Download applikasi baca novel online untuk android disini: DOWNLOAD

Frankenstein

Ini pikiran orang yang kalap dan sangat menderita oleh kesedihan. Tapi aku tidak bisa melukiskan bagaimana bintang yang berkedip-kedip menyiksa hatiku, dan bagaimana desauan angin terdengar seperti badai yang akan datang untuk menyapu diriku.

Pagi, tiba sebelum aku sampai ke desa Chamounix. Tanpa beristirahat dulu, aku langsung pulang ke Jenewa. Bahkan-dalam hati aku tidak mampu melukiskan perasaanku sendiri. Hatiku terasa berat seperti dibebani sebuah gunung. Namun aku pulang ke rumah dan kembali menemui keluargaku.

Rupaku yang liar membangkitkan kekhawatiran mereka. Tapi aku tidak menjawab pertanyaan mereka, bahkan aku hampir-hampir tidak berbicara sama sekali. Aku merasa seakan tidak layak meminta belas kasihan mereka, seakan-akan aku sudah tidak bisa lagi menikmati kesenangan bergaul dengan mereka.

Tapi aku tetap mencintai mereka. Untuk menyelamatkan mereka, maka aku bersedia melakukan pekerjaan yang paling menjijikkan sekali lagi. Bayangan akan melakukan pekerjaan ini sekali lagi membuat hal lainnya seakan berlalu seperti mimpi. Hanya pikiran ingin menyelamatkan keluargaku sajalah yang bagiku merupakan kenyataan hidup.HAri demi hari dan minggu demi minggu berlalu setelah aku kembali ke Jenewa. Tapi aku masih belum bisa mengumpulkan keberanian untuk memulai pekerjaanku. Aku takut kepada pembalasan dendam iblis yang merasa kecewa, tapi aku tidak bisa mengatasi kengerian kepada pekerjaan menjijikkan yang harus kulakukan.

Kemudian ternyata aku tidak bisa membuat makhluk perempuan tanpa sekali lagi belajar dulu selama beberapa bulan. Aku mendengar bahwa seorang sarjana Inggris telah mencapai satu penemuan yang akan bermanfaat bagi pekerjaanku. Seringkah aku berpikir ingin minta ijin kepada ayah untuk pergi ke Inggris karena kepentingan ini.

Tapi aku tidak melewatkan setiap dalih untuk menunda pekerjaanku. Aku masih saja ngeri untuk memulai pekerjaanku, dan lama-lama keharusanku melakukan pekerjaan ini terasa tidak begitu mutlak lagi bagiku.

Memang telah terjadi perubahan dalam diriku. Kesehatanku yang belum lama ini sangat merosot, kini sudah hampir pulih sama sekali. Pikiranku pun kalau tidak terganggu oleh janji yang tidak menyenangkan ini sudah terasa ringan dan mulai pulih kembali.Ayah merasa sangat senang melihat perubahan pada diriku. Dia mulai memikirkan cara paling baik untuk mengusir sisa-sisa kesedihan yang masih kurasakan, sebab kadang-kadang kemurunganku masih sering kembali menggelapkan wajahku. Pada saat-saat aku diganggu kesedihan seperti itu, aku selalu pergi menyendiri. Beberapa hari lamanya aku menyendiri di tengah danau, naik sebuah perahu kecil. Aku melihat awan yang berarak atau mendengarkan suara riak air danau. Biasanya udara segar dan matahari yang cemerlang selalu bisa menenangkan kembali perasaanku. Kembaliku ke rumah selalu disambut dengan senyuman dan air muka yang lebih gembira dari seluruh keluargaku.

Suatu hari, waktu aku kembali dari pengembaraan seperti ini, ayah memanggilku. Diajaknya aku menjauhi lain-lainnya, dan dia berkata kepadaku:

"Anakku, aku gembira melihat kesehatan dan kegembiraanmu sudah pulih kembali. Tapi kau kulihat masih belum merasa bahagia, dan seringkah menghindari kami semua. Lama sekali aku bingung memikirkan apa kira-kira penyebabnya. Tapi kemarin satu gagasan melintas dalam otakku. Karena gagasanku punya landasan yang kuat, maka kuharap kau mau mengakuinya. Menyedihkan satu hal bukan saja tak ada gunanya, tapi juga membuat kita semua merasa sengsara.*'

Aku gemetar mendengar kata-kata ayah, dan dia meneruskan:

"Kuakui, Nak, bahwa aku selalu mengharapkan kau akan segera mengikat tali perkawinan dengan Elizabeth. Itu akan mengeratkan hubungan kekeluargaan antara kita, dan merupakan penghiburan bagiku pada saat-saat akhir hayatku. Kalian sudah saling menyinta sejak masih kanak-kanak. Kalian belajar bersama-sama, dan dalam hal selera maupun perangai kalian cocok antara satu dengan lainnya. Tapi sungguh buta manusia, kalau yang kuanggap sebagai hal yang baik bagi pelaksanaan rencanaku ternyata merupakan hal yang bisa menghancurkannya. Mungkin kau menganggap dia sebagai adikmu, tanpa keinginan untuk memperis-terikannya. Tidak, bisa jadi kau bertemu dengan gadis lain yang kaucintai. Dan karena kau merasa ada ikatan dengan Elizabeth, maka pergolakan dalam jiwamu selalu membuat dirimu senantiasa terganggu kesedihan."

"Ayah, yakinlah bahwa aku mencintai saudara sepupuku dengan penuh kasih sayang dan ketu us an hati. Aku belum pernah menemukan wanita yang lebih kucintai daripada Elizabeth. Harapan masa depanku sama sekali tergantung dari ikatan antara kami berdua."

"Pernyataanmu tentang hal ini membuatku sangat gembira, Victor, melebihi semua kegembiraan yang pernah kurasakan. Kalau memang demikian perasaanmu, pasti kita semua akan berbahagia, walaupun peristiwa yang belum lama terjadi masih membuat kita semua murung. Memang kemurungan inilah, yang sering tampak pada wajahmu, yang ingin segera kulenyapkan. Cobalah katakan, apakah kau keberatan kalau pernikahanmu segera kita laksanakan. Kita baru saja tertimpa kemalangan, dan peristiwa yang belum lama terjadi telah merenggutkan ketenangan yang seharusnya kurasakan pada usiaku yang sudah lanjut ini. Kau masih muda. Tapi di segi materi atau bekal hidup kau tidak punya kekhawatiran apa-apa. Jadi kurasa perkawinan dalam usia muda takkan berakibat apa-apa bagi rencana masa depanmu, atau kedudukan yang ingin kaucapai. Tapi janganlah kau menganggap aku ingin mendiktekan kebahagiaanmu. Demikian juga penundaan sedikit takkan berakibat yang serius bagiku. Tafsirkan lah kata-kataku dengan hati tulus. Dan kuharap kau mau menjawab dengan jujur pula."

Aku mendengarkan kata-kata ayah sambil ber diam diri. Beberapa waktu lamanya aku tidak bisa memberikan jawaban. Aku memeras otak untuk berusaha mendapatkan satu keputusan. Aduh! Gagasan untuk menikah dengan Elizabeth dalam waktu dekat sangat mengerikan bagiku. Aku masih terikat dengan satu janji yang harus kupenuhi. Aku tidak berani melanggar janjiku, sebab pasti bencana dan kesedihan yang luar biasa akan menimpa keluargaku yang tercinta!

Dapatkah aku memasuki upacara perkawinan dengan beban yang memberatkan masih tergantung di leherku, serta; membungkukkan tubuh ku ke tanah? Aku harus memenuhi janjiku dulu serta membiarkan makhluk ini pergi dengan teman hidupnya, sebelum aku mengharapkan ketenangan untuk menikmati ikatan perkawinanku.

Aku juga teringat dengan hal-hal yang harus kulakukan sebelum aku mulai bekerja. Aku harus pergi ke Inggris, atau melakukan s urat menyurat dengan para sarjana di negeri itu, yang pengetahuan dan penemuannya sangat kuperlukan.

Cara surat-menyurat untuk mendapatkan pengetahuan yang ingin kuperoleh tidak begitu memuas kanku. Lagipula aku sama sekali tidak ingin mela kukan pekerjaan yang menjijikkan ini di rumah ayahku, yang didiami oleh orang-orang yang paling kucintai.

Aku sadar bahwa akan terjadi banyak peristiwa yang menakutkan. Dan kalau perbuatanku ketahuan sedikit saja, tentu mereka yang melihatnya akan merasa sangat ngeri. Aku juga sadar bahwa di rumah aku takkan mendapat kebebasan penuh. Padahal dalam melakukan pekerjaan ini aku harus menyendiri, untuk menyembunyikan perasaanku selama aku menangani segala hal yang menjijikkan.

Aku harus menjauhi semua orang yang kucintai selama menunaikan tugasku. Setelah pekerjaanku selesai, dan pasti akan segera bisa kuselesaikan, baru aku kembali ke tengah keluargaku untuk me-, nikmati rasa damai dan bahagia. Setelah janjiku kupenuhi, makhluk buruk ini akan pergi untuk selama-lamanya. Atau lebih baik lagi kalau sementara itu terjadi peristiwa yang akan menyebabkan makhluk ciptaanku binasa, dan akan terbebaslah diriku dari perbudakan untuk selama-lamanya.

Perasaan ini mendorongku untuk menetapkan satu jawaban untuk pertanyaan ayahku. Aku menerangkan ke-padanya bahwa aku ingin melancong ke Inggris. Tapi aku menyembunyikan alasan se-I benarnya mengapa aku ingin pergi ke sana. Aku mengemukakan dalih yang kira-kira tidak akan mencurigakan, tapi juga aku menekankan keinginanku dengan sungguh-sungguh supaya ayah menyetujuinya.

Beberapa saat lamanya berlalu dengan penuh ketegangan bagiku. Akhirnya ayah menyatakan gembira kalau aku akan menemukan kesenangan karena perjalanan yang akan kulakukan. Dia berharap semoga perubahan suasana dan kesenangan yang akan kualami akan baik akibatnya bagiku. Dia mengharapkan kembaliku kelak aku sudah pulih kembali kepada sifat periangku seperti sediakala.

Berapa lamanya aku pergi terserah kepada pertimbanganku sendiri: mungkin selama beberapa bulan, atau kalau perlu setahun. Karena kasih sayangnya yang kebapakan, ayah menetapkan agar aku pergi bersama seorang teman. Tanpa memberitahukan lebih dulu kepadaku, atas persetujuan Elizabeth maka Clerval akan menemani perjalananku mulai dari Strasbourg.

Hal ini bertentangan dengan keinginanku me nyendiri selama aku menyelesaikan pekerjaanku. Tapi dalam perjalanan, kehadiran seorang teman sama sekali tidak merupakan penghalang. Bagiku bahkan ada segi keuntungannya, yaitu aku takkan merasa kesepian serta takkan terganggu oleh perasaan yang bisa membuatku menjadi gila rasanya.

Clerval bahkan akan bisa menghalangi musuhku yang mungkin akan datang mengganggu. Kalau aku seorang diri, bukankah sesekali makhluk buruk ini akan memperlihatkan rupanya yang menjijikkan? Bukankah dia sudah berjanji akan mengawasi kemajuan pekerjaanku, serta mengingatkanku agar aku memulai pekerjaaanku?

Maka aku pun melakukan perjalanan ke Inggris. Kami sudah sepakat bahwa pernikahanku dengan Elizabeth akan dilangsungkan segera setelah aku kembali. Usia ayahku yang sudah lanjut tidak mengijinkan adanya penundaan lagi. Bagi diriku sendiri, aku menjanjikan satu imbalan setelah ku-selesaikan pekerjaanku yang menjijikkan — yaitu terbebasnya diriku dari rasa tertekan yang kuderita. Setelah aku bebas dari perbudakan diriku yang menyedihkan ini, aku bisa hidup bersama Elizabeth sebagai suami-isteri serta melupakan kese dihan masa lampauku.

Sebelum berangkat aku membuat beberapa per siapan untuk melakukan perjalanan. Tapi selalu saja satu perasaan menghantuiku, serta mengisi hatiku dengan rasa takut dan khawatir. Selama aku pergi, keluargaku tidak sadar bahwa ada musuh yang mengancam keselamatan mereka. Mereka juga tanpa perlindungan terhadap serangannya, yang mungkin akan dilakukan setelah aku berangkat.

Tapi dia sudah berjanji akan mengikutiku ke mana saja aku pergi. Tidakkah dia akan mengikutiku ke Inggris? Bayangan ini sangat mengerikan, tapi juga menenangkan diriku kalau mengingat kese lama tan keluargaku. Aku sangat menderita memikirkan mungkin akan terjadi peristiwa yang berlawanan dengan dugaanku.

Walaupun demikian, selama aku menjadi budak makhluk ciptaanku sendiri, aku membiarkan diriku diperintah oleh dorongan impuls yang kurasakan pada saat itu. Dan pada saat itu besar dugaanku bahwa si iblis akan mengikutiku. Maka keluargaku sementara bebas dari perbuatan jahatnya.

Pada akhir bulan September sekali lagi aku meninggalkan kampung halamanku. Perjalanan ini atas usulku sendiri, yang disetujui oleh Elizabeth. Tapi dia merasa khawatir memikirkan penderitaan yang kurasakan. Lebih-lebih aku akan jauh dari dia yang selalu menghiburku.

Atas desakan Elizabeth pula maka Clerval disuruh menemaniku dalam perjalanan. Tapi seorang pria buta dari ribuan peristiwa kecil yang takkan terlewatkan oleh perhatian seorang wanita. Elizabeth mengharapkan agar aku lekas kembali. Ribuan perasaan yang saling bertentangan membuatnya membisu waktu dia mengucapkan selamat jalan kepadaku dengan air mata bercucuran.

Aku menghenyakkan diri di tempat duduk kereta yang kunaiki. Aku hampir-hampir tidak tahu ke mana aku akan pergi, serta tidak peduli dengan yang terjadi di sekelilingku. Aku hanya teringat dengan perasaan getir telah memerintahkan agar alat-alat kimiaku dipak untuk kubawa.

Penuh dengan bayangan yang mengerikan, aku melewati alam yang indah dengan mata hampa dan tidak mampu melihat apa-apa. Aku hanya bisa memikirkan tujuan perjalananku serta pekerjaan yang harus kulakukan.

Beberapa hari berlalu tanpa perbuatan apa-apa sementara aku menempuh perjalanan. Akhirnya aku sampai ke Strasbourg, dan di sana aku menunggu kedatangan Clerval selama dua hari.

Dia pun datang. Aduh! Betapa besarnya perbedaan antara dia dengan aku! Dia penuh gairah hidup. Dia gembira menyaksikan matahari terbenam, dan lebih gembira lagi menyaksikan matahari terbit esoknya sebagai permulaan hari baru.

Clerval menunjukkan kepadaku warna alam yang berubah-ubah serta keindahan warna langit. "Untuk inilah kita hidup," katanya. "Sekarang aku benar-benar bisa menikmati kehidupan! Tapi kau, sahabatku Frankenstein yang tercinta, mengapa kau selalu murung dan berdukacita?"

Memang aku selalu dikuasai oleh kesedihan. Aku bahkan tidak bisa melihat turunnya bintang senja atau bayangan matahari yang keemasan di permukaan air sungai Rhine. Dan kau, sahabatku, pasti akan lebih senang membaca catatan Clerval. Dia melihat pemandangan alam dengan mata perasaannya. Sedangkan aku selalu dibutakan oleh bayangan yang ada dalam pikiranku. Aku makhluk malang yang dihantui kutukan, dan tertutup dari setiap kesenangan.

Kami sepakat untuk menghiliri sungai Rhine dengan perahu dari Strasbourg ke Rotterdam. Dari sana kami bisa naik kapal ke London. Dalam perjalanan ini kami melalui beberapa pulau yang penuh ditumbuhi pohon-pohon rindang, serta melihat beberapa buah kota yang indah.

Di Mannheim kami singgah sehari, dan pada hari kelima sejak keberangkatan kami dari Strasbourg kami sampai ke Mainz. Mulai dari Mainz pemandangan di kiri kanan sungai Rhine semakin indah.

Arus sungai lebih deras serta berkelok-kelok di antara bukit-bukit. Bukit-bukit ini tidak tinggi, tapi lerengnya terjal serta bentuknya indah.

Kami melihat banyak sekali runtuhan kastil, tegak berdiri di tebing-tebing karang. Kastil yang menjulang tinggi ini dikelilingi oleh hutan yang menghitam karena lebatnya. Bagian sungai Rhine di sini memang penuh pemandangan yang paling unik dan paling indah. Di satu tempat tampak bukit-bukit yang kasar dengan kastil di tepi tebing curam, dan di bawahnya mengalir air sungai Rhine yang deras. Kemudian di balik satu belokan tiba-tiba kelihatan kebun anggur yang subur, tepi sungai yang hijau dan landai, air sungai yang tenang serta kota yang permai.

Waktu itu kebetulan sedang musim panen anggur. Di mana-mana kami mendengar nyanyian merdu para pekerja yang sedang menuai anggur, sementara kami terus meluncur mengikuti arus. Bahkan aku sendiri yang sedang menderita tekanan batin dan menderita kesedihan, waktu itu turut merasa gembira.

Aku berbaring di atas dasar perahu. Sambil menatap langit biru yang tak berawan, aku merasa seakan sedang mereguk ketenangan yang lama tidak kurasakan. Dan kalau perasaanku saja sudah begini, siapa yang akan bisa melukiskan perasaan Clerval?

Clerval merasa seperti sedang mengembara di negeri dongeng, dan sedang menikmati kebahagiaan yang tidak pernah dikecap oleh manusia.

"Aku sudah melihat pemandangan paling indah di negeriku," katanya. "Aku sudah pernah pergi ke danau Lucerne dan Uri. Di sana lereng gunung bersalju seakan tegak lurus turun langsung ke air. Bayangannya yang hitam tampak suram. Untunglah di dekatnya ada pulau yan$ hijau §ubur, raenyegarkan pandangan mata. Aku pernah melihat danau ini dilanda badai. Ombak bergulung-gulung seperti gelombang samudera. Ombak ini memecah ke kaki gunung, melimbur dan menenggelamkan seorang pendeta dengan isterinya. Kabarnya sampai sekarang di waktu malam suara jeritan mereka masih sering terdengar di antara desauan angin.

"Aku sudah pernah melihat gunung La Valaisdan Pays de Vaud. Tapi negeri ini, Victor, bagiku lebih mempesona daripada semua keindahan yang pernah kusaksikan. Gunung di Switzerland lebih hebat dan unik, tapi tepi sungai di sini memiliki pesona yang tak ada taranya. Lihatlah kastil yang menjulang tinggi di tebing-tebing karang. Juga pulau-pulau yang hampir tertutup seluruhnya dengan pohon-pohonan, dan kastilnya tersembunyi di balik daun-daun hijau. Dan sekarang perhatikan rombongan pekerja yang bermunculan dari tengah kebun anggur. Dan desa yang" setengah tersembunyi di balik pegunungan. Ah, pasti roh halus yang menjaga tempat ini punya hubungan yang lebih serasi dengan manusia, daripada roh halus yang bersembunyi di puncak-puncak gunung es yang tak ter-daki di negeri kita sendiri."

Clerval! Sahabatku yang tercinta! Bahkan sekarang pun aku merasa senang sekali mengulangi kata-kata pujian yang kauucapkan! Dia adalah manusia yang jiwanya sangat puitis. Imajinasinya yang penuh warna diperindah oleh hatinya yang peka. Jiwanya penuh rasa kasih sayang, dan kesetiaannya kepada sahabat hampir-hampir seperti khayalan dalam buku cerita. Tapi simpati sesama manusia masih belum cukup baginya. Pemandangan alam yang bagi orang lain hanya merupakan sasaran kekaguman, dicintainya dengan sepenuh hati.Setelah melewati Cologne, kami turun dan terus melintasi dataran rendah Negeri Belanda. Perjalanan selanjutnya kami tempuh melalui daratan, sebab angin datang dari arah yang berlawanan dan arus terlalu tenang sehingga tidak cukup kuat untuk mendorong perahu kami.

Dalam perjalanan ini kami tidak lagi melihat pemandangan indah. Tapi beberapa hari kemudian kami sudah sampai ke Rotterdam, dan dari sana kami naik kapal ke Inggris. Di akhir bulan Desember kami sampai.

Pagi sangat cerah waktu pertama kali kami me lihat tebing-tebing karang Britania yang putih. Tepi sungai Thames memiliki pemandangan yang lain daripada yang telah kami lihat. Tanah di situ rata, tapi sangat subur. Setiap kotanya selalu mengingatkanku akan satu cerita yang pernah kubaca.

Kami melihat Tilbury Fort dan teringat akan Armada Spanyol; Gravesend, Woolwich dan Greenwich — semua tempat-tempat yang sudah pernah kudengar bahkan di negeriku sendiri.

Akhirnya kami melihat menara kota London yang tak terhitung banyaknya. Yang tertinggi menara gereja Saint Paul, menara yang paling terkenal dalam sejarah Inggris.. London sementara ini merupakan tujuan kami. Kami bermaksud tinggal selama beberapa bulan di kota yang hebat dan sangat terkenal ini. Clerval sangat berhasrat menemui beberapa orang yang bakat maupun kepandaiannya paling menonjol pada waktu ini. Tapi bagiku itu merupakan tujuan kedua.

Aku terutama punya kesibukan mengumpulkan informasi yang kubutuhkan sebagai sarana untuk memenuhi janjiku. Aku segera menggunakan surat-surat pengantar yang kubawa, yang dialamatkan kepada para sarjana ilmu pengetahuan alam terkemuka.

Seandainya perjalanan ini kulakukan dulu waktu aku masih menuntut pelajaran dan belum dirundung kemalangan, pasti aku akan merasa sangat senang. Tapi kini aku hanya menemui orang-orang yang bisa memberiku informasi tentang hal-hal -** yang sekarang sangat kubenci.

Tapi suara Clerval bisa melembutkan hatiku. Bersama dia, aku bisa merasakan ketenangan walaupun hanya bersifat sementara. Tapi melihat muka orang lain yang penuh kesibukan atau kegembiraan membuat hatiku merasa sedih kembali Aku sadar bahwa ada tembok pemisah yang sangat tinggi antara aku dengan manusia sesamaku. Tembok pemisah ini ditandai dengan darah William dan Justine. Dan ingatan kepada peristiwa yang bertalian dengan nama mereka selalu membuat hatiku merasa sangat menderita.

Tapi dalam diri Clerval aku melihat gambaran diriku sendiri pada masa sebelum ditimpa kemalangan. Dia punya hasrat besar untuk mencari pengalaman dan menuntut pelajaran. Baginya watak manusia yang berbeda-beda merupakan sumber pelajaran dan pengamatan yang menyenangkan. Dia juga bercita-cita ingin pergi ke India. Dia yakin telah menguasai bahasanya, dan pelaksanaan keinginannya bisa dengan cara membantu kemajuan kolonialisasi dan perniagaan Eropa.

Kunjungan ke Inggris ini dimanfaatkannya untuk mengusahakan pelaksanaan rencananya. Dia selalu sibuk, dan yang menahan kegembiraan hatinya hanyalah perasaanku yang selalu penuh kesedihan.

Sebenarnya aku selalu berusaha menyembunyikan perasaanku. Aku tidak ingin menghalangi kesenangannya yang wajar sebagai seorang yang baru memasuki dunia kehidupan, dan belum terganggu oleh kesedihan atau kenangan pahit. Aku seringkah tidak mau menemaninya, dengan dalih aku punya urusan sendiri. Padahal tujuan sebenarnya ialah agar aku bisa menyendiri.

Kini aku juga sudah mulai bisa mengumpulkan bahan yang kuperlukan untuk mengerjakan cip-taanku yang baru. Sedangkan pekerjaan itu sendiri bagiku merupakan siksaan yang tak ada habis-ha bisnya. Setiap pikiran yang kutujukan kepada soal ini selalu mendatangkan penderitaan paling pedih, dan setiap kata yang kuucapkan membuat bibirku gemetar serta hatiku berdebar-debar.

Setelah tinggal selama beberapa bulan di London, kami menerima sepucuk surat dari Skotlandia. Pengirimnya ternyata orang yang pernah menjadi tamu kami di Jenewa. Dia menceritakan keindahan negeri kelahirannya, serta mengundang kami untuk mengunjungi Perth, kota tempat tinggalnya.

Dengan penuh hasrat Clerval menyambut baik undangan ini. Aku sendiri sebenarnya segan bergaul dengan orang lain. Tapi aku juga ingin melihat kembali gunung dan sungai serta keindahan alam di sana yang sangat terkenal.

Sekarang sudah bulan Pebruari. Kami meren canakan untuk memulai perjalanan kami ke utara pada akhir bulan depan. Dalam perjalanan ini kami tidak bermaksud mengambil jalan raya yang menuju ke Edinburgh. Kami akan mengunjungi Windsor, Oxford, Matlock serta danau-danau di Cumberland. Kami bermaksud melakukan pengem baraan sampai akhir bulan Juli.

Aku mengepak alat-alat kimia beserta bahan yang sudah kukumpulkan. Aku bertujuan menyelesaikan pekerjaanku di sebuah tempat terpencil di pegunungan utara Skotlandia.

London kami tinggalkan pada tanggal 27 Maret. Di Windsor kami singgah beberapa hari, menjela jahi hutannya yang indah. Hutan ini merupakan pemandangan yang baru bagi kami, para pendaki gunung. Kami sangat takjub melihat pohon eik besar-besar, binatang buruan yang tak terhitung banyaknya serta rombongan rusa yang sangat banyak.

Dari sana kami terus pergi ke Oxford. Waktu kami memasuki kota, kami segera teringat kepada peristiwa yang terjadi di situ satu setengah abad berselang. Di situlah Charles Pertama mengumpulkan pasukannya. Penduduk kota ini tetap setia kepadanya, walaupun seluruh bangsa meninggalkannya untuk mengikuti ketentuan Parlemen dan tuntutan kemerdekaan.

Kenangan kepada raja yang malang ini beserta teman-temannya, Falkland yang ramah, Goring yang pemalas, permaisuri serta anaknya, meninggalkan kesan pada beberapa bagian kota di tempat-tempat yang diduga pernah mereka diami. Peninggalan masa lampau ini masih banyak terdapat, dan dengan rasa senang kami menapaki jejaknya kembali.

Walaupun tanpa ini semua, keindahan kota ini memang sudah cukup mengagumkan. Gedung-gedung perguruan tinggi yang terdapat di situ bentuknya kuno dan indah. Jalan-jalannya lebar dan bagus. Sungai Isis yang indah mengalir di tengah padang rumput dan tanaman hijau, terus melalui kota yang penuh menara dan kubah di antara pohon-pohonan yang sudah tua dan besar-besar.

Aku senang Bekali melihat pemandangan di situ. Tapi masih saja kegembiraanku diracuni oleh kenangan pahit masa lalu serta bayangan gelap masa depan.

Sebenarnya aku punya pembawaan yang cocok untuk kebahagiaan yang penuh ketenangan. Di masa kanak-kanakku aku tidak pernah merasa kecewa. Rasa bosan belum pernah menguasaiku. Aku menyukai keindahan, dan apa saja yang merupakan hasil ciptaan manusia selalu menarik hatiku.

Tapi aku seperti pohon yang disambar petir. Jiwaku sudah hangus. Dan aku merasa bahwa aku hanya hidup untuk mengalami kesedihan. Aku akan menjadi orang yang pribadinya hancur, tak tertahankan bagiku dan memilukan bagi orang lain.

Kami agak lama tinggal di Oxford. Kami mengembara ke mana-mana, serta berusaha mengenali setiap tempat yang ada hubungannya dengan sejarah Inggris. Penemuan yang kami dapatkan dalam pengembaraan ini seringkah menyebabkan keberangkatan kami untuk meneruskan perjalanan jadi tertunda.

Kami mengunjungi makam Hampden dan ladang tempat pahlawan ini gugur. Sesaat terlupakan olehku rasa takut yang menyedihkan, dan aku ganti merenungkan pengorbanan diri demi kemerdekaan yang dikesankan oleh monumen ini. Sesaat aku berani melemparkan rantai yang membelenggu diriku, serta melihat berkeliling dengan semangat hidup yang lebih tinggi. Namun besi belenggu sudah melukai dagingku. Aku roboh kembali, gemetar dan tidak berdaya, kembali menjadi orang yang menyedihkan.

Oxford kami tinggalkan pula, dan kami terus ke Mattock, tempat perhentian kami berikutnya. Daerah di sekitar desa ini agak mirip pemandangan di Switzerland. Bedanya hanya di situ segala-galanya lebih rendah. Pegunungannya juga ditumbuhi pohon pinus, tapi puncaknya tidak diselimuti salju seperti pegunungan Alpen.

Kami mengunjungi gua-gua yang indah, peninggalan sejarah alam. Di situ keadaannya mirip dengan di Servox dan Chamounix. Nama Chamounix yang disebutkan oleh Clerval membuatku gemetar. Aku lalu segera mengajaknya meninggalkan Matlock.

Dari Derby kami masih menuju ke utara, dan kami tinggal selama dua bulan di Cumberland dan Westmorland. Kini aku hampir-hampir merasa seakan sedang berada di pegunungan Swiss. Lapisan salju yang tampak di sana-sini di lereng utara pegunungan merupakan pemandangan yang sangat kukenal. Demikian juga danau-danaunya serta anak sungai yang mengalir deras di antara batu-batu karang. Di situ pun kami menemukan beberapa hal yang hampir membuatku merasa bahagia.

Tapi kegembiraan Clerval jauh lebih besar daripada kegembiraanku. Alam pikirannya menjadi lebih luas karena pergaulan dengan orang-orang berbakat. "Aku bisa melewatkan sisa hidupku di sini," katanya kepadaku. "Di tengah-tengah pegunungan ini aku tidak lagi merindukan Switzerland dan sungai Rhine."

Ternyata dia tidak bisa mempertahankan pen-* dapatnya. Jarang ada pengembara yang bisa mencintai satu tempat untuk selama-lamanya. Dia segera pula tertarik kepada tempat lain, dan itu pun kemudian ditinggalkan pula untuk mencari keindahan baru.

Kami belum rata menjelajahi semua danau di Cumberland dan Westmorland, dan saat pertemuan yang kami janjikan dengan sahabat Skot ini sudah tiba. Maka kami pun meneruskan perjalanan pula.

V Aku sendiri tidak menyesal meninggalkan daerah yang berdanau-danau ini. Aku sudah cukup lama melupakan janjiku, dan aku takut jangan-jangan kekecewaan si iblis menimbulkan akibat yang tidak baik. Siapa tahu dia tetap tinggal di Switzerland, dan membalaskan dendamnya kepada keluargaku.

Pikiran ini memburu dan menyiksaku, sehingga aku tidak bisa lagi beristirahat dan menikmati kedamaian. Dengan tidak sabar aku menunggu keda-- tangan surat-suratku. Kalau surat yang kutunggu datangnya terlambat, seribu satu rasa takut mencengkamku. Dan kalau surat tiba dan aku melihat tulisan Elizabeth atau ayah, aku hampir-hampir tidak berani membaca dan meyakinkan nasibku.

Kadang-kadang aku merasa seakan si iblis mengikutiku, serta mengingatkan kelalaianku dengan membunuh teman perjalananku. Kalau pikiran ini melintas pada otakku, aku tidak mau meninggalkan Clerval barang sesaat. Aku ingin melindunginya dari kemarahan iblis perusak ini. Aku merasa seperti orang yang melakukan kejahatan besar, dan perasaan ini selalu menghantuiku. Aku sama sekati tidak bersalah, tapi aku telah mendatangkan kutukan yang mengerikan terhadap diriku seperti pelaku kejahatan.

Aku mengunjungi Edinburgh dengan mata dan pikiran lemah. Namun kota ini cukup mampu raem-pesona manusiayang paling celaka di dunia. Clerval tidak begitu menyukainya seperti dia menyukai Oxford. Baginya ketuaan kota Oxford lebih menarik dan menyenangkan.

Walaupun demikian keindahan dan keberesan kota Edinburgh merupakan pergantian suasana, menarik kekagumannya. Kastil-kastilnya sangat romantis dan paling indah di dunia. Petilasan Raja Arthur, Mata air Saint Bernard dan Bukit Pentland juga tidak kurang indahnya. Tapi aku sudah tidak sabar, ingin segera sampai ke tempat tujuan. •

Seminggu kemudian kami meninggalkan Edinburgh. Kami melalui Coupar, Saint Andrew, serta menyusuri tepi sungai Tay menuju ke Perth. Di sana sahabat kami sudah menunggu. Tapi aku tidak punya selera untuk tertawa dan bercakap-cakap dengan orang asing, seperti lazimnya seorang tamu mengharapkan keramahan tuan rumah. Maka aku menyatakan keinginanku kepada Clerval untuk menjelajahi Skotlandia seorang diri.

"Kau kupersilakan menyenang-nyenangkan dirimu sendirian," kataku, "dan mari kita tetapkan rumah sahabat kita ini sebagai tempat pertemuan. Ijinkan aku pergi selama satu atau dua bulan. Tapi kuminta kepadamu janganlah kau mengganggu urusanku. Biarkan aku menyendiri dan menikmati ketenangan sebentar. Setelan aku kembali, kuharap hatiku sudah terasa ringan, dan lebih cocok dengan perangaimu." Clerval ingin melarang keinginanku. Tapi demi melihat bahwa tekadku sudah bulat, dia mengurungkan maksudnya. Dia mendesakku agar sering menulis surat kepadanya.

"Aku lebih suka mengembara bersamamu," katanya, "daripada bersama orang Skot yang belum kukenal. Segeralah kau kembali, Sahabatku, supaya aku merasa senang kembali. Aku takkan merasa * senang selama berpisah denganmu."

Setelah berpisah dengan sahabatku, aku ingin pergi ke tempat yang paling terpencil di Skotlandia untuk menyelesaikan pekerjaanku sendirian. Aku tidak ragu-ragu lagi bahwa makhluk ini terus mem-buntutiku. Dia akan memperlihatkan diri setelah aku menyelesaikan pekerjaanku, supaya dia bisa menerima teman hidupnya.

Dengan tujuan ini aku pergi ke pegunungan utara. Aku memilih tempat di salah satu pulau yang terjauh dari kepulauan Orkney. Tempat yang kupilih sangat cocok untuk melakukan pekerjaan yang akan kuselesaikan. Hampir-hampir tempatku hanya merupakan sebungkal besar batu karang, yang sisinya selalu dihantam gelombang. Tanahnya tandus, dengan padang rumput yang hampir-hampir tidak mencukupi untuk memberi hidup beberapa sapi kurus. Ladangnya juga tidak menghasilkan gandum cukup untuk penghuni pulau yang tidak lebih dari 4 lima orang. Penghuni pulau ini juga kurus-kurus, menandakan bahwa mereka kurang makan. Sayur-mayur, roti dan air tawar didatangkan dari daratan yang jauhnya sekitar tujuh kilometer dari pulau.

Di pulau ini hanya ada tiga buah pondok buruk. Salah satu di antaranya kosong waktu aku datang. Pondok ini kusewa. Di dalamnya hanya terdiri atas dua kamar. Keadaannya kotor, serta menunjukkan kemelaratan yang menyedihkan. Atapnya sudah runtuh di sana-sini, temboknya tidak dikapur dan pintunya berlepakan dari engselnya.

Aku memerintahkan agar pondok ini diperbaiki dan kubeli beberapa perabotan. Apa yang kulakukan pasti membuat penghuni pulau merasa heran, kalau perasaan mereka belum mati karena kekurangan dan kemiskinan. Selanjutnya mereka tidak pernah memperhatikan maupun mengusikku. Mereka bahkan hampir-hampir tidak mengucapkan terima kasih atas pemberianku yang berupa makanan sedikit dan pakaian kepada mereka. Sampai sejauh itulah penderitaan menumpulkan perasaan manusia.

Dalam pengasinganku ini aku bekerja di pagi hari. Di sore hari, kalau cuaca mengijinkan, aku berjalan-jalan di pantai karang untuk mendengarkan ombak memecah di bawah kakiku. Pemandangan di sekelilingku membosankan, walaupun selalu berubah-ubah.

Aku teringat kembali kepada Switzerland. Pemandangan di sana jauh berbeda dengan di tempat terpencil yang gersang ini. Di sana bukit-bukitnya penuh kebun anggur, dengan pondok yang lebih banyak tersebar di dataran rendah. Permukaan danaunya yang jernih membayangkan langit biru. Kalau tertiup angin, ombaknya hanya seperti riak yang timbul karena airnya dipermainkan anak kecil, kalau dibandingkan dengan gelombang samudera di sini.

Karenanya maka aku segera mulai bekerja setelah aku menempati pondok. Tapi semakin aku memperoleh kemajuan, pekerjaanku menjadi semakin mengerikan dan membosankan. Kadangkala aku tidak berhasil menguatkan hatiku untuk masuk ke dalam laboratorium selama beberapa hari. Dan pada kesempatan lainnya aku bekerja siang-malam untuk mengejar ketinggalan dan kerugian waktu. Pekerjaan yang kulakukan memang sangat menjijikkan. Waktu pertama kali aku melakukannya dulu, semangatku yang hampir seperti orang keranjingan membutakan diriku dari kengerian kepada perbuatanku. Pikiranku tertuju kepada hasil kerjaku, dan mataku tertutup dari kengerian atas pekerjaan yang kulakukan. Tapi sekarang aku seringkah merasa ngeri sendiri kepada apa yang * sedang kutangani.

Karena keadaan itu semua, maka perasaanku juga tidak sama seperti dulu. Aku melakukan pekerjaan yang menjijikkan. Suasana di sekitarku membosankan. Aku seorang diri, dan tidak ada selingan yang bisa mengalihkan perhatianku dari suasana di dalam ruang kerjaku. Semua menyebabkan aku menjadi terganggu oleh perasaan khawatir dan gelisah.

Setiap saat aku merasa takut bertemu dengan , makhluk yang menuntut pemenuhan janjiku. Kadang-kadang aku duduk dengan mata tertuju ke tanah. Aku takut jangan-jangan kalau kuangkat kepalaku, aku akan melihat makhluk yang menakutkan ini. Aku takut menjauhi manusia sesamaku, jangan-jangan kalau aku seorang diri makhluk ini akan datang meminta teman hidup yang kujanjikan kepadanya.

Sementara itu aku bekerja terus, dan kemajuan ^ yang kucapai sudah kelihatan. Aku berharap akan segera menyelesaikannya, tapi aku tidak berani membayangkan bencana yang akan terjadi, yang sudah mulai tampak samar-samar dan memedihkan hatiku. ********

Bab 20.

SUATU malam aku duduk dalam laboratorium. Matahari sudah lama terbenam, tapi bulan baru saja muncul dari tepi samudera. Sinar lampu yang kumiliki tidak cukup untuk menerangi pekerjaanku. Maka aku duduk tanpa melakukan apa-apa. Aku sedang mempertimbangkan apakah aku akan berhenti atau terus bekerja.

Waktu aku duduk sambil termenung ini, tiba-tiba sebuah pikiran terlintas dalam otakku. Pikiran ini mendorongku untuk meninjau akibat yang bisa terjadi karena pekerjaan yang kulakukan.

Tiga tahun yang lalu aku melakukan pekerjaan yang sama. Aku menciptakan iblis yang kekejamannya tanpa tandingan, yang menyebabkan hatiku penuh penyesalan yang paling getir serta hidupku sangat menderita.

Sekarang aku sedang menciptakan makhluk semacam itu satu lagi, yang sifat-sifatnya belum kuketahui. Bisa jadi kejahatannya akan sepuluh ribu kali lipat dari temannya. Mungkin dia akan lebih suka membunuh dan menimbulkan bencana.

Makhluk yang telah kuciptakan memang sudah bersumpah mau meninggalkan kalangan manusia dan bersembunyi di tengah padang belantara. Tapi calon teman hidupnya ini belum menjanjikan apa-apa. Besar kemungkinannya makhluk yang belum jadi ini akan lebih pintar dan cerdas. Mungkin dia akan menolak persetujuan yang telah dibuat sebelum dia diciptakan.

Mereka mungkin juga akan saling membenci. Makhluk yang sudah jadi saja membenci rupanya sendiri yang buruk. Apakah mustahil kalau dia akan merasa jijik melihat makhluk perempuan yang seburuk dia sendiri? Makhluk perempuan ini juga mungkin akan membenci calon teman hidupnya, dan lebih suka memilih manusia yang rupanya lebih bagus. Makhluk perempuan ini mungkin akan meninggalkan calon teman hidupnya. Dan kemarahan si laki-laki akan bangkit kembali karena ditinggalkan oleh makhluk yang sejenis dengan dirinya.

Walaupun mereka jadi meninggalkan Eropa un tuk hidup di tempat yang terpencil, tetap masih akan ada bencana yang bisa terjadi. Akibat hubungan kedua iblis ini akan lahir anak-anak me t reka. Maka di dunia akan hidup satu bangsa setan. Mereka akan terus berkembang-biak, sehingga akhirnya hidup manusia akan terus-menerus terancam bahaya dan ketakutan

Apakah aku berhak mencelakakan manusia sesamaku serta mendatangkan bencana bagi generasi yang akan datang? Sebelumnya hatiku telah tergerak oleh kebaikan makhluk ciptaanku. Aku telah terdesak oleh ancaman iblisnya. Tapi kini untuk pertama kalinya aku sadar dengan akibat buruk yang akan timbul karena pemenuhan janjiku.

Aku gemetar membayangkan generasi yang akan datang akan mengutuki diriku sebagai penyebar hama. Karena sifat mementingkan diri sendiri, aku tidak ragu-ragu membeli ketenteraman diriku dengan harga berapa saja; mungkin dengan tukaran kemusnahan bangsa manusia di masa yang akan datang .Aku menggigil dengan hati kecut waktu aku mengangkat kepalaku dan dalam sinar bulan kulihat iblis terkutuk ini di jendela. Senyum menge rikan tersungging pada bibirnya waktu dia melihat kepadaku, yang sedang melaksanakan tugas yang dibebankan kepadaku.

Ya, selama aku mengembara ke mana-mana dia selalu mengikutiku. Dia berkeliaran di hutan-hutan, bersembunyi di dalam gua, atau tinggal di padang alang-alang yang luas serta sunyi. Sekarang dia datang untuk melihat kemajuan kerjaku serta menuntut pemenuhan janjiku.

Kulihat air mukanya memancarkan kedengkian dan kejahatan yang tak ada taranya. Dalam tempo sekejap aku memikirkan apa yang sedang kukerjakan. Dengan marah aku berpikir, sungguh gila aku mau membuat satu lagi makhluk yang seperti dia. Menggigil karena marah, kucabik-cabik benda yang hampir selesai kubuat.

Si iblis melihat apa yang kulakukan. Makhluk tempat dia menggantungkan harapan masa depan dan kebahagiaannya kuhancurkan! Dia meraung dengan kemarahan dan keputusasaan etan kemudian dia menggeram penuh rasa dendam dan pergi.

Kutinggalkan kamarku. Pintu kukunci, dan dalam hati aku bersumpah takkan mengulangi pekerjaanku. Kemudian dengan langkah gemetar aku pergi ke kamar tidurku. Aku sendirian. Tak ada seorang pun di dekatku yang bisa mengusir kesedihanku, atau meringankan tekanan batin yang kurasakan.

Beberapa jam berlalu. Selama itu aku duduk dekat jendela memandangi laut. Laut tenang, hampir-hampir tidak bergerak sama sekali. Angin tidak bertiup, dan alam semesta tidur pulas di bawah rembulan yang lembut. Kulihat hanya ada satu dua perahu nelayan di laut, dan sekali-sekali terdengar suara nelayan saling berseru kepada sesamanya.

Aku merasakan kesunyian di sekitarku, walaupun aku tidak menyadari tentang berapa dalamnya kesunyian ini. Tiba-tiba telingaku menangkap suara dayung dikayuhkan dekat pantai. Kulihat seseorang mendarat dekat pondokku.

Beberapa menit kemudian kudengar pintu 9 rumahku bergerit, seakan ada orang yang sedang berusaha membukanya perlahan-lahan. Sekujur badanku menggigil. Aku punya firasat tentang siapa yang membuka pintu, dan aku ingin membangunkan penghuni pondok yang tidak begitu jauh dari pondokku. Tapi aku merasa tidak berdaya. Seperti dalam mimpi buruk, karena sadar akan ancaman bahaya aku bahkan seperti terpaku ke tanah.

Kemudian kudengar bunyi langkah kaki sepanjang lorong. Pintu terbuka, dan makhluk yang sangat kutakuti muncul. Setelah menutup pintu, dia menghampiriku seraya berkata dengan suara lembut, "Kau telah menghancurkan pekerjaan yang sudah kaulakukan. Apa maksudmu? Kau berani melanggar janjimu sendiri? Selama ini aku sudah bersusah-payah dan menderita. Aku meninggalkan Switzerland mengikutimu. Aku merayap-rayap sepanjang tepi sungai Rhine, di antara pohon-pohonan dan bukit. Aku tinggal selama berbulan-bulan di padang belantara Inggris dan di tengah # padang alang-alang Skotlandia. Aku menahankan kelelahan, dingin dan lapar yang tiada bandingannya. Kau berani menghancurkan harapanku?".

"Pergi kau! Aku membatalkan janjiku. Aku tidak sudi menciptakan makhluk yang seperti kau, yang sama dalam keburukan dan kejahatannya."

"Hai, Budak! Sebelumnya aku sudah mem berikan penjelasan kepadamu. Tapi rupanya kau tidak layak menerima kebaikan hatiku. Ingat, aku memiliki kekuatan. Kau sendiri sadar bahwa keadaanmu menyedihkan. Tapi akan kubuat agar kau menderita kesedihan yang sedemikian rupa besarnya, sehingga kau akan membenci cahaya matahari. Kau penciptaku, tapi akulah tuanmu. Patuhi perintahku!"

"Saat-saat kebimbangan hatiku sudah lewat, dan kekuatanmu pun akan habis. Ancamanmu takkan menggerakkanku untuk melakukan perbuatan jahat. Sebaliknya, ancamanmu bahkan semakin membulatkan tekadku untuk tidak membuat teman melakukan kejahatan untukmu. Apakah aku secara sadar akan melepaskan ke dunia ini iblis yang kegemarannya menyebarkan maut dan kesedihan? Pergi kau! Tekadku sudah bulat. Kata-katamu hanya akan menambah kemarahanku."

Si iblis melihat kebulatan tekad pada air mukaku. Dia mengeretakkan gigi karena marah dan tidak berdaya. "Apakah setiap orang akan memiliki isteri masing-masing," katanya, "Dan setiap orang punya teman hidup, sedangkan aku harus sendirian? Aku punya perasaan dan rasa kasih sayang, tapi semua sudah sirna karena kebencian dan penghinaan. Hai manusia! Kau boleh membenci, tapi awas! Hidupmu akan penuh penderitaan dan kesengsaraan. Dan tidak lama lagi kebahagiaanmu akan direnggutkan untuk selama-lamanya. Patutkah kau mendapat kebahagiaan, sedangkan aku sengsara? Kau bisa merengatkan pemenuhan nafsuku, tapi aku akan membalas dendam. Dari saat sekarang pembalasan dendam bagiku lebih berharga daripada cahaya terang atau makanan! Aku bisa mati. Tapi sebelumnya kau, penyiksaku yang bengis, akan mengutuki sinar matahari yang menerangi kesengsaraan mu. Hati-hati! Sebab aku tak kenal takut dan punya kekuatan. Aku akan memperhatikanmu dengan kecerdikan seekor ular, supaya aku bisa menyengatmu dengan bisaku. Awas, kau pasti akan menyesal telah membuat diriku menderita."

"Hai setan, minggat kau! Jangan kauracuni udara dengan kedengkianmu. Aku sudah menyatakan ke putusanku kepadamu. Aku bukan seorang pengecut yang akan mengubah keputusanku karena diancam. Tinggalkan aku. Aku kebal terhadap bujukan dan ancaman."

"Baik! Aku pergi. Tapi ingat, aku akan datang kepadamu pada malam perkawinanmu."

Aku menghambur ke depan seraya berseru, "Bangsat! Sebelum kau menetapkan kematianku, jaga dulu keselamatanmu sendiri."

Aku bermaksud meringkusnya, tapi dia mengelakkan terkamanku dan meninggalkan rumah dengan cepat. Beberapa saat kemudian kulihat dia sudah naik perahu. Perahunya meluncur di permukaan air seperti panah lepas dari busurnya, dan segera dia lenyap di balik gelombang samudera.

Sekali lagi di sekelilingku sunyi, tapi kata-katanya masih terngiang-ngiang di telingaku. Hati ku sangat panas karena marah. Ingin sekali aku memburu si pembunuh dan melemparkannya ke laut supaya mati terbenam.

Aku berjalan mondar-mandir dalam kamar dengan pikiran kalut. Sementara itu khayalanku membayangkan ribuan gambaran yang menyiksa dan menghantuiku. Mengapa aku tidak mengejarnya dan bertarung dengan dia sampai salah satu menemui ajal? Aku telah membiarkannya pergi, dan dia mengarahkan perahunya menuju ke daratan. Aku menggigil memikirkan siapa korban berikutnya yang akan mati untuk memuaskan nafsu pembalasan dendamnya.

Kemudian aku teringat kembali dengan kata-katanya "aku akan datang kepadamu pada malam perkawinanmu." Jadi pada saat itulah dia bermaksud menetapkan nasibku. Pada saat itu aku harus mati. Kematianku sekaligus akan menjadi pemuas dan penghapus kedengkiannya.

Walaupun demikian bukan kematianku yang kutakutkan. Yang kupikirkan ialah Elizabeth yang sangat kucintai. Terbayang olehku air mata dan kesedihannya yang takkan ada habis-habisnya, setelah dia melihat orang yang paling dikasihinya direnggutkan dari sisinya secara biadab sekali. Air mataku yang pertama sejak berbulan-bulan yang terakhir membanjir ke luar. Dan aku bertekad takkan menyerah kepada musuhku tanpa melakukan perlawanan.

Malam pun berlalu, dan matahari terbit. Perasaanku menjadi lebih tenteram, kalau memang kemarahan yang berubah menjadi keputusasaan bisa disebut ketenteraman. Aku pergi meninggalkan rumah, meninggalkan kengerian yang terjadi semalam. Aku berjalan-jalan di pantai, yang hampir kuanggap sebagai perbatasan antara diriku dengan manusia sesamaku.

Aku ingin sekali mengakhiri hidupku di tebing karang. Kalau aku kembali, aku pun hanya akan menemui kematian. Atau kemungkinan yang lebih buruk lagi, kembaliku hanya untuk menyaksikan orang yang paling kucintai menemui ajal karena cekikan iblis ciptaanku sendiri.

Aku berkeliaran di pulau tanpa tujuan, seperti arwah yang sedang mengembara. Siangnya waktu matahari makin meninggi, aku berbaring di rumput dan segera diserang kantuk yang sangat berat. Kemarin malam aku berjaga hampir semalaman. Syarafku merasa terganggu dan mataku merah karena kurang tidur dan kesusahan.

Tidur nyenyak menyegarkan tubuhku kembali. Setelah aku terbangun, aku merasa lagi bahwa aku termasuk bangsa manusia. Aku mulai memikirkan semua yang telah terjadi dengan perhatian yang lebih terpusat. Tapi tetap saja kata-kata si iblis terngiang di telingaku seperti lonceng kematian. Semua terasa seperti mimpi, walaupun demikian begitu jelas dan menekan perasaan seperti kenya taan.

Matahari sudah jauh condong ke barat, dan aku masih duduk di pantai. Kumakan kue gandum yang kubawa dengan lahap. Waktu itu kulihat sebuah perahu nelayan mendarat di dekatku. Seorang nelayan memberikan sebuah paket kepadaku. Isinya surat-surat dari Jenewa, dan satu lagi surat dari Clerval. Dia mendesakku agar aku segera menyusulnya.

Dalam suratnya, Clerval mengatakan bahwa dia membuang-buang waktunya dengan sia-sia di tempat dia berada sekarang. Dia juga sudah menerima surat dari sahabat-sahabatnya di London, yang menyuruhnya segera kembali untuk melaksanakan rencana perjalanan ke India. Clerval tidak ingin menunda keberangkatannya lagi. Karena dia akan segera kembali ke London, maka dia meminta agar aku menemaninya. Mungkin tidak lama lagi dia akan berangkat dari London menempuh perjalanannya yang jauh ke India. Dia mendesakku agar se gera meninggalkan pulau terpencil dan menemuinya di Perth. Dari sana kami akan menuju ke selatan bersama-sama. Surat ini sedikit banyaknya menyadarkan diriku kembali kepada hidup yang sedang kuhayati. Maka aku memutuskan akan meninggalkan pulauku dua hari lagi.

Tapi sebelum aku pergi aku masih punya tugas yang harus kuselesaikan lebih dulu. Memikirkan hal ini aku menggigil. Aku harus mengemasi alat-alat kimiaku. Dan untuk itu aku harus masuk ke ruangan tempatku selama ini melakukan pekerja anku yang menjijikkan.

Keesokan harinya di waktu fajar kukuatkan hatiku untuk membuka pintu laboratorium. Sisa-sisa makhluk yang baru separuh jadi, yang telah kuhancurkan, berserakan di lantai. Aku hampir-hampir merasa seakan aku telah merobek-robek daging manusia benar-benar. Aku berhenti dulu untuk mengumpulkan keberanianku, dan kemudian masuk ke dalam ruangan.

Dengan tangan gemetar kuangkuti semua perkakasku ke luar ruangan. Tapi kupikir aku tidak bisa meninggalkan sisa-sisa pekerjaanku untuk menimbulkan kecurigaan penghuni pulau. Maka semua kukumpulkan dalam sebuah keranjang, ku tambah dengan beberapa bungkal batu. Aku berniat melemparkan keranjang beserta isinya ke laut pada malamnya. Sementara itu sambil menunggu malam tiba aku duduk di pantai. Aku sibuk membersihkan dan mengemasi alat-alat kimiaku.

Tak ada yang akan lebih menguatkan tekadku untuk mengubah keputusan daripada kedatangan si iblis semalam. Sebelumnya aku menganggap janjiku sebagai satu hal yang harus kupenuhi, betapapun akibatnya. Tapi sekarang aku merasa seakan lapisan buram yang menutupi mataku telah diambil, dan untuk pertama kalinya bisa melihat dengan terang.

Gagasan ingin memperbaharui pekerjaanku sedikit pun tidak terlintas di otakku. Ancaman terhadap diriku memberatkan hatiku, tapi kurasa sudah tak ada lagi yang bisa kukerjakan untuk mencegah atau menghindarkannya. Kini pendirianku sudah tegas. Membuat satu lagi iblis seperti yang sudah kuciptakan merupakan perbuatan paling hina. Kuhalaukan dari benakku semua pikiran yang mungkin akan menyebabkan aku tergoda untuk mengubah kembali keputusanku.Kira-kira pada jam setengah tiga pagi bulan terbit. Kunaikkan keranjang ke atas sampan, kemudian aku berlayar sejauh sekitar enam kilometer dari pantai. Di mana-mana sunyi. Beberapa buah perahu sedang kembali menuju daratan, tapi aku bahkan menjauhi daratan.

Aku merasa seakan sedang melakukan kejahatan yang sangat besar, menggigil ketakutan jangan-jangan bertemu dengan manusia sesamaku. Pada suatu ketika bulan yang terang tiba-tiba tertutup awan. Kesempatan ini kumanfaatkan untuk menceburkan keranjang ke laut. Keranjang segera terbenam ke dasar laut, dan aku segera meninggalkan tempat itu.

Langit berawan, tapi udara tetap segar. Kemudian angin utara mulai bertiup dan menyebabkan hawa menjadi lebih dingin. Tapi hawa dingin menyegarkan badanku serta menenangkan perasaan. Aku sampai memutuskan untuk tinggal lebih lama di laut. Kemudian kutetapkan untuk mengambil arah lurus, dan aku berbaring menelentang di dasar perahu.

Bulan masih tetap bersembunyi di balik awan. Semuanya kelihatan remang-remang, dan suara yang kudengar hanya bunyi lunas perahu meluncur menembus ombak. Suara air yang lembut ini seperti menghimbauku, dan dalam waktu singkat aku f udah tidur nyenyak.

Aku tidak tahu berapa lamanya aku dalam keadaan demikian, tapi waktu aku terbangun matahari sudah agak tinggi. Angin cukup kencang, dan alun samudera mengancam keselamatan bidukku yang kecil. Angin bertiup ke arah timur laut, jadi aku pasti sudah terdorong cukup jauh dari pantai tempatku bertolak. Aku berusaha ganti haluan, tapi segera kuketahui bahwa kalau aku ganti haluan pasti perahu akan segera penuh air. Dalam keadaan demikian, yang bisa kulakukan hanyalah mengikuti arah angin bertiup.

Kuakui aku merasa takut juga. Aku tidak punya kompas, dan pengetahuan ilmu-bumiku di bagian dunia ini sangat terbatas sehingga matahari tidak banyak membantuku. Aku bisa saja terdorong angin ke tengah Lautan Atlantika, serta merasakan siksaan kelaparan sebelum akhirnya binasa ditelan gelombang samudera yang mengganas di sekelilingku. Aku bahkan sudah mulai diserang rasa dahaga yang membakar, awal dari penderitaan lainnya.

Aku menengadah ke langit, yang tertutup awan dan terus bergerak ditiup angin. Kemudian aku ganti melihat ke laut, yang akan menjadi kuburanku.

"Iblis!" seruku, "tugasmu sudah selesai!" Aku memikirkan Elizabeth, ayah dan Clerval — semua akan kutinggalkan, dan si iblis akan memuaskan nafsunya yang keji dan haus darah terhadap mereka. Pikiran ini membuatku sangat ngeri. Bahkan sekarang pun, di saat-saat ajal makin mendekatiku aku masih menggigil memikirkannya.

Beberapa jam berlalu dalam keadaan demikian. Tapi setelah matahari condong ke barat sedikit demi sedikit angin kencang berhenti. Kini angin berubah menjadi sepoi-sepoi, dan gelombang tidak lagi mengganas.

Aku masih merasa kelelahan dan hampir-hampir,, tidak kuasa memegang kemudi. Tiba-tiba kulihat daratan di arah selatan. Tenagaku sudah hampir habis karena ketegangan yang kualami selama beberapa jam. Dan kini harapan akan mendapat keselamatan membuat hatiku sangat gembira. Air mataku membanjir ke luar.

Alangkah anehnya perasaan kita! Kita merasa begitu cinta kepada hidup pada saat-saat kita diancam bahaya maut! Layar perahu kutambah dengan bajuku, dan dengan sukacita kukemudikan perahuku ke arah daratan.

Pantai yang semakin dekat kulihat berbatu-batu karang dan masih liar. Tapi setelah aku lebih dekat lagi, kulihat dengan jelas bahwa daratan ini didiami manusia. Kulihat beberapa buah perahu dekat pantai. Ternyata aku sampai ke daratan yang didiami manusia beradab.

Dengan hati-hati kukemudikan perahu mengikuti bentuk pantai yang berkelok-kelok. Karena aku sangat lapar dan haus, maka perahu kutujukan ke kota supaya aku lebih mudah mendapatkan makanan. Untunglah aku membawa uang.

Waktu aku membelok melewati sebuah tanjung, kulihat sebuah kota dan pelabuhan yang bagus. Ku-belokkan perahu masuk ke pelabuhan dengan hati gembira. Tanpa terduga-duga aku sudah terlepas dari ancaman bencana.

Tatkala aku sedang menambatkan perahu dan menurunkan layar, beberapa orang datang menge-rumuniku. Mereka kelihatan sangat heran melihat kedatanganku. Tapi bukannya memberikan bantuan, mereka bahkan berbisik-bisik antara sesamanya. Mereka juga membuat beberapa isyarat yang menimbulkan sedikit kekalutan seandainya aku datang pada kesempatan yang berlainan.

Kuperhatikan mereka bercakap-cakap dalam ^bahasa Inggris. Maka aku pun menegur mereka dalam bahasa ini. "Sahabat yang baik," kataku, "sudikah kalian mengatakan kepadaku nama kota ini dan memberitahukan di mana aku berada?"

"Kau akan segera tahu," jawab seorang dengan suara serak. "Mungkin kau datang ke tempat yang tidak akan kausukai, tapi kau takkan mendapat keterangan apa-apa."

Aku sangat heran mendapat jawaban yang sedemikian kasarnya dari orang yang tidak kukenal. Demikian juga aku merasa kurang senang melihat air muka mereka yang mengandung kemarahan.

"Mengapa kau menjawab begitu kasar?" aku balik bertanya. "Aku yakin bukan adat orang Inggris menerima orang asing dengan kasar dan tanpa keramahan."

"Aku tidak tahu," katanya lagi, "bagaimana adat orang Inggris. Yang aku tahu sudah menjadi adat ^ orang Irlandia untuk membenci penjahat".

Selama dialog ini berlangsung, kulihat kerumunan orang banyak semakin bertambah. Muka mereka memancarkan perasaan campuran antara kemarahan dan rasa ingin tahu. Sikap mereka yang tidak menyenangkan ini sedikit banyaknya membuatku merasa takut juga.

Aku menanyakan jalan menuju ke penginapan, tapi tak seorang pun menyahut. Kemudian aku ngiangkah maju. Orang banyak mengeluarkan suara * menggerutu dan mengikutiku. Seorang bermuka buruk menepuk bahuku dan berkata:

"Mari, Tuan. Kau harus ikut denganku menemui Mr. Kirwin untuk memberikan keterangan mengenai dirimu."

"Siapa Mr. Kirwin? Mengapa aku harus memberikan keterangan tentang diriku? Bukankah ini negeri merdeka1'"

"Betul, Tuan, cukup merdeka bagi orang baik-* baik. Mr. Kirwin seorang hakim. Dan kau harus memberikan keterangan tentang kematian seorang tuan yang ditemukan mati terbunuh di sini semalam."

Jawabannya membuat aku terperanjat, tapi aku segera tenang kembali. Aku tidak bersalah, dan itu akan bisa dibuktikan dengan mudah. Maka kuikuti pengantarku sambil berdiam diri, dan aku diantarkannya ke sebuah rumah yang terbagus di kota itu ,aku sudah hampir jatuh pingsan karena lelah dan lapar. Tapi kupikir di tengah orang banyak rasa kesopanan mengharuskanku mengerahkan segenap tenaga. Kelemahanku bisa saja ditafsirkan sebagai rasa takut atau rasa bersalah. Waktu itu aku sama sekali tidak sadar bahwa aku akan segera menyaksikan satu hal yang sangat mengejutkan, lebih mengejutkan daripada rasa w kengerian dan kematian .sendiri.

Sampai di sini aku harus berhenti'bercerita sejenak. Aku harus mengumpulkan segenap tenagaku untuk bisa mengingat kembali semua kejadian yang akan kuceritakan selanjutnya.

Aku; segera dihadapkan kepada hakim. Dia seorang laki-laki dengan air muka ramah, serta sikapnya tenang dan lembut. Walaupun demikian dia melihat kepadaku dengan pandangan bengis. Kemudian dia menoleh kepada pengantarku seraya menanyakan siapa yang akan menjadi saksi dalam perkara itu.

Kurang lebih selusin orang tampil ke depan. Seorang yang ditunjuk oleh hakim segera mulai bercerita. Katanya semalam dia memancing bersama saudara iparnya yang bernama Daniel Nugent serta anaknya. Kira-kira jam sepuluh malam mereka melihat badai datang dari utara, dan mereka segera menuju ke pelabuhan. Malam itu gelap, sebab bulan belum terbit. Mereka tidak masuk ke pelabuhan, tapi seperti biasa mendarat di sebuah teluk kecil sejauh tiga kilometer dari pelabuhan. Dia berjalan di muka menjinjing joran, diikuti lain-lainnya. •» Sedang dia berjalan di atas pasir, kakinya tersandung pada suatu benda sehingga dia tersungkur jatuh. Kedua temannya membantu dia berdiri. Kena sinar lentera, mereka melihat bahwa dia tersandung pada tubuh manusia yang sudah menjadi mayat. Mula-mula mereka mengira telah menemukan mayat orang yang mati terbenam dan dilemparkan ombak ke pantai. Tapi setelah diperiksa, ternyata pakaian mayat tidak basah. Bahkan mayat itu masih terasa hangat. Mereka segera mengusung mayat ke sebuah pondok yang terdekat, milik seorang perempuan tua. Mereka berusaha menolong, kalau-kalau tubuh yang mereka temukan belum mati. Tapi usaha mereka sia-sia. Ternyata si mati seorang pemuda tampan berusia sekitar dua puluh lima tahun. Rupanya dia mati di t cekik, sebab tidak terdapat bekas penganiayaan lain kecuali bekas jari yang hitam pada lehernya.

Bagian pertama ceritanya sama sekali tidak menarik perhatianku. Tapi setelah dia menyebutkan bekas jari pada leher si mati, aku teringat kembali kepada pembunuhan adikku. Aku mulai merasa sangat gelisah. Tubuhku gemetar dan mataku seperti tertutup kabut. Aku sampai terpaksa berpegangan pada kursi supaya tidak jatuh. Hakim memperhatikan diriku dengan pandangan , tajam Rupanya dia sudah menarik kesimpulan yang tidak menyenangkan setelah melihat sikapku.

Cerita saksi pertama tadi diperkuat oleh anaknya. Kemudian Daniel Nugent disuruh maju. Dia bersumpah dengan tegas bahwa sebelum kakak iparnya jatuh tersandung dia melihat sebuah perahu. Perahu tidak jauh dari pantai, dan di dalamnya hanya ada satu orang penumpang. Dia menduga perahu yang dilihatnya dalam sinar beberapa buah jbintang adalah perahu yang sama dengan yang kunaiki dan baru saja mendarat.

Seorang perempuan ganti bercerita. Katanya dia berdiri di ambang pintu rumahnya satu jam sebelum mayat ditemukan, menunggu kedatangan suaminya. Waktu itu dia melihat perahu yang dinaiki seorang laki-laki sedang meninggalkan pantai, tepat di tempat mayat kemudian ditemukan orang .Seorang perempuan lagi membenarkan cerita si pengail yang mengusung mayat ke rumahnya. Mayatnya memang belum dingin. Mereka meletakkan mayat di atas tempat tidur dan menggosok-gosok tubuhnya. Daniel pergi ke kota untuk mencari obat, tapi si mati sudah tidak bisa ditolong lagi.

Beberapa orang lainnya ditanya tentang pendaratanku. Mereka sepakat dengan satu pendapat. Kata mereka, karena angin dari utara sangat kencang maka kemungkinan besar selama berjam-jam aku berputar-putar di tengah laut dan kembali ke tempat semula. Di samping itu mereka mengira aku membawa korban dari tempat lain, dan rupanya aku tidak mengenali pantai itu. Mereka mengira bahwa aku tidak tahu telah masuk ke pelabuhan dekat tempat aku membuang mayat.

Setelah mendengar keterangan mereka, Mr. Kirwin minta agar aku diantarkan ke ruangan tempat meletakkan mayat. Dia ingin melihat pengaruhnya atas diriku setelah aku melihat mayat. Gagasan ini mungkin timbul setelah dia melihat perubahan pada air mukaku waktu aku mendengar cara si korban terbunuh.

Maka aku pun diantarkan oleh hakim bersama beberapa orang lainnya ke sebuah penginapan. Aku heran memikirkan kejadian semalam dengan serba kebetulan yang sangat aneh. Walaupun demikian aku tetap tenang. Aku tahu benar bahwa pada saat mayat ditemukan aku sedang bercakap cakap dengan beberapa orang di pulau yang kudiami. Pasti peristiwa ini takkan berakibat apa-apa terhadap diriku, pikirku.

Aku masuk ke dalam ruangan tempat mayat diletakkan, dan diantarkan ke peti mati. Bagaimana aku akan bisa melukiskan perasaanku demi aku melihat si mati? Aku menjadi kaku seperti patung pada saat yang sangat mengerikan itu. Aku bahkan sampai tidak bisa menggigil karena kepedihan hati yang kuderita.

Semua seakan berubah menjadi seperti dalam mimpi, demi kulihat tubuh Henry Clerval yang sudah tidak bernyawa lagi terbaring di hadapanku. Aku tergagap dan tersengal-sengal. Sambil menubruk mayatnya, aku berseru:

"Aduh, Henry, sahabatku tercinta! Jadi mesin pem bunuhku juga sudah mencabut-nyawamu? Aku sudah membinasakan dua orang. Dan korban lain menunggu nasibnya. Tapi kau, Clerval, sahabatku, pelindungku..."

Ragaku sudah tidak kuasa lagi menanggungkan semua penderitaan yang kualami. Aku segera diusung ke luar, sebab dari kalutnya aku sampai seperti orang sekarat.

Setelah ini aku terserang demam. Aku terbaring selama dua bulan di ambang kematian. Di kemudian hari kudengar bahwa igauanku sangat menakutkan. Aku menyebut diriku sendiri pembunuh William, Justine dan Clerval. Kadang-kadang aku meminta kepada penjagaku untuk membunuh iblis yang sedang menyiksaku. Pada kesempatan lainnya aku mengira si iblis sudah mencekik leherku, dan aku menjerit keras-keras karena sakit dan ketakutan. Untunglah aku berbicara dalam bahasaku sendiri, sehingga hanya Mr. Kirwin saja yang memahami kata-kataku. Tapi tingkah laku dan te riakan teriakanku sudah cukup untuk menimbulkan kengerian siapa saja yang menyaksikan.

Mengapa aku tidak mati saja? Penderitaanku jauh melebihi apa yang pernah dialami manusia sebelumnya. Mengapa aku tidak tenggelam saja ke dalam kelupaan dan istirahat untuk selama-lamanya? Maut sudah merenggutkan banyak sekali anak-anak yang manis, tumpuan harapan orang tua. Berapa banyaknya pengantin baru atau sepasang muda-mudi yang sedang berkasih-kasihan direnggutkan oleh tangan maut yang kejam? Satu hari mereka masih merasakan kebahagiaan serta penuh harapan, dan esoknya sudah menjadi makanan cacing kuburan! Dibuat dari bahan apa tubuhku sebenarnya, sehingga bisa menahankan berbagai penderitaan untuk terus merasakan siksaan?

Tapi aku menerima hukuman siksaan hidup. Dalam tempo dua bulan aku seakan terbangun dari sebuah mimpi dalam sebuah ruang tahanan. Aku telentang di atas sebuah tempat tidur buruk, dikelilingi tembok penjara dan pintu berterali besi. Waktu itu pagi hari, aku ingat, waktu aku terjaga dan mendapatkan kesadaranku kembali.

Aku sudah melupakan kejadiannya yang tepat. Aku hanya merasakan seakan kesedihan yang luar biasa tiba-tiba memberatkan hatiku. Waktu aku melihat berkeliling, aku sadar bahwa aku berada di dalam ruang tahanan yang sangat menyedihkan. Setelah semua kembali terlintas dalam ingatanku, aku mengerang dengan perasaan sangat getir.

Suaraku mengganggu seorang perempuan tua yang sedang tidur di kursi di sisiku. Dia seorang perawat bayaran, isteri salah seorang sipir penjara. Mukanya yang buruk sudah memperlihatkan sifat-sifat buruk yang lazim dimiliki oleh orang-orang dari kelas mereka. Garis-garis mukanya keras dan kasar, seperti orang yang biasa menyaksikan kesedihan orang lain tanpa merasakan belas kasihan. Nada suaranya menunjukkan bahwa dia sama sekati tidak punya perasaan.

Perempuan ini menegurku dalam bahasa Inggris. Suaranya mengingatkanku kembali dengan suara yang sering kudengar selama aku merasakan penderitaanku. "Sekarang kau sudah lebih baik, Tuan?" tanyanya .Aku menjawab dalam banasa yang dipergunakannya, dengan suara lemah:

"Ya, kurasa aku sudah lebih baik. Tapi kalau memang semuanya benar, kalau semua bukan mimpi, aku sangat menyesal karena aku masih hidup untuk merasakan semua kesedihan dan kengerian ini."

"Dalam hal itu," jawab si perempuan tua, "kalau yang kaumaksudkan orang yang telah kau bunuh, '* aku yakin lebih baik bagimu kalau kau mati saja. Sebab aku yakin kau akan mengalami penderitaan yang lebih besar lagi! Tapi bagaimanapun juga itu bukan urusanku. Aku dipanggil untuk merawatmu sampai kau sembuh. Aku sekedar menjalankan tugas tanpa perasaan apa-apa. Memang sebaiknya setiap orang berbuat semacam itu."

Aku membuang muka dengan perasaan jijik dari perempuan yang tidak berperasaan ini. Dia dengan enaknya berkata semacam itu kepada orang yang v baru diselamatkan dari renggutan elmaut! Tapi aku masih merasa lemah, dan tidak bisa mengingat-ingat semua yang telah terjadi. Seluruh rangkaian kehidupanku kurasakan sebagai rentetan mimpi. Kadang-kadang aku meragukan apakah semua sungguh-sungguh terjadi, sebab aku tidak bisa menyadarinya sebagai suatu kenyataan.

Sementara itu makin lama ingatanku semakin terang, dan gambaran yang melintas pada benakku semakin jelas. Aku pun merasa pusing, seakan * demamku kembali. Kegelapan seakan menekan diriku dari segala penjuru. Tak ada seorang pun di dekatku yang menghiburku dengan kasih sayang. Tak ada tangan lembut yang membantuku.

Tabib datang dan menuliskan resep obat, dan si perempuan tua mengambilkannya untukku. Tapi baik si tabib maupun si perawat menunjukkan sikap tidak peduli dan kasar. Siapa yang akan mempedu-likan nasib seorang pembunuh? Siapa yang akanmerasa berkepentingan kecuali algojo yang akan menerima upah dari pekerjaan menggantungku?

Demikianlah mula-mula perasaanku. Tapi tidak lama kemudian segera kuketahui bahwa Mr. Kirwin menunjukkan sikap sangat manis dan lemah lembut. Dia telah memberikan kamar paling baik dalam rumah penjara. Ternyata ruang tahananku yang menyedihkan itu termasuk paling baik! Dia juga yang telah mengusahakan tabib dan perawat untukku. Memang benar, dia sendiri hampir tidak pernah datang menjengukku. Dia sangat ingin meringankan penderitaan manusia sesamanya, tapi dia tidak ingin menyaksikan penderitaan maupun mendengarkan igauan seorang pembunuh. Tapi kadang-kadang dia datang untuk melihat apakah perawatan terhadap diriku dilakukan secara semestinya. Tapi kunjungannya singkat-singkat dan dengan jarak yang cukup lama.

Suatu hari setelah aku mulai agak pulih, aku duduk di kursi. Mataku setengah terbuka dan mukaku pucat seperti mayat. Aku merasa tercengkam oleh kesedihan dan kemurungan, serta seringkah berpikir lebih baik mati saja daripada tetap hidup di dunia yang penuh penderitaan ini. Sekali pernah aku berpikir apakah tidak lebih baik kalau aku mengaku bersalah saja, dan menerima hukuman. Dibandingkan dengan Justine, toh aku jauh lebih berdosa.

Itulah yang sedang kupikirkan waktu pintu kamar tahananku dibuka dan Mr. Kirwin masuk. Air mukanya memancarkan simpati dan belas kasihan. Dia menarik sebuah kursi ke dekatku seraya berkata kepadaku dalam bahasa Perancis:

"Aku khawatir tempat ini sangat tidak enak bagimu. Ada yang bisa kulakukan untuk membuatnya lebih menyenangkan?” "Terima kasih, tapi semua yang kausebutkan tidak ada artinya bagiku. Di muka bumi ini tidak ada kesenangan apa pun yang bisa kurasakan."

"Aku tahu bahwa simpati seorang asing hanya sedikit sekali artinya bagi seorang yang menderita kesengsaraan aneh seperti yang kaualami. Tapi mudah-mudahan kau segera bisa meninggalkan tempat yang sangat menyedihkan ini. Sebab sudah ada bukti yang tidak meragukan, yang dengan mudah akan bisa membebaskanmu dari tuduhan melakukan tindak kejahatan."

"Itu yang paling tidak kukehendaki. Karena beberapa peristiwa aneh yang kualami, aku menjadi manusia yang paling malang di dunia. Karena penderitaan yang kurasakan, apakah datangnya ajal akan menyedihkan bagiku?"

"Memang tidak ada lagi yang lebih malang dan menyedihkan daripada peristiwa aneh yang belum lama ini terjadi. Karena peristiwa yang aneh kau telah tersesat ke pantai yang penghuninya terkenal karena keramahtamahannya. Tapi sebaliknya kau ditangkap seketika itu juga dan didakwa membunuh. Yang pertama kali kaulihat di sini adalah mayat sahabatmu yang dibunuh secara kejam, dan diletakkan oleh iblis pembunuh ini di jalan yang akan kaulalui."

Mendengar kata-kata Mr. Kirwin, aku merasa heran karena dia mengetahui begitu banyak tentang diriku. Demikian juga rupanya dia memahami apa yang kurasakan. Mungkin air mukaku memperlihatkan rasa keheranan, sebab Mr. Kirwin cepat-cepat berkata:

"Setelah kau jatuh sakit, surat-surat yang terdapat pada dirimu diantarkan kepadaku. Aku memeriksanya, untuk menemukan alamat kerabatmu yang bisa kuberitahu tentang kemalangan dan sakit yang sedang kauderita. Aku menemukan beberapa pucuk surat. Di antaranya juga kutemukan surat dari ayahmu. Aku segera menulis surat ke Jenewa. Hampir dua bulan berlalu sejak aku mengirim surat ini. Tapi selama ini kau sakit. Bahkan sekarang kau masih gemetar. Kau tidak boleh dikejutkan oleh apa pun juga."

"Ketegangan ini sudah seribu kali lebih buruk daripada kejadian mengerikan apa pun juga. Katakan kepadaku siapa lagi yang terbunuh, dan siapa lagi yang harus kuratapi."

"Keluargamu baik-baik saja," kata Mr. Kirwin dengan lemah lembut. "Dan seseorang, seorang sahabat, akan datang mengunjungimu."

Aku tidak tahu mengapa gagasan itu melintas dalam benakku. Tapi seketika terlintas dalam pikiranku bahwa si pembunuh telah datang untuk mencemoohkanku, serta mengejekku dengan kema-tian Clerval. Ini tidak lain untuk memuaskan nafsu iblisnya. Mataku kututup dengan kedua tangan, dan aku menjerit dengan penuh kepedihan:

"Oh! Suruh dia pergi! Aku tidak mau bertemu dengannya. Demi Tuhan, jangan biarkan dia masuk!"

Mr. Kirwin memperhatikan diriku dengan air muka sedih. Dia mau tidak mau menganggap semanku sebagai tanda-tanda rasa bersalah. Dia berkata kepadaku dengan nada agak bengis:

"Anak muda, kukira kedatangan ayahmu akan membuatmu merasa gembira, bukannya menimbulkan rasa jijik."

"Ayahku!" seruku terperanjat, sementara semua ketegangan ku mengendur dari penderitaan ke rasa senang. "Benarkah ayahku datang? Aduh, sungguh baik benar dia! Tapi di mana dia? Mengapa dia tidak segera menemuiku?"

Perubahan sikapku membuat hakim merasa heran dan gembira. Mungkin dia mengira semanku tadi adalah igauan yang kembali sesaat. Kini seketika dia tampak lagi keramahannya. Dia bangkit dan meninggalkan ruangan bersama si perawat. Sesaat kemudian ayahku masuk.

Saat itu tidak ada lagi yang akan lebih menggembirakan hatiku daripada kedatangan ayahku. Kuulurkan tanganku kepadanya seraya berseru, "Jadi Ayah selamat — dan Elizabeth — dan

Ernest?".

Ayah menenangkan diriku dengan meyakinkan bahwa mereka selamat tidak kurang suatu apa. Dia juga berusaha membesarkan hatiku dengan mengajakku bercakap-cakap tentang bahan percakapan yang menyenangkan. Tapi kemudian dia menyadari bahwa keadaan di dalam penjara tidak bisa membangkitkan kegembiraan.

'Tempat yang kaudiami ini sungguh mengerikan, Nak!" katanya sambil melihat ke jendela berterali besi dan seluruh isi kamar dengan murung. "Kau pergi melancong untuk mencari kebahagiaan, tapi bencana seakan selalu membuntutimu. Dan Clerval yang malang..."

Nama sahabatku yang terbunuh membangkitkan kekalutan yang terlalu besar dan tidak tertahankan oleh kondisi badanku yang lemah. Air mataku bercucuran.

"Aduh! Ya Ayah," jawabku. "Nasib yang sangat mengerikan selalu mengikutiku, dan aku harus hidup untuk merasakannya. Kalau tidak, aku pasti sudah mati di atas peti mati Henry."

Kami tidak diijinkan bercakap-caka"p lama-lama. Kesehatan badanku masih belum mengijinkan, dan aku harus selalu mendapat ketenangan.

Mr. Kirwin datang untuk memberitahukan bahwa tenagaku masih lemah, dan belum boleh melakukan apa pun yang melelahkan. Tapi bagiku kedatangan ayah seperti kedatangan malaikat pelindung, dan sedikit demi sedikit kesehatanku pun pulih.

Setelah aku sembuh dari sakit, aku ganti dikuasai oleh kesedihan dan kemurungan yang tak bisa dihalaukan oleh apa pun juga. Clerval selalu terbayang di pelupuk mataku, dalam keadaan sudah mati dan sangat mengerikan. Lebih dari sekali kekalutanku menimbulkan rasa takut semua orang, jangan-jangan penyakit ku kambuh lagi.

Aduh! Mengapa mereka menyelamatkan hidupku yang penuh kesedihan dan terkutuk ini? Pasti aku akan merasakan nasibku juga, yang kini sudah semakin mendekat. Segera, tidak lama lagi, maut akan mengakhiri segala-galanya dan membebaskanku dari beban penderitaan yang menghancur kanku menjadi debu.

Dan setelah menerima ganjaran hukum aku juga akan beristirahat untuk selama-lamanya. Tapi rupanya itu pun tidak bisa kuharapkan. Kematian masih jauh bagiku, sebab aku akan dibebaskan. Seringkah aku termenung selama berjam-jam, mendambakan terjadinya satu peristiwa yang akan menghancurkan diriku beserta iblis perusak k u

Pengadilan berkala pun segera dibuka. Aku sudah tiga bulan dalam tahanan. Aku masih lemah dan terancam kemungkinan kambuh kembali. Wa laupun demikian aku bersedia menempuh perjalanan sejauh seratus lima puluh kilometer ke kota besar tempat sidang pengadilan diselenggarakan.

Mr. Kirwin berusaha sekuat tenaga mengumpulkan saksi dan menyiapkan pembelaanku. Aku tidak usah menanggung malu tampil di muka umum sebagai seorang penjahat, sebab perkaranya tidak diajukan ke pengadilan yang menentukan hidup dan mati. Hakim bahkan tidak menuntut ongkos perkara. Sebab terbukti aku berada di Kepulauan Orkney pada saat mayat sahabatku ditemukan. Dan dua minggu kemudian aku dibebaskan dari tahanan.

Ayah sangat bersukacita karena aku dibebaskan dari tuduhan melakukan kejahatan. Demikian juga dia bergembira karena aku diperbolehkan kembali menghirup udara segar, dan diijinkan kembali ke kampung halamanku. Aku sendiri tidak turut merasakan kegembiraan ini. Bagiku dinding penjara bawah tanah dengan tembok istana sama saja, sama-sama kubenei.

Mangkuk kehidupanku sudah diracuni untuk selama-lamanya. Walaupun matahari menyinariku sama dengan sinar yang dipancarkan kepada semua orang yang berhati riang, namun di sekelilingku aku tidak melihat apa pun kecuali kegelapan. Ya, yang kulihat hanya» kegelapan yang mengerikan, tidak bisa ditembus cahaya kecuali sepasang mata yang berkilat-kilat melihat kepadaku. Kadang-kadang mata ini sepasang mata Clerval yang sudah hampa karena nyawa sudah meninggalkan tubuhnya. Kadang-kadang matanya berubah menjadi mata makhluk ciptaanku yang berkaca-kaca dan ber kabut, seperti yang pertama kali kulihat di dalam kamarku di Ingolstadt.

Ayah berusaha membangkitkan kembali perasaan kasih sayang dalam hatiku. Dia berbicara tentang Jenewa, yang akan segera kudatangi. Dia juga bercerita tentang Elizabeth dan Ernest. Tapi kata-kata ayah hanya bisa membuatku mengeluarkan suara keluhan dan erangan.

Memang kadang-kadang aku juga menginginkan kebahagiaan, memikirkan saudara sepupuku yang sangat kucintai, atau merasa rindu kampung halaman. Aku ingin sekali lagi melihat danau yang biru, atau sungai Rhone yang deras airnya. Aku merindukan semua yang kucintai di masa kanak-kanakku. Tapi perasaanku sudah kacau, sehingga bagiku rasanya tidak berbeda tinggal dalam penjara atau dikelilingi pemandangan alam yang indah.

Aku pun masih sering terserang rasa putus asa karena kesedihan yang tak bisa dilukiskan hebatnya. Pada saat-saat semacam itu aku seringkah berusaha mengakhiri hidupku yang kubenci. Aku harus selalu dijaga dan diawasi. Mereka pun harus tangkas bertindak untuk mencegahku berbuat nekat.

Namun masih ada tugas yang harus kupenuhi. Pikiran akan tugas ini mengalahkan keputusasaanku yang hanya mementingkan diri sendiri. Aku tidak boleh terlambat kembali ke Jenewa Di sana aku harus menjaga keselamatan jiwa semua orang yang kucintai. Aku juga harus menunggu kedatangan si pembunuh, atau mencari tempat persembunyiannya. Kalau dia berani datang lagi atau dia kute mukan akan kuakhiri hidupnya dengan bidikan yang takkan meleset lagi.

Ayah masih Ingin menunda keberangkatan kami. Dia takut jangan-jangan aku kelelahan dalam perjalanan, sebab kondisi badanku sudah hancur sama sekali — aku hampir-hampir hanya merupakan bayangan manusia belaka. Kekuatanku sudah habis. Badanku tinggal kulit pembalut tulang, dan siang-malam kerangkaku terus-menerus menjadi mangsa demam.

Walaupun demikian aku tetap mendesak ayahku agar kami segera meninggalkan Irlandia. Aku sudah tidak sabar lagi, sehingga akhirnya ayah menyerah kepada kehendakku. Kami naik kapal yang menuju ke Havre-de-GriJtce, dan berlayar dengan didorong angin turutan dari pantai Irlandia.

Waktu itu tengah malam. Aku berbaring di geladak memandangi bintang yang bertaburan di langit, serta mendengarkan suara ombak. Aku merasa senang karena kini kegelapan menyembunyikan Irlandia dari pandangan mataku. Dadaku berdebar-debar dengan rasa sukacita karena aku segera akan melihat Jenewa kembali. Masa lampau bagiku sudah berlalu seperti sebuah mimpi buruk.

Memang keadaan di sekitarku kini sudah tidak mengingatkanku lagi kepada Clerval atau semua yang sudah jatuh menjadi korban makhluk cip* taanku. Tapi kini terbayang kembali olehku semua yang pernah kuhayati dalam hidup — ketenteraman dan kebahagiaanku waktu aku tinggal di •Jenewa, kematian ibuku, dan keberangkatanku ke Ingolstadt.

Dan kemudian aku teringat kembali dengan dorongan kegilaan yang menyebabkan aku menciptakan musuhku sendiri yang sangat mengerikan. Aku juga teringat kembali kepada malam waktu dia mulai hidup. Setelah itu aku tidak bisa lagi mengikuti urutan ingatanku. Ribuan perasaan menekan jiwaku, dan aku menangis dengan hati sangat pedih.

Sejak aku sembuh dari demam, setiap malam aku biasa menelan laudanum sedikit. Sebab hanya dengan bantuan obat bius inilah aku bisa mendapatkan istirahat yang cukup. Kemudian karena jiwaku tertekan oleh berbagai kemalangan, aku menelan obat ini dalam takaran dua kali lipat dari biasanya dan aku segera tidur pulas.

Tapi tidur tidak mampu membebaskanku dari penderitaan. Mimpiku selalu buruk dan mengerikan. Menjelang pagi aku selalu diganggu mimpi yang seburuk-buruknya. Aku merasa seakan si ibhs mencekik leherku, dan aku tidak bisa melepaskan diri. Erangan dan jeritan sampai terdengar oleh telingaku sendiri. Orang yang menjagaku selalu membangunkanku dari tidur setiap kali aku mulai mengigau.

Aku melihat ombak berkejar-kejaran di sekelilingku, awan berarak di langit, tapi si iblis tidak kulihat. Aku lalu menjadi tenang kembali. Di saat-saat semacam itu ketenangan sementara yang kurasakan bagiku hanya merupakan gencatan senjata sampai datangnya bencana yang tak terelakkan.

Akhirnya kapal yang kami tumpangi sampai ke tujuan terakhir. Kami mendarat, dan terus melanjutkan perjalanan ke Paris. Aku segera menge tahui bahwa aku telah memeras tenagaku terlalu banyak. Aku harus beristirahat dulu sebelum meneruskan perjalanan pula.

Ayah menjaga dan merawatku tanpa mengenal lelah. Tapi dia tidak tahu penyebab penderitaanku, dan memakai cara yang salah dalam berusaha menyembuhkan penyakitku yang takkan bisa diobati lagi. Dia menginginkan agar aku mencari kesenangan di tengah pergaulan masyarakat.

Tapi aku merasa jijik melihat muka manusia. Oh, tidak, tidak jijik! Mereka semua saudaraku, sesamaku. Aku menyukai mereka, baik yang bermuka cantik maupun buruk. Aku hanya merasa tidak layak dan tidak berhak bergaul dengan mereka. Aku telah melepaskan ke tengah mereka musuh yang kegemarannya menumpahkan darah dan mendengarkan erangan mereka. Mereka semua pasti akan memburuku sampai ke mana saja, kalau mereka sudah mengetahui perbuatan jahatku!

Akhirnya ayah menyerah kepada keinginanku menghindari masyarakat. Kini dia ganti berusaha menghalaukan kesedihan dan keputusasaanku dengan kata-kata bujukan serta penghiburan.Kadang kadang ayah mengira aku merasa rendah diri karena telah diadili dengan tuduhan membunuh. Dia lalu berusaha membuktikan kepadaku bahwa rasa megah diri sama sekali tidak ada artinya.

"Aduh! Ayah," kataku, "alangkah sedikitnya yang kauketahui tentang diriku. Semua manusia dengan perasaaan dan nafsunya pasti akan merasa direndahkan, kalau makhluk hina seperti aku merasa megah diri. Justine yang malang sama tidak berdosanya dengan diriku, dan dia mendapat tuduhan yang sama. Bahkan dia mendapat hukuman mati karenanya. Dan akulah yang menjadi penyebabnya — jadi berarti aku yang telah membunuhnya. William, Justine dan Henry — semua mati oleh tanganku."

Selama aku dalam tahanan, ayah sudah sering mendengar kata-kata semacam itu keluar dari mulutku. Setiap kali aku menuduh diriku sendiri, dia seakan menginginkan satu penjelasan. Tapi pada kesempatan lain rupanya dia hanya menganggap kata-kataku sebagai igauan orang sakit.

Tapi aku tidak pernah memberikan penjelasan. Aku tetap tutup mulut dalam persoalan makhluk buruk yang kuciptakan. Aku sadar bahwa aku pasti akan dianggap gila. Kesadaran itu saja sudah cukup bagiku untuk menahan lidahku untuk selama-lamanya.

Di samping itu aku juga tidak bisa membuka satu rahasia yang akan membuat pendengarku merasa ngeri dan takut yang di luar batas. Aku lalu menahan diriku serta menahankan rasa haus belas kasihan orang. Aku tetap menutup mulut, dan rahasiaku yang mengerikan tetap menjadi rahasia bagi seluruh dunia. Walaupun demikian kata-kata semacam yang kukatakan kepada ayah masih seringkah' terlanjur kuucapkan. Aku tidak bisa memberikan penjelasan, tapi sebagian kebenarannya sedikit meringankan ku dari beban kesedihanku yang misterius.

Pada kesempatan semacam ini ayah berkata dengan air muka sangat heran, "Victor, Anakku yang tercinta, kegilaan macam apa pula ini? Nak, kuminta janganlah kau berkata seperti itu lagi."

"Aku tidak gila," seruku sekuat-kuatnya. "Matahari dan langit yang menyaksikan perbuatanku, menjadi saksi kebenaran kata-kataku. Akulah pembunuh semua korban yang tidak berdosa ini. Mereka mati karena akibat perbuatanku. Seribu kali aku mau menumpahkan darahku sendiri untuk menyelamatkan jiwa mereka. Tapi aku tidak bisa, Ayah. Bahkan aku tidak bisa mengorbankan seluruh umat manusia untuk menyelamatkan jiwa mereka."

Kata-kataku yang terakhir meyakinkan ayah bahwa pikiranku sudah kacau. Dia segeTa mengganti bahan percakapan, serta berusaha membelokkan arah pikiranku. Dia berusaha sebisa-bisa-nya menghapuskan ingatanku akan peristiwa di Irlandia. Dia tidak pernah menyinggung-nyinggung kejadian waktu aku di sana, atau memintaku menceritakan kemalanganku.

Waktu pun berjalan terus, dan lambat laun aku menjadi semakin tenang. Kesedihan masih tetap bermukim di dalam hatiku, tapi aku sudah tidak pernah lagi mengungkap-ungkap kejahatanku sendiri. Bagiku sudah cukup menyakitkan perasaan hanya dengan menyadarinya saja. Kini sikapku sudah menjadi lebih tenang daripada dulu, pada waktu-waktu sejak aku melakukan perjalanan di padang es.

Beberapa hari sebelum kami meninggalkan Paris untuk menuju ke Switzerland, aku menerima surat berikut ini dari Elizabeth:

Sahabatku yang tercinta,

Aku sangat gembira menerima surat dari pamanku yang dikirim dari Paris. Kau sudah tidak jauh lagi dariku, dan kuharap kita akan bertemu lagi dalam tempo dua minggu. Saudara sepupuku yang malang, alangkah banyaknya kemalangan yang kaualami! Kurasa sekarang keadaanmu lebih menyedihkan daripada waktu kau meninggalkan Jenewa. Musim dingin yang lalu sangat menyedihkan, sebab aku tersiksa oleh kekhawatiran dan ketegangan jiwa. Tapi aku tetap berharap akan melihat kedamaian pada wajahmu, dan mudah-mudahan hatimu belum hampa sama sekali dari kesenangan dan ketenangan.

Walaupun demikian aku merasa takut jangan-jangan perasaan yang setahun berselang membuatmu sedih, kini bahkan semakin besar dengan bertambahnya waktu. Waktu ini aku tidak ingin mengganggumu, karena banyaknya kemalangan yang memberatkan hatimu. Tapi percakapan dengan pamanku sebelum dia berangkat memberikan penjelasan yang perlu diketahui sebelum kita bertemu.

Penjelasan! Begitulah mungkin kau berkata. Apa yang harus dijelaskan oleh Elizabeth? Kalau kau memang berkata begini, pertanyaanku sudah terjawab dan aku tidak ragu-ragu lagi. Tapi kau sangat jauh dariku. Mungkin kau mengharapkan dan akan merasa senang menerima penjelasan ini. Karena itulah maka aku segera menulis surat. Aku sudah lama ingin menyatakan perasaan ini selama kau pergi, tapi selama itu aku tidak punya keberanian untuk memulai.

Kau tahu benar, Victor, bahwa ikatan antara kita merupakan rencana yang sangat diinginkan oleh kedua orang tuamu sejak kita masih kanak-kanak. Kita sudah diberitahu waktu kita meningkat dewasa, dan dipersiapkan untuk menunggu pelaksanaannya. Kita teman bermain yang saling mencintai selama masa kecil kita. Aku pun yakin bahwa kita masih saling mengasihi setelah kita dewasa.

Tapi ada kemungkinan kita hanya saling mencintai seperti dua orang kakak-beradik, tanpa menginginkan hubungan yang lebih intim lagi. Mungkinkah ini persoalan yang harus kita atasi? Katakanlah kepadaku, Victor-ku sayang. Jawablah per-'tanyaanku dengan jujur, demi kebahagiaan kita Apakah kau tidak mencintai wanita lain?

Kau sudah melancong ke mana-mana. Selama beberapa tahun kau tinggal di Ingolstadt. Pada musim gugur yang lalu kulihat kau begitu sedih. Kau menghindari setiap orang dan suka menyendiri. Waktu itu kuakui bahwa aku berpikir kau pasti menyesali hubungan kita. Aku mengira kau hanya akan memenuhi keinginan orang tuamu, yang bertentangan dengan keinginanmu sendiri. Tapi ini pikiran yang keliru. Kuakui, Sahabatku, bahwa aku cinta padamu. Aku selalu mengimpi-impikan kelak kau akan menjadi sahabat dan teman hidupku untuk selama-lamanya.

Yang penting bagiku ialah kebahagiaanmu, di samping kebahagiaanku sendiri. Perkawinan kita akan membuatku menderita selama-lamanya, kalau kau menjalaninya hanya karena terpaksa dan di luar kehendakmu sendiri. Bahkan sekarang pun aku menangis memikirkan dirimu yang selalu dirundung matang. Dan aku yang sangat menyayangimu masih akan menambahkan kesedihanmu sepuluh kali lipat, dengan menjadi penghalang tercapainya keinginanmu.

Ah, Victor! Percayalah, saudara sepupumu mencintaimu dengan setulus hati, sehingga tidak merasa sedih dengan perkiraan ini. Berbahagialah, Sahabatku. Dan kalau kau memenuhi permintaanku ini yang bisa mengganggu ketenteraman hatiku.

Janganlah surat ini mengganggu pikiranmu. Janganlah kau membalas surat ini besok pagi, lusa, atau bahkan sampai kau datang, kalau itu mendatangkan penderitaan kepadamu. Pamanku akan mengirimkan kabar tentang kesehatanmu. Kalau kau memberiku satu senyuman saja setelah kita bertemu kembali kelak, aku sudah tidak memerlukan kebahagiaan lainnya.

Jenewa, 18 Mei 17 .... Elizabeth Lavenza.

Surat ini mengingatkanku kembali kepada apa yang sudah kulupakan, yaitu ancaman si iblis: "aku akan datang kepadamu pada malam perkawinanmu!"

Itulah hukuman yang akan dijatuhkan kepadaku. Pada malam itu si iblis akan menggunakan setiap cara untuk menghancurkanku, serta merenggut-kanku dari kebahagiaan yang mungkin akan bisa menghibur kesedihanku. Pada malam itu dia akan menggenapkan kejahatannya dengan kematianku.

Baiklah, kalau memang harus demikian. Jadi pasti akan terjadi pertarungan antara hidup dan mati. Dalam pertarungan ini kalau dia menang, aku pasti akan mendapatkan kedamaian dan kekuasaannya terhadap diriku akan berakhir. Dan kalau dia bisa dibinasakan, aku akan menjadi orang yang bebas merdeka.

Aduh! Kebebasan macam apa? Seperti yang dirasakan oleh seorang petani yang keluarganya dibantai dengan disaksikan oleh mata kepalanya sendiri, rumahnya dibakar, ladangnya dirusak dan dia menjadi gelandangan yang tidak punya apa-apa, sebatang kara, tapi bebas merdeka.

Seperti itulah kelak kebebasanku. Tapi Elizabeth bagiku merupakan harta yang tak ternilai harganya, yang akan bisa mengimbangi rasa sesal yang mengerikan serta rasa bersalah yang akan selalu memburuku sampai ajalku tiba.

Elizabeth yang cantik dan sangat kucintai! Suratnya kubaca dan kubaca kembali, dan sedikit ketenangan meresap ke hatiku. Ketenangan ini seakan membisikkan kepadaku impian cinta dan kebahagiaan surgawi. Tapi buah larangan sudah kumakan, dan tangan malaikat melintang menghalangiku dari setiap harapan.

Tapi aku rela mati demi kebahagiaan Elizabeth. Seandainya iblis ini datang untuk melaksanakan ancamannya, maka maut sudah tidak terelakkan lagi. Tapi sekali lagi aku mempertimbangkan, apakah perkawinanku akan mempercepat aku menerima takdirku. Kebinasaanku memang bisa datang lebih cepat beberapa bulan. Tapi kalau iblis ini merasa curiga bahwa aku mengundurnya, dia pasti akan menemukan cara pembalasan dendam lain yang lebih mengerikan.

Dia sudah bersumpah untuk datang pada malam perkawinanku. Tapi ancamannya ini tidak berarti bahwa dia akan memberiku ketenangan pada saat-saat sebelumnya. Sebab dia juga telah membunuh Clerval, seakan untuk menunjukkan bahwa dia belum memuaskan rasa haus-darah yang dipunyainya, walaupun dia telah mengeluarkan ancaman.

Maka aku memutuskan akan segera mengikat tali perkawinan dengan Elizabeth. Ini akan mendatangkan kebahagiaan baik kepada Elizabeth sendiri, maupun kepada ayahku. Dan aku tahu bahwa takdir yang akan menimpa diriku takkan bisa ditunda barang satu jam sekalipun. Dengan pikiran ini memenuhi otakku, aku menulis surat kepada Elizabeth. Suratku penuh ketenangan dan kasih sayang. "Aku khawatir. Adikku sayang," kataku dalam surat, "sedikit sekali kebahagiaan yang masih tersisa bagi kita di dunia ini. Tapi satu-satunya kebahagiaan yang bisa kunikmati terkandung dalam dirimu. Buanglah ketakutanmu yang tanpa alasan. Hidupku hanya ku-baktikan kepadamu seorang, dan hanya kepadamu aku akan memberikan kebahagiaan hidup. Aku punya sebuah rahasia, Elizabeth. Rahasia yang kumiliki sangat mengerikan. Kalau rahasia ini ku bukakan kepadamu, tubuhmu pasti akan membeku karena merasa ngeri. Kemudian kau akan merasa heran karena aku kuat menanggungkan penderitaan dan masih hidup sampai saat ini. Aku akan menceritakan rahasiaku kepadamu sehari setelah pelaksanaan pernikahan kita. Sebab, Saudara sepupuku yang manis, antara kita harus ada rasa saling mempercayai. Tapi kuminta setelah itu janganlah kau menyebut-nyebutnya atau menanyakannya kepadaku. Ini kuminta dengan sangat kepadamu, dan aku tahu kau pasti akan memenuhi permintaanku."

Kira-kira seminggu setelah kedatangan surat Elizabeth, kami kembali ke Jenewa. Elizabeth menyambutku dengan kasih sayang yang hangat. Tapi air matanya berlinang demi dilihatnya tubuhku yang kurus kering dan mukaku yang pucat.

Aku pun melihat perubahan pada dirinya. Dia lebih kurus, serta kehilangan banyak sekali sifat periangnya, yang dulu sangat mempesona diriku. Tapi dia masih tetap lemah lembut dengan pandangan mata penuh kasih sayang. Dia kini bahkan lebih tepat sebagai teman hidup orang yang sengsara seperti diriku.Namun ketenangan yang kini kurasakan tidak tahan lama. Kenangan pahitku segera kembali. Dan kalau aku teringat kepada apa yang telah terjadi, aku benar-benar dicengkam oleh rasa kegilaan. Kadang-kadang aku terbakar oleh kemarahan yang menyala-nyala, dan kadang-kadang aku patah semangat dan putus asa. Aku tidak berbicara atau melihat kepada orang lain. Aku hanya duduk tidak bergerak-gerak, dilumpuhkan oleh kesedihan yang menguasai diriku.

Hanya Elizabeth saja yang bisa menghiburku dari kepedihan ini. Suaranya yang merdu dan lemah lembut bisa menenangkanku, manakala aku panas dibakar kemarahan. Pada kesempatan lain bujukannya mampu membangkitkan kembali perasaan manusiawi yang masih kumiliki, manakala semangatku runtuh.

Dia menangis bersamaku dan menangisiku. Kemudian dia berusaha menenangkan hatiku. Ah! Memang baik sekali bagi orang yang tidak beruntung untuk menerima penghiburan. Tapi orang yang bersalah takkan mendapatkan kedamaian. Siksaan penyesalan meracuni kenikmatan yang kadang-kadang terdapat dalam merasakan kesedihan.

Tidak lama setelah kami sampai ke rumah, ayah segera memperbincangkan perkawinanku dengan Elizabeth yang akan segera dilangsungkan. Aku tetap membisu.

"Apakah kau punya suatu ikatan lain?"

"Sama sekali tidak. Aku mencintai Elizabeth dan dengan senang hati mengharapkan segera terlaksananya ikatan suci kami. Marilah harinya segera kita tetapkan. Dan pada hari itu aku akan mengucapkan sumpah sehidup-semati dengan saudara sepupuku serta akan membahagiakannya, dalam hidup atau mati." Victor-ku sayang, janganlah berkata begitu. Kemalangan yang sangat besar baru saja menimpa kita semua. Marilah kita semakin saling mendekatkan diri, dan menumpahkan cinta kita kepada semua yang masih hidup. Keluarga kita kecil, tapi kini hubungan kita lebih rapat karena ikatan kasih sayang dan rasa sepenanggungan. Pada waktunya kelak kesedihan kita akan mereda, dan tunas-tunas baru akan lahir tempat kita mengalihkan cinta kita dari mereka yang telah direnggutkan dari tengah-tengah kita dengan cara begitu kejam."

Demikianlah ajaran dari ayah. Tapi aku teringat kembali kepada ancaman si iblis. Karena perbuatannya selama ini yang banyak menumpahkan darah, aku hampir-hampir menganggapnya sebagai makhluk yang tak termusnahkan. Dan waktu dia mengucapkan kata-kata "aku akan datang kepadamu pada malam perkawinanmu," aku menganggap nasibku sudah tak terelakkan lagi karena ancamannya ini.

Tapi bagiku kematian bukan hal yang buruk, kalau dibandingkan dengan kehilangan Elizabeth. Maka dengan wajah berseri-seri aku menyetujui saran ayahku. Kalau Elizabeth setuju, aku ingin agar upacara pernikahan kami dilangsungkan sepuluh hari lagi. Kubayangkan dengan demikian aku telah memastikan takdirku.

Ya Tuhan! Seandainya aku tahu bagaimana sebenarnya kehendak iblis musuhku, tentu aku lebih suka pergi mengembara, mengasingkan diri dari negeriku. Aku pasti akan lebih suka menjadi gelandangan sebatang kara daripada menyetujui perkawinan yang akibatnya sangat mengerikan ini. Tapi seakan telah kena sihir, aku telah menjadi buta terhadap tujuan si iblis yang sesungguhnya. Aku bukannya menyiapkan kematianku sendiri, melainkan kematian orang yang sangat kucintai .Semakin dekat hari perkawinan yang sudah ditetapkan, aku meragakan hatiku semakin dalam terbenam di dalam kesedihan. Ini mungkin karena ke-pengecutan, atau karena firasat buruk. Tapi aku menyembunyikan perasaanku sebaik-baiknya. Aku selalu memperlihatkan senyuman dan kegembiraan, sehingga ayah dan Elizabeth pun selalu ber-sukacita.

Elizabeth menunggu ikatan resmi kami dengan rasa senang dan puas. Dia yakin bahwa kebahagiaan yang akan diperolehnya kelak bisa menghapuskan semua kenangan pahit masa lampau.

Kami pun menyusun persiapan untuk menyong song hari pernikahan kami. Di samping itu kami juga sering menerima kunjungan untuk menyampaikan ucapan selamat. Semua penuh senyum dan kegembiraan.

Aku tetap menyimpan baik-baik dalam hatiku kekhawatiran yang kurasakan. Secara lahiriah aku kelihatan menyetujui rencana ayah dengan sepenuh hati, padahal sebenarnya hanya pulasan saja untuk menutupi kesedihanku.

Dengan usaha ayahku, sebagian warisan Elizabeth bisa diberikan kepadanya oleh pemerintah Austria. Dia mendapat warisan sebidang tanah yang tidak begitu luas di pantai Como. Kencananya, segera setelah kami menikah kami akan terus pindah ke Villa Lavenza. Kami akan menjalani hari-hari pertama kami yang penuh kebahagiaan di tepi danau yang indah, tidak jauh dari rumah.

Sementara itu aku selalu berjaga-jaga untuk membela diri, kalau-kalau si ibli^ membuat serangan terbuka. Aku selalu membawa pistol dan pisau, serta selalu waspada. Dengan demikian maka aku merasa lebih tenang dan aman.Kini semakin dekat ke hari perkawinanku, ancaman terhadap diriku rasanya semakin kabur dan lebih mirip satu khayalan belaka. Ancaman ini rasakan tidak lagi mengganggu rasa ketenteraman-ku. Sebaliknya kini semakin terasa olehku kebahagiaan yang kuharapkan segera tercapai setelah perkawinanku. Rasanya takkan ada peristiwa yang bisa membatalkan tercapainya kebahagiaan ini.

Elizabeth rupanya juga «merasa bahagia. Sikapku yang tenang juga menenangkan perasaannya. Tapi setelah harinya tiba, dia tampak bersedih hati. Ya, hari perkawinanku kecuali merupakan saat peme nuhan keinginanku juga merupakan saat penentu an takdirku. Rupanya dia juga terganggu oleh firasat buruk. Atau mungkin pikirannya terganggu oleh rahasia mengerikan yang kujanjikan untuk kubu-kakan kepadanya pada hari esoknya.

Ayah sementara itu terlalu sibuk mengurus persiapan peralatan, serta terlalu bergembira. Kesedihan kemenakannya hanya dianggap sebagai sikap wajar dari seorang gadis yang akan menjadi pengantin.

Setelah upacara pernikahan selesai, di rumah kami diselenggarakan pesta besar-besaran. Tapi aku dengan Elizabeth segera memulai perjalanan kami. Malamnya kami menginap di Evian, dan meneruskan perjalanan keesokan harinya. Hari cerah dan angin datang dari arah buritan kapal. Semua bergembira melepas pelayaran bulan madu kami.

Itulah saat terakhir dalam hidupku waktu aku masih bisa merasakan kebahagiaan. Kami me luncur dengan cepat. Matahari sangat terik, tapi kami terlindung dari sinarnya oleh semacam tenda. Sementara itu kami menikmati indahnya pemandangan. Kadang-kadang kami melihat ke tepi danau, dan kami lihat Mont SaleVe serta tepian Montalegre yang permai. Di kejauhan, lebih tinggi daripada segala-galanya, kami lihat Mont Bianc serta pegunungan salju di sekelilingnya. Kadangkadang kami melihat ke tepi danau di seberang. Di sana kami lihat pegunungan Jura yang besar dan hitam. Tebingnya yang curam tidak terdaki oleh siapa pun yang ingin menaklukkannya.

Aku menggenggam tangan Elizabeth. "Kau tampak sedih, Sayangku. Ah! Kalau kau tahu bahwa aku pun menderita serta akan menanggungkan penderitaan yang lebih besar lagi, kau pasti akan berusaha memberiku kesempatan mengenyam ke tenteraman dan kebebasan dari kesedihan, yang setidak-tidaknya bisa kurasakan sehari ini saja."

"Berbahagialah, Victor-ku sayang," jawab Elizabeth. "Kuharap tidak ada suatu apa pun yang menyedihkanmu. Yakinlah, walaupun air mukaku tidak memperlihatkan kegembiraan, tapi hatiku merasa bahagia. Sesuatu berbisik kepadaku agar aku tidak terlalu menggantungkan diri kepada masa depan yang terbuka di hadapan kita, tapi aku tidak mau mendengarkan suara yang tidak menyenangkan ini. Perhatikan, alangkah cepatnya kita meluncur. Lihatlah awan yang kadang-kadang menutupi kubah Mont Blanc, rasanya bahkan lebih memperindah pemandangan. Lihatlah juga ikan yang tak terhitung banyaknya, yang berenang-renang di air jernih. Air begitu jernihnya, sehingga kita bisa melibat setiap butir batu yang tergeletak di dasar danau. Sungguh hari yang indah! Alangkah bahagia dan tenteramnya alam!"

Demikianlah Elizabeth berusaha mengalihkan pikiranku dan pikirannya sendiri dari bayangan per soalan yang menyedihkan. Tapi sikapnya tidak tetap, selalu berubah-ubah Kebahagiaan yang selama beberapa saat terpancar dari matanya selalu digantikan oleh kesedihan dan pikiran melayang-layang.

Matahari pun semakin jauh condong ke barat. Kami melewati sungai Drance, dan kami perhatikan alirannya yang berkelok-kelok di antara bukit-bukit dan lembah. Pegunungan Alpen kelihatan lebih dekat ke danau, dan kami sampai ke pegunungan yang merupakan perbatasan sebelah timur. Menara Evian tampak berkilau-kilauan di bawah hutan yang mengelilinginya serta gunung-gunung yang menjulang tinggi di atasnya.

Angin yang selama itu mendorong kami sehingga perahu meluncur sangat laju, setelah matahari terbenam berubah menjadi sepoi-sepoi. Permukaan air hanya beriak kecil-kecil dan pepohonan menggeletar lembut. Kami memutar haluan menuju ke pantai, dan kami disongsong oleh wanginya bunga-bungaan serta rumput kering.

Waktu kami mendarat matahari sudah lenyap di balik kaki langit. Tatkala aku menginjakkan kaki di pantai, kurasakan kekhawatiran dan ketakutanku kembali lagi. Rasanya sejak itu kesedihan seperti mencengkam diriku untuk selama-lamanya .KAMI mendarat pada jam delapan malam. Sejenak kami berjalan-jalan di tepi danau, menikmati indahnya cahaya senja. Kemudian kami pergi ke penginapan yang menghadap ke danau, dikelilingi hutan dan pegunungan. Malam sudah gelap, tapi gunung-gunung tampak samar-samar lebih hitam daripada kegelapan.

Angin dari selatan sudah berhenti, tapi kini angin kencang dari barat ganti bertiup. Bulan sudah tinggi di langit, dan sudah mulai turun. Awan yang berarak di atasnya lebih cepat daripada burung elang yang terbang melayang, meredupkan sinarnya. Permukaan danau penuh bayangan langit yang ber ubah-ubah, bahkan kelihatan lebih ramai karena kini airnya mulai berombak. Tiba-tiba badai datang, disertai hujan lebat.

Seharian tadi aku merasa tenteram. Tapi segera setelah kegelapan malam menyembunyikan segala-galanya, seribu satu ketakutan timbul lagi dalam pikiranku. Aku gelisah dan waspada. Pistol yang kusimpan di balik jasku kuraba dengan tangan kanan. Setiap suara menakutkanku. Tapi aku sudah bertekad akan menjual nyawaku semahal-mahalnya. Aku tidak akan meninggalkan gelanggang pertarungan sebelum jiwaku sendiri atau jiwa musuhku. Elizabeth sudah cukup lama memperhatikan kegelisahanku. Tapi dia diam saja dengan sikap ketakutan. Rupanya dia melihat pancaran air mukaku yang membuatnya merasa ngeri. Dengan badan gemetar dia bertanya:

"Apa sebenarnya yang menggelisahkan mu Victor-ku sayang? Apa yang kautakutkan?"

"Ah! Tenanglah, Sayangku," jawabku. "Setelah malam ini berlalu semua akan aman. Tapi malam ini akan terjadi peristiwa yang mengerikan, sangat mengerikan."

Selama satu jam hanya itulah yang terpikir olehku. Tapi tiba-tiba aku sadar bahwa pertarunganku nanti pasti akan membuat isteriku kalut dan takut yang luar biasa. Maka dengan tegas kubujuk agar dia mau masuk ke kamar tidur. Aku mengambil keputusan baru akan menyusulnya setelah kuketahui tentang perihal musuhku.

Dia pun meninggalkanku. Dan aku meneruskan berjalan mondar-mandir di gang beberapa waktu lamanya. Kuperiksa setiap sudut rumah, yang mungkin bisa digunakan oleh musuhku sebagai tempat bersembunyi.

Tapi sedikit pun aku tidak menemukan jejak musuhku. Aku mulai berpikir bahwa telah terjadi suatu peristiwa yang mencegah pelaksanaan ancaman terhadap diriku. Tapi tiba-tiba kudengar sebuah pekikan yang meninggi dan sangat mengerikan. Suara ini datang dari kamar tempat Elizabeth beristirahat. Begitu suara ini kudengar, kesadaran seakan membanjir masuk ke dalam pikiranku. Tanganku lemas. Sekujur badanku serasa kehilangan tenaga. Tapi ini hanya kurasakan selama sesaat. Terdengar kembali suara jeritan, dan aku menghambur masuk ke kamar.

Ya Tuhan! Mengapa aku tidak mati saja? Mengapa aku harus merasakan kehancuran ha rapanku yang tertinggi, serta harus menyaksikan kebinasaan makhluk paling suci di dunia? Kulihat Elizabeth menggeletak melintang di tempat tidur, tidak bergerak-gerak dan sudah tidak bernyawa lagi. Kepalanya tergantung lemas ke bawah, dan wajahnya yang pucat separuh tertutup oleh rambutnya. Ke mana pun aku membuang muka, aku selalu melihat tubuhnya yang terbayang di pelupuk mataku — tangan dan tubuhnya yang sudah lemas dilemparkan oleh si pembunuh ke atas ranjang pe ngantinnya sendiri. Sanggupkah aku menyaksikan ini dan tetap hidup? Aduh! Hidup selalu bergantung erat-erat setiap kali orang sangat tidak menghendakinya. Sesaat kemudian aku tidak sadarkan d Tri dan roboh ke lantai.Waktu aku siuman kembali, kulihat orang-orang dari penginapan mengerumuniku. Muka mereka memancarkan kengerian yang iuar biasa. Tapi kengerian orang lain bagiku hanya terasa sebagai olok-olok, bayangan dari perasaan yang menekanku.Aku melepaskan diri dari kerumunan mereka, pergi ke kamar tempat Elizabeth dibaringkan. Ya, Elizabeth, Kekasihku, Isteriku yang begitu kusayangi dan kuagung-agungkan. Sikap berbaring-nya sudah diubah. Kini kepalanya terletak di atas tangannya, dan sehelai sapu tangan ditutupkan ke muka dan lehernya. Sepintas lalu dia kelihatan seakan sedang tidur.Aku menghambur ke depan dan memeluknya. Tapi tubuhnya yang sudah kaku dan dingin me nyadarkanku bahwa kini dia bukan lagi Elizabeth yang selama ini kucintai. Bekas cekikan si pembunuh kelihatan jelas pada lehernya, dan kini dia sudah tidak bernafas lagi.Suatu ketika aku kebetulan melihat ke atas. Sebelumnya jendela kamar kelihatan gelap. Kini aku merasa panik melihat sinar bulan yang kuning menyorot ke dalam kamar. Tirai jendela telah disibakkan. Dan dengan rasa ngeri yang sulit dilukiskan, kulihat di jendela terbuka sesosok tubuh yang sangat menakutkan serta menjijikkan. Kulihat senyuman pada muka makhluk iblis ini. Rupanya dia mengejekku, dan dengan telunjuk iblisnya dia menunjuk ke mayat isteriku.Aku menyerbu ke jendela. Kucabut pistol dari dadaku, dan kulepaskan tembakan. Tapi dia mengelak. Dia melompat dari tempatnya, lari secepat kilat dan terjun ke danau.

Suara tembakan pistolku menyebabkan orang banyak menyerbu masuk ke kamar. Aku menunjuk ke arah tempat makhluk ini menghilang. Kemudian kami mengikuti jejaknya dengan perahu. Beberapa buah jala ditebarkan, tapi sia-sia belaka.

Setelah melakukan pemburuan selama beberapa jam, kami kembali dengan putus asa. Orang banyak sebagian besar yakin bahwa yang kulihat hanya sesuatu yang ada dalam angan-anganku saja. Kami mendarat, dan mereka terus melakukan pencarian di daratan. Kelompok pengejar pergi ke segala penjuru, menyusup ke tengah pohon-pohonan dan kebun anggur.

Aku bermaksud menyertai mereka. Tapi belum jauh dari rumah, kepalaku sudah terasa pening. Langkahku seperti orang mabuk, dan akhirnya aku tersungkur ke tanah karena kelelahan. Mataku serasa tertutup oleh sehelai selaput, dan kulitku berkeriput karena panas dan demam.

Dalam keadaan demikian aku diusung ke dalam dan dibaringkan di tempat tidur. Aku hampir-hampir tidak memahami apa yang sedang terjadi.Mataku menjelajahi seluruh ruangan, seakan mencari-cari sesuatu yang telah hilang.

Beberapa waktu kemudian aku bangun. Seakan terdorong oleh instink, aku pergi ke kamar tempat kekasihku terbaring. Beberapa orang wanita yang mengerumuninya sedang menangis. Aku pun turut menangis bersama mereka. Waktu itu pikiranku tidak menentu. Pikiranku melayang-layang, tertuju kepada berbagai macam persoalan. Dengan pikiran kacau-balau aku mengingat-ingat semua kemalangan yang kuderita beserta dengan penyebabnya.

Aku sangat kalut, diliputi kabut keheranan dan kengerian. Mula-mula William dibunuh, kemudian Justine dihukum mati. Selanjutnya Clerval juga jatuh menjadi korban, dan yang terakhir isteriku. Bahkan pada saat itu aku tidak tahu apakah kerabatku yang masih ada selamat dari kekejaman si iblis. Mungkin waktu itu juga ayahku sedang menggeliat-geliat dalam cekikannya, dan Ernest sudah menggeletak tidak bernyawa. Gagasan ini membuatku menggigil dan mengingatkanku untuk segera bertindak. Aku segera berkemas-kemas dan memutuskan untuk kembali ke Jenewa secepat mungkin.

Tidak ada kuda yang bisa kusewa, jadi aku harus pulang melalui danau. Tapi angin waktu itu tidak * memungkinkan untuk melakukan pelayaran, dan hujan yang turun sangat lebat. Tapi waktu itu fajar baru merekah, dan aku bisa berharap akan sampai ke rumah malamnya.

Aku mengupah beberapa orang untuk mendayung, bahkan aku sendiri juga turut mengayuh perahu. Seperti biasa aku selalu berusaha mengurangi siksaan batin dengan mengeluarkan tenaga jasmani. Tapi saat itu kesedihan yang kurasakan menyebabkan tenaga jasmaniku lenyap sama sekali .Dayung kulemparkan, dan aku duduk sambil menopang kepalaku dengan dua tangan. Pikiranku sama sekali dikuasai oleh penderitaan yang kian memuncak.

Kalau aku mengangkat kepala, aku melihat pemandangan yang belum lama keindahannya kunikmati bersama dia yang kini tinggal kenangan belaka. Air mata mengalir ke pipiku.

Waktu itu hujan berhenti sejenak. Kulihat beberapa ekor ikan bermain-main dalam ah- seperti beberapa jam yang lalu. Ya, ini ikan yang sebelumnya telah diperhatikan oleh Elizabeth. Tak ada yang lebih menyakitkan bagi perasaan manusia daripada perubahan yang begitu besar dan tiba-tiba. Matahari bisa bersinar dan awan bisa berarak seperti biasa, tapi tidak ada yang kelihatan sama bagiku seperti hari kemarin. Iblis telah me renggutkan setiap harapan kebahagiaan masa depanku. Tidak ada lagi makhluk yang lebih menyedihkan daripada diriku. Begitu banyak dan mengerikan peristiwa yang terjadi terhadap diriku, terlalu banyak untuk riwayat hidup satu orang.

Tapi mengapa aku harus menceritakan terus peristiwa yang sangat menyedihkan ini? Riwayat hidupku memang penuh kengerian. Kini aku sudah mencapai puncaknya, dan apa yang harus kuceritakan sekarang rasanya sudah terlalu berlebih-lebihan. Coba bayangkan! Satu demi satu keluargaj dan sahabatku direnggutkan dariku. Aku dibiarkan merana seorang diri.

Kini tenagaku sudah hampir habis sama sekali. Dengan beberapa kalimat aku harus menceritakan akhir kisahku yang mengerikan.

Aku pun sampai ke Jenewa. Ayah dan Ernest masih hidup. Tapi ayah tidak mampu menanggung kesedihan yang juga kurasakan, demi mendengar ceritaku. Sekarang aku sadar, betapa tua dan rapuh dia! Matanya menjadi belingsatan dan hampa, serta kehilangan cahaya. Baginya, Elizabeth lebih dari seorang anak kandung. Elizabeth sangat disayanginya, lebih-lebih karena sudah tidak banyak lagi yang bisa dicintainya.

Terkutuk, terkutuklah iblis yang mendatangkan kesedihan begitu besar kepada ayahku yang sudah j ubanan, serta menghancurkan jiwanya sama sekali! Ayah tidak kuasa lagi menanggung beban penderitaan yang sudah menumpuk sedemikian banyaknya. Mata air kehidupannya tiba-tiba berhenti mengalirkan semangat hidup. Dia tidak bisa lagi bangun dari tempat tidur, dan beberapa hari kemudian dia menghembuskan nafas penghabisan dalam pelukanku.

Lalu apa jadinya dengan diriku? Aku tidak tahu. Aku kehilangan ingatan. Aku hanya bisa merasakan rantai dan kegelapan yang memberati diriku. Kadang-kadang aku bermimpi sedang berjalan-jalan di taman bunga penuh kegembiraan bersama teman-teman di masa kanak-kanakku. Tapi setelah terbangun, aku mendapatkan diriku berada dalam penjara bawah tanah.

Kesedihan menyusul. Tapi lambat laun aku mulai sadar akan diriku, penderitaan serta keadaanku. Tidak lama kemudian aku dibebaskan dari kurungan. Rupanya selama itu aku dianggap gila. Selama beberapa bulan aku dikurung dalam sel tahanan seorang diri.

Namun bagiku kebebasan merupakan hadiah yang tidak berguna. Tapi kemudian terpikir olehku bahwa kebebasanku bisa kumanfaatkan untuk berusaha membalas dendam. Setelah kenangan tentang penderitaan masa lalu kembali kurasakan, aku mulai memikirkan penyebabnya. Ya, penyebabnya tidak lain makhluk ciptaanku sendiri — iblis mengerikan yang kulepaskan ke dunia untuk mendatangkan kehancuranku sendiri! Aku merasa terbakar oleh kemarahan kalau teringat kepada makhluk ini. Aku sangat bernafsu ingin menangkapnya, serta membalas dendam dengan menghancurkan kepalanya yang terkutuk.

Kemarahanku tidak terbatas hanya pada pikiran semata-mata. Aku juga mulai memikirkan cara terbaik untuk melaksanakan pembalasan dendamku. Setelah keputusanku bulat, aku pun mulai bertindak. Beberapa bulan setelah aku dibebaskan, aku menemui hakim bagian kriminil. Kuceritakan kepadanya bahwa aku punya tuntutan yang akan kuajukan. Kukatakan kepadanya bahwa aku kenal dengan pemusnah keluargaku. Aku mengajukan permohonan kepadanya agar dia menggunakan segenap wewenangnya untuk menangkap si pembunuh.

Hakim mendengarkan kata-kataku dengan penuh perhatian dan rasa belas kasihan. "Percayalah, Tuan," katanya, "kami akan berusaha sekuat tenaga untuk menangkap penjahat ini."

"Terima kasih," jawabku. "Kalau begitu dengarkan keterangan yang akan kupaparkan. Memang ini sebuah cerita yang sangat aneh. Aku khawatir ceritaku tidak mudah menarik kepercayaan orang, sebab walaupun semuanya benar tapi kedengar annya sangat ajaib. Ceritaku juga bisa disalahartikan sebagai sebuah mimpi, padahal aku tidak punya motif untuk menceritakan kebohongan."

Sikapku waktu menceritakan ini penuh ketenangan dan mengesankan. Dalam hati aku sudah bertekad memburu perusak hidupku dan membunuhnya. Tekad ini meredakan penderitaanku, dan untuk sementara menenangkan hidupku. Aku menceritakan kisahku secara singkat, tapi tegas dan dengan tepat. Kusebutkan tanggal setiap peristiwa dengan tepat, dan aku tidak pernah menyimpang dengan mengucapkan makian atau seman.Mula-mula hakim kelihatan tidak percaya. Tapi aku terus bercerita, dan perhatian serta rasa tertariknya semakin bertambah. Kulihat dia kadang-kadang menggigil karena ngeri. Pada kesempatan lainnya dia tampak sangat heran. Rasa takjub yang tidak bercampur dengan ketakpercayaan terbayang jelas pada air mukanya.Setelah aku mengakhiri ceritaku, aku berkata, "Inilah makhluk yang kutuduh melakukan kejahatan selama ini. Tentang penangkapan dan hukumannya terserah kepada wewenang dan kekuasaanmu. Ini tugasmu sebagai seorang hakim. Aku yakin dan berharap perasaanmu sebagai manusia tidak menentang pelaksanaan tugasmu dalam persoalan ini.*Kata-kataku yang terakhir mengubah pendirian pendengarku. Dia telah mendengarkan ceritaku setengah percaya setengah tidak, seperti orang mendengarkan dongeng tentang peri dan kejadian-kejadian ajaib. Tapi setelah dia diminta untuk bertindak secara resmi, seluruh sikap ketakper-cayaannya kembali. Dia menjawab pelahan:"Dengan segala senang hati aku ingin memberikan setiap bantuan yang kauperlukan untuk melakukan pengejaran. Tapi makhluk yang kau-ceritakan rupanya memiliki kekuatan luar biasa, yang akan mengalahkan setiap usahaku. Siapa yang akan bisa mengejar makhluk yang sanggup melintasi padang es, serta tinggal di dalam gua yang tidak bisa didatangi manusia? Lagipula beberapa bulan sudah berlalu sejak dia melakukan kejahatannya. Tak ada seorang pun yang tahu ke mana dia pergi, atau di mana dia bertempat-tinggal.""Aku tidak ragu-ragu lagi, dia pasti tinggal tidak jauh dari kediamanku. Dan kalau dia benar sudah melarikan diri ke pegunungan Alpen, dia bisa diburu seperti kambing gunung dan dibinasakan seperti binatang buas. Tapi aku sudah mengetahui bagaimana pendirianmu. Kau tidak mempercayai ceritaku, dan tidak mau memburu musuhku untuk menghukumnya."Sementara aku berbicara, kemarahan membuat mataku berkilat-kilat. Hakim mulai merasa khawatir. "Kau keliru," katanya. "Aku akan berusaha menangkap makhluk ini kalau aku mampu. Percayalah, aku akan menjatuhkan hukuman yang setimpal untuk semua kejahatannya. Tapi mendengar ceritamu sendiri tentang kemampuan makhluk ini, aku merasa khawatir jangan-jangan usaha kita kelak ternyata sia-sia belaka. Jadi sementara kita melakukan segala usaha, kau harus bersedia menerima kegagalan dan kekecewaan.""Tidak perlu begitu. Tapi apa yang akan kukatakan takkan ada gunanya. Pembalasan dendamku tidak ada sangkut-pautnya dengan kepen-tinganmu. Aku tidak bisa melukiskan kemarahanku demi kuketahui bahwa pembunuh ini, yang kulepaskan ke tengah masyarakat, masih hidup. Kau menolak tuntutanku yang jujur. Sekarang aku hanya tinggal memiliki satu cara lagi. Aku akan berusaha sendiri untuk membinasakannya, walaupun akibatnya aku sendiri akan menemui ajal."Aku mengatakan ini dengan badan gemetar karena marah. Aku yakin sikapku bisa dianggap sebagai tingkah orang gila, atau orang kesurupan. Ya, seorang hakim Jenewa otaknya penuh dengan gagasan lain, yang jauh dari heroisme atau kesadaran berbakti kepada masyarakat. Tentu saja gagasanku hanya ditafsirkannya sebagai kegilaan.Dia berusaha menenangkanku, seperti seorang perawat membujuk anak kecil. Dia menganggap ceritaku sebagai igauan orang sakit ingatan belaka.Bung," seruku, "alangkah kosongnya jiwamu dari harga diri dan kebijaksanaan! Sudah, berhenti! Kau tidak tahu apa yang kaukatakan." Aku pergi meninggalkan rumah hakim dengan marah dan kesal. Sampai di rumah aku mulai memikirkan cara lain untuk bertindak.

Bab 24

AKU sekarang hampir-hampir tidak bisa lagi berpikir dengan akal sehat. Tindakanku hanya terdorong oleh kemarahan. Hanya nafsu membalas dendam yang memberiku kekuatan dan gairah hidup. Nafsu ini jugalah yang memerintah pe rasaanku, serta kadang-kadang menenangkan hatiku.

Keputusanku yang terutama ialah meninggalkan Jenewa untuk selama-lamanya. Aku mencintai negeriku manakala aku berbahagia dan dicintai. Tapi setelah aku menderita kesedihan, rasanya aku jadi berubah membencinya. Aku membawa uang secukupnya, juga perhiasan milik ibuku dan terus berangkat.Kini aku memulai pengembaraan yang hanya akan berakhir kalau hidupku juga berakhir. Aku hampir sudah menjelajahi seluruh dunia. Aku sudah mengalami hidup yang penuh kekerasan dan ke sulitan, seperti yang umumnya dirasakan oleh para pelancong di gurun-gurun pasir dan di negeri biadab. Aku hampir-hampir tidak mengerti bagaimana aku bisa tetap hidup. Aku sudah seringkah terkapar di padang pasir dan hampir mati. Tapi nafsu membalas dendam membuat aku tetap hidup. Aku tidak berani meninggalkan dunia fana ini lebih dulu dan membiarkan musuhku tetap hidup. Waktu aku meninggalkan Jenewa, usahaku yang pertama ialah mencari jejak musuhku. Tapi rencanaku tidak tetap. Selama berjam-jam aku mengembara di luar kota, tidak tabu arah mana yang harus kuambil. Setelah malam tiba aku sadar telah berada di pintu gerbang kuburan tempat William, Elizabeth dan ayah d ke bumikan Aku masuk ke dalam kuburan dan menghampiri batu nisan yang bertutiskan nama mereka. Di mana-mana sunyi senyap. Yang terdengar hanyalah bisikan lembut daun-daun pepohonan yang diusik angin. Malam sudah hampir gelap, dan keadaan di situ sangat khidmat dan tenang. Rasanya seakan arwah mereka yang sudah berpulang kembali dan mengerumuni si peziarah.Tapi kesedjhan serta kekhidmatan yang ditimbulkan oleh suasana tenang di sekitarku segera berganti dengan kemarahan. Mereka sudah tiada, tapi aku masih hidup di dunia. Pembunuh mereka juga masih hidup. Untuk membinasakannya, aku harus berusaha mempertahankan hidupku yang sudah payah.Aku berlutut di rumput dan mencium tanah. Dengan bibir gemetar aku berkata: "Demi tanah suci tempatku berlutut, demi arwah yang berkeliaran di dekatku dan demi kesedihan abadi yang kurasakan, aku bersumpah. Juga demi kau, O Malam beserta dengan arwah yang bernaung dalam keteduhanmu, aku bersumpah untuk memburu iblis yang menyebabkan kesedihanku, sampai aku atau dia binasa dalam pertarungan sampai mati. Untuk tujuan inilah aku mempertahankan hidupku. Untuk melaksanakan balas dendamku ini sekali lagi aku mau melihat matahari dan menginjak rumput dunia fana. Dan kuminta kepadamu, arwah semua yang sudah mati, dan juga kau, setan-setan yang berkeliaran, untuk membantu pelaksanaan kerjaku.Bantulah aku membuat iblis terkutuk ini binasa. Biarlah dia merasakan penderitaan yang sekarang menyiksaku."

Aku mengucapkan sumpahku dengan khidmat. Aku sampai hampir merasa yakin bahwa arwah keluargaku yang terbunuh mendengar dan menyetujui maksudku. Tapi menjelang akhir kalimatku kemarahanku menyala-nyala sehingga kata-kataku tercekik di tenggorokan.

Dalam keheningan malam kata-kataku dijawab dengan suara ketawa iblis yang keras. Suaranya mendengung di telingaku, panjang dan berat. Pegunungan menggemakan suaranya, dan aku merasakan diriku dikelilingi suara tertawa dan ejekan.

Setelah suara tertawa berhenti, kudengar suara yang sangat kukenal dan kubenci. Suaranya begitu dekat ke telingaku berkata kepadaku dalam bisikan, "Aku puas, orang jahat! Kau bertekad untuk tetap hidup, dan aku merasa puas."Aku menyerbu ke arah datangnya suara, tapi si iblis mengelakkan terkamanku. Tiba-tiba bulan purnama terbit. Cahayanya menyinari tubuhnya yang buruk dan mengerikan, waktu dia berlari dengan kecepatan jauh melebihi kecepatan manusia. Aku mengejarnya. Dan selama beberapa bulan hanya itulah pekerjaanku. Dengan sedikit petunjuk yang kuperoleh, aku mengikuti sungai Rhone yang * berbelok-belok. Namun usahaku sia-sia. Aku sampai ke Laut Tengah yang biru. Di situ secara kebetulan yang aneh kulihat pada suatu malam si iblis menyembunyikan diri dalam kapal yang akan berlayar ke Laut Hitam. Aku turut naik ke kapal ini. Tapi dia lenyap begitu saja, aku tidak tahu ke mana larinya.Kutemukan kembali jejaknya di tengah padang belantara Tartar dan Rusia. Tapi masih saja dia berhasil meloloskan diri dari kejaranku. Di sana kadang-kadang beberapa orang petani yang ketakutan melihat rupa iblis ini memberitahukan kepadaku arah yang diambilnya. Tapi kadang-kadang dia sendiri rupanya khawatir jangan-jangan aku kehilangan jejaknya, putus asa dan mati. Maka dia dengan sengaja meninggalkan jejak untuk memberi petunjuk kepadaku.Salju sudah mulai berguguran di atas kepalaku. Dan kulihat jejaknya yang besar-besar di tengah , padang yang memutih. Coba bayangkan semua yang kurasakan! Dingin, serba kekurangan dan kelelahan hanyalah sebagian kecil dari semua yang harus kuderita. Aku dikutuki oleh iblis, dan ke mana-mana membawa nerakaku sendiri yang abadi.Tapi roh baik masih mengikutiku dan menuntun langkahku, serta menolongku dari ke sulitan yang kelihatannya takkan teratasi. Kadang-kadang kalau aku sudah hampir mati kelaparan di tengah gurun pasir, tahu-tahu aku mendapatkan makanan yang seakan sengaja disediakan untukku. Makanan ini tentu saja sangat sederhana, seperti yang biasa dimakan para petani di pedalaman. Aku yakin makanan ini dihidangkan oleh arwah yang kuminta! bantuannya. Pada kesempatan lain waktu aku hampir mati kehausan dan di mana-mana kering, tiba-tiba awan kecil terkumpul di langit. Beberapa tetes air turun, hanya cukup untuk melenyapkan dahagaku. Dan kemudian awan pun lenyap tertiup angin.

Sedapat mungkin aku selalu berjalan mengikuti tepi sungai. Tapi iblis yang kukejar biasanya menghindari sungai. Rupanya dia tahu bahwa kota besar selalu didirikan di tepi sungai. Di beberapa tempat manusia sangat jarang kutemukan. Biasanya aku hidup dengan memakan binatang liar yang berhasil kutangkap. Aku membawa banyak uang, dan akubisa menjalin persahabatan dengan orang desa dengan cara membagi-bagikannya. Atau kadang-kadang setelah mengambil sebagian, binatang yang kubunuh kuberikan kepada mereka. Sebagai gantinya, mereka memberiku api dan perkakas untuk memasak makanan.Cara hidup yang semacam ini sangat tidak kusenangi. Aku hanya bisa merasakan kesenangan dalam tidur. Ah, alangkah nikmatnya tidur bagiku! Seringkah kalau aku merasa sangat berat menanggung kesedihan, aku terus berbaring untuk tidur. Dalam tidur, mimpiku seringkah mendatangkan rasa bahagia. Roh yang menjagaku rupanya memberiku saat-saat bahagia ini, agar aku bisa beristirahat dan mendapatkan kekuatanku kembali untuk melanjutkan perjalanan.Seandainya aku tidak bisa menikmati kesenangan beristirahat, mungkin aku sudah lama binasa karena menanggung kesulitan. Selama siang hari semangatku dibangkitkan oleh harapan menunggu datangnya malam. Dan setelah malam tiba, dalam tidur aku melihat semua sahabatku, isteriku serta negeriku yang kucintai. Sekali lagi aku melihat wajah ayahku yang ramah. Aku mendengar suara Elizabeth yang merdu, serta melihat Cierval yang sehat wal'afiat dan penuh gairah hidup. Seringkah kalau aku kelelahan karena berjalan, aku meyakinkan diriku sendiri bahwa aku sedang bermimpi. Aku tinggal menunggu datangnya malam, dan aku akan menikmati kenyat n di tengah-tengah semua orang yang kucintai. Alangkah cintanya aku kepada mereka! Bahkan pada saat aku sadar, aku seringkah meyakinkan diriku bahwa mereka masih hidup! Pada saat-saat semacam itu nafsu balas dendamku yang menyala-nyala padam. Aku meneruskan perjalanan mengejar musuhku seperti orang yang tidak sadar» seakan bukan karena dorongan keinginan yang berkobar-kobar.Aku tidak tahu bagaimana perasaan dia yang ku kejar. Kadang-kadang dia meninggalkan tulisan pada sekeping kulit kayu, atau pada batang pohon dengan menggunakan batu runcing. Maksudnya untuk memberi petunjuk, atau membangkitkan kemarahanku."Pemerintahanku belum berakhir" — demikian lah bunyi salah satu tulisan yang ditinggalkannya — "kau hidup, dan kekuasaanku sempurna. Ikuti aku. Aku pergi menuju ke padang es abadi di utara. Di sana kau akan merasakan penderitaan karena dingin dan kebekuan, sedangkan aku kebal dari penderitaan. Kalau kau berjalan cukup cepat mengikuti jalan setapak ini, kau akan menemukan seekor kelinci yang, sudah mati. Makanlah, untuk menyegarkan kembali tubuhmu. Teruslah, musuhku! Kita masih akan bertarung untuk saling membunuh, l'api sebelumnya kau harus merasakan banyak penderitaan, sampai saatnya tiba/' Iblis pengejek! Sekali lagi aku bersumpah untuk melaksanakan balas dendamku. Aku bertekad tidak akan menyerah sebelum dia atau aku binasa. Kemudian dengan senang hati aku akan menyusui Elizabeth dan semua kerabatku yang sudah berpulang. Mungkin sekarang mereka bahkan sudah menyiapkan hadiah bagiku, sebagai imbalan jerih payahku!

Aku masih terus melakukan pengejaran ke utara. Salju makin lama makin tebal. Hawa dingin semakin membekukan tubuh, hampir-hampir tak tertahankan rasanya. Semua petani mengurung diri dalam pondoknya. Hanya satu dua orang saja yang berani keluar. Mereka biasanya para pemburu, keluar untuk menangkap binatang yang berkeliaran mencari mangsa. Sungai penuh es, dan tidak ada ikan yang bisa ditangkap. Maka semakin sulit aku mencari makanan. Musuhku semakin merasa menang, dengan makin meningkatnya kesulitanku. Dia meninggalkan lagi tulisan seperti berikut ini:"Awasi Penderitaanmu baru saja mulai. Bungkuslah tubuhmu dengan mantel kulit binatang berbulu, dan bawalah bekal makanan. Kita akan segera melakukan perjalanan yang sulit, dan penderitaanmu akan memuaskan kebencianku yang abadi."Keberanian dan ketabahanku semakin kuat karena kata-kata ejekan ini. Aku bertekad tidak akan gagal melaksanakan maksudku. Aku berseru meminta bantuan kepada langit, serta meneruskan perjalanan melintasi padang salju dengan langkah tetap. Akhirnya di kejauhan samudera mulai tampak, meluas sampai ke cakrawala. Oh! Sungguh jauh bedanya laut di sini dengan laut di selatan yang berwarna biru! Di sini laut seluruhnya tertutup lapisan es, hampir tidak bisa dibedakan dengan daratan. Orang Yunani menangis gembira kalau melihat Laut Tengah dari bukit-bukit di Asia, dan mereka bersukacita karena jerih lelah mereka sudah berakhir. Tapi aku tidak menangis. Aku berlutut, dan dengan sepenuh hati mengucapkan terima kasih kepada roh pelindung yang telah menuntunku. Aku telah sampai dengan selamat ke tempat yang kuharapkan akan menjadi arena pertarungan dengan iblis yang selama ini ku-kejar-kejar.Beberapa minggu sebelumnya aku telah mendapatkan pengeretan dan beberapa ekor anjing untuk menariknya. Maka dengan kereta salju ini aku bisa melintasi padang es lebih cepat daripada yang kubayangkan alat pengangkutan yang sama. Tapi kalau sebelumnya aku semakin jauh tertinggal, setelah aku sampai ke tepi laut kuketahui bahwa iblis yang kukejar hanya sejauh sehari perjalanan di depanku. Aku berharap akan berhasil menyusulnya sebelum dia sampai ke pantai seberang. Dengan semangat dan keberanian baru aku meneruskan pengejaran. Dua hari kemudian aku sampai ke sebuah kampung kecil yang menyedihkan di tepi pantai. Aku bertanya kepada penghuninya, untuk mencari keterangan tentang si iblis. Keterangan yang kuperoleh tidak meragukan lagi.

Mereka mengatakan bahwa malam sebelumnya telah datang seorang yang berbentuk raksasa. Dia bersenjata senapan dan beberapa buah pistol. Penghuni sebuah pondok yang terpencil lari semua karena takut melihat rupanya yang mengerikan. Dia mengambil persediaan makanan mereka untuk musim dingin dan dimuat di atas pengeretan. Untuk menarik pengeretan ini dia menangkap beberapa ekor anjing penghela yang terlatih. Malam itu juga iblis ini meneruskan perjalanan melintasi lautan, mengambil arah yang tidak sampai ke daratan mana pun. Orang desa yang ketakutan merasa senang karena raksasa ini pergi. Mereka mengira dia pasti sudah binasa. Kalau tidak terbenam karena

lapisan es pecah, mungkin mati beku karena kedinginan.

Demi mendengar keterangan ini aku merasa putus asa. Dia telah lolos dari kejaranku. Dan aku harus memulai lagi perjalanan menempuh padang es yang hampir tak ada batasnya. Penghuni desa ini saja merasa tidak sanggup menahan hawa dingin di tengah samudera es ini. Apalagi aku, orang yang biasa hidup dalam iklim yang lebih panas! Aku sama sekali tidak punya harapan akan bisa hidup .Tapi memikirkan si iblis akan hidup dengan penuh rasa kemenangan, kemarahan dan nafsu balas dendamku menyala kembali. Laksana ombak yang datang bergulung-gulung, perasaan ini membanjir menenggelamkan perasaan lainnya. Setelah beristirahat sebentar, aku bersiap-siap untuk meneruskan pengejaran.

Aku menukar pengeretanku dengan kereta salju yang lebih cocok untuk melakukan perjalanan melintasi lautan beku. Aku membawa bekal makanan banyak-banyak, terus bertolak dari daratan mi.

Sejak saat itu aku sudah tidak tahu lagi berapa hari yang sudah berlalu. Selama itu aku menanggung penderitaan yang luar biasa. Kalau tidak didorong oleh semangat dan nafsu yang menyala-nyala dalam hatiku, aku pasti sudah binasa. Gunung es yang besar dan sulit ditempuh seringkah menghambat perjalananku. Aku juga sering mendengar bergolaknya samudera yang mengadu gunung-gunung es dengan suara gemuruh, mengancam untuk menghancurkanku. Tapi sekali lagi salju turun, membuat permukaan es mudah dilalui.

Menilik habisnya persediaan makanan yang kubawa, aku bisa menduga bahwa aku sudah tiga minggu lamanya menempuh perjalanan. Harapan yang terus-menerus diulur-ulur seringkah membuat air mataku meleleh penuh kesedihan dan penyesalan. Sekali aku berhasil mendaki dan menuruni gunung, dan seekor anjingku mati kehabisan tenaga. Dengan rasa pilu aku memandangi padang es yang tuas terhampar di hadapanku. Tiba-tiba kulihat sebuah titik hitam jauh di dekat kaki langit.

Aku menajamkan penglihatanku, untuk mengetahui dengan pasti benda apa yang kulihat. Aku berseru kegirangan demi kukenali sosok tubuh berbentuk buruk di atas sebuah kereta salju. Oh Alangkah besarnya harapan yang berkobar kembali dalam hatiku!

Air mata hangat membanjir ke luar, dan cepat-cepat kuhapus. Air mataku tidak boleh mengaburkan pandanganku, supaya si iblis tidak terlepas lagi dari penglihatanku. Tapi tetap saja air mataku bercucuran. Akhirnya aku tidak kuasa lagi menahan perasaan, dan tangisku meledak.

Tapi sekarang bukan waktunya untuk berlalai-Lalai. Anjing yang mati kulepaskan dari ikatannya, dan lain-lainnya kuberi makan banyak-banyak. Setelah beristirahat selama satu jam, aku meneruskan perjalanan pula.

Pengeretan di depanku masih bisa kulihat. Aku tidak melepaskannya lagi dari penglihatanku, kecuali satu kait waktu pandanganku terhalang oleh sebuah bukit es. Rupanya aku berhasil mengejarnya. Setelah perjalanan selama dua hari, kulihat musuhku tidak lebih dari dua kilometer di depanku. Melihat ini dadaku berdebar-debar.

Tapi kini setelah musuhku hampir terjangkau, tiba-tiba harapanku padam, Jejaknya kini lebih sulit dicari daripada sebelumnya. Kudengar samu-dera di bawah lapisan es bergolak. Suaranya yang menggemuruh serta gelombang yang berdeburan di bawahku makin lama makin mengerikan.

Aku berusaha maju terus, tapi sia-sia belaka. Badai datang dan lautan makin menggejolak. Lak sana gempa bumi yang hebat, lapisan es retak-retak. Pecahannya saling bertumbukan dengan suara yang sangat dahsyat.

Tidak lama kemudian badai berhenti. Dalam tempo beberapa menit saja aku sudah dipisahkan dari musuhku oleh air laut yang bergolak, berbusa dan berbuih. Aku terapung-apung di atas pecahan es. Pecahan es ini pun makin lama makin kecil, mengancam untuk mendatangkan kematian yang mengerikan bagiku.

Beberapa jam berlalu dalam keadaan semacam ini. Beberapa ekor anjingku mati. Aku sendiri sudah hampir mati terbenam. Saat itulah aku melihat kapalmu, memberiku harapan keselamatan dan hidup.

Aku tidak mengerti bagaimana sebuah kapal sampai berlayar begitu jauh ke utara, dan aku sangat * heran melihatnya. Aku segera menghancurkan sebagian kereta saljuku untuk membuat dayung. Dengan potongan papan itu aku mendayung rakit-esku ke arah kapalmu.

Aku sudah bertekad, seandainya kau dalam perjalanan ke selatan, aku lebih baik mempercayakan nasibku kepada laut daripada membatalkan maksudku. Aku berharap akan bisa membujukmu agar mau memberiku sebuah perahu untuk mengejar
musuhku. f

Tapi ternyata pelayaranmu menuju ke utara. Kau menaikkanku ke atas kapal pada saat tenagaku habis. Kalau tidak mendapat pertolonganmu, aku pasti sudah mati. Padahal aku masih takut mati, sebab tugasku belum tertunaikan.

Oh! Apakah roh penuntunku memberikan kesempatan kepadaku untuk beristirahat? Ataukah aku harus mati, dan dia masih tetap hidup? Seandainya aku mati, Walton, bersumpahlah kau untuk tidak membiarkannya lolos. Carilah dia sampai ketemu, dan bunuhlah dia untuk memuaskan nafsu balas dendamku.

Tapi patutkah aku menyuruhmu mengambil-alih tugasku, melakukan pengejaran dan menahankan penderitaan seperti yang telah kurasakan? Tidak, aku tidak mementingkan diri sendiri Tapi seandainya nasib mempertemukanmu dengan dia, bersumpahlah kau kepadaku untuk membunuhnya. Bersumpahlah kau untuk mengakhiri kemenangannya atas penderitaanku. Akhiri hidupnya, agar dia tidak memperpanjang lagi daftar kejahatannya yang sangat keji.

Berhati-hatilah! Dia pandai bicara dan pintar membujuk. Bahkan dia pernah berhasil mempengaruhi hatiku. Tapi kau jangan percaya kepadanya. Jiwanya seburuk rupanya yang mengerikan, penuh kelicikan dan kejahatan iblis. Jangan dengarkan perkataannya. Sebutkan nama William, Justine, Clerval, ayahku dan Victor yang malang, dan tikamkan pedangmu ke jantungnya. Arwahku akan selalu mendampingimu, untuk meluruskan tikaman ujung pedangmu.

Sambungan surat Robert Walton.

26 Agustus 17.

Kau sudah membaca cerita yang aneh dan mengerikan ini, Margaret. Tidakkah kau merasakan darahmu membeku karena ngeri, seperti yang kurasakan? Kadang-kadang karena tercengkam oleh penderitaan yang tiba-tiba dirasakannya, dia tidak bisa meneruskan ceritanya. Pada kesempatan lainnya dia bercerita dengan suara terputus-putus karena kepedihan hatinya.

Matanya yang bagus kadang-kadang menyala-nyala karena kemarahan, dan kadang-kadang sayu tertunduk oleh rasa duka yang tak ada taranya. Kalau dia bisa menahan perasaannya, dia bisa mengisahkan peristiwa yang paling mengerikan dengan suara penuh ketenangan. Kemudian seperti gunung meletus, air mukanya berubah penuh kemarahan. Dia memekikkan kutukan kepada iblis penyebab kesengsaraannya.

Ceritanya sating berhubungan, dan diceritakan dengan kebenaran yang bersahaja. Tapi kuakui kepadamu bahwa surat Felix kepada Satle yang ditunjukkannya kepadaku serta makhluk yang kulihat dengan mata kepalaku sendiri dari kapal lebih meyakinkan diriku akan kebenaran ceritanya, daripada kata katanya untuk meyakinkanku.

Jadi makhluk seperti yang diceritakannya benar-benar ada! Aku tidak meragukannya, walaupun aku merasa heran dan takjub. Kadang-kadang aku berusaha mendapatkan dari Frankenstein rumus dan cara membuat makhluk ini. Tapi dalam perkara ini dia benar-benar teguh dan kebal terhadap bujukan.

"Apakah kau gila, Sahabatku?" katanya. "Ataukah kau terdorong oleh rasa ingin tahu yang tanpa dipikir? Apakah kau juga akan menciptakan iblis musuhmu dan musuh seluruh dunia? Semoga kedamaian mengisi hatimu! Ambillah pelajaran dari kesedihanku, dan

janganlah kau mencari untuk menambah kesedihanmu sendiri."m Frankenstein mengetahui bahwa aku membuat catatan tentang riwayat hidupnya. Dia meminta catatanku, untuk memeriksanya. Kemudian dia sendiri membuat koreksi di beberapa tempat. Terutama dia menghidupkan percakapan antara dia sendiri dengan musuhnya.

"Karena kau telah mengabadikan ceritaku," katanya, "aku tidak menginginkan cerita yang kurang betul diwariskan turun-temurun."

Demikianlah waktu seminggu berlalu, sementara aku mendengarkan cerita paling aneh yang bisa dikhayalkan manusia. Pikiran dan segenap perasaanku tertumpah kepada tamuku, beserta dengan kisah yang diceritakannya.

Aku sangat ingin menghiburnya. Tapi dapatkah aku membangkitkan semangat hidup orang yang begitu menyedihkan, serta begitu hampa dari ha rapan mendapatkan penghiburan? Oh, tidak! Kini dia hanya mengenal satu kegembiraan saja, yaitu kalau dia bisa mati dan beristirahat untuk selama-lamanya.

Tapi kadangkala dia pun masih bisa menikmati satu kesenangan, yaitu akibat dia terlalu lama menyendiri serta gangguan demam. Kalau dalam mimpi dia berjumpa dengan keluarganya, dia yakin bahwa itu bukan sekedar mimpi belaka. Dia yakin bahwa mereka benar-benar datang menemuinya dari dunia yang jauh. Kepercayaan ini menenangkan perasaannya, sehingga aku sendiri hampir mempercayainya sebagai satu kenyataanpan kami tidak selalu terbatas pada riwayat dan kesedihannya saja. Dia juga memiliki pengetahuan yang luas di bidang kesusasteraan. Kepandaiannya berbicara sangat kuat, serta sangat menyentuh perasaan. Dia bisa membangkitkan belas kasihan orang, tanpa dia sendiri menitikkan air mata. Betapa hebatnya orang ini di kala masih penuh kebahagiaan dan tidak kurang suatu apa! Sedang di saat-saat kehancurannya saja, dia masih memperlihatkan wataknya yang agung dan luhur. Rupanya dia masih menyadari harga diri dan kebesarannya pada saat kejatuhannya.

"Waktu aku masih muda," katanya, "aku yakin bahwa aku sudah ditakdirkan untuk menghasilkan karya agung. Perasaanku sangat dalam, tapi aku pun memiliki cara berpikir yang tenang, yang memungkinkanku bisa mencapai prestasi yang tinggi. Kesadaran akan kebesaran jiwaku membantuku untuk menaruh kepercayaan kepada diri sendiri, padahal seandainya orang lain pasti sudah putus asa. Sebab aku menganggap satu kejahatan, kalau aku menyia-nyiakan bakatku yang seharusnya berguna bagi kesejahteraan umat manusia. Kalau aku memikirkan tentang pekerjaan yang sudah kusele-saikan, yaitu penciptaan makhluk perasa yang mampu berpikir, aku tidak bisa menyamakan diriku dengan para penemu lain yang biasa. Tapi pikiran yang mendorongku untuk memulai penciptaanku dulu, kini hanya membenamkanku semakin dalam di dalam lumpur kehinaan. Perhitungan dan harapanku ternyata meleset semua. Aku seperti malaikat yang ingin mencapai kemahakuasaan, akhirnya dirantai dalam neraka abadi. Imajinasiku sangat kuat dan kemampuanku luar biasa. Karena perpaduan dua hal inilah, maka aku punya gagasan ingin menciptakan manusia buatan. Bahkan sekarang pun aku masih teringat kepada perasaanku waktu pekerjaanku belum selesai. Kadang-kadang aku merasa berada di sorga. Kadang-kadang aku merasa sangat bangga kepada kemampuanku, dan kadang-kadang hasratku menyala-nyala ingin tahu bagaimana kelak hasilnya. Sejak kecil aku sudah dididik untuk bercita-cita setinggi bintang. Kini alangkah dalamnya aku terbenam! Oh! Sahabatku, kalau kau mengenalku dalam keadaanku dulu, kau takkan mengenaliku dalam keadaan sengsara seperti ini. Dulu kesedihan tidak pernah singgah ke hatiku. Aku seakan terus terdorong ke atas oleh takdir untuk mencapai keagungan. Tapi kemudian aku jatuh, jatuh dan tidak bisa bangkit kembali."

Haruskah aku kehilangan sahabat yang mengagumkan ini? Aku sudah lama mendambakan seorang sahabat. Aku menginginkan sahabat yang bisa memahami perasaanku, serta mencintaiku. Bayangkan! Di tengah samudera sunyi ini aku mendapatkan sahabat yang kuidam-idamkan. Tapi aku khawatir, aku hanya mendapatkannya untuk mengetahui nilainya yang tinggi dan kemudian kehilangan dirinya. Aku ingin menyelamatkan jiwanya, tapi dia menolak gagasanku.

"Aku berterima kasih kepadamu, Walton," katanya, "atas maksud baikmu yang kautujukan kepada diriku yang sangat malang ini. Tapi kalau kau berbicara tentang hidup dan harapan baru, apakah kau juga memikirkan mereka yang telah tiada? Adakah laki-laki yang seperti Clerval? Dan masih adakah wanita lain yang seperti Elizabeth? Mereka bagiku bukan sekedar sahabat belaka. Ikatan kasih sayang kami sejak masa kanak-kanak tetap tidak berubah. Di mana pun aku berada, suara Elizabeth yang lemah lembut serta kata-kata Clerval yang riang gembira rasanya selalu terngiang di telingaku. Mereka kini sudah tiada. Dan sekarang dalam kesendirian hanya ada satu perasaan saja yang mendorongku untuk tetap hidup. Seandainya aku berhasil membaktikan diri untuk kesejahteraan unrat manusia, pasti aku masih bisa menghayati hidup walaupun sebatang kara. Tapi ternyata aku tidak ditakdirkan demikian. Sekarang aku harus memburu dan membinasakan makhluk yang telah kuberi hidup. Setelah itu barulah tugasku di dunia tertunaikan, dan aku bisa mati dengan perasaan tenang."

2 September.

Adikku sayang,

Aku menulis surat ini dalam keadaan sedang dikelilingi bahaya. Aku bahkan tidak tahu apakah aku masih ditakdirkan untuk melihat Inggris kembali, serta bertemu dengan penghuninya Aku dikelilingi oleh gunung-gunung es yang mengancam untuk meremukkan kapalku, dan tidak ada jalan untuk melepaskan diri.

Orang-orang gagah berani yang menyertai pelayaranku meminta bantuanku, tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa. Keadaan kami sangat mengerikan, namun aku tidak kehilangan keberanian dan harapan. Yang membuatku merasa ngeri hanyalah pikiran bahwa hidup orang-orang ini terancam bahaya karena aku. Kalau kami binasa, penyebabnya tidak lain adalah rencanaku yang gila.

Dan bagaimanakah perasaanmu, Margaret? Kau pasti takkan mempercayai berita kebinasaanku, dan kau akan selalu menunggu kedatanganku kembali. Bertahun-tahun akan berlalu, dan kau akan seringkah didatangi rasa kekhawatiran, namun kau masih disiksa oleh harapan.

Oh! Adikku sayang, kepedihan hatimu selama menunggu diriku yang tak kunjung tiba kelak lebih menyiksa bagiku daripada kematianku sendiri. Tapi kau punya suami dan anak-anak yang manis. Kau akan selalu bahagia. Semoga Tuhan memberkati dan membuatmu selalu berbahagia!

Tamuku yang memilukan memandangiku dengan rasa belas kasihan yang paling lembut. Dia berusaha membangkitkan harapanku, dan berbicara seakan hidup adalah harta yang paling dihargainya. Dia mengingatkanku tentang betapa seringnya para pelaut diancam bahaya yang sama waktu mengarungi lautan. Tanpa mengingat dirinya sendiri, dia membuat ramalan yang menggembirakan mengenai diriku.

Bahkan para kelasi merasakan pengaruh kepandaiannya berbicara. Kalau dia berbicara, mereka tidak lagi merasa putus asa. Dia membangkitkan semangat dan tenaga mereka. Dan sementara mereka mendengarkan suaranya, mereka menganggap gunung es yang menjulang tinggi hanya sebagai gundukan sarang tikus tanah yang akan lenyap karena kehendak manusia.

Tapi perasaan begini hanya bersifat sementara. Setiap hari harapan yang selalu tertunda-tunda membuat mereka ketakutan. Dan aku hampir hampir merasa khawatir, jangan-jangan ketakutan mereka mengakibatkan timbulnya pemberontakan di kapal.

5 September

Baru saja terjadi peristiwa yang sangat menarik Begitu menariknya, sehingga walaupun kemungkinan besar surat ini takkan pernah sampai ke tanganmu, namun aku tidak bisa melewatkannya begitu saja tanpa menuliskannya.

Kami masih dikelilingi gunung es. Setiap saat kami masih terancam bahaya hancur lebur kalau gunung ini saling bertumbukan. Udara terasa dingin luar biasa. Banyak teman-temanku yang sudah mendapatkan kuburannya di tengah lautan es yang jauh dari' mana pun.Tiap hari kesehatan Frankenstein semakin merosot. Sinar matanya masih menyala-nyala, tapi tenaganya sudah habis. Kalau dia melakukan gerakan dengan tiba-tiba, dengan cepat dia terpe-renyak kembali dan diam seperti orang yang tidak bernyawa.

Dalam suratku yang terakhir aku menyebutkan ketakutanku kalau ka au terjadi pemberontakan di kapal. Pagi ini aku sedang memperhatikan wajah sahabatku yang pucat. Matanya setengah tertutup, dan anggota badannya tergantung lemas. Tiba-tiba aku dikejutkan oleh suara setengah lusin pelaut yang minta masuk ke dalam kabin. Mereka masuk, dan pemimpinnya berbicara kepadaku.

Dia berkata kepadaku, bahwa dia dengan teman-temannya datang untuk mengajukan permintaan yang tidak bisa kutolak. Kami sedang terjepit es, dan mungkin tidak bisa melepaskan diri lagi. Tapi mereka menakutkan, seandainya kelak kami punya kesempatan mendapatkan jalan keluar, aku akan bertindak bodoh dengan meneruskan pelayaran dan menghadapkan mereka dengan bahaya baru. Maka dia atas nama teman-temannya mendesakku agar aku mau bersumpah untuk berbalik haluan menuju ke selatan, kalau nanti kapal terlepas dari kepungan gunung es.

Permintaan mereka mengganggu pikiranku. Aku belum putus harapan, dan aku pun tidak memikirkan untuk pulang kalau kapal terlepas dari jepitan es. Tapi dapatkah aku menolak tuntutan ini? Aku masih ragu-ragu untuk memberikan jawaban. Waktu itu Frankenstein yang dari tadi berdiam diri, bahkan kelihatannya tidak punya cukup tenaga untuk mengikuti pembicaraan kami, memaksa dirinya untuk bangkit. Matanya menyala-nyala, dan pipinya memerah. Dia menoleh kepada para pelaut yang menemuiku seraya berkata:"Apa maksudmu? Tuntutan apa yang kauajukan kepada kaptenmu? Apakah kau begitu mudah dibelokkan dari tujuanmu? Bukankah kau mengatakan ini sebuah ekspedisi besar? Tapi kebesarannya bukan karena lautan yang kauarungi tenang dan rata seperti laut selatan. Kebesarannya karena pelayaran ini penuh bahaya dan kengerian. Karena setiap saat dalam pelayaran ini menuntut segenap tenaga dan keberanianmu. Karena kau selalu dikelilingi bencana dan bahaya maut, dan kau harus berani mengatasinya. Karena ini semua, maka pelayaran ini bisa dikatakan sebuah ekspedisi besar. Dan kau mendapat penghormatan besar untuk menjalaninya. Untuk selama-lamanya kau akan dipuji-puji sebagai orang yang berjasa kepada umat manusia. Namamu akan disejajarkan dengan mereka yang menantang maut demi kesejahteraan seisi dunia. Dan sekarang lihatlah! Pada bayangan per tama ancaman bahaya, atau pada saat pertama keberanian dan ketabahanmu akan mendapat ujian. Kau lebih suka dicap sebagai orang yang tidak cukup memiliki tenaga untuk menahankan hawa dingin dan ancaman bahaya. Sebagai orang yang berjiwa kerdil, kau menggigil dan pulang untuk memanaskan badan di muka per diangan. Sungguh sia-sia segala perlengkapan yang sudah dipersiapkan dengan susah payah! Kalian tidak perlu datang jauh-jauh ke sini untuk memberi malu kaptenmu dengan menyerah .kalah, hanya karena kalian semuanya pengecut. Oh! Jadilah manusia, atau lebih dari manusia! Tetaplah teguh memegang tujuan mu sekuat batu karang. Es ini tidak terbuat dari bahan yang sama dengan bahan pembuat hatimu. Es ini bisa keras seperti batu atau mencair menjadi air, sesuai dengan kehendakmu. Janganlah kalian kembali kepada keluarga masing-masing dengan cap pengecut pada dahimu. Kembalilah sebagai pahlawan yang berhasil melakukan penaklukan, dan pahlawan yang tidak tahu apa arti kata menyerah atau meninggalkan gelanggang pertarungan."

Dia berbicara dengan semangat menyala-nyala serta mata yang penuh sinar kepahlawanan. Herankah kau kalau hati orang-orang ini tergerak olehnya? Mereka saling berpandangan tanpa bisa menjawab. Kemudian aku berbicara. Kusuruh mereka beristirahat, serta merenungkan apa yang dikatakannya. Aku juga tidak akan memaksakan kehendakku meneruskan pelayaran ke utara, kalau itu bertentangan dengan kehendak mereka. Tapi aku berharap, setelah mereka memikirkannya keberanian mereka akan kembali.

Mereka pergi, dan aku mengalihkan perhatian kepada sahabatku. Tapi dia sudah kehabisan tenaga pula, dan jiwanya hampir melayang.

Aku tidak tahu bagaimana semua ini akan berakhir. Tapi rasanya aku lebih baik mati daripada pulang dengan rasa malu, karena tujuanku tidak terlaksana. Tapi aku khawatir memang demikianlah nasibku. Orang-orangku tanpa dorongan rasa kehormatan dan cita-cita tinggi, takkan mau terus menahankan penderitaan seperti yang sedang kami alami. September.

Nasibku sudah ditetapkan. Aku menyatakan setuju untuk kembali, kalau kami tidak binasa. Maka harapanku hancur oleh kepengecutan dan ketak-tetapan hati. Aku pulang tanpa hasil apa pun, dan dengan rasa kecewa. Untuk menahankan rasa kecewa ini dengan sabar, rasanya memerlukan filsafat yang lebih dalam daripada yang kumiliki.

12 September.

Semuanya sudah berlalu. Aku pulang ke Inggris. Aku sudah kehilangan harapan mencapai kebesaran dan harapan menjadi orang yang berguna bagi masyarakat. Aku sudah kehilangan sahabatku. Tapi aku akan mencoba menceritakan pengalaman pahitku kepadamu. Adikku sayang. Dan sementara aku berlayar pulang ke Inggris dan kepadamu, aku tidak akan terus merasa murung.

Pada tanggai 9 September es mulai bergerak. Suaranya yang menggemuruh terdengar dari jauh, waktu pulau-pulau es ini mulai retak dan pecah-pecah di mana-mana. Kami terjepit di tengah bahaya yang sangat dahsyat, tapi kami sama sekali tidak bisa berbuat apa-apa.

Karena tidak ada yang bisa dilakukan, maka aku memusatkan perhatian kepada tamuku yang malang. Sakitnya makin payah, dan akhirnya dia tidak bisa meninggalkan tempat tidur. Di belakang kami es pecah dan terdorong arus yang kuat ke utara. Angin bertiup dari barat, dan pada tanggal 11 jalan ke arah selatan terbuka lebar.

Para pelaut yang melihat ini sadar dan yakin bahwa mereka akan bisa pulang ke kampung halaman. Mereka pun bersorak-sorai dengan gembira. Frankenstein kebetulan siuman. Dia menanyakan penyebab suara hiruk-pikuk yang didengarnya.

"Mereka bersorak-sorai," jawabku, "sebab mereka segera akan pulang ke Inggris."

"Jadi kau benar-benar akan kembali?"

"Aduh! Ya, betul. Aku tidak sanggup menolak tuntutan mereka. Aku tidak bisa memaksa mereka menempuh bahaya di luar kehendak mereka sendiri, dan aku harus kembali."

"Kembalilah, kalau itu sudah menjadi kehendakmu. Tapi aku tidak mau kembali. Kau boleh membatalkan maksudmu. Tapi aku tidak berani ^ mengurungkan apa yang sudah menjadi tujuanku, sebab aku mengemban tugas dari Tuhan sendiri. Sekarang badanku lemah, tapi roh yang membantu pelaksanaan pembalasan dendamku akan memberiku kekuatan cukup."

Dia berkata demikian seraya mencoba bangkit dari tempat tidur. Tapi usaha ini sudah terlalu berat baginya. Dia terkapar kembali dan jatuh pingsan.

Lama sekali dia tidak sadarkan diri. Aku sampai seringkah mengira bahwa nyawanya benar-benar

sudah meninggalkan raganya. Tapi akhirnya dia siuman kembali, dan membuka matanya. Nafasnya sengal-sengal dan dia tidak mampu mengeluarkan sepatah kata pun. Dokter kapal memberinya obat penenang, serta memberi perintah kepada kami agar dia tidak diganggu. Dia juga mengatakan bahwa hidup sahabatku tinggal beberapa jam saja.

Nasib sahabatku sudah ditentukan. Aku tidak bisa berbuat apa-apa, kecuali bersabar dan ber sedih hati. Aku duduk di sisi tempat tidur, menjaganya. Matanya tertutup, dan kukira dia tidur. Tapi kemudian dengan suara lemah dia memanggilku, memintaku lebih dekat kepadanya. Dia berkata:

.'Aduh! Kekuatan yang kuandalkan sudah habis sama sekali. Aku merasa akan segera menghembuskan nafas penghabisan. Dan dia, musuhku dan pe-nyiksaku, pada saat ini masih hidup. Janganlah kau mengira, Walton, bahwa pada saat-saat akhir hidupku ini aku masih merasakan dendam yang menyala-nyala seperti yang pernah kukatakan kepadamu. Tapi aku merasa sudah selayaknya kalau aku menghendaki kematian musuhku.

"Dalam beberapa hari yang terakhir ini aku selalu merenungkan semua perbuatanku di masa lampau. Dan aku pun tidak bisa menyalahkan diriku sendiri. Dalam kegilaan dan hasrat yang menyala-nyala aku menciptakan makhluk yang bisa berpikir. Aku pun bermaksud membuatnya bahagia, sekuat-kuat kemampuanku. Ini sudah menjadi kewajibanku, tapi masih ada kewajiban lain yang lebih luhur daripada itu. Aku lebih mengutamakan kewajibanku terhadap manusia sesamaku, sebab kewajiban ini bertalian dengan kebahagiaan atau kesedihan yang lebih besar."Terdorong oleh pendirian ini maka aku menolak tuntutan makhluk ciptaanku untuk menciptakan makhluk lain sebagai teman hidupnya. Dan penolakanku ini juga sudah pada tempatnya. Dia selama ini memperlihatkan sifat mementingkan diri sendiri dan kejahatan yang tiada taranya. Dia membinasakan sahabat dan keluargaku. Dia membunuh semua orang yang memiliki perasaan halus, kebahagiaan dan kebijaksanaan. Aku pun tidak tahu sampai sebesar apa rasa haus kejahatannya. "Untuk mencegahnya menyebarkan kejahatan lebih banyak lagi, maka dia harus mati. Sudah menjadi kewajibanku untuk merabinasakannya, tapi aku gagal melaksanakan tugas ini. Waktu terdorong oleh sifat mementingkan diri sendiri dan nafsu jahat, aku memintamu untuk meneruskan pekerjaan yang belum selesai ini. Sekarang aku mengulangi permintaanku, dan kali ini permintaanku terdorong oleh akal sehat dan keinginan berbuat baik kepada sesama hidup."Namun aku tidak bisa memintamu meninggalkan negeri dan teman-temanmu, untuk menunaikan tugas ini. Dan karena kini kau memutuskan kembali ke Inggris, lebih kecil lagi kemungkinanmu bertemu dengan dia. Walaupun demikian semua terserah kepadamu untuk mempertimbangkan persoalan ini. Pikiran dan perasaanku sudah sangat terganggu oleh ajal yang semakin mendekat. Aku tidak berani memintamu untuk melakukan apa yang menurut pertimbanganku benar, sebab mungkin aku masih disesatkan oleh nafsu dan kemarahan."Pikiranku sangat terganggu oleh kenyataan bahwa iblis ini masih tetap hidup sebagai penyebar 'bencana. Tapi ditinjau dari segi lain, karena aku seringkah menginginkan pembebasanku, saat-saat akhir hidupku ini merupakan satu-satunya saat penuh kebahagiaan yang baru kurasakan selama bertahun-tahun. Bayangan semua orang yang kucintai sudah melintas di hadapanku, dan aku ingin segera menyerahkan diri ke pelukan mereka."Selamat tinggal, Walton! Carilah kebahagiaan dalam ketenangan. Hindarilah ambisi, walaupun kelihatannya ambisi yang tidak berbahaya, hanya mencari pengetahuan dan penemuan baru. Tapi mengapa aku mengatakan ini? Aku memang telah gagal dalam usaha mencapai apa yang kuharapkan, tapi yang lain mungkin akan berhasil."

Suaranya makin lama makin lemah. Akhirnya tenaganya habis pula, dan dia terdiam kembali. Kira-kira setengah jam kemudian dia mencoba berbicara lagi. tapi tidak bisa. Dia menggenggam tanganku dengan pegangan lemah, dan matanya menutup untuk selama-lamanya. Waktu dia menghembuskan nafas penghabisan, senyum manis tersungging pada bibirnya.

Margaret, komentar apa yang bisa kuberikan berkenaan dengan kematian sahabatku ini? Apa yang bisa kukatakan agar kau bisa memahami kesedihanku yang sangat dalam? Apa yang bisa kunyatakan hanya merupakan penjelasan yang lemah dan kurang tepat. Air mataku keluar membanjir. Perasaanku tercengkam oleh kekecewaan. Tapi aku sedang melakukan pelayaran menuju ke Inggeris, dan hanya itulah mungkin yang bisa memberiku penghiburan.

Tiba-tiba aku terganggu oleh suatu suara. Suara apakah itu? Waktu ini tengah malam. Angin ber tiup pelahan, dan penjaga di geladak hampir-hampir tidak tergerak. Sekali lagi kudengar suara seperti suara manusia, tapi lebih serak. Suara ini datang dari kamar tempat membaringkan mayat Frankenstein. Aku harus pergi memeriksanya. Selamat malam, Adikku.

Ya Tuhan! Alangkah mengerikannya apa yang kusaksikan! Aku masih merasa pusing kalau mengingatnya kembali. Aku hampir-hampir tidak tahu, apakah aku mampu menceritakannya. Tapi kisah yang kucatat takkan lengkap, kalau aku tidak menyertakan peristiwa terakhir yang hebat dan mengerikan ini.

Aku masuk ke kabin tempat mayat sahabatku terbaring. Di atasnya kulihat sedang mencangkung sesosok tubuh yang — aku tidak bisa menemukan kata-kata untuk melukiskannya. Ukuran tubuhnya sangat besar, dengan proporsi yang aneh dan mengerikan. Waktu dia membungkukkan badan di atas peti mati, mukanya tertutup rambutnya yang panjang dan kusut. Tapi sebelah tangannya yang besar terangkat, rupa dan warnanya seperti tangan mayat yang dimumi.

Dia sedang meratap penuh kesedihan. Tapi waktu mendengar suara kedatanganku, dia berhenti berbicara dan melompat ke jendela. Behim pernah aku melihat apa pun yang lebih mengerikan daripada mukanya! Mukanya begitu menjijikkan, sangat mengerikan. Serta merta aku memejamkan mata, dan mencoba mengingat-ingat apa kewajiban yang harus kulakukan terhadap iblis perusak ini. Aku berseru menahannya.

Dia berhenti dan melihat kepadaku dengan rasa heran. Kemudian sekali lagi dia melihat kepada penciptanya yang sudah tidak bernyawa lagi. Waktu itu dia seperti tidak menyadari kehadiranku. Air muka dan setiap gerakannya seakan terdorong oleh kemarahan yang tidak bisa ditahannya lagi.

"Itu juga korbanku!" serunya. "Dengan kema-tiannya, semua kejahatanku sudah berakhir. Hidupku yang penuh rentetan penderitaan pun akan segera berakhir pula! Apa hasilnya kalau aku sekarang memintamu untuk memaafkanku? Aku, yang dengan tanpa ampun telah membinasakan semua yang ka cintai. Aduh! Tubuhnya sudah dingin, dan dia tidak bisa menjawab perkataanku."

Suaranya seperti tercekik. Tadinya aku bermaksud memenuhi permintaan sahabatku sebelum meninggal untuk membinasakannya. Tapi kini aku dikuasai perasaan campuran antara rasa ingin tahu dan belas kasihan.

Makhluk yang mengerikan ini kuhampiri. Aku tidak berani lagi menatap mukanya, sebab pada keburukan rupanya ada sesuatu yang menakutkan. Aku mencoba berbicara, tapi kata-kataku tidak bisa keluar dari mulutku. Sedangkan makhluk ini terus-menerus meratapi dirinya.

Akhirnya aku mengumpulkan keberanian untuk berbicara kepadanya pada saat dia berhenti berkata-kata sebentar dalam amukan badai kesedihannya. "Penyesalanmu kini terlalu berlebih-lebihan," kataku. "Seharusnya kau mendengarkan r suara hati nuranimu, dan merasa menyesal sebelum kau melakukan tindakan balas dendammu. Mungkin kalau kau menyesal dari dulu, sekarang Frankenstein masih hidup."

"Apakah kau mimpi?" tanya iblis ini. "Dan apakah kau mengira aku mati terhadap penderi taan dan rasa penyesalan? Dia," sambungnya seraya menunjuk kepada mayat sahabatku, "dia tidak menderita karena melakukan tindak kejahatan. Oh! Penderitaannya tidak ada seper- ^ sepuluh-ribunya penderitaan yang kurasakan selama aku dihantui perbuatan jahatku. Rasa mementingkan diri sendiri yang mengerikan selalu men dorong tindakanku, sementara hatiku diracuni rasa sesal.

"Apakah kaukira erangan Clerval semerdu suara musik di telingaku? Hatiku sudah dibuat agar mudah terpengaruh oleh rasa cinta dan kasih sayang. Tapi kemudian hatiku berubah menjadi jahat karena kesedihan dan kebencian yang ku-terima. Dalam menanggungkan penderitaan karena perubahan ini, kau takkan bisa membayangkan bagaimana siksaan yang kurasakan.

"Setelah pembunuhan Clerval, aku kembali ke Switzerland dengan hati hancur dan tercengkam kesedihan. Belas kasihanku jatuh kepada Frankenstein. Sedemikian besarnya belas kasihanku kepadanya, sampai meningkat menjadi rasa kenge rian. Aku merasa jijik kepada diriku sendiri. Tapi kemudian kuketahui bahwa dia, yang sekaligus telah menciptakan diriku beserta dengan segala siksaan yang harus kuderita, berani mengharapkan kebahagiaan. Sementara dia membuatku menderita kesedihan dan kesusahan yang tak terperi, dia sendiri mencari kesenangan untuk dirinya. Dia mencari kesenangan dalam kenikmatan perasaan dan pemenuhan nafsu yang tidak boleh kurasakan! Tentu saja rasa iri hati dan kemarahanku membuat diriku sangat ingin membalas dendam."Aku mengingat-ingat kembali ancamanku, dan memutuskan untuk melaksanakannya. Aku tahu bahwa dengan melaksanakan ancaman ini aku sendiri akan mendapatkan siksaan hati yang tak terkira pedihnya. Tapi aku hanyalah budak dari keinginan yang sangat kubenci, namun tidak dapat kutentang."Tapi setelah aku membunuh Elizabeth... aduh! Tapi tidak! Waktu itu aku tidak merasa sedih. Aku sudah membuang semua perasaanku dan mengatasi semua penderitaanku. Yang kurasakan waktu itu hanya keputusasaan yang tanpa batas. Kejahatan sudah menjadi perbuatan yang biasa saja bagiku. Aku tidak punya pilihan lain kecuali meneruskan melakukan perbuatan yang sudah menjadi pilihanku. Pemenuhan rencana jahatku sudah men jadi nafsu yang sulit dipuaskan. Dan sekarang semua sudah berakhir. Itulah dia korbanku yang terakhir!"Mula-mula hatiku tersentuh oleh pernyataan rasa kesedihannya. Tapi kemudian teringat olehku kata-kata Frankenstein tentang kepandaiannya berbicara serta kepintarannya membujuk. Sekali lagi kubayangkan pandanganku kepada mayat sahabatku. Serta-merta kemarahanku bangkit kembali "Iblis!" kataku. "Bagus benar kau datang ke mari untuk meratapi hasil kejahatanmu sendiri. Kau melemparkan suluh menyala ke atas bangunan rumah. Setelah semua habis terbakar, kau duduk di tengah puing-puing dan meratapi keruntuhan kota, Iblis munafik! Kalau dia yang kauratapi masih hidup, maka dia pasti akan menjadi sasaran kedengkian mu yang terkutuk. Bukan belas kasihan yang kaurasakan. Kau meratap, sebab korban kejahatanmu terlepas dari tanganmu.""Oh, bukan begitu — bukan begitu," sela makhluk buruk ini. "Tapi pasti demikian kesan yang kauperoleh dari pengamatan terhadap apa yang kulakukan. Walaupun demikian aku juga tidak mencari orang yang bisa turut merasakan kesedihanku. Di mana pun aku tidak pernah mendapatkan simpati."Dulu aku mula-mula sekali mencari cinta dan kebajikan. Aku ingin sekali menyalurkan rasa kebahagiaan dan kasih sayang yang memenuhi hatiku, dan aku ingin mengambil bagian di dalamnya. Tapi kebajikan ini bagiku sekarang hanya merupakan bayangan belaka. Sedangkan kebahagiaan dan kasih sayang kini berubah menjadi keputus-asaan yang pahit. Di mana aku bisa mendapatkan simpati?"Aku sudah merasa puas merasakan penderitaanku sendirian, selama aku masih merasa menderita. Kalau aku mati, aku sudah merasa puas dengan kebencian dan penghinaan memenuhi ingatanku. Dulu perasaanku terhibur oleh impian tentang kebajikan, kemashuran dan kebahagiaan. Dulu aku disesatkan oleh harapan hampa, bahwa suatu ketika aku akan bertemu dengan manusia yang sudi memaafkan rupa lahiriahku yang buruk dan mencintaiku karena kebaikan hatiku. Dulu pikiranku penuh dengan cita-cita luhur serta hasrat mengabdi."Tapi kini kejahatan telah menurunkan derajatku sampai lebih rendah daripada binatang yang paling hina. Tidak ada kesalahan, kejahatan, kedengkian dan penderitaan yang bisa dibandingkan dengan hal-hal ini yang terdapat pada diriku. Kalau aku memikirkan kembali semua dosa yang telah kulakukan, aku hampir-hampir tidak percaya bahwa aku makhluk yang sama dengan diriku dulu yang penuh bayangan kebajikan. Tapi ini pun sudah selayaknya. Malaikat yang jatuh dalam dosa menjadi iblis yang paling jahat. Tapi bahkan musuh Tuhan dan manusia ini masih punya teman dalam pengasingannya. Dan aku seorang diri."Kau, yang menyebut Frankenstein sahabatmu, rupanya mengetahui semua kejahatanku serta kemalangannya. Tapi dalam cerita yang dipaparkan kepadamu, dia tidak menyebut-nyebut berapa lamanya aku disiksa oleh penderitaan. Sebab sementara aku menghancurkan harapannya, aku tidak bisa memberi kepuasan kepada keinginanku sendiri. Nafsuku tetap menyala-nyala dan memedihkan hatiku."Aku mendambakan cinta dan persahabatan, padahal di mana-mana aku mendapatkan kebencian. Apakah ini bukan ketakadilan? Apakah hanya aku yang dicap sebagai penjahat, sedangkan seluruh umat manusia berdosa kepadaku? Mengapa kau tidak membenci Felix, yang mengusir sahabatnya dengan cara yang begitu keji? Mengapa kau tidak merasa jijik kepada laki-laki yang berusaha mem-binasakanku, padahal aku telah menolong anaknya dari bahaya mati terbenam dalam sungai? Tidak, mereka semua manusia berbudi dan tanpa cacat cela! Akulah makhluk buruk yang harus dibenci, disepak, diinjak-injak. Bahkan sampai sekarang darahku masih mendidih kalau teringat kepada ketakadilan ini.memang benar aku makhluk buruk dan jahat. Aku telah membunuh anak yang manis dan tak berdaya. Aku telah mencekik orang yang tak berdosa waktu mereka sedang tidur, padahal mereka tidak pernah menyakiti diriku atau makhluk hidup mana pun. Aku telah mendatangkan kesedihan kepada penciptaku, padahal dia orang yang patut dihormati dan dicintai serta terkemuka di tengah manusia sesamanya. Aku telah memburunya sampai dia mendapatkan kehancurannya."Itulah dia, terbaring pucat dan dingin dalam kematian. Kau membenciku, tapi rasa jijikmu terhadap diriku takkan menyamai rasa jijikku terhadap diriku sendiri. Aku melihat ke tangan yang selama ini telah melakukan banyak kejahatan. Ingin sekali rasanya aku menggunakan tanganku sendiri untuk menutup mataku, agar aku tidak dihantui lagi oleh semua perbuatanku."Janganlah kau takut aku akan mendatangkan 'S bencana di masa yang akan datang. Tugas hidupku sudah hampir selesai. Aku tidak menginginkan kematianmu atau kematian manusia mana pun untuk menggenapkan apa yang harus kuperbuat, sebab aku hanya tinggal menginginkan kematianku sendiri. Janganlah kau mengira aku akan berlambat-lambat untuk melaksanakan pembunuhan diriku."Aku akan meninggalkan kapalmu dengan naik |_ rakit es, yang akan membawaku ke titik terjauh di sebelah utara dari bulat an bumi ini. Di sana aku akan menyusun sendiri unggun api yang akan membakar tubuhku sampai menjadi abu. Aku tidak ingin mayatku kelak bisa digunakan oleh orang berjiwa nista yang ingin membuat makhluk seperti diriku."Aku akan mati. Aku takkan lagi merasakan penderitaan karena keinginanku tidak tercapai. Orang yang menghidupkan diriku sudah mati. Setelah aku tidak ada lagi, ingatan kepada kami berdua juga akan segera lenyap. Aku takkan lagi merasakan sinar matahari, melihat bintang-bintang atau me rasakan angin membelai pipiku. Semua inderaku takkan merasakan apa-apa lagi. Dalam keadaan itulah aku merasakan kebahagiaan."Beberapa tahun yang lalu dunia terhampar di 4 hadapanku untuk pertama kalinya. Aku merasakan sinar matahari musim panas yang hangat. Aku mendengar suara bergeresek daun-daunan yang ditiup angin, serta suara kicauan burung yang merdu. Hanya itulah yang bisa kurasakan pada waktu itu. Dan waktu itu aku akan menangis seandainya maut menjemputku."Tapi sekarang hanya kematianlah satu-satunya penghiburan bagiku. Hatiku sudah diracuni oleh begitu banyak kejahatan, serta habis dikoyak-koyak oleh rasa sesal yang paling pahit. Jadi di mana lagi aku akan memperoleh kedamaian, kecuali dalam kematian? "Selamat tinggal! Aku akan meninggalkanmu. Kaulah manusia terakhir yang melihat diriku. Selamat berpisah, Frankenstein! Seandainya kau masih hidup dan masih ingin melakukan balas dendam terhadap diriku, sebenarnya, kau lebih puas kalau aku tetap hidup. Sebab dalam hidup aku selalu merasakan penderitaan, sedangkan dalam * kematian aku merasakan kedamaian."Tapi tidak demikian kehendakmu. Kau ingin membinasakan diriku, supaya aku tidak menimbulkan bencana yang lebih besar lagi. Namun seandainya sekarang kau masih bisa berpikir dan merasakan dengan cara yang tidak kuketahui, kau tidak menginginkan pembalasan dendam terhadap diriku yang lebih besar daripada keinginanku sendiri."Walaupun jiwa ragamu hancur semacam itu, tapi penderitaanku masih jauh lebih besar daripada penderitaanmu. Sebab sengatan rasa penyesalan yang sangat pedih selalu kurasakan dalam luka hatiku, sampai maut menutup luka hatiku untuk selama-lamanya."Tapi tidak lama lagi aku akan mati," katanya dengan nada sedih dan khidmat. "Apa yang sekarang masih kurasakan segera tidak akan kurasakan lagi. Segera kesedihan yang membakar hatiku akan lenyap. Aku akan terjun ke dalam kobaran api unggunku sendiri dengan rasa penuh kemenangan. Aku akan bersorak-sorai dalam nyala api yang menyiksa dan meleburkan tubuhku. Dan api ini pun akan segera padam. Abu dari tubuhku akan ditiup angin dan disebarkan ke laut. Arwahku akan tidur dalam kedamaian. Selamat tinggal."

Setelah mengucapkan kalimatnya yang terakhir, dia melompat ke luar melalui jendela kabin. Dia terjun dan mendarat di atas rakit es yang terapung di sisi kapal. Segera ombak menghanyutkannya, dan dia lenyap dalam gelap di kejauhan.***

TAMAT

0 Response to "Frankenstein"

Post a Comment

Translate

English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified