Download applikasi baca novel online untuk android disini: DOWNLOAD

Elemen Kekosongan 5

Bagian 5

Yang Kembali dan Yang

Tumbuh

Siang itu Walinggih berencana untuk pergi ke Danau Genangan

Batu dan daerah sekitarnya untuk menangkap Keuyeup dan ikan

Julung-julung untuk dibuat Peyek. Jika beruntung ikan Beunteur

pun mungkin dapat diperolehnya. Ikan yang terakhir ini sering juga

disebut sebagai ikan kepala timah karena di kepalanya ada bagian

yang berwarna kelabu seperti warna timah pada umumnya.

Setelah berpesan agar Telaga kembali mengingat-ingat gerakan yang

baru saja diajarkannya Walinggih pun berlalu dari situ. Telaga masih

tampak berpikir keras untuk menuangkan ingatannya pada gerakangerakan

yang baru saja ditunjukkan gurunya itu.

***

”Sudah cukup kelihatannya Tenaga Air yang engkau pelajari, nak Lantang,”

ucap Ki Sura, ”sudah hampir tiga tahun engkau bersama kami

di sini. Sudah waktunya pula kita berpisah.”

Menghela napas Nyi Sura mendengar perkataan suaminya, teringat ia

pada anaknya Telaga yang sedang merantau ke selatan. Entah kapan

mereka dapat bersua kembali. Dan anak ini, Lantang yang seolaholah

sebagai pengganti Telaga, haruslah pula berpisah. Dan ini memang

kehendak suaminya, agar ia dapat meluaskan pengalamannya

247

248 BAGIAN 5. YANG KEMBALI DAN YANG TUMBUH

dan juga sebagai pelaksanaan tugas dari gurunya, Rancana si Bayangan

Menangis Tertawa agar mencari dirinya setelah tamat belajar di

Pulau Tengah Danau di Gunung Berdanau Berpulau.

”Tapi guru berdua..,” tak sanggup Lantang melanjutkan kata-katanya.

Rasa sayang kedua orang tua itu yang ditunjukkan saat mereka mengajarkannya

Tenaga Air benar-benar telah menorehkan hubungan yang

lebih dari murid dan guru dalam hatinya. Berat rasanya apabila ia

harus berpisah dengan mereka.

”Kami akan baik-baik saja, tak perlu engkau kuatir, nak Lantang,”

Ki Sura berusaha berkata arif, menekan rasa harunya yang muncul

melihat keenganan sang anak untuk berpisah dari mereka. Mereka

berdua telah menganggap Lantang sebagai anaknya sendiri. Adik dari

Telaga.

”Kamu tahu ’kan, bahwa gurumu Rancana masih berupaya agar jalan

darahmu dapat berjalan lancar kembali. Ia mencari orang yang dapat

menyembuhkannya. Konon kabarnya berdiam seorang keturunan

Petapa Seberang di timur sana. Rimba Hijau. Kemungkinan gurumu

bertandang ke sana..,” jelas Ki Sura.

”Siapa nama orang yang tinggal di Rimba Hijau itu, ki?” tanya Lantang.

Ia belum pernah diceritakan gurunya bahwa ada tempat seperti

Rimba Hijau itu di timur.

”Orang-orang menyebutnya Ki Tapa,” Nyi Sura yang menyahut.

”Kami dulu sekali pernah bertemu dengannya. Ia pernah menyembuhkan

kami saat kami salah melatih Tenaga Air. Ilmu yang dikuasainya

bersumber dari kitab Jalan Selaras dengan Alam Semesta.

Sebetulnya tidak ada hubungan langsung dengan Tenaga Air selain

pemanfaatan gerakan-gerakannya yang luwes seperti air mengalir.

Selain itu ia juga memiliki Jurus Air. Jurus yang berisikan gerakangerakan

yang memanfaatkan sifat-sifat air dalam gerakannya.”

”Apakah Ki Tapa adalah saudara perguruan Ki dan Nyi Sura?” tanya

Telaga, ”melihat bahwa nama ilmunya sama-sama menggunakan kata

’Air’. Atau ada hubungan dengan guru Rancana, melihat ilmunya

bersumber dari kitab yang sama.”

”Engkau memang cerdas, nak Lantang,” jawab Ki Sura gembira, ”akan

249

tetapi walaupun namanya sama-sama air, akan tetapi keduanya, Jurus

Air dan Tenaga Air tidak berhubungan secara langsung. Entah di

awal-awalnya. Kami berguru pada orang yang berbeda dan masingmasing

diwujudkan pada praktek yang berbeda. Jurus air adalah suatu

ilmu beladiri, sedangkan Tenaga Air hanyalah ilmu hawa atau

tenaga dalam. Mengenai hubungan dengan gurumu, kami tidak tahu.

Lebih baik engkau tanyakan sendiri padanya nanti bila bertemu.”

Mereka kemudian terdiam sejenak.

”Saat itu kami bertiga, kami pernah mencoba apakah Tenaga Air dapat

digunakan dalam Jurus Air, ternyata bisa. Tapi tidak untuk semua

gerakan. Entah gerakannya yang tidak murnni ataupun tenagannya

yang tidak murni. Karena buntu akhirnya kami pun tidak melanjutkannya,”

lanjut Nyi Sura saat melihat bahwa pandangan Lantang

masih mengisyaratkan kelanjutan dari kisah itu.

”Lalu bagaimana Ki Tapa itu dapat menyembuhkan guru berdua, apabila

ia tidak bisa Tenaga air?” tanya Lantang bingung.

”Memang ia tidak bisa Tenaga Air, akan tetapi dari gurunya ia memperoleh

ilmu pengobatan yang pada dasarnya diambil dari pemanfaatan

energi dari empat elemen, yaitu air, tanah, udara dan api.

Dengan berbekal pengetahuan ini ia dapat mengobati luka dalam yang

kami derita,” terang Ki Sura.

Lantang mengangguk-angguk mendengarkan penjelasan itu. Suatu

hal yang menarik bahwa ada ilmu Tenaga Air dan juga Jurus Air.

Akan tetapi keduanya tidak berkaitan secara langsung.

”Jadi bagaimana rencanamu, nak Telaga? Apa akan langsung menyusul

gurumu ke Rimba Hijau atau hendak berputar dahulu menambah

ilmu?” goda Nyi Sura. Di masa mudanya Ki dan Nyi Sura ini juga

senang berpetualan merantau ke sana ke mari. Baru setelah seorang

berilmu tinggi meminta mereka menjadi pewaris Tenaga Air, mereka

berdiam diri di Gunung Berdanau Berpulau. Menunggu saat yang

tepat untuk mewariskan ilmu-ilmu mereka. Dengan adanya Telaga

anak mereka dan juga Lantang, sudah genap janji mereka bahwa

ilmu Tenaga Air harus diwariskan kepada dua orang. Untuk menjaga

apabila satu diantaranya meninggal terlebih dahulu, yang lain

dapat menjaga dan mewariskannya pada orang yang bertulang dan

250 BAGIAN 5. YANG KEMBALI DAN YANG TUMBUH

berperangai baik.

”Janganlah kau goda nak Lantang ini,” senyum suaminya, ”biarlah ia

berputar-putar dulu baru ke timur. Anak muda harus menimba ilmu

dari menjalani kehidupan ini sendiri. Jangan kenyang hanya dengan

petuah-petuah teoritis akan tetapi miskin pengalaman dan praktek.”

Kedua orang tua itu pun kemudian tertawa hampir bersamaan. Lantang

hanya tersenyum saja menyaksikan kelakuan kedua gurunya.

Meskipun mereka telah sama-sama berusia lanjut, tapi gaya dan cara

mereka bicara masih seperti orang-orang muda. Tidak terlalu terikat

akan adat sopan-santun kebanyakan orang.

Ki dan Nyi Sura pun kemudian berpesan apa-apa yang harus diperhatikan

telaga di rantau nanti. Jangan mencari-cari masalah, karena

hal itu tidak baik. Selain itu pula ia belum dapat menggunakan tenaga

dalamnya. Walaupun telah dilatih Tenaga Air oleh Ki dan Nyi Sura,

dan juga Jalan Selaras dengan Alam Semesta oleh Rancana, Lantang

hanya dapat menggunakan tenaga kasarnya dan tidak tenaga yang

terhimpun di pusarnya. Ada suatu sebab, yang belum diketahui yang

menghambat aliran hawa dalam tubuhnya. Selain itu Ki dan Nyi

Sura, kedua gurunya pun berpesan agar jika bertemu dengan Telaga,

menyampaikan rasa kangen dan sayang dari mereka.

Lantang mengangguk-angguk mengiyakan apa-apa yang dipesankan

kepadanya. Ia akan pergi dari pulau itu keesokan paginya. Pagipagi

sekali. Kepada kedua gurunya ia pamit saat itu juga karena

mereka biasanya pada saat pagi-pagi seperti itu sedang tenggelam

dalam samadinya, dan baru beranjat menjelang tiga perempat siang.

Hanya satu ganjalan yang masih ada ada di hati Lantang, yaitu Xyra.

Xyra adalah seorang atau sesosok Undinen yang telah akrab dengan

dirinya sejak semula ia datang ke tempat ini, Pulau Tengah Danau.

Dengan bantuan Xyra Lantang dapat lebih cepat memahami Tenaga

Air. Xyra sebagai makhluk yang termasuk dalam Roh-roh Air memiliki

Tenaga Air dalam dirinya secara alamiah. Ia dapat dengan mudah

membangkitkannya dan menunjukkannya pada Lantang, sehingga pemuda

itu dapat merasakan dan mencoba untuk menirukannya, walau

di dalam bawah sadar, mengingat ia tak mampu untuk mewujudkannya

karena aliran darahnya masih tersumbat.

251

Ki dan Nyi Sura telah dapat menemukan suatu cara agar Lantang

yang jalan darahnya tersumbat dapat masih mempelajari Tenaga Air,

yaitu melalui mimpi. Dalam mimpi dapat dibangun jalan darah-jalan

darah khayalan yang lancar dan dapat diatur sesuka hati. Dengan cara

ini pengetahuan Lantang mengenai Tenaga Air dapat dilatih. Dewasa

ini mungkin mirip dengan apa yang dikenal orang sebagai simulator.

Xyra pun berdasarkan kemampuan alamiahnya dapat berhubungan

dengan Lantang melalui mimpi. Ia dapat menunjukkan bagaimana

corak-corak aura dari Tenaga Air pada berbagai keadaan dan posisi.

Dengan kerja sama ini, Lantang memperoleh kemajuan pesat akan

pemahaman terhadap Tenaga Air. Lebih alami dibandingkan Ki dan

Nyi Sura.

Dan sekarang Lantang hendak meninggalkan tempat ini. Sudah terasa

berat untuk berpisah dengan kedua gurunya, Ki dan Nyi Sura. Terasa

pula berat untuk berpisah dengan Xyra, sesosok yang boleh dikatakan

teman main seumurnya di tempat itu. Ia tidak tahu bagaimana harus

mengatakan hal ini kepadanya.

Perlahan ia berjalan mencoba untuk mencari-cari kata-kata yang bisa

diucapkan pada Xyra bahwa kepergiannya ini bukanlah selamanya.

Suatu saat ia mungkin kembali. Dan mereka dapat kembali bersua.

Tapi sampai di ceruk di bawah Sungai Batu Hitam, tak satu pun katakata

untuk perpisahan itu yang dapat ditemuinya. Lantang tak tahu

apa yang harus dikatakannya pada Xyra, Undinen temannya mengenai

kepergiannya itu.

Sesampainya di sana tak dijumpainya kawannya itu. Aneh. Biasanya

pada waktu-waktu seperti ini Xyra pasti menantinya di sana. Untuk

kemudian berlatih bersama-sama Tenaga Air sampai menjelang dini

hari. Berlatih dalam mimpi Lantang.

Lantang pun berusaha memanggil-manggil, dikerahkannya suaranya.

Tapi tidak ada sahutan. Akhirnya ia pun duduk terpekur. Biarlah

pikirnya, ini pun lebih baik. Ia tidak harus menjelaskan hal yang

sulit itu kepada Xyra. Mungkin nanti Ki dan Nyi Sura yang dapat

menjelaskannya.

Setelah mantap dengan apa yang dipikirkannya Lantang pun mulai

berkemas. Barang-barang miliknya tidak banyak, sehingga tidak dibu252

BAGIAN 5. YANG KEMBALI DAN YANG TUMBUH

tuhkan banyak waktu untuk mengumpulkannya. Setelah selesai hari

pun telah menjelang senja. Ia pun beranjak kembali menemui Ki dan

Nyi Sura untuk makan malam. Setelah itu ia akan menghabiskan

waktunya untuk Mengheningkan Cipta dan tidur sampai besok pagi.

Mempersiapkan fisik dan juga batinnya untuk perjalanan nanti.

***

”Anakku Nah, perhatikan apa yang bisa aku lakukan dengan bendabenda

di atas meja ini!” ucap Seh Pratahu pada anaknya Nah Pratahu.

Ia berkonsentrasi sebentar untuk kemudian menunjuk pada sebuah

batu yang ada di hadapannya. Batu itu tambak bergerak sedikit,

berputar. Lalu naik ke udara dan kemudian kembali menyentuh meja.

Setelah itu Seh Pratahu menunjukkan jarinya ke pada sebuah kertas

yang terletak di atas meja itu, kertas itu bergerak-gerak seakan-akan

tertiup angin, dan mendadak ”wwwwrrrrt!” kertas itu pun terbakar.

Terlonjak Nah Pratahu menyaksikan hal itu. Tak percaya dihampirinya

kertas yang telah menjadi hitam itu. Remah-remah gosong

tampak menghiasi tangannya.

Belum selesai dengan demonstrasinya, Seh Pratahu kemudian kembali

menunjukkan jarinya kepada sebuah gelas yang berisi air, lama ia

berupaya berkonsentrasi, sampai akhirnya dimintanya anaknya untuk

menuangkan air dari dalam gelas itu keluar. Tidak berhasil. Alih-alih

mengalir, air dalam gelas itu telah membeku semuanya. Menjadi es.

Kekaguman terpancar dari wajah Nah Pratahu menyaksikan kebisaan

ayahnya dalam memanipulasi keadaan dari obyek-obyek di sekitarnya

yang berkaitan dengan sifat empat elemen.

”Ini namanya Hawa Pikiran (telekinetik), dengan hanya berpikir engkau

dapau melakukan sesuatu. Membuat api, membekukan air, mengangkat

benda-benda dan bahkan bergerak cepat atau menghilang.”

Seh Pratahu kemudian menjelaskan hal-hal lain yang bisa dilakukan

dengan menggunakan kekuatan otak atau pikiran.

”Tapi ayah.., apa bedanya dengan Hawa Tenaga Dalam – yang juga

bisa membuat orang berlari cepat dan memukulkan hawa dingin dan

panas?” tanya anaknya ingin tahu. Dari buku-buku yang dibacanya,

Nah Pratahu telah mengenal ilmu-ilmu yang dituliskan oleh para Pen253

gujar Tua, ilmu-ilmu tenaga dalam dan bela diri yang amat ajaib bagi

telinganya.

”Pada prinsipnya sama. Keduanya memanfaatkan energi dari empat

unsur yang ada di alam, yaitu Unsur Air, Unsur Api, Unsur Angin

dan Unsur Tanah,” jelas sang Ayah, ”hanya saja Hawa Pikiran tidak

melatih otot-otot untuk mengerakkan energi-energi tersebut melainkan

hanya pikiran. Lain dengan ilmu beladiri yang membangkitkan energi

dari empat elemen dengan perantaraan hawa dari pusat. Suatu tandon

sumber tenaga, kira-kira empat jari di bawah pusar.”

Mengangguk-anguk Nah mendengarkan petuah dari Seh mengenai

perbedaan dari Hawa Pikiran dan Hawa Tenaga Dalam. Dikatakan

pula bawa Hawa Tenaga Dalam digerakkan pula oleh pikiran tapi

hanya dalam perputarannya di dalam tubuh tidak diluarnya. Untuk

mengeluarkannya dibutuhkan gerakan-gerakan tertentu. Lain dengan

Hawa Pikiran yang tidak membutuhkan gerakan-gerakan tertentu

untuk memanifestasikan energinya di luar tubuh.

Seh pun kemudian mengajari bagaimana Nah dapat mempelajari pengolahan

Hawa Pikiran sehingga ia dapat memanfaatkan energi-energi

dari empat elemen untuk memanipulasi benda-benda di sekitarnya.

Selain itu Seh mengajarkan pula apa yang disebut melihat Hawa

Getaran (aura) yang ada atau dimiliki oleh setiap benda mati ataupun

hidup. Hawa Getaran ini merupakan sifat alamiah dari bendabenda.

Dengan mengetahui Hawa Getaran dari sesuatu kita bisa

mengetahui sifat-sifatnya, tanpa perlu mendekati atau menyentuhnya.

Informasi mengenai sifat-sifat ini telah dipancarkan melalui

Hawa Getaran. Untuk manusia sifat-sifat ini meliputi pribadi dan

keadaan emosinya. Dengan cara ini misalnya kita bisa tahu keadaan

hati sesorang walaupun ia tidak mengetahuinya dari Hawa Getaran

yang dipancarkannya.

Seh kemudian menceritakan bahwa manusia pada lahirnya memiliki

kemampuan untuk melihat Hawa Getaran secara alamiah, akan tetapi

semakin dewasa dengan semakin bergantungnya orang pada penglihatan

akan benda-benda disekitarnya, semakin berkurang kemampuan

mereka untuk melihat Hawa Getaran itu. Anak kecil adalah tingkatan

awal di mana ia dapat melihat Hawa Getaran ini. Kadang orang tidak

254 BAGIAN 5. YANG KEMBALI DAN YANG TUMBUH

mengerti mengapa ada orang yang disukai oleh anak kecil akan tetapi

ada orang yang dijauhi atau bila ia mendekat, maka anak kecil tersebut

akan menangis. Hal ini dikarenakan anak kecil yang masih dapat

melihat Hawa Getaran dari orang itu, tidak menyukai warnanya.

Atau dengan kata lain Hawa Getaran orang tersebut tidak cocok atau

menyakiti Hawa Getaran si anak, entah dengan sengaja atau tanpa

sepengetahuan orang itu sendiri.

Pengujar-pengujar Tua yang dikenal sebagai orang-orang suci umumnya

mempunyai Hawa Getaran yang gemilang dan berwarna emas.

Sedangkan orang-orang yang kurang baik atau mengikuti hawa nafsunya

umumnya memiliki Hawa Getaran yang kelam dan dingin

menakutkan. Dengan melatih Hawa Getaran seseorang dapat menggunakannya

untuk mengintimidasi orang lain. Ini biasa digunakan

oleh petarung-petarung wahid yang bisa menang sebelum bertanding,

karena lawannya telah keder duluan. Secara sadar atau tidak mereka

telah menggunakan Hawa Getaran, walaupun mereka ataupun lawannya

tidak bisa melihatnya sendiri melainkan hanya merasakan.

Dengan melatih mata untuk melihat warna-warna dari Hawa Getaran,

pukulan-pukulan Hawa Tenaga Dalam dapat dilihat dan juga rambatan

energi Hawa Pikiran. Kemampuan ini dapat dimanfaatkan sebagai

suatu bentuk ilmu pertahanan diri.

”Lalu bagaima cara kita melatihnya, ayah?” tanya Nah amat tertarik.

Ia baru kali ini mendengar apa yang disebut sebagai Hawa Getaran

dan bagaimana cara melihatnya.

”Caranya tidak terlalu sulit, akan ayah ajarkan. Akan tetapi diperlukan

kesabaran dan ketekunan untuk melatihnya,” jawab Seh sambil

tersenyum. Ia senang bahwa anaknya antusias terhadap apa-apa yang

diajarkannya. Lalu lanjutnya, ”Melihat Hawa Getaran bersama-sama

dengan Hawa Pikiran merupakan ilmu wajib bagi keluarga Pratahu.

Selain itu ada pula Hawa Berbicara dan Mendengar Terbalik. Akan

tetapi untuk yang terakhir ayah tidak terlalu memahaminya. Pamanmu

yang lebih banyak tahu. Hal ini akan ayah ceritakan belakangan.”

Selanjutnya Seh pun menerangkan bagaimana cara untuk melatih

Melihat Hawa Getaran. Ia menjelaskan mengapa anak kecil masih

255

peka sehingga memiliki ilmu Melihat Hawa Getaran secara alamiah.

Hal ini dikarenakan mereka belum manfaatkan matanya secara paksa

sehingga ada bagian-bagiannya yang rusak. Berangsur-angsur dengan

bertambahnya umur, merek mulai merusak matanya dengan

memusatkan pandangan hanya pada hal-hal yang umumnya dapat

dilihat. Hal-hal lain di luar itu, umumnya diabaikan oleh pikiran

sehingga lambat-laun apabila terlihatpun tidak akan dilaporkan oleh

otak.

”Orang yang telah dewasa sebenarnya lebih sulit untuk belajar Melihat

Hawa Getaran dibandingkan anak kecil karena telah rusaknya lembaran

halus (selaput retina) pada depan matanya,” jelas Seh pada

Nah. ”Ada suatu cara yaitu dengan menggunanan Pandangan Samping

(peripheral vision) di mana kita berusaha melihat Hawa Getaran

dengan sudut mata kita.”

Dijelaskan oleh Seh bahwa bagian lembaran halus pada pinggir mata

umumnya tidak banyak dimanfaatkan, dengan demikian masih bisa dimanfaatkan

untuk melatih Melihat Hawa Getaran. Ditunjukkan pula

beberapa cara, antara lain dengan melihat dua buah lingkaran belah

berbeda warna yang di antaranya terdapat titik di mana harus dilihat

pada jarak tertentu. Apabila cukup berkonsentrasi maka akan

terlihat bahwa kedua lingkaran belah tersebut seakan-akan bercahaya

atau berpendar dengan warna-warna yang berbeda.

”Selain itu terdapat pula kelengkapan dari warna-warna yang ada,”

jelas Seh pada Nah, ”artinya warna yang kita lihat biasa akan membangkitkan

Hawa Getaran yang berbeda, boleh dikatakan pelangkapnya.”

Lalu ditunjukkan oleh Seh suatu kitab yang ditulis oleh Pengujar

Chalko (Tom Chalko) yang berasal dari pulau yang jauh di sana, yang

”kamu tidak lihat” – ose tra lia (Australia), nama yang dipetuturkan

oleh pelaut-pelaut suatu bangsa pelaut. Dalam kitab tersebut dijelaskan

padanan warna-warna, atau benda berwarna apa memberikan

Hawa Getaran apa. Dituliskan di sana bahwa benda berwarna merah

memberikan Hawa Getaran berwarna hijau-biru telur asin (turquoise

atau cyan gelap), dan sebaliknya. Jingga (orange) memberikan Hawa

Getaran biru dan sebaliknya. Kuning memerikan ungu (violet) dan sebaliknya

serta hijau memberikan merah muda (pink) dan sebaliknya.

256 BAGIAN 5. YANG KEMBALI DAN YANG TUMBUH

Dituliskan pula bahwa warna-warna terang menunjukkan hal yang

positif sedangkan gelap yang negatif, serta ditekankan bahwa warna

putih menunjukkan gangguan kesehatan. Warna ini merupakan warna

pilihan yang diyakini dilihat orang-orang pada seorang yang menjelang

ajal pada jaman dahulu seperti tertuliskan dalam kitab-kitab lama.

”Nah sekarang latihlah, konsentrasi pada benda ini untuk melihat

hawa getarannya. Juga ingat-ingat akan warna padanannya, ini penting

untuk memisahkan apakah yang engkau lihat nanti adalah Hawa

Getaran dari seseorang atau sesuatu atau hanya Hawa Getaran dari

pakaian yang dipakai seseorang atau warna bendanya saja.” Setelah

berkata demikian Seh pun meninggalkan Nah dalam heningnya, yang

mana masih berusaha untuk melatih ilmu Melihat Hawa Getaran. Suatu

ilmu yang wajib dilatih oleh anggota keluarga Pratahu.

***

Di suatu pagi tampak seorang anak muda berbadan tegap tanpa baju

dan hanya mengenakan celana coklat berlatih ilmu pedang. Pedang

yang digunakan tak lazim panjangnya. Umumnya pedang memiliki

panjang yang maksimal selengan penggunanya sehingga setiap saat

bila dibutuhkan dapat ditarik dari sarungnya. Lain dengan pedang

yang digunakan anak ini, jauh lebih panjang. Mungkin bisa sampai

dua kali panjang pedang biasa. Dan tidak disarungkan, melainkan

dibungkus begitu saja oleh kain sebagai sarungnya.

Anak muda tersebut tampak bergerak pelan, terlihat bahwa ia sedang

mengingat-ingat gerakan yang sedang dilatihnya. Kadang ia hanya

terdiam terlena dalam pembayangan gerakan yang pernah ditunjukkan

gurunya. Bila dirasa cukup pembayangannya, ia pun melakukannya.

Kadang ia bergerak cepat kadang lambat. Kadang teratur kadang liar.

Gerakan-gerakan dari ilmu Pedang Panjang.

Telaga si anak muda tersebut sudah tampak berkeringat. Peluhnya

berbutir-butir meluruh di sekujur tubuhnya saat ia berlatih. Napasnya

pun mulai terengah-engah. Diaturnya kembali pernapasan sambil

beristirahat. Ia masih gemas karena jurus terakhi yang diajarkan gurunya

belum dapat dikuasai sepenuhnya. Akan dicobanya lagi gerakan

itu setelah pulih tenaganya.

Selagi ia membayangkan gerakan-gerakan gurunya dan juga Kadal257

kadal Pelangi yang sedang menari-narikan gerakannya saat memangsa

serangga, terdengar suara batu kerikil yang dilangkahi orang di belakangnya.

Belum sempat ia berputar untuk mencari tahu siapa gerangan

sosok tersebut, sebuah batu telah melaju terbang ke arah dirinya.

Menuju jalan darah penting ditubuhnya. Dengan indah alih-alih mengelak,

Telaga pun menggerakan pedang panjangnya sehingga berfungsi

sebagai tameng terhadap batu tersebut, dan ”tingg!!” batu tersebut

pun terpental. Tak jadi mencapai jalan darah di tubuhnya.

”Hei, siapa...!” belum selesai Telaga bertanya tentang apa maksud dan

siap orang itu, sesosok bayangan telah menyerangnya gencar. Bertangan

kosong. Tapi walaupun bertangan kosong jangan dikira seranganserangannya

lembek dan tidak berbahaya dibandingkan dengan serangan

menggunakan senjata tajam. Sabetan tangan dan kakinya yang

dilengkapi dengan Hawa Tenaga Dalam membuat serangan tersebut

sama bahayanya dengan sabetan pisau atau golok.

Terpaksa Telaga pun mengelak, berkelit di sana-sini di antara ruang

kosong yang tercipta dari serangan-serangan itu. Mundur dan

mundur. Ia belum tahu siapa yang menyerangnya dan bukan sifatnya

untuk langsung membalas menyerang, apalagi menggunakan pedang

panjangnya. Untuk sementara ia akan bertahan dulu sambil mencari

tahu maksud dari penyerangnya juga sekaligus melatih ilmu yang

sedang dipelajarinya.

Dicobanya menyabetkan pedangnya secara mendatar untuk mengincar

pinggang sang penyerang. Dalam gerakan ini pedang akan

dilengkungkan ke atas untuk ditarik balik dalam rangka mengantisipasi

lawan yang akan mengelakkan serangan pertama dengan melompat

tinggi. Telaga telah gembira bahwa sang lawan tampak tidak

waspada akan serangan yang dilakukan dirinya, dan ia pun telah

memberi jarak agar pada saat yang tepat dapat menahan pedangnya

agar tidak sampai melukai.

Tapi Telaga kecele, alih-alih melompat sosok tersebut malah bergerak

maju dan menyerang leher dan kepalanya dengan telapak kakinya,

beputar seakan-akan tidak mengindahkan serangan pada pinggangnya.

Sebelum Telaga menyadari bahwa serangan itu hanyalah tipuan, sosok

tersebut telah menarik balik kakinya sehingga ia jatuh ke atas tanah

dan menyusup di bawah pedang panjang telaga yang lewat tipis di

atas rambutnya.

”Deggg!!” sebuah serangan ringan menyambar pinggang Telaga. Pada

jarak seperti itu, pedang panjang tidak ada gunanya. Lawan telah masuk

ke dalam lingkaran yang lebih kecil dari ruang pedangnya. Tidak

banyak gerakan yang dapat dilakukan sehingga Telaga pun mengalihkan

tenaga ke pinggangnya untuk menahan serangan itu.

Dengan cepat sosok itu lalu menempel pada Telaga memegang pedangnya

sedemian rupa sehingga Telaga tak mampu untuk memindahkan

arah geraknya. Dengan tenaga penuh sosok tersebut menambah

tenaga pada arah dorongan pedang semula sehingga gerakan Telaga

menjadi berlipat ganda, sudah dihentikan. Akibatnya ia kehilangan

nyaris keseimbangan. Hanya ada dua pilihan tetap mempertahankan

pedang panjangnya yang tiba-tiba menjadi berat akibat dorongan

lawan atau melepaskannya dan menyerang balik dengan menangkap

lawan menggunakan ilmu Sabetan dan Tangkapan Lawan yang diajarkan

oleh gurunya Arasan.

Telaga akhirnya memutuskan untuk melepaskan pedang panjangnya.

Pedang tersebut melesat dengan kuat, masih menyimpan tenaga

dorongan telaga dan lawannya. Dan ”capp!!” menancap pada bebatuan

tak tahu dari sana. Untung saja tidak ada manusia atau

hewan yang berada di tempat tersebut.

Sekarang Telaga lebih leluasa menghadapi lawan yang selalu berusaha

menyerangnya dari jarak dekat. Jarak yang hanya dapat dicapai dengan

bertangan kosong. Perlahan Telaga telah dapat mengimbangi

permainan dari lawannya itu.

Setelah lama-lama memperhatikan terlihat bahwa sosok itu agak kecil

dibandingkan dengan dirinya. Berperawakan ramping dengan rambut

yang digelung. Mungkin panjang rambutnya. Langkahnya ringan

dengan muka yang disembunyikan oleh selendang yang dikenakannya.

Lamat-lamat Telaga serasa mengenal sosok itu. Seperti pernah dilihat

entah kapan dan di mana.

Saat ia sedang dalam lamunannya untuk menebak-nebak siapa gerangan

sosok yang sedang menyerangnya itu, tak diduga sosok tersebut

menggunakan salah satu gerakan yang agak sulit yaitu agak

berjongkok kemudian menyerang kepala Telaga dengan jurus Menebang

259

Kelapa yang diikuti satu tipu berkelit untuk mengunci kedua tangan

Telaga dan diakhiri dengan jurus Berkelit Membanting Padi. Akibatnya

sudah dapat diduga. Telaga terkunci, terseret arah gerakan

lawannya dan terlempar ke atas tanah. Terbanting. ”Deggg!!”

Terengah-engah sedikit sosok itu saat bergerak mundur. Rupanya

cukup banyak tenaga yang dikeluarkannya untuk mengatasi Telaga.

Lawan yang lebih besar tenaganya dari dirinya.

Saat itu tersadarlah Telaga, kecuali gurunya yang dapat melakukan

gerakan itu di daerah ini hanya tinggal satu orang, Sarini putrinya.

Lalu katanya, ”Sarini, janganlah permainkan aku. Dalam ilmu Sabetan

dan Tangkapan Tangan, tidaklah aku bisa menang melawanmu!”

Sosok itu tertawa geli mendengar ucapan Telaga. Senang rupanya ia

dipuji sedemikian rupa. Tapi kemudian katanya, ”Telaga jika sudah

tahu siapa aku ayo coba kalahkan aku! Aku dengar dari paman Walinggih

bahwa engkau baru diajari jurus Gerakan Kadal Pelangi Makan

Pagi. Ayo tunjukkan padaku!”

Mendongkol juga sedikit hati Telaga mendengar ucapan itu, rupanya

Sarini ini memang hendak menggodanya. Gerakan yang baru saja

dipelajarinya itu sudah hendak dicobanya pula. Darah mudanya pun

sedikit bergolak, ia ingin melihat apakah gerakan itu dapat mengatai

ilmu Sabetan dan Tangkapan Tangan dari Sarini.

Beranjaklah Telaga ke batu tempat di mana pedang panjangnya tadi

tertancap. Ditariknya pelan sambil diingat-ingat lagi jurus Gerakan

Kadal Pelangi Makan Pagi yang diajarkan gurunya dan telah sedikit

dipahami olehnya. Untuk menghadapi Sarini yang mengambil jarak

tempur pendek, mungkin perlu perubahan-perubahan sedikit dalam

pemanfaatan jurus itu.

Pertama-tama ia harus membuat gadis itu kalang kabut baru bisa

mengeluarkan Gerakan Kadal Pelangi Makan Pagi yang tidak terduga

dari atas untuk kembali menyerang posisi awal ia melompat. Jika

langsung dikeluarkan Sarini mungkin dapat menebaknya.

Setelah memutuskan gerakan yang akan dilakukannya Telaga pun

mulai menyerang Sarini. Awalnya hanya gerakan-gerakan sapuan

mendatar dan miring. Ia ingin lebih dulu melihat bagaimana Sarini

260 BAGIAN 5. YANG KEMBALI DAN YANG TUMBUH

menanggapinya.

Sarini ternyata memiliki perasaan dan perhitungan yang tajam. Ia

tidak banyak bergerak. Ia hanya membiarkan pedang panjang Telaga

lewat satu dua jari dari tubuhnya. Tidak banyak ia bergerak, cukup

mengelak tipis. Kagum juga Telaga melihat keberanian dan perhitungan

yang tepat dari Sarini. Gadis ini benar-benar berhati harimau.

Karena lama tak membuahkan hasil, akhinya Telaga mulai meningkatkan

kadar serangannya. Sekarang serangannya mulai gencar dan dibalas

pula oleh Sarini dengan elakan-elakan yang lebih cepat. Masih belum

menyerang. Kelihatannya Sarini masih mencari-cari celah untuk

bertarung jarak dekat, agar ia bisa menangkap atau memukul bagianbagian

tubuh dari Telaga.

”Ayo keluarkan jurus Gerakan Kadal Pelangi Makan Pagi!” pancing

Sarini.

Mendengar ini Telaga pun tergerak untuk mengeluarkan jurus itu.

Bukan hanya karena emosi juga karena ia tertarik bagaimana gadis itu

bisa menangani serangannya. Setelah sedikit bergerak liar menyabet

ke sana ke mari membuat hampir tidak ada ruang kosong di kiri-kanan

Sarini, Telaga pun meloncat terbalik dan menyabetkan pedangnya ke

arah Sarini. Sarini pun melompat mundur untuk mengelak. Tipis

akan tetapi mengenai selendangnya sehingga wajahnya pun terbuka.

Saat Telaga tersenyum atas hasil yang didapatkannya dan ia menyentak

balik untuk kembali ke posisi semula di mana ia melompat

tadi, seperti gerakan-gerakan Kadal Pelangi, Sarini bergerak cepat.

Sarini telah mengambil posisi rapat, di mana Telaga akan mendarat.

Sedemikian rapat sehingga jarak itu tidak dapat dimasuki lagi oleh

pedang panjang.

Kaget tersurat pada wajah Telaga melihat posisinya tidak lagi menguntungkan.

Belum habis gaya tarikan pedang panjangnya, kembali

Sarini telah menggapai kedua tangganya, menambah dorongan sehingga

Telaga kembali terikut arus putaran tenaga Sarini. Dan dalam

sekejap kembali jurus Berkelit Membanting Padi digunakan. Hasil

yang mirip diperoleh, yaitu Telaga dan pedangnya terlempar mendatar

di atas tanah. Terlentang.

261

”Hehehehe..!!” tiba-tiba terdengar kekeh seseorang dari sisi kedua

orang yang sedang bertarung itu. ”Nak Telaga, kena engkau diperdaya

Sarini.”

Orang itu ternyata adalah Arasan. Ia telah lama berada di sana.

Ia dapat dengan jelas melihat bagaimana anaknya Sarini memberi

pancingan pada Telaga sehingga pemuda itu mengeluarkan jurus Gerakan

Kadal Pelangi Makan Pagi yang langsung direbut posisi awalnya

untuk dihancurkan.

”Guru..!” sahut Telaga sambil cepat bangun dan menjura.

”Ayah!!” suara Sarini dengan manja. Tampak merah mukanya. Entah

malu entah agak tak suka bahwa ayahnya tiba-tiba muncul di sana.

”Aku pergi dulu!” sahut Sarini yang segera hilang dari sana. Meninggalkan

Telaga yang masih agak-agak bingung atas kekalahannya.

Setelah mereka berdua berdiam agak lama, bertanyalah Arasan pada

Telaga, ”tahukah kamu mengapa engkau bisa kalah dari Sarini?”

Telaga menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia masih agak bingung mengapa

jurus yang dirasakannya ampuh itu tidak terlalu berguna dalam

menghadapi Sarini.

”Tahukan pula, bila itu tadi adalah Walinggih, apa yang akan dilakukannya

menghadapai lawan yang bertangan kosong?” tanya

Arasan kembali alih-alih menjelaskan jawaban dari pertanyaan pertamanya

tadi.

Kembali Telaga menggelengkan kepalanya, ”tak tahu guru. Mohon

petunjuk!”

”Ilmu bela diri itu harus dipahami inti dan maksud gerakannya. Jurusjurus

tidak hanya digunakan karena dirasakan indah atau ampuh saja.

Melainkan digunakan pada situasi yang cocok untuk memanfaatkannya,”

jelas Arasan.

”Maksud guru?” tanya Telaga menyakinkan ketidahtahuannya.

”Memang jurus yang diajarkan oleh Walinggih itu teramat ampuh,

tapi hanya untuk jarak menengah dan jauh, tidak untuk jarak dekat.

Perhatikan waktu gurumu dulu menghadapi keroyokan orang-orang

262 BAGIAN 5. YANG KEMBALI DAN YANG TUMBUH

itu. Ia selalu mengambil cukup jarak bagi pedangnya untuk bergerak.

Jika ruang terlalu sempit engkau harus mundur atau pergi sehingga

tetap cukup ruang untuk pedangmu.” begitu jelas Arasan.

Mengangguk-angguk Telaga mendengarkan pendapat gurunya mengenai

ilmu yang diturukan oleh gurunya yang lain.

”Sebenarnya, ada rahasia lain mengenai kemenangan Sarini..,” kata

Arasan kemudian, agak tidak enak kelihatannya ia hendak menyampaikan.

”Maksud paman?” tanya Telaga ingin tahu. Ia tidak mengerti apa

yang dimaksud dengan rahasia itu.

”Tapi engkau harus berjanji dulu tidak menceritakannya kepada

Sarini. Bisa kecewa ia nantinya,” jawab Arasan.

Telaga mengiyakan. Ada apa pula ini sampai tidak boleh menceritakan

pada Sarini mengenai hal ini.

”Sarini sebenarnya telah belajar pula belajar pada Walinggih,” ucap

Arasan sambil tersenyum saat melihat Telaga terkejut, ”bahkan ia

telah pula diajarkan tipu-tipu gerakan untuk memunahkan Gerakan

Kadal Pelangi Makan Pagi. Itu sebabnya ia dapat dengan mudah

mengalahkan mu, nak Telaga.”

Telaga terngaga mendengar hal itu, perlahan-lahan wajahnya pun

memerah. Lalu katanya, ”tapi itu bukan alasan bahwa Sarini dapat

mengalahkan saya, ia memang lebih jeli dalam menggunakan gerakangerakan

dalam ilmu Sabetan dan Tangkapan Tangan.” Tak bangga

pula ia bahwa kekalahannya diakibatkan Sarini telah mempelajari ilmunya

dan juga diajari oleh gurunya, Walinggih.

”Menurut saya, guru, tak peduli orang telah mengenal ilmu kita atau

tidak, kalah ya kalah!” begitu jawab Telaga.

”Bagus bila engkau berpendapat begitu. Dan memang demikianlah.

Semakin engkau sering bertarung dengan lawanmu, semakain kenal

lawanmu akan gerakan-gerakan yang akan engkau lakukan. Istilahnya

ilmumu semakin telanjang atau transparan. Jadi sebaiknya seorang

pendekar memperkuat ilmu dan gerakan yang disertai efesiensi

pemanfaatannya ketimbang ragam dan gerakan-gerakannya yang tak

263

terduga,” jelas Arasan.

Telaga pun mengangguk-angguk. Setuju atau pendapat gurunya.

Tak lama kemudian mereka pun berlalu. Kembali ke rumah di mana

ternyata telah menantiWalinggih dan Sarini. Yang terakhir ini sedang

menyiapkan makan malam bagi mereka berempat.

Di hadapan mereka tersaji apa yang disebut orang-orang di ujung suatu

pulau besar Le Bu Peudah atau Bubur Pedas. Suatu makanan

khas yang umumnya disajikan hanya pada menjelang matahari terbenam.

Jenis makanan itu merupakan campuran dari bahan-bahan

beras, kelapa parut dan rempah-rempah seperti kunyit, merica dan

tunas pohon kala. Cara memasaknya adalah dengan memasukkannya

semua dalam satu kuali dan mengaduknya cukup lama. Dimasak

kira-kira hingga tiga jam.

Setelah membersihkan kaki dan tangan untuk mulai makan, Telaga

dan Arasan pun duduk di sekitar semangkok besar Le Bu Peudah.

Di samping mangkok tersebut masih pula ada buah-buahan dan umbi

yang telah dibakar.

Arasan duduk di samping Telaga, yang kemudian diikuti oleh Walinggih

dan Sarini. Jadi boleh dikatakan berhadap-hadapan Walinggih

dan Arasan, juga Telaga dan Sarini yang masing-masing dipisahkan

oleh perabot makan yang berisikan santapan makan malam mereka.

Setelah sebentar mengucap syukur kepada Sang Pencipta, mereka

pun kemudian mulai makan. Dan tidak biasanya bahwa malam itu

tidak terdengar celoteh renyah dari Sarini yang biasanya ditimpali

oleh Telaga. Kedua orang tua yang sedang makan, Arasan dan Walinggih

hanya saling bertukar pandang melihat kekakuan yang muncul

di antara kedua anak muda yang duduk saling berseberangan itu.

Tiba-tiba Walinggih memberikan sedikit isyarat pada Arasan melalui

kedipan matanya. Isyarat ini dilontarkan saat kedua anak muda sendang

menunduk menyupa Le Bu Peudah-nya. Alih-alih melakukan

apa yang diisyaratkan Walinggih, Arasan malah memberi isyarat balik

agar Walinggih saja yang memberitahu kedua anak muda tersebut

mengenai hal yang mereka telah bicarakan sebelumnya.

264 BAGIAN 5. YANG KEMBALI DAN YANG TUMBUH

Karena berulang-ulang keduannya saling mengedip-kedipkan mata

dan juga menggerak-gerakkan dagu menunjuk-nunjuk pada kedua

muda-mudi itu, akhirnya gerakan ini pun dilihat keduanya. Keduanya

pun tak dapat menahan tawa melihat kelakukan guru-guru

mereka. Telaga hanya tersenyum, sedangkan Sarini sampai terkekeh

kecil dan kemudian menutupi mulutnya agar makanan yang sedang

dikunyahnya tidak tersembur keluar.

Menyadari bahwa isyarat-isyarat mereka telah dilihat kedua anak

muda tersebut, Walinggih dan Arasan pun menghentikan aksi mereka.

Terdiam, terlihat salah tingkah. Mirip-mirip orang yang sedang tertangkap

basah sedang melakukan sesuatu yang salah.

”Ayah, ada apa sih?” tanya Sarini pada Arasan. Tak tahan dia menahan

geli melihat ayah danWalinggih saling bergerak aneh-aneh dengan

memainkan dagu dan juga sebelah mata mereka.

”Eh.., itu tanya saja sama pamanmu Walinggih..,” jawab Arasan sekenanya.

Juga sekalian melemparkan tangguna jawab agar Walinggih

yang menjelaskan tingkah laku aneh mereka.

”Lebih baik ayahmu saja yang menjelaskan, Sarini. Dia lebih pakar

dari paman,” jawab Walinggih merendah sambil kembali lempar

tanggung jawab. Sekalian ia menambahkan Le Bu Peudah dalam

mangkoknya. Sudah empat kali ia tambah. Seanak-akan perutnya

tak berbatas dalam mengasup makanan kegemarannya itu.

Melihat kejenakaan yang muncul dari tingkah polah kedua orang itu,

pecahlah tawa antara orang muda itu. Telaga tak lagi dapat menahan

tawanya, dipegangnya perutnya yang sakit. Sedangkan Sarini masih

berusaha menyembunyikan suara tawa yang barusan terceplos keluar.

Diupayakan untuk menutup mulutnya. Sementara air mata geli tampak

telah mengalir sedikit di sudut kedua matanya.

”Arasan, lihat..! Kita malah jadi bahan tertawaan mereka, tuh! Ini

gara-gara kamu sih, tidak mau menjelaskan..,” tuduh Walinggih jenaka.

Setelah mempunyai murid Telaga dan berhubungan dengan

keluarga Arasan dan Sarini, Walinggih keluar sifat aslinya yang ramah

dan jenaka. Tidak lagi serang dan dingin saat masih menjadi Hakim

Haus Darah.

265

”Eh, bukannya engkau Walinggih yang mulai. Seharusnya engkau saja

yang bilang. Kan dari pihak yang pemuda!” jawab Arasan tak mau

kalah.

Kata ”pihak pemuda” tiba-tiba saja menghentikan tawa yang ditahan

dari kedua muda-mudi itu. Tiba-tiba saja keduanya tertunduk malu

dengan semburat merah di wajahnya. Jelaslah sudah apa yang ada

di benak kedua orang tua itu dengan kata tersebut. Dan hanya satu

yang mungkin. Perjodohan!!

Masih dalam rangka menggoda keduanya, Walinggih pun berubah

gaya bicaranya. Menjadi keren dan serius. Lalu katanya, ”Adik

Arasan, saya Walinggih dengan rendah hati ingin menjodohkan murid

saya yang bodoh ini, Telaga, sebagai pasangan dari anakmu yang cantik

dan pandai memasak, Sarini. Semoga usul ini dipertimbangkan

dan diterima...!”

Arasan pun tak mau kalah. Ia pun lalu membalas dengan merendah,

”Kakak Walinggih, saya Arasan merasa amat beruntung bahwa putriku

yang bodoh ini bisa mendapatkan perhatian dari muridmu yang

gagah, rendah hati dan bersemangat itu. Akan tetapi perjodohan

adalah urusan yang akan dijodohkan, sebaiknya engkau tanyakan saja

langsung pada yang bersangkutan!”

Kedua muda-mudi itu benar-benar mati kutu. Mereka tidak bisa

bicara apa-apa. Jika tadi semburat merah telah ada di wajah, saat ini

telah menjalar ke leher dan telingah. Keduanya tampak mirip-mirip

kepiting atau udang rebus.

Setelah hening sebentar diberikan oleh kedua orang tua itu kepada

Sarini dan Telaga agar mereka dapat menguasai diri mereka kembali,

berkatalah Arasan, ”Nah, putriku Sarini. Bagaimana jawabanmu atas

lamaran paman Walinggih?”

Memang suatu kebiasaan yang tidak lazim di jaman itu bahwa anak

yang akan dijodohkan ditanyakan langsung pendapatnya. Umumnya

kedua orang tua yang menerima pinangan perjodohan yang menentukan,

dengan si anak tidak memiliki kemampuan untuk mengubah

keputusan orang tuanya. Akan tetapi lain dengan keluarga Arasan.

Mungkin dikarenakan mereka hanya tinggal berdua dan tidak memiliki

saudara lain di sekitar situ dan juga Arasan memberikan kebebasan

266 BAGIAN 5. YANG KEMBALI DAN YANG TUMBUH

kepada anaknya untuk mengambil keputusannya sendiri. Karena ia

sendiri yang akan nanti menjalani konsekuensi dari keputusannya itu.

Dengan wajah yang masih memerah dan tertunduk malu Sarini

berkata, ”ayah.., terserah ayah saja..! Saya masih harus membereskan

perabot makan ini..!” Lalu dengan cepat ia berdiri dan membereskan

perabot-perabot bekas mereka berempat makan malam itu dan berlalu

dari ruang tengah itu, menuju ruangan di balik yang dipisahkan oleh

sekat terbuat dari daun kelapa untuk mulai mencuci perabot-perabot

makan malam.

Arasan tertawa melihat tindak-tanduk putrinya. Ia merasa bahwa

putrinya menerima pinangan dariWalinggih untuk dijodohkan dengan

Telaga. Sebagai seorang ayah yang dekat dengan anaknya, dapat ia

merasakan itu. Biasanya Sarini akan menyatakan dengan tegas apabila

ia tidak setuju akan sesuatu yang dikemukakan ayahnya.

”Hahahaha..!” berderai tawa Arasan yang kemudian diikuti oleh

Walinggih. Mereke sama-sama senang bahwa urusan ini menjadi

beres sesuai dengan hasil yang mereka perkirakan. Tak lupa mereka

menepuk-nepuk punggung Telaga yang duduk di antara mereka, yang

sedari tadi hanya tertunduk diam dan malu.

Setelah berhasil menenteramkan hatinya, berkatalah Telaga, ”Maafkan

perkataan saya ini, akan tetapi guru berdua ini sedari tadi sama sekali

belum menanyakan pendapat saya...”

Kedua orang itu terdiam. Mereka teringat bahwa mereka sama sekali

belum menanyakan pendapat murid mereka Telaga apakah mau dijodohkan

dengan Sarini. Mereka sudah saja merasa yakin, karena

siapa sih yang tidak mau dijodohkan dengan gadis semanis Sarini.

Pandai masak pula.

Yang paling terkejut adalah Sarini, sampai terhenti kegiatannya mencuci

mangkok yang digunakan itu mendengar perkataan Telaga. Ia

di dalam hatinya telah lama menyukai Telaga, bahkan ayahnya pun

mengetahui itu dari sikapnya yang kadang melamun saat Telaga tidak

datang ke rumah mereka untuk berlatih ilmu Sabetan dan Tangkapan

Tangan. Karena dipergoki oleh ayahnya, mengakulah ia akan hal itu.

Atas dasar pengakuan itu dan juga rasa sukanya pada muridnya,

267

Arasan pun menghubungi Walinggih. Yang dihubungi merasa gembira

pula. Kehilangan keluarga, anak dan istri, yang membuatnya

sedih tiba-tiba terlupa. Tanpa pikir panjang Walinggih mengatakan

bahwa pastilah muridnya bersedia dijodohkan dengan Sarini.

”Eh, apa maksudmu Telaga?” tanya Walinggih. ”Kamu tidak suka

dengan Sarini? Bodoh kamu!”

Bersemu merah wajah Telaga. Lalu ujarnya, ”Saya.. suka guru.., tapi

saya harus memberitahu kedua orang tua saya dulu..”

”Ah, kamu benar sekali! Sudah pikun orang tua ini..!” kata Walinggih

sambil menepuk jidantnya sendiri. ”Engkau masih ada orang tua di

utara sana.”

Sarini yang mendengarkan itu dari tempat mencuci piring merasa lega.

Tadinya sempat perasaannya bergolak. Ia takut bila Telaga menolak

atau bisa saja telah dijodohkan. Tak terasa bersemu merah kembali

wajahnya mengingat bergolaknya perasaannya tadi.

”Hmm, gimana ini..? Padahal engkau ingin aku suruh pergi jauh ke

selatan mencari orang-orang yang tinggal di perahu, di tengah laut.

Mereka adalah orang-orang yang hidupnya benar-benar di atas air.

Salah satu kemampuan mereka adalah bela diri dalam air. Bagus

untuk engkau pelajari untuk melengkapi ilmu-ilmumu,” begitu ujar

Walinggih.

”Begini saja, kakakWalinggih, bila kakak tidak berkeberatan bagaimana

bila kakak yang mengatakan kepada kedua orang tua Telaga di Gunung

Berdanau Berpulau soal perjodohan ini. Saya tidak pada tempatnya

karena saya adalah orang tua yang perempuan,” usul Arasan.

”Hmm, boleh juga itu! Sudah lama aku tidak berjalan jauh ke manamana.

Baiklah, aku akan ke utara mencari kedua orang tua Telaga

untuk memberitahukan perjodohan ini. Moga-moga mereka setuju.

Lalu kemudian kita bicarakan lagi kapan hari baiknya,” jawab Walinggih.

Kedua orang tua itu akhinrya sepakat. Telaga yang berada di antara

mereka tidak lagi menyanggah. Ia hanya bisa pasrah. Pasrah untuk

dijodohkan pada Sarini, gadis yang diam-diam juga ia sukai.

268 BAGIAN 5. YANG KEMBALI DAN YANG TUMBUH

Hari pun berlalu dengan cepat. Walinggih kembali berulang-ulang

mengajarkan Telaga bagaimana jurus-jurus dalam ilmu Pedang Panjangnya

digunakan. Ia juga menyuruh Telaga untuk melatih kembali ilmu

Sabetan dan Tangkapan Tangan dari Arasan. Kedua ilmu itu harus

dipadukan agar pertahanan dan serangan menjadi mantap. Baik untuk

jarak pendek ataupun menengah dan jauh. Dengan atau tanpa

pedang panjang.

Dan anehnya setelah pembicaraan perjodohan itu, kedua muda-mudi

malah menjadi agak asing satu sama lain. Tidak lagi bebas dan

akrab seperti semula. Urusan perjodohan itu membuat mereka merasa

sungkan satu sama lain. Kedua orang tua yang melihat hal itu membiarkannya

saja. Nanti mereka juga akan kembali seperti semua, begitu

pikir keduanya.

Akhirnya tibalah hari perpisahan itu. Telaga disuruh gurunya untuk

menimba ilmu di selatan, jauh di lepas pantai. Di antara orang-orang

yang tinggal di laut, Suku Pelaut. Orang-orang yang hanya sesekali

ke darat untuk menukarkan kebutuhan hidup mereka. Sisa hidupnya

benar-benar dihabiskan di atas air.

Telaga diberikan waktu sekitar tiga tahun untuk kembali ke Padang

Batu-batu untuk melanjutkan perjodohannya. Sementar itu Walinggih

akan pergi ke utara, ke Gunung Berdanau Berpulau untuk menceritakan

soal perjodohan itu kepada kedua orang tua Telaga, Ki dan

Nyi Sura. Atas usul Arasan, Sarini pun dibawa serta untuk sekaligus

diperkenalkan. Baik sekali apabila ia bisa menjadi murid dari kedua

Pelestari Tenaga Air. Sekalian mengenal calon mantu mereka. Sarini

hanya dapat menunduk mengiyakan mendengar keputusan ayahnya.

Terasa kuatir pula bila kedua orang tua Telaga tidak menyukai dirinya.

Kedua rombongan itu pun berpisah. Telaga ke arah selatan, sedangkan

Sarini dan Walinggih ke arah utara. Berganti-ganti Arasan melihat

kedua rombongan itu sampai hilang dari pandangan. Terasa sepi

dunianya tanpa kehadiran orang-orang yang dekat dengannya. Tibatiba

saja dirasakan umurnya bertambah beberapa tahun.

”Ada waktu berkumpul, ada pula waktu berpisah..,” gumamnya, ”tak

ada yang kekal di dunia...,” sambil melangkahkan kakinya kembali ke

rumahnya.

269

***

Seorang pemuda tampak sedang berjalan seenaknya. Wajahnya bersih

dan selalu dihiasi senyum. Badannya cukup berisi dengan perawakan

tidak terlalu tinggi tapi proporsional sehingga membuatnya terlihat

enak untuk diajak bicara. Perangainya yang riang menambah daya

tariknya.

Pemuda itu tampak sedang melakukan perjalan seorang diri. Tak

terlihat ada orang yang berjalan bersama atau mengikutinya. Untuk

menghilangkan rasa sepi, ia pun bernyanyi-nyanyi kecil.

”Burung bersiul bersahut-sahutan, matahari bersinar cerah, kera-kera

bermain di hutan, bunga semerbak merekah.

Buat apa susah, susah itu tak ada gunanya, buat apa resah, resah itu

juga tiada gunanya.

Tralala.., trilili.., haha.., hihi.. Nanana..., ninini..., dada.., didi..”

Lagu yang sering dinyanyikan gurunya saat sama-sama bepergian. Sudah

bisa ditebak bahwa pemuda itu adalah Lantang. Ia baru saja

turun dari Gunung Berdanau Berpulau. Seyogyanya ia harus mencari

gurunya ke timur. Akan tetapi dari cerita-cerita orang yang didengarnya

sambil lalu ia tertarik untuk sedikit berjalan ke selatan baru ke

timur. Melewati kota-kota yang dibicarakan oleh orang-orang itu.

Ada kota Dsseldorf (kota Pinggir Sungai Menggelegar) yang dikatakan

memiliki dua belas Stndischen (Yang Berdiri) di Nordpark (Taman

Utara) yang pada suatu waktu hilang sama sekali digondol entah oleh

siapa. Selain itu ada pula Kota Batu-batu yang terletak di tepi Padang

Batu-batu. Padang Batu-batu merupakan suatu hutan yang bukan

ditumbuhi pepohonan akan tetapi batu-batu dari ukuran kecil sampai

sebesar rumah.

Hal-hal tersebut menarik hatinya. Selama berdiam di Gunung Berdanau

Berpulau, Lantang tidak pernah sekalipun turun gunung. Ini barulah

pertama kalinya ia turun gunung saat mulai remaja. Suasana sudah

banyak berubah dibandingkan dengan keadaan dulu saat ia ditemukan

oleh gurunya dan diajak berdiam di gunung.

Tiba-tiba saja terdengar bunyi-bunyi lucu dari perutnya. Mirip kuku270

BAGIAN 5. YANG KEMBALI DAN YANG TUMBUH

ruyuk seekor ayam jadi. Bunyi itu ternyata tanda-tanda bahwa perut

yang punya telah minta untuk diisi. Diasupi penganan agar dapat

menenteramkan lambung yang ada di dalamnya.

Lantang, pemuda itu, pun celingak-celinguk. Ia mencari-cari dengan

matanya tempat yang enak untuk digunakan untuk makan siang.

Samar-samar didengarnya gemericik air yang khas saat melewati batubatu.

Suatu bunyi yang sudah menjadi temannya sehari-hari saat

menimba ilmu Tenaga Air di Gunung Berdanau Berpulau. Bergegas

ia menuju pada sumber gemericik air itu. Sudah dibayangkan betapa

enaknya melangsungkan makan siang di tepi sungai yang jernih dan

segar dan ditemani dengan angin yang sepoi-sepoi menyejukkan pada

siang yang panas ini.

Berjarak satu-dua tombak dari sungai jernih yang ditemukannya,

dibentangkannya kain yang tadi dibawanya di pundak, yang berfungsi

sebagai kantung perbekalan yang dibawanya. Dipilihnya suatu batu

besar sebagai senderen untuk duduk. Saat baru turun gunung, ia telah

dibekali oleh kedua gurunya sedikit uang dan juga makanan kering

yang dapat tahan hingga seminggu. Di antaranya terdapat dendeng,

manis-manisan dan bumbu-bumbu. Sebagai makanan utama masih

ada ketan dan juga ubi kering yang siap disantap.

Tak perlu terlalu lama perut Lantang menunggu untuk diasup. Segera

setelah kunyahan-kunyahan di mulut berlangsung, lambung pun mendapat

giliran untuk disua oleh penganan itu. Nikmat rasanya. Sekujur

tubuh serasa mendapatkan energi baru.

Tiba-tiba ia dikejutkan oleh kehadiran seorang di depannya. Agak

jauh di hadapannya, di bawah sebuah pohon yang rindang, tampak

seorang tua sedang duduk memandangnya. Lantang yakin bahwa tadi

tiada seorang pun di sana. Orang tua tersebut tampak sedang dalam

posisi berjongkok. Memandangnya dengan tertarik, teruma terhadap

penganan yang sedang disantapnya.

Ada sesuatu yang aneh dari orang tua itu, yaitu suasana warna kehijauan

yang tampak. Agak kontras dengan batang pohon tempat

ia menyandar yang jelas-jelas berwarna coklat tua. Lantang tidak

bisa begitu melihat raut wajah orang itu, hanya dari warna rambut

dan kerut-kerutan di wajahnya, diduganya bahwa itu adalah seorang

271

yang sudah agak tua. Mungkin lebih tua dari kedua gurunya, Ki dan

Nyi Sura. Juga guru pertamanya, Rancana si Bayangan Menangis

Tertawa.

Terdengar tiba-tiba bunyi yang barusan membuat Lantang memutuskan

untuk berhenti makan siang. Bunyi kukuruyuk. Kalau tadi

bersumber dari perutnya, saat ini kelihatannya tidak lagi. Pasti dari

orang itu. Mendengar ini mau tak mau Lantang pun tersenyum. Lalu

ditawarkannya makanannya sambil mengangsurkan sekerat dendeng

dan sepoton ubi.

”Ki sanak yang di sana, mau makan sama-sama saya?” tanyanya

sopan, ”hanya makanan sederhana...”

Belum habis Lantang mengucapkan kata-kata untuk menjelaskan apa

yang bisa ia tawarkan, orang itu telah bergerak ke arahnya. Halus

akan tetapi cepat. Amat cepat, sehingga dalam beberapa kejapan

mata ia telah berada di hadapan Lantang. Mengambil makanan

yang ditawarkan dan langsung menguyahnya perlahan-lahan. Serius,

seakan-akan benar-benar menikmati rasa lezat yang muncul saat

bagian-bagian yang dikunyahnya dibasahi oleh air liur.

Dalam jarak sedekat ini tampak lebih jelaslah raut wajah orang tua

itu. Sebenarnya belumlah ia terlalu tua, melainkan wajah khas orang

muda yang banyak dirundung masalah. Tua sebelum waktunya. Tua

dikarbit permasalahan atau pikiran. Baju yang dikenakannya juga

aneh. Bukan karena bahannya yang kasar, melainkan karena warnanya

yang berbeda pada bagian kiri dan kanan. Sebelah hijau muda, mirip

warna kulitnya dan sisanya biru muda. Suatu paduan busana yang

belum pernah dilihat Lantang sebelumnya.

Tak berapa lama habislah sepotong ubi dan sekerat dendeng itu.

Orang itu langsung beranjak ke arah sungai yang terdapat tak jauh

dari sana. Setibanya di dekat air, alih-alih menjangkau air dengan

telapak tangannya untuk diminum, orang itu malah menurunkan

kepalanya untuk langsung meminum air sungai itu dengan mulutnya.

Mirip dengan kelakukan hewan-hewan mamalia yang hidup di hutan.

Setelah itu ia kembali memandang Lantang. Ada ungkapan terima

kasih di matanya. Seakan-akan mengangguk, orang itu kemudian

menghilang. Cepat. Tak bisa dirasakan. Mirip dengan cara ia datang

272 BAGIAN 5. YANG KEMBALI DAN YANG TUMBUH

tadi yang secara tiba-tiba.

Lantang hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya melihat kelakukan

orang tua itu. Tiba-tiba teringat ia pada Xyra, sahabatnya

yang seorang Undinen. Warna-warna Undinenlah yang dilihatnya

pada busana dan kulit orang tua itu. Lantang pun berniat untuk

bertanya pada orang tua itu, apabila mereka bersua kembali.

Angin sepoi-sepoi dan juga perut yang telah terisi benar-benar paduan

yang cocok untuk membuat mengantuk. Ditambah lagi dengan rasa

letih yang telah menumpuk sejak perjalannya tadi pagi sedari turun

dari gunung. Direbahkan badannya di samping batu yang dijadikannya

tadi sebagai sandaran, setelah terlebih dahulu membereskan perbekalannya

kembali ke dalam buntalan. Sebagai alas kepala digunakannya

buntalan bekalnya tadi. Tak lama Lantang pun terlelap.

Dalam tidurnya, ia pun bermimpi.

Ia berdiri di pinggir sebuah pantai di mana di salah satu bagian di

hadapannya tampak air sungai bersua dengan air laut. Sebuah muara.

Di bagian muara yang melebar itu terdapat sebuah pulau. Khas pulaupulau

delta pada umumnya. Di sana di kejauhan Lantang melihat

dua sosok orang sedang berhadapan. Keduanya berdiri setombak dua

tombak lebih. Tidak terlihat dengan jelas dari tempatnya berdiri.

Dari caranya mereka berdiri terlihat bahwa bukan suatu pembicaraan

ramah-tamah.

Keduanya tiba-tiba bergerak cepat. Saling mengitari dan melemparkan

pukulan dan tendangan. Tidak jelas alasannya. Setelah

mereka bergerak terlihat bahwa salah satu sosok adalah seorang

wanita. Hal ini terlihat dari bentuk tubuh dan juga rambutnya

yang panjang. Sosok yang lain seperti seorang laki-laki tua. Selain

itu terdapat persamaan di antara keduanya. Keduanya memancarkan

seperti cahaya hijau muda. Bukan dari busana mereka, melainkan

cenderung dari bagian-bagian tubuhnya.

”Happ! Deggg!!” tiba-tiba lelaki tua itu memasukkan tendangannya

dan juga pukulannya pada sang wanita. Wanita itu terlempar mundur

beberapa langkah. Tetapi tidak terjatuh. Melainkan melayang ringan

bagai bulu yang tertiup angin. Melayang dan turun dengan halusnya

di atas kedua kakinya. Kembali dalam posisi siap menyerang.

273

Lelaki itu setelah melepaskan serangannya terlihat seperti terhuyung.

Membuang tenaganya dalam satu serangan. Akan tetapi alih-alih

ia terhuyung gerakannya malah tambah kuat. Mengendap ke bumi.

Mengalir seperti air.

Keduanya kembali berhadapan. Berdiri satu di depan lainnya. Menimbangnimbang

serangan apa yang akan dikeluarkan. Menilik dari serangan

tadi, keduanya bersumber pada elemen alam yang sama. Air. Suatu

cara pengaturan tenaga yang mengalir. Luwes. Menuju ke pusat

bumi akan tetapi tidak kaku. Keras tetapi tidak getas. Lentur dan

membaur. Air.

Lantang yang tadi melihat dari jauh, begitu tertariknya ia sehingga

tak sadar ia telah berada di atas pulau delta itu. Entah bagaimana

caranya. Sekarang ia hanya berada dua tiga tombak jauhnya dari

kedua orang yang masih berdiri berhadapan itu.

Sekarang lebih jelas dilihatnya bagaimana sosok dan perawakan kedua

orang itu. Kedua orang itu ternyata orang-orang yang telah dikenal

dan pernah ditemuinya. Xyra sang Undinen dan pak tua yang tadi

siang menerima pemberian bekalnya yang sederhana.

Tapi apa maksudny ini? Mengapa keduanya berseteru? Belum habis

Lantang berpikir tentang apa-apa yang bisa menjadi sebab, keduanya

telah kembali berlaga. Bergerak dengan halus dan cepat. Mencari-cari

posisi yang lowong untuk melemparkan sekepal dua kepal pukulan.

Lantang yang dapat merasakan himpitan aura dingin dari keduanya

menyadari bahwa pertarungan ini sungguh-sungguh. Keduanya ingin

mengalahkan yang lain. Ia merasa bahwa ia harus mencegahnya.

Mencegah pertarungan ini berlanjut, sebelum salah seorang dari

mereka tersungkur di atas tanah.

Tanpa lebih jauh mempedulikan apakah tindakannya itu berbahaya

atau tidak bagi keselamatan dirinya, Lantang langsung bergerka ke

tengah. Maksud ingin menengahi. Hanya saja saatnya tidak tepat. Ia

menyelak masuk saat kedua orang yang sedang bertempur itu sedang

melepaskan masing-masing pukulan mereka.

”Deggg! Dess!!” keduanya pun terkejut melihat ada seorang di tengahtengah

mereka. Seorang yang malah menjadi sasaran pukulan ked274

BAGIAN 5. YANG KEMBALI DAN YANG TUMBUH

uanya. Selanjutnya gelap pandangan Lantang. Kesadarannya pun

mulai perlahan-lahan menghilang.

Dirasakannya tubuhnya sakit-sakit saat ia mulai tersadar kembali.

Keningnya pula dirasa berdenyut-denyut pusing. Secarik kain yang

dibasahi meringankan sedikit rasa sakitnya. Terlihat seorang tampak

meletakkan kain basah itu di keningnya. Sementara seorang lain

tampak sedang memasak sesuatu. Sesuatu yang tercium lezat dari

aromanya yang mengambang di udara.

Xyra. Pak Tua. Kedua orang yang ada di dalam mimpinya tadi

tampak di hadapannya. Xyra tampak menguatirkan dirinya dengan

sesekali menyeka keningnya. Sementara Pak Tua masih sibuk

mengaduk-aduk kuali yang sedang dijerangnya di atas air.

Lantang berusaha untuk bangun. Tapi tak ada tenaga. Rasa sakit

ditambah dengan kehilangan tenaga membuatnya tak dapat bangkit.

Selain itu dengan isyarat tangannya Xyra mengatakan bahwa sebaiknya

ia tetap dalam posisi berbaring. Akhirnya Lantang pun

mengiyakan. Lagi pula tak ada yang dapat ia lakukan. Masih bingung

dirinya mengenai apa yang baru terjadi. Apakah tadi itu benar-benar

terjadi atau hanya mimpinya saja. Seingatnya ia tadi tertidur sehabis

makan siang. Sehabis Pak Tua itu meninggalkan dirinya.

***

Paras Tampan hanya bisa menghela nafas menyaksikan desa tempat ia

dilahirkan yang sekarang telah menjadi sebuah kota, Kota Luar Rimba

Hijau, menjadi puing-puing. Hancur tak tersisa.

Saat ia tiba di sana asap dan api telah lama berlalu. Sebagian mayatmayat

telah dikuburkan, tapi belum semuanya. Sebagian besar penduduk

entah mati atau mengungsi. Hanya yang tersisa berupaya untuk

menguburkan. Semampunya, agar bau busuk mayat tidak mengudara

dan menjadi sebab penyakit bagi yang masih hidup.

Paras Tampan tanpa banyak berucap langsung saja membantu para

penduduk yang tersisa membenahi kota mereka. Beberapa orang tua

yang ada masih mengenalinya. Para muda-muda merasakan wajahnya

yang asing. Beberapa tahun di Rimba Hijau dan juga perkembangan

kota yang pesat melahirkan penduduk-penduduk baru yang berpindah

275

dari satu tempat ke tempat lain. Tidak terkecuali Kota Luar Rimba

Hijau. Jadi masuk akal banyak orang-orang baru yang tidak mengenal

dirinya. Hanya tua-tua yang tahu dan dulu hadir saat mereka mulai

belajar ke Rimba Hijaulah tahu dan masih mengenal dirinya.

Setengah hari telah dihabiskan Paras Tampan untuk membongkar

bagian-bagian rumah yang dibakar untuk mencari-cari apa ada mayat

yang tersembunyi di bawahnya. Tak terasa ia akhirnya mencapai suatu

bangunan yang cukup luas. pekarangan di dalamnya. Walaupun

telah terbakar habis akan tetapi masih memperlihatkan bentuknya

yang kokoh dan kaku. Suatu perguruan beladiri. Di dalamnya ia

melihat tiruan dari portal Rimba Hijau lengkap dengan ukiran-ukiran

di keempat sisinya. Juga lubang-lubang bendera atau panji-panji di

atas keempat pinggirnya.

Siapa gerangan yang membangun tempat ini? Apakah..?

Pertanyaanya terjawab tak lama kemudian saat ia memasuki bangunan

kayu yang sudah rusak sebagian dimakan api dan terbasahkan

hujan itu.

Di salah satu dinding yang masih tersisa dari amukan api, ia melihat

sebuah papan yang berisikan tulisan-tulisan nama-nama orang-orang

yang terdaftar di perguruan beladiri itu. Dibacanya perlahan-lahan

dari bawah ke atas.

Tiba-tiba perasaannya seperti tercekat. Ya, nama-nama yang tertulis

di sana dikenalnya. Para pengajar di sana adalah rekan-rekannya yang

tidak beruntung karena tidak diijinkan untuk mengikuti ujian akhir

di Gunung Hijau. Mereka adalah orang-orang yang telah pulang ke

Kota Luar Rimba Hijau.

Dan di sebelah kanan dari nama-nama itu tertulis pula nama-nama

seperti Rintah, Misbaya, Gentong, dan lainnya. Orang-orang yang

telah berhasil mengikuti ujian akhir di Gunung Hijau, akan tetapi

telah menghadap kepada Sang Pencipta akibat ulah Perguruan Kapak

Ganda. Tak terasa menetes sedikit air mata di ujung-ujung pelupuk

mata Paras Tampan.

Sedih dan sunyi.

276 BAGIAN 5. YANG KEMBALI DAN YANG TUMBUH

Saat ini hanya tinggal ia satu-satunya yang telah masih hidup dari

turun gunung. Sebenarnya masih terdapat dua orang rekan putrinya,

yaitu Kirani dan Rantih. Akan tetapi ia tidak tahu di mana keduanya

berada. Coreng dan Moreng, kedua Manusia Tiga Kaki pun tidak

tahu perihal mereka. Semoga saja mereka berdua masih hidup dan

sehat.

Setelah cukup lama termenung, Paras Tampan pun mengambil papan

daftar nama-nama murid-murid perguruan itu. Di bagian paling atas

tertulis pula Ki Tapa. Guru mereka semua. Walaupun Ki Tapa tidak

memperbolehkan Rimba Hijau dinamakan sebagai suatu perguruan

beladiri, akan tetapi murid-muridnya yang tidak lulus ujian akhir dan

membuka perguruan ini masih mempergunakan namanya sebagai guru

besar. Sebagai suatu penghormatan saja.

Dengan menyematkan tali pada kedua ujung papan yang panjangnya

sekitar tiga perempat tombak dengan lebar dua telapak tangan dirapatkan

itu, Paras Tampan kemudian menggantungkan papan daftar

nama itu di punggungnya. Ia akan membawa-bawa papan itu sebagai

kenangan atas teman-temannya dan juga gurunya. Mereka yang telah

menjadi korban pembantaian oleh Perguruan Kapak Ganda.

Saat keluar dari reruntuhan dan puing-puing perguruan itu, sesosok

orang tua menyapanya.

”Nak.., nak Paras Tampan kan?” tanyanya sambil menyebutkan nama

orang tua dan adiknya.

Paras Tampan hanya dapat mengangguk. Ia tadi telah terlebih dahulu

mengunjungi makam kedua orang tua dan juga adiknya. Beruntung

bahwa mereka telah dimakamkan dengan baik oleh orang-orang kota

yang tersisa. Masih banyak korban yang belum ditemukan dan dimakamkan

dengan baik.

”Bibi Antini.., bagaimana kabar Paman Baja..?” tanya Paras Tampan

sekenanya. Ia tidah tahu harus berkata apa. Apapun yang ditanyakan

pastilah akan membangkitkan kesedihan orang-orang di sekitar sini.

Tak terkecuali sosok perempuan tua itu, Nyi Antini.

Nyi Antini hanya dapat menggeleng-gelengkan kepalanya saja. ”Aku

tidak tahu bagaimana kabarnya, nak Paras Tampan.. Saat terjadi

277

pembumihangusan itu, ia dipaksa ikut oleh mereka, untuk membuka

jalan di Rimba Hijau. Bibi masih selamat karena sempat disuruh

olehnya untuk bersembunyi di dalam kolam ikan. Berendam semalaman.”

Lalu diceritakannya bagaimana peristiwa yang dialami oleh Ki Baja

dan Nyi Antini itu. Pada mulanya orang-orang Perguruan Kapak

Ganda datang dengan baik-baik dan mencari orang-orang yang tahu

mengenai penguni Rimba Hijau. Sudah pasti mereka adalah Ki Tampar

dan Ki Gisang. Dengan alasan bahwa mereka membutuhkan pertemuan

itu dikarenakan adanya suatu keperluan. Akan tetapi keperluan

itu tidak mau mereka ungkapkan. Biar saja nanti dikatakan langsung

pada para penghuni Rimba Hijau, begitu kata mereka seperti ditirukan

Nyi Antini.

Ki Baja yang pernah mendengar mengenai Perguruan Kapak Ganda,

menjadi curiga karena sepengetahuannya perguruan bela diri itu

bukanlah suatu perguruan baik-baik. Mereka sering berbuat semenamena

hanya untuk mencapai tujuan mereka. Ia pun kuatir apabila

terjadi sesuai dengan kota mereka. Langsung diceritakan hal itu

kepada kepala desa Ki Surya. Akan tetapi hal itu tidak digubris.

Melainkan mereka menyambut dengan ramah rombongan yang datang

itu. Padahal mereka telah datang dengan persenjataan lengkap.

Masih merasa kuatir Ki Baja pun langsung pulang ke rumahnya. Disuruhnya

istrinya, Nyi Antini untuk bersembunyi. Dan dikarenakan

rumah mereka memang keci dan tidak ada tempat untuk bersembunyi,

dimintannya istrinya untuk bersembunyi di kolam ikan. Berendam

dengan menggunakan batang-batang rumput yang cukup besar

agar dapat bernafas. Diperintahkannya untuk diam di sana sampai

keesokan harinya. Patuh pada perintah suaminya, Nyi Antini pun

melaksanakan hal itu. Akibatnya ia selamat, sedangkan suaminya hilang

entah ke mana. Dari orang-orang yang hidup ia memperoleh

keterangan bahwa Ki Baja termasuk orang-orang yang dibawa hiduphidup

oleh rombongan itu ke Rimba Hijau, untuk ”dimintakan bantuan”

membuka jalan.

Berendam semalaman bukanlah hal yang mudah, apalagi dengan seluruh

tubuh barada di dalam air. Dingin dan basah. Belum lagi ia

mendengar teriakan-teriakan yang menyayat hati dari orang-orang

278 BAGIAN 5. YANG KEMBALI DAN YANG TUMBUH

yang dibantai oleh Perguruan Kapak Ganda. Suara-suara minta ampun

yang tidak digubris oleh sang eksekutor. Tangis dan rintihan pun

membumbung langit meninggalkan kepedihan bagi yang masih hidup,

yang luput dari peristiwa itu karena bisa bersembunyi atau tidak dianggap

oleh para penyerang.

Tiba-tiba ”byurr!!!”, hampir menjerit Nyi Antini karena terdengar jeburan

air dan sebuah benda terlempar dekat dengan dirinya. Sesosok

mayat dengan luka di mana-mana. Memerah. Membuat air di kolam

tersebut mulai berwarna. Menyebarkan amis darah. Hampir

pingsan Nyi Antini menyaksikan itu. Hanya dengan menguatkan diri

ia bisa bertahan hidup dengan tidak berteriak atau keluar dari tempat

persembunyiannya.

Wajah Paras Tampan tampak membeku. Mengeras. Tangannya

mengepal keras. Ia benar-benar tergores hatinya mendengar kekejaman

dari para pembantai itu. Apalagi yang menceritakannya adalah

orang yang cukup dengan dengannya. Nyi Antini. Sisa orang-orang

yang terselamatkan dari peristiwa itu.

Sebentar Paras Tampan menunggu Nyi Antini yang melepaskan bebannya

dengan bercerita. Terlihat akibat peristiwa yang mengerikan

itu, Nyi Antini tampak bertahun-tahun menjadi lebih tua. Lebih

tua dari umur sebenarnya. Sudah tentu diakibatkan oleh himpitan

perasaannya yang timbul dari peristiwa itu.

”Maaf nak Paras Tampan, bukan maksud bibi untuk berkeluh kesah

terhadapmu. Bibi kebetulan saja mendengar dari orang-orang

tentang adanya seseorang yang datang membantu mencari dan juga

menguburkan para korban di kota ini. Bibi pikir itu pastilah seorang

dari kami yang kebetulan saat itu tidak berada di sini. Harap-harap

itu Ki Baja...,” tak dapat Nyi Antini meneruskan ucapannya.

Sedih Paras Tampan mendengar ucapan itu. Ia pun berjanji pada

dirinya sendiri untuk mencari keterangan mengenai bagaimana nasib

Ki Baja untuk disampaikan pada Nyi Antini. Bertambah satu pula

tugasnya, yang tadinya adalah hanya mengembalikan kitab-kitab yang

dikumpulkan oleh Maling Kitab, dan juga mencari kabar Kirani dan

Rantih.

”Ada satu hal lagi, nak Paras Tampan,” Nyi Antini berhenti sebelum

279

melanjutkan, ”bibi tidak tahu apakah ini menggembirakanmu atau

sebaliknya...”

”Katakanlah, bibi..! Tak ada lagi kiranya yang lebih buruk dari kenyataan

saat ini di Kota Luar Rimba Hijau,” ucap Paras Tampan sendu.

”Tunanganmu, Citra Wangi.., ia dan kedua orang tuanya telah lama

pindah dari sini. Ke Kota Pinggiran Sungai Merah. Ki Rapih, Nyi

Apik dan Citra Wangi tunanganmu selamat karena telah tidak tinggal

di kota ini lagi. Sudah kira-kira dua tahun yang lalu mereka pindah..,”

jelas Nyi Antini.

Bergelora dada Paras Tampan mendengar hal itu. Ia sedari memasuki

kota ini belum mencari keterangan mengenai Citra Wangi dan keluarganya.

Kabar kedua orangtua dan adiknyalah yang pertama-tama

ia cari. Setelah itu membantu penduduk untuk menguburkan orangorang

yang menjadi korban. Gembira ia mendengar kabar ini. Tapi

terselip pula rasa yang aneh. Rasa bertanya-tanya atas kepindahan

keluarga Citra Wangi ke Kota Pinggiran Sungai Merah.

Pikiran-pikiran berkecamuk dalam benaknya. Apakah mereka telah

melupakan pertunangan antara putri mereka dengannya? Atau

mereka tidak lupa, hanya saja pindah. Ia dan Citra Wangi yang telah

berjanji untuk bertemu, memang tidak melaksanakan janji mereka

saat ia menimba ilmu di dalam Rimba dan Gunung Hijau. Tidak

mudah untuk melangsungkan pertemuan saat itu.

Melihat ekspresi Paras Tampan yang berubah-ubah, akhirnya Nyi Antini

pun menambahkan, ”Dari cerita para pedagang yang sering mampir

ke kediaman Ki Rapih di Kota Pinggiran Sungai Merah, Citra

Wangi masih sendiri. Belum menikah. Janganlah nak Paras Tampan

kuatir..”

Sedikit merona wajah Paras Tampan mendengar komentar Nyi Antini.

Tidak seharusnya ia berpikir hal itu di tengah musibah yang menimpa

kotanya. Untuk menghilangkan jengahnya, ia pun berkata, ”Bibi, apa

yang bisa saya bantu? Apakah rumah bibi masih baik?”

Nyi Antini hanya menggeleng. Lalu diajaknya Paras Tampan untuk

berjalan ke arah rumahnya yang tidak jauh dari sana.

280 BAGIAN 5. YANG KEMBALI DAN YANG TUMBUH

***

Dua orang tampak sedang dalam perjalanan di antara batu-batu

yang menjulang menghutan di Padang Batu-batu. Seorang dari pada

mereka adalah laki-laki yang sudah terlihat tua dengan perawakan

yang kekar dan busana sederhana. Sedangkan yang lain adalah seorang

gadis muda dengan wajah yang manis. Rambutnya yang panjang

diikatnya dengan rapih dan diselempangkan di samping dada kanannya.

Pakaiannya ringkas tidak seperti kebanyakan pakaian mudi-mudi

yang penuh dengan pernak-pernik dan warna-warna. Busananya

berwarna cerah dengan hanya sebuah corak sulaman di dada kirinya.

Gambar bunga berkelopak lima berwarna merah tua.

Kedua orang itu tampak gembira dalam melakukan perjalanan.

Mereka berarah ke utara. Dari arah tengah Padang Batu-batu

menuju ke Gunung Berdanau Berpulau. Langkah keduanya ringan

dan mantap, menandakan bahwa mereka adalah orang-orang yang

cukup mempunyai ilmu.

Entah mereka sadari atau tidak, tampak beberapa pasang mata

sedang mengintai mereka sejak memasuki suatu kawasan. Kawasan

di mana batu-batu yang menjulang tidak lagi berwarna abu-abu

melainkan hijau kehitaman. Gelap ditumbuhi oleh jamur-jamur dan

lumut yang tumbuh subur akibat diberi sesuatu. Racun.

Orang tua itu pun berkata kepada rekannya yang gadis muda, ”Hatihati.

Kelihatannya kita memasuki daerah yang ada pemiliknya. Batubatu

ini terlihat tidak wajar.” Sambil berkata demikian orang tua itu

mencium-cium batu-batu yang berwarna hijau kehitaman dalam jarak

sejengkal dari hidungnya.

”Hmmm..., racun hijau. Racun untuk menghitamkan batu-batuan

dengan menggunakan lumut dan jamur. Juga menumbuhkan lumut

khusus yang bisa menebarkan spora-sporanya ke udara,” terang orang

tua itu.

”Tapi apa bahayanya, guru? Kita toh sering menghirup spora dan serbuk

sari tumbuh-tumbuhan saat bernafas. Begitu halnya pula sering

meminum sperma ikan-ikan saat kita minum air dari sungai..,” jawab

sang gadis jenaka. Rupanya ia murid sang orang tua.

281

Tersenyum gurunya mendengar komentar muridnya. ”Engkau benar,

muridku. Tapi spora ini lain. Jenis ini bisa menyebabkan halusinasi

sehingga engkau dapat bermimipi. Biasanya digunakan oleh rampokrampok

atau jagal yang akan menghadang rombongan. Dengan cara

ini mereka tak perlu bekerja keras, karena yang akan dirampok sudah

takut lebih dahulu. Berhalusinasi betapa sangar dan mengerikannya

sang perampok.”

Muridnya menggangguk-angguk mendengarkan penjelasan itu. ”Ada

penawarnya, guru?”

”Hehehe, tentu saja ada. Dan amat mudah. Dibalik lumut itu sendiri

terdapat penawarnya.” Lalu ia mengambil sejumlah lumut yang disebutnya

akan menyebarkan spora ke udara, yang dapat membuat

orang berhalusinasi apabila menghirupnya. Dibaliknya lembaran

lumut itu sambil ditunjukkan butir-butir berwarna meran. ”Ini,

ambil dan remas-remas dengan jarimu. Borehkan sedikit di dekat

lubang hidungmu. Ini akan menetralkan pengaruh spora-spora yang

memabukkan tadi.”

Muridnya pun melakukan hal yang dianjurkan oleh gurunya. Keduanya

sekarang tampak agak lucu karena di bawah hidung mereka,

di bagian di atas bibir yang terlihat cekung, terdapat warna-warna

merah. Borehan dari butir-butir kemerahan dari bawah lembaran lumut

tadi.

”Kalau penawarnya sedemikian mudah, buat apa ditanam di sini

guru?” tanya gadis itu ingin tahu.

”Tidak semudah itu, muridku. Tidak semua orang tahu bahwa penawarnya

berada dekat dengan sumber racunnya. Ada pengujar tua

yang pernah berkata. Jangan cari jauh-jauh lawan suatu hal. Lihatlah

di sekitarnya. Jika ada yang positif pasti ada yang negatif di

sekitarnya. Itulah alam. Amat indah dan seimbang.” Ia pun berhenti

sebentar untuk kemudian melanjutkan lagi, ”aku saja jika tidak diberitahu

guruku tidak akan mengerti..”

Kata-katanya tidak diteruskan. Tangannya diletakkan di depan

bibirnya, mengisyaratkan agar muridnya diam dan mendengarkan.

Pendengaran mereka yang terlatih menangkap adanya gerakan-gerakan

di balik batu-batu yang hijau menghitam ditumbuhi jamur-jamur itu.

282 BAGIAN 5. YANG KEMBALI DAN YANG TUMBUH

Tiba-tiba di hadapan muncul tiga orang berpedang dan bertombak.

Ketiganya langsung menghadang perjalan kedua orang itu. Mengisyaratkan

niat yang terasa tidak baik. Saat kedua orang itu memutar

badan hendak mundur ke arah semua mereka datang, tiga orang lain

tampak muncul dari arah yang berlawanan. Sekarang semuanya enam

orang. Mengepung dari kedua arah. Arah yang tersisa hanya diisi oleh

batu-batu menjulang. Rupanya mereka telah memilih tempat yang

strategis untuk melakukan pengepungan.

”Guru, bagaimana ini?” tanya sang murid.

Orang tua itu hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia berusaha

untuk menahan sabarnya. Jika kejadian ini terjadi dulu sekali sebelum

ia bertemu dengan seseorang. Sudah pasti terjadi hal yang amat akan

disayangkannya. Tetapi tidak saat ini. Ia telah berubah.

”Maaf, ki sanak sekalian, boleh saya tahu kenapa kalian menghalangi

perjalan kami guru dan murid ini?” tanyanya sopan kepada orangorang

yang menghadangnya.

”Hehehe, kalian telah melalui wilayah kami. Batu Lumut Hitam.

Maka sudah sepantasnya kalian tinggalkan bekal kalian,” ucap salah

seorang brewok dari mereka. Perawakannya yang besar menunjukkan

kemampuan fisiknya dalam bertarung. Setidaknya mengayunkan

golok besar yang disandangnya.

”Tapi kami tidak punya apa-apa yang bisa ditinggalkan. Hanya bekal

makanan dan baju pengganti,” ucap orang tua itu masih sabar.

”Jangan pura-pura orang tua! Siapa yang tidak bisa melihat bungkusan

panjang yang ada di belakangmu itu. Pasti itu suatu yang

berharga,” bentak teman si brewok.

”Dan yang cantik ini, boleh juga ditinggal,” ucap temannya yang berada

di belakang yang disambut dengan haha-hihi teman-temannya.

Merah padam gadis muda itu mendengar ucapan yang ditujukan

pada dirinya. Hanya isyarat gurunya saja yang masih membuatnya

sabar. Akan tetapi hawa tenaga telah dialirkannya dari pusar menuju

ke anggota-anggota tubuhnya. Siap untuk melontarkan sepukul dua

pukul tendangan dan pukulan.

283

Gurunya pun tak ada melihat ada pilihan lain, lalu katanya lirih, ”Engkau

ambil tiga yang di depan, biar aku yang di belakang. Sisakan

satu untuk penunjuk jalan.”

Mengangguk muridnya mendengar usul gurunya. Memang orangorang

seperti ini tidak boleh diberi ampun.

Untuk sedikih memecah perhatian gurunya tampak membuka bungkusan

panjang yang tadi disebut salah seorang dari mereka. Jika saja

mereka tahu apa isi bungkusan itu, pasti mereka tidak akan memintanya.

Dua buah pedang panjang. Sebuah untuk sang guru dan

sebuah untuk sang murid.

Tak sabar melihat orang tua yang membuka bungkus itu perlahanlahan,

seakan-akan ia memiliki seluruh waktu di bumi itu, salah seorang

penghadang menghardiknya, ”Pak tua, cepat serahkan bungkusan

itu. Jangan lama-lama. Tidak sabar diriku ini!”

”Meregang nyawa kok terburu-buru sekali sih?” ucap orang tua itu.

”Heh, apa maksudmu, orang tua?” tanya balik orang itu.

Dengan gerakan cepat orang tua itu membuka bungkus dari benda

panjang yang ada di tangannya. Kain penutupnya ternyata memiliki

mekanisme sedemikian rupa, jika talinya ditarik, kainnya langsung

terbuk. Dengan lemas orang tua itu langsung mengambil salah satu

isi dari bungkusan kain itu dan melemparkannya pada muridnya, yang

langsung dengan sigap menangkapnya.

”Hey.., apa maksud kalian...?” belum selesai perkataan orang yang

bertanya tersebut, kedua orang itu langsung dengan cepat bergerak.

Menyerang. Mengayunkan barang yang tadinya terbungkus rapi tadi.

Dua buah pedang panjang. Pedang yang lebih panjang dari pedang

kebanyakan. Hampir dua kali panjang pedang biasa.

”Singg! Takkk!” pedang sang murid menghantam golok seorang

penghadang. Bergetar tangan yang memegang golok tersebut. Tak

disangkanya bahwa dara yang terlihat halus itu memiliki tenaga serangan

yang sedemikian kuat. Sementara lawan si orang tua dikarenakan

pengalamannya yang banyak dalam perampokan-perampokan sempat

menghindar mundur atas dasar naluri belaka. Salah seorang dari

284 BAGIAN 5. YANG KEMBALI DAN YANG TUMBUH

mereka bertiga hampir saja kehilangan tangannya.

Melihat ini sadarlah orang-orang itu bahwa yang mereka hadang

bukanlah mangsa yang biasa. Ini adalah orang-orang yang punya

sedikit kepandaian. ”Bagus! Ini bisa menjadi hiburan sebelum makan

malam,” kata seorang dari mereka. ”Bunuh!! Jangan biarkan seorang

pun hidup!”

Mendengar aba-aba itu kelima rekannya langsung mengambil posisi

mengepung. Mengayun-ayunkan golok dan tombak mereka untuk

menghabisi kedua orang itu. Sang guru dan muridnya.

Guru dan murid itu tampak beradu pungguh melihat ke arah lawanlawannya.

Lalu kata si orang tua, ”Nah Sarini, ini kesempatanmu

untuk mencoba ilmu pedang panjangmu.” Tersenyum murid yang

bernama Sarini itu. Ia telah melatih ilmu pedang panjang yang diturunkan

dari gurunya, Walinggih. Biasanya ia hanya berlatih dengan

gurunya atau batu-batu yang tidak bisa balas menyerang. Hari ini

ia mendapatkan kesempatan untuk bertarung dengan sesama manusia.

Bukan hanya itu, melainkan para perampok jahat, yang untuk

membasminya tidak perlu sungkan-sungkan.

Kedua orang itu, Walinggih dan Sarini tampak bergerak hati-hati.

Mereka menyadari bahwa orang-orang yang mereka hadapi ini tidak

terlalu tinggi ilmu silatnya, akan tetapi mereka adalah orang-orang

kasar yang sering merampok dan berbuat keji. Naluri mereka kadang

lebih baik dari keahlian seoran ahli silat. Seperti seekor binatang buas

yang memiliki kemampuan untuk menaklukkan mangsanya. Kemampuan

alamiah seorang pemangsa. Bangsa Penghadang. Orang-orang

penguasa dari daerah Batu Lumut Hitam.

***

Orang tua itu setelah menyendokkan sesuatu dari dalam panci yang

sedang dijerangnya di atas air, mendatangi Lantang yang masih terbaring

ditemani oleh Xyra. Lalu katanya, ”Minumlah! Air rebusan

akar-akaran ini akan membersihkan darahmu dan menyegarkan pikiranmu

kembali. Sekarang jangan banyak pikiran dulu. Tenangkan

dirimu. Biarkan sahabatmu yang Undinen itu merawatmu. Ia telah

kupesankan caranya.”

285

Mengangguk lemah Lantang mengiyakan. Xyra dengan cepat menerima

mangkuk yang diangsurkan oleh orang tua itu. Ditiupnya sedikit.

Dengan Tenaga Air ia bahkan dapat membekukan ramuan dalam

mangkuk itu, tetapi tidak. Lantang membutuhkan ramuan yang

suam-suam kuku. Tidak terlalu panas dan juga tidak dingin. Setelah

yakin akan panasnya, perlahan ia menuangkan ramuan itu ke dalam

mulut sang pemuda. Tampak kasih sayangnya dalam melakukan itu.

Penuh dengan kelembutan.

Di seberang sana si orang tua tampak menghela napas menyaksikan

itu. Teringat ia akan nasibnya yang tidak lama bersama dengan orang

yang dicintainya. Dan ini dihadapannya tampak kasih sayang sesosok

Undinen kepada seorang manusia. Ia tidak tahu apakah bentuk kasih

itu dapat berlanjut. Bila tidak amat disayangkan, karena nasib anak

muda itu dapat mengikuti perjalanan hidup dirinya yang tidak menyenangkan.

Selain itu ditemui pula adanya keanehan pada diri pemuda

itu. Keanehan yang berkaitan dengan peredaran hawa dalam tubuhnya.

Kelainan itu pula yang menyebabkan sang pemuda mengalami ketidaksadaran

sehingga perlu untuk diberi ramuan. Akan tetapi ramuan

itu belum untuk menyembuhkan, melainkan untuk menyadarkan saja.

Sebelum tahu sebabnya, suatu penyakit sulit untuk disembuhkan.

Setelah diberi obat dan dibelai-belai dengan syang oleh Xyra, Lantang

pun merasa nyaman dan dapat tidur. Tak lupa Xyra menyelimuti

dirinya dan menunggu di sisinya. Tak dihiraukan orang tua

yang meletakkan makanan di hadapannya. Sebelum Lantang sehat,

tak ingin Xyra bersantap. Undinen memilik tubuh yang berbeda dengan

manusia. Mereka dapat bertahan lama dalam air dan bahkan

tanpa makanan. Oleh sebab itu ia lebih berkonsentrasi pada kesembuhan

Lantang ketimbang dirinya sendiri.

Pagi pun datang menjelang. Lantang telah merasa sehat kembali. Ia

bangun dan melihat Xyra tampak tertidur di sisinya dengan masih

memegang kain yang digunakan kemarin untuk menyeka keringat di

dahinya. Ia tampak tertidur dengan nyenyak. Entah sampai kapan

Undinen itu berjaga untuk Lantang. Diambilnya selimutnya untuk

ditutupkan pada tubuh Xyra, walapun mereka lebih tahan dingin ketimbang

dirinya.

286 BAGIAN 5. YANG KEMBALI DAN YANG TUMBUH

Tak dilihatnya orang tua yang memberinya obat. Akan tetapi ditemuinya

sebuah mangkok besar berisi rempah-rempah dan ubi dan pesan

agar ia memakan makanan itu. Makanan yang telah dibubuhi

obat-obatan untuk kesembuhannya.

***

Bertarungan pun berjalan dengan seru. Keenam orang perampok itu

tidak bisa berbuat banyak terhadap kedua orang guru dan murid itu.

Pertahanan mereka rapat dan saling melindungi. Bahkan kadangkadang

pedang panjang keduanya colak-colek tubuh mereka sehingga

lepasnya nyawa tinggal berbeda beberapa jari saja.

Ada hal yang masih meragukan Walinggih untuk turun tangan menamatkan

riwayat orang-orang jahat itu. Entah apa.

”Kamu ingat gerakan yang pernah engkau coba untuk mengalahkan

Telaga?” tanya Walinggih pada muridnya Sarini.

Sarini hanya mengangguk.

”Cobalah pada mereka, jatuhkan pedangmu! Mereka pasti berpikir

bahwa lebih mudah mengalahkanmu tanpa pedang...,” usul gurunya.

Ia ingin melihat hasil latihan muridnya dalam situasi sebenarnya.

Menghadapi Telaga, Sarini telah berhasil memanfaatkan hasil latihannya.

Akan tetapi sekarang lain. Dulu Telaga boleh dikatakan orang

yang tidak akan menjatuhkan tangan jahat kepada orang yang tidak

dikenalnya. Tidak demikian dengan orang-orang ini. Orang-orang

yang memang kegiatan sehari-harinya adalah berbuat jahat. Menjatuhkan

tangan kejam bukan pantangan bagi mereka.

Menghadapi suatu pertempuran yang menentukan hidup atau mati

memerlukan ketenangan. Walinggih ingin melihat sejauh mana muridnya

dapat mengendalikan ketenangannya. Semakin baik orang dapat

mengotrol dirinya, semakin besar kemungkinannya untuk menang.

Bahkan dalam berbagai situasi.

Setelah gurunya memberikan sedikit petunjuk mengenai kekuatan dan

kelemahan lawan-lawannya, Sarini pun maju sambil berkata dengan

lantang, ”Saudara-saudara perampok, bagaimana bila kita main-main

tanpa senjata? Dan satu lawan satu?”

287

Tercengang juga beberapa orang perampok yang mendengar usul yang

diutarakan oleh dara itu. Sudah ada senjata di tangan malah ingin

dilepaskan. Akibatnya beberapa di antara mereka saling menoleh

seakan-akan minta pendapat.

Seorang dari mereka akhirnya berkata, ”Hehehe, mungkin ia ingin

berlama-lama bermain dengan kita. Ikuti saja maunya, toh enak juga

colak-colek sedikit” Ia mengatakan itu sambil menyeringai, membuat

wajahnya yang sudah mengerikan sebagai perampok menjadi bertambah

mengerikan.

Terbahak-bahak rekan-rekannya mendengar komentar yang miring

itu. Segera mereka menyarungkan kembali senjatanya dan sebagian

dari mereka mengambil tempat untuk melihat pertarungan yang akan

berlangsung.

Seorang dari para perampok tersebut, Rakrakrak, bertubuh gembul

dan berkulit agak gelap. Tingginya kira-kira sama dengan Sarini.

Rambutnya yang kaku menghiasi berdiri kepalanya. Mirip durian.

Ia menyeringai saat mengajukan dirinya sebagai orang pertama yang

akan menghadapi Sarini. Ia sudah membayangkan akan memegangmegang

dara cantik yang menjadi lawannya itu. Wajahnya memerah

dan napasnya memburu. Nafsu telah menguasainya. Kelembutan

tubuh Sarini dan lekuk-lekuk tubunya telah memenuhi ruang otaknya.

Kelembutan yang akan segera mengisi kedua tangannya yang besarbesar.

Sarini sedikit mengernyitkan hidungnya melihat orang yang menjadi

lawannya. Orang dengan tenaga kasar yang besar. Repot juga

pikirnya. Orang seperti ini harus ditemukan dulu jarak serangnya

dan juga sudut mati serangannya, sehingga ia bisa membuatnya tak

mampu mengeluarkan gerakan yang mematikan.

***

”Petani ompong she Gu, jangan petantang-petenteng di depan kami!”

bentak seorang dari empat orang yang berhadapan dengan seorang

tua yang sedang senyam-senyum itu.

Keempat orang tersebut terlihat berwajah garang, bertubuh kekar

tinggi dan beperawakan kasar. Sebilah golok tampak tergantung pada

288 BAGIAN 5. YANG KEMBALI DAN YANG TUMBUH

pinggang masing-masing dari mereka. Sedangkan si kakek sendiri tampak

lemah dan kurus. Bajunya sederhana tapi bersih. Sedikit tambalan

tampak di sana-sini.

”Kalian Su-Mo (Empat Setan), apa maunya menghadangku di sini?”

alih-alih takut seperti kebanyakan orang bila bertemu denga Su-Mo, si

Petani Ompong she Gu tampak tenang-tenang saja. Malah senyumnya

semakin berkembang dengan melihat semakin gelapnya wajah

keempat Su-Mo yang berusaha menahan marah.

”Orang she Gu, jangan banyak omong! Engkau tau sudah apa kesalahanmu.

Engkau sudah mengasut para petani di desa sebelah timur

sehingga tak mau lagi menurut dan membayar pajak kepada kami,”

ucap seorang lain dari mereka. Kali ini yang berbicara adalah seorang

yang berwajah paling putih dari Su-Mo. Mereka, Su-Mo terdiri

dari empat orang yang dinamai dengan warna wajah masing-masing,

Pek-Mo, Hek-Mo, Huang-Mo dan Ceng-Mo.

”Engkau tentu Pek-Mo,” ucap kakek Gu itu, ”wabis wajahmu putih

pucat mirip mayat!”

”Grrrhhg!” terdengar dengus marah Hek-Mo. Ia adalah seorang dari

Su-Mo yang paling tidak sabaran. Mendengar saudaranya dihina, ia

pun mendengus marah dan membuka serangan. Dibacoknya kakek Gu

itu dengan golok yang tadi bertengger dipinggangnya. ”Wuttt!”

Saat ia melakukan serangan itu ketiga saudaranya tertawa-tawa membayangkan

tubuh kakek Gu yang akan terbelah dua terbabat oleh golok

Hek-Mo. Tapi sayangnya perkiraan mereka keliru. Bukannya kakek

Gu yang terbelah, malah Hek-Mo yang tampak terpincang-pincang

memegangi telapak kakinya yg tampak biru legam.

Rupanya saat dengan yakinnya Hek-Mo membacok kakek Gu tadi,

ia tidak memperhatikan pertahanan tubuhnya. Kakek Gu dengan

santainya mengelak dari serangan golok tersebut, memutar tubuhnya

dan mejatuhkan tumitnya dengan tenaga penuh ke atas telapak kaki

Hek-Mo. Walaupun memakai alas kaki, akan tetapi dengan kuatnya

putaran tubuh dan juga tenaga yang disalurkan, tendangan cangkul

kakek Gu memberikan hasil yang telak.

”Bangsat, orang she Gu! Kubunuh engkau sekarang!!” erang garang

289

Hek-Mo. Tampak ia masih berusaha menahan rasa sakit dari telapak

kakinya yang dirasakan hampir remuk tersebut. Senut-senut rasanya.

Huang-Mo sebagai orang paling tua dari Su-Mo segera tangap bahwa

si kakek Gu bukanlah orang sembarangan. ”Zahnloserbauer (Petani

Ompong) mari kita main-main sebentar!” Ia pun mengisyaratkan pada

ketiga saudaranya untuk segera mengepung Zahnloserbauer dari keempat

penjuru.

”Hehehe, baru sekarang kudengar lagi orang menyebut Zahnloserbauer,”

ucap kakek Gu, tapi sekarang nada suaranya berubah keren.

Tidak lagi cengangas-cengeges seperti tadi. Tampak bahwa sikap tadi

bukanlah sikap kebanyakan dari pembawaannya.

”Su-Mo, bukanlah pembawaanku mencampuri urusan orang, tapi kejadian

kemarin dulu di desa sebelah timur sudah mengusik rasa geramku.”

Tampak bahwa kali ini kakek Gu atau yang dikenal sebagai

Zahnloserbauer agak menahan amarahnya. Lalu lanjutnya, ”orangorang

yang sudah susah itu masih kalian haruskan untuk membayar

pajak tinggi kepada kalian, dengan alasan keamanan.”

”Zahnloserbauer, apa urusanmu? Memang ada di antara orang-orang

di desa sebelah timur itu adalah sanak saudaramu? Jika ada tunjuk

yang mana, tidak akan kami tarik pajak dari mereka,” ucap Huang-

Mo agak mengalah. Ia pernah mendengar kehebatan Zahnloserbauer

di suatu wilayah Alemania (Jerman), di mana ia mengalahkan beberapa

orang Ritter (Ksatria Berbaju Besi) di sana. Giginya yang

ompong itu juga akibat ulahnya yang menantang orang-orang untuk

mengadu kekuatan mengangkat beban berat dengan gigi. Walaupun

berhasil, akan tetapi tak lama setelah itu beberapa gigi mukanya tanggal.

Meskipun demikian para Ritter tak berani lagi berlaku sembarangn

dengannya. Di sana julukannya adalah Ritter Zahnloserbauer.

Gu Ming adalah nama kakek Gu sebenarnya. Keluarganya berasal

dari Jiangxi. Ia yang tidak suka keadaan pada saat itu kemudian

merantau ke mana-mana dan beguru pada banyak orang. Kemampuan

silatnya yang campur-campur menjadi ciri khasnya. Selain itu banyak

pula pengetahuan tentang luasnya dunia ini, yang memicunya untuk

merantau, diperoleh dari saudara tuanya, Gu Long, seorang pengujar

290 BAGIAN 5. YANG KEMBALI DAN YANG TUMBUH

terkenal pada jaman itu.

Panjang ceritanya sampai ia tiba di Tlatah Antara (Nusantara). Berasal

dari daerah sekitar Tlatat Tengah (Tiongkok) merantau sampai

ke Tlatah Langit (Himalaya), melampui Tlatah Barat (Alemania)

dan sekitarnya, akhirnya sampai ke Tlatah Antara. Tadinya ia pernah

mendengar jauh di selatan terdapat Tlatah Gurun (Osetralia) dan

Tlatah Kebekuan (Artika). Tapi melihat kehidupan di Tlatah Antara,

kakek Gu pun jatuh cinta dan memutuskan untuk menetap.

Selagi mencari-cari tempat yang akan didiaminya untuk menghabiskan

hari tua, kakek Gu tiba desa sebelah timur yang menjadi pokok pembicaraan

mereka itu. Di sana kakek Gu melihat bahwa orang-orang

hidup dengan sangat sederhana bahkan cenderung miskin. Padahal

alam sekitarnya kaya akan keanekaragaman hayati. Karena ingin tahu

ia pun mulai berdiam di sana. Baru seminggu di sana ia mulai mengenal

bahwa kesederhanaan dan kemiskinan para penghuni desa adalah

akibat adanya tekanan, bahwa mereka harus menyetor pajak kepada

para penjaga keamanan di sana.

Namanya saja penjaga keamanan, sebenarnya mereka itu adalah

pemeras. Orang-orang yang memeras para penduduk desa sebelah

timur dan juga desa-desa lain di sekitar tempat itu, dipimpin oleh

Su-Mo. Akan tetapi penduduk desa hampir tidak pernah melihat

Su-Mo, mereka hanya bisa merasakan pukulan dan tendangan para

kaki-tangannya saja, apabila telat membayar.

Naluri kependekaran kakek Gu pun bangkit, ia mendatangi para

petani dan menganjurkan agar mereka tak usah lagi membayar pajak

kepada Su-Mo. Tapi seperti kebanyakan rakyat yang berada dalam

tekanan, mereka takut. Mereka tidak mau mengikuti anjuran kakek

Gu, walaupun itu untuk kebaikan mereka sendiri.

Akhirnya karena jengkel kakek Gu pun merampok pajak yang seyogyanya

diberikan kepada kaki-tangan Su-Mo dan menunggu seorang

diri kedatangan mereka. Sementara semua penduduk desa bersembunyi

dengan ketakukan dalam rumahnya masing-masing.

Kaki tangan Su-Mo bukanlah sesuatu kekuatan yang berarti bagi

kakek Gu. Mereka semua tunggang-langgang dibuatnya. Terkencingkencing

dalam celana selagi berlari pulang.

291

Walaupun telah diselamatkan uangnya, para penduduk masih was-was

akan pembalasan yang akan tiba dari Su-Mo dan tukang pukul-tukang

pukul lainnya. Kakek Gu akhirnya menyanggupi untuk melindungi

mereka untuk berhadapan dengan Su-Mo. Dengan jaminan itu para

penduduk berani untuk dua masa penarikan pajak berikutnya tidak

memberikan bayaran, melainkan mereka simpan untuk diri mereka

sendiri.

Su-Mo yang saat itu sedang berada di Tlatah Tengah tidak tahumenahu

mengenai kejadian itu. Saat mereka kembali ke Tlatah Antara,

berang wajah mereka mendengar ada ketidak-beresan pada

daerah kekuasaan mereka. Sebenarnya masalahnya tidak sesederhana

itu. Su-Mo sendiri memiliki hak menarik pajak karena dukungan dari

Pemerintah Pusat, yang tidak peduli pada nasib rakyatnya. Seseorang

atau sekelompok orang yang dapat menjanjikan akan menyetor

pajak sejumlah tertentu dari suatu daerah, akan diberikan hak untuk

menarik pajak. Begitulah sistem pada masa itu.

Setelah mendapat informasi cukup dari para tukang pukulnya yang

babak-belur dipukul balik berulang-ulang oleh kakek Gu dan juga

informasi dari pemerintah bahwa kakek Gu itu sebenarnya adalah seorang

perantau yang dikenal sebagai Zahnloserbauer, masih saudara

dari seorang pengujar terkenal, akhirnya Su-Mo pun berniat untuk

bertemu dengannya. Jika mungkin mengajak kakek Gu menjadi

rekanan mereka. Seorang dengan kemampuan beladiri seperti kakek

Gu sudah tentu banyak gunanya.

Tapi bukanlah kakek Gu jika dengan mudah dapat dibujuk. Jabatan

dan pembagian hasil keuntungan yang awalnya ditawarkan oleh Su-Mo

melalui utusannya ditampik mentah-mentah. Sudah tentu ini membuat

darah Su-Mo mendidih.

Akhirnya diputuskan bersama bahwa mereka akan bertemu hari itu

di suatu padang rumput yang luas untuk ’menyelesaikan’ permasalah

itu.

Su-Mo merasa tidak ada lagi gunanya untuk membujuk kakek Gu,

mereka saling melirik satu sama lain. Kebersamaan yang telah puluhan

tahun dilewati, membuat pengertian tanpa kata-kata dapat

dengan mudah terjadi. Keempatnya kemudian bergerak mengurung.

292 BAGIAN 5. YANG KEMBALI DAN YANG TUMBUH

Mengelilingi kakek Gu dari keempat penjuru angin.

Hek-Mo tampak telah dapat bergerak normal kembali. Ceng-Mo tadi

telah membubuhkan obat dan juga mengurut-urut kakinya sedikit.

Rupanya kakek Gu belum menurunkan kaki kejam sehingga Hek-Mo

masih dapat berjalan dan menggunakan kakinya. Hanya mengkalnya

hati masih dapat terlihat pada wajah Hek-Mo. Ia yang hari-hari ditakuti

orang, hari ini dapat segebrakan dipacul kakinya oleh tumit

kakek Gu. Hampir saja remuk atas telapak kakinya.

”Begini lebih baik,” kata kakek Gu, ”langsung bak-buk-bak-buk.

Lebih jelas dan tegas!” Walaupun tampaknya masih tenang-tenang,

kakek Gu sudah mulai menimbang-nimbang, siapa yang akan menjadi

konsentrasi serangannya nanti. Ia pernah mendengar bahwa Su-Mo

telah menciptakan semacam serangan bersama. Jika mereka menggunakan

barisan serangan itu, bisa repot dirinya. Ia harus cepat

memecah belah mereka, sebelum tenaganya habis terkuras.

Bagai dikomando, Su-Mo berempat mencabut golok masing-masing

dan mulai menyerang. Kakek Gu dengan santainya menari-nari di

tengah-tengah hujan golok yang riuh-rendah itu. Sesekali perlu juga

ia menepis tangan atau kaki dari Su-Mo yang ingin mencicipi tubuhnya.

Selebihnya, ia hanya perlu bergeser, depan belakang kiri kanan.

Langkah-langkah ajaib, Langkah-langkah Kering di Bawah Hujan.

Sepeminum kopi dan sepenghisap rokok telah lewat, tapi tetap saja

Su-Mo belum pernah mencapai seujung kulit pun kakek Gu. Akan

tetapi pakaiannya sudah sering tersambar angin sabetan golok. Terlihat

semakin compang-camping saja pakaian yang dikenakannya.

Tidak seperti melawan Hek-Mo tadi, kakek Gu terlihat agak kewalahan.

Ia terkejut juga bahwa serangan berempat Su-Mo ini benar-benar

rapat. Saling mengisi dan melindungi. Satu menyerang, yang lain

menangkis. Satu kosong, yang lain mengisinya. Dengan cara itu ia

hanya punya peluang terbesar untuk mengelak ketimbang menyerang

balik. Su-Mo pun tidak terlalu berani menyerang dengan kekuatan

penuh, mengingat kepandaian kakek Gu dalam serangan balik. Jadi

sampai saat itu kedua pihak masih melihat-lihat kesempatan untuk

memberikan pukulan maut.

Untung pertarungan jangka panjang faktor usia mulai menunjukkan

293

perannya. Su-Mo yang masing-masing baru berumur tiga puluhan

tahun menang stamina atas kakek Gu yang telah berusia hampir enam

puluh tahun. Napasnya mulai kembang-kempis dan bajunya yang

sobek sana-sini tampak telah benar-benar basah mandi keringat.

Senyum-senyum mulai mengembang di wajah keempat orang lawannya.

Su-Mo telah merasa yakin bahwa tak lama lagi kemenangan

akan singgah di tangan mereka. Tinggal masalah waktu saja untuk

menunggu salah satu golok mereka singgah di tubuh kakek Gu. Bila

terjadi sudah dipastikan cairan merah akan memuncrat. Darah.

Berputar pula dengan keras pikiran kakek Gu. Ia harus menemukan

akal agar dapat lolos dari situasi ini. Tadinya dipikir bahwa menghadapi

Su-Mo seorang diri tidaklah terlalu sulit. Tetapi ternyata hal

ini diluar perkiraannya semula. Jika satu per satu, ia dapat dengan

yakin dapat mengalahkan Su-Mo, seperti tadi ia menghadapi Hek-

Mo. Akan tetapi dengan maju berbareng, Su-Mo menciptakan suatu

barisan yang saling bekerja sama sehingga seakan-akan kekuatan

serang mereka menjadi berlipat-lipat.

Pada saat-saat genting seperti itu tiba-tiba terdengar ucapan seseorang,

”Wah-wah, betapa tak tahu malu ini, empat orang mengeroyok

seorang kakek tua!”

Ucapan yang disertai pengerahan tenaga dalam ini sontak membuat

kelima orang yang sedang bertarung itu meloncat mundur dan

menghentikan kegiatannya. Masing-masing pihak masih menebaknebak

siapa yang barusan mengeluarkan perkataan tersebut.

Tak lama sang pengucap pun tiba. Seorang pemuda dengan wajah

yang tampan dan berperawakan bagus. Pakaiannya sederhana dan

berwarna cerah. Jalannya ringan seringan pembawaannya yang terlihat

riang.

Mendadak kakek Gu mendapat ide yang tiba-tiba terlintas dalam

kepalanya, lalu katanya, ”Anak Yo, ayo bantu paman usir begal-begal

ini!” Terkejut pemuda itu dan apalagi Su-Mo. Mereka belum tahu

kepandaian pemuda itu, tapi dengan kakek Gu saja mereka telah seimbang,

bisa runyam apabila ditambah dengan adanya pemuda itu.

Gelengan kepala dan tangan yang dilakukan pemuda itu dengan cepat

294 BAGIAN 5. YANG KEMBALI DAN YANG TUMBUH

dibuyarkan oleh kakek Gu yang terus menyerocos, ”Bagus kamu cepat

datang anak Yo, ayo kita pukul pantat keempat setan ini! Gunakan

jurusmu, Menendang Pantat Setan, Usir ke Seberang Lautan!” Sebenarnya

ucapan yang terakhir ini hanya untuk menakut-nakuti Su-Mo

belaka. Ia sendiri juga belum tahu kemampuan pemuda itu. Hanya

saja ia yakin akan sesuatu bahwa pemuda itu bukanlah dari golongan

begal, paling tidak orang-orang yang tidak akan memihak golongan

hitam.

Untung saja tebakan kakek Gu tidak meleset. Melihat bahwa pemuda

itu adalah keponakan atau memiliki hubungan dengan kakek Gu, Pek-

Mo dan Hek-Mo tidak mau buang banyak waktu, mereka langsung

menyerang pemuda yang dipanggil anak Yo oleh kakek Gu dengan

serangan maut mereka. Jika bisa dituntaskan dengan cepat, pertarungan

akan kembali seimbang seperti semula. Sementara itu Huang-Mo

dan Ceng-Mo masih menanti pergerakan kakek Gu sebelum mereka

membuka serangan kembali.

”Anak Yo, hati-hati!” ucap kakek Gu yang kuatir pula melihat bahwa

serangan pembuka yang dihambur oleh Pek-Mo dan Hek-Mo adalah

serangan maut. Serangan satu tindak cabut nyawa, suatu jenis serangan

tanpa basa-basi dan belas kasihan.

Tapi bukan pemuda itu kalau ia diam saja dan menantikan kedua

golok yang datang menyilang itu membasuh keduanya dengan daging

dan darahnya. Dengan tenang sang pemuda mengesek kakinya,

memiringkan tubuhnya, lalu dengan menggunakan hawa dalam tubuhnya

yang bisa memanipulasi gravitasi, ia melayang miring condong.

Menyelinap tubuh pemuda itu dengan cantik di antara sabetan diagonal

golok-golok Hek-Mo dan Pek-Mo.

Dan tidak hanya sampai di sana, setelah kedua golok itu yang hanya

berjarak sejari di atas dan bawah tubuhnya lewat, ia mendaratkan

kembali tubuhnya yang tadi berlevetasi dengan empuk di atas tanah.

Setelah mengeramkan kakinya sehingga berakar di atas tanah ia kemudian

mendorong-dorong kedua tangannya ke arah Hek-Mo dan Pek-

Mo yang masih tampak terkejut karena serangan mereka dapat dengan

mudahnya dihindari oleh pemuda itu.

Sebelum Hek-Mo dan Pek-Mo sadar apa yang dilakukan oleh pemuda

295

itu, semacam kabut yang terbuat dari debu dan pasir yang ada di

sekitar situ mulai terbentuk. Mengambang kecoklatan dan perlahan

makin pekat warnanya.

”Jarum Terbang Debu Pasir, awas!!!” ucapan Huang-Mo, orang yang

paling banyak makan asam garam di antara keempat Hek-Mo, datang

terlambat. Elakan dari Hek-Mo dan Pek-Mo tidak sempat menyelamatkan

seluruh tubuh mereka. Pinggang ke bawah tampak bertitiktitik

merah meneteskan darah. Kabut debu dan pasir yang tadi terbentuk

dihentakkan oleh pemuda itu dengan kibasan tangannya ke

arah Hek-Mo dan Pek-Mo. Dalam perjalanannya debu dan pasir tersebut

berurut-urut membentuk semacam garis. Mirip seperti jarumjarum

yang terbang.

Benar-benar ilmu yang menggiriskan. Sekujur tubuh Pek-Mo dan

Hek-Mo bagian bawah tampak terluka parah. Bolong-bolong mirip

saringan. Sempat mereka memiringkan tubuh sehingga bagian sensitif

dari seorang lelaki yang mereka miliki tidak sempat terhujani jarumjarum

debu dan pasir itu. Jika tidak, maut sudah dijelang keduanya.

Tanpa banyak cakap lagi, Huang-Mo dan Ceng-Mo segera bergerak.

Huang-Mo mengambil Pek-Mo dan Ceng-Mo mengambil Hek-Mo.

Mereka bergegas pergi tanpa menoleh lagi. Satu serangan pemuda

itu telah cukup membuktikan ketangguhannya. Belum lagi di sana

masih ada kekek Gu, si Zahnloserbauer. Urusan lain bisa diselesaikan

lain hari, yang penting hari ini adalah menyelamatkan kedua saudara

mereka.

Untung saja keempat penjahat itu telah lama lalu dari sana, karena

jika mereka tahu, mereka mungkin masih dapat meraih kesempatan.

Pemuda yang tadi dipanggil anak Yo oleh kakek Gu, setelah melepaskan

serangan tampak masih berdiri dalam posisi semula. Wajahnya yang

kemerahan tiba-tiba memucat dan tampak darah mengalir dari pinggiran

mulut dan juga lubang mata, telinga dan hidungnya. Kakek Gu

yang berada di sampingnya dapat dengan jelas melihatnya.

”Nak, engkau kenapa...?” sebelum pertanyaannya diselesaikan, pemuda

itu terhuyung bagai layangan putus tanpa angin, ia melorot

jatuh. Bila kakek Gu tidak bergegas menangkapnya sudah terhempas

tubuh pemuda itu di atas tanah.

296 BAGIAN 5. YANG KEMBALI DAN YANG TUMBUH

”Hmm, ilmu sesat. Benar-benar mengacaukan jalan darah yang merapalnya,”

gumam kakek Gu sambil memeriksa denyut nadi pemuda

yang dipanggilnya anak Yo itu. Menggeleng-geleng kepalanya melihat

kekacauan jalan darah sang pemuda. Untung saja pemuda itu telah

memiliki dasar yang kuat sehingga luka dalamnya tidak terlalu parah

ketimbang seorang pemula yang merapat Jarum Terbang Debu Pasir.

Bergegas kakek Gu membopong pemuda itu. Urusan para petani bisa

ditunda, pun dua orang dari Su-Mo juga sama-sama terluka. Untuk

beberapa saat mereka pasti tidak akan berani melakukan gerakan

apa-apa.

Saat membuka matanya, pemuda itu tampak agak bingung. Hal terakhir

yang diingatnya adalah saat ia sedang menyerang dua orang jahat

menggunakan suatu ilmu yang baru saja dipelajarinya dari kitabkitab

yang dibawanya. Jarum Terbang Debu Pasir, adalah salah satu

penggunaan Tenaga Tanah yang memanipulasi gerakan debu dan pasir

sehingga dengan pengerahan hawa tenaga dalam bisa diarah sesuka

pikiran. Tetapi terdapat pula kelemahan dari ilmu tersebut, yaitu

perlu pencurahan tenaga dan pikiran yang cukup besar, sehingga

kadang dapat membuat pengguanya kehabisan tenaga. Dan bila sampai

pingsan atau tak sadarkan diri, si perapal bisa bertambah parah

dengan kekacauan jalan darah yang belum sempat diselaraskan setelah

merapal gerakan tersebut. Suatu ilmu yang benar-benar memerlukan

penguasaan tingkat tinggi.

Ia melihat dirinya berbaring di dalam suatu pondok kayu yang sederhana.

Ia rebah di atas suatu dipan kayu yang dialasi kain berwarna

coklat tua agak kasar. Dengan bau-bau khas kayu dan tumbuhtumbuhan

hutan, rumah itu dipenuhi oleh pernah-pernik dari kayu.

Berbotol-botol potongan-potongan daun tampak menghiasi sebuah

rak yang terletak tak jauh dari tempatnya berbaring. Hanya itu yang

bisa dilihatnya dari posisinya sekarang.

Dicobanya untuk bangkit, tapi tubuhnya masih melawan. Dunia menjadi

berputar dan terbalik-balik saat dicobanya duduk. Akhirnya pemuda

itu menyerah dan membiarkan waktu berlalu agar tubuhnya

dapat sembuh dengan sendirinya, sebelum berusaha untuk bangkit

kembali.

”Kreeekk!!” tiba-tiba pintu pondok itu terbuka. Pemuda itu tak da297

pat melihatnya karena terhalang sebuah meja besar yang di atasnya

bertumpukkan buku-buku dan segala macam benda, benda-benda

pengobatan agaknya.

”Kakek Gu, untung kau bawa pemuda itu cepat ke mari. Jika terlambat,

bisa putus nyawanya,” ucap seorang wanita. Dari getar suaranya

terlihat bahwa wanita itu sudah cukup tua, akan tetapi suaranya masih

cukup nyaring dan jelas.

”Nenek Po, tolong kau sembuhkan anak itu! Ia telah menyelamatkan

hidupku ini. Aku akan amat berhutang budi padamu..,” ucap lawan

bicaranya.

”Tak usah ucap-ucap hutang budi, kakek Gu! Kita orang, orang-orang

di akhir hidup, buat apa membawa-bawa pikiran nanti ke liang kubur.

Apa yang bisa dikerjakan, kita kerjakan. Setelah itu pasrahkan kepada

Sang Pencipta,” jawab suara yang pertama tadi.

Lalu terdengar seperti sebuah bungkusan besar dijatuhkan berdebam

di atas lantai pondok itu. Perempuan tua itu kemudian menginstruksikan

agar rekannya mengambil ini dan itu, sebanyak sekian dan

sekian. Mencampurkannya dalam sebuah belanga hitam yang diletakkannya

dengan kasar di atas meja.

Tak lama kemudian tercium bau harum mengembang di udara, terbawa

angin dan menyebar ke mana-mana, termasuk menggelitik

hidung pemuda yang masih berbaring di atas dipan kayu itu. Tak

dapat dicegah, perutnya pun berkerotak, berkukuruyuk meminta diisi.

”Hehehe, kakek Gu, lihat anak sudah siuman! Bahkan perutnya sudah

minta diisi..,” terkekeh-kekeh perempuan tua yang dipanggil nenek Po

menghampiri pembaringan sang pemuda.

Semburat merah tampak menyebar pelan di atas wajah pucat sang

pemuda. Ya, ia merasa malu sekali atas ketidaksopanan perutnya

yang tanpa tedeng aling-aling meminta untuk segera diisi.

Seakan-akan tahu akan pikiran sang pemuda, kakek Gu pun berkata,

”Jangan kuatir anak Yo, nenek Po ini memang suka menggoda orang.

Tapi walaupun demikian sup buatannya tak ada tandingannya di

daerah tiga empat sungai dari sini.”

298 BAGIAN 5. YANG KEMBALI DAN YANG TUMBUH

Berseri wajah nenek Po mendengar pujian kakek Gu akan makanannya.

Sudah menjadi suatu kekurangan pada manusia bahwa kadang

mereka suka dipuji. Sebenarnya hal itu tidaklah salah, asalkan tidak

berlebihan dan menjadi melakukan segala sesuatu karena ingin memperoleh

pujian.

Bergegas nenek Po kemudian mengambil sup yang sejak tadi sudah tercium

keharumannya. Diambilnya semangkok besar. Porsi dua orang.

Lalu ia kemudian kembali ke dekat tempat sang pemuda berbaring dan

menotok beberapa jalan darah dan juga mengambil beberapa jarum

halus yang tadinya ditusukkan di beberapa titik di kepala sang pemuda.

”Bangunlan dan coba makan..,” ucapnya.

Sang pemuda tampak ragu-ragu mengingat tadi ia hampir terjatuh

saat mencoba bangun.

”Tak usah takut, tadi engkau pusing saat bangun karena beberapa

jalan darahmu sedang diarahkan ke tempat lain, agar mempercepat

kesembuhanmu. Setelah dipindahkan kembali engkau tidak akan kehilangan

keseimbangan saat bangun,” jelas nenek Po yang ternyata

mengetahui bahwa sang pemuda telah mencoba bangun tadi.

Dengan malu-malu karena kembali pikirannya dapat ditebak orang,

sang pemuda mencoba duduk. Pertama-tama perlahan-lahan, karena

ia masih kuatir akan pusing dan kehilangan keseimbangan seperti tadi

saat ia mencoba duduk. Setelah merasa yakin dengan sedikit mengangkat

tubuhnya bahwa ia tidak lagi pusing, ia pun mendudukkan

dirinya di atas tempat ia tadi berbaring.

Saat ia masih ragu-ragu untuk menggapai mangkuk sup yang dibuat

oleh nenek Po itu, kakek Gu dengan sigap mengambilkannya dan meletakkannya

di atas tangan pemuda itu. ”Makanlah pelan-pelan.., jika

mampu habiskan. Ini mengandung banyak obat-obatan dan ramuan

untuk kesembuhanmu.”

Pemuda itu mengangguk dan mulai mencoba menyuap makanan yang

disiapkan untuknya itu. Dimasukkannya perlahan sesuap sup yang

masih mengepul panas itu. Harumnya yang merebak memacu gemuruh

perutnya semakin kerap. Rasa hangat pun mulai menyebar dalam

299

tubuh sesaat sesuap demi sesuap sup buatan nenek Po memasuki

tubuhnya. Tak terasa sudah setengah isi dari mangkok ukuran jumbo

itu pindah ke perutnya.

Saat sang pemuda menyantap makanan itu, kedua orang tua dihadapannya

tak habis-habisnya memperhatikan dirinya. Mau tak mau

terasa pula jengahnya, seakan-akan ada yang salah pada wajah atau

dirinya. Ia sampai mencari-cari dengan jarinya apa ada sisa-sisa sayur

dalam sup yang nyangkut di gigi atau nempel dekat pipinya akibat giatnya

ia menyantap sup itu setelah isi mangkuknya kurang dari setengahnya.

Melihat kekikukkannya itu, kedua orang tua itu tertawa hampir

berbarengan. Ketawa yang ramah dan hangat. ”Kakek Gu, kita

tinggalkan dulu anak Yo-mu ini. Tak tertelan nanti kalau kita pelototi

terus-menerus,” seraya nenek Po beranjak dari situ untuk mengerjakan

sesuatu di sudut ruang sana.

Kakek Gu pun beranjak dari sana ia mengambil tempat di seberang

tempat pemuda itu duduk dan mengasolah ia. Cepat, tak lama, ia

pun segera tertidur. Napasnya yang keluar masuk dengan teratur

menandakan ia sudah lelap. Lelah setelah bertempur dengan Su-Mo

dan juga memanggul pemuda itu serta mencari bahan-bahan untuk

mengobatinya.

Setelah habis semangkut sup yang lezat dan juga berkasiat itu, pemuda

yang terus saja dipanggil anak Yo oleh kakek Gu, merasa dirinya

lebih enakan. Ia kemudian mencoba untuk merebahkan dirinya. Tak

terasa ia pun terlelap. Menyusul Kakek Gu yang telah pergi lebih

dahulu ke dunia mimpi.

***

”Hiaattt!! Haahh!” begitu bentakan Sarini saat ia membacok Rakrakrak,

perambok bertubuh subur dan berkulit gelap itu. Walaupun cukup

gemuk, Rakrakrak dapat dengan lincah meloncat sana-sini untuk

menghindari tangan Sarini. Tak lupa celoteh ganjen dan centil dilontarkan

Rakrakrak untuk menggoda Sarini yang makin lama makin

merah bagai kepiting rebus pipinya itu.

”Duh, dada yang ranum, mari sini ke dalam dekapanku!!” ucapnya

300 BAGIAN 5. YANG KEMBALI DAN YANG TUMBUH

sambil kembali menyerang Sarini dengan kepalan tangannya yang

besar-besar itu. Sesekali dikenakannya juga tangannya agak bersinggungan

dengan tangan Sarini yang halus dan mulus. Malah sang

gadis yang berusaha untuk menghindar. Ia berusaha hanya menyentuh

bagian-bagian lemah dari Rakrakrak dengan tangannya. Jijik

rasanya bila harus menyentuh bagian tubuh dari orang yang berkeringat

dan ceriwis itu.

”Pinggang molek, kaki jenjang, pujaan hati..!” kembali Rakrakrak

mengeluarkan celoteh untuk mengganggu Sarini dan juga mengeluarkan

hasrat hatinya yang telah membayangkan suatu saat akan dapat

mendekap dara yang memikat hatinya itu. Bagi mereka, para perampok,

jarang-jarang mendapat rejeki bertarung dengan dara semanis

Sarini di dekat tempat tinggal mereka. Umumnya bila ingin bertemu

dengan wanita, mereka harus perg jauh merampok desa atau pelesir

ke kota.

Suatu saat Sarini bergerak lambat sehingga pergelangan tangannya

dapat tertangkap oleh Rakrakrak. Girang sudah wajah perampok

gembul itu. Dibayangkannya dara itu dalam pelukannya setelah tangan

itu ditariknya mendekat. Dan memang dengan sentakan yang

kuat dara itu tertari memutar ke arah dekapannya, tetapi bukan untuk

dipeluk melainkan untuk melancarkan gerakan menyerang. Ilmu Sabetan

dan Tangkapan Tangan adalah ilmu tangan kosong yang penuh

dengan tipu-tipu. Kedudukan yang lemah dapat menjadi suatu titik

awal serangan yang kuat apabila tahu memanfaatkannya.

Sarini sebagai putri Arasan, jelas-jelas menguasai ilmu itu dengan

amat baik. Ini yang tidak diketahui oleh Rakrakrak, bahwa ia masuk

perangkap dalam gerakan itu. Saat berpusing, Sarini tidak diam

pasrah di bawa masuk dalam lingkaran tangan Rakrakrak melainkan

berputar searah putaran yang menariknya, tapi lebih cepat sehingga

ia bisa mengambil celah kosong dari persendian Rakrakrak yang

saat itu tidak menyadarinya, berbalik dan berganti memiting tangan

Rakrakrak sampai batas sendinya. Dan tidak tanggung-tanggung, ia

terus menggerakkan sampai melalui batas putaran sendi umumnya.

Akibatnya, ”krakkk!!” patahlah tangan kanan Rakrakrak yang sempat

terlena sehingga tidak waspada itu.

Kejadian itu sudah tentu mengejutkan kawan-kawannya. Lima orang

301

yang lain pun menjadi marah. Rupanya mereka tadi telah dibohongi

oleh dara itu untuk bertarung tangan kosong. Suatu teknik yang

dimahiri oleh sang gadis. Akan tetapi saat kelimanya ingin menyerang

setelah meraup senjata masing-masing dalam genggamannya,

Walinggih berseru, ”tahan!!”

”Orang tua, mau apa lagi engkau? Sekarang tidak ada lagi permainanpermaian,

apa yang telah muridmu lakukan itu akan dibayar dengan

darahmu dan juga gadis itu,” kata seorang dari mereka.

”Apa hubungan kalian dengan Asasin?” tanya Walinggih. Sekarang

ia teringat adanya kesamaan ciri-ciri orang-orang itu dengan orangorang

Asasin. Orang-orang yang telah berkali-kali berupaya membunuh

dirinya.

Terkejut pula keenam orang itu atas pertanyaan yang diajukan Walinggih.

Tak banyak orang yang tahu bahwa mereka ada bekas anggota

Asasin. Mereka telah lama tidak lagi bekerja pada kelompok pembunuh

bayaran itu karena ketidakdisiplinannya dan juga kurang dapat

menjaga rahasia.

”Siapa kamu? Apa hubunganmu dengan Asasin?” balas bertanya seorang

dari mereka.

”Hehehe,” tertawa Walinggih mendengar pertanyaan itu, ”Siapa aku?

Tak perlu engkau tahu. Asal aku sekarang sudah yakin siapa kalian

sebenarnya, bisa lega aku memulangkan kalian.”

Mendengar itu keenam orang itu menjadi pucat wajahnya. Selama ini

ternyata kakek dan gadis itu masih menahan diri untuk tidak menghabisi

mereka. Setelah tahu bahwa mereka adalah Asasin atau tepatnya

bekas anggota kelompok itu, malah mereka menjadi terdorong

untuk melepaskan tangan kejam.

”Nan..., nanti dulu!” jawab seorang dari mereka dengan cepat, ”Sudah

lama, lebih dari satu tahun kami tidak lagi turut pada kegiatan Asasin.

Kami bukan lagi Asasin.” Berusaha orang itu untuk membela dirinya.

”Satu tahun. Belum lama,” jawab Walinggih, ”Biar kalian tak penasaran,

aku sebutkan satu tempat. Desa Batu Barat dan Timur.”

Mendengar nama tempat itu, pucatlah keenam orang itu, mereka

302 BAGIAN 5. YANG KEMBALI DAN YANG TUMBUH

tentu telah mendengar nama tempat yang menjadi salah satu dan

mungkin satu-satunya kegagalan pekerjaan yang diemban Asasin dari

para pemesannya. Di sana mereka bertemu dengan orang yang pilih

tanding. Hakim Haus Darah.

”Engkau... Hakim Haus Darah..!!” ujar seorang dari mereka pucat.

Tanpa mengangguk Walinggih pun memegang posisi pedangnya

sedemikian rupa. Posisi untuk mengeluarkan gerakan Kadal Pelangi

Makan Pagi, suatu gerakan yang ditiru dari kadal-kadal pelangi saat

mereka mencari makan di batu-batu yang diperciki buih-buih air.

Menyadari bahwa tak ada gunanya lagi untuk berdepat keenamnya

langsung mengambil posisi mengurung Walinggih. Sarini pun

mengambil langkah mundur dan melihat dari kejauhan. Rakrakrak

yang sebelah tangannya telah dipatahkan oleh Sarini tampak memegang

senjatanya dengan tangannya yang lain. Keenamnya pun bersiap untuk

mempertahankan satu-satunya nyawa mereka.

Tak perlu waktu terlalu lama bagi Walinggih untuk menumbangkan

mereka. Satu persatu dari mereka tersungkur di atas tanah dengan

tubuh terpotong. Tidak lagi terbelah dua seperti dahulu ia menggunakan

gerakan Sabetan Tunggal Menuai Dua, gerakan Kadal Pelangi

Makan Pagi lebih menitikberatkan pada loncatan-loncatan berbalik

yang membingunkan lawan. Sabetannya tidaklah seindah gerakan Sabetan

Tunggal Menuai Dua akan tetapi lebih efesien dan telak.

Termangu tampak Walinggih setelah keenam orang lawannya itu

tidak lagi bernyawa, ingatan masa lalu akan keluarganya, anak dan

istrinya yang terbunuh kembali datang. Ditepisnya rasa sedih yang

kembali menjelang, juga amarah untuk selalu membalas dendam dan

menghukum orang-orang yang berseteru. Ia telah berubah. Bukan

lagi Walinggih si Hakim Haus Darah.

Tak terasa sebuah tangan menepuk bahunya. Tangan kecil dan halus

milik Sarini. ”Paman, sudahlah. Jangan lagi paman bersedih atas

perginya bibi dan adik. Mereka-mereka ini memang patut untuk

dibasmi.”

Mengangguk sedikit Walinggih mendengar hiburan Sarini. Lalu ia

mengisyaratkan agar mereka menggali sebuah lubang yang cukup be303

sar untuk menguburkan keenam orang itu. Senjata-senjata mereka

pun dimakamkan bersama-sama dengan jasadnya. Setelah itu sebuah

batu besar dipotong Sarini untuk diletakkan di atas makam itu. Digoreskannya

di atas batu tersebut

”Makam enam perampok mantan Asasin. Salah seorang bernama

Rakrakrak.”

Hanya itu saja, karena ia tidak tahu nama-nama mereka kecuali

Rakrakrak tadi. Setelah itu mereka berdua kembali meneruskan perjalan

mereka ke arah utara untuk menjumpai orang tua Telaga untuk

memberitahukan mengenai perjodohan Telaga dan Sarini.

***

”Maaf, bila sedari tadi engkau kupanggil terus dengan anak Yo,” kata

kakek Gu kepada pemuda yang menolongnya dari serangan Su-Mo.

”Tidak apa-apa, paman!” balasnya, ”Malah saya pikir paman cerdik

sekali pada saat itu, tanpa ba-bi-bu langsung menyapa saya seakanakan

kita telah kenal sehingga mereka kena dikadali.”

”Ah, tidak terlalu berarti jika engkau tidak selihai itu ilmu beladirinya.

Sayang sekali akibatnya engkau jadi menderita luka seperti ini,” ucap

kakek Gu sedih.

”Ini juga salahku, paman. Aku belum memahami jurus Jarum Terbang

Debu Pasir dengan baik tetapi telah mencoba-coba,” jelas pemuda

itu.

Mengangguk-angguk kakek Gu mendengar penjelasan pemuda itu.

”Omong-omong, tenagamu itu boleh juga, benar-benar menunjukkan

penguasaan Tenaga Tanah yang sudah mumpuni,” puji kakek Gu.

”Ah, paman bisa saja. Saya juga baru belajar dari para Troll,” jelas

pemuda itu sambil lalu menjelaskan kisahnya di mana ia mempelajari

Tenaga Tanah itu.

Nenek Po yang sedari tadi sedang membaca-baca buku-buku pengobatan

di mejanya, mengguman-gumam, ”Tidak baik, tidak baik!

Hukum alam tidak boleh dibolak-balik..!”

304 BAGIAN 5. YANG KEMBALI DAN YANG TUMBUH

Gumaman itu memecah pembicaraan antara kakek Gu dan pemuda

itu. ”Nenek Po, apa maksudmu?”

”Ah, aku kembali ngomong sendiri ya?” ucapnya malu. ”Ini dalam

buku ini tertulis bahwa hukum-hukum alam sebaiknya tidak dicobacoba

untuk dilawan. Konsekuensinya berat.”

Melihat tatapan bingung dari kedua orang di depannya itu, nenek

Po pun tersenyum. Lalu lanjutnya, ”Anak muda ini.. telah menggunakan

Tenaga Tanah untuk memanipulasi gaya berat. Itu melawan

alam. Alam ini terdiri dari materi. Ada empat unsur air, tanah, udara

dan api. Semunya punya isi. Dan semuanya patuh pada gaya berat.

Dengan mengubah-ubah gaya berat, keseimbangan akan terganggu.

Terutama aliran hawa dalam tubuh.”

Kedua orang itu pun mengangguk-angguk, baru ngeh dengan apa yang

dijelaskan oleh nenek Po.

”Nak Paras Tampan, boleh-boleh saja engkau menggunakan jurus

Jarum Terbang Debu Pasir, tapi dengan perhitungan tentunya. Jangan

semua tenagamu dikerahkan ke sana. Sisakan untuk mengembalikan

aliran hawamu ke sirkulasinya semula.”

Lalu dijelaskannya bahwa apa yang barusan dilakukan oleh Paras

Tampan adalah dengan mengubah kerapatan benda-benda disekelilingnya

atau juga disekitarnya sehingga debu-debu dan pasir dapat

bergerak seperti keinginannya. Lain dengan benda-benda yang

berukuran cukup besar sehingga kekuatan dapat dipusatkan, bendabenda

seperti pasir dan debu amatlah kecil dan banyak, sehingga

tenaga yang dikeluarkan pun harus ekstra besar dan tersebar. Belum

lagi upaya untuk membuat mereka terbang dan berurutan sehingga

berbentuk jarum-jarum padat. Setelah hawa dikeluarkan untuk mengendalikan

butiran-butiran itu, tubuh menjadi kosong. Tenaga alami

alam yang terdiri dari empat unsur itu berebut masuk untuk mengisi

kekosongan itu. Oleh karena itu perlu ada tenaga yang dicadangkan

untuk menghalangi luapan tenaga yang ingin mengisi hawa tubuh

yang kosong itu. Itulah yang terjadi sehingga tubuh Paras Tampan

saat itu melupa terisikan tenaga alami dan mengalami luka dalam.

Menjadi jelas sekarang bagi Paras Tampan perihal ilmu yang baru

dipelajarinya itu. Ia pun berjanji untuk lebih hati-hati dalam mera305

pal ilmu itu. Jika tidak benar-benar diperlukan tidak akan digunakannya.

Selain berbahaya bagi lawan, ilmu itu juga berbahaya bagi sang

perapalnya sendiri, bila menggunakannya dengan benar.

Sudah seminggu Paras Tampan tinggal di pondok nenek Po. Kakek

Gu pun tinggal di sana menemaninya. Kakek Gu sendiri sebenarnya

punya rumah, tapi tak tak bisa dibilang benar-benar rumah mengingat

letaknya yang di atas pohon dan dibangun sekenanya. Cukup asal

nyaman untuk tidur dan tidak kepanasan saat hari cerah dan tidak

kehujanan saat hari hujan, ditambah tidak kedinginan saat malam

hari.

Dalam seminggu itu sudah banyak perubahan dalam kesehatannya.

Tubuhnya berangsur-angsur membaik dan juga ia memperoleh banyak

cerita, baik dari nenek Po maupun kakek Gu.

Kakek Gu yang bernama Gu Ming itu ternyata adalah masih saudara

jauh dari seorang pengujar terkenal Gu Long. Pengujar yang banyak

menghasilkan karya-karya cerita tentang kehidupan orang-orang di

rimba persilatan. Diceritakan bahwa Gu Long adalah seorang yang

cerdas akan tetapi agak nyeleneh. Tidak seperti kebanyakan orang

yang umumnya bekerja setelah tamat belajar, ia malah berandai-andai

dahulu dan berusaha menjadi seorang penulis di kotanya. Hidup sederhana

seperti pengujar Tao Yuan Ming (penyair jaman dinasti Han dari

Tlatah Tengah).

Gu Long adala seorang yang cerdas, ia telah dapat menulis kisah

pada usia yang amat muda. Sekitar 12 tahun. Dan bisa memperoleh

penghasilan pertama saat berusia 19 tahun. Kakek Gu kemudian

menceritakan bahwa saudara tuanya itu, hampir selalu menceritakakan

sesuatu yang berkaitan dengan cinta. Sampai suatu saat ia

mendapat saran untuk menulis mengenai orang-orang rimba persilatan.

Walaupun demikian, unsur cintanya tetap kental dalam kisahkisah

orang-orang rimba persilatan.

Saat itu terdapat empat pengujar besar penghasil cerita orang-orang

rimba persilatan di Tlatah Tengah Sempalan (Taiwan), yaitu Chu

Qing Yun, Wu Lung Sheng dan Shi Ma Ling, serta Gu Long sendiri.

Kakek Gu sendiri sampai merantau ke sana ke mari karena terinsipirasi

atas karya-karya para pengujar-pengujar tersebut, yang menceritakan

306 BAGIAN 5. YANG KEMBALI DAN YANG TUMBUH

keanekaragaman dunia dalam kisah-kisah persilatan.

Sayangnya saudara tuanya itu mempunyai suatu sifat jelek, yaitu

gemar minum dan mabuk-mabukkan. Kerap sekali sehingga jatuh

sakit. Setelah sembuh ia sempat beberapa saat terbebas dari arak,

akan tetapi tidak lama. Bila sedih ia minum arak. Kebiasaan ini

datang kembali sehingga akhirnya membuat kesehatannya menjadi semakin

parah dan akhirnya ia meninggal. Saat ia meninggal kakek Gu

sedang merantau sehingga tidak dapat menjenguk saudara tua yang

dikaguminya itu.

Paras Tampan dapat merasakan keharuan kakek Gu saat menceritakan

kisah saudaranya itu. Ia melihat kekaguman kakek Gu pada sosok

pengujar Gu Long. Ia sendiri pernah mendengar, tapi belum pernah

membaca hasil karya atau pun cerita mengenai orang itu.

”Ada seorang pengujar dari Tlatah Tengah Sempalan, Gu Long namanya.

Karyanya amat gemilang tentang orang-orang rimba persilatan

di Tlatah Tengah. Tapi apa-apa tentang cinta yang ditulisnya

tidak dapat diwujudkannya dalam dunia nyata. Ia hidup tidak bahagia.

Tidak sebahagia tokoh-tokoh rekaannya,” jelas Ki Tapa suatu saat

pada Paras Tampan. ”Sebaiknya seimbang, apa yang kita tuangkan

dalam karya, ucapan dan pelaksanaan. Itu yang terbaik.”

Paras Tampan tidak tahu mengapa Ki Tapa menceritakan perihal pengujar

Gu Long padanya saat itu. Setelah lama baru disadari bahwa Ki

Tapa ingin mengingatkan bahwa apa-apa yang dihadapi haruslah diresapi.

Jangan terlalu berhadap atau terlena seperti dalam kisah-kisah.

Sifat Paras Tampan yang cenderung romantis mungkin mengundang

kekuatiran sendiri pada Ki Tapa sehingga ia menceritakan tentang

kisah itu.

***

Lantang mengambil satu buah ubi dan sejumput rempah. Digigitnya

ubi, dikunyahnya perlahan, lalu rempah-rempah. Ubi itu untuk membuat

agar rempah-rempah yang mengandung obat itu dapat termakan.

Tanpa ubi mungkin akan termuntahkan kembali.

Tak terasa setengah rempah-rempah obat yang harus dimakannya

telah mengisi perutnya. Ubinya tinggal sebuah. Tidak cukup kiranya

307

untuk memakan rempah-rempah yang tersisa. Lantang pun celingakcelinguk

mencari-cari dengan matanya, apa-apa yang bisa menggantikan

ubi untuk memakan rempah-rempah itu.

Tiba-tiba bahunya ditepuk. Xyra yang tadinya tertidur telah bangun.

Rambutnya yang awut-awutan tampak manis menghias wajahnya.

Khas kecantikan seorang Undinden.

Ia tampak mengangsurkan beberapa buah pisang.

”Makanlah untuk teman rempah-rempah,” katanya pelan.

Lantang pun mengangguk diambilnya dua buah pisang. Segigit pisang

dan rempah-rempah. Segigit lagi dan juga rempah-rempah sampai

akhirnya takaran yang harus dimakannya habis. Pindah mengisi lambungnya.

Xyra tampak senang melihat hal itu. Ia mengeluarkan nada tinggi,

nada khas Undinen apabila hatinya gembira. Gembira bahwa Lantang

akan kembali sehat.

”Di mana orang tua itu tadi?” tanya Lantang tiba-tiba. Ia teringat

pada orang tua yang tadi memasakkannya obat.

”Wananggo, maksudmu?” tanya Xyra.

”Kakek itu bernama Wananggo?” balik bertanya Lantang.

”Ia memperkenalkan diri dengan nama itu,” jelas Xyra. ”Ia tadi pergi

sebentar. Akan kembali untuk menengok kesehatanmu. Ada sesuatu

yang harus dicarinya. Ditunggu saja sambil beristirahat.”

Lantang pun menurut. Sambil berbaring ia minta Xyra untuk

mengisahkan perjalanannya dan mengapa saat ia ingin pamit Xyra

tidak bisa ditemuinya di Danau Tengah Gunung.

Dengan perlahan sambil tertunduk malu Xyra pun menceritakan

bahwa ia dulu merasa marah dan sedih, bahwa Lantang akan meninggalkan

tempat di mana mereka bertemu. Ia menyangka Lantang

membenci dirinya dan meninggalkan dirinya. Oleh karena itu ia

tidak mau menemui Lantang. Akan tetapi jauh setelah Lantang

pergi Xyra pun merasa kehilangan. Dan ia menemui Ki dan Nyi

308 BAGIAN 5. YANG KEMBALI DAN YANG TUMBUH

Sura untuk minta penjelasan keamana perginya Lantang. Setelah

tahu ia pun pergi mengikuti. Dengan kemampuannya berbicara pada

binatang-binatang air, Xyra memperoleh keterangan ke arah mana

Lantang berlalu. Setelah menemukan, ia pun membayangi sosok yang

dirindukannya itu dengan diam-diam. Saat Lantang menderita sakit,

ia pun tidak tahan dan memunculkan diri untuk membantuWananggo

merawat pemuda itu.

Terharu Lantang mendengar penjelasan sang Undinen. Tak terasa

tangannya menggenggam dan mengelus lembut telapak tangan Xyra

yang berhasil digapainya. Xyra hanya tertunduk semakin dalam sambil

memainkan rambutnya dengan tangannya yang lain.

Keduanya pun terdiam. Perasaan dalam hati masing-masing bergolak.

Menggelora jiwa muda. Jiwa yang ingin berpadu dan dekat selalu.




0 Response to "Elemen Kekosongan 5"

Post a Comment