Download applikasi baca novel online untuk android disini: DOWNLOAD

Elemen Kekosongan 3

Bagian 3

Hakim Haus Darah

Perkara pencurian prasasti sebesar kerbau itu bukan urusan gampang,

apalagi membawanya sampai ke Perguruan Kapak Ganda. Bisa dibilang

mustahil, mengingat perjalanan yang jauh dan juga penjagaan

yang ketak di Perguruan Atas Angin. Akan tetapi seperti dituliskan

dalam banyak Ujar-ujar Kuno, di mana ada kemauan di situ pasti

ada jalan. Dengan berbekal kemampuannya untuk menyamar, Murid

Rahasia dari Naga Geni berpura-pura sebagai pengukir prasasti dan

berkeliling menawarkan barang dagangannya. Untuk itu ia perlu pula

membawa batu-batu sebesar kerbau dalam keretanya. Tidak banyak,

cukup paling banyak tiga buah. Karena mana ada kereta yang mampu

membawa lebih dari tiga buah batu-batu sebesar itu.

Dengan dalih bahwa perguruan silat sebesar Perguruan Atas Angin

seharusnya memiliki prasasti sendiri untuk menceritakan kegagahankegagahan

pendiri dan murid-muridnya, maka ia diterima untuk membuat

salah sastu prasasti yang akan diletakkan di sekitar air terjun Air

Jatuh dalam lingkungan Perguruan Atas Angin. Ia diperintahkan untuk

membuat prasasti yang menceritakan tentang Ki Jagad Hitam dan

Lingkaran Dalam.

Oleh gurunya, Naga Geni, Murid Rahasia dipesankan untuk mencuri

satu prasasti di sana, yang menggambarkan bagaimana kedaan di sana

saat sebelum dan sesudah ilmu-ilmu dari Petapa Seberang diamalkan.

Suatu prasasti yang sebenarnya mengejek keberadaan Perguruan Atas

Angin yang meruntuhkan Perguruan Embun dan Angin sebagai pe-

125

126 BAGIAN 3. HAKIM HAUS DARAH

waris ilmu-ilmu Petapa Seberang. Akan tetapi Ki Jagad hitam yang

tidak tahu sejarah prasasti itu tetap membiarkan prasasti itu berada

di tempat itu.

Pernah Naga Geni mendapat pesan dari seorang pendekar perantau

bahwa dahulu kala terdapat tiga petapa yang merupakan sumber ilmuilmu

di tanah ini. Salah seorangnya adalah Petapa Seberang, yang

keberadaannya diabadikan dalam prasasti itu. Mengingat cerita itu,

Naga Geni berkeyakinan bahwa prasasti itu tentu akan dapat bercerita

kemana perginya kitab-kitab yang berisi ilmu-ilmu warisan tersebut.

Dengan alasan inilah ia menitahkan Murid Rahasia untuk mencurinya.

Mencuri suatu prasasti tidaklah mudah. untuk itu Murid Rahasia

perlu terlebih dahulu merencanakannya dengan seksama. Gagasan

yang dipakainya, adalah ia akan membuat tiruan yang sama persis

dengan prasasti yang akan dicurinya itu, berikut tulisan di bawahnya.

Tulisan di bawah prasasti itu telah ditemukannya secara tidak

sengaja. Selain syair ia menemukan pula lambang di bawahnya. Lambang

seperti yang ditemukan oleh Sabit Kematian. Murid Rahasia

pula yang berinisiatif untuk menutupi lambang tersebut agar tidak

semua informasi di bawah prasasti itu dapat dibaca dengan mudah.

Setelah prasasti tiruan jadi, yang dibuatnya bersamaan dengan prasasti

pesanan Perguruan Atas Angin, ditukarnya prasasti itu dengan diamdiam

sehingga tidak ada seorangpun yang tahu. Bahkan Ki Makam

yang kemudian hari mengambil keempat kitab di bawahnya tidak

mengetahui palsunya prasasti itu. Dan hal ini amatlah wajar, karena

selain kepiawaian Murid Rahasia menirukan bentuk prasasti itu, juga

bahwa Ki Makam sama sekali belum pernah melihat prasasti itu.

Sampai ia harus menggesernya untuk mengambil kitab-kitab sebagai

pelaksanaan pesan dari gurunya, Ki Tilu.

Lalu mengapa Murid Rahasia sampai tidak melihat kitab-kitab tersebut.

Hal yang sama pun berlaku seperti tipuan yang dilakukannya.

Lubang di bawah prasasti itu telah ditutup dengan cara yang mirip dilakukan

olehnya untuk menyembunyikan lambang itu kemudian. Dan

ia sama sekali tidak menyangkanya bahwa ada sesuatu persis di bawah

prasasti itu. Ki Makam tentu saja tahu karena telah dipesankan sebelumnya.

127

Dalam tiruan prasasti Murid Rahasia sengaja tidak mengukirkan lambang

yang disembunyikannya. Secara naluriah ia merasa bahwa lambang

itu memiliki arti penting bagi syair-syair itu, atau bahkan merupakan

kuncinya. Lambang itu pula yang sebenarnya dipesankan oleh

Ki Tilu kepada Ki Makam untuk ke mana menyimpang kitab-kitab

itu. Ke timur, ke suatu gunung di tengah belantara hijau. Gunung

Hijau.

Kembalinya Murid Rahasia membawa prasasti yang dipesan oleh gurunya

Naga Geni tepat saat perguruannya telah dibumihanguskan oleh

Perguruan Atas Angin. Sesak kesedihan menjalar ke seluruh darahnya.

Jika saja ia tahu akan perseteruan itu pasti ia lebih memilih

pulang untuk membantu gurunya. Dengan kemampuannya mungkin

saja ia dapat mempertahankan kehidupan guru dan saudara-saudara

seperguruannya. Akan tetapi sekarang apa yang dapat dilakukannya,

semua telah hancur dan hilang. Tujuan hidupnya pun juga. Setelah

menempatkan prasasti curian itu pada tempat latihan gurunya yang

terletak agak rahasia, sehingga tidak dibumihanguskan oleh Perguruan

Atas Angin, Murid Rahasia pun pergi meninggalkan perguruan

itu. Ke arah barat ia melangkahkan kakinya. Ke arah Gurun Besar.

***

Seorang pemuda dengan pakaian yang amat sederhana berjalan cepat

di atas pasir yang panas di dalam lingkungan Gurun Besar. Langkahnya

ringan dan mantap. Tidak terlihat terlalu dalam jejak kaki yang

ditinggalkannya di atas pasir yang telah dilaluinya. Hal ini menandakan

ada sedikit ilmu yang dimiliki pemuda itu. Setelah berjalan

bergegas beberapa lama, sampailah ia pada suatu danau kecil di tengah

gurun. Danau yang cukup luas dengan kehijauan di sekitarnya.

Di pinggir danau itu terdapat sebuah rumah sederhana. Satu-satunya

rumah di kawasan itu. Tanpa membuang waktu bergerak ia menuju

rumah itu.

Baru saja dibukanya pintu itu telah terdengar suatu suara menyambutnya,

”ceritakan..., ceritakan.., bagaimana semuanya berlangsung.”

Suara itu berasal dari seorang tua yang duduk di atas suatu rajang

sederhana yang terbuat dari kayu dan daun-daun. Sedang sedang

duduk bersila sambil menuliskan sesuatu di pangkuannya.

128 BAGIAN 3. HAKIM HAUS DARAH

”Baik, guru!” jawab pemuda itu patuh. Tidak dirasakannya dongkol

atau pun kesal, bahwa orang itu, gurunya, sama sekali tidak menaruh

perhatian pada dirinya, melainkan hanya pada kabar yang dibawanya.

Sudah kenal pemuda itu pada tabiat gurunya. Sudah terbiasa ia. Jadi

mulailah ia bercerita.

”Di timur makhluk tanah bercerita bahwa pada akhirnya hanya tinggal

lima orang yang akan naik gunung untuk menentukan nasibnya.

Dua orang tambahan akan hanya jadi peracik obat. Makhluk air di

selatan mengatakan seorang telah pergi semakin jauh ke selatan, sementara

gantinya sedang melatih tenaga air. Makhluk api dan udara

belum mengatakan apa-apa.” Pemuda itu tampak berhenti sejenak

untuk mengambil napas. ”Malah boleh dikatakan bahwa saya sama

sekali belum bertemu dengan makhluk api dan udara.”

Orang tua itu mengangguk-angguk sambil tersenyum. Informasi ini

menggembirakan dirinya. Hal itu tampak dari senyumnya dan tawa

kecilnya. Lalu katanya, ”bagaimana dengan pergerakan-pergerakan?”

”Yang di utara sudah menyebarkan cabang-cabang mengapit yang

agak di tengah. Yang agak di tengah hanya memusatkan kekuatan

di satu titik,” jelas pemuda itu kemudian.

”Menarik..., lalu tiga kekuatan yang agak di tengah itu?” tanya orang

tua itu kemudian.

”Beberapa saat belakangan ini tidak terlihat pergerakan mereka. Selain

melatih mereka biasanya hanya mengunci diri di ruang semedi.

Tampak seperti ada yang direncanakan,” terang pemuda itu.

”Dan urusanmu sendiri?” tanya gurunya akhirnya.

”Belum selesai guru. Saya masih tidak tahu ke mana harus mencari

kakak saya yang hilang itu,” katanya tanpa ekspresi. Sudah telalu

lama ia berpisah dengan kakaknya. Tepatnya sejak ia menjadi murid

orang tua itu. Dan sudah selama itu pula ia mencari kakaknya. Jadi

bisa dikatakan sudah lupa bagaimana rasanya memiliki seorang kakak.

Pencarian itu pun dilakukan hanya karena pesan dari kedua orang

tuanya, yang saat ia jumpai sedang meregang nyawa.

”Berjanjilah untuk mencari adikmu!” kata salah seorang dari mereka.

129

Anak kecil itu pun mengangguk. Tak lama melepas nyawalah kedua

orang yang telah terluka parah itu.

Pemuda itu tak ingat jelas bagaimana pertemuan pertamanya dengan

gurunya itu. Saat ia sadar, ia telah berada di tengah gurun ini, Gurun

Besar. Gurunya hanya mengatakan bahwa ia menemukan dirinya

pingsan di jalan dan membawanya ke sini.

”Bagimana menurutmu?” tanya sang guru kemudian.

”Tak bisa dielakkan, pasti akan terjadi” jawabnya tegas.

”Yakin sekali kelihatannya..,” komentar gurunya sambil tersenyum.

”Berdasarkan tanda-tanda yang dibaca dan juga suara-suara dari empat

elemen makhluk. Tidak bisa tidak. Pertempuran harus terjadi...”

gumamnya.

Orang tua itu mengangguk-angguk. Bangga atas uraian muridnya

mengenai prediksi akan masa yang datang menjelang. Ia memang

mengajarkan murid-muridnya bagaimana mengali informasi tidak

hanya dari orang akan tetapi juga dari alam dan makhluk-makhluk

lainnya. Sebagai contoh makhluk-makhluk empat elemen.

”Tetapi guru, jika kita bisa membaca tanda-tanda jaman, mengapa

tidak tanda-tanda untuk diri kita sendiri?” tanyanya kemudian.

Mendengar pertanyaan itu gurunya tertawa kecil, ”aku tidak akan

menjawabnya, carilah sendiri. Aku yakin kamu pasti bisa menjawabnya.

Tapi perlu waktu.”

Pembicaraan pun berlanjut mengenai hal-hal lain. Orang tua itu pun

kemudian mencatat beberapa hal yang dianggapnya perlu. Bila ingat

akan sesuatu yang dirasanya penting tapi belum dicatatnya, ditanyakannya

lagi hal itu dan pemuda itu dengan sabar mengulanginya

kembali. Walau mungkin suatu hal telah berulang kali dijelaskannya.

Begitulah kebiasaan dari guru dan murid yang tinggal di dekat Danau

Tengah Gurun Besar itu.

Di luar pun angin berhembus perlahan menghempas pasir-pasir halus

kering menuju danau yang beriak kecil-kecil pada permukaannya.

Rumput-rumput kering yang bergulung-gulung tampak juga menari130

BAGIAN 3. HAKIM HAUS DARAH

nari. Sunyi dan kering. Sepi.

***

Matahari yang masih malu-malu di ufuk timur menyambangi hari

itu bersama dengan kicauan burung-burung sebagai latarnya. Sinar

sang surya yang masih temaram menambah gagah ketinggian tebing

yang menjulang menghujam langit itu. Gunung Berdanau Berpulau.

Gunung tersebut membentang megah pada arah timur-barat, sampai

ribuan kambing dewasa panjangnya. Sangar dan tampak seperti

berwibawa. Seorang pemuda tampak berdiri di kaki gunung itu. Ia

memandang ke arah utara, ke arah di mana Gunung Berdanau Berpulau

berakar pada bumi.

Ingin dikenangnya saat-saat ia dididik ayah dan ibunya di gunung itu.

Dilatih ilmu mengolah salah satu sumber tenaga di alam ini. Tenaga

yang mengalir, akan tetapi kadang dapat memudar seperti uap, atau

kadang dapat mengeras seperti es. Itulah jenis tenaga dalam yang dilatihnya.

Diajarkan oleh kedua orang tuanya. Sudah saatnya sekarang

ia menambah ilmunya dengan merantau dan mencari guru untuk belajar

ilmu bela diri. Ya, ilmu beladiri. Walaupun ia sudah dapat

menghimpun tenaga dalam atau hawa untuk menguatkan tubuh, tapi

ia belum memiliki ilmu beladiri. Ilmu itu tak diajarkan oleh orang

tuanya, karena mereka pun tak mengerti akan ilmu itu. Sudah turuntemurun

keluarganya menyimpan suatu rahasia bagaimana mengolah

tenaga lembut tapi menyimpan kekuatan yang luar biasa itu, Tenaga

Air. Dan karena keluarganya hanya merupakan semacam ’Pelestari

Ilmu’ dari Tenaga Air tersebut, mereka tidak ambil pusing tentang

bagaimana cara memanfaatkan ilmu itu dalam pertempuran. Tugas

mereka hanya menjaga agar cara-cara melatih ilmu itu tidak punah.

Itu saja.

Akan tetapi pemuda itu lain. Ia tidak ingin hanya menjadi Pelestari

Ilmu, melainkan juga pengguna ilmu itu. Untuk itu ia perlu belajar

ilmu beladiri. Suatu ilmu di mana ilmu tenaga yang telah dimilikinya

dapat diterapkan dalam gerakan-gerakan. Baik gerakan melindungi

diri sendiri ataupun menyerang orang yang menjadi lawannya. Dipandangnya

sekali lagi gunung itu. Setelah puas merekam gambaran

dari obyek yang ada dihadapannya, dibalikkan tubuhnya. Sekarang ia

memandang pada bentangan luas suatu konstruksi geografis yang ter131

diri dari batu-batu belaka. Luas menutupi seluruh matanya, bahkan

sampai ke sudut kiri dan kanannya. Padang Batu-batu. Suatu entitas

lansekap yang berada di selatan Gunung Berdanau Berpulau.

Masih diingatnya pembicaraan terakhir dengan ayah dan ibunya, di

saat ia meminta ijin untuk pamit menimba ilmu di rantau.

”Telaga, sudah bulatkah tekadmu itu, nak?” tanya ibunya perlahan.

Bergetar suaranya saat menanyakan itu. Perasaan seorang ibu

yang tidak mau berpisah dengan anaknya, membuatnya tidak seperti

biasanya. Nyi Sura yang umumnya terlihat dingin tanpa senyum

akan tetapi gagah, tampak agak rapuh di saat akan berpisah dengan

anaknya. Anak satu-satunya itu.

Lain halnya dengan suaminya, Ki Sura. Ia tenang-tenang saja. Seorang

anak lelaki tak jauh beda dengan ayahnya nanti, begitu pikirnya.

Dulu sewaktu ia muda, ia pun pergi merantau. Dan sekarang anaknya

pasti akan pula mengikuti jejak sang ayah. Oleh karena itu sudah

lebih siap dirinya begitu mendengar keinginan anaknya untuk pergi

merantau menimba ilmu.

Mendengar pertanyaan ibunya, mengangguklah Telaga. Lalu katanya

kemudian menegaskan, ”ya ibu, saya sudah membulatkan tekad.”

”Tapi..,” jawabnya ibunya tercekat. Tak ditemukannya kata-kata untuk

menghalangi keinginan anaknya saat itu.

Sudah sejak lama Telaga mempunya niat untuk merantau. Dan sudah

berulang alasan diutarakan oleh Nyi Sura. Alasan-alasan yang

harus dipenuhinya sebelum ia diperbolehkan untuk merantau. Dengan

patuh Telaga memenuhi semua tuntutan-tuntutan ibunya. Termasuk

di dalamnya adalah belajar Tenaga Air sampai tingkatan ibunya,

yaitu tingkat tujuh dari dua belas tingkatan yang ada. Selain itu

ia harus pula menghafal teori dari sisa tingkatan yang belum dicapainya.

Ayahnya sendiri baru mencapai tingkat sepuluh. Umumnya

hanya orang-orang berbakat dan amat tekun yang dapat mencapai

tingkat sebelas dan dua belas. Tingkatan ayahnya sudah termasuk

cukup tinggi untuk orang-orang biasa.

”Lalu ke arah mana rencanamu merantau?” tanya ayahnya memecah

keheningan yang timbul di antara mereka bertiga itu.

132 BAGIAN 3. HAKIM HAUS DARAH

”Ke arah selatan, ayah,” jawab Telaga cepat. ”Aku pernah mendengar

bahwa di Padang Batu-batu terdapat sebuah tempat yang menarik

untuk dikunjungi.”

Ayahnya mengangguk-angguk mendengar jawab anaknya. Katanya

kemudian, ”hati-hatilah. Berangkatlah pagi-pagi sekali, sehingga saat

tiba di Padang Batu-batu masih pagi. Berhenti saat malam dan carilah

tempat yang baik untuk bermalam. Dan selalu hati-hati di sana.”

Telaga mengangguk mendengar wejangan ayahnya. Beberapa petuah

lainnya masih diberikan oleh ayahnya, untuk kewaspadaan dirinya

yang baru kali ini bepergian jauh seorang diri.

Sekarang membentang hari dan petualangan di depannya. Padang

Batu-batu. Melompatlah ia perlahan ke bawah, benar-benar meninggalkan

wilayah Gunung Berdanau Berpulau, memasuki sebenarbenarnya

wilayah Padang Batu-batu. Di dalam Padang Batu-batu,

terdapat banyak batu-batu yang menjulang keluar dari tanah, seperti

tiang-tiang, yang besar dan tingginya bervariasi. Kadang terdapat

batu-batu yang setinggi orang dewasa kadang lebih. Kadang selebar

kerbau atau gajah, kadang pula lebih. Batu-batu yang lebih lebih

kecil dari orang pun ada. Tapi untuk itu mungkin lebih tepat disebut

kerikil dari pada batu.

Sulit untuk menentukan arah setelah masuk ke wilayah Padang Batubatu.

Mirip hutan belantara, di mana pemandangan dan sinar matahari

dihalangi oleh kanopi dari insan-insan nabati. Di sini pemandangan

dihalangi oleh tiang-tiang atau gundukan batu-batu yang sangar,

dingin dan menantang. Untuk menentukan arah, dipanjatnya salah

satu batu yang cukup besar di hadapannya. Dengan lincahnya Telaga

dapat naik dengan mudah. Dalam setiap cengkeramannya tercipta

legokan-legokan dalam batu keras tersebut. Cengkeraman Kristal Es.

Jurus cengkeraman yang amat keras, dan menghujam juga dingin.

Dengan menggunakan jurus itu Telaga memanfaatkannya untuk menciptakan

pijakan-pijakan dan pegangan-pegangan pada batu yang dipanjatnya.

Tak berapa lama sampailah ia di atas batu tersebut. Dipandangnya

berkeliling. Masih tampak Gunung Berdanau Berpulau di salah satu

sisinya. Dalam arah yang berlawanan dilihatnya hanya batu-batu yang

133

berdiri berderet-deret acak, membentuk suatu pemandangan yang indah

dan juga menyeramkan. Menyeramkan bagi mereka yang tersesat

di dalamnya. Bisa selama-lamanya tidak dapat keluar dari lingkungan

ini. Untuk saat ini tidaklah terlalu sulit menentukan arah. Dengan

memanjat suatu batu besar dan melihat di mana arah beradanya Gunung

Berdanau Berpulau, ke arah berlawananlah ia harus menuju.

Meloncatlah ia turun dengan gerakan yang ringan dan beranjaklah ia

menuju arah yang sudah diingat-ingatnya tadi sewaktu berada di atas

batu itu.

Empat hari itu berlangsung tanpa ada kejadian yang berarti. Telaga

berjalan dengan cepat ke arah selatan. Sejak kemarin sudah agak

sulit untuk menentukan arah dengan menggunakan Gunung Berdanau

Berpulau sebagai patokan, karena sudah tak begitu jelas terlihat. Gunung

itu telah terhalang oleh batu-batu yang lebih tinggi dari batubatu

yang dipilihnya untuk berpijak menentukan arah. Untuk itu ia

mengambil patokan lain, yaitu matahari. Ia harus berjalan ke suatu

arah dengan matahari berada di sebelah kirinya saat pagi hari dan di

sebelah kanannya pada sore hari. Menuju selatan.

Jika malam tiba, dicarinya ceruk yang cukup rapat akan tetapi kering

untuk bermalam. Pada malam hari angin bertiup agak keras di

Padang Batu-batu. Selain itu ditambah dengan sempitnya ruang antara

tiang-tiang batu, semakin cepat angin mengalir di antaranya.

Prinsip ini diperkenalkan oleh seorang Pengujar Benoli (Bernoulli),

yang juga menjelaskan mengapa burung dapat memanfaatkan udara

untuk mengapung ke atas atau ke bawah. Untuk makannya selain

telah membawa bekal, Telaga menangkap pula ikan-ikan kecil berupa

Beunteur dan Julung-julung atau Keuyeup (kepiting air tawar) yang

hidup di sela-sela tiang batu-batu yang dialiri air. Terdapat aliran

kecil-kecil air di sela-sela Padang Batu-batu. Tidak bisa dikatakan

sebagai sungai, karena kadang genangan tersebut berhenti dan tidak

mempunyai keluaran. Mengendap dan mengalir lewat bawah tanah

atau batu-batu yang perpori. Muncul di tempat lain seakan-akan sebagai

genangan baru dan mulai kembali mengalirkan air. Benar-benar

lokasi geografis yang menawan hati.

Pada awalnya sulit juga Telaga menangkap ikan-ikan Benteur dan

Julung-julung serta Keuyeup karena mereka dapat dengan cepat

menyembunyikan dirinya ke dalam batu-batu di bawahnya. Bukan di

134 BAGIAN 3. HAKIM HAUS DARAH

balik batu, melainkan di dalam rongga-rongga batu besar. Air yang

jernih membuat mereka dapat melihat Telaga secara langsung. Alam

ini memang indah dan juga pengasih sebagai karya cipta Sang Penguasa

Alam. Sebagai contoh misalnya, Telaga mendapat pelajaran

bertahan hidup untuk menangkap ikan-ikan dan kepiting dari beberapa

ekor burung mirip bangau yang berukuran sebesar ayam. Burungburung

itu tidaklah langsung menyerang ikan-ikan dan kepiting begitu

melihatnya. Mereka memutarinya, sampai ke suatu sudut di mana

binatang yang akan menjadi mangsanya itu tak dapat melihatnya lagi.

Selain karena batasan pandangan juga karena efek pembiasan dari air.

Pengujar Senelius (Snellius) menerangkan mengenai efek pembiasan

cahaya ini. Untuk mempelajari ini Telaga sampai berendam dalam

air dalam suatu ceruk yang cukup dalam untuk melihat dari dekat

bagaimana burung-burung itu bisa berhasil dan juga bagaimana posisi

ikan dan kepiting yang diincarnya.

Sekarang Telaga telah memiliki ”perlengkapan” untuk menangkap

ikan dan kepiting, yaitu tombak-tombak setinggi dirinya. Dengan

meniru burung-burung yang berparuh panjang itu ia membuat

tombak-tombak tersebut. Tombak-tombak itu tidaklah cukup untuk

menangkap ikan dan kepiting, apabila tidak mengikuti cara mereka

untuk mengelabui mangsanya. Ada saat-saat tertentu dalam satu

hari, yang dibantu dengan posisi matahari, untuk mencari ikan dan

kepiting. Pada saat-saat seperti itu binatang-binatang itu dapat

dikelabui dengan mengambil arah tertentu, arah di mana binatangbinatang

itu tidak dapat melihat dengan baik, sehingga serangan

dapat dilakukan. Umumnya dapat diperoleh hasil dengan cara ini.

Telaga saat itu memahami mengapa burung-burung tersebut hanya

berburu pada saat-saat tertentu dan tidak sepanjang hari.

Hari keenam, sampailah Telaga di suatu tempat yang agak terbuka.

Terbuka bukan karena tiada lagi tiang batu-batu, melainkan karena

tiang-tiang yang ada agak terbenam ke dalam suatu cekungan. Cekungan

itu membentuk suatu genangan air yang cukup lebar, walaupun

tidak selebar Danau Tengah Gunung di mana dia dulu pernah tinggal.

Mendapati tempat yang indah dan menyenangkan itu. Mengingatkan

dirinya akan masa kecilnya, maka mengasolah Telaga di atas sebuah

batu ceper di balik sebuah batu tinggi besar yang melindunginya dari

sinar matahari pagi yang telah berada cukup tinggi di langit. Tak

135

terasa datanglah kantuk dan Telaga pun tertidur.

Tak tahu berapa lama ia tertidur, Telaga terbangun saat ia mendengar

bisik-bisik orang. Walaupun amat lamat-lamat, akan tetapi karena ia

telah memiliki tenaga dalam yang cukup tinggi, dapat ia mendengarnya.

”Sudah.., lemparkan saja di sini,” kata orang pertama.

”Jangan, nanti cepat ketahuan,” sanggah orang kedua temannya.

”Bagaiamana bila diberi pemberat dulu, batu,” usul temannya yang

lain. Orang ketiga.

Tak ada suara. Tak tahu Telaga apa usul itu disetujui oleh dua

teman pertamanya itu. Dengan berjingkit-jingkit mengendap-endap

Telaga mencari-cari dengan matanya, di mana orang-orang itu berada.

Akhirnya ditangkapnya tiga sosok orang di pinggir lain genangan air

itu. Dari kejauhan mereka bertiga tampak sedang mengerjakan sesuatu

pada semacam gundukan atau bungkusan dari kain yang ada di antara

mereka. Setelah memeriksa dengan seksama, kemudian ketiganya

membawa bungkusan itu di atas kepalanya dan mulai berjalan menyeberangi

genangan air itu. Berjalan mereka perlahan-lahan, mungkin

karena beratnya bungkusan itu atau karena lantai genangan air yang

tidak rata, walaupun jernih.

Setelah kira-kira air mencapai pinggang mereka, berkata seorang dari

padanya, ”nah itu ada sebuah legokan dalam air yang cukup dalam.

Lempar saja di sini.”

Dengan berkecipuk keras, masuklah bungkusan itu ke dalam air setelah

dilempar oleh ketiga orang itu. Perlahan mulai tenggelam bungkusan

itu dengan disertai gelembung-gelembung udara yang menyembul

ke atas permukaan air. Ketiganya masih di sana. Menunggu sampai

tiada lagi gelembung-gelembung yang timbul. Kemudian berlalulah

ketiganya.

Telaga terdiam melihat kejadian itu. Ia tidak tahu dan tidak memiliki

gagasan mengenai apa sebenarnya yang tengah berlangsung. Bungkusan

itu cukup besar dan berat. Entah apa isinya. Yang pasti mereka

tidak mau bungkusan itu diketahui orang. Di Padang Batu-batu me136

BAGIAN 3. HAKIM HAUS DARAH

mang susah untuk menyembunyikan sesuatu. Tidak ada tanah. Oleh

sebab itu mereka bertiga memilih menyembunyikannya dalam suatu

legokan yang cukup dalam di tengah-tengah genangan air itu. Jurang

yang cukup dalam, sehingga walaupun airnya jernih, tidak dapat

dengan jelas terlihat dasarnya karena kurangnya sinar matahari yang

mencapai dasar.

Niatan Telaga, yang tadi gembira melihat adanya orang di Padang

Batu-batu, untuk menyapa akhirnya diurungkan begitu melihat sesuatu

yang serba misterius itu. Hati kecilnya membisikkan agar ia tidak

ikut campur. Maka ditunggunya sampai ketiga orang itu pergi.

Alih-alih pergi ketiganya malah duduk di salah satu batu ceper di

seberang sana. Ketiganya membuka pakaiannya dan menjemurnya di

atas batu-batu. Kelihatannya ketiganya tidak ingin dicurigai telah

berendam di dalam air. Suatu pikiran yang cerdas. Tapi tidak cukup

cerdas karena mereka tidak tahu kehadiran Telaga yang tertidur di

seberang lain dari genangan air itu.

Lapar juga Telaga menunggu ketiganya pergi. Sambil terus mengintai

dimakannya pelan-pelan bekalnya. Sepotong ubi yang dibawanya dari

rumah dan ikan Julung-julung kering dan remukan Keuyeup bakar

yang ditangkapnya kemarin. Sudah habis makan siangnya tapi ketiganya

belum juga beranjak, walau telah dikenakan kembali pakaian

mereka yang kering itu. Tampak seperti sedang menunggu sesuatu

mereka itu.

Selang tak berapa lama, tampak sebuah iring-iringan datang. Sekelompok

gadis-gadis sambil membawa keranjang cuciannya. Mereke hendak

mencuci dan mungkin juga mandi di genangan air itu. Ketiga

pemuda yang telah sedari tadi berada di sana tampak sumringah melihat

rombongan yang mereka tunggu-tunggu itu tiba. Bergegas mereka

menyelinap ke sebuah batu besar di salah satu sudut genangan itu.

Masih dalam pinggiran yang sama. Tak lama kemudian sampailah

gadis-gadis itu di pinggir genangan.

Kata salah seorang dari mereka, ”eh, rasa-rasanya tadi ada orang yang

berjemur di sini. Tapi kok tidak ada siapa-siapa ya?”

”Ah, kamu mimpi kali?” jawab temannya, ”siang-siang gini ’kan jarang

yang datang. Makanya kita nyucinya siang.”

137

”Sekalian mandi..,” jawab temannya terkekeh-kekeh genit.

Lainnya hanya mengiyakan.

Gadis yang curiga tadi tidak percaya begitu saja pada ucapan temannya,

ia pun berjalan berkeliling ke satu sisi dan kemudian ke sisi lain

pinggiran untuk memeriksa siapa tahu ada yang bersembunyi untuk

mengintip mereka saat mencuci dan mandi di sana. Tak ditemuinya

seorang pun. Andai saja ia maju setombak dua lagi, akan ditemuinya

tiga orang yang bersembunyi di sana. Mereka telah beringsut mundur

dan pindah dari persembunyiannya semula saat gadis itu mencari-cari.

Telaga yang begitu melihat gadis-gadis itu akan mencuci dan mandi di

sana merasa risih, dan ingin segera menjauh. Tapi dengan adanya tiga

orang itu yang tadi telah membuang sesuatu, membuatnya menjadi

bertanya-tanya. Menyelinap rasa kuatirnya akan keselamatan rombongan

gadis-gadis itu.

Mereka pun mulai mencuci barang-barang bawaaannya. Setelah beberapa

saat beberapa orang mulai pula menanggalkan kain yang

dipakainya untuk kemudian merendam dirinya sebatas dada. Tak

tampak ketelanjangan mereka karena dihalangi oleh air. Walaupun

demikian pemandangan itu mau tak mau membuat Telaga sedikit

berdesir. Membayangkan tubuh-tubuh itu dalam air yang jernih dan

bergoyang-goyang, membersitkan sedikit khayalan yang mengalirkan

darah lebih cepat ke beberapa organ tubuhnya. Dialihkan pandangannya

dari rombongan itu ke arah ketiga pemuda yang bersembunyi

di pinggiran lain. Ketiganya telah kembali ke tempat mengintipnya

semua, setelah gadis yang memeriksa tadi mulai mencuci. Hanya

gadis itu yang tidak membuka pakaiannya. Ia hanya mencuci dengan

duduk di pinggiran genangan. Selebihnya telah berendam di tengah.

”Sarini, ayo mandi..!” ajak temannya yang telah berendam dan

berenang-renang. Dibiarkannya keranjangnya mengapung. Diayunkan

lengannya dan melajulah ia perlahan.

Yang dipanggil hanya tersenyum dan kembali mencuci pakaiannya.

Tak tergoda atas ajakan itu. Udara yang panas memang membuat

orang ingin berendam di dalam air genangan itu, tapi pesan orang tuanya

mengingatkan bahwa hal itu tidak aman. Salain itu perasaannya

mengisyaratkan ada sesuatu. Sesuatu yang ia tidak dapat jelaskan.

138 BAGIAN 3. HAKIM HAUS DARAH

Keragu-raguannya membuatnya tidak ikut mandi. Ia mandi biasanya

hanya pada pagi hari, di mana belum ada matahari. Sehingga orang

tidak dapat mengintipnya dengan mudah. Tidak di siang hari bolong

seperti ini. Kawan-kawannya telah diperingatkan, akan tetapi mereka

hanya tertawa-tawa. Penakut disebutkan dirinya.

Tak lama kemudian selesailah gadis-gadis itu mencuci juga Sarini.

Sementara Sarini tampak beristirahat di pinggiran sambil mencuci

mukanya. Sisa gadis-gadis dalam rombongan itu tampak berenangrenang

ke tengah. Telanjang. Tak sadar mereka bahaya yang mengintai

mereka.

Ketiga pemuda yang tengah mengintai itu, tampak oleh Telaga, seling

mengangguk satu sama lain. Lalu salah seorang dari mereka seperti

menarik sesuatu dari dalam air. Sepotong tali. Kemudian mereka

bertiga bergegas diam-diam pergi. Tidak seorang gadis pun, juga

Sarini yang melihat kepergian mereka.

Saat Telaga masih bingung dengan kelakuan tiga pemuda itu, tiba-tiba

jerit salah seorang gadis yang sedang mandi itu terdengar, ”mayat,

ada mayat...!” katanya sambi menunjuk sebuah benda yang terapung

di tengah-tengah genangan air.

Akibat teriakan itu teman-temannya bergegas keluar dari air untuk

menyambar kain mereka masing-masing dan berpakaian. Tak urung

Telaga sempat pula menikmati kemulusan tubuh mereka saat mereka

keluar dari air untuk menyambar kain mereka. Tanpa membawa keranjang

cucian mereka, bergegas rombongan itu pergi untuk memberi

tahu orang-orang di desanya.

Tak lama kemudian tampak berduyun-duyun orang-orang desa muncul

sambil membawa-bawa tongkat. Sebagian dari mereka terjun ke dalam

air dan mencoba menggapai gundukan itu dengan tongkat mereka.

Menepikannya dan mengamati. Di antara mereka tampak pula ketiga

pemuda tadi. Ketiga orang yang membuang mayat tersebut.

”Ini adalah Ki Rontok, si pedagang keliling,” ucap salah seorang dari

mereka. ”Bagaimana orang Desa Batu Barat bisa berada di sini?”

”Iya, benar itu Ki Rontok,” jawab yang lain menegaskan, ”wah bisa

berabe nih kita..”

139

Rekan-rekannya pun mengangguk-angguk.

”Habis kita nanti sama Hakim Haus Darah..” ucap salah seorang dari

mereka.

Tak lama kemudian bersahut-sahutanlah ucap-ucapan di antara

mereka sehingga Telaga tidak lagi dapat mengerti ucapan-ucapan

itu. Hanya kata-kata ”Hakim Haus Darah” yang jelas-jelas dapat

didengarnya. Benar-benar menarik kata-kata itu. Menumbuhkan

minatnya untuk lebih lanjut melihat kelanjutan dari peristiwa itu.

Setelah berunding sebentar kemudian mereka pun mengangkat mayat

itu, yang dikenali sebagai Ki Rontok, dengan tandu dari kain yang

mereka bawa. Bersama-sama mereka membawanya. Ujung-ujung

kain itu dipegang oleh satu orang, sementara di tengah-tengahnya

ada orang lain yang membantu. Enam orang membantu membawa

jenasah Ki Rontok.

Telaga masih menunggu beberapa saat untuk melihat sampai orangorang

itu pergi. Untuk kemudian mengikuti. Ia ingin melihat lebih

jauh apa yang akan terjadi dengan jenasah itu. Dan juga ingin melihat

orang yang disebut-sebut sebagai ”Hakim Haus Darah” yang terdengar

ditakuti oleh orang-orang itu. Bersamaan pula ia ingin tahu

apa peran dari ketiga orang itu. Orang-orang yang tadinya menyembunyikan

bungkusan di dalam genangan itu, yang mengatur sehingga

seolah-olah ditemukan oleh rombongan gadis-gadis yang akan mandi

dan mencuci di sana.

Menunggu adalah pekerjaan yang membosankan. Tapi itu harus dilakoni

Telaga. Ia tidak ingin terlihat berada di sana selama peristiwa

itu terjadi. Bisa-bisa ia yang dituduh. Bisa-bisa fatal akibatnya. Untuk

itu ia perlu meyakinkan diri agar tidak terlihat oleh siapapun saat

meninggalkan tempatnya itu.

Akhirnya ia merasa yakin bahwa tidak ada lagi orang yang berada

di sana, setidaknya dalam jarak yang bisa melihat dirinya. Ia kemudian

beranjak untuk pergi ke arah orang-orang itu tadi menghilang.

Ke sebuah jalan setapak di antara tiang-tiang batu. Saat ia bangkit

dan hendak berputar ke arah pinggir genangan, tampak olehnya seorang

tua sedang menatapi dirinya. Kehadirannya yang tak disadari

Telaga itu membuat hampir copot jantung pemuda itu. Selain karena

140 BAGIAN 3. HAKIM HAUS DARAH

peristiwa yang baru terjadi itu, juga menandakan ketinggian ilmu

meringankan tubuh dari si orang itu.

Orang tua itu tersenyum. Ia tahu kegundahan yang sepersekian saat

tersirat di wajah pemuda itu, lalu katanya, ”Jangan kuatir. Aku si

orang tua, tahu siapa yang salah dan siapa yang benar.”

Telaga hanya tersenyum kecut mendengar itu. Walaupun ia bukan

pelaku dari peristiwa itu, tapi ia kedapatan sedang mengintip. Dan

perbuatan itu bukanlah suatu perbuatan ”benar”.

Telaga tidak tahu harus berbuat apa, dipandangi sajalah orang tua itu.

Tampak belum tua benar ia. Malah lebih ke arah seorang setengah

baya yang tampak dituakan oleh masalah. Sehingga terlihat jauh lebih

tua dari usia sebenarnya. Ketuaan yang dikarbit pemikiran yang tidak

terkendalikan. Dari postur tubuhnya yang tegap dan dibalut kain

bermotif kasar itu, terlihat tubuh yang terlatih. Tampak pula warna

busana yang aneh, yaitu sebelah kanan biru muda dan sebelah kiri

hijau muda. Telaga baru menyadari suatu keanehan lagi, yaitu bahwa

orang itu memiliki kulit yang agak kehijauan. Keanehan ini dirasakan

pula saat melihat orang-orang tadi, yang dari kejauhan terlihat seperti

kebiruan. Tadinya dipikirnya karena warna pakaian mereka atau pantulan

langit dan air. Akan tetapi setelah melihat orang tua ini dari

dekat, yakinlah ia bahwa itu adalah warna kulit mereka. Warna-warna

kulit yang aneh. Warna-warna yang dimiliki oleh Undinen, akan tetapi

terdapat pada manusia seperti dirinya.

Orang tua itu pun masih mematut-matut Telaga, sibuk dengan

pikirannya sendiri. Tak dibukanya percakapan, melainkan terus

mengamat-amati Telaga. Seakan-akan ada sesuatu yang sedang dinilainya.

Selang tak berapa lama, tiba-tiba menghilanglah ia ke arah

kanan, setelah sebelumnya ia mendekat amat cepat ke arah Telaga,

bergetar dadanya saat orang itu menyentuhnya perlahan untuk kemudian

menarik kembali tanggannya dan pergi. Lamat-lamat dari

kejauhan terdengar ucapannya, ”kita akan bertemu lagi, anak muda.

Teruskanlah perjalananmu dan puaskan keingintahuanmu! Dan ingat

jangan sembunyikan kebenaran..!”

Bergidik Telaga menyaksikan halus dan tak terduganya gerakan orang

tua yang belum dikenalnya itu. Dari caranya bergerak, lebih tinggi

141

ilmu orang itu dari ayahnya dalam meringankan tubuh. Seram rasanya

membayangkan orang itu menjadi lawannya.

Kata-kata ”puaskan keingintahuanmu” mengingatkan Telaga akan

rencananya semula untuk mengikuti orang-orang itu, orang-orang

yang tadi membawa jenasah Ki Rontok. Dan juga perihal Hakim

Haus Darah yang diomong-omongkan oleh mereka.

***

Desa Batu Barat dan Desa Batu Timur adalah dua buah desa yang

berada di sekitar danau kecil Danau Genangan Batu di tengah-tengah

Padang Batu-batu. Kedua desa itu berlokasi agak jauh satu sama lain

dengan di tengah-tengahnya terdapat danau kecil tersebut. Umumnya

jarang orang-orang dari mereka menuju danau itu jika tidak untuk

mencuci atau berenang-renang. Untuk kebutuhan air minum, umumnya

mereka dapat memperolehnya dari rembesan air yang keluar dari

batu-batu di sekitar desa mereka.

Konstruksi rumah-rumah mereka pun agak sedikit menarik, bukan

dibangun di atas bumi yang kadang-kadang berair di kawasan Padang

Batu-batu melainkan di atas batu-batu atau tiang-tiang batu yang

cukup besar dan kokoh. Di atas beberapa tiang batu setinggi pohon

kelapa itu mereka lintangkan batu dan kayu membentuk semacam

panggung. Di atas panggung tersebut baru dibangun rumah dari kayu

atau bambu. Di Padang Batu-batu tidak banyak pepohonan yang

dapat tumbuh, akan tetapi entah bagaimana dan dari mana orangorang

itu dapat memperolehnya. Mungkin mereka memang memiliki

cara tersendiri untuk menumbuhkan pohon-pohon itu untuk kemudian

mereka panen sebagai bahan pembuat rumah.

Kedua desa itu, Desa Batu Barat dan Desa Batu Timur, yang terletak

sesuai dengan namanya di sebelah barat dan timur, dapat dibedakan

dari penghuni-penghuninya. Di bagian barat tinggal orang-orang

yang memiliki kulit agak kehijauan sedangkan di sebalah timur tinggal

mereka-mereka yang memiliki kulit agak kebiruan. Pembagian itu

sudah lama terjadi sejak nenek moyang mereka. Tidak banyak terjadi

kawin campur di antara kedua penghuni desa yang belainan. Selain

adat, juga ada rasa kesombongan dan merendahkan desa lain yang

menghalangi pencampuran itu.

142 BAGIAN 3. HAKIM HAUS DARAH

Akan tetapi jika ada orang-orang yang memandang golongan lain lebih

rendah dan golongannya sendiri lebih tinggi, ada pula orang-orang

yang menghargainya. Dan bahkan dapat saling jatuh cinta. Orang

itu adalah Walinggih dari Desa Batu Barat dan Sarnini dari Desa

Batu Timur. Sudah tentu hubungan mereka itu tidak direstui. Baik

oleh kedua orang tua maupun penduduk dari kedua belah desa. Keduanya

tidak peduli dan memilih tetap memelihara cinta mereka. Dan

membangun sebuah rumah jauh dari kedua desa itu, agak ke selatan

lagi dari Danau Genangan Batu.

Tahun-tahu berlalu dan keduanya hidup dalam penuh cinta dan kasih.

Buah hati pun lahir dari rahim Sarnini. Seorang bocah yang memiliki

warna kulit biru kehijauan atau hijau kebiruan. Perpaduan warna

dari ayah dan ibunya. Walinggih dan Sarnini amat bangga terhadap

anak mereka. Gembira hati mereka. Hanya sayang kegembiraan

itu dinodai oleh rasa tidak senang beberapa orang baik dari Desa

Batu Barat maupun Desa Batu Timur. Mereka tidak suka Walinggih

dan Sarnini bahagia. Bila keluarga itu hidup tenteram dan bahagia

sampai tua, akan terhapus mitos pertentangan antara kedua desa

itu. Akan terjadi peleburan. Dan itu bisa menghancurkan mereka

para pedagang, yang bisa-bisanya mengadu-adu Desa Batu Barat dan

Desa Batu Timur agar dagangan mereka laku. Kedua kelompok ini,

walaupun berasal dari desa yang berbeda tapi tahu sama tahu kegiatan

mereka. Mereka biasa memanas-manasi penduduk salah satu desa,

bahwa desa lain lebih maju karena adanya satu produk. Oleh karena

itu supaya tidak ketinggalan, desa yang lain juga harus turut serta

dengan membeli produk yang lebih baik. Selain itu terdapat pula

semacam penjaga keamanan dari kedua kelompok yang seakan-akan

menjaga keamanan, sementara konco-konco mereka dari kelompok

yang berlawanan melakukan kerusuhan. Dengan adanya para penjaga

keamanan, situasi menjadi aman dan terkendali. Pernah suatu

saat warga desa tidak mau membayar pajak penjagaan, langsung saja

terjadi perampokan dan penculikan, yang dituduhkan pada desa yang

berlawanan.

Cara-cara ini sudah tentu tidak baik, hampir sama dengan para pedagang

senjata yang mendapat untung bila ada konflik atau perang antar

daerah. Tapi para pedagang atau preman ini tidak peduli. Bagi

mereka Tigaan lebih penting. Budaya Tigaan ini pun mereka bawa

143

dari luar Padang Batu-batu, saat mereka berdagang ke Kota Pinggiran

Sungai Merah, jauh di barat daya sana. Di kota itu mendengar

adanya dua desa yang berbeda dan tidak akur, seorang pedagang menjelaskan

suatu cara berdagang yang lebih menguntungkan. Mengadudomba.

Dengan cara ini pasti akan lebih laku, jelasnya. Juga intimidasi

seakan-akan adanya ancaman, untuk kemudian menawarkan jasajasa

pengamanan. Kedua kelompok itu mengangguk-angguk setuju

mendengar ide itu. Tigaan telah membutakan mereka akan semangat

kebersamaan dan kekeluargaan kehidupan di desa. Yang penting

untung dapat diraup. Perubahan sosial dan kultur menjadi ke arah

yang lebih buruk bukanlah urusan mereka. Akibatnya keluarga Walinggih

dan Sarnini menjadi ancaman bagi konflik antara kedua desa.

Bila kedua desa bersatu, bisa tahu orang-orang bahwa hal-hal yang

dipanas-panasi oleh para pedagang itu adalah bohong belaka. Hal

ini tidak boleh terjadi. Oleh karena itu disepakati di antara kedua

kelompok itu bahwa keluarga itu harus dibasmi. Kejamnya politik

perdagangan. Bahkan dalam ruang lingkup sekecil itu.

Lalu diupahlah beberapa orang dari luar Padang Batu-batu untuk

membunuh keluarga itu. Perlu diubah orang-orang yang cukup

berilmu karena Walinggih sendiri memiliki ilmu beladiri yang cukup

tinggi. Ia pernah merantau jauh ke utara dan menjadi guru orang

pandai di sana. Mungkin akibat ilmunya itu pula, ia menjadi tak

masalah memperistri orang dari Desa Batu Timur. Malam yang naas

itu Walinggih kebetulan sedang berada di Danau Genangan Batu,

bermalam untuk mencari sejenis ikan yang hanya muncul di malam

hari. Ikan itu dapat dimanfaatkan untuk obat istrinya yang sedang

sakit. Sebenarnya istrinya minta ditemani malam itu, akan tetapi

mengingat sakit sang istri yang sudah berlarut-larut, Walinggih tak

tega. Ingin ia mencari obat untuk kesembuhan istrinya itu. Minta

tolong ke penduduk kedua desa, tidak mungkin. Ia dan keluarganya

sudah seakan-akan dikucilkan.

Andai saja Walinggih ada di rumah, sudah tentu tidak mudah bagi

Asasin untuk membunuh kedua anak dan istrinya. Asasin yang merupakan

kelompok terdiri dari empat orang itu berhasil dengan mudah

membantai Sarnini dan anaknya. Kemudian mereka menunggu

Walinggih yang diduga akan pulang larut malam. Karena ditunggutunggu

tidak datang. Akhirnya mereka, Asasin, pulang dan mela144

BAGIAN 3. HAKIM HAUS DARAH

porkan itu kepada orang yang menyuruh mereka. Kedua kelompok

pedagang. Sudah tentu kedua kelompok itu takut dan menyatakan,

bahwa Walinggih pun harus dibunuh, bisa berabe nanti jika ia mengamuk,

mengingat ilmunya yang tinggi. Akan tetapi para pembunuh

tidak mau. Perjanjian mereka adalah dibayar satu hari satu malam

untuk pekerjaan itu. Untuk kelebihan waktu, harus dibayar lain. Pulanglah

mereka kembali ke kota mereka. Salah satu kota-kota di Pinggiran

Sungai Merah di barat sana.

Walinggih yang baru saja pulang membawa ikan untuk obat istrinya

yang sakit, seakan-akan tidak percaya pada penglihatannya. Ia melihat

anak dan istrinya telah terbujur bersimbah darah di ruang tengah

rumahnya. Bagai gila ia berteriak di tengah pagi buta. Menggiriskan

hati suaranya, serta memekakkan telinga. Asasin sebagai

kelompok pembunuh profesional biasa meninggalkan tanda di lokasi

korban mereka. Sebagai bukti kesombongan mereka juga sebagai iklan

bagi orang-orang yang ingin menggunakan jasa mereka. Akan

tetapi dalam kasus ini berakibat fatal. Demi mengetahui bahwa

pembunuhnya adalah Asasin, kelompok pembunuh bayaran terkenal,

Walinggih memburunya ke kota tempat kelompok itu membuka

layanannya. Dengan ilmunya yang telah mumpuni dan juga kemarahannya

dibantainya semua orang yang ikut membunuh keluarganya,

setelah sebelumnya dikorek keterangan siapa yang menyuruh mereka.

Berbekal informasi itu kembalilah Walinggih ke Padang Batu-batu.

Dicarinya satu-satu orang-orang dari kedua kelompok pedagang itu.

Dihasibisinya langsung dengan pedang panjangnya. Dibelah persis

di tengah-tengah. Simetris. Dan ditinggalkannya begitu saja. Tidak

ada orang dari kedua desa itu yang bisa meredamnya.

Setelah semua orang yang bersalah habis. Walinggih pun kembali

ke rumahnya dan meratapi nasibnya. Pandangannya berubah terhadap

kerukunan. Tidak bisa kerukunan antara kedua desa itu dicapai

dengan cara baik-baik, pikirnya. Ia akhirnya mengambil sikap.

Jika ada pertentangan, tidak pedulu siapa yang mulai akan dibantainya.

Ia kemudian menjadi musuh dari kedua desa itu, juga penolong.

Orang-orang yang saling menimbulkan kerusuhan dibantainya.

Orang-orang yang hidup rukun bersyukur karena ada dirinya. Ia

kemudian dikenal sebagai Hakim Haus Darah karena kejamnya itu.

Dalam setiap perkara kejahatan, biasanya harus ada yang tersembelih

145

simetris, jadi dua bagian. Katanya suatu ketika, ”potongan pedangku

ini akan memisahkan sisi baik dan sisi jahatnya. Semoga arwahnya

nanti damai di sana.” Benar-benar pikiran yang gila. Tapi itulah

kenyataannya. Mengingat kejamnya Walinggih yang hampir seperti

jagal, membuat jarang orang mengadukan sesuatu kepadanya, kecuali

kasus-kasus yang parah. Atau kadang Walinggih sendiri yang turun

tangan apabila terjadi perkelahian antar kedua desa itu.

Akibatnya kehidupan menjadi tenang. Tiada lagi pertentangan di

antar kedua desa itu. Akan tetapi bukan ketenangan sebenarnya,

melainkan ketenangan dalam paksaan. Jika bertikai dan berlarutlaru,

sampai Hakim Haus Darah turun tangan, fatal akibatnya. Yang

tertangkap basah bertikai akan dibantai. Alasannya boleh berbicara

belakangan. Telah pula ada upaya dari beberapa orang baik-baik untuk

mengadukannya ke pemerintah pusat. Ya, walaupun Walinggih

membuat keadaan tenang tanpa pertentangan akan tetapi bisa jadi suatu

saat kehausdarahannya akan memakan korban yang tak bersalah.

Orang yang terkena fitnah misalnya. Tapi tak ada balasan atau pun

upaya dari pemerintah pusat mengenai hal itu.

Oleh sebab itu cemaslah penduduk Desa Batu Timur yang menemukan

jenasah Ki Rontok yang adalah warga Desa Batu Barat. Ini bisa jad

merupakan upaya untuk menyulut pertentangan. Bila terjadi pertentangan

dan terdengar oleh Hakim Haus Darah, sudah pasti akan ada

pembantaian. Terlepas dari siapa yang bersalah, sudah pasti fatal

akibatnya dari kedua belah pihak.

***

Penduduk Desa Batu Timur pun berkumpul di pendopo desa mereka.

Di tengahnya berbaring tubuh kaku Ki Rontok. Seorang pedagang

dari Desa Batu Barat. Cemas-cemas tertampak dari wajah-wajah

mereka. Ujung-ujung dari peristiwa ini yang akan menjadi masalah

bagi mereka.

”Bagaimana ini, kepala desa?” tanya seorang warga.

”Lebih baik kita urus secara kekeluargaan dengan Desa Batu Barat,

sebelum Walinggih mendengarnya,” usul seseorang.

Beberapa mengangguk-angguk mengiyakan. Alternatif itu lebih baik.

146 BAGIAN 3. HAKIM HAUS DARAH

Jika orang-orang Desa Batu Barat mau menerima hal ini dan tidak

mempersoalkan, akan selesai masalah. Tidak ada korban dari Walinggih,

si Hakim Haus Darah. Akan tetapi siapa pelaku dari pembunuhan

ini, perlu pula diusut.

”Ada yang bisa menceritakan, bagaimana kejadian sebenarnya?”

tanya seorang tua-tua sambil menatap berkeliling.

Rombongan gadis-gadis yang tadi saat mencuci dan mandi di Danau

Genangan Batu menemukan jenasah Ki Rontok saling dorong-mendorong.

Sampai akhirnya terdorong ke tengah Sarini, gadis yang tadi tidak

ikut mandi. Setelah tak mungkin mungkir sebagai wakil dari saksi

mata, berceritalah Sarini tentang apa yang ia dan kawan-kawannya

tadi lihat. Bagaimana mayat itu mulai mengapung dan ditemukan

oleh mereka-mereka yang berenang-renang agak ke tengah.

Salah seorang dari ketiga orang yang dilihat Telaga tadi maju dan

memeriksa korban. Kehadirannya tidak terlalu diperhatikan oleh para

warga desa yang sedang tegang itu. Mereka masih membayangkan

siapa yang akan nanti jadi sasaran dari Hakim Haus Darah. Kemudian

kata orang itu setelah memeriksa, ”lihat seperti ada bekas potongan

dan kemudian dijahit kembali..!” katanya sambil menunjuk pada

jenasah Ki Rontok yang telah dibuka bajunya.

Dan memang benar, seperti ditunjukkannya, bahwa dari ujung kepala

sampai ke dada, terdapat suatu celah, seakan-akan Ki Rontok pernah

dibelah dan direkatkan kembali.

”Mirip Potongan Simetris dari Hakim Haus Darah,” gumam seorang

takut-takut.

Berapa suara-suara lain pun mengiyakan.

”Jika demikian pasti Hakim Haus Darah pelakunya,” ucap seorang.

Ucapan itu bagai hantu yang lewat di siang bolong. Suasana pun

menjadi sunyi menakutkan. Seakan-akan sang Hakim Haus Darah

ada sendiri di sana dan mendengarkan ucapan itu.

Bingunglah warga Desa Batu Timur mendengar ungkapan itu dan

juga kenyataan bahwa Ki Rontok mati mengenaskan akibat Potongan

Simetris. Sebuah jurus yang hanya dimiliki oleh Hakim Haus Darah,

147

sejauh pengetahuan penduduk desa itu. Bagaimana ini dapat terjadi?

Biasanya Hakim Haus Darah akan turun tangan bila terlebih dulu ada

konflik, di mana konflik itu telah berlarut-larut sehingga menimbulkan

pertempuran di antara dua desa. Saat itulah ia turun tangan. Tak

pandang bulu. Semua pelaku pertempuran akan dibantainya habis

dan dipotong masing-masing setiap orang menjadi dua bagian.

Jika sekarang Hakim Haus Darah sudah membunuh orang tanpa terlebih

dahulu adanya konflik yang berwujud pertempuran, semakin

merinding orang-orang Desa Batu Timur. Mereka membayangkan

bahwa kapan saja mereka dapat dibantai oleh sang hakim tanpa perlu

alasan yang jelas. Seperti halnya Ki Rontok, tak jelas alasannya, tahutahu

sudah terbujur kaku di dalam danau.

Melihat orang-orang desa yang terdiam seribu bahasa, seorang yang

agak tua tapi berwibawa angkat bicara, ”warga desa yang terhormat,

perkenalkan kami... Kami adalah tiga orang utusan dari pemerintah

pusat. Berkaitan dengan laporan yang menyatakan adanya seorang

pembantai yang dikenal sebagai Hakim Haus Darah di kawasan ini,

kami datang untuk menangkapnya.” Sementara orang yang tadi menunjukka

bekas luka itu entah sudah hilang kemana.

Terdiam lagi penduduk desa mendengar pernyataan itu. Orang-orang

yang semula dikenal hanya sebagai pedagang dari kota besar itu,

ternyata adalah perwira-perwira yang menyamar. Mereka ditugaskan

untuk menangkap Hakim Haus Darah. Kemudian diceritakan oleh

mereka bahwa pengamatan akan sang hakim telah dilakukan lama

sebelumnya. Akan tetapi dengan tidak adanya peristiwa ”pembantaian”

tak dapat sang hakim di tangkap. Perintah dari pusat adalah

bahwa harus terjadi peristiwa saat pengamatan dilakukan dan akan

dijalankan penangkapan. Dengan adanya peristiwa ini, sebagai bukti,

dapatlah sang hakim saat ini ditangkap.

Beberapa orang yang selama ini merasa tertekan dengan kehadiran

Hakim Haus Darah bersorak dalam hatinya. Sementara yang lain,

dengan tanpa adanya sang hakim telah hidup dengan damai, agak

menyesalkan juga kedatangan ketiga perwira itu. Mereka yang terakhir

ini kuatir, apabila Hakim Haus Darah ditangkap, akan kembali

ke masa lalu keadaan di sini. Dikuasai kembali oleh para preman dan

pedagang. Tapi orang-orang ini tak berani menyuarakan hatinya.

148 BAGIAN 3. HAKIM HAUS DARAH

Lalu kata seorang dari ketiga perwira itu, ”ada baiknya bila kita

menghubungi orang-orang dari Desa Batu Barat. Kita berkumpul

untuk menuju ke kediaman Hakim Haus Darah. Kalian penduduk

desa, hanya perlu menjadi saksi. Kami yang akan menangkap sang

hakim. Tak perlu takut!”

Orang-orang desa yang sedang dicekam kebingungan itu tak tahu

harus berbuat apa. Sang kepala desa tampaknya membiarkan saja

ketiga orang yang mengaku perwira dari pemerintah pusat itu mengaturatur.

Tak lama kemudian dikirim kabar ke Desa Batu Barat mengenai

apa yang terjadi dan agar mereka berkumpul di kediaman Hakim Haus

Darah, untuk bersama-sama dengan warga Desa Batu Timur menjadi

saksi penangkapan sang hakim. Rencana itu akan dilaksanakan besok

pagi, karena saat ini hari telah menjelang senja.

Sementara itu jauh di ujung pelosok desa tampak seorang pemuda berjalan

perlahan-lahan memasuki pintu desa. Telaga adalah pemuda itu.

Masih berdebar-debar ia mengingat pertemuannya dengan orang tua

berbaju kasar dua warna itu. Tak ingin ia melibatkan diri sebenarnya,

tapi rasa ingin tahunya mengalahkan nalar untuk menyelamatkan diri.

Ingin dicarinya keterangan, bagaimana akhir dari peristiwa ini.

Dilihatnya kerumunan orang dikejauhan telah bubar. Masing-masing

orang bergegas berjalan ke arah masing-masing. Tak tahu harus ke

mana, Telaga menuju ke suatu warung makanan yang ada di pinggir

jalan. Ditujunya sebuah meja yang masih kosong. Beberapa meja

telah terisi oleh orang-orang yang berkumpul dan berbicara dengan

meriah. Sebagian orang berasal dari kerumunan tadi, sebagian tetap

duduk di meja untuk mendengarkan hasil pendengaran rekannya yang

bergabung dalam kerumunan tadi.

”Mau makan apa, nak?” sapa seorang pelayan yang menghampiri meja

Telaga dengan ramah.

”Yang murah saja, paman,” jawab Telaga sopan. Lalu tanyanya sambil

lalu, ”ada peristiwa besar ya, paman? Kok orang-orang itu pada

sibuk ngobrol-ngobrol.”

”Ya, nak. Anak pasti bukan orang sini,” katanya sambil melihat

Telaga. Sudah jelas dapat terlihat dari warna kulit dan juga pakaian

yang dikenakan Telaga. Sudah banyak memang pedangan dan

149

orang luar yang berdiam di sini sejak Hakim Haus Darah ”memerintah”,

akan tetapi tetap saja penduduk asli kedua desa adalah merekamereka

yang berkulit kebiruan dan kehijauan.

”Iya, paman. Saya lagi merantau. Saya berasal dari utara,” jawabnya

cepat. Tak ingin ia membicarakan asal-usulnya kepada orang yang

belum dikenalnya.

Mengangguk-angguk sang pelayan mendengar jawaban yang sopan

akan tetapi pendek dan tegas itu. Lalu dengan senang hati diceritakannya

apa yang terjadi. Mengenai ditemukannya jenasah Ki Rontok

oleh gadis-gadis yang sedang mencuci dan mandi. Lalu munculnya

dugaan bahwa itu dilakukan oleh Hakim Haus Darah dan juga

adanya perwakilan dari pusat, tiga perwira, yang ditugaskan untuk

menangkap Hakim Haus Darah. Sudah tentu cerita itu ditambahtambahinya

dengan bumbu-bumbu sehingga semakin menarik dan

dramatis.

Telaga yang telah tahu sebagian besar kejadian sebenarnya hanya

tersenyum menangguk-angguk, sambil sesekali memberi komentar

pendek dan bertanya sana-sini. Semua dijawab dengan lancar oleh

sang pelayan, yang amat senang ceritanya dilayani dengan antusias.

Sampai-sampai ia kemudian dipanggil oleh atasannya untuk melayani.

Dikatakan bahwa ia bertugas mencatat dan mengantarkan pesanan,

bukan bercerita. Dengan malu-malu sang pelayan meminta maaf

sambil kembali menegaskan pesanan yang diminta Telaga. Kemudian

ditinggalkannya Telaga.

Tak berapa lama pesanannya pun datang. Cukup sederhana Pepes

Keuyeup, Gule Julung-julung, Daun Singkong Bakar dan Sejumput

Sagu Rebus. Takjub pula Telaga melihat makanan yang belum pernah

dilihatnya dipadukan sedemikian rupa. Agak ragu dicobanya

makanan-makanan itu. Rasa aneh tapi lezet tercipta saat rupa-rupa

makanan itu menyentuh lidahnya. Tiada lagi ragu sekarang, dilahapnya

semua yang dihidangkan sampai licin tandas. Setelah selesai

dipanggilnya lagi pelayan itu dan dibayarkannya makanan yang tadi

telah disantapnya.

Sekarang Telaga tak tahu harus bagaimana, perut telah terisi dan hari

telah menjelang malam. Ia tidak punya tempat menginap. Di desa itu

150 BAGIAN 3. HAKIM HAUS DARAH

kelihatannya hanya ada warung itu dan tidak penginapan. Dicarinya

sebuah tempat di antara batu-batu untuk merebahkan badannya. Dipilihnya

suatu legokan yang terletak agak di luar desa. Saat akan merebahkan

dirinya, tampak olehnya pelayan yang di warung tadi. Begitu

melihat dirinya, pelayan itu pun tersenyum dan menghampiri, lalu

sapanya, ”tidak tidur di rumah nak?”

”Maaf, paman. Saya tidak kenal siapa-siapa di sini. Jadi bermalam

saja saya di luar. Sudah biasa kok,” jawabnya sopan.

”Marilah mampir,” katanya, ”kebetulan saya tinggal hanya dengan

putri saya. Cukup tempat bagi kami untuk masih menampung satu

orang lagi. Marilah..!” Tangannya sambil menggapai mengisyaratkan

Telaga untuk ikut padanya.

Maka berjalanlah mereka berdua menuju rumah paman pelayan itu,

yang kemudian memperkenalkan dirinya sebagai Arasan. Arasan tinggal

di rumah itu hanya dengan putri satu-satunya. Istrinya telah

meninggal karena sakit, sejak putrinya masih kecil. Arasan mengatakan

pada Telaga bahwa rumahnya agak di luar desa letaknya.

Ia lebih suka kesunyian saat beristirahat, akan tetapi suka keramaian

saat bekerja. Itulah sebabnya mengapa ia bekerja sebagai pelayan.

Dengan bekerja sebagai pelayan dapatlah ia banyak bercakap-cakap

dengan pengunjung, sebagaimana dilakukannya tadi dengan Telaga.

Dan juga bisa banyak informasi yang diperolehnya dari orang-orang

yang mampir untuk makan di warung tempatnya bekerja itu.

Tak berapa lama sampailah mereka di sebuah rumah yang cukup

sederhana apabila dibandingkan dengan rumah-rumah di atas batu

yang terdapat di dalam Desa Batu Timur. Tidak dihias macammacam,

melainkan hanya berwarna alami. Batu dan kayu belaka.

Akan tetapi lingkungannya yang masih alami dan juga adanya sebuah

aliran kecil air di dekatnya, membuatnya lebih terlihat natural

ketimbang rumah-rumah di atas batu yang telah ditambah-tambahi

pernak-pernik.

”Beda ya, sama yang di dalam desa..?” pancing Arasan. ”Saya tidak

suka aneh-aneh seperti orang-orang. Selain tidak bagus juga mahal.”

Telaga mengangguk-angguk, lalu jawabnya, ”bagus juga, paman.

Malah lebih terlihat alami dan cocok dengan lingkungannya. Tidak

151

terlihat asal dalam menatanya.” Lalu tanyanya, ”Paman sendiri yang

buat?”

Arasan tersenyum menggeleng, ”bukan, tapi putriku. Nanti kuperkenalkan.

Senang pasti hatinya, bertemu dengan orang yang memuji

hasil karyanya.”

Bertanya-tanya Telaga dalam hati, bagaimana rupa dari putri Arasan.

Sekilas dibayangkannya apabila begitu wajah Arasan, pastilah ada

mirip-mirip darinya pada wajah putrinya. Seakan-akan pernah dirinya

melihat wajah itu. Tapi lupa.

Lalu naiklah mereka ke atas rumah melalui sebuah tangga batu yang

dipahat sedemikan rupa pada batu-batu sebesar lima-enam kerbau

bunting itu. Sampai depan rumahnya, berseru Arasan memanggil

putrinya,

”Sarini, putriku! Ayah pulang. Lihatlah ada tamu kubawa serta..”

Tak lama menyahut suara dari dalam rumah itu, ”Ayah, selamat

datang.”

Lalu muncullah putri Arasan. Hampir berhenti jantung Telaga begitu

melihat wajah gadis itu. Wajah salah seorang gadis yang dilihatnya

tadi di Danau Genangan Batu. Untung saja gadis itu tidak tahu

bahwa ia ada di sana. Walaupun ia tidak mengintip mereka dengan

sengaja, tetap saja ia merasa malu. Arasan yang tidak mengerti duduk

persoalannya, merasa bahwa Telaga adalah pemuda yang masih malumalu

terhadap seorang gadis. Seorang pemuda yang lugu.

”Mari.., mari masuk..!” ajaknya.

Sang gadis pun mempersilahkan ayahnya dan tamu ayahnya masuk.

Diambilnya barang-barang ayahnya yang merupakan bahan makanan

bagi mereka besok pagi. Biasanya keluarga itu makam malam terpisah.

Sarini makan sendiri, sedangnya ayahnya telah makan di

warung tempat ia bekerja. Telaga juga kebetulan telah makan tadi di

sana. Jadi tidak ada acara makan malam saat itu.

Rumah itu cukup besar, dengan tidak terdapat ruangan lain di dalamnya.

Akan tetapi terdapat sekat-sekat dari daun kelapa yang berfungsi

membentuk ruang. Ruang depan dan ruang belakang, tempat yang

152 BAGIAN 3. HAKIM HAUS DARAH

berfungsi sebagai dapur. Arasan pun meluruskan kakinya pada salah

satu sudut dari ruang depan. Telaga mengikutinya. Tak lama kemudian

muncul Sarini membawa sejenis minuman yang dihidangkan

dalam gelas atau mangkuk yang terbuat dari batok kelapa yang dipancung

atasan. Bibuat sedemikian rupa sehingga pada salah satu

ujungnya ada tempat untuk meletakkan bibir, sehingga mudah untuk

mengunakan gelas atau mangkuk itu untuk menghirup isinya.

Setelah sedikit melepaskan lelah kemudian mereka pun terlibat dalam

pembicaraan, terutama pembicaraan mengenai peristiwa yang terjadi

hari ini yang berkaitan dengan kasus Hakim Haus Darah. Juga mengenai

munculnya ketiga perwira yang akan menangkap sang hakim.

Ibu Sarini ternyata bukan berasal dari desa ini melainkan dari Desa

Batu Barat. Mirip seperti kasus Walinggih si Hakim Haus Darah.

Akan tetapi Sarini tidak mewarisi kulit ibunya, melainkan ayahnya.

Jika orang tidak mengenal sejarah keluarga itu, pastilah dikira bahwa

Sarini merupakan penghuni asli Desa Batu Timur.

Tak lama kemudian mereka tidurlah. Memang sudah menjadi kebiasaan

keluarga yang terdiri hanya dari anak dan ayah itu tidur tidak

terlalu larut. Salah satu hal karena mereka harus bangun pagi-pagi

untuk kembali bekerja, juga secara diam-diam Arasan ternyata adalah

seorang berilmu juga. Ia melatih anaknya Sarini diam-diam, hanya di

pagi hari. Di saat orang-orang belum bangun. Hal ini diketahui Telaga

pada esok paginya.

”Huut, hyaaaaa..!” teriak suara seorang gadis. Sambil meloncat disabetkan

tangannya miring ke atas menuju kepala seorang tua di depannya.

Orang tua itu mengelak tipis, memutar tubuhnya, menangkap

tanggan yang lewat lembat karena telah mencapai batas sendinya,

menekuk dan melemparkan gadis itu. Alih-alih terjatuh, gadis itu

bersalto sekali di udara dan mendarat dengan teguh pada kedua

kakinya. Pendaratan yang ringan, hampir tidak memperdengarkan

suara, hanya terdengar napasnya yang tersengal sedikit. Dan sedikit

keringat menetes pada wajahnya yang manis kemerahan itu. Gadis

itu adalah Sarini dan orang tua itu adalah Arasan. Mereka berdua

sedang melatih ilmu keluarga mereka Sabetan dan Tangkapan Tangan.

Ilmu beladiri tangan kosong yang menggunakan telapak tangan untuk

menyabet bagian-bagian tubuh seperti kepala dan pundak leher. Juga

adanya tusukan-tusukan, tetap dengan menggunakan telapak tangan

153

yang dibuka. Tujuaannya adalah ulu hati dan tengah hidup di antara

kedua mata. Selain serangan ada pula tangkisan dan tangkapan.

Barusan yang diperagakan oleh Sarini adalah jurus Menebang Kelapa

dan dibalas oleh ayahnya dengan jurus Berkelit Membanting Padi,

mirip gerakan-gerakan membanting-banting rumput padi yang ingin

dirontokkan butir-butiran gabahnya.

Terbangun oleh hentakan-hentakan itu, Telaga lalulah turun dan

menyaksikan dari dekat penyebab bunyi-bunyian itu. Kedua orang

yang sedang berlatih itu menyadari kehadirannya dan menghentikan

latihan dan kemudian menyapanya. Tanpa berbasa-basi lebih lanjut

Arasan kemudian mengajak Telaga untuk ikut berlatih. Ia memperagakan

sedikit-sedikit gerakan dan menyuruh Arasan untuk menirukannya.

Dikarenakan telah mempelajari Tenaga Air, dapat dengan mudah

Telaga menirukan gerakan-gerakan yang pada dasarnya lemas itu.

Sampai pada gerakan yang menghentak, agar susah ia mencobanya.

”Nak Telaga, pernah belajar ilmu beladiri?” tanya Arasan begitu melihat

kemudahan Telaga dalam menirukan jurus-jurus lemas yang diperagakannya.

”Belum, paman Arasan. Saya hanya belajar cara menghimpun hawa

saja,” jawabnya jujur.

”Ah, itu sebanya engkau bisa menirukan dengan baik jurus-jurus

lemas tapi tidak yang menghentak,” kata Arasan sambil menganggukangguk.

Lalu tanyanya kemudian, ”boleh paman tahu apa nama ilmu

penghimpun hawa yang engkau telah pelajari?”

Ragu sejenak Telaga mendengar pertanyaan itu, ia tidak tahu apakah

pertanyaan itu harus dijawab apa tidak. Sebagai keturunan terakhir

Pelestari Ilmu dari Tenaga Air sudah seharusnya ia merahasiakan hal

itu.

Melihat keragu-raguan Telaga, berkatalah Arasan kemudian, ”tak

perlu kau katakan pun, kelihatannya aku dapat menebak asal ilmumu.

Engkau pernah berkata bahwa engkau datang dari utara. Salah satu

penerus ilmu-ilmu lemas adalah sebuah keluarga yang tinggl di Danau

Tengah Gunung di Gunung Berdanau Berpulau di utara Padang Batubatu.

Guruku pernah bercerita mengenai mereka itu. Orang-orang

yang hanya melatih Tenaga Air, akan tetapi tidak melatih bagaimana

154 BAGIAN 3. HAKIM HAUS DARAH

cara menggunakannya. Mereka hanyalah orang-orang yang bertugas

sebagai Pelestari Ilmu dari Tenaga Air. Betulkan demikian?”

Telaga hanya tersenyum kecut begitu mendengar uraian Arasan.

Banyak pengalaman ternyata paman yang berkerja sebagai pelayan

di warung ini. Tak terlihat dari sosoknya yang sederhana.

”Marilah, nak Telaga. Guruku sendiri pernah berujar, sayang sekali

bahwa orang-orang Pelestari Ilmu Tenaga Air itu tidak mempelajari

ilmu bela diri. Mereka memang melestarikan ilmu itu tapi tidak

mengamalkannya. Suatu saat jika ada kelompok yang tidak suka pada

mereka, bisa saja mereka ditumpas dan ilmu-ilmu penghimpun hawa

itu akan punah selamanya,” jelasnya kemudian.

”Paman Arasan..,” tanya Telaga bimbang, ”bolehkan saya mengangkat

paman sebagai guru.., maksud saya belajar ilmu beladiri

dari paman..”

Tersenyum Arasan mendengar permintaan itu. Benar pikirnya. Anak

muda ini bukanlah seorang pemuda biasa. Sudah tentu senang hatinya

menjadi guru seorang pemuda yang telah mempelajari Tenaga Air.

”Sudah tentu, nak Telaga. Tapi jangan panggil aku guru. Dan hal ini

harus dirahasiakan bahwa kamu belajar ilmu beladiri dari aku. Perihal

mengapa, suatu saat akan kami ceritakan,” jawabnya.

Telaga pun mengangguk. Mulai pagi itu Arasan pun mengajarkan

ilmu-ilmunya, yaitu Sabetan dan Tangkapan Tangan. Awalnya Telaga

memang terlihat tertinggal bila dibandingkan dengan Sarini akan

tetapi lambat laun ia dapat menyusul dan terlihat lebih pandai,

terutama untuk gerakan-gerakan yang memanfaatkan kelemasan. Ini

sudah tentu dibantu dengan hawa dalam yang telah dimilikinya, yaitu

Tenaga Air.

Setelah matahari mulai sedikit tampak, mereka pun menghentikan

latihan. Arasan memang sembunyi-sembunyi dalam melatih anaknya

Sarini. Ia tidak ingin dikenal sebagai seorang yang bisa ilmu bela diri.

Ia ingin hidupnya aman-aman saja. Akan tetapi sebagai seorang ayah,

sudah tentu ia tidak bisa selamanya bersama-sama dengan putrinya

terus-menerus dan menjaganya. Untuk itulah ia mengajari putrinya

ilmu Sabetan dan Tangkapan Tangan, untuk menjaga diri belaka.

155

Setelah sarapan Arasan dan Sarini mengajak Telaga untuk mengikuti

kelanjutan peristiwa yang terjadi kemarin di daerah itu, yaitu penangkapan

Hakim Haus Darah. Hari ini Arasan tidak bekerja, juga warung

tempatnya menjadi pelayan tidak buka. Hal ini dikarenakan semua

penduduk dari kedua desa akan berada di kediaman Hakim Haus

Darah untuk memenuhi himbauan dari ketiga orang perwira dari pemerintah

pusat, yang katanya akan menangkap Hakim Haus Darah

atas tuduhan membunuh Ki Rontok.

Dalam perjalanan mereka apabila bertemu dengan orang-orang desanya,

Arasan selalu memperkenalkan Telaga sebagai anak dari

saudara jauhnya di kota besar, yang saat ini sedang menginap di

tempatnya. Dengan cara itu orang-orang tidak akan curiga bahwa

Telaga berguru kepadanya. Lagi pula saat itu topik mengenai Hakim

Haus Darah sedang pada puncaknya, tidaklah keberadaan Telaga menjadi

perhatian orang. Telaga dalam pada itu tak lupa menceritakan

mengenai apa yang dilihatnya waktu ia berada di Danau Genangan

Batu, tentu saja dengan muka merah mengingat adanya Sarini di

situ. Sarini yang mendengar cerita itu amat tertarik, selain juga

menjadi malu. Untung saja ia saat itu tidak ikut mandi bertelanjang

tubuh. Jika tidak, pastilah seluruh penjuru tubuhnya telah dilihat

Telaga dari kejauhan. Arasan mendengarkan cerita Telaga dengan

serius, lalu usulnya agar Telaga untuk sementara menyimpan rahasia

itu di tengah mereka bertiga dan juga kakek aneh yang ditemuinya

itu. Arasan berpendapat bahwa jika persoalannya menjadi genting,

bisa-bisa Telaga tersangkut-paut. Belum lagi alasan mengapa ketiga

perwira pemerintah pusat itu menyembunyikan mayat Ki Rontok

di legokan dalam Danau Genangan Batu. Masih banyak misteri

yang tersimpan dalam peristiwa itu. Baiknya Telaga berhati-hati

dulu. Mendengar alasan dan nasihat itu Telaga pun mengiyakan.

Lalu berbicaralah mereka hal-hal lain yang lebih ringan, melihat sudah

banyak orang yang berpapasan dan juga berjalan bersama-sama

mereka ke tempat kediaman Hakim Haus Darah.

***

Telah berkumpul banyak orang di suatu tempat agak jauh ke selatan

dari Danau Genangan Batu. Tempat kediaman Hakim Haus Darah,

Walinggih. Sebuah rumah di atas batu, tampak sederhana. Di hadapannya

tampak halaman atau bebatuan lapang cukup luas. Terlihat

156 BAGIAN 3. HAKIM HAUS DARAH

guratan-guratan pada halaman berbatu itu. Sesekali seperti guratan

kaki, akan tetapi juga tampak seperti guratan yang dibuat menggunakan

logam panjang. Pedang mungkin. Orang-orang yang pernah

melihat Hakim Haus Darah melatih ilmunya, dapat mengenali bahwa

gurata-guratan itu merupakan hasil peninggalannya saat ia berlatih

pedang panjangnya di pelataran itu. Meninggalakn jejak kaki di atas

tanah batu dan juga angin sabetan-sabetan pedangnya.

”Walinggih atau yang dikenal sebagai Hakim Haus Darah, keluarlah

engkau..!” salah seorang dari tiga perwira perwakilan pemerintah

pusat itu.

Sunyi tak terdengar jawaban. Penduduk yang mendengar ucapan itu

menjadi merinding. Belum pernah sampai saat itu mereka mendengar

ada orang yang berani menyapa Walinggih seperti itu. Baru kali ini.

Mereka, para penduduk kedua desa berada pada keadaan terjepit.

Ingin tidak hadir, akan tetapi berarti melawan wakil dari pemerintah

pusat. Ingin ikut tapi jerih terhadap Walinggih.

Tak lama kemudian tampak pintu rumah di atas batu itu berderit

terbuka. Seorang tua muncul dari dalamnya. Hampir saja Telaga

menyeru perlahan karena miripnya wajah orang itu dengan orang tua

yang ditemuinya di Gunung Genangan Batu saat dulu itu terjadi.

Tapi setelah diperhatikannya dengan seksama, tampak perbedaanperbedaan

yang ada pada orang yang baru keluar itu. Memang samasama

tua, dan tua karena pikiran, akan tetapi orang ini, Walinggih

masih terlihat lebih segar dibandingkan orang tua kemarin. Juga rambutnya

berbeda. Orang tua kemarin sudah putih semua, sedangkan

Walinggih masih tercampur-campur antar rambut yang putih dan hitam.

Hanya ada satu persamaan, yaitu baju yang dipakainya. Sama

seperti yang dikenakan oleh orang tua kemarin dulu itu, yaitu sebelah

berwarna kanan biru muda dan sebelah kiri berawarna hijau

muda. Tapi tidak seperti orang tua kemarin yang berbusana bersih,

baju Walinggih tampak kotor oleh bercak-bercak coklat kehitaman.

Seperti bercak darah yang mengering.

”Huh, mau apa kalian orang-orang desa kemari?” jawabnya kasar.

”Ada yang mau disembelih?”

Kecut hati sebagian hati orang-orang mendengarnya. Hanya beberapa

157

yang cukup berilmu tidak, termasuk di antaranya ketiga perwira dari

pemerintah pusat, Sarini, Arasan ayahnya dan Telaga. Juga beberapa

orang yang berdiri di kejauhan, di atas batu tinggi. Ketiga orang yang

pernah dilihat Telaga di Danau Genangan Batu tampak di antara

orang-orang tersebut.

”Walinggih atau Hakim Haus Darah, kami tiga orang wakil dari pemerintah

pusat, atas permintaan dari kedua desa ini hendak menangkapmu

atau tuduhan telah membunuh Ki Rontok dari Desa Batu Barat,”

terang seorang dari mereka sambil dilemparkannya sebuah gulungan

kertas. Kertas yang berisi perintah untuk menangkap Walinggih.

Lemparan itu bukan sembaran lemparan. Dalam jarak yang cukup

jauh orang masih dapat mendengar deru gulungan itu. Kertas yang

ringan akan tetapi dapat menderu dan menempuh jarak setinggi pohon

kelapa untuk mencapai Walinggih yang berada di depan pintu

rumahnya, menandakan kuatnya tenaga yang dimiliki oleh perwira

tersebut.

Walinggih dengan santainya menangkap sambitan itu, membacanya

sekilas kemudian lemparkannya melambung turun. Bersamaan dengan

itu diayunkan pedang pajangnya menyilang beberapa kali dengan kecepatanya

yang sukar diikuti oleh mata. Saat ia menapakkan kakinya

dengan berdebam di atas bebatuan di pelataran di depan rumahnya.

Turun potongan-potongan kertas perintah penangkapan atas dirinya

tadi. Halus bagai salju atau serbuk sari bunga yang terbawa angin.

Benar-benar ilmu pedang yang dahsyat.

”Hmm..,” kata seorang dari mereka bertiga, ”apakah itu artinya bahwa

engkau menolak perintah pemerintah pusat?”

Walinggih tersenyum jumawa, lalu katanya, ”Bila pedang sudah

bicara, tak perlu ada kata-kata lagi. Mana pemerintah pusat saat

di sini ada penekakan oleh pedagang dan preman? Mana pemerintah

pusat waktu keluargaku dibantai? Giliran sekarang sudah beres, baru

datang. Huh!”

Seorang dari ketiga perwira itu masih berusaha membujuk, ”serahkan

dirimu, Walinggih! Kami akan beri peradilan bagimu. Juga dengan

melihat latar belakang tindakanmu itu. Biarkan hakim sebenarnya

yang memutuskan.”

158 BAGIAN 3. HAKIM HAUS DARAH

Alih-alih menyetujui saran itu,Walinggih malah mendengus dan meludah

ke kanan-kirinya. Melihat penghinaan itu dan juga sikap bahwa ia

masih mengandalkan kekuatannya, ketiga perwira itu saling bertukar

pandangan mata. Lalu secara bersamaan mereka bergerak maju.

Ketiganya telah mengelilingi Walinggih. Bersenjatakan tongkat setinggi

pinggang. Dua buah. Satu di tangan kanan dan satu di tangan

kiri. Tongkat khas penjaga penjara para tahanan. Ketiganya kemudian

menyerang bersamaan. Satu menyabet ke arah kepala, yang kedua

ke arah perut dan yang ketiga ke arah kaki. Hampir tertutup

semua ruang gerak Walinggih, diserang dari ketiga arah pada ketiga

ketinggian yang berbeda. Benar-benar serangan yang lengkap.

Akan tetapi bukan Hakim Haus Darah apabila dengan serangan seperti

itu dapat langsung ditumbangkan. Dengan tenang ia melangkah

mundur mendekati orang yang menyabetkan tongkatnya ke arah

kepalanya. Ditundukkan kepalanya sehingga serangan itu luput. Akibat

mundurnya itu, dua serangan yang di depan kiri dan kanannya pun

tak mengena. Bersamaan dengan itu diayunkan pedang panjangnya

ke kiri dan kanan. Pedangnya lebih panjang dari tongkat ketiga orang

itu, akibatnya kedua orang yang menyabet kaki dan perutnya terpaksa

mundur setelah serangan mereka gagal. Tidak sempat ada serangan

kedua karena pedang Walinggih telah mendekati. Hampir mencium

perut-perut mereka.

Selagi orang yang di belakang Walinggih tertegun melihat serangannya

gagal, diputarnya pedang panjangnya sedemikian rupa sehingga

ujungnya berarah ke belakang. Lalu dihujamkannya ke arah

di mana orang itu berada. Tak diduganya bahwa Walinggih akan

menyerangnya tanpa membalikkan badanya membuat kewaspadaan

orang itu berkurang. Untung saja refleksnya masih bekerja, digesernya

badannya sedikit ke samping sehingga pedang Walinggih hanya

menderukan angin di pinggir kulit pinggangnya.

Bekeringat dingin ketiga perwira itu. Dalam serangan pertama,

dalam satu jurus mereka hampir dikalahkan oleh Walinggih. Serangan

mereka yang umumnya membuahkan hasil dapat dimentahkan dengan

serta-merta.

”Bagus..!” ucap salah seorang dari mereka.

159

Kembali ketiganya maju serantak, tapi kali ini tidak berani sekaligus

menyerang melainkan satu per satu. Saat satu orang menyerang, temannya

membantu dengan menjaga serangan balik Walinggih. Cara

ini ternyata lebih berhasil, sulit Walinggih menyerang balik dengan

tepat. Ada dukungan dari kawan di kiri-kanan dari sasarannya.

Pertempuran itu pun berlangsung seru. Sudah setengah hari tiada

tanda-tanda akan berkesudahan. Matahari sudah menempati titik

kulminasinya. Sebagai seorang manusia, sudah pasti dimiliki batas

daya tahan untuk terus bertempur. Bagitu pula dengan ketiga orang

perwira itu. Mereka tidak biasanya menangkap para penjahat sampai

selama ini. Belum pernah sebelumnya. Pada Walinggih tidak terlihat

tanda-tanda ia menjadi lelah. Mungkin kegilaannya itu yang membuat

ia tidak bisa lelah. Menyadari bahwa jika pertempuran berlarut-larut

berlangsung, dapat saja kekalahan menyambangi pihaknya, salah seorang

dari ketiga perwira itu memberi isyarat pada sekelompok orang

yang berdiri di atas batu tinggi di kejauhan. Kelimanya bergerak

ringan, turun dari batu dan bagai melayang tiba di arena pertempuran.

Semakin kecut penduduk kedua desa melihat bahwa akan ada lagi

tokoh-tokoh yang berlaga. Arasan, Sarini dan Telaga juga semakin

tertarik melihat bahwa kelima orang yang tadi tak begitu jerih pada

Walinggih ternyata juga orang-orang yang berilmu.

”Hehehe, akhirnya muncul juga orang-orang Asasin,” kata Walinggih

begitu melihat kedatangan lima orang itu. ”Jadi begitu...! Perwira

wakil pemerintah pusat bekerja sama dengan pembunuh bayaran. Hahahaha,

benar-benar ’penegakan hukum’.”

Tak terpancing emosi ketiga perwira itu juga para Asasin. Lalu ucap

salah seorang perwira, ”Walinggih, urusan apa pekerjaan mereka kami

tidak tahu-menahu. Mereka-mereka ini hanya membantu kami dalam

menunaikan tugas untuk menangkapmu. Itu saja.”

”Hehehe, tak usah berpura-pura,” kata Walinggih, ”sudah jelas mengapa

dulu wakil pemerintah tidak datang, rupanya sudah sekongkol

pemerintah dengan preman-preman dan pembunuh bayaran.”

Mendengar itu berkecamuk pikiran dalam benak Telaga. Sedari tadi

belum sekalipun Walinggih mengaku telah membunuh Ki Rontok.

160 BAGIAN 3. HAKIM HAUS DARAH

Dan dengan adanya kelima orang itu, yang disebut sebagai Asasin. Di

mana tiga di antaranya adalah orang-orang yang dilihatnya menyembunyikan

mayat, menjadi semakin bingun Telaga. Masih dicobanya

untuk memahami kejadian itu. Saat itu tangan Sarini menyentuh tangannya

lembut, dengan isyarat dikatakannya bahwa Telaga sebaiknya

tidak berbicara mengenai apa yang dilihatnya itu.

Kedelapan orang yang telah mengurung Walinggih itu, alih-alih menjawab

pernyataanya, malah bergerak berputar, langsung menyerang.

Dongkol pula Walinggih bahwa ucapannya tidak ditanggapi. Di

tariknya pedang panjangnya ke dadanya sehingga ujungnya menghadap

ke atas. kakinya meregang terbuka selebar dada. Satu ke

depan satu ke belakang. Ia sedang merapal jurus Sabetan Tunggal

Menuai Dua, yaitu suatu jurus dari ilmu pedang panjangnya,

di mana dalam satu serangan dua titik yang dituju. Dua titik dari

dua orang lawan yang berbeda. Biasanya dua titik itu berada bukan

pada dua orang lawan yang berdekatan atau berurutan melainkan

berseberangan. Dengan cara ini biasanya dua orang lawan tidak akan

sadar bahwa mereka berdua yang akan dituju. Lain halnya bila dua

orang yang berurutan yang menjadi sasaran. Teman sebelahnya tentu

waspada apabila rekan terdekatnya sedang diserang.

Walinggih belum tahu berapa lihai kelima orang Asasin yang beru

berlaga itu. Ia pun tak punya waktu untuk mencari tahu. Dari pikirannya,

dipandang mereka lebih lemah dari ketiga perwira perwakilan

pemerintah pusat itu. Jika tidak, mengapa mereka butuh ketiga perwira

itu untuk membalaskan dendamnya. Dugaan itu tidak salah.

Kelima orang itu memang ingin membalaskan dendam kepada Walinggih

atas pembunuhan yang dilakukannya pada rekan-rekan mereka

dulu. Saat Walinggih membalaskan dendam atas kematian keluarganya.

Sebagai seorang pembunuh bayaran, Asasin tidak mengerti

kesedihan Walinggih. Pembunuhan bagi mereka adalah suatu profesi.

Akan tetapi para Asasin pun menyadari bahwa Walinggih bukan

orang sembarangan. Mereka saja tidak akan mampu menanganinya,

untuk itu mereka berpura-pura meminta pertolongan pada pemerintah

pusat, sehingga ketiga orang perwira itu dikirim.

Sebelum kedelapan orang itu bergerak, telah dengan cepat Walinggih

mendahului menyerang. Diserangnya salah seorang Asasin yang

berada di kirinya dengan tipuan tusukan. Akibatnya rekan-rekannya

161

berupaya melindungi. Dengan menggunakan saat yang tepat diubahnya

serangan itu ke arah dua orang di kanan dan belakangnya. Dua

orang yang jauh dari sasaran pertama, juga kedua Asasin, tidak sadar

akan kembangan serangan dari Walinggih. Mereka masih tenang

karena merasa berada pada jarak yang aman.

”Settt...!” serangan kedua membuahkan hasil. Sasaran itu tertusuk

pada pinggangnya dan berguling ke samping. Tak berhenti diputarnya

pedangnya ke atas kepala dan dibacokkan ke tujuan berikutnya.

”Cappp...!” serangan ini pun membuahkan hasil. Terbelah simetris

Asasin ini. Tak sempat ia menghindar karena masih terpesona pada

luka yang diderita rekan sebelumnya.

Melihat hasil ini, keenam orang yang tersisa segera melompat mundur

karena pedang Walinggih masih berpusing ke beberapa arah. Hanya

tipuan. Tapi pada keadaan genting seperti itu tak ada yang berani

coba-coba apa serangan susulah itu benar-benar atau hanya gertak

belaka.

KembaliWalinggih memegang pedangnya rapat ke dada dengan ujung

menuju ke atas. Kaki dibuka selebar bahu, ke depan dan belakang.

Diatur napasnya tenang. Siap untuk serangan berikutnya.

Kecewa tampak wajah salah seorang perwira. Bantuan dari Asasin

yang tampaknya akan memperkuat penangkapan ini ternyata sia-sia.

Asasin hanyalah gentong kosong belaka, pikirnya. Omong besar di

depan. Tak ada hasil setelahnya.

Tiga orang Asasin yang tersisa tampak geram. Sekilas melihat tahulah

mereka bahwa kedua rekannya telah merengkuh ajal. Tak ada

yang dapat dilakukan kali. Ketiganya saling menukar pandang dan

mengambil sesuatu dari sakunya. Masing-masing membawa sebatang

tabung kecil sepanjang lengan. Diujungnya terlihat sumbat kain terlekat.

”Hei..! Apa mau kalian..?” tegur salah seorang perwira demi melihat

apa yang dilakukan oleh ketiga Asasin tersebut. ”Tunggu dulu..!”

Akan tetapi terlambat, ketiganya telah melemparkan tabung itu yang

telah dibuka sumbatnya ke arah Walinggih. Bukan ke atas melainkan

162 BAGIAN 3. HAKIM HAUS DARAH

ke tanah di sekitar Walinggih berdiri. Sekilas terlihat asap putih

kekuningan keluar. Cairan kuning muda tampak mengalir keluar dari

ketiga tabung itu dan langsung meresap ke dalam tanan.

Walinggih yang melihat itu tetap diam tak bergeming. Ia tak ingin

hilang konsentrasinya pada posisinya untuk menyerang. Keenam

orang itu masih di luar jangkauan pedangnya, tak dapat ia menyerang

keenammnya. Oleh karena itu dibiarkannya tabung-tabung itu

dilemparkan di sekelilingnya.

Tak berapa lama, seperti menunggu sesuatu bergeraklah sisa orang

Asasin itu menyerang Walinggih. Dengan cara yang sama Walinggih

menyerang mereka bertiga secara acak.

”Wuttt..!” hampir saja salah seorang dari mereka terkena. Masih sempat

calong korban Walinggih itu bergeser mundur sehingga pedang

panjang Hakim Haus Darah hanya lewat tipis di atas rampbutnya.

Terasa sehelai dua rambutnya terpapas ringan. Keringat dingin

menetes dengan sendirinya dan juga merindingnya bulu kuduk, membayangkan

bila tadi bukan ramput yang terpapas melainkan kepala.

Walinggih kembali ke tengah. Kembali ke posisi semula. Tegak dan

lemas. Siap melepas serangan lagi bagi pegas. Menyerang untuk kembali

pada posisi bertahan.

Tiba-tiba terasa sesuatu pada kakinya. Tak berani ia melihat ke

bawah, takut di saat sekejap itu ketiga orang musuhnya menyerang

balik.

Orang-orang di sekitar Walinggih melihat bahwa cairan kuning susu

yang tadi meresap ke dalam tanah, tampak muncul kembali dan tepat

di bawah kaki Walinggih. Perlahan-lahan kumpulan-kumpulan cairan

itu merayap naik. Seakan-akan hidup merambat merambat mereka

pada kaki dan betis Walinggih.

Pada saat itulah sambil melempar senyum ketiga orang Asasin yang

tersisa menyerangWalinggih sang Hakim Haus Darah dengan serentak.

Membacokkan golokn mereka secara bersamaan.

Walinggih yang akan bergerak, tiba-tiba mearasa bahwa kakinya

tidak lagi dapat digerakkan. Terpaku bagai akar pohon. Ini sudah

163

tentu disebabkan oleh cairan kuning susu itu. Entah apa namanya.

Masih dengan tenang Walinggih mendengus. Alih-alih menggeser

kedudukannya, ia memutar pedang panjangnya sedemikian rupa sehingga

terlihat ia akan membacok paha depannya sendiri. Di saat

ketiga orang yang sedang mendekat padanya itu terpesona pada gerakan

itu, Walinggih mencengkeram ujung pedangnya yang sedang

mengayun. Ternyata pedang panjang itu bisa dibuat menjadi dua

bagian yang kira-kira sama panjangnya. Dengan cantik serangan

yang tadi diduga akan membelah pahanya itu menjadi melengkung ke

atas dan membacok lawan-lawannya di kedua arah.

”Crakkk!” dan ”croott!” lawan yang ada di kanan dan dirinya terpancung

dagunya dari bawah. Bersamaan dengan terbelahnya muka

mereka, terbang pula nyawa mereka dari raganya semula. Bersamaan

dengan itu dua bagian pedang panjang yang masih bergerak ke atas

kanan dan kiri itu melingkar ke atas menuju punggung Walinggih, di

mana orang ketiga sedang menyerang.

”Heggg..!!” menyelinap golok orang ketiga ke pinggang Walinggih.

Luka bacokan tak dapat dihindari. Akan tetapi pada saat yang

bersamaan ”crott!!” menghujam kedua potong goloknya ke kepala

seorang Asasin yang masih tersisa itu.

Benar-benar pemandangan yang mengerikan. Ketiga Asasin tampak

terbujur menjadi mayat. Sementara itu Walinggih si Hakim Haus

Darah tampak masih gagah berdiri di tengah-tengah. Walaupun

kakinya tak dapat bergerak dari atas tanah dan pinggangnya telah

meneteskan luka, masih tampak wibawa dan keangkerannya.

Sunyi.

Tak tahan akan keadaan itu tiba-tiba Telaga melesat. Ia menyobek

lengan bajunya untuk disematkan pada luka di pinggang Walinggih.

Andai saja Walinggih belum terkuras habis tenaganya dan juga belum

terluka, bisa tak selamat Telaga. Bisa dikira musuh yang akan menyerang

oleh Walinggih. Tapi pada saat itu ia tidak bisa lain hanya

menerima saja. Dan ia amat bersyukur bahwa anak muda itu hanya

membalut lukanya.

Ketiga perwira itu tampak tertegun menyaksikan perbuatan Telaga.

Mereka sebagai perwira tak ingin menyerang orang yang sudah tak

164 BAGIAN 3. HAKIM HAUS DARAH

berdaya. Mereka juga malu bahwa orang-orang yang menolong mereka

ternyata menggunakan cara licik dengan memakai sejenis cairan yang

tidak mereka kenal itu. Ketiganya tampak termangu. Seakan-akan

menunggu Telaga sampai selesai membalut luka di pinggang Walinggih.

Walinggih merasa amat terharu atas sikap Telaga itu. Dipandangnya

anak muda yang masih membalutnya itu. Teringat akan anaknya.

Jika anaknya masih hidup, sudah pasti sebesar ini tentunya. Tiba-tiba

dilihatnya suatu tanda di dada anak muda itu, yang bajunya sedikit

tersingkap saat ia menyobekkan lengan bajunya, untuk dibuat bahan

membalut. Terkesiap ia melihat semacam sinar temaram. Sinar yang

hanya dimiliki oleh orang-orang seperti dirinya, yang pernah belajar

ilmu dari guru yang sama.

”Siapakah, kau?” tanyanya tergagap.

”Maaf, paman.. Saya hanya tak tega melihat paman terluka. Sudah

itu mereka-mereka ini licik sekali. Bertempur, kok menggunakan

racun..,” jawab Telaga sedikit malu. Ia seharunya tidak mencampuri

urusan orang, akan tetapi perkataan orang tua yang berbusana sama

dengan Walinggih ini mengingatkannya bahwa ia harus mengatakan

kebenaran. Jangan disimpan.

Lalu Telaga pun menceritakan apa-apa yang dilihatnya kepada Walinggih

juga kepada ketiga perwira wakil pemerintah tersebut. Isyarat

Sarini untuk mencegahnya diabaikannya. Diceritakannya dari sejak

awal ia berada di Danau Genangan Batu sampai perjumpaannya dengan

orang tua yang berbusana sama dengan Walinggih. Orang itu

juga dapat menjadi saksi mengenai apa yang terjadi.

Mendengar cerita Telaga, bergumam orang-orang yang berkerumun di

sana. Juga ketiga perwira menjadi bingung mengenai apa yang harus

dilakukan. Setelah mereka bertiga berunding, akhinya diputuskan

bahwa untuk kasus ini sudah selesai. Dalam hal ini Walinggih tidak

bersalah karena pelaku pembunuhan Ki Rontok adalah kelompok

Asasin itu. Salah seorang perwira yang kemudian memeriksa sakusaku

mayat Asasin kemudian menemukan jarum jahit dan benang kulit

yang digunakan untuk menjahit kembali tubuh Ki Rontok. Rupanya

mereka berlima sudah tidak sabar untuk membalaskan dendamnya

165

kepada Walinggih, akhirnya dengan cara membunuh dan memfitnah

Walinggih, diharapkan rencana mereka dapat berjalan. Sayangnya

kemampuan silat mereka masih jauh dari mumpuni. Itupun masih

dibantu dengan cairan kuning susu tadi.

Ketiga perwira pun membubarkan orang-orang desa. Akhirnya di sana

hanya tinggal mereka bertiga, Walinggih, Telaga, Sarini dan Arasan.

Ketiga perwira wakil pemerintah pusat yang tadinya berwajah keren

dan galak itu, membantu Telaga memamapah Walinggih ke rumahnya

di atas batu. Mereka tadi bersikap garang kepada Walinggih karena

mereka yakin Walinggih adalah yang bersalah. Yang telah membunuh

Ki Rontok. Akant tetapi sekarang, setelah terbukti bukan, bersikap

mereka ramah seperti ke kebanyakan orang. Setelah itu mereka pamit,

sambil tak lupa berpesan kepada Walinggih untuk meninggalkan tabiatnya

yang cepat marah dan main hakim sendiri. Di kedua desa

telah ada perangkat pemerintah, biarkan mereka yang mengatur, ucap

mereka. Walinggih yang telah tersentuh oleh perawatan Telaga berjanji

akan mengubah dirinya, tidak seganas dulu.

Tinggalah saa ituWalinggih yang terbujur lemah masih menahan sakit

dan tiga orang di sekitarnya.

”Katakan sekali lagi, nak Telaga.. Bagaimana rupa orang tua itu?”

pintanya pada Telaga.

Telaga kemudian menceritakan bagaimana rupa orang tua yang ditemuinya

di Danau Genangan Batu dan apa yang dilakukannya sebelum

berpisah. Mendorong dadanya secara halus dan menggetarkan isinya.

Dikatakannya pula bahwa rupanya mirip dengan Walinggih, juga busana

yang dikenakannya.

Tersenyum Walinggih mendengarkan kejadian itu. Katanya menghela

napas, ”kakangku itu Wananggo, masih saja mengawasiku dari jauh.

Ia masih juga belum mau bertemu denganku.”

Terdiam ketiga orang pendengar itu. Orang tua itu ternyata adalah

kakak dari Walinggih. Wananggo namanya. Pantas Telaga melihat

banyak kemiripan di antara mereka berdua itu.

Walinggih kemudian bercerita bahwa Wananggo juga mengalami

kesedihan yang sama dengan dirinya. Ia mengalami pula diting166

BAGIAN 3. HAKIM HAUS DARAH

gal keluarganya. Akan tetapi berbeda dengan Walinggih, istri dan

anaknya meninggal karena penyakit, bukan dibunuh orang. Ada

satu hal yang sama dari ketiga orang itu, Walinggih, Arasan dan

Wananggo, yaitu mereka sama-sama beristrikan wanita bukan dari

desa asal mereka. Jika Walinggih dan Wananggo yang berasal dari

Desa Batu Barat yang kemudian memperistri wanita dari Desa Batu

Timur. Sebaliknya Arasan yang berasal dari Desa Batu Timur memperistri

wanita dari Desa Batu Barat.

Diterangkannya pula oleh Walinggih bahwa kakaknya itu mendorong

halus dada Telaga untuk mengoperkan sedikit tenaga pada Telaga

yang juga menjadi kesepakatan dari mereka bahwa Telaga adalah seorang

yang cocok untuk dijadikan murid. Mendengar itu Telaga kemudian

menceritakan bahwa ia sedang berguru pada Arasan. Arasan

sendiri, sang guru tidak berkeberatan jika Telaga juga berguru pada

Walinggih. Ia melihat bahwa Walinggih perlu teman. Dengan adanya

teman akan lebih baik hidupnya. Dapat membantunya keluar dari kebiasaanya

yang ganas seperti pada masa lalu. Walinggih pun berkata

bahwa selama ia masih sakit, ia belum dapat mengajarkan Telaga.

Jadi bisa saja Telaga berguru padanya setelah ia sembuh. Akhirnya

disepakati bahwa Telaga tinggal bersama Walinggih dan baru berkunjung

pagi-pagi buta untuk belajar. Selain itu para penduduk juga

telah tahu bahwa Telaga bukanlah anak dari saudara jauhnya lagi,

melainkan hanya mampir. Tidak baik bagi seorang gadis seperti Sarini

bila ada seorang pemuda seperti Telaga, yang bukan keluarganya,

tinggal serumah. Kedua orang tua itu tertawa-tawa mendiskusikan

bagaimana mereka akan melatih Telaga kelak. Sedangkan orang yang

dibicarakan tidak diberi kesempatan.

Melihat itu semua Sarini hanya tertawa kecil sambil sesekali melihat

ayahnya. Belum pernah dilihatnya Arasan sesemangat itu membicarakan

sesuatu. Apalagi terhadap orang yang ditakuti, Hakim Haus

Darah.

***

Pemuda itu berjalan pelan mendaki gunung tinggi di depannya. Gunung

Hijau. Gunung yang puncaknya tidak jelas karena tertutup

awan. Paras Tampan nama pemuda itu. Ia adalah seorang dari

lima pemuda yang sedang menghadapi ujian akhir dari gurunya Ki

167

Tapa salah seorang penghuni Rimba Hijau. Di atas gunung ini terdapat

persembunyian kitab-kitab ahli-ahli silat tinggi. Belum jelas

bagaimana kabarnya mengapa banyak ahli-ahli silat tinggi menyembunyikan

kitab-kitab mereka di gunung itu pada akhir hayat mereka.

Ada yang menyembunyikannya di balik batu, di rumah di atas pohon,

dalam ceruk, di lobang-lobang karang dan sebagainya. Saking

sulitnya menemukan kitab-kitab itu, bolah dikatakan nasiblah yang

menentukan. Atau dengan kata lain, kitab-kitab itu yang mencari

penerusnya, bukan sebaliknya. Itu yang dikatanan gurunya Ki Tapa.

Paras Tampan berjalan perlahan masih saja tebing-tebing yang dilihatnya.

Walau kadang ada jalan setapak, tapi tidak mengisyaratkan

bahwa itu akan membawanya ke suatu tempat. Ia memutuskan untuk

selalu mencari jalan yang lebih menuju atas, apabila menemui

persimpangan. Semakin tinggi, mungkin semakin sakti orang yang

meninggalkan kitab itu, pikirnya.

Berbagai tebing dan batu-batu telah ditelitinya. Batu-batu yang

tinggi dan pendek. Celah yang lebar dan sempit. Juga pohon-pohon

yang terdapat di sana. Sampai saat ini baru dua rumah pohon ditemuinya.

Akan tetapi di sana tidak terdapat kitab apapun. Hanya

beberapa baris tulisan. Tulisan dari orang yang juga mencari kitab.

Tulisan mengenai keputusasaanya bahwa ia belum juga menemukan

apa yang dicari. Tersenyum kecil Paras Tampan membaca tulisan itu.

Ia tidak akan berkeluh kesah seperti orang yang menorehkan tulisan

itu pada dinding rumah pohon. Ia akan berusaha sekuatnya untuk

mencari kitab-kitab itu. Atau tepatnya ia akan terus berjalan, sampai

kitab-kitab itu menemukan dirinya.

Hari telah menjelang senja. Paras Tampan telah sampai ke suatu

batas di mana kabut tipis di atas Gunung Hijau terlihat bertambah

lebat. Ia harus beristirahat. Sulit dalam kegelapan kabut dan juga

malam untuk terus berjalan, bahkan dengan adanya bantuan obor

yang telah dibekalnya tadi. Umumnya pantulan api obor akan malah

menghalangi pandangan. Jalan yang dapat dilihat tidak sampai dua

kambing ke muka. Benar-benar hampir buta rasanya.

Sementara masih berpikir untuk terus berjalan atau beristirahat,

Paras Tampan mencari suatu tempat untuk melepaskan lelah dan

memakan bekal yang menyertainya. Akhirnya diperoleh suatu tem168

BAGIAN 3. HAKIM HAUS DARAH

pat yang cukup nyaman. Legokan dalam batu-batu sebesar gajah.

Memberikan ruang yang cukup untuk berlindung dari angin dan juga

bila nanti turun hujan. Dibukanya perlengkapan yang dibawa. Laukpauk,

obor, beberapa tali dan barang-barang lainnya. Dicarinya di

sudut-sudut legokan itu, yang ternyata lebih menyerupai sebuah gua

yang dangkal, dan didapatinya ranting-ranting bekas sarang binatang.

Diambilnya beberapa buah yang kering-kering. Kembali ke tempat

perbekalannya semula diletakkan dan mulailah ia membuat api sambil

memakan perbekalannya.

Selang tak berapa lama dirasakannya kantuk dan juga lelah menyerang.

Tak dapat ditahankannya. Ia pun lalu tertidur. Lelap

sekali sehingga tidak diketahuinya beberapa mata sejenis makhluk

menatapnya. Mata-mata yang dapat bersinar dalam gelap. Bila

saja Paras Tampan tersadar, mungkin terkejut pula dirinya. Beberapa

makhluk itu muncul mengitari dirinya dan menjamah beberapa

barang-barangnya.

Geliat Paras Tampan dalam tidurnya mengagetkan mereka. Makhlukmakhluk

itu langsung kabur sambil tak lupa membawa barang-barang

yang bagi mereka menarik itu. Sebagian masih tercecer. Juga tali-tali

yang dibekal oleh Paras Tampan.

Sinar matahari yang hangat datang menggelitik pelupuk mata Paras

Tampan yang tertidur di legokan batu itu. Usikan sang surya membuatnya

menggeliat sesaat untuk kemudian tersadar dan bangun.

Masih galau ingatannya, di mana ia saat ini berada. Diingat-ingatnya

kembali. Akhirnya disadarinya bahwa dirinya sedang mendaki Gunung

Hijau untuk mencari kitab-kitab peninggalan para pendekar

yang menyimpannya di sini. Di suatu tempat di gunung ini. Setelah

ingatannya pulih sepenuhnya, dirasakan lapar menggaruk-garuk

perutnya. Diedarkannya pandangan mata berkeliling. Seharusnya

sisa perbekalannya kemarin ada di suatu tempat di sekitar tempat ia

tertidur.

Tapi apa yang dilihatnya? Barang-barangnya berserakan, berceceran.

Seperti ada seseorang atau sekelompok orang yang mengacak-acak

barang-barang bawaannya itu. Makanannya tercecer-cecer juga obor

dan lain-lainnya. Sejumput tali yang dibawanya masih tampak, akan

tetapi lainnya telah raib. Penasaran Paras Tampan melihat hal ini.

169

Geram dan juga bergidik. Bila benar ada seseorang atau sesuatu yang

tadi malam mampir tanpa disadarinya, benar-benar berbahaya. Untuk

saja tidak terjadi apa-apa dengan dirinya. Ia benar-benar telah

teledor, dengan membiarkan dirinya terlelap begitu saja.

Setelah menenangkan dirinya dengan sedikit mengheningkan cipta, beranjak

Paras Tampan keluar dari legokan batu itu. Dilihatnya langit

cerah telah menantinya untuk kembali mencari kitab-kitab seperti

yang dituturkan oleh gurunya, Ki Tapa. Di bawah sana, di bawah

tebing di mana legokan tempat Paras Tampan tadi malam tertidur,

tampak kabut awan tebal. Gumpalan putih itu menghalangi pandangan

Paras Tampan ke kaki gunung, di mana Rimba Hijau berada.

Bisanya ia berada di bawah sana tidak bisa melihat ke atas sini. Kali

ini malah sebaliknya. Ia berada di atas sini dan tidak bisa melihat ke

bawah sana. Pagi hari kedudukan gumpalan putih itu ternyata lebih

rendah dibandingkan pada sore hari. Mungkin panasnya hari yang

membawa gumpalan-gumpalan itu naik pada siang hari dan dinginnya

malam yang membawanya kembali turun pada malam hari.

Teringat kembali Paras Tampan akan hilangnya perbekalannya. Dicaricarinya

dengan matanya ke berbagai arah, siapa tahu tercecer masih

barang-barangnya. Tak berapa jauh, kira-kira dua tiga tombak dilihatnya

sejumput tali-tali yang dibawanya tergeletak terurai menuju ke

suatu arah. Bergegas ia menghampiri. Menggulung kembali tali itu.

Mungkin diperlukannya kelak. Baru dua gulung diperolehnya. Semua

seharusnya tujuh gulung tali-tali sebesar ibu jari. Cukup kecil tapi

ulet dan kuat. Terbuat dari rumput-rumputan yang diberi ramuan.

Ringan tapi ulet, begitu kata gurunya.

Dengan berbekal ceceran tali-tali yang terurai itu berjalan Paras Tampan

ke suatu legokan lain yang lebih lebar agak ke atas dari tempat

ia tertidur tadi malam. Legokan ini sudah dilihatnya tadi malam.

Dikarenakan bentuknya yang lebih luas dan lapang sehingga angin

lebih leluasa untuk masuk, dipilihnya legokan yang kemarin dan bukan

ini. Walaupun demikian ia telah juga memeriksa legokan ini. Kalaukalau

terdapat ruang atau gua tempat meletakkan kitab-kitab. Dan

kali ini dijumpainya hal yang menarik.

Di ujung legokan batu tersebut, di tengah sebuah batu besar yang

retak, tampak seutas tali yang dibawanya tersembul. Mustahil.

170 BAGIAN 3. HAKIM HAUS DARAH

Bagaimana talinya dapat tesembul dari retakan batu itu? Apa ada

orang atau makhluk yang iseng menyisipkannya di situ. Bingung

Paras Tampan memikirkan hal itu. Saat sedang termenung, datang

kembali usikan sang usus. Meminta makan ia. Belum pagi ini perut

Paras Tampan diisi. Sudah sewajarnya tuntutan alamiah itu datang.

Teringat itu, kembalilah Paras Tampan ke bawah. Ke tempat ia

tertidur semalam. Barang-barangnya masih berserakan di bawah. Dirapikannya.

Dikemasnya. Masih tersisa sedikit penganan yang tidak

terambil oleh suatu malam tadi. Dimakannya perlahan sambil kembali

berjalan ke legokan di atas. Kembali memikirkan bagaimana tali

itu dapat tersisipkan pada legokan batu.

Hari berlangsung dengan cepat tanpa dirasa bila ada yang dikerjakan.

Begitu pula yang dirasakan oleh Paras Tampan. Tidak terasa senja

telah kembali datang menjelang. Dan ia boleh dikatakan hampir tidak

meninggalkan legokan itu. Dicari-carinya lubang-lubang. Diketukketuknya

batu. Dipanjatnya batu retak itu. Digali-galinya sedikit

pasir yang terdapat dikakinya. Tapi hasilnya nihil Tak ada petunjuk

sedikitpun bagaimana tali itu dapat masuk ke dalam retakan batu.

Retakan itu seakan-akan begitu rapat. Tidak dapat dibuka. Tapi

bagaimana tali itu dapat masuk? Makin bingung Paras Tampan dibuatnya.

Tiba-tiba datang gagasan pada diri pemuda itu. Bagaimana jika sesuatu

yang mencuri tali-tali dan barang-barangnya itu datang kembali

malam ini. Mungkin dari balik batu itu. Baiknya ditunggu saja. Ia

kemudian memilih suatu tempat agak ke atas dari retakan itu. Kebetulan

di sana terdapat pula legokan mirip liang. Bisa dimasukinya

dengan memanjat. Kaki duluan baru kepala. Cukup luas, tapi ia

tidak bisa sampai menekut lutunya. Cukup hanya untuk berbaring.

Tapi cukuplah, ini hanya untuk keperluan mengintai, pikirnya.

Tunggu punya tunggu, hampir saja Paras Tampan yang terkantukkantuk

itu tertidur. Kalau saja kakinya tidak kesemutan, bisa saja

terulang kembali kejadian kemarin malam. Kembali tertidur saat sesuatu

itu menggerayangi barang-barangnya.

”Kriiittt...!” suatu suara muncul memecah keheningan malam yang

hanya diisi oleh suara jengkerik.

171

Mendengar itu semakin diam badan Paras Tampan. Diatur teratur

nafasnya sehingga sedapat mungkin tidak terdengar. Diatur hawanya

supaya tanda-tanda keberadaanya tidak dapat dideteksi oleh sesuatu

itu. Sambil memicingkan matanya, dilihatnya bahwa batu tempat

talinya tersembul dari retakan itu, terbelah. Perlahan tapi pasti sebuah

liang gelap tersembul dari dalamnya. Teryata batu itu bisa

berputar ke kanan dan kiri membuka.

Meloncat keluar dari dalamnya beberapa orang kerdil gemuk dengan

hidung yang amat panjang, dua tiga kali hidung seorang dewasa,

dilengkapi dengan rambutnya yang gondrong dan kusam. Telapak kaki

dan tangan mereka lebar-lebar, menandakan mereka penggenggam

dan penginjak yang kuat. Paras Tampan tertakjub melihat makhlukmakhluk

itu melihat waspada ke kiri dan kanan. Ia pernah membaca

mengenai makhluk itu dalam salah satu kitab di rumah gurunya.

Di sana disebutkan makhluk itu bernama Troll, salah satu dari

makhluk-makhluk elemen tanah atau Roh Tanah, di samping Manusia

Tiga Kaki, Gnomen dan Orang Gunung (Bergmnnchen). Disebut

roh karena kadang mereka mempunyai kemampuan yang tidak dimiliki

oleh seorang manusia, seperti kekuatan dan juga kebisaan untuk

menghilang atau tidur lama sekali.

Para Troll itu memandang sekeliling ruang di depannya dengan waspada.

Dilihatnya berkali-kali spasial di depannya. Berhati-hati agar

tidak berjumpa dengan musuh-musuh mereka. Setelah yakin bahwa

tiada yang mengintai mereka, para Troll itu pun beranjak pergi. Salah

seorang diantaranya menggulung tali yang terjepit di retakan batu

karang itu. Rupanya ia yang membawa-bawa tali itu sejak kemarin.

Di pinggangnya terselip tali-tali lain milik Paras Tampan. Senang

kelihatannya ia bermain-main dengan tali.

Temannya pun memanggil mereka. Mereka semua kembali ke lekukan

batu, di mana mereka tadi malam menemukan Paras Tampan sedang

tertidur. Para Troll itu mencoba mengulangi penjelajahannya kemarin.

Malam ini mereka mengharapkan Paras Tampan tidak bergerak,

sehingga mereke dapat melihat-lihat dan mengambil barangnya

tanpa takut-takut. Sebenarnya seorang dari mereka terlihat enggan

untuk ikut. Akan tetapi atas ajakan yang lain, mau tidak mau ia turut.

Lebih besar rasa ingin tahunya ketimbang ketakutannya untuk

melihat lagi manusia yang tertidur di sana seperti kemarin malam.

172 BAGIAN 3. HAKIM HAUS DARAH

Tersenyum Paras Tampan melihat para Troll itu menghilang di balik

batuan untuk berbelok ke bawah. Di lekukan tempat ia tertidur kemarin

malam telah diletakkannya berbagai perlengkapan juga anyamanyaman

yang dibuatnya dari tali dan juga ranting-ranting. Mainan

buat Para Troll agar mereka memberinya kesempatan untuk menyelidiki

rekahan batu karang yang terbuka itu.

Setelah merasa yakin bahwa Troll-trol itu sedang sibuk dengan

mainan-mainan dan perlengkapan yang dibuatnya, berbegas Paras

Tampan beringsut keluar dari persembunyiannya. Hampir ia terjatuh

bila tidak mengingat kakinya yang masih agak kesemutan. Jatuh

dari ketinggian pohon pepaya itu, benar-benar dapat membuatnya

remuk. Apalagi dengan kepala terlebih dahulu menyentuh lantai

tanah berbatu itu. Selah kakinya agak baikan dengan digosok-gosok

perlahan, mulai ia merambat turun. Perlahan, agar tidak memperdengarkan

bunyi-bunyian yang dapat memancing para Troll untuk

kembali. Ia belum mengetahui bagaimana mekanisma pembukaan

dan penutupan pintu karang itu. Biarlah, yang penting sekarang ia

masuk dan mencari-cari di dalam karang itu. Siapa tahu di sana

terdapat kitab-kitab yang dicarinya.

Berbekal dengan keyakinan masuklah Paras Tampan ke dalam rekahan

batu karang yang terbuka itu. Dibiarkannya dahulu agar matanya

terbiasa dalam kegelapan. Tidak berani ia menggunakan obor karena

takut terlihat oleh para Troll. Setelah agak lama, keadaan di dalam

lorong itu ternyata tidak segelap dugaannya semula. Di dasar lorong

terdapat sinar-sinar temaram yang berasal dari sejenis rumputrumputan.

Rupanya para Troll sengaja menanam tumbuh-tumbuhan

itu sebagai penerang jalan mereka. Benar-benar suatu pemikiran yang

maju. Melengkapi lorong-lorong mereka dengan penerangan.

Paras Tampan pun maju selangkah demi selangkah. Tak berani ia

terlalu cepat karena tak tahu apa yang akan dihadapinya di depan

sana. Lebih baik perlahan agar dapat lebih hati-hati. Sudah lebih

dari sepeminum teh ia berjalan, hanya dipandu oleh rumput-rumbut

yang bercahaya di dalam gelap itu. Sampai akhirnya ia menemui dua

buah percabangan. Bingung hatinya. Tak tahu ia harus ke mana.

”Buk-buk-buk-buk..!” tiba-tiba terdengar langkah-langkah datang

dari belakangnya. Terkejut Paras Tampan mendengar hal itu. Pasti

173

itu para Troll yang telah bosan dengan hal-hal yang ditemuinya, dan

mereka sekarang akan kembali ke dalam tempat tinggalnya ini. Paras

Tampan berpikir keras dan cepat, kemana ia harus beranjak. Harus

dipilihnya satu dari dua percabangan ini, ke arah ke mana para Troll

itu tidak akan berjalan. Tapi tak ada panduan ke arah mana mereka

akan menuju, sehingga ia bisa mengambil arah yang berlawanan.

Cepat diperhatikannya kedua lorong di hadapannya itu. Lorong yang

kiri tampak agak terang karena terdapat masih rumput-rumput penunjuk

jalan yang ditanam di kiri dan kanannya, sedangkan lorong

sebelah kanan tampak lebih suram. Malah boleh dikatakan tak ada

tanaman berkilau dalam gelap itu di dalam lorong tersebut. Akhirnya

dengan dasar bahwa lorong itu tidak digunakan, ia berjalan cepat

memilih lorong yang kanan. Lorong yang sering digunakan haruslah

ditanami rumput-rumput itu, begitu pikirnya.

Dengan tersandung-sandung Paras Tampan berjalan memasuki lorong

yang gelap itu. Sampai suatu saat tangannya menyentuh suatu

legokan dalam dinding batu. Ditariknya badangnya untuk merapat

dalam legokan itu. Dari sana masih dapat dilihatnya percabangan

yang tadi. Bersinar temaram karena adanya Rumput-Rumput Berkilau

Dalam Gelap di sana.

”Buk-buk-buk-buk..!!” terdengar langkah-langkah mereka semakin

dekat. Sampai di persimpangan itu rombongan itu berhenti. Hal ini

dikarenakan Troll terdepan menghentikan langkahnya. Nampaknya ia

ingin berjalan ke arah di mana Paras Tampan bersembunyi. Berdegup

Paras Tampan melihat adegan ini. Bila mereka berarah ke sini, bisa

tertangkap dirinya. Uratnya pun menegang. Bersiap-siap untuk halhal

yang akan terjadi.

Tampak teman sang Troll menggoyang-goyangkan tangannya sambil

menunjuk-nunjuk arah lorong yang lain. Digeleng-gelengkan

kepalanya, seakan-akan hendak mengatakan bahwa jangan memasuki

lorong di sebelah kanan itu. Sebaiknya kita cepat kembali pulang,

kira-kira katanya. Akhirnya Troll yang paling depan itu pun menurut,

dan mereka mulai berjalan kembali melewati lorong yang sebelah

kiri.

”Buk-buk-buk-buk..!” suara langkah-langkah itu terdengar lamatlamat

menjauh dan menghilang. Sunyai. Hanya tinggal suara

174 BAGIAN 3. HAKIM HAUS DARAH

degug jantung Paras Tampan yang masih dapat dirasakannya sendiri.

Perlahan-lahan dilepaskannya ketegangan itu. Duduklah ia untuk

mengatur napasnya.

Sunyi dan sepi, juga gelap.

Setelah ketenangan dan keberaniannya pulih kembali Paras Tampan

berdiri. Mulai memperhatikan lorong di mana ia berada. Di

arah berlawanan dengan percabangan itu tak dilihatnya sama sekali

apapun. Benar-benar gelap gulita adanya. Akhirnya diputuskan

untuk kembali ke percabangan, mengambil berapa Rumput-rumput

Berkilau Dalam Gelap untuk dijadikan penerangan. Tak dapat ia

berjalan begitu saja dalam gelap.

Dengan hati-hati ia kembali ke percabangan itu. Diambilnya sedikit

rumput dari sejumput yang ada, begitu pula dari jumput lainnya. Tak

ingin ia mengambil banyak dari satu jumput. Bisa ketahuan nanti

kalau ada yang mencabut jumput itu. Paras Tampan telah memperhatikan

bahwa jumput-jumput itu ditanam pada ukuran yang kirakira

sama berjarak satu sama lainnya. Benar-benar ditanam beraturan.

Sudah cukup banyak rumput-rumput di tangannya, Rumput-rumput

Berkilau Dalam Gelap. Dilangkahkan lagilah kakinya kembali ke

lorong sebelah kanan yang sama sekali gelap itu. Kali tidak terlalu

karena telah ada rumput-rumput sebagai penerangan itu di tangannya.

Perlahan-lahan ia melangkah dengan melihat langkah-langkahnya

dibantu rumput-rumput itu. Lorong itu ternyata berbeda dengan

lorong sebelum percabangan. Dindingnya lebih halus dan terbuat

dari bahan yang terlihat lebih keras dan dingin tapi kering. Akibatnya

dirasakan juga tubuhnya sedikit agak menggigil saat melalui

lorong itu. Berjalan ia perlahan-lahan tanpa tahu kapan atau apa

yang akan ditemuinya nanti.

Waktu pun berlalu dengan amat lambat dalam lorong yang gelap itu.

Paras Tampan akan tetapi tidak putus asa. Tak ada jalan lain, lebih

baik ia terus menyusuri lorong ini. Untuk kembali resikonya lebih

besar, yaitu selain akan bertemu Troll, juga ia belum tahu bagaimana

cara membuka batu karang yang retak tengahnya itu. Bisa dikatakan

175

jalan kembali tak ada kesempatan.

Tak berapa lama dilihatnya seperti ada cahaya di depan sana. Lamatlamat.

Ia bergegas berjalan cepat. Ada pintu keluar, pikirnya.

Kegembiraan itu menurunkan kewaspadaanya, sehingga tiba-tiba,

”dukkk!” Kepalanya terantuk dengan langit-langit lorong. Rupanya

lorong itu sedikit memendek dan jalan di bawahnya menanjak.

Karena cahaya datang dari tengahnya masih temaram, tak dilihat

Paras Tampan perubahan itu.

Setelah mengusap-usap kepalanya yang agaknya benjol, Paras Tampan

mulai agak berhati-hati berjalan. Untung itu hanya langit-langit,

bagaimana bila lubang atau jurang. Sudah mati dia bisa-bisa. Lorong

itu pun bertambah pendek sehingga ia harus merangkat untuk melewatinya.

Akan tetapi cahayanya yang terlihat dari ujung sana semakin

jelas dan terang. Ini menambah semangat Paras Tampan untuk terus

melangkah, akan tetapi tetap dengan hati-hati. Setelah merangkak

beberapa saat sampailah Paras Tampan di suatu ruang yang cukup

lapang.

Ruang itu terbuat dari batu cadas dengan tinggi kira-kira lima kali

dirinya dan seluas sebuah sawah kecil. Udaranya bersih dan cahaya

yang dilihatnya berasal dari lubang-lubang pada dinding batu sebesar

pelukan tangan orang dewasa. Puluhan lubang terdapat di dinding

batu berlawanan arah dengan lorong yang membawanya ke ruangan

itu. Seperti jendela saja layaknya lubang-lubang udara itu terpasang

pada dinding batu tersebut. Seakan-akan terpancing dengan adanya

cahaya tersebut berjalan pelan Paras Tampan menyeberangi ruangan

menuju jendela-jendela alam itu.

Di luar sana, dibalik dinding batu cadas besar tebal dan berlubanglubang

alami itu, sedikit dapat diintip oleh Paras Tampan hanya langit

dan awan putih yang terlihat. Di kejauhan baru dilihatnya pepohonan

dan juga sungai serta sawah. Lain tidak. Dicobanya untuk merampat

naik ke salah satu lubang-lubang itu. Ingin dilihatnya hal lain yang

ada di ujung sebelah sana.

Perlahan ia merangkak. Pelan. Sampai dua tombak lebih, sampailah

ia di ujung sana. Hampir loncat jantungnya saat menyadari bahwa

lubang-lubang itu bermuara pada suatu tebing yang tinggi di Gunung

176 BAGIAN 3. HAKIM HAUS DARAH

Hijau. Di bawahnya terdapat dinding cadas dan tinggi. Awan-awan

putih susu tampak sesekali menghalangi pemandangan ke pada pohonpohon

hijau di bawahnya. Sudah pasti bukan jalan keluar lubanglubang

ini.

Dengan masih merinding mengingat ketinggian dinding di mana

lubang-lubang itu berada dari bawah sana, Paras Tampan merangkak

mundur. Ia tidak bisa berputar. Lubang itu terlalu kecil untuk

berputar atau duduk. Satu-satunya jalan hanyalah mundur perlahanlahan.

Paras Tampan telah berada kembali pada ruang semula. Diperiksanya

dengan seksama, apa-apa yang ada di sana. Dua sisi lainnya selain

lubang-lubang jendela dan lorong tempat ia datang tidak terdapat

apa-apa melainkan hanya dinding batu cadas belaka. Hitam dan dingin.

Berbeda dengan udara yang agak hangat akibat masuknya sinar

matahari dari lubang-lubang itu. Kemudian ia berputar kembali pada

dinding di mana terdapat lorong ia masuk ke ruangan itu. Lubang ke

lorong terdapat di ketinggian sepinggangnya. Jauh di atasnya terdapat

sebuah lubang lain. Cukup lebar dan tinggi. Akan letaknya jauh

di atas, hampir dekat dengan langit-langit. Oleh karena tinggi dan

kerasnya dinding itu tak memungkin kiranya ia untuk memanjat naik.

Diraba-rabanya dinding di hadapannya itu dengan tangannya, sampai

ketinggian yang dapat dicapainya. Tiba-tiba ia bersorak girang,

ada seperti anak tangga di atas itu. Tak terlihat karena warna dinding

yang kelam dan tingginya tempat tersebut. Bergegas ia bergerak

mundur mendekati lubang-lubang jendela. Dicobanya untuk

meloncat-loncat agar tempat yang diduganya itu lebih jelas terlihat.

Ada, soraknya dalam hati. Ada pijakan atau anak tangga di ketinggian

lebih dari tinggi dirinya. Mungkin itu semacam anak tangga

yang dirancang supaya lubang yang di atas itu tidak mudah dicapai.

Tiba-tiba didapatnya akal, dipanjatnya dinding tempat lubang-lubang

jendela itu terletak. Mudah karena jarak masing-masing jendela tidak

berjauhan. Setelah memanjat kira-kira dua kali tinggi badannya,

Paras Tampan bersorak gembira.

Di hadapannya, di dinding di mana terdapat jalan masuk ke ruangan

ini, terdapat semacam anak tangga. Anak tangga pertama lebih

177

tinggi dari dirinya dan masuk lebih dalam ke arah dinding. Yang

kedua setinggi dirinya dan masuk lagi lebih ke dalam. Berikutnya

semakin rendah dan akhinya mengarah pada sebuah lubang di sampingnya.

Lubang di mana jauh di bawahnya terdapat lubang tempat

ia masuk tadi. Benar-benar akal yang cerdik untuk membuat anak

tangga melebihi pandangan orang. Orang yang cepat putus asa tidak

akan melihat anak tangga itu.

Sekarang tinggal bagaimana caranya ia melewati anak tangga pertama

itu. Bila bisa, anak tangga berikutnya lebih rendah. Dan

berikutnya lebih rendah lagi. Ada lima anak tangga semuanya. Setelah

berada kembali pada dinding yang dimaksud ia berusaha meloncat

ringan. Tangannya berhasil mencengkeram lantai di atas dinding

itu. Tapi tidak cukup kuat untuk mengangkat dirinya naik. Berulang

kali dicobanya. Masih saja gagal. Paras Tampan pun berpikir keras

bagaimana naik ke atas dinding tersebut.

Salah satu cara adalah bahwa ia harus dapat melompat tinggi, setidaknya

setengah pinggah lebih tinggi dari daya lompatnya saat ini.

Kemampuan itu sulit untuk dilatihnya dalam waktu hanya beberapa

saat saja. Butuh waktu lama. Harus ada pemecahan bagaimana

caranya sehingga ia bisa melompak jauh lebih tinggi dari sebelumnya.

Cara lain adalah dengan mencari pijakan sehingga ia dapat merambat

naik. Cara ini mungkin lebih masuk akal. Akan tetapi dalam ruangan

yang kosong ini bagaimana ia dapat menemukan sesuatu untuk

mendukungnya?

Mungkin di lorong sana, tempat dari mana ia datang tadi ada sesuatu.

Dengan berbekal pikiran itu Paras Tampan pun kembali ke lorong

tersebut. Merangkak pelan. Agak sukar dibandingkan tadi karena

sumber cahaya berada di belakangnya. Setelah sampai di tempat ia

terantuk kepalanya tadi diedarkan pandangannya. Di salah satu sudut

lorong, setelah diraba-raba ditemuinya dua buah batu yang cukup

besar dan berat dengan permukaan atasnya rata. Seperti dipotong

dengan sengaja. Dengan berdebar-debar penuh semangat didorongnya

kedua batu itu perlahan-lahan pelan tapi pasti. Hampir habis tenaga

Paras Tampan mendorong kedua batu tersebut, karena selain jarak

yang jauh juga karena beratnya.

Duduklah Paras Tampan terpekur di dalam ruangan yang terang dan

178 BAGIAN 3. HAKIM HAUS DARAH

berudara bersih itu. Dua buah batu persegi empat yang rapih terpotong

itu telah berhasil didorongnya. Ia perlu beristirahat sebentar

untuk beristirahat. Tak lama kemudian pulih kembali tenaganya.

Dengan bersemangat ia geser kedua batu itu berganti-ganti mendekati

dinding, di mana lantai diatasnya paling rendah terlihat. Kemudian

diangkatnya salah satu batu untuk ditumpangkannya di atas batu

yang lain. Yang lebih kecil di atas yang lebih besar, agar lebih stabil.

Berkeringat tubuh dan wajah Paras Tampan, menandakan banyak

sudah tenaga yang dikeluarkannya untuk usaha itu.

Kemudian ia menarik napas panjang. Puas melihat pekerjaannya.

Sekarang tinggal saatnya memanjat naik. Berhasil, tangannya

sekarang dapat menggapai lantai di atas itu sampai siku. Dengan cara

ini ia dapat menggapai lantai itu untuk menarik dirinya. Lalu melompatlah

ia dengan menjejak ke kedua batu yang menjadi tumpuannya.

Dan naiklah ia. Anak tangga kedua tidak begitu menjadi masalah

karena memang lebih rendah ukurannya. Juga yang berikutnya sampai

yang kelima. Akhirnya sampailah ia di lubang yang berbentuk

mirip pintu itu. Hitam di dalamnya dengan sedikit cahaya terlihat di

sisi kanannya. Sisi itu merupakan suatu pintu tanpa penutup yang

mengarah pada suatu ruangan yang besar. Lebih besar dari ruangan

sebelumnya dan lebih tinggi.

Hal yang membuat Paras Tampan gemetar menahan kegembiraannya

adalah bahwa selain lubang-lubang yang sama seperti dalam ruang

sebelumnya yang berisikan lubang-lubang udara, terdapat pula

lubang-lubang lain yang berada di antaranya. Lubang-lubang yang

berisikan berjilid-jilid kitab. Ruangan yang seakan-akan merupakan

sebuah perpustakaan. Perpustakaan kitab-kitab kuno.

Pemuda itu melihat berkeliling. Di semua dinding dalam ruangan

itu bertahta lubang-lubang yang masing-masing berisikan kitab-kitab

kuno. Beratus-ratus jumlahnya. Dicobanya untuk melirik beberapa

judul yang ada. Diantaranya bernama Jaga Kesehatan Tubuh dan

Jiwa, Pukulan Inti Es dan Salju, Racun Selaksa Macam, Angin-angin,

Tenaga Air, Seribu Ramuan, Batu-batu, Pukulan Tanpa Tanding,

Seni Beperang, Ilmu Muda Selamanya, Tujuh Rahasia, Rancang Jiwa

Raga dan masih banyak lainnya. Aneh-aneh judulnya. Gemetar pemuda

itu membaca judul-judul yang ada. Ia hanya pernah mendengar

salah satu dari judul-judul kitab tersebut dari gurunya. Dan Sekarang

179

kitab-kitab tersebut berada di depan matanya. Siap untuk dilahap.

Dipelajari.

Pemuda itu, Paras Tampan, hanya pernah melihat satu kitab ilmu silat

yang ditunjukkan oleh gurunya, Jalan Selaras dengan Alam Semesta.

Ilmu itu telah diajarkan kepadanya. Dengan berbekal ilmu beladiri

tersebut ia dan saudara-saudara perguruannya secara terpisah mencari

ilmu-ilmu lain yang konon katanya terdapat di gunung ini. Gunung

Hijau, gunung yang terletak di tengah Rimba Hijau. Atas kehendak

Sang Pencipta, hari ini Paras Tampan dapat menemukan gua ini.

Gua di mana tersimpan kitab-kitab ilmu-ilmu dari segala penjuru angin.

Teringat Paras Tampan pada keempat saudara seperguruannya:

Asap, Misbaya, Rintah dan Gentong. Jika saja ia bisa menghubungi

keempatnya, pastilah diajak keempatnya itu untuk berdiam di sini.

Mempelajari bersama-sama kitab-kitab yang ada di sini. Tak akan

kurang mereka bagi mereka berlima. Sayangnya ia tidak tahu di mana

mereka berempat berada. Ia berharap bahwa saudara-saudara seperguruannya

pun seberuntung dirinya, dapat menemukan kitab-kitab

yang cocok bagi mereka. Ia sendiri malah bingung harus mulai belajar

dari kitab apa.

Ia teringat akan pembicaraan dengan gurunya Ki Tapa pada suatu

saat. Hanya mereka berdua.

”Paras Tampan, apakah kamu tahu apa yang dimaksud dengan Jaga

Kesehatan Tubuh dan Jiwa, Angin-angin, Batu-batu dan Seribu Ramuan?

Pernahkah engkau mendengarnya?” tanya gurunya hati-hati.

”Pernah guru, Asap pernah menceritakan pada kami bahwa itu adalah

kitab-kitab yang dibawa guru atau perintah kakek guru ke Rimba

Hijau ini untuk disembunyikan,” jawab Paras Tampan.

”Benar. Itu adalah kitab-kitab titipan dari guruku Ki Makam. Kitabkitab

yang harus disembunyikan dari orang-orang Perguruan Atas Angin.

Tapi itu cerita lama..,” kemudian lanjutnya, ”dan sekarang..”

Bingung juga Paras Tampan mendengar cerita gurunya yang tidak

jelas itu. Pembicaraan yang tahu-tahu membahas keempat kitab yang

hanya pernah didengarnya dari Asap itu.

Akhirnya gurunya menceritakan bahwa kitab-kitab itu telah dicuri

180 BAGIAN 3. HAKIM HAUS DARAH

darinya, saat ia baru masuk ke dalam Rimba Hijau. Ia tidak persis

tahu bagaimana peristiwa itu terjadi. Hanya diingatnya sebelum

dan sesudah ia menyadari bahwa kitab-kitab itu tidak berada lagi

pada tempatnya, telah terjadi pertarungannya antara dirinya dengan

Hitam-Putih, pemimpin dari kaum Manusia Tiga Kaki. Akibat dari

pertarungan yang berlangsung lama itu, ia baru menyadari jauh hari

kemudian bahwa kitab-kitab tersebut tidak lagi berada di tempatnya

semula. Di balik tempat tidurnya, dekat dengan bagian kepala.

Kitab Jalan Selaras dengan Alam Semesta yang ada di tangan gurunya

saat itu adalah potongan bagian akhir dari kitab Jaga Kesehatan

Tubuh dan Jiwa. Kitab Jaga Kesehatan Tubuh dan Jiwa ternyata terdiri

dari dua bagian. Bagian pertama berisikan cara-cara mengolah

keempat macam elemen sebagai tenaga yang tertuang dalam jurusjurus:

Jurus Air, Jurus Tanah, Jurus Api dan Jurus Air. Sedangkan

bagian kedua adalah Jalan Selaras dengan Alam Semesta yang merupakan

implementasi dari Jurus Air. Entah kenapa tidak ada bagian

lain dari kitab yang menerangkan penggunaan jurus-jurus lainnya, selain

jurus air ini.

Dikarenakan oleh gurunya, Ki Tapa hanya diajarkan kitab Jaga Kesehatan

Tubuh dan Jiwa, maka ia pun tidak begitu menaruh perhatian

pada kitab-kitab lainnya. Pun gurunya saat itu sebelum kematiannya

hanya sempat mengajari bagaimana cara mengolah keempat elemen

tenaga tersebut. Tidak pernah disinggungnya ada bagian penggunaan

dari Jurus Air pada bagian belakang kitab tersebut, yang boleh

dikatakan seakan-akan merupakan kitab tersendiri yang sepertinya ditambahkan

belakangan. Entah oleh siapa. Oleh karena itu Ki Tapa

mencopot bagian tersebut, karena menarik untuk dipelajari lebih lanjut.

Dan sering dibawa-bawanya kitab itu. Kebetulan saja Ki Tapa

mencobot bagian tersebut, sehingga bagian kitab itu tidak sempat

hilang bersama dengan kitab-kitab lainnya.

Kembali Paras Tampan dari kenangannya diperhatikannya sekarang

dinding di mana kitab-kitab yang menggoda untuk dipelajari itu

bertengger.

Tiba-tiba padangannya tertumbuk pada sesuatu tulisan di dinding.

Dinding di pinggir rongga atau lubang tempat menyimpan kitab-kitab

itu. Tulisan itu mirip prasasti. Huruf-hurufnya tampak dipahatkan

181

dalam keadaan yang buru-buru. Arahnya tidak rata tiap barisnya.

Semakin ke bawah, semakin miring dengan guratan yang tidak lagi

dalam. Seperti ditulis seseorang dalam saat-saat terakhir hidupnya.

Di sana tertulis,

”Bagi seorang manusia yang bisa membaca tulisan ini, ia berarti

berjodoh untuk menjadi muridku, Penjaga Keseimbangan. Ia yang

berjodoh harus meneruskan apa yang sudah kumulai. Bacalah itu

pada kitab-kitab awal. Untuk menunaikan tugas, pelajari hanya

ilmu-ilmu yang masih murni. Jangan lupa untuk...”

Tulisan tersebut berhenti di sana. Tampak seperti sang penulis telah

tidak lagi memiliki kemampuan untuk menuliskannya. Dicobanya lagi

mencari-cari apa-apa yang dapat dijadikan petunjuk pada sambungan

tulisan itu di sekitarnya. Tidak ada. Hanya lambang-lambang aneh di

awal tulisan yang kemudian terlihat olehnya. Lambang-lambang yang

mirip dengan lambang-lambang yang pernah dijelaskan gurunya.

Bertanya-tanya juga Paras Tampan dalam hati apa kelanjutan dari

kalimat ”Jangan lupa untuk...”. Tapi kemudian hal itu dilupakannya

karena ia lebih tertarik untuk melihat di lain tempat, judul-judul kitab

yang ada. Sebelum ia belajar, ada baiknya ia membaca dulu semua

judul-judul yang ada, biar ada gambaran ilmu-ilmu apa yang tersedia

di dalam ruangan itu. Untuk sementara tulisan pada dinding itu tidak

diambil pusing.

Setelah hampir setengah hari melihat-lihat dirasakan bahwa perutnya

telah berkukuruyuk. Lapar. Minta untuk diisi. Badannya juga terasa

lelah. Sudah sejak malam kemarin ia belum beristirahat. Sepanjang

malam ia lewatkan di dalam terowongan hingga sampai ke ruangan ini.

Sedari waktu itu, belum ada makanan yang dilewatkan ke lambungnya.

Teringat itu, Paras Tampan melupakan dulu kitab-kitab itu untuk

mencari apa-apa yang bisa dimakan untuk menyambung hidupnya di

tempat itu.

Dilihatnya kembali berkeliling. Di salah satu ujung ruangan, berlawanan

dengan ujung lain tempat ia masuk ke ruangan yang penuh dengan

kitab-kitab itu Paras Tampan menemukan semacam lorong lain.

Sedikit berliku dan tidak terlalu gelap keadaannya. Dengan hati-hati

ia mengikuti lorong itu sampai tiba di suatu tempat terbuka yang

182 BAGIAN 3. HAKIM HAUS DARAH

cukup luas. Mirip seperti semacam balkon alam yang terbuat dari

batu dengan pandangan tebing ke bawah pada sisi kirinya dan dinding

tebing menjulang tinggi pada sisi kanannya. Sebuah sungai jernih dan

dalam membelah pelataran batu tersebut.

Sungai itu mengalir keluar dari lubang besar di dinding sebelah kanan

dan jatuh membentuk air terjun pada sisi sebelah kiri. Sungai Batu

Jernih. Di seberang sungai tersebut terdapat lagi dinding tebing yang

tinggi dengan banyak lubang-lubang gelap di permukaannya. Tebing

tinggi seperti dalam arah ia datang tadi.

Sungai yang keluar dari lubang, air terjun dan juga lubang-lubang

pada dinding batu di seberangnya tidak terlalu menarik Paras Tampan.

Matanya melirik pada sesuatu agak ke atas dari arah padangan

matanya. Sesuatu itu adalah buah-buahan yang tergantung pada pohon

yang tumbuh pada dinding batu di mulut sungai. Ranum dan

segar kelihatannya. Ditambah dengan laparnya, ingin ia meraih untuk

memakannya.

Dan sebelum Paras Tampan sempat berpikir bagaimana cara mencapai

buah-buahan yang menarik hatinya itu, tiba-tiba dari dalam air

yang jernih itu melompat seekor ikan berduri yang cukup besar. Hampir

seukuran dirinya. Benar-benar ikan yang mengagumkan karena

tubuhnya dipenuhi dengan sisik-sisik kasar seperti batu. Ekor dan

sirip-siripnya berbentuk kipas. Matanya besar. Warna tubuhnya biru

tua keunguan. Belum pernah Paras Tampan melihat ikan seperti

itu sebelumnya. Dari gurunya ia pernah diceritakan adanya sejenis

ikan purba berciri demikian yang bernama Kolakan (coelacanth), yang

dalam suatu bahasa (Yunani) berarti duri berlubang pada sirip. Dan

hal ini memang cocok dengan keadaan ikan ini. Di mana pada siripsiripnya

yang seperti kipas terlihat lubang-lubang.

Ikan Kolakan itu dengan tangkas melompat ke arah buah-buahan

itu, tidak cukup tinggi sehingga ia dapat mencapainya. Akan tetapi

dengan menggunakan kecipakan air yang masih melekat ditubuhnya

ikan tersebut mengibas sedemikian rupa sehingga percikan-percikan

air melesat bagai butiran-butiran batu. Pesat menuju buah-buahan

itu. Dan ”tak-tak” beberapa buah-buahan yang ranum itu terjatuh

ke dalam air. Mengambang.

183

Alih-alih memakannya ikan besar itu menyundulnya dengan mocongnya

dan melemparkannya ke hadapan Paras Tampan. Tertegun pemuda

itu melihat hal tersebut. Tak tahu ia apa yang seharusnya

dilakukan.

184 BAGIAN 3. HAKIM HAUS DARAH





0 Response to "Elemen Kekosongan 3"

Post a Comment

Translate

English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified