Download applikasi baca novel online untuk android disini: DOWNLOAD

The Devil's DNA

Pukul satu ia tiba di lingkungan bekas tempat tinggalnya, bertanya-tanya apakah ia bertindak terlalu jauh bila berusaha meyakinkan Nona A bahwa masih ada orang-orang di sana yang bersedia menolong. Setidaknya beberapa ciri khas lingkungan ini masih ada. Toko sepeda di 88th Street, toko alat tulis yang menjual Irish Echo dan tiket lotre, bengkel perbaikan sepatu Gus, tempat potong rambut Romeo dengan tiang garis-garis permen di depan. Ia berdiri diam beberapa saat di luar halaman sekolah St. Crispin's, mencermati gadis-gadis dengan rok pendek kotak-kotak bertarung dengan anak laki-laki yang memakai blazer marun dan pantalon abu-abu. Jendela kantor kepala sekolah terlihat berdebu, dan ia bertanya-tanya dengan rasa nyeri menohok tajam apakah Pastor Flaferty masih hidup. Rohaniwan tua itu telah menulis surat rekomendasi pada Universitas Columbia dan meyakinkan Papi bahwa anaknya memiliki masa depan cerah. Semacam cekikan rasa malu menyelimuti Hoolian saat ia membayangkan dirinya berlari menuju pendeta itu dan menyaksikan kekecewaannya dalam diam.

Ia meneruskan berjalan menuju kota, dan tak lama menyadari dirinya tengah memperhatikan kanopi hijau terang yang familier di seberang lalu lintas yang merayap pelan, dengan angka putih 1347 berdesir halus dalam angin sepoi.

Ia berkata pada diri sendiri, ia punya hak berada di sana seperti siapa pun juga. Ini rumahnya. Ini adalah blok tempatnya tumbuh besar. Ini adalah bagian kota yang paling diakrabinya. Di trotoar ini, ia pertama kali belajar naik sepeda. Julian, putra pengelola gedung. Sekali lagi, ia merasakan rindu yang menyakitkan, teringat pada Bu Lunning dari 5E yang memberinya sebuah Combat GI Joe pada suatu Natal. Tentu saja, kini ia mengerti ayahnya tentu lebih menyukai empat lembar dua puluh dolaran dalam amplop putih bersih. Meski begitu, saat itu hadiah tersebut membuat Hoolian merasa dirinya pangeran kecil di gedung ini, berlari ke sana-kemari dengan topi penjaga pintu yang terlalu besar tercangklong di kepala dan peluit taksi terkalung di leher, semua orang tersenyum dan mencari-carinya.

Semua itu kini lenyap. Ia menelan ludah, bertanya-tanya apa yang sedang kawannya, T-Wolf, kerjakan saat ini. Mungkin kembali ke Carpenter Avenue di Broruc, berpesta untuk kedua kalinya dalam dua hari, mengisap ganja, keluarganya membawakan berpiring-piring penuh ayam goreng dan pacar lamanya mampir untuk menengok. Satu rasa marah yang asing menyelimuti dirinya selama beberapa saat: mengapa Papi tak membesarkannya di kota, yang lebih dekat dengan para kerabat dan kawan-kawan yang akan menyambut kedatangannya kembali? Seorang putra pengelola gedung bukan siapa-siapa. Ia bukan anggota kelas atas maupun kelas rendah. Ia bukan kalangan atas tapi juga bukan orang jalanan, bukan orang Amerika maupun Puerto Rico. Ia bukan sampanye atau minuman soda. Ia tak berada di atas atau di bawah. Ia terperangkap di antara lantai-lantai gedung.

Dengan tangan merogoh dalam-dalam ke saku, ia berjalan tanpa tergesa-gesa menuju kanopi itu, bermaksud melihat-lihat sebentar, kalau-kalau masih ada orang lama di sana. Papi bekerja di gedung ini selama dua puluh dua tahun. Salah satu pengelola Puerto Rico di daerah ini. Artinya, kita harus dua kali lebih bersih dan bekerja dua kali lebih keras, Bung Kecil. Selalulah mulai bekerja pukul enam pagi, pakai kemeja putih dan dasi, pantalon hitam, rambut disisir ke belakang tapi jangan terlalu berminyak. Mudah dicari tapi tak boleh terlihat. Sembunyi-sembunyi tapi dapat diandalkan. Meniup peluit untuk menyediakan taksi. Menjaga asbak lobi tetap bersih. Menggosok lantai marmer di lorong. Menyapu trotoar. Memeriksa asuransi para pengontrak. Memastikan lift servis bekerja. Ya, Bu. Tidak, Bu. Saya akan membawa hasil cucian ke atas. Akan saya panggilkan pelayan. Akan saya bawq resep ini ke apotek. Akan saya sediakan mobilnya.

Dua puluh dua tahun ia melatih matanya agar selalu terbuka dan menutup mulut, menyimpan ambisi di ruang paket bersama bungkusan-bungkusan UPS dan kiriman toko minuman anggur Sherry-Lehmann. Dan, ketika putra tunggalnya dikurung, mereka memperlakukannya bak imigran ilegal bau apak yang baru turun dari kapal, yang akhirnya memaksanya untuk berhenti. Tentu saja, saat itu perhatian Papi begitu tersita oleh kasus itu sehingga ia berhenti membuang debu dari asbak dan bergantung pada Valium.

Tiang kuningan kanopi itu berkilau di bawah cahaya matahari. Penjaga pintu bertubuh kecil dan berwajah seperti tikus dengan seragam hijau hutan dengan kepang emas pada bahu menatap padanya dengan curiga saat melintas. Jadi, akhirnya orang-orang Irlandia kembali mengendalikan tempat ini.

Hoolian memperhatikan dengan kepuasan sembunyi-sembunyi, keset karet hitam yang diinjak si penjaga pintu itu sedikit usang, dan bagian bercap 1347 di atasnya telah terhapus oleh sol-sol keras dan hak sepatu. Seandainya Papi ada, ia pasti akan segera menggantinya.

Ia berjalan ke ujung blok dan berbalik untuk melewati gedung itu lagi, jantungnya mulai berdebar. Ayolah. Jangan jadi pengecut. Kau tahu apa tujuanmu ke sini. Mengapa orang lain harus menolongmu jika kau sendiri tak dapat menolong diri sendiri? Penjaga pintu itu memperhatikannya dengan mata seperti celah pistol. Yeah, kau tahu aku tak bermaksud baik, kan? Untuk apa lagi orang sepertiku berkeliaran di lingkungan ini?

Atau, mungkin lebih buruk lagi, ia tahu. Mungkin ia sudah mendengar putra pengawas lama baru saja keluar dari penjara dan kemungkinan besar akan kembali ke tempat kejadian. Salah satu mitos polisi lama yang kadang memang benar.

Hoolian pasti sudah ngobrol dengan puluhan orang di penjara yang tertangkap gara-gara mereka terus-terusan berkubang dalam kotorannya sendiri seperti lalat. "Osvaldo?"

Ia membeku, mendengar nama ayahnya dipanggil jelas untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun. Ia terus berjalan, mengira suara itu pasti muncul dari kepalanya sendiri.

"Osvaldo, kaukah itu?"

Seorang wanita tua duduk menjemur diri di tabung pemadam kebakaran tepat di sebelah pintu masuk. Entah bagaimana Hoolian merindukan wanita ini, dengan jaket bolero merah, rok yang serasi, dan sepatu hak tinggi dari kulit yang berkilauan. Rambutnya dicat hitam kebiruan, dan ketika ia mengedip, bulu matanya mengibas kelopak mata seperti sikat penabuh drum di atas kulit drum yang telah terlalu sering dipukul.

"Ya Tuhan," katanya. "Sudah lama sekali!"

Hoolian memandangnya bingung hingga ia teringat pada nama dan nomor apartemen itu. Nona Powell, 14A. Dengan lukisan repro Degas di foyer, piano besar Steinway di ruang keluarga, dan tempat lilin kristal di ruang makan. Peralatan asli kuningan di wastafel kamar mandi yang selalu bocor.

"Coba kulihat dirimu sekarang." Ia mengangkat lengannya yang gemetar, mengajak masuk. "Ke mana saja kau?"

Hoolian melangkah perlahan, tak yakin apa yang mesti ia ucapkan. Usia tua telah merayapinya bak hujan asam, menodai gigi dan mengotori tangannya dengan bintik-bintik. Tapi matanya masih menyiratkan pandangan seorang gadis yang menunggu diajak berdansa.

Ia memalingkan pipi, mengharapkan ciuman. Aroma bunga mati dari parfumnya membuat Hoolian sedikit tercekik. Tapi sebuah insting memaksanya menahan napas. Ia mungkin dapat menolong. Ia mungkin masih punya uang, setidaknya. Ia pasti punya perhiasan yang cocok dengan Degas dan Steinway itu. Hoolian menaruh bibirnya pada pipi wanita tua itu, dan rasanya seolah ia mencium prasasti Magna Carta.

Wanita itu menyentuh kedua bahunya perlahan, mendorongnya ke belakang agar dapat melihat dengan jelas.

"Kau kelihatan sehat," katanya. "Tak menua sedikit pun. Bagaimana bisa?"

"Berkat mengangkat barang berat." Ia menonjolkan lengannya gugup. "Menjaga darah agar tetap terpompa."

Wanita itu sejak dulu memang agak aneh. Kata ayahnya, ia adalah kerabat jauh industrialis terkenal Andrew Carnegie. Ia tinggal di sini sejak sekitar 1923, seorang gadis pemalu dengan lutut menonjol dan gusi seperti kuda. Konon, orang tuanya dulu pernah membuat pesta besar-besaran untuk ulang tahunnya yang keenam belas, berharap agar anaknya itu keluar dari tempurungnya: sebuah band disiapkan di ruang keluarga, katering nomor satu di dapur, dan undangan berukir indah yang disebarkan pada semua teman sekelasnya di Spence dan para pemuda di kota seberang, Collegiate. Saat pukul delapan berlalu, tak seorang pun yang datang. Hanya ada gaun pesta merah muda yang tak akan dikagumi siapa pun, berpiring-piring hidangan mahal yang sia-sia, dan para musisi dengan tuksedo sewaan yang terus-menerus menengok arloji mereka.

Sejak itu, menurut Papi, Nona Powell hampir tak pernah meninggalkan apartemennya kecuali untuk duduk di luar di samping hidran selama sekitar satu jam tiap sore. Namun pernah, saat berusia delapan tahun, ia melihat wanita itu di ayunan di Taman Bermain Mariner di Central Park, memandang langit sambil melamun, seolah-olah ia menunggu seseorang untuk datang dan mendorong.

"Bagaimana kabar anakmu?" tanyanya.

"Anakku?"

Butuh waktu sesaat bagi Hoolian untuk menyadari bahwa usianya kini hampir seusia ayahnya saat wanita itu terakhir kali melihat. Hingga kini, ia tak banyak menyadari kemiripan antara ia dan ayahnya dari cermin di selnya, masih separo berharap melihat dirinya yang berusia tujuh belas memandang balik padanya.

"Ia berusaha sebaik-baiknya," ujarnya, ikut bermain sebab mengoreksi cerita saat ini hanya akan membuat Nona Powell ketakutan. "Berusaha tetap kuat."

"Ia anak yang begitu baik." Ia mengangguk pada lalu lintas yang mendesing dan mendesau. "Julian. Nama yang sungguh indah untuk anak lelaki."

"Tapi pantatnya ditendangi gara-gara nama itu di sekolah," gumamnya kesal.

"Dulu ia sering naik ke sini dan menemaniku."

"Ya."

Hoolian mengangguk, penjaga pintu itu memandangnya dengan waswas dari bawah bayangan kanopi, seolah-olah seseorang bermaksud mengambil alih pekerjaannya yang menyedihkan.

"Dulu aku selalu memakai bermacam-macam alasan agar dia mampir," kata Nona Powell, merasuk lebih jauh ke dalam lamunan. "Aku menumpahkan bubuk kopi ke toilet dan menaruh terlalu banyak kertas toilet, hanya agar ia naik ke atas dengan penyedot WC.”

“Kau melakukan itu?"

Hoolian menggelengkan kepala. Putra pengawas. Selalu bersemangat untuk naik ke atas dengan peralatannya saat Papi terlalu sibuk. Apakah Nona Powell salah satu yang suka mengambil keuntungan darinya? Ia memikirkannya beberapa saat, berusaha meyakinkan diri bahwa memang begitulah kejadiannya, agar ia bisa membenarkan tindakannya naik ke atas dan melakukan perbaikan atas permintaan tanpa dibayar.

Tetapi ia lalu teringat bagaimana wanita itu kadang membolehkannya duduk di meja makan kayu oak besar dengan buku kalkulusnya, mengerjakan PR, menghindari apartemennya di bawah yang suram tanpa kehadiran seorang ibu, sinar matahari siang menyorot dari tirai tua dan membentuk prisma pada tempat lilin kaca, menciptakan pelangi kecil di atas kayu saat wanita itu menyibukkan diri di dapurnya yang besar, membiarkan pintu terbuka untuk sesekali memperhatikan Hoolian. Sudah lama sekali ia mengizinkan dirinya sendiri berpikir tentang sore-sore sunyi yang panjang itu, berdua meredam kesepian hingga pukul enam, ketika ia harus mulai menyiapkan makan malam untuk Papi.

"Aku tak pernah percaya..." Mendadak ia sadar akan ucapannya yang bakal membuat suasana tak enak. "Ya, menurutku sungguh menyedihkan apa yang terjadi. Aku sangat kenal gadis itu. Aku selalu menyapanya di lift. Ia hanya menyewa tapi begitu baik."

"Orang-orang masih membicarakannya?"

Wanita itu menengadah padanya, kabut itu sedikit menghilang. "Tak begitu sering lagi. Kejadian itu sangat menyedihkan."

"Ya. Akhir hidupku juga." Hoolian melihat matanya yang dikelilingi warna merah muda membuka lebar. "Atas apa yang terjadi pada putraku," ia mengoreksi.

"Tentu saja."

Penjaga pintu itu menghilang ke dalam gedung, meninggalkan pintu masuk tak terjaga selama sesaat.

"Jadi," kata Hoolian, tiba-tiba melihat kesempatan untuk menolong dirinya sendiri dengan jalan berbeda."Orang-orang lama masih ada?"

"Maksudmu?"

"Misalnya, Willie dari lift belakang. Nestor, portir..." Bulu mata itu berkedip-kedip bingung. "Oh," ujarnya setelah beberapa lama. "Lelaki tua yang bekerja di atap?”

“Betul."

"Julian kadang membawanya ke sini, untuk membantu menyusun perabot ruang keluarga. Kecil tapi kuat seperti banteng. Tak banyak bicara bahasa Inggris."

"Persis."

Ia mengangguk kembali, menangkap perasaan tak nyaman wanita itu. Ia tahu, terlalu dini ia kembali ke sana. Apa yang ia harapkan, spanduk "selamat datang"? Orang-orang ini ingin melupakan dirinya, bersikap seakan-akan ia tak pernah ada. Lihatlah dari sudut pandang mereka: melihatnya tumbuh besar di depan mata mereka sendiri, membiarkannya masuk ke dalam rumah mereka, memperlakukannya hampir seperti anak sendiri. Ia adalah bukti dari ketulusan mereka, bukti dari sikap orang yang percaya bahwa semua orang sederajat, membiarkan si anak Puerto Rico mondar-mandir di dapur mereka.

Dan, bagaimana ia menunjukkan penghargaan atas hal itu? Ia mengkhianati mereka, menegaskan ketakutan mereka yang terbesar, menghancurkan kedamaian dan kesucian rumah mereka. Ia membunuh salah satu dari mereka, anggota kelas mereka, yang terbaik, si gadis sempurna.

"Ia itu musisi, kan?" kata Nona Powell, masih menggenggam tirai masa lalu. "Wajahnya kecil agak feminin tapi tangannya besar dan kuat dengan jari-jari panjang. Ia bisa memainkan piano."

"Memang. Papi bilang ia bergabung dengan salah satu banci terbaik di Santo Domingo sebelum pindah ke sini."

Kalaupun wanita itu menyadari kelepasan omongnya, ia tak peduli. "Kau ingat, aku punya Steinway tua besar itu di ruang keluargaku? Piano itu mungkin belum disetel lagi sejak pesta ulang tahunku yang keenam belas. Tapi suatu sore ia datang dengan anak itu dan, ya ampun, seolah-olah George Gershwin tiba-tiba muncul di apartemenku."

Hoolian masih dapat membayangkan portir tua itu merangkak menuju keyboard setelah mereka memindahkan sofa di belakang meja kecil. Memeriksa nadanya dengan perlahan, awalnya ragu-ragu, seperti seseorang naik tangga spiral dalam keadaan gelap. Bolak-balik hampir tak beraturan, hingga orang baru menyadari bahwa untaian bunyi acak itu sebenarnya adalah sebuah melodi. Tangan kirinya merangkai bunyi, lalu perlahan-lahan masuk ke musik yang indah. Nada pedal yang dalam bergema ke langit-langit dan gemerlapan di jendela. Jarijari yang panjang dan melengkung menghujam dan berdansa, memukul dan melecut, menukik dan bermain tango, meluncur dan bermain mambo.

"Kau ingat kita pernah berdansa?" katanya.

Bagaimana mereka bisa seperti itu, ngomong-ngomong? Apakah wanita itu yang mengajaknya, atau sebaliknya? Selama beberapa saat Hoolian merasa seperti anak kecil lagi, menari waltz di atas karpet Persia merah tua saat senja sambil Nestor bermain piano dengan gegap gempita, Cole Porter di satu tangan, Thelonious Monk di tangan yang lain, seluruh ruangan terasa mengancamnya terbang lepas. Mereka bergerak ke sana-kemari satu sama lain dengan canggung, awalnya. Hoolian, yang biasanya mengidap perasaan kikuk di pesta-pesta, mengikuti langkahnya, menontonnya melakukan pirouet dan arabesque yang mungkin ia pelajari dari les balet privat di ruangan itu. Ia ingat wanita itu tersenyum, senang telah membuatnya gembira, lalu berputar dan menaruh tangan di pinggangnya. Ia akan memegang erat-erat, tak ingin merusak tariannya, khawatir terkena masalah. Tapi wanita itu bersikeras ingin menjatuhkan diri padanya, mengait kaki-kakinya, men-cantel tangan dan kakinya, seakan-akan menariknya ke dalam kenangan pribadi. Dan untuk beberapa saat, mereka berdansa seolah ia masih berusia enam belas dan Hoolian tak bertambah tua sehari pun, seolah-olah mereka pasangan yang membuat seluruh penduduk East S ide iri dan ini adalah peristiwa utama musim ini.

"Kurasa yang kau maksud adalah putraku," kata Hoolian lembut, tahu ia tak bisa menunda waktu lebih lama lagi. "Oh, ya, tentu saja."

Ia memperlihatkan gigi-giginya yang rapat lewat senyum kikuk malu-malu dan dengan segera Hoolian mengerti bahwa wanita itu sudah tahu identitas asli dirinya sejak tadi.

"Jadi, portir itu masih bekerja di sini?" tanyanya, agak terlalu antusias.

"Tidak. Kurasa ia pergi sebelum kau. Benar, tidak? Atau mungkin aku keliru. Maafkan wanita tua yang bingung ini."

Terkutuk. Seharusnya ia tahu tak akan semudah itu. Tentu saja tidak. Mengapa seluruh dunia harus tetap seperti dulu? Orang-orang bertambah tua, berganti pekerjaan, beranak-pinak, kehilangan rambut, memakai nama baru. Mereka berubah menjadi noda cahaya yang berlalu melintasinya.

Penjaga pintu itu muncul kembali dari dalam gedung. "Hey, Bung," panggilnya. "Tolong ke sini sebentar?"

Hoolian meminta diri dengan mengangguk dan berlalu, sekali lagi menjawab pada seragam itu alih-alih pada lelaki yang mengenakannya. "Ada apa?"

"Kenapa kau mengganggu wanita tua itu?"

"Tidak. Aku kenal dengannya."

"Kau kenal dengannya...."

"Ayahku dulu bekerja di sini. Ini gedungnya."

Mata seperti tikus itu menyempit, berpikir. Pria kecil ber-seragam yang mungkin berpikir pita kecil di bahunya itu membuatnya seperti Napoleon dengan peluit taksi. "Kau anak pengawas lama itukah?"

"Ya," jawab Hoolian, lalu mendadak tersadar mestinya ia tak menjawab demikian. "Dulu aku tinggal di lantai pertama..."

"Oke, aku tahu siapa kau." Penjaga pintu itu mengangguk, dengan tingkah seolah ia juara dunia tinju kelas bantam.

"Aku hanya mampir sebentar, untuk memeriksa. Kalau-kalau ada kawan ayahku yang masih di sini. Willie Hernandez masih bekerja di sini?"

"Aku tak tahu Willie."

"Bagaimana dengan Nestor, portir itu?"

"Tak ada yang bernama Nestor."

"Kau ini ngomong apa, Bung? Ia bekerja untuk ayahku.”

“Hey, Sobat, aku ingin bertanya satu hal padamu."

"Apa?"

Penjaga pintu itu meringis pada Nona Powell, melewati bahu dan merendahkan suaranya. "Kenapa kau tak pergi saja dari sini?"

"Apa katamu?"

"Kau dengar."

"Hey, Bung, kau tak mesti kasar seperti itu. Aku hanya datang untuk melihat apa yang terjadi."

"Yang terjadi adalah aku bukan saudaramu, dan ini bukan lagi gedung milik ayahmu."

"Ya, tapi pasti masih ada orang-orang di sini yang masih mengenalnya. Ia bekerja di sini dari tahun 1962 hingga 1984..."

"Ya, aku juga dengar. Tempat ini waktu itu benar-benar payah."

"Heh, itu tidak benar." Hoolian merasa seakan-akan perutnya baru ditendang. "Tarik kembali ucapanmu."

"Ayahmu hampir membuat gedung ini rubuh. Sekarang kenapa kau tak pergi keluar saja sebelum aku memanggil polisi?"

Hoolian tersadar dirinya memegang erat-erat gunting kuku dalam saku dan menatap nadi hijau, tepat di atas kerah penjaga itu.

"Kenapa kau mesti berlaku seperti itu? Aku tak pernah menyakitimu."

"Dengar, aku tak cari masalah denganmu. Pergi saja dari blok ini."

"Oh, jadi sekarang blok ini milikmu? Kupikir aku punya hak untuk berada di sini."

"Kau punya hak untuk ditendang di pantat. Kau ini kenapa, Goblok?"

"Tidak, Bung, aku tidak goblok. Aku sekolah di St. Crispin's."

"Bagus buatmu." Pandangan penjaga pintu itu menajam, menusuk dengan rasa bencinya. "Kukira itu membuatmu menjadi paling jago di antara orang-orang buangan, ya?"

Tusuk ia. Pikiran Hoolian berkecamuk amarah. Keluarkan gunting itu dan tikam segara, sebelum ia sadar apa yang mengenainya. Ia membayangkan si penjaga pintu jatuh berlutut dengan tangan menutupi samping lehernya dan darah menyembur keluar di antara jemari. Tapi kemudian raungan sirene polisi membuatnya kembali sadar.

"Setidaknya, biarkan aku mengucapkan selamat tinggal pada wanita tua itu," ujarnya, berusaha menahan diri.

"Melambai saja." Penjaga pintu menghalangi. "Ia akan mengerti."

Hoolian mengangkat tangan untuk melambai. Tapi Nona Powell sudah memejamkan mata dan wajahnya kembali ke arah cahaya, melamunkan kembali mimpi ulang tahunnya keenam belas tentang patung-patung es berbentuk angsa, band memainkan "Rhapsody in Blue" di ruang keluarga, dan pemuda-pemuda dengan jas makan malam putih dan rambut berminyak yang menyukai gerakan arabesque.

10

"Jam menunjukkan pukul sepuluh. Tahukah Anda di mana anak-anak Anda?"

Tepat saat berita lokal dimulai, Patti D'Angelo dari Brooklyn berjalan ke ruang tamu rumahnya di Carroll Garden dan menemukan suaminya, Francis X., telentang di kursi malas dengan kantung es di lutut.

"Apa yang terjadi padamu?"

"Meja pendek brengsek," gerutunya. "Kakiku terantuk, hendak mengambil telepon.”

“Siapa yang menelepon?"

"Tak ada siapa-siapa. Kuangkat dan tak ada suara apa-apa."

"Hmm. Mungkin salah satu mantan pacarmu menguntit."

Patti memperhatikan kantung es itu dan duduk di lengan kursi. Mungkin berpikir suaminya itu jatuh dari mobil, dilihat dari tingkahnya yang sering menabrak-nabrak barang akhir-akhir ini. Francis tahu pada akhirnya ia harus bercerita tentang keadaan ini pada Patti, tapi pikirannya buyar tiap kali berusaha membayangkan percakapan itu.

Istrinya akan mengerti. Ia pasti peduli. Ia akan pergi ke perpustakaan dan mencari-cari di Internet. Ia akan berburu informasi. Ia akan mulai menghubungi tempat-tempat untuk mengikutkan Francis dalam program dan klinik yang sesuai bagi orang-orang dengan kondisi seperti itu. Ia akan tahu tongkat jenis terbaik dan di mana kelompok pendukung saling bertemu. Dan, Francis benci itu. Karena itu berarti awal dari rasa kasihan.

"Bagaimana harimu?" tanya istrinya, memijat otot-otot yang menonjol di punggung lehernya. "Sulit.”

“Oh?"

Wajar, Francis merasa bersalah. Mereka telah berusaha untuk lebih sering ngobrol belakangan ini. Mereka berdua tak lagi menginginkan perkawinan tradisional khas polisi yang berprinsip "jangan tanya, jangan bilang-bilang", dengan tak pernah membicarakan apa yang ia lakukan seharian. Istrinya juga sedikit bersinggungan dengan dunianya, dengan lima tahun bekerja sebagai jaksa, sehingga tak begitu ketakutan jika suaminya kebetulan menyebut, misalnya, percikan darah, noda, atau septisemia. Dua puluh dua tahun mereka bersama, dua anak, melintasi sungai dan menerobos hutan, menuju Lembah Bayangan dan kembali menyongsong matahari, kadang bahkan berlibur, di Cancun. Dan kini ia berada di sini, duduk terlalu dekat ke layar TV, benjolan sebesar bola pingpong menghujam lututnya, tak mengatakan pada istrinya tentang hal terpenting yang terjadi pada mereka sejak anak-anak lahir.

"Kasus brengsek lama muncul lagi ke permukaan," ujarnya. "Mereka mengizinkan Julian Vega bebas lebih awal."

"Yang benar?"

"Nih, lihat. Kau pikir aku bohong?"

Dipakainya remote untuk mengeraskan suara TV. Roseanna Scotto tengah menyampaikan siaran langsung kepada Lisa Evers yang berdiri di seberang jalan 1347 Lexington.

"Roseanna, pepatah bilang semua yang lama kini baru kembali, dan di sini di Upper East Side, kenangan akan kasus pembunuhan mengerikan kembali hidup..."

"Sungguh menggelikan," kata Francis, tanpa berpaling. "Mereka menghapus dakwaan karena pengacaranya tak memberi tahu bahwa ia punya hak untuk bersaksi. Seakan-akan itu masalah orang lain juga."

"Jadi kau kecewa."

"Tentu saja. Aku bekerja keras untuk kasus itu."

Tampak potongan adegan singkat dan wajah Debbie Aaron mengisi layar, terlihat letih dan menderita dengan latar belakang tumpukan miring buku-buku hukum di rak yang melengkung.

"Ini adalah contoh klasik polisi yang menyalahgunakan kewenangan mereka," ujar Debbie. "Detektif yang bertanggung jawab atas investigasi menetapkan klien saya sebagai tersangka sebelum mereka menyelidiki petunjuk lainnya..."

"Lihat? Itulah yang membuatku kesal." Francis melambaikan tangan, senang ada kesempatan untuk melampiaskan kekesalan. "Ia tahu dirinya tak punya kasus sungguhan. Jadi ia hanya asal bunyi..."

"Ia terlihat baik, si Deb itu." Patti menegakkan punggung. "Terlihat wajar."

"Kau lebih cantik."

"Hmm." Istrinya menyusurkan jemari di sepanjang garis cahaya tubuhnya dan menatap tajam suaminya.

"Mereka membuat fakta-faktanya sesuai untuk melawan klien saya," kata Deb pada kamera. "Omong kosong," kata Francis.

"Ia tak bisa mendengarmu." Patti meremas belakang leher suaminya.

"Dan beberapa hal teramat janggal yang terjadi dalam investigasi ini perlu dicermati ulang," ujar Deb tepat sebelum layar berganti pada cuplikan kasus dua puluh tahun lalu. "Terjadi kegagalan persidangan yang nyata."

Francis melihat pintu Seksi 19 mengayun terbuka dan menatap dirinya di usia dua puluh sembilan, Hoolian, si pelaku kejahatan, berjalan melewati sekumpulan kamera dan mikrofon.

Semua tampak begitu berbeda dari sudut ini. Saat itu, peristiwa ini nyata sekali merupakan saat-saat kejayaan: keluar dari maraton meletihkan di kamar sempit dengan pernyataan mengguncangkan. Menebus noda-nodanya di kepolisian dengan memecahkan kasus terbesar tahun itu. Ayahnya sendiri, yang bertahun-tahun dicengkeram Alzheimer, menggelinding di sampingnya, menyeringai pada si Turki seolah berkata 'kubilang juga apa'. Jadi mengapa kelihatannya seakan akulah si papa? Francis bertanya pada dirinya sendiri. Aku mengerjakan tugas dengan baik. Aku menabrak tembok tapi berhasil membuatnya kembali utuh. Pekerjaan kutunaikan. Aku membuat seseorang membayar atas perbuatannya. Tetapi kini ia di layar, dasi miring, ujung kemeja keluar, berwajah seperti anjing dan kusut, seolah-olah punya sesuatu yang disembunyikan. Bukankah ia pernah menyaksikan cuplikan yang sama dua puluh tahun lalu, dalam layar yang lebih kecil, bersama Patti yang sedang hamil delapan bulan dan Francis Jr. tertidur di ranjang bayi? Dan, bukankah waktu itu Patti bersandar padanya, mencium, dan mengucapkan betapa bangga ia padanya?

Dan, di sana kembali muncul Hoolian, dengan tangan terborgol di belakang dan blazer St. Crispin's menyampir di pundak. Dalam mata pikirannya, Francis ingat anak itu menampakkan senyum musang sekilas, seolah yakin akan memenangi kasus ini dengan suatu cara. Tapi, menonton tayangan itu kembali sekarang, Francis melihat kumis tipis itu menyentak naik, menampakkan sepasang gigi depan yang besar, dan ia sadar anak itu ternyata ketakutan belaka.

"Ia begitu belia," kata Patti. "Aku lupa hal itu."

"Tidak membuatnya urung meremukkan wajah gadis itu."

"Aku hanya bilang itu mengejutkan. Ia tampak begitu manis."

Francis meremas paha istrinya. Tak seperti Debbie A. dan Paul Raedo, Patti bukan pembenci yang baik. Ia tak punya bakat untuk itu, tak seperti jaksa penuntut lain. Sebab dalam hatinya, ia adalah orang baik, mantan gadis gemuk yang hanya menginginkan orang lain menyukainya. Alih-alih menyelidiki tiga pembunuhan mengerikan di East 125th Street pukul empat pagi, Patti menghabiskan sebagian besar waktunya dua puluh tahun ini dengan mempelajari seni memaafkan, menerjunkan diri membesarkan anak, memupuk persahabatan, makanan sehat, perbaikan rumah, dan akhirnya karier kecil untuk dirinya sendiri sebagai personal trainer untuk para CEO di Manhattan. Pendeknya, menjalani hal yang disebut orang normal sebagai kehidupan.

Di layar, tampak potongan gambar Paul Raedo, kulit kepalanya mengendur penuh perhatian, memberikan pernyataan resmi dari kantor Jaksa Wilayah. "Komentar kami saat ini hanya bahwa para juri membuat keputusan berdasarkan bukti-bukti dan kami merasa yakin hal itu akan mendukung."

"Jadi, apakah mereka akan mencabut dakwaannya?" Patti bicara padanya, tak pernah merasa simpatik pada Paul Raedo.

"Tentu saja tidak. Ia dihukum dua puluh lima tahun. Ia harus menyelesaikan masa hukumannya."

"Memangnya kau siapa, Ayatullah Khomeini? Kau telah mendapatkan dua puluh tahun dari anak ini. 1 idakkah itu cukup?"

"Hey, bukan aku yang menentukan vonis. Hakim dan juri melihat fakta-fakta yang sama dengan yang kulihat. Aku hanya memastikan tak ada yang melupakan si korban."

"Jadi, apa kau akan mengulang keseluruhan kasus ini sekali lagi?"

"Ya..."

Perhatian Francis beralih, menyaksikan Debbie A. memberikan pernyataan terakhir. "Tragedinya adalah seorang pemuda kehilangan kebebasan untuk sesuatu yang tak pernah ia lakukan."

Francis mengecilkan volume TV dengan remote. "Apa yang harus kulakukan? Berdiri di sana, tersenyum, saat seseorang menyebutku bajingan pembohong?"

"Apa pedulimu? Kukira kau akan pensiun segera setelah promosi jabatan menjadi Detektif Kelas Satu pada April ini."

Francis ragu-ragu, tak ingin membicarakan ancaman mencemaskan tentang pertanggungjawaban yang disinggung Paul pagi tadi. "Aku hanya ingin memastikan bahwa kasus ini benar-benar berakhir."

"Kenapa? Kau akan pergi ke suatu tempat tanpa memberitahuku?"

"Tidak, aku hanya..." Ia mulai menggosok-gosok mata sebelum kemudian menghentikan dirinya sendiri. "Lupakan saja, Patti. Oke? Tak usah dipikirkan."

Patti bangkit. "Kalau kau mengerjakan kembali kasus ini, kuharap aku tak harus membatalkan acara Thanksgiving di Florida. Aku sudah menyerahkan deposit untuk kondominium itu, dan Kayleigh akan datang dari Smith bersama seorang kawan."

"Aku yakin kasus itu sudah selesai nanti."

Wanita itu berjalan menuju kamar. "Frankie menelepon sebelum kau pulang."

"Oh ya?" Francis memutar tubuh. "Bagaimana keadaannya?"

"Ia bercerita tentang segala hal kecuali yang aku ingin tahu. Persis seperti ayahnya. Meski sejauh yang aku tahu, belum ada omong-omong tentang pemindahtugasan."

"Anak brengsek itu akan membuatku mati. Kuharap ia puas."

"Aku mau tidur," desah istrinya, tak ingin bertengkar. "Mungkin aku akan ketemu kau di sana. Aku pakai gaun tidur tipis."

"Ya, aku akan menyusul sebentar lagi." Ia memperhatikan Patti menjauh dan mengubah posisi kantong es di lututnya.

Beginilah ia sekarang. Ia mengambil remote dan mengubah saluran ke pertandingan Yankee. Mariano Rivera mengalahkan Red Sox, perseteruan lama bergulir kembali. Kutukan Bambino. Ia menonton separo inning namun tak dapat berkonsentrasi dari satu pitchkepitch berikutnya. Diubahnya saluran TV dan menemukan liputan tentang Irak di Fox News Live. "America at War" dan bendera tampak di sudut kanan bawah. Jejeran tank di jalanan Baghdad, satu lagi konvoi diserang di gurun, dan tetap tak ditemukan senjata pemusnah massal. Dan, ke sinilah mereka mengirimkan putraku.

Tak banyak yang bisa meringankan pikiran kusut. Ia beralih ke Star Trek beberapa saat. Kapten Kirk mondar-mandir di planet Styrofoam yang sama, berkasih-asmara dengan wanita berkulit hijau di masa-masa sebelum ia mulai bermain sebagai polisi dalam filmT.J. Hooker. "The Cage." Bukankah film itu yang ia bicarakan dengan Hoolian, jauh di masa itu? Hanya, anak itu berkata bahwa Jeffery Hunter bermain sebagai kapten di Enterprise. Bukankah ia orang yang sama dari The Searchers yang membantu John Wayne menelusuri gadis yang diculik orang Indian?

Oke, kini kau menyimpang terlalu jauh dari usaha menghibur diri, Loughlin. Ia mematikan TV dan duduk di sana, merenung dalam kesunyian.

Matanya berkelana ke rak-rak buku yang ia buat beberapa tahun lalu, memindai tulang-tulang buku yang belum rusak, yang ia koleksi untuk bacaan senggang di masa pensiun. Kini terpikir olehnya bahwa suatu hari kelak, dalam waktu yang tak begitu lama, lagi ia harus memutuskan buku mana yang akan menjadi buku terakhir yang ia baca. Ia mencari-cari kandidat yang paling mungkin. Shelby Foote, Gettysburg. Stephen Ambrose, D-Day. Atau pengarang favoritnya yang baru, Ernest Shackleton dengan Endurance. Bajingan keras kepala yang mengejar hasratnya sendiri. Berusaha memimpin sebuah kru ke Antartika namun kemudian kapalnya hancur oleh jarum-jarum es yang tajam. Ia membuat putusan yang berani, terjun ke dalam sekoci bersama lima orang lain, untuk mencari pertolongan dari delapan ratus mil sungai es dan air yang tersapu badai. Bagi Francis, keajaibannya bukan hanya karena ia menyelamatkan setiap orang tapi karena entah bagaimana ia berhasil melintasi semua ruang kosong itu tanpa kehilangan akal sehat.

Ya, Tuhan, rasanya ia butuh minum.

Ia mendengarkan detak jarum jam di dapur. Pikirannya retak-retak namun menyatukan diri kembali. Ia harus menyerahkan laporan besok. Ia harus terus bertingkah seakan tak ada masalah. Ia harus menemui dokter lain dan mencari pendapat kedua. Detik jam itu berubah menjadi ketukan tongkat di trotoar. Suatu hari nanti menyeberangi Union Street akan menjadi sesukar melintasi Antartika, rianya, ia mungkin hanya tertabrak mobil seperti ibunya di Grand Concourse.

Tidakkah itu pikiran yang menyenangkan!

Di mana ia melihat botol vodka separo kosong waktu itu? Tidakkah botol itu kian berdebu di suatu tempat dekat mesin pemanas air di basement, menunggu dibuang? Ia tak perlu sampai mabuk. Hanya beberapa jari di mug Grateful Dead tua, sekadar melepas kepenatan sedikit.

Huh, jangan menjadi bajingan murung yang mengasihani diri sendiri, Francis. Ayahmu menjadi seperti itu dan lihat apa yang terjadi padanya. Mestinya ia bisa lebih baik dari itu, kan? Setidaknya untuk hampir dua puluh tahun yang ia punya.

Meninggalkan minum-minum, mengabdikan diri untuk keluarga, menunaikan pekerjaan tanpa cacat, jenis polisi yang bisa diandalkan jika sahabat mereka terbunuh. Jadi, mengapa matanya berubah menjadi sepasang bola tak berguna? Apakah ini pembalasan atas sesuatu atau hanya noda biasa dari Dosa Asal?

Ia selalu memiliki semacam hubungan timbal balik kasar dengan Yang Maha Kuasa, mendapat hajaran jika sekali waktu ia tergelincir. Setelah ibunya meninggal, ia berpikir entah bagaimana itu pasti salahnya, mungkin karena ia tidak cukup banyak berdoa jika diminta ibunya, karena itu ia mencoba melakukan penebusan dosa. Lima tahun sebagai anak altar membuat keluarga selamat, pikirnya. Tetapi lalu ia mangkir, memutuskan bahwa semua itu hanya omong kosong—jadi, lebih baik ia menjadi si tolol pengisap ganja. Hingga sebuah kecelakaan mobil di jalan tol membuat saudara perempuannya memakai penyangga leher dan ketakutannya akan Tuhan kembali.

Ia tak pernah benar-benar menjadi anak berandal yang ingin membangun reputasi. Hanya, sesuatu sesekali mencambuknya kembali ke jalan tak benar. Ia akan mulai sedikit membuat masalah dengan Patti tak lama setelah mereka menikah dan hampir tertembak peluru dalam sebuah razia narkotika. Atau, ia akan mulai minum-minum lagi dan Kayleigh kemudian harus dibawa ke ruang ICU khusus bayi akibat infeksi ginjal.

Tapi waktu pun berlalu, semua berjalan dengan baik, dan kau pun akan berpikir dirimu telah bersih. Hingga putramu masuk tentara tanpa memberi tahu dan retinamu mulai memburuk.

Ia meremas lengan kursi dan mulai bangkit, jam di atas tungku dapur masih berdetik dengan kencang. Diakhiri. Kata yang Tom Wallis gunakan itu terus mengganggunya. Seolah-olah kata itu sesuatu yang nyata, sesuatu yang bisa kau tiduri, ia berusaha bersabar jika orang mengucapkan kata itu, sebab, apa gunanya? Akhir adalah apa yang mereka ingin percayai bahwa hal itu mungkin, seperti rahmat Tuhan atau Perlindungan Kesehatan Universal. Tetapi, lalu kau punya Ellen Wallis yang mulai sinting, mengatakan pada orang-orang bahwa anak gadisnya masih hidup. Tidak terdengar seperti ingin 'mengakhiri', bukan?

Mungkin tak akan ada sesuatu yang terjadi dalam waktu dekat ini. Penglihatan tepimu akan berangsur-angsur menyempit seperti terowongan.

Hentikan. Ia sudah memutuskan tak akan berpikir tentang hal itu. Bagaimana tentang kasus ini? Ia memikirkan dua belas hal yang mesti ia katakan pada Paul Raedo.

Penyelidikan ini memang tidak sempurna. Kita harus bersatu, Francis.

Ia sadar dirinya selalu separo khawatir kasus ini akan muncul kembali. Bukan ia ragu bahwa Hoolian pelakunya. Anak itu sudah menjalani persidangan, bukan? Pengacaranya punya nyali untuk memeriksa silang Francis di kursi saksi, menyatakan bahwa Allison bisa saja menduplikasi kuncinya sendiri dan memberikan pada orang lain. Tetapi bukti-bukti di lapangan memberatkan Hoolian. Memangnya kenapa jika ia tak bersaksi atas namanya sendiri? Segera setelah ia duduk di kursi saksi, ia akan terjebak oleh fakta-fakta yang dijejalkan ke tenggorokannya. Bukankah ini kasus mutlak tanpa cacat?

Tentu saja tidak. Tapi Francis tak berutang permintaan maaf apa pun. Juri mampu mengaitkan semua fakta. Total hanya butuh dua setengah hari sebelum mereka memutuskan bahwa Hoolian bersalah untuk pembunuhan tingkat dua. Dan jika Hakim Robins menjatuhkan hukuman dua puluh lima tahun— ya, itu kesialannya, bukan? Ralph Figueroa telah mengajukan tawaran penurunan masa hukuman lima hingga lima belas tahun, dan memutuskan untuk menggulirkan dadu. Karena itu persetan semua, sebagaimana yang selalu tercantum di kartu Natal sebelum Patti memaksanya untuk mengubah. Kasus ditutup.

Ia mematikan lampu di sebelah kursi malas dan menyadari betapa ruang ini mendadak terlihat begitu gelap. Ketiadaan cahaya sama sekali membuatnya mendengar bunyi-bunyian dalam rumah dengan jelas, decitan halus kayu yang naik turun. Bagaimana Shackleton melakukannya? Tanpa peta, tanpa jejak kaki untuk dilacak. Bagaimana ia menemukan posisinya dalam belantara tak terpetakan itu?

Kau akan pergi ke suatu tempat tanpa memberitahuku?

Secara refleks, Francis menarik rantai dan menyalakan lampu kembali agar ia dapat menemukan jalan menuju tangga.

11

Merasa lapar dan lelah, beberapa menit menjelang pukul sebelas, Hoolian berjalan menuju kafe tua yang dulu bernama Leon's di Second Avenue. Ayahnya pernah punya kawan seorang pelayan di sana bernama Nita yang kadang memperbolehkan ia memakai kamar mandinya. Waktu itu, Leons's adalah tempat kumal yang menyediakan sup dan burger dengan papan nama neon merah, dengan permen mint berwarna kusam di mangkuk perak di sebelah kasir, dan cangkir-cangkir kopi biru murahan dengan hiasan pilar-pilar gaya Yunani. Restoran baru itu bernama Cafe Florence; karpetnya hijau mulus, dengan perabotan berpanel kayu kenari, dan hidangan tuna seharga 8,95 dolar. Ia masuk dengan sepenuh hati, memergoki permen mint yang sama dalam mangkuk perak di sebelah meja kasir.

Pegawai kafe mulai mengelap meja-meja, tapi Nita tak terlihat. Sebuah pisau steik berkilauan di meja. Hoolian mengambilnya cepat-cepat saat bergegas menuju toilet pria. Bagaimana pun, gunting kuku tak akan cukup untuk melindungi diri, yang ia sadari setelah beradu mulut dengan si penjaga pintu.

Ia mencuci tangan dua kali dengan sabun merah muda beraroma harum, mengacak rambut, menyadari rambutnya sudah terlalu panjang, lalu keluar dari toilet berusaha terlihat biasa-biasa. Seorang pelayan berwajah seperti tirai merosot tengah mengisi botol saus yang telah setengah kosong.

"Hoolian?" wanita itu berbalik. "Kaukah itu?"

Hoolian tersenyum dan mengangkat tangan, dengan gugup menutupi parut di dagunya.

"Coba lihat dirimu! Nino!?” ia memeluknya. "Kau telah dewasa. Apa yang terjadi pada putra kecilku ini?"

Wanita itu juga telah berubah. Dulu kencang kencang dan kurus, seperti penari tango, dengan mata berkilat-kilat angkuh dan mulut mencibir seolah mencari-cari mawar untuk digigiti. Tetapi, perjalanan waktu telah melembutkan dan membentuknya, menghaluskan tepi-tepi, menambah berat beberapa kilogram, dan mengimbuhkan sedikit sentuhan sang Perawan Suci pada senyumnya yang letih.

Ia melepaskan pelukan untuk mencermati Hoolian. "Kukira kau dihukum dua puluh lima tahun."

"Ya, aku keluar sekarang. Setidaknya untuk beberapa saat."

"Bueno! Que gusto!"

Hoolian ragu-ragu, menyadari dirinya kini di luar lingkaran akar Spanyol-nya. Sejujurnya, ayahnya hanya mengajari bahasa itu sedikit saja dan ia tak banyak memakainya di penjara, lebih senang menghabiskan waktu di perpustakaan hukum, alih-alih bergabung dengan para Raja Latin dan Las Neitas.

"Ayahmu selalu yakin kau akan baik-baik saja. Ia dulu selalu berkata, 'Nos se ocupe! Anak itu lebih kuat daripada aku."

Hoolian memikirkan ayahnya yang meninggal sendirian di Rumah Sakit Metropolitan dan merasakan uap beracun mulai berkumpul di dalam dirinya.

"Ayo, duduklah, kau sedang apa?" ia mengisyaratkan Hoolian ke sebuah kursi kosong. "Di mana kau tinggal?"

"Tinggal?"

"Kau punya tempat bermalam?"

Hoolian melipat tangan, menahan gelombang kemarahan dan keletihan. "Aku sedang mengerjakan beberapa hal."

"Tapi mereka tak akan memasukkanmu kembali ke sana, bukan?"

"Ya..." matanya berkedip dan berusaha tampak riang. "Mereka belum benar-benar menghapus dakwaannya. Tapi itu hanya omong kosong teknis. Aku tak punya kaitan sama sekali dengan semua yang mereka tuduhkan. Gadis itu temanku."

"Aku tahu itu, Sayang."

Hoolian menengok untuk melihat kalau-kalau ada orang lain mencuri dengar. "Pengacaraku berkata, aku harus berusaha menolong diriku sendiri jika ingin namaku pulih, tapi, bangsat, aku tak tahu apa yang mesti kulakukan."

Sudut mulut wanita itu turun dan ia menyadari anak yang ia kenal dua puluh tahun lalu tak pernah menyumpah.

"Maaf. Aku terlalu lama dikelilingi orang-orang kasar."

"Tak apa. Aku cukup senang berjumpa denganmu."

Hoolian membasahi bibir, berusaha mengabaikan rasa perih di perutnya. Lembaran dua puluh dolar terpampang bersama sebuah cek di bawah tempat garam di ujung meja. Ia berpikir, betapa mudah untuk mengambilnya ketika Nita berpaling.

"Hey, bukankah kau pernah menjaga anak-anak di apartemen kami?" ia memaksa diri untuk kembali memusatkan perhatian.

"Tentu. Dari situlah aku mengenal ayahmu. Aku pengasuh bayi paruh waktu di sana. Nyonya Foster di 9B."

"Wanita itu bercerai?" ia membayangkan wanita paruh baya meluncur melewati lobi mengenakan celana j eans pendek dan sepatu boot sepaha untuk bersenang-senang ke kota.

Mulut Nita menipis membentuk garis tegang. "Terlalu sibuk bertengkar dengan pengacaranya mengenai tunjangan dan bersenang-senang dengan pria-pria beristri daripada mengurus anak perempuannya. Aku bersumpah, kadang aku ingin membawa pergi anaknya ke rumahku."

"Jadi kau kenal semua orang lama di apartemen."

"Tentu saja. Aku adalah Don Corleone dari Mafia Pengasuh waktu itu. Dan aku pernah berkencan dengan Willie, si tukang itu."

"Si curang yang bekerja di lift belakang itu?"

"Ya, kukira ia waktu itu menarik."

Willie Pembangkang, sebutan ayahnya dulu. Karena orang-orang tak pernah bisa menghubunginya lewat walkie-talkie saat dibutuhkan. Ia selalu main-main dengan kawan lain di basement atau muncul terlambat untuk memasang cincin penutup di bak cuci piring seseorang ketika pelayan baru yang manis ada di dekatnya.

"Ia akrab dengan si tua Nestor, kan?"

"Siapa?"

Hoolian bertanya-tanya apakah ia berani untuk berharap. Ia begitu lapar dan lelah hingga tak tahu apa yang lebih ia butuhkan: makanan enak atau uluran bantuan bagi kasusnya.

"Nestor. Portir itu, yang bekerja di lantai bawah. Orang tua yang bermain piano. Kurasa ia berasal dari Santo Domingo. Lelaki kecil kuat bungkuk. Yang agaknya kau bisa menjatuhkannya dengan tembakan polong sampai kau melihatnya mengangkut kulkas di punggung."

"Oh, Nestor." Nita menepuk tangan. "Si Cha-Cha Man."

"Ya."

"Oh, tentu saja aku ingat bribon kecil itu. Ia pintar main piano, bro. Tahukah kau, ia pernah tinggal di Kuba beberapa tahun dan bermain di salah satu band terbaik di Havana sebelum la Revolucion!"

"Tidak, aku tak tahu."

Memalukan baginya untuk mengakui betapa tak perhatian dirinya waktu itu. Dulu, Nestor hanya lelaki tua yang bekerja pada ayahnya dan bermain domino dengannya, kadang-kadang. Tak pernah terpikir oleh Hoolian untuk bertanya apakah Nestor memiliki keluarga di suatu tempat atau kehidupan lain. Bukan hanya karena bahasa Inggris Nestor begitu payah. Tetapi ada penghalang lain, semacam luka dalam dirinya, bak seorang aristokrat yang jatuh dan menolak bicara tentang kesukaran masa lalu.

"O, iya," tukas Nita. "Kami dulu suka pergi sepulang bekerja ke La Fuego di H2th Street. Di sana ada mesin pemutar lagu di sudut dan setelah menenggak beberapa gelas tequila, ia sungguh-sungguh bisa menari. Tango, mambo, bolero, puchanga, meringue, bugalu,apa pun. Ia akan mengajak kita berdansa di atas bar. Mengapa kau ingin tahu tentangnya?"

"Kurasa ia bisa membantuku."

Sepasang kakek-nenek di bilik belakang melambaikan cek pada Nita, memintanya memutuskan sebuah perselisihan remeh di antara mereka.

"Ayahku menulis surat saat aku di penjara, bercerita ia pernah menemui Willie suatu malam di bar di Second Avenue." Jelas Hoolian. "Dan setelah mereka minum-minum beberapa lama, Willie berkata suatu waktu Nestor pernah memberi semacam isyarat padanya bahwa ada sesuatu yang tak pernah ia ungkapkan pada polisi. Tapi Papi tak pernah bisa melacak jejak Nestor dan mengetahui apa yang ia maksud."

"Dan kau berpikir hal itu akan membuat perbedaan sekarang?"

"Itu yang terbaik yang aku punya." Hoolian tenggelam sesaat sebelum menegakkan diri kembali. "Pikirkan. Nestor bekerja di basement malam itu. Dan hanya ada dua jalan keluar dari gedung. Depan dan belakang..."

Hoolian meraih lap dan pulpen yang tergeletak di meja konter, dan mulai merancang skenario. Bertahun-tahun ia begitu terkungkung, berusaha menceritakan kisahnya pada siapa saja yang mau mendengarkan—sesama narapidana, penjaga penjara, konselor senior, pendeta—dan kini ia hampir tak bisa menenangkan tangannya karena bersemangat.

"...dan pintu darurat di basement mengarah ke gang di belakang gedung apartemen," lanjutnya, melukis garis dan panah. "Setelah tengah malam, pintu depan dikunci,"

Ia memastikan wanita itu mengikutinya. "Kau harus membangunkan Boodha, si penjaga pintu, di lobi untuk membukakan pintu. Atau kau harus memiliki kunci sendiri, seperti para penyewa. Dan jalan lain keluar dari gedung adalah melalui pintu darurat di belakang, tepat melalui kursi gemuk besar tempat Nestor tidur."

Nita menyentuh pundaknya seolah ingin menyela, namun kini setelah katup itu terbuka ia tak bisa lagi memotongnya.

"Jadi, jika ia bersaksi melihat sesuatu atau orang lain masuk dan keluar dari gedung antara tengah malam dan pukul sepuluh pagi ketika mereka menemukan mayatnya, mereka harus mengakui bahwa mereka menjebakku."

"Bukankah polisi pernah bicara dengannya, sebelumnya?"

"Ya, benar" Hoolian mengejek, menjawab cepat untuk mencegah jeratan berbahaya ini berbalik. "Seorang polisi dan jaksa yang tak bisa berbicara Spanyol. Kau tahu apa yang terjadi? Mereka mengintimidasinya habis-habisan. Lelaki kecil itu hampir tak bisa bicara Inggris, dan ia bukan anggota serikat buruh. Bahkan tak punya paspor resmi. Ia tahu mereka sudah menjebakku. Mereka tak ingin ada sesuatu yang menghalangi tujuan itu. Jadi tentu saja ia mengatakan pada mereka apa yang ingin mereka dengar. 'Tidak, aku tak melihat apa-apa.' Jadi, ia membuat pernyataan omong kosong pada Asisten Jaksa Wilayah, meninggalkan kota sebelum persidangan karena tak ingin datang ke pengadilan untuk bersaksi dan dideportasi kembali ke Santo Domingo..."

Makin banyak bicara, makin meyakinkan ia, terdengar oleh dirinya sendiri. Ya, ketidakadilan besar telah terjadi di sini. Seseorang harus membayar hal yang telah mereka lakukan padanya. Yang harus ia lakukan hanya mencengkeram lelaki tua itu dan memuntir lengannya sedikit untuk membuka mata dunia.

"Aku yakin ia masih hidup," Hoolian bersikeras, menaruh pena dan menunjukkan sketsanya. "Tak mungkin ia setua itu."

"Sayang, ia mungkin sudah berusia enam puluh saat itu."

Ucapan wanita itu ia anggap sebagai goresan kecil belaka. "Kalau saja aku bisa menemuinya barang sebentar...."

"Muchacho..."

"...Aku yakin ia pasti membelaku. Ia berutang pada ayahku..."

"Sayang." Nita menepuk tangannya, tak ingin susah-susah melihat gambarannya. "Kurasa ia sudah meninggal dunia.”

“Apa?"

"Terakhir kudengar, ia sakit. Ia bilang pada Willie bahwa ia menderita kanker hati dan akan kembali ke Dominika untuk menengok keluarganya."

"Tapi itu tak berarti ia sudah mati," katanya. "Apakah Willie punya alamatnya?"

"Willie?" wanita itu mendengus. "Sudah bertahun-tahun aku tak melihat bajingan itu. Ternyata ia punya istri dan anak di Bronx dan keluarga lain di San Juan. Bagaimana itu? Aku baru tahu semuanya pada 1986. Kita tak pernah bisa menebak orang."

"Mungkin ia sembuh," Hoolian bersikeras, harapannya bagai korek api diterbangkan angin. "Kanker hati tak selalu membunuh, kan?"

"Sayang, ia bahkan sudah setengah tak waras."

"Benarkah?"

"Kau harus makan sesuatu. Kau tampak pucat."

Ia sadar keringat lembab dingin keluar dari pori-porinya, seakan-akan ia sedang demam. "Tidak, terima kasih, aku tak bisa makan."

"Berapa lama kau berada di luar?"

"Sejak kemarin malam." Ia mengusap alisnya. "Aku mengandalkan orang tua terkutuk itu untuk membelaku."

Ia menatap botol saus kosong yang berbaris seolah mereka bagian dari bank darah. Mendadak saja, semua hal buruk yang menimpanya tak lagi berpijak sendiri. Pemakaman ibunya di St. Theresa. Ruang interogasi. Gedung pengadilan. Halaman penjara di Dannemora. Sel di Attica. Tempat-tempat itu semua sama. Bahkan kafe ini. Itu semua hanya ilusi. Ia tak pernah benar-benar keluar dari sarang.

"Kau percaya padaku, kan? Kau tahu kejadiannya tidak seperti yang mereka katakan."

"Dengar," katanya, menepuk tangan Hoolian. "Kau letih. Kau terlalu keras berusaha melakukan terlalu banyak hal. Echa un trago. Echa una siesta."

Perlahan-lahan Hoolian bangkit, sebuah tabung uap dari bak cuci terangkat di dekat pintu dapur. Baginya, semua perjuangan dan kerja keras untuk memulihkan nama baik hanya buang-buang waktu yang menyedihkan. Sebuah sisi dalam dirinya bertanya-tanya apakah ia mesti menyerah dan memikirkan tawaran kantor Jaksa Wilayah untuk mengaku bersalah. Setidaknya semua ini akan berakhir.

Tetapi tiap kali hampir menetapkan keputusan untuk menerima tawaran itu, ia kembali membayangkan wajah putri sepupunya yang menatap dari balik kulkas. Anak itu menganggap dirinya sejenis binatang kotor. Jika pun anak itu mengingat sesuatu tentang dirinya, ia tak akan ingat apa-apa tentang betapa lembut Hoolian menyikat rambutnya. Ia akan memilih percaya pada kata-kata ibunya bahwa lelaki itu berusaha melakukan sesuatu yang buruk padanya. Dan, itu sama sekali tak bisa ia terima.

"Aku merasa tak enak badan." Hoolian memegang perutnya yang lemah.

"Aku bisa menyuruh koki memasak huevos rancheros untukmu. Aku ingat dulu kau suka masakan itu."

Hoolian mulai merogoh saku, namun wanita itu memukul tangannya. "Largo de aqui!" katanya. "Kutendang pantatmu jika kulihat kau mengeluarkan dompet."

Hoolian menyerah, tersentuh dan merasa terintimidasi,. begitu Nita pergi ke dapur dan memberikan pesanannya pada juru masak.

"Benarkah kau tak punya tempat untuk bermalam?" Nita kembali duduk.

Hoolian menggelengkan kepala, tak ingin membicarakan peristiwa di rumah sepupunya.

"Ay." Nita memutar mata menatap tas besarnya. "Pasti kau pun tak punya pekerjaan."

"Aku keluar terlalu cepat sebelum mereka sempat merancang rencana pembebasan. Mestinya aku masih di sana."

"Ya, tak ada pekerjaan apa-apa di sini untukmu," katanya, seolah-olah laki-laki di hadapannya itu salah satu dari antrean pria yang mencoba memanfaatkannya.

Mungkin ia sudah terlalu menuntut. Nita adalah wanita berhati baik yang mungkin sering mencurahkan kebaikan pada hewan-hewan tersesat yang kemudian berbalik dan menggigitnya. Ia melahap telur yang disajikan dan bersiap-siap pergi. Mungkin ia bisa naik kereta A dan tidur sepanjang perjalanan jauh bolak-balik ke Far Rockaway, hingga kondektur mengusirnya keluar.

"Ada sebuah kamar kecil di bawah," ucap Nita diam-diam.

"Apa?"

"Ruang penyimpanan kecil. Tukang antar barang kadang-kadang tidur di sana. Memang tidak bagus. Kau harus tidur di antara rak-rak, bersama kaleng-kaleng sup dan lemak babi. Tapi tak akan ada yang mengganggumu di sana."

Hoolian menatap wanita itu, berusaha mengerti. Ia bukan tak pernah menerima kebaikan di penjara. Seorang penjaga kadang memberi kelonggaran hukuman dalam sebuah pelanggaran remeh; narapidana lain kadang membolehkannya memakai pelat panas di selnya. Tapi kau tak bisa mengandalkan semua itu. Kebaikan identik dengan kelembutan, identik dengan kelemahan, dan itu adalah penyakit yang mesti dihilangkan. Lebih baik dianggap pencuri, pemerkosa, atau bahkan pembunuh, daripada dianggap sebagai lelaki yang, katakanlah, seperti ayahnya.

"Tapi kau harus diam-diam," ucap Nita sambil bangkit. "Aku tak ingin pemilik tahu kau ada di sana. Aku butuh pekerjaan ini."

"Terima kasih."

Ia menahan desakan dalam dirinya untuk memeluk wanita itu sebagai rasa syukur, ia masih belum cukup mempercayai dunia untuk terlihat menyentuh seorang wanita.

"Dan, taruh kembali pisau steik itu." Nita menunjuk saku Hoolian. "Aku sudah mempertaruhkan nyawa untukmu."

12

Tom turun ke bawah menuju apartemen setelah siaran berita selesai dan menemukan ibunya tengah memegang segelas anggur merah setengah kosong dengan filter rokok mengambang di dalamnya.

"Bagus," katanya, sinis. "Bukankah Dr. Spencer bilang Ibu harus mulai mencampur pinot noir dengan obat antipsikosis dan Prozac?"

"Bukankah sudah kukatakan betapa aku benci obat-obat itu?"

"Dan Ibu mengira minum bersamanya akan membantu?"

"Aku tak suka efek obat-obat itu." Rahangnya mengeras. "Rasanya kepalaku dipenuhi kapas. Tulisanku jadi kecil-kecil. Membuatku melihat hal-hal yang sebenarnya tak ada. Apakah aku sudah menceritakan yang terjadi kemarin malam?"

"Apa?"

"Aku bangun, kehausan, dan kukira aku minum sebotol air. Esok paginya aku menemukan sebotol minyak zaitun di meja."

Tom mengerucutkan bibir, jijik. "Ibu ingin masuk ruang gawat darurat lagi? Apakah itu yang Ibu coba lakukan?"

Tom menoleh ke arah meja antik dari kayu ek yang diselamatkan ibunya dari Sag Harbor. Setangkai tulip layu dalam vas, kelopaknya berjatuhan, dan sisa-sisa sobekan kertas berhamburan dari keranjang sampah seperti sayap-sayap patah.

"Setidaknya Ibu pergi ke halaman belakang jika ingin merokok." Tom mengambil gelas anggur dan mengaduk-aduk puntung. "Michelle menderita asma, siapa tahu ibu lupa."

"Oh, jadi sekarang aku nenek yang buruk juga."

Tom memijit-mijit ruang di antara kedua alisnya seolah-olah sedang berusaha menyatukan satu retakan. Tom, pria malang yang lama menderita. Yang mungkin sudah muak menghabiskan enam tahun untuk menjaga ibunya yang sinting. Disertai rasa malu, wanita itu ingat saat menonton Tom yang berusaha bermain football di Central Park ketika kecil dan menyadari selama beberapa saat bahwa ia tak menyukai anak lelakinya itu. Tingkah yang kikuk, perawakan yang tak atletis, kelakuan berpura-pura tahu aturan permainan. Wajah yang berubah merah muda jika mengeluarkan sedikit saja tenaga. Tom tak pernah berhasil melakukan hal-hal dengan wajar seperti saudara perempuannya; Allison bisa mengambil raket tenis dan mulai melakukan pukulan voli dengan segera. Pada Tom, semua hal berpotensi mempermalukan dirinya. Eileen terus-menerus membandingkan Tom dengan anak lain dan kemudian merasa bersalah sesudahnya. Namun, pada akhirnya, Tom memperlihatkan kemampuan. Ia berubah menjadi pemimpin keluarga, mengambil alih keuangan dan menganugerahinya tak hanya satu, tapi dua cucu perempuan untuk melegitimasi eksistensinya yang goyah akliir-akhir ini.

"Mungkin Ibu tahu, Francis Loughlin mampir ke sini tadi," kata Tom. "Ia membawa berita yang membuatku kesal."

"Aku menunggu." Ibunya melipat tangan di pangkuan dengan sikap anggun seorang bangsawan.

"Mereka membebaskan Julian Vega lebih awal. Mereka melepaskan dakwaannya. Kini ia orang bebas."

Wanita itu mengangguk, berusaha mempertahankan kesunyian bermartabat.

"Aku berkata padanya mungkin lebih baik semua ini dihentikan saja. Kita sudah terlalu banyak menderita. Tapi ia merasa ia berutang pada Ibu untuk tetap membuat kasus ini bergulir...."

Ibunya terus mengangguk-angguk, tak dapat berhenti.

"Kubilang aku tak setuju, tapi berjanji menyampaikan pesannya." Tom sedikit bersemu merah. "Menurut ia, Ibu akan paham keinginannya."

Akhirnya wanita itu berhenti menggerak-gerakkan kepala dan berpaling pada Tom, perlahan-lahan menampakkan keyakinan diri. Kau menunggu dan terus menunggu sesuatu, lalu ketika hal itu terjadi, kau seperti tak pernah mengharapkannya.

Terdengar bunyi halus di belakang tenggorokannya. Hanya gumaman, hampir tak seperti kata-kata. Tetapi segala sesuatu di alam semesta ini tergantung dari cara orang menyimpannya. Eileen meluruskan punggung, berusaha mengingat-ingat latihan yang biasa dilakukan para aktor. Rileks. Tarik napas. Ciptakan pemahamanmu sendiri akan waktu. Ia melemaskan bahu kembali dan perlahan-lahan menghembuskan napas yang seakan menukik-nukik. "Kau tahu, Ibu telah berpikir-pikir," ujarnya.

"Apa?"

"Mungkin ada alasan mengapa aku tak bisa menyelesaikan buku ini. Mungkin ini bukan waktu yang tepat. Maksudku, menulis ulang Hans Christian Anderson, karena karya itu begitu...hangat. Tidakkah begitu menurutmu?"

"Aku tak tahu, Bu," jawabnya, lemah. "Aku bukan si anak kreatif di rumah ini."

"Aku berpikir-pikir tentang proyek lain."

"Oh?"

"Kau tahu, aku semakin tertarik pada bidang ilmiah belakangan ini. Bagaimana tubuh bekerja. Bagaimana pikiran memperbarui diri..."

"Bu..."

"Pernahkah kau berpikir tentang sistem bintang ganda, Tom?"

"Rasanya belum." Tom mendesah.

"Hampir setiap bintang yang kau lihat di malam hari memiliki satu kawan. Tapi yang satu biasanya mendominasi yang lain, sehingga kau hampir tak bisa melihatnya. Yang menarik adalah bahkan jika yang satu mati, saat keduanya berada dalam jarak cukup dekat, bintang itu dapat mulai menarik hidrogen sehingga ia bisa menyala kembali. Tetapi ia lalu melepaskan ledakan supernova, dan yang tertinggal hanya * lubang hitam."

"Bu, sudah malam. Kukira kita sudah pernah membahas hal ini."

"Ia bintangku yang gemilang."

"Kukira, bintang Ibu yang gemilang adalah anak-anakku." Tom menatap langit-langit.

"Aku ingin ia tahu aku tidak lupa padanya."

"Jika benar-benar mengira ia masih hidup, kenapa Ibu masih ingin melihat kasus ini kembali ke pengadilan?" Tom berdiri, menggigiti bibir. "Bisakah Ibu jelaskan?"

"Ia membutuhkan satu pertanda. Jika melihat kasus ini kembali menarik perhatian, ia akan tahu bahwa kita masih mencari dirinya. Bahkan bintang yang sedang sekarat pun dapat menyala kembali."

"Ibu juga bilang bintang-bintang itu dapat mengisap kehidupan bintang lain." Tom pergi ke wastafel dan membuang isi gelas anggur. "Aku ada pekerjaan besok pagi-pagi, setelah itu akan kutelepon Spencer untuk mengatur obat-obat Ibu."

"Tom..."

"Apa?"

"Itu semua kesalahanku, kan?"

"Lupakan, Bu." Ia mengambil puntung rokok dari saringan wastafel dan menaruhnya di tempat sampah. "Ibu telah melakukan yang terbaik."

13

Keesokan sorenya, Francis pergi menuju gudang penyimpanan barang bukti NYPD di Long Island City, sebuah gedung empat tingkat berselimut debu di kawasan industri dengan garasi-garasi truk, pusat daur ulang, toko karpet, dan klub-klub striptease bertebaran.

Jantungnya serasa tenggelam saat melewati gerbang, melintasi potongan karpet gaya Oriental yang dihamparkan ke lantai semen. Dari sudut mata, ia melihat bahwa satu-satunya pegawai di sana adalah Sersan Brian Mullhearn.

"Gustav Mauler, sebutkan namamu."

"Francis X., sehat dan bernapas."

Sersan itu tak terburu-buru menyingkirkan sekaleng mi wijen dingin dan mengelap tangan dengan tisu. Ia bangkit dari meja dan mereka saling berjabat tangan kaku ala teman lama yang tak dapat lagi menerima kehadiran satu sama lain.

Francis tahu, mestinya ia menelepon terlebih dulu, untuk memastikan bahwa yang bertugas adalah orang lain.

Dentam musik disko Hot 97 di radio kantor entah bagaimana memperkuat suasana penuh derita tempat ini. Cat mengelupas dari pipa-pipa yang menonjol keluar, jamur bermunculan di ventilasi AC, dan tanda peringatan korupsi harus dilaporkan ke provost separo tenggelam di balik kulkas penyok.

"Mereka bilang, orang baik mati muda, Sersan." Francis menyunggingkan senyum terpaksa sambil memasukkan angka-angka identitasnya. "Jadi kita berdua tak perlu khawatir tentang itu, kan?"

Sejujurnya, Mullhearn terlihat seperti salah satu barang yang disimpan di antara drum-drum minyak sejak 1972. Rambut kelabu lemas, kumis tikus, bahu kaku, raut wajah seperti spons. Di balik lensa kontak, matanya berwarna seperti penghapus pensil; di atasnya, alisnya tampak seperti semak belukar. Ia bergerak perlahan dan dengan sekuat tenaga, seolah-olah terlambat untuk tiap respons ototnya.

"Kita sama-sama mengalami masa-masa liar di bagian narkotika, bukan?" ujarnya.

"Aku masih menyimpan perih dan nyeri gara-gara itu." Francis menyentuh punggung bawahnya.

"Kau ingat waktu jatuh dari pagar jeruji lantai tiga di Baruch Houses di Housten Street?"

"Justru itu..."

"Ya, ampun, kukira kau sudah mati, Francis. Kami berlima mengelilingimu, menunggu pendeta muncul untuk melaksanakan upacara terakhir. Kau bahkan tak bernapas. Mendadak saja kau terduduk, 'Mana dompetku?' seolah-olah kau baru berlalu dari meja kasir dan salah satu dari kami mengambilnya."

Francis menyeringai. "Kita beruntung keluar dari tempat itu dengan utuh."

"Beberapa dari kita lebih dari utuh." Mauler bersandar di belakang meja. "Lihat aku, lihat kau. Aku menyalakan TV malam-malam, dan kau lebih sering muncul di TV daripada OJ. Simpson."

"Lebih seperti Homer Simpson."

"Ya, kau cukup berhasil dalam kariermu." Mullhearn mengambil garpu lagi. "Kudengar April nanti kau pensiun."

"Kau harus tahu kapan mesti mempertahankan pekerjaan dan kapan melepaskannya."

"Yeah, kau selalu tahu cara untuk keluar sebagai pemenang, aku yakin itu."

"Itu keberuntungan semata, Kawan. Itu saja."

"Lebih tepatnya mungkin keberuntungan secara genetis." Mauler menyisakan helai panjang dari garpunya. "Kalau ayahku bekerja di Departemen Nomor Satu, posisi kita pasti terbalik."

"Hey, hey..."

Francis merasa ini akan menjadi negosiasi panjang. Meski kariernya menanjak dua puluh tahun terakhir ini, Mauler dibuang ke semacam tempat suci pelayanan masyarakat yang pahit, Polisi Karet yang menjaga buku-buku kuno dan Senjata Canggih Mematikan Abad Kedua puluh.

"Jadi, apa yang bisa kulakukan untukmu?"

"Aku mencari barang apa saja yang kau punya dari kasus Allison Wallis. Kurasa Paul Raedo dari kantor Jaksa Wilayah telah mengirim faks sebelumnya."

"Baru pertama kali aku dengar."

"Tapi kau tentu tahu kasus yang kumaksud. Kau yang paling bagus ingatannya di gedung ini, Bri. Tentang dokter perempuan yang terbunuh di apartemennya oleh anak pengawas gedung pada tahun 1983..."

Mauler mengernyit sedikit, seolah melihat mobil lain melaju cepat dari spion belakang. "Memangnya ada apa dengan kasus itu?"

"Permohonan banding-omong-kosong-bangsat-terkutuk itu dikabulkan," sahut Francis, menjawab ringan. "Kami akan membuka kembali kasus ini, untuk memastikan bahwa semuanya telah dikerjakan dengan benar."

"Oh?"

"Aku butuh semua berkas yang kau punya. Kartu noda darah, sampel otopsi, goresan kuku, pakaian apapun yang mereka simpan..."

Mata Mauler mulai berenang di balik lensa matanya yang berdebu. "Kau bilang ini kasus pembunuhan tahun 1983?"

"Ada masalah?"

"Ya ampun, Francis, kau tak punya kasus baru?" Mauler melempar tisu, menggapai laci meja, dan menyodorkan formulir kuning serta bantalan cap pada Francis. "Kau bisa mulai dengan mengisi formulir ini dan membuat cap sidik jari."

"Bri, aku agak terburu-buru sekarang." Francis menengok arloji, ternyata sudah menunjukkan pukul tiga kurang seperempat. "Bisa kita lewatkan saja bagian ini?"

"Bung, ini untuk berkas resmi. Meski komisaris sendiri yang datang, ia tetap harus mengisi formulir ini. Kita tak bisa membiarkan orang keluar-masuk mengambil barang tanpa pertanggungjawaban."

Sebelum Francis dapat membantah, telepon berdering di sebelah patung tokoh kartun Secret Squirrel di atas meja dan Mullhearn menggunakan kesempatan itu untuk mengangkat telepon dan berpaling darinya.

"Ya-aahh, ada apa, bay-bay?" ia melagu, mendadak berubah wujud dari seorang Irlandia tua getir dan kasar menjadi seorang penyanyi rap playboy yang pintar bicara. "Rindu padaku?"

Francis mengisi beberapa kalimat pertama dalam formulir, berusaha tetap menjaga sopan-santun basi ini. Ia menengadah dan menampak tanda yang ia lewatkan sebelumnya: balas dendam dengan garis silang melewatinya. Tentu saja, itulah keadaan biasa di sini. Mauler dan dirinya pernah menjadi peminum berat saat bekerja di bagian narkotika, menembaki botol-botol Budweiser untuk mempersiapkan diri melakukan penggerebekan dan menenggak scotch dari wadah besar untuk menenangkan diri setelahnya. Hingga, suatu ketika, Francis entah bagaimana kepergok tertidur di tempat minum di sebuah ruang hakim pengadilan di Manhattan, tanpa celana dengan senjata yang hilang. Ayahnya berhasil menangkis ancaman sanksi yang datang dan mengeluarkan Francis dengan tamparan keras. Tiga puluh hari penundaan gaji dan sebulan di markas untuk mengurus "kejahatannya".

Namun, ketika Mauler kepergok mengemudi di jalan yang salah di Astoria Boulevard enam bulan kemudian dengan napas berbau alkohol, ia tak punya kenalan berkuasa seperti Francis untuk dimintai tolong. Akhirnya, ia terpaksa berkarier dengan menghitung pensil sementara Francis berhasil memperoleh lencana emas.

"Bri?" Francis memanggil setelah selesai menempelkan sidik jarinya di formulir. "Kurasa aku sudah selesai mengisi formulir. Bisa kau bantu aku, mungkin ada tisu atau apa?"

"Sebentar." Mauler mengacungkan satu jarinya. "Dengar, Say, nanti telepon aku lagi dan kita bicarakan hal itu. Aku ada urusan dengan orang ini. Oke? Aku ingin kita berdua merasa nyaman."

Ia menutup telepon dan berputar menghadap Francis, kembali mengambil peran sebagai si Birokrat yang Terlindas Jaman itu. "Apa katamu tadi?"

"Berkas Wallis dari tahun 1983." Francis menoleh ke sana-kemari mencari sesuatu untuk mengelap tangan. "Mestinya ada beberapa barangnya di sini. Kami mengambil seprai, sidik jari, serat karpet, darah dari bawah kuku korban..."

"Ya, ya, ya." Mullhearn melepas kacamata. "Kukira sekarang aku ingat. Orang itu menulis surat padaku beberapa kali."

"Siapa?"

"Si terdakwa. Namanya aneh.”

“Julian Vega?"

"Ya. Aku pasti telah menerima sekitar dua belas surat darinya. Salah satu sahabat penaku. Ia dan pengacaranya ingin semua omong kosong tentang uji DNA itu. Seperti halnya semua orang sok sekarang. Mereka bersikap seolah-olah itu segampang melakukan tes kehamilan." Ia menyenggol telepon menjauh, topik yang tak menyenangkannya saat ini. "Pipislah di batangan itu, lihat tanda plus, dan kau akan keluar dari penjara. Kuberi tahu, ya..."

Francis menggosok sisa-sisa minyak di antara ujung jarinya. "Tunggu sebentar. Kau bilang Julian Vega menulis surat-surat padamu, ingin tahu apa ia bisa menggunakan DNA untuk membuktikan bahwa bukan darahnya yang kita ambil dari kuku-kuku gadis itu?"

"Ya, bukan cuma padaku. Ia juga menulis ke Jaksa Wilayah. Tapi sudah lama aku tidak mendengar kabar darinya. Kukira kami tak lagi saling mencinta."

Francis butuh beberapa saat untuk memikirkan segala sesuatunya tentang hal ini, seluruh informasi ini mendadak muncul seperti planet tak dikenal di tepi tata surya.

"Lalu, apakah ia memperoleh apa yang dicarinya?"

Mauler menyeka kacamata dengan ujung dasi. "Kau bercanda?"

"Tidak. Kenapa?"

"Kau pernah melihat-lihat tempat ini? Ini seperti negeri Indiana Jones. Kami masih punya tumpukan barang dari peristiwa 9/11 yang bahkan belum sempat dikerjakan."

Francis mengambil tisu untuk mengelap tinta dari jari-jarinya, teringat kehebohan saat terakhir kali ia berkunjung ke gudang ini pada musim semi lalu, mencari bukti perkosaan lama. Hanggar pesawat terbang yang terbentang luas penuh dengan bukti-bukti yang berpotensi keliru diarsipkan. Rak-rak baja menjulang disesaki tong-tong kardus berukuran 250 liter. Ratusan sepeda curian menumpuk di gudang tambahan, seperti sisa-sisa Tour de France. Seorang operator forklift mondar-mandir menggilasi karpet gulung yang ternyata menyimpan bukti helai rambut penting dari sebuah kasus pembunuhan. Dan yang paling aneh, sebuah koleksi alat-alat pemanggang gaya pinggiran dan gerobak jajan dorong berjejer di dinding. Suasananya tak seperti akhir film Raiders of the Lost Ark, tapi seperti toko alat-alat rumah tangga yang dikelola seorang pecandu. Akhirnya ia menyerah mencari barang yang dimaksud dan memilih pergi untuk mendapatkan keterangan baru dari saksi asli.

"Kukira mereka akan merapikan tempat ini," kata Francis, melempar tisu itu ke tempat sampah.

"Merapikan? Merapikan? Kau sedang mabuk? Maksudku, catatan kami cukup baik, tapi yang benar saja. Orang sudah menaruh barang di tempat yang salah sejak 1895. Kau bisa menemukan Hakim Crater di salah satu tong barang bukti. Jadi pendeknya: tidak. Julian tak mendapatkan apa yang ia cari. Kami baru saja mendapat musibah atap rubuh besar-besaran akibat hujan yang merusakkan barang bukti senilai lima tahun. Aku tak tahu ke mana separo barang-barang itu. Jadi kami bilang padanya bahwa barang bukti itu tak lagi ada."

"Ya, sekarang ia sudah bebas dan kasusnya kembali ke pengadilan. Jadi kurasa lebih baik kita mulai mencari benda itu."

"Ah," Mullhearn tersenyum menatap jam. "Aku keluar sepuluh menit lagi, Sobat. Ada seorang wanita muda yang tak sabar bertemu denganku."

Francis membayangkan dirinya benar-benar akan tersesat berkelana dalam lorong-lorong tanpa akhir, berusaha mencari dua berkas dengan penglihatan yang terbatas. Dilihat dari keadaannya, boleh jadi ia akan terkunci semalaman. "Brian, aku betul-betul butuh bantuanmu. Kasus ini benar-benar sangat berarti."

"Kita sama-sama tahu, tak ada yang dapat menahanku di sini setelah pukul tiga," kata Mauler.

"Aku benar-benar akan berutang padamu, Sobat."

"Oh, jadi sekarang kita sobat, Francis?"

"Apa maksudmu?" Francis memeriksa jari-jarinya, memastikan tak ada tinta yang tersisa. "Aku tak mengerti maksudmu."

"Kubilang, kau pikir sekarang kita sobat? Kau dan aku?"

"Kita saling kenal, satu sama lain. Punya ikatan."

"Lucu. Karena kurasa kita tak punya ikatan apa-apa. Kukira kita hanya dua lelaki yang pernah berbuat kacau di masa lalu. Dan, karier salah satu dari kita naik, sementara yang lain tidak."

"Tiap orang punya pendapat masing-masing."

"Tidak, pendapat diarahkan." Mullhearn menaruh kacamatanya kembali. "Sedangkan ini kenyataan. Salah satu dari kita memperoleh lencana karena ia punya seseorang yang melindungi. Sementara yang lain berakhir di tempat sampah. Aku tak ingat kau pernah menelepon dan menawarkan agar ayahmu memberikan jaminan untukku. Aku bakal segera keluar dari sini dalam sembilan menit."

"Brian, kau harus membantuku mencari tong itu."

"Maaf?"

"Kubilang, kau harus membantuku mencari apa yang kubutuhkan."

"Bangsat, kubantu kau, pasti." Mullhearn menjatuhkan makanannya ke tempat sampah.

"Kalau kau ingin mengasihani dirimu sendiri selama sisa hidupmu, itu urusanmu, aku tak akan memberitahumu cara memperbaiki apa yang telah kau lakukan."

Francis bicara dengan tenang dan datar, seolah-olah sedang bicara pada seorang tersangka. Tak perlu drama berlebihan. Cukup pandangan sejajar dan nada bicara normal seorang lelaki yang memberi tahu lelaki lain bahwa sebuah buldoser akan merubuhkan rumahnya.

"Masalahnya aku punya terpidana pembunuhan berusia dua puluh tahun yang baru saja dilepas. Pembunuh yang kujebloskan bebas dengan jaminan. Aku punya tuduhan yang memerlukan bukti baru untuk mendukungnya. Ini pekerjaanku, Brian. Bos di departemen menyuruhku cepat-cepat, dan percayalah padaku, itu semua bukan karena perilaku dan pesonaku. Tapi karena aku membuat mereka tampak oke. Dan mereka akan menyerangmu seperti Godzilla terkutuk jika aku mengatakan bahwa kau bersikap tak membantu.”

"Demi Tuhan, Francis, kenapa kau brengsek oegini, sih?"

"Hanya istriku yang tahu alasannya." Ia menggosok-gosok kedua tangan. "Dan, ia tak pernah mengungkapkan—atau setidaknya ia tak bilang padaku. Sekarang, dari mana kita mulai?"

14

"Boleh saya minta Toffee Nut latte dalam gelas besar dan seiris caramel cheesecake?"

Hoolian masuk ke gerai Starbucks di Astor Pl.ace, menurutkan keinginannya pada makanan manis. Gadis di meja kasir, dengan topi bisbol hitam dan celemek hijau, menatapnya seolah-olah ia baru saja memesan sebungkus heroin murni.

"Kau suka gula, kan?"

Gadis itu berpaling untuk mengambil pesanan, meninggalkannya bertanya-tanya apakah ia mengucapkan sesuatu yang keliru.

Kemarin, Nona A. menyuruhnya untuk beristirahat sejenak dari kegiatan hukum dan bersenang-senang sedikit. Nikmati kebebasanmu. Seolah-olah ia tahu hal itu tak berlangsung lagi seusai sidang pengadilan esok.

Akhirnya ia gunakan uang yang diperolehnya dari pekerjaan aneh-aneh di penjara dan memotong rambut gaya cepak yang pantas untuknya di Astor Place Barbers. Tampak cukup bagus, pikirnya, dengan sedikit janggut yang ia pelihara untuk menutupi parut di dagu serta jaket dan dasi murah dari toko yang ia beli untuk menciptakan kesan baik pada hakim.

Ia meregangkan diri dan menguap, lega punya waktu beberapa jam untuk tidur. Setelah berdebat lama dengan petugas kesejahteraan sosial, ia akhirnya berhasil memperoleh tempat di rumah persinggahan di Bed-Stuy, berbagi satu kamar tidur sesak dengan tiga mantan narapidana lain di ranjang bertingkat. Memang kurang nyaman, berbagi laci pakaian bersama lelaki lain dan satu kamar mandi dengan sembilan orang lain, tapi sewanya hanya enam puluh dolar seminggu dan satu-satunya kekurangan lain hanya keharusan menghadiri sesi terapi kelompok untuk berdiskusi tentang "masalah kecanduan" palsunya itu. Bagaimana pun juga, dunia ini akan membuatmu menjadi pembohong, kalau bukan kau lebih dulu menjadi salah satunya.

Gadis itu membawakan minuman dan kue yang dipesannya dan ia membayar tujuh dolar, menyisipkan tiap lembaran ke meja kasir dan. menghitung-hitung: dirinya masih punya sekitar lima puluh dolar untuk kupon makanan yang bisa membuatnya bertahan hingga akhir minggu.

Saat ini, ia tak bisa memikirkan hal itu. Ia hanya ingin pergi jauh dari para pengacara dan ruang sidang serta para birokrat selama beberapa waktu. Ia hanya ingin menenangkan diri bersama alunan Miles Davis di radio dan suara wanita cantik berbicara dengan nada rendah di latar belakang. Setelah bertahun-tahun terkurung sel lembab dua kali tiga meter, sebagian dari dirinya begitu ingin merasakan kenikmatan sederhana seperti tangkai bunga yang menggeliat mencari matahari.

Dengan lembaran koran iklan di satu tangan dan buku di tangan lain, ia berjalan di antara para wanita yang menempati meja-meja bulat. Wanita sedang menelepon dengan ponsel, wanita dengan pakaian kerja formal, wanita membaca buku tentang Mancisme dan fisika kuantum, wanita dengan sepatu roda, wanita menatap dengan sepi ke layar laptop seakan-akan masalah terpampang di sana, wanita berpegangan tangan dengan wanita lain, wanita menganalisis detil-detil penting hidupnya, wanita memakai syal dan kerudung pendek milik sang nenek, wanita dengan kaus FCUK, wanita dengan jaket militer dan blus gaya petani. Wanita yang bebas dan menyingkirkan versi diri mereka sendiri yang berbeda, wanita yang belum digayuti gelambir lemak, nyeri sendi, pernikahan yang keropos, dan utang berlimpah.

Ia memilih meja dekat jendela dan membuka berkas yang ia bawa, menikmati paduan aroma parfum, Kenyan double A, dan rambut yang baru dicuci.

Untuk kedua kali dalam beberapa hari terakhir, ia bertanya pada diri sendiri apakah memang teramat buruk jika ia mencoba melepaskan diri dari persidangan. Kasusnya telah lama sekali. Separo wanita di sini mungkin bahkan belum lahir saat ia ditahan. Mengapa ia tak seperti orang lain saja untuk beberapa saat?

Gadis yang telah ia perhatikan sebelumnya telah kembali ke meja, menarik kerah turtleneck-nya hingga dagu dan membiarkannya merosot selagi ia asyik membaca Les Miserables. Tumitnya yang ramping menyilang di antara kaki-kaki kursi, dan rambutnya digelung di belakang kepala. Jepit ketidakbahagiaan yang menggoda beberapa lelaki untuk mencoba membongkarnya demi membebaskan gadis itu. Hoolian meretakkan punggung buku Les Miserables miliknya dan mulai membaca tentang si pengembara lapar di malam yang dingin, angin pegunungan Alpen menusuki tubuhnya.

Mencari perlindungan dalam sebuah pondok, ia mendaki pagar kayu, merobekkan pakaian, hanya untuk menemukan dirinya sendirian dalam kandang bersama seekor buldog yang menggeram-geram.

"Bagaimana, apakah kau suka?" ujarnya, diam-diam mencuri pandang pada gadis itu.

Kini dengan leher baju turun dari dagunya, ia tampak seperti seorang gadis di atas punggung kuda,' hidung bengkok panjang dan tulang pipi tinggi ala bangsawan dihiasi awan rambut ikal pirang. Ia kembali mencubiti remah-remah di sudut kue scone kismisnya.

"Buku." Hoolian menunjukkan buku Les Miserables edisi Signet yang ia beli dari penjual kaki lima kemarin. "Kita membaca buku yang sama."

Lidah gadis itu menyodok di dalam pipinya, dan gumpalan itu perlahan menyusut.

"Bukunya tebal tapi bagus. Ya, kan? Aku sedang membacanya."

Gadis itu mendesah panjang dan kembali menghadapi scone-nya, menaruh remah-remah kecil di ujung lidah. Ia sedikit mengingatkannya pada Allison: menaruh beberapa tetes madu ke sendok, menjilati ujungnya dengan nikmat, lalu menaruh toples berbentuk beruang itu jauh-jauh agar tak tergoda.

"Lalu, bagaimana menurutmu?"

Jemari gadis itu berderap di samping cangkirnya dengan gelisah. Jari-jemarinya tampak lebih gemuk dari anggota tubuh yang lain, seakan-akan ada wanita lain dengan selera makan yang lebih sehat terperangkap dalam dirinya.

"Lumayan," sahutnya akhirnya. "Sedikit sentimentil, mungkin."

Hoolian bertanya-tanya apakah perempuan itu punya kesukaan juga pada fiksi ilmiah seperti Allison, atau satu-satunya kesamaan yang mereka miliki mungkin hanya menunda-nunda makan.

"Ya, ya, aku tahu maksudmu. 'Sentimentil.' Seakan-akan, penulisnya agak berlebihan meramu cerita."

Gadis itu mengangkat bahu, acuh tak acuh dan kembali menggumuli bukunya.

"Tapi, menurutku, aku bersimpati pada si lelaki," lanjut Hoolian, masih berusaha membuat gadis itu tertarik.

Ia separo berpaling dan menarik kerah ke atas, tak begitu menutupi dagunya kali ini. Hoolian tak bisa menebak apakah wanita itu ingin dirinya melanjutkan bicara atau tidak. Sejak awal ia tak pernah punya kemampuan untuk membaca pikiran wanita, dan apa yang terjadi pada Allison jelas tak membantu. Di titik ini, ia tak yakin mampu menebak apakah seorang wanita tertarik tanpa perlu duduk di pangkuan dan menjulurkan lidah ke tenggorokannya.

"Maksudku, lelaki ini, lelah bukan main, kelaparan, berjalan kaki sejak fajar, bersedia menukar uang tunai dengan senjatanya demi ranjang dan sesuatu untuk dimakan. Dan orang-orang ini terus-menerus mengusirnya. Semua hanya karena sedikit kesalahan yang tak patut ia dapatkan di masa lalu."

"Dari mana kau tahu?"

"Apa?"

"Kau bilang kau baru mulai membaca." Ia akhirnya menggigit bongkahan yang cukup besar. "Dari mana kau tahu ia tak bersalah jika kau belum membaca sejauh itu?"

"Kau bisa tahu dari cara ia menulis tentang dirinya."

"Tapi mungkin kau hanya dibodohi oleh...rasa simpati" ujarnya dengan sedikit cadel.

Hoolian menunduk ke arah deretan sesak kalimat-kalimat terjemahan itu. Mungkin ia melewatkan sesuatu. Selama bertahun-tahun, yang benar-benar pernah habis ia baca hanyalah fiksi ilmiah dan beberapa bagian dari Kitab Hukum Pidana Negara Bagian New York. "Mungkin kau benar." Dengan canggung ia mengangkat cangkir latte-nya untuk bersulang. "Kita tak bisa begitu saja membuat asumsi atas orang lain."

Hoolian menaruh cangkirnya kembali dan meluruskan dasi, melirik bayangannya di cermin di dinding: seorang lelaki dengan kilatan perak metalik di rambutnya, berusaha ngobrol dengan seorang gadis yang terlalu muda untuknya. Sekali lagi ia tersentak karena tak segera dapat mengenali dirinya sendiri.

"Ternyata menyenangkan juga, ya, ada tempat seperti ini, tempat orang bisa nongkrong tanpa ada yang mengganggu," kata Hoolian, menirukan nada percakapan biasa yang ia dengar orang lain gunakan. "Ada banyak tempat seperti ini di kota?"

"Kau bercanda, ya?" gadis itu mengerutkan dahi.

"Tidak. Kenapa?"

"Kau tak tahu Starbucks? Memangnya, kau ini baru keluar penjara atau bagaimana?"

"Maaf?" Ia tidak mendengar jelas perkataan gadis itu.

"Tempat seperti ini ada di tiap sudut kota..."

"Ya, tapi kenapa kau mengucapkan apa yang baru saja kau katakan tadi? Kau tak mengenalku."

Rasanya seolah gadis itu baru menyiram kopi panas di mukanya.

"Lupakan. Oke?"

"Aku hanya tak mengerti kenapa kau berkata seperti itu." Gadis itu berpaling dan menarik kerahnya naik ke hidung seperti topeng perampok kereta api jaman koboi. "Nona, aku bicara padamu..."

Ia mengambil bukunya kembali dan mulai membaca, bertindak seolah lelaki di sampingnya tak hadir.

"Maaf." Hoolian menaikkan suara. "Kau tahu, amat tidak sopan tak menatap orang yang sedang berbicara padamu."

Beberapa wanita di meja-meja sebelah berhenti bicara dan menoleh, seakan-akan ia tengah meniup saksofon bernada sumbang keras-keras di tengah-tengah musik manis yang mereka mainkan.

"Yo, apakah aku menyinggungmu!" ia melotot, menolak diabaikan. "Jika aku mengatakan sesuatu, tolong katakan saja..."

Mereka semua kini menatapnya, bertanya-tanya siapa lelaki sinting ini. Mereka mungkin mengira ia sejenis tunawisma bermata liar yang sedang keluar dari jalanan, mencoba mencari perhatian. Mereka tak tahu dirinya seseorang yang berpendidikan. Mereka tak tahu ia pernah punya masa depan yang hampir secerah masa depan mereka. Mereka tak mengerti betapa semua itu dapat direnggut begitu saja dari seseorang, bahwa seseorang dengan kehalusan budi dan perasaan tulus dapat berubah menjadi binatang bukan atas kesalahannya, bahwa ia kurang dari seminggu keluar dari tempat di mana menatap seseorang dengan keliru bisa membuat matamu ditusuk garpu.

"Aku hanya ingin menjalin percakapan denganmu seperti orang normal," ia bersikeras, masih berusaha didengar.

Manajer gerai berjalan ke arahnya, seorang kulit putih kaku dengan lengkung kecil alis yang dimaksudkan untuk mengalihkan perhatian dari kulit bopengnya yang membawa petaka.

"Maaf, Sir, saya terpaksa harus meminta Anda meninggalkan tempat ini."

"Yeah, oke, tunggu sebentar..."

Hoolian mengangkat tangan, meminta sedikit pengertian, tapi pria itu mundur seolah ia baru ditampar.

"Oh, ayolah....jangan seperti itu...."

Hoolian berusaha bergurau, mengubah gerakannya menjadi pukulan karate main-main, tapi pria itu mulai memberi isyarat pada gadis Asia di belakang konter, membuat isyarat telepon dengan ibu jari dan kelingkingnya, mungkin menyuruhnya menelepon 911.

"Hey, bro, tomalo con calma." Hoolian menjatuhkan tangan. "Kalem saja."

Tapi pria itu terus mundur, ketakutan. Jadi, untuk apa lagi saling bertengkar? Ke mana pun ia pergi, seseorang pasti mengganggunya; berusaha membuatnya melakukan sesuatu yang tak ingin ia lakukan. Entah bagaimana mereka tahu emosinya selalu di atas dan mereka hanya tinggal menyenggol sedikit untuk membuatnya kehilangan kendali.

"Tuan, saya persilakan Anda menikmati secangkir kopi di gerai lain kami." Manajer itu menunjuk ke arah pintu. "Tetapi saya sungguh-sungguh meminta Anda untuk pergi..."

"Baik, baik, aku mengerti." Hoolian mengancingkan jaket dan mengambil buku. "Kau tak perlu memintaku dua kali."

Ia berjalan menyusuri meja-meja kecil, menoleh ke belakang untuk terakhir kalinya pada gadis dengan kaus turtleneck hitam itu.

15

Pintu ruang sidang berderit terbuka dan Francis menoleh, berusaha mencari sumber bunyi.

Para reporter yang datang untuk mencari tahu apakah dakwaan Hoolian akan dihapus pagi ini sibuk berbisik-bisik. Dov Ashman, fosil tua kasar yang meliput sidang untuk Daily News pada 1984, menaruh cakar berbentuk tangan di atas lutut sintal belia milik Judy Mandel dari Trib. Allen Robb, keparat dari Times yang mengenakan dasi lengkung, mulai berbisik-bisik pada si sembrono dari Post yang namanya tak dapat Francis ingat. Pintu terbanting menutup dan akhirnya ia menemukan titik fokus: Eileen Wallis memasuki ruang sidang bersama Tom yang menempel di lengannya.

Jackie Kennedy sendiri tak akan bisa membuat adegan masuk yang lebih dramatis. Setelan Chanel muram yang serasi—bernuansa gelap namun bukan hitam suram—dipadukan lipstik gelap warna anggur pada wajah putih salju, matanya tersembunyi di balik sepasang kaca mata gelap. Rambutnya masih cenderung ke arah warna jahe daripada kelabu dan bentuk tubuhnya masih bagus, tetapi ia berjalan dengan sedikit kaku di gang kecil di antara tempat duduk. Francis tak akan menyalahkannya jika ia masih di bawah pengaruh obat-obatan saat ini; jika dalam situasi seperti itu mungkin ia akan melakukan hal serupa. Tetapi ada sesuatu yang agung darinya, seakan-akan kedukaan telah menempatkannya di luar manusia-manusia hidup.

Bahkan, kedatangannya saja telah menjadi pernyataan tersendiri. Pernyataan yang berbunyi, Tahan dulu. Yang berkata bahwa tanah telah terusik. Yang berkata bahwa setidaknya satu orang di ruangan ini tak cukup siap untuk 'melanjutkan hidup.' Namun ketika ia berhenti di barisan depan dan duduk di samping, Francis tak melihat tanda-tanda perkenalan darinya. Eileen tak ingat tentang waktu yang pernah mereka habiskan bersama, membandingkan kepedihan dan berusaha menerima hal-hal yang sulit diterima.

"Eileen." Francis menyentuh lengan wanita itu selagi ia bermaksud duduk. "Francis Loughlin. Aku datang untuk Allison."

Sepasang mata itu hampir tak mengerjap di balik lensa berwarna itu.

"Terima kasih telah datang, Francis." Tom menggapai melewati ibunya untuk menjabat tangan Francis.

"Ah, tentu saja, aku tak mungkin melewatkannya."

Secara teknis sebenarnya banyak tempat lain yang bisa ia datangi pagi ini. Mestinya, ini hari cuti dan ia sudah hampir menghabiskan waktu lembur tak resmi tahun ini. Belum lagi setidaknya masih ada enam kasus investigasi yang boro-boro bisa ia kerjakan.

Pintu samping terbuka dan dengung percakapan mendadak lenyap. Paul Raedo berhenti menggeledah berkas di meja jaksa, dan bangku kayu tua mendecit saat semua orang memajukan badan ke depan untuk mendapatkan pemandangan yang lebih jelas. Julian Vega baru saja masuk dan mengambil tempat di samping Debbie Aaron di meja pembela.

Francis hampir tak mengenali pada awalnya. Pria kekar bertubuh besar dengan rambut cepak dan sedikit janggut, leher kuat menjulur dari jaket wol abu-abu dengan kemeja marun dan dasi hitam. Ia terlihat pantas sebagai seseorang yang sedang berkampanye di East Harlem atau paling jelek didakwa atas penipuan bursa.

"Harap tenang di ruang sidang," Tony Barone, petugas pengadilan, menegur, alisnya meloncat seperti dua paruh kumis Stalin di kening.

Hoolian berpaling untuk menoleh dan memeriksa kerumunan. Ia mungkin bertambah lima kilogram, kebanyakamdi otot, sejak terakhir mengejar Francis di koridor penjara. Cara berdirinya kini mengeras, khas mantan narapidana, bahu di belakang, dagu terangkat, mata yang mati. Tetapi ketika ia melihat Francis, wajahnya berubah menjadi senyum pahit separo seakan-akan berkata, Kita bertemu lagi, amigo. Debbie A. menyadari apa yang sedang diperhatikan Hoolian, mengerutkan dahi, dan mulai berbisik di telinga sang klien, mmitnya sedikit keluar dari sepatu sewaktu berjingkat.

"Semua berdiri."

Hakim Miriam "Langsung ke Pokok!" Bronstein masuk, hampir tenggelam di balik jubah hitam besar, keriting hitam membingkai wajah mungil berkerut seorang nenek berusia tujuh puluh dua tahun yang masih mengendarai sepeda ke gedung pengadilan tiap hari dari Upper West Side. Francis mengingatnya sebagai pengacara lembaga bantuan hukum, mudah jengkel dan siap beradu pendapat, tak pernah mau percaya bahwa polisi dapat memperoleh pengakuan resmi dari tersangka tanpa penggunaan buku Yellow PagesManhattan di atas kepalanya. Karena maju ke kursi hakim lewat koneksi politik, ia berusaha sungguh-sungguh agar berlaku lebih adil, tetapi ketenangan berwibawa sering diganggu ledakan kemarahan, seolah-olah semua orang di ruang sidang mendadak mengingatkannya pada anak-anaknya yang terkenal mengecewakan.

"Lanjutkan, Pembela." Ia memberi isyarat pada Paul dan Debbie A. agar mendekat. "Ada kasus apa sekarang? Jadwalku penuh hari ini."

"Yang Mulia, ini melanjutkan kasus Warga melawan Julian Vega," Paul berkata, yang di pengadilan awal dulu duduk di bangku kedua. "Hakim Santiago menganugerahi mosi empat-empat puluh terdakwa di Rikers Island beberapa hari yang lalu dan—"

"Ya, ya, ya," potong Bronstein. "Langsung ke pokoknya! Kau siap membawa kasus ini ke pengadilan?"

Paul sedikit bergoyang di tumitnya. Ia sudah memperingatkan Francis bahwa Bronstein tahu ia mengincar posisi hakim. Jadi mungkin ia bakal menerima beberapa jotosan, pagi ini.

"Saat ini, Yang Mulia," sahutnya. "Kami menggunakan hak untuk terus maju."

Debbie A. angkat bicara. "Yang Mulia, saya tak ingin membuang waktu lebih lama lagi, saya ingin mengajukan pencabutan dakwaan ini dengan segera."

"Atas dasar apa?"

"Kekeliruan ganda. Sama sekali inkonstitusional bagi klien saya untuk disidangkan dua kali dalam kejahatan yang sama."

"Usaha yang bagus." Mata hakim itu mengernyit di belakang kacamata bingkai tanduk, mungkin melihat sosok mudanya dalam Debie A yang tangkas dan kecut. "Tapi jika dakwaan asli dicabut, seakan-akan pengadilan awal tak pernah terjadi. Anda tak bisa mendapatkan keduanya, Pembela."

Francis melihat Deb memiringkan badan untuk menjelaskan, tetapi Hoolian menolak, ia memahaminya dengan baik.

"Ada hal lain sebelum kita menentukan tanggal sidang?"

"Ya, Yang Mulia." Paul mendekati bangku hakim. "Warga ingin mengajukan mosi untuk menghentikan jaminan untuk Saudara Vega. Kami yakin setelah sembilan belas setengah tahun di penjara, ia berpotensi tinggi meninggalkan negeri ini. Juga, saat masih ditahan ia terus menunjukkan kecenderungan melakukan kekerasan. Ia ditempatkan di sel isolasi selama tiga puluh hari karena berusaha menyerang petugas kepolisian. Dan kantor kami memiliki dokumen Direktorat Pemasyarakatan yang membuktikan bahwa dirinya ditempatkan di unit rumah khusus dalam peristiwa lain akibat insiden yang melibatkan penusukan pada—"

"Oh, itu keterlaluan." Debbie A. mencibir, setelan jaket cokelat menyampir di bahunya. "Hal itu bukan bagian dari catatan pengadilan ini dan sudah pasti tidak relevan terhadap jaminan. Itu hanya usaha murahan Tuan Raedo di depan media."

Dan juga efektif, dinilai dari bisik-bisik di antara reporter. Francis, yang menghabiskan empat jam membongkar-bongkar laporan Direktorat Pemasyarakatan kemarin, menoleh ke sekeliling dan melihat Dov Ashman memiringkan badan kepada Judy Mandel, memastikan ia mendengar dengan benar.

"Ya, Nona Aaron pasti ahli tebakan murahan karena dalam wawancara ia menciptakan kesan meragukan investigasi awal," balas Paul. "Komentarnya jelas dimaksudkan untuk memengaruhi juri. Saya ingin meminta perintah penghentian pemberitaan beropini."

"Hei, jangan seperti anak kecil." Hakim itu melepaskan kaca mata. "Kita bahkan belum mulai apa-apa dan kalian berdua sudah bertengkar di persidangan."

Francis kembali bersandar, tangannya menyilang di puncak bangku, meremehkan beberapa ucapan terakhir Deb. Beberapa kali ia merasa seakan dirinya yang disidangkan di sana.

"Saya tak akan menarik kembali jaminan tersebut." Hakim itu menatap dengan tajam. "Terdakwa tidak kabur sebelum sidang awal terdahulu, tak ada alasan memberikan sanksi padanya. Sekarang bisa kita langsung saja ke pokok persoalan dan menentukan tanggal persidangan jika kita akan mengulangi semua ini lagi?"

Francis diam-diam memperhatikan Eileen Wallis, mengamati cara ia menghadapi semua ini. Tetapi perhatian wanita itu sedang beralih, ia merabai pegangan buku saku Coach-nya. Dalam cahaya ruang sidang yang menyedihkan, kulitnya, yang masih begitu lembut tanpa cacat di usia empat puluhannya, kini mulai memperlihatkan bintik-bintik kecil, seperti vas yang ditinggalkan terlalu lama di tungku pembakaran.

"Yang Mulia, kami ingin memulai seleksi juri tanggal 2 Desember, karena Thanksgiving dan Hanukkah berdekatan tahun ini." Paul menganggukkan kepala, berusaha memperlihatkan kesan sopan.

"Itu hampir tiga bulan!" protes Debbie A. "Kasus klien saya telah menggantung selama dua puluh tahun. Ia berhak memperoleh penjadwalan lebih cepat."

"Itu persiapan yang terlalu lama, Tuan Raedo," ujar hakim, mengenakan kacamata kembali. "Kenapa harus menunda?"

"Bu Hakim, kami yakin ada bukti di berkas kasus yang akan memungkinkan kami membuktikan kesalahan Saudara Vega yang tak diragukan lagi. Perkembangan teknologi DNA tak ragu lagi akan menunjukkan bahwa Julian Vega membunuh Allison Wallis."

"Jadi mana buktinya?!" Deb mengangkat tangan sebagai isyarat olok-olok yang sudah begitu dikenal Francis. "Klien saya telah berusaha meminta bukti tersebut sejak 1995!"

"Ya, apa yang terjadi?" Hakim itu menoleh pada Paul, mulai tampak jengkel. "Mengapa bukti itu belum diberikan?"

"Yang Mulia, kami tidak naif. Kita semua tahu divisi fasilitas kearsipan kita kekurangan dana dan kurang pegawai. Setiap orang berusaha menambah kapasitas, bahkan jika Nona Aaron ingin berpura-pura sebaliknya. Orang-orang keluar dari gudang barang bukti di Queens dalam empat hari terakhir. Buktinya ada di sana. Hanya salah taruh."

"Salah taruh!" Deb mengejek. "Salah taruh!" ia mengangkat tangan lebih tinggi lagi, memastikan pihak media mengerti maksudnya. "Yang Mulia, mengapa klien saya harus menanggung akibat dari sesuatu yang menjadi kesalahan administrasi orang lain? Kita anggap saja seperti itu. Kedengarannya seolah kita mungkin harus meminta penuntut khusus untuk menyelidiki apa yang terjadi di sini."

"Oh, ayolah." Hakim itu menggapai palu, bersiap memanggil semua orang ke ruangannya. "Bisakah kita membahas satu masalah saja saat ini?"

Francis mengangguk, mafhum mengapa ia mengagumi Deb. Siapa yang tak ingin diwakili oleh pengacara yang dapat membuat setiap peristiwa menjadi alasan bagi sebuah Perang Suci? Ia adalah salah seorang sosok perempuan kuat, cerdik, dan tangguh. Setiap celah harus memiliki jawaban, setiap tawaran permohonan adalah tohokan pribadi bagi integritasnya.

Sementara itu, Francis memanfaatkan momentum itu dari perubahan suasana di kubu media. Ia melirik dan melihat Dov Ashman membolak-balik buku catatan, menggelengkan kepala, melihat bahwa Paul pernah mengangkat masalah catatan hukuman Hoolian untuk mengalihkan perhatian dari tiadanya bukti-bukti DNA.

"Ahhhh." Hakim Bronstein mengerutkan dahi, tak terbiasa menjadi orang paling rasional di ruang sidangnya sendiri. "Aku tak mengerti mengapa kalian berdua tidak mendiskusikan kasus ini dulu sebelum membawanya ke ruang sidang. Tuan Raedo, tidak bisakah kau hargai Saudara Vega atas waktu yang telah terbuang darinya dan membiarkan hal-hal berlalu setelah dua puluh tahun?"

"Yang Mulia, dengan segala hormat, Saudara Vega dengan jelas menyatakan bahwa ia tak tertarik untuk membuat pengakuan bersalah. Dan yang lebih penting lagi, keluarga Nona Wallis hadir di sini hari ini." Paul berpaling, memberi isyarat pada Tom dan Eileen dengan anggukan hormat. "Apapun sebutannya atas penderitaan yang dijalani Saudara Vega, ia masih hidup. Tetapi keluarga ini belum memperoleh kedamaian sejak 1983. Ini tentang wanita muda dengan potensi tak terkira. Dan, Anda boleh yakin bahwa ibunya tak akan duduk di barisan depan hari ini jika ia merasa keadilan telah ditegakkan dengan memadai."

Francis melihat Eileen mulai memain-mainkan pegangan buku sakunya dan mengeluarkan kertas kuning terlipat, penuh oleh tulisan cakar ayam di kedua sisi.

"Jangan sekarang, Bu," gumam Tom, menggapai ibunya dan berusaha membuatnya tetap tenang di kursi.

Hoolian menoleh untuk melihat langsung wanita itu, bibir bawahnya sedikit mencuat. Francis membatin bahwa hal itu tak bermakna apa-apa, banyak sosiopat pintar meniru emosi manusia normal. Tetap saja, ia merasa terganggu. Berapa banyak dari pria-pria itu yang benar-benar menunggu saat yang tepat? Biasanya ketika dihadapkan pada keluarga korban, mereka akan menatap ke kejauhan dan mengatakan omong kosong tentang menemukan Tuhan dan menyadari kekuatan pengampunan kekal.

"Cukup." Hakim mengambil pena. "Aku menjadwal sidang pada 17 Oktober. Tuan Raedo, Anda akan hadir atau tidak usah sama sekali. Cukup banyak waktu untuk Anda mencari barang bukti itu."

"Yang Mulia, ada kemungkinan masih ada saksi-saksi yang harus dicari. Sudah hampir dua puluh tahun berlalu."

"Jika kau tak punya kasus untuk disidangkan tanggal 17, saya akan mencabut dakwaan ini." Hakim itu menandatangani berkas dan menyerahkannya pada petugas. "Ada lagi yang lain?"

"Tidak, Yang Mulia." Debbie A. mengangguk, sangat mengerti untuk membiarkan segalanya berjalan begitu saja.

"Kasus berikutnya." Hakim itu mengetok-ngetokkan palu saat terdakwa lain bersama pengacaranya beralih untuk menggantikan tempat Hoolian dan Deb di meja pembela, seperti pergantian dalam pertandingan hoki.

Apa yang bisa kau lakukan? Paul mengangkat telapak tangan sementara Debbie A. menatap Francis yang cemberut, mulutnya membentuk garis miring merah mungil. Aku tahu apa yang kau lakukan, Bajingan. Tapi apa yang mereka berdua sama-sama tidak ketahui? Pengacara. Selalu menganggap mereka di atas segalanya, tak pernah mengira akan terkena percikan darah sungguhan pada setelan Donna Karan dan Armani mereka. Merendahkan orang-orang kasar kaum pekerja dan gelandangan penggerutu yang mesti membereskan segalanya.

Mengapa Francis masih peduli? Ia telah melakukan tugas, memainkan perannya. Jika seseorang ingin menyebarkan kotoran ke mana-mana dan menuduh ia sedikit melampaui batas, biarkan mereka membuktikannya. Silakan. Seret ia ke pengadilan lain kali. Ia akan menemukan satu cara untuk berdiri tegak. Ia mengangguk pendek saat Hoolian keluar dari pintu samping bersama Deb. Sampai nanti, companero.

Gemeresik kertas mengalihkan perhatiannya. "Tapi aku belum membaca pernyataannya," protes Eileen, kertas kuning gemetar di tangannya.

"Bukan waktunya, Bu." Dengan lembut Tom mengeluarkan kertas itu.

"Kau akan memperoleh kesempatannya, Eileen," Francis berusaha meyakinkan. "Kami akan pastikan hal itu."

"Oh, Francis, ini orangnya." Wanita itu berpaling, akhirnya mengenali, memperhatikan lelaki itu dari puncak kepalanya yang membotak hingga perut. "Bagaimana kau bisa seperti ini!"

"Terjadi begitu saja." Ia tertawa.

Wanita itu mencengkeram pergelangan tangan Francis dan dengan mengejutkan, meremasnya kuat-kuat. "Ingat apa yang kaujanjikan padaku..."

"Percayalah, aku belum lupa."

"Kau bilang kau tak akan melupakan anakku. Kau harus menemukannya untukku.”

“Tapi—"

"Mereka mengubur gadis yang salah."

Sebelum Francis menemukan jawaban yang masuk akal, Tom telah menggamit ibunya. "Terima kasih, Francis," katanya, menuntun keluar dari bangku dan gang sementara media mulai mengelilingi dan membuntuti mereka, seperti ikon religius di festival jalanan Italia. "Kita akan terus kontak-kontak."

"Tolong keluar dengan tenang," demikian pengumuman petugas pengadilan bersamaan dengan hilangnya mereka dari pandangan mata Francis. "Sidang masih berlangsung."

BAGIAN III

KEHENINGAN SEBUAH BINTANG JATUH

16

Ada semacam kelengangan menggelisahkan di rumah tempat para lelaki yang baru keluar dari penjara bisa menginap, satu kegelisahan yang berhembus menembus dinding-dindingnya. Orang cenderung memilih sisi ranjang paling tepi dan menonjol oleh barang-barang berharga yang diam-diam disembunyikan di bawahnya. Mesin-mesin dalam tabuh menjadi lebih bergema dan patut diperhatikan. Sendawa keras tengah malam, buang gas diam-diam, erangan melumpuhkan gara-gara mimpi buruk; semua menjadi bagian dari atmosfer umum. Penggunaan kamar mandi dapat menjadi sangat kompetitif dan dipolitisasi seperti Dataran Tinggi Golan.

Pada 1 Oktober, Hoolian terjaga dan berbaring di sisi ranjang, gelisah, menunggu berkas sinar matahari yang berkilau-kilau bagai mutiara muncul di sudut kumal jendela berjeruji. Pukul enam kurang seperempat jam, dengan hati-hati, ia menuruni tangga tempat tidur bertingkat dan merayap melewati tiga kawan sekamar yang tengah mendengkur dengan membawa handuk di tangan. Dalam beberapa menit mereka akan berbaris di koridor di luar kamar mandi, menggedor-gedor pintu dan menyumpahi dirinya karena menghabiskan seluruh air panas.

Ia menutup pintu di belakangnya dan berpaling ke arah cahaya. Sekali lagi, di sana tampak wajah ayahnya di cermin, di atas wastafel, memarahinya. Kau bangga pada dirimu, bobo? Ia menarik kaus lengan panjang dan memeriksa parut-parut gelap panjang yang mengeras setelah bertahun-tahun di tulang rusuknya. Dadanya tampak janggal, telanjang tanpa medali Santo Christopher, dan belakang lehernya masih terasa terbakar di tempat rantai itu diambil.

Pintu mulai terbuka dan dengan kasar pintu itu didorong hingga menutup dengan tangannya yang terbalut.

"Yo, buka, Bung," terdengar suara erangan tergesa di sisi lain pintu.

"Sebentar."

"Ayolah, G. Aku tidak main-main. Sudah hampir meledak nih."

Ia menarik kausnya kembali dan membuka pintu. Si mulut besar berambut gimbal yang dipanggil "Sapi," yang selalu berusaha meyakinkan semua orang bahwa ia pernah menjadi penguasa di sebuah wilayah pemukiman, melangkah masuk, dan segera saja mengambil alih sebagian besar ruang di lantai.

Ia meraih tali celana olahraganya, merogoh sebentar ke dalam, dan akhirnya mengeluarkan penisnya yang kecil.

"Kau tahu, aku sudah mengawasimu, Nak." Dengan santai ia melirik dari bahunya sementara kencing ke dalam toilet, wajahnya membulat, nyaris terlihat feminin seperti gadis-gadis geisha yang terlalu matang.

"Yeah, kenapa?"

Sapi menyeringai melihat balutan di belakang tangan Hoolian. "Kubilang, aku tahu apa yang kau lakukan, bertingkah sok jujur seperti itu."

"Apa katamu, Bung?"

"Kau bukan yang seperti kau katakan."

"Bung, selesaikan saja urusanmu dan keluarlah dari sini." Hoolian menyentakkan lengan kausnya untuk menutupi balutan itu. "Aku sedang bersiap-siap kerja."

Ia baru akan mulai bekerja di toko swalayan, dan sudah memutuskan untuk selalu menjadi orang pertama yang datang tiap pagi di sana.

"Pengetahuan adalah sumber kekuatan." Sapi menarik ikat pinggangnya dan berbalik dari toilet tanpa membilas.

"Terkutuk, kau tak tahu apa-apa tentangku."

Sapi memasang tubuhnya di pintu, menghalanginya. "Aku sudah mengecek dirimu dari internet di perpustakaan, booyy. Aku tahu kau dihukum dua puluh tahun bukan karena masalah narkotika."

"Kenapa kau tak urus saja dirimu sendiri?"

"Kau berbohong di setiap sesi terapi kelompok yang kau hadiri. Kau bukan pemakai." Ia menggapai lengan baju Hoolian. "Biar kulihat lenganmu. Aku yakin kau bahkan tak pernah memegang jarum."

"Singkirkan tanganmu dariku." Hoolian mendorongnya. "Apa aku minta kau untuk menyentuhku?"

"Yeah, aku tahu, kau bajingan penipu sejak pertama kulihat matamu, G."

"Yeah!” Mendadak Hoolian mencengkeram kemeja lelaki besar itu. "Yah, aku juga sudah memeriksa dirimu, pendejo. Dan, kudengar kau bukan pengedar heroin kelas kakap. Kudengar kau ditangkap karena menyodomi seorang gadis kecil. Kau ingin kubeberkan hal itu di pertemuan kelompok berikutnya?"

Si Sapi berusaha tersenyum sementara air kencingnya berputar keras di toilet.

"Mungkin lebih baik kita saling menghindari satu sama lain untuk beberapa waktu." Dengan lembut ia menyentakkan kemejanya dari cengkeraman Hoolian.

"Memang semestinya begitu, Brengsek." Hoolian menohok dada si Sapi yang kendur keras-keras untuk memastikan ucapannya. "Sekarang lebih baik kau main-main dengan orang lain saja. Aku harus bersiap-siap bekerja."

17

"Pagi yang cerah," Francis menyeka bekas hujan dan memperlihatkan lencananya pada petugas berseragam yang menjaga pintu. "Bagaimana ceritanya, Johannesburg?"

"Ia masih di bak mandi." Petugas patroli itu tampak seperti berumur dua belas tahun. Jerawat sekolah paroki, hidung mencuat, mata gugup loper koran yang kepergok mengintip jendela tetangga. "Mudah-mudahan perutmu kuat."

Francis menepuk perutnya saat petugas itu bergeser. "Inspektur menginjak-injaknya bak trampolin."

Ia mencatat waktu kedatangan di buku kecil dan memeriksa pintu untuk mengecek tanda-tanda pendobrakan paksa.

"Kurasa kau telah memeriksa gadis itu dengan baik," celetuknya santai. "Peri kapur tak mampir ke sini ya?"

"Siapa?"

"Salah seorang dari orang-orang tolol itu berpikir untuk menarik garis di sekitar mayat itu.”

“Aku tak menyentuh apa pun."

"Bagus. Bahaya mencampuradukkan seni murni dan patroli keliling."

Ia mengangguk, menaruh buku catatannya kembali di saku, dan memasukkan tangan ke saku depan, memastikan ia tak menyentuh apa-apa. Harus ekstra hati-hati zaman sekarang agar tidak menginjak barang bukti. Pelan-pelan. Tak usah terburu-buru. Francis melangkah melewati serambi kecil dan menuju ruang tamu bagai gajah terikat tali kencang.

Ia memeriksa ruangan, masih berusaha terbiasa untuk melihat benda-benda yang dapat orang lain lihat dengan segera.

Apartemen yang pertama kali ditinggali saat dewasa. Salah satu dari tempat sesak seharga 2.200 dolar sebulan di Upper East Side tanpa penjaga gedung, pipa ledeng berusia tujuh puluh tahun, dan pemandangan dari sebuah lubang udara. Ia merasa denyut nadinya perlahan-lahan kian cepat, mesin penghitung Geiger dalam tubuh yang mati saat pertama kali ia masuk ke rumah korban. Sebuah pot tanaman paku tergantung di bawah tirai Venesia. Sofa lapis biru gemuk dengan sehelai kain terletak di ujung meja yang tertutup syal, dengan lampu halogen berleher kurus menjulur di sisinya seperti seorang ibu menoleh dari balik pundak sang putri. Ia pergi ke samping dan melihat boneka beruang bersandar di bantal dengan celemek perawat kuno dan topi Palang Merah.

Francis menyadari dirinya sebagai lelaki besar yang menyusuri apartemen seorang wanita muda, kehadiran aroma pria yang tak diinginkan seperti orang sinting di salon kecantikan. Jika itu tempat tinggal putrinya, ia pasti akan dengan serta-merta diusir keluar.

Dengan menggerakkan kepala ke segala arah yang telah menjadi kebiasaannya, dengan cepat ia melihat rak buku kayu pinus produksi IKEA di sisi kanan ruangan, rak-rak dipenuhi CD, dan buku-buku yang diatur menurut ukuran. Tak pernah tahu kapan seseorang akan memiliki buku Final Exit, manual bunuh diri, dan—bum—kau telah menemukan motif dan metodenya bahkan sebelum mayatnya ditemukan. Alih-alih begitu, ia malah menemukan buku Angela's Ashes. Pride and Prejudice. The Human Stain. Atonement. The Dispossessed. Judul-judul lain tampak dibebani makin banyak makna belakangan ini. The God of Small Things. Ia berhenti di judul terakhir itu, tergelitik. Sesuatu yang dibutuhkan semua detektif bagian pembunuhan tengah menatapnya. Dewa dari saksi-saksi yang tak dapat dipercaya, uji mitokondria, pola sebaran bercak, isi ponsel, pemindaian racun, kapas DNA, detektor kebohongan, kotak peralatan sidik jari, logam pencari jejak, tanda-tanda lebam, dan serat karpet. Mestinya ada tempat pemujaan bagi Dewa Hal-hal Kecil di bagian Pembunuhan. Tepat sebelum berpaling, ia melihat buku di sebelahnya, Physician's Desk Reference; dan di sisi lain adalah buku kumal berjudul The Illustrated Man.

Ia menoleh kembali ke arah boneka beruang berseragam perawat itu, dan cahaya di ruangan tampak memburam. Ia tak menghiraukan hal tersebut dan terus mencari-cari, tak melihat tanda-tanda nyata perlawanan kasar. Kotak perangkat TV kabel masih bertengger di atas pesawat TV Sony di sudut, dan. vas bunga ramping dengan tulip merah tampak tak terganggu di atas meja antik di ujung.

Francis berpaling ke kiri, penghitung Geiger dalam tubuhnya berdetak makin cepat saat dirasakannya ia kian mendekat ke arah mayat. Entah bagaimana ia sudah mengetahui sebelum melihatnya bahwa jalan menuju dapur ada di hadapan. Apakah ia pernah ke gedung ini sebelumnya? Dari jendela ia melihat, pertama, kotak sereal berserat tinggi dan toples madu berbentuk beruang. Tak bermakna apa-apa, ia membatin. Banyak orang memiliki benda itu. Matanya bergerak menuju mosaik sesak foto Polaroid di muka kulkas. Sekali lagi sambil memperhatikan langkahnya, ia berputar ke samping pintu dan masuk ke dalam untuk melihat lebih jelas.

Anak-anak. Hampir empat puluh foto anak-anak. Dengan celah di gigi, parut di mulut, jarum infus di lengan mereka, mulut sumbing, penyangga leher, jahitan kupu-kupu, dan bantalan di telinga mereka.

Tidak, korban ini bukan perawat atau dokter biasa. Tentu saja tidak. Ia pasti seorang yang bekerja dengan anak-anak.

Duk. Ia menatap keran yang menetes, menahan dorongan untuk mematikan keran sebelum diambil sidik jarinya.

Didengarnya suara pria ngobrol diam-diam di dekatnya, suara pria yang bekerja di apartemen seorang wanita. Mereka mungkin memperbaiki pendingin ruangan atau mengganti lampu. Ia meninggalkan dapur dan pergi menuju kamar tidur.

Tirai menutup, tapi ranjangnya siap ditiduri, bantal-bantal lembutnya gemuk ditepuki dan bertumpuk, sehelai selimut tebal berbulu halus terlipat dua. Ia menoleh ke arah meja rias kayu mapel dan jantungnya seakan meloncat saat melihat pemain berkumis yang mengenakan topi Mets. Tetapi ia kemudian menyadari itu hanya Mike Piazza, catcher top saat ini, bukan Keith Hernandez, yang bermain di first base dua puluh tahun lalu. Itu masih tak berarti apa-apa, ia memperingatkan diri sendiri. Banyak gadis menonton pertandingan olah raga zaman sekarang. Ia memeriksa foto-foto lain di meja itu. Di setiap foto selalu tampak gadis bermata gelap lembut dengan rambut berwarna jerami. Tampaknya ia penyuka berbagai kegiatan. Di satu foto, ia bermain golf dengan sepasang orang tua, mungkin kakek dan neneknya. Di foto lain, ia tengah melakukan putaran ice skates di depan sorakan penonton. Sang korban, tentu. Wajahnya menyiratkan semacam kepantasan dan sedikit berbau zaman Victoria yang membuat Francis berpikir tentang anting-anting khusus berdebu yang ditemukan di belakang laci seorang kerabat yang meninggal dunia. Tetapi ada semacam sifat agresif di sana yang menahannya dari kesan teramat murni dan suci, bentuk mulutnya yang tegas, sikap suka bersaing dari dagunya yang mencuat.

Lampu merah mesin penjawab telepon berkedip-kedip panik di meja sebelah ranjang.

"Francis X.!" Sebuah suara menjerit dari kamar mandi. "Tak ada keadilan, tak ada kedamaian, Sayang!"

"Jimmy Ryan, ceritakan padaku." Ia bergerak menuju ambang pintu.

Rekan kerja lamanya, yang kini di bagian TKP, berlutut di pinggiran bak mandi kuno dengan kaki berbentuk cakar, tikus berkepala ikan trout yang mengenakan jaket olahraga tweed, tengah mencari-cari petunjuk. Tiga puluh lima tahun di Kepolisian, namun ia tak perlu memperlambat gerakannya gara-gara cacat terkutuk sepertinya. Bahkan setelah ia memenangkan 6 juta dolar dari bermain lotre sepuluh tahun lalu, Ryan tak ingin mendengar kata pensiun. Ia terlalu terbiasa dengan suara dering telepon, mencari-cari santapan tengah malam, buku catatan identitas, saat-saat di ruang pengajuan para tersangka ketika saksi mulai menggigit-gigit bibir karena gugup. Ia tahu, ia tak akan bisa beristirahat. Lelaki sepertinya selalu bermain raket setiap Sabtu dan mulai melupakan nama-nama cucunya pada hari Kamis.

Seorang lelaki kulit hitam kurus dengan setelan pelaut berdiri di sampingnya, dasi hitam diselipkan dengan elegan ke dalam kemeja, tengah sibuk mengambil gambar dengan kamera.

"Rashid Ali, perkenalkan kawan barumu," kata Jimmy. "Francis X. Loughlin. Detektif paling tajam kedua di Satuan Manhattan North. Mestinya ia jadi nomor satu kalau saja aku tidak kembali bertugas."

Pria kulit hitam itu menurunkan kamera dan berjabat tangan, perasaan meremehkan menyelimuti Francis bagai lumut Spanyol. Oh, ini lagi, pikir Francis. Silakan dimulai acara jilat-menjilatnya. Mata Rashid menatap terlalu lama pada emblem bendera Amerika dan tiket terusan di kelepak mantel panjang Francis. Tanpa tergesa ia memeriksa bungkusan itu, tahu Francis akan menjadi pengawasnya.

"Apa kabar?" ujar Francis. "Kau dari gugus satu-sembilan?"

"Benar."

"Kawah candradimuka-ku dulu."

Sekarang giliran menyelidiki kencan butanya. Pria kulit hitam berusia tiga puluhan, berotot dengan sudut-sudut tubuh yang keras. Potongan janggut tipis, tulang pipi bak pahatan dalam, bentuk badan huruf V. Bahkan cukuran rambutnya pun bersudut, atau itu hanya susunan gigi?

"Bagaimana kau bekerja sama dengan sobatku, Gary Wahl?" Francis bertanya tentang sersannya dulu.

"Kapten?" Rashid mengerutkan hidung, seolah-olah baru mencium kotoran kucing. "Sedikit tak cocok di sana-sini. Kami bisa menyelesaikannya."

Sudah kuduga aku akan dapat yang seperti ini. Francis menggelengkan kepala. Dengan nama Muslim pula.

"Jadi, apa yang kita punya?"

Rashid bergeser ke samping, memberikan pemandangan jelas pada Francis. "Terkutuk."

Ia harus mundur selangkah untuk menyerap segalanya dengan jelas. Satu bola api yang angkara telah meledak di ubin di atas bak mandi, alur ruwet darah menetes-netes ke celah dinding.

Bahkan setelah 25 tahun dalam pekerjaan ini dan mungkin hampir mendekati lima ratus mayat, pembunuhan tak pernah benar-benar kehilangan kekuatan biadabnya, kemampuan untuk membuatnya terhina secara pribadi, yang berkata padanya agar maju atau keluar dari situ. Ia memaksa diri untuk tak terburu-buru, menyusun ulang semua fakta, mengambil napas, membuang napas, berkonsentrasi.

Segalanya tampak beriak-riak membentuk lingkaran dari sana. Gadis di bak mandi berpinggiran ombak-ombak itu terlihat sedikit lebih kecil dan lebih gelap ketimbang fotonya. Ada kelebat garis-garis cat mencolok mata yang membuat rambutnya terlihat sedikit merah. Satu tangan terkulai lemas di satu sisi, ujung jemari sedikit menyentuh bagian ujung cakar bak mandi itu. Ia mungkin sedang bersantai setelah hari yang panjang di pekerjaannya, hanya bak mandi itu kosong dan ia hanya mengenakan bra hitam tanpa celana dalam. Lutut kirinya tertekuk di hadapannya, seolah-olah ia sedang berpose untuk kalender porno.

Francis mendesis saat separo berjongkok untuk memeriksa lebih teliti kerusakan yang terjadi. Darah masih membasahi lubang hidung yang menunjukkan bahwa ia belum lama tewas, dan celah di bibir bawahnya menunjukkan bahwa ia telah ditonjok dengan keras di mulutnya, minimal sekali. Tenggorokannya digorok dua kali. Sekali tampak janggal, seakan-akan pisaunya tersangkut, dan sekali lagi lebih dalam usaha yang kedua, menciptakan semprotan kabut halus hingga ke langit-langit. Darah kental menggenang di sekitar tulang selangkanya.

"Bagaimana menurutmu?" tanya Jimmy Ryan. "Si pembunuh memulai dengan memukuli wajah lalu menggorok lehernya?"

"Aku tak tahu." Perlahan Francis mengangkat alis dan melihat sejumput rambut berdarah dan sebagian isi otak di kaitan handuk. "Kurasa mungkin ia membuat pingsan terlebih dulu, dengan membenturkan kepala ke dinding. Jika gadis ini masih sadar ketika dipukuli, tangannya mungkin akan lebih ke atas di depan wajahnya. Siapa yang menelepon polisi?"

"Pengganti tugas jaganya di RS Mount Sinai," kata Rashid. "Gadis ini seharusnya menggantikan salah seorang dokter pukul enam sore kemarin. Ia tak muncul. Padahal ia tak pernah terlambat. Jadi mereka langsung tahu ada sesuatu yang terjadi. Mereka meninggalkan sekitar selusin pesan di mesin penjawab di sini dan menyerantanya sekitar seratus kali. Pagi tadi mereka menelepon apartemen ini dan pengelola membolehkan mereka masuk."

Francis bangkit perlahan-lahan, seperti penyelam yang berusaha tak terjangkit rasa mual akibat tekanan air. "Siapa namanya?"

"Christine Rogers," kata Jimmy.

"Oke," sahut Francis.

Ia memutuskan untuk menangani kasus ini seperti kasus baru lainnya untuk saat ini, tak terburu-buru mengambil kesimpulan. Tabula rasa. Yang kuketahui adalah apa yang tak kuketahui.

Ia menoleh pada orang baru itu. "Pernah menangani kasus yang mendapat liputan besar media sebelumnya?"

"Mengapa?" tanya Rashid. "Kau pikir ini akan lebih menjadi berita besar daripada jika hal ini terjadi di perumahan Edenwald di Bronx?"

"Apakah aku mendengar nada sinis?"

Rashid menyeringai.

Ya, kau lebih mengerti, Saudaraku. Kau tahu bahwa apa pun yang kukatakan, itu tak diperhitungkan. Gadis kulit hitam mungkin tak akan membuat walikota dan komisaris polisi merasa perlu mengadakan konferensi pers tentang pembunuhannya. Seorang gadis kulit hitam tak akan menjadi topik utama berita lokal malam ini dan menjadi berita utama di tabloid besok pagi. Seorang gadis kulit hitam tak akan mendapat enam detektif yang sibuk cekcok tentang kasusnya, meski sekali waktu si korban mirip dengan seseorang yang mungkin saja tinggal di lingkungan tempat tinggal mereka, bersekolah dengan anak mereka, mungkin bahkan pergi ke gereja yang sama.

"Detektif Ali baru memperoleh lencananya bulan Januari," kata Jimmy penuh arti sambil membungkuk keluar dari kamar mandi.

"Di mana kau bertugas sebelumnya?" tanya Francis.

"Bagian narkotika Brooklyn Utara." Rashid menjelaskan. "Kami melakukan banyak operasi penyamaran-penangkapan. Beberapa kasus yang kami tangani muncul di koran. Kami menangani gang Blood Money Sex di Brownsville. Topik utama di Live at Fivebersama Sue Simmons, mengisi halaman depan Daily News esok harinya. Jadi, ya, aku tahu bagaimana berurusan dengan media."

"Oke, aku hanya ingin memastikan bahwa kita sama-sama tak akan membocorkan kasus ini," ujar Francis.

"Aku tak akan bicara pada siapa pun."

"Bagus." Francis kembali melirik tangan si gadis, kukunya pendek dan tak dicat. "Kau tak akan menaruhnya di kantong bukti?"

"Apa?"

"Kubilang, kau lebih baik taruh kantung di tangan gadis itu. Tukar dan alihkan. Ia mungkin memiliki darah atau kulit si penjahat di bawah kukunya."

Rashid mengeluarkan sepasang kantung Ziploc dari sakunya.

"Tolong, jangan plastik." Francis mengerutkan dahi. "Kertas. Gunakan kantung kertas cokelat."

Rashid melotot padanya. "Mengapa kau harus bicara seperti itu padaku?"

"Seperti apa?"

"Seakan-akan aku sedang mengisi barang belanjaanmu."

Francis menengadah, matanya menemukan retak akibat tekanan di langit-langit.

"Dengar," katanya. "Bukan merendahkan. Tapi kau harus memberi si kulit ruang untuk bernapas. Jika tidak, barang bukti itu akan membusuk."

"Aku tahu itu. Kau tak perlu menguliahiku."

"Yah, maaf, tapi hanya karena punyamu sebesar anggur dan bisa pergi ke rumah bandar narkoba penuh oleh Tec 9 dengan perhiasan emas seharga lima ribu dolar, tak berarti kau mengetahui segala sesuatu yang mesti diketahui tentang menjalankan investigasi pembunuhan. Oke?"

Rashid menyilangkan tangan di depan dada, seperti penyanyi rap yang berpose untuk sampul majalah, defensif dan tak terjangkau. "Oh, sekarang aku jadi si keparatnya, ya?"

"Ya, Tuhan..."

Francis mendesah dan melihat mayat itu kembali, bak tua itu tampak tumbuh membesar selagi menyimpan gadis itu. Sekarang setelah matanya fokus, ia dapat melihat ada jejak-jejak jelas darah lengket di bawah kuku-kukunya dan apa yang tampak sebagai helai rambut kemerahan terlilit melingkari buku jari, mungkin ditarik dari kepala penyerangnya. Jadi, ia melawan, ternyata. Oke, pikirnya. Tertangkap kau. Aku tahu dari mana asalmu.

"Jadi, apa lagi yang kau ingin kulakukan?" tanya Rashid tak sabar dengan kameranya.

"Ikuti saja jejaknya. Periksa saluran dan pipa di sini dan di dapur untuk mencari darah dan rambut. Jimmy akan mengantongi sikat gigi di wastafel, siapa tahu kita mendapatkan sesuatu dari helai sikatnya. Ambil rekaman mesin penjawab telepon dan hubungi Unit Respons Bantuan Teknis untuk membantu memperoleh catatan telepon. Cari siapa tahu gadis itu punya ponsel. Periksa e-mail-nya. Lalu periksa alamat ini untuk memeriksa jika ada mantan narapidana bersyarat tinggal di gedung ini atau keluhan dari tetangganya."

"Mau sekalian kubawakan cucianmu di binatu sambil aku di sana?"

"Apa?"

"Tidak. Cuma bertanya-tanya apa yang akan kau lakukan selagi aku mondar-mandir."

"Aku akan menghubungi kepala departemen agar ia tidak membuat kita sinting, menanyakan kabar terbaru tiap lima menit, lalu aku akan memeriksa jika ada rekaman di kamera keamanan yang kulihat di lift."

"Tak ada." Rashid menggelengkan kepala. "Kosong. Itu kamera plasebo. Aku sudah memeriksanya. Mudah ditebak."

"Hey, hey, sobatku, Rashid. Kau sudah jauh mendahuluiku."

Rashid mengusap pipi dan mengangkat kamera sekali lagi, tak ingin terpancing untuk cekcok. "Terserah, Bung."

"Oke, kita selesaikan semua ini dan biarkan orang-orang TKP mengurus bukti-bukti perkosaan." Francis mengambil buku catatan kecilnya untuk membuat sketsa tata letak kamar mandi. "Ingat, selalulah berpikiran terbuka. Tak ada yang tak relevan. Siapa pun dapat melakukan apa saja."

"Hey, Francis!" panggil Jimmy dari ruang lain. "Kau mau aku menembak kepalamu?"

Francis mengikuti arah suaranya, satu kaki di depan kaki lain, jalan kecil di antara kedua ruangan yang berpotensi menyimpan sesuatu. "Ada apa?"

Ia telah memeriksa seluruh ruangan dengan saksama, dan kenyataan bahwa dirinya tak segera melihat Jimmy membuat dadanya menegang. Apakah daya penglihatannya sudah sedemikian memburuk? Berangsur-angsur matanya menyesuaikan diri dan menemukan Jimmy di seberang ruangan dengan carikan kertas di tangan.

"Aku mencari-cari di sini dan kulihat gadis ini memiliki meja kecil di sebelah ranjang dengan laci dan kupikir, apa salahnya!" Jimmy mengangkat bahu. "Mungkin ia punya buku harian atau buku alamat dengan nama-nama yang berguna di dalamnya."

"Benar sekali," ujar Francis.

"Jadi aku mengacak-acak laci, dan kulihat ia menyimpan setumpukan kliping koran di bawah beberapa barang lain. Dan kupikir, itu aneh. Untuk seorang wanita, maksudku. Aku juga suka meninggalkan koran di lantai kamar mandi, istriku sering siap menelepon komandan..."

"Jimmy, bisa langsung ke pokok persoalannya saja?"

"Jadi aku melihat-lihat dan kau tahu apa yang kutemukan?"

Ia memegang salah satu klipnya dan Francis maju selangkah, tak begitu percaya pada penglihatannya. "Kau main-main denganku, Ryan?"

"Serasa deja vu, bukan, Francis?"

"Apa itu?" Rashid ikut masuk ke dalam kamar.

"Gadis itu mengumpulkan kisah dari koran tentang orang yang Francis jebloskan ke penjara tahun 1983. Ia baru saja bebas karena dakwaannya dicabut."

"Untuk tuduhan apa hukumannya itu?"

Francis menatap topik utama halaman-lima dari koran Post yang diayun-ayunkan Jimmy di hadapannya.

"Membunuh dokter wanita."

Ia merasa seakan diguyur air es, seolah-olah tengkoraknya lepas dari kepala.

Apa yang dimaksud mereka dengan deja vu itu? Hanya gangguan mental sekejap, satu lompatan dari rentetan peristiwa, pengalihan alur informasi dari simpanan ingatan jangka pendek ke ingatan jangka panjang, sehingga itu terlihat seolah pernah terjadi. Ia merogoh saku untuk mengambil pulpen dan membuat catatan, kemudian tersadar ia sudah memegangnya.

"Kau tak apa-apa, Francis?" Jimmy melirik. "Kau tampak sedikit pucat."

"Aku tak apa-apa." Ia meng-klik pulpennya. "Tapi, Jimmy, tolong aku satu hal."

"Apa?"

"Lain kali jika kau tanya apakah aku ingin kepalaku ditembak, tunggu hingga aku menjawab ya, oke?"





0 Response to "The Devil's DNA"

Post a Comment

Translate

English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified