Download applikasi baca novel online untuk android disini: DOWNLOAD

Elemen Kekosongan 4

Bagian 4

Penjaga Keseimbangan

Sementara itu, ikan Kolakan tersebut kembali mengulangi beberapa

kali pertunjukkan yang luar biasa itu sampai didapatnya kira-kira

enam butir buah-buahan dari pohon itu, dan kemudian dilontarkannya

kembali buah-buahan ke hadapan Paras Tampan. Ia seakan-akan

ingin berkata bahwa buah-buahan itu dapat dimakan oleh sang pemuda.

Ragu-ragu Paras Tampan mengambil sebuah darinya. Diperiksanya

perlahan-lahan. Mirip buah pir bentuknya akan tetapi harum seperti

durian dengan warna yang biru memikat. Masih di sana ikan Kolakan

itu mondar-mandir dalam sungai yang jernih. Seakan-akan ikan

tersebut menunggu sang pemuda untuk memakan buah-buahan yang

diberikannya.

Akhirnya dicobanya untuk untuk memakan buah yang telah digenggamnya

itu. Perutnya telah lapar. Dan peristiwa ”diberi makan”

oleh seekor ikan menumbuhkan kepercayaan bahwa buah-buahan itu

tidaklah beracun. Digigitnya perlahan. Manis dan berair. Lembut

menyegarkan. Seketika dirasakannya asupan tenaga yang sedari

kemarin malam belum diperolehnya.

Melihat itu sang ikan pun kemudian berkecipak pelan dan kemudian

menghilang. Entah kemana. Ke sungai dalam tebing batu itu, atau

ke dalam rongga-rongga batu di dalam sungai jernih tersebut. Terlihat

sekilas di dalamnya terdapat rongga-rongga yang tak terhitung

185

186 BAGIAN 4. PENJAGA KESEIMBANGAN

banyaknya.

Setelah habis satu butir tersebut Paras Tampan pun membungkus

buah-buahan yang tersisa hasil pemberian ikan tersebut dengan baju

luarnya. Dibawanya kembali ke ruangan tempat terdapat kitab-kitab

yang berjajar dalam lubang-lubang di dinding.

Sesampainya di sana. Tiba-tiba saja datang rasa kantuk. Mungkin

karena kelelahan dan juga pengaruh dari buah yang dimakannya itu.

Paras Tampan tak dapat menahan rasa itu. Akhirnya diputuskan

untuk tidur di salah satu pojok ruangan tempat penyimpanan kitabkitab

itu. Ia pun tak lama kemudian mendengkur. Pulas.

Langkah-langkah ringan hampir tak terdengar mendekat perlahan.

Muncul beberapa sosok orang bertubuh gemuk pendek dengan hidung

yang panjang serta berambut kusam. Telapan kaki dan tangan mereka

lebar-lebar dan kuat. Troll. Beberapa sosok makhluk itu berjalan hatihati

mendekati Paras Tampan. Tidak seperti kemarin dalam lorong

gelap yang diterangi Rumput-rumput Berkilau Dalam Gelap, di mana

mereka berjalan dengan langkah-langkah berat dan berdebam, kali ini

mereka berjalan ringan perlahan. Seakan-akan tidak cocok dengan

postur tubuh mereka yang terlihat gempal dan berat.

”Kakak Ikan Berduri Bersirip Kipas baru saja memberi tahu ada

seorang pemuda datang dari arah Ruang Kitab,” kata seorang dari

mereka.

”Bukankah ini pemuda yang kemarin?” tanya yang lain.

”Hehehe, betul. Pemuda yang bermalam di lereng di luar sana,” jawab

orang ketiga dari mereka sambil tersenyum. Senyum Troll tidak terlihat

sebagai senyum bagi makhluk lain. Bahkan menambah seram

bagi yang melihatnya.

”Seorang pemuda yang cerdik,” kembali kata orang pertama, ”ia bisa

mengecoh kita untuk bermain-main dengan barang-barangnya sementara

ia masuk ke sini.”

”Bukankah adik Gobagkh telah menunjukkan bahwa ada seseorang

yang berjalan ke lorong sebelah kanan kemarin malam?” tanya yang

lain.

187

”Benar, tapi kakak Bagadsh sudah memerintahkan bahwa kita tidak

boleh menghalang-halangi orang yang masuk ke lorong sebelah kanan.

Biarkan nasib yang membawa mereka. Toh kita sudah sering membersihkan

orang-orang yang akhirnya mati kelaparan di sana. Tak sampai

mereka mencapai Ruang Kitab,” kata temannya.

”Tapi pemuda ini benar-benar beruntung dan juga cerdik. Sudah bisa

selamat dari Lorong Panjang Gelap. Kemudian bahkan bisa mencapai

Ruang Kitab dengan menggunakan dua buah Batu Persegi yang disembunyikan

itu, untuk naik tangga dalam Ruang Dinding Berlubang,”

kata seorang yang lain, ”benar-benar berjodoh.”

”Jadi..?” tanya seseorang dari mereka.

”Kita layani dia, seperti janji kita pada Maling Kitab atau yang lebih

senang disebut Penjaga Keseimbangan, kakak Rawarang,” tegas salah

seorang dari mereka.

Rekan-rekan yang lain menangguk-angguk. Lalu mereka kemudian

beringsut pergi dengan ringan. Meninggalkan Paras Tampan yang

masih tertidur pulas di salah satu sudut Ruang Kitab. Tak tahu

dirinya, bahwa dirinya tadi telah jadi bahan pembicaraan beberapa

sosok Troll.

Mulai saat itu jika tidak diberi makan oleh ikan Kolakan yang dipanggil

Ikan Berduri Bersirip Kipas sebagai kakak oleh para Troll,

Paras Tampan mendapatkan bungkusan makanan yang terdiri dari

buah-buahan, sayuran tanpa daging dan nasi, pinggir sungai jernih

dan dalam di tengah pelataran batu tersebut. Mula-mula ragu-ragu

ia memakannya. Akan tetapi rasa laparnya menang.

Kemudian ditemukannya tulisan pada salah satu kitab yang sepertinya

merupakan buku harian dari orang yang menuliskan guratan

pada dinding. Guratan yang belum selesai itu. Dalam kitab tersebut

dituliskan bahwa orang yang berjodoh akan ditemani dan diberi makan

oleh ikan Berduri Bersirip Kipas dan para Troll. Membaca demikian,

yakinlah Paras Tampan bahwa yang memberikan bungkusan makanan

itu adalah makhluk-makhluk Troll itu. Hanya herannya ia, mengapa

makhluk-makhluk itu tak mau menampakkan diri kepadanya.

Dengan tidak mengambil banyak pusing terhadap keanehan-keanehan

188 BAGIAN 4. PENJAGA KESEIMBANGAN

yang ditemuinya, Paras Tampan mulai membaca-baca kitab-kitab

yang ditemuinya. Ditelusurinya dulu kitab-kitab yang disebut-sebut

dalam Guratan Di Dinding sebagai Kitab-kitab Awal. Petunjuk mengenai

kitab-kitab tersebut ditemuinya pada akhir dari buku harian

sang penulis Guratan Di Dinding. Dengan mempelajari Kitab-kitab

Awal yang merupakan dasar dari kitab-kitab lainnya, Paras Tampan

dapat menghemat waktu. Tidak terlalu banyak yang dipelajari akan

tetapi telah cukup memiliki kehebatan.

Ruangan sebelah yang disebut sebagai Ruang Dinding Berlubang

oleh makhluk-makhluk Troll ternyata berperan dalam salah satu latihan

yang dituliskan dalam Kitab-kitab Awal. Dengan menggunakan

lubang-lubang tersebut dengan masih berada di dalam ruangan Paras

Tampan belajar memanjat naik dan turun. Kadang kepala di atas

kadang di bawah. Dengan cara ini ia dapat merampat naik dan turun

pada dinding itu, berpijak pada lubang-lubang yang ada. Setelah

cukup mahir untuk naik sampai langit-langit, latihan selanjutnya dilakukan

di sisi luar dari dinding. Ia harus terlebih dahulu merangkak

dalam salah satu lubang untuk mencapai ujungnya di dinding sebelah

luar. Dengan ketinggian yang menggiriskan Paras Tampan berlatih

naik dan turun kembali pada dinding.

Awalnya takut juga Paras Tampan berlatih di dinding sebelah luar.

Akan tetapi karena pada dasarnya latihan yang sama, akhirnya dapat

ia menekan rasa takutnya. Latihan di bagian luar ruangan itu, selain

disertai bahaya untuk jatuh, juga adanya angin menyebabkan tangan

dan kaki harus lebih kuat mencengkeram dan berpijak.

Lebih lanjut pada lubang-lubang, baik di luar dan di dalam ruangan

terpahatkan simbol-simbol kecil yang menjadi urut-urutan lubanglubang

mana yang harus dipanjat atau dilalui. Tahapan ini baru

boleh dilakukan setelah orang yang belajar kitab tersebut yakin bahwa

cengkeraman dan pijakannya kuat pada dinding dan lubang-lubang

itu. Dengan melalui latihan ini Paras Tampan dapat masuk keluar

suatu lubang dalam dinding dengan cepat, untuk kemudian masuk

dan keluar pada lubang lainnya. Tak terasa bahwa ilmu memanjat

dinding, cengkeraman, pijakan sekaligus meringankan tubuhnya

berkembang dengan pesat.

Sejalan dengan semakin berkembang ilmu yang dipelajarinya, se189

makin jarang pula ikan Kolakan tersebut menyediakan buah-buahan

itu. Ia sekarang harus memanjatnya sendiri sekarang. Mengambil

buah-buahan pada pohon yang terletak lebih tinggi pada dinding di

atas lubang tempat keluarnya Sungai Batu Jernih tersebut. Jauh

lebih tinggi dari pohon yang dapat dikecipak dengan air oleh sang

ikan Kolakan. Pohon-pohon yang tumbuh lebih rendah, telah habis

buah-buahannya.

Berdasarkan tulisan dalam salah satu Kitab-kitab Awal, Paras Tampan

sebagai orang yang sedang belajar, tidak diperbolehkan untuk

meninggalkan tempat itu sebelum tamat. Hal itu termasuk menyeberangi

sungai atau masuk ke dalam lubang tempat keluarnya Sungai

Batu Jernih. Dan Paras Tampan pun mematuhi peraturan itu.

Dikonsentrasikan pikirannya untuk benar-benar menyerap ilmu-ilmu

yang tertuliskan ataupun tersirat dalam kitab-kitab yang dikenal sebagai

Kitab-kitab Awal. Kitab-kitab lain hanya dilihatnya sepintas,

jika ia merasa bosan mempelajari Kitab-kitab Awal.

Tak terasa waktu satu tahun pun berlalu. Sudah setengah waktu yang

diberikan gurunya untuk berguru di atas Gunung Hijau. Pemuda itu,

Paras Tampan, tampak semakin tegap. Badannya berisi. Dengan

tidak memakan daging, hanya buah-buahan dan sayur yang disediakan

oleh para Troll disertai latihan-latihan yang keras, membuat

otot-ototnya tumbuh dengan baik. Badannya menjadi tampak pas

sekali, tidak terlalu gemuk dan juga tidak terlalu kurus. Benar-benar

menjadi pemuda yang menarik hati dengan wajah yang selalu ceria.

Hanya mungkin rambutnya saja yang tidak terlalu diurus. Tumbuh

panjang dan digelungnya asal saja. Walaupun demikian sering dicuci

rambut dan badannya dengan cara mandi berendam di Sungai Batu

Jernih.

Untuk pakaian, para Troll pun menyediakan bahan-bahan seperti yang

mereka pakai, yaitu kulit binatang berbulu. Entah binatang apa.

Yang penting nyaman dan hangat dipakai. Tidak terlalu banyak.

Para Troll hanya memberikan bahan pakaian untuk dijahitnya sendiri

setiap dua atau tiga bulan, saat mereka merasa pakaian yang dikenakan

pemuda itu sudah tidak terlalu baik. Peralatan menjahit disediakan

mereka, terdiri dari jarum yang berasal dari tulang, benang

dari rumput-rumputan dan pisau batu untuk memotong. Sederhana

tapi cukup memadai.

190 BAGIAN 4. PENJAGA KESEIMBANGAN

Dan selama itu pula para Troll belum sekalipun menampakkan dirinya.

Pernah sekali waktu Paras Tampan ingin melihat makhluk-makhluk

yang selama ini menyediakannya makan, ditunggunya mereka di luar

ruangan. Di tepi Sungai Batu Bening. Tapi mereka tidak munculmuncul.

Alih-alih, malah makanannya dengan dibungkus rapat dengan

daun-daun agar isinya tidak basah, dilontarkan oleh ikan Kolakan.

Sang ikan pun berkecipak-cipuk, seakan-akan mengatakan

bahwa belum saatnya untuk bertemu dengan para Troll.

Akhirnya Paras Tampan pun menyerah, tak lagi ia mencoba untuk

menunggu-nunggu mereka hanya sekedar untuk melihatnya. Ditenggelamkan

lagi dirinya pada pelajaran-pelajaran yang disebutkan dalam

Kitab-kitab Awal.

Salah satu pelajaran yang menarik adalah bagian dari kitab Pukulan

Inti Es dan Salju, dimana disebutkan bahwa orang bisa menggunakan

air yang disertai dengan hawa dingin sehingga menjadi butirbutiran

es untuk dilontarkan. Dan hal ini adalah yang dilakukan

oleh ikan Kolakan saat ia dulu memyambit buah-buahan dari pohon

yang tumbuh pada dinding mulut Sungai Batu Bening. Bukan hanya

sekedar mencipak-cipuk air belaka, melainkan membekukannya untuk

kemudian disambitkan dengan gerakan ekornya. Benar-benar mengagumkan.

Dan untuk belajar jurus itu, Sentilan Kelereng Es, Paras Tampan

harus berendam dalam Sungai Batu Bening pada saat-saat di mana

udara benar-benar terasa dingin. Mengambil energi dari hawa dingin

itu untuk diolahnya membekukan sepercik air dan disambitkan.

Jurus ini hanyalah sebagian kecil dari jurus yang tersimpan dalam

kitab Pukulan Inti Es dan Salju. Petunjuk yang diperoleh tidak

mengharuskan ia untuk mempelajari Pukulan Inti Es dan Salju secara

menyeluruh karena selain lama, juga tempat ini tidak sesuai untuk

melatih jenis pukulan tersebut. Perlu ia pergi ke daerah yang benarbenar

dingin untuk melatihnya. Ke daerah di mana terdapat roh-roh

air, Undinen misalnya.

Ikan Kolakan sendiri sebenarnya dapat dipandang memiliki sedikit

hawa dingin sehingga bisa secara alami melakukan jurus Sentilan Kelereng

Es. Akan tetapi ia tidak sehebat roh-roh air dalam menyimpan

hawa dingin. Tempat di mana Paras Tampan saat ini berada lebih

191

dikategorikan sebagai tempat Roh-roh Tanah. Contoh dari mereka

adalah para Troll dan Manusia Tiga Kaki. Yang terakhir ini pernah

diceritakan gurunya.

Dengan menggabungkan kedua unsur, Tenaga Air dan Tanah dapat

diciptakan hawa dingin. Tenaga Tanah secara tak sengaja dilatih

Paras Tampan dengan memperkuat pijakan-pijakan, cengkeraman dan

panjatan-panjatan. Dengan cara ini ia bisa meminjam tenaga bumi

untuk memindahkan berat tubuhnya ke arah yang ia inginkan. Akan

tetapi itu belum Tenaga Tanah yang sebenarnya. Untuk memperoleh

Tenaga Tanah perlu bantuan Roh-roh Tanah. Menurut petunjuk yang

dibacanya. Apabila ia berlatih serius, akan tahulah mereka, para Troll,

kapan ia siap untuk dilatih. Pada saat itulah makhluk-makhluk itu

akan menampakkan dirinya. Memberinya petunjuk lebih jauh.

Hari ini, sesuai dengan tahapan yang telah ia pelajari dari petunjuk

mengenai Kitab-kitab Awal, ia akan bertemu dengan para Troll

untuk diuji apakah ia telah cukup mahir dalam memiliki gerakangerakan

dasar untuk melatih Tenaga Tanah. Bila iya, para Troll akan

mengajarinya. Akan tetapi bila ternyata ia belum siap, sesuai dengan

petunjuk dari kitab tersebut, ia harus kembali melatih gerakangerakan

tersebut. Termasuk di dalamnya keluar masuk lubang-lubang

dalam Ruang Dinding Berlubang dan juga Sentilan Kelereng Es. Secara

pribadi tak mau Paras Tampan menunggu lebih lama, ingin ia

cepat memasuki tahap berikutnya. Waktu yang diberikan gurunya

tidak tersisa banyak lagi.

Siang sudah belalu setengahnya. Belum ada tanda-tanda kedatangan

para Troll. Sang Ikan Kolakan pun tidak tampak batang hidungnya.

Semua seakan-akan ingin membuatnya bertanya-tanya atau penasaran

dalam hatinya.

Sengaja hari itu Paras Tampan tidak berlatih berat. Dikosongkan

pikirannya dan ditenangkan hatinya dengan Mengheningkan Cipta. Ia

ingin dirinya siap untuk menerima petunjuk akan tahapan berikutnya.

Juga apabila dirinya dinyatakan belum siap. Toh, satu hari latihan

tidak akan mengubah hasil dari latihannya selama setahun ini.

Senja pun tiba. Matahari telah condong ke arah mana ia akan beranjak

sembunyi. Tiba-tiba terdengar siulan tinggi rendah. Otaknya

192 BAGIAN 4. PENJAGA KESEIMBANGAN

bereaksi seakan-akan ia mengerti arti dari siulan itu. Paras Tampan

tidak menyadari bahwa ilmu-ilmu yang dipelajarinya secara bawah

sadar menumbuhkan inderanya sehingga siulan semacam itu menjadi

memiliki arti. Orang biasa yang mendengarnya tidak akan dapat

menangkap maksudnya tanpa diberitahu terlebih dahulu.

Ia pun beranjak menyusuri lorong yang menuju ke Sungai Batu Jernih.

Sesampainya di sana bergetar pula hatinya. Di seberang sungai sana

tampak berjejer beberapa makhluk Troll. Berjajar menatap dirinya.

Gagah walaupun terlihat tidak terlalu besar.

Tak tahu apa yang dilakukan, Paras Tampan pun berdiam diri. Menunggu.

Dari siulan tadi, ia hanya mengerti bahwa ia diminta datang

ke pinggir Sungai Batu Jernih. Tidak tersurat apa yang harus dilakukannya

setelah berada di tempat itu.

”Kecipak..!” lalu terdengar bunyi air diganggu. Tampaklah wujud

sang Ikan Kolakan. Ikan yang dipanggil sebagai Kakak Ikan Berduri

Bersirip Kipas oleh para Troll. Ia juga menjadi bagian dari pemeriksaan

kesiapan Paras Tampan untuk tahapan pembelajaran berikutnya.

Seorang dari mereka, makhluk-makhluk Troll yang berada pada sisi

lain Sungai Batu Jernih, menggapai Paras Tampan agar mengikuti

mereka. Lalu terlihatlah apa yang menurut Paras Tampan benarbenar

mengagumkan.

Berjalan seorang dari mereka ke arah air dalam Sungai Batu Jernih.

Tampak ia berkonsentrasi sebentar dan kemudian datanglah sang Ikan

Kolakan. Keduanya tampak melihat pada arah yang sama. Dan kemudian

muncullah seperti bongkah-bongkahan es. Perlahan tapi pasti.

Menyebar lambat. Membesar. Tak jauh melebar melainkan memanjang.

Jauh memanjang sampai ke seberang sungai tersebut, mencapai

sisi di mana Paras Tampan berdiri.

Tidak berhenti sampai di sana, bekuan es itu merampat perlahan

menyebar kembali ke hulu Sungai Batu Bening. Memasuki gua

batu di tengahnya. Sekarang terlihat semacam jalur dari es yang

melayang di atas air. Membentuk huruf ’T’ terbalik. Garis mendatar

menghubungkan kedua sisi sungai dan garis tegaknya menuju ke sisi

dalam gua di hulu sungai.

193

Satu per satu dari mereka melangkah di atas Pematang Es itu, perlahan

tapi pasti. Tak terlihat goyangan yang berarti. Padahal apabila

dibayangkan, tidak cocok dengan postur tubuh mereka yang tampak

besar dan berat.

Paras Tampan kemudian mengikut mereka berjalan di atas Pematang

Es itu menuju gua di hulu Sungai Batu Jernih. Awalnya tak mudah

untuk menjejakkan kaki dengan mantap di atas Pematang Es, tapi

pengalaman latihannya di Ruang Dinding Berlubang membuat kakikakinya

berpijak kuat dan juga lemas. Cepat berubah kedudukan

apabila tempat pijakannya berubah posisinya. Dengan cara ini Paras

Tampan akhirnya dapat mengikuti langkah makhluk-makhluk Troll

itu memasuki gua di ujung kanan sana. Kanand dari arah ia tadi

datang.

Troll yang didepan masih saja membuat Pematang Es yang baru,

bersama-sama dengan sang Ikan Kolakan, Kakak Ikan Berduri Bersirip

Kipas. Paras Tampan tidak berada paling belakang. Masih ada dua

makhluk Troll sesudahnya. Ia tidak tahu apa yang mereka lakukan.

Mungkin merusakkan Pematang Es yang mereka lewati, agar tidak

ada yang mengikut mereka masuk ke dalam gua itu.

Sekarang keadaan telah berubah menjadi gelap. Selain malam telah

menjelang, juga karena mereka telah berada di dalam gua di hulu Sungai

Batu Jernih. Pintu masuk gua yang berada di tengah sungai yang

cukup dalam tersebut tidak menggambarkan bahwa di dalamnya terdapat

sungai bawah tanah yang cukup lebar dengan ruangan di atasnya

mencapai tiga sampai empat tombak lebih tingginya. Benar-benar

ruangan yang memukau. Dihiasi dengan Rumput Berkilau Dalam

Gelap pada dinding-dindingnya. Terlihat sengaja di tanam dan dengan

lantainya yang merupakan air belaka. Bagi orang yang tidak bisa

berjalan di atas Pematang Es atau tidak memiliki perahu, tidak akan

bisa masuk ke dalam tempat ini.

Mereka masih berjalan beberapa saat sampai ada semacam pantai

atau dataran di ujung sana, di mana Sungai Batu Jernih berasal

dari belokan sebelah kiri dan kanan dataran tersebut. Kecil dan di

ujungnya tercurah dari lubang-lubang di atasnya.

Dataran itu cukup luas. Paras Tampan dan para makhluk Troll telah

194 BAGIAN 4. PENJAGA KESEIMBANGAN

berada di tengah-tengah dataran itu dan masih juga terasa lengang.

Ikan Kolakan, Kakak Ikan Berduri Bersirip Kipas, tampak berenangrenang

di kejauhan. Tidak ikut ia naik ke dataran itu. Bukan tempat

bagi makhluk air.

Paras Tampan melihat berkeliling di dinding di depannya tampak

lubang-lubang seperti lubang-lubang pada Ruang Dinding Berlubang.

Banyak celah-celah mengisi sampai ke langit-langitnya. Di atas langitlangit

tampak beberapa lubang besar dan kecil. Yang besar kiranya

cukup bagi dirinya dan makhluk Troll untuk masuk ke dalamnnya.

Salah seorang Troll tua yang memperkenalkan dirinya sebagai Bagadsh,

yang terlihat sebagai pemimpin di sana, menerangkan ujian yang akan

diterima oleh Paras Tampan. Dijelaskan bahwa ujian pertama tadi,

yaitu berjalan di atas Pematang Es telah dilampaui. Mereka senang

bahwa Paras Tampan bisa berjalan sampai ke tahap ini. Dan mereka

berharap pula bahwa ia bisa menyelesaikan tahapan berikutnya.

Dijelaskan bahwa tujuan akhir dari ujian ini adalah memasuki ruangan

dia atas sana. Ada beberapa lubang yang cukup besar di atas

langit-langit ruangan itu. Paras Tampan harus bisa melampauinya

dan masuk ke dalamnya. Ujian ini lebih berat dari latihan yang pernah

dilakukannya di Ruang Dinding Berlubang. Umumnya ia melakukan

latihan dalam lubang-lubang mendatar atau miring, tapi belum pernah

yang tegak seperti ini.

Lalu ditambahkan bahwa proses untuk mecapai ruangan yang ada di

atas itu, dapat dilakukan dalam waktu dua setengah hari. Jadi pemuda

itu diberikan kesempatan sebanyak-banyaknya dalam dua setengah

hari untuk masuk ke dalam ruangan itu.

Mulanya Paras Tampan agak bingung juga, apabila hanya masuk ke

dalam ruangan di atas itu, mengapa diperlukan waktu sampai dua

setengah hari. Tapi pertanyaan dalam hatinya itu terjawab selang tak

berapa lama.

Setelah tak ada tanggapan dari Paras Tampan, para Troll itu menganggap

ujian telah boleh dimulai. Mereka membagi dirinya menjadi

tiga kelompok. Dua kelompok bergerak ke sisi kiri dan kanan dataran

dan duduk Mengheningkan Cipta. Tidak ambil pusing lagi pada Paras

Tampan dan rekan-rekannya.

195

Satu kelompok yang tersisa bergegas bergerak memanjat dindingdinding

yang berisikan lubang-lubang itu. Hampir tanpa bantuan

tangan mereka berjalan di dinding itu sampai ke langit-langit yan

berlubang-lubang itu. Dengan hanya mencengkeram sisi-sisi lubang

atau tonjolan-tonjolan yang ada, para makhluk Troll itu dapat seakanakan

”melekat” dan ”berjalan” di dinding dan langit-langit. Berdecak

kagum Paras Tampan menyaksikan demonstrasi itu.

Ada empat orang yang bergantung pada kakinya. Mereka membawa

sebatang tongkat setinggi dirinya. Sepanjang satu tombak kira-kira.

Keempatnya berhenti pada sebuah lubang di tengah-tengah langitlangit.

Berputar dan menjaganya dari empat arah secara terbalik.

Bagadsh yang tidak termasuk salah seorang dari mereka, mencoba

kekuatan barisan itu. Ia melompat dari tanah, jauh tinggi mendekati

langit-langit sambil mengayunkan tongkat yang dibawanya.

”Tak-tak-tak” seorang dari mereka memapaki serangannya dan seorang

lagi menyerang jalan darah-jalan darah penting di tubuhnya.

Terpaksa Bagadsh menghindar dengan bersalto beberapa kali dan

melompat turun. Sekali lagi dicobanya dengan merambat pada dinding,

menjejak terbalik pada langit-langit. Kembali keempat penjaga

itu mempertahankan lubang itu dengan rapat. Setelah yakin akan

kekuata nbarisan tersebut, kemudian sang pempimpin Troll itu pun

membuang tongkatnya dan ia menyusup dengan lincah di antara pertahanan

keempat penjaga tersebut. Ia menghilang di lubang di atas

langit-langit sana. Menunggu Paras Tampan melewati lubang yang

sama.

Berdesir Paras Tampan menyaksikan rapatnya penjagaan keempat

penjaga lubang di langit-langit itu. Mereka dapat dengan enaknya

bergantungan, berjalan di tembok dan langit-langit yang berlubang

dan juga mempertahankan diri, seakan-akan berjalan di atas tanah

datar saja. Bagaimana caranya ia bisa ke sana. Memanjat secara terbalik

saja sudah rumit. Belum lagi ditambah dengan penjagaan yang

dilakukan oleh keempat makhluk tersebut.

Akan tetapi bukan Paras Tampan, bila pemuda itu langsung menyerah

menghadapi keadaan yang tidak masuk akal tersebut. Berbagai

gagasan masuk ke dalam kepalanya, tentang bagaimana caranya bisa

196 BAGIAN 4. PENJAGA KESEIMBANGAN

menyiasati keempat makhluk itu untuk masuk ke lubang yang dijaga

mereka.

Pertama-tama dicobanya untuk memanjat dinding di hadapannya,

untuk menjajal apakah ia juga bisa menggantung dengan mudah di

langit-langit yang berlubang tersebut. Pada bagian dinding yang

tegak, tidak ada masalah. Ia dapat dengan cepat menggunakan tangan

dan kakinya yang mencengkeram kuat untuk mencapai awal dari

langit-langit batu tersebut. Sekarang saat dimulai masalahnya. Ia

mencoba untuk bergantung terbalik pada langit-langit. Pusing dirasakannya.

Tak lama ia bisa bertahan. Kedudukan yang berbalik itu

membuat banyak darah mengalir ke kepala. Akibatnya Paras Tampan

tampak bergoyang-goyang cepat. Hampir lepas pegangannya.

Tiba-tiba, ”tukk..!” sebutir es tampak menyentuh pembuluh darah di

lehernya. Sekejap pandangan matanya menjadi lebih terang. Darah

tidak mengalir deras seperti tadi. Rupanya saat bergantung terbalik

itu, ia hanya boleh mengerahkan tenaga untuk memperkuat cengkeraman

dan pijakan. Akan tetapi jangan sampai mengirim tenaga ke

arah kepala. Totokan tadi membuat tenaga yang diarahkan ke kepala

berbalik tersimpan.

Paras Tampan melirik ke dalam air di kejauhan. Ikan Kolakan itu tampak

berenang menyelam menjauh. Tak tega sang ikan melihat pemuda

itu terjatuh. Dikirimnya totokan menggunakan Sentilan Kelereng Es

untuk mengambat peredaran tenaga pemuda itu yang membuncah ke

kepala.

Sekarang Paras Tampan mulai bisa membiasan diri dalam posisi

bergantung itu dan kemudian mengerahkan tenaga ke tangan dan

kakinya, tapi membatasi aliran yang menuju kepala. Sesaat sulit juga,

apalagi dalam posisi yang sama sekali baru baginya itu.

Waktu pun berjalan pelan. Paras Tampan mulai bisa menikmati posisi

bergantung seperti itu. Tapi tenaganya sudah hampir habis. Bila

dilanjutkan ia tidak ada tenaga untuk turun kembali. Ia kemudian

memutuskan untuk turun terlebih dahulu dan mengumpulkan kembali

tenaganya. Akan dicobanya lagi naik ke langit-langit untuk mendekat

lubang yang menjadi tujuannya.

Setelah tiga kali dicobanya, sudah mulai terbiasa Paras Tampan untuk

197

bergerak bolak-balik di langit-langit yang penuh lubang dan tonjolan

itu. Walaupun belum selincah Troll, tapi ia sudah bisa berputar-putar

ke sana kemari menyelidiki lubang-lubang yang ada. Lubang-lubang

selain yang dijaga oleh para Troll berukuran terlalu kecil untuk dirinya.

Tak ada jalan lain, memang ia harus menggunakan lubang yang dijaga

tersebut.

Selain itu telah dicobanya pula untuk melompat dalam keadaan terbalik

itu ke bawah. Dilepaskannya pegangan dan pijakan, berayun

memutar beberapa kali dan mendarat dengan kaki sedikit bergetar.

Setelah beberapa kali mencoba, dapat ia melompat dengan sempurna

ke bawah. Dengan cara ini ia tidak takut lagi bila pegangannya terlepas

atau jatuh.

Walaupun Paras Tampan telah terbiasa untuk bergerak di langitlangit,

akan tetapi ia masih menggunakan kedua tangan dan kakinya.

Belum bisa menggunakan kaki saja seperti para penjaga lubang itu.

Dengan kondisi seperti ini ia tidak bisa menyerang mereka. Pernah

dicobanya sekali mendekati lubang tersebut, dengan santai mereka

menukil sedikit tubuhnya. Pada suatu jalan darah tertentu. Akibatnya

pusing kembali diperolehnya. Untuk mencegahnya cepat ia

melepaskan pegangannya bersalto beberapa kali dan mendarat dengan

selamat di lantai di bawahnya.

Ia harus menemukan cara untuk berjalan seperti para Troll sehingga

kedua tangannya dapat bebas untuk menyerang. Bisa juga cara lain

sehingga ia bisa menangkis serangan-serangan mereka.

Tak terasa telah lewat tengah malam. Paras Tampan pun telah lelah.

Seorang dari para Troll menghampirinya dan memberinya sesuatu untuk

dimakan. Semacam buah yang mirip dengan buah yang dulu

diberikan oleh sang Ikan Kolakan. Hanya saja yang ini berwarna

keperakkan dan tidak biru. Mereka juga memakan satu setiap orang.

Tidak lebih.

Dirasakan asupan tenaga yang nikmat. Menghilangkan sedikit rasa

lelah dan juga rasa kantuknya. Para Troll tampak berganti kelompok.

Empat orang tampak memanjat cepat ke arah keempat temannya yang

sedang menjaga. Penjaga yang lama dengan sigap meloncat turun,

bersalto beberapa kali di udara dan mendarat dengan ringan di atas

198 BAGIAN 4. PENJAGA KESEIMBANGAN

dataran batu itu.

Kelompok yang baru beristirahat itu tampak juga memakan buah

keperakan tadi, untuk kemudian Mengheningkan Cipta.

”Hmmm, berabe nih!” gumam Paras Tampan, ”jika mereka semua

berganti-ganti menjaga lubang itu, bagaimana aku dapat mencapainya.”

Berpikir keras ia bagaimana cara untuk mencapai lubang

tujuan itu. Tapi sempat terlintas bahwa ia akan menunggu agar para

penjaga itu lelah untuk kemudian menyerangnya. Tak dinyana bahwa

mereka melakukan penjagaan berganti-ganti. Oleh karena itu perlu

dicari siasat lain agar dapat memasuki lubang itu. Paras Tampan pun

akhinya merasa lelah. Diputuskannya untuk Mengheningkan Cipta sementara.

Memulihkan tenaga dan juga sembari memikirkan cara-cara

untuk mengatasi penjagaan yang berganti-ganti itu.

***

Tiga orang tampak berhadapan di tengah tanah lapang yang luas di

kaki sebuah gunung. Seorang dari mereka tampak senyam-senyum

memandang kedua orang lawannya. Ia orang yang masih setengah

baya dengan wajah yang selalu menebarkan keceriaan. Rambutnya

yang panjang hitam sebahu dihiasi uban-uban putih akan tetapi hanya

di sebelah kanan. Hal ini membuat sebelah kanan kepalanya berwarna

terang dan sisi sebaliknya berwarna gelap. Perawakannya kekar dan

dengan tubuh yang tinggi jangkung, jauh di atas tinggi rata-rata orang

kebanyakan. Gerakannya ringan. Terlihat dari tidak banyak rusaknya

rumput-rumput di sekitar tempatnya berdiri.

Kedua lawannya juga bukan orang biasa-biasa dan juga tidak terlihat

jahat. Melainkan cenderung sebagai petapa yang sederhana hidupnya.

Seorang dari mereka rambutnya telah memutih semua. Tubuhnya kurus

akan tetapi kekar. Rambutnya yang juga panjang digelung ke atas

dan dikonde di atas kepalanya. Bajunya dari bahan yang kasar akan

tetapi bersih. Sama seperti lawannya yang tampak jauh lebih muda

darinya, sosok ini pun senang tersenyum.

Sedangkan temannya berambut pendek. Dengan wajah yang juga sudah

lanjut, akan tetapi sosok ini terlihat lebih gemuk dari kawannya.

Mungkin disebabkan dari potongan rambutnya yang pendek. Wajah

199

sosok ini tidak seperti kawannya. Ia lebih serius terlihat.

”Rawarang..,” ucap orang yang rambutnya digelung ke atas, ”atau

yang dikenal orang-orang sebagai Maling Kitab, apa maksudmu mengundang

kami kemari?”

”Dari julukanku, sudah tentu ki sanak berdua dapat menduga,

bukan?” jawab orang yang dipanggil Rawarang itu.

”Hmmm..., memberimu kitab ilmu-ilmu kami, atau jika tidak ada,

kami harus menuliskannya dahulu. Benar-benar suatu sifat yang jumawa.”

kata orang yang berambut pendek itu.

”Maafkan saya, bila permintaan ini terdengar kurang ajar,” jawab

Rawarang, ”Petapa Lain Pulau dan Petapa Gunung Es..” sambil ia

membungkuk sedikit, menghormat kepada orang yang berkonde dan

berambut pendek itu.

”Jika memang maksudmu demikian, mengapa perlu meninggalkan pesan,

seakan-akan adik kami Seberang yang meminta kami datang ke

sini,” tanya orang berkonde yang dipanggil Petapa Lain Pulau itu.

Sebelum menjawabnya, Rawarang tersenyum kecil sambil memandang

langit di atasnya. Lalu jawabnya, ”siapa yang tidak tahu persaudaraan

ketiga petapa sakti yang diikrarkan di Pulau Gunung Api. Orangorang

yang telah mencapai kesempurnaan dalam beladiri dan tidak

lagi menginginkan pertentangan.”

Kemudian ia menundukkan kepalanya sehingga kembali memandang

ke arah kedua lawannya itu, ”jika aku tidak menggunakan nama adik

ki sanak berdua, Petapa Seberang, mana mungkin ki sanak berdua

akan datang. Betul begitu?”

Petapa Lain Pulau tersenyum mendengar hal itu. Bila dipikir-pikir

Rawarang ini memang benar. Mereka bertiga yang sudah tidak lagi

mau ikut campur urusan duniawi, tidaklah begitu tertarik apabila

diundang atau ditantang untuk berkelahi. Tapi lain halnya jika undangan

itu berkaitan dengan salah seorang dari mereka. Sudah tentu

yang lain akan datang untuk mencari tahu apa yang terjadi.

”Apa tidak ada jalan lain?” tanya Petapa Lain Pulau. ”Haruskan kita

berseteru untuk memuaskan keinginanmu itu?”

200 BAGIAN 4. PENJAGA KESEIMBANGAN

”Jika ki sanak berdua mau memberikan kitab ki sanak kepadaku,

pastilah tak perlu kita bersilang pendapat,” jawab Rawarang masih

jenaka.

”Jika kami tidak memberikannya?” tanya Petapa Lain Pulau kembali.

Ia mencoba-coba untuk memeriksa perangai sebenarnya dari

Rawarang ini.

”Ya.., itu jadi susah,” jawab Rawarang sambil menghilangkan senyumnya.

”Jika tidak memberikan, sebaiknya ki sanak berdua menyerang

saya, sehingga ada alasan untuk membalas.”

Petapa Gunung Es yang jarang tersenyum, tak bisa ia menahan sunggingan

di ujung bibirnya. Ia melihat bahwa Rawarang ini walaupun

aneh, tapi tidaklah jahat. Lalu katanya, ”kalau begitu jelaskan dulu,

mau apa engkau dengan kitab-kitab kami. Dan kudengar juga engkau

telah mencuri banyak kitab-kitab dari berbagai orang dan tempat.”

Rawarang yang dikenal sebagai Maling Kitab itu tersenyum. Ia pun

kemudian menceritakan mengapa ia getol mencuri kitab-kitab ilmu

silat dan juga ujar-ujar kuno.

Ia pernah bertandang ke suatu tempat di seberang lautan. Di sana terdapat

suatu kerajaan yang amat besar dan megah. Walapun besar dan

megah, akan tetapi kerajaan itu tumbuh dan berkembang atas dukungan

dari rakyat-rakyatnya. Hal ini terlihat dari selalu sumringah wajah

orang-orang yang ditemui Rawarang di sana. Baik orang-orang

yang terlihat berduit, maupun para rakyat kecil seperti petani dan

pengrajin.

Makmurnya kerajaan tersebut tidak terlepas dari kebijaksanaan raja

yang memerintah dan juga penasehat kerajaan yang pandai. Raja dari

negara tersebut memiliki satu kelompok penasehat yang terdiri dari

empat orang. Dinamai dengan arah-arah utama mata angin. Keempat

penasehat ini tidak memiliki sanak keluarga sehingga konsentrasi

mereka benar-benar tercurahkan untuk menghasilkan nasehat-nasehat

dan keputusan-keputusan yang baik bagi masyarakat dan kerajaan

tersebut.

Kepandaian para penasehat itu sebenarnya akibat dari kebiasaan

masyarakat daerah tersebut yang dulunya berawal dari desa dan kota

201

kecil, akan tetapi tumbuh dan berkembang menjadi suatu kerajaan.

Kebiasaan yang dimaksud adalah membaca dan menulis.

Kebiasaan membaca, terutama buku-buku yang bermutu sudah tidak

bisa dipungkiri lagi akan membawa pembacanya pada proses pembelajaran

sehingga dapat menjadi lebih baik dalam menyikapi hidup

ini. Tidak lagi perlu bertemu dengan pengalaman-pengalaman yang

merugikan, yang telah diwanti-wanti para penulis dalam kisah-kisahnya.

Akan tetapi kebiasaan menulis pun penting. Jika tidak ada kebiasaan

menulis, tidak akan ada buku yang bisa dibaca. Umumnya buku-buku

yang ada adalah hasil dari orang-orang tertentu yang bisa atau mau

menuliskan ide-ide atau pengalaman mereka. Dan ini sudah tentu

terbatas. Akan tetapi dengan banyaknya orang-orang ’biasa’ yang

juga menulis, akan menciptakan sumber-sumber literatur yang tak ada

habis-habisnya. Itulah yang terjadi di kerajaan tersebut.

Di negara itu, jauh sebelum negara berbentuk kerajaan itu terbentuk,

nenek moyang mereka mempunyai kebiasaan untuk menuliskan apaapa

yang mereka alami. Mirip dengan buku harian dewasa ini. Dengan

demikian anak-cucu mereka tidak lagi perlu mengulang kesalahankesalahan

mereka. Pun hal-hal yang berguna, seperti waktu bercocok

tanam, cara membuat perahu dan lainnya dapat dipelajari dengan

mudah. Tidak lagi perlu mencoba-coba sendiri untuk mencari cara

atau waktu yang tepat untuk bercocok tanam, atau mencari bahan

yang tepat untuk membuat perahu.

Dengan menggunakan catatan-catatan leluhurnya, para penduduk

negara itu dapat langsung memodifikasi apa-apa yang telah dicoba

nenek-moyangnya. Hasil yang baik atau pun buruk dari modifikas itu

kembali dicatat. Catatan-catatan yang telah ribuan tahun usianya itu

pun tumbuh menjadi semacam basis ilmu pengetahuan bagi kerajaan

mereka.

Kerajaan dalam hal ini pun mengakomodasi tumbuhnya kebiasaan

mencatat ini. Buku-buku kosong dan alat tulis disediakan gratis oleh

mereka. Begitu pula dengan sekolah-sekolah. Selain itu terdapat pula

suatu fasilitas yang dikenal sebagai Perpustakaan Kerajaan. Namanya

saja Perpustakaan Kerajaan yang menandakan bahwa perpustakaan

itu dikelola oleh kerajaan, tapi pada pelaksanaannya semua orang da202

BAGIAN 4. PENJAGA KESEIMBANGAN

pat berperan di sana. Dari membantu melengkapinya, sampai memanfaatkannya.

Di dalam Perpustakaan Kerajaan terdapat pula tempat penitipan

buku, dalam artian keluarga atau orang-orang yang tidak punya

tempat cukup untuk menyimpan buku-bukunya, dapat menitipkan

buku-buku mereka di sana. Dengan imbalan buku-buku mereka boleh

dibaca orang lain di tempat. Tidak dibawa pulang. Hanya buku-buku

umum yang benar-benar milik Perpustakaan Kerajaan yang dapat

dipinjam untuk dibawa pulang.

Bagi orang-orang yang sudah wafat dan ahli warisnya tidak berkemampuan

untuk mengurus buku-bukunya, dapat dilakukan penghibahan,

sehingga koleksi orang-orang yang wafat tersebut menjadi milik

Perpustakaan Kerajaan. Dengan cara ini koleksi-koleksi tersebut dapat

dipinjam untuk dibawa pulang.

Melalui cara ini, Perpustakaan Kerajaan adalah salah satu gedung

atau tempat yang paling banyak dikunjungi oleh orang-orang di kerajaan

itu, selain pasar-pasar dan tempat-tempat ibadat tentunya. Di

sana orang dapat menambah ilmunya dan juga menelurkan karyakarya

yang langsung dapat dinikmati orang.

Ada pula bagian arsip orang-orang di Perpustakaan Negara. Di

bagian ini orang-orang dapat meletakkan buku-buku yang berisikan

perjalanan hidup mereka. Buku harian. Diurutkan berdasarkan tahun

kelahiran dan abjad. Dalam tiap buku harian biasanya dicantumkan

juga hubungan sanak keluarga yang ada. Dengan cara ini, seorang

anak dapat melacak nenek moyangnya, dan apa-apa yang mereka

lakukan. Langsung dari tulisan mereka sendiri dan bukan dari cerita

orang-orang. Bila terdapat jasa besar atau hukuman dari negara,

umumnya dituliskan dalam lembar tambahan dengan segel kerajaan.

Dengan cara itu sejarah dapat diverifikasi dari para pelakunya sendiri.

Walaupun belum tentu apa-apa yang ditulis selalu obyektif.

Rawarang yang saat itu sedang merantau ke sana, amat takjub pada

kemegahan itu. Minatnya pada ilmu telah tumbuh sejak kecil. Ayahnya

yang seorang pedagang perantau, sering membawakannya oleholeh

buku-buku dari negeri-negeri asing jauh di sana. Dengan perantaraan

buku-buku itulah, khayalan Rawarang kecil tumbuh dan

203

membekas sampai ia dewasa, saat ia kemudian mewujudkan sendiri

impian-impiannya untuk melihat luasnya dunia.

Banyak waktu dihabiskannya saat berada di kerajaan tersebut dengan

membaca buku-buku di Perpustakaan Kerajaan. Buku-buku yang

menarik perhatiannya antar lain adalah buku-buku sejarah, ilmu kanuragan,

ilmu alam dan bahasa. Buku-buku lain tidak menjadi pilihan

utamanya. Di sana pulalah ia bertemu dengan gurunya. Seorang penjaga

tua yang mewariskan ilmu silat dan mencuri padanya. Penjaga itu

dulunya adalah seorang yang gandrung terhadap ilmu-ilmu kanuragan

sehingga berguru ke sana kemari. Ia juga punya kegemaran membaca

buku-buku dan juga senang mencuri.

Ia dipekerjakan di sana karena selain memiliki kemampuan dalam ilmu

pengetahuan, dan juga karena riwayat masa mudanya sebagai pencuri

yang andal. Ia benar-benar mahir mencuri di berbagai tempat, termasuk

di dalam istana kerajaan. Dengan berbekal kemahiran siasat

dan berpikir keras keempat Penasehat Kerajaan menciptakan jebakan

untuk menangkap sang pencuri tersebut. Setelah itu ia diadu kecerdikan

dengan mereka dan kalah. Sampai akhirnya ia bersedia menjadi

salah seorang penjaga dari Perpustakaan Kerajaan. Kesalahankesalahannya

diampuni asal ia mau bekerja dan mengabdi demi kepentingan

masyarakat.

Bakat sang mantan pencuri itu, digunakan oleh Perpustakaan Kerajaan

untuk mencuri balik buku-buku yang dipinjam melewati tenggat

waktu. Umumnya dilakukan oleh orang-orang yang malas mengembalikan

buku. Buku-buku yang terlambat itu, ’dicuri’ kembali oleh

sang penjaga dan digantikan dengan tulisan untuk membayar denda.

Umumnya orang-orang yang memperoleh kertas denda itu tak berani

macam-macam. Keesokan harinya mereka datang ke Perpustakaan

Kerajaan, meminta maaf atas keteledoran mereka sambil membayar

denda yang dijatuhkan.

Dari penjaga perpustakaan ini, yang tidak mau memberitahukan namanya,

Rawarang menimba ilmu sehingga seakan-akan ia menjadi

sang penjaga di masa mudanya. Mahir ilmu silat dan juga ilmu mencuri.

Ia dipesankan oleh sang penjaga untuk baik-baik mengamalkan

ilmunya. Jangan seperti gurunya. Semahir-mahirnya tupai melompat,

suatu saat jatuh juga. Untung saja kerajaan masih berbaik hati mau

204 BAGIAN 4. PENJAGA KESEIMBANGAN

mempekerjakan guru Rawarang dan tidak menghukumnya. Sehingga

di hari tuanya ia masih dapat hidup dengan tenteram dan damai.

Mendengar cerita itu kedua orang tua yang menjadi lawan Rawarang,

Petapa Lain Pulau dan Petapa Gunung Es hampir bersamaan menghela

nafas. Lalu kata seorang dari mereka, ”jadi maksudmu, Rawarang, engkau

ingin membangun suatu tempat yang bisa seperti Perpustakaan

Kerajaan yang pernah engkau kunjungi itu, begitu?”

Agak malu Rawarang mengangguk mengiyakan.

”Tapi dengan mencuri kitab-kitab?” tanya Petapa Gunung Es tidak

sabar. Umumnya Petapa Gunung Es tidak banyak berbicara. Biasanya

ia membiarkan kedua adiknya yang mengajukan pertanyaan.

Hanya kali ini tidak bisa ditahan penasarannya. Memang menurutnya,

apabila tujuan dari Rawarang ini benar, membangun sesuatu pusat

ilmu pengetahuan bagi tanah ini adalah baik. Tetapi tidak begitu

caranya.

Sebaik manapun suatu tujuan, akan tetapi apabila dicapai dengan cara

yang buruk, pastilah akan menodai kebaikan dari tujuan itu sendiri.

Sekarang mencoba untuk membangun suatu perpustakaan di tanah

ini, agar pengetahuan orang-orang di tanah ini dapat berkembang

dengan baik akan tetapi fasilitas itu dilengkapi dengan cara mencuri

kitab-kitab yang dimiliki oleh orang-orang. Para pesilat atau sastrawan.

”Saya tidak punya jalan lain,” jawab Rawarang, ”jika diminta begitu

saja, pasti orang-orang tersebut tidak memberikannya. Biasanya saya

menantang mereka dengan taruhan kitab-kitab mereka. Umumnya

saya menang.”

”Dan sekarang..” tanya Petapa Lain Pulau.

”Sekarang, jika ki sanak berdua tidak menyerang saya, atau tidak

mau menanggapi saya, jadi susah. Saya jadi tidak punya alasan untuk

bertarung dan menggunakan kitab-kitab ki sanak sebagai taruhan.”

Saat berkata begitu terlihat bahwa Rawarang masih berpikir keras,

mengerahkan kecerdikannya untuk mengakali agar kedua petapa yang

ada di depannya itu mau menyerahkan kitab-kitabnya, atau setidaknya

melawan dirinya.

205

Tiba-tiba ia teringat siasat yang digunakannya saat dulu menghadapi

Petapa Seberang, adik angkat dari Petapa Lain Pulau dan Petapa Gunung

Es. Segera ia mengumpulkan tenaganya dan berkonsentrasi. Aliran

hawa tampak berputar-putar di sepanjang aliran darahnya. Perlawan

merambat ke seluruh urat-urat kecil di sepanjang tubuhnya.

Tubuhnya tampak memucat dan memerah silih berganti, tergantung

pada suatu saat ke mana aliran hawa hangat dan dingin mengalir.

”Hey.., apa maksudmu..?” tiba-tiba Petapa Lain Pulau mengamatamati

Rawarang, tiba-tiba ia bergerak cepat.

Bersamaan dengan itu bergerak pula Petapa Gunung Es. Keduanya

memukul hampir bersamaan dada dan perut Rawarang.

”Buk-buk-buk...!” terdengar bunyi pukulan keras. Akibatnya Rawarang

terhuyung dua tiga tindak dengan mata terpejam.

Tak lama kemudian ia pun batuk mengeluarkan darah, karena luka

dalam yang dideritanya. Langsung ia duduk bersila untuk mengatur

nafas dan membereskan jalan darahnya yang kacau-balau.

”Orang ini benar-benar berhati keras dan aneh,” gerutu Petapa Gunung

Es.

Dalam usahanya untuk mendapatkan ilmui-ilmu kedua petapa tersebut

Rawarang telah membalik jalan darahnya sendiri sehingga ia terluka.

Jika saja kedua petapa itu tidak menyadari maksudnya, dan

memukulnya di dada dan perut untuk membuyarkan tenaga penghancurnya,

sudah bisa dipastikan bahwa Rawarang akan terluka lebih

parah dan mungkin mati.

Sekarang dalam keadaan yang terluka itu, mau tak mau, didasari rasa

kemanusiaan, kedua petapa itu mengobati Rawarang. Secara tak langsung

mereka harus mengoperkan sedikit tenaga dalam mereka. Dari

jenis tenaga dalam yang diberikan itu, sedikit banyak Rawarang dapat

mempelajari ilmu-ilmu mereka. Pengetahuan ini diperolehnya dari

penjaga tua Perpustakaan Kerajaan, Merasai Hawa Pelajari Ilmu.

Setelah diobati oleh Petapa Lain Pulau dan Petapa Gunung Es,

keadaan Rawarang berangsur-angsur membaik. Ia dapat kembali

membuka matanya. Walaupun wajahnya masih pucat, berusaha ia

206 BAGIAN 4. PENJAGA KESEIMBANGAN

menyunggingkan sedikit senyum di ujung mulutnya. Ia telah berhasil

merasai sedikit aliran hawa kedua petapa itu. Kira-kira sudah diperolehnya

satu dari sepuluh bagian ilmu-ilmu mereka dalam pengolahan

hawa.

Selagi kedua petapa itu memperhatikan Rawarang yang masih berusaha

untuk bangun, tiba-tiba terdengar suara lirih di udara. Mengambang

tapi jelas.

”Kakak Gunung Es.., kakak Lain Pulau..., kena juga kalian diakali

bocah nakal ini..!”

Tak berapa lama yang empunya suara pun tiba di hadapan mereka.

Sama-sama berambut panjang seperti Petapa Lain Pulau, akan tetapi

orang itu tidak mengikat rambutnya yang putih dan panjang. Dibiarkannya

tergerai saja. Bajunya juga sederhana dan kasar. Wajahnya

tampak lebih muda, paling muda dari ketiga petapa tersebut. Itulah

adik angkat kedua petapa yang telah datang lebih dulu ke tempat itu.

Petapa Seberang.

Gembira ketiganya saling merangkul dan berpelukan. Tak perlu katakata

diucapkan. Pandangan dan sentuhan di pundak sudah mewakili

rasa persaudaraan yang telah tumbuh sejak di Pulau Gunung Api.

Tak jauh dari sana tampak Rawarang memandangi ketiga orang itu.

Ada suatu rasa yang hilang dirasakannya. Tidak seperti ketiga orang

itu yang saling memiliki satu sama lain, ia tidak memiliki siapa-siapa.

Tiba-tiba terselit rasa kesepian dalam hatinya.

Ketiga orang itu saling berbincang dengan ramai, seakan-akan Rawarang

tidak lagi ada di dekat mereka. Petapa Gunung Es yang biasanya lebih

senang mendengarkan pembicaraan, juga bertanya-tanya banyak hal

pada adikn angkatnya, Petapa Seberang.

Menghadapai hujan pertanyaan dari kedua kakak angkatnya tersebut,

Petapa Seberang hanya bisa tersenyum. Walaupun mereka sudah

sama-sama tua dan mungkin hanya tinggal menunggu waktu, kapan

mereka harus melepas nyawa dari tubuh yang rapuh ini, masih terlihat

rasa saling menyayangi antar ketiga saudara angkat tersebut.

Petapa Seberang kemudian menjawab satu-persatu pertanyaan-pertanyaan

207

yang diajukan oleh kakak-kakaknya tersebut. Kadang-kadang penjelasan

atau ceritanya disela oleh yang lain, karena ada hal-hal yang

ingin ditanyakan. Ramai sekali suasananya.

Sampai suatu saat teringat kembali mereka akan orang yang ’mengerjai’

mereka bertiga sehingga tiba di tempat ini. Rawarang si Maling

Kitab. Mereka bertiga pun melihat berkeliling. Akan tetapi tak

tampak wujud dari orang yang dicari itu. Kelihatannya saat mereka

bertiga sedang asik bercengkrama beranjak pergi Rawarang. Tak

tahan ia melihat keakraban yang ada di antara ketiga saudara angkat

tersebut.

Petapa Seberang yang telah lebih dahulu datang ke tempat ini, Rimba

Hijau, sudah tahu di mana harus mencari Rawarang. Tanpa bicara,

digerakkan tangannya ke suatu arah sambil mengajak kedua kakak

angkatnya beranjak dari sana. Keduanya pun mengangguk tanda

mengerti.

Ketiganya kemudian melesat cepat bagai terbang. Hanya sesekali

kaki-kaki mereka menotol tanah untuk kembali meloncat jauh bagai

melayang di udara. Benar-benar ilmu meringankan tubuh yang sudah

amat mumpuni. Menggirisi apabila menyaksikannya.

Setelah berbelok ke sana dan kemari dan berlari mendaki, sampaillah

ketiganya di suatu tangga tinggi di lereng gunung itu. Gunung Hijau.

Tangga itu terpahat indah di lereng yang terjal itu. Zig-zag ke kanan

dan ke kiri. Dipahat sedemikian rapi dan halus. Entah siapa dan

bagaimana bisa anak-anak tangga itu dibuat.

Seakan tidak memberi kesempatan bagi kedua orang kakaknya untuk

sebentar mengagumi arsitektur tangga tersebut, Petapa Seberang

bergegas menaikinya. Lima enam anak tangga sekaligus. Kedua

saudara angkatnya pun tak mau kalah, bergegas mereka mendaki

tangga-tangga batu itu. Cepat dan pesat. Menuju atas, melampau

ratusan mungkin sampai seribu anak tangga. Menuju suatu tempat

di atas sana.

Rawarang berjalan dengan sempoyongan. Hampir habis tenaganya.

Luka-luka yang dideritanya menguras benar-benar tenaga dalamnya.

Ada hal yang lebih penting, yang harus dilakukan ketimbang mengobati

lukanya itu. Ia harus mencatat bagaimana kedua orang yang baru

208 BAGIAN 4. PENJAGA KESEIMBANGAN

saja mencegahnya tewas itu mengolah tenaga dalamnya. Dengan ilmu

Merasai Hawa Pelajari Ilmu ia sudah bisa mencerap satu dari sepuluh

bagian ilmu kedua orang petapa itu. Dengan menganalisa arah tenaga

mereka bisa sampai dua bagian lagi diperolehnya. Sudh cukup untuk

dituliskan. Jadi buku yang akan menghiasi koleksi-koleksinya.

Tiba-tiba pandangannya gelap. Hampir ia terjadi dari anak tangga

yang baru dua puluhan itu dilampauinya. Masih ratusan lain yang

menunggu. Sebelum ia mencapai lereng puncak. Tempat ia menyimpan

kitab-kitabnya. Tiba-tiba dirasanya sama sekali tak ada tenaga.

Tubuhnya melemas seperti tak bertulang. Doyong dan bergerak jatuh.

Jika saja tidak ada tangan kekar dan sosok gempal pendek bergerak

ringan memapahnya, jatuh pasti ia menggelundung ke bawah. Dan

mungkin tak sadarkan diri lagi.

Sosok itu, seorang makhluk Troll muda, Bagadsh namanya tampak

menyeringai seram menyanggahnya. Rawarang tersenyum lemah. Ia

bersyukur makhluk yang dianggap adiknya itu ada di sana. Membantu

dirinya sehingga tidak terjatuh.

Seakan-akan sudah mengerti apa kemauan dari Rawarang, Bagadsh

langsung menggendongnya di punggung. Dengan langkah ringan dan

cepat ia melompat-lompat melampau anak-anak tangga itu. Cepat

dan lembut. Seakan-akan tak ada bobotnya. Tak cocok dengan perawakannya

yang gempal dan terlihat berat.

Pada akhir dari anak tangga itu membentang tembok tinggi di atasnya.

Pada sisi kirinya, tampak air terjun yang tinggi dan megah

menjatuh turun. Membuat udara terasa basah dan segar. Sampai

di sana Bagadsh berhenti dan kemudian mengeluarkan sesuatu dari

balik bajunya. Secarik kain panjang. Kain itu akan digunakannya

untuk membelit-belit tubuh Rawarang yang masih bersandar lemah

di punggungnya.

Rupanya Bagadsh menyadari bahwa perjalan mendaki tebing karang

ini lebih sulit dari hanya menaiki anak-anak tangga tadi. Ia mungkin

membutuhkan kedua tangannya. Dan untuk itu tidak ada cukup tangan

untuk mengendong Rawarang. Lebih baik diikat saja, agar ia bisa

cepat memanjat ke atas.

209

Segera hal itu dikerjakannya dengan cepat. Tak perlu agak membungkuk

karena makhluk Troll umumnya telah memiliki tubuh yang

lebih pendek dari manusia, Bagadsh menyenderkan Rawarang yang

masih sadar akan tetapi tidak memiliki tenaga lagi untuk bergerak itu

di punggungnya. Dilemparkannya kain tersebut ke belakang bahunya

dan disambar oleh kakinya yang melengkung ke belakang. Tangan

yang satu masih memegang Rawarang agar tidak tergelincir dari punggungnya.

Bergantian tangan yang melempar kain ke belakang bahu

dan yang memegang Rawarang bekerja. Juga kaki-kakinya. Tak lama

selesailah pekerjaan itu. Rawarang tampak telah terikat dengan erat

tapi nyaman di punggung Bagadsh.

Seperti menarik napas sebentar untuk berkonsentrasi, Bagadsh termangu

sebentar untuk kemudian melompat naik. Memanjat dengan

cepat dinding batu dari tebing terjal di hadapannya itu.

Tak berapa lama sampailah makhluk itu dengan seorang manusia di

punggungnya pada suatu ruang luas yang mirip balkon alam dari

di atas dinding terjal itu, di mana di satu sisinya mengalirkan sungai

bening ke bawah sebagai air terjun. Bagadsh kemudian membawa

Rawarang ke sebuah lorong di sebelah kanannya. Berkelokkelok

sebentar dan sampailah pada suatu ruang luas tempat tersimpan

banyak kitab-kitab yang tersusun pada lubang-lubang dalam dinding.

Usul Bagadsh agar Rawarang beristirahat lebih dahulu sebelum

menuliskan suatu kitab, ditampiknya dengan lemas.

”Tak banyak lagi waktunya, adik Bagadsh, kitab ini harus diselesaikan.

Mungkin dirimu berpikir aku agak gila, yang mau mengantar

nyawa hanya sekedar untuk mencari tahu sesuatu untuk kemudian

dituangkan dalam sebuah kitab..,” ia berhenti sejenak karena hampir

putus napasnya saat berbicara tadi, lalu lanjutnya, ”tapi itulah

diriku.”

Makhluk Troll itu tidak bisa berbuat banyak. Lalu ia pun duduk

bersila di belakang Rawarang, berkonsentrasi sebentar untuk kemudian

menempelkan kedua telapak tangannya di punggung sang kakak.

Mengalirkan hawa Tenaga Tanah, membantu Rawarang untuk menyelesaikan

pekerjaan terakhirnya.

Penulisan kitab itu pun berlangsung. Ilmu Tiga Petapa, judulnya.

210 BAGIAN 4. PENJAGA KESEIMBANGAN

Sunyi kemudian suasana, hanya terdengar goresan-goresan bulu bertinta

yang beradu dengan kertas kasar bahan dasar kitab-kitab pada

masa itu.

Sampai suatu saat Rawarang merasakan waktunya datang. Dihentakkannya

punggungnya dari tangan Bagadsh. Tak ingin ia adiknya

itu membuang terlalu banyak energi hanya untuk dirinya. Lalu bergegas

ia menuju ke salah satu dinding batu di situ. Dinding yang

telah lama dipersiapkannya untuk dituliskan pesan-pesan terakhirnya.

Tak dipikirnya bahwa hari ini dinding itu akan ditulisiknya. Orangorang

yang beruntung bisa masuk ke sini harus menjadi penerusnya.

Meneruskan cita-citanya. Membangun perpustakaan di tanah ini.

Agar orang-orangnya dapat belajar dengan cuma-cuma. Membuat

orang-orang menjadi lebih pintar dan maju.

Dikerahkan tenaga terakhirnya untuk menuliskan pesan-pesannya dengan

guratan-guratan di atas dinding batu itu. Semakin lama semakin

lemah. Coretan-coretannya semakin tak lagi dalam. Juga semakin

lama semakin miring ke bawah. Condong ke arah ketiadaan tenaga

untuk dikerahkan. Tangannya pun terkulai lemah. Dirinya akan terantuk

lantai batu apabila tak ada tangan besar dan kasar dari Bagadsh

yang menyambutnya. Memeluknya.

”Adik Bagadsh, selamat tinggal... Aku minta taruh jenasahku di

ruang sana.., sebagai bagian dari kalian...,” dan menutup matalah

Rawarang di dalam pelukan adiknya, Bagadsh, sang makhluk Troll.

Sang adik hanya bisa menggereng-gereng sedih. Tak ada air mata

dalam kebiasaan mereka. Hanya ungkapan kecewa atas perginya

orang-orang atau sanak-saudara yang dihormati dan dikasihi.

Bagadsh pun bergegas memanggul jasad Rawarang. Tak lupa disambarnya

sejilid kitab yang belum selesai hasil karya sang kakak tadi.

Berangkat ia menuju suatu ruangan, tempat di mana jasad Rawarang

akan diletakkan.

Ruang yang dituju oleh Bagadsh disebut sebagai Ruangan Kediaman

Terakhir, tempat jasad-jasad para Troll diletakkan di dinding dan dibiarkan

mengering dimakan waktu. Mirip dengan yang dilakukan oleh

orang-orang suatu bangsa dalam Katakombe (Katakombe) mereka.

Rawarang ingin jasad dirinya pun dimakamkan di sana. Ia tidak in211

gin dirinya dibedakan dari makhluk-makhluk yang selama ini telah

banyak membantunya. Makhluk-makhluk yang kesetiaannya kadang

melebihi kesetiaan antar sesama manusia.

Dalam perjalanannya menuju ruangan tersebut Bagadsh berpapasan

dengan ketiga petapa di Sungai Batu Bening. Ia hanya memandang

sayu mereka. Mengangsurkan kitab setengah jadi yang ditulis

Rawarang pada saat-saat terakhirnya. Dan menunggu.

Sebagai seorang Troll yang kemampuan dalam membedakan manusia

yang jahat dan baik di atas manusia pada umumnya, ia dapat mengerti

bahwa ketiga orang petapa ini bukanlah orang-orang yang berniat

tidak baik. Hanya tak dimengertinya, mengapa kakaknya Rarawarang

tidak berteman saja dengan mereka dalam mewujudkan cita-citanya.

Petapa Gunung Es yang menerima sejilid kitab tersebut, dibacanya

dengan cepat tulisan-tulisan yang tertera di dalamnya. Tak tahan

berkaca-kaca matanya membaca isi dari kitab tersebut. Tersentuh

ia akan kesungguhan dari Rawarang yang ingin menuliskan apa-apa

yang diketahuinya mengenai ilmu-ilmu mereka bertiga. Bahkan sampai

merelakan nyawanya sebagai imbalannya. Lalu diangsurkannya

kitab itu kepada kedua adiknya.

Sama pula yang dialami oleh kedua adiknya tersebut. Mereka benarbenar

terharu atas kegigihan Rawarang yang ingin menuliskan kitab

mengenai ilmu-ilmu mereka, demi melengkapi koleksinya untuk mewujudkan

suatu perpustakaan yang di tanah ini.

Akhirnya diputuskan sebagai penghormatan mereka bagi Rawarang

dan juga peringatan bagi dirinya serta orang-orang yang telah teracuni

ambisi, akan diciptakan ilmu yang hanya dapat dipelajari oleh

orang-orang yang berhati teguh. Pada orang-orang dengan keinginan

yang utuh dan tekun, mengalirnya hawa akan berlainan dengan pada

orang-orang yang malas ataupun amat ambisius. Ilmu ini yang memang

ditujukan hanya bagi orang-orang yang sabar dan tekun, dan dinamakan

oleh ketiga petapa itu sebagai Ilmu Menanti Tekun Memukul

Tegas. Suatu ilmu yang gerakan awalnya lambat, akan tetapi dapat

membalas dengan cepat dan keras.

Ilmu ini dirancang untuk orang-orang yang tidak suka mencari-cari

masalah lebih dulu. Lebih banyak bertahan, akan tetapi dapat mem212

BAGIAN 4. PENJAGA KESEIMBANGAN

balas dengan ampuh. Kelebihan dari ilmu Menanti Tekun Memukul

Tegas ini terletak pada kuda-kuda dan posisi yang harus dilakukan

dalam jangka waktu yang lama. Dengan cara ini mau tak mau lawan

akan terlebih dahulu menyerang karena tak sabar. Saat mereka menyerang

itulah muncul kelemahan-kelemahan yang harus segera dimanfaatkan

untuk diserang.

Jika tidak tekun merapal ilmu ini, kesabaran untuk menanti terlebih

dahulu serangan lawan tidak akan tercapai. Dengan sendirinya jurusjurus

yang dipelajari tidak akan banyak berguna dan seampuh seperti

yang dituliskan.

Ketiga petapa itu pun akhirnya memutuskan untuk berdiam di tempat

itu. Selain karena indahnya tempat itu juga untuk merampungkan

sedikit-sedikit catatan-catatan yang pernah dimulai oleh Rawarang.

Mereka kemudian merancang sedemikian rupa cara mencapai ruang

kitab itu dan juga petunjuk-petunjuk untuk mempelajari kitab-kitab

yang ada. Kitab-kitab tertentu apa saja yang perlu dipelajari untuk

dapat memahami kitab-kitab yang lain. Mempelajari keseluruhan

kitab-kitab yang dikumpulkan Rawarang akan menghabiskan

waktu, dan tidak sempat mengamalkannya. Mengenai misi untuk

melaksanakan rencana Rawarang lebih lanjut, hal itu diserahkan pada

Bagadsh untuk menceritakannya, atau keturunan-keturunannya. Hal

ini dikarenakan umur Troll yang relatif bisa tiga sampai empat kali

lamanya umur manusia.

Setelah melihat ruangan Kediaman Terakhir yang menyerupai Katakombe,

ketiga petapa itu pun berpesan kepada Bagadsh agar mereka bertiga

apabila nanti juga telah tidak lagi bernyawa, agar dimakamkan pula

di sana. Mengikuti tradisi dari para penghuni dataran tebing itu.

Atas permintaan Bagadsh dan hasil urung-rembug, kitab karangan

ketiga petapa, yaitu ilmu Menanti Tekun Memukul Tegas itu tidak

diletakkan di Ruang Kitab melainkan di Kediaman Terakhir, mengingat

bahwa ilmu itu bukanlah hasil pencurian dari Rawarang melainkan

hasil karya ketiga petapa itu. Ilmu yang boleh dipelajari oleh orangorang

yang dapat terlebih dahulu masuk ke Ruang Kitab dan mempelajari

ilmu-ilmu yang di ada di sana sesuai dengan petunjuk yang

ada.

213

Untuk pesan yang tidak selesai dituliskan oleh Rawarang, ketiga

petapa itu tidak tahu apa yang harus dijelaskan. Mereka sendiri pun

tidak memahami hal itu. Bahkan Bagadsh pun sebagai orang terdekat

dari Rawarang tidak mengerti maksud dari pesan terakhir yang tidak

selesai dituliskan kakaknya itu.

Dalam pada itu Bagadsh sempat menceritakan misi lain dari pencurian

kitab-kitab yang dilakukan oleh Rawarang. Sang Maling Kitab juga

melihat dirinya sebagai Penjaga Keseimbangan, yaitu ia juga mencuri

kitab-kitab dari orang-orang yang juga dianggapnya jahat dan menguncinya

dalam suatu tempat di gunung itu. Sedangkan kitab-kitab

dari orang-orang yang dianggapnya baik diletakkan di Ruang Kitab.

Dengan cara ini diharapkan tokoh-tokoh jahat tidak memiliki pewaris,

sedangkan kitab-kitab tokoh-tokoh baik dapat dipelajari oleh orangorang

yang dapat mencapai ruangan itu.

Mendengar hal itu ketiga petapa hanya dapat tersenyum. Pemikiran

dan ambisi Rawarang telah sedemikian jauh merasuki jiwanya,

sehingga apapun tindakannya dapat ia benarkan dengan argumenargumen

tertentu.

Letak ruang tempat meletakkan kitab-kitab dari tokoh-tokoh sesat

dunia persilatan tidak ditanyakan oleh ketiga petapa, hanya pesan

mereka kepada Bagadsh, agar keterangan mengenai ruangan itu jangan

sampai jatuh ke tangan orang-orang jahat. Perlu dituliskan cukup

keterangan di ruangan itu, agar orang-orang yang tidak sengaja menemukan

ruangan itu tidak mempelajari ilmu-ilmu yang terdapat di

dalamnya. Hal itu untuk keselamatan mereka sendiri pula. Bagadsh

pun mengiyakan hal ini. Ia melihat ada benarnya permintaan dari

ketiga petapa itu.

Mulanya Kediaman Terakhir dapat dicapai dengan memanjat dinding

tempat sungai Batu Bening mengalir ke luar, akan tetapi kemudian

lubang di atas tebing itu ditutup dan digantikan dengan lubang di

langit-langit dalam gua. Hal ini dilakukan oleh para Troll setelah

ketiga petapa tersebut menutup mata. Mereka tidak ingin makam

mereka mudah dicapai oleh orang-orang yang tidak berhak. Hanya

orang-orang yang telah mereka restui saja akan diberi tahu di mana

letak makam dalam gua atau Katakombe tersebut berada.

214 BAGIAN 4. PENJAGA KESEIMBANGAN

Di pintu tempat dulunya terdapat jalan masuk ke Kediaman terakhir

ditanam beberapa pohon dalam rekahan-rekahan karang. Dengan cara

ini diharapakan agar terlihat bahwa tempat itu tidak pernah sebelumnya

menjadi jalan masuk ke suatu tempat di dalamnya, melainkan memang

begitu adanya sejak lama. Suatu cara kamuflase yang dikenal

oleh para Troll.

***

Hari pertama pun telah berakhir bagi Paras Tampan. Ia belum

sekalipun berhasil memasuki lubang di langit-langit untuk mencapai

ruang berikutnya itu. Walaupun demikian secara tak sengaja,

ia sekarang telah terampil untuk bergerak secara terbalik di langitlangit,

dengan hanya kakinya yang mencengkeram langit-langit batu.

Akan tetapi belum sehandal para Troll yang bahkan dapat berlari

secara terbalik. Paras Tampan baru dapat berjalan perlahan-lahan.

Dikarenakan telah dapat berjalan secara terbalik pada langit-langit, ia

pun mulai membiasakan diri untuk melakukan serangan dengan menggunakan

tongkat. Hanya saja sekarang lain rasanya. Umumnya saat

menyerang kita juga memanfaatkan gaya berat bumi pada tongkat.

Dalam posisi terbalik ini justru ungkitan ke atas yang memanfaatkan

gaya berat tersebut. Bacokan ke bawah malah terasa lebih berat.

Berlatih dengan cara terbalik ini mengembangkan kemampuan baru

bagi Paras Tampan dalam penguasaan menggunakan tongkat.

Tak terasa hari kedua pun berlalu dengan cepatnya. Sudah mandi

keringat Paras Tampan hari itu menyerang sana-sini para Troll yang

menjaga lubang di langit-langit itu dari empat jurusan. Seakan-akan

tanpa celah, tak pernah sampai pukulan atau sodokan tongkatnya

pada bagian-bagian berbahaya dari tubuh mereka.

Dengan tubuh yang lelah dan mata penat, walaupun masih dilengkapi

dengan semangat yang membara, Paras Tampan pun akhirnya harus

beristirahat. Tak kuat badannya dipaksakan untuk terus bergayut

terbalik dan melakukan serangan-serangan terus menerus. Perlu

dipikirkan cara yang efesien untuk menyerang.

Terduduk dalam capainya, Paras Tampan pun kemudian bermimpi.

Ia sedang duduk dalam suatu ruangan beratap tinggi, kira-kira dua

215

tiga tombak di hadapan seorang agak tua. Kira-kira setua gurunya

Ki Tapa akan tetapi dengan tubuh yang jauh lebih tinggi dan besar.

Paras Tampan yang untuk ukuran pemuda di kampungnya

telah berbadang besar dan tinggi, masih terlihat lebih pendek apabila

dibandingkan dengan orang itu. Rambutnya yang berwarna dua

merupakan tanda yang khas dari orang itu, warna hitam dihiasi ubanuban

putih di sebelah kanan dan warna hitam belaka di sebelah kiri.

Entah apa yang menyebabkan hal itu.

Orang itu tersenyum-senyum sambil menatap Paras Tampan yang

sedang duduk bersimpuh di hadapannya. Tak ada kata-kata di antara

mereka.

Dicobanya Paras Tampan mengingat-ingat. Seakan-akan tidak lagi

asing wajah orang itu. Atau hal lain pada orang itu yang rasa-rasanya

pernah dikenalnya. Entah apa.

Tak lama kemudian muncul sesosok Troll tua di samping orang itu,

Bagadsh. Ia hanya muncul sebentar sambil menunjuk pada orang

itu, seakan-akan memberi tahu Paras Tampan bahwa ini adalah orang

yang dimaksud. Setelah itu ia pun kembali menghilang.

Orang tua berambut putih sebelah itu pun melambaikan tangannya,

meminta agar Paras Tampan mendekat.

Beringsut Paras Tampan mengikuti permintaan orang itu.

Setelah cukup dekat, orang tersebut kemudian mengambil sebuah batu

yang ada di sekitarnya. Diletakkannya di atas telapak tangannya.

Batu itu terlihat menempel. Kemudian dibalikkan telapak tangannya

dan batu itu pun masih menempel, seakan-akan tidak mau lepas dari

telapak tangannya.

Ia kemudian menggambarkan segitiga terbalik dengan garis mendatar

di puncak bawah segitiga. Lambang Tanah. Lalu diangsurkan batu itu

kepada Paras Tampan seakan meminta untuk mencobanya melakukan

hal yang sama.

Dengan masih sedikit bingung Paras Tampan pun mencoba mengerahkan

Tenaga Tanah yang pernah dipelajarinya. Umumnya dikeluarkan

bersamaan dengan ia mencengkeram atau menjejak, dan di216

BAGIAN 4. PENJAGA KESEIMBANGAN

gunakan saat memanjat lubang-lubang di Ruang Dinding Berlubang.

Terlihat sedikit hasil. Batu itu sempat bertahan beberapa lama untuk

kemudian terjatuh.

Orang itu menggeleng-gelengkan kepalanya, ia lalu memberi isyarat

bahwa jangan terlalu keras, lembut tapi mengalirkan Tenaga Tanah.

Ini bukan menjejak, tapi menempelkan benda.

Paras Tampan pun mencoba lagi. Kali ini berhasil. Ia berhasil membuat

batu itu menempel pada telapak tangannya. Lama dan stabil.

Tersungging senyum pada wajah orang itu menyaksikan keberhasilan

Paras Tampan melakukan petunjuknya. Lalu ia berdiri, mengisyaratkan

Paras Tampan untuk mencoba kebisaan barunya itu pada dinding di

sekitarnya.

Setelah beberapa kali mencoba Paras Tampan mengerti bahwa yang

selama ini dilakukannya terlalu menguras tenaga. Tenaga Tanah dapat

dikeluarkan tanpa perlu terlalu mengeluarkan tenaga fisik. Dengan

cara ini ia tidak akan terlalu lelah saat menempel pada dinding atau

bebatuan.

Saat ia sedang gembira akan pengertian dan pemanfaatan barunya

mengenai Tenaga Tanah, orang itu menepuk bahunya dari belakang.

Ia mengajak Paras Tampan menuju ke suatu tempat.

Paras Tampan pun mengikuti orang itu ke suatu ruangan terbuka

beratapkan langit. Di sana tampak bertumpuk-tumpuk kerikil dan

batu bersebaran. Bermacam-macam warna dan ukuran.

Orang itu kemudian mengambil sebuah batu yang cukup besar. Meminta

Paras Tampan dengan isyarat tangannya untuk mencoba agar

batu itu menempel pada telapak tangannya yang menghadap ke

bawah. Paras Tampan pun mengiyakan.

Perbedaan struktur dan komposisi bahan dari batuan yang diberikan

orang itu, menimbulkan sensasi yang berbeda saat Paras Tampan mencoba

menempelkannya pada telapak tangannya. Hal itu juga tampak

dari penjelasan orang itu, yang berusaha mengatakan bahwa tenaga

yang dikeluarkan harus disesuaikan, sehingga efesien pemanfaatannya.

Setelah Paras Tampan dapat mengerti orang itu kemudian mem217

berikan batu-batu yang lain dari berbagai jenis, agar ia dapat merasakan

perbedaannya dari berbagai contoh.

Kemudian, seakan-akan mengatakan cukup, orang itu menunjukkan

hal lain. Hal yang sebelumnya tidak terpikirkan oleh Paras Tampan.

Dulunya ia menganggap Tenaga Tanah itu hanya bisa muncul sebagai

tenaga menempel apabila bagian tubuhnya bersentuhan langsung,

akan tetapi orang itu menunjukkan sesuatu yang sama sekali lain.

Diambilnya sebutir batu sembarang, diletakkannya di atas telapak

tangannya dan kemudian dibalikkan. Batu itu menempel, dan kemudian

perlahan-lahan turun ke atas tanah. Naik kembali mendekati

telapak tangan dan kemudian turun kembali.

Ia menunjukkan pula bahwa hal yang sama bisa berlaku sebaliknya.

Batu yang tadi diletakkan kembali ke atas telapak tangannya, akan

tetapi ia tidak membalik telapak tangannya itu, melainkan membiarkannya

menghadap ke atas. Kemudian tampak bahwa batu itu

melayang jauh ke atas seakan-akan terdorong oleh tenaga tak tampak

dari telapak tangannya. Naik terus sampai dua tombak lebih.

Kemudian turun perlahan-lahan kembali ke telapak tangan orang itu.

Kagum Paras Tampan akan demonstrasi yang dilakukan oleh orang

itu. Dicobanya untuk melakukan hal yang sama. Tapi ia hanya

mampu untuk menahan batu itu tergantung di bawa tangannya sejauh

dua kuku. Lebih jauh ke bawah, batu tersebut kehilangan kendali dan

jatuh berdebam. Demikian pula untuk mengapungkan batu, ia hanya

bisa sejauh satu jari di atas telapak tangannya. Ternyata lebih sulit

membangkitkan tenaga tolak ketimbang tarik menggunakan Tenaga

Tanah.

Belum Paras Tampan sempat mengucap sesuatu berkaitan dengan

cara yang baik untuk membangkitkan tenaga tarik dan tolak itu, orang

tersebut telah berdiri di tengah-tengah lapang yang dihiasi berbagai

jenis batu itu. Ia mengisyaratkan agar Paras Tampan memperhatikan

gerak-geriknya.

Orang itu tampak berkonsentrasi sebentar, mengatur nafasnya sehingga

hampir tak lagi terdengar dan kemudian menggerakkan tubuhnya.

Beberapa gerakan yang langsung dapat diserap oleh Paras Tampan

yang memiliki ingatan baik. Hal yang dilihatnya seakan-akan

218 BAGIAN 4. PENJAGA KESEIMBANGAN

tak akan terlupa kembali, yang merupakan salah satu kelebihannya.

Hanya gurunya Ki Tapa yang mengetahui bakatnya ini.

Tak berapa lama terdengar suara bergemuruh, seakan-akan akan terjadi

longsor atau badai. Seluruh batu-batu yang berada di lapangan

itu bergetar, seperti halnya air yang mendidih. Di mana semua bagian

dari air bergetar liar, ingin bergegas menjadi gas, uap air.

Selanjutnya orang itu menggerakkan tangan dan kakinya sedemikian

rupa sehingga menghasilkan angin sapuan yang dasyat. Angin pukulan

belaka bagi Paras Tampan mungkin tidak lagi menakutkan karena

ia telah melihat demonstrasi gurunya akan hal itu, tapi di sini gerakan

angin itu tidak hanya diikuti hawa belaka melainkan juga batu-batu.

Serangkum batu-batu bergerak bergerombol mengambang di udara.

Membentuk kelompok-kelompok yang berubah-ubah sesuai dengan

gerakan orang itu. Liar.

Tak terasa Paras Tampan menahan nafas menyaksikan peragaan ini.

Inilah apa yang dikenal sebagai Pukulan Badai Pasir. Pukulan yang

menyertakan batu-batu dan pasir dalam hawa pukulannya. Ada hawa

tenaga luar dan tenaga dalam secara bersamaan. Sejenis pukulan yang

yang sulit untuk dihindari. Benar-benar pukulan yang mengerikan.

Setelah mengurangi tenaganya, batu-batu yang mengambang itu pun

kembali terjadi ke atas tanah. Kembali mati seperti keadannya semula.

Lalu orang itu mulai mengayunkan anggota-anggota tubuhnya.

Menunjukkan sepuluh jurusa dari Pukulan Badai Pasir.

Paras Tampan menyaksikan dan mencoba mengingat-ingat sekecilkecilnya

perubahan yang dilihatnya. Sampai di akhir jurus ke sepuluh,

orang itu merangkumkan kembali jurusnya dengan Tenaga Tanah sehingga

kembali batu-batu kecil dan besar beterbangan bagai debu.

Mengambang dan liar. Pada pukulan penutup diarahkannya jurus

tersebut ke arah Paras Tampan. Ia tercengang akan serangan itu dan

tak sempat mengelak. Padangannya tiba-tiba gelap, dan...

”Dukkk...!!”

Paras Tampan terbangun dari tidurnya karena kepalanya mengantuk

batu yang ada di sisinya. Rupanya dalam posisi duduk tadi, perlahanlahan

tubuhnya membungkuk sampai posisi tertentu dan kemudian

219

jatuh membentur dinding di sampingnya. Sakit.

Digosok-gosokkan kepalanya yang membenjol kecil. Teringat ia kembali

akan mimpinya itu. Dicobanya untuk melakukan jurus-jurus yang

tadi dilihatnya dalam mimpi. Perlahan. Sambil kadang berhenti untuk

kembali merangkai ingatannya kembali. Tak berapa lama telah

berhasil ia melakukan kesepuluh jurus itu, walaupun masih kaku.

Kegiatannnya ini tak lepas dari pengamatan keempat penjaga Troll

yang masih nemplok di langit-langit gua tersebut. Salah seorang

dari mereka tampak tersenyum ala Troll melihat Paras Tampan yang

sedang asik bergerak-gerak sendiri di bawah sana.

Karena belum menemukan alternatif untuk masuk ke lubang di langitlangit

gua itu, Paras Tampan memutuskan untuk berlatih jurus-jurus

dalam mimpinya itu. Pukulan Badai Pasir. Tapi ia belum dapat

menggerahkan Tenaga Tanah seperti dalam mimpinya, untuk menarik

dan menolak benda-benda padat. Pun di sana tidak terdapat batubatu

seperti dalam mimpinya.

Setengah hari pun lewat. Kesepuluh jurus dari Pukulan Badai Pasir

telah dapat dilakukannya dengan lancar. Masih berupa gerakan saja,

belum terisi oleh Tenaga Tanah. Sekarang ia berpikir untuk melatih

jenis tenaga tersebut. Tapi tanpa batu.

”Kecipak..!” tiba-tiba terdengar deburan air yang diciptakan oleh ikan

Kolakan, seakan-akan ia hendak memberikan jawaban atas kebingungan

Paras Tampan yang sedang mencari-cari batu-batu.

Karena Paras Tampan tidak terlihat mengerti, ikan Kolakan tersebut

kemudian menggerakkan ekornya setelah berputar beberapa kali, tampak

sebongkah es terbentuk mengambang. Dilontarkannya bongkahan

es tersebut. Cepat dan keras. Paras Tampan yang tidak siaga hampir

saja benjol kepalanya untuk kedua kalinya. Untung ikan kolakan itu

tidak bermaksud untuk benar-benar menyambitnya.

Dengan tipis mengelak Paras Tampan menangkap bongkahan es sebesar

kepalan tangannya itu. Tiba-tiba ia mengerti. Batu yang tidak

ada dapat digantikan dengan es. Untuk itu ia harus membuat air yang

ada di sekelilingnya menjadi es dahulu, baru kemudian dikendalikan

dengan Tenaga Tanah menjadi hawa pukulannya. Mendapatkan bantuan

itu Paras Tampan pun membungkuk kepada sang ikan Kolakan

220 BAGIAN 4. PENJAGA KESEIMBANGAN

untuk berterima kasih.

Penghormatannya dibalas dengan lompatan tinggi sang ikan yang kemudian

menghilang dalam air yang jernih dan dalam itu.

Sunyi.

Hari pun telah menjelang senja.

Buah yang berwarna keperakkan pun telah diberikan sebuah kepadanya.

Saatnya untuk sedikit beristirahat. Para Troll sudah berganti kembali

penjagaan. Yang baru turun dari langit-langit tampak Mengheningkan

Cipta untuk memulihkan tenaganya, sedangkan rekannya

menggantikan posisinya untuk menjaga lubang di langit-langit itu.

Paras Tampan tidak mempedulikan mereka. Ia memikirkan bagaimana

cara yang paling cepat untuk melatih ilmu barunya. Pukulan Badai

Pasir yang tidak menggunakan pasir dan batu melainkan butiranbutiran

es. Lebih tepat disebut Pukulan Butiran Es. Ia masih bingung

membagi tenaganya antara membekukan air dan menjalankan

Tenaga Tanah untuk mengendalikan butiran-butiran padat tersebut.

Dicobanya dengan sedikit butir-butiran es. Perlahan-lahan.

Tak terasa tengah malam telah menjelang. Akhir hari kedua. Tinggal

setengah hari lagi sampai batas waktu yang diperbolehkan bagi Paras

Tampan untuk mencapai ruangan di atas langit-langit itu. Sudah

ditemukannya jenis pukulan dan serangan yang dapat digunakan. Tapi

ia belum dapat menguasainya dengan baik.

Pukulan Badai Salju efektif apabila batu-batu es yang digunakan

cukup banyak, akan tetapi untuk membentuk batu es yang cukup

banyak diperlukan tenaga awal yang besar. Mengingat Paras Tampan

tidak melatih Tenaga Air dengan mendalam, ia tidak bisa membuat

bongkahan es melebihi kepalan tangannya. Dan lagi dalam memutarmutarkan

bongkahan es itu, semakin lama diputarkan semakin kecil

bongkahan es jadinya karena bergesekan dengan udara. Jadi jurus

yang harus digunakannya tidak boleh menggunakan banyak perputaran,

melainkan harus langsung. Jika tidak serangan es itu tidak

akan berhasil.

Selain itu Paras Tampan juga telah menemukan cara lain meman221

faatkan Tenaga Tanah selain menolak dan menarik yang diajarkan

orang agak tua itu dalam mimpinya. Sekarang ia bisa melakukan levitasi

(levitation) atau mengambang di udara. Sebenarnya ia tidak

benar-benar mengambang akan tetapi menyeimbangkan antara gaya

tarik bumi, gaya tarik dari tubuhnya ke langit-langit dan gaya tolak

dari tubuhnya terhadap lantai. Dengan cara ini ia bisa melompat lebih

tinggi dan bertahan lebih lama di udara baru kemudian turun kembali

dengan ringat. Hampir-hampir ”terbang”.

Ia merencanakan akan menggunakan tenaganya habis-habisan untuk

menyerang keempat penjaga itu besok pagi. Sekarang yang ia butuhkan

hanyalah istirahat. Capai sudah baik fisik maupun pikirannya

untuk melatih jurus-jurus yang akan dirapalnya besok, juga siasat

yang diaturnya.

Paras Tampan pun mencari posisi yang enak di salah satu sudut gua,

melingkarkan tubuhnya dan tidur. Benar-benar tidur, tidak seperti

dua malam berturut-turut yang lalu yang hanya setengah tidur.

***

Pagi telah datang. Tinggal setengah hari kurang waktu yang diberikan

pada Paras Tampan untuk mencapai ruangan di atas langit-langit

itu. Pemuda itu menggeliat bangun. Tidur enam jam sudah cukup

baginya. Sekarang ia harus bersiap-siap untuk kembali mencoba masuk

ke lubang di langit-langit itu. Percobaan terakhir. Jika gagal ia

harus berlatih lagi ilmu-ilmu yang telah dipelajarinya, satu tahun lagi.

Saat ia bangun, tampak satu buah keperakan tampak telah tersedia di

sampingnya. Ia memakannya dan segera terasa asupan tenaga segar

menyebar ke seluruh pembuluh darahnya. Tenaga yang diperlukan

untuk pertarungan terakhir hari ini, untuk memasuki ruangan di atas

langit-langit sebagai tujuan ujiannya.

Paras Tampan pun segera berdiri. Digerak-gerakkan tubuhnya. Dilemaskan

otot-otot yang kaku akibat tidurnya. Sudah tidak terasa lagi

lelahnya kemarin malam. Semangat mulai mengisi tubuhnya. Ia kemudian

mulai memperaktekkan jurus-jurus Pukulan Butiran Es yang

ditemukannya kemarin. Gabungan dari Pukulan Badai Pasir dan Sentilan

Kelereng Es. Ia amat berterima kasih pada orang tua yang ditemuinya

dalam mimpi dan juga sang ikan Kolakan.

222 BAGIAN 4. PENJAGA KESEIMBANGAN

Untuk menenteramkan jiwanya, Paras Tampan pun Mengheningkan

Cipta sebentar. Memohon pada Sang Pencipta restu-Nya, agar ia

dapat berhasil pada pagi hari ini.

Setelah merasa penuh oleh semangat dan juga aliran hawa, Paras Tampan

pun bangkit dari sikap heningnya. Ia menegadah. Dilihatnya para

Troll penjaga baru saja berganti tugas. Penjaga-penjaga yang baru

tampak segar bergayut terbalik di atas sana. Menjaga lubang yang

menjadi tujuan akhir dari ujiannya selama dua setengah hari ini.

Ia akan mulai menyerang para penjaga itu. Pertama-tama diambilnya

tempat mangkuk minumnya yang terbuat dari semacam kayu yang

berasal dari tempurung buah-buahan mirip kelapa. Satu tidak cukup.

Dilihatnya bahwa para Troll pun menggunakan tempat yang sama. Dihampirinya

para Troll yang sedang beristirahat, dimintanya ijin untuk

menggunakan mangkuk minum mereka. Salah seorang dari mereka

mempersilakannya.

Paras Tampan kemudian mengisi mangkuk-mangkuk kayu tersebut

dengan air. Meletakkannya di atas lantai di bawah sekeliling posisi

para penjaga lubang yang bergelantungan itu. Ditariknya napas

dalam-dalam dan ia pun bersiaga untuk mulai menyerang.

”Heghh...!!” hentaknya. Ia pun melompat tinggi dengan membawa beberapa

mangkuk kayu yang berisi air. Dihamburkannya isi mangkuk

tersebut ke arah para penjaga dengan cara ditendang atau dilemparkannya.

Sebelum para penjaga sadar apa yang akan menerima

mereka Paras Tampan telat merapal sedikit Tenaga Air yang dimilikinya.

Sekejap butir-butiran air yang sedang melaju itu mengeras

menjadi es kecil-kecil.

Melihat itu para Troll penjaga menjadi bersiaga. Tapi mereka tidak

terlihat panik karena butir-butir es yang kecil itu, apalah artinya bagi

kulit mereka yang tebal.

Saat para Troll penjaga itu akan menangkis butiran-butiran es tersebut,

Paras Tampan telah berganti menggunakan Tenaga Tanah. Ia

memutar-mutar tangan dan kakinya dengan masih melayang di udara

sedemikian rupa sehingga butiran-butiran es tersebut tidak lagi langsung

menuju para penjaga melainkan menari-nari mengikui gerakan

tangannya.

223

Setelah cukup membingungkan para penjaga dengan arah gerak

butiran-butiran es-nya, Paras Tampan meluruskan tangannya ke depan.

Akibat gerakan itu butir-butiran yang tadinya telah menyebar

ke empat penjuru dari para penjaga, tiba-tiba terdiam di udara dan

mendekat dengan pesat ke arah pusat lubang. Menyerang keempatnya

dari empat penjuru sekaligus. Sasaran yang dituju adalah jalan

darah-jalan darah penting dan juga mata. Hal ini tentu saja membuat

sibuk pada penjaga yang berusaha melindungi bagian-bagian

tubuhnya itu.

Pada saat mereka berempat sedang kebingungan akan serangan

butiran-butiran es tersebut, Paras Tampan turun kembali dan melemparkan

sisa air yang ada di mangkuk kayu yang masih belum digunakan.

Kembali dengan cara yang sama, akan tetapi kali ini tidak

memutar-mutar dulu, melainkan langsung dengan serangan langsung.

Butiran-butiran yang terbentuk kali ini lebih besar, sampai sekepalan

tangan.

Kembali serangan ini menambah bingung keempat pejaga Troll yang

sedari tadi masih menangkis serangan butiran-butiran es yang lebih

kecil. Kesempatan ini tidak disia-siakan oleh Paras Tampan. Dengan

merapal Tenaga Tanah untuk mengambangkan diri atau levitas, ia

melompat, melesat menuju lubang itu. Di sisi-sisi tubuhnya tampak

butiran-butiran es mengambang bergerak melingkar cepat, melindungi

tubuhnya dari kemungkinan serangan-serangan tongkat para penjaga.

”Tak-tak-tak..!!” beberapa tongkat dari penjaga yang telah terlepat

dari serangan butir-butiran es-nya mendarat di depan dan

belakangnya, tapi luput karena terhalang perisai butir-butir es.

Dengan badan sedikit bergetar akibat hawa pukulan tersebut, Paras

Tampan masih melaju memanjat lubang di atas langit-langit tersebut.

Dan ia berhasil..! Masuk ia ke lubang di atas sana.

Masih terasa napasnya yang kembang-kempis karena mengeluarkan

banyak tenaga untuk menggunakan sekaligus Tenaga Air dan Tenaga

Tanah. Hampir habis tenaganya.

Tapi kelelahan itu tak ada artinya apabila dibandingkan dengan keberhasilannya

memasuki ruang di atas langit-langit itu.

224 BAGIAN 4. PENJAGA KESEIMBANGAN

Ruang itu tidak setinggi dengan ruangan di bawahnya. Dan lebih

terang. Tampak beberapa garis-garis sinar jatuh dari langit-langit.

Semacam lubang-lubang yang dibuat untuk membiarkan sinar matahari

masuk dan menerangi ruangan itu.

Kemudian ia mengedarkan pandangannya turun, berkeliling menjelajahi

apa-apa yang bisa dilihat.

Apa yang dilihatnya dalam ruangan itu hampir-hampir membuatnya

tersentak. Di sana. Di ruangan di atas langit-langit gua yang berhasil

dicapainya terdapat berpuluh-puluh lubang di dinding sebesar manusia.

Dan di dalam lubang-lubang tersebut terdapat sebuah kerangka

mirip manusia yang lengkap dengan pakaian dan beberapa perlengkapannya.

Sebuah kuburan dalam gua (Katakombe). Bingung dan juga takjub

Paras Tampan menyaksikan hal ini. Ia tidak mengerti mengapa ia

harus diuji untuk masuk ke dalam kuburan ini.

Lamat-lamat terdengar suara, ”Bagus nak Paras Tampan. Hampir

habis waktu ujian. Dan anak telah berhasil.”

Sunyai sebentar. Suara tersebut tidak dapat dipastikan berasal dari

mana. Bisa dari depan atau belakangnya. Luband dari ruangan di

bawahnya berada di tengah-tengah ruangan itu.

”Majulan terus, sampai ke suatu pintu di sebelah kananmu. Ikuti

jalan itu. Bagadsh akan menunjukkan sesuatu bagimu,” kembali suara

terdengar memberinya petunjuk.

Ia pun melangkah mengikut petunjuk itu. Dilaluinya rongga-rongga

yang berisikan tulang-belulang Troll. Ada kerangka yang benar-benar

tinggal tulang saja, ada pula yang masih dilengkapi dengan kulit yang

mengering. Wajah-wajah mereka menjadi lebih mengerikan dibandingkan

di saat masih hidup. Kurus kering dan menyeringai dengan

rongga mata yang bolong hitam. Rambut-rambut kasarnya menjadi

terlihat lebih panjang, karena sebagaian akarnya terlihat akibat kulit

kepala yang telah mengering atau terkelupas.

Paras Tampan pun berjalan terus hingga ke ruangan yang diisyaratkan

oleh Bagadsh. Di sana tampak Troll tua tersebut menantinya.

225

Setelah dekat dengannya, Troll tersebut mengangsurkan tangannya

menunjuk sesuatu di dinding. Di tempat yang ditunjukkannya tersebut

terdapat empat buat lubang di dinding. Tiga buah kerangka tampat

duduk bersila. Kerangka mereka belum tinggal tulang, melainkan

masih terbalut kulit dan ditutupi dengan jubah yang sederhana. Pakaiannya

mirip dengan pakaian para petapa pada umumnya. Di sisi

mereka tampak sebuah lubang tegak cukup tinggi dengan kerangka

orang yang jangkung di dalamnya. Samar-samar terasa Paras Tampan

teringat pada sosok tubuh sejangkung itu.

”Ini adalah Rawarang yang oleh orang-orang dunia persilatan disebut

sebagai Maling Kitab. Ia sendiri lebih senang menamakan dirinya Penjaga

Keseimbangan,” jelas Bagadsh sambil menunjuk pada kerangka

manusia jangkung itu.

”Dan ketiga orang ini adalah tiga bersaudara petapa. Petapa Gunung

Es, Petapa Lain Pulau dan Petapa Seberang. Mereka mengikat

tali persaudaraan di Pulau Gunung Api,” sambil ditunjukkan oleh

Bagadsh ketiga kerangka yang duduk bersila dekat kerangkat Rawarang.

”Engkau seharusnya tahu mengenai Petapa Seberang, karena ilmuilmu

yang engkau bawa sebelum ke sini bersumber dari beliau,” jelas

Troll tua tersebut.

Paras Tampan menggelengkan kepalanya. Ya, ia tak banyak tahu

mengenai hal itu, mungkin gurunya Ki Tapa pernah sekali dua kali

menyebutkan. Tapi tidak menegaskan siapa Petapa Seberang itu.

Melihat kebingungan Paras Tampan, Bagadsh sang Troll tua pun

akhirnya menceritakan kisah ketiga Petapa tersebut. Pengembaraan

mereka dari luar pulau sampai tidak di tanah ini. Murid-murid mereka

dan hal-hal lain yang memang dititipkan oleh ketiga orang petapa itu

untuk diceritakan pada orang yang dapat mencapai tempat ini.

Menangguk-angguk Paras Tampan mendengar cerita itu. Ia seakanakan

dibawa ke masa lampau, ke masa di mana orang-orang yang

diceritakan itu masih hidup dan menjalani pengalaman hidup mereka.

Kadang tegang, kadang juga sedih atau gembira. Bagadsh menceritakannya

dengan kata-kata yang amat memukai bagi telinganya.

”Nah, sekarang setelah engkau berada di tempat ini. Engkau mem226

BAGIAN 4. PENJAGA KESEIMBANGAN

punyai tugas untuk belajar ilmu yang diciptakan oleh ketiga petapa

itu pada akhir hidupnya. Ilmu untuk mengenang dan juga sebagai

peringatan akan ambisi Rawarang. Semoga engkau dapat mempelajari

dan mengamalkannya. Tidak mengulangi kesalahan yang sama,”

jelas Bagadsh.

Lalu diceritakannya perihal ilmu Menanti Tekun Memukul Tegas.

Ilmu yang kelihatannya sederhana akan tetapi sulit untuk dilakukan

karena terlihat kadang amat lambat. Satu jurus dapat dilakukan

cukup lama, baru kemudian menyerang dengan cepat. Dan kemudian

kembali diam. Bagadsh yang telah sedikit dilatih oleh ketiga petapa

itu, memperagakan sebagian gerakan-gerakannya.

Paras Tampan mengangguk-angguk melihat peragaan itu. Ia pun

mengiyakan akan mempelajari ilmu itu. Untuk waktu pembelajaran

tersebut, tidak dibatasi. Terserah ia. Bisa juga ia turun gunung

sekarang apabila telah hapal teori dari ilmu itu atau apabila ia dapat

menyalinnya. Kitab yang asli tidak boleh dibawa, harus ditinggalkan

di sini. Di Katakombe itu. Disamping keempat tokoh yang berkaitan

dengan penciptaan ilmu tersebut.

”Aku Bagadsh, ada satu permintaan padamu, nak Paras Tampan,”

ucap sang Troll tua, ”ku harap engkau mau mengabulkannya.”

”Sejauh yang saya bisa, Ki Bagadsh..,” jawab Paras Tampan sopan. Ia

menghargai benar-benar kesetiaan Troll tua itu atas pesan Rawarang

dan ketiga petapa, untuk masih menanti orang yang dapat dijadikan

penerus ilmu-ilmu mereka.

”Setelah engkau keluar dari tempat ini, jangan ceritakan pada siapasiapa

tempat ini. Biarkan kami hidup dengan damai di sini. Kitabkitab

hasil curian Rawarang boleh engkau bawa keluar. Kembalikan

pada keturunan-keturunan dari pemilik yang terdahulu. Bila mereka

telah tiada, boleh engkau bangun suatu perguruan untuk menyimpannya

dan mengamalkannya,” kemudian lanjut Bagadsh, ”tiap kitab

yang telah dicurinya telah disalin ulang oleh Rawarang. Jadi di sini

masih akan tersimpan arsipnya. Kitab yang asli dikembalikan agar

orang-orang tidak lagi mendendam pada Rawarang si Maling Kitab,

dan juga engkau selaku pewaris ilmunya.”

Mengangguk-angguk Paras Tampan mendengarkan hal itu. Terli227

hat jelas rasa sayang dari Bagadsh pada Rawarang kakak angkatnya

itu. Bahkan setelah sang kakak meninggal, masih ia berupaya agar

sang kakak tidak meninggalkan dendam dan penasaran bagi keturunan

orang-orang atau keluarga-keluarga yang kitab-kitabnya dicuri dulu.

Bagadsh tentu saja tidak menceritakan masih adanya tempat penyimpanan

kitab-kitab yang dicuri Rawarang dari para tokoh-tokoh sesat.

Ketiga petapa telah berpesan kepadanya, agar tempatt tersebut dirahasiakan

sama sekali. Biar tidak ada orang yang memanfaatkan

kitab-kitab yang tidak baik tersebut.

***

”Hiattt..!”

”Tringgg.., trangg.., takkk!!”

Terdengar dentang-denting beradunya senjata di pagi hari di dalam

Rimba Hijau. Puluhan orang berseragam hitam-hitam tampak mengayunkan

senjatanya melawan lima orang yang bersenjatakan tongkat

belaka.

Rimba Hijau diserang.

Ya, Perguruan Kapak Ganda akhirnya dapat menguraikan pesan yang

tertulis di bawah prasasti yang ada di perguruan mereka. Prasasti

yang dicuri dari Air Jatuh dalam Perguruan Atas Angin oleh Murid

Rahasia. Cermin Maut, Mayat Pucat dan Sabit Kematian bersepakat

untuk menyerang saja Rimba Hijau untuk merampas kitab-kitab

tersebut. Dengan kitab-kitab itu mereka akan dapat meningkatkan

ilmu-ilmu mereka.

Di tengah kepungan para prajurit Perguruan Kapak Ganda itu, tampak

Ki Tapa dan keempat muridnya, Asap, Gentong, Misbaya dan

Rintah. Keempatnya telah turun gunung dari mencari kitab-kitab

untuk menambah ilmu mereka. Hal ini terlihat dari cara mereka

melangkah yang lain saat bila dibandingkan saat mereka naik dulu.

Akan tetapi sayang, kali ini yang dihadapi adalah murid-murid tingkat

atas Perguruan Kapak Ganda. Murid-murid yang dilatih khusus oleh

ketiga pimpinannya.

Sudah cukup lama mereka bertanding. Stamina sudah menurun. Lain

228 BAGIAN 4. PENJAGA KESEIMBANGAN

halnya dengan para penyerang. Mereka dapat berganti-ganti menyerang

dan beristirahat karena jumlanya yang lebih banyak.

”Jika saja Paras Tampan ada di sini,” kata Misbaya.

”Ya.., tapi belum tentu bantuannya berarti banyak..,” sanggah Rintah,

”kita yang baru turun gunung saja, tidak banyak kemajuannya

apabila dibandingkan dengan mereka.”

Ki Tapa sendiri tampak tegang. Ia yang selama ini yakin akan kerahasiaan

dari Rimba Hijau benar-benar tidak dapat mempercayai

bahwa musuh dapat masuk sampai sejauh ini. Masuk sampai ke pondokannya.

Jalan-jalan rahasia dan juga tanda-tanda tidak lagi berarti

untuk menyesatkan para penyerang. Bingung apabila ia memikirkan

hal itu.

Hal yang tidak diketahui oleh Ki Tapa adalah bahwa di luar sana, di

Kota Luar Rimba Hijau. Telah terjadi pembantaian oleh Perguruan

Kapak Ganda ini. Penduduk kota itu telah dibunuh dan kotanya

dibakar. Demi untuk mencari keterangan bagaimana memasuki

Rimba Hijau. Akhirnya dengan siksaan-siksaan, diperoleh keteranganketerangan

dari Ki Tampar dan Ki Gisang yang akhirnya pun dibunuh

oleh mereka.

Hanya dengan berbekal lontar yang dimiliki Ki Tampar dan Ki Gisang

saja, ketiga pemimpin Perguruan Kapak Ganda dapat menguraikan

jalan-jalan rahasia untuk masuk ke dalam Rimba Hijau. Hal ini dikarenakan

mereka berasal dari negeri jauh di seberang lautan, di mana

bahasa dan tanda-tanda yang dipergunakan dlaam lontar itu adalah

sama artinya.

Dulu cara tersebut dirancang untuk menyulitkan orang-orang dari

tanah ini, Tanah Tongkat Ditanam Jadi Tanaman, dan bukan untuk

orang-orang dari seberang.

Akibatnya fatal. Orang-orang Perguruan Kapak Ganda dapat dengan

leluasa masuk ke dalam Rimba Hijau dan melakukan serangan tibatiba.

Kebetulan saja keempat murid Ki Tapa baru turun gunung,

sehingg mereka bisa membantu gurunya untuk melawan musuh-musuh

itu.

229

”Tahan...!” tiba-tiba terdengar suara merdu dan bening melayang di

udara.

Mendengar ini para prajurit Perguruan Kapak Ganda pun menarik

serangannya. Mundur dengan teratur dalam posisi masih mengepung

kelima orang itu di tengah.

Bersamaan dengan itu melayangnya seorang wanita yang masih terlihat

cantik walaupun telah berumur. Cermin Maut, salah satu dedengkok

Perguruan Kapak Ganda. Ia turun dengan ringannya di

hadapan kelima orang itu. Rambutnya yang hitam panjang tampak

sebentar mengembang melayang untuk kemudian jatuh lurus di belakang

kepalanya.

”Ki Tapa.., bila saya tak salah..,” ucapnya sambi memandang lurus

pada orang tua di depannya, ”salah satu pewaris Petapa Seberang..!”

”Benar, saya Ki Tapa. Dengan siapa saya berhadapan?” tanya Ki

Tapa kemudian.

”Hik-hik-hik, kemana saja engkau selama sini orang tua, sampai tidak

mengenai kami. Tiga pimpinan Perguruan Kapak Ganda..,” tawanya

sambil menutup mulutnya. Berpura-pura sebagai perempuan baikbaik.

”Maaf bila kami tidak tahu,” ucap Ki Tapa, ”sejauh yang saya dengar.

Bukankah Perguruan Kapak Ganda itu dipimpin oleh Naga Geni?”

”Orang tua, itu sudah cerita lama. Kakak Naga Geni telah berpulang

lama. Dibunuh orang. Kami masih mencari siapa yang melakukannya.

Untuk kita kami perlu meningkatkan ilmu kami. Jadi serahkan kitabkitab

tersebut kepada kami..!” jawabnya langsung dengan nada bicara

yang tidak lagi ramah.

”Kitab-kitab mana yang dimaksud?” tanya Ki Tapa masih tidak

mengerti, karena ia memang tidak mengerti apa yang dimaksud oleh

wanita itu.

”Jangan berpura-pura...!” tiba-tiba melayang seorang lain. Tinggi

kurus dengan wajah yang tertutup tudung panjang sehingga wajahnya

tidak terlihat. Tersembunyikan oleh bayangan tudungnya. Sabit

yang dibawanya, menunjukkan perangainya yang kejam. Hanya orang230

BAGIAN 4. PENJAGA KESEIMBANGAN

orang kejam saja yang membawa senjata yang aneh-aneh dan menyerampkan.

Orang itu Sabit Kematian.

Belum sempat Ki Tapa berbicara, telah melayang seorang lagi dari

mereka. Wajahnya kurus putih pucat. Badannya agak tinggi. Rambutnya

yang agak jarang tergerai kusam. Kuku-kuknya tampak panjang

dan bewarna kuning kehitaman. Tanda racun yang amat ganas.

Mayat Pucat.

Telah lengkap tiga pimpinan dari Perguruan Kapak Ganda. Mereka

tidak sabar lagi karena para prajuritnya belum dapat mengalahkan

kelima orang itu, bahkan yang empat masih amat muda tampangnya.

Orang yang baru datang itu lalu membuka pembicaraan, ”Maaf Ki

Tapa, jika adik-adikku ini tidak menjelaskan apa maksud kedatangn

kami ini.” Lalu ia menjelaskan apa yang dicari oleh mereka setelah

sebelumnya memperkenal diri dan juga adik-adiknya. Berdasarkan

ukiran lambang di bawah prasasti yang mereka peroleh, dikatakan

bahwa kitab-kitab peninggalan Petapa Seberang berada di timur. Dan

tempat di timur yang mungkin untuk menyimpan rahasia itu adalah

di sini, Rimba Hijau.

”Jadi, tolong Ki Tapa serahkan saja kitab-kitab tersebut. Setelah itu

kami akan angkat kaki dari ini,” akhirnya Mayat Pucat menyelesaikan

uraiannya.

”Kami tak punya kitab-kitab itu!” jawab Misbaya yang tak dapat

menahan sabar melihat sikap mengalah terus dari gurunya, ”pun jika

kami punya tak akan kami berikan..!”

”Anak baik, tulang baik...!” gumam Mayat Pucat sambil melihat siapa

yang berani berkata demikian.

Lain pula dengan Cermin Maut, berdesir darahnya menyaksikan kemudaan

dari Misbaya. Cocok anak ini untuk melampiaskan kebiasaannya

yang sesat. Memuaskan dahaganya, dan kemudian menyerap sari-sari

dari anak itu. Tak terasa dileletkan lidahnya.

”Tak usah banyak bicara, kakak Mayat Pucat..,” jawab Sabit Kematian

tak sabar, ”kita bunuh saja semua, seperti orang-orang di Kota

Luar Rimba Hijau, baru kita geledah hutan ini.”

231

Mendengar bahwa mereka telah membantai para penduduk Kota Luar

Rimba hijau tak sadar ketiga orang yang memang berasal dari sana

menjadi amat marah. Tak dapat lagi mereka menahan sabarnya.

Gapaian tangan Ki Tapa tak dihiraukan lagi oleh mereka. Mereka

menyerang dengan ganasnya. Ingin membalaskan kematian keluargakeluarga

mereka.

Asap sebagai bukan orang dari Kota Luar Rimba Hijau pun tak dapat

menahan amarahnya mendengar hal itu. Ia pun juga menyerang ketiga

orang itu dengan cepat, tapi tidak semarah ketiga rekannya.

Ki Tapa yang tidak memiliki kesempatan untuk meredakan amarah

murid-muridnya mau tak mau ikut terjun ke dalam pertempuran

itu. Setelah Cermin Maut, Sabit Kematian dan Mayat Pucat ikut

dalam pertempuran itu, terlihat sudah ketimpangannya. Kelima

orang Rimba Hijau boleh dikatakan sama sekali tidak memiliki kesempatan

untuk menang. Kekalahan hanyalah masalah waktu saja.

Pertempuran itu berlangsung singkat. Satu persatu murid-murid Ki

Tapa terjatuh di tangan ketiga dedengkok Perguruan Kapak Ganda

dibantu dengan murid-murid tingkat satu mereka. Ki Tapa yang

hanya tinggal sendiri tampak tak lagi bersemangat untuk melawan.

Murid-murid yang dilatihnya untuk meneruskan tugasnya habis hari

ini. Juga karena kesalahannya tidak sering lagi memeriksa kehidupan

di luar rimba itu. Memang sejak ia mendidik murid-muridnya, seakanakan

telah putus hubungannya dengan luar rimba saking sibuknya.

Ia berharap Paras Tampan dan kedua murid lainnya selamat dan tidak

muncul saat ini.

Tiba-tiba terdengar siulan yang melengking nyaring panjang dan pendek

ditambah pukulan beberapa batang kayu. Tanda rahasia dari

Perguruan Kapak Ganda.

”Hmm, mereka telah menemukan sesuatu, mari kita pergi..!” kata

Mayat Pucat sambil tak lupa melemparkan sesuatu ke sekeliling Ki

Tapa yang telah terluka sana-sini. Asap kekuningan tampak mengambang

perlahan. Meninggalkan jejak gosong kehitaman pada rumput

yang dikenai sesuatu itu.

Bergeges orang-orang Perguruan Kapak Ganda pun menghilang,

232 BAGIAN 4. PENJAGA KESEIMBANGAN

menuju pemberi isyarat tadi.

Sunyi.

Ki Tapa mencoba mengatur lagi pernafasannya. Lukanya telah cukup

parah, ditambah lagi dengan racun yang baru saja disebarkan oleh

Mayat Pucat. Tak ada kesempatan ia untuk beranjat dalam keadaan

hidup dari sana.

”Coreng.., Moreng..,” ucapnya lirih dengan sisa-sisa tenaganya, ”beritahu

Paras Tampan apa yang terjadi. Tak usah dibalas. Tapi tegakkan

saja keadilan.. bagi.. semua orang...” Terhenti ucapannya karena

racun yang dihirupnya telah tiba ke jantung dan juga otaknya. Ki

Tapa berusaha tersenyum saat menghembuskan nafas terakhirnya.

Jauh di pinggir lapang sana, tampak dua orang Manusia Tiga Kaki

menyaksikan sisa-sisa pertempuran yang menyedihkan itu. Mereka

tadi telah dipesankan untuk tidak ikut campur. Urusan manusia

bukan urusan mereka.

Angin pun berhembus pelan. Turut berduka atas pergi selamanya beberapa

manusia penghuni Rimba Hijau. Beberapa diantaranya masih

terlalu muda untuk berpulang.

***

Tertulis di atas secarik kertas terlipat-lipat itu kalimat-kalimat,

”Cari Seh Pratahu (Pratahu Tua) dan minta kesediaan Nah Pratahu

(Pratahu Muda) untuk menyertai. Ramalan mereka kelihatannya

menjadi kenyataan. Sayang terlambat untuk mencegahnya. Telah

dilakukan hal-hal yang diusulkan. Hawa kembar mungkin bersatu.”

Kesedihan tampak jelas di wajah pemuda itu. Kertas itu adalah pesan

terakhir gurunya yang ditemukan oleh Coreng dan Moreng, kedua

Manusia Tiga Kaki di balik jubahnya, saat akan memakamkan mereka.

Ki Tapa gurunya dan keempat saudara-saudara seperguruannya di

Rimba Hijau telah meninggalkan kehidupan di dunia ini. Kembali ke

suatu tempat, untuk menanti bertemu dengan Sang Pencipta.

Didengarkannya dengan tabah penuturan Corang dan Moreng mengenai

serangan yang dilakukan oleh orang-orang Perguruan Kapak

233

Ganda yang dipimpin oleh tiga dedengkotnya, Cermin Maut, Sabit

Kematian dan Mayat Pucat. Di luar sana, di Kota Luar Rimba Hijau

mereka juga melakukan pekerjaan besar. Membantai hampir seluruh

penghuni kota itu.

***

”Guru, saya tidak mengerti apa maksud dari ujar-ujar ini?” tanya

seorang pemuda pada seorang tua yang duduk di balik meja kayu

sederhana di depannya. Duduk di atas pembaringan yang terbuat

dari kayu-kayu dan daun.

Orang yang dipanggil guru oleh pemuda itu tidak langsung menjawab,

melainkan tampak berpikir sebentar untuk kemudian membungkuk

dan menuliskan sesuatu dalam buku yang ada di pangkuannya.

Setelah menyelesaikan hasrat untuk menorehkan sesuatu dalam bukunya,

ia meletakkan alat-alat tulisnya dan menengadah melihat pada sang

pemuda, muridnya yang menanyakan sesuatu tadi.

”Ujar-ujar mana maksudmu?” tanyanya kemudian.

”Ini..,” jawab pemuda itu sambil menunjuk sebuah buku yang tengah

dibacanya. Sebuah buku tua dengan tulisan-tulisan yang aneh,

bukan tulisan yang biasa dikenal di tanah di tempat mereka berdua

bermukim.

”Hmmm....!” Tampak sang guru termenung sejenak, berkerut-kerut

keningnya memikirkan kata-kata itu. Lalu ia pun bangkit dari pembaringannya.

Berderit-derit ranjang itu berbunyi saat ia berlalu

darinya.

Sang guru pun kemudian berjalan menghampiri sebuah perabotan

yang berfungsi sebagai rak buku. Tempa ia menumpukkan kitab-kitab

lainnya. Dipilih-pilihnya beberapa kitab yang berjejer di sana. Dibacanya

satu per satu judul-judul di hadapannya. Sampai suatu saat

ia berhenti, dan diambilnya sebuah buku bersampul merah tua yang

tampak telah lama menghuni alam ini. Lusuh dan buram warnanya.

Lalu dibolak-baliknya buku bersampul merah tua tersebut, sampai

ditemukannya suatu halaman. Raut mukanya berubah gembira. Telah

ditemukan apa yang dicarinya. Beranjak ia kemudian ke arah meja

234 BAGIAN 4. PENJAGA KESEIMBANGAN

kayu tempat sang murid sedang berada. Dihempaskannya buku itu

ke atas meja. Debu-debu tampak sedikit beterbangan keluar dari

buku tua tersebut. Kebiasaan menghempaskan buku yang mengandung

sesuatu yang dicarinya dan telah ditumukan, memang benarbenar

telah mendarah daging. Suatu perwujudan kegembiraan bisa

menemukan suatu rujukan atau menandakan bahwa ingatannya masih

jalan. Orang yang tidak mengerti tentu bisa merasa tersinggung atas

sikap seperti itu.

Sang murid tampak tenang-tenang saja melihat kelakukan gurunya

yang telah berulang-ulang kali disaksikannya itu.

”Ini, ada di sini.. apa yang engkau tanyakan tadi...,” tunjuknya dengan

bersemangat. Lalu lanjutnya sambil membacakan kalimat-kalimat

yang ditemuinya, ”... dapat disebut ruang, apabila ada yang dijadikan

rujukan atau acuan. Dalam suatu kekosongan mutlak (tiada apa-apa

dan siapa-siapa) tidak bisa didefinisikan ruang. Setidaknya harus ada

dua (benda/hal) agar satu dapat dinyatakan terhadap yang lainnya.

Rujukan menciptakan ruang ..”

Sang guru membacakan beberapa kalimat yang dirasanya penting untuk

diketahui oleh muridnya setelah ia kembali duduk di pembaringannya.

Kemudian berlangsung diskusi dua arah antara guru dan muridnya

tersebut. Percakapan mengenai arti dan makna ujar-ujar itu

berlangsung cukup lama, sampai tiba-tiba terputuskan oleh suatu deru

angin lemah dan berat. Samar-samar tapi jelas terdengar.

Bergegas sang guru beranjak dari tempatnya. Dibukanya pintu pondok

di mana mereka berada. Ia berdiri di tengah-tengah pintu.

Memastikan apa yang didengarnya barusan.

”Betul, itu suara air..,” katanya gembira. ”Mari kita jelang.. Kehidupan

akan mulai muncul kembali..”

Masih tak mengerti sang murid pun mengikuti gurunya. Keluar

menuju ke suatu arah dari pondokan mereka. Ke arah di mana di

tengah-tengah gurun pasir tersebut, Gurun Besar, terdapat alur-alur

batu-batu kecil di tengah-tengah lautan pasir yang membentang.

Bekas sungai yang kering saat kemarau. Pada musim tersebut hanya

danau tersebut yang tersisa. Lainnya kering. Binatang-binatang

umumnya bermigrasi ke luar Gurun Besar untuk mencari tempat

235

yang lebih subur dan banyak makanannya. Hanya sedikit hewan yang

tidak bisa pindah jauh tetap bertahan dengan berlindung di balik

batu-batu atau di dalam pasir.

Perlahan dengan mendesis pelan. Air mengalir pelan tapi pasti.

Mengisi kembali jejak-jejaknya yang telah mengering. Jalur-jalur

batu kecil tersebut bergulung-gulung terisi oleh air bercampur pasir

yang mengalir. Memberikan kehidupan kembali di sepanjang alirannya.

Suatu pemandangan yang indah. Rahmat yang tiada tara yang

diberikan oleh Sang Pencipta.

Orang tua itu berdiri diam. Menikmati semua itu. Merasakan

bagaimana hawa atau aura alam sekitarnya seakan-akan tergugah

bangkit dengan munculnya aliran itu. Kehidupan renik-renik seakanakan

dibangunkan dari tidurnya. Dibebaskan dari tapanya. Diberitahu

bahwa salah satu sumber kehidupan telah tiba kembali. Air.

Aliran itu mengalir cukup aneh. Hanya sedikit pecahannya yang

menuju danau dekat pondokan kedua orang itu. Sisanya yang sebagian

besar melaju terus menuju utara. Entah ke mana. Ke tengah-tengah

Gurun Besar.

Tak terasa orang tua itu menitikkan air matanya. Terharu ia merasakan

kedahsyatan alam dalam membangun kembali kehidupan. Benarbenar

mengharukan hatinya.

Pemuda itu mau tak mau tergugah pula oleh suasana yang baru pertama

kali ditemuinya itu. Ia pernah diceritakan oleh gurunya mengenai

hal itu, akan tetapi baru kali ini ia mengalami sendiri. Umumnya

peristiwa itu berulang setiap tahun. Akan tetapi sebelumnya ada saja

keperluan gurunya yang harus dipenuhi, sehingga saat-saat aliran itu

datang ia tidak berada di sana untuk menyaksikannya. Baru saat ini

ia bisa melihatnya sendiri. Umumnya bila ia ada di sana, sungai itu

telah ada atau sama sekali kering. Tidak seperti saat ini, terbentuk

dari tiada menjadi ada.

Setelah lama aliran tersebut telah menghilang ujungnya di kejauhan.

Di hadapan kedua orang itu terbentang sungai kecil yang dangkal

dengan lebar dua tiga tombak akan tetapi membelah gurun itu dari

selatan ke utara. Dari arah Gunung Berdanau Berpulau menuju ke

tengah-tengah Gurun Besar. Ke suatu tempat di tengah sana.

236 BAGIAN 4. PENJAGA KESEIMBANGAN

”Sudah saatnya.., sudah saatnya...” orang tua itu seakan-akan berbicara

pada dirinya sendiri. Lalu ia menutup mata sebentar, seakan-akan

mengheningkan cipta untuk bersyukur atas fenomena alam yang baru

saja disaksikannya itu.

Hening.

”Muridku..,” panggil orang itu perlahan.

”Ya guru..,” jawab sang murid hormat.

”Sudah saatnya aku ceritakan padamu tentang keluarga Pratahu.

Keluarga orang-orang yang memiliki kemampuan untuk membaca

masa depan, mendengarkan yang tak terdengar, mengendalikan sesuatu

dengan pikiran, dan mencari tahu siapa-siapa anggota keluarganya...”

Menarik napas sebentar orang tua itu. Kemudian lanjutnya,

”cerita ini akan merupakan bekalmu nanti. Mencari paman dan

sepupumu. Anggota keluarga Pratahu.”

Kemudian diajaknya sang murid untuk beranjak dari sungai yang baru

saja airnya mengalir kembali setelah melewati musim kering yang panjang.

Dicarinya sebuah batu bundar besar datar yang di sisi-sisinya

terdapat beberapa batu-batu bundar kecil. Lebih rendah dari batu

pertama tersebut. Sembilan buah semuanya. Delapan yang kecil,

mengelilingi satu yang besar. Tersusun secara alami, seakan-akan sebuah

meja bundar dengan delapan buah bangkunya. Alami terbuat

dari batu. Halus seakan-akan dikerjakan dengan tangan. Di sanasini

terdapat celah-celah yang ditumbuhi oleh lumut dan tumbuhantumbuhan

perintis lainnya.

Orang tua itu kemudian duduk di salah satu bangku alam itu. Muridnya

si anak muda duduk di sisinya. Di atas bangku alam yang lain.

Siap mendengarkan kisah yang akan dibawakan oleh gurunya.

Sudah lama sejak beberapa ratus tahun yang lalu, di suatu tempat di

Tanah Tongkat Ditanam Jadi Tanaman terdengar kabar akan adanya

suatu keluarga yang pandai meramal. Melihat apa-apa yang akan

terjadi di masa depan. Pratahu dikenal orang-orang. Keluarga tersebut

umumnya tidak memiliki banyak orang dalam satu generasinya.

Akibatnya keberadaan keluarga itu boleh dikatakan hampir-hampir

seperti dongeng saja. Akan tetapi kadang-kadang terdapat peristiwa237

peristiwa besar yang terjadi akibat adanya kisikan dari orang-orang

yang berasal dari keluarga Pratahu ini.

Dalam satu jaman terdapat suatu kerajaan yang menguasai tanah ini.

Kerajaan yang dipimpin oleh seorang raja yang mengambil kekuasaan

dari raja sebelumnya dengan cara paksa. Membentuk kerajaan baru

dengan nama keluarganya sebagai nama era pemerintahan yang baru.

Perebutan kekuasaan tersebut dilakukan dengan menuduh bahwa

raja yang lama terlalu terlena dalam semangat nasionalis kerajaan sehingga

menelantarkan rakyatnya. Raja yang lama hanya mengerjakan

pembangunan-pembangunan menara gading. Pembangunan dengan

tujuan agar dipuji oleh kerajaan tetangga Ingin dibilang pemerintahannya

maju.

Dengan alasan ini raja yang baru, yang saat itu merupakan seorang

senopati kepercayaan pula melakukan pembenaran atas tindakannya

itu. Demi rakyat dan kerajaannya agar tidak terpuruk lebih dalam ke

arah kekeliruan. Bersamaan dengan itu sang senopati pun menangkap

belasan orang senopati-senopati utama yang rekannya sendiri, dan

merupakan kawan-kawan dekat dan kepercayaan raja yang lama, untuk

sama-sama dihabisi. Dituduh akan berkhianak kepada raja yang

lama. Suatu kejadian yang sebenarnya pun sulit diterima oleh para

rakyatnya.

Untunglah raja yang baru itu bersikap lebih baik. Rakyat dalam hal

ini tidak dikorbankan. Hanya terjadi sedikit peristiwa berdarah dalam

internal keprajuritan kerajaan. Korban dalam pihak tentara saja.

Lain tidak. Kekuasaan pun berpindah dengan mulus.

Hanya saja orang-orang tidak tahu apa sebenarnya peristiwa di belakang

itu. Sang senopati yang kemudian menjadi raja, mendapat

kisikan dari salah seorang anggota keluarga Pratahu bahwa ia bisa

menjadi penguasa, apabila melakukan gerakan pada saat yang tepat.

Ia pun diberikan petunjuk-petunjuk tersirat dalam syair-syair. Dikarenakan

bakatnya yang memang cerdas, sang senopati pun bisa memecahkan

syair-syair tersebut dan memperolah apa yang diinginkannya.

Akan tetapi kemudian terbersit suatu pikiran gila yang umumnya

menghinggapi orang dalam tampuk kekuasaannya. Sang raja yang

baru itu merasa takut, jika anggota keluarga Pratahu mencari orang

238 BAGIAN 4. PENJAGA KESEIMBANGAN

lain dan memberikan kisikan yang sama atau mirip seperti dirinya.

Bisa jadi kekuasaan akan berpindah dari tangannya ke orang tersebut.

Hal ini harus dicegah. Untuk itu ia memerintahkan untuk mencari

seluruh keluarga Pratahu dan membunuhnya. Demi hanya untuk

melanggengkan kekuasaannya.

Terjadilah bencana tersebut. Seluruh keluarga Pratahu hampir

dibasmi. Hampir habis dan musnah dari muka bumi. Seorang yang

berhasil selamat mengungsikan dirinya di gurun pasir, Gurun Besar.

Bertahan di sana selama bertahun-tahun. Bersembunyai di gua-gua

batu dalam pasir yang kadang-kadang muncul, kadang-kadang hilang

tertelan pasir. Dengan cara itu ia bisa bertahan dan tidak didapati

oleh tentara kerajaan.

Orang terakhir itu bernama Kas Pratahu (Pratahu Terakhir). Dengan

adanya niatan raja untuk membasmi seluruh keluarganya, sulit

baginya untuk melanjutkan keturunan. Akan tetapi tanpa keturunan

ia tidak bisa mewariskan kemampuan keluarga Pratahu kepada orangorang.

Ramalannya tidak bisa dimanfaatkan.

Pada suatu malam, ia didatangi oleh roh-roh leluhurnya dan juga

anggota keluarga Pratahu yang mati dibantai oleh para prajurit kerajaan

atas perintah raja. Dalam mimpi tersebut ia diberi kisikan agar

menjalankan ilmu leluhurnya yang sudah lama tidak digunakan. Keluarga

Semesta. Ilmu itu membuka aliran keturunan keluarga Pratahu

agar bakat dan ilmu mereka tidak lagi perlu diturunkan melalui pertalian

darah, melainkan melalui pertalian aura atau hawa.

Setelah ilmu Keluarga Semesta itu dirapalkan, Kas Pratahu tinggal

mengembara mencari ”anaknya”. Bisa berada di tanah ini, bisa

pula di seberang pulau. Bisa berasal dari suku yang sama, bisa pula

berbeda. Bisa anak laki-laki, bisa pula anak perempuan. Ia hanya

harus berkelana, mencari-cari tanda-tanda yang menunjukkan seorang

anak adalah anggota keluarga Pratahu. Keluarga yang ditunjukkan

oleh ilmu Keluarga Semesta. Dengan cara ini Kas Pratahu

tidak perlu lagi berkeluarga. Ia tinggal mencari anak yang dimaksud.

Mendidiknya secara diam-diam bila anak itu masih berkeluarga. Bila

telah yatim piatu lebih mudah, tinggal diambilnya sebagai murid.

Begitulah tiga ratusan tahun belakangan ini keluarga Pratahu berkem239

bang satu persatu melalui cara ini. Sampai saat ini baru ada empat

orang, Seh Pratahu dan Nah Pratahu serta dua orang lainnya.

Nah Pratahu sendiri ditemukan oleh Seh Pratahu sebagai anak yang

baru saja ditinggal mati oleh kedua orang tuanya yang dibunuh oleh

perampok. Anak itu kemudian terlunta-lunta di jalanan di sekitar

sisa-sisa rumahnya yang telah hancur terbakar. Seperti seorang yang

tidak lagi punya keinginan atau tahu apa yang akan dilakukannya

dalam hidup ini. Sampai lewatnya Seh Pratahu.

Si orang tua itu kemudian menguburkan jasad orang-orang yang

tergeletak di sekitar situ. Menggapai si anak dan menenangkannya.

Pada saat itulah ia melihat tanda-tanda pada anak itu yang menyatakannya

sebagai keturunan dari Pratahu. Keturunan akibat ilmu

Keluarga Semesta.

Seh Pratahu kemudian mengangkat si anak yang kemudian diberi

nama Nah Pratahu menjadi muridnya. Menurunkan ilmu-ilmunya.

Melatihnya agar dapat menjadi penerusnya kelak.

Hari inilah baru kisah turun-temurun keluarga Pratahu dibeberkan

oleh Seh Pratahu kepada Nah Pratahu. Dan bahwa akan menjadi

kewajibannya kelak untuk mewariskan ilmunya pada orang-orang yang

ditandai merupakan keturunan atau keluarga mereka.

”Jadi guru..., adalah ayahku dalam keluarga Pratahu..,” ucap anak

muda itu tersekat. Tak disangkanya bahwa ia masih dapat memiliki

seorang ayah. Bukan ayah akibat pertalian darah, melainkan ayah

karena pertalian aura atau hawa.

Mendengar pertanyaan penuh haru itu, Seh Pratahu hanya mengangguk.

Terbersit pula rasa haru di dadanya. Ia kini punya seorang anak.

Rahasia telah dibeberkan. Pemuda itu bukan lagi sekedar muridnya,

melainkan anak dalam ilmu Keluarga Semesta.

Tak tahan dengan keharuannya dan juga rasa hormatnya pada sang

orang tua, pemuda itu pun berlutuh. ”Ayah....,” ucapnya sambil

bersujud.

”Anakku..,” jawab sang ayah sambil turun menyambut sujud anaknya.

Dielus-elusnya kepala sang anak dan kemudian dipeluknya. Dialirkan

240 BAGIAN 4. PENJAGA KESEIMBANGAN

rasa sayangnya yang selama ini ditahan-tahannya. Lega rasanya setelah

rahasia ini diberitakan.

”Ayah, jika dalam keluarga Pratahu aku adalah anakmu, mengapa

baru saat ini ayak katakan dengan selama ini ayah menjaga jarak

padaku sebagai guru..,” tanya anaknya tak mengerti.

Sambil tersenyum sang ayah berkata, ”tak mudah untuk melakukan

hal itu, anakku. Engkau sudah memiliki orang tua saat aku temukan,

walau mereka baru saja tiada saat itu. Sudah tentu telah terpatri

dalam ingatanmu akan mereka. Perlu waktu agar engkau dapat

menerimaku sebagai ayah dalam keluarga Pratahu.” Lalu lanjutnya,

”demikian pula dengan aku. Engkau pada awalnya adalah orang asing.

Seorang anak yang aku temui dalam perantauan. Syukurnya rasa

sayang ini dapat tumbuh, sehingga aku benar-benar dapat merasakan

bahwa engkau adalah anakku dalam keluarga.”

Rasa sayang dan cocok yang tidak dikatakan terpancar dari kedua

sosok manusia itu. Kecocokan yang menandakan bahwa mereka

bertalian aura dalam keluarga Pratahu.

***

Tak terasa waktu telah lama berlalu. Sudah hampir setahun lewat

Telaga berdiam di rumah Walinggih. Di sana ia belajar ilmu-ilmu

pedang yang dikenal sebagai ilmu Pedang Panjang, ilmu yang membuat

Walinggih dikenal sebagai Hakim Haus Darah. Dikarenakan lihai

dan juga kejam. Tapi itu dulu, sekarang ia tidak lagi kejam setelah

memperoleh seorang murid dan juga seorang teman, Telaga.

Selain belajar ilmu Pedang Panjang dari Walinggih, Telaga juga belajar

ilmu Sabetan dan Tangkapan Tangan dari Arasan dan putrinya,

Sarini. Kedua orang itu adalah orang-orang pertama yang akrab dengannya

di daerah di mana ia bermukin saat ini. Dan sebagai tambahan

ia mendapat pula sedikit operan tenaga dalam dari Wananggo, kakak

Walinggih saat ia bertemu dengan Telaga di Danau Genangan Batu.

Di Padang Batu-batu jauh lagi ke selatan dari kedua desa, Desa Batu

Barat dan Desa Batu Timur, terdapat suatu ceruk atau jurang dalam

yang di mana sebagian aliran sungai masuk ke dalamnya. Lubangnya

amat lebar dengan di tengahnya terdapat lubang yang jauh lebih kecil

241

yang dalam dan gelap. Tak bisa diduga berapa dalam dan jauhnya.

Akibat tercurahnya air ke dalam lubang yang dipinggirnya dihiasi

batu-batu itu, terciptalah sedikit air terjun dengan ketinggian satudua

tombak.

Pagi hari itu Walinggih dan muridnya Telaga berada di sana. Walinggih

ingin menunjukkan sesuatu pada Telaga. Suatu fenomena alam

yang membuatnya menciptakan suatu gerakan silat dalam rangkaian

ilmu Pedang Panjangnya.

”Mari..!” Walinggih sambil menggapai Telaga. Ia melompak ringan

dari satu batu ke batu lain. Tak lupa diberikan syarat agar Telaga

tidak menimbulkan banyak suara, agar apa yang diamati tidak menjadi

takut dan hilang.

Tak lama kemudian mereka tampak merebahkan dirinya di atas sebuah

batu ceper hitam di pinggir air terjun yang ada di sana. Percikanpercikan

air terasa menghujani mereka, membuat mau tak mau bajubaju

mereka menjadi basah. Walaupun merasa aneh Telaga masih

berdiam diri untuk mengikuti apa yang akan disaksikannya nanti.

Hening. Hanya terdengar deburan air-air yang berjatuhan akibat

gaya tarik bumi menghantam batu-batu dan rekan-rekan sesama air

dibawahnya.

Tiba-tiba tampak kilauan-kilauan di udara jauh di sana. Mengambang.

Semakin lama semakin banyak sehingga membentuk kabut.

Bukan uap air atau pun butiran air. Seperti makhluk hidup. Kadang

padat di satu tempat kadang di tempat lain. Bergerak lambat

memenuhi ruang di atas suatu batu dekat dengan air terjun. Di

seberang dari tempat di mana Telaga dan Walinggih bersembunyi

mengamati.

”Itu makanannya datang..,” tunjuk Walinggih pada muridnya.

Telaga yang tidak mengerti berusaha memicingkan matanya agar dapat

lebih jelas melihat. Tak disadarinya ia bergeser maju dengan

kepala yang agak meninggi. Tidak lagi ingat bahwa ia dan gurunya

harus bersembunyi untuk mengamati apa yang akan datang di seberang

mereka.

242 BAGIAN 4. PENJAGA KESEIMBANGAN

”Huggg..!!” dengan cepat dan tiba-tiba Walinggih menekan punggung

muridnya agar kembali bertiarap sembunyi, supaya apa yang mereka

akan amati tidak terganggu. ”Jangan ketahuan..!” ucapnya.

”Maaf, guru!” sahut Telaga lirih. Lupa apa yang telah dipesankan

gurunya sebelumnya saking tertariknya dengan apa yang dilihatnya

saat itu.

Gurunya kemudian memberi isyarat dengan tangan untuk kembali

mengamati batu-batu yang ada di sana, yang dipisahkan oleh sungai

yang jatuh di antara mereka dan batu-batu itu.

Setelah agak lama kilauan-kilauan di udara, yang ternyata ada

serangga kecil-kecil yang memanfaatkan percikan-percikan air, beterbagangan,

muncul makhluk hidup lain yang amat aneh. Belum pernah

Telaga melihat sebelumnya. Semacam kadal seukuran setengah telapak

tangan lebarnya, akan tetapi dengan panjang ekornya bisa satu

sampai satu setengah kali panjang tubuhnya. Hal lain yang membuatnya

terkagum-kagum adalah warna dari makhluk itu. Warna

pelangi. Warna kemerahan berada di kepalanya berangsur-angsur

berubah seperti pelangi sampai menjadi biru keunguan di ujung ekornya.

Benar-benar indah. Kadal Pelangi (Agama agama). Mereka

bergerak-berak, keluar dari sela-sela batu untuk mendaki batu mencapai

permukaan yang dekat dengan serangga-serangga yang sedang

menari-nari di udara.

”Apa itu guru..?” tanya Telaga, ”kita ke sini hanya untuk menyaksikan

itu..?”

”Ssst..!” jawab gurunya sambil kembali memberikan isyarat untuk

kembali memperhatikan Kadal-kadal Pelangi itu.

Tak berapa lama berkumpul banyak kadal-kadat tersebut di atas

batu yang di atasnya menari-nari serangga-serangga yang membentuk

kabut keputihan saking banyaknya. Kemudian kadal-kadal itu mulai

meloncat-loncat menggapai serangga-serangga yang beterbangan

dengan moncongnya. Memangsanya. Rupanya saat itu adalah saat

mereka melaksanakan kegiatan makan mereka.

Berpuluh-puluh Kadal Pelangi berlompat-lompatan dengan indah.

Kadang ada yang sampai berjungkir balik. Anehnya mereka dapat

243

dengan mudah kembali lagi ke posisi semula di atas batu tanpa terbalik.

Dan juga bagi Kadal Pelangi yang kebetulan berada pada

bebatuan yang tidak mendatar, melainkan miring, terjadi hal yang

sama. Mereka melompat dan kemudian kembali lagi ke tempat kirakira

mereka awalnya berpijak. Entah bagaimana caranya, terlihat

seakan-akan mereka memiliki magnit pada tempat pijakannya semula.

Melombat ke atas dan kembali.

Setelah beberapa lama menyaksikan tingkah polah kadal-kadal tersebut,

Walinggih pun beranjak pergi. Digugahnya bahu muridnya agar

mengikutinya. Mereka pun meninggalkan dengan diam-diam kadalkadal

tersebut yang masih melompat-lompat memangsa seranggaserangga

makanan mereka.

Keduanya kembali berloncatan dari batu ke batu meninggalkan ceruk

atau jurang di mana terdapat air terjun tadi. Tak lama kemudian

sampailah mereka di pelataran batu yang cukup luas. Di sekelilingnya

masih tampak bebatuan menyemut dan meninggi. Suatu ciri khas

tempat di daerah Padang Batu-batu.

Walinggih pun mengambil suatu batu menonjol di tengah pelataran itu

untuk duduk. Tak lupa ia menyenderkan pedang panjang yang selalu

dibawa-bawanya. Telaga pun mengikuti dengan mengambil tempat

duduk di dekat gurunya. Di atas batu kecil yang lain.

”Bagaimana pendapatmu tengang Kadal-kadal Pelangi tadi?” pancing

gurunya. Ia ingin menguji kepekaan muridnya atas apa yang baru saja

mereka berdua saksikan.

”Indah,” sahut Telaga pendek. Lalu lanjutnya, ”tapi ada yang membingungkanku,

guru.”

”Apa itu?” tanya gurunya. Ia berharap muridnya dapat menarik pelajaran

dari gerakan-gerakan Kadal Pelangi yang melompat-lompat memangsa

serangga-serangga tadi.

”Gerakan mereka. Bagaimana caranya mereka bisa bergerak ke atas,

kadang terbalik akan tetapi dapat kembali pada kedudukannya semula.

Mantap dan kokok. Bahkan pada Kadal Pelangi yang berpijak di batu

yang miring,” terang Telaga.

244 BAGIAN 4. PENJAGA KESEIMBANGAN

Gurunya mengangguk-angguk. Puas ia melihat bahwa muridnya

menangkap sesuatu fenomena yang baru saja mereka saksikan bersama.

Alih-alih menerangkan dengan kata-kata Walinggih menarik keluar

pedang panjangnya, berjalan menjauhi tempat mereka duduk dan

mulai membuat suatu gerakan-gerakan pada daerah terbuka itu.

Pelan dan teratur, akan tetapi kemudian semakin lama gerakangerakannya

menjadi semakin cepat dan liar. Dan pada suatu saat,

setelah cukup mendapat kecepatan dan hawa, Walinggih melompat

ke atas terbalik. Menyabetkan pedangnya ke suatu obyek khayalan

di udara. Menyentakkannya kembali ke belakang. Dan berjungkir

balik kembali. Mendarat dengan kakinya kembali, ke posisi semula

di mana ia awalnya melompat. Dan tidak hanya itu, dengan memanfaatkan

tolakan saat mendarat yang diolah oleh kakinya yang

berfungsi seakan-akan sebagai pegas, ia kembali melompat pada arah

yang berlawanan, menyabetkan pedangnya ke atas dan menghentak

kembali untuk mendarat ke tempat ia tadi melompat. Gerakangerakan

ini diulang-ulangnya beberapa kali, sempai hampir habis

napasnya.

Akhirnya Walinggih pun berhenti. Berbutir-butir peluh nampak berjatuhan

dari sekujur tubuhnya. Rupanya diperlukan pengeluaran

tenaga yang cukup besar untuk mempraktekkan gerakan itu. Bagian

dari ilmu Pedang Panjang.

Ternganga Telaga melihat demonstrasi itu. Gerakan-gerakanya yang

mirip yang dilakukan oleh Kadal-kadal Pelangi tadi, saat mereka memangsa

serangga-serangga yang memenuhi udara.

”Guru, barusan tadi..,” tanya Telaga yang tidak bisa menyembunyikan

kekagumannya atas gerakan gurunya tadi.

”Gerakan itu kunamai.. Gerakan Kadal Pelangi Makan Pagi,” katanya

jenaka. ”Mirip dengan kelakuan-kelakuan kadal-kadal yang baru kita

saksikan tadi.”

”Kupikir, dalam ilmu Pedang Panjang, hanya Sabetan Tunggal Menuai

Dua saja yang paling ampuh. Yang barusan guru tunjukkan,

benar-benar lebih dari itu,” ucap Telaga kagum.

”Sebenarnya juga tidak,” jelas gurunya, ”Sabetan Tunggal Menuai

245

Dua bisa dibilang merupakan gerakan mendatar dari Gerakan Kadal

Pelangi Makan Pagi yang geraknya hanya vertikal. Dengan tidak

meredam laju saat melakukan satu serangan, akan tetapi memanfaatkannya.

Membelokkannya pada arah yang berlawanan, sehingga

dapat membingungkan lawan. Selain itu pengguna gerakan juga tidak

harus mengeluarkan terlalu banyak tenaga untuk membelokkan gerakannya

secara drastis, karena sebenarnya hanya memutarnya saja.”

Mengangguk-angguk Telaga mendengarkan penjelasan yang diberikan

oleh gurunya itu.

”Mari,” kata gurunya yang tidak memberikan kesempatan muridnya

untuk lebih bertanya-tanya. Bagi Walinggih praktek melakukan

gerakan-gerakan lebih penting. Setelah bisa, baru perlu pemahaman

teoritis. Tidak ada gunanya teori bila tidak bisa melakukan prakteknya.

Teori ada untuk menyempurnakan praktek dan bukan sebaliknya.

Walinggih pun kemudian menjelaskan pada Telaga muridnya bagaimana

Gerakan Kadal Pelangi Makan Pagi itu dilakukan. Pertama-tama

dibutuhkan dulu gerakan awal untuk membangkitkan hawa dan juga

kecepatan. Otot-otot manusia yang diciptakan tidak sama dengan

otot-otot Kadal Pelangi, dapat menyebabkan kerusakan atau kram

apabila dipaksakan mendadak untuk melakukan gerakan-gerakan

tersebut. Untuk itu Walinggih telah menciptakan gerakan-gerakan

pemanasan. Tapi jangan dikira gerakan pemanasan ini tidak berguna.

Gerakan pemasanan itu selain untuk pelemasan dan penghimpunan

hawa, juga berguna sebagai ilmu pertahanan diri. Membuat lawan

menjadi bingung karena sifatnya yang pelan akan tetapi kemudian

menjadi liar.

Dengan susah payah Telaga berusaha memahami gerakan-gerakan

yang ditunjukkan oleh gurunya. Dicobanya menirukan dan melakukannya.

Lambat-laun dirasakan ada posisi-posisi yang enak untuk

diulang-ulang. Posisi-posisi ini membuatnya lebih mudah untuk

mengingat-ingat gerakan-gerakan yang dilakukannya.

Mengangguk-angguk Walinggih bahwa Telaga telah dapat sedikitnya

menyelami satu dari empat bagian ilmunya. Tinggal waktu yang

diperlukan untuk mematangkan gerakan-gerakan tersebut.

246 BAGIAN 4. PENJAGA KESEIMBANGAN

Saat itu hari telah menjelang siang. Matahari telah tinggi di langit.

Waktu untuk mencari makan. Umumnya orang-orang di daerah itu

jika tidak mencari-cari sayur-sayuran di hutan, mereka menangkap

binatang-binatang yang ada. Tidaklah bisa disebut hutan, karena

tempat yang dimaksud masih didominasi oleh bebatuan dan hanya

sedikit pohon-pohon yang tumbuh di atas batu-batu yang memayungi

ruang di bawahnya, sehingga menjadi lebih teduh dan gelap.




0 Response to "Elemen Kekosongan 4"

Post a Comment

Translate

English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified