Download applikasi baca novel online untuk android disini: DOWNLOAD

Elemen Kekosongan 2

Bagian 2

Perubahan-perubahan

Seorang anak berbaju kumuh dan lusuh tampak habis menangis di

pinggir jalan yang berdebu. Debu-debu beterbangan semakin tinggi

dari jalanan yang berbatu dan bertanah, saat dilalui oleh pedati atau

pun kuda. Seakan tak peduli dengan panasnya matahari dan sesaknya

napas menghirup udara kering berdebu itu, sang anak masih duduk

di sana.

Tak jauh dari sana tampak seorang tua berjalang sambil bernyanyinyanyi

kecil seakan-akan hidup ini penuh dengan kecerian belaka.

”Burung bersiul bersahut-sahutan, matahari bersinar cerah, kera-kera

bermain di hutan, bunga semerbak merekah.

Buat apa susah, susah itu tak ada gunanya, buat apa resah, resah itu

juga tiada gunanya.

Tralala.., trilili.., haha.., hihi.. Nanana..., ninini..., dada.., didi..”

Saat padangan matanya bertemu dengan sang bocah lusuh, orang

aneh itu pun berhenti. Dengan masih tersenyum, dikelilinginya bocah

itu sambil mengangguk-anggukkan kepalanya. ”Bagus, tulang bagus,

postur tepat, sayang sedikit perasa.., hmm...,” gumamnya.

Anak tersebut tampak tak peduli. Pandang matanya kosong. Ia masih

saja duduk termangu, sementara orang aneh itu masih berjalan berkeliling,

mematut-matut dan menilai-nilai dirinya.

65

66 BAGIAN 2. PERUBAHAN-PERUBAHAN

”Hey, cah bagus, siapa namamu?” tanya orang itu tiba-tiba.

Seakan tidak mendengar pertanyaan tersebut, sang bocah yang dipanggil

’cah bagus’ itu masih saja termangu dalam pikirannya.

”Wah sayang, kecil-kecil sudah budeg,” lanjut orang itu seperti

berbicara pada dirinya sendiri.

Entah karena kata ’budeg’ atau memang baru saja tersadar dari ketermenungannya,

bocah itu baru saat itu menatap sang orang aneh. Lalu

ucapnya, ”Nggak ada hujan atau angin, ngatain orang budeg. Situ

yang ngomongnya nggak kedengeran.”

Mendengar jawaban yang kasar dan lugas tersebut, alih-alih marah,

orang aneh tersebut malah tertawa terbahak-bahak. Senang ia

bertemu dengan anak yang perangainya mirip dengannya.

”Nah tuh, sekarang malah ketawa nggak ketulungan, ngeri ah! Kabur..”

jawab anak itu. Sudah lupa sedihnya ia saat berhadapan dengan orang

aneh itu.

”Wah, wah kamu itu lucu bener..” kata orang aneh tersebut sambil

menghapus air matanya yang berlerenan karena tertawa terbahakbahak

tadi. Ia memang begitu, saat tertawa, tidak bisa menahan air

matanya.

”Nama saya Lantang, paman,” jawabnya dan lanjutnya, ”kalau paman,

siapa?”

Tercengang juga orang itu mendengar pertanyaan balik dari bocah

yang mengaku Lantang namanya itu. Tidak biasanya ada bocah yang

demikian berani dan tak malu-malu seperti ini.

”Namaku Rancana, tapi orang-orang biasanya memanggilku dengan

julukan Bayangan Menangis Tertawa,” jawabnya jenaka.

Mimik dan cara menjawab yang menarik itu membuat Lantang menjadi

makin ceria sehingga sesaat dapat melupakan kedukaannya,

dan ia pun berkomentar, ”tentu saja, karena paman tertawa sambil

menangis, bukan?”

”Hahaha, benar-benar,” jawab Rancana terkesan, ”engkau cerdik

67

sekali Lantang. Eh, maukah engkau menjadi muridku?” Katanya

kemudian mengutarakan maksudnya yang sedari tadi telah disimpannya

di dalam hati, sejak ia melihat bahwa bocah tersebut memiliki

struktur tubuh yang cocok untuk menjadi seorang jago silat.

”Menjadi murid paman? Apa yang bisa dipelajari dari paman?

Menyanyi?” tanyanya penuh selidik, karena tidak melihat kelebihan

Rancana si Bayangan Menangis Tertawa itu.

Kembali Rancana tertawa terbahak-bahak mendengar pertanyaan

yang lucu dan jujur itu. Setelah berhenti tertawa dan juga menyapu

air matanya, ia pun akhirnya berkata, ”tentu saja belajar kanuragan,

ilmu silat, dengan paman. Maukah?”

Lantang terdiam dan kemudian dengan lemas menggeleng, ”tidak paman.”

Lanjutnya kemudian, ”saya benci ilmu silat, ilmu yang berguna

hanya untuk mengundang kekerasan.”

Terkejut juga hati Rancana mendengar jawaban sang bocah. Tidak

biasanya bocah-bocah menolak apabila diajari ilmu silat. Secara

umum amat senang anak-anak belajar silat, apalagi bila tahu bahwa

dirinya yang akan menjadi guru. Benar-benar bocah ini aneh dan

amat menarik hatinya.

”Logika yang tidak tepat itu, cah bagus,” terangnya kemudian, ”ilmu

silat ataupun kanuragan itu sama halnya seperti pisau atau api. Kita

dapat menggunakan pisau untuk membantu pekerjaan kita seharihari,

misalnya memotong daging untuk dimasak, memotong sayuran

sebelum direbus dan sebagainya. Akan tetapi pisau dapat pula digunakan

untuk mengancam orang lain, membunuh atau perbuatan

jahat lainnya. Demikian pula dengan api, api yang diatur dapat digunakan

untuk memasak, melunakkan logam, mencetak emas dan lainnya.

Akan tetapi api yang tidak terkendali dapat menyebabkan kebakaran

rumah dan hutan.”

Mendengar uraian mengenai baik buruknya sesuatu yang relatif terhadap

cara penggunaannya itu membuat Lantang menjadi sedikit bingung.

Nalarnya masih meyakini bahwa ilmu silat hanyalah sumber

kekerasan belaka, sehingga ucapnya, ”tapi paman..., untuk apa ilmu

silat jika kita tidak mau berseteru secara fisik dengan orang lain? Buat

apa mempelajarinya?”

68 BAGIAN 2. PERUBAHAN-PERUBAHAN

”Banyak manfaat ilmu silat selain untuk bekelahi, cah bagus. Antara

lain untuk menjaga kesehatan. Mempertinggi daya tahan tubuh terhadap

penyakit. Melancarkan peredaran darah, melancarkan nafas,

membuat diri selalu bersemangat dan juga melatih konsentrasi dan

kesabaran,” jelas Rancana.

”Wah, saya belum pernah mendengar hal seperti itu, paman!” jawab

Lantang jujur.

Sesaat, keheningan pun lewat di antara mereka berdua. Walaupun

bibit-bibit persahabatan telah muncul di antara dua insan tersebut

akan tetapi waktu masih perlu untuk menanti agar hal tersebut tumbuh

dan berbuah. Salah satu dari mereka harus bisa meyakinkan yang

lain.

Rancana, si Bayangan Menangis Tertawa, merasa ada yang aneh

dengan keadaan Lantang, si bocah lusuh di pinggir jalan itu, maka

tanyanya lebih jauh, ”coba jelaskan pikiranmu mengapa kamu terlihat

tidak senang ilmu silat! Atau ada sesuatu yang pernah engkau alami

yang menyebabkan engkau benci ilmu silat?”

Diingatkan akan tragedi yang barus saja dialaminya. Lantang mendadak

terlihat murung, dan sejentik air mata terlihat pada sudut

matanya yang mulai berkaca-kaca. Akan tetapi ia berusaha untuk

tidak menangis. Ia tadi telah berjanji pada dirinya sendiri tidak akan

lagi menangis. Ia tidak mau terlihat lemah, ia akan membuktikan

pada orang-orang yang menyebabkannya menderita bahwa ia bukan

anak cengeng dan ia bisa hidup dengan kekuatannya sendiri. Tapi

walaupun demikian ingatan yang masih segar akan semua peristiwa

tersebut membuatnya kembali bersedih.

”Apa yang sebenarnya terjadi, cah bagus?” tanya Rancana dengan

hati-hati, perubahan wajah Lantang yang jelas terlihat itu,

mengisyaratkan adanya peristiwa hebat yang mengguncangkan jiwa

anak itu. ”Menangislah, tidak pantang seorang lelaki menangis. Bila

itu dapat menolong mengeluarkan bebanmu, menangislah!”

Tak tahan dengan anjuran dan juga suara Rancana yang bersimpati

membuat bendungan air mata Lantang hancur, dan bergulirlah air

matanya jatuh, walaupun tanpa suara. Selain suara angin dan debu

yang beterbangan, tiada suara lain di sekitar mereka. Hening. Dan

69

Rancana pun membiarkan Lantang menggunakan waktunya.

Setelah mengeluarkan bebannya melalui tangis, tenanglah Lantang.

Sedikit lebih baik perasaannya. Dengan perlahan-lahan diceritakannya

peristiwa yang terjadi pada diri dan keluarganya, dan mengapa ia

sampai terdampar di tempat itu.

***

Bukit Utara di sebelah selatan Paparan Karang Utara yang di waktu

siang hari umumnya tampak lengang, tiba-tiba saja dipenuhi banyak

sekali orang-orang yang berpakaian ringkas dan memiliki gerakan mantap.

Orang-orang ahli silat.

Di sisi timur berdiri sembilang orang. Naga Geni dan delapan orang

Penjuru Angin. Sedangkan di sisi timur berdiri juga sembilan orang.

Ki Jagad Hitam dan delapan orang sisa dari Lingkaran Dalam. Pertemuan

ini merupakan kala kedua sejak pertempuran pertama di tempat

yang sama. Dalam pertempuran pertama hampir hilang seluruh murid

perguruan Kapak Ganda, sehingga hanya tersisa sang guru Naga Geni

dan delapan orang murid utamanya. Dan itu harus dibayar mahal oleh

perguruan Atas Angin dengan tewasnya separuh anggota lingkaran

dalam dan hampir seluruh murid tingkat satu dan dua.

Kedudukan yang sama sembilan lawan sembilan ini tentu saja membesarkan

hati orang-orang perguruan Kapak Ganda, karena mereka

berada di daerahnya sendiri. Lain dengan orang-orang Perguruan

Atas Angin yang tidak terbiasa pada daerah berbatu-batu seperti

ini. Akan tetapi ada hal yang tidak diketahui oleh Naga Geni dan

murid-muridnya, bahwa Ki Jagad Hitam telah memerintahkan untuk

meminta bantuan pada sisa-sisa muridnya. Dan bantuan ini langsung

menyerang mereka yang ada di Bukit Utara melainkan akan menyerang

dan menguasai markas Perguruan Kapak Ganda yang saat ini

sedang kosong. Apabila siasat ini berhasil sudah tentu orang-orang

Perguruan Kapak Ganda akan menjadi hilang semangatnya dan mudah

untuk dijatuhkan.

”He.. Jagad Hitam, menyerahlah. Hampir habis itu murid-muridmu

kami bantai.” teriak Naga Geni jumawa, ”bahkan separuh dari

Lingkaran Dalam yang dibanggakanmu itu sudah masuk liang kubur.”

70 BAGIAN 2. PERUBAHAN-PERUBAHAN

Ki Jagag Hitam yang tidak terpancing dan dengan kalem jawabnya,

”Naga Geni, berkacalah, orang-orangmu juga hampir habis. Lebih

baik kamu penggal sendiri kepala murid-muridmu itu, daripada aku

yang melakukannya.”

Tak bisa terima dengan ejekan itu, malah Naga Geni yang termakan

sendiri dengan siasatnya untuk memancing emosi Ki Jagad Hitam.

Dengan tanpa ’ba-bi-bu’ lagi, ia pun menyerah Ki Jagad Hitam dengan

ilmu silatnya yang bernama Kapak Pengantar Nyawa. Gerakangerakan

dalam ilmu tersebut didominasi oleh sabetan-sabetan melingkar

menyilang, yang seakan-akan tiada memberi ruang untuk kabur

atau menyerang. Dengan dua buah kapak, yang menjadi ciri Perguruan

Kapak Ganda, Naga Geni merengsek maju, tidak memberi ruang

gerak pada Ki Jagad Hitam.

Alih-alih melompat mundur untuk menghindar Ki Jagad Hitam malah

meloncak ke atas terbalik dan menyerang belakang kepala Naga Geni

dengan tangannya yang siap mencengkram ubun-ubun. Ia melihat

bahwa jurus-jurus dari Kapak Pengantar Nyawa kuat pada arah depan

akan tetapi kosong pada arah atas sebelah belakang.

Kaget melihat serangan yang berbahaya itu Naga Geni tak kehilangan

akal, dengan segera ia menekuk tubuhnya ke depan untuk menghidar

serangan pada belakang kepalanya, dan sambil berjungkir balik dilemparkannya

ke belakang kedua kapaknya satu per satu. Satu kapak di

satu waktu dan yang lainnya di lain waktu, dengan arah putaran yang

berbeda.

”Hemm,” dengus Ki Jagad Hitam yang hampir saja menjadi makanan

kapak kedua yang dilemparkan oleh Naga Geni. Ia dapat dengan mudah

melihat lemparan kapak pertama, akan tetapi tidak yang kedua,

karena dilemparkan dalam bayangan kapak pertama dan lebih cepat.

Dengan pengaturan tenaga yang mumpuni, kapak kedua Naga Geni

bisa datang lebih dulu dari yang pertama.

Akhirnya berada keduanya pada jarak aman untuk diserang. Keringat

panas akibat gerakan yang banyak menguras tenaga tampak mengalir

deras dari kening keduanya. Di antaranya juga terdapat keringat dingin

menetes, mengingat hampir saja nyawa mereka melayang di tangan

lawannya masing-masing.

71

Dengan isyarat tangannya Naga Geni memerintahkan semua muridmuridnya

dari Penjuru Angin untuk maju. Bersamaan maju pula sisasisa

dari Lingkaran Dalam. Setelah masing-masing memilih lawannya

satu-satu, maju pula kembali Naga Geni berhadapan dengan Ki Jagad

Hitam.

Bertempuran pun kembali dimulai. Setiap orang melakukan jurus

demi jurus, tipu demi tipu untuk menjatuhkan lawan-lawannya.

Tingkat ilmu yang seimbang dan daya tahan diperlihatkan dalam

masing-masing pertempuran. Matahari pun telah meminggalkan posisi

tertingginya, akan tetapi belum terlihat ada yang menang atau

kalah dari kesembilan perkelahian tersebut.

Mendadak terdengar suara, ”Guru, perguruan diserang...”

Mendengar berita itu, sontak hilang konsentrasi orang-orang Perguruan

Kapak Ganda yang sedang bertempur. Kesempatan ini tidak

disia-siakan oleh orang-orang Perguruan Atas angin, mereka pun

meningkatkan daya serang mereka sampai semampu-mampunya. Akibatnya

sudah dapat diduga, berselang tak berapa lama jatuh satu

persatu kedelapan Penjuru Angin di tangan sisa-sisa Lingkaran Dalam.

Sampai tinggal Naga Geni yang masih dapat berdiri, itu pun dengan

penuh luka pukulan di sana-sini.

Hilang sudah semangat Naga Geni melihat tumbangnya kedelapan

murid utamanya, dan juga mendengar berita bahwa perguruannya

telah diserang saat ia dan murid-muridnya berada di sini. Ia kalah

bukan hanya oleh ilmu silat dari Perguruan Atas Angin yang lebih baik

melainkan pula oleh siasat keji mereka untuk menyerang perguruan

saat penghuninya sedang bertempur di luar. Mengingat kebodohan

dan kekalahannya itu Naga Geni pun memutar kapak gandanya lebih

cepat dan melemparkan ke samping. Dengan berdesing kedua kapak

itu berputar dalam arah yang berbeda dan kembali kepada yang

melemparnya setelah terbang miring melengkung.

Dan, ”capp..!” terpenggallah kepala Naga Geni rapih oleh kedua kapaknya.

Ia tidak sudah dikalahkan dan dipermalukan oleh Ki Jagad

Hitam. Lebih baik ia membuhuh diri dari pada dibunuh. Toh, sudah

tidak ada yang tinggal dari perguruannya. Murid-muridnya, perguruannya,

semua telah habis dibasmi oleh Perguruan Atas Angin.

72 BAGIAN 2. PERUBAHAN-PERUBAHAN

Melihat hal tersebut bergelak tawa Ki Jaga Hitam, ”hahaha..., bagus

Naga Geni, lebih baik engkau bunuh diri, dari pada aku bersusahpayah

membunuhmu. Mulai hari ini orang-orang akan melupakanmu

dan juga Perguruan Kapak Ganda.” Tidak ada sedikitpun rasa menyesal

atau kasihan dalam diri Ki Jagad Hitam. Semua yang dilakukannya

dirasakan merupakan sudah sepantasnya, yang membela keunggulan

nama perguruannya. Perguruan Atas Angin. Perguruan yang paling

tangguh di bumi persilatan.

Setelah beristirahat sebentar kemudian, Ki Jagad Hitam pun turun

dari Bukit Utara menuju Desa Paparan Karang Utara untuk melihat

hasil kerja murid-muridnya yang berhasil membumihanguskan rumahrumah

Perguruan Kapak Ganda.

Tampak puing-puing bangunan yang telah habis dilalap api. Juga

tumpukan batu-batu yang digunakan sebagai gapura pintu utama perguruan.

Semuanya hancur, jika boleh dikatakan, hanya setinggi lutut

dari atas tanah. Hampir-hampir tak tersisa kejayaan Perguruan

Kapak Ganda. Beberapa sosok mayat murid-murid tingkat rendah

perguruan yang pada saat terakhirnya masih membela rumah-rumah

mereka, tampak di mana-mana. Ada yang mati hangus terbakar, ada

pula yang tertusuk golok ataupun tombak.

Di tengah-tengah puing-puing tersebut terdapat sekumpulan anakanak

yang berwajah pucat dan muka habis menangis. Pakaian mereka

kotor dinodai tanah dan percikan-percikan darah. Mereka adalah

anak-anak dari murid-murid Perguruan Kapak Ganda yang masih

hidup karena berlindung pada satu ruang bawah tanah di salah satu

rumah. Secara kebetulah tempat tersebut ditemukan oleh seorang

murid Perguruan Atas Angin.

”Hmm, cikal bakal masalah,” kata Ki Jagad Hitam, ”bunuh saja semuanya!”

”Ki Jagad Hitam,” usul seorang dari Lingkaran Dalam, ”terlalu enak

apabila dibunuh. Mengapa tidak kita buat mereka menjadi gembel

saja dan disuruh mengemis. Pada akhirnya mereka pun akan mati

juga, bukan?”

”Boleh juga usulmu itu, Tapak Kelam,” ujar Ki Jagad Hitam. ”Sesukamulah,”

lanjutnya yang artinya telah memberi ijin untuk melak73

sanakan niatan itu.

Setelah mendapat persetujuan dari Ki Jagad Hitam, dengan dibantu

oleh beberapa murid Perguruan Atas Angin, Tapak Kelam pun

memerintahkan anak-anak yang malang itu untuk mengganti pakaiannya

dengan rombengan yang disediakan. Mengotorkan mukanya

dan menyuruh mereka untuk berguling-guling di atas debu dan kotoran

hewan. Setelah puas menyiksa mereka, Tapak Kelam pun

masih menghadiahi mereka masing-masing satu totokan di punggung.

Seperti halnya Ki Jagad Hitam, Tapak Kelam pun kuatir apabila

anak-anak itu besar nanti akan menuntut balas, oleh karena itu ia

menutup jalan darah penting dari tubuh mereka. Dengan demikian

sehebat apapun mereka belajar, tidak akan bisa mereka mencapai

tingkatan ahli dalam bela diri. Benar-benar suatu siasat yang keji

dan jahat. Lebih jahat ketimbang membunuh begitu saja anak-anak

itu.

***

Tak tanah Rancana mendengar cerita yang dikisahkan oleh Lantang,

tentang bagaimana orang tuanya, yang merupakan salah seorang

murid rendahan Perguruan Kapak Ganda dibantai oleh orang-orang

Perguruan Atas Angin. Selain itu anak-anak yang selamat masih pula

disiksa, dipermalukan dan disuruh untuk mengemis. Mungkin masih

lebih baik apabila mereka dibunuh saja.

”Jadi itu alasanmu, mengapa tidak ingin mempelajari ilmu silat,”

tanya Rancana si Bayangan Menangis Tertawa, untuk meyakinkan.

”Benar, paman.”

”Tidak inginkah engkau membalas dendam kedua orang tuamu?”

”Keinginan ada, paman. Tapi apa dayaku. Lebih baik aku melupakan

hal itu dan memulai kehidupanku sendiri.”

”Bukankah dengan demikian enkau malah membiarkan orang-orang

yang jahat itu berkeliaran. Terlebih mereka telah menewaskan kedua

orang tuamu dan juga kerabat-kerabatnya.”

Lantang pun terdiam. Pada masa itu memang sudah menjadi suatu

kewajiban bahwa anak yang orang tuanya dibunuh, harus me74

BAGIAN 2. PERUBAHAN-PERUBAHAN

nuntut balas. Hal itu sebagai suatu bakti kepada mendiang orang

tuanya. Lantang tahu hal itu, tapi balas dendam bukanlah hal yang

disukainya. Ia sedari kecil tidak suka kekerasan. Bila teman-teman

sepermainannya mengganggunya, ia hanya menjauh dan menghindar.

Entah sikap ini timbul dari keminderannya akan pekerjaan ayahnya

yang hanya murid rendahan dan juga pengurus kandang kuda, atau

merupakan bawaan. Ayahnya pun sudah berulang kali menasehatinya

untuk menghadapi orang-orang yang mengganggunya, akan tetapi ia

tidak bisa. Ia memilih lebih baik menyendiri, jauh dari keramaian,

dari pada harus berseteru dengan orang lain.

”Tapi paman, saya tidak suka kekerasan.”

”Begini saja, bagaimana jika kamu menjadi muridmu dan belajar silat,

akan tetapi ilmu itu jangan digunakan. Anggap saja semacan cara

untuk menjadi sehat. Sehat itu perlu dalam bekerja untuk menafkahi

hidup, bukan?”

Akhirnya Lantang pun setuju. Ia pun mengangkat guru pada Rancana

si Bayangan Menangis Tertawa, salah seorang ahli silat yang tidak

banyak pada masa itu. Terutama dalam hal ilmu meringankan tubuh.

***

Iring-iringan kereta kuda berjalan berurut-urutan. Tujuh buah kereta

yang masing-masing ditarik oleh dua buah kuda semuanya. Berjalan

pelan-pelan seakan-akan waktu tak begitu penting artinya. Dua buah

kereta yang di depan berisikan hanya barang-barang. Ada kotakkotak,

gulungan-gulungan kain, sayur mayur dan barang-barang lainnya.

Tiga kereta yang di tengah berisikan orang-orang, hal ini dapat

terlihat dari kepala-kepala yang tampak dari lobang-lobang jendela

pada kain terpal yang menutupi kereta-kereta kuda tersebut. Sedangkan

sisa kereta selebihnya berisikan batang-batang kayu seperti bahan

dasar untuk membuat tombak.

Yang mengejutkan adalah pada tiap-tiap kereta ada simbol dua buah

kapak bersilangan dalam suatu lingkaran. Lambang Perguruan Kapak

Ganda. Apakah orang-orang ini juga anggota Perguruan Kapak

Ganda, yang tidak tahu bahwa perguruannya telah ditumpas habis

oleh Perguruan Atas Angin? Ya, mereka adalah sisa-sisa dari Perguruan

Kapak Ganda, yang tidak tahu-menahu atas bencana yang telah

75

menimpa perguruan mereka. Saat bencana itu terjadi mereka sedang

pergi ke Tanah Seberang Pulau untuk mengundang beberapa tokoh

sakti yang akan dijadikan pelatih di perguruan.

Sebenarnya tokoh-tokoh sakti dari Tanah Seberang Pulau itu bukanlah

orang-orang lain dari sang guru, Naga Geni. Melainkah mereka itu

adalah saudara-saudara angkatnya, saat ia mencari ilmu di Tanah Seberang

Pulau. Adapun ketiga tokoh yang diundang itu adalah Mayat

Pucat, Sabit Kematian dan Cermin Maut. Dua tokoh pertama adalah

laki-laki setengah tua seperti halnya Naga Geni, sedangkan yang terakhir

adalah seorang perempuan setengah baya yang masih terlihat

cantik dengan dandanannya yang tebal. Mereka-mereka ini bisa saling

mengangkat saudara karena kesamaan sifat yang tidak mematuhi

norma-norma yang umumnya dipatuhi oleh seorang pendekar. Bisa

dibilang mereka adalah anggota dari golongan sesat. Orang-orang

berilmu akan tetapi memanfaatkan ilmunya semena-mena kepada

sesamanya.

Jika Naga Geni memiliki Kapak Pengantar Nyawa, yang merupakan

ilmu silat bersenjata kedua kapaknya yang memenuhi ruang gerak

lawan – menyapu ke segala arah, maka ketiga orang ini memilki

masing-masing keahlian atau ilmu yang canggih pula digunakan dalam

bertempur. Mayat Pucat, sesuai dengan julukannya memiliki ilmu

yang bersifat dingin. Ilmu yang diperolehnya setelah bertahun-tahun

bertapa bersama mayat-mayat di kuburan. Dengan cara ini ia dapat

menyerap sisa-sisa energi dari mayat-mayat saat terurai dalam tanah.

Semakin segar mayat yang akan digunakan, semakin baik. Bahkan

tidak jarang, ia menculik orang dan membunuhnya untuk digunakan

sebagai alat latihan. Selain itu orang-orang yang matinya penasaran,

ketakutan, marah dan tidak rela, memberikan tenaga yang lebih baik

bagi Mayat Pucat, ketimbang orang yang meninggal dengan baik-baik.

Oleh karena itu Mayat Pucat tidak suka mengganggu kuburan para

pendeta atau orang-orang suci, karena percuma. Energi yang tersisa

dari mayat-mayat mereka tidak dapat dimanfaatkannya. Senjata andalannya

adalah kepalan tangan dan juga kuku kaki dan tangannya

yang sudah kuning menghitam. Mengandung racun keji dan ganas.

Lain pula halnya dengan Sabit Kematian. Wujudnya yang selalu

berjubah dan bertudung kepala itu, mirip dengan malaikat pencabut

nyawa pada hikayat-hikayat di suatu tanah jauh. Senjata andalan76

BAGIAN 2. PERUBAHAN-PERUBAHAN

nya adalah semacam sabit besar yang dikaitkan pada tongkat setinggi

kepala. Dengan sejata ini Sabit Kematian merupakan ahli tempur

jarak menengah. Dengan loncatan-loncatannya ia bisa menghabisi

musuh yang menyerangnya sampai jarak dua tiga tombak.

Tokoh terakhir adalah Cermin Maut. Apabila dilihat dari wujudnya,

maka tiadalah orang yang akan berprasangka bahwa wanita yang terlihat

halus ini merupakan salah satu dedengkot kaum sesat. Dengan

ilmunya yang dikenal sebagai Tarian Penjemput Nyawa, Cermin Maut

dapat mempesona musuh yang tidak kuat batinnya untuk kemudian

membunuhnya. Sudah banyak jago-jago muda, terutama yang tampan,

yang menjadi korban Tarian Penjemput Nyawa-nya. Biasanya

mereka itu telah terjebak pada pesonanya sebelum dibunuh.

Mendengar bahwa saudara angkat mereka Naga Geni telah menjadi ketua

suatu perguruan dan hidup makmur, tergiur pula ketiga orang ini

untuk mengunjunginya. Terlebih setelah datang utusan yang mengundang

mereka untuk menjadi guru di Perguruan Kapak Ganda tersebut.

Oleh karena itu bergegaslah mereka berangkat sambil tak lupa untuk

membawa barang-barang yang dapat digunakan sebagai senjata untuk

membantu tugas mereka sebagai guru nanti.

Tak terlukiskan bagaimana marah dan sedihnya ketiga orang itu saat

tiba di pintu Perguruan Kapak Ganda yang tiada lagi berwujud.

Hanya puing dan reruntuhan yang ada. Sesekali masih ada asap dari

kayu-kayu yang belum habis terbakar. Tiada sisa satu orang pun yang

dapat memberi tahu apa yang terjadi. Sayangnya mereka tidak tahu

bahwa ada anak-anak yang tidak dibunuh, akan tetapi sudah disebar

kemana-mana. Mereka-mereka inilah yang masih dapat menceritakan

apa yang terjadi.

”Jadi apa yang harus kita lakukan sekarang,” tanya seorang dari

mereka.

”Bagaimana kalau kita bangun lagi saja perguruan ini,” usul seorang,

”toh saudara Naga Geni memang mengundang kita untuk menjadi

guru di sini. Tak ada salahnya bila kita meneruskan pekerjaannya.

Sambil kita menyusun kekuatan dan mencari tahu siapa dalang di

belakang peristiwa ini semua.”

Kedua temannya mengangguk-angguk setuju. Pun tidak ada gunanya

77

apabila mereka kembali ke Tanah Seberang Pulau setelah jauh-jauh ke

Paparan Karang Utara. Harus ada yang dikerjakan dan membangun

kembali Perguruan Tapak Ganda merupakan suatu hal yang masuk

akal untuk diusahakan.

Sebagai orang yang paling supel diantara mereka bertiga Cermin Maut

pun mengambil alih tampuk pimpinan dan kedua orang itu pun setujusetuju

saja. Karena bagi mereka pimpinan bukanlah sesuatu yang

diimpikan, melainkan ketinggilan ilmu silat baru merupakan kebanggaan.

Dengan bantuan rombongan dari orang-orang Perguruan Kapak

Ganda yang masih tersisa ketiga saudara angkat golongan sesat itu

pun mulai membangun kembali Perguruan Kapak Ganda. Mereka

mencari murid-murid yang dianggap baik dan dapat dididik sebagai

murid yang handal. Kadang proses pencarian murid dilakukan melalui

bujukan bahkan paksaan. Dengan cara itu Perguruan Kapak Ganda

dalam waktu singkat kembali memiliki jumlah murid yang banyak.

***

”Dua ratus tiga puluh tujuh..!”

”Dua ratus tiga puluh delapan..!”

Begitulah suara-suara yang sayup-sayup terdengar dari suatu arah

mata angin di dalam Rimba Hijau, di kaki Gunung Hijau. Pagi masih

malas menggeliat untuk pergi dari peraduannya, walaupun foton-foton

sang surya telah membombardirnya. Tak malu sang pagi pada mudamudi

yang telah bangun dan berkeringat sejak tadi.

”Tiga ratus delapan belas..!”

”Tiga ratus sembilan belas..!”

Dengan semakin dekatnya sumber suara itu, terdengar semakin jelas

bahwa suara-suara tersebut tidak berasal dari satu orang, melainkan

berganti-ganti. Ada belasan lebih orang-orang muda yang sedang berjalan

dengan cara yang tidak biasa. Dan pada setiap langkahnya

mereka meneriakkan jumlah langkah yang telah dilampaui.

Bila mula-mula mereka menghadap ke utara dan kaki kanan berada

78 BAGIAN 2. PERUBAHAN-PERUBAHAN

di belakang, maka kaki yang berada di belakang tersebut menghadap

ke arah timur laut, sedangkan kaki yang di depan persis menghadap

utara, dengan titik tengah kedua telapak kaki berada segaris menghadap

ke utara.

Apabila melangkah ke depan, berat badan perlahan dipindahkan ke

kaki kiri dengan memutar perlahan tumit, sehingga telapak kaki kiri

menghadap ke barat laut. Dengan bersamaan kaki kanan diayunkan

ke depan dan diletakkan persih menghadap utara, dengan jarak kirakira

selebar bahu. Hal yang sama pun dilakukan apabila melangkah

ke belakang dengan urut-urutan yang berbalikan.

Cara melangkah ini dinamakan Melangkah Maju Mundur Kaki Membentuk

Sudut oleh Ki Tapa saat ia mengajarkan bentuk gerakan ini

kepada dua puluh empat murid-muridnya.

”Kuda-kuda adalah bagian penting dari ilmu silat. Tanpa kuda-kuda

tidak ada ilmu silat,” jelas Ki Tapa. ”Dengan adanya kuda-kuda,

tenaga pinjaman dari bumi dapat dipindahkan. Bisa dibelokkan, dialirkan,

ditahan atau digentak-balikkan. Tergantung apa yang hendak

diperoleh.”

Lanjutnya, ”bila tenaga kita kuat dan lawan kurang kuat, dan kita

tahu atau menduga bahwa lawan tidak akan mengelak, bisa kita balikkan

tenaga lawan secara langsung. Ini dikenal sebagai keras lawan

keras. Yang kuat akan menang. Kalian bisa berikan seluruh tenaga

kalian untuk satu serangan ini, jika yakin masuk dan menang. Akan

tetapi hati-hati, jika lawan bisa mengelak atau membelokkan. Karena

saat serangan atau tenaga kita lewat, dan kita kehilangan kendali,

saat itulah serangan akan masuk. Kita merugi, tenaga sudah habis

diberikan, sehingga sulit untuk menariknya untuk digunakan sebagai

tenaga bertahan.”

Begitulah sekelumit keterangan yang diberikan oleh Ki Tapa pada

suatu hari saat mengajari murid-muridnya mengenai teori-teori gerakan

bela diri. Dengan manggut-manggut terlihat seperti mengerti

para muda itu mengiyakan apa yang diminta oleh Ki Tapa, yaitu

melakukan sepuluh kali latihan Melangkah Maju Mundur Kaki Membentuk

Sudut, dengan setiap kalinya terdiri dari dua arah, maju dan

mundur yang harus dilakukan sebanyak 1000 langkah. Untuk itu

79

mereka dibagi dalam tiga kelompok, masing-masing delapan orang,

yang melakukannya dengan beriringan. Dalam masing-masing kelompok

diangkat satu pemimpin, yang dirasa Ki Tapa paling banyak

mengerti gerakan yang baru diajarkan.

Bakat murid-muridnya memang berbeda-beda, dan Ki Tapa dapat

melihat dari cara mereka mendengarkan dan kemudian melatihnya.

Ada yang dapat dengan mudah menerima contoh dan teori yang

diberikan, akan tetapi sulit untuk melakukannya, karena mereka bisa

dengan mudah melihat, akan tetapi tidak melakukannya. Mereka bisa

mengoreksi gerakan-gerakan teman-temannya, dibandingkan dengan

ingatan mereka akan gerakan Ki Tapa. Akan tetapi saat diminta

untuk melakukannya, mereka kurang lancar.

Ada pula yang sulit untuk mengingat-ingat, dan bahkan tidak mau.

Mereka yang termasuk dalam golongan ini, biasanya minta langsung

untuk menirukan. Ingatan mereka akan terekam dengan sendirinya

dalam gerakan. Tanpa perlu mengingat-ingat dan membayangkan.

Dengan arif Ki Tapa berusaha memadukan kedua jenis perangai ini

dan juga yang berada di antaranya, agar mereka saling membantu,

melengkapi dan mengingatkan. Melalui cara ini murid-muridnya dapat

dengan mudah mencerna apa yang ia ajarkan. Dengan bersama-sama

mereka saling membantu proses pembelajaran.

”Wah Rintah, keliru itu langkahmu,” kata Misbaya, ”kaki yang belakang

jangan segaris dengan kaki yang depan. Harus agak serong..!”

”Betul Rintah”, sahut Rantih, adiknya.

Begitulah mereka saling mengingatkan dan membantu. Dan yang

dibantu pun dengan senang hati menerima petunjuk yang diberikan.

Karena mereka sama-sama baru mulai mempelajari bela diri dan

juga cara Ki Tapa yang tidak membeda-bedakan mereka, tumbuhlah

semacam rasa kekeluargaan diantara mereka. Sehingga latihan merupakan

waktu yang menyenangkan dan ditunggu-tunggu oleh para

kawula muda itu setiap hari.

”Habis sudah napasku,” ucap Paras Tampan terengah-engah. Walaupun

demikian ia dan Asap termasuk sebagian kecil yang sudah menyelesaikan

sepuluh kali 1000 langkah maju mundur pada pagi itu. Dan

80 BAGIAN 2. PERUBAHAN-PERUBAHAN

seperti petunjuk yang sebelumnya diberikan oleh Ki Tapa, mereka

jangan menekuk kakinya, melainkan melonjorkannya sambil duduk

dan mengetar-getarkannya untuk pelemasan.

Sambil menunggu teman-temannya menyelesaikan kurang dari lima

puluh langkah lagi, Asap, Paras Tampan dan Gentong memijit-mijit

kaki mereka dan memborehkan semacam daun-daunan yang telah

dibusukkan dan diberi ramuan. Dengan tujuan agar otot-otot yang

telah dipaksa untuk melangkah dapat terobati.

”Ramuan ini tidak akan menghilangkan rasa pegal pada kaki kalian,”

begitu jelas Ki Tapa, ”akan tetapi akan membantu peredaran darah

untuk secepatnya mengganti bagian-bagian yang lelah dengan yang

masih segar. Dengan cara ini tubuh kalian akan terlatih untuk cepat

segar kembali.”

Benar, setelah beberapa saat mereka merasa telah memiliki tenaga

kembali untuk melangkah, walaupun rasa lelah dan pegal masih

menghinggapi kedua kaki mereka.

Tak lama kemudian, kurang lebih sepeminum teh hijau, selesailah

semua kawula muda yang masih berlatih gerakan Melangkah Maju

Mundur Kaki Membentuk Sudut tersebut. Dan mereka pun bergabung

dengan rekan-rekannya yang telah lebih dulu selesai, untuk melemaskan

otot-otot kakinya dan juga memborehkan ramuan daun-daun

seperti dipesankan oleh Ki Tapa. Kawan-kawan yang telah selesai

lebih dahulu dan telah segar kembali membantu kawan-kawan yang

baru saja beristirahat. Sambil sesekali juga bercanda ria.

Di kejauhan Ki Tapa tersenyum melihat minggu pertama latihan para

kawula muda itu. Ia senang bahwa para muda itu dapat saling bekerja

sama dan membantu. Walaupun demikian ia melihat bahwa di

antara mereka terdapat bibit-bibit yang kurang baik dalam perangai.

Ia sendiri belum tahu mengapa ia merasakah hal itu. Tapi untuk sementara

ia hanya akan menyimpan hal itu di belakang kepalanya saja.

Hanya sebagai catatan.

***

Waktu makan siang pun datang. Kedua puluh empat orang muda itu

pun makan bersama-sama dengan Ki Tapa. Di tengah padang rumput,

81

lapangan lain yang berada di tengah Rimba Hijau. Saat ini para

kawula muda baru mengetaui terdapat dua buah lapangan terbuka

di tengah-tengah Rimba Hijau. Yang pertama adalah lapangan di

sekitar pondok di mana mereka bermalam dan yang kedua adalah

lapangan tempat mereka berlatih 1000 langkah ini. Ukurang lapangan

yang pertama tidak mencukupi untuk melatih 1000 langkah, ungkap

Ki Tapa, oleh karena itu mereka pun beranjak ke lapangan ini untuk

mencari tempat yang cukup. Dan karena setelah makan dan sedikit

waktu beristirahat mereka akan kembali melakukan latihan di tempat

yang sama, makanan pun dihadirkan di sana.

Makan siang yang sederhana. Nasi dan ikan bakar. Sayur-sayuran sebagai

lalap dan sambal. Makanan yang ditemani dengan udara segar

dan keluarnya keringat akibat bekerja fisik akan menjadi bertambah

lezat. Hal itu yang sering tidak disadari bahwa kelezatan itu bukan

perkara rasa dan campuran bumbu saja, akan tetapi terkait pula dengan

kebutuhan tubuh akan asupan energi dari luar. Apabila tubuh

butuh tambahan tenaga, makanan sederhana pun akan menjadi lezat.

Sedangkan makanan lezat pun akan menjadi hambar, apabila perut

telah kenyang atau banyak hal yang dipikirkan.

Sebenarnya perihal bagaimana makanan-makanan yang disantap

mereka dapat hadir, telah menjadi pertanyaan tersendiri di benak

masing-masing kawula muda itu. Mereka pernah juga membicarakannya.

Walaupun mereka tahu Ki Tapa memiliki ilmu, akan tetapi untuk

menyiapkan makanan untuk dua puluh lima orang dan tiga kali sehari

itu, bukanlah perkara mudah. Apalagi Ki Tapa masih kadang-kadang

mengawasi mereka latihan.

Memang pada saat kedatangan mereka pertama kali ke pondok Ki

Tapa, mereka melihat dengan mata kepalanya sendiri bahwa memang

Ki Tapa sendirilah yang memasak. Akan tetapi saat itu hanyalah

semacam sup dalam periuk besar. Sedangkan hari-hari selanjutnya,

kadang terdapat sayuran, ikan, kelinci dan jenis-jenis makanan lain

yang akan menyita waktu untuk mempersiapkannya.

Pernah sekali waktu Rantih dan Gentong secara tak sengaja melihat

sesosok bayangan yang bergerak amat cepat di belakang rumah

Ki Tapa. Sedemikian cepat sehingga mereka tidak bisa mengenali

apakah itu manusia atau bukan. Dan yang aneh tercium bau wewan82

BAGIAN 2. PERUBAHAN-PERUBAHAN

gian bunga pada saat itu.

Saat hal tersebut diutarakan oleh Misbaya ke hadapan Ki Tapa saat

mereka semua sedang bersantap malam, Ki Tapa hanya tersenyum.

Lalu jawabnya, ”banyak hal-hal yang belum kalian tahu mengenai

kehidupan di Rimba Hijau, apalagi di Gunung Hijau ini. Untuk sementara

waktu, simpanlah dulu pertanyaan itu. Pada saatnya semua

akan jelas dengan sendirinya. Dengan semakin berisinya kalian, akan

semakin jelas apa yang tampak.”

Perkataan itu mengisyaratkan bahwa mereka tidak boleh lebih jauh

bertanya-tanya atau mencari tahu mengenai hal-hal yang bagi mereka

masih merupakan tanda tanya. Dengan patuh kawula muda itu tidak

bertanya-tanya lagi, melainkah dengan tekun berlatih dan berlatih.

Hal ini sudah tentu melegakan dan menggembirakan hati Ki Tapa.

Dalam acara makan bersama seperti itu, seperti halnya dalam latihan,

tumbuh pula rasa kebersamaan dalam membagi makanan. Bagi yang

memiliki lambung yang besar dan panjang mendapat donor dari yang

kurang kebutuhan makannya. Dengan cara itu tidak ada makanan

yang tersisa atau dibuang. Selalu tandas dan bersih. Sudah tentu hal

ini akan menggembirakan orang yang memasaknya, siapapun dia.

”Gentong, ini bagianku,” kata Kirani, salah seorang kawula muda

putri, kepada Gentong sambil mengangsurkan sebagaian makanannya.

Ia, Kirani, umumnya hanya makan setengah porsi, sedangkan

Gentong butuh satu sampai dua porsi. Kekurangan setengahnya,

biasanya diberikan dari beberapa orang kawan-kawan lainnya, satu

orang sepersepuluh. Lima orang telah menggenapi setengah yang kurang

dari kebutuhannya.

Ki Tapa juga melatih para kawula muda untuk tidak makan terlalu

kenyang. Asal cukup untuk menghasilkan tenaga. Apabila kita

berlatih teratur dan mawas diri, kita akan tahu batas lapar dan

kenyang kita. Begitu pesannya. Tapi untuk Gentong hal ini tidak

dapat dicegah, karena memang ia memiliki postur yang lebih besar

dan juga tenaga yang dikeluarkannya saat latihan, lebih dari yang

lain. Ini juga dikarenakan bobotnya yang memang lebih dari ratarata

kebanyakan kawula muda yang lain. Ki Tapa pun memaklumi hal

ini, sehingga ia tidak mencegah terjadinya sumbangan saling silang di

83

antara mereka saat makan.

”Baiklah, makan telah usai dan juga waktu istirahat,” kata Ki Tapa,

”tolong bereskan sisa-sisa daun dan mangkoknya. Kembalikan ke

dalam keranjang di sana. Dan kalian kembali duduk dalam posisi

Tiga Buah Delapan Mata Angin. Seperti pada saat kalian pertama

kali tiba ke sini. Lakukan sampai seribu tarikan nafas.”

Para kawula muda itu pun mengangguk dan mereka mengambil tempat

untuk mulai melakukan mengheninkan cipta, sambil menunggu

beberapa kawan yang membereskan sisa-sisa makan siang.

Setelah semua siap, mulailah mereka kembali membangun tiga lingkaran

yang masing-masing bergaris tengah dua puluh langkah. Setiap orang

menghadap pada masing-masing mata angin utama dan antara. Kemudian

tanpa diperintah, seakan-akan telah biasa, mereka turun dan

bersila hampir dalam saat yang bersamaan. Dan mulai mendengarkan

alam sekitar dan juga diri mereka sendiri.

Keheningan alam pun menyelimuti ketiga lingkaran manusia itu. Angin

semilir. Serbuk-serbuk bunga. Semut-semut yang berjalan. Dan

juga kupu-kupu yang beterbagangan lirih dalam aliran udara yang

gemulai.

”Kita tidak boleh mengintip anak-anak itu berlatih, Coreng!” sahut

sesosok bayangan setinggi kambing dari sebuah semak-semak di ujung

timur laut lapangan itu.

”Sekali-kali bolehlah, Moreng!” bantah bayangan lain yang berada di

sebelahnya.

”Bagaiman kalau Ki Tapa tahu nanti?” tanya temannya balik.

”Kita diminta untuk tidak menampakkan diri dan mengganggu, tapi

tidak untuk tidak melihat, ya ’kan?” jawab temannya kukuh.

Lamat-lamat terdengarn suara bagai angin semilir. Kecil, halus, tapi

jelas. Sontak mengagetkan kedua insan itu.

”Moreng.., Coreng.., ada perlu apa kalian di sini?” yang ternyata

merupakan suara Ki Tapa. Tidak terlihat wujudnya, tapi terdengar

suaranya.

84 BAGIAN 2. PERUBAHAN-PERUBAHAN

Kedua makhluk yang ternyata mirip manusia, akan tetapi dengan

tinggi tidak sampai sepinggang orang dewasa itu, langsung dengan

ringannya melesat hilang dari tempat itu. Sebuah gerakan yang hanya

dimiliki oleh ahli-ahli bela diri papan atas. Dengan hanya beberapa

gerakan mereka telah sampai pada suatu pondok yang terbuat

dari batu yang disusun-susun. Masing-masing satuan batu berukuran

sebesar kerbau paling kecil. Dan paling besar berukuran sebesar gajah.

Entah siapa yang bisa membuat rumah yang menakjubkan seperti

itu.

Sesampainya di depan Pondok Batu, kedua orang kate tersebut langsung

berlutut di depan Ki Tapa yang telah berdiri di depan mereka.

Wajahnya masih terlihat ramah, akan tetapi tanpa senyum.

”Berikan penjelasan, Coreng.., Moreng..!” katanya tegas.

”Maaf Ki Tapa, kami hanya ingin melihat mereka berlatih,” jawab

Coreng.

”Iya, Ki Tapa, maafkan kami,” sahut Moreng, tak tega melihat sahabatnya

merasa bersalah.

Ki Tapa pun menghela nafas, lalu lanjutnya, ”Baiklah, tak apa-apan.”

Tapi tanyanya kemudian, ”tapi kalian tahu ’kan alasan mengapa aku

tidak memperbolehkan mereka untuk bertemu dengan kalian?”

Kedua orang Manusia Tiga Kaki itu menggeleng-gelengkan kepalanya.

”Tidakkah, Kakak Hitam-Putih memberitahu sesuatu pada kalian,

berkaitan dengan hubungan dengan manusia?”

”Hanya bahwa kami, Manusia Tiga Kaki, sedapat mungkin tidak

menampakkan diri kepada manusia,” jawab Coreng.

”Iya, Ki,” tambah Moreng.

Ki Tapa pun berpikir sejenak. Ia tidak tahu apakah ia harus menjelaskan

hal ini kepada mereka atau tidak. Tapi akhirnya ia memutuskan

untuk lebih baik memberitahukannya. Dengan mengetahuinya, maka

orang dapat dengan bijaksana mengantisipasinya.

”Begini,” terang Ki Tapa, ”bahwa kalian itu bangsa Manusia Tiga

85

Kaki memiliki tenaga alami yang berbeda dengan manusia. Tenaga

kalian yang secara alami digunakan untuk hidup itu, dapat berbahaya

bagi manusia.”

”Akan tetapi Ki Tapa sendiri...?” tanya Coreng bingung.

”Benar, aku tidak apa-apa. Itu karena aku telah memiliki cukup

tenaga dasar sehingga tidak terpengaruh oleh tenaga alami kalian.

Apabila dikatakan tidak terpengaruh, sebenarnya juga tidak seluruhnya

benar,” jelas Ki Tapa, ”jika aku tidak berlatih dan selalu bersama

dengan seorang Manusia Tiga Kaki, maka tenagaku akan habis dan

mati. Terserap. Dalam kurang dari waktu selang satu purnama.”

”Ihh..” jawab seorang di antara mereka. Terkejut mengenai akibat

yang dapat dialami oleh manusia saat bersua terlalu lama dengan

seorang Manusia Tiga Kaki.

”Mengapa hal itu terjadi, aku tidak bisa menjelaskan. Mungkin sudah

hukum alam,” jawab Ki Tapa. ”Oleh karena itu aku tegaskan lagi,

bahwa sebelum para kawula muda mencapai tahap tertentu, jangan

tampakkan wujud kalian. Bila mereka telah cukup kuat, kalian akan

tampak dengan sendirinya bagi mereka. Dan di saat itu, bolehlah

kalian berkenalan.”

Kedua Manusia Tiga Kaki itu pun mengangguk mengiyakan. Setelah

mereka mengerti apa bahaya yang akan dialami oleh manusia yang

belum memiliki cukup tenaga saat bertemu mereka, dapatlah mereka

menerima larangan itu dengan lapang dada. Sebelumnya, ingin sekali

mereka berinteraksi dengan manusia yang katanya memiliki banyak

kelebihan dari bangsa mereka.

Apakah sebenarnya Manusia Tiga Kaki itu? Dahulu kala, saat Rimba

dan Gunung Hijau belum terlarang, dan belum terdapat Hamparan

Hijau sebanyak sekarang, telah berdiam seorang sakti dari Negeri Kering

Kerontang di salah satu daratan luas di selatan. Di mana orangorang

yang tinggal di sana umumnya berkulit gelap dan berambut

pendek. Orang sakti tersebut dikenal sebagai Mawon Sanmdi (Baron

Samedi), yang mengambil nama dari salah satu Lua (Loa) dari Uduu

(Voodoo). Dalam Uduu dipercaya bahwa Lua yang bernama Mawon

Sanmdi ini bertugas sebagai penjaga perbatasan antara dunia

manusia dan dunia orang mati. Dan juga dikenal sebagai Yang Da86

BAGIAN 2. PERUBAHAN-PERUBAHAN

pat Membangkitkan. Mawon Sanmdi, yang dulunya bernama Cipta

Raga, bukanlah seorang penganut Uduu sebenarnya, melainkan hanya

kenal dengan seorang pendeta Uduu. Lalu dengan cerdiknya ia purapura

ingin belajar pada sang guru untuk kemudian mencuri kitabkitab

pusakanya. Dengan terinsiprasi oleh kitab-kitab kuna tersebut,

Mawon Sanmdi melakukan berbagai macam percobaan menggunakan

manusia sebagai sarananya.

Salah satu percobaannya adalah dengan mengawin-kawinkah manusia

yang dapat ditangkapnya, dengan kesaktiannya yang tinggi, dan

dipaksa untuk berkembang biak dengan pasangan yang dipilihnya.

Kalimat-kalimat yang tersirat dalam kitab curian yang harusnya dipahami

dengan hati yang bersih dan tenang, disalahtaksirkan secara

semena-mena oleh Mawon Sanmdi sebagai sesuatu yang dapat dilakukan.

Seakan-akan berperan sebagai Sang Pencipta sendiri, ia ingin

menciptakan suatu jenis manusia yang belum ada sebelumnya.

Dengan melakukan variasi-variasi perubahan sifat manusia yang ditunjang

oleh ramuan-ramuan, perkawinan-perkawinan dan pengamatannya,

berhasilah Mawon Sanmdi menciptakan beberapa spesies baru

yang lain sama sekali dengan manusia. Baik ukurannya, tenaganya,

maupun sifatnya. Beberapa spesies bahkan saling kawin campur

sendiri, sehingga tercipta banyak jenis makhluk yang Mawon Sanmdi

sendiri tidak memperkirakan sebelumnya. Salah satunya adalah

Manusia Tiga Kaki ini yang memiliki tenaga lebih besar dari manusia

dan juga gerakan yang lebih cepat. Akan tetapi mereka ini berbahaya

bagi manusia karena dapat menyerap energi kehidupan dari manusia.

Dan hanya dari manusia.

Hitam-Putih, yang dipanggil kakak oleh Ki Tapa adalah pemimpin

kelompok Manusia Tiga Kaki yang berdiam di Rimba Hijau. Sebutan

kakak ini pun dikarenakan ia dan Ki Tapa pernah berhari-hari

bertarung tanpa ada yang menang, hanya dengan berbekal ketahanan

tubuh dan kemampuan alamiahnya saja, Hitam-Putih dapat

menang, dan Ki Tapa terkuras tenaganya. Hasil dari pertaruangan

mati-matian ini menumbuhkan rasa persahabatan antara keduanya.

Sampai-sampai Ki Tapa pun dilayani oleh bangsa Manusia Tiga Kaki

tak ubahnya sebagai keluarga dari Hitam-Putih, pemimpin mereka.

Itulah sebabnya Ki Tapa dapat memperoleh bantuan Coreng dan

Moreng dalam hal menyediakan makanan bagi murid-muridnya.

87

Dan tidak hanya itu, Coreng dan Moreng pun yang tahu bahwa Ki

Tapa memiliki kepandaian tidak berselisih jauh dengan Hitam-Putih

pemimpin mereka, meminta agar Ki Tapa mau mengajari mereka

ilmu-ilmu yang dimilikinya. Dengan senang hati, dan sudah tentu

atas persetujuan Hitam-Putih, Ki Tapa mengajarkan ilmu-ilmunya.

Hanya sayangnya, berkaitan dengan struktur tubuh yang berbeda

dan juga aliran darah yang sama sekali lain, tak banyak yang dapat

diajarkan oleh Ki Tapa. Selain itu secara alamiah bangsa Manusia

Tiga Kaki ini pun telah memiliki tenaga dasar dan kecepatan

yang melebihi manusia pada umumnya. Ki Tapa akhirnya hanya

dapat mengajarkan mereka cara mengendalikan tenaga mereka dan

bagaimana mereka dapat memperhalus gerakan mereka, sehingga

tidak terlalu memboroskan tenaga.

***

”Cukup, waktu mengheningkan cipta usai..” ucap Ki Tapa perlahan

tapi jelas terdengar oleh kedua puluh empat kawula muda tersebut.

Sebagai reaksinya, beranjaklah mereka masing-masing dari posisi

duduknya. Beberapa tampak tersungkur dan meringis, karena kaki

mereka yang kesemutan. Tertekuk hampir dua tiga jam lamanya.

Sementara beberapa tampak tenang-tenang saja. Di antara yang

tenang-tenang itu tampak Paras Tampan, Misbaya, Rintah dan Asap.

”Kalian minumlah ramuan yang kubawa ini,” angsur Ki Tapa kepada

Gentong yang berada di dekatnya. Dengan sigap Gentong menerima

periuk besar yang diangsurkan, dan ia hampir tidak dapat menahan

berat periuk tersebut, apabila tidak cepat dibantu oleh Bayan yang

kebetulan berada di dekatnya. Periuk besi yang penuh berisi ramuan,

tampak ringan di tangan Ki Tapa tersebut, ternyata memiliki bobot

hampir setengah kerbau bunting.

”Periuk ini tidak sembarang orang bisa menikmati isinya,” kekeh Ki

Tapa saat melihat murid-muridnya mencoba untuk mengangkatnya.

Banyak dari mereka yang masih menyangka kalau Gentong hanya

tidak sigap untuk menerima periuk itu dan bukan karena beratnya.

Setelah beberapa mencoba, yakinlah mereka bahwa periuk tersebut

memang benar-benar berat adanya.

”Dengan menggunakan campuran logam-logam tertentu yang berat

88 BAGIAN 2. PERUBAHAN-PERUBAHAN

dan keras, periuk ini dibuat,” lanjut Ki Tapa, ”akibatnya saat ramuan

direbus di dalamnya, khasiat dari logam-logam istimewa tersebut

akan larut dan memberikan manfaat kepada yang meminumnya.

Akan tetapi hati-hati, ramuan yang tidak cocok, akan menghasilkan

racun pada larutannya.”

Mendengar bahwa periuk, yang kemudian diketahui bernama Periuk

Kerbau, dapat menghasilkan ramuan yang bermanfaat dan juga ramuan

beracun, tak terasa bergidik hati anak-anak muda tersebut.

Pikir mereka, bagaimana jika yang mereka minum saat ini adalah

racun.

Seakan-akan tahu apa yang mereka pikirkan, berkatalah Ki Tapa,

”Jangan kuatir, selagi aku sendiri yang membuat ramuan, yakinlah

kalian bahwa ramuan tersebut cocok untuk periuk ini. Akan tetapi

peringatan ini hanya bagi yang ingin coba-coba untuk menggunakannya.”

Mengangguk-angguk beberapa anak muda di hadapatn Ki Tapa. Beberapa

dari mereka tampak kecut, karena ada yang memang pernah

tersirat dalam pikirannya untuk meminjam periuk itu, begitu melihatnya,

untuk memasak sejenis masakan. Tak jadilah setelah mendengar

cerita Ki Tapa ini.

Selang tak berapa lama, setelah dirasakan ramuan sudah seharusnya

bekerja, Ki Tapa pun berkata. ”perhatikan gerakan berikut ini!” Sambil

lalu ia memperagakan suatu gerakan tertentu dengan kaki agak

ditekuk dan melangkah ke depan. Berulang-ulang diperagakannya.

”Ini disebut Langkah Ayam,” jelas Ki Tapa, ”jangan pandang remeh

gerakan sederhana ini. Ada kisah menarik mengenai gerakan ini yang

telah melegenda.”

Terdapat beberapa macam cerita mengenai Li Jeng (Li Zheng) dari

Negara Tengah (Tiongkok), yang salah satu diantaranya menceritakan

bagaimana ia melatih Langkah Ayam (Ji Xing Bu) ini, saat

ia mengawal barang-barang hantaran. Pertama ia mengejar keretakeretanya,

sampai menghampiri, dan kemudian ia melangkah ke arah

yang berlawanan sampai suatu saat dan kembali mengejar lagi. Dengan

cara ini, kaki-kakinya menjadi kuat, lentur gerakannya akan

tetapi mantap. Dalam akhir hidupnya dikabarkan bahwa ilmu Li

89

Jeng sedemikian tingginya, sehingga ia dapat mendorong orang yang

menantangnya terlempar jauh dengan tetap memegang semangkuk

air pada tangan yang lain. Dengan tanpa ada setetes air pun yang

tumpah.

Mendengar cerita yang mengagumkan tentang Li Jeng dari Ki Tapa

itu, membuat anak-anak bertambah semangat untuk berlatih, bahkan

perintah untuk mengulangi Langkah Ayam sebanyak sepuluh kali

seribu itu pun tidak menyurutkan semangat mereka. Mereka ingin

berlatih dan berlatih. Agar seperti Li Jeng, mungkin pikir mereka.

Melihat semangatnya murid-muridnya melakukan Langkah Ayam,

Ki Tapa pun tersenyum. Sesaat setelah semua murid-muridnya berada

pada ujung lain lapangan dari tempat ia berada, dengan lirih ia

berkata, ”Coreng.., Moreng.., tolong Periuk Kerbaunya..!”

Terdengar jawaban lirih pula, ”baik, Ki..!” Dan secara tiba-tiba Periuk

Kerbau pun menghilang seperti ditelan udara. Dibawa pergi oleh kedua

Manusia Tiga Kaki tersebut.

***

Pada jarak ribuan kerbau dewasa dari sana, tampak seorang kakek

sedang menggaruk-garuk kepalanya bingung. Ia baru saja memeriksa

badan muridnya, dan menemukan bahwa muridnya ini memiliki jalan

darah yang aneh. Jalan darah yang tidak bisa dilatih untuk mengalirkan

tenaga dalam. Sudah berulang kali ia mencoba, menotok

sana dan sini untuk melancarkan jalan darah yang diduganya tersumbat.

Akan tetapi percuma. Aliran hawa tak bisa mengalir dengan

lancar. Energi memang dapat dihimpun tapi tetap berada di pusar

dan berputar-putar saja di sana. Tidak bisa dialirkan. Tidak bisa

digunakan. Tak dapat ditahannya rasa kecewa yang tampak pada wajah.

Sedih hatinya melihat muridnya, yang dia tahu memiliki tulang

dan daging cocok untuk menuruni ilmu-ilmunya. Akan tetapi entah

karena apa, jalan darahnya tidak lancar.

Kedua orang guru dan murid itu adalah Rancana si Bayangan Menangis

Tertawa dan Lantang. Setelah bersedia untuk berguru pada Rancana,

Lantang pun dibawanya ke rumahnya yang terletak di sebuah pulau

kecil di tengah danau. Kawasan yang sunyi dan sepi. Tidak

banyak orang yang hidup di sana. Hanya beberapa orang nelayan dan

90 BAGIAN 2. PERUBAHAN-PERUBAHAN

pemburu serta petani hidup di sekitar danau itu. Di Pulau Tengah

Danau itu sendiri hanya hidup sepasang suami istri tua dan anak

tanggungnya. Ditambah Rancana dan Lantang, hanya lima orang

yang hidup di sana.

”Guru..,” panggil Lantang perlahan. Ia dapat menyelami kesedihan

hati Rancana, gurunya, saat mengetahui bahwa tubuhnya, yang

dikatakan gurunya sebelumnya memiliki struktur tulang dan jalan

darah seorang pesilat, tidak dapat mengalirkan hawa yang telah dipusatkan

di bawah pusar. ”Janganlah terlalu bersedih. Walaupun

saya tidak bisa mengalirkan hawa, saya tetap akan belajar ilmu silat

pada guru.”

Mendengar usaha muridnya yang hendak menghibur dirinya, menghela

napas panjanglah Rancana. Lantang ini memang benar-benar anak

yang baik pikirnya. Pun sudah tidak mungkin menjadi seorang ahli

silat tinggi, masih mau dia belajar silat hanya sekedar untuk menyenangkan

hatinya. Bila saja Lantang itu benar-benar anaknya sendiri.

”Lantang, tahukah kau apa artinya ini? Tanpa bisa mengalirkan hawa,

ilmu silat yang engkau pelajari, hanyalah kembangan jurus-jurus belaka.

Tidak ada tenaga dalam yang mendasari keampuhan suatu ilmu

silat. Tidaklah bisa engkau mencapai tahapan yang tinggi tanpa bisa

mengalirkan tenaga atau hawa ke seluruh tubuh,” ucap Rancana pada

muridnya, masih dengan nada yang sedih.

”Saya tahu, guru!” dan kemudian jelasnya, ”bahwa jalan darah saya

tersumbat atau tidak dapat mengalirkan hawa itu mungkin sudah

suratan bagi saya. Dan seperti guru ingat dulu, saya tidak suka kekerasan

sehingga pernah menolak untuk berguru pada guru. Bukankah

hal ini malah sesuai? Saya belajar silat tapi bukan untuk kekerasan.

Toh, saya tidak akan menggunakannya.”

Geleng-geleng kepala Rancana mendengarkan uraian muridnya yang

panjang-lebar tersebut. Dalam hatinya masih dirasakan penasaran

mengenai keanehan tubuh Lantang. Ia berjanji untuk terus mencari

tahu bagaimana hal itu bisa terjadi. Berdasarkan pengalamannya

tidak ada yang salah pada tubuh anak ini. Bila ketidaklancaran

atau ketidakmampuan mengalirkan hawa ini adalah buatan orang, sudah

tentu ia bisa mengetahuinya. Akan tetapi hal ini tidak dilihat91

nya. Apa mungkin ada orang yang selihai itu, yang mempu mencelakakan

jalan darah anak ini, tanpa anak ini menyadari dan juga

dirinya yang memeriksanya. Untuk sementara Rancana menyimpan

dulu pertanyaan-pertanyaan tersebut dalam hatinya. Tak mau ia

mengingatkan Lantang pada bencana yang dialaminya dan juga keluarganya.

”Baiklah kalau begitu, Lantang,” kata Rancana pada akhirnya. ”Mulai

hari ini kita latihan gerakan-gerakan dan mengheningkan cipta

saja. Dengan itu walaupun engkau tidak dapat mengalirkan hawa,

setidaknya akan tetap terkumpul hawa di bawah pusar. Aku harap

suatu saat jalan darahmu dapat terbuka sehingga engkau dapat memanfaatkan

hawa yang sudah kau himpun sampai saat itu tiba.”

”Baik, guru,” sahut Lantang patuh.

Terlihat Rancana berpikir sejenak. Lalu katanya, ”ada satu seni bela

diri yang kelihatannya cocok dengan keadaanmu, yang dikenal sebagai

Jalan Selaras dengan Alam Semesta. Ilmu ini berasal dari Negeri

Matahari Muncul jauh di sana, di balik lautan.”

”Wah, terdengar sangat menarik, guru!” tanggap Lantang.

”Pencipta ilmu ini, Guru Tua Morehe Uwesiba, dapat mengalahkan

seorang lawan berpedang dan bahkan dengan menggunakan tangan

kosong serta tidak melukai lawannya. Jadi dengan ilmu ini, bila engkau

berlatih dengan baik, engkau akan dapat membela dirimu sendiri,”

jelas Rancana. ”Benar-benar merupakan ilmu pertahanan yang baik

dan halus. Tidak akan mendatangkan banyak lawan.”

”Suka saya mendengarkannya, guru,” ucap Lantang, ”tidak mengisyaratkan

adanya kekerasan di dalamnya.”

Tersenyum Rancana mendengar ucapan muridnya. Lantang ternyata

masih tidak bisa membuang pikiran bahwa ia belajar bela diri bukan

untuk menimbulkan kekerasan. Melainkan hanya untuk membela diri.

Benar-benar pribadi yang baik pikir Rancana.

”Cobalah engkau serang aku, Lantang!” perintah Rancana.

”Tapi.., guru..?” bantah Lantang.

92 BAGIAN 2. PERUBAHAN-PERUBAHAN

”Ini hanya pura-pura.., bagaimana kamu nanti dapat membela diri

kalau tidak tahu bagaimana orang menyerang,” jelas gurunya.

”Baik, guru!” jawabnya mengiyakan.

Lantang pun menyerang gurunya dengan pukulan lurus ke depan, kaki

kanan di majukan serentak dengan tangan kanan dikepalkan dan diarahkan

ke dada gurunya, Rancana. Hanya sayang posisi tersebut dilakukannya

terlalu maju, sehingga berat badannya tidak lagi berada

di antara kedua kakinya. Dan hal ini pun disadari oleh gurunya. Dengan

cantik dan lemas, Rancana hanya menggeser salah satu kakinya,

sambil memutar tubuhnya, membiarkan tangan itu lewat sekian jari

di depan dadanya. Kemudian alih-alih menangkis serangan Lantang,

ia malah menarik tangan lantang pada arah pukulannya. Dengan

demikian semakin bertambah lajulah Lantang, maju tersuruk dan kehilangan

keseimbangan. Pada saat yang tepat, ditangkapnya tangan

kirinya yang masih berayun di belakang, sehingga Lantang batal terjatuh.

”Kamu mengerti salahmu?” tanya Rancana.

”Tidak, guru?” jawab Lantang muridnya jujur.

”Kamu menghabiskan semua tenagamu pada serangan itu,” jelas gurunya.

”Serangan lurus ke depan, memang serangan paling sederhana

dan rumit. Sederhana karena geraknya mudah, secara alami

bisa setiap orang melakukannya, tanpa tipu-tipu. Rumit karena harus

pada saat yang tepat. Bila tidak pada saat yang tepat, jenis serangan

ini akan dapat dengan mudah ditebak, dielakkan dan dimusnahkan.

Bahkan dipukul balik. Seperti yang barusan aku lakukan kepadamu.”

Lantang mengangguk-angguk, mencoba mengerti penjelasan yang

diberikan oleh gurunya. Ia baru dapat menerima beberapa bagian,

mengapa serangannya itu tidak berhasil. Bagian lain masih gelap

baginya.

Melihat kebingungan muridnya, Rancana hanya tersenyum. Lalu diajaknya

Lantang untuk melakukan gerakan yang sama, akan tetapi

dengan lebih lambat. Dengan gerakan lambat tersebut dapat Lantang

melihat bahwa ia tidak seharunya menyerang sehingga kedudukan

kakinya tidak lagi stabil. Dengan hanya toelan kecil dari gurunya dari

93

belakang, ia dapat tersungkur, apalagi ditarik seperti tadi.

Setelah mengerti, Lantang kemudian mencoba menyerang akan tetapi

dengan masih menempatkan berat badannya sebelum lewat kaki depan,

tidak melebihi. Dengan cara ini apabila gurunya membalas serangannya

ia, masih memiliki kesempatan untuk menghindar dan mengubah

kedudukan kakinya. Dan ia tidak lagi tersungkur. Akan tetapi

dengan pemahaman yang baru ini, jangkauan serangannya tidak lagi

sepanjang yang pertama.

”Guru, memang dengan cara ini, saya tidak lagi terguling, tapi

bukankah pukulan saya pun tidak mengenai?” tanyanya bingung.

”Benar, Lantang,” jawab gurunya, ”Kamu benar. Dengan demikian,

engkau harus punya rasa, apakah pukulanmu sampai apa tidak. Bila

tidak sampai. Jangan lepaskan. Mendekatlah, sampai kamu merasa

bahwa tanganmu, dengan kedudukan yang stabil, dapat mengenaiku.

Cobalah!”

Lantang pun mencoba. Memajukan kakinya, baru memukul. Belum

sampai. Maju lagi. Belum sampai. Setelah tiga-empat telapak kaki,

barulah pukulannya persis mengenai kulit dada gurunya.

”Bagus,” ucap Rancana, ”pada jarak segini, baru pukulan lurus itu

boleh dilepaskan.”

Lantang pun mengangguk-angguk.

”Cobalah!” ucap gurunya.

Lantang menarik kepalannya dan dalam posisi yang tidak berubah,

dilepaskannya kepalannya ke arah dada gurunya. Gurunya tidak

bereaksi. Akan tetapi pada saat hampir mengenai kulit dadanya,

gurunya hanya beringsut sedikit mundur. Dan pukulan itu tidak lagi

mengenai. Penasaran pada hal tersebut, alih-alih menarik kembali

pukulannya dan terlebih dahulu memajukan kakinya, Lantang langsung

mengejar gurunya dengan pukulannya. Kesalahan yang sama

terjadi lagi. Ia kehilangan keseimbangan dan gurunya memanfaatkan

hal itu dengan menariknya. Lantang pun kembali terjatuh. Kali ini

Rancana membiarkannya. Ingin melihat apakah muridnya mengeluh

saat terjatuh.

94 BAGIAN 2. PERUBAHAN-PERUBAHAN

”Maaf, guru! Saya lupa lagi,” ucap Lantang sambil bangkit dari jatuhnya.

”Tidak apa-apa. Ada baiknya kita latihan dulu serangan lurus ke

depan. Tirukan aku!” perintah gurunya.

Rancana pun menunjukkan gerakan serangan ke muka lurus dan bertenaga,

akan tetapi dengan kedudukan yang masih stabil. Saat bergerak,

kaki belakang melurus dan pinggang berputar. Ia ambil tenaga bumi

untuk diteruskan. Bumi, telapak kaki, paha, pinggang, lengan dan

meledak sampai ke kepalan. Pukulan Meriam.

Lantang mencoba menirukan. Akan tetapi gerakannya tidak saling

menunjang, pinggang keburu diputar tapi telapak kaki belum menolak.

Sebelum tenaganya sampai ke dada, tangan sudah dikembangkan.

Alhasil, hanya gerakannya mirip, tanpa tenaga.

Dengan sabar Rancana menunjukkan kembali bagaimana seharusnya

gerakan itu dilakukan. Berulang-ulang kali. Sampai akhirnya Lantang

bisa sedikit menyalurkan tenaga bumi ke ujung kepalannya. Dan sebagai

hasilnya otot-ototnya kaku dan lelah tubuhnya. Tapi ia tidak

mengeluh, bahkan saat gurunya memerintahkannya untuk melakukan

gerakan itu kembali, akan tetapi untuk tangan kiri dan kaki kanan.

Guru dan murid itu pun berlatih sampai matahari hilang dari pandangan

mata untuk sembunyi di balik bumi sebelah barat. Rancana

menghentikan latihan itu. Dia melihat bahwa Lantang sudah terlihat

lelah, akan tetapi tidak minta berhenti. Kagum ia pada semangat

muridnya.

”Kita istirahat dulu. Sudah waktunya beristirahat. Mengisi perut,”

kata Rancana. ”kamu mandilah dulu dan bersih-bersih. Temui aku

nanti di Rumah Kayu.”

”Baik, guru!” jawab Lantang yang pun beranjak pergi untuk memenuhi

peraintah gurunya.

Rancana masih melihatnya punggung muridnya yang berjalan untuk

kemudian menghilang di balik rerimbunan. Menuju ceruk kecil, di

mana terdapat air yang mengalir keluar dari batu-batu. Hasil rembesan

sungai di atasnya.

95

Kemudian melangkahlah ia perlahan menuju Rumah Kayu. Suatu

bangunan sederhana di dekat tanah lapang di depan pintu desa.

Sebenarnya tidak dapat dikatakan bahwa tempat itu merupakan desa

karena hanya lima orang yang tinggal di sana. Rancana dan Lantang

muridnya, serta satu keluarga lagi, yang hanya terdiri dari lima

orang. Dulu sekali tinggal banyak keluarga di desa itu. Akan tetapi

suatu saat pernah terjadi badai besar yang menyapu orang-orang yang

tinggal di sana. Setela kejadian itu, tak ada lagi orang yang berani

tinggal di pulau itu kecuali keluarga itu ditambah Racana. Keanehan

ini sudah pasti mengisyaratkan bahwa keluarga itu juga bukan orang

biasa-biasa.

Pulau Tengah Danau dan Danau Tengah Gunung itu terletak di selatan

agak jauh dari mana-mana. Di selatannya terdapat padang batubatu

yang terus membentang sepanjang mata memandang dengan dijemput

lautan pada horisonnya. Tidak ada kehidupan yang dapat

berlangsung kiranya di Padang Batu-batu itu. Di timur dan baratnya

membentang kaki-kaki gunung, Gunung Berdanau Bepulau dinamakan

orang. Gunung tersebut yang membentang memanjang ribuan

kambing dewasa. Bila dilihat dari atas, Gunung Berdanau Berpulau

seakan-akan menjadi pipih, karena panjangnya pada arah timur-barat,

akan tetapi pendek pada arah utara-selatan.

Waktu Rancana tiba di Rumah Kayu, tampak ketiga orang lain itu,

orang selain Rancana dan muridnya yang tinggal di pulau itu. Mereka

telah menunggu. Hidangan makan malam telah tersedia. Memang

untuk urusan masakah keluarga itulah yang menanganinya. Sebagai

imbalannya Rancana diminta untuk membeli atau menukar barangbarang

kebutuhan mereka di kota. Atau juga mencari kabar sesuatu

yang ingin mereka tahu. Kadang bertanya-tanya juga Rancana

mengenai siapakah sebenarnya ketiga orang ini, yang dapat hidup

terasing di Pulau Tengah Danau ini. Akan tetapi karena mereka juga

tidak bertanya-tanya tentang dirinya dan menyediakan kebutuhannya

dengan baik, akhirnya Rancana pun menahan mulutnya. Lebih baik

membiarkan mereka menceritakannya sendiri kelak. Itu lebih baik,

sehingga tidak merusak persahabatan yang telah tumbuh.

”Selamat malam, Ki Sura, Nyi Sura, dan Telaga,” katanya kepada

ketiga orang itu.

96 BAGIAN 2. PERUBAHAN-PERUBAHAN

”Malam Ki Rancana,” jawab Telaga, anak dari Ki dan Nyi Sura.

Sedangkan Nyi dan Ki Sura hanya mengangguk tersenyum ramah.

Tidak banyak bicara mereka. Memang pendiam orangnya. Hanya

Telaga yang banyak bicara. Dulu sebelum Rancana datang, tidak ada

teman bicara dia. Saat ini dengan adanya Rancana dan juga Lantang,

senanglah Telaga, karena ada orang yang dapat diajar bicara.

Tidak hanya mendengarkan dan memberikan komentar-komentar pendek

seperti kedua orang tuanya.

”Wah, makan besar hari ini ya?” komentar Rancana saat melihat

makanan yang dihidangkan. Ada ikan mas bakar, pecel belut, kerang

sambal, lalapan, sayur bening, terong dan sudah tentu nasi. Biasanya

hanya ikan bakar dan sambal serta nasi. Mungkin makan ini karena

ia baru saja datang dan membawa seorang murid, sehingga perlu disambut

seperti itu.

Seperti telah diduganya, komentar tidak datang baik dari Ki Sura

ataupun Nyi Sura, melainkan dari Telaga. ”Betul, Ki Rancana,” jelasnya,

”ini untuk menyambut Ki Rancana dan terutama anak itu.

Eh, siapa namanya, Ki?”

”Lantang.., Lantang nama anak itu Telaga. Saat ini ia sedang bersihbersih

dulu di ceruk sana,” jelas Rancana.

”Ceruk mana, Ki Rancana?” tanya Telaga tiba-tiba. Tersirat rasa

kuatir dalam wajahnya.

”Ceruk sebelah bawah Sungai Batu Hitam..” jawab Rancana agak

bingung, melihat perubahan wajah ketiga orang tersebut.

Sebelum ada seorang pun yang berkata, melesat Ki Sura diikuti oleh

istrinya, ke arah ceruk di bawah Sungai Batu Hitam. Telaga pun

bangun sambil menggapainya untuk ikut serta. Baru saat ini Rancana

dapat melihat kegesitan keluarga itu. Ia yang disebut Bayangan

Menangis Tertawa dan terkenal karena ilmu meringankan dirinya,

merasa agak malu melihat bahwa kepandaian tiga orang itu setidaknya

sama atau lebih darinya. Apalagi Ki Sura. Ia dapat melaju

seakan-akan tanpa mengeluarkan tenaga dengan kecepatan yang mengagumkan.

”Ada apa sebenarnya..” tanya Rancana agak kuatir melihat orang97

orang beranjak menuju tempat muridnya yang sedang bersih-bersih.

Telaga pun meletakkan jari telunjuknya pada bibirnya secara vertikal,

meminta Rancana untuk tidak bertanya-tanya. Lalu bisiknya lirih,

”perhatikan saja. Ayah pasti bisa menolong muridmu, Ki.”

Beberapa hembusan napas sampailah mereka berempat di ceruk

yang terletak di bawah Sungai Batu Hitam. Sungai tersebut disebut

demikian karena mengalir di atas batu-batu yang merapat dan

berwarna hitam. Seakan-akan suatu parit dari batu. Di bawahnya

terdapat banyak ceruk-ceruk setinggi dua kali orang dewasa yang

mengalirkan air rembesannya. Dalam suatu ceruk yang paling besar,

di mana air-air berkumpul membentuk suatu genangan air yang luas,

tampak Lantang sedang berdiri terpaku. Ia tampak telah bersihbersih,

akan tetapi tidak langsung berpakaian, melainkan melihat

pada suatu arah tertentu. Ada sesuatu di balik batu besar di sisi

ceruk itu.

Terdengar suara lirih Ki Sura, ”cah bagus, jangan bergerak. Biar

aku yang menangani Undinen itu.” Yang dimaksud dengan Undinen

adalah sosok terlihat seperti wanita yang badannya berkilauan biru hijau

bersisik. Rambutnya panjang sebahu, berparas cantik dan memiliki

tinggi seperti umumnya anak-anak remaja wanita.

Ki Sura dengan perlahan mengambil sesuatu dari kantongnya. Sebatang

kecil obor dan batu pemantik api. Dengan suatu cara tertentu,

dinyalakannya obor kecil dan ditunjukkannya pada Undinen

itu. Sang Undinen pun berteriak kecil dan memandang marah pada Ki

Sura. Bukan lagi padangan ramah dan memikat seperti ditunjukkannya

pada Lantang tadi. Ia pun mulai mendesis-desis perlahan. Ki

Sura tetap menggerak-gerakkan obornya sambil perlahan mendekati

Lantang. Undinen itu pun bergerak mundur. Tampaknya ia tidak

suka api. Setelah kira-kira berjajar dengan Lantang, ditariknya tangan

anak muda yang masih terpaku itu dan diajaknya perlahan-lahan

mundur ke arah ketiga orang lainnya. Undine itu maju setapak dua

akan tetapi tidak lebih karena masih takut dengan obor yang di bawah

oleh Ki Sura.

Saat-saat yang menegangkan. Rancana sendiri tidak tahu makhluk

apa itu yang ada di depan mereka. Tapi sebagai seorang ahli silat

98 BAGIAN 2. PERUBAHAN-PERUBAHAN

ia dapat merasakan aura yang tinggi, menghimpit dan amat dingin

muncul dari makhluk itu. Makhluk yang disebut Undinen oleh Ki

Sura. Dengan ukuran aura seperti itu, sudah bisa dipastikan kuat

juga tenaga atau hawa makhluk itu. Dan belum diketahui apa yang

akan terjadi apabila makhluk tersebut menyerang muridnya.

Akhinya sampailah Ki Sura dan Lantang di tepian air, selangkah demi

selangkah, keluar dari ceruk itu. Nun jauh di tengah-tengah genangan

air dalam ceruk, masih tampak sosok Undinen itu memandangi

mereka. Saat kemudian membaliklah ia dan menghilang ke dalam aliran

air yang mengalir ke bawah di ujung genangan air di samping

ceruk itu.

Udara perlahan-lahan mulai terasa hangat setelah ketidakhadiran

sosok Undinen di dekat mereka. Muka lantang yang tadinya pucat

mulai terlihat memerah. Dengan segera Nyi Sura menyampirkan kain

yang dibawanya ke pundak Lantang, agar anak itu tidak lebih jauh

kedinginan.

Belum ada sepatah kata pun terucap di antara mereka. Lantang

masih dalam ketegangannya. Rancana masih bingung mengenai apa

yang terjadi dan apa sebenarnya makhluk itu. Ketiga orang lain yang

lebih mengerti keadaan saat itu, tidak banyak berucap. Mereka membiarkan

lebih dulu Rancana, dan terutama Lantang untuk kembali

memulihkan perasaannya yang terguncang.

***

Makan malam yang tadinya digelar di hadapan kelima orang itu pun

telah ludes. Pindah tempat ke dalam lambung mereka. Begitulah

orang-orang yang bersyukur. Apa yang dihidangkan dilahap tanpa

sisa-sisa. Akan tetapi bila tidak ada, tidak mengeluh. Orang-orang

yang sederhana.

Sunyi sesaat. Hanya terdengar gemerisik angin membelai daun-daun

nyiur yang digunakan sebagai atap dari Rumah Kayu itu. Ditemani

dengan suara jangkrik yang memainkan orkestra mereka. Malam itu

sebenarnya sangatlah indah, bila saja tidak ada peristiwa sebelumnya.

Atas tekanan rasa ingin tahunya yang sudah membuncah, bertanyalah

Lantang pada Ki Sura, ”maaf Ki Sura, apakah tadi itu? Yang mem99

buatku seakan-akan membeku. Tidak punya semangat lagi untuk beranjak.”

Ki Sura tersenyum. Juga istrinya. Malah lebih lebar senyum anaknya

Telaga. Hanya Rancana yang tidak. Ia masih merasakan ketegangan

tadi. Rasa dingin yang lembab dan menakutkan saat terdapat

Undinen, sang Roh Air.

”Itu adalah Roh air, Undinen,” jelas Ki Sura lambat-lambat, ”yang

merupakan bagian dari roh empat elemen, yaitu api, air, udara dan

tanah. Undinen adalah salah satu contoh Roh Air, selain Duyung dan

Nixen. Sedangkan contoh Roh Api misalnya Salamander dan Naga,

Roh Udara misalnya Sylphen dan Roh Tanah misalnya Gnomen, Troll,

Irrwische dan Orang Gunung Kerdil (Bergmnchen).”

Sunyi kembali menyeruak di antara mereka. Rancana dan Lantang

merasa seakan-akan keempat macam makhluk yang baru disebutkan

oleh Ki Sura itu ada di belakang mereka dan ikut mendengarkan pembicaraan

itu.

”Roh-roh Empat Elemen itu, merupakan makhluk-makhluk purba

yang dulu dipercaya ada oleh orang-orang dan tertulis dalam bukubuku

kuno. Dan entah kenapa sebagian dari mereka itu muncul setelah

badai besar yang menyapu seluruh penduduk dari pulau ini. Dengan

adanya makhluk-makhluk itu di sini, maka tidak ada orang-orang yang

berani tinggal di sini,” jelas Ki Sura lebih lanjut.

”Jika demikian, mengapa Ki Sura, Nyi Sura dan Kakang Telaga masih

tinggal di sini?” tanya Lantang penasaran. Masih terasa dinginnya

udara saat ia ditatap oleh Undinen. Dan hal yang masih tidak dimengertinya,

adalah dengan adanya makhluk-makhluk lain yang dari

ceritanya lebih mengerikan, akan tetapi mengapa keluarga itu masih

saja berdiam di pulau ini.

”Sebenarnya, mereka tidaklah terlalu berbahaya, apabila kita tahu

bagaimana menyikapinya,” jelas Nyi Sura arif. Baru kali ini Rancana

melihat Nyi Sura berbicara. Dengan adanya kejadian ini banyak ucapan

yang dikeluarkan oleh kedua orang itu. Telaga yang biasanya

berbicara banyak malah kebalikan. Ia banyak mendengarkan saat

orang tuanya berbicara.

100 BAGIAN 2. PERUBAHAN-PERUBAHAN

Kemudian Nyi Sura menjelaskan bahwa sifat-sifat Roh-roh Empat Elemen

yang saling membantu dan meniadakan. Misalnya elemen api dan

air yang akan saling meniadakan, akan tetapi elemen api dan udara

atau api dan tanah dapat saling membantu. Demikian pula dengan

elemen udara dan tanah yang dapat saling meniadakan. Keempatnya

dapat diletakkan pada sudut-sudut suatu bujur sangkar. Dengan

api dan air pada dua sudut berseberangan dan udara dan tanah pada

kedua sudut lainnya. Elemen pada sudut-sudut yang berseberangan

akan saling meniadakan sedangkan elemen-elemen yang bersebelahan

dapat saling membantu.

Itulah sebabnya mengapa Ki Sura saat itu menggunakan obor untuk

menakut-takuti Undine. Undine adalah Roh Air dan elemen air merupakan

musuh dari elemen api, yang dalam hal ini adalah obor yang

dibawa Ki Sura.

”Akan tetapi ada yang membuatkan bertanya-tanya,” tiba-tiba menyeletuk

Telaga, ”mengapa Undinen tertarik dengan Lantang?”

Semua terdiam. Baik Ki Sura, Nyi Sura maupun Telaga tahu bahwa

manusia, sebagai makhluk berdarah panas memiliki sifat yang tidak

terlalu cocok dengan Roh Air. Manusia lebih ke arah sifat Roh Tanah

dengan paduan kecil dari ketiga eleman lainnya. Perihal Lantang yang

diminanti oleh Undinen merupakan suatu teka-teki bagi mereka.

”Waktu dari menariknya, aku juga merasakan hawa dingin yang aneh

dari anak ini,” ujar Ki Sura seakan-akan pada dirinya sendiri.

”Anak Lantang,” lalu tanya Nyi Sura, ”adakah engkau penyakit atau

kelainan sehingga tubuhmu bersifat dingin?”

Tiba-tiba saja hal itu menjadi jelas bagi Rancana. Ya, pasti itu

penyebabnya. Ketidaklancaran jalan darah dari Lantang yang menyebabkannya

tidak bisa melancarkan hawa ke seluruh tubuhnya yang

menyebabkan. Ditambah dengan kondisi air yang dingin, akan membuat

tubuhnya semakin dingin. Tidak ada hawa dari pusar yang

menghalau dingin itul. Sebab itu Undinen mengira bahwa Lantang

adalah salah seorang dari jenisnya. Lalu diceritakannya hal tersebut

oleh Rancana kepada Nyi dan Ki Sura serta Telaga. Lantang sendiri

hanya ikut mendengarkan karena tidak begitu mengerti.

101

”Hmm, begitu.. ya!” menghela napas Ki Sura, ”malang sekali nasibmu,

nak Lantang. Dapat menghimpun tenaga, akan tetapi tidak

bisa menggunakannya. Tapi itu merupakan kelebihanmu di daerah

ini.”

”Maksud Ki Sura?” tanya Rancana tak mengerti. Tentu saja ia gembira

apa bila ’kekurangan’ Lantang merupakan suatu ’kelebihan’.

”Dengan adanya Roh-roh Air di sini, Lantang bisa memanfaatkan

aura mereka untuk menumbuhkan hawanya sendiri. Bukan hawa yang

biasanya diperoleh dari latihan-latihan. Melainkan hawa para Rohroh

Air,” jelas Ki Sura. Dia pun terdiam sambil melirik istri dan

anaknya. Terlihat bahwa ada suatu rahasia di antara mereka yang

berat dikatakan pada Rancana dan Lantang.

”Bila itu suatu rahasia, dan tidak untuk kami,” kata Rancana, ”tak

usahlah kami diceritakan dan diberi harapan. Lantang sendiri pun

telah pasrah hanya akan mempelajari ilmu Jalan Selaras dengan Alam

Semesta yang tidak memanfaatkan hawa yang dihimpunnya di bawah

pusar.”

”Kami,” papar Ki Sura, ”adalah orang-orang terakhir yang menjaga

suatu rahasia. Suatu cara pengolahan tenaga untuk dimanfaatkan

dalam gerakan bela diri. Akan tetapi kami tidak memiliki ilmu bela

diri, melainkan hanya cara mengolah tenaga belaka. Rahasia ini telah

lama disimpan. Dan memang ada pada saatnya untuk dibuka dan diwariskan.

Kebetulan anak Lantang ini memenuhi persyaratan seperti

tertuliskan dalam salah satu cerita-cerita tua itu.”

Nyi Sura dan Telaga pun mengangguk membenarkan. Itu juga sebagai

isyrat bahwa mereka setuju bahwa cerita atau rahasia itu untuk

diperdengarkan kepada Lantang dan gurunya, Racana si Bayangan

Menangis Tertawa. Lalu diceritakanlah oleh Ki Sura mengenai sejarah

keluarga itu dan ilmu-ilmu yang harus dirahasiakan dan dijaganya.

***

”Misbaya, kemari!” perintah Ki Tapa sambil tangannya menggapai

Misbaya agar mendekat. ”Akan kutunjukkan mengenai satu jenis cara

melepaskan diri dari cengkeraman belakang.”

102 BAGIAN 2. PERUBAHAN-PERUBAHAN

Lalu dengan perlahan Ki Tapa berdiri membelakangi Misbaya, yang

kemudian dimintanya untuk memegang dengan erat kedua tangannya

dari belakang pada pergelangan tangan.

”Pegang yang kuat, jangan sampai lepas!” begitu perintah Ki Tapa.

Kemudian ia meminta murid-muridnya untuk memperhatikan apa

yang akan ditunjukkannya. Dengan perlahan, ditekuknya lututnya sehingga

kedudukannya lebih rendah dari Misbaya. Sebagai akibatnya

pegangan Misbaya tidak lagi bisa seerat semula karena pergelangan

tangannya telah habis tertekuk ke atas. Dengan cepat Ki Tapa

mengangkat tangan sebelah kanannya, yang masih digenggam oleh

Misbaya ke atas melewati kepala sehingg berada kira-kira di sebelah

kiri kepala. Misbaya mendongak ke belakang menyangka akan diserang

dengan tangan itu oleh Ki Tapa. Pada saat itulah Ki Tapa

kembali merendahkan dirinya sehingga bahunya berada lebih rendah

dari dada Misbaya, untuk kemudian mengungkitnya dengan bahu,

sembil menjatuhkan tangan kanannya ke depan, seperti memotong.

Akibatnya Misbaya tercongkel dan terungkit ke atas dan terbalik.

Terlempar dan terkapar telentang di atas rumput yang hijau.

Rekan-rekannya terkesiap. Demikian mudah Misbaya terlempar dengan

gerakan sederhana tadi. Sedemikian halus. Tak teduga dan cantik.

Gerakan yang memanfaatkan batas-batas sendi manusia, sehingga

mau tak mau sang lawan harus ikut, atau sendinya akan terkilir atau

lepas. Salah satu jurus bantingan dalam ilmu Jalan Selaras dengan

Alam Semesta. Ilmu yang dibawah oleh Petapa Seberang ke Tanah

Tongkat Ditanam Jadi Tanaman. Ki Tapa sebagai salah satu penerus

dan pewaris ilmu-ilmu dari Petapa Seberang sudah tentu mengerti betul

gerakan tersebut, yang hari ini diajarkannya pada murid-muridnya.

Melihat murid-murinya masih terkesima dan takjub pada gerakan itu.

Ki Tapa pun menggapai muridnya yang lain. Kali ini Gentong. Pemuda

yang tinggi besar dan berbobot. Dari pandangan matanya, Ki

Tapa melihat ketidakyakinan murid-muridnya, bahwa Gentong pun

dapat dilemparkan dengan gerakan atau jurus yang sama.

Akan tetapi hal yang sama pun terjadi. Dan untuk itu, dikarenakan

postur tubuh yang lebih tinggi, lebih mudah bagi Ki Tapa untuk mencapai

batas-batas perputaran sendi dari Gentong. Dan Gentong pun

103

terlempat sejajar dengan posisi tempat Misbaya tadi terkapar, dengan

debum yang lebih kentara tentunya.

Setelah beberapa kali memberi contoh menggunakan murid-murid

yang berbeda-beda, juga di antara murid-muridnya sendiri, Ki Tapa

pun memerintahakan mereka untuk melatihnya sendiri ratusan kali.

Sampai gerakan-gerakan tersebut menjadi mendarah daging. Muridmuridnya

pun mengiyakan dan mulai melakukannya.

Lucu tampaknya, misalnya saja bahwa Paras Tampan berusaha untuk

menjatuhkan Rintah yang masih saja berdiri dengan stabil. Berbagai

upaya telah dilakukannya. Akan tetapi tetap saja Rintah masih

berdiri dan menggenggam kedua tangannya di belakang dengan erat.

Melihat ini menghampiri datang Ki Tapa sambil menunjukkan arah

yang harus diambil oleh Paras Tampan agar pegangan Rintah menjadi

lunak, untuk kemudian membebaskan tangannya ke atas kepala, siap

mencongkelnya dengan bahu. Setelah diberi pentunjuk dapatlah Paras

Tampan melemparkan Rintah. Menyadari bahwa murid-muridnya terlihat

belum paham, akhirnya Ki Tapa memutuskan lebih baik untuk

memberi petunjuk satu persatu berpasang-pasangan. Cara ini lebih

baik. Setiap murid akan melihat dan merasakan bagaimana jurus itu

diterapakan. Berganti-ganti mereka berperan sebagai yang membanting

dan yang dibanting. Begitulah cara latihan dari ilmu Jalan Selaras

dengan Alam Semesta.

Hari pun semakin sore dan para kawula muda itu terus giat berlatih di

bawah petunjuk-petunjuk Ki Tapa, yang mengawasinya dengan sabar

dan telaten.

***

Persiapan perginya rombongan pedagang-pedagang tampak mendominasi

kesibukan orang-orang Desa Luar Rimba Hijau pagi ini.

Bersamaan dengan itu pula, rombongan dari Pinggiran Sungai Merah

ingin berpamit untuk pulang karena orang yang sakit, yang menjadi

alasan mereka untuk menetap selama ini di Desa Luar Rimba Hijau,

sudah berangsur-angsur sembuh. Lebih cepat dari dugaan mereka

semula. Para pedagang yang tadinya hanya akan ditemani oleh beberapa

orang wakil dari rombongan, menjadi ditemani oleh seluruh

rombongan. Kecuali Asap tentunya.

104 BAGIAN 2. PERUBAHAN-PERUBAHAN

Ki Tapa pun telah berpesan bahwa si sakit dapat pulang setiap saat.

Untuk Asap, mereka tidak akan menunggunya, karena selain telah

dewasa untuk memutuskan jalan hidupnya sendiri, pun Kepala Desa

Luar Rimba Hijau, Ki Surya, telah menjamin bahwa Asap bersamasama

dengan kawula muda desanya akan baik-baik saja selama dalam

pelatihan di dalam Rimba Hijau.

Rencana yang akan dilaksanakan adalah rombongan pedagang itu

akan bersama-sama dengan rombongan dari Pinggiran Sungai Merah

menempuh arah yang sama, ke arah barat. Ke arah di mana matahari

terbenam. Pinggiran Sungai Merah terletak jauh di barat, untuk

mencapainya hanya terdapat dua cara, lewat Gurun Besar yang luas

dan gersang atau menyusuri Sungai Menggelegar (Dssel) di mana terdapat

suatu desa yang bernama Desa Pinggir Sungai Menggelegar

(Dsseldorf).

Sungai menggelegar merupakan kelanjutan dari sungai yang mengalir

keluar dari Rimba Hijau, Sungai Hijau orang menamakannya. Sungai

ini kemudian mengalir menuju ke arah barat daya untuk kemudian

bercabang, satu tetap ke arah barat daya dan lainnya langsung ke

selatan, menuju Lautan selatan. Pada percabangan inilah terdapat

Desa Pinggir Sungai Menggelegar. Salah satu alasan orang mengapa

sungai ini dinamakan Sungai Menggelagar adalah terdapatnya saatsaat

tertentu di mana air sungai bisa bertambah dengan pesat, bisa

akibat pasangnya air laut ataupun hujan di daerah hulunya, sehingga

sungai ini meluber sampai ke Padang Batu-batu yang berada di bagian

baratnya. Akibat luberan ini, Padang Batu-batu akan tergenang. Dan

entah bagaimana, aliran genangan-genangan ini di antara tonggakantonggakan

karang dapat memberikan suara yang satu sama lain saling

menguatkan (beresonansi) sehingga menghasilkan suara menggelegar,

menggemuruh. Dari sanalah diyakini nama itu datang.

Setelah berbicang-bincang antara kelompok pedagang Desa Luar

Rimba Hijau yang diwakili oleh Ki Murah, Ki Rabat dan Ki Untung.

Nama-nama mereka sendiri telah mengisyaratkan bahwa mereka itu

adalah pedagang yang berupaya untuk menjual barang dengan murah,

jika bisa dengan potongan (Rabat) dan masih memperoleh keuntungan.

Sedangkan dari pihak Rombongan dari Pinggiran Sungai Merah

diwakilkan oleh Rota Mera dan Reda, keduanya diangkat sebagai

ketua rombongan setelah Asap mulai ikut latihan di dalam Rimba

105

Hijau.

”Jadi menurut nak Rota Mera sebaiknya kita mengambil Jalur Panjang

dari pada Jalur Pendek...” tegas Ki Rabat agak masih belum

setuju. Menurutnya baiknya bila mereka memilih jalur yang sebaliknya,

agar perjalanan cepat selesai dan transaksi perdagangan bisa

dilakukan.

”Benar, Ki Rabat,” ucap Reda mengiyakan pendapat rekannya, ”hal

ini didasari oleh pengalaman rekan kami Bujang yang sakit itu. Ia

terkena gigitan Kadal Gurun saat sedang mencari obat-obatan di Gurun

Besar. Dengan alasan ini kami pun datang ke sini melalui jalur

selatan.”

”Tapi bukankah dengan menggunakan Jalur Panjang yang lewat selatan

ini, seperti kata kalian, akan memakan waktu dua kali lebih lama?”

tanya Ki Murah kemudian.

”Benar, Ki,” kali ini Rota Mera sendiri yang menjawab. ”walaupun

dua kali lebih lama, akan tetapi lebih sedikit bahayanya. Di Gurun

Besar, selain ada banyak binatang-binatang beracun, juga terdapat

badai pasir dan penyamun-penyamun ganas. Mereka itu sering mencegat

rombongan orang yang lewat dan merampoknya.”

”Bila benar begitu, ya..., sudah sepantasnya bila kita memang memilih

Jalur Panjang.” komentar Ki Untung. ”Keterlambatan proses perdaganan

dapat diterima, bila dikompensasi dengan terjadi atau tidaknya

proses tersebut.”

Kedua rekannya mengangguk-angguk setuju. Setelah membicarakan

beberapa hal lain, akhirnya memang diputuskan untuk memilih Jalur

Panjang. Jalur ini akan mengambil arah ke barat daya dari Desa

Luar Rimba Hijau, untuk kemudian menyusuri Sungai Menggelegar

sampai ke Pantai Selatan. Dari sana akan diambil arah ke barat sambil

menyusuri pantai. Setelah beberapa hari perjalanan, dan Padang

Batu-batu tidak lagi terlihat di utara pantai, arah akan diubah menjadi

menuju barat laut sampai bertemu dengan suatu sungai. Sungai

itu sudah Sungai Merah. Selebihnya tinggal menyusuri Sungai Merah

menuju ke utara, sampai ke Desa Pinggiran Sungai Merah.

Rombongan dari Pinggiran sungai merah mengatakan bahwa di sepan106

BAGIAN 2. PERUBAHAN-PERUBAHAN

jang Sungai Merah, walaupun tidak terdapat banyak desa, akan tetapi

sering berdiam orang-orang yang hendak melanjutkan perjalanan baik

ke arah pantai atau utara. Dan orang-orang ini kadang memang membutuhkan

sesuatu untuk bekal perjalanannya. Hal inilah yang menarik

para pedagang dari Desa Luar Rimba Hijau. Melakukan kontak dengan

sebanyak-banyaknya orang untuk mengadakan kegiatan perdagangan.

Di samping rombongan pedangan dan juga rombongan dari Pinggiran

Sungai Merah, terdapat lagi tambahan orang yang akan mengadakan

perjalanan, yaitu CitraWangi dan kedua orang tuanya. Citra

Wangi adalalah tunangan Paras Tampan, seorang pemuda yang saat

ini sedang berlatih di dalam Rimba Hijau bersama kawan-kawannya.

Keluarga itu mendengar betapa Desa Pinggiran Sungai Merah merupakan

desa yang lebih besar dan maju dari pada Desa Luar Rimba

Hijau ini, tertarik untuk melancong ke sana. Terlebih berkaitan dengan

ikatan antara Citra Wangi dan Paras Tampan. Akanlah sangat

bangga apabila pernikahan mereka nanti dilengkapi dengan baju-baju

yang dibeli dari tempat yang jauh. Berbeda dengan baju-baju yang

ada di sini. Berbekal niat itu ikutlah keluarga itu pada rombongan

yang akan pergi ke barat. Sambil tidak lupa mereka juga mendapat

titipan-titipan dari kerabat-kerabatnya yang tidak ikut pergi.

Sudah lajim bahwa orang yang belum pernah melihat tempat lain

akan merasa bahwa tempat itu pasti lebih indah dari tempat-tempat

yang pernah dikunjunginya. Walaupun pada kenyataannya, kadang

terjadi sebaliknya. Tempat yang diduga lebih indah itu, setelah dilihat

malah menimbulkan kekecewaan karena tidak sebaik atau seindah

yang dikhayalkan.

Setelah siap berangkatlah rombongan itu. Hari telah menjelang sore

saat rombongan itu berangkat. Titipan sana-sini para penghuni desa

masih menghiasi keberangkatan itu, sehingga kadang-kadang enggan

melepasnya. Semakin banyak ”titipan” semakin banyak pula keuntungan

yang dapat diraih oleh para pedagang.

Tidak banyak orang yang ikut sebenarnya, hanya enam kereta yang ditarik

masing-masing oleh dua ekor kuda. Dua kereta berisikan orangorang

dari Desa Pinggiran Sungai Merah dan satu kereta digunakan

oleh Citra Wangi dan kedua orangtuanya serta sisanya adalah rom107

bongan pedagang dan barang-barang bawaannya. Kira-kira hanya

tiga puluhan orang berada dalam rombongan yang akan berjalan ke

barat itu.

Perjalanan ke barat itu diperkirakan akan memakan waktu sebulan

setengah lebih karena mengambil jalan memutar. Bila langsung menempuh

Gurun Besar, cukup diperlukan waktu dua sampai tiga minggu

saja. Perjalanan ini merupakan perjalanan terjauh yang pernah dilakukan

oleh kelompok pedagang dari Desa Luar Rimba Hijau. Sebelumnya

mereka hanya berdagang di sekitar daerah mereka saja.

Paling jauh ke Desa Pinggir Sungai Menggelegar di selatan. Atau

desa-desa di sebelah utara dari Rimba Hijau. Dan ke barat paling

jauh sampai pinggiran dari Gurun Besar. Jadi ini merupakan pengalaman

yang ditunggu-tunggu pula oleh kelompok pedangang itu.

Bila kegiatan ini membuahkan hasil, akan tercipta jalur perdagangan

baru antara bagian timur dan barat.

Sungai Hijau selepas dari Rimba Hijau dan Desa Luar Rimba Hijau

mengalir perlahan dengan lebar yang kurang lebih sama. Mengalun

melintasi hamparan spasial geografis secara hampir tanpa lonjakan

atau kejutan. Benar-benar membosankan. Membuat siapa

pun yang duduk di atas kereta dan berjalan perlahan-lahan sambil

memperhatikan sungai tersebut, akan menjadi terkantuk-kantuk.

Demikian pula dengan rombongan ini. Hampir sebagian besar dari

mereka terkantuk-kantuk melihat kiri-kanan hanya dilengkapi pemandangan

yang biasa-biasa saja.

Dua hari perjalanan dilalui dengan lancar oleh rombongan itu. Lancar

dan sedikit membosankan. Diperkirakan dalam tiga atau empat hari

ke depan akan sampai mereka ke awalan Sungai Menggelegar.

Malam ketiga. Rombongan itu bermalan di pinggiran sungai, entah

sungai apa namanya, apakah masih termasuk Sungai Hijau atau tidak,

tiada yang tahu. Nama atau batasan geografis saat itu tidaklah terlalu

penting. Akan tetapi bila menilik dari airnya yang tidak lagi didominasi

oleh warna hijau pada dasar sungai yang jernih, mungkin lebih

baik dinamakan Sungai Jernih.

Untuk melepaskan kebosanan, seorang anggota rombongan dari Pinggiran

Sungai Merah memiliki gagasan untuk menceritakan suatu

108 BAGIAN 2. PERUBAHAN-PERUBAHAN

hikayat atau dongeng yang terjadi di daerah Sungai Menggelegar.

Daerah yang akan mereka masuki dalam dua atau tiga hari lagi.

Yang bercerita adalah Rosata seorang tua setengah baya yang pernah

mendengar cerita itu dari salah seorang penduduk Desa Pinggir

Sungai Menggelegar saat rombongannya menunju Rimba Hijau untuk

mengobati Bujang, yang terkena gigitan Kadal Gurun.

Entah kapan dan bagaimana mulainya, Desa Pinggir Sungai Menggelegar

memiliki tingkat keteraturan pembangunan desa yang amat baik.

Pekerjaan-pekerjaan dibagi sedemikian rupa, sehingga masing-masing

insan bekerja untuk kebaikan desanya sesuai dengan peran dan kemampuannya.

Hal ini sudah tentu mendukung majunya perekonomian

dan juga pertanian desa. Adalah berbahaya apabila hal-hal yang

penting bagi kehidupan dibiarkan ditangani oleh orang yang tidak ahli

dalam bidangnya. Akan hancur suatu daerah, desa atau pun negeri

bila hal tersebut dibiarkan terjadi. Dan dalam Desa Pinggiran Sungai

Menggelegar hal ini ditangani dengan baik. Orang-orang yang mengurusi

kepentingan umum dipilih dari yang ahlinya. Orang-orang yang

memiliki kemampuan berkomunikasi lebih baik dijadikan pemimpin,

sedangkan yang hanya mampu bekerja dengan keras dijadikan bawahan.

Setelah bertahun-tahun kegiatan kehidupan berlangsung dengan baik,

muncullah ide untuk membuat suatu peringatan bagi jenis-jenis pekerjaan

yang telah dianggap berjasa untuk membangun desa itu. Untuk

itu dirancang dua belas jenis pekerjaan yang merupakan modal dan

kekuatan pembangunan desa. Kedua belas figur itu kemudian dinamakan

12 Yang Berdiri (Stndichen) dan ditempatkan dalam suatu

taman di bagian utara kota, Taman Utara (Nordpark). Kedua belas

figur yang dimaksud itu adalah Kelompok Wanita Pemungut

Biji-bijian Tertinggal (hrenlesergruppe), Laki-laki Penyebar Bijibijian

(Smann), Laki-laki Pelatih Burung Pemburu (Falkner), Lakilaki

Penduga Penyakit Hewan (Spatenmann), Wanita Pengembala

Domba (Schferin), Laki-laki Pengembala Ternak (Hirte), Laki-laki

Pemain Musik (Musikanten), Laki-laki Petani (Bauer), Wanita Petani

(Buerin), Wanita Pemetik Anggur (Winzerin), Laki-laki Nelayan (Fischer)

dan Awak Perahu (Matrose).

Dibangunnya patung-patung itu tidaklah menjadikan cerita mengenai

mereka menjadi heboh apabila tidak ada peristiwa yang berkaitan den109

gannya. Pada suatu malam yang sunyi dan agak dingin dibandingkan

dengan malam-malam sebelumnya. Akibat cuaca yang tidak nyaman

ini, orang-orang lebih banyak memilih untuk tinggal di rumahnya atau

tidak berlama-lama di luar rumah bila tidak ada keperluan.

Adalah Jingkit seorang nelayan sungai yang pulang terlalu larut

malam itu, ia baru saja menambatkan perahunya di dermaga Sungai

Menggelegar, untuk kemudian mengangkat muatan-muatan hasil

tangkapannya hari itu. Dengan agak terburu-buru ia berjalan menuju

rumahnya yang terletak agak di utara. Biasanya ia mengambil jalan

pinggiran sungai untuk kemudian menyusurinya ke utara dan berbelok

ke timur untuk mecapai rumahnya. Tapi entah kenapa malam

itu ia lebih memilih untuk melewati jalan dalam desa baru kemudian

mengambil arah ke utara. Dengan demikian mau tidak mau

ia harus melewati Taman Utara di mana terdapat keduabelas Yang

Berdiri. Tidak ada masalah bagi Jingkit untuk melihat keduabelas

Yang Berdiri malam-malam. Ia malah kadang sering mengagumi

patung-patung itu. Dan merasa bangga bahwa profesinya sebagai

nelayan juga diabadikan dalam salah satu patung-patung itu.

Akan tetapi hal yang tidak biasa adalah rasa dingin yang dirasakannya

itu. Dingin yang bukan lagi dingin udara atau angin. Dingin ini

lain, sempat meresap ke dalam kulit dan menembus tulang. Membuat

tubuh benar-benar terasa lelah. Dan rasa dingin yang aneh ini benarbenar

membuatnya shok karena ditambah dengan kenyataan bahwa

di dalam Taman Utara, di mana seharusnya keduabelas Yang Berdiri

itu berada, terasa amat lengang. Tidak ada satu pun Yang Berdiri

tersisa di sana. Semuanya hilang, membuat suasana yang telah dingin

dan sepi, menjadi semakin sepi dan mengiriskan. Tak tahan dengan

keadaan itu Jingkit pun lari lintang pukang. Tidak dipedulikannya

lagi ikan-ikan hasil tangkapannya dan juga rempat-rempat serta kainkain

hasil pesanan istrinya yang terjatuh di tengah taman. Di mana

seharusnya keduabelas Yang Berdiri berada.

Malam yang menghebohkan. Setelah Jingkit memberitahu istrinya

akan hilangnya keduabelas Yang Berdiri, dan atas usul istrinya, ia

pun bergegas ke rumah Ki Tanah, kepal desa dari Desa Pinggir Sungai

Menggelegar. Kentongan bambu pun kemudian bertalu-talu, menyebarkan

kabar ke seluruh penjuru desa, bahwa ada sesuatu yang tidak

beres. Penduduk dengan rasa-rasa cemas bergegas ke luar dari rumah

110 BAGIAN 2. PERUBAHAN-PERUBAHAN

dan berkumpul di alun-alun desa untuk mencari tahu apa yang sedang

berlangsung. Hanya para laki-laki muda dan yang masih kuat yang

muncul. Sisanya bertahan di dalam rumah untuk menanti kabar ada

apa gerangan.

Setelah Ki Tanah menenangkan warganya, kemudian dengan cepat

ia mempersilakan Jingkit, sebagai saksi satu-satunya yang ada, untuk

mempersilakan menceritakan peristiwa yang dilihatnya. Ucapanucapan

yang menyatakan keterkejutan terlontar selama penyampaian

itu. Dan pada akhirnya atas usul seorang warga, mereka bersamasama

menuju ke Taman Utara untuk melihat lokasi keduabelas Yang

Berdiri.

Setelah berjalan bersama-sama, dalam langkah yang tergesa-gesa,

tidak sampai air teh yang baru diseduh dingin, sampailah mereka di

satu bagian dalam Taman Utara di mana seharusnya keduabelas Yang

Berdiri itu berada. Alih-alih patung-patung tersebut yang terlihat,

hanyalah kegelapan dan dua belas lobang sebesar kerbau yang tertinggal

menganga. Seakan-akan mengejek orang yang mencari-cari apa

yang pernah ada ditanamkan di dalam dan di atasnya.

Tiada suara di antara seluruh penduduk desa. Sunyinya saat itu

seakan-akan suara aliran sungai yang semilir dari jauh dapat terdengar

dengan jelas. Bertanya-tanya hati semua orang, bagaimana peristiwa

itu dapat terjadi. Memindahkan patung-patung yang beratnya hampir

tiga kali kerbau bunting dengan tinggi dua kali orang dewasa. Dan

dua belas buah lagi. Benar-benar menyeramkan. Seakan-akan itu

bukanlah perbuatan seorang atau sekelompok manusia saja.

Sampai akhirnya berkatalah Ki Tanah, selaku pimpinan di sana,

”baiknya kita menenangkan diri dulu. Besok pagi-pagi kita rundingkan

lagi. Siapa pun atau apapun yang mengambilnya, sudah di

luar kemampuan kita. Sekarang atau besok mengetahuinya akan sama

saja.”

Semua mengangguk-angguk setuju. Beberapa masih bergidik saat Ki

Tanah tadi menegaskan ”apapun” sebagai alternatif yang melakukan

hal itu.

Lalu orang-orang pun bubarlah.

111

Mendengar cerita yang dilantunkan Rosata itu tidak ada orang-orang

yang bersuara, bahkan sekecil apa pun suara. Pembawaan suasana

yang disajikan benar-benar membuat yang mendengarkannya terkesima

dan seakan-akan terbawa ke sana saat peristiwa itu benar-benar

terjadi dihadapan mereka. Sebagian besar anggota rombongan dari

Pinggiran Sungai Merah telah mendengar cerita itu dari Rosata sebelumnya.

Akan tetapi tetap saja mereka masih bergidik dan merinding

mendengar cerita yang penuh misteri itu, lebih-lebih karena lokasi

tempat di mana kejadian itu pernah berlangsung tidak jauh dari tempat

mereka bermalam saat ini. Tidak bisa dibayangkan ketegangan

keluarga Citra Wangi dan kelompok para pedagang dari Desa Luar

Rimba Hijau, yang baru pertama kali mendengar cerita menyeramkan

itu.

Sunyi. Sesekali terdengar hanya suara jengkerik dan burung hantu.

***

Lima hari kemudian sampailah mereka di daerah Desa Pinggir Sungai

Menggelegar, perlu dua hari dari awalan Sungai Menggelegar untuk

mencari desa tersebut. Selama lima hari tersebut tidak ada apa-apa

yang patut diperhatikan terjadi dalam perjalanan rombongan itu.

Sungai Menggelegar terlihat biasa seperti sungai-sungai biasa lainnya,

dengan lebar sampai sepuluh kerbau dewasa berjajar dan air di

tengahnya yang tenang, menandakan bahwa sungai itu cukup dalam.

Akan tetapi anehnya, pada sisi seberang, yaitu sisi barat, terdapat

banyak sekali batu-batu menjulang setinggi orang sampai setinggi pohon

kelapa di pinggir sungai dan di daratnya. Akibatnya ada aliran air

dan udara yang lewat di antaranya menghasilkan suara yang menderu.

Bila banjir, kata seorang anggota rombongan yang pernah mendengar

suatu cerita, akan semakin keras suaranya. Bisa-bisa sampai menggelegar.

Dengan cara itu orang juga jadi tahu apabila banjir bandang

akan datang dari hulu.

Desa yang sepi, yang memiliki suasana hampir sama dengan Desa Luar

Rimba Hijau. Itulah Desa Pinggir Sungai Menggelegar. Desa di mana

penduduknya banyak memiliki mata pencaharian sebagai nelayan dan

pencari batu-batuan ketimbang petani seperti di Desa Luar Rimba

Hijau. Batu-batuan yang dipilih umumnya bermotif cemerlang dan

112 BAGIAN 2. PERUBAHAN-PERUBAHAN

campur-campur, kadang pula telah berpermukaan halus. Dengan suatu

cara tertentu batu-batu ini dapat dipotong dan dibentuk untuk

dijadikan hiasan. Kelebihan inilah yang pertama kali terlihat oleh

orang-orang anggota perdagangan Desa Luar Rimba Hijau. Jiwa bisnis

mereka memang telah melekat ke sanubari. Sedikit ada kelebihan

suatu daerah yang dapat dimanfaatkan untuk perdagangan, pastilah

langsung tercetus ide untuk mengembangkannya.

Bagi Citra Wangi, ibu dan ayahnya sendiri, Desa Pinggir Sungai

Menggelegar memberikan wawasan baru mengenai suatu desa, yang

tidak semestinya bertatanan melulu seperti Desa Luar Rimba Hijau.

Di sini mereka melihat banyaknya sampan-sampan dan perahu yang

ditambatkan di sepanjang sungai. Terdapat pula semacam Pasar

Terapung, di mana kegiatan perekonomian dan perdagangan terjadi

bukan di darat melainkan di atas perahu. Suatu suasana yang mereka

belum pernah lihat sebelumnya. Itulah salah satu kelebihan desa atau

tempat yang kehidupannya bisa dikembangkan sampai ke atas air.

Terdapat ikan-ikan aneh yang belum pernah mereka lihat sebelumnya.

Ada yang panjang dan pipih ada juga yang bersisik keperakan dengan

jenggotnya. Terlihat ikan tersebut menjadi agak berwibawa berenang

ke sana kemari dalam sebuah gentong besar yang dipertontonkan di

pasar pinggir sungai itu. Orang menyebutnya Arowana. Disebut pula

oleh orang yang mempertontonkan ikan itu, bahwa umur ikan ini bisa

tahunan dan dapat berukuran sampai sebesar orang dewasa. Bergidik

Citra Wangi membayangkan ikan berjenggot itu sebesar dirinya, dan

kemudian berenang-renang di sekitarnya, misalnya saat ia mandi di

sungai bersama teman-temannya.

Setelah puas melihat-lihat pasar dan juga hal-hal baru yang ada di

sekitar Desa Pinggir Sungai Menggelegar itu, ketiganya, Citra Wangi

dan kedua orang tuanya, kembali ke lokasi di mana rombongan itu

menyimpan kereta-kereta dan kuda-kudanya. Di sana tampak sedang

menunggu beberapa orang anggota rombongan dari Pinggiran Sungai

Merah yang tidak ikut berjalan-jalan, karena mereka telah pernah

mampir di desa ini.

Setelah menunggu beberapa lama, tampaklah anggota rombongan

pedagang dari Desa Luar Rimba Hijau, di antaranya terlihat Ki Murah,

Ki Untung dan Ki Rabat, yang ditemani beberapa orang dari

113

Desa Pinggir Sungai Menggelegar. Bisa diduga kawan-kawan mereka

itu adalah para pedagang-pedagang dari desa ini. Orang-orang yang

sejenis akan dengan mudah berkawan dan bersahabat, begitu kata

ujar-ujar kuno.

”Nak Citra Wangi,” gapai Ki Rabat dari jauh, ”ini ada sesuatu yang

pasti menarik bagimu.”

Mendengar panggilan itu, Citra Wangi pun menoleh kepada ayah dan

ibunya, minta persetujuan untuk menghampiri Ki Rabat. Keduanya

mengangguk tanda setuju. Bahkan ibunya pun turut berdiri untuk

ikut serta menghampiri Ki Rabat.

Bersemi senyum di wajah Ki Rabat melihat kedatangan mereka

berdua. Pikirnya, paling tidak kedua orang ini akan membawakan

kabar bagi kawan-kawanya di Desa Luar Rimba Hijau. Bila ia bisa

meyakinkan mereka betapa baiknya barang-barang di sini, sudah tentu

akan muncul produk baru yang bisa dijual di sana nanti.

”Ada apa, Ki?” tanya Citra Wangi sopan.

”Lihatlah, batu-batu hiasan ini.., indah, bukan?” katanya sambil menunjuk

batu-batu gemerlap susu yang dibawa oleh rekan dagang yang

baru dikenalnya itu.

Terdiam Citra Wangi dan ibunya melihat-lihat batu-batu berwarnawarni

itu yang baru kali ini mereka lihat. Pernah mereka mendengar

adanya batu-batu mirip telur bentuknya, kecil sebesar kuku jari

dan berwarna-warna mirip susu diberi pewarna. Suatu hiasanya yang

mereka hanya pernah dengar. Dan saat ini mereka menyaksikannya

sendiri. Betapa ingin mereka memilikinya. Mengenakannya.

Ki Rabat sebagai seorang pedagang ulung berdasarkan pengalamannya

melihat bahwa kedua wanita tersebut telah terpesona oleh produk

barunya itu. Untuk menambahkan rasa ingin memiliki, ditambahkannya

kata-kata, ”untuk Citra Wangi dan Nyi Apik, ini harga khusus.

Tapi jangan bilang-bilang sama orang desa ya?”

Berseri kedunya mendengar kata ”harga khusus” itu. Siapa pembeli

tak senang diberi ”harga khusus”, walaupun kadang mereka pun tahu

bahwa harga itu sebenarnya adalah harga yang telah dinaikkan dulu

114 BAGIAN 2. PERUBAHAN-PERUBAHAN

untuk mendapatkan keuntungan berlipat, kemudian diturunkan, agar

seakan-akan terlihat bahwa barang tersebut menjadi murah harganya.

Cara seperti ini masih digunakan orang sampai saat ini.

Nyi Apik memilih dua buah yang berwarna merah dan ungu untuk

dirinya dan Citra Wangi memilih yang berwarna hijau muda dan

kuning bercampur biru. Selain itu mereka masih memilihkan beberapa

untuk oleh-oleh. Di kejauhan Ki Rapih, suami Nyi Apik hanya

geleng-geleng kepala melihat istri dan putrinya begitu bersemangat

mengaduk-aduk batu-batu tersebut dalam wadahnya. Ia yang biasanya

membatasi, saat itu membiarkannya saja. Peristiwa perjalanan

ini pun bukan peristiwa biasa, jadi harus dirayakan dengan cara yang

tidak biasa. Begitu pikirnya.

Setelah berunding sejenak, para anggota rombongan pun bersepakat

untuk bermalam di Desa Pinggir Sungai Menggelegar. Selain

suasananya yang nyaman, juga adanya pertemuan adat yang menarik

mereka. Pertemuan membicarakan hilangnya keduabelas Yang Berdiri

tersebut. Hati siapa yang tidak tertarik mendengar pembahasan mengenai

hal itu. Para pedagang Desa Pinggir Sungai Menggelegar pun

mengatakan bahwa para tamu boleh mendengarkan pertemuan itu,

karena diharapkan dapat menjadi mata dan telinga untuk mencari

tahu di mana terdapat patung-patung itu sekarang.

***

Setelah lima minggu dalam perjalanan menuju Desa Pinggiran Sungai

Merah, melaului Pantai Selatan, di mana di utaranya terbentang

Padang Batu-batu. Sampailah rombongan itu di padang rumput yang

luas. Padang rumput yang memisahkan sedikit jarak sampai mereka

tiba di Sungai Merah. Tinggal empat sampai lima hari lagi perjalanan,

sehingga sampailah mereka ke Desa Pinggiran Sungai Merah. Sebenarnya

di sepanjang Sungai Merah terdapat juga beberapa rumah atau

kumpulan rumah-rumah penduduk, akan tetapi karena tidak memiliki

struktur pemerintahan, agak sulit dikatakan atau dinamai apa tempat

itu. Bukan desa.

Walaupun demikian wajah sumringah kelompok pedagang tak dapat

disembunyikan. Tak jadi soal bagi mereka apakah itu desa atau hanya

sekelompok orang, sejauh subyek perdagangan mereka ada. Senanglah

115

hati mereka.

Lain halnya dengan para anggota Rombongan dari Pinggiran Sungai

Merah, berbulan-bulan jauh dari kampung halaman telah menumbuhkan

rindu di dalam hati mereka. Bersua kembali sanak saudara

merupakan satu-satunya obat bagi keadaan tersebut. Dengan demikian

sudah sepantasnyalah mereke juga berbunga-bunga hatinya, saat

langkah-langkah mereka sudah bisa dipastikan akan sampai ke kampung

halamannya kembali, Desa Pinggiran Sungai Merah.

Pada jaman itu perdagangan memiliki cara yang unik untuk menyatakan

alat penukar barang atau uangnya. Suatu lempengan logam

berbentuk segitiga sama sisi digunakan. Sisi-sisinya berukuran satu

dua kuku ibu jari panjangnya. Entah siapa yang mulai membuatkan

patokan, hampir semua di daerah sekitar Pinggiran Sungai Merah

memakai cara penukar barang yang sama. Dan uniknya pada barangbarang

yang dijual, terdapat gambaran ”mata uang” itu yang disebut

Tigaan. Untuk orang-orang utara dari Sungai Merah mereka memberi

cetakan gambaran Tigaan sejumlah harga barangnya, semacam

stempel. Jadi orang yang tidak bisa berhitung pun dapat melakukan

transaksi. Cukup mencocokkan jumlah Tigaan yang dimilikinya dengan

gambar Tigaan yang ada pada barang yang akan dibelinya. Bila

cocok, barang dan Tigaan berpindah tangan.

Akan teatpi orang-orang yang tinggal di selatan Sungai Merah lebih

kreatif. Mereka membuat lambang-lambang Tigaan yang menarik dan

lebih nyeni. Sebagai contoh untuk barang yang berharga enam Tigaan,

mereka gambarkan lambang segienam atau heksagonal, yang di dalamnya

terlukis enam buah Tigaan. Atau Belah ketupat dan jajaran genjang

untuk benda berharga dua Tigaan. Segitiga besar juga dapat

digunakan untuk barang-barang berharga empat Tigaan. Selain itu

ada pula corak-corak lain yang menambah nilai estetis dari barang

yang akan dijual.

Melihat cara perdagangan yang menarik ini, pada kelompok pedagang

dari Desa Luar Rimba Hijau memikirkan untuk menerapkannya

sekembalinya ke desa mereka. Mereka berpikir dengan cara ini, akan

lebih mudah berdagang. Tidak lagi membawa produk-produk langsung

yang kadang bisa rusak, cukup Tigaan sebagai hasil penjualan.

Yang di kemudian hari dapat digunakan kembali untuk berdagang.

116 BAGIAN 2. PERUBAHAN-PERUBAHAN

Dan atas keterangan seorang yang ditemuinya selama mereka berdagang

di Pinggiran Sungai Merah, mereka ingin menemui semacam

kelompok yang membuat Tigaan tersebut. Tidak sembarang orang

dapat membuat Tigaan. Hal in dikarenakan sifat logamnya yang keras

dan aneh, juga keseragaman dari cap yang ada di atasnya. Pernah terdapat

Tigaan palsu. Untuk mencegahnya, maka dibuat suatu cap di

atasnya sehingga orang dapat membedakan mana Tigaan yang asli

dan mana yang palsu. Hanya terdengar bahwa bahan dasar Tigaan

itu dapat diperoleh di daerah Gurun Besar. Dalam suatu lembah yang

terdapat di sana.

***

”Ini adalah lingkaran Empat Elemen,” terang Ki Sura perlahan pada

Lantang dan Rancana, ”masing-masing elemen diyakini dalam ujarujar

kuno sebagai pembentuk kehidupan ini.”

”Segitiga dengan puncak ke atas melambangkan api. Ingatlah bahwa

itu bentuk api pada obor atau suluh. Segitiga dengan puncak ke bahwa

melambangkan air. Untuk itu ingatlah arah air yang selalu menuju ke

tempat yang rendah dalam mengalir. Lambang tanah, adalah lambang

air yang diberi garis mendatar di tengahnya. Bayangkan sebagai air

yang merembes ke dalam tanah.”

”Dan satu lambang tersisa adalah udara. Api yang meresap dalam

sesuatu. Dan sesuatu itu adalah udara. Jadi lambang api diberi garis

mendatar di tengahnya...” begitu jelas Ki Sura pada kedua orang itu

perihal pemahamannya mengenai Empat Elemen. Suatu cara pandang

kuno mengenai kekuatan atau unsur-unsur yang membentuk alam ini.

Dengan memahami dulu inti dari cara pandang kuno itu baru dapat

dipelajari ilmu-ilmu yang didasarkan pada cara pandang itu. Ilmu

yang akan diturunkan oleh Ki Sura kepada Lantang dan dititipkan

juga melalui Rancana. Berkaitan dengan kondisi tubuh Lantang yang

aneh. Yang tidak dapat mengalirkan hawa, sebagaimana orang seharusnya

bisa saat belajar ilmu kanuragan.

***

Lima tahun waktu pun berlalu. Bukan waktu yang sebentar apabila

dalam berlalunya tersebut terjadi banyak perubahan-perubahan

dalam empat penjuru. Jalur perdagangan yang dibuka oleh pedagang117

pedagang dari Desa Luar Rimba Hijau, yang menghubungkan antara

bagian timur dan barat, dan juga utara dan selatan, membuat makin

banyaknya tumbuh desa-desa dan kota di sekitar jalur tersebut.

Tempat-tempat yang dulunya hanya merupakan kumpulan rumah

dan tidak memiliki pemerintahan berangsur-angsur menjadi desa.

Sedangkan desa-desa yang dulunya sudah teratur seperti Desa Luar

Rimba Hijau, Desa Pinggir Sungai Menggelegar, Desa Pinggiran Sungai

Merah, Desa Air Jatuh dan Desa Paparan Karang Utara, tumbuh

menjadi kota-kota yang ramai dikunjungi orang. Di kota-kota tersebut

hampir ada semua keperluan. Terjadi pula perpindahan penduduk

dari desa-desa ke kota, dikarenakan banyak kemudahan untuk hidup

di kota-kota, sejalan dengan diterapkannya Tigaan sebagai mata uang.

Benar-benar perubahan yang cepat dalam kurun lima tahun ini.

Apabila lingkungan berubah, bagaimana dengan individu-individu

yang hidup di dalamnya? Dapatlah dikatakan secara naif bahwa

mereka sudah sepantasnya pun turut berubah. Entah sebagai agen

perubahan atau pun sebagai obyek modernisasi. Sisanya adalah orangorang

yang dapat digolongkan sebagai ketinggalan jaman, yang belum

tentu jelek dalam artian luas.

Setelah bepergian bersama rombongan pedangan dari Kota Luar

Rimba Hijau, saat itu masih Desa Luar Rimba Hijau, lima tahun

yang lalu, akhirnya pindahlah keluarga Citra Wangi ke Kota Pinggiran

Sungai Merah. Ini pun atas desakan dari Citra Wangi dan ibunga,

Nyi Apik. Mereka begitu terpesona akan keadaan Desa Pinggiran Sungai

Merah saat itu. Berangsung-angsur dengan berkembangnya desa

itu menjadi kota, semakin kuat niat mereka untuk hijrah ke sana.

Perubahan Desa Luar Rimba Hijau yang menjadi Kota Luar Rimba

Hijau pun tak dapat menghalangi niat mereka untuk pindah. Kemoderenan

Kota Pinggiran Sungai Merah sebagai pusat informasi,

membuat mereka merasa kerasan. Dan bahwa orang harusnya tinggal

di suatu kota yang seperti itu. Bukan lagi di kota seperti Kota Luar

Rimba Hijau yang jauh dari mana-mana. Janji akan pertunangan

dengan Paras Tampan tidaklah terlalu dipersoalkan. Citra Wangi

sendiri yang mengatakan hal itu. Orang tua Paras Tampan hanya

dapat mengelus dada melihat hal itu. Tak tahu mereka bagaimana

anak mereka nanti menghadapi hal ini.

Rombongan pedagang Kota Luar Rimba Hijau, bersama-sama den118

BAGIAN 2. PERUBAHAN-PERUBAHAN

gan Kota Pingir Sungai Menggelegar berkerja sama membangun suatu

jasa pengiriman barang, yang mereka namakan Antaran Pasti,

yang memiliki semboyan ”Antar barang sampai depan pintu dengan

mengarungi hutan, sungai dan gunung. Barang sampai pasti. Dijamin.”

Dengan berbekal jaringan yang kuat dan juga didukung oleh

pengawal-pengawal yang kuat, berani mereka memberikan jaminan

seperti itu. Akan tetapi tentu saja dalam batas-batas yang diperhitungkan.

Jarang-jarang mereka berani melewatkan barang mereka

melalui Gurun Besar. Hanya untuk barang-barang tertentu yang tidak

terlalu berharga berani mereka melalui tempat itu. Akibat adanya jasa

pengantaran barang Antaran Pasti ini, semakin tidak ada bedanya antara

barang-barang yang dapat dibeli di kota besar dan kota-kota di

pedalaman. Apa-apa pun dapat dipesan. Asalkan ada Tigaan. Tigaan

telah memainkan peran dalam kehidupan.

Hilangnya patung-patung keduabelas Yang Berdiri di Kota Pinggiran

Sungai Menggelegar beberapa tahun yang silam masih menyimpang

banyak tanda tanya. Berbagai upaya telah dilakukan untuk mengusutnya.

Akan tetapi hanya jalan buntu yang ditemui. Akhirnya para

penduduk bersepakat untuk melupakan saja peristiwa itu. Beberapa

patung dibangun kembali. Tidak utuh semuanya. Hanya enam buah

tiruan yang dibuat dan diletakkan di tempat di mana patung aslinya

seharusnya berada. Di tempat-tempat dudukan patung yang tidak

dibuat tiruannya diletakkan bunga-bunga di atasnya.

Jika itu adalah gambaran sekilas perubahan-perubahan pada penduduk

dan kota-kota, dunia persilatan sendiri masih tampak ademayem

saja. Perguruan Kapak Ganda semakin memapankan dirinya.

Dengan hampir dua ratusan murid-murid tingkat menengah, sehingga

dengan murid-murid tingkat bawah dan yang baru belajar mencapai

seribuan orang. Jumlah yang cukup mengiriskan bagi perguruan

yang bermusuhan dengannya. Adapun hal ini dapat dicapai dengan

dibukanya cabang-cabang perguruan ini di berbagai kota. Perguruan

pusatnya tetap terdapat di Kota Paparan Karang Utara, akan tetapi

terdapat dua cabang besarnya yaitu di Kota Lembah Batu Langit dan

Kota Pinggiran Sungai Merah. Ketiga lokasi cabang-cabang perguruan

ini entah mengapa melingkupi perguruan silat saingannya atau

lawannya, yaitu Perguruan Atas Angin yang berlokasi di Kota Air

Jatuh.

119

Lain halnya dengan Perguruan Kapak Ganda, lain pula halnya dengan

Perguruan Atas Angin. Perguruan silat ini walaupun terlihat

juga berambisi untuk menambah jumlah murid, akan tetapi tidak seagresif

Perguruan Kapak Ganda dalam melakukan proses perekrutan

anggota. Mereka masih memilih dan memililah murid-murid yang

dianggap berbobot. Baik dari segi bakat ataupun finansial. Setelah

tiadanya Lingkaran Dalam, puncak pimpinan perguruan dipegang

tunggal oleh Tapak Kelam. Saudara-saudaranya yang tinggal lima

orang bersama dirinya, ditempatkan sebagai Empat Pilar. Sisanya

adalah murid-murid tingkat rendahan. Tidak seperti dulu, bahwa tradisi

Lingkaran Dalam dapat digonta-ganti oleh murid-murid tingkat

satu yang pandai, posisi ketua perguruan dan Empat Pilar mutlak

adanya. Dan memang tiada seorang pun dari murid-muridnya dapat

menandingi Empat Pilar atau pun sang guru. Sebenarnya di luar kelima

orang ini masih terdapat sedikitnya tiga orang lingkaran dalam

yang cukup mumpuni. Dua orang dari mareka masih berkecimpung

dalam bidang kanuragan dengan membuka perguruan di kota lain.

Tidak menggunakan nama sebagai cabang Perguruan Atas Angin,

akan tetapi tidak pula menyembunyikan diri bahwa mereka mengajarkan

ilmu yang sama dengan perguruan tersebut. Seorang Lingkaran

Dalam yang lain tidak diketahui rimbanya. Bayangan Hitam Berbisik

julukannya. Sejak meninggalnya Ki Jagad Hitam ia pun menghilang.

Saat terakhir hanya tampak ia berada di makam gurunya. Tiada

pesan yang ditinggalkan. Saudara-saudaranya dari Lingkaran Dalam

pun tidak begitu mempedulikannya, mengingat sifatnya yang agak

tertutup dan suka menyendiri.

***

Jalan setapak yang menuju lereng-lerang Gunung Hijau tampak membentang

di depan matanya. Seorang pemuda tampak berdiri memandangi

jalan setepak tersebut yang melingkar-lingkar seperti ular,

menanjak dan akhirnya hilang ditelan awan di atasnya. Benar-benar

menggirisi. Bila saja belum memiliki ilmu seperti yang telah dilatihnya

selama ini, bisa jadi pemuda itu akan mengurungkan niatnya untuk

mendaki gunung itu. Pemuda itu Paras Tampan sedang menunggu

waktu. Menunggu isyarat alam, saat yang tepat untuk mulai mendaki.

Kegiatan ini merupakan ujian penghabisan bagi ia dan kawankawannya.

Ujian bahwa ia dan kawan-kawannya telah tamat belajar di

120 BAGIAN 2. PERUBAHAN-PERUBAHAN

dalam Rimba Hijau. Bukan perguruan silat, kata Ki Tapa, melainkan

hanya tempat menempa diri. Cukup Rimba Hijau, tanpa embel-embel

perguruan, jangan seperti yang disebutkan penduduk desa imbuhnya.

Dari dua puluh empat kawula muda yang berlatih saat itu, telah gugur

tujuh belas orang. Tinggal tujuh orang yang masih bertahan. Kawula

muda yang gagal telah pulang kembali ke Kota Luar Rimba Hijau untuk

melanjutkan hidupnya. Walaupun gagal, sedikitnya mereka memiliki

kebisaan dalam Ilmu Jalan Selaras dengan Alam Semesta untuk

menjaga diri. Mereka pun diperbolehkan untuk melatih orang-orang

di kotanya. Beberapa dari mereka bahkan bekerja sama membentuk

suatu padepokan dan mengajarkan ilmu tersebut. Kegagalan mereka

semata-mata hanyalah karena bakat yang kurang cocok dengan ilmuilmu

yang lebih tinggi. Untuk itu Ki Tapa telah mengajarkan ilmuilmu

lain yang lebih cocok untuk mereka. Jadi untuk ukuran orang

biasa, mereka tidak boleh dipandang sebelah mata. Dan menjadi suatu

kebanggaan bahwa mereka pernah berlatih di dalam Rimba Hijau.

Ketujuh orang yang tinggal adalah Gentong, Asap, Misbaya, Rintah,

Rantih, Kirani dan pemuda itu, Paras Tampan. Kedua kawula putri

terlihat amat berbakat dalam pengobatan, oleh karena itu mereka

tidak mengikuti ujian ini. Lima orang saya yang harus menggenapi

latihannya dengan memanjat ke atas gunung dan melampaui

tempat-tempat yang ditugaskan oleh Ki Tapa. Pesannya, bahwa di

tempat-tempat tersebut bila berjodoh dapat bertemu peninggalanpeninggalan

ahli-ahli silat jaman kuno, yang bertapa menuliskan

hasil-hasil karyanya di atas batu dan meninggal di sana. Akan tetapi

mengingat betapa banyaknya lorong-lorong batu, gua-gua dan juga

sisa-sisa pondok di atas pohon di gunung itu, tidak dapat dipastikan

apakah seseorang yang mampu untuk naik ke atas gunung dapat menemukan

paling tidak satu catatan tersebut. Bahkan kadang terdapat

catatan-catatan palsu yang dibuat oleh orang-orang yang dulu pernah

mencoba tetapi gagal, dan untuk turut menggagalkan orang lain,

dibuatnya catatan-catatan palsu tersebut. Untuk itu Ki Tapa pun

tidak dapat memberi petunjuk. Seorang seperti Ki Tapa pun belum

tentu memperoleh keberuntungan untuk memperoleh catatan-catatan

itu. Benar-benar nasib yang menuntun atau catatan-catatan itulah

yang mencari penerusnya.

Untuk berguru sendiri di gunung itu masing-masing kelima orang itu

121

diberi waktu dua tahun. Apa pun yang terjadi, dapat atau tidak,

mereka harus kembali turun. Ki Tapa akan memilih dari kelima orang

itu nanti, dua orang yang akan menggantikannya. Menjaga Rimba

Hijau seperti dirinya. Sisanya dapat mengembara ke empat penjuru

angin untuk menambah pengalaman.

Keempat temannya telah lebih dulu berangkat. Dari urutan yang

ditarik, Paras Tampan mendapat bagian terakhir. Setelah matahari

tiada lagi di puncak titik kulminasinya, ia dapat berangkat. Misbaya

mendapat giliran saat ayam belum berkokok. Menyusul kemudian

Gentong. Rintah berangkat setelah matahari agak tinggi. Asap

mendapat giliran sehabis itu, saat matahari sedang tinggi-tingginya.

Dan sekarang gilirannya, Paras Tampan. Ia tidak tahu kemana ia

harus mengambil arah. Menurut Ki Tapa, ke arah mana saja tidak

jadi soal. Biarkan kitab-kitab itu yang menemuimu. Jadilah dirimu

sendiri. Jangan berpura-pura. Kitab atau catatan yang sesuai akan

mencari orang yang sesuai pula.

Sejenak Paras Tampan memejamkan matanya. Menenangkan dirinya.

Mengucap puja dan puji pada Sang Pencipta. Mohon bimbingan atas

ujian ini. Seraya pula tidak lupa mengucap syukur atas karunia yang

diterimanya selama ini. Bisa sampai di titik ini. Berdoa pula ia

untuk teman-teman seperjuangannya yang telah berangkat. Temantemannya

yang telah pulang ke luar Rimba Hijau. Juga untuk Rantih

dan Kirani yang tidak turut serta, serta Ki Tapa gurunya. Setelah

merasa tenang, mulai beranjaklah Paras Tampan. Melangkahkan kaki

menempuh jalan setapak yang akan membawa perubahan besar bagi

hidupnya.

***

Undinen itu bernama Xyra, seorang Undinen yang rupawan. Pertemuannya

pertama kali dengan Lantang seorang anak manusia tidak

dapat menghilang dari benaknya. Masih terbayang bagaimana ia terpesona

pada sosok anak kecil itu. Sosok yang membayangkan hawa

yang lain. Bukan hawa manusia bukan pula hawa bangsa Undinen.

Hawa yang menarik hatinya. Apalagi sejak anak itu Lantang mempelajari

Ilmu Hawa Air atas bimbingan Ki Sura dan Nyi Sura, semakin

kental hawa anak itu menarik hatinya. Ada rasa nyaman dalam hawa

itu.

122 BAGIAN 2. PERUBAHAN-PERUBAHAN

Baik Lantang, maupun kedua guru barunya Ki dan Nyi Sura, mengetahui

keberadaan Undinen yang selalu mengamat-amati Lantang.

Mereka membiarkannya saja, karena tidak mengganggu. Bahkan keberadaannya

kadang dapat membantu Lantang dalam mengendalikan

hawa dingin, mengingat sifat alami dari Undinen yang membuat hawa

di tempat ia berada menjadi amat dingin. Hal ini terutama baik apabila

Lantang harus melatih ilmunya pada saat musim panas datang,

di mana tidak ada lagi tempat yang cukup dingin di Pulau Tengah

Danau itu. Saat itu biasanya Xyra sang Undinen telah mengerti

tanpa diminta, sering berada dekat dengan Lantang, walaupun tidak

menampakkan diri. Entah bagaimana telah tumbuh semacam persahabatan

di antara mereka.

Rancana sudah satu tahun pergi meninggalkan Pulau Tengah Danau

itu. Ada urusan yang harus diselesaikannya. Ia hanya berpesan

pada Lantang, apabila telah selesai belajar, untuk mencarinya ke

timur. Di Rimba Hijau. Bila tidak dapat menemui dirinya, carilah Ki

Tapa. Pada awalnya sedih hati Lantang melihat kepergian guru pertamanya,

Rancana yang dikenal sebagai Bayangan Menangis Tertawa,

akan tetapi lama kelamaan hilang kesedihan itu setelah tenggelam ia

dalam kesibukan mempelajari ilmu-ilmu pengolahan tenaga air yang

diajari oleh Ki dan Nyi Sura.

Telaga, anak dari Ki dan Nyi Sura, juga telah pergi merantau satu

tahun sebelum perginya Rancana. Ia mengambil arah ke selatan, menembus

Padang Batu-batu terus ke Pantai Selatan. Ingin ia meluaskan

pengalamannya dan menambah ilmu. Bujukan orang tuanya agar ia

menunda perjalanannya tidak diindahkannya. Katanya dengan arif

bahwa dengan adanya Lantang, ayah dan ibunya telah mendapat ganti

dirinya. Ia juga telah menganggap Lantang sebagai adiknya sendiri.

Kedua orang itu saling memanggil kakak dan adik.

***

Cermin Maut tampak mematut-matut dirinya. Wajahnya yang tidak

lagi bisa dikatakan muda, masih terlihat cantik. Hal dikarenakan ilmu

awet muda yang diterapkannya. Di hadapannya tampak Sabit Kematian

duduk, tanpa tudung kepalanya. Terlihat lucu karena tampak

sosok wajah bulat yang hampir tiada ditumbuhi rambut di atas

kepalanya. Sosoknya menjadi tidak lagi terlihat menakutkan tanpa

123

tudung kepala yang biasanya menyembunyikan wajahnya dalam kegelapan

dan juga tanpa sabitnya. Di sisi lain dari meja di hadapan

keduanya duduk Mayat Pucat yang tampak sedang memikirkan sesuatu.

Ketiganya terdiam seakan-akan asik dengan pikirannya masingmasing.

”Kakak Mayat Pucat..,” ucap Cermin Maut perlahan memecah keheningan.

”Apakah menurutmu wasiat dari adik Naga Geni itu benar

adanya?”

”Hmm, maksudmu apa yang tertera di alas prasasti itu?” tanya Mayat

Pucat sambil menunjuk sehelai catatan peninggalan Naga Geni.

Tertulis di atas secarik kertas tulisan Naga Geni, yang berbunyi

”Jaga Kesehatan Tubuh dan Jiwa memperkuat tulang, melemaskan

otot dan melancarkan peredaran darah. Angin-angin meringankan

gerak dan menghilangkan bayangan. Batu-batu membuat lapisan

kulit menebal seperti besi dan Seribu Ramuan memberi tubuh asupan

yang berguna.”

”Menarik.., menarik..,” gumam Sabit Kematian sambil menganggukangguk.

Alih-alih membaca catatan peninggalan Naga Geni, ia

malah membolak-balik prasasti yang dimaksud dengan sabitnya.

Bisa dibayangkan berapa besar tenaga Sabit Kematian, yang dapat

membolak-balik prasasti seukuran kerbau itu. Ia rupanya telah beranjak

pergi di saat Cermin Maut dan Mayat Pucat sedang berbicara.

”Di sini, di bawah syair yang dituliskan Naga Geni, masih ada

lambang-lambang aneh..!” katanya seakan-akan pada dirinya sendiri.

Lambang itu ditemukannya setelah mencongkel-congkel bagian yang

tertutup tanah liat kering. Di dalamnya ternyata terdapat guratanguratan

yang membentuk sesuatu. Mungkin karena bentuknya yang

agak menjorok sejauh ibu jari, tidak ada orang yang mengira bahwa

warna coklat kehitaman itu bukanlah batu asli, melainkan hanya tanah

liat yang sengaja direkatkan dan dilapisi sedemikian rupa sehingga

terlihat seperti batu biasa.

Mendengar itu kedua saudara angkatnya langsung bagaikan terbang

melayang dari meja tempat mereka duduk menuju tempat di mana

prasasti itu tergeletak setelah diletakkan oleh Sabit Kematian.

124 BAGIAN 2. PERUBAHAN-PERUBAHAN

”Apa maksudnya ini?” tanya Cermin Maut tak mengerti. Di bawah

tulisan tersebut terdapat panah dan gambar sebuah segitiga yang

ujung lancipnya menghadap ke atas dan di setengah tingginya terdapat

garis mendatar. Panah tersebut mengarah ke lambang tersebut.

Seakan-akan ingin mengatakan bahwa jawaban terdapat pada lambang

segitiga itu.

”Tentu ada maknanya,” ucap Sabit Kematian dengan ragu-ragu. Entah

di mana, pernah rasanya ia melihat lambang seperti itu. Lupa.

Sudah lama sekali rasanya.

”Sudahlah, biarkan saja!” usul Mayat Pucat. ”Paling-paling itu hanya

lambang yang tidak berarti. Lebih baik kita menafsirkan dulu, apa

maksud tulisan Naga Geni ini.”

”Maksud Kakak Pucat,” tanya Sabit Kematian, ”apakah itu sebuah

kitab atau hanya sebuah jurus saja atau ilmu? Menurutku itu masingmasing

sebuah kitab. Jadi ada empat buah kitab.”

”Tapi lebih terdengar sebagai sebuah kiasan saja,” usul Cermin Maut.

Ketiganya pun kembali termenung. Melayang dalam pikiran masingmasing.

Memang Naga Geni tidak meninggalkan pesan apa-apa

terhadap pesan itu. Bagaimana ia dapat memperoleh prasasti dan

catatan itu. Prasasti itu sebenarnya bukan berada pada tempatnya

di sini, melainkan jauh ke arah barat laut di kota lain. Prasasti itu

berhasil dicuri oleh salah seorang muridnya dekat saat Perguruan

Kapak Ganda dan Perguruan Atas Angin sedang berseteru di Bukit

Utara beberapa tahun yang silam. Suatu pertempuran habis-habisan

bagi Perguruan Kapak Ganda. Murid yang dipesankannya untuk

mencuri itu adalah seorang murid pilihannya yang tidak dikenal oleh

murid-murid lainnya, bahkan oleh Penjuru Angin, yang merupakan

murid-murid tingkat tinggi perguruan itu. Murid ini dirancangnya

untuk menjadi penerusnya kelak karena bakatnya yang melebihi kedelapan

orang Penjuru Angin. Akan tetapi tidak diperkenalkannya sosok

itu kepada khalayak ramai karena ia punya misi tertentu dengan orang

itu. Dan salah satunya adalah urusan mencuri prasasti di air terjun

Air Jatuh, yang merupakan daerah kekuasaan Perguruan Atas Angin.




0 Response to "Elemen Kekosongan 2"

Post a Comment

Translate

English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified