menembakkan anak panah yang menembus tubuh dengan kekuatan peluru dan membunuh tanpa mengeluarkan suara.

Panah itu menembus tangan Chihara, menembus tulang, urat, lapisan kulit dan daging, memancang tangan itu pada lantai. Entah bagaimana, tetapi Chihara berhasil menahan jeritan terlontar dari mulutnya. Ia Cuma mengejang dan mengertakkan gigi.

Beberapa menit sebelumnya, Sparrowhawk, Robbie dan Dorian telah membunuh ketujuh pengawal di depan villa itu, dengan suatu dadakan menyergap mereka selagi memuat truk itu dengan peti peti. Kemudian orang inggris itu bersama kedua orang amerika itu menyerbu masuk ke dalam villa, membunuh tiga orang pengawal dan dua pelayan lagi. Dan Chihara menjadi tawanan mereka. Tetapi, sebelum mereka sampai padanya, Chihara meneriakkan sesuatu dalam jepang. Sebuah perintah? Sebuah peringatan? Sparrowhawk tidak tahu. Ia tidak mengetahui bahwa tiga orang wanita di puncak tangga telah berbalik dan lari ke dalam sebuah kamar di lantai atas itu, mengunci diri di dalam kamar itu.

Pada saat bersamaan, sebuah mobil yang sedang mendekati villa itu dengan tiba tiba balik dan menghilang.

Pertanyaan pertanyaan yang menuntut jawaban segera.

Orang jepang itu pantang menyerah. Dengan sekuat tenaga dicobanya melemparkan Robbie dari atas dirinya, dan gagal. Dalam usahanya menahan Chihara itu, Robbie menekankan ujung sepotong besi ke dalam telinga orang jepang itu. Namun Chihara terus berlawan. Chihara mengetahui bahwa Sparrowhawk bakal menggarap tangan kirinya, maka ia bergeser sedemikian rupa dan mencoba menyembunyikan lengan kiri itu di bawah tubuhnya. Robbie, namun, menghantam orang jepang itu di atas otot lengan kirinya, melumpuhkannya. Tanpa sepatah kata pun, Sparrowhawk menarik lengan kiri itu dari bawah tubuh Chihara, menginjak pergelangan tangan itu

dan sekali lagi menembakkan .45 itu. Panah berujung baja itu menembus jari jari kelingking dan manis. Darah menyembur ke atas ta-tami itu dan Chihara, kalap karena kesakitan, nyaris berhasil melemparkan Robbie dari atas dirinya.

Sparrowhawk berkata, "Siapakah yang ada di dalam mobil itu? Apa yang kaukatakan kepada mereka?"

"Pelayan," Chihara berbisik. "Menyuruh mereka meloloskan diri."

Sparrowhawk melihat pada Robbie, kemudian pada Dorian, yang memegang sepucuk M-16 yang dibidikkannya pada sejumlah pelayan bangsa Vietnam. Dorian berkata, "Hai, kukira bangsat itu berbohong. Siapa saja yang di luar tadi pasti pergi mencari bala bantuan."

Sudah kuduga begitu. Itulah sebabnya kita akan segera keluar dari sini. Tetapi, sebelumnya, ada tiga orang wanita di lantai atas." Sparrowhawk melihat pada Chihara. "Mereka bersenjata?"

Chihara diam saja.

"Robbie, balikkan tuan itu, dan kau tidak usah segan segan."

Robbie tidak mengenal keseganan.

Kedua tangan Chihara mengucurkan darah. Wajahnya yang bulat itu basah dengan peluh. Ia berjuang keras melawan rasa kesakitan. Tetapi matanya yang penuh kebencian, tidak sejenak pun meninggal wajah Sparrowhawk.

Dengan .45 itu, Sparrowhawk menyentuh kantung kemaluan orang Jepang itu. "Aku tidak akan bertanya sekali lagi."

Chihara cepat mengatakan, "Mereka tidak mempunyai senapan."

"Dorian, kau awasilah keadaan di sini, sementara Robbie dan aku naik ke atas untuk melihat para wanita itu."

Ada kilatan ganjil di mata Robbie. "Hai, mayor, Paulie mengatakan agar kita berikan sesuatu yang istimewa pada mereka."

"Aku mengetahui apa yang dikatakn Paulie, tetapi kita akan melakukan segala sesuatu menurut caraku. Aku tidak menginginkan diri kita terjebak di sini menghadapi kawan kawan tuan Chihara yang lebih garang. Maka tidak perlu memperlama urusan di sini. Singkirkan wanita wanita itu secepat mungkin agar kita bisa cepat meninggalkan tempat ini."

"Andalah boss kami ."

Berdua mereka naik ke lantai ? atas. Dengan M-16 masing masing dalam keadaan siap menembak, mereka mencoba membuka pintu demi pintu. Kamar terakhir, di sebelah kanan, terkunci dari dalam.

Sparrowhawk mengangguk kepada Robbie, yang melepaskan serentetan tembakan ke arah kunci pintu itu. Robbie kemudian menendang pintu itu dan kedua orang itu menyerbu masuk dengan tubuh merunduk. Keheningan.

Robbie yang paling dulu melihat mereka. Robbie menunjuk,jari telunjuk menuding ke ranjang besar itu.

Sparrowhawk maju selangkah, kemudian berhenti. Di atas tempat tidur itu terbaring dua orang wanita jepang berdampingan, tubuh mereka yang berlumuran darah lemas dalam kematian. Yang seorang berperawakan kecil, rambutnya bercampur uban; yang seorang lagi masih muda, duapuluhan lebih. Sebilah pisau penuh darah tergeletak di samping sebuah bantal, sedangkan sebilah pisau lagi telah terlepas dari tangan wanita yang sudah mati dan tergeletak di atas lantai. Seorang wanita ketiga, juga berusia duapuluhan, duduk di sebuah kursi di depan meja rias. Tubuhnya yang berlumuran darah dengan mata tanpa melihat apa apa memandang ke dalam sebuah kaca cermin oval. Ketiga wanita itu masing masing telah mengikat pergelangan pergelangan kaki satu sama lain.

Kematian beritual. Sparrowhawk

mengetahui hal itu. Namun begitu ia tidak mengerti apa apa. Mesti ada suatu alasan bagi ketiga kematian itu, suatu alasan penting. "Mereka membunuh diri," bisik Sparrowhawk. "Mengambil nyawa sendiri. Orang orang dungu."

Ia harus mengetahui mengapa mereka melakukan itu. Sparrowhawk tiba tiba merasa dirinya menjadi lemas, merasa aneh.

Robbie berkata, "Seppuku. Aku pernah membaca tentang itu, tetapi belum pernah melihatnya sendiri." Robbie seakan akan tidak terpengaruh sedikit pun oleh keadaan yang di hadapan mereka itu.

Sparrowhawk memandang pada Robbie. "Hara-kiri, maksudmu."

Robbie menggelengkan kepala. "Salah istilah. Hara-kiri memang istilahnya, tetapi itu pun hanya di pakai orang di luar jepang. Kata sebenarnya adalah seppuku, yang berarti memotong perut. Samurai dan golongan kelas atas membunuh diri dengan cara itu sebagai masalah kehormatan . Menghindari kehilangan muka. Penghinaan."

"Itu sebagian dari urusan karate yang kau praktekkan sepanjang waktu?"

Robbie menggelengkan kepala. "Tidak. Ini tradisi samurai zaman dulu." Robbie bergerak mendekati ranjang besar itu. "Hai, anda perhatikan itu? Mereka tidak memotong diri sendiri di perut. Di leher mereka. Memang itulah cara wanita melakukan seppuku. Menemukan nadi di situ, memotong itu. Dan pisau pisau itu kai-ken namanya. Senjata khusus bagi kaum wanita.."

Sparrowhawk bergidik. "Ya dewa, dari mana mereka dapatkan ketabahan itu?"

Di lantai bawah, Chihara duduk di atas lantai, kedua tangan yang berdarah itu di atas pahanya. Darah juga menetes dari tusukan besi oleh Robbie ke dalam telinganya itu. Chihara menatap pada Sparrowhawk dengan

cemooh dan sikap menantang. Orang inggris itu merasa kikuk. Sesuatu membisikkan pada dirinya bahwa adalah lebih bijaksana langsung membunuh pria Jepang itu dan dengan begitu menyudahi pesoalan itu.

"Mati tanpa dikehendaki adalah lebih mudah," Chihara berkata. "Yang sulit adalah mati dengan patuh."

Kuat sekali keinginan Sparrowhawk membunuh orang itu. Tetapi bukan itu yang dikehendaki oleh Paul Molise.

Sparrowhawk berkata pada Chihara, "Mereka sudah mati. Itu tidak mengganggumu?"

Pelan pelan, dengan sebuah senyum di atas wajahnya, Chihara menggelengkan kepala.

"Kau berbohong." Chihara memalingkan mukanya.

"Kataku, kau berbohong. Katakan bahwa kau berbohong, kalau tidak, maka akan kubunuh kau sekarang dan di sini juga."

"Kau tidak akan membunuh aku. Dan para wanita telah lolos darimu. Kami telah menang. Seorang samurai tidak takut shi."

Sparrowhawk memandang pada Robbie, yang berkata, "'Shi* berarti kematian."

Wanita wanita itu. Kini Sparrowhawk mengetahui apa yang dirasakannya ketika melihat mereka.Ia merasa takut dan dikibuli, ya..... seakan akan memang merekalah yang menang.

Chihara mengatakan sesuatu dalam Jepang.

Robbie tersenyum dan menggelengkan kepala, "Tidak mungkin, sahabat. Tidak akan mungkin." Robbie kemudian memandang pada Sparrowhawk. "Ia mengatakan, bahwa bahkan kalau kita membunuhnya, ia akan menghabisi kita semua. Kau, aku, Dorian, Molise. Katanya tidak ada kekuatan yang dapat menghalanginya. Mengatakan tentang tentang menjangkau dari seberang maut untuk menghabisi kita berempat."

"Mengapa kaki kaki wanita wanita di atas diikat?"

"Oh, itu sebagian dari upacaranya. Manakala wanita melakukan seppuku mereka mengikat kaki merapat satu sama lain untuk melindungi kehormatan. Tidak menghendaki ada pria yang melihat kemaluan mereka dengan kedua kaki merenggang. Sepanjang waktu, orang Jepang menjaga kesopanan."

Dorian, dengan M-16 masih diarahkan pada para pelayan itu memandang pada Sparrowhawk. "Bagaimana?"

Sparrowhawk mengangguk. Tidaklah benar bahwa hanya Tuhan yang bisa menyelesaikan sesuatu. Robbie seperti lazimnya, selalu siap dan tidak perlu di desak. Pengaman pengaman dilepaskan dan tanpa mengucapkan sepatah kata pun, mereka bertiga mulai menembaki para pelayan itu. Orang orang Vietnam yang malang itu, pria dan wanita, menjerit jerit, memohon, mencoba lari. Tidak

seorang pun yang luput.

Sparrowhawk mengangkat tangannya. Asap biru mengepul keluar dari senapan masing masing. Di depan ketiga orang itu tergeletaklah mayat mayat terbantai itu.

Sparrowhawk berbalik. "Bawa orang jepang yang satu ini dan mari kita keluar dari sini."

Di dalam truk itu, Robbie yang mengemudi sedangkan Sparrowhawk duduk disampingnya. Dorian dan Chihara yang diikat berada di belakang, disembunyikan oleh peti peti, bagasi dan perkakas rumah tangga. Sparrowhawk dapat mendengar Dorian memaksa membuka koper koper. Merampok, seperti biasa Pria dungu, Dorian, dan serakahnya!

Sparrowhawk telah berhasil membujuk Molise membayar seratus ribu dollar masing masingnya pada Dorian dan Robbie untuk pekerjaan mereka malam itu. Namun Dorian masih juga seserakah itu!

Tetapi pikiran Sparrowhawk tidak berlama lama dengan kekurangan kekurangan Dorian itu. Masih ada yang harus dilakukan sehubungan dengan villa Chihara itu.

Setengah mil jauhnya dari desa, truk itu berhenti, dan lewat radio mobil, Sparrowhawk memerintahkan suatu serangan roket atas villa Chihara itu. Serangan roket itu, dibarengi dengan memberi kesibukan di tempat lain kepada Manny Decker selama empatpuluh delapan jam terakhir, menandakan bahwa Ruttencutter, sekali pun jarang terjadi, adalah seseorang yang memegang janji yang sudah diberikannya.

Dalam malam yang panas itu dan gemuruh meriam meriam di kejauhan, truk itu meluncur di boulevard boulevard lebar yang sepanjangnya ditanami pohon pohon asam itu.

Tanpa memikirkan lagi tentang shi dan George Chihara, Sparrowhawk memusatkan pikiran pada limaratus ribu dollar yang dideposito atas namanya di sebuah bank di liechtenstein, dan juga pada pekerjaan istimewa yang menantikan dirinya di New York; dan ia berkata pada diri sendiri, bah- J wa kematian tiga wanita jepang itu tidak mempunyai makna apa pun bagi dirinya.

Sparrowhawk akan membangun suatu kehidupan baru atas mayat mayat George Chihara dan isteri dan anak anak perempuannya itu. Mengenai ancaman bahwa akan ada jangkauan dari seberang maut, itu cuma suatu pikiran sinting, ocehan seorang dungu.

Shi, tuan Chihara, adalah akhir segala | galanya, suatu keheningan total.

New York November 1981

SETELAH MEMBACA SEKALI LAGI bahan bahan i mengenai Michelle Asama itu, mendorong

Sparrowhawk menelefon ke belgia. Ia menele-fon NiaL Hinds, seorang pedagang senjata yang mempunyai gudang gudang di Brussel dan Liege. Hinds organisator hebat dalam penjualan senjata senjata amerika yang dirampas oleh vietcong. Hinds adalah seorang yang harus ditanya mengenai George Chihara.

"Akan kuusahakan sebaik baiknya, sahabatku."kata Hinds lewat hubungan transat lantik itu. "Akan memakan waktu sehari atau dua. Vietcong sialan itu mempunyai banyak komite revolusioner dan saluran saluran partai yang harus ditembus."

"Secepat mungkinlah, Nial. Kautangani sendiri, oke? Jangan sampai tersiar keluar. Anggap saja ini suatu penyelidikan pribadi."

"Akan kuhubungi dirimu. Kau berhutang padaku, sahabat."

"Tidak akan kulupakan."

Telefon dari Nial Hinds itu datang dua hari kemudian. Kali itu hubungan lebih buruk daripada yang pertama; sambungan itu diganggu percakapan bersilang, terhenti henti. Sparrowhawk hampir tidak dapat mendengar kata kata pedagang senjata itu, dan itu sangat menjengkelkannya. Dengan meninggalkan mejanya, dibawanya pesawat telefon ke jendela dan memandang ke bawah ke atas Manhattan. Hari hari bulan november semakin pendek, semakin gelap.

"Nial, berbicaralah agak keras. Aku ham pir tidak bisa mendengarmu."

" katanya seorang wanita

mencoba membebaskan Chihara-mu itu. Ia sudah mati."

"Kapan Chihara mati?"

"Wanita "

"Wanita? Nial, katamu wanita. Siapakah ia? Ia ada hubungan keluarga dengan Chihara? Dapatkah kau menggabarkannya?"

"Hello, Trevor? Hello? Kau masih di situ? Sialan benar, telefon ini. Aku tidak

mendengar Trevore, aku akan berangkat

ke Zimbabwe."

"Nial, wanita itu "

Hening. Hubungan itu terputus.

Dengan marah, Sparrowhawk, gagang telefon di tangan satu, pesawat di tangan lain,- memukul mukul jendela. Tidak puluh hubungan itu. Tidak ada yang menjawab. Tidak seorang pun. Shi adalah kesudahan segala sesuatu.

Tuan Sparrowhawk, anda tidak apa apa?

Aku mendengar gedoran gedoran "

Nyonya Rosebery menyerbu masuk. "Ya dewa, tangan anda!"

Kedua tangan Sparrowhawk itu berdarah.

Seperti kedua tangan George Chihara berdarah malam terakhir di Saigon itu

Bersambung

0 Response to "G I R I 1"

Post a Comment

Translate

English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified