Download applikasi baca novel online untuk android disini: DOWNLOAD

Elemen Kekosongan 6

Bagian 6

Tato

”Deru pun perlahan melembut. Menghilang. Sunyi dan sepi. Dan

jiwa pun tenteram kembali.

Menghela napas. Menghirup keheningan. Mengekang nafsu. Senyap.

Lepas. Lega.

Setelah semuanya berakhir. Secarik kulit dicabik halus. Darah

menetes lembut. Menegaskan guratan-guratan mistis. Guratan di

atas kulit nan indah. Tato.”

Sajak di atas berjudul ”Pembicaraan Angin” hasil karya seorang

Eremit (petapa) tak dikenal, Unbekanteeremit. Bergetar hati seorang

pemuda saat membaca sajak dalam kitab itu, salah satu kitab

yang harus dicari keturunan dari pemiliknya semula. Kitab yang dicuri

oleh guru pemuda itu dan disembunyikannya, untuk disalin dan

dikumpulkan. Sekarang jauh masa setelah kematian sang pencuri, ia

menugaskan muridnya, sang pemuda melalui para saudaranya para

Troll, agar sang murid mengembalikan kitab tersebut kepada yang

berhak. Keturunan orang dari mana kitab tersebut semua diambil.

Ia sekarang bernama Gu Yo, keponakan jauh dari Gu Ming, seorang

kakek yang menyelamatkan nyawanya dan membawanya ke rumah

nenek Po untuk diobati. Dari perkenalannya yang singkat dengan

kakek Gu dan nenek Po, pemuda itu mendapat banyak cerita mengenai

situasi dunia persilatan dalam puluhan tahun terakhir ini dan

309

310 BAGIAN 6. TATO

juga orang-orang yang muncul dan menghilang.

”Jadi engkau mencari keturunan seseorang yang senang mengumpulkan

koleksi tato dari tubuh manusia?” tanya kakek Gu saat itu hampir

tidak percaya. Kakek Gu tidak percaya bahwa ada orang yang punya

kegemaran mengumpulkan bagian tubuh manusia. Kulit yang bertato,

yang disayat dari tubuh empunya.

”Ya, kekek Gu. Saya mencari keturunan dari orang itu,” jawab pemuda

itu hormat.

”Untuk apa mencari orang atau keturunan orang gila seperti itu?”

tanya nenek Po menyelak. Penasaran juga ia mendengar keperluan

pemuda yang baru disembuhkannya itu untuk mencari seseorang yang

dalam pandangannya cukup sesat.

Terdiam sebentar pemuda itu. Ia bimbang apakah ia harus menceritakan

apa sebenarnya tujuan ia mencari keturunan dari orang yang

dimaksud atau tidak. Kedua orang tua dihadapannya nampak memperhatikannya

saat ia berpikir.

”Bila ada rahasia yang enggan engkau ceritakan, tak usalah,” ujar

nenek Po ramah. Ia dapat melihat kebimbangan pada wajah pemuda

itu.

”Sebenarnya...,” bingung pula pemuda itu. Ia merasa tak enak hati

dengan pertolongan kedua orang yang telah menyelamatkannya itu.

Tapi apabila ia menceritakan hal yang sebenarnya, bisa pula mendatangkan

masalah baru bagi misinya.

”Begini saja,” ucap kakek Gu kemudian menengahi, ”cukup kamu

katakan bahwa tidak ada sama sekali niat untuk berseteru dengan

keturunan orang ini, dan kamipun akan merasa lega.”

Pemuda itu pun mengangguk, ”Tidak sama sekali. Saya tidak berpikir

untuk berseteru dengan keturunan orang ini.”

Kedua orang tua yang berada di hadapannya pun menggangguk lega.

”Dulu, ada seorang berjulukan Ceng-Liong Hui-To (Naga Hijau Pisau

Terbang) yang memiliki kegemaran untuk mengeletek kulit tubuh

musuh-musuhnya meniru legenda tradisi suatu suku bangsa yang

311

mengambil kulit kepala musuh yang dikalahkannya. Akan tetapi ia

tidak sembarangan mencari musuh. Musuh yang dicari umumnya

adalah para golongan orang-orang jahat yang memiliki tato pada

bagian tubuhnya,” cerita kakek Gu.

”Benar..,” lanjut nenek Po, ”orang-orang jahat pada masa itu berkumpul

dan membentuk suatu kumpulan yang dicirikan dengan adanya tato

pada tubuh mereka. Semacam kejahatan yang diatur oleh para

pemimpinnya. Jika suatu suku bangsa di suatu tempat dicirikan

oleh corak sarung yang dipakainya (Skotlandia), maka para begal ini

dicirikan oleh tato yang dikenakannya. Beda kelompok, beda ciri khas

tato yang digunakan.”

”Dan corak yang semakin rumit menunjukkan ketinggian kedudukan

atau pengalaman yang telah dimiliki seorang anggota kelompok kejahatan

ini,” tambah kakek Gu.

”Bagaimana kakek Gu dan nenek Po bisa tahu banyak tentang soal

ini?” tanya pemuda itu ingin tahu.

Keduanya saling berpandangan satu sama lain dan kemudian meledaklah

tawa di antara mereka. Pemuda itu hanya dapat menatap bingung

pada kelakukan dua orang tua dihadapannya, yang dianggapnya

benar-benar membingungkan.

Setelah tawa berderai keduanya usai, kakek Gu dengan masih mengapus

air mata yang meleleh pada matanya berkata, ”Sebenarnya, kami

berdua pernah juga ikut pada kelompok semacam itu...”

”Eh..!,” pemuda itu tampak kaget mendengar jawaban kakek Gu, ”tapi

berarti, kakek dan nenek...” tak diselesaikannya ucapan itu. Sungkan

ia melanjutkannya. Apalagi terhadap orang yang baru saja beberapa

hari ini menolongnya.

”Bukan, kami bukan menjadi begal atau mungkin belum,” ucap nenek

Po. ”Pada jaman itu, sebelum orang-orang bertato itu dipandang sebagai

penjahat, budaya tato itu sebenarnya telah ada jauh sebelumnya.

Dan budaya itu dianggap sebagai suatu tanda kematangan.

Orang yang sudah dewasa, dianggap lengkap bila telah memiliki tato.”

Sambil berkata demikian nenek Gu menggulung salah satu lengannya

312 BAGIAN 6. TATO

ke atas. Di atas lengan yang kepucatan itu tampak dua ekor naga

yang saling berbelit. Satu berwarna merah dan satu berwarna biru.

”Ini kelompok Naga Merah Naga Biru,” jelasnya. ”Kelompok yang

hanya terdiri dari para wanita.”

”Oh, begitu!” jawab pemuda itu. Lalu sambungnya, ”Dan kakek Gu

punya..”

Kakek Gu tertawa kecil mendengar pertanyaan itu. Dibukanya bajunya

sambil berbalik membelakangi. Tampak di punggungnya gambar

sebuah naga hitam dan lingkaran di tengah yang dicengkeramnya.

”Itu kelompok Naga Hitam Penjaga Mutiara,” jelas nenek Po, ”bagian

yang bulat ini adalah mutiara yang dijaga.”

”Itulah sebabnya kakek dan nenek bertanya apa saya bermaksud

berseteru dengan keturunan Ceng-Liong Hui-To?” tanya pemuda itu

kemudian.

”Ceng-Liong Hui-To, boleh dikatakan adalah pahlawan pada saat itu.

Ialah yang membantu penduduk menghalau para begal bertato.” kali

ini kakek Gu yang menjawab, ”dan pertanyaanmu itu sama sekali

salah. Jika Ceng-Liong Hui-To adalah musuh dari penjahat bertato,

maka kami yang juga bertato bisa saja salah sasaran dan menjadi

musuhnya.”

”Untunglah Ceng-Liong Hui-To bukan seorang gelap mata yang main

bunuh saja seorang yang bertato tanpa tahu terlebih dahulu asal-usul

dan kesalahannya,” lanjut nenek Po, ”malah ia adalah orang yang

yang amat terpelajar, dan boleh dikatakan menawan.” Dari tekanannya

pada kata terakhir yang diucapkannya, nenek Po terlihat bahwa

ia amat mengagumi sosok Ceng-Liong Hui-To tersebut.

Lalu mereka berdua menceritakan bahwa Ceng-Liong Hui-To menasehati

para pemuda dan pemudi tidak lagi menato dirinya, karena hal

itu dianggapnya tidak baik. Merusak tubuh yang telah diberikan oleh

Sang Pencipta dengan gambar-gambar yang kadang tak jelas artinya.

Sebagian orang menuruti anjuran tersebut, akan tetapi sebagian lain

tidak. Bagian yang tidak ini yang kemudian menjadi lepas kendali.

Mereka malah menuduh Ceng-Liong Hui-To mengekang kebebasan

berekspresi orang-orang, padahal itu adalah tubuhnya sendiri.

313

Atas bumbu-bumbu hasutan para begal, orang-orang yang mendukung

’kebebasan bertato’ ini kemudian membentuk kelompok yang anti

keteraturan, anti kemapanan. Mereka melakukan apa-apa yang dilarang.

Apa-apa yang tidak dianjurkan.

Rasa kebersamaan yang tumbuh di antar orang-orang yang tidak

mempunyai tujuan hidup yang jelas, membuat orang-orang tersebut

benar-benar merasa di rumah, di antara orang-orang senasib. Mereka

tidak menyadari bahwa sebenarnya mereka hanyalah dimanfaatkan

oleh sedikit begal demi keuntungan mereka.

Akibat pesatnya pertumbuhan orang-orang yang mendukung kebebasan

bertato ini, pemerintah menjadi kalang-kabut. Kerusuhankerusuhan

pun terjadi di mana-mana. Dengan dalih kebebasan mereka

menyiarkan ketakukan dan rasa tidak aman di antara orang-orang

yang berseberangan dengan mereka. Merampas ’kebebebasan’ orang

yang tidak sepaham.

Ceng-Liong Hui-To pernah suatu kali menyatakan pendapatnya kepada

beberapa rekannya yang duduk di pemerintah bahwa budaya tato yang

telah turun-temurun dilakukan orang di kota itu, agar dihapuskan. Ia

pernah mendengar bahwa budaya itu cenderung membuat orang-orang

menjadi kasar dan tak tentu arah.

Alih-alih mendengarkan, para rekannya itu malah menenangkan

dirinya, dan berujar bahwa ketakutannya yang masih saja terbawa

dari jaman perang dulu, dan selalu saja berlebihan.

Ucapan Ceng-Liong Hui-To terbukti tidak sampai setahun kemudian.

Kelompok pemuda dan pemudi bertato tumbuh dengan pesat.

Bersamaan dengan itu terjadi pula perampokkan, pencurian dan

lain-lain oleh orang-orang bertopeng dan bertato. Sengaja mereja

menggunakan topeng, akan tetapi memperlihatkan tato di tangan dan

punggung mereka.

Akibatnya jelas, pemerintah yang tidak memiliki bukti keterlibatan

begal-begal yang seakan-akan merupakan kelompok pemuda anti

kemapanan itu, main tangkap saja orang-orang yang bertato. Dengan

jumlah yang banyak mulai timbullah perlawanan. Suatu pertentangan

yang bukan disebabkan oleh mereka.

314 BAGIAN 6. TATO

Pada saat itulah Ceng-Liong Hui-To turun tangan. Dengan hati-hati

ia menyelediki kelompok-kelompok bertato, menyelinan sana dan sini

dan mendengarkan percakapan-percakapan. Akhirnya ia bisa menemukan

orang-orang atau begal-begal yang bertanggung jawab atas

kejahatan-kejahatan yang menyebabkan pemerintah bersiteru dengan

para pemuda bertato secara umum.

Dengan membawa beberapa saksi dan bukti, para pemuda dan juga

pemerintah disadarkan. Organisasi-organisasi kepemudaan bertato

pun dibubarkan oleh para massanya sendiri. Mereka merasa telah

diperalat oleh para begal. Walaupun telah salah tangkap, tapi pemerintah

masih berdalih bahwa itu untuk kepentingan umum. Sebuah

luka yang kelak akan kembali bernanah. Luka antara penguasa dan

rakyat yang seharusnya diayominya.

Pendek kata kerusuhan dan ketegangan akibat tato pun menghilang.

Suasana kembali seperti semula. Tenang dan damai. Roda perekonomian

kembali bergulir normal.

Akan tetapi ada yang hilang di akhir pergolakkan itu, yaitu Ceng-

Liong Hui-To sendiri. Tidak ada seorang pun yang mengetahui keberadaannya.

Pemerintah sebenarnya ingin mengangkatnya sebagai

perwira kerajaan untuk menangani masalah-masalah kerusuhan, informasi

rahasia dan keamanan. Akan tetapi dengan hilangnya, tidaklah

jadi hal itu dilakukan. Untuk mengenangnya, kantor polisi di kota

itu dinamakan Rumah Jaga Ceng-Liong Hui-To.

***

”Kota Siaw Tionggoan” begitulah yang tertulis di atas sebuah gerbang

batu setinggi pohon kelapa dan selebar empat kalinya. Gerbang yang

menandakan awal kota tersebut. Kota Siaw Tionggoan terletak di tepi

suatu sungai kecil pecahan dari sungai Merah yang mengarah jauh ke

timur laut meninggalkan pantai selatan dan padang Batu-batu. Kota

yang banyak dihuni oleh perantau dari Tlatah Tiongkok.

Berseri wajah pemuda itu melihat gerbang batu yang megah itu.

Walaupun terlihat sederhana dengan sedikit ukir-ukiran, akan tetapi

komposisinya yang bernuansakan warna yang teduh keabuan, mendatangkan

kesan masif dan keren. Besar dan gagah.

315

Ia tidak tahu bahwa gerbang sebelah timur itu memang dibuat

sedemikian rupa dengan warna keabuan. Warna udara dan asap.

Oleh karena memang gerbang tersebut bernama Gerbang Udara atau

Angin. Terdapat lambang besar segitiga dengan puncaknya menghadap

ke atas, dan tengahnya dicoret garis mendatar, terpahat pada

tengah batang melintang. Kepala dari gerbang itu. Lambang elemen

kuno udara. Sesuatu yang diapungkan atau diresapi oleh api, yang

dilambangkan dengan segitiga puncak ke atas.

Setelah kekagumannya atas gerbang sebelah timur itu, Gerbang

Udara, terpenuhi mulailah ia melihat-lihat hal-hal lain. Di sepanjang

jalan yang lurus dan panjang itu, yang ujungnya hampir-hampir

tak bisa diperkirakan, ia melihat berbagai aneka toko-toko. Belum

pernah ia melihat kota yang seramai ini. Tidak juga kota tempat

asalnya, kota Luar Rimba Hijau.

Jalan-jalan yang sudah dipadatkan dan dilapisi batu-batu persegi di

atasnya, membuat jalan orang dan juga pedati yang lewat menjadi

lebih mudah. Saat hari hujan, tidak ada lagi lumpur atau genangan

air yang mengganggu. Jalan batu.

Kebingungan pemuda itu akhirnya berdiri pada suatu persimpangan

jalan. Jalan di depannya masih lurus jauh, bagai tanpa akhir. Jalan di

belakangnya mengarah kembali ke Gerbang Udara. Kedua jalan kiri

dan kanan sama-sama menarik, tapi tidak ada yang memberatkannya,

sehingga ia tak dapat dengan segera memilih salah satunya.

Tiba-tiba matanya tertarik pada gerakan seseorang yang membelok

pada suatu jalan kecil di sisi kanan jalan yang berarah ke kiri. Suatu

sosok yang menghentakkan kenangan lama, Citra Wangi. Bergegas

pemuda itu mengikuti nalurinya membuntuti sosok bayangan yang

memincut rasanya itu.

Dia merasa yakin bahwa sosok itu adalah orang yang ada dalam kenangannya.

Sosok tubuhnya yang langsing dan cukup tinggi. Gerakan

langkahnya yang mengalir dan mantap. Lenggak-lenggoknya yang secukupnya

dan tidak berlebihan. Pastilah itu dia. Tak terpikirkan

lagi oleh Gu Yo bagaimana sosok yang disangkanya sang kekasih bisa

berada di kota Siaw Tionggoan dan bukan di Kota Pinggiran Sungai

Merah seperti diberitakan oleh Nyi Antini, istri mendiang Ki Baja dari

316 BAGIAN 6. TATO

Kota Luar Rimba Hijau. Nalarnya telah ditundukkan oleh kenangan

yang menggelora.

Bergegas dipacu langkahnya. Tak dihiraukannya saat ia tak sengaja

berpapasan dengan beberap orang yang hampir saja ditabraknya. Beberapa

dari mereka sempat mengumpat-umpat dengan bahasa yang

kurang dimengertinya, karena dialek mereka yang cukup kental.

Sesampainya ia di jalan kecil di sebelah kanan dari jalan besar yang

mengarah ke kiri, dilihatnya sosok gadis yang diikutinya tersebut berada

pada jarak belasan tombak di depannya. Bergegas ia kembali

menaikkan laju langkahnya, agar dapat cepat dicapainya orang yang

diharapkan sebagai kekasihnya itu.

Entah kebetulan atau memang sang gadis memang sedang juga dalam

kegergesaan, ia pun memacu langkahnya. Cepat. Akibatnya jarak

ia dan Gu Yo masih tetap belasan tombak lebarnya. Tak lama ia

membelok ke kiri satu dua gang kecil dan akhirnya kembali mengambil

jalan kecil di kanan, yang kemudian membawa sang penguntit dan

yang dikuntit kembali ke suatu jalan besar. Jalan yang sejajar dengan

jalan besar sebelah kiri yang pertama-tama diambil Gu Yo sejak di

persimpangan, saat ia bingung tadi.

Sekarang dengan banyak berlalu-lalangnya kereta kuda, pedati dan

juga kereta tanpa kuda, yang digerakkan oleh orang atau mesin

bersuara ribut, jarak antara Gu Yo dan sang gadis semakin lebar.

Gu Yo yang tidak terbiasa berjalan di suatu tempat dengan banyak

kendaraan dan orang, berkali-kali hampir tertabrat, dan sudah tentu

kaya dengan umpatan dan makian, seperti ”Pake matamu!”, atau

”Matamu kemana?” dan sejenisnya.

Akhirnya perburuan itu pun berakhir, dengan sampainya sang gadis di

suatu rumah atau toko yang cukup besar. Besar dan mewah menurut

Gu Yo, dilihat dari papan namanya yang lebar dan berwarna cerah di

atas wuwungan depannya. ”Rumah Tato Ceng-Liong Hui-To”.

”Lagi-lagi Ceng-Liong Hui-To..,” bergumam Gu Yo dan teringat pada

cerita kakek Gu dan nenek Po. Tapi rasanya bukan ini, pikirnya.

Lamunannya pun terhenti saat seorang penjaga menegurnya. Seorang

pemuda berbadan tegap yang terlihat ramah.

317

”Tahan dulu, anak muda!” katanya bersahabat, ”Apa keperluanmu?

Apa sudah ada janji?”

”Janji?” bengong Gu Yo mendapati pertanyaan itu diajukan padanya.

Ia tidak tahu bahwa di kota-kota besar seperti kota Siaw Tionggoan

ini, orang sedemikian sibuknya, sehingga untuk bertemu, mereka terlebih

dahulu harus membuat janji.

”Eh, itu.., anu..!” katanya gagap sambil menunjuk kepada bayangan

gadis yang diikutinya tadi. Bayangan yang sudah lenyap di balik pintu

bangunan itu. Bayangan yang tadi sempat bertegur sapa dengan penjaga

yang menyapanya, dan disapa balik dengan, ”Nona Lin!”

”Hah? Apa maksudmu dengan eh, itu.., anu..?” tanya sang penjaga

kembali, yang merasa tak mengerti dengan ucapan yang dikeluarkan

oleh sang pemuda.

”Maaf, maksud saya, saya ingin bertemu dengan nona tadi. Nona yang

baru saja masuk itu!” jawabnya kemudian setelah dapat menenangkan

dirinya.

”Ah, maksudmu nona Lin?” tanya penjaga itu kembali untuk menegaskan.

Lalu lanjutnya, ”dan apa urusannya? Sudah ada janji atau

belum?”

”Eh, harus sudah ada janji ya?” tanya Gu Yo kembali. Janji, sesuatu

yang tidak ia temui di kotanya. Orang-orang di sana bila ingin berkunjung,

dapat langsung datang kapan saja. Tak perlu ada janji-janjian

segala. Mungkin lain kota, lain tata cara-nya. Demikian pikirannya

menyimpulkan.

Penjaga itu melihat kebingungan sang pemuda, akhirnya menggapainya

untuk ikut. Lalu ditunjukkannya seorang gadis yang sedang

duduk di meja dekat tempat penjaga tadi berdiri. Seorang gadis yang

juga terlihat manis seperti sang nona Lin. Posisi gadis yang tersembunyi

di balik tembok setinggi dada orang dewasa berdiri itu, sempat

tidak terlihat dari luar apabila tidak benar-benar diperhatikan dan

diketahui keberadaannya.

Rupanya itu tempat untuk membuat perjanjian untuk bertemu dengan

penghuni gedung itu, entah toko atau apalah, Gu Yo tidak tahu.

318 BAGIAN 6. TATO

Setelah dijelaskan oleh sang penjaga bahwa pemuda itu ingin bertemu

dengan nona Lin akan tetapi belum membuat janji, lalu sang gadis

membuka bukunya dan melirik pada kolom-kolom yang di atasnya tertuliskan

”Swee Sian Lin”, nama sebenarnya dari nona Lin. Akhirnya

sampailah ia pada suatu kolom, dan bertanyalah ia pada Gu Yo, ”nanti

sore, antara pukul empat dan setengah lima nona Lin belum ada janji,

anda bisa berkunjung pada saat itu? Apakah anda bisa dan mau?”

Mengangguk saja Gu Yo atas usulan itu. Persoalan membuat janji

masih asing baginya. Kemudia saat ditanya namanya, ia menyebutkan

”Gu Yo”, yang kemudian dituliskan oleh gadis itu. Untuk keperluannya,

ia hanya membubuhkan ”ingin bertemu” tanpa bertanya dulu

kembali kepada Gu Yo, sebagaimana disampaikan oleh penjaga tadi.

”Anda bisa berjalan-jalan dulu, melihat-lihat kota Siaw Tionggoan

untuk membunuh waktu. Masih sekitar empat jam untuk bertemu

dengan nona Lin,” saran sang gadis tersebut.

Gu Yo pun mengangguk mengiyakan. Saat itu dilihatnya beberapa

orang masuk, memberi salam kepada penjaga dan menuju tempat sang

gadis, gadis yang mencatatkan janji-janji untuk bertemu dengan para

penghui gedung itu. Beberapa di antaranya menyebutkan nama yang

akan dikunjungi, keperluannya dan waktunya. Dua orang dari mereka

rupanya telah membuat janjinya kemarin. Setelah diakurkan dengan

apa yang tertera dalam buku janji tersebut mereka dipersilakan untuk

masuk. Seorang pelayan mengantarkan mereka, menunjukkan jalan ke

bagian ke mana mereka akan menuju. Sedangkan sisanya baru akan

membuat janji untuk bertemu dengan penghuni gedung itu sore ini

atau keesokan harinya.

Mengangguk-angguk Gu Yo melihat hal yang baru itu. Rupanya ia

harus membuat janji dulu untuk bertemu orang-orang yang tinggal

dalam rumah itu. Suatu pengalaman yang baru dialaminya di sini, di

kota Siaw Tionggoan.

Setelah cukup memperhatikan dan merasa mengerti, Gu Yo pun keluar

untuk menghabiskan waktu, sebelum bertemu dengan nona Lin. Sosok

gadis yang dipikirnya adalah Citra Wangi, kekasihnya dulu. Orang

yang telah ditunangkan dengan dirinya.

Di tepi jalan besar di muka Rumah Tato Ceng-Liong Hui-To tampak

319

Gu Yo celingak-celinguk kebingungan. Ia tidak tahu harus kemana

untuk membunuh waktu sebelum jam empat nanti. Saat ia sedang

memandang ke kiri dan ke kanan, suatu suara dalam lambungnya

merekah, membujuknya untuk pergi ke suatu arah di mana aroma

lezat hidangan mengambang di udara.

Setelah berjalan beberapa saat, ditemukannya sumber kelezatan yang

seakan-akan mengundangnya ke tempat itu. Sebuah kedai yang

menyajikan berbagai masakan yang dipanggang atau dibakar. Kedai

Daging Bakar namanya. Berbagai jenis daging dapat ditemui di sana,

dari ayam, sapi, kerbau, kambing sampai ular dan kelinci. Berbagai

jenis-jenis daging yang telah kering dan diasap, dipajang di suatu

bagian depan kedai dan diberi nama. Takjub juga Gu Yo melihat

model iklan dari kedai tersebut.

Saat ia sedang melihat-lihat ”hiasan” berupa daging yang sudah dikeringkan

itu, berwarna merah dan masih menyajikan bau sedap khasnya

masing-masing, seorang tua menyapanya, ”Ayo jangan malu-malu,

mari masuk mencicipi!” ajaknya.

”Eh, tapi..,” Gu Yo tak bisa melanjutkan ucapannya. Ia tak tahu

harus berucap bagaimana. Sebagaimana diketahui tidak banyak

Tigaan yang dibekalinya sedari keluar dari Rimba Hijau dan juga

sehabis bertemu kakek Gu dan nenek Po. Dan ia memang telah

berniat untuk mencari pekerjaan di kota ini, sembari menunaikan

misinya mencari keturunan dari Ceng-Liong Hui-To.

”Ah, pasti kau tidak cukup punya uang, ’kan? Ayo anak muda, masuk

saja. Aku pemilik kedai ini. Kamu boleh makan sepuasmu, tapi

setelah itu bantu-bantu, bagaimana?” jawabnya ramah. Yok Seng,

orang tua itu memang pemilik kedai itu. Ia baru saja berjalan ke

bagian lain kota untuk mencari tenaga tambahan. Rencananya beberapa

hari lagi akan ada perayaan menyambut tamu dari pemerintah

pusat. Biasanya pada hari-hari ”besar” seperti itu pengunjung akam

membeludak. Untuk itu ia perlu tenaga segar agar bisnisnya dapat

tetap berjalan dengan baik. Sukur-sukur pemasukannya bisa berlipatlipat

pada saat-saat itu.

Ia telah berusaha menuju ke suatu bagian kota di mana di sana terdapat

suatu semacam agen yang menyalurkan tenaga-tenaga kerja paruh

320 BAGIAN 6. TATO

waktu. Tapi berhubung suatu peristiwa kunjungan oleh pemerintah

pusat ke kota Siaw Tionggoan adalah suatu peristiwa yang jarang

terjadi, toko-toko dan kedai-kedai lain pun sudah memborong tenaga

kerja. Habis. Tiada yang tersisia. Bahkan ia hanya menemui tulisan

”tutup” di sana. Mungkin sang penyalur tenaga kerja bahkan ikut

”bekerja” sebagai tenaga paruh waktu, mengingat permintaan yang

banyak, sudah bisa dipastikan gajinya pun akan lumayan.

Demi melihat seorang pemuda di depan kedainya yang sedang termangu

menatap daging-daging keringnya, langsung saja Yok Seng

menawarkannya pekerjaan. Dari perawakannya yang tegap dan berisi,

sudah pasti pemuda itu kuat untuk bekerja keras. Sosok yang dibutuhkannya

untuk saat itu.

”Eh, benar paman? Saya boleh bekerja di sini?” tanya Gu Yo tak percaya.

Ini adalah betul-betul suatu kesempatan yang tidak disangkasangkanya.

Ia tidak harus sulit-sulit mencari pekerjaan, akan tetapi

dapat dengan mudah memperolehnya. Orang bilang itu memang sudah

rejekinya atau suratan langit.

Yok Seng yang ditanya hanya mengangguk. Ia melihat bahwa pemuda

itu, Gu Yo, masih baru dan belum ada pengalaman sama sekali. Kejujuran

pun tampak dari wajahnya. Jujur itu adalah sifat yang dibutuhkan

untuk dapat bekerja dengan langgeng. Yok Seng yang telah

berpuluh tahun mengelola kedai itu dapat dengan segera melihat sifat

seseorang dari percakapan singkat saja, hasil asahan pengalaman yang

menahun.

”Eh, tapi.. saya..,” ucap Gu Yo bingung dan ia pun lalu menceritakan

keperluannya ke kota itu yang memang ingin mencari kerja, tapi telah

membuat janji dengan nona Lin, Swee Sian Lin di Rumah Tato Ceng-

Liong Hui-To.

”Engkau tidak akan bekerja di sana, bukan?” tanya Yok Seng penuh

selidik. Entah bagaimana ia tak rela calon tenaga kerjanya akan diambil

oleh orang lain. Rumah Tato Ceng-Liong Hui-To adalah suatu

galeri seni tato yang cukup beken di kota itu. Suatu saingan dalam

mempekerjakan orang pada saat hari-hari ”besar”.

”Tidak, paman! Saya hanya ingin bertemu dengan nona Lin saja.

Tidak ingin bekerja di sana,” jawabnya.

321

”Bagus kalau begitu! Ayo kita makan dulu, sudah terdengar ususmu

itu belingsatan,” kelakar Yok Seng.

Memerah wajah Gu Yo itu. Malu ia akan ususnya yang tidak sungkansungkan

untuk menyuarakan isi hatinya. Lapar.

Yok Seng tidak menyuruhnya duduk di depan, tempat orang-orang

yang sedang menjadi pelanggan kedai itu makan, melainkan mengajaknya

terus ke belakang, ke suatu ruangan besar yang berfungsi sebagai

dapur dan juga tempat orang-orang pekerja kedai itu berkumpul.

Di sana ada sebuah meja besar dan panjang yang dipenuhi berbagai

macam benda. Di keempat sisi meja tersebut terdapat kursi panjang

tanpa sandaran. Entah berapa jumlahnya. Satu kursi bisa muat empat

sampai lima orang kiranya.

”Ini Ma She,” ucap Yok Seng kepada Gu Yo, ”kepala koki di sini. Dan

juga yang bertanggung jawab jika aku tidak ada.”

”Ma She, pemuda ini akan kerja sini mulai hari ini. Kasih dia makan

terus atur tugasnya. Oh, ya untuk hari ini kasih dia waktu nanti jam

empat untuk keluar sampai jam lima. Ada keperluan dia di Rumah

Tato Ceng-Liong Hui-To,” sambil tak lupa Yok Seng memberi tahu.

Ma She hanya mengangguk. Orangnya tak banyak senyum. Tapi wajahnya

ramah. Mukanya lebar dan besar. Tubuhnya tak terlalu tinggi.

Tulang tangan dan kakinya lebar-lebar, sehingga tampak gemuk padahal

tidak.

”Siapa namamu?” tanyanya singkat kepada Gu Yo setelah Yok Seng

meninggalkan mereka untuk memeriksa pekerjaan lain-lain yang dilakukan

lain orang.

”Gu Yo!” jawab pemuda itu pendek.

”Duduk di sini dan makan semampumu,” katanya kemudian sambil

mengangsurkan piring kosong lebar. Piring paling lebar yang pernah

dilihat Gu Yo. Hampir sebesar nampan bundar.

Saat Gu Yo terlihat agak ragu-ragu mengisikan lauk dan juga nasi ke

dalam piringnya, Ma She dengan cekatan mengambil sejumput besar

nasi dengan sendok besar dan dua kerat daging seukuran dua kepalan

tangan dan meletakkan di piring Gu Yo. Tak lupa diambilnya den322

BAGIAN 6. TATO

gan sumpit sejumput sayur-sayuran dan terkahir dituangkannya saus

merah harum di atas dua kerat daging tersebut.

Takjub Gu Yo melihat hidangan yang harus disantapnya itu. Dan

semakin takjud saat masih Ma She berkata, ”kalau kurang, tambah

lagi!” Ia juga tak lupa meletakkan sendok, garpu, pisau, sumpit. Ia

tidak menanyakan alat makan apa yang biasa digunakan oleh Gu Yo,

hanya meletakkan semua yang biasa digunakan.

Setelah Ma She berlalu dari sana, mulailah Gu Yo menyantap hidangan

yang ada dalam piring jumbonya itu. Mula-mula dicobanya daging

keratan pertama yang berwarna lebih gelap dari keratan kedua.

Dengan sumpit gumpalan daging keras itu tak bisa diceraikan. Lalu

dicobanya dengan menggunakan sendok. Juga tidak bisa.

Saat itu lewatlah seorang gadis. Melihat kesulitan Gu Yo dalam

menyantap penganannya, ia pun berkata, ”Bisa? Perlu dibantu?”

Gu Yo hanya menggangguk.

Tanpa dipersilakan gadis itu dengan duduk di samping Gu Yo. Begitu

dekat sehingga hidungnya bisa mencium keharuman keringatnya yang

tercampur dengan semerbak masakan-masakan. Suatu sensasi yang

belum pernah ditemuinya. Lain dengan semerbak wangi tunangannya

dulu.

Ucapan sang gadis membuyarkan lamunan sesaat itu, ”Begini caranya:

tangan kanan memegang pisau, tangan kiri memegang garpu.” Lalu

diperagakannya cara memantapkan daging agar tidak bergulir untuk

kemudian dipotong dengan pisau. Satu bagian Potongan telah lepas

dan sisanya masih tertancap pada garpu. Dipotongnya lagi potongan

yang masih tertancap berulang kali sehingga tersisa seukuran setengah

telur ayam. Lalu dengan jenaka gadis itu mengucapkan, ”jika sudah

cukup kecil, langsung dimakan.” Dan ”Hap!!” daging tersebut lenyap

di mulut mungilnya yang menawan. Gu Yo hanya dapat melongo

melihat hal itu.

”Eh, terus nasi ini gimana?” masih bingung dirinya bagaimana bisa

makan nasi menggunakan garpu dan pisau tersebut.

Alih-alih menjawab, si gadis menyisir nasi dalam piring besar itu ke

323

arah garpunya menggunakan pisau, memadatkan sedikit di atasnya

dan menggerakkan garpu yang sudah berisi nasi itu ke arah mulutnya.

Dan kembali ”happ!” lenyap di balik mulutnya.

”Ah, begitu!” sahut Gu Yo menggangguk-angguk. ”Bisa juga iisau

digunakan seperti itu.” Suatu pengalaman baru lagi yang didapatnya

di tempat ini.

”Ma Siang!” tiba-tiba terdengar suara mengguntur di belakang mereka.

Si gadis dengan cepat bangkit dan bergegas pergi. Sambil tak lupa

berucap, ”selamat makan!!”

Ma She yang tiba-tiba berada di sana, tampak menggeleng-gelengkan

kepala. Ia kebetulan saja melihat gadis itu bersama dengan Gu Yo.

Dan seperti yang diduganya, sedang mengerjai Gu Yo.

”Sudah habis makanmu?” tanyanya setelah sampai di samping pemuda

itu.

”Eh, belum, paman!” jawabnya. ”Masih belum bisa pakai garpu dan

pisau ini. Untung ada gadis itu tadi yang mengajari.”

”Ma Siang? Mengajari?” tersenyum Ma She mendengar itu, walaupun

ia tahu bahwa gadis itu mungkin memang mengajari Gu Yo, tapi pasti

ada sesuatu yang dinakalinya.

”Iya, paman!” jawab Gu Yo sambil memperagakan cara makan yang

diajari oleh Ma Siang. Bagaimana ia memotong daging, menyuapnya

dengan garpu di tangan kiri dan memadatkan nasi pada garpu dengan

pisau di tangan kanan dan menyantapnya.

”Bagus kalau begitu. Ayo, habiskan makananmu! Kerjaan sudah menunggu,”

ucapnya kemudian. Ma She masih berpikir-pikir apa yang

telah dikerjakan oleh Ma Siang. Masak cuma itu, benar-benar mengajari.

Tapi saat ini bukan waktunya. Ia pun kembali membiarkan

pemuda itu menyantap makan siangnya.

Setelah diajari oleh Ma Siang, Gu Yo dapat dengan mudah menyantap

hidangannya. Kuah atau saus merah harum yang tergenang pun dapat

dengan mudah disisirnya, atau sayur yang harus dipotong dulu, ke atas

daging atau nasi yang telah siap untuk untuk diangkat oleh garpu.

Gu Yo pun mulai dapat menikmati makan siangnya dengan cara itu.

324 BAGIAN 6. TATO

Cara makan yang baru, menggunakan alat makan yang belum pernah

dialaminya. Biasanya ia hanya makan menggunakan tangan kosong

saja.

Setelah habis ia pun sedikit mengelus perutnya yang telah terisikan.

Kenyang dan tenang. Dibawanya piring bekas santapannya itu ke suatu

sudut, di mana ia melihat beberapa orang sedang mencuci alat-alat

makan. Saat seorang menunjukkan padanya tempat untuk meletakkan

piring kotor beserta garpu, sendok, sumpit dan pisaunya, Gu Yo pun

mengikuti dan meletakkannya di sana. Terpisah, masing-masing ada

wadahnya sendiri-sendiri.

Saat ia bingung tentang apa yang harus dikerjakannya, seorang menggapai

bahunya. ”Ikut aku!” katanya.

***

Dua orang tua tampak sedang duduk-duduk di depan sebuah gubuk

di tengah hutan. Seorang wanita tua dan lainnya lelakit tua. Nenek

Po dan kakek Gu, kedua orang yang sebelumnya telah merawat luka

Gu Yo atau Paras Tampan akibat merapal ilmu Jarum Terbang Debu

Pasir yang belum dikuasainya dengan benar.

”Heh, kakek Gu! Apa yang kamu pikirkan? Sedari Gu Yo pergi ke

kota Siaw Tiong Goan, kau banyak sekali berdiam,” ucap nenek Po

terhadap orang sedang duduk tak jauh darinya itu.

”Hmmm...,” jawap kakek Gu pendek. Ucapan yang kiranya menandakan

bahwa pikirannya masih mengembara ke sana kemari dalam

alam khayalannya sendiri.

”Ya, sudah! Aku mau masak dulu, sebentar lagi kita makan bareng,”

ucap nenek Po kembali sambil bangkit dan berbalik masuk ke dalam

pondoknya. Sibuk ia kemudian mengaduk-aduk kuali besar yang

menebarkan di udara suatu keharuman menggoda lambung. Keharuman

akan kelezatan yang tidak akan didiamkan begitu saja oleh

cacing-cacing penghuni perut. Segera mereka akan berontak minta

diasup.

Kakek Gu, sepeninggal nenek Po, masih saja tenggelam dalam lamunannya.

Dan benar seperti perkataan nenek tersebut, bahwa ia

325

terlamun-lamun ada kaitannya dengan pemuda yang disebut-sebut

itu. Gu Yo. Ia terpikir akan pemuda itu. Entah bagaimana, ada hal

yang menarik dari pemuda itu, sehingga tetap lekat pada ingatannya.

Ia masih teringat bagaimana ia yang saat itu sedang bertarung sengit

dengan Su-Mo ditolong oleh pemuda itu. Tetapi akibat ilmu mujijat

yang dirapalnya yaitu Jarum Terbang Debu Pasir, suatu ilmu dasyat

yang dapat mengubah butir-butir debu di sekeliling perapalnya menjadi

padat dan berbentuk jarum untuk diterbangkan menyerang sang

lawan, yang melukai sang pemuda sendiri karena belum benar-benar

menguasainya. Di situlah perkenalan antar keduanya dimulai.

Dengan dibantu nenek Po, kakek Gu mencarikan daun-daun obat untuk

ramuan kesembuhan pemuda itu, yang kerap dipanggil ”anak Yo”

oleh kakek Gu. Sampai akhirnya ia diberi nama dengan she kakek

Gu, menjadi Gu Yo. Nama yang juga memudahkan perjalanan anak

tersebut di kota Siaw Tiong Goan, suatu kota di mana penduduknya

kerap berasal dari Tlatah Tengah (Tionggoan) yang kadang sulit untuk

melafalkan nama dari tempat lain, dalam rangka mencari keturunan

dari Ceng-Liong Hui-To.

Lamunan kakek Gu terhenti saat beberapa orang memasuki halaman

rumah nenek Po. Orang-orang dengan tubuh-tubuh kekar dan kasar.

Diantara mereka terdapat empat orang yang sekilas terlihat berbeda

karena langkahnya yang lebih ringan dan berisi. Orang berilmu.

”Zahnloserbauer (Petani Ompong), saatnya kita putuskan perhitungan

kita! Utangmu padaku harus lunas hari ini,” ucap seorang dari

mereka, yang berwajah agak gelap. Hek-Mo, salah seorang dari Su-Mo

(Empat Setan).

Kakek Gu yang saat itu sedang menerawang pada sosok Gu Yo, sontak

terkoyak, ia pun menoleh, memperhatikan benar-benar kedelapan

orang yang ada di hadapannya sekarang. Empat orang Su-Mo dan empat

orang baru yang belum pernah ditemuinya. Akan tetapi melihat

dari tongkrongan dan busana yang dikenakan, ilmu keempat orang

yang baru dilihatnya ini tidak lebih tinggi dari Su-Mo. Meskipun

demikian jumlah yang berlipat dua ini pasti akan menjadi masalah

baginya, karena dulu dengan hanya berempat, jika tidak dibantu oleh

Gu Yo, ia tidak mungkin memang. Apalagi sekarang.

326 BAGIAN 6. TATO

Kakek Gu bukanlah takut untuk mati. Konsekuensi perbuatannya

yang membela para petani yang diharuskan membayar ”pajak” kepada

Su-Mo dan kaki-tangannya, akan dihadapinya dengan jantan. Tapi

adanya suatu rahasia yang mesti disampaikannya kepada Gu Yo, yang

merisaukan hatinya. Ia menyesal kenapa tidak dulu-dulu hari ia ceritakan

hal tersebut kepada pemuda itu.

”Su-Mo, bagaimana keadaan kalian? Sudah baikan?” tanyanya menggoda

sambil mengulur-ulur waktu untuk memikirkan suatu siasat agar

dapat meninggalkan pesan pada Gu Yo.

Orang yang ditanya sudah tentu memerah wajahnya. Itu bukan pertanyaan

yang menandakan keingintahuan mencari kabar, tetapi lebih

merupakan ejekan karena dilontarkan oleh orang yang menjadi lawan

dan penyebab keadaan mereka ”tidak baik” yang ditekankan dengan

”sudah baikan”.

Hek-Mo, seorang dari Su-Mo yang terkenal dengan keberangasannya,

tidak biasanya berdiam diri. Rupanya hampir remuknya telapak

kakinya akibat tendangan cangkul kakek Gu, si Petani Ompong,

membuatnya lebih mawas diri akan siapa yang dihadapinya saat ini.

Hanya napasnya saja yang berderu-deru, menunjukkan emosi yang

telah meningkat.

Alih-alih Su-Mo yang menjawab, keempat orang yang baru hari itu

dilihat kakek Gu yang mengambil pembicaraan, kata seorang dari

mereka, ”Salam, orang tua yang bergelar Petani Ompong. Kami Empat

Begal Hutan datang untuk mencoba-coba kemampuanmu.”

”Hmm,” jawab kakek Gu pendek, ”apa hubungan kalian dengan Su-

Mo?”

”Su-Mo menjanjikan pekerjaan penarikan pajak di daerah ini bagi

kami, bila kami bisa menundukkan dirimu, wahai orang tua!” jawab

yang ditanya.

Mengangguk-angguk kakek Gu mendengar penjelasan itu, ”baiklah,

sudah jelas kedudukan kita masing-masing. Aku berada pada pihat

petani yang keberatan akan pajak yang berlebihan besarnya, dan

kalian berada pada pihak Su-Mo yang berlaku sebagai penarik pajak.”

327

Tiba-tiba percakapan itu terhenti oleh terbukanya pintu pondok dan

keluarnya nenek Po. ”Ah, banyak tamu ternyata! Mari-mari, sebelum

’berdiskusi’, kita isikan dulu perut yang meronta-ronta!” Entah

bagaimana, nenek Po seakan-akan tahu akan kedatangan kedelapan

orang itu, sehingga ia telah membawa sebuah nampan besar berisikan

sepuluh buah mangkok besar. Setengah semangka ukurannya. Bisa

dibayangkan adanya suatu ”keahlian” karena ia membawa nampan

yang panjangnya seukuran peti mati dan di atasnya terdapat sepuluh

mangkok besar-besar berisi sup.

Tamu-tamu tak diundang yang datang untuk menagih ”utang” dengan

kakek Gu, entah bagaimana hanya bisa menurut dan bersama-sama

menuju sebuah meja panjang yang terletak di depan pondok nenek

Po. Semuah meja kayu besar bundar yang dilengkapi dengan enam

belas kursi.

Setelah nenek Po selesai melempar-lemparkan mangkok-mangkok

yang ”terbang” dan mendarat dengan sunyi di kesepuluh tempat

dari enambelas tempat yang ada, orang-orang itu duduk pada tempatnya

masing-masing. Delapan buah tempat duduk pada sebelah

sisi telah terisi. Dua buah pada sisi yang berlawanan ditempati oleh

nenek Po dan kakek Gu.

Dan mereka pun mulailah makan. Sunyi. Hanya suara-suara menyeruput

yang terdengar sesekali dan juga kunyahan ringan serta telanan sepi

bahan-bahan dalam sup nenek Po.

Setelah makan semuanya duduk lemas, kenyang dengan apa-apa yang

ada dalam sup nenek Po. Setelah semua perabotan makan dibereskan

dan meja kembali kosong seperti semula, kakek Gu mulai angkat

bicara, ”Ah, enaknya perut telah kenyang, Su-Mo dan kalian Empat

Begal Hutan, mari kita bicarakan ’urusan kita’ sekarang.”

Kelompok lawan bicaranya yang duduk di separuh meja sana menganggukangguk.

Hek-Mo yang biasanya berangasan tampak agak terkantukkantuk.

Puas rupanya ia telah terisi perutnya, sehingga napsu membalas

dendamnya agak berkurang.

Seorang dari Empat Begal Hutan berkata, ”Wahai orang tua, terima

kasih atas jamuanmu. Benar seperti yang diberitakan di tanah Alemania,

bahwa Zahnloserbauer tidak membeda-bedakan kalangan. Semua

328 BAGIAN 6. TATO

dijamu baik, dengan makanan maupun dengan pedang dan tendangan

serta pukulan. Kami merasa tersanjung atas kehormatan ini.”

”Tidak, tidak..,” kata kakek Gu sambil menggoyang-goyangkan telapak

tangannya, ”tidak perlu sungkan-sungkan. ’Jamuan’ selalu siap

tersedia bagi tamu-tamu kami. Mari kita langsung pada permasalahannya.”

Setelah itu, keempat orang Empat Begal Hutan diikuti oleh Su-Mo

berdiri dan mengambil tempat di suatu tempat terbuka tidak jauh

dari sana. Mengikuti dari belakang kakek Gu dan nenek Po. Keduanya

tampak senyam-senyum di antara mereka, menganggap ’urusan’

seperti ini adalah suatu yang ’biasa’.

Keempat orang Empat Begal Hutan lalu mengambil posisi mengepung

kakek Gu saat ia berdiri di tengah tempat terbuka tersebut. Su-Mo

hanya tampak memperhatikan dari pinggir. Ya, Su-Mo ingin terlebih

dahulu melihat kemampuan orang-orang yang menawarkan diri untuk

menjadi penarik pajak bagi mereka. Jika tidak mampu menundukkan

kakek Gu, apalah gunanya Empat Begal Hutan ini, pikir mereka.

”Wahai orang tua, bukannya kami tidak sopan, tapi kami biasa

bertempur berempat. Bila engkau keberatan, katakan saja,” ucap

seorang dari Empat Begal Hutan tersebut pada kakek Gu.

Kakek Gu hanya menggeleng ramah, lalu ia pun menggerakkan tangannya

sedikit, seperti mengucapkan, ”silakan mulai!”

Kelimanya pun mulai berlaga. Pukulan-pukulan dan tendangantendangan

mulai dilemparkan oleh yang punya. Tulang beradu tulang.

Empat Begal Hutan, sebagaimana kakek Gu adalah orang-orang

yang ahli menyerang dengan tangan kosong. Tenaga kasar dan otot.

Walaupun demikian, gerakan-gerakan mereka cukup bagus dan kompak.

Mengejar setiap ruan kosong yang akan dimasuki oleh kakek Gu.

Dalam sepeminum teh, terlihat bahwa kakek Gu hampir-hampir tidak

memperoleh ruang untuk bernapas.

Su-Mo tampak senyam-senyum melihat ketangguhan Empat Begal

Hutan yang akan menjadi penarik pajak bagi mereka. Serangan keempatnya

cukup bagus, bahkan cenderung bagus. Dengan hanya pukulan

dan tendangan mereka dapat mendesak kakek Gu sedemikian rupa

329

apalagi bila menggunakan senjata. Sebenarnya tingkatan Su-Mo dan

Empat Begal Hutan tidaklah berbeda jauh. Perbedaan ini hanyalah

karena Su-Mo seringkali menggunakan senjata tajam golok, sedangkan

Empat Begal Hutan hanya kepalan dan tendangan. Kelebihan

tipis yang tidak terlalu berarti bagi orang-orang yang telah tinggi ilmu

silatnya. Selain itu Empat Begal Hutan masih terhitung belia, baru

belasan tahun apabila dibandingkan dengan Su-Mo yang telah tiga

puluhan tahun.

Su-Mo sebenarnya sudah agak gatal pula untuk turun tangan melihat

pertarungan yang seimbang itu, tapi mereka masih menanti-nanti kemunculan

pemuda yang dulu melukai Hek-Mo dan Pek-Mo. Mereka

perlu berhati-hati bila orang yang diwaspadai itu terlihat batang

hidungnya.

***

Pukul empat kurang sepuluh menit saat itu. Gu Yo telah berada

kembali di jalan raya. Ia telah meminta ijin kepada Ma She yang

telah diberitahu sebelumnya oleh Yok Seng, sang pemilik Kedai Daging

Bakar, bahwa ia diberikan waktu luang antara jam empat dan jam

lima untuk keperluan memenuhi janjinya. Janji untuk menemui nona

Sian Lin di Rumah Tato Ceng-Liong Hui-To.

Kedai Daging Bakar dan Rumah Tato Ceng-Liong Hui-To terletak

pada jalan besar yang sama. Akan tetapi tidak terlalu berdekatan.

Ada persimpangan jalan yang memisahkan keduanya. Selain itu keduanya

berada pada sisi jalan yang berseberangan.

Karena ia telah cukup memperhatikan jalan yang dilalui tadi dari

Rumah Tato Ceng-Liong Hui-To sampai tiba ke Kedai Daing Bakar,

Gu Yo dapat dengan mudah menemukan tempat itu kembali, tanpa

perlu bertanya-tanya kepada orang-orang yang berpapasannya di

jalan.

Rumah Tato Ceng-Liong Hui-To tampak lebih sepi dari pada tadi

siang saat ia pertama kali dalam hidupnya membuat janji. Penjaga

yang tadi menyapanya pun sudah tidak kelihatan juga gadis yang tadi

menuliskan janjinya. Sekarang seorang pemuda juga berbadan tegap

dan gadis lain yang juga manis untuk dilihat tampak menggantikan

tempat mereka bertugas.

330 BAGIAN 6. TATO

Dengan meniru pada cara satu dua orang yang datang, menegur sapa

terlebih dahulu sang penjaga untuk kemudian mencocokkan janji,

nama pengunjung dan nama yang dikunjungi atau membuat janji

baru, Gu Yo pun melakukannya. Karena sikapnya yang baik dan

mirip orang-orang tersebut, kedua petugas itu, sang penjaga dan

gadis pencatat janji, tidak menyadari bahwa Gu Yo tadi pagi adalah

orang yang sama sekali belum mengetahui tata cara mengunjungi

penghuni Rumah Tato Ceng-Liong Hui-To.

Ruangan itu lebar dan terang. Di sana-sini tampak sekat-sekat

ruangan sehingga ruangan yang berlangit-langit lebar itu menjadi

bersegmen-segmen terkotak-kotakkan secara acak oleh sekat-sekat

tadi. ”Mungkin ini yang disebut labyrinth,” pikir Gu Yo. Ia tadi

dibawa ke ruang ini oleh seorang gadis penunjuk jalan, selepas janjinya

untuk bertemu nona Sian Lin dicocokkan.

Pada masing-masing panel baik langsung pada dinding maupun sekat

tampak semacam obyek mirip lukisan atau ukiran pada alas dua dimensi

yang berlatar belakang warna kecoklatan, kadang kekuningan

atau agak gelap. Gambar yang terlihat kadang berupa naga, tulisan

kaligrafi ataupun obyek-obyek lain. Kadang sederhana berwarna satu

atau pun berwarna banyak. Di bawah benda-benda tersebut selalu

diawali dengan kata ”Tato”.

”Bagaimana, apakah anda menyukainya?” ucap sebuah suara merdu

yang memecahkan lamunan Gu Yo yang sedang menikmati atau

sekedar melihat-lihat obyek-obyek pada panel-panel tersebut.

”Eh, anu..,” jawab Gu Yo gugup. Ia tidak tahu harus menjawab

apa. Ini merupakan pengalaman pertamanya berada dalam suatu

ruang dengan dihiasi banyak benda-benda yang memberikan nuansa

tersendiri. Benda seni menurut beberapa orang.

”Halo, saya Swee Sian Lin, ada urusan apa anda ingin bertemu dengan

saya?” tanyanya sambil mengangsurkan tangannya. Gu Yo yang

bingung hanya menjura. Ia tidak tahu bahwa di beberapa tempat,

orang kadang bersalaman saat pertama kali berkenalan.

Melihat itu sang gadis hanya tersenyum. Lalu katanya, ”Ah, anda

pasti dari kalangan pesilat, melihat cara anda memberi salam.”

331

Gu Yo hanya mengangguk saja. Bingung.

”Mari silakan melihat-lihat!” ucap gadis itu kemudian saat melihat

bahwa Gu Yo masih kikuk dengan pertemuan mereka.

Lalu dengan lugas dan menawan gadis itu menerangkan bahwa obyekobyek

yang dilihat Gu Yo adalah tato atau rajah. Lukisan yang digambarkan

di atas tubuh orang. Digambar dengan menggunakan jarum

yang dibubuhi ramuan dan ditorehkan di atas kulit sang pemiliki.

Suatu proses yang menyakitkan tapi menurut mereka tak sebanding

dengan keindahan serta kepuasan yang diperoleh kemudian.

Saat Gu Yo memastikan bahwa apa yang disajikan sebagai obyek seni

tersebut adalah benar-benar kulit manusia, dengan ringan gadis itu

mengiyakan dan menambahkan bahwa dulu lukisan-lukisan ini merupakan

koleksi seorang penjahat yang gemar mengoleksi tato. Tato dari

seorang korban yang hidup. Bisa dibayangkan bagaimana menderitanya

sang korban saat kulitnya dilepas atau dikletek untuk diambil

tatonya. Tapi itu masa lalu. Saat ini sudah tidak ada lagi hal-hal

semacam itu. Dilarang oleh hukum.

Manggut-manggut Gu Yo mendengarkan penjelasan tersebut. Baginya

seni bukan merupakan sesuatu yang benar-benar penting. Keindahan

yang terpancar dari sang gadis lebih menarik untuk dinikmati. Tapi

ia tahu diri dan tidak memandang terus-menerus terlalu lekat.

”Jadi, apa sebenarnya maksud kedatangan anda ke mari, menemui

saya?” tanya gadis itu lagi setelah ia menjelaskan panjang lebar mengenai

apa-apa yang umumnya diceritakan oleh seorang pemandu dalam

suatu galeri atau musium.

”Itu, sebenarnya.., agak memalukan untuk diceritakan,” jawab Gu Yo

sambil tak bisa ditahan wajahnya pun sedikit memerah.

Swee Sian Lin benar-benar baru menemui seorang seperti Gu Yo hari

ini. Sopan, sederhana dan kikuk akan tetapi tampan dengan perawakan

yang bagus. Biasanya orang-orang yang datang menemuinya

adalah tipe-tipe pesolek dan manis mulut. Memuji-muji akan tetapi

tidak tahu apa yang dipuji, karena sebenarnya tujuannya adalah mencari

nona Swee Sian Lin sendiri. Pemuda ini lain, walaupun ia tidak

mengerti mengenai tato, tapi ia menyimak dan tidak berpura-pura

332 BAGIAN 6. TATO

mengerti.

Gadis itu pun menyadari bahwa Gu Yo juga memandang kagum pada

kecantikannya. Sebagai seorang gadis yang sudah sering dipuji orang,

ia bisa mengerti dari cara pandangannya. Walaupun demikian ia

menyukai cara pemuda itu memandangnya, hanya kagum tetapi tidak

kurang ajar. Pandangan kurang ajar adalah pendangan menjelajah

yang seakan-akan mengerayangi seluruh tubuhnya, memandanginya

seakan-akan membayangkan dirinya tanpa busana. Berdasarkan pengalaman

Sian Lin dapat membedakan cara pandang seorang pemuda

kepadanya.

”Eh, anu.., saya saat tadi pagi menjelang siang melihat orang yang

sosoknya mengingatkan saya pada seseorang sehingga saya pun kemudian

mengikutinya. Akan tetapi ternyata sosok itu bukan orang yang

saya perkirakan, melainkan nona Sian Lin,” jelas Gu Yo dengan wajah

yang agak kemerahan. Jengah ia mengatakan hal yang sebenarnya itu.

”Siapa orang yang anda maksud itu?” tanya gadis itu ingin tahu.

”Tunangan saya,” jawab Gu Yo pendek.

”Ah, saya mengerti sekarang. Jadi anda salah lihat orang,” menganggukangguk

gadis itu mendengar penjelasan sang pemuda. Rupanya hanya

masalah salah lihat saja, sehingga pemuda itu sampai membuat janji

untuk bertemu dengannya. Hanya untuk memastikan apakah dirinya

adalah tunangan sang pemuda.

”Karena anda telah di sini, dan saya juga telah meluangkan waktu bagi

anda, marilah kita tuntaskan melihat-lihat Rumah Tato Ceng-Liong

Hui-To ini,” usul sang gadis. Baginya tak jadi soal bahwa ternyata pemuda

itu tidak memiliki keperluan sebenar-benarnya dengan dirinya.

Gu Yo hanya mengangguk mengiyakan. Ia sengan bahwa gadis itu

tidak marah karena waktunya terbuang percuma.

Kemudian mereka pun berkeliling lagi dalam galeri itu, meninjau

ruangan-ruangan yang terbentuk oleh panel-panel sekat yang tadi

belum dirampungkan. Saat ini Gu Yo benar-benar menyimak apaapa

yang dijelaskan oleh gadis itu. Entah bagaimana, mungkin karena

suara yang merdu dan juga caranya menjelaskan, dirinya menjadi lebih

333

tertarik pada kisah-kisah di balik tato-tato tersebut.

”Ini tato seorang gadis panggilan, Bunga Merah. Ia dipesan oleh sang

penjahat pengumpul tato. Kemudian ia dibunuh di ruangan tempat

seyogyanya orang pelesir dalam rumah bordil dan ditinggalkan di sana

mayatnya.. dan juga bayarannya plus bonus..,” begitu salah satu dari

cerita-cerita seram di balik pengumpulan bagian tubuh manusia yang

berlukiskan macam-macam itu.

Tiba-tiba terdengar teriakan histeris seorang wanita, ”Ahhhhhh!!!

Ada darahhh!!”

Bergegas Sian Lin diikuti oleh Gu Yo menuju sumber suara tersebut.

Berbelok ke kiri dan ke kanan di antara panel-panel yang ada sampai

mereka tiba di suatu lorong panjang yang tidak lagi menjadi bagian

ruangan besar tadi, melainkan suatu bagian lain ruangan yang merupakan

koridor dari dua ruang besar. Salah satunya ruangan tempat

ia dan Sian Lin tadi berada.

Di tengah-tengah koridor itu tampak seorang gadis yang terduduk di

salah satu dinding dan memandang dinding lain dihadapannya. Di

sininya telah ada seorang pemuda, pemuda yang tadi pagi bertugas

menjaga dan membantu Gu Yo membuat janji. Di hadapan gadis itu

tampak sehelai tato segar, baru dan berdarah-darah pada panel diding.

Ditempelkan sedemikian rupa sehingga melengkapi tato yang telah ada

sebelumnya. Keduanya saat itu menjadi tato pasangan burung merak

hitam dan putih.

”Nona Sian Lin, itu...!” tunjuknya dengan muka pucat. Dan tidak

hanya ia, sang pemuda yang berusaha membantunya bangkit juga

terlihat pasi saat melihat tato tersebut.

Tak luput dari pengamatan Gu Yo bahwa wajah Swee Sian Lin pun

berubah, akan tetapi tidak sepucat kedua karyawannya itu.

”Dia datang kembali...!” ucap sang pemuda tak selesai karena lirikan

mata Swee Sian Lin.

***

”Hidup membujang ada enak dan tidaknya, memang...,” guman seorang

pemuda yang tampaknya sedang memasak sesuatu di atas kom334

BAGIAN 6. TATO

por. Badannya tegap, perawakannya tidak terlalu tinggi, dengan wajah

bulat dan selalu diselipi senyum yang ramah, membuatnya menarik

untuk dilihat. San Cek Kong nama pemuda itu.

Ruangan tempat San Cek Kong berada tidak terlalu besar, hanya dua

tombak kali dua tombak ukurannya. Di salah satu sudut ada tempat

tidurnya yang ditemani dengan sebuah lemari kayu besar. Di sudut

lain ada kotak kecil yang berfungsi sebagai jamban dan juga tempat

mandi menggunakan pancuran. Tak jauh dari kotak mandi tersebut

adalah tempat ia berdiri sekarang, dapur kecil. Tempat ia memasak

masakan sehari-harinya. Ia biasa pulang saat waktu makan dan masak

serta makan sendiri di rumah. Tidak seperti teman-temannya yang biasanya

diberi bekal oleh istri-istrinya dan memakan bekalnya di tempat

mereka bekerja.

Saat ia sedang menjerang sayur-sayuran untuk ditumis. Tiba-tiba

berdering dan berderu selang besi yang ada di depan meja kerjanya.

Atau tepatnya meja serba-serbi. Ia makan, bekerja dan juga membacabaca

di atas meja tersebut.

Selang besi yang dikenal orang sebagai Selang Surat. Suatu selang

atau pipa tepatnya yang menghubungkan satu tempat dengan tempat

lain, yang di dalamnya dengan menggunakan tekanan udara dari suatu

mesin, dapat mengantarkan surat yang terlebih dahulu dimasukkan

dalam suatu tabung dari kayu. Tabung ringan dan kuat, yang akan

terhembus dengan cepat oleh udara bertekanan tinggi, dan dialirkan

ke tempat tujuan. Sebuah teknologi surat mekanik.

Bergegas ia beranjak ke meja tersebut, dicari-carinya di mana ujung

selang atau pipa besi yang berada di atas meja, yang telah tertutup

oleh timbunan kertas-kertas dan buku-buku itu. Akhirnya berhasil

didapatkannya. Di ujung selang tersebut tersembul sebuah gulungan

kecil surat. Lubang gulungan surat itu pas dengan ukuran ibu jari

orang dewasa.

Warna penanda gulungan surat itu hitam. Kematian. Warna yang

dilukiskan pada sisi gulungan sehingga berlaku seolah-olah pita pengikat

gulungan itu. Pengikatnya sendiri adalah seutas benang berwarna

sembarang.

”Pembunuhan atau bunuh diri, ya?” gumam San Cek Kong, sam335

bil ia menggigit sendok pencicip makanan yang saat itu sedang

dipegangnya dan membuka surat itu dengan tangannya yang lain.

Berubah matanya saat membaca isi dari surat itu. Bukan karena

kasus itu sendiri melainkan lokasi tempat kasus itu terjadi. Rumah

Tato Ceng-Liong Hui-To.

Jarang-jarang terjadi kasus pada suatu tempat seterkenal Rumah Tato

Ceng-Liong Hui-To. Di sana umumnya hanya dipamerkan lukisan

berupa tato-tato pada kulit manusia yang langka dan mahal. Suatu

koleksi yang saat ini telah dilarang karena berkaitan dengan rasa

kemanusiaan. Ya, siapa orang yang rela kulitnya ditato untuk kemudian

dikletek dan dijadikan pajanganan. Sudah tentu dulunya koleksikoleksi

itu didapatkan dengan cara yang tidak manusiawi dan legal.

Dan dalam surat itu tertera bahwa suatu ”koleksi baru” telah dipasang

orang di dekat sebuah tato. Sebuah kulit yang masih segar dan

mengeluarkan darah. Suatu cara yang tak lazim untuk menandakan

adanya suatu kasus pembunuhan. Dengan kata lain, belum tentu terjadi

pembunuhan, bisa saja korbannya, sang pemilik tato masih hidup,

walau dalam keadaan kritis. Untuk itu kasus ini memang memerlukan

penanganan sesegera mungkin.

Dengan tatapan sedik San Cek Kong memandang sayuran yang baru

dimasaknya. Makan siang yang sudah jauh telat dari waktu seharusnya

pun tak bisa dinikmatinya. Tak ada lagi waktu untuk makan

sekarang. Ia hanya mengambil sepotong daging setengah kepal dari

sayur telah masak itu, menjejalkannya ke dalam mulut dan bergegas

memakai seragam dinasnya. Seragam seorang Paturan (penegak aturan

atau polisi).

Dengan langkah ringan karena rapalan gerak Terbang Menyentuh

Ujung Rumput, San Cek Kong segera sampai pada tempat kejadian.

Ia tidak terlebih dahulu ke kantornya, Rumah Jaga Ceng-Liong

Hui-To, melainkan langsung ke tempat kejadian. Dari surat yang

diterimanya, dikatakan bahwa para rekannya telah dalam perjalanan

ke tempat peristiwa tersebut terjadi. Jadi tidak ada gunanya ia pergi

terlebih dahulu kembali ke kantor, meskipun buku catatan yang biasa

digunakannya ada di sana.

***

336 BAGIAN 6. TATO

”Hai Inspektur San Cek Kong, cepat sekali anda datang!” sapa seorang

pegawai Paturan kota Siaw Tionggoan, Ang Tiong namanya.

”Rasanya baru saja saya kirimkan anda surat mekanik. Saya perkirakan

anda seharunya masih dalam perjalanan,” lanjutnya kemudian.

San Cek Kong atau tepatnya Inspektur San Cek Kong tidak terlalu

menghiraukan ucapan itu melainkan langsung meminta catatan

situasi di lapangan yang telah dirangkum oleh Ang Tiong. Dengan

sigap pegawai Paturan tersebut menyerahkan sebundel kertas-kertas

bertuliskan tangan berbeda-beda. Hasil catatan beberapa orang mengenai

peristiwa yang terjadi. Orang-orang yang bekerja dalam tim

forensik pimpinan Ang Tiong.

Dari catatan para rekannya yang bertugas pertama-tama mengumpulkan

bukti-bukti forensik di lapangan, tidak banyak informasi yang bisa

diserap San Cek Kong, kecuali posisi tempat terdapatnya tato segar

yang masih berdarah, saksi-saksi dan waktu kejadian. Korbannya

sendiri, bila memang ada, belum ditemukan atau bisa diindikasikan.

Pada jaman itu, tato tidak lagi menjadi tren, sehingga sulit untuk

mencari keterangan mengenai hal itu secara cepat.

Selain itu ada hal lain pula yang membuat San Cek Kong tertarik untuk

menuntaskan masalah ini, yaitu siapa lagi jika bukan nona Swee

Sian Lin, pemilik Rumah Tato Ceng-Liong Hui-To, tempat kejadian

itu berlangsung. Antara keduanya tidak terdapat hubungan khusus

kecuali bahwa keduanya dulu pernah bersekolah bersama-sama di suatu

perguruan silat yang kebetulan juga tempat seorang yang namanya

digunakan pada kedua tempat mereka bekerja sekarang, Ceng-Liong

Hui-To. Perguruan silat tanpa nama itu terletak di sebuah bukit di luaran

kota Siaw Tionggoan. Agak desa suasananya, jauh di arah barat

dari kota.

”Cek Kong-koko!” sapa Sian Lin saat melihat San Cek Kong masuk ke

dalam ruangan tempat ia sedang menenangkan pegawainya yang menjadi

saksi ditemukannya tato burung merak hitam yang masih segar,

yang melengkapi tato burung merak putih yang telah ada sebelumnya.

Gu Yo saat itu telah kembali ke Kedai Daging Bakar karena

waktunya untuk rehat di sela-sela pekerjaannya telah habis. Tapi ia

telah dipesankan oleh seorang paturan bahwa sekali-kali ia akan dipanggil

untuk diminta keterangan, karena ia pada saat tersebut berada

337

di tempat kejadian.

”Sian Lin-moymoy, engkau baik-baik saja?” tanya Cek Kong kepada

gadis itu. Gadis itu mengangguk mengiyakan sambil menunjuk pada

pegawainya yang kelihatannya masih dalam keadaan stres akibat penemuan

tato segar tersebut. Ya, tidak setiap orang siap dengan keadaan

tersebut, apalagi bila yang ditemui dalah mayat korbannya dan bukan

hanya kletekan kulitnya yang bertato.

Tak banyak informasi tambahan yang diperoleh San Cek Kong, tim

forensik pimpinan Ang Tiong telah bekerja sangat baik. Semua pihak,

kecuali gadis yang sedang stres dan masih sesengukan itu, telah

ditanyai. Dan saat ditanya ulang oleh San Cek Kong, keterangan

mereka tidak banyak berbeda.

”Eh, katamu tadi engkau mendapat tamu?” tanya Cek Kong kemudian

pada Sian Lin.

”Ya, ada seorang pemuda, Gu Yo namanya. Ia bekerja di Kedai Daging

Bakar paman Yok Seng di seberang simpang jalan sana, masih

jalan yang sama,” jelas gadis itu.

”Tentu saja aku kenal Kedai Daging Bakar paman Yok Seng, sering

kami makan-makan di sana. Selain lezat, harganya juga agak terjangkau

bagi kantung kami-kami ini, pegawai paturan,” senyum Cek

Kong. ”Bagaimana bila kita makan malam di sana, kebetulan aku

belum sempat makan siang, dan eh – sekalian berbicara dengan pemuda

itu, Gu Yo ’kan namanya?” usul pemuda itu kemudian.

Gadis itu menggangguk mengiyakan.

Setelah sedikit melihat-lihat tempat kejadian tersebut, mencatat halhal

yang dipikirkan agak janggal di tempat kejadian, Cek Kong pun

pamit pada rekannya sesama paturan. Ia kemudian berjalan bersama

nona Sian Lin menuju Kedai Daging Bakar, tempat di mana Gu Yo

bekerja.

***

Perbedaan usia dalam suatu pertempuran akan menampakkan hasilnya

apabila telah berjalan cukup lama. Dulu waktu kakek Gu

bertarung dengan Su-Mo setelah lama berlangsung, mulailah kakek

338 BAGIAN 6. TATO

Gu terlihat terdesak karena perbedaan usia. Tapi saat itu perlu beberapa

saat mengingat usia Su-Mo yang kira-kira telah setengah usia

kakek Gu. Saat ini dengan Empat Begal Hutan yang usianya baru

kira-kira seperempat usia kakek Gu, lebih cepat kakek Gu mengalami

kelelahan. Ia mencoba untuk tidak terlalu menggunakan kecepatan

dan tenaga. Bergerak hanya saat-saat diperlukan saja. Untung keempat

orang lawannya itu hanya menggunakan tendangan dan pukulan,

sehingga ia tidak terlalu terancam bahaya seperti saat dulu bertarung

langsung dengan Su-Mo.

”Bukkk!” sebuah tendangan mendarat pada punggunggnya, yang

membuat kakek Gu terdorong maju selangkah. Akibat ketidakwasapadaannya

itu ia harus kehilangan beberapa saat yang menguntungkan.

Dalam pertempuran dengan banyak lawan, satu langkah

yang salah, harus dibayar dengan tiga sampai empat pukulan. Dan

benar saja, ”Desss!!” sebuah pukulan pun masuk ke dalam perutnya,

ini akibat langkah maju yang seharusnya tidak dilakukannya tadi.

Dan kemudian masih, ”plakk!!” sebuah tamparan mengenai pinggang

kanannya.

Untuk mengakhiri kedudukannya yang tidak menguntungkan itu kakek

Gu pun merendahkan dirinya, memasang kuda-kuda dengan kaki lebar

terpentang. Ia akan menyerang kaki-kaki para lawannya itu dengan

tumitnya, seperti dulu saat ia gunakan jurus itu untuk menyerang

Hek-Mo, yang hampir meretakkan tulang atas telapak kaki dari Hek-

Mo tersebut.

”Hati-hati tendangan pacul rendahnya!” tiba-tiba Hek-Mo berucap.

Ia yang pernah mengalami sendiri keampuhan jurus itu tanpa sadar

berucap.

Mendengar kata-kata tersebut keempat orang Empat Begal Hutan

melambatkan geraknya, berhati-hati terhadap serangan mendadak

kakek Gu. Akan tetapi sayang ucapan itu telat, belum sempat mereka

berempat sadar apa yang akan dikeluarkan oleh kakek Gu, sang penyerang

telah bergerak. Cepat. Kiranya dengan sisa-sisa tenaganya

kakek Gu mengharapkan setidaknya ada satu dua kaki yang bisa

remuk oleh tumitnya. Tumit si Zahnloserbauer.

”Hiaatt!!” serangan kakek Gu ke arah kepala dan pundak beberapa

339

orang dielakkan dengan mudah dan tipis dengan hanya menarik kepala

ke belakang dan memindahkan sedikit titik berat tubuh. Setelah

dua orang lolos, kakek Gu masih berusaha untuk menyerang orang

ketiga dan keempat. Kedua orang terakhir inilah yang sebenarnya

merupakan tujuan kakek Gu. Seketika mereka melihat bahwa rekannya

dengan cara sebegitu saja dapat mengelak, mereka menjadi tidak

berwaspada, dan hal itu yang diharapkan oleh kakek Gu.

Dengan hanya memindahkan sedikit titik berat dan menarik kepala,

membiarkan kaki depan mereka tidak berpindah, membiarkannya

dalam jangkauan tumit cankul kakek Gu, si Zahnloserbauer. Dan

”takk!!” serta ”krakkk!!” dua buah kaki dari dua orang yang berbeda

terkena tendangan cankul bergantian kanan dan kiri dan kakek Gu.

Tendangan yang awalnya ditipukan untuk menyerang kepala dan pudak

kedua orang tersebut, suatu tipuan yang telah dipertontonkan

sebelumnya kepada kedua orang rekan mereka. Tipuan manis yang

menghanyutkan. Tipuan yang meraih korbannya dengen telak.

Seruan Hek-Mo pun datang terlambat, ”itu kaki.., awas....!!”

Kedua orang yang menjadi korban tampak sesegera mungkin bersalto

ke belakang, menghindari adanya kemungkinan mendapat serangan

dadakan susulan. Kedua rekan yang masih sehat pun tampak terkejut.

Suatu serangan di luar perkiraan mereka. Serangan seorang pakar

pertempuran, yang telah banyak mengalami pertarungan.

Napas memburu tampak pada wajah kakek Gu. Empat serangan dengan

delapan variasi telah dilakukannya untuk menyerang Empat Begal

Hutan. Dua untuk mengelabui dan dua untuk benar-benar menyerang.

Terpaku pada sesuatu yang telah ”lazim” berlangsung merupakan

salah satu kelemahan manusia. Dan hal-hal ini dimanfaatkan oleh

orang-orang yang mengetahui dan mengerti untuk menciptkan dinamika.

Menghidari kebosanan. Dari sini bisa banyak yang dituai

atau ditarik keuntungan. Dalam pertarungan juga demikian. Apabila

musuh terus-menerus mengeluarkan jurus-jurus yang sama, kita akan

terlena dan menjadi yakin bahwa musuh hanya memiliki gerakangerakan

ini dan tidak lainnya. Demikian pula dengan Empat Begal

Hutan yang dari segi umur masih belia apabila dibandingkan dengan

340 BAGIAN 6. TATO

kakek Gu atau pun dengan Su-Mo. Keterlenaan mereka harus dibayar

dengan remuknya dua telapak kaki dari dua orang dari mereka.

”Bagaimana, Empat Begal Hutan? Masih ingin dilanjutkan?” tanya

kakek Gu keren, tanpa ada nada sombong di suaranya yang sudah

kembang-kempis. Ia tidak berusaha menutup-nutupi keuzuran usianya

yang berarti staminanya juga telah turun jauh, terutama untuk pertarungan

jangka panjang.

Keempat Begal Hutan tidak menjawab. Sebenarnya di dasar hati

mereka, telah tumbuhi rasa malu bahwa mereka yang masih muda

dan berempat tidak bisa menghadapi seorang yang telah tua. Seorang

yang kelihatannya rapuh, bagai akan terbang ditiup angin belaka.

Sebelum satu dari empat orang itu menjawab, telah turun kata

dari seorang Su-Mo, Hek-Mo, ”Kakek Gu, cepat suruh pemuda itu

keluar. Kami masih ingin menjajal ilmu iblisnya itu.” Saat berkata

masih bergidik Hek-Mo sesaat membayangkan saat Gu Yo atau Paras

Tampan merapalkan ilmu ”Jarum Terbang Debu Pasir” yang menyerangnya

dan juga Pek-Mo. Keduanya mengalami luka yang cukup

parah. Bagian tubuh pinggang ke bawah diterjang jarum-jarum halus

yang terbuat dari debu dan pasir yang direkatkan oleh Tenaga Tanah

dan dikirimkan dengan pukulan atau hempasan. Masih untung pemuda

itu belum begitu berpengalaman, sehingga bagian tubuh mereka

yang luka bukannlah bagian-bagian penting dari jalan darah yang

ada. Jika tidak, sudah berada satu dua meter mereka di dalam tanah,

bersemayam di sana selamanya.

Pertanyaan inilah yang tidak diharapkan oleh kakek Gu. Ia tahu atau

dapat memperkirakan mengapa sedari tadi Su-Mo belum turun tangan.

Mereka masih jerih akan adanya Gu Yo, dan menunggu terlebih

dahulu sampai pemuda itu muncul. Mendengar pertanyaan itu,

berputar keras otak kakek Gu. Ia harus mencari siasat untuk itu.

Bukan hanya untuk menyelamatkan dirinya, tapi juga menyampaikan

pesan yang tadinya masih ragu untuk dikatakan kepada Gu Yo. Tapi

setelah lama berdiskusi dengan nenek Po, akhirnya diputuskan bahwa

hal itu haruslah disampaikan. Untuk kebaikan Gu Yo sendiri, dalam

rangka misinya.

Untuk itu kakek Gu berniat untuk mengadu jiwa, sementara ia melihat

341

bahwa nenek Po tampak telah siap sedari tadi berkemak-kemik merapalkan

sesuatu. Kakek Gu pun memantapkan niatnya. Ia menegakkan

tubuhnya dan mengatur nafas lambat sampai tak terdengar. Lalu

katanya keren, ”Bagaimana jika kalian semua berdelapan sekarang

maju serentak? Biar tak habis waktu kita.”

***

Pemuda dan pemudi itu tampak lahap menyantap daging bakar yang

disajikan dengan saus kacang dan kecap manis pekat. Sesekali terdengar

suara dari dalam perut melalui leher sang pemuda. Menandakan

bahwa makanan yang disantapnya membuat sang perut kenyang. Si

pemudi tampak lebih santai dalam menyantap, tidak sepesat dan

segarang sang pemuda.

Akhirnya makan malam itu pun usai. Keduanya tampak terduduk

agak lemas. Lemas setelah perut diisi penuh. Juga lemas akibat halhal

yang baru saja berlangsung.

”Kedai Daging Bakar pamam Yok Seng ini memang tiada tandingannya

di kota Siaw Tionggoan,” ucap pemuda itu sambil menyeka

mulutnya dengan semacam kertas atau kain yang disediakan untuk

itu.

”Iya, memang benar,” sahut si gadis pendek mengiyakan.

Keduanya kemudian terdiam, masih terbayang peristiwa yang barubaru

saja terjadi di suatu tempat. Tempat kerja si gadis.

”Bagaimana bila pemuda itu kita tanyai sekarang?” usul sang pemuda.

”Boleh juga, tapi apa tidak mengganggu kerjanya?” balik tanya si

gadis atas usul rekannya itu.

”Seharusnya sih jam-jam segini mereka telah beristirahat, akan tetapi

lebih baik bila kutanyakan saja pada kepala pelayan di sana,” katanya

sambil bangkit dan menuju kepada seorang pelayan yang sedang

bertugas mengawasi jalannya kegiatan di Kedai Daging Bakar pada

hari itu.

Sebelum pemuda itu bertanya, sang pelayan kepala yang sedang duduk

itu segera berdiri saat melihat pemuda itu menghampirinya, lalu sapa342

BAGIAN 6. TATO

nya, ”Selamat malam, Inspektur San Cek Kong! Apa anda ingin

memesan lagi?”

”Ah, tidak paman. Tadi sudah cukup. Lebih dari cukup. Sudah

penuh lambung kami berdua,” jawabnya ramah. ”Saya hanya ingin

bertanya, apa kami – saya dan nona Sian Lin, boleh berbicang-bicang

sedikit dengan Gu Yo, seorang yang bekerja di sini?”

”Maksud inspektur, Gu Yo yang baru mulai bekerja hari ini?” tanyanya.

Gu Yo mendadak hari itu menjadi terkenal karena ia membawa suatu

cerita menghebohkan saat ia kembali ke Kedang Daging Bakar,

selepas kunjungannya ke Rumah Tato Ceng-Liong Hui-To tadi sore.

Pemuda itu, yang dipanggil inspektur San Cek Kong mengangguk.

Tapi kemudian ia menambahkan, ”bila tidak mengganggu kerjanya,

tentu saja. Atau perlu saya membawa surat resmi?”

”Ah, tidak perlu inspektur. Gu Yo dan yang lainnya pasti sedang

beristirahat saat ini. Jam-jam segini sudah tidak ada lagi kegiatan

yang kerap di dapur,” jawab sang pelayan kepada sambil menggerakgerakkan

tangannya. ”Sebentar akan saya panggilkan.”

Tak lama kemudian pemuda yang ingin ditanyai oleh San Cek Kong

dan Swee Sian Lin pun tiba di meja tempat kedua orang itu duduk.

”Ji-wi berdua memanggil saya?” tanyanya sopan. Ia telah mengenap

nona Sian Lin, akan tetapi pemuda yang bersamanya baru dilihat saat

itu. Ia tidak tahu bahwa ia dan San Cek Kong tadi berselisih jalan di

dekat Rumah Tato Ceng-Liong Hui-To. Karena keduanya tidak saling

mengenal, maka saling tidak memperhatikan bahwa masing-masing

sempat hampir bertubrukan tadi.

”Duduklah, Gu Yo!” sahut Sian Lin ramah.

Sementara San Cek Kong hanya menggangguk sambil tersenyum. Sebagai

seorang paturan yang telah lama bertugas, ia memanfaatkan

saat pertama bertemu dengan orang baru untuk menilainya. Membiarkan

naluri alamiah seorang manusia untuk merasakan apa-apa

yang bisa ditangkap. Hal ini perlu. Berdasarkan pengalamannya, bila

orang telah kenal lama, naluri ini kadang-kadang menjadi tumpul

karena teralihkan oleh kesan-kesan yang timbul dari cerita atau

343

perkataan orang. Dan juga dari kesan yang ingin ditampilkan oleh

orang itu sendiri. Atas dasar ini banyak kejahatan yang muncul dari

teman dekat, saudara atau lainnya. Naluri mereka telah tertindas

oleh kebiasaan bahwa orang-orang yang dekat dengan mereka adalah

orang-orang ”baik” yang tidak mungkin melakukan kejahatan. Padahal

kadang sebaliknya. Orang yang paling baik, kadangkala memiliki

kesempatan untuk melakukan kejahatan juga yang paling sempurna.

Setelah puas menilai dan mengira-ngira San Cek Kong pun kemudian

memperkenalkan dirinya sebagai inspektur yang ingin berbincangbincang

dengan Gu Yo perihat peristiwa tadi siang yang terjadi di

Rumah Tato Ceng-Liong Hui-To.

Gu Yu pun hanya mengangguk dan ia berdiam menunggu pertanyaan

yang akan diajukan oleh inspektur San Cek Kong.

***

”Hek-Mo, engkau baik-baik saja?” tanya Huang-Mo atau si Setan

Kuning kepada rekannya si Setan Hitam, yang baru saja dipeluk erat

kepalanya dengan kedua telapak tangan kakek Gu yang meregang

nyawa atas bacokan Hek-Mo.

”Tidak, aku... tidak apa-apa..!” katanya agak tak yakin. Dicarinya

dengan padangan mata di mana rekan kakek Gu, nenek Po, berada.

Tampak bahwa yang dicari lagi terduduk tenang akan tetapi

tanpa tanda-tanda kehidupan. Melepas nyawa bersamaan dengan

terbangnya nyawa kakek Gu.

Ucapan kakek Gu yang bagaikan menyiramkan minyak tanah kepada

api kecil itu membuat Su-Mo bak kebakaran jenggot jadinya. Tanpa

dikomando keempatnya turunkan tangan dan kakinya melengkapi

barisan empat pengeroyok kakek Gu sebelumnya, Empat Begal Hutan.

Runyam jadinya. Melawan empat orang saja dari mereka kedudukan

sudah seri bagi kakek Gu. Apalagi sekarang melawan delapan orang

sekaligus. Akan tetapi niatan untuk menyampaikan pesan kepada Gu

Yo membuatnya tenang. Alih-alih cemas, malah wajah kakek Gu menjadi

lebih sumringah. Tersenyum-senyum dan tampak seakan-akan

siap menerima apa-apa yang akan terjadi pada dirinya kelak, bahkan

yang terburuk sekalipun.

344 BAGIAN 6. TATO

Pertempuran mati-matian mempertahankan nyawa tak dapat dihindari.

Kakek Gu harus bergerak ke sana dan kemari untuk menyelamatkan

nyawanya yang tinggal selembar itu. Belum saatnya terbacok

golok atau terpukul kepalan Su-Mo, atapun kena gebug pukulan dan

tendangan Empat Begal Hutan. Ia masih perlu waktu untuk sesuatu.

Waktu. Satu hal itu yang kiranya agak sulit diharapnya sekarang,

demi melihat kelebatan pukulan dan bacokan silih berganti di sekelilingnya.

Hampir membuatnya tak bisa bernapas sebelum bergerak ke

sana-ke sini, di antara hujan serangan.

Tiba-tiba tampak sekelebat bayangan nenek Po. Samar seperti asap.

Ia menunjuk-nunjuk kepada Hek-Mo, anggota Su-Mo yang paling berangasan

dan beremosi. Kakek Gu pun mengangguk. Ia mengerti

bahwa pesan itu harus dialamatkan pada orang itu. Orang yang paling

membencinya. Paling kesal padanya, sehingga paling mudah dirasuki.

Tanpe membuang waktu, kakek Gu mengempos tenaganya. Ia berusaha

menghalau hujan pedang dan pukulan ke sana kemari, sehingga jalannya

ke arah Hek-Mo terbuka. Lalu sebagai siasatnya agar Hek-Mo

emosi, ia harus berkata-kata yang pedas. Untuk membuat lawannya

itu tidak lagi waspada memelihara batinnya.

”Hei, Hek-Mo! Hanya sampai sini saja kepandaianmu?” ucap kakek

Gu merendahkan. Walau ia sendiri sadar, berbicara sambil bertempur

itu akan membahayakan dirinya sendiri. Tapi misinya harus dituntaskan,

dan kelihatannya harus ditebus dengan nyawanya. Dan

mungkin pula dengan nyawa nenek Po.

Mendengar itu, sontak Hek-Mo mendelikkan matanya dan mulutnya

menggereng-gereng. Sudah tidak tahan lagi ia untuk berkata-kata.

Gerengannya itu sudah melambangkan kekesalan hatinya akan kakek

Gu. Dulu sekali dikalahkan dan saat ini pula kakek Gu masih tampak

berdiri dengan gagah di tengah-tengah kepungan kedelapan orang itu.

Hek-Mo menjadi marah. Adanya ketujuh rekannya membuat nyalinya

sedikit berkembang. Ia pun maju mendekat sambil membantu rekanrekannya

menyerang kakek Gu semakin gencar.

”Hehehe, bagus datanglah Hek-Mo, biar kakiku bisa mampir lagi ditubuhmu!”

ejek kakek Gu yang sudah kepayahan terpukul beberapa

kali. Untuk saja belum ada bacokan golok yang bersarang di tubuh345

nya.

”Grrrrggghh!!” mengerang Hek-Mo sambil melompat membacok dua

kali dengan dua goloknya. Umumnya ia tidak menggunakan dua golok,

tapi hari ini entah kenapa ia mencoba menggunakan ilmu baru yang

menggunakan satu golok di tangan kanan dan satu di tangan kiri dengan

arah pegang yang berbeda. Satu ke atas satu ke bawah.

Suatu serangan yang berbahaya, tapi kakek Gu seakan-akan tidak

memperhatikannya. Matanya tampak tertuju pada sebuah titik di

antara kedua mata Hek-Mo. Dan ia pun melihat bahwa bayangan

samar nenek Po juga telah siap di belakang Hek-Mo. Sekali lagi mengangguk

kakek Gu pun bagai menyongsong sabetan atas ke bawah dan

bawah ke atas dari Hek-Mo. Matanya tetap lekat ke titik yang tadi

diperhatikannya.

”Cakkk!!! Crakkk!!” kedua golok itu mendarat dengan ganas di tubuh

kakek Gu. Satu di pundah menuju dada dan satu di bawah ketiak

menuju leher. Sabetan menyilang. Sabetan Serong Atas Bawah Dua

Golok. Suatu jurus dari Hek-Mo, anggota paling berangasan dari

Empat Setan (Su-Mo).

Saat Hek-Mo berpuas diri melihat darah yang mengalir pelan dari

kedua tempat di mana kedua senjatanya bersarang, tiba-tiba ia menjerit

ngeri. Bukan saja karena ternyata kakek Gu belum mati, selain

kedua goloknya yang seakan-akan terjebit oleh dagingn dan tulang

yang dibelahnya, tapi juga kedua tangan kakek Gu yang memegang

kepalanya. Menyentuhkan kedua ibu jarinya pada titik di atas

hidungnya. Suatu titik di atanara kedua mata. Serunpun energi

hangat terasa mengalir masuk menggelapkan pandangannya. Telinganya

bagai mendengar kakek Gu dan juga nenek Po bercakap-cakap

kepadanya. Menceritakan banyak hal dari suatu jaman ke jaman lain.

Dan bukan hanya itu, ia juga seakan-akan dapat melihat semua yang

diceritakan kedua orang itu. Bermacam-macam keterangan masuk ke

dalam kepalanya.

Lama semua itu dirasakan oleh Hek-Mo berlangsung, walaupun rekanrekannya

hanya melihat kurang dari sejurus dua, bahwa ia tampak

termangu-mangu atas tekanan kedua jari jempol kakek Gu yang sudah

bersimbah darah pada tengah-tengah kedua matanya, yang kemudian

346 BAGIAN 6. TATO

disusul dengan runtuhnya tubuh kakek Gu ke atas tanah setelah tak

bernyawa lagi.

Bersamaan dengan itu kembalilah kesadaran Hek-Mo, sehingga ia bisa

menjawab pertanyaan Huang-Mo.

”Mari kita pergi!” ajak Huang-Mo kepada rekan-rekannya. Ia sendiri

tidak mengerti apa yang baru saja terjadi. Tapi ia gembira bahwa Hek-

Mo tidak tinggal nyawa di tangan kakek Gu. Walaupun berangasan

Hek-Mo adalah sosok seorang yang setia. Dan itu amat disayangkan

oleh Huang-Mo apabila rekannya itu sampai tewas dalam pertempuran

yang baru saja berlangsung.

Dengan tak berkata-kata kedelapan orang itu pun pergi meninggalkan

tempat itu. Membiarkan saja kedua orang tua yang telah menjadi

jenasah tergeletak di sana. Satu tersungkur bersimbah darah dan

satu terduduk damai.

Setelah sunyi dan tiada orang lagi di sana, tampak sekelebat bayangan

putih tiba di sana. Seorang tua dengan pakaian berwarna putih yang

sederhana, yang dihiasi dengan ramput putih panjang yang dibiarkannya

tergerai. Setelah memandang sebentar dengan sorot mata yang

sedih akan tetapi tenang, ia bergerak ringan bagaikan tak menapak,

menggapai kedua sosok yang telah tiada bernyawa itu. Menentengnya

dengan ringan dan membawanya pergi dari sana.

***

Tak terasa sudah seminggu Gu Yo bekerja di Kedai Daging Bakar

milik Yok Seng. Kerjanya yang ulet dan rajin membuatnya disukai

banyak orang. Ma She yang biasanya jarang berbicara, tampak

banyak berbicara dan sering menyuruh-nyuruh Gu Yo serta juga

mengajari berbagai hal. Ini mungkin karena pemuda itu mudah mudah

diajari dan langsung bertanya apabila penjelasan yang diberikan

Ma She tidak dimengertinya. Pada kebanyakan orang, biasanya

hanya mengangguk-angguk walaupun sebenarnya tidak seratus persen

mengerti. Barulah umumnya belakangan diketahui dari hasil kerjanya,

bahwa sang pelaku tidak benar-benar mengerti apa yang ditugaskan.

Tidak dengan Gu Yo, ia tidak mau melakukan pekerjaannya sebelum

benar-benar mengerti. Dan sikap ini cocok dengan Ma She, sang

kepala koki di tempat itu.

347

”Gu Yo...! Dimana kamu...?” tiba-tiba terdengar panggilan orang.

Orang yang dicari tampak sedang menimba air dari sumur yang berada

di belakang bangunan utama Kedai Dagin Bakar.

”Eh, engkau Ma Siang... Ada apa?” sapa Gu Yo saat melihat bahwa

pemilik suara yang mencari-cari dirinya adalah Ma Siang, keponakan

dari Ma She.

”Kamu tahu tidak, bahwa ada kasus baru lagi?” tanya Ma Siang dengan

jenaka. Bukan buru-buru memberikan penjelasan, ia malah ingin

membuat Gu Yo semakin penasaran.

”Tidak. Eh, kasus apa maksudmu?” tanya Gu Yo balik. Ia sebenarnya

tidak terlalu berminat dengan gosip-gosip yang sering beredar

di tengah-tengah para pegawai di tempatnya bekerja. Gosip-gosip

yang kadang tidak jelas sumbernya. Tapi untuk sama sekali tidak tertarik,

juga sulit. Paling tidak, cukuplah mendengar dan tidak menyebarkan

lebih lanjut. Itung-itung sebagai hiburan.

”Itu kasus yang mirip kasus yang terjadi di Rumah Tato Ceng-Liong

Hui-To..,” jawab Ma Siang pendek sambil senyum-senyum saat melihat

Gu Yo telah tumbuh minatnya untuk tahu lebih lanjut.

”Ada apa memangnya? Ceritakanlah Ma Siang..!” pinta Gu Yo. Tidak

biasanya ia tertarik pada cerita-cerita yang beredar. Untuk kasus yang

satu ini, tak dapat disangkal bahwa ia amat tertarik. Selain karena

ada urusannya dengan nona Swee Sian Lin dan inspektur San Cek

Kong, juga karena ada kaitannya dengan tujuannya datang ke kota

Siaw Tionggoan ini. Tugas titipan mendiang gurunya.

Gembira Ma Siang melihat bahwa Gu Yo tertarik dengan kisahnya.

Biasanya pemuda itu tampak tak acuh dan mendengar ceritanya sambil

lalu saja. Kala ini berbunga-bunga hati dara itu, bahwa orang

yang dikaguminya ingin mendengar ceritanya dengan antusias. Dengan

gayanya yang khas kemudian Ma Siang pun menceritakan peristiwa

yang terjadi di bagian lain kota Siaw Tionggoan itu, di mana

orang menemukan tato segar lain yang masih meneteskan darah. Dan

sama dengan keadaan sebelumnya, bahwa tidak diketahui apakah terdapat

korban ataukah tidak, orang dari mana tato segar itu dikeletek.

Usai mendengar cerita Ma Siang, Gu Yo pun bergegas pergi. Ia merasa

348 BAGIAN 6. TATO

ada hal yang harus ditanyakannya kepada nona Siaw Sian Lin. Hal

yang berkaitan dengan misinya dan juga kemunculan kembali tato-tato

segar tersebut. Entah apa ada hubungan antara keduanya. Panggilan

Ma Siang tidak dihiraukannya, yang tampak jengkel dan menjejakjejakkan

kakinya karena ditinggal begitu saja sehabis bercerita panjang

lebar.

***

”Manusia, sampai akhir pun tidak dapat melepaskan ketergantungannya.

Jika tidak terhadap dua masalah utama: harta dan kekuasaan,

pastilah pada janji-janji dan rahasia masa lalu,” ucap seorang tua

berambut panjang putih yang tampak baru saja membuat dua buah

kuburan baru. Dua buah gundukan tanah baru tampak di hadapannya.

Dengan bagai tanpa tenaga ia mengambil dua buah batu sebesar kerbau

dewasa, yang dicungkilnya dengan tongkat yang baru saja digunakannya

untuk menggali dua buah kuburan itu. Dua buah batu besar

tersebut terungkit dan kemudian terlempar, mendarat dengan debam

berat pada suatu tempat di ujung masing-masing makam.

Lalu ia dengan masih menggunakan tongkat yang sama menggerakgerakkan

tongkatnya, dan angin bercuitan terdengar bersamaan dengan

debu yang mengepul di sekitar salah satu batu penanda makam.

Sederetan huruf yang membentuk kalimat telah dipahatkan di sana.

Dari jarak dua tombak lebih. Tak menunggu lama kemudian ia

”menulis” lagi untuk batu penanda makam satunya. Setelah selesai,

bagaikan memang telah datang waktunya, tongkat yang digunakan

itu pun meluruh menjadi serbuk-serbuk halus dari tangan orang itu.

Menyebar ditiup angin.

”Gu Ming, Po Ting Hwa, semoga Sang Pencipta menerima jiwa kalian

berdua dan tenteram di alam sana. Aku bakal menyusul tak lama

lagi,” ucapnya kepada kedua makam tersebut. Usai perkataan itu,

orang tua berbusana putih berambut putih tergerai itu bergerak dengan

ringan dan hilang menuju barat, ke arah di mana kota Siaw Tionggoan

berada.

***

349

”Nona Sian Lin, ada seorang pemuda bernama Gu Yo yang mendesak

ingin bertemu. Saya sudah bilang bahwa ia harus buat janji terlebih

dahulu. Tapi katanya penting,” ucap seorang pelayan wanita kepada

seorang dara yang sedang bekerja di mejanya. Membalik-balik beberapa

buah buku dan menuliskan sesuatu pada kertas-kertas di atas

meja.

”Gu Yo? Baiklah, suruh saja ia masuk. Aku akan menemuinya. Antar

ia ke Ruang Hijau!” ucap gadis itu saat mengenali nama yang

disebutkan oleh pelayannya.

”Baik, nona!” ucap sang pelayan yang segera mohon diri untuk menjemput

sang tamu dan mengantarkannya ke Ruang Hijau.

Ruang Hijau adalah ruang yang berada tidak di tengah-tengah Rumah

Tato Ceng-Liong Hui-To melainkan jauh di balakang. Sebuah ruang

yang diperuntukkan bagi karya-karya yang berkaitan dengan orang

yang namanya digunakan bagi rumah tato itu. Siapa lagi jika bukan

Ceng-Liong Hui-To sendiri.

Ceng-Liong Hui-To sempat juga menjadi kejam dengan mengumpulkan

tato-tato dari musuh-musuhnya para penjahat. Tato-tato itu disimpannya

karena ia merasa sayang karya seni yang indah harus hilang

dengan terbunuhnya sang penjahat. Akan tetapi lama kelamaan ia

menyadari bahwa sesuatu yang indah akan tetapi bersumber dari hal

atau orang yang tidak baik, tidaklah dapat dikatakan indah. Ketidakbaikan

sumber suatu benda yang dikumpulkan kadang dapat menular

kepada sang pengumpul. Dalam hal ini Ceng-Liong Hui-To menjadi

tertulari untuk kerap mengumpulkan tato, membuatnya ketagihan

untuk membunuh penjahat bertato. Baik yang kesalahannya sudah

banyak dan menjadi buronan paturan, ataupun penjahat-penjahat

muda, yang baru mulai meniti karir.

Kebiasaannya ini pun berlanjut, sampai suatu waktu seorang Eremit

(petapa) menasehatinya, dan menyarankan untuk menghentikan hobinya

itu. Jika ingin menegakkan keadilan, tegakkan saja tanpa ada embelembel

sesuatu yang akan diterima. Suatu tato dari sang penjahat

dalam kasus ini. Di saat itulah Ceng-Liong Hui-To memutuskan

untuk menghilang. Menyepi dan menyucikan hati dan pikirannya.

Di rumahnya itulah koleksi tato-tatonya ditemukan, yang kemudian

350 BAGIAN 6. TATO

oleh penjabat kota Siaw Tionggoan dijadikan Rumah Tato Ceng-Liong

Hui-To. Untuk mengenang sang pahlawan. Sang pahlawan yang gundah

hatinya karena dinodai oleh napsu mengumpulkan sesuatu. Sang

pahlawan yang kemudian menghilang tak diketahui rimbanya.

Entah mengapa hari itu Sian Lin ingin melihat lagi koleksi-koleksi

tato-tato kumpulan atau tepatnya kletekan Ceng-Liong Hui-To. Koleksi

langka yang oleh sebagian orang dianggap bersejarah dan berharga.

Koleksi yang yang salah satunya merupakan pasangan tato segar yang

ditemukan di rumah itu beberapa hari yang lalu.

Lamunan gadis itu terhenti saat sebuah ketukan lembut terdengar

pada pintu Ruang Hijau. Di sana tampak seorang pemuda. Gu Yo.

Orang yang ingin menemuinya.

”Masuklah!” ucap sang dara pendek. Lalu ia kembali mengalihkan

pandangannya kepada dua buah tato yang tampak terbingkai dengan

indah di dinding di hadapannya. Tato sepadang burung merak, putih

dan hitam. Disusun sedemikian rupa sehingga kedua burung tampak

saling berhadapan satu sama lain. Dari kulit yang melatar belakangi

kedua tato tersebut dapat disimpulkan bahwa keduanya berasal dari

dua orang yang berbeda. Suatu kontras telah direncanakan. Tato burung

merak berwarna hitam digoreskan di atas kulit manusia berwarna

cerah, putih atau kuning. Sedang tato burung merak berwarna putih

digoreskan di atas kulit manusia berwarna gelap, hitam atau coklat

tua. Suatu estetika berdarah yang padu.

”Bukankah saat itu tato burung merak hitamnya berbeda?” tanya Gu

Yo saat melihat kedua tato yang sedang dipandangi oleh gadis itu.

”Betul, saat itu kami hanya menampilkan separuh saja, agar cocok

dengan tema di kanan dan kiri tato burung merak putih. Tak

disangka bahwa ada orang yang menempelkan pasangannya yang

masih berdarah,” ucap gadis itu menghela napas. Menyesalkan insiden

yang terjadi di tempat kerjanya itu.

”Oh, begitu!” sahut pemuda itu.

”Tahukah kamu, Gu Yo, bahwa syair mengenai kedua tato ini?” tanya

sang gadis tiba-tiba, setelah kesunyian lama mengisi jeda antara

perkataan keduanya.

351

”Syair untuk kedua tato ini?” tanya sang pemuda.

Sang gadis tidak menjawab melainkan melantunkan sebuah syair.

”Deru pun perlahan melembut. Menghilang. Sunyi dan sepi. Dan

jiwa pun tenteram kembali.

Menghela napas. Menghirup keheningan. Mengekang nafsu. Senyap.

Lepas. Lega.”

Yang dilanjutkan oleh sang pemuda.

”Setelah semuanya berakhir. Secarik kulit dicabik halus. Darah

menetes lembut. Menegaskan guratan-guratan mistis. Guratan di

atas kulit nan indah. Tato.”

”Hei, dari mana engkau tahu syair itu?” tanya Sian Lin kaget, melihat

bahwa Gu Yo telah mengetahui akhir dari syair yang dilantunkannya

itu.

”Dari buku-buku,” jawab Gu Yo sederhana. ”Di sana disebut memiliki

judul ’Pembicaraan Angin’.”

Sang gadis mengangguk membenarkan. ”Betul, memang itu judulnya.

Ternyata engkau memiliki juga pengetahuan di bidang ini.”

Tampak rona malu merekah di wajah sang pemuda begitu mendengar

pujian sang dara. ”Tidak..., aku hanya senang membaca saja.”

”Begitulah orang berilmu, merendahkan diri selalu,” ucap gadis itu

kemudian.

Suasana hening pun mengisi ruang di antara mereka.

”Tok-tok-tok!!” tiba-tiba suara ketukan cukup keras mengagetkan keduanya

yang sedang dalam alam pikirannya masing-masing.

Pintu yang tidak tertutup menampilkan sosok inspektur San Cek Kong

di tengah-tengahnya. Ia tampak tersenyum saat melihat Gu Yo dan

Swee Sian Lin berada di tempat itu. Ucapnya lugas, ”kebetulan Gu

Yo juga ada di sini. Tak perlu aku repot-repot mengajak Sian Lin

mencarimu di kedai paman Yok Seng di sana.”

352 BAGIAN 6. TATO

”Eh, ada apakah Cek Kong-koko? Ada perlu apa kita dengan Gu Yo

sampai mencarinya?” tanya dara itu seusai mendengar ucapan inspektur

Sang Cek Kong.

”Nanti kujelaskan, pertama-tama aku ingin dulu bertanya pada Gu

Yo,” ucapnya. ”Apakah maksud kedatanganmu di sini adalah untuk

menanyakan sesuatu yang berkaitan dengan peristiwa yang baru saja

terjadi di bagian lain kota?”

Gu Yo hanya mengangguk mengiyakan, yang sudah tentu membuat

wajah bingung Sian Lin semakin kentara terlihat.

San Cek Kong tampak puas mendengar jawaban itu. Lalu katanya,

”jika demikian, marilah kalian ikut aku ke bagian selatan kota. Ada

sesuatu yang ingin kutunjukkan.”

Dengan penuh tanda tanya, terutama Sian Lin, keduanya pun mengikuti

inspektur San Cek Kong ke suatu tempat di bagian selatan kota Siaw

Tionggoan. Ke suatu tempat di mana suatu peristiwa baru saja

terjadi hari itu.

***

”Cepat gali!” seru seseorang pada rekannya yang tampak sedang

mencangkul-cangkul sesuatu dengan tangannya di dalam lubang di

mana mereka berdua berada.

”Sabar!! Ini sudah cukup dalam, kita toh tidak mau merusah barang

yang kita cari bukan?” jawab rekannya. Ia sedang meraba-raba apakah

lubang yang mereka buat itu sudah cukup dalam sehingga hampir

menyentuh barang yang terkuburkan di sana.

”Aha!!” seru orang kedua kemudian setelah hening beberapa saat dan

hanya terdengar garukan-garukan pada tanah.

”Dapat?” tanya orang pertama.

”Ya, agak liat. Pasti kain pembungkusnya..,” jawab rekannya itu.

”Kita congkel saja.., atau potong...,” usul temannya.

Lalu keduanya mulai membersihkan tanah di bawah lubang di mana

353

mereka berada dan mulai mencongkel-congkel kain liat yang melandasinya.

Tak lama kemudian setelah mendapatkan pijakan, tongkat

kayu yang mereka bawa diungkit sehingga lipatan-lipatan kain di

bawahnya dapat terangkat. Bau busuk pun segera menyerbak memenuhi

udara malam itu. Malam yang diterangi bulan purnama.

Setelah dibuka peti yang berada di bawah kaki mereka, sebuah peti

mati yang belum lama ditanam, tampak di dalamnya sesosok tubuh

seorang perempuan tua. Ia tampak tertidur dengan damai. Kedua

tangannya dilipatkan di depan dadanya. Wajah seorang yang seakanakan

telah siap menerima hari kematiannya.

”Cepat cari bagian itu..!! Kita tak punya banyak waktu..,” ucap salah

seorang dari mereka.

Setalah memeriksa di bagian kedua tangan jasad itu, akhirnya mereka

menemukan di salah satu lengan bagian atasnya sebuah tato. Tato

dua buah naga yang sedang saling berbelit. Satu berwarna meran

dan satu berwarna biru. Keduanya tampak jelas diukirkan di atas

kulit pucat sang empunya.

”Tato kelompok Naga Merah dan Naga Biru...,” terdengar ucapan

salah seorang dari mereka.

Rekannya hanya mengiyakan mengangguk. Lalu tanpa menunggu

perkataan, ia mengeluarkan pisau dari sakunya. Suatu pisau yang

tajam. Sinar bulan yang memantul dari padanya mengisyaratkan kirakira

sudah berapa banyak darah atau sosok manusia yang disentuhnya.

Dengan santai, seperti telah biasa, orang itu menyayat kulit di mana

terdapat tato tersebut.

Tak ada darah tertumpah karena sang empunya tato telah lama bepulang.

Tak lama selesailah pekerjaan itu. Sang penyayat mengangsurkan

hasil kerjanya kepada rekannya, yang segera menyimpannya

dalam lipatan sebuah kain yang telah dibubuhi bubuk dan cairan tertentu,

agar kulit bertato itu awet dan tahan tidak membusuk. Untuk

dioleh lebih lanjut tentunya.

”Cepat, masih ada satu lagi yang harus diselesaikan..,” ucap rekannya

sambil menyelipkan bungkusan kain tato tadi ke dalam tas di punggungnya.

354 BAGIAN 6. TATO

Rekannya mengangguk. Tanpa menimbun kembali kubur yang telah

dibuka itu, keduanya pun kembali sibuk bekerja menggali lubang lain

di sebelahnya. Suatu makam baru pula, yang di dalamnya terdapat

seseorang. Seseorang dengan tato sebuah naga hitam yang sedang

menjaga mutiara. Tato dari kelompok Naga Hitam Penjaga Mutiara.

Suatu tato yang umumnya diukirkan di punggung yang empunya.

***

”Inspektur San Cek Kong, ada laporan mengenai makam tanpa nama

yang dibongkar!” ucap seorang paturan kepada paturan lain yang

sedang tampak bekerja di mejanya.

”Hmm, di mana dan mengapa engkau beritakan kepadaku? Bukankah

itu kerja dari bagian lain? Bagian ketertiban fasilitas umum?” tanya

sang inspektur yang sedang menuliskan sesuatu pada buku di depannya.

”Betul, inspektur! Tapi bagian ketertiban fasilitas umum meminta

saya untuk menyampaikan salinan dari kejadian itu kepada anda.

Berkaitan dengan dugaan bahwa bagian jasad yang dirusak kemungkinan

besar merupakan tato,” jelas sang paturan pembawa berita.

Mendengar kata ”tato”, sontak San Cek Kong menjadi tertarik karena

hal itulah yang sedang menjadi pikirannya sekarang. Kasus yang

sedang ditanganinya.

”Terima kasih!” katanya sambil menerima salinan laporan tersebut.

Dibolak-baliknya kumpulan kertas-kertas yang baru diperolehnya itu.

Dibacanya dari depan ke belakang dan diulangnya lagi. Sambil tak

lupa membuat di sana-sini catatan-catatan kecil.

”Hmmm, perlu ketemu Sian Lin lagi kiranya.., dia adalah pakar dalam

bidang ini,” gumamnya hampir tak terdengar.

***

”Ma Siang, kemarilah!” ucap seorang pada seorang dara yang tampak

sedang mencuci sesuatu pada pancuran dekat sungai kecil di belakang

bangunan itu.

”Ah, Gu Yo! Ada apa?” jawab gadis itu sambil segera meninggalkan

355

pekerjaannya dan menghampiri pemuda yang memanggilnya.

”Eh, temani aku ya ke Rumah Tato Ceng-Liong Hui-To! Tapi engkau

yang mintakan ijin ke pada paman Ma She..,” ucap pemuda itu.

”Lho, kalau apa urusannya sama aku?” tanya Ma Siang pura-pura tak

tahu.

”Tolong ya...!” mohon Gu Yo. Ia tahu jika ia minta ijin langsung, kemungkinan

besar tidak diberikan tanpa alasan yang jelas. Lain halnya

jika Ma Siang. Ini disebabkan Ma Siang adalah keponakan dari Ma

She, yang bahkan telah dianggap anak karena Ma She sendiri tidak

berketurunan. Selain itu juga karena orang tua Ma Siang telah tiada.

Begitu yang diceritakan orang-orang kepada Gu Yo.

”Tapi apa untungnya buatku? Kalau kamu pastilah, karena ingin

melihat nona Sian Lin, kan?” ucap dara itu. Ada sedikit nada tersaingi

dalam suaranya. Tersaingin dengan nama yang baru disebutnya itu.

”Huss! Tidak ada apa-apa, aku hanya ada urusan sedikit,” ucap Gu

Yo cepat. ”Tolong ya?” mohonnya lagi.

”Baik, tapi artinya engkau hutang satu kali padaku. Dan suatu saat

harus dibalas, gimana?” ucap gadis itu nakal. Kelihatannya ada sesuatu

yang direncanakannya untuk ”pembayaran” dari pertolongannya

ini.

”Eh, baiklah. Tapi jangan aneh-aneh ya?” pinta Gu Yo. Ia sempat

berpikir panjang karena terdesak dengan keinginannya untuk mencari

tahu sesuatu. Biarlah nanti saja, toh Ma Siang kelihatannya tidak

akan minta yang macam-macam. Apa sih yang dapat dimintanya dari

seorang pemuda sepertinya yang tidak punya apa-apa.

Setelah tuntutannya diiyakan oleh Gu Yo lalu dengan segera Ma Siang

berlalu dari sana sembari membawa pekerjaannya yang memang sudah

hampir selesai saat pemuda itu memanggilnya. Tak lama kemudian

tampak Ma Siang kembali dari bangunan itu. Wajahnya tampak

cerita, menandakan bahwa ia telah memperoleh ijin dari pamannya.

”Ayo kita pergi!” ucapnya gembira. Ya, siapa yang tidak gembira

mendapatkan kesempatan untuk berjalan-jalan di hari yang cerah ini.

Apalagi apabila kesempatan itu akan dihabiskannya dengan pemuda

356 BAGIAN 6. TATO

yang dikaguminya, Gu Yo.

Lalu keduanya pun berlalu dari halaman belakang Kedai Daging

Bakar. Dengan menggunakan beberapa jalan tikus yang terdapat di

antara rumah-rumah bertingkat dua atau tiga, yang lebarnya hanya

kira-kira dua meteran dan umumnya becek dan gelap, keduanya dapat

dengan cepat tiba di jalan raya, di mana tak jauh dari sana terdapat

Rumah Tato Ceng-Liong Hui-To. Tempat yang ingin dituju oleh Gu

Yo.

”Eh, tau dari mana engkau jalan-jalan seperti itu, Ma Siang?” tanya

Gu Yo ingin tahu. Jika saja dulu ia tahu, pastilah ia menggunakan

jalan-jalan itu. Lebih cepat ketimbang menggunakan jalan besar yang

penuh orang dan kendaraan. Harus hati-hati dalam menyeberang dan

menyusurinya.

”Aku tahu dari paman Ma She,” jawab dara itu pendek. Terlihat ada

yang tidak ingin diceritakannya, berkaitan dengan pengetahuannya

mengenai jalan-jalan tikus itu.

Gu Yo tidak bertanya lagi, karena pertanyaan basa-basinya malah

membuat suasana di antara mereka menjadi tidak enak. Ia pun kemudian

lebih memilih diam sampai mereka tiba di depan Rumah Tato

Ceng-Liong Hui-To.

***

Seorang berbusana putih dan ramput putih panjang digerai tampak

memasuki Kedai Daging Bakar. Setelah duduk di suatu sudut ruangan,

ia pun didatangi oleh seorang pelayan untuk ditanyai apa pesanannya.

”Gurame Bakar dan nasi, itu saja pesanan makanannya,” ucapnya

pendek.

”Minumnya teh?” tanya sang pelayan lagi.

Orang itu hanya mengangguk. Dan kemudian terdiam. Sang pelayan

kemudian meninggalkannya untuk meneruskan pesanan itu ke dapur.

Di dapur dengan kesibukan yang biasa, tampak orang-orang berseliweran.

Memasak, memindahkan bahan-bahan makanan. Dan juga

357

meneriakkan pesanan-pesanan.

”Gurame Bakar satu porsi!” teriak seseorang.

Seorang koki yang sedang kebagian untuk memasak makanan itu agak

terdiam. Tidak biasanya ada pesanan ikan di Kedai Dagin Bakar.

Terutama pada musim-musim ini. Di mana ikan-ikan agak sulit untuk

didapat sehingga mahal harganya. Oleh karena itu tidak semua

orang bisa dengan mudah memasak ikan gurame bakar. Hanya kokikoki

yang sudah cukup senior yang bisa. Termasuk Ma She sang

koki kepala. Sang koki yang mendapat giliran pun menjadi ragu-ragu.

Lebih baik ia menanyakan hal itu kepada atasannya, Ma She.

Tak lama kemudian ia kembali. Wajahnya cerah. Ma She memperbolehkannya

memasak ikan gurame. Untuk itu ia harus terlebih

dahulu membaca cara memasaknya. Diambilnya sebuah buku

berwarna hitam dan kertas yang sudah dikotori bumbu masak di

sana-sini. Tertulis di judulnya, ”Bakaran Ikan”. Dicarinya sehingga

sampai pada suatu halaman dengan judul ”Gurame Bakar”.

Bahan: 1 ekor ikan gurame ukuran sedang-besar, 8 butir kemiri, 1

batang (2 sampai tiga ujung kuku) kunyit, 6 butir bawang merah, 3

siung bawang putih, 4 buah cabai rawit merah, garam secukupnya,

merica secukupnya, 1 buah tomat kecil (diiris), dan akhirnya 2 buah

jeruk nipis (lemon).

Cara Membuat: * Bersihkan ikan terlebih dahulu. Buang sisik dan

isi perutnya tetapi hati-hati, sehingga ikan tetap utuh. Buat 2-3 guratan

di setiap sisi badan ikan agar bumbu dapat masuk dan panas

dapat masuk; * Lumuri ikan dengan garam dan merica secukupnya

dan biarkan sekitar sepeminum teh agar bumbu dapat terlebih dahulu

meresap; * Bakar ikan tersebut di atas bara api yang kecil sampai

setengah matang. Jangan lupa untuk dibolak-balik lalu angkat; *

Buat bumbu dengan menghaluskan bawang merah, bawang putih,

cabai rawit, kemiri, kunyit, garam dan merica. Campur irisan tomat

dan aduk sampai merata; * Lumuri bumbu ini sampai merata pada

dua belah sisi ikan gurame yang setengah matang tadi. Kemudian

bakar lagi ikan tersebut di atas bara api, sedang sampai matang dan

sesekali oleskan dengan bumbu yang masih tersisa; * Hidangkan dengan

menaburkan irisan cabai merah, irisan tomat dan jeruk nipis.

358 BAGIAN 6. TATO

”Hmmm, tidak terlalu sulit rupanya..,” gumamnya. Ia kemudian

mengikuti petunjuk yang tertera dalam buku resep itu. Langkah per

langkap diikutinya dengan teliti.

Tak lama kemudian harum semerbak ikan gurame bakar pun mengembang

di udara. Menandakan bahwa ikan tersebut telah siap untuk

dihidangkan.

Tiba-tiba datang Ma She menghampiri koki yang baru saja selesai

membuat hidangan itu. Ia memeriksa dengan teliti apa-apa yang telah

siap disajikan itu. Ia pun mengangguk puas. ”Bagus!” pujinya.

Mengembang hidung sang koki mendengar pujian atasannya. ”Terima

kasih!” jawabnya pendek dan bangga.

Tapi sayangnya kebanggaanya itu tak berlangsung lama. Pelayan yang

menyajikan pesanan itu kembali lagi dengan ikan gurame bakar itu.

Pucat wajahnya. Tampaknya ia mendapat teguran dari pelanggan

yang memesan masakan itu.

”Kata sang pemesan, Gurame Bakar tidak seperti ini,” jelasnya.

Ma She sebagai seorang koki kepala, bertanggung jawab terhadap

pekerjaan bawahannya. Dengan tenang ia memberi syarat agar koki

yang memasak masakan itu untuk tenang. Sedangkan ia sendiri segera

beranjak ke luar untuk menerima keluhan dari sang tamu.

Oleh pelayan tadi ia ditunjukkan meja tempat orang tua berambut

putih dengan busana putih itu sedang duduk. Orang itu tampak

sedang melamun sambil memandang keluar, melihat-lihat pemandangan

di hadapannya.

”Maaf, tuan! Tuan tadi mengeluhkan cara memasak Gurame Bakar

kami?” tanyanya sopan.

Orang itu tampak sedikit kaget karena terganggu lamunannya, ”ah..,

betul! Dan anda? Anda orang yang memasaknya?”

”Bukan, saya adalah koki kepala. Saya bertanggung jawab kepada

pekerjaan anak buah saya,” jelas Ma She sederhana.

Bagai berbicara sendiri orang itu kemudian menyerocos, menyebutkan

359

bumbu-bumbu yang digunakan untuk memasask Gurame Bakar yang

dikeluhkannya tadi. Juga cara memasaknya dan bagaimana seharusnya

dibolak-balik dan api yang digunakan. Tidak boleh dikipasi tapi

harus diputar-putarkan. Ma She yang adalah ahli memasak sampe

melongo mendenger perkataan orang itu, yang menunjukkan bahwa

orang itu adalah juga seorang ahli masak.

”Eh, anda...,” katanya bingung.

”Ma She, Ma She...! Sudah begitu cepatkah ingatanmu memudar?”

kata orang itu sambil tersenyum.

”Ceng...” kata-kata yang tidak sempat diselesaikannya karena orang

itu mencegahnya menyebutkan nama aslinya.

”Panggil saja saya, Ceng Liok,” ujar orang itu sambil mengedipkan

sebelah matanya.

”Tuan Ceng Liok!” jawab Ma She sambil sedikit menahan tawa, setelah

tahu bahwa orang tersebut adalah kawannya dulu. Ceng-Liong

Hui-To. Bisa gempar kota ini bila tahu bahwa orang yang dulu pernah

dianggap pahlawan tiba-tiba ada lagi di sana.

”Maafkan kelakarku. Semoga yang tadi memasak tidak merasa tersinggung,”

ucapnya sungguh-sungguh.

”Ah, tidak perlu dipikirkan. Aku akan bilang, bahwa anda tuan Ceng

Liok adalah guru masakku dulu. Biar ia tidak terlalu sedih,” ucap Ma

She sambil masih beusaha menahan tawa.

”Eh, Ma Siang apa kabarnya? Mana dia?” tanyanya sambil melirik ke

kiri dan kanan, berharap dapat melihat sosok dara itu.

”Ia tidak ada. Sedang pergi bersama seorang pemuda. Kalau tidak

salah ke Rumah Tato Ceng-Liong Hui-To,” kata Ma She sambil

menekankan kata-kata terakhir dari ucapannya itu.

Orang itu hanya tersenyum sambil kemudian meminta agar ikan gurame

bakar yang tadi ditolaknya disajikan kembali, sambil mengajak

Ma She untuk menemani. Sekaligus berbincang-bincang. Ma She

kembali ke dalam sebentar untuk memberitahukan hal itu kepada koki

yang memasak tadi sambil juga menghiburnya, bahwa apa yang terjadi

360 BAGIAN 6. TATO

hanyalah kelakar saja. Kelakar dari guru masaknya.

Tak lama kemudian masakan yang tadi kembali dihidangkan. Lengkap

dengan sayur-mayur tertentu. Kegemaran tuan Ceng Liok, yang sudah

tentu telah amat dikenal baik oleh Ma She sebagai rekannya.

***

”Benar, itu adalah tato milik mereka..,” sahut pemuda itu dengan

tangan mengepalkan tinju dengan erat. Ma Siang yang berada di

dekatnya tampak pula tegang dengan apa yang sedang mereka saksikan.

Di sana di dalam ruang tengah Rumah Tato Ceng-Liong Hui-To, tampak

sebuah bungkusan yang baru saja diantar oleh orang tidak dikenal.

Diletakkan sedemikian rupa di dalam ruang itu tanpa sepengetahuan

orang lain. Baru pada siang itu seorang mengatakan kepada

nona Sian Lin bahwa ia menemukan ada paket untuk nona tersebut.

Paket yang berisikan tato. Kali ini tidak lagi berdarah. Sudah diolah

dengan bahan pengawet.

Dua buah tato. Satu menggambarkan dua buah naga sedang berbelit.

Satu berwarna merah dan satu berwarna biru. Sebuah tato yang

dulu dikenal sebagai ciri dari kelompok Naga Merah dan Naga biru.

Sedangkan tato satunya lagi adalah sebuah naga berwarna hitam yang

sedang tampak menjaga suatu bulatan putih di tengah. Suatu mutiara.

Tato yang merupakan ciri kelompok Naga Hitam Penjaga Mutiara.

Usai kaget saat mendapati paket yang ditujukan pada dirinya itu,

segera nona Swee Sian Lin menghubungi inspektur San Cek Kong yang

langsung bagai terbang tiba di tempat itu. Bersamaan pula datang Gu

Yo dan Ma Siang ke sana. Orang kedua terakhir ini datang kebetulan

pada saat yang tepat. Atau boleh dikatakan kebetulan sekali.

Pertanyaan inspektur San Cek Kong yang diajukan kepada Gu Yo

sebenarnya tidak terlalu sungguh-sungguh, karena ia ragu apa pemuda

itu mengenal tato yang ada di dalam kotak itu. Tapi siapa

nyana bahwa pemuda itu mengenalinya dan bahkan tahu atau pernah

bersama dengan kedua orang pemilik tato itu. Diketahui bahwa kedua

tato itu berasal dari orang yang berbeda, dari warna kulit yang tidak

361

sama, yang mendasari kedua karya seni itu.

”Keduanya pernah merawatku saat luka parah,” jelas Gu Yo. ”Dan

entah dari pembicaraan apa, tahu-tahu mereka menunjukkan tato

yang mereka miliki.” Dalam kalimat terkakhir ini, Gu Yo sedikit berbohong.

Ia belum tahu apakah ada kaitan antara misinya dengan kejadian

ini. Sebaiknya ia rahasiakan dulu apa-apa yang kelihatannya

belum terkait. Begitu pikirnya.

”Baiklah, Gu Yo bilakah kau ada waktu?” tanya inspektur San Cek

Kong. Ia tiba-tiba teringat akan jasad dua orang yang dirusak sebagian

tubuhnya. Kulitnya dikletek. Ada kemungkinan bahwa tato ini

berasal dari kedua orang tersebut. Untuk itu ada baiknya bila Gu Yo

yang mengenal kedua tato itu bisa membuktikan bahwa kedua jasad

itu adalah pemiliknya. Paling tidak bisa mengetahui siapa kedua jasad

tanpa nama itu.

Gu Yo lalu menyatakan bahwa saat ini juga. Ia dan Ma Siang sudah

diberi ijin untuk berwaktu luang sampai malam nanti. Mendengar itu,

inspektur San Cek Kong kemudian mengajak keduanya untuk membantunya

melakukan identifikasi dari jasad tanpa nama yang dirusak

orang tersebut. Saat itu nona Sian Lin yang juga tertarik tidak bisa

turut disebabkan beberapa janji dan kesibukannya.

Lalu pergilah mereka bertiga dituruti beberapa paturan ke lokasi tempat

makam tanpa nama itu berada.

***

Perayaan Musim Angin dan Air pun tiba. Semua orang bergembira

dan menghiasi rumah-rumah mereka dengan lampion-lampion warnawarni.

Dominannya adalah warna biru dan kelabu. Warna yang

diyakini menjadi warna yang terdapat dalam angin dan air dan bendabenda

yang bergerak akibat angin dan air, dan juga yang menyebabkan

angin dan air bergerak. Suatu keyakinan kuno kota Siaw

Tionggoan.

Sebenarnya perayaan Musim Angin dan Air adalah suatu perayaan

musiman yang biasa dilakukan empat tahun sekali di kota tersebut.

Tahun ini, setelah genap empat tahun dari perayaan terakhir, menjadi

lebih semarak karena bersamaan dengan itu akan datang kun362

BAGIAN 6. TATO

jungan dari pemerintah pusat. Suatu rombongan orang-orang penting

yang ingin melihat-lihat perkembangan dan kemajuan kota Siaw

Tionggoan.

Yok Seng, sang pemilik Kedai Daging Bakar tampak tersenyum puas.

Tidak salah ia mempekerjakan Gu Yo. Pemuda itu benar-benar dapat

diandalkan. Atas usul pemuda itu pula ia mengubah sana-sini dari

kedainya agar tampak lebih menarik dan terlihat luas. Dengan harapan

agar lebih banyak tamu yang berkunjung pada perayaan Musim

Angin dan Air. Mendengar kabar bahwa akan datang kunjungan dari

pemerintah pusat, satu rombongan besar, orang-orang dari kota dan

desa sekitar kota Siaw Tionggoan pun jadi merasa tertarik. Jarangjarang

ada orang dari pusat tlatah Nusantara yang berkunjung ke

kota tersebut. Akibatnya hampir semua penginapan telah dipesan

atau didiami. Yang masih ingin melancong-lancong ke daerah-daerah

lain telah memesan terlebih dahulu. Yang sudah ingin berada di kota

tersebut, telah datang dan mendiami penginapan-penginapan yang

ada. Benar-benar suasana yang meriah.

Di suatu lapangan agak ke tengah kota, telah dibangun suatu panggung

megah. Luas dan indah. Di kiri-kanannya juga telah disiapkan

tempat duduk, baik untuk tamu terhormat atau pun undangan biasa.

Orang-orang yang tidak diundang dapat pula datang sebagai penontong.

Hanya saja mereka harus berada pada jarak yang cukup jauh

dari panggung. Pembatas berupa tombak yang ditancapkan dan dihubungkan

satu sama lain dengan tali berhias warna biru dan kelabu

telah dipasang mengelilingi area itu, sebagai batas terjauh penonton

dapat mendekati panggung.

Seorang yang tidak kepalang gembiranya adalah Ma Siang. Ia benarbenar

antusias dan gembira dalam menyambut perayaan Musim Angin

dan Air kali itu. Ia pun mengharap-harap dapat melihat tamu-tamu

yang berasal dari pusat. Orang-orang yang didengung-dengungkan

dekat atau menjadi bagian dari penguasa negeri itu. Orang-orang

yang ”berbeda” dengan penduduk kota Siaw Tionggoan.

Hari itu Kedai Daging Bakar benar-benar panen rejeki. Tamu-tamu

datang selalu silih berganti memenuhi tempat-tempat duduk yang ada,

sampai bahkan ada yang harus terlebih dahulu menanti di pintu agar

dapat mendapatkan meja. Agar yang menunggu ini sabar, umumnya

363

mereka juga dihidangkan minum-minuman dan makanan kecil berupa

abon kering. Suatu produk samping dari bakaran daging dan ikan.

Jenis kemilan yang gurih dan lezat.

Siangnya Yok Seng mendapat laporan bahwa kios Kedai Daging Bakar

yang dibuka di sekitar panggung di lapangan agak ke tengah kota telah

habis terjual barang-barangnya. Dan salah seorang pegawainya kembali

ke Kedai Daging Bakar untuk mengambil bahan-bahan baru. Hal

ini sudah tentu tidak disia-siakan oleh Ma Siang. Dengan sedikit memohon

pada pamannya Ma She agar ia dimintakan ijin kepada Yok Seng,

akhirnya dapatlah ia pergi. Sudah tentu Gu Yo pun turut. Karena

tanpa Gu Yo, tidaklah Ma Siang merasa hari itu cukup baginya. Ia

benar-benar ingin menikmati hari itu bersama orang yang dikaguminya

itu. Dengan berbekal gerobak penuh barang-barang dagangan

berupa daging-daging bakar yang siap dijual, keduanya beranjak berangkat

dari Kedai Daging Bakar menuju kois kedai yang terdapat di

sekitar lapangan tersebut.

Panggung telah dibuka. Gemerlap warna-warni menghiasi sana dan

sini. Tamu-tamu yang tampak anggun dan mewah tampak duduk

di tempat-tempat khusus bagi kalangan mereka. Tamu-tamu biasa

berdesak-desakkan di pinggir lapangan. Mepet sampai batasan berupa

tombak-tombak dihiasi tali biru dan kelabu.

Untung bagi Gu Yo dan Ma Siang. Dikarenakan hubungan baik antara

Yok Seng dan salah seorang pejabat kota itu, mereka mendapat kios

yang dekat dengan tempat duduk khusus para tamu, orang-orang yang

berasal dari pemerintah pusat. Walaupun situasi sedikit tidak nyaman

dengan banyaknya penjaga, akan tetapi pandangan yang jelas ke arah

panggung dan para penonton terhormat itu dimiliki oleh kedua mudamudi

ini.

Berbagai acara pun mengalir bagai tak henti-hentinya untuk menghibur

para tamu dari pusat tersebut. Berbagai suguhan dan juga penganan

berdatangan diantar oleh pelayan-pelayan yang menawan. Benarbenar

suatu penghormatan yang diberikan oleh kota Siaw Tionggoan

kepada para tamu-tamu khusus tersebut.

Untungnya tidak semua tamu dan tamu khusus diberi pelayanan

istimewa atau senang dengan pelayanan tersebut. Sebagian dari

364 BAGIAN 6. TATO

mereka ada pula yang jemu dengan tata cara yang bertele-tele tersebut.

Orang-orang ini lebih senang ”berpetualang” sendiri. Menelusuri

keramaian, membeli apa-apa yang mereka lihat menarik dan sudah

tentu cicip sana dan sini. Dari golongan inilah para pedangan yang

telah memiliki kios di sekitar panggung memperoleh keuntungan.

Dan untung saja ada orang-orang yang seperti itu. Jika tidak ada dan

hanya datang tamu-tamu yang maunya disuhugi saja, rugi besar para

pedangan yang telah menyemut itu. Dan untungnya lagi, tamu-tamu

”petualang” ini adalah dari golongan yang berkantong lebih tebal

ketimbang rekan mereka yang ”mengemis” hidangan-hidangan serta

hadiah-hadiah. Mereka ini merasa bahwa uang mereka lebih berarti

bila dibelanjakan untuk apa yang mereka inginkan dan tidak suka

dipilihkan atau diberi begitu saja. Bisa jadi bila disuguhkan terusmenerus

mereka merasa agak terhina karena tidak dibebaskan. Ya,

aneh-aneh saja kelakukan orang-orang yang berkantong tebal.

Seorang pemuda tampan, agak tinggi dan kurus tampak berjalan

dengan lagak yang sok dianggun-anggunkan. Dari pakaiannya yang

mewah dan berwarna cerah menyolok serta beberapa rekannya yang

bertubuh kekar-kekar dan tampak hormat kepadanya, dapat dipastikan

bahwa ia adalah anak seorang dari romobongan dari pemerintah

pusat. Dan kumpulan orang-orang kekar dan sangar yang

menyertainya, pastilah dari rombongan para tukang pukul atau pengawalnya.

Ia tampak melihat-lihat dari satu kios ke kios yang lain. Mengamatamati

dan membanding-bandingkan barang yang satu dengan yang

lain. Bila ia suka, langsung ia memberikan isyarat kepada seorang

pembantunya agar barang itu dibeli. Pembantu tersebut bukan termasuk

dalam barisan pengawal. Ia adalah seorang tua dengan kumis

licin dan tipis. Tampang seorang yang cerdik dan juga licik.

Sudah tiga-empat kios yang diborongnya. Umumnya berupa hiasanhiasan

warna-warni yang khas dibuat untuk menyambut perayaan

Musim Angin dan Air. Hiasan yang tidak ada di waktu lain, dan

mungkin juga di tempat lain. Mungkin buat oleh-oleh bagi sanak

saudaranya di kota nanti, agar ia juga bisa sedikit-sedikit pamer apaapa

yang ditemuinya di kota Siaw Tionggoan ini.

Gu Yo dan Ma Siang yang sedari tadi asik memperhatikan apa-apa

365

yang sedang berlangsung tidak memperhatikan kedatangan pemuda

”pemborong” tersebut dan gerombolannya. Mereka masih terpesona

dengan pertunjukkan yang sedang dipertontonkan di panggung. Pertunjukkan

ketangkasan dan sulap.

Tanpa terlebih dahulu memberi salam, seperti kebiasaan orang di kota

Siaw Tionggoan, pemuda itu langsung saja masuk ke kios Kedai Daging

Bakar untuk melihat-lihat. Para pengawalnya langsung mengambil

posisi di sekeliling kios untuk melindunginya. Pembantu berkumis

tipis dan licin tampak sudah setia di sisinya.

Sebetulnya pemuda tersebut tidak terlalu tertarik dengan kios tersebut,

sampai ia melihat beberapa hiasan atau tepatnya daging bakar

kering yang dibuat menyerupai berbagai hiasan. Suatu hiasan yang

dapat dimakan. Hiasa yang dapat berupa ular dan berasal dari daging

ular kering. Hiasan berbentuk ikan yang berasal dari kulit ikan

yang alot dan telah kering. Hiasa berupa kepala kambing yang berasal

dari dendeng kambing dan sebagainya. Kagum pemuda itu pada

barang-barang yang belum pernah ditemuinya itu.

”Hai, penjual! Berapa harganya ini?” tanyanya sambil menunju pada

sebua hiasan berbentuk kera yang sedang memegang pisang. Kera

tersebut bukan berasal dari daging kera, tapi daging sapi yang dikeringkan.

Dan pisangnya berupa benar-benar pisang asli yang telah

dibakar dan dihias.

Gu Yo yang lebih dulu tersadar dari Ma Siang, segera menghampiri

pemuda itu, ”Kongcu, hiasan kera itu harganya dua puluh tigaan.”

Ucapan kongcu atau ’tuan muda’ digunakannya setelah sekilas melihat

gelagat kepongahan pemuda itu dan juga cara orang yang didekatnya

membungkuk-bungkukan diri sambil memuji-muji hiasan pilihan

pemuda itu.

”Harga yang bagus.., tak terlalu mahal, dan juga tidak terlalu muran!

Pas!” katanya, seakan-akan ia mengetahui kapan harga suatu barang

terlalu mahal atau murah dibandingkan dengan kualitasnya. ”Ada

bentuk lain selain yang ditampilkan di sini?”

Sebelum Gu Yo sempat menjawab, Ma Siang yang telah tersadar akan

adanya tamu, segera ikut membantu, ”Ada kongcu. Ada kepiting,

kelelawar, kura-kura, laba-laba dan masih banyak lainnya. Ada ben366

BAGIAN 6. TATO

tuk khusus yang diminta?”

Tampak kagum yang tidak ditutup-tutupi dari pemuda itu terlihat jelas.

Ia kagum bahwa ternyata daging kering dapat dibentuk macammacam.

Menjadikan hiasan-hiasan tersebut indah dan juga tetap

layak untuk dimakan, walaupun mungkin menjadikannya sayang untuk

disantap.

”Saya suka kuda.., ada bentuk kuda?” tanyanya kemudian. Pemuda

itu, walaupun dari kalangan orang kaya, akan tetapi ia memiliki suatu

kegemaran menunggang kuda. Ia lebih suka menunggang kudanya

sendiri ketimbang duduk ke kereta yang dikemudikan oleh pembantupembantunya.

Gu Yo dan Ma Siang saling berpandangan. Ya, mereka punya, tapi

hiasan berbentuk kuda itu agak besar dan sudah lama sekali menjadi

simpanan di Kedai Daging Bakar. Hiasan pesanan seseorang tapi telah

lima tahun tidak diambil-ambil. Untuk membuatnya saja perlu waktu

hampir setahun, karena menirukan ukuran anak kuda yang sebesar

kambing. Bisa dibayangkan berapa banyak daging kering yang dibutuhkan

untuk itu. Sayangnya setelah beberapa lama waktu berlalu,

pemesannya tak pernah terdengar lagi kabarnya. Dan untuk itu belum

ada uang yang diberikan. Dengan berbekal rasa percaya saja Yok Seng

sang pemilik Kedai Daging Bakar menerima dan membuat pesanan

itu.

”Sebenarnya ada..,” ujar Ma Siang pelan. Lalu diceritakannya perlihat

hiasan kuda yang mereka punya. Ia telah dipesan oleh Yok Seng

agar bila ada pembeli yang tertarik, dapat ditawarkan benda tersebut.

Akan tetapi hanya untuk yang benar-benar tertarik dan tampak

mampu saja. Hal ini dikarenakan harganya yang sudah pasti mahal,

seribu lima ratus tigaan.

Mendengar hal itu tertariklah sang pemuda. Hiasan yang tersusun

atas daging kering dan dibentuk menyerupai anak kuda dengan ukuran

sebenarnya, benar-benar memukaunya. Walaupun demikian, harganya

juga menjadikannya agak ragu-ragu. Ya, seribu lima ratus

tigaan adalah hampir 7 bagian dari 10 bagian uang yang dimilikinya.

Saat itu ia telah menghabiskannya 2 bagian. Masih cukup 8 bagiannya.

Akan tetapi hal ini berarti ia tidak dapat membeli apa-apa lagi

367

selain itu.

”Tidak bisa kurang harga itu?” tanyanya. Sambil menunggu jawaban

ia tampak berbisik-bisik dengan pembantunya yang berkumis licin

dan tipis. Sang pembantu tampak menggeleng-gelengkan kepalanya.

Rupanya harga tersebut dirasanya tidak bijaksana untuk dihabiskan

hanya untuk satu benda saja.

Ma Siang yang saat itu juga bercakap dengan Gu Yo, akhirnya memutuskan

bahwa urusan harga lebih baik diputuskan oleh Yok Seng

sendiri. Mereka tahu bahwa waktu yang telah lewat untuk hiasan

dagin kering akan membuat harganya agak turun. Jadi mereka tidak

bisa memutuskan sendiri berapa harga yang patut untuk barang tersebut.

Akhirnya disepakati bahwa seorang dari pembantu kios Kedai

Daging Bakar, bersama dengan seorang pengawal sang pemuda, pergi

ke Kedai Daging Bakar untuk menjemput Yok Seng. Sementara itu

Ma Siang dan Gu Yo melayani pemuda itu dan gerombolannya yang

akhirnya juga menjadi lapar. Mereka pun memesan makanan, dan

bukan hiasan daging kering, untuk mengisi lambung mereka yang

sudah tak tahan tergoda aroma daging yang menari-nari di udara.

***

Seorang pemuda tampak berada di suatu ketinggian bukit. Jauh di

selatan tempatnya berdiri tampak kota yang beru saja ditinggalkannya.

Kota Siaw Tionggoan. Kota yang sedikit banyak memberikan

kenangan kepadanya. Banyak peristiwa dalam dua minggu ia berada

di sana. Dari peristiwa yang menyedihkan seperti harus membantu

polisi untuk mengidentifikasi jenasah Gu Ming dan Po Ting Hwa, atau

yang dikenalnya sebagai kakek Gu dan nenek Po, kedua orang yang

telah menolongnya; sampai yang menggembirakan, seperti lakunya

kuda daging kering Yok Seng sang pemilik Kedai Daging Bakar senilai

seribu lima ratus tigaan. Selain itu terdapat pula peristiwa haru,

yaitu bertemunya seorang ayah dengan anaknya yang telah lama dititipkan

pada temannya. Siapa lagi kalau bukan Ceng-Liong Hui-To

dengan Ma Siang. Ma Siang ternyata adalah anak sang Naga Hijau

Pisau Terbang, yang memang dititipkannya pada sahabatnya Ma She.

Ia merasa kegundahannya dalam hidup tidak baik bila ia membesarkan

anaknya sendiri.

368 BAGIAN 6. TATO

Setelah menghilang beberapa tahun, Ceng-Lion Hui-To atau yang

sekarang minta dipanggil Ceng Liok, telah dapat menemukan dirinya

sendiri dan bersemangat untuk hidup kembali. Oleh karena itu ia kembali

ke kota Siaw Tionggoan untuk menjemput anaknya. Orang yang

akan diajari ilmu-ilmunya. Orang yang akan menjadi satu-satunya

pewarisnya.

Sebuah kejelasan itu muncul setelah terjadi pertarungan di panggung

saat puncak perayaan Musim Angin dan Air digelar, yaitu adu ilmu

silat. Saat seorang dari perwira dari pemerintah pusat berlaga dan

telah banyak menang, naiklah delapan orang pengacau. Su-Mo dan

Empat Begal Hutan. Mereka ingin memenangkan pertarungan itu,

menawan para tamu dan secara politis menyatakan bahwa kota Siaw

Tionggoan mulai saat itu adalah daerah kekuasaan mereka. Suatu

keberanian yang muncul akibat kedekatan mereka dengan salah seorang

pejabat kota itu dan juga di kota lain. Untung saja hal itu tidak

terjadi. Bisa dibayangkan bagaimana jadinya nasib kota Siaw Tionggoan

apabila tamu-tamu dari pemerintah pusat ditawan dan diminta

tebusan. Bisa hancur nama kota itu di depan mata pemimpin tlatah

tersebut.

Atas kesigapan paturan yang dipimpin oleh inspektur San Cek Kong

dan juga munculnya kembali Ceng-Liong Hui-To, kedelapan orang

tersebut dapat ditanggulangi dan bahkan terluka parah. Gu Yo juga

sempat berhadapan kembali dengan Hek-Mo dan menggunakan kembali

jurus ampuhnya Jarum Terbang Debu Pasir yang membuat lawannya

kali ini hampir putus napasnya. Untung saja masih ada satu dua

napas dari Hek-Mo, jika tidak pesan yang disampaikan oleh kakek

Gu dan nenek Po lewat hipnotis pada saat-saat akhir hidup mereka

tidak bisa sampai kepada Gu Yo. Entah apa yang dibuat mereka

berdua, saat tubuhnya terluka parah oleh jurus Jarum Terbang Debu

Pasir, Hek-Mo bicara seperti orang melantur, menceritakan hal-hal

yang hanya dapat dimengerti oleh Gu Yo yang sedang berdiri di hadapannya.

Setelah bercerita Hek-Mo pun kemudian tumbang, yang disambut

dengan sorak-sorai pada penonton dan juga pandangan kagum

dari Ceng-Liong Hui-To, inspektur San Cek Kong dan juga Swee Sian

Lin.

Berdasarkan keterangan dari mulut Hek-Mo, dapatlah Gu Yo mengetahui

kepada siapa kitab yang diawali sajak ”Pembicaraan Angin” itu

369

harus diserahkan. Dan orang itu bukanlah orang yang perlu susahsusah

dicarinya. Orang itu adalah Ma Siang, anak dari Ceng-Liong

Hui-To dengan seorang wanita. Wanita inilah yang sebenarnya merupakan

keturunan pemilik kitab tersebut. Akan tetapi dari hasil pengamatan

guru Gu Yo, wanita ini telah memiliki keturunan dari Ceng-

Lion Hui-To. Oleh karena itu cukuplah bila ia mencari keturunan

dari orang itu, dan bukan dari wanita tersebut. Salah satu sebabnya

adalah karena Ceng-Liong Hui-To lebih dikenal orang ketimbang

wanita tersebut, sehingga diharapkan lebih mudah untuk ditemukan

anak keturunannya.

Jadi apa sebenarnya isi dari kitab tersebut? Kitab yang dibawa Gu Yo

dan akhirnya diserahkan kepada Ma Siang tersebut berisi suatu ilmu

pemindahan tenaga dengan menggunakan tato yang dibuat khusus.

Dengan cara ini apabila tato seseorang yang juga menunjukkan hawa

apa yang dimilikinya dapat dipindahkan, maka hawa tersebut juga

akan ikut berpindah. Ilmu ini kemudian disalahgunakan oleh beberapa

orang yang tidak membaca kitab tersebut secara keseluruhan.

Mereka mengira bahwa pemindahan tato dapat dilakukan dengan

mengambil tatonya secara paksa, mengeleteknya. Sebenarnya tidak.

Dalam bagian akhir dari kitab tersebut dijelaskan bahwa tato hawa

yang sebenarnya muncul akibat hawa tenaga dalam telah sampai

pada puncaknya dan bukan dibuat dengan merajahnya. Tidak seperti

tato-tato pada umumnya. Dan tato inilah yang ampuh untuk dipindahkan.

Sedangkan tato hasil rajahan, bila dipindahkan hanya akan

memindahkan kulit belaka tanpa ada kelebihan apa-apa.

Kesesatan ini yang kemudian dipahami secara salah oleh dua orang

dari Empat Begal Hutan. Dua orang yang menggali kuburan nenek

Po dan kakek Gu dan mengganggu jenasah mereka dengan mengeletek

tato-tatonya. Mereka berdua telah mencoba mengeletek tato-tato

orang-orang yang ditemui dan tidak dapat memanfaatkannya. Untuk

memancing keturunan dari Ceng-Liong Hui-To, yang mereka yakini

tahu akan pemanfaatan tato-tato tersebut, mereka pun mengirimkan

tato tersebut ke Rumah Tato Ceng-Liong Hui-To dan juga ke kantor

polisi. Hanya saja yang belum jelas karena keduanya sudah keburu

tewas, adalah siapa dua orang yang telah juga dikletek tatonya. Kedua

tato segar yang ditemukan oleh para paturan.

Perpisahannya dengan Ma Siang atau lebih tepatnya Ceng Siang, lebih

370 BAGIAN 6. TATO

berat dari sisi dara itu. Ia benar-benar merasa telah dekat dengan Gu

Yo sehingga tidak ingin pemuda itu jauh darinya. Bagi dirinya sendiri,

ia masih harus mencari tunangannya CitraWangi. Menanyakan kepastian

hubungan mereka. Bila ternyata tidak seperti dulu yang telah

diikrarkan, ada kemungkinan ia akan mencari kembali Ceng Siang.

Mungkin.

Selain Ceng Siang, adalah Yok Seng yang merasa berat berpisah dengan

Gu Yo. Ia bahkan akan menggaji pemuda itu lebih tinggi, bila

ia masih mau bekerja padanya. Gu Yo hanya dapat tersenyum. Dan

dijelaskannya kemudian bahwa kota Siaw Tionggoan hanya persinggahannya.

Masih banyak tugas yang harus diselesaikannya. Menuntaskan

utang-utang lama dari gurunya, si Maling Kitab.

Inspektur San Cek Kong dan Swee Sian Lin ternyata telah lama

memendam rasa di antara mereka. Berhubung mereka telah samasama

tidak memiliki orang tua, munculnya Ceng Liok yang bisa

dianggap sebagai pengganti orang tua, karena ia adalah saudara tua

perguruan, sekalian mereka berdua meminta restunya. Karena tidak

tahu setelah Ceng Liok kembali menghilang, kali ini dengan anaknya

Ceng Siang, bisa jadi entah kapan ia akan muncul kembali.

”Syukurlah, satu tugas sudah selesai,” kata pemuda itu sambil tersenyum.

”Tugas baru kembali menjelang..,” sambil berkata demikian ia melongok

sedikit ke dalam tas yang ada disampirkan di pinggangnya. Di

dalamnya terdapat suatu kitab lain. Kitab yang juga harus dicari

pemiliknya atau tepatnya keturunan dari pemiliknya dan mengembalikannya.

Agar tidak terlalu berat Gu Yo selalu menyembunyikan

kitab-kitab tugasnya di beberapa tempat, sisanya masih di Gunung

Hijau dan dijaga oleh para Troll. Satu per satu kitab-kitab itu akan dicoba

untuk dikembalikannya kepada orang-orang yang berhak. Suatu

pekerjaan yang entah sampai kapan baru selesai. Tapi yang penting

ia mencoba untuk melaksanakan wasiat dari gurunya tersebut. Guru

yang tidak pernah ditemuinya langsung, melainkan hanya melalui

berita para Troll.

Setelah digenapkan tekad dan ditinggalkan kenangannya akan kota

Siaw Tionggoan, pemuda itu pun membalikkan tubuhnya. Mengarah

ke utara. Melaksanakan tugas berikutnya. Entah apa yang akan ditemuinya

dalam perjalanan berikutnya ini.

371

Sang surya yang sudah agak condong ke barat pun kemudian tampak

malu-malu ditutupi awan-awan yang bergerak-gerak cepat ditiup angin

perbukitan di tempat itu, memandangi punggung pemuda yang

berjalan menuju arah utara. Pemuda yang mengemban tugas yang

berat. Tugas yang mungkin tidak bisa dituntaskannya seorang diri.

372 BAGIAN 6. TATO




0 Response to "Elemen Kekosongan 6"

Post a Comment

Translate

English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified