Download applikasi baca novel online untuk android disini: DOWNLOAD

Elemen Kekosongan 9

Sinar matahari yang telah cukup tinggi, yang menerobos masuk ke

dalam jendela ruangan itu, mengusik seorang pemuda yang sedang

terlelap. Perlahan ia terbangun dan tampak berusaha mengingatingat

sesuatu. Jelas tampak dalam raut wajahnya bahwa ia masih

bingung di mana ia sekarang berada.

”Desa Terapung...,” tiba-tiba kata itu terucap oleh mulutnya.

Ya, itu kata-kata yang diucapkan oleh seorang gadis yang kemarin

memberinya makan dan juga mengawasinya. Merawatnya dan memberikan

apa-apa keperluannya. Ia tidak begitu ingat. Saat itu tubuhnya

masih lemah dan istirahatlah hanya hal yang dapat dilakukannya.

Dan itu pula yang diperintahkan oleh gadis itu.

469

Sekarang ia telah merasa lebih sehat tubuhnya. Minuman dan

makanan yang disuguhkan kepadanya telah memulihkan tubuh sang

pemuda yang lelah dan lemas akibat dihantam badai serta angin,

sebelum ia ditemukan oleh seseorang di laut sana. Kapan dan

bagaimana ia ditemukan pun ia belum tahu. Akan ia tanyakan nanti

kepada orang-orang yang membawanya ke sini. Ke tempat yang ia

tahu hanyalah dari nama yang disebut oleh gadis itu, Desa Terapung.

Ia pun kemudian berusaha menggerak-gerakkan tubuhnya. Kaku

masih, mungkin akibat terlalu lama tidur setelah memakan penganan

yang diberikan. Tapi ia merasa dirinya lebih segar dan bertenaga,

tidak seperti saat ia pertama kali sadar. Terasa benar lemasnya.

Setelah mencoba dan yakin bahwa ia benar-benar kuat untuk berdiri

dan berjalan-jalan, pemuda itu bergerak ke sana-ke mari dalam ruangan.

Melemas-lemaskan kaki dan tangannya. Tak lama mulailah ia

bosan dan ingin keluar untuk melihat-lihat.

Dibukanya pintu kamar tempat ia selama ini tinggal. Pintu yang

terbuat dari kayu sederhana akan tetapi rapih pengerjaannya. Tak

berbunyi. Menandakan yang membuatnya benar-benar memahami

cara membuat pintu dan engsel yang baik.

Sekarang tampak di depannya, sejauh mata memandang bangunanbangunan

kayu yang bersebaran di atas lantai yang juga terbuat dari

kayu. Bentuknya yang kotak-kotak sederhana dan berwarna murni

kayu, dengan dihiasi sedikit daun-daun kering dan jala-jala, menyajikan

nuansa yang belum pernah dilihat pemuda itu sebelumnya.

Perlahan ia mulai berjalan ke suatu arah. Sampai saat itu belum

ditemuinya seorang pun. Ia pun kembali berjalan ke arah tersebut.

Menyusuri jalan di antara bangunan-bangunan kayu tersebut. Jalan

yang juga terbuat dari kayu. Semuanya serba kayu.

Akhirnya ia sampai di ujung jalan itu. Membentang di hadapannya

tampak air. Laut. Merebak sejauh mata memandang air lautan yang

saat itu hanya berombak perlahan. Pertemuan antara ”daratan” tempat

ia berdiri dengan air di hadapannya, hanyalah berupa pinggiran

kayu yang dipahat miring dan ujungnya terendam dalam air. Deburan

ombak perlahan menyembunyikan dan memperlihatkan secara

berganti-ganti ujung dari ”pantai kayu” tersebut. Terkagum-kagum

470 BAGIAN 8. MENARI BERSAMA AIR

pemuda itu menyaksikan ”pulau” tempat ia berada saat itu.

Saat ia tenggelam dalam lamunannya menikmati tempat tersebut,

tiba-tiba sebuah lengan menepuk bahunya. Kaget pemuda itu karena

kedatangan orang itu benar-benar tidak dapat dirasakannya. Memang

benar-benar orang itu dapat menghilangkan keberadaannya, atau ia

saja yang sedang melamun mengagumi keindahan dari tempat tersebut.

Orang yang menepuknya hanya tesenyum melihat kekagetan sang pemuda.

Lalu dengan isyarat tangannya ia meminta maaf telah mengagetkan.

Lalu ia menunjuk ke satu arah di mana dari sana terdengar

bunyi-bunyian dan tampak bahwa terdapat banyak orang berkerumun.

Rupanya di sanalah orang-orang berada sehingga sedari tadi

pemuda itu tidak berjumpa dengan siapa-siapa. Dengan mengikuti

orang yang menepuknya tadi pemuda itu pun beranjak ke sana menuju

orang-orang yang sedang berkumpul.

Di sana, di tengah-tengah orang yang membentuk setengah lingkaran,

tampak sebuah mayat yang telah dibungkus dengan kain dan dimasukkan

ke dalam kotak kayu berbentuk perahu. Peti mati bentuk khas

Desa Terapung. Di sana tampak pula gadis yang memberinya makan.

Ia berdiri bersama dengan orang-orang lain memperhatikan seorang

dengan rambut dan jenggot yang panjang, yang tampaknya sedang

memimpin upaca pemakaman tersebut.

Orang tua berjenggot dan berambut panjang yang duduk dekat mayat

yang akan disemayamkan itu tampak menggerak-gerakkan tangannya.

Kadang ke atas kadang ke bawah, lalu juga menunjuk ke arah orangorang

dan juga ke arah yang telah wafat. Mengangguk-angguk orangorang

yang ”mendengarkan” wejangannya tersebut. Lalu setelah diam

sesaat ia kembali menggerak-gerakkan tangannya. Dan akhirnya mempersilakan

dua orang untuk menutup peti mati itu dan mengikatnya

erat-erat dengan akar-akaran yang telah disediakan. Lalu delapan

orang menggotong peti mati itu, membawanya sampai ke tepi air dan

meluncurkannya ke dalam air.

Berdebur pelan peti itu tampak sebentar terapung. Perlahan-lahan ia

mulai tenggelam dengan mengeluarkan gelembung-gelembung udara.

Kurang dari sepeminum teh, peti itu telah hilang dari pandangan

471

mata. Hanya bayangannya yang terlihat samar-samar di dalam air,

perlahan-lahan semakin kabur dan akhirnya lenyap sama-sekali.

Orang yang mati telah dikuburkan. Dikuburkan dengan peti yang

berat di bawah air. Dibiarkan bersemayam dengan damai di dasar

lautan.

Takjub pemuda itu melihat cara penguburan yang belum pernah dilihatnya.

Ya, mungkin dengan tinggal di atas ”pulau” buatan ini, tidak

terdapat cukup tanah untuk mengubur orang yang meninggal. Untuk

itu, laut adalah satu-satunya solusi. Bila sudah tentu tidak dibakar.

Tak berapa lama orang-orang itu pun berbubaran. Tinggal beberapa

orang di antara mereka, termasuk si pemuda, orang yang menepuk

bahunya tadi dan sang gadis yang memberi sang pemuda makan. Ada

juga orang-orang tua dan pemimpin upacara penguburan tadi. Baru

sekarang mereka menyadari kehadiran sang pemuda. Orang yang

membawa pemuda itu tadi ke sana menjelaskan dengan menggerakgerakkan

tangannya. Sang pemimpin upacara pun menganggukangguk.

Lalu seorang dari mereka, yang kelihatannya dituakan, mengajak

semua masuk ke salah satu bangunan kayu berwarna cerah

tak jauh dari sana. Sebuah ruangan yang biasa digunakan untuk

pertemuan. Balai desa dari Desa Terapung.

Orang-orang pun duduk melingkar dalam ruangan besar itu. Dari

luar terlihat biasa, ternyata di dalamnya lebih besar dari kelihatan

dari luar. Mungkin dari warna di dalam yang lebih cerah. Padahal

warna bangunan tersebut dari luar sudah cerah. Di dinding kayu

yang membatasi ruangan tersebut dengan ruang di luarnya, tampak

beragam hiasan menempel, gambar-gambar dan juga ukiran. Umumnya

topik-topik yang terkait dengan isi laut dan air. Ada ikan, kapal,

gurita raksasa, ikan paus dan sebagainya.

Tak ada kata-kata yang terucap. Pemuda itu, orang yang diselamatkan

dari amukan badai, mulai bertanya-tanya, mengapa sedari

ia datang, hanya dengan sang gadis ia berbicara. Dengan orang yang

tadi menepuk bahunya pun ia tidak bertukar kata. Tapi ia mengerti

kira-kira apa yang akan diungkapkan. Dan dalam pertemuan ini semakin

besar tanda-tanya dalam dirinya. Benar-benar tak ada suara

yang terucap, masing-masing orang hanya menggerak-gerakkan kedua

472 BAGIAN 8. MENARI BERSAMA AIR

tangannya ke sana-ke mari disertai mimik dan juga perubahan kernyit

wajah.

Salah seorang dari mereka menepuk tangannya dan menunjuk pada

sang gadis. Orang yang ditunjuk mengerti. Ia mengangguk dan berangsur

bangkit, dan menempatkan dirinya di samping pemuda, ke

tempat yang segera diberikan oleh orang-orang yang tadinya duduk

bersisian dengan sang pemuda.

Gadis tersebut tersenyum padanya. Setelah mengangguk kepada

orang tua-tua yang ada di sekitarnya, ia kemudian mulai membuka

percakapan.

”Siapa namamu?” tanyanya ramah.

”Saya bernama Mayayo,” jawabnya. Senang rasanya ada yang bisa

diajak berbicara.

”Saya Akanamia,” jawab gadis itu. Lalu ia memperkenalkan masingmasing

tetua dan juga orang yang tadi memimpin upacara. Semua

orang disebutkan namanya oleh gadis itu. Jumlah nama yang

tidak akan diingat oleh Mayayo dalam sekali temu itu. Tapi tampaknya

mereka tidak terlalu ambil pusing, tersenyum saat namanya

disebutkan dan menepuk dada kiri mereka dengan telapak tangan

masing-masing.

Mayayo pun mengikuti apa yang mereka lakukan. Mungkin itu salam

untuk di antara orang-orang ini.

Lalu seorang dari mereka, orang yang sudah terlihat cukup tua, maju

dan bercerita menggunakan gerak-gerak tangannya dan mimik muka

yang berubah-ubah. Akanamia dengan perlahan mengucapkan apaapa

yang diceritakan oleh orang tua yang bercerita tersebut. Rupanya

itu adalah budaya menceritakan sejarah kepada orang baru yang

singgah di tengah komunitas mereka. Bila tidak ada orang baru, kebiasaan

ini pun tetap dilakukan, dengan pendengar orang-orang sendiri.

Dengan cara ini cerita mengenai mereka dan leluhurnya tidak hilang.

Mereka rupanya dalah orang-orang yang tidak dapat berbicara, sebagian

dari Suku Pelaut yang sering disebut Suku Pelaut Sunyi. Sunyi

karena tiada percakapan selain gerak-gerak tangan mereka Kesun473

yian yang diperoleh akibat suatu dan lain hal terkait dengan kebiasaan

mereka yang tinggal seumur hidup mereka di atas laut dan

tidak berkawin-campur dengan suku-suku lain sehingga variasi gen

mereka tidak terlalu kaya. Tapi di luar kekurangan mereka itu, mereka

memiliki kelebihan, yaitu dapat berkomunikasi dengan makhluk air

melalu pikiran, yang membuat mereka mudah untuk memanen hasil

laut berupa ikan dan tumbuh-tumbuhan. Selain itu terdapat pula,

berkaitan dengan tempat mereka tinggal, kepandaian mengendalikan

Tenaga Air dengan lebih alami karena cocok dengan susunan aliran

hawa yang membuat mereka tidak bisa berbicara tersebut.

Mengangguk-angguk Mayayo mendengarkan penjelasan itu. Kakeknya,

Pelaut Ompong, pernah bercerita adanya orang-orang yang hidup selamanya

di atas air. Mereka-mereka itu disebut sebagai Suku Pelaut.

Tapi belum pernah ia mendengar cerita bahwa ada Suku Pelaut Sunyi,

bagian dari Suku Pelaut yang tidak bisa berbicara akan tetapi mahir

Tenaga Air dan bisa berkomunikasi dengan makhluk-makhluk dalam

laut.

Setelah cerita itu selesai, Mayayo diminta Akanamia untuk bercerita

tentang dirinya. Sudah tentu atas permintaan orang tua-tua tersebut.

Dengan perlahan Mayayo menceritakan perihal dirinya dan mengapa

ia sampai teramuk badai. Kali ini Akanamia tidak ”menerjemahkan”,

rupanya orang-orang itu hanya tidak bisa berbicara, tapi mereka dapat

mendengar dengan baik.

Tak lupa setelah cerita Mayayo habis, beberapa dari mereka mengajukan

pertanyaan ini-itu kepadanya. Sudah tentu dilakukan melalui

perantaraan Akanamia. Cukup sulit juga ternyata kegiatan itu, terlihat

bahwa kadang-kadang Akanamia bertanya balik dengan menggerakgerakkan

tangannya. Untung saja tidak ada pertanyaan aneh-aneh

yang diajukan. Akhirnya selesai juga pertemuan itu. Orang-orang

pun berbubaran.

Dua orang menghampiri Mayayo. Satu adalah Akanamia dan seorang

lagi seorang tua, yang dikenalkan sebagai kakeknya tadi oleh

gadis tersebut. Mayayo kemudian berterima kasih kepada kedua orang

tersebut setelah mendengar bahwa mereka yang pertama menemukan

dirinya dan memanggil rekan-rekan mereka untuk membawanya ke

Desa Terapung, berikut pula perahunya.

474 BAGIAN 8. MENARI BERSAMA AIR

”Mari kita makan siang!” ajak Akanamia setelah kakeknya memberi

isyarat kepadanya.

Mayayo mengangguk dan berjalan mengikut kedua orang itu. Kembali

menyusuri lorong-lorong di antara bangunan kayu yang ”tumbuh” di

atas tanah berupa papan-papan kayu.

***

Ikan bakar, sayur-sayuran hasil bercocok tanpa atau dengan sedikit

tanah, dan bubur rebusan tulang dan sumsum ikan besar adalah menu

makan siang itu. Tiga orang itu tampak mengelilingi hidangan yang

disajikan dalam piring dan mangkok yang terbuat dari kayu dan perabotan

dari tulang ikan.

Lahap ketiganya menyantap apa-apa yang ada. Tidak terdengar percakapan

kecuali kunyahan samar-samar. Begitulah makan yang baik.

Berkonsentrasi, menyerap kenikmatan yang hanya sejengkal usianya,

dari ujung bibir, dibaui hidung, sampai akhir lidah. Setelah itu tak

ada lagi perbedaan rasa makanan yang hambar ataupun nikmat. Bila

menyadari, proses memakan hidangan akan menjadi lebih sakral dan

khidmat.

Akanamia dan kakeknya tak lupa menjelaskan bagaimana makananmakanan

itu disiapkan. Sang kakek dengan gerakan-gerakan tangannya,

yang kemudian dijelaskan dengan ucapan oleh cucunya,

Akanamia. Mayayo mengangguk-angguk mendengarkan. Sebagai

seorang nelayan ia telah banyak berkecimpung di laut dan makanmakanan

ikan, tapi apa-apa yang dilakukan oleh orang-orang Suku

Pelaut ini, menambah sedikit-banyak pengetahuannya. Cara memasak

yang lebih hemat energi, cara mengawetkan ikan yang lebih baik dan

memanfaatkan tulang-tulang ikan untuk perabot makan dan lainnya.

Bagi Suku Pelaut, pergi ke darat untuk mencari bahan-bahan

dasar untuk perabot amat jarang dilakukan. Begitu kebiasaan leluhur

mereka, begitu pula yang mereka lakukan tanpa banyak bertanyatanya.

Suatu kearifan orang-orang yang sederhana.

”Apakah engkau telah beristri?” tanya sang kakek itu setelah makan

siang mereka selesai. Suatu pertanyaan yang diterjemahkan dengan

muka merah padam oleh Akanamia, cucunya.

475

”Belum!” jawab Mayayo pendek. Nalurinya mengatakan ada yang

”tidak beres” dengan pertanyaan ini. Orang yang baru kenal, memiliki

cucu yang telah dewasa dan cantik, dan mengajukan pertanyaan

seperti itu kepadanya.

”Bagus!!” ucap kakek itu kemudian. Untuk kata-kata pendek seperti

”ya”, ”tidak”, ”bagus” dan ”jelek” Mayayo telah diajari dan dengan

cepat mengerti. Bahasa isyarat yang diajarkan tidak terlau sulit,

hanya saja kembangannya yang banyak dan gerakannya yang cepat

membuatnya tidak dengan mudah dapat mengikutinya.

”Akanamia juga belum,” ucap kakek itu kemudian melalui perantaraan

mulut kakeknya. Merahnya wajah sang cucu menjadi semakin

jelas. Bila bisa terbakar, mungkin sudah terbakar wajah itu. Sudah

memerah bahkan sampai ke lehernya yang putih dan jenjang. Ia sudah

bisa merasakan ke mana akan arah pembicaraan ini selanjutnya.

Hening mengisi sesaat waktu di antara mereka. Kakek Akanamia yang

telah banyak makan asam garam dunia masih menjajagi tanggapan

Mayayo atas pernyataannya. Ia melihat sedikit banyak bahwa cucunya

tertarik pada pemuda itu. Dan sekarang ia ingin tahu apakah terdapat

juga hal yang sama dari pemuda itu kepada cucunya. Bila ya, amatlah

menggembirakan karena ia juga suka akan sikap pemuda itu yang baik

menurut pandangannya.

”Aku ingin menjodohkan cucuku dengan dirimu, Mayayo!” ucap kakek

itu. Akanamia, sang cucu yang menjadi penerjemah sudah tentu

menjadi kikuk sekali. Hampir-hampir ia salah menyampaikan pesan

kakeknya. Sempat ia ditepuk oleh kakeknya pelan, yang tampak

senyam-senyum kecil.

Bengon Mayayo mendengar itu. Ia telah dapat menduga hal ini, tapi

terjadi banyak hal dalam beberapa hari belakangan ini. Ia terkena

hantaman badai, tidak tahu berada di mana. Harus juga ia segera

pulang, atau kakeknya dan adiknya kuatir, sedangkan ia belum tahu

jalan pulang. Di luar itu ia malah ditawarkan untuk dijodohkan dengan

cucu kakek yang duduk di hadapannya ini. Cucu yang menerjemahkan

pesan-pesan sang kakek yang hanya bisa berisyarat tangan

tapi tak bisa berbicara.

”Ini..., aku..., eh..,!!” katanya tak jelas. Sudah tentu kakek itu tahu,

476 BAGIAN 8. MENARI BERSAMA AIR

setelah ia bercerita bahwa ia telah pula tidak berorang tua, dan hanya

berkakek dan beradik. Jadi ia sendiri, sebagai seorang pemuda dewasa

yang menentukan dia siapa ia akan menikah nanti. Tak lagi ada alasan

untuk meminta persetujuan orang lain. Memerah wajah sang pemuda.

Hatinya telah bicara, ia pun tertarik kepada Akanamia. Ya, siapa

tak tertarik pada dara yang ada di depannya ini. Wajah dan cara

berbicaranya yang menawan, juga sikapnya yang tidak dibuat-buat

serta ramah. Tak perlu dua kali setiap pemuda ditawarkan kesempatan

seperti ini.

”Jika engkau tidak suka...!!” kata kakek tersebut dengan gerakangerakan

tangannya. Berdebar-debar pula Akanamia saat menerjemahkan

kalimat ini. Hatinya telah jatuh hati pada sang pemuda,

dan ia tidak ingin mendapat jawaban yang berlawanan dari keinginan

hatinya.

”Tidak!! Bukan itu!! Saya suka... Akanamia..,” ucap pemuda itu

dengan agak bergetar. Mungkin ia tidak takut badai di lautan, tapi

pengucapan rasa suka terasa lebih berat dari hantaman angin dan

air ke atas diri dan perahunya. Lucu memang, mengucapkan isi hati

kadang-kadang sulit.

”Bila demikian, engkau menerima...?” tanya kakek itu kemudian.

Menangguk pemuda itu perlahan. Lalu ia tertunduk. Demikian pula

dengan dara yang duduk di dekat kakeknya itu. Suara tawa kakek

tersebut tanpa nada, hanya udara yang keluar masuk dengan cepat

dari mulutnya menggema lirih-lirih. Senang ia bahwa cucunya mendapatkan

seorang pemuda seperti Mayayo.

”Tapi saya harus memberitahu dulu kakek dan adikku, tak bisa saya

tiba-tiba membawa Akanamia ke sana..,” ucap pemuda itu ragu-ragu.

Ya, amatlah aneh. Ia hilang, terserang badai dan pingsan, tahu-tahu

muncul kembali membawa seorang istri.

”Sudah tentu.., sudah tentu...! Itu bisa diatur. Engkau tinggalkan saja

sesuatu tanda pada Akanamia dan janji akan menjemputnya kembali.

Setelah itu engkau sendiri atau bersama pengantarmu bisa kembali

dan membawanya ke desamu,” ucap kakek itu kemudian.

Mengangguk Mayayo mengiyakan. Akanamia memandangnya den477

gan tersenyum bahagia. Tak terasa air matanya menetes. Andai ibu

dan ayahnya masih hidup dan dapat melihat ini. Kakeknya kemudian

memegang bahunya sebentar dan mengangguk-angguk puas.

***

Hari-hari pun berlangsung dengan cepat bagi Mayayo di Desa Terapung.

Persiapan kepulangannya dan juga untuk memberitahu keluarga

akan perjodohannya dengan Akanamia. Tak lupa ia diajari beberapa

Jurus Air dan juga pengolahan tenaganya, Tenaga Air. Itu

adalah ilmu-ilmu khas yang dimiliki oleh anggota Suku Pelaut. Waktu

beberapa hari itu tak cukup bagi Mayayo kecuali untuk menyerap

dasar-dasar dari kedua ilmu tersebut. Untung saja ada sedikit bakat

dan otaknya yang cerdas, membuat pemuda itu sedikit banyak dapat

mengingat-ingat apa-apa yang telah diajarkan.

”Masih banyak waktu nanti untuk belajar lebih lanjut. Akanamia kelak

sebagai istrimu akan dapat mengajarimu setiap hari,” ucap kakek

sang dara. Sekarang setelah isi kedua hari muda-mudi itu jelas, tak

lagi jengah Akanamia menerjemahkan isyarat tangan kakeknya kepada

sang pemuda, bahkan dengan muka yang gembira.

Selain itu Mayayo diajarkan pula cara-cara membaca cuaca tidak

hanya dengan memperhatikan panas dinginnya udara, kencangnya

angin serta riak gelombang laut, melainkan juga dengan kelakuan

ikan-ikan di dalam air. Sudah tentu untuk itu ia harus mencelupkan

kepalanya ke dalam air dan mengamati. Berbicara melalui pikiran

tidak mudah diajarkan bagi orang-orang luar yang aliran darah dan

hawanya tidak seperti orang-orang dari Suku Pelaut. Tapi walaupun

demikian kakek Akanamia menjelaskan teorinya kepada Mayayo, kalikali

pemuda itu dapat merapalkannya.

Tak terasa telah tiba saatnya untuk berpisah sementara. Dua mudamudi,

Mayayo dan Akanamia, merasa bahwa perpisahan itu akan

berlangsung lama. Suatu hal yang wajar antara dua insan yang sedang

menjalin kasih. Kakek Akanamia hanya memandang kedua insan yang

sedang berbicara itu dengan tersenyum. Ia merasa tenang bahwa cucunya

akhirnya memperoleh tambatan hati. Tidak mudah untuk mencari

pasangan hidup di Desa Terapung untuk masa-masa ini. Orangorang

telah banyak yang menjadi tua. Anak-anak kecil baru mulai

478 BAGIAN 8. MENARI BERSAMA AIR

belajar berjalan. Tidak ada yang cocok untuk umur cucunya saat ini.

Itulah salah satu kekurangan komunitas yang terpencil. Dengan keberaniannya

dan hasil urun rembug, kakek Akanamia menjodohkan

cucunya dengan orang luar. Ini bukanlah suatu kebiasaan koloni itu.

Tapi berdasarkan pertimbangan-pertimbangan melihat jumlah orang

pada umur yang ada sekarang, kebiasaan lama untuk hanya menikah

antar sesama mereka perlu sedikit diperlunak. Perlu ada kesempatan

untuk orang-orang pergi atau masuk. Jika tidak koloni Suku Pelaut

Sunyi akan dapat punah dengan sendirinya.

Sendiri, begitulah yang dirasakan Mayayo saat ini. Baru saja dua

orang dari Suku Pelaut Sunyi mengangatarnya dengan sampan mereka.

Mendampinginya kanan kiri agar perahunya dapat melaju dengan

cepat meninggalkan pulau terapung mereka. Tidak mudah bagi orang

biasa untuk mendekati, masuk atau keluar dari pulau tersebut, Desa

Terapung, tanpa dibekali pengetahuan khusus. Bisa mereka akan

berkeliling-liling saja sampai kecapaian akibat arus putar di bawah

permukaan air yang tidak terlihat. Arus putar yang memang sengaja

dibuat untuk menjaga Desa Terapung dari pendaratan pihak-pihak

yang tidak diinginkan.

Setelah lepas dari arus putar tersebut, kedua orang yang berasal dari

Suku Pelaut Sunyi itu melepaskan Mayayo untuk berlayar seorang diri.

Berlayar kembali ke desanya. Bertemu dengan adiknya Mayiya dan

juga kakeknya Pelaut Ompong. Ia membawa kabar yang menggembirakan

bahwa ia telah berjodoh dengan seorang dari Suku Pelaut Sunyi,

Akanamia. Seorang dara yang sejak awal pertemuannya dikagumi oleh

pemuda itu.

Tak terasa telah lama ia berlayar. Desa terapung telah tidak lagi

terlihat, begitu pula dua orang pengantarnya tadi. Sekarang ia sendiri,

seperti keadaanya beberapa hari yang lalu, sebelum dihantam badai

dan ditemukan oleh Akanamia dan kakeknya.

Masih perlu beberapa waktu lagi sebelum ia tiba di desanya. Tangkapan

ikan yang hilang akibat dihantam badai telah digantikan dengan

oleh-oleh dari Suku Pelaut Sunyi. Pasti orang-orang di kampungnya

akan senang dengan oleh-oleh ini. Ia harap juga adiknya suka dengan

hias-hiasan dari dasar laut yang merupakan rantaian mutiara yang

khusus diberikan oleh Akanamia untuk calon ipar perempuannya.

479

Angin pun perlahan bertiup kencang dengan riak air yang bersahabat,

seakan-akan mengatakan bahwa ”Gunakan aku untuk memacu

perahumu melaju ke rumah!” Dengan sigap Mayayo membentangkan

layarnya. Mengarahkan kemudinya ke arah pulang dan perahu pun

melaju dengan lebih cepat.

***

”Baru melaut?” tanya seorang kepada pemuda yang sedang menarik

sampannya, mendaratkannya di atas pasir dan kemudian mengikatnya

pada tonggak-tonggak kayu yang memang disediakan untuk itu.

”Iya!” jawab pemuda itu pendek. Ia tidak kenal orang yang baru

menyapanya itu. Aneh, tidak biasanya ia tidak kenal seseorang yang

berada di pantai dekat dengan desanya. Mungkin tamu orang-orang

desa, pikirnya. Kemudian ia mulai menurunkan muatannya dari dalam

perahu.

”Wah, tangkapan yang bagus dan juga hias-hiasan ini. Berdagang

pula rupanya?” ucap orang itu lagi. Kali ini ada sesuatu yang tidak

enak yang terkandung dalam nada bicaranya.

Pemuda yang sedang menurunkan muatan sampannya ke atas pasir,

merasa agak tidak nyaman karena orang tersebut benar-benar memperhatikan

satu-satu barang-barang yang dikeluarkannya dari perahu.

Apa orang ini tidak mengerti bahwa itu adalah urusan pribadi, sehingga

mengamati sampai sedekat itu. Tapi tak lama kemudian semuanya

jelas, memang ada maksud tidak baik di sana.

”Engkau harus membayar pajak atas barang-barangmu ini!” ucap

orang itu. Kali ini nadanya tidak lagi ramah.

Terkejut pemuda tersebut mendengar hal ini. Sejak kapan ada pajak

penangkapan ikan dan penukaran barang-barang di laut. Bila

berdagang di pasar, barulah ada pajak. Itu pun pajak-pajak itu digunakan

untuk membersihkan tempat sehabis berdagang dan memperbaiki

gubug-gubug yang digunakan untuk menggelar barang-barang

yang akan dijual.

”Sejak kapan ada pajak?” tanya pemuda itu balik. Masih ramah dan

sedikit bingung.

480 BAGIAN 8. MENARI BERSAMA AIR

”Sejak detik ini!” ucap orang itu dengan nada kurang ajar. Sambil tak

lupa ia menyampirkan tangannya ke arah pinggang, di mana sebatang

golok dengan pongahnya bertengger di sana.

Sebelum pemuda itu berpikir untuk bertindak, tiba-tiba datang beberapa

orang dari arah semak-semak di pinggir pantai. Enam orang

yang segera menghampiri mereka berdua yang baru akan bersitegang.

”Hahahaha!!” ucap seorang dari mereka. ”Buat apa lama-lama, jika

tak mau bayar, rampas saja barangnya!” Rupanya mereka adalah teman

dari orang yang memamerkan goloknya itu. Orang yang ingin

menarik ”pajak” atas jerih payah orang dari melaut.

Senyam dan senyum kecongakkan dan tampak mengiasi wajah mereka.

Ciri-ciri orang yang tidak jantang. Mengandalkan jumlah banyak dan

senjata untuk memeras satu orang yang berada di tempat yang sunyi

sehingga tidak bisa meminta bantuan kepada siapa-siapa.

Sang pemuda masih sedikit berpikir, melawan kelihatannya berat,

walau bukan berarti tidak mungkin. Tapi bukan itu yang menjadi

bebannya, melainkan harga diri. Ia tidak suka dilecehkan seperti itu.

Dan sekali hal ini terjadi pada para nelayan, orang-orang ini pasti

akan melanggengkan pemerasan mereka kepada orang-orang lain yang

tinggal di sini. Ini yang ia tidak mau.

”Jadi kalian ini yang disebut orang Bajak Pantai. Para pemeras

nelayan-nelayan yang baru saja melaut?” tanya pemuda itu tanpa

takut sambil memperhatikan satu-satu bakal lawannya dan berpikirpikir

bagaimana cara melawan mereka tanpa merugikan dirinya. Ia

pernah mendengar soal Bajak Pantai, yang tidak seperti Bajak Laut

yang merampok kapal-kapal, orang-orang ini memeras para nelayan

dan penghuni desa yang tinggal di tepi pantai. Orang-orang yang

tinggal jauh di dari perlindungan para Paturan sehingga tidak bisa

berbuat apa-apa.

”Jika engkau sudah tahu siapa kami, bagus itu! Jadi tinggal berikan

saja barang-barangmu,” ucap seorang dari mereka yang segera mengulurkan

tangan hendak mengambil salah satu bungkusan milik si

pemuda.

”Nanti dulu!” ucap sang pemuda pelan. Dayungnya telah diayunkan

481

mencegah tangan itu menggapai barang-barang miliknya. Walaupun

digerakkan perlahan tapi dayung itu menimbulkan sedikit angin.

Tenaga kasar yang perlu diperhatikan.

”Jadi engkau ingin melawan?” ucap rekannya yang lain yang diikuti

oleh seluruh kawannya meloncat mundur dan mencabut golok masingmasing.

Sekarang tujuh orang tampak mengelilingi pemuda itu dengan golok

yang terhunus. Tidak ada lagi wajah-wajah ramah palsu yang tadi

disajikan mereka. Sebenarnya mereka tidak ingin beramah-ramah,

melainkan mencoba hanya untuk menghemat tenaga, kalau-kalau

dapat memperoleh rampasan tanpa harus mengeluarkan keringat.

Cukup dengan ancaman. Tapi sayangnya tidak berhasil dengan pemuda

ini. Sekarang mau tidak mau mereka harus berlaga. Selain untuk

mendapatkan hasil, perlu pula untuk menjaga keangkeran nama

besar mereka.

”Wutttt!!” serangan golok seorang dari mereka dapat dielakkan dengan

mudah oleh sang pemuda. Sementara bacokan golok yang lain

terpaksa ditangkisnya dengan dayungnya, ”Dheggg!!”

Bergetar tangan orang yang goloknya ditangkis, ternyata si pemuda

memiliki tenaga kasar yang cukup besar sehingga dapat dengan mudah

menangkis goloknya serta masih menggetarkan tangannya.

”Wutt!! Plakk!!! Bleggg!!” bertubi-tubi hujan golok dan juga tendangan

dijatuhkan oleh para Bajak Pantai kepada si pemuda nelayan itu

yang mengelak, menangkis dan membalas dengan dayung kayunya,

Perkelahian yang jelas-jelas tidak seimbang. Satu lawan tujuh dan

golok lawan dayung. Bisa dipastikan si pemuda tak lama lagi akan

bersimbah darah. Sebaret luka telah diperolehnya saat ia tidak cepat

menghindar sehingga punggungnya kena sabetan golok.

Dengan menggigit bibir pemuda itu memantapkan semangatnya untuk

terus berlaga. Luka yang mulai meneteskan darah dan memberikan

perasaan perih itu coba untuk dia tahan.

”Duggg!!!” dayung sang pemuda memakan salah satu kepala penyerangnya

yang segera tersuruk ke atas pasir dengan kepala pecah.

Rupanya walaupun tidak bisa bersilat dengan baik, pemuda itu men482

BAGIAN 8. MENARI BERSAMA AIR

genal beberapa gerakan yang mengalir dan tak terduga. Ia serang

sana-sini dengan kacau, tapi kadang berurutan dan saling mengejar.

Lawannya yang meremehkan tidak menyangka bahwa dayung tersebut

dapat berbali arah dengan cepat dan menyerang balik dirinya.

”Hati-hati!!” ucap seorang lawannya memperingatkan rekan-rekan

sesama pengeroyok sang pemuda. ”Dia bisa juga sedikit-sedikit ilmu

beladiri...!! Kurung rapat!!”

”Telaga, itu Mayayo!” ucap seorang pemuda yang segera berlari-lari

dengan disusul temannya yang dipanggil Telaga tadi.

Kedua pemuda itu segera berlari cepat ke arah batas air dan pantai di

mana pertarungan telah berpindah tempat. Mayayo yang dikeroyok

dengan tubuh terluka sana-sini tampak berdiri dengan air telah merendam

kakinya sebatas dengkul, yang terlihat menyulitkannya untuk

mengelak. Tampak di pantai tak jauh dari sana seorang dengan kepala

retak dan permukaan pasir yang memerah di bawah kepalanya tergeletak.

Di tangannya tampak masih golok tergenggam erat.

Ada enam orang yang mengeroyok Mayayo. Yang dikeroyok sudah

tampak kelelahan. Bibirnya tampak terkatup rapat menahan sakit

akibat luka sabetan golok dan lebam pukulan serta tendangan. Saat

ia melihat kedua orang yang datang, berucap ia ”Wassa!!”. Tidak

kenal ia pemuda yang datang bersama Wassa. Tapi melihat adanya

bantuan datang, naik kembali semangat bertarugnya.

Demi mendengar bahwa pemuda yang dikeroyok itu adalah Mayayo,

kakak dari Mayiya. Telaga tak terasa tersenyum. Kejadian ini amat

baik untuk menonjolkan kemampuan Wassa yang baru diajarinya dan

juga sebagai kepedulian Wassa kepada orang-orang di desanya. Bisa

jadi hal ini akan menjadi nilai yang baik bagi pemuda itu di mata

kakak dari orang yang dicintainya.

Segera kedua pemuda itu, Wassa dan Telaga, menceburkan diri dalam

pertarungan. Segera jalannya bertarungan berpindah dari tadi berat

ke kekalahan Mayayo menjadi seimbang. Mungkin lebih berat ke kemenangan

pihak Mayayo andai saja ia tidak terluka dan Telaga tidak

menahan serangannya.

Dengan tangan kosong saja kedua pemuda itu dapat menahan seran483

gan orang-orang Bajak Pantai yang menggunakan golok, tapi tidak

mendesaknya. Pertarungan pun berjalan sedikit lama dengan kedudukan

seimbang. Karena bertangan kosong, kedua pemuda yang

baru datang itu tidak bisa mendesak terlalu dalam orang-orang yang

bersenjatakan golok tersebut.

Lawan dari ketiga pemuda itu, begitu melihat adanya bala bantuan,

menjadi kecut hatinya. Sudah menjadi kebiasaan mereka untuk

memeras hanya di tempat yang sunyi. Sekarang hati mereka menjadi

kebat-kebit kalau-kalau orang sekampung akan datang mengeroyok

mereka. Begitulah watak yang pengecut, tidak berbanyak atau bersenjata,

tak ada keberanian.

Tiba-tiba Telaga berbisik kepada Wassa, ”Serang yang jauh darimu

dengan loncatan belakang, ingat gerakan yang aku ajari!”.

Menangguk Wassa mendengar petunjuk itu. Dari hasil diskusi mereka

saat berlatih di makam kuno di atas bukit mereka menciptakan gerakgerak

menyerang yang tak terduga. Menyerang orang yang jauh dan

mengabaikan yang dekat. Sudah tentu Telaga tidak menceritakan sejujurnya

bahwa ide itu datang dari orang yang ditemuinya seorang diri

di sana. Sesosok wujud yang sama sekali belum dikenalnya. Kepada

Wassa ia hanya mengatakan bahwa ide itu datang dengan memperhatikan

keteraturan dari pemakaman kuno di atas bukit tersebut.

Dengan mendadak Wassa meloncat mundur saat serangan di sebelah

kirinya kosong dan lawan yang dituju sedang menarik goloknya.

Ia menyerang cepat dan mengejar. Lawan itu terkejut karena tak

disangka dirinya yang berdiri paling jauh dari sang pemuda, malah

diserang dan dikejar. Rekannya yang mencoba menyerang, dipapaki

serangannya oleh Telaga. Sebenarnya bila Wassa cukup hati-hati dan

melakukan gerakan dengan tipuan secara tiba-tiba, tak perlu Telaga

membantunya. Ini karena Wassa belum begitu paham gerakan ini sehingga

perubahan serangannya dapat terbaca oleh rekan sang lawan

yang ditujunya.

”Deggg!!!” pukulan Wassa masuk ke dada lawannya tersebut. Dan

selagi lawannya itu terhuyung ke belakang untuk menghindar, Wassa

terus merengsek maju. Ia membungkukkan tubuhnya sehingga bacokan

ngawur lawannya yang dilakukan sambil menahan dadanya yang

484 BAGIAN 8. MENARI BERSAMA AIR

sakit lewat di atas kepalanya, lalu menyelinap di bawah tinggi bahu

lawannya, mengait tangan yang tidak memegang golok, memutarnya

dan melakukan bantingan dengan jurus Berkelit Membanting Padi.

Gerakan yang diajarkan Telaga. Suatu ilmu tangan kosong yang diperoleh

Telaga dari gurunya Arasan.

Akibatnya Bajak Pantai itu terbanting di atas pasir dan pingsang.

Tak bergerak-gerak. Gerakan yang cepat ini juga membungkamkan

mulut rekan-rekannya yang semakin ciut nyalinya. Sudah dua teman

mereka ditumbangkan. Belum lagi jika penduduk kampung datang.

Dengan saling melirik antara mereka, orang-orang Bajak Pantai itu

pun bersuitan dan segera ambil langkah seribu dari tempat itu. Tak

lupa salah seorang dari mereka mengucapkan sumpah serapah dan

juga ancaman kepada ketiga pemuda itu.

Mayayo segera terduduk letih. Dengan dipapah olehWassa dan Telaga

ia didudukan di atas pasir, menyandar pada perahunya. Segera Wassa

meminumkan air yang dibawanya di pinggang. Sunyi kemudian di

antara mereka. Sementara kedua lawan mereka, yang satu mati dan

yang satu pingsan, tampak tergeletak tak jauh dari sana.

Sementara itu tampak riuh-rendah di kejauhan. Rupanya selainWassa

dan Telaga yang melihat dan terjun langsung ke perkelahian itu, ada

pula orang desa lain yang melihat dan segera melaporkan hal ini.

Berbondong-bondong orang dengan tongkat dan golok datang menjelang.

Tajam juga intuisi para Bajak Pantai, sehingga melihat kedudukan

yang tidak seimbang melawan Mayayo, Wassa dan Telaga,

segera mereka mengambil langkah seribu. Jika telat mereka memilih

keputusan itu, bisa jadi mereka sudah berbaring di atas pasir dan

babak-belur dihajar orang-orang desa ini.

***

”Kakak!!” teriak Mayiya saat melihat kakaknya dipapah oleh Telaga

dan Wassa. Menghambur gadis itu dalam rengkuhan kakaknya dan

menangis sesenggukan. Ia tidak menyangka bahwa perkelahian di pantai

yang disampaikan oleh seseorang sehingga para pemuda dan lakilaki

bersama-sama ke sana, melibatkan kakaknya. Untung saja tidak

terjadi apa-apa terhadap sang kakak.

”Huss!! Sudahlah adiku, aku tidak apa-apa! Terima kasih pada ke485

dua orang ini, terutama Wassa yang sudah membelaku sehingga para

Bajak Pantai itu lari terbirit-birit,” katanya sambil menunjuk pada

Telaga dan Wassa.

Menangguk dan memandang dengan penuh terima kasih Mayiya

kepada kedua orang ini. Wassa yang dipandang seperti itu menjadi

jengah dan berdebar-debar hatinya.

Segera Mayiya membawa kakaknya ke serambi rumahnya. Di sana

telah berkumpul orang tua-muda yang segera berdatangan serta-merta

mendengar kedatangan Mayayo dan juga perkelahian di pantai tersebut.

Dengan cekakan Mayiya mengobati kakaknya. Membubuhkan

luka sang kakak dengan ramuan dan membalutnya, setelah terlebih

dahulu membersihkannya. Untung saja para Bajak Pantai itu adalah

orang-orang kasar biasa, sehingga golok mereka tidak dibubuhi racun.

Luka yang terkena racun dapat berbahaya sekali.

Tak lupa Mayiya juga menanyakan keadaan Telaga danWassa. Telaga

mengatakan ia baik-baik saja, dan menunjuk ke pada Wassa yang terluka

ringan. Dengan segera gadis itu mengobati sang pemuda yang

ditunjuk, yang menjadi berdebar-debar dan bergemuruh dadanya saat

gadis itu menyentuh dan mengobati lengannya yang luka tergores

golok.

Pelaut Ompong tak ada di tempat. Ia sedang pergi ke desa lain untuk

suatu urusan. Kemudian warga pun bubaran setelah mereka saling

membicangkan soal penyerangan di pantai itu. Rasa-rasa cemas tampak

dalam wajah mereka. Bila suatu saat mereka mendapat giliran,

menjadi bahan pikiran masing-masing orang. Ada yang mengusulkan

bahwa masalah ini harus dibicarakan sedesa dan dicarikan pemecahannya.

Menangguk-angguk beberapa orang menyetujui usul itu. Dan

dalam waktu dekat rencananya akan diadakah rembug desa untuk

membahas hal ini. Setelah mengucapkan selamat datang dan semoga

cepat sembuh kepada Mayayo, orang-orang pun mulai berpamitan,

kembali ke rumah masing-masing dan meneruskan pekerjaan mereka

yang tadi terhenti.

***

Beberapa hari kemudian Pelaut Ompong pun pulang. Dengan gembira

ia mendapati bahwa cucu laki-lakinya, Mayayo, telah tiba kembali

486 BAGIAN 8. MENARI BERSAMA AIR

di rumah. Perkara perkelahian di pantai tidak terlalu menyita perhatiannya

melainkan jauh lebih senang ia mendengar bahwa Mayayo

telah berjodoh dengan Akanamia dari Suku Pelaut. Tak lupa pula

Pelaut Ompong menyampaikan maksud dari Wassa yang ingin meminang

Mayiya. Tadinya Wassa bagi Mayayo adalah seorang pemuda

biasa, akan tetapi setelah pemuda itu menolongnya dari serangan para

Bajak Pantai waktu ia baru mendaratkan perahu, pandagangannya

terhadap pemuda itu berubah banyak. Ia kagum akan sikap pemuda

itu. Dengan segera ia menyetujui pinangan Wassa. Hanya waktu

belum ditentukan kapan mereka berdua akan menikah. Mayiya yang

merasa berhutang budi padaWassa menerima bahwa pemuda itu menjadi

jodohnya, terlebih setelah mendengar bahwa Telaga yang dikaguminya

pun sudah bertunangan. Jadilah kebahagiaan pada keluarga

Pelaut Ompong. Kedua cucunya akan segera menikah karena telah

memiliki jodoh masing-masing.

Adapun Telaga setelah orang yang ditunggu-tunggunya tiba, Mayayo,

segera meminta keterngan perihal Suku Pelaut. Awalnya Mayayo

tidak mau banyak bercerita mengingat Suku Pelaut tidak terlalu suka

dikunjungi oleh orang tak dikenal. Akan tetapi mengingat bahwa

Telaga pulalah yang mengajarkan ilmu beladiri kepadaWassa sehingga

pemuda itu dapat menolong dirinya, bercerita pulalah ia. Bahwa Suku

Pelaut umumnya memiliki tempat yang berpindah-pindah, dan ia secara

kebetulan dapat bertemu dengan mereka. Ia saja yang telah

berjodoh dengan seorang dari mereka, tidak tahu bagaimana cara mencari

kediaman mereka. Ia hanya akan berlayar kembali ke tempat ia

terakhir berpisah dari mereka dan menunggu tanda-tanda di sana.

Mendengar itu Telaga pun semakin bersemangat untuk mencari tahu

mengenai Suku Pelaut itu. Ia merasa keterangan lebih lanjut dari

orang-orang di desa itu tidak dapat diperolehnya. Sudah saatnya ia

melanjutkan perjalanan. Mungkin ke desa lain masih di sepanjang

pantai. Jika ada satu hal yang memberatkannya adalah orang yang

mengundangnya ke makam kuno di atas bukit itu. Sampai sekarang

ia belum tahu siapa orang itu dan apa maksudnya. Pelaut Ompong

dan juga Mayayo tidak bisa memberikan keterangan tambahan,

bahkan setelah Telaga menceritakan perihal pertemuannya dengan

suara tanpa wujud di sana. Keduanya hanya menggeleng-gelengkan

kepala saat ia menceritakan hal itu.

487

Telaga kemudian setelah melihat Mayayo sembuh dan para Bajak

Pantai tidak lagi datang untuk membalaskan kekalahannya, minta

diri. Pemuda dan pemudi yang telah sedikit banyak dilatih beladiri

olehnya merasa cukup kehilangan karena telah tercipta keakraban di

antara mereka. Yang paling merasa kehilangan sudah tentu Wassa.

Ia merasa pemuda itu telah banyak membantunya sehingga ia sampai

bisa merebut hati gadis yang dicintainya.

Dilepas dengan rasa persahabatan Telaga pun berlalu dari desa yang

bernama Tepi Darat Selatan itu. Beberapa orang sahabat telah diperolehnya

di tempat itu. Tempat yang suatu saat akan dikunjungi kembali.

Mungkin.

***

”Itu paman! Itu pulau yang diceritakan Telaga, past!” ucap seorang

dara kepada lelaki tua yang menyertainya, yang hanya mengangguk

mengiyakan.

Keduanya terdiam saat langkah kaki mereka hampir menyentuh batas

antara darat dan air. Sebuah danau yang luas dan indah, yang di

tengah-tengahnya terdapat sebuah pula. Pulau yang menjadi tujuan

mereka.

”Sekarang bagaimana caranya menyeberang ke sana?” tanya orang tua

itu perlahan, seperti berbicara kepada dirinya sendiri. ”Engkau ada

ide, Sarini?” katanya kemudian kepada dara yang ada di dekatnya.

Dara yang dipanggil Sarini itu hanya menggelengkan kepalanya. Ya, ia

tidak tahu harus bagaimana menyeberang danau itu untuk mencapai

pulau di tengahnya. Terpikir hanya satu jalan, yaitu berenang. Tapi

ia masih ragu-ragu melihat jarak tempuh yang harus dilampauinya

sebelum mereka mencapai pulau di tengah itu. Belum lagi apa-apa

yang hidup di dalam danau itu, yang mungkin dapat menghambat

penyeberangan mereka.

”Mari kita kelilingi dulu danau ini, paman Walinggih! Siapa tahu ada

tempat untuk menyeberang,” usulnya kemudian.

Orang tua, sang paman Walinggih mengangguk setuju karena ia tidak

ada ide lain yang lebih baik untuk dilakukan.

488 BAGIAN 8. MENARI BERSAMA AIR

Mereka pun mulai menyusuri pantai di tepi bagian luar danau tersebut.

Berjalan agak cepat, dan makin lama makin cepat. Kegembiraan

akan keindahan tempat itu rupanya menulari sang dara dan sang lelaki

tua, sehingga mereka memacu langkah mereka dalam mengelilingi pantai

itu. Tak terasa akhirnya mereka tiba di tempat semua.

”Cape paman...., dan itu matahari sudah mulai hilang...,” ucap Sarini

sambil menunjuk ke arah barat. Di langit bagian tersebut tampak

sinarnya sudah mulai menguning dan bertambah temaram.

”Lebih baik kita mencari tempat untuk bermalam dulu,” ucapWalinggih,

”kelihatannya kita tidak dapat menyeberang sekarang. Mungkin

ada nelayan atau orang yang suatu saat ingin menyeberang dan kita

dapat meminta tolong.”

Seakan-akan tahu kebutuhan mereka tiba-tiba dari arah daratan tampak

dua orang berjalan sambil menggotong perahu mereka. Mereka

rupanya ingin mencari ikan di danau itu pada malam hari. Mungkin

ikan-ikan yang hanya muncul dalam gelap, pikir Walinggih.

Segera Walinggin menyapa mereka dan menyatakan maksudnya untuk

minta diseberangkan ke pulau di tengah-tengah danau tersebut.

Kedua orang nelayan yang baru datang itu tampak agak curiga terhadap

Walinggih dan Sarini. Hal ini karena jarang sekali ada orang

luar yang berkunjung ke danau itu, apalagi menyeberang ke pulau di

tengahnya. Untuk itu berceritalah Walinggih tentang maksudnya dan

juga perihal Sarini.

”Ah, jadi anda berdua ini, tamunya Ki dan Nyi Sura?” ucap seorang

dari mereka. ”Baiklah kalau begitu, kami bantu menyeberang.”

”Kalian tidak usah kuatir masalah penangkapan ikan, saya akan mengganti

ongkos penyeberangan ini,” ucap Walinggih ramah. Ia sudah

amat berterima kasih ada yang akan membantunya menyeberang ke

pulau itu.

Kedua orang itu menggeleng-gelengkan kepalanya, ”Tidak!! Tidak!!

Kami membantu dengan cuma-cuma. Ketiga orang yang hidup di

tengah pulau itu telah cukup membantu kami. Kami ingin sekali membantu

mereka kembali, dan saat ini adalah kesempatan kami.”

489

Mengangguk-angguk Walinggih mendengar itu. Orang-orang desa

yang masih mengingat jasa orang lain dan mau membalas budi. Andai

saja orang-orang kota saat ini juga masih seperti itu, saling tolongmenolong

dan membantu tanpa perhitungan.

Naiklah kemudian mereka berempat di atas sampan itu. Awalnya seorang

dari nelayan tersebut agak kuatir perahu mereka akan tenggelam

atau terbalik dikarenakan muatan yang berlebih. Umumnya perahu

mereka hanya kuat mengangkut dua sampai tiga orang. Tapi alangkah

herannya mereka bahwa perahu mereka tidak melesak ke dalam air

seperti perhitungan mereka semula. Yang mereka tidak ketahui adalah

bahwa Walinggih dan Sarini mengerahkan ilmu meringankan tubuh

selama penyeberangan itu sehingga seolah-olah perahu kedua nelayan

itu hanya mendapatkan tambahan bobot dua orang anak kecil saja.

Sembari menyeberang itu berceritalah kedua nelayan tentang pekerjaan

mereka dan ikan apa yang ingin ditangkap mereka hari itu. Dan

benar seperti dugaan Walinggih semula, mereka mencari ikan yang

hanya keluar pada malam hari. Ikan tersebut terutama keluar saat

bulan bersinar. Entah mengapa sinar bulan menarik jenis ikan tersebut

untuk berenang-renang dekat permukaan seperti halnya laron yang

terbang mendekati nyala api. Untuk itu para nelayan akan memasak

jebakan jaring yang membuat ikan tersebut mendekati permukaan

karena sinar bulan, akan tetapi tidak melihat jaring yang dipasangkan.

Suatu perangkap satu arah, ikan dapat masuk tapi tidak lagi dapat

keluar atau berbalik.

Kedua penumpang mereka mendengarkan cerita kedua nelayan dengan

membisu. Samar-samar terdengar suara perut mereka minta diisi.

Keduanya saling memandang dan tersenyum. Nelayan yang bercerita

tidak mendengar karena sendang asiknya mendongeng sedangkan temannya

sedang asik mengemudikan perahu yang bergerak perlahan ke

arah pulau karena adanya arus di bawahnya.

***

Tak lama sampailah perahu yang ditumpangi Walinggih dan Sarini ke

pulau di tengah danau itu. Dengan sigap kedua nelayan yang membawa

mereka mendaratkan perahu mereka dan mempersilakan mereka

untuk mendarat. Keduanya sempat menanyakan apakah Walinggih

490 BAGIAN 8. MENARI BERSAMA AIR

dan Sarini ingin diantar kembali ke seberang setelah berjumpa dengan

Ki dan Nyi Sura, akan tetapi kedua orang itu mengatakan bahwa

waktu untuk itu tidak dapat dipastikan. Kedua nelayan tersebut kemudian

mengangguk mengerti.

Lalu kata seorang dari mereka, ”Ki dan Nyi Sura pasti juga memiliki

sampan. Atau jika kalian ingin dijemput, apungkan saja sesuatu

dan sertakan kertas di atasnya. Arus danau ini akan membawanya ke

tempat kami.”

Menangguk mengiyakan Sarini danWalinggih, walaupun mereka sebenarnya

tidak terlalu mengerti bagaimana cara itu bisa menyampaikan

pesan kepada nelayan yang tinggal di pinggir pantai danau itu. Tapi

mereka tidak bertanya lebih lanjut melainkan menyimpannya dalam

hati. Mungkin sebaiknya ditanyakan kepada kedua orang yang akan

mereka temui di pulau itu. Setelah mengucapkan terima kasih, kedua

nelayan itu pun kembali ke air untuk menangkap ikan yang tadinya

merupakan tujuan mereka mendanau.

”Nah, paman.., kita sudah di sini. Ke arah mana kita harus berjalan?”

tanya Sarini kemudian.

Walinggih mempelajari dulu rerimbunan yang ada di hadapannya, di

belakang hamparan pasir putih yang sunyi akan tetapi bergemerlap

oleh timpaan sinar bulan. ”Mungkin ke sana,” tunjuk orang tua itu

pada sebuah jalan setapak yang terlihat samar-samar di balik rerimbunan

rumput.

”Betul, paman! Saya tidak melihatnya tadi. Itu pasti jalan setapak

yang akan membawa kita ke tempat orang tua Telaga,” ucap gadis

itu. Tak terasa ada rasa sungkan dan jengah. Ya, bagaimana tidak, ia

akan bertemu dengan orang tua dari pemuda yang akan menikahinya.

Keduanya kemudian beranjak dari sana dan mulai menyusuri jalan

setapak yang mulai tampak ditumbuhi rerumputan sehingga tidak terlalu

jelas terlihat. Keadaan jalan itu seakan-akan menceritakan bahwa

ia sudah cukup lama tidak digunakan sehingga rumput-rumputan

memperoleh kesempatan untuk tumbuh dan menghapus jalur-jalur

lindasan kaki yang tadinya ada. Untung tidak terlalu lama, jika tidak,

harusnya Sarini danWalinggih berjalan sambil membuat jalan setapak

baru.

491

Tak lama kemudian sampailah mereka ke suatu tempat yang agak terbuka,

tetapi juga telah dipenuhi rerumputan. Di sana berdiri sebuah

saung. Akan tetapi sama dengan kondisi jalan setapak yang baru saja

mereka lewati, kondisinya pun tak terurus. Terlihat telah lama tidak

disentuh oleh tangan manusia yang menggunakannya.

”Paman, apa yang sebenarnya terjadi?” tanya Sarini perlahan, ”kelihatannya

mereka tidak ada di sini?”

”Iya, terlihat seperti sudah lama tidak ada orang di sini,” jawab Walinggih

mengiyakan. Tapi bila kedua orang yang ingin dikunjungi

mereka tidak berada di tempatnya, mengapa kedua nelayan yang mengatakan

kenal dengan mereka tidak mengatakan apa-apa tadi. Malah

senang bahwa ia dan Sarini hendak berkunjung ke pulau itu. Pikirannya

melayang ke mana-mana. Ada yang dirasanya tidak beres dan

telah terjadi di tempat ini.

Tiba-tiba matanya melihat ke sebuah catatan yang terlihat sengaja

disimpan di dinding saung itu. Agak terletak di sebelah dalam, sehingga

orang yang tidak masuk tidak akan menyadari bahwa ada

catatan di sana. Tidak diambilnya catatan itu melainkan hanya dibacanya.

”Di gua dekat ceruk Sungai Batu Hitam.”

Tak ada kata-kata lain. Mungkin pesan yang sengaja ditinggalkan

bagi orang yang sudah tidak asing lagi dengan keadaan tempat ini,

yang tahu di mana itu ”Sungai Batu Hitam”.

”Mari kita ikuti petunjuk ini,” katanya kemudian kepada Sarini yang

setelah diberitahu juga terlihat bingung. Sudah keadaan tempat ini

yang tidak terurus ditambah dengan petunjuk yang asing bagi mereka.

Keduanya pun mulai mencari-cari di mana kiranya dari tempat itu bisa

terdapat sebuah sungai, dan syukur-syukur dekat batu yang berwarna

hitam, sehingga bisa saja adalah sungai yang dimaksud. Setelah lama

mencari-cari, akhirnya gemerik air terdengar samar-samar. Keduanya

pun berjalan ke arah sana dengan ditemani oleh sinar bulan yang

cukup membantu mereka menemukan jalan dalam rerimbunan tersebut.

492 BAGIAN 8. MENARI BERSAMA AIR

Sebuah ceruk yang digenangi air yang cukup lebar dan berwarna kegelapan

berada di sana, di bawah sebuah sungai yang sebagian airnya

merembes dan mengalir perlahan ke bawahnya. Sebagian lain mengalir

menuju tempat lain dan menuju danau.

”Jika ceruk ini yang dimaksud dan sungai tersebut, maka guanya berada

tak jauh dari ini,” ucap Walinggih perlahan.

Sarini mengangguk-anggukkan kepalanya. Tapi matanya belum dapat

menemukan di mana sekiranya sebuah gua dapat berada di tempat itu.

Tiba-tiba serangkum hawa dingin memembelai mereka sehingga

tersentak dan menuju ke suatu arah, di mana dalam arah tersebut

tampak sebuah lubang gelap dalam dinding batu hitam, dengan

gemerlapan kemilau putih samar-samar terpancar dari dalamnya.

Sebuah gua yang memancarkan sedikit sinar temaran dari dalamnya.

”Itu seharusnya gua yang dimaksud dalam pesan itu,” ucapWalinggih.

Keduanya pun segera beranjak ke sana.

”Hati-hati, paman!” ucap Sarini saat mereka tiba di muka gua tersebut.

”Benar, kita harus hati-hati!” ucap Walinggih mengiyakan. Ia tidak

tahu siapa yang tadi mengirimkan serangkum hawa dingin sehingga

mereka dapat mengetahui posisi gua ini. Siapapun orang itu, mereka

berdua belum mengetahui maksudnya, tapi yang pasti ilmu kepandaiannya

tidak boleh dianggap sepele.

Dengan hati-hati mereka masuk ke dalam gua dan melalui beberapa

stalaktit dan staklamit yang hampir membentuk tiang-tiang. Perlahan

mereka menyelinap di antara tiang-tiang batu yang ada dan tetap

hati-hati, sampai akhirnya mereka di suatu ruangan dengan langitlangit

yang lebar dan tinggi. Di sana-sini tampak air perlahan menetes

perlahan, mungkin rembesan air dari sungai yang mengalir di atas gua

batu ini.

Di sana ditengah-tengah ruangan yang temaram disinari rerumputan

dan tanaman yang bersinar dalam gelap. Tampak sesosok sedang

duduk di hadapan dua buah gundukan berwarna putih pualam setinggi

dirinya.

493

Perlahan kedua orang itu, Walinggih dan Sarini, mendekati sesosok

yang tampak sedang berkonsentrasi tersebut. Tak berani menganggu,

keduanya pun duduk bersila dalam jarak setombak darinya dan menunggu.

Hening sejenak meliputi suasana di sana, menambah intensitas hawa

dingin yang terasa mengisi dengan pekat udara di sekitar mereka.

”Kalian mencari Ki dan Nyi Sura?” tanya orang itu perlahan sambil

membuka matanya. Tampak bola matanya yang tidak seperti biasanya

melainkan berwarna keputihan, seperti kulitnya yang pucat dan rambutnya

yang seluruhnya telah memutih.

”Ya, kami mencari mereka. Bisa tolong tunjukkan di mana mereka

berada?” tanya Walinggih dengan sopan.

Orang itu dengan raut muka sedih menunjuk kepada kedua gundukan

berwarna putih yang ”duduk” di hadapannya.

”Ini.... mereke!!!” ucap Sarini yang tidak dapat menahan keterkejutannya

demi melihat bahwa di balik pualam putih, yang ternyata adalah

es, tampak samar-samar wajah seorang manusia. Dua buah manusia

yang telah membeku. Ki dan Nyi Sura.

”Engkau yang membuat mereka demikian??” ucap Walinggih yang

segera siapa dengan gerakan siap mencabut pedang panjangnya.

Walaupun ia tahu orang dengan kemampuan yang dapat membuat

orang membeku seperti itu adalah di atas kemampuan dirinya dan

Sarini.

”Aku adalah sahabat mereka...,” ucapnya perlahan, ”aku melakukan

ini untuk mencegah mereka terluka lebih parah.”

”Terluka? Apa yang sebenarnya terjadi?” tanya Walinggih yang

sikapnya kemudian melunak demi mendengar jawaban yang jujur dari

orang tersebut. Tak tersembunyi kepura-puraan dari cara orang itu

berbicara dan mejawab pertanyaannya tadi.

”Mereka sedang melatih Tenaga Air tingkat tertentu, di mana mereka

harus membolak-balik aliran darah mereka untuk menerobos titik-titik

yang tersumbat. Tapi sayangnya terdapat kesalahan sehingga mereka

terluka,” jelas orang itu. Lalu lanjutnya, ”pada saat-saat itu kebetulan

494 BAGIAN 8. MENARI BERSAMA AIR

aku kembali dan menemukan mereka dalam keadaan terluka dengan

jalan darah terbalik-balik. Dengan membekukan mereka, untuk sementara

mereka berada dalam keadaan aman. Tapi perlu dicari orang

yang dapat mengobati mereka.”

Walinggih dan Sarini mendengarkan penjalasan itu dengan penuh perhatian.

Tak disangkanya kedua orang yang membeku tersebut sedang

ditolong oleh sang sosok yang hampir berwarna seluruh tubunya

keputihan tersebut.

Lalu setelah ditanya, Walinggih dan Sarini pun menjelaskan maksud

kedatangan mereka untuk bertemu dengan Ki dan Nyi Sura. Tersungging

senyum di wajah pucat orang itu demi mendengar kabar gembira

yang dibawa oleh kedua pengunjung itu.

Lalu katanya, ”Ah, kalian membawa kabar baik. Tentunya kedua sahabatku

ini akan gembira sekali, jika saja mereka dapat mendengarnya.”

Wajahnya kembali muram demi ia menyelesaikan kalimatnya.

Kedua orang yang duduk bersila di hadapannya tampak diam. Tak

tahu harus berbuat apa. Keheningan pun kembali menyeruak di antara

mereka berlima.

***

”Berapa lama pembekuan ini bisa dilakukan?” tanya Walinggih

kepada orang yang terlihat seluruh tubuhnya hampir berwarna putih

tersebut, yang mengaku bernama Rancana.

”Tidak tahu,” jawab Rancana pendek. Ia hanya melakukan apa yang

diminta oleh kedua orang temannya itu untuk menghambat luka dalam

tubuh mereka. Melakukan olah tenaga yang mereka ajarkan sehingga

dapat membekukan tubuh mereka.

”Dan engkau dapat melakukannya sendiri, terus-menerus?” tanya

Walinggih kemudian.

”Tidak juga,” ucapnya pelan, ”proses ini juga membahayakan diriku

sendiri. Tapi beberapa hari lagi mereka sudah tidak perlu dibantu.

Pembekuan mereka akan langgeng selamanya apabila suatu tahap

mati suri telah tercapai.”

495

Keduanya kemudian terdiam, larut dalam pikirannya masing-masing.

”Warna putih pada tubuhmu juga akibat penyaluran tenaga untuk

membekukan mereka, betul begitu?” tanya Walinggih kemudian.

Rancana hanya mengangguk. DugaanWalinggih benar adanya, bahwa

efek samping dari cara ia menolong adalah memperoleh kehilangan

warna pada bagian-bagian tubuhnya. Sudah bola matanya, rambutnya

dan juga kulitnya. Pada akhirnya bagian-bagian dalam tubuhnya

juga, seperti lidah dan rongga mulut. Dan akhir yang tidak diharapkan

adalah ia akan memutih membeku, menjadi patung es, mirip

dengan kedua orang yang ditolongnya.

”Pesanku, bila aku harus menemani mereka ’membeku’..,” ucap Rancana,

”tolong katakan pada muridku, Lantang, bahwa aku belum menemukan

cara melancarkan aliran hawa dalam tubuhnya.” Lalu diceritakan

perjalannya ke Rimba Hijau, bertemu dengan para Manusia

Tiga Kaki dalam upaya mencari penyembuhan muridnya.

Mengangguk-angguk Walinggih mendengar pesan tersebut. Ia melihat

betapa besar kasih sayang Rancana kepada muridnya itu, yang

ternyata tidak mampu menyalurkan tenaga dalamnya akibat sebab

yang tidak diketahui pada susunan jalan darahnya. Walinggih pun

menyanggupi permintaan itu.

Disamping mengoper tenaga dalamnya kepada Ki dan Nyi Sura, Rancana

pun menyempatkan diri untuk mengajari Sarini ilmu meringankan

tubuhnya. Ia yang dikenal sebagai Bayangan Menangis Tertawa, memang

memiliki ilmu simpanan dalam meringankan tubuh dan bergerak

cepat ke sana-kemari.

Sudah tentu yang merasa gembira pula selain Sarini adalah Walinggih,

ia merasa senang bahwa muridnya mendapat tambahan ilmu dari

seorang yang tokoh yang selama ini telah lama menghilang dari dunia

persilatan.

Hari-hari pun berlalu diisi dengan pengoperan tenagan kepada Ki dan

Nyi Sura, latihan Sarini dan perbincangan antara Walinggih dan Rancana.

Pengembaraan Rancana yang ke sana-ke mari ternyata telah

membawa padanya juga kabar mengenai Hakim Haus Darah, julukan

yang dulu dimiliki Walinggih. Julukan yang telah lama ditinggalkan

496 BAGIAN 8. MENARI BERSAMA AIR

dengan sifat-sifat jeleknya.

Keduanya tertawa karena mereka saat ini telah menjadi tua dan

julukan-julukan kuno telah lama lewat. Yang mereka pikirkan sekarang

adalah orang-orang yang menjadi murid-murid mereka. Suatu kesamaan

dari orang-orang yang menjadi lebih bijaksana setelah diri

mereka menjadi tua dan sadar hidup tidak lama lagi di dunia ini.

***

Tak terasa telah berlalu hari-hari di mana Walinggih dan muridnya

Sarini menetap di Pulau Tengah Danau, menemani Rancana yang

terus menerus menyalurkan tenaga dalamnya ke Ki dan Nyi Sura yang

telah membeku. Dengan cara yang diberikan oleh mereka berdua, mau

tak mau Rancana pun berangsur-angsur akan menjadi seperti mereka.

Menjadi sesuatu yang hanya memiliki hawa dingin dan pada akhirnya

akan membeku menjadi sama seperti mereka. Pada tahap tersebut

Ki dan Nyi Sura tidak lagi perlu diasup tenaga dalam karena kondisi

mereka telah dapat menyerap sendiri aliran tenaga yang dibangkitkan

oleh gua di mana mereka berada dan juga aliran sungai di atas gua

tersebut.

Rancana pada awalnya telah tahu resiko ini, dan kedua rekan yang

akan ditolongnya telah mencoba mencegah, tetapi setelah mereka

berdua tak sadar diri lagi, Rancana pun memaksa untuk menolong,

dengan harapan ia dapat mengatasi hal tersebut dan tidak menjadi

seperti mereka. Tapi rupanya tenaga yang ia miliki belum cukup kuat

sehingga mau tak mau penyaluran tersebut merugikan dirinya. Suatu

pengorbanan yang tidak disesalkan oleh Rancana sendiri, kecuali

bahwa ia telah gagal mencari jalan keluar bagi kesembuhan murinya,

Lantang. Bahkan kunjungannya ke Rimba Hijau, sempai bertemu

dengan Hitam-Putih, pemimpin salah satu Kaum Manusia Tiga Kaki

pun tidak membuahkan hasil yang berarti. Jika saja Ki Tapa masih

hidup, mungkin ia masih dapat memberikan satu dua keterangan yang

berguna.

Dengan tergesa Rancana pun mengajarkan ilmu meringan tubuhnya

kepada Sarini dan juga langkah ajaibnya, Langkah-langkah Kering di

Bawah Hujan, suatu jurus yang dapat menyelamatkan diri dari terkena

sengatan senjata tajam di dalam hujan serangan lawan. Jurus yang

497

juga yang juga dimiliki oleh Kakek Gu. Entah apa hubungan antara

keduanya. Jurus ini adalah jurus yang berasal dari ilmu dasar

yang dimiliki oleh Rancana, yang mendasarkan gerakannya pada gerakan

aliran, air atau angin. Membuat tubuh bergerak dengan lincah

ke sana-kemari memanfaatkan aliran tenaga lawan. Dengan cara ini

sebagai manapun lawan mendesak ia akan bisa menghindar. Mirip

dengan upaya orang yang membelah udara atau air. Sia-sia. Sehabis

serangan lewat, yang dibelah akan kembali mengisi ruang yang tadi

kosong.

”Jika belum bisa menerapkan, hapalkan dulu gerakan dan teoriteorinya,”

ucap Rancana suatu saat demi melihat Sarini agak sulit

untuk mencerna apa yang ia ucapkan. ”Engkau juga dapat membicarakannya

dengan gurumu, Walinggih. Walaupun ilmu kami

berbeda, tapi setidaknya pengalamannya dalam bidang ilmu beladiri

akan memudahkanmu untuk mencerna apa-apa yang aku ajarkan ini.”

Sarini mendengarkan dengan tekun ucapan gurunya ini. Rancana

walaupun tidak ingin disebut guru, telah menjadi guru ketiga dari

Sarini. Guru pertama adalah ayahnya sendiri, Arasan. Lalu Walinggih

dan sekarang Rancana. Beragam ilmu dari ilmu silat tangan

kosong, menggunakan pedang dan sekarang meringangkan tubuh dan

ilmu menghindar telah dipelajarinya. Hanya saja ilmu-ilmu tersebut

belum cukup matang dan mengendap dalam pemahamannya. Perlu

waktu memang, agar suatu ilmu dapat berjalan dengan otomatis

dalam pemanfaatannya. Mirip seperti pohon yang dirawat, disiramai

dan akhirnya berbuah.

Di saat itu Walinggih yang bertugas mencarikan mereka makan dan

juga memantau kalau-kalau ada pendatang yang tidak diinginkan

menganggu penyaluran tenaga dalam ke Ki dan Nyi Sura oleh Rancana.

Tapi sepertinya orang-orang yang tinggal di pulau tersebut

tidak memiliki musuh, sehingga tidak ada orang yang ingin mencaricari

masalah dengan mereka. Tidak mencari musuh adalah suatu

sikap hidup yang baik dalam rimba persilatan.

Tibalah hari yang telah lama diduga Rancana, ia merasa menggigil

hebat dan badannya mulai sulit digerakkan. Walaupun demikian ia

masih berusaha untuk menyalurkan tenaga terahir yang dapat dia

bangkitkan untuk menyurup ke dalam tubuh Ki dan Nyi Sura. Ia

498 BAGIAN 8. MENARI BERSAMA AIR

telah berpesan kepada Walinggih dan Sarini, bahwa setelah ia ”membeku”

agar disandingkan dekat dengan kedua rekannya, membentuk

posisi segitiga. Di luar itu juga ditarik geris antara mereka yang saling

menghubungkan dan dipasang beberapa simbol dan batu untuk

menjaga aliran hawa antara mereka dan juga gua tempat mereka tinggal.

Tak lupa ia memesankan untuk menutup pintu gua itu agar tak

ada orang yang tak dikenal datang dan mengganggu. Pesan untuk

Telaga dan Lantang dituliskan di batu di luar gua tersebut. Pada

suatu tempat yang hanya diketahui oleh penghuni tempat tersebut.

Walinggih dan Sarini tampak berdiri di muka gua yang dari dalamnya

tampat sinar temaram memancar. Gundukan seperti pualam

putih tampak bertambah satu jumlahnya sehingga menjadi tiga buah

sekarang, Ki dan Nyi Sura serta Rancana.

”Engkau sudah siap?” tanya Walinggih kepada muridnya.

Sarini mengangguk.

”Gunakan tenagan gempuran yang kuat dengan pedang panjangnmu

untuk meremukkan batu-batu besar di atas itu, lalu gempur dengan

hentakan kasar sehingga mereka runtuh dan menimbuni mulut gua,”

perintah gurunya itu kemudian.

Gadis itu segera melaksanakan perintah gurunya, ia bergerak cepat

meloncat dan menyabetkan pedang panjangnya berulang-ulang, beberapa

batu tampak berderak-derak, tetapi masih lengket pada tempatnya.

Kemudian setelah selesai ia menyerang lurus, menancapkan

pedangnya dalam dan menghentakkan ke arah samping, memutar,

menyebabkan batu-batu yang sudah retak tadi bergetar dan mulai

berjatuhan menutupi mulut gua tersebut.

”Bagus!! Sekarangn biarkan lubang yang di atas itu untuk sedikit pertukaran

hawa, aku tak tahu apa mereka bertiga masih memerlukannya

atau tidak,” ucap gurunya. ”Kita perlu berikan sedikit tanah dan

rerumputan untuk kamuflase agar mulut gua ini tidak mudah ditemukan.”

Lalu keduanya mencari-cari tanah dan juga rumput-rumputan dan

mulai mendandani mulut gua, yang baru saja mereka tutup dengan

batu-batu, dengan tanah dan rumput-rumputan. Tak lupa disirami

499

pulau dengan air dari ceruk yang tak jauh dari sana.

Selama seminggu masih Sarini dan Walinggih menunggui gua tersebut,

kalau-kalau ada perubahan atau sesuatu terjadi. Juga untuk

meyakinkan kalau rumput-rumput yang dipindahkan telah tumbuh

dan benar-benar menutupi gua tersebut, sehingga orang yang tidak

kenal dengan tempat itu pasti tidak akan menyadari bahwa dulu di

tempat itu pernah ada gua.

Setelah yakin bahwa semunya baik dan sesuia dengan kemamuan

Rancana, Walinggih dan Sarini pun akhirnya meninggalkan tempat

itu, menyeberang kembali ke pantai di pinggi danau dengan menggunakan

perahu nelayan yang dulu mengantarkan mereka, dengan

terlebih dahulu meninggalkan pesan bagi mereka. Kedua nelayan

yang sama juga yang membawa mereka kembali ke pantai. Keduanya

tidak banyak bertanya. Bukan orang usil mereka akan urusan orang

lain.

Sehabis mengucapkan terima kasih Walinggih dan Sarini pun mulai

menuruni Gunung Berdanau Berpulau, kembali ke Padang Batu-Batu

di mana rumah mereka berada. Selain itu juga memberi kabar ke pada

ayah Sarini, Arasan tentang apa yang menimpa calon besanya. Sarini

sendiri akan menanti kepulangan kembali Telaga di rumahnya.

***

”Akanamia, latih baik-baik rangkaian jurus pamungkas yang aku

ajarkan tadi,” ucap orang tua itu kepada cucunya dengan isyarat

tangan yang ditanggapi dengan anggukan oleh cucunya. ”Engkau tak

lama lagi akan dijemput oleh calon suamimu. Kalian latih baik-baik

ilmu tersebut dan turunkan kepada anak cucu kalian. Kakek akan

sangat bangga kalau suatu saat masih dapat bersua dengan mereka.”

Tak terasa air mata menetes pada pipi dara itu. Sudah lama sekali

sejak ia ditinggal pergi oleh kedua orang tuanya, kakeknya menjadi

orang tua tunggal baginya. Tak dinyana akan datang suatu hari di

mana mereka harus berpisah. Tanpa dapat menahan rasa sedihnya ia

pun berlutut dan memeluk lutuh kakeknya sedang bersila di hadapannya.

”Kita tidak berpisah selamanya, ada waktu berpisah, sudah tentu

500 BAGIAN 8. MENARI BERSAMA AIR

ada waktu berkumpul lagi,” begitu kira-kira ucapan orang itu yang

dilekukan dengan usapan-usapan pada rambut cucunya itu. Ucapan

yang semakin memembuat mata Akanamia basah.

”Baik, kakek. Akan kuturuti kata-katamu,” ucapnya sambil menunduk

dan mencium tangan kakeknya yang dibalas dengan kembali usapan

sayang tangan tua renta pada rambut dara tersebut.

”Menari Bersama Air,” begitu ucap tangan kakek itu kepada cucunya,

”adalah nama jurus pamungkas yang aku ajarkan tadi. Gunakan

hanya dalam kesempatan terdesak saja.”

Cucunya mengangguk mengiyakan pesan kakeknya tersebut.

Waktu pun berlalu dengan cepat sampai kedatangan kembali Mayayo

untuk meminang Akanamia, untuk itu turut bersamanya Pelaut Ompong

kakeknya dan juga Wassa, calon iparnya. Dengan menerangkan

bahwa adalah baik apabila kedua saudara itu, Mayiya dan Mayayo

melangsungkan pernikahan pada hari yang sama, disetujuilan usulan

itu. Kedua pasangan muda-muda yang memperoleh jodoh yang samasama

gagah dan cantiknya, membuat para tamu yang menghadiri

pesta sederhana itu pun merasa amat berbahagia dan bersyukur. Turut

mendoakan hal-hal yang baik bagi keempatnya.

***

”Jadi engkau ingin ikut melaut?” tanya seorang pelaut tua kepada

anak muda di depannya.

”Benar, paman! Ingin menimba ilmu di kapal,” jawab anak muda itu

cepat.

”Tidak mudah, lho! Beda di dengan di darat. Dan kamu bisa saja

nanti kangen dengan darat. Bisa berminggu-minggu bahkan berbulanbulan

kami berada di atas air tanpa singgah sehari pun di mana-mana.

Apa kamu mampu?” tanya pelaut tua itu lagi.

”Saya akan coba, paman. Saya berjanji untuk tidak mengeluh,” ucap

anak muda itu meyakinkan.

Demi melihat kesungguhan dalam mata pemuda itu, sang pelaut tua

akhirnya mengijinkan ia untuk ikut sebagai anak buah kapal. Postur

501

anak itu yang kuat dan sehat menyenangkan hatinya. Ia tidak ingin

ada anak buah yang sakit-sakitan dan lemah. Kehidupan di atas laut

adalah kehidupan yang keras.

”Baik! Siapa namamu?” tanya pelaut itu kemudian.

”Telaga!” jawab pemuda itu mantap.

Lalu pelaut tua itu mencatatkan nama pemuda itu di dalam buku

lognya, buku yang mencatat nama-nama kelasi dan juga penumpang

yang akan ikut berlayar dalam kapalnya.

”Jangan telat hadir dua hari lagi di sini. Cari aku atau kapal yang

kutulis di atas secarik kertas itu, mengerti!” ucapnya kemudian setelah

meneliti beberapa tulisan dalam buku tebalnya itu.

”Baik, paman!” jawab pemuda itu dengan raut gembira yang tidak

disembunyikannya.

Lalu mereka berdua pun berpisah.

Perjalanan di atas laut bagi Telaga pun dimulai. Ia benar-benar

merasa senang karena ini merupakan perjalanan pertamanya di atas

sebuah kapal laut. Sebuah kapal yang membawa penumpang dan juga

barang-barang ke berbagai negara di penjuru dunia. Ia selain ingin

mencari tahu mengenai Suku Pelaut juga ingin menambah pengetahuannya

dengan mengenal tempat-tempat lain yang dipisahkan dengan

air dari tanah kelahirannya. Tanah seberang, begitu kata orangorang.

Terdapat puluhan bahkan ratusan tanah seberang, yang orangorangnya

hidup dengan cara yang berbeda dengan orang-orang di

Tlatah Nusantara. Beberapa yang pernah di dengarnya misalnya

Tlatah Tengah, Tlatah Matahari Terbit, Tlatah Alemania dan masih

banyak Tlatah-tlatah lainnya. Semuanya membuatnya amat bergairah

dalam perjalanannya ini.

Rupanya saat musim ini tidak banyak orang yang ingin bepergian

dengan kapal. Selain sebuah keluarga yang terdiri dari ibu, bapak

dan kedua anaknya, hanya terdapat lima orang yang menumpang kapal

tersebut. Dilihat dari tongkrongan mereka, kelima orang tersebut

adalah para pesilat walaupun tidak secara kentara senjata yang mereka

bawa terlihat. Telaga dapat memahami itu dari cara mereka berjalan

502 BAGIAN 8. MENARI BERSAMA AIR

yang pasti dan seimbang dan juga sorot mata tajam serta waspada ciri

dari orang-orang yang selalu siap akan pertarungan. Hal yang aneh

dari mereka adalah corak dan ragam kulit dan bentuk tubuh mereka

yang beraneka. Juga bahasa yang mereka gunakan. Masing-masing kelihatannya

memiliki asal dan bahasa masing-masing, tapi dapat saling

mengerti dengan baik. Telaga pun bertanya-tanya dalam hatinya, apa

yang mengaitkan mereka berlima yang terlihat amat berbeda tersebut.

”Berapa lama perjalan ini sampai ke sana?” tanya seorang bertubuh

subur dan besar kepada seorang gadis manis yang berdiri di sisinya.

”Empat sampai lima minggu,” jawab orang yang ditanya, ”bila cuaca

buruk dan ada perompak, mungkin malah lebih lama.”

”Perompak? Perampok maksudmu?” tanya orang pertama itu lagi.

”Yang pertama itu bekerja di laut, sedangkan yang kedua engkau sebutkan

itu bekerja di darat,” sela seorang dari mereka yang berkulit

pucat.

Mengangguk-angguk orang yang mengajukan pertanyaan itu. Terlihat

bahwa orang itu ”baru” di antara mereka berlima. Masih banyak hal

yang mungkin harus dipelajarinya.

Telaga yang tidak sengaja menguping, entah bagaimana telah merasa

akrab dengan pemuda berkulit coklat, bertubuh besar dan subur itu.

Mungkin dari kesamaan fisik mereka yang sama-sama berasal dari

Tlatah Nusantara ini.

Ia pernah bertukar pandang dengan pemuda itu dan saling tersenyum.

Dengan keempat rekan pemuda itu, Telaga tak terlalu peduli karena

mereka pun tidak mempedulikan dirinya, yang mungkin dianggapnya

hanyalah seorang anak buah kapal yang tidak berarti.

”Hai, aku Telaga,” ucapnya saat melihat pemuda itu tampak termangu

sendiri menghadapi laut yang tenang hampir tanpa gelombang.

”Aku Gentong,” jawabnya ramah.

”Teman-teman yang menarik,” ucap Telaga sambil melirik ke arah

rekan-rekan pemuda itu yang tampaknya sedang bermain kartu berempat.

503

”He-eh!” jawab pemuda itu sekenanya. Kelihatannya ia tidak tahu

harus berkomentar apa mengenai keempat rekannya tersebut.

Keluarga yang terdiri dari ayah, ibu dan putra-putrinya itu jarang

terlihat di atas dek. Pelaut tua yang mengijinkan Telaga untuk ikut

dengan pelayaran itu hanya mengatakan bahwa mereka tidak begitu

tahan udara laut, sehingga lebih sering menghabiskan waktu di kamar

mereka. Suatu yang aneh menurut pemuda itu, tidak tahan laut tapi

kok berlayar? Pasti ada keperluan yang mendesak.

”Telaga, bersihkan dek bagian bawah!” tiba-tiba teriakan perintah memanggilnya,

membuyarkan lamunannya akan kemungkin-kemungkinan

yang dimiliki oleh keluarga tersebut. Segera ia beranjak dengan tak

lupa pamit pada Gentong.

Setelah ia pergi, rekan pemuda itu tampak bangkit meninggalkan permaiannya

dan berdiri dekat pemuda bertubuh subur dan besar itu,

”Jangan terlalu banyak bercerita. Kita tidak tahu siapa pemuda

itu. Bisa-bisa orang suruhan dari mereka-mereka yang menginginkan

kepala kita.”

”Ya, akan aku camkan itu, Dhoruba!” ucap Gentong sedikit jengkel.

Ya, ia memang yang paling ”muda” dari mereka berlima. Tapi kadangkadang

sikap mereka yang masih memperlakukannya sebagai anak

kecil dengan larangan-larangan membuatnya tidak dapat menahan

emosi. Perubahan hidupnya yang tiba-tiba dan banyaknya hal-hal

yang ia tidak tahu membuatnya menjadi gampang tersinggung.

Yang dipanggil Dhoruba itu segera kembali ke permainan yang sedang

menunggu kedatangannya. Seorang berkulit merah dan berwajah

keras tampak mengerlin kepada Gentong. Misun nama orang itu.

Hanya dengan Misun Gentong merasa tenang. Ia tidak banyak mengatur

akan tetapi menjelaskan hal-hal yang ingin diketahuinya dengan

cara yang menyenangkan. Tidak menggurui. Cara yang mengingatkannya

kepada mendiang gurunya, Ki Tapa.

Begitulah kehidupan berjalan. Di dalamnya para pendekar-pendekar

memilih jalannya masing-masing. Mengikut tuntunan dari Sang Pencipta

untuk mengisi arah hidupnya sendiri-sendiri. Kisah yang masih

akan panjang berlangsung dalam waktu dan ruang.

504 BAGIAN 8. MENARI BERSAMA AIR

”Turunkan layar!!” tiba-tiba terhembus perintah. Angin yang hampir

tak ada tiba-tiba mengencang dengan wajah langit yang gelap tibatiba

tampak di depan kapal, di kejauhan dekat horison. Wajah dari

badai dasyat yang akan menjelang. Para anak buah kapal, termasuk

Telaga pun bersiap. Kelima orang penumpang masih tampak tenangtenang

bermain permainan mereka.

Dan angin pun bertambah kencang bertiup.

***

Bagian 9

Kisah-kisah antar Ruang

dan Waktu

”Ayah, buku apa ini?” tanya seorang pemuda kepada orang tua yang

duduk dihadapannya.

”Oh, itu! Itu buku kumpulan tulisan oleh seorang. Isinya macammacam,

menghayal kemana-mana – kadang melewati waktu dan ruang,”

jawab orang tua tersebut setelah sedikit melirik ke buku yang

berada dalam genggaman pemuda itu.

”Boleh aku membacanya?” tanyan pemuda itu lagi.

”Engkau mau? Kalau begitu silakan, tapi itu bukan suatu buku yang

bagus,” ucap orang tua itu kemudian.

”Tidak apa-apa guru, saya ’kan belum punya banyak pengalaman.

Jadi bagi saya, buku yang baik atau tidak, belum bisa saya menilai...,”

jawab pemuda itu rendah hati.

Mengangguk-angguk orang tua yang dipanggil ayah oleh pemuda itu,

”Aku suka sikapmu.”

Pemuda itu pun mulai membuka kisah pertama setelah memenpatkan

dirinya di akar sebuah pohon besar.

Cerita Dua Hari Sebagai Komuter

505

506 BAGIAN 9. KISAH-KISAH ANTAR RUANG DAN WAKTU

Dua hari yang panas, dua hari yang biasa-biasa saja. Mungkin akan

menjadi dua hari yang amat biasa apabila tidak terdapat seorang tua

yang berinteraksi denganku dalam perjalan pulangku menggunakan

Kereta Api Ekonomi Jakarta-Bogor. Mereka bukanlah sosok yang

akan menimbulkan keinginan untuk memperhatikan apalagi berinteraksi

dengannya. Akan tetapi keduanya tetap seorang insan yang juga

memperhatikan sesamanya walaupun mereka kurang bahkan terlupakan

oleh sesamanya.

Hari Pertama

Seingatku, hari itu adalah hari Kamis. Cukup panas menurut kulitku.

Mungkin hal ini disebabkan pula karena aku lama tinggal di Bogor

dan Bandung. Baru kira-kira dua bulan kulakoni menimba ilmu

kembali pulang pergi setiap hari Bogor-Jakarta. Mungkin kulitku

menjadi lebih sensitif dewasa ini. Atau mungkin manja? Entahlah.

Sepeminum teh botol setelah tengah hari kunaikkan diriku ke dalam

sebuah Kereta Api Ekonomi yang menuju Bogor. Aku naik dari sebuah

stasiun kecil di salah satu sudut Jakarta. Di depan sebuah pasar

yang telah berubah seingatku. Tidak sama lagi dengan pasar di mana

aku pernah makan nasi tim bersama nenekku.

Saat itu kereta cukup sepi. Banyak tempat duduk yang belum terisi.

Kupilih tempat duduk yang menghadap ke sisi tempat aku naik. Kebetulan

jenis gerbong yang kutempati adalah yang saling berhadapan

pada kedua sisinya. Dengan demikian penumpang yang duduk pada

sisi kiri akan berhadapan dengan penumpang pada sisi kanan dan dipisahkan

oleh ruang yang cukup besar. Tentu aja apabila tidak terdapat

banyak penumpang lain yang berdiri. Aku duduk di sisi kanan ke arah

majunya kereta. Hampir dekat pintu masuk penumpang yang selalu

tidak pernah ditutup.

Hal pertama yang membuatku mulai memperhatikan seorang tua

adalah semi-dialognya yang diucapkan kepada seorang murid SMP

yang mencoba-coba untuk melihat ke luar kereta pada pintu kereta

yang terbuka. Sedangkan sang orang tua itu sendiri duduk di lantai

pada pintu kereta yang terbuka tersebut.

”Lu, jangan belagu lu! Macem-macem aja! Jatuh baru tahu rasa lu!”

Begitu katanya.

507

Serentetan kata-kata lain keluar dari mulutnya untuk memperingatkan

murid SMP tersebut agar tidak mencoba untuk melihat-lihat keluar

dan bergelantungan pada pintu kereta. Hanya senyum cengegesan

yang diperlihatkannya untuk merespon ucapan orang tua tersebut.

Dicobanya melongok keluar beberapa kali tanpa mengindahkan kemudian

ia kembali ke bangku yang berseberangan dan bergabung kembali

dengan teman-temannya.

Lalu orang tua tersebut menggerundel beberapa perkataan dan kemudian

diam. Badan yang bungkuk dan dekillah yang pertama kali

tampak oleh penghilatanku saat ia berpindah dari lantai ke bangku

yang kosong disebelahku. Sesaat ingin kugeser pantatku menjauhinya

melihat penampilannya. Tapi hati nurani dan otakku merespon menghalangi

refleksku, dan mulai kuamati dirinya. Dan mulai kulakukan

monolog dengan diriku adakah alasan untuk berpindah tempat duduk

hanya karena penampilan seorang tidak sesuai dengan keinginan kita.

Setelah terjadi sedikit konfrontasi dalam benakku akhirnya kubiarkan

diriku statis dan kutunggu perkembangan selanjutnya. Keingintahuanku

berkembang pada karakter yang dibawa oleh seorang tua

ini.

Lalu, muncullah seorang penjual Aqua gelas dan Sari Jeruk gelas.

”Aqua, Aqua, lima ratus, lima ratus!” katanya, dan lanjutnya, ”Jeruk

seribu, jeruk seribu!”

”Aqua!” kata seorang tua tersebut.

Dan berhentilah sang penjual mendekatinya. Terjadi sedikit dialog

dan terjadilah transaksi antara segelas Aqua dan sekeping uang logam

lima ratus rupiah.

”Terima kasih!” kata sang orang tua.

Yang dijawab dengan senyuman sedikit bingung oleh sang penjual.

Mungkin sudah langka pada jaman sekarang ucapan tersebut. Apalagi

diucapkan oleh seorang tua yang terlupakan. Ini adalah tafsiran yang

terbersit secara reflek dalam benakku.

Lalu minumlah dengan nikmat orang tua tersebut.

Tak lama setelah itu, muncullah seorang penjual pulpen yang menawarkan

508 BAGIAN 9. KISAH-KISAH ANTAR RUANG DAN WAKTU

barangnya seharga seribu rupiah. Kali ini cara menjajakan barang dagangannya

hanya dilakukan dengan berbicara. Tidak dibagi-bagikan

sebagaimana halnya pedagang sebelumnya. Harga yang sesuai dan

bentuk pulpen yang menarik membuat sang orang tua tertarik untuk

kemudian memanggil sang penjual pulplen.

”Satu seribu?” tanyanya antusias.

”Ya, seribu,” kata sang pedagang dengan penuh harapan.

Setelah mengeluarkan dompetnya, dibayarlah pulpen tersebut oleh

sang orang tua. Dan kemudian ia mulai bercerita kepadaku mengenai

murahnya pulpen tersebut. Di kampungnya, Mampang, pulpen seperti

itu dapat dihargai dua ribu lima ratus rupiah. Dua setengah kali lebih

mahal. Aku hanya tersenyum saat mendengarnya. Di saat itulah untuk

pertama kalinya dapat kuamati sosoknya dari depan. Seorang

tua dengan kulit kusam gelap dan berminyak berdebu. Wajah yang

dipenuhi dengan kerut-kerutan kekerasan hidup. Sebelah matanya

yang picak dan giginya yang jarang menambah kuat kekerasan hidup

yang dijalaninya. Simpatiku untukmu orang tua di Kereta Ekonomi

Jakarta-Bogor.

Suasana hening yang hanya dihiasi oleh bunyi kereta dipecahkan

oleh munculnya sepasang pengamen menggunakan seperangkat alat

karaoke. Kuberikan kepada mereka sekeping uang lima ratus rupiah.

Ternyata kemudian perbuatanku inilah yang membuat seorang tua

tersebut bercerita lebih banyak tentang dirinya.

”Bapak tinggal sendiri,” katanya dengan suara yang kurang jelas.

”Nggak ada sodara. Nggak ada istri,” katanya, ”Dari pada bengong

di rumah mendingan jalan.”

”Tapi bapak masih kerja. Begini-begini kerja dibayar orang. Nggak

ngamen. Tadi masih muda-muda udah ngamen. Kalau duit sih cukup,

di kantong ada. Mau makan bisa!”

”Banyak entu orang istri ngamen, suami enak-enakan nggak kerja, di

rumah!” katanya dengan sedikit tajam.

”Rejeki itu dari Tuhan, kalo mau kerja pasti dapat. Nggak perlu

ngamen. Bapak sih nggak sampe apa lagi minta-minta!”

509

Kujawab dengan senyum dan anggukan serta ucapan, ”Bagus, Pak!”

Lalu kami terdiam. Ia kembali dalam lamunannya dan aku dalam

lamunannya mengenai kebanggaan diri seorang tua mengenai pekerjaan

yang dipilihnya. Ternyata di hati seorang tua, masih terdapat

harga diri mengenai jenis pekerjaan yang dilakoninya. Uang bukanlah

tujuan akhir. Proses mencari uang juga dipikirkannya, walaupun

mungkin secara sederhana saja. Dasar inilah yang membuatnya tetap

bekerja dengan tidak merendahkan diri, menurutnya.

Akhirnya sampailah kereta tersebut di Stasiun Bogor. Sesaat sebelum

turun, pamitlah aku padanya,

”Mari pak!” kataku sambil tersenyum.

Kulihat ia tersenyum sekilas di sudut mataku. Semoga sukses dan

selamat selalu seorang tua dalam Kereta Ekonomi Jakarta-Bogor.

Hari Kedua

Pertemuan hari kedua lebih sederhana. Saat kuberikan tempat

dudukku kepada seorang ibu dengan anak dalam gendonganya, kuputuskan

untuk pindah gerbong dan mencari tempat duduk lain serta

mencari suasana baru. Akhirnya kuperoleh sebuah tempat duduk

dihadapan seorang tua. Sayangnya, ia tengah merokok suatu merek

yang amat tidak menyenangnkan aromanya. Ingin kuminta dirinya

untuk menghentikan kegiatannya, akan tetapi terbersit suatu hal.

Mungkin saja ia sedang mengalami masa-masa sulit sehingga harus

merokok seperti itu. Atau hanya rokok dengan jenis seperti itu

yang dapat dimilikinya. Entahlah. Akan tetapi banyak hal yang

akhirnya membuatku terdiam dan hanya berharap di dalam hati agar

ia menghentikan kegiatannya tersebut.

Akhirnya pada suatu stasiun dimatikanlah rokoknya tersebut setelah

habis dihisapnya. Bersyukurlah diriku. Dan kemudian terkantukkantuklah

aku dan akhirnya tertidur. Tak terasa sampailah kereta

di stasiun akhirnya, dan dibangunkanlah aku oleh dirinya, sang orang

tua. Aku terkejut dan tersenyum seraya berkata, ”Terima kasih, Pak!”

Ternyata terdapat sisi lain dirinya yang masih memperhatikan orangorang

di sekelilingnya. Semoga engkau selalu dalam lindungan-Nya,

seorang tua dalam hari kedua. Amin.

510 BAGIAN 9. KISAH-KISAH ANTAR RUANG DAN WAKTU

**Kolaborasi dengan Dancewith – 2003-08-22

”Hmm, biasa saja. Banyak kata-kata yang tak kumengerti, misalnya

saja ’komuter’..,” gumam pemuda itu. ”Mungkin sebaiknya kubaca

lebih lanjut.”

Ein kleines Restaurant

Damals ging ich als kleines Kind mit meiner Familie ins Restaurant.

Meine Mutter a gern Salat und Gemse, aber main Vater a nur Fleisch

und Fisch. Deshalb a ich alles (Salat, Gemse, Fleisch und Fisch). Aber

heute ee ich lieber Suppe, Brot und Kartoffeln. Manchmal ee ich Fisch

und Fleisch. Jedes Wochenende ee ich Salat und Obst.

Ich bin schon mal in ein indonesisches traditionelles Restaurant gegangen.

Dort habe ich zum ersten Mal gutes orientalisches Essen gegessen.

Das was letztes Jahr.

Seit dem habe ich mich an ein kleines indonesisches Restaurant erinnernt.

Und dann habe ich mit meinem Freund darber diskutiert. Dann habe

ich einen kleinen alten Laden um die Ecke zwischen Erstenstraen und

Zweitenstraen gekauft. Ich wollte den Laden in ein kleines Restaurant

machen.

Aber heute habe ich kein Geld. Deshalb muss ich viel Geld sparen,

um ein kleines Restaurant zu machen. Das ist mein Traum.

**Zusammenarbeit mit Gnud D – 2003-09-03

Ein Schriftsteller werden mchten

Ein heier Tag war es. Schon lange hat es nicht geregnet. Zum ersten

Mal habe ich hier diese Geschichte geschrieben. Ein Problem hatte

ich und ich konnte dafr keine Lsung finden. Ich wolte gern ein Schriftsteller

werden und mchte es noch immer, aber ich konnte noch keine

richtige Gramatik und keine richtigen Wrter auf Deutsch schreiben.

Dann habe ich in einem Buch in einer Buchhandlung gelesen, da man

immer wieder schreiben soll, obwohl man viele Fehler macht. Das has

mich den Mut gegeben, weiter zu screiben. Danach habe ich diese

511

Geschichte geschrieben. Ich habe schon den Name des Schriftstellers

von dem Buch vergessen, aber an seinem Rat erinnere ich mich noch

immer. Ich danke ihm fr diesen Rat.

**Zusammenarbeit mit Gnud D – 2003-09-27

Die Mlleimer werden schwer gefunden

Jetzt ist es Mittag und hier stehe ich am Fenster in diesem Zug. Es ist

hei und feucht. Ich bin zu mde, um auf den nchsten Zug zu warten,

deshalb steige ich in diesen Zug ein, obwohl er schon voll ist.

Gestern haben wir mit dem Lehrer ber dem Mll in dem Deutschunterricht

diskutiert. Und dann sehe ich heute, da die Leute fast immer

irgendwo M werfen. Sie machen die Umgebung schmutzig. Aber sie

haben nicht immer Schuld daran, denn die Mlleimer sind schwer zu

finden.

Die Gemeinde soll mehr Mlltonnen machen, finde ich. Ich denke, da

jede Leute saubere Stadt leben. Finden Sie auch?

**Zusammenarbeit mit Gnud D – 2003-10-06

Tiga kisah pendek dengan cepat dibaca pemuda itu. Cepat karena ia

tidak mengerti bahasa yang dituliskan. Lalu ia pun membaca lanjut.

Bertepuk Sebelah Tangan

”Terinsipirasi dengan Senopati Pamungkas-nya Arswendo Atmowiloto

:p - di mana dalam novel ini terdapat jurus Tepukan Satu Tangan

yang merupakan pemahaman Eyang Sepuh terhadap Kitab Bumi.”

”Ilmu segala ilmu itu adalah Tepukan Satu Tangan, di mana satu

tangan lebih terdengar daripada dua tangan. Di banyak negara diberi

nama berbeda, tetapi intinya sama. Pasrah diri secara total”

Cinta adalah masalah yang memusingkan. Semua tahu orang dan

mengerti mengenai cinta akan tetapi sekaligus semua orang tidak

mengerti bagaimana cinta itu sebenenarnya. Bukankah hal ini menjadi

suatu paradoks? Mungkin. Akan tetapi hal itulah yang dapat

dikatakan. Boleh setuju boleh juga tidak. Banyak contoh mengenai

hal ini dan rasanya tidak perlu disebutkan satu per satu bukan?

512 BAGIAN 9. KISAH-KISAH ANTAR RUANG DAN WAKTU

Rayi Na Rani adalah salah satu contoh figur sosok wanita yang

mungkin dapat mewakili sebagian kelompok dalam masyarakat, mengenai

bagaimana sulitnya ia memperoleh cinta, cinta dalam arti yang

sebenarnya ia inginkan. Penampakan fisik tidak ada yang kurang

dari dirinya, begitu pula dengan caranya mengekspresikan diri. Ia

mudah bergaul dan memiliki banyak teman. Tidak ada yang kurang

darinya. Sehingga saat teman-teman mereka menemukan pasangannya

dan kemudian menikah, ia masih tetap sendiri dan terus menekuni

jalan hidup dengan kesibukan pekerjaannya. Hal itu pula yang menjadi

tanda tanya bagi rekan-rekan mereka, mengapa ia belum pula

menemukan atau ditemukan oleh pasangan hidupnya.

Apabila dikatakan tidak ada yang jatuh cinta atau menyatakan suka

dan ingin membina hubungan dengannya, pernyataan itu salah besar,

karena ia telah berkali-kali mengalami pernyataan ’suka’ dan

’sayang’ yang kadang-kadang dirasakan tidak atau kurang berkenan

di hati. Dan penolakan-penolakan yang dilakukan membuatnya

merasa semakin sepi dan sendiri. Pada dasarnya ia menolak

bukan karena adanya kekurangan dari yang menyatakan, akan tetapi

hanya saja ia tidak merasakan adanya ’cinta’ kepada yang menyatakan.

Ia tidak merasakan ”kehangatan” ataupun perhatian. Hanya

kekaguman semata yang dirasa. Dan dasar ini belum cukup kuat

untuk menumbukan rasa sayang untuk membalas atau menerima

pernyataan-pernyataan sayang tersebut.

Dan yang cukup ironis adalah bahwa apa yang diimpikan seorang Rayi

Na Rani sebenarnya adalah sangat sederhana. Ia ingin menjadi seorang

istri dan ibu dari anak-anak yang diperolah dari seorang lelaki

yang dicintai dan mencintainya. Serta sedikit memiliki usaha sampingan

yang dilakukannya di rumah sambil merawat anak-anaknya serta

menunggu sang suami pulang dari kantor. Sederhana bukan. Dan hal

itu bukanlah merupakan sesuatu yang muluk-muluk dalam era globalisasi

saat ini.

Kemudian dengan melajunya sang waktu, di mana hanya Ia yang dapat

menghentikannya, bertambahkan usia dirinya. Dan semakin tekun

dan tenggelamlah ia dalam pekerjaan dan hobi-hobi di luar jam kerjanya.

Yang semakin ditekuni, dan semakin memberikan posisi yang

tinggi dalam pekerjaan dan juga struktur sosial. Dan mungkin juga

akan membuat banyak para pemujanya menjadi semakin tidak percaya

513

diri karena hal ini, walaupun belum dapat dipastikan tentunya.

Dan yang kadang sering terjadi adalah - dengan berlalunya waku -

muncul pengagum-pengagum dengan usia yang jauh lebih muda. Yang

dengan sangat percaya diri menyatakan atau mengisyaratkan adanya

perhatian. Dan ini tentu saja hal ini dirasa kurang cocok, karena

kedewasaan atau pemanjaan dan perhatian dalam arti mengemong

yang diinginkan bukan saja tidak diperoleh, malah harus diberikan

apabila menerima kasih sayang dengan seseorang yang jauh lebih

muda usianya. Kadang dengan jengkel Rayi Na Rani berujar dalam

hati, ”Pada kemana nih, cowok-cowok tua, memangnya udah pada

habis apa, sehingga gue harus dinyatain terus ama daun muda!”

Sambil kadang tersenyum dan juga meringis dalam hati. Kalau dia

menghitung-hitung, sudah 7-8 kali pernyataan dari kaum muda, di

berbagai kota yang disinggahinya dalam perjalanan hidupnya, yang ditolaknya

dengan berbagai alasan. Dan terakhir dengan menggunakan

alasan bahwa sebenarnya ia telah mempunyai seseorang di dalam hati,

akan tetapi sang pujaan hati sedang menunaikan tugas sebagai seorang

tentara di medan perang. Sehingga ia harus menunggu dengan tiada

kepastian. Setelah satu atau dua kali, alasan-alasan penolakan dapat

dengan mudah mengalir untuk menutupi kebohongan-kebohongan

yang disertai dengan ucapan manis yang tidak menjanjikan apa-apa

seperti, ”Udah kita temenan aja ok? Nanti gue bantuin deh cari ce

yang seumuran elo,” atau ”Udah elu jadi adik gua aja, ocre!” Yang

sebenarnya ucapan-ucapan tersebut merupakan pisau yang menikam

hati sang pemuja dan juga sang pengucap.

Itulah sosok seorang Rayi Na Rani. Seorang wanita karir yang tegar,

yang hanya mendambakan seorang yang lembut, penyayang, dapat

memanjakan dirinya, tidak terlalu mengekang, dapat dipercaya, dapat

berperan sebagai ayah, kakak, adik dan yang pasti kelak sebagai

suami. Dengan tegar ia langkahkan kakinya terus menelusuri hidup

ini, sambil sang waktu dengan tanpa belas kasihan terusmenerus mengurangi

waktunya sedikit demi sedikit. Tetapi Rayi percaya bahwa, suatu

saat nanti akan muncul seorang satria - mungkin seorang Senopati

Pamungkas - yang menuntaskan kesedihannya dengan melamarnya sebagai

istri untuk membesarkan anak-anaknya. Sampai saat itu tiba,

Rayi Na Rani akan selalu berbesar hati dan bersemangat bekerja dan

melakoni hidup dengan sebaik-baik cara yang dapat dilakukannya.

514 BAGIAN 9. KISAH-KISAH ANTAR RUANG DAN WAKTU

***

”Buat apa sih tanya-tanya tentang masa lalu gue!” kata Rayi Na Rani

suatu waktu sebagai jawaban atas pertanyaan salah seorang pemujanya.

”Ga ada yang perlu diceritain!”

”Kalo elu suka ama gw, elu harus mau nerima gua apa adanya, ok!”

katanya sambil tersenyum.

Senyum yang dapat menjatuhkan siapa saja. Senyum yang sebenarnya

sering disalah-artikan oleh banyak pengagumnya.

Walaupun demikian, terkadang terasa sepi juga hati seorang Rayi

Na Rani di kala tiada kesibukan yang ditekuninya, atau di kala

akhir minggu di mana belum ada rencana untuk melakukan aktivitas

apa pun. Dan pada saat-saat seperti itulah teringat dirinya akan

para pemuja-pemujanya dan juga seorang dua yang benar-benar pernah

singgah di hatinya, akan tetapi kemudian berpisah karena tidak

adanya kecocokan.

Dan hal yang paling dibenci seorang Rayi Na Rani adalah pengandaian.

Dia sama sekali kesal apabila tiba-tiba saja tersirat dalam pikirannya,

”Bagaimana ya, rasanya kalau gue dulu jadian ama dia, terus

sekarang pasti ...” ”Bull shit, semua itu!” batinnya, ”Orang tidak

boleh terjerat dalam masa lampau dan pengandaian-pengandaian

yang membuat akan tetapi tidak memberikan pengharapan.” Dan

kemudian seperti biasa yang dilakukannya adalah melakukan motivasi

diri bahwa ’apa yang terjadi adalah merupakan hasil dari keputusan

yang telah dipilihanya. Jalan hidup yang telah diambilnya. Dan ia

harus hidup hidup dengan konsekuensi ini’ dan sama sekali tidak boleh

mengeluh. Setelah itu biasanya ’menari’-lah dirinya dalam kesendiriannya

melakukan jurus-jurus kegemarannya sampai dirinya tenggelam

dalam atmosfer yang penuh konsentrasi ketenangan. Sampai akhirnya

rasa lelah, kepuasan dan ketenangan diperolehnya kembali, untuk kemudian

beristirahat dan kembali pada keesokan harinya membuka

lembaran baru dengan penuh semangat. Dan kembali mengarungi

hidup.

Pernah suatu waktu di masa lampau, salah seorang yang pernah ada

515

di hatinya. Memutuskan untuk berpisah darinya disebabkan oleh suatu

idealisma yang harus dijalani. Dan seorang Rayi Na Rani dapat

mengerti akan hal itu. Dan perpisahan pun terjadi. Tanpa tangis.

Tanpa kesedihan. Dan juga nanti janji untuk suatu saat akan bertemu

kembali dan membina lagi tali kasih yang pernah sementara waktu

terjalin. Sempat beberapa saat Rayi Na Rani termenung kosong,

hari-hari setelah kejadian tersebut. Dan hal itu tetap berlangsung

kendati pun kesibukannya sehari-hari tidak berkurang, atau cenderung

bertambah. Karena pikirnya, dengan kesibukan kesedihan dan

kesepian dapat dilawan. Dan setelah beberapa saat berada dalam

keadaan tersebut, tersadarlah ia, bahwa ia harus kembali bangkit.

Kesepian dan kekosongan - bukan kesedihan - yang dibiarkannya

meresak ke dalam tulang, darah dan daging sanubarinya harusnya

dibilas dengan semangat untuk terus berharap akan datangnya kebahagiaan

yang barus. Yang datang untuk kemudian tidak akan lagi

meninggalkannya. ”Rasa kesia-siaan ini harus dihilangkan” pikirnya,

akan tetapi tentu saja dengan cara yang baik.

Mulai saat itulah seorang Rayi Na Rani sering memotivasi diri,

melakukan hal-hal yang dapat membuatnya merasa beruntung bahwa

sebenarnya bisa aja ia berada dalam keadaan yang lebih menderita

dengan kesedihan mendalam yang menyertai. Ia bersyukur bahwa

dirinya telah disadarkan bahwa waktu akan terus bergulir, entropi

akan selalu bertambah dan kebahagiaan akan selalu datang. Dan ia

percaya itu. Jika ada yang bertanya, bagaimana ia bisa seyakin itu.

Ia akan menjawab dengan cukup sederhana.

”Elu tahu cahaya kan?” katanya sambil tersenyum,

”Gak ada yang lebih cepat dari cahaya - dan dalam teori walaupun

bergerak dengan laju c - cahaya itu tetap dapat dibelokkan oleh gravitasi.”

Kemudian lanjutnya, ”Orang dapat mengamati hal ini saat terjadinya

gerhana matahari total.”

”Dengan mengamati perubahan posisi bintang-bintang di langit.”

Ucapanya dilanjutkan dengan gaya menerangkannya yang khas, yang

dapat membuat orang berjam-jam bicara kesana kemari dengannya,

”Jadi jika cahaya yang sedikian cepat aja bisa dibelokkan oleh gravitasi,

kenapa kebahagian dan cinta yang abstrak tidak bisa diperoleh

dengan pengharapan dan keyakinan akannya?” ujarnya sambil men516

BAGIAN 9. KISAH-KISAH ANTAR RUANG DAN WAKTU

gakhiri dengan amat manis dan diplomatis.

Yah, begitulah seorang Rayi Na Rani, mudah membuat orang jatuh

hati akan tetapi begitu susah digapai. Dan Hanya sedikit orang yang

bener-benar pernah singgal di dalam hatinya. Untuk kemudian kembali

pergi meninggalkan kenangan.

***

Rayi Na Rani mempunyai beberapa sahabat yang dikenalnya sejak

masa kuliah dulu. Mereka-mereka inilah yang dapat mengerti

bagaimana dirinya sebenarnya. Akan tetapi dengan berlalunya waktu,

semakin bergeserlah titik massa persahabatan mereka karena karir menuntut

masing-masing orang untuk melanglang buana menimba ilmu,

berkarya, menjalankan tugas serta melakukan hal-hal lain. Sekarang

sahabat-sahabatnya itu berada di berbagai penjuru dunia, seperti:

Bandung, Yogyakarta, Kln, Agra, Enschede, Paris, Yokohama, St.

Petersburg, Hannover dan Queen - dan terima kasih untuk dunia

maya - sehingga sang Rayi Na Rani masih dapat berhubungan dengan

sahabat-sahabatnya. Walaupun hanya sepersekian waktu yang

ada dalam sehari. Itu pun karena adanya perbedaan waktu.

Apabila boleh dikatakan, sahabat terdekatnya mungkin adalah Bayu.

Samasama belajar Tai-Chi dari Om Tjia sejak SD, SMP dan SMA,

kemudian melanjutkan kuliah di perguruan tinggi yang sama walau

mengambil bidang studi yang berbeda. Bayu hampir selalu ada di

mana Rayi Na Rani berada. Hal ini mungkin karena kemampuan Bayu

untuk menempatkan diri di samping Rayi, kadang sebagai sahabat,

kadang sebagai teman dan kadang sebagai saudara. Dan satu hal yang

menjadi pantangan Bayu, dan hal ini pun diketahui Rayi, adalah jatuh

cinta kepada Rayi.

Bayu pernah suatu saat berujar,

”Rayn, ” begitulah panggilan sayang Bayu kepada Rayi.

”Elu tau kan bahwa gw sayang banget ama elo? Dan gw selalu akan

sayang ama elo. Maka itu gue nggak pernah mau jatuh cinta ama

elo.”

”Gue tahu kok. Tahu banget. Itu kan elo banget.” kata Rayi sambil

517

tersenyum.

”Selalu care ama gue, bahwa kadang lebih care ke gue dari ke diri elo

sendiri.”

”Emang kenapa sih, kok tiba-tiba ngomongin itu?”

”Nggak, hanya ngebayangin aja kalo suatu saat elo jadian ama seseorang...”

lanjutnya, ”Gue ga punya orang buat disayang lagi dong?”

Saat itu Rayi Na Rani dan Bayu masih duduk di bangku SMA dan

mereka sama sekali tidak akan menyangka bawah hubungan mereka

akan menjadi lebih serius. Saat itu yang terpikirkan adalah selalu

bersama, membuat masing-masihg bahagia. Bahwkan dengan

kadang-kadang saling menjodohkan atau mencarikan kecengan untuk

masing-masing. Bila teringat akan masa-masa itu, sering Rayi

Na Rani tersenyum sendiri. Indahnya masa lalu bersama seorang

sahabat.

Kemudian saat duduk di bangku kuliah semester terakhir bekenalannlah

Rayi Na Rani denganWahyu, seorang seniornya yang sering

membantunya dalam mengerjakan tugas akhir. Hal ini terjadi karena

kebetulah, mesin yang akan digunakan oleh Rayi Na Rani dalam

penelitian sebagai bagian dari tugas akhirnya dikelola oleh Wahyu,

yang merupakan pula orang pernah menyatakan rasa sukanya kepada

Rayi Na Rani pada suatu saat setelah masa OS berlalu. Biasa, cilok

saat OS. Perkenalan Rayi dengan Wahyu yang kemudian berlanjut

dengan mengantar pulang dan menjemput sebelum bekerja bersamasama

dalam laboratorium sedikit meregangkan hubungan Rayi Na

Rani dengan Bayu. Hal ini pun didukung oleh kesibukan Bayu yang

sering ke lapangan untuk mengumpulkan data-data sebagai dasar

mengapa ia memilih suatu judul tertentu sebaga topik penelitiannya.

Kata orang, kebersamaan yang terus menerus dan didukung oleh

suasana bisa menumbuhkan cinta. Dan itu memang benar. Sangat

eksak. Mungkin seperti halnya F = ma-nya hukum kedua Newton.

Di mana cinta F akan tumbuh apabila ada kebersamaan a yang

bergantung waktu (bertambah atau berkurang) dan suasana m yang

mendukung. Suasana bisa diciptakan atau pun dimusnahkan. Akan

tetapi sebagai konsekuensinya, untuk menciptakan atau memusnakannya

diperlukan suatu pengorbanan (energi - red.) seperti halnya E =

518 BAGIAN 9. KISAH-KISAH ANTAR RUANG DAN WAKTU

mc2.

Dalam masa pertengahan pengerjaan tugas akhir, Rayi Na Rani

akhirnya menerima perasaan suka dan sayang Wahyu, yang bertubitubi

diungkapkannya siang dan malam. Saat mengambil data dan

makan siang. Secara langsung ataupun melalui e-mail. Ia merasa

yakin, bahwa inilah orang yang tepat. Inilah orang yang akan selalu

menyayanginya. Selalu ada untuknya. Selalu akan memanjakannya,

dan memperhatikannya. Perasaan ini pun mengalahkan logikanya,

bahwa mungkin saja hal ini hanya akibat dari suatu suasana sesaat

belaka. Rayi Na Rani merasa dirinyalah orang yang paling bahagia.

Oh, indahnya saat itu. Dunia pun tersenyum melihat kegembiraan

kedua insan.

Dan nun jauh di sana, di tanah Cendrawasih, si sebuah Manokwari,

seorang Bayu - yang menjadi legam karena seringnya tercabik-cabik

teriknya sang Mentari - sedang tekun-tekunnya melakukan penelitiannya

dan ia sama sekali tak menyadari perubahan yang telah terjadi

pada sahabatnya. Harapannya hanyalah, ingin cepat-cepat kembali

ke kota Parahyangan, kembali ke dekat sahabatnya untuk kembali

tertawa dan bercanda ria. Melalui hari-hari dengan penuh kebersamaan

dan persahabatan.

”Yu, kenalin iniWahyu. Asisten gue di Lab. Sistem. Kita udah jadian

lho!” kata Rayi Na Rani seperti biasa dengan candanya yang riang.

”Jad..jadian..?” kata Bayu, seakan tidak percaya apa yang sedang diucapkan

oleh sahabatnya.

”Iya. Udah lama. Klo g salah, sebulan sesudah kamu ngambil data ke

Manokwari.”

”Gue sebenernya mo kasih tahu elu, tapiWahyu bilang nanti aja buat

surprise.”

”Jadinya, gw baru kasih tahu sekarang. Kasih selamat dong gue!”

kata Rayi Na Rani sambil mengansurkan tangannya ke arah bayu.

Bila ingat saat itu, ada rasa bersalah muncul dalam hati Rayi Na Rani.

Ia ingat betul bagaimana ekspresi muka Bayu. Dengan memaksakan

senyum dan perkataan yang manis, Bayu pun mengucapkan selamat.

519

Sungguh besar dikau sahabatku, selalu saja engkau perhatikan aku

walaupun itu menyakitimu sendiri.

Setelah hari itu. Bayu masih sering menghubungi Rayi Na Rani akan

tetapi tidak sesering dulu. Bayu tahu diri, karena sahabatnya telah

memiliki seseorang yang sudah pasti akan mendominasi hari-harinya.

Jadi hubungan antara Rayi dan Bayu beransur-angsur menjadi biasabiasa.

Tak ada lagi tawa canda lepas, cerita-cerita khayalan tentang

masa depan, tentang negeri Utopia, tentang kemajuan Teknolog ala

Start Trek, conpiracy ala X-File dan sebagainya.

Dan waktu pun berlalu. Bayu mendapat pekerjaan untuk menangani

suatu permasalah yang Rayi Na Rani sendiri tidak mengerti walau

telah dijelaskan oleh Bayu. Queen adalah kota tujuannya. Dan ia

akan bekerja di sama sesuai dengan kontraknya selama 4-5 tahun.

Seorang sahabat telah pergi. Dan sang kekasih?

Kepergian Bayu bukanlah merupakan suatu masalah bagi Rayi Na

Rani karena ada Wahyu di sisinya yang selalu siap untuk membantunya

dalam segala hal. Walaupun kadang-kadang dirasakan hal

tersebut terlalu mengekangnya. Ia tidak lagi bebas. Tidak lagi bisa

melakukan semua yang dia inginkan. Seperti halnya waktu ia masih

sendir dan Bayu ada di sisinya. Akan tetapi hal itu dapat diimbangi

dengan pemanjaan yang diberikan Wahyu. Perhatian dan kasih

sayang.

Hanya saja, ternyata ekstrapolasi peristiwa ke masa depan tidak

seperti yang kita harapkan. Es gibt immer in der Zukunt etwas, das

man berhaupt nicht vermutet oder hofft, nicht wahr (Di masa depan

selalu terdapat sesuatu yang tidak diduga atau diharapkan, ya nggak).

Wahyu belum siap untuk menikah dengan Rayi Na Rani.

Hal itu dikatakannya pada suatu malam, setelah mereka menonton

konser musik akustik di suatu sasana budaya di kota Parij van Java.

Rayi Na Rani benarbenar kecewa dengan ucapan itu. Ia sudah membayangkan

bahwa setelah perkenalannya dengan orang tuaWahyu dan

Wahyu dengan orang tuanya, jenjang pernikahan akan cepat menjemputnya.

520 BAGIAN 9. KISAH-KISAH ANTAR RUANG DAN WAKTU

Alasan Wahyu cukup klise. Aku belum siap. Sabar ya, sayang. Duatiga

tahun lagi. Sekarang kita kerja dulu, kumpulin modal. Saat itu

bayu sudah 2 tahun bekerja di suatu perusahaan mobil terkemuka di

Surabaya dan Rayi Na Rani sedang menunggu hasil akhir wawancara

pada suatu perusahaan farmasi di Rengas Dengklok.

Perkataan-perkataan yang diucapkan malam itu mengubah segalanya.

Tiada lagi harapan untuk lekas-lekas menikah. Tiada lagi mimpi indah

untuk cepat menimang bayi yang lucu, yang selalu menangis.

Dan yang paling diimpikannya, bayi tersebut sangat mirip ayahnya.

Sehingga saat ayahnya belum pulang, dan rasa rindu telah menerjang.

Diciumilah sang buah hati dengan lembut dan rasa sayang.

Perpisahan tanpa pertengkaran. Perpisahan yang amat penuh dengan

logika dan diplomasi. Tanpa pelukkan dan ciuman di kening. Tanpa

janji untuk bersua kembali. Tanpa apa-apa. Hening. Sepi. Dan angin

pun berhenti berhembus seakan-akan tiada lagi perbedaan tekanan

udara di berbagai tempat. Seakanakan di mana-mana menjadi isobar.

Dan waktu pun terhenti. Di dalam hati.

”Tidak. Keindahan itu belum saatnya datang untukku,” batin

Rayi Na Rani. Dan saat panggilan wawancara datang, dan menyatakan

ia diterima untuk mulai bekerja bulan depan. Rayi langsung

menghubungi perusahaan tersebut. Ia menyatakan bahwa siap untuk

mulai bekerja minggu depan. Semakin cepat semakin baik. Pikirnya.

Jauh dari kota ini, kota yang mengingatkan akan pupusnya suatu

impian indah. Pupus bersama orang yang dicintainya. Pernah dicintainya.

Dan pernah diharapkan untuk menjadi pendamping hidupnya.

Rayi pergi tanpa pamit kepada Wahyu. Walaupun ayah dan ibunya

telah berpesan, ”Nduk, pamitlah walau sepatah dua patah kata!”

Dan tiada alamat ditinggalkannya. Rayi Na Rani sementara waktu

pun hilang dari kehidupan Wahyu. Kemudian, sementara berevolusi

menjadi selamanya.

Tak lama didengar dari seorang kenalannya, melalui e-mail, bahwa

Wahyu telah bertunangan dan akan menikah dengan seorang.

Tiada penyesalan. Tiada kemarahan. Hanya ada sedikit kesedihan,

kapankah waktu tiba. Menemui kebahagiaan seperti itu.

521

***

Lembaran baru dibuka. Suatu waktu muncul seorang Adrian. Simpatik,

lucu dan ambisius dan amat terbuka. Sama-sama di bagian

pemasaran. Samasama menekuni Tai-Chi. Walaupun kota kecil Rengas

Dengklok mempunyai beberapa perguruan Tai-Chi. Dan Rayi Na

Rani serta Andrian mengikuti salah satu diantaranya. Di sana lah

mereka pertama kali bersua.

Sebenarnya seorang Adrian itu biasa-biasa aja. Dari sosok, okelah,

seorang cewek pasti akan merasa aman apabila berada di dekatnya.

Posturnya mirip tentara. Sebagai hasil latihan fitness. Tampang,

boleh dikatakan biasa-biasa. Seperti kebanyakan. Oleh sebab itu lah,

pernah suatu saat setelah perkenalan, Rayi Na Rani lupa kalo itu

adalah Adrian. Karena saat mereka bertemu kembali bukan di tempat

latihan, melainkan di kantor sebagai pegawai baru bagian pemasaran.

”Hai, Rani!” panggil seseorang saat Rayi Na Rani hendak menghempaskan

diri ke dalam bangku kerjanya.

”Hai juga!” balasnya, seperti biasa. Ramah ke setiap orang.

”Gimana sejak kemarin lusa, udah baikan belum tungkai mu?” kata

seseorang itu dengan ramah.

”Tungkai? Oh, udah, udah baikan. Eh kok elu tahu sih tungkai gue

keseleo?” tanya.

”Eh, sorry, btw elu teh ... Adrian, Masya’Allah, elu ngapain di sini?”

serunya, ”lagi nengokin gua?”

”Iya, eh nggak deng!” balasnya, ”Gue kerja di sini.”

***

”Kerja? Sejak kapan?” balas Rayi Na Rani.

”Sejak hari ini.” katanya penuh dengan senyum, ”Ok, kan?”

Sejak saat itu, mereka berdua bagai tidak dapat dipisahkan. Saat

rapat, makan siang, latihan Tai-Chi dan juga dinner. Rayi Na Rani

benar-benar merasa kan kembalinya kebahagiaan, seperti pada suatu

522 BAGIAN 9. KISAH-KISAH ANTAR RUANG DAN WAKTU

waktu di masa lalu. Di mana ia pernah mengalaminya.

Candle light dinner. Konser musik Jazz. Latihan berdua di taman.

Ngudak-ngudak buku bekas di pasar loak. Berjam-jam berdiri membaca

buku di Gramedia. Belanja.

Adrian selalu ada di mana dan kapan diperlukan. Di saat ia lelah setelah

jam kantor, tawa dan candanya seakan-akan merupakan pemulih

tenaga yang memberikan kesegaran. Saat iya sakit, perhatian dan

kasih sayangnya membantunya untuk cepat pulih untuk kembali beraktivitas.

Tiada hari, jam, menit bahwa detik yang tidak terisi

oleh Adrian. Adrian seakan-akan merupakan cairan kehidupan yang

mengalir dan mengisi relung-relung kesepian dan kekosongan hatinya.

Membangkitkan kembali gairan dan khayalannya untuk membina

hubungan dengan seseorang. Seseorang yang akan selalu ada di sampingnya,

selalu memperhatikannya, memanjakannya. Seseorang yang

sangat ... Adrian. Tentu saja, hanya Adrian bukan?

***

Indahnya hari-hari pun berlangsung.

Sampai tiba kembali fase kehidupan yang menjengkelkan itu.

Ketidakpastian kembali menyerang seorang Rayi Na Rani.

Sudah satu tahun hubungan mereka berlangsung. Dan sudah satu pula

belum ada tanda-tanda kepastian bahwa hubungan mereka berlanjut

kepada bentuk ikatan yang didambakan Rayi Na Rani. Sampai suatu

saat, ketakutannya kembali menghantui. Akankah hal itu kembali?

Membuat kekecewaan lagi?

Setiap kali seorang Rayi Na Rani menanyakan hal itu kepada kekasihnya

Adrian mengenai bagaimana kelanjutan Adrian. Setiap kali pula,

curahan dan kasih sayang Adrian semakin berlimpah-limpah menderanya,

sehingga seorang Rayi Na Rani pun terlena, menikmati kebahagiaan

dan melupakan kembali pertanyaanya. Perasaannya membutakan

pikirannya. Kasih sayang yang bertubitubi menghilangkan

keraguannya.

Akan tetapi saat ia sendiri, setelah sholat dan siap akan tidur. Pikiran

itu kembali mengusik batinnya. Pernyataan yang diharapkan

523

akan dikeluarkan Adriannya tidak kunjung tiba. Keragu-raguan kembali

menyerangnya. Mengelisahkan dan kadang membawa temannya

sang mimpi buruk untuk mengganggu tidurnya, bahwa sang kekasih

akan kembali meninggalkannya. Meninggalkannya hanya untuk suatu

alasan lama yang klise. Belum siap. Belum waktunya. Tunggulah

saatnya.

Dan dua tahun pun berlalu. Dengan hubungan yang masih dipenuhi

curahan kasih sayang, pemanjaan dan romantisme. Dan juga dipenuhi

dengan kekuatiran akan ditinggalkan.

Dua tahun pun menjadi tiga tahun. Dan keadaan yang sama tetap

bertahan. Seakan enggan menginggalkan seorang Rayi Na Rani.

Seakan senang membuatnya tidak tenang. Menghanyutkannya dengan

candu kasih sayang dan perhatian, sekaligus membuatnya gelisah

dengan ketidakpastian.

”Sayang, gue mau bicara nih!” katanya dengan mimik sungguhsungguh,

”Kapan ada waktu?”

Terasa lucu mendengarkan perkataan tersebut dari seseorang yang sudah

sedemikian dekat di hati dan selalu mengisi setiap detik dari kehidupan.

Suatu perasaan tidak enak menyelinap dan berkembang dalam hati

seorang Rayi Na Rani. Dan hal itu pun terbukti.

Setelah beberapa saat terdiam dan hidangan makan malam pun telah

habis. Suasana menjadi amat hening. Keromantisan restoran di puncak

bukit seperti halnya suatu Peak Cafe pun tidak dapat menggugak

keheningan yang mencekam. Keheningan di mana seakan-akan tidak

lagi terdapat kehidupan. Tidak lagi terdapat vibrasi. Benar-benar

suatu keheningan mutlak, benar-benar nol Kelvin dalam emosi.

Dengan amat diplomatis Adrian pun menerangkan, bahwa dirinya

telah dijodohkan oleh orang tuanya dengan seseorang. Yang kebetulan

merupakan teman masa kecilnya. Dan ia tidak keberatan

karena ia pun pernah mencintai teman masa kecilnya itu. Dan selama

berhubungan dengan Rayi Na Rani, perasaannya selalu mendua.

Hatinya belum dapat menentukan siapa yang akan akan dipilihnya

sampai suatu waktu telepon orang tuanya lah yang menjatuhkan

524 BAGIAN 9. KISAH-KISAH ANTAR RUANG DAN WAKTU

vonis, siapa yang akan menjadi pendamping hidupnya. Selamanya.

Seorang Rayi Na Rani pun tak mampu mengucapkan kata-kata.

Walaupun tiada air mata yang tercurah, akan tetapi hatinya menangis.

Firasatnya telah mengisyaratkan akan datangnya hari ini. Akan kembalinya

cerita lama. Kembalinya kekosongan yang mencengkeram

jiwanya.

***

Hari-hari belangsung kembali seperti biasa, seakan-akan tidak pernah

terjadi apa-apa sebelumnya. Adrian telah minta berhenti bekerja,

karena ayah calon istrinya menawarkan pekerjaan dalam bidang

marketing farmasi yang dapat dilakukannya setelah ia menikah. Dan

ia tidak menolak tawaran itu. Proses pamitan yang kosong, penuh

dengan basa-basi. Penuh dengan kasih sayang dan perhatian kosong

dapat dilakoni seorang Rayi Na Rani dengan baik. Dengan senyum

yang mengembang, pelukan dan kecupan pipi diberikannya untuk sang

bekas kekasih. Tanpa ada perasaan apa-apa. Kosong. Tenang.

Rapat, seminar, latihan dan curahan-curahan kasih sayang dari para

pemujanya, serta latihan rutin Tai-Chi, kembali mengisi hari-hari seorang

Rayi Na Rani. Dalam menghapi pujaan dari para penggemarnya

yang kembali muncul setelah mereka mengetahui bahwa seorang Rayi

Na Rani kembali lagi sendiri, diatasinya dengan amat cantik. Dilakukannya

dengan cara yang diplomatis. Sehingga tak seorang pun

akan sakit hati, walaupun ditolaknya. Mereka tetap giat untuk saling

berlomba mendapatkan dirinya. Memperoleh cintanya. Memperoleh

hatinya. Dan Rayi Na Rani kembali menikmati hal itu. Membiarkan

dirinya terbuai dalam curahan kasih sayang para pemujanya. Curahan

perhatian. Walaupun ia belum memikirkan untuk membalasnya.

Ia membiarkan dirinya menikmati dan menikmati. Sedikit balasan

dan ucapan yang mengambang, makin membuat mereka semakin

menggebu untuk merebut perhatiannya.

Dan kala perhatian-perhatian semu itu tiada. Kala waktu seakan

berhenti. Kala sendiri di akhir minggu atau di malam hari. Teringatlah

Rayi Na Rani akan sahabat masa kecilnya. Sahabat yang pernah

singgah di hatinya sebagai sahabat. Seorang yang memperhatikannya

dengan kasih sayang yang murni, dengan tanpa ada maksud prib525

adi. Seorang yang sangat menyegarkan dan menenangka, seorang sang

Bayu. Yang sedang jauh di sana, melaksanan tugas pekerjaannya.

”Masih ingatkah dia akan diriku?” batin Rayi Na Rani, ”Masih

sayangkah dia?”

”Alangkah nyamannya bila ia ada di sini,” khayalnya. Dan ia kembali

teringat perkataan sang sahabat yang belakangan ini semakin

memberikan makna pada perjalanan hidupnya. Semakin dimengerti

olehnya. Semakin jelas dan terang.

”Persahabatan yang melebihi cinta!” kata Bayu, saat itu.

”Persahabatan yang melebihi cinta!” balas Rayi Na Rani, sambil menjabat

erat tangan sahabatnya dan kemudian memeluknya.

Saat itu begitu indah dikenang. Begitu lekat di dalam ingatan.

Di manakah engkau sekarang sahabat. Hanya engkau yang paling

mengerti diriku. Serta memahamiku.

Terima kasih sahabatku. Kuingin kembali mengulang saat-saat indah

bersamamu. Mengisi hari-hari tanpa kegelisahan. Ketenteraman berada

di sisimu. Bukan kenyamanan dan kemanjaan yang bergelora.

Bukan curahan kasih sayang yang menggebu-gebu. Hanya ketenangan.

Kenyamanan. Halus. Lembut dan menenteramkan.

Terima kasih sahabatku. Aku benar-benar kehilanganmu, sahabat.

Deutschland, Musim Dingin 2004 - 2004-04-20

Tak terasa air mata pemuda itu sedikit meleleh. Dapat ia sedikit

merasakan kesepian yang dirasakan oleh tokoh dalam cerita itu. Setelah

membetulkan duduknya, ia pun mulai lagi membaca.

Saat itu matahari telah lewat titik kulminasinya, tapi tak berarti bagi

sang pemuda yang duduk di bawah pohon rindang itu.

Ketika Kaki Telah Melangkah

””Nicht immer denken!” sagte Tatsumotos Brder, als Capt. Nathan

Algren beim Schwerttrainieren wieder velierte, ”Zu viel Bedenken!” -

von Last Samurai (Tom Cruise, Ken Watanabe).”

526 BAGIAN 9. KISAH-KISAH ANTAR RUANG DAN WAKTU

””Nicht immer denken!” sagte Joachim, als ich zum ersten Mal Aikido

probierte.”

Karl termenung memikirkan hal-hal baru yang telah dilakukannya beberapa

hari belakangan ini. Terlalu banyak hal-hal baru yang terjadi

dalam kurun waktu yang singkat. Ia telah meninggalkan kotanya untuk

merantau di tanah asing ini. Di mana ia sendiri kadang-kadang

bila membayangkan, masih tidak bisa percaya bagaimana ia bisa sampai

terdampar di sini.

Pekerjaannya yang lama, sebagai pegawai sebuah perusahaan jasa informasi,

telah pula ditinggalkannya, karena di tempat asing ini ia mendapatkan

tawaran yang lebih menggiurkan. Gaji yang lebih besar dan

fasilitas untuk mengembangkan diri yang lebih lengkap.

Dan yang paling tidak bisa dibayangkannya adalah bahwa ia telah pula

meninggalkan sahabat karibnya di kota di mana mereka dilahirkan

dan tumbuh bersama. Karl kadang berpikir apakah ini sebenarnya

alasan mengapa sampai ia pergi dan bekerja di sini. Apakah benar

hal itu yang ia inginkan atau hanya untuk menghindar karena ia tidak

bisa melihat sahabat karibnya berbahagia di samping orang yang telah

dipilihanya. Orang yang bukan dirinya.




0 Response to "Elemen Kekosongan 9"

Post a Comment