Download applikasi baca novel online untuk android disini: DOWNLOAD

Elemen Kekosongan 7

Bagian 7

Orang-orang Abadi

”Misun, coba tengok apa makam yang kita cari sudah tidak lagi

dijaga!” ucap seorang berkulit putih pucat kepada rekannya seorang

berkulit merah. Orang yang dipanggil Misun, yang berarti

”saudara muda” dalam bahasa Sioux Lakota, itu berbegas bangkit

dari duduknya. Tak lupa ia menggapai kapaknya yang tadinya ditancapkan

di dekat kakinya.

Sepeninggal Misun, seorang berkata kepada yang tadi berbicara, ”Angus,

masih berapa lama kita perlu berada di tlatah ini. Selalu hujan

dan basah. Membuatku selalu merasa kelembaban.” Yang berbicara

adalah seorang berkulit hitam legam dan berambut keriting, Dhoruba

namanya. Nama yang dalam bahasa Swahili berarti ”badai”.

Orang yang dipanggil Angus tampak sedikit berpikir sebelum menjawab.

”Entahlah, Dhoruba. Aku tidak tahu. Lebih baik engkau

tanyakan saja nona Siaw Liong.”

”Bertanya kepada si Sesat Naga Kecil? Mending aku menjadi lembab

dan basah daripada mendengar penjelasannya yang mumet

itu,” ucap Dhoruba sambil menunjukkan muka bergidik, seakan-akan

wanita yang dipanggilnya Sesat Naga Kecil benar-benar menggiriskan

hatinya.

Tak lama kemudian Misun pun kembali. Seperti biasa sikapnya, ia tak

banyak bicara. Ia hanya mengisyaratkan dengan tangan bahwa tempat

yang mereka tuju telah tidak lagi dijaga. Hal ini berarti bahwa malam

373

374 BAGIAN 7. ORANG-ORANG ABADI

ini mereka dapat menuntaskan tugas mereka dan mungkin esok hari

pergi dari tempat itu. Melanjutkan perjalanan mereka jauh ke barat.

Malam yang dinanti pun tak lama tiba. Dengan hanya diterangi oleh

bulan yang tertutup awan, ketiga orang tersebut, Angus McLeod,

Dhoruba dan Misun, berjalan perlahan menuju suatu lahan terbuka

di dalam Rimba Hijau. Di suatu tempat di mana belum lama ini tak

jauh dari sana terjadi pertempuran berdarah dan di atasnya kemudian

dibuat beberapa buah makam. Lima makam tepatnya.

Angus, sebagai seorang yang memegang pimpinan kala Shia Siaw

Liong tidak ada, dengan hati-hati berdiri di depan sebuah makam.

Berkonsentrasi dan bernapas dengan teratur. Ia mencoba merasakan

apa-apa yang mungkin bisa dirasakannya dari dalam makam tersebut.

Hal yang sama diulanginya sampai semua makam telah dicoba. Belum

ada petunjuk.

Beberapa hari sebelumnya, dengan yakin Shia Siaw Liong mengatakan

bahwa salah seorang dari yang terbunuh itu adalah salah seorang dari

mereka. Oleh karena itu mereka harus membawanya dari sana. Melatihnya

dan menjadikannya siap untuk menjadi seperti mereka. Setelelah

memberikan tugas itu, sang nona pun pergi mencari sesuatu di kota

Luar Rimba Hijau. Barang-barang yang ada hubungannya dengan

tugas kali ini.

”Sulit.. Aku belum bisa merasakannya. Mungkin kuburnya terlalu padat

sehingga ia tidak sempat terjaga,” ucap Angus seakan pada dirinya

sendiri. Tiba-tiba ada semacam getaran di udara menyerang otaknya.

Membuat kepalanya berdenyut-denyut. Hal yang sama dirasakan pula

oleh kedua rekannya.

”Ya, ini dia. Tapi terlalu sulit untuk menemukan berasal dari makam

yang mana,” ucap Dhoruba.

Misun tampak berdiri di hadapan makam nomor dua dari tengah.

Didekatkannya telinganya pada tanah. Wajahnya tampak berubah.

Lalu dengan isyarat ia memberitahukan Angus dan Dhoruba apa yang

didengarnya. Ketiganya kemudian langsung membongkar makam

tersebut.

***

375

Pemuda itu hanya ingat saat sebuah sabit tajam dan panjang mengayun

pelan dan menghujam punggungnya. Tembus sampai dada sehingga

ia bisa melihat darahnya sendiri menghiasai senjata tersebut.

Setelah itu dirasakannya dingin dan gelap. Lalu kesadarannya hilang.

Sesekali ia seperti tersadar dari mimpi tapi kembali ia dihadapkan

pada ruang yang sempit dan juga basah. Bau tanah yang lembab juga

menyengat. Ia tidak ingat bagaimana bisa berada di tempat seperti

itu. Dan juga apa hubungannya dengan pertempuran yang lalu.

Sudah matikah ia? Inikah dunia yang dikunjungi orang setelah mati?

Atau ia hanya berada di dalam kubur, akan tetapi tidak mati?

Jawaban tak kunjung datang, melainkan hanya kesadaran yang datang

dan pergi. Setiap kali kesadaran muncul, rasa sakit yang menggila pun

timbul menyertainya. Membuatnya ingin menjerit sekeras-kerasnya,

tapi bagai tak ada suara yang keluar. Hal itu berlangsung berulangulang.

Berkali-kali. Sampai akhirnya ia pun pasrah dan menjalaninya.

Pemuda itu, Gentong, kembali tersadar dan menjerit tanpa suara.

Keringat deras mengalir dan juga kejangnya otot-otot. Kesadaran

kembali datang. Sebentar lagi, ya sebentar lagi kesadaran ini akan

hilang kembali seperti sebelumnya. Seperti itu, berulang-ulang sejak

pertempuran yang lalu.

Tiba-tiba telinganya menangkap adanya suara-suara di atasnya.

Suara-suara orang menggali-gali. Suara-suara yang mendatangkan

harapan baginya. Coba digerakkan tubuhnya, tapi tidak dapat. Kain

yang ditutupkan dimukanya hanya memberikan kegelapan. Himpitan

tanah di atasnya membuat napas yang kadang-kadang datang menjadi

sesak dan mulai menghilangkan kesadarannya.

Suara-suara yang ada di atasnya membuatnya kembali terjaga. Ia

berusaha sedapat mungkin untuk bernafas dengan rendah dan tidak

sampai kehabisan napas seperti keadaan berulang-ulang sebelum kesadarannya

hilang. Lambat-laun terdengar suara-suara tersebut semakin

jelas dan keras.

Dalam bahasa yang tidak dimengertinya, terucap kata-kata yang

menyatakan bahwa pengalian sebaiknya dihentikan. Mungkin karena

sudah dekat dengan orang yang dikuburkan. Lebih baik dilakukan

376 BAGIAN 7. ORANG-ORANG ABADI

lanjut dengan tangan, agar tidak melukai orang yang dikubur itu.

Garukan-garukan tangan mulai terdengar. Perlahan tapi pasti membuat

aliran darah Gentong semakin cepat, dan ini fatal akibatnya. Ia

menjadi kembali sesak dan mulai kehilangan kesadaran. Gelap pun

kembali menjelangnya. Kesadarannya pun hilang lagi. Tak dirasakannya

saat ketiga orang yang menggali kuburnya, mengangkatnya dan

memanggulnya pergi. Sambil tak lupa seorang dari mereka kembali

merapikan kuburnya kembali, sehingga seakan-akan tidak ada apaapa

yang pernah terjadi di sana. Jejak-jejak akan segera menghilang

ditelan hujan gerimis yang perlahan-lahan turun. Hujan yang seperti

mengamini perbuatan ketiga orang tersebut.

Sesosok pasang mata tampak bersinar dalam kegelapan. Tinggi

matanya tidak sampai sedada orang dewasa walaupun makhluk itu

berdiri di balik semak-semak. Ia tidak berbuat apa-apa. Hanya memperhatikan

apa yang baru saja terjadi di makam di lapangan rumput

tersebut. Sejenak ia menunggu sampai langkah-langkah kaki ketiga

orang tersebut tidak lagi terdengar, kemudian ia pun menghilang di

balik rerimbunan.

***

Tiga orang tampak berjalan beriringan. Seorang tua dan dua orang

muda-mudi. Yang tua berbadan tegap dan berbusana kain bermotif

kasar yang berwarna sebelah kanan biru muda dan sebelah kiri hijau

muda. Kulitnya berwarna sedikit kebiruan, seperti warna urat-urat

darah orang yang kebiruan. Sedangkan sang gadis yang jelas terlihat

dari sisik biru kehijauan tubuhnya dan rambutnya yang hitam

keemasan, bahwa ia adalah seorang Undinen. Roh Air, begitu sebutan

orang-orang kepada jenis makhluk tersebut. Seorang yang terakhir,

sang pemuda, tampak biasa-biasa saja.

Ketiganya tampak berjalan perlahan dan tampak tak ada tujuan.

Sesekali mereka berhenti dan menikmati pemandangan alam yang ada

di hadapannya. Memang hari itu matahari bersinar tampak ditutupi

awan dan angin sepoi-sepoi bertiup, menciptakan hari yang indah dan

cerah.

”Paman Wananggo..,” tiba-tiba Undinen yang bernama Xyra itu

bertanya kepada orang yang tua, ”ke mana kita akan mencari buah

377

dan akar tersebut?”

Orang yang ditanya tidak langsung menjawab melainkan hanya

tersenyum-senyum saja. Geli ia melihat kekhawatiran sang gadis

kepada pemuda temannya itu. Orang lain pun sudah dapat memperkirakan

bahwa terdapat ”apa-apa” di antara kedua muda-mudi

itu.

”Nak Xyra, sabarlah! Tak akan lari waktu dikejar. Kita masih punya

waktu beberapa hari lagi, sebelum waktu bulan purnama tiba. Dan

tempat yang kita tuju itu, besok siang akan kita capai,” jawab orang

tua itu sambil kembali tersenyum. Lalu tambahnya, ”dan di sana kita

butuh kemampuanmu sebagai seorang Undinen untuk menemukan

buah dan akar dari tanaman tersebut.”

Sang Undinen pun mengangguk mengiyakan. Menyatakan tanpa suara

bahwa ia akan melakukan apa-apa yang perlu, asalkan orang yang

dikasihinya itu dapat sembuh kembali.

”Sekarang mari kita nikmati dulu indahnya hari ini. Dan juga tidak

lupa mengisi perut yang sudah berbunyi,” ucap orang tua itu lagi. Biasanya

Wananggo tidak banyak bicara, entah kenapa setelah bertemu

dengan Xyra dan Lantang, ia merasa kerasan. Ia merasa kedua orang

itu sebagai bagian dari dirinya. Sebagai keluarga. Ya,Wananggo tidak

lagi memiliki keluarga. Istri dan anaknya telah meninggal karena sakit.

Sejak saat itu ia menjadi murung dan tidak tentu hidupnya. Baru belakangan

ini ia menyadari buat apa merusak dirinya sendiri dan pada

saat itulah ia bertemu dengan Lantang dan Xyra, yang kebetulan juga

memerlukan bantuan dirinya.

Tiba-tiba terdengar samar-samar suara deburan. Suara laksaan air

yang dijatuhkan dari tempat yang tinggi. Air terjun.

”Nah itu tempat bermalam kita,” ujar orang tua itu dengan gembira.

Lalu diajaknya kedua orang itu untuk bergegas memacu langkahnya

agar cepat mencapai tempat bermalam yang dimaksud.

Setelah mendaki sebuah bukit, tampak di baliknya sebuah pemandangan

yang mengesankan. Sebuah sungai besar tampak mengalir menjauh

dari arah mereka dan kemudian menghilang di horison. Jatuh

ke bawah akibat tarikan bumi dan menimbulkan bunyi-bunyi deburan

378 BAGIAN 7. ORANG-ORANG ABADI

menggelegar. Sebuah air terjun yang megah.

”Itu namanya Air Jatuh,” jelas Wananggo. ”Dulu di sini terdapat

banyak tempat pertapaan. Tapi semenjak Perguruan Atas Angin

melebarkan kekuasaannya, para petapa tersebut disuruh pergi atau

lebih tepat dipaksa pergi. Mereka menganggap daerah ini sebagai

daerah kekuasaannya.”

”Dan kita akan menyusup ke sana?” tanya Lantang ingin tahu.

”Ya, tentu!” jawab Wananggo. ”Tumbuhan yang aku ceritakan itu

tumbuh di salah satu pulau di bawah sana. Untuk itu kita perlu

menyusup ke dalam wilayah Perguruan Atas Angin. Mau tidak mau,

demi kesembuhanmu.”

Kedua muda-mudi itu hanya mengangguk mengiyakan.

”Dan untuk itu, kita perlu tenaga dan konsentrasi. Sekarang lebih baik

kita mencari tempat yang baik untuk bermalam. Isi perut dengan baik

dan tidur,” usulnya. ”Besok pagi-pagi sekali kita mencari jalan masuk.

Semoga kita mendapat kesempatan yang baik, besok siang telah tiba

di pulau tersebut dan malamnya, saat bulan purnama, mengambil

tumbuhan tersebut pada waktu khasiat akar dan buahnya sedang pada

puncak-puncaknya.”

Kembali kedua orang muda di hadapannya mengangguk setuju dan

melakukan apa yang disarankan oleh orang tua tersebut.

***

”Bagaimana keadaannya?” tanya sebentuk suara merdu wanita.

”Masih ’mati’, nona Siaw Liong,” jawab seorang yang ada di hadapannya.

”Belum ’hidup’ dia?” tanya wanita itu kembali.

”Belum. Apa mau dipaksa?” kembali orang yang tadi menjawab, mengajukan

usul.

”Tidak, biarkan saja. Dulu juga, engkau Angus, perlu waktu dua

hari aku menungguimu sampai kau benar-benar hidup. Engkau sem379

pat mati-hidup-mati-hidup karena saat itu belum bisa menguasai

peredaran hawa yang beru engkau peroleh itu,” ucap wanita itu sambil

tersenyum.

Orang yang diingatkan akan hal tersebut hanya tersenyum saja. Ya, ia

ingat saat itu. Hawa dalam tubuhnya sangat kacau bergerak, sehingga

ia terluka dalam dan kembali ”mati”.

”Mana Dhoruba dan Misun?” tanya wanita itu kemudian setelah sunyi

sejenak di antara mereka.

”Misun seperti biasa sedang mengamati di atas pohon sana. Melihat

ke segala arah. Dhoruba sedang mencari makan malam kita,” jawab

orang yang dipanggil Angus itu.

”Kita perlu bicara malam ini. Jumlah kita sudah cukup. Perjalan pulang

bisa dilakukan..,” katanya pelan. Ia menekankan nada suaranya

pada kata-kata ”perjalanan pulang”, yang membuat Angus menjadi

sedikit berdesir.

Ya, perjalan pulang. Selama ini adalah hal itu yang mereka cari.

Dan untuk itu perlu lima orang dari mereka-yang-tak-bisa-mati untuk

melakukannya. Sulit. Umumnya salah seorang dari mereka-yang-takbisa-

mati, saling baku-hantam satu sama lain, memperebutkan kepala

lawannya, untuk memperoleh tenaga, hawa dan pengetahuan yang

telah tercukupi. Hal-hal yang sebenarnya dapat diperoleh bersamasama

apabila mereka berhasil ”pulang” ke tempat asal mereka.

”Beritahu aku bila orang baru itu telah ’hidup’,” berkata kembali sang

wanita. Lalu ia pun berlalu dari sana.

Angus hanya mengangguk tanpa menjawab. Pikirannya sedikit

melayang.

***

”Jadi..?” tanya seorang wanita pesolek yang berjalan mondar mandir

dalam ruangan itu. Kecantikannya yang aneh dan hasil bantuan pupur

dan bedak serta ilmu awet muda membuatnya sedikit aneh. Tapi pasti

tiada orang di luar ruangan itu yang berani menggugahnya. Ya, karena

ia adalah salah seorang dari pimpinan Perguruan Kapak Ganda, Cermin

Maut.

380 BAGIAN 7. ORANG-ORANG ABADI

”Baiknya kita matangkan saja rencana untuk menyerbu Air Jatuh

itu,” ucap seorang dari mereka yang tampak sedang memain-mainkan

sejenis senjata yang merupakan alat untuk menuai padi. Sejenis sabit

besar. Ia memutar-mutarkan senjata itu ke sana-ke mari. Beberapa

pelayan yang berdiri di pinggir ruangan tampak ngeri, takut-takut

kepala mereka menjadi sasaran dari sabit tersebut. Tapi tampaknya

Sabit Kematian tak ambil pusing. Kadang malah ia sengaja memutar

sabitnya satu dua jari di atas kepala beberapa orang pelayan. Sudah

satu orang yang semaput dan kencing di celana saking takutnya.

”Aku setuju..,” sahut sebuah suara lain. Seorang dari mereka. Seorang

yang tampak sedang menimang-nimang kukunya yang semakin kuning

gelap warnanya. Warna yang menunjukkan tingkat ganas racun yang

terdapat dalam kuku-kuku tangan tersebut.

”Baik jika begitu,” jawab Cermin Maut kemudian, ”kita hubungi

anak-murid dari dua kota lainnya agar mereka dapat segera bersiapsiap.”

Seorang dari murid mereka yang ikut rapat tersebut segera mengambil

sejumlah perkamen kosong untuk ditulisi. Cermin Maut sebagai pimpinan

yang mengurusi hal-hal kepemimpinan, tidak seperti dua orang

saudara seperguruannya yang malas untuk hal selain pertarungan, mulai

menuliskan pesan kepada pimpinan perguruan cabang Perguruan

Kapak Ganda yang berada di Kota Lembah Batu Langit dan Kota

Pinggiran Sungai Merah. Telah terdapat tiga perguruan besar di tiga

kota, termasuk di Kota Paparan Karang Utara. Tiga perguruan di

tiga kota yang terletak mengapit Kota Air Jatuh. Tempat perguruan

lawan mereka berada, Perguruan Atas Angin.

Segera setelah surat itu selesai dituliskan para murid yang bertugas

membawa pesan itu segera berangkat ke kota tujuannya masingmasing.

Sementara murid-murid Perguruan Kapak Ganda di Kota Paparan

Karang Utara tampak bersiap-siap untuk mengumpulkan senjata

dan perlengkapan untuk menyerang Perguruan Atas Angin di Air

Jatuh.

***

Pertempuran antara dua klan Orang-orang Dataran Tinggi di Skotlandia

kerap terjadi. Antara yang jahat dan yang baik. Antara orang381

orang petani yang hanya mempertahankan tanah pertanian mereka

dan orang-orang yang gemar melakukan ekspansi, orang-orang yang

malas untuk bercocok tanam dan lebih gemar mengucurkan darah untuk

mengisi perut mereka.

Pertempuran kali ini pun amat serunya. Klan McLeod yang menjadi

sasaran dari klan Darkyzp, suatu klan ekspansionis dan brutal. Sudah

berpuluh-puluh tahun klan Darkyzp berusaha menundukkan klan

McLeod tapi tak berhasil. Bukan hanya masalah perebutan wilayah

dan juga hasil pertanian, akan tetapi lebih cenderung pada masalah

politis. Jika saja klan Darkyzp dapat mengalahkan klan McLeod maka

semangat klan-klan lain untuk melawan akan menjadi runtuh. Klan

McLeod memang terkenal dengan semangatnya yang selalu memenangkan

pertempuran dan tidak agresionis.

Akan tetapi kali ini mungkin tidak seberuntung kali-kali lain. Dengan

mengontak orang-orang barbar liar, klan Darkyzp telah menjanjikan

orang-orang barbar atas budak-budak laki-laki dan wanita dari klan

McLeod yang dikalahkan. Suatu imbalan menggiurkan bagi bangsa

yang juga senang berperang itu. Walaupun tidak ada permusuhan

pribadi antara orang-orang barbar liar dan klan McLeod, akan tetapi

sebagai bangsa bayaran, mereka tidak pernah menampik tawaran yang

berharga. Jadilah mereka sekutu dari klan Darkyzp.

”Mereka datang!!” teriak seorang anak kecil dari atas pohon di sebuah

bukit.

Ucapan itu langsung disahut-sahutkan oleh rekan dewasanya yang

berjarak beberapa tombak dari sana dan seterusnya. Menggaunggaungkan

teriakan-teriakan ke seluruh daerah itu. Menandakan agar

semua bersiap untuk bertempur. Tua-muda, lelaki dan perempuan.

Mereka semua harus berjuang, karena jika kalah tidak ada ampung

bagi mereka.

Seorang masuk ke dalam sebuah gubuk, ”Angus, mereka datang.”

”Hmm, benar seperti informasi yang kita terima. Berapa banyak?”

tanyanya kembali.

”Tiga ratus ratus sampai lima ratus orang, setengahnya berkuda,”

jawab pembawa informasi tersebut.

382 BAGIAN 7. ORANG-ORANG ABADI

”Dan orang-orang barbar liar ada di antara mereka?” tanya Angus

kembali.

Yang ditanya hanya mengangguk saja. Cemas tampak dalam wajahnya.

”Baiklah, tidak ada hal lain yang bisa kita lakukan. Apa boleh buat,

kita harus berperang habis-habisan kali ini,” ucapnya lelah. Ya, ia

telah lelah beberapa pertempuran dalam beberapa bulan ini. Perlu

ada pemerintahan yang sah di Skotlandia, atau bangsa lain akan

masuk dan mengalahkan semua klan yang senang satu sama lain

berperang sendiri-sendiri ini.

Angus bukan pemimpin klan McLeod. Ia hanya anak dari pemimpin

yang lama. Ian McLeod, yang sedang terbaring sakit sejak pertempuran

yang lalu. Mau tidak mau Angus harus sedikit berkontribusi

akibat posisi ayahnya. Saudaranya Joseph lebih suka berperang di

garis depan ketimbang memimpin dan berpikir strategi yang sulitsulit.

”Kamu saja yang memimpin,” begitu katanya suatu saat.

Jadilah ia, Angus McLeod, pemimpin ad interim atau sementara, selama

ayahnya belum sembuh.

Dengan segera mereka yang ada di sana mengangguk dan bergegas

keluar. Mereka telah membicarakan strategi untuk berperang melawan

klan Darkyzp kali ini. Strategi hantam kromo dan bergerilya bergantiganti.

Untuk itu tempat-tempat di bawah tanah telah dibuat agar

mereka dapat sembunyi dan menyerang dengan cepat. Menjadikan

desa mereka, tempat tinggal mereka sebagai medan perang sebenarnya.

Tak ada jalan lain. Bangsa barbar liar amat tangguh dalam

pertempuran satu lawan satu dan tempat terbuka. Panah klan Darkyzp

juga amat berbahaya di lapangan. Lebih baik di desa mereka yang

dilindungi oleh batu-batu dan pohon-pohon. Di sela-selanya mereka

bisa bergerilya dan menyerang balik. Kondisi yang mirip dengan

Padang Batu-batu.

Terompet dari tanduk pun ditiupkan. Semua siaga mengambil tempatnya

masing-masing. Dari anak kecil sampai orang tua. Dari yg

sehat sampai yang cacat. Semuanya bersemangat untuk berperang

demi kebebasan mereka. Kebebasan untuk tetap hidup dan merdeka.

Ya, mereka telah mendengar bahwa lawan-lawan bangsa barbar liar

383

yang kalah akan dijadikan budak atau dijual. Dan mereka tidak

menginginkan hal itu. Tidak ingin kalah.

Pertempuran pun bergelora. Pertempuran yang tidak seimbang. Dua

kelompok besar orang-orang haus darah, klan Darkyzp dan bangsa

barbar liar, lawan klan McLeod yang walaupun memiliki semangat

dan kemampuan individu tinggi, tapi kalah dalam jumlah. Beberapa

orang klan McLeod yang berani memancing dan rela mati pertamatama,

tampak menghadang gelombang serangan kedua kelompok haus

darah tersebut. Satu persatu dari mereka mencium tanah dengan

bersimbah darah, darah mereka sendiri, setelah mengajak satu dua

orang lawan mereka menuju alam lain.

Waktu pun berjalan. Jumlah yang jatuh terus bertambah. Dengan

adanya isyarat terompet tanduk, barisan terdepan pun berlarian, masuk

ke dalam desa. Pintu gerbang pun ditutup.

”Ghrrrrrg..!!” ucap seorang pempimpin barbar liar, yang dikepalanya

mengenakan tengkorak beruang.

”Cepat, jalan biarkan mereka lari!!” ucap yang lain, yang dikedua pundaknya

mengenakan hiasan dua buah tengkorak bayi manusia, satu di

kiri dan satu di kanan.

Gelombang penyerang pun beringsut maju. Tak terpikirkan oleh

mereka adanya siasat dari klan McLeod yang menanti mereka. Dengan

bekal pendobrak batang kayu, mereka memukul-mukulkan pintu

gerbang. Memaksakannya untuk terbuka.

”Dukkkk!!!” gempuran pertama.

Orang-orang di belakang gerbang tersebut tampak menyusun-nyusun

tombak-tombak berujung tajam yang diarahkan membentuk sudut.

Sudut yang pas dengan dada kuda. Terlalu tinggi untuk dilompati

akan tetapi terlalu rendah untuk dihindari.

”Dukkkk!!” gempuran kedua bergema.

Blokade tombak-tombak telah siap dipasang. Sebagian dari klan

McLeod telah menyingkir. Hanya belasan yang tersisa untuk strategi

ini. Pandangan penuh semangat dan kerelaan untuk mati tampak

saling dilemparkan tanpa kata-kata. Kesetiaan dan penghormatan.

384 BAGIAN 7. ORANG-ORANG ABADI

”Dukkkk!!! Kraakkkk!!” gempuran ketiga datang dan merupakan

batas ketahanan dari pintu gerbang desa itu. Pintu pun terbuka

dengan lebar.

Bagai air bah kuda-kuda para penyerang mengalir masuk. Orangorang

klan McLeod yang berjaga lansung menyerang dengan tombak

dan panah untuk mengalihkan perhatian para penyerang dari blokade

tombak yang dipasang.

Akibatnya telah diduga, sebagian dari mereka langsung tersungkur

lengkap dengan kudanya dan menemui ajal bersamaan dengan berdebamnya

tubuh mereka di atas tanah. Suatu hasil yang dinantinantikan

oleh strategi ini untuk mengurangi jumlah musuh. Dua

puluhan orang berhasil ditanahkan. Cukup untuk baik untuk blokade

sekecil itu.

Di sela-sela batu dan rumah setelah masuk ke dalam desa melewati

blokade pintu gerbang, para penyerang mulai membantai siapa saja

yang ditemui. Sayangnya tidak banyak orang-orang klan McLeod

yang ada, telah banyak dari mereka bersembunyi. Menanti untuk

menyerang balik.

”Ada yang aneh,” seru seorang dari klan Darkyzp. ”Klan McLeod

tidak sesedikit orang-orang yang telah mati tadi.”

”Siapa yang tahu, mungkin sudah semua,” ucap rekannya.

”Tidak mungkin. Bila sudah semua, tidak baik untuk perjanjian dengan

mereka,” katanya sambil melirik pada orang-orang barbar liar

yang masih berkuda dan berlari kesana-kemari mencari-cari korban

untuk ditangkap atau dibunuh.

Rekannya mengangguk. Lalu ia berlalu dan memerintahkan untuk

mulai mencari dipelosok-pelosok desa. Dibalik-balik jerami dan sebagainya.

Semua dibolak-balik, tapi hasilnya nihil. Klan McLeod yang

tersisa seakan-akan hilang dari pandangan.

Beberapa orang barbar liar tampak gelisah dan marah dengan keadaan

ini. Mereka mengharapkan hasil yang banyak dalam bentuk tawanan

orang-orang McLeod yang kalah. Tapi apa yang mereka dapatkan.

Tidak ada. Semua orang menghilang di dalam desa itu.

385

Suasana yang tidak nyaman itu berlangsung cukup lama, sampai beberapa

orang dari mereka menjadi tidak sabar dan mulai melakukan

pembakaran-pembakaran. Asap pun membumbung tinggi ke angkasa.

Menghiasi hari yang cerah itu. Menorehkan kesedihan atas pembantaian

yang sedang berlangsung.

Tiba-tiba, ”Ceppp!! Cappp!!” sejumlah panah-panah menghambur

pada tubuh-tubuh sang penyerang. Panah-panah yang datang dari

arah pohon-pohon dan bukit-bukit batu di belakangnya.

”Grrrggghhh!! Di sana, di belakang desa!!” teriak seorang barbar liar.

Ia yang luput dari serangan panah, tidak seperti rekannya yang telah

hilang nyawanya, segera ia memacu kudanya. Kawan-kawannya yang

lain segera mengikuti arah perginya orang tersebut.

Di sana, di tempat yang telah dipersiapkan tampak sisa-sisa dari klan

McLeod berdiri. Di sela-sela batu-batu tampak mereka bersiaga. Tua

dan muda. Pria dan wanita.

Mereka menunggu datangnya musuh yang berlari dan berkuda. Menunggu

dengan harap-harap cemas, menunggu sampai saat-saat terakhir,

agar musuh dapat kembali dikelabui sehingga masuk perangkap.

Dan kali ini pun kembali berhasil. Musuh yang tidak menyangka

bahwa di hadapan mereka terdapat parit yang cukup lebar dan

dalam, yang ditutupi oleh kayu-kayu dan ranting. Mereka tertipu

dengan anggota klan McLeod yang berlari melewati perangkap tersebut.

Ya, orang tersebut berlari di atas tongkat-tongkat kayu yang

sengaja dibuat sehingg terlihat seolah-olah tidak terdapat perangkap

di sana.

Akibatnya terjatuhlan sekitar belasan penunggang kuda dan penyerang

yang berjalan kaki. Mati. Beberapa patah tulangnya dan lainnya

terlempari tombak dan batu dari atas parit.

Setelah parit terkuak, mudah untuk dihindari. Sisa dari penyerang

masih berjumlah cukup banyak. Dan sekarang pertempuran sebenarnya

berlangsung.

Anggota klan McLeod berlari-lari di sela-sela batu-batu dan pohon.

Menghindar dan menyerang balik. Cukup banyak jatuh korban di an386

BAGIAN 7. ORANG-ORANG ABADI

tara mereka dan juga penyerang. Darah pun mengalir deras memerahkan

tanah-tanah di sekitar tempat itu.

Matahari pun tak tahan dan turun dari puncak tertingginya hari itu.

Ia menangis melihat banyaknya darah yang tertumpah hanya akibat

ambisi sedikit orang.

Teriakan-teriakan penambah semangat masih terdengar dari kedua belah

pihak. Tapi bisa dipastikan bahwa klan McLeod tidak akan memperoleh

kemenangan. Walaupun musuh sudah separuhnya habis, tapi

mereka masih tiga kali lebih banyak dari anggota klan McLeod yang

hidup. Jumlah yang tidak seimbang, ditambah dengan masih adanya

kuda dan kekejaman mereka. Lain halnya dengan klan McLeod yang

hanya mempertahankan hidup, walaupun mereka bersemangat tinggi,

tapi lambat-laun dengan melihat semakin banyaknya keluarga mereka

yang mati, semakin lemahlah semangat mereka. Tapi ada satu hal

yang harus dihormati, bahwa mereka tidak rela ditangkap dan dijadikan

budak. Mereka berjuang sampai titik darah penghabisan.

Hari itu menjadi hari yang paling gelap dalam sejarah klan McLeod.

***

Pemuda bertubuh subur dan besar itu akhirnya membuka matanya.

Mula-mula apa yang tampak tidaklah terlalu jelas. Semua kabur dan

berkabut. Lambat laun mulai jelas. Dan ia melihat kurang lebih

beberapa orang yang sedang mengamati atau berada di sekelilingnya.

Tiga-empat orang. Orang-orang yang berbeda satu sama lain.

Hal lain yang segera menggugahnya adalah rasa aneh dalam kepalanya,

berdenyut-denyut tak beraturan. Berdenyut-denyut seakan-akan

memberitahukan ada sesuatu yang baru, sesuatu yang kontak langsung

dengan kepalanya. Perlahan-lahan ia memegangi kepalanya.

”Lihat, ia mulai merasakan ’kontak’ di antara kita,” ucap seorang yang

berkulit hitam legam dan berambut keriting.

”Hmmm,” hanya itu jawab temannya yang berkulit kemerahan di sebelahnya.

Seorang berkulit putih pucat tampak mendatanginya, memperhatikannya

dari dekat. Lalu ia mengulurkan tangannya dan membantunya

387

bangun. Jauh beberapa kaki darinya tampak seorang wanita yang

melihatnya dan tersenyum. Entah apa maksud dari senyum itu.

”Well, what is your name?” tanya orang yang tadi membantunya bangun

dalam suatu bahasa yang tidak dimengertinya.

”Apa? Apa maksudmu?” tanya pemuda itu. Ia tidak mengerti apa

yang diucapkan oleh orang yang berada di hadapannya tersebut.

”I think he speaks with a local language here. Is there someone knows

that language?” tanya orang itu kepada rekan-rekannya.

”I try with other language,” sahut seorang dari mereka. ”Kumpel,

verstehst du, was ich sage? Kannst du Deutsch sprechen?”

Kembali pemuda bertubuh subur dan besar itu menggeleng, menunjukkan

bahwa ia tidak mengerti juga apa yang diucapkan oleh orang

tersebut.

Sekarang giliran orang yang berkulit merah itu, ”Watashi wa Misun

desu. Anata wa donata desu ka?” Ia sambil berkata itu menunjuk

pada dirinya sendiri dan kemudian pada pemuda itu.

Pemuda itu hanya menggeleng-gelengkan kepalanya lagi.

Lalu mereka bertiga memandang kepada orang keempat yang tampak

sedang memperhatikan kejadian itu. Ia, sang wanita, lalu beranjak

mendekati.

”Saya, Shia Siaw Liong. Dia Dhoruba, Misun dan Angus McLeod,”

katanya sambil menunjuk pada dirinya sendiri, orang hitam berambut

keriting, orang berkulit merah dan orang berkulit pucat tadi.

”Saya Gentong,” jawab pemuda itu. Kali ini ia mengerti apa yang diucapkan

oleh wanita itu, walaupun bagi kupingnya masih kedengaran

kaku untuk seorang pembicara menggunakan bahasa dari Tlatah Tengah

ini.

Lalu dengan perlahan, gadis itu menjelaskan apa yang terjadi pada

Gentong. Perlahan agar pemuda itu tidak kaget mengenai apa yang

menantinya sekarang, setelah ia menjadi salah seorang dari merekayang-

tak-bisa-mati. Penjelasan yang tenang dan pelan, serta dibawa

388 BAGIAN 7. ORANG-ORANG ABADI

oleh suara yang merdu itu, tak urung membuat warna wajah sang

pemuda sempat berubah-ubah. Pucat, merah, lalu kembali pucat.

Dan akhirnya tampak tegan.

”Sekarang, kami biarkan dulu engkau sendiri, perlahan-lahan untuk

mencerna apa yang baru saja aku ceritakan,” ucap wanita itu. Lalu ia

memberi isyarat kepada ketiga rekannya untuk sedikit menjauh, memberikan

kesempatan kepada pemuda yang baru saja ”hidup kembali”

itu waktu untuk merenung dan berpikir.

Gentong, sang pemuda, tampak sekali ’shock’ dengan berita yang didengarnya.

Ia telah mati dan dikuburkan. Dan sekarang bangkit lagi

sebagai seorang mereka-yang-tak-bisa-mati. Suatu hal yang baru kali

ini didengarnya. Tanpa terasa ia meraba dadanya, mencari-cari lubang

tempat sabit yang digunakan Sabit Kematian keluar membawa darah

dan dagingnya setelah terlebih dahulu masuk dari punggungnya. Suatu

bacokan yang mengantarnya ke liang kubur.

***

Kesibukan-kesibukan tampak terlihat di suatu bagian dari Kota Lembah

Batu Langit, Kota Pinggiran Sungai Merah dan Kota Paparan

Karang Utara, tepatnya di bagian di mana cabang-cabang perguruan

Kapak Ganda berada. Perlengkapan dan bahan-bahan tampak

dikumpulkan di atas kereta-kereta yang ditarik oleh kuda. Bahanbahan

berupa makanan dan senjata. Perlengkapan seperti untuk

melakukan perang. Ya, perang! Memang demikian halnya. Ketiga

cabang perguruan silat tersebut, yang pusatnya berada di Kota Paparan

Karang Utara memang sedang mengadakan persiapan untuk

melakukan penyerbuan ke perguruan silat lawan mereka, Perguruan

Atas Angin. Terdapat dendam kesumat antara kedua perguruan silat

tersebut. Suatu hutang lama yang disebabkan oleh pertikaian sepele

antar keduanya.

Kali terakhir Perguruan Atas Angin telah membantai habis Perguruan

Kapak Ganda, yang saat itu baru memiliki satu cabang, yaitu di

Kota Paparan Karang Utara. Hal yang tidak diketahui oleh Perguruan

Atas Angin pada saat itu adalah kawan-kawan atau saudara perguruan

ketua yang lama baru saja datang, selepas pembantaian terjadi.

Mereka-mereka ini kemudian membangun kembali perguruan terse389

but. Membuka cabang di dua kota lainnya, mengumpulkan banyak

anak dan murid untuk membalaskan dendam rekan mereka yang dibunuh.

Rekan mereka itu bernama Naga Geni, ketua Perguruan Kapak

Ganda, yang dibunuh oleh Ki Jagad Hitam, yang saat itu adalah

ketua Perguruan Atas Angin.

Sebenarnya ketua Perguruan Atas Angin saat ini, yaitu Tapak Kelam,

sudah mendengar akan adanya desas-desus penyerbuan ke perguruan

silatnya oleh perguruan lawan, tapi seperti biasa, orang yang merasa

kuat meremehkan apa-apa yang dianggapnya tidak memiliki kekuatan

apa-apa.

Jadilah serangan Perguruan Kapak Ganda berhasil dengan baik.

Mereka mengepung Perguruan Atas Angin dari tiga penjuru. Penjuru

ke empat tidak perlu karena berbukit-bukit terjal dan tidak mungkin

dilalui. Perguruan Atas Angin bagaikan mangsa yang tersudut di

pinggir ruangan. Dari tiga arah telah datang penyerbu dan di belakangnya

terdapat tembok tinggi yang menghalanginya untuk kabur.

Tembok tinggi berupa bukit-bukit tinggi dihiasi air-air terjun. Air

Jatuh.

***

”Jadi itu kisahmu, Gentong?” tanya Shia Siaw Liong pada pemuda

subur dan besar itu, yang diiyakan dengan anggukan kepala oleh sang

pemuda.

”Baiklah jika begitu, kami akan menolongmu membalaskan dendam

guru dan saudara-saudaramu,” ucap gadis itu lagi, ”dan setelah itu

engkau membantu kami menuntaskan misi kami.”

Kembali pemuda mengangguk.

Sementara itu tiga orang yang lain tampak agak tegang. Ya, pertempuran.

Mereka bukannya anti pertempuran. Pertempuran bisa

dikatakan adalah sesuat yang telah ada dalam darah mereka. Mengalir

bersama sari-sari makanan dan udara yang dibawa darah.

Mengisi sela-sela kecil nadi dan urat dalam tubuh mereka. Menjadi

mereka-yang-tak-bisa-mati adalah suatu keadaan yang senantiasa

mendekatkan diri mereka pada pertentangan, bahkan pertempuran.

Setidaknya pertentangan terhadap orang-orang yang menganggap

390 BAGIAN 7. ORANG-ORANG ABADI

mereka ini, orang-orang yang tak bisa mati, sebagai orang-orang yang

tidak normal dan harus diajuhi. Harus disingkirkan.

Misun hanya menggumam pelan. Tandanya ia tidak keberatan. Dhoruba

hanya tersenyum kecil. Sedangkan Angus McLeod tampak

menghela napas, tapi tidak menyatakan keberatannya. Setelah melihat

ini semua kemudian Shia Siaw Lion berkata, ”Baiklah. Jika

demikian telah diputuskan. Besok, pagi-pagi sekali, kita berangkat

ke Kota Paparan Karang Utara. Kudengar-dengar di sanalah pusat

Perguruan Kapak Ganda, tempat di mana orang yang membunuh

guru dan saudara-saudara seperguruan Gentong berada.”

Setelah itu kelimanya kemudian bersiap-siap untuk beristirahat.

Misun masih mendekati Gentong, menanyakan senjata apa yang akan

digunakannnya nanti, saat menyerang Perguruan Kapak Ganda. Gentong

hanya menggelengkan kepala, menyatakan bahwa ia tidak pernah

sebelumnya menggunakan senjata. Hanya kepalan tangan dan kaki

yang biasa digunakan.

”Tidak efektif untuk menghadapi banyak anak-murid perguruan itu,

jika dengan tangan kosong. Lebih baik engkau kuajari menggunakan

kapak dan panah,” usulnya.

”Baik, terima kasih!” ucap Gentong. Ya, ia sadar. Ia kemudian

teringat pada pertempuran terakhir yang membawanya ’mati’, bahwa

dalam pertempuran, bukan pertandingan satu lawan satu, senjata

memegang peranan penting. Dapat menghemat tenaga untuk mengurangi

lawan dengan cepat.

”Dalam perjalanan ke sana, kira-kira kita butuh tiga hari, pasti engkau

sudah bisa,” kata Misun meyakinkan.

Gentong mengangguk mengiyakan.

Atas isyarat dari Shia Siaw Liong, api pun dimatikan dan mereka pun

mulai tidur, untuk besok pagi-pagi sekali bangun dan pergi ke Kota

Paparan Karang Utara.

***

”Paman Wananggo.., sudah pagi!” ucap Lantang sambil menggugahgugah

bahu seorang tua yang sedang tertidur meringkuk dengan

391

enaknya. Dengkurnya yang teratur menunjukkan betapa pulas orang

tua itu tidur.

”Eh.., ah.., apa? Sudah pagi?” jawabnya gelagapan. Tampak sebagian

’roh’-nya masih ada di alam mimpi.

”Iya, paman, lihat ke sana!” ucap Xyra sambil menunjuk ke arah

timur. Langit sudah agak mulai terang di sana. Warna kuning

keemasan dan sedikit merah agak mulai terlihat di ufuk tersebut.

”Cepat..!!” ucap orang tua itu. ”Saat-saat ini biasanya penjagaan

tidak ada. Orang-orang itu lengah pada saat-saat pagi seperti ini.”

Langsung segar orang tua itu. Bangkit dan bergeras membereskan

perlengkapan tidur mereka yang tidak seberapa. Ia lalu mengajak

muda-mudi yang menyertainya itu pergi ke suatu arah. Ke arah di

mana air menghilang di pandangan mata, jatuh menjadi air terjun.

Di pinggir sungai yang menghilang ke bawah itu Wananggo tampak

berbaring melihat-lihat, ia tidak mau sosoknya terlihat dari bawah

oleh para penjaga di sana. Matanya mncari-cari ke sana dan kemari,

tapi tak dilihatnya seorang pun.

”Aneh!!” gumamnya. Dia mengharapkan melihat satu dua orang penjaga

yang pergi meninggalkan tempatnya untuk sarapan, agar ia yakin

bahwa mereka benar-benar pergi dan tidak sembunyi.

”Tapi apa boleh buat, kita coba saja turun sekarang,” ucapnya kepada

kedua orang di belakangnya itu.

Dengan perlahan-lahan ketiganya mencari-cari pijakan di pinggir air

terjun, di antara batu-batu yang menonjol, untuk turun ke bawah.

Turun ke arah curahan air terjun itu diterima oleh sebuah danau kecil

yang di tengah-tengahnya terdapat sebuah pulau mungil.

”Hati-hati,” ucap orang tua itu kepada muda-mudi tersebut. Ia sendiri

kadang-kadang kesulitan pula memperoleh pijakan. Namun tak lama

biasanya, setelah biasa mudah mereka melanjutkan satu langkah, ke

langkah berikutnya.

”Tong!! Tong!!! Tong!!!” tiba-tiba terdengar gaung tabung logam

besar dan berat yang dipukul berulang-ulang.

392 BAGIAN 7. ORANG-ORANG ABADI

”Wah, kita ketahuan...!!” ucap orang tua itu. Segera ia menggapai

kedua muda-mudi itu untuk mengikutinya bergeser masuk ke dalam

rongga di belakan air terjun. Di sana ternyata terdapat cukup ruang

untuk berlindung. Tertutupi oleh tirai air yang mengalir turun,

membuahkan pemandangan yang aneh dan indah.

Sambil sesekali Wananggo melihat dari sudut tirai air itu, di mana ia

menyaksikan beberapa orang dari pulau di tengah danau itu muncul

dan menyeberangi pulau melalui jembatan kecil yang ada. Mereka

tampak dipanggil oleh adanya isyarat itu menuju pusat perguruan.

”Aneh?” ucap orang tua itu lagi, ”tadi kupikir kita ketahuan menyusup.

Ternyata mereka ada masalah rupanya. Hehehehe, ini malah untung

buat kita.”

Kedua anak muda itu hanya memandangnya tanpa suara.

Setelah cukup memperhatikan dan tidak lagi terlihat orang,Wananggo

pun mengisyaratkan agar mereka melanjutkan perjalanan menuruni

tebing di pinggir air terjun itu. Keluar dari ruang di belakang tirai air

dan kembali merambah ke bawah. Perlahan-lahan dan lebih tenang

karena diyakini bahwa para penjaga telah pergi semua.

Perlahan-lahan melewati berbagai jenis dinding dan lapisan tanah

yang kadang telah berlumut subur atas percikan air dari air terjun,

akhirnya sampailah mereka di bawah, di suatu ruang sempit berbatu

di kaki air terjun. Di depan mereka membentang danau kecil yang

ditengahnya terdapat sebuah pulau. Pulau yang mungil dengan sebuah

bangunan terbuat dari batu berwarna kelabu. Di sekitar bangunan

tersebut tumbuh pohon-pohon buah dan bunga berwarna-warni.

Wananggo pun memberi isyarat agar mereka mengikutinya, menyelam

dan berenang menuju pulau yang terlihat tersebut. Keduanya mengangguk

mengiyakan. Ketiganya pun kemudian telah berada di dalam

air yang jernih dan segar itu, berenang menyelam menghampiri pulau

yang menjadi tujuan mereka.

***

Api tampak mengepul di belakang kelima orang yang berjalan dengan

tenang tersebut. Di atas pintu gerbang suatu perguruan silat yang

393

baru saja mereka tinggalkan itu terpampang sebuah nama, ”Perguruan

Kapak Ganda”, yang papannya sudah miring, bekas digempur.

Di belakang mereka tampak belasan orang terkapar tanpa napas dan

denyut nadi. Mati.

Dhoruba tampak senang dengan penyerbuan itu. Senjatanya berupa

parang yang membentuk sudut tumpul, mirip bumerang, tampak

merah oleh darah. Misun seperti biasa tampak tanpa ekspresi, akan

tetapi kapaknya yang juga berwarna merah dalam genggamannya

telah bicara. Angus tampak agak menyesalkan peristiwa itu. Shia

Siaw Liong yang ternyata bersenjatan sepasang pedang, yang diletakkan

di punggungnya, tampak dingin.

Jika ada yang sedih dan bersemangat, itulah Gentong. Pemuda itu

merasa sedikit puas karena ia telah berhasil membalaskan sebagian kematian

dari guru dan saudara-saudara perguruannya dari Rimba dan

Gunung Hijau. Tapi itu belum semua. Dedengkot dari kejadian dulu

belum mendapatkan hukumannya. Ada tiga orang yang dicarinya,

Mayat Pucat, Cermin Maut dan Sabit Kematian. Ketiga orang inilah

yang memimpin penyerbuat ke tempatnya, membunuh guru dan

saudara-saudara seperguruannya.

Sayangnya mereka tidak ada di tempat. Dari informasi yang bisa

diberikan anggot perguruan silat tersebut, pada saat-saat akhir hidupnya,

bahwa ketiga guru utama mereka sedang memimpin penyerbuan

ke Perguruan Atas Angin yang terletak di kota Air jatuh. Mendengar

itu, kelima orang itu segera berangkat pergi. Menuju ke arah yang

sama untuk mencari ketiga orang guru tersebut.

”Mereka sudah pergi kemarin,” ucap Misun, ”kita tertinggal satu

hari.”

”Belum tentu,” jawah Shia Siaw Liong, ”perjalanan memang memakan

waktu satu hari, tapi bisa saja penyerbuan itu tidak berhasil, sehingga

mereka tidak langsung kembali. Menang atau kalah bisa berakibat

lain. Masih ada kemungkinan kita bisa berjumpa dengan mereka di

sana.”

”Ada berapa jalan menuju ke Kota Air Jatuh dari kota ini?” tanya

Dhoruba kemudian.

394 BAGIAN 7. ORANG-ORANG ABADI

”Tak banyak,” jawab Gentong, ”hanya dua, yang satu adalah jalan

yang juga tadi kita lewati yang berlanjut memutar dan yang lain yang

langsung menuju ke sana.”

”Mana yang terdekat?” tanya Shia Siaw Liong.

”Yang kedua,” jawab Gentong.

”Baik, kita ambil yang kedua,” jawab Shia Siaw Liong memutuskan.

”Semoga tidak berselisih jalan dengan mereka.”

Yang lain hanya mengangguk dan kemudian berbegas memacu langkah

mereka, berjalan cepat.

***

”Mari.., mari, cepat-cepat,” ucap orang tua itu kepada dua mudamudi

di belakangnya. Ketiganya bergegas berjalan mengendap-endap.

Mereka berjalan memutar melewati beberapa pohon yang tumbuh di

tepi pulau yang baru saja mereka capai melalui air itu. Baju mereka

masih basah, tapi tidak terlalu mereka perhatikan.

Bagi Xyra yang Undinen, basah tidak merupakan masalah. Ia adalah

roh air, makhluk yang memang dalam hidupnya, jika tidak di dalam

air, memanfaatkan sifat-sifat air. Dingin adalah temannya dan juga

kelembaban. Bagi kedua orang yang lain, kebiasaan mereka hidup

dalam lingkungan yang dekat dengan air membuat mereka memiliki

ketahanan lebih terhadap keadaan baju yang basah.

Berhati-hati mereka melihat ke kiri dan ke kanan, menghindari bila

ada penjaga yang mungkin ada di tempat itu. Setelah memutari bangunan

yang terbuat dari batu berwarna kelabu itu, di belakangnya terlihat

terdapat sebuah pulau lain, yang tidak terlihat dari arah mereka

tadi datang. Sebuah pulau yang lebih kecil, yang dihubungkan dengan

pulau mereka sekarang oleh sebuah jembatan kecil. Jembatan berukiran

unik berwarna hitam yang melengkung cembung di atas air danau

yang memisahkan kedua pulau itu.

”Hei, ada sebuah pula lagi di sana!” ucap Xyra heran. Ia heran karena

dari atas sana, dari air terjun yang baru mereka turuni itu, tidak terlihat

adanya pulau lain kecuali pulau tempat mereka berada sekarang.

Bagaimana ini bisa dijelaskan, di sini ternyata terdapat pulau lain.

395

”Bukan hanya satu, masih ada dua lagi,” ucap Wananggo tersenyum.

Ya, ia dulu juga begitu, takjub bahwa dari atas sana tidak terlihat jelas

berapa jumlah pulau yang ada. Setelah di bawah, baru ditemuinya

ternyata ada sampai tiga pulau lain di belakang pulau pertama yang

paling besar. Pulau-pulau yang saling dihubungkan oleh jembatan

unik cembung berwarna hitam tersebut.

”Pernah ada cerita, jauh sebelum tempat ini dikuasai oleh Perguruan

Atas Angin, bahwa tempat ini dibangun oleh seorang yang amat ahli

dalam bangunan, geometri dan ilusi. Dengan cara inilah ia membangun

pulau-pulau di air jatuh ini sehingga dari jauh terlihat seperti

satu. Setelah didekati ternyata ada dua. Semakin didekati ada tiga

dan pada akhirnya empat. Mirip dengan prinsip satu bagian ilmu yang

disebut fraktal,” jelas Wananggo.

”Fraktal?” tanya Lantang.

”Ya. Jika ada waktu, sehabis kita pergi dari sini, bisa aku bawa kalian

ke seorang pengujar yang ahli akan hal itu. Dengar-dengar ia ada

hubungannya dengan perancang pulau di tengah danau ini,” lanjutnya.

”Baik,” ucap kedua muda-mudi tersebut hampir bersamaan.

”Sekarang kita harus menyeberangi jembatan itu,” ucapnya.

Berbegas mereka menyeberangi jembatan tersebut setelah memeriksa

bahwa tiada perangkap dan juga tiada penjaga yang menghalangi.

Sekarang mereka telah ada di pulau kedua. Pulau yang ukurannya

lebih kecil dari pulau pertama, akan tetapi dengan susunan yang hampir

sama. Bangunan batu dengan warna kelabu yang sama dan pohonpohon

buah serta tumbuhan bunga warna-warni yang mengelilinginya.

”Kita kitari seperti cara yang tadi,” bisik Wananggo.

Yang diajak bicara mengangguk dan mereka pun berjalan mengitari,

melakukan hal yang sama dan tiba di bagian belakangnya. Menemukan

pemandangan yang sama dengan sebelumnya, akan tetapi dengan

skala yang lebih kecil dari sebelumnya.

”Masih ingat tempat tadi? Apa yang berbeda?” tanya Wananggo.

396 BAGIAN 7. ORANG-ORANG ABADI

Kedua muda-mudi itu terdiam, lalu Lantang menjawab, ”Sama persis,

hanya...”

”Ukurannya lebih mungil!” selak Xyra.

”Ya, benar. Lebih mungil,” tegas Lantang.

”Betul, ini diatur sedemikian rupa, sehingga orang yang tidak waspada

akan lupa dan tersesat. Padahal ada perbedaannya, yaitu ukuran yang

mengecil,” jelas Wananggo.

”Sampai berapa kali kita harus menyeberang?” tanya Xyra kemudian.

”Jumlah pulau yang sebenarnya aku tidak tahu,” jawab Wananggo,

”tapi kita butuhkan hanya empat. Maksudnya aku hanya pernah tiga

kali menyeberang sampai pulau keempat. Dan di sanalah aku temukan

pohon yang kita cari.”

”Mengapa ada hanya di pulau keempat? Bukannya bila benar teori

fraktal itu, seharusnya ada di setiap pulau?” tanya Xyra kemudian.

”Bila orang dapat merancang semua tumbuhan dan makhluk hidupnya,

ya jawabnya. Tapi orang hanya dapat merancang letak bendabenda

dan bangunan, tapi tidak makhluk hidup yang ada di sana,”

jawab Wananggo sambil tersenyum. Lalu lanjutnya, ”dan kebetulan

di pulau keempat inilah dulu kala tinggal seorang petapa yang ahli

obat-obatan. Ia memiliki kebun tanaman-tanaman berkhasiat. Yang

kita lakukan nanti adalah ’meminjam’ salah satu buah tanamannya.”

”Mencuri..,” ucap Xyra agak tak senang.

”Ya, mencuri. Jika sang petapa itu masih hidup, kita bisa minta. Tapi

ia sudah tiada dan meminta pada Perguruan Atas Angin..., lebih baik

begini,” ucap Wananggo.

”Bagiku tidak apa-apa mencuri, asal tidak bilang bukan mencuri,”

kata Xyra polos.

Lantang dan Wananggo tersenyum mendengar itu.

Akhirnya sampailah mereka di atas pulau keempat. Dan kali ini

Wananggo tidak mengajak mereka untuk memutari bangunan batu

397

berwarna kelabu itu, melainkan memutar ke arah yang berlawanan

untuk mencari pintu masuk.

***

Tapak Kelam benar-benar marah dan putus asa. Empat pilar yang diharapkannya

telah tersungkur bersimbah darah. Anak muridnya telah

habis dibunuh. Tinggal dirinya yang masih berdiri dengan sedikit

luka-luka dengan tenaga yang hampir habis. Musuh-musuh yang

datang ternyata tidak bisa dianggap remeh. Mereka telah melakukan

strategi sedemikian rupa, sehingga berhasil masuk dengan cepat dan

mengalahkan penjagaan di setiap lapisan. Benar-benar hari akhir bagi

perguruan ini.

Di hadapannya tampak tiga orang senyam-senyum. Tiga orang yang

mengerikan, karena dari gayanya ia telah tahu siapa mereka. Tiga

orang pimpinan dari Perguruan Kapak Ganda. Rekan-rekan seperguruan

Naga Geni yang dulu dibunuh oleh gurunya Ki Jagad Hitam.

”Mengecewakan sekali!! Jauh-jauh diserang, ternyata Jagad Hitam

sudah berkalang tanah,” ucap seorang perempuan dengan suara merdu

yang melengking.

”Ya, betul!! Segitu takunya sampai mati lebih dulu, hehehehe,” tambah

seorang dengan mukanya yang pucat, rambut kusut dan kukukuku

tangan panjang kuning menghitam.

”Sudah, sudah.., tidak usah kecewa. Di sini masih ada muridnya yang

bisa kita apa-apakan,” lanjut orang terakhir.

Merinding Tapak Kelam atas ucapan-ucapan mereka itu. Mungkin

mati lebih baik bagi dirinya daripada terjatuh ke tangan ketiga orang

itu. Ia tidak tahu apa rencana mereka selanjutnya terhadap dirinya.

Berpikir itu ia segera mengayunkan tangannya membentuk pukulan

untuk dihujamkan ke dalam lambungnya. Serangan bunuh diri dari

Pukulan Perusak Perut, ilmu ampuh warisan gurunya.

”Eh, nanti dulu, cah bagus. Tidak segampang itu mati..,” ucap sang

wanita lawannya yang dengan sejata cermin yang dibawanya memantulkan

sesuatu yang diikat dengan selendang sutra halus yang lemas

dan panjang, melesat melibat tangan Tapak Kelam, mencegahnya

398 BAGIAN 7. ORANG-ORANG ABADI

memuntahkan pukulan pada lambungnya untuk membunuh diri.

”Bagus, CerminMaut!!” sahut rekannya yang segera melayang mendekat

dan menotok Tapak Kelam di beberapa tempat sehingga orang itu

tak dapat lagi bergerak dan hanya berdiri kaku di hadapan ketiga

lawannya itu.

”Sudah, kalau mau bunuh, bunuh saja!!” ucap Tapak Kelam lemas.

Lebih baik mati pikirnya daripada jadi mainan ketiga orang ini.

”Hehehe, tidak semudah itu,” ucap seorang yang dipanggil Mayat Pucat

oleh rekannya. Dari tampangnya yang pucat dan kuku-kukunya

yang panjang dan kuning kehitaman, sudah dapat dikaitkan mengapa

ia menggunakan julukan itu.

”Sekarang katakan di mana kitab-kitab tersebut!” ucapnya kemudian.

”Kitab-kitab apa?” jawab Tapak Kelam bingung.

”Kitab-kitab yang ada di Air Jatuh, yang tersimpan di bawah prasasti!”

serang Sabit Kematian tak sabar.

”Sudah dibawa oleh seseorang lama sekali dulu. Ki Makam namanya,”

jawab Tapak Kelam. Lalu ia menceritakan jalannya peristiwa yang

dulu kala itu terjadi, saat Ki Jagad Hitam masih hidup dan dirinya

masih muda. Saat itu ia masih menjadi salah satu dari enam belas

orang Lingkaran Dalam.

”Tak mungkin,” jawab Cermin Maut. ”Kami sudah mengikuti petunjuk

yang ada. Bahkan sampai ke Rimba dan Gunung Hijau,” tambahnya.

”Rimba dan Gunung Hijau di timur? Ada apa di sana?” tanya Tapak

Kelam tidak mengerti.

”Begitulah petunjuk yang kami dapatkan dari prasasti yang kami

curi?” jawab Sabit Kematian.

”Curi? Jangan bercanda. Prasasti itu masih ada di sana. Di Air

Jatuh,” ucap Tapak Kelam semakin bingung.

”Itu palsu,” terkikik genit Cermin Maut. Senang ia melihat lawannya

399

itu bingung.

Ketiganya kemudian terkekeh-kekeh, senang mereka melihat ketidaktahuan

dari Tapak Kelam tentang apa yang sebenarnya terjadi. Lalu

mereka menceritakan sedikit tentang penyerbuan mereka ke timur, ke

Rimba dan Gunung Hijau. Juga tentang kitab-kitab yang sedikit ditemukan

mereka, tapi tidak banyak berarti karena hanya berisikan caracara

pengobatan dan latihan dasar kuda-kuda saja. Bidang-bidang

yang tidak menarik bagi mereka. Ilmu-ilmu tinggi dan menggiriskan,

itulah yang mereka cari.

”Kita bawa saja dia ke Air Jatuh, kita periksa sekali lagi di sana!”

ucap Sabit Kematian.

Kedua rekannya mengangguk. Lalu Mayat Pucat menyambar Tapak

Kelam dengan entengnya dan membawanya berlari cepat, menyusul

kedua rekannya yang telah pergi terlebih dahulu. Sementara itu di luaran

sana masih terdengar sisa-sisa murid-murid Perguruan Atas Angin

yang meregang nyawa. Sisa-sisa terakhir yang dicabut kehidupannya

oleh murid-murid Perguruan Kapak Ganda. Tak tersisa. Habis.

Sorak-sorai para pemenang tampak berkumandang di udara. Bergembira

layaknya seorang pemenang. Kemenangan atas tumpahnya darah

lawan. Kebuasan melebihi binatang liar. Memangsa tapi tidak untuk

dimakan, hanya untuk kepuasan akan kekuasaan.

***

”Itu di sana!” ucap Misun sambil menunjuk asap kehitaman yang

membumbung tinggi di udara. Kebakaran. Umumnya hanya kebakaran

yang dapat menyebabkan asap demikian pekat dan gelap.

Lima orang itu berbegas menuju ke suatu tempat di mana sumber

asap itu berasal. Jauh sebelumnya, di kiri-kanan jalan, telah mereka

lihat banyak sisa-sisa pertempuran. Rumah-rumah yang rusak, kereta

kuda terbalik, mayat dan lain-lain. Hal-hal yang mungkin timbul akibat

perang.

”Ya, benar. Kelihatannya sepenanak nasi lagi, sampailah kita di

sana,” ucap Gentong.

Yang lain hanya mengangguk dan lalu mempercepat langkah masing400

BAGIAN 7. ORANG-ORANG ABADI

masing. Sebagai mereka-yang-tak-bisa mati, orang-orang tersebut

perlu pula asupan tenaga dan juga istirahat. Jika tidak mereka akan

menjadi terlalu lelah dan tidak dapat berbuat apa-apa, walaupun

tidak dapat mati tentunya.

”Misun, benarkan kita itu tidak dapat mati? Bagaimanapun juga luka

kita?” tanya Gentong suatu saat. Baginya keadaan dirinya yang baru

ini masih diselimuti banyak misteri. Ia perlu mencari tahu.

Misun tidak langsung menjawab. Ia tampak berpikir apa yang sebaiknya

dijelaskan. Lalu katanya, ”sebenarnya tidak juga. Orang

dapat dipastikan mati bila leher kepada terpisah dari tubuhnya. Dan

itu yang biasanya dilakukan oleh sesama mereka-yang-tak-bisa-mati

atau immortal.”

”Memenggal kepala?” berkata Gentong sambil tak terasa memegang

lehernya, membayangkan apabila bagian tersebut dipotong oleh sebuah

senjata.

”Ya, dan itu kadang menjadi tujuan beberapa orang atau kelompok,

untuk memperoleh ilmu pengetahuan, kekuatan dan menjadi yang

terutama, the one,” ucap Misun lagi.

”The one?” tanya Gentong kembali.

”Ya, the one. Itu hanya istilah, yang dituliskan dalam suatu ramalan,

atau lebih tepatnya mirip peraturan bagi kita, kamum immortal,

bahwa pada suatu saat lewat pertarungan di antara kita, akan

tinggal satu orang. The one. Orang yang memiliki pengetahuan dari

lawan-lawan yang dibunuhnya,” jelas Misun.

”Bingung aku..,” ucap Gentong perlahan. Jelas tampak dalam wajahnya

kebingungan.

”Begini.., jika dua orang kaum immortal bertempur dan satu berhasi

dipenggal kepalanya, maka yang hidup akan menerima ’nyawa’ yang

kalah dan menjadi bagian dari dirinya, juga hal-hal yang telah dipelajarinya.

Ilmu pengetahuan, bela diri, dan lain-lain yang ada dalam

kepalanya. Beberapa orang memanfaatkan keadaan itu untuk mencari

kekuatan. Dengan semakin banyak membunuh, mereka akan semakin

kuat. Begitulah,” ucap Misun sambil menuliskan sesuatu di atas tanah

401

di depannya.

”Aku ini sudah membunuh belasan orang dari kaum kita, Dhoruba

sudah puluhan. Angus dan Shia Siaw Liong bahkan sudah ratusan.

Bukan jumlah yang banyak apabila dalam rentang dua ribu tahun,”

katanya pendek.

”Kita sudah sampai,” ucap Dhoruba yang segera mencabut golok

bumerangnya. Golok melenkung patah, mirip bumerang dangan satu

sisinya berupa pegangan dan sisi lainnya bagian yang tajam. Golok

tersebut dapat dilempar untuk memenggal kepala musuh.

Kedatangan kelima orang ini, yang sudah jelas-jelas terlihat membawa

senjata, membuat anak-murid Perguruan Kapak Ganda yang baru

saja menang perang langsung siaga. Mereka mengira bahwa kelima

orang ini adalah bala bantuan untuk Perguruan Atas Angin yang baru

saja mereka bantai.

”Capp!! Heggg!!” alangkah terkejutnya mereka, yang sebenarnya disebabkan

oleh kelengahan mereka sendiri yang jumawa sehabis menang

dalam penyerbuan ini, sehingga tidak waspada saat Dhoruba menyerang

tanpa ba-bi-bu lagi. Melompat dengan kaki-kakinya yang relatif

panjang bagi orang-orang, merentangkan tangannya yang memang

panjang dan menyabet-nyabetkan golok bumerangnya. Segera

berjatuhan beberapa orang dengan luka di bagian leher, atau leher

yang hampir putus.

”Musuh datang!!!” teriak salah seorang dari mereka, berusaha mengabari

rekan-rekan mereka yang masih ada di bagian dalam dari lingkungan

bangunan Perguruan Atas Angin.

Segera berlompatan keluar rekan-rekan mereka yang telah siaga dengan

senjata di tangan. Tapi hal tersebut tidak berarti banyak bagi

Dhoruba yang segera bergerak ke sana kemari. Membacok dan menendang

sana-sini. Mengucurkan darah pada anak murid Perguruan

Kapak Ganda, menemani musuh-musuh mereka yang telah terlebih

dahulu hilang nyawan-nyawanya.

”Hei, kenapa kalian diam saja? Ayo bantu aku!!” ucap Dhoruba sambil

terus bertempur. Bajunya yang tak begitu panjang menutupi tubuhnya,

sudah basah oleh darah lawan-lawannya. Hal ini membuatnya

402 BAGIAN 7. ORANG-ORANG ABADI

makin mengerikan. Hitam dengan baju merah berdarah, tinggi dan

kurus, dan dengan golok bumerang yang menari-nari di atas urat dan

darah lawannya.

Angus pun mulai turun ke dalam arena. Ia mencabut pedangnya.

Pedang yang cukup panjang dan berat. Khas pedang Tlatah Skotlandia.

Ia mengayunkan pedangnya sekali dua kali. Sekali tetak

tak ada lawan yang dapat menahan tenaganya. Remuk dan hancur.

Tenaga yang besar ditambah dengan bobot pedang yang berat.

Shia Siaw Liong bergerak cepat, mencabut kedua pedagnya dan

memainkannya bak kupu-kupu menari, berseliweran ke sana-ke mari

yang diikuti oleh percikan darah yang mengambang di udara. Tarian

Kupu-kupu Penjemput Maut.

Misun mengangsurkan Gentong panah dan beberapa tombak. ”Pakai

senjata lebih efektif. Lawanmu yang sebenarnya bukan keroco-keroco

ini. Simpan tenagamu,” usulnya.

Gentong menangguk mengiyakan. Ia pun menerima senjata-senjata

itu dan menggunakannya sebagaimana ia diajarkan oleh Misun.

Pertempuran itu tak berlangsung lama. Dua ratusan murid-murid

Perguruan Kapak Ganda telah malang melintang di atas tanah. Putus

napasnya. Kelima diam seribu bahasa. Masing-masing kemudian

menyimpan kembali senjatanya.

”Mana dedengkotnya? Siapa namanya? Sabit Kematian?” ucap Dhoruba

sambil matanya melihat ke sana-ke mari, melucu. Kali-kali saja

yang namanya Sabit Kematian telah tak sengaja terbunuh.

”Di sini,” ucap Misun yang tadi meghilang dan sekarang muncul lagi.

Ia menggapai rekan-rekannya untuk mengikuti.

Di dalam suatu ruang terbuka dekat dengan bagian tengah perguruan

tersebut, tampak tubuh-tubuh malang melintang.

”Lihat ini,” tunjuk Misun, ”cakaran beracun. Cocok dengan gambaran

Gentong terhadap salah satu tokoh utama mereka, Mayat Pucat.”

Di sana tergeletak pula empat orang yang dari busananya tampak

403

sedikit berbeda dengan murid-murid Perguruan Atas Angin yang lain.

Ya, mereka adalah Empat Pilar. Bawahan langsung dari Tapak Kelam,

pempimpin Perguruan Atas Angin saat itu.

”Ini mungkin murid-murid tingkat pertama,” kata Shia Siaw Liong

sambil menunjuk ke arah mayat Empat Pilar. ”Bajunya berbeda dan

juga otot-ototnya. Mungkin wakil-wakil ketua.”

”Kelihatannya ketuanya belum mati dan dedengkok dari Perguruan

Kapak Ganda pun tidak ada di sini. Di mana mereka?” celingakcelinguk

Dhoruba sambil mengayun-ayunkan golok bumerangnya yang

sudah mengering merah.

”Ini ada jejak darah yang seperti terseret,” kembali Misun kembali dari

suatu ruang di sebelah, menunjukkan jelas garis-garis yang dibentuk

oleh darah manusia yang terluka dan diseret-seret.

”Mari kita ikut,” usul Angus kemudian.

Mereka pun pergi ke bagian belakang dari bangunan Perguruan

Atas Angin yang tampak sunyi itu. Sunyi karena hampir seluruh

penghuninya telah berkalang tanah, begitupula dengan hampir seluruh

musuh yang menyerbunya.

***

”Itu, di sana pintu masuknya,” tunjuk Wananggo pada suatu rongga

pada bangunan batu berwarna kelabu itu.

Rongga itu tidak terlalu besar, sehingga orang dewasa harus agak

membungkukkan dirinya untuk memasukinya, agar tidak tarantuk

pada langit-langit rongga tersebut. Mereka kemudian satu per satu

memasuki ruangan itu, Wananggo, Lantang dan kemudian akhirnya

diikuti oleh Xyra.

Ruangan dalam, di mana ketiga orang itu berada sekarang, terlihat

cukup luas, lebih luas dari yang dibayangkan saat orang melihatnya

dari bangunan batu berwarna kelabu dari luar sana.

”Luas juga, tidak seperti yang aku pikir,” ucap Xyra.

”Benar,” berkata Lantang membenarkan.

404 BAGIAN 7. ORANG-ORANG ABADI

”Itu juga salah satu kelebihan tempat ini. Dengan permainan warna,

bentuk dan komposisi tumbuh-tumbuhan serta cahaya, perancang

tempat ini membuat atau ingin menimbulkan kesan, bahwa bangunanbangunan

di setiap pulau tidaklah besar ruangan di dalamnya, tidak

seperti keadaan sebenarnya,” jelas Wananggo kemudian. Ia mencaricari

dengan matanya sampai pada suatu tulisan di dinding.

”Mana tanaman yang dimaksud, kebunnya pun aku tidak lihat?”

tanya Xyra, karena ia hanya melihat ruangan yang hampir kosong

tersebut. Hanya beberapa rak terbuat dari batu, yang dipahat dalam

dinding, yang tampak di sana-sini. Rak-rak yang di langit-langitnya

tampak sinar kemerah-merahan, seperti dihiasi batuan atau jamur

yang dapat berpendar dalam gelap.

”Inilah kebun itu!” ucap Wananggo puas. Ia senang melihat ketidakpercayaan

pada mata kedua muda-mudi yang menyertainya itu.

”Aku tidak pernah bilang bahwa kebun tersebut adalah kebun seperti

kebun-kebun tanaman pada umumnya. Dan aku juga tidak pernah

bilang seperti apa tanamannya atau bentuk pohonnya.”

Kedua muda-mudi itu masih saja bingung dengan apa yang sedang

dibicarakan oleh Wananggo.

Melihat tanda tanya besar seolah-olah terpampang di benar mereka,

Wananggo pun mengajak mereka ke sudut ruangan itu. Ke suatu tempat

yang difungsikan sebagai meja dan kursi, walaupun kesemuanya

itu terbuat dari batu. Batu yang dipotong sedemikian rupa, sehingga

dapat digunakan sebagai meja dan kursi.

Keduanya pun menurut dan duduk berhadapan dengan Wananggo,

yang seperti diduga, akan menceritakan apa-apa yang membingunkan

mereka tadi itu.

”Pondok ini adalah milik seorang petapa yang ahli obat-obatan, sahabat

dari pemiliki tempat ini. Ia ahli segama macam tumbuhan dan

khasiat-khasiat yang terkandung di dalamnya,” jelas Wananggo.

”Paman pernah bertemu dengannya?” tanya Xyra menyela.

”Pernah, sekali waktu,” jawab Wananggo sambil berpikir sedikit,

”waktu itu aku sedang mencari obat untuk anak dan istriku yang

405

sakit. Suatu penyakit yang aneh. Saat itulah aku bertemu dengan

petapa itu.”

”Siapa nama petapa itu, paman?” tanya Lantang ingin tahu. Ya,

ingin tahu siapa orang yang kemungkinan bisa memiliki obat untuk

kesembuhannya. Menyembuhkan penyakit yang dideritanya. Suatu

penyakit yang juga tidak jelas asal-usulnya.

”Nama petapa itu sendiri aku tidak tahu. Yang kutahu ia sering

membawa-bawa sebuah buku tempat ia menuliskan obat-obatannya.

Pernah aku diberitahu judul buku tulisannya itu. Seribu Ramuan

namanya,” jawab Wananggo.

”Seribu Ramuan?” ujar Xyra.

Wananggo menangguk mengiyakan.

”Mungkin itu untuk menunjukkan betapa banyaknya ramuan obatobatan

yang tertulis dalam buku itu,” tebak Lantang.

”Mungkin,” ucap Wananggo pendek.

”Paman, tapi paman belum menceritakan mana kebun dan tanamtanaman

obat yang akan kita curi. Di sini tidak ada kebun apalagi

tanam-tanaman,” tanya Xyra, yang mengingatkan kembali orang tua

itu akan tujuannya semula mengajak muda-mudi itu ke tempat ini.

”Oh, itu!” jawabnya tersenyum. Alih-alih menjawab, ia malah mengajukan

pertanyaan, ”Xyra dan Lantang, apa sebenarnya tumbuhan dan

hewan? Maksudnya, apa bedanya mereka berdua dan apa hubungannya

dengan makhluk hidup lain seperti kita, manusia dan Undinen?”

Kedua orang tersebut, yang satu Undinen dan yang lain manusia,

tampak kaget dengan pertanyaan yang tidak diduga-duga itu. Mereka

tidak dapat langsung menjawab melainkan memikirkannya dulu.

”Tumbuhan tidak bertelur atau beranak?” tebak Lantang.

”Lalu apa yang namanya buah dan umbi? Bukan itu telur dan

anaknya, yang mirip dengan yang dimiliki hewan?” tanya Wananggo,

menanggapi jawaban tersebut.

406 BAGIAN 7. ORANG-ORANG ABADI

Lantang hanya cengengesan mendengar pertanyaan balik itu. Lalu ia

kembali terdiam. Berpikir sambil menggaruk-garuk kepalanya yang

sebenarnya tidak gatal.

”Ini paman, aku tahu,” ucap Xyra, ”tumbuhan tidak berpindah tempat.

Hewan selalu berpindah tempat.”

”Hampir benar,” jawab Wananggo. ”Tepatnya tumbuhan tidak

berpindah tempat akibat kemauannya melainkan akibat rangsangan

dari lingkugan. Lain dengan hewan dan juga kita manusia dan

Undinen, yang berpindah tempat akibat kemauan kita sendiri.”

”Masak ada sih tumbuhan yang bisa berpindah tempat, paman?”

tanya Lantang tidak percaya.

”Sebenarnya tidak terlalu tepat apabila dikatakan mereka berpindah

tempat. Lebih tepat bila dikatakan keturunannya atau bagian dari

tubuhnya, yang akan menjadi tumbuhan baru, berpindah tempat,”

jelasWananggo kemudian. Lalu ia menjelaskan bahwa ada tumbuhantumbuhan

yang memanfaatkan angin dan air untuk menyebarkan

bagian tubuhnya atau keturunannya. Ada pula yang tersebar akibat

adanya bencana alam seperti tanah longsor, banjir dan sebagainya.

Manusia dan hewan juga berperan dalam penyebaran itu, sengaja atau

tidak sengaja. Yang sengaja misalnya dengan memindahkan tanaman

dan ditanam di tempat lain, sedangkan yang tidak sengaja misalnya

adalah biji-biji yang tersangkut di sepatu, baju atau tidak hancur

dalam lambung sehingga kembali keluar saat mereka membuang hajat

besar.

”Begitulah alam ini, suatu kreasi yang mengagumkan dari Sang Pencipta,”

ujar Wananggo yang menutup jawaban dari pertanyaannya

itu.

”Paman, paman kembali membuat bingung. Menjelaskan suatu hal

tapi hal yang pertama belum jugaa terjelaskan,” ucap Xyra kembali.

”Mana tumbuhan obat untuk Lantang, yang menjadi tujuan kita semua

ke tempat ini?”

Tersenyum Wananggo melihat pertanyaan yang diajukan dengan semangat

oleh Xyra. Terlihat jelas kekuatiran dan kasih sayang Undinen

wanita tersebut kepada Lantang.

407

”Sebenarnya aku sudah menjawab secara tidak langsung hal itu,” ucap

Wananggo, ”hanya saja belum benar-benar menjelaskan apa yang kumaksud.”

Kedua anak muda itu diam, menantikan penjelasan yang akan muncul.

Lalu Wananggo pun menjelaskan, bahwa tumbuhan dan juga hewan,

tidak saja apa-apa yang diketahui oleh kedua orang muda tersebut.

Banyak hewan dan tumbuhan yang berukuran jauh lebih kecil dari

mereka. Bahkan ada yang tidak bisa dilihat oleh mata. Organisme

mikro namanya. Ukurannya sangat kecil. Mereka-mereka ini kadang

dapat membuat hewan dan tumbuhan yang lebih besar menjadi sehat

atau pun sakit.

Dengan tidak percaya kedua anak muda itu menunjukkan muka yang

semakin bingung dan tertarik.

”Dulu kala ada seorang pengujar yang bernama Lui Pastur (Louis Pasteur)

yang menemukan bahwa bahan makanan yang dipanaskan sampai

suhu tertentu, kemudian dikenal sebagai pasturisasi, dapat membuat

makanan tersebut tidak cepat membusuk dan lebih sehat untuk

dimakan. Hal ini karena renik-renik dari tumbuhan dan hewan yang

hidup dalam bahan makanan mati karena pemanasan tersebut. Inilah

yang disebut sebagai organisme mikro. Amat kecil,” jelas Wananggo.

Kedua orang yang dijelaskan hal baru itu tampak menganggukangguk.

”Itu sebabnya kita perlu memasak makanan yang kita makan, selain

lezat, juga lebih sehat,” ucap Wananggo.

”Tapi katanya, lalapan itu juga sehat, lho!” kata Lantang. Ia mendengar

hal itu dari mendiang ibu dan ayahnya.

”Benar, benar begitu. Umumnya harus dimasak adalah makanan yang

mengandung atau kemungkinan besar mengandung organisme mikro

yang berbahaya bagi tubuh, atau disebut juga bibit penyakit. Dan itu

terutama daging. Ikan laut masih baik dimakan mentah. Umbi-umbi

yang keras sebaiknya dimasaka agar mudah dicerna oleh lambung,”

jelas Wananggo.

Kedua muda-mudi yang diberi penjelasan itu kembali mengangguk408

BAGIAN 7. ORANG-ORANG ABADI

angguk.

”Tapi paman, itu semua belum menjelaskan letak kebun dan tanaman

yang dimaksud?” protes Xyra kemudian.

Wananggo tersenyum masih, lalu katanya, ”Tenang Xyra, kebingunganmu

itu juga sama dengan kebingunganku dulu, saat bertemu dengan

sang petapa penulis kitab Seribu Ramuan.” Lalu ia bangkit dari

tempat duduknya dan mengajak keduanya menuju ke rak-rak yang

terbuat dari batu, yang di dalam ceruknya terdapat langit-langit yang

langit-langitnya berpendar kemerahan. ”Ini kebun yang kumaksud!”

katanya sambil menunjukk rak-rak tersebut.

Di bawah sinar berpendar merah dari setiap langit-langit dalam ceruk

tersebut, terhampar semacam tempat yang di atasnya diberi tanah

halus berwarna coklat kehitaman dan di atasnya tumbuh tanamantanaman

kecil dan mungil, hanya setinggi beberapa jari saja. Beberapa

tampak berkilauan perak. Yang lain tampak berwarna lembut

dan buram.

”Ini kebun yang dimaksud?” tanya Lantang dan Xyra hampir bersamaan.

Baru kali ini mereka melihat kebun yang berukuran ”mini” tersebut.

”Ya!” jawab Wananggo sambil tersenyum. Senang ia melihat ketertarikan

kedua muda-mudi itu, juga keheranannya. Sama seperti

yang terjadi dulu pada dirinya saat petapa, sang penanam tumbuhtumbuhan

itu, menerangkan pada dirinya.

”Mari kita ambil dan kita gunakan untuk mengobatimu, Lantang,”

ucap Xyra seraya tangannya mengapai ke salah satu tanaman mini

tersebut.

”Hai, hati-hati!” cegah Wananggo. ”Jangan sembarangan menyentuhnya.

Ada beberapa yang amat beracun, sekali sentuh dapat seorang

manusia mati. Aku tidak tahu efeknya terhadap Undinen.”

Mendengar itu segera Xyra menarik tangannya kembali dan tidak jadi

memetik tanaman yang menarik, yang ada dihadapannya itu.

”Paman, lalu mana yang akan digunakan sebagai obat untuk mengobati

Lantang? Bukan yang tadi?” tanya Xyra kemudian.

409

”Bukan,” jawab Wananggo pendek. Tampak ia berpikir-pikir agak

keras. ”Dulu petapa tersebut pernah bilang kepadaku bahwa saat

malam bulan purnama tanaman itu akan berbunga dan tak lama,

dalam hitungan menit akan berbuah. Saat itulah ia harus dipetik

buahnya dan juga diambil akarnya. Tapi jangan sampai mati. Jika

mati, khasiatnya akan berkurang.”

”Tapi kalau kita tidak tahu tanaman yang mana...?” ucap Lantang

menambahkan.

”Nah, untuk itu kita butuh kemampuan Xyra sebagai seorang Undinen,”

jawab Wananggo sambil tersenyum. ”Dari cerita kalian, ingatkah

bila Xyra pertama kali bertemu dan tertarik kepadamu?”

Kedua orang di hadapan Wananggo mengangguk.

”Nah, tumbuhan ini juga akan mengeluarkan semacam aura yang

mirip seperti yang dikeluarkan Lantang pada saat itu, dan di antara

kita bertiga, hanya engkau Xyra yang dapat merasakannya,” ucap

Wananggo sambil memandang dara Undinen tersebut.

Xyra mengangguk, ”akan aku coba, apapun, demi kesembuhan Lantang.”

Ucapannya itu diakhiri dengan nada yang pasti. Menunjukkan

niatan yang teguh.

Lantang menjadi terharu mendengar hal itu. Tak terasa jemarinya

menggenggam erat jejari Xyra. Hal ini pun tak luput dari perhatian

Wananggo sehingga membuat wajah keduanya merona merah. Malu.

”Kita masih ada sedikit waktu. Lebih baik kita mengheningkan cipta,

meditasi, agar hawa kita murni, sehingga nanti dapat dengan mudah

melakukan pengobatan kepadamu, Lantang. Setelah, tentu saja Xyra

mencarikan tanaman yang tepat, yang hawanya mirip dengan hawa

yang engkau pancarkan,” usul Wananggo.

Keduanya mengangguk mengiyakan. Segera mereka mencari tempat

di salah satu ujung ruangan, di mana di sana tidak terdapat rakrak

berupa ceruk dalam dinding itu. Hening pun menggapai mereka

bertiga yang tenggelam dalam pengaturan napas dan pikiran.

***

410 BAGIAN 7. ORANG-ORANG ABADI

”Hehehehe, bagus juga tempat ini?” kekekeh Mayat Pucat saat mereka

berempat tiba di Air Jatuh. ”Boleh juga bila kita pindah kemari.”

Ucapannya itu dibalas oleh dengusan marah, tapi tanda daya, dari

Tapak Kelam yang sedang dibawa-bawanya. Lunglai bagaikan boneka

saja.

”Bisa nanti itu kita bicarakan,” ucap Cermin Maut. Mau tak mau

ia mengagumi hal itu pula. Belum pernah ia menemui tempat yang

indah seperti ini.

Sabit Kematian hanya diam saja. Tapi matanya tampak juga mengiyakan.

Kagum akan keindahan tempat tersebut.

”Sekarang tunjukkan di mana tempat prasasti tersebut berada,” ucap

Mayat Pucat sambil menggoyang-goyangkan Tapak Kelam yang baru

saja dipijit uratnya dan ditotok, sehingga tidak dapat berbuat apaapa.

Hanya dapat berbicara.

”Di sana, di tengah pulau. Kita harus menyeberang,” ucap Tapak

Kelam sambil menggerakan dagunya, mengoyang-goyangkan ke arah

pulau di tengah danau tersebut. Tangannya telah luluh lemas dikerjai

oleh Mayat Pucat.

”Ayo jika begitu,” ucap Cermin Maut yang segera melayang disusul

oleh kedua saudara seperguruannya.

Segera mereka berada di atas pulau pertama, di hadapan bangunan

berwarna kelabu yang terbuat dari batu. Lalu Tapak Kelam

mengisyaratkan untuk memutari bangunan itu sehingga sampailah di

belakangnya. Di tempat di mana terdapat pemandangan yang sama

dengan pemandangan di tempat sebelum mereka tiba di pulau tersebut.

”Ha? Bukannya tadi...,” ucap Sabit Kematian sedikit bingung.

Cermin Maut yang paling cerdik dari mereka segera tahu apa yang

dihadapinya. ”Benar-benar seni tata bangunan yang tinggi,” ucapnya.

Lalu ia segera memandang kepada Tapak Kelam, ”ada berapa lipat

bentuk yang sama ini?”

Tapak Kelam yang tadinya berhadap tipuan akibat kesamaan geometri

ini dapat membingungkan ketiganya sehingga ia dapat mencari-cari

411

kesempatan untuk melarikan diri, tampak lemas. Dengan lunglai ia

berkata, ”kira-kira sepuluh. Aku hanya pernah sepuluh kali lewat dan

tidak melihat belakang dari yang kesepuluh itu.”

Mengangguk-angguk Cermin Maut mendengar hal itu. Keunikan ini

menambah rasa sayangnya untuk memiliki tempat ini.

”Dan di pulau keberapa prasasti itu berada?” tanyanya kemudian.

”Kelima,” jawab Tapak Kelam pendek.

”Kalau begitu mari kita segera pergi!” ucap Sabit Kematian yang

segera berlari cepat menyeberang jembatan melengkung cembung

berwarna hitam yang ada di hadapan mereka itu. Yang lain segera

menyusulnya. Begitulah mereka berlari cepat, sampai akhirnya tiba di

pulau kelima. Tak sadar mereka saat melewati pulau keempat bahwa

ada tiga orang dalam bangunan di tengah pulau itu.

***

”Tempat yang menarik,” ucap Shia Siaw Liong saat mereka berlima

tiba di Air Jatuh. Di pinggir danau, di mana di hadapan mereka

terdapat sebuah pulau yang dihubungkan dengan sebuah jembatan

melengkung cembung berwarna hitam.

”Menyeberang kita?” tanya Gentong karena ia tidak melihat alternatif

tempat lain yang mungkin menjadi tujuan mereka.

”Ya, ini sedikit tetetasan darah yang tadi,” jawab Misun sambil

mencium-cium darah tersebut. Setelah ia bertarung dengan seorang

Manusia Serigala yang juga seorang dari mereka-yang-tak-bisa-mati

dan berhasil memenggal kepalanya, ia mendapatkan kemampuan untuk

membaui seperti halnya serigala. Kemampuan yang dulunya

dimiliki oleh lawannya tersebut.

”Jika demikian, mari kita menyeberang,” ucap Dhoruba yang segera

meloncat dengan kaki-kakinya yang jenjang, mendahului keempat

orang rekannya, menyeberang ke arah pulau menggunakan jembatan

hitam melengkung cembung tersebut.

Sesampainya di seberang segera Misun mulai lagi mencari-cari jejak

dan tanda-tanda orang-orang yang baru lewat. Setelah menemukan412

BAGIAN 7. ORANG-ORANG ABADI

nya ia segera menggapai teman-temannya untuk mengikuti. Begitulah

mereka terus berpindah dari satu pulau ke pulau lain sampai ke pulau

yang keempat.

”Aneh.., di sini ada dua jejak menuju arah yang berlawanan. Jejak

yang dari tadi kita telusuri dan yang baru,” ucapnya sambil

berjongkok mengamati percabangan dari jejak-jejak yang ada di hadapannya.

”Kita ikuti saja yang pertama, itu yang sedari dari ruang perguruan

kita ikuti,” usul Shia Siaw Liong.

”Baik jika begitu,” lalu ia berdiri dan segera mengikuti rangkaian

jejak-jejak pertama tadi. Rangkaian jejak-jejak yang membawa

mereka menuju pulau berikutnya. Pulau kelima.

***

Malam pun menjelang tiba. Hampir tanpa awan dan diterangi oleh

rembulan, yang hari itu membulat sempurna, menyajikan malam yang

tidak segelap biasanya.

”Mari kita mulai,” ucap Wananggo hampir berbisik, menggugah Xyra

dan Lantang dari duduk semadi mereka. ”Sudah hampir tengah

malam saat ini. Sekarang adalah waktu yang paling tepat untuk

merasakan energi dari tumbuhan yang akan digunakan untuk menyembuhkan

Lantang.”

Kedua muda-mudi itu pun mengangguk dan meninggalkan posisi

duduk mereka, yang tadi dalam postur Duduk Teratai, dengan lima

titik menghadap ke langit. Kedua telapak tangan dan kaki, ditambah

dengan ubun-ubun kepala.

”Sekarang aku dan Lantang akan berdiri dekat pintu masuk, karena

itu adalah posisi yang paling jauh dari rak-rak dalam ceruk batu itu.

Kami harus agak jauh agar tidak hawa kami mengganggu konsentrasimu,”

jelas Wananggo pada Xyra dan juga Lantang.

”Selanjutnya, bayangkan engkau hendak mencari Lantang. Rasakan

hawa yang dikeluarkannya. Telusuri isyarat yang ada, yang datang

kecuali dari arah pintu masuk. Mau tak mau engkau pasti akan

merasakan hawa dari Lantang. Upayakan untuk mencari hawa

413

lain yang mirip di antara tumbuhan-tumbuhan mini tersebut,” kata

Wananggo kemudian menambahkan.

Xyra, sang Undinen, mengangguk mengiyakan petunjuk itu dan mulai

berkonsentrasi dengan menutup matanya dan mulai hening.

Dalam ruangan yang sudah tentu lebih gelap dari keadaan di luar,

di mana hanya seberkas sinar rembulan menerobos masuk dan miring

menerangi lantai seluas dua tiga telapak tangan. Putih cemerlang.

Sisa dalam ruangan itu boleh dikatakan hampir gelap. Hanya pendar

kemerahan tampak dari langit-langit rak-rak dalam ceruk batu yang

berjajar di sisi lain dari sisi tempat pintu masuk berada.

Perlawan-lahan mulai tampak kabut tipis dari kepala Xyra. Kabut

yang bersinar kebiruan dalam gelap. Mirip kilauan kunang-kunang,

halus dan bersambung-sambung. Bergerak liar ke sana-kemari seperti

cabang-cabang percikan api yang kemudian berubah menjadi tenang

dan mulai membentuk seperti suatu lidah masih berwarna biru

temaram dan bependar. Jika suasana terang, mungkin kabut tersebut

tidak akan jelas terlihat seperti saat ini dalam ruang yang gelap.

Perlahan-lahan lidah cahaya bependar itu bergerak-gerak memanjang

dan memendek, terlihat seperti mencari-cari seuatu. Lalu ia menipis

dan bergerak menuju ke arah pintu keluar. Tepatnya menuju ke arah

di mana Lantang berada.

”Arahkan ke tempat lain, jangan ke sini,” bisik Wananggo perlahan.

Ia lihat bahwa Xyra telah berhasil membangkitkan indera pencarinya,

untuk mencari hawa dari Lantang, dengan membayangkan pemuda

itu. ”Bayangkan Lantang ada di sisi lain ruangan ini,” ucapWananggo

memberi petunjuk lebih lanjut.

Lidah cahaya itu berhenti memanjang, memutar dan mencari-cari

dalam arah yang berlawanan. Ia bergerak perlahan, kembali memanjang

dan seperti mencium-cium pada setiap isi dari rak-rak dalam

ceruk-ceruk batu. Ceruk di mana langit-langitnya masih berpendar

kemerahan. Pendaran yang bercampur dengan pendaran lidah cahaya

Xyra, menghasilkan nuansa warna yang indah dan mempesona

dalam kegelapan ruangan itu.

Dari satu rak batu lidah cahaya itu perpindah, kadang ke rak yang

414 BAGIAN 7. ORANG-ORANG ABADI

sebelah atas, kadang ke rak yang sebelah bawah. Berpindah perlahan

seperti memindai satu per satu, sampai akhirnya tiba pada suatu rak

yang berada cukup tinggi. Ketinggian yang mendekati langit-langit

ruangan itu.

Di sana lidah cahaya itu tampak berhenti. Diam seperti mematung.

Cahayanya bertambah terang dan cemerlang, yang kemudian disusul

oleh lidah atau kabut cahaya lembut, juga berwarna biru tembus pandang,

yang perlahan merebak dari rak dihadapan nya. Kedua lidah cahaya

tersebut bergumul, melingkar, saling merengkuh. Menampilkan

nuansa indah pancaran foton-foton dinamik, yang lalu tiba-tiba hilang,

melebur dalam kegelapan semula ruangan itu.

”Hehhhh!” tampak Xyra menarik napas panjang. Peluh tampak berjatuhan

dari pelipis dahinya. Tampak banyak energi telah dikeluarkannya

untuk menentukan tumbuhan obat yang tepat untuk Lantang.

Kesemuanya itu disaksikan dengan hampir menahan napas oleh Lantang

danWananggo. Keduanya segera menandai dekat mana peristiwa

itu terjadi. Rak tersebutlah yang mereka cari.

”Atuh napasmu perlahan, kembalikan peredaran hawa dalammu,”

ucap Wananggo perlahan. Ia mengisyaratkan agar Lantang tidak

menyentuh Xyra, agar hawa yang kacau tidak menular pada pemuda

itu.

Setelah beberapa saat hening, Xyra pun membuka matanya. Tampak

ada sedikit perbedaan dalam sorot matanya. Lebih bercahaya

dan kemilau. Mungkin akibat kontak dengan hawa tumbuhan obat

tersebut tadi.

”Bagaimana keadaanmu sekarang,” tanya Wananggo.

”Baik..., sudah baik kembali,” jawab Xyra pendek. Masih terasa pautan

hawa yang tadi dialaminya. Suatu perasaan nyaman luar biasa.

Suatu perasaan nyaman yang dirasakannya dengan membayangkan

sedang bersama Lantang. Pemuda yang dikasihinya.

”Apakah itu tadi?” tanya Lantang yang terlihat kuatir dengan keadaan

sang Undinen.

415

”Pautan hawa, suatu hubungan hawa antara dua entitas,” jelas

Wananggo. ”kecocokan dua buah hawa akan membawa pada peningkatan

energi dari kedua entitas yang berinteraksi. Itu pula yang

aku harapkan, yang dapat membantu menyembuhkanmu.”

”Sayang engkau belum dapat menggunakan Tenaga Air yang engkau

latih dan simpan selama ini,” ucap Wananggo, ”jika tidak. Kita tidak

perlu melakukan pengobatan dengan meminumkan ramuan dari tumbuhan

tersebut pada dirimu, melainkan cukup dengan kontak hawa

seperti yang dilakukan oleh Xyra tadi.”

Lalu Wananggo mencari dudukan untuk dinaiki, membantunya melihat

dan mengambil tumbuhan yang tadi telah ditemukan oleh Xyra

melalui kontak hawa. Saat di atas dekat dengan rak yang hampir

menyentuh langit-langit ruangan itu, Wananggo melihat bahwa di

samping tumbuhan-tumbuhan mini tersebut tergeletak juga sebuah

kitab kecil. Entah apa. Dengan reflek diambilnya kitab itu dan juga

beberapa jumput dari tumbuhan yang ada. Tidak semuanya. Ia ingin

masih menyisakan beberapa agar dapat tumbuh kembali. Untuk

orang lain, jika suatu saat ada yang membutuhkannya.

”Ini simpan beberapa pucuk dalam kantongmu dan juga kitab ini,”

ucapnya kemudian. Ia mengambil dua pucuk kecil yang akan diolahnya

untuk diberikan kepada lantang. Ia bergegas menuju meja

terbuat dari batu yang ada dalam ruangan itu. Dibukanya suatu

kertas berisi bubuk keabuan. Dicampurkannya tumbuhan tadi dan

dilumatkan pelan-pelan dengan ujung jarinya.

Lantang yang tidak mengerti segera menyimpan pucuk-pucuk tumbuhan

mini yang diberikan, berikut kitabnya tersebut. Ia masih ingin

bertanya mengenai kitab apa itu, tapi mimik serius dari Wananggo

menandakan ia tidak ingin diganggu dulu.

***

”Di sana, di dalam bangunan itu..,” ujar Tapak Kelam sambil menunjuk

ke suatu bangunan berwarna kelabu yang terbuat dari batu.

Berbegas Sabit Kematian, Mayat Pucat dan Cermin Maut memasuki

tempat tersebut. Tak lupa Mayat Pucat masih ”menenteng” Tapak

Kelam yang belum dilepaskannya dari totokannya.

416 BAGIAN 7. ORANG-ORANG ABADI

Selepas mereka tiba dalam ruangan dalam bangunan tersebut, berdiri

di hadapan mereke prasasti yang dicari-cari. Prasasti sebesar kerbau

bunting, yang di atasnya menggambarkan keadaan kota atau

desa pada saat itu, bagaimana perbedaannya sebelum dan sesudah

ilmu-ilmu dari Petapa Seberang diamalkan. Seseorang mungkin dapat

menafsirkan bahwa isi sebenarnya dari prasasti itu adalah untuk

mengejek keberadaan Perguruan Atas Angin yang meruntuhkan

Perguruan Embun dan Angin sebagai pewaris ilmu-ilmu Petapa Seberang

serta memporak-porandakan tatanan yang telah dibentuk.

Sayangnya, Ki Jagad hitam, pemimpin Perguruan Atas Angin pada

saat itu, tidak tahu sejarah prasasti itu tetap membiarkan prasasti

tersebut berada di sana.

Tak jauh dari sana terdapat prasasti lain yang menggambarkan tengan

Ki Jagad Hitam sendiri dan enam belas murid utamanya, Lingkaran

Dalam.

Demi melihat prasasti kedua, bertanya Cermin Maut dengan nada

menyindir kepada Tapak Kelam, ”Mana prasasti saat engkau menjabat

jadi ketua?”

Tapak Kelam tidak menjawab. Ia hanya tersenyum getir saja. Ya,

ia tidak mendapatkan waktu cukup lama untuk membuat suatu

prasasti agar namanya dapat dikenang sebagai salah satu yang pernah

memimpin perguruan ini. Perguruan yang hari ini hancur oleh ketiga

orang yang berdiri di hadapannya itu.

Tanpa banyak berbicara, Mayat Pucat setelah terlebih dahulu meletakkan

Tapak Kelam di suatu sudut ruangan, mulai mengamat-amati

prasasti pertama. Prasasti Ki Jagad Hitam dan Lingkaran Dalam

tidak menarik hatinya. Ia hanya tertarik pada prasasti warisan Petapa

Seberang, walaupun ia tahu prasasti tersebut adalah palsu.

Dicobanya untuk menggeser-geser prasast tersebut. ”Rrrrrrrgggghhh!”

dengan suara berat bergumam, prasasti sebesar kerbau bunting itu

tergeser dengan mudah. Hal ini menandakan betapa besarnya tenaga

yang dapat dikeluarkan oleh Mayat Pucat.

Sebuah lubang sedalam dengkul tanpak menganga di atas lantai yang

terbuat dari batu. Di dalam lubang tersebut tidak terdapat apa-apa

kecuali empat buah liang yang juga kosong yang terpahat pada keem417

pat sisinya.

”Kosong, guru Jagad Hitam dulu sudah menemukan tempat itu, dan

tidak ada apa-apa di sana,” ucap Tapak Kelam. Entah bagaimana ia

merasa sedikit puas karena ketiga orang musuhnya itu tidak memperoleh

apa-apa.

”Belum tentu,” ucap Mayat Pucat yang masih memperhatikan lubang

tersebut. Mengetuk-ketuk di sana sini dan juga di dasar lubang.

Bunyi agak memendam terdengar yang lain dengan ketukan pada permukaan

batu di sekelilingnya.

”Kita coba saja, siapa tahu tipuan mirip yang digunakan Murid Rahasia

digunakan pula di sini,” ucap Cermin Maut yang telah berada

di sisi Mayat Pucat, yang juga memperhatikan dasar lubang tersebut.

”Biar sabitku yang bekerja,” kata Sabit Kematian sambil mengayunkan

sabit panjangnya, untuk mencongkel lapisan di bawah

lubang tersebut.

”Hati-hati, kakak Sabit Kematian,” ucap CerminMaut memperingatkan,

”kita tentu tidak ingin bila ada sesuatu di sana, rusak oleh sabitmu

itu.”

”Huh!! Jangan kuatir, sabit ini bisa kukendalikan sehalus rambut atau

sekeras batu karang,” ujarnya menanggapi ucapan adik seperguruannya

tersebut.

Lalu dengan cara yang mengagumkan Sabit Kematian pun memainkan

sabitnya itu. Mencongkel perlahan, bergaris-garis, sampai tercoak

lapisan di bawah lubang itu sedalam satu kuku. Rata dan berbentuk

kotak.

”Hati-hati, mungkin tidak lama lagi!” ucap Mayat Pucat yang melihat

bahwa lapisan yang dicungkil tersebut tida terbuat dari bahan yang

sama dengan lantai batu di sekelilingnya. Mungkin mereka mendapat

kesempatan untuk mendapatkan sesuatu di sana.

Ketiga orang tersebut sedemikian berkonsentrasi sehingga tidak menyadari

bahwa Tapak Kelam telah dapat membebaskan dirinya dari totokan

Mayat Pucat. Dengan mengatur nafas dan mengalirkan hawa pada

418 BAGIAN 7. ORANG-ORANG ABADI

jalan darah-jalan darah yang macet, Tapak Kelam perlahan-lahan

mulai dapat menggerakkan dirinya kembali. Setelah yakin bahwa

ia dapat menggunakan tenaga dalamnya lagi, ia bersiap-siap untuk

bergerak cepat dan keluar dari bangunan itu.

”Ya.., itu mungkin kain pembungkus sesuatu,” ujar Sabit Kematian

saat sabitnya yang terlihat mengerikan tersebut menyentuh sesuatu.

Dengan perasa ia menghentikan gerak sabitnya dan mempersilakan

kedua saudara seperguruannya untuk melonggok. Setelah

meletakkan sabit tersebut di sisi lubang, ia pun bergabung dengan

dua saudara seperguruannya untuk mulai menggali-gali menggunakan

tangan. Takut merusak apa-apa yang mungkin terkubur di sana.

Kesempatan ini tak lama disia-siakan oleh Tapak Kelam. Ia segera

bangkit dan dengan menggunakan ilmu meringankan tubuh yang

masih tersisa, yang masih dapat dibangkitkan oleh tenaganya, ia

bergegas menyelinap keluar.

Cermin Maut yang membelakanginya mendengar kesiuran angin

menjauh. Segera ia bangkit dan melihat detik terakhir saat sosok

Tapak Kelam telah hilang dari pintu ruangan tersebut. ”Keparat, ia

melarikan diri. Akan aku tangkap dia!” Segera Cermin Maut berkelebat

melompat pergi mengejar.

Sementara itu Mayat Pucat dan Sabit Kematian yang masih sibuk

menggali hanya sekali melirik untuk kemudian melanjutkan pengerjaan

menggali dasar lubang tersebut, yang di dalamnya telah dijumpai

sejumput kain penutup sesuatu. Mereka tidak terlalu mempedulikan

Tapak Kelam yang kabur. Bagi mereka orang itu sudah tidak dibutuhkan

lagi. Sudah selesai tugasnya, dan mereka pikir Cermin Maut

dapat menyelesaikan persoalan itu sendiri.

Tapak Kelam yang sedang berpacu dalam langkah dan juga deguban

jantungnya, dapat merasakan kesiuran angin di belakangnya. Suatu

pukulan jarak jauh. Dengan sigap ia bergerak ke samping, membiarkan

angin pukulan tersebut lewat di sisinya. Ia lalu mengambil

arah lain untuk berlari. Tadinya ia ingin pergi ke pulau keenam

dan seterusnya, karena di sana lebih banyak tempat untuk bersembunyi.

Tapi mengingat Cermin Maut telah menghadang di jalan

menuju ke tempat itu, Tapak Kelam akhirnya membatalkan niatnya

419

itu. Sekarang ia menuju ke arah jembatang cembung melengkung yang

lain, yang akan membawanya ke pulau keempat.

Langkahnya berhenti di tengah jalan melihat apa yang ada di hadapannya.

Di depannya sekarang telah berdiri lima orang, yang terlihat

dari cara berjalannya bukanlah orang-orang biasa. Seorang wanita

dengan gagang pedang kembar menyembul di punggungnya. Seorang

berkulit putih pucat dengan pedangnya yang besar dan telah kering

oleh darah di tangannya. Seorang berkulit hitam dengan lengan dan

kaki yang lebih panjang dari orang kebanyakan, yang di tangannya

terdapat golok yang melengkung patah, golok bumerang. Dan masih

terdapat dua orang lain yang warna kulitnya mirip dengan warna kulit

orang-orang di tanah ini. Seorang bertubuh subur dan besar dan seorang

berwajah dingin dengan kapak di tangannya.

”Siapa.... kalian...!!” ujarnya tersendat. Ia tidak mengharapkan

muncul lebih banyak musuh dan terlebih di depan jalannya untuk

melarikan diri.

”Kamu..., orang Perguruan Atas Angin-kan?” ujar wanita berpedang

kembar tersebut dengan logat yang agak kaku.

”Ya, saya...,” tak jadi Tapak Kelam memperkenalkan dirinya sebagai

ketua Perguruan Atas Angin. Ia belum tahu siapa kelima orang yang

menghadangnya ini. Kawan atau lawan. Itu belum jelas.

”Mau lari kemana engkau, Tapak Kelam!!” sebuah suara merdu wanita

segera sampai ke tempat itu, yang diikuti dengan tubuhnya. Ia juga

tampak tertegun dengan munculnya kelima orang di hadapan Tapak

Kelam tersebut.

”Jika engkau Tapak Kelam, dan orang ini hendak mengejarmu...,

pastilah anda adalah Cermin Maut, bukan begitu?” ucap gadis itu

sambil memandang wanita yang baru datang tersebut.

Cermin Maut tidak segera menjawab. Seperti halnya Tapak Kelam

ia belum bisa memutuskan apakah kelima orang di hadapannya itu

adalah lawan atau kawan. Dan mereka saat ini sedang dalam waktu

yang genting, waktu di mana hampir saja memperoleh sesuatu di

bawah prasasti batu di dalam bangunan batu berwarna kelabu di belakangnya.

Ia segera memutar otak untuk mencari-cari akal.

420 BAGIAN 7. ORANG-ORANG ABADI

”Ya, saya Cermin Maut, ada perlu apa dan siapa kalian?” katanya

akhirnya sambil menanti respon dari kelima orang tersebut. Entah

bagaimana Tapak Kelam tampak berdiri di sampingnya, seakan-akan

mereka berdua berasal dari kelompok yang sama. Memang lucu,

orang yang berseteru, apabila menghadapi kelompok lain yang dianggap

musuh bersama, dapat saling mendekat. Tapak Kelam telah

memutuskan untuk bergabung dengan Cermin Maut yang telah ia

tahu misinya dan juga kawan-kawannya. Kelima orang ini belum.

”Kami mencari Sabit Kematian,” ucap wanita berpedang kembar tadi

pendek.

”Untuk apa?” tanya Cermin Maut. Ia merasa tidak pernah bertemu

dengan kelima orang tersebut, kecuali satu orang yang bertubuh subur

dan besar paling pinggir. Orang tersebut rasa-rasanya pernah dilihatnya

di suatu tempat, pada suatu saat yang lalu.

”Untuk dibunuh!! Untuk membalaskan kematianku!” ucap orang

bertubuh besar dan subur yang tadi sempat dilirik oleh Cermin Maut.

”Dan engkau juga, serta Mayat Pucat. Kalian telah membunuh kami,

orang-orang Rimba dan Gunung Hijau!!”

”Eh.., kamu!!” ucap Cermin Maut kaget. Sekarang disadarinya di

mana ia pernah melihat pemuda tersebut. Ya, itu adalah salah seorang

murid-murid, dari empat murid Ki Tapa dari Rimba dan Gunung

Hijau. ”Engkau sudah mati!!” ucap Cermin Maut. Ia ingat bagaimana

Sabit Kematian membunuh pemuda itu dengan menembuskan sabitnya

dari belakangn ke depan.

”Dan sekarang giliran kalian,” kata pemuda tersebut yang segera

menggunakan kepalan tangannya menyerang lurus. Deras dan keras.

Cermin Maut tidak mau meremehkan pukulan yang menimbulkan angin

kesiuran tersebut. Dulu sewaktu di Rimba Hijau anak-anak muda

itu telah menunjukkan kebolehan sebagai pendekar. Serangan mereka

tidak boleh dipandang sebelah mata. Hanya saja mereka masih lugu

dan miskin pengalaman sehingga tidak terlalu sulit untuk dijatuhkan

dengan jurus-jurus yang penuh tipuan dan serangan kosong. Sekarang,

setelah salah seorang dari mereka muncul kembali dari ”kematian”

Cermin Maut merasa perlu untuk lebih hati-hati. Orang yang dapat

sembuh dari suatu luka atau bangkit dari kematian, yang kedua ini

421

dia tidak yakin, umumnya memiliki ketahanan yang lebih berlipat.

Cermin Maut lebih memilih untuk menghindar dan memapaki pukulan

pemuda tersebut dari samping ketimbang menghadapi langsung dari

depan. Ia belum dapat mengukur seberapa keras laju pukulan yang

dilepas tersebut.

Setelah beberapa gebrakan Cermin Maut merasa bahwa pemuda itu

lebih tangguh dari pertemuan sebelumnya. Selain itu ia juga belum

tahu bagaimana kekuatan dari keempat teman sang pemuda. Lebih

baik ia segera kembali ke tempat kedua rekannya, di dalam sana.

Sambil melirik ke arah Tapak Kelam ia berbalik. Tapak Kelam pun

mengikuti.

”Hei...!!! Mau kemana kalian!!” ucap Gentong yang sedari tadi belum

sempat menyentuh Cermin Maut karena kelincahannya bergerak di

sela-sela hawa pukulan yang dilontarkannya.

”Mari kita kejar,” ucap Angus yang segera bergegas.

Misun menepuk pundak Gentong, ”Mari, masih ada kesempatan engkau

membalas pada mereka.”

Ternyata Mayat Pucat dan Sabit Kematian telah selesai menggali

dasar lubang yang ditemukan di bawah prasasti. Tampak sebungkusan

kain dikepit oleh Mayat Pucat yang sedang berdiri di pintu bangunan

kelabu terbuat dari batu bersama dengan Sabit Kematian. Demi

melihat Cermin Maut datang diikuti oleh Tapak Kelam, agak bingung

mereka. Namun segera menjadi jelas saat telah melihat lima

orang yang mengejar di belakangnya.

”Siapa mereka?” tanya Mayat Pucat.

”Tak tahu,” jawab Cermin Maut, ”seorang dari yang pernah kita

bunuh. Tepatnya oleh kakak Sabit Maut. Dan ia mencarimu. Orang

dari Rimba dan Gunung Hijau....!!”

”Lalu kenapa kita lari?” tanya Sabit Kematian yang juga telah berlari

mengikuti.

”Tadi aku pikir kalian belum sempat mengambil barang itu, jadi lebih

baik jika kita mengulur waktu,” jawab Cermin Maut.

422 BAGIAN 7. ORANG-ORANG ABADI

”Dan sekarang??” tanya Mayat Pucat kembali.

”Ikuti aku!” ucap Tapak Kelam yang sedari tadi hanya diam dan

berlari bersama mereka.

”Eh, kamu. Kenapa membantu kami sekarang?” tanya Sabit Kematian

heran.

”Aku bantu kalian lolos dari sini, tapi bagi aku tahu apa yang tersimpan

dalam bungkusan itu,” ucapnya cerdik. Tapak Kelam telah

berpikir bahwa bekerja sama dengan ketiga orang ini bukanlah suatu

hal yang buruk, apalagi bila bisa mendapatkan ilmu silat tinggi, yang

diduganya tertulis dalam kitab yang dibungkus oleh kain tersebut.

Bungkusan yang dikepit oleh Mayat pucat.

”Belum tentuk kita kalah sama mereka,” ucap Sabit Kematian jengkel.

Tidak biasanya mereka berlari-lari dikejar orang. Biasanya mereka

yang dikejar orang. ”Kita hadapi saja!”

Saat itu mereka telah tiba di pinggir suatu sumur yang terletak di belakang

bangunan tadi. ”Mari masuk,” ucap Tapak Kelam yang segera

melompat turun. Ia segera menggunakan ilmu meringankan tubuhnya

sehingga tidak mendarat di atas air melainkan bergeser beberapa

telapak tangan ke pinggir. Di bawah sana ternyata terdapat rongga

yang cukup besar. Sumur itu hanya terlihat kecil dari atas saja.

Berturut-turut Cermin Maut, Mayat Pucat dan disusul oleh Sabit

Kematian meloncat turun dan sekarang telah berada dalam lorong

yang terdapat di pinggir dinding sumur tersebut. Jauh di bawah sana

terdapat air yang merupakan dasar sumur sesungguhnya.

”Eh, tempat apa ini?” ucap Cermin Maut takjub. Ia senang melihat

banyaknya tempat-tempat rahasia di Air Jatuh. Membuatnya

semakin jatuh hati.

”Ini jalan rahasia, dengan lewat di bawah tanah dan juga di bawah

air, kita bisa ke pulau berikutnya. Pulau keempat. Dan dari sana

melarikan diri keluar,” jawab Tapak Kelam menjelaskan.

Lalu bergegas mereka berlalu melewati lorong tesebut. Tampak Sabit

Kematian masih menggerutu karena harus lewat lorong-lorong seperti

itu. Ia lebih memilih untuk bertempur langsung saja.

423

”Mereka menghilang,” tunjuk Misun pada sumur yang ada di hadapannya.

”Jangan semua masuk,” ucap Shia Siaw Liong, ”jika ada jalan rahasia,

pastilah ini menuju ke tempat lain. Sebagian turun, sebagian cari

jalan keluar lain dari jalan rahasia ini.” Berdasarkan pengalamannya

setelah beberapa ratus tahun, Shia Siaw Lion dengan sekali melihat

tahu bahwa di bawah sana pasti ada suatu jalan rahasia yang akan

membawa orang-orang itu ke suatu tempat lain.

”Aku menduga menuju pulau sebelumnya, kembali menuju perguruan,”

duga Dhoruba.

Rekan yang lain mengangguk. Akhirnya diputuskan bahwa Dhoruba

dan Misun akan turun ke dalam sumur, sedangkan Gentong, Shia Siaw

Liong dan Angus segera menuju ke pulau keempat untuk mencari jalan

keluar orang-orang itu dan menunggu mereka di sana.

***

”Minumlah ini,” ucap Wananggo sambil mengangsurkan ramuan yang

telah diraciknya itu, yang terbuat dari pucuk-pucuk tumbuhan mini

dicampur dengan berbagai serbuk lain.

Lantang pun menenggak ramuan itu yang disusul dengan air yang

telah diambilkan Xyra untuk membasuh kerongkongannya yang terasa

pahit dan terbakar oleh ramuan yang lewat.

”Sekarang coba alirkan hawa, perlahan-lahan. Semoga ramuan itu

bisa membuka simpul-simpul jalan darahmu yang tersumbat,” ucap

Wananggo. Tampak dalam wajahnya harapan akan keberhasilan dari

ramuan itu.

”Perlu dibantu dengan Tenaga Air-ku, Paman Wananggo?” usul Xyra

kemudian.

”Aku belum tahu, sementara biarkan saja dulu ramuan tersebut bekerja

dengan sendirinya. Kelak mungkin perlu dibantu untuk menjaga

khasiatnya,” jawab Wananggo.

Setelah hening beberapa saat, Lantang yang tadi sedang berkonsentrasi

mengendalikan hawanya, tampak membuka matanya. Wajahnya

424 BAGIAN 7. ORANG-ORANG ABADI

tampak lebih bersinar dan cerah. Dan katanya, ”Aku merasa lebih sehat

dan segar, paman. Ada hawa yang terasa bergerak-gerak di bawah

sini,” sambil ia menunjuk titik dua jari di bawah pusarnya. ”Tapi aku

belum dapat mengalirkannnya ke mana-mana.”

”Aneh...!!” jawab Wananggo sambil menggaruk-garukkan kepalanya.

”Padahal menurut petapa tersebut...”

”Paman, tak usahlah sedih begitu,” ucap Lantang yang merasa tak

enak atas kekecewaan Wananggo, ”yang penting kita sudah berusaha.

Apa-apa yang akan terjadi dan tidak terjadi, semuanya kehendak Sang

Pencipta.” Lantang sudah seringkali dihadapkan pada upaya penyembuhan

aliran hawa dalam dirinya. Dulu oleh gurunya Rancana, si

Bayangan Menangis dan Tertawa, juga oleh Ki Sura dan Nyi Sura.

Saat ini oleh Wananggo. Ia amat berterima kasih atas upaya orangorang

yang ingin menyembuhkan dirinya.

”Sebabanya..., sebabnya hawamu tersumbat itu yang kita tidak tahu,”

kata Wananggo sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

”Mari, paman! Mari kita pergi dari ini. Yang punya tempat pasti

tidak suka kita terlalu lama di sini,” berkata Lantang setelah ia merasa

tak ada lagi yang bisa mereka lakukan di sini.

Wananggo dan Xyra pun mengangguk setuju. Bergegas mereka keluar

dari bangunan batu berwarna kelabu tersebut. Mencari jalan keluar

menuju air terjun di Air Jatuh.

Tapi rupanya malam itu belum berakhir bagi mereka di Air Jatuh.

Saat lewat di sebuah sumur yang tidak terlalu diperhatikan oleh ketiganya,

tiba-tiba meloncat sesosok bayangan keluar. Akibat meloncat

dengan tiba-tiba tersebut, hampir saja ia bertubrukan dengan Lantang.

Di bawah sinar rembulan tersebut tampak jelas wajah pemuda tersebut

dan juga orang yang hampir menubruknya. ”Engkau...!!” tibatiba

kenangan lama Lantang menyeruak kembali jauh ke belakang,

ke masa di mana kejadian tersebut terjadi. Kedua orang tuanya dan

orang-orang yang dikenalnya semua dibunuh, dihancurkan.

Ia masih ingat bahwa orang itu, yang ada di hadapannya sekarang,

425

memerintahkan agar ia dan teman-temannya mengenakan pakaian

rombeng, dikotori dengan disuruh berguling-guling di atas tanah

berdebu dan penuh kotoran hewan. Juga diingatnya bahwa ia dan

teman-temannya satu per satu ditohok punggungnya oleh orang itu.

Tidak terlalu sakit, tapi bagi anak kecil seusianya saat itu... Dan

sekarang orang tersebut ada di hadapannya.

”Minggir!!” jawab orang tersebut, yang adalah Tapak Kelam. Ia tidak

mempedulikan Lantang, tidak dalam keadaan segenting saat itu. Ia

segera menanti kemunculan dari ketiga rekan barunya, Cermin Maut,

Sabit Kematian dan Mayat Pucat. Ketiga orang yang ditunggunya

tak lama segera meloncat keluar dari sumur tersebut.

Xyra yang secara alamiah dapat membedakan orang yang baik dan

jahat dari pancaran hawa atau auranya, segera menampakkan wajah

tidak bersahabat terhadap empat orang yang baru saja keluar dari

sumur tersebut. Wananggo yang entah kenapa juga merasa tidak sreg

dengan kehadiran mereka. Segera ia mengajak Lantang untu menjauh

dari sumur tersebut dan mencari jalan untuk pulang.

”Itu di sana!!” tiba-tiba terdengar suara orang, yang dilanjutkan dengan

datangnya tiga orang, seorang wanita dan dua orang laki-laki.

Mereka setelah tiba segera berhadapan dengan empat orang yang baru

saja keluar dari sumur tersebut.

Mereka segera berhadapan, siap untuk saling serang.

Wananggo segera menggapai Lantang dan Xyra, ”Mari kita pergi! Ini

bukan urusan kita.”

”Paman..,” ucap Lantang bergetar, ”orang itu..., orang itu...!!”

Wananggo dan Xyra memandang lekat pada Lantang. Tidak biasanya

pemuda itu tampak sedemikian gugup dan teganng. Mungkin efek

samping dari ramuan yang baru saja dimakannya, begitu pikir mereka.

Namun kata-kata selanjutnya yang membuat mereka mengerti.

”Orang itu yang membunuh kedua orang tuaku dan juga orang tuaorang

tua teman-teman mainku,” katanya kemudian.

Keduanya terdiam. Wananggo tidak lagi berusaha membawa keduanya

pergi dari situ. Tapi ia mengisyaratkan agar mereka tidak lebih

426 BAGIAN 7. ORANG-ORANG ABADI

dulu turut campur. Biarkan dulu apa yang akan terjadi di antara

ketujuh orang tersebut.




0 Response to "Elemen Kekosongan 7"

Post a Comment

Translate

English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified