Download applikasi baca novel online untuk android disini: DOWNLOAD

The Devil's DNA


Eileen sedang berusaha memakaikan baju yang serasi dengan sweter korduroi untuk sekolah pada para cucu saat Tom masuk ke kamar.

"Ada apa ini?" ia menaruh kopinya dengan keletihan seorang pria yang menunggu hingga berusia 46 tahun untuk memberikan seorang cucu pada ibunya. "Aku sudah menyiapkan pakaian untuk mereka."

"Mereka ingin yang ini. Mereka bilang ingin terlihat mirip hari ini."

"Oops, I did it again!” anak-anak itu mulai melompat-lompat di atas tempat tidur. "Sejak kapan?"

"Mereka sedang dalam masanya saja," ujar Eileen, berusaha membuat Stacy, yang paling tua, duduk diam untuk disikat rambutnya. "Adikmu sama seperti ini saat seusia mereka. Selalu ingin mengenakan apa yang kupakai."

"Baik sekali Ibu berpikir seperti itu," gumam Tom. "Hey, apa yang terjadi pada bibir Ibu?"

"Aku membentur cermin kamar mandi." Eileen menyentuh tanda di bawah hidungnya. "Jangan menua. Tak ada keuntungannya sama sekali."

Tom masih menatap luka itu ketika Stacy menjatuhkan diri di pangkuan dan memeluknya. Tentu saja, adiknya lalu ikut-ikutan, bersaing minta dipangku. Dikelilingi wanita-wanita yang membutuhkan, putranya itu memiliki hidup yang lengkap. Segalanya lebih mudah buat seorang ayah. Anak perempuan tak pernah menghargai ibunya lewat cara yang sama. Mereka selalu bertengkar, ada rasa tak suka menggumpal, rasa cemburu membara. Eileen teringat betapa kulitnya pecah-pecah ketika ia mengandung Allison, dan ibunya sendiri, yang tak punya hati lembut, berkata bahwa ia pasti mengandung anak perempuan. "Anak wanita selalu mencuri kecantikan ibunya."

"Mengapa Ibu bangun pagi-pagi sekali?" tanyanya, melirik ke arah jam Little Mermaid. "Aku tak mendengar Ibu ke atas saat aku di dapur, membuat kopi."

"Aku sudah di sini. Stacy memanggil malam-malam. Aku tak tahu bagaimana kalian berdua tetap bisa nyenyak tidur."

"Ibu dengar dari bawah?"

"Aku tak bisa tidur. Satu lagi efek samping menyenangkan dari kombinasi obat-obat yang kuminum."

Ia membuat putranya takut lagi. Eileen dapat merasakan dari caranya mengabaikan anak-anak dan berkonsentrasi mengancingkan mansetnya.

"Mungkin Ibu cukup pelan-pelan saja," katanya. "Kadang hal-hal seperti ini butuh penyesuaian."

"Aku tak keberatan bangun sedikit lebih pagi."

Tom menyentuh alisnya, sedikit bingung. Tak pelak lagi ia berpikir, Ibu kembali berpura-pura. Harus mulai mengawasinya. Jaga agar tidak terjadi hal-hal yang tak diinginkan. Jaga agar wanita sinting ini tetap di basement.

"Di mana Jen?" Ia mencari-cari. "Kupikir ia sudah bangun."

"Ia bilang lagi-lagi badannya terasa tak enak."

Tom tampak menerima penjelasannya dengan senyum datar. Tom yang malang. Setelah semua peristiwa dalam hidupnya, ia mungkin berharap akhirnya mendapatkan seorang perempuan yang benar-benar baik dan pintar mengurus rumah tangga tanpa cela, dan bukan perempuan memusingkan dengan perilaku tak beres.

"Aku harus bersiap-siap." Ia menyentakkan ujung dasi. "Aku akan mengantar anak-anak ke sekolah sebelum pergi ke Morristown. Biarkan mereka memakai pakaian yang mereka inginkan."

19

Pintu otomatis mengayun terbuka dan Hoolian melangkah menuju Met Foods, ia merasakan desiran dingin rasa takut, setengah berandai-andai bahwa Lydia, kasir jelita yang selalu tersenyum padanya, dengan anting-anting sebesar borgol berkedip-kedip dalam pendar cahaya toko, mendadak menunjuk dengan kukunya yang panjang melengkung dan dicat perak dengan ketakutan dan mulai menjerit, "Asesino! Asesino!" Pembunuh.

Alih-alih demikian, gadis itu hanya melambai dan kembali ke belakang untuk membantu rekannya yang bertugas membungkus belanjaan, menghitung kembalian, sen demi sen.

Hoolian pergi ke mesin absen untuk melubangi kartunya. Di sebelah pengumuman berisi lowongan pekerjaan terpasang kalender yang ia pelototi setiap hari sejak manajer toko setuju memberinya kesempatan kerja paruh waktu. Hidupnya kini berkutat di seputar angka-angka. Enam belas hari sejak tanggal sidang terakhir. Enam belas hari lagi sampai tanggal sidang berikutnya. Sepuluh hari sejak ia mengisi lamaran di sini, menjawab 'tidak' pada kolom pertanyaan apakah ia pernah melakukan tindak kejahatan. Itu bukan kebohongan, katanya pada diri sendiri, dakwaan telah "dibekukan." Dua puluh empat hari lagi sampai ia masuk serikat, yang akan membuat dirinya lebih sulit dipecat.

Setiap hari adalah perjuangan. Ya, terkadang ada buncah kesenangan. Aroma perubahan musim, kuning matahari yang menyusut, kerah naik, garis hem turun, lagu penutup radio akhir musim panas mengalun di belakang jendela mobil yang tertutup, anjing-anjing kecil mengenakan sweter di jalanan, potongan-potongan kaset berkilauan yang misterius bergelantungan di dahan pohon seperti kertas perak pohon Natal. Tetapi di setiap peristiwa itu, selalu ada tanda-tanda tak terbaca, salah paham menakutkan, saat-saat semburan amarah dan akibat tak disengaja, lubang-lubang hitam dalam yang memaksanya untuk menelan. Semuanya sama sekali tak sama, untuk berada di luar, seperti yang ia duga sebelumnya. Semut-semut tak pernah berhenti merayapi kulitnya. Ia menyentuh tengkuk, masih merasakan bekas kalung yang direnggut.

"Yo, Jools, aku perlu bicara denganmu. Segera."

Ia tersentak dan berputar, menemukan Angel, sang manajer toko, yang mengawasinya dari bilik yang ditinggikan, tempat ia menghabiskan sebagian besar waktu untuk mengawasi kerajaan ritel sepuluh lorongnya, ditambah hasil bumi dan kios makanan.

"Quepasa? " Hoolian menguatkan diri.

"Ayo jalan-jalan sebentar bersamaku, amigo." Angel mengambil langkah-langkah kecil. "Orang lain tak perlu mendengar ini."

Ia menggamit lengan Hoolian dan menariknya menuju ruangan kecil sunyi di dekat tangga basement. Hoolian meraba pisau Leatherman barunya yang ia bawa-bawa di saku, berharap ini bukan sebuah pemecatan kasar yang setengah ia duga akan terjadi. Ia benar-benar ingin dihargai oleh lelaki kecil rewel ini, yang banyak mengingatkan kepada ayahnya dengan kemeja putih licin dan dasi. Betapa ia merasa sangat bersalah setelah wawancara pertama, ketika mengatakan keluarga mereka sama-sama berasal dari kota sebelah dekat San Juan namun tak menyebutkan dirinya baru keluar dari penjara.

Sejak saat itu, ia telah menunggu-nunggu untuk dipecat— seperti ini. Tentu saja, mestinya ia yang melakukan inisiatif, sadar bahwa namanya dapat muncul di koran kapan saja. Setiap hari, ia berkata pada dirinya sendiri, ia akan pergi ke kantor Angel saat waktu pulang dan mengaku, tetapi setiap malam pula ia selalu mendapatkan alasan lain untuk menunda. Itu bukan salahku, demikian ia membatin. Itu adalah tanggung jawab Angel. Mestinya, Angel sudah tahu siapa dirinya dari semua pemberitaan itu; lelaki itu mestinya memeriksa riwayat hidupnya lebih teliti.

"Apa aku melakukan suatu kesalahan?" dengan gugup ia menggosok-gosokkan ibu jarinya ke permukaan halus pisau yang melipat.

uQue mosca te ha picado?" Memangnya ada yang bilang begitu?

"Tidak, hanya..."

Ia tersadar dirinya berkedut-kedut dan mengerjap-ngerjapkan mata. Tak tahu bagaimana cara mengunci lutut, menetapkan mata, atau melemaskan bahu.

"Sepertinya posisi itu akan terbuka minggu depan di kios makanan." Angel menurunkan suaranya menjadi bisikan berkomplot. "Masih tertarik memperoleh bonus ekstra?"

"Oh." Tangannya keluar dari saku. "Ada apa dengan Charlie?"

"Aku memergoki Charlie tidur di gudang saat ia mestinya membersihkan pemotong daging. Sepertinya anak itu suka mengonsumsi obat."

"Ya, tapi aku belum siap mengambil posisi itu. Aku baru masuk." (

"Ah, jangan seperti itu." Ia menepuk pundak Hoolian. "Aku sudah mengawasimu, hombre. Aku melihatmu menunggu di gerbang ketika aku datang untuk membuka toko setiap pagi. Kau selalu membersihkan lorong seperti yang kuperintahkan. Kau selalu melakukan tugasmu dengan baik..."

Suara Angel menggantung dan Hoolian menyadari manajer itu tengah menatap pisau yang ia keluarkan dari saku tanpa sadar.

"Untuk apa itu, bro?”

"Aku bermaksud ke bawah untuk membuka beberapa kardus," jelasnya tanpa dosa.

"Memang hebat, kau, Kawan. Itu maksudku! Jangan membuatku menghalangimu." Angel menyeringai. "Kau memang binatang, amigo. Seandainya aku punya seratus pegawai sepertimu."

20

"Mengapa mereka melakukan itu? Ia begitu baik."

Perawat RS Mount Sinai, gadis bernama Tracy Mercado yang berkulit gelap, senyum lebar, dan rambut panjang dicat pirang, menangis. Air mata yang tampak hangat mencoreng riasan wajahnya, berjatuhan setelah menempati sudut mata beberapa lama. Francis melemparkan pandangan hati-hati pada Rashid, memperingatkannya agar tak terlalu dekat atau melontarkan ucapan menghibur yang keliru. Membuka sumbat kesedihan memerlukan kesempatan untuk bernapas.

"Tracy, kami harus menanyakan beberapa hal padamu," ujar Francis setelah jeda sejenak. "Kapan terakhir kali kau bertemu Christine?"

"Aku tak tahu." Ia tercekik, berusaha menguasai diri. "Kurasa kemarin lusa. Ia baru saja bekerja dua belas jam tiga hari berturut-turut. Aku memperingatkannya agar jangan terlalu memforsir diri. Ia bermaksud pulang ke rumah dan tidur."

Francis menggelengkan kepala pada Rashid. Gadis ini tak akan membantu dalam penentuan waktu kematian.

"Apakah ia menyebut-nyebut soal kedatangan seseorang? Seorang pacar mungkin?"

"Tidak, ia tak sedang berkencan dengan siapa pun, sejauh yang kutahu." Perawat itu mengusap sudut mata dengan jarinya.

"Apa kau tahu pasti?"

"Apakah aku tahu! Ya, aku tahu. Aku sobatnya yang terdekat."

Sunset Park. Francis mengenali aksennya. Seorang gadis dari pinggir kota. Ia bisa membayangkan gadis ini bangun pagi-pagi untuk naik kereta N kala orang lain masih terlelap.

"Aku agak terkejut, kau mengaku sobatnya yang terbaik." Rashid memiringkan kepala ke satu sisi. "Kukira, dokter dan staf perawat tak biasanya bersahabat di rumah sakit seperti ini."

"Ow, Christine tidak berlagak seperti itu," Tracy mendengus. "Maksudku, ia dari East Armpit, Wisconsin, tapi ia orang rumahan. Mengerti maksudku? Ia selalu bergurau bersama staf dokter, membaca katalog Kohl di ruang istirahat dan bercanda tentang acara Ricki Lake Show bersama kami."

"Ia punya masalah dengan seseorang di sini?" tanya Francis. "Petugas keamanan rumah sakit? Staf? Pasien?"

"Oh, ia tidak takut beradu pendapat dengan orang lain jika perlu. Ia akan bicara terus terang jika seseorang melontarkan omong kosong. Perusahaan asuransi, administrator rumah sakit, kardiolog. Ia mencela staf senior yang tak cukup cermat melakukan pemeriksaan. Dan, para orang tua yang anaknya terkena AIDS? Lupakan. Jika mereka mulai melewatkan sesi pertemuan demi pesta koktil, ia akan memarahi mereka. Ia akan menginterogasi mereka, menelepon siang dan malam, berteriak di telepon, 'Kalian ini kenapa? Tidakkah kalian tahu apa yang akan terjadi?' Aku pernah melihatnya mengenakan mantel setelah selesai tugas jaga dan langsung pergi menuju sebuah apartemen di perumahan Schomburg. Sang Juara Sepatu Luncur. Mengetuk tepat di pintu orang-orang ini dan menyeret anaknya ke sini sendiri untuk memastikan ia memperoleh protease inhibitors."

"Ia pernah mendapat masalah karena hal seperti itu?"

"Tidak, mereka tahu ia benar."

Francis mengedipkan mata pada Rashid, sadar mereka butuh bantuan dari detektif lain untuk meminta catatan Ruang Gawat Darurat. Akan butuh waktu berhari-hari untuk menyisir semua data, memastikan mereka mendapatkan nama-nama orang tua pasien yang mungkin pernah bertengkar dengannya.

"Tracy, ada hal lain yang ingin kami tanyakan padamu." Francis merendahkan suaranya. "Dan, kami sangat mengharapkan kebijaksanaanmu untuk menjaga kerahasiaan, karena jika hal ini sampai pada media, akan benar-benar menghancurkan investigasi kami."

"Oke, aku mengerti." Tracy membungkukkan bahu, matanya menyapu Francis dan Rashid. "Silakan."

"Kami menemukan sejumlah artikel di laci sebuah meja yang dikumpulkan Christine mengenai sebuah kasus lama..."

Tracy mulai mengangguk-angguk sebelum kalimat Francis selesai.

"Ya, ya....tentang gadis dokter di Bellevue, sekitar dua puluh tahun yang lalu."

"Sebentar, kau sudah tahu tentang hal ini?" ujar Rashid.

"Tahu tentang ini?" Tracy menaruh tangan di pinggul. "Ia tak pernah berhenti membicarakan hal itu. Ia terobsesi dengan kasus brengsek itu."

"Kita bicara tentang Allison Wallis, bukan?" tanya Francis, memastikan ia tak menyuapkan kalimat padanya.

"Ya, benar. Allison. Siapa pun namanya. Yang namanya muncul dalam satu artikel beberapa minggu lalu. Dengan seorang lelaki yang baru keluar penjara dan mengatakan ia tidak bersalah."

Francis berusaha melirik pada Rashid, tapi jaraknya tak cukup untuk itu.

"Mengapa ia terobsesi kasus itu?" ia mulai mencatat dengan tulisan tangan, berusaha mencatat jawaban seakurat mungkin.

Bisa ia bayangkan Debbie A. memukulinya karena melangkah terlalu cepat ke arah ini. Pernahkah kau mempertimbangkan tentang kemungkinan lain, Detektif?

"Ya, tak lama setelah mereka memuat artikel itu di koran, kami langsung membahasnya, dan mengedarkan ke semua orang," kata Tracy. "Maksudku, korban adalah gadis seumuran kami, bekerja di Instalasi Gawat Darurat bersama anak-anak. Bahkan meski hal itu sudah dua puluh tahun berlalu, kau masih berpikir, mi dios, itu bisa terjadi padaku. Christine tak mau melepaskannya begitu saja."

"Maksudmu?" tanya Francis.

"Ia terus bicara tentang kejadian itu. Aku melihatnya menggunting berita itu dari koran, tentang apakah mereka akan membebaskan anak itu atau menjebloskannya kembali ke penjara. Christine bilang, 'Bedebah, bagaimana jika ia tak ada hubungannya dengan semua itu? Bagaimana kalau ia dipenjara selama dua puluh tahun padahal sebenarnya ia tak bersalah?"

Francis merasa mendengar letupan kecil di dalam gendang telinga selagi ia berpaling pada Rashid. Kolega baru itu ada tepat di sampingnya, langkah demi langkah.

"Kau tahu mengapa ia begitu tertarik?" tanya Francis acuh tak acuh.

"Tidak. Aku hanya berkata, que pasa, Sobat? Kau kencan dengan lelaki itu atau bagaimana?"

"Apa ia kencan dengannya?" tanya Rashid, mengantisipasi pertanyaan Francis.

"Tidak." Gadis itu mulai mengusir gagasan tersebut dan tersadar sendiri. "Ya, setidaknya dari yang kudengar. Itu hanya sesuatu yang ia bicarakan. Sejauh yang kutahu."

Tracy menatap ke arah pintu dengan lirikan ganjil, seakan-akan baru menemukan perangkat tambahan asing untuk sebuah perkakas rumah tangga kuno.

"Ada apa?" tanya Francis.

"Bukan apa-apa. Di sini Instalasi Gawat Darurat di kota besar. Orang keluar masuk setiap waktu, dengan tugas jaga gila-gilaan. Mereka merayap melintasi perbatasan Meksiko atau turun dari pesawat dari Afrika, dengan penyakit-penyakit yang belum pernah kau dengar. Mata berubah hijau, cacing bermunculan dari lubang pantat. Kadang-kadang rasanya seperti dalam film horor. Lalu ada pria-pria dari pusat rehabilitasi di dekat sini, berusaha masuk dan mencuri obat..."

"Lalu?"

"Maksudku, Christine itu jenis orang yang lunak pada mereka yang berasal dari lingkungan ini. Aku biasanya bilang, 'Hey, hentikan itu. Kau mendorong orang-orang kacau itu untuk mengejar-ngejarmu."'

"Pernah terjadi sesuatu yang buruk gara-gara hal itu?" tanya Rashid.

"Tidak, sih... Kecuali suatu hari, ia memintaku untuk mengantar ke daerah tempat tinggalnya. Dan ia terus-menerus menoleh ke belakarlg seakan-akan seseorang tengah mengikutinya."

"Ia bilang siapa yang mungkin mengikutinya?" tanya Francis, masih berusaha tak terburu-buru mengambil kesimpulan tak beralasan.

"Tidak. Tapi, ini New York. Banyak orang sinting di luar sana."

21

Esok paginya, gerombolan wartawan telah beranjak pergi dan Eileen memutuskan bahwa kini telah aman untuk kembali ke East Side.

Seonggok kantung sampah hitam besar tergeletak di kaleng sampah penyok di luar apartemen Christine, secarik kecil pita kuning TKP yang terbelit menyembul keluar di atasnya, dipenuhi cangkir-cangkir kopi bekas, mungkin sisa para reporter dan juru kamera yang berada di sana kemarin.

Seseorang telah merangkai tanda peringatan di salah satu pohon. Sebatang lilin merah meneteskan lelehan di sebelah pagar hitam pendek yang dimaksudkan untuk mengusir anjing. Dafodil, anyelir, dan mawar tergeletak dalam bongkahan di atas trotoar, masih terbungkus kertas kaca dari toko Korea di sekitar situ yang masih ditempeli label harga. Ada foto Polaroid buram sosok Christine, dari arah kiri, bukan sisi terbaiknya, pikir Eileen, terlalu memperlihatkan gigi dan gusinya, tersenyum selagi memegangi salah satu pasiennya, seorang gadis kecil berkulit hitam berpipi montok dengan jarum infus besar di belakang lengannya dan kilat bintik merah di matanya.

"Untuk Dr. C," bunyi tulisan cakar ayam seorang anak di kartu delapan kali tiga belas sentimeter di sebelahnya. "Aku tahu kini kau berada bersama malaikat. Sampai jumpa. Cinta, Adelina."

Eileen menoleh ke sekeliling, menemukan setidaknya ada dua lusin foto dan pesan persis seperti itu, mungkin lebih banyak dari yang Allison peroleh. Tampaknya jumlah karangan bunga hampir sama banyak, namun ia tak tahu pasti: ia datang terlambat ke sini dan selalu ada orang-orang jahat di dekat sana yang mencurinya.

Tak lama lagi sebagian besar pelayat akan segera melupakannya. Mereka akan kembali meneruskan kehidupan, drama dan krisisnya, rencana diet dan lotrenya, gila-gilaan dengan aktivitas rahasianya. Hingga akhirnya yang berduka hanyalah ibu si gadis. Orang lain akan berkata, mereka mengerti, memperlihatkan sikap pengertian yang selayaknya dan mengucapkan perkataan yang tepat di pemakaman, bahkan mungkin mampir ke rumah beberapa kali dan mendengarkan beberapa lama. Tetapi pandangan mereka kemudian mulai melayang-layang. Senyum hangat yang kemudian muncul terlalu cepat, tepukan di tangan yang terasa terlalu bersemangat, dan pandangan mereka pun mulai melirik ke arah jam. Dan akhirnya pertanyaan tak terucapkan menggantung di udara: Belum selesaikah kau berduka? Bukan karena kebanyakan orang tidak sabar dan kejam, tetapi karena mereka khawatir terlampau dekat. Mereka tak ingin mengalami apa yang kau alami.

Ia mengambil tisu dari buku catatan dan mengusap kaca mata hitamnya. Jangan biarkan mereka tahu. Mereka tak akan mengerti. Ini bukan urusan mereka.

Tetapi ia kemudian menoleh ke arah foto Christine bersama gadis kecil bermata merah itu, dan ia pun ambruk di trotoar, sambil burung-burung bernyanyi riang di pepohonan.

Anak-anak berlalu melewatinya menuju sekolah dan menyentak lengan orang tua mereka sambil bertanya, Kenapa wanita itu? Napasnya terengah-engah. Tak seharusnya hal ini terjadi lagi. Sejarah tak mungkin berulang. Perasaan menyakitkan ini tak mungkin muncul untuk kedua kali dalam satu kali jatah hidupnya. Semua ini terlalu berat bagi pikirannya. Ia tak diciptakan untuk kuat menghadapi. Kini ia tak yakin apakah ia patut mendapatkannya.

Eileen merasa dirinya diawasi, sepasang mata menghujam punggungnya. Ia berbalik dan menghapus air mata yang mengaburkan pandangan, tepat saat sebuah taksi kuning melaju berlalu, dengan seorang gadis berambut merah menatapnya dari balik jendela.

22

Dengan lenyapnya penglihatan perifer, Francis belajar menduga-duga keberadaan benda-benda secara tak langsung. Karena itu ketika berjalan ke Seksi 19 pagi itu, ia bahkan sudah mengetahui keluarga korban telah tiba sebelum melihatnya. Detektif lain di satuan itu mondar-mandir terlalu tergesa-gesa untuk waktu sepagi itu, berbicara terlalu sopan di telepon, dan terlalu berhati-hati mengerjakan berkas-berkasnya.

Akhirnya, ia melihat dua orang tua berwajah pucat ketakutan duduk di meja Rashid.

"Detektif Loughlin, ini Pak dan Nyonya Rogers," ujar Rashid memperkenalkan, dengan sikap resmi. "Mereka datang langsung dari La Guardia."

"Saya ikut berduka cita," ujar Francis, terkejut karena mengenali mereka sebagai pasangan berusia tujuh puluhan dari foto-foto golf Christine. "Saya juga memiliki putri."

Yang pria, mengenakan kemeja flanel dan kacamata tebal, dengan kikuk dan canggung meloncat seakan-akan ia disalami kerabat yang telah lama meninggal. "Roy Rogers. Saya pernah di kepolisian dulu. Tiga puluh tiga tahun, patroli jalan tol Wisconsin."

Sebuah jabat tangan kebapakan sambil menyebut nama bintang koboi. Seolah-olah Francis memerlukan dorongan semangat untuk menangani kasus ini dengan serius. Ia telah bekerja hingga pukul satu pagi, mondar-mandir dengan tergesa-gesa dari sini ke kantor pusat di tengah kota, mengoordinasikan enam detektif lain yang terlibat, melayani telepon, memantau bersama tim forensik, menyelidiki buku alamat dan isi komputer Christine, mewawancarai sebanyak mungkin rekan kerja dan pasiennya saat mereka punya waktu lowong, dan berusaha mengabaikan telepon dari para bos yang setiap jam meminta kabar terbaru untuk diteruskan ke kepala kepolisian.

Saat waktu pulang tiba, tubuhnya begitu letih hingga tak dapat tidur. Ia membuat dirinya sendiri dan Patti sinting dengan tingkahnya yang terus membolak-balikkan badan. Kemudian, tentu saja, telepon pukul enam pagi dari kawan lama, Jerry Cronin, yang kini menjadi kepala detektif Manhattan, yang memberitahunya bahwa pembunuhan itu telah menjadi halaman utama tabloid. Plus, desas-desus dari atas menyebutkan bahwa City Hall, kantor walikota, akan memantau perkembangan investigasinya langkah demi langkah, dan walikota secara pribadi ikut melibatkan diri membayari tiket pesawat bagi orang tua korban, lengkap dengan kamar hotelnya.

"Kurasa Anda tak mengira kami begitu tua." Sang ayah kembali bersandar di kursi, ia melayangkan pandangan khawatir pada Rashid, yang mengatakan pada Francis bahwa mereka bertiga belum menciptakan ikatan yang hangat sebelum dirinya tiba di sini.

"Sama sekali tak terlintas di kepala saya."

Francis mengawasi sang ibu yang terus-menerus merokok di jendela terbuka. Ia memiliki wajah merosot turun khas wanita yang menghabiskan sepanjang hidupnya menunggu untuk dikecewakan. Tanpa melihat pun ia tahu berkas di pangkuannya pasti dipenuhi hal-hal yang ia kumpulkan sepanjang malam—gambar krayon semasa TK, kertas laporan kelas empat, Piagam Penghargaan Nasional, foto-foto Polaroid wisuda SMA, surat penerimaan dari kampus, surat panggilan, kopi ijazah kedokteran, kartu ucapan—singkatnya, apa pun yang menegaskan fakta-fakta bahwa korban adalah seseorang yang berarti, musibah telah terjadi, dan kini sebuah lubang menganga di alam semesta.

Francis tersentuh, karena ia selalu berada di pihak orang tua dari anak-anak yang tewas, namun ia juga menyadari Nyonya Rogers sama sekali tak mirip anak perempuannya.

"Christine adalah keajaiban kami," sang ayah berkata, seakan turut merasakan kebingungan itu. "Kami berdoa memintanya. Kami telah berusaha bertahun-tahun, sebelum obat-obat penumbuh kesuburan dan pengobatan lain berkembang. Kami hanya berharap dan Tuhan memberkati kami dan mengizinkan biro adopsi membelokkan peraturan saat kami telah mencapai usia empat puluhan."

"Kawan-kawan kami dulu menyebut kami Abraham dan Sarah." Sang istri menggunakan rokok yang hampir habis untuk menyalakan yang baru. "Dan kini kami tak punya apa-apa."

Suaminya meraih tangannya dan meremas, seolah-olah ia baru saja ditindik.

"Tak ada putra lain?" tanya Francis, menoleh ke arah Rashid untuk memastikan ia mencatat.

"Tidak, tak ada lagi." Sang istri memijit-mijit puntung rokoknya di bingkai jendela. "Dua keponakan di California yang hampir tak kami kenal. Itu saja. Setelah kami meninggal, tak ada lagi yang tersisa."

"Sungguh menyedihkan." Roy Rogers menggeleng-gelengkan kepala. "Pagi ini di pesawat, aku melirik Ruthie, aku bilang, 'Sayang, kuharap begitu usia kita mulai senja, kita menjelang kematian dengan cepat karena tak ada orang lain yang bisa menjaga kita dari kemungkinan keluyuran di jalanan.'"

Francis mengibas-ibaskan asap rokok yang tertiup kembali ke dalam ruangan, merasa sedikit tersentuh oleh bayangan dirinya sendiri yang keluyuran di jalanan belakangan ini.

"Begini, saya mengerti betapa sulitnya keadaan ini..."

"Tapi Anda harus cepat mengatasi situasi ini." sang ayah mengangguk sedikit terlalu kuat, ingin berpegang pada ilusi kejantanan lelaki. "Tentu saja."

"Kami memohon padanya agar tak pindah ke sini," sela sang ibu. "Tapi ia selalu harus mencari-cari masalah."

"Saya kurang mengerti maksud ucapan Anda," kata Francis.

"Ia suka mencampuradukkan segalanya," jelas Roy Rogers. "Selalu begitu. Ia suka mengendarai mobil patroli saya dan menyalakan sirenenya ketika kecil."

Ia memperlihatkan foto Christine saat berusia sekitar delapan tahun, topi polisi jatuh menutupi matanya kala ia berusaha mencapai kemudi.

"Kau menyemangatinya," sentak Ruth. "Ia bisa melakukan apa saja. Ia berhasil masuk putaran final kejuaraan sepatu luncur. Ia memperoleh beasiswa penuh di Universitas Wisconsin. Ia bisa menjadi dokter olahraga atau dokter anak di Green Bay. Tapi, oh, tidak, kau selalu melambungkan harapannya tentang mencari sesuatu yang mestinya dibiarkan saja."

"Saya masih tidak mengerti." Francis memandang suami istri itu bolak-balik.

"Istri saya berpikir saya menyemangatinya untuk mencari ibu kandungnya di sini." Roy menatap sedih ke arah berita utama harian Daily News di meja sebelah. "Dan, ia selalu menginginkan bekerja di ruang gawat darurat kota besar. Katanya, 'Ayah, tiap minggu rasanya seperti berada di acara TV.'"

"Tunggu sebentar." Francrs mengangkat tangannya. "Tolong ulangi lagi. Ia datang ke New York karena mencari ibu kandungnya?"

"Tidak, tidak seperti itu." Roy mengerutkan dahi ke arah istrinya. "Itu hanya sesuatu yang membuatnya tertarik setelah tiba di sini. Memang begitulah. Sekali bertekad akan sesuatu, ia tak akan melepasnya."

Francis membayangkan bagaimana darah itu mengering di bawah kuku-kuku gadis itu. "Aku hanya ingin tahu. Siapa ibunya?"

"Kukira ia mungkin seorang pelajar atau guru, seperti itulah." Roy melirik istrinya tak yakin. "Kami melakukan adopsi lewat sebuah agensi di Milwaukee yang kini sudah tak ada lagi. Saat itu tak seperti sekarang ketika kau bisa tahu sekolah ibu kandungnya sebelum memutuskan mengadopsi. Kami diberi tahu namanya Phelps, tapi siapa yang tahu? Christy pernah mencarinya sebentar setelah ia tiba di sini, tetapi aku tak tahu sejauh mana usahanya itu."

"Saya ingin melihat semua berkas yang masih Anda punya dari agensi adopsi tersebut." Francis menggaruk belakang telinganya.

"Aku tak yakin kami masih memilikinya," kata si ayah. "Lagi pula, untuk apa kau memerlukannya?"

"Anda tak pernah tahu apa yang ternyata merupakan hal penting."

"Kami satu-satunya orang tua yang ia tahu." Sang ibu mengumpulkan kenang-kenangan di pangkuan, seakan-akan seseorang berusaha mengambil semua itu darinya.

"Saya mengerti itu, ma 'am." Francis mengangguk hormat. "Tak ada yang berkata sebaliknya. Tetapi saya rasa kita mengejar hal yang sama. Karena itu kita harus melihatnya dari berbagai sudut. Kami akan memerlukan semua surat atau e-mail yang kalian peroleh dari Christine dalam beberapa bulan terakhir. Nama dan nomor telepon kawan-kawannya yang mungkin kalian tahu...."

"Apa pun yang Anda inginkan," ujar sang ayah tiba-tiba, benar-benar ingin ikut membantu.

"Apakah Christine, mungkin, pernah menyebut seseorang bernama Julian Vega?"

"Tidak," tukas ibunya tajam. "Siapa itu?"

"Beberapa rekan kerjanya berkata, ia sering membicarakannya. Dan kami menemukan bahwa Christine mengumpulkan berita di koran mengenai Julian." Francis menatap si ayah, berusaha mencandainya. "Tentu saja itu bukan sesuatu yang ingin kami sisihkan."

"Oh, tentu, saya mengerti," ujar si ayah. "Tetapi siapa Julian ini? Saya rasa saya tak pernah mendengar tentangnya."

"Sir, ia lelaki yang baru saja keluar dari penjara atas tuduhan pembunuhan," kata Francis.

Garis-garis di mulut sang ibu segera menyusut begitu dalam seperti rahang boneka tali.

"Tetapi mengapa bisa begitu?" tanya sang ayah.

"Sayangnya, kasus-kasus ini tak selalu bergulir menuruti kehendak kami," tukas Francis.

"Dan apa yang membuat Anda berpikir Christine mengenal orang ini?" Roy membungkukkan badan ke depan, sikunya bertumpu di lutut.

"Mungkin ia tidak kenal. Kami berupaya tak terburu-buru mengambil kesimpulan."

"Binatang-binatang itu lagi," gumam si ibu, dengan sebal menjentikkan abu rokoknya keluar jendela.

"Maaf?" Rashid melengkungkan alis.

Orang tua itu melemparkan pandangan saling menuduh.

"Hatinya begitu lembut," ujar Roy. "Ketika bekerja di klinik di Chicago, ia selalu mengundang anak-anak miskin ke apartemennya atau pergi mengunjungi beberapa keluarga miskin. Kurasa ia tak pandai menjaga batas-batas pergaulan."

"Mungkin lebih tepatnya bodoh." Si ibu menutup»mulut kecutnya lalu membuka lagi, bosan menyimpan opini paling tajam hanya untuk dirinya sendiri. "Padahal ia bisa tetap tinggal di Madison dan menikahi seorang pemuda calon kardiolog..."

Francis menggerakkan lehernya yang kaku dan melirik Rashid sesaat, memastikan mereka mendengar perkataan-perkataan yang sama. Memasukkan binatang-binatang. Tak pandai menjaga batas pergaulan. Berhati lembut. Mereka baru mendapatkan informasi bahwa Hoolian bekerja di toko swalayan di daerah itu. Apakah terlalu jauh jika berpikir ia berhasil masuk ke apartemen Christine untuk mengantar sesuatu atau apalah, menceritakan tentang ketidakbersalahan dirinya?

"Nyonya Rogers, kami akan berusaha semampu kami untuk menangkap orang yang melakukan ini pada anak Anda," ujar Francis.

"Baik," ujar si ibu, mematikan puntung rokok di ambang jendela. "Sekarang bisa Anda katakan apa yang mesti saya lakukan di sisa hidup saya?"

23

Hoolian sedang menunggu di depan Met Foods ketika Angel tiba untuk membuka gerbang.

"Dasar binatang, kau, companero." Manajer itu tersenyum kagum seraya merogoh saku. "Aku mesti hati-hati, nih."

"Kau bilang aku mesti datang pagi-pagi, bukan?"

"Tanto majo." Angel melemparkan kunci padanya. "Kau yang buka gerbang hari ini. Melihat cara kerjamu, mungkin tak lama lagi toko ini akan menjadi milikmu."

sepuluh, Francis parkir di seberang toko swalayan dan menaruh plat kuning polisi di dashboard. Ia memutuskan untuk tak membuat dirinya terlalu mencolok, berpura-pura hanya ingin mengikuti perkembangan kasus Allison. Tanpa perlu menyebut Christine Rogers sama sekali. Ia mengunci pintu mobil dan mematikan ponsel, tak ingin mendengar suara para bos saat ini. Semua orang tahu bagaimana melakukan investigasi zaman sekarang, dari patroli jalan raya rendahan sampai asisten khusus walikota yang bertugas mengoordinasikan kegiatan.

Ia menyeberang jalan, menoleh ke kanan dan kiri dengan hati-hati, menyadari kini ia butuh waktu sedikit lebih lama untuk melihat mobil yang datang dari samping.

Hentak atau sayat. Angel tak menyebutkan dengan jelas, yang penting kardusnya rata. Kotak-kotak yang tebal dan di lem rapat harus dipotong sisi-sisinya. Tapi yang lebih tipis cukup dihentak-hentak dengan kaki yang juga berguna untuk melampiaskan kekesalan. Hoolian selalu senang bekerja di basement, karena dekat ke mesin pemanas gedung, ia seperti insinyur rahasia yang memastikan semua sistem berjalan lancar. Ia ingat masa-masa bermain petak umpet di sekitar gudang dan ruang pemanas bersama Nestor. Mereka berdua saling mengejar di sekitar lorong sempit yang suram, tong-tong sampah, dan bak-bak cuci kotor di lubang kelinci mereka saat si portir tua sedang tak bekerja di ruang pembakaran sampah atau mengerjakan sesuatu di lift servis.

Hoolian selesai meratakan kardus dan memasukkannya satu persatu ke dalam mesin kempa, menikmati kerja fisik murni yang tak memerlukan otak selama beberapa menit. Ia menarik tuas dan besi lebar rata dengan dudukan rendah di piston, mengempa kardus dengan rentetan bunyi 'pop' yang menyenangkan. Yang tersisa tinggal gundukan cokelat padat, seperti anak kecil yang memadatkan adonan roti menjadi sebuah kubus. Ia lalu pergi ke kumparan raksasa di sudut dan mengambil benang sepanjang satu meter untuk mengikat gundukan itu agar lebih mudah diangkut.

Francis berdiri di pintu, menunggu matanya menyesuaikan diri. Dinding, rak, dan lantai ruang penyimpanan dicat abu-abu, sehingga benda-benda muncul perlahan-lahan sekali dari kegelapan, seperti sosok-sosok dalam foto yang sedang dicuci. Di sana berdiri Hoolian, mengguntingi benang dan mengikat gundukan kardus-kardus kempaan. Perlahan-lahan Francis melihat gerakan otot-otot di bawah celemek toko yang cantik saat Hoolian melemparkan lempengan-lempengan itu ke lantai, seperti mayat-mayat dilempar ke dalam peti. Tanpa setelan sidang melekat di tubuhnya, ia tampak lebih jelas sebagai mantan narapidana.

"Wah," kata Francis. "Rupanya ada yang rajin memakan sereal para juara."

Detektif itu tampak lebih tua dan entah bagaimana lebih kecil, berdiri di sana dengan mantel panjang kulit tiga perempat dengan bendera Amerika di kelepaknya. Dalam ingatan Hoolian, Loughlin selalu merupakan sosok papan menjulang yang siap tumbang di atasnya. Kini ia hanya lelaki setengah baya yang mulai membotak hingga orang bisa melihat kulit merah muda pucat keningnya dan ujung alis yang kejam.

"Apa yang terjadi pada tanganmu?"

Hoolian mundur sedikit, teringat terakhir kali ia sedekat ini dengan Loughlin adalah saat berada di lorong penjara.

"Terhimpit pintu kereta bawah tanah."

"Benarkah? Di pintu kereta? Aku tak bisa membayangkan. Bukankah dilapisi karet di mana-mana."

"Aku sedang menyandarkan tangan di sana saat pintunya membuka tiba-tiba dan tanganku terjepit. Karetnya pasti sudah usang."

"Aku belum pernah mendengar hal seperti itu."

Hoolian menahan desakan untuk menyembunyikan tangannya di balik punggung. "Apa yang kau lakukan di sini, Bung? Bagaimana kau menemukanku?"

"Kau keluar dengan jaminan, bukan? Pengacaramu harus selalu menginformasikan keberadaanmu setiap saat, kalau-kalau kau tak datang pada tanggal persidangan."

"Omong kosong."

Loughlin terus melihat balutan itu, seolah ia bisa melihat darah merembes dari kain itu. "Pasti sakit sekali. Ke mana kau pergi berobat?"

"Ruang gawat darurat, St. Vincent's. Memangnya kenapa?"

"Kukira kau mungkin mampir ke RS Mount Sinai atau Metropolitan. Lebih dekat, bukan?"

"Aku pergi dengan kereta." Hoolian melenturkan jari-jarinya, berusaha terlihat acuh tak acuh. "Dengar, kurasa kau tak semestinya berada di sini. Kalau kau punya sesuatu untuk dikatakan padaku, sampaikan saja lewat pengacaraku. Kalau tidak, itu artinya ex parte."

"Ex parte?" Loughlin menjulurkan lidah, berpura-pura terkesan. "Kau pasti benar-benar menghabiskan waktu di perpustakaan hukum saat berada di penjara."

"Tidak sepatutnya kau bicara padaku di luar pengadilan."

"Oh, aku mengerti. Tetapi investigasi ini masih berjalan. Jadi aku masih punya hak."

"Yeah. Jadi, apa maumu?" Hoolian melemaskan bahu kembali dan menggosok-gosok tangannya. "Kau ingin menyelesaikan urusan kita yang belum selesai dulu itu?"

"Ah, aku bersedia melupakan hal itu." Loughlin merogoh saku jaket dan mengeluarkan kapas dalam bungkus plastik bersih. "Kita tak bisa terus-terusan menjilati luka lama."

"Itu apa?"

"Ini batang seka untuk DNA."

"Bung, keluarlah dari sini dengan benda brengsek itu." Hoolian mengibaskan udara di antara mereka. "Kau bisa menghubungi kantor pengacaraku dan kita bisa membuat perjanjian di laboratorium untuk memberimu sampel."

Loughlin mengangkat bahu. "Dengar, aku tak tahu bagaimana mereka mengurus spesimen di sana. Orang mencoba segala sesuatu. Aku pernah melihat orang melekatkan kantung di bawah penis mereka hingga mereka bisa menaruh kencing orang lain dalam uji penyalahgunaan obat. Tapi jika dalam pengawasanku, aku akan memastikan semua dilakukan menurut aturan."

"Ya, aku tak akan melakukan apapun hingga aku menghubungi pengacara."

"Hey, Bung, kupikir kau menginginkan hal ini. Apa yang kau takutkan?"

"Aku tak takut apapun. Aku hanya tak percaya padamu. Kau, bajingan yang menjebakku sejak awal. Kenapa mereka tak mengirim detektif lain saja?"

Ia pergi menuju ruang sebelah yang gelap untuk mengambil kardus-kardus lagi dan menyadari Loughlin tersandung saat mengikutinya.

"Ini masih kasusku," ujar Loughlin.

"Mereka pasti tak memberimu pekerjaan lain, sepanjang waktu hanya kau habiskan untuk menyusahkanku."

Anehnya, Loughlin tampak teralihkan sesaat, seolah ia mencuri dengar percakapan di ruang sebelah.

"Biar kutanyakan satu hal padamu, Hoolian."

"Namaku Julian. Panggil dengan benar."

"Oke, Joo-lian." Bibirnya ia buat melingkar mengejek. "Hakim mengabulkan mosi empat-empat puluh yang kau ajukan karena pengacaramu diduga tak pernah memberitahumu bahwa kau punya hak untuk membela diri."

"Ya. Aku dulu masih ingusan. Bagaimana aku tahu?"

"Aku hanya ingin tahu. Apa yang akan kau katakan seandainya kau bisa bersaksi?"

Hoolian menaruh sebuah kardus di lantai dan mengempa, tahu mestinya ia tak boleh membiarkan polisi ini membuatnya naik darah. "Aku tak akan membicarakan hal itu denganmu. Untuk itulah aku menyewa pengacara."

"Ayolah, amigo. Sekarang hanya kau dan aku, tidak direkam."

Loughlin hampir terjerembab kantung daur ulang yang penuh botol air kemasan kosong. Hoolian bertanya-tanya apakah polisi ini baru saja minum-minum.

"Persetan kau. Aku bukan anak kecil lagi." Hoolian mengempa kardus lain, urat kepalanya mulai memerah. "Kau tak bisa mempermainkan aku lagi kali ini."

"Siapa mempermainkan siapa? Aku bicara tentang kesaksian publik tersumpah yang mungkin kau katakan. Jika kau ingin mengucapkannya di persidangan, mengapa harus main rahasia?"

"Kau ingin tahu apa yang akan kukatakan?"

Ia mendengar bunyi peluit di telinganya saat menengok ke bawah dan melihat kardus yang tak rubuh dengan benar.

"Ya."

"Kau benar-benar ingin tahu?" ia mengambil pisaunya dan mulai menyobek di kedua sisi kardus. "Aku tak sabar lagi."

"Aku akan mengatakan pada semua orang betapa buruk kau telah menipuku, Keparat."


Ruang ini bahkan lebih suram lagi. Francis berusaha tetap terbiasa dan waspada pada perubahan suara Hoolian yang berpindah-pindah di mangan itu, yang datang padanya dari berbagai sudut.

"Kau masih memakai cerita itu?" ia menggoyang-goyangkan alis dengan riang.

"Kita berdua tahu apa yang kau lakukan."

Francis melihat kilatan perak dalam gelap dan menyadari Hoolian tengah memegang sebuah pisau.

"Memangnya aku menaruh sidik jarimu di senjata pembunuh?" ujarnya dingin. "Apakah aku memukulimu agar mengaku bahwa kau memakai kuncimu untuk masuk dan keluar dari apartemennya saat gadis itu tak ada?"

"Kau menyekapku di kotak itu sepanjang hari dan menghalangi ayahku menemuiku. Aku meminta pengacara."

"Jadi, itu yang akan menjadi kesaksianmu? Bahwa aku menjebakmu?" Francis tersenyum seolah-olah seekor anjing baru menjilati wajahnya. "Menurutmu siapa yang lebih kredibel di mata para juri Manhattan? Aku yang telah bertugas selama lebih dari dua puluh lima tahun di kepolisian dengan setengah lusin penghargaan, atau kau yang dikurung dua puluh tahun di penjara?"

"Kenapa kau tersenyum, Bangsat? Kau pikir itu lucu?" Logam berkilauan kurang dari setengah meter dari mata Francis.

"Aku sungguh berpikir kau mungkin ingin lebih berhati-hati dengan pisau itu," katanya, berusaha mengikuti gerakannya lewat cahaya kelabu.

"Hah?" Hoolian memegang pisau di depan wajahnya. "Oh, kau takut pada benda ini? Kau menyebutnya senjata mematikan?"

"Tidak seperti loofah bagiku."

"Loo...apa?" Hoolian tampak bingung. "Jadi, apa, kau akan menembakku karena aku sedang memotong-motong kardus?"

Francis berusaha menaksir jarak di antara mereka. "Kau tak ingin terlihat tengah mengancam polisi."

"Oh, yeah, seakan-akan aku sedang mengancammu." Kilauan pisau itu membutakan Francis untuk sesaat.

Disentaknya sisi jaketnya agar ia dapat meraih pistol dengan mudah. "Kau membuatku sedikit gelisah, Hoolian. Jangan melantur. Aku dengar tentang kelakuanmu di Attica."

"Yeah, apa yang kau tahu tentang itu, Brengsek?" Hoolian menyayat cepat dalam kegelapan.

"Aku tahu Fat Raymond kehilangan ginjalnya gara-gara pisau yang kau tancapkan padanya," kata Francis, menolak terintimidasi.

"Karena hijo de gran puta itu tak mau menghentikan pacarnya yang meniupkan asap rokok ke wajah ayahku di ruang kunjungan. Dan gara-gara itu ayahku harus diberi satu tangki oksigen untuk emfisemanya."

"Berapa lama mereka menyekapmu di ruang isolasi?"

"Sebulan. Aku melewatkan pemakaman ayahku."

"Hoolian yang malang. Selalu menjadi korban."

"Ia meninggal sendirian, Bung. Aku tak pernah berkesempatan mengucapkan selamat tinggal padanya."

"Dan seharusnya itu menjadi kesalahan siapa?"

"Sejauh peduliku, itu kesalahanmu." Pisau itu bergetar di tangan Hoolian. "Perlakukan seseorang seperti binatang cukup lama, dan ia akan menjadi binatang sungguhan."

"Kubilang turunkan pisau itu, Hoolian. Aku mengawasimu."

"Aku juga mengawasimu." Hoolian memaksa dirinya menutup pisau sebelum ia melakukan sesuatu yang bodoh. "Oh ya, mengapa begitu?"

"Aku juga mengerjakan pekerjaan rumahku." Hoolian menusukkan jarinya, bunyi peluit itu masih berdenging di telinga. "Aku tahu segalanya tentangmu."

"Masak?" Loughlin menyeringai lagi, memprovokasi.

"Aku tahu kau pernah dihukum atas tuduhan indisipliner pada 1981.”

“Maaf?"

"Tercantum dalam berkas kasusmu, Bajingan.”

“Apa yang kau bicarakan?" Loughlin mengedip. "Berkas kasus. Mereka tak hanya menaruh berkasku di sana, tapi kasusmu juga.”

“Oooh."

"Itu benar. Kalau tidak bagaimana aku bisa tahu?" Suara di kepala Hoolian memperingatkannya agar ia berhenti, bahwa ia tak membantu dirinya sendiri, namun suara itu ia abaikan. "Pengacaraku membalasmu untuk melihat apa lagi yang bisa kami peroleh. Ia beranggapan kau dijatuhi hukuman karena berbohong."

"Terserah." Loughlin mengangkat bahu. "Bukan aku masalahnya di sini."

Tapi Hoolian bertekad menyerangnya. Ia pernah menghabiskan waktunya di kampus kengerian—penjara Elmira, Auburn, Attica, Clinton—dan telah belajar pada para dedengkot. Ia telah mempelajari bahasa dan kebiasaan, lambang dan tanda-tanda. Ia bisa mengetahui perbedaan di antara salakan dan geram berbahaya, dan kini ia tahu bahwa ia telah membuat lelaki ini ketakutan.

"Dan pengacaraku itu akan tahu bahwa kau muncul di sini dengan kapas seka itu," katanya, bunyi siulan di telinganya mulai mengaburkan suara peringatan yang tenang itu. "Itu keliru, Bung. Itu artinya pelecehan, murni dan sederhana."

"Begitu menurutmu?" tanya Loughlin. "Aku hanya melihat semua ini sebagai seorang polisi yang melakukan tugas. Kalau kau tak ingin memberiku sampel DNA dan membersihkan namamu, terserah. Kami akan terus menyeretmu ke pengadilan."

"Kau ingin DNA-ku?"

"Untuk itulah aku datang."

Hanya melihat lelaki itu di sana, masih berusaha menggertak dan berpura-pura tak merasa ngeri, membuat empedu mengumpul di belakang mulut Hoolian.

"Kau benar-benar hanya menginginkan sampel?" tanyanya, merasa dirinya hampir meledak.

"Persis." Loughlin memutar-mutar kapas seka itu. "Kapan pun kau siap."

"Ya, baik kalau begitu...."

Jangan lakukan itu, Bung. Kau hanya melukai dirimu sendiri. Hoolian mengabaikan suara-suara itu, mengisap ludah, dan menyemburkan gumpalan ludah terkental dan terasam yang bisa ia kumpulkan tepat ke tengah-tengah wajah si detektif.

"Tuh...Cukup untuk kau kerjakan?"

"Sekarang aku ingat kenapa kami dulu memanggilmu Brengsek A."

Francis menyeberangi jalan menuju mobilnya, masih menyeka wajahnya dengan sapu tangan dan bicara di ponsel.

"Dan kabarmu sendiri bagaimana, Francis?" suara Debbie A. sayup di saluran telepon. "Aku terkejut mendengar suaramu. Di luar persidangan."

"Klienmu bilang kau membongkar-bongkar berkasku. Apa-apaan itu?"

"Tolong bicara jelas, Francis. Aku sedang ada klien di sini."

"Acara dengar pendapat brengsek di departemenku tahun 1981." Ia berteriak agar terdengar di antara kebisingan lalu lintas. "Benar-benar omong kosong, Deb. Hilang semua rasa hormatku padamu."

"Jangan salahkan aku. Surat itu terdapat dalam berkas kasus di kantor Jaksa Wilayah. Tentu saja, sobatmu Paul Raedo pasti menaruhnya di situ."

"Untuk apa dia melakukan hal seperti itu?"

"Mungkin ia mengira pengacara Julian akan tahu tentang hal itu. Ia mungkin berpikir ia harus membawanya ke hadapan hakim sebelum sidang dan berusaha menyingkirkan masalah itu sebagai bahasan."

"Tak mungkin," Francis bersikeras. "Kau punya orang dalam yang membantumu dengan imbalan."

"Kalau kau ingin mengelabui dirimu sendiri, Francis, silakan," ujar Debbie, suaranya naik meski sinyal telepon melemah. "Tapi katakan sesuatu padaku. Apa yang kau lakukan pada klienku? Aku tak ingin kau berada dekat-dekat dia—"

Francis menekan tombol off tepat saat sebuah minivan muncul dari bintik butanya, klakson mendecit, kisi-kisi logam depannya yang berkilauan melaju melewatinya.


Di akhir shift, Angel memanggil Hoolian ke kantornya dan mengangkat kartu yang ditinggalkan Loughlin, kata-kata "Unit Pembunuhan Manhattan Utara" tercetak dalam tinta tebal hitam dengan latar berwarna cangkang telur.

"Que hubo? Bisa kaujelaskan padaku?"

Hoolian merasa mulutnya mengering, seolah ia menghabiskan semua ludahnya untuk si detektif. "Lo siento, Bung. Aku minta maaf. Kukira kau sudah tahu."

"Bagaimana aku akan tahu jika kau tak menceritakannya?"

"Ada di surat kabar sebelum kau mempekerjakanku," ujar Hoolian lemah, tahu ia hanya membuat keadaan semakin buruk.

"Dan itu membenarkanmu untuk berbohong? Karena kau tahu yang kubaca hanya bagian olahraga dan bisnis?" Angel memukul meja dengan surat kabar Post berusia tiga minggu yang tentunya juga ditinggalkan Loughlin. "Aku benci omong kosong tabloid ini."

"Kau bertanya apakah aku 'dihukum.' Kujawab tidak. Tidak lagi."

"Pembelaanmu lemah, companero. Kau tahu itu masih berlangsung. Pertanyaan itu berbunyi 'apakah kau pernah dihukum?'"

Hoolian menundukkan kepala, malu, menyadari, tentu saja, bahwa suara Papi yang ia abaikan tepat sebelum meludahi wajah Loughlin.

"Aku berniat memberitahumu tentang hal ini. Aku hanya terlebih dulu ingin menunjukkan padamu bahwa aku bisa mengerjakan tugasku..."

"Kau membuat tanganku terikat, hermanol Aku memberimu kesempatan bekerja. Dan begini caramu berterima kasih? Polisi itu baru saja bilang ia bermaksud meminta perintah pengadilan untuk meminta kartu absenmu dan tanda terima gedung-gedung tempat kau melakukan pengiriman barang. Bisa kau jelaskan padaku?"

"Sama sekali tidak." Hoolian berusaha menelan ludah.

"Mierda." Angel mengusap mata dengan telapak tangannya. "Kau tahu apa yang akan dikatakan perusahaan jika mereka tahu hal ini?"

Hoolian menatap layar komputer di belakang bahu Angel. Screen saver-nya memperlihatkan dinding bata merah yang kian mendekat dan mendekat, seakan yang melihatnya berada di dalam mobil yang akan menabraknya.

"Aku tahu aku berbuat kesalahan. Tolong biarkan aku memperbaikinya."

"Bagaimana?" tanya Angel. "Apa yang akan kau berikan padaku? Kata-katamu?"

Hoolian menatap screen saver yang menabrak dinding yang sama terus-menerus. Berapa kali? Kapan ia akan berhenti menabrak dinding yang sama itu?

"Begini. Aku membayarmu hingga akhir minggu." Angel menarik laci meja paling atas dan mengeluarkan cek untuknya. "Tak usah khawatir dengan hari Jumat dan Sabtu yang kau lewatkan. Aku dapat menemukan penggantimu untuk hari-hari itu."

Hoolian menatap cek itu dengan muram, melihat bahwa Angel menambahkan seratus dolar ekstra di luar bayaran dua hari itu.

"Aku merasa tak enak, Bung," ujarnya. "Ini semua kekeliruan besar. Tidak seperti yang kau kira."

Screen saver itu kembali menabrak dinding dan jaring-jaring virtual kaca pecah menyebar di monitor.

"Claro gue si," kata Angel. "Sekarang jelaskan padaku."

BAGIAN IV

AKU MENDENGAR IA MEMANGGIL NAMAKU

24

Tiga hari setelah menyeka semburan DNA Julian di wajahnya, Francis kembali ke Bellevue, tempat yang selalu membuatnya gentar, tak hanya karena Allison Wallis pernah bekerja di ruang gawat darurat di sana, tapi karena ia sendiri pernah berada di sana sebagai pasien. Sekali saat sebutir peluru menyerempet samping kepalanya di satu razia narkotika—Patti muncul dengan wajah pucat, tiga bulan setelah bulan madu mereka. Lalu, dua belas tahun kemudian, ketika pneumonia memaksanya berada di sana dengan tabung oksigen, dan Francis Jr. di ambang pintu memohon, "Tolong jangan mati, Ayah."

Kini ia punya urusan di lantai sembilan, tempat kantor forensik memiliki laboratorium untuk memproses bukti TKP dari perkosaan dan pembunuhan. Pintu lift terbuka dan David Abramowitz melangkah masuk menyalaminya. "Hey, Francis, ada kabar baik apa?"

"Dokter Dave, kau kini sering berolahraga, ya?" Francis menekan otot bisep dokter forensik itu dari jas laboratoriumnya dan terkejut meraba otot yang seukuran bola softball di balik lengan baju.

"Aku bertambah sering pergi ke gym. Dan kawanmu Paul mengajakku main paintball beberapa kali musim panas ini."

Betapa banyak yang berubah. Saat pertama kali bertemu Abramowitz beberapa tahun lalu dalam tiga kasus pembunuhan di Inwood, ia menganggap lelaki itu tipikal tikus laboratorium: mata seperti serangga, tangan panjang, tenggorokan kurus, bungkus otak yang tampak bengkak di bawah rambut hitam keriting yang menerbitkan rasa kasihan. Tapi sejak peristiwa 9/11 dan musibah maskapai Queens beberapa bulan setelahnya— ketika kantor forensik telah maju dan mengembangkan teknik revolusioner untuk memproses lebih dari tiga ribu jenazah sekaligus—ilmu pengetahuan kian menarik. Dr. Dave, Ph.D., menjadi Orang Hebat. Ia menjalani operasi LASIK dan membuang kacamata bingkai kunonya; ia melatih bahu hingga seperti kuda dan leher sebesar paha; ia memelihara janggut kecil trendi yang entah bagaimana cocok untuknya; ia belajar cara berjalan yang anggun dan mengemukakan pendapat ketika diminta dalam sebuah kasus. Aku tak peduli jika wanita itu berkata ia hanya berhubungan intim dengan satu pria malam itu, Detektif. Ia berbohong....

"Dengar, aku ingin kau bersiap-siap untuk sesuatu." Ia merendahkan suaranya menjadi gumaman macho sambil memandu Francis menuju laboratorium. "Hasil yang kami dapat tak seperti yang kau harapkan."

"Apa maksudmu?"

Dr. Dave menaruh jari di bibir, memperingatkannya, saat mereka melewati teknisi muda berpenampilan modern di bawah kap bahan berbahaya, putaran alat sentrifugal, dan alat pipet seukuran obeng besar. Jadi seperti inilah pekerjaan laboratorium masa kini. Bahkan mesinnya pun tampak siap berdansa rock 'n roll, berputar dan bergoyang saat ia melewatinya. Sampel-sampel DNA bersinar dalam warna merah, biru, dan kuning pada lapisan gel hitam, bagaikan karya seni modern yang menyolok mata. Setiap permukaan memancarkan cahaya, mengingatkan Francis pada betapa kuno dan muramnya kebanyakan wilayah jika dibandingkan di sini.

Ia mengikuti Dr. Dave ke dalam kantornya dan menutup pintu, sedikit terganggu oleh perabot kayu pirang dan foto-foto petugas pemadam kebakaran di dinding dengan tangan merangkul Dave, berterima kasih atas pekerjaannya yang memuaskan dalam menolong mengistirahatkan jenazah saudara-saudara mereka.

"Sesuatu yang sangat aneh telah terjadi." Dave duduk di belakang meja. "Dan kita harus membicarakannya."

"Silakan."

"Aku ingin menjelaskan rangkaian peristiwa yang terjadi di sini." Dave mengambil setumpuk kertas. "Agar tak ada kesalahpahaman."

Francis merasa mabuk, seakan-akan baru mendengar pilot pesawat mengumumkan peringatan pakai sabuk pengaman anda telah dinyalakan.

"Ya?"

"Senin pagi, kami mengambil sampel otopsi dari korban terbaru bernama Christine Rogers, termasuk sekaan dari bawah kuku dan serat rambut yang ia cengkeram di tangannya."

"Benar."

"Besoknya, kau menyerahkan sampel air ludah untuk dianalisis milik Julian Vega dan memintaku membandingkannya. Aku punya fotokopinya di sini."

"Ya, aku ingat." Dengan gelisah, Francis duduk dan mengambil fotokopi yang disodorkan Dave. "Kau mau menjebakku atau apa?"

"Aku hanya berusaha memperjelas rantai bukti yang ada, karena itu sangat penting dalam kasus ini." Dave mengguncang-guncang kertasnya, menghindari pelototan Francis. "Dua hari kemudian, Detektif Ali dari Seksi 19 datang membawa goresan kuku dan carikan sarung bantal berdarah yang entah hilang atau keliru disimpan di gudang barang bukti sampai ia menemukannya. Kedua barang itu dilabeli sebagai sampel dari korban tahun 1983 bernama Allison Wallis. Kau ingin melihat salinan voucher itu?"

"Tidak, tidak perlu," ujar Francis. "Aku tahu ia melakukan itu."

Saat itu, ia begitu gembira hingga menawarkan Rashid ke Coogan's di Broadway dan menyebut Rashid dengan "anak hebat ini punya sedikit titisan dariku" di depan separo skuad. Tapi Rashid meminta maaf tak bisa menerimanya karena ia belajar untuk kuliah malam, dan sekarang Francis bertanya-tanya apakah keadaan sudah begitu buruk di gudang barang bukti.

"Jadi ketika kau memintaku melakukan perbandingan lagi, antara darah yang ditemukan di bawah kuku korbanmu, Alfson Wallis, pada tahun 1983, dan apa yang ditemukan di bawah kuku korbanmu, Christine Rogers, pada tahun 2003. Teorimu, tentu saja, kami akan menemukan sepasang DNA Julian Vega pada kedua wanita ini. Karena mereka berdua sepertinya melukai si penyerang."

Francis menaruh fotokopi yang disodorkan padanya menangkup di atas meja. "David, rasanya kau menembok dinding padaku, bata demi bata. Katakan saja apa yang terjadi.”

"Aku tahu kau senang bekerja secara metodologis dalam suatu kasus." Dave menarik janggutnya, menolak terburu-buru. "Dan itu yang kulakukan di sini."

"Kenapa? Akukah yang tengah didakwa di sini?"

"Tidak, tapi kau tak akan senang pada yang kukatakan ini: DNA yang diperoleh dari bawah kuku Christine Rogers tidak cocok dengan DNA Julian Vega. Kenyataannya, tak ada kromosom Y sama sekali."

"Sialan."

Kekecewaan yang ia rasakan bagaikan kram nyeri di bawah iga. Segera saja ia merasa pikirannya meraba-raba mencari penjelasan. Hoolian jauh lebih berhati-hati kali ini. Ia punya dua puluh tahun untuk mengevaluasi kesalahan. Mungkin ia memakai sarung tangan dan kondom pada Minggu malam. Mungkin ia menghapus sidik jari dari tempat itu dan membuang apapun yang mungkin terkena ludahnya.

"Tetapi pasti kau menemukan pasangan DNA Julian di bawah kuku Allison dari tahun 1983," katanya berharap.

"Tidak."

"Apa?" pandangannya mendadak menyempit dan darah menyembur naik ke kepalanya. "Kami telah membuktikan bahwa golongan darahnya yang ditemukan di kukunya. Dan, ia memiliki luka parut di wajahnya."

"Penggolongan ABO sekarang sudah dianggap ketinggalan zaman," jelas Dave. "Lebih dari sepertiga orang memiliki golongan darah O, dan itulah yang mereka temukan. Mereka dengan mudah dapat mencocokkan kau atau aku pada TKP asli. Dengan DNA, peluang untuk menemukan donor lain dengan profil yang cocok adalah satu berbanding satu triliun, kecuali ada kembar identik."

Francis mendadak merasa jatuh dari ketinggian.

"Jadi darah siapa yang ada di bawah kuku Allison?" tanyanya setenang mungkin.

"Ya, itu pertanyaan sangat bagus," ujar Dave, mengangguk. "Karena sekali lagi, kuteliti dan tak ada kromosom Y yang terlibat."

"Kau bercanda. Itu bahkan bukan darah seorang pria?"

"Nah, sekarang kita memasuki hal paling aneh." Dave mengaduk-aduk kertas-kertasnya. "Aku tadi menyebut kawanmu, Detektif Ali, yang juga membawa bagian sarung bantal yang dilabeli memiliki darah korban."

"Benar."

"Kemudian untuk memastikan semua hal disimpan dengan baik dalam sistem arsip kami, aku membandingkan sampel dari bawah kuku Allison dengan sampel di sarung bantal, berasumsi yang satu pasti dari si penyerang dan yang lain dari korban."

"Dan?"

"Ternyata keduanya sama.”

“Apa?"

"Keduanya identik. Itu belum hal yang paling aneh. Sepertinya TKP dulu cukup berantakan saat itu. Darah ada di mana-mana. Mungkin sekali Allison menyentuh lukanya sendiri dan darah masuk ke kutikulanya. Aku sering melihat hal itu terjadi."

"Tapi?"

Francis menyadari dirinya bersiap menghadapi teka-teki ilmu pengetahuan.

"Tetapi kemudian aku menyadari ada sesuatu yang familier mengenai elektroferogram yang kulihat.”

“Elektro..."

Dave menyodorkan tumpukan tiga grafik yang dijepit. Francis membalik halaman, melihat puncak-puncak grafik mencuat di sana-sini seperti stalagmit.

"Dok, aku sama sekali tak mengerti apa yang tengah kulihat ini," akunya, menatap serangkaian kotak-kotak kecil di bawah tiap puncak dengan angka-angka di dalamnya.

"Oh, dasar penguasa ilmu pengetahuan umum." Dave tersenyum singkat sambil menggapai menyeberangi meja dengan pulpen.

"Oke, nilai biologiku C di Regis. Kuakui."

Tapi aku ingin sekali melihatmu berkeliaran di West Harlem pukul empat pagi, mencari-cari bajingan psikopat yang baru menggorok istrinya dan menembak tiga polisi, pikir Francis.

"Ini adalah laporan yang mengubah DNA menjadi angka-angka dalam grafik. Dalam mencari suatu profil, kami mencari variasi di tiga belas lokasi berbeda pada dua belas kromosom berbeda. Pada dasarnya, seseorang mendapatkan seperangkat gen dari ibu dan seperangkat dari ayah. Angka-angka yang kau lihat pada grafik menunjukkan berapa kali segmen DNA yang diulang pada lokasi yang sama. Dan semua Variasi kecil itu membantu menghitung kenyataan bahwa aku tidak duduk di sini untuk membicarakan salinan karbon ayahmu."

Mereka bilang itu evolusi? Francis bertanya-tanya angka mana pada grafik itu yang membuatnya buta.

"Kemudian kami mencari sesuatu yang disebut lokus amelogenin, yang memberi tahu kita tentang perbedaan gender." Dave membuat lingkaran pada sebuah grafik dengan pulpen. "Ketika kau melihat sebuah puncak tanggal seperti ini, itu artinya ia seorang wanita." Ia membuat lingkaran kedua pada grafik lain. "Jika kau melihat dua puncak, itu artinya ia seorang pria."

"Oke."

Francis mulai membolak-balik ketiga halaman itu. Halaman pertama, dinamai jelas "Christine Rogers, 2003," tampak sebuah grafik dengan puncak tunggal di dekat bagian atas kertas dan angka 103.01 di bawahnya. Ia membalik halaman berikut, bertanda "Allison Wallis, 1983," dan melihat grafik dengan puncak yang identik dan angka 103.01 yang sama di bawahnya. Halaman ketiga tepat sama dengan yang sebelumnya.

"Aku tak mengerti," ujarnya. "Aku tak melihat perbedaan apapun di antara semuanya."

"Tepat sekali." Dave kembali bersandar, merasa puas pekerjaannya telah selesai.

"Kau menunjukkan padaku bahwa kedua korban yang terpisah jarak dua puluh tahun ini memiliki DNA wanita yang sama di bawah kukunya?"

"Dan juga cocok dengan DNA pada darah yang ditemukan di sarung bantal Allison."

Francis menatap grafik terakhir, puncak stalagmit itu berubah menjadi tonjolan panjang bergerigi yang menekan puncak kepalanya.

"Kau ngawur."

"Aku tidak ngawur." Dave memajukan badannya. "Kami bekerja dengan hati-hati di sini. Ini salah satu kantor paling maju di dunia. Aku sendiri yang mengecek sampel-sampel ini saat kau membawanya. Yang dari Christine Rogers hampir masih basah saat disentuh. Dua dari tahun 1983 kering dan pecah-pecah. Tak ada kesalahan di sini. Bukti tak pernah berbohong."

"Jadi kau sungguh-sungguh mengatakan bahwa kau menemukan darah Allison Wallis di bawah kuku Christine Rogers?" Francis menoleh ke kiri dan ke kanan, seolah-olah ada orang lain berdiri di dekatnya yang dapat menjelaskan semua itu pada mereka berdua.

"Aku bisa bilang apa?" Dave mengangkat telapak tangannya ke atas, Francis menyadari betapa halus dan putih tangan itu berkat terbungkus sarung tangan sepanjang hari. "Kau memintaku mencari kecocokan dan kau mendapatkannya. Ternyata ia wanita. Selain itu, aku tak tahu...."

"Tapi mengapa kau tak bisa memastikan jika ini darah Allison Wallis atau bukan? Mestinya itu mudah sekali."

"Memang, jika Detektif Ali-mu membawakan sampel yang lebih banyak untuk kukerjakan." David mengangkat bahu. "Tapi yang ia miliki hanya garukan kuku itu dan sarung bantal bertuliskan namanya dari tahun 1983. Ia tak bisa menemukan pembalut berdarah itu, yang mestinya terdapat dalam berkas kasus asli, karena itu aku tak punya apa-apa lagi untuk dibandingkan."

Aliran deras adrenalin membuat pandangan Francis menyempit beberapa tingkat. Bertambah buruk saja di sini. Ia membayangkan batang katun kecil berdarah itu yang berdesakan bersama barang-barang milik mayat lain dalam sebuah tong di rak tinggi, cairan menetes keluar dalam udara panas dan saling mencemari.

"Brengsek." Ia memutar leher. "Bagaimana dengan rambut yang kami temukan di tangannya?"

"Tak ada akarnya. Jadi kami tak bisa memperoleh DNA inti dari sana, dan tak cukup panjang untuk melakukan uji mitokondria. Kami harus memakai uji pembiakan. Artinya kami memerlukan izin dari jaksa dan pengacara, atau tak akan ada bukti lagi yang tersisa."

"Keparat."

Belut-belut bergejolak dalam perutnya. Ia pernah menyaksikan hal-hal aneh dalam dua puluh lima tahun pekerjaannya sebagai polisi. Ia pernah melihat bandit seberat 160 kilogram mengeluarkan potongan daging babi dari sakunya di tengah-tengah persidangan; ia pernah melihat seekor Chihuahua digantung pada tiang tirai shower di kamar mandi rumah kumuh seolah-olah bunuh diri; ia pernah melihat seorang pecandu menyayat muka sendiri dan menyodorkannya pada anjing German Sheperd-nya; ia pernah melihat seorang lelaki jatuh dari lantai dua puluh lima dan mendarat di punggung sebuah mobil, dan entah bagaimana langit-langit mulutnya berada di bawah pantatnya. Tapi ia tak pernah menemukan pembunuh yang menyimpan DNA korban selama dipenjara agar ia bisa meninggalkannya di tempat kejahatan berikutnya.

Tapi apa lagi pilihan lainnya? Belut-belut itu hancur dan puncak-puncak bergerigi di kepalanya makin menajam. Bahwa Allison Wallis masih hidup, sebagaimana anggapan ibunya, dan berkeliaran membunuhi gadis lain? Bahwa ia mempunyai kembar identik yang tak pernah disebutkan siapa pun? Setiap skenario semakin menggelikan, tetapi benang merah dari semuanya adalah bahwa Francis menjebloskan orang tak berdosa ke dalam penjara selama dua puluh tahun.

Tetapi itu tak mungkin. Itu seperti benua Antartika, dunia putih, sebuah tempat yang tak mungkin orang dapat kembali. Itu seperti matahari menyurut dan lautan membeku. Ia membayangkan dirinya berdiri di tepi ngarai, retakan celah es menderu di kaki. Keping-keping es berputar menuruni ruang kosong tak bertepi. Tak ada tali yang bisa menjangkau. Dinding akan menutup dan memerangkap selamanya.

"Jadi apa yang kita lakukan sekarang?" ujarnya.

"Kita?" Janggut trendi itu menukik turun.

"Ya, 'kita'. Kau harus bersaksi tentang apa yang terjadi dalam kasus ini juga."

"Ya..." Dave memutar-mutar pulpen dengan jari. "Tentu saja, kau mungkin mesti mulai mencari tersangka wanita..."

"Aku masih tak percaya," kata Francis. "Pasti ada kesalahan."

"Kalau begitu, hal lain yang bisa kita lakukan, jika kau sangat yakin telah terjadi kekeliruan, adalah mengeliminasi Allison Wallis sebagai korban di tahun 1983 yang darahnya kita temukan di bawah kuku Christine Rogers."

"Dan bagaimana kita melakukan hal itu?"

"Kecuali akan menggali kuburnya kembali, kusarankan kau mencari DNA dari anggota keluarganya sebagai perbandingan. Ada yang masih hidup?"

"Seorang ibu dan kakak lelaki," kata Francis.

Ia ingat acara dengar pendapat pada 1984 ketika seorang ayah terjatuh akibat sakit jantung di usia lima puluh tujuh, yang masih mencoba bermain sepakbola bersama putrinya yang berusia sebelas tahun dari pernikahan kedua. Satu lagi pria paruh baya di Paris ditemani wanita muda dan minuman.

"Milik ibu akan lebih baik." Dave membuat lingkaran di grafiknya. "Dengan itu kau bisa melihat angka pada profil genetik yang datang langsung dari sang ibu."

"Aku takut kau akan berkata begitu."

"Mengapa, ada masalah?"

"Ibunya sedikit kurang stabil bila menyangkut hal-hal yang berkaitan dengan realitas," kata Francis. "Ia mengira Allison masih hidup."

"Itu menarik. Apakah ada kemungkinan itu?"

"Ya Tuhan, Dave, aku melihat jenazahnya langsung."

Ia memijit mata, menyadari betapa lembut dan peka matanya mpada sentuhan. "Aku tak yakin bagaimana aku akan memperoleh sampel darinya."

"Lebih baik lakukan segera," Dave memperingatkannya. "Aku mendapat telepon dari Deb A. pagi ini menanyakan hasil tes DNA kliennya. Aku memintanya menunggu, tapi kau tahu hasil ini mau tak mau akan muncul dalam berkas kasus."

"Ya, aku tahu."

Francis berpikir, bertanya-tanya bagaimana ia akan memulai penjelasannya. Tentu, ini biasa terjadi. Kita sela meminta keluarga korban untuk memberi sampel dua puluh tahun setelah kasusnya ditutup. Tak ada yang perlu d

"Aku hanya bertanya pada diriku sendiri." Ia menutup mata dan melihat bayangan benda-benda. "Apa yang akan terjadi jika ternyata memang DNA Allison yang ada di bawah kuku Christine Rogers?"

"Maka mungkin kita harus melupakan analisis genetik," ujar Dave. "Dan menggantungkan harapan pada papan Ouija."

25

Menggambar dirinya. Gadis di kereta itu tengah menggambar dirinya.

Hoolian merasa sesuatu menarik perhatiannya saat kereta 1:56 melaju dari Syosset, Minggu pagi itu, tepat setelah ia menyelesaikan kerja malam pertamanya mencuci piring di West Side Jewish Center. Tetapi perhatiannya lalu beralih, mencari-cari potongan tiket. Sang kondektur, seorang lelaki berseragam biru dengan perawakan seperti tabung, gemuk dan lembab di tempat-tempat yang tak tepat, melubangi tiketnya selagi kereta bergoyang ke depan dan menoleh ke seberang lorong, tempat gadis itu duduk.

"Kau tak boleh menaikkan kaki seperti itu di kursi," katanya.

Tanpa mengindahkan, buku sketsa itu tetap berada di atas lututnya yang terlipat, menghalangi pandangan Hoolian dari wajahnya. Suara tajam corat-coret pulpen di atas kertas menegaskan tengah berlangsungnya kesibukan artistik yang menyita perhatian.

"Nona?" Kondektur itu membungkuk dengan perhatian.

Gadis itu mengabaikannya dengan mengeluarkan desis tidak sabar. Makin banyak garis yang ia gambar, sudut bergeser, kaki kecil berkaus kaki merah sportif itu meregang dengan tak sopan dan tetap bertahan pada posisinya. Hanya setelah memuaskan diri selama beberapa saat ia menyodorkan tiketnya.

"Terima kasih." Kondektur itu mengangguk dan meneruskan berjalan, merasa kalah.

Tetapi gadis itu telah siap menggambar kembali, bahunya menegang oleh konsentrasi penuh, desis tertahan yang kadang-kadang terdengar dari balik buku berujung lakan itu mengatakan pada Hoolian bahwa satu garis melengkung panjang tengah dibuat.

Hoolian mulai kembali ke Neuromancer, setelah putus asa dengan Les Miserables dua minggu yang lalu. Pulpen itu berhenti. Ia melirik dan sepasang mata cokelat berkedip di atas buku sketsa itu tetapi menghilang lagi.

Seorang polisi. Mungkin ia bekerja pada kepolisian sebagai seniman pembuat sketsa yang tengah menyamar. Membuntuti dan berusaha menangkapnya langsung saat beraksi. Kondektur itu telah pergi, topi birunya miring aneh, dan menutup pintu di belakangnya, meninggalkan mereka berdua.

Konsentrasi perempuan itu seperti udara yang menekan. Dengan gugup Hoolian menghadap ke depan, mendengarkan bunyi decit dan putaran pulpennya.

Ia tak semestinya ditinggalkan sendirian bersama seorang wanita. Ia ingat dari peta yang ia pelajari bahwa jarak masih jauh dari satu stasiun ke stasiun lain di jalur ini. Dan, pemeriksa tiket itu tak akan kembali dalam waktu dekat.

Bunyi kasar roda kereta di rel kian bising. Ia mulai mengumpulkan barang-barangnya di tas. Gadis ini masalah baginya; ia dapat merasakan. Ia bahkan tak perlu melakukan kekeliruan kali ini. Gadis itu cukup menunjuk dan menjerit dan mereka akan memborgolnya di pemberhentian berikut.

Namun, kemudian buku sketsa itu miring ke belakang dan dilihatnya gadis itu menggigiti pulpen dengan cara yang dikenalnya, menaruh di sudut mulut seperti rokok. Pelayan dari pesta bat mitzvah.

Ia mengenalinya ketika gadis itu berdiri di ambang pintu dapur beberapa jam tadi, mengagumi megahnya pesta. Seratus lima puluh tamu dengan gaun malam mengelilingi meja beruap yang dipenuhi daging dada sapi, ayam rebus, dan kentang-kentang panggang berukuran besar. Ia beruntung berada di sana. Setelah dipecat dari toko, Nona A. berhasil memberinya pekerjaan di perusahaan katering; kawan sepupunya setuju memberikan kesempatan pada si anak malang, asal Hoolian tetap diam-diam.

DJ pesta memutar Fiddler on the Roof bagi para kakek-nenek dan lagu hit bagi anak-anak—"It's gettin 'hot in herrre, so toke off all your clothes"—sementara teman-teman dari putri Rebecca Epstein yang berusia tiga belas tahun berputar-putar seperti Lolita kecil dengan pakaian berkelap-kelip, menggoyang-goyangkan pinggul dan menggetar-getarkan pantat mereka dengan tak sopan seakan ada hewan lincah terjebak di balik gaun mereka. Sebaliknya, anak-anak lelaki bergerak-gerak seolah mereka terbuat dari suku cadang, para Frankenstein muda yang canggung dengan jas kekecilan, hampir terendam dalam lautan gelegak hormon.

Orang tua mereka duduk di meja pesta berlapis kain linen, menyibukkan diri dengan minuman, lupa pada para remaja mabuk di belakang mereka.

Hoolian membuka pintu lebih lebar lagi, memperhatikan ayah si gadis yang merayakan bat mitzvah, seorang pengembang properti, pendek dan angkuh, dengan dada tegap dan alis menonjol yang memperlihatkan kekuasaan nyata dari semakin mundurnya garis rambut, memeluk kerabat, bersulang, dan menerima amplop-amplop putih yang tampaknya berisi uang tunai dan cek untuk putrinya. Sang ibu, wanita kecil sintal mengenakan kain merah muda menyala, mengoleksi tas tiruan Macy's dan Gucci.

Kemudian setelah terlalu lama berpidato, mereka berdua menuju lantai dansa, mengambil risiko kejang otot dan sendi tergelincir kala sang DJ memutar lagu "I Want You Back." Sang ayah menyampirkan jaket di belakang kursi, dengan amplop berisi uang di saku, hanya sekitar lima meter dari tempat Hoolian berdiri.

Lengan jaket yang menjuntai tampak ikut berayun dengan irama musik. Oh, baby, give me one more chance. Apakah Tuhan tengah mencoba menyampaikan sesuatu padanya? Berkata, Dengar, Hoolian. Jangan katakan padaku tentang sakit hatimu. Jangan katakan padaku tentang luka yang kau derita. Aku menjagamu. Hanya yang kuat yang bertahan. Jadi ambil barang-barang mereka. Itulah alasanku menaruh mereka di depanmu.

Tetapi kemudian wanita itu mendekat dan berdiri di samping kursi. Gadis dengan mata besar dan rambut sehitam batu bara. Ia melihatnya langsung, seolah-olah tahu apa yang ada dalam pikirannya, mengambil secuil jiwanya tepat sebelum ia terburu-buru pergi membawakan Diet Coke untuk istri rabbi.

"Bagaimana hidangan panasnya?" tanya gadis itu di balik buku sketsanya.

"Maaf?"

"Kudengar Marco marah-marah tentang hidangan panas itu."

"Oh, ya."

Ia mengerjap, teringat musibah sebelum makan malam itu; kepala kru, memaki-maki di tengah dapur tentang tiga ratus piring untuk resepsi pernikahan Ortodoks di dalam selama dua jam, dengan nama hiasan bunga utamanya diambil dari nama-nama tempat di Gaza. Piring-piring itu harus keluar panas!

"Jadi, apa yang kau lakukan?"

"Tidak ada cukup ruang di alat cuci piring. Jadi aku harus melakukan sisanya dengan tangan." Ia meregangkan tangan kirinya, menyadari balutan itu ikut basah meski ia memakai sarung tangan karet. "Jadi aku menumpuknya di kereta baja dan membungkus semuanya dengan kira-kira sepuluh meter plastik supaya tetap panas."

"Cerdas sekali."

Ia mengangguk. Jika dua belas tahun terkurung di dapur penjara di antara para psikopat dan pisau tajam tak membuahkan apa-apa, maka yang lain pun tak akan bisa.

Rem kereta berdecit letih dan kereta miring sedikit.

"Zana." Ia memajukan badan menyeberang lorong untuk menjabat tangannya, hampir keluar dari duduknya.

"Christopher," jawab Hoolian, memakai nama tengahnya.

Hoolian menjabat tangannya dengan lembut, seolah tengah memegang burung kecil nan lemah, kemudian segera melepaskannya, tak yakin apakah waktunya tepat.

"Apa yang kau gambar?" ia berusaha melihat buku gadis itu.

"Hanya wajahmu.”

“Yang benar?"

Gadis itu memiliki aksen Eropa yang sulit ditebak: kadang datar dan rendah, sehingga orang tak bisa benar-benar yakin apakah ia tengah mempermainkanmu atau tidak.

"Tak ada yang pernah memintamu menjadi model sebelumnya?"

Ia menoleh, yakin bahwa gadis ini memang mempermainkannya. Namun, sesaat kemudian, ia mendengar pulpennya meluncur dan berputar, mengeluarkan bunyi tajam.

"Tegakkan terus kepalamu," kata Zana mengarahkan. "Akan lebih baik jika kau pura-pura tak tahu apa yang sedang kuperbuat."

"Kau benar-benar sedang menggambarku?"

"Jangan berpose. Sikapmu jadi tidak wajar."

"Aku tidak berpose."

"Tidak?" Suara gadis itu kembali turun, seolah-olah ia tengah meraba-raba di balik kemeja Hoolian dan menggelitiknya.

"Tidak, memang beginilah wajahku."

"Aku tak percaya. Itu wajah aligator. Itu bukan kau."

"Dari mana kau tahu? Mungkin aku memang buaya yang cukup tahu untuk menutup mulut."

Gadis itu mengangkat bahu, matanya menyelidiki sosoknya seperti anak-anak di tiang panjat. "Itu dua hal berbeda—buaya, aligator."

"Dua-duanya berdarah dingin."

"Hidung buaya lebih panjang."

"Omong-omong, kenapa kau menggambarku? Kau tak ada pekerjaan lain untuk dilakukan?"

"Wajahmu menarik."

Hoolian menggosok ujung hidungnya dan berpaling, berpikir gadis ini bisa saja mengenalinya dari salah satu foto lama itu. Nona A. telah memperingatkannya agar selalu menunduk dan menaikkan kerah jika ada fotografer di dekatnya agar tak terlalu banyak foto-foto baru yang memperlihatkan penampilan terbaru. Tetapi seseorang dengan perasaan visual yang tajam dapat dengan mudah menyingkirkan sedikit rambut dan menambahkan janggut pada salah satu foto tua itu.

"Apa kau semacam seniman?"

"Parsons School of Design." Ia menaruh bukunya di sisi dan menatapnya datar. "Jika sedang tak jadi pelayan di bar mitzvah"

Dengan standar apa pun, ia tak bisa dianggap cantik. Ia terlalu pucat dengan pipi cekung—hampir terlihat seperti orang sakit. Lehernya terlalu kurus untuk menjaga kepalanya tetap tegak, mata cokelat itu terlalu besar untuk wajahnya. Tetapi ada sesuatu tentangnya yang tak bisa orang abaikan. Semacam fatalisme sederhana yang membuatnya hampir terlihat glamor. Kau bisa membayangkan dirinya menyalakan rokok dan dengan tenang meniup padam korek api saat kau mengantarnya berkendara dari tebing.

"Aku hanya heran kau memakai pulpen. Kukira kebanyakan seniman memakai pensil dulu agar mereka bisa menghapus garis yang salah."

"Kenapa aku harus menghapus garis yang salah?" matanya kembali ke buku. "Dalam hidup, kau tak menghapus kesalahan."

"Tapi bagaimana jika gambarmu benar-benar kacau?"

Ia mengangkat bahu. "Kau timpa saja. Atau gambar lagi, seperti disengaja. Kadang gambarnya akan terlihat lebih bagus jika seperti itu."

"Di atas kertas apa pun?" Hoolian menaruh telapak tangan di dagunya, menutupi parut.

"Ya," akunya. "Kadang lebih baik jika di kertas."

"Omong-omong, apa yang kau sukai?"

Bibir gadis itu menciut menjadi huruf O kecil yang hampir samar, seakan-akan ia memintanya menanggalkan pakaian.

"Maksudku, kau menyukai komik atau apa?" kata Hoolian, mengerti sendiri.

"Tentu saja," jawab gadis itu, menaruh pulpennya dengan serius.

"Seperti apa?"

"Art Spiegelman. Jenius."

Ia mengangguk, tak yakin siapa orang itu.

"R. Crumb. Jenius. Joe Sacco. Safe Area Gorazde. Benar-benar jenius."

"A-ha."

Ia menyebutkan nama-nama lain dengan suara datar bosan seperti pelayan restoran seafood mengantar tamu yang datang terlambat. "Jaiem Hernandez dan Gilbert Hernandez. Love & Rockets. Jenius. Eric Drooker. Flood! Jenius. Eyeball Kid. Jenius..."

Ia benar-benar bingung, tak kenal satu pun tokoh yang disebut gadis itu. Entah apakah orang-orang itu menerbitkan karya-karyanya ketika ia dipenjara atau komiknya terlalu dewasa untuk ia baca sebelum dirinya ditahan.

"Bagaimana dengan komik Marvel dan DC?" tanyanya, berusaha kembali ke percakapan yang ia ketahui.

"Oh ya. Frank Miller, The Dark Knight. Jenius. Stan Lee dan Jack Kirby. Luar biasa jeniusnya. Aku mau mengandung anak-anak mereka hanya agar mereka punya bibit jenius."

"Sungguh?"

"Menurutmu, bagaimana?" ia membiarkan pundaknya melorot yang membuat Hoolian sama sekali heran.

"Aku hanya belum pernah bertemu cukup banyak gadis yang menyukai hal-hal yang kusukai juga."

"Oh? Kau dari mana?"

Hoolian mencabuti bulu bawah dagunya. "Kau tahulah. Dari sebuah tempat. Suatu waktu.”

“Hmm, sangat misterius."

Tiap kali ia menganggap gadis itu sedang bercanda, tekanan nada suara gadis itu berubah sedikit.

"Kau juga menggambar?" tanya Zana, hampir jatuh dari duduknya saat kereta berbelok.

"Aku?" ujar Hoolian, siap meladeni. "Tidak, tidak seperti itu. Aku hanya penggemar. Mengerti maksudku? Meski kadang kupikir aku punya ide cerita. Ide gila saja. Tak pernah ada yang kutulis."

"Coba ceritakan."

"Tidak, aku malu. Kau akan mengira aku orang idiot."

"Teruskan," pintanya, seperti birokrat tak sabaran. "Aku tak menilaimu."

Gampang saja baginya bicara. Tampaknya ia berusia dua puluh empat tahun. Apa yang ia tahu tentang kehilangan kebebasan, tentang menghilangkan kebosanan dan keputus-asaan, tentang membuat cerita saat kau tak bisa tidur karena orang di atas tempat tidurmu tak berhenti berteriak-teriak tentang bau tembok basah dan diare, tentang kengerian dan kecemasan yang menyebar dari satu sel ke sel lain seiring berembusnya kabar bahwa seseorang gantung diri atau menyayat dirinya sendiri?

"Oke..." ia mendehem. "Nah, begini, dalam cerita ini umat manusia telah menyembuhkan semua penyakit utama. Tak ada lagi kanker, AIDS, diabetes. Tak ada apa-apa. Orang-orang tak lagi membotak. Yang tersisa hanya ketakutan."

"Hmm."

"Karena itu mereka mencoba menciptakan vaksin untuk melawan hal itu. Semacam vaksin polio kuno, ketika mereka memberikan sedikit dari apapun yang paling kau takuti tetapi setelah itu kau tak pernah lagi mengalami ketakutan itu. Yang ada hanyalah, vaksin itu berbalik menyerang, mengawali epidemi. Semua orang menjadi gila akibat paranoid dan mulai saling membunuh."

Gadis itu mendesah. "Dari tempat asalku, itu adalah kenyataan."

Hoolian berhenti, berusaha mengira-ngira maksudnya. Tetapi mata tamborin gadis itu bergidik di atas pipi cekungnya, tak memberi petunjuk sama sekali.

"Tetapi kemudian ada seorang anak yang tak pernah memperoleh vaksin itu, karena mereka mengira ia akan mati ketika bayi—"

"Kukira mereka telah menyembuhkan semua penyakit."

"Aku tak tahu, mungkin ia lahir dengan jantung lemah atau apalah," katanya, sedikit kesal oleh interupsi itu. "Apa pun. Ia tetap hidup ketika semua orang menggila dan saling membunuh di jalanan. Seharian itu, ia mengembara mencari makanan dan malam hari, ketika semua zombie keluar, ia bersembunyi di Museum Metropolitan, dengan semua perisai dan pedang samurai untuk melindungi diri..."

"Lalu apa yang terjadi?"

"Aku tak yakin." Hoolian menyentuh wajahnya. "Aku tak pernah bisa menyelesaikan bagian cerita itu."

"Mungkin ia bertemu seorang gadis," tukasnya.

"Bagaimana caranya? Semua orang menjadi zombie."

"Mungkin gadis itu bersembunyi di bagian lain museum, mengawasinya sepanjang waktu.... Mungkin mereka saling jatuh cinta dan mencoba memulai kembali kehidupan ras manusia."

Hoolian menyelidiki wajah itu. Lewat curahan cahaya dari jendela, ia menyadari wajah gadis itu sedikit berubah.

"Aku belum memikirkan cerita itu sebagai kisah cinta."

"Siapa bilang ini kisah cinta? Mungkin akhirnya mereka semua mati."

"Wow." Ia hampir tertawa. "Itu dalam sekali. Bukan begitu?"

"Bagiku, itu yang paling masuk akal." Ia mengangkat bahu lagi. "Tapi aku berasal dari Phristine."

Ia tahu gadis itu mengatakan sesuatu yang penting. Tetapi ada perubahan halus pada intonasi, suaranya yang naik sedikit saat menyebutkan nama tempat asalnya. Masalahnya, ia sama sekali tak tahu apa yang ia maksud. Ia tak tahu letak Phristine itu.

"Kukira pasti sulit sekali di sana," gumamnya.

"Saat aku kembali ke rumah ayahku tahun lalu, yang tersisa hanya lebah-lebah di halaman belakang, berdengung di tempat dulu tempat kami menaruh sarang mereka."

Ia mengangguk, berpura-pura mengerti. Terakhir kali ia membaca koran secara teratur adalah dua puluh tahun lalu. Lama sekali ia hanya mengungkung diri dan bersikap seakan dunia luar tak nyata, sehingga ia bisa fokus bertahan hidup di penjara. Ia berhasil menjauhi AIDS dan narkotika, melewatkan lima kali pemilihan presiden, hanya samar-samar tahu tentang ambrolnya Tembok Berlin. Mungkinkah ada Perang Dunia III ketika ia dipenjara? Tumpukan beban kabar yang ia tak ketahui mulai menggantunginya seperti orang utan.

"Jadi, seperti apa gambarmu?" Hoolian bertanya, merasa malu, berusaha mengalihkan perhatian dari dirinya sendiri.

Tanpa basa-basi, gadis itu menyodorkan buku sketsanya melintasi lorong.

"Wow, coba lihat itu."

Zana menggambar sedikit lebih muda dari usia sesungguhnya, dengan rambut lebih panjang, bulu mata tak tercukur, seolah gadis itu secara naluriah tahu penampilannya dulu. Janggutnya dibuat lebih kecil yang mestinya memperlihatkan parut dan hidung yang tidak patah—itu semua membuatnya tersenyum tipis, sadar wajah aslinya mungkin tidak cukup baik.

Tapi apa yang paling menarik perhatiannya adalah beberapa detail yang lebih halus. Kusut keningnya, lipatan di leher, bentuk segitiga hidung dan mulutnya. Gadis itu pasti telah memperhatikannya jauh lebih lama ketimbang yang ia sadari, mengamati dengan saksama.

Mungkin ia harus minta nomor teleponnya. Mungkin mestinya ia tak berbuat apa-apa. Mungkin ia harus bertanya di mana gadis itu turun. Mungkin ia harus pindah ke gerbong lain sebelum hal buruk terjadi.

"Hey, apa ini?" tanyanya, melihat sejumlah lengkung dan garis pendek yang digambar Zana di sekitar kepalanya seperti retakan-retakan akibat ledakan.

"Tepi."

"Tepi apa?"

"Dari tempat kau mungkin bermula dan berakhir, tapi aku juga tak yakin. Kau tak pernah tahu kapan kau pertama kali bertemu seseorang. Seorang besar ternyata kecil, seorang lemah ternyata kuat."

"Tetapi apakah kau akan meninggalkan tanda-tanda itu begitu saja? Atau kau akan memperbaikinya nanti?"

"Aku meninggalkannya begitu saja, agar aku ingat. Karena itu adalah yang terbaik, saat tak ada apa-apa untuk dipastikan. Semua gemerlap. Seandainya bisa seperti itu terus."

Peluit kereta menghasilkan bunyi keras, memberi tahu pekerja tengah malam untuk turun.

"Kau cukup aneh," ujar Hoolian, mengembalikan buku. "Kau menyadari?"

"Dan, kau tidak aneh?"

"Aku tak tahu siapa aku ini," ujarnya. "Kau mau makan sesuatu setiba kita di kota?"

26

Senin pagi, Francis berdiri di ambang pintu kantor Satuan Tugas Pembunuhan North Manhattan, memperhatikan petugas lokal berangkat ke utara Broadway dari jendela. Gema dari rel kereta terkadang membuatnya berpikir tentang jiwa-jiwa orang yang dibunuh yang berlalu melewati kantor, melirik sepintas kalau-kalau ada orang yang mengerjakan kasusnya.

Tempat itu sendiri tidak istimewa. Ruangan hijau pucat berlantai licin, sembilan meja berjejer, sepasang foto dibubuhi tanda tangan para pemeran seri NYPD Blue, papan gabus bertempelkan carikan-carikan kecil kertas dan para deputi yang memandang seperangkat balok-balok kayu Art and Crafts yang memajang nama jajaran detektif paling elit di kota itu, dan otomatis, di dunia. Setiap pembunuhan yang terjadi antara 59th Street dan tepi pulau itu—entah di penthouse Fifth Avenue atau tempat latihan menembak Washington Heights—semua berada di bawah wewenangnya, dan bahkan setelah sepuluh tahun, Francis masih mendapat diskon tiket untuk menonton sirkus di barisan depan setiap hari.

Di sinilah tempat sejatinya. Tuhan tahu, ia akan merasa kesulitan menyesuaikan diri di tempat lain. Bagaimana lagi ia akan menemukan tempat yang cocok baginya, orang-orang yang bicara dalam bahasa yang sama? Kisah dan lelucon di sini tak pernah dialihbahasakan. Bagi orang normal, lelucon mereka tak lucu, seperti tentang seorang sinting yang berkoar-koar tentang seseorang yang hampir memotong urat "gigolo"-nya dalam sebuah perkelahian atau si pandir yang memukul seorang lelaki dengan kentang Idaho untuk membungkamnya. Ia memperhatikan gerbong kereta perak berubah menjadi tetesan merkuri dalam cahaya matahari, sebuah momen refleksi suram yang hanya diganggu ketika ia memalingkan mata dan melihat seorang detektif muda bernama Steve Barbaro tengah mengais-ngais kotak catatan telepon di mejanya.

"Kau sedang apa, Yunior?" katanya, memindahkan mug Rolling Stones bergambar bibir dan lidah miliknya ke tempat aman.

"Skumpy menyuruhku memastikan bahwa kau belum menghubungi nomor-nomor telepon ini," kata Yunior sambil mengangguk ke arah seorang detektif lain, dua meja jauhnya.

Francis menoleh pada empat detektif lain yang datang lebih dini untuk mengerjakan kasus Christine Rogers, bertanya-tanya mengapa tak satu pun dari mereka yang mau repot-repot membelanya.

"Tak bisakah kau meminta saja?"

Anak itu mengangkat bahu. Ia mungkin akan menjadi detektif hebat suatu hari nanti, tapi ia perlu sedikit dipoles. Pria Italia kurus yang kuliah di Dartmouth dan mengira dirinya harus membuktikan bahwa ia bisa menyalak dan menggigit seperti anjing besar.

"Ini yang komandan juga inginkan," kata Yunior.

"Sejak kapan?"

"Tanyakan saja sendiri."

Yunior memberi isyarat ke arah kantor letnan dengan jempolnya, tempat Jeny Cronin, kini kepala detektif Manhattan, bekerja dan mulai menelepon. Francis sadar ia pasti melewatkan orang itu dari sudut matanya ketika masuk ke ruangan.

"Apa yang terjadi, JC?" ia bergegas masuk ke ruangan itu tanpa mengetuk.

"Sudah dulu, ya." Kepala detektif itu menutup telepon dan menengadah. "Selamat pagi, Detektif."

"Apakah aku terlihat tak penting di matamu?"

JC melirik tajam. Waktu membuatnya makin kecil dan liat. Rambutnya berubah menjadi cakram tipis di puncak kepala, dan kulitnya tampak terbakar, membuatnya jelas terlihat sebagai kandidat pasien tekanan darah tinggi. Sepertinya ia menghabiskan hampir sepanjang hidup untuk mengomel tentang suasana hati komisaris yang naik turun, mimpi untuk memimpin sidang di sebuah sudut di bar dengan Frank Sinatra mengirim sebotol Hennessy's.

"Kami pikir kasus Christine sebaiknya ditangani orang baru," ujarnya.

Francis menutup pintu di belakangnya, sadar semua orang di ruang skuad tengah memperhatikan mereka berdua lewat kaca.

"Ada masalah, JC?"

"Tentang laporan yang kau dapat dari kantor forensik." Jeny menggelengkan kepala. "Pasangan DNA dari wanita yang sama?"

"Itu pasti suatu kekeliruan." Francis berpaling dan melihat Rashid Ali berjalan menuju ruangan membawa sekotak baru catatan medis. "Ketiga sampel itu tampaknya berasal dari Allison Wallis, dan kita semua tahu itu tidak benar. Segera setelah aku berhasil memperoleh sampel bandingan dari ibunya, semua akan beres. Aku sudah meneleponnya."

"Eh..." Kepala Detektif itu mengerucutkan bibirnya.

"Apa?"

"Aku mendapat telepon dari Judy Mandel dari Trib pagi ini. Ia ingin tahu mengapa kita mempekerjakan orang yang sama untuk dua kasus tersebut."

"Aku tak bilang padanya," kata Francis. "Ia yang merecoki Dick Noonan dari bagian Enam-0 tentang masalah guru dan bom di bus sekolah..."

"Kami kira mungkin kau ingin mundur selangkah."

"Mundur selangkah?"

"Sejumlah orang merasa khawatir dengan perkembangan kasus ini," kata JC. "Mereka pikir kau agak terlalu menganggap pribadi kasus ini."

"Ini pendapatmu, Jerry, atau atasanmu?"

"Kau detektifnya. Kira-kira sajalah. Mereka hanya ingin memastikan tak ada yang akan menuduh mereka berpandangan sempit."

"Maaf, tolong ulangi?" Francis menaruh tangan di belakang telinganya.

"Mereka tak ingin ini terlihat seolah-olah upaya balas dendam. Terlihat agak aneh. Dakwaan Hoolian dicabut, dan bum, segera saja kau mencarinya untuk pembunuhan lain."

"Maaf, Jerry, bukan aku yang membentangkan benang merahnya." Francis menaruh tangan di jantungnya. "Kawan Christine di rumah sakit berkata ia 'terobsesi' dengan Hoolian. Itu kata-katanya, bukan aku. Adakah yang berpikir aku memasang guntingan-guntingan berita koran itu di lacinya? Demi Tuhan, tim TKP menemukan sebuah video di VCR tentang kisah Hoolian dari berita lokal yang direkam di dalamnya. Rashid hanya memperlihatkan foto Polaroid pada pengelola apartemennya dan ia berkata melihat Hoolian di sekitar situ beberapa minggu sebelumnya. Jadi jangan katakan aku menutup mata."

"Ya, jika DNA menyatakan bahwa pembunuhnya wanita, mengapa kita tak mulai mencarinya?"

"Kami memang mencari wanita." Francis bersikeras, sedikit melengking. "Kami melakukan referensi silang daftar staf di kedua rumah sakit, untuk melihat jika ada wanita yang bekerja bersama Christine maupun Allison. Kami kembali melacak catatan telepon, melukis ulang kedua gedung apartemen secara terpisah, mewawancara ulang kedua keluarga korban untuk mengecek kalau-kalau para korban memiliki masalah dengan seorang wanita."

Ia menoleh kembali ke ruangan dan merasa tohokan di ulu hatinya ketika melihat si Yunior masih berdiri di mejanya.

"Aku hanya ingin mengatakan sedikit pemisahan tak akan terlalu mengganggu," kata JC.

"Jadi, begitu saja? Kau menyisihkanku? Jeny, aku sudah mengenalmu dua puluh dua tahun."

"Jadi kita bisa saling jujur satu sama lain." Lelaki itu merendahkan suaranya. "Jika kau terbukti ngawur dalam kasus 1983, ingat-ingat saja, kau tak akan menjadi nomor satu dalam daftar untuk memperoleh promosi jabatan April nanti."

Francis memalingkan kepala lagi, yakin hingga seperempat detik yang lewat seluruh penghuni ruangan menonton mereka berdua. Tak peduli jika penglihatannya sedikit berkurang. Jika lima detektif terbaik kota itu berkumpul bersama dalam sebuah ruangan dan tak seorang pun melihat langsung padamu, bisa dipastikan kau tengah dicurigai.

"Oh, kau benar-benar punya nyali," katanya.

"Ayolah..."

"Tidak, kau yang ayolah. Kau pikir kau akan punya dana pensiun jika aku tidak melakukan investigasi dan memperoleh pernyataan dari Julian Vega?"

"Hey, siapa pula yang memintamu ikut investigasi sejak awal?" telinga JC memerah. "Seingatku, si Turki ingin kau keluar dan menulis surat panggilan lalu lintas di Staten Island setelah tugas kecilmu di Farm. Aku yang memberimu kesempatan. Jadi jangan bicara padaku tentang balas budi."

"Baiklah. Kalau begitu kita harus bersama-sama menyelesaikan kasus ini. Jadi jangan coba-coba menyingkirkanku, Keparat."

Dari balik Kepala Detektif, Francis melihat sehelai kertas lilin terbang saat kereta lewat dan mendarat dengan malas di lengkung West Side Highway, menghilang dari pandangan sedetik sebelum waktunya.

"Kau tahu, kau lebih baik tidak memanggil asisten kepala dengan 'keparat,'" ujar JC, tenang.

"Baiklah, aku salah omong. Kau keparat tak tahu terima kasih."

JC melipat tangannya. "Jimmy Ryan kembali ke satuan tugas untuk kasus ini. Ia akan memimpin kasus Rogers dan Steve Barbaro akan membantunya. Dan tak ada yang bisa mengubah keputusan itu."

"Kukira Oz telah bicara kalau begitu." Francis mengambil napas dalam-dalam, mengisi paru-parunya dengan beban. "Tapi kau harus mengizinkanku mengikuti perkembangan dengan Eileen Wallis."

"Kenapa begitu?"

"Bunuh dua burung dengan satu batu. Kita perlu menanyainya apakah ada wanita yang bermasalah dengan Allison, dan kita harus mendapatkan sampel DNA darinya untuk mengeliminasi Allison sebagai donor. Akulah yang punya hubungan dengan keluarga itu. Jika kau mengirim Ryan dan Yunior, ia akan melompat ketakutan dari jendela. Dan, kau akan memperoleh berita buruk."

"Kau sudah menelepon?"

"Aku baru mau pergi, jika kau ingin ikut."

"Brengsek. Kau seperti salah satu dari pengembang properti, meminjam begitu banyak uang dari bank sehingga pihak bank tak tega membiarkannya bangkrut. Kenapa aku begitu terikat denganmu?"

"Kukira sudah tertulis nasibmu dalam zodiakmu, Sobat."

Kereta ke arah selatan melintas, mengempaskan debu rel ke mobil para detektif yang di parkir tepat bawahnya.

"Tolong, buka terus pikiranmu," kata JC.

"Aku selalu terbuka. Aku melihat kanvas kosong. Aku menerima semua panjang gelombang. Aku hidup dalam pita tujuh puluh milimeter IMAX Dolby Surround Sound. Aku menerima apa saja."

"Ya, bagus." JC kembali duduk, merasa puas untuk sesaat.

"Tapi, aku berpendapat," ujar Francis. "Orang yang sama telah membunuh kedua gadis ini."

27

"Bagaimana kemarin malam di katering?"

Hoolian menengok pada Nona A yang menghampiri saat makan siang dan menemukannya di ruang konferensi kecil berpanel kayu berantakan yang ia tempati bersama dengan para pengacara imigrasi di bawah, dikelilingi kotak-kotak kardus transkrip pengadilan dan catatan telepon New York tahun 1983 yang berhasil ia peroleh dari kantor Jaksa Wilayah.

"Lumayan," katanya. "Aku ketemu seorang wanita."

"Oh-oh."

"Tak apa. Cukup menyenangkan. Ia menjadi pelayan di bar mitzvah. Kami bercakap-cakap di kereta cukup lama kemudian pergi makan di Sbarro di 34th Street."

"Kau menceritakan kisahmu?" Wanita itu duduk di tepi meja rapat.

"Tidak. Menurutmu haruskah?"

"Aku tidak tahu," dalihnya, si ahli kencan dengan setelan ruang pengadilan garis-garis. "Situasimu sulit."

"Memang. Tidak gampang berkata 'aku baru saja keluar setelah dipenjara selama dua puluh tahun dan aku masih didakwa, lalu mau kencan denganku?'"

"Kalau aku, lebih baik menunda dulu sementara waktu." Kaki kanannya mengayun ringan.

Hoolian merasa penampilan Debbie tampak lebih baik hari ini. Ia tidak hanya memakai setelan garis-garis dan sepatu pengadilan serta rok yang naik di atas lutut saat menyilangkan kaki, tapi ia juga memakai rias wajah lebih banyak dan maskara. Ia mengenakan blus sutera putih dengan satu kancing teratas membuka, memperlihatkan kalung perak pada tulang selangka yang telanjang. Rambut kuningnya sedikit lebih terang. Mengapa ia tak terlihat seelok ini ketika berada memperjuangkan kasusnya di pengadilan?

"Jadi, menurutmu, apa yang harus kulakukan? Haruskah aku memberitahunya?"

"Ya, Tuhan, Julian, aku tidak tahu. Jika kau langsung memberitahunya bahwa kau dipenjara karena membunuh seorang wanita, pasti kau akan membuatnya cemas. Tapi jika menunggu, seakan-akan kau menyembunyikan sesuatu."

"Yeah. Aku juga berpikir begitu."

"Kurasa aku harus memikirkannya baik-baik. Aku tak menduga itu bakalan terjadi begitu cepat."

Ia mengenakan sepasang kaca mata dan melihat Hoolian tengah mencatat di kertas. "Nah, kau ada urusan apa?"

"Kau bilang aku harus ikut membantu sedikit. Jadi aku akan mencoba beberapa nomor telepon lama yang dihubungi Allison setelah aku meninggalkan apartemennya malam itu."

Kaca mata itu adalah sepasang mata kedua, Hoolian tersadar. Sekali waktu, wanita itu melihat padanya bukan hanya sebagai pengacara tapi juga sebagai seorang wanita, berusaha mencari tahu apa yang orang lain lihat dari dirinya.

"Oh, mestinya aku memberitahumu agar tak perlu repot-repot," kata wanita itu. "Kebanyakan nomor itu sudah diputus.

Aku sudah memeriksanya. Sudah dua puluh tahun berlalu. Hampir semua orang berdiam hanya di satu tempat."

Apakah Debbie sedang mencoba mengatakan bahwa ia yang diam di tempat? Kelepasan bicaranya terasa menyengat sedikit, hingga ia menyadari bahwa Brooklyn bahkan belum memiliki kode pos sendiri ketika dirinya ditahan.

"Ya, tentu, sudah kuduga. Aku hanya berpikir tak ada salahnya mencoba..." Ia membalik-balik halaman, menghindari mata wanita itu sesaat. "Apakah kau menyadari Allison terus-menerus menghubungi dua nomor yang sama setelah aku meninggalkan apartemennya malam itu?"

"Ya, aku juga menyadarinya." Nona A. mengangguk. "Seharusnya kukatakan padamu. Ia menghubungi kakaknya di Manhattan dua kali dan ibunya di Sag Harbor dua kali."

Hoolian menaruh catatannya, sedikit bingung. "Tapi itu bagus. Ya, kan? Membuktikan bahwa ia masih hidup ketika aku pergi."

"Itu juga menunjukkan bahwa ia mungkin cukup marah tentang sesuatu yang terjadi ketika kau di sana dan mungkin ingin bicara pada seseorang mengenai hal itu."

"Oh."

Hoolian menyandarkan badan, dengan rasa sakit tak nyaman di lehernya.

"Dakwaannya bisa saja tetap menyatakan bahwa kau pergi ke bawah, mengambil kunci, dan kembali masuk setelah ia tidur," katanya. "Sama ketika kau masuk diam-diam untuk mencuri album fotonya."

"Apa hubungannya itu dengan semua ini? Mereka tak memenjarakanku dua puluh tahun karena mengambil sebuah album foto."

"Hey, aku ada di pihakmu." Wanita itu menepuk lengannya. "Ingat?"

Hoolian menengadah padanya tak yakin. Pengacaraku. Orang yang mengeluarkanku dari sel. Kau tak akan ada di sini jika bukan berkat dia, Sayang. Di lain pihak, ia pernah menjadi jaksa penuntut. Dan, dalam pikirannya, itu seperti menjadi vampir atau terlibat Mafia. Kau bisa bertingkah seakan kau berubah, tapi kau tak pernah berhenti mencari darah untuk diisap.

"Ada hal lain yang mesti kita fokuskan," katanya, memulai tugas baru. "Apa itu?"

"Tentang siapa yang memiliki kemungkinan melakukan pembunuhan ini. Pengacara pertamamu berusaha melontarkan wacana itu, tetapi ia tak pernah memperoleh alternatif lain yang bisa dikemukakan kepada panel juri."

"Karena ia pemabuk tua penipu yang tak pernah peduli padaku."

"Mungkin saja. Tapi jika kasus ini kembali ke persidangan, kau lebih baik punya jawaban lain." Ia menatap Hoolian dengan tatapan tak mengenakkan. "Ayolah. Kau punya waktu dua puluh tahun untuk memikirkan hal itu."

"Itu bukan tugasku." Hoolian menyeringai singkat, berusaha membuat Debbie terkesan dengan gaya latinnya.

Wajah Debbie melorot turun seperti gaun tak disetrika.

"Dengar, mengapa aku mesti melakukan tugas polisi untuk mereka?" ujar Hoolian. "Aku telah dipenjara sejak 1984. Dari mana aku tahu siapa saja yang ia temui atau orang yang ia ajak bicara?"

"Ya, siapa lagi yang punya kunci ke apartemennya?"

"Di dalam gedung? Aku sudah mengatakannya ratusan kali. Hanya pengelola dan penjaga pintu."

"Apakah mereka menanyai ayahmu tentang di mana ia berada malam itu?"

Pertanyaan itu nyaris menohoknya dari kedua sisi.

"Kenapa kau ingin bicara tentang hal itu?" tanyanya, terluka.

"Detektif itu punya catatan bahwa ayahmu bilang ia sedang kencan dengan seorang wanita bernama Susan Armenio. Kau pernah bertemu dengannya?"

"Tidak." Hoolian melipat dan membuka lagi kedua tangannya. "Kukira ia tak pergi dengannya lagi. Ia tak pernah bersama siapa pun kecuali ibuku."

"Jam berapa ia pulang malam itu? Menurut pengakuannya pada polisi, ia baru pulang sekitar pukul empat tiga puluh pagi. Benarkah itu?"

"Jika ia bilang begitu, maka begitulah. Ia tak pernah berbohong tentang apa pun."

Ia melihat sosok Debbie, membuatnya tak lagi seperti boneka porselen tapi lebih seperti elang. "Tapi, apakah kau melihat atau mendengar ia pulang?"

"Apa yang ingin kau katakan?" Hoolian merasakan jari-jarinya menggulung menjadi kepalan.

"Aku hanya bertanya. Ia pasti sering keluar-masuk apartemen penyewa setiap waktu dengan kuncinya."

"Tidak." Ia menggeleng, seperti anak kecil menolak sendok obat yang disodorkan padanya. "Jangan bicara seperti itu."

"Kenapa tidak?"

"Ia tak punya, kaitan sama sekali dengan gadis itu."

"Dari mana kau tahu?" Debbie menggelengkan kepala ke satu sisi dengan curiga. "Apakah ia pernah membicarakan apa yang ia lakukan malam itu dengan rinci padamu?"

"Ia tak perlu membicarakan hal itu denganku, oke?" kepalannya makin kuat, kukunya menghujam pada bantalan telapak tangan. "Ia benar-benar malaikat. Selalu memastikan aku punya uang dalam tabungan. Naik bus Columbus Circle tiap dua minggu sekali untuk menjengukku di penjara, dengan wanita-wanita jalang yang selalu merokok itu. Jadi, jangan berkata buruk tentangnya."

"Oke, tenanglah." Nona A menepuk udara, berusaha menenangkannya. "Aku hanya mencoba melihat dari sudut berbeda yang mungkin tak kau pertimbangkan."

"Sekarang kau membuatku mempertimbangkannya. Dan tak ada apa-apa di sana. Tutup kecurigaanmu. Kecuali kau ingin aku mencari pengacara lain."

"Ya, kalau begitu kau tak banyak memberi petunjuk untuk kita kerjakan." Bahunya melorot. "Kita tak bisa menemukan portir itu. Bukti DNA masih belum kembali. Dan, kau masih belum punya saksi lain untuk alibimu. Kuberi tahu, aku mulai sedikit gelisah. Kita menempatkan diri terlalu jauh dalam cabang, menolak membuat kesepakatan ketika punya kesempatan. Tak akan mudah untuk kembali lagi sekarang."

Mendengarnya kembali pada kebiasaan berbicara terlalu cepat membuat Hoolian mencangkung sedikit. "Jadi, dapat kabar apa dari kantor Jaksa Wilayah?"

"Tak banyak hari-hari ini. tapi mereka mungkin tengah sibuk dengan pembunuhan lain yang sedang hangat di surat kabar."

"Aku tak tahu tentang itu."

Ia menatapnya aneh. "Gadis dari Mount Sinai." Ia berhenti, menunggu kerlip ingatan. "Aku tak mengerti bagaimana kau bisa tidak tahu. Belakangan beritanya muncul tiap hari di koran."

"Aku bisa ngomong apa?" Ia menutup kuap dengan kepalan. "Aku sibuk, mengerjakan kasus dan mencari sedikit uang."

"Begitu." Matanya terhenti menatap kepalannya, mengamati balutan di sana. "Kau pernah berpikir untuk menuntut supermarket-nya!"

"Ha?"

"Kau bilang tanganmu tersayat ketika bekerja di gudang penyimpanan. Kami berpikir untuk melayangkan tuntutan terhadap mereka."

"Ah, itu tak perlu." Ia menurunkan kepalannya ke samping. "Aku sudah memikirkan hal itu. Manajer memberiku pekerjaan dan aku tidak terus terang padanya. Aku memperoleh ganjaran yang sudah sepatutnya."

Mata Debbie melirik balutan itu, bagaikan lipstik pada kerah baju. Hoolian menyadari semua percakapan ini bak kencan kedua. Wanita itu masih menyelidiki, menguji, dan mencoba memutuskan apakah ia dapat dipercaya. Wanita itu tahu ada hal-hal yang belum ia ceritakan dan akan tiba waktunya ketika ia tak lagi bisa mengabaikan.

"Kau tahu, aku telah berpikir tentang yang kau katakan sebelumnya." Debbie mencopot kaca matanya. "Kupikir ini mungkin terlalu cepat bagimu untuk terlibat dengan seseorang."

"Mengapa?"

"Kau masih diliputi berbagai masalah. Kita masih punya banyak pekerjaan yang mesti dilakukan untuk kasus ini, dan banyak sisi hidupmu yang belum kokoh. Ini bukan waktu yang tepat."

"Lalu menurutmu berapa lama aku harus menunggu?"

"Aku tak tahu." Ia menaikkan dagunya, berpikir. "Mungkin hingga dakwaannya dicabut."

"Yang bisa makan waktu berbulan-bulan atau mungkin bahkan tak pernah. Begitu, kan?" Ia merendahkan suara. "Nona Aaron, aku boleh bicara sesuatu? Aku tak pernah memiliki hubungan nyata dengan seorang wanita. Apa Anda tahu?"

"Tidak. Tentu tidak."

"Maka katakan apa yang mesti kulakukan." Ia meraih lengan baju wanita itu dengan tangannya yang terbalut.

Dengan refleks, Debbie menarik tangannya. Lalu, tersenyum meminta maaf atas reaksinya tersebut.

"Tenanglah, Julian. Kau mungkin bisa menceritakan hal itu padanya perlahan-lahan. Seorang gadis mungkin punya masalahnya sendiri."

28

"Sang putri! Sang putri! Oh, cakarku tersayang! Oh, bulu dan kumisku! Ia akan membunuhku, seperti musang-musang!"

Anak enam tahun itu melarikan diri dari Eileen, menjerit-jerit riang, si kecil lincah berambut merah yang merangkak di balik kelinci perunggu besar dengan ikat pinggang dan jam tangan saku.

'"Penggal kepalanya!' kata sang Ratu." Eileen merayap mendekati. "Penggal kepalanya!"

Adiknya, berusia tiga tahun, juga bocah berambut merah dengan kulit seputih pualam, tertatih-tatih mengejar Eileen, menyentak-nyentak belakang blusnya.

"A-ha!" Eileen berputar. "Potong leher Dormouse itu! Kembalikan ia ke pengadilan! Tindas dia! Cubit! Cabut kumisnya!"

Mungkinkah ini wanita yang sama dengan wanita yang terhuyung-huyung masuk ruang pengadilan kurang dari sebulan lalu dalam keadaan linglung sambil dipapah putranya? Francis berdiri di belakang pagar tanaman yang baru dipangkas, mengamati Eileen saat melompati anak-anak yang menjerit-jerit mengelilingi patung Alice in Wonderland di Central Park.

"Kasihanilah!" Dengan terkikik, anak enam tahun itu berlari di bawah tudung jamur perunggu yang mengubah warna sepatunya yang tergores-gores di bawah sinar matahari siang hari.

"Tidak, tidak!" kata sang Ratu. Eileen menggertakkan gigi dan mencakar ke arah anak itu. "Tak ada kasihan! Hukum lebih dulu! Vonis belakangan!"

Anak itu menyembur keluar melewati patung Mad Hatter, neneknya melonjak-lonjak mengejar dengan sepatu tenis, sambil si kecil menggantung di ujung blusnya, dan berhenti mendadak ketika dilihatnya Francis melangkah keluar dari balik bangku.

"Kau kelihatan cukup gesit, Eileen."

Perlahan-lahan ia berdiri dan menyuruh anak-anak kembali pada pengasuh mereka, seorang gadis kekar yang memakai kaus "Legalkan Itu" yang tengah ngobrol dengan para pengasuh lain.

"Kadang-kadang aku sehat, namun di hari lain tidak," katanya hati-hati. "Hari ini mestinya cukup baik.”

“Kini tidak lagi?"

"Aku selalu gembira menemuimu, Francis, tapi kau tak selalu memiliki kabar baik."

Suaranya masih serak dan kering, khas wanita tua yang membuat orang mudah membayangkan dirinya mengisi perut di bar di Farrell's bersama sejumlah petugas pemadam kebakaran atau menyeret seekor cerpelai di sepanjang lantai marmer pada pembukaan sebuah pertunjukan Broadway.

"Apakah kau membuntutiku ke sini, Francis?"

"Ya," akunya. "Tapi hanya karena kau tak balas menghubungiku."

"Ya, sayang memang. Perilaku depresi maniak memang yang terburuk, bukan begitu?"

Francis menengok ke samping, terkejut mendengar Eileen mendamprat diri sendiri. Mendengar cerita Tom tentang betapa lemah kendalinya pada kenyataan, ia sebetulnya tak berharap banyak hari ini.

"Kopi?" Francis meraih kantung untuk mengambil gelas ekstra yang ia bawa serta. "Aku ingat, kau suka kopi pahit, sepertiku."

"Tidak, terima kasih." Eileen menoleh pada anak-anak itu. "Aku tak butuh apa-apa lagi untuk membuatku terus terjaga di malam hari."

"Masih belum normal tidurmu?"

"Mereka bilang itu efek samping beberapa obat antidepresi ini. Mulut kering, sembelit, hilang nafsu seksual, mikrografia, halusinasi...seolah-olah semua hal itu tak akan membuatmu bertambah depresi. Tapi, tidak, kurasa aku tak pernah menikmati tidur enak dalam, mungkin, dua puluh tahun."

Mereka memperhatikan para bocah merangkak ke puncak jamur dan berbaring menuju pangkuan Alice. Patung itu memiliki ekspresi teduh dengan mata separo tertutup, seolah modelnya baru saja memutuskan beristirahat sejenak di ujung masa remaja.

"Kau tahu, dulu aku selalu membawa Allison ke sini." Ia mengamati cahaya matahari yang menerpa perahu motor di danau dekat sana. "Semua terjadi begitu cepat."

"Memang begitu." Francis mulai menghirup kopinya. "Aku punya satu putra di ketentaraan dan satu lagi sedang kuliah tahun kedua di Smith yang selalu memintaku membacakan Alice in Wonderland sebelum tidur."

"Kayleigh, benar, kan?"

Francis meminum kopi terlalu tergesa dan langit-langit mulutnya serasa terbakar. "Aku kaget kau masih mengingatnya."

Patti baru saja hamil ketika kasus ini dimulai. Ia merasa tak enak mengabarkan bahwa mereka tengah menanti kehadiran jabang bayi pada seorang ibu yang baru kehilangan anaknya.

"Ah." Eileen menepuk samping kepalanya. "Masih ada yang berfungsi di sini. Tak semuanya berkarat."

Francis menyentuhkan ujung lidah pada langit-langit mulutnya yang terbakar tadi, mencermati bebek berlayar melintasi kolam. Ia menghitung detik demi detik hingga tak lagi dapat ia teruskan. Bagaimana mungkin wanita ini masih mengingat nama yang tak pernah ia dengar lagi dalam dua puluh tahun, namun bercerita pada semua orang bahwa putrinya masih hidup?

"Masa itu adalah masa-masa spesial, ketika hanya ada Allison dan aku," katanya. "Memberi makan bebek di taman. Pergi melihat mumi di museum. Kau tak pernah ingin mereka tumbuh dewasa."

"Tom di mana?"

"Oh, itu masa ketika ia sedang di sekolah asrama atau melewatkan musim panas bersama ayahnya. Menyedihkan apa yang terjadi pada anak lelaki jika keluarganya berantakan."

"Ya." Francis mengangguk, teringat keluhan ayahnya tentang beban yang ia tanggung setelah ibunya meninggal.

"Kami dulu suka bermain petak umpet di sekitar patung ini." Eileen memperhatikan cucu-cucunya meluncur dan merangkak di bawah jamur itu, menunggu untuk memulai pengejaran lagi. "Itu kesukaannya. Bahkan ketika kami tinggal di apartemen sederhana tanpa lift di Broadway dan 98th, butuh dua puluh menit bagiku untuk menemukannya. Dan, ia kemudian ternyata berada di keranjang pakaian. Atau di belakang tirai atau di bawah ranjang. Tempat-tempat yang aku yakin sudah kuperiksa. Ia seperti bisa menghilang lalu muncul lagi, seperti kucing Cheshire tanpa senyum."

Bulu di pergelangan tangan Francis terasa menegang. "Eileen?"

"Ia adalah segalanya untukku, Francis. Segalanya. Kami begitu dekat hingga sering ngobrol tiga kali dalam sehari di telepon. Kami bahkan memakai pakaian yang sama. Tapi ia lebih baik dariku. Maksudku, benar-benar lebih baik. Kadang aku merasa iri. Menjadi seorang penulis sungguh tak berharga dibanding menjadi seorang dokter. Setelah ia meninggal, kau tahu berapa banyak orang yang mengirim surat?"

"Tak tahu."

"Hampir seratus. Padahal dia baru setahun setengah di Bellevue. Surat-surat itu datang berbondong-bondong, tentang betapa ia telah menyelamatkan nyawa seseorang atau pekerjaan mereka. Tapi kau tahu apa yang menyedihkan?"

"Apa?"

"Bahwa aku agak membenci orang-orang ini. Maksudku, aku iri pada mereka. Karena tiap menit yang mereka jalani bersamanya adalah setiap menit yang tak kumiliki." Ia berusaha tersenyum, tetapi bibirnya enggan bergerak. "Aku tahu betapa gila kedengarannya."

"Itu bukan masalah," ujar lelaki itu, menghiburnya. "Kau masih menyimpan surat-surat itu?"

"Tidak. Kenapa?"

"Ah, bukan apa-apa. Kami hanya berusaha menyatukan beberapa mata rantai yang terpisah.”

“Bisa kau jelaskan lebih lanjut?

"Pernahkah Allison bercerita dirinya mengalami masalah dengan wanita rekan kerjanya?"

"Ada masalah ya, dalam kasusnya?"

Mata Eileen mendadak bersinar begitu kuat seakan-akan Francis dapat melihat langit di belakang kepala wanita itu.

"Tidak, bukan masalah besar. Kami hanya mencari beberapa inkonsistensi..."

"Karena ia tidak mati," kata Eileen. "Itulah yang kukatakan sejak lama..."

"Oh Tuhan." Francis memperbaiki sabuknya, sudah mengira akan mendengar ucapan itu. "Eileen, aku tahu betapa kau begitu menginginkan situasi itu."

"Tak seorang pun mau mendengarku." Ia menusukkan jarinya pada lelaki itu. "Tapi ia masih di sana. Aku tahu itu..."

Tom benar. Eileen benar-benar telah tergelincir dalam khayalan. Mungkin bakal sulit membujuknya untuk datang ke pemberian kesaksian resmi atau memberi sampel DNA.

"Maksudku, saat kudengar ia telah pergi, aku kehilangan pegangan." Kata-kata itu meluncur deras. "Aku pergi ke apartemennya dan tidur di ranjangnya. Kukenakan piyamanya, hanya agar aku bisa mencium baunya. Aku mengalami seluruh tahapan itu—penyangkalan, kemarahan, memohon, depresi, dan penerimaan—lalu aku mengulangi lagi semuanya. Duka itu benar-benar menghancurkan. Sungguh. Harus selalu mengenakan topeng 'kenormalan' sepanjang waktu. Sungguh melelahkan. Kau harus berhenti dan berpikir bagaimana menjawab tiap kali seseorang bertanya berapa putra yang kumiliki. Satu-satunya saat dalam sehari yang kutunggu-tunggu adalah saat sendirian di kamar mandi. Agar aku bisa berteriak seiring bunyi air mengalir."

Francis mengangguk. Topeng kenormalan. Konsep yang sangat dimengerti seorang anak yang kehilangan ibunya pada usia sembilan tahun atau seorang lelaki yang kehilangan penglihatannya.

"Kau tahu, apa yang aneh, Francis?"

"Apa?"

"Kecemasan itu. Selama bertahun-tahun, aku sering mendapat serangan rasa panik kapan pun aku melewati kafe atau bioskop tempat aku pernah bersamanya. Tapi mengapa? Hal terburuk yang bisa terjadi telah berlalu. Benar, kan? Aku mengubur anakku sendiri. Setelah itu, apa lagi?"

Francis membisu.

"Dan tentu saja, pada akhirnya, adalah rasa bersalah itu."

"Rasa bersalah?"

"Kau terus bertanya pada dirimu sendiri, apa yang demikian buruk yang telah kulakukan? Mengapa kau menghukumku? Itu pasti akibat perbuatanku."

"Aku yakin tak seperti itu duduk perkaranya."

"Jangan berkata begitu, Francis." Wanita itu menatap tajam. "Kau tak bisa membodohiku. Aku ingat bagaimana kau mengatakan sendiri tentang apa yang terjadi pada ibumu..."

"Aku menceritakan hal itu padamu?" Francis mengernyit. Pikirannya saat itu pasti sudah ngawur, menghiburnya terlalu jauh bersama sebotol anggur. Ia menganggap tak mungkin dirinya sampai sejauh itu dengan seseorang, kecuali mungkin di kepolisian.

"Kau sangat baik," ujar wanita itu. "Aku tidak lupa. Tapi kebanyakan orang melanjutkan hidup, bukan?”

“Kurasa demikian."

Ia memperhatikan seorang perempuan tua dengan mantel usang dan kereta belanja mondar-mandir, membawa setumpukan kaleng dan roti baguette panjang yang tampak basi.

"Ya, aku tidak begitu," kata Eileen. "Aku terus terjaga setelah tengah hari dengan makin banyak botol di sekelilingku. Kukira aku sudah gila. Di satu waktu, aku memutuskan untuk bunuh diri, tetapi lalu kusadari aku harus ke Bellevue dulu. Tepat di dekat tempat Allison dulu bekerja."

"Bisa kumengerti betapa hal itu mengganggumu."

"Jadi, tak kuminum pil-pil itu dan masuk ruang gawat darurat."

Wanita bermantel itu mulai menyobek-nyobek rotinya dan melemparkan serpihan-serpihan itu pada burung-burung merpati warna gelap yang bergerombol di sekitar tangga.

"Ya Tuhan, Eileen, aku belum pernah mendengar hal itu," kata Francis. "Tak bisakah kau mengangkat telepon dan menghubungi seseorang?"

"Dan mengatakan apa pada mereka? Bahwa aku bermaksud overdosis Valium dan anggur murah untuk ketiga atau keempat kalinya?" Ia tersenyum, letih oleh drama hidup. "Tom selalu menemukan dan menyeretku dari satu rumah sakit ke rumah sakit lain untuk memompa perutku. Aku bercanda bahwa karena itulah ia tertarik menjual peralatan medis."

Burung-burung berdesakan mencari remah-remah seperti sekelompok pecandu berkelahi demi sejumput ganja.

"Lalu suatu sore aku tengah berada di Fairway dan aku mendengarnya."

"Ia bicara padamu?"

"Aku tepat di depan pohon delima dan ia berkata, 'Tak apa, Bu.' Ia pasti berada tepat di belakangku. Tapi ketika aku berbalik, ia tak ada."

Francis mulai menggeleng-gelengkan kepala. "Eileen, ayolah..."

"Itu Allison, Francis. Seterang aku berdiri di sini, bicara padamu."

Francis merasa tengkoraknya mulai mengembang.

"Kemudian hal itu terjadi lagi, sekitar sebulan setelannya. Ketika aku baru keluar dari Apotek Apthorp di Broadway. Waktu itu, dia mengawasiku dari halte bus di seberang jalan. Saat itu hujan. Ketika aku tiba di halte itu, bus telah berangkat. Ia meninggalkanku berdiri di sana, basah kuyup, menatap dari balik jendela gelap."

"Dan kau yakin itu Allison?"

"Ya, aku tak punya putri lain, setahuku," ujarnya bersahaja, seolah ia yang berpikiran sehat dalam percakapan ini.

Francis menahan diri untuk berkomentar. Satu hal yang ia pelajari dari menjadi detektif adalah menutup mulut namun pikiran tetap terbuka. Kau bisa menghabiskan tujuh jam di dalam kotak, mendengarkan seorang sinting nyerocos tentang gelombang mikro dari Uranus dan Jennifer Lopez melahirkan anak berkepala dua dari benihnya lalu dengan biasa-biasa berkata ia melemparkan senjata yang ia pakai untuk membunuh sepupunya di Jembatan Willis Avenue.

Di lain pihak, ini adalah wanita yang ia pedulikan. Seseorang yang mengingatkannya pada apa yang tak ia miliki dalam hidupnya sendiri. Mendengarnya berceloteh seperti ini, ia membayangkan wanita itu berubah menjadi seseorang seperti wanita tua dengan rotibaguette-nya itu dan barang-barang menyembul dari jaket.

"Di hari yang lain, aku melihatnya di taksi. Ia kadang meneleponku juga. Untuk mendengar suaraku... Tetapi ia tak pernah mengatakan apa-apa—"

"Aku ingin menanyakan sesuatu padamu, Eileen," dengan lembut, ia menyela. "Jika Allison benar-benar masih hidup, mengapa ia berpura-pura mati?"

Eileen terlihat terkejut, seolah-olah pertanyaan itu tak pernah terpikir olehnya.

"Ada masalah di antara kami," katanya pendek.

"Maksudnya?"

"Kau punya anak, Francis? Tak pernahkah mereka ingin menjauh darimu?"

Francis berpikir tentang Francis Jr. yang separo dunia jauhnya, di markas tentara di Korea Selatan. Mendaftar empat bulan setelah peristiwa 9/11 dan tak pernah mengatakan apapun pada sang ayah hingga tiba waktunya berangkat.

"Kita bicara tentang Allison," ia memperingatkan.

"Ada hal-hal dalam hidupnya yang ia tahu tak kusetujui."

"Apa yang sedang kita bicarakan ini?" tanya Francis. "Pacar? Narkotika?"

"Maaf, Francis." Matanya mulai mengabut. "Aku tak bisa bicara padamu tentang ini. Kau tak mungkin mengerti."

"Oh, jangan khawatirkan aku. Aku sudah pernah mendengar segala macam hal."

Kabut itu mulai meleleh dan menetes dari mata Eileen. "Mereka punya rahasia."

"Siapa?"

"Anak-anak." Air mata mengalir di kedua pipinya. "Ketika kecil, mereka tampak begitu terbuka padamu. Tetapi mereka selalu menyembunyikan beberapa bagian dari dirinya sendiri."

"Eileen." Francis mengeluarkan saputangan dari saku dan menyodorkan padanya. "Harus kubilang, apa yang kau ucapkan tak masuk akal. Allison telah meninggal. Kita tak punya pilihan kecuali menerimanya. Hal terbaik yang bisa kita lakukan adalah memastikan bahwa apa yang terjadi padanya tak akan terjadi pada orang lain."

Wanita tua itu hening sesaat untuk merenung, meniup hidung, dan memperhatikan cucu-cucunya yang tengah meluncur dari jamur. Keduanya lelah menunggu neneknya mulai mengejar kembali.

"Itu tak akan terjadi lagi," ucapnya mendadak.

"Apa?"

"Kubilang, kau benar. Aku tak akan membiarkan hal itu terjadi lagi.”

Eileen?"

Awan nimbus bertiup melintasi biru langit itu. Tak berguna, pikir Francis. Perempuan ini mungkin sudah tak dapat diharapkan lagi bantuannya. Burung-burung merpati itu beterbangan, meninggalkan trotoar yang bersih dari remah roti. Hal terbaik yang bisa ia lakukan hari ini adalah memperoleh sampel DNA-nya tanpa memaksa, agar setidaknya mereka bisa menghilangkan kebingungan di laboratorium.

"Kadang kau harus bertindak." Rahangnya terkunci. "Sesuatu tak berhenti hanya karena kau berpura-pura menganggapnya tak terjadi."

"Karena apa yang tak terjadi? Kau membuatku bingung, Eileen."

Eileen melirik, awan itu menjernih sesaat, kembali pada akal sehatnya.

"Maaf, Francis, tapi aku sudah mengabaikan anak-anak." Ia menggeleng, memberikan senyum tipis, dan melipat sapu tangan. "Apa yang kau ingin aku perbuat dengan kenyataan ini?"

29

Suara dengungan di kepala Hoolian yang sudah muncul sejak separo percakapannya dengan Nona A baru mulai mereda ketika ia menoleh dari gerai Starbucks dan melihat gadis keriting waktu itu bersama Les Miserables-nya, duduk di meja tengah dengan kedua kaki menyilang, seperti gerakan balet, melingkari kaki kursi.

Ia mengambil jarak jauh-jauh dari gadis itu selagi kembali menuju Zana di sebelah jendela, sambil menjaga dua cangkir latte dan sepotong caramel cheesecake di atas baki agar tidak jatuh.

"Ah, Lelaki Misterius-ku kembali." Zana menaruh buku sketsa. "Kau mau mengubahku menjadi gadis gendut."

"Mudah-mudahan kau sedang ingin yang manis-manis."

Ia menoleh kembali ke arah gadis berambut keriting itu, berubah pikiran dan setengah berharap ia menyadari bahwa hari ini dirinya hadir di sini bersama wanita lain.

"Nene bakal membunuhku jika ia tahu aku makan ini. Ia akan berkata, 'Zana, ndale! Ndale! Di Amerika, semua orang ingin menjadi sekurus supermodel.' Tapi kuceritakan padanya apa yang dikatakan penyanyi rap tentang wanita montok."

Hoolian menatapnya, bingung.

like big butts and I cannot lie.:..,'" Zana bernyanyi.

Hoolian tersenyum, pura-pura mengetahui lagu yang dimaksud. Ia melewatkan musik pop selama dua puluh tahun, kecuali sepotong-sepotong yang ia dengar dari sel narapidana lain. Semua tren datang dan pergi tanpa meninggalkan bekas satu pun dan ia masih berusaha menyesuaikan diri pada kenyataan bahwa kaset tak lagi dijual.

"Kalau begitu, makanlah. Aku suka wanita yang sedikit berdaging."

Zana menaruh garpu di samping dan tatapannya menyapu wajah Hoolian kembali. "Jadi, tolong, bolehkah aku bertanya sesuatu?"

"Tentu."

"Mengapa kau tak memberi nomor teleponmu?"

"Aku tak tahu." Ia menggerakkan bahu. "Bukankah biasanya lelaki yang menelepon?"

Ia sudah dapat menduga apa yang akan terjadi jika Zana menelepon ke tempat penampungan dan mendapati Cow atau salah satu para kriminal itu di saluran telepon.

"Aku ingin tahu, apakah ada seseorang yang sebaiknya tak berbicara denganku?"

"Ya, teman sekamarku. Ia tak suka menulis pesan."

Mata gadis itu tampak membesar, sementara bagian lain wajahnya mengecil. "Aku tak tahu dirimu."

"Apa yang tak kau tahu?" ujarnya, berusaha membuat nada main-main yang pernah ia dengar dari lelaki lain pada teman wanitanya.

"Bagaimana mungkin pria seusiamu masih punya teman sekamar dan belum menikah?"

"Kukira aku belum bertemu wanita yang tepat."

Gadis itu memanyurikan bibir dan mendongkol. "Kau yakin kau bukan pembohong besar dengan seorang istri dan tujuh anak entah di mana?"

"Tak ada orang lain sejauh yang kutahu. Kau lihat cincin di jariku?"

Ia mengangkat tangannya yang tak terbalut dan berusaha terlihat tanpa dosa. Tapi ia sangat tahu, jika bukan karena masih baru di kota ini, gadis itu akan menanyakan pertanyaan itu lebih awal.

"Tapi di mana kau selama ini sampai tak punya pekerjaan normal atau teman wanita spesial?" tanyanya, mengulang beberapa percakapan mereka sebelumnya. "Kenapa kau belum pernah menonton Nightmare On Elm Street, yang pertama, kedua, ketiga, keempat, kelima, atau keenam?"

"Sudah kukatakan. Ayahku meninggal dan aku ke luar kota belajar ilmu hukum," jawab Hoolian, berpegang teguh pada fakta. "Aku jarang menonton film."

"Masih ada yang belum kau ceritakan padaku." Zana mengarahkan garpunya. "Aku merasakannya dalam zemer-ku."

Hoolian menaruh satu tangan di atas tangan yang lain, menutupi balutan yang mulai terasa lembab sejak ia bicara dengan Nona A.

"Ya, bagaimana denganmu?" tanyanya, berusaha membalikkan pertanyaan. "Kau selalu menanyaiku. Mengapa kau tak punya kekasih?"

"Oh, jangan mulai denganku, tolong," ujarnya. "Aku magnet lelaki yang buruk."

"Hmm, aku, bagaimana?"

"Aku tak tahu." Ia mencubit bibir bawahnya. "Itu masih harus diperiksa."

"Kau tak meninggalkan seseorang di, eh..."

"Kosovo." Zana memutar matanya.

"Ya, apa yang terjadi di sana memangnya?"

"Uh, dasar orang Amerika. Belahan dunia lain tak penting bagi kalian kecuali sebuah pesawat menabrak salah satu gedung kalian."

"Baiklah, aku idiot. Ceritakan padaku."

"Tak seorang pun yang tak ada di sana yang dapat mengerti," ujar Zana.

Hoolian memijit parut di bawah janggutnya, memikirkan hal yang sama saat di penjara sekitar 150 ribu kali. "Coba saja."

"Kau pernah mendengar tentang 'pembersihan etnis', bukan?"

"Oh, ya, tentu saja." Sekali lagi, ia menyadari dirinya tengah berusaha berdiri di atas lumpur kebodohannya sendiri.

"Kau tak akan percaya manusia sanggup melakukan tindakan semacam ini, kecuali dalam buku sejarah. Kami pulang ke rumah suatu hari dan menemukan tetangga kami di dalam, mencuri perhiasan ibu. Mereka membunuh kucing kami dan menyebarkan darahnya di dinding untuk mengusir kami. Itu betul-betul perbuatan binatang."

"Kita semua binatang," ia berkata, menurunkan lengan yang terbalut ke samping dengan gugup.

"Yeah, tentu. Oke. Tentu saja. Ini hanya kebodohan biasa. Tapi berbeda antara tahu dan mengalaminya sendiri."

Hoolian suka cara gadis itu bicara padanya, mata berbinar dan bersemangat, seakan mereka berdua adalah mahasiswa universitas elit.

"Oh, aku pernah melihatnya." Ia mengangkat cangkir latte. "Dari waktu ke waktu."

"Kok bisa? Apakah kau orang Kosovo juga?"

"Bukan, tapi aku pernah....pergi-pergi." Ia menyeruput kopinya. "Kau tahulah."

Ia menyelidiki wajah pria itu dari pinggiran cangkir, memeriksa setiap gerak, untuk melihat apakah ia melewatkan sesuatu saat pertama kali mereka bertemu.

"Kukira orang mampu berbuat apa saja." Hoolian mengusap mulut dengan tisu. "Pada situasi tertentu."

"Tidak, kukira tidak begitu."

"Mengapa?" tanyanya. "Kau tak berpikir seseorang yang pada dasarnya normal dapat terpojok ke satu sudut dan melakukan sesuatu yang pada keadaan normal tak akan mereka lakukan?"

Mata gadis itu berpindah beberapa sentimeter, seolah ia baru menyadari sesuatu di belakangnya.

"Kadang," ia sependapat. "Tetapi ada hal-hal yang semestinya membuat seseorang tak lagi dianggap manusia."

"Seperti apa?"

Hoolian menyadari dirinya tengah sedikit menguji gadis itu, berusaha mencari batas-batasnya. Waktu tak bertepi itu mulai berakhir. Batas-batas tegas terbentuk.

"Para tentara yang melakukan perbuatan ini pada sepupuku," ujarnya. "Mereka bukan manusia."

"Mengapa, apa yang mereka lakukan?"

Sesuatu pada suaranya yang kecil dan bergetar membuat tubuhnya sedikit menegak, seperti seekor anjing yang mendengar kata tulang.

"Mereka menghentikan mobil dan membawa sepupuku, Edona, ke dalam kandang dan dua dari mereka memerkosanya. Menampar wajahnya dan saling bertanya satu sama lain, 'Mengapa kau memperlakukan sundal ini begitu baik?' Lalu mereka keluar dan menembak adik lelaki Edona di kepala, agar tak tumbuh dewasa dan membalas dendam."

"Sungguh biadab. Bajingan."

"Seseorang yang melakukan perbuatan ini benar-benar bukan manusia," ujarnya, wajahnya memucat bahkan meski ia membuatnya seolah hanya sedang bicara tentang seorang pemain sepak bola yang terkena kartu merah. "Hewan bahkan tak seperti ini."

Hoolian merasa dirinya sedang mengarah pada salah satu batas-batas itu.

"Kau pernah mengalami kejadian macam itu?" tanyanya.

"Tidak, tentu tidak." Zana menggelengkan kepala terlalu kuat. "Mereka hanya membakar rumah kami dan memaksa kami berjalan lima hari dalam hujan ke perbatasan. Kami cukup beruntung."

"Kau sebut itu beruntung?"

"Wanita di tenda sebelah mati dan meninggalkan tiga anak," ujarnya. "Kami hanya kehilangan rumah. Itu tak begitu buruk. Kalau dibandingkan."

Ia tak mempercayai pendengarannya. Ia hampir bisa mengendus hal lain yang belum gadis itu ceritakan padanya.

Itu mengambang di udara bagai ozon setelah lontaran halilintar. "Tapi keluargamu yang lain baik-baik saja?"

"Ya. Semua masih utuh. Kenapa kau bertanya?"

"Aku tak tahu. Hanya kedengarannya suaramu berubah."

Hoolian masih menyimpan perasaan itu, naluri penjaranya. Sekali kau disakiti, kau akan mampu melihat luka-luka orang lain. Ia mulai membuka diri tanpa sadar. Sebuah inti telah separo terbuka, sesuatu yang hangat dan rapuh yang dapat diremukkan lelaki itu dengan mudah bak anak burung gereja yang gemetar. Pikiran tentang kekuasaan, dominasi itu, membuatnya gembira namun sekaligus mengganggu. Ia harus berhenti dan bertanya pada diri sendiri apa yang ia inginkan darinya.

"Mungkin lebih baik kita tak membicarakan hal-hal ini." Zana mulai menyobek-nyobek tisunya menjadi bola-bola kecil.

"Maaf. Apakah aku membuatmu kesal?"

"Tidak, hanya itu tak selalu mudah dimengerti. Seperti yang kubilang, kau tak perlu menghapus kesalahan. Gambar saja lagi di atasnya."

"Aku masih belum mengerti."

"Mengapa kau mesti mengerti?" jemarinya membuka di atas buku sketsa, seakan menutupi bagian depan gaunnya. "Mustahil bagi siapa pun."

"Dari mana kau tahu?"

"Apa?"

"Kau terus bicara seperti itu, tapi bagaimana kau tahu?" Hoolian menaruh tangannya yang tak terbalut di atas tangan gadis itu. "Aku mungkin orang yang bisa memahami dirimu."

Ia merasakan denyut ketegangan di bawah telapak tangannya dan kerlip harapan di wajah perempuan itu. Zana ingin mempercayainya, ingin berpikir bahwa lelaki itu adalah seorang yang lebih baik dari sosok sebenarnya.

"Kalau kau membungkamku," ujarnya, "Kau tak akan tahu."

Gadis berambut keriting itu menaruh bukunya, mencuri dengar. Hoolian melempar pandangan tajam, memintanya tak mencampuri urusan orang lain.

"Kau adalah lelaki yang baik." Zana menarik tangannya kembali cepat-cepat dan menyapu sobekan tisu ke dalam telapak tangannya. "Aku khawatir padamu."

"Kenapa?"

"Karena dunia adalah tempat sangat buruk bagi lelaki yang baik."





0 Response to "The Devil's DNA"

Post a Comment

Translate

English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified