Download applikasi baca novel online untuk android disini: DOWNLOAD

The Devil's DNA

Peter Blauner

The Devil's DNA Diterjemahkan dari Slipping Into Darkness

penerjemah, Ella Elviana;

Untuk Peg, Mac, dan Mose

Dengan terimakasih dan rasa hormat pada Rob Mooney dan Michael C. Donnelly, dua yang terbaik

Komentar :

Sebuah kisah kriminal yang memikat dan sangat menegangkan

-------- Kirkus Reviews

Thriller berlatar kota New York terbaik sampai saat ini

-------- The New York Times

Novel kriminal yang menakjubkan

-------- New York Daily News

Kisah misteri yang amat memuaskan

-------- Newsweek

Thriler yang berliku dan tak terduga

-------- Publisher Weekly

Luar biasa...Novel yang sungguh memuaskan

-------- Boston Globe

PROLOG

HANTU-HANTU KELAPARAN

2003

Tak lama setelah melewati pintu gerbang besi dan keluar menuju halaman hijau alam pedesaan Pemakaman Cricklewood, Francis X. Loughlin mendapati ketenangan sore pertengahan Oktober itu dikoyak oleh derak dan rintihan alat pengeruk yang bekerja.

Ia menoleh ke sekeliling, berusaha mencari tahu di mana mereka menggali. Kini tak ada apa-apa lagi di tempat benda itu sebelumnya berada. Sebuah debam logam keras lain membuat sekelompok angsa terbang tinggi di atas makam besar di sisi Kolam Cypress. Ia mengawasi burung-burung itu menghilang dari jarak pandangnya, tepat sebelum ia memperkirakan, satu lagi pertanda terganggunya keserasian alam.

Dua puluh tahun.

Ia mengambil sisi sebelah kiri malaikat granit pertama dan mengikuti suara mesin-mesin di Hemlock Avenue, melewati kebun jambangan berpayung rimbunan daun, rangka kayu peti mati, dan peti-peti mati di atas tanah, tempat orang-orang terkemuka beristirahat tak jauh dari para kuli pelabuhan, biarawati bersebelahan dengan atlet-atlet bintang baseball, Putri India di sebelah Raja Glamor, yang Wafat Alamiah berdampingan dengan mereka yang Mati Mendadak.

Akankah pekerjaannya bertambah mudah jika mereka bisa bicara tentang saat-saat terakhir mereka? Ataukah hiruk-pikuk dan kebingungannya akan terasa terlalu berat? Apa yang terjadi? Hanya begini sajakah? Nomor telepon polisi hanya lelucon. Aku menginginkan lebih dari ini! Ia menghalangi matanya dari terjangan debu. Apakah orang bahkan dapat mendengar suara tinggi lembut kewanita-wanitaan berkata, "Permisi, tapi saya rasa Anda tak boleh berada di sini"!

Ia berjalan lambat-lambat melewati tugu peringatan Perang Saudara, lelaki kulit putih kekar mengenakan mantel panjang tiga perempat, dengan bahu sarung-tinju, dada bidang Etruscan—nama bangsa di peradaban kuno Eropa—dan bentuk perut yang layak dia peroleh di usia empat puluh sembilan. Garis rambutnya telah mundur menuju rerumputan di perbatasan kulit kepala, memperlihatkan sepasang alis jahat pada wajah suci nan bejat. Meski begitu, para wanita masih menyukainya, karena ia bisa menyimak tanpa menyela untuk membual tentang para Raksasa dan karena ia tampak seperti seorang pria yang dapat memperbaiki alat-alat yang rusak dan mengembalikannya dalam keadaan berfungsi tanpa banyak menyumpah dan mengeluh tentang betapa sulit pekerjaannya..

Mungkin belum dua puluh tahun, simpulnya. Tanah belum menampakkan kekuatannya dalam waktu sesingkat itu. Ada bekuan di batu-batu nisan, kepingan es di makam bawah tanah, dan ranting-ranting pohon bagai pembuluh darah rusak di langit putih kosong. Mungkin nanti setelah Thanksgiving.

Terpaan angin tajam menggetarkan pohon mapel, menghembuskan sapuan dedaunan mati ke pergelangan kakinya. Ia merasakan sesuatu mengenai manset celananya dan membungkuk ke bawah meraih lembaran lima puluh dolar di sana. Diambilnya uang itu dan diperiksa, tampak olehnya uang itu tak hanya palsu tapi juga separo terbakar. Hembusan angin lain meniupkan aroma ganjil antara bebek panggang dan dupa yang menyala. Matanya mencari-cari penjelasan, melewati salib batu lalu ke atas bukit, sebelum menemukan satu keluarga Cina tengah berkumpul mengelilingi gundukan, lilin-lilin gaya lama dan bebungaan tersusun di sekitar peti mati tertutup kelambu.

"Hey, Francis X; que pasal" sebuah suara memanggilnya dari belakang. "Bangun! Kau tak lihat kami melambai padamu?"

Ia berbalik dan melihat enam orang berdiri di samping sebuah kuburan yang menganga, tengah menatapnya seolah ia pengantin pria yang muncul dalam keadaan mabuk ke pesta pernikahan. Satu persatu, dikenalinya sebagian besar dari mereka adalah rekan-rekannya dari kantor kejaksaan atau bagian forensik. Di belakang mereka, alat keruk itu masih bekerja, menggali lubang di dekat batu nisan: allison wallis, 1955-1983. Sebuah cakar baja menggapai ke dalam lubang, lalu muncul dengan setumpuk tanah. Cakar itu memutar dan memuntahkan muatannya ke atas papan kayu lapis yang terhampar untuk melindungi rerumputan, bau busuk humus yang menghantam kayu menyembulkan cacing-cacing tanah dari dalam perutnya.

"Hey, hey, Scottie, coba jelaskan." Francis memasang wajah iseng saat mendekat sembari menyapa teknisi video yang sedang memasang tripod di atas parit.

"Tidak seperti biasanya bukan, Francis?" kata Scott Ferguson, seorang lelaki berkuncir penuh lagak dari Unit Bukti Visual yang senang membagi-bagikan kartu nama, berusaha mencari kerja sampingan akhir minggu dengan memfilmkan pernikahan, bar mitzvahs, dan pembaptisan. "Biasanya kalau kita taruh mereka di bawah, mereka tidak keluar-keluar lagi."

"Memang."

Galibnya, ia hanya mendekati Scottie di TKP, saat darah masih melekat di dinding, secara harfiah. "Jadi, ada apa?" kata Scottie. "Aku berusaha bertanya pada Paul, tapi ia bilang ini bagianmu."

"Begitu, ya?"

Francis melongok ke seberang kuburan tempat Paul Raedo, teman lamanya, sang jaksa penuntut, sedang berbincang penuh semangat dengan seorang wanita dari kantor forensik, menunjuk ke arahnya sesekali, tak pelak lagi berusaha menimpakan kesalahan. Empat anggota penggali kubur berdiri dengan seragam hijaunya, bertumpu pada sekop dan beliung, menunggu melakukan pekerjaan yang lebih pasti daripada sekadar menggali-gali peti mati.

"Ya, dia mengatakan satu hal padaku," aku Scottie. "Menurutnya ini kasus paling aneh yang pernah dia alami."

"Jangan percaya omong kosong."

"Ya, aku tak tahu lagi bagaimana kau menyebutnya. Seorang gadis tewas dua puluh tahun lalu dan darahnya muncul pada mayat lain minggu kemarin."

"Sepertinya si brengsek Paul mengatakan cukup banyak padamu." Francis melirik ke kejauhan.

Alat keruk itu menggeram dan bergoyang-goyang pada penahannya sembari mengangkut bongkahan-bongkahan kecil berwarna cokelat dari dalam tanah, menghujani orang-orang di dekatnya dengan debu. Francis merasa sedikit senang melihat Paul terbatuk-batuk sambil mengibas-ngibas kotoran dari kelepak jaketnya.

"Jadi, apa-apaan ini?" tanya Scottie. "Kau mengubur gadis yang salah?"

"Begitulah menurut ibunya," ujar Francis, teringat ketika ia berdiri tepat di tempat yang sama bersama Eileen Wallis; satu tangannya memegangi lengan wanita itu untuk mencegahnya melompat ke dalam, jauh di tahun 1983. "Aku berusaha selalu berpikiran terbuka."

"Lalu bagaimana tentang pemuda yang kau jebloskan ke penjara itu? Menurut Paul, ia sudah dikurung selama dua puluh tahun."

"Memang malang nasibnya, tapi apa yang bisa kau lakukan? Aku masih tetap mengawasinya. Semua orang melakukan sesuatu."

Mesin itu terus menggali. Tiap kerukan logam ke dalam tanah seperti menggali ulu hatinya, sebuah pengingat bahwa ada yang keliru dalam penanda waktunya. Dokter membantumu lahir ke dunia, pengurus pemakaman mengantarmu kembali ke dalam tanah, dan jika terjadi sesuatu yang tidak beres di antara kedua waktu itu, orang akan memanggil polisi. Mungkin ia tak selalu sempurna, tapi jika kau membutuhkan seseorang untuk membawamu dari tempat kejadian perkara (TKP) ke dalam kubur, ia selalu berpikir ia adalah orang yang tepat untuk pekerjaan itu. Ia tidak mesti menghibur orang-orang yang berduka seperti halnya pastor atau petugas pemakaman, ia hanya menjaga semua urusan seadil-adilnya. Tapi kini dirinya merasa seakan-akan telah mengecewakan anak buahnya. Seharusnya ia menjadi wakil mereka, seorang hamba masyarakat, utusan mereka: seorang Politisi untuk Mereka yang Mati. Siapa lagi yang akan memastikan segala kebutuhan mereka terpenuhi? Siapa lagi yang akan memutar pergelangan mereka, menghubungi orang-orang, mengetuk pintu, dan bicara panjang lebar atas nama mereka? Siapa lagi yang akan membela dan berjuang demi orang-orang ini?

"Apa aku mencium sebuah tuntutan di angin atau seseorang sedang membakar dupa?" hidung Scottie mencium-cium.

"Ada pemakaman orang Cina di atas bukit."

Francis menunjuk dengan uang kertas yang separo hangus miliknya ke arah bunyi bel yang berdentang pelan, batang-batang dupa berasap, dan seorang pendeta yang mengenakan jubah kuning memandu keluarga si mati untuk menyanyi bersama.

"Apakah mereka membayar orang untuk datang atau bagaimana?"

"Tidak." Francis memasukkan uang itu ke dalam sakunya. "Itu uang neraka.”

“Apa?"

"Uang neraka. Membelanjakan uang untuk di alam baka. Kalau orang yang meninggal dibiarkan kelaparan, mereka akan kembali dan menghantuimu."

"Mungkin mestinya kau melemparnya ke dalam." Teknisi itu mengangguk saat salah seorang penggali kubur melongok ke bawah ke dalam lubang kubur dan mengacungkan dua jempolnya. "Ada yang bertingkah di sini."

"Mungkin sudah telat untuk itu," kata Francis.

Perlahan-lahan cakar baja itu terangkat dan orang-orang itu turun ke dalam lubang dengan beliung dan sekop, bersiap-siap membersihkan peti itu dari tanah.

BAGIAN 1

DI SEBUAH KAMAR SEMPIT

Waktu terkurung dalam sangkar, di sebuah jam Bulova yang menguning dengan pola batang-batang keperakan tipis di permukaannya.

Anak lelaki itu duduk di ruang kosong yang dibangun dari batu bata, serapuh telur dalam karton, menatap hampa. Jarum jam bergerak dalam sentakan-sentakan kecil di atasnya. Dasi merah putih terpasang di leher dan tas hijau tergeletak di samping. Bulu mata yang panjang mengerjap-ngerjap dan kumis tipisnya yang batu muncul, tak lebih tebal dari rambut di lengan, berkedut di atas bibirnya.

Ia lebih terlihat seperti berumur dua belas tahun daripada tujuh belas. Terlalu lembek untuk melakukan perbuatan kejam yang tengah mereka bicarakan. Sembilan dari empat belas tulang di wajah gadis itu remuk, hanya menyisakan rahang yang hancur. Mereka bahkan tak dapat memakai catatan gigi untuk mengidentifikasi gadis itu: kakak lelakinya mengidentifikasi mayat itu berdasarkan tahi lalat di pahanya. Sang ibu tak kuasa melihatnya. Ada lebam kecil di vagina, tetapi yang paling mengganggu Francis X., karena beberapa alasan, adalah cedera di mata kanan. Sesuatu menusuk kelopak matanya, mengeluarkan cairan mata yang membuat selaput pelanginya berwarna biru.

"Ia sudah menghubungi pengacara?" Francis mengawasi anak itu dari kaca satu arah.

"Belum, tapi ia sedang memikirkannya," kata Sersan Jerry Cronin. "Ia tidak bodoh."

Kuku-kuku jemari anak itu mengetuk-ngetuk meja kayu, seperti irama rumba yang kacau. Saat mendengar gema di ruang kosong itu, ia berhenti dan kembali menatap hampa, pelan-pelan tersadar dirinya tengah diperhatikan. Bahunya yang ramping naik turun dalam blazer merah gelap sekolah parokinya, makin terkulai dengan berlalunya waktu, terlihat jelas dua luka kecil berwarna merah di dagunya.

"Sully berhasil mengorek sesuatu dari anak itu?"

"Kau tahu Sully." Sersan itu mendengus. Ia seorang pria kecil yang tangguh, yang kian lama tampak semakin tangguh. "Pendekatannya kasar. Caranya terlalu keras dan ia mencoba menanamkan ketakutan terhadap Tuhan pada anak itu. Kami sepakat untuk mencari pendekatan lain."

"Jadi apakah kau akan memberikan kuncinya atau menyingkirkanku?"

"Kau akan mendapatkan kuncinya. Dengan syarat."

"Apa itu?"

"Bos-bos besar mengawasi."

Francis melihat para bos berkumpul di koridor kantor bagai gagak-gagak di kabel telepon. Al Barber, kawan ayahnya dari kantor Departemen Utama, berbincang dengan Robert 'Si Turki' McKernan, sang kepala departemen. Tak lagi menjadi orang jalanan, hanya mengurus administrasi. Gerakan refleksnya menumpul, badan melebar, mata mengecil seiring makin mahir mengenali memo-memo peringatan ketimbang senjata tersembunyi.

Francis bertatapan dengan McKernan beberapa saat sebelum pimpinan itu menutup pintu. "Ia tak suka padaku. Si Turki itu."

"Tentu saja ia tak suka padamu," ujar si sersan, mengangkat bahu. "Baru dua tahun pindah dari bagian narkotika, delapan belas bulan mangkir dari kepolisian? Yang benar saja. Kau tak akan berdiri di sini kalau bukan berkat ayahmu. Tapi kubilang padanya, sejujurnya, 'Anak ini detektif hebat.’ Aku memberitahunya bahwa kaulah yang berhasil menangkap si Penembak Harlem Meer dan menyelamatkan gadis kecil itu dari atap. Kubilang, 'Kalau kau menempatkan Francis di satu kamar bersama seseorang, ia akan mengatakan segalanya. Interogator terbaik yang pernah kutemui. Punya bakat alami hebat, seperti Mantle saat memukul bola bisbol atau Pavarotti menyanyi opera. Semua orang membicarakan kehebatan yang pernah ia lakukan.'"

"Lalu ia bilang oke?"

"Boro-boro," jawab si sersan. "Ia tetap tak ingin kau terlibat. Tapi Barber dan aku mengeroyoknya, dan orang tua itu mengatakan hal-hal baik padanya. Kau diberi satu kesempatan."

"Terima kasih."

"Jangan berterima kasih padaku. Kalau membuat ini semua buruk, kau akan membuatku susah, Sobat." Sersan itu menjawil lengannya. "Francis, satu hal lagi."

"Apa?"

"Sully belum pernah membacakan hak-haknya. Para bos sedikit khawatir, dengan umur Julian yang baru tujuh belas dan sebagainya."

"Aku akan mengatur agar ia menandatangani kartu Miranda (Lembar isian yang diberikan polisi pada tersangka berisi peringatan akan hak-hak mereka untuk didampingi pengacara saat diinterogasi)."

Francis bergegas melewatinya, mengambil tas kanvas hitam dan memasang wajah santai. Tidak menampakkan kesan tertekan. Kenapa harus? Hanya karena kejadian ini telah mengisi halaman surat kabar selama dua hari terakhir? Hanya karena walikota dan komisaris polisi telah memberikan konferensi pers? Hanya karena semua orang bertingkah seakan-akan ia, Francis X. Loughlin dari Blackrock Avenue di Bronx, akan bertanggung jawab secara pribadi atas sepertiga pajak kota yang akan dipindahkan ke daerah pinggiran jika si pembunuh tak tertangkap akhir minggu ini? Hanya karena ini kesempatan terbaiknya untuk kembali lagi setelah tugas kecilnya di pusat rehabilitasi? Hanya karena ia telah bertemu dengan keluarga si gadis dan berjanji secara pribadi bahwa ia akan mengusutnya? Hanya karena ayahnya telah meminta maaf atas perbuatannya dan mungkin akan segera tiba di sini, mengawasinya dari belakang?

Ia melangkah menuju ruang interogasi dan pintu menutup di belakangnya dengan suara klek keras yang dingin.

"Sedang baca apa?"

Julian Vega menengadah dari buku yang diambilnya dari tas, seperti anak rusa mengintip dari belakang semak, lalu dengan malu-malu mengangkat sampul buku bergaya futuristik perak dan hitam berjudul ChiJdhood's End.

"Arthur C. Clarke. Apa itu sejenis fiksi ilmiah?"

"Untuk ketiga kalinya aku membaca buku ini." Julian terlihat malu-malu. "Memang isinya tidak hebat, tapi tiap kali kubaca aku bertambah mengerti sedikit-sedikit."

"Isinya tentang apa?" Francis menyantaikan diri duduk di kursi yang lebih tinggi di seberang meja, sadar bahwa para bos sedang berbaris di balik kaca, siap menilainya.

"Para Raja." Suara anak itu terlalu berat untuk tubuhnya yang kurus kering. "Mereka makhluk asing cerdas yang muncul begitu saja dan bertingkah seakan-akan hendak menyelamatkan bumi dari perang dan penyakit, padahal mereka yang mendalangi seluruh peristiwa."

"Selalu ada udang di balik batu, ya?" Francis mengambil buku itu dan mengamati sampul belakangnya. "Aku juga suka membaca. Tapi kebanyakan buku biografi dan sejarah."

"Itu masa lampau. Aku senang membaca tentang hal-hal yang belum terjadi."

"Hmm." Francis membiarkan kalimatnya menggantung selama beberapa detik sebelum menaruh kembali buku itu dan menatap Julian, menegaskan aturan dasar tak tertulis: satu-satunya jalan keluar dari sini adalah lewat aku.

"Jadi, kau tahu mengapa kami meminta kau mampir ke sini hari ini?"

"Ya. Pria tadi memberitahuku. Kau ingin bicara tentang Allison."

Francis mengambil buku catatan kecil berwarna kuning dan menaruhnya di atas meja, di antara mereka. Sejenak mereka berdua sama-sama merasakan kehadiran orang ketiga dalam ruangan tersebut.

Menurut gambaran keluarganya, korban adalah gadis mungil kesayangan semua orang. Berambut merah berantakan dengan mata gelap; bahu ramping berbintik dan senyum berawan. Orang mengerti mengapa ia masih tetap mengenakan kartu pengenal di usia dua puluh tujuh, ia tak terlihat lebih tua daripada para bocah yang ditanganinya di ruang gawat darurat bagian anak-anak. Para dokter dan perawat yang diwawancarai Francis di Bellevue bercerita bahwa ia tak perlu terlalu membungkuk di meja periksa. Semua sepantar dengannya. Tak peduli betapa orang tua pasien menjerit-jerit atau cemas setengah mati di koridor, ia tak pernah menaikkan suara atau terpaksa berbicara manis saat harus menjahit luka atau memperbaiki tulang. Ia ngobrol dengan anak-anak seolah-olah dirinya kawan mereka.

Ia memang tidak seperti Heidi dan bukitnya—Heidi mungkin tidak punya pakaian dalam Dior hitam mahal di lemari baju atau foto Keith Hernandez, pemain bisbol Mets, terpasang di bagian bawah cermin, atau memo gulung di meja sebelah tempat tidur. Namun, Heidi mungkin tak pernah terus tinggal setelah tugasnya menangani anak sebelas tahun pengidap kanker otak selesai, memegangi tangannya dan membacakan bagian tak senonoh dari sebuah majalah humor. Dan tiga hari yang lalu, seseorang menghantamnya dengan palu godam begitu keras sehingga salah satu pasak masuk ke dalam lobus frontal-nya.

"Apa ayahmu tahu kau di sini, bercakap dengan kami?" tanya Francis, tahu anak ini dijemput Sully pada jam makan siang di luar St. Crispin's School di East 90th Street.

Julian menggeleng. "Aku sudah telepon, tapi kadang ia sulit mendengar dering telepon bila sedang bekerja di basement."

"Ia pengawas apartemen, bukan?"

Anak itu memamerkan senyum bangga sesaat. "Ya, ia mengurus segala sesuatunya. Tujuh puluh dua unit apartemen."

"Oke. Tak apa-apa. Ini hanya prosedur resmi yang harus dilakukan pada setiap orang untuk membantu kami. Kau tahu bahwa kau punya hak menyewa pengacara, bla bla bla..."

Francis hampir dapat mendengar bunyi desahan lega dari balik kaca. Hingga beberapa tahun kemarin, ia mungkin tak bisa menanyai anak kelas tiga SMA tanpa didampingi seorang dewasa. Tetapi kemudian si psikopat kecil bernama Willie Bosket membunuh dua penumpang kereta bawah tanah ketika berusia lima belas dan—sim salabim!—hukum baru pun lahir.

"Lalu kami biasanya mengatakan sesuatu seperti," Francis merendahkan suara meniru gaya polisi di film-film, "jika kau tak mampu menyewa pengacara, kami akan menyediakan bantuan hukum untukmu.' Kau mengerti semua omong kosong itu, kan?!. Omong-omong, apa kau sudah menelepon ibumu?"

"Ia sudah meninggal." Julian melipat tangannya di atas meja.

"Benarkah?"

"Ya. Sudah lama sekali. Kanker.”

“Berapa usiamu waktu itu?”

“Empat tahun."

"Aku kehilangan ibuku saat usiaku sembilan," ujar Francis. "Benarkah?"

Francis meletakkan satu tangannya di perut. "Komuni Pertamaku berlangsung di kamar tempat ia dirawat empat minggu sebelum kematiannya...."

Ia duduk kembali dan menunggu. Orang lain punya cara lebih mudah untuk membangun sebuah hubungan. Tapi kadang sebungkus rokok dan setangkup hamburger tak cukup. Gores-gores nyata mesti muncul. Luka psikologis. Kau harus memberikan syok hebat untuk meruntuhkan pertahanan diri seseorang.

"Aku masih berdoa pada Santo Christopher untuk ibuku," anak itu berkata perlahan, merogoh ke bawah kerahnya dan memperlihatkan sebagian rantai yang melingkari leher kepada Francis. "Ayah memberiku sebuah medali."

"Sama." Francis menyodorkan kartu Miranda dengan acuh tak acuh untuk ditandatangani Julian. "Aku tahu bagaimana rasanya. Kau menginginkan sesuatu yang tak seorang pun dapat berikan. Kadang kau bahkan tak tahu apa itu. Kau hanya ingin saja. Tolong tanda tangani di sini."

Bulu mata panjang itu bergerak-gerak dan setitik sinar tampak di sudut mata Julian. Ia mendengus dan menunduk ke arah kartu itu dengan perasaan malu.

"Tapi yang kau angankan selalu sama, kan?" ujar Francis, mengalihkan perhatian. "Kau menginginkan apa yang diinginkan semua orang." Ia mendorong kartu itu. "Tidak apa-apa. Kau tak perlu menuliskan nama lengkapmu. Cukup inisialmu."

Berusaha menjernihkan mata dengan punggung tangan, Julian mencoret-coret di samping tanda peringatan itu, senang melakukan sesuatu yang tampak dewasa dan penting.

"Tampaknya kau cukup baik dalam mengurus dirimu sendiri," kata Francis, menarik perhatian anak itu kembali, khawatir kalau-kalau Julian mulai membaca peringatan itu dengan saksama. "Mestinya kau bertemu denganku saat aku seumur denganmu. Aku betul-betul kacau. Ujung kemeja selalu keluar. Rambut tak pernah kusisir. Sepatu selalu lepas-lepas." Ia tertawa kecil mengingat-ingat. "Kau pernah melakukan hal itu, ketika mesti menuliskan namamu di kaus dengan spidol hitam karena tak ada orang lain untuk membantumu menjahitkan label?"

"Kadang, tapi aku masih punya papi untuk mengurusku. Kami saling mengurus satu sama lain."

Francis mengangguk, mengerti. Duda itu dan anaknya tinggal bersama di basement apartemen tersebut. Anak itu selalu membawakan kotak peralatan ayahnya, dan mencoba-coba kunci inggris atau tang sebelum waktunya.

Ia menaruh kartu Miranda kembali ke saku, misi tercapai. "Nah, Julian. Kau sedang bekerja di apartemen Allison di malam sebelum..."

"Hoo-lian."

"Ha?"

Anak lelaki itu tampak malu. "Orang tuaku memanggilku Joo-lian, bukan Julio, karena mereka tak ingin aku terdengar seperti anak-anak Puerto Rico lain di daerah kami. Tapi kemudian aku mulai diolok-olok di sekolah, Jadi ayah mulai memanggilku Hoolian, sang Hooligan."

"Aku bisa paham." Francis setengah menghormat. "Bisa kau bayangkan bagaimana rasanya sekolah di Regis dengan nama seperti Francis Xavier Loughlin."

Rambut-rambut halus di atas bibir Julian tersentak. "Benarkah? Kau sekolah di Regis?"

"Empat tahun."

"Kurasa kami bertanding sepak bola dengan kalian tahun lalu."

"Mungkin." Francis bercanda dengannya. "Oke. Kau bilang pada Detektif Sullivan bahwa kau berada di apartemen Allison malam sebelumnya."

"Yeah. Toiletnya bermasalah."

Francis seolah mendengar suara batuk dari balik kaca. "Maaf?"

"Tangki toiletnya tak terisi dengan benar. Barangkali bocor. Jadi yang kukerjakan sebetulnya adalah mempererat sendinya. Agar bisa menghasilkan tekanan cukup kuat dan toiletnya bisa menyiram 3 galon air dengan kuat. Kucing pun bisa tersedot di penghisap itu."

"Begitu." Francis mengangguk dan merogoh ke dalam tas kanvas yang dibawanya ke ruangan itu. "Hoolian, aku ingin menanyakan sesuatu. Apakah ini milikmu?"

Ia menjatuhkan tas barang bukti Ziploc itu di atas meja. Tas itu mengempis diikuti bunyi puf lambat, memperlihatkan palu godam baja di dalamnya. Kekusaman tas itu mengaburkan serbuk sidik jari pada pegangan karet hitam dan noda darah kering di puncaknya.

"Sepertinya begitu." Hoolian menggosok-gosok dagu sambil berpikir-pikir. "Pasti kutinggalkan di kamar mandinya. Di mana Anda menemukannya?"

"Di ruang penyimpanan selang kebakaran, di bawah tangga."

"Brengsek. Kok bisa ada di sana? Kukira aku meninggalkannya di kamar mandi itu."

Francis mengangkat bahu, tak memperlihatkan kepuasan bahwa Hoolian baru saja mengakui senjata pembunuhan itu' miliknya. "Jadi, kau mengatakan pada Detektif Sullivan bahwa kau ngobrol dengan Allison beberapa saat setelah selesai memperbaiki toiletnya?"

"Ya, kadang-kadang kami ngobrol. Kami adalah, kau pasti paham, teman."

"Teman?"

"Ya..." Hoolian memperbaiki posisi duduk, sedikit bingung. "Ia...gadis yang baik. Kami sering berbincang-bincang. Ia membantuku menulis esai untuk lamaran kuliahku."

"Oh ya? Ke mana kau melamar?"

"Columbia. Ayah selalu ingin aku kuliah ke sana."

"Bagus." Francis memanyunkan bibirnya. "Aku sendiri cuma lulusan Fordham."

Perlahan-lahan tangan itu turun dari dagunya, sehingga Francis dapat berfokus pada sepasang goresan gelap menyilang.

"Tetap saja, rasanya sedikit aneh untuk daerah kalian," katanya. "Orang-orang di Manhattan biasanya tak kenal tetangganya."

"Oh, aku kenal semua orang." Goresan itu melebar, memperlihatkan retak sedikit. "Aku besar di sana sejak berumur tiga tahun. Ayahku bilang aku seperti walikota, ngobrol dengan orang-orang di lift, keluar masuk dapur mereka, membawakan belanjaan. Allison baru menyewa apartemen di sana sekitar delapan bulan, tapi kami langsung dekat. Kami sama-sama suka Star Trek..."

"Oh ya?"

"Ya, aku pernah datang suatu malam untuk memperbaiki wastafelnya saat ia sedang menonton The Menagerie. Anda tahu episode itu? Itu dua bagian dari episode percobaan, 'The Cage,' dengan Jeffrey Hunter bermain sebagai Kapten Pike. Tahu kan, waktu makhluk-makhluk Talosian dengan kepala bohlam besar menahannya di balik kaca dan memasukkan gambaran-gambaran gila ke dalam kepalanya, berusaha membuatnya tetap tinggal..."

Francis mengangguk, membatin: inilah sebab mengapa beberapa pria tak pernah bercinta.

"Tak banyak wanita yang suka fiksi ilmiah, kan?"

"Aku tak tahu. Sepertinya kakak lelakinya yang menularkan hal itu."

Hoolian melirik ke arah kaca yang terpasang di dinding, berangsur-angsur menyadari bahwa seseorang di balik kaca itu mungkin sedang memperhatikan dirinya.

Mereka sudah pasti tengah berusaha sekuat mungkin melakukan telepati dengan Francis. Meminta padanya untuk mempercepat pekerjaan, untuk segera memperoleh pernyataan terkutuk itu, lalu membungkusnya untuk diserahkan pada walikota dan pihak kepolisian dalam acara bincang-bincang TV, Live at Five. Francis Senior dapat muncul sewaktu-waktu di sana, bersiap menyatakan pendapat tanpa diminta.

"Lalu, jam berapa kau selesai memperbaiki toilet?" tanya Francis, tak memedulikan orang-orang di balik kaca dan bersiap memasang jebakan berikut.

"Sekitar pukul sepuluh. Aku ingat ia sedang menonton Channel Five dan mereka mengucapkan hal yang sama setiap hari. 'Kini pukul jam sepuluh malam. Anda tahu di mana anak-anak Anda?'"

Francis membolak-balik buku catatan dan kecewa melihat jawaban konsisten, sama dengan yang dilontarkan pada Sully. Slogan brengsek tak berguna yang diingat semua orang itu pasti berhasil menyediakan sekitar delapan ratus alibi dalam setahun.

"Berapa lama kau tinggal setelah memperbaiki kebocoran itu?"

"Tak tahu." Hoolian mencubit bahunya. "Sejam, mungkin setengah jam. Sulit dipastikan."

"Mengapa? Bukankah kau bilang berita sudah mulai?"

Jangan menyerang, Francis memperingatkan diri sendiri. Bersabarlah. Ingat: memberi waktu lebih baik daripada menggunakan kekerasan. Waktu lebih baik daripada mesin detektor kebohongan atau saksi mata. Waktu dapat memberat-kanmu. Waktu dapat membebani bahu dan mempermainkan benakmu. Waktu dapat membuatmu lapar dan lemah. Waktu akan memberimu waktu.

"Kami pindah saluran ke MTV dan membuat popcorn," kata Hoolian, hampir tak sadar dengan ucapannya sendiri yang membuat kedudukannya makin goyah. "Ia baru langganan TV kabel. Dan tiap kali video klip Duran Duran muncul, tak lama kemudian pikiran mulai melayang. Lalu setelah beberapa lama, ia mulai mengantuk. Ia harus ada di rumah sakit pukul delapan esok paginya."

Kedengarannya begitu manis, dokter muda cantik ini tertidur di depan TV bersama pemuda tujuh belas tahun yang sedang bergairah di dekatnya.

"Apakah, mungkin, kepalanya menyender di bahumu?"

"Mungkin saja." Sedikit daging tampak bersungguh-sungguh menonjol di antara kedua alis anak itu. "Kenapa kau ingin tahu?"

"Ya, bagi kami, penting mengetahui semua detil secara tepat. Kami mengumpulkan sidik jari, helai-helai rambut. Kami harus mencari tahu barang ini milik siapa agar tidak membuat kesalahan dan mengurung orang yang salah."

Bulu mata panjang itu mengibas. "Aku masih belum mengerti."

"Begini. Aku punya beberapa barang bukti yang sedang kucari penjelasannya. Pintu depan gedung ini dikunci setelah tengah malam. Oke? Satu-satunya yang punya kunci adalah penghuni apartemen dan pengawas gedung. Dan ayahmu sedang keluar malam itu. Jadi, kau yang pegang kunci. Satu-satunya jalan masuk lain adalah dengan memencet bel depan dan membangunkan penjaga pintu. Dan itu tak pernah terjadi. Benar?"

Hoolian mengangguk, menggaruk-garuk bagian dalam pahanya.

"Nah, tak ada tanda-tanda perusakan pintu di apartemen Allison. Tak ada tamu yang memencet bel lewat tengah malam. Kau orang terakhir yang melihatnya malam itu. Gadis itu tak masuk kerja esok paginya. Ayahmu membukakan pintu pada polisi, yang menemukannya pada pukul sepuluh. Tolong jelaskan padaku."

Bagian akhir ini tampaknya mengejutkan Hoolian, bak tohokan dari sisi kiri, muncul titik putih dari kehijauan yang makin lama makin besar hingga menamparnya di mulut. "Kau tak berpikir ayahku ada hubungannya dengan semua ini, kan?"

"Tidak. Aku tidak berpikir begitu."

Mereka sudah memeriksa Osvaldo sebelumnya. Ia pergi kencan malam itu, pergi bersama seorang guru kelas empat bernama Susan Armenio, makan malam di Victor's Cafe, lalu berdansa di Roseland, meninggalkan penjaga pintu tua pemabuk bernama Boodha dan Hoolian mengurus apartemen. Mungkin hal itu membuat si anak marah, Ayahnya mengkhianati ibunya atau apa. Mungkin ia hanya menginginkan perhatian. Orang tak pernah tahu.

"Kalau begitu, aku tak tahu apa yang harus kukatakan." Hoolian meraba goresnya, kebingungan. "Kurasa aku harus menelepon ayahku lagi. Ia mungkin sudah selesai bekerja di basement."

"Oke." Francis berdiri. "Tentu saja, kau boleh menghubunginya, tetapi ada hal lain yang ingin kutanyakan padamu..."

Ia merogoh ke dalam tas di kakinya, mengeluarkan sebuah album foto. Ia menaruhnya di depan Hoolian.

"Kau tahu apa ini, bukan?"

Hoolian menatap buku itu seakan benda itu bernapas.

"Itu album foto Allison Wallis. Kami menemukannya di balik lemari kamar tidurmu."

Ia hampir dapat mendengar bunyi darah mengucur dalam pembuluh anak ini. "Ayahku membolehkan kalian memeriksa kamarku?"

"Ia mengizinkan kami memeriksa apartemenmu pagi ini. Katanya, 'Carilah di mana pun.'"

Francis mengamati mata Hoolian yang seakan membayangkan si pengadu itu. "Ia mengizinkan aku meminjamnya," ujar Hoolian.

"Begini, Hoolian. Aku duduk di sini, bicara padamu sebagai laki-laki. Tidakkah menurutmu kita harus selalu bersikap jujur? Mengapa kau menyembunyikan sesuatu di balik lemari kamarmu jika kau hanya 'meminjamnya'?"

Hoolian tampak kehilangan kemampuan bicara.

"Baiklah." Francis mundur sejenak. "Mari kita permudah situasinya. Kalian saling berteman. Kau suka padanya. Kau memperbaiki toiletnya. Kau berharap ia balas menyukaimu."

"Tidak, tidak seperti itu...."

"Dengar." Francis memutar kursinya ke sisi Hoolian: kini pembicaraan antar lelaki. "Aku juga pernah mengalami hal seperti ini. Aku juga ingin dekat dengan gadis-gadis saat aku seumurmu. Itu wajar. Tiap kali gadis itu melihatmu, bagaikan magnet yang menarik jantungmu dari dada. Kau sekarat dan ia bahkan tak mengetahuinya. Aku benar, bukan?"

Hoolian ragu-ragu, menyentakkan rantai di dalam kerah kemejanya.

"Aku tak. berkata ia sengaja mempermainkanmu, tapi bukankah mungkin ia sengaja mengambil keuntungan darimu, meski sedikit?"

"Tidak. Ia baik."

"Aku tidak berkata ia bukan gadis baik." Francis bangkit dan berdiri di sampingnya. "Tapi bahkan orang baik-baik pun kadang suka mengambil keuntungan. Lihat dari sudut pandang gadis itu. Kau seorang anak yang penuh rasa ingin tahu, yang senang main-main ke sana kapan saja, memperbaiki sesuatu dan menemaninya. Kau adalah bantal tempatnya tertidur. Kau nyaman."

Hoolian mengerjap, seakan dirinya ditampar. O, ya. Francis meneruskan langkahnya. Kau masuk perangkapku, Nak.

"Seolah-olah ia tak tahu betapa ia menginginkanmu."

"Tidak seperti itu." Hoolian menggeleng, bulu matanya mengerdip-ngerdip gugup. "Ia punya pacar."

"O, ya? Siapa namanya? Apakah kau pernah bertemu dengannya?"

"Tidak..."

Francis maju beberapa sentimeter. Ia telah menghabiskan dua belas jam sebelumnya untuk memastikan bahwa Allison tak memiliki pacar tetap sejak tahun terakhir kuliahnya di Amherst. Dan, orang itu, mahasiswa kedokteran penyuka Frisbee bernama Doug Wexler, sedang berada di Guatemala saat ini, menjalankan program vaksinasi anak bersama dua suster Maryknoll.

"Lalu, apa yang terjadi?" tanya Francis. "Kalian bertengkar karena ia mengetahui bahwa kau mengambil album fotonya?"

"Tidak, ia tidak tahu tentang itu," ujar Hoolian terlalu cepat, lalu menyadari apa yang baru saja diakuinya. "Aku bermaksud mengembalikannya. Aku hanya ingin melihat keluarganya seperti apa."

"Lalu apa yang akan kau lakukan, menggunakan kuncimu sendiri untuk masuk ke apartemennya saat ia sedang pergi?" Francis menaruh satu kaki di kursinya yang kosong dan meregang ke depan seperti seorang pelari.

"Kurasa lebih baik aku bicara dengan seorang pengacara."

Dari sudut matanya, Francis melihat pegangan pintu berputar seakan-akan para Raja bersiap memasuki ruangan. Ia menggelengkan kepala, meminta waktu. Jangan hancurkan. Aku hampir dapat. Waktunya untuk menjatuhkan bom.

"Baiklah, kalau begitu, aku ingin bertanya tentang satu hal lagi"

Ia mengambil tas barang bukti kedua dan menjatuhkannya di meja di depan Hoolian. Tas itu mengeluarkan bunyi kempis lalu rubuh, lebih perlahan dari tas sebelumnya yang berisi palu godam, menghembuskan asap tak berbau lewat sebuah lubang kecil. "Kau tahu apa ini, bukan?"

Hoolian menggelengkan kepala, menatap gumpalan kapas kecil berdarah di dalamnya.

"Maksudmu kau tak tahu bagaimana pembalut bekas Allison ditemukan dalam keranjang sampah di kamar mandimu?"

Anak itu tampak lesu seperti tas itu.

"Seseorang pasti menaruhnya di sana," jawabnya lemah.

"Bagaimana caranya?"

"Aku tak tahu. Aku tak pernah melihat barang seperti itu sebelumnya."

Kesabaran Francis habis. "Hoolian, ayolah. Kami punya ahli serologi yang bisa menjelaskan bahwa yang ada di kapas ini adalah darah Allison. Ini adalah bukti yang tak dapat dibantah..."

"Tapi aku mengatakan yang sebenarnya." Bibir anak lelaki itu bergetar. "Aku bahkan takut menyentuh sesuatu seperti itu."

"Jadi bagaimana caranya benda ini ada di kamar mandimu? Bisakah kau jelaskan padaku?"

Hoolian mencengkeram pegangan kursi, seorang pemuda Katolik yang dihadapkan pada bukti nyata dosa-dosanya.

"Pasti kau yang menaruhnya di sana."

"Aku?" Francis menyentuh dadanya, kaget. "Setelah aku memperoleh album foto Allison di lemarimu dan darahnya pada alat milikmu? Apakah itu masuk akal?"

Hoolian memajukan badan sedikit ke depan, bulu matanya mengerjap-ngerjap panik.

"Begini." Francis menyentuh pundak anak itu, seolah ia adalah pastor tempat mengaku dosa. "Ceritakan menurut versimu sendiri. Buat aku mengerti."

Hoolian menggelengkan kepala kembali, berpegang pada penyangkalan samar.

"Kalau begitu aku akan membantumu," kata Francis lembut. "Kau berada di sampingnya di sofa. Mungkin ia membiarkanmu menyentuhnya dan berpura-pura tak menyadarinya. Mungkin ia membiarkanmu mengangkat betisnya. Ia membiarkanmu meraba-raba makin cepat. Lalu tiba-tiba, ia merasa dirinya terlalu baik untukmu. Ia berusaha menghentikanmu di tengah-tengah aksi. Dan, ia tak bisa melakukan hal itu pada lelaki, kan?"

"Aku tak membunuhnya."

"Hoolian, aku memperhatikan sepasang goresan di dagumu. Mereka tepat di depan wajahku."

Hoolian menyentuh lukanya secara tak sadar. Malang baginya, kulitnya berwarna campuran: bukan cokelat keemasan seperti orang-orang Latin, tapi tidak juga merah muda seperti anak-anak kulit putih. Kulitnya berwarna pucat dan tipis di dekat tulang, hampir transparan. Luka yang sembuh dalam sehari pada anak-anak lain sulit hilang pada dirinya.

"Aku terluka saat bercukur. Aku sudah bilang pada detektif yang tadi."

"Julian, lihat aku. Oke? Bukan waktunya lagi bertingkah seperti anak-anak. Kau ingat pembicaraan kita tentang bagaimana kita berdua telah kehilangan ibu?"

Terdengar bunyi di udara seperti air mendidih. Kita hampir berhasil. Sebentar lagi. Ia telah membuktikan bahwa Hoolian adalah pemilik senjata pembunuh itu. Ia berhasil membuat anak itu mengaku bahwa dirinya mencuri album foto gadis itu, yang memperlihatkan bahwa ia terobsesi. Sidik jarinya ada di semua tempat. Dan mereka tinggal mencocokkan darah Julian dengan sampel darah yang mereka peroleh dari bawah kuku gadis itu, untuk melengkapi bukti-bukti. Yang ia butuhkan hanya meraih angka terakhir dan menghilangkan keraguan apapun sebagai pernyataan.

"Jadi kau sadar bahwa ibumu tengah mengawasi dirimu saat ini?"

Hidung Hoolian kembang-kempis. Sudut matanya kembali berkilau. Ada sesuatu di sana.

"Aku beri tahu, kau harus mempertanggungjawabkan perbuatanmu."

Anak itu tetap menggelengkan kepala. "Tapi itu tidak benar."

"Jangan bicara seperti itu terus," cetus Francis, memainkan kartu yang sangat berharga ini. "Kau tahu ibumu ada di sana dan jiwanya terluka karena ia takut kau tak akan berjumpa dengannya di surga."

Anak itu membuka mulut, namun hanya terdengar bunyi elak kering.

"Ia tidak membesarkanmu untuk menjadi seorang pembohong, bukan?"

Anak itu memandang ke sekeliling mencari-cari sesuatu untuk mengusap mata dan membersihkan hidungnya, tapi Francis berteguh hati tak akan membawakan kotak tisu ke ruangan.

"Perasaan itu akan membunuhmu dari dalam. Kau tahu, kau harus meminta ampun."

Hoolian menggigit bibir dan menggelengkan kepala lagi, kali ini dengan geram.

Ayolah. Kau ingin membeberkannya padaku. Semua orang ingin mengaku.

"Kau harus melakukannya, Saudaraku." Francis mencoba memengaruhi. "Kau harus melakukan hal yang benar. Aku memberimu jalan keluar. Aku tahu kau anak yang baik."

Ya, aku temanmu. Siapa lagi yang akan mencoba menaruhmu ke dalam penjara selama sisa hidupmu?

Hoolian mengambil napas dalam-dalam, melipat tangannya di pangkuan, dan menatap punggung jari-jarinya yang kecil dan pucat.

"Yang kuminta darimu hanya bertanggung jawab atas perbuatanmu. Aku hanya minta kau bersikap jantan."

Sendi-sendi itu meremas lebih erat, punggung jari-jari kecil itu memperlihatkan pembuluh-pembuluhnya.

Francis menyilangkan tangan, tersadar dirinya ikut tegang. Hal yang dilupakan para Raja di balik kaca itu adalah tak semuanya omong kosong dan pura-pura. Tentu, kau boleh menjadi sok bijak setelahnya, mencari perhatian pers dan menunjuk "si terdakwa" di pengadilan dan berkata, "Kami Warga Masyarakat mengutukmu dan membuangmu. Pergilah dari pandangan semua laki-laki dan wanita baik-baik yang bebas." Tetapi terkadang, di kamar mungil yang sunyi ini, sebelum para pembela dan tukang ketik masuk, ada waktu sesaat ketika kau hampir berada di pihak si penjahat. Bukan di atasnya atau di seberang sambil menilainya. Tetapi tepat di inti masalah bersamanya, selangkah demi selangkah, setara dengannya, melihat segala sesuatu dari sudut pandang orang itu. Dan, setidaknya di pikiranmu sendiri, melakukan hal yang sama dengan yang ia telah lakukan. Karena jika tidak, mengapa seseorang akan cukup mempercayaimu untuk menceritakan hal terburuk yang pernah dia lakukan? Kau tak pernah dapat menjelaskannya pada orang-orang awam yang baik-baik, normal dan taat hukum. Untuk membuat seseorang menyerah, untuk membuatnya berada di pihakmu, kau harus menempatkan jiwa, kasih sayang, kau harus berpihak pada dirinya— meski hanya untuk sesaat sebelum ia mengakui perbuatan. Lalu setelah itu, tentu saja, kau dapat kembali memunggungi dirinya dengan tenang dan memanfaatkan permohonan sepelenya yang sia-sia agar dipahami untuk menghancurkan hidupnya.

"Jadi, bagaimana menurutmu?" tanyanya, siap meraih pulpen. "Apakah kau akan bersikap jantan atau tidak?"

Anak itu menengadah, seolah baru tersadar dirinya baru saja mencapai akhir masa kanak-kanaknya.

"Kau bilang aku bisa bicara dengan ayahku."

BAGIAN II

ANAK YANG DILUPAKAN DUNIA

2003

2

Hal pertama yang menarik perhatiannya adalah gadis bertato itu.

Ia baru saja keluar dari mobil van saat dilihatnya gadis itu berjalan dengan angkuh di bulevar. Seorang dewi Queens Plaza dengan kulit bak porselen serta rambut merah, dan tubuh yang mengubah sehelai t-shirt Misfits menjadi gaun malam yang elegan. Sebuah sobekan pada kain itu memperlihatkan tali bra hitam yang tersampir di bahu putihnya bagai cakar kucing. Rasa lapar yang telah lama terlupakan mulai bergejolak di tubuhnya. Gadis-gadis tak terlihat semenarik ini ketika ia pergi. Dulu mereka tak begitu ramping dan menggiurkan seperti sekarang. Begitu berani membawa diri dengan menawan, begitu berani cara mereka memandang.

Tetapi kemudian matanya tertuju pada garis hitam yang melingkari otot bisep gadis itu. Tato kawat berduri. Bukan kawat berduri biasa, tetapi pita belati dengan ujung-ujung tajam dari jenis mengerikan yang biasa terdapat di puncak dinding penjara. Ia memandangi tato itu, bertanya-tanya mengapa seseorang dengan kecantikan alami seperti itu—atau lebih tepatnya, mengapa siapa pun yang merdeka—akan melakukan hal ini pada diri sendiri.

Melihat hasrat yang muncul di wajah sang pemuda, gadis itu memeletkan lidah. Sebuah anting-anting emas kecil terlihat di dekat ujung lidahnya bak mutiara di atas beludru merah muda. Ia menjulurkan dan mengibas-ibaskan lidah pada pemuda itu, menikmati keterkejutan dan kekagetan yang ditimbulkannya, lalu meneruskan perjalanan, dengan gaya yang mengingatkan pada seekor anak kucing menjilati krim dari bibirnya.

Lelaki itu merapikan tas besarnya yang terbuat dari handuk tua yang dijahit dengan benang gigi, dan menyentak ikat pinggangnya dengan gugup. Baju lamanya tak lagi muat. Baju kerja berwarna birunya, yang entah bagaimana berhasil bertahan dua puluh tahun di gudang penyimpanan negara, terlalu ketat di bagian leher dan celana Levi’ s-nya terlalu sempit. Bukan hanya dirinya tambah berisi berkat olahraga angkat beban dan mengonsumsi tepung-tepungan, tapi mode pun telah berganti.

Dilihatnya sekelompok remaja lelaki memakai jins begitu rendah hingga saku belakangnya berada di belakang lutut mereka, menikmati makanan Cina di samping Cadillac Escalade. Cahaya ultraviolet melingkari pelek mobil itu, dan sebuah lagu rap dari pengeras suara meneriakkan hal-hal yang tak pernah terlontar dalam lagu-lagu ketika ia pergi.

Ia melepaskan sabuk yang mendadak tampak terlalu tinggi di pinggang, mengingat-ingat dirinya sendiri saat berusia tujuh belas, membeli jeans. ini di sebuah toko di East 86th Street seharga delapan belas dolar. Gadis siswa sekolah swasta yang bekerja sebagai kasir tersenyum malu-malu dan menyelipkan rambutnya di belakang telinga.

Gadis itu kini mungkin telah menikah, dengan tiga orang anak dan dua mobil di rumah pinggiran kota. Dan di sinilah ia sekarang, dua puluh tahun kemudian, terdampar di Queens Plaza saat larut malam musim panas, seorang pria dewasa, dengan otot-otot hasil latihan di penjara, bulu mata tercukur, rambut hitam tebal agak kelabu di pelipis, dan parut seperempat inci di bawah dagu. Itu semua menunjukkan: inilah anak yang tercerabut dari semua kelembutan yang pernah menjadi bagian dirinya.

Sesuatu bernama kereta W, yang dulu belum ada, berderak-derak melewati trotoar yang ditinggikan, menciut-ciut dan memekik seperti teko teh, gerakan jendela-jendela yang berlalu melontarkan cahaya kekuningan kasar di atas jalan.

"Hey, Hooligan, kau butuh tumpangan?"

Timberwolf, seorang pria tinggi besar yang ia kenal saat di Attica, baru saja keluar dari mobil van Dinas Koreksi di belakangnya, dengan tubuh setinggi 190 sentimeter dan berat 127 kilogram, membawa tas kertas cokelat berisi pakaian, t-shirt yang tak terpasang rapi, dan tali sepatu kets tak terikat seperti anak empat tahun menunggu seorang dewasa menafikannya.

"Sepupuku seharusnya menjemput dengan taksi, tapi entahlah," ujar Hoolian, suaranya parau dan berpasir akibat musim dingin yang panjang. "Kurasa ia mungkin salah paham dan mengira aku datang dengan bus Rikers pukul empat tiga puluh. Atau mungkin ia bosan menunggu dan sudah pergi lagi."

"Ya, menunggu memang menyebalkan." T-wolf menguap. "Tujuh tahun kuhabiskan gara-gara menjual dua botol kecil ganja. Dan, mereka menambah enam bulan lagi di Rikers garagara perampokan omong kosong yang tak melibatkanku sama sekali. Berapa lama hukumanmu?”

“Aku dipenjara sejak 1984."

"Gila, itu lebih dari separo umurmu!" T-wolf mencengkeram dadanya. "Kita betul-betul harus mencarikanmu wanita malam ini. Kau datang ke tempat yang tepat."

Ia menunjuk ke seberang jalan ke sebuah "klub lelaki" yang menamakan diri Shenanigans(Berandal) dalam huruf-huruf genit merah rubi, hanya dua blok dari pusat perekrutan Korps Marinir. Namun, pikiran bahwa ia berada dalam jarak sentuh dengan wanita membuat jantung Hoolian mulai berdebar cemas.

"Oh, tidak, terima kasih. Kalau sepupuku datang dan aku tak ada, bagaimana?"

"Kau mungkin belum pernah bersama wanita sungguhan dalam dua puluh tahun, Nak. Mereka bisa menunggu beberapa menit."

"Tidak, sepertinya aku tidak ikut. Aku sudah cukup menyusahkan keluargaku."

"Baiklah, aku mengerti." T-wolf mendesah. "Sepertinya aku harus menjadi penjaga keluargaku. Aku akan memikirkanmu, Sobat."

"Jangan terlalu sering. Lakukan saja apa yang mesti kau lakukan."

"Heh-heh." T-Wolf menggulung bagian atas tasnya. "Kau akan memikirkan tawaran yang kita bicarakan itu, bukan? Keponakanku mungkin butuh beberapa orang di blok ini."

Bagus, pikir Hoolian. Aku mengambil risiko merusak kebebasan ini dengan menjual ganja ke beberapa anak-anak brengsek yang bahkan belum lahir ketika aku dijebloskan ke penjara.

"Aku menyimpan nomor teleponmu." Ia meninju kepalan tangan T-Wolf. "Tetap kuat."

"Peace." T-Wolf mengambil tasnya dan ragu-ragu. "Kau yakin tak akan ikut?"

Hoolian mengerdip dan menggelengkan kepala, mendengar suara gentar itu, dan paham bahwa bahkan hanya dalam waktu tujuh tahun, acara penghitungan kepala, penguncian sel, razia sel mendadak, dan program harian teratur dapat membuat pria bersepatu nomor 14 sekalipun takut menyeberang jalan sendiri.

"Tidak, Sobat, aku harus mengurus diriku sendiri," ujarnya. "Tergelincir sekali saja, aku akan kembali ke sana.”

“Oke, aku mengerti."

Dengan lambat dan enggan, pria besar itu berjalan tergesa-gesa, ujung tali sepatu Nike-nya terseret-seret dan bergesek di trotoar. Sebuah mobil polisi putih-biru meluncur, memperhatikan adegan tadi. Hoolian merasakan kecemasan merayapi kulitnya seperti kaki-kaki serangga di antara rambut-rambut halus di punggung. Apakah mereka tahu ia baru keluar penjara malam itu? Bagaimana jika mereka melihat ia bicara pada T-Wolf? Tidak, itu gila. Mereka tidak memiliki kuasa sejauh itu. Tetap saja. "Tidak boleh bertemu dengan sesama narapidana," kata hakim, saat mengabulkan pengurangan hukumannya. Ia putuskan untuk membuang nomor telepon T-Wolf jika sempat.

Mobil-mobil berseliweran sembarangan. Ia menengok lagi ke arah-jalan, menduga-duga di mana sepupunya, Jessica. Wanita itu belum pernah berkunjung ke penjara dan ia tak yakin masih bisa mengenalinya.

Ia merogoh-rogoh saku mencari uang receh dan menemukan dua keping koin dua puluh lima sen bersama dua lembar dua puluh dolar yang dipinjamkan pengacaranya. Ia akan pergi ke mana jika Jessica tak muncul? Setelah bertahun-tahun bergantung hanya pada kuku tangannya sendiri, permintaan jaminannya tiba-tiba saja dipenuhi hingga ia hampir tak punya waktu untuk bersiap-siap. Pikirnya, ia beruntung menemui hakim sebelum Thanksgiving. Alih-alih begitu, dirinya terburu-buru dibawa ke Rikers dan digiring ke ruang dengar pendapat kecil yang suram, hampir takjub ketika mendengar Hakim Santiago mempersingkat masa hukuman meski memperingatkan bahwa tuduhannya masih berlaku.

Dengan perut keroncongan gara-gara perjalanan panjang naik van, ia menemukan telepon umum dengan kata-kata "Puji Tuhan" dan "Hisap Anu" tergores di lapisan pelat logamnya dan memasukkan koin dua puluh lima sen.

"Yo, yo, yo, 'pa kabar, ini Jes-sick-ahh," terdengar suara sepupunya itu setelah dering keempat, suara bayi menangis di belakangnya. "Aku tak bisa menerima telepon sekarang. Hey, diam, brengsek, aku lagi bicara. Kau tahu aturannya, kan? Tunggu hingga bunyitip."

Ia menaruh kembali telepon dengan lembut. Mungkin sepupunya lupa atau memutuskan tak ingin terlibat. Bisakah ia menyalahkannya? Jessica baru berusia—berapa, ya— mungkin tiga atau empat tahun ketika dirinya pergi.

Ia menengadah, mengawasi kereta berangkat dari stasiun, roda-rodanya mengeluarkan bunyi anggun dari gesekan antar baja dan percik membutakan di atas rel yang membuat seluruh sistem sarafnya bergidik.

"Hey, kau." Mobil polisi yang tadi melewatinya kini menepi di pinggir jalan. Seorang sersan muda dengan kemeja biru dengan potongan rambut cepak melongokkan kepala keluar jendela. "Kau pikir apa yang sedang kau lakukan?"

Hoolian merasa lumpuh melihat seragam itu. "Tidak apa-apa."

"Lakukan di tempat lain. Aku muak melihatmu."

Ia mengangkat tas, tak ingin mencari masalah secepat ini, dan mulai berjalan naik ke stasiun, kakinya kaku dan kejang gara-gara terlipat terus di kursi sempit di sebelah T-Wolf. Ia berhenti di tengah tangga, berusaha menenangkan diri. Setelah bertahun-tahun berada di bawah sinar merah lampu penjara yang menjemukan, lampu neon mencolok di jalan besar itu hampir membakar matanya bak bahan bakar jet. buat mereka yang tahu bahwa ada sesuatu di luar sana, demikian bunyi iklan cenayang berwarna merah menyala di gedung sebelah. pernahkah anda terluka? sebuah iklan pengacara bertanya di pintu samping warna hijau emerald.

"Bisa minta karcis?" ia berhenti di bilik petugas karcis.

"Apa?" Wanita berkulit gelap di belakang kaca itu mengenakan kaus MTA dan perhiasan India mungil berkilauan di tengah-tengah keningnya.

"Saya bilang, bolehkah saya minta karcis?"

"Sudah tak dijual lagi di sini, Sayang," katanya. "Ke mana saja kau?"

Wajahnya menghangat. Ia seorang pria yang menghabiskan waktu bertahun-tahun mempelajari undang-undang dan menulis surat-surat resmi kepada para hakim pengadilan banding dari perpustakaan penjara, namun tak tahu cara naik kereta.

"Aku pergi lama." Ia mengambil uang dua puluh dolar, bersiap meminta belas kasihan wanita itu. "Apa yang mesti kulakukan?"

Sebentuk pengertian membuat perhiasan di alisnya terangkat. Ia mengambil uang itu, menekan beberapa tombol, dan menjatuhkan kartu emas ke dalam cekungan di bawah sekat tanpa melihat padanya.

"Pastikan garis-garisnya menghadap ke arah yang benar."

Hoolian mengangguk penuh syukur dan bergegas melewati pagar berputar dan menuju peron, bertanya-tanya bagaimana ia akan melewati sepuluh menit berikutnya. Tak ada yang memberitahunya semua bakal sesulit ini. Ia menunduk ke bawah dari pagar pembatas ke arah jalan. Sesaat ia goyah karena pusing. T-Wolf dan empat orang lain yang baru saja keluar dari van berada di luar Shenanigans, terlalu bersemangat dan bertengkar terlalu gaduh, saling berteriak dan mengadu dada seolah-olah mereka lebih tertarik untuk menarik perhatian polisi daripada masuk ke klub.

"Oke! Oke! Pertanyaanku, siapa yang menaruh omong kosong itu di otakmu? Oke? Siapa yang menaruh omong kosong itu di pikiranmu?"

Bukan aku, Hoolian berkata pada diri sendiri, sambil berpaling. Beberapa dari mereka tak sabar untuk kembali lagi ke penjara. Bagi mereka terlalu sulit hidup di luar penjara, harus membuat keputusan-keputusan sendiri sepanjang waktu. Tapi ia merasa sudah cukup di sana. Ia tak bisa bertahan sehari lebih lama lagi dari deraan kebosanan, stres berkepanjangan, perasaan dikontrol total namun sekaligus tak aman. Menengok ke arah rel, dalam sinar kereta yang kian dekat, ia melihat sekumpulan penghuni penjara yang ribut dan kacau, memenuhi aula asrama Auburn, tiba-tiba mereda saat seorang pria kecil bernama Pellet jatuh ke lantai, dengan sebilah batang sepanjang 35 sentimeter tertanam begitu dalam di leher hingga ujungnya menembus pita suara.

Gemuruh itu mereda dan kereta pun berhenti, pintu membuka di hadapannya. Hoolian melongok sekali ke dalam. Setelah melihat tak ada coret-coretan di sana, ia bertanya-tanya apakah ini hanya gerbong contoh yang tak ditujukan bagi pelanggan umum.

Tapi, lalu didengarnya seruan familier kondektur, menyerukan nama tempat perhentian berikutnya. Haruskah ia naik? Satu-satunya alamat Jessica yang ia punya adalah kompleks perumahan Surfside Gardens di Coney Island. Ia memutuskan cepat-cepat dan melangkah maju, berpikir akan mencoba menelepon lagi setelah sampai di sana. Pintu itu menutup di belakangnya dan dia pun duduk, membuat suara decit di salah satu ujung bangku, berusaha tak mengambil terlalu banyak tempat meski tak ada seorang pun di dekatnya. Sebuah iklan di kejauhan berbunyi, Paus itu telah Kembali, Kehidupan Laut telah Kembali Dibuka. Memangnya ke mana si paus pergi? Bagaimana ia bertahan hidup saat pergi?

Kereta itu bergoyang, melewati langsiran rel datar dan lebar yang diterangi lampu dan gudang-gudang yang gelap. Di sebelah kanan, langit Manhattan berkilau bagaikan puncak-puncak dan lembah seperangkat grafis dari kaca dan beton.

Di Times Square, satu keluarga Yahudi Hasidik naik. Si ayah mengenakan kemeja putih, dengan janggut seperti rambut kemaluan berwarna kemerahan, topi fedora hitam, dan seorang bayi perempuan tertidur lengket di dadanya seperti monyet kecil. Istrinya yang hamil besar bergoyang-goyang di belakang dengan wig dan gaun panjang kelabu, bersama dua anak laki-laki kecil lengkap dengan kopiah Yahudi dan rambut ikal di samping.

Hoolian meraba medali Santo Christopher dan berpikir tentang ayahnya: seorang duda berusia tiga puluh lima tahun, yang menaruh seluruh harapan pada dirinya, yang berharap Hoolian memenuhi impian yang ia lupakan ketika keluar dari sekolah dan bekerja sebagai petugas kebersihan di Upper East Side. Ayahnya, yang membaca Cervantes dan Dickens di lift servis dan membawakan belanjaan para wanita ke dapur mereka demi tip hari Natal. Ayahnya, yang mengajari cara mendempul bak mandi, mendorongnya untuk melamar ke Universitas Columbia lewat jalur beasiswa, dan selalu berbicara bahasa Inggris di rumah.

Ia ingat bahwa seminggu sebelum dia pergi ke pusat kota, saat ayahnya mengumpulkan sanak keluarga yang masih tersisa untuk pesta perpisahan di Orchard Beach. Orang-orang Puerto Rico Riveria, begitu Papi menyebutnya. Ray Barretto dan Fania All-Stars mengalun di kotak musik. Tia-nya, Miriam, membawa babi panggang. Pamannya memancing bebatuan dengan galah bambu. Sepupu-sepupunya dari Bayamon bermain voli. Dan, ayahnya mengangkat gelas separo kosong berisi cerveza kala matahari tenggelam dan berkata, "Untuk anakku, mi hijo. Aku tak pernah berhenti mempercayaimu, muchacho. Aku tak akan pernah putus asa membawamu pulang."

Ini adalah sebuah kesedihan tak terperi. Hoolian merasa mendidih dan dengan geram menghapus air mata. Dasar brengsek kau, maricon kecil. Kenapa kau menangis sekarang? Ia menghantamkan tinju pada bangku di sebelahnya, teringat bagaimana para penjaga di Attica menolak permohonannya untuk pergi ke acara pemakaman Papi. Keparat-keparat itu tak pernah memberinya kesempatan. Ia meninju bangku itu sekali lagi dan menggigit bibir bawahnya keras-keras, sadar bahwa kesedihan seperti itu suatu hari kelak akan berangsur menghilang sejalan waktu atau sebaliknya, menghancurkan dirinya berkeping-keping.

Si Hasid dan keluarganya memperhatikannya dengan sedih.

"Apa kalian lihat-lihat?" ujarnya.

Di perhentian selanjutnya, mereka pindah ke gerbong lain.

Hoolian melipat tangan di dada dan membenamkan dagu, menunduk dalam-dalam hingga kereta keluar dari terowongan panjang dan naik melewati atap-atap di Borough Park. Jadi, begini cara orang hidup sekarang: jemuran pakaian di sepanjang daerah kumuh, sehelai bendera Amerika menghias sebuah balkon, seorang pelari kesepian di larut malam di treadmill sasana kebugaran, dan sepasang orang tua menonton televisi di sofa. Ia merasa seperti Charlton Heston di akhir film Planet of the Apes, menatap Patung Liberty separo terkubur di pasir dan menyadari dunia yang ia kenal telah mati.

Sudah jam satu lewat ketika ia akhirnya sampai di Stillwell Avenue, perhentian terakhir kota itu. Hotel Terminal terbentang di seberang jalan. Ia menuruni tangga dan menyeberang ke Surf Avenue, mencari telepon umum untuk menghubungi Jessica kembali. Mereka, Orang-Orang Malam Putus Asa berkumpul di depan Nathan's dan Popeyes Chicken; Yang Tak Tahu Harus Ke Mana, Para Pelarian, Yang Tak Pergi Jauh-jauh, Yang Kelebihan Obat dan Yang Tak Tertangani, Orang-Orang Hina dan orang-orang yang berkumpul di dekat mereka hanya agar mereka punya seseorang untuk diremehkan. Dan, tentu saja, para Pengelana seperti dirinya: lelaki-lelaki yang berjalan di trotoar dengan hati-hati, berusaha tak menabrak orang lain, meminta maaf dengan tergesa sambil menengadah menatap langit, berusaha mengira-ngira waktu dan jarak, dan tetap tak percaya bahwa mereka akhirnya benar-benar keluar.

Terasa olehnya desir angin dingin dari laut dan samar-samar teringat olehnya sebuah bilik di jalan bertahun-tahun silam.

Bulan membakar lubang putih keabuan di langit hitam. Kincir Putar mulai memadamkan lampu-lampu. Ia berjalan menuju pantai dan anehnya merasa pantai itu tenang dan berwarna emas pudar dalam cahaya remang-remang Dermaga Steeplechase. Sebuah net voli terkulai turun, seolah menunggu para pemain tiba. Laut terus bergulung—luas, kekal, dan tak acuh—bibir tipis ombak berubah menjadi keriting kecil saat menghempas pantai.

Ia berdiri di atas rel, berusaha mencari cakrawala, ingat dirinya pernah berjalan mundur ke arah ombak bersama ayahnya saat Hari Baptis St. John terakhir itu. Hampir dua puluh tahun sejak terakhir kali ia melihat laut. Ia sudah lupa betapa laut bisa membuatnya merasa begitu kecil dan remeh, seakan dirinya hanya partikel kecil yang mengambang di atas permukaan bola mata raksasa yang dapat melihat segala sesuatu. Betapa kecil arti saat-saat kebebasan ini dalam putaran-putaran peristiwa. Dulu ia terbiasa menipu diri sendiri bahwa Tuhan memiliki rencana untuknya, sebuah rancangan yang berangsur-angsur akan tersingkap sendiri dan entah bagaimana membenarkan semua hal yang pernah dilewatinya. Tetapi kini ada pengingat bahwa Tuhan sibuk. Tuhan mungkin sedang menghitung ombak dan menamai awan. Tuhan berpikir tentang kepiting batu di Laut Atlantik atau gelembung sabun di Kairo. Tuhan berpikir tentang infeksi bakteri di Peru dan kumbang tahi di Afrika, tentang pola cuaca di Lingkar Pasifik dan jejak-jejak ban di sebelah lapangan parkir Taconic. Tuhan tak punya waktu untuk memikirkan penghuni penjara bernomor 01H5446 dalam sistem pemasyarakatan negara bagian New York.

Jadi, Hoolian berteriak kepada angin. Teriakan pahit yang berkata, Aku masih di sini, pada bulan, bintang, Kincir Putar, keluarga Hasid di kereta bawah tanah, sel kosong yang dia tinggalkan, penjaga penjara, para narapidana dengan hukuman seumur hidup, parahacker dan waria, mahkamah tertinggi, para kriminal, bayangan ibu dan ayahnya, anak-anak yang tak sempat lahir dari sperma yang terbuang, dan ya, Sang Mesin Waktu itu sendiri. Dengan segala hormat, bunyi seperti itu mestinya bisa mendorong ombak kembali ke laut dan menyisakan rumput laut mati terombang-ambing di sepanjang garis pantai.

Namun saat itu semua selesai, laut masih tetap di sana, mengumpulkan bebatuan dan membuyarkan mereka dengan acak, menimbulkan bunyi bak tepuk tangan, lamat-lamat.

3

Tepat sehari sebelum Hari Buruh, Francis sadar dirinya buluh waktu dua kali lebih lama untuk menemukan kunci mobil. Selasa pagi, ia akhirnya menyerah dan memenuhi janji pertemuan dengan dokter yang telah ia tunda-tunda sejak sebelum Natal tahun lalu.

Ia melangkah ke dalam ruangan putih kecil itu, membuka topi bisbol dengan huruf X di depan—cendera mata dari film Spike Lee yang pernah ia urus masalah keamanannya bertahun-tahun silam—dan meletakkan dagu di atas sebuah pelat logam. Lewat lensa mata kanan ia melihat sesuatu yang tampak seperti TV cembung, namun entah bagaimana, suasananya seperti akan melakukan pengakuan dosa. Pada dinding cekung di belakangnya, empat lampu putih kecil muncul dalam formasi berlian di bawah suar kuning yang menyilaukan.

Si teknisi, seorang Rusia pirang murung berahang besar, menaruh alat hitung di tangannya. "Nanti akan ada kilatan cahaya di sekitar target itu, terang atau buram," ujarnya dengan aksen yang membuat Francis ingin menghubungi Amnesty International. "Setiap kali Anda melihat cahaya, tekan alat picunya. Usahakan buat mata Anda tetap diam."

"Tak masalah."

Namun segera setelah uji jarak pandang dimulai, ia makin tegang dan telapak tangannya berkeringat. Beberapa kilatan cahaya tampak jelas, sejelas moncong api di lorong gelap. Yang lain hanya berupa utas samar, yang sangat jauh ke tepi hingga ia harus bertanya dua kali pada dirinya sendiri apakah ia memang melihat kilatan itu.

"Jangan hanya menekan picunya," perintah wanita itu. "Konsentrasi."

Francis berusaha lagi. Sudah lebih dari satu tahun sejak ia tak lagi dapat menggunakan senjata, dan gerak refleksnya juga tak seperti dulu lagi. Kawan-kawan latihan menembaknya menelepon tiap beberapa minggu sekali, bertanya-tanya kapan ia akan kembali ke tempat latihan di Rodman's Neck. Ia terlambat menekan pemicu setengah detik, sadar jika dalam tembak-menembak sungguhan ia mungkin sudah mati.

"Horasho, dokter ingin bicara denganmu." Teknisi itu memencet tombol untuk mencetak hasil uji tersebut. Ia seolah-olah berkata, "Horror show," tapi Francis lalu teringat itu adalah kata dalam bahasa Rusia yang berarti bagus.

"Ya, Anda memperoleh nilai sangat baik dalam uji fiksasi," kata Dr. Fricdan sambil berjalan menuju mang periksa beberapa menit kemudian dengan membawa sebuah grafik. Ia seorang pria gemuk berusia lima puluhan'yang mulai mengalami kebotakan, mengenakan kaca mata bergagang hitam, mata mengedip-ngedip cepat, dan yang paling tampak jelas bagi Francis, adalah rambut-rambut yang lupa dicukur di dekat tenggorokannya.

"Anda sangat baik menjaga mata untuk tetap diam. Teknisi bilang Anda tak banyak berkedip. Kebanyakan orang akan berkedip atau mereka akan kekeringan."

"Kekeringan sudah pasti bukan masalah saya," Francis berputar di kursinya, menunggu.

"Meski begitu, masalahnya ada pada hasil positif dan negatif Anda yang tidak tepat."

"Mengapa?" Bintik-bintik kecil dan bayangan sisa-sisa tes tadi masih timbul tenggelam di depan matanya.

"Anda memijit target tiga kali pada saat tak ada apa-apa di sana. Dan Anda melewatkan enam persen kilatan yang memang muncul."

Francis menggosok-gosok kelopak mata dan mengangkat bahu, seolah hal itu tak penting. "Apa lagi?"

"Ambang zona abu-abu Anda...juga tak baik."

"Jadi, apa artinya?"

Dokter itu menekan buku-buku jari ke bawah rahangnya dan menyerahkan hasil cetakan komputer itu. "Silakan baca sendiri."

Awalnya, grafik itu tampak seperti lembar kerja matematika anak kelas tujuh yang tak berbahaya. Serangkaian bintik-bintik berbentuk kue pai, masing-masing dengan cincin hitam membayangi sekelilingnya. Berapa persen grafik yang terisi, anak-anak? Tetapi makin lama Francis menatapnya, makin banyak kata-kata yang terbaca olehnya seperti garis batas, simpangan pola, dan yang paling tak menyenangkan, bintik buta. Ia mulai menyadari, bayangan pada bentuk-bentuk itu lebih mirip serangkaian gerhana matahari daripada persoalan geometri. Dan, jauh di persendian serta otot-ototnya, ia mulai merasa sedikit ngeri.

"Apa ini?" Ia menyerahkan kembali lembaran itu.

"Itu menunjukkan kemampuan Anda membedakan gradasi halus antara terang dan gelap. Dari apa yang Anda katakan, Anda sudah beberapa lama mengalami kesulitan melihat di malam hari."

"Butuh waktu agak lama bagi mata saya untuk beradaptasi," aku Francis.

"Anda ingin diagnosisnya atau tidak?”

“Untuk itulah saya ke sini.”

“Baik."

Dokter itu menatap tajam, menunggu untuk memastikan jika Francis mengerti. "Ini adalah penyakit genetik yang memengaruhi retina di belakang mata Anda..."

"Ya..."

"Penyakit ini melumpuhkan sel-sel fotoreseptor di sepanjang tepi luar..."

Francis mengangguk-angguk, sesekali mengeluarkan suara "hmmm" dan "ooh," yang menunjukkan ketertarikan dan keterkejutan pada waktu-waktu yang tepat, meski bintik-bintik dan bayangan di depan matanya tetap muncul-muncul seperti kembang api.

"Penglihatan sentral Anda akan tetap bertahan beberapa lama....”

“Oke."

"Tetapi penglihatan tepi Anda kian menyempit seperti terowongan." Suara dokter itu makin menjauh, seolah terdengar dari ujung koridor yang panjang. "Penglihatan malam Anda juga makin memburuk..."

"Lalu setelah itu?"

Wajah si dokter tampak mengabur, seakan-akan Francis melihatnya lewat lensa mata ikan. "Saya khawatir kami tak punya obat untuk ini."

"Jadi, saya akan buta," ia mendengar dirinya mengatakan hal yang sudah jelas, berpura-pura dirinya tak sedang mengalami peristiwa roh keluar dari tubuh sekarang ini.

"Ya, buta menurut hukum," dokter mengoreksi ucapannya. "Kebanyakan orang masih bisa melihat sesuatu, bahkan jika hanya bayangan sekalipun."

Semua benda di ruangan itu mendadak seperti ditarik menjauh darinya, huruf E besar di puncak grafik menyusut menjadi E kecil.

"Saya menduga, Anda telah menemui spesialis lain tentang hal ini dalam beberapa.tahun belakangan," ujar dokter itu ramah.

"Saya sudah menduga, memang ada yang tak beres," aku Francis, berusaha melawan rasa mual. "Tapi saya selalu menganggap hal itu akan berangsur-angsur hilang."

Hanya bagian terakhir yang bohong. Dalam hatinya, ia selalu tahu sesuatu sepertinya akan terjadi, bahkan sebelum ia mulai tersandung benda-benda beberapa tahun terakhir ini. Ia merasakan kegelapan membayanginya sejak kecil, mengintip di tepian, muncul di sana-sini. Ia telah berusaha mengabaikannya, mengatakan pada dirinya sendiri bahwa ia telah berhasil melewati masa-masa kritis dan kondisi nyaris buta. Tapi, di lubuk hati, ia tahu kondisi buruk itu tak pernah benar-benar hilang. Kegelapan itu selalu menumpuk dan menekan di balik pintu, berusaha untuk masuk.

"Jadi, berapa lama lagi sebelum saya buta?"

"Tergantung dari cara pewarisannya." Dr. Friedan membuka kelopak mata Francis seraya menyorotkan lampu pen ke matanya. "Beberapa orang dapat terus memfungsikan matanya selama bertahun-tahun. Kebanyakan butuh bantuan tongkat pada usia empat puluh. Mungkin tak akan terjadi apa-apa dalam waktu dekat."

"Saya punya paman, seorang deputi inspektur, yang memerlukan anjing pemandu saat usianya enam puluh."

"Seorang polisi?" Dokter itu membuka kelopak mata Francis lebih lebar.

"Saudara laki-laki ibu saya."

"Ya, mungkin dari sana Anda mewarisinya."

Francis merasa otot-otot matanya menegang berusaha menutup diri dari cahaya yang menyoroti tepi korneanya, sinar laser putih menyilaukan yang makin kuat hingga seperti sebuah jari yang menusuk ke kantung mata.

"Baiklah, cukup."

Ia panik dan menarik tubuhnya, tak mampu melihat apa-apa selama beberapa detik. Beginilah kelak rasanya nanti. Tercerabut dari deretan orang-orang sehat, normal dan mandiri, dan terusir ke tempat lain. Mereka akan memasanginya sebutan baru; mereka akan mengasingkan dirinya ke wilayah khusus penderita cacat di pertandingan bola dan bus-bus; mereka akan membantu mencarikannya tempat duduk dan mungkin mengulurkan headphone di bioskop; mereka akan memberinya pamflet dan rekaman untuk mendengarkan apa yang akan membantunya pada "masa penyesuaian"; mereka akan membuat hidupnya makin terbatas dan terbatas hingga ia tak dapat berfungsi lagi.

"Boleh saya tanya apa pekerjaan Anda, Pak. Loughlin?" Dokter itu memeriksa berkasnya. "Sepertinya di sini tak ada informasi asuransi."

"Saya bekerja di bidang telemarketing," jawabnya otomatis.

"Benarkah?" Dokter itu memandang tajam dari atas kacamatanya. "Saya tidak menyangka:”

“Saya punya kemampuan membujuk.”

“Ya, baguslah pekerjaan Anda bukan sopir truk.”

“Mengapa?"

"Hilangnya daya penglihatan malam hari dapat muncul begitu saja. Hal itu dapat muncul dengan sangat perlahan atau sangat cepat. Anda harus memonitornya secara hati-hati."

"Anda berkata saya harus berhenti menyetir?"

"Saya hanya mengatakan bahwa Anda harus mengukur kemampuan diri sendiri." Dokter menyangga mata kiri Francis untuk pemeriksaan lebih lengkap. "Di hari-hari tertentu Anda akan melihat lebih jelas ketimbang hari-hari lain. Tapi saya yakin Anda tak ingin membahayakan jiwa orang lain atau mendapat kecelakaan akibat situasi ini."

"Tidak. Tentu saja tidak."

Francis memejamkan kedua mata. Seumur hidup ia selalu menjadi si Panutan. Orang pertama yang dicari untuk menyerbu sarang gembong narkotika atau bersaksi di sidang pembunuhan. Biarkan Francis yang menyelesaikan. Ia pecandu adrenalin. Tapi, kini inderanya yang lain mulai ikut menghilang. Ujung jarinya mulai kebas, lidahnya terasa tebal, pendengarannya seperti timah selama beberapa detik, seperti transistor tua kehilangan sinyal.

"Anda butuh waktu?" Dokter itu menepikan lembar grafik.

"Tidak. Kenapa?"

"Ini situasi yang berat. Kebanyakan orang akan sangat emosional."

Ia memandang melewati pundak si dokter ke arah poster sayatan menyilang bola mata, hadiah dari salah satu pabrik obat besar. Dari samping, gambar itu mirip ikan mas koki dengan lusinan garis berlabel mencuat keluar darinya. Selaput pelangi, kornea, anterior chamber, sklera, bulbar sheath, ciliary zonules. Namun makin lama dia menatap, bentuk itu makin berubah. Bola itu menyinarkan bentuk oranye yang lebih cerah lalu bergetar dan memburam seperti matahari yang siap meledak.

Jadi, inilah masa depannya. Satu hari nanti cahaya akan padam dan dunia benda tak akan pernah lagi dia lihat.

Ia mulai berpikir tentang segala sesuatu yang belum pernah dia lihat sebelumnya. Bagaimana dengan tur mobil ke Irlandia yang pernah ia janjikan pada Patti? Giant's Causeway. Kastil-kastil di Dunluce dan Carrickfergus. Rumah leluhur (konon) di County Armagh yang selalu disebut-sebut ayahnya. Apakah kelak ia harus selalu berada di kursi penumpang?

Lupakan Irlandia. Bagaimana kalau hanya jalan-jalan ke toko cat di Court Street? Ia harus pergi ke sana sekarang dan melihat roda warnanya, memeriksa setiap corak sebelum ambang zona kelabunya makin rendah. Atau, mungkin ia pergi saja ke Belmont, duduk di bangku, menonton kuda-kuda berpacu. Hanya untuk melihat gerakan otot di bawah kulit hewan itu, menonton naik turun panggulnya dan berusaha membekukan setengah detik saat keempat kuku itu meninggalkan tanah.

Ia teringat pamannya yang menyimak pertandingan Yonkers di dapur apartemen tua di Perempatan Bronx. Tongkat tersandar di dinding, membiarkan anjing pemandunya menjilati remah-remah yang jatuh dari piringnya, selalu berteriak memanggil Francis atau saudara perempuannya untuk mencarikan rokok meski benda itu hanya berjarak lima belas sentimeter dari sikunya.

Aku tak mau seperti itu, pikir Francis. Lebih baik kumakan pistolku. Ia tak akan mengatakan kepada siapa pun, setidaknya untuk sekarang. Dengan enam bulan sebelum promosi menjadi Detektif Kelas Satu dan bonus lima ribu dolar setahun untuk pensiunnya? Persetan dengan kursus Braille dan audiobook. Persetan anjing pemandu dan tongkat logam itu. Persetan bertanya pada orang asing untuk membantu menyeberang jalan. Ia baik-baik saja. Daya fiksasinya masih baik.

"Saya akan baik-baik saja," ujarnya.

"Benarkah?"

"Tentu. Saya sudah terbiasa mendengar kabar buruk dalam menjalani pekerjaan."

"Begitukah?" Dokter itu melengkungkan alis. "Telemarketing pasti lebih berat daripada yang saya duga."

4

"Dahulu kala, di negeri antah berantah..."

Hoolian berbaring seperti jam mati di sofa cokelat butut milik sepupunya, Jessica, sebentar-sebentar mengedut tak sadar, sementara TV meraung dan sekelompok anak gadis kecil bermain baju-bajuan di sekelilingnya.

"Saya, Aku, sang penguasa kegelapan pengubah wujud, melepaskan kejahatan tak terperi.... "

Ia membuka mata dan dilihatnya setan berwujud kartun di layar TV dengan kepala garpu dan bibir hijau, lalu setengah tertidur kembali selama beberapa detik sementara narator berkisah tentang seorang kesatria muda pemberani yang maju dengan pedang ajaib untuk menantangnya.

Saat separo terjaga, ia melihat dirinya sebagai si samurai muda dengan pedang, di tangga menuju ruang pengadilan memakai jubah putih, rambutnya digelung di belakang dengan sumpit, pedangnya melengkung dan berkilat-kilat saat ia ayun-ayunkan ke arah musuh-musuh dari segala penjuru.

"Kini si PANDIR ingin kembali ke masa lalu... "

Ia mengayunkan pedang lagi dan kerumunan itu menahan napas dan menyingkir, dan tampaklah seorang gadis terbujur di hadapannya, tercekik dan memperlihatkan luka sayatan di tenggorokan. Jantungnya menciut saat ia melihat ayahnya di belakang gadis itu, memangku kepalanya dan berbisik dalam bahasa Spanyol, berusaha menenangkan. Lo siento, muchacha. Lo siento.

Ia mendadak duduk dan menemukan seorang gadis kecil berwajah boneka pucat dan rambut hitam kusut menatapnya, melambai-lambaikan sebuah gagang di depan wajahnya.

"Maukah kau membantuku?"

Ia menggosok-gosok mata, berusaha tersadar sepenuhnya, rasa kantuk masih terasa perih di sudut matanya. Sudah hampir pukul empat pagi saat ia akhirnya berhasil menghubungi Jessica di telepon, yang baru saja pulang dari klub, dan berjalan menuju apartemennya. Bahkan di waktu selarut itu, ia menyadari ada sesuatu yang tak beres. Cuaca terlalu panas dan tak ada apa-apa di kulkas kecuali satu karton jus jeruk Tropicana, beberapa wadah masakan Cina, dan setengah galon susu yang sudah tiga hari lewat dari tanggal kedaluwarsa. Lima orang tinggal di sana berbagi satu kamar tidur sesak, dengan dinding berjamur, cermin pecah dan kursi toilet yang retak-retak. Sebelum menunjukkan sofa pada Hoolian, Jessica memberitahunya agar jangan ribut karena ia memiliki tiga "bayi," yang membutuhkan tidur. Tetapi kini setelah melihat berkeliling, ia juga tahu bahwa sepupunya itu juga memiliki barang-barang modern: TV layar lebar, sebuah Playstation 2, dan stereo high-tech dengan lampu merah kecil yang berubah dari piramida menjadi garis datar seiring irama.

"Aku tak bisa mencapai belakangnya." Gadis itu melambai-lambaikan benda yang kemudian ia kenali sebagai sisir di depan wajahnya. "Tolong sisirkan untukku."

Hoolian menutupi tubuhnya dengan selimut dan melihat jam di atas TV sudah menunjukkan hampir pukul delapan. Mengapa anak-anak ini tidak pergi ke sekolah?

"Ayolah!” Gadis itu menyorongkan sisir itu padanya dengan tidak sabar, usianya baru enam tahun dan terbiasa meminta perhatian.

Ia ragu-ragu, tak yakin dirinya dapat mempercayai dirinya sendiri.

"Cepatlah!"

Ia mengambil sisir itu dan dilihatnya gadis itu berputar seperti seorang diva meminta penata gaya agar membuatnya terlihat cantik. Gumpalan rumput laut kusut berkilauan berada di depan matanya. Rasanya salah merusak keadaan itu, ikut campur dengan semarak alami liar yang memikatnya.

"Kau kenapa?" Gadis kecil itu melirik dari balik bahunya. "Kau bodoh?"

Dengan lembut Hoolian meletakkan sisir itu ke belakang kepala si gadis dan perlahan-lahan menyapukannya ke bawah, sadar tak pernah melakukan hal ini sebelumnya.

"Lebih keras lagi," paksa gadis kecil itu.

Hoolian celingak-celinguk, berharap Jessica atau pacarnya, si "Eksklusif akan keluar kamar dan mengambil alih pekerjaan ini. Tapi pintu kamar mereka masih tertutup dan dua gadis kecil lainnya bermain baju-bajuan, mengabaikan mereka dan bergerak-gerak seperti jago disko.

Hoolian menarik sikat di antara helai-helai rambut gelap itu, menyadari anak ini sudah cukup lama tak mencuci rambut.

"Aw! Terlalu keras!"

Ia memajukan badan, berkonsentrasi, menahan tubuh si anak dengan satu tangan di atas tempurung kepala kecilnya yang rapuh, perlahan-lahan menyapukan sisir sikat itu ke bagian rambut yang lain, karena yang paling kusut sudah selesai.

"Nah, sekarang kau sudah bisa!"

Hoolian menemukan iramanya, mulai terbiasa dengan luncuran jemarinya. Payah, di sinilah aku sekarang, menyikat rambut anak kecil. Tanpa merasa segan-segan, anak itu duduk di atas lututnya. Hoolian meraih selimut untuk menutupi badannya, khawatir sentuhan halus tubuh yang hangat akan membuatnya ereksi.

Tentu saja, kemudian pintu kamar terbuka dan si Eksklusif keluar, pria berpantat menonjol dengan rambut dikepang kecil-kecil dan badan seperti jari tengah yang tak terpasang baik, menggaruk-garuk selangkangannya yang memakai Jockeys gaya bikini warnabeige. Hoolian sudah separo menduga, pria itu memakai heroin, dengan peralatan yang tergeletak sembarangan. Ia menatap Hoolian dan gadis kecil di pangkuannya dengan sorot mata keledai sambil melangkah menuju dapur, mengambil jus jeruk dari kulkas, dan langsung minum dari karton. Jelas sekali bukan tipe orang yang disukai Hoolian. Pria itu meninggalkan karton di meja dapur dan berjalan melewati mereka berdua, tangannya di belakang sekarang, menggaruk-garuk pantat sambil menyeka mulut.

"Itu ayahmu?" tanya Hoolian, menyentuh gadis di pangkuannya.

"Bukan, Eksklusif milik adik bayiku. Tapi ia cemburuan."

Beberapa menit kemudian Jessica muncul, dengan mata mengantuk memakai T-shirt bertuliskan "Tiipac 4 ever", celana dalam merah muda, dan cat kuku cokelat.

Ia memberi isyarat pada Hoolian untuk ikut ke dapur dan menunduk menatap lantai. "Sepertinya kau tak bisa tinggal di sini malam ini."

"Kenapa!" Ia melihat gadis kecil yang rambutnya ia sisir tadi mengintip dari balik kulkas.

"Kau tahulah." Jessica mengepit ibu jari kakinya di antara dua jemari kaki lain. "Pacarku tak ingin kau dekat-dekat anak-anak saat ini."

"Kau membelaku, kan?"

"Ia sangat protektif." Ia melihat sekilas ke arah pintu kamar, dan si Eksklusif muncul kembali. "Ia tak suka pria lain menyentuh anak-anakku."

Hoolian menatap bolak-balik mereka berdua, berusaha menebak siapa yang memegang kekuasaan di sini. "Tapi, ibumu dan ibuku bersaudara. Bagaimana tentang la familia?"

"Aku minta maaf." Jessica menengadah dengan mata sedih. "Tolong jangan membenciku karena ini."

"Jangan membencimu? Kau sepupuku dan kau mengusirku ke jalan. Maumu aku bagaimana, berterima kasih?"

"Yo, man." Eksklusif datang ke dapur. "Ada masalah apa?"

"Tidak ada masalah. Aku hanya bicara dengan sepupuku.”

“Ia memintamu pergi. Jadi, kenapa kau tak angkat kaki saja?"

"Kenapa kau tak urus saja dirimu sendiri?" Hoolian mengepalkan tangan. "Hah?"

Dilihatnya Eksklusif terpaku dan melirik ke belakang ke arah kamar tidur, seolah ia meletakkan keberaniannya di sana.

Pandangan sepupunya yang ikut menengok ke kamar tidur mencuatkan perasaan tak beres yang memberi tahu Hoolian bahwa mungkin ada sepucuk pistol di bawah ranjang.

"Oh, lupakan sajalah, man," Hoolian melambai dengan jijik. "Kalian tak cukup berharga untuk membuatku kena masalah."

Ia kembali ke sofa dan mulai memasukkan pakaian ke tas besarnya, sadar gadis kecil itu masih mengikutinya, seakan-akan kulitnya sedang meleleh, memperlihatkan monster memalukan yang gemetar di baliknya, tertutupi oleh luka-luka yang mengucur dan bisul-bisul yang pecah.

"Yo, lagi pula aku tak tahu apa yang kau harapkan," kata Jessica. "Kau mungkin la familia, tapi aku bahkan tak kenal dirimu."

5

Daftar menu di kedai kopi itu lebih panjang ketimbang novel War and Peace karya Leo Tolstoy, dan Francis mulai merasa lelah menyimak setiap halaman dengan kolom-kolom kecil menu harian spesial, soups du jour, panekuk sarapan, makan siang bungkus, roti lapis tiga tumpuk, pencuci mulut ala Yunani, dan kudapan Meksiko. Ya ampun, mereka benar-benar serius membuat daftar ini! Beberapa tahun lagi ia mungkin butuh seseorang untuk membacakan semua ini. Ia menutup buku berlapis kulit itu dengan enggan dan melirik pelayan.

"Berikan saja dua telur orak-arik dengan sepotong daging goreng, dan secangkir kopi," ujar Francis, menentang peringatan Dr. Friedan tentang efek makanan terhadap penyakitnya. "Dan, aku minta muffin Inggris dengan mentega di atasnya."

Di seberang meja, Paul Raedo, asisten Jaksa Wilayah Manhattan, memesan sepiring wortel mentah dan secangkir teh Lipton dengan madu dan gula yang berlimpah.

"Dan, mereka bilang aku orang aneh," gerutu Francis.

Paul, yang meminta Francis sarapan bersamanya di dekat City Hall, adalah tanda seru berwujud manusia, peluru kendali ramping dengan setelan Brooks Brothers. Francis terkadang merasa sedikit tak nyaman saat berdiskusi mengenai kasus dengannya di kantor, karena Paul kadang tiba-tiba suka meloncat-loncat seperti anak hiperaktif, rambutnya yang dipotong pendek mencuat seperti ratusan ujung kuku kecil menembus tempurung kepala, suspender hitam mencengkeram pundaknya seperti borgol. Tapi, ia cukup oke untuk berada di sampingnya dalam barikade, selalu siap mengambil tanggung jawab, setuju bicara tawar-menawar pembelaan hanya setelah ia menunjukkan gerbang neraka pada si terdakwa. Lebih dari sekali Francis menolak ikut Pertandingan Poker Pembantaian Selasa Malam milik Paul yang terkenal itu, beranggapan bahwa setelah hari panjang dan brutal di bagian pembunuhan, hal terakhir yang ia butuhkan adalah uangnya tetap aman.

"Bagaimana keadaan anak-anak?" tanya Paul, menutup daftar menu bersampul kulit dengan suara pfft bisu dan menyodorkannya pada pelayan seperti berkas rahasia.

"Ah, kau tahulah, saling bersaing untuk melihat siapa yang bisa lebih dulu membuat ayahnya kena serangan jantung."

Francis agak khawatir dengan orang-orang tak berkeluarga yang bertanya terlalu banyak tentang anak-anaknya, menganggap mereka punya agenda tersendiri. Dengan para wanita, hal itu hanya kadang-kadang disentil di balik senyum, seperti penembak jitu di belakang bayangan. Namun dengan para lelaki yang bukan kawan dekat, itu lebih seperti manipulasi terang-terangan, sebuah upaya mencuri hati untuk meminta kompensasi.

"Bukankah kau punya seorang putra yang menjadi tentara?" kerling Paul.

"Baru saja dikirim ke Korea," jawab Francis sambil menggerutu, berusaha mengabaikan pikiran yang membuat perutnya terasa disusupi air es. "Putriku yang mewarisi otak ibunya.

Belajar genetika di Smith. Katanya ia ingin membuktikan mata rantai yang hilang dari ayahnya."

Seringai nakal tersungging di wajah Paul. Lelaki itu tak mengerti apa-apa. Ia belum pernah berniat menikah. Pacar-pacarnya tampak hanya datang dan pergi tiap enam bulan. Alih-alih menyiapkan pernikahan, kebanyakan waktu luangnya dihabiskan untuk merencanakan liburan olahraga ekstrem. Sementara orang lain menaruh foto-foto keluarga di kantor, ia memilih memajang foto-foto saat bersepeda melintasi Rusia, paralayang di Yucatan, dan bodysurfing di Maui. Dan, untuk alasan yang tak pernah ia jelaskan pada Francis, sebuah rudal harpoon menggantung di dinding, di seberang potret Jenderal George Armstrong Custer dengan seragam tentara Union-nya.

"Jadi, ada apa, Paul?" katanya, ingin fokus pada hal lain selain kesehatan atau putranya sejenak.

"Kurasa kau sudah dengar tentang Julian Vega."

"Ada apa dengannya?"

"Ya, kau tahu ia telah bertahun-tahun mengirim surat dari penjara, mengungkit tentang keterangan saksi dan apakah pengacaranya kompeten..."

Sejak meninggalkan ruang kerja dokter tadi pagi, Francis sudah menyiapkan berbagai topik untuk mengalihkan pembicaraan, seperti berita TV kabel, tetapi kini semua mendadak hilang.

"Mungkin aku pernah dengar dari seseorang," jawabnya.

"Hakim Santiago mengizinkan dengar pendapat di Rikers kemarin. Dan setelah mendengarkan semua argumen Julian tentang isu kompetensi, ia memutuskan untuk mengabulkan mosi itu dan membatalkan dakwaan."

Pelayan datang membawa kopi pesanan.

"Mana pemanis Sweet 'n Lcw-nya?" ujar Francis, menoleh ke sana-kemari. "Bukankah restoran seharusnya selalu menyediakan Sweet 'n Low di meja?"

Tiba-tiba saja, penting sekali baginya semua hal berada di tempat yang tepat.

"Tepat di sebelahmu, Francis." Paul menunjuk tepi meja, tepat di luar bidang pandangnya. "Dengar, memang sudah pasti kau akan jengkel."

"Yang benar saja, Paulie." Ia mengambil bungkusan merah muda. "Kenapa tak seorang pun yang berpikir untuk memberitahuku lebih awal?"

"Apa yang akan kau katakan di sidang dengar pendapat itu? Masalah ini tak ada hubungannya denganmu. Hampir semua yang dibela Ralph Figueroa ingin kasusnya dibuka kembali, karena ia bajingan bejat pecandu obat yang tak pernah mengatakan pada klien bahwa mereka punya hak untuk membela diri. Mereka telah menjatuhkan empat kasusnya dalam tiga bulan terakhir ini."

"Dan, tak pernahkah terpikir olehmu bahwa aku mungkin keberatan dengan hal ini? Apa kau lupa kejadian di Auburn beberapa tahun lalu?"

"Hakim diyakinkan bahwa itu murni kecelakaan. Aku menaruh catatan tentang hal itu dalam berkas kasus."

"Sebuah kecelakaan?" Francis menyobek bungkusan itu dan menuangkan sakarin di atas permukaan hitam yang mengilat. "Keparat kecil itu berusaha memukulku di lorong. Untung penjaga ikut melerai, karena aku sudah siap menghajarnya."

Pintar sekali kau bicara, Helen Keller. Saat itu, Francis sama sekali tidak siap. Terburu-buru berjalan di lorong dalam sebuah kunjungan untuk menemui calon Kepala Inspektur saat ia mendengar suara di luar ruang makan, memanggil, "Hey, embustero." Ia tak melihat Hoolian melangkah keluar dari barisan dan menyergapnya hingga hampir terlambat. Lagi pula ia tak akan mengenali anak itu, setelah bertahun-tahun tak berjumpa.

"Mestinya aku punya kesempatan bersaksi tentang kasus itu dalam dengar pendapat," omel Francis, menyadari semua itu mestinya merupakan pertanda awal.

"Hakim berketetapan bahwa Hoolian sudah dihukum enam puluh hari dikucilkan gara-gara tindakan tersebut dan itu sudah cukup baginya." Paul mengangkat telapak tangan saat pelayan datang membawakan teh dan wortel mentahnya. "Tak ada kontak fisik. Jadi aku tak tahu apa lagi yang kau harapkan."

"Jadi, begitu saja? Ia sudah bebas? Mungkin orang kantor mentraktirnya sarapan juga?"

"Ayolah, Francis, jangan begitu."

"Jangan begitu apa?"

Pelayan itu meletakkan telur dan daging goreng pesanannya. "Jangan ingatkan kau? Itu yang ingin kau katakan?”

“Bukan..."

"Memangnya kau ingat kasus ini? Kau sudah mengecek berkasnya lagi?"

"Ya, aku sudah memeriksa berkasnya, Francis." Paul mengambil wortel dan menggigitnya separo.

"Jadi, tentu kau ingat tentang anak dan botol itu?"

"Apa?"

"Anak dengan botol susu terkutuk terikat mengelilingi lehernya."

Paul berhenti mengunyah dan menggeser wortel setengah hancur dari satu sisi mulutnya ke sisi yang lain. "Apa yang kau bicarakan?"

"Kau tak ingat?"

"Tolong jelaskan."

Francis melirik sekeliling restoran, sadar dirinya menoleh terlalu lebar dari lazimnya untuk melihat jika ada yang mendengarkan. "Kau ingat gadis itu bekerja di Bellevue, kan?" ia merendahkan suara.

"Ya. Ia bekerja di ruang gawat darurat bagian anak-anak."

"Benar. Persis. Nah, tepat sebelum libur Natal sebelum ia meninggal, guru kelas tiga dari salah satu sekolah sok elit di kota pergi ke ruang gawat darurat bersama anak lelaki berusia delapan tahun. Ayahnya seorang pengacara terkenal di sebuah firma terhormat. Tapi guru itu tahu ada sesuatu yang tak beres, karena anak itu menderita lebam-lebam di kedua lengan dan nyeri hebat di perut setiap hari. Allison mulai memeriksa anak itu dan mendapati bahwa anak itu mempunyai benjolan besar di bawah kausnya. Dan ketika diangkat, ternyata ada botol bayi terikat di sekeliling lehernya."

"Aku masih tak ingat," Paul menghisap gerahamnya.

"Jadi Allison melakukan pekerjaannya, seperti halnya kita akan bertindak dalam situasi seperti itu," kata Francis. "Ia bicara empat mata dengan anak itu. Ia bicara padanya, mencurahkan perhatian. Ia bermain Monopoli dengannya. Ia berhasil mendapatkan kepercayaan anak itu. Dan, kemudian ia mengetahui bahwa ayah si anak, Tuan Korporat Hebat Tahi Kuda, mengatakan anak itu bertingkah seperti bayi. Menangis dan mengompol di ranjang. Jadi, jika bertingkah seperti bayi lagi, ia harus memakai botol bayi ke sekolah. Anak kelas tiga SD, Paulie. Bayangkan."

Francis mengaduk kopinya lagi, tak ingin mengambil risiko meminta susu karena bisa saja wadah susu tepat di sebelahnya.

"Semua perawat berada di luar ruangan ketika Allison berusaha mengambil botol itu darinya. Anak malang itu histeris, memohon padanya, ‘Tolong, tolong, jangan—jangan—Ayah akan sangat marah. Tolong jangan membuatku melepasnya.' Hati mereka hancur. Padahal mereka perempuan-perempuan tegar. Mereka sudah pernah melihat hal-hal buruk. Mereka membuatmu terlihat seperti gadis paduan suara."

"Francis, ayolah..."

"Allison lalu menghubungi si ayah dan mengomelinya. Gadis baik-baik ini, yang ibunya menulis buku anak-anak. 'Kau, bajingan keparat, aku akan menghubungi petugas sosial, aku akan menghubungi Biro Kesejahteraan Anak dan melaporkanmu...' Dengan seorang perawat Jamaika menyemangati di belakangnya."

"Ia berhasil memenjarakan orang itu?"

"Lelaki itu hanya dikenai keterangan." Francis mengaduk kopinya. "Bajingan. Dan, ya, aku mencurigainya sebagai pembunuhnya saat itu. Tapi terkutuk itu sedang berada di Gstaad bersama pacarnya."

"Itu sudah lama sekali, Francis. Seperti dari Abad Kegelapan. Semua hal kini berbeda."

"Gadis itu salah seorang dari kita." Francis menatap, penglihatan sentralnya masih berfungsi. "Ia orang baik."

"Hey, Francis. Jangan membuatku menjadi orang jahat. Ini masalah rumit. Orang ini dikurung saat berusia tujuh belas dan keluar setelah tiga puluh tujuh tahun. Banyak orang akan bilang kita telah berhasil."

"Dan Allison akan berusia empat puluh enam..."

"Oke, oke." Paul menaruh wortelnya. "Tak ada yang mengatakan kita menyerah. Ini kejahatan keji. Tak diragukan lagi. Orang-orang masih ingat. Bukan tugas kita membiarkan pembunuh bebas sebelum hukuman mereka selesai."

"Terutama jika ada yang berniat menjadi hakim."

"Itu tuduhan murahan, Francis." Rambut-rambut menegang di kulit kepala Paul. "Kau tahu itu."

"Jadi ternyata itu benar."

Tentu saja, Francis juga sudah mendengar gosip itu. Setelah bertahun-tahun, orang seperti Paul tak hanya duduk-duduk menunggu Jaksa Wilayah pensiun atau wafat. Mereka terus menaruh ambisi dan bahkan berpolitik. Wajar saja jika Paul ingin menjadi hakim. Ia tak punya sifat atau kemampuan sosial yang cocok di sektor swasta—tak ada istri untuk menenangkan ketegangan dan menyajikan ilusi akan pesona pesta perusahaan. Di kursi hakim, ia akan lebih bersinar dan bebas membantah tanpa ada perlawanan, memuaskan balas dendam dengan baik di tahun-tahun senjanya.

"Jadi dari mana kita memulai?"

"Secara resmi belum ada keputusan dibuat," Paul menuangkan air panas ke dalam cangkir teh. "Kita punya pilihan meneruskan dakwaan seolah-olah ini masih 1983 atau tak mengambil tindakan sama sekali. Tapi ada hal lain yang ingin kubicarakan denganmu.”

“Apa itu?"

"Debbie Aaron menjadi pengacara Hoolian.”

“Kau bercanda?"

"Maunya begitu. Hoolian pasti sudah menyusuri separo pengacara di New York sebelum akhirnya pergi padanya”

“Debbie A, si keparat itu."

Ia mendorong telurnya yang tiba-tiba berbau tidak enak, merenungi lingkaran bekas piring di atas meja.

"Kau kenal dengannya saat ia mengerjakan kasus narkotika di kantor kita, kan?" Paul mengambil kantung teh dari cangkir dengan sendok.

"Yeah, kami memanggilnya 'A keparat' karena ia selalu berusaha menggoyahkan kesaksian sebelum kami bersaksi di pengadilan."

Bagaimana kau tahu ia membawa senjata, Detektif? Apakah kau benar-benar melihat uang yang beralih tangan? Mengapa kau tak menemukan narkotika lebih banyak di apartemennya? Selama tiga detik pertama, pikirnya, ia agak tertarik pada wanita itu. Ia senang pada wanita yang dapat menonjolkan kehebatannya. Tapi ia kemudian sadar wanita ini hanya akan membuat jengkel dengan tuntutannya yang galak akan kejujuran dan meremehkan kompromi— mereka akan seperti dua gergaji listrik yang bertarung.

"Kita harus berjalan dengan hati-hati." Paul melingkarkan benang di sekeliling kantung tehnya. "Entah apa kau mendengarnya atau tidak, tapi Debbie sudah mengajukan gugatan pada pihak kepolisian atas sebuah dakwaan keji."

"Tentang masalah dengan Marty Delblanco di satuan dua-delapan itu?"

Francis pernah mendapat masalah sulit terkait gosip di departemennya. Seorang pecandu yang dikurung di Harlem karena memerkosa dan membunuh seorang nenek berusia delapan puluh tahun baru-baru ini dibebaskan setelah lima belas tahun berkat bukti DNA dan penarikan kembali pernyataan saksi. Dan sekarang Debbie A, menuntut atas namanya, dengan tuduhan bahwa detektif yang menangani telah memukulinya agar ia memberi pengakuan lengkap. Marty adalah detektif itu. Yang mengejutkan semua orang, bukan hanya karena kepolisian dan pemerintah kota disebut-sebut dalam tuntutan 3,2 juta dolar itu, namun Marty juga dikenai gugatan secara pribadi sebesar 750 ribu dolar.

"Menurut gosip, Debbie berlaku keras pada polisi karena pernah menikah dengan detektif di satuan sembilan-nol yang suka memukulinya," jelas Paul. "Mereka kini sudah berpisah. Ia memenjarakan suaminya dengan delik kekerasan rumah tangga."

"Apakah Marty membayar tuntutan itu?"

"Ganti rugi masih tanda tanya. Ia mestinya memperlakukan anak itu dengan baik agar mendapatkan pernyataannya. Tidak jelas apakah ada orang lain yang mesti bertanggung jawab untuk hal tersebut."

Francis melekatkan lidahnya ke langit-langit mulut. "Brengsek, kau tak akan cemas oleh kasus ini, kan?"

Paul meremas sisa-sisa kantung teh. "Kita harus bersatu, Francis."

"Apa maksudmu? Aku tak pernah memanipulasi Hoolian. Ia menempatkan dirinya sendiri di tempat kejadian."

Paul merendahkan suara. "Ayolah, Francis. Kita semua tahu penyelidikan itu tak pernah sempurna."

"Apa maksud perkataanmu itu?"

Paul menaruh sendok dan kantung teh di sisi cawan, membiarkan keheningan berbicara sendiri.

"Kau juga tahu bahwa kau sendiri tidak sempurna, Yang Mulia. Aku tak pernah dengar Asosiasi Pengacara Amerika memberi pujian atas caramu menangani beberapa penyelidikan awal."

Paul melekukkan tangannya ke belakang kepala tanpa sadar. "Ya, anggap saja ada beberapa hal yang mungkin sebenarnya bisa kita lakukan secara berbeda?"

Francis melempar tisu. "Tentu, kenapa tidak? Anggap saja semua ini hanya uji coba agar kita melakukan hal yang benar lain kali."

"Senang kau menganggap hal ini lucu."

"Jadi, apa yang ingin kau lakukan?"

"Kurasa kita harus di pihak yang menganggap bahwa dakwaan itu masih berlaku dan penyelidikan masih berlangsung," kata Paul, meniru kerut alis bijak dan dagu berwibawa orang yang bekerja di kantor pelayanan publik. "Tak ada dari mosi empat-empat puluh yang berkontradiksi dengan fakta-fakta yang mendasari kasus itu. Jika Debbie A ingin melawan kita, ia harus membuktikan adanya unsur kesengajaan untuk mengabaikan bukti spesifik."

"Benar," kata Francis. Uraian itu mulai merayapi kepalanya lagi.

"Dan ia akan kesulitan membuktikan hal itu. Sudah dua puluh tahun berlalu. Aku tak tahu ke mana ia akan mencari saksi..."

Arroyo. Hernandez. Francis sudah lebih dulu menceburkan diri dalam putaran arus, berusaha mengingat nama-nama yang muncul dalam penyelidikan awal. Ia teringat dirinya masih menyimpan buku-buku catatan lama di rumah.

"Francis...," sela Paul.

"Apa?"

Paul memajukan badan di meja, memandang tajam dari topeng ilmu hukum, sekali lagi. "Kita yakin kita menangkap orang yang tepat, bukan?"

"Julian Vega membunuhnya," ujar Francis tegas. "Pintu depan gedung itu dikunci setelah tengah malam. Tak ada orang lain yang dapat masuk ke apartemennya kecuali mereka punya kunci, seperti ia. Sidik jarinya ditemukan pada senjata pembunuh. Tak ada orang yang terlihat pergi. Darah gadis itu menciprati peralatan tukangnya..."

Tapi, ia menyadari ada semacam kedangkalan pada litani—doa yang diungkapkan sambut-menyambut pada upacara kebaktian—itu kini, setelah lama waktu berlalu, seperti doa penganut agnostik.

"Apakah sudah memberi tahu keluarganya, tentang apa yang terjadi?"

"Aku sudah menelepon untuk mencari jejak mereka melalui Pelayanan Korban," kata Paul samar. "Tapi nomor telepon terakhir yang kuhubungi sudah dicabut. Mereka banyak berpindah-pindah sejak 1983."

"Jadi, Hoolian keluar dan mereka masih belum mengetahuinya?"

Pauf terlihat malu, mengingatkan Francis bahwa bahkan orang paling matematis di dunia pun terkadang tak bisa mengerjakan soal matematika dasar.

"Bagaimana kalau mereka lebih dulu membacanya di surat kabar?"

"Aku berharap kau bisa bicara pada mereka, Francis." Kedua alisnya naik.. "Kita ingin mereka ada di pihak kita. Kita tak ingin mereka menjelek-jelekkan kita di hadapan media saat kita mengerjakan kasus ini kembali. Kita tak ingin terlihat bodoh."

"Lalu kenapa kau tak melakukan sesuatu saat dengar pendapat?"

"Aku tak menyangka kita akan kalah."

Francis menyimak pandangan Paul yang benar-benar bingung, heran luar biasa bahwa orang akan mempertimbangkan serangkaian fakta yang sama dengan yang ia miliki dan mengambil keputusan berbeda. Dan saat itu juga, ia melihat kekuatan dan kelemahan seorang pria. Kepastian mutlak akan budinya sendiri yang telah menjadikan Paul sebagai jaksa sukses dan nyaris tak pernah gagal di setiap hubungan sosial.

"Baiklah, aku akan menemui mereka," kata Francis. "Tapi kau berutang banyak padaku, Hakim."

"Francis, takakankulupakan kebaikanmu."

"Tolong panggilkan saja pelayan," katanya, setelah yakin bahwa memang tak ada susu di meja. "Kopi ini terlalu keras."

6

Hoolian mengusap matanya yang lelah, mempelajari peta kereta api, dan akhirnya menemukan rute dari Coney Island menuju kantor pengacaranya. Kerabatnya sendiri mengusir seolah ia seekor anjing buduk. Ia meraba medali Santo Christopher dari ayahnya.. Berharap minimal ia sempat mandi dulu sebelum pergi. Rasanya ia masih bisa mencium bau penjara di kulitnya.

Kereta melintasi sebuah tanah pekuburan, barisan nisan rendah mengusam seperti gigi-gigi perokok akibat polusi. Tanah orang mati. Anda berangkat dari tanah orang mati. Tolong siapkan paspor.

Kantor pengacaranya berada di atas Kinko's di Astor Place di Manhattan. Lalu-lintas riuh di sekeliling patung kubus raksasa hitam yang tampak susah-payah menyeimbangkan dirinya sendiri di satu sudut. Tergesa-gesa pergi ke mana orang-orang ini? Metabolismenya masih mengikuti kala di penjara: waspada, menahan diri, peka terhadap perubahan.

Di ruang tunggu, duduk seorang pria yang tampak bingung, mengenakan topi mandi karet putih wanita. Ia mengangguk ramah, bak kawan lama Hoolian. Di sebelahnya, seorang perempuan mungil dan kurus berusaha mengendalikan tiga anak-anaknya yang liar yang tengah bergoyang-goyang di atas karpet cokelat, dan seorang kakak dengan kaki sebesar sansak sedang bicara sendiri mengenai kumpulan CD untuk sebuah pesta. Butuh beberapa saat bagi Hoolian untuk menyadari bahwa si sulung itu memakai headset di balik topi bisbolnya.

Sang sekretaris sungguh tak peduli pada mereka semua. Ia seorang gadis kulit putih gemuk dengan cat kuku biru dan rambut Rastafarian, meminta sejumlah penelepon untuk menunggu. Teka-teki silang koran New York Times yang baru separo terisi tergeletak di sebelah keyboard komputernya.

Hoolian berdiri di hadapannya, berusaha menarik perhatian gadis itu dan menyadari sekali lagi bahwa ia telah menatap terlalu lama—seperti pada gadis Kawat Duri kemarin malam. Berapa lama memangnya seseorang boleh menatap? Mungkin ada aturannya. Ia menahan tatapan selama dua ketukan lalu mulai berbalik.

"Ya?" gadis itu menengadah.

"Julian Vega bermaksud bertemu Ibu Aaron."

"Oh, Julian, mari masuk." Deborah Aaron menyembul keluar dari belakang pintu kayu. "Aku sudah menunggumu."

Hoolian menoleh pada orang-orang yang telah menunggu lebih lama, setengah berpikir mestinya ia meminta maaf karena memotong, tetapi lalu berpikir, persetan. Mereka akan melakukan hal yang sama dengannya.

Ia melangkah masuk ke dalam kantor, menutup pintu di belakangnya selagi Nona A mengulurkan tangan. "Selamat." Sentakan kecil dari pergelangan tangan wanita itu membuatnya membusung. Ia menyodorkan pipi untuk bercium pipi, tetapi Hoolian menoleh ke sisi yang salah dan malah menyapu bibir wanita itu.

"Uh, terima kasih." Hoolian menangkap aroma bunga lilac di kulitnya.

"Silakan duduk."

Apakah sebuah ciuman mengandung makna seorang wanita menyukaimu ataukah itu sikap sopan saja? Dengan hati-hati ia duduk di kursi di depan meja wanita itu, dengan hati-hati menaruh tas besarnya di pangkuan. Kawan-kawan penghuni penjara mengganggunya saat pengacara ini berkunjung ke penjara, seorang wanita New York tangguh berwajah boneka porselen yang bicara terlalu cepat dan selalu terdengar seperti terengah-engah. Mereka menceritakan kisah para narapidana yang melakukan hal-hal buruk kepada pengacara wanitanya di ruang jenguk saat penjaga melihat ke arah lain dan anak-anak memasukkan koin dua puluh lima sen, satu persatu ke dalam mesin kudapan.

Tapi Hoolian tak akan mengambil risiko semacam itu saat masih berada di kurungan. Wanita ini telah mengemudi 150 mil ke utara dalam hujan deras untuk bertemu dengannya, menangani kasus tanpa dibayar setelah ia ditolak setengah lusin pengacara lain selama bertahun-tahun. Wanita itu telah membaca surat-surat yang mati-matian ia kirimkan—kadang empat atau lima surat sehari—yang mengungkit isu Amandemen Keempat dan menggarisbawahi kelalaian dalam catatan pengadilan. Debbie menanggapi perkara itu dengan serius saat Hoolian mengaku telah dijebak dan menulis pada Paul Raedo di kantor Jaksa Wilayah secara terus-menerus untuk meminta DNA-nya diuji tanpa pernah menerima jawaban. Wajar saja dirinya sedikit jatuh cinta pada wanita itu—ia hampir tak tidur malam sebelum jadwal kunjungan wanita itu, mencari tahu kutipan dan aturan barang bukti dari perpustakaan hukum untuk membuat pengacara tersebut terkesan, dan jantung Hoolian melompat saat mendengar ketukan sepatunya yang efisien di lantai batu dingin.

Namun kini berbeda. Tak ada petugas yang mengawasi mereka dari jendela kecil di pintu. Ia merasakan setitik pelembab bibir wanita itu di sudut mulutnya. Dalam cahaya kantor yang lebih terang—sedikit lebih sempit dan sesak oleh buku yang lebih dari dugaannya—ia bisa melihat penampilan Debbie yang menarik namun letih oleh rasa cemas. Tampak beberapa helai rambut putih di antara rambut pirangnya, beberapa lingkaran di bawah mata, dan lesung pipi mulai terlihat makin dalam. Dalam beberapa tahun ke depan, perempuan ini akan tercebur dalam penuaan dini atau menjelma menjadi semacam wanita menggairahkan yang selalu dikelilingi laki-laki belia yang dengan riang membawakan kopi ke ranjangnya.

"Maaf, aku tak bisa menjemput dan mengantarmu dari Rikers setelah acara dengar pendapat," katanya dengan senyum tertahan. "Masalahnya, baby sitter-ku harus pulang awal gara-gara anaknya sakit. Dan aku tak punya orang untuk menggantikannya..."

"Tak apa. Aku bisa pulang sendiri."

"Oh, aku lega." Ia berhenti, mengingatkan dirinya sendiri untuk bernapas. "Kau tidur nyenyak di tempat sepupumu?"

"Uh, ya. Rasanya enak. Maklum. La familia."

Hoolian mafhum: ia mengawali dengan keliru karena berbohong pada pengacaranya, tapi apa lagi yang bisa ia ucapkan? Sebagian dirinya masih seorang anak Nuyo-Rican di sekolah blanco, yang ingin membuat para gadis terkesan.

"Oh, itu bagus." Ia mengangguk sambil melamun. "Bagaimana perasaanmu menjadi orang bebas?"

"Lumayan." Hoolian menatap berkeliling, memperhatikan lukisan jari anak kecil di sebelah ijazah hukum wanita itu di dinding, ujungnya yang diselotip melambai-lambai akibat angin AC. "Aku terus berpikir, kau akan mengatakan padaku bahwa ini hanya lelucon dan aku harus kembali."

"Tidak, ini bukan lelucon. Tapi kita punya masalah serius untuk didiskusikan."

Hoolian memeluk tas besarnya di pangkuan ke dada, mendengar sejumput ketegangan. "Jadi, apa kata Jaksa Wilayah? Apakah mereka akan menghentikan tuntutannya?"

"Aku khawatir, tadi pagi aku telah melakukan pembicaraan yang tak memuaskan dengan Paul Raedo." Kata-kata itu meluncur seperti rentetan kembang api di telinganya. "Mereka akan mengambil sikap bahwa hakim membatalkan vonismu karena masalah 'teknis'." Debbie membengkokkan jarinya membuat tanda kutip. "Tapi, dakwaan awal masih berlaku."

Hoolian mengempaskan badan kembali ke kursi, menyadari bahwa semua ini memang terlalu indah untuk menjadi kenyataan.

"Hadapi saja. Kemarin itu kita beruntung." Wanita itu memajukan badan, sejajar dengannya. "Empat kasus pengacara lamamu ditolak beberapa bulan terakhir ini. Hal semacam itu kadang terjadi, tapi biasanya tak sekaligus. Kita berenang di antara gelombang pasang."

Beruntung? Kemarahan mulai bergolak-dalam dirinya. Jika beruntung, ia tidak akan dijebak sejak awal. Jika beruntung, ayahnya tak akan menyewa Ralph Figueroa. Bajingan tua pecandu obat itu tak pernah mengatakan bahwa ia. punya hak bersaksi atas dirinya sendiri atau bahwa mereka ditawari pengajuan banding lima hingga lima belas tahun oleh Jaksa Wilayah. Ia ternyata telah mengacaukan kasus-kasusnya selama bertahun-tahun—melewati tenggat, muncul dalam keadaan tak siap, mengisi berkas yang salah. Dan, mengambil 12 ribu dolar dari tabungan Papi. Pengacara itu kini tinggal di panti jompo di Florida, mungkin minum dari toilet dan dengan tenang sama sekali tak tahu bahwa empat hakim negara bagian yang berbeda terpaksa menyingkirkan putusan juri lama akibat kelalaiannya yang menjijikkan. "Maaf, Julian. Ini politis."

Mendadak saja ia kembali berada di ruang sidang, berenang dalam teror adrenalin dan setelan jas kelabu gatal yang dibelikan ayahnya. Petugas membacakan putusan itu dan ia merasa tubuhnya mendingin. Bersalah, bersalah, bersalah... tiap kali mereka mengambil suara anggota juri, ia kehilangan beberapa derajat suhu tubuhnya. Giginya gemeletuk saat penjaga meraih tangannya dan memaksa bangkit, begitu bungkuk hingga ia hampir tak bisa menoleh untuk mengucapkan selamat tinggal pada Papi saat mereka membawanya kembali ke penjara.

"Oke, tunggu, tunggu." Wanita itu bisa melihat paras memucat dari wajah pria di hadapannya. "Ini semua hanya persoalan membentuk citra dan meraih posisi. Semuanya mungkin akan baik-baik saja."

"Mungkin?" geramnya. "Nona A., jangan bicara padaku tentang mungkin. Katakan saja apa yang harus aku lakukan dan biar aku laksanakan hal itu."

"Dengar. Ini bukan kasus biasa."

Hoolian menyadari bagaimana wanita itu berbicara dengan lebih perlahan dan berhenti untuk mengambil napas tiap beberapa kalimat, seolah ia terbiasa berurusan dengan orang-orang yang sulit mendengar atau sengaja bebal.

"Tak diragukan lagi. Aku menghabiskan hampir dua puluh tahun untuk sesuatu yang mereka jebakkan..."

"Julian, aku di pihakmu." Nona Aaron mengangkat tangan. "Oke? Aku hanya mencoba menyodorkan fakta-fakta kepadamu. Kenyataannya, ini adalah kasus sulit. Aku ingat kasus ini pada tahun ketigaku di kantor Jaksa Wilayah. Semua wanita membicarakannya, karena kami semua seumur dengan korban. Dan, sayangnya, orang belum melupakan. Jadi, kini Paul Raedo menyiapkan diri untuk sebuah persidangan. Ia tak ingin terlihat mundur."

"Keparraaaat." Kata-kata itu meluncur keluar. "Jadi aku harus kembali ke penjara? Itukah yang kau coba katakan?"

"Dengar, kau telah menderita banyak dan aku mengerti betapa marah dirimu. Jadi aku mengusulkan ini padamu." Ia mengusap kalung mutiaranya satu persatu dengan kelembutan setengah sadar. "Aku akan menghubungi Paul kembali dan melihat apakah kita bisa membuat kesepakatan tanggal minggu depan. Kau akan mengaku bersalah dan Hakim Bronstein akan memberimu masa pelayanan dan artinya itu..."

"Tidak."

Aaron melepaskan mutiaranya dan menatap pintu dengan gugup. Ia mungkin berpikir telah bersikap sangat bijaksana dan penuh alasan. Tapi wanita itu tak hadir di rumah sepupunya pagi tadi. Ia tak mendengar pernyataan kerabatnya itu, aku bahkan tak mengenal dirimu. Ia tak melihat pandangan gadis kecil itu dari balik kulkas. Pandangan itu akan terus menghantui Hoolian seperti pisau yang menancap di punggung.

"Tidak, aku tak akan mengaku apa pun," ia mulai bicara, lalu berhenti, sadar betapa dua dekade hidup di penjara telah menggerus kesopanannya. "Maaf. Aku tak akan mengaku apa-apa. Aku ingin namaku pulih."

Wanita itu menundukkan kepala. "Julian, mari saling jujur satu sama lain.," katanya. "Kau telah menghabiskan lebih dari separo hidupmu di penjara. Apakah kau tak ingin ini semua berakhir?"

"Tentu saja."

"Lalu mengapa kau tak tutup saja kasusnya? Aku tahu bagaimana inginnya Paul Raedo dan Francis Loughlin membalas dendam."

"Dan jika aku mengaku bersalah atas apa yang mereka jebakkan, bagaimana aku akan mengangkat wajah? Heh? Apakah aku akan bisa menjadi pengacara sepertimu dengan tuduhan kejahatan? Apakah aku akan mampu membayar sewa rumah dan membeli tempat layak untuk kutinggali?"

Raut wajahnya berubah saat berbicara. Ada sepasang gunting di belakang matanya kini.

"Julian, saatnya kita bertindak praktis," ujar Debbie. "Aku tahu betapa keras kau berusaha agar kasus ini tetap berlanjut. Tetapi ada batas seberapa jauh angan-angan akan terkabul."

"Apa maksudmu?"

"Maksudku, setelah bertahun-tahun, kau dapat meyakinkan diri bahwa dirimu tak bersalah dan bahwa kau dikhianati sistem. Tapi jika kita terus berada di jalur ini, kita akhirnya akan kembali di persidangan dan fakta-fakta akan muncul. Dan mereka tak selalu seperti yang kau inginkan."

Amarah membuat wajahnya pucat. "Kau menuduh aku pembohong?"

"Aku hanya berkata aku tak ingin kau terluka lebih dari yang sudah kau tanggung." Ia menepuk dadanya menekankan. "Dan, sejujurnya, aku tak mampu menginvestasikan lebih banyak lagi dana untuk tuntutan publik yang tak punya harapan." Ia bangkit dan duduk di ujung mejanya. "Kesalahan penahanan adalah kasus yang sangat sulit dibuktikan. Kau harus menunjukkan bahwa polisi dan jaksa sengaja mengabaikan atau merusak bukti yang dapat membebaskanmu."

Hoolian terdiam beberapa saat, beban tas besarnya menekan di pangkuan. Semua barang yang ia kumpulkan dan simpan saat ia dipaksa pergi. Sikat gigi berhelai tumpul yang sudah harus diganti; kaleng sup yang dibeli di toko kelontong yang tak tega ia buang; jam alarm kecil yang ia perbaiki di toko perbaikan mesin kecil; kaus kaki yang ia pakai rangkap saat lututnya terbenam salju di halaman penjara di dekat perbatasan Kanada, berusaha menonton laporan pertanian di TV; buku Childhood 's End yang ia simpan di tas Jansport di hari ketika Detektif Loughlin memintanya mampir di kantor polisi. Amplop tempat ia bersandar. Pengingat dari kehidupan yang ia pikir ada di genggaman. Tahun-tahun itu. Yang dicuri darinya, tercabik seolah seorang perampok mengambil dompetnya untuk memperoleh segepok uang, dan melemparkannya ke selokan. Itu yang terus terasa menyakitkan. Bahwa tak ada seorang pun yang peduli. Tak ada yang memperhatikan. Tak ada yang mencoba berlaku adil. Mereka menghempaskan wajahnya ke tanah dan melanjutkan kehidupan yang sentosa. Ia berusaha bangkit dan menerima segalanya; tersenyum dan mengangkat bahu, Hoolian yang tak ambil pusing dan jalan terus, tetapi perasaan itu terus tumbuh dalam dirinya seperti makhluk dalam film Alien. Hingga suatu hari makhluk itu meledak keluar dengan rahang mengerikan dan gigi-gigi yang menetes-netes, meninggalkan onggokan kulit tak berguna di belakangnya.

"Nona Aaron, orang-orang itu berbohong," katanya dengan dingin. "Mereka berbohong dan mengambil semua yang aku miliki dan semua yang seharusnya kumiliki. Aku melewatkan pemakaman ayahku dengan berada di kurungan isolasi. Dan, sekarang kau mencoba bilang padaku bahwa tak ada seorang pun yang harus membayarnya? Oh. Aku tak bisa hidup jika begitu. Kalau kau tak ingin membawa kasus ini ke tingkat lebih tinggi dan terus membelaku, aku akan mencari pengacara yang bersedia melakukannya."

Dilihatnya wajah wanita itu turun dan tangannya menutup di dekat mutiaranya. O, iya, Hoolian berhasil mencengkeram perhatiannya. Sejak di penjara, ia telah belajar melihat dengan cepat titik terendah manusia, menilai tingkat kebutuhan dan dahaga mereka dalam sekilas. Ia telah mengenali lukisan di sebelah ijazah sarjana hukum itu, dan kini mengetahui bahwa wanita itu menyimpan foto kedua anaknya di lemari, seorang anak lelaki dan perempuan, tanpa foto seorang suami. Jadi, ia adalah orang tua tunggal yang membutuhkan keberhasilan dari kasus ini, hampir sebesar yarig Hoolian butuhkan.

"Kau tahu, kita menjalankan operasi sulit di kantor ini," ia memperingatkan Hoolian. "Aku tak punya banyak sumber yang bisa kugunakan, untuk menyewa detektif swasta atau hal semacam itu. Jika ingin aku tetap meneruskan kasus ini, kau harus ikut membantu mendanai dan melakukan kerja nyata untukmu sendiri."

"Tak apa," ujar Hoolian. "Aku menghabiskan dua puluh tahun dalam sistem hukuman negara. Aku tak keberatan mengotori tanganku."

"Ya, baiklah kalau begitu." Wanita itu mendesah. "Sepertinya aku harus menyiapkan berkas-berkas dan memberi tahu Jaksa Wilayah bahwa kita tak akan mempertimbangkan tawaran apa pun."

7

Francis mendengar gemeresik suara daun yang gugur di bawah sepatunya saat berjalan menyusuri West 89th Street menuju rumah merah kecokelatan milik keluarga Wallis. Beginilah perubahan musim dalam beberapa tahun ke depan. Udara mendingin selama beberapa minggu, beberapa keping salju meleleh di wajah, lalu—bum—sebongkah es di trotoar membuatnya terpeleset. Bagaimana dengan menyaksikan pohon mapel gula tumbuh di depan sebuah tanda jalan di Rego Park, begitu cerah dan elok seperti penari Moulin Rouge yang mengapung-apungkan rok dalamnya? Bagaimana dengan pohon sycamore di Riverside Park yang berganti warna, seperti dewa matahari yang menetes-neteskan api ke dalam daun-daunnya? Ia seharusnya pergi ke pedesaan bersama Patti malam ini, hanya untuk mengamati bintang-bintang sebelum mereka tergelincir.

Ia melihat Tom Wallis dari separo blok, rambut yang merah dan kulitnya yang cerah, menyapu di depan rumah, memakai pantalon ketat dan kemeja putih dengan kerah terkancing, seolah-olah baru pulang kerja tengah hari.

"Hai."

"Apa kabar, Francis?" Tom menaruh sapunya ke samping dan mengulurkan tangan.

"Senang bertemu denganmu, Kawan." Francis melewatkan jabat tangan itu dan memberinya pelukan hangat. "Kau tampak sehat."

Memang benar. Kebanyakan keluarga korban menua sebelum waktunya. Orang bisa melihat sepuluh tahun berlalu di wajah mereka segera setelah kabar buruk itu disampaikan, mata mereka surut ke dalam tengkorak saat Anda mengucapkan "Saya turut berduka atas wafatnya anggota keluarga Anda." Dan melihat mereka di persidangan bahkan lebih buruk lagi: kulit semakin kelabu, rambut menipis, postur merosot saat mereka menyadari bahwa ini bukan masalah keadilan, melainkan integritas proses itu sendiri. Bahwa kompromi-kompromi sunyi pengacara dan saksi-saksi setengah hati yang kebingungan adalah satu-satunya ya'ng mereka miliki untuk meredakan kepedihan.

Tapi Tom, yang lahir lima tahun sebelum Allison, tak tampak jauh berbeda dari sejak terakhir kali Francis melihatnya, di Landmark Tavern pada 1986, berbincang tenang sambil menikmati ginger ale dan roti soda. Ia masih menyimpan penampilan petani muda yang takjub melihat puting beliung pertamanya di kejauhan, rahangnya mulai mengendur, kening yang tinggi sedikit berkerut di atas sepasang alis ya^ng hampir tak terlihat dan kulit putihnya yang kontras dengan rambut merah, seperti wanita-wanita di keluarganya.

"Senang sekali kau ada di rumah saat kuhubungi."

"Kehidupan seorang salesman." Tom menyentuh ruang di antara kedua alisnya dengan gaya malu-malu yang sama, sedikit gugup, yang masih Francis ingat. "Pergi hampir setiap waktu lalu pulang ke rumah siang hari di hari kerja. Sudah lama sekali, Francis."

"Memang. Aku kehilangan jejak kalian. Dulu aku selalu mengirimi ibumu kartu setiap Natal dan Paskah."

"Yah, kami memang sering pindah." Tom mengangguk, hanya kilasan singkat bibirnya yang menipis yang menunjukkan bahwa ia tak nyaman dengan kunjungan ini. "Kami tinggal di rumah ibuku di Sag Harbor selama beberapa waktu. Lalu kami mencoba pergi ke Connecticut. Tapi kau tahu bagaimana rasanya. Tak bisa tinggal di sana, tak ada tempat lain senyaman rumah sendiri."

"Sering kudengar. Memang sulit menetap."

"Itulah kami, Wallis para Pengembara."

"Ibumu tinggal denganmu sekarang?"

"Ya. Harganya cocok, maka kami menjual tempat tinggal kami di Danbury dan pergi." Tom mengedip cepat, tak ada tanda-tanda mengajak Francis masuk. "Ternyata cukup lumayan. Kami membayar cicilan rumah dengan menyewakan lantai atas, dan ibu memiliki tempat sendiri di dekat kebun. Jadi ia bisa menemui cucu-cucunya setiap waktu dan masih memiliki kamar mandinya sendiri."

"Wah, aku tak tahu kau telah menikah, Tom."

"Kami baru merayakan ulang tahun pernikahan yang kesepuluh." Ia meraba cincin emas di jarinya, tercenung. "Ia wanita hebat dari Indiana. Kami punya dua gadis kecil, tiga dan enam tahun..."

Tom membungkuk untuk mengambil bungkus permen karet Swedish Fish yang tertiup ke atas tangga depan.

"Nah, ada apa, Francis? Di telepon, kau bilang ada sesuatu yang penting yang perlu didiskusikan."

"Aku tak tahu apakah kau telah mendengar hal ini atau tidak. Mereka membebaskan Julian Vega."

Tom bangkit perlahan-lahan, bungkusan itu membuat suara gemeresik di tangannya. "Apa yang kau bicarakan?"

"Percayalah padaku. Aku tahu ini kacau. Aku juga baru saja mengetahuinya."

"Mereka-membebaskan-nya?" Tom mengulang kata-kata itu, seolah ia siswa yang sedang belajar bahasa Inggris. "Bagaimana bisa terjadi?"

"Ini masalah teknis. Mereka mengabaikan dakwaan jaksa karena ia mengklaim pengacaranya tak pernah memberi tahu bahwa ia mempunyai hak untuk bersaksi. Itu omong kosong. Jangan khawatir akan hal itu. Kita akan menjebloskannya kembali ke penjara."

Tom mulai menggosok-gosok ruang halus di antara kedua alisnya, seakan-akan berusaha mencerna informasi itu ke dalam kepalanya. "Maksudmu kita harus mengulangi lagi segalanya?"

"Tom, aku minta maaf. Tak semestinya hal ini terjadi."

"Wow...maksudku, wow." Semburat merah muda mulai menyala di rautnya yang halus. "Mengapa tak seorang pun memberi tahu kami tentang hal ini?"

"Semuanya terjadi begitu mendadak. Tak ada yang menduga hal ini."

Oh, Paul Raedo, betapa kau berutang banyak padaku.

"Ya Tuhan. Aku tak tahu apakah ibuku sanggup menanggung kejadian ini."

"Kau ingin aku yang mengabarkan padanya?"

Tom menggeleng, warna alami pucat wajahnya berangsur-angsur kembali perlahan. "Kurasa itu bukan ide yang baik."

"Mengapa tidak?"

Tom mengambil napas dalam, seakan dirinya baru saja mengendarai sepeda anak-anak di jalan setapak yang curam dan panjang.

"Ia tak lagi menjadi dirinya sendiri. Sudah sejak lama.”

“Oh, ya?"

Francis mengutuk dirinya sendiri karena tak mengikuti perkembangan. Tetap berhubungan dengan keluarga korban sebenarnya menjadi bagian dari pekerjaannya Tentu saja, beberapa telepon merupakan siksaan, para ibu yang menangis, "Mengapa Tuhan mengambil anakku yang tampan?" meski kau tahu betul bahwa si Anak Tampan itu sebenarnya bajingan kecil pengedar narkotika-penganiaya pelacur, dengan pisau belati di mulut saat ditemukan. Tapi kau harus melakukannya. Bukan hanya karena menghibur keluarga yang ditinggalkan adalah hal yang baik tetapi karena kau tak pernah tahu. Bisa saja dua-tiga tahun dari sebuah kebuntuan, kau menganggap kasus itu tak akan pernah terpecahkan, ketika si Nenek tiba-tiba menghubungi, bersaksi bahwa dirinya menonton As the World Turnssaat Nona Itu melenggak-lenggok dengan pantat besarnya dan perhiasan berkilauan yang mengingatkannya pada gadis pacar si Anak Tampan yang terlihat sebelum pembunuhan, yang kemudian diketahui ternyata memiliki suami pencemburu yang baru saja tiba dari Ekuador.

"Aku tahu ibu terlihat seolah kuat selama persidangan." Tom mencengkeram sapunya. "Tapi lalu ia seolah-olah hancur berkeping-keping. Kau tahu sendiri, ia terus-menerus berusaha menulis buku yang sama selama dua puluh tahun."

"Ya."

Tidak aneh. Mereka yang paling lama mampu mengendalikan diri kadang jatuh paling keras. Ia ingat Eileen duduk di baris kedua di ruang sidang tiap hari, wanita kuat berambut merah ini yang tak pernah memakai rias wajah dan membesarkan dua anak di kota ini setelah suaminya, pelukis ekspresionis abstrak gagal, mendadak pergi ke Paris bersama penari Meredith Monk berusia delapan belas tahun.

"Apa yang terjadi? Ia kedengaran baik-baik saja saat terakhir kali aku bicara dengannya."

"Awalnya ia kelihatan memburuk perlahan-lahan tetapi makin lama makin cepat." Mulut Tom mengeras. "Tepat setelah persidangan, ia mulai pergi ke acara makan bersama bermacam-macam support group bagi para orang tua yang anaknya dibunuh. Itu dapat dimengerti. Tapi ia kemudian mulai berselisih tentang masalah sepele dengan mereka. Mengeluh bahwa orang-orang hanya datang ke pertemuan ketika orang yang membunuh buah hati mereka akan disidangkan dan mereka butuh banyak orang untuk menghadiri persidangan."

"Tentu," Francis menggerutu dengan simpatik, mengerti hal itu tak pernah bisa diabaikan.

"Kemudian setelah beberapa lama, ia mulai bergaul dengan lingkungan lain. Semacam New Age begitulah. Orang-orang yang tertarik dengan kristal penyembuh dan aromaterapi. Kau mengerti, kan, semua omong kosong itu."

"Kau tak tampak terkesan."

"Bagaimana aku bisa terkesan?" Tom mengambil bola kertas timah. "Aku menjual peralatan medis profesional. Orang-orang ini adalah musuh kami. Tetapi ibu kemudian mulai tergaet oleh orang-orang yang benar-benar sinting. Yang mengira mereka bisa bicara dengan orang-orang mati.”

“Kau bergurau. Ibumu?"

Francis tak dapat membayangkannya. Yang tengah mereka bicarakan adalah seorang wanita New York yang bijak dan keras kepala, wanita yang mengerti jati dirinya. Seorang gadis yang pernah memerankan Ophelia dalam sandiwara Hamlet versi Richard Burton di Julliard. Seorang aktris yang pernah bekerja sama dengan Cassavetes dan meninggalkan semua itu untuk membesarkan anak-anaknya. Seorang wanita yang menemukan kembali jati dirinya sebagai penulis buku cerita anak-anak setelah suaminya minggat. Francis ingat pernah membacakan salah satu ceritanya, Hello, Walls, pada putrinya, Kayleigh, beberapa tahun setelah kasus tersebut berakhir dan terpesona oleh betapa matang, lucu, dan mengerikan sekaligus—seolah-olah penulisnya memiliki semacam pemahaman subversif dengan para pembaca mungilnya tanpa sama sekali tak melibatkan orang tua.

"Ya, ibu selalu sedikit...maniak.'" Tom melemparkan kertas timah itu ke dalam keranjang sampah dengan jijik. "Tetapi setelah adikku meninggal, ia semakin depresi hingga sama sekali tak dapat bangkit dari tempat tidur saat pagi. Ia mengira orang-orang ini—parasalesman minyak ular ini— dapat membantunya. Mereka berkata padanya bahwa Allison tak benar-benar mati."

"Apa?" Francis merasa tulang rahangnya retak.

"Salah satu 'pemandu arwah' mengatakan bahwa orang lainlah yang dikubur di makamnya." Tom menatap kakinya, terlihat malu. "Menurutnya telah terjadi kekeliruan. Mayat yang tertukar. Gadis lain dibunuh dan wajahnya dirusak, sehingga tak ada yang mengenalinya..."

"Dengar, Tom, bukannya apa-apa, ibumu wanita hebat, tapi ia itu adikmu. Aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri." Berhati-hati menyebutnya dengan ia, bukan hanya mayat itu.

"Kau tak perlu meyakinkanku. Aku melihatnya juga di kamar mayat. Tapi penyangkalan terus berlanjut.”

“Ya, aku paham."

Francis mengangguk, menyadari dirinya belum menuliskan tanggal pertemuan berikutnya bersama Dr. Friedan.

"Kemudian ia mulai menemui detektif swasta. Burung-burung bangkai yang berjanji akan menemukan adikku." Tom menyapu bungkus permen karet Wrigley's di tangga. "Seratus lima puluh dolar sejam untuk mencari jejak setumpuk tanda bukti ATM. Seakan-akan mereka akan menemukan adikku duduk di Taco Bell di Kenosha bersama Amelia Earhart."

"Tak ada yang bercerita tentang hal ini padaku."

"Masalahnya, ia kelihatan lebih baik dua tahun belakangan ini." Tom terus berusaha menyapu bungkus permen karet itu, semakin frustrasi melihat benda itu tak mau berpindah juga. "Terutama sejak gadis-gadisku bertambah besar. Mereka membawanya keluar dari kabut. Terutama Michelle, anak bungsuku. Mereka bagai kacang dalam kulit, ia dan ibuku. Ia bahkan mirip Allison saat seumurnya."

Francis berpaling ke arah jendela di kebun, mengira baru saja melihat seseorang dari sudut matanya.

"Aku benar-benar mengira matahari mulai bersinar lagi," ujar Tom. "Satu hari kami sedang berada di taman bersama anak-anakku di dekat patung Alice in Wonderland dan ibu tiba-tiba berpaling padaku dan berkata, 'Aku merasa seakan dianugerahi kesempatan kedua.' Dan untuk sesaat, rasanya ia kembali menjadi dirinya yang dulu. Aku seakan merasa ia akhirnya kembali. Tetapi sekarang kau mengatakan bahwa kami harus memulai lagi segalanya..." Ia terkulai. "Aku tak tahu lagi."

"Dengar, tak seorang pun menginginkan hal ini terjadi."

"Kau tahu apa yang luar biasa aneh?" Mendadak Tom berkata. "Ia menyukai anak itu. Julian. Percayakah kau? Ia bertemu dengannya di gedung itu, saat berkunjung. Ia menganggap hal itu menyenangkan, ketika anak itu selalu menguntit Allison. Seakan ia punya kesempatan untuk bersama dengannya."

"Mungkin saat itu tampaknya cukup lugu."

"Mereka berdua seharusnya dapat menduga."

Tom mengambil bungkus permen karet itu dari tangga dan melemparnya ke keranjang sampah, sebuah kilatan api tampak di bawah kedua alisnya yang pucat.

"Ya, baiklah, aku tak akan berbantahan." Francis mengangkat kedua tangannya. "Aku hanya bilang bahwa siapa pun dapat melewatkan tanda-tandanya. Saat aku menahan Julian, ia tampak seperti anak umur dua belas tahun."

"Tentu saja. Aku tak bermaksud bertengkar. Aku hanya tak bisa"

"Aku mengerti."

"—mengulangi semua siksaan ini sekali lagi." Tom menunduk dan melihat coreng kelabu permen karet itu tetap tinggal di tangga. "Kurasa kita harus bersiap menerima telepon dari pers mulai sekarang."

"Kau tak perlu bicara pada mereka. Hubungkan saja langsung ke kantor Jaksa Wilayah."

"Kau tahu, sebagian dari diriku ingin semua dihentikan," katanya, menendang onggokan permen karet.

"Apa maksudmu?"

"Maksudku, sudah cukup semua ini. Aku.... hanya.... ingin.... semua ini... diakhiri.”

“Apa?"

Tom memaksa ujung sepatunya mencungkil permen karet itu. "Maksudku, kita sudah menghadapi masalah ini selama dua puluh tahun. Kami seolah korban profesional. Itu saja yang membuat kami dikenal. Dan aku muak akan hal itu."

Francis menatapnya, sesaat terkejut oleh kata itu, diakhiri: Itu bukan sesuatu yang ingin direnungkan oleh seorang lelaki yang kehilangan penglihatannya.

"Kalau begitu, apa yang akan dikatakan ibumu?"

"Maaf?"

"Bagaimana kelak perasaannya jika ia membaca koran minggu depan dan melihat bahwa kasus itu sama sekali ditutup?"

Tom mengangkat kakinya dan melihat sebuah sulur elastis menempel di sol sepatunya. "Sejujurnya, Francis, ia bahkan hampir tak pernah membaca koran lagi. Ia lebih sering tenggelam dalam dunianya sendiri."

Francis menggelengkan kepala. "Aku telah berjanji padanya, Tom. Aku berkata padanya bahwa seseorang harus mendapatkan balasan atas apa yang terjadi."

"Aku mengerti, tetapi—ah, brengsek." Tom berusaha menggesekkan kakinya pada tepi tangga.

Francis mengamati, berpikir betapa beberapa hal terus-menerus melekat.

"Kau tahu, aku seperti menabrak tembok dalam kasus ini," katanya. "Maksudku, aku benar-benar menabrak tembok, Tommy. Beberapa orang mungkin bilang aku sedikit berlebihan. Dan aku tak akan melakukan itu pada sembarang orang. Tapi aku punya perasaan khusus tentang keluargamu."

"Aku tahu itu, Francis. Aku tahu ibuku mempercayaimu."

"Ya, kami punya beberapa persamaan."

"Apa itu?"

"Kau tahu, kematian dalam keluarga. Ibuku ditabrak mobil saat aku berumur sembilan tahun."

"Ya, ampun, aku tak tahu itu." Tom tampak tertegun, semburat merah muda itu mengabur di balik alis.

"Ya, ia mengalami koma sebelum wafat, tapi..." Francis sadar dirinya tengah memainkan antena ponsel, menarik ulurnya keluar. "Pokoknya, ibumu agak mengingatkanku padanya." Ia berhenti. "Jadi ketika aku mengambil kasus ini, ia membuatku berjanji untuk melakukan hal terbaik."

"Oh, aku ingat."

"Karena itu aku merasa tidak seharusnya jika kita melupakannya begitu saja. Aku ingin bicara dengannya tentang apa yang terjadi."

"Ia sedang tak ada di rumah saat ini."

Francis melihat ke jendela bawah tangga lagi, hampir yakin seseorang baru saja berada di sana semenit yang lalu.

"Kalau begitu, tolong minta belia» menghubungiku jika ia setuju. Ia percaya padaku untuk tetap menangani kasus ini. Kami memiliki perasaan yang sama."

"Itu bagus, Francis. Cuma ada satu hal."

"Apa itu?"

Tom meringis kesal melihat permen karet menempel di ujung sepatunya dan menggelengkan kepala. "Ibuku sudah gila."

8

Dahulu kala ada seorang perempuan yang berharap memperoleh anak, namun ia tak dapat menggapai keinginan itu. Eileen menjauh dari tirai dan kembali ke mejanya. Perempuan gila itu berceloteh pada novelnya. Dari kamar-sebelah-kebun yang sebenarnya dapat menghasilkan 1.900 dolar per bulan untuk putranya. Ia membuka buku dongeng itu lagi, mengaduk teh, dan menggosok-gosok kaki yang dibungkus stoking hangat di lantai kayu. Akhirnya wanita itu menemui tukang sihir, dan berkata, "Aku sangat ingin memiliki seorang anak; dapatkah kau memberitahuku di mana aku bisa mendapatkannya? " Ya, tentu saja, dari situlah masalah berawal. Percaloan bayi lewat seorang tukang sihir.

"Oh, itu mudah diatur," kata penyihir itu. "Ini ada sejumlah biji untuk kau semaikan di ladang...."

"Pemakaian awal obat penyubur—dan oleh wanita lajang!" Pikirannya memerintahkan untuk menuliskan hal itu besar-besar, tetapi huruf-huruf yang muncul hanya tulisan kecil di buku catatan, efek samping aneh terbaru dari obat yang dikonsumsinya.

Lalu apa yang terjadi? Ia kembali membaca Hans Christian Andersen Treasury yang tergeletak di meja untuk mencari ilham. Wanita mandul itu membayar sejumlah uang dan menanam biji-bijian itu, lalu, lihat, dan perhatikan!—sebuah tulip elok menyembul.Hmm. Kemudian ia mencium kelopak bunga merah dan emas yang menguncup—ya, ini adalah dongeng—kelopak itu purt membuka, dan di atas benang sari beledu hijau itu—betapa jelas penggambarannya!—tampak seorang gadis yang mungil sekali.

Tetapi apakah ia berwujud wanita muda sempurna atau masih berupa anak-anak? Eileen menatap tulip asli yang dipajangnya di atas meja, seolah-olah rahasia itu tersimpan di balik daun-daun hijaunya yang mengerut. Tidak, ia tak bisa menegaskan pikirannya. Buntu lagi.

Disobeknya halaman buku catatan yang tengah ia kerjakan, meremas, dan melemparnya ke keranjang sampah di bawah meja yang telah penuh oleh benda-benda buangan sepanjang pagi. Ditaruhnya pena, jari-jarinya yang penuh noda tinta kaku akibat obat baru itu. Tak bisa konsentrasi sama sekali. Tak sedikit pun. Ia berjalan pelan kembali menuju jendela dan bersembunyi di balik tirai, mengamati dua pria yang ngobrol di trotoar. Bukan simbolisme seksual yang nyata yang terus-menerus mengganggu pekerjaannya, ia berkesimpulan. Semua kisah besar memiliki sifat erotis kuat di baliknya: Rapunzel, Rumpelstiltkin, Sleeping Beauty. Namun yang mengganggu adalah, tiadanya perasaan. Ini mestilah salah satu kisah tersedih yang pernah disusun. Seekor katak besar buruk menculik Thumbelina untuk menikahi anaknya, membawanya ke atas bunga lili di tengah-tengah sungai, dan ia tak lagi pernah melihat sang ibu.

Tapi, Anderson tak pernah menyebut-nyebut tentang kepedihan hati si ibu. Tak pernah ia mempertimbangkannya!

la terus berceloteh tentang si katak dan tikus buta dan burung walet yang ternyata mati.

Perempuan itu kembali ke mejanya dan sekali lagi menghadapi sehelai kertas kosong. Bagaimana mungkin ia pernah mengira dirinya dapat menceritakan perasaan kehilangan seorang anak? Ia pasti sudah terlalu dicekoki obat saat menyetujui kontrak ini, jauh di masa-masa awal pemerintahan Ronald Reagan. Garis-garis biru halus di halaman itu tampak mengabur di depan matanya, tak meninggalkan apa pun untuk ditulisi. Bagaimana kau melukiskan perasaan sekarat akibat kedukaan? Bagaimana kau menulis tentang hati yang direnggut ke satu sudut gelap? Darah yang mengering di nadi. Abu yang tak pernah dapat kau ludahkan dari mulut. Hilangnya kecapan dengan perlahan-lahan. Tawa orang lain yang terasa menjijikkan.

Ibu yang malang itu duduk di samping jendelanya setiap malam, menaburkan kelopak tulip di kakinya, menunggu si anak kembali, kepedihan hebat menyelimuti seperti awan. Mungkin ia menjadi begitu gemuk, memamah keripik kentang dan es krim; mengamati garis warna-warni siaran percobaan TV. Mungkin ia mabuk tiap malam dan bangun tiap pagi dikelilingi botol-botol pinot dan chardonnay yang kosong, bertanya-tanya bagaimana semua botol itu ada di sana. Mungkin yang membuatnya tetap bertahan hidup adalah potongan-potongan kecil harapan yang terus melekat. Benda-benda kecil yang nyaris tak terlihat. Gerakan di rerumputan, perubahan angin, suara samar di malam hari, kabar burung bahwa seseorang pernah melihat Thumbelina mengapung di atas bunga lili atau duduk di atas meja judi di Vegas. Bahkan, mungkin dua pria yang tepat berada di luar jendelanya, menyebut namanya keras-keras.

9

Di bawah kantor pengacaranya, Hoolian melihat sebuah kedai minum kopi berwarna karamel elegan bernama Starbucks, di sebelah pintu masuk menuju kereta bawah tanah. Para mahasiswi bermata kuyu dan rambut acak-acakan duduk di meja-meja bulat, mengetik di laptop dan membaca novel abad sembilan belas di dekat jendela. Lapar dan lelah, ia masuk dan memesan chicken Caesar salad, seiris pai ubi, dan satu venti decaf vanilla latte, sambil berpikir bahwa suaranya terdengar begitu anggun ketika gadis di depannya memesan minuman. Ia terkejut saat meniup cangkir dan ternyata isinya separo saja.

Tetap saja, ia merasa seperti mengalami kemunduran status sosial dengan membayar untuk makan. Ia makan dengan cepat dan sembunyi-sembunyi dengan tangan melengkung melindungi santapannya. Seorang gadis cantik yang duduk di meja sebelah menarik leher turtleneck-nya sampai dagu dan membalik halaman novel Les Miserables. Ketika berjalan keluar, Hoolian menganggukkan kepala kepadanya lalu tersadar ia masih membawa peralatan makan, seolah-olah ada petugas jaga menunggu di pintu untuk menerima benda-benda itu. Bagaimanapun juga, ia memutuskan bahwa ini tempat yang menyenangkan dan ia akan kembali lagi dalam waktu dekat, sambil membawa novel klasik miliknya sendiri.

Beberapa blok kemudian, ia melihat sebuah tempat yang hampir sama di Union Square, juga bernama Starbucks, wanita-wanita di dalamnya terlihat lebih tergesa-gesa dan mendesak.

Ia berjalan ke arah barat melewati taman itu, kadang merasa ragu-ragu, antara mengetahui dirinya punya pekerjaan yang harus dilakukan, dengan keinginan berhenti dan melihat-lihat. Pada orang-orang Meksiko yang sedang membongkar krat-krat buah di depan toko bodega Korea, angka-angka yang muncul di papan digital, iklan film seri Sex and the City di bus. Wanita-wanita dengan sepatu yang terlihat seperti sepatu uji coba. Pria dengan ponsel yang ditaruh ke telinga melihat padanya dengan tatapan kesal, seolah-olah berdiri di sana dengan pakaian usang yang dekil, menatap langit, ia telah mengganggu fantasi tentang kehidupan glamor yang tengah mereka tuju.

"Berhenti bertingkah seolah kau dalam lagu Country-nya. Stevie Wonder." Seorang pengendara sepeda dengan celana ketat kuning terang dan kaca mata goggle membelok cepat, hampir menggilas ujung sepatu bot Hoolian.

Tentu saja, tingkahnya begitu mencolok. Ia pasti tampak seperti makhluk Klingon atau Manusia yang Jatuh ke Bumi. Masalahnya adalah, ia tak bisa berhenti mengamati. Kota ini tetap sama, tapi berbeda. Lebih bersih, lebih sulit ditembus. Orang tak lagi dengan mudah menggoreskan nama di jantung kota ini dengan sekaleng semprotan cat pada dinding kosong. Ciri khas kota yang lama sudah sirna, digantikan yang baru. Dulu kata-kata "Met Life" terpampang di gedung Pan Am. Tempat itu seperti layar mainan Etch-A-Skecthsetengah rubuh, dengan beberapa garis tebal terhapus dan jutaan pola samar yang hanya terlihat kalau kau melihat cukup dekat.

Ia berhenti di Rite Aid untuk membeli sikat gigi baru dan sepasang gunting kuku agar tubuhnya tetap terawat. Kemudian ia pergi ke kantor Administrasi Tenaga Kerja di 14th Street dan berusaha mencari cara agar dirinya memenuhi syarat untuk mengerjakan layanan publik. Morales, wanita berambut menjulang di belakang sebuah meja kecil, mengatakan ia punya pilihan untuk tinggal di rumah penampungan atau mencoba bergabung dengan program penanganan rehabilitasi penyalahgunaan obat. Ketika ia menjelaskan dirinya tak pernah terlibat dalam obat-obatan, wanita itu terlihat tak percaya. Hoolian lalu sadar, lebih mudah untuk berbohong dan menyebut dirinya seorang pecandu daripada meyakinkan wanita di hadapannya bahwa ia telah dipenjara tanpa alasan yang jelas. Wanita itu memintanya untuk menelepon kembali kalau-kalau ada tempat lowong di rumah penampungan mantan penghuni penjara.



0 Response to "The Devil's DNA"

Post a Comment