Download applikasi baca novel online untuk android disini: DOWNLOAD

Elemen Kekosongan 10

Karl termenung memikirkan hal-hal baru yang telah dilakukannya beberapa

hari belakangan ini. Terlalu banyak hal-hal baru yang terjadi

dalam kurun waktu yang singkat. Ia telah meninggalkan kotanya untuk

merantau di tanah asing ini. Di mana ia sendiri kadang-kadang

bila membayangkan, masih tidak bisa percaya bagaimana ia bisa sampai

terdampar di sini.

Pekerjaannya yang lama, sebagai pegawai sebuah perusahaan jasa informasi,

telah pula ditinggalkannya, karena di tempat asing ini ia mendapatkan

tawaran yang lebih menggiurkan. Gaji yang lebih besar dan

fasilitas untuk mengembangkan diri yang lebih lengkap.

Dan yang paling tidak bisa dibayangkannya adalah bahwa ia telah pula

meninggalkan sahabat karibnya di kota di mana mereka dilahirkan

dan tumbuh bersama. Karl kadang berpikir apakah ini sebenarnya

alasan mengapa sampai ia pergi dan bekerja di sini. Apakah benar

hal itu yang ia inginkan atau hanya untuk menghindar karena ia tidak

bisa melihat sahabat karibnya berbahagia di samping orang yang telah

dipilihanya. Orang yang bukan dirinya.

Karl tidak bisa memberikan jawaban, walapun pertanyaan tersebut

diajukannya sendiri. Senyum getir tersungging di sudut bibirnya

sesaat dan kemudian hilang kembali. ”Mungkin memang benar kata

orang”, katanya dalam hati, ”bahwa kepada dirinya sendiri pun orang

belum bisa terbuka.” ”Mengenal diri sendiri?”, kekehnya dalam hati,

”Omong kosong!” ”Membohongi diri sendiri, itu baru benar!” katanya

kepada dirinya sendiri sambil mengingat-ingat segala hal yang telah

dilakukannya dalam rangka kepergiannya ke sini.

Ia ingat dengan jelas saat-saat terakhir bertemu dengan sahabat karibnya

Katanja. Saat di mana Katanja mengenalkan kekasinya. Karl

ingat betul bagaimana ekspresi keterkejutannya, bagaimana kekakuannya

menjabat tangan kekasih sahabat karibnya. Dan bagaimana

kekikukannya dalam berbincang-bincang dengan mereka.

Dan kemudian ia pergi tanpa pamit secara langsung kepada Katanja.

Hanya sebaris kalimat dalam e-mail yang dikirimkannya.

527

”Semoga sukses selalu dan berbahagia. Sahabatmu selalu, Karl”

”Sahabatmu selalu!” batinnya, bisakah ia selalu menjadi sahabat

dari Katanjanya, yang tela memiliki orang lain dalam hidupnya,

yang tidak lagi pernah memintanya datang hanya sekedar untuk

berbincang-bincang. Atau menelopon hanya untuk bergurau atau

sekedar mengingatkannya untuk makan siang atau sholat.

”Waktu telah berubah Karl dan mungkin Katanja juga sudah berubah,”

kata suara di dalam kepalanya, ”ia mungkin sahabatmu, tetapi ia telah

memiliki seseorang. Apa yang kamu bisa harapkan dari hal ini?”

Karl kembali termenung, ”munkinkah hal itu benar?”

Setelah seseorang menemukan pendamping hidup, tidak diperlukanlah

lagi orangorang lain, selain sang kekasih. Di dalam dunia ini hanya

mereka yang ada. Hanya mereka yang berarti. Orang-orang lain,

teman, sahabat dan kenalan hanya merupakan pemain figuran yang

tidak perlu diingat atau diperhatikan keberadaannya.

Mungkin iya, mungkin juga tidak.

Karl kembali tidak bisa menjawab. Atau mungkin memang tidak perlu

dijawab. Langkah yang telah diambilnya tidak memiliki jalan balik.

It is a point of no return. Dan ia tidak menyesali. Hanya rasa sepi.

Sendiri. Sunyi yang ada dalam hati.

Dan Karl pun kemudian mengela hapas, bangkit dan melangkahkan

menuju entah kemana kakinya membawa, hanya sekedar untuk menghabiskan

hari ini. Tak terasa ia melantunkan sebuah puisi - yang

ditemukannya tidak sengaja di internet - menari bersama hantu

yang menurut penulisnya adalah ungkapan untuk orang yang sedang

berlatih gerak sendirian. Akan tetapi Karl berpendapat lain. Menurutnya,

puisi itu menceritakan orang yang biasa menari bersama

pasangannya, akan tetapi walaupun kemudian pasangannya pergi

meninggalkannya dan ia tetap menari. Sendiri. Menghibur diri. Who

knows?

”Die vergange Eingebung beibringt mir, wie man benehmen soll. Das

Gefuehl von Unabhaengigkeit beibringt mir, wie man lieben und sich

kuemmern soll. Und undenlicher Hoffnungsstrahl beibringt mir, wie

528 BAGIAN 9. KISAH-KISAH ANTAR RUANG DAN WAKTU

man mit der Konsequenzen wegen Waehlen ueberleben und um das

Leben zum Leben kaempfen soll. Alles erinnert mich immer, wie ewig

Freundschaften statt Liebe sind.”

”The inspiration from the past, it tells me how to behave. The feeling

of independence, it tells me how to love and to care. And the never end

ray of hope, it tells me how to live along with consequences because

choices and to fight for life to live. All always remember me, how

friendships instead of love eternal are.”

”Renungan masa lalu mengajarkan bagaimana berkelakuan. Rasa

kemandirian mengajarkan bagaimana mencintai dan melayani. Dan

berlimpahnya cahaya harapan mengajarkan bagaimana terus hidup

dengan konsekuensi pilihan hidup dan berjuang dalam hidup untuk

hidup Semuanya selalu mengingatkan, bagaimana kekalnya persahabatan

melebihi cinta.”

Deutschland, Musim Dingin 2004.

Semakin bingung sang pemuda. Tadinya ia mengharapkan tulisantulisan

selanjutnya akan semakin jelas. Sayangnya tidak.

Cinta Kampret

Qantum Dot–Duh, cinta itu adalah masalah yang lebih rumit dari

Quantum Dot. Soalnya cinta itu adalah masalah kehidupan sedangkan

Quantum Dot hanya ada pada dunia ambisi. Tertawalah! Karena

memang patut ditertawakan. Gejolak jiwa muda, kadang membuat

hidup ini ceria, kadang malah menggiring diri masuk dalam lubang

perangkap sendiri. Perangkap hati. Pilihan yang sulit dilakukan. Di

sini sayang, di sana suka. Realistis malah menjadi musuh utama yang

ingin sekali dihindari.

Arie, seorang mahasiswa pasca sarjana seni dunia renik sedang

berjuang menetapkan hatinya yang belakangan hari ini gundah.

Bukan karena pelajaran intuisi kuantum yang mempuat pusing, akan

tetapi dua insan, yaitu Julia dan Amanda. Dengan istilahnya sendiri,

Arie menetapkan sepihak bahwa Julia adalah domestic patner dan

Amanda dan dirinya sedang menjalani serious relationship.

Belakangan saat ia menghadiri seminar internasional ”Penerimaan

529

Publik terhadap Seni Dunia Renik Terdistorsi” di Kobe, Jepang,

bertemulah ia dengan Yumi. Salah seorang peserta seminar. Dan

tanpa sadar Arie menetapkan Yumi dan dirinya sedang dalam distance

relationship.

Dengan adanya batasan geografis tidaklah sulit bagi Arie untuk membagi

cintanya kepada ketiga insan tersebut. Masing-masing rela

menerima frekuensi curahan kasih yang sedikit karena beranggapan

ia sedang sibuk dengan kuliahnya. Suatu pengertian yang menguntungkan.

Akan tetapi bukankah seorang pecatur mahir harus pula mendapat

lawan yang sebanding? Demikian pula kawan kita Arie. Secara tak

sengaja Amanda terpilih bersama beberapa teman-temannya untuk

mewakili perusahaan mengadakan pameran di Dsseldorf, Jerman. Dan

tentu saja kesempatan ini tidak disia-siakannya untuk bertemu dengan

Arie, sang kekasih. Dan yang amat kebetulah orang tua Julia tinggal

di kota yang sama. Kemungkinan Julia ada di kota tersebut pada

setiap akhir minggu amat besar. Pusing tujuh keliling diperolehnya.

Dan mungkin karena penatnya, Arie mengambil jalan untuk memperoleh

solusi dengan melakukan curhat ke Yumi mengenai hal itu. Akan

tetapi dengan pengandaian-pengandaian, bahwa yang mengalami hal

tersebut adalah temannya.

Waktu pun berlalu dan Arie semakin terlarut dalam jadual-jadual ketat

pencurahan kasih sayang kepada ketiga hatinya: Amanda, Julia

dan Yumi. Hanya waktu yang dapat mengawasi sampai mana kesanggupan

Arie melakukan kehidupan seperti itu, bahkan di sela-sela

kesibukannya merampungkan tesis paska sarjana-nya.

”... jangan main api, bila takut terbakar, jangan main air, bila takut

basah, ... yang menanam, akan menuai,”

Hasil kolaborasi dengan Kumara dan Imran. Deutschland, Musim

Dingin 2004.

Pemuda itu sedikit tersenyum saat membaca tulisan terakhir. ”Ini

tentu yang dimaksud dengan kerangka cerita,” gumammnya, ”mungkin

menarik apabila kerangka ini dikembangkan lebih lanjut.”

Dahinya berkernyit saat melihat tulisan selanjutnya yang dituliskan

530 BAGIAN 9. KISAH-KISAH ANTAR RUANG DAN WAKTU

dalam bahasa asing yang ia tidak kenal. Tapi ia berusaha untuk terus

membacanya.

Der Drache

Ich drehte meinen Kopf nach links und dann wider nach rechts. Es

tat mir immer noch weh, wenn ich das machte, seit dem letzen Kampf

des Krieges gegen die vereinigen Lndern.

Nach dem Krieg musste man wieder normales Leben wieder weiterfhren,

wie man frher gemacht hatte. Und ich bin war ein Beamter,

dann musste ich als Beamter wieder arbeiten. Hier in diesem dunkelen

und feuchten Raum von Abteilung 673-JON-1 des Verteidigungsministerium

von dem Land Prankpurt-ketoprak.

Nun konnte ich mich aber nicht mehr entspannen, weil man alle renovieren

musste, was man beim Krieg zerstrt hatte. Wir mussten uns

beeilen, alle in ordnung zu bringen. Oder wurde es anderen Krieg

geben, der von der Armut, dem Hunger, der Kranke, dem Opfer herrhrte.

”Scheie!” rief ich im Herz, als Das Telefon pltzlich klingelte, whrend

ich beim Gedanken war.

”Fei Hung,Wong, Abteitulung 673-JON-1, guten Morgen,” antwortete

ich unbegeistert. Ich vermutete, dass es nur anderer Chef war, der

neuen Befehl erteilen wollten. Das bedeutete mir neue Arbeit. Und

es war egal, ob meine laufende, jetztige Aufgaben schon erledigt oder

nicht sind.

”Guten Morgen Herr Wong, hier ist Wiro von Abteilung 212-GEN-1”

rief berhmter Ton da drben von anderer Seite erstauntlich.

”Da du ja, Wiro,” antwortete ich frhlich, ”Was gib’s denn da?”

***

”Es gibt keine besonderes. Es geht tja nur darum..,” sagte Wiro

unwahr-scheinlich.

”Um was meinst du?” antwortete ich ungeduldig, und bestimmt sehr

begeistert.

531

”Na ja, wie soll ich das sagen?”, war er still, und dann sagte er weiter,

”Es geht um die Bombe!”

”Die Bombe? Welche Bombe meinst du?” reagierte ich panic, weil es

noch meine Aufgabe war, die Bombo aufzuschreiben.

”Die Bombe, die bei Syes Gurke ist” redete er weiter, ”Es ist noch

nicht vorbei. Ich habe Information, dass es noch viele von der gibt.

Und die werde aktiviert, wenn wir die erste deaktiviert werden.”

”Woher weisst du das, wenn ich fragen darf,” frage ich unangenehm,

weil normaleweise konnte man nicht wissen, wer der Geheimdienst war.

”Ich kann nur dir seinen Kode sagen” antwortete er vorsichtig, ”Man

nennt ihn als 007.”

***

Es gab lange Ruhe inzwischen, bevor wir davon wieder redeten.

”Also, du Wiro,” sagte ich langsam und entspannend, ”Darf ich mit

ihm reden, dem Geheimdienst?”

Dann gab es wieder keinen Ton zwischen uns.

”Na ja..,” sagte er wieder unwarhscheinlich, ”Ich habe ihn versprochen,

dass ich niemals jemanden mit ihm treffen lasse.”

”Verstehe, kein Problem Kumpel!” antwortete ich, als ich schon die

Antwort wusste.

”Wills du die Informatio, die du mir gegeben hast, offiziel melden, or

nur ’of the record’?” fragte ich langsam.

”Ich will das offiziel machen, weil es sehr wichtig fr die Leute in der

Nhe, aber kannst du denn die aufscreiben, dass die von Unbekannte

kommt?” fragte er weiter.

”Eigentlich ja, das kann ich machen” antwortete ich sicher, ”aber man

kann nicht die Aktion von der Bombe-Abteilung erwarten, weil unbekannte

Information niedrige Prioritt haben wurde.”

”Ich wie es, und das sagte 007 auch,” raunte er fast unhrbar.

532 BAGIAN 9. KISAH-KISAH ANTAR RUANG DAN WAKTU

”Lassen wir uns das Thema wechseln, was denks du?” sagte ich pltzlich,

weil die Atmosphere nicht mehr angenehmen war.

”Wie geht’s deiner Familie?” fragte ich ihm.

”Es geht immer gut nach dem Krieg. Nun haben wir fast ganz normales

Leben. Der Garten fehlt noch,” antwortete er erstaunlich.

”Schn das zu hren,” kommt der Satz von mir.

”Und wie bei dir, ist alles in Ordnung?” fragte er mir zurck.

”Alles ist in Ordnung, und besonders auch die Kinder,” antwortete

ich.

***

Nach dem Gesprch kam ich wieder zur Gedanken, was es mir noch

heutzutage fehlte.

***

Kaltbltige Geschichte war es.

Wiro sa entspannt wieder, nachdem er den Fei Hung anrief. Das Problem

war schon gelscht. Das kam von dem Geheimdienst 007.

Er dachte noch daran, wie es war, als 007 mit ihm telefonisch davon

redete. Es war eine Stunde lang, und es war sehr spannend, wie er in

richtigem Krieg wre.

”Du bist Wiro, richtig!” sagte jemand mit schwerer und tiefer Stimme,

als er von Dunkelheit kme.

”Ja, ich bin Wiro. Und wer ist das?” antwortete er unsicher, weil er

die Stimme nicht kannte.

”007 bin ich,” antwortete er kurz.

”Wenn da du bist, was ist die Katasthrope von unserer Tage, wobei wir

gegen gefrhlichen irgenjemand zusammen kmpfen?” fragte er langsam

und vorsichtig.

”Da gab es nur eine Katastrhope. Sie war ’Kolor Ijo’,” antwortete er

533

sicher, wieder tiefer und sogar mit schrecklihcem Ton.

Als der Mann das sagte, hrte ich, dass wie ich in die Vergangenheit

zurck-gezogen wrde, wo es den Schrei von den Opfern gab, die von

Kolor Ijo gettet wurde. Der Schrei war in einer Videoaufnahme.

Sechsundzwanzig Frauen lagen auf dem Flor eines Hauses. Die waren

Ge-schwister: Oma, Tante, Muter, Tochter, Nichte und Enkeltochter.

Die feierten gerade. Und dazu bestellten sie die Gastronomie von

einem Restaurant mit drei Mitarbeiter, unter der der Kolor Ijo sich

versteckte.

Eigentlich gab es schon eine Warnung oder besser besser wenn mah

das als Vorhersage nannte. Die kam von der Frau Mantili Madangkara,

eine Psycholog-in-Chemikerin, die mit Psychopath und Chemie

arbeitete.

Die Frau sagte, dass es jemand ist, der frisch vom Gefngnis freigellasen

wurde. Er war vermutet noch nicht ganz gesund, aber die Arzt konnte

nicht prfen, dass er nocht ein Irrer war. Er passte alle Prfungen und

Messungen. Und mit einer Empfehlung konnte er normal arbeiten.

Er war so fleisig. Er kam immer mit guten Ideen. Und eine von denen

war eine Party von weibliche Geschwister auf dem Land fern von den

Leuten.

Eine Family war gefangen, und bestellte die Angebot. Mit der ganzen

weiblichen Geschwister fuhren die zum Tod, zur Sklaverei.

Er ttete seine Mitarbeiter nicht, aber er machte die Aktion vor der,

dann kommen die zur Verrcktheit fr immer. Die sind noch beim Asyl.

Die Anruf von 007 erinnerte ihn immer daran, und auch diese Mal,

obwohl es um die Bombe statt kalbltiger Mrder von Kolor Ijo.

Aber es war jetzt vorbei. Er sagte dem Fei Hung das Bescheid weiter,

obwohl es noch unoffiziell war. Er wollte einfach gleich nach Hause

gehen, die Family in der Arme zu nehmen.

***

”Ich werde nich kommen,” sagte Der Drache den Herrn von ihm.

534 BAGIAN 9. KISAH-KISAH ANTAR RUANG DAN WAKTU

”Dann mussen Sie sterben,” antwortete einer von denen.

”Dann machen Sie. Sterben Sie mich einfach,” beantwortete er wieder.

Danach kam eine Kugel durch der Luft in die Brust. Schnell and zwar

sofort kam der Drache um das Leben, weill er ’in Aktion’ nicht mehr

wollte.

Alle waren da stehend zur Erinnerung der Gruppe EBBE 2004 und

Kolaboration mit Wong Fei Hung.

Ende – 2005-01-29

Setelah sedikit frustasi, pemuda itu kemudian menarik napas dan mulai

dengan tulisan selanjutnya.

Akiko

Adalah seorang anak, Akiko namanya. Ia seperti anak-anak pada

umumnya, penuh ceria, lucu, dan tidak membosankan. Sejak bangun

tidur sampai mau tidur lagi ada saja kelakuannya seakan-akan tidak

pernah kehabisan energi, hal itulah yang membuat orang tuanya gemes

dan ingin menggisangnya. Oh ya, selain itu ia juga mudah makannya.

Atau kalau boleh dikatakan, amat mudah sehingga siapa pun yang

menyuapinya akan sangat senang. Mungkin sifat ini merupakan sifat

turuanan, terutama dari ayahnya yang gemar menggali.

Suatu waktu, ia bermain-main putar-putar sendiri sambil terus mengoceh.

Dan tak lama kemudian akhirnya ia berjalan dengan terhuyunghuyung

karena pusing. Akan tetapi seperti tidak ada kapok-kapoknya,

Akiko terus melakukannya lagi dan lagi, walaupun sudah diberitahu

bahwa hal itu dapat membuatnya pusing. Anaknya memang benarbenar

top deh! Orang tuanya sampai tidak tahu harus berkata apa

lagi. Dan yang dapat dilakukan hanyalah tersenyum sambil terus

memperhatikan.

Tuh pusing, kan! kata bunda. Akiko hanya tertawa sambil terus mengoceh

dengan bahasa planetnya.

Entah dia pusing atau hanya bercanda, lalu katanya, Wa wa wa wa,

sambil terus berjalan ke sana kemari.

535

***

Persiapan pergi ke negeri impian Jerman sudah aku persiapkan sejak

jauh-jauh hari sebelumnya. Aku sangat senang karena tak lama lagi

aku akan bertemu lagi dengan ayah Akiko, setelah sekian lama kami

berpisah. Mungkin ada 9 bulan lamanya. Ketika itu umur Akiko

baru 3 bulan. Dalam waktu yang tidak lama, keperluanku dan Akiko

sudah aku atur sedemikian rapi dari yang hal kecil sampai yang rumitpun

sudah kupersiapkan. tentu saja semua aku lakukan tidak sendiri,

dibantu dengan oma dan opa Akiko. Lama juga persiapannya, sekitar

dua bulan itupun masih ada saja masalah, tapi aku sangat bersyukur

karena ALLAH selalu membantuku, sehingga akhirnya selesailah dan

kamipun dapat berangkat dan akhirnya berkumpul kembali. Ayah,

bunda dan Akiko buah hati kami.

***

Pencet-pencet Tombol. Akiko memiliki beberapa kegemaran, yang

salah satunya adalah memencet-pencet tombol. Entah itu tombol

lampu, komputer atau pun TV. Semua digemarinya untuk ditekantekan.

Apalagi apabila perbuatannya tersebut menghasilkan perubahan

yang dapat ditangkap panca inderanya, misalnya suara, cahaya

dan sebagainya.

Pernah suatu waktu Akiko kaget sendiri saat sedang melakukan kegemarannya,

yaitu waktu ia mematikan lampu di ruang tidur. Sesaat

setelah tombol lampu yang terletak di lantai dipencetnya, keadaan

menjadi gelap gulita dan ia pun kemudian menangis,

Deedaa, deedaa! panggilnya kepada sang bunda.

Akiko tidak boleh takut, lampunya hanya mati saja, kata sang bunda

menerangkan dan kemudian menunjukkannya dengan menyalakan dan

kemudian mematikan lampunya kembali.

Ya itulah, setelah tahu kalau hal itu tidak menakutkan dan berbahaya,

kembalilah Akiko melakukannya. Dan pada suatu waktu lampu tersebut

mogok untuk nyala kembali alias mati beneran. Walaupun itu

bukan seluruhnya akibat perbuatan Akiko. Melainkan karena lampu

itu juga sudah lama tidak diganti.

536 BAGIAN 9. KISAH-KISAH ANTAR RUANG DAN WAKTU

Tombol Berbahaya. Ternyata selain menekan tombol-tombol yang

tidak berbahaya, Akiko pernah pula melakukan perbuatan yang cukup

berbahaya, yaitu ia memutar tombol kompor listrik (Elektroherd auf

Deutsch), di mana saat itu bunda dan ayahnya tidak menyadari. Untung

saja tidak terjadi apa-apa karena uap akibat sisa-sisa minyak

yang tertumpak di atas pelat pemanas Elektroherd cepat terlihat, sebelum

tangan bunda atau ayah keburu menyentuhnya.

Apiici..! katanya, saat diberitahu bahwa hal tersebut berbahaya. Itu

adalah ungkapan Akiko untuk meminta maaf atas perbuatannya. Sejak

Akiko telah memiliki kemampuan memutar tombol Elektroherd,

bunda dan ayah menjadi lebih hati-hati dan lebih sering memeriksa

tombol-tombol tersebut setelah meninggalkan dapur. Hanya untuk

berjaga-jaga agar kejadian tersebut tidak terulang lagi dan dapat

menyebabkan hal-hal yang berbahaya.

***

Isyangkar dan Over and Over Again. Percayak tidak, jika Akiko

telah memiliki beberap lagi kegemaran, selain Schnappi das kleine

Krokodil tentunya. Coba tebak? Lagu tersebut adalah Isyangkar

yang dinyanyikan oleh Mustafa Sandal dan Gentleman serta Over

and Over Again yang dinyanyikan oleh Nelly dan Ted McGraw Setiap

satu dari kedua lagi tersebut diputar di TV, bergoyanglah Akiko.

Dengan kadang-kadang tangannya diputar-putar pergelangannya atau

diangkatnya seluruh lengannya ke atas. Tak jarang pula diputar-putar

badannya. Lucu sekali melihatnya.

***

Mandi dan Main Pancuran. Akiko sangat tidak suka mandi karena

suatu waktu pernah hampir terpeleset dalam bak mandi (bathtup atau

Badewane) dan kemudian ditangkap bunda sehingga tidak terjatuh.

Akiko sayang, mandi yuuk! kata bunda.

Waaahhh, waahhh! tangis Akiko apabila terus dipaksa, setelah sebelumnya

menolak dengan menggeleng-gelengkan kepalanya. Dan

acara mandi menjadi suatu acara yang amat merepotkna karena

Akiko meronta-ronta tidak mau dibasuh dengan air.

537

Akan tetapi pada suatu waktu bunda menemukan bahwa Akiko senang

main pancuran (shower) saat mandi dan lupa untuk berteriak-teriak

dan meronta-ronta. Oleh karena itu kemudian hari berkatalah bunda

kepada Akiko,

Main pancuran yuk! sambil tersenyum.

Heg! kata Akiko, yang berarti iya bunda dan bergeraklah ia dengan

semangatnya ke kamar mandi sebelum untuk kedua kalinya diajak.

***

Pecah dan Jatuh. Karena seringnya Akiko melempar atau menjatuhkan

barang-barang sehingga menimbulkan suara keras dan kadangkadang

merusak barang-barang tersebut, bunda menasehati agar hal

itu dilakkukan karena nanti barangnya dapat pecah.

Cah! kata Akiko, suatu saat. Dan bunda dan ayah tertawa, karena

yang dimaksudnya dalah jatuh.

Ya, Akiko mengasosiasikan bahwa jatuh itu sama dengan pecah. Untuk

sementara bunda dan ayah membiarkannya karena tentulah amat

sulit menjelaskannya pada anak seumur Akiko mana yang merupakan

proses dan mana yang merupakan akibatnya.

***

Tumbuh Gigi dan Sariawan. Masa yang paling menyedihkan bagi

bunda dan ayah Akiko adalah saat Akiko sedang tumbuh giginya dan

sekaligus sariawan di daerah dekat tumbuh giginya. Untuk menyuapi

Akiko bunda harus berhati-hati agar tidak mengenai bagian yang

sakit, yaitu bagian bawah kanan agak tengah mulutnya. Lain rasanya,

karena biasanya Akiko makan dengan menggali (amat lahap). Saatsaat

tersebut Akiko menjadi sangat sensitif dan manja. Selain itu

yang paling membuat sedih adalah bahwa Akiko ingin makan atau

mengemil, ia tidak dapat melakukannya karena mulutnya sakit dan ia

kemudian menangis. Bunda dan ayah sedih sekali saat itu.

***

Jaket Coklat Tua. Ada sebuah benda yang amat tidak disukai oleh

Akiko. Siapa pun yang memakai jaket coklat tua tersebut entweder

538 BAGIAN 9. KISAH-KISAH ANTAR RUANG DAN WAKTU

ayah oder ibu, Akiko tidak menyukainya. Pernah suatu waktu Akiko

sedang tidak enak perasaannya dan tidak mau digendong ayah, padahal

ayahnya sedang kangen sekali. Kemudian terpikir oleh ayah apakah

itu disebabkan oleh jaket coklat tua tersebut. Maka jaket coklat tua

tersebut dilepaslah oleh ayah dan digantungkan.

Ayah ini nah, gr! kata bunda dengan tertawa, Emang anaknya aja lagi

ga mau digendong ayah.

Tuh mau kan? kata ayah dengan gembira.

Ternyata memang Akiko benar-benar tidak suka jaket coklat tua itu.

Entah apa alasannya. Mungkin suatu saat setelah ia besar dan masih

ingat akan hal itu, barulah ada penjelasannya. :)

***

* menggisang: mencium dengan gemas (dari bahasa Banjar).

* menggali: makan dengan amat lahap dan banyak, seperti halnya kuli

atau tukang becak (pekerja fisik) yang seakan-akan menggali nasinya

saking lahapnya makan.

* bahasa planet: bahasa anak balita yang belum dapat dimengerti

oleh orang dewasa.

** Hasil kolaborasi dengan Milinding di awal tahun 2005 Deutschland

– 2005-02-03

”Ini bagus,” ucap pemuda itu puas. Kepuasan saat menemukan cerita

yang cocok dengan keingingan hatinya saat itu. Ia lalu melanjutkan

bacaannya dengan membuka halaman berikutnya.

Atraktor Kelam

Atraktor kelam, sang pengambil keputusan. Pengadilan virtual yang

telah dilaksanakan dan dipercaya beratus-ratus tahun untuk menggantikan

pengadilan biasa ternyata selama beberapa puluh tahun belakangan

ini memiliki kecenderungan untuk menghasilkan keputusankeputusan

yang amat biner atas kasus-kasus yang ada, yaitu bersalah

atau tidak bersalah. Tanpa mempertimbangkan aspek-aspek yang

mendorong terjadinya kasus tersebut. Seorang mahasiswa perguruan

539

tinggi bidang informatika hukum virtual, Pferiuk X secara tidak sengaja

mencermati hal ini karena adanya email gelap yang nyasar ke

dalam mailboxnya. Tantangan-tantangan dihadapinya saat ia mengajukan

topik tugas akhirnya Kegagalan Metoda Samar Pengambilan

Keputusan dalam Pengadilan Virtual, datang tidak hanya dari kalangan

akademisi akan tetapi juga dari kalangan teknokrat. Dengan

berbekal semangat dan integritas serta dukungan dari kaum underground

yang menjadi korban kepincangan keadilan digital, berusaha

Pferiuk X untuk menggali informasi dan memaparkannya kepada publik

mengenai ketidakstabilan sistem pengadilan digital mereka saat itu.

Era Keputusan Digital. Jauh setelah metoda samar (fuzzy logic)

diperkenalkan oleh Dr. Lotfi A. Zadeh dari University of California,

Berkeley dalam era tahun 60-an, kepercayaan orang-orang akan

keunggulan metoda ini untuk mengadakan logika diantara bilangan

biner ’1’ dan ’0’ atau ’benar’ dan ’salah’ atau ’ya’ dan ’tidak’, semakin

tinggi. Terlebih setelah suatu kasus dicobakan dalam model

simulasi Pengambilan Keputusan Digital dengan menggunakan superkomputer

IBM Blue Gene/L di Rochester, USA. Dengan menggunakan

milyaran data dari seluruh dunia sebagai kasus pembanding,

dari berbagai kultur budaya dan hukum adat, serta berbagai algoritma

rumit yang memasukkan aspek-aspek yang mungkin terpikirkan

oleh para pakar dari berbagai bidang hukum, simulasi tersebut dijalankan

untuk menentukan kesalahan bagi para pelaku dalam kasus

Pencurian Spektakuler oleh keluarga Mayonari. Dalam persiapan perampokan

terkenal tersebut para pelaku berkolaborasi dengan berbagai

pihak dan kemudian menggunakan hasilnya untuk membangun suatu

koloni hibrida (hybrid) manusia, mesin dan tumbuhan yang di kemudian

hari ternyata bermanfaat untuk mengatasi ’bencana alam besar’

dan menyelamatkan banyak manusia.

Pilihan menggunakan pengadilan digital untuk kasus ini adalah

mengingat jumlah pihak terkait yang sangat banyak dan internasional

serta belum adanya hukum-hukum yang mengatur akan efek-efek

’baik’ di kemudian hari yang dapat menjadi hal yang meringankan

hukuman. Selain itu, bahwa pencurian dilakukan secara sistematis

dan berkala selama kurun waktu 20 tahun sehingga hampir boleh

dikatakan baik nasabah maupun bank yang bersangkutan tidak mengalami

kerugian, karena setelah beberapa saat jumlah yang diambil

540 BAGIAN 9. KISAH-KISAH ANTAR RUANG DAN WAKTU

dikembalikan, berdasarkan pembagian keuntungan yang diperoleh dari

keuntungan diseminasi awal pembangunan koloni hibrida tersebut.

Akhir tahun 2120 digunakan secara resmi di muka bumi Pengadilan

Virtual sebagai implementasi pengambilan keputusan yang dilakukan

secara digital. Sejak saat itu orang tidak perlu lagi pergi ke pengadilan

karena sidang dapat dilaksanakan secara on-line dan keputusan akan

diberlakukan secara instan. Kasus-kasus kejahatan diklasifikasikan

berdasarkan berbagai macam kategori dan cross reference dibangun

sebagai basis data multi lingua dan kultur. Semua informasi tersebut

dapat diakses secara terbuka oleh siapa saja untuk kasus-kasus yang

telah dijatuhkan keputusannya. Dengan ini diharapkan keterbukaan

akan memberikan peringatan buat bad guy untuk tidak mencoba-coba.

Apabila sebelumnya dalam persidangan biasa, para pemeran persidangan

perlu hadir dalam ruang dan waktu yang sama, maka dalam

sistem pengadilan virtual ini, semua dilakukan secara on-line. Dengan

menggunakan sistem penerjemah juri dan hakim dapat diambil dari

tempat yang amat berjauhan dan secara acak sehingga mustahil dapat

terjadi kebocoran informasi dan apabila terdapat, masih dipersulit

oleh faktor geofrafis untuk diintimidasi secara langsung. Untuk itu

perlu terlebih dahulu dilakukan perancangan sistem peradilan virtual

secara agak detil sehingga dapat digunakan sebagai atmosfer dalam

mengalirkan cerita yang sarat dengan istilah-istilah teknologi.

Tokoh yang terpikirkan baru beberapa kelompok dan tokoh, yaitu:

Pferiuk X sang penggali informasi, kaum underground para korban

ketidakadilan digital, keluarga Mayonari para penguasa sistem informasi,

kaum hibrida yang amat minor dalam sistem hukum, Wei Einstein,

cucu buyut Virtuel Enstein sang pencipta Program Pengadilan

Virtual, yang memiliki source code asli dari program tersebut dan

orang-orang yang berlaku sebagai akademisi, teknokrat, budayawan

dan kaum meta fisika informasi yang memiliki kemampuan menyimpan

informasi dalam bentuk energi dalam makhluk hidup. Kelompok

terakhir diduga merupakan orang-orang yang sadar lebih dulu mengenai

kepincangan sistem peradilan digital.

Konflik. Peliknya proses penggalian informasi yang disebabkan oleh

luasnya ruang lingkup yang harus dicermati merupakan atmosfer

utama cerita ini. Orang harus dapat menentukan algoritma yang

541

tepat agar informasi dapat digali secara efesien dan tepat. Mungkin

adanya kepentingan pribadi seperti jatuhnya keputusan yang tidak

adil secara nalar terhadap salah seorang sahabat Pferiuk X dapat

memacunya untuk menggali informasi lebih dalam.

Lompatan Teknologi. Apabila diperlukan dapat dilakukan penggunaan

teknolog-teknologi hitam (black technology) seperti ’warp’,

’jump in time’, ’teleport’, ’anti-gravitation’ dan lain-lainya asalkan

dapat membangun cerita menjadi semakin imaginatif dan kaya. Akan

tetapi tidak memusingkan atau menyesatan dan membuatnya malah

menjadi tidak menarik. Setting Waktu dan Tempat - Untuk mudahnya

waktu diletakkan di masa depan dari saat ini (2005) dan di

suatu daerah yang belum ada atau yang telah ada dengan terlebih

dahulu melakukan survei geografis melalui internet agar terlihat agak

riil (tidak mengada-ada).

(Hasil kolaborasi dengan Milinding dan Elkariza, Deutschland, 12.3.2005)

– 2005-03-12

Pemuda itu hanya menggeleng-gelengkan kepalanya yang menjadi pusing

karena banyak kata-kata yang ia tidak mengerti tercantum dalam

tulisan terakhir. Tapi ia tidak menyerah dan terus membaca.

Air Terjun Meluap

Sudah lupa lelaki itu kapan mimpi itu diperolehnya sebagai bunga

tidur. Sudah lama. Sudah lama sekali. Kenangan itu muncul kembali

saaat istrinya menceritakan mimpinya yang penuh dengan air, seperti

banjir bandang yang timbul akibat tsunami. Seperti terlihat di dalam

televisi saat kota-kota di propinsi Aceh tergenang oleh air laut yang

bercampur dengan air sungai. Membawa segala macam benda, hidup

dan mati bersamanya. Mengalir ke sana kemari.

”Air di mana-mana,” kisah sang istri.

Akibat cerita mimpi sang istrilah, teringat kembali lelaki akan mimpinya,

yang juga menceritakan tentang air yang meluap dari suatu air terjun,

menggenangi kota dan bangunan di sekitarnya.

***

Alkisah di suatu tempat di suatu negara di suatu planet pada su542

BAGIAN 9. KISAH-KISAH ANTAR RUANG DAN WAKTU

atu waktu, terdapat suatu kota yang indah. Dibangun dan ditata

sedemikian rupa asri dan selaras dengan alam sekitarnya. Udara

bersih dan kicau burung memenuhi atmosfer, memberikan rasa nyaman

pada orang-orang yang tinggal di sana.

Entah apa namanya kota itu. Akan tetapi ada satu bagian kota

yang bener-benar mengagumkan. Bagian tersebut dibangun persis

di sebelah suatu air terjun yang tinggi, sehingga orang-orang dapat

menikmati keindahan air terjun itu setiap saat. Percikan air yang

jatuh dari ketinggian, terbawa oleh angin membuat udara menjadi

segar dan nyaman. Bahkan di siang hari yang sedang panas-panasnya.

Suatu gedung bertingkat yang megah yang berfungsi sebagai tempat

tinggal dibangun di atas sungai tepat diseberang air terjun. Orangorang

yang mampu secara finansial dapat menempati gedung tersebut

yang memiliki pemandangan utama air terjun dan sungai lebar di depannya.

Gedung itu sendiri bila dilihat dari atas langit berbentuk agak

elips atau lonjong telur sebagai ganti persegi atau kotak sebagaimana

lazimnya suatu gedung bertingkat. Hampir dua ratusan lantai terdapat

di dalam gedung itu.

Para pemilik hunian tersebut memiliki masing.masing balkon yang berarah

ke air terjun tersebut. Bagian lain yang tidak mengarah ke air

terjun, digunakan untuk tempat berjemur, karena tidaklah mungkin

berjemur di hadapaan air terjun yang membuat udara menjadi lembab.

Di dalam balkonnya masing-masing para pemilik hunian dapat

menikmati air terjun dan percikan airnya secara privat tanpa gangguan

dari pengunjung yang harus berjejal-jejal berdiri di suatu pinggiran

sungai untuk dapat menikmati air terjun dan udara segarnya.

Selepas dari air terjun dan apartemen bertingkat hampir dua ratus

tersebut dapat ditemui suatu taman, yang merupakan pusat kegiatan

anak-anak bermain dan ibu-ibu pengasuhnya yang melingkari suatu

kolam dilengkapi dengan beberapa patung dan air memancur di tengahnya.

Terutama di sekitar waktu makan siang, berkumpul orangorang

di sekitarnya. Teman-teman sekantor, ayah dengan anak dan

istrinya, orang-orang tua dan lain-lain. Merek memanfaatkan waktu

makan siang untuk bersama-sama berbincang dan mengisi perutnya.

Bermacam-macam hidangan dibawa oleh orang-orang tersebut, dari

yang sederhana seperti sandwich dan biskuit sampai rantangan yang

543

berisikan beefsteak dan gado-gado ataupun sayur asam. Tempat yang

meriah dan sederhana, serta rapih.

Mimpi itu tidak menceritakan lagi bagaimana lebih lanjut landsekap

dari bagian kota tersebut. Hanya sampai di situ. Imaginasi sang

pemimpi mungkin yang membatasinya sendiri.

Entah bagaimana, sang lelaki yang juga ada di sana, yang sedang

dalam perjalanan menuju taman, selepas kerja di kantornya, untuk

makan siang bersama anak dan istrinya, sedang menuruni suatu

tangga di muka taman yang berseberangan dengan lobby gedung

kantornya, ingin berhenti dan memandangi air terjun tersebut. Dari

tangga tersebut dapat orang melihat apartemen dengan hampir dua

ratus lantai dan air terjun itu dengan jelas, bahkan buih-buih air

dan udaranya, yang tampak kadang-kadang bergemerlap membiaskan

sinar matahari yang kebetulan jatuh pada sudut yang tepat.

Tiba-tiba terbersit suatu firasat bahwa ada yang aneh dengan gelembunggelembung

air dan udara di sekitar air terjun tersebut. Perasaan

seperti melihat keruhnya air secara tiba-tiba di dalam sungai yang

jernih, yang menandakan bahwa di hulu telah terjadi banjir bandang.

Banjir yang membawa informasi berupa kekeruhan air yang

samar-samar, akan tetapi makin lama makin kerap dan jelas.

Semacam ”kekeruhan” tersebut dilihatnya pula pada gelembung dan

buih-buih air terjun. Dan tiba-tiba dengan suara yang menggemuruh,

memecah air melebihi tinggi air terjun itu, dan runtuhlah sebagian

lereng yang biasa dialiri air, sehingga volum air yang biasa terjatuh

menjadi tiba-tiba mengganda dan menggila. Dan sudah pasti langsug

mengenangi sekitarnya, dan merobos gedung dengan lantai hampir

dua ratus itu, bagai saringan. Masuk air dari depan dan keluar dari

belakang, membawa penghuni dan barang-barangnya serta.

Kepanikan melanda orang-orang yang sama sekali tidak menyangka

hal itu akan terjadi, air di mana-mana. Semua benda hanyut. Benda

hidup atau mati, atau yang tadinya hidup. Sang lelaki hanya bisa melihat

dengan lutut gemetar dan tangan menggigil dingin di atas tangga

tersebut. Tangga yang terletak pada dataran yang masih cukup tinggi

untuk segera dapat dicapai oleh air meluap dari air terjun tersebut.

Akan tetapi syukurlah air kemudian kembali surut, karena memang

544 BAGIAN 9. KISAH-KISAH ANTAR RUANG DAN WAKTU

tidak terlalu banyak terdapat jumlah air di atasnya, sehingga hanya

satu gelombang yang dapat menyapu, dan kemudian seakan-akan kering.

Setelah semua air kembali ke sungai di bawahnya, bergegaslah lelaki

itu dengan panik mencari anak dan istrinya, di tengah-tengah kebingungan

orang-orang yang sama-sama kehilangan orang-orang yang

sedang bersama atau akan ditemuinya.

Namun mereka tidak ditemukan.

Akhirnya lelaki itu memutuskan untuk menuju suatu telepon umum

atau semacam telepon umum dan memasukkan kartu identitasnya ke

dalamnya. Tak lama kemudian muncul di layar beberapa opsi yang

dapat dipilihnya.

Ia kemudian memilih opsi untuk mencari keluarganya. Setiap orang

di dalam kota tersebut dibekali dengan kartu identitas yang berfungsi

sebagai sumber sinyal GPS, sehingga kapan saja dan di mana saja

dapat di pantai dalam keadaan darurat. Dan lelaki itu menggunakan

fasilitas tersebut muntuk mementukan lokasi anak dan istrinya.

”Tak dapat ditemukan,” lapor alat tersebut, lanjutnya, ”terdapat kemungkinan

rusaknya beberapa antena penerima.”

Bersamaan dengan itu sirini pun meraung-raung, menandakan adanya

bencana. Sudah terlambat. Bencana sudah berlalu. Alarm pemberitahu

bencara telat berfungsi dan orang-orang telah hilang.

Kemudian lelaki itu bergegas ke gedung bertingkat hampir dua ratus

itu, dengan harapan bahwa para penghuninya dapat selamat mengingat

konstruksi-nya yang kokoh. Dan juga anak dan istrinya dapat

ditemukan di sana, walau-pun ia tidak tahu lagi, di manakah sebenarnya

ia harus mencari anak dan istrinya.

Sesampainya ia di lantai tempat tinggalnya, tidak ditemui seorang

pun. Lanti itu bersih, seakan-akan suatu gedung baru yang hanya

terdiri dari tiang-tiang beton, tanpa dinding. Lantai gedung itu menjadi

seperti saringan. Hanya menampakkan lorong-lorong yang telah

tercuci bersih oleh air yang lewat tadi. Di atas lantai masih menggenang

air sebatas telapak kaki yang pelan-pelan menuruni tangga dan

545

balkon. Gedung itu seperti susunan gelas yang dituangkan sampanye

di atasnya. Pancuran sampanye gelas-gelas kristal.

Lelaki itu kemudian bergegas pergi ke suatu tempat, saat lamunannya

ter-sentak oleh panggilan di alat komunikasinya. Ia harus menuju

suatu pusat pemantau untuk menghadiri rapat keadaan darurat.

Ia pun keluar dari gedung berlantai hampir dua ratus itu, dan

mengambil jalan menembus taman yang sekarang sepi, menaiki

tangga tempat ia terpaku tadi, mengitari gedung kerjanya, dan kembali

mnenuruni suatu lereng di balik bukit kecil di belakang. Dengan

tak sabar dilompatinya suatu pagar kecil, ketimbang berjalan

memutar melalui pintu halaman, dan sampailah di sebuat kantor

yang dibangun di bawah tanah, mirip bungker, karena perlu untuk

meredam sinyal-sinyal dari luar, agar sensor-sensor yang mengidentifikasi

gerakan-gerakan bumi dapat menangkap isyarat samar-samar,

tanpa terganggu oleh langkah kaki-langkah kaki orang yang berlalulalang

ataupun kendaraan yang berseliweran.

Tanpa mengetuk dibukanya pintu dihadapannya, terlihat beberapa

wajah yang telah dikenalnya hadir di sana. Mereka semua adalah

ahli-ahli dalam bidangnya. Sehari-hari mereka bekerja kantoran biasa,

akan tetapi pada saat-saat seperti ini mereka diperlukan untuk

menangani bencana seperti itu.

Mengamati grafik pantauan salah satu alat seismik yang diletakkan

dekat dengan air terjun, terlihat suatu pola lonjakan yang memperlihatkan

bahwa telah terjadi seauatu pada waktu itu.

”Kurangi dulu isyarat itu dengan gangguan latar belakang..,” kata

seseorang.

”Sudah dilakukan,” jawab sang penyaji. ”Dan ini memang hasil

akhirnya.”

”Mengagumkan,” kata yang lain, ”begitu banyak gangguan akan

tetapi kita tidak tahu sebelumnya.”

”Itu karena mirip dengan pola latar belakang,” kata yang lain, ”sehingga

jaringan saraf tiruan tidak dapat mengerti bahwa itu bukan

gangguan latar belakang.”

546 BAGIAN 9. KISAH-KISAH ANTAR RUANG DAN WAKTU

”Dan pula singkat berlangsungnya,” kata seorang menambahkan,

”dan kemudian menghilang. Lebih sempit dari rentang waktu untuk

melakukan analisa.”

Semua orang terdiam dalam lamunan masing-masing.

”Tadi ada berita dari teknisi pemantai kartu identitas, bahwa pemancar

yang rusak telah diperbaiki. Dan menurut hasil pindai, semua

penghuni masih ada di lokasi, tidak ada yang hanyut jauh.”

”Tidak mungkin,” desis lelaki itu, ”saat aku di sana tidak banyak

orang yang kulihat di taman. Di gedung bahkan hampir tidak ada

orang.”

”Memang tidak di sana, akan tetapi di kolam renang.”

”Di kolam renang?” tanya beberapa orang hampir berbarengan.

”Ya, di kolam renang, Orang-orang dari gedung pun hanyut ke sana.

Belum diketahui apakah ada yang terluka atau tidak. Hanya saja hasil

pindai menyatakan konsentrasi orang-orang ada di kolam renang.”

”Baiklah, biarkan anggota tim penyelamat menjalankan tugasknya,

kita juga punya tugas sendiri.”

”Baik,” kata yang lain hampir serempak.

Kemudian rapatlah mereka mengenai bencana yang baru terjadi, serta

keanehan-keanehan yang menyertainya. Tentang betapa singkatnya

hal itu terjadi dan bagaimana hal itu dapat secara lemah dideteksi

akan tetapi luput dari prediksi jaringan saraf tiruan dan sistem pakar.

Lelaki itu tak bisa meninggalkan pikirannya dari anak dan istrinya.

Akan tetapi berusaha ia mengkonsentrasikan pikirannya. Ini adalah

tugasnya.

Setelah rapat itu selesai, lelaki itu kembali mencari semacam telepon

terdekat dan melakukan lagi pencarian istri dan anaknya melalui kartu

identitas mereka. Dan kali ini ia mendapat jawaban positif, dan konfirmasi

apakah ingin dihubungkan dengan mereka. Dengan tergesa

dan gembira ditekannya tombol untuk menyatakan ’ya’.

547

Sebuah jendela kecil muncul di layar dan terlihat lokasi di mana terdapat

orang-orang yang hanyut berkumpul. Melalui suatu kamera di

lokasi, ia dapat melihat anak dan istrinya di kerumunan orang-orang.

Dan kemudian ia melihat mereka bergegeas menuju semacam telepon

terdekat, karena adanya panggilan dari lelaki itu.

”Bunda,” kata lelaki itu haru, ”baik-baik saja, Bola juga?”

”Baik ayah,” jawabnya terisak, ”ayah di mana?”

”Di kantor pemantau gempa, habis rapat.”

”Ngeri betul, ayah. Ada air bah. Kita hanyut. Bunda dan Bola

sedang naik ayunan dan kemudian tersapu. Tapi kami tidak tenggelam.

Orang-orang juga. Tidak ada yang tenggelam. Mengapung

seperti gabus di atas air.”

Lelaki diam mendengarkan cerita istrinya yang menegangkan mengenai

ba-gaimana air bah dari air terjun itu datang tiba-tiba dan menghanyutkan

semua. Mengerikan tetapi abenteuerlich, karena tidak ada

yang tenggelam. Mirip wisata air bah.

Lelaki itu mengucap syukur, bahwa anak dan istrinya baik-baik saja.

Kemudian mereka bersepakat untuk bertemu di kolam renang saja.

Lelaki itu yang akan mengayunkan langkah ke sana.

2006-03-16

”Ini bagus, cukup jelas,” katanya dalam hati. ”Kuharap pula bagian

selanjutnya..”

Kantuk

Papan bidai yang biasanya jelas tampak buram di hadapannya.

Lelaki mengangguk-angguk menahan kantuk yang menyerang tak

berperasaan, padahal ia sedang dalam proses pengambilan data.

Lelaki itu menamakan dirinya Nein. Nein Arimasen.

Nein bekerja di suatu laboratorium di suatu institusi penelitian yang

cukup bonafid. Pusat Penelitian Fisiologis Molekul. Keren betul

judulnya, tapi Nein sendiri tidak begitu mengerti, karena ia kerja

548 BAGIAN 9. KISAH-KISAH ANTAR RUANG DAN WAKTU

hanya sebagai seorang teknisi yang mengambil data dari sebuah alat

dengan bantuan kompuer saja.

Pekerjaan yang dilakukan Nein cukup sederhana. Terdapat suatu -or

(entah apa namanya, mungkin reaktor, incenerator, inkubator, kaltrol

atau malah kompor), pokoknya ada suatu -or yang di dalamnya dicampurkan

butir-butir kecil bahan yang kemudian diguncang-guncang ke

atas dan kebawah menggunakan suatu -or yang lain (yang ini Nein

ingat, vibrator namanya, tepatnya vibrator ke atas ke bawah, karena

ada juga yang ke kiri dan ke kanan). Akibat diguncang-guncang itu

maka butiran-butiran dalam, sebut saja kantor, dapat bergerak-gerak,

kadang ke kiri dan kadang ke kanan. Gejala ini yang hendak di amati,

kapan ia ke kiri, kapan ia ke kanan.

Saat di kiri atau saat di kanan butiran-butiran tersebut sudah bergerak

dalam kekacauan atau kaos, lalu kemudian tanpa alasan yang

jelas ia dapat berpindah dari kacau di kiri menjadi kacau di kanan.

Perpindahan yang tidak jelas ini disebut orang intermittens. Nein

cukup lama menghapalkan kata tersebut sehingga dapat melafalkannya

dengan jelas.

Intermittens itu dapat diamati dengan menggunakan suatu kamera

digital, mereknya Nein tidak tahu. Kamera itu tidak seperti kamerakamera

digital yang ada atau terdapat di handy, akan tetapi lebih

kotak dan besar. Gambar yang dapat disampaikannya hanyalah hitam

putih, untuk itu orang butuh komputer, karena hasil penangkapan

disalurkan ke komputer lewat antar muka firewire (Nein lupa kode

IEEE nya).

Biasana suatu percobaan untuk mengukur intermittens dilakukan spesifik

untuk suatu kekuatan dan kerap getar vibrasi yang berbeda-beda,

untuk kemudian dibandingkan atau dicari korelasinya, antara kekuatan

dan kerap getar dengan kebolehjadian munculnya suatu intermittens.

Untuk itu Nein belum juga mengerti, walau Prof. Borokokok

telah berulang kali menjelaskannya. Bahkan ia telah memberi Nein

suatu ringkasan dari Vorlessungnya untuk dibaca. Akan tetapi tetap

saja Nein tidak mengerti.

Data yang diperoleh adalah berupa rekaman gambar dari format H5

suatu standar untuk film tertentu. Dengan menggunakan piranti lu549

nak yang dikembangkan oleh Suluz, seorang asisten Prof. Borokokok,

tampilan butiran-butiran yang bergerak ke sana dan kemari dapat

dilihat di layar komputer.

Akan tetapi semaju-majunya teknologi, pasti ada saja kekurangannya,

demikian pula dengan peralatan canggih di lab Nein, yang sudah

dikonfigurasi sedemikian rupa otomatis, akan tetapi belum dapat

menghasilkan hasil akhir yang justru diharapkan, yaitu berapa jumlah

butiran yang sedang bergerak kacau di kiri dan berapa butiran yang

sedang bergerak kacau di kanan.

Untuk itulah Nein bekerja di sana, di salah satu laboratorium pada institusi

Pusat Penelitian Fisiologis Molekul, karena pekerjaan tersebut

tidak diminati oleh orang-orang pintar yang memiliki sederet gelar

keilmuan. Tidak ada orang yang berminat. Akan tetapi Nein ya,

ia dapat melakukannya, karena pekerjaan itu tidak memerlukan penalaran

dan pemahaman yang terlalu tinggi. Hanya kesabaran yang

diperlukan dan pula ketekunan.

Demi suatu data, bisa Nein menghabiskan dar 8 jam sehari sampai

5 hari dalam seminggu. Itu pun bergantung, seberapa teliiti deret

waktu yang ingin dihasilkan. Bila diinginkan kasar terlebih dahulu

untuk praduga, maka bisa cepat. Sehari, kadang setengah hari pun

sudah selesai. Akan tetapi apabila diharuskan cukup teliti agar deret

waktu tersebut dapat diintegral atau didiferensialkan, maka perlu Nein

menghabiskan waktu di depan komputer sampai 5 hari kerja.

Hanya duduk di depan layar monitor, dan ketak-ketik, kiri-kanan, perhatikan

butiran yang terbang ke kiri dari kanan dan ke kanan dari kiri,

melewati suatu dinding pemisah di tengah-tengah kompor tersebut.

Bila sedang mengamat-amati itulah, datang serangan kebosanan yang

menggila, sampai kadang-kadang tidak tertahankan, sehingga Nein

bisa hampir tertidur di meja kerjanya. Atau kadang-kadang ia bacabaca

atau surfen untuk menghilangkan kantuk, dan sudah pasti bosan

yang menyertainya.

***

Dan hari ini Nein memperoleh tugas yang sama.

550 BAGIAN 9. KISAH-KISAH ANTAR RUANG DAN WAKTU

Hal pertama yang harus dilakukannya adalah mencari kombinasi

butiran-butiran yang akan digetarkan seperti diinstruksikan oleh Prof.

Borokokok melalui Inprof (Instruksi Profesor). Setelah memperoleh

butiran yang dimaksud sesuai dengan ukuran yang dispesifikasikan,

lalu Nein harus menghitunga butiran-butiran tersebut, sejumlah yang

dibutuhkan.

Untuk menghitung jumlah butiran-butiran yang kecil tersebut (kadang

sampai 1 - 2 mm diameternya) benar-benar menguji kesabaran Nein.

Setelah selesai kemudian diambillah kompor oleh Nein. Kompor tersebut

telah dibuat berdasarkan pertimbangan-pertimbangan tertentu.

Antara lain adalah bahwa kompor tersebut harus sederhana, murah

dan dapat berfungsi. Syarat yang sepertinya diajukan oleh banyak

orang.

Setelah memasukkan butiran-butiran tersebut ke dalam kompor, Nein

mulai menyalakan listrik alat-alat yang terkait dengan kompor, seperti

vibrator bergerak ke atas ke bawah, osiloskop, pemindai gerak, pengada

daya listrik dan lampu penyinaran serta kamera firewire.

Setelah semua disambung-sambungkan dan dicek apakah telah dicolok

ke ke steker di dinding, mulailah Nein menyalakan satu per satu dengan

urut-urutan tertenu. Nein tidak tahu apakah bila prosedur uruturutan

tersebut tidak ditaati dapat terjadi sesuatu yang berbahaya.

Ia hanya mengikuti dan tidak mau mencoba-coba untuk berspekulasi

hanya untuk memuaskan dahaga ingin tahunya saja. Taruhannya

adalah omelan atau bahkan pekerjaanya. Lebih baik terlihat sedikit

bodoh dan konservatif, dari pada terlalu agresif, penuh inisiatif akan

tetapi riskan.

Begitulah Nein. Hati-hati selalu.

Setelah dinyalakan osiloskop, pemindah gerak, pengada daya listrik

dan lampu penyinaran, Nein mulai membuka suatu konsol di komputer

untuk mengamati apakah letak obyek dan kamera telah cocok,

sehingga memberikan gambar yang baik. Diketikkannya di konsol

tersebut ”coriander &” dan ditekannya tombol ’Enter’. Sekejap kemudian

muncul suatu jendela dengan banyak tabulasi. Perlahan dipilihnya

tombol ’Start’ dan kemudian ’View’. Jumlah gambar yang akan

ditangkap adalah 300 gambar per detik. Cukup baik menurut Nein.

551

Kemudian ia melihat jendela kecil yang terbuka, yang menggambarkan

obyek yang ditangkap oleh kamera.

Obyek tersebut terlihat agak gelap dan samar. Untuk itu Nein memutar

tombol arus litrik yang menghidupi lampu, sehingga cahayanya

bertambah terang. Cukuplah sudah. Ia harus bermain dengan lampu,

dan tidak dengan kecepatan pengambilan gambar dari kamera, karena

ia butuh jumlah gambar yang tinggi tidap detiknya.

Setelah itu ia mula memainkan pengaturan fokus dari kamera firewire

tersebut. Diputarnya ke kanan, gambar semakin kabur, akhirnya

dibalasknya ke kiri perlahan-lahan sampai terlihat gambar yang jelas,

dan kemudian kabur kembali. Putaran dibalasnya, berulang bolakbalik,

sampai ia puas memperoleh gambar yang cukup tajam atau

optimal tajam dengan pencahayaan itu.

Tapi tunggu dulu, bagaimana apabila kecepatan kamera masih kurang,

sehingga saat butiran bergerak terlihat kabur. Penataan ini

masih untuk tuiran yang diam. Untuk itu Nein menyalakan penggetar

atas bawah, dan melihat perlahan-lahan butira-butiran tersebut

bergerak ke atas ke bawah dan ke kiri ke kanan, pokoknya kacau.

Nein kemudian menekuni kembali layar monitor dan melihat bahw

butiran-butira yang bergerak cukup tajam dan dapat diamati untuk

saat analisa nanti. Cukuplah pikirnya.

Nein kemudian menutup piranti lunak aplikasi coriander dan mengetikan

perintah ’vidtool’, sebuah piranti lunak karya Suluz, yang dimodifikasi

oleh Simik dan juga Nein sendiri (atas bantuan Simik). Banyak opsi

yang harus dimasukkan Nein. Dan Nein sering lupa, oleh karena

itu ditempelkannya sebuah kertas dekat monitor komputer untuk

mengingatkan opsi-opsi apa yang harus dimasukkan.

Pertama-tama buat tujuan file sementar ’exprot VIDEO TMP=/video

/nein/rekaman2938/’.

Selanjutnya ketikkan ’vidtool’ dengan opsi ’/dev/video1394 rekaman2938.

h5’ yang masih harus diikuti oleh opsi-opsi ’–gray’, ’–

usetmp’, ’–c-vres 200’, ’–c-vres 308’. Oh ya terlupa berapa gambar

dan berapa yang akan dibuang, yaitu ’–frames 300000’ dan ’–drop 2’.

Lalu ditekannya ’Enter’.

552 BAGIAN 9. KISAH-KISAH ANTAR RUANG DAN WAKTU

Jalanlah proses perekaman data yang terlebih dahulu dituliskan ke

suatu file sementara dengan besar masing-masing 1 GB. Nein kemudian

menjalankan semua alat-alat terkait, dan menunggu percobaan

berjalan.

Kadang harus ditunggu beberapa saat untuk melihat apakah fenomena

yang diinginkan akan muncul, antara lain osilasi atau pemisahan.

Bila tidak, vidtool harus dibatalkan, file-file yang terbentuk harus dihapus

dan butira-butiran dibersihkan atau ditiup untuk mengubah humiditasnya,

hal ini terutama untuk mecegak terjadinya listrik statis.

Kadang pula butir-butir harus diganti baru, dan kompornya dibersihkan.

Entah kenapa, dalam hal ini butir-butir tidak lagi bersifat

lenting, harus digunakan butir-butir yang baru.

Akan tetapi Nein sayang untuk membuang butir-butir tersebut, yang

ia lakukan adalah mencampurnya dengan yang baru, mengaduknya

dan kemudian memisahkan sejumlah yang akan digunakan. Dengan

asumlsi bahwa akan terdapat butiran lama dan baru, dan fenomena

yang diinginkan umumnya muncul. Dengan cara itu butiran yang

segar dapat diperoleh dengan tidak membuang butiran bekas pakai

sama sekali. Apabila digunakan cara sekali pakai, maka kurang dari

sepuluh kali percobaan, sudah harus dibelikan butiran baru.

Saat ini percobaan berjalan lancar. Nein tinggal menunggu sampai

listrik statis muncul dan mengacaukan percobaan. Lalu meng-

CTRL+C vidtool untuk masuk pada mode konversi file sementara.

Suluz telah memrogram untuk menangkap peristiwa CTRL+C menjadi

lompat proses, ketimbang membatalkan program secara keseluruhan.

Di sela-sela perekaman yang memakan waktu kira-kira setengah jam

dan proses konversi yang sampai 4-8 jam, Nein kadang mengerjakan

hal-hal lain. Mumpung lagi kenceng-kencengnya sambungan internet.

Saat ini Nein sedang gandrung eBook dengan format Microsoft

Reader. Walaupun itu propriatery, akan tetapi hasilnya dengan True

Type Font memang benar-benar mempesona. Teman Nein, John

Engray saja mengakuinya.

Setelah klik kesana kemari di Google, akhirnya tibalah Nein di

Michisoft buatan Michael (karena piranti yang lain tidak bebas

553

merdeka dari windows), yang membuatkan Reader Studio yang freeware

(http://michisoft.com/). Disayangkan proyek tersebut berhenti

Mei 2004. Dengan piranti ini Nein dapat mengkonversi tulisan Audinar

Vi sehingga dapat dibaca di Microsoft Reader di rumah.

Akan tetapi Nein belum puas, karena masih belum bisa membuat kover

dan daftar isi. Setelah ditelaah lagi ternyata ada Reader Studio beta

dan yang sudah final. Di sana disebutkan bahwa mendukung juga

gambar dalam format PNG selain JPG dan GIF dan juga daftar isi

(hanya untuk file HTML). Hal ini membuat Nein makin bersemangat

sambil menunggu konversinya vidtool.

Akan tetapi sayangnya Reader Studio tidak jalan di Linux menggunakan

Wine. Dia bilang ada masalah dengan DOM XML-nya.

Nein tidak mengerti itu. Lalu coba-coba baja spesifikasi OpenEbook

(http://www.idpf.org/oebps /oebps1.2/download/oeb12-xhtml.htm)

dan juga metadata di Dublin Core (http://dublincore.org/), malah

makin bingung.

Akhirnya untuk sementara Nein menyerah, karena terlalu banyak

waktu yang dibuang untuk mempelajari sesuatu yang bersifat hobit.

Es lohnt sich nicht. Jadi Nein mencoba memanfaatkan Reader Studio

Final secara maksimal dulu, tanpa mengoprek format XML dari spesifikasi

OpenEbook. Salah satu yang berhasil dipecahkan adalah membuat

page-break-after dengan CSS (http://www.w3schools.com/css

/pr print pageba.asp), tapi untuk konversinya baru bisa dicoba di

rumah.

Sementara itu konversi yang dilakukan vidtool belum juga selsai.

Nein kemudian membuka halaman Wikipedia Indonesia yang dibuatnya

mengenai Media Butiran, hal-hal yang dikerjakannya di dalam

lab sehari-hari. Halam tersebut berlamat http://id.wikipedia.org/wiki

/Material butiran dan ia telah dikoreksi oleh *drew. Akan tetapi hari

ini *drew tidak muncul, padahal Nein sedang mengajukan pertanyaan

dalan forum diskusi dia, mengenai penggunaan gambar yang tidak

public domain.

Untuk suatu gambar dari Physical Review Letter 90, 014302 (2003),

Nein telah berkorespondensi dengan Prof. Dr. Ingo Rehberg dan

memperoleh persetujuannya untuk menggunakan gambar tersebut,

554 BAGIAN 9. KISAH-KISAH ANTAR RUANG DAN WAKTU

”Ja, Sie drfen die Bilder gerne benutzen. Viel Erfolg!”

Senang hati Nein menerima tanggapan yang positif. Tinggal menunggu

komentar dari admin-admin Wikipedia Indonesia saja.

Nein kembali menengok hasil konversi dari vidtool. Sudah setengah

data yang ada hilang dan pindah ke SH-PO.h5 yang ukurannya semakin

membengkak. ”Kira-kira sebentar lagi,” gumam Nein.

”Nulis cerita dulu dah, dari pada ngantuk,” kata suatu suara di kepala

Nein. Dan menarilah jari-jarinya di atas tombol-tombol papan bidai,

mengalirkan ide-ide yang liar bergentayangan di kepala. Liar tapi

terkendali, jangan seperti kesurupan yang sedang meraja-lela di Indonesia,

akibatnya banyaknya tayangan mistis untuk mengejar rating

penonton.

Untuk urusan penulisan, Nein teringat sama filem Finding Forrester

atau Forrester gefunden. Yang menyarankan untuk membiarkan jarijari

menari, dan jangan berpikir saat menulis cerita. I love that film.

Ubrigens dan by the way, Audinar minta tolong ubah blognya ditambahkan

script untuk bikin Snowflakes, keren, tapi bikin lambat :).

Nein udah capek dan sekarang sudahn 19.46, mau ngebom dan pulang.

Selesai. Deutschland, 23.3.6 – 2006-03-23

”Benar-benar memusingkan,” ucapnya tanpa sadar. Tapi ia masih

memutuskan untuk terus melanjutkan membaca buku tersebut.

Bis Terjungkal Balik

Hari ini lelaki yang tempo hari mimpi air terjun meluap, bermimpi

hal lain lagi. Juga hal yang benar-benar khayal dan tidak fisis.

Entah bagaimana mulanya, tapi tahu-tahu setting mimpinya adalah

berada dalam satu bis dengan sang istri. Tapi tanpa sang anak.

Mereka sedang bersama duduk dalam suatu bis yang besar, atau kelihatan

besar, akan tetapi tidak ada orang lain kecuali mereka berdua.

Dan apakah mereka saat itu sedang berlaku sebagai penumpang

ataupun pengemudi juga tidak terlalu jelas.

555

Pokoknya begitu. Lelaki tersebut dan istrinya duduk dalam bis yang

besar, yang sedang melaju, entah di atas jalan raya ataupun terbang.

Entahlah. Dan yang anehnya tidak ada pemandangan ataupun halhal

yang terlihat di sepanjang perjalanan tersebut. Waktu seakan-akan

berhenti saja.

Juga tidak ada pembicaraan di antara lelaki itu dan istrinya.

Sunyi.

Tetapi bisa masih berjalan. Cerita masih berlanjut. Dan mimpi masih

mengalir.

Mungkin asumsi bahwa bis tersebut masih berjalan adalah adanya

getaran-getaran yang terasa berasal dari tempat duduk dan kaki.

Adalah normal bahwa bis yang sedang berjalan akan merambatkan

getaran-getaran, kecuali saja suspensinya sedekian bagus, sehingga

saat sedang berjalan di malam hari, orang sampai tidak dapat membedakan

apakah bis itu sedang berjalan atau berhenti, bila matanya

ditutup. Mungkin saja.

Tapi tidak dengan bis dalam mimpi lelaki itu. Lelaki itu bermimpi

bahwa bisnya masih berjalan. Ia dan istrinya duduk di dalamnya,

akan tetapi tidak melakukan apa-apa, dan tidak melihat apa-apa selain

kesadaran bahwa bisnya sedang berjalan.

Ya, bisnya sedang jalan.

Lalu?

Lalu apa?

Ah, ya, masak itu saja. Membosankan bukan, apabila seseorang

menulis cerita bahwa ia di dalam mimpinya sedang mengendari bis,

dan kemudian bisnya sedang berjalan. Dan itu saja.

Untunglah dalam mimpi lelaki itu ada hal lain yang bisa diceritakan,

jika tidak, mungkin saja kata-kata ini menjadi kata-kata terakhir dari

cerita ini. Jangan. Masih ada kelanjutannya. Tak lama atau sebentar

kemudian, atau keterangan waktu yang lain, melihatlah lelaki itu dan

istrinya bahwa bis itu sedang berjalan di suatu jalanan yang terletak

di atas tebing, dengan satu sisi adalah lereng dan satu sisi adalah

556 BAGIAN 9. KISAH-KISAH ANTAR RUANG DAN WAKTU

jurang.

Penampakan itu membuat mereka menjadi ngeri, terutama lelaki itu,

karena ia yang sedang bermimpi, sedangkan istrinya hanyalah tokoh

yang muncul dalam mimpi itu. Untuk adilnya, katakanlah bahwa

istrinya juga merasa ngeri.

Mereka berdua merasa ngeri karena kemudian mereka sadar bahwa bis

itu tidak ada pengemudinya. Jadi bis itu berjalan dengan sendirinya.

Entah benar-benar tidak ada pengemudinya atau drive-by-wire.

Karena merasa tidak nyaman dengan keadaan tersebut, maka sang

istri mengambil inisiatif untuk mengambil allh kemudi, untuk memberikan

rasa aman bahwa bis itu akan tetap berada di jalurnya dan

bukan masuk ke dalam jurang.

Akan tetapi pengambilalihan kemudi tersebut tidak membawa banyak

dam-pak yang berarti terhadap arah gerak bis itu. Bis itu makin

bergerak menggila, salip kiri dan kanan di antara kosongnya jalan,

membuat kedua penumpangnya semakin kebat-kebih hatinya.

Akhirnya malang tak dapat tolak, untung tak dapat diraih, tibalah bis

tersebut pada suatu jalan yang membelok tajam ke kiri, di mana sang

istri tidak sempat membanting stir karena sebelumnya membelok ke

kanan. Dengan laju yang cukup tinggi terbanglah bis tersebut bebas

di udara, menuruni lereng tidak melalui jalan akan tetapi langsung

memanfaatkan gaya tarik bumi.

Dalam pada itu, entah kenapa, masih sempat-sempatnya lelaki itu

memarahi istrinya karena tidak dapat mengemudi dengan baik. Biasalah

lelaki, kalau dirinya yang diserahkan untuk mengemudi, belum

tentu ia dapat lebih baik dari seorang wanita.

Kemudian entah bagaimana, terjadilah sesuatu yang sama sekali di

luar dugaan, baik lelaki itu maupun istrinya. Bis tersebut setelah

secara tak sadar sang istri mengganti gigi mundur dan kemudian

tekan gas, bis itu melayang kembali ke jalan dan selanjutnya berjalan

mundur. Seperti waktu yang diputar kembali.

Selesai. – 2006-03-26

Mengangguk-angguk pemud itu saat bagian yang baru terbaca sele557

sai. Matahari tampak tidak lagi terik. Ia meluruskan kakinya, sedikit

melemaskan tubuhnya dan mulai membalik halaman selanjutnya.

Bulat dan Paman Pengetuk Dinding

Bulat, begitulah ia sering dipanggil Bulat oleh orang tuanya, karena

wajahnya yang bulat segar dan menggemaskan, adalah seorang anak

kecil yang tinggal bersama kedua orang tuanya di sebuah apartemen

di daerah Marten, kota Dortmund, Jerman.

Di sana terdapat banyak Haus yang memiliki puluhan Wohnung. Ada

Haus dengan dua puluhWohnung, bahkan ada yang sampai lima puluh

Wohnung. Oleh karena itu tidaklah orang dapat mengetahui siapakah

tetangga sebelah dindingnya apabila berada di rumah sebelah, apalagi

yang berada di rumah belakangnya.

Bulat tinggal bersama kedua orang tuanya, Aya dan Ana. Ia tinggal di

sebuah Haus berbentuk U yang di tengahnya ada taman kecil tempat

anak-anak penghuni Haus itu berkumpul dan bermain. Taman itu

tidak tampak dari luar. Orang baru akan melihatnya, setelah melewati

sebuah kelokan yang menuju tempat parkir di dalam. Bulat tinggal

di salah satu Wohnung yang terdapat dalam sudut Haus berbentuk

U tersebut. Dan di belakang Haus tersebut terdapat Haus lain yang

terdiri pula dari puluhan Wohnung.

Entah bagaimana ceritanya, suatu hari Bulat ”berkenalan” dengan

Onkel Ketukan Dinding (Ongkel Klopfende-Wand). Saat itu Bulat

sedang sedih karena mainannya hilang, dan ia berdiam diri di

kamarnya sambil terisak, mengingat-ingat di mana terakhir kali ie

meninggalkan Etee (sebuah boneka Eisbr).

Saat ia terisak, terdengan suara ketukan lamat-lamat di dinding, ”tuk..

tuk.. tuk.” Seperti seakan-akan menanyakan, ”ada apa?”

Bulat pun berhenti terisak, dan berusaha mendengarkan, kalau-kalau

ketukan tersebut berulang kembali.

Akan tetapi tidak terdengar apa-apa. Oleh karena itu, Bulat tibatiba

mempunyai ide untuk melakukan ketukan pula, ”tuk... tuk..,”

ketuknya.

Sunyi sebentar, dan kemudian terdengar jawaban, ”tuk!”

558 BAGIAN 9. KISAH-KISAH ANTAR RUANG DAN WAKTU

Bulat tertawa, lupa pada kesedihannya. Dan ia mengetuk lagi sambil

berucap, ”Siapa di sana?”

”Tuk... tuk. tuk...., tuk!” jawab ketukan itu.

”Wah, aku tidak mengerti,” jawab Bulat sambil kembali mengetuk

sekenanya.

Ketukan itu kembali terdengar, dengan nada yang berbeda-beda,

kadang pelan, kadang keras. Dan kadang lambat, kadang cepat.

Bulat tidak mempedulikan, apakah ia atau seseorang yang mengetuk

itu saling dapat mengerti, akan tetapi ia membalas ketukan itu pula

kembali.

Mulai saat itulah, apabila Bulat tidak sedang mendapatkan Aya dan

Ana, yang keduanya harus bekerja, untuk bercerita mengenai kegembiraan

atau kesedihannya, ia menceritakannya pada Onkel Klopfende-

Wand melalui ketukan-ketukan. Entah bagaimana, Onkel Klopfende-

Wand dapat mengerti dan menjawab ketukan-ketukan tersebut, sehingga

seakan-akan ia dan Bulat dapat berkomunikasi dengan lancar.

Dan Bulat tidak pernah memikirkan atau mencoba untuk mengetahui

siapakah sebenarnya orang yang mengetuk-ketuk di balik dinding

tersebut.

***

Suatu hari Bulat pulang dari sekolah dan ingin cepat-cepat bertemu

dengan Aya dan Ana. Ia ingin memberitahukan hasil tulisannya yang

mendapatkan nilai terbaik di kelas. Tulisan itu merupakan tugas sastra,

dan dalam kesempatan itu Bulat menceritakan tentang kehidupan

seorang keluarga yang terdiri dari seoranga ayah, ibu dan anaknya.

Persis seperti keadaan dirinya sendiri. Akan tetapi dalam cerita itu,

mereka tinggal di suatu negeri yang jauh, di mana masih terdapat

hal-hal yang menakjubkan seperti hewan-hewan purba dan sihir.

Akan tetapi alangkah kecewanya Bulat setibanya sampai di rumah,

karena tiada seorang pun di rumah. Aya dan Ana walaupun telah pulang,

akan tetapi harus pergi lagi untuk mengurus sesuatu, hal itu

dapat diketahuinya dari catatan yang ditempelkan di pintu lemari

pendingin di dapur.

559

”Bulat sayang,

Ana dan Aya ada urusan sebentar. Makan saja dulu, tak lama kami

kembali. Di Mikrowelle sudah ada makanan kegemaranmu, tinggal

dipanaskan.

Peluk dan cium,

Ana dan Aya.”

Bulat sedih. Diletakkannya hasil karangan yang akan ditunjukkannya

di atas meja dapur. Di atas tulisannya itu terdapat catatan oleh

gurunya, yang menyatakan bahwa ia boleh dikatakan memiliki bakat

untuk menulis, dan diharapkan untuk diperhatikan di rumah. Akan

tetapi untuk saat ini siapa yang akan diperhatikan. Aya dan Ana

sedang tidak di rumah.

Dengan malas-malasan Bulat kemudian memanaskan makanannya,

dan kemudian membawanya ke kamar tidur, ia akan makan sambil

mendengarkan radio. Mencoba tidur sehabis makan, untuk menghilangkan

kekecewaannya.

Saat ia berbering mendengarkan lagu ”Bad Day” yang dilantunkan

oleh Daniel Powter, ia mendengar ketukan samar-samar.

”Ah Onkel Klopfende-Wand,” serunya.

”Onkel,” panggilnya sambil mengetuk.

”Tuk!” jawaban yang muncul.

”Aku punya cerita hari ini”

”Tuk.... Tuk. Tuk!”

”Mau mendengarnya?”

”Tuk!”

Bergegaslah Bulat kembali ke dapur untuk mengambil tulisan yang

diletakkannya tadi di meja. Setelah kembali duduk di atas tempat

tidur, lalu berceritalah Bulat pada Onkel Klopfende-Wand mengenai

karya tulisnya yang diberikan nilai bagus. Ia mengisahkannya dengan

560 BAGIAN 9. KISAH-KISAH ANTAR RUANG DAN WAKTU

melakukan ketukan-ketukan dan juga sambil membacakannya.

Tiada ketukan balasan. Mungkin Onkel Klopfende-Wand sedang

mendengarkannya dengan hikmat.

Akhirnya setelah selesai bercerita, Bulat pun capai dan tertidur.

Saat ia bangun, ia melihat sebuah majalah baru ada di mejanya. Dan

ia tahu itu pasti dari Ana dan Aya. Mereke telah pulang, dan meletakkan

majalah tersebut dan juga mengambil piring bekasnya makan,

serta karangannya, akan tetapi tidak membangunkannya.

Sambil setengah berlari, Bulat keluar kamar dan kemudian menuju

dapur. Benar saja, di sana tampak Ana dan Aya sedang membaca

karya tulis yang diletakkannya.

”Bulat, bagus betul ini,” kata Ana sambil menghampiri dan kemudian

mencium dahinya, ”Mmmmuah!”

”Iya, Aya bangga sekali Bulat dapat menulis seperti ini,” timpal Aya.

”Makasih Ana. Makasih Aya.” lanjut Bulat, ”Tapi sayangnya bukan

Aya dan Ana yang pertama diceritakan.”

”Lho, bukan kami? Memang sudah cerita ke siapa?” tanya Aya ingin

tahu.

”Onkel Klopfende-Wand,” sahut Bulat tersenyum.

”Onkel Klopfende-Wand? Siapa itu?” tanya Bunda tertarik.

”Nggak tahu! Bulat cuman tahu dulu ada yang ketok-ketok di kamar,

terus Bulat balas. Lanjut deh sampe sekarang.”

”Memangnya bagaimana cara Bulat berbincang-bincang? Ketakketok

gitu?” tanya Aya penasaran, karena ia hanya dapat membayangkan

kode morse yang digunakan dalam kasus ini.

”Wah, g tahu ya!” jawab Bulat polos, ”asal aja ketoknya, atau cerita,

nanti dia balas kok?”

Aya dan Ana tersenyum mendengar cerita Bulat, walapun mereka

belum sepenuhnya percaya. Jangan-jangan itu hanya khayalannya

561

saja.

Kemudian diskusi pun berlanjut. Aya dan Ana menjelaskan bahwa

mereka tadi pergi ke dokter kandungan. Dan dari hasil pemeriksaan

diperoleh berita bahwa Bulat akan memperoleh adik. Tak dapat ditahankan

gembiranya, lalu Bulat memeluk Ana dan Aya, dan masih

ditambah dengan mencium dan mengelus perut Ana, yang saat itu

tentu saja masih belum terlihat membulat.

***

”Tok.. Tok!” terdengan ketukan yang cukup keras di dinding, yang

mengakibatkan Bulat terbangun dari tidurnya. Dengan masih menggosokgosoknya

matanya, Bulat kemudian balas mengetuk, ”Tukkkk!”

Sunyi sebentar. Akan tetapi kemudian, ”tuk, tuk, tok!”

Bulat bingung, apa maksudnya Onkel Klopfende-Wand. Biasanya ia

yang bercerita, akan tetapi saat ini tidak. Onkel Klopfende-Wand

yang lebih dulu mengetuk.

Tiba-tiba terbersit suatu pikiran, mungkin Onkel Klopfende-Wand ingin

memberi tahu sesuatu.

”Ada sesuatu, Onkel?”

”Tok!”

”Apa?”

”Tok, tuk, tok...!”

Bulat bingung. Sulit mengertikan arti ketukan-ketukan tersebut.

Akhirnya Bulat mencoba-coba berbagai kata-kata yang kemudian dijawab

dengan selalu dua ketukan. Mungkin artinya ”tidak” atau

”bukan”.

Sampai akhirnya saat ia mengatakan, ”telepon?”

Terdengarlah, ”tuk!”

”Telepon?” sahut Bulat, ”ada apa ya?”

562 BAGIAN 9. KISAH-KISAH ANTAR RUANG DAN WAKTU

Dengan agak bingung kemudian Bula keluar dari kamarnya dan

menghampiri pesawat telepon yang terletak di ruang keluarga. Dan

di sana ditemukannya keadaan di mana pesawat teleponnya tidak

dalam keadaan sebagaimana mestinya. Pantas malam itu Bulat tidak

mendengar adanya telepon berdering. Biasanya minimal ada satu

telepon dari Oma dan Opa.

Bulat hampir melonjak kaget saat telepon tiba-tiba berdering saat ia

meletakkan gagangnya pada tempatnya.

Dengan takut-takut Bulat mengangkat telepon dan menjawabnya.

”Bulat di sini, malam,” katanya.

”Bulat, ini Oma, susah betul masuknya!”

”Iya Oma, tadi teleponnya masih terbuka, jadi tidak bisa dihubungi.”

”Oh, gitu!”

”Ada apa Oma?”

”Tidak ada apa-apa, cuman pengen denger suaramu saja.” Oma memang

kangenan banget sama Bulat. Ia suka sekali menanyakan kabar

Bulat. Dan walaupun kabar yang sama diulang-ulang, tidak bosan

Oma mendengarnya.

”Tapi Oma ini kan udah tengah malam, kok masih nelepon sih? Nggak

tunggu besok pagi aja?” kata Bulat kasihan.

”Wah, mana Oma bisa tidur sebelum nelepon kamu, Bulat. Kangen

sih!” sahut Oma dengan gaya ABG-nya. Oma itu walaupun udah tua,

tapi gaya bicaranya kalau dengan Bulat masih seperti anak ABG. Lain

halnya kalo bicara dengan orang-orang lain, dipasangnya gaya sangar.

Berbicaralah kemudian Oma dan cucunya Bulat, yang diakhiri dengan

peluk dan cium lewat telepon dan ucapan selamat tidur.

”Untung ada Ongkel Klopfende-Wand,” gumam Bulat. ”Kalau tidak,

bisa-bisa Oma nggak tidur semalaman.”

Bulat tertawa kecil kalau melihat kekangenan Oma terhadapnya.

563

”Terima kasih Onkel,” kata Bulat saat sudah masuk kembali ke dalam

selimutnya, ”selamat bobo!”

”Tuk...!”

***

Begitulah kisah Bulat dan Onkel Klopfende-Wand-nya.

- Onkel: paman - Haus: rumah (umumnya lebih dari satu lantai)

yang ditinggali banyak keluarga / orang - Wohnung: rumah (umunya

satu lantai) yang ditinggali satu keluarga / beberapa orang - Eisbr:

beruang salju - Mikrowelle: alat masak microwave

* Kolaborasi dengan Doodlez Milinding – 2006-08-08

Dan langsung pemuda itu membaca lanjutannya, sudah terlarut ia

dalam kisah sebelumnya.

Bulat dan Ulang Tahun Oma

Pagi itu adalah suatu pagi yang berudara dingin dan berlangit mendung,

saat mana Bulat belum beranjak dari tempat tidurnya. Jam

weker sudah berbunyi sejak sepuluh menit yang lalu, akan tetapi

hal itu belum juga membuat ia bangun dan bergegas pergi ke kamar

mandi seperti yang biasa ia lakukan apabila jam wekernya telah

berdering nyaring. Entah mengapa, pagi itu Bulat malas sekali untuk

bangun pagi. Ditambah lagi dengan cuaca dingin dan hari masih

agak gelap. Membuatnya enggan untuk meninggalkan peraduannya

dan masih asyik dengan bantal dan selimut tebal yang membungkus

tubuhnya.

Sesaat terdengar suara Aya memanggil putri kesayangannya dari ruang

makan.

”Bulat.., ayo bangun..! Sudah siang, nanti kamu terlambat ke sekolah,”

teriak Aya membangunkan Bulat.

”Iya.. ya.., sebentar lagi,” jawab Bulat malas sambil membenamkan

lagi kepalanya ke dalam bantal segi empat bergambar SpongeBob,

tokoh kartun kesayangannya. Bantal itu merupakan hadiah ulang

tahunnya dari Oma ketika ia berumur lima tahun.

564 BAGIAN 9. KISAH-KISAH ANTAR RUANG DAN WAKTU

Tak lama kemudian Ana pun masuk ke kamar Bulat dan duduk di

pinggiran tempat tidurnya.

”Selamat pagi, sayang,” sapa Ana lembut sambil membuka bantal

yang menutupi muka Bulat. Lalu ia mengusap rambut putrinya yang

masih menutupi wajahnya hingga terlihatlah muka Bulat yang masih

malas membuka mata.

”Pagi, Ana,” jawab Bulat tersenyum.

”Kenapa Prinzessin Ana-Aya hari gini masih malas bangun yaa...,”

gurau Ana sambil membuka selimut tebal Bulat lalu sedikit menggelitik

perut Bulat. Mau tak mau Bulat pun bangun, tapi hanya sebentar.

Ia merebahkan dirinya kembali ke atas kasur empuknya, setelah tiada

lagi serangan kelitikan ibunya.

”Ana.., Bulat masih ngantuk, lima menit lagi yaa...,” tawar Bulat

dengan mimik yang manja.

”Loh kok menawar, ayo dong sayang.., kami sudah dari tadi sudah

menunggumu di bawah untuk sarapan pagi bersama, kasian Aya nanti

ke kantornya telat,” Ana memohon agar putrinya mau cepat bangun

dan bisa sarapan bareng seperti biasa mereka lakukan.

”Iya Ana-ku sayang, tapi Ana ke bawah dulu yaa... nanti Bulat

menyusul,” jawab Bulat seraya memeluk Ana manja dan mencium

pipi ibunya. Bulat sudah tahu kalau nanti dia mengulur-ulur waktu

lagi ibunya pasti akan banyak berbicara panjang lebar dan pagi itu

sudah tentu bukan waktu yang tepat untuk beradu argumen dengan

Ana.

Selesai membersihkan dirinya Bulat segera mengganti baju mandinya

dengan baju sekolahnya, lalu ia merapikan buku-bukunya yang belum

sempat ia bereskan dari tadi malem setelah ia belajar. Selesai memasukkan

buku-bukunya ke dalam tas ransel warna birunya, ia bergegas

pergi ke ruang makan. Di sana ia sudah ditunggu oleh Aya-Ana untuk

sarapan pagi.

”Pagi Aya, pagi Ana,” sapanya penuh ceria.

”Pagi sayang,” jawab mereka hampir bersamaan.

565

Sambil mengoles roti tawarnya dengan selai kacang, Aya bertanya

pada Bulat tentang tidur malamnya dan menanyakan keadaannya.

Dengan roman yang lucu Bulat menjawabnya dengan sangat antusias

apa yang menjadi buah tidurnya malam tadi. Diskusi pagi itu penuh

keceriaan dan tawa, walaupun udara dingin masih menyelimuti dan

rintik-rintik hujan mulai turun.

***

Waktu sudah menunjukkan pukul 06.15, tiba saatnya Aya dan Bulat

untuk pergi beraktivitas. Hari itu Ana mendapat jatah cuti kerja

sehari, jadi hari itupun ia tidak ikut serta dengan mereka. Sambil

mengantarkan ke depan pintu rumah, Ana berpesan pada bulat.

”Pulang sekolah nanti, Bulat langsung pulang ke rumah yaa...., hari

ini Oma ulang tahun,” kata Ana sambil mencium kening putrinya.

”Ah..., hari ini tanggal berapa?” tanya Bulat agak surprise juga

mendengar kabar bahwa hari itu Oma berulang tahun.

”Tanggal 11 Oktober, iya sudah, sekarang kamu berangkat tuh Aya

sudah menunggumu di mobil,” kata Ana buru-buru karena Aya sudah

menglakson beberapa kali tanda harus segera berangkat.

”Oh iyaa..., Bulat lupa ini sudah tanggal 11 Oktober yaa...., aduh

kenapa aku jadi pelupa begini,” kata Bulat sambil memegang jidatnya

lalu berlari ke arah mobil yang siap meluncur.

Di dalam mobil, Bulat melambaikan tangannya pada Ana. Ibunya

membalas dan berpesan dengan sedikit berteriak karena bunyi deru

mobil.

”Hati2 Bulat, Aya.... I love you,” kata Ana.

”Too....,” jawab mereka singkat dan kemudian berlalu. Ana menatap

sampai mobil yang dinaiki orang-orang yang dicintainya lenyap di balik

tikungan sana.

***

Jam di tangan tangan Bulat telah menunjukkaan pukul 12.50. Betapa

girangnya hati Bulat karena tak lama lagi ia akan pulang dan menyi566

BAGIAN 9. KISAH-KISAH ANTAR RUANG DAN WAKTU

apkan kado ulang tahun buat Oma tercinta. Tiba-tiba Ibu Mulan,

guru bahasa, menegur Bulat sehingga ia tersadar dari lamunannya.

”Bulat, apakah kamu sakit?” tanya Ibu Mulan tiba-tiba sambil menghampiri

meja Bulat

”Eh.. oh.. ee..., tidak bu,” gagap Bulat menjawab karena kaget. Ibu

Mulan sudah ada di depannya. Ia sama sekali tidak tahu sejak kapan

Ibu Mulan berada di sana. Langsung saja wajahnya memerah malu,

karena ketauan lagi melamun.

”Maaf bu, saya kurang memperhatikan,” kata Bulat dengan muka

menunduk dan merasa bersalah.

”Ya sudah, sana kamu pergi ke belakang dan cuci muka!” perintah Ibu

Mulan pada Bulat. Bulat pun mengangguk dan beranjak dari tempat

duduknya. Pelajaran berlanjut lagi setelah Bulat keluar dari kelas.

Air dingin pun membasuh mukanya, tampak kini wajahnya kembali

segar. Sambil bercermin ia menyesali dirinya sendiri, kenapa hal ini

musti terjadi, ini sangat memalukan, katanya dalam hati.

Tak lama bel berbunyi tanda waktu belajar telah usai. Banyak anakanak

berhamburan keluar dari kelas. Bulat masih mencatat beberapa

ringkasan dan tugas-tugas yang ditinggalkan Ibu Mulan di papan

tulis. Tulisan-tulisan yang tertinggal waktu ia pergi ke belakang untuk

mencuci mukanya. Ibu Mulan masih berada di kelas. Ia melihat Bulat

masih mencatat tugasnya. Ia pun menghampiri dan menanyakan

Bulat kenapa hari ini Bulat tidak seperti biasa. Sambil membenahi

buku-bukunya, Bulat bercerita, bahwa hari ini adalah hari ulang tahun

Oma tersayangnya. Dan ia bingung ingin memberikan hadiah apa

buat Omanya nanti dan belum menyiapkan sesuatu yang istimewa

buat Oma karena baru mengetahuinya tadi pagi dari Ana ketika akan

pergi berangkat sekolah.

”Jadi itu yang membuatmu banyak melamun?” tanya Ibu Mulan

menegaskan.

”Iya bu, maafkan saya,” kembali Bulat merasa bersalah

”Oh, tidak..., lain kali jangan ulangi lagi yaa.... Oh ya, sampaikan

salam selamat ulang tahun untuk Oma tercinta kamu, semoga panjang

567

umur dan sehat selalu,” kata Ibu Mulan yang berubah menjadi baik

dan bersahabat, bahkan ibu guru itu pun kemudian banyak menceritakan

pengalamannya dulu, ketika ia masih kecil. Saat ia juga sangat

dekat dengan Omanya. Dan ketika Omanya berulang tahun ia

memberikan sebuah kotak yang berisi gambar-gambar coretan tangannya

yang dikumpulkan oleh Ibunya dari sejak ia berumur dua tahun.

Omanya sangat senang dan terharu, saat ia membuka kado itu.

”Sekarang Oma Ibu, sudah tiada dan sampai sekarang kenangan dengan

Oma tercinta tetap melekat di hati Ibu,” kata Ibu Mulan mengakhiri

ceritanya.

Tak terasa suasana siang itu jadi begitu akrab. Bulat sangat senang

mendengar cerita Ibu Mulan mengenai kedekatannya dengan Omanya,

yang hampir mirip dengan Bulat yang juga dekat dengan Oma dan

Opa.

***

Di rumah Ana sedang menyiapkan kue ulang tahun buat Oma. Bulat

yang sudah pulang sejak tadi, tidak ikut membantu Ana. Ia sibuk

mencari-cari apa yang bisa dijadikan kado buat oma nanti. Hampir

seluruh isi lemari di kamarnya dikeluarkan semua. Tak terkecuali isi

laci dan kardus-kardus. Akan tetapi ia belum menemukan sesuatu

yang surprise buat Oma.

Kemudian Bulat pergi ke gudang, di sana ia juga membongkar banyak

tempat, kardus, lemari, dan lain-lain untuk mencari barang-barangnya

waktu ia masih kecil. Bulat sangat sibuk hingga lupa makan siangnya.

Ana yang dari tadi masih menghias-hias kue ulang tahun Oma, merasa

sedikit aneh dengan kelakuan anaknya yang sibuk mencari-cari sesuatu.

”Bulat, makan dulu Nak, nanti kamu sakit”, kata Ana rada kuatir.

”Iya Ana, sebentar lagi Bulat makan. Ini Bulat lagi mencari barangbarang

Bulat”, jawabnya.

”Apa yang kamu cari?” tanya Ana sambil menghampiri Bulat ke gudang.

”Ana, di mana Ana simpen barang-barang Bulat waktu kecil”, tanya

568 BAGIAN 9. KISAH-KISAH ANTAR RUANG DAN WAKTU

Bulat, yang tentu saja membuat Ana tak mengerti.

”Barang-barang apa?” tanya Ana masih dipenuhi tanda tanya.

”Barang-barang Bulat ketika Bulat masih kecil,” jawab Bulat agak

senewen karena dari tadi yang dicari belum juga ketemu.

”Oh..., itu Ana simpen di lemari Ana, memang buat apa kamu mencarinya?”

tanya Ana menyelidik.

”Ada deh... Ana, surprise...,” sahut Bulat lega, karena ternyata yang

dicarinya bakal ketemu.

Sambil menghabiskan makan siangnya, Bulat bercerita panjang lebar

mengenai hari itu, apa yang terjadi di sekolahnya dan tentu saja juga

cerita tentang Ibu Mulan yang juga dekat dengan Omanya. Ana

mendengarkan cerita Bulat sambil membereskan dapur yang berantakan

karena membuat kue ulang tahun tadi.

”Ana, kue ulang tahunnya cantik banget ya, pasti Oma seneng tuh.

Dan warnanya, warna kesukaan Oma, merah muda...” Bulat memuji

kue ulang tahu bikinan Ana.

”Iya, apalagi kalo yang membuatnya kamu, Oma mungkin lebih suka.

Oma kan sayang kamu,” kata Ana sambil tersenyum dan melihat Bulat.

”Yaa..., tapi Bulat...”, kalimatnya tidak diselesaikan, karena ia malu

belum bisa membuat kue atau memasak.

”Ana, boleh Bulat masuk kamar Ana-Aya sekarang? Bulat mau mencari

barang-barang Bulat waktu masih kecil”, katanya mengalihkan

pembicaraan.

Ana pun mengangguk. Langsung saja Bulat melesat menuju kamar

ayah-bundanya.

Di dalam kamar Ana-Aya, bulat sudah membongkar semua perabotan

kecilnya yang disimpan Ana. Tapi nampaknya Bulat kembali kecewa

karena yang ia harapkan tidak ada. Semua barang-barang waktu kecilnya

hanya berupa baju, selimut, sepatu, kaos kaki, dan lain-lainnya.

Tapi yang dicarinya tidak ada. Dan Bulatpun mulai terlihat sedih.

569

Suara deru mobil memasuki halaman rumah Bulat yang masih basah

karena hujan tadi siang. Aya pulang sedikit terlambat karena harus

terlebih dulu ke supermarket untuk membeli sesuatu. Titipan Ana

juga, kado buat Oma. Wajah Aya tampak ceria sore itu. Memasuki

rumah seperti biasa ia menyapa penghuni rumahnya, Bulat dan Ana,

sambil membawa belanjaan langsung ke dapur.

”Ana.. Bulat.. di mana kalian? Kok gak ada orang di rumah?” tanya

Aya sambil membuka sepatunya. Tidak seperti biasa suasana rumah

yang ditemuinya ini.

Di kamar Aya mendapati putrinya sedang menangis di atas tempat

tidur Ana-Aya. Sambil menyapanya, Aya bertanya ada apa dengan

Bulat. Bukankah hari itu Oma berulang tahun, jadi seharusnya ia

senang karena ia akan bertemu dengan saudara-saudara sepupunya

dan juga Oma dan Opa. Mendengar itu semakin pecahlah suara tangis

Bulat. Sambil memeluk Aya, Bulat bercerita. Menurutnya Ana tidak

sayang padanya karena catatan-catatan Bulat waktu kecil tidak pernah

dikumpulkan.

Ana yang waktu itu baru saja selesai mandi, begitu mendengar cerita

putrinya pada ayahnya, menjadi amat terharu.

***

Acara ulang tahun Oma berlangsung meriah walaupun sederhana.

Tamu-tamu yang datang meliputi keluarga dan tetangga-tetangga

dekatnya. Oma memang omanya Bulat, dapat ia melihat kesedihan

di mata cucunya itu. Di dapur Oma bertanya pada Ana, mengapa

cucunya tidak ceria seperti biasanya. Mengenai apakah ada masalah

di rumah tadi sebelum berangkat ke sini. Ana pun menjelaskan alasan

kenapa cucu Oma itu berubah menjadi pendiam. Tersenyum Oma

mendengar alasan yang dikemukakan mantunya itu. Setelah perbincangan

di dapur itu, Oma beranjak menuju kamarnya di lantai atas.

Tampak di ruang tengah Aya sedang asyik mengobrol bersama tamutamu

Oma sambil menikmati jamuan makan malam. Sedangkan Bulat

nampak berkumpul bersama saudara-saudara sepupunya menonton

acara anak remaja yang sedang digandrungi saat itu di TV, sambil

memakan makanan dan minuman ringan. Acara ulang tahun ini

cukup meriah. Tampak Onkel Yunas adik dari Aya nampak tertidur

570 BAGIAN 9. KISAH-KISAH ANTAR RUANG DAN WAKTU

kecapekan di atas sofa Oma.

Tak lama kemudian pesta pun usai. Aya mengantarkan tamu-tamu

Oma sampai di depan pintu. Hanya Bulat sekeluarga dan keluarga

Om Yunas yang masih tinggal, saudara-saudara yang lain pamit

bersama-sama dengan pulangnya tetangga-tetangga, dikarenakan

rumah mereka yang jauh. Rumah Bulat walaupun di kota lain, paling

dekat dengan rumah Oma di antara saudara-saudara sepupunya.

Sedangkan Om Yunas tinggal di kota yang sama dengan Oma.

Bulat kemudian mencari Ana ke dapur. Ana yang saat itu sedang

asyik berbincang-bincang dengan Tante Hera, istri dari Om Yunas,

begitu melihat putrinya di depan pintu dapur langsung menggapainya

untuk mendekat.

”Ada apa, sayang? Kamu capek?” tanya Ana saat Bulat telah sampai

dan menyenderkan kepala padanya. Dielus-elus sayang rambut

putrinya itu.

”Enggak Ana, Tante Hera perutnya udah gendut ya... kira-kira kapan

ya, dede baby-nya datang,” tanyanya asal. Tak tahu apa yang harus

diucapkan.

Pembicaraan pun berlanjut. Tante Hera pun menceritakan persiapanpersiapannya

menanti kelahiran bayinya. Bulat lumayan terhibur atas

cerita mengenai kelucuan bayi-bayi. Walaupun kadang hal itu mengingatkannya

kembali pada kesedihannya semula.

Kira-kira pukul dua belas lewat tengah malam, Bulat dan keluarga

pamit pulang karena besok masih harus pergi sekolah dan Aya-Ana

pergi ke kantor. Tante Hera dan Om Yunas berencana memang akan

bermalam di sana. Oma memeluk Bulat erat-erat. Bulat mengatakan

maaf karena tidak sempat membawa kado buat Oma. Mendengar itu

Oma hanya tersenyum dan mengatakan bahwa kedatangannya sudah

cukup membuatnya bahagia daripada sebuah kado. Kemudian Oma

memberikan oleh-oleh sebuah kotak segi empat berpita biru pada Bulat.

Kotak yang sedari tadi berada di belakang punggungnya. Bulat

terlihat bingung dengan apa yang diterimanya itu.

”Tapi Oma.., bukankah Oma, yang ulang tahun yang harusnya menerima

kado ini, bukannya Bulat,” kata Bulat

571

”Iya, tapi ini Oma sudah siapkan sejak jauh-jauh hari sebelum Oma

akan berulang tahun,” kata Oma sambil tersenyum.

”Terimalah sayang, ini buatmu, dan semoga kamu menyukainya

yaaa..., ayo dong cucu Oma kok cengeng begini, mana senyummu

berikan sekali buat Oma, biar Oma tak akan melupakannya malam

ini”, canda Oma yang membuat Bulat menjadi tersenyum malu, lalu

memeluk manja Oma.

”Terima kasih, Oma..., nanti aku akan buatkan kue kesukaan Oma

tapi buatanku sendiri dan aku berjanji ingin belajar pada Ana”, kata

Bulat penuh semangant. Bangkit keceriaan di wajahnya.

”Iya.., sekarang pulanglah, cepatlah tidur, kado itu nanti aja setelah

sampai rumah baru kamu buka, jangan nakal, pintar-pintarlah belajar,

nurut sama Ana-Aya!” Nasehat Oma yang serasa sudah hapal di luar

kepala oleh Bulat. Setiap kali Bulat berkunjung ke Oma, saat akan

pulang ia selalu mengatakan hal itu.

”Iya Oma,” jawabnya.

Sekali lagi cucu dan nenek itu saling berpelukan, seakan-akan keduanya

tidak ingin berpisah malam itu.

***

Di tengah perjalan pulang Bulat berkata pada Aya juga Ana.

”Aya dan Ana, bolehkah aku malem ini tidur bersama kalian?” tanya

Bulat penuh harap.

”Kenapa nggak bobo sendiri di atas, Bulat takut..??” tanya Ana dengan

wajah yang sudah mengantuk.

”Bulat mau nonen ya..., sama Ana,” kata Aya sedikit meledek Bulat

”IIIhh.. Aya, Bulat kan sudah gede,” Kata Bulat sambil memonyongkan

bibir mungilnya itu.

”Iya, iya..., tidurlah nanti bersama kami”, kata Ana mencairkan

suasana malam itu.

”Terima kasih Ana, Aya jelek weeeek...,” kata Bulat sambil mencium

572 BAGIAN 9. KISAH-KISAH ANTAR RUANG DAN WAKTU

pipi Ana lalu menjulurkan lidahnya ke Aya. Aya pun membalasnya

dengan kilikan di pinggang. Suasana malam itu menjadi cair dan

cerita. Aya berkata bila nanti sudah tiba di rumah Bulat pasti sudah

digisangnya habis-habisan. Bulat tertawa, dia sudah membayangkan

bagimana Ayanya akan menggelitikinya dan mencium gemas padanya.

Di atas tempat tidur mereka bertiga pun mulai bersiap-siap untuk

tidur. Semua saling mengucap selamat tidur. Ana dan Aya mencium

kening sang buah hati yang berbaring di antara mereka. Tak

lama kemudian Aya sudah terdengar mengorok dan Ana juga sudah

terlihat sudah tidur. Akan tetapi Bulat masih belum dapat memejamkan

matanya. Masih teringat ia akan kotak segi empat berpita biru

yang tadi berikan Oma kepadanya. Akhirnya ia bangun dan berjalan

menuju meja TV, ke tempat di mana ia meletakkan kotak berpita biru

oleh-oleh dari Omanya itu. Ia sudah tidak tahan ingin melihat isinya,

padahal Ana tadi berpesan agar besok saja membukanya, karena saat

ini sudah hampir dini hari dan Bulat kudu bobo.

Pita yang membalut kotak itu perlahan ia tarik, sambil duduk di atas

bangku kayu yang terletak di sisi tempat tidur. Ia pun membuka pelan

kotak itu dan mulai menjenguk isinya. Ada sepucuk surat di atas

jilidan kertas-kertas yang tampak sudah menguning dimakan usia.

”Dear Cucuku yang manis,

Hari ini Oma sangat bahagia sekali, bisa melihat semua orang-orang

yang Oma sayangi datang ke ulang tahun ini, termasuk kamu tentu

saja. Jangan sedih lagi ya... Oma jadi ikut sedih kalo cucu Oma yang

cantik ini murung tidak ceria.

By The Way... (pada saat membaca bagian ini Bulat tersenyum,

karena gaya bahasa Oma seperti ABG saja) ini adalah kumpulan

surat-surat dan coret-coretan tanganmu ketika kamu masih kecil.

Anamu sangat rajin sekali mengirimkan perkembanganmu dari waktu

ke waktu, sejak kamu masih berumur 1 bulan hingga sekarang kamu

sudah berumur 10 tahun.

Dulu di rumah Oma belom mempunyai telepon seperti sekarang ini

yang bisa menghubungimu kapan saja kalo Oma kangen. Sekarang

kamu jangan sedih lagi ya... Oma jadi sedih kalo mukamu murung

seperti tadi. Oma sayang kamu. Met bobo dan mimpi yang indah.

573

peluk cun dari Oma”

Tak terasa meleleh air mata Bulat dan jatuh di atas surat Oma. Bulat

terharu membaca surat itu. Kemudian ia membuka kertas-kertas

yang penuh coret-coretan yang tidak beraturan itu sambil tersenyumsenyum

sendiri. Coretan-coretannya semasa kecil. Ia teringat kembali

kenangan masa kecil yang penuh kasih sayang Aya dan Ana, juga

Oma. Ingatannya kembali ke masa lalu, sesuatu hal yang amat tak

dapat ia lupakan adalah saat mencoret-coret dinding-dinding rumah

Aya-Ana. Di kamar tidurnya sampai sekarang masih terdapat sisa-sisa

hasil-hasil karyanya itu.

Bulat kembali ke tempat tidur, sambil kemudian mencium Aya dan

Ana. Ia membisikkan sesuatu di telinga Ana. Ana yang tadi terlihat

tertidur lelap, ternyata hanyalah pura-pura belaka. Lelehan air mata

Ana membasahi bantal putihnya saat putrinya mengecup dahinya.

Terharu ia melihat putrinya dan kenangan-kenangannya dalam wujud

coretan-coretan itu. Keduanya pun saling berpelukan dan kemudian

tertidur hingga pagi yang cerah menyapa mereka.

***

* Prinzessin: puteri.

* Dede baby: adik bayi.

* Nonen, ronen: merogoh nenen.

* Gisang: mencium dengan gemas.

* Kudu: harus.

* Bobo: tidur.

* Cun: cium.

– Kolaborasi dengan Doodlez Milinding – 2006-08-15

Terharu pemuda itu. Kisah dua terakhir benar-benar menyentuh

hatinya. Ia yang tidak terlalu ingat mengenai keluarganya merasa

kisah-kisah itu bisa mengisi kekosongan batinnya saat ini. ”Sebaiknya

kuteruskan membaca buku ini,” gumammnya.

574 BAGIAN 9. KISAH-KISAH ANTAR RUANG DAN WAKTU

Orang-orang Maya dan Nyata

Suatu hari pada hari yang lain. Nein Arimasen, orang itu tampak

tidak senang dengan pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh seorang

wartawan di kantornya. Wartawan itu bernama Si Ingin Tahu.

”Pak Nein,” katanya, ”mengakulah bahwa Anda ini tidak lain adalah

Andi Muhammad. Saya telah menelusuri sejak keberadaan anda di

internet. Dan lagi buku-buku anda dijual pada toko online yang sama,

di mana buku-buku Andi Muhammad pun dijual.”

Mendengar itu, Nein Arimasen hanya dapat menghela napas, lalu

jawabnya, ”Pak Si,” begitulah panggilan akrab Si Ingin Tahu, ”jika

saya menjual buku-buku saya secara online di toko yang juga menjual

buku-buku J.K. Rowling, apakah berarti seorang Nein Arimasen itu

juga seorang J.K. Rowling? Tidak, bukan?”

”Kalau itu, ya.. jelas tidak!” sanggah Pak Si cepat, ”tapi untuk kasus

anda ini unik. Hanya beberapa nama yang muncul di toko online itu.

Dan saya yakin, berdasarkan riset saya bahwa anda adalah juga Andi

Muhammad.”

”No comment untuk itu,” jawab Nein, ”seorang pengarang berhak toh,

untuk tetap menggunakan nama penanya. Biarkan orang itu eksis.

Jangan dikait-kaitkan dengan saya.”

”Apakah karena orang itu, Andi Muhammad, memiliki haluan yang

berbeda dengan anda, sehingga anda tidak mengakui dirinya sebagai

diri anda?” tanya Pak Si keukeuh.

”Pak Si,” akhirnya mengeras suara Nein, tak sabar ia akhirnya, ”kita

telah kenal sejak lama. Sejak saya meminta tolong pada Pak Si untuk

membantu meresensikan karya-karya saya, sehingga pembaca dapat

mengenalnya. Akan tetapi bukan dengan alasan bantuan itu sehingga

Pak Si berhak memaksakan kehendak Pak Si untuk memperoleh berita

mengenai orang itu, anu, siapa namanya tadi?”

”Andi Muhammad..,” jawab Pak Si cepat.

”Ya, orang itu yang saya maksud,” ucap Nein, ”tak lazim pula nama

itu di telinga saya. Bagaimana pula saya bisa pake nama pena itu,

bila itu benar saya.”

575

”Jadi.., anda mengakuinya?” tanya Pak Si penuh harap. Bila hal ini

benar, dapatlah ia berita hangat untuk malam ini bagi korannya.

”Bukan, itu hanya ilustrasi,” jawab Nein, masih dengan nada jengkel.

Di sudut ruangan, Dancewith Ghost tampak tersenyum-senyum

sendiri. Ia yang sedari tadi mendengarkan pembicaraan itu, tak

dapat menyalahkan Pak Si seratus persen. Ada benarnya mengapa

Pak Si sampai curiga pada Nein bahwa ia adalah orang yang dimaksud

Pak Si. Terlalu banyak kebetulan belaka. Untung saja dirinya tak

ikut dikait-kaitkan. Ia juga menjual buku-bukunya pada toko online

yang sama. Memang ada beberapa orang yang menjual buku di sana.

Akan tetapi produk yang paling banyak memang dua orang itu. Jadi

jelas mengapa ’kebetulan’ mengarah ke mereka berdua.

”Baiklah jika demikian,” lanjut Pak Si, ”mari kita omongkan soal

novel yang akan anda tulis.” Akhirnya Pak Si mengalah, walaupun di

hatinya masih gondok bahwa misinya untuk menembak Nein dengan

pertanyaan-pertanyaan tersebut, yang sudah dipersiapkannya, tidak

berhasil.

”Nah, itu baru betul,” jawab Nein kembali antusias. Lalu jelasnya

mengenai novel yang akan dituliskannnya, yang berisikan lanjutan dari

novel sebelumnya, dikemas masih dalam setting waktu dan geografis

yang sama, akan tetapi dengan alur yang lebih sederhana dan cepat.

Beberapa pembaca memberikan umpan balik, bahwa novel terakhirnya

terlalu rumit dan meloncat-loncat dalam aluran waktu. Perlu pembaca

serius untuk dapat mengertinya. Pembicaraan itu pun berlanjut

sampai matahari telah tenggelam dari kaki langit sebelah barat.

Pak Si pun pamit.

***

”Yo.., Nein..,” tanya Dancewith, ”boleh dong gua tahu, sebagai teman,

apa bener itu si orang itu?”

”Heee...! Jangan mulai lagi dong,” rengut Nein. ”Udah cukup gua

hari ini ketemu Pak Si. Ditembak dengan pertanyaan-pertanyaan ga

beralasan itu. Masih untung dia g menulis dugaannya di korang. Bila

iya, makin banyak tembakan ke gw, deh..”

576 BAGIAN 9. KISAH-KISAH ANTAR RUANG DAN WAKTU

”Sorry, bro!” jawab Dancewith, ”cuman becanda. Jangan dimasukan

ati ya!”

Nein hanya mengangguk. Di persimpangan Jalan Gajah dan Tikus,

mereka berpisah. Nein menuju utara sedangkan Dancewith menuju

selatan, pusat kota.

***

Sesampainya di rumah, setelah bersih-bersih, makan dan menenangkan

diri. Nein pun membuka PC-nya, ditujunya suatu situs

yang hanya diketahuinya sendiri dan beberapa orang. Termasuk di

dalamnya orang yang namanya dituduhkan sebagai dirinya tadi.

Tak lama muncul sebuah pesan,

”Bagus...! sasaran telah tampak. Orang-orang sudah mulai mencurigaimu.

Terus berupaya membentuk kecurigaan. Sesuaikan dengan

rencana.

Master Kenobi”

Nein tersenyum membaca itu. Master telah tahu kunjungan dan juga

tuduhan Pak Si. Hal ini memang direncanakan, agar jangan sampai

dugaan mereka mengarah pada orang yang sebenarnya. Lebih baik

salah sasaran, sehingga tokok sebenarnya masih dapat bergerak bebas.

Setelah menulis berbagai hal, merinci apa-apa yang ditanyakan Pak

Si tadi, Nein pun mematikan komputernya. Master tahu kunjungan

Pak Si, karena itu seperti perkiraannya semula. Akan tetapi ia perlu

pelaporan dari Nein untuk detil-detil yang terjadi. Nein puas. Ia telah

melaksanakan tugas yang diberikan padanya.

Diputuskannya untuk tidur. Hari telah larut. Pekerjaan kantor, biarlah

besok saja dilanjutkan. Walau sudah kadung dibawa pulang, tak

ada selera ia membereskannya.

Tidur merupakan obat yang baik. Obat bagi ketegangannya tadi

siang. Besok, entah tugas apa lagi yang diberikan Master padanya.

Di harus fit dan siap. Setiap saat.

***

577

Entah kapan halusinasi ini akan berakhir. Selama nafsu-nafsu masih

merajalela dan dipupuk keinginan membuta. Entah nanti. Mungkin.

25-9-2006 – 2006-09-25

”Hah!! apa maksudnya ini?” ucap pemuda itu dan lalu ia teringat

akan perkataan ayahnya saat ia menemukan buku ini. Ia pun kemudian

mengangguk-angguk. Memang benar perkataan ayahnya, Seh

Pratahu, bahwa buku itu bukan buku yang bagus. Mungkin dari penuturan

dan ceritanya yang meliar ke sana-kemari, ayahnya menilainya

sebagai buku yang kurang bagus.

”Tapi bagaimanapun, tidak mudah menulis sebuah buku,” ucapnya

pada dirinya sendiri. ”Mungkin baik bila aku gunakan buku ini sebagai

kerangka atau sumber ide untuk cerita yang ingin aku tulis suatu saat

nanti.”

Segera ia berlari ke ayahnya untuk mengembalikan buku tersebut.

Dan kisah pun berlanjut untuk dituliskan.

***

0 Response to "Elemen Kekosongan 10"

Post a Comment

Translate

English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified