Download applikasi baca novel online untuk android disini: DOWNLOAD

Elemen Kekosongan 8

Sembilan tepatnya sekarang. Dua orang lain nampak baru muncul dari

sumur yang tadi. Sekarang empat orang yang pertama berhadapan

dengan lima orang yang lain. Bersiap hendak saling serang.

”Siapakah kalian ini?” ucap Sabit Kematian jumawa. Ia tidak biasa

bertemu lawan yang seimbang. Dan saat ini kelima orang di hadapannya

pun bukan musuh yang cukup tangguh menurut penglihatannya.

Dengan logat yang kaku akan tetapi ucapannya jelas, berkata salah

seorang dari mereka, yang wanita, ”saya Shia Siaw Lion, ini Dhoruba,

Angus, Misun dan Gentong. Anda sekalian adalah Sabit Kematian,

Cermin Maut, Mayat Pucat dan Tapak Kelam, bukan?”

”Ya, ini kami. Jika sudah kenal, kenapa tidak cepat menggelinding

dari sini?” ejek Sabit Kematian jumawa.

Amarah atau ejekan yang diharapkan oleh Sabit Kematian dapat dilihatnya

dari kelima orang lawannya itu tak kunjung tiba, malah salah

seorang dari mereka berkata, ”orang sudah hampir mati kok ya, masih

banyak cakap?”

”Siapa itu yang omong?” ucap Sabit Kematian yang malah terbakar

emosinya.

”Aku! Masih ingat?” ucap seorang pemuda bertubuh besar dan subur

yang segera berangsur maju. Memainkan kepalan tangannya sehingga

jari-jarinya berbunyi ”pletak-peletok” gesekan antar tulang-tulangnya.

”Siapa kamu?” katanya penuh selidik. Tak pernah ia rasanya bertemu

dengan orang yang perawakannya seperti itu. Ya, Sabit Kematian

telah terlalu banyak membunuh orang sehingga lupa orang-orang yang

telah ia cabut nyawanya.

Dengan perlahan Gentong membuka bajunya, sehingga punggung dan

dadanya terpampang lebar. ”Sekarang ingat ini? Yang engkau tembusi

dari belakang ke muka?” katanya sambi menunjukkan bekas luka

di dadanya.

Perlahan berubah wajah Sabit Kematian, ya ia mulai ingat. Tidak

427

banyak orang yang sempat bertarung jarak dekat dengannya sehingga

ia harus menembusi tubuhnya. Umumnya dengan jarak jauh, menebas

kepala sudahlah cukup. Dan satu yang belum lama ini memaksanya

bertempur jarak dekat adalah seorang pemuda bertubuh besar di

Rimba dan Gunung Hijau.

Pemuda itu adalah... pemuda yang berada di depannya sekarang.

”Tidak!!! Engkau sudah mati!” ucapnya cepat. Sama seperti keterkejutan

Cermin Maut saat mengenali Gentong beberapa saat yang lalu.

Orang-orang sesat seperti Cermin Maut, Sabit Kematian dan Mayat

Pucat bukanlah orang-orang yang takut pada yang lain. Tapi orang

yang bisa hidup lagi setelah tubuhnya ditembusi sabit sedemikian

rupa, mau tak mau membuat mereka merinding. Bukan hal yang

normal.

Hening sesaat. Orang-orang dari mereka-yang-tak-bisa-mati tampak

menikmati keheningan itu. Keheningan orang-orang yang gemetar

akan keanehan kaum mereka.

Tiba-tiba hening itu dipecah oleh desis lirihWananggo, ”Kaum Abadi,

mereka-yang-tak-bisa-mati..., mereka benar-benar nyata adanya...,”

yang ucapannya hampir tak terdengar apabila keadaan tidak benarbenar

sunyi.

”Omong kosong!! Engkau pasti saat belum mati dan sekarang sudah

sembuh,” ucap Sabit Kematian sambil menenangkan dirinya. Ia lalu

mulai mengambil sikap untuk menyerang. ”Tak ada orang yang tak

bisa mati!!”

”Sesukamulah, toh tak ada bedanya engaku percaya atau tidak,” ucap

Gentong yang segera bergerak menyerang. Pukulan keras dan lurus.

Sabit Kematian dapat dengan segera mengubah gerakannya menghindar

dan mengayunkan sabitnya yang dielakkan dengan indah oleh

Gentong. Walau tubuhnya terlihat besar dan berat, lincah masih geraknya.

Meloncat ke sana kemari sambil tak lupa melepaskan satu dua

pukulan lurus dan keras.

”Duggg!!!” sekali waktu telat Sabit Kematian menghindar, akibatnya

pinggiran pinggangnya sempat dilabuhi kepalan Gentong. Keras

428 BAGIAN 7. ORANG-ORANG ABADI

cukup sehingga menggetarkan sedikit isi perutnya. Untung saja hawa

tenaganya cukup sehingga masih bisa mengusir hawa pukulan tersebut

keluar. Jika saja tidak, sudah hancur mungkin organ-organ di

dalamnya.

Tapak Kelam tampaknya tidak berapa minat untuk melangsungkan

pertempuran itu. Ia malah celingak-celinguk mencari-cari jalan rahasia

lain yang dapat membawanya lari dari sana. Sambil tak lupa

diliriknya bungkusan yang masih dikepit oleh Mayat Pucat. Jika ia

harus pergi dari sana, kitab tersebut harus ikut. Dengan atau tanpa

ketiga orang tersebut.

Mayat Pucat dan Cermin Maut belum tampak mengambil tindakan.

Mereka belum menemukan alasan untuk menyerang teman-teman

Gentong. Jika bisa mereka tak perlu bertempur. Sudah cukup energi

mereka habis dalam penyerbuan ini dan apa yang mereka cari sudah

diperoleh, mungkin. Sekarang minat mereka lebih ke arah pergi dari

tempat itu dan mempelajari kitab yang baru saja mereka peroleh.

”Bugg!!”” kembali Sabit Kematian terpukul tubuhnya, kali ini di

bagian tengkuk. Pusing sesaat dirasakannya. Segera ia melompat

mundur menjauh. Dalam jarak dekat, senjatana tidak begitu

berfungsi baik. Itulah yang sedari tadi dilakukan Gentong, bertempur

jarak dekat. Untung bagi kepalannya akan tetapi tidak bagi sabit

sang lawan.

Dengan jarak yang sekarang agak jauh, Sabit Kematian lebih leluasa

menggerak-gerakkan sabitnya. Mengayun dari atas ke bawah secara

serong dan sebaliknya. Sekarang giliran gentong yang seperti tertutup

ruang geraknya. Di mana-mana, di sekelilingnya tampak kesiuran

sabit mengayun berkelebat sana-sini.

Lantang yang berada di pinggir arena pertarungan itu bersama dengan

Wananggod dan Xyra tampak berusaha menahan emosinya. Campur

baur antara sedih dan marah. Juga sekelebat ingatan yang tidak pernah

dilupakannya, saat Tapak Kelam mengusir anak-anak yang telah

dihinakannya untuk terlunta-lunta, mengemis dan kelaparan di jalan.

Untung saja ia bertemu dengan gurunya, Rancana, jika tidak mungkin

ia masih di jalanan sana. Bisa jadi telah menjadi makanan burung dan

anjing liar, atau berkalang tanah.

429

Sabit Kematian tampak telah mendapatkan kembali kesigapannya.

Setelah ia mengambil jarak tempur jauh, sekarang ia berani kembali

mengambil jarak tempur dekat. Tapi kali ini cara menggunakan sabitnya

lain, dipegang di tengah, pinggir berganti-ganti. Cara serang yang

baru ini, walaupun dalam jangkauan tangan Gentong, membuatnya

sedikit kewalahan. Ia belum terbiasa dengan cara serang baru Sabit

Kematian.

Diantara kedua orang saudara seperguruannya, Sabit Kematian hampir

tidak pernah bertempur tanpa menggunakan senjata. Baru saat

ini ia menggunakan kepalannya juga. Kedua saudaranya tahu bahwa

kepalan tangannya tidaklah terlalu berbahaya dibandingkan dengan

sabitnya, tapi Gentong tidak tahu. Gentong menjadi kalang kabut saat

Sabit Kematian mencengkeram sana-sini dan juga memukul di selasela

sabitnya yang berayun-ayun serong ke atas ke bawah. Berkali-kali

ia terpaksa mundur dan maju. Mundur kena sabit jangkauan panjang.

Maju kena cengkeraman. Coba saja ia tahu bahwa lebih tidak berbahaya

saat maju, mungkin dapat ia memasukkan satu dua pukulan ke

tubuh Sabit Kematian.

Sementara dua orang tersebut bertarung mati-matian, rekan-rekan

Gentong tampak duduk-duduk tenang, seakan-akan menikmati pertarungan

tersebut. Lain dengan rekan-rekan Sabit Kematian yang

tampak sedang memikirkan sesuatu cara untuk berlalu dari sana.

”Nak Lantang, baiknya kita segera berlalu dari sini,” ajak Wananggo.

”Kaum Abadi, mereka itu, aku tidak tahu apa mereka ada urusan apa

dengan mereka berempat. Kita sebaiknya tidak mencampuri.”

”Aku masih ingin mencari tahu apa alasan orang-orang itu melakukan

kekejaman dulu, paman,” ucapnya sambil menggerakkan dagunya

mengarah ke Tapak Kelam.

”Aku mengerti, Lantang,” jawab Wananggo. ”Hal itu bisa kita

bicarakan lain kali, sekarang yang penting adalah kesehatanmu dulu.

Lain waktu kita cari lagi orang itu. Siapa namanya? Tapak Kelam?”

Lantang mengangguk. Lalu katanya, ”baiklah paman. Memang untuk

keselamatan kita juga. Kita tidak tahu apakah Kaum Abadi

nanti setelah selesai urusannya dengan mereka berempat akan mencari

masalah dengan kita. Memang sebaiknya kita pergi.”

430 BAGIAN 7. ORANG-ORANG ABADI

Lalu dengan perlahan mereka bertiga bergegas berangsur meninggalkan

tempat itu.

Adalah Misun yang menyadari kepergian ketiga orang tersebut. Ia pun

tidak ada urusan dengan mereka bertiga. Keperluan ia dan saudarasaudaranya

dari mereka-yang-tak-bisa-mati adalah hanya untuk membantu

Gentong membalaskan kematiannya pada Sabit Kematian. Tapi

ada sesuatu yang menarik baginya dari ketiga orang itu. Entah apa.

Misun pun bergegas menyusul ketiga orang tersebut yang telah berada

di pulau lain, pulau ketiga. Saat ia berlari cepat, kedatangannya telah

dinanti oleh ketiga orang tersebut di tepi pulau. Tampak ketegangan

pada ketiga wajah mereka.

”Howgh! Aku Misun, tak perlu kalian takut. Aku tak ada maksud

jahat,” katanya seraya mengangkat telapak tangannya, bagian dalam

menghadap ketiga orang tersebut.

Wananggo yang segera menyadari bahwa itu mungkin sejenis salam

dari Misun, segera mengangkat tangan pula, menirukan, ”AkuWananggo,

dan ini Xyra dan Lantang, ada perlu apa anda mengejar kami?”

”Avanyu, Caiman!!” katanya sambil menunjuk pada Xyra.

Xyra tampak terkejut. Apa yang diucapkan oleh Misun adalah berarti

roh air dalam bahasa Garifuna dan Montana. Suatu ucapan yang

pernah diceritakan oleh ayahnya mengenai leluhur mereka yang berada

di sana. Suatu tlatah jauh di balik planet ini, di tempat yang selalu

berlawanan dengan di sini. Di sini siang di sana malam dan sebaliknya.

Misun lalu membuka baju luarnya, menampakkan segenap kalung

yang digunakannya. Terdapat banyak untaian. Salah satunya berbentuk

segitiga menghadap ke bawah dengan gambar riak-riak gelombang

pada tengahnya, ”Maya, air!!”

Xyra yang entah bagaiman begitu melihat simbol tersebut tampak

tersentuh sehingga secara tak sadar air danau yang berada di sekitar

mereka tampak merebak, berbulir-bulir mengambang di udara, yang

kemilau diterangi sinar bulan purnama. Mengelilingi sekitar mereka

dan kemudian pecah menjadi semacam uap dan kembali jatuh. Menjadikan

udara tiba-tiba menjadi segar dan lembab.

431

”Avanyu!!” ucap Misun kembali yang segera berlutut hormat kepada

Xyra. Lalu ia melepaskan untaian berbentuk lambang air itu dari

kalungnya dan menyerahkannya kepada Xyra.

Lantang yang takut bila hal itu adalah tipu muslihat bergegas menghalangi.

Tapi dengan lembut Xyra menghentikan tangannya. Tatapannya

yang seakan mengatakan, ”Tidak apa-apa!” menenangkan

Lantang. Lalu Lantang membiarkan Misun menyerahkan untaian atau

medali tersebut ke tangan Xyra.

”Howgh!! Tugasku telah selesai, terima kasih!!” lalu tanpa memberi

penjelasan ia segera kembali menaiki jembatan cembung hitam melengkung

untuk kembali ke pulau keempat, kembali menemui rekanrekannya.

Selepas kepergian Misun tak ada yang berbicara sampai Wananggo

menggugah lamunan mereka dan mengajak keduanya pergi dari sana.

***

”Untung ada engkau, Tapak Kelam,” ujar Mayat Pucat, ”jika tidak

mungkin kita sudah menemani Sabit Kematian di pulau itu.”

”Betul!!” ucap Cermin Maut kemudian, ”Kaum Abadi itu tak bisa

dianggap remeh. Lemparan senjata rahasiaku yang jelas-jelas melukai

mereka tak terasa apa-apa. Bahkan kita lihat sendiri luka mereka

berangsur mengering dan sembuh dalam waktu cepat. Betul-betul

lawan yang tangguh.”

Tapak Kelam yang dipuji hanya tersenyum tipis. Ia juga beruntung

masih ingat jalan-jalan liang tikus dari pulau keempat itu untuk keluar

dari Air Jatuh. Jika harus lewat jalan biasa, pasti mereka dapat dikejar

dan ditangkap oleh mereka-yang-tak-bisa-mati.

Bagi orang-orang seperti Cermin Maut, Mayat Pucat dan Tapak

Kelam, kehilangan seorang rekannya, Sabit Kematian, adalah tidak

terlalu berat. Selama keuntungan masih berada di pihat mereka,

sah-sah saja. Dan saat itu kitab yang berada dalam bungkusan

yang dikepit Mayat Pucatlah yang utama. Untuk dipelajari sehingga

mereka bertiga bisa menjadi lebih tinggi ilmunya untuk malangmelintang

dalam dunia persilatan.

432 BAGIAN 7. ORANG-ORANG ABADI

Tanpa kata-kata, ketiganya seakan-akan merupakan tiga sekawan baru.

Melupakan dengan mudah rekan mereka yang baru saja mangkat, yang

mungkin belum dingin tubuhnya.

***

”So, our problem in this land is alreay finished, isn’t it?” ucap Angus.

”Yeah, right!” sambut Dhoruba.

”Sudah saatnya kita pergi,” sambung Shia Siaw Liong.

Gentong masih tampak termenung. Ia masih menatapi sosok Sabit Kematian

yang telah hancur isi dadanya akibat pukulannya. Pada suatu

gerakan tipuan, Sabit Kematian menjatuhkan sabitnya dan berharap

Gentong segera masuk melancarkan pukulan. Ia telah mempersiapakn

sebuah pisau kecil untuk menyerang dari belakang. Yang dilupakan

oleh Sabit Kematian adalah bahwa tusukan pada mereka-yang-takbisa-

mati tidaklah terlalu berpengaruh sejauh tidak melukai mereka

secara parah. Tusukan kecil dekat jantung tidak mengurangi laju

pukulan Gentong, yang terus tiba dan melumatkan tulang dada dan

organ-organ di dalamnya. Sabit Kematian pun melepaskan napasnya

dengan keadaan tak puas. Ia tak terima bahwa serangannya gagal dan

nyawanya sebagai imbalan. Terlihat jelas hal ini dari wajahnya yang

penasaran.

”Gentong, mari!” ucap Misun yang saat itu berada di sampingnya.

Menepuk bahunya, mengajaknya berlalu dari situ.

Gentong masih terdiam sesaat untuk kemudian bangkit, sejenak

dipikirnya sesuatu. Akhirnya dipungutnya sabit milik Sabit Kematian.

Ditimang-timangnya dan akhirnya diputuskannya bahwa

itu akan menjadi senjatanya. Juga untuk menjadi peringatan dari

kematiannya sendiri dan kematian sang pembunuhnya.

Melihat itu, Dhoruba terkekeh-kekeh, ”Pilihan yang bagus. Senjata

yang sudah ’tua’. Banyak sudah darah yang dimininumnya. Bagus,

bagus!!”

Misun, Angus dan Shia Siaw Liong tidak berkomentar. Mereka segera

berlalu dari sana. Meninggalkan Air Jatuh dan kemudian pula Perguruan

Atas Angin. Melangkah menuju ke suatu tempat untuk me433

nunaikan misi mereka sendiri, terutama bagi kaum mereka, – merekayang-

tak-bisa-mati.

***

Seseorang tampak berdiri mengitari batu-batu yang ditumpuk rapi,

persegi, membentuk semakam bekas candi atau kuil. Undakan

batu. Berbentuk bujur sangkar dengan ketinggian sedengkul dari

rerumputan yang mengelilinya yang tumbuh di tanah lapang itu.

Panjang dan lebarnya seukuran dua tombak lebih.

”Ini harusnya tempatnya, portal!” ucap orang itu. ”Aku harus memberi

tanda di sni, dan mereka akan datang..!”

Telah dicoba-cobanya membaca apa-apa yang ada di sana-sini, di

keempat sisi dari undakan batu atau pelataran batu tersebut, tapi

ia tidak mengerti.

”Bahasa apa ini? Tak bisa kau pahami!” ujarnya jengkel.

Ia juga jengkel karena petunjuk yang pernah diterimanya telah ia lupakan.

Tahu begitu dicatatnya saat itu sehingga bisa digunakannya

kembali pada saat ini.

Setelah seharian dan kemudian dilanjutkan dengan malam ia tak

berhasil pula memecahkan kode-kode itu. Ia, orang tua itu, akhirnya

memutuskan untuk tidur dulu. Siapa tahu orang atau pihak yang

ingin ditemuinya ada singgah di tempat itu sehingga ia bisa bersua

tanpa harus memberi tanda-tanda, yang umumnya harus lebih dahulu

dilakukan.

Malam itu ia tidur dengan nyenyaknya sehingga tak tahu apa yang

akan dihadapinya esok pagi.

Saat orang itu bangun, hal pertama yang membingungkannya adalah

ia tidak lagi berada di lapangan rumput yang di tengahnya ada

pelataran batu. Melainkan ia telah tidur di atas sebuah alas tidur

terbuat dari daun-daun dianyam dan berada dalam sebuah rumah

bambu.

”Hahh!! Di mana aku?” tanyanya pada dirinya sendiri.

434 BAGIAN 7. ORANG-ORANG ABADI

Bergegas ia bangun dan menjadi semakin terkejut setelah merasa

bahwa lantai ruangan yang di mana ia berada tidaklah terlalu keras,

melainkan agak lentur dan mengayun sejalan dengan langkahnya. Perlahan

dengan agak takut-takut orang tua itu menghampiri jendela

yang ada dan mencoba melihat keluar.

”Ini...., di atas pohon!!” ucapnya kagum. Ya, ia telah berada di dalam

sebuah rumah bambu yang dibangun di atas sebuah pohon yang tinggi.

”Kriettt!!” tiba-tiba pintu ruangan itu terbuka dan masuklah sesosok

makhluk mirip manusia. Yang membedakan mereka adalah tingginya.

Tinggi makhluk itu tidak sampai ke pinggang orang dewasa. Manusia

Tiga Kaki. Tiga kaki tingginya.

”Selamat datang di tempat kami!” ucap makhluk itu ramah.

Orang itu membalas dengan senyum walau agak sedikit bingung.

”Maafkan bila tadi malam, kami ’menculik’ anda dari portal, pelataran

batu tempat anda tidur,” ucapnya perlahan. ”Kami lihat anda tidak

mengenal cara berkomunikasi, jadi kami menunggu sampai anda terlelap

dan melihat apa maksud anda. Setelah kami yakin anda tidak

bermaksud jahat, kami kemudian membawa anda ke sini.”

Mengangguk-angguk orang tua itu mendengar penjelasan sang Makhluk

Tiga Kaki.

”Eh, saya Rancana.... Anda siapa?” tanya orang itu kemudian.

”Saya Coreng..,” jawab makhluk itu.

”Eh, saya bermaksud untuk bertemu dengan Ki Tapa,” jawab orang

yang mengaku bernama Rancana itu.

Sejurus tak ada jawaban. Makhluk itu tampak sedih dan muram. Lalu

katanya, ”Ya, kami tahu. Nanti, biar ketua kami Hitam-Putih yang

menjelaskan. Sekarang makanlah dulu!” Ia kemudian menunjuk pada

bungkusan yang sejak tadi telah ada di sudut ruangan. Rupanya itu

adalah makanan yang telah disiapkan untuk disantap Rancana.

Setelah berkata demikian, Coreng pun berlalu dengan terlebih dahulu

meminta diri, membiarkan Rancana menikmati makan paginya dengan

435

tenang.

Masih penuh pertanyaan di benak Rancana. Dari mimik wajah Coreng

yang berubah saat ia mengungkapkan ingin bertemu dengan Ki Tapa

dan juga perihal Manusia Tiga Kaki.

Dunia ini luas rupanya. Di Pulau Tengah Danau di puncak Gunung

Berdanau Berpulau ia telah pernah bertemu dengan Undinen.

Dan di sini, di Rimba Hijau, ia bertemu dengan Manusia Tiga Kaki.

Makhluk-makhluk yang dulunya hanya pernah ia dengar ada dalam

cerita, telah ditemuinya. Entah jenis makhluk apa lagi yang kelak

akan dihadapinya.

Rancana sejenak terkenang akan muridnya, Lantang. Juga karena

Lantang ia berkunjung ke Rimba dan Gunung Hijau ini, untuk mencari

tahu dari Ki Tapa, kemungkinan untuk mengobati tersumbatnya

aliran hawa dari muridnya.

”Aku telah tiba di sini, itu yang penting. Berikutnya minta pertolongan

mereka,” gumamnya.

Ia kemudian beranjak menghampiri penganan yang tadi ditunjuk

Coreng, membuka bungkusnya dan mulai menyantapnya.

***

”Engkau yakin, Moreng?” tanya Coreng.

”Benar, Coreng! Aku lihat sendiri mereka membongkar kuburan Gentong

dan mengambil mayatnya,” ucap Moreng meyakinkan.

”Untuk apa ya?” tanya rekannya kemudian.

”Entah!” yang dijawab sang kawan dengan mengangkat bahunya.

”Baiknya kita beritahu saja ketua Hitam-Putih. Pasti ada apaapanya!”

usul kawannya kemudian.

Yang diajak berbicara menangguk setuju atas usul itu. Bergegas kemudian

keduanya bergerak lincah, menyelinap di antara dedaunan dan

pohon-pohon yang tumbuh rapat.

***

436 BAGIAN 7. ORANG-ORANG ABADI

”Ceng Siang, lihat ini! Hanya manusia yang dapat melakukan kekejaman

seperti ini..,” ucap seorang tua kepada dara muda yang ada di

sampingnya.

”Iya, ayah. Hanya manusia,” jawab sang dara. Ia merasa merinding

demi melihat mayat di mana-mana. Sebagian telah membusuk dan dimakan

binatang buas. Sebagian masih utuh akan tetapi telah ditutupi

ulat dan lalat.

”Perguruan Atas Angin” begitu yang tertulis di pintu gerbang perguruan

silat itu. Akan tetapi lebih cocok dibilang suatu kuburan, karena

selain orang mati, tidak ada manusia yang masih bernafas di dalam

sana.

Ceng Liok dan anaknya Ceng Siang kebetulan saja lewat dan tertarik

atas lolongan anjing-anjing liar yang jarang didengar siang

hari. Lolongan yang seakan-akan menceritakan bahwa mereka sedang

berpesta-pora. Berpesta santap daging manusia.

”Mari kita bersihkan! Manusia sebagaimana jahatnya pun, jika juga

sudah menjadi mayat, berhak atas persemayaman yang layak,” ujar

ayahnya.

Dara tersebut hanya menangguk, tampak agak bingung demi menghadapi

demikian banyak mayat yang harus dikuburkan.

”Hati-hati, jangan dipegang!!” ucap ayahnya. ”Ini gunakan penutup

hidung dan balut tanganmu dengan kain dan lumuri dengan ramuan

ini dulu.” Lalu dijelaskannya bahwa mayat yang sudah lama dapat

melepaskan racun dan bibit penyakit bagi yang menyentuhkan. Oleh

karena itu harus segera dikuburkan. Pekerjaan mereka menjadi lebih

sulit karena tak boleh langsung menyentuh mayat-mayat tersebut.

”Cukup engkau dorong dengan tonkat ke sudut sana, nanti aku gali

sebuah lubang besar. Hati-hati dengan bagian tubuh yang lepas dan

cairan yang berceceran!” pesan ayahnya.

Dara itu kembali mengangguk. Sambil menutup hidung, menghindari

bau mayat yang membusuk dan juga jerih melihat pemandangan yang

kejam dan mengerikan itu, sang dara mulai melakukan apa-apa yang

diperintahkan oleh ayahnya.

437

Dengan perlahan-lahan mereka mulai menguburkan mayat-mayat

dalam perguruan tersebut. Perguruan Atas Angin. Perguruan yang

telah tumbang dan tidak menyisakan seorang pun hidup-hidup di

tempat itu.

Dalam dua tiga hari akhirnya pekerjaan itu pun selesai. Keduanya

tampak puas. Di beberapa ruang halaman, tampak di ujung-ujungnya

gundukan-gundukan besar. Suatu kuburan masal dari orang-orang

yang terbunuh. Entah dari pihak mana. Yang penting semuanya

telah dikuburkan.

”Bagus juga tempat ini. Bagaimana jika kita tinggal di sini saja?”

ucap ayahnya.

”Bekas orang mati itu?” jawab anaknya sambil masih membayangkan

puluhan mayat yang telah mereka kuburkan.

”Mereka toh telah mati,” balas ayahnya, ”dan tempat ini, terutama

air terjun di belakang amatlah indah. Sayang untuk ditinggalkan.”

”Ya, di belakang itu amatlah indah. Lalu apa yang kita lakukan untuk

hidup?” tanya anaknya kemudian.

”Bercocok tanam, membuka perguruan silat, berdagang... Atau apa

usulmu?” tanya ayahnya kemudian.

”Membuka kedai saja, aku ada banyak pengalaman,” usul anaknya.

”Ya, benar, tapi dari tanam-tanaman kita sendiri, bagaimana?” ucap

ayahnya kemudian.

”Setuju! Jadi bumbu-bumu kita tidak mudah ditebak orang. Pintar!!”

kata anaknya antusias.

”Tapi omong-omong apa ada yang mau datang ya? Di sekitar sini

terlihat sepi-sepi saja,” tanya anaknya kemudian.

”Buat apa dipikirkan, yang penting kita coba. Toh tanpa ada yang

beli kita juga dapat hidup,” jawab ayahnya.

Keduanya kemudian tertawa berbarengan. Begitulah pandangan

hidup orang yang sederhana, tidak terlalu takut tidak dapat hidup.

438 BAGIAN 7. ORANG-ORANG ABADI

Selama berusaha, pastilah ada jalan dari Sang Pencipta.

***

”Masih jauh, paman Walinggih?” tanya seorang dara kepada orang

tua di sampingnya.

”Kita masih harus mendaki gunung ini, Sarini!” ucap orang tua itu

sambil menunjuk gunung tinggi dan megah di hadapannya. Di belakang

mereka tampak hutan batu-batu membentang. Padang Batubatu.

”Apakah kedua orang tua Telaga masih ada di tempatnya?” tanya

Sarini kemudian. Dari Telaga ia mendengar bahwa mereka juga suka

berkelana ke sana ke mari.

”Kita tidak tahu itu, semoga saja. Bila tidak, kita berdiam diri saja

beberapa waktu menunggu mereka. Atau kemungkinan paling jelek

kita tinggalkan pesan,” ucap Walinggih sambi memandang dengan

sayang Sarini, dara yang akan ditunangkan dengan muridnya Telaga.

Telaga adalah anak dari Ki dan Nyi Sura, kedua orang yang akan

mereka kunjungi saat ini di atas sana, di gunung. Gunung Berdanau

Berpulau.

”Mari kita mulai mendaki, supaya tidak keburu malam sudah sampai

kita di tengah danau di atas sana. Masih dapat engkau berlari cepat?”

tanyanya kemudian.

”Masih, paman. Masih ada tenaga sejak pertempuran terakhir itu,”

jawab sang dara ceria.

Walinggih tampak geleng-geleng kepala atas sikap itu. Dalam hatinya

ia berkata, ”Anak wanita kok senangnya bertempur..!”

”Kencangkan perbekalan dan kainmu, kita akan berlari cepat sekarang.

Jangan sampai ada barang-barang yang tercecer atau lepas,” sarannya

kemudian.

Dara itu mengangguk. Walinggih sendiri juga memeriksa perbekalannya

dan mengencangkan sana-sini dari kain dan jubahnya.

Lalu keduanya mulai beranjak dari situ, mengeluarkan ilmu berlari

439

cepat dan mulai menaiki gunung tinggi itu. Berlari melalui jalan-jalan

menanjak dan curam. Meloncat di sana-sini. Terus semakin tinggi dan

menuju ke atas. Menuju suatu tempat di atas sana. Tempat di mana

terdapat dua orang tua berdiam diri menanti waktu mereka tiba.

Di hadapan kedua orang tua tersebut tampak sesosok makhluk berdiri

tanpa senyum. Sedih bahkan. Memandangi kedua orang tua yang berada

dalam posisi duduk bersila di hadapannya, yang mengangguk

perlahan kepadanya. Lalu ia pun menggerakkan tangannya perlahan

dan kemudian bertambah cepat, cepat hampir tak terlihat. Lalu

udara di sekitarnya berubah menjadi dingin, kering. Dan es pun mulai

bermunculan menutupi kedua orang tersebut. Memutih dan mengeras.

Membeku. Sekujur tubh keduanya tampak tertutup lapisan es, bagai

dua buah patung pualam putih.

***

440 BAGIAN 7. ORANG-ORANG ABADI

Bagian 8

Menari Bersama Air

”Ini yang namanya pantai, tepi daratan..,” ucap seorang pemuda pada

dirinya sendiri sambil berdiri memandang gulungan-gulungan kecil

ombak yang saling susul dan bertumbuk burai. Pemuda baru saja

tiba dari perjalannya dari arah utara menuju pantai tersebut yang

terletak jauh di selatan. Batas dari tlatah tersebut dengan lautan.

Pantai Selatan.

Tak terasa jari-jemari kakinya yang telanjang bermain-main dengan

pasir-pasir pantai. Melesak dan tergores halus. Tanpa terasa ia berjalan

perlahan sampai kedua kakinya tercapai oleh sisa-sisa ombak

yang kadang sampai kadang tidak ke tempat ia berpijak.

Bagi pemuda itu, batas darat dan air sebenarnya sudah pernah ia

alami. Ia tidak asing dengan air, akan tetapi bukan air yang bagai

tak bertepi seperti sekarang. Lautan. Melainkan ia pernah tinggal

bersama orang tuanya di sebuah pulau di tengah danau, jauh di utara

sana. Pulau di puncak Gunung Berdanau Berpulau. Sebelah utara

dari Padang Batu-batu. Yang terakhir ini baru saja dilewatinya beberapa

saat yang lalu. Tempat yang pula di sana hatinya tertambat

dan menjadinya tujuan untuk kembali berlabuh. Tepatnya tiga tahun

dari saat ini.

Telaga pemuda itu, setelah puas melamun dan menikmati keindahan

ciptaan Sang Pencipta, mulai mencari-cari dengan matanya kalaukalau

ada orang untuk ditanyakan. Ia pergi ke pinggir lautan ini

441

442 BAGIAN 8. MENARI BERSAMA AIR

untuk mencari suatu kelompok yang disebut Suku Pelaut. Orangorang

yang hampir sepanjang hidupnya tinggal di laut. Bukan hanya

melaut tapi benar-benar hidup di atas air. Dari mereka hendak dicarinya

ilmu-ilmu beladiri tinggi, seperti dipesan oleh orangtuanya.

Ilmu yang cocok dengan jenis tenaga yang telah dilatihnya. Tenaga

Air.

Di Padang Batu-batu Telaga telah mendapat dua orang guru yang

mengajarkan ilmu pedang menggunakan pedang panjang, Ilmu Pedang

Panjang dan ilmu berkelahi tangan kosong yang berisikan gerakangerakan

menyebet dengan telapak tangan serta tangkisan dan bantingan.

Guru yang pertama adalah Walinggih, yang mengajarinya dua

jurus pokok, yaitu Gerakan Kadal Pelangi Makan Pagi dan Sabetan

Tunggal Menuai Dua. Sedangkan dari guru keduanya, Arasan ia memperoleh

dua jurus pula, yaitu Menebang Kelapa dan Berkelit Membanting

Padi, gerakan-gerakan yang diturunkan dari kegiatan keseharian

orang-orang yang hidup dari bercocok tanam.

Dengan berbekal Tenaga Air yang telah diturunkan oleh ayah dan

ibunya, Ki dan Nyi Sura, Telaga dapat dengan mudah menyelami dan

mempelajari gerakan-gerakan yang diajarkan oleh kedua guru berikutnya

selama berada di Padang Batu-batu. Tapi ia belum merasa puas.

Selain belum benar-benar merasa cukup, juga orang tuanya menganjurkan

ia mencari orang-orang Suku Pelaut, memohon menjadikan

dirinya murid dan mempelajari gerakan-gerakan beladiri mereka yang

memang khusus dibuat untuk pengamal ilmu Tenaga Air.

Tiba-tiba ia melihat setitik kecil sesuatu berlayar di pinggir horison

mendekat ke arah pantai di sebelah kanannya. Perlahan-lahan titik

tersebut membesar dan terlihat semakin jelas. Sebuah perahu nelayan.

Bergegas ia setengah berlari menuju ke pantai tempat perahu tersebut

hendak berlabuh. Bila ada nelayan mendarat, pasti tak tahu dari sana

ada perkampungan. Dan di perkampungan nelayan adalah tempat

yang baik untuk mulai bertanya mengenai Suku Pelaut yang menjadi

tujuannya sampai ke pantai ini.

Saat perahu yang ditujunya mendarat, Telaga menjadi terkejut saat

mendapati bahwa perahu tersebut dikemudiakan oleh seorang gadis.

Gadis tersebut tampak cekatan dalam menggulung layar untuk kemu443

dian melompak keluar dan menarik perahunya sendiri sampai cukup

jauh dari batas air laut. Setelah itu ia mulai membereskan barangbarang

tangkapannya dari laut.

Telaga yang baru kali ini menyaksikan seorang nelayan perempuan,

hanya bisa terpaku melongo. Tak sepatah kata pun terlontar dari

mulutnya. Ia hanya memandang kagum dan membisu.

Gadis tersebut dengan cekatan dan sigap setelah membereskan perahunya

dan mengangkat hasil tangkapannya dari laut, bergegas

berlalu dari situ. Ia tidak memperdulikan tatapan Telaga yang masih

berdiri tak jauh dari sana.

”Eh, harus aku ikut dia..,” tersadar Telaga dari kekagumannya. Ia

pun kemudian beranjak untuk mengikuti langkah gadis tersebut yang

tidak saja cepat tetapi juga lebar-lebar. Bukan langkah kaki gadisgadis

kebanyakan.

Kira-kira tiga ratus langkah dari tempat perahu gadis itu ditambatkan,

setelah melalui semak-semak dan pohon-pohon kelapa serta nyiur,

sampailah mereka di suatu lapangan agak terbuka. Tak jauh di depan

sana tampak semacam pintu gerbang yang terbuat dari dua buah

pohon kelapa yang hidup. Digantungi berbagai pernik untuk melaut

dan terpampang nama desa itu, Tepi Darat Selatan. Suatu nama yang

menandakan desa itu berada di bagian paling selatan dari daratan itu,

setidaknya menurut para penghuninya.

Setelah gadis tersebut berlalu dari pintu desanya, Telaga menjadi ragu

untuk terus mengikuti. Ia adalah orang asing, tamu tepatnya, yang

belum tahu harus menuju ke mana di desa tersebut. Mengikuti gadis

tersebut sampai ke rumahnya adalah tidak baik. Belum mereka berkenalan

pula.

Akhirnya ia memutuskan untuk tidur dulu malam itu di luar desa,

baru besok pagi ia akan berkunjung ke sana. Hari sudah menjelang

senja, matahari tampak sudah mulai menghilang di ujung barat pantai.

Telaga mencari-cari matanya, sampai menemukan sebuah batu

karang yang dinaungi oleh beberapa pohon kelapa yang agak membungkuk.

Tempat yang cukup baik untuk bermalam. Cukup terlindung

dari angin. Ia pun membuka perbekalannya, makan dan setelah

itu mulai beristirahat di sana.

444 BAGIAN 8. MENARI BERSAMA AIR

Tak lama ia pun mulai terlelap dibuai angin semilir yang mengalun

lembut di sela-sela karang yang membelakanginya.

Mungkin karena kurang pengalaman atau karena saking lelahnya,

Telaga tidak waspada sehingga ia tidak menyisakan sedikitpun kesigapan

untuk segera terbangun apabila ada suara-suara mencurigakan.

”Ini pemuda yang tadi mengikutimu, Mayiya?” kata suara seorang tua

yang terdengar agak serak.

”Iya, kakek! Pemuda ini,” jawabnya.

”Tampaknya tidak bermaksud jahat,” ucap orang tua itu lagi sambil

mengamat-amati Telaga yang tertidur pulas, meringkuk miring dan

juga mendengkur.

”Belum tentu, mungkin belum muncul saja aksinya,” ucap gadis itu.

Rupanya sedari tadi Telaga memperhatikannya dengan kagum, ia sudah

tahu dan merasa tidak nyaman. Akan tetapi karena tidak ada

siapa-siapa di antara mereka kecuali pasir dan air laut, Mayiya memutuskan

untuk segera pulang ke desangnya. Lebih aman di sana. Setelah

sampai ke rumahnya lalu ia melaporkan hal ini kepada kakeknya,

Pelaut Ompong.

”Jangan terlalu curiga, tidak baik!” ucap kakeknya si Pelaut Ompong

kemudian. ”Jadi apa maumu sekarang, apabila engkau masih mencurigai

pemuda itu?”

”Kita tangkap dan ikat saja, kakek! Besok baru kita tanyai,” usul

cucunya itu. Suatu usul yang terdengar kasar dan asal-asalan juga.

”Kalau begitu engkau yang tangkap dia,” goda kakeknya kemudian.

”Ah, kakek!” rengek sang cucu manja.

”Baik, baik, aku tangkap dia. Tapi awas ya, kalau engkau yang salah,

engkau harus minta maaf kepadanya. Mengerti!” jawab kakeknya

tegas.

Dara itu mengangguk.

Lalu dengan perlahan kakek itu melangkah ringan, saking ringannya

445

tapak kakinya tidak berbekas di atas pasir yang diinjaknya. Jadi apabila

Telaga tidak dalam keadaan tidur pulas pun, sudah sulit untuk

mendengar kedatangan mereka, apalagi saat ia benar-benar merasa

aman dan lelap istirahatnya.

”Hmm, cah.., cahh.., kalo tidur itu sebaiknya tengkurap! Biar gampang

notoknya...,” gerutu kakek itu saat telah berada di samping

Telaga yang masih tertidur dengan posisi miring meringkuk memeluk

kantung perbekalan dan juga lututnya.

”Di punggung saja kayaknya, masih terbuka..,” ujar kakek itu kemudian.

Lalu Pelaut Ompong itu pun segerah perlahan mengusap punggung

Telaga, sampai ia merasakan sebuah jalan darah yang dicari,

dan... ”Tukk!!!” jempolnya memijit pelan. Tubuh Telaga tampak

sedikit tersentak tapi pemuda itu tidak terjaga. Mungkin tubuhnya

sedikit bereaksi secara reflek terhadap aliran tenaga totokan itu, tapi

tidak cukup kuat untuk menolak dan membangunkan orangnya.

”Sudah, kek?” tanya dara itu kemudian, memecah keheningan yang

hanya terisi oleh deburan ombak dan gemerisikan angin di sela-sela

daun kelapa.

”Sudah! Sekarang kamu yang bawa, Mayiya!” perintah kakeknya.

Gadis itu mengangguk. Lalu dengan sigap ia mengambil barang

bawaan Telaga, menyatukannya dalam kontong dan memanggul sang

pemuda. Bobot Telaga seakan-akan tiada berarti bagi gadis itu,

walaupun tingginya hampir sama dengan Telaga. Bila saja Telaga

sadar mungkin ia bisa merasa malu, dipanggul sedemikian rupa oleh

seorang gadis.

Dan malam itu pun berlalu dengan tenangnya. Mayiya tenang karena

pemuda yang diduganya punya maksud jahat terhadap dirinya telah

ditangkap dan disekap di ruang kecil di belakang rumah sana. Sedangkan

Telaga tenang kerana tidak tahu apa-apa, bahwa tempat tidurnya

telah berpindah tempat. Hanya Pelaut Ompong yang masih agak

tertegun saat membantu membawakan barang-barang pemuda itu.

Sebilah pedang panjang. Mirip dengan pedang seseorang yang pernah

dikenalnya dulu, jauh di sebelah utara. Pedang itu dibungkus

kain-kain dan kulit kayu dan digunakan sebagai tongkat. Bila ia tidak

memegang sendiri, mungkin masih dikiranya itu adalah tongkat. Den446

BAGIAN 8. MENARI BERSAMA AIR

gan itu, Pelaut Ompong menjadi lebih berhati-hati. Mungkin saja

dugaan cucunya benar, pemuda itu bukan orang biasa.

***

”Kukuruyukkkk!!! Kukuruyukkkk!!!” suara satu dua ayam jago

memecah kehehingan pagi. Didahului dengan sepercik cahaya pertama

dari ufuk timur, ayam-ayam pejantan itu berdulu-dulu meneriakan

kabar bahwa hari baru telah datang.

”Agggghhhh!!!” ucap merdu seorang gadis yang menggeliat. Ia tampak

manis dengan rona merah wajahnya yang masih kusut akibat

tidurnya. Mayiya baru saja bangun dan sempat bermimpi soal pemuda

yang dipanggulnya kemarin. Saat ia benar-benar tersadar, langsung

ia bangkit dan menuju ruang tengah rumahnya, hendak bertanya

pada kakeknya apa yang kemarin itu benar-benar nyata atau hanya

mimpi belaka.

”Pagi, Mayiya!” sahut kakeknya yang sudah duduk di ruang tengah

dengan ditemani kepulan kopi.

Mayiya tidak segera menjawab karena mulutnya terasa tersumbat.

Di samping kakeknya tampak seorang pemuda sedang meniup-niup

gelas kopi yang ada di dalam tangannya. ”Huuuhh!! Huhhh!! Masih

panas...,” ucapnya pelan.

”Kakek, itu.... dia...?” ucap Mayiya pelan sambil menunjuk sang pemuda.

Pemuda yang dipanggulnya kemarin malam.

”Ah, nak Telaga? Nak Telaga ini cucuku, Mayiya. Dia yang minta

engkau tadi malam diperlakukan secara ’istimewa’,” ucap Pelaut Ompong

dengan gurau.

Wajah merona tampak pada muka Mayiya. Malu sekali ia. Orang

yang ”ditangkap”-nya tampak tenang-tenang saja, sudah bangun dan

malah sedang menemani kakeknya minum kopi. Dan ia sendiri...

masih belum merapikan rambutnya. Bergegas ia kembali menghilang

dalam kamarnya, menyibakkan kain penutup ruangan tersebut.

”Hahahahaha...!” kakek Mayiya tampak tertawa puas. Senang ia

menggoda cucunya. Memang hubungan antara kedua orang itu, cucu

dan kakek, benar-benar akrab. ”Itulah cucuku, nak Telaga. Ayo jan447

gan sungkan-sungkan, bila sudah dingin langsung saja dihirup. Nanti

siang, minuman dan masakan yang lebih enak, buatan Mayiya lebih

enak dari buatanku, bisa engkau nikmati.”

Telaga yang tak tahu harus mengucap apa, hanya mengangguk-angguk

saja. Sambil perlahan diambilnya ubi bakar yang disajikan dan menguyahnya

pelan-pelan. Sambil tak lupa tetap meniup-niup kopi yang

sekarang sudah mulai agak dingin.

”Ceritakan soal Walinggih! Bagaimana kabarnya sekarang?” tanya

Pelaut Ompong kemudian. Benar seperti dugaanya, pemuda itu ada

kaitannya dengan Walinggih, seorang yang pernah dikenalnya dulu.

Seorang pengguna pedang panjang.

Setelah kunyahan ubi bakar dilancarkan dengan kopi yang dihirupnya.

Telaga pun mulai menceritakan mengenai keadaan Walinggih, sampai

terakhir ia bertemu dan pamit untuk melanjutkan merantau ke arah

selatan.

***

”Jadi engkau ingin mencari Suku Pelaut?” tanya gadis itu kepada

seorang pemuda.

”Iya. Tahukah engkau di mana mereka bisa ditemui?” tanya pemuda

itu balik.

”Aku pernah mendengarnya dari kakek, bahwa mereka itu sulit dicari.

Hidup benar-benar di tengah laut dan jarang merapat. Hanya saatsaat

tertentu saja mereka merapat. Benar-benar ’orang laut’,” jawab

sang gadis.

”Adakah yang bisa menunjukkan di mana aku bisa mencari mereka?”

tanya pemuda itu kemudian.

”Tunggulah sampai kakakku, Mayayo, pulang! Ia banyak tahu.

Bahkan dengar-dengar ia pernah bertemu dengan salah seorang dari

mereka. Ia diselamatkan dari amukan badai oleh mereka dan diantar

pulang ke darat karena perahunya telah hancur,” cerita gadis itu.

Mengangguk-angguk pemuda itu mendengar penjelasan sang gadis.

448 BAGIAN 8. MENARI BERSAMA AIR

”Eh.., Telaga..,” ucap gadis itu lirih.

”Ya... Mayiya..?” jawab sang pemuda.

”Soal waktu itu..., aku...,” ucap sang gadis dengan wajah tersipu malu.

Merona merah wajahnya.

”Ah, tak usah dipikirkan. Engkau bisa daja benar, bahwa aku adalah

orang jahat yang hendak menunggu tengah malah untuk menyelinap

menyerangmu. Itu sudah tindakan bagus. Paling tidak engkau tidak

melukai aku sebelum bertanya,” jawab pemuda itu sambil tersenyum.

”Aku... minta maaf!!” ucap gadis itu.

”Tak ada yang perlu dimaafkan, hanya kesalahpahaman saja,” jawab

sang pemuda.

”Terima kasih!!” berkata gadis itu kemudian.

***

Mayayo, kakak Mayiya, masih membutuhkan waktu kira-kira beberapa

minggu sebelum kembali ke desa itu, Tepi Darat Selatan. Jadi

selama menunggu Telaga diajar oleh Mayiya dan kakeknya Pelaut

Ompong hal-hal mengenai laut. Kalau-kalau Telaga harus berlayar

seorang diri dan bertahan hidup di tengah laut. Dari cara mencari

ikan, menghemat tenaga sambil berendam di sisi perahu, menyuling air

laut untuk minum dan mengobati sengatan matahari dan juga uburubur

serta ular laut. Banyak hal yang diajarkan oleh kedua orang itu

kepada Telaga. Jarang mereka mendapat kunjungan orang luar, dan

orang luar yang tertarik dengan penghidupan mereka. Kepada Telaga

mereka menjadi amat terbuka dan menceritakan banyak hal.

Sebagai balasan Telaga mengajarkan Mayiya, karena Pelaut Ompong

sudah merasa terlalu tua untuk belajar, ilmu-ilmu yang dimilikinya.

Salah satunya adalah ilmu pedang panjang dan jurus-jurus beladiri

tangan kosong warisan Arasan.

Mayiya yang cerdas dapat dengan mudah mencerap apa-apa yang diajarkan.

Bahkan teman-temannya, baik laki-laki maupun wanita menjadi

bersemangat dan ikut berlatih. Telaga menjadi tamu yang amat

diterima di sana. Membuat suasana desa itu menjadi ceria.

449

”Ini yang disebut Gerakan Kadal Pelangi Makan Pagi...,” ucap Telaga

sambil menunjukkan gerakan-gerakan yang bersalto balik, menyerang

dengan pedangnya dan tidak terjatuh, melainkan melenting kembali

ke tempat pijakan tadi ia melompat. Suatu serangan yang sulit diduga

oleh lawan yang belum tahu.

Dikarenakan pedang panjangnya hanya satu dan anak-anak muda

yang lain ingin ikut juga berlatih, akhirnya dibuat pedang-pedangan

dari bambu yang ditengahnya diisi oleh pasir besi, agar beratnya

menyerupai berat pedang panjang. Jurus-jurus pedang panjang hanya

bisa dilakukan apabila pedang yang digunakan cukup berat dengan

titik beratnya berada di pertengahan ujung dari pedang. Bagi yang

tidak tahu dan ingin meniru tanpa tahu seluk-beluk pedang yang digunakan,

tidak akan berhasil. Apalagi menggunakan pedang biasa.

Tapi bukanlah desa atau kota atau kumpulan komunitas lain bila seorang

baru yang datang, mendapat banyak perhatian dan tidak ada

yang tidak senang. Ada seorang pemuda, Wassa, yang telah lama

menaruh hati kepada Mayiya. Ia menjadi tidak senang dengan kedatangan

Telaga yang tampaknya dekat dengan pujaan hatinya. Ia

menjadi gusar terbakar api cemburu, walaupun ia sendiri belum pernah

menyatakan maksud hatinya kepada sang gadis. Wassa memang

berniat untuk mengatakan apa isi hatinya, tapi untuk itu ia hendak

menunggu Mayayo, sang kakak dari Mayiya. Di kampung itu ada

adat bahwa pernyataan suka dan ada niat untuk meminang harus

dikatakan kepada wakil dari yang hendak dipinang. Dalam ini Mayayo

adalah wakil dari Mayiya. Pelaut Ompong, sang kakek telah berpesan

akan hal itu kepada Wassa. Sebagai orang tua dari ayah Mayiya dan

Mayayo ia wajib menikahkan cucu-cucunya, tapi menerima pernyataan

ingin meminang Mayiya adalah kewajiban Mayayo.

***

Ombak yang bergulung-gulung tinggi, berkejar-kerjaran dalam angin,

berlomba-lomba datang, menghantam perahu dan menjatuhkan airnya

ke atas geladak kecil tersebut. Seorang pemuda dengan tabah tampak

masih berusaha menurunkan layar perahu kecilnya, mengurangi kuasa

angin atas perahunya. Kekuatan pengaruh air atas biduknya tak dapat

ia reduksi, kecuali harapan dalam hati kepada Sang Pencipta, agar

ia masih dapat pulang dengan selamat ke kampungnya. Tampak lelah

450 BAGIAN 8. MENARI BERSAMA AIR

sudah wajah sang pemuda.

Kampungnya, Tepi Darat Selatan. Kakeknya, Pelaut Ompong.

Adiknya, Mayiya. Berkelebat cepat semua apa-apa yang ada di dalam

angan. Apa ini tandanya orang yang menjelang maut? ”Tidak!!”

ucap pemuda itu membantin. ”Ini belum berakhir! Selama masih ada

nafas, tak akan ia menyerah!!”

Segera setelah semangatnya pulih, ia teringat pada ujar-ujar dari para

tua-tua, bahwa dalam keadaan badai menggila dan berangin, ikatkan

diri pada tiang perahu. Jangan sampi jauh dari satu-satunya pelampung

kehidupan di tengah lautan. Segera dengan tali yang dapat digapainya,

dililitkan dirinya kepada tiang layar perahu kecilnya. Dililitkannya

berkali-kali. Satu, dua, tiga.., entah sampai berapa kali

putar. Sebanyak-banyaknya, sampai ia sendiri berdiri lemas. Basah,

kedinginan dan lelah. Dengan topangan ikatan tali itu, ia masih bisa

berdiri.

Ombak yang bergulung tinggi, datang seakan tak hendak berhenti.

Bertubi-tubi dan silih-berganti. Perahu diombang-ambing ke kanan

dan ke kiri. Dibolak-balik sesuka hati. Untuk saja ada konstruksi,

yang membuat perahu dapat tegak kembali. Bila tidak, sudah pasti,

sang pemuda bagi ikan-ikan menjadi sarapan pagi.

Kesadaran yang perlahan menghilang menyambut sang pemuda. Tertunduk

kepalanya lemas. Bak orang yang telah tiada nyawa. Pasrah

biarkan diri dipermainkan gelombang laut tiada iba.

Tapi memang hari itu bukan hari akhir bagi Mayayo, sang pemuda

yang terikat di tiang perahu. Alam berangsur-angsur mulai melunak.

Menaruh iba dan berbaik hati. Angin meredup dan gelombang

berangsur-angsur mengecil. Laut lalu menjadi tenang. Amat tenang

seakan-akan hampir tiada angin bertiup. Suatu kontras yang amat

sangat, bila dibandingkan dengan keadaan beberapa saat sebelumnya.

Kuasa Sang Pencipta, sosok dari mana seluruh isi alam ini berasal,

yang kuasanya bertebaran di mana-mana. Hanya sayang kita

kadang kurang menyadarinya sehingga sering terlupa untuk bersyukur

dan mengharap dengan tulus.

Perlahan-lahan matahari pagi mulai menampakkan sinarnya dari arah

biasanya. Kaki langit sebelah timur tampak bersinggungan dengan

451

lautan sejauh mata memandang. Sinar temaram kuning mentari

peralahan-lahan mulai menjadi semakin cerah. Ia muncul untuk

menghantarkan kehangatan kepada seluruh lautan dan penghuninya.

***

”Hiattt!!!” teriak seorang dara dengan lantangnya. Dengan gerakan

yang lincah dan menawan ia melompat ke sana-ke mari di atas balokbalok

kayu yang terapung-apung di tengah laut tersebut. Balonkbalok

yang satu sama lain diikat dengan tali sehingga tidak dapat

saling menjauh atau mendekat. Balok-balok tersebut diikat membentuk

jaring kotak-kotak yang di keempat ujung jauhnya ditancapkan

pada sebuah pelampung besar yang dijangkarkan ke dasar laut.

Walaupun terlihat balok-balik tersebut mengapung, akan tetapi tidaklah

terlalu besar beban yang dapat ditampungnya. Oleh karena itu

orang yang berlompatan di atasnya harus hanya hinggap sebentar untuk

kemudian berpindah pada balok yang lain. Jika tidak, sudah

dipastikan yang hinggap di atasnya akan tenggelam. Ini adalah salah

satu bentuk latihan ilmu meringankan tubuh yang dilatih di tengahtengah

laut.

Dara tersebut dengan busana ringkas berwarna biru muda, warna

yang dominan di daerah yang didominasi oleh air, tampak tak kenal

lelah berlompatan sana-sini sambil menyabetkan tangan dan kakinya.

Sabetan yang bukan sembarang sabetan, melainkan sabetan dengan

penuh tenaga. Kesiuran angin tampak di sana-sini, di permukaan

air yang telah terkena hawa pukulan dan tendangannya. Tampak

segumpal air yang lebih putih dari sekelilingnya, menggumpal dan

mengapung perlahan untuk kemudian menghilang. Bongkahan es. Ya,

ilmu yang dilatih dara tersebut berkaitan dengan penggunaan Tenaga

Air. Ia dapat memanipulasi air dengan hawa pukulannya sehingga

menjadi dingin, dan sampai membeku.

”Plok-plok-plok!!” terdengar tepukan tangan seorang tua yang berdiri

tidak jauh dari sana.

Jika dara berjubah biru muda tersebut sudah terlihat menggiriskan

dengan pukulan serta tendangannya yang mampu mendinginkan

air laut sampai menjadi bongkahan kecil es, ditambah pula ilmu

meringankan tubuhnya yang mampu membuatnya ”terbang” di atas

452 BAGIAN 8. MENARI BERSAMA AIR

air dengan bantuan balok-balok kayu yang terapung, lain pula dengan

orang tua itu. Ia tampak berdiri seenaknya, dengan kedua kaki

dipentang, di atas air. Sebenarnya tidak benar-benar di atas air,

karena apabila diperhatikan tampak bahwa di bawah kedua kakinya,

di bawah permukaan air di bawah tubuhnya, tampak segumpal es

besar. Bongkahan yang menyanggah dirinya sehingga tidak tenggelam

dan seakan-akan terapung atau dapat berdiri di atas permukaan

air. Es sebesar satu dua gajah dan dalam siang yang seterik ini?

Kemampuan yang tidak boleh dibuat main-main.

”Ah, kakek!! Masak sudah latihan hari ini?” rengek dara itu manja

kepada orang tua yang ternyata adalah kakeknya sendiri.

Tampak mengeluarkan sepatah kata pun orang tua itu lalu menunjuk

ke suatu arah di tengah laut, tak tampak apa-apa di sana. Tapi perlahan

muncul sebuah titik yang semakin lama semakin jelas. Sebuah

perahu. Perahu kecil dengan tiang layar yang doyong miring. Perahu

yang jelas-jelas tampak telah didera badai dan dipermainkan ombak

laut yang ganas. Pada tiangnya tampak seorang pemuda terikat.

Diam. Wajahnya yang pucat dan bibir membiru, menandakan ia

sedang dalam keadaan yang kurang baik. Pingsan.

”Kakek, apa yang harus kita lakukan?” tanya dara itu saat ia dan

kakeknya telah tiba di atas perahu yang terombang-ambing dengan

sang empunya terikat pada tiang perahu.

Sang kakek hanya menggerak-gerakkan tangannya. Dara tersebut kemudian

mengangguk mengerti. Lalu ia mengeluarkan sebuah keong

dari saku bajunya, meliuk melengkung dan berwarna hitam mengkilat.

Keong Pemanggil. Suatu alat yang digunakan dengan ditiup,

untuk memanggil bala bantuan apabila terjadi suatu peristiwa yang

membutuhkan pertolongan dari kerabat atau kawan.

Tak lama kemudian tampak sebuah titik dari arah berlawanan perahu

yang terombang-ambing tadi datang. Titik tersebut perlahan-lahan

menjadi semakin besar dan memecah menjadi tiga buah. Tiba buah

perahu yang bergerak dengan cepat atas bantuan dayung-dayung yang

berumlah empat buah, dua di masing-masing sisinya. Selain itu masih

ada dua orang di depan dan belakang yang mengerak-gerakkan tangannya

mengendalikan air di depan dan belakang perahu.

453

Orang yang didepan menggerakkan tangannya ke depan sehingga di

depan perahu mereka terbuka lubang yang cukup dalam akibat angin

pukulannya, sedangkan yang dibelakang mendorong air dengan luasan

yang lebih lebar, tidak membuat lubang akan tetapi mendorong perahu

ke muka. Gerak mereka berganti-ganti dan dibantu dengan para

pendayung yang menyibakkan air ke belakang. Paduan tenaga yang

membuat perahu mereka bergerak dengan amat cepat. Seakan-akan

seperti perahu yang memiliki ”ilmu meringankan tubuh” di atas air.

Tak lama kemudian ketiga perahu tersebut telah merapat ke perahu

yang terombang-ambing tadi. Sang pemuda yang pucat dan tak

sadarkan diri telah dibuka ikatannya oleh sang dara dan dibaringkan di

atas perahu, beralaskan gumpalan layar pada kepalanya. Perahu dara

dan sang kakek serta ketiga perahu yang baru datang melingkar mengelilingi

perahu yang tadi terombang-ambing. Semua orang tampak

mengamati pemuda yang masih saja tak sadarkan diri itu.

Orang-orang yang baru datang itu tampak menggerak-gerakkan tangannya

dengan cepat. Kakek sang dara juga membalaskan dengan

isyarat-isyarat yang tak kalah cepatnya, ingin mengatakan bahwa,

”Perahu ini harus ditarik ke pantai.”

Rekan-rekannya yang baru datang itu mengangguk-angguk setuju,

kemudian mereka melemparkan tali dan mengaitkannya pada perahu

sang pemuda yang masih pingsan itu. Mengikatnya pada empat

bagian dan kemudian ke perahu mereka masing-masing termasuk si

kakek. Setelah ikat-mengikat selesai, kelima perahu itu segera melaju

dengan cara yang sama seperti mereka datang. Di sini terlihat bahwa

sang kakek memiliki kemampuan lebih tinggi dari yang lain. Dengan

hanya sendiri ia dapat melajukan perahunya selaju ketiga perahu yang

lain. Cucunya hanya berdiam di depan perahu sambil mengamati pemuda

yang masih pingsan itu.

Perjalanan mereka akhirnya berhenti pada sebuah bentuk yang mengapung

di tengah-tengah air. Bukan pulau bukan pula perahu.

Mungkin lebih tepat dikatakan perahu, akan tetapi dengan ukuran

dan bentuk yang tidak lajim. Besar dan luas dan juga ditumbuhi oleh

tanam-tanaman. Bukan pulau karena dapat berpindah-pindah. Para

penghuninya menamakan Desa Terapung.

454 BAGIAN 8. MENARI BERSAMA AIR

Kelima perahu tersebut, empat yang menarik dan satu yang ditarik

melabuh pada satu sisi Desa Terapung. Pada sisi tersebut sengaja

dibentuk mirip pantai sehingga perahu-perahu dapat merapat dan ditarik

pada bidang yang miring, sebelum disangkutkan pada suatu kaitan

dan diikat. Segera kelimat perahu tersebut telah dilabuhkan dan

diikat dengan rapi, mencegahnya lepas dan hanyut ke lautlepas. Bagi

mereka perahu adalah suatu alat yang penting untuk hidup di tengah

laut. Daerah yang hanya terisi oleh air dan langit di atasnya.

***

Pemuda itu tampak membuka matanya. Ia merasa menggigil dan pening.

Tiba-tiba ia teringat saat-saat terakhir kesadaran masih ada di

kepalanya. Ya, di tengah laut, di atas perahu dan dihantam badai dan

hujan. Segera ia bangung dan menyadari bahwa ia sedang berbaring

di dalam sebuah kamar yang bersih dan terang. Bajunya juga telah

berganti dengan baju lain yang kering dan nyaman.

Sebelum ia dapat berpikir lebih jauh di mana ia berada, tiba-tiba

tampak sebuah pintu, satu-satunya pintu pada ruangan itu, terbuka.

Sesosok orang tampak masuk dan tersenyum padanya. Seorang gadis.

”Bagaimana keadaanmu?” tanya gadis tersebut.

”Eh.., aku..? Di mana aku? Bagaimana.. bisa..? Badai itu...,” ucap

pemuda tersebut yang masih tampak bingung dengan keadaannya itu.

Gadis tersebut berkata menenangkan, ”Jangan terburu-buru untuk

mengingat! Istirahat sajalah masih banyak waktu. Lebih penting

untuk memulihkan kesehatanmu. Ini makananmu!”

Pemuda itu mengangguk. Dan benar, ia merasakan bahwa sekujur

tubuhnya sakit-sakit dan juga tak mampu untuk bertahan lama dalam

berbicara. Terasa tanpa tenaga. Mungkin akibat demam yang dialaminya.

”Bisa makan sendiri?” tanya gadis itu setelah melihat wajah yang

pemuda yang masih pucat tersebut.

Pemuda itu mengangguk mengiyakan.

”Ini kuletakkan makananmu. Campuran bubur dan ikan. Baik untuk

455

tubuh yang masih demam dan lemah. Makanlah! Pelan-pelan saja.

Jika bisa habiskan,” ucap gadis itu sambil meletakkan makanan dan

minuman yang ia bawa.

”Apa nama tempat ini?” tanya pemuda itu setelah ia memperoleh agak

sedikit tenaga setelah beberapa suap bubur dan seteguk teh hangat

dicernanya.

”Desa Terapung,” jawab gadis itu pendek. ”Istirahatlah dulu!”

katanya kemudian setelah melihat bubur dan teh yang dihidangkannya

telah habis berpindah ke perut sang pemuda.

Pemuda itu kembali menangguk. Kali ini ia tidak lagi bertanya-tanya

dan segera merebahkan badan dan menutup matanya. Berusaha untuk

beristirahat, memulihkan tenaganya.

”Desa Terapung..,” kata-kata tersebut masih terngian-ngiang di telinga

dan kepalanya saat ia kemudian terlelap. Rupanya di dalam bubur

tersebut diberikan sejenis ramuan yang membuat pelahapnya menjadi

mengantuk. Hal ini dengan tujuan agar membuat tubuh lebih cepat

pulih dengan banyak beristirahat. Tidur.

***

Dua orang pemuda tampak berdiri berhadapan di tengah-tengah

nisan-nisan batu yang tersebar tak beraturan. Di kejauhan terdengar

deburan ombak samar-samar. Saat itu tengah hari lewat sedikit.

Bayang-bayang benda mulai kembali menampakkan dirinya.

”Jadi hanya karena itu engkau menantangku untuk berkelahi,Wassa?”

tanya pemuda pertama yang beridiri gagah dengan badan tegap dan

berotot.

Lawannya yang juga tak kalah gagahnya hanya mengangguk pendek.

”Tapi...,” ucap pemuda pertama itu lagi.

”Tak usah banyak alasan! Jika engkau takut, katakan saja, Telaga!”

ucap Wassa dengan senyum agak mengejak.

Takut, kata itulah yang membuat Telaga hampir tidak dapat berpikir

jernih. Ia tidak suka kata itu, apalagi jika kata itu dilemparkan orang

456 BAGIAN 8. MENARI BERSAMA AIR

kepada dirinya. Ia hanya melihat tidak ada alasan untuk berkelahi

dengan pemuda di hadapannya ini. Pemuda yang hanya cemburu

karena ia dekat dan tinggal serumah dengan Mayiya dan kakeknya,

Pelaut Ompong. Suatu alasan yang picik.

Sebelum Telaga sempat mengeluarkan kalimat lain, Wassa telah bergerak

dan memukulnya lurus. Kaku dan keras. Pukulan yang hanya diisikan

oleh tenaga kasar dan dilakukan oleh orang yang tidak mengerti

banyak ilmu bela diri. Suatu serangan tanpa pertahanan diri.

Dengan mudah Telaga menggeser sebuah kakinya ke belakang dan

menghindari pukulan itu. Ia belum ingin menjatuhkan pemuda lawannya

itu, walau hatinya juga sudah mulai panas akibat ejekan lawannya.

Demi melihat pukulannya dapat dielakkan degan mudah, wajahWassa

menjadi semakin merah gelap. Segera ia menarik serangannya yang

luput itu, melanjutkan dengan tendangan lurus ke arah kepala Telaga.

Kembali tendangan itu dapat dielakkan dengan tipis oleh Telaga yang

hanya memiringkan sedikit kepalanya dan membiarkan kaki tersebut

kehilangan daya dorongnya dan terhenti dengan sendirinya di udara

karena telah terentang habis. Sebenarnya Telaga dapat dengan mudah

menangkap kaki itu dan menekuk lalu membanting Wassa dengan mudah.

Berbekal jurus Berkelit Membanting Padi hasil ajaran gurunya

Arasan, ia dapat segera melihat kedudukan lemah dari posisi Wassa.

Suatu celah yang benar-benar tepat untuk dimakan oleh jurus tersebut.

Tapi kembali Telaga hanya berdiam diri. Ia masih ingin melihat

sejauh mana Wassa punya kemampuan.

Berulang-ulang Wassa menyerang dengan beringas. Serangan kasar

dan membabi-buta. Berulang kali pula Telaga dengan mudahnya

mengelak. Tidak hanya mengelak bahkan mengelak dengan tipis

dan hanya pada saat-saat terakhir. Suatu elakan yang seakan-akan

berbicara bahwa kepandaian Wassa belum ada cukup untuk dikeluarkan

baginya.

Satu waktu yang cukup untuk memasak nasi pun telah lewat. Jika

Telaga masih tampak segar dan sigap, adalah Wassa yang sudah terlihat

lelah dengan keringat bercucuran di mana-mana. Wajah, dada,

pungguh dan lehernya telah basah olehnya. Napasnya pun terlihat

mulai terengah-engah.

457

”Telaga... jangan engkau menghindar... terus...!! Ayo lawan... aku!!”

ucap Wassa yang diselilingi dengan napasnya yang bersambung dan

putus. Terengah-engah sekali tampaknya.

Telaga yang tadinya merasa agak dongkol kepada pemuda lawannya

itu menjadi merasa kasihan. Pemuda yang telah dibutakan cintanya

kepada Mayiya. Padahal ia tidak tahu apakah apakah sang gadis

membalas cintanya atau tidak.

”Wassa, kita sudahkan saja hal ini. Tak ada gunanya,” ucap Telaga

perlahan.

Walaupun mendongkol Wassa tidak dapat berkata apa-apa. Lelah sudah

pemuda itu. Tenaganya terkuras habis hanya untuk memberikan

pukulan dan tendangan kosong. Serangan-serangan yang tidak pernah

mencapai tubuh Telaga.

Ia pun terduduk lelah. Sedih. Dan termenung.

Telaga yang merasa tidak enak bahwa kedatangannya ke tempat ini

menyebabkan pemuda itu teracuni pikiran cemburu, mencoba untuk

membantu. Sudah dilupakannya perkataan Wassa yang mengatakannya

takut tadi sehingga ia terpancing emosinya untuk melayani.

”Aku sama sekali tidak tertarik pada Mayiya,” ucap Telaga sambil

duduk di samping pemuda yang sudah tempak tak bertenaga itu.

Sebersit semangat dan juga kebingungan tampak terlihat sejenak di

matanya. Lalu katanya, ”Tapi aku sering melihat engkau dan dia...”

”Aku ’kan menumpang di sana. Lucu jika orang yang menumpang di

rumah orang lain, akan tetapi tidak berinteraksi dengan yang punya.

Bukan begitu?” tanya Telaga balik.

Wassa hanya tersenyum malu. Tapi masih ada rasa penasaran dalam

hatinya. Ia kemudian lanjut berkata, ”Aku melihat bahwa Mayiya

tampak kagum pada kemampuanmu mengayunkan pedang panjang

dan juga bersilat. Aku merasa ia sudah jatuh cinta kepadamu.”

”Aku ini sudah bertunangan, Wassa. Dan aku tidak akan mencobacoba

untuk tertarik dengan gadis lain selain tunanganku,” jelas Telaga.

”Bila engkau merasa bahwa bersilat dengan pedang panjang dan

458 BAGIAN 8. MENARI BERSAMA AIR

tangan kosong bisa menarik perhatian seorang gadis, mari sini aku

ajarkan!”

”Engkau mau mengajarkan aku ilmu silat itu...? Setelah aku hampir

mati-matian ingin menghajarmu?” tanya Wassa tidak percaya akan

tawaran yang diajukan oleh Telaga.

Telaga menganggguk, lalu katanya, ”Ini semua hanya salah paham.

Dengan ini kita jadi bersahabat. Atau engkau tidak mau bersahabat

denganku, Wassa?”

”Tidak!! Tidak!!” sahut Wassa cepat, ”Sudah tentu senang sekali

bersahabat denganmu, Telaga. Seorang berilmu dan juga ramah. Aku

senang sekali!”

”Baiklah kalau begitu. Nanti malam kita bertemu lagi di sini. Aku

rasa, untuk suatu kejutan, baiknya kita latihan diam-diam. Biar nanti

Mayiya tahu setelah engkau mahir. Bagaimana?” usul Telaga.

Wassa mengangguk setuju.

”Di samping itu, aku juga tertarik dengan tempat ini,” katanya sambil

mengedarkan pandangan, melihat berkeliling pada nisan-nisan batu

yang tersebar tak beraturan itu. Tampak kuno dan beberapa sudah

terguling.

”Pemakaman kuno ini? Ada cerita menarik mengenai tempat ini.

Nanti kuceritakan,” ucap Wassa yang sudah merasa gembira bahwa ia

akan diajari ilmu beladiri oleh Telaga. Sudah lupa ia akan kekesalannya

tadi. Sudah menjadi sahabat rupanya mereka berdua.

Keduanya kemudian bersama-sama berjalan menuruni bukit kecil itu.

Menuju desa Tepi Darat Selatan. Sekarang mereka berjalan berdua

bagai seorang sahabat, tidak seperti semula yang terisi dengan rasa

curiga dan ketidaktahuan. Perkelahian yang barusan terjadi membuat

keduanya menjadi akrab satu sama lain.

Angin pun berhembus perlahan, menyisir lembut daun-daun nyiur.

Gembira akan persahabatan dua manusia yang baru saja terbentuk.

***

459

”Pernah dengan kata Fibonacci?” tanya Wassa seusai Telaga mengajarkan

beberapa gerakan beladiri dan juga latihan kuda-kuda yang

cukup melelahkan.

”Belum,” jawab Telaga singkat. Ia tertarik pada ucapan Wassa tadi

siang, saat mereka masih belum bersahabat bahwa ada cerita menarik

di balik posisi nisan-nisan yang terlihat tidak beraturan di pemakaman

kuno di atas bukit ini.

”Alkisah ada dua orang dari Tlatah Bharat (India), yaitu Gopala dan

Hemachandra, yang tidak secara sengaja menemukan suatu keteraturan.

Mereka sedang memasukkan barang-barang ke dalam kantong.

Ditemukan bahwa barang-barang yang berbeda ukurannya dapat

memenuhi kantong dengan sangat pas seperti barang-barang yang

berukuran sama,” cerita Mayayo. ”Seratus tahun kemudian para pengujar

dari tlatah lain mempelajari hal tersebut dengan lebih tekun dan

berhasil merumuskan aturannya, yang dinamakan deret Fibonacci.”

”Menarik, tapi apa hubungannya dengan makam ini? Eh, sebelummya

tunjukkan dulu bagaimana keteraturan yang engkau maksud dalam

cerita itu! Aku sama sekali belum mengerti,” ucap Telaga penuh ingin

tahu.

Wassa merasa bangga bahwa Telaga yang dikaguminya dalam ilmu

beladiri masih merasa tertarik dengan ceritanya mengenai keteraturan

pemakaman kuno ini.

”Perhatikan angka-angka berikut ini!” ucap Wassa sambil menuliskan

sederat angka-angka di atas tanah menggunakan potongan ranting

kayu.

O I I II III V VIII XIII XXI XXXIV LV LXXXIX CXLIV CCXXXIII

CCCLXXVIII DCX CMLXXXVII

”Sampai di sini saja, selebihnya aku tidak hapal,” ucap Wassa.

Telaga kemudian mengamati akan tetapi ia tidak melihat keteraturan

dari angka-angka yang baru saja dituliskan oleh Wassa. ”Masih belum

mengerti,” katanya sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

”Perhatikan bahwa suatu bilangan, setelah bilangan ketiga, adalah

hasil penjumlahan dua bilangan sebelumnya,” ucap Wassa memberi

460 BAGIAN 8. MENARI BERSAMA AIR

petunjuk.

”Iya, benar!!” ucap Telaga kemudian yang setelah menghitung-hitung,

dan benar menemukan apa yang diucapkan oleh Wassa. Benar sampai

bilangan terakhir yang dituliskan oleh Wassa, CMLXXXVII.

”Menarik!” ucapnya kemudian.

Hening sejenak. Wassa membiarkan Telaga menikmati keteraturan

dari hal baru yang baru saja dijelaskan. Lalu terdengar Telaga

bertanya, ”Dan hubungannya dengan pemakaman kuno ini?”

Tersenyum Wassa mendengar itu. Ceritanya ternyata membuat

Telaga amat tertarik. Dinginnya udara malam di bukit itu tidak

dapat menghalangi dua pemuda itu untuk berlalu dari sana. Yang

satu bersemangat untuk bercerita dan yang satu bersemangat untuk

mencari tahu apa cerita di balik pemakaman kuno itu.

Lalu Wassa menceritakan bahwa pemakaman kuno itu dibagi menjadi

delapan bagian. Tapi tidak delapan luasan yang sama besar,

melainkan delapan daerah berbentuk bujur sangkar yang sisi-sisinya

mengikuti ukuran delapan angka pertama derat Fibonacci. Batas

dari kedelapan bujursangkar tersebut ditandai dengan nisan batu yang

tinggi. Sedangkan nisan-nisan lain yang lebih kecil berada di dalam

kedelapan daerah bujursangkar tersebut.

Mengangguk-angguk Telaga mendengar penjelasan tersebut. Dibalik

ketidakteraturan yang sekilas terlihat itu, ternyata tersembunyi suatu

keteraturan yang mengagumkan.

”Di balik itu..,” ucap Wassa dengan penuh kemisteriusan, ”terdapat

rahasia ilmu beladiri tinggi, yang sayangnya tidak ada orang sampai

saat ini berhasil memecahkannya.”

”Sungguhkan? Ceritakan tentang hal itu!” pinta Telaga ingin tahu.

Rahasia, apalagi berkaitan dengan ilmu beladiri tinggi, membuatnya

benar-benar tertarik.

”Sayangnya aku juga tidak banyak tahu. Pelaut Ompong, kakek

Mayiya yang paling mengetahui di kampung ini. Coba tanyakan

kepadanya,” jawab Wassa.

Kemudian keduanya menyudahi latihan dan juga cerita mengenai pe461

makaman kuno tersebut. Keduanya akan bertemu kembali di tempat

itu untuk meneruskan latihan dalam beberapa hari ini.

***

”Mengapa engkau ingin tahu cerita mengenai pemakaman kuno di

atas bukit itu?” tanya Pelaut Ompong saat mereka sedang menikmati

sarapan pada suatu pagi.

”Saya dengar dari Wassa, bahwa ada keteraturan Fibonacci terkait

dengan pembagian pemakaman itu. Dan di balik itu malah ada rahasia

ilmu silat tinggi,” jawab Telaga jujur.

”Hahaha..! Anak muda selalu ingin tahu sesuatu yang berkaitan dengan

ilmu silat. Waktu aku seumurmu juga demikian,” berkata Pelaut

Ompong arif. ”Bahkan, sampai kami-kami saat itu menggali sana-sini

untuk mencari-cari di mana letak kitab silat tersebut dikuburkan. Jika

ada nisan-nisan yang tidak lagi tegak, itu karena pernah kami geser

dan tidak kokoh kembali dikuburkan.”

Mengangguk-angguk Telaga mendengarkan penjelasan itu.

”Jadi paman tidak menemukan kitab silat itu?” tanya Telaga kemudian.

”Kami tidak berhasil menemukannya,” jawab Pelaut Ompong. ”Hanya

lelah-lelah dan rasa dongkol yang kami peroleh saat itu.”

”Jika memang kitab itu tidak ada, mengapa bisa ada cerita mengenai

hal itu?” tanya Telaga kembali.

”Orang yang menceritakan berita itu.., hmmm..., tunggu dulu..!” ucap

Pelaut Ompong yang tampak memikirkan suatu nama yang sudah

lama tidak diingatnya itu, ”benar-benar lupa aku.”

Tampak ada sirat kecewa pada wajah Telaga mendengar hal itu. Jika

Pelaut Ompong tidak bisa menceritakan lebih jauh ketimbang cerita

Wassa, berarti tidak banyak informasi yang bisa diperolehnya. Jadi,

mungkin saja cerita mengenai ilmu silat tinggi di balik keteraturan

dalam pembagian pemakaman kuno di atas bukit itu hanyalah suatu

isapan jempol belaka.

462 BAGIAN 8. MENARI BERSAMA AIR

”Mungkin itu hanya isapan jempol, ya paman?” ucap Telaga kemudian

kepada Pelaut Ompong dengan nada putus asa.

Pelaut Ompong hanya tersenyum dan tidak menjawab lebih jauh.

Ia membiarkan sang pemuda tenggelam dahulu pada kekecewaannya

akan ketidaktahuannya akan cerita lebih lanjut mengenai pemakaman

kuno di atas bukit itu.

***

Malamnya, karena tidak ada janji untuk melatih Wassa dan juga

pemuda-pemudi di desa tersebut, Telaga beristirahat lebih cepat. Ia

tidak menemukan baik Pelaut Ompong maupun Mayiya di rumah

mereka, rumah di mana ia menumpang tinggal. Sejenak dirasakannya

suatu keanehan, akan tetapi cepat rasa itu dihapuskannya. Ia orang

baru di rumah dan juga di kampung itu. Bisa jadi ia tidak banyak tahu

kegiatan orang-orang di sana, sehingga kemungkinan mereka baik-baik

saja. Mungkin mereka melakukan hal-hal yang mereka tidak ingin bagi

tahu kepada Telaga.

Saat ia merebahkan diri di ruangan tempat ia biasa beristirahat, tibatiba

ia melihat sebuah catatan ditempelkan dengan pisau di langitlangit.

Secara reflek ia tersentak dan berdiri, melompat meloloskan

pesan tersebut dari langit-langit dengan mencabut pisaunya. Sebuah

pesan pendek tertera di atas kertas tersebut,

”Jika ingin tahu rahasia di balik pemakaman kuno di atas bukit,

datanglah ke sana tiga malam lagi saat bulan benar-benar gelap. Jangan

beritahu siapa-siapa.”

Tidak ada tanda-tangan di bawah pesan itu. Suatu pesan yang dikenal

sebagai surat kaleng. Bisa berarti suatu kabar benar bisa juga palsu.

Berdebar-debar Telaga saat setelah membaca pesan tersebut. Mungkin

ini petunjuk yang dicari-carinya. Segera ia menyembunyikan pesan

itu di balik pakaiannya dan juga pisau yang digunakan untuk menancapkan

pesan itu tadi di balok kayu langit-langit rumah itu. Segera ia

berpura-pura tidur sambil pikirannya bergerak kemana-mana, membayangkan

apa yang akan dihadapinya dan siapa yang akan ditemuinya

di sana.

463

Tak berapa lama ia mendengar Pelaut Ompong dan Mayiya pulang.

Segera ia mengatur napasnya semakin teratur dan pelan, agar terlihat

ia sudah tidur dan tidak terjadi apa-apa. Sementara itu pikiran sang

pemuda semakin liar dan berkecamuk macam-macam.

Tak berapa lama beristirahat pula Pelaut Ompong di samping sang

pemuda dan Mayiya di kamarnya.

Malampun semakin larut. Angin masih berhembus lembut di kejauhan,

membelai lembung daun-daun pohon kelapa dan juga ujungujung

rerumputan.

***

Dalam beberapa hari itu, sebelum hari yang dituliskan dalam surat

tanpa pengirim itu datang, Telaga masih bimbang apa ia harus

meninggalkan pesan atau tidak kepada Pelaut Ompong dan Mayiya,

karena masih merasa agak curiga pada pengirim pesan tersebut. Lagi

pula ia masih orang asing di desa itu. Tidak tahu ia siapa yang mengiriminya

pesan tersebut dan apa yang akan dihadapinya di sana, di

atas bukit.

Hari-hari pun berlalu dengan cepat. Dan malam ini adalam malam

di mana bulan sedang gelap-gelapnya. Saat untuk pergi ke bukit, ke

tempat di mana pemakaman kuno tersebut berada. Pergi mencari

tahu rahasia di balik pemakaman kuno tersebut, jika pesan tanpa

pengirim itu benar adanya.

***

Malam baru menjelang tiba. Setelah bersantap malam dengan Pelaut

Ompong dan Mayiya, Telaga minta diri untuk beristirahat. Kedua

orang pemilik rumah merasa agak sedikit aneh karena tidak biasanya

Telaga buru-buru minta beradu, biasanya ia malah tidur paling larut

setelah berbicara ngalor-ngidul dengan Pelaut Ompong.

”Kamu ada apa dengan Telaga?” tanya Pelaut Ompong pada cucunya,

Mayiya.

”Enggak ada apa-apa, kek. Memang kenapa?” tanya balik Mayiya.

”Itu Telaga, kok masih hari ini sudah minta diri. Tumben.” jawab

464 BAGIAN 8. MENARI BERSAMA AIR

sang kakek.

”Mungkin ia capek sedari tadi pagi melatih anak-anak muda beladiri,”

tebak Mayiya. Ia baru memperhatikan perubahan kelakuan Telaga

saat kakeknya bertanya.

”Ah, mungkin juga,” jawab kakeknya. ”Kalau begitu, kita istirahat

juga saja.”

”Iya, kek. Tapi sehabis saya bereskan ini cucian piring dan bekas

makan kita tadi,” jawab cucunya.

Kemudian Mayiya membereskan bekas-bekas makan, di mana sang

kakek tampak mengepul-kepulkan rokoknya menunggu cucunya selesai.

Setelah itu mereka berdua pergi tidur. Sang kakek di samping

Telaga dan Mayiya di kamarnya sendiri.

Hari itu bulan benar-benar pada titik terendahnya. Langit benarbenar

gelap. Dan secara kebetulan angin sedang tenang-tenangnya,

membuat malam itu gelap dan lengang.

***

Adalah seorang pemuda yang sedari tadi tidak dapat tidur. Ia menunggu

sampai dengkur orang di sebelahnya benar-benar teratur.

Tapi waktu itu tak kunjung tiba. Sang kakek yang tidur di sebelahnya

tampak masih bolak-balik mencoba terlelap, mungkin udara

malam tanpa angin membuatnya sedikit kegerahan.

Setelah hampir-hampir tertidur, Telaga mendengar bahwa dengkur

orang di sebelahnya telah teratur. Begitu pula orang lain di ruang sebelah,

Mayiya. Untuk benar-benar meyakinkan ia menunggu sebentar

untuk kemudian mengendap-endap beranjak keluar. Dengan hati-hati

ia melangkah agar jangan sampai menerbitkan bunyi yang dapat membangunkan

kedua orang dalam rumah tersebut.

Akhirnya ia berada di luar rumah. Malam tanpa bulan. Untung

saja masih ada bintang-bintang yang tidak tertutup awan yang memberikan

sinarnya untuk menerangi padangan saat itu. Setelah membiasakan

matanya pada keadaan yang gelap itu, Telaga pun beranjak

menuju suatu arah. Arah di mana suatu bukit berada, yang di atasnya

terdapat suatu pemakaman kuno.

465

Agak sulit Telaga berjalan terseok-seok akibat gelapnya malam. Hampir

ia terjatuh pada suatu parit di luar desa. Untung saja refleknya

bagus sehingga dapat segera menarik kakinya dan mencari pijakan

lain. Jika tidak, bisa memar-memar ia terhantam pinggiran parit yang

terbuat dari tanah dan batu.

Setelah berjalan beberapa saat, tahulah Telaga bahwa ia telah tersasar.

Akibat parit tadi ia jadi kehilangan konsentrasi untuk memperhatikan

arah ke mana ia harus berjalan. Dan tiba-tiba awan menutup

langit sehingga ia sama-sekali buta dalam kegelapan malam.

Berdebar-debar jantung Telaga. Ia memikirkan apa yang harusnya

ia lakukan. Menunggu awan menghilang atau menyalakan obor yang

ia bawa. Kemungkinan kedua dapat menyebabkannya terlihat oleh

orang yang berjaga. Kemungkinan pertama bisa lama datangnya, dan

ia tidak tahu apakah orang yang menantinya di pemakaman kuno di

atas bukit itu akan selalu berada di sana atau tidak.

Sebelum ia sempat menyalakan obornya, tiba-tiba terdengar suara

lirih yang hampir-hampir tidak terdengar bila tidak memiliki pendengaran

yang tajam.

”Jangan nyalakan api, ikuti arah berlawanan dengan deburan ombak.

Bukit ada di sana...”

Merinding sedikit buluk kuduk Telaga. Orang yang menantinya telah

tahu ia kesasar dan memberi petunjuk.

Hening.

Setelah rasa terkejutnya pulih, ia pun mengikuti petunjuk orang tersebut.

Perlahan mendengarkan dengan baik dari mana bunyi ombak

berdebur. Setelah yakin, ia pun mengambil arah berlawanan. Perlahan,

meraba-raba sana-sini.

Akhirnya saat ia tersandung sebuah batu setelah merambah agak

menanjak, awan pun tertiup angin sehingga bintang-bintang kembali

menampakkan sinarnya. Telaga kemudian memperhatikan batu yang

membuatnya tersandung, segera ia melihat bahwa itu adalah sebuah

batu nisan tua.

Ia sudah hampir berada di sana. Pemakaman kuno di atas bukit

466 BAGIAN 8. MENARI BERSAMA AIR

terlihat hanya beberapa tombak lagi jauhnya. Nisan yang tersandung

oleh kakinya rupanya tergeletak agak jauh dari lokasi pemakaman itu.

Beberapa langkah kemudian di tempuhnya. Sekarang ia telah berada

di sana. Di tengah-tengah pemakaman kuno, tempat yang sering ia

gunakan untuk melatih Wassa. Suasana tampak lengang. Tak ada seorang

pun kecuali dirinya. Juga tak tampak orang yang membisikanya

tadi.

Sepi. Dan Telaga pun menunggu dalam kesunyian.

Telaga telah berada cukup lama di pemakaman kuno di atas bukit

tersebut. Sunyi. Kecuali dirinya ia tidak merasa ada siapa-siapa di

sana. Sendiri.

Satu, dua, tiga kali waktu yang cukup untuk menanak nasi telah lewat,

akan tetapi tidak ada suatu pun terjadi. Sedikit gelisah ia menunggu.

Suasana yang terlalu sepi, kecuali deburan ombak di kejauhan serta

gemerisik angin membelai daun-daun nyiur ang melambai, membuatnya

sedikit tidak tenang.

Tiba-tiba ia merasakan hawa dingin yang menusuk mengembang.

Hawa dingin yang sekali dua kali pernah dirasakannya saat ia masih

menuntut ilmu pada kedua orang tuanya di Pulau Tengah Danau

di Gunung Berdanau Berpulau. Suatu hawa dingin yang umumnya

dimiliki oleh mahluk-makhluk yang memiliki Tenaga Air secara alami.

Jenis tenaga dalam seperti yang dilatihnya.

Hawa tersebut bertambah kuat semakin lama. Tak terasa tubuh

Telaga menjadi menggigil. Mau tak mau ia harus mengerahkan tenaga

dalamnya, merapalkan Tenaga Air, mengalirkan hawa hangat yang

berputar perlahan dalam tubuhnya untuk mengimbangi hawa dingin

tak wajar yang ia rasakan.

Setelah ia merasa sedikit nyaman, mulai Telaga mencoba-coba untuk

memperhatikan, lebih tepatnya merasakan apa atau siapa yang

menjadi sumber dari hawa dingin tersebut. Dengan berkonsentrasi ia

mulai ”membaca” dari arah mana datangnya hawa tak wajar itu.

Serangkum aliran hawa dirasakannya berasal dari muka, menjurus ke

sebuah pohon besar yang berdiri dengan angker di tengah kegelapan

467

malam yang hanya dihiasi oleh bintang-bintang. Dengan perlahan dan

hati-hati Telaga beranjak ke sana.

Belum belasan langkah ia melangkah, dan masih sejarah dua tombak

dari tempat yang diduganya terdapat apa atau siapa penyebab hawa

dingin tersebut, aliran hawa itu tiba-tiba hilang. Dan udara malam

kembali terasa seperti sebelumnya.

Sebelum Telaga sempat berpikir lebih jauh, tiba-tiba serangkum aliran

hawa kembali dirasakannya, kali ini dari arah kirinya. Menyambar

dengan lembut, dingin, dan perlahan-lahan semakin kuat intensitasnya.

Membuatnya kali ini menjadi lebih menggigil dari sebelumnya.

Untuk itu bahkan ia sampai perlu memejamkan mata untuk berkonsentrasi

menghalau hawa tersebut.

Akan tetapi saat ia kembali memburu arah datangnya hawa tersebut,

kembali keberadaannya menghilang dari pengamatan Telaga. Sunyi.

Udara malam kembali terasa ”hangat” seperti semula.

Tak perlu waktu lama berlalu kali ini kembali datang ”serangan” dari

arah yang berbeda. Dan kembali berlaku hal yang sama, menghilang

saat Telaga telah berhasil mengatasinya dan mencoba untuk

mencari sumber dari hawa tersebut. Berkali-kali, dan juga kembali

datang rangkuman hawa dingin dari arah yang sebelumnya telah

datang. Akhirnya Telaga menyadari bahwa seseorang atau pun sesuatu

mungkin sedang ”menguji” dirinya.

”Maaf, bila saya Telaga mengganggu ketengangan ki sanak,” ucapnya

pelan dan menghormat ke pada kegelapan di sekelilingnya, sambil tak

lupa mengedarkan pandangan ke segala arah.

Hening tak ada jawaban. Tapi tak lagi datang rangkuman hawa dingin

untuk beberapa saat.

”Bilakah ki sanak akan memunculkan diri?” ucapnya lagi, kali ini dengan

dada agak berdebar-debar, menduga-duga apa atau bagaimana

wujud dari sosok yang bisa membangkitkan hawa dingin sekuat itu

dari jarah yang tidak dapat dirasakannya.

Kembali hening.

Tiba-tiba seberkas angin menyambar perlahan dari belakangnya. Se468

BAGIAN 8. MENARI BERSAMA AIR

cara reflek Telaga berbalik, menghindar karena menyangka dirinya

diserang. Dan di depannya, di udara, mengambang sebuah kain lusuh

terlipat. Tampak di salah satu ujungnya corak-corak seperti tulisan.

Ia menggapai kain lusuh tersebut, yang segera jatuh lunglai di telapak

tangannya. Suatu demonstrasi pengendalian tenaga dalam dari jauh

yang mengagumkan. Mengirimkannya hampir tanpa suara, menahannya

bertahan di udara dan melepaskannya terjatuh dalam tangan

Telaga tanpa menyakiti pemuda itu. Pengendalian tenaga yang mengagumkan.

”Baca baik-baik pesan yang tertulis di sana. Kita akan bersua lagi

nanti..,” suatu suara lirih terdengar samar-samar, pelan, tapi jelas.

Suara yang sama, yang memberinya tadi petunjuk saat ia tersesat

dalam perjalanan menuju pemakaman kuno ini.

Setelah menunggu beberapa saat dan tidak ada apa-apa lagi, hawa

dingin yang menyerang ataupun suara lirih yang memberikan petunjuk,

Telaga pun beranjak dari sana kembali ke rumah Pelaut Ompong

dan Mayiya. Hari pun sudah mulai mendekati fajar, ia harus cepatcepat

pulang atau nanti akan memperoleh hujan pertanyaan mengenai

kepergiannya yang diam-diam ini pada malam hari. Sesuatu yang

agak sulit dijelaskkanny kepada kedua orang yang telah amat baik

menampungnya dalam rumah mereka.

***




0 Response to "Elemen Kekosongan 8"

Post a Comment

Translate

English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified