Download applikasi baca novel online untuk android disini: DOWNLOAD

The Devil's DNA

Penyangkalan, kemarahan, tawar-menawar.

Oke, hentikan. Kita tuntaskan saja. Ini belum gelap. Tahan sedikit datangnya malam; hanya butuh beberapa jam sinar matahari lagi.

Francis menyerahkan DNA Eileen pada Dr. Dave, meninggalkan pesan pada Tom Wallis agar menyelidiki kenalan wanita adiknya, membuat catatan, lalu pulang ke rumah. Sinar matahari kekuningan menerobos miring melewati senar harpa Jembatan Brooklyn, menimbulkan kilau cahaya terang di kaca mobilnya. Satu garis merah muda tampak di bawah awan-awan kelabu, seperti kilasan kulit seorang gadis di bawah sweter tipisnya. Ia tersadar, dirinya terus-menerus membetulkan kaca spion untuk mengimbangi bintik butanya, berusaha memastikan tak dipelototi pemakai jalan lain. Kerlip berlian di sungai East River tak terlihat akhir-akhir ini karena ia tak bisa mengalihkan pandangan selain dari jalan.

—Ayolah, Dewa Hal-hal Kecil, cukup pulangkan aku dalam keadaan utuh. Aku bisa meneruskan dari sana.

—Kau masih ingin menawar, ya, Loughlin? Satu gelas minuman lagi dan aku akan berhenti. Tolong biarkan aku menyelesaikan kasus ini dan aku tak akan meminta tiga gelas berikutnya. Biarkan aku melewati pintu ini hidup-hidup. Aku janji akan mempercayaimu hingga krisis berikutnya.

Ia pergi menuju Sackett Street. Matahari baru saja tergelincir perlahan di atas dermaga tua reyot Red Hook dan asap lalu lintas di BQE. Tanpa ingin mengakui, belakangan ia mulai menyadari munculnya rasa tegang saat malam datang, lebih berfokus mengikuti rute pulang yang sama, menjadi kian waspada pada parkir paralel, pada anak-anak yang berlarian mengejar bola di jalanan, pada betapa lamban pemerintah kota memperbaiki lampu jalan yang mati di depan rumah mereka.

Francis mengunci pintu dan melihat tirai bergerak di jendela depan tetangganya. Wanita yang tinggal di sana adalah janda petugas pemadam kebakaran yang tewas di World Trade Center saat peristiwa 11 September. Ia punya patung Yesus dalam cangkang kerang di dekat tangga depan rumahnya dan menghormati kenangan pada suaminya dengan hampir tak pernah berbicara dengan Francis. Entah apakah ia menjunjung tinggi tradisi perseteruan antara dua instansi itu, kepolisian dan pemadam kebakaran, atau diam-diam bertanya pada Tuhan mengapa suami tercintanya yang dipanggil dan bukan Francis. Ia sendiri tak tahu.

Francis mengambil surat-surat dan melangkah menuju undakan, dengan cepat memilah tumpukan kertas itu untuk memeriksa gangguan yang telah menunggunya. Sebuah tagihan gas, Con Ed, katalog biji dan brosur yoga milik Pati, tagihan lain dari rumah panti ayahnya dan sesuatu dari Gilda Yahudi bagi Para Orang Buta. Mungkin acara pengumpulan dana. Ia memasukkan kunci di pinta, bertanya samar mengapa mereka bisa mengetahui namanya. Siapa yang mereka hubungi? Dinas Kendaraan Bermotor, Asosiasi Amal Detektif, para dokter? Cincin kunci tergelincir dari jarinya tepat ketika ia teringat pernah melihat pamflet gilda itu dan Lighthouse International di ruang tunggu Dr. Friedan.

Apa aku memerlukannya? Ia menyobek surat itu menjadi dua dan memasukkannya ke saku, lalu membungkuk, mencari-cari kunci, berharap janda pemarah itu tak mengintip keluar dan melihatnya meraba-raba seolah ia sudah benar-benar buta.

Rumah begitu lengang dan gelap seperti kamar jenazah saat ia masuk. Ia rindu anak-anak yang bersaing memasang musik keras-keras—Slayer versus Indigo Girls—dan Patti sibuk di dapur, berbincang dengan kawan wanitanya di telepon sambil menyiapkan makan malam. Ia ingat istrinya itu tak akan tiba di rumah sebelum pukul sembilan malam karena bekerja dengan kliennya di gym.

Ia mulai menyalakan lampu dan memunculkan suara-suara sebanyak mungkin, kebiasaannya sejak berusia sepuluh tahun, pulang dari sekolah ke rumah yang kosong. Ia menemukan remote TV di ruang keluarga dan menyalakan CNN. Tepat waktunya untuk mendengar bom jalanan yang membunuh tiga prajurit di tepi kota Mosul. Ya, Tuhan. Ia mendengarkan, dengan cengkeraman kail besi di dadanya, menunggu jika ada berita tentang pasukan yang ditarik dari Korea. Anak brengsek. Ingin menunjukkan pada sang ayah bahwa ia tak lagi bisa mengaturnya. Kena kau, Yah. Kau tak pernah bertempur dalam perang sungguhan, kan? Anak itu berjuang mencari jati diri. Ia bukan siswa yang baik seperti adik perempuannya, dan tak memiliki prospek bagus untuk tampil bersama tim bisbol Bishop Ford. Ia sasaran empuk bagi para perekrut yang meyakinkannya bahwa ia bisa melakukan sesuatu, membela negara, dan memacari lebih banyak wanita daripada Snoop Dog di saat bersamaan. Tapi, untuk apa? Senjata Pemusnah Massal? Yang benar saja. Itu hanya imajinasi seseorang yang mencoba menandingi ayahnya tapi gagal.

Tapi apa yang bisa kau lakukan sekarang menyangkut hal itu? Kau memulai perang, kau yang harus mengakhiri. Dan, jika hal yang melatarbelakanginya sedikit oleng, ya, itu artinya kau harus bertempur lebih keras. Lagi pula, orang yang mereka kejar adalah seorang bajingan, membunuh ratusan ribu kaumnya dengan gas. Dan jika butuh sedikit bantuan untuk meloloskan perang melawannya? Lalu, kenapa? Kau tahu ia seorang kriminal. Mereka semua tahu. Kadang kau harus mengisi potongan yang hilang agar semua orang melihat gambar seutuhnya. Tak berarti kau salah, kan?

Ia mematikan TV, tak tahan menonton peristiwa menjengkelkan itu, dan mulai beranjak menuju tangga. Berpikir tentang negosiasi dengan pihak berwenang. Oke, ini tawaranku. Buat anakku keluar dari perang dan aku akan menyerahkan SIM-ku selama enam bulan ke depan. Kuambil lima tingkat daya penglihatanku dan nyeri kronis juga boleh. Aku bahkan akan mulai mengaku dosa lagi. Ampuni aku, Bapa, aku telah berdosa. Sudah tiga puluh tiga tahun sejak pengakuan dosa terakhirku....

Dasar bajingan keparat. Apa hak yang kau punya untuk membuat perjanjian yang lebih baik? Bagaimana jika sedikit lebih menunjukkan rasa terima kasih? Kau mungkin saja sudah mati berulang kali pada tahun-tahun kemarin. Jatuh dari tangga di Baruch Houses. Anak yang muncul dari belakang Datsun di Lenox Avenue dan menembak tiga kali dengan sebuah Browning, peluru itu mungkin meleset sekitar satu meter dari wajahmu. Hampir jatuh dari lubang udara di 132nd Street, saat mengejar pemerkosa di atap gedung.

Kadang saat-saat itu terasa lebih nyata dari fakta bahwa ia berada di sini, di rumah tua yang tenang ini, bersama seorang wanita hebat yang memaafkannya atas semua hal luar biasa bodoh yang ia lakukan. Lebih nyata dari fakta bahwa mereka memiliki dua anak, yang dulu sering duduk di pangkuannya menonton film John Wayne, lama setelah mereka terlelap di malam-malam sekolah. Mungkin ia sebenarnya hanya berbaring di bawah lubang udara itu, dan ini hanya lamunan seorang lelaki sekarat belaka.

Ia berhenti di tengah tangga, beristirahat sejenak. Bertanya-tanya jika rumah ini masih memadai untuknya dalam beberapa tahun ke depan. Tangganya cukup banyak, tapi lalu mengapa? Ia kehilangan penglihatan, dan bukan kakinya. Masalah yang lebih mendesak adalah luka dan sandungan kecil yang tak akan ia lihat kecuali diperingatkan Patti. Waspada terus-menerus adalah harga tersembunyi yang harus dibayar karena memiliki rumah tua. Kau harus berhati-hati pada retakan lis dinding, paku mencuat dari lantai papan, rak handuk yang menonjol dari dinding. Bagaimana akan memakai gergaji dan obor asetilen jika ia membutuhkan anjing pemandu hanya untuk mengambil sekotak susu dari jarak begitu dekat?

Francis menyampirkan jaket di gantungan baju di dalam lemari kamar tidur dan pergi menuju kamar mandi. Cucuran air dingin mengenai kepalanya ketika ia berdiri di depan wastafel, benturan itu tepat mengenai titik botaknya, mengingatkan bahwa malam itu pasti hujan akan turun lagi dan ia masih belum menemukan atap yang bocor itu. Menetes sejak April. Dari mana air itu masuk? Ia memperkirakan, dibutuhkan sekitar 45 menit untuk naik ke sana dan mencari-cari bocor itu sebelum hari terlalu gelap.

Kau terus bertanya pada dirimu sendiri, apa yang telah kulakukan? Ia menepuk kepala dengan handuk, memikirkan apa yang Eileen katakan. Pasti karena sesuatu yang telah kulakukan.

Bukan aku, saudaraku. Ia tak punya catatan apa pun yang bisa membuatnya terlihat buruk. Ya, maksudnya tak ada yang sungguh-sungguh bisa membuatnya tak karuan. Ia menyelami litani itu lagi, hanya untuk meyakinkan diri. Kau telah menjadi suami yang baik (setelah beberapa guncangan di awal-awal perkawinan), pemberi nafkah yang baik, ayah yang baik, polisi yang baik.

Keadaannya tidak seolah masalah Hoolian ini menyangkut di otaknya seperti pecahan kaca selama bertahun-tahun. Semua orang mengalami beberapa situasi yang mungkin kelihatan sedikit membingungkan jika kau memikirkan ulang hal itu. Tetapi itu sudah terjadi. Kau menjalani hidup yang kau jalani, dan terserah orang lain untuk menambahkan sesuatu dan memberinya tagihan di akhir.

Masa itu adalah saat-saat yang liar dan ia adalah pemimpin mereka. Dua ribu pembunuh setahun di kota itu: bayi ditembak di ranjang, pengacara ditusuk di kereta bawah tanah, dokter digorok di ruang tamu mereka. Kau tak mengirim Jesuit untuk menangani hal macam itu. Kau mengirim seseorang yang bersedia menjadi tembok penghalang. Masalah hidup dan mati bukan untuk tukang cekcok atau mereka yang terlalu hati-hati. Undang-undang hukum pidana tak pernah sanggup membantu hati yang hancur. Amandemen keempat tak pernah menghibur keluarga yang kehilangan orang tercinta. Terkadang kau harus menyingkirkan buku panduan yang berharga di pinggir dan bertindak di ambang zona abu-abu.

Apakah kau benar-benar melihatnya menaruh senjata di sakunya, petugas? Tidak, saya mengamati garis luar jaketnya. Apakah kau benar-benar melihatnya menukar uang dengan narkotika? Ya, bagaimana lagi barang itu akan berada di sakunya?

Tiap kali mengatakan pada diri sendiri bahwa ia tak akan melakukan hal itu lagi, sadar dirinya kian dekat melampaui garis dan tak akan mampu kembali lagi. Ia seorang lelaki yang baik, polisi yang baik. Jadi kenapa ia melakukan hal itu? Mereka mungkin sudah punya cukup bukti untuk mengajukan kasus ini. Sidik jari Hoolian terdapat di senjata pembunuhnya, kunci apartemen korban ada di sakunya. Tetapi pada saat-saat krusial itu, saat tak seorang pun memperhatikan, ia mengambil pembalut berdarah itu yang entah bagaimana tergeletak di lantai dekat tabung pemadam kebakaran, seakan telah diseret ke sana, melekat pada bagian bawah sepatu si pembunuh, dan membuang ke keranjang sampah kamar mandi di apartemen Hoolian, kurang dari enam meter jauhnya.

Selama bertahun-tahun, ia terus mengulang adegan itu di kepala, bertanya pada diri sendiri mengapa itu harus terjadi. Tiap kali yang bisa ia ingat adalah betapa takut dulu perasaannya. Tentu saja, ia takut tertangkap, tetapi ini lebih dari itu. Ia pasti takut jika hal itu tak ia lakukan, yang kini ia sadari. Ia takut kariernya jatuh, bahwa semua orang akan melihat bahwa pada kenyataannya, ia bukan orang yang dapat dipercaya untuk jabatannya.

Francis membuka pintu lemari obat dan menutupnya. Brengsek. Tepat seperti dalam perang, kau tak selalu bisa menunggu untuk bukti mutlak. Lagi pula, mereka semua bersalah untuk sesuatu hal, kan?

Tapi dua puluh tahun sejak kejadian itu, ia tak pernah melampaui batas lagi. Tangisan ayah anak itu ketika hakim berkata, "Hukuman dua puluh lima tahun penjara,' telah mengembalikan ketakutannya akan Tuhan. Ia telah diperingatkan.

Entah mau mengakuinya atau tidak, ia berubah setelah peristiwa itu. Tidak sekaligus, tetapi bertahap. Berhenti minum dan main perempuan, mulai menghabiskan waktu bersama anak-anak dan memperbaiki hubungan dengan Patti. Dan, memastikan seyakin-yakinnya bahwa ia tak pernah menjebloskan orang ke penjara lagi tanpa memberinya kesempatan yang adil. Dilihat dari sudut apapun, ia telah menanggung hukumannya. Jadi, mengapa ia terus merasakan tangan dingin ini di jantung?

Ia meninggalkan kamar mandi dan melihat mesin penjawab telepon berkedip di atas meja. Terlalu dini untuk mengharap kabar dari Dave di kantor forensik, sehingga pikirannya melayang kembali pada Eileen. Anak-anak menyimpan rahasia. Apapun artinya. Ia bertanya-tanya apakah ia melewatkan sesuatu lagi selama ini. Darah yang sama dua puluh tahun kemudian. Ayolah, Dewa Hal-hal Kecil, berikan petunjuk. Separo sidik jari pada gelas air. Noda darah di serat karpet. Sebuah noda DNA Hoolian di salah satu handuk Christine. Ia bukan mencari hasil tertentu kali ini. Sudah cukup aku bermain-main dengan takdir, ia membatin. Waktunya tak tepat dan manfaatnya juga nihil. Cukup bantu aku melakukan hal yang benar, kali ini.

Telepon berdering sebelum ia memencet tombol Playback. Diangkatnya cepat gagang telepon, berharap itu adalah Rashid yang membawa kabar baik dari gudang barang bukti, lalu menggeram, "Yo." Tetapi hanya ada bunyi desis, seperti jatuhan salju di angin keras.

"Ada orang di sana?"

Ia melirik kotak identitas penelepon dan menemukan kata "Tak tersedia."

"Dengar, siapa pun ini, aku sedang tak butuh permainan brengsekmu. Aku capek. Jika ingin menyampaikan sesuatu, hubungi aku di kantor."

Ia mendengar tarikan napas ringan di saluran telepon dan mendadak ruangan terasa lebih dingin.

"Oke, Brengsek."

Ia menekan tombol off dan melemparkan telepon ke tempat tidur. Kemudian berpikir sejenak dan mencoba melacak nomor tadi, namun tak berhasil. Terserah. Aku tak takut hantu. Ia pergi ke jendela untuk melihat seberapa banyak sinar matahari yang masih dipunyainya. Kaca di bawah jemarinya terasa dingin dan sedikit berembun, seolah-olah seseorang baru saja menghembuskan napas ke sana dari samping. Awan menggantung rendah di atas sungai, di sana-sini bayangan separo memayungi gedung-gedung perkantoran Manhattan. Dan, dari kamar sebelah, ia mendengar air menetes dari langit-langit, memerciki wastafel dengan jeda yang ganjil.

31

Hoolian memperhatikan tetesan air hujan yang turun bagai seratus ribu benang pancing dan membungkukkan badan di depan kamar mandi Zana, masih mencoba menegakkan pintu.

"Siapa pun yang mengerjakannya, ia pasti sedang teler," katanya. "Lihat posisi engsel yang salah ini."

"Hmm." Perempuan itu berdiri beberapa meter darinya, tangan terselip di bawah ketiak, mengamati lelaki itu dengan mata cokelat besarnya, mungkin berharap lelaki itu tak membuat keadaan lebih buruk.

Zana tinggal di lantai dua sebuah gedung lama yang tak pernah diperbaiki di Red Hook, daerah yang berbatasan langsung dengan laut, terpisah dari bagian Brooklyn lain oleh jalan kereta api. Crane dan pembongkar kargo menumpuk seperti dinosaurus di tepi dermaga. Jalan-jalan dibuat dari batu bulat dan memiliki nama-nama seperti Pioneer, Verona, King, Beard, Coffey, dan Visitation Place; dan sepertinya ada saja orang nongkrong di pintu gudang setiap satu atau dua bloknya, memberi kesan orang itu melakukan pekerjaan yang mungkin tak ia sukai. Bahkan dalam hujan, Hoolian bisa melihat sebagian Patung Liberty lewat kaca jendelanya, dan kadang-kadang kapal membunyikan klakson saat melewati Terusan Buttermilk di dekat sana.

Zana telah bekerja amat keras untuk memperindah tempat tinggalnya, menggantungkan syal warna cerah di lorong pintu masuk, menyalakan lilin di beberapa titik. Ia juga menutupi lubang di dinding dengan panel kartun hitam-putih yang digambari tokoh-tokoh mungil yang mengembara di sepanjang lorong mirip ngarai dan lukisan bayi dalam keranjang, yang jika diamati lebih saksama ternyata merupakan lukisan wanita yang sama pada tahap-tahap kehidupan berbeda, diabadikan oleh formaldehyde.

"Kau pasti tidak punya bor, kan?"

Zana pergi ke kamar sebelah dan kembali dengan bor listrik Black & Decker, mata bor seperempat inci telah terpasang di sana.

"Kenapa wanita selalu punya alat-alat ini tapi tak tahu cara menggunakannya?" tanya Hoolian, mencolok steker dan mengamati dinding dengan hati-hati, mewaspadai percikan api yang mungkin muncul.

"Ia tukang kayu."

"Siapa?"

"Lelaki yang bersamaku sebelumnya. Suamiku."

"Suami-mu?" Hoolian hampir menjatuhkan bor. "Maksudmu? Mengapa kau tak pernah menyebut-nyebut tentang ia sebelumnya?"

"Ia tak ada hubungannya sekarang. Kami telah berpisah.”

“Oh."

Ia menusukkan bor dua kali dan melirik, berusaha mencari sesuatu untuk diucapkan. Rasanya seperti baru saja memergoki seseorang tengah mengobrak-abrik selnya. Ia berpaling dan mulai mengebor lubang baru di kusen, menyibukkan diri sebelum ia melakukan hal bodoh.

"Ia berasal dari kota yang sama," jelas Zana. "Orang tua kami saling kenal. Kau tahulah kisah seperti itu. Mereka mengira ia bisa menjagaku setelah apa yang terjadi di sana. Tetapi kami lalu tiba di Amerika, dan ia bahkan tak bisa menjaga dirinya sendiri."

Hoolian menaruh bornya dan meniup debu kayu dari lubang, berusaha melihat seberapa dalam lubang itu. "Apa maksudmu?"

"Ia benar-benar brengsek. Tak ada lagi yang bisa kuceritakan tentangnya."

Narkotika, duga Hoolian, berusaha tetap tenang. Itu sepertinya merupakan jawaban bagi satu dari tiga pertanyaan yang muncul di permukaan sebagaimana yang muncul dari dalam. "Setidaknya kau masih menyimpan peralatannya." Ia mengambil alat ukur yang disodorkan Zana, berpura-pura tak terlihat begitu terganggu.

"Ya, salah satunya..."

Perempuan itu menatap keluar jendela, lebih tertarik mengamati cuaca daripada membahas topik ini. "Jadi kalian bercerai sekarang?"

"Tentu." Ia melambai pada seseorang di luar. "Aku menengoknya sesekali. Sangat jarang."

"Waktu itu kau pasti masih begitu muda."

Hoolian menahan satu engsel di atas kusen dan membuat tanda untuk tempat sekrup kedua, berkata pada dirinya sendiri bahwa beginilah orang dewasa di luar penjara dibikin sibuk dengan hal-hal semacam ini.

"Semua orang juga pernah muda. Ini hanya alasan yang dibuat-buat."

Hoolian meraih bor dan mulai membuat lubang lain. Ia berpikir tentang semua hal lain yang mesti dikerjakan saat ini untuk menolong dirinya sendiri. Ia mestinya menyelidiki lebih giat; mencari saksi lebih banyak untuk alibinya. Dan paling tidak, mestinya mencari pekerjaan lain atau menulis surat pada serikat tempat ayahnya bergabung, untuk mencari tahu apakah ia berhak atas sejumlah barang. Tetapi, sekali lagi di sanalah dirinya, Hoolian si bodoh, tak bisa menolak wanita yang butuh pertolongan.

"Sudah berapa lama kau tinggal di sini, ngomong-ngomong?" ujar Hoolian, melepaskan ketegangan dan membiarkan desau kesedihan berembus keluar. "Sepertinya kau tak punya kerabat atau teman di sekitar sini."

"Baru beberapa bulan," jawabnya. "Sebelum ini, aku tinggal di Pelham Parkway di Bronx, tapi di sana keadaannya hampir seperti di negeri asalku. Orang-orang yang kenal keluargaku—aku tak tahan. Aku harus pindah. Ibuku menangis dan menangis, tapi kubilang,'Meme, kenapa kau sedih? Kita di Amerika. Shtendosem. Tenanglah.'"

"Ya. Kau tak bisa menyalahkan orang lain jika ingin memulai awal yang baru."

"Jadi kau bisa memperbaiki pintu ini? Menyenangkan sekali, memiliki privasi sendiri."

"Yeah, kukira ini akan baik-baik saja." Ia mengukur jarak antara engsel atas dan bawah, senang tangannya sibuk. "Tapi siapa yang memasang pintu ini sebelumnya? Sepertinya ia menaruh sedikit dempul saja. Masih belum kering pula."

"Suamiku. Semua yang ia lakukan tak ada yang beres."

Hoolian menoleh perlahan. "Kukira kau tak pernah melihatnya lagi setelah pindah dari Bronx."

"Kadang ia mampir ke sini. Jika ada perlu."

"Begitu." Ia membiarkan lidah alat ukur itu tertarik kembali ke tempatnya dan menjatuhkannya ke lantai.

Tersadar olehnya ada dua kamar lain di apartemen itu yang belum ia perlihatkan. Ia mendengus dan melirik ke kamar mandi, seolah-olah ia bisa mencium kehadiran pria lain di sana. Ototnya mengumpul saat memikirkan apa yang akan ia lakukan jika ternyata ia dipermainkan lagi.

"Ya, kalau kau bertemu suamimu lagi, bilang padanya agar lebih baik diamkan saja alat-alat ini jika tak bisa menggunakannya."

Tetapi alih-alih mendengarkan Hoolian, Zana bergegas meninggalkan mangan, terpancing oleh suara kunci berputar di pintu depan.

Bunyi gemerencing itu menohok langsung ke ujung sarafnya saat pintu tertutup. Ia mendengar Zana tertawa dan bicara pada seseorang dalam nada riang yang tak pernah terdengar saat bersamanya.

Hoolian berlutut dan berusaha meluruskan engsel bawah, menyadari dirinya telah dimanfaatkan lagi. Mestinya ia pergi saja dan meninggalkannya dengan pintu kamar mandi terbuka. Biar si bodoh lain yang mengumsi. Atau, sadar tangannya memegang bor sebagai senjata, ia bisa beradu mulut dan dada jika saingannya masuk. Alih-alih demikian, ia memutuskan untuk menyelesaikan pekerjaan, sebagaimana Papi akan melakukannya, hanya untuk memamerkan pada saingannya sambil berujar: lihat, beginilah cara seorang pria melakukannya. Lalu berbalik dan pergi, seperti jago tembak di atas kuda.

"Hey, kau punya obeng untuk menyelesaikan pintu ini?" ia memanggil, menurunkan suara setengah oktaf untuk memberi tahu si pengganggu bahwa ada dirinya di sini.

"Sebentar," jawab Zana, sebelum ia berbisik-bisik penuh konspirasi pada tamunya.

Sudah cukup, putusnya. Ia tak akan tinggal lebih lama lagi. Ia belum pernah melewati kesulitan-kesulitan yang bisa membunuh lelaki lain sepuluh kali hanya untuk diperlakukan dengan tak hormat seperti ini. Ia setengah bangkit dari posisi membungkuk, bersiap-siap adu kepala.

Tetapi, tirai di antara kedua ruangan itu bergerak dan alih-alih mengira akan menjumpai lelaki mabuk, sesosok bocah lelaki kecil muncul, empat atau lima tahun umurnya. Anak itu bergerak sembarangan, seakan-akan lengkung kakinya belum terbentuk sempurna dan ukuran kepala membuatnya maju ke depan. Matanya agak terlalu besar dan kulitnya berwarna kentang pucat. Hoolian menoleh pada Zana, meyakinkan kemiripan antara ibu-dan-anak, dan baru disadarinya anak itu membawa obeng dengan ujung mengarah ke lantai.

32

Bulan terbungkus awan hitam ketika Patti muncul dan menemukan Francis di atap dalam suasana hampir gelap gulita, senternya bergerak perlahan melintasi kegelapan. "Unit TKP?" tanya Patti.

"Bocor di atas wastafel kamar mandi itu lagi. Membuatku gila."

Istrinya menghampiri dan menempelkan badan padanya. "Kau dingin. Kau tak di sini sejak hujan tadi, kan?"

"Sebagian kena hujan. Hujan bakal makin besar nanti."

Ia menoleh ke arah Manhattan, lampu-lampu tampak semuram dan sekabur lampu bawah air buatnya, kini. Ia ingat betapa dulu senang pergi ke sini dan menatap lampu-lampu itu, mengetahui bahwa setiap jendela yang bercahaya adalah bagian dari kode genetik raksasa kota itu, pola yang hanya dipahami para dewa dan perencana kota.

"Bukankah sulit menemukan atap yang bocor dalam gelap?"

"Waktu paling baik untuk mencarinya adalah tepat setelah hujan." Sinar senternya mengembara tanpa tujuan. "Air bisa datang dari mana saja."

Sebuah bus di bawah berlalu mendesah, bersama para pengendara larut malam.

"Lalu, ada berita apa?" tanya Patti.

"Kau tahu bagaimana aku benar-benar dipusingkan oleh masalah brengsek yang terjadi di laboratorium?"

"Ya, kau mencari DNA Julian Vega dan malah menemukan sampel dari wanita yang sama pada kedua korban."

"Tepat. Karena itu aku mencari sampel Eileen Wallis agar kami bisa mengeliminasi putrinya, Allison, sebagai sumber DNA." Ia sengaja tak memberi tahu istrinya tentang muslihat sapu tangan itu; menyadari sebagai mantan jaksa Patti pasti akan mengecam.

"Tapi untuk apa kau membutuhkan sampel itu? Ia sudah mati, bukan?"

"Tentu saja, tapi kami masih harus melalui semua tahapan untuk memastikan tak ada yang mengacau dan keliru melabeli darah si korban."

"Dan?"

"Aku baru mendapat telepon dari David Abramowitz di kantor forensik lewat ponsel." Ia menarik napas panjang, masih berusaha menyerap hal yang baru didengarnya. "Hasilnya sudah ada. Eileen Wallis adalah ibu dari wanita yang darahnya kami temukan pada kedua TKP."

"Apa?"

"Begitulah. Ternyata itu putrinya."

"Tunggu." Patti menyentuh bahunya. "Jelaskan ini padaku."

"Oke. Ada darah di bawah kuku korban pada pembunuhan tahun 1983, seolah ia mencakar penyerangnya. Semula, kami mengira itu mungkin DNA Hoolian. Tetapi ketika kami membandingkannya dengan darah Allison yang tertinggal di. sarung bantal, ternyata cocok. Keduanya adalah darahnya."

"Aku mengerti sejauh ini," kata Patti. "Ia berlumuran darah di mana-mana."

Benar. Itu sering terjadi. Masalahnya adalah Dave sudah melakukan perbandingan dengan DNA yang diambil dari kuku Christine tepat di hari sebelumnya. Aku memintanya melakukan hal itu, dugaanku ini pasti akan mengarah pada Julian pada kedua kasus dan kami dapat menahannya untuk itu. Alih-alih begitu, darah itu cocok dengan DNA wanita di sarung bantal Allison."

"Oh..."

"Tepat. Karena itu kami sadar kami harus kembali lagi dan memastikan bahwa darah yang dilabeli nama Allison di sarung bantal itu benar-benar miliknya sejak awal. Karena jika tidak, kami hanya melanjutkan dugaan keliru. Jadi kami mengambil sampel ibunya, dan apa yang kami temukan? Bukan hanya darah putrinya di sarung bantal, tetapi darah putrinya itu juga yang ditemukan di bawah kuku Christine Rogers."

"Tunggu sebentar, tunggu sebentar." Patti melambaikan tangan. "Kukira ia hanya punya satu putri. Aku tak tahu ia punya putri lain."

"Ia mengatakan dirinya memang tak memiliki putri lain."

"Oh, brengsek."

Terdengar suara pop keras dan mereka berdua terlompat. Suara tawa anak-anak lelaki menggema dari toko kelontong di sudut jalan, dan Francis menyadari seseorang baru saja menyalakan petasan kecil di atas tutup kaleng sampah logam.

"Aku bingung, Patti," akunya. "Aku benar-benar tak mengerti."

"Tapi bagaimana mungkin hal itu terjadi? Maksudmu kau menemukan sel kulit Allison Wallis di bawah kuku Christine Rogers, dua puluh tahun setelah pemakamannya?"

"Sepertinya begitu."

"Dan seberapa besar kemungkinan terjadi kesalahan?" Patti mulai berpikir secara analitis lagi setelah bertahun-tahun jauh dari kantor jaksa.

"Tak ada, kecuali jika hal ini melibatkan kembar identik."

"Ada yang bermain-main denganmu," katanya.

"Sudah pasti."

"Maksudku, seseorang benar-benar mempermainkanmu. Aku belum pernah mendengar hal seperti ini."

Francis mengangguk muram. "Aku bekerja bersama seorang anak muda dari gugus satu-sembilan, Rashid. Ia kembali ke gudang barang bukti malam ini, untuk mencari tahu siapa tahu bisa memperoleh benda yang menyimpan darah Allison. Adiknya berteman dengan seorang gadis yang bekerja di sana. Tapi, sejujurnya, aku tak tahu apa yang akan kulakukan jika ia menemukan profil yang sama, yang membuktikan bahwa DNA Allison yang ada di bawah kuku Christine."

"Kau yakin mengubur gadis yang benar pada tahunr 1983?".

"Oh, demi Tuhan, Patti, kini kau terdengar seperti Eileen Wallis..."

"Kenapa, apa yang ia katakan?"

'"Allison tidak mati'. Orang lain yang dikubur di Cricklewood."

Ia mengayunkan sinar senter, dan meninggalkan jejak dalam kegelapan seperti ikan trout bergerak dalam air yang hitam.

"Pasti ada anak perempuan lain." Patti menggelengkan kepala. "Kecuali jika kakak lelakinya itu wanita yang menyamar atau apalah."

"Aku berdiri di sampingnya di WC. Ia punya benda yang kupunya."

"Maka Eileen bohong padamu."

"Mengapa ia mesti melakukan itu?"

"Siapa yang tahu? Kau bilang sendiri ia sinting."

"Yeah, tapi apa yang bisa kulakukan? Bagaimana kau mencari seseorang yang tak ada? Jika Eileen punya putri lain yang tak ia ceritakan pada siapa pun, gadis itu mungkin punya nama berbeda, identitas yang sama sekali lain. Menemukannya akan seperti mencari jarum di tumpukan jerami."

Francis mengarahkan senter ke luar ke kaki langit Manhattan, pola yang tersusun berubah dan berganti tiap saatnya.

"Kau detektif sungguhan atau bukan?" Patti menyikutnya. "Kau mencari seorang tersangka dan sudah mendapat DNA ibunya. Menurutmu apa yang harus dilakukan? Berikan pada negara bagian dan pemerintah. Lihat kalau-kalau kau memperoleh petunjuk. Jika kau bicara tentang seseorang yang membunuh dua orang dalam dua puluh tahun terakhir, ada kemungkinan ia pernah ditahan untuk alasan lain, minimal sekali."

Francis mengarahkan senter ke bawah dagu istrinya, menyinari dari bawah seperti Lincoln Memorial.

"Pintar juga, Anda, Nyonya," ujarnya.

"Banyak hal di dunia ini yang terlihat lebih mudah dimengerti jika kau punya vagina."

Francis mengangguk, menyadari kebenaran universal ini bahkan saat ia mulai terperosok kembali dalam keputusasaan.

"Masalahnya, aku tak tahu apa yang harus kami lakukan jika cara itu tak berhasil. Kukira kita bisa mencoba pencarian buku nikah dan akta kelahiran skala besar, untuk melihat kalau-kalau Eileen pernah menikah sebelumnya atau menyerahkan anak untuk diadopsi tanpa mengatakan pada siapa-siapa. Tetapi masalahnya, jika kini berbohong soal memiliki anak lain, ia juga mungkin waktu itu berdusta dan menggunakan nama berbeda."

"Kalau begitu, aku tak tahu bagaimana kau akan memecahkannya."

Ia menyapukan sinar ke udara, tak lagi mampu melihat lebih dari satu meter di muka. Kegelapan telah merayapinya. Ia naik ke sini dengan anggapan mungkin dapat memperoleh secercah cahaya matahari di saat-saat terakhir, tetapi malam tiba-tiba saja meliputinya.

"Francis," kata Patti pendek. "Aku ingin menanyakan sesuatu padamu."

"Apa?"

"Apakah ini berarti kau memenjarakan orang yang salah?"

Dilihatnya sinar itu sedikit berkedip dan diguncangnya senter itu, berharap baterainya tak habis.

"Kau tak tahu itu dan aku juga tidak," jawabnya terlalu cepat. "Aku masih berpikir Hoolian terlibat dalam peristiwa itu. Terlalu banyak kebetulan, Christine Rogers sering bicara tentangnya, dan mengumpulkan kisah kasusnya."

"Jadi, kau ingin bilang bahwa ini...konspirasi?" tanya Patti, seolah menganjurkan agar pergi tidur akibat mabuk di sofa.

"Aku tak tahu. Aku hanya bilang, aku tak menjebloskan orang tak bersalah selama dua puluh tahun."

"Kau terdengar begitu yakin, untuk seseorang yang belum mengetahui semua faktanya."

"Hey, aku hanya melakukan tugas. Aku menyerahkan kasus itu pada Jaksa Wilayah dan ia menyerahkan pada juri. Mereka yang memberi keputusan atas barang bukti. Itu saja. Aku hanya bagian dari proses."

Wanita itu meraih tangan suaminya dan meremas lebih kuat dari yang mungkin lelaki itu harapkan.

"Biarkan saja salju turun semau mereka," katanya. "Aku bisa menanganinya."

"Kuharap begitu, Francis."

Ia melepaskan tangannya. "Aku akan tidur nyenyak jika kasus ini selesai."

"Oke. Kupegang kata-katamu."

Didengarnya istrinya itu pergi menjauh, kembali menuju ambang pintu dan tangga. "Kau ikut tidur?"

Francis melangkah ke satu undakan dan hampir tersandung pada ember yang berniat ia bawa turun selagi matahari masih ada.

Kegelapan tak memberinya kesempatan, tak ada petunjuk ke mana mesti berbelok. Gelap mengurung Manhattan, menghalangi bintang dan menelan jendela rumah para penghuni. Kegelapan menjadi hidup bersama hal-hal yang tak terlihat: alarm mobil, sirene ambulans, pesawat yang terbang rendah, decit rem, omelan sinting, kaca pecah.

"Aku tak bisa.”

“Apa?"

"Kubilang, aku tak bisa. Aku tak bisa bergerak dari tempatku."

"Mengapa?"

"Karena aku tak bisa menemukan jalan turun dari sini, Sayang," jawab Francis. "Aku tak bisa melihat apa-apa."

33

"Begini ceritanya."

Hoolian menggelar peta kereta bawah tanah di lantai kayu sembari putra Zana, Eddie, duduk di pangkuannya, masih bermain dengan obeng.

"Jadi tiap Sabtu, saat anak-anak lain masih tidur, Papi akan membangunkanku pagi-pagi sekali dengan roti gulung mentega dan cafe con leche dan membawaku naik kereta."

Kepala kecil berat itu bersandar di dada dan ia mulai menyusuri garis berwarna panjang itu dengan jarinya.

"Kami akan menaiki jalur berbeda tiap kalinya agar seolah-olah sedang bertualang. Kadang-kadang kami mencari stasiun hantu."

Anak itu melirik dari bahunya dan mengernyitkan hidung.

"Kau tak tahu stasiun hantu?" tanya Hoolian. "Itu adalah stasiun-stasiun terbengkalai yang telah dilupakan orang. Jadi ketika kau memalingkan kepala dengan sangat cepat saat kereta melewati putaran balik, kau bisa lihat mereka membangun gua cantik di bawah Balai Kota, dengan tempat-tempat lilin kuningan dan ubin Gustavino indah di dindingnya/Ayahku bilang, jika naik kereta larut malam, kau bisa melihat hantu-hantu dalam pakaian pesta, berdansa, dan minum sampanye."

Anak itu mengerutkan wajah lagi, berusaha memasang wajah sinis, tapi matanya justru bersinar.

"Tapi kesukaanku selalu hari St. John Pembaptis," lanjut Hoolian, tahu anak itu berada dalam kendalinya. "Nah, setiap musim panas, Papi akan mengajakku naik kereta F ke Coney Island untuk mencoba semua jalur kereta. Namun setelah seharian, kami akan pergi ke pantai dan bergabung dengan orang lain yang berkumpul di sepanjang pesisir untuk berjalan mundur ke arah laut. Seperti ritual penyucian untuk membersihkan diri dari kemalangan."

Ia diam sejenak, mengingat-ingat. Ayahnya tak pernah benar-benar suka hal-ihwal tradisi, tetapi sungguh menyakitkan baginya untuk tak bisa lagi berjalan mundur ke dalam air bersama anaknya untuk terakhir kali. Negara membuat Hoolian memulai hukuman sebelum el Dia de San Juan Bautista pada tahun itu.

"Eddie." Zana muncul dari dapur memegang busa pencuci. "Ba."

"No, Meme," jawabnya, memohon waktu lebih.

"Ayo," ibunya bersikeras. "Buat seperti pohon dan pukul."

Eddie berpaling dan memeluk Hoolian, seolah pelukan itu bagian dari rutinitas malam hari yang biasa mereka lakukan selama bertahun-tahun. Kemudian ia melompat dan berlari untuk mandi, tanpa menyadari ia baru saja mengoyak segumpal rasa kesendirian dari hati seorang pria dewasa.

"Mengapa kau tak pernah memberi tahu bahwa kau punya anak?" Hoolian menoleh di belakang Zana, bertanya-tanya betapa hal itu terjadi begitu cepat.

"Itu tidak menarik bagi kebanyakan lelaki."

Hoolian mendengar suara gemercik air mandi dan ia beranjak ke dapur untuk membantu Zana menyelesaikan cuci piring.

"Aku senang kau membolehkannya membantumu," kata Zana. "Baik baginya untuk melihat pria dewasa bekerja. Tidak seperti ayahnya, yang sama sekali tukang keluyuran. Ia suka padamu."

Pernyataan itu tak sesuai kenyataan, pikir Hoolian. Anak itu berlari-lari di dekatnya, membawakan alat-alat dan air, melontarkan saran-saran tak diminta tentang cara mengetam sudut dan mendempul sisi engsel, menatap penuh kekaguman saat pintu mengayun terbuka untuk pertama kali.

"Siapa yang menjaganya sepanjang siang?"

"Tetanggaku Ysabel punya anak gadis kecil, umurnya hampir sama. Jadi kami saling bertukar menjaga. Ia sobatku dari kampung halaman si tukang teler."

Zana tersenyum malu-malu, terlihat rongga kecil di antara dua gigi depannya. Tapi entah mengapa hal itu membuat wajahnya lebih hidup dan membikin Hoolian sedikit tergetar, menyadari perempuan itu baru saja memperlihatkan sesuatu yang jarang ia tunjukkan pada orang lain.

"Ya, dulu aku sering membantu Papi saat seumurnya. Itu satu-satunya cara aku belajar membuat segala sesuatu dengan tanganku."

"Kau tak pernah ingin punya anak sendiri?"

"Oh, tentu." Ia mengambil kain lap dan mulai mengeringkan piring. "Kurasa aku akan menjadi ayah yang hebat. Pepatah bilang kau meneruskan apapun yang kau terima ke generasi berikutnya."

"Jadi, mengapa kau belum melakukannya?" ia menyerahkan sebuah piring. "Apa?"

"Punya anak, di usiamu? Apa yang menahanmu?"

"Aku tak tahu. Belum pernah berhasil saja."

"Aku tak percaya." Zana mematikan keran air panas dan menghadap Hoolian lurus-lurus. "Entah kau gay atau jatuh cinta pada wanita lain."

"Aku bukan gay," ujarnya, menyilangkan tangan di depan dada dan melepaskannya lagi, khawatir terlihat feminin.

"Lalu kenapa? Kau ingin mengatakan padaku bahwa tak pernah ada wanita lain?"

"Aku tak ingin membahas hal itu."

"Sudah kuduga," katanya.

"Itu sudah lama sekali."

"Ia menyakitimu?"

"Aku tak mengerti mengapa harus ada seseorang yang patut disalahkan. Kadang terjadi begitu saja."

Hoolian mengambil busa dan mengelap meja makan dengan permukaannya yang keras, menyeka noda tomat dan spaghetti kering.

"Tidak, kurasa bukan begitu," ujar Zana. "Seseorang selalu menjadi korban."

"Ya, aku belajar untuk tak memandang dengan cara seperti itu."

Ia menyelesaikan pekerjaannya mengelap meja dan pergi ke kamar lain, mendengar Eddie telah selesai mandi dan menonton Sesame Street Visits the Firehouse di belakang.

Cahaya kuning pucat dari enam lilin berderik dan meredup dalam bayangan, menciptakan suasana bawah tanah agak menyeramkan di ruang tamu yang sedikit dikacaukan oleh suara Fireman Bob yang menyanyikan "Waiting for the Bell to Ring."

"Kau masih memikirkannya?" Zana berdiri di ambang pintu.

"Kenapa kau berkata seperti itu?”

“Perasaanku mengatakan begitu." Lilin di hadapan Hoolian bergetar, bilah Jingga kecil menusuk dalam kegelapan. "Ia telah meninggal."

Zana melangkah dan berhenti di separo jalan. "Sungguh?”

“Ya. Sungguh. Sudah lama sekali. Benar-benar membuatku kacau."

"Apa yang terjadi?"

"Sesuatu yang sungguh-sungguh brengsek. Bisakah kita tak membicarakan hal itu?"

Pijar di depannya berguncang. Hoolian yakin Zana akan menekannya sekarang. Dan, ia bakal terpaksa berdusta atau mengatakan yang sebenarnya dan menghancurkan semua. Lelehan lilin membelok ke dalam cawan. Sebagian dirinya sangat ingin membeberkan seluruh peristiwa itu dan melupakannya. Meski, hatinya hanya tertusuk dan tercabik. Tapi, sebagian lain dari dirinya ingin bersandiwara sedikit lebih lama.

"Tapi suatu hari kelak kau akan cerita padaku?"

Hoolian mengeluarkan bunyi dalam di tenggorokan; bukan ya, bukan pula tidak. Ia setengah berharap Zana akan mendengar nada peringatan itu dan tahu diri untuk berhenti mengejar.

"Ya, kurasa sungguh menyedihkan," ujarnya. "Apa?"

"Memiliki hati yang baik namun tak ada orang yang menerimanya."

"Siapa bilang hatiku baik?"

Didengarnya tumit telanjang Zana menginjak lantai kayu, satu per satu. Mestinya ia pergi ke pintu sekarang dan membiarkannya membuka. Naluri yang mengatakan untuk mendorong ia keluar dari kepompong asalnya begitu menekan dada. Zana mengetahui kebenaran tanpa perlu mendengar rinciannya: lelaki di hadapannya terlalu rusak untuk menjadi seseorang yang berguna bagi siapa pun. Hoolian mengenakan sepatu bot dan berdiri, bersiap membuat alasan dan pergi.

Namun, Zana berdiri di hadapannya, menghalangi jalan dan menatap lurus. Ia merasakan kehangatan tubuh wanita itu hampir menyentuh tabuhnya dan sebuah perasaan yang hampir menyakitkan menariknya menjauh. Ia berusaha bertahan, mengatakan pada diri sendiri bahwa ini tak benar. Ini pasti sebuah trik, sebuah jebakan. Apa yang wanita itu lihat darinya? Ia seharusnya ditinggalkan sendirian. Ia mestinya tak tersentuh. Cinta tak sepatutnya menghampiri. Lilin itu meretih dan Mr. Monster di ruang sebelah berteriak-teriak karena rumahnya terbakar. Sisa-sisa pertahanannya meleleh.

Ia melingkarkan lengannya pada Zana dengan hati-hati, merasa yakin akan ditolak. Alih-alih demikian, lutut Zana naik di antara kedua pahanya dan ia merasakan campuran rasa senang dan teror merayapi. Tangan perempuan itu berhenti di belakang leher dan ia menekankan tubuh padanya, melekatkan sebentuk hasrat. Dua puluh tahun menahan diri tanpa pernah membiarkannya runtuh, tak pernah mempercayai kenikmatan dan selalu mengharap yang terburuk, bergulat dan berjuang menjaga dorongan paling kuat dalam tubuhnya agar selalu terbungkus.

Dan, semua mengalir begitu saja. Zana menyapukan lidah pada bibirnya dan melepaskan pakaian Hoolian dengan mudah seperti seorang anak melepaskan tali sepatu.

34

Francis menengadah ke langit-langit, seorang pria dewasa yang akan berusia lima puluh beberapa bulan lagi. Sebentar lagi menjadi Detektif Kelas Satu dengan dua puluh lima tahun karier dan sejumlah penghargaan. Terluka tiga kali dalam tugas dan tak pernah cuti bekerja lebih dari sebulan. Ia bahkan pernah membunuh seorang pria. Satu kali. Seorang narapidana bersyarat bernama Arturo Cruz yang tengah mabuk dan Cuervo yang menyerangnya dengan pisau Stanley tepat setelah Cruz menusuk istrinya hingga tewas. Francis, yang baru empat belas bulan lulus dari akademi, menarik picu pistol dua kali dan menjatuhkannya di lorong rumah petak Avenue C. Bukan kenangan menyenangkan, tapi ia harus melakukan apa yang harus dan persetan dengan mereka yang mempergunjingkan. Sejak saat itu, ia menjebloskan para psikopat, penggorok leher, peleceh anak, mafia, komplotan geng, dan pembunuh bayaran murahan. Ia pernah melakukan operasi penyamaran tiga bulan dalam sindikat perdagangan heroin besar di Loisaida, yang saat itu pemimpinnya bersumpah—dan terdengar berkat alat penyadap—akan memenggal kepala Francis jika bersaksi di pengadilan. Alih-alih meminta perlindungan, Francis pergi ke pengadilan dan tertawa di depan wajah si tolol itu. Tapi, kini ia di sini, di rumahnya sendiri, di ranjangnya sendiri, di sebelah ibu dari anak-anaknya, merasa takut pada kegelapan.

"Kau pasti mengira dirimu cukup cerdik," ujar Patti. "Apa maksudmu?"

"Dari caramu menutup-nutupi, memindahkan perabotan. Membiarkan lampu menyala di lorong. Memintaku mengemudi saat cahaya redup. Kukira kau habis minum-minum lagi."

Francis berusaha membujuknya. "Aku tak bermaksud membohongimu, Sayang."

"Tidak, tentu saja tidak. Kau hanya tak ingin memberitahuku bahwa kau akan menjadi buta."

Istrinya duduk dan menyalakan lampu baca.

"Berapa lama?" katanya, mengarahkan sinar pada matanya dan mengatur nyala cahaya pada tiga derajat.

"Aku tak tahu. Kurasa aku sudah menyadarinya beberapa lama sebelum pergi ke dokter—"

"Bukan, Francis. Berapa lama lagi hingga kau tak dapat melihat sama sekali?"

Patti menyelidiki matanya dari dekat, seolah-olah bisa melihat spikula-spikula itu mengumpul.

"Tidak lama lagi, mungkin. Ini bukan seperti bakteri pemakan otot atau apalah."

"Tapi pamanmu pernah mengalami hal seperti ini, bukan? Kau cerita tentang ia yang selalu berteriak padamu karena mencuri pemantiknya padahal benda itu berada tepat di hadapannya."

"Yeah, tapi ia memang benar-benar brengsek. Aku tak akan seperti itu. Kau tahu aku, aku bisa menjaga diri."

"Jadi, hanya itu? Ada perkara lain yang akan kau ceritakan padaku? Kanker otak? Gagal hati?"

"Tidak. Kau hanya akan menikahi seorang pria buta. Seperti Ray Charles tapi tanpa musiknya. Kukira cukup itu dulu saat ini."

"Brengsek kau, Francis. Kau kira ini lucu? Apa yang sudah kau lakukan? Bercerita pada rekan-rekanmu di Coogan's sebelum padaku?"

"Tidak, aku belum mengatakan pada siapa pun. Kupikir jika aku tak mengatakan apa-apa, kebutaan itu tak akan benar-benar terjadi."

"Aku istrimu." Patti menarik selimut dari suaminya. "Akulah yang akan mengisi formulir asuransi dan membawamu ke dokter. Tidakkah kau pikir aku berhak tahu?"

Francis mendengar suara hujan memukuli jendela dan mendengarkan suara bocor di kamar mandi, merasa ngeri pada tiap tetesannya di wastafel.

"Apakah kau akan meninggalkanku sekarang?" tanyanya.

"Apa?"

"Aku hanya mengingatkan bahwa itu sebuah pilihan. Kau tak berharap akan menjadi pasangan seorang cacat, toh."

Patti menopang dengan sikunya. "Kau benar-benar berpikir aku akan melakukan hal itu?"

"Kalau kau pergi pun aku tak akan menyalahkanmu. Tuhan juga tahu, kau bisa saja melakukannya ratusan kali sebelum ini dan tak ada yang akan menyalahkanmu."

"Ya, ampun, Francis, aku bukan ibumu."

Ia menyeringai seolah-olah istrinya itu menggarukkan kuku ke wajahnya.

"Sudah kuduga kau akan berkata seperti itu."

"Maaf." Patti mencubit hidung suaminya. "Aku tak bermaksud begitu. Aku hanya ingin bilang, kau tak akan kehilanganku."

Francis memeluk istrinya, bersyukur diam-diam. Namun di saat bersamaan, ia bertanya-tanya berapa lama istrinya itu akan tahan dengannya. Kau bisa mengatakan hal-hal yang menyejukkan, memperlihatkan tindakan mendukung penuh kasih, tetapi pada akhirnya, pria yang seharusnya menjaga wanita. Tak berapa lama kemudian si wanita akan menyadari betapa hal-hal yang bahkan paling sederhana sekalipun yang dulu mereka lakukan bersama kini menjadi suatu siksaan. Malam di bioskop. Makan malam romantis di restoran. Berjalan-jalan di taman saat senja. Rasa kasihan akan mengikat mereka selama beberapa waktu, tetapi ikatan itu akan mengendur sejalan waktu. Sang perempuan akan kehilangan kesabaran. Ia akan jengkel karena harus selalu mengemudi, harus selalu menunjuk jika ada asap keluar dari kompor, harus membuat-buat alasan ketika melewati kawan lama tanpa mengenalinya. Perlahan-lahan, mereka akan mulai merenggang, menjadi orang asing dalam jarak begitu dekat, yang satu terang dan yang lain gelap.

"Jadi, kau benar-benar belum mengatakan apa-apa pada siapa pun di kantor tentang ini?"

"Belum."

"Lalu apa yang akan terjadi kelak jika kau harus menyetir malam hari?"

"Aku masih bisa menyetir cukup baik," jawabnya. "Malah, kau tak tahu ada sesuatu yang salah hingga sekarang.”

“Dan bagaimana jika kau harus mencabut pistol?"

"Aku tak ingat kapan terakhir kali aku harus melakukan hal itu..."

Ia menengadah lagi, berpikir betapa ia dulu biasa melihat keempat sudut langit-langit saat berbaring; detil di sekitar tepinya, ventilasi di atas lemari, bentuk ganjil di samping jendela berisi saluran gas lama. Tetapi kini semuanya hitam kecuali lingkaran cahaya kecil dari lampu meja di atas kepala.

"Dengar, aku tidak sesembrono itu," ujarnya.

"Jadi, kapan kau akan mengatakannya pada mereka?"

Ia berusaha menarik napas dalam-dalam, tapi paru-parunya seakan mengerut sampai sebesar aprikot kering.

"Aku selalu berkala akan pensiun tepat setelah mendapatkan promosi bulan April nanti." Ia meremas rambut belakang istrinya. "Lima ribu dolar ekstra setahun, dan terakhir kudengar perguruan tinggi New England tidak menurunkan biaya kuliahnya."

Segala hal setelah itu berada di luar pemikirannya. Apa yang akan ia lakukan setelah pensiun nanti? Ia berusaha memikirkan masalah itu secara praktis beberapa minggu terakhir. Pekerjaan penyelia keamanan yang ingin ia lamar di Wall Street di luar jangkauan: tak akan ada panggilan untuk penyelia dengan mata yang terus memburuk. Ia bahkan tak akan bisa menunjukkan sikap santun untuk meminta orang memperlihatkan kartu identitas mereka di lobi. Lingkaran cahaya di atas kepalanya meredup sedikit. Sudah pasti ia tak akan menghabiskan waktu bermain golf bersama mantan polisi lain. Dan lupakan tentang kapal layar yang bertahun-tahun lalu berniat ia beli. Ia mungkin bahkan tak akan cukup berguna membantu Patti berkebun di halaman belakang.

"Tidakkah seharusnya kau memberi tahu mereka lebih cepat?"

"Sama sekali tidak.”

“Mengapa tidak?"

"Aku sedang menangani dua kasus besar, Patti. Menurutmu, aku harus bagaimana? Pergi begitu saja?"

"Tentu. Masih ada polisi lain yang bisa menanganinya.”

Tidak. Kasus ini milikku. Aku yang bertanggung jawab.”

“Itu egomu yang bicara."

"Kau mengatakannya seolah itu hal yang buruk." Ia menaruh tangannya di atas dada, seolah merasa terhina. "Ego itu telah bersikap sangat baik padaku selama ini."

"Jangan seperti bajingan, Francis."

"Baiklah." Ia mengangkat tangan, mengulangi dengan tulus. "Kau sebelumnya bertanya, bagaimana perasaanku jika ternyata aku menjebloskan orang yang tak bersalah. Benar?"

Istrinya mengangguk hati-hati, waspada akan jebakan.

"Nah, aku hanya mencoba memastikan semua dilakukan dengan benar, aku tak akan membiarkan siapa pun mengambil berkas dari mejaku dan mulai mengkritik caraku menjalankan penyelidikan."

Patli mendadak duduk dan memeluk lututnya. "Francis, apa ada hal lain yang belum kau ceritakan padaku?"

"Tidak. Apa misalnya?"

"Aku tahu kau. Aku tahu jika kau menyimpan sesuatu dariku—setidaknya, kukira aku tahu. Apa ada sesuatu terjadi antara kau dan Julian yang belum kau ceritakan?"

Francis menengadah dan dilihatnya lingkaran cahaya di atas kepala mengerut lebih kecil lagi.

"Apa yang ingin kau tanyakan padaku sebenarnya, Patti?"

Istrinya membiarkan pertanyaan tersebut mengambang beberapa lama. Suara bocor di kamar mandi mulai menderas kembali. Ini akibatnya jika tidur bersama seorang mantan jaksa.

"Aku bertanya, apakah saat itu kau melakukan sesuatu yang tak boleh kau lakukan?" ucap Patti dalam nada rendah disengaja.

Ia memaksa diri menatap istrinya, sadar ia telah sedikit menakutinya. Dua puluh dua tahun ia telah memintanya bersabar dalam banyak hal. Ia membuatnya melonggar dan menerima hal-hal dalam hidup yang mestinya ditolak dan mungkin bisa ia pakai sebagai alasan mengusirnya keluar. Dan tiap kali, entah bagaimana, istrinya itu membesarkan hati dan menyisakan ruang di hati untuk menerima dirinya. Seperti membuat jalur khusus dan titik akses bagi orang cacat. Tetapi ini sudah keterlaluan. Ia tak akan bisa mendengar pengakuan suaminya sambil tetap mencintai. Jika berusaha membuat diri cukup besar hati untuk menerima, ia akan meledak. Dan, karena itulah Francis memutuskan tak akan meminta hal itu darinya.

"Sayang, aku hanya ingin berkata, tolong biarkan aku menyelesaikan apa yang telah kumulai. Oke? Jangan memancingku bertengkar. Jika ada sesuatu yang salah dalam kasus ini, biar aku yang memperbaiki. Kau tahu jika tidak begitu kau tak akan hidup bersamaku."

"Memang."

Patti berbalik dan mematikan lampu. Mereka berbaring berdampingan dalam gelap, hujan bagaikan jackpot menggempur jendela.

“Francis?" ia menyikut perlahan di bawah selimut. “Apa?"

“Cobalah untuk menjadi orang baik. Oke?"

35

Dua puluh tahun di penjara memberi pengaruh banyak pada keahlian bercinta seorang pria. Sebagian besar gerakan bercinta yang pernah Hoolian lihat hanya berasal dari majalah porno atau yang ia lihat di ruang tunggu, saat para penjaga secara rutin harus menghentikan main-main tangan di bawah meja dan bercinta sembunyi-sembunyi. Akibat tak punya hubungan dengan wanita nyata di luar, Hoolian tak dapat merencanakan kunjungan intim. Alih-alih begitu, pada bulan pertama di Attica, ia menemukan dirinya sendirian di pancuran bersama lelaki besar bernama Dirty D., yang berdiri di bawah curahan air, menatapnya dan menyabuni bagian intimnya terus-menerus hingga Hoolian bertanya, "Sedang apa, Bung?" Dan, bandit itu hanya merendahkan satu kaki untuk menyabuni bagian dalam salah satu celah dan menjawab, "Menurutmu sedang apa? "

Ia hampir tak dapat keluar dari situasi itu hanya dengan hidung patah dan gigi tanggal. Untungnya, setelah itu, ia mendapat perlindungan dari penjahat narkotika bernama Ronnie Raygun dan beberapa anggota geng yang ia beri nasihat hukum. Sementara itu, kebutuhan biologis itu tak pernah pergi. Hasrat itu tampaknya selalu datang pada saat-saat terburuk. Pagi hari, saat larut malam, saat melamun di dapur, menatap bentuk payudara dan pantat di awan ketika berada di lapangan olah raga. Berapa kali ia hampir menggergaji jarinya atau memaku paku ke buku jari gara-gara tak berkonsentrasi di kelas pertukangan? Seakan-akan seluruh tahun berlalu saat ia tak mengerjakan apa pun kecuali berkhayal tentang wanita dan satu-satunya sumber informasi yang dapat diandalkan yang ia miliki tentang cara memuaskan mereka adalah sebuah buku yang beredar di seluruh blok berjudul Rahasia Bercinta Lesbian Bagi Pria.

Karena itulah rambut halusnya menegang ketika pertama kali Zana menyentuh. Tak ada irama atau tegangan sama sekali—hanya mengutuki diri sendiri.

"Kau tak apa-apa?" Cara perempuan itu menyentuh bahunya sambil tersenyum bersimpati hanya membuatnya bertambah buruk.

"Ya, hanya sudah lama sekali."

"Bisa kulihat." Zana setengah tersenyum dan mulai berpaling, bilah bahu tipisnya bergetar sedikit. "Jangan khawatir..."

"Kau menertawakanku?" tanya Hoolian.

"Tidak, tentu saja tidak."

"Kau menertawaiku." Ia merasa seakan dirinya tenggelam dalam lautan kecut penghinaan. "Mengapa kau tak menatapku?”

“Aku mencari kaus.”

“Kubilang, lihat aku."

Tiba-tiba Hoolian menangkap dan mendorongnya ke ranjang sofa, terlupa akan putra Zana yang tidur di ruang sebelah. Zana melawan dan berusaha menendang.

"Apa-apaan kau?"

Ia harus membuktikan sesuatu sekarang. Diraihnya pergelangan kaki wanita itu. Punggung wanita itu melengkung, seolah ada jeritan terperangkap di dada.

"Bukaaaan, tidak seperti ini..." ia terengah.

Terasa olehnya wanita itu menggeliat dan mencengkeram segenggam rambutnya. Ia menahan diri, merasa yakin wanita itu akan segera berteriak memanggil polisi. Tetapi sebelum ia dapat menangkupkan tangan di mulut Zana, perempuan itu berguling sedikit dan menyelipkan bantal di bawah bokongnya.

"Nah," ujarnya, menempatkan diri di atas alas itu. "Lebih nyaman."

Semua terlihat dan tercium hanya sedikit berbeda dari yang ia perkirakan. Tak buruk sama sekali, namun lebih...manusiawi. Secara naluriah, ia mengerti, ia tak boleh menyentak atau bergerak terlalu cepat. Kesabaran adalah sesuatu yang ia punya, dan perlahan ia mulai menemukan arah.

Zana mengatakan hal-hal yang tak ia mengerti. "Shume mire." Terdengar suara senandung dari tenggorokannya.

Lalu mendadak, Hoolian berada dalam misteri itu. Tidak hanya seorang lelaki di luar realitas, membangun mitos. Mereka pun bercinta. Mula-mula mereka bercinta di sekeliling tempat-tempat yang tak pernah mereka ceritakan satu sama lain. Kemudian mereka bercinta seolah waktu terhenti. Mereka bercinta untuk melupakan kenangan buruk. Mereka bercinta seakan uang dan keyakinan serta perbatasan negara bukan merupakan persoalan. Mereka bercinta untuk melupakan derita dan dahaga. Mereka bercinta seakan mereka bintang film dan bukan hanya dua orang kesepian di apartemen kumuh di Coffey Street. Mereka bercinta seakan mereka tak akan pernah bercinta lagi.

Kemudian mereka bergerak menjauh sedikit satu sama lain dan mendengarkan suara curah hujan ke saluran air di bawah jendela. Kota itu sedang tertidur. Mendengkur. Berguling di sisi ranjang.

"Kau tak apa?" tanya Hoolian setelah beberapa lama.

"Ya. Aku...cukup...puas."

Hoolian berbaring dan menengadah, mendengarkan suara peluit kabut di kejauhan.

"Berapa lama?" ucap Zana akhirnya. "Apa?"

"Berapa lama sejak kau berpisah dengan gadis itu?”

“Ssh." Ia menaruh punggung lengan di atas alisnya. "Begitu burukkah aku?"

"Tidak...hanya begitu...agresif.'“

Apakah itu bagus?"

"Biasanya aku lebih suka tak seberapi-api itu, tetapi... tak masalah."

Ia mendengar suara roda truk mencipratkan genangan air ke pinggir jalan.

"Dua puluh tahun," ujarnya.

"Maaf?" Tersadar olehnya wanita itu sudah hampir tertidur.

"Kubilang, sudah dua puluh tahun sejak aku mencoba bercinta..."

Ia bisa saja membangunkan dan menceritakan segalanya. Tentang tulang kering dan peristiwa pancuran itu; tentang sekelompok angsa terbang melewati menara penjaga; aroma van yang dipakai memindahkannya dari satu gedung penjara ke gedung lain; samar-samar tersadar tiap kali melewati satu gerbang baru, kau semakin mirip orang-orang yang bersamamu sepanjang waktu dan semakin jauh dari orang di luar sana.

Tetapi wanita itu menggeliat ke samping tubuhnya dan menaruh kepala di samping, dan ia dapat merasakan pipinya menyentuh telinga dan napas hangat di samping wajah Zana. Ia tak bisa melakukan itu. Ada sesuatu yang terlalu manis dan penuh pengharapan tentang saat ini yang tak tega dirusaknya.

Aku tak ingin keadaan menjadi lebih baik. Aku tak ingin menjadi lebih buruk. Cukup biarkan seperti ini untuk beberapa saat.

Jika ia bercerita, wanita itu tak akan berbaring telanjang di sebelahnya di bawah cahaya bulan, dengan anaknya tidur di kamar sebelah. Akhir kesendiriannya mulai terlihat. Zana tak akan mengundangnya makan malam dengan serta-merta atau membayangkannya diri sebagai ayah pengganti bagi anak yang kini ia sadari diinginkannya.

Wanita itu akan mendengarkan seluruh cerita dan berpura-pura percaya, tetapi kemudian akan bertanya ini-itu dan bertanya-tanya apa lagi yang belum ia beberkan. Ia akan sedikit mendingin ketika lelaki itu menyentuhnya lagi dan kemudian berpikir tentang apa yang ia dengar mengenai orang-orang yang pernah dipenjara. Setelah itu ia akan berhenti membalas pesan-pesannya. Dan, tak lama kemudian nomor teleponnya diganti.

Air mengucur ke dalam pipa. Kapal membunyikan peluit lebih samar kali ini. Besok, ia kembali menjadi dirinya yang semula. Matahari akan muncul dan menguak lewat sorot menyilaukan tanpa belas kasihan. Yang ia inginkan saat ini hanya terus seperti ini, sedikit lebih lama lagi, melamun beberapa saat, setidaknya hingga hujan reda.

BAGIAN V

BAYANGAN KUSUT

36

Sekelompok pria duduk di sebuah kantor di daerah elit dengan dasi tergantung menjulur, seperti lidah anjing terengah-engah.

"Mulai periksa nomor-nomor telepon dan komputer hari ini," tukas Francis pada "Yunior" Barbaro, Rashid, dan si rambut kelabu Jimmy Ryan. "Pastikan kita menyerahkan sampel DNA dari bawah kuku Christine itu ke semua negara bagian dan bank data federal."

"Kami telah melakukannya sejak kemarin malam." Yunior memutar kursi, membela diri. "Kau kira kami tak memeriksa jika si pelaku pernah ditangkap sebelumnya?"

"Aku hanya berkata, berpikirlah terbuka. Mulailah menghubungi berbagai daerah untuk mencari catatan akta kelahiran. Periksa jika Eileen punya putri lain yang belum ia ceritakan pada kita"

"Yeah, semoga berhasil," kata Yunior, mengecek ponselnya.

Ia memakai salah satu seri Nokia terbaru dengan berbagai dering dan bunyi yang menunjukkan waktu, tanggal, pesan pendek, gambar berkualitas prima, pola cuaca di Indonesia, tetapi tak bisa menerima telepon dari satu jalan ke jalan lain di daerah-daerah tertentu. Seperti halnya Yunior, ponsel itu merupakan model baru dan berkilau namun terlalu memaksa dan entah mengapa tetap belum berhasil meyakinkan.

"Hey, kita tahu yang kita cari adalah seorang wanita," kata Francis. "Kita tahu ia meninggalkan sampel di TKP pada 1983 juga. Dan kita tahu ia punya hubungan keluarga dengan Eileen Wallis."

Letnan polisi yang bertugas, Joe "Bodega Coffee" Martinez, tergesa-gesa masuk ruangan. Ia pria ramah dan tambun yang dikenal Francis saat di bagian narkotika dulu, selalu menghilang tepat sebelum razia, dan berkata, "Aku akan membawa kopi untuk kalian semua dari bodega di dekat sini." Sekarang, dua ambisinya adalah memastikan pasukan berjalan lancar dan makan di setiap restoran steik bermutu dari satu ujung negeri ke ujung lain—mirip seperti film lama Burt Lancaster The Swimmer, hanya kolam renangnya diganti dengan sirloin.

"Ada kabar tentang penggalian kubur itu?" Rashid menengok.

"Nol," jawabnya, menepuk perut. "Tak ada yang mau menggali kuburan Allison kecuali memang benar-benar perlu. Bisa kau bayangkan bagaimana beritanya di Postl"

"Ya, kalau Loughlin mau bersusah-payah memeriksa label nama sebelum mereka mengubur gadis yang salah, kita tak mesti berpayah-payah sekarang." Yunior mematikan telepon.

"Hey, terkutuk kau, Yunior. Kau masih butuh tangga tambahan agar bisa memperdayaiku."

"Oh, mulai lagi." Jimmy Ryan menepuk tangan. "Katie, halangi pintu."

"Legenda dalam impiannya sendiri," gumam Yunior.

"Banci sekolah." Francis menyeringai. "Ayolah, kawan-kawan," kata sang letnan. "Tak bisakah kita saling akur?"

Rashid menatap tajam padanya.

"Dengar," kata Francis, membiarkan ketegangan mereda sesaat. "JC hanya memintaku untuk berpikiran terbuka, jangan menekan terlalu keras pada satu orang. Jadi mari kita longgarkan sedikit."

"Apa maksudmu?" kata si letnan.

"Tengah malam kemarin aku berpikir." Mereka tak perlu tahu tentang masalah atapnya yang bocor dan interogasi di tempat tidur setelah itu. "Ini cuma pendapatku saja. Oke?"

Ia senang melihat mereka semua sedikit memajukan badan ke arahnya, seperti para aktor dalam iklan lama E. F. Flutton yang berbunyi, Ketika Francis X. bicara, semua mendengarkan.

"Jadi aku tidak benar-benar menghapus nama Hoolian, aku hanya bertanya: orang tua Christine Rogers mengatakan ia diadopsi, bukan begitu?"

Rashid mengangguk hati-hati, menegaskan bahwa Jimmy, Yunior, dan sang letnan juga mengetahuinya.

"Sudah ada yang memeriksa siapa ibu kandungnya?"

"Brengsek!" Wajah Yunior mengembang seperti permen karet di bawah potongan rambut seharga sembilan puluh dolar. "Kau bercanda."

"Tentu aku serius," ujar Francis. "Kita tahu ada hubungan darah dalam kedua kasus ini dan kita tak tahu siapa ibu kandungnya. Jadi kita harus mencari segala kemungkinan."

"Tapi orang perlu waktu bertahun-tahun untuk menyelidiki hal itu. Kau tentu pernah dengar aturan kerahasiaan tentang adopsi, kan?"

"Kalau begitu lebih baik berhenti buang waktu dan mulai hubungi Bagian Hukum untuk memeriksanya,'" kata Francis, menggerak-gerakkan alis sementara telepon di meja berdering. "Bukannya aku menyuruh-nyuruh."

"Kenapa bukan ia saja yang melakukannya?" Yunior menelengkan mata pada Rashid. "Ia yang berasal dari bagian itu."

"Allahu akbar, Saudara." Rashid mengacungkan kepalan Black Power. "Hamba bagi tuan yang sama."

"Tetap saja tak masuk akal." Yunior berpaling kembali pada Francis. "Allison berusia dua puluh tujuh ketika meninggal pada 1983. Christine berusia sama bulan Februari tahun ini. Itu berarti ia berusia tujuh tahun ketika Allison terbunuh."

"Karena misteri ini masih belum terungkap, kita andaikan saja kita yang mengaturnya." Francis beranjak meraih telepon. "Pasti kau tak pernah tahu siapa yang mengatakan itu di Dartmouth...Halo..."

"Francis Loughlin?"

"Ya, saya. Ada yang bisa saya bantu, Nona?"

"Judy Mandel dari Trib."

"Oh."

Anggota skuad lain bergegas pergi seolah-olah tanda radioaktif baru saja dipasang di leher, entah bagaimana merasakan kehadiran pers atau atasan di saluran telepon.

"Apa saya mengganggu waktu Anda?"

"Sebenarnya..."

"Kalau begitu saya akan cepat." Ia terdengar seperti tipe perempuan mudah gugup yang terus-menerus harus mengingatkan diri sendiri untuk mengucapkan tolong dan terima kasih. "Saya tengah meliput tentang hubungan antara kasus Allison Wallis dan Christine Rogers."

"Oh, begitu?" Francis mengubah posisi telepon dari bahu satu ke bahu lain, tak ingin terjebak dalam trik lama memastikan sebuah kisah dengan menyetujui dugaan. Dan, kapan Anda berhenti memukuli anak-anak Anda?

"Siapa bilang kedua kasus itu berhubungan?" Ia mencoba membuatnya bingung.

"Ayolah. Kita sama-sama dewasa."

"Nah, itu berarti kita akan berbincang dengan serius."

Seseorang telah membocorkan. Matanya mengembara di ruangan mencari tersangka yang mungkin. Tak mungkin Ryan. Satu-satunya reporter yang berurusan dengannya adalah orang-orang Irlandia tua yang tampak seolah mengejar mobil-mobil yang diparkir dan bercukur di pinggir jalan. Si letnan punya kemungkinan, karena begitu gemarnya ia akan steik. Sebuah fillet mignon di Sparks dapat seharga satu kolom bagi penulis dunia hiburan di sebuah mingguan. Rashid tampaknya tak mungkin, karena relatif baru terlibat. Namun Yunior punya kemungkinan, karena selalu tampak berhubungan dengan sejumlah orang luar.

"Oke, jika Anda tak bersedia bicara, saya akan menuliskan informasi yang saya punya," ujarnya. "Meski saya bakal merasa tak enak, membeberkan kisah tentang kalian yang mengacaukan dua kasus tanpa komentar sama sekali dari Anda."

Kereta berlalu melewati jendela lagi, membawa getaran ringan ke ruang skuad.

"Anda mendapat izin untuk bicara denganku dari Bagian Hubungan Masyarakat?" tanya Francis, berhati-hati tak menaikkan nada suaranya.

"Saya pikir pembicaraan ini tak perlu terang-terangan."

Ia menyelipkan jari sembunyi-sembunyi ke bawah kerah, sadar dirinya tak punya pilihan. "Jadi, apa yang ingin Anda ketahui?"

"Bagaimana Anda bisa memperoleh DNA dari seseorang yang sudah mati dua puluh tahun lalu pada tubuh korban pekan kemarin?"

Satu kereta berlalu lagi ke arah lain, menderak-derakkan kaleng Diet Coke di bingkai jendela.

"Ah, itu omong kosong." Ia tertawa. "Ada yang main-main denganmu."

"Dan mengapa seseorang harus mengarang cerita seperti itu?"

"Saya tak tahu apa yang ada dalam pikiran pengacara," katanya, masih berusaha mengira-ngira narasumber reporter itu. "Saya cuma bilang, Anda sudah melenceng jauh dari kasus. Apa lagi yang Anda punya?"

"Saya tahu Anda mencari Julian Vega untuk tersangka kasus Christine Rogers."

Francis mulai gelisah seperti pecandu, mematahkan klip kertas dan mengencangkan bengkokan logamnya. Ia bisa mengetahui lewat berbagai cara, batin Francis. Penjaga apartemen Christine bisa saja membocorkan rahasia itu setelah mereka memperlihatkan sejumlah foto dengan Hoolian di dalamnya. Atau seseorang dari TKP mungkin ia suap. Bahkan Hoolian sendiri mungkin menyadari sesuatu sedang terjadi setelah Francis berusaha mengoreknya di toko swalayan— meski, Francis tak mengerti, alasan ia mesti memberi tahu pers.

"Kami mencari banyak orang," ujarnya, memutar-mutar ujung klip. "Tak berarti apa-apa."

"Lalu mengapa kalian bolak-balik dari kantor forensik dan petugas barang bukti berkali-kali, berusaha membuktikan bahwa itu DNA Hoolian pada TKP kedua gadis itu?"

"Kami berada di kantor-kantor tersebut sepanjang waktu. Ini bagian pembunuhan. Kami menangani banyak kasus di sini."

Mungkinkah Dr. Dave dari laboratorium yang membocorkan informasi ini? Tak mungkin. Tak banyak ilmuwan forensik yang memuntahkan isi perutnya pada pers setelah pulang bekerja di bar lokal.

"Bukannya menyinggung, tapi saya rasa ada yang mempermainkan Anda, Nona. Satu hal yang Anda pelajari dalam pekerjaan ini: setiap orang bicara pada Anda untuk satu alasan."

"Maaf, saya yang mewawancarai Anda atau Anda yang mewawancarai saya?"

"Saya hanya berkata, setiap orang punya agenda masing-masing. Bahkan domba kecil lugu seperti Anda dan saya."

Dua meja jauhnya, Yunior melirik dan membungkus ujung dasi Hermes meliliti jarinya.

"Jadi, apa penjelasan Anda tentang mengapa Anda bahkan tak bisa menemukan DNA Julian Vega di bawah kuku Allison Wallis di TKP tahun 1983?"

"Yang bisa saya katakan hanyalah bahwa penyelidikan masih berlanjut." Francis menyusun kertas-kertas di meja, hanya agar tangannya tetap sibuk. "Kami tak akan menyampaikan apapun yang dapat mengganggu penyelidikan kasus ini."

"Begitu," ujar perempuan itu. "Kalau begitu, bagaimana Anda menjelaskan bahwa yang Anda temukan di kedua TKP yang terpisah waktu dua puluh tahun itu adalah DNA wanita yang sama? Apakah Anda salah mengurus barang bukti?"

"Sama sekali tidak." Ia dapat merasakan ketegangannya naik kembali di belakang kaki. "Ini benar-benar fiksi. Maaf, fiksi ilmiah."

Perempuan itu menyudutkannya dan ia tahu itu. Tak menyisakan jalan keluar. Francis menggigiti bagian dalam pipinya, tahu ia harus menghindar. Segera setelah informasi ini sampai pada pers, orang-orang aneh akan bermunculan mengganggu penyelidikan.

"Dengar, sangat disayangkan Anda keliru menafsirkan ini semua di saat kami hendak melakukan penahanan."

Rashid, yang berlalu membawa kardus berisi tumpukan berkas, menoleh.

"Kapan penahanan itu akan dilakukan?" tanya perempuan itu, menyela.

"Dalam waktu dekat." Ia membungkuk di kursi, penuh tipu seperti jago judi. "Kami hanya tinggal mengatur beberapa hal untuk meminta surat perintah penggerebekan. Anda tahu bagaimana keadaannya. Tak ada yang ingin menyajikan makanan yang belum matang."

"Jadi, berapa lama lagi? Seminggu? Sebulan?"

"Kalau Anda mau, saya bisa menyampaikan pemberitahuan sebelumnya. Sekali adil tetap adil."

Jimmy Ryan menyeringai paham pada Francis sambil berlalu melewatinya, mengerti tingkahnya menjadi bajingan.

"Anda tak mempermainkanku, kan?" tukas Judy Mandel dengan nada cemas, seakan ia terjebak di persimpangan dan semua orang membunyikan klakson. "Jika saya menahan cerita DNA ini dan ternyata itu benar, saya akan bunuh diri."

Francis melayangkan tanda 'semua beres' pada Jimmy, aman untuk sementara. "Dan, jika Anda membeberkan kisah ini dan ternyata itu hanya omong kosong, Anda akan disingkirkan. Jadi, situasi kita sama."

"Brengsek."

Francis hampir dapat mendengar perempuan itu mengunyah pensil di ujung sana. Ia membayangkan kawat gigi terpasang di antara gigi-giginya yang kecil.

"Saya cuma ingin bilang bahwa jika saya tak mendapat kabar dari Anda akhir minggu ini, saya akan membeberkan kisah ini," ia memperingatkan.

"Sesuka Anda."

Segera setelah telepon ditutup, Yunior menoleh pada Francis dengan telapak tangan rata di atas meja, seperti juara klub debat Dartmouth. "Saint Augustine," katanya.

"Apa?"

Noda hitam mengambang di depan matanya. Ia berusaha menyingkirkan noda itu dengan berkedip.

"Ia berkata, 'Karena misteri ada di depanku, andaikan saja kita yang mengaturnya.'"

"Jean Cocteau, surealis." Francis meraih buku Kutipan Umum Bartlett 's dan menyodorkan itu pada Yunior. "Ketahui siapa narasumbermu, Brengsek."

37

Hoolian merayap keluar dari kamar tidur Zana pagi itu dan menemukan Eddie duduk menyilang kaki di lantai kayu, menonton Super Friends dengan mata terbuka lebar penuh kekaguman, yang mungkin tak ditunjukkan kebanyakan anak Amerika untuk film kartun buruk seperti itu. "Terima kasih telah menyelamatkanku, Aquaman!" Sesosok makhluk kelabu berlendir berenang keluar dari tiram raksasa tepat saat tiram itu menutup di atas sang Pelindung Lautan pirang berkaus oranye. "Sayang, aku tak bisa membalas budimu!"

Ia duduk di sebelah anak itu. "Tidak bisa terlalu lama di air, ya?" Ia berusaha mengingat-ingat aturan pokok tokoh itu. "Tapi ia memiliki telepati khusus yang membuatnya bisa bicara dengan ikan."

Tanpa berkata-kata, anak itu merangkak ke pangkuannya kembali dan meringkuk di dalamnya mencari kehangatan.

"Ia akan lolos, kau tahu?" Hoolian melingkarkan tangan pada anak itu, seolah mereka terbiasa melakukan hal itu selama bertahun-tahun. "Makhluk licin sulit dipegang lama-lama."

Saat acara itu berakhir, ia pergi ke dapur, mencari-cari ceret dan wajan, dan membuat oatmeal untuk mereka bertiga dengan terlalu banyak gula dan sirup di atasnya, dan menghidangkan untuk Zana di tempat tidur. Wanita itu duduk dan menatap dengan pandangan ngeri. "Kau tak akan melakukan ini setiap waktu, kan?" Apakah itu artinya ia takut dirinya akan melakukan lagi, atau sebaliknya? Hoolian mengangkat bahu, pergi mandi tanpa membuat balutannya basah, dan kembali mengenakan pakaian kemarin. Ia pergi bersama ibu dan anak itu ke tempat penitipan Eddie di Van Brunt Street dan menemani Zana ke stasiun di Smith and Ninth Street. Berapa lama Aquaman dapat berada di luar air, omong-omong? Sejam atau sehari? Setelah beberapa lama, harus kembali ke habitat asal.

Ia menumpang kereta bersama Zana ke kota, berdua memegang tiang yang sama, dikelilingi himpitan tubuh-tubuh, saling bertatapan satu sama lain untuk sesaat, mengingat-ingat peristiwa tadi malam dalam barisan kerlip lampu rel, berbagi rahasia saat orang lain membaca koran pagi, mengancingkan mantel kulit, dan mendengarkan via headphone.

Jadi, beginilah orang-orang normal hidup. Mereka bercinta, kembali mengenakan pakaian, lalu bergabung dengan warga bumi lain. Tapi dalam kepala mereka, senandung itu terus mengalun, dan sesekali mungkin tersenyum pada yang lain. Di suatu tempat nun jauh di lubuk hati, ia menyadari betapa dirinya menginginkan hal ini.

Berapa lama Hoolian bisa bersandiwara bahwa dirinya sanggup bernapas di daratan? Tak lama lagi wanita itu akan tahu siapa dirinya, rahasianya. Zana akan menjauh dan melindungi anaknya. Dan, itu akan membunuhnya. Ia tak akan mampu mengatasi. Sesuatu telah berubah sejak ia memperbaiki pintu kamar mandi kemarin malam dan menonton Aquaman pagi ini dan itu amat menakutkan. Karena, itu berarti ia punya lebih banyak lagi hal yang mungkin hilang. Ia mulai jatuh cinta tak hanya pada wanita itu, tapi pada mereka,berpikir bisa menjadi seseorang untuk menemani mereka tiap malam, seseorang yang tahu letak penyimpanan bohlam, seseorang yang tahu cara menyalakan pemanas di malam-malam Februari yang dingin dan membelikan sepeda pertama anak itu. Seseorang yang mengajak mereka ke Orchard Beach pada Peringatan Empat Juli dan membuat hidangan panggang. Ia menginginkan semuanya dan lebih daripada sekadar itu. Ia menginginkan seks dan rasa syukur serta malam-malam menonton tayangan ulang acara TV bersama. Ia menginginkan semua yang ia lewatkan. Dan, ia takut tak memperoleh semua itu.

Mereka turun di Union Square dan berhenti di puncak tangga. Zana mengangkat dagu dan berjingkat, hingga alis mereka bersentuhan.

"Mengapa aku tak pernah bertemu seseorang sepertimu sebelum ini?" ucapnya.

"Aku tak tahu. Beruntung saja, aku kira."

38

Radio di gudang barang bukti itu menyala keras dan Brian Mullhearn ikut bernyanyi sekuat paru-parunya saat Francis muncul bersama Rashid, Yunior, dan Jimmy Ryan.

"Some stupid with a flare gun..."

Francis melangkah ke meja Mauler dan menaruh tangan di kedua sisinya seolah ia akan terguling.

"Apakah kau teliti, Brian?" tanya Francis.

"Apa?"

"Kubilang, apa kau menganggap dirimu pengamat sifat manusia yang cermat?"

"Aku tak mengerti." Mata berwarna penghapus itu bergerak di bawah lapisan berair keruh.

"Maksudku, saat sama-sama bekerja di bagian narkotika, kita punya banyak kesempatan untuk melakukan pengamatan, bukan? Berjam-jam di mobil mengawasi dengan teropong, kau belajar banyak tentang manusia. Kau tahu bagaimana mereka menghampiri satu sama lain. Bagaimana mereka berpura-pura berkawan padahal saling menyimpan dendam dan bagaimana mereka menunggu kesempatan untuk membalas..."

"Apa maksudmu, Francis?" Mauler mematikan radio.

"Aku mendapat telepon dari seorang reporter kemarin. Ia mendapat cerita mengenai kasus kami yang berasal darimu."

"Omong kosong." Mauler berusaha mengalihkan pandangan. "Jimmy, bisakah kau bilang pada bajingan ini untuk meminum obatnya kembali?"

lapi, Ryan menggelengkan kepala, tak ingin ikut campur dalam masalah mereka. Dua pegawai sipil di kantor itu— seorang India dengan sabit bulan perak di leher dan wanita berkulit hitam yang tengah hamil—-menyibukkan diri.

"Hanya kau yang tahu kami sedang berusaha mengambil kembali semua bukti lama kasus Allison Wallis."

"Lalu kenapa? Kawanmu, Detektif Ali ini, juga muncul dua hari sekali selama seminggu lebih ini. Kenapa kau tak menanyainya?"

Rashid melemparkan senyum dingin, tahu bahwa ucapan itu melenceng jauh, tak mengenai sasaran.

"Tidak, Brian, ia punya karier yang mesti dijaga," Francis menjelaskan. "Kau, di lain pihak, hanya duduk di sini, membocorkan info pada koran-koran dari TKP Christine Rogers dan kau yang punya kekasih yang kau hamili, bekerja menyusun berkas di laboratorium kriminal."

Mauler mencopot kaca mata dan menunduk sambil menyekanya dengan ujung dasi, tak punya jawaban segera.

"Kau akan menjadi bajingan penuh dendam karena kau dan aku punya masalah di masa lalu. Sekarang bicaralah dengan jantan atau tutup mulut brengsekmu itu. Oke? Kau tak perlu membocorkan infonnasi pada pers hanya untuk membalas dendam. Kau merusak dua investigasi pembunuhan. Begitukah caramu menunjukkan rasa hormat pada rekan-rekan kerja?"

"Aku tak tahu apa yang kau bicarakan."

"Lihat aku, Brian."

Kursi Mauler berderak saat ia bersandar. "Kubilang, lihat aku."

Francis mendorong mainan robot mekanis tua yang terletak di meja di antara mereka.

"Kau melihatku sedang menoleh ke kiri atau kanan? Kau melihatku melakukan yang lain kecuali menatap apa yang di hadapanku?"

"Itu tak ada kaitannya denganku, Francis."

"Teruslah berkata seperti itu, Brian. Karena itu membuatku merasa enak dan marah. Karena aku tak peduli tentang apa pun saat ini. Aku tidak makan, tidak tidur, tak lagi menghabiskan waktu dengan istri. Padahal aku sungguh-sungguh mencintai istriku. Jadi, ketika telah bekerja keras menangani kasus itu dan seseorang menyia-nyiakannya, aku cenderung tak toleran."

"Kau sudah melampaui batas." Mauler memandangnya susah payah. "Ini hanya pengejaran tukang sihir."

"Tidak, dan karena kau begitu peduli pada definisi, 'pengejaran tukang sihir' artinya Provost memeriksamu untuk mesin pengering cucian yang hilang dari gudang bulan lalu dan memeriksa catatan telepon ponselmu untuk membuktikan bahwa kau menghubungi perempuan dari koran itu." Francis mendorong formulir di depannya. "Hukuman dilakukan setelah kau pensiun. Sangat berbeda."

"Aku akan menghubungi atasanku," ujar Mauler.

"Lakukan dari telepon umum di sudut." Francis melemparkan pandangan darinya dan memberi isyarat pada pegawai sipil itu untuk mengambil alih berkas. "Menyingkir dari penglihatanku."

39

Dalam mimpi, ia berada di pantai bersama Zana dan Eddie, yang entah mengapa berubah menjadi sepasang layang-layang warna-warni yang terbang rendah di atas sejumlah kabel telepon. Ia melirik dari bahunya dan berlari ke arah laut, menjaga kedua layang-layang itu tetap terbang tinggi dan mengurai dengan bola benang di tangan. Kemudian ia sadar bahwa ia lupa cara berenang. Namun, gelombang itu tetap ia naiki, sadar itulah satu-satunya cara agar mereka tetap melayang. Dan saat air mulai naik hingga melampaui dagu, mulai membenamkannya. Ia melepaskan benang itu dan melihat mereka berlayar menuju matahari.

Penjaga gedung itu, lelaki tua dengan tulang-tulang menonjol berambut Afro kelabu mengenakan kaus t-shirt "Live at Lincoln Center," menghampiri dataran di tengah-tengah tangga dan mengerling pada Francis yang tengah menaiki tangga bersama Rashid dan lima lelaki lain dari gugus tugas surat perintah penggerebekan.

"Ada apa, Bapak-bapak?"

"Kami mencari Julian Vega." Francis menarik napas dan menunjukkan berkas-berkas yang entah bagaimana berhasil Paul dapatkan dari membujuk seorang hakim untuk menandatanganinya tengah malam.

"Tak pernah dengar tentangnya."

Ia mengedip-ngedipkan mata ketika cahaya lampu kilat menyorot wajahnya. "Ia penyanyi?"

"Menurut kepala rumah penampungan, ia punya kekasih, namanya Zana, tinggal di gedung ini. Kami mendapat surat izin untuk mencari barang yang mungkin ia miliki di sini."

"Oh, gadis Ukraina itu. Ia menggambar fotoku."

"Ya, ia." Francis membenahi radio dan senjata di sabuk peralatannya. "Mestinya ia tinggal bersamanya."

"Lantai tiga, di belakang." Lelaki tua itu menguap. "Kalau kau menahannya, beri tahu aku. Aku agak suka pada perempuan itu."

Suara pintu depan membuka membangunkan Hoolian dari mimpi. Ia menyentakkan selimut, kebingungan, dan dilihatnya Eddie telah mendaki ke tempat tidur di antara mereka malam itu.

"Ayolah, Hoolian, mari kita permudah." Ia mengenali suara Francis Loughlin dan untuk sesaat mengira mungkin itu bagian dari mimpi buruknya. Tetapi polisi itu kemudian melangkah ke pintu kamar dan mengarahkan lampu senter ke wajahnya.

Secara naluriah, Hoolian meraih buku yang tergeletak di ranjang dan melemparkannya melintasi ruangan.

Buku itu seakan terbang dalam gerakan lambat, halaman-halamannya mengepak seperti sayap burung camar, memberinya cukup waktu untuk menyadari bahwa ia tak hanya telah melakukan kekeliruan besar tapi juga kenyataan bahwa Loughlin tak berhasil menghindari benda itu.

Buku itu menghantam samping kepala detektif itu dan jatuh membuka di lantai. Seolah-olah Loughin tak melihat barang itu melayang.

"Aku kena!" Loughlin berteriak sambil membungkuk hilang dari pandangan. "Awas!"

Teriakannya itu kontan memicu suasana histeris. Hoolian mendengar derap sepatu bot di lantai kayu dan seorang petugas berteriak, "Senjata! Ia punya senjata!"

"Jangan menembak!"

Tetapi mereka tak dapat mendengarnya di antara suara-suara teriakan "Sepuluh-Tiga belas!” dan ledakan makian saat mereka minta bantuan lewat radio.

Anak itu duduk di sampingnya, bingung dan ketakutan. Dalam keadaan panik, Hoolian mendorongnya dari kasur dan menghalaunya ke bawah ranjang, untuk melindungi. Ia lalu menggaet pakaian dan tas besarnya dan melompat ke arah jendela yang separo terbuka.

Malam itu segar dan batang-batang logam tangga darurat terasa bagai es kering melekat di tumit kakinya. Jantungnya berdebar keras. Kini setelah ia membuat dirinya melarikan diri, tak ada lagi jalan kembali. Jika berhenti, Loughlin pasti akan menembaknya dari belakang dan menaruh senjata di tangannya untuk membuktikan bahwa itu tindakan membela diri.

"Maksudmu kau tak kenal nama Julian?" Francis mengusap kepalanya dan melihat ia tak berdarah. Buku anak bergambar mengenai mesin uap terbuka di kakinya.

"Kush eschte?" Kekasih Julian meraih T-shirt kecil untuk menutupi tubuhnya dan melingkarkan tangannya di sekeliling anak kecil bermata besar itu yang baru saja muncul dari tempat tidur. "Aku hanya kenal Christopher."

"Begitu?" Francis menuju jendela tempat Hoolian baru melarikan diri. "Anda melihatnya sebelum kami, ada yang harus ia jelaskan."


Bulan berkubang dalam awan kelabu semuram mata ikan mati. Hoolian menyeberangi air setinggi pinggang, bertelanjang kaki. Ia mendengar suara polisi di atas dan di belakangnya keluar dari tangga darurat dan berbicara dengan radio. Ia sadar, kereta bawah tanah terdekat berjarak sekitar satu kilometer jauhnya. Angin dingin menerpa keluar dari air, menguarkan aroma samar kapal tongkang tua, limbah pabrik, dan rumput laut. Ia berbelok ke kanan dengan tas dan pakaian dikepit di tangan, terlihat lampu-lampu Red Hook Houses, bentangan proyek terkenal dengan empat puluh atau lima puluh gedung, di kejauhan. Mereka berkilau bak kota terlarang, dengan aturan main sendiri. Jika ia bisa sampai ke sana lebih dulu, polisi tak akan pernah menangkapnya.

Semuanya terendam dalam kegelapan sup kacang polong bagi Francis. Ia bak berada di tengah hutan dalam larut malam.

"Kau tak apa-apa?" Rashid menghampirinya di tangga darurat.

"Ya, aku baik-baik saja." Francis menatap, mencoba berpegangan pada sesuatu. "Kita dapat bantuan?"

"Mungkin butuh waktu. Housing sedang melakukan pengejaran di Red Hook Houses, mencari seorang pemerkosa sambil membawa helikopter dan semuanya." Rashid menunjuk ke arah proyek itu. "Kau mau menunggu?"

"Dan kehilangan saat kita akhirnya mendapatkan sesuatu darinya? Persetan." Francis mulai merasai jalan menuju tangga. "Panggil dua orang kembali ke sini dan teruslah kontak dengan radio. Aku di saluran tiga."

Segera setelah ia menempatkan kaki di anak tangga pertama, tangga itu meluncur turun hingga habis dan merasa paru-parunya melayang dari dada saat ia berpegangan.

"Kau yakin baik-baik saja?" Rashid bertanya dari atas.

"Aku baik-baik saja," bentak Francis. "Kenapa kau terus menanyakan hal itu?"

Ia merosot turun dan melompat, hampir pergelangan kakinya keseleo. "Sialan." Ia bisa merasakan dirinya berada dalam kepekatan rerumputan tinggi yang lembab. Apa yang ia pikirkan, mencari-cari dalam kegelapan, dalam usia empat puluh sembilan dan di ambang kebutaan? Ia berusaha berdiri dan mengira-ngira jalan kembali ke tangga darurat, tetapi tangga itu telah pudar dalam legam malam dan menghilang. Lagi pula ia tak yakin dirinya dapat mengangkat tubuhnya naik lewat cara itu.

Ia mendengar sesuatu bergerak di rerumputan di hadapannya dan dengan hati-hati mengarahkan senter ke arah tanah terbuka itu. Lapangan tempat barang-barang terlupakan. Matanya perlahan-lahan menyesuaikan diri, tampak ban-ban tua, beling berkilau pecahan botol, kaleng Budweiser kosong, potongan batu bata, televisi, kardus sereal, sarang burung rubuh, dan kulkas GE gaya 1950-an ukuran besar dengan pintu terbuka. Rerumputan itu berdesir kembali dan ia merasakan kehadiran seseorang di dekatnya, bernapas berat."Hoolian?"

Hoolian mengenali suara Loughlin saat ia merangkak di belakang kulkas itu, bersembunyi dari pancaran senter. Polisi itu mungkin datang untuk mengakhiri hal yang ia mulai. Mungkin ia membawa seluruh pasukan untuk hal itu juga, untuk melindungi apa yang ia lakukan. Pagi esok, akan muncul berita utama mantan narapidana berbahaya tertembak.


"Hoolian, keluarlah. Aku tak marah padamu, G." Francis menepuk pistol Glock di sisinya, menjaga lampu senter tetap tenang di tangan yang lain. "Kita masih bisa bicara tentang ini. Kau tak sedang berada dalam masalah besar."

Tak ada apa-apa. Ia tak dapat melihat lebih jauh dari aura kecil kabur sinar senternya. Sisanya hanya warna biru gelap di atas kertas hitam.

"Aku tahu kau hanya ketakutan. Kau tak bermaksud menyakiti siapa pun."

Satu meter. Loughlin kurang dari satu meter jauhnya. Ia berjalan tepat melewati kulkas itu. Sinar lampu senter datang lagi, menyapu rerumputan dan memperlihatkan tumpukan batu arang dalam jangkauan tangan. Hoolian mengawasi bolak-balik batu itu dan belakang kepala si polisi, menampak betapa titik botak Loughlin berkilau dalam cahaya bulan.

Siapa yang akan tahu? Mereka tak pernah bisa membuktikan apa pun. Tak ada saksi sama sekali. Aku bisa memecahkan kepalanya. Lalu, kuambil senjatanya dan kuhabisi, seperti yang selayaknya ia dapatkan.

Polisi itu tiba-tiba berbalik. Selama satu detik penuh, ia seolah berhenti dan menatap tepat pada Hoolian, yang membeku, berdiri tak jauh, paru-parunya bak melekat pada tulang punggung. Ia menahan napas, takut degup jantung membocorkan keberadaannya. Tetapi polisi itu menatapnya kosong, senternya hanya sepuluh sentimeter dari wajah Hoolian.

"Hey, Rashid." Ia menaruh mike radio di bahunya. "Tolong salah satu dari kalian membantuku mencari di lapangan ini?"

Perlahan-lahan Hoolian sadar, lelaki ini benar-benar tak dapat melihatnya. Entah bagaimana ia menjadi tak terlihat. Betul-betul mukjizat, pikirnya. Mereka berdua berada di bawah naungan malam untuk sebuah alasan. Ini adalah kesempatan untuk menagih keadilan, untuk menuntut balas hidupnya. Batu bata itu tergeletak di sana. Polisi itu menoleh kembali, memamerkan kepala botaknya sekali lagi sebagai sasaran tak terlindungi.

Lalu mengapa ia tak kunjung melakukan hal itu? Perintah itu macet di separo lengannya. Ada apa denganmu? Ia berusaha meredakan dorongan panas itu lagi, namun tak berhasil. Que paso? Orang ini merampas segalanya darimu. Dan ia akan melakukannya lagi. Pecahkan kepalanya.


Mestinya telah aku sadari sebelumnya, pikir Francis. Kehadiran mengendap-endap itu. Rasa panas ganjil di udara itu. Sengalan yang tak bisa ia bedakan dari tetesan air di genangan di dekatnya atau denyut darah di telinganya sendiri. Gerakan itu merayap naik dan mengenainya tanpa ia sadari. Ia menangkap aroma bulu basah saat dirinya berpaling.

Anjing itu menggeram, menggertakkan semua yang ia miliki di belakang rahang, seolah muncul keluar dari rerumputan. Ia melihat bolak-balik antara Loughlin dan Hoolian, seakan-akan hal itu adalah sesuatu yang mereka berdua sepakati bersama dengan rasa permusuhan mereka. Hewan itu memamerkan gigi dan mengeluarkan suara parau, satu dari jenis pitbull berotot yang kau dengar di penjara, kadang-kadang: dilatih pengedar narkotika sebagai anjing penyerang. Hoolian pernah melihat beberapa dari mereka berkeliaran di jalanan dan mengorek-ngorek sampah di siang hari di sekitar sini, ditinggalkan pemiliknya yang tak lagi dapat mengendalikan.

Lebih dari sekali, ia harus mencegah Eddie agar tak memelihara mereka, memperingatkannya bahwa sekali hewan-hewan itu mengunci rahangnya di tubuhmu, mereka tak akan melepaskan. Mereka akan merobek otot kakimu jika kau berusaha menariknya. Ia menjatuhkan tas besarnya dan mulai lari ke arah proyek.

Francis hampir tersandung oleh sebuah kasur air, dengan si anjing tepat di belakangnya. Tuhan mencoba membuatnya melepaskan satu keping tawaran. Tidak, jangan bantu aku. Aku bisa melakukannya sendiri. Ia menginjak beling bohlam yang tergeletak di rerumputan, pecahannya hampir menyayat pergelangannya. Biarkan aku keluar dengan caraku sendiri. Tak ada orang lain yang menaruhku di sini.

Ia dapat merasakan napas hangat anjing itu di belakang kakinya. Tak mungkin lagi ia melepaskan diri. Ia mengambil senjatanya dan berpaling, siap memecahkan kepala hewan itu, berdoa semoga ia tak akan mengenai salah satu polisi yang tengah mencari-cari di daerah itu. Tak ada petunjuk tentang asal serangan. Tetapi rumput-rumput telah berhenti bergerak. Ia sadar anjing itu telah mundur, entah bagaimana kehilangan aroma tubuhnya. Ia melangkah menuju arah jalan dan membungkuk, menghirup angin dan bersiap-siap muntah gara-gara kerja fisiknya. Irama napasnya seperti bunyi sap, sap, sap yang kian mendekat. Ia menengadah dan dilihatnya cahaya menyorot dari langit, Bintang Bethlehem mencari-cari di antara lapangan Red Hook Houses. Perlahan-lahan ia tersadar itu adalah helikopter polisi yang sedang melayang-layang.

Apa itu? Dada Hoolian meledak dan kaki telanjangnya letih menampar-nampar batu jalan. Ia berhasil memasuki pintu gerbang proyek dan dilihatnya para petugas polisi membanjiri halaman. Helikopter berputar-putar di atas kepala. Ia terkulai di pagar besi, tahu dirinya tinggal menghitung detik saja sebelum tertangkap. Ia melemparkan pandangan ke Coffey Street. Kini mereka pasti sudah memberi tahu Zana soal siapa ia sebenarnya. Mereka akari menghujaninya dengan surat tuntutan dan mungkin bahkan foto lama. Mereka akan membuatnya mengerti bahwa ia seorang pendusta, penjahat, ancaman bagi ia dan anaknya. Anda beruntung dapat lepas darinya dengan selamat, Nona. Ketika Hoolian mencoba berpikir tentang bagaimana ia akan menjawab dan menjelaskan, mengatakan bahwa ia tak akan pernah melakukan apapun yang dapat melukainya, rasa pedih luar biasa menyilet bagian dalam tubuhnya.

Tak ada guna terus lari. Kau hanya bisa sekejap berada di luar air. Deru baling-baling kian kencang dan suar cahaya dari langit akhirnya menemukan Hoolian di pagar, menatap dari langit dengan tangan terbuka.

40

"Francis, kau benar-benar bajingan brengsek."

Deborah Aaron, mengenakan jins dan kaus turtleneck, menghampirinya saat ia berbincang dengan sersan polisi yang sedang bertugas setelah berhasil meloloskan diri dari kerumunan para wartawan di luar dan berjalan masuk ke pintu depan Seksi 19.

"Tak bisakah kau menelepon seperti layaknya manusia normal. Aku dapat membawanya ke sini kapan pun kau mau. Senin, Selasa, Rabu. Tapi, tidak. Kau selalu harus unjuk kuasa."

"Senang bertemu Anda juga, Pengacara." Francis menandatangani buku catatan dan itu dan memberikannya kembali pada sersan tersebut. "Kau kelihatan santai sekali."

"Pasti kau mungkin mengira aku akan pergi lebih awal untuk menikmati akhir minggu hari Columbus Day, agar kau bisa menangkap Julian sendiri. Sayangnya, aku harus menyerahkan sejumlah berkas pagi ini dan anakku mengikuti pertunjukan dansa kelas dua yang berkat dirimu tak dapat kuhadiri. Aku begadang sepanjang malam menjahit kostum kura-kuranya sambil menulis laporan singkat untuk Hakim Del Toro. Terima kasih banyak."

"Maumu aku bagaimana, Deb? Berkoordinasi dengan guru-guru ini?"

"Kaulah yang selalu mengomel tentang tidak mendapat pemberitahuan."

Ia memalingkan badan, memamerkan punggung dan beranjak menuju tangga tanpa repot-repot menengok apakah wanita itu mengikutinya. Meski gedung itu sudah dibongkar dan dibangun kembali dari lantai dasar ke atas sejak 1983, entah bagaimana tempat itu segera mewarisi atmosfer sekolah tua yang usang, seolah-olah bidang energi dari kejahatan yang telah lama terlupakan mendorong masuk lewat sela-sela fondasinya.

"Kau pasti sudah benar-benar putus asa," ujar Debbie. "Merongrong klienku dengan surat perintah setengah jadi dan menyisir apartemen kekasihnya."

Di puncak tangga, ia membuka pintu dan sengaja menahannya bagi wanita itu seperti kebetulan. "Silakan, Pengacara."

Di lorong menuju Biro Detektif, terpajang poster "Dicari" dengan gambar hitam putih seorang penumpang tak bernama di kursi belakang sebuah taksi. Foto itu, yang diambil dari kamera tersembunyi, adalah foto pemuda bermata kecil dengan sweter Timberland dengan tudung terpasang, yang tak lama setelah foto itu diambil mengeluarkan senjata 22 dan menembak sopir taksinya, Sandeep Singh, di Jackson Heights, Queens, di belakang kepala, melontarkan pecahan tempurung kepala korban ke kaca depan. Sejauh ini tak ada saksi untuk mengidentifikasi pemuda itu, dan tak ada imbalan ditawarkan. Teguran muram bagi Francis bahwa ia masih punya kasus lain yang harus ditangani.

"Aku juga tak suka kau menghubungi Judy Mandel serta wartawan lain dan membuatku selalu dikeroyok orang-orang itu."

Deb membuntutinya ke dalam ruang skuad dan melewati deretan meja, sol karet mendecit di lantai kayu, hal ganjil di tempat yang dihuni sepatu bagus.

"Hey, aku tak tahu siapa yang membocorkan informasi tentang keberadaan Hoolian di sini." Francis mengangkat bahu. "Aku bukan penerbitnya."

Seekor burung hantu plastik berdiri di puncak lemari kabinet, menatap tajam pada sosok yang tengah tertidur di sel tahanan di seberang ruangan, mengingatkan Francis bahwa seksi ini selalu terlalu kuno bagi seleranya. Sejumlah gadis hanya sedikit lebih muda dari Christine dan Allison bisa saja terpampang dalam poster Orang Hilang di dinding. "Highway to Hell" meraung dari radio dan buku The South Beach Diet tergeletak di sebelah wadah salad terbuka di satu meja detektif.

"Setidaknya kau memberinya makan?" tanya Deb.

"Apakah kau juga akan berlaku begitu?" Francis melirik sepintas.

"Taktik intimidasi murahan."

"Hey, tak ada yang seperti The Sound of Music kalau sedang mengusut."

Deb mengusap pipi, mengerti betul seperti halnya Francis bahwa ia sendiri suka mendesak tersangka yang kelaparan tanpa henti dan membuat pengacara mereka menunggu berjam-jam di koridor yang bak bangsal TBC.

"Aku tak pernah membuatmu menyeret seseorang dari jalan tanpa surat izin."

"Dari mana kau tahu tindakan kami tak mengantongi izin? Apa kau punya saluran polisi? Menurutku kau tak lagi sepintar itu."

Sejurus kemudian, Francis mafhum, hinaan itu menyengat lebih dalam dari yang ia maksudkan, lalu teringat setengah detik kemudian bahwa Deb pernah punya suami, detektif dari Sembilan-O, yang ditahan karena memukulinya.

"Dengar, kami memiliki surat perintah resmi untuk menyelidiki barang-barang miliknya," terangnya, berusaha kembali bersikap profesional. "Ia yang menyerang petugas dan lari ke luar."

"Yeah, menyerang dengan buku anak-anak," dengus Deb. "Seolah-olah itu akan berguna di pengadilan jika kau ingin menuntutnya. Memangnya apa pula yang kalian cari?"

"Pastinya kami berpikir ia memiliki benda yang relevan dengan kasus yang tengah kami kerjakan. Kau bisa menduganya sendiri, Deb."

"Seperti apa? Kau kira ia menyimpan darah gadis yang sudah tewas dua puluh tahun lalu agar ia bisa mencipratkannya di TKP?"

"Oke, kami membawanya ke sini untuk bermain pasang gambar buta."

"Tak akan lebih aneh dari rumor yang kudengar tentang investigasi ini." Mereka berhenti di luar ruang interogasi. "Kuharap kau bangga pada dirimu sendiri, Francis."

"Wuuush. " Hoolian menepuk tangannya, lega ketika pengacaranya akhirnya masuk. "Untunglah. Aku sudah muak."

Ia sudah berada di ruang ini sejak pukul enam pagi, berusaha tidak menangis atau kehilangan pertahanan diri saat Nona A berhalangan. Semua bentuk fisik telah berabah di seksi ini; hanya kengeriannya yang tetap sama. Bunyi seratus-ribu-burung-jay-menjerit-di-kepalamu, teror yang membuatmu ingin kencing di celana yang diingatnya dengan begitu baik.

"Kau tak apa-apa?" Nona A meremas bahunya.

"Ya. Tapi, kukira aku sudah cukup bicara di sini."

Letih, ia mulai bangkit saat detektif berkulit hitam yang telah bersamanya sepanjang waktu mendorong pintu.

"Selamat sore, Nona Aaron." Ia mengulurkan tangan dan tersenyum, tampak manis dan memesona. "Rashid Ali. Aku telah mendengar berita-berita baik tentang Anda."

"Yang pasti bukan dari rekan kerjamu."

"Maka ia tak menghargai pengacara yang sungguh-sungguh baik."

Hoolian celingukan, sadar belum melihat Loughlin sejak tiba di situ. Satu lagi yang berbeda dari kali terakhir itu.

"Bisakah Anda memberi tahu mengapa klien saya dibawa ke sini?"

Jalang brengsek," kata Paul Raedo, datang menghampiri Francis di balik kaca.

"Apakah begitu cara calon Hakim Agung bicara?"

"Aku tak pernah akur dengannya, kau tahu," gumam Paul. "Selalu memamerkan diri di depan Jaksa Wilayah saat sama-sama berada di lift. Seolah-olah itu bisa membawanya ke bagian pembunuhan hanya dalam waktu tiga tahun."

Sebenarnya itu tak kedengaran seperti profil Deb sama sekali, harus Francis akui. Wanita itu lebih tekun, pekerja keras, selalu memastikan bahwa ia dinilai berdasarkan kinerja dan sama sekali tak pernah bergantung pada penampilan fisik.

Di lain pihak, Paul tercantum dalam daftar Sepuluh Teratas orang Brengsek milik Francis belakangan ini. Membiarkan Hoolian keluar dari penjara sejak awal; lupa menghubungi keluarga korban; mempermalukan diri di depan umum oleh Hakim Bronstein; dan yang terburuk adalah menaruh berkas-berkas dengar pendapat hukuman indisiplinernya tahun 1981 di map kasus. Francis berusaha tak terlalu terobsesi dengan hal itu karena—ya, apa yang bisa ia perbuat saat ini? Tapi kelak, setelah ini semua berakhir, ia akan menarik Paul ke tepi dan berkata, Bung, cabut pisaumu dari punggungku, aku benci tidur miring.

"Kukira aku harus masuk dan menyampaikan berita baik ini padanya?" Paul mengangkat alis, menolong rambut cepak di puncak kepalanya.

"Tak usah, biar Rashid yang mengurus. Ia bisa melakukannya dengan baik."

Detektif Ali menaruh potongan linen warna khaki yang ia perlihatkan pada Hoolian sebelumnya di meja, dengan tiga noda gelap saling bertumpukan dengan ukuran serta warna yang sedikit berbeda—serangkaian bulan gelap setengah, gerhana satu sama lain.

"Apa yang kulihat?" tanya Nona A.

"Ya..." Ali menguap. "Sebagaimana saya yakin Anda tahu, banyak pembicaraan tentang adanya rantai bukti dalam kasus ini. Orang mulai berpikiran macam-macam. Jadi, kemarin kami memutuskan untuk pergi lagi ke gudang barang bukti dan memastikan siapa tahu kami bisa memperoleh sesuatu selain sarung bantal."

"Jadi ini...?"

"Ini adalah bagian dari kain penutup sofa Allison. Sofa tempatnya berbaring ketika jenazahnya ditemukan."

"Yang mestinya kalian miliki sejak awal," sela Nona A. "Dan yang lebih penting, yang mestinya aku miliki sejak awal."

Meski terganggu lantaran perempuan itu bicara padanya seolah ia staf penjualan yang malas, Ali tak memperlihatkannya. "Kami semua menginginkan kesempurnaan, Nona Aaron. Hanya sebagian dari kami yang mendapatkannya."

"Apa maksud pembicaraan Anda ini, Detektif? Klien saya sudah berada di sini cukup lama. Jika Anda ingin menuntutnya karena melawan penahanan atau omong kosong lain, mari kita bicarakan dakwaannya dan lempar keluar kasusnya. Saya melihat surat perintah yang berhasil kalian minta dan ditandatangani Hakim O'Brien. Ia pasti setengah tertidur waktu itu."

"Jadi noda pertama yang sedang kita lihat ini adalah darah." Ali mengabaikannya dan menyentuh benda itu dengan kuku telanjang berkilau. "Penyelidik forensik menyatakan itu adalah seorang wanita. Kemungkinan besar darah si korban."

"Kalau begitu hentikan pemberitaan." Nona A berkacak pinggang. "Kalian menemukan darah korban di TKP-nya sendiri. Selamat, Francis." Ia menatap tepat pada kaca satu arah itu. "Itu hal pertama yang kau lakukan dengan benar dalam kasus ini."

"Ya... tidak secepat itu." Ali menahan jeda seperti tabuhan drum. "Kita masih punya dua noda lain yang harus diperiksa."

"Aku tak sabar lagi."

Detektif itu tersenyum dan menunjuk noda paling besar. "Nah, yang ini adalah darah juga. Namun, itu bukan milik korban. Dokter forensik menganalisisnya semalam dan berhasil memperoleh profd DNA-nya. Coba tebak? Ternyata cocok dengan sampel ludah klien Anda, Tuan Vega, yang dengan murah hati disediakan untuk Detektif Loughlin beberapa minggu lalu."

Mata Nona A. melirik, mengingatkannya betapa marah perempuan itu tentang tindakannya meludahi wajah Loughlin.

"Maaf, Detektif, tapi lalu kenapa?" ujarnya, tanpa mengendur. "Klien saya menyatakan dalam wawancara awal bahwa ia tengah mengerjakan sesuatu di apartemen korban, memperbaiki toiletnya sebelum ia duduk di sofa menonton TV bersamanya. Tentu, ia bisa saja melukai dirinya sendiri saat bekerja."

Hoolian menatapnya, terkesan; satu-satunya tanda wanita itu sedikit kaget adalah garis-garis kerut halus mirip kipas yang memancar dari sudut mata.

"Spekulasi yang bagus." Ali mengangguk. "Hanya ada satu hal."

"Apa itu?"

"Noda terakhir ini." Jarinya mengawang di atas noda terbesar. "Anda mau tahu?"

"Saya yakin Anda akan segera memberitahukannya."

"Itu adalah cairan sperma Tuan Vega. Sebagaimana Anda lihat, jumlahnyatukup banyak. Dan, cairan itu menyentuh noda darahnya dan noda darah Dr. Wallis."

Dalam kedutan singkat, Hoolian melihat drama tiga babak di wajah pengacaranya: syok, terluka, dikhianati. Lalu drama itu mati sesaat, berusaha mencerna semuanya. Pada orang lain, mungkin tak bakal ada jeda. Tetapi melihatnya setelah berondongan kata-kata tanpa henti, kesunyian ini terasa membikin tuli.

"Oh, aku mengerti," ujar Deb, akhirnya.

Mulutnya membentuk senyum pahit saat berbalik pada kaca lagi, mengalihkan segenap amarah, dari Hoolian kepada para lelaki di balik kaca itu.

"Kalian mengira bisa membawa klien aku ke sini, mengancamnya atas tuduhan palsu, dan menyodorkan omong kosong ini di bawah hidungnya untuk mengoreknya sebelum pengacara datang."

"Tak ada yang memaksanya menjawab pertanyaan setelah ia meminta pengacaranya," kata Detektif Ali. "Kami hanya saling berbagi informasi, berharap ia bisa membantu kami. Jika ingin mengeluarkan pernyataan tentang mengapa spermanya dapat bercampur dengan darah Dr. Wallis, itu terserah ia sendiri."

Nona A tetap memelototi kaca itu, melanjutkan pertikaian tanpa-katanya dengan Loughlin dan semua yang menonton.

"Jika kalian tak akan menuntut, aku akan membawa ia pulang," ujarnya. "Jelas kalian tak akan coba-coba menekan kami seandainya menemukan sesuatu yang penting dalam penggerebekan pagi ini."

Ali duduk di sudut meja, hampir tak bergerak. Mengenakan kemeja kerah dengan manset Prancis dan dasi biru gelap, ia mirip model majalah yang sedang menunggu sesi pemotretan.

"Ah... Ada satu hal lagi yang lupa saya sebutkan."

"Ia tak akan bicara." Nona A menggelengkan kepala. "Kalau kau masih ada pertanyaan lagi, angkat telepon dan hubungi kantorku untuk membuat perjanjian. Detektif Loughlin dan Tuan Raedo punya nomornya."

"Baiklah." Rashid setengah tersenyum. "Kami hanya bertanya-tanya mengapa Julian terlihat berjalan-jalan di sekitar 294 East 94th Street. Itu saja."

Nona A terlihat heran.

"Tempat dokter wanita yang satu lagi tinggal," gumam Hoolian.

"Aku tak mengerti."

"Penjaga gedung itu mengidentifikasi Julian dari sebuah foto. Ia bilang pernah melihatnya di sekitar situ. Tingkahnya 'mencurigakan.' Itu kata-katanya, bukan kami."

"Aku sudah mengatakannya padamu, G.," sela Hoolian. "Aku mengantar barang ke sana."

"Julian, diam."

Wanita itu mengucapkannya dengan terang dan acuh, seakan ia mengembalikan bola dalam permainan tenis lewat backhand.

"Pembicaraan ini selesai." Ia menggaet Hoolian di lengan dan menariknya bangkit. "Sampai jumpa di pengadilan."

Mereka berjalan keluar, meninggalkan Ali dengan kedua tangan di saku.

Di ruang skuad, setengah lusin detektif kembali ke mejanya, berusaha terlihat sibuk, meski sedetik sebelumnya mereka berbaris di balik kaca, mendengarkan setiap kata. Nona A berjalan melewati barisan lemari berwarna hijau, tempat Loughlin dan Paul Raedo duduk memunggungi, pura-pura tengah mempelajari map kasus.

"Bagus sekali," ujarnya. "Mencoba menimpakan dua pembunuhan pada klienku sementara kalian bahkan tak bisa membuktikan satu pun."

"Jadi kita tak akan menuntutnya untuk penyerangan dan perlawanan?" tanya Francis.

"Aku baru dengar dari Jaksa Wilayah." Paul menggelengkan kepala dan menaruh ponselnya kembali di saku. "Ia ingin membatalkannya. Ia melihat ini sebagai bagian dari aksi balas dendam terhadap orang ini. Dan, eh, ia juga bertanya tentang caraku memperoleh surat perintah." Paul terlihat malu-malu. "Ia pikir mungkin kita membuat hakim bertanya-tanya tentang beberapa isu prosedural."

"Omong kosong," gumam Francis. "Jaman dulu, orang tak dapat surat izin gara-gara mengarang omong kosong pada polisi New York. Kau dapat peringatan atas perilaku."

"Jadi, bagaimana menurutmu?" Paul mengarahkan kepala ke arah ruang interogasi yang kosong.

Francis mengusap rahang, sudah mengantisipasi untuk tak masuk sendiri ke sana untuk mencegah suhu memanas.

"Kurasa kita punya darah dan cairan sperma lelaki itu di TKP pertama. Dan seseorang mengenali dirinya berada di dekat TKP kedua. Ada sesuatu di sana."

"Kurasa kau benar." Paul mengangguk. "Hingga kemarin, kau sudah siap mencoretnya karena hal-hal aneh dengan DNA itu. Tapi kini aku tak tahu apa yang terjadi."

"Aku juga tidak," aku Francis. "Otakku serasa meleleh dari telinga. Aku hampir bertanya-tanya apakah kita mengubur gadis yang salah."

"Jadi, apa yang kita lakukan sekarang! Kita bahkan tak punya teori operasi, ya kan?"

"Maksudmu cara menjelaskan fakta bahwa kita punya cairan sperma Hoolian di TKP pertama, penjaga mengenalinya dari luar apartemen Christine, lalu darah wanita yang sama di kedua TKP?"

"Punya perkiraan?"

"Tidak." Francis mendesah. "Tapi, ia pasti punya kaitan dengan keduanya, entah bagaimana. Meski mengapa ia tak membuka hati saja dan memuntahkan semuanya, aku tak tahu. Mungkin ia memang benar-benar menyimpan DNA wanita itu. Maksudku, ia mencuri album fotonya. Mungkin ia menimbun sesuatu, seperti orang-orang penyuka jimat. Kau tahu, orang mencari barang-barang aneh seperti sepatu wanita atau semacamnya."

"Ya...aku tak begitu tahu hal-hal seperti itu." Mata Paul mengembara ke samping. "Apakah tas besarnya ditemukan?"

"Tidak, kami sudah memeriksa dengan saksama lapangan itu di siang hari dan tak menemukan apa-apa. Bukan berarti barang itu akan memberi banyak manfaat seandainya kita tersandung masalah surat perintahnya.”

“Jadi, bagaimana setelah ini?"

"Terus terbuka dengan pilihan yang kita punya. Aku menugaskan sejumlah polisi untuk mengawasi rumah penampungan Hoolian untuk dua hari ke depan, agar ia tak coba-coba. Rashid akan kembali memeriksa berkas kasus itu satu per satu, kalau-kalau kita melewatkan sesuatu. Yunior memeriksa catatan kelahiran untuk melihat jika Eileen punya putri lain yang tak ia ceritakan. Jimmy Ryan menyisir ulang lingkungan apartemen Christine, dan ada tiga detektif lain yang mewawancara ulang setiap pasien dan staf yang pernah dikenal wanita itu di rumah sakit."

"Dan apa yang kau lakukan?"

"Aku akan pulang untuk tidur beberapa jam sebelum benar-benar sinting. Aku harus sedikit menjernihkan kepalaku."

"Kau pulang?" Paul menatapnya seolah Francis baru mengumumkan dirinya akan menghabiskan akhir minggu bersama gadis-gadis penghibur.

"Jangan melihatku seperti itu, aku menghabiskan semua jatah lembur tahun ini untuk beberapa minggu kemarin. Aku benar-benar letih."

"Uhh, aku tak tahu, Francis." Paul menggelengkan kepala. "Menurutku, kau telah berubah."

"Maksudmu?"

"Aku mulai berpikir, kau dan aku kini tak lagi sejalan. Ayahku tak pernah cemas tentang jatah lemburnya. Ia melakukan apa saja yang diperlukan demi pekerjaannya."

Francis menatap, mengira ia pasti bercanda. Semua orang tahu ayah Paul seorang detektif tua korup bagian narkotika yang dikenal dengan "Periksa-Dia" Raedo di masa jabatan sebelum Knapp. Tapi, Paul hanya berdiri di sana, memandangnya, bulunya meremang seperti pena landak. Tidak, pikir Francis. Kita memang tak lagi sejalan.

"Jangan repot-repot, Yang Mulia. Aku cuma di seberang."

"Yeah." Paul memunggunginya. "Aku pasti akan menghubungimu jika ada gadis lain yang wajahnya dipukuli."

41

"Hooliiiiaaan!!"

Seseorang bak badut di belakang kerumunan terus-menerus melagukan namanya dengan nada sumbang yang mengganggu.

"Hooo-liiiii-aaaaaann!!!"

Rasanya seperti ada batu ampelas di taringnya. Hoolian menundukkan kepala sementara Nona A mendorongnya melewati bunyi desis kamera dan dinding suara-suara mengejek di luar gedung itu.

"Hey, Julian, sebelah sini!"

"Julian, kenapa kau membunuhnya?"

"Mereka memperlakukanmu dengan baik kali ini?"

"Nona Aaron, apakah klien Anda ditahan kembali?"

Wanita itu mengangkat tasnya di depan wajah Hoolian dan berusaha melambaikan tangan mencari taksi saat orang-orang itu mengelilinginya seperti para pengeroyok di sekolah, meneriakkan pertanyaan dan mengambil foto.

"Klien saya menjadi sasaran kampanye kotor tanpa henti dari kepolisian dan jaksa wilayah,»" jawab perempuan itu. "Ia tak dituntut secara resmi hari ini dan sebagaimana kalian tahu, dakwaan sebelumnya telah dicabut."

"Hooliiiiaaaannn!!" suara sumbang itu semakin bertenaga dan mengejek. "Hoooolii-oooliiii-ooo-liii-aaannnnn!!"

Ia memamerkan gigi dan berbalik menghadapi puluhan kamera, mengabadikan senyumnya untuk koran esok pagi; ia tampak seperti monyet yang akan ditembak bius karena melukai penjaga kebun binatang.

"Debbie, apakah mereka menanyai Julian tentang kasus Christine Rogers?"

Sebuah taksi kuning akhirnya menepi dan wanita itu segera meraih pegangan pintu. "Kami tak punya komentar lagi saat ini. Saya minta kalian menghormati privasi klien saya dan tujukan semua pertanyaan pada kantor saya."

"Apa katanya? "

"Di mana kantornya? "

"Apa yang kau lakukan akhir minggu ini? "

Debbie membuka pintu dan mendorong Hoolian ke dalam taksi. "Astor Place," ujarnya, masuk di belakangnya dan membanting pintu, untuk terakhir kalinya "Hooliiiii—" mengikuti mereka saat menjauh dari teriakan kerumunan itu.

Sang supir, seorang Sikh mengenakan turban—serban ala India—dan janggut hitam mewah seolah seekor tupai menutupi bagian bawah wajahnya, memperhatikan mereka dari kaca spion.

"Kalian masuk TV?"

"Sekarang ya," ujar Nona A, muram.

"Sudah kuduga aku mengenalmu. Kau dari acara Fear Factor?”

"Pemisah ini tak bisa menutup?"

Sebelum supir itu menjawab, Deb menutupnya sendiri dan berpaling pada Hoolian. "Ada yang perlu kita bicarakan.”

“Apa?"

"Noda kecil darahmu di sofa mungkin bisa kujelaskan." Ia memegang erat keranjang Nantucket di pangkuannya. "Tapi, cairan spermamu?"

Taksi itu berjalan zig-zag saat si pengemudi mengarungi blok dan menuju daerah macet di Lexington.

"Haruskah aku menceritakannya?" Hoolian meraih sabuk pengaman.

"Ya. Aku betul-betul butuh sedikit pertolongan."

Hoolian menatap keluar jendela dan tak berkata apa-apa hingga mereka terhadang lampu merah dekat Bloomingdale's.

"Di sini begitu bersih sekarang. Dulu suka ada sampah di jalanan."

"Bicaralah padaku," ujar wanita itu. "Aku harus tahu faktanya?”

"Ia menyentuhku."

Tak ada seorang pun yang berbicara selama beberapa detik saat mobil itu stop di dekat trotoar. Di salah satu jendela toko, menekin wanita putih terbungkus kulit dan warna-warna berpose di depan sebuah papan yang berbunyi aku akan mematuhi polisi fashion.

"Maksudmu, Allison Wallis, seorang wanita dewasa, hampir sepuluh tahun lebih tua darimu, dengan gelar dokter, memulai interaksi seksual denganmu? Itu yang kau katakan padaku?"

Hoolian merasa dirinya tengah diawasi semua pejalan kaki wanita, menembus jendela taksi. Mereka menatap matanya sedetik dan bergegas pergi, memegang tasnya sedikit lebih erat.

"Itu yang ingin kuceritakan pada detektif dulu di tahun 1983, tapi aku tak tahu bagaimana mengatakannya."

"Ia meraba-rabamu. Saat sedang mengalami menstruasi? Kau benar-benar berharap aku percaya pada ucapanmu itu?"

"Mengapa tidak?" Hoolian melipat tangannya.

"Demi Tuhan, Julian—" ia berhenti, berusaha menguasai diri. "Kau tahu berapa banyak waktu kuhabiskan untuk kasus ini? Kau tahu berapa malam yang kulewatkan dari anak-anakku?"

"Aku tak pernah bohong padamu."

"Aku ingin mempercayai hal itu, tapi kau benar-benar menakutkanku sekarang. Lututku goyah."

Hoolian merosot di lapisan vinil kelabu jok mobil, merasakan empasan keluar dari sela-sela bantalan-bantalan itu. Hal-hal yang tak sengaja orang tinggalkan.

"Baiklah," ujarnya. "Kejadiannya seperti yang kuceritakan. Aku datang ke apartemennya kadang-kadang untuk memperbaiki sesuatu dan kami ngobrol.'"

"Tentang apa?" tanyanya tajam.

"Tentang hal-hal sehari-hari. Dan, kadang ia bercerita tentang hal-hal yang menekannya di rumah sakit dan punggungnya terasa sakit. Jadi, kadang aku memijatnya."

"Hmm." Deb mengangguk dan mendengus, memutuskan untuk tetap tenang sejenak.

"Itu menjadi sebuah kebiasaan. Kami akan duduk di sana, menonton televisi, dan kupijat bahunya kadang-kadang. Itu saja. Kami berdua tak menganggap penting perbuatan itu. Meski kini setelah kupikir kembali, rasanya seperti, terkutuk, apa maksudnya dulu itu?"

Hoolian melirik, untuk melihat apakah wanita itu mempercayainya.

"Lanjutkan," ucap Deb, waspada.

"Lalu malam itu, toilet tak mau berhenti mengalir dan aku dipanggil para penghuni karena ayahku sedang keluar dan tukang yang biasa sedang libur. Jadi akulah yang pontang-panting, memperbaiki, berusaha membuat wanita-wanita ini senang. Aku ingat Nyonya London di 7A wastafelnya bocor dan Nyonya Rosensweig di 4D lampu ovennya bennasalah. Dan ketika pekerjaanku selesai, aku benar-benar capek. Saat itulah ia menawarkan untuk memijat bahuku sekali itu."

"Oo-kee." Mulut Deb membentuk lingkaran kecil.

"Lalu kami terbawa suasana dan kami kemudian berpelukan satu sama lain," ujarnya. "Kau tahulah, seperti kakak-adik mulanya. 'Oh, kau selalu ada untukku. Kau benar-benar temanku. Aku cinta padamu...' Lalu, kami mulai bertindak sedikit lebih jauh."

Lampu berubah hijau dan mereka mulai menembus kepadatan lalu lintas.

"Julian, sekarang sudah tak zaman lagi memperhalus ucapan. Aku ingin kau benar-benar blak-blakan padaku."

"Oke, penisku mengeras. Nah." ia duduk kembali.

"Ia tahu apa yang terjadi dan aku pun begitu." Ia tak bermaksud bermain kata. "Kau tahu saat sesuatu terjadi dan kau berpura-pura bahwa itu tak terjadi? Lalu setelah beberapa saat kau tak lagi bisa berpura-pura?"

"Ya," katanya kaku. "Kurasa aku pernah dengar."

Hoolian tak suka melihat Deb yang masih menahan diri di hadapannya. Sadar benar wanita ini pasti telah mengacaukan beberapa hal dalam hidupnya jika hanya bisa membela orang-orang seperti Hoolian dan membesarkan kedua anaknya sendirian.

"Jadi begitulah yang terjadi," ujar Hoolian. "Dan aku hanya anak kecil yang bahkan tak pernah punya kawan wanita cukup dekat untuk bernapas di telinganya, sampai aku tak dapat lagi menahannya. Mengerti?"

"Kau langsung terejakulasi olehnya."

Lelaki itu meringis mendengar istilah klinis itu dan melirik ke arah partisi untuk mengecek apakah si sopir turut mendengar. "Kau tak perlu berkata seperti itu."

"Aku harus benar-benar yakin apa yang kita bicarakan kali ini." Alur di antara hidung dan mulutnya memanjang. "Tak boleh ada celah kesalahan."

"Yeah, itulah yang terjadi," gumam Hoolian, berusaha mendapatkan suaranya kembali. "Tapi ia menyukainya. Sungguh. Aku butuh waktu tujuh atau delapan tahun untuk menyadarinya. Saat itu aku cukup naif."

Ia bertanya-tanya apa yang akan Zana pikirkan setelah mendengar cerita ini.

"Dan setelah itu?"

Matanya melesat melewatinya. "Ia tampak mulai sedikit kecewa, kurasa."

"Oh?" ia biarkan kata itu menetes seperti jarum es dari bibirnya.

"Maksudku, awalnya ia baik-baik saja. Seperti ia siap melupakannya dan bersikap seolah itu tak benar-benar terjadi.

Tetapi ia kemudian mulai gugup, seolah cemas seseorang akan mengetahuinya."

"Apakah ia bilang siapa?"

"Tidak, ia hanya berkata, 'Kau betul-betul harus pergi sekarang. Kau tak boleh ada di sini lagi.'"

Hoolian benci pada kenyataan bahwa perempuan itu mengorek semua kata-katanya dengan sisir halus, berusaha menjeratnya, seperti para detektif itu.

"Dan mengapa kau tak mengatakan semua ini pada Loughlin dalam interogasi awal?"

"Ketika itu aku masih anak Katolik yang taat yang baru mulai bercukur sebulan sebelumnya." Suaranya serak. "Aku bahkan tak tahu kata apa yang akan kugunakan. Aku bisa mengucapkan seluruh isi misa bahasa Latin dengan mudah ketimbang mengucapkan "penis" atau "vagina."'

"Bagaimana dengan Figueroa, pengacaramu pada persidangan pertama?"

"Ia tahu semaunya. Aku ceritakan bagaimana kejadian persisnya, tapi ia sepertimu. Tak mempercayaiku. Ia bilang, 'Bagus, Julian. Sekarang simpan saja itu untuk dirimu sendiri. Kau tak akan memperoleh apa-apa dari cerita itu dengan saksi di depanmu."

Ia menistakan bangsat tua itu. Hoolian masih bisa membayangkan orang itu di kantor Court Street-nya, noda mustard terang di manset setelan jaket, punggung-punggung buku hukum usang mengelupas di rak, bicaranya kasar dan sok perhatian padahal yang ia inginkan hanya menggerogoti harta si klien dan bersenang-senang dengan kapal pribadinya di Florida Keys.

"Jika itu benar, mengapa kau tak mengatakannya padaku sejak awal?"

"Hal pertama yang kau katakan: 'Hanya jawab pertanyaan yang diajukan. Saksi yang baik mengetahui, jangan pernah merendahkan orang bodoh. Berfokuslah pada isu yang relevan dengan tuntutan.' Yaitu"—ia menjentik dengan jemarinya— "apakah pengacaraku tidak kompeten? Ya. Apakah ia memberiku hak untuk bersaksi? Tidak. Mengapa pemerintah tak memunculkan bukti DNA yang kami minta? Dan mengapa mereka tak mengejar semua saksi yang bisa membersihkan namaku?"

Deb mengangguk, mengakui setiap poin seiring memucat wajahnya. "Ya, tapi bagaimana penemuan darahmu dan darahnya di kain penutup sofa?"

"Seperti yang kau bilang. Aku mengerjakan banyak hal di gedung malam itu. Kurasa aku mungkin tersayat saat memotong pipa dan tetesannya mungkin mengenai sofanya saat kami bersama. Bagaimana darahnya sampai ada di sofa, aku tak tahu. Itu pasti terjadi setelah aku pergi dan orang lain datang dan menyerangnya."

"Oh Tuhan." wanita itu membuka jendela taksi, membutuhkan udara segar. "Kuberi tahu kau, Julian. Lebih baik tak membohongiku. Kalau kau bohong, bukan aku yang akan menyeretmu kembali ke penjara. Kau dihukum dua puluh lima tahun penjara, seandainya kau lupa."

"Apa aku terdengar seperti sedang berbohong?"

Deb terdiam cemberut. Di sekeliling mereka, orang-orang mulai meninggalkan kota lebih awal untuk mengejar akhir minggu yang panjang. Pria dan wanita membawa tas dan koper kecil, bergegas menuju Grand Central, melemparkan pandangan khawatir ke langit, melewati kanopi Graybar Building, saat para tikus penggores kabel suspensi terlihat seakan mereka tengah mencoba meninggalkan kapal. Kembali lagi selama lima tahun mungkin tak akan begitu menakutkannya beberapa hari yang lalu, sebelum ia berhubungan dengan Zana dan anaknya. Tetapi hidup di luar telah menodaimu. Itu membuatmu lupa bagaimana hidup di dalam kurungan.





0 Response to "The Devil's DNA"

Post a Comment