Download applikasi baca novel online untuk android disini: DOWNLOAD

Frankenstein

KAMI menderita siksaan kesedihan sampai jam sebelas, saat sidang pengadilan dimulai. Ayah dengan seluruh keluarga datang sebagai saksi. Aku turut menyertai mereka ke pengadilan.

Selama berlangsungnya apa yang dinamakan pengadilan ini, aku merasa sedang disiksa hidup-hidup. Akan segera diputuskan, apakah rasa ingin tahuku yang tidak mengindahkan kaidah hukum akan mengakibatkan kematian dua orang manusia sesamaku. Yang sudah jatuh menjadi korban seorang anak yang masih polos, yang dibunuh dengan cara yang mengerikan sekali. Karena anak ini sama sekali belum mengenal dosa, maka pembunuhan atas dirinya terasa jauh lebih mengerikan. Justine juga seorang gadis yang penuh kebajikan, yang punya harapan akan mencapai kebahagiaan hidup. Dan kini dia akan dihukum mati, dikuburkan dengan penuh kehinaan. Semua ini akulah penyebabnya!

Aku seribu kali lebih suka mengakui bahwa akulah yang melakukan kejahatan yang dituduhkan kepada Justine. Tapi aku tidak ada di tempat kejadian waktu peristiwanya terjadi. Pernyataanku pasti hanya akan dianggap igauan orang gila. Usahaku takkan berhasil membebaskan orang yang menderita karena perbuatankuJustine tampak tenang saja. Dia mengenakan pakaian berkabung. Wajahnya tetap kelihatan cantik, walaupun otaknya penuh pikiran yang sangat memberatkannya. Air mukanya memperlihatkan kepercayaan kepada dirinya sendiri yang bersih dari dosa, dan sedikit pun dia tidak merasa gentar.

Orang banyak memandang Justine dengan rasa jijik. Ketenangannya bahkan membangkitkan kebencian orang banyak, yang mengira dia telah melakukan kejahatan yang begitu mengerikan. Justine kelihatan tenang, tapi jelas sekali bahwa jiwanya tertekan. Dulu kekalutannya ditafsirkan orang sebagai bukti bahwa dia bersalah. Maka kini dia menguatkan hatinya untuk memperlihatkan ketabahan.

Waktu baru masuk ke dalam ruang pengadilan, Justine meHhat berkeliling dan segera melihat di mana kami duduk. Setetes air mata tampak menyuramkan matanya waktu dia melihat kami. Tapi dia segera bisa menguasai perasaannya. Air mukanya yang memperlihatkan belas kasihan dan kasih sayang seakan pernyataan bahwa dia sama sekali tidak bersalah.

Pengadilan pun dimulai. Setelah jaksa membacakan tuduhannya, beberapa saksi dipanggil. Beberapa fakta aneh digabungkan dan memperkuat tuduhan kepada dirinya. Kenyataan yang d kemukakan para saksi cukup jneyakinkan semua orang yang tidak punya bukti bahwa Justine tidak bersalah seperti yang kumiliki.

Pada malam terjadinya pembunuhan, sepanjang malam Justine berada di luar rumah. Menjelang pagi dia dilihat oleh seorang perempuan yang akan berangkat ke pasar, di dekat tempat mayat korban kemudian ditemukan. Perempuan ini bertanya kepadanya, apa yang sedang dilakukannya di situ. Justine memperlihatkan air muka aneh, serta men

jawab dengan perkataan yang tidak keruan dan tidak jelas.

Sekitar jam delapan Justine pulang ke rumah. Waktu ditanya dia semalaman di mana, dia menjawab bahwa dia mencari William. Dia lalu bertanya dengan sungguh-sungguh apakah sudah mendengar Sesuatu tentang William. Waktu mayat ditunjukkan kepadanya, Justine lalu menjadi histeris dan mengurung diri di dalam kamarnya selama beberapa hari.

Kemudian bandul kalung yang ditemukan pelayan dalam sakunya ditunjukkan. Elizabeth berkata dengan terbata-bata bahwa satu jam sebelum William hilang, dia sendiri yang memakaikan kalung di leher anak yang malang ini. Mendengar ini segera ruangan sidang riuh dengan suara kengerian dan kemarahan.

Justine disuruh tampil ke depan untuk membela diri. Selama sidang berlangsung, air mukanya telah berubah. Air mukanya memperlihatkan dengan jelaB keheranan, kengerian dan kesedihan. Kadang-kadang dia berusaha dengan keras menahan air matanya. Tapi setelah dia mulai bicara, dia mengumpulkan segenap kekuatannya dan berkata dengan suara yang jelas terdengar.

"Tuhan tahu," katanya, "bahwa aku sama sekali tidak bersalah. Tapi aku tahu bahwa sanggahanku ini takkan membebaskanku. Aku akan membela kebenaranku dengan penjelasan seadanya tentang kenyataan yang diajukan untuk menuduhku. Aku berharap semoga kelakuanku selama ini mendorong para yuri menafsirkan dengan baik hal-hal yang meragukan atau mencurigakan."

Kemudian Justine bercerita. Pada sore dan malam terjadinya pembunuhan, atas ijin yang diberikan Elizabeth dia pergi ke rumah bibinya. Bibinya tinggal di desa Chene, yang berjarak se-

kitar satu setengah kilometer dari Jenewa. Kira-kira jam sembilan malam dia pulang. Di jalan dia bertemu dengan seorang laki-laki yang menanyakan kepadanya apakah dia melihat William yang telah hilang.

Mendengar ini dia merasa khawatir, dan terus mencari William sampai berjam-jam. Waktu gerbang kota ditutup dia masih ada di luar. Dia terpaksa harus menunggu pagi tiba di dalam gudang penyimpanan rumput milik seorang petani. Dia tidak mau membangunkan yang punya rumah, sebab dia sudah kenal baik dan tidak mau merepotkan.

Hampir sepanjang malam dia tidak bisa memicingkan mata. Tapi menjelang pagi dia yakin telah terlelap sebentar, selama beberapa menit. Dia terkejut mendengar bunyi langkah kaki orang, dan dia terbangun. Waktu itu fajar sudah merekah. Dia segera meninggalkan tempatnya berteduh, agar bisa terus turut mencari adikku yang hilang.

Dia sama sekali tidak tahu bahwa dia melewati tempat yang tidak begitu jauh dari tempat mayat menggeletak. Kekalutannya waktu ditanya oleh perempuan yang akan berangkat ke pasar tidak mengherankan, sebab hampir semalaman dia tidak tidur dan dia masih mengkhawatirkan nasib William. Dia tidak menerangkan apa pun tentang kalung yang ditemukan dalam sakunya.

"Aku tahu," sambung Justine yang malang ini, "bahwa hal yang satu ini sangat fatal memberatkan tuduhan terhadap diriku, tapi aku tidak mampu memberikan penjelasan. Aku sama sekali tidak tahu-menahu, dan aku tidak bisa menduga-duga kemungkinan yang menyebabkan benda itu sampai berada di sakuku. Di sinilah letak kelemahanku. Aku yakin bahwa di muka bumi ini aku tidak punya musuh satu pun. Aku yakin takkan ada orang yang ingin memfitnah diriku dengan cara begitu kejam. Apakah si pembunuh yang telah memasukkan kalung ke dalam sakuku? Aku tahu dia tidak punya kesempatan melakukannya. Seandainya dia bisa memasukkannya, untuk apa dia mencuri perhiasan itu kalau kemudian hanya akan membuangnya lagi?

"Aku menyerahkan segala-galanya kepada keadilan para yuri, tapi aku tidak melihat adanya harapan sedikit pun. Aku memohon agar beberapa orang saksi ditanya tentang perangaiku. Kalau kesaksian mereka tidak bisa melenyapkan tuduhan terhadap diriku, aku tentu akan menerima hukuman. Tapi aku memohon pembebasan karena aku tidak bersalah."

Beberapa orang saksi dipanggil. Mereka orang-orang yang kenal dengan Justine sudah bertahun-tahun, dan semua menceritakan kebaikan perangai si tertuduh. Tapi mereka juga merasa takut dan benci kepada Justine karena mengira dia bersalah. Mereka menjadi takut-takut untuk bicara banyak-banyak.

Elizabeth tahu bahwa usaha terakhir ini, yaitu kesaksian tentang kelakuan Justine yang tak ada cacat celanya, takkan bisa menyelamatkannya dari tuduhan. Maka dia lalu minta ijin tampil ke muka sidang.

"Aku saudara sepupu anak yang terbunuh ini," kata Elizabeth, "atau lebih merupakan seorang kakak baginya. Ini karena aku dididik, tinggal serumah dan dianggap anak oleh orang tuanya bahkan lama sebelum dia lahir. Maka mungkin akan dianggap kurang layak bagiku untuk tampil ke muka pada kesempatan ini. Tapi aku melihat sesamaku akan binasa karena kepengecutan orang-orang yang mengaku sebagai sahabatnya. Maka kuharap aku diperkenankan berbicara, mengatakan semua yang kuketahui tentang watak dan kelakuannya.

"Aku kenal baik dengan tertuduh. Aku telah lama tinggal Berumah dengan dia. Pada kesempatan sebelumnya selama lima tahun, dan kesempatan lainnya selama hampir dua tahun. Selama itu menurut pen-dapatku dia manusia paling ramah dan baik hati kepada orang lain. Dia merawat Madame Frankenstein, bibiku, waktu dia menderita sakit untuk terakhir kalinya, dengan penuh ketekunan dan kasih sayang. Kemudian dia merawat ibunya sendiri yang sakit payah, dengan ketekunan yang mengagumkan bagi setiap orang yang menyaksikannya. Kemudian sekali lagi dia tinggal di rumah pamanku, dan di rumah ini dia disayangi oleh seluruh keluarga.

"Hubungannya dengan anak yang sekarang sudah meninggal sangat baik, seperti seorang ibu menyayangi anaknya. Aku tidak ragu-ragu mengatakan ini, walaupun ada bukti untuk menuduhnya. Aku yakin sekali bahwa dia sama sekali tidak bersalah. Dia tidak mungkin tergoda untuk melakukan perbuatan semacam itu. Sedangkan tentang benda yang dijadikan barang bukti, kalau memang dia sungguh-sungguh menginginkannya, aku akan memberikan kepadanya dengan senang Hati. Sebesar itulah kepercayaan dan penghargaanku kepada-} nya."

Terdengar beberapa suara menyetujui per nyataan Elizabeth yang bersahaja namun cukup kuat. Tapi mendengar kedermawanan Elizabeth, orang banyak bangkit lagi kemarahannya kepada Justine. Mereka menyerangnya dengan tuduhan tidak tahu membalas budi dengan kata-kata yang sangat keji.

Justine sendiri menangis waku Elizabeth berbicara, tapi tidak mengeluarkan jawaban. Selama pengadilan berlangsung penderitaan yang kurasakan tidak ada batasnya lagi. Aku yakin bahwa Justine tidak bersalah. Aku tahu benar. Sesaat pun aku tidak pernah meragukan siapa yang telah melakukan kejahatan. Apakah iblis yang telah membunuh adikku juga telah menjerumuskan gadis yang tidak berdosa ini ke arah kematian dan kenistaan?

Aku tidak kuat lagi menahankan suasana yang penuh kengerian ini. Waktu aku melihat muka para yuri dan mendengar suara mereka yang sudah menetapkan kesalahan Justine, aku men hambur ke luar dengan hati tersiksa. Siksaan yang dira sak an si .tertuduh belum menyamai siksaan yang kurasakan. Dia yakin bahwa dirinya tidak berdosa. Sedangkan aku, aku merasakan taring-taring penyesalan merobek-robek dadaku, dan aku tidak kuasa melepaskan diri.

Semalaman aku terus-menerus disiksa oleh perasaanku sendiri. Paginya aku pergi ke pengadilan. Bibir dan kerongkonganku terasa sangat kering. Aku tidak berani mengajukan pertanyaan, tapi aku sudah dikenal. Petugas pengadilan sudah bisa menduga tujuan kunjunganku. Undian sudah ditarik, dan semua yuri menyalahkan tertuduh. Justine akan mendapat hukuman mati.

Aku tidak bisa melukiskan perasaanku. Sebelumnya aku sudah pernah merasakan kengerian, dan aku masih bisa berusaha menyatakannya dengan kata-kata. Tapi kini tidak ada perkataan yang bisa menggambarkan rasa putus asa yang memedihkan hati, yang saat itu kuderita.

Orang yang kutemui menambahkan bahwa Justine sudah mengakui kesalahannya. "Bukti itu," dia menjelaskan, "hampir-hampir tidak diperlukan dalam perkara yang sudah begitu jelas. Sebenarnya tidak ada satu pun di antara para yuri yang mau menjatuhkan hukuman kepada seorang penjahat hanya berdasarkan atas bukti sangka belaka, betapapun jelasnya."

Ini kenyataan yang aneh dan tidak terduga-duga. Apa gerangan artinya? apakah penglihatanku salah? Apakah aku benar-benar sudah gila seperti yang akan dituduhkan seluruh dunia kepadaku kalau aku menerangkan obyek kecurigaanku? Aku segera pulang, dan dengan tidak sabar Elizabeth menanyakan hasilnya.

"Saudara sepupuku," jawabku, "keputusannya sudah ditetapkan seperti perkiraanmu. Para yuri berpendapat lebih baik sepuluh orang yang tidak berdosa menderita, daripada satu orang yang bersalah lolos. Tapi Justine sudah mengaku."

Ini merupakan pukulan keras bagi Elizabeth, yang selama ini yakin bahwa Justine tidak ber salah. "Yaampun!" katanya. "Bagaimana aku akan bisa percaya lagi kepada kebaikan orang? Justine kucintai dan kuperlakukan seperti adikku sendiri. Bagaimana bisa dia selama ini mengecoh kita semua dengan senyumannya yang kelihatan polos? Matanya yang lembut seakan menunjukkan bahwa dia tidak bisa melakukan kekerasan atau kejahatan. Tapi dia telah melakukan pembunuhan."

Segera kami mendengar bahwa korban yang malang ini ingin bertemu dengan Elizabeth. Ayah menginginkan agar Elizabeth tidak pergi mene-i muinya, tapi dia juga menyerahkan kepada perasaan dan pertimbangan Elizabeth sendiri untuk mengambil keputusan.

"Ya," kata Elizabeth, "aku akan menemuinya, walaupun dia bersalah. Dan kau, Victor, kau harus menemaniku. Aku tidak bisa berangkat sendirian." (iagasan tentang kunjungan ini sangat menyiksa hatiku, tapi aku tidak bisa menolak.

Kami masuk ke dalam sel tahanan yang remang-remang. Kulihat Justine sedang duduk di atas tumpukan jerami di ujung ruangan. Tangannya di-borgol, dan kepalanya diletakkan di atas lutut. Demi melihat kami masuk, dia terus bangkit berdiri. Setelah kami sendirian bersama dia, dia berlutut di muka Elizabeth dan menangis dengan getirnya. Elizabeth juga menangis.

"Oh, Justine!" kata Elizabeth. "Mengapa kau merenggutkan satu-satunya hiburan yang masih kumiliki? Aku yakin bahwa kau tidak berdosa. Walaupun sebelumnya aku sangat sedih, tapi belum sesedih perasaanku seperti sekarang ini."

"Apakah kau juga percaya bahwa aku sejahat itu? Apakah kau turut membantu musuh-musuhku yang akan membinasakanku, yang akan menghukumku sebagai seorang pembunuh?" Suara Justine tercekik oleh sedu-sedannya.

"Berdirilah, Adikku," kata Elizabeth. "Mengapa kau berlutut, kalau memang kau tidak bersalah? Aku bukan salah seorang musuhmu. Sebelumnya aku yakin bahwa kau tidak bersalah, walaupun ada barang bukti untuk menuduhmu. Tapi kemudian kudengar kau sendiri menyatakan bahwa kau bersalah. Kau mengatakan semua tuduhan kepadamu palsu. Yakinlah, Justine ku yang baik, sesaat pun keyakinanku bahwa kau tidak bersalah tidak pernah goyah, kalau kau sendiri tidak mengaku."

"Aku memang sudah mengaku, tapi aku mengucapkan pengakuan bohong. Aku mengaku dengan harapan akan mendapat pengampunan. Tapi sekarang kebohongan yang sudah kuucapkan lebih memberatkan hatiku daripada dosaku yang lain. Semoga Tuhan mengampuniku! Sejak kesalahanku diputuskan, aku dipaksa disuruh mengaku. Aku diancam dan ditakut-takuti, sampai aku hampir-hampir berpikir bahwa aku penjahat seperti yang dituduhkan kepadaku. Aku diancam tidak akan diakui sebagai umat dan akan dibakar dalam api neraka, kalau aku tetap keraa kepala. Tak ada seorang pun yang membelaku. Semua memandang diriku sebagai penjahat yang harus dihina dan di-nista. Apa yang dapat kulakukan? Pada saat-saat yang penuh penderitaan aku mengucapkan pengakuan bohong. Sekarang aku benar-benar sangat menderita."

Justine berhenti berbicara, menangis, dan kemudian meneruskan, "Aku merasa ngeri, Nona yang baik, jangan-jangan kau percaya kepada pernyataanku. Bibimu sangat menghargai diriku, dan kau end n sangat menyayangiku. Dan aku dianggap makhluk yang mampu melakukan kejahatan yang tidak sanggup dilakukan orang lain, hanya iblis saja yang bisa melakukannya. William yang kusayangi! Anak yang paling kukasihi! Aku akan segera bertemu lagi denganmu di surga, dan di sana kita akan berbahagia kembali. Hanya itu yang membuatku terhibur, walaupun aku akan menghadapi kematian yang penuh kenistaan."

"Oh, Justine! Maafkan aku karena sesaat kehilangan kepercayaan kepadamu. Mengapa kau mengaku? Tapi jangan kau bersedih, Adikku sayang. Aku akan mengajukan pernyataan, aku akan membuktikan bahwa kau tidak bersalah. Aku akan meluluhkan hati musuhmu yang Bekeras batu dengan air mata dan permohonanku. Kau tidak akan mati! Kau, teman bermainku, sahabatku, adikku, akan binasa di tiang gantungan? Tidak! Tidak! Aku takkan tahan menahankan kemalangan yang sangat mengerikan ini."

Justine menggelengkan kepala dengan sedih. "Aku tidak takut mati," katanya. "Rasa takut semacam itu sudah tidak kurasakan lagi. Tuhan sudah membuang kelemahanku, serta memberiku kekuatan dan keberanian untuk menahankan penanggungan yang paling buruk. Aku akan meninggalkan dunia yang penuh kesedihan dan kepahitan. Kalau kau Belalu mengingat diriku sebagai orang yang dijatuhi hukuman secara tidak adil, aku sudah merasa tenang untuk menerima takdirku. Belajarlah dariku, Nona yang baik. Selalulah sabar menerima kehendak Tuhan!"

Selama percakapan ini aku menyingkir ke sudut ruang tahanan. Di situ aku bisa menyembunyikan penderitaan luar biasa yang menguasai diriku. Korban yang malang ini besok pagi akan melalui batas hidup dan mati dengan cara paling mengerikan. Tapi dia tidak merasakan penderitaan yang begitu dalam dan pahit, seperti yang kurasakan.

Aku mengeretakkan gigi dengan geram, serta mengeluarkan suara erangan dari dalam hati sanubariku. Justine terperanjat. Setelah dia melihatku, dia datang menghampiriku dan berkata:

"Tuan yang terhormat, kau baik sekali sudi mengunjungiku. Kau juga kuharap tidak percaya bahwa aku bersalah?"

Aku tidak bisa menjawab.

"Tidak, Justine," kata Elizabeth. "Dia bahkan lebih yakin daripada aku bahwa kau tidak bersalah. Bahkan setelah mendengar kau telah mengaku, dia masih tidak mau percaya."

"Aku benar-benar sangat berterima kasih kepadanya. Pada saat terakhir ini aku merasa ber- v hutang budi kepada semua orang yang punya anggapan baik terhadap diriku. Sungguh manis rasanya kasih sayang orang lain yang ditujukan kepada orang yang malang seperti diriku! Perasaan ini melenyapkan separuh kesedihanku. Sekarang kau sudah tahu bahwa aku tidak bersalah, Nona yang baik, dan demikian pula saudara sepupumu. Sekarang kurasa aku akan bisa mati dalam kedamaian." Demikianlah Justine yang sedang menderita berusaha menghibur orang lain dan dirinya sendiri. Dia sudah menemukan ketenangan jiwa dalam sikap pasrah yang kini didapatnya. Tapi aku, pembunuh yang sebenarnya, akan selalu merasakan penderitaan yang tak ada habis-habisnya serta tanpa harapan bisa mendapat penghiburan.

Elizabeth juga menangis dan bersedih hati. Tapi kesedihannya kesedihan orang yang tidak berdosa. Kesedihannya bagaikan awan yang menutupi bulan purnama; sebentar menyembunyikannya, tapi tidak meninggalkan cacat pada kecemerlangannya.

Sedangkan aku, kesedihan dan putus asa menusuk sampai ke hati nuraniku. Aku membawa api neraka dalam diriku, yang tak terpadamkan oleh apa pun juga.

Kami menemani Justine selama beberapa jam. Akhirnya hanya dengan susah payah Elizabeth bisa memaksa dirinya meninggalkan Bel tahanan.

"Aduh," tangis Elizabeth, "ingin sekali aku turut mati bersamamu. Aku tidak tahan lagi hidup di dunia yang penuh kesedihan ini."

Justine berusaha memperlihatkan wajah gembira, sambil dengan susah payah menahan air mata kesedihannya. Dia memeluk Elizabeth seraya berkata dengan perasaan agak tertekan:

"Selamat berpisah, Nona yang baik, Elizabeth sayang, satu-satunya sahabatku yang tercinta. Semoga Tuhan Yang Maha Pemurah memberkati dan selalu melindungimu. Semoga ini kemalangan terakhir yang kaurasakan! Semoga hidupmu bahagia, sehingga kau pun bisa membahagiakan orang lain pula."

Keesokan harinya Justine dihukum mati. Permohonan Elizabeth yang memilukan hati tidak menggoyahkan para yuri dari keputusan yang telah diambil. Betapapun suci dan baik perangainya, Justine tetap dianggap pelaku tindak kejahatan.

Permohonanku yang bernafsu dan penuh kemarahan juga sia-sia- untuk mengubah pendirian mereka. Jawaban mereka dingin, keras dan kasar serta dengan pertimbangan yang tanpa perasaan. Mendengar jawaban mereka, sumpah yang akan kuucapkan tidak jadi keluar dari mulutku. Sebenarnya aku sudah memutuskan lebih baik dianggap orang gila, daripada membiarkan korban perbuatanku dijatuhi hukuman mati. Tapi rupanya paling-paling aku hanya akan dianggap orang gila tanpa hasil apa-apa. Justine binasa di tiang gantungan sebagai seorang pembunuh!

Dari kesedihan yang kurasakan, aku ganti merenungkan kesedihan Elizabeth yang sangat dalam. Ini juga akibat perbuatanku! Demikian juga kesedihan yang diderita ayahku, serta suasana gembira yang sudah terhapus dari rumahku — semua ini hasil kerja tanganku

yang terkutuk!

Menangislah kau, hai orang yang bersedih hati, tapi ini bukan air matamu yang penghabisan! Kau masih akan mengeluarkan lagi ratapan pada pemakaman! Suara ratapan mu akan terus-menerus terdengar. Kehancuran takkan berhenti-hentinya, sampai liang kubur mengakhiri siksaanmu!

Demikianlah sukmaku menyuarakan ramalan, sementara hatiku dicabik-cabik rasa penyesalan, kengerian dan putus asa. Dengan pandangan hampa kutatap kuburan William dan Justine, orang-orang tercinta yang mengalami penderitaan sia-sia. Mereka korban-korban pertama perbuatanku yang tidak terpuji.TIDAK ada lagi yang lebih menyakitkan bagi perasaan manusia daripada ketenangan tanpa kesibukan dan ketakpastian, setelah perasaan dibebani peristiwa yang menyedihkan. Demikian juga yang kurasakan sekarang. Jiwaku hampa dari harapan, dan bahkan dari rasa takut.

Justine telah mati, telah beristirahat dalam kedamaian, tapi aku masih hidup. Darah masih mengalir dengan lancar dalam tubuhku, tapi beban kepu-tusasaan dan penyesalan menekan hatiku serta tak tersingkirkan. Aku tidak bisa tidur lagi. Aku mengembara ke mana-mana seperti roh jahat. Sebab aku telah melakukan perbuatan jahat yang keke-jiannya di luar batas, namun rupanya jauh lebih banyak lagi yang masih akan terjadi.

Walaupun demikian sebenarnya hatiku penuh kebaikan dan cinta kebajikan. Sejak masih kecil aku sudah bercita-cita ingin berguna bagi sesama manusia. Tapi sekarang apa yang kuidam-idamkan sudah hancur-lebur. Aku tidak bisa menoleh ke belakang dengan rasa puas akan hasil yagg kuper-oleh serta mengharapkan hasil baru. Jauh dari itu. Bahkan sebaliknya, kini aku tercengkam oleh penyesalan dan rasa bersalah. Aku sudah merasakan siksaan neraka yang tidak bisa dilukiskan dengan kata-kata. Perasaan ini merusakkan kesehatanku, yang rupanya belum pulih benar-benar sesudah terkena goncangan yang pertama. Aku menghindari wajah manusia. Semua suara kegembiraan dan kepuasan hati bagiku merupakan siksaan. Aku hanya bisa memperoleh penghiburan dengan kesendirian — menyendiri di tempat sepi dan gelap, sesepi dan se gelap kematian sendiri.

Ayah sangat sedih melihat perubahan pada tingkah laku dan kebiasaanku. Dia berusaha membangkitkan keberanianku untuk mengenyahkan awan hitam yang menyelubungi diriku.

"Victor," kata ayahku, "apakah kau mengira aku tidak turut bersedih hati? Tak ada orang yang bisa mencintai seorang anak lebih dari aku mencintai adikmu..." air matanya mulai berlinang sementara dia berbicara. "Tapi kita harus bisa menahan diri, jangan sampai kita memperlihatkan kesedihan yang di luar batas. Kau juga tidak boleh bersedih hati sedalam itu, sehingga kau tidak mengindahkan kesenangan hidup lagi. Kau bahkan sudah tidak mempedulikan kebutuhan sehari-hari, padahal tanpa itu semua kau tidak bisa masuk ke dalam pergaulan masyarakat."

Nasihat ini memang baik, tapi sama sekali tidak cocok bagiku. Seharusnya akulah yang lebih dulu menyembunyikan kesedihanku dan menghibur keluargaku. Tapi penyesalanku berpadu dengan kepahitan, kengerian, ketakutan dan beberapa perasaan lainnya. Sekarang aku hanya bisa menjawab nasihat ayahku dengan air muka putus asa, serta menyembunyikan diri dari pandangannya.

Tidak berapa lama kemudian kami pindah ke rumah kami di Belrive. Perubahan suasana ini sangat cocok bagi suasana hatiku. Tinggal di dalam tembok kota Jenewa bagiku sangat membosankan. Pintu gerbangnya sudah ditutup pada jam sepuluh malam, sehingga lewat dari jam ini aku tidak bisa menyepi dekat danau. Itulah yang menyebabkan aku tidak tahan tinggal dalam kota. Tapi sekarang aku sudah bebas.

Seringkah kalau seluruh keluarga sudah tidur, aku mengambil perahu dan selama berjam-jam berperahu di tengah danau. Kadang-kadang dengan layar terpasang aku mengikuti tiupan angin. Dan pada kesempatan lain aku berdayung ke tengah danau, kemudian membiarkan perahu terapung-apung sementara aku merenungkan kesedihanku.

Di tengah ketenangan aku seringkah berpikir bahwa akulah satu-satunya makhluk hidup yang sedang mengembara di tengah keindahan surgawi. Sesekali hanya kepakan sayap kelelawar atau suara katak saja yang memecahkan kesunyian. Di tengah ketenangan ini aku seringkah tergoda oleh keinginan menceburkan diri ke danau, supaya aku tenggelam dalam air dan penderitaanku lenyap untuk selama-lamanya.

Tapi ingatan kepada Elizabeth selalu bisa mencegahku menuruti godaan ini. Dia juga menderita, tapi menghadapi penderitaannya dengan tabah. Dia sangat kucintai, dan hidupnya dalam satu ikatan dengan hidupku. Aku juga memikirkan ayah dan adikku yang masih ada. Patutkah aku mengakhiri hidupku secara keji dan membiarkan mereka tanpa perlindungan terhadap ancaman iblis yang kulepaskan di tengah kehidupan mereka?

Pada saat-saat semacam itu aku lalu menangis dengan hati sangat pedih. Aku sangat mendambakan kembalinya ketenangan jiwaku, supaya aku bisa menghibur dan membahagiakan keluargaku. Tapi hal itu mustahil. Rasa sesal sudah mematikan setiap harapan. Aku sudah menjadi pencipta dan penyebab bencana. Kini setiap hari aku hidup dalam ketakutan, jangan-jangan makhluk yang telah kuciptakan akan melakukan perbuatan jahat lagi. Aku punya firasat samar-samar bahwa bencana masih belum berakhir, dan dia masih akan melakukan kejahatan yang lebih besar daripada sebelumnya. Aku masih belum lepas dari cengkeraman rasa takut, selama masih ada orang yang kucintai di alam fana ini.

Kebencian dan kejijikanku kepada iblis ini tidak bisa dibayangkan. Setiap kali teringat kepadanya aku selalu mengeretakkan gigi dengan mata menyala-nyala. Ingin sekali aku memusnahkan hidup yang telah kuberikan kepadanya. Kalau aku teringat kepada kekejian dan perbuatan jahatnya, kebencianku rasa mendidih. Nafsu ingin membalas dendam menggelegak dalam jiwaku. Aku bersedia naik ke puncak pegunungan Andes yang tertinggi, supaya aku bisa melemparkannya ke bawah. Aku ingin melihatnya lagi, supaya aku bisa meremukkan kepalanya untuk melampiaskan kebencianku dan menuntut bela atas kematian William dan Justine.

Rumah kami selalu diliputi mendung suasana berkabung. Kesehatan ayahku merosot dengan cepat karena kengerian peristiwa yang baru terjadi. Elizabeth selalu murung dan bersedih hati. Dia tidak lagi menjalankan tugasnya sehari-hari dengan penuh keriangan seperti sediakala. Dia menganggap kesenangan apa pun juga merupakan penghinaan kepada mereka yang sudah mati. Ya, Elizabeth beranggapan bahwa kesedihan dan air mata abadi merupakan penghargaan yang layak bagi mereka yang dibinasakan tanpa dosa.

Elizabeth bukan lagi gadis periang seperti dulu, waktu kami berjalan-jalan di tepi danau dan membicarakan masa depan kami dengan gembira danpenuh semangat. Kesedihan sudah mulai singgah pada dirinya, dan pengaruhnya yang suram menghapuskan senyumannya yang paling manis.

"Kalau kupikirkan, Victor," katanya, "setelah kematian Justine Moritz yang menyedihkan, aku tidak bisa lagi melihat dunia beserta semua isinya seperti yang telah kulihat sebelumnya. Dulu aku mengenal kejahatan dan ketakadilan hanya dari ^ yang kubaca dalam buku, atau kudengar dari orang lain sebagai dongeng atau cerita khayal. Sekurang-kurangnya dulu semuanya terasa lebih jauh daripada kenyataan. Tapi sekarang setelah merasakan kesedihan, bagiku manusia kelihatan sebagai serigala yang ingin saling memakan sesamanya. Tapi tentu saja aku tidak jujur. Setiap orang percaya bahwa Justine bersalah. Dan kalau memang dia benar-benar melakukan tindak kejahatan yang menyebabkan dia sampai mengalami nasib de-^ mikian, berarti jelas dia makhluk yang paling hina di antara manusia lainnya. Hanya karena menginginkan perhiasan yang tidak seberapa, dia telah membunuh anak majikannya, anak yang diasuhnya sejak baru lahir dan kelihatan dicintainya seper i anak sendiri. Aku tidak pernah menyetujui pembunuhan kepada sesama manusia dengan alasan apa pun. Tapi tentu saja aku berpendapat bahwa manusia semacam itu tidak layak tetap berada di tengah masyarakat. Tapi Justine tidak bersalah! Aku tabu dan bisa merasakan bahwa dia tidak berdosa. Kau juga sependapat denganku, dan itu memperkuat pendapatku sendiri. Aduh? Victor, kalau kepalsuan bisa kelihatan begitu sama dengan kebenaran, siapa yang bisa yakin akan kebahagiaannya sendiri? Aku merasa seakan sedang berjalan di pinggir jurang, dan ribuan manusia sedang berusaha menjerumuskan diriku ke dalamnya. William dan Justine mati dibunuh, dan pembunuhnya lolos. Dia masih berkeliaran di muka bumi ini dengan bebas merdeka, mungkin bahkan dihormati sebagai orang terpandang. Tapi walau pun seandainya aku harus mati di tiang gantungan seperti Justine, aku tidak sudi bertukar tempat dengan iblis pembunuh ini."

Aku mendengarkan kata-kata Elizabeth dengan penderitaan yang tak terperi. Akulah pembunuh yang sebenarnya. Bukan karena perbuatan secara langsung, tapi karena akibat perbuatanku. Elizabeth melihat kesedihan pada air mukaku. Dengan kasih sayang dia memegang tanganku dan berkata:

"Sahabatku tersayang, kau harus menenangkan dirimu. Peristiwa ini juga sangat berpengaruh terhadap dirimu. Hanya Tuhan saja mungkin yang tahu betapa dalam kesedihanku. Hatiku juga remuk seperti hatimu. Tapi wajahmu membayangkan putus asa, dan kadang-kadang keinginan membalas dendam yang membuatku menggigil. Victor sayang, buanglah jauh-jauh rasa dendammu. Ingatlah kepada semua sahabatmu, yang menggantungkan harapan kepadamu. Apakah kami sudah kehilangan kemampuan untuk memberikan kebahagiaan kepadamu? Ah! Selama kita masih saling mencinta, selama kita masih setia kepada satu sama lainnya, di negerimu yang tenteram dan indah permai ini kita masih akan bisa menuai berkat kedamaian. Apa yang akan menggangu ketenangan kita?".

Dan tidak dapatkah kata-kata Elizabeth yang jauh lebih kuhargai daripada harta benda mengusir iblis yang bermukim dalam hatiku? Sementara dia berbicara aku semakin merapat kepadanya, seakan-akan aku merasa takut jangan-jangan iblis perusak merenggutkan diriku dari padanya saat itu juga.Tapi baik kelembutan persahabatan maupun keindahan dunia dan surga tidak bisa menebus sukmaku dari cengkeraman kesedihan. Bahkan rasa cinta sendiri tidak berdaya. Aku merasakan diriku tertutup mendung tebal yang tidak dapat ditembus oleh suatu apa pun. Diriku bagaikan rusa luka yang berjalan terseok-seok menuju tempat persembunyian, untuk melihat anak panah yang menembus tubuhnya dan untuk menemui ajalnya.

Kadang-kadang aku bisa mengatasi kesedihan dan rasa putus asa yang menguasaiku. Tapi seringkah pula pusaran jiwaku mendorongku untuk mencari sarana yang bisa melepaskan diriku dari penderitaan yang tak tertahankan rasanya. Karena dorongan inilah maka aku meninggalkan rumahku.

Aku pergi ke lembah pegunungan Alpen yang terdekat. Aku ingin melupakan kesedihanku di tengah alam yang serba hebat dan pemandangannya indah. Pengembaraanku kutu u k n ke arah lembah Chamounix. Sejak masih kanak-kanak aku sudah sering pergi ke sana. Tapi aku tidak pemah mengunjunginya lagi sejak enam tahun yang terakhir ini. Kini aku sudah merupakan barang rong-sokan. Sedangkan pegunungan dan alam yang masih liar ini tidak ada yang bisa mengubahnya.

Aku menempuh bagian pertama perjalananku dengan naik kuda. Selanjutnya aku menyewa seekor keledai. Di jalan yang berbatu-batu dan naik turun keledai lebih cocok karena lebih tahan. Cuaca sangat bagus. Kini dua bulan sudah berlalu sejak kematian Justine, peristiwa yang mengawali semua kesedihan yang menimpaku. Kini sudah sampai ke pertengahan bulan Agustus.

Beban yang memberati hatiku terasa makin ringan setelah makin dalam aku memasuki lembah Arve. Sisi-sisi gunung yang terjal mengelilingiku, dan terdengar aliran air sungai yang deras di antara batu-batu. Di sana-sini kelihatan air terjun dengan suaranya yang menggemuruh, seakan mengatakan bahwa masih ada kekuatan sangat besar seperti kekuatan Yang Mahakuasa. Aku lalu tidak merasa takut maupun gentar menghadapi apa saja yang tidak sekuat Sang Pencipta Alam Semesta.

Tapi setelah aku mendaki semakin tinggi baru kulihat bahwa lembah lebih hebat dan lebih menakjubkan. Di sisi-sisi tebing dan lereng gunung tampak runtuhan-runtuhan kastil. Di sana-sini di lereng gunung Arve yang ditumbuhi pohon pinus tampak beberapa buah pondok di antara pepohonan. Semuanya membentuk pemandangan yang keindahannya sangat unik.

Walaupun demikian keindahan semua ini masih dikalahkan oleh pegunungan Alpen yang puncaknya menjulang tinggi di atasku. Puncak-puncaknya yang berbentuk limas dan kubah putih berkilat-kilat. Rasanya seakan pegunungan ini ada di alam lain, serta dihuni oleh makhluk lain pula.

Aku menyeberangi jembatan Pelissier. Di situlah jurang tempat sungai bermata air terbuka di hadapanku. Aku lalu mulai mendaki lereng gunung di sisi jurang ini. Tidak lama kemudian aku sudah memasuki lembah Chamounix. Lembah ini indah dan tenang, walaupun tidak seindah lembah Servox yang baru saja kulalui.

Pemandangan di semua arah dibatasi oleh pegunungan bersalju. Kini aku tidak lagi melihat runtuhan kastil maupun padang yang menghijau subur. Kulihat gleser yang sangat luas mengalir turun menuju ke jalan. Suaranya mengguruh, dan kulihat asap mengepul menandai tempat jatuhnya salju runtuh ini. Mont Blanc yang perkasa sudah kulihat menjulang tinggi di antara puncak-puncak lain yang bentuknya seperti menara. Kubahnya yang dahsyat tampak angker, tegak menghadapi lembah.Selama dalam perjalanan ini kenangan manis yang sudah lama dilupakan seringkah kembali kepadaku. Suatu tikungan jalan atau suatu obyek baru tiba-tiba kulihat dan kukenali kembali. Semua mengingatkanku kepada hari-hari yang sudah lama silam, yang berhubungan dengan kegembiraan di masa kanak-kanak.

Angin yang bertiup terasa membisikkan kata-kata hiburan yang menenangkan," dan Alam yang keibuan seakan membujukku agar aku tidak terus menangis. Kemudian lagi-lagi pengaruh yang baik ini kehilangan daya — dan sekali lagi aku tercengkam kembali oleh kenangan yang menyedihkan.

Aku lalu memacu tungganganku. Dengan berbuat demikian aku berusaha melupakan dunia, ketakutanku, dan lebih dari segala-galanya, diriku sendiri. Pada kesempatan lain, kalau kesedihan begitu kuatnya menguasai batiku, aku turun dan melemparkan tubuhku sendiri ke atas rumput. Aku menelungkup dan menangis sejadi-jadinya, tidak tahan menahan beban kesedihan dan putus asa.

Akhirnya aku sampai ke desa Chamounix. Kelelahan jasmani dan rohani serasa menghabiskan semua tenagaku. Beberapa waktu lamanya aku berdiri di muka jendela. Aku melihat kilat yang memancar di puncak Mont Banc dan mendengarkan desauan air sungai Arve yang dengan deras mengalir ke bawah. Semua suara yang kudengar terasa menghimbau inderaku yang sangat perasa. Setelah aku meletakkan kepalaku di atas bantal, rasa kantuk segera menyerangku. Aku terlelap tidur, dan dalam sekejap semuanya terlupakan olehku.

Bab 10.

KEESOKAN harinya aku mengisi waktuku dengan mengembara di lembah. Aku berdiri dekat mata air sungai Arveiron, yang menggelegak ke luar dari tanah dan mengalir turun ke lembah- Di depanku kulihat lereng gunung yang hampir tegak lurus, sangat terjal. Dinding salju kelihatan menggantung di atasku.

Satu

Pemandangan alam yang menakjubkan di sekelilingku memberikan pengaruh yang menenangkan atas diriku. Kesedihanku masih belum terhapus karenanya, tapi rasa kedamaian menenteramkan pikiranku. Sedikit demi sedikit bahkan suasana di sekitarku mulai mengalihkan pikiranku dari hal-hal yang membuatku murung selama sebulan yang terakhir ini.

Di waktu malam aku beristirahat untuk memulihkan tenagaku. Tidurku juga tenang, terpengaruh oleh ketenangan yang kusaksikan pada siang harinya. Semua seakan bersatu untuk meneriangkan pikiranku: puncak gunung bersalju yang putih bersih, menara es yang berkilat-kilat, pohon-pohon pinus, jurang batu karang yang tandus, serta burung elang yang membubung tinggi di antara awan berarak. Semua berkumpul untuk membujukku agar hatiku tenteram kembali. Tapi ke mana larinya semua ini waktu aku

bangun tidur keesokan harinya? Semua yang menenangkan jiwaku lenyap bersama lenyapnya rasa kantuk. Kini pikiranku kembali digelapkan oleh awan kesedihan. Hujan turun dengan lebatnya, dan kabut yang sangat tebal menyembunyikan puncak gunung dari penglihatanku. Aku tidak lagi bisa melihat wajah-wajah alam yang ramah, yang selama ini sudah menjadi sahabatku. Tapi aku akan berusaha menembus cadar kabut ini, serta mencari mereka yang kini bersembunyi di balik awan. Apa artinya hujan dan badai bagiku? Aku me-

nyiapkan keledaiku, dan aku bermaksud mendaki puncak Montanvert. Aku masih ingat kepada pengaruh yang diberikan oleh lapangan ea yang selalu bergerak ini kepada pikiranku, waktu pertama kali aku melihatnya. Waku itu pikiranku terisi oleh kepuasan yang tak ada taranya. Jiwaku seakan diberi sayap yang memungkinkannya bisa membubung tinggi ke dunia lain yang penuh cahaya dan sukacita. Pemandangan alam yang hebat bisa

Menenangkan perasaanku, serta membuatku bisa melupakan kesedihan yang baru kualami. Aku bermaksud pergi seorang diri tanpa penunjuk jalan. Aku sudah kenal baik dengan semua jalan dan lorong, dan kehadiran orang lain kuanggap hanya akan merusakkan ketenangan alam yang agung.

Pendakian yang kujalani sangat curam. Tapi jalan setapak yang kulalui sudah dibuat berkelok-kelok, yang memudahkan pendakian sampai ke I puncak gunung. Di mana-mana tampak ribuan bekas runtuhan dinding es di musim dingin. Di beberapa tempat bekas ini ditandai oleh kayu-kayu roboh ke tanah. Beberapa batang kayu bahkan ada yang hancur sama sekali. Lainnya ada yang hanya condong menyandar pada batu karang atau pada batang pohon lainnya.

Semakin tinggi aku mendaki, kulihat jalan setapak seringkah terpotong oleh alur bekas aliran salju atau rusak oleh batu yang selalu jatuh berguling-guling ke bawah. Di salah satu tempat bahkan ada jalan yang sangat berbahaya. Di situ suara keras sedikit saja akan cukup untuk menggetarkan udara sehingga menyebabkan bungkah-bungkah es runtuh menimpa orang yang berjalan di bawahnya.

Pohon pinus yang tumbuh di situ tidak sesubur yang tumbuh di bawah. Tapi pohon-pohon ini cukup teduh dan menambahkan suasana tenang pada pemandangan. Aku melihat ke lembah di bawahku. Kabut tebal kulihat naik dari sungai yang mengalir di tengahnya. Kabut naik bergulung-gulung dan menutupi gunung-gunung di seberang lembah. Gunung-gunung ini puncaknya tertutup awan. Sementara itu hujan lebat yang terus turun menambah kesan menyedihkan yang kudapat dari keadaan di sekitarku.

Aduh! Mengapa manusia harus selalu membuaL bahwa daya pikirnya jauh lebih tinggi daripada yang dimiliki binatang? Ini hanya menyebabkan manusia menjadi makhluk yang terlalu banyak menuntut kebutuhan hidup. Seandainya instink kita hanya terbatas pada rasa lapar, haus dan berahi, pasti kita hampir bebas dari segala-galanya. Tapi sekarang kita terpengaruh oleh setiap angin yang bertiup, perkataan yang kita dengar dan peristiwa yang kita lihat

Kita beristirahat; tapi mimpi mampu meracuni tidur yang lelap.

Kita bangun; satu pikiran akan mengeruhkan perasaan.

Kita merasakan, membayangkan, mempertimbangkan; tertawa atau menangis. Kita peluk kesedihan, atau kita lemparkan kemalangan.

Semua sama saja: sebab baik kegembiraan

maupun kesedihan,

Akan bisa lenyap dengan mudah.

Hari kemarin takkan sama dengan hari esok.

Semua akan selalu berubah-ubah.'

Hampir tengah hari barulah aku sampai ke puncak pendakian. Untuk beberapa waktu lamanya aku duduk di atas karang yang menghadap ke lautan es. Kabut menyelimuti lautan es ini, terus ke gunung-* gunung di sekitarnya.

Pada suatu ketika angin bertiup menyibakkan awan, dan aku turun ke padang salju. Permukaannya tidak rata, berombak-ombak seperti laut dilanda prahara. Padang salju ini menurun, dan di sana-sini ada celah karang yang sangat dalam.

Padang salju ini luasnya hampir satu setengah kilometer, tapi aku menyeberanginya hampir dalam waktu dua jam. Gunung di seberang lembah melupakan batu karang tandus yang tegak lurus. Tepat di hadapanku tegak berdiri puncak Montan-vert, jauhnya sekitar dua kilometer. Di atasnya menjulang tinggi puncak Mont Blanc, tampak hebat dan agung. Aku berdiri di tubir karang, melihat ke pemandangan indah di sekelilingku

Gunung-gunung semua dikelilingi padang salju, dengan puncaknya yang menembus langit. Puncak esnya yang berkilat-kilat memantulkan sinar mata hari jauh di atas awan. Hatiku yang sebelumnyapenuh kesedihan, kini penuh terisi dengan sesuatu yang mirip kegembiraan. Aku berseru:

"O, arwah-arwah berkeliaran, biarkanlah aku menikmati kebahagiaan yang tak seberapa ini. Atau ajaklah aku untuk menemanimu, meninggalkan kegembiraan dan penderitaan hidup."

Waktu aku mengucapkan kata-kata ini, tiba-tiba aku melihat sesosok tubuh manusia di kejauhan. Dia berjalan menuju ke arahku dengan kecepatan yang jauh melebihi kecepatan manusia biasa. Dia melompati celah-celah es dengan mudahnya, yang tadi kulalui dengan sangat hati-hati. Setelah dia semakin dekat, kulihat hahwa besar badannya juga jauh melebihi besar badan manusia biasa.

Aku terperanjat. Mataku terasa tertutup kabut, dan aku merasa seperti mau pingsan. Tapi aku segera pulih kemhali oleh angin yang bertiup menyejukkan tubuhku. Kulihat yang sedang meng- % hampiriku ternyata makhluk hasil ciptaanku.

Betapa hebat, buruk dan menjijikkan makhluk ini! Aku gemetar karena marah dan ngeri. Aku bermaksud menunggu kedatangannya, kemudian bertarung dengannya sampai salah Batu dari kami menemui ajal.

Dia pun datang. Air mukanya tampak memancarkan penderitaan yang sangat pahit, terpadu dengan sikap sombong dan sifat jahat. Rupanya^ yang sangat bumk hampir tidak tertahankan untuk dilihat oleh mata manusia. Semua menyebabkan rupa keseluruhannya sangat mengerikan!

Tapi aku hampir-hampir tidak melihat ini semua. Kemarahan dan kebencian mula-mula membuat aku tidak kuasa mengucapkan kata-kata. Setelah aku pulih kembali dari kebisuanku, kata-kata yang kutumpahkan kepadanya penuh kemarahan, ke bencian dan rasa jijik "Iblis!" seruku. "Berani kau mendekatiku? Kau tidak takut dendamku akan memberi kekuatan kepada tanganku untuk menghancurkan kepalamu yang buruk? Pergi kau, binatang busuk! Atau kau boleh tinggal di sini supaya aku bisa menghancurleburkan tubuhmu menjadi debu! Oh! Kalau kau sudah musnah, aku akan menghidupkan kembali korban yang telah kaubunuh dengan cara yang sangat keji!"

"Aku sudah menduga akan mendapat sambutan semacam ini," kata iblis ini. "Semua orang membenci apa saja yang pirnya rupa buruk. Tapi mengapa aku harus di benci, kalau keadaanku paling menyedihkan di antara semua makhluk hidup? Bahkan kau, penciptaku, membenci dan menistaku, ciptaanmu? Hubungan antara kita hanya bisa putus oleh kematian salah seorang di antara kita. Kau bermaksud membunuhku. Bagaimana kau sampai berani main-main dan mempertaruhkan nyawamu untuk melakukannya? Lakukan tugasmu terhadap dirimu dan manusia pada umum nya. Kalau kau mau menerima syarat yang akan kuajukan, aku tidak akan mengganggu kalian semua. Tapi kalau kau menolak, aku akan terus memberikan mangsa kepada elmaut, sampai dia puas dengan darah keluarga dan sahabatmu yang masih hidup."

"Binatang menjijikkan! Iblis keparat! Siksaan neraka masih terlalu ringan untuk membalas keja-hatanmu. Setan terkutuk! Kau menyebut diriku penciptamu. Datanglah ke sini lebih dekat, supaya bisa kupadamkan kembali bunga api hidup yang telah kunyalakan dalam tubuhmu dengan tanpa dipikir."

Kemarahanku sudah tidak ada batasnya lagi. Aku melompat menyerangnya, terdorong oleh semua nafsu yang menyebabkan orang ingin membinasakan orang lainnya.

Dengan mudah dia mengelakkan sergapanku dan berkata, "Tenang dulu! Kuminta kau mau mendengarkan kata-kataku lebih dulu sebelum melampiaskan kemarahanmu. Apakah aku belum cukup menderita, sehingga kau mau menambah penderitaanku? Hidup ini memang merupakan kumpulan penderitaan, tapi sangat kusayangi dan aku akan mempertahankannya. Ingat, kau telah membuatku lebih kuat daripada dirimu sendiri. Aku lebih tinggi daripada kau, dan anggota badanku lebih kekar. Tapi aku tidak mau tergoda untuk memusuhimu. Aku makhluk ciptaanmu Aku mau bersikap lunak dan penurut kepada tuan dan rajaku, kalau kau pun bersikap yang sebaik itu kepadaku. Oh, Frankenstein, janganlah kau bertindak tidak adil kepada orang lain dan hanya menumpukan kesalahan kepada diriku seorang. Bahkan seharusnya keadilan, belas kasihan dan kasih sayangmu terutama kautujukan kepadaku. Ingatlah selalu bahwa aku ciptaanmu. Seharusnya akulah Adam mu. Tapi kau memperlakukanku seperti malaikat yang terkena kutukan, dan kau menu sahkan k u dari kesenangan tanpa suatu kesalahan. Di mana-mana aku melihat kebahagiaan, hanya aku sendiri yang tidak pernah mengalaminya. Dulu aku baik hati dan dermawan. Tapi kemudian kesedihan menjadikan diriku memiliki sifat-sifat iblis Bahagiakan diriku, dan aku akan kembali ke sifatku yang penuh kebajikan."

"Pergi kau! Aku tidak mau mendengarkan kata-katamu. Tidak ada hubungan antara aku dengan kau. Kau musuhku. Pergi, atau mari kita bertarung mengadu tenaga sampai salah satu menemui ajal." Aduh, bagaimana aku bisa menggerakkan hatimu? Apakah tidak ada kata-kata bujukan yang akan bisa membuang kebencianmu kepada ciptaanmu, yang memohon kebaikan dan belas kasihan darimu? Percayalah, Frankenstein, aku dermawan. Jiwaku memancarkan cahaya kasih dan peri kemanusiaan. Tapi bukankah aku seorang diri, sebatang kara di dunia? Kau, pencipraku, merasa jijik melihatku. Apa yang bisa kuharapkan dari sesamamu, yang tidak berhutang budi apa pun kepadaku? Mereka menampik dan membenciku. Aku terpaksa mengungsi ke pegunungan yang sunyi dan padang es yang tandus. Aku mengembara di sini sudah beberapa hari. Aku bukan hanya tidak takut kepada gua dan gunung es. Tapi di sinilah tempat tinggalku, tempat yang bisa kudiami tanpa ada yang menggangguku. Aku memuja langit yang kosong, sebab dia lebih baik hati kepadaku daripada manusia sesamamu. Kalau orang banyak tahu bahwa aku masih hidup, mereka akan berbuat yang sama dengan apa yang tadi akan kaulakukan. Mereka akan berusaha membina akank Anehkah kalau aku lalu membenci mereka yang merasa jijik kepadaku? Aku tidak akan mengasihani musuh-musuhku. Keadaanku menyedihkan, dan mereka juga akan merasakan kesedihan seperti yang kurasakan. Walaupun demikian kau memiliki kemampuan untuk meluluskan permintaanku. Kalau kau mau memenuhi keinginanku, maka bukan hanya keluargamu, melainkan ribuan manusia lainnya akan terbebas dari amukan angin puyuh kemarahanku yang akan menelan mereka semua. Berusahalah mengubah sikapmu kepadaku. Kasihanilah diriku, dan jangan kauteruskan membenciku. Dengarkanlah kisahku. Setelah kaudengar semua yang akan segera kuceritakan, kau boleh mengambil putusan tentang apa yang akan kaulakukan terhadap diriku. Tinggalkan aku atau kasihani aku, tapi dengarkan dulu ceritaku. Hukum yang dibuat oleh manusia memperbolehkan orang yang bersalah membela diri lebih dulu sebelum dijatuhi hukuman. Dengarkan ceritaku, Frankenstein. Kau menuduhku sebagai pembunuh, tapi kau sendiri dengan sadar bermaksud membinasakan ciptaanmu sendiri. Oh, terpujilah hukum manusia yang abadi! Walaupun demikian aku tidak minta kepadamu untuk mengampuniku. Dengarkan dulu ceritaku. Dan kemudian, kalau kau mau dan kalau kau bisa, binasakanlah hasil karyamu sendiri."

"Mengapa kau membangkitkan ingatanku atas kejadian yang membuatku menggigil kalau aku teringat kembali, bahwa aku pencipta yang bernasib malang?" jawabku. "Terkutuklah saat pertama kau melihat cahaya, hai kau iblis yang menjijikkan! Terkutuklah tanganku yang telah membuat dirimu! Kau telah mendatangkan kesedihan yang tak ter-perikan. Kau membuat diriku tanpa daya untuk mempertimbangkan apakah aku adil kepadamu atau tidak. Pergi dari sini! Bebaskan penglihatanku dari pemandangan yang menjijikkan."

"Baiklah aku akan membebaskanmu, pencip-taku," katanya. Dia berkata demikian sambil meletakkan tangannya yang menjijikkan pada mataku. Tangannya kukibaskan dengan sekuat tenaga.

"Nah, aku sudah membebaskan matamu dari pemandangan yang menjijikkan bagimu. Tapi kau masih belum mau mendengarkan ceritaku dan memberiku belas kasihmu. Demi kebajikan yang pernah kumiliki, aku memohon kepadamu. Dengarkan kisahku. Ceritaku panjang dan sangat aneh, dan suhu udara di tempat ini tidak cocok bagimu. Mari kita pergi ke pondok di lereng gunung. Matahari masih tinggi di langit. Sebelum matahari turun dan bersembunyi di balik tebing salju dan menyinari dunia lain, kau sudah selesai mendengarkan ceritaku serta bisa mengambil keputusan. Semuanya terserah kepadamu, apakah aku akan meninggalkan masyarakat manusia selama-lamanya serta menuntut kehidupan yang tenang tenteram, atau menjadi sumber bencana sesamamu dan penyebab kehancuranmu yang akan segera kau-alami."

Sambil berkata begini dia menunjukkan jalan menyeberangi lapangan es. Aku berjalan mengikutinya. Dadaku terasa sesak dan aku tidak menjawab perkataannya. Tapi sambil berjalan aku menimbang-nimbang beberapa argumentasi yang dikemukakannya. Akhirnya

aku mengambil ke-putusan, sekurang-kurangnya aku akan mendengarkan dulu cerita yang akan dikisahkannya.

Keputusanku sebagian terdorong oleh rasa ingin tahu, serta diperkuat oleh rasa belas kasihan. Sampai saat itu aku punya pendapat bahwa dialah pembunuh adikku. Aku ingin tahu dugaanku benar atau tidak dari cerita yang akan dipaparkannya.

Waktu itu juga untuk pertama kalinya aku menyadari tentang tugas pencipta kepada ciptaannya. Ya, lebih dulu aku harus memberinya kebahagiaan sebelum mengeluh tentang tindakan jahatnya.

Alasan-alasi' inilah yang mendorongku untuk menyetujui permintaannya. Kami melintasi padang es, dan kemudian mendaki tebing karang di seberangnya. Udara terasa dingin dan hujan mulai turun lagi.

Sesampai ke pondok kami terus masuk. Iblis ini kelihatan gembira, sedangkan aku merasakan hatiku sangat berat dan jiwaku tertekan. Tapi aku menyatakan setuju untuk mendengarkan ceritanya. Aku duduk di depan api yang dinyalakan

Oleh makluk yang menjijikkan ini. Kemudian mulailah ia bercerita.

Bab 11

yang amat sangat akhirnya aku teringat kepada hakekat kejadian diriku sendiri. Semua kejadian pada waktu itu terasa sangat membingungkan dan tidak jelas. Sekaligus secara tiba-tiba semua inderaku bisa merasakan. Pada saat yang bersamaan aku melihat, merasa, mendengar dan membaui. Kemudian lama sekali baru aku bisa belajar membedakan cara penggunaan berbagai indera yang kumiliki.

Aku masih ingat, sedikit demi sedikit aku bisa merasakan cahaya yang lebih kuat menekan syarafku. Maka aku lalu memejamkan mataku. Kemudian aku merasakan kegelapan menggangguku, tapi tidak kurasakan lagi setelah aku membuka mataku kembali dan cahaya terasa menyinari ku seperti tadi.

Aku berjalan, dan aku yakin aku berjalan turun. Kemudian aku merasakan perubahan yang sangat besar pada inderaku. Sebelumnya aku merasa dikelilingi oleh sosok-sosok tubuh hitam yang kabur, tidak tertangkap oleh sentuhan dan penglihatanku. Tapi setelah itu kuketahui bahwa aku bisa berkeliaran dengan bebas. Tak ada satu pun halangan yang tidak bisa kulewati atau kuhindarkan.Cahaya terasa semakin kuat bagiku, dan udara panas semakin melelahkan. Aku lalu berhenti berjalan dan mencari tempat yang bisa memberiku keteduhan. Sekarang kuketahui bahwa waktu itu aku berteduh di hutan dekat Ingolstadt. Di situlah aku berbaring di tepi sebuah anak sungai, melepaskan lelah. Kemudian aku merasa tersiksa oleh rasa lapar dan haus. Perasaan ini mendorongku untuk bangkit dari sikap berbaring. Kumakan buah-buahan yang bergantungan di cabang-cabang pohon atau berserakan di tanah. Aku melepaskan dahagaku dengan minum air sungai. Lalu aku berbaring kembali, terserang oleh rasa kantuk.

Waktu aku terbangun, keadaan di sekelilingku gelap. Aku juga merasa kedinginan dan merasa agak takut. Secara instinktif aku sudah tahu bahwa aku sendirian. Sebelum aku meninggalkan apartemenmu, karena rasa dingin aku menutupi tubuhku dengan pakaian. Tapi pakaian yang kukenakan tidak cukup untuk melindungiku dari embun malam. Aku makhluk yang malang, tidak berdaya dan sangat menyedihkan. Aku menyadarinya, namun tidak bisa memahami apa pun. Tapi rasa sakit menyerangku dari segala penjuru, dan aku duduk menangis.

Tidak lama kemudian ada cahaya lembut memancar dari langit, dan aku merasa senang. Aku menengadah, dan kulihat bulatan kuning terbit dari antara pohon-pohonan.* Aku memandanginya dengan rasa takjub. Benda bulat yang memancarkan sinar lembut ini bergerak pelahan, tapi cukup untuk menerangi jalanku. Sekali lagi aku pergi mencari buah-buahan.

Aku masih kedinginan waktu kutemukan sehelai mantel besar di bawah sebatang pohon. Mantel ini kupakai, dan aku duduk di tanah. Tidak ada keinginan yang jelas dalam pikiranku. Semua terasa membingungkan. Aku merasakan cahaya, lapar dan dahaga serta kegelapan. Bermacam-macam suara tertangkap oleh telingaku, dan dan segala penjuru tercium berbagai bau-bauan. Satu-satunya benda yang dapat kukenali hanyalah bulan purnama, dan aku memusatkan pandanganku kepada bulan dengan rasa senang.

Beberapa perubahan antara siang dan malam berlalu. Bulat an bulan sudah semakin berkurang setelah aku bisa membedakan inderaku antara satu dengan lainnya. Lama-lama aku bisa melihat dengan jelas anak sungai yang mencukupi kebutuhanku akan minuman, dan pohon-pohonan yang me-naungiku dengan daunnya yang rimbun.

Aku sangat gembira waktu pertama kali mengetahui bahwa suara merdu yang sering kudengar keluar dari tenggorokan binatang kecil bersayap, yang seringkah kulihat melintas di depan mataku. Aku juga mulai bisa mengenali dengan tepat bentuk benda-benda di sekitarku, serta benda bulat yang ber sinar terang di siang hari.

Kadang-kadang aku mencoba menirukan nyanyian burung yang merdu, tapi tidak berhasil. Pada kesempatan lain aku ingin melahirkan perasaan dengan caraku sendiri, tapi suara tanpa arti yang keluar dari mulutku menakutkanku. Aku lalu berdiam diri kembali.

Bulan sudah lenyap, tidak lagi menerangi malam yang getap. Kemudian bulan muncul kembali dalam bentuk sangat kecil, sementara aku masih tinggal dalam hutan. Waktu itu semua inderaku sudah tajam, dan setiap hari pikiranku selalu menerima gagasan baru. Mataku sudah biasa melihat cahaya, serta bisa melihat benda-benda sesuai dengan bentuk yang sebenarnya. Aku sudah bisa membedakan serangga dengan tanaman. Lambat laun aku juga bisa membedakan tanaman yang satu dengan lainnya. Aku sudah tahu bahwa burung gagak hanya bisa mengeluarkan suara yang memekakkan telinga, sedangkan suara burung murai dan kutilang sangat merdu dan menawan.

Suatu hari, waktu aku merasakan siksaan hawa dingin, aku menemukan api yang ditinggalkan seorang pengembara. Aku sangat gembira setelah mengetahui bahwa api bisa menghangatkan badanku. Dalam kegembiraan aku memasukkan tanganku ke dalam bara menyala. Tapi tanganku cepat-cepat kutarik kembali sambil menjerit ke-sakitan. Aneh sekali, pikirku, bahwa satu benda bisa menimbulkan dua pengaruh yang berlawanan!

Aku menyelidiki bahan-bahan pembentuk api. Aku gembira sekali mengetahui bahwa api terbuat dari kayu. Aku segera mengumpulkan beberapa cabang kayu. Tapi kayu ini basah dan tidak mau menyala. Melihat ini aku sangat sedih, dan aku duduk diam-diam memperhatikan nyala api.

Kayu basah yang kuletakkan dekat api menjadi kering dan terbakar sendiri. Aku memikirkan hal i ini, dan setelah kuselidiki dengan bermacam-macam cabang kayu akhirnya kuketahui apa sebabnya. Aku lalu sibuk mengumpulkan cabang kayu banyak-banyak. Yang masih basah ku taruh dekat api supaya kering, agar aku tidak kekurangan persediaan kayu bakar.

Kalau malam tiba dan mengantarkan rasa kantuk kepadaku, aku merasa takut jangan-jangan apiku padam waktu aku tidur. Maka dengan hati-hati kutaruh kayu kering di atas api, serta di atasnya lagi daun-daunan dan kayu basah. Lalu kuhamparkan mantelku di tanah dan aku berbaring di atasnya. Saat berikutnya aku sudah terlelap tidur.

Pagi keesokan harinya aku terbangun. Yang mula-mula terpikirkan olehku ialah menjenguk apiku. Kubuka kayu basah yang menutupinya, dan angin lembut meniup bara pijar sehingga apinya menyala. Hal ini pun kuselidiki baik-baik Kubuat tongkat kayu untuk pengorek api, kalau nyalanya hampir padam.

Malam berikutnya dengan sukacita kulihat bahwa kecuali rasa hangat, api juga memberikan penerangan. Juga kuketahui bahwa api berguna untuk meningkatkan rasa makananku. Kutemukan sisa makanan yang ditinggalkan si pengembara rupanya dipanggang di atas api. Rasanya jauh lebih enak daripada buah-buahan yang kupetik dari pohon. Aku lalu mencoba memasak makananku dengan cara ini, dengan memanggangnya di atas bara pijar. Buah-buahan ternyata rusak kalau dipanggang, tapi biji-bijian dan umbi makin enak rasanya.

Lama-kelamaan makanan semakin jarang dan sukar dicari r Seringkah sepanjang hari aku mencari makanan, tapi sia-sia saja usahaku menemukan makanan yang cukup untuk mengenyahkan rasa lapar yang kurasakan. Aku lalu mengambil keputusan untuk meninggalkan tempat yang selama ini kudiami. Aku ingin mencari kediaman baru yang lebih makmur, tempat aku lebih mudah memenuhi kebutuhanku yang tidak seberapa.

Dalam perpindahan ini tidak berhenti-hentinya aku meratapi kehilangan apiku yang tak ternilai harganya. Padahal aku tidak tahu bagaimana cara membuat api. Selama beberapa jam aku memikirkan kesulitan ini. Tapi akhirnya aku menghentikan semua usaha untuk memperoleh api kembali. Tubuhku kubungkus rapat-rapat dengan mantel, kemudian aku berjalan menembus hutan ke arah matahari terbenam.

Aku berjalan selama tiga hari, dan akhirnya aku sampai ke sebuah padang terbuka. Malam sebelumnya salju telah turun, dan di seluas padang kelihatan putih. Pemandangan ini tidak menyeriangkan hatiku, dan kakiku sangat dingin oleh benda lembab yang menutupi tanah.

Waktu itu jam tujuh pagi, dan aku sangat mendambakan makanan dan tempat berteduh. Akhirnya aku melihat sebuah pondok kecil di atas tanah yang ketinggian. Rupanya yang kulihat sebuah pondok penggembala. Bagiku pondok merupakan barang yang baru kulihat untuk pertama kalinya. Kuamat-amati bangunan ini dengan penuh perhatian.

Karena pintu pondok terbuka, aku masuk ke dalamnya. Kulihat seorang laki-laki tua sedang duduk menghadapi api, sambil menyiapkan makan pagi. Dia menoleh waktu mendengar suara. Demi melihatku, dia memekik keras-keras. Dia lalu berlari melintasi padang secepat-cepatnya.

Aku heran juga melihat rupa orang ini, yang sangat berbeda dengan semua benda yang pernah kulihat sebelumnya. Lebih heran lagi aku karena dia lari demi melihatku. Tapi aku terpesona oleh rupa pondok yang kutemukan. Di situ salju dan hujan tidak dapat masuk. Tanah di bawahnya kering. Bagiku pondok ini merupakan kemewahan yang tak ada taranya, setelah sekian lamanya aku menderita di tengah udara terbuka. Dengan lahap kusantap habis makanan yang ditinggalkan si gembala. Makanannya terdiri atas roti, keju, susu dan anggur. Tapi aku tidak menyukai anggur. Kemudian karena lelahnya aku berbaring di atas jerami dan terlelap tidur.

Aku terbangun dari tidurku di tengah hari. Tertarik oleh hangatnya sinar matahari, aku memutuskan untuk memulai perjalananku. Sisa makanan yang ditinggalkan si gembala kumasukkan ke dalam kantung. Kantung kujinjing, dan aku berjalan melintasi padang salju selama beberapa jam. Di waktu matahari terbenam aku sampai ke sebuah desa.

Alangkah hebatnya pemandangan yang kusaksikan! Aku sangat kagum melihat rumah-rumah dan bangunan gedung yang terdapat di situ. Kulihat kebun-kebunnya penuh tanaman sayur-mayur. Susu dan keju yang kulihat diletakkan di muka jendela beberapa rumah sangat merangsang seleraku. Aku masuk ke salah satu rumah yang terbaik.

Tapi baru saja aku melangkahkan kaki ke dalam, terjadilah kekalutan. Anak-anak memekik, dan seorang wanita jatuh pingsan. Seisi desa kalang-kabut. Beberapa orang lari, tapi beberapa orang lainnya menyerangku.

Badanku luka-luka kena lemparan batu dan berbagai macam senjata yang dilemparkan orang kepadaku. Maka aku pun lari kembali ke padang terbuka. Dengan penuh rasa takut aku bersembunyi di sebuah kandang rendah. Kandang yang kutemukan kosong, dan sangat menyedihkan kalau keadaannya dibandingkan dengan rumah-rumah yang kulihat di desa. Tapi kandang ini berdekatan dengan sebuah rumah yang kelihatan rapih. Karena peristiwa yang baru kualami, aku tidak berani masuk ke rumah.

Kandang tempatku bersembunyi terbuat dari kayu, dan begitu rendah sehingga aku hampir-hampir tidak bisa duduk tegak di dalamnya. Lantainya pun tidak dilapisi kayu, tapi tanahnya kering. Angin juga masih bisa masuk melalui celah-celah dinding. Tapi bagaimanapun juga tempat itu kuanggap cukup memadai untuk berlindung dari salju dan hujan.

Maka di situlah aku bersembunyi. Aku berbaring dengan perasaan senang karena menemukan tempat berteduh. Walaupun tempatnya menyedihkan, tapi sudah memenuhi kebutuhan sebagai tempat berlindung dari keganasan musim dingin, dan lebih-lebih dari kebiadaban manusia.

Segera setelah pagi tiba, aku merayap ke luar dari kandangku. Aku ingin memeriksa rumah dekat kandang, dan untuk mengetahui apakah aku bisa tetap tinggal di tempat persembunyian yang baru kutemukan. Kandang itu didirikan berbelakangan dengan rumah. Di dekatnya ada kandang babi dan kolam yang airnya jernih. Satu bagian dinding ada yang terbuka, dan melalui lubang itulah aku masuk. Lubang di dinding lalu kututup dengan kayu dan batu, tapi kubuat sedemikian rupa sehingga mudah kubuka kembali kalau aku ingin keluar-masuk. Cahaya yang kubutuhkan masuk dari arah kandang babi, dan itu sudah cukup bagiku.

Setelah merapihkan tempat tinggalku serta mengatasinya dengan jerami, aku masuk ke dalam untuk bersembunyi. Di kejauhan aku melihat sosok tubuh manusia. Aku masih ingat benar dengan apa yang kualami kemarin, sehingga aku tidak ingin berurusan dengan mereka. Pagi itu aku sudah sarapan dengan sisa makanan yang kubawa serta minum air yang terdapat dekat kandang. Kini lantai kandang sudah lebih tinggi sehingga selalu kering. Kehangatan di dalam ruangan juga cukup, sebab dinding belakangnya berdekatan dengan cerobong asap.

Aku bermaksud tinggal di dalam kandang itu, sampai ada sesuatu yang memaksaku untuk pindah. Tempat tinggalku sekarang merupakan sorga kalau dibandingkan dengan tempat tinggalku dulu dalam hutan. Dulu atap yang melindungiku hanya cabang-cabang kayu yang masih bisa ditembus air hujan, dan lantaiku tanah lembab.

Dengan rasa senang aku memakan sara panku Kemudian aku beranjak mau membuka papan penutup, untuk mengambil air minum. Tiba-tiba ku

dengar suara langkah kaki orang, dan aku mengurungkan maksudku. Aku mengintip melalui celah-celah dinding.

Kulihat seorang wanita muda membawa ember di atas kepalanya, lewat di muka kandang. Gadis ini masih muda remaja dan gayanya lemah gemulai, tidak seperti para pelayan rumah yang kemudian sering kulihat. Tapi pakaian gadis ini sangat sederhana. Dia hanya mengenakan rok biru terbuat dari kain kasar, dengan sehelai jaket linen. Rambutnya yang pirang dijalin, tapi tanpa hiasan apa pun. Kelihatannya dia seorang yang Babar, tapi air mukanya memperlihatkan kesedihan.

Dia segera tidak kulihat lagi. Baru kira-kira seperempat jam kemudian dia muncul kembali. Kali ini ember drjinjingnya, dan sebagian berisi susu. Dia berjalan terus membawa beban yang tampaknya tidak begitu berat. Belum jauh dia berjalan, seorang pemuda menyongsongnya. Air muka pemuda ini menunjukkan kesedihan yang lebih dalam

Pemuda ini mengucapkan beberapa perkataan dengan nada sedih, kemudian mengambil ember dari tangan si gadis serta membawanya sendiri ke dalam rumah. Si gadis mengikut di belakangnya, dan sejurus kemudian mereka tidak kelihatan lagi.

Tidak antara lama si pemuda kulihat lagi. Kali ini dia membawa suatu perkakas dan berjalan menyeberangi lapangan terbuka di belakang rumah. Si gadis juga sibuk. Kadang-kadang dia bekerja di rumah, dan kadang-kadang di halaman.

Aku memeriksa tempat tinggalku lebih cermat. Ternyata di dinding belakang dulu ada jendela, tapi sudah ditutup dengan papan. Di situ ada sebuah celah yang sangat kecil, hanya cukup untuk mengintip sebelah mata. Melalui celah ini aku bisa melihat kamar di balik dinding. Kamarnya tidak begitu besar, bercat putih dan kelihatan bersih. Perabotannya hampir sama sekali tidak ada.

Di sudut kamar, dekat perdiangan kecil, kulihat seorang laki-laki tua. Dia sedang duduk menyangga dagunya dengan kedua belah tangan, tampak sedih sekali. Si gadis sedang sibuk membereskan ruangan. Tapi kemudian dia mengambil suatu benda dari laci dan duduk di sisi si orang tua. Si orang tua menerima benda ini dari si gadis dan mulai memainkannya. Benda ini rupanya sebuah alat musik, yang mengeluarkan suara lebih merdu daripada nyanyian murai atau kutilang.

Yang .kulihat sungguh sangat indah, bahkan bagiku, makhluk malang yang tidak pernah melihat keindahan sebelumnya. Aku merasa menyukai laki-laki tua berambut perak yang mukanya ramah ini. Sedangkan sikap si gadis yang lemah lembut membangkitkan rasa cintaku.

Lagu yang dimainkan si tua dengan alat musiknya bernada sendu, sampai menerbitkan air mata si gadis. Tapi si tua tidak memperhatikannya, sampai kedengaran sedu-sedan si gadis. Mendengar ini barulah si tua mengucapkan beberapa patah kata. Si gadis meninggalkan pekerjaannya, dan berlutut di muka si tua.

Si tua mengangkat si gadis agar berdiri, sambil tersenyum penuh kasih sayang. Pada diriku terbit suatu perasaan aneh yang sama sekali masih baru. Yang kurasakan perpaduan antara rasa sedih dan rasa senang. Aku belum pemah mengalami perasaan semacam itu, baik karena lapar atau dingin, maupun karena hangat dan kenyang. Aku berhenti mengintip karena tidak tahan menyaksikan pemandangan yang mengharukan ini.

Beberapa saat setelah itu si pemuda kembali, membawa segulung kayu bakar di atas bahunya. Si gadis menyongsongnya di pintu. Dia membantu si pemuda mengangkat bebannya. Sebagian dari kayu bakar ini dibawanya masuk ke dalam rumah, dimasukkan ke dalam perapian.

Kemudian si gadis dengan si pemuda pergi ke sudut kamar yang lain. Si pemuda mengeluarkan sebuah roti besar dan sepotong keju. Si gadis kelihatan gembira. Dia lalu pergi ke kebun untuk mengambil umbi dan sayuran. Semua dimasukkan ke dalam kuali berisi air, serta dijerangkannya di atas api. Dia lalu meneruskan bekerja. Sementara itu si pemuda pergi ke kebun, terus sibuk menggali dan mencabuti umbi. Setelah kira-kira satu jam, si gadis menghampirinya dan mereka masuk rumah bersama-sama.

Si tua selama itu tetap tenang. Tapi setelah si pemuda datang rupanya dia lebih gembira, dan mereka duduk makan bersama-sama. Makanan pun segera habis. Sekali lagi si gadis sibuk membereskan kamar. Si tua berjalan-jalan di muka rumah di sinar matahari, selama beberapa menit. Dia berjalan sambil berpegangan pada lengan si pemuda.

Kurasa tidak ada lagi yang melebihi keindahan kontras antara kedua makhluk ini. Yang satu sudah tua, dengan rambut putih dan muka menyinarkan keramahan dan kasih sayang. Satunya masih muda, tampan dan bertubuh ramping. Bentuk wajahnya yang bagus sangat simetris, dengan mata dan air muka membayangkan kesedihan. Lalu si tua kembali ke rumah. Kini si pemuda membawa perkakas yang berbeda dengan yang dibawanya di waktu pagi, berjalan menyeberangi padang.

Malam pun segera tiba. Aku sangat heran melihat penghuni rumah bisa membuat cahaya dengan menyalakan semacam lilin. Aku pun gembira karena kini terbenamnya matahari tidak usah berarti berakhirnya kegembiraanku memperhatikan manusia tetanggaku .Di sore hari kulihat kedua anak muda ini melakukan pekerjaan yang tidak bisa kufahami. Dan si tua sekali lagi memainkan alat musik yang suaranya telah mempesonakanku di waktu pagi. Setelah si tua berhenti main musik, si pemuda mulai mengucapkan kata-kata yang nadanya datar. Kata-kata yang diucapkannya tidak mirip irama alat musik si tua, maupun nyanyian burung. Kemudian kuketahui bahwa si pemuda sedang membaca keras-keras. Tapi.waktu itu aku belum memahami ilmu mengucapkan perkataan atau membaca tulisan.

Setelah beberapa waktu lamanya berlangsung dalam keadaan demikian, keluarga ini memadamkan lampu. Mereka terus pergi ke tempat tidur masing-masing untuk beristirahat

Bab 12.

AKU berbaring di atas jerami, tapi tidak dapat tidur. Pikiranku penuh dengan semua peristiwa yang terjadi pada hari itu. Yang sangat mengesankan bagiku ialah sikap lemah lembut dari orang-orang ini. Aku ingin sekali menyertai mereka, tapi aku tidak berani berbuat begitu. Aku masih ingat benar bagaimana penderitaan yang harus kurasakan karena perlakuan orang desa yang biadab terhadap diriku.

Aku lalu memikirkan tindakan apa yang seharusnya kulakukan, dan memutuskan sebaiknya untuk waktu itu tetap saja tinggal di dalam kandang. Sementara aku akan terus bersembunyi diam-diam. Aku akan melihat dulu, sambil berusaha mencari alasan yang bisa mempengaruhi tindakan mereka.

Keesokan harinya para penghuni rumah bangun sebelum matahari terbit. Si gadis membereskan ruangan dan menyiapkan makanan, dan si pemuda pergi setelah makan pagi.

Hari itu berlangsung dengan peristiwa yang sama seperti hari sebelumnya. Si pemuda selalu bekerja di luar rumah, dan si gadis melakukan berbagai pe kerjaan di dalam rumah. Adapun si tua, yang segera kuketahui bahwa dia buta, mengisi waktu-waktu nya yang terluang dengan main musik atau duduk termenung.

Kedua anak muda ini kelihatan sangat menyayangi si tua yang tidak berdaya. Mereka mela kukan apa saja baginya dengan sikap lemah lembut, dan si tua menghadiahi mereka dengan senyum manis.

Tapi mereka sama sekali tidak bahagia. Si pemuda dengan si gadis seringkah kulihat menangis Aku tidak tahu apa yang menyebabkan kesedihan mereka, tapi aku sangat terpengaruh melihatnya. Kalau makhluk yang sedemikian cantiknya saja bisa bersedih hati, maka tidak aneh lagi kalau aku, makhluk tidak sempurna yang sebatang kara, merasa susah dan merana.

Tapi mengapa mereka bersedih hati? Mereka memiliki rumah yang menyenangkan dengan setiap kemewahan, begitulah menurut pandanganku. Mereka punya api untuk menghangatkan tubuh di kala kedinginan, dan punya makanan lezat untuk mengusir rasa lapar. Mereka mengenakan pakaian yang sempurna. Lebih-lebih, mereka merasa senang karena hidup bersama-sama. Mereka bisa bercakap-cakap antara sesamanya, serta saling mengasihi.

Apa arti air mata mereka? Benarkah air mata mereka merupakan tanda dari rasa sakit yang mereka derita? Mula-mula aku tidak dapat memecahkan persoalan ini. Tapi lama-lama dengan perhatian yang sungguh-sungguh aku bisa memahami banyak hal yang mula-mula merupakan teka-teki.

Agak lama juga waktu berlalu, sebelum aku bisa menemukan salah satu sebab kesedihan keluarga yang peramah ini. Ternyata penyebabnya ialah kemiskinan, dan mereka sangat menderita karenanya. Makanan mereka hanya terdiri atas sayur-sayuran dari kebun mereka sendiri dan susu dari seekor sapi. Di musim dingin bahkan susu yang bisa didapat sedikit sekali, sebab pemiliknya juga hampir-hampir tidak bisa memberinya makanan.

Aku tahu mereka seringkah menderita kelaparan, terutama kedua anak muda. Beberapa kali kulihat makanan yang mereka dapat tidak seberapa. Makanan hanya diberikan kepada si tua, sementara mereka sendiri tidak makan apa-apa.

Kebaikan hati mereka ini menggerakkan hatiku. Selama itu aku sudah biasa mencuri sebagian makanan mereka di waktu malam, untuk mempertahankan kelangsungan hidupku sendiri. Tapi segera kuketahui bahwa perbuatanku menimbulkan kesedihan kepada penghuni rumah ini. Aku lalu berhenti mencuri dan cukup memuaskan diriku dengan makan buah-buahan, biji-bijian dan umbi yang ku kumpulkan dari hutan yang tidak begitu jauh.

Aku juga menemukan cara untuk meringankan pekerjaan rnereka. Aku mengetahui bahwa di siang hari si pemuda menghabiskan sebagian besar waktunya untuk mencari kayu. Maka di waktu malam kuambil perkakasnya, yang segera kuketahui cara penggunaannya, dan kubawa pergi ke hutan. Kubawa pulang kayu banyak-banyak, supaya cukup dipakai selama beberapa hari.

Aku masih ingat dengan peristiwa yang terjadi waktu aku pertama kali melakukan hal ini. Waktu si gadis membuka pintu di pagi hari, dia sangat terkejut melihat tumpukan kayu di muka rumah. Dia menyerukan beberapa patah kata dengan suara keras. Kemudian si pemuda keluar, dan juga menyatakan keheranan. Aku senang sekali melihat si pemuda hari itu tidak perlu pergi ke hutan. Hari itu dia mengisi waktu dengan memperbaiki rumah dan merawat kebun.

Lambat laun aku juga memperoleh penemuan yang lebih besar manfaatnya. Aku mengetahui bahwa orang-orang ini punya cara untuk saling menyatakan perasaan dan pengalaman masing-masing dengan suara yang mengandung arti. Aku tabu bahwa kata-kata yang mereka ucapkan kadang-kadang menyebabkan timbulnya kesenangan atau kesedihan, senyuman atau kemurungan pada diri pendengarnya.

Ini dia ilmu yang sangat berguna! pikirku. Aku sangat ingin mempelajari dan memahaminya. Tapi usahaku selalu tertumbuk dengan berbagai kesulitan. Ucapan mereka sangat cepat. Kata-kata mereka seringkah tidak ada hubungannya dengan benda yang kelihatan, dan aku tidak bisa menemukan petunjuk untuk membongkar rahasia percakapan mereka.

Walaupun demikian, dengan hasrat yang sangat besar lama-lama aku bisa mengenali nama yang diberikan kepada beberapa buah benda yang sangat dikenal. Aku belajar mengucapkan dan memahami arti kata-kata seperti 'api/ 'susu,' 'roti/ dan 'kayu.'

Aku juga mempelajari nama para penghuni rumah sendiri. Kedua anak muda memiliki beberapa nama. Tapi si tua hanya punya satu nama, yaitu 'ayah.' Si gadis dipanggil dengan nama 'adik' atau 'Agatha.' Sedangkan si pemuda 'Felix', 'kakak/ atau 'nak/

Aku tidak bisa melukiskan kegembiraanku waktu aku memahami setiap perkataan ini, serta dapat mengucapkannya. Aku juga bisa mengucapkan beberapa patah kata yang waktu itu belum kuketahui artinya, seperti 'baik/ 'sayang', atau 'sedih.'

Selama musim dingin itulah yang kulakukan Sikap lemah lembut dan kecantikan para penghuni rumah mengisi hatiku dengan rasa simpati. Kalau mereka bersedih hati, hatiku juga merasa tertekan. Kalau mereka bergembira, aku pun turut bersuka-cita.

Kecuali orang-orang ini, aku tidak banyak melihat manusia lainnya. Hanya satu dua kali kulihat ada orang lain masuk ke rumah mereka. Biasanya orang-orang ini sikap dan tutur katanya kasar, menambah penghargaanku kepada sahabat-sahabatku ini.

Aku melihat si tua seringkah berusaha membesarkan hati kedua anaknya. Beberapa kali kulihat dia menyuruh mereka agar tidak bersedih hati. Dia berbicara kepada anaknya dengan nada gembira, dan dengan air muka yang memancarkan kasih sayang sehingga aku sendiri turut merasa senang melihatnya. Agatha mendengarkan kata-kata ayahnya dengan penuh rasa hormat. Air matanya seringkah tampak berlinang, dan dia berusaha menghapusnya. Biasanya metelah mendengarkan kata-kata hiburan dari ayahnya, muka dan kata-kata Agatha menjadi bertambah gembira.

Tapi tidak demikian halnya dengan Felix. Di antara mereka dialah yang paling pemurung. Bahkan bagi pengamatanku yang belum begitu terlatih, tampaknya dialah yang paling besar menderita kesedihan. Walaupun demikian suaranya kedengaran lebih gembira daripada adiknya, terutama kalau sedang berbicara kepada ayahnya. Padahal mukanya selalu lebih muram.

Aku bisa menyebutkan banyak contoh yang menunjukkan kebaikan penghuni rumah ini, walaupun tampaknya seperti hal yang sangat sepele. Walaupun mereka menderita kemelaratan dan serba kekurangan, tapi Felix selalu memperlihatkan kasih sayang yang sangat besar kepada adiknya. Dengan sukacita dia membawakan untuk adiknya bunga putih yang pertama kali muncul dari tanah yang tertutup salju. Pagi-pagi sekali, sebelum adiknya bangun, Felix sudah membersihkan salju yang menutupi jalan setapak menuju tempat memerah susu. Dia juga selalu mendahului adiknya menimba air dari sumur atau mengambil kayu bakar dari gudang. Dan dia selalu merasa heran karena persediaan kayunya selalu dicukupi oleh tangan yang tidak kelihatan.

Pada siang hari rupanya Felix bekerja di rumah seorang petani. Dia seringkah pergi dan baru kembali di sore hari, dan pulangnya tidak membawa kayu bakar. Pada kesempatan lain dia bekerja di kebun. Kalau tidak banyak yang harus dikerjakannya, dia membacakan sesuatu untuk ayahnya dan Agatha.

Mula-mula aku sangat heran melihat dia membaca. Tapi lambat laun aku mengetahui bahwa dia banyak mengucapkan kata-kata yang sama dengan kalau dia berbicara biasa. Lalu aku menarik kesimpulan bahwa dia menyuarakan tanda-tanda di atas kertas yang difahaminya. Aku pun sangat ingin bisa memahami hal itu. Tapi bagaimana mungkin aku akan bisa, kalau kata-kata mereka saja belum bisa kufahami?

Tapi lama-lama aku mendapat banyak kemajuan juga untuk memahami kata-kata mereka, walaupun belum cukup untuk melakukan percakapan. Aku tahu bahwa untuk bisa bercakap-cakap aku harus berhubungan langsung dengan penghuni rumah ini. Tapi ini tidak dapat kulakukan sebelum aku menguasai bahasa mereka. Aku harus mencapai tingkat pengetahuan yang cukup, sehingga kalau aku memperlihatkan diri, mereka tidak akan mempedulikan rupaku yang buruk.

Aku sangat mengagumi bentuk tubuh para penghuni rumah yang sempurna, serta wajah mereka yang cantik. Tapi alangkah ngerinya aku waktu aku melihat bayanganku sendiri di permukaan kolam yang bening! Mula-mula aku terperanjat, tidak percaya bahwa yang kulihat benar-benar bayanganku sendiri. Lama-lama aku yakin bahwa aku makhluk buruk yang bayangannya kulihat di permukaan air. Bukan main sedih dan getirnya rasa hatiku! Aduh!

Bahkan aku waktu itu belum menyadari apa akibat buruk yang akan ditimbulkan oleh rupaku yang sangat mengerikan.

Hari demi hari sinar matahari terasa semakin panas. Waktu siang hari makin panjang, dan salju lenyap. Kini kulihat jelas pohon yang gundul dan tanah yang hitam. Felix semakin sibuk bekerja, dan mereka tidak lagi terancam bahaya kelaparan. Ma kanan mereka tetap sederhana, tapi selalu kecukupan. Sekarang setiap hari mereka tidak pernah kekurangan makanan. Di kebun kini banyak tumbuh jenis tanaman baru, yang mereka gunakan sebagai tambahan lauk-pauk. Dengan bergantinya musim kemewahan hidup mereka semakin meningkat.

Setiap hari si tua pergi berjalan-jalan, kalau tidak hujan. Dia masih berjalan sambil berpegangan lengan anaknya. Kini hujan seringkah turun, tapi angin yang bertiup dengan cepat mengeringkan tanah. Sekarang musim lebih menyenangkan daripada yang sudah lewat.

Cara hidupku dalam persembunyian masih tetap tidak berubah. Sepanjang pagi aku selalu memperhatikan gerak-gerik penghuni rumah. Kalau mereka pergi untuk melakukan berbagai pekerjaan, aku tidur. Waktu selebihnya juga kuisi dengan melihat apa yang dilakukan sahabat-sahabatku ini.

Kalau mereka sudah tidur dan malam cerah, aku pergi ke hutan. Aku mencari makananku sendiri dan mencari kayu bakar untuk para penghuni rumah. Seringkah pulangnya aku terus membersihkan salju yang menutupi jalan setapak. Aku melakukannya dengan meniru perbuatan Felix.

Mereka selalu merasa sangat heran menemukan hasil kerja tangan yang tidak kelihatan. Melihat hasil kerjaku, satu atau dua kali pernah kudengar mereka menyebutkan perkataan 'roh baik,' dan

'ajaib.' Tapi aku tidak mengerti apa arti perkataan mereka.

Kini pikiranku menjadi semakin giat. Aku ingin tahu bagaimana perasaan orang-orang yang baik ini. Aku ingin tahu apa sebabnya Felix selalu berduka cita dan Agatha begitu bersedih hati. Aku mengira akan bisa memulihkan kebahagiaan kepada mereka. Memang aku tolol dengan berpendapat demikian, tapi kurasa mereka patut mendapatkan kebahagiaan mereka kembali.

Setiap kali aku tidur atau sedang pergi, selalu terbayang olehku tubuh lemah si ayah yang buta, Agatha yang lemah lembut dan Felix yang tampan. Aku memandang mereka sebagai makhluk yang lebih mulia, yang akan bisa menolong masa depanku. Aku seringkah membayangkan saat di kala aku memperlihatkan diri kepada mereka, dan bagaimana sambutan mereka terhadap diriku. Aku membayangkan mula-mula mereka akan merasa jijik melihatku. Tapi dengan sikapku yang ramah dan kata-kataku yang menenangkan, akhirnya mereka akan menyayangiku.

Khayalan ini membesarkan hatiku, dan meningkatkan semangatku untuk mempelajari bahasa mereka. Organ-organ tubuhku serba kasar, tapi cukup lentur. Suaraku tidak bisa semerdu suara mereka, tapi aku bisa mengucapkan setiap perkataan yang sudah kumengerti dengan mudah. Aku mengharapkan kelak akan mendapat sambutan baik dari mereka, setelah tiba saatnya bagiku untuk memperlihatkan diri.

Hujan yang menyenangkan dan udara hangat musim semi mengubah sifat-sifat tanah. Manusia yang di waktu musim dingin rupanya bersembunyi di gua-gua, kini keluar semua untuk mengerjakan tanah dan bercocok-tanam. Dunia pada umumnya juga kini berubah. Burung berkicauan dengan suara yang lebih merdu, dan kuncup daun mulai bermunculan pada pohon-pohonan. Alam laksana menari, dan dunia penuh kegembiraan l

Kini dunia rasanya layak didiami dewa-dewa. Pa dahal sebelumnya dunia begitu kosong, tandus, lembab dan tidak menyenangkan. Aku bersukacita menyaksikan alam yang begitu mempesonakan. Masa-masa yang telah lalu sudah terhapus dari ingatanku. Masa kini penuh dengan ketenangan, dan masa depan penuh dengan harapan yang bersinar terang serta tanda-tanda datangnya kegembiraan.

KU akan segera sampai ke bagian terpenting dari ceritaku. Aku akan menceritakan semua peristiwa yang begitu dalam meninggalkan kesan pada perasaanku. Karena peristiwa ini pulalah aku berubah dari sifatku yang dulu menjadi seperti sekarang ini.

Musim semi berjalan dengan cepat. Cuaca semakin cerah dan langit tidak berawan. Aku sangat heran melihat apa yang sebelumnya hanya merupakan padang salju dan muram, kini sangat indah dengan aneka warna bunga yang bermekaran dan tanaman hijau subur. Inderaku menjadi segar oleh seribu satu macam bau harum serta pemandangan alam yang permai.

Suatu hari, di kala seisi rumah beristirahat #ari pekerjaan mereka — si tua bermain gitar dan anak-anaknya mendengarkan — kulihat air muka Felix sangat sedih. Kemuraman wajahnya kini jauh melebihi yang pernah kulihat. Dia seringkah menghela nafas panjang.

Sek'ali ayahnya berhenti bermain musik. Dia menanyakan apa yang menyebabkan anaknya begitu sedih. Felix menjawab dengan suara bernada gembira, dan ayahnya memetik gitarnya kembali. Sesaat kemudian terdengar pintu diketuk.

mencium tangannya. Tapi ayah Felix mengangkat si gadis agar berdiri, lalu memeluk tubuhnya dengan penuh kasih sayang.

Si gadis asing rupanya memiliki bahasa sendiri. Aku segera mengerti bahwa bahasanya tidak di-fahami oleh penghuni rumah, dan demikian juga si gadis tidak memahami bahasa keluarga Felix. Mereka lalu berbicara dengan bahasa isyarat yang tidak kumengerti maksudnya. Walaupun demikian aku mengerti bahwa kedatangan gadis ini mendatangkan kegembiraan kepada seisi rumah. Kedatangannya telah mengusir kesedihan mereka, seperti matahari menghalaukan kabut pagi.

Terutama Felix-lah rupanya yang paling merasa bahagia. Dia menyambut si gadis Arab dengan senyuman dan sukacita. Agatha yang lemah lembut mencium tangan si gadis asing yang cantik. Dia menunjuk kepada kakaknya seraya membuat beberapa isyarat. Isyaratnya rupanya mengandung arti bahwa sebelum dia datang, Felix selalu bersedih hati.

Beberapa jam pun berlalu dengan wajah setiap orang memancarkan kegembiraan, aku tidak tahu apa sebabnya. Kemudian si gadis asing berkali-kali mengucapkan kata-kata yang sama. Aku pun segera mengerti bahwa dia ingin mempelajari bahasa yang digunakan penghuni rumah. Sebuah gagasan melintas dalam pikiranku, bahwa aktf pun akan bisa turut belajar.

Pada pelajaran pertama si gadis asing mempelajari kira-kira dua puluh macam perkataan. Kata-kata ini sebagian besar sudah kumengerti, tapi aku mendapat tambahan pengetahuan dengan kata-kata lainnya.

Setelah malam tiba, si gadis Arab dengan Agatha segera pergi tidur. Waktu mereka berpisah, Felix

mencium tangan si gadis asing sambil berkata, 'Selamat malam, Safle yang manis/

Felix dengan ayannya bercakap-cakap sampai jauh malam. Dalam percakapan, mereka seringkah menyebut-nyebut nama si gadis Arab. Aku menarik kesimpulan bahwa bahan percakapan mereka tidak lain tamu mereka yang cantik. Aku sangat ingin memahami pembicaraan mereka. Tapi betapapun aku memeras otak, aku tetap tidak berhasil.

Keesokan harinya Felix pergi bekerja seperti biasa. Setelah pekerjaan Agatha selesai, si gadis Arab duduk di muka si tua. Diambilnya gitar dari tangan si tua, dan dia mulai memetiknya. Musik yang dimainkannya sangat merdu dan menawan sehingga seketika menerbitkan air mataku. Sambil memetik gitar dia menyanyi. Suaranya merdu mengalun, seindah nyanyian burung di tengah hutan.

Setelah dia selesai menyanyi, gitar diserahkan kepada Agatha. Mula-mula Agatha menolak, tapi akhirnya diterimanya juga. Dia memainkan sebuah lagu sederhana sambil menyanyi. Tapi suaranya tidak semerdu suara si gadis asing.

Ayah Agatha terpesona mendengar lagu yang dimainkan si gadis Arab. Dia mengucapkan beberapa patah kata kepada Agatha yang terus disampaikan kepada Safie. Rupanya dia menyatakan bahwa musik yang dimainkannya memberikan kegembiraan yang sangat besar.

Hari-hari selanjutnya berlangsung dengan tenteram seperti sediakala. Tapi kini ada perubahan, yaitu kegembiraan telah menggantikan ke murungan pada air muka semua penghuni rumah. Safie selalu riang gembira. Dalam pengetahuan bahasa dia maju pesat, demikian juga aku sendiri. Maka dalam waktu dua bulan saja aku sudah bisa memahami sebagian besar kata-kata yang diucapkan para sahabatku.

Sementara itu tanah yang hitam sudah tertutup semua dengan tanaman hijau. Tepi sungai yang berumput di sana-sini diselang-seling dengan bunga aneka warna. Bunga-bunga ini indah dipandang mata dan harum baunya. Kelihatannya laksana taburan bintang dalam sinar bulan yang pucat.

Sinar matahari semakin panas, dan malam-malamnya selalu cerah dan hangat. Perjalananku di waktu malam sangat menyenangkan bagiku. Memang, jangka waktu antara matahari terbenam dengan matahari terbit merupakan satu-satunya waktu yang bisa kupakai untuk pergi ke luar. Aku tidak berani lagi keluar di siang hari, takut mendapat, perlakuan yang sama seperti yang kualami waktu pertama kali aku masuk ke desa.

Waktu-waktuku di siang hari kuisi dengan memusatkan perhatian kepada pelajaran bahasa, supaya aku bisa segera menguasainya. Aku bahkan berani menyombongkan diri bahwa kemajuanku lebih pesat daripada Safie. Dia hanya bisa memahami sedikit-sedikit dan berbicara dengan ucapan terputus-putus. Sedangkan aku bisa memahami dan mengucapkan hampir setiap kata yang diajarkan.

Sementara aku mendapat kemajuan pesat dalam belajar berbicara, aku juga mempelajari ilmu membaca huruf yang diajarkan kepada Safie. Pengetahuan ini membukakan di hadapanku dunia luas yang penuh keajaiban serta sangat menyenangkan.

Buku yang dipakai Felix untuk mengajar Safie adalah Ruins of Empires karangan Volney. Aku pasti takkan bisa memahami isi buku ini, kalau Felix tidak menerangkannya sambil membaca. Felix mengatakan bahwa dia memilih karya ini karena gaya bahasanya meniru para pujangga dari Timur.

Melalui buku yang dibaca Felix, aku memperoleh pengetahuan tentang sejarah dan beberapa ke-rajaan yang sekarang masih berdiri. Pengetahuan ini memberikan gambaran kepadaku tentang adat istiadat, bentuk pemerintahan dan agama berbagai bangsa di dunia.

Aku juga bisa mendengar tentang sifat bangsa Asia yang berbeda dengan bangsa Yunani; tentang peperangan dan watak orang Romawi purba, serta kemerosotan akhlak mereka; runtuhnya imperium Romawi, kepahlawanan, bangkitnya agama Kristen, serta tentang raja-raja. Aku mendengar tentang penemuan benua Amerika. Aku bahkan turut menangis bersama Safie meratapi nasib malang penduduk aslinya.

Semua cerita yang ajaib ini mengilhamiku dengan perasaan aneh. Benarkah bahwa manusia begitu berkuasa, begitu berbudi, dan begitu perkasa, namun juga begitu jahat dan keji? Menurut pen-dapatku manusia pada satu saat sangat jahat, dan pada saat lainnya kelihatan agung dan luhur. Menjadi manusia yang agung dan berbudi rupanya merupakan kehormatan tertinggi yang bisa dicapai manusia. Sedangkan memiliki kejahatan dan kekejian rupanya merupakan derajat yang paling rendah, lebih hina daripada tikus buta atau cacing tanah.

Untuk beberapa waktu lamanya aku tidak bisa membayangkan mengapa sampai ada manusia yang mau membunuh sesamanya, dan bahkan mengapa ada hukum dan pemerintahan. Tapi setelah kudengar penjelasan tentang kejahatan dan pertumpahan darah, aku tidak merasa heran lagi. Kini yang timbul pada diriku rasa muak dan jijik.

Sekarang setiap percakapan penghuni rumah membukakan keajaiban baru bagiku. Sambil mendengarkan pengajaran yang diberikan Felix kepada Safie, aku semakin memahami peraturan yang aneh-aneh dalam masyarakat manusia. Aku mendengar tentang cara-cara pembagian hak milik, tentang kekayaan dan kemiskinan, tentang derajat, keturunan dan darah bangsawan.

Semua kata-kata ini mendorongku untuk berpaling melihat kepada diriku sendiri. Dari orang-orang ini kuketahui bahwa dalam masyarakat manusia kekayaan selalu dijunjung tinggi, dan keturunan orang berbangsa selalu bertalian dengan har- • ta kekayaan. Seseorang bisa dihormati di tengah masyarakat kalau memiliki salah satu kelebihan ini. Tapi tanpa memiliki salah satu kelebihan ini, seorang akan menjadi gelandangan atau budak. Dia akan memeras tenaganya untuk keuntungan orang-orang yang punya derajat lebih tinggi. Tentu saja ada perkecualiannya, walaupun sangat jarang.

Dan aku ini apa? Aku sama sekali tidak tahu tentang asal-usulku. Yang kuketahui hanya bahwa aku tidak punya uang, tidak punya kawan, serta tidak x punya hak milik macam apa pun. Di samping itu aku juga memiliki rupa yang buruk dan menjijikkan. Aku bahkan tidak memiliki sifat dan ha-kekat yang sama dengan manusia.

Aku lebih tangkas daripada mereka, dan bisa hidup dengan makanan yang jauh lebih sederhana. Aku lebih tahan panas dan dingin tanpa akibat buruk pada tubuhku. Ukuran tubuhln/juga jauh melebihi mereka. Aku sudah melihat ke mana-mana, dan aku belum pernah melihat atau men- 1 dengar ada makhluk yang sejenis dengan diriku. Jadi benarkah aku makhluk mengerikan, sampah dunia, yang dihindari dan dibenci semua manusia?

Aku tidak bisa melukiskan penderitaan yang kurasakan demi aku menyadari hal ini. Aku mencoba mengesampingkan pikiran ini, tapi pengetahuan yang kudapat semakin memperbesar kesedihanku. Aduh, kalau saja aku tetap tinggal di hutan! Aku pasti akan lebih merasa senang kalau aku hanya bisa merasakan lapar, haus dan panas!

Sungguh aneh hakekat ilmu pengetahuan! Sekali masuk ke otak, ilmu pengetahuan akan terus berpegangan erat-erat seperti kancing-kancingan melekat pada batu. Kadang-kadang aku ingin sekali membuang semua pikiran dan perasaan. Tapi aku juga sudah mengetahui bahwa hanya ada satu cara untuk mengatasi kepedihan rasa duka, yaitu ke-matian. Tapi ini satu hal yang waktu itu belum ku-fahami apa artinya.

Aku mengagumi kebajikan dan kebaikan semua penghuni rumah, serta mencintai mereka karena tingkah laku mereka yang baik dan ramah. Tapi aku tidak bisa berhubungan langsung dengan mereka. Hubunganku dengan mereka hanya secara sepihak, yaitu kalau aku melakukan perbuatan tanpa sepengetahuan mereka. Tapi ini bukannya memuas-kanku, bahkan semakin meningkatkan keinginanku menjadi salah satu di antara mereka.

Kata-kata Agatha yang lemah lembut dan senyum manis Safie yang mempesona bukan untukku. Bujukan lembut ayahnya dan cerita Felix yang disampaikan dengan riang gembira juga bukan untukku. Sungguh aku makhluk malang yang sangat menyedihkan!

Beberapa pelajaran lainnya bahkan meninggalkan kesan lebih dalam pada pikiranku. Aku mendengar tentang perbedaan jenis kelamin dan kelahiran serta pertumbuhan anak-anak. Aku mendengar bagaimana seorang ayah tersenyum manis kepada anaknya yang masih kecil dan kelucuan anaknya yang lebih besar; bagaimana kasih sayang seorang ibu kepada anaknya, bagaimana seorang anak mempelajari sesuatu, tentang kakak, adik dan berbagai hubungan kekeluargaan pada masyarakat manusia.

Tapi mana sahabat dan kerabatku? Aku tidak punya ayah yang menjagaku di masa kanak-kanak. Aku tidak punya ibu yang membelai dan menga-sihiku. Masa lampauku sama sekali gelap, tak ada suatu apa pun yang bisa kuingat. Seingatku, tahu-tahu aku sudah setinggi dan sebesar diriku sekarang. Aku bahkan belum pernah melihat makhluk yang mirip diriku, atau menyatakan ada hubungan dengan diriku. Aku ini makhluk apa? Pertanyaan ini selalu timbul dalam hatiku, dan aku hanya bisa menjawabnya dengan erangan.

Aku akan segera menerangkan apa akibat perasaan ini. Tapi sebelumnya perkenankanlah aku menceritakan tentang para penghuni rumah. Riwayat mereka membangkitkan berbagai perasaan seperti marah, senang dan takjub. Tapi semuanya menambahkan rasa cintaku kepada mereka.Bahkan dengan penuh rasa hormat mereka kuanggap sebagai pelindungku. B eberapa waktu berlalu sebelum aku menge tahui riwayat sahabat-sahabatku. Kisah ten tang diri mereka sangat dalam meninggalkan kesan pada pikiranku. Banyak sekali peristiwa menarik dan sangat menakjubkan bagi diriku, karena ak sama sekali buta pengalaman.

Ayah Felix bernama De Lacey. Dia keturunan ke luarga baik-baik dari Perancis. Di sana dia hidup s lama beberapa tahun dalam kemewahan. Dia di hargai oleh orang yang derajatnya lebih tinggi, sert dicintai oleh sesamanya.

Felix dididik untuk mengabdi kepada negerinya, dan Agatha termasuk kalangan wanita tingkat atas. Beberapa bulan sebelum aku datang, mereka tinggal di kota besar dan mewah bernama Paris. Mereka hidup dikelilingi banyak sahabat, serta bisa menikmati apa saja yang bisa dicapai dengan harta kekayaan.

Kehancuran mereka diakibatkan oleh ayah Safie. Dia seorang saudagar bangsa Turki yang tinggal di Paris selama bertahun-tahun. Aku tidak tahu entah karena apa, kemudian dia dianggap bersalah oleh pemerintah. Dia ditangkap dan dipenjarakan, tepat waktu Safie datang dari Konstantinopel untuk me nyertainya. Dia diadili dan mendapat putusan hu kuman mati Ketakadilan hukuman yang dijatuhkan kepada nya sangat menyolok mata. Seluruh Paris marah. Mereka menuduh bahwa hukuman yang dijatuhkan kepadanya bukan karena kejahatan yang didakwakan, melainkan karena kekayaan yang dimilikinya serta agama yang dipeluknya.

Felix kebetulan hadir pada pengadilan ini. Dia merasa ngeri dan marah mendengar keputusan pengadilan. Kemarahannya hampir-hampir tidak bisa dibendung lagi. Waktu itu dia sampai bersumpah dalam hati untuk membebaskan si ter hukum. Lalu dia segera mencari upaya untuk melaksanakan maksudnya.

Beberapa kali usahanya untuk masuk ke dalam penjara gagal. Kemudian dia menemukan jendela berterali besi yang tidak dijaga oleh pengawal. Melalui jendela ini sinar matahari masuk ke ruang tahanan. Di dalam, orang Turki yang malang ini menunggu pelaksanaan hukuman dengan tubuh di rantai.

Di waktu malam Felix menghampiri jendela ini. Dia memberitahukan kepada si terhukum tentang maksud yang akan dilaksanakannya. Orang Turki ini takjub dan merasa gembira. Dia berusaha meningkatkan semangat penolongnya dengan janji akan memberikan hadiah dan harta kekayaan.

Felix menolak tawaran hadiah yang diajukan kepadanya. Tapi kemudian dia melihat.Safie yang kebetulan menjenguk ayahnya. Dengan isyarat, Safie menyatakan terima kasih kepada Felix atas usaha yang akan dilakukannya. Demi melihat Safie, maka Felix sadar bahwa si terhukum memang memiliki harta yang tak ternilai harganya. Harta ini akan merupakan imbalan yang memadai untuk jerih payahnya.

Orang Turki ini segera melihat kesan yang ditimbulkan anaknya terhadap Felix. Dia lalu ber-

usaha lebih membesarkan lagi semangat Felix dengan janji akan mengawinkannya dengan Safie, setelah dia berhasil membawanya ke tempat yang aman. Felix merasa tidak layak menerima tawaran hadiah ini. Tapi dia pun mulai membayangkan kemungkinan untuk mendapatkan kebahagiaan hidup ini.

Maka dibuatlah persiapan untuk menyelamatkan dan melarikan si saudagar. Semangat Felix bertambah karena surat-surat yang diterimanya dari gadis cantik anak saudagar ini. Safie bisa menyatakan perasaannya kepada Felix dengan bantuan pelayannya, seorang laki-laki tua yang mengerti bahasa Perancis. Safie mengucapkan terima kasih dengan sikap yang hangat sekali, atas usaha Felix untuk menyelamatkan ayahnya. Di samping itu dengan halus Safie juga mohon agar Felix mau memikirkan nasibnya.

Aku punya salinan surat-surat ini. Sebab selama aku tinggal dalam kandang, aku berhasil mendapatkan alat-alat untuk menulis. Surat-surat ini kulihat seringkah ada di tangan Felix atau Agatha. Sebelum aku pergi nanti, akan kuberikan suratnya kepadamu. Surat ini akan merupakan bukti kebenaran ceritaku. Baiklah akan kuteruskan ceritaku, sebab kulihat matahari sudah jauh condong ke barat.

Safie menceritakan bahwa ibunya seorang Arab beragama Kristen. Dia ditangkap dan dijadikan budak oleh bangsa Turki. Karena kecantikan wajahnya, maka dia dicintai oleh ayah Safie, yang terus mengawininya.

Safie sangat menghormati ibunya. Ibunya lahir sebagai manusia merdeka, dan dia sangat sedih memikirkan ikatan yang membelenggunya. Dia menyuruh anaknya agar memeluk agama yang dianutnya. Safie juga disuruhnya menuntut pela

jaran yang lebih tinggi serta memiliki kebebasan berpikir yang terlarang bagi kaum wanita pemeluk agama yang dianut ayahnya.

Ibu Safie meninggal dunia, tapi ajarannya sangat berkesan di hati Safie. Kini hatinya sakit sekali karena harus kembali ke kampung halamannya serta harus terkurung di dalam tembok harem. Dia hanya diperbolehkan menyenangkan dirinya dengan permainan yang kekanak-kanakan, yang tidak cocok dengan alam pikirannya. Padahal pikiran Safie sudah terisi dengan gagasan yang agung, serta keinginan melakukan kebajikan yang mulia. Dia bercita-cita ingin kawin dengan seorang pemuda Kristen, serta tinggal di negeri yang memperbolehkan wanita mendapatkan kedudukan yang sederajat dengan kaum pria dalam masyarakat.

Hari pelaksanaan hukuman mati bagi orang Turki ini sudah ditentukan. Tapi di malam sebelumnya dia sudah berhasil melarikan diri dari penjara. Sebelum fajar merekah dia sudah jauh sekali meninggalkan Paris.

Felix berhasil mengusahakan paspor atas nama ayahnya, adiknya dan dia sendiri. Dia sudah merundingkan rencana ini dengan keluarganya. Me reka juga membantu si terhukum melarikan diri. Para pelarian meninggalkan rumah Felix, menyamar sebagai ayah Felix dan Agatha. Mereka seakan-akan mau melancong ke luar negeri. Sedangkan ayah dan adik Felix sendiri bersembunyi di bagian kota Paris yang sunyi.

Felix mengantarkan para pelarian melintasi negeri Perancis ke Lyons, melintasi Mont Cenis dan terus ke Leghorn. Di sana saudagar ini menunggu kesempatan yang baik untuk melintasi perbatasan ke daerah kekuasaan Turki.

Safie bermaksud menemani ayahnya sampai saat keberangkatannya. Sementara itu saudagar Turki

ini sekali lagi mengucapkan janjinya untuk mengawinkan anaknya dengan Felix, sang pembebas. Felix juga turut menemani mereka, dengan harapan orang Turki ini akan memenuhi janjinya.

Selama itu Felix sangat senang bergaul dengan Safie. Kepadanya Safie menunjukkan kasih sayang yang sederhana, tapi sangat manis. Mereka bercakap-cakap dengan perantaraan seorang juru bicara, dan kadang-kadang dengan isyarat. Safie juga menyanyikan lagu negeri aslinya yang sangat merdu untuk Felix.

Orang Turki ini membiarkan pergaulan yang intim antara kedua anak muda yang sedang berkasih-kasihan ini. Dia bahkan membesarkan hati dan harapan mereka, tapi dalam hati dia mulai menyusun rencana yang sama sekali berlainan.

Dalam riatinya orang Turki ini merasa jijik dengan gagasan akan membiarkan anaknya kawin dengan orang Kristen. Tapi dia pun tidak berani terang-terangan. Dia takut akan menyakiti hati Felix kalau sikapnya kurang ramah sedikit saja. Dia tahu bahwa dia masih di bawah kekuasaan penolongnya. Maka dia tidak berani mengkhianati Felix selama mereka masih berada di wilayah Italia.

Ayah Safie memikirkan beribu cara agar dia bisa menipu Felix, dan dia bisa membawa anaknya kalau dia berangkat kelak. Rencananya ini ternyata makin mudah dilaksanakan dengan kedatangan berita dari Paris.

Pemerintah Perancis sangat marah karena orang hukumannya melarikan diri. Segera dilakukan penyelidikan untuk menemukan dan menghukum penolongnya. Perbuatan Felix segera terbongkar. Maka De Lacey dan Agatha ditangkap serta dimasukkan ke dalam penjara. Berita inilah yang sampai kepada Felix, dan menyadarkannya dari impian indah yang penuh kesenangan ini.

Ayahnya yang sudah tua dan buta dengan adiknya dipenjarakan, sedangkan dia bebas merdeka dan bersenang-senang dengan kekasihnya! Pikiran ini sangat menyiksa hati Felix. Dia lalu cepat-cepat menyusun rencana bersama ayah Safie. Felix akan kembali ke Perancis. Kemudian kalau saudagar Turki ini mendapat kesempatan menyeberangi perbatasan sebelum Felix kembali ke Italia, Safie supaya menumpang tinggal di sebuah biara di Leghorn.

Felix segera menyampaikan salam perpisahan kepada gadis Arab yang cantik ini, terus berangkat ke Paris. Dia bermaksud menyerahkan diri kepada yang berwajib, agar ayahnya dengan Agatha dibebaskan.

Tapi usaha Felix tidak berhasil. Mereka tetap ditahan selama lima bulan sebelum diadili. Kemudian pengadilan memutuskan menyita semua harta benda De Lacey, serta mereka dibuang dari negeri Perancis selama-lamanya.

Dalam pembuangan mereka tinggal di rumah buruk di negeri Jerman. Di situlah aku menemukan mereka. Felix segera tahu bahwa orang Turki yang ditolongnya mati-matian ternyata seorang yang licik dan jahat. Dia sama sekali tidak menghargai pengorbanan Felix dengan keluarganya untuk menolongnya. Dia bahkan melakukan perbuatan yang sangat menghina dan menyinggung perasaan. Demi mendengar bahwa harta benda Felix disita, dan mereka sekeluarga mendapat hukuman pembuangan, dia meninggalkan Italia bersama anaknya. Dia mengirimkan uang yang jumlahnya tidak seberapa kepada Felix. Untuk membantu hidupnya di masa yang akan datang, katanya.

Itulah peristiwa yang selama itu membuat hati Felix sangat sedih. Dan itulah pula sebabnya maka Felix-Iah yang paling bersedih hati di antara mereka semua- Dia tahan hidup dalam kemelaratan. Karena kemelaratan mereka akibat kebajikannya sendiri yang sangat mulia, dia bahkan merasa bangga. Yang menyedihkan hatinya tidak lain sikap orang Turki yang tak tahu membalas budi, ditambah dengan kehilangan Safie yang sangat dicintainya. Kesedihan ini terasa sangat pedih dan tak terobati bagi Felix. Sekarang kedatangan Safie memberikan hidup baru kepada jiwanya.

Tatkala berita penyitaan harta dan pembuangan keluarga Felix sampai ke Leghorn, saudagar Turki ini melarang anaknya terus memikirkan kekasihnya. Sebaliknya dia bahkan memerintahkan agar Safie bersiap-siap mengikutinya pulang ke Turki.

Safie gadis yang baik hati dan dermawan, berkat pendidikan ibunya yang berdasarkan kasih sayang. Dia sangat marah mendengar perintah ayahnya. Dengan sekuat tenaga Safie berusaha membantah perintah ayahnya. Tapi dengan marah ayahnya meninggalkan dia, sambil mengulangi perintahnya dengan lebih tegas lagi.

Beberapa hari kemudian saudagar Turki ini masuk ke apartemen anaknya. Dengan tergesa-gesa dia menceritakan bahwa dia yakin tempat tinggalnya di Leghorn sudah diketahui, dan dia akan segera diserahkan kepada pemerintah Perancis. Dia sudah menyewa sebuah perahu yang akan membawanya ke Konstantinopel. Pelayaran ke sana hanya makan waktu beberapa jam. Dia bermaksud meninggalkan anaknya di bawah pengawasan seorang pelayan terpercaya. Safie disuruhnya menyusul kapan saja, membawa sebagian besar hartanya yang waktu itu belum sampai ke Leghorn.

Setelah sendirian, Safie mulai menyusun rencananya sendiri. Kesempatan itu akan digunakannya untuk mencapai tujuan yang lebih dikehendakinya. Dia tidak ingin tinggal di Turki. Baik agama yang dianutnya maupun perasaannya membuat Safie tidak sudi kembali ke negeri ayahnya.

Dari surat-surat ayahnya yang jatuh ke tangannya dia mendengar tentang pembuangan kekasihnya. Dia bahkan tahu nama tempat yang didiami keluarga Felix. Beberapa waktu lamanya dia bimbang, tapi akhirnya dia membulatkan tekadnya.

Dengan membawa perhiasan miliknya serta sejumlah uang, Safie berangkat meninggalkan Italia untuk pergi ke Jerman. Dia ditemani oleh pelayannya, seorang penduduk asli Leghorn yang mengerti bahasa Turki.

Safie sampai dengan selamat ke sebuah kota yang jaraknya sekitar tiga puluh kilometer dari tempat tinggal keluarga De Lacey. Di situlah dia mendapat kemalangan, yaitu pelayannya jatuh sakit. Safie merawatnya dengan tekun dan cermat, tapi gadis pelayan yang malang ini tidak tertolong. Dia mati, dan Safie ditinggalkan sebatang kara.

Ya, Safie sebatang kara di negeri yang baik bahasa maupun adat-istiadatnya tidak difahami-nya. Untunglah dia mendapat pertolongan orang yang baik hati. Sebelum mati, pelayannya telah mengatakan nama tempat yang akan mereka tuju. Dan kemudian wanita pemilik rumah yang ditumpangi Safie mengusahakan agar Safie bisa sampai dengan selamat ke rumah kekasihnya.

Bab 15.

Demikianlah riwayat penghuni rumah dekat kandang tempatku bersembunyi. Kisah ini sangat dalam berkesan di hatiku. Dengan mengambil segi pandangan kehidupan masyarakat, aku bisa mengagumi kebajikan mereka serta mencela perbuatan jahat manusia.

Waktu itu aku belum menyaksikan sendiri seperi i apa bentuknya perbuatan jahat. Sedangkan kebaikan dan kedermawanan sudah kulihat dengan mata kepalaku sendiri. Aku lalu punya keinginan menjadi pelaku dalam segala perbuatan yang terpuji. Tapi untuk menjelaskan kemajuan intelegensiku, aku tidak boleh melewatkan satu peristiwa yang terjadi pada awal bulan Agustus dalam tahun itu juga.

Suatu malam waktu aku sedang mencari kayu ^ dalam hutan seperti biasa serta mencari makanan untukku sendiri, aku menemukan sebuah tas kulit menggeletak di tanah. Tas berisi beberapa potong pakaian dan beberapa buah buku. Dengan sukacita kubawa tas yang kutemukan ke tempat tinggalku.

Untunglah buku-buku yang kudapatkan ditulis dalam bahasa yang sudah kupelajari. Buku-buku ini ialah Paradise Lost, sejilid karya Plutarch Lives dan buku Sorrows of Werter. Aku sangat gembira memiliki harta yang tak ternilai harganya.Selanjutnya setiap hari aku belajar dan melatih pikiranku dengan buku-buku ini. Sementara itu sahabat-sahabatku tetap sibuk bekerja seperti sediakala.

Aku hampir-hampir tidak bisa menerangkan kepadamu pengaruh bacaan ini terhadap diriku. Buku ini memberikan kepadaku gambaran serta perasaan baru yang tak terbatas. Kadang-kadang aku menjadi merasa gembira dan puas, tapi lebih sering lagi membuatku sangat murung.

Buku Sorrows of Werter berisi cerita yang sederhana tapi memikat. Di samping itu di dalamnya penuh dengan pandangan dan ulasan terhadap hal yang sampai sekarang masih membingungkanku. Perangai lembut dan rasa kekeluargaan yang dilukiskan di dalam buku ini, dipadukan dengan perasaan yang halus, sesuai dengan pengamatanku atas diri penghuni rumah dan keinginan yang selalu hidup di dalam dadaku. Tapi kurasa Werter sendiri manusia yang lebih mulia daripada orang yang pernah kulihat atau kubayangkan. Wataknya tidak mengandung kepura-puraan, dari semua perbuatannya didorong oleh hati sanubari. Kecemasannya menghadapi maut dan pertimbangan untuk bunuh diri mengisi hatiku dengan rasa takjub. Aku tidak memahami benar-benar duduknya perkara, tapi aku cenderung untuk memihak pelaku utama cerita ini. Aku menangisi kematiannya, tanpa tahu persis arti keseluruhannya.

Bagaimanapun juga, dengan membaca aku meningkatkan kepribadianku sendiri. Aku merasa bahwa diriku serupa, tapi anehnya tidak sama dengan manusia yang terdapat dalam bacaan maupun yang kulihat dan kudengar percakapannya. Aku merasa bersimpati dengan mereka serta memahami sebagian perasaan mereka. Walaupun demikian aku tidak dapat menetapkan pikiranku tentang diriku sendiri. Aku tidak tergantung kepada siapa pun, dan aku juga tidak berkerabat dengan siapa pun.

Seandainya aku mati, tak seorang pun yang akan meratapi kematianku. Rupaku mengerikan dan ukuran tubuhku serba besar. Apa arti semua ini? Siapakah aku? Aku ini apa sebenarnya? Dari mana asal-usulku? Ke mana tujuanku? Pertanyaan ini selalu mengganggu pikiranku, tapi aku tidak bisa menemukan jawabannya.

Buku Liues-nya Plutarch berisi riwayat para pendiri negara republik di jaman kuno. Buku ini pengaruhnya ataB diriku jauh berbeda dengan buku Sorrows of Werter. Dari imajinasi Werter aku mendapatkan kesedihan dan kemuraman, sedangkan Plutarch mengajarkan kepadaku untuk memiliki gagasan agung. Dia mengangkat diriku dari khayalanku yang serba buruk untuk mengagumi dan mencintai para pahlawan dari jaman yang sudah silam.

Buku yang kubaca berisi banyak hal yang jauh lebih tinggi daripada pengertian dan pengalamanku. Aku bingung memikirkan segala macam kera-jaan, negeri yang luas, sungai besar dan samudera yang tiada batasnya. Aku bahkan sama sekali tidak mengenal nama-nama kota dan bangsa yang tak terhitung banyaknya.

Rumah pelindungku merupakan satu-satunya sekolah tempat aku mempelajari hakekat manusia. Tapi buku ini memperluas pandanganku, serta memaparkan kepadaku berbagai tindakan yang jauh lebih hebat. Aku membaca tentang orang-orang yang terkemuka, yang memerintah atau membantai bangsanya sendiri.

Keinginanku untuk melakukan kebajikan bangkit, dan aku merasa jijik kepada kejahatan. Tapi alam pikiranku juga hanya terbatas kepada pengertian yang kudapat dari buku ini saja. Dan aku hanya bisa merasakan senang dan sedih seorang diri. Karena alam pikiran ini, maka aku lebih cenderung untuk menyukai para penyebar kedamaian seperti Solon, Numa dan Lycurgus, daripada Romulus dan Theseus.

Hidup para pelindungku yang penuh rasa kekeluargaan menyebabkan aku semakin teguh memegang pendirian ini. Mungkin kalau pertama kali aku mengenal kemanusiaan lewat seorang prajurit muda, misalnya, tentu akan lain halnya. Mungkin alam pikiranku akan lebih terpengaruh oleh rasa haus kemenangan dan haus darah yang di miliki prajurit muda ini.

Tapi buku Paradise Lost membangkitkan pe rasaan yang jauh berlainan dan jauh lebih dalam. Aku membacanya seperti aku membaca buku lain yang jatuh ke tanganku, yaitu menganggapnya sebagai sejarah yang benar-benar terjadi. Isi buku ini membangkitkan rasa kagum dan takjub yang sangat besar pada diriku. Aku sangat tertarik membaca tentang peperangan Tuhan yang sangat berkuasa melawan makhluk-makhluk ciptaannya. Aku seringkah menyamakan beberapa keadaan dengan keadaan diriku sendiri. Sama seperti Adam, aku juga tidak punya hubungan dengan makhluk lainnya. Tapi dalam segala hal keadaan Adam jauh berbeda dengan keadaan diriku.

Adam diciptakan langsung oleh Tuhan sebagai makhluk yang sempurna. Dia berbahagia dan tidak kurang suatu apa, serta mendapat perlindungan khusus dari Penciptanya. Dia bisa bercakap-cakap dan memperoleh pengetahuan dari makhluk yang lebih tinggi derajatnya. Sedangkan aku memiliki rupa buruk, tidak berdaya dan sebatang kara. Aku seringkah berpikir bahwa hakekat diriku lebih mirip dengan keadaan Setan. Sebab, seperti Setan aku juga seringkali merasa iri hati melihat kebahagiaan penghuni rumah yang setiap hari kulihat.

Ada hal lain yang memperkuat perasaanku. Waktu pertama kali aku sampai ke kandang, segera kuketahui bahwa dalam saku pakaian yang kubawa dari laboratorium ada segulung kertas. Mula-mula aku tidak memperhatikannya. Tapi setelah.aku bisa membaca, kertas-kertas ini kupelajari dengan tekun. Kertas itu ternyata catatanmu sendiri sejak empat bulan sebelum diriku selesai kauciptakan.

Sampai ke hal yang sekecil-kecilnya kau menerangkan dalam kertas ini kemajuan pekerjaanmu. Catatan ini juga disertai dengan catatan harian kehidupanmu sendiri. Kau pasti masih ingat dengan kertas ini. Ini dia. Semua diterangkan di dalamnya tentang segala sesuatu yang berhubungan dengan asal-usulku yang terkutuk. Segala hal menjijikkan yang kaulakukan untuk membentuk tubuhku kauterangkan dengan jelas. Kau memberikan penyanderaan sampai kepada hal yang paling kecil tentang diriku yang menjijikkan, lengkap dengan kata-kata yang melukiskan kengerianmu sendiri.

Semua ini tak terhapuskan dari pikiranku. Aku sendiri merasa sangat ngeri demi membacanya. 'Terkutuklah saat aku menerima kehidupan!' seruku dengan hati yang sangat pedih. 'Pencipta terkutuk! Mengapa kau menciptakan makhluk yang begini mengerikan sehingga kau sendiri membuang muka karena jijik? Tuhan, karena kasihnya menciptakan manusia yang cantik dan menarik, menurut citranya sendiri. Tapi bentuk tubuhku seburuk hatimu yang busuk, bahkan lebih mengerikan lagi. Setan sendiri masih punya teman, yaitu iblis sesamanya yang bisa mengagumi dan membesarkan hatinya. Tapi aku seorang diri dan siapa saja membenciku.'

Inilah yang kupikirkan dalam saat penuh kesedihan dan seorang diri. Tapi kemudian kurenungkan kebajikan penghuni rumah, keramahan dan kebaikan hati mereka. Aku lalu menghibur diriku dengan harapan setelah aku berkenalan dengan mereka, dan mereka tahu bahwa aku mengagumi kebajikan mereka, mereka akan menaruh belas kasihan kepadaku serta tidak mempedulikan rupaku yang buruk.

Mungkinkah mereka akan mengusir orang, betapapun jelek rupanya, yang datang untuk memohon belas kasihan dan persahabatan dari mereka? Akhirnya aku mengambil keputusan untuk tidak berputus asa. Sebaliknya aku mulai memikirkan setiap cara yang baik untuk berhubungan langsung dengan mereka. Saat pertama aku ber-cakap-cakap dengan mereka akan menentukan nasibku selanjutnya.

Tapi aku menunda maksudku ini selama beberapa bulan lagi. Aku berbuat demikian, sebab aku juga mempertimbangkan bagaimana kalau usahaku gagal. Lagipula pengertianku banyak bertambah dengan bertambahnya pengalaman. Aku ingin menunggu dulu selama beberapa bulan sampai kearifan ku banyak bertambah.

Sementara itu banyak perubahan terjadi di rumah yang didiami keluarga De Lacey. Kedatangan Safie mendatangkan kebahagiaan di kalangan mereka. Kulihat juga bahwa kemewahan hidup mereka banyak bertambah. Kini setiap hari kulihat Felix dan Agatha lebih sering bersenang-senang dan bercakap-cakap. Pekerjaan mereka dilakukan oleh beberapa orang pelayan. Mereka tidak kaya, tapi hidup mereka penuh kepuasan dan bahagia. Perasaan mereka tenang dan tenteram. Sebaliknya perasaanku setiap hari semakin bergolak.

Bertambahnya pengetahuan yang kudapat hanya semakin menyadarkan diriku bahwa aku makhluk buangan yang sangat menyedihkan. Aku punya ha rapan, itu benar. Tapi harapanku lenyap manakala aku melihat bayanganku sendiri pada permukaan air. Bayangan diriku yang tidak begitu jelas sudah cukup untuk menyadarkan diriku akan rupaku yang buruk.

Aku berusaha melenyapkan ketakutanku, dan menguatkan hatiku untuk menempuh ujian yang sudah kutunda selama beberapa bulan. Kadang-kadang aku membiarkan pikiranku mengembara di Taman Firdaus, mengkhayalkan makhluk yang cantik cantik menghibur kesedihanku. Senyuman mereka penuh bujukan dan penghiburan.

Tapi itu semua hanya mimpi. Tidak ada Eva yang akan menghiburku dari kesedihan, maupun memahami perasaanku. Aku seorang diri. Aku teringat akan permohonan Adam kepada Pencip-tanya. Tapi di mana penciptaku? Dia meninggalkanku, dan dalam kepedihan hati aku mengu-tukinya.

Musim gugur pun tiba. Dengan rasa heran dan sedih aku melihat daun-daunan kering dan berjatuhan. Alam sekali lagi kelihatan tandus dan kosong seperti yang pertama kali kulihat dulu dalam sinar bulan purnama.

Tapi aku tidak mempedulikan cuaca yang semakin dingin. Kesehatan badanku sudah lebih baik, dan aku lebih tahan panas maupun dingin. Namun aku terutama sangat senang melihat bunga-bungaan, burung dan suasana gembira musim panas. Setelah itu semua meninggalkanku, aku lebih memusatkan perhatian kepada penghuni rumah.

Kebahagiaan mereka tidak berkurang dengan berlalunya musim panas. Mereka saling mencintai. Kegembiraan mereka yang tergantung kepada sesama mereka sendiri tidak terganggu oleh suasana di sekitar mereka.

Lebih sering aku melihat mereka, lebih besar pula keinginanku untuk meminta perlindungan dan kebaikan mereka. Aku ingin sekali dikenal dan dicintai makhluk yang ramah ini. Aku mendambakan saat wajah mereka yang cantik menghadap kepadaku dengan pandangan penuh kasih sayang.

Aku tidak berani memikirkan mereka membuang muka dengan rasa jijik dan ngeri. Aku yakin mereka takkan mengusir pengemis yang berhenti di muka pintu rumah mereka. Memang benar, aku meminta yang lebih banyak daripada makanan sedikit dan tempat beristirahat: aku minta kebaikan hati dan simpati. Tapi aku tidak percaya bahwa diriku tidak layak mendapatkannya.

Kemudian tibalah musim dingin. Satu putaran waktu yang penuh sudah terjadi sejak saat aku mulai hidup. Kini pikiranku hanya tertuju kepada rencanaku untuk memperkenalkan diri kepada penghuni rumah dan pelindungku.

Aku menyusun dan memikirkan berbagai rencana. Tapi akhirnya aku menemukan satu rencana yang kuanggap paling baik. Aku bermaksud akan memasuki rumah mereka pada saat orang tua yang buta sendirian. Aku sudah cukup bijaksana untuk menyadari bahwa rupaku yang buruklah yang menyebabkan kengerian orang yang melihatku. Suaraku memang kasar, tapi tidak mengandung kengerian. Kupikir, sementara anak anaknya pergi aku akan bisa merebut hati De Lacey. Kemudian dialah yang akan menjadi perantaraku sehingga aku pun akan diterima oleh penghuni rumah yang masih muda.

Suatu hari matahari bersinar menerangi daun daun merah yang berserakan di tanah, dan kecerahan cuaca mendatangkan kegembiraan. Walaupun hawa waktu itu cukup panas, tapi Safie, Agatha dan Felix pergi untuk berjalan-jalan agak jauh. Atas kehendaknya sendiri ayah Felix ditinggalkan seorang diri di rumah.

Setelah anak-anaknya berangkat, dia mengambil gitarnya. Dimainkannya beberapa lagu sedih yang merdu. Lagunya terasa lebih sendu daripada yang pernah kudengar sebelumnya. Mula-mula air mukanya tampak penuh kegembiraan. Tapi makin lama kelihatan wajahnya makin penuh perasaan dan kesedihan. Akhirnya gitar diletakkan, dan dia duduk termenung.

Jantungku terasa berdenyut lebih cepat. Inilah saat ujian yang telah lama ku tunggu-tunggu, yang akan menentukan apakah harapanku terlaksana atau terjadi seperti yang kutakutkan. Waktu itu para pelayan sedang pergi ke pasar di desa yang cukup jauh. Di sekeliling rumah sunyi senyap. Ini kesempatan yang tepat sekali, pikirku.

Namun waktu aku melangkah maju untuk melaksanakan rencanaku, aku merasa lemas dan ter-perenyak ke tanah. Aku bangkit berdiri kembali. Kukuatkan hatiku, dan kubuka papan penutup lubang kandang tempatku bersembunyi. Udara luar menyegarkanku. Dengan tekad bulat aku berjalan menghampiri pintu rumah.

Aku mengetuk pintu.

'Siapa itu?' tanya si tua. 'Silakan masuk.'

Aku pun masuk.

'Maafkan gangguan ini,' kataku. 'Aku seorang pelancong yang perlu istirahat sebentar. Aku akan sangat berterima kasih kalau kau mengijinkanku tinggal dekat api selama beberapa menit saja.'

'Silakan masuk,' kata De Lacey. 'Aku akan mencoba meringankan penderitaanmu sebisaku. Tapi sayang sekali anak-anakku tidak di rumah. Dan karena aku buta, aku khawatir sangat sulit bagiku untuk menyiapkan makanan bagimu.'

Tidak usah repot-repot, Tuan rumahku yang baik hati. Aku membawa makanan sendiri. Yang kubutuhkan hanyalah istirahat untuk melepaskan lelah dan api untuk menghangatkan tubuhku.'

Aku pun duduk, dan sejenak sunyi. Aku tahu bahwa setiap menit sangat berharga bagiku. Walaupun demikian aku belum tahu bagaimana aku harus membuka percakapan. Tapi kemudian si tua berbicara kepadaku.

'Mendengar bicaramu, kurasa kau sebangsa denganku. Apakah kau orang Perancis?'

'Bukan. Tapi aku dididik oleh keluarga Perancis, dan hanya bahasa itulah yang kumengerti. Sekarang aku ingin meminta perlindungan kepada sahabat yang kucintai, dan kuharapkan juga akan mencintaiku.*

'Apakah mereka orang Jerman?'

'Bukan, mereka orang Perancis. Tapi marilah kita mengganti bahan percakapan. Aku makhluk yang malang dan sebatang kara. Aku tidak punya kawan maupun kerabat di muka bumi ini. Orang-orang baik hati yang akan kumintai perlindungan ini tidak mengenalku. Aku sangat takut. Sebab, kalau usahaku gagal berarti aku terbuang dari^dunia ini selama-lamanya.'

Mangan khawatir. Tidak punya sahabat di dunia memang kemalangan yang besar. Tapi hati ma-1 nusia kalau tidak mementingkan diri sendiri selalu penuh rasa persahabatan dan belas kasihan. Percayalah kepada harapanmu. Kalau sahabat yang kaucari ini benar-benar baik hati, kau tidak perlu merasa khawatir.'

'Mereka baik hati. Mereka makhluk paling berbudi di seluas muka bumi ini. Tapi sayangnya mereka pasti akan curiga kepadaku. Aku bertujuan baik. Selama ini hidupku penuh kedamaian, tidak pernah mengganggu orang lain. Bahkan sedikit banyaknya aku juga telah berbuat baik. Tapi prasangka buruk menggelapkan pandangan mata mereka. Mereka bukannya melihat hati dan perasaan seorang sahabat yang baik seperti semestinya, tapi melihat rupa jasmaniah yang buruk dan menjijikkan.'

'Ini memang patut disayangkan. Tapi kalau kau memang benar-benar tidak bersalah, tidak dapatkah kau meyakinkan mereka?"

Aku baru akan mulai berusaha. Dan karena itulah aku merasa takut yang luar biasa. Aku sangat mencintai sahabat-sahabat ini. Selama beberapa bulan, tanpa sepengetahuan mereka aku setiap hari berbuat baik kepada mereka. Tapi mereka yakin bahwa aku akan mencelakakan mereka. Itulah prasangka yang ingin sekali kulenyapkan dari pikiran mereka.'

'Di mana tempat tinggal sahabatmu?' 'Tidak jauh dari sini.'

Si tua diam beberapa saat dan kemudian meneruskan, 'Cobalah kauterangkan sejelas-jelasnya ceritamu. Mungkin nanti aku akan bisa menolongmu meyakinkan mereka. Aku buta dan tidak dapat menilai rupa lahiriahmu. Tapi ada sesuatu dalam suaramu yang meyakinkan diriku bahwa kau jujur. Aku melarat dan seorang buangan pula. Tapi aku akan merasa senang sekali kalau dengan suatu cara bisa menolong sesama manusia.'

'Sungguh luhur budimu! Aku sangat berterima kasih kepadamu, dan menerima tawaranmu yang mulia. Dengan kebaikanmu kau mengangkat diriku dari debu kehinaan. Aku yakin, dengan pertolonganmu aku takkan diusir dari masyarakat dan belas kasihan sesama manusia.'

'Tuhan tidak mengijinkan! Seandainya benar Kau seorang bajingan, kau pasti akan terdorong ke dalam perbuatan jahat, bukannya ke arah kebajikan. Aku sendiri juga orang yang sedang ditimpa kemalangan. Aku sekeluarga dijatuhi hukuman, padahal tidak bersalah. Tentu saja aku bisa memahami perasaanmu yang sedang dirundung kemalangan.'

'Bagaimana aku akan bisa membalas budimu, sa habatku yang baik? Dari bibirmu sendiri aku sudah mendengar kata-kata manis ditujukan kepadaku. Aku akan berhutang budi selama-lamanya. Rasa kemanusiaanmu meyakinkan diriku bahwa kau akan berhasil meyakinkan sahabat yang segera akan kutemui.'

'Boleh aku mengetahui nama dan tempat tinggal sahabat ini?'

Aku diam sebentar. Inilah saat yang menentukan. Aku akan mendapat kebahagiaan, atau takkan mencapainya seumur hidup. Aku berusaha sekuat tenaga untuk menguatkan hatiku agar bisa menjawab pertanyaannya. Tapi usaha ini bahkan menghabiskan tenagaku yang masih tersisa.

Aku duduk terperenyak ke atas kursi serta menangis tersedu-sedu. Saat itu kudengar bunyi langkah kaki anak-anak De Lacey, para pelindung mudaku. Aku tidak boleh membuang-buang waktu lagi. Kutangkap tangan si tua. Sambil menangis aku berkata:

'Inilah saatnya! Selamatkan dan lindungi aku! Kaulah sekeluarga sahabat yang kucari. Jangan kauusir aku pada saat yang menentukan ini!'

'Ya Tuhan!' seru De Lacey. 'Kau siapa?'

Saat itu pintu rumah terbuka. Felix, Safie dan Agatha masuk Siapa yang bisa melukiskan kengerian mereka demi melihatku? Agatha jatuh pingsan, dan Safie menghambur ke luar dari rumah. Felix menyerbu ke depan. Dengan sekuat tenaga di renggutkannya aku dari ayahnya, yang sedang ku-pegangi lututnya. Dalam kemarahan yang menyala-nyala Felix merobohkanku ke tanah serta memukul tubuhku sekeras-kerasnya dengan tongkat.

Sebenarnya aku mampu merobek-robek tubuhnya seperti singa mencabik-cabik kijang. Tapi waktu itu hatiku rasanya hancur luluh, dan aku tidak berbuat apa-apa. Kulihat' Felix mau memukulku lagi. Dengan rasa sek t dan sedih aku lari ke luar rumah. Dalam kekalutan mereka aku me a rikan diri, dan tanpa mereka ketahui aku kembali masuk ke persembunyian.Terkutuk, sungguh pencipta yang terkutuk! Mengapa aku harus hidup? Mengapa pada saat itu api kehidupanku yang dibetikkan dalam tubuhku dengan tanpa belas kasihan tidak padam saja? Mengapa tidak kubunuh saja diriku yang malang ini? Aku tidak tahu. Saat itu keputusasaan belum begitu kuat mencengkam diriku.

Perasaanku lebih dikuasai kemarahan dan keinginan membalas dendam. Dengan mudah aku akan bisa menghancurkan rumah beserta isinya, serta memuaskan diriku dengan jeritan kesakitan mereka.

Setelah malam tiba, aku meninggalkan persembunyianku dan mengembara di tengah hutan. Sekarang aku sudah tidak takut ditemukan orang lagi. Aku melahirkan penderitaan hatiku dengan mengeluarkan raungan yang menakutkan.

Aku seperti binatang buas yang dilukai, mengamuk dan memusnahkan apa saja yang menghalangi jalanku. Dengan kecepatan lari seekor rusa aku melintasi hutan.

Oh! Sungguh sangat menyiksa malam yang kulewatkan' Bintang bintang yang dingin tersenyum dan berkedip-kedip mengejekku. Pohon-pohonan yang gundul melambai-lambaikan cabangnya yang telanjang kepadaku. Kadang-kadang kudengar nyanyi an burung yang merdu memecahkan kesunyian alam semesta.

Seluruh dunia kecuali aku sedang beristirahat dengan tenang atau sedang menikmati kesenangan. Aku laksana iblis yang membawa api neraka dalam tubuhku. Tak ada yang bersimpati kepadaku, dan aku ingin menghancurkan apa saja di sekitarku. Aku ingin mencabuti pohon-pohonan, meluluhlan-"* takkan sekelilingku, kemudian duduk menikmati kerusakan akibat armikanku.

Tapi ini hanyalah perasaan yang tidak bisa tahan lama. Aku menjadi kelelahan karena terlalu banyak tenaga yang kukeluarkan. Aku terperenyak duduk di atas rumput lembab, tidak berdaya dan putus asa.

Tak ada satu pun manusia yang akan berbelas kasihan atau' mau menolongku. Dan bisakah aku mengasihi musuhku? Tidak! Sejak saat itu aku ber-* sumpah akan menyatakan perang abadi kepada bangsa manusia. Lebih dari segala-galanya, aku bersumpah akan membinasakan orang yang raen-ciptakan diriku untuk membiarkanku menderita kemalangan yang tak tertahankan ini.

Matahari terbit. Aku mendengar suara beberapa orang, dan aku sadar bahwa aku takkan bisa kembali ke persembunyianku di siang hari. Aku lalu bersembunyi di tengah belukar yang rimbun. Aku ber-t maksud merenungkan persoalan yang sedang kuhadapi.

Smar matahari yang lembut dan udara segar pagi itu mengembalikan sedikit ketenteraman pikiranku. Tapi setelah kurenungkan apa yang terjadi di rumah De Lacey, aku berpikir bahwa aku terlalu tergesa-gesa mengambil kesimpulan. Aku telah melakukan tindakan yang tidak bijaksana. Cukup jelas bahwa kata-kataku menarik perhatian De Lacey. Tapi sungguh tolol aku telah menunjukkan rupaku yang mengerikan kepada anak-anaknya. Seharusnya aku menjalin hubungan yang lebih baik dulu dengan De Lacey, dan sedikit demi sedikit memperlihatkan diriku kepada anggota keluarga lainnya. Mereka harus dipersiapkan dulu sebelum bertemu langsung denganku.

Tapi aku merasa bahwa kesalahanku masih bisa diperbaiki. Setelah lama kupikirkan, aku bermaksud kembali ke rumah mereka. Aku akan men- * cari si De Lacey tua, dan sekali lagi akan berusaha merebut hatinya.

Pikiran ini menenangkan perasaanku, dan siangnya aku bisa tidur pulas. Tapi darahku yang masih menggejolak menyebabkan aku mendapat mimpi yang tidak keruan. Peristiwa yang sangat tidak menyenangkan kemarin selalu terbayang kembali di pelupuk mataku. Kedua perempuan berlarian dan Felix yang sangat marah merenggutkanku dari kaki ayahnya. Aku terbangun dengan badan terasa lelah, dan ternyata malam sudah tiba. Aku merayap ke luar dari persembunyian dan pergi mencari makanan. Setelah menghilangkan rasa laparku, aku melangkahkan kaki di jalan setapak yang sangat kukenal menuju ke rumah De Lacey. Rumah dan sekitarnya sunyi. Aku masuk ke kandang tempatku bersembunyi seperti biasa. Aku duduk diam-diam, menunggu saat seluruh keluarga bangun tidur.

Pagi pun tiba dan waktu berjalan terus. Mata- * hari sudah tinggi di langit, tapi penghuni rumah tidak ada yang muncul. Badanku menggigil, merasa cemas jangan-jangan telah terjadi bencana yang mengerikan. Ruangan dalam rumah gelap dan aku tidak mendengar suara gerakan apa pun. Aku tidak bisa melukiskan penderitaan karena ketegangan ini.

Kemudian dua orang desa lewat. Mereka berhenti sebentar dekat rumah sambil bercakap-cakap disertai gerakan tangan. Aku tidak memahami apa yang mereka katakan. Mereka menggunakan bahasa mereka, yang berbeda dengan bahasa peng huni rumah. Tapi tidak lama kemudian Felix muncul dengan seorang laki-laki lainnya.

Aku merasa heran, sebab tahu bahwa sejak pagi Felix tidak meninggalkan rumah. Aku ingin sekali . mengetahui dari pembicaraannya apa arti semua kejadian yang tidak biasa ini.

'Kau tentu menyadari,' kata teman Felix ke padanya, 'bahwa kau membuang-buang uang sewa selama tiga bulan dan kehilangan hasil kebun? Aku tidak ingin menarik keuntungan dengan cara tidak jujur. Kuminta kau mau mempertimbangkan dulu putusanmu selama beberapa hari.'

'Sama sekali tidak perlu.' jawab Felix. 'Kami tidak bisa lagi mendiami rumahmu. Jiwa ayahku ^.terancam, karena peristiwa mengerikan yang sudah kuceritakan kepadamu. Isteri dan adikku takkan pulih lagi dari rasa ketakutan. Kuminta kau jangan lagi membujukku untuk membuat pertimbangan. Ambillah kembali milikmu dan jangan kauhalangi aku pergi dari tempat ini.'

Felix mengucapkan kata-kata ini dengan tubuh menggigil. Dengan temannya dia masuk ke rumah. Mereka tinggal di dalam selama beberapa menit, kemudian mereka pergi. Sejak itu aku tidak pernah lagi melihat salah seorang keluarga De Lacey.

Hari itu aku tinggal dalam kandang dengan rasa putus asa. Para pelindungku telah pergi, dan terputuslah satu-satunya mata rantai yang meng-hubungkanku dengan dunia, Untuk pertama kalinya rasa ingin membalas dendam memenuhi hatiku, dan aku tidak berusaha menahannya. Pikiranku terseret oleh keinginan menvakiti dan membunuh. Tapi kemudian aku teringat kembali kepada keluarga De Lacey. Si tua yang bersuara lembut, air muka Agatha yang penuh kasih sayang dan wajah si gadiB Arab yang cantik — semua terbayang kembali olehku. Dendamku yang menyala-nyala lalu sirna dan air mataku meleleh.

Dan kemudian aku teringat pula bahwa mereka telah menampik dan meninggalkanku. Kemarahanku pun kembali. Aku merasa berang dan ge--* ram luar biasa. Karena aku tidak bisa menyakiti manusia, maka aku melampiaskan kemarahanku kepada benda mati. Tatkala malam tiba aku menaruh segala macam benda yang mudah terbakar di sekeliling rumah. Lalu semua tanaman di kebun kurusakbinasakan, dan aku menunggu dengan perasaan yang kusabar-sabarkan sampai bulan tidak kelihatan lagi untuk memulai tindakan balas dendamku.

Waktu malam semakin larut, angin kencang ber-tiup dari arah hutan dan menghalaukan awan yang menutupi langit. Halilintar menyambar dengan suara yang sangat dahsyat, serta menghidupkan dalam diriku semacam kegilaan yang menghancurkan semua akal sehat dan perasaanku. Kunyalakan cabang kayu kering, dan "dengan kemarahan menyala-nyala rumah kubakar.

Kulemparkan kayu menyala ke atas jerami dan kayu kering yang kutumpukkan di sekeliling rumah.^ Angin meniup api, dan dalam sekejap mata rumah sudah berkobar-kobar. Sementara itu di ufuk barat bulan hampir terbenam.

Tidak lama kemudian aku sudah merasa yakin bahwa rumah takkan tertolong lagi. Aku lalu peTgi mengungsi dalam hutan.

Dan sekarang, dengan dunia luas terhampar di hadapanku, ke mana aku akan menujukan langkah kakiku? Aku ingin pergi jauh-jauh dari tempat yang mendatangkan kemalangan kepadaku. Tapi bagiku, makhluk yang dibenci dan menjijikkan, setiap negeri pasti sama saja mengerikannya.

Akhirnya ingatan akan dirimu melintas pada pikiranku. Aku tahu dari catatanmu bahwa kau ayahku, penciptaku. Kepada siapa lagi aku lebih layak memohon daripada kepada dia yang meng-

hidupkanku? Di antara banyak pelajaran yang diberikan Felix kepada Safie, pelajaran ilmu bumi juga tidak terlewatkan. Dari pelajaran ini aku mengetahui beberapa negeri di muka bumi ini. Kau telah menyebutkan Jenewa sebagai kota tempat tinggalmu, dan aku bermaksud pergi ke tempat itu.

Tapi bagaimana aku harus menetapkan arah yang harus kuambil? Aku tahu bahwa aku harus berjalan ke arah barat daya untuk sampai ke tujuan, tapi satu satunya petunjuk yang kumiliki hanya matahari. Aku tidak tahu nama-nama kota yang

harus kulalui, dan aku juga tidak bisa bertanya kepada seorang manusia pun. Walaupun demikian aku tidak putus asa.

Hanya dari kaulah aku mengharapkan pertolongan. Walaupun demikian aku tidak punya pera saan apa-apa, kecuali rasa benci kepadamu. Kau pencipta yang tidak berperasaan! Kau memberiku perasaan dan nafsu, tapi menjadikanku sasaran rasa jijik dan kebencian manusia. $ Namun hanya kepadamulah aku berhak minta belas kasihan dan perbaikan nasib. Aku bertekad minta keadilan kepadamu, yang sia-sia saja kudapatkan dari makhluk lain yang memiliki bentuk manusia.

Perjalanan yang harus kutempuh sangat jauh, dan penderitaan yang harus kutanggung sangat berat. Aku meninggalkan daerah yang begitu lama kudiami di akhir musim gugur. Aku hanya berjalan di malam hari, aebab takut bertemu dengan manusia. Di sekelilingku alam sedang membusuk, dan panas matahari semakin tidak terasa. Hujan turun dan salju berjatuhan. Sungai-sungai besar airnya membeku. Permukaan bumi keras, dingin dan tandus. Aku tidak bisa menemukan tempat lagi untuk berteduh.

Oh, bumi! Betapa seringnya aku menyesali kutukan atas diriku! Sifatku yang lemah lembut sudah musnah. Sekarang di dalam diriku yang ada hanya kekerasan dan kegetiran. Makin dekat aku dengan tempat tinggalmu, makin kuat dorongan dalam hatiku untuk membalas dendam.

Salju makin sering berguguran dan air mengeras, tapi aku berjalan terus tanpa istirahat. Kadang-kadang aku menemukan petunjuk dari beberapa kejadian, dan kini aku memiliki peta negeri ini. Walaupun demikian aku masih sering jauh tersesat dari jalan yang seharusnya kuambil.

Perasaanku yang menderita membuatku, pantang ** mundur. Setiap kejadian yang kualami selalu menambah kemarahan dan kesedihanku. Kemudian sampailah aku ke wilayah Switzerland. Di situlah aku mengalami kejadian yang sangat pahit kurasakan. Waktu itu matahari sudah mulai terasa panas kembali, dan muka bumi sudah kelihatan hijau lagi.

Biasanya aku beristirahat di siang hari, dan meneruskan perjalanan kalau kegelapan malam me nyembunyikan diriku dari pandangan manusia. Tapi suatu hari aku mencoba mengubah kebiasaanku. Jalan yang kulalui menembus hutan lebat, dan setelah matahari terbit aku masih meneruskan perjalananku.

Hari itu sangat cerah dan indah seperti lazimnya hari di awal musim semi. Sinar matahari terasa lembut dan udara segar. Rasa senang dan sukacita yang selama itu mati kini terasa hidup kembali dalam diriku. Aku terseret oleh perasaan ini dan melupa kan kesendirian serta kejelekan rupaku. Aku bahkan merasa berbahagia. Air mataku meleleh di pipi, dan dengan rasa bersyukur aku mengangkat mataku yang basah ke arah matahari yang penuh rahmat dan memberiku rasa gembira.

Aku terus mengikuti jalan setapak sampai ber akhir di tepi sungai yang dalam dan deras airnya. Di kiri-kanan sungai banyak pohon kayu yang cabangnya condong ke atas air, dan kini penuh tunas muda musim semi. Di situ aku berhenti, tidak tahu pasti dengan arah yang akan kuambil seterusnya.

Tiba-tiba aku mendengar suara orang, dan aku bersembunyi di balik sebatang pohon yang rimbun. Aku hampir-hampir belum masuk ke persembunyian, waktu kulihat seorang gadis lari ke arahku. Dia berlari sambil tertawa-tawa, seperti sedang main kejar-kejaran.

Gadis ini berlari terus sepanjang tepi sungai. Tiba-tiba dia terpeleset dan tercebur ke dalam air yang arusnya deras. Aku menghambur ke luar dari persembunyian. Aku terjun ke air, dan dengan sekuat tenaga dia kuselamatkan dari dalam air serta kubawa ke tepi.

Dia tidak sadarkan diri, dan aku berusaha e bisa-bisanya untuk membuatnya siuman. Waktu itu tiba-tiba aku terganggu oleh kedatangan seorang • laki-laki, rupanya orang yang tadi sedang berkejar-kejaran dengan si gadis.

Demi melihatku, laki-laki ini terus menyerbu ke arahku. Si gadis direbutnya dari tanganku, terus dibawanya masuk lebih dalam ke tengah hutan. Dengan cepat aku mengikutinya, tidak tahu apa sebabnya. Tapi waktu dia mengetahui bahwa aku mengikutinya, laki-laki ini mengacungkan pistol yang dibawanya serta melepaskan tembakan. Aku roboh ke tanah, sementara orang yang melukaiku melarikan diri lebih cepat ke tengah hutan.

Inilah imbalan untuk pertolonganku? Aku telah menyelamatkan jiwa seorang manusia, dan sebagai hadiahnya kini aku meliuk-liuk kesakitan karena luka yang merobekkan daging dan menghancurkan tulangku.

Rasa senang yang belum lama kurasakan kini berubah menjadi kemarahan dan kesakitan. Terdorong oleh rasa sakit yang kuderita, aku bersumpah selama-lamanya akan memusuhi dan membalas dendam kepada semua bangsa manusia. Tapi resa sakit karena lukaku mengalahkan segala galanya. Urat nadiku berhenti berdenyut, dan aku jatuh pingsan.

Selama beberapa minggu hidupku di tengah hutan sangat sengsara. Dengan segala daya upaya aku berusaha mengobati luka yang kudapatkan. Peluru mengenai bahuku, dan aku tidak tahu apakah peluru mengeram di dalam tubuhku atau tembus terus ke belakang. Kalaupun peluru mengeram dalam tubuhku, aku tidak punya alat untuk mengeluarkannya.

Hatiku bertambah menderita oleh rasa pedih memikirkan ketakadilan dan rasa tak tahu membalas budi yang dimiliki manusia. Setiap hari hasratku untuk membalas dendam semakin meningkat. Dendamku hanya akan bisa diredakan dengan pembunuhan dan darah, sebab hanya itulah yang layak sebagai ganti penderitaan yang kurasakan.

Setelah beberapa minggu berlalu lukaku sembuh, dan aku meneruskan perjalanan kembali. Rasa sakit yang kutanggung tidak bisa lagi diredakan oleh kelembutan sinar matahari, atau oleh belaian angin musim semi. Suasana gembira di sekelilingku kurasakan hanya sebagai ejekan untuk menghina diriku yang sebatang kara. Aku bahkan merasa lebih menderita, sebab sadar bahwa aku tidak layak menikmati kegembiraan.

Tapi jerih payahku sekarang hampir berakhir, dan dua bulan kemudian aku sudah sampai ke perbatasan kota Jenewa.

Aku sampai ke sana di waktu sore. Aku langsung mencari tempat persembunyian di tengah ladang. Di situlah aku memikirkan cara untuk mengajukan permohonanku kepadamu. Aku merasa lelah dan sangat lapar serta sedih. Aku sampai tidak merasakan kelembutan angin yang bertiup, atau merasakan keindahan terbenamnya matahari di balik pegunungan Jura.

Waktu itu kesedihanku hanya sembuh sedikit dengan tidur sebentar, yang kemudian terganggu oleh kedatangan seorang anak yang manis. Anak ini berlari-lari ke arahku, dengan kelincahan kanak-kanak yang lucu.

Waktu melihatnya, tiba-tiba sebuah gagasan melintas dalam benakku. Anak kecil ini pasti belum punya prasangka buruk dan hidupnya belum lama; dia pasti belum terpengaruh oleh rasa ngeri melihat rupa buruk, pikirku. Seandainya aku bisa menangkap serta mendidiknya untuk menjadi temanku, tentu aku takkan merasa kesepian lagi di dunia yang penuh didiami manusia ini.

Terdorong oleh gagasan ini, aku menangkap anak laki-laki ini waktu dia lewat di dekatku. Segera setelah dia melihat rupaku, dia menutup matanya dengan tangan seraya memekik. Dengan keras renggutkan tangan yang menutupi matanya seraya berkata:

'Nak, apa artinya ini? Aku tidak akan menyakitimu. Dengar perkataanku.' Dia berontak sekuat tenaga'Lepaskan akut' teriaknya. 'Binatang? Makhluk buruk? Kau mau memakanku dan mencabik-cabik tubuhku. Kau seorang raksasa. Lepaskan aku! Kalau tidak, akan kuadukan kau kepada ayahku.'

'Nak, kau takkan bertemu Lagi dengan ayahmu. Kau harus ikut denganku.'

'Makhluk mengerikan? Lepaskan aku! Ayahku orang terkemuka — dia M, Frankenstein — dia akan menghukummu. Jangan kau berani membawaku.'

'Frankenstein! Jadi kau anak musuhku. Kepada dialah aku bersumpah akan membalas dendam. Kau akan menjadi korbanku yang pertama.'

Si anak masih berontak untuk melepaskan diri, sambil melontarkan kata-kata yang membuatku sangat marah. Kucekik lehernya supaya dia diam, dan dalam sekejap dia sudah menggeletak mati di muka kakiku.

Kupandangi korbanku, dan hatiku penuh dengan rasa kemenangan. Sambil bertepuk aku berkata, 'Aku pun bisa menimbulkan kesedihan. Musuhku tidak kebal dari rasa sedih. Kematian ini akan menimbulkan kesedihan pada dirinya dan seribu kesedihan lainnya akan menyiksa serta menghancurkannya.'

Waktu aku melihat kepada mayat si anak, kulihat benda berkilat-kilat pada dadanya. Ternyata bandul kalung yang bagus, dan terus kurenggutkan dari lehernya. Bandul berisi potret seorang wanita yang sangat cantik. Walaupun hatiku jahat, tapi potret ini melembutkan dan menarik hatiku.

Beberapa saat lamanya aku memandangi matanya yang hitam dan berbulu mata tebal serta bibirnya yang manis. Seketika kemarahanku kembali. Aku teringat kembali bahwa untuk selama-lamanya aku takkan bisa menikmati kesenangan dari makhluk yang cantik. Dalam pandangankurupanya yang cantik seketika berubah menjijikkan dan menakutkan.

Herankah kau kalau pikiran semacam itu menimbulkan kemarahanku? Saat itu aku hanya merasa
heran karena aku tidak langsung menyerbu bangsa manusia dan mati dalam usaha untuk menghancurkan mereka.

Sementara aku dikuasai oleh perasaan ini, ku tinggalkan tempat aku melakukan pembunuhan itu. Aku mencari tempat bersembunyi yang lebih baik. Kumasuki sebuah gudang yang kelihatannya kosong. Tapi ternyata dugaanku keliru.

Seorang wanita sedang tidur di atas jerami. Dia masih muda. Walaupun rupanya tidak secantik potret wanita yang kubawa, tapi kecantikannya sedang mekar-mekarnya dan tubuhnya sehat segar. Inilah dia salah seorang yang senyum manisnya di tujukan kepada setiap orang kecuali aku, pikirku.

Aku membungkuk di atasnya seraya berbisik, 'Bangunlah, Cantik, kekasihmu ada di dekatmu. Dia akan mau mengorbankan nyawa untuk mendapatkan pandangan penuh kasih sayang dari matamu. Sayangku, bangunlah!'

Gadis yang sedang tidur ini bergerak. Seketika tubuhku menggigil karena takut. Apakah dia akan terbangun, melihatku, mengutuki diriku dan mengatakan bahwa aku pembunuh? Pasti itulah yang akan dilakukannya kalau dia membuka mata serta melihatku.

Pikiran gilaku timbul, dan iblis dalam hatiku bangkit. Bukan aku, melainkan dialah yang akan menderita. Aku telah melakukan pembunuhan karena aku tidak mungkin mendapatkan apa saja yang seharusnya dia bisa memberikan kepadaku Gadis ini harus menebus kemalanganku.

Kejahatan yang kulakukan adalah akibat dia, bersumber dari gadis ini. Maka dialah yang harusmerasakan hukumannya! Berkat pengajaran Felix tentang hukum yang bengis, aku tahu bagaimana cara memfitnah untuk mencelakaan orang lain. Aku membungkuk di atas gadis ini, terus kumasukkan kalung ke dalam satu lipatan pada pakaiannya. Dia bergerak lagi, dan aku melarikan diri.

Selama beberapa hari aku berkeliaran dekat tempat terjadinya pembunuhan. Kadang-kadang aku ingin bertemu denganmu, dan kadang-kadang aku ingin meninggalkan dunia yang penuh kesedihan ini untuk selama-lamanya.

Akhirnya aku mengembara sampai ke pegunungan ini. Aku berkeliaran di antara jurang-jurang dan tebing karang, tersiksa oleh hasrat menyala-nyala yang hanya bisa dipuaskan olehmu.

Kita tidak akan berpisah sebelum kau berjanji akan memenuhi permintaanku. Aku seorang diri dengan keadaan menyedihkan. Manusia takkan mau bergaul denganku. Tapi makhluk yang sama buruknya dengan diriku pasti takkan menampikku. Teman hidupku harus makhluk yang jenisnya sama dengan diriku, serta memiliki keburukan rupa yang sama pula denganku. Makhluk semacam inilah yang harus kauciptakan.MAKHLUK ini selesai bercerita. Pandangan matanya kini dipusatkan kepadaku, meng-harapkan sebuah jawaban. Tapi aku kalap dan bingung. Aku tidak bisa memahami sepenuhnya apa sebenarnya yang diminta dari padaku.

Dia meneruskan, "Kau harus menciptakan makhluk perempuan untukku, yang bisa kuajak hidup bersama dan saling mengasihi. Hanya kau sendiri saja yang akan sanggup memenuhi permintaanku. Aku memintanya kepadamu sebagai tuntutan hak yang harus kaupenuhi.*'

Bagian ceritanya yang terakhir telah membangkitkan kembali kemarahanku yang sudah reda waktu dia menceritakan hidupnya yang tenang dekat rumah De Lacey. Dan demi dia mengatakan ini, aku tidak dapat menahan lagi kemarahan yang berkobar dalam hatiku.

"Aku menolak permintaanmu." jawabku. "Dan takkan ada siksaan yang bisa memaksaku untuk menyetujuinya. Kau boleh mengatakan aku orang yang paling jahat, tapi kau takkan bisa merendahkan diriku di hadapanku sendiri. Aku harus menciptakan satu lagi makhluk seperti kau, dan berdua denganmu akan memusnahkan dunia? Pergi kau dari sini! Aku sudah menjawab permintaanmu. Kau boleh menyiksaku, tapi aku takkan memenuhi tuntutanmu."

"Kau keliru," jawab si iblis. "Aku tidak akan mengancammu. Sebaliknya aku akan memberi penjelasan untuk meyakinkanmu. Aku menjadi jahat, sebab keadaanku menyedpikan. Bukankah aku ditolak dan dibenci oleh seluruh bangsa manusia? Sedangkan kau sendiri, penciptaku, dengan senang hati mau merobek-robek tubuhku. Jangan lupakan hal itu. Dan sekarang coba katakan kepadaku, apakah mungkin aku akan mengasihani manusia yang tidak mengasihani diriku? Kau tidak akan mengatakan bahwa perbuatanmu sebuah tindakan pembunuhan, kalau kau bisa melemparkanku ke jurang dari atas tebing serta menghancurkan tubuhku, hasil karya tanganmu sendiri. Apakah aku akan menghormati orang yang memandang rendah diriku? Cobalah kalau ada orang yang,mau bergaul denganku serta berbaik hati kepadaku. Maka bukan kejahatan, melainkan perbuatan baik yang akan kulakukan kepadanya, sebagai tanda terima kasih atas kesudiannya menerima diriku. Tapi itu takkan bisa terjadi. Kesadaran manusia merupakan tembok pemisah yang tidak memungkinkan mereka mau bergaul denganku. Tapi aku tidak mau diperbudak oleh keadaanku yang menyedihkan. Aku akan membalas dendam atas penderitaan yang kurasakan. Kalau aku tidak bisa membangkitkan rasa cinta, aku akan menimbulkan rasa takut. Terutama terhadap dirimu, musuh utamaku, penciptaku, aku bersumpah akan membencimu selama-lamanya. Hati-hati! Aku akan menjadi penyebab kehancuranmu. Aku tidak akan berhenti berusaha sebelum hatimu hancur luluh, sehingga kau mengutuki saat kau dilahirkan di dunia."

Kemarahan iblisnya tampak menyala-nyala waktu dia mengucapkan kata-kata ini. Mukanya kelihatan terlalu mengerikan bagi mata manusia. Tapi kemudian kemarahannya mereda, dan dia meneruskan:

"Aku ingin menyadarkanmu. Kemarahan ini merugikan diriku, sebab kau tidak sadar bahwa kaulah penyebab semua bencana. Kalau ada makhluk yang merasa kasihan kepadaku, aku akan membatas kebaikannya seratus kali lipat. Karena kebaikan makhluk ini aku mau berdamai dengan seluruh bangsanya! Tapi kini aku digoda oleh impian kebahagiaan yang takkan bisa kucapai. Yang kuminta dari m u satu hal yang wajar dan tidak berlebih-lebihan. Aku minta dibuatkan makhluk seperti aku yang berlawanan jenis kelaminnya, makhluk yang sama buruknya dengan diriku. Permintaanku tidak seberapa, tapi aku sadar bahwa hanya ituldh yang bisa kuterima, dan sudah cukup memuaskanku. Benar kami akan menjadi makhluk terasing yang terpisah dari kehidupan lain di dunia. Tapi karena itu kami bahkan akan lebih terikat antara satu dengan lainnya. Kehidupan kami tidak akan berbahagia seperti kebanyakan orang lain, tapi akan penuh kedamaian dan bebas dari penderitaan yang sekarang kurasakan. Oh! Penciptaku, buatlah aku berbahagia. Berilah kesempatan aku merasa berterima kasih kepadamu karena satu kebaikan saja! Berilah aku kesempatan bisa mengasihi satu makhluk hidup saja. Janganlah kau menolak permintaanku!"

Hatiku merasa tergerak. Aku menggigil kalau membayangkan akibat yang mungkin terjadi kalau aku memenuhi permintaannya. Tapi aku juga merasakan adanya kebenaran dalam argumentasi yang dikemukakan olehnya. Ceritanya serta perasaan yang dilahirkannya membuktikan bahwa dia makhluk yang perasaannya baik. Dan bukankah aku sebagai pencipta berkewajiban memberikan kebahagiaan kepadanya, sesuai dengan kemampuanku?

Dia melihat perubahan perasaanku, serta meneruskan;

"Kalau kau setuju untuk memenuhi permintaanku, kau maupun manusia lainnya takkan melihat kami lagi. Kami akah pergi ke tengah rimba belantara di Amerika Selatan, Makananku tidak sama dengan makanan manusia. Aku tidak menyembelih kambing atau domba untuk memuaskan nafsu makanku. Biji-bijian dan buah-buahan sudah cukup untuk menjaga kelangsungan hidupku. Teman hidupku juga haruB punya kodrat yang sama dengan diriku, dan akan puas dengan makanan yang sama. Kami akan tidur di atas tumpukan daun kering. Matahari akan menyinari tubuh kami serta meranumkan makanan kami. Apa yang kulukiskan kepadamu penuh kedamaian dan cukup manusiawi. Kau harus sadar bahwa penolakanmu akan mengakibatkan bencana, dan itu karena kekejaman mu. Tapi kekejaman di matamu kini sudah berubah menjadi belas kasihan. Ijinkanlah aku memanfaatkan kesempatan yang baik ini untuk memohonmu agar mau berjanji memenuhi keinginanku."

"Kau bermaksud menyingkir dari masyarakat manusia," jawabku, "dan tinggal di tengah hutan rimba serta hidup bersama binatang Uar, Bagaimana kau akan bisa hidup terpencil, padahal selama ini mendambakan kasih sayang dan simpati manusia? Kau pasti akan kembali, dan sekali lagi menuntut kebaikan hati mereka. Dan kau akan mendapat sambutan kebencian seperti sebelumnya. Nafsu jahatmu pasti akan timbul kembali. Padahal kau sudah punya teman yang bisa membantumu melakukan tindakan pengrusakan. Aku mustahil akan bisa memenuhi keinginanmu. Berhentilah kau mengemukakan alasan, sebab aku takkan mau terbujuk."

"Sungguh tidak tetap pendirianmul Sesaat yang lalu hatimu sudah tergerak oleh kata-kataku. Mengapa sekarang hatimu menjadi keras kembali? Aku bersumpah kepadamu, demi bumi yang kudiami, dan demi kau yang telah membuat diriku, bahwa aku akan melakukan apa yang telah kujanjikan. Bersama teman hidup yang akan kauberikan kepadaku aku akan menyingkir dari kalangan manusia. Aku akan hidup di tengah alam yang paling liar. Nafsu jahatku pasti akan lenyap, sebab aku akan memperoleh simpati! Aku akan hidup dengan tenang, dan pada saat-saat kematianku aku tidak akan mengutuki penciptaku."

Kata-katanya menimbulkan pengaruh aneh atas diriku. ARu merasa kasihan kepadanya, dan kadang-kadang aku bahkan ingin menghiburnya. Tapi kalau aku melihat kepada rupa jasmaniahnya, kalau aku melihat makhluk buruk yang bergerak dan berbicara, hatiku merasa sakit dan perasaanku berubah menjadi ngeri serta penuh kebencian. Aku mencoba membunuh perasaan ini. Aku merasa bahwa aku tidak bisa berbelas kasihan kepadanya. Tapi aku tidak berhak menahan darinya sedikit kebahagiaan yang masih bisa kuberikan kepadanya.

"Kau bersumpah akan hidup dalam kedamaian/' kataku. "Tapi bukankah kau sudah memperlihatkan kejahatan sehingga aku tidak bisa percaya kepadamu? Tidak mungkinkah kalau pemenuhan keinginanmu akan kauanggap satu kemenangan, yang akan menyebabkan kau lebih bisa membalas dendam dalam daerah yang lebih luas?"

"Apa pula ini? Janganlah kau mengajukan alasan yang berbelit-belit. Aku hanya minta satu jawaban. Kalau aku tidak punya ikatan dan tidak mendapat

kari kasih sayang, maka bagianku adalah ke-bencian dan kejahatan. Kasih sayang yang ditujukan kepadaku akan melenyapkan sifat jahatku Aku akan menjadi makhluk pencinta perdamaian, tidak saling mengganggu dengan makhluk lainnya. Bahkan manusia takkan tahu bahwa aku ada di muka bumi ini. Kejahatanku hanya akibat kesen dirian yang sangat ku benci. Kebajikan pada diriku pasti akan bangkit kembali kalau aku hidup bersama dengan makhluk yang sama dengan diriku. Aku akan merasakan kasih sayang dari makhluk yang perasa, dan aku akan tersambung dengan rantai kehidupan yang sekarang putus dari diriku."

Aku berdiam diri be berapa waktu lamanya. Kurenungkan semua yang dikemukakannya dengan berbagai argumentasi. Kupikirkan janjinya akan membangkitkan kembali kebajikan yang telah diperlihatkan olehnya pada awal kehidupannya. Dulu semua kebaikannya lenyap karena rasa benci dan jijik yang dilemparkan kepadanya, dari orang-orang yang dianggapnya sebagai pelindung bagi dirinya.

Tapi kemampuan dan ancamannya juga tidak terlewatkan dalam pertimbanganku. Dia makhluk yang bisa hidup di dalam gua es, dan bisa bersembunyi di tebing karang yang tak terdaki oleh manusia. Dia makhluk yang memiliki banyak kelebihan, sehingga sangat sulit diperangi.

Setelah lama berpikir, akhirnya aku mengambil keputusan bahwa demi keadilan terhadap dirinya dan keselamatan bagi sesamaku aku harus memenuhi permintaannya. Maka aku menoleh kepadanya seraya berkata:

"Aku menyetujui tuntut an m u tapi dengan sumpah kau akan meninggalkan Eropa selama-lamanya. Kau harus menyingkir dari masyarakat manusia segera setelah kuserahkan ke tanganmu

perempuan yang akan menyertaimu dalam pengasingan.*'

"Aku bersumpah," serunya, "demi matahari, demi langit biru dan demi api cinta yang membakar hatiku, bahwa kalau kau meluluskan permohonanku, selama manusia hidup mereka takkan melihatku lagi. Kembalilah ke rumahmu dan mulailah bekerja. Aku akan memperhatikan kemajuan pekerjaanmu dengan ketaksabaran yang tak ada bandingannya. Dan jangan takut, setelah pekerjaanmu selesai barulah aku akan muncul."

Setelah mengatakan ini, tiba-tiba dia meninggalkanku. Rupanya dia takut jangan-jangan aku mengubah putusanku lagi. Kulihat dia menuruni gunung lebih cepat daripada burung elang yang menukik dari angkasa. Segera dia hilang dari pandangan di-tengah padang es yang tidak rata.

Ceritanya menghabiskan waktu sehari, dan mata hari sudah mulai masuk ke balik kaki langit waktu dia pergi. Aku harus segera turun ke lembah, sebab tidak lama lagi kegelapan malam akan turun. Tapi hatiku terasa berat dan langkahku lambat. Usaha untuk mendaki melalui jalan setapak yang melingkar-lingkar hampir-hampir menghabiskan tenagaku. Lebih-lebih pikiran dan perasaanku penuh dengan kejadian pada hari itu.

Hari sudah malam waktu aku melewati separuh jalan menuju ke rumah peristirahatanku. Aku berhenti dan duduk dekat pancuran. Kadang-kadang taburan bintang kelihatan di antara awan yang berarak. Pohon-pohon pinus yang hitam kelihatan di hadapanku, dan di sana-sini tampak pohon-pohon yang roboh ke tanah.

Pemandangan penuh ketenangan, serta membangkitkan perasaan aneh dalam hatiku. Aku menangis tersedu-sedu dengan kesedihan yang sangat dalam. Sambil menjalin jari-jemariku aku berseru:

"Oh! Bintang, awan dan angin, kalian datang untuk mengejekku. Kalau kalian kasihan kepadaku, lenyapkan perasaan dan ingatanku. Biarlah aku menjadi orang yang tidak memiliki semua itu. Tapi kalau tidak, tinggalkan aku. Tinggalkan aku, dan biarkan diriku diselubungi kegelapan."



0 Response to "Frankenstein"

Post a Comment

Translate

English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified