Download applikasi baca novel online untuk android disini: DOWNLOAD

Enigma, Simpul Tak Bernama


Ambhita Dyaningrum

a novel, a second winner of FEMINA’s Female Writing Contest 2003

Pasti ada yang sangat istimewa, hingga Elisa, si wanita tidak biasa itu, tiba- tiba menjadi sangat membumi.

Malam beringsut perlahan. Bunyi binatang malam bersahut-sahutan di kejauhan. Penjaga portal di pintu gerbang terkantuk-kantuk dengan televisi masih menyala di sudut ruang. Wajahnya menengadah dan mulutnya yang ternganga mengeluarkan bebunyian yang mengusik kesunyian malam. Gelap menyembunyikan tiga bayang-bayang hitam yang bergerak tanpa suara menuju pusat kompleks gedung yang megah berkubah itu. Kegesitan tampak dari gerak-gerik menonaktifkan sistem keamanan dengan portable computer yang didudukkan di rerumputan kering, yang malam itu digayuti embun. Isyarat mata bersahut-sahutan dari wajah-wajah yang bertopeng hitam dan jari-jemari yang dibalut kaus tangan warna hitam pula. Dalam hitungan ketiga, bayangan-bayangan itu berbagi tugas. Lasak di malam yang tidur.

Tiba-tiba dingin mulai terasa hangat. Gelap tiba-tiba disibakkan cahaya benderang. Penjaga portal terbangun karena merasa pipinya menghangat. Ia risau dalam dengkurnya, kemudian akhirnya terjaga. Dari kaca-kaca jendela ia melihat nyala yang terang. Ia terperanjat melihat sinar kemerah-merahan menjulang dari dinding-dinding gedung berkubah. Kantuknya terenggut tiba-tiba oleh dentuman mahadahsyat dari jantungnya. Kebakaran!

Ia memeriksa sistem keamanan. Mati. Alarm tak berfungsi. Ia meraih gagang telepon di meja. Tak ada nada sambung. Ia kian panik. Napasnya mendengus-dengus. Layar monitor pemantau seluruh sistem gedung mati. Ia kemudian berlari sekencang-kencangnya ke arah gedung yang terbakar. Berteriak-teriak memanggil nama teman-temannya dengan lolong yang lebih buruk dari suara serigala yang terluka.

Sementara itu, tiga bayang-bayang hitam telah bergerak mundur dengan senyum kemenangan di sudut bibir mereka masing-masing. Ketiganya saling mengacungkan ibu jari. Misi telah selesai dijalankan. Kemudian bayang-bayang itu bersicepat dengan waktu, mengendap-endap di pekat malam yang telah diracuni panas dan terang cahaya api. Menghilang seperti partikel debu di udara. Dan di suasana seperti itu, derum kendaraan sekeras apa pun tenggelam dalam kegaduhan yang lebih mencemaskan yang datang dari gedung yang terbakar.

Stepa kembali datang ke perpustakaan tua sore itu. Entah dorongan dari mana yang membuat ia merasa tertarik dengan bangunan usang yang telah dimakan usia itu. Dinding perpustakaan mulai berlumut dan retak-retak sehingga membentuk liang-liang. Liang-liang kecil itu dihuni semut-semut yang kerap kali muncul ke permukaan beriring-iringan. Lantainya yang lembap dan terasa dingin di kaki membuat Stepa merasa senang menyentuhkan telapak kakinya di sana saat asyik membaca. Ada sensasi tersendiri dengan senyap itu.

Penjaga perpustakaan yang juga telah dimakan usia, Pak Raste namanya (untunglah namanya bukan Rasta), berambut keriting kecil-kecil dan berkacamata setebal kaca nako jendela. Ia tampaknya baik, hanya sedikit tegang pembawaannya. Barangkali ia termasuk orang yang sangat takut berbuat kesalahan. Ia berhati-hati sekali dalam bekerja, mencatat, dan memasukkan data ke komputer. Sambil melakukan pekerjaannya, ia juga tetap mengawasi gerak-gerik orang dari balik kacamatanya yang tebal. Ia mencurigai orang-orang yang masuk ke perpustakaan dengan baju tebal. Ia pikir mereka berniat mencuri buku dari perpustakaan dengan cara menyembunyikannya di balik baju. Hal itu pernah terjadi sebelumnya berulang kali, sehingga membuat Pak Raste jadi trauma. Rasa cemas membuat ia selalu memelototi setiap orang yang keluar masuk perpustakaan, kendati sebenarnya perpustakaan telah dipasangi detektor untuk mencegah pencurian. Jadi, siapa pun yang melakukan kecurangan tak akan bisa lolos dari pengawasan. Namun, meskipun ia bukan termasuk jenis orang yang ramah dan mau berkompromi, Stepa menyukai orang tua itu karena mengingatkan ia pada pria yang ia sebut Ayah, yang telah meninggal sekian tahun silam.

Mengherankan sebetulnya, bila Pak Raste begitu paranoid dengan isi perpustakaannya, mengingat nyaris tak ada buku baru di sana. Pengunjungnya pun tak terlalu banyak, kecuali orang-orang yang memang melakukan riset dan mahasiswa yang mencari data untuk tugas akhir mereka.

Isi perpustakaan itu sama tuanya dengan gedung dan penjaganya. Ia seperti berhenti sejak sekitar sepuluh tahun yang silam. Tahun terbitan terakhir yang bisa ia temukan telah melampaui waktu itu. Buku-buku di perpustakaan Pak Raste seperti simpanan arsip yang telah kedaluwarsa dan hanya ditumpuk begitu saja, kemudian tak ada arsip baru. Berhenti begitu saja di tahun itu.

Suatu kali Stepa merasa tertarik dengan buku-buku yang diletakkan di rak paling atas. Ia bersusah-payah menarik tangga dan mencoba menjangkau buku-buku, di rak paling atas. Debu meliputi tepi-tepi buku membuat ia beberapa kali bersin. Kebanyakan buku-buku yang diletakkan di sana adalah buku-buku sejarah, antropologi, dan kedokteran yang usianya sudah sangat tua. Kertasnya telah menguning dimakan waktu. Mungkin karena sudah terlalu tua dan diperkirakan tidak lagi dicari banyak orang sehingga diletakkan di tempat yang sulit dijangkau. Stepa hanya memuaskan rasa ingin tahunya dengan melihat judul-judul buku dan sekilas isinya. Ia harus beberapa kali bersin karena debu dan bau apak yang menggelitik hidungnya. Ia kurang tertarik dengan bidang-bidang itu, sehingga kemudian kembali meletakkan buku-buku yang ditengoknya ke tempat semula. Tiba-tiba, setelah membolak-balik buku, ia didatangi oleh Pak Raste dan mendapatkan teguran darinya.

“Hei, Anak muda. Buku apa sebenarnya yang kau cari?” ujarnya gusar. Rupanya bunyi berkeriut tangga besi yang sudah mulai karatan dan suara debum buku yang dibolak-balik dengan tergesa oleh Stepa telah mengusik telinga tuanya. Stepa nyengir mendengar teguran itu. Ia kemudian turun dari tangga.

“Hanya melihat-lihat,” sahutnya kalem, “siapa tahu ada buku yang saya butuhkan di atas sana.”

“Dan sudah kau temukan buku itu?”

“Ehm…,” Stepa berpikir sejenak. “Tidak. Tidak ada buku yang saya perlukan. Tidak ada yang cukup menarik juga. Hanya arsip-arsip kuno yang tampaknya sudah sangat ketinggalan zaman.”

“Kalau begitu segera saja cari buku di tempat lain, yang mudah terjangkau, yang menarik dan yang kau butuhkan. Dan jangan bikin gaduh perpustakaan.”

Ups. Stepa menutup mulutnya dengan tangannya. Galak benar orang tua ini, gerutunya dalam hati. Ia segera turun dari tangga. Pak Raste mengawasi dari balik kacamatanya yang tebal. Bola mata tua yang abu-abu itu seperti hendak menembus keluar lewat kacamatanya. Stepa mengangguk sambil tersenyum-senyum tatkala melewati orang itu.

“Maaf, Pak Raste….”

Ia kemudian berada di sudut lain, di bagian buku-buku sastra, favoritnya. Ia mengambil salah satu buku dari rak itu. Hmm…, sebuah novel kuno. Salah satu koleksi kesayangan Nenek. Stepa meraih buku yang lain. Sebuah novel juga. Kemudian ia mencari tempat di meja kosong dekat jendela.

Ditelusurinya huruf demi huruf di hadapannya. Sesekali keningnya berkerut. Kesungguhan terpancar di wajahnya. Tarikan garis-garis wajahnya yang mengendur dan mengencang adalah cerminan gejolak batinnya. Kalau sudah begitu ia biasanya lupa waktu. Tanpa sadar hari sudah mulai gelap. Ia segera tersadar ketika tahu-tahu Pak Raste sudah mulai merapikan buku-buku yang bergeletakan di atas meja dengan rak kereta dorongnya.

“Sudah hampir malam, Anak muda,” ujarnya dengan suara rendah. Ia sudah tidak segalak sebelumnya.

“Ya, Pak,” Stepa mengangguk sembari menutup buku di hadapannya. Ia memandang berkeliling. Hanya tinggal ia dan Pak Raste. Stepa melirik arloji yang melilit pergelangan tangannya. Pukul tujuh malam kurang enam menit. Ia terkaget-kaget. Tidak menyangka bisa setahan itu membaca novel ratusan halaman itu. Ia menandai halaman dengan pembatas buku.

“Mau kau pinjam novel itu?” tanya Pak Raste. “Jam pinjam sebenarnya sudah habis, dan komputernya sudah saya matikan. Tapi, kalau kau ingin meminjamnya… baiklah saya catat dulu di buku, besok baru saya masukkan datamu ke komputer.”

“Kalai begitu terima kasih sekali, Pak. Novel ini bagus sekali. Saya sangat menyukainya.”

“Tentu saja. Novel itu mendapatkan penghargaan tinggi di zamannya. Penulisnya memang luar biasa. Ia bertangan dingin. Hampir semua karyanya meledak di pasaran dan menjadi buku yang paling dicari orang. Terutama yang satu ini. Saya juga sangat menggemari karya-karya penulis novel ini.”

Stepa mengangguk-angguk. Ia diam-diam keheranan mendengar penuturan Pak Raste. Orang tua galak itu ternyata juga memiliki selera sastra yang bagus. Ya, ia sudah sering mendengar nama penulis itu dalam pelajaran tentang sejarah sastra. Penulis itu berada pada jajaran atas penulis di zamannya. Karya-karyanya selalu menjadi masterpiece. Ia menatap kulit sampulnya yang berwarna merah darah. Stepa kemudian beranjak dari tempat duduknya.

“Tolong catatkan ini dulu, Pak Raste,” katanya. “Saya pinjam dulu.”

Pak Raste mengangguk sambil tetap meneruskan pekerjaannya.

“Sudahlah kau pergi saja. Saya sudah hapal judul novel dan penulisnya. Lagi pula, saya sudah bosan melihatmu di sini.”

Stepa mengangkat bahunya tinggi-tinggi.

Okey, thanks.”

Sebelum pergi ia menyempatkan menepuk bahu Pak Raste dengan akrab sehingga orang tua itu menjadi kaget. Stepa segera melesat keluar sambil bersiul-siul. Di pintu keluar alarm berbunyi. Stepa berbalik dan mengangkat tangannya tinggi-tinggi.

“Pak Raste telah memberikan rekomendasi!” teriaknya.

Pak Raste tampak kesal karena ia sendiri lupa bahwa alarm itu akan berbunyi bila Stepa melangkah keluar. Sambil mengomel-ngomel ia melangkah hendak mematikan alarm. Sementara itu Stepa sudah lari tunggang-langgang.

Saking tergesa-gesanya, Stepa menabrak seseorang di dekat pintu keluar. Sepatu ketsanya berdecit-decit di lantai saat ia mengerem larinya. Tetapi sudah terlambat. Tak ayal bahunya menerjang sesosok tubuh di depan pintu itu. Terdengar suara teriakan tertahan seorang wanita dan buku-buku yang berjatuhan.

Dan itulah dia. Seorang wanita yang pucat pasi berdiri di hadapannya dengan mulut ternganga saking kagetnya. Wajah tirus dan tubuh kurusnya tersembunyi tidak terlalu baik di balik jaketnya yang tebal. Penampilannya tidak terlalu menarik. Hanya saja, matanya yang lebar sungguh terlihat sangat cerdas. Kekagetan luar biasa di wajah si gadis tak urung membuat Stepa menyesal bercampur geli.

“Maaf,” ujar Stepa. Ia berjongkok memunguti buku-buku si gadis yang berjatuhan. Sekilas matanya melirik judul-judul di kulit buku. Ia menangkap judul besarnya: Anatomy, Surgery, Double Helix…, si gadis buru-buru merebut buku-bukunya dari tangan Stepa. Ia merasa tidak senang.

Stepa mengamati wajah si gadis. Ia kemudian teringat bahwa ia pernah melihat gadis itu di suatu tempat. Ia memegang jidatnya. Di mana ya? Tolol, gadis itu memang selalu kemari di saat perpustakaan sudah hampir tutup. Stepa menepuk jidadnya. Barangkali pacar Pak Raste. Ia tersenyum sendiri.

Tahu-tahu gadis itu melesat meninggalkannya. Ia melangkah masuk ke perpustakaan dengan langkah-langkah yang panjang.

“Hei…, perpustakaan sudah tutup!” seru Stepa. “Si tua Raste tidak akan mau melayanimu. Besok saja kembali.”

Si gadis tak memberikan perhatian sedikit pun. Ia terus saja melangkah masuk. Stepa menggerutu.

“Ya, terserah kaulah…”

Nadine mengetuk-ngetuk kaca pintu dapur dengan keras.
Hello…, anybody home?”

Elisa yang sedang berdiri memunggunginya, di antara bising suara mixer, menoleh. Celemek di tubuhnya penuh bercak adonan kue. Ada tepung lekat di pipi kanannya. Nadine tersenyum geli melihatnya.

“Hai…,” Lisa menyambutnya senang. “Sorry, saya sedang sibuk bikin kue.”

Nadine mengelap tepung di pipi sahabatnya dengan tisu.

“Ada apa, nih? Kok pakai acara bikin kue segala? Seperti bukan Lisa saja. Bik Inah ke mana?”

“Belanja bahan-bahan yang saya butuhkan untuk membuat kue.”

Lisa segera menyorongkan kursi.

“Duduklah,” ujarnya riang. Nadine tak menghiraukannya. Ia mengamati adonan kue di atas meja. Mencolek sedikit dengan telunjuk dan mencicipinya.

Nyam, nyam…, enak. Kue apa, nih?”

“Itu kue truffle coklat. Kalau kau cukup bersabar menunggu matang, kau akan bisa merasakan kue buatanku yang lezat.”

Truffle? Hmm…, belum matang saja sudah enak begini.”

Nadine hendak mencolek lagi tapi Elisa dengan sigap menjauhkan tangannya.

“Eit, jangan. Nanti cita rasanya jadi buruk karena kotoran di jarimu. Kau makan yang lain saja yang sudah matang. Oke?”

“Apa itu yang sudah matang? Mana itu yang sudah matang?”

“Kerupuk di toples itu.”

“Huh!”

“Tunggu, ya?”

Elisa mematikan mixer. Ia kemudian menuangkan adonan ke dalam loyang yang telah dialasi kertas roti yang diolesi mentega. Dengan gerakan pelan ia meratakan adonan itu ke dalam loyang. Adonan kue di dalam loyang itu dimasukkannya ke dalam oven. Nadine terus memperhatikan gerak-gerik Elisa yang cekatan.

Setelah itu Elisa duduk di dekat Nadine.

“Ada apa? Baru dari mana?” tanya Elisa.

“Saya heran…,” desah Nadine seperti tak mendengar pertanyaan sahabatnya. “Mengapa seorang Elisa tiba-tiba menjadi sangat membumi? Menjadi wanita biasa, bercelemek, dan membuat adonan? Ada sesuatu yang salah di sini. Seharusnya akulah yang bertanya kepadamu, ‘Ada apa?’ Karena kau sangat tidak biasa menjadi seseorang yang ‘sangat biasa’.”

Elisa tertawa.

“Kau pasti sangat ingin tahu, kan?”

“Tentu saja. Atau, kau ingin membuka bisnis restoran karena sudah bosan dengan pekerjaanmu yang sekarang? Kau sedang berusaha mengumpulkan resep dan mencoba-cobanya?”

“Motifnya tidak selalu bisnis, Sayang. Kenapa kau menduga ke arah itu?”

Everything deals with money. Yang saya tahu kau selalu begitu. Tidak ada yang kau kejar selain untuk mendapatkan uang. Kau selalu punya rencana di balik kepalamu bila tiba-tiba melakukan hal-hal yang di luar kebiasaan. Biasanya motifmu selalu motif ekonomi. Jangan menyangkal itu karena saya tahu benar siapa kau.”

Tawa Lisa kian keras.

“Oh, kali ini kau salah mengambil kesimpulan, Nona manis. Ada sisi lain dalam diriku yang mungkin kau lupakan. Saya ini romantis. Saya melakukan sesuatu karena saya sangat menginginkannya. Saat ini saya tiba-tiba ingin melakukan pekerjaan yang lazim dilakukan oleh kaumku, membuat kue. Kalau saya berhasil melakukannya, maka saya sungguh layak disebut wanita yang baik. Tak serumit yang kau pikirkan. Dan, mana tahu, dengan keterampilanku memasak ini suatu waktu saya dengan bangga akan berkencan di rumah saja, having dinner dengan hidangan yang kubuat dengan tanganku sendiri. Kau tahu, pria selalu jatuh hati kepada wanita yang bisa membuat masakan enak.”

“Jadi, kalau boleh kutebak, saat ini kau sedang mempersiapkan kencanmu? Kau sedang jatuh cinta?”

“Ya…, boleh saja kau tebak begitu. Tapi, sebentar, saya mau bikin krim dulu untuk kueku.”

Nadine tiba-tiba saja menjadi bosan. Ia berharap menemukan Elisa yang biasanya. Bicara tentang hal-hal spektakuler, bukan hanya sekadar kue truffle dan kencan. Elisa yang selalu membicarakan info-info terkini dan bukan hal-hal biasa seperti pekerjaan wanita di dapur.

Nadine mendesah karena ketakmengertiannya pada sikap Elisa.

“Jadi, cintalah yang bisa membuatmu gelap mata?” tanyanya dengan wajah suram.

“Apa? Gelap mata?”

“Ya, kusebut ini gelap mata. Kau belum pernah melakukan hal-hal yang tidak kau sukai untuk mendapatkan sesuatu. Kalau sekarang kau melakukannya, apa itu bukan gelap mata namanya?”

“Jangan sinis begitu, dong. Kau mulai seperti Hasta.”

“Siapa Hasta?”

“Temanku. Pria yang selalu memandang dunia dengan sinis.”

“Baik. Sekarang langsung saja saya bertanya padamu, kau sedang jatuh cinta dengan siapa rupanya?”

“Nah, yang ini baru Nadine yang kukenal. Straight to the point. Tapi yang ini belum bisa saya jawab sekarang. Tapi yang pasti, kali ini saya benar-benar jatuh cinta.”

“Seserius apa? Jangan-jangan kau mau menikah?”

“Wah, tepat pada sasaran.”

“Jadi benar kau mau menikah?”

“Ah, kenapa sih kau selalu saja menanggapi dengan serius? Cobalah untuk sedikit lebih relaks. Ini bukan tugas dokter yang memerlukan penanganan serius. Terkadang kita juga perlu libur membicarakan hal-hal yang ‘gawat’. Santailah sedikit….”

Nadine tersipu-sipu mendengar kata-kata Elisa. Selama ini ia memang selalu disibukkan dengan hal-hal yang serba serius. Sebagai seorang calon dokter, pekerjaan menuntut ia menjadi seorang yang serius, bahkan cenderung perfeksionis, dan gila logika. Terkadang Elisa dapat mengimbanginya sehingga mereka terlibat perdebatan seru tentang banyak hal yang serius. Di lain waktu, seperti saat itu, Elisa menjadi orang yang ingin bicara hal-hal ringan namun penuh perenungan. Latar belakang Elisa sebagai seorang yang berasal dari disiplin ilmu sosial humaniora membuat ia sangat humanis, yang ingin membicarakan hal-hal yang kontemplatif. Namun, Nadine tak pernah bisa melakukannya.

Elisa sibuk mengaduk krim di atas kompor gas. Nadine merasa capai menunggunya memberikan jawaban yang memuaskan. Begitulah selalu Elisa yang dikenalnya selama lebih dari sepuluh tahun lamanya. Nadine belum juga terbiasa dengan kebiasaan menggantung kalimatnya. Seperti halnya Elisa biasa menggantung suatu keadaan dan menyingkir diam-diam ke wilayah aman di mana ia bisa bersembunyi untuk tak mengakhiri kengambangan itu. Karena itu jualah Elisa punya banyak teman jalan. Pacarnya cuma satu, tapi ia bisa berkencan dengan beberapa orang lain dalam waktu yang bersamaan tanpa ada kejelasan hubungan. Dan ia sengaja memilih wilayah abu-abu, yang menurutnya paling aman dari segala hukum dan teori karena mengandung praduga tak bersalah. Amanlah pula ia dari tudingan ‘berselingkuh’ atau ‘punya pacar lebih dari satu’, karena kenyataannya ia memang hanya punya satu pacar. Selebihnya hanyalah ‘teman jalan’.

Elisa sangat menikmati hal itu. Ia beruntung dikaruniai wajah yang cantik. Ia juga pintar bergaul dan memiliki inner beauty yang kuat. Nyaris tanpa cacat. Menurut Nadine, Tuhan sedang sangat berbahagia saat menciptakan Elisa. Dengan bakatnya yang besar, Elisa kini menjadi seorang reporter di Space TV, sebuah stasiun televisi swasta. Karirnya sedang bagus-bagusnya.

Sayang, pada akhirnya hubungan Elisa dengan pacarnya harus selesai. Keputusan Johan untuk meninggalkan Elisa merupakan pukulan yang meruntuhkan kesombongan gadis itu. Ia mengira Johan akan tetap mempertahankannya, kendati apa pun yang ia lakukan. Ia tak pernah berpikiran bahwa Johan akan meninggalkannya suatu ketika setelah capai untuk selalu memahami. Tinggallah Elisa berkubang dalam kesedihannya, dan di saat itulah semua ‘teman jalan’ menjadi tidak berarti sama sekali, karena permainan tidak lagi menarik tanpa seorang kekasih di sampingnya.

Setelah ditinggalkan Johan, Elisa tampaknya malas berhubungan lagi dengan pria. Nadine bisa melihat bahwa sesungguhnya Elisa merasa sangat kesepian. Ia berusaha untuk membunuh kesepiannya dengan bekerja. Selain bekerja sebagai reporter, Elisa juga menyanyi di kafe di saat-saat senggangnya. Semua itu dilakukannya demi menghilangkan kesedihan.

Setelah semua yang terjadi, dan setelah sekian lama tidak lagi berkencan, kalau tiba-tiba Elisa berdiam di rumah dan melakukan pekerjaan yang tak pernah ia sukai sebelumnya dan alasannya adalah karena cinta, maka itu berarti benar-benar telah terjadi sesuatu pada dirinya.

Kini sepotong truffle coklat telah terhidang di hadapan Nadine. Nadine mengendus aromanya yang harum. Hidungnya kembang-kempis. Elisa tersenyum puas melihatnya.

“Ayo dicicipi dan kemudian berkomentarlah. Berikan kritik, saran, atau apa saja karena saya membutuhkannya.”

Nadine mengambil sendok kecil di pinggir piring. Ia menyendok lapisan atas truffle yang kenyal dan lembut kemudian disuapkan ke mulutnya. Rasa manis menyentuh lidahnya. Nadine mengunyahnya hingga tandas.

“Enak,” ujarnya sambil menyendok lagi. Kali ini ia benar-benar lahap.

“Ini luar biasa,” pujinya tulus. “Ini karya pertamamu, dan rasanya benar-benar menakjubkan. Bagaimana kalau kau berhenti saja jadi reporter, bukalah sebuah restoran, saya jamin kalau semua hidangannya selezat ini kau bisa menangguk uang lebih banyak dibandingkan dengan penghasilanmu kini setiap bulannya. Kau berbakat.”

Elisa tertawa senang mendengar pujian sahabatnya. Ia menyodorkan segelas air putih dingin kepada Nadine.

“Saya hanya ingin membuktikan dugaan orang bahwa saya hanyalah seorang wanita modern-hedonis yang tak mengenal pekerjaan-pekerjaan rumah tangga adalah salah sama sekali. Saya bisa melakukan pekerjaan ini, dan hasilnya pun tidak mengecewakan. Setidaknya ada pengakuan dari seseorang yang mencicipi masakanku. Pengakuanmu sebagai seorang yang memiliki selera makan tinggi adalah sebuah indikator bahwa hasil masakanku cukup representatif. Bukankah demikian?”

Nadine terkekeh.

“Mencari pengakuan rupanya, he?”

“Seandainya dia ada di sini dan mendengar komentarmu…,”

“Tunggu tunggu, siapa ‘dia’ itu?” tukas Nadine. Telinganya cukup tajam untuk dapat menangkap setiap kata yang diucapkan Elisa.

Elisa mengibaskan tangannya dengan sikap meremehkan.

“Ah, tidak cukup penting,” ujarnya. “Sebaiknya tidak usah kita bicarakan.”

“Hm…,” Nadine menjilat-jilat bibirnya yang masih meninggalkan sisa manis coklat. “Ah, saya sampai lupa tujuanku kemari,” tiba-tiba ia menepuk jidatnya, “ini gara-gara truffle coklatmu.”

Nadine mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya. Sebuah amplop berwarna merah hati.

“Undangan ke pesta Raia, Kamis besok.”

“Ada apa?” Elisa tertegun menatap undangan itu.

“Kau lupa? Raia ulang tahun Kamis besok.”

Ekspresi kaget Elisa mengendur. Ia menghela napas.

“Oh ya, saya hampir lupa,” desahnya.

“Hampir lupa? Kau memang lupa, kan?” sergah Nadine. Ia mengamati perubahan ekspresi di wajah Elisa. Apakah hubungan mereka sudah begitu renggang sehingga Elisa melupakan ulang tahun Raia, atau Elisa yang terlalu sibuk dengan urusannya sendiri? Mungkin bahkan Elisa lupa punya teman bernama Raia.

Tatapan tajam Nadine membuat Elisa merasa bersalah.

“Maafkan saya, saya benar-benar lupa,” ucap Elisa lirih.

“Kau mau datang, kan?” Nadine berusaha membuatnya tidak merasa bersalah lebih lama.

“Kau datang?”

“Ya, tentu saja. Kau juga datang, kan?”

Elisa membaca undangan itu sekilas, kemudian meletakkannya di atas meja. Wajah cantiknya terlihat resah. Nadine menangkap perubahan itu.

“Mungkin saya tidak bisa datang.”

“Kenapa?”

“Saya ada tugas meliput ke luar kota.”

Kening Nadine berkerut. Dicarinya kejujuran di mata Elisa tapi wanita sahabatnya itu menghindar.

“Kau tidak sedang berbohong kepadaku?”

Elisa menggeleng.

“Saya harus pergi ke Merican, meliput Human Care, perusahaan bioteknologi yang terbakar beberapa hari yang lalu. Kau ingat kan perusahaan itu, yang pernah menggemparkan karena berhasil melakukan rekayasa genetika terhadap seekor kucing? Ingat the laughing cat?”

Nadine mengangguk.

“Ya, the laughing cat. Tentu saja saya ingat. Kita pernah mendiskusikannya. Dokter Karel pun pernah menceritakannya kepadaku.”

“Dosen pujaanmu itu?” goda Elisa.

Nadine memerah mukanya.

“Ya, dosen pujaanku,” akunya malu-malu. “Ngomong-ngomong, apa penyebab kebakaran perusahaan itu?”

“Belum ditemukan penyebabnya. Saya menduga ini sabotase. Banyak pihak yang tidak menyukai perusahaan ini karena dianggap melanggar hukum agama dan sangat tidak manusiawi. Mereka melakukan pekerjaan sebagai Tuhan dengan bermain-main dengan kehidupan makhluk-Nya.

Bukan main ya, teknologi zaman ini? Sulit membayangkan gen manusia bisa dipindahkan pada seekor kucing sehingga membuatnya memiliki sebagian sifat manusia. Saya tak pernah belajar ilmu biologi atau kedokteran sehingga bagiku sangat muskil untuk dilakukan. Nyatanya memang itu yang terjadi. Lagi pula, proyek itu sangat merendahkan martabat manusia. Untuk apa mereka melakukan eksperimen-eksperimen gila seperti itu?”

“Itulah teknologi. Teknologilah yang sekarang telah menguasai manusia, bukan lagi manusia yang menguasai teknologi. Manusia menjadi rakus mencoba-coba segala hal, apa pun bentuk dan dampaknya bagi kehidupan manusia, bagi rasa kemanusiaan. Yang terpenting adalah bagaimana mereka mendapatkan pengakuan bahwa merekalah yang terhebat di antara semuanya.”

“Mengerikan.”

“Kapan kau berangkat?” Nadine bertanya.

“Besok.”

“Hati-hatilah, banyak orang jahat di sana.”

Elisa tertawa mendengarnya.

“Jangan khawatir. Saya tidak pergi sendirian. Liputan ini sangat penting buat karirku. Ini berita besar.”

“Saya tahu, tapi saya ingin kau baik-baik saja. Kau tidak tahu seperti apa situasi di sana. Bukan tidak mungkin keadaannya cukup berbahaya. Bukankah perusahaan itu seharusnya sudah ditutup? Banyak kasus kegagalan kloning yang mereka lakukan beberapa waktu lalu.”

“Pimpinan perusahaan itu sedang dalam proses pemeriksaan. Beberapa anak buahnya dimintai keterangan. Tapi anehnya, satu persatu mereka meninggal. Yang lucu, kabarnya keracunan makanan, tapi aneh sekali kalau hanya orang-orang yang diperiksa itu yang keracunan, sementara karyawan yang lain tidak. Padahal mereka makan makanan yang sama. Ada isu mengatakan orang-orang itu telah menelan semacam pil yang meyebabkan kematian mereka, tapi sejauh ini para dokter belum bisa membuktikannya.”

sekian

0 Response to "Enigma, Simpul Tak Bernama"

Post a Comment

Translate

English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified